Eps 5 Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung
Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.
Ujar Tang Hai Lo Mo.
"Empat Dhalai Lhama, tugas kalian membasmi tujuh partai besar."
"Ya,"
Sahut keempat Dhalai Lhama itu serentak.
"Setelah itu, kalian berempat pun harus membunuh Bu Lim Ji Khie"
Tang Hai Lo Mo menatap mereka seraya melanjutkan.
"Kami bertiga akan membunuh Bu Lim It Ceng."
"Tek Cun"
Thian mo memandangnya.
"Tugasmu membunuh Pek Ih Sin Hiap Tio Cie Hiong, engkau telah gagal sekali, lain kali engkau harus berhasil"
"Ya, Guru,"
Jawab Ku Tek Cun.
"Tapi sebelumnya, engkau harus belajar ilmu hitam pada Im yang Hoatsu, itu dapat membantu dirimu"
Ujar Te mo-"ya, Guru"
Jawab Ku Tek Cun girang, sebab ia memang ingin belajar ilmu hitam tersebut.
"Aku masih merasa heran..."
Gumam Tang Hai Lo Mo.
"Sebenarnya siapa guru Pek Ih sin Hiap itu? Dia masih begitu muda, tapi kepandaiannya sudah tinggi sekali."
"Guru"
Ku Tek Cun memberitahukan.
"se-betulnya dia pernah bekerja di Hong Lui Po. Pada waktu itu dia sama sekali tidak mengerti ilmu silat."
"Oh?"
Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening.
"Engkau tahu siapa orang tuanya?"
"Tidak tahu, Guru."
Ku Tek Cun menggelengkan kepala.
"Tang Hai Lo Mo"
Ujar Thian mo-"Kenapa engkau memusingkan Pek Ih sin Hiap yang tak berarti itu? Kini kita telah berhasil mempelajari ilmu silat peninggalan Pak Kek siang ong, maka apa lagi yang kita takuti?"
"Benar."
Te mo tertawa gelak-"Ha ha ha Bu Lim H Ceng pun sudah bukan lawan kita lagi."
"Tidak salah-"
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Lagi cula kini sudah banyak golongan hitam dan sesat bergabung dengan kita, maka sudah saatnya kita menguasai rimba persilatan."
"Benar Benar"
Dhalai Lhama jubah merah tertawa gelak-"Karena itu, paman guru mengutus kami ke mari-"
"Sayang sekali, Paman guru kalian tidak mau mencicipi kesenangan di Tionggoan"
Tang Hai Lo Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu dikarenakan paman guru masih sibuk mengatur para Dhalai Lhama,"
Ujar Dhalai Lhama jubah kuning memberitahukan.
"setelah guru kami meninggal, barulah paman guru bisa memegang kekuasaan di sana. Namun masih banyak Dhalai Lhama yang tidak senang, maka paman guru harus mengatasi mereka. Karena sam Mo mengundangnya ke mari, maka kami berempat diutus ke mari."
"Ngmm"
Tang Hai Lo Mo manggut-mang-gut, kemudian tertawa gelak-"Ha ha Begitu kalian muncul di Tionggoan, langsung pula melukai Pek Ih Mo Li, maka secara tidak langsung kalian berempat telah berbuat jasa untuk kami-"
"Setelah itu-"
Sambung ThianMo-"Kalian berempat pun membunuh para murid tujuh partai besar Ha ha ha"
"Kini sudah saatnya Bu Lim It Ceng mati,"
Ujar Te mo dingin.
"ohya"
Tang Hai Lo Mo memandang keempat Dhalai Lhama.
"sanggupkah kalian berempat membunuh Bu Lim Ji Khie?"
"sanggup,"
Sahut mereka berempat serentak-"Bagus Bagus"
Tang Hai Lo Mo tertawa gelak, talu menambahkan.
"Mulai besok, para anggota kita tidak perlu memakai kain hitam penutup kepala lagi, sebab sam Mo Kauw (Agama Tiga iblis) akan muncul di rimba persilatan secara resmi dan terang-terangan"
"Benar."
Thian mo manggut-manggut.
"Partai mana yang tidak mau tunduk pada sam Mo Kauw, harus dibasmi."
"Itu sudah merupakan keputusan Bu Lim sam Mo, maka rimba persilatan akan tergoncang karena kemunculan sam Mo Kauw."
Bagaimana Ku Tek Cun bisa berguru pada Bu Lim sam Mo?
Ternyata setelah Tio Cie Hiong meninggalkan Hong Lui Po, sejak itu Hong Lui Kiam Khek-Ku TiokBeng mulai mendidik Ku Tek Cun dengan keras, Itu justru membuat Ku Tek Cun merasa tidak senang.
Kebetulan suatu malam salah seorang pelayan tua mabuk saking banyak minum, sehingga tanpa sadar memberitahukan kepada Ku Tek Cun bahwa ia bukan anak kandung Ku Tiok Beng.
oleh karena itu, timbullah rasa dendam pada Ku Tek Cun dalam hati, sebab Ku Tiok Beng mendidiknya dengan keras, bahkan sering memarahinya pula.
Kebetulan pada waktu itu.
Ku Tek Cun bergaul dengan salah seorang tokoh golongan hitam.
Tokoh golongan hitam itulah yang mengusulkannya berguru kepada Bu Lim sam Mo-usui tersebut sangat menggirangkan Ku Tek Cun, maka atas petunjuk tokoh golongan hitam tersebut.
Ku Tek Cun segera berangkat ke istana Thian mo-semula Bu Lim sam Mo menolaknya, namun Ku Tek Cun terus berlutut, akhirnya Bu Lim sam Mo menerimanya juga sebagai murid tak resmi-Bu Lim sam Mo tidak mempunyai murid, lagi pula Ku Tek Cun sangat berbakat dan bersifat seperti ketiga iblis itu, sehingga Bu Lim sam Mo mau menerimanya sebagai murid tak resmi-Tujuh delapan bulan lalu, bu Lim sam Mo mengatakan kepada Ku Tek Cun, bahwa mereka bertiga bersedia menerimanya sebagai murid resmi, asal Ku Tek Cun bersedia pula menunjukkan kesetiaannya, yakni harus membunuh Hong Lui Kiam Khek sekaligus memusnahkan Hong Lui Po-Ku Tek Cun menyanggupinya, sebab Hong Lui Kiam Khek bukan ayahnya, namun ia juga tahu Hong Lui Kiam Khek berkepandaian tinggi, maka terlebih dahulu ia meracuninya.
setelah itu, pada suatu malam ia mengajak puluhan orang dari golongan hitam menyerbu ke Hong Lui Po.
sesungguhnya Ku Tek Cun tidak membunuh Phang Ling Hiang sumoinya itu, sebaliknya malah mengajak gadis itu pergi.
Tapi Phang Ling Hiang menolak karena telah menyaksikan kesadisannya.
Ku Tek Cun terus mendesak, Phang Ling Hiang sama sekali tidak mau, sehingga akhirnya bunuh diri-sejak itu Bu Lim sam Mo mulai menurunkan kepandaian mereka kepada Ku Tek Cun.
Belum lama ini Bu Lim sam Mo menerima informasi tentang Pek Ih sin Hiap yang selalu memberantas kaum golongan hitam, karena itu Bu Lim sam Mo menyuruh Ku Tek Cun pergi membunuhnya.
Akan tetapi.
Ku Tek Cun gagal berhubungan Tio Cie Hiong kebal terhadap racun apa pun.
Kini Ku Tek Cun mulai belajar ilmu hitam pada Im yang Hoatsu, sesudah itu ia akan mencari Tio Cie Hiong lagi untuk membunuhnya.
Ku Tek Cun memang masih mendendam pada sebab Phang Ling Hiang pernah berlaku lembut dan baik terhadap Tio Cie Hiong.
-ooo00000ooo-Bab 23 sam Mo Kauw (Agama Tiga iblis) setelah berpamit pada Pek Sim seng Li, Tio cie Hiong meninggalkan seng Li Tong (Goa Wanita suci) melanjutkan perjalanannya menuju markas pusat Partai Pengemis.
Namun sebelumnya, terlebih dahulu ia kembali ke Ekspedisi Harimau Terbang untuk menemui Cit Puw Tui Hun-Gouw Han Tiong.
Kedatangannya membuat Gouw Han Tiong tercengang, tapi diam-diam ia bergirang hati, sebab ia yakin Tio Cie Hiong pasti membawa kabar untuknya mengenai Gouw sian Eng, putrinya itu.
"Nak-"
Gouw Han Tiong menatapnya dengan tegang, kemudian berlega hati karena melihat air muka Tio Cie Hiong begitu tenang.
"Paman"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Aku kembali lagi ke mari karena harus menyampaikan suatu kabar"
"Kabar baik atau kabar buruk?"
Tanya Gouw Han Tiong cepat.
"Kabar baik yang menggembirakan,"
Sahut Tio cie Hiong dengan wajah berseri-seri.
"Nak Cepatlah beritahukan"
Gouw Han Tiong tampak tidak sabaran.
"Setengah tahun lagi sian Eng akan pulang."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Oh? sebetulnya dia berada di mana?"
Tanya Gouw Han Tiong sambil menatapnya.
"Cepatlah beritahukan"
"Sian Eng sedang belajar ilmu tingkat tinggi. Ternyata kedua wanita itu membawanya menemui Pek sim seng Li, kemudian Pek sim seng Li menerimanya sebagai murid."
"Pek sim seng Li?"
Gouw Han Tiong tidak pernah mendengarnya, sebab Pek sim seng Li memang tidak pernah berkecimpung dalam rimba persilatan.
"Aku tidak pernah mendengar tentang Pek sim seng Li."
"Pernahkah Paman mendengar tentang Kui Thian seng Bo?"
Tanya Tio Cie Hiong sambil memandangnya.
"Kiu Thian seng Bo?"
Wajah Gouw Han Tiong tampak berubah-"Aku pernah dengar dari ayahku.
Puluhan tahun lalu Kiu Thian seng Bo pernah muncul di rimba persilatan, namun setelah itu tidak pernah muncul lagi-Kiu Thian seng Bo berkepandaian tinggi sekali-"
"Pek sim seng Li adalah murid Kiu Thian seng Bo, jadi kini sian Eng adalah cucu muridnya-"
"oooh"
Gouw Han Tiong manggut-manggut girang.
"sekarang sian Eng tinggal di mana?"
"Di Seng Li TOng."
"Seng Li Tong? Di mana goa itu?"
"Paman"
Tio Cie Hiong menjelaskan.
"Tidak gampang ke seng Li Tong, lebih baik Paman menunggu di rumah saja. sebab setengah tahun lagi sian Eng pasti pulang, percayalah"
"Nak"
Gouw Han Tiong menatapnya dalam-dalam.
"Apakah engkau telah bertemu Pek sim seng Li?"
"ya."
"sudah bertemu sian Eng?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Karena sementara ini dia tidak boleh diganggu, sedang belajar seng Li sin Kang dan seng Lie Kiam Hoat"
"Engkau tidak bertemu sian Eng...."
"Paman"
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Paman tidak usah ragu dan bercuriga, sebab Pek sim seng Li adalah bibiku."
"Apa?"
Gouw Han Tiong terbelalak-Jadi-Pek sim seng Li adalah Lie Mei Hong, adik almarhumah ibumu?" (Bersambung keBagian 14)
Jilid 14
"Ya."
Tio cie Hiong mengangguk.
"Syukurlah"
Ucap Gouw Han Tiong.
"Engkau telah bertemu bibimu"
"ohya"
Tio cie Hiong mengeluarkan surat yang dibawanya, lalu diserahkan kepada Gouw Han Tiong.
"Agar Paman yakin, maka Sian Eng menulis surat ini untuk Paman."
Gouw Han Tiong menerima surat itu dan langsung membacanya, kemudian wajahnya tampak makin berseri.
"Terima kasihi Nak"
Ucapnya kemudian.
"Tak disangka engkau yang berhasil mencari Sian Eng."
"Itu cuma kebetulan saja. Sebab Pek Sim Seng Li mengutus kedua pelayannya untuk menjemputku ke sana."
Tio cie Hiong memberitahukan.
"Kok Pek Sim seng Li tahu tentang dirimu?"
Tanya Gouw Han Tiong heran.
"Secara tidak sengaja Sian Eng pernah menyebut namaku, maka Pek Sim seng Li tahu tentang diriku."
"Oooh"Gouw Han Tiong manggut-manggut sambil tertawa gembira.
"Ha ha Tak disangka Sian Eng akan menjadi murid Pek Sim seng Li, bibimu itu...."
Kini Tio cie Hiong melanjutkan perjalanannya menuju markas pusat Kay Pang.
la gembira sekali karena Gouw Han Tiong telah menjadi murid bibinya.
Ketika ia baru memasuki sebuah rimba, mendadak terdengar suara benturan senjata, maka segeralah ia melesat ke tempat itu.
la terbelalak karena melihat belasan orang berpakaian hitam sedang mengeroyok seorang pengemis muda yang dikenalnya, yaitu Lim Ceng Im.
la pun merasa heran, sebab orang-orang berpakaian hitam itu tidak memakai kain penutup kepala lagi, tapi ia tetap tidak mengenali mereka.
sementara pertempuran sengit terus berlangsung.
Lim Ceng im tampak mulai berada di bawah angin, sebab ada salah seorang berpakaian hitam yang berkepandaian sangat tinggi.
Di bagian depan dan belakang baju orang itu terdapat simbol tiga wajah iblis.
Rupanya dialah pemimpin belasan orang tersebut.
Ketika melihat Lim Ceng im berada di bawah angin, Tio cie Hiong sebera melesat sambil membentak.
"Berhenti"
Belasan orang berpakaian hitam itu langsung berhenti, karena dikejutkan oleh bentakan Tio Cie Hiong yang sangat nyaring dan menusuk telinga.
Lim Ceng Impun terkejut bukan main, tapi setelah melihat yang melayang turun di sisinya itu Tio Cie Hiong, ia terbelalak dengan mulut ternganga lebar.
"Adik Im"
Seru Tio cie Hiong girang, kemudian menggenggam tangannya erat-erat.
"Kakak Hiong"
Mata Lim Ceng Im bersimbah air saking gembira.
"Apakah ini bukan mimpi?"
"Engkau merasa aku menggenggam tanganmu?"
Tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Merasa."
Lim Ceng im mengangguk dengan wajah agak kemerah-merahan, tapi Tio Cie Hiong sama sekali tidak memperhatikannya.
"Nan Itu pertanda engkau bukan sedang bermimpi,"
Ujar Tio Cie Hiong dan tersenyum lagi.
"Pek Ih sin Hiap Pek Ih sin Hiap"
Seru orang-orang berpakaian hitam terkejut.
"Adik Im, engkau tenang saja, aku akan memberesi mereka"
Bisik Tio Cie Hiong, lalu membentak orang-orang berpakaian hitam itu.
"siapa kalian?"
"Kami anggota sam Mo Kauw"
Sahut pemimpin itu.
"sam Mo Kauw?"
Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Apakah Kauwcu kalian adalah Bu Lim sam Mo?"
"Tidak salah"
"Bagus Aku memang ingin membuat perhitungan dengan mereka bertiga"
"Hm Jangan omong besar Hari ini adalah hari kematianmu serang"
Seru pemimpin itu. seketika tampak belasan senjata mengarah pada Tio Cie Hiong, tetapi pemuda itu malah tersenyum dan tetap berdiri diam di tempat.
"Hati-hati, Kakak Hiong"
Seru Lim Ceng Im memperingatinya. Justru di saat ia berseru, mendadak ia melihat badan Tio Cie Hiong bergerak begitu cepat laksana kilat berkelebat ke sana ke mari sambil mengibaskan lengan bajunya.
"Aaaakh"
"Aaaakhi.."
Terdengar suara jeritan di sana sini. Belasan orang berpakaian hitam itu terkapar merintih-rintih.
"Haahi.."
Mulut Lim Ceng Im ternganga lebar. Berselang sesaat ia mendekati mereka sambil mengangkat tongkat bambunya.
"Adik Im, jangan bunuh mereka"
"Kenapa? Mereka mau membunuh kita, kenapa kita tidak boleh membunuh mereka?"
"Adik Im"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kini kepandaian mereka sudah musnah, biar mereka hidup seperti orang biasa Kita tidak perlu membunuh mereka."
"Baiklah."
Lim Ceng Im mengangguk.
"Kalian cepat enyah dari sini"
Bentak Tio Cie Hiong. Para anggota sam Mo Kauw itu langsung tari terhuyung-huyung dan tertatih-tatih. Lim Ceng Im tertawa geli menyaksikannya.
"Kakak Hiong"
La menatap kagum pada Tio Cie Hiong.
"Engkau sungguh hebat sekali"
Tio Cie Hiong hanya tersenyum.
"Tidak heran engkau memperoleh julukan Pek Ih sin Hiap"
Ujar Lim Ceng Im dan menatapnya lagi.
"Adik Im"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"sesungguhnya aku merasa malu akan julukan itu."
"Kenapa harus merasa malu?"
Lim Ceng Im tertawa kecil.
"Engkau memang sakti, apalagi mengenakan pakaian putih, jadi pantas engkau memperoleh julukan itu."
"Pendekar sakti Baiu Putih "
Gumam Tio Cie Hiong sambil menghela nafas.
"Aku tidak sesakti julukan itu."
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Aku tahu engkau suka merendahkan diri, aku... aku kagum sekali padamu."
"Terimakasih"
Ucap Tio cie Hiong.
"Kakak Hiong, mari kita pergi"
Ajak Lim Ceng Im.
Tio Cie Hiong mengangguki lalu bersama Lim Ceng Im meninggalkan tempat itu.
Berselang sesaat, mereka duduk berteduh di bawah sebuah pohon rindang.
Begitu duduki Lim Ceng Im terusmenerus menatapnya dengan mata tak berkedip.
"Eeh?"
Tio cie Hiong tercengang, lalu tersenyum.
"Kenapa engkau menatapku sampai begitu? Apakah di kepalaku tumbuh tanduk?"
"Kakak Hiong, hampir tiga tahun kita tidak bertemu. Kini engkau sudah besar dan makin...."
"Makin tampan kan?"
Sambung Tio Cie Hiong sambil tertawa.
"Ciss Dasar tak tahu malu Memuji diri sendiri"
Tegur Lim Ceng Im.
"Eeeeh?"
Tio Cie Hiong terbelalak. Kini gilirannya menatap Lim Ceng Im dengan mata tak berkedip.
"Kenapa engkau menatapku dengan cara begitu?"
Tanya Lim Ceng im dan menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Engkau anak lelaki, tapi...."
Tio cie Hiong menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
"Kenapa bisa mengeluarkan suara "Ciss"?"
"Memang tidak boleh?"
Lim Ceng Im cemberut.
"Lho? Kini malah cemberut?"
Tio Cie Hiong tertawa.
"Adik Im, alangkah baiknya engkau menjadi anak gadis saja."
"Huh"
Dengus Lim Ceng Im.
"ohya Bukankah tadi engkau ingin mengatakan aku bertambah tampan?"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Benar. Aku boleh mengatakan begitu, tapi engkau tidak boleh."
Sahut Lim Ceng Im dan melanjutkan.
"Memuji diri sendiri berarti tidak tahu diri"
"Benar. Benar."
Tio cie Hiong tertawa.
"Kalau begitu, biar engkau saja yang memuji ketampananku."
"Dasar...."
Lim Ceng im cemberut lagi.
"ohya, setelah berpisah sekian lama, bagaimana menurutmu tentang diriku?"
"Masih seperti pengemis dan sangat dekil, bahkan badanmu menyusut...."
Sahut Tio Cie Hiong.
"Memangnya badanku karet, bisa menyusut dan melar?"
"Ha ha"
Tio Cie Hiong tertawa. la memang gembira sekali setelah bertemu Lim Ceng im.
"Kira-kira begitulah."
"ohya, Kakak Hiong"
Tanya Lim Ceng im mendadak.
"Apakah engkau sudah bertemu Ku Tok Lojin?"
"Belum."
"Jadi... engkau masih belum tahu siapa kedua orang tuamu?"
"Aku sudah tahu."
Wajah Tio Cie Hiong tampak murung.
"Bahkan aku bertemu kakak kandungku."
"oh?"
Lim Ceng im terbelalak.
"siapa kakak kandungmu?"
"Dia adalah Pek Ih Mo Li."
"Pek Ih Mo Li?"
Lim Ceng im tertegun.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk dan memberitahukan.
"Ayahku adalah Hui KiamBu Tek-Tio It seng, ibuku adalah sin Pian Bijin-Lie Hui Hong dan kakakku adalah Tio suan suan."
"Haah? Apa?"
Mulut Lim Ceng im ternganga lebar.
"Mereka adalah kedua orang tuamu dan kakakmu?"
"Benar."
Tio Cie Hiong mengangguk dan menghela nafas.
"Namun sudah almarhum dan almarhumah...."
"Di mana kakakmu?"
"sudah mati."
Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"sudah mati? Di bunuh orang?"
Tanya Lim Ceng im sambil memandang iba pada Tio Cie Hiong.
"Ya."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Kakakku mati di tangan Empat Dhalai Lhama Tibet."
"Empat Dhalai Lhama Tibet?"
Lim Ceng Im terkejut bukan main.
"Engkau sudah tahu siapa yang membunuh kedua orang tuamu?"
"Bu Lim sam Mo."
"Tidak salah."
Lim Ceng Im menatapnya.
"Kakak Hiong, sungguh tak disangka engkau putra mereka"
"Memang kenapa?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Engkau tidak tahu, sebetulnya almarhum ayahmu teman akrab ayahku."
Lim Ceng im memberitahukan.
"Karena itu, kakekku pernah pergi menemui Tui Hun LoJin."
"Kenapa kakekmu pergi menemui Tui Hun Lojin?"
"Sebab belasan tahun lalu, Tui Hui Lojin juga ikut dalam pertempuran di Pek In Tia. Maka kakekku pergi menanyakan tentang peristiwa itu."
"oh?"
"Ternyata Tui Hun Lojin ingin menolong ayahmu, namun mendadak muncul Bu Lim sam Mo."
Lim Ceng Im menjelaskan.
"Kakekku bilang, ayahmu pernah menyelamatkan nyawa putranya."
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Belum lama ini aku sudah bertemu Paman Gouw, dan beliau telah memberitahukan tentang itu."
"oooh"
Lim Ceng Im manggut-manggut.
"Kakak Hiong, tuturkanlah pengalamanmu selama ini"
Tio cie Hiong mengangguki lalu menutur dirinya terkena pukulan Nao Tok ciang, Pek Ih Mo Li yang membawanya ke Lembah Persik menemui sok Beng Yok ong dan lain sebagainya.
Lim Ceng Im mendengarkan dengan penuh perhatian, tapi kemudian wajahnya berubah ketika Tio cie Hiong menutur tentang putri hartawan Lie dan Yap In Nio.
seusai Tio cie Hiong menutur, ia berkata dengan wajah masam.
"Pantas engkau tidak senang"
"Aku memang senang bertemu denganmu."
"Hm"
Dengus Lim Ceng Im.
"Jangan pura-pura Bukankah engkau senang sekali ada gadis yang begitu baik terhadapmu? Bahkan mengajar Yap In Nio ilmu pedang pula, akrab sekali ya kalian"
"Adik Im"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"semua gadis itu kuanggap sebagai adik sendiri"
"Yang itu lagi...,"
Ujar Lim Ceng Im dengan mata melotot.
"Dia adalah murid bibimu, engkau pasti akan dijodohkan dengannya"
"Adik Im"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"sudah kujelaskan barusan, bahwa aku menganggap mereka sebagai adik sendiri, begitu pula terhadap sian Eng."
"Engkau tidak tertarik pada mereka?"
Tanya Lim Ceng im mendadak.
"Tentu tidaki"
Tio Cie Hiong tersenyum dan menambahkan.
"Hartawan Lie dan isterinya ingin menjodohkan putri mereka denganku, tapi aku menolak langsung."
"sayang sekali"
"Lho Kenapa?"
"Kalau engkau tidak menolaki bukankah sekarang engkau sudah mempunyai isteri?"
"Adik Im Engkau harus tahu...."
"Aku tahu, kini engkau harus mencari Bu Lim sam Mo dan Empat Dhalai Lhama Tibet untuk membuat perhitungan dengan mereka, bukan?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Setelah itu...."
Lim Ceng Im menatapnya tajam sambil melanjutkan.
"Engkau akan pergi menemui putri hartawan Lie untuk menikah dengannya, kan?"
"Ha ha"
Tio Cie Hiong tertawa.
"Senang tuh mau menikah dengan gadis itu"
Lim Ceng im tampak tidak senang sehingga wajahnya berubah.
"Adik Im, engkau bagaimana sih? Aku sudah bilang dari tadi bahwa aku tidak tertarik pada gadis-gadis itu Kok engkau malah terus mendesakku agar aku tertarik pada mereka? Benarkah engkau menghendaki aku menikah dengan salah satu gadis itu?"
"Tidaki"
Sahut Lim Ceng im cepat, tapi kemudian menundukkan kepala karena telah ketelepasan menjawab. Maka ia menambahkan.
"itu terserah engkau."
"Adik Im"
Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Walau kini usiaku sudah hampir delapan belas tahun, namun aku masih belum tertarik pada gadis yang mana pun."
"oh, ya?"
"Memang ya."
"gadis bagaimana yang engkau idamkan?"
"Entahlah."
Tio Cie Hiong menggelengkan kemala.
"Aku sama sekali tidak memikirkan itu."
"Kenapa tidak memikirkan itu?"
"Aku bukan pemuda romantis, jadi tidak memikirkan anak gadis. oh ya, pernahkah engkau memikirkan anak gadis?"
Tanya Tio Cie Hiong mendadak.
"Engkau sudah gila ya? Bagaimana mungkin aku...."
Lim Ceng im langsung diam, sebab ia ingat dirinya menyamar sebagai anak lelaki.
"Aku sudah gila?"
Tio Cie Hiong kebingungan.
"Aku yang sudah gila ataukah engkau yang tidak waras?"
"sama-sama,"
Sahut Lim Ceng im sambil tertawa kecil.
"Adik Im"
Wajah Tio Cie Hiong berubah serius.
"Kini sam Mo Kauw sudah muncul dalam rimba persilatan, kita harus memberitahukan kepada ayahmu."
"Kalau begitu, kita ke markas pusat Kay Pang."
"Tujuanku memang ingin ke sana."
"oh? Kenapa engkau ingin ke sana?"
"Aku sangat rindu padamu."
"Yang benar?"
Mata Lim Ceng Im berbinar-binar.
"Bagaimana mungkin engkau rindu padaku yang sedemikian dekil?"
"Adik Im"
Tio cie Hiong menggenggam tangannya erat-erat.
"Aku memang rindu -adamu, dan entah apa sebabnya aku merasa begitu gembira bertemu denganmu."
"Oh?"
Wajah Lim Ceng im berseri-seri.
"Kita memang berjodoh,"
Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Dua kali engkau melihat aku telanjang mandi di sungai, perlukah aku sekarang telanjang mandi di sungai lagi?"
"Ciss Dasar tak tahu malu"
Wajah Lim Ceng Im langsung memerah.
"Kok Ciss lagi?"
Tio Cie Hiong terperangah.
"Engkau memang pantas menjadi anak gadis."
"Kakak Hiong Nanti kita harus melewati sebuah kota kecil, kita mampir di rumah hartawan Tan."
Lim Ceng Im memberitahukan.
"Baik,"
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Engkau ingin makan gratis di rumah hartawan Tan?"
"Kira-kira begitulah,"
Sahut Lim Ceng im.
"Kakak Hiong, mari kita berangkat"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
Mereka berdua lalu meninggalkan tempat itu menuju kota tersebut.
Begitu sampai di kota kecil itu, Lim Ceng Im langsung mengajak Tio Cie Hiong ke rumah hartawan Tan.
Hartawan Tan menyambut kedatangan mereka dengan penuh keramahan, bahkan kelihatannya sangat menghormati Lim Ceng Im.
"Aku sungguh tidak menyangka engkau sudah mampir di rumahku,"
Ujar hartawan Tan sambil tertawa gembira.
"Tentunya akan merepotkan Paman,"
Sahut Lim Ceng Im.
"Tidak apa-apa."
Hartawan Tan memandang Tio Cie Hiong. segeralah Lim Ceng Im memperkenalkan.
"Paman Dia Tio Cie Hiong, julukannya Pek Ih sin Hiap."
"oooh"
Hartawan Tan tampak kagum sekali pada Tio cie Hiong.
"Itu hanya merupakan julukan kosong, Paman,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Paman...."
Lim Ceng Im memberi isyarat agar hartawan Tan ke dalam.
Hartawan Tan manggut-manggut, lalu berjalan ke dalam, dan Lim Ceng im mengikutinya.
Tio Cie Hiong duduk seorang diri di ruang depan rumah itu.
Berselang beberapa saat kemudian, tampak seorang gadis yang cantik jelita berjalan lemah gemulai menuju ruang depan itu.
Begitu melihat gadis itu, mata Tio Cie Hiong langsung terbelalaki bahkan hatinya berdebardebar.
gadis itu menghampirinya, lalu memberi hormat.
"Maaf"
Ucap gadis itu "Engkau pasti Tio cie Hiong."
"Betul."
Tio cie Hiong tertegun karena gadis itu tahu namanya. Namun yang membuatnya heran, yakni wajah gadis itu agak mirip Lim Ceng Im.
"Maaf, Nona siapa? Kok tahu namaku?"
"Aku dengar dari Ceng Im,"
Sahut gadis itu sambil duduk.
"oh Wajah Nona mirip dia, apakah...."
"Aku kakaknya, dia adikku. Kami berdua kakak beradik,"
Gadis itu memberitahukan dengan penjelasan yang begitu panjang.
"Pantas kalian agak mirip"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Hanya saja adikmu begitu dekil."
"Dia memang dekil dan bau. Tapi engkau masih mau mendekatinya,"
Ujar gadis itu sambil tersenyum. Mulut Tio Cie Hiong ternganga lebar ketika menyaksikan senyuman yang begitu pesona, sehingga membuatnya terpukau.
"Mulutmu jangan ternganga begitu lebar, nanti bisa kemasukan lalat"
Gadis itu memberitahukan sambil tersenyum.
"Eh oh Aku...."
Tio Cie Hiong tergagap.
"Ohya, bolehkah aku tahu nama Nona?"
"Namaku Im Ceng, panggil saja namaku"
Gadis itu memberitahukan.
"Im Ceng... Ceng Im... Im Ceng... Eng im..."
Gumam Tlo Cie Hiong berulang kati dan kemudian berkata.
"Nama kalian cuma diputar balik kok?"
"Almarhumah yang memberi nama tersebut kepada kami."
Im Ceng tersenyum.
"Maka kami tidak berani mengubahnya."
"Jangan diubah"
Ujar Tio Cie Hiong cepat.
"Im Ceng merupakan nama yang amat indah."
"oh, ya?"
Im Ceng tersenyum, siapa sebenarnya gadis itu, ternyata Lim Ceng im.
"Ya Ya"
Tio Cie Hiong manggut-manggut "Namamu sungguh indah"
"Aku tidak menyangka...,"
Im Ceng tersenyum lagi.
"Engkau pun pandai merayu."
"Aku tidak merayu, melainkan berkata sesungguhnya,"
Sahut Tio Cie Hiong dan bertanya.
"ohya, di mana adikmu?"
"Dia... dia sedang bercakap-cakap dengan hartawan Tan"
"ooh"
Tio Cie Hiong bergirang dalam hati, karena ia mempunyai kesempatan untuk mengobrol dengan gadis yang telah mencuri hatinya.
"Im Ceng, engkau pernah belajar ilmu silat?"
"Pernah."
Im Ceng mengangguk.
"Tadi adikku bilang, engkau berkepandaian tinggi sekali. Benarkah itu?"
"Tidak juga,"
Sahut Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"sebab ilmu apa pun, makin digali pasti makin dalam."
"oooh"
Im Ceng manggut-manggut.
"Tadi adikku bilang, dia kenal seorang pemuda bernama Tio Cie Hiong, maka dia memperkena Ikanku kepadamu"
"Terima kasih Terimakasih..."
Ucap Tio Cie Hiong.
"Engkau berterima kasih kepada siapa?"
Tanya Im Ceng sambil tersenyum geli.
"Aku berterima kasih kepada adikmu yang telah memperkenalkanmu kepadaku,"
Jawab Tio cie Hiong dan menambahkan.
"Aku... aku gembira sekali."
"Gembira berkenalan denganku?"
"Ya."
"seandainya aku tidak gembira?"
"Haaah?"
Wajah Tio Cie Hiong langsung berubah merah.
"Itu... itu...."
"Kita baru berkenalan, jadi belum bisa mengatakan gembira atau tidaki kalau sudah lama, bolehlah berkata begitu"
"Benar Benar Apa yang engkau katakan memang tidak salah. Kalau begitu...."
Tio Cie Hiong memandangnya.
"Itu berarti kita masih mempunyai kesempatan untuk bertemu lagi, kan?"
"Tergantung jodoh."
"Aku berjodoh dengan adikmu, tentunya kita pun mempunyai jodoh"
"Ciss Dasar tak tahu malu"
"Eeeeh?"
Tio cie Hiong terperangah.
"Adik,mu juga sering mencetuskan demikian...."
"Kami kakak beradik, tentunya sama."
Wajah Im Ceng kemerah-merahan.
"Benar-benar sama"
Tio Cie Hiong memandangnya lagi.
"Wajahnya juga sering kemerah-merahan."
"oh?"
Im Ceng nyaris tertawa geli.
"Tahukah engkau, cara bagaimana aku berkenalan dengan adikmu?"
Tanya Tio Cie Hiong mendadak.
"Dia tidak memberitahukan kepadaku."
"Beberapa tahun lalu, ketika aku mandi telanjang di sungai, tiba-tiba dia muncul. sejak itulah kami berkenalan."
"Idiih"
"Bertemu kedua kalinya juga begitu, di saat aku mandi telanjang di sungai, dia muncul lagi."
"iiih"
"Lho? Kenapa engkau terus ih-ihan?"
"Engkau tidak merasa malu?"
"pada waktu ita, aku masih kecil."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Kenapa harus merasa malu? Lagi pula kami sama-sama anak lelaki."
"ooh"
Im Ceng manggut-manggut, kemudian bangkit berdiri "Maaf, aku mau ke dalam"
"Kok begitu cepat sudah mau ke dalam?"
Tanya Tio cie Hiong bernada kecewa.
"sudan cukup lama aku duduk di sini, sedangkan aku seorang gadis, bagaimana mungkin duduk lama-lama menemanimu? Ya, kan?"
"Benar Benar"
Tio Cie Hiong mengangguki Im Ceng berjalan ke dalam, dan Tio Cie Hiong terus memandangnya, seakan sukmanya juga ikut ke dalam.
Berselang beberapa saat, muncullah Lim Ceng im dengan wajah berseri-seri dan memandang Tio Cie Hiong yang tampak seperti kehilangan sukma itu.
"Hei"
Seru Lim Ceng im.
"Kenapa engkau jadi melamun?"
"Adik Im, kakakmu...."
"Bagaimana kakakku?"
Lim Ceng Im duduki "Apakah dia cantik?"
"Cantik sekali. cantik sekali. sungguh cantik,..."
"Hi hi"
Lim Ceng Im tertawa geli.
"Aku sudah tahu namanya"
"Im Ceng kan?"
"Sungguh indah namanya"
Sahut Tio Cie Hiong.
"Aku... aku...."
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im menatapnya dalam-dalam.
"Engkau tertarik pada kakakku?"
"Adik Im, selama ini aku tidak pernah tertarik pada gadis yang manapun. Namun kini aku justru tertarik pada kakakmu."
"oh?"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Tapi...."
"Kenapa?"
"Kakak Hiong Belum tentu dia akan tertarik padamu lho"
"Haaah..."
Tio cie Hiong tampak kecewa sekali.
"Jangan khawatir kakak Hiong"
Lim Ceng im tersenyum.
"Aku pasti membantumu."
"Terima kasih, Adik Im"
Ucap Tio Cie Hiong lalu mendadak menggenggam tangan erat-erat.
"Kakak Hiong...."
Wajah Lim Ceng Im langsung memerah.
"Adik Im"
Tio cie Hiong menatapnya.
"Engkau sungguh seperti dia, dia seperti engkau karena wajahnya yang juga sering kemerahmerahan."
"Kami berdua kakak beradik, tentunya sama."
Lim Ceng im tertawa kecil, lalu tanyanya berbisik.
"Kakak Hiong, apakah engkau sudah jatuh hati padanya?"
"Adik Im"
Jawab Tio Cie Hiong terus terang.
"Bukan hanya jatuh hati, bahkan sudah jatuh cinta."
"Apa?"
Lim Ceng Im terbelalaki namun hatinya berbunga-bunga.
"Begitu cepat engkau jatuh cinta pada kakakku?"
"Adik Im Engkau tidak boleh memberitahukan kepadanya lho"
Pesan Tio cie Hiong.
"Kenapa?"
"Kalau dia... dia tidak jatuh hati padaku, tentunya dia akan mentertawakan diriku."
"Kakak Hiong, aku pun harus berterus-terang kepadamu."
"Mengenai apa?"
"Mengenai kakakku."
Lim Ceng im kelihatan serius.
"selama ini dia tidak pernah berkenalan dengan kaum pemuda, tapi tadi dia mau duduk begitu lama bersamamu, itu pertanda...."
"Dia... dia juga jatuh hati padaku?"
Tanya Tio Cie Hiong tegang.
"Tapi begitu dia masuki dia bilang apa padamu?"
"Dia bilang...."
Lim Ceng Im sengaja tidak melanjutkan.
"Adik Im, beritahukaniah"
Mohon Tio Cie Hiong.
"Aku akan beritahukan, tapi engkau harus memanggilku adik yang manis"
Ujar Lim Ceng Im.
"Adik yang manis, adik yang baiki adik yang dekil...."
"Apa?"
Lim Ceng im melotot.
"Engkau berani memanggilku adik yang dekil?"
"Maaf Maaf Aku terlepas omong Adik yang manis...."
"Kakakku bilang, engkau...."
"Kenapa aku?"
Tanya Tio cie Hiong dengan hati berdebar-debar.
"Dia bilang engkau... agak bloon,"
Sahut Lim Ceng Im sambil tertawa.
"sebab ketika engkau melihatnya, mulutmu ternganga lebar sekali."
"Adik Im, aku... aku saking kagum akan kecantikannya. Itu membuat mulutku jadi ternganga lebar."
"oooh"
Lim ceng Im tertawa geli.
"Adik Im"
Tio cie Hiong menatapnya penuh harap.
"Engkau tahu kan? selama ini aku tidak pernah tertarik pada gadis yang manapun, tapi kini telah tertarik pada kakakmu. Aku mohon... engkau sudi membantuku dalam hal ini"
"Hal apa?"
Lim Ceng Im pura-pura tidak mengerti.
"Hal... hal...."
Tio Cie Hiong tergagap.
"Hal cinta kan?"
Sambung Lim Ceng Im.
"Betul Betul Betul...."
Tio Cie Hiong terus mengangguk.
"Adik Im, biar bagaimanapun engkau harus membantuku dalam hal ini"
"Aku bukan dia, dia bukan aku. Bagaimana cara aku membantu?"
Lim Ceng Im menggelenggelengkan kepala.
"Aaakh..."
Menarik nafas panjang, dan wajahnya tampak murung sekali.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im tersenyum lembut.
"Engkau tidak usah khawatir, aku pasti membantumu"
"Terimakasih, Adik Im"
Ucap Tio Cie Hiong.
"ohya Bolehkah aku menjumpai kakakmu lagi?"
"Dia sudah pergi,"
Sahut Lim Ceng Im.
"Aaakh..."
Keluh Tio Cie Hiong dan wajahnya langsung berubah muram.
"Dia pergi ke mana?"
"Mungkin... pulang ke markas pusat Kay pang."
"Kenapa dia tidak mau bersama kita?"
"Kakak Hiong, engkau harus tahu. Dia anak gadis, tentunya merasa malu berjalan bersamamu."
"Tapi bukankah ada engkau juga, jadi dia tidak perlu malu."
"sifatnya memang begitu. Pokoknya engkau tenang saja, kelak pasti bertemu dia lagi"
"Kelak? Itu kapan?"
Tio Cie Hiong menghela nafas.
"Kakak Hiong Aku adalah adiknya, maka akupun ingin bertanya kepadamu. Tapi engkau harus menjawab jujur"
Ujar Lim Ceng im serius.
"Adik Im, aku pasti menjawab dengan jujur,"
Sahut Tio Cie Hlong sungguh-sungguh.
"Benarkah kakak Hiong telah jatuh cinta padanya?jawablah yang jujur"
Lim Ceng im menatapnya dalam-dalam.
"Benar."
Tio cie Hiong mengangguki "Engkau pasti mencintainya dengan segenap hati?"
Tanya Lim Ceng im dengan hati berbungabunga.
"Ya. Aku pasti mencintainya dengan segenap hati dan selama-lamanya,"
Jawab Tio Cie Hiong.
"Bagus."
Lim Ceng im nyaris langsung memeluknya.
"Aku akan memberitahukan kepadanya, sekaligus membantumu."
"Terima kasih, Adik Im"
Tio Cie Hiong menggenggam tangannya lagi.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im tersenyum dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Mari kita makan, kita harus cepat-cepat sampai di markas pusat Kay Pang"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
Bab 24 Bu Lim Ji Kie terluka Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im melanjutkan perjalanan ke markas pusat Kay Pang.
Dalam perjalanan, Tio Cie Hiong sering melamun karena bayangan gadis itu terus muncul di pelupuk matanya.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Kenapa engkau menjadi sering melamun?"
"Adik Im"
Jawab Tio Cie Hiong jujur.
"Bayangan kakakmu terus muncul di pelupuk mataku."
"Hati-hati Kakak Hiong"
Lim Ceng Im tertawa geli.
"Jangan sampai sakit rindu lho"
"Aaakh..."
Tio Cie Hiong menghela nafas.
"Aku...."
Tio Cie Hiong tidak melanjutkan ucapannya. Ternyata ia mendengar suara pertempuran di depan, tapi Lim Ceng Im tidak mendengarnya.
"Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im heran karena mendadak wajah Tio Cie Hiong berubah serius.
"Ada apa?"
"Di depan ada orang bertempur,"
Sahut Tio cie Hiong memberitahukan.
"oh? Kok aku tidak mendengar suara pertempuran itu?"
Lim Ceng Im tercengang.
"sebab Iweekangmu belum setinggi lwee kang ku."
Tio Cie Hiong menjelaskan dengan kening berkerut.
"Ada enam orang sedang bertempur, mari kita ke sana"
Tio cie Hiong menarik tangan Lim Ceng im, lalu melesat ke depan, barulah Lim Ceng im mendengar suara pertempuran ^tu.
setelah mendekati tempat itu, terbelalaklah mereka karena melihat Bu Lim Ji Khie sedang bertempur dengan empat orang berdandan seperti rahib.
"Kakak Hiong. Bisik Lim Ceng Im.
"Ke empat orang itu pasti Empat Dhalai Lhama Tibet. Mereka Dhalai Lhama jubah merahi Dhalai Lhama jubah kuning, Dhalai Lhama jubah hijau dan Dhalai Lhama jubah putih."
"Ngmm"
Tio Cie Hiong terus memperhatikan mereka.
sementara Bu Lim Ji Khie tampak di bawah angin, rupanya mereka berdua telah terluka.
sam Gan sin Kay menggunakan tongkat bambu, dan Kim siauw suseng menggunakan senjata yang sangat anehi yakni semacam roda bergerigi, dan setiap Dhalai Lhama itu memegang sepasang roda bergerigi.
Ternyata Tio cie Hiong memperhatikan senjata tersebut, sebab roda bergerigi itu bisa melayang ke sana ke mari menyerang Bu Lim Ji Khie.
"Kakak Hiong, bagaimana nih?"
Tanya Lim Ceng Im cemas.
"Tenang"
Sahut Tio Cie Hiong dan berpesan.
"engkau tetap di sini, aku akan pergi membantu Kakek pengemis dan Paman sastrawan"
"Hati-hati, Kakak Hiong"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguki lalu melesat ke arah mereka seraya membentak dengan lweekang.
"Berhenti"
Suara bentakan Tio Cie Hiong yang mengandung lweekang itu bagaikan suara halilintar membelah bumi.
Empat Dhalai Lhama Tibet terkejut bukan main, sehingga segera berhenti menyerang Bu Lim Ji Khie.
Barulah Bu Lim Ji Khie bisa bernafas lega.
setelah Tio Cie Hiong melayang turun, Bu Lim Ji Khie terbelalak.
Mereka berdua tidak menyangka orang yang memiliki lweekang tinggi itu adalah Tio cie Hiong.
"Pek Ih sin Hiap"
Seru keempat Dhalai Lhama Tibet. Mereka juga tampak terkejut.
"cie Hiong"
Panggil Bu Lim Ji Khie serentaki lalu mereka jatuh duduk. Tio Cie Hiong tersenyum, kemudian menatap tajam pada Empat Dhalai Lhama Tibet.
"Kenapa kalian melukai Pek Ih Mo Li?"
Tanya Tio Cie Hiong mendadak.
"Kami senang melukainya, engkau mau apa?"
Sahut Dhalai Lhama jubah merah. Bu Lim Ji Khie terkejut ketika mendengar pertanyaan Tio Cie Hiong. Ternyata mereka belum tahu tentang Pek Ih Mo Li terluka di tangan Empat Dhalai Lhama Tibet itu.
"Dia telah mati dalam pelukanku, maka hari ini aku harus membuat perhitungan dengan kalian"
Ujar Tio Cie Hiong dingin.
"Bagus dia telah mati"
Dhalai Lhama jubah kuning tertawa gelak.
"Ada hubungan apa engkau dengannya?"
"Dia adalah kakakku"Jawab Tio cie Hiong sambil menatap dingin pada keempat Dhalai Lhama Tibet. Jawaban Tio Cie Hiong membuat sam Gan sin Kay tertegun, bagaimana mungkin Pek Ih Mo Li adalah kakak Tio cie Hiong? Kalau benar itu berarti.... Pengemis sakti itu tersentak teringat akan sesuatu.
"oh?"
Dhalai Lhama jubah merah menatap Tio Cie Hiong.
"Kalau begitu, hari ini ajalmu telah tiba"
"Hari ini aku justru ingin membuat perhitungan dengan kalian berempat"
Sahut Tio Cie Hiong dingin.
"Ha ha ha"Dhalai Lhama jubah merah tertawa gelaki kemudian berseru.
"serang"
Keempat Dhalai Lhama Tibet mulai menyerang Tio cie Hiong dengan roda bergerigi, tampak senjata aneh itu berkelebat ke sana kemari dan ke atas ke bawah mengarah ke Tio Cie Hiong.
Tadi Tio cie Hiong telah memperhatikan roda bergerigi itu, ternyata keempat Dhalai Lhama Tibet dapat mengendalikan senjata aneh itu dengan lweekang, selain itu, mereka pun bergerak berdasarkan semacam formasi yang mengandung unsur Nao Heng dan Pat Kwa.
Delapan buah roda bergerigi berkelebat-ke-lebat dan berputar-putar, sedangkan keempat Dhalai Lhama Tibet juga ikut berputar, sekaligus saling menyambut senjata masing-masing dan meluncurkannya lagi.
Tio Cie Hiong berkelit dengan Kiu Kiong san Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat), yang mengandung unsur-unsur Nao Heng, Pat Kwa, dan Kiu Kiong, sudah barang tentu dapat mengatasi formasi keempat Dhalai Lhama Tibet.
Akan tetapi, delapan buah roda bergerigi itu tetap mengikutinya, membuat Tio cie Hiong harus mengibaskan lengan bajunya.
Beberapa buah roda bergerigi itu terpental, namun tidak hancur karena senjata itu dibuat dari baja murni.
Ketika roda-roda bergerigi itu terpental, dua Dhalai Lhama segera melesat menyambut senjata-senjata tersebut, dan sekaligus disambitkan lagi ke arah Tio Cie Hiong.
Itu cukup merepotkan pemuda tersebut, sehingga ia harus berkelit ke sana ke mari dengan ilmu Langkah Kilat, bahkanjuga harus mengibaskan lengan bajunya, agar senjata-senjata itu terpental.
sementara keempat Dhalai Lhama bergerak makin cepat.
Delapan buah roda bergerigi itu pun berkelebat-kelebat dan berputar-putar lebih cepat, sedangkan badan Tio cie Hiong juga berkelebatan laksana kilat.
Bu Lim Ji Khie menyaksikan itu dengan mata terbelalaki dan mereka berdua pun saling memandang.
"sastrawan sialan"
Sam Gan sin Kay meng-geleng-geleng kan kepala.
"Kalau tadi keempat Dhalai Lhama itu menyerang kita dengan cara demikian, mungkin kita berdua sudah berpisah dengan dunia."
"Ng"
Kim siauw suseng mengangguk.
"Sung-guh hebat keempat Dhalai Lhama itu Entah Cie Hiong...."
"Aku tidak sangka...."
Sam Gan sin Kay tertawa gembira.
"Dia telah memiliki kepandaian begitu tinggi."
"Tapi...."
Wajah Kim siauw suseng tampak cemas.
"Jangan khawatir sastrawan sialan"
Sam Gan sin Kay tertawa.
"Kepandaian cie Hiong masih di atas mereka."
Mendadak Tio cie Hiong bersiul panjang, Bu Lim Ji Khie langsung memandang kepadanya.
Mereka melihat badan Tio Cie Hiong melesat ke atas sambil berputar-putar cepat, kemudian mengibaskan lengan baju kanannya ke arah delapan buah roda bergerigi yang menyerangnya dari kiri kanan, depan belakang dan atas bawah.
Tampak senjata-senjata itu terpental.
Di saat bersamaan Tio Cie Hiong mengibaskan lengan kirinya ke arah keempat Dhalai Lhama.
seketika juga keempat Dhalai Lhama terhuyung-huyung ke belakang beberapa depa, dan darah segar pun mengalir ke luar dari mulut mereka.
Namun kepandaian mereka tidak musnah, sebab Iweekang Tio cie Hiong tidak dipusatkan pada lengan kirinya, lantaran sebagian lweekangnya telah disalurkan agar badannya berputar-putar di udara dan disalurkan ke lengan kanannya.
Walau kepandaian keempat Dhalai Lhama itu tidak musnah, namun mereka berempat telah menderita luka dalam yang cukup parah.
Tio Cie Hiong melayang turun, sedangkan keempat Dhalai Lhama segera memungut senjata masing-masing.
Di saat itulah mereka saling memberi isyarat, lalu mendadak melesat pergi.
Tio Cie Hiong tidak mengejar mereka, karena masih harus memeriksa luka Bu Lim Ji Khie.
setelah memeriksanya, Tio cie Hiong memberi mereka seorang sebutir obat.
"Kakek pengemis, Paman sastrawan"
Ujar Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Setelah makan obat ini, dalam waktu tiga hari luka dalam itu pasti sembuh."
"HA haha "Sam Gan Sin Kay tertawa gembira setelah makan obat tersebut.
"Cie Hiong, engkau sungguh hebat Pantas memperoleh julukan Pek Ih sin Hiap"
"Kakek pengemis, kepandaianku masih belum begitu tinggi,"
Jawab Tio Cie Hiong merendah.
"Sudah begitu engkau masih bilang kepandaianmu belum tinggi?"
Kim Siauw Suseng menggeleng-geleng kan kepala.
"Kakek"
Lim Ceng Im muncul sambil menghampiri mereka.
"Kakek sastrawan"
"Eh?"
Terbelalak sam Gan sin Kay ketika melihat Lim Ceng Im.
"Cucuku yang manis, kok engkau masih berdandan...."
"Kakek"
Lim Ceng Im segera memberi isyarat sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Eeeh?"
Sam Gan sin Kay tercengang.
"Kenapa matamu? Kemasukan debu ya?"
"Kakek...."
Lim Ceng Im membanting-banting kaki.
"Lho?"
Sam Gan sin Kay terheran-heran akan tingkah laku Lim Ceng Im.
"Pengemis bau"
Kim siauw suseng tersenyum, kemudian berbisik-bisik di telingannya.
"oooh"sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Kakek pengemis"
Tio cie Hiong tertegun.
"Adik Ceng im adalah cucu?"
"Ayahnya adalah anakku, tentunya dia adalah cucuku,"
Sahut sam Gan sin Kay tertawa.
"Kakek pengemis"
Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum, namun wajahnya tampak agak kemerah-merahan.
"Aku sudah bertemu cucu perempuan Kakek pengemis yang bernama Im Ceng"
"Apa?"
Sam Gansin Kay terbelalak.
"Cucu perempuan cuma...."
"Kakek"
Lim Ceng Im mengedipkan sebelah matanya lagi.
"Im Ceng tuh Kakakku...."
"Kakakmu?"
Mata sam Gan sin Kay terbelalak makin lebar.
"Pengemis bau"
Sela Kim siauw suseng.
"Dasar sudah pikun, cucu perempuanmu itu adalah Im Ceng, kakaknya Ceng im"
"Im Ceng... Ceng Im..."
Gumam Sam Gan Sin Kay.
"ohi dia Cie Hiong, cucu perempuanku itu sangat brengsek, nakal dan liar. Dia juga sangat kurang ajar padaku dan pada ayahnya."
Tio Cie Hiong terperangah, karena sam Gan sin Kay terus mencaci Im Ceng. Berselang sesaat barulah ia membuka mulut.
"Kakek pengemis Im Ceng adalah gadis yang lemah lembut."
Tio cie Hiong memberitahukan.
"Aku sudah bercakap-cakap dengan dia di rumah hartawan Tan."
"oh?"
Sam Gan sin Kay menatap Lim Ceng Im.
Lim Ceng Im cuma tertawa menyengir, membuat sam Gan sin Kay melotot.
Tio Cie Hiong terheran-heran ketika menyaksikan tingkah laku mereka yang ganjil itu.
Tapi ia sama sekali tidak bercuriga dan memikirkan keganjilan itu.
"Kakek pengemis"
Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Yang nakal adik Im ini, sedangkan kakaknya sangat ramah dan lemah lembut."
"cie Hiong...."
Sam Gan sin Kay tertawa terpingkal-pingkal lalu bertanya.
"Benarkah Pek Ih Mo Li adalah kakakmu?"
"Benar."
Tio cie Hiong mengangguki "Dia memang kakak kandungku."
"Kalau begitu, kedua orang tuamu adalah...."
Sam Gan sin Kay menatapnya dengan mata tak berkedip.
"Ayahku adalah Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng, ibuku adalah sin Pian Bi jin-Lie Hui Hong, dan Pek Ih Mo Li adalah Tio suan suan, kakakku."
"Yah Ampun"
Ucap sam Gan sin Kay.
"Ternyata engkau putra teman baik Peng Hang Nak..."
"Tapi...."
Wajah Tio Cie Hiong berubah murung.
"Kenapa?"
Sam Gan sin Kay menatapnya heran.
"Kakakku telah mati di tangan Empat Dhalai Lhama Tibet itu"
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Aaakh..."
Sam Gan sin Kay menghela nafas panjang.
"Kalau begitu, kenapa tadi engkau tidak pergi mengejar mereka?"
"Aku harus memeriksa luka kakek pengemis dan paman sastrawan,"
Jawab Tio Cie Hiong.
"ooh"
Sam Gansin Kay manggut-manggut girang.
"Kakek"
Sela Lim Ceng Im memberitahukan.
"Kini dalam rimba persilatan telah muncul sam Mo Kauw. Aku telah bertempur dengan para anggota Sam Mo Kauw tersebut, Kakak Hiong muncul menolongku."
"Benar."
Sam Gan sin Kay menggeleng-ge-lengkan kepala.
"Kauwcu sam Mo Kauw adalah Bu Lim sam Mo, kini rimba persilatan telah dibanjiri darah."
"cie Hiong"
Kim siauw suseng menatapnya kagum.
"Hanya engkau yang mampu menyelamatkan rimba persilatan."
"Betul Betul"
Sambung sam Gan sin Kay sambil tertawa.
"Dulu aku sudah bilang, engkau pasti akan menjadi seorang pendekar yang gagah dan berhati bajik, Nah, kini sudah terbukti."
"cie Hiong"
Ujar Kim siauw suseng memberitahukan.
"Empat Dhalai Lhama itu telah bergabung dengan Bu Lim sam Mo. Mereka berempat sering membunuh kaum pesilat dari golongan putih ."
"ohya"
Sambung sam Gan sin Kay teringat sesuatu.
"Partai Siauw Lim dan Butong telah diserang...."
"oh?"
Tio Cie Hiong terkejut.
"Bagaimana keadaan kedua partai itu?"
"Ratusan hweeshto siauw Lim mati terbunuh, sedangkan Hui Khong TaysU, ketua siauw Lim terluka parah. Kalau tidak muncul siauw Lim sam Tiang lo (Tiga Tetua siauw Lim), mungkin partai siauw Lim telah musnah,"
Jawab sam Gan sin Kay, sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kami berdua menerima informasi bahwa sam Mo Kauw pergi menyerang partai Butong, maka kami segera ke sana. Namun di sana telah terjadi pertempuran dahsyat. Puluhan murid Butong telah mati, It Hian Tejin pun terluka. Kami berdua segera turun tangan membantu, kami bertarung dengan ke-empat Dhalai Lhama itu dari gunung Butong san sampai di sini. Kepandaian mereka berempat sungguh hebat. Untung Bu Lim sam Mo belum muncul."
"Aku yakin...."
Sela Kim siauw suseng.
"Bu Lim sam Mo telah berhasil mempelajari ilmu silat peninggalan Pak Kek siang ong, kepandaian mereka kini...."
"Kita berdua sudah kewalahan menghadapi Empat Dhalai Lhama Tibet, bagaimana mungkin menghadapi Bu Lim sam Mo?"
Sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.
"sialan tuh padri keparat, rimba persilatan telah kacau begini, namun dia malah bersembunyi entah di mana?"
Tio Cie Hiong tahu jelas tentang Lam Hai sin Ceng, namun tidak memberitahukan, karena ia telah berjanji pada padri sakti.
"Cie Hiong"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Tuturkanlah pengalamanmu selama ini"
Tio Cie Hiong mengangguki kemudian menutur semua pengalamannya, Bu Lim Ji Khie mendengarkannya dengan mata terbelalak.
"jadi... dua tahun engkau belajar ilmu pengobatan pada sokBeng Yok ong?"
Tanya sam Gan sin Kay.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguki "Tapi... dia telah mati di tangan penjahat."
"Engkau pun telah makan buah Kiu Yap Ling che?"
Tanya Kim siauw Suseng dengan mata terbelalak lebar.
"Ya."
"Pantas lweekangmu begitu tinggi"
Kim siauw suseng manggut-manggut.
"ohya"
Tio cie Hiong memberitahukan.
"Aku juga bertemu Thian Thay siansu, bahkan setengah tahun aku tinggal bersamanya."
"Haaah? Apa"
Mulut Bu Lim Ji Khie ternganga lebar.
"engkau tinggal bersama Thian Thay siansu yang dianggap Budha hidup itu?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguki "sungguh beruntung engkau"
Sam Gan sin Kay menghela nafas.
"Puluhan tahun lampau, aku ingin bertemu siansu itu, namun aku tidak berjodoh maka tidak berhasil menemuinya."
"ohya"
Mendadak Tio Cie Hiong mengeluarkan suling kumala dan diperlihatkan pada Kim siauw suseng.
"Paman sastrawan kenal suling kumala ini?"
"Haah?"
Kim siauw suseng terperangah ketika melihat suling kumala tersebut.
"Itu... itu suling kumala pusaka, tidak mempan dibacok. sudah puluhan tahun aku mencari suling itu, tapi tidak berhasil menemukannya. sungguh tak disangka, kini malah berada di tanganmu. Engkau memperoleh suling kumala pusaka itu dari mana?"
"Hadiah dari TOk Pie sin wan."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Aku berhasil mengobati penyakit anehnya, maka dia menghadiahkan suling kumala ini kepadaku,"
"ooh"
Kim siauw suseng manggut-manggut.
"Dan mana dia memperoleh suling kumala itu?"
"Belasan tahun lalu, dia menemukan suling kumala ini di dalam Goa Angin puyuh, kemudian dia tinggal di Goa itu."
"Engkau memang berjodoh dengan suling kumala itu."
"Paman sastrawan"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kalau Paman sastrawan menyukai suling kumala ini, akan kuhadiahkan kepada Paman sastrawan saja."
"Terima kasih"
Ucap Kim siauw suseng, lalu menggelengkan kepala.
"Nak, aku tidak berjodoh dengan suling kumala itu Lagi pula aku sudah memiliki suling emas, jadi tidak membutuhkan suling kumala itu. simpanlah baik-baik suling kumala itu, jangan sampai hilang"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguki "ohya"
Sam Gan sin Kay teringat sesuatu.
"Cie Hiong, engkau harus segera ke siauw Lim dan Butong untuk menolong Hui Khong Taysu dan it Hian Tejin, sebab ketua itu menderita luka parah."
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk dan bertanya.
"Kakek pengemis, bagaimana dengan partai lain?"
"Hm"
Dengus sam Gan sin Kay dingin.
"Partai-partai lain langsung menyerah tanpa mengadakan perlawanan."
"Kakek"
Ujar Lim Ceng Im memberitahukan.
"Aku ikut Kakak Hiong."
"Tapi...."
Sam Gan sin Kay mengerutkan kening.
"Ayahku telah memperbolehkan aku berkelana."
Lim Ceng im tersenyum.
"Kakek tidak perlu khawatir"
"Kalau begitu, kami berdua akan ke markas pusat saja."
Sam Gan sin Kay memberitahukan.
"Kakek pengemis Kalau tidak salahi Im Ceng telah ke markas pusat Kay Pang. Kalau Kakek pengemis bertemu dia, tolong sampaikan salamku padanya"
Pesan Tio Cie Hiong dengan wajah agak kemerah-merahan.
"oh?"
Sepasang bola mata sam Gan sin Kay berputar-putar, kemudian bertanya sambit tersenyum.
"Bukankah engkau boleh titip langsung salammu pada Ceng im?"
"Ceng im tidak kembali ke markas pusat Kay Pang...."
"sama saja,"
Sahut sam Gan sin Kay sambil tertawa.
"Kakek pengemis tidak sudi menyampaikan salamku kepada Im Ceng?"
Tio Cie Hiong tampak kecewa.
"Baik Baik"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Aku pasti menyampaikan salammu kepadanya."
"Terimakasih, Kakek pengemis"
Ucap Tio cie Hiong dengan wajah berseri.
"Ceng Im"
Sam Gan sin Kay melototinya.
"Engkau sungguh keterlaluan"
"Pengemis bau"
Kim siauw suseng tersenyum.
"Itu pasti ada sebabnya."
"Benar."
Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Pasti ada sebabnya, namun tetap keterlaluan."
Tio Cie Hiong terbengong-bengong, sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Ketika itu ia mendadak teringat sesuatu.
"Kakek pengemis"
Tanyanya.
"Tahukan Kakek pengemis siapa yang mengubur kedua orang tuaku di Pek In Tia?"
"Mereka adalah Hui Khong Taysu, It Hian TOjin dan Tai Hun Lojin."
Sam Gan sin Kay memberitahukan.
"oooh"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Baiklahi"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Aku dan sastrawan sialan harus segera ke markas pusat Kay Pang."
"Kakek pengemis, jangan lupa sampaikan salamku kepada Im Ceng"
Pesan Tio Cie Hiong.
"Pasti kusampaikan,"
Sahut sam Gan sin Kay sambil tertawa g elaki lalu bersama Kim siauw suseng melesat pergi. sayup,sayup masih terdengar suara seruannya.
"Ceng Im... Im Ceng...."
Seruan itu seakan menyadarkan Tio Cie Hiong, bahwa Ceng Im adalah Im Ceng, tapi Tio cie Hiong tidak berpikir ke situ.
"Herah"
Gumam Tio Cie Hiong.
"Kakekmu kelihatannya tidak bisa membedakan kalian kakak beradik,"
"Kakek sudah pikun,"
Sahut Lim Ceng im sambil tersenyum.
"Pikun?"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kemala dan menambahkan.
"Mudah-mudahan kakekmu tidak akan lupa menyampaikan salamku pada Im Ceng"
"Kalau dia lupa, aku pasti menyampaikan kepadanya."
Lim ceng Im tersenyum lagi.
"ohya, Kakak Hiong Kita ke mana dulu? Ke siauw Lim atau Bu Tong?"
"siauw Lim"
"Kalau begitu mari kita berangkat" -ooo00000ooo-Keempat Dhalai Lhama pulang ke istana Thian Mo dengan menderita luka parahi mereka berempat duduk dengan wajah meringis-ringis. Tak lama muncullah Bu Lim sam Mo, mereka bertiga menatap Empat Dhalai Lhama itu dengan kening berkerut-kerut. (Bersambung keBagian 15)
Jilid 15
"Bu Lim Ji Khie berhasil melukai kalian?"
Tanya Tang Hai Lo Mo.
"Bukan Bu Lim Ji Khie."
Dhalai Lhama jubah merah memberitahukan.
"Padahal Bu Lim Ji Khie telah terluka, tapi...."
"Kenapa?"
Tanya Thian Mo.
"Mendadak muncul Pek Ih Sin Hiap"
Sahut Dhalai Lhama jubah kuning.
"Kepandaiannya sungguh tinggi...."
"Dia berhasil melukai kalian berempat?"
Tanya Tang Hai Lo Mo seakan tidak percaya.
"Ya."
Dhalai Lhama jubah hijau mengangguk.
"Dia berhasil melukai kami."
"oh?"
Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening.
"Benarkah kepandaiannya begitu tinggi?"
"Benar."
Dhalai Lhama jubah merah memberitahukan.
"Dia hanya mengibaskan lengan bajunya...."
"oh?"
Thian Mo tampak terkejut.
"Hanya dengan kibasan lengan baju sudah melukai kalian berempat hingga sedemikian parah?"
"Ya."Dhalai Lhama jubah merah mengangguk dan memberitahukan.
"Lweekangnya sangat tinggi, begitu pula ginkangnya."
"Heran"
Gumam Tang Hai Lo Mo.
"Dia sebetulnya murid siapa? Tidak mungkin murid Lam Hai Sin ceng."
"Itu memang tidak mungkin."
Ujar Te Mo.
"Sebab kepandaiannya masih di atas Bu Lim Ji Khie, lagipula sudah sekian lama Lam Hai sin Ceng tiada kabar beritanya."
"Lam Hai sin Ceng pun tidak akan menerima murid,"
Sela Thian Mo.
"Kini muncul Pek ih sin Hiap yang berkepandaian begitu tinggi, sudah barang tentu merupakan rintangan kita."
"Benar."
Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.
"Maka dia harus segera dilenyapkan."
"Perlukah kita bertiga turun tangan?"
Tanya Thian Mo.
"Belum waktunya untuk kita bertiga turun tangan,"
Sahut Tang Hai Lo Mo, kemudian memandang Ku Tek cun yang duduk diam dari tadi.
"Engkau sudah berhasil mempelajari ilmu hitam itu?"
"sudan, guru,"
Sahut Ku Tek Cun.
"Kalau begitu, sudah waktunya pula engkau pergi melenyapkan Pek Ih Sin Hiap itu,"
Ujar Tang Hai Lo Mo.
"Ya, guru."
Ku Tek Cun mengangguk.
"ingat"
Pesan Thian Mo.
"Kali ini engkau tidak boleh gagal lagi, jangan mempermalukan kami bertiga"
"Ya, guru."
Ku Tek cun mengangguk lagi.
"Tek cun"
Tang Hai Lo Mo menatapnya tajam.
"Engkau boleh melenyapkannya dengan akal busuk apa pun."
"Ya, guru."
Ku Tek Cun tersenyum.
"Murid pasti membunuhnya."
"Kalian berempat...,"
Ujar Tang Hai LoMopada keempat Dhalai Lhama.
"Harus membutuhkan waktu berapa lama menyembuhkan luka dalam kalian itu?"
"Kira-kira dua tiga bulan,"
Sahut Dhalai Lhama jubah merah.
"Kalau begitu, mulai sekarang kalian berempat boleh beristirahat untuk mengobati luka kalian itu,"
Ujar Tang Hai Lo Mo.
"Terima kasih, Kauwcu"
Ucap keempat Dhalai Lhama dan mengundurkan diri dari situ.
"Tek Cun"
Panggil Tang Hai Lo Mo.
"Ya, Guru,"
Sahut Ku Tek Cun cepat.
"Engkau harus ingat, biar bagaimana pun engkau harus dapat melenyapkan Pek Ih sin Hiap itu"
Pesan Tang Hai Lo Mo.
"Ya, Guru."
Ku Tek Cun mengangguk.
"Nah Engkau boleh pergi melaksanakan tugasmu itu,"
Ujar Tang Hai Lo Mo.
"Ya, guru."
Ku Tek Cun memberHormat, lalu melangkah pergi meninggalkan istana Thian yang kini merupakan markas sam Mo Kauw.
Tio cie Hiong dan Lim Ceng im telah tiba di Biara siauw Lim.
Beberapa hweeshio menyambut kedatangan mereka dengan sikap was-was.
"Maaf"
Ucap Tio Cie Hiong sambil menjura.
"Kedatangan kami telah mengganggu kalian"
"omitohud"
Salah seorang hweeshio berusia hampir setengah abad mendekati Tio Cie Hiong.
"Kalian datang mau menemui siapa?"
"Kami ingin bertemu Hui Khong Taysu,"
Jawab Tio Cie Hiong.
"Maaf Ketua kami sedang beristirahat."
Hweeshio itu memberitahukan.
"Jadi tidak bisa menemui siapa pun."
"Hweeshio tua"
Lim Ceng im tidak sabaran, kemudian memperkenalkan diri "Ayahku adalah Lim Peng Hang ketua Kay Pang, sam Gan sin Kay adalah kakekku."
"omitohud"
Hweeshio itu terkejut.
"Pemuda ini...?"
"Namaku Tio Cie Hiong...."
"Dia adalah Pek Ih sin Hiap."
Lim Ceng Im memberitahukan.
"Omitohud"
Hweeshio itu terbelalak.
"Hweeshio tua, kakekku yang menyuruh kami ke mari untuk mengobati Hui Khong Taysu."
Ujar Lim Ceng Im.
"Cepatlah antar kami menemui beliau"
"Omitohud Harap kalian berdua tunggu sebentar, aku harus melapor dulu."
Hweeshio itu memberitahukan lalu segera ke dalam, sedangkan beberapa hweeshio lain masih berdiri menghadang ke depan.
"Huh"
Dengus Lim Ceng Im.
"Bertingkah amat para hweeshio di sini, kalau tidak ingat kakek yang menyuruh ke mari, aku pasti mengajakmu pergi saja."
"Adik Im"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Menghadapi segala apa pun, haruslah bersabar. Lagi pula kita pun harus mentaati peraturan di sini."
"Kakak Hiong, aku... aku menurut."
Lim Ceng im tersenyum.
"Nah, barulah adikku yang baik,"
Tio Cie Hiong tertawa kecil. Berselang beberapa saat, hweeshio itu sudah keluar dengan wajah berseri dan berkata.
"Omitohud Mari ikut aku ke dalam"
"terima kasih"
Ucap Tio cie Hiong. Mereka berdua lalu mengikutHweeshio itu ke dalam. sungguh luas biara siauw Lim itu, entah berapa kali menikung dan membelok, barulah sampai di ruang semadi.
"Lapor pada ketua"
Ujar hweeshio itu di pintu ruangan.
"Mereka sudah datang."
"Silakan masuk"
Terdengar suara sahutan dari dalam ruangan itu, namun suara itu terdengar lemah sekali.
"Masuklah"
Ujar hweeshio itu "Terima kasih"
Ucap Tio Cie Hiong lalu berjalan ke dalam. Lim Ceng im mengikutinya dari belakang. seorang hweeshio tua duduk bersila di dalam ruangan. wajahnya tampak pucat pias, dan sekali-sekali meringis pula.
"Taysu..."
Panggil Tio Cie Hiong.
"Kalian duduklah"
Ujar Hui Khong Taysu dengan suara lemah. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im duduk dHadapan ketua siauw Lim itu. Tio Cie Hiong terus memandangnya dengan penuh perhatian.
"sam Gan Sin Kay menyuruh kalian ke mari untuk mengobatiku?"
Tanya Hui Khong Taysu sambil memandang mereka.
"Ya."
Sahut Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im serentak. kemudian Lim Ceng Im menunjuk Tio Cie Hiong dan menambahkan.
"Dia yang akan mengobati Taysu."
"oh?"
Hui Khong Taysu menatap Tio Cie Hiong ragu.
"Taysu"
Lim Ceng im tersenyum.
"Dia Tio Cie Hiong...."
"ooh"
Hui Khong Taysu manggut-manggut.
"Julukannya Pek Ih sin Hiap kan?"
"Benar."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Itu hanya julukan kosong."
"omitohud"
Hui Khong Taysu tersenyum.
"Mau merendah berarti berisi, berisi memang harus merendah."
"Terima kasih atas nasehat Taysu"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Taysu, bolehkah aku memeriksa Taysu?"
"omitohud silakan"
Hui Khong Taysu mengangguk. Tio Cie Hiong mulai memeriksa ketua siauw Lim. setelah beberapa saat kemudian barulah ia membuka mulut.
"Tidak apa-apa."
Tio Cie Hiong tersenyum dan sekaligus mengambil dua butir obat, lalu diberikan kepada Hui Khong Taysu.
"Makanlah obat ini, dalam waktu tiga hari Taysu pasti sembuh"
"oh?"
Hui Khong Taysu masih tampak ragu.
"Taysu jangan ragu"
Lim Ceng Im memberitahukan.
"Dia belajar ilmu pengobatan pada sok Beng Yok ong."
"omitohud"
Hui Khong Taysu segera memasukkan kedua butir obat itu ke dalam mulutnya, dan tanpa dengan air ditelannya kedua butir obat tersebut.
"Taysu harus menghimpun lweekang,"
Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.
"Aku akan membantu Taysu dengan lweekang ku."
"omitohud"
Hui Khong Taysu mulai menghimpun lweekangnya untuk mengobati luka dalamnya.
Tio Cie Hiong menggeserkan, badannya ke belakang Hui Khong Taysu, lalu sepasang telapak tangannya ditempelkan pada punggung hweeshio tua itu, sekaligus mengerahkan Pan Yok Hian Thian sin Kang.
Hui Khong Taysu terkejut, karena merasakan adanya hawa hangat mengalir ke dalam tubuhnya.
Namun ia pun bergirang dalam hati, sebab hawa hangat itu justru akan membantunya menyembuhkan luka dalamnya.
Berselang beberapa saat kemudian, Tio Cie Hiong melepaskan tangannya.
Hui Khong Taysu pun berhenti menghimpun lweekangnya sambil membuka matanya.
"omitohud"
Wajah Hui Khong Taysu sudah tidak begitu pucat lagi.
"Terima kasih Lweekang-mu sungguh tinggi sekali"
"Seharusnya aku yang berterima kasih kepada Taysu,"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Kenapa?"
Hui Khong Taysu tercengang.
"Karena Taysu yang mengubur kedua orang tuaku di Pek In Tia."
Tio cie Hiong memberitahukan.
"omitohud"
Hui Khong Taysu memandangnya lembut.
"Ternyata engkau putra almarhum Hui Kiam Bu Tek dan almarhumah sin Pian Bi jin"
"Betul, Taysu."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Tapi kakakku pun telah mati."
"siapa kakakmu?"
Tanya Hui Khong Taysu.
"Pek Ih Mo Li."
Tio cie Hiong memberitahukan.
"Kakakku pun mati di tangan Empat Dhalai Lhama Tibet."
"omitohud Dhalai Lhama jubah kuning yang melukaiku. Kalau ketiga paman guruku tidak muncul, mungkin aku telah mati. oh y a...."
Hui Khong Taysu ingin minta tolong kepada Tio Cie Hiong untuk mengobati ketiga paman gurunya, tapi merasa tidak enak membuka mulut.
"Taysu"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Bukankah siauw Lim sam Tianglo juga terluka?"
"Ya."
Hui Khong Taysu mengangguk.
"Maukah Taysu mengantar kami menemui sam Tiang lo?"
Tanya Tio Cie Hiong dengan maksud mengobati ketiga Tetua siauw Lim.
"Omitohud Baiklah"
Hui Khong Taysu bergirang dalam hati, lalu mengajak Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im ke ruang dalam.
sesampainya di pintu ruang dalam, Hui Khong Taysu tidak langsung masuk.
melainkan melongok ke dalam.
Begitu pula Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im.
Mereka melihat tiga hweeshio berusia lanjut sedang duduk bersila, tangan saling menempel, ternyata ketiga Hweeshio berusia lanjut itu saling membantu mengobati luka dalam masing-masing dengan lweekang.
"Taysu"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Aku akan membantu ketiga tetua itu."
"Omitohud"
Hui Khong Taysu manggut-manggut.
Tio Cie Hiong berjalan masuk.
lalu duduk di belakang salah seorang tetua, dan menempelkan sepasang telapak tangannya pada punggung tetua itu.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia melepaskan tangannya.
Begitu pula ketiga tetua itu, bahkan mereka lalu membuka matanya.
"Omitohud"
Siauw Lim sam Tiang lo tampak terkejut ketika melihat Tio Cie Hiong duduk di situ.
"Engkau yang membantu kami tadi?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Omitohud"
Siauw Lim sam Tiang lo memandangnya kagum.
"Lweekang apa yang kau pergunakan tadi?"
"Pan Yok Hian Thian sin Kang."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Omitohud"
Siauw Lim sam Tiang lo manggut-manggut.
"Hanya engkau yang mampu menghadapi Bu Lim sam Mo."
"Paman guru"
Hui Khong berjalan masuk dengan wajah berseri.
"Dia adalah Pek Ih sin Hiap, namanya Tio Cie Hiong."
"Omitohud Hui Khong, engkau juga sudah sembuh?"
"Ya, Paman guru."
"omitohud Dengan munculnya Pek Ih sin Hiap, maka rimba persilatan pun akan selamat."
"Maaf, Tetua Aku mau mohon diri"
Ucap Tio Cie Hiong karena tidak mau mengganggu ketenangan ketiga tetua itu.
"Engkau memiliki ilmu Penakluk iblis, siapa yang mengajarmu?"
Tanya siauw Lim sam Tiang lo mendadak.
"Thian Thay siansu,"
Jawab Tio Cie Hiong jujur.
"Omitohud omitohud...."
"Maaf, Tetua Aku mohon diri"
Ucap Tio cie Hiong.
"Omitohud"
Siauw Lim Tiang lo manggut-manggut. Hui Khong Taysu, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im meninggalkan ruang dalam itu, kemudian Tio Cie Hiong berpamit.
"Maaf, Taysu Kami mau mohon diri karena masih harus ke Gunung Butong."
"Omitohud"
Hui Khong Taysu manggut-manggut.
Tio cie Hiong dan Lim Ceng im segera berangkat ke Gunung Butong.
Bebetapa hari kemudian mereka sudah tiba di gunung itu Bisa begitu cepat tiba karena mereka menggunakan ginkang.
Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im berdiri di depan sam Cing Koan.
Tak berapa lama kemudian, beberapa tosu dengan pedang di tangan menghampiri mereka.
"Maaf"
Ucap salah seorang dari mereka.
"Ada urusan apa kalian berdua datang ke mari?"
"Namaku Lim Ceng Im, ayahku adalah ketua Kay Pang, kakekku adalah sam Gan Sin Kay."
Lim Ceng Im memperkenalkan diri "Kakek yang menyuruh kami datang ke mari untuk mengobati It Hian Tojin."
"oooh"
Tosu itu manggut-manggut, kemudian memandang Tio Cie Hiong.
"Pemuda ini...."
"Dia Pek Ih sin Hiap,"
Sahut Lim Ceng Im.
"oh?"
Tosu itu tampak terkejut.
"Maaf, maaf Mari ikut aku ke dalam"
Tosu itu berjalan ke dalam.
Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im mengikutinya dari belakang.
Tak lama mereka sudah sampai di sebuah ruangan, yang di situ tampak seorang Tosu tua duduk dengan wajah pucat pias.
"Lapor pada Ketua"
Tosu itu memberitahukan.
"Cucu sam Gan Sin Kay dan Pek Ih sin Hiap berkunjung."
"oh?"
It Hian Tojin memandang mereka berdua.
"Silakan duduk"
Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im duduk dHadapan it Hian Tojin. setelah mereka duduk, It Hian Tojin menghela nafas panjang.
"Kalau sam Gan Sin Kay dan Kim siauw suseng terlambat datang, mungkin Partai Butong telah musnah."
"Kakekku dan kakek sastrawan bertempur dengan Empat Dhalai Lhama, mereka berdua terluka...."Lim Ceng Im memberitahukan.
"oh?"
It Hian Tojin terkejut bukan main.
"Bagaimana keadaanBu Lim Ji Khie?"
"Tidak apa-apa,"
Sahut Lim Ceng Im sambil melirik Tio Cie Hiong.
"Dia yang menolong kakekku dan kakek sastrawan."
"oh?"
It Hian Tojin.
"siapa pendekar muda ini?"
"Dia Pek Ih sin Hiap, namanya Tio Cie Hiong."
Lim Ceng Im memperkenalkan.
"ooooh"
It Hian Tojin manggut-manggut, kemudian menghela nafas.
"Aku telah terluka dalam...."
"Kakek menyuruh kami ke mari untuk mengobati Tojin"
Lim Ceng Im memberitahukan.
"Engkau mahir ilmu pengobatan?"
Tanya It Hian Tojin kurang percaya.
"Dia."
Lim Ceng Im menunjuk Tio Cie Hiong.
"Pek Ih sin Hiap"
It Hian Tojin menatapnya seraya bertanya.
"Engkau mahir ilmu pengobatan?"
"Hanya mahir sedikit."
Tio Cie Hiong tersenyum, lalu memeriksa It Hian Tojin dan kemudian manggut-manggut.
"Tidak apa-apa."
It Hian Tojin diam. Kelihatannya dia masih ragu akan ilmu pengobatan Tio Cie Hiong. oleh karena itu Ceng Im sebera memberitahukan.
"Dua tahun lebih dia belajar ilmu pengobatan kepada sokBeng Yok ong."
"oh?"
It Hian Tojin terkejut.
"Memang benar."
Tio Cie Hiong mengangguk dan kemudian memberikannya sebutir obat.
"Luka dalam Tojin tidak begitu parah, makanlah obat ini, dalam waktu beberapa hari Tojin pasti sembuh."
"terima kasih"
Ucap It Hian Tojin dan langsung makan obat tersebut.
"Tojin tidak usah berterima kasih padaku, sebaliknya aku malah harus berterima kasih kepada Tojin,"
Ujar Tio cie Hiong.
"Lho?"
It Hian Tojin tercengang.
"Kenapa?"
"Bukankah Tojin telah mengubur kedua orang tuaku di Pek In Tia?"
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Jadi engkau putra almarhum Hui Kiam Bu Tek dan almarhumah sin Pian Bijin?"
It Hian Tojin terbelalak.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk dan menambahkan.
"Pek Ih Mo Li adalah kakakku, tapi... dia telah mati di tangan Empat Dhalai Lhama."
"Aaakh"
It Hian Tojin menghela nafas.
"Kini rimba persilatan sudah mulai kacau, sebab muncul sam Mo Kauw."
"Kauwcunya adalah Bu Lim sam Mo."
Ujar Lim Ceng Im.
"Ya."
It Hian Tojin manggut-manggut.
"Ke-lihatannya Bu Lim sam Mo ingin menguasai rimba persilatan."
"Jangan khawatir, Tojin"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Kakak Hiong dapat menghadapi Bu Lim sam Mo."
"oh?"
It Hian Tojin menatap Tio Cie Hiong dalam-dalam.
"Benarkah itu?"
"Mudah-mudahan"
Jawab Tio Cie Hiong.
"Syukurlah"
Ucap It Hian Tojin.
"Maaf"
Ucap Tio Cie Hiong sambil bangkit berdiri "Kami mau mohon diri"
It Hian Tojin manggut-manggut lalu mengantar Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im sampai di depan sam Cing Koan.
Bab 25 Tayli Kongcu (Puteri Tayli) Kini Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im mulai melakukan perjalanan kembali ke markas pusat Kay Pang.
Dalam perjalanan ini, Tio Cie Hiong sering melamun.
"Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im tersenyum.
"Kenapa engkau sering melamun?"
"Aku... aku...."
Tio Cie Hiong menghela nafas.
"Kakak Hiong, mari kita duduk beristirahat sejenak di bawah pohon"
Ajak Lim Ceng Im. Tio cie Hiong mengangguk. Mereka berdua lalu duduk beristirahat di bawah sebuah pohon rindang. setelah duduk-Tio Cie Hiong terus memandang lurus ke depan.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im tersenyum geli.
"Engkau sedang merindukan kakakku ya?"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kenapa engkau begitu merindukannya?"
Tanya Lim Ceng Im sambil memandangnya dengan mata berbinar-binar.
"Aku... aku...."
Tio Cie Hiong menundukkan kepala.
"Jangan begitu, Kakak Hiong"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Aku khawatir engkau akan menderita sakit rindu."
"Adik Im"
Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Bagaimana menurut pendapatmu?"
"Maksudmu mengenai apa?"
Lim Ceng Im terheran-heran karena pertanyaan Tio Cie Hiong tiada ujung pangkalnya.
"Apakah...."
Wajah Tio Cie Hiong tampak kemerah-merahan.
"Dia telah menerima salamku?"
"Kakak ku pasti sudah menerima salam mu."
"Adik Im, apakah... dia juga sedang merindukanku?"
"Percayalah"
Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum.
"Dia pasti rindu pada mu juga."
"Kok engkau begitu yakin?"
Tio cie Hiong menatapnya.
"Aku adiknya, tentu tahu bagaimana sifatnya."
Lim Ceng Im tersenyum lagi dan menambahkan.
"Kalau tidak menyukaimu, tidak mungkin dia mau bercakap-cakap denganmu, kan?"
"Ng"
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Tapi... kenapa dia tidak berpamit kepadaku ketika mau pergi?"
"Mungkin... dia merasa malu,"
Sahut Lim Ceng Im dengan hati berbunga-bunga karena Tio Cie Hiong begitu merindukan Im Ceng dirinya juga.
"Ketika mau pergi, dia menitip salam kepadaku untukmu."
"oh?"
Wajah Tio Cie Hiong berseri.
"Kalau begitu... dia pasti juga jatuh hati padaku."
"Benar."
Lim Ceng Im mengangguk, namun mendadak ia mengerutkan kening sambil memandang ke depan.
Ternyata ia melihat seorang pemuda tampan menghampiri mereka.
siapa pemuda tampan itu?
Tidak lain Ku Tek Cun.
la mendekati Tio Cie Hiong sambil tersenyum-senyum, sedangkan Lim Ceng Im terus menatapnya.
"saudara Tio"
Panggilnya.
"oh, saudara Ku"
Tio Cie Hiong sebera bangkit berdiri "Apa kabar?"
"Baik,baik saja,"
Sahut Ku Tek Cun sambil tertawa gembira.
"Tidak disangka kita akan bertemu di sini ohya, siapa saudara ini?"
"Dia Ceng Im, putera Lim Peng Hang, ketua Kay Pang."
Tio Cie Hiong memperkenalkan.
"ooohl"
Ku Tek Cun segera menjura.
"selamat bertemu, saudara Lim"
Lim Ceng Im balas menjura, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun, melainkan terus menatapnya dengan kening berkerut.
sebetulnya Ku Tek Cun ingin mengerahkan ilmu hitamnya terhadap Tio Cie Hiong, namun ia tahu Lim Ceng Im terus-menerus mengawasinya, maka ia tidak berani melaksanakan niatnya.
la pun ingin melancarkan serangan mendadak terhadap Tio Cie Hiong, namun khawatir Lim Ceng Im akan menyerangnya pula.
Karena itu, ia terpaksa menunggu kesempatan lain.
"Maaf, saudara Tio Aku harus pamit"
Ucapnya sambil tersenyum.
"Kok cepat? Kita masih belum mengobrol,"
Sahut Tio Cie Hiong heran.
"Aku masih ada urusan lain, sampai jumpa"
Ku Tek Cun segera meninggalkan mereka. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im duduk kembali, namun kening Lim Ceng Im terus berkerut.
"Eh?"
Tio Cie Hiong heran.
"Kenapa engkau?"
"Kakak Hiong Engkau punya suatu dendam dengan orang itu?"
Lim Ceng Im balik bertanya.
"Tidak."
Tio cie Hiong menggelengkan kepala.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im menatapnya.
"Engkau kenal dia di mana?"
"Dia putra almarhum Hong Lui Kiam Khek...."
Tio Cie Hiong memberitahukan, sekaligus menutur tentang dirinya pernah bekerja di Puri Angin Halilintar.
"Pada waktu itu engkau masih kecil."
Ujar Lim Ceng Im seusai mendengar penuturan itu.
"Phang Ling Hang menganggapmu sebagai adik, lagi pula dia telah mencintai Ku Tek Cun dan kini Phang Ling Hang sudah tiada. Tapi kenapa dia...."
"Memangnya ada apa?"
Tanya Tio Cie Hiong heran.
"Kakak Hiong, engkau tidak memperhatikan sorot mata dan gerak-geriknya?"
Tanya Lim Ceng Im.
"Tidak."
"sorot matanya penuh hawa membunuh, sedangkan gerak-geriknya seakan ingin menyerangmu secara mendadak."
Lim Ceng Im memberitahukan "Maka aku terus-menerus meng awasinya ."
"Ha ha ha"
Tio Cie Hiong tertawa.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im mengerutkan kening.
"Aku serius nih Jangan tertawa"
"Adik Im, tidak baik terlampau banyak curiga,"
Ujar Tio Cie Hiong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im menghela nafas.
"Engkau sangat jujur dan hatimu polos, maka tidak tahu akan kelicikan orang."
"Adik Im"
Tio Cie Hiong memandangnya.
"Aku tidak punya dendam apa pun dengan dia, kenapa dia ingin membunuhku?"
"sorot mata dan gerak-geriknya memang begitu, apa sebabnya dia ingin membunuhmu, aku pun tidak habis pikir,"
Sahut Lim Ceng Im menambahkan.
"Kakak Hiong, apabila engkau bertemu dia lagi, haruslah hati-hati"
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im mengalihkan pembicaraan.
"Ketika engkau bertempur dengan para anggota sam Mo Kauw dan Empat Dhalai Lhama, engkau bergerak begitu cepat. sebetulnya gerakan apa itu?"
"itu adalah Kiu Kiong san Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat),"
Sahut Tio Cie Hiong lalu berpikir sejenak.
"Adik Im...."
"Ya."
"Kepandaianmu masih belum begitu tinggi. Ketika melawan para anggota sam Mo Kauw, engkau kewalahan. oleh karena itu, aku ingin mengajarmu Kiu Kiong san Tian Pou."
"Terima kasih, Kakak Hiong"
"Setelah engkau menguasai Ilmu Langkah Kilat, engkau pasti bisa meloloskan diri kalau bertemu lawan berkepandaian tinggi. Tapi engkau harus ingat satu hal."
"Hal apa?"
"Aku ingin mengajarmu Ilmu Langkah Kilat, bukan karena engkau adik Im Ceng,"
Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Kalaupun engkau bukan adiknya, aku tetap mengajarmu."
"Kenapa?"
"Karena sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah menyayangimu seperti adik sendiri Jadi engkau jangan salah paham, aku mau mengajarmu Ilmu Langkah Kilat itu bukan lantaran engkau adalah adik Im Ceng"
Tio Cie Hiong menjelaskan.
"Terima kasih, Kakak Hiong"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Nan, perhatikan baik-baik gerakanku"
Tio Cie Hiong bangkit berdiri dan berjalan ke depan beberapa depa, kemudian badannya mulai bergerak.
Lim Ceng Im pusing menyaksikannya, maka bagaimana mungkin ia dapat mengikuti gerakangerakan itu?
"Kakak Hiong Aku tidak bisa melihat jelas gerakan-gerakanmu"
Serunya sambil menggelenggelengkan kepala. Tio Cie Hiong tidak menyahut, bahkan masih terus bergerak. Berselang sesaat barulah ia berhenti, lalu mendekati Lim Ceng Im.
"Engkau sudah menyaksikan gerakan-ge-rakanku bukan?"
"Ya. Tapi... aku tidak bisa melihat secara jelas."
"Aku tahu itu."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Lihatlah permukaan tanah itu, aku telah meninggalkan bekas kakiku di situ."
Lim Ceng Im memandang ke permukaan tanah itu. Dilihatnya ratusan jejak kaki.
"Ikuti jejak kakiku itu"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Aku akan memberi petunjuk kepadamu."
"Ya."
Lim Ceng Im berjalan ke sana, kemudian bergerak mengikuti jejak-jejak kaki tersebut. Kalau Lim Ceng Im melakukan kekeliruan, Tio Cie Hiong langsung memberi petunjuk.
"Adik Im Kau mundur dulu, baru maju."
Lim Ceng Im menurut. Kemudian Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"sekarang engkau harus ke kiri, baru ke depan dan harus mundur."
Tio Cie Hiong memberi petunjuk lagi. Berselang beberapa saat kemudian, barulah Lim Ceng Im dapat bergerak tanpa melakukan kekeliruan lagi.
"Bagus"
Seru Tio cie Hiong sambil tersenyum.
"Apakah engkau sudah hafal gerakan-gerakan itu?"
"Ya."
Lim Ceng Im mengangguk, lalu mendekati Tio Cie Hiong.
"Bagaimana? Apakah sudah lumayan?"
"Memang sudah lumayan."
Tio Cie Hiong manggut-manggut, kemudian menghapus jejak-jejak kakinya itu, dan setelah itu mendadak bergerak lagi.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im terbelalak.
"Gerakan-gerakan itu masih ada kelanjutannya?"
"Ya."
Sahut Tio Cie Hiong, lalu menghentikan gerakannya.
"Adik Im, ikutilah lagi jejak-jejak kakiku"
"Ya."
Lim Ceng Im mulai bergerak lagi mengikuti jejak-jejak kaki Tio cie Hiong.
Apabila Lim Ceng Im melakukan gerakan yang salah, Tio Cie Hiong segera memberi petunjuk.
Berselang beberapa saat kemudian, Lim Ceng Im sudah mengusai semua gerakan itu walau masih agak lamban.
"terima kasih, Kakak Hiong"
Ucap Lim Ceng Im sambil duduk beristirahat di bawah pohon. Tio Cie Hiong hanya tersenyum. Mendadak Lim Ceng Im memandangnya seraya berkata.
"Ketika bertempur dengan mereka, engkau hanya mengibaskan lengan baju. Apakah tidak ada jurus-gurus lain?"
"Tidak ada."
Tio cie Hiong menggeleng-ge-lengkan kepala.
"Jadi engkau hanya bisa mengibaskan lengan baju?"
Lim Ceng Im terbelalak. Kelihatan ia masih kurang percaya.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Kalau begitu...."
Wajah Lim Ceng Im berseri.
"Engkau harus menciptakan semacam ilmu."
"oh?"
Tio Cie Hiong tampak tertarik.
"Kalau tidak. bagaimana engkau menghadapi Bu Lim sam Mo kelak?"
Lim Ceng Im memandangnya .
"Benar juga."
Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Tapi aku tidak mempunyai senjata...."
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im memberitahukan.
"Bukankah suling kumala itu senjatamu"
"Benar."
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kenapa aku lupa?"
"Nan engkau boleh menciptakan ilmu suling kumala,"
Ujar Lim Ceng Im serius.
"Ng"
Tio Cie Hiong mengangguk.
lalu duduk bersila dan memejamkan matanya.
Tak seberapa lama kemudian, di depan mata Tio Cie Hiong mulai muncul berbagai macam jurus ilmu pedang, yakni ilmu Pedang Hong Lui Kiam Kun Hoat (Ilmu Pedang Angin Halilintar), Tu Hun Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pengejar Roh), Toat Beng Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pencabut Nyawa), sam Ciat Kun Hoat (Tiga Jurus Tongkat Maut) dan Tah Kauw Hoat (Ilmu Tongkat Pe-mukul Anjing).
Terakhir muncul gerakan-gerakan aneh, yakni gerakan-gerakan monyet putih dari puncak gunung Thian san.
Makin lama gerakan-gerakan itu makin nyata, sehingga sepasang tangan Tio Cie Hiong ikut bergerak.
Lim Ceng Im terbelalak ketika menyaksikan gerakan-gerakan tangan Tio cie Hiong, sebab gerakan-gerakannya sangat aneh.
Namun ia diam saja, sama sekali tidak berani mengganggu.
sementara sepasang tangan Tio Cie Hiong masih terus bergerak.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia berhenti dan membuka matanya.
"Adik Im"
Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Aku teiah berhasil menciptakan semacam ilmu yang menggunakan suling kumala."
"oh?"
Wajah Lim Ceng Im berseri.
"Cobalah perlihatkan kepadaku"
"Baik,"
Tio Cie Hiong mengangguk lalu bangkit berdiri "Adik Im, berdiri agak jauh"
Lim Ceng Im segera mundur beberapa depa.
sedangkan Tio Cie Hiong sudah mengeluarkan suling kumalanya, lalu mulai bergerak laksana kilat.
Tampak suling kumaianya berkelebat ke sana ke mari, bahkan mengeluarkan suara ngung-ngungan pula.
Dengan mulut ternganga lebar Lim Ceng Im menyaksikannya, sebab ia sama sekali tidak menyangka kalau Tio Cie Hiong mampu menciptakan ilmu suling kumala yang begitu lihay dan hebat.
setelah Tio Cie Hiong berhenti, Lim Ceng im segera bertepuk tangan sambil menghampirinya .
"Kakak Hiong"
Ucap Lim Ceng im dengan wajah ceria.
"Aku mengucapkan selamat pada mu. sebab engkau telah berhasil menciptakan semacam ilmu yang tanpa tanding."
"Adik Im"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Jangan mengatakan tanpa tanding, aku malu mendengarnya ."
"Kakak Hiong, engkau sudah memilih nama yang tepat untuk ilmu itu?"
Tanya Ceng Im mendadak.
"Belum."
Sahut Tio Cie Hiong.
"Pikirlah nama yang tepat untuk ilmu itu"
Desak Lim Ceng Im. Tio Cie Hiong berpikir, lama sekali barulah ia membuka mulut sambil tertawa gembira.
"Akan kunamai... Gouw Siauw Bit Ciat Kang Hoat (Ilmu Suling Kumala Pemusnah Kepandaian)."
"Kok aneh sekali kedengarannya?"
Lim Ceng Im terbelalak.
"Ilmu suling Kumala yang kuciptakan ini terdiri dari tujuh jurus, dan setiap jurusnya pasti dapat memusnahkan kepandaian pihak lain."
Tio Cie Hiong menjelaskan.
"Maka kunamai Tujuh Jurus Ilmu suling Kumala Pemusnah Kepandaian."
"ooh"
Lim Ceng Im manggut-manggut.
"Nama jurus-jurus itu?"
"Belum ada."
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Kalau begitu...."
Lim Ceng Im memandangnya.
"Engkau perlihatkan sejurus demi sejurus, biar aku yang memberikan nama Bagaimana?"
"terima kasih"
Ucap Tio Cie Hiong, kemudian mempertunjukkan jurus pertama, setelah itu ia bertanya.
"Harus menamai apa jurus ini?"
"Ketika engkau mempertunjukkan jurus itu, terdengar suara ngung-ngungan, maka jurus itu harus dinamai... San Pang Te Liat (Gunung Runtuh Bumi Retak) bagaimana?"
"Bagus,"
Sahut Tio Cie Hiong.
"sekarang jurus kedua."
Tio Cie Hiong mempertunjukkan jurus kedua dan Lim Ceng Im menyaksikannya dengan mata terbelalak.
"Bagaimana?"
Tanya Tio Cie Hiong setelah berhenti.
"Harus dinamai apa jurus kedua itu?"
"Hai Lang Thau Thau (ombak Laut Menderu-deru),"
Sahut Lim Ceng Im.
"Tepat."
Tio Cie Hiong tertawa gembira, kemudian mempertunjukkan jurus ketiga.
"Cian Im Giok siauw (Ribuan Bayangan guling Kumala)"
Seru Lim Ceng Im. Tio Cie Hiong tersenyum dan mempertunjukkan jurus keempat, Lim Ceng Im pun berseru.
"Hoan Thian Coan Te (Membalikkan Langit Memutarkan Bumi)"
Berselang beberapa saat kemudian, Tio Cie Hiong telah usai mempertunjukkan ketujuh jurus Ilmu suling Kumala Pemusnah Kepandaian, dan Lim Ceng Im pun telah memberi nama jurus-jurus tersebut.
"Kakak Hiong"
Lim Ceng Im menatapnya kagum.
"Bukan main hebat dan lihaynya Ilmu suling Kumala mu"
"Itu atas usulmu,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum lembut.
"Kakak Hiong, itu merupakan ilmu menggunakan senjata, jadi engkau masih belum memiliki ilmu pukulan tangan kosong,"
Ujar Lim Ceng Im memberitahukan.
"Alangkah baiknya engkau menciptakan ilmu pukulan juga, sebab selama ini engkau hanya mengibaskan lengan baju."
"Ngmm"
Tio Cie Hiong mengangguk, lalu kembali duduk bersila sekaligus memejamkan matanya. Berselang sesaat, ia membuka matanya sambil tersenyum dan berkata.
"Adik Im, aku telah berhasil menciptakan beberapa gerakan tangan kosong, tapi...."
"Kenapa?"
"Itu menggunakan jari telunjuk."
"oh?"
"Adik Im, aku akan kuperlihatkan,"
Ujar Tio Cie Hiong.
Wajah Lim Ceng Im langsung berseri dan segera mundur beberapa depa.
Tio Cie Hiong mulai bergerak berdasarkan Kiu Kiong san Tian Pou, kemudian mengibaskan lengan bajunya, dan menyentil dengan jari telunjuknya.
Lim Ceng Im menyaksikan gerakan-gerakan itu dengan mulut ternganga lebar karena kagum.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah Tio cie Hiong berhenti sambil tersenyum.
"Wuah"
Seru Lim Ceng Im.
"Hebat sekali"
"Adik Im"
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Ilmu tangan kosong itu akan kunamai Bit ciat sin ci."
"Bit ciat sin ci (Jari sakti Pemusnah Kepandaian)?"
Lim Ceng Im tampak melongo.
"Ya."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Sebab aku menggunakan jari."
"Ngmm"
Lim Ceng Im manggut-manggut.
"Kalau begitu, aku yang menamai jurus jurus itu."
"Bagus."
Tio Cie Hiong tertawa gembira.
"Akan kuperlihatkan sejurus demi sejurus."
Lim Ceng Im mengangguk. Kemudian Tio Cie Hiong mulai bergerak dan tampak jari telunjuknya berkelebatan ke sana ke mari.
"Man Thian sing sing (Bintang-Bintang Bertaburan Di Langit)"
Seru Lim Ceng Im. Tio Cie Hiong melanjutkan jurus kedua, kemudian Lim Ceng Im pun berseru lagi sambil bertepuk tangan.
"Hong siau Yun Hang (Angin Berhembus Awan Bergerak)"
Tio Cie Hiong memperlihatkan jurus ketiga, keempat sampaijurus ketujuh dan Lim Ceng Im terus berseru memberi nama kepada jurus-jurus itu.
"Jit Goat siang Tui (Matahari Dan Bulan saling Berkejaran)"
"cian ci soh Te (Ribuan Jari Menyapu Bumi)"
"...."
Seru Lim Ceng Im dan berkata setelah Tio Cie Hiong usai mempertunjukkan jurus-jurus tersebut.
"Kakak Hiong, engkau memang hebat sekali Calon seorang maha guru, kelak engkau pasti bisa mendirikan sebuah perguruan."
"Adik Im"
Tio Cie Hiong tersenyum sambil duduk di bawah pohon.
"Aku sama sekali tidak berniat itu"
"Kakak Hiong, Bit Ciat sin ci itu berjumlah berapa jurus?"
Tanya Lim Ceng im mendadak.
"Adik Im...."
Tio Cie Hiong menatapnya heran.
"engkau tidak menghitung tadi?"
"Tidak."
Lim Ceng im menggelengkan kepala.
"Bit Ciat sin ci berjumlah tujuh jurus."
Tio Cie Hiong menjelaskan.
"Namun kakiku bergerak sesuai dengan Kiu Kiong san Tian Pou."
"ooh"
Lim Ceng Im mengangguk.
"Pantas gerakanmu secepat kilat Kakak Hiong, aku yakin engkau tiada tanding di kolong langit kelak"
"Adik Im"
Tio Cie Hiong tersenyum sambil memberitahukan.
"seteiah membuat perhitungan dengan Empat Dhalai Lhama dan Bu Lim sam Mo, aku ingin hidup tenang dan damai di suatu tempat terpencil."
"Kenapa?"
"Aku sudah jemu akan rimba persilatan."
"Bagaimana dengan kakakku?"
"Tentunya..."
Sahut Tio Cie Hiong dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Kalau dia mencintaiku, tentunya dia akan ikut aku hidup tenang di tempat terpencil."
"Tentu Tentu...."
Lim Ceng Im menundukkan kepala karena keterlepasan omong.
"Maksudku dia tentu mau ikut Kakak Hiong tinggal di tempat terpencil."
"Adik Im"
Tio Cie Hiong menghela nafas.
"Engkau bukan dia, dan dia bukan engkau. Jadi engkau jangan memastikan itu"
"Kakak Hiong...."
Lim Ceng Im menatapnya mesra, tapi Tio Cie Hiong tidak memperhatikannya .
"Adik Im"
Ujar Tio Cie Hiong.
"Aku ingin meniup suling."
"Bagus Bagus"
Wajah Lim Ceng Im berseri.
Tio Cie Hiong meniup suling kumalanya, dan seketika terdengarlah alunan suara suling yang sangat merdu, menggetarkan kalbu dan menyentuh hati.
Lim Ceng Im terus mendengarkan.
Wajahnya tersirat cinta kasih yang sangat dalam, sehingga tanpa sadar ia menaruh kepalanya di bahu Tio Cie Hiong.
sedangkan suara suling mengalun makin menggetarkan kalbu.
Ternyata Tio Cie Hiong mencurahkan seluruh rasa cintanya terhadap Im Ceng melalui suling kumalanya.
Pada waktu bersamaan, mendadak muncul tiga orang.
Salah seorang dari mereka seorang gadis berwajah cantik, Namun dandanan mereka agak aneh, maka dapat diketahui bahwa mereka bertiga bukan orang Tionggoan.
Tampak pula sehelai selendang panjang melingkar di leher dan di badan gadis itu Mereka bertiga lalu berdiri dHadapan Tio cie Hiong dan Lim Ceng Im, maka segeralah Lim Ceng im menggeserkan kepalanya dari bahu Tio Cie Hiong.
Tio Cie Hiong melihat kehadiran mereka di situ, tapi ia masih terus meniup sulingnya.
sedangkan gadis itu terus memandangnya dengan mata berbinar-binar dan wajah berseri-seri.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah Tio Cie Hiong berhenti meniup sulingnya.
Ketika ia memasukkan suling itu ke dalam bajunya, mendadak terdengar suara tepukan tangan.
Ternyata gadis itu yang bertepuk tangan.
Dua lelaki berusia lima puluhan itu juga memandang kagum pada Tio Cie Hiong.
"sungguh menyentuh hati suara sulingmu Aku kagum sekali,"
Ujar gadis itu sambil tersenyum manis.
Begitu menyaksikan senyuman manis gadis itu, Lim Ceng Im langsung membuang muka, namun kemudian memandang Tio Cie Hiong.
Kelihatannya ia ingin tahu bagaimana ekspresi wajahnya.
la berlega hati, sebab wajah Tio Cie Hiong tidak memperlihatkan ekspresi apa pun.
"suara sulingku kedengaran biasa-biasa saja,"
Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.
"Engkau merendah,"
Gadis itu juga tersenyum.
"Aku ke mari justru karena mendengar suara sulingmu. Terus terang, suara sulingmu sungguh menggetarkan kalbu. Itu pertanda engkau mahir sekali meniup suling."
"terima kasih atas pujian Nona"
Ucap Tio Cie Hiong. Gadis itu memang cantik sekali, tapi Tio Cie Hiong kelihatan tidak tertarik, namun tetap berlaku sopan dan ramah.
"Padahal di tempatku juga terdapat peniup suling yang ulung, namun masih kalah jauh dibandingkan denganmu,"
Ujar gadis itu sambil tersenyum lagi.
"Maaf, karena aku sangat tertarik dan kagum akan kemahiranmu meniup suling, maka aku mohon sudilah kiranya engkau meniup sekali lagi"
"Tidak boleh"
Sahut Lim Ceng Im cepat.
"Eh?"
Gadis itu memandang Lim Ceng Im sambil tersenyum.
"Aku bertanya kepadanya, kenapa engkau yang menyahut?"
"Dia Kakak Hiong ku Kenapa aku tidak boleh menyahut?"
Lim Ceng Im melotot.
"Engkau pengemis dekil, tapi kenapa begitu galak?"
Gadis itu tertawa.
"Walau aku pengemis dekil, ayahku ketua Kay Pang"
Lim Ceng Im memberitahukan sambil bertolak pinggang .
"oooh"
Gadis itu manggut-manggut.
"Ternyata aku sedang berhadapan dengan putra ketua Kay Pang Aku tahu, Kay Pang di Tionggoan sangat tersohor"
"Engkau siapa?"
Tanya Lim Ceng Im.
"Aku Putri Tayli, namaku Toan Pit Lian,"
Sahut gadis itu "Bolehkah aku tahu nama kalian berdua?."
Lim Ceng Im dan Tio Cie Hiong sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu Tayli Kong cu.
Tayli merupakan sebuah negeri kecil di luar Tionggoan, namun negeri itu sangat makmur dan rakyatnya senantiasa hidup tenang, damai dan sejahtera, karena raja Tayli merupakan raja yang bijaksana, juga berkepandaian tinggi.
"Namaku Lim Ceng Im,"
Sahutnya sambil menjura.
"Dia...."
Tayli Kongcu melirik Tio Cie Hiong seraya bertanya.
"Adalah kakakmu?"
"Dia bernama Tio Cie Hiong, kami... memang kakak adik,"
Jawab Lim Ceng im.
"Engkau marga Lim, dia marga Tio."
Tayli Kongcu mengerutkan kening.
"Kok bisa jadi kakak beradik?"
"Almarhum ayahku teman baik ayahnya, maka kami boleh dikatakan kakak adik, Tio Cie Hiong memberitahukan, namun ia sama sekali tidak memberi Hormat pada Tayli Kongcu itu. Tayli Kongcu Toan pit Lian tersenyum-senyum.
"oh ya, sudikah engkau meniup suling sekali lagi?"
"pokoknya tidak boleh"
Sahut Lim Ceng im cepat.
"Lho?"
Tayli Kongcu terheran-heran.
"Kenapa dari tadi engkau melarang dia meniup suling untukku?"
"Kenapa dia harus meniup suling untukmu?"
Lim Ceng Im melotot.
"Karena aku sangat tertarik dengan suara suling itu"
Ujar Tayli Kongcu sambil tersenyum lagi.
"Tertarik akan suara sulingnya atau ketampanannya?"
Tanya Lim Ceng Im mendadak dengan wajah tidak senang.
"Eeh...?"
Wajah Tayli Kongcu memerah.
"Adik Im"
Tegur Tio Cie Hiong halus.
"Jangan berlaku kurang ajar, dia berasal dari Negeri Tayli, jadi engkau jangan merendahkan adat istiadat Tionggoan. Lagipula secara tidak langsung akan mempermalukan Kay Pang."
Lim Ceng Im tampak cemberut setelah mendengar teguran Tio Cie Hiong.
"Lho?"
Tayli Kongcu menggumam.
"Kok anak lelaki juga bisa cemberut?"
"Ada urusan apa dengan engkau?"
Tegur Lim Ceng Im ketus.
"Adik Im"
Tio Cie Hiong menjelaskan dengan sabar.
"mereka datang dari Negeri Tayli yang begitu jauh, maka aku harus mengabulkan permintaannya. Karena kita ini orang Tionggoan, boleh dikatakan sebagai tuan rumah."
Akhirnya Lim Ceng Im mengangguk setelah mendengar ucapan Tio Cie Hiong.
"Terima kasih,"
Ucap Toan Pit Lian.
Tio Cie Hiong mulai meniup, Toan pit Lian mendengar dengan penuh perhatian, begitu pula Lim Ceng Im dan kedua lelaki itu.
suara suling itu mengalun merdu, halus, dan menggetarkan kalbu.
sehingga, tanpa sadar Tayli Kongcu melepaskan selendangnya, lalu mulai menari mengiringi suara suling itu.
Tayli Kongcu menari lemah gemulai.
selendang di tangannya juga meliuk-liuk lemas, menambah indahnya tarian itu.
Tio Cie Hiong menyaksikannya dengan kagum.
Begitu pula Lim Ceng Im, meski merasa panas pula dalam hati, sebab Tio Cie Hiong terus memandang Tayli Kongcu sedangkan Tayli Kongcu pun mengerling ke arahnya.
Beberapa saat kemudian, barulah Tio Cie Hiong menghentikan tiupan sulingnya.
"Engkau memang pandai sekali meniup suling, membuat perasaanku terhanyut entah ke mana,"
Ujar Tayli Kongcu sambil tersenyum.
"tarian Kongcu juga sungguh indah,"
Cuji Tio Cie Hiong.
"Hm Hm Hmmm"
Lim Ceng Im mendehem beberapa kali.
"Adikmu itu agak aneh sifatnya,"
Tukas Tayli Kongcu sambil tertawa kecil.
"Kelihatannya dia tidak begitu senang akan kehadiranku di sini."
"sifatnya memang begitu,"
Ujar Tio cie Hiong tersenyum.
"Tapi Hatinya baik sekali...."
"Kakak Hiong,"
Potong Lim Ceng im cepat.
"Mari kita pergi"
"Tunggu"
Tayli Kongcu menahan mereka.
"Kenapa engkau menahan kami?"
Tanya Lim Ceng im tidak senang.
"ingin menanyakan sesuatu,"
Ujar Toan pit Lian, lalu memandang Tio cie Hiong.
"Engkau mahir meniup suling, karena itu aku pun yakin engkau berkepandaian tinggi. Ya, kan?"
"Ya."
Jawab Lim Ceng Im cepat.
"Kepandaian-nya memang tinggi sekali, maka memperoleh julukan Pek Ih sin Hiap."
"Pek Ih sin Hiap?"
Tayli Kongcu manggut-manggut.
"Engkau memang pantas memperoleh julukan Pek Ih sin Hiap."
"Hh... itu hanya julukan kosong,"
Gumam Tio Cie Hiong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Karena engkau berkepandaian tinggi, aku ingin bertanding denganmu..."
Ujar Tayli Kongcu mendadak. matanya menatap pada wajah Tio Cie Hiong.
"Kongcu"
Salah seorang lelaki itu tampak terkejut.
"sebelum berangkat ke Tionggoan, Baginda sudah berpesan pada kami untuk menjaga Kongcu, agar tidak membuat onar di Tionggoan"
"Aku tidak membuat onar, hanya ingin bertanding dengan Pek Ih sin Hiap ituJadi kalian berdua tidak usah kuatir"
Kilah Tayli Kongcu.
"Kongcu, sebaiknya jangan"
"Kalian berani melarangku?"
"Hamba tidak berani"
Jawab kedua orang lelaki itu yang ternyata para pengawal istana Tayli.
"Tio Cie Hiong"
Tayli Kongcu menatapnya dalam-dalam.
"Tentunya engkau sudi bertanding dengan aku, kan?"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kita tidak usah bertanding, aku mengaku kalah saja,"
Ujarnya kemudian.
"Kakak Hiong"
Tegur Urn ceng Im tampak tidak senang.
"Kenapa engkau harus mengaku kalah? Hajar saja Kongcu tak tahu diri itu"
"Adik Im...,"
Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana?"
Tanya Tayli Kongcu.
"Engkau takut bertanding dengan aku?"
"Kongcu"
Tio Cie Hiong menghela nafas.
"Kita tidak bermusuhan, kenapa harus bertanding?"
"Pertandingan persahabatan, bukan untuk saling membunuh,"
Sahut Tayli Kongcu sambil tersenyum lembut.
"sebab aku ingin menjajal berapa tinggi kepandaian Pek Ih sin Hiap."
"Kakak Hiong, tidak perlu berbasa-basi dengan dia, hajar saja"
Desak Lim Ceng Im, merasa panas ketika menyaksikan senyuman lembut itu diarahkan pada Tio Cie Hiong.
"Eh?"
Dengus Tayli Kongcu.
"Pengemis dekil, kenapa engkau begitu galak seperti perempuan cerewet"
"Hm"
Dengus Lim Ceng Im.
"Kalau engkau menantangku, aku akan menghajarmu sampai lari terbirit-birit ke negeri Tayli"
"oh, ya?"
Tayli Kongcu tersenyum lagi, lalu memandang Tio cie Hiong.
"Kalau tidak berani bertanding dengan aku, berarti engkau telah mempermalukan kaum pesilat Tionggoan"
Tio Cie Hiong berpikir sejenak. dan kemudian perlahan menganggukkan kepala.
"Baik, mari kita bertanding"
"Senjataku adalah selendang ini, mana senjatamu?"
Tanya Tayli Kongcu.
"Aku akan melayanimu dengan tangan kosong,"
Ujar Tio cie Hiong.
"silakan Kongcu menyerang"
"Baiklah"
Tayli Kongcu manggut-manggut sambil tersenyum.
"Hati-hati, aku akan mulai menyerang"
Tayli Kongcu mengebutkan tangan dengan cepat.
seketika selendangnya melayang lemas ke arah tubuh Tio cie Hiong.
Tio cie Hiong tidak berani memandang rendah pada Tayli Kongcu, sebab ia tahu orang itu memiliki Iweekang tinggi.
Kalau tidak, mana mungkin Tayli Kongcu menggunakan selendang itu sebagai senjatanya?
sepertinya selendang itu dibuat dari bahan khusus, tidak akan putus terbacok senjata tajam apa pun.
Ketika ujung selendang hampir menyentuh badan Tio Cie Hiong, seketika pemuda ini bergerak menggunakan "Ilmu Langkah Kilat"
Untuk menghindar.
Akan tetapi sungguh di luar dugaan, selendang itu pun mengikuti bayangannya.
Karena itu, Tio Cie Hiong terpaksa melesat ke atas, kemudian berjungkir balik di udara.
Tio cie Hiong melayang turun dengan ringan.
Tayli Kongcu sempat memandangnya dengan kagum, namun ia tidak melanjutkan serangannya.
"Kenapa engkau cuma berkelit?"
Tanya Tayli Kongcu.
"Takut akan melukaiku...?"
"Huh Dasar tak tahu malu"
Dengus Lim Ceng Im yang menyaksikan pertarungan itu. Tayli Kongcu mengerutkan kening, tapi kemudian tersenyum seraya berkata.
"Pengemis dekil, jagalah mulutmu Itu akan merendahkan nama baik Kay Pang, lho"
"Adik Im"
Tegur Tio Cie Hiong halus.
"Tidak baik berlaku kurang ajar."
"Hm"
Dengus Lim Ceng Im sambil membanting-banting kaki.
"Eh?"
Tayli Kongcu keheranan menyaksikannya.
"Pek Ih sin Hiap, adikmu itu sungguh aneh, bisa membanting-banting kaki, seperti perempuan saja"
"Dia memang begitu."
Tio cie Hiong tersenyum geli.
"Bahkan wajahnya pun sering memerah."
"oh?"
Tayli Kongcu tercengang, lalu berkata pada Tio Cie Hiong.
"Engkau harus menyambut seranganku, jangan cuma berkelit saja"
"Kakak Hiong"
Teriak Lim Ceng Im.
"serang dia dengan Bit Ciat sin Ci" (Bersambung ke Bagian 16)
Jilid 16 Tio Cie Hiong menggeleng kepala.
"Kita tidak punya dendam apa pun dengan dia, kenapa aku harus menyerangnya dengan Biat Ciat Sin Ci (Jari Sakti Pemusnah Kepandaian)?"
"Dia... dia genit sekali"
Seru Lim Ceng Im.
"Apa?"
Mulut Tayli Kongcu ternganga lebar.
"Aku genit sekali?"
"Engkau memang genit terhadap kakak Hiong, dasar Putri Tayli tak tahu diri"
"Maaf"
Salah seorang pengawal menyela.
"Engkau tidak boleh menghina Kongcu kami, Kongcu kami sangat dimuliakan di Negeri Tayli."
"Tapi di sini Tionggoan"
Sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum dingin. Pengawal itu tampak tersinggung. Wajah mereka berubah memerah.
"Kalian diam saja"
Tegur Tayli Kongcu.
"Ya, Kongcu."
Pengawal itu langsung diam.
"Bagaimana?"
Tayli Kongcu menatap Tio Cie Hiong.
"Beranikah engkau menyambut seranganku?"
"Baiklah"
Tio Cie Hiong mengangguk "Hati-hati"
Tayli Kongcu tersenyum, lalu mendadak mengebutkan selendangnya.
Selendang itu meliuk-liuk dan meluncur cepat ke arah Tio Cie Hiong.
Pemuda itu berdiri diam di tempat.
Ketika ujung selendang sudah mendekat, dengan cepat dikibaskan lengan bajunya hingga melilit ujung selendang itu, lalu disentakkan sambil mengerahkan lweekang.
Tayli Kongcu terperanjat bukan main, sebab mendadak dirasakan badannya tersentak maju.
Namun kemudian ia malah tersenyum, ketika badannya bergerak ke arah Tio Cie Hiong.
Dengan cepat direntangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Tio Cie Hiong tertegun, sebab tidak tahu kalau Tayli Kongcu mengeluarkan jurus apa untuk menyerangnya.
Namun saat itu, badan Tayli Kongcu sudah mendekat.
seketika Tio Cie Hiong melesat dengan "Ilmu Langkah Kilat", maka langsung menghilang.
Tayli Kongcu merapatkan kedua tangannya, namun Tio Cie Hlong sudah tidak kelihatan.
Ternyata tadi ia tidak mengeluarkan jurus apa pun, melainkan jurus jaman sekarang, yakni merentangkan sepasang tangan untuk memeluk.
Namun hasilnya Tayli Kongcu justru memeluk angin.
semula Lim Ceng Im juga terkejut melihat jurus aneh itu, tapi kemudian menyadari bahwa Tayli Kongcu memanfaatkan kesempatan untuk memeluk Tio Cie Hiong.
Dapat dibayangkan, betapa panas hatinya saat itu.
"Huh Dasar tak tahu malu"
Dengusnya menyindir.
"Maksud hati memeluk pemuda tampan, tapi hasilnya hanya memeluk angin"
Mendengar sindiran itu, wajah Tayli Kongcu langsung memerah. Namun ia tahu akan satu hal, yaitu Tio Cie Hiong berkepandaian sangat tinggi, itu membuatnya makin kagum.
"Pek Ih sin Hiap"
Seru Tayli Kongcu sambil memandang Tio Cie Hiong yang berdiri di belakangnya.
"Kepandaianmu memang tinggi sekali. Aku mengaku kalah"
"sesungguhnya ilmu selendang Kongcu juga sangat hebat dan mengagumkan"
Sahut Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Kalau aku tidak memiliki Iweekang yang tinggi, mungkin sulit bagiku mengalahkan Kongcu."
"Engkau terlampau merendah."
Tukas Tayli Kongcu sambil tersenyum lembut.
"Kongcu, kita harus secepat mungkin sampai di tempat tujuan, jangan membuang waktu di sini"
Ujar salah satu pengawal itu mengingatkannya. Tayli Kongcu mengangguk.
"Pek Ih sin Hiap, Pengemis dekil Kelak kita akan bertemu lagi, sampai jumpa."
Tayli Kongcu melesat pergi dan diikuti kedua pengawalnya. Tio Cie Hiong menggeleng-geleng kepala menatapi kepergian mereka.
"Jatuh hati pada Tayli Kongcu itu ya?"
Tanya Lim Ceng Im dingin.
"Adik Im"
Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Hatiku telah berisi Im Ceng, kakakmu itu.Jadi, aku tidak akan jatuh hati pada gadis lain, baik sekarang maupun kelak atau selama-lamanya ."
"Kakak Hiong...,"
Lim Ceng Im tersenyum manis, namun kemudian cemberut seraya berkata.
"Tayli Kongcu itu...."
"Kenapa dia?"
"Dia genit sekali, sering melirikmu sambil tersenyum-senyum,"
Ujar Lim Ceng Im.
"Itu urusannya, tiada sangkut-pautnya dengan diriku,"
Tukas Tio Cie Hiong.
"Kalau engkau berani...,"
Lim Ceng Im menundukkan kepala sambil melanjutkan.
"Aku akan memberitahukan pada kakakku."
"Adik Im, beritahukan padanya yang sesungguhnya, tapi jangan sampai memfitnah diriku."
Pesan Tio cie Hiong.
"Aahi.., wajahnya muncul lagi di pelupuk mataku"
"Wajah kakakku atau wajah Tayli Kongcu itu? tanya Lim Ceng Im sambil menatapnya dalamdalam.
"Wajah kakakmu,"
Jawab Tio Cie Hiong.
"Adik Im, kita jangan membuang-buang waktu lagi, harus sampai di markas pusat Kay Pang selekasnya."
"Ingin lekas-lekas menemui kakakku, kan?"
Goda Lim Ceng Im seraya tersenyum. Tio cie Hiong mengangguki "Mari kita berangkat sekarang"
Lim Ceng Im manggut-manggut.
Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan menuju ke markas Kay Pang.
Beberapa hari kemudian, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im sudah sampai di markas pusat tersebut.
Bu Lim Ji Khie dan Lim Peng Hang, ketua Kay Pang, menyambut kedatangan mereka sambil tertawa gembira.
"Bagaimana?"
Tanya sam Gan sin Kay.
"Cie Hiong, engkau sudah mengobati Hui Khong Taysu dan It Hian Tojin?"
"sudah, Kakek Pengemis,"
Jawab Tio cie Hiong sambil menoleh ke sana ke mari seakan sedang mencari sesuatu. Lim Peng Hang tercengang melihatnya.
"Eng-kau cari apa, Cie Hiong?"
"Aku...,"
Wajah Tio Cie Hiong memerah, kemudian memandang sam Gan sin Kay seraya berkata.
"Kakek Pengemis, salamku itu..,"
"salam apa?"
Sam Gan sin Kay tampak tertegun.
"Ketika Kakek Pengemis akan berangkat ke mari, bukankah aku berpesan padamu untuk menyampaikan salamku...."
"oh, itu"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"sudah kusampaikan."
"Terima kasih, Kakek Pengemis,"
Ucap Tio Cie Hiong dengan wajah berseri.
"Bagaimana dia setelah menerima salamku?"
Tanyanya kemudian.
"Lebih baik kau tanyakan pada Ceng Im saja Dia lebih tahu itu"
Ujar sam Gan Sin Kay.
"Dia... dia bersamaku, bagaimana bisa tahu tanggapan kakaknya setelah menerima salamku?"
Tio Cie Hiong menggeleng-geleng kepala. Wajah-nya pun berubah murung.
"Jangan-jangan Im Ceng tidak senang menerima salamku itu"
Gumamnya perlahan.
"cie Hiong... dia memang gadis nakal, tak tahu diri dan suka mempermainkan orang."
Ujar sam Gan sin Kay.
"Apa?"
Wajah Tio Cie Hiong berubah pucat.
"Dia... dia suka mempermainkan orang?"
"Jangan dengarkan omongan kakek"
Sela Lim Ceng Im sambil membanting kaki.
"Kakek jahat sekali"
"Karena engkau sudah keterlaluan,"
Tukas Sam Gan sin Kay sambil tertawa gelak.
"cie Hiong,"
Lim Peng Hang memandangnya lembut.
"Aku tidak menyangka ternyata dirimu adalah putra mendiang Hui KiamBu Tek teman baikku itu."
"Paman, terimalah hormatku"
Tio Cie Hiong ingin berlutut, tapi cepat dicegah oleh Lim Peng Hang.
"Tidak perlu adat seperti ini, Nak."
Ujar Lim Peng Hang sambil tersenyum.
"ohya, mari kita duduk kita bercakap-cakap"
Mereka duduk. Beberapa pengemis segera menyuguhkan minuman. Akan tetapi, Tio Cie Hiong masih terus menengok ke sana ke mari.
"cie Hiong, engkau mencari apa?"
Tanya Lim Peng Hang yang merasa heran.
"Maaf"
Ucap Tio Cie Hiong dan bertanya dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Di mana putri Paman?"
"Dia..."
Lim Peng Hang langsung menunjuk ke arah Lim Ceng Im.
"Dia putra Paman, yang kutanyakan Im Ceng putri Paman itu"
Ujar Tio Cie Hiong merasa penasaran.
"Aku... aku ingin menemuinya."
Lim Peng Hang menatap Lim Ceng Im.
"Kakak Hiong, tenang saja."
Ujar Lim Ceng Im tersenyum.
"Engkau pasti akan bertemu dia."
Tio Cie Hiong mengangguki sedangkan Lim Ceng Im mulai menyerocos tak henti-hentinya.
"Ketika kami menuju ke mari, di tengah jalan kami bertemu Tayli Kongcu bersama dua lelaki. Tayli Kongcu itu cantik sekali. Kakak Hiong meniup suling, dia menari. setelah itu, mereka berdua pun bertanding. Tayli Kongcu memang tak tahu malu, dia mengeluarkan jurus memeluk. Untung Kakak Hiong cepat berkelit, kalau tidak, Kakak Hiong pasti dipeluknya...."
Mendengar tentang Tayli Kongcu semua orang tercengang.
"Kenapa Tayli Kongcu memasuki Tionggoan?"
Tanya Lim Peng Hang setengah bergumam.
"Memang mengherankan,"
Timpal sam Gan sin Kay.
"Padahal sudah ratusan tahun pihak Tayli tidak pernah memasuki Tionggoan, kenapa kini mendadak Tayli Kongcu datang di Tionggoan?"
"Mungkinkah berhubungan dengan sam Mo Kauw?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Tidak mungkin"
Jawab Kim siauw suseng menggelengkan kepala.
"Selama ratusan tahun, Negeri Tayli tidak pernah berhubungan dengan golongan hitam di Tionggoan."
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Tapi, kemunculan Tayli Kongcu di Tionggoan, mungkin untuk menyelesaikan suatu urusan."
"Kakek"
Sela Lim Ceng Im.
"salah seorang lelaki itu bilang pada Tayli Kongcu...."
"Lelaki itu bilang apa?"
Tanya sam Gan sin Kay.
"Dia bilang..., jangan membuang waktu di situ, harus segera tiba di tempat tujuan."
"Tempat tujuan?"
Sam Gan sin Kay mengerutkan kening.
"Tempat apa yang mereka tuju?"
"Ayah, perlukah aku mengutus beberapa orang pergi menyelidikinya?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Tidak perlu."
Sam Gan sin Kay menggeleng kepala.
"Kenapa?"
Tanya Lim Peng Hang, keheranan.
"Agar tidak terjadi salah paham."
Sam Gan sin Kay memberitahukan.
"Lagipula yang muncul itu Tayli Kongcu, tentunya punya urusan penting. Kalau tidak, mana mungkin Tayli Kongcu akan memasuki Tionggoan?"
"Benar."
Lim Peng Hang manggut-manggut, kemudian memandang Tio Cie Hiong seraya berkata.
"Nak, aku tidak menyangka kepandaianmu sudah begitu tinggi."
"Wuah"
Seru Lim Ceng Im mendadak dengan wajah berseri-seri.
"Kepandaian Kakak Hiong memang tinggi bukan main, bahkan dia pun telah menciptakan dua macam ilmu silat yang sangat hebat."
"oh?"
Gumam Bu Lim Ji Khie, merasa tertarik.
"cie Hiong, ilmu silat apa itu?"
"Giok siauw Bit ciat Kang Hoat (Ilmu suling Kumala Pemusnah Kepandaian) dan Bit ciat sin ci (Jari sakti Pemusnah Kepandaian)"
Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Jadi khususnya untuk memusnahkan kepandaian orang?"
Tanya sam Gan sin Kay heran. Tio Cie Hiong mengangguki "Aku tidak mau membunuhi cuma memusnahkan kepandaian para penjahat."
"Ngmm..."
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"Cie Hiong, perlihatkanlah kedua ilmu ciptaanmu itu"
Tio Cie Hiong tidak bisa menolak.
la langsung bangkit berdiri, berjalan ke tengah-tengah ruang itu sambil mengeluarkan sulingnya.
setelah itu, mulailah ia mempertunjukkan "Tujuh Jurus llmu suling Kumala Pemusnah Kepandaian".
Bukan main kagumnya Bu Lim Ji Khie dan Lim Peng Hang menyaksikannya.
Bahkan karena begitu kagumnya mata mereka membelalak dengan mulut ternganga lebar.
"Cie Hiong"
Ujar sam Gan sin Kay setelah Tio Cie Hiong usai mempertunjukkan jurus-jurus itu.
"Bagaimana kau mampu menciptakan ilmu itu? Dirimu benar-benar seorang calon maha guru"
"cie Hiong, perlihatkan lagi Bit Ciat sin ci"
Kali ini Kim siauw suseng meminta. Tio Cie Hiong mengangguki dan mulai mempertunjukkan ilmu"Jari sakti Pemusnah Kepandaian".
"Huaha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak ketika menyaksikan ilmu itu.
"Bukan main sungguh lihai dan hebat sekali"
"Pengemis bau"
Ujar Kim siauw suseng setelah menghela nafas.
"Bu Lim Ji Khie sudah tiada apa-apanya lagi."
"sastrawan sialan"
Sahut sam Gan sin Kay mendadak.
"Engkau mampu menangkis jurus-jurus itu?"
"Bagaimana engkau?"
Kim siauw suseng balik bertanya.
"Yaah"
Sam Gan sin Kay menarik nafas panjang.
"Meskipun kita maju berdua, mungkin hanya mampu bertahan beberapa jurus saja"
"Benar."
Kim siauw suseng mengangguk.
"Hanya dia yang dapat menghadapi Bu Lim sam Mo"
Sementara Tio Cie Hiong sudah kembali ke tempat duduknya, sementara Lim Ceng Im terus memandangnya dengan mata berbinar-binar.
"oh, ya"
Ujar Lim Peng Hang.
"cie Hiong, aku akan menyuruh salah seorang pengemis mengantarmu ke kamar"
"Terima kasihi Paman,"
Ucap Tio Cie Hiong. Tak lama muncul seorang pengemis, memberi hormat pada Bu Lim Ji Khie dan Lim Peng Hang.
"Antar Pek Ih sin Hiap ke kamar"
Perintah Lim Peng Hang pada pengemis itu.
"Ya, Pangcu"
Pengemis itu segera mengantar Tio cie Hiong ke dalam. Lim Ceng Im ingin ikut, namun Lim Peng Hang mencegahnya. Tentu saja hal itu membuat tercengang Lim Ceng Im.
"Ayah, kenapa aku tidak ikut ke dalam?"
"Bukan tidak boleh, ayah ingin bicara denganmu..."
Ujar Lim Peng Hang menatap putrinya.
"Ayah mau bicara apa?"
Tanya Lim Ceng Im tak mengerti. Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"Kenapa engkau begitu keterlaluan, ceng Im?"
"Apa? Aku..., aku keterlaluan? Maksud Ayah?"
Lim Ceng Im tampak keheranan.
"Engkau telah mempermainkan cie Hiong, bukankah itu keterlaluan sekali?"
Lim Peng Hang tampak tidak senang.
"Kapan aku mempermainkan Kakak Hiong?"
"Bukankah engkau telah menemuinya dengan dandanan seorang gadis? Kenapa engkau masih terus menyamar sebagai pemuda? sedangkan dia...,"
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala. Lim Ceng Im tersenyum.
"Ayah..., itu karena aku ingin tahu bagaimana isi hatinya."
"oh? Kini engkau sudah tahu isi hatinya?"
Tanya Lim Peng Hang.
"Ng"
Lim Peng Hang mengangguk.
"Aku sudah tahu...,"
"Cucuku yang brengsek"
Sela sam Gan sin Kay sambil tertawa.
"Bagaimana isi hatinya?"
"Dia...,"
Wajah Lim Ceng Im kemerah-me-rahan.
"Dia sangat mencintaiku"
"Engkau membual"
Tukas sam Gan sin Kay tidak percaya.
"Benar, Kakek. Dia..., sangat mencintaiku"
Kata Lim Ceng Im.
"Aku sama sekali tidak membual"
"Yang dia cintai adalah Im Ceng, kakakmu itu Bukan dirimu lho,"
Ujar sam Gan sin Kay sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kakek"
Lim Ceng Im cemberut.
"Im Ceng adalah aku, kakakku itujuga aku Kalau mencintai Im Ceng sama juga mencintaiku"
"Huh"
Goda sam Gan sin Kay.
"Engkau pengemis dekil, lagi pula engkau seorang anak lelaki, jadi...."
"Kakek jahat"
Rungut Lim Ceng Im sambil membanting-banting kaki.
"Yang jahat kakek atau engkau?"
Sam Gan sin Kay melotot.
"Engkau begitu tega..., kalau dia sakit rindu, baru tahu rasa"
"Kakek"
Lim Ceng Im tersenyum.
"Kalau sudah waktunya, aku...,"
Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"Ceng Im... bagaimanapun engkau harus menemuinya"
Ujarnya kepada gadis itu. Lim Ceng Im tertawa geli.
"Bukankah setiap saat aku bersama dia?"
"Eh? Maksud Ayah...,"
Lim Peng Hang juga tertawa.
"Baiki Ayah. Malam ini aku akan menemuinya di halaman belakang."
Ujar Lim Ceng Im.
"Nah, sekarang aku boleh ke dalam?"
"Ng"
Lam Hai sin ceng mengangguki Lim Ceng Im berjalan ke dalam. Lim Peng Hang menggeleng-geleng kepala, sedangkan Bu Lim Ji Khie tertawa gelak.
"Pengemis bau Nanti malam ada tontonan yang menarik,"
Ujar Kim siauw suseng sambil tertawa.
"Benar, benar"
Sambut sam Gan sin Kay sambil manggut-manggut seperti anak kecil.
"Mari kita mengintip mereka Peng Hang, engkau mau ikut mengintip?"
"Ayah...,"
Lim Peng Hang cuma menggeleng-geleng kepala.
Bab 26 Timbul suatu urusan Tio Cie Hiong berjalan mondar-mandir di halaman belakang.
Hatinya berdebar-debar tebang menunggu kedatangan Im Ceng.
Ternyata tadi sore Lim Ceng Im memberitahukan padanya, bahwa malam ini kakaknya akan menemui Tio Cie Hiong di halaman belakang, maka pemuda itu menunggu dengan wajah berseri, tapi hati berdebar-debar tidak karuan.
Beberapa saat kemudian, Tio Cie Hiong mendengar suara langkah ringan.
segera ia menoleh ke arah suara itu, seketika bibirnya tersenyum merekah saat melihat Im Ceng yang cantik jelita sedang menghampirinya.
"Adik ceng..."
Panggil Tio cie Hiong.
"Kakak Hiong...,"
Sambut Im Ceng dengan menundukkan kepala.
"Adik Ceng...,"
Tio Cie Hiong memandangnya dengan mata berbinar-binar.
"Kita... kita sudah bertemu"
"Engkau... merasa gembira?"
Tanya Im Ceng lembut.
"Ya, ya, gembira sekali"
Sahut Tio cie Hiong cepat.
"Ayolah Mari kita duduk"
Ajak Im Ceng. Tio Cie Hiong mengangguki Keduanya lalu duduk berdampingan. wajah Tio Cie Hiong tampak begitu ceria.
"Adikku bilang...,"
Ujar Im Ceng dengan suara rendah.
"Engkau rindu sekali padaku, benarkah itu?"
"Benar, benar"
Tio cie Hiong terus mengangguk.
"Bahkan wajahmu sering muncul di pe-lupuk mataku"
"Yang benar?"
Im Ceng tersenyum.
"Benar."
Tio Cie Hiong mengangguk lagi.
"Bukankah engkau bertemu Tayli Kongcu? Kata adikku Tayli Kongcu sangat cantik jelita, bahkan dia sering melirikmu. Tentunya dia tertarik padamu, bukankah itu kesempatanmu."
"Adik Ceng, aku... aku tidak akan tertarik pada gadis yang mana pun, termasuk Tayli Kongcu"
Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Aku... aku hanya...,"
Tio Cie Hiong tidak melanjutkan, melainkan menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Lanjutkanlah"
Desak Im Ceng.
"Aku... aku hanya tertarik padamu"
Sambung Tio Cie Hiong dengan suara rendah.
"oh?"
Im Ceng tersenyum.
"Adikku memberitahukan, bahwa di dalam hatimu cuma terdapat diriku. Apakah benar?"
"Benar."
Tio Cie Hiong mengangguk.
"Engkau... mencintaiku?"
Tanya Im Ceng mendadak.
"Ya"
Tio cie Hiong mengangguk cepat.
"Aku... aku memang mencintaimu. Aku... aku tidak bohong, hanya dirimu yang kucintai"
Im Ceng tertawa geli.
"Jangan-jangan ini hanya rayuan gombal?"
"Aku... aku tidak bisa merayu, aku berkata sesungguhnya."
Tio Cie Hiong menatapnya dengan penuh cinta kasih.
"Adik Ceng, engkau... engkau juga mencintaiku?"
"Belum waktunya kuberitahukan,"
Ujar Im Ceng.
"Aaaakh..."
Tio Cie Hiong menghela nafas.
"Kakak Hiong, aku belum tahu bagaimana kesetiaanmu terhadapku, maka aku belum berani menjawab pertanyaanmu barusan. setelah kutahu kesetiaanmu, aku akan menjawabnya."
"Adik Ceng, aku pasti akan setia padamu,"
Ujar Tio Cie Hiong berjanji.
"Adikmu akan menjadi saksimu."
Im Ceng tersenyum lagi.
"Oh ya Adik Ceng, bolehkah aku meniup suling untukmu?"
Tanya Tio Cie Hiong menawarkan.
"Aku senang sekali, tapi... aku tidak bisa menari seperti Tayli Kongcu. Engkau pasti kecewa sekali,"
Ujar Im Ceng.
"Aku lebih senang engkau duduk di sisiku sambil mendengar suara sulingku."
Tio cie Hiong mengeluarkan sulingnya, lalu mulai meniup dengan lembut.
Maka terdengarlah suara suling yang sangat merdu.
Tio Cie Hiong mencurahkan seluruh cinta kasihnya melalui suling kumala itu, sehingga alunan suara suling itu pun sangat menggetarkan kalbu Im Ceng.
Tanpa sadar ia menaruh kepalanya di bahu Tio Cie Hiong.
Di saat bersamaan, berkelebat tiga sosok bayangan ke balik pohon.
Ketiganya ternyata Bu Lim Ji Khie dan Lim Peng Hang.
setelah berada di balik pohon, mereka bertiga pun mengintip seperti anak kecil.
Beberapa saat kemudian, barulah Tio Cie Hiong berhenti meniup sulingnya.
Dia membelai rambut Im Ceng yang bersandar padanya.
"Eeeh?"
Im Ceng tersentak.
"Maaf, maaf...,"
Ucap Tio Cie Hiong.
"Aku..."
"Engkau sering membelai gadis lain, ya?"
Tanya Im Ceng mendadak.
"Tidak pernah,"
Jawab Tio Cie Hiong.
"Kalau tidak pernah, kenapa barusan engkau membelaiku?"
Tanya Im Ceng lagi sambil menatapnya. sesungguhnya ia bahagia sekali dalam hati karena Tio Cie Hiong membelainya.
"Aku... aku..."
Tergagap Tio Cie Hiong.
"Aku membelaimu karena terdorong oleh rasa cinta kasih. Tapi aku tidak pernah membelai gadis lain, sumpah"
"Aku percaya."
Im Ceng menggumam.
"Oh ya, sudah malam. Aku harus kembali ke kamar, tidak baik lama-lama di sini."
"Adik Ceng, kapan kita akan bertemu lagi?"
"Kalau kita berjodoh, di ujung langit pun pasti bertemu"
"Adik Ceng...,"
Tio Cie Hiong ingin mengatakan sesuatu, namun dibatalkannya.
"Kakak Hiong, sampai jumpa"
Ucap Im Ceng.
"sampai jumpa, Adik Ceng"
Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum. Im Ceng melangkah pergi. setelah gadis itu tldak kelihatan, Tio Cie Hiong berseru.
"Kakek Pengemis, Paman dan Paman sastrawan Jangan terus menerus bersembunyi di balik pohon, aku sudah tahu kehadiran kalian"
Seketika Bu Lim Ji Khie dan Lim Peng Hang melesat keluar kehadapan Tio Cie Hiong. sam Gan sin Kay dan Lim Peng Hang tersenyum malu, sedangkan Kim siauw suseng menatapnya dengan mata terbelalak.
"cie Hiong, jadi saat meniup suling, telingamu masih dapat menangkap suara di sekitar sini?"
"Paman sastrawan"
Tio Cie Hiong tersenyum.
"Apakah paman sastrawan telah lupa apa yang pernah diucapkan padaku?"
"Aku pernah mengucapkan apa padamu?"
Tanya Kim siauw suseng tak mengerti.
"Aku cuma meniup suling, jadi tidak mendengarkan suaranya,"
Jawab Tio cie Hiong.
"Karena itu, telingaku masih dapat menangkap suara apa pun yang di sekitar sini"
"Eeeh?"
Kim siauw suseng melongo.
"Itu memang ucapanku"
"Nah, begitulah."
Ujar Tio Cie Hiong tersenyum.
"Bukan main"
Kim siauw suseng menggeleng-geleng kemala. sam Gan sin Kay memandangnya dengan mula menyengir.
"Kini engkau sudah senang kan bisa bertemu dengan Im Ceng itu"
Tio cie Hiong mengangguk dengan wajah memerah.
"He he he..."
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Padahal sesungguhnya, dirimu sering bersamanya"
"Aku sering bersamanya?"
Tio Cie Hiong tertegun.
"Kakek Pengemis harus tahu, baru dua kali aku bertemu dia."
Sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak.
"Aku pikun, tapi engkau bodoh sekali Ha ha"
Esok paginya, setelah bangun, Tio cie Hiong segera pergi ke halaman belakang.
Hatinya berharap akan bertemu Im Ceng di situ.
Namun gadis pujaan hatinya tidak muncul, melainkan Lim Ceng Im yang datang di hadapannya.
"selamat pagi, Kakak Hiong"
Sapanya lembut.
"selamat pagi"
Sahut Tio Cie Hiong memandanginya.
"Adik Im, kakakmu belum bangun ya?"
"Dia sudah pergi."
Ujar Lim Ceng Im memberitahukan.
"Haah? Apa?"
Tio Cie Hiong terkejut mendengarnya.
"Dia sudah pergi? Kenapa dia pergi? Dia pergi ke mana?"
"Ada urusan yang harus dia selesaikan. se-helum pergi dia ke kamar menemuiku..."
Ujar Lim Ceng Im sambit memandangnya.
"Dia... dia bilang apa padamu?"
Tanya Tio Cie Hiong, tidak sabaran.
"Dia bilang...,"
Lim Ceng Im sengaja berhenti, Tio Cie Hiong langsung menggenggam tangannya erat-erat.
"Adik Im, beritahukanlah"
"Dia bilang...,"
Wajah Lim Ceng Im kemerah-merahan karena Tio Cie Hiong menggenggam tangannya.
"Dia bilang engkau harus sabar, dia juga titip salam untukmu."
"oooh"
Tio cie Hiong berlega hati.
"Kira-kira kapan dia pulang?"
"Kalau urusannya selesai, dia akan segera pulang."
Lim Ceng Im tertawa geli dalam hati.
"Sebetulnya ada urusan apa? Kenapa semalam dia tidak beritahukan padaku? Kalau memberitahukan mungkin aku bisa membantunya."
Ujar Tio Cie Hiong sambil menggeleng-geleng kemala.
Ketika mereka sedang bercakap-cakap.
di depan rumah tiba-tiba datang seorang tamu.
Bu Lim Ji Khie dan Lim Peng Hang menyambut tamu itu dengan gembira, bahkan Kim siauw suseng langsung tertawa gelak.
"Hei Lutung gila Bukankah engkau sudah bersembunyi di dalam hutan, kenapa masih berkeliaran?"
Tanya Kim siauw suseng sambil menatapnya.
"sastrawan sialan"
Tamu itu menjawabnya sambil tertawa. Dia ternyata Tok Pie sin wan (Lutung sakti Lengan Tunggal).
"Engkau boleh makan tidur gratis di sini, kenapa aku tidak?"
"Huaha ha ha"
Sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahaki "Lutung gila Di sini tempat berkumpulnya para pengemis, mana ada makanan enak?"
"Tidak apa-apa"
Sahut Tok Pie sin Wan sambil tertawa.
"Lim Pangcu, engkau tidak menyuruhku duduki apakah tidak senang akan kedatanganku?"
"Cianpwee, silakan duduki ucap Lim Peng Hang cepat. Tok Pie sin wan segera duduki sedangkan Bu Lim Ji Khie terus memandangnya dengan penuh keheranan.
"Eeeh? Kenapa kalian berdua memandangku sedemikian rupa? Aku belum berubah jadi lutung sungguhan, kan?"
"Aku heran"
Gumam sam Gan sin Kay.
"Tiada hujan tiada angin engkau datang, apakah ada kepentingan?"
"Aku baru mulai berkecimpung lagi dalam rimba persilatan, kini muncul sam Mo Kauw. Maka aku datang karena ingin bergabung, agar bisa makan tidur gratis,"
Ujar Tok Pie sin Wan.
"Mungkinkah engkau dikejar-kejar para anggota sam Mo Kauw, sehingga kabur kemari?"
Tanya sam Gan sin Kay sambil tersenyum.
"Bukan para anggota Sam Mo Kauw mengejar aku, melainkan aku yang mengejar mereka"
Tok Pie sin Wan tertawa.
"Terus terang, aku datang untuk bertemu Pek Ih sin Hiap Tio cie Hiong"
"oooh"
Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Dia berada di sini?"
"Dia memang berada di sini,"
Jawab sam Gan sin Kay.
"Ada urusan apa engkau ingin menemuinya? "
"Ehi Pen gem is bau Engkau harus tahu, dia cucu Ku Tok Lojin, kawan akrabku. Kenapa aku tidak boleh menemuinya?"
Tok Pie sin wan melotot.
"Lutung gila"
Sam Gan sin Kay juga melotot.
"Yang bilang tidak boleh menemuinya tuh siapa?"
"siapa, ya?"
Tok Pie sin wan menggaruk-garuk kepala.
"Dasar lutung"
Sam Gan sin Kay tertawa.
"suka menggaruk."
"Pengemis bau"
Tok Pie sin Wan menghela nafas.
"Kalau tiada dia, aku masih meringkuk di dalam goa."
"oooh"
Sam Gan sin Kay manggut-manggut.
"jadi sekarang engkau sudah mulai merangkak keluar"
"Dasar Pengemis Baur Tok Pie sin wan melotot, kemudian menggeleng-geleng kemala.
"Aku tidak menyangka rimba persilatan telah berubah kacau begitu, beberapa partai besar telah takluk pada sam Mo Kauw."
"Lutung gila Engkau tahu kini nama It Ceng dan Ji Khie telah berada di bawah nama sam Mo?"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Oh?"
Tok Pie sin wan mengerutkan kening.
"Kalau begitu.."
"sam Mo telah berhasil mempelajari ilmu silat peninggalan Pak Kek siang ong."
Kim siauw suseng memberitahukan.
"Kalau begitu, siapa yang mampu menghadapi sam Mo"
Tanya Tok Pie sin Wan dengan air muka berubah.
"Hanya ada satu orang yang mampu menghadapi sam Mo"
Sahut sam Gan sin Kay memberitahukan dengan wajah berseri.
"siapa orang itu?"
Desak Tok Pie sin wan yang ingin mengetahuinya.
"Dia adalah... Pek Ih sin Hiap Tio Cie Hiong, cucu Ku Tok Lojin teman akrabmu .Juga adalah putra teman baik Lim Peng Hang"
Sam Gan sin Kay tersenyum-senyum.
"oh? Yang benar?"
Tok Pie sin Wan kurang percaya.
"Pengemis bau, cepat panggil dia ke mari, jangan disembunyikan"
Lim Peng Hang sebera menyuruh salah seorang pengemis pergi memanggil Tio Cie Hiong. Tak lama Tio Cie Hiong keluar bersama Lim Ceng Im.
"Paman"
Seru Tio Cie Hiong girang melihat tamu itu.
"Nak"
Tok Pie sin wan tertawa gembira.
"Engkau sungguh hebat dan tampan sekali, kalau aku punya cucu perempuan, pasti kujodohkan padamu."
"Letung gila, kini kau sudah terlambat"
Sam Gan sin Kay tertawa gelak.
"Cie Hiong sudah punya kekasih."
"siapa kekasihnya?"
Tanya Tok Pie sin wan.
"Cucu perempuanku"
Jawab sam Gan sin Kay sambil tertawa.
"Cucu perempuanmu?"
Gumam Tok Pie Sin Wan, menatap Lim Ceng Im.
"Dia?"
"Bukan dia"
Sahut sam Gan sin Kay membuat pusing Tok Pie sin Wan.
"Dia bernama Ceng Im, cucu perempuanku itu bernama Im Ceng, dia adalah kakaknya."
"Ceng Im... Im Ceng...?"
Gumam Tok Pie sin wan sambil menggaruk-garuk kepala.
"setahuku..."
"Cianpwee tidak tahu"
Sambar Lim Peng Hang sambil tersenyum dan segera mengalihkan pembicaraan.
"Aku dengar yang mengobati Cian-pwee adalah Cie Hiong. Benar, ya?"
"Memang benar Maka kuhadiahi dia suling Kumala."
Tutur Tok Pie sin wan.
"Dia juga mahir meniup suling, sastrawan sialan. suara sulingmu masih kaiah jauh dibandingkan dengan suara su-lingnya."
"Benar"
Kim siauw suseng mengangguk.
"Itu adalah suling Kumala pusaka, aku tidak berjodoh dengan suling itu, namun bergembira karena Cie Hiong yang memilikinya"
"Lutung gila"
Ujar sam Gan sin Kay.
"Engkau lapar belum?"
"sudah lapar sekali,"
Jawab Tok Pie sin wan dan menambahkan.
"Pengemis bau, aku memang ingin bergabung di sini untuk melawan sam Mo Kauw, engkau menerima kehadiranku di sini?"
"Tentu, tentu"
Sahut sam Gan Sin Kay sambil tertawa.
"Nah, sekarang kita makan dulu" -ooo00000ooosementara itu di Ekspedisi Harimau Terbang, tampak Cit Pou TUi Hun-Gouw Han Tiong sedang duduk melamun di ruang dalam. Ternyata ia sangat rindu pada Gouw sian Eng putrinya. Namun kini baru lewat tiga bulan, jadi masih harus menunggu beberapa bulan lagi putrinya baru pulang. Di saat ia sedang melamun, mendadak berkelebat ke dalam sosok bayangan dan terdengar pula suara seruan.
"Ayah Ayah Aku sudah pulang..."
"Haah?"
Gouw Han Tiong langsung bangkit berdiri, seorang gadis berdiri di hadapannya. Dia tak lain Gouw sian Eng yang dirindukannya.
"sian Eng sian Eng..."
Panggil Gouw Han Tiong dengan suara bergemetar saking gembira.
"Ayah"
Gouw sian Eng langsung mendekap di dada Gouw Han Tiong.
"Ayahi..,"
"sian Eng..."
Gouw Han Tiong membelainya dengan penuh kasih sayang, kemudian ujarnya.
"Duduklah"
Gouw sian Eng duduki sementara Gouw Han Tiong memandangnya dengan wajah berseri-seri. orang tua itu merasa bangga karena putrinya sudah besar dan sangat cantik pula.
"sian Eng, kenapa engkau sudah pulang? Bukankah masih beberapa bulan lagi?"
Tanya Gouw Han Tiong.
"Aku sudah berhasil mempelajari ilmu seng Li sin Kang dan seng Li Kiam Hoat, maka guruku memperbolehkan aku pulang."
Tutur Gouw sian Eng.
"oooh"
Gouw Han Tiong manggut-manggut.
"Tentunya engkau sudah tahu, Pek sim seng Li adalah bibinya Tio Cie Hiong."
"Aku sudah tahu, Kakak Hiong yang mengantar surat ke mari untuk Ayah kan?"
Gouw sian Eng tersenyum.
"Ya."
Gouw Han Tiong mengangguk dan menambahkan.
"Kini dia telah berkepandaian tinggi sehingga memperoleh julukan Pek Ih sin Hiap."
"Guruku telah memberitahukan tentang itu."
Gouw sian Eng tersenyum lagi.
"Bahkan kini dia sudah besar dan tampan sekali"
"Benar. Tapi...,"
Gouw Han Tiong mengerutkan kening.
"Kini engkau pun telah besar, bagaimana perasaanmu terhadap dia?"
"Tetap seperti dulur ujar Gouw sian Eng tenang.
"Dulu aku sangat menyukainya, sekarang pun begitu. Namun...,"
"Kenapa?"
"Pek sim seng Li bukan cuma mengajar aku ilmu silat, tapijuga membimbingku dengan beberapa hal agar aku mengerti, terutama dalam hal percintaan"
"oh?"
"Jadi aku pun mengerti, cinta itu tidak bisa dipaksa. Aku memang suka dan cinta pada Cie Hiong, namun kalau kelihatan dia tidak cinta padaku, aku pun tidak akan memaksa diri untuk mencintainya."
"Bagus"
Gouw Han Tiong tertawa gembira.
"Tidak percuma Pek sim seng Li membimbingmu, ayah... girang sekali."
"Ayah, di mana kakek?"
Tanya Gouw sian Eng mendadak.
"sudah setengah tahun lebih kakekmu pergi..."
Gouw Han Tiong meng geleng-meng gelengkan kepala .
"Pergi ke mana?"
Tanya Gouw sian Eng.
"Kakekmu pergi mencarimu, hingga kini masih belum pulang."
Gouw Han Tiong menghela nafas.
"Ayah khawatir telah terjadi sesuatu atas diri kakekmu. sebab kini sam Mo Kauw mulai merajalela, bahkan membantai kaum pesilat golongan lurus pula."
"Ayahi tidak mungkin akan terjadi sesuatu atas diri kakek"
Ujar Gouw sian Eng menghibur ayahnya.
"Mudah-mudahan"
Sahut Gouw Han Tiong dan menghela nafas lagi.
"ohya, Ayah tahu Cie Hiong berada di mana?"
Tanya Gouw sian Eng sambil memandang ayahnya.
"Mungkin dia berada di markas pusat Kay Pang."
Gouw Han Tiong memberitahukan.
"Kalau begitu, aku akan menyusul ke sana,"
Ujar Gouw sian Eng.
"Sian Eng"
Gouw Han Tiong menatapnya dalam-dalam seraya bertanya.
"Kapan engkau akan berangkat ke markas pusat Kay Pang?"
"Sekarang,"
Sahut Gouw sian Eng singkat.
"Sekarang?"
Gouw Han Tiong terbelalak.
"Engkau... baru pulang"
"Tidak apa-apa, kan?"
Gouw sian Eng tersenyum.
"Lagi pula siapa tahu aku akan bertemu kakek di sana."
"Sian Eng..."
Gouw Han Tiong meng geleng-geleng kan kepala.
"Ayah tidak mengijinkan aku ke markas pusat Kay Pang?"
Tanya Gouw sian Eng kecewa.
"Bukan tidak mengijinkan, melainkan..."
Gouw Han Tiong meng eleng-geleng kan kepala lagi.
"Sian Eng, engkau baru pulang, kok sudah maupergi lagi?"
"Setelah aku bertemu Cie Hiong, aku pasti segera pulang."
Ujar Gouw sian Eng berjanji.
"Baiklah. Tapi engkau harus berhati-hati"
Pesan Gouw Han Tiong dan menambahkan.
"Ayah akan menunggu kakekmu beberapa hari, kalau kakekmu masih belum pulang, ayah akan menyusulmu ke markas pusat Kay Pang."
"oh?"
Gouw sian Eng girang.
"Kalau begitu, aku berangkat sekarang."
"Hati-hati, sian Eng"
Pesan Gouw Han Tiong lagi.
"Ya, Ayah."
Gouw sian Eng mengangguki lalu berangkat ke markas pusat Kay Pang.
Gadis itu memang sudah rindu sekali pada Tio Cie Hiong, maka ia ingin lekas-lekas menemuinya.
Dua hari kemudian, ketika Gouw sian Eng memasuki sebuah lembah, mendadak muncul beberapa orang berpakaian hitam menghadangnya.
Gouw sian Eng mengerutkan kening sambil memandang mereka dengan dingin.
sedangkan orang-orang berpakaian hitam itu menatapnya dengan penuh hawa nafsu birahi.
"Siapa kalian? Kenapa menghadangku?"
Bentak Gouw sian Eng.
"Kami anggota sam Mo Kauw, tentunya Nona sudah dengar,"
Sahut salah seorang dari mereka.
"Hm sam Mo Kauw"
Dengus Gouw sian Eng tak gentar sama sekali.
"Kalian telah banyak melakukan kejahatan, maka hari ini aku harus membasmi kalian"
"Ha ha ha"
Para anggota sam Mo Kauw tertawa gelak.
"Nona mau membasmi kami?"
"Ya"
Sahut Gouw sian Eng sambil menghunus pedangnya.
"Nona"
Ujar pemimpin itu.
"Lebih baik kita bersenang-senang"
"Benar"
Sambung yang lain.
"Nona pasti puas"
"Kalian memang harus mampus"
Bentak Gouw sian Eng dan langsung menyerang pemimpin itu dengan seng Li Kiam Hoat.
Gerakannya tampak begitu lemah gemulai, tapi sangat lihay dan dahsyat.
Pemimpin itu terkejut bukan main, dan segera meloncat ke belakang sambil berseru memberi aba-aba kepada anak buahnya.
"serang dia"
Seketika tampak beberapa orang langsung menyerang Gouw Sian Eng.
sedangkan pemimpin itu terus memperhatikannya dan secara diam-diam ia merogoh sesuatu dari dalam bajunya.
Kepandaian Gouw sian Eng memang sudah tinggi, maka tidak heran kalau beberapa anggota sam Mo Kauw itu mulai terdesak.
Pemimpin itu mendekati Gouw sian Eng perlahan-lahan, kemudian membentak sambil mengayunkan tangannya.
Tampak semacam bubuk putih mengarah kepada gadis itu.
Betapa terkejutnya Gouw sian Eng.
la ingin berkelit, tapi sudah terlambat, sebab hidungnya telah mencium bau aneh.
Tak lama ia terkulai dalam keadaan pingsan.
"Ha ha ha"
Pemimpin orang-orang berbaju hitam itu tertawa terbahak-bahak.
"Tidak di sangka hari ini aku akan menikmati tubuh gadis yang begitu menggiurkan Kalian dengar semua, harus aku duluan, setelah itu barulah giliran kalian"
Mereka bersorak girang sedangkan pemimpin itu telah mendekati Gouw sian Eng yang terkapar pingsan.
Ketika ia baru mau melepaskan pakaian gadis itu, mendadak melayang ke arahnya suatu yang sangat lemas, yang ternyata sebuah selendang.
Plaak Ujung selendang itu menghantam kepalanya.
"Aaaakh..."
Pemimpin itu menjerit sambil memegang kepalanya, kemudian jatuh gedebuk dan nyawa pun putus seketika.
Di saat bersamaan, melayang turun tiga sosok bayangan, yaitu dua lelaki berusia lima puluhan dan seorang gadis belia yang cantik jelita.
Mereka tidak lain Tayli Kongcu dan kedua pengawalnya.
"Gadis liar"
Bentak beberapa anggota sam Mo Kauw.
"Engkau berani membunuh pemimpin kami?"
"Hm"
Dengus Tayli Kongcu dingin. Mendadak selendangnya melayang ke arah orang itu "Aaakh..."
Jerit orang tersebut karena ujung selendang telah menghantam dadanya, sehingga orang itu menyemburkan darah segar, lalu terkulai lemas dan nafasnya pun berhenti seketika.
Sisa beberapa anggota itu bergemetaran, dan hanya saling memandang.
Tayli Kongcu tahu bahwa mereka ingin kabur, maka ia segera memberi isyarat kepada kedua pengawalnya dan berbisik.
"Habiskan mereka semua"
Kedua pengawal itu mengangguki lalu mendadak melesat ke arah sisa anggota sam Mo Kauw.
seketika terdengarlahr jeritan-jeritan yang menyayatkan hati, ternyata sisa anggota sam Mo Kauw itu telah roboh tak bernyawa.
"Periksa gadis itu"
Perintah Tayli Kongcu pada kedua pengawalnya.
"Ya, Kongcu."
Kedua pengawal itu mendekati Gouw sian Eng yang masih pingsan. salah satu pengawal memeriksanya lalu melapor.
"Kongcu, gadis ini terkena semacam obat bius."
"sadarkan dia"
Sahut Tayli Kongcu.
Pengawal itu mengangguki kemudian menggeledah para anggota sam Mo Kauw yang telah menjadi mayat.
la berhasil menemukan sebuah botol kecil dari dalam baju si pemimpin.
setelah diperiksa dengan seksama barulah pengawal itu menempelkan mulut botol tersebut ke hidung Gouw sian Eng.
Berselang sesaat, gadis itu tersadar langsung meloncat bangun siap menyerang pengawal tersebut.
Akan tetapi, ketika menyaksikan mayat-mayat itu, Gouw sian Eng tertegun dan kemudian ia pun paham, maka langsung memberi hormat kepada pengawal itu.
"Terimakasih, Tuan telah menyelamatkan jiwaku"
"Bukan aku yang menyelamatkan Nona, melainkan.."
Pengawal itu menunjuk Tayli Kongcu.
"Kongcu yang menyelamatkan Nona."
Gouw sian Eng mendekati Tayli Kongcu, lalu memberi hormat seraya berkata dengan ramah.
"Aku mengucapkan terima kasih kepada Kongcu yang telah menyelamatkan jiwaku"
"Itu urusan kecil. Engkau tidak usah berterimakasih padaku,"
Sahut Tayli Kongcu lembut.
"Maaf"
Gouw sian Eng memandangnya.
"Bolehkah aku tahu engkau Kongcu apa?"
"Aku Tayli Kongcu, namaku Toan pit Lian."
Tayli Kongcu memberitahukan sambit tersenyum.
"Maaf aku berlaku kurang hormat terhadap Kongcu"
Ucap Gouw sian Eng.
"Tidak apa-apa."
Tayli Kongcu memandangnya.
"Engkau siapa? Kenapa bertempur denganpara penjahat itu?"
"Namaku Gouw sian Eng."
Gadis itu memberitahukan dengan jujur.
"Mereka adalah anggota sam Mo Kauw. Aku sedang menuju ke markas pusat Kay Pang, mendadak mereka menghadangku di sini"
"oooh"
Tayli Kongcu manggut-manggut.
"Mau apa engkau ke markas cusat Kay Pang?"
"Menemui Tio cie Hiong."
Jawab Gouw sian Eng.
"Tio cie Hiong?"
Air muka Tayli Kongcu tampak berubah, namun Gouw sian Eng tidak melihatnya.
"Julukannya Pek Ih sin Hiap. kan?"
"Betul Kok Kongcu tahu?"
Gouw sian Eng tercengang.
"Aaaakh..."
Mendadak Tayli Kongcu menghela nafas. Ternyata ia sudah mempunyai suatu rencana.
"Kenapa Kongcu menghela nafas?"
Gouw sian Eng cemas.
"Apakah telah terjadi sesuatu atas diri Tio cie Hiong ?"
"Apakah engkau dan dia merupakan sepasang kekasih?"
Tayli Kongcu balik bertanya sambil menatapnya dalam-dalam.
"Bukan."
Gouw sian Eng memberitahukan.
"sudah lama kami tidak bertemu. Kongcu, beritahukanlah kepadaku, apa yang telah terjadi atas dirinya?"
"Terus terang..."
Tayli Kongcu menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku justru dari markas pusat Kay Pang."
Sementara kedua pengawal itu hanya mendengarkan. Kening mereka tampak berkerut-kerut, namun tidak berani berbicara.
"Ada perlu apa ke markas Kay Pang?"
Tanya Gouw sian Eng.
"Untuk menyampaikan sesuatu kepada Lim Peng Hang, ketua Kay Pang,"
Sahut Tayli Kongcu.
"Menyampaikan apa?"
Gouw sian Eng mulai cemas lagi.
"Menyampaikan kepada Lim Peng Hang, bahwa..."
Tayli Kongcu menghela nafas panjang dan melanjutkan.
"Tio Cie Hiong berada di istana Tayli."
"oh?"
Gouw sian Eng terbelalak.
"Kenapa dia berada di istana Tayli?"
"Merawat lukanya."
Tayli Kongcu memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kemala.
"Dia terluka, hingga kini masih belum sadar."
"Haahi..?"
Mata Gouw sian Eng bersimbah air.
"Dia... dia...."
"Tidak apa-apa. Tabib istana terus menerus mengobatinya,"
Ujar Tayli Kongcu dan tampak begitu sungguh-sungguh, maka tidak heran kalau Gouw sian Eng mempercayainya.
"Kongcu..."
Gouw sian Eng memandangnya.
"Bolehkah aku ikut Kongcu ke istana Tayli menjenguknya? "
Memang ini yang diinginkan Tayli Kongcu, namun ia justru bersikap ragu akan permintaan Gouw sian Eng, sehingga membuat gadis itu jadi gelisah.
"Kongcu..."
"Baiklah"
Tayli Kongcu manggut-manggut.
"Engkau boleh ikut aku ke istana Tayli"
"Terima kasih, Kongcu"
Gouw sian Eng ingin berlutut di hadapannya, tapi Tayli Kongcu cepatcepat mencegahnya.
"Engkau tidak perlu berlutut."
Tayli Kongcu tersenyum.
"Kini kita sudah menjadi teman, kalau ada salah apa-apa kelak diantara kita, maka kita pun harus saling memaafkan."
"Ya, Kongcu."
Gouw sian Eng mengangguk.
"Terimakasih..."
Sudah dua hari Gouw Han Tiong menunggu TUi HUn Lojin, ayahnya, namun Tui Hun Lojin masih belum pulang, itulah sebabnya Gouw Han Tiong mengambil keputusan, apabila Tui Hun Lojin masih belum pulang besoki ia akan berangkat ke markas pusat Kay Pang untuk menyusul Gouw sian Eng, putrinya.
Akan tetapi, di saat itu pula mendadak muncul Tui Hun Lojin dengan wajah muram dan kusut.
"Ayah"
Panggil Gouw Han Tiong girang.
"Aaakh..."
Tui Hun Lojin menyahut dengan helaan nafas.
"Aku belum berhasil mencari Gouw sian Eng."
"Ayah"
Gouw Han Tiong memberitahukan dengan wajah berseri.
"Kemarin dulu Gouw sian Eng sudah pulang."
"oh?"
Tui Hun Lojin tertawa girang.
"Mana dia?"
"Dia sudah berangkat ke markas pusat Kay Pang, karena ingin menemui Tio Cie Hiong."
"Kapan dia berangkat ke sana?"
"Hari itu juga. ohya, kini Tio Cie Hiong sudah berkepandaian tinggi."
"Aku sudah tahu itu."
Tui Hun Lojin manggut-manggut sambil tertawa.
Baca Juga: Jaka Lola 3
Baca Juga: Bu Kek Siansu 9