Ceritasilat Novel Online

Kesatria Baju Putih 4

Eps 4 Kesatria Baju Putih - Chin Yung

Baca online Kesatria Baju Putih - Chin Yung

Cersil Kesatria Baju Putih - Chin Yung.

"ya. Ayah,"

Sahut gadis yang berdiri di sudut, lalu menyuguhkan secangkir teh untuk Tio Cie Hiong.

"Terima kasih. Kakak"

Tio Cie Hiong tersenyum. Wajah gadis itu langsung kemerah-merahan, gadis itu cukup cantik tapi kelihatan tercekam rasa takut.

"Anak muda, dia putriku satu-satunya."

Orang tua itu memberitahukan.

"Namanya Cui Ling."

Tio Cie Hiong manggut-manggut dan tersenyum lagi, lalu memandang orang tua itu seraya bertanya.

"Kenapa tadi Paman yang mengangkat jemuran padahal Paman punya anak perempuan?"

"Aaakh-"

Orang tua itu menarik nafas panjang.

"Anak muda, apakah engkau tidak melihat desa ini begitu sepi?"

"paman, aku memang merasa heran,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Apakah di desa ini telah terjadi sesuatu?"

"Ya."

Orang tua itu mengangguk-"Beberapa bulan ini telah terjadi sesuatu yang sangat menyeramkan.-"

"Kejadian apa?"

"Muncul arwah gentayangan menculik para anak gadis-"

Orang tua itu memberitahukan.

"Dalam waktu beberapa bulan ini, sudah banyak anak gadis yang diculik oleh arwah gentayangan itu."

"Arwah gentayangan?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Paman, bagaimana mungkin ada arwah gentayangan?"

"justru telah muncul di desa ini."

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Karena itu, para anak gadis tidak berani keluar rumah. Maka aku yang mengangkati jemuran."

"paman, bagaimana kejadian itu?"

Tanya Tio Cie Hiong ingin mengetahuinya.

"Beberapa bulan lalu di suatu malam, mendadak desa ini diselimuti kabut tebal,"jawab orang tua itu menutur.

"setelah itu, terdengar pula suara lolong anjing yang menyeramkan. Ketika tengah malam, muncullah cahaya kehijau-hijauan, dan samar-samar tampak beberapa sosok bayangan putih berjalan tak menyentuh tanah, kemudian berhenti di salah sebuah rumah di desa ini. Keesokan harinya, anak gadis keluarga itu telah hilang."

"oh?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Sejak itu kejadian tersebut terus berlanjut, sehingga membuat penduduk di desa ini ketakutan sekali,"

Ujar orang tua itu melanjutkan.

"Maka para anak gadis desa ini sama sekali tidak berani keluar rumah, sebab telah puluhan anak gadis hilang lenyap begitu saja. Cui Ling adalah putriku satu-satunya, ini sungguh membuat hatiku cemas sekali"

"Paman tidak usah cemas"

Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"ohya, paman memperbolehkan aku menginap di sini?"

"Baiklah-"

Orang tua itu mengangguk-"Sejak kejadian itu, kepala desa pun mengumpulkan para pemuda desa untuk menjaga malam, tapi-beberapa malam kemudian, putri kepala desa malah hilang pula-"

"oh? Bukankah ada para pemuda menjaga malam? Kok putri kepala desa itu masih bisa hilang?"

"Memang mengherankan."

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Ternyata para pemuda itu terkapar tak sadarkan diri-setelah hari mulai terang, barulah mereka siuman, tapi tidak tahu apa-apa."

"Ngmmm"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Paman. kebetulan aku berada di desa ini, maka aku akan mencoba menangkap arwah-arwah gentayangan itu"

"Apa?"

Orang tua itu terbelalak, begitu pula Cui Ling. Gadis itu memandang Tio Cie Hiong dengan mulut ternganga lebar.

"Paman, Kakak"

Tio cie Hiong tersenyum.

"Percayalah, aku pasti bisa menangkap arwah-arwah gentayangan itu"

"Anak muda"

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.

"Engkau jangan bergurau-.."

"Ayah"

Sela Cut Ling.

"Kelihatannya dia tidak bergurau."

"oh?"

Orang tua itu menatap putrinya.

"Benar, Paman"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Aku sama sekali tidak bergurau, oh ya, apakah arwah-arwah gentayangan itu akan muncul setiap tengah malam?"

"Tidak tentu."

Orang tua itu memberitahukan.

"Beberapa malam muncul sekali."

"Paman"

Ujar Tio cie Hiong sungguh-sungguh-"Mudah-mudahan arwah-arwah gentayangan itu akan muncul malam ini"

Orang tua itu dan putrinya saling berpandangan, kelihatannya orang tua itu masih tidak percaya, namun gadis itu malah percaya sekali, sebab Tio Cie Hiong tidak bertampang pembohong.

-ooo00000ooosetelah larut malam, Tio cie Hiong duduk bersemadi di dalam rumah orang tua itu menghadap pintu.

Tampak orang tua tersebut dan putri-nya duduk di belakang Tio cie Hiong.

Ternyata Tio Cie Hiong yang menyuruh mereka.

"Paman, Kakak Ling"

Ujar Tio Cie Hiong menjelaskan.

"Lebih aman kalian duduk di belakangku, karena aku bisa melindungi kalian berdua."

"Terima kasih, Anak muda"

Ucap orang tua itu. Wajahnya masih tampak cemas sekali, tapi sebaliknya Cui Ling malah kelihatan tenang.

"Sekarang sudah tengah malam. Aku mendengar suara langkah para pemuda desa yang meronda, berarti arwah-arwah gentayangan itu tidak akan muncul malam ini,"

Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Maka Paman dan Kakak Ling boleh pergi tidur-"

"Anak muda, bagaimana mungkin aku bisa tidur?"

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku tidak bisa tidur,"

Sambung cui Ling.

"Lebih baik aku duduk di belakangmu, rasanya aman sekali."

Tio Cie Hiong tersenyum, kemudian memejamkan matanya untuk bersemadi lagi.

sementara sang waktu terus berjalan, tak terasa hari sudah mulai terang.

Tio cie Hiong membuka matanya, sedangkan orang tua itu menarik nafas lega.

"Syukurlah hari sudah pagi"

Ujar orang tua itu.

"Ling Ling, cepatlah masak"

"ya. Ayah-"

Cui Ling bangkit berdiri, lalu berjalan ke dalam dengan hati lega-"Anak muda, mari kita duduk di kursi saja"

Ajak orang tua itu. Tio cie Hiong mengangguk-Mereka berdua lalu duduk di kursi-Berselang beberapa saat kemudian, cui Ling sudah datang dengan membawa dua mangkuk nasi dan sepiring telor goreng.

"Anak muda, mari kita makan"

Ujar orang tua itu.

"Maaf, tidak ada lauk pauknya. sebab banyak pedagang yang tidak jualan."

"Ada telor goreng sudah cukup-"

Tio Cie Hiong tersenyum, dan memandang cui Ling yang berdiri-"Kakak Ling, mari kita makan bersama"

"Ling Ling, makan bersamalah"

Sambung orang tua itu.

Cui Ling mengangguk lalu masuk ke dalam, la mengambil semangkuk nasi, lalu duduk makan bersama ayahnya dan Tio Cie Hiong.

Tak seberapa lama, mereka telah usai makan.

Kemudian orang tua itu memandang Tio Cie Hiong seraya berkata.

"Anak muda, benarkah engkau mampu menangkap arwah-arwah gentayangan itu?"

"Paman, aku tidak bohong"

Sahut Tio cie Hiong.

"Kalau begitu, aku akan pergi memberitahukan pada Cungcu (Kepala Desa)"

Ujar orang tua itu.

"Tidak perlu"

Tio cie Hiong menggelengkan kepala-"setelah aku berhasil menangkap arwah-arwah gentayangan itu, barulah Paman pergi melapor kepada kepala desa-"

"Baiklah>"

Orang tua itu mengangguk-"ohya. Anak muda Aku sudah mengantuk sekali, mau pergi tidur sebentar."

"silakan Paman""

"Ling Ling"

Pesan orang tua itu.

"Engkau harus mencuci pakaian"

"ya. Ayah-"

Cut Ling mengangguk, lalu memandang Tio Cie Hiong.

"Maaf, aku harus ke depan untuk mencuci pakaian"

Tidak apa-apa,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Kakak tidak usah menemani aku, pergilah mencuci pakaian"

Cui Ling tersenyum dengan wajah agak kemerah-merahan, kemudian berjalan ke depan.

Tio Cie Hiong tetap duduk di situ.

la telah mengambil keputusan untuk menangkap para penjahat yang menyamar sebagai arwah gentayangan untuk menculik anak gadis di desa itu.

Berselang sesaat, Tio Cie Hiong berjalan ke luar.

la melihat Cui Ling sedang memeras pakaian sekuat tenaga.

Pemuda itu tersenyum sambil mendekatinya.

"Kakak Ling"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Cukup capek engkau memeras pakaian itu."

"Ya-"

Cui Ling mengangguk dengan nafas agak memburu.

"Kakak Ling, biar aku membantumu."

"Apa?"

Cui Ling terbelalak.

"Itu... mana boleh?"

"Tidak apa-apa."

Tio Cie Hiong segera mengambil pakaian dari dalam tempat cucian, lalu mendadak tangannya bergerak sehingga pakaian itu terus melingkar, setelah itu, Tio Cie Hiong melempar pakaian itu ke arah tali jemuran.

Pakaian itu melebar dan jatuh tepat pada tali jemuran.

"Haaah-?"

Mulut Cui Ling ternganga lebar.

"engkau--"

Tio Cie Hiong hanya tersenyum, lalu masuk ke rumah.

Cui Ling memandangnya dengan mata terbelalak.

setelah hari mulai malam, wajah orang tua itu kembali tampak cemas-Tio Cie Hiong memandangnya seraya berkata-"Paman, tidak usah cemas, tidak akan terjadi apa-apa atas diri Kakak Ling Percayalah"

"Anak muda, bukan cuma aku yang cemas,"

Ujar orang tua itu.

"seluruh penduduk desa ini pasti cemas disaat hari mulai malam."

"Ayah, aku yakin adik Hiong dapat melindungiku-"

Sela Cui Ling mendadak-"oh?"

Orang tua itu menatap putrinya-"Mudah-mudahan"

Ketika malam mulai larut, Tio Cie Hiong menyuruh orang tua itu dan putrinya duduk di lantai, sedangkan ia sendiri duduk bersila di depan mereka menghadap pintu-Tio cie Hiong mulai bersemadi dengan mata terpejam-Berselang beberapa saat kemudian, ia membuka matanya seraya memberitahukan.

"Paman, Kakak Ling sebentar lagi arwah-arwah gentayangan itu akan muncul. Aku harap Pryarn dan Kakak Ling tenang saja, dan harus tetap duduk di belakangku"

"Haaah?"

Wajah orang tua itu langsung memucat, namun cui Ling tetap tampak tenang.

Tak seberapa lama terdengarlah suara desiran angin, tampak pula kabut tebal mulai menyelimuti desa itu, dan diiringi lolongan anjing yang menyeramkan.

"Anak muda...."

Orang tua itu menggigil ketakutan.

"Ba... bagaimana nih?"

"Tenang saja, Paman"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Pokoknya Paman dan Kakak Ling harus tetap duduk di belakangku"

"Adik Hiong"

Tanya Cui Ling.

"Apakah arwah-arwah gentangan itu akan muncul di sini?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Aku sudah mendengar suara langkah ringan menuju ke mari-"

"oh, Thian"

Ucap orang tua itu.

"Lindungilah putri hamba"

Walau Cui Ling kelihatan tenang, tapi tidak terlepas dari rasa takut juga. la memegang bahu Tio cie Hiong erat-erat.

"Kakak Ling, jangan takut"

Ujar Tio Cie Hiong.

Wajah Cui Ling langsung memerah, karena tanpa sadar ia memegang bahu pemuda itu, kemudian cepat-cepat ia melepaskan tangannya.

Berselang sesaat, terdengarlah suara hembusan angin yang kencang sekali, dan seketika pintu rumah itu tergoncang.

Braaak Pintu rumah itu terbuka.

seketika juga Cui Ling menjerit ketakutan, sedangkan orang tua itu berkomat-kamit saking cemasnya, kemudian merangkul putrinya erat-erat.

Tampak empat orang berpakaian kematian berjalan ringan memasuki rumah itu.

Akan tetapi mereka tertegun ketika melihat Tio cie Hiong duduk bersila di lantai menghadang mereka.

"Anak muda Cepat minggir"

Bentak salah seorang di antara mereka.

"Arwah gentayangan bisa berbicara seperti manusia, ini sungguh luar biasa sekali"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Anak muda Kami harap engkau jangan turut campur urusan ini"

Ujar orang yang berbadan agak tinggi.

"Cepatlah minggir"

"Aku justru harus turut campur, karena kalian sering menculik anak gadis didesa ini"

Tio cie Hiong masih duduk bersila di lantai.

"He he he"

Orang berbadan tinggi itu tertawa seram.

"Anak muda, lihatlah aku"

Tio cie Hiong memandangnya. Mendadak sepasang mata orang itu memancarkan cahaya kehijau-hijauan. Menyaksikan itu, Tio Cie Hiong malah tertawa seraya berkata.

"Percuma engkau mengerahkan ilmu sesat itu, aku tidak akan terpengaruh"

"Hah?"

Orang itu tampak terkejut, kemudian berseru.

"serang dia"

Pada saat bersamaan, Tio cie Hiong yang duduk bersila itu bergerak mendadak, dan seketika terdengarlah suara jeritan.

"Aaakh Aaaak.^"

Keempat orang itu telah roboh dengan wajah meringis-ringis.

Ternyata Tio cie Hiong bergerak dengan ilmu langkah kilat, bahkan sekaligus memusnahkan kepandaian mereka, sehingga keempat orang itu sudah tidak bertenaga sama sekali.

"Beritahukan siapa yang menyuruh kalian menculik para anakgadis didesa ini?"

Bentak Tio cie Hiong.

"Siauw hiap Ampunilah kami"

Ujar orang berbadan tinggi.

"Aku telah mengampuni nyawa kalian, tapi kepandaian kalian telah musnah-Mulai sekarang kalian harus menjadi orang baik-baik,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Nah Beritahukan kepadaku, siapa yang menyuruh kalian menculik para anak gadis?"

"Dia-dia adalah Im Yang Hoatsu."

Orang berbadan tinggi memberitahukan.

"Im yang Hoatsu (Pendeta Banci)?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"ya."

Orang berbadan tinggi itu mengangguk-"Kami anak buahnya, dia yang menyuruh kami menculik para anak gadis""

"Im yang Hoatsu berada di-mana?"

"Di biara tua Ang Lian si (Biara Teratai Merah)"

"Di mana biara itu?"

"Kira-kira dua mil di sebelah barat desa ini."

Tio Cie Hiong manggut-manggut, lalu memandang orang tua itu.

"Paman Aku akan ke Biara Teratai Merah untuk menolong para gadis yang telah diculik itu,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Akupun akan menyadarkan para pemuda yang mungkin masih dalam keadaan pingsan, sekaligus menyuruh mereka ke mari untuk membawa keempat penjahat ini ke rumah kepala desa-"

"Tapi..."

Orang tua itu terbelalak-"Jangan takut, Paman"

Tio Cie Hiong tersenyum-"Aku telah memusnahkan kepandaian mereka, dan kini mereka sama sekali tidak bertenaga-Kalau Paman menampar mereka, mereka pun tidak akan mampu melawan"

"oh?"

Orang tua itu mengerutkan kening. Kemudian ia mendekati salah seorang penjahat itu dan dengan takut-takut menamparnya. Plaak "

Ampun"

Jerit orang itu kesakitan. Plak Plak Plak orang tua itu pun menampar yang lain dengan sengit.

"Aduuuh"

Jerit mereka kesakitan, dan sama sekali tidak bertenaga untuk melawan.

"Paman, Nanti Paman ikut ke rumah kepala desa juga. Keempat penjahat ini boleh dihukum, tapi jangan dibunuh"

Pesan Tio Cie Hiong dan segera pergi. Berselang beberapa saat kemudian, tampak puluhan pemuda desa berlari-lari menuju rumah orang tua itu.

"Mana penjahat itu? Mana penjahat itu?"

Tanya mereka.

"Di sini"

Sahut orang tua itu, yang kini tampak gagah sekali.

"Cepat kalian bawa keempat penjahat ini ke rumah kepala desa"

"Kalian kok tahu ada penjahat di sini?"

Tanya Cui Ling mendadak-"Nona Ling"

Sahut salah seorang pemuda-"Tadi kami sedang meronda, ketika tengah malam, mendadak muncul kabut tebal dan desiran angin, terdengar pula suara lolong anjing yang menyeramkan.

Kami terkejut bukan main.

Mendadak kami mencium bau aneh, sehingga membuat kami pingsan seketika.

Di saat kami siuman, kami melihat seorang pemuda berbaju putih berdiri di hadapan kami sambil tersenyum.

Dia menyuruh kami ke mari, katanya dia telah menangkap empat penjahat." (Bersambung keBagian 11) Bagian 11

"Oooh"

Cui Ling manggut-manggut.

Para pemuda desa itu menyeret keempat penjahat ke rumah kepala desa.

orang tua tersebut dan putrinya juga ikut ke sana.

Kepala desa menyambut kedatangan mereka dengan ramah, tapi wajahnya tetap murung.

"Terima kasih, kalian telah berhasil menangkap keempat penjahat yang menyamar arwah gentayangan"

Ujar kepala desa sambil manggut-manggut.

"Cungcu"

Sahut salah seorang pemuda.

"Bu-kan kami yang menangkap keempat penjahat itu."

"oh?"

Kepala desa bingung.

"Kalau begitu, siapa yang menangkap mereka?"

Cui Ling dan ayahnya segera tampil ke depan. Bukan main gagahnya ketika orang tua itu menampilkan diri, sehingga membuat Cui Ling nyaris tertawa geli.

"Cungcu (Kepala Desa), yang menangkap keempat penjahat itu adalah seorang pemuda tampan berbaju putih."

Orang tua itu memberitahukan dengan suara lantang.

"Kemarin pemuda tampan itu datang ke rumahku. Ketika mendengar ada arwah gentayangan, maka dia menginap di rumahku untuk menangkap arwah gentayangan itu. Tengah malam ini dia berhasil, ternyata bukan arwah gentayangan, melainkan keempat penjahat itu yang menyamar arwah gentayangan."

"oh?"

Kepala desa terbelalak.

"Siapa pemuda itu?"

"Wuah"

Orang tua itu menggelengkan kepala.

"Aku sudah lupa."

"Cungcu Aku memanggilnya adik Hiong."

Cui Ling memberitahukan dan sekaligus menutur tentang kejadian tengah malam itu.

"Haah?"

Kepala desa mendengar dengan mulut ternganga, begitu pula para pemuda desa yang berkumpul di situ.

"Dia bilang mau pergi menolong para gadis yang diculik itu."

Cui Ling menambahkan.

"Mungkin tidak lama lagi dia akan ke mari."

"Syukurlah"

Ucap kepala desa, kemudian berseru lantang.

"Mari kita bunuh keempat penjahat itu"

"Jangan"

Cegah Cui Ling.

"Kenapa?"

Kepala desa tercengang.

"Cungcu, pemuda itu telah berpesan, kita boleh menghukum keempat penjahat itu, tapi tidak boleh membunuh mereka."

"Kalau begitu, gantung keempat penjahat itu di pohon Tunggu pemuda itu kemari menghukum mereka"

Ujar kepala desa. para pemuda desa segera mengikat keempat penjahat tersebut, kemudian menggantung mereka di pohon.

"Kalian harus segera memanggil para orang tua yang kehilangan anak gadisnya untuk berkumpul di sini, sebab menurut Nona Ling, tidak lama lagi pemuda itu akan ke mari bersama para gadis yang di culik itu."

"ya, Cungcu"

Sahut para pemuda desa.

Mereka segera pergi memanggil para orang tua yang kehilangan anak gadisnya.

Biasanya kepala desa sangat memandang rendah ayah Cui Ling yang miskin itu.

Tapi kini sikapnya telah berubah sama sekali, bahkan menyuguhkan air teh pula kepadanya, sehingga membuat orang tua itu gembira.

-ooo00000ooo-Tio cie Hiong mengerahkan ginkang menuju Biara Teratai Merah-Tak segerapa lama kemudian, ia sudah sampai di biara itu.

Biara tersebut sudah tua, bahkan sudah rusak, dan pintu halamannya tinggal sebelah.

Tio Cie Hiong mengerutkan kening, lalu perlahan-lahan berjalan memasuki halaman biara itu.

Tiada seorang pun berada di situ.

Tio Cie Hiong berdiri sambil memandang biara yang tak diurus itu.

sekonyong-konyong berkelebat belasan bayangan putih ke arahnya.

Belasan orang itu semuanya berpakaian kematian.

Pada waktu bersamaan, terdengar suara tawa menyeramkan yang melengking-lengking, kemudian muncul seorang berpakaian pendeta.

orang itu tampak aneh sekali, sebab mukanya dirias dengan bedak dan bibirnya dimerahkan.

"eeh?"

Orang itu kelihatan tertegun ketika melihat Tio cie Hiong.

"siapa engkau adik manis?"

Tio Cie Hiong melongo ketika mendengar ucapannya orang itu, sebab mirip suara wanita yang mengalun lembut.

"Engkau siapa?"

Tio Cie Hiong balik bertanya.

"Adik manis, aku Im yang Hoatsu (Pendeta Banci)."

Orang itu tersenyum genit sambil menatap Tio cie Hiong dengan mata tak berkedip-"Ternyata engkau Im yang Hoatsu"

Tio Cie Hiong manggut-manggut-"Adik manis, engkau kenal aku?"

Im yang Hoatsu mengerlingkan matanya.

"Jadi engkau ke mari mencariku?"

"ya"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Bagus Bagus"

Im yang Hoatsu tersenyum-"Mari kita bersenang-senang, aku jamin engkau pasti merasa puas"

"Im yang Hoatsu"

Bentak Tio Cie Hiong mendadak "Kenapa engkau menyuruh anak buahmu menculik para gadis desa itu?"

"Wuah"

Im yang Hoatsu tertawa kecil-"Adik manis, kok engkau begitu galak sih Tapi aku senang deh padamu-"

"Im yang Hoatsu"

Bentak Tio Cie Hiong lagi.

"Cepatlah melepaskan para gadis itu"

"Itu mana boleh?"

Sahut Im yang Hoatsu.

"Mereka sudah kujadikan pelayan-pelayanku-Tapi-aku bersedia melepaskan gadis-gadis itu, asal engkau mau menemaniku selamanya-"

"Omong kosong"

Tio Cie Hiong menatapnya.

"Hari ini aku harus menumpas kalian semua"

"oh ya?"

Im yang Hoatsu tertawa geli, kemudian berseru dengan suara parau.

"Kalian cepat tangkap adik manis itu"

Tio Cie Hiong tertegun karena mendadak suara Im yang Hoatsu berubah parau, padahal semuLa mengalun begitu lembut-Belasan orang itu langsung menerjang ke arah Tio Cie Hiong.

Dengan cepat-cepat pemuda itu bergerak menggunakan ilmu langkah kilat.

Tam-pak bayangan berkelebat laksana kilat, kemudian terdengarlah suara jeritan di sana sini.

"Aaaakh.-"

Belasan orang telah roboh sambil merintih-rintih-Terbelalak Im yang Hoatsu menyaksikanny a -"siapa kau?"

Bentaknya parau.

"Tidak usah tahu siapa aku yang jelas aku harus menumpasmu hari ini, karena engkau telah melakukan kejahatan"

Sahut Tio Cie Hiong.

"oh, ya?"

Suara Im yang Hoatsu mengalun lembut lagi, kemudian tersenyum genit seraya berkata-"Lihatlah Bukankah aku gadis yang sangat cantik sekali?

Kau pasti jatuh cinta kepadaku Ayolah, mari kita bersenang-senang di dalam biara"

Tio Cie Hiong memandangnya, seketika itu Im yang Hoatsu berubah menjadi seorang gadis yang amat cantik, bahkan badannya meliuk-liuk merangsang.

Menyaksikan itu, Tio Cie Hiong tahu Im yang Hoatsu memiliki ilmu hitam.

Karena itu, ia pun mengerahkan "Ilmu Penakluk iblis".

"Im yang Hoatsu"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Lihatlah Aku ayahmu, cepatlah engkau berlutut"

"Haaah-.?"

Im yang Hoatsu terkejut bukan main, sebab mendadak ia melihat almarhum ayahnya berada di hadapannya, sehingga membuatnya nyaris berlutut.

"Ha ha"

Tio Cie Hiong tertawa geli.

"Engkau...."

Im yang Hoatsu terbelalak.

"Eng-kau mahir ilmu hitam juga?"

"Tidak"

Tio cie Hiong menggeleng kepala.

"Itu yang disebut senjata makan tuan."

"Lihat"

Bentak Im yang Hoatsu dengan suara berwibawa.

"Aku iblis dari neraka yang akan membunuhmu"

Mendadak Im yang Hoatsu berubah menjadi sosok makhluk yang sangat menyeramkan, langsung menerjang ke arah Tio Cie Hiong.

"Aku si Penakluk Iblis"

Ujar Tio Cie Hiong halus.

"Iblis, cepatlah menyerah"

"Aaaakh-"

Jerit Im yang Hoatsu.

Ternyata dirinya telah terserang, Ilmu Penakluk Iblis, sehingga membuat sekujur badannya mengucurkan keringat, Ia mundur beberapa langkah, dan cepat mengeluarkan sebatang tongkat pendek berkepala ular.

"Lihat serangan"

Im yang Hoatsu menyerang Tio Cie Hiong dengan tongkat berkepala ular itu.

Tio Cie Hiong menghindar dengan ilmu langkah kilat, Im yang Hoatsu tertegun karena mendadak pemuda itu telah hilang dari hadapannya.

Kini barulah ia tahu telah menghadapi pemuda yang berilmu tinggi, bahkan dapat membuyarkan itmu hitamnya pula.

Maka diam-diam ia mengambil keputusan untuk kabur.

Tio Cie Hiong yang masih belum berpengalaman tidak mengetahui itu.

sekonyong-konyong Im yang Hoatsu melemparkan sesuatu ke bawah-Terdengarlah letusan yang menimbulkan asap tebal.

Asap beracun namun Tio Cie Hiong tidak mengalami apa pun, sebab dirinya kebal terhadap racun.

Begitu asap itu sirna, Tio Cie Hiong terkejut mendapati Im yang Hoatsu ternyata telah kabur.

Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala, menyesali keteledorannya.

Lalu melangkah menghampiri salah seorang yang masih menggeletak di situ.

"Di mana gadis-gadis itu?"

Tanyanya.

"Mereka... mereka disekap di sebuah kamar,"

Jawab orang itu memberitahukan.

"siauw hiap, ampunilah kami"

"Aku sudah mengampuni kalian. Kini kepandaian kalian telah musnah, selanjutnya jadilah orang baik-baik"

Orang itu mengangguk dengan wajah murung.

Tio Cie Hiong masuk ke dalam biara tua itu.

Didengarnya ada suara tangisan di sebuah kamar, segeralah ia membuka pintu kamar itu, maka tampak belasan gadis berada di dalam.

"Kakak, kakak"

Seru Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Kalian jangan takut, aku kemari untuk menolong kalian"

"Terima kasih"

Sahut gadis-aadis itu serentak dan ikut Tio Cie Hiong keluar.

Begitu sampai di luar biara, barulah Tio Cie Hiong ingat akan satu masalah, dari tempat ini menuju ke desa cukupjauh, berarti gadis-gadis itu harus berjalan kaki, sebab tidak ada kuda.

"Tidak ada kuda, jadi kalian, terpaksa harus berjalan kaki pulang"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Tidak apa-apa,"

Ujar gadis-gadis itu-"Tapi kami harap siauw hiap-.."

"Tentu"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Aku pasti menjaga kalian sampai di desa"

"Terima kasih, Siauw hiap"

Ucap gadis-gadis.

Setelah hari agak siang, barulah mereka sampai di rumah kepala desa.

Betapa gembiranya para orang tua bertemu anak gadis mereka.

Tak henti-hentinya mereka menjura sambil menghaturkan terima kasih kepada Tio Cie Hiong.

"Siauw hiap"

Kepala desa mendekati Tio Cie Hiong.

"Terima kasih atas pertolonganmu, sehingga putriku bisa selamat."

"sama-sama-"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Cungcu, kepala penjahat itu ternyata Im yang Hoatsu, jadi-dia tidak bisa mengganggu anak gadis-Harap Cungcu tenang."

Kepala desa itu manggut-manggut mengerti akan maksud Tio Cie Hiong.

"siauw hiap, karena engkau telah menolong putriku dan lain-lainnya, maka aku akan memberimu hadiah-"

Tidak usah-"

Tio cie Hiong menggeleng kepala-"yang penting Cungcu jangan bertindak semena-mena terhadap penduduk-"

Kepala desa mengangguk-"Dan...,"

Tambah Tio Cie Hiong.

"Ayah Cui Ling sangat baik terhadapku, aku harap Cungcu bersedia membantunya."

"Tentu, tentu"

Kepala desa mengangguk-"Aku akan memberikannya sawah yang luas."

Ujarnya kemudian. Tio Cie Hiong menghampiri ayah Cui Ling, sementara orang tua itu terus tertawa gembira.

"Paman, Kepala desa sudah berjanji akan memberikan sawah yang luas. selanjutnya Paman tidak perlu merasa bersusah lagi."

Tio Cie Hiong memberitahukan sambil tersenyum.

"oh..-Be-benarkah itu?"

Tanya orang tua itu tak percaya.

"Benar,"

Sahut kepala desa sambil manggut-manggut.

"Aku telah berjanjipada Siauw hiap ini, tentunya aku tidak akan mengingkarinya."

"Terima kasih, Cungcu"

Ucap orang tua itu. Tio Cie Hiong menjura pada semua orang.

"Maaf. Aku mau mohon diri,"

Ujarnya kemudian.

"Adik Hiong...,"

Seru Cui Ling dengan mata mulai basah-"Begitu cepat... engkau mau pergi?"

"ya"

Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Kakak Ling, ayahmu sudah tua, jagalah dia baik-baik"

"Adik Hiong...."

Air mata Cui Ling mulai meleleh. Tio Cie Hiong tersenyum lagi. Namun mendadak dia bergerak, seketika badannya berkelebat laksana kilat meninggalkan tempat itu.

"Hrrp.."

Kepala desa terkejut melihatnya.

"Dia-dia benar-benar sin Hiap (Kesatria)"

"Pek Ih sin Hiap Pek Ih sin Hiap (Kesatria Baju Putih)"

Seru semua orang yang berada di situ.

"Adik Hiong-"

Cui Ling yang terisak-isak kembali meneriakkan nama pemuda sakti itu.

sejak itu, dikenallah Pek Ih sin Hiap dalam rimba persilatan.

Kesatria Baju Putih yang selalu menolong orang dan menumpas para penjahat dengan cara memusnahkan kepandaian mereka....

-ooo00000ooo-Bab 19 Panggung cari jodoh Tio Cie Hiong terus melanjutkan perjalanannya menuju Puri Angin Halilintar.

Dalam perjalanan itu dia sambil acapkali menolong orang sakit, juga menumpas para penjahat.

Hanya saja ia tidak pernah membunuh, melainkan memusnahkan kepandaian mereka.

Karena itu, lambat launjulukannya mulai dikenal dalam rimba persilatan.

Pagi ini ia memasuki sebuah kota yang cukup besar.

Kota An wie termasuk kota perdagangan, tidak mengherankan kalau keadaannya begitu ramai.

ini suasana kota tersebut tampak lebih ramai, di sana sini terlihat orang berkumpul membicarakan sesuatu sambil tertawa.

Tio Cie Hiong yang baru tiba di kota An wie itu terheran-heran menyaksikannya, sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan warga kota.

Kemudian ia memasuki sebuah kedai yang sangat ramai.

Tidak ada tempat kosong sehingga terpaksa dia berdiri sambil menengok ke sana ke mari.

Ia melihat dua orang lelaki yang sedang bersantap sambil mengobrol tak henti-hentinya.

Karena di situ masih ada tempat kosong, maka Tio cie Hiong mendekati mereka.

"Maaf"

Ucapnya sambil menjura pada kedua orang itu.

"Bolehkah aku duduk di sini?"

"silakan"

Sahut salah seorang sambil memandangnya.

"Terima kasih"

Tio Cie Hiong tersenyum dan duduk-segera seorang pelayan menghampirinya.

"Tuan mau makan apa?"

"semangkok nasi dan sop sapi,"

Jawab Tio Cie Hiong. Tak lama kemudian, pelayan sudah menyediakan pesanan Tio Cie Hiong. Ketika ia mulai bersantap, kedua orang di dekatnya terdengar mengobrol lagi.

"Nanti sore, pertandingan itu pasti menarik sekali."

"Ha ha Pasti merupakan pertandingan yang sangat menarik-"

"Tapi-."

Orang yang berbadan gemuk meng-geleng-gelengkan kepala.

"Mungkin juga ada yang akan mati dalam pertandingan itu-"

"Benar."

Temannya manggut-manggut.

"Sebab pemuda jahat itu pasti muncul, jadi--"

"Aaakh"

Orang berbadan gemuk menghela nafas panjang.

"Siapa yang mampu mengalahkannya? Nona Tan pasti"

"yaah"

Temannya menggeleng-geleng kepala.

"Guru silat Tan berharap ada orang yang mampu mengalahkan pemuda jahat itu-Tapi di dalam kota ini mana ada orang yang mampu mengalahkan pemuda itu?"

Mendengar percakapan itu Tio Cie Hiong merasa tertarik-Ia memandangi orang yang berbadan gemuk seraya bertanya-"Maaf sebetulnya ada pertandingan apa di kota ini. Tuan?"

Kedua orang itu langsung memandang Tio cie Hiong, mereka berdua tampak tercengang.

"Eh? saudara bukan warga kota ini?"

Orang berbadan gemuk balik bertanya.

"Bukan."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Aku cuma mampir di kota ini."

"oooh"

Orang berbadan gemuk itu manggut-manggut.

"Pantas saudara tidak tahu."

"Bolehkah saya tahu pertandingan apa yang Tuan perbincangkan tadi?"

"Tentu boleh,"

Sahut orang berbadan gemuk itu.

"Di kota ini terdapat seorang guru silat, Tan Kiat sih namanya. Beliau punya seorang putri yang cantik jelita bernama Tan Li Cu...."

"Gadis itu berkepandaian tinggi,"

Sambung temannya.

"Sebab gadis itu mendapat bimbingan dari seorang biarawati pengembara."

"oh?"

Tio Cie Hiong makin tertarik-"Lalu kenapa ada suatu pertandingan?"

"Itu merupakan sayembara,"

Sahut orang berbadan gemuk memberitahukan.

"Ternyata Nona Tan telah saling mencinta dengan seorang pemuda bernama Lim Hay Beng. Guru Tan sangat suka pada Lim Hay Beng, karena Lim Hay Beng merupakan pemuda baik, Karena itu, guru Tan berniat menjodohkan mereka Namun...."

"Kenapa?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Mendadak muncul Liu siauw Kun ke rumah guru Tan untuk melamar putrinya. Hal itu membuat Guru silat Tan jadi serba salah,"

Tutur orang berbadan gemuk sambil menggeleng-geleng kepala.

"Kenapa Guru Tan harus serba salah? Bu-kankah dia boleh menolak pinangan Liu siauw Kun itu?"

Selidik Tio cie Hiong.

"Kalau Guru Tan menolak langsung, berarti guru Tan dan putrinya bakal celaka."

Orang berbadan gemuk menarik nafas.

"Lho?"

Tio cie Hiong tercengang.

"Kenapa begitu?"

"Liu siauw Kun berkepandaian sangat tinggi dan berhati kejam pula."

Orang berbadan gemuk memberitahukan.

"Liu siauw Kun selalu berlaku sewenang-wenang di kota ini, bahkan sering puLa mengganggu para anak gadis-siapa berani melawannya, pasti mati di ujung pedangnya"

"oh?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Kenapa orang tuanya membiarkannya berbuat sewenang-wenang begitu?"

"orang tuanya cuma tahu bersenang-senang, mana bisa mendidik putranya? Sedangkan ibunya sudah lama meninggal. Lagi pula... guru Liu siauw Kun malah lebih kejam, sering membunuh orang hanya karena urusan kecil."

"Siapa guru Liu siauw Kun?"

"Gurunya adalah Tok Gan sin coa (ular sakti Mata satu)"

"ohya, apakah Lim Hay Beng itu mengerti ilmu silat?"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak.

"Mengerti-Tapi--"

"Kenapa?"

Tanya Tio Cie Hiong cepat.

"Kepandaiannya masih di bawah Nona Tan, tidak mampu melawan Liu siauw Kun. Aku yakin dia akan mati di tangan Liu siauw Kun yang berhati kejam itu."

"Dikarenakan itu..."

Sambung temannya-"Guru silat Tan mendirikan sebuah panggung sayembara.

Pemuda dari mana pun diperbolehkan bertanding di atas panggung itu.

siapa yang mampu mengalahkan Nona Tan, maka akan dijodohkan kepadanya"

"oh?"

Tio cie Hiong tersenyum.

"Kalau begitu, bagaimana dengan Lim Hay Beng yang mencintai Nona Tan?"

"Tentu harus ikut bertanding Namun pasti muncul Liu siauw Kun, maka Lim Hay Beng akan celaka di tangan pemuda kejam itu."

"Di kota ini tidak ada pemuda yang berkepandaian tinggi untuk mengalahkan Liu siauw Kun?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Kalau ada, Liu siauw Kun tentu tidak akan berani berbuat sewenang-wenang. Aaakh Entah apa yang akan terjadi dalam pertandingan itu?"

"Tuan, di mana panggung itu?"

"Di depan rumah Guru Tan."

"Di mana rumah Guru silat Tan itu?"

"Di sebelah barat kota ini. siapa pun tahu rumah Guru silat Tan."

Jawab orang berbadan gemuk sambil menatapnya.

"Apakah saudara mengerti ilmu silat?"

"Mengerti sedikit"

Ujar Tio cie Hiong dan tersenyum.

"Siapa yang melakukan kejahatan, harus mendapat ganjarannya"

Lanjutnya menandaskan.

"Memang"

Orang berbadan gemuk manggut-manggut.

"Tapi..., siapa yang mampu mengalahkan Liu siauw Kun itu?"

"Di mana ada kejahatan, di situ akan muncul kebenaran dan keadilan"

Ujar Tio Cie Hiong serius, lalu bangkit berdiri Ketika ia mau membayar, orang berbadan gemuk itu mencegah-"saudara, biar aku saja yang membayar."

"Terima kasih"

Ucap Tio Cie Hiong, ia meninggalkan kedai itu.

Tio cie Hiong berteduh di bawah pohon rindang di depan sebuah biara.

Beberapa saat kemudian, pintu halaman biara itu terbuka, tampak dua hweeshio berjalan keluar.

Begitu melihat Tio cie Hiong duduk di bawah pohon, kening kedua hweeshio itu tampak berkerut.

"Hei Kenapa engkau duduk di situ?"

Bentak salah seorang hweeshio itu.

Tio cie Hiong memandang kedua hweeshio muda itu dengan penuh keheranan.

Biasanya para hweeshio selalu bersikap ramah terhadap orang, namun kedua hweeshio muda itu bersikap begitu kasar.

"Maaf"

Ucap Tio Cie Hiong sambil bangkit berdiri "Aku numpang beristirahat sejenak di sini"

"Engkau tidak boleh duduk di situ"

Bentak kedua hweeshio muda itu.

"Akan mengotori biara"

"Apa?"

Terkejut Tio Cie Hiong mendengarnya.

"Aku berdiri di sini, mana mungkin mengotori biara yang di dalam?"

"ya."

Kedua hweeshio itu mengangguk,-"Apakah ini termasuk ajaran Budha?"

Tanya Tio cie Hiong mendadak-"Jangan banyak omong, cepatlah pergi"

Bentak salah seorang hweeshio itu dengan wajah tak senang.

"Anak muda"

Seorang wanita berusia empat puluh lebih mendekatinya.

"Lebih baik berteduh di rumahku saja"

"Bibi..."

Tio cie Hiong tidak menyangka akan muncul seorang wanita baik hati itu.

"Anak muda, percuma berdebat dengan hweeshio-hweeshio itu,"

Ujar wanita itu dengan suara pelan.

"Mereka hweeshio-hweeshio mata duitan Kalau orang kaya bersembahyang di biara itu akan disambut dengan ramah, tapi orang miskin yang bersembahyang, mereka sama sekali tidak menghiraukannya."

"oh?"

Tio Cie Hiong melongo mendengar penuturan wanita setengah baya itu.

"omitohud"

Ucap kedua hweeshio itu.

"Kalian berdua masih menyebut 'omitohud'?"

Tio Cie Hiong tersenyum dan menambahkan.

"Apakah kalian tidak takut tertimpa oleh "omitohud"

Itu?"

Wanita itu tersenyum, kemudian mengajak Tio Cie Hiong ke rumahnya. Rumah itu cukup besar, memiliki halaman depan dan belakang, namun keadaannya tampak sudah tua.

"Anak muda, silakan duduk"

Ucap wanita itu setelah masuk ke rumahnya.

"Terima kasih. Bibi"

"In Hio"

Seru wanita itu.

"Cepat suguhkan air telip"

"ya."

Suara sahutan dari dalam terdengar.

"Tidak usah repot-repot. Bibi"

Ujar Tio Cie Hiong. Tak lama kemudian, muncul seorang gadis cantik berusia sekitar enam belas membawakan secangkir teh-Begitu melihat Tio cie Hiong, gadis itu nampak terpana sebentar.

"silakan minum"

Ucap gadis itu sambil menaruh cangkir di hadapan Tio Cie Hiong.

"Terima kasih. Nona"

Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum, senyuman itu membuat hati gadis tersebut berdebar-debar tidak karuan.

"Anak muda."

Wanita itu tersenyum.

"Dia putriku, Yap In Nio namanya, ohya, namamu?"

"Namaku Tio Cie Hiong,"

Jawabnya memperkenalkan diri "Kelihatannya engkau bukan orang kota ini. ya, kan?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Pagi tadi aku baru tiba di kota ini."

"ooooh"

Wanita itu manggut-manggut.

"Nona In Hio"

Ujar Tio Cie Hiong sambil memandangnya.

"engkau pernah belajar silat, kan?"

"Eh?"

Yap In Nio tercengang.

"Kok engkau tahu?"

"Aku melihat gerak langkahmu tadi."

"Kalau begitu...,"

Yap In Nio menatapnya dalam-dalam.

"Engkau pasti pernah belajar silat juga, bukan?"

Tio Cie Hiong mengangguk.-"Engkau memiliki ilmu silat tinggi?"

Tanya yap In Hio mendadak-"Tidak begitu tinggi,"

Sahut Tio cie Hiong sambil tersenyum. Gadis itu tampak kecewa-"Kalau engkau memiliki ilmu silat tinggi, aku mau minta petunjuk-"

"In Hio"

Ibunya menegur.

"Kenapa kau jadi cerewet hari ini? cie Hiong adalah tamu, tidak boleh kurang ajar-"

"Ibu"

Yap In Hio tertawa geli-"Kapan sih aku kurang ajar padanya? Kok ibu kelihatan membelanya? oh ya, ibu ketemu dia di mana?"

"Di depan biara-"

Wanita itu menggeleng-geleng kepala.

"Ibu lihat dia duduk di bawah pohon depan biara, kemudlan muncul dua orang hweeshio muda mengusirnya, maka ibu mengajaknya ke mari-"

"oooh"

Yap In Hio manggut-manggut, kemudian mendengus.

"Para hweeshio di biara itu memang keterlaluan, dasar mata duitan pula Lebih baik jangan jadi hweeshio, itu akan menambah dosa mereka"

"Mereka cuma mengenakan jubah hweeshio dan kepala digundul. Namun mereka sama sekali tidak mengerti ajaran Budha,"

Ujar Tio cie Hiong sambil menggeleng-geleng kepala-"Kalau aku sebagai Kwan Im Pousat, kupukul kepaLa mereka yang gundul itu agar sadar"

Ujar yap In Nio.

"Eh? In Nio, tidak boleh berkata begitu"

Tegur ibunya.

"Nona In Hio, walau bukan Kwan Im Pousat, engkau pun boleh mengetuk kepaLa mereka"

Ujar Tio Cie Hiong tersenyum.

"Nanti kalau ada kesempatan, aku ketuk kepaLa mereka satu persatu"

Ujar yap In Hio sambil tertawa kecil.

"Anak muda...."

Wanita itu menggeleng-geleng kepala.

"Putriku memang nakal, aku terlampau memanjakannya"

"ohya, di mana ayahnya?"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak.

"Ketika dia berumur tiga tahun, ayahnya meninggal karena sakit."

Wanita itu memberitahukan dengan wajah murung.

"sejak itu aku menjanda."

"Maaf, aku telah menimbulkan kedukaan Bibi"

Ucap Tio Cie Hiong merasa tidak enak-"Anak muda, itu telah berlalu."

Wanita itu tersenyum getir.

"Ei"

Ujar yap In Hio pada Tio Cie Hiong.

"Apakah engkau tahu guru silat Tan menyelenggarakan sebuah sayembara?"

"Tahu."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Aku sudah dengar itu"

"Ei Engkau pernah belajar ilmu silat, apakah engkau mau ikut bertanding memperebutkan Nona Tan yang cantik jelita itu-?"

"In Hio"

Tegur ibunya dengan menatap In Nio-"Engkau kok sangat kurang ajar? Kenapa engkau memanggil dia "Ei"

Begitu?"

"Maaf"

Ucap yap In Hio-"Aku tidak tahu harus panggil dia apa?"

"Engkau harus panggil dia kakak Hiong"

Ujar ibunya memberitahukan Yap In Hio mengangguk, kemudian ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Ilmu silatku masih rendah, kalau aku memiliki ilmu silat tinggi, aku pasti...."

"Nona In Hio, engkau mau ikut bertanding?"

Tanya Tio cie Hiong merasa kaget.

"Aku seorang gadis, nona Tan juga gadis Bagaimana mungkin aku akan ikut bertanding?"

Sahut Yap In Hio sambil tertawa kecil.

"Kalau begitu, kenapa engkau barusan bilang-"

"Maksudku apabila aku memiliki ilmu silat tinggi, maka aku akan menghajar Liu siauw Kun itu."

Yap In Hio menjelaskan.

"Oooo"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Namun..."

Yap In Hio menggeleng-geleng kepala.

"Aku saja masih kalah bertanding dengan nona Tan, bagaimana mungkin mampu menghajar Liu siauw Kun yang jahat itu?"

"Engkau pernah bertanding dengan nona Tan itu?"

Tanya Tio Cie Hiong heran.

"Ya-Tapi sekedar pertandingan persahabatan saja."

Yap In Hio memberitahukan.

"sebab kami saling bersahabat."

"Engkau kalah bertanding melawannya?"

Yap In Hio mengangguk-"Lima puluh jurus kemudian, ranting kayunya berhasil menyentuh punggungku"

"ohya"

Tio cie Hiong menatapnya.

"Engkau belajar ilmu silat pada siapa?"

"Beberapa tahun lalu, ibuku melihat seorang pengemis kedinginan di luar, maka ibuku menyuruhnya masuk dan memberi makan. Ternyata pengemis itu bisa ilmu silat, beliau mengajar aku ilmu pukulan dan ilmu pedang. Tapi tidak lama, tiga bulan kemudian, pengemis itu pergi, sejak itu aku terus menerus melatih ilmu pukulan dan ilmu pedang yang diajarkannya."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Kakak Hiong, nanti sore engkau mau nonton pertandingan itu?"

Tanya Yap In Hio.

"Mau."

Tio Cie Hiong mengangguk.-"Kita ke sana bersama saja,"

Usul Yap In Nio-"Aku juga ingin menyaksikan pertandingan itu"

"Dasar anak nakal"

Dengus ibunya, meng-geleng-geleng kepala.

"Pemuda mana yang mau sama dirimu kalau engkau begitu binal?"

"Ibu"

Yap In Nio tersenyum.

"usiaku baru enam betas, kenapa ibu kalut sih?"

"Tentu kalut"

Sahut ibunya.

"Engkau begitu binal, Ibu kuatir engkau akan menjadi perawan tua."

"Tidak apa-apa. Aku ingin menjadi seorang pendekar wanita kok"

Sahut YaP In Nio, kemudian menoleh ke arah Tio Cie Hiong seraya bertanya.

"Kakak Hiong, engkau sudah punya kekasih belum?"

"Usiaku baru menjelang delapan belas, belum memungkinkan punya kekasih, bukan?"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Masih kecil kok"

"Engkau begitu tampan, sopan dan ramah-"

Yap In Nio menatapnya.

"Aku yakin pasti banyak anak gadis yang menyukaimu."

"Entahlah-"

Tio cie Hiong menggeleng kepala.

"Sayang sekali"

Yap In Nio menghela nafas.

"Nona Tan sudah punya kekasih, Kalau belum, dia pasti akan jatuh cinta padamu."

"Eeeh?"

Tegur ibunya lagi.

"Masih kecil kok sudah membicarakan cinta"

"Lho? Ibu bagaimana sih?"

Sahut Yap In Nio.

"Tadi kalut karena tidak ada pemuda yang mau denganku, sekarang malah bilang aku masih kecil sudah membicarakan cinta Jangan-jangan ibu sudah pikun"

"In Hio..."

Wanita itu melotot.

"Hi hi"

Yap In Nio tertawa geli-"Nah, makanya lain kalijangan suka menegur sembarangan"

"sudahlah jangan banyak omong cie Hiong mungkin sudah lapar, kita makan dulur ajak ibunya, mengalihkan pembicaraan.

"Bibi, aku...."

"Kakak Hiong, jangan sungkan-sungkan"

Ujar Yap In Nio sambil tersenyum.

"Anggaplah rumah sendiri"

"Betul."

Wanita itu manggut-manggut sambil tersenyum juga.

"Nak Cie Hiong, anggaplah rumah sendiri"

"Terima kasih, Bibi,"

Ucap Tio Cie Hiong.

"Ayoh, Kakak Hiong"

Yap In Hio menariknya.

".Mari, kita ke dalam" -ooo0000ooosebelum sore, Yap In Hio sudah mengajak Tio Cie Hiong ke panggung tempat akan diadakan pertandingan silat itu. Tempat tersebut telah ramai sekali. Para penonton membludak sehingga Tio Cie Hiong dan yap In Hio terpaksa berdiri agak jauh dari panggung. Panggung tersebut berukuran cukup besar dan tinggi. Tampak beberapa buah kursi di sisi panggung, namun masih kosong.

"Kursi itu untuk guru silat Tan dan beberapa tamu terhormat."

Yap In Hio memberitahukan.

"Rumah yang besar itu rumah Guru silat Tan, muridnya sudah mencapai ratusan."

"Ooooo"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Engkau melihat Liu siauw Kun itu?"

"Tidak-Mungkin belum hadir,"

Sahut yap In Hio sambil menyebarkan pandangannya.

"Tuh Pemuda itu kekasih nona Tan"

Tio Cie Hiong menoleh ke sana, melihat seorang pemuda tampan berdiri agak depan, wajahnya kelihatan muram.

"Dia bernama Lim Hay Beng, kan?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Engkau tahu?"

Tanya yap In Hio, heran.

"Aku dengar dari orang."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kakak Hiong."

Wajah yap In Hio agak ke-merah-merahan.

"Tolong engkau jangan sering tersenyum."

"Lho? Kenapa?"

Tio Cie Hiong bingung.

"Tahukah engkau? senyumanmu membuat hatiku berdebar-debar tidak karuan,"

Ujar Yap In Nio blak-blakan.

"Engkau...,"

Tio Cie Hiong kaget mendengar kata-kata gadis itu yang blak-blakan.

"Kakak Hiong"

Yap In Hio tersenyum.

"Lebih baik aku blak-blakan daripada aku diam saja. Ya, kan?"

Tio Cie Hiong mengangguk dan tersenyum lagi.

"TUh"

Yap In Hio cemberut.

"Engkau senyum lagi"

"Itu disebabkan engkau senyum dulu barusan, jadi aku ikut tersenyum. Aku tidak bersalah, kan?"

Sahut Tio Cie Hiong sambil menoleh ke tempat lain, sebab ia tersenyum lagi.

"Pura-pura."

Kata Yap In Hio merungut.

"Pura-pura apa?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil memandangnya-"Barusan engkau senyum lagi, tapi mengarah ke tempat lain engkau kira aku tidak tahu, ya?"

Yap In Hio cemberut.

"nona In Hio, aku... aku...."

Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakak Hiong, kau panggil saja aku Adik In jangan memanggil nona Tahu?"

Yap In Hio melotot.

"Baik,"

Tio cie Hiong mengangguk-"Kalau sudah menjawab baik, haruslah memanggilku Adik In"

Tandas gadis itu tagi.

"Adik In"

Panggil Tio Cie Hiong dan nyaris tertawa geli karena gadis itu memang nakal dan lincah-"Nan Aku senang sekali"

Yap In Nio tersenyum.

"Adik In, engkau boleh senyum, kenapa aku tidak?"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak.

"senyumanku membuat hatimu berdebar-debar tidak?"

Gadis itu balik bertanya sambil menatapnya.

"Tidak"

Jawab Tio cie Hiong polos, yap In Hio tampak kecewa.

"Tapi...,"

Tambah Tio Cie Hiong.

"senyuman-mu sangat manis."

"oh?"

Wajah gadis itu langsung berubah-"Kalau begitu, aku harus terus senyum."

"Jangan"

Tio Cie Hiong menggeleng kepala.

"Nanti orang lain akan mengira dirimu gadis sinting."

"Masa bodoh"

Yap In Hio tertawa. Mendadak terdengar tepuk sorak yang riuh gemuruh, ternyata seorang pria berusia lima puluhan bersama seorang gadis cantik jelita berjalan menuju ke panggung.

"Tuh Guru silat Tan dan putrinya Beberapa pemuda yang mengikuti dari belakang adalah muridmurid kesayangannya"

"oooh"

Tio cie Hiong manggut-manggut sambil melihat ke panggung.

"nona Tan memang cantik jelita"

"Engkau tertarik ya?"

Tanya yap In Hio.

"Tertarik?"

Tio cie Hiong tersenyum.

"Dia sudah punya kekasih, lagipula usianya lebih tua dari aku."

"jadi engkau tidak tertarik padanya?"

Yap In Nio menatapnya.

"Tentu tidak-"

Sahut Tio cie Hiong sungguh-sungguh.

"Kakak Hiong"

Bisik gadis itu "Engkau tertarik padaku?"

"Eh?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Adik In, engkau...."

"Kakak Hiong, kau harus tahu Aku seorang gadis yang suka berterus terang, jadi-aku harap jangan kau mengira aku gadis yang tak tahu malu"

"Memang ada baiknya berterus terang."

Ujar Tio Cie Hiong sambil manggut-manggut.

Ketika yap In Nio ingin mengatakan sesuatu, mendadak Guru silat Tan meloncat ke atas panggung, lalu berkata dengan lantang.

Karena itu, yap In Nio batal mencetuskan apa yang ingin dikatakannya itu.

"Aku mendirikan panggung ini, untuk memberi kesempatan pada kaum pemuda yang memiliki ilmu silat, siapa yang dapat mengalahkan putriku, maka dia adalah jodohnya."

Terdengarlah tepuk sorak gegap gempita. Pemuda mana yang tidak ingin mempersunting Tan Li cu yang cantik jelita itu? "Apabila ada pemuda yang dapat mengalahkan putriku tapi...,"

Lanjut guru silat itu.

"Kalau masih ada penantang lain, maka harus bertanding lagi melawan si penantang itu Peraturan dalam pertandingan ini, baik tangan kosong maupun bersenjata, dilarang saling melukai pertandingan tangan kosong cukup saling menjatuhkan, pertandingan dengan senjata cukup saling menyentuh saja Bagi siapa yang melanggar peraturan ini, walau menang tetap dianggap tidak sah Harap para peserta mentaati peraturan tersebut"

Setelah mengumumkan itu, guru silat Tan meloncat turun. Tak lama tampak Tan Li Cu meloncat ke atas, lalu menjura pada para penonton seraya berkata sambil tersenyum lembut.

"Pemuda mana yang ingin memberi pelajaran padaku, aku persilakan naik"

Seketika meloncat ke atas seorang pemuda bertubuh kurus. Begitu sampai di atas panggung, ia pun menjura pada Tan Li cu.

"Aku ingin bertanding dengan Nona"

Ujarnya-"Baik,"

Tan Li Cu mengangguk "Bertanding dengan tangan kosong atau dengan senjata?"

"Tangan kosong saja,"

Sahut pemuda kurus itu.

"Silakan menyerang"

Ujar Tan Li cu.

"Maaf"

Pemuda kurus itu mulai menyerang, namun tidak sampai dua puluh jurus, pemuda kurus itu telah roboh, lalu meloncat turun dengan wajah merah padam.

"Uuuuh"

Para penonton berteriakteriak gemuruh. setelah pemuda kurus itu turun, tampak seorang pemuda meloncat ke atas lagi, namun pemuda itu juga roboh dalam dua puluh jurus.

"Uuuh"

Teriak para penonton lagi.

"yaah"

Yap In Nio yang menonton itu meng-geleng-geleng kepala.

"Tidak ada pemuda berkepandaian tinggi naik ke panggung"

"sabar bisik Tio Cie Hiong.

"Makin lama pasti makin seru."

"Ei Kakak Hiong"

Yap In Nlo menatapnya.

"Lebih baik engkau coba bertanding dengan Nona Tan itu"

"Adik In"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kalau aku roboh di tangannya, bukankah aku akan mempermalukanmu?"

"Benar juga."

Yap In Hio manggut-manggut.

"Nanti Nona Tan akan menganggap aku membawa gentong nasi ke mari."

"Engkaulah yang telah menganggap diriku gentong nasi"

Sahut Tio Cie Hiong sambil tertawa kecil.

"Eh? Maaf, maaf Kakak Hiong"

Ucap yap In Nio. sementara di atas panggung, berturut-turut Tan Li Cu telah mengalahkan beberapa pemuda. Mendadak meloncat ke atas seorang pemuda tampan.

"Nah"

Seru yap In Nio.

"Itu dia, kekasih Nona Tan"

"Adik In"

Bisik Tio Cie Hiong.

"Percayalah, Nona Tan pasti kalah"

"Bagaimana mungkin?"

Sahut yap ia Nio.

"Kepandaian Nona Tan lebih tinggi, tak mungwn pemuda itu dapat merobohkannya"

"Tapi Nona Tan akan pura-pura kalah,"

Ujar Tio Cie Hiong dan melanjutkan.

"Pemuda ttopan dapat mempersuntingnya."

"Ah?"

Yap In Hia kurang percaya. Di atas pmgguug itu telah terjadi pertandingan yang cukup seru, setelah puluhan jurus kemudian, Tan Li Cu tampak terhuyung-huyung.

"TUh ya, kan?"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Bukankah Nona Tan telah kalah?"

"Dari mana kau tahu?"

Tanya yap In Hio heran.

"Mereka berdua telah saling mencinta, tentu saja nona Tan harus mengalah agar pemuda itu dapat memenangkannya...."

Mendadak Yap In Hio menunjuk ke arah kiri-"Liu Siauw Kun itu telah datang bersama anak buahnya"

Tio Cie Hiong segera memandang ke arah itu-Tampak seorang pemuda berpakaian mentereng berjalan mendekati panggung dengan kepala terangkat-angkat.

Para penonton begitu melihat kemunculan pemuda itu, langsung menyingkirsetelah dekat panggung, Liu siauw Kun tertawa panjang, lalu meloncat ke atas.

Ia menjura pada Tan Li cu, tapi memandang sinis pada Lim Hay Beng.

"saudara Lim, engkau telah mengalahkan Nona Tan Maka kini aku menantang engkau"

"Baik-"

Lim Hay Beng mengangguk "Kita bertanding dengan tangan kosong atau dengan senjata?"

"Aku cukup menggunakan sepasang tanganku, kau boleh menggunakan senjata apa pun"

Sahut Liu siauw Kun jumawa.

"Mari kita bertanding dengan tangan kosong saja"

Ujar Lim Hay Beng.

"Ngmm"

Liu siauw Kun manggut-manggut.

"Engkau boleh mulai menyerang"

"Maaf"

Ucap Lim Hay Beng, lalu menyerang Liu siauw Kun.

Liu siauw Kun tertawa gelak sambil bergerak mengelak, kemudian balas menyerang, sementara Tan Li cu masih tetap berdiri di pinggir panggung, Gadis itu terus memperhatikan pertarungan.

"Tidak sampai tiga puluh jurus, Lim Hay Beng pasti roboh,"

Ujar Tio Cie Hiong pada Yap In Nio yang sedang memperhatikan pertandingan seru itu.

"Kok engkau tahu?"

Yap In Nio heran.

"Lihat saja"

Sahut Tio Cie Hiong.

Pada jurus kedua puluh, Lim Hay Beng sudah tampak kewalahan menghadapi serangan Liu siauw Kun.

Tan Li Cu yang berdiri di pinggir panggung terus mengerutkan kening.

Diam-diam ia telah meraba gagang pedang di punggungnya.

Itu tidak terlepas dari mata Tio Cie Hiong.

la tahu apabila Liu siauw Kun berlaku jahat terhadap Lim Hay Beng, gadis itu pasti menolongnya.

"Hiyaaf teriak Liu siauw Kun sambil menyerang Lim Hay Beng, mengerahkan jurus ganas yang paling diandalkannya. Duuk Dada Lim Hay Beng terpukul sehingga badannya terhuyung-huyung ke belakang, kemudian mulutnya menyembur darah segar. Liu siauw Kun tertawa gelak, mendadak ia mengayunkan kakinya menendang Lim Hay Beng, dengan sebuah tendangan yang mematikan. Di saat bersamaan, Tan Li Cu bergerak menyerang Liu siauw Kun dengan pedangnya. Karena diserang secara mendadak, Liu siauw Kun terpaksa meloncat mundur, sehingga nyawa Lim Hay Beng tertolong. Tampak dua murid Guru silat Tan meloncat ke atas, mereka berdua segera memapah Lim Hay Beng ke bawah.

"Ha ha ha"

Liu siauw Kun tertawa terbahak-bahak.

"Bagus Bagus Aku memang ingin bertanding denganmu, Nona Tan yang cantik manis"

"Diam"

Bentak Tan Li cu, lalu menyerangnya lagi dengan pedang.

Liu siauw Kun berkelit sambil tertawa.

De-ngan tangan kosong ia melayani Tan Li Cu.

Liu siauw Kun memang berkepandaian tinggi, walau cuma bertangan kosong, ia masih berada di atas angin.

Bahkan sekali-kali ia masih dapat meraba sepasang payudara gadis itu Karena gusarnya Tan Li cu menyerang Liu siauw Kun bertubi-tubi.

Akan tetapi, pemuda itu masih dapat berkelit sambil menowel pipi Tan Li Cu.

Puluhan jurus kemudian, Liu siauw Kun berhasil membuat pedang di tangan gadis itu terpental, sekaligus membuatnya jatuh pula.

Liu siauw Kun telah menang dengan gemilang, tapi tiada seorang penonton yang bertepuk tangan, kecuali para anak buahnya saja yang bersorak-sorak gembira-"sialan Kalau aku berkepandaian tinggi, aku pasti naik ke panggung menghajar pemuda itu"

Ujar yap In Hio dengan wajah merah padam karena gusar.

"Tenang"

Bisik Tio Cie Hiong.

"sebentar lagi pasti muncul seseorang menghajarnya."

"Tidak mungkin"

Yap In Nio menggeleng-geleng kepala.

"Ah Celaka Kakak Li Cu, bagaimana mungkin dia akan kawin dengan pemuda jahat itu?"

"Engkau menyebut Nona Tan Kakak Li Cu?"

Tanya Tio Cie Hiong heran.

"Aku memang selalu memanggilnya Kakak Li Cu. Engkau sih..-."

Yap In Nio menarik nafas panjang.

"Kenapa aku?"

"Kalau dirimu berkepandaian tinggi, bukankah kau bisa ke panggung itu menghajar pemuda jahat itu"

"Tenang"

Tio Cie Hiong tersenyum. setelah mengalahkan Tan Li Cu, Liu siauw Kun tampak bertolak pinggang di atas panggung seraya berseru menantang.

"Siapa berani melawan aku? Ayoh, naik ke mari"

"Huh, sombong benar pemuda itu Kakak Hiong, tadi kau bilang ada seseorang akan menghajarnya, siapa orang itu?"

"Aku"

Sahut Tio cie Hiong, mendadak tubuhnya bergerak, tahu-tahu sudah melesat kearah panggung.

"Kakak Hiong..."

Yap In Hio terbelalak kaget.

Mulutnya ternganga lebar karena sangat terperangah-Perlu diketahui, dari tempat di mana ia berdiri itu berjarak puluhan depa, namun Tio Cie Hiong mampu melesat sampai di panggung itu?

Tio Cie Hiong mampu melakukannya sebab mengerahkan ginkangnya.

Berjungkir balik di udara beberapa kali sambil berseru keras.

"Pemuda jahat, aku yang menerima tantangan-mu"

Betapa terkejutnya para penonton, melihat sesosok bayangan di udara dan berjungkir balik pula.

Kemudian melayang ringan dan turun di atas panggung terbuka itu.

Tan Li cu menyaksikan itu dengan mata terbelalak, la lebih terbelalak lagi ketika melihat seorang pemuda yang begitu tampan melayang di atas panggung itu.

Liu siauw Kun juga terkejut bukan main, bahkan wajahnya sudah mulai pucat.

sementara guru silat Tan tak henti-hentinya mengucek mata.

Dia kelihatan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.

yang paling girang adalah yap In Hio, ia bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa gembira-Karena itu, para penonton pun ikut bertepuk tangan dan bersorak-sorak.

sementara itu yap In Hio sudah mendesak ke depan.

Guru silat Tan juga bergirang dalam hati, ia yakin pemuda yang baru muncul itu pasti dapat merobohkan Liu siauw Kun.

"Siapa engkau?"

Tanya Liu siauw Kun sambil menatap Tio Cie Hiong.

"Mau apa engkau naik ke mari?"

"Tidak usah tahu siapa diriku, mau apa aku naik ke mari, tentu kau sudah tahu"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Engkau ingin ikut bertanding memperebutkan nona Tan?"

Tanya Liu siauw Kun sambil mengerutkan kening. Tio cie Hiong tidak langsung menyahut, melainkan memandang Tan Li Cu yang berdiri sambil tersenyum, setelah itu, barulah ia berkata.

"Aku tidak berniat itu, lagipula Nona Tan sudah punya kekasih, tidak lama lagi mereka akan melangsungkan pernikahan."

"Kalau begitu, untuk apa engkau naik ke mari?"

Tanya Liu siauw Kun heran.

"Engkau pemuda jahat, bahkan sering mengganggu anak gadis orang dan sering membunuh orang puLa maka...,"

Tio Cie Hiong menatapnya tajam.

"Aku naik ke mah untuk menghajar dirimu"

"Engkau berani menghajar aku?"

"Kenapa tidak?"

"Tahukah engkau siapa guruku?"

"Kalau tidak salah, gurumu adalah Tok Gan sin Coa (ular sakti Mata satu) ya, kan?"

"Engkau kenal guruku?"

"Tidak."

"Hm"

Dengus Liu siauw Kun.

"Kalau guruku berada di sini, engkau pasti takkan berani omong besar"

"Kalau gurumu berada di sini, aku juga akan menghajarnya."

Ujar Tio Cie Hiong tanpa ragu dan takut.

"Bahkan kalau ayahmu berada di sini, aku akan menghajarnya pula. sebab ayahmu cuma tahu bersenang-senang, sama sekali tidak bisa mendidik anak-"

"Engkau berani menghina guru dan ayahku?"

Bentak Liu siauw Kun gusar sekali.

"Tentu."

Tio Cie Hiong manggut-manggut. Ketika Tio cie Hiong mengatakan itu, Tan Li Cu dan ayahnya nyaris tertawa geli-Begitu pula para penonton dan yap In Hio yang telah berdiri dekat panggung itu.

"Engkau..."

Saking gusar Liu siauw Kun me-nundingnya.

"Pemuda jahat"

Bentak Tio Cie Hiong cepat.

"Engkau membawa pedang, cepatlah hunus pedangmu Aku akan melayanimu dengan tangan kosong"

"Baik-"

Liu siauw Kun menghunus pedangnya, kemudian mendadak menyerang Tio Cie Hiong dengan sin coa Kiam Hoat (Ilmu Pedang ular sakti).

Lalu mengeluarkan jurus Tok Coa Cut Tong (ular Berbisa Keluar Goa), merupakan jurus yang berbahaya dan terganas dari Ilmu Pedang ular sakti.

Akan tetapi, tiba-tiba badan Tio Cie Hiong bergerak, tahu-tahu sudah hilang dari hadapan Liu siauw Kun.

Pemuda itu tersentak kaget, lalu menengok ke sana ke mari.

Kejadian itu membuat para penonton tertawa geli, salah seorang berseru.

"Dia berada di belakang"

Liu siauw Kun segera membalikkan badannya. Ternyata Tio Cie Hiong berdiri di belakang sambil tersenyum-senyum.

"Hm"

Dengus Liu siauw Kun.

"Kalau engkau berani, sambutlah seranganku cuma bersembunyi di belakangku"

"Memang sudah waktunya aku menghajarmu"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Hiyaaat"

Teriak Liu siauw Kun keras sambit menyerangnya.

Tio Cie Hiong berdiri diam di tempat.

Hal itu sungguh mengejutkan Tan Li Cu, guru silat Tan dan yap In Nio.

Begitu pula para penonton, mereka terlongong bengong.

Liu siauw Kun tertawa girang, ia yakin pedangnya pasti dapat menembus dada Tio Cie Hiong.

Akan tetapi, mendadak Tio Cie Hiong mengibaskan lengan bajunya.

Maka....

Teang Teang Teang...

Pedang di tangan Liu siauw Kun telah patah menjadi beberapa potong.

"Aaakh.."

Menyusul suara jeritan Liu siauw Kun. Badannya terpental beberapa depa danjatuh di bawah panggung. Terdengarlah suara tepuk sorak yang riuh gemuruh.

"Rasakan Itu ganjaranmu, pemuda jahat"

Seru salah seorang penonton.

"Biar dia mampus Dia pernah mengganggu adik perempuanku"

Sambung yang lain.

sementara para anak buah Liu siauw Kun langsung menggotongnya pergi.

Tio Cie Hiong menjura pada para penonton, lalu meloncat turun ke hadapan guru silat Tan, ia menjura memberi hormat pada lelaki setengah baya itu.

"Maaf, Guru Tan Aku telah mengganggu pertandingan itu."

"Siauw hiap Te... terima kasih"

Ucap Guru silat Tan.

"Siauw hiap"

Tan Li Cu menghampirinya.

"Aku pun mengucapkan terima kasih padamu."

"Tidak perlu mengucapkan terima kasih"

Tio cie Hiong tersenyum.

"Paman, Kakak Li cu"

Yap In Nio berlari mendekati mereka dengan wajah berseri-seri.

"Eh? In Nio"

Tan Li cu menatapnya heran.

"engkau ikut menonton juga?"

"ya."

Yap In Nio mengangguk, kemudian melotot ke arah Tio Cie Hiong seraya menegurnya.

"Kakak Hiong Engkau sungguh keterlaluan" (Bersambung ke Bagian 12) Bagian 12

"Adik In Nio..."

Tertegun Tio Cie Hiong karena ditegur demikian.

"Kenapa aku?"

"Eh?"

Tan Li Cu pun kaget memandangnya.

"In Nio, engkau kenal siauw hiap ini?"

"Aku yang mengajaknya ke mari"

Jawab yap In Nio sambil tertawa-tawa.

"Dia memang keterlaluan, berkepandaian tinggi tapi mengaku berkepandaian rendah"

"In Nio"

Tanya Guru Silat Tan.

"Sejak kapan engkau kenal siauw hiap ini?"

"Baru hari ini-iawab yap In Nio jujur.

"Apa?"

Tan Li Cu tercengang.

"Baru hari ini engkau kenal dia?"

"Ya."

Yap In Nio mengangguk.

"Bagaimana kalian bisa saling berkenalan?"

Tanya Guru Silat Tan.

"Ibuku yang mengajaknya ke rumah, maka kami berkenalan di rumah,"

Jawab yap In Nio.

"Kok ibumu mengajaknya ke rumah?"

Tanya Tan Li Cu.

"Karena...,"

Yap In Nio memberitahukan.

"Oooohh"

Tan Li Cu manggut-manggut dan tersenyum geli pula.

"Siauw hiap, mari ke rumahku"

Ajak Guru Silat Tan, kemudian berpesan pada salah seorang muridnya.

"Beritahukan pada para penonton, bahwa pertandingan telah usai"

Murid itu mengangguk. Guru Silat Tan bejalan ke dalam halaman rumahnya, sedangkan Tan Li Cu dan yap In Nio berjalan berdampingan.

"In Nio"

Bisik Tan Li Cu.

"Engkau sungguh beruntung bisa kenal pemuda itu Dia sangat tampan dan berkepandaian tinggi."

"Memang beruntung, tapi juga membuat hatiku kacau balau,"

Sahut Yap In Nio jujur.

"Lho? Kenapa?"

Tanya Tan Li cu, heran.

"Begitu melihat dia, aku sudah merasa senang padanya,"

Jawab yap In Nio berterus terang-"Tapi-aku yakin dia tidak akan suka padaku."

"Kenapa?"

"Sebab aku termasuk gadis binal, lagipula tidak begitu cantik. Bagaimana mungkin dia suka padaku?"

Yap In Nio menggeleng-geleng kepala.

"In Nio"

Tan Li cu tersenyum.

"Menurut aku, engkau seorang gadis yang amat cantik-"

"Kakak Li Cu, yang penting dia tidak akan melupakan aku. Itu... aku sudah merasa puas-Aku yakin dia akan meninggalkanku, karena dia seorang pendekar yang berkelana."

"Aaakh-"

Tan Li cu berkeluh.

"Eh? Kakak Li Cu, kenapa engkau berkeluh?"

Tanya yap In Nio heran.

"Alangkah baiknya kalau kalian bisa saling mencinta,"

Sahut Tan Li Cu. Rumah Guru silat Tan sungguh besar, halaman nya luas sekali. Terdapat pula berbagai macam alat olahraga di situ. Tio Cie Hiong yakin, halaman itu merupakan tempat latihan para murid.

"Silakan duduk-siauw hiap"

Ucap Guru silat Tan setelah masuk ke dalam rumah.

"Terima kasih, Guru Tan,"

Ucap Tio Cie Hiong sambil duduk, Tan Li cu dan yap In Nio duduk berdampingan. Tak lama kemudian pelayan pun menyuguhkan air minum dan lain sebagainya.

"Siauw hiap, bolehkah aku tahu namamu?"

Tanya Guru silat Tan.

"Paman, dia bernama Tio Cie Hiong"

Sela yap In Nio, memberitahukan.

"Tio siauw hiap"

Guru silat Tan memandangnya kagum.

"Engkau masih belia, tapu kepandaianmu sudah begitu tinggi, benar-benar mengagumkan"

"Guru Tan, kepandaianku biasa-biasa saja,"

Ujar Tio Cie Hiong merendah.

"Kakak Hiong"

Tegur yap In Nio.

"Jangan bohong"

"Aku bohong apa?"

Sahut Tio Cie Hiong merasa kebingungan.

"Engkau berkepandaian begitu tinggi, tapi bilang berkepandaian biasa-biasa saja. Bukankah engkau telah berdusta?"

"Aku harus bilang apa?"

Tio Cie Hiong menghela nafas.

"Haruskah aku bilang bahwa kepandaianku setinggi langit?"

"Aku yakin itu"

Yap In Nio tersenyum. Guru silat Tan dan putrinya saling memandang, kemudian mereka pun tersenyum-senyum "ohya Di mana saudara Lim Hay Beng?"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak-"Dia-"

Guru silat Tan menarik nafas panjang.

"Dia terluka dalam yang cukup parah, kini sedang beristirahat di dalam. Aku kuatir... dia tidak akan cepat sembuh."

"Guru Tan, bolehkah aku melihatnya sebentar?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Tentu boleh-"

Guru silat Tan mengangguk.

"Mari ikut aku ke dalam"

Tio Cie Hiong mengikuti Guru silat Tan ke dalam-Tan Li Cu dan yap In Nio juga mengikuti mereka-Lim Hay Beng duduk di sebuah kursi dengan wajah pucat pias, tampak noda darah di bibirnya.

"Kakak Hay Beng, bagaimana keadaanmu?"

Tanya Tan Li Cu cemas.

"Aku... aku...."

Lim Hay Beng tersenyum getir.

"saudara Lim"

Tio Cie Hiong mendekatinya.

"Perbolehkanlah aku memeriksa lukamu"

Lim Hay Beng mengangguk. Tio Cie Hiong segera memeriksanya dengan teliti sekali, kemudian manggut-manggut.

"Lukamu memang cukup parah, tapi kalau Nona Tan tidak keburu menolongmu, mungkin engkau telah mati tertendang Liu siauw Kun itu"

"Aaakh..."

Lim Hay Beng menarik nafas panjang-"Kakak Hiong, engkau tahu Liu siauw Kun akan menendang Kakak Hay Beng, kenapa diam saja pada waktu itu?"

Tanya yap In Nio mendadak-"Ketika Lim Hay Beng sedang bertanding dengan Liu siauw Kun, nona Tan sudah meraba gagang pedang siap menolongnya, maka aku diam saja,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Engkau melihat itu?"

Tanya yap In Nio merasa heran.

"ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Puluhan depa jauhnya engkau bisa melihat begitu jelas?"

"Itu pertanda Tio siauw hiap berkepandaian amat tinggi,"

Ujar Guru silat Tan memberitahukan.

"Setinggi langit"

Sahut yap In Nio sambil tertawa. Tio Cie Hiong tersenyum, kemudian memandang Lim Hay Beng.

"Lukamu memang parah, tapi tidak apa-apa."

Tio Cie Hiong mengambil sebutir obat, diberikannya pada Lim Hay Beng.

"setelah makan obat ini, dalam waktu tiga hari, engkau pasti sembuh."

"oh?"

Lim Hay Beng kurang percaya, ia menerima obat itu dan mengucapkan terima kasih-Tan Li Cu segera mengambil air minum. Lim Hay Beng lalu makan obat itu.

"Tio siauw hiap-"

Guru silat Tan menatapnya.

"Benarkah dia akan sembuh dalam waktu tiga hari?"

"Benar."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Aku tidak bohong"

"Aku percaya,"

Ujar yap In Nio sambil tersenyum-"Kakak Hiong adalah orang yang tidak mau menyombongkan diri, tentunya dia pun tidak akan omong besar."

"oh, ya?"

Ujar Tan Li cu menggodanya-"Kakak Li Cu--"

Wajah yap In Nio kemerah-merahan.

"Ayoh"

Guru silat Tan tersenyum "Mari kita kembali ke ruang depan"

Mereka kembali ke ruang depan, setelah duduk Guru silat Tan pun berkata sambil memandang Tio Cie Hiong.

"Tio siauw hiap, bagaimana kalau malam ini engkau menginap di sini?"

"Itu tidak boleh-"

Sahut yap In Nio cepat-"sebab ibuku telah berpesan, aku dan Kakak Hiong harus pulang malam ini."

"In Nio...."

Guru silat Tan tertegun, kemudian tertawa terbahak-bahak-"Aku tahu Aku tahu--"

"Paman...."

Wajah yap In Nio memerah lagi.

"ohya"

Guru Silat Tan teringat sesuatu.

"Liu Siauw Kun telah dihajar oleh Tio siauw hiap, mungkin mulai sekarang dia tidak berani berlaku sewenang-wenang lagi-"

"ya-"

Tio Cie Hiong mengangguk-"selanjut-nya dia tidak bisa melakukan kejahatan lagi."

"Memangnya kenapa?"

Tanya yap In Nio.

"Sebab tadi aku telah memusnahkan kepandaiannya, dia tidak bisa melakukan kejahatan lagi"

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"oooh"

Guru silat Tan menarik nafas lega, namun kemudian mengerutkan kening seraya berkata.

"Tapi gurunya berkepandaian tinggi sekali."

"Bukankah tadi kakak Hiong sudah bilang, dan gurunya muncul, kakak Hiong pasti menghajarnya,"

Sahut yap In Nio. Mendadak salah seorang murid berlari-lari ke dalam dengan wajah pucat pias, sehingga membuat Guru silat Tan terkejut.

"Guru Celaka..."

"Apa yang celaka?"

Tanya Guru silat Tan.

"Guru Liu siauw Kun datang"

Murid itu memberitahukan.

"Haah?"

Guru silat Tan terkejut bukan main, begitu pula Tan Li cu. Hanya yap In Nio yang tersenyum-senyum.

"Kakak Hiong, hajar dia"

Ujar gadis itu "Tentu"

Tio Cie Hiong mengangguk-"Tok cian sin coa (ular sakti Mata satu) itu juga sering melakukan kejahatan, maka aku harus memusnahkan kepandaiannya-"

"Tio siauw hiap--"

"Guru silat Tan"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Tenang saja"

"Pemuda bangsat Cepat keluar untuk menerima kematian"

Terdengar seruan di luar-Tio Cie Hiong bangkit berdiri, lalu berjalan keluar.

Guru silat Tan, putrinya dan Yap In Nio mengikuti Tio Cie Hiong menuju ke depan.

seorang lelaki berusia lima puluhan berdiri di halaman, wajahnya cukup seram dan memelihara kumis fu Manchu, sedangkan matanya picak sebelah.

"Engkau yang melukai muridku sampai kepandaiannya musnah?"

Tanya lelaki itu sambil menuding Tio Cie Hiong yang baru keluar.

"Benar"

Tio Cie Hiong mengangguk-"Kalau tidak salah, engkau adalah Tok Gan sin coa"

"Hm"

Dengus Tok Gan sin coa.

"Engkau memusnahkan kepandaian muridku, maka aku harus membunuh mu"

"Tok Gan sin Coa"

Sahut Tio Cie Hiong sambil menatapnya tajam.

"Engkau pun sering membunuh orang, karena itu aku harus memusnahkan kepandaianmu"

"oh? Ha ha ha"

Tok Gan sin coa tertawa gelak-"Kematianmu telah berada di depan mata, masih berani omong besar?"

"Tok Gan sin Coa, tidak perlu banyak omong kosong"

Tandas Tio Cie Hiong.

"Cepatlah menghunus pedang, aku akan melayanimu dengan tangan kosong"

"Sebelum engkau mati, beritahukanlah namamu"

Bentak Tok Gan sin Coa..

"Namaku Tio Cie Hiong"

"Tio Cie Hiong...?"

Gumam Tok Gan sin coa sambil berpikir-Tiba-tiba wajahnya berubah hebat.

"Apakah engkau Pek Ih sin Hiap (Kesatria Baju Putin)?"

Tio Cie Hiong tertegun, la sama sekali tidak mengetahui julukannya, padahal belum lama ia memperoleh julukan tersebut.

Guru silat Tan pun terperanjat, sebab dua minggu yang lalu, salah seorang temannya pernah memberitahukannya, bahwa dalam rimba persilatan telah muncul seorang pendekar muda belia dengan julukan Pek Ih sin Hiap.

la justru tidak menyangka Tio Cie Hiong adalah Kesatria Baju Putin itu.

"Tidak salah-"

Tio Cie Hiong manggut-mang-gut.

"Aku adalah Pek Ih sin Hiap"

"Hm"

Dengus Tok Gan sin coa.

"Aku kira siapa Pek Ih sin Hiap itu, tidak tahunya cuma seorang bocah yang masih bau kencur"

"Cepat hunus pedang"

Bentak Tio cie Hiong mendadak-Bentakan itu disertai dengan Iweekang, sehingga nyaringnya sangat menusuk telinga, membuat Tok Gan sin coa terkejut bukan kepalang-"

Hati-hati"

Ujarnya sambil menghunus pedang, lalu berteriak keras sekaligus menyerang Tio Cie Hiong dengan jurus sin Coa yu sui (ular sakti Berenang Di Air) -Tampak pedangnya berkelebat meliuk-liuk mengarah pada pemuda itu jurus tersebut merupakan jurus simpanannya, belum pernah diajarkan pada Liu siauw Kun, muridnya itu.

Tio Cie Hiong tetap berdiri di tempat sambil tersenyum-senyum, tapi kemudian mendadak ia mengibaskan lengan bajunya-Teang Pedang itu patah menjadi dua potong, sedangkan badan Tok Gan sin coa terpental beberapa depa, lalu jatuh dengan keras di tanah -Mulut Tok Gan sin Coa mengalir darah dan wajahnya meringis-ringis-Dia menuding Tio Cie Hiong dengan tangan bergemetar.

"Engkau... engkau memusnahkan kepandaianku?"

"Aku masih mengampuni nyawamu. Mulai sekarang, aku harap engkau jadi orang baik-baik"

Ujar Tio cie Hiong.

"TUnggu Tunggu pembalasan dari kakak seperguruanku"

Tok Gan sin coa menatapnya dengan penuh dendam, kemudian berjalan pergi terhuyung-huyung.

"Kakak Hiong"

Yap In Nio memandangnya dengan kagum.

"Engkau sungguh hebat sekali Hanya mengibaskan lengan baju saja sudah merobohkan Tok Gan sin coa yang berkepandaian tinggi itu."

"Adik In, kepandaianku...."

"Biasa-biasa saja, kan?"

Sambung yap In Nio cepat. Tio Cie Hiong tersenyum. Guru silat Tan menghampirinya dengan penuh kekaguman.

"Tio siauw hiap, ternyata engkau Pek Ih sin Hiap,"

Ujar Guru silat Tan.

"Sebetulnya aku malu dengan julukan ini."

Tio cie Hiong menggeleng-geleng kepala.

"penduduk desa Peng An yang memberikan julukan tersebut."

"Engkau memang hebat"

Guru silat Tan menepuk bahunya.

"Mampu mengalahkan Im ya Hoatsu yang berilmu sihir tinggi."

"Guru Tan"

Tio Cie Hiong memberitahukan secara jujur.

"Kebetulan aku memiliki Ilmu Pe-nakluk iblis, maka aku mampu melawan ilmu sihirnya."

"oh?"

Guru silat Tan terbelalak.

"ilmu Penakluk iblis merupakan ilmu yang sangat tinggi dan sulit dipelajari, engkau masih belia tapi sudah memiliki ilmu itu?"

"ya."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Pantas engkau memperoleh julukan Pek Ih sin Hiap"

Guru silat Tan manggut-manggut.

"Aku pun mendengar, engkau memiliki ilmu pengobatan tinggi juga."

"Aku memang mahir ilmu pengobatan, tapi tidak begitu tinggi,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Kakak Hiong...,"

Yap In Nio menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Engkau kok begitu luar biasa?"

"Tidak begitu luar biasa, cuma biasa-biasa saja."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kakak Hiong, sudah malam nih. Kita harus pulang"

Ajak yap In Nio sambil menarik tangannya.

"Baiklah."

Tio Cie Hiong mengangguk, la berpamit kepada Gut^^latTan dan putrinya, lalu pergi bersama yap In Nio.

-ooo00000ooo-Bab 20 Puri Angin Halilintar telah musnah Begitu sampai di rumah, yap In Nio langsung menceritakan tentang semua itu pada ibunya, ibunya mendengar dengan mata terbelalak-setelah ttu, ia menatap Tio Cie Hiong dengan kagum sekali-"Nak"

Wanita itu tersenyum lembut.

"sungguh tidak disangka, engkau berkepandaian begitu tinggi."

Tio cie Hiong cuma tersenyum, justru mendadak yap In Nio berseru sambil berjingkrak ksjingkrak-"Eh? In Nio Kenapa engkau?"

Tanya ibunya heran.

"Ibu"

Ujar yap In Nio sambil tersenyum.

"Mulai esok pagi. Kakak Hiong akan mengajar aku ilmu pedang"

"Befum tentu"

Ibunya tertawa.

"Kakak Hiong Engkau mau mengajariku, kan?"

Yap In Nio menatapnya penuh harap.

"Baiklah"

Tio Cie Hiong mengangguk-"Terima kasih. Kakak Hiong"

Ucap yap In Nio sambil menari-nari saking girang, ibunya menggeleng-geleng kepala menyaksikannya -Keesokan harinya, Tio Cie Hiong mulai memberi petunjuk mengenai ilmu pedang pada yap In Nio-Gadis itu memang cerdas, semua petunjuk dari Tio Cie Hiong dapat ditanggapnya dengan cepat, tentunya sangat menggirangkan hati Tio Cie Hiong.

Tak terasa sudah tiga hari Tio Cie Hiong tinggat di rumah itu.

Dalam waktu tiga hari, kepandaian yap In Nio sudah maju pesat.

Pagi ini gadis tersebut berlatih di halaman rumah, Tio Cie Hiong memperhatikannya sambil memberi petunjuk-Berselang beberapa saat kemudian, yap In Nio berhenti berlatih, ia memandang Tio cie Hiong dengan wajah berseri-"Kakak Hiong, apakah aku bisa jadi seorang pendekar dengan kepandaian yang kumiliki ini?"

"Belum-"

Tio cie Hiong menggelengkan kepala.

"Kenapa?"

Mimik yap In Nio tampak kecewa-"Adik In, selama ini engkau cuma bisa ilmu pukulan dan ilmu pedang, namun engkau belum memiliki Iweekang."

Tio Cie Hiong menjelaskan.

"oleh karena itu, engkau masih belum bisa menjadi seorang pendekar wanita."

"Kalau begitu-"

Yap In Nio menatapnya-"Kakak Hiong ajari aku ilmu Iweekang"

Tio cie Hiong diam.

Ternyata ia sedang berpikir Iweekang apa yang cocok bagi yap In Nio.

Ketika ia berada di gunung Thian Thay san, Thian Thay siansu telah menjelaskan tentang berbagai macam ilmu Iweekang kepadanya.

"Kakak Hiong...."

"Adik In"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Aku akan ajarkan padamu semacam ilmu Iweekang."

"oh?"

Yap In Nio girang bukan main.

"Terima kasih, Kakak Hiong"

Tio Cie Hiong segera mengajarkannya semacam ilmu Iweekang, yap In Nio mendengar dengan penuh perhatian.

"setiap pagi dan malam engkau harus terus menerus melatih ilmu Iweekang yang kuajarkan ini"

Pesan Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Tiga tahun kemudian engkau pasti bisa menjadi pendekar wanita -"

"Terima kasih, Kakak Hiong"

Ucap yap In Nio dengan wajah berseri-"Adik In"

Tio Cie Hiong menatapnya.

"Karena aku telah mengajarimu ilmu Iweekang, maka aku pun harus mengajarmu semacam ilmu pedang."

"oh?"

Karena girangnya yap In Nio langsung menggenggam tangan Tio cie Hiong erat-erat.

"Terima kasih, Kakak Hiong"

Tio Cie Hiong mengajar yap In Nio ToatBeng Kiam Hoat (Ilmu Pedang pencabut Nyawa).

Ternyata ia telah menghafal ilmu pedang tersebut ketika menyaksikan tiouw sian Eng berlatih, dan kini diajarkannya kepada yap In Nio.

"Adik In, kalau tidak dalam keadaan bahaya, janganlah engkau mengeluarkan ilmu pedang ini"

Pesan Tio Cie Hiong sungguh-sungguh-"sebab setiap j urus dalam ilmu pedang tersebut akan mencabut nyawa orang."

"ya."

Yap In Nio mengangguk, lalu mulai berlatih ilmu pedang itu.

Tio Cie Hiong terus memperhatikan, setiap Yap In Nio melakukan gerakan yang salah, ia segera memberi petunjuk-YaP In Nio memang merupakan gadis yang cerdas, maka berselang beberapa saat kemudian, ia sudah menguasai ilmu pedang tersebut walau gerakannya masih agak lamban.

Karena girangnya, gadis itu terus menerus berlatih.

Ketika hari sudah siang, mendadak muncul Tan Li cu bersama Lim Hay Beng.

Pemuda itu telah sembuh.

"In Nio"

Seru Tan Li cu. Yap In Nio langsung berhenti berlatih-Betapa gembiranya ketika melihat kedatangan Tan Li cu bersama Lim Hay Beng.

"Kakak Li Cu"

Sahutnya berseri-"sedang berlatih ilmu pedang ya?"

Tanya Tan Li Cu sambil tersenyum.

"Ya""

Yap In Nio mengangguk.. sementara Lim Hay Beng menghampiri Tio Cie Hiong, dan memandangnya dengan kagum sekali.

"saudara Tio, engkau memang hebat sekali,"

Ujarnya.

"Hanya satu kali mengibaskan lengan baju, Tok Gan sin coa langsung terpental."

Tio Cie Hiong cuma tersenyum, sedangkan Lim Hay Beng berkata lagi.

"Selain berkepandaian tinggi, engkau pun mahir ilmu pengobatan. Aku betul-betul salut padamu, oh y a, kini aku telah sembuh. Terima kasih, saudara Tio"

"sama..sama.."

Tio Cie Hiong tetap merendahkan diri "Kakak Li cu"

Ujar yap In Nio.

"Aku pernah kalah bertanding dengan engkau kan?"

"Benar-Ken apa?"

Tan Li cu menatapnya heran.

"Hari ini aku menantangmu bertanding lagi,"

Sahut Yap In Nio.

"Baik,"

Tan Li cu tersenyum. Kemudian ia mengambil dua batang ranting, lalu diberikan sebatang kepada yap In Nio.

"Ayolah Engkau boleh mulai menyerangku dulu"

"Hati-hati, Kakak Li cu"

Ujar yap In Nio sambil tertawa kecil.

"Hari ini engkau pasti kalah-"

"oh?"

Tan Li cujuga tertawa. Lim Hay Beng dan Tio Cie Hiong saling memandang, setelah itu mereka berdua pun tersenyum.

"Kakak Li Cu, inilah jurus pertama"

Yap In Nio memberitahukan sambil menyerangnya dengan jurus KiamTeng Kan Kun (Pedang Menggetarkan jagat).

"Haaaah,..?"

Tan Li cu terkejut bukan main ketika menyaksikan serangan, bahkan nyaris membuatnya tak mampu berkelit.

Lim Hay Beng terbelalak, sedangkan Tio Cie Hiong cuma tersenyum-senyum sambil memperhatikan gerakan yap In Nio.

"Kakak Li Cu, hati-hati"

Ujar yap In Nio memberitahukan.

"inilah jurus kedua"

Gadis itu menyerang Tan Li cu denganjurus Cian Kiam soh Lang (Ribuan Pedang Menyapu ombak).

Tampak ranting yang di tangan yap In Nio berkelebatan mengarah ke Tan Li cu, sehingga membuat gadis itu sibuk mengelak, lalu meloncat mundur dengan mata terbelalak.

"Kakak Li cu"

Seru yap In Nio.

"inilah jurus ketiga, hati-hatilah"-"

Yap In Nio langsung menyerang Tan Li Cu dengan jurus Kiam In Liat Te (Bayangan Pedang meretakkan Bumi).

"Auuuh"

Jerit Tan Li cu. Ternyata bahunya telah terpukul oleh ujung ranting itu, sehingga badannya terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang.

"Maaf, Kakak Li Cu"

Ucap yap In Nio.

"Engkau...."

Mulut Tan Li cu ternganga lebar, sebab yap In Nio telah mengalahkannya pada jurus ketiga.

"In Nio, ilmu pedang apa yang kau keluarkan itu?"

"ToatBeng Kiam Hoat."

Yap In Nio memberitahukan.

"In Nio, bukan main lihaynya ilmu pedang itu Aku-aku mengaku kalah-"

Ujar Tan Li Cu-"ohya, apakah dia yang mengajarkan kepadamu?"

"Benar."

Yap In Nio tersenyum-"Kakak Hiong yang mengajarkan ilmu pedang itu kepadaku-"

"ooooh"

Tan Li Cu manggut-manggut.

"Pantas begitu lihay"

"Memang lihay sekali ilmu pedang itu,"

Ujar Lim Hay Beng kagum.

"In Nio, engkau pasti menjadi seorang pendekar wanita kelak-"

"Itu masih harus menunggu tiga tahun lagi-"

Yap In Nio memberitahukan.

"Kok masih harus menunggu tiga tahun lagi?"

Tan Li cu terbelalak-"Padahal ilmu pedang itu begitu lihay"

"sebab aku masih harus melatih ilmu Iwee-kang,"

Sahut Yap In Nio.

"Dia-dia juga mengajarmu ilmu Iweekang?"

Tanya Tan Li Cu sambil memandang Tio Cie Hiong dengan mimik seakan minta diajari juga.

"Hi hi"

Yap In Nio tertawa geli. Gadis itu telah melihat mimik Tan Li cu.

"Aku tahu. Kakak Li Cu juga ingin minta diajari ilmu pedang"

"Bagaimana mungkin dia akan mengajarku ilmu pedang?"

Tan Li Cu menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakak Hiong, agar Kakak Li Cu tidak merasa iri kepadaku, ajari lah dia semacam ilmu pedang"

Ujar Yap In Nio.

"Ngmm"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Baik-lah-"

"Terima kasih, Pek Ih sin Hiap"

Ucap Tan Li cu.

"Eeeh?"

Yap In Nio tertawa.

"Kakak Li Cu menyebut dia Pek Ih sin Hiap? Lebih baik menyebutnya adik Hiong saja Kakak Li Cu lebih besar, kan?"

"Tapi-"

Tan Li Cu tampak ragu.

"Kakak Li cu"

Tio cie Hiong tersenyum.

"Memang lebih baik panggil aku adik saja."

"Adik Hiong...."Tan Li cu langsung memanggilnya dengan wajah berseri, Itu merupakan suatu kebanggaan bagi gadis itu.

"Terima kasih"

"Kakak Li Cu, aku akan mengajarkan kepadamu semacam ilmu pedang, Ilmu pedang itu tergolong ilmu pedang yang lihay dan hebat. Aku harap Kakak Li cu terus melatih ilmu pedang tersebut"

Ujar Tio Cie Hiong memberitahukan. Ternyata ia teringat akan Hong Lul Kiam Hoat (Ilmu Pedang Angin Halilintar) yang dilihatnya dari Puri Angin Halilintar.

"Terima kasih. Adik Hiong"

Ucap Tan Li cu girang.

Tio cie Hiong segera mengajarkan ilmu pedang tersebut kepada Tan Li cu, setelah itu, gadis tersebut mulai berlatih.

sementara Lim Hay Beng hanya berdiri ter-mangu-mangu.

sesungguhnya pemuda itu juga ingin minta diajari ilmu pedang, tapi merasa tidak enak membuka mulut.

"saudara Lim"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Engkau pernah belajar ilmu pedang?"

"Pernah."

Lim Hay Beng mengangguk-"Kalau begitu, perlihatkaniah kepadaku"

Ujar Tio Cie Hiong.

"ya."

Lim Hay Beng menurut, dan langsung memperlihatkan ilmu pedang yang dimilikinya. Tio Cie Hiong memperhatikannya sambil manggut-manggut. setelah Lim Hay Beng berhenti, ia berkata.

"Ilmu pedangmu cukup lihay, hanya saja kurang sempurna."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Aku akan memberi petunjuk dan sekaligus menambah beberapa gerakan dalam ilmu pedangmu, agar ilmu pedangmu bertambah lihay. Kalaupun Liu siauw Kun belum kumusnahkan kepandaiannya, engkau pun sudah dapat mengalahkannya."

"oh?"

Lim Hay Beng kelihatan kurang percaya.

Tio Cie Hiong tersenyum, lalu memberi petunjuk dan menambah beberapa gerakan dalam ilmu pedang Lim Hay Beng.

Bukan main girangnya pemuda itu, dan ia segera berlatih dengan sungguhsungguh.

"saudara Lim"

Ujar Tio Cie Hiong setelah Lim Hay Beng berhenti.

"Aku harap engkau terus menerus berlatih, agar dapat menghadapi penjahat tangguh-"

"Bagaimana dibandingkan dengan ilmu pedang yang engkau ajarkan kepada yap In Nio dan Tan Li cu?"

Tanya Lim Hay Beng mendadak-"Ilmu tiada dasarnya, makin digali makin dalam,"

Sahut Tio Cie Hiong memberitahukan-"Kita harus ingat, di atas gunung masih ada langit, di luar langit pun masih ada langit.

Terus terang, ilmu pedangmu itu masih di bawah tingkat ilmu pedang yang kuajarkan kepada Yap In sian dan Tan Li cu, tapi engkau boleh berlatih bersama mereka."

"Terima kasih, saudara. Tio"

Ucap Lim Hay Beng setulus hati.

"Nah Kalian bertiga boleh berlatih sekarang, aku masih akan memberi petunjuk kepada kalian,"

Ujar Tio Cie Hiong.

Lim Hay Beng, Tan Li cu dan Yap In Nio mulai berlatih-Tio Cie Hiong menyaksikan latihan mereka dengan penuh perhatian, dan apabila mereka melakukan gerakan yang salah, ia pasti memberi petunjuk lagi kepada mereka--ooo00000oooseusai makan pagi, Yap In Nio langsung menarik Tio Cie Hiong, namun pemuda itu menggelengkan kepala-"Kakak Hiong-?"

Gadis itu tercengang.

"Adik In, hari ini aku tidak akan menemanimu berlatih-Aku harus menemui ibumu,"

Ujar Tio Cie Hiong-"Aku tahu--"

Yap In Nio menatapnya dengan wajah muram-"Engkau mau berpamit kan?"

"Ya.."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Nak"

Muncul ibu Yap In Nio sambil menghampirinya-"Engkau mau berpamitan hari ini?"

"Ya, Bibi-"

Tio cie Hiong mengangguk,-"Kok begitu cepat sudah maupamit?"

Ibu yap In Nio menghela nafas.

"Bagaimana kalau engkau tinggal di sini beberapa hari lagi?"

"Bibi, masih banyak urusan yang harus ku-setesaikan, jadi aku harus pamit hari ini,"

Jawab Tio Cie Hiong.

"Nak-"

Ibu yap In Nio menggeleng-geleng-kan kepala-Diam-diam ia merasa iba terhadap putrinya yang kelihatan begitu suka pada Tio cie Hiong.

"Kakak Hiong--"

Yap In Nio tersenyum, tapi sepasang matanya telah basah-"Kita akan bertemu lagi kan?"

"Tentu-"

Tio cie Hiong mengangguk sambil tersenyum-"Kelak aku pasti datang menengokmu-"

"Kakak Hiong"

Ujar yap In Nio sungguh-sungguh.

"Apabila kelak engkau tidak datang, aku akan pergi mencarimu, setelah berhasil melatih ilmu Iweekang yang engkau ajarkan itu, aku akan mengembara di rimba persilatan...."

"Adik In"

Tio Cie Hiong menggeleng-geleng-kan kepala.

"Lebih baik engkau jangan mengembara di rimba persilatan, sebab dalam rimba persilatan penuh kelicikan, kejahatan dan kaum Bu Lim sering saling membunuh pula. Maka kuanjurkan, sebaiknya engkau jangan mengembara di rimba persilatan."

"Kalau engkau tidak datang menengokku, maka aku akan mengembara dalam rimba persilatan untuk mencarimu,"

Sahut yap In Nio sambil tersenyum. sementara ibunya hanya diam saja, sedangkan Tio Cie Hiong menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala-"Adik In...."

"Aku tahu-"

Yap In Nio menatapnya dalam-dalam "Engkau ingin mengucapkan selamat berpisah padaku, kan?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.-"Baik-"

Yap In Nio manggut-manggut.

"Kelak kita pasti akan berjumpa kembali. Walau engkau tidak datang menjumpaiku, aku pasti pergi mencarimu."

"Adik In...."

Tio Cie Hiong memandangnya sambil tersenyum.

"Sampai jumpa Bibi, sampai jumpa"

"Hati-hati, Nak"

Pesan ibu Yap In Nio. Tio Cie Hiong mengangguk, lalu ia berjalan keluar. Yap In Nio mengikutinya dengan kepala tertunduk-"Kakak Hiong"

Ujar gadis itu ketika sampai di pintu halaman.

"Terus terang, aku... aku sangat suka padamu."

"selama ini...,"

Sahut Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Aku menganggapmu sebagai adikku sendiri, ohya, tolong sampaikan salamku kepada guru silat Tan dan lainnya"

"Ya-"

Yap In Nio manggut-manggut. Wajah-nya tampak murung sekali, namun masih berusaha tersenyum.

"Kakak Hiong, engkau jangan melupakan aku"

"Adik In, aku selalu ingat kepadamu."

"Terima kasih. Kakak Hiong"

Ucap Yap In Nio sambil senyum.

"Adik In"

Tio Cie Hiong membelainya bagaikan seorang kakak.

"Hati-hatilah engkau menjaga diri dan menjaga ibumu"

"ya."

"Adik In, sampai jumpa"

"sampaijumpa. Kakak Hiong"

Selangkah demi selangkah Tio Cie Hiong berjalan pergi, yap In Nio terus memandang punggungnya.

Tio Cie Hiong tahu itu, maka ia tidak berani menoleh.

Usia Tio Cie Hiong sudah hampir mencapai delapan belas, akan tetapi, sungguh mengherankan, sebab ia tidak pernah tertarik pada gadis yang menyukainya Padahal ada beberapa gadis sangat menyukainya, namun ia selalu menganggap gadis-gadis itu sebagai adik atau teman baik saja.

Tio Cie Hiong terus berjalan.

Berselang beberapa saat kemudian ia sudah sampai di luar kota.

Ketika ia berada dijalan yang sepi, mendadak muncul seorang telaki tua berusia enam puluhan, tetapi masih tampak gagah.

"Apakah Pek Ih sin Hiap Tio Cie Hiong?"

Tanya orang tua itu sambil menatapnya.

"Benar-"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Boleh-kah aku tahu siapa tanyanya.

"Aku adalah Bu In sin Liong (Naga sakti Tanpa Bayangan), kakak seperguruan Tok Gan sin coa (ular sakti Mata satu) "oooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"jadi apakah Paman akan menuntut balas kepadaku?"

"Dia adik seperguruanku, aku kakak seperguruannya. Sudah tentu aku harus membuat perhitungan denganmu,"

Sahut Bu In sin Liong.

"Paman"

Tio Cie Hiong menghela nafas.

"Tok Gan sin coa dan muridnya itu sering membunuh orang, maka aku memusnahkan kepandaian mereka, agar mereka tidak melakukan kejahatan lagi. Apakah Paman juga seperti Tok Gan Sin Coa?"

"Anak muda"

Bu In Sin Liong tampak tidak senang.

"Selama ini aku selalu menolong orang, tidak pernah melakukan kejahatan."

"Kalau begitu...."

Tio Cie Hiong menatapnya.

"Kenapa Paman membiarkan Tek Gan sin Coa melakukan kejahatan?"

"Aku sering menasehatinya, namun dia tidak mau dengar."

Bu In Sin Liong menarik nafas.

"Kini kepandaiannya telah musnah, maka aku harus membuat perhitungan denganmu. Kalau tidak, aku merasa berdosa terhadap almarhum guruku."

"Paman"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Tok Gan Sin coa harus bersyukur, sebab dia hanya kehilangan kepandaiannya, tapi masih tetap hidup."

"Engkau harus tahu, bagi seorang yang berkepandaian, dia lebih baik dibunuh daripada dia kepandaiannya dimusnahkan."

Bu In Sin Liong memberitahukan.

"Paman"

Tio Cie Hiong tersenyum lagi.

"Me-nurut aku, nyawa lebih berharga dari pada kepandaian, oleh karena itu, lebih baik kehilangan kepandaian daripada kehilangan nyawa."

"Anak muda, aku mencarimu bukan untuk berdebat. Cepatlah keluarkan senjatamu"

Bentak Bu In Sin Liong.

"Aku tidak pernah bersenjata,"

Sahut Tio Cie Hiong jujur.

"Baik"

Bu In Sin Liong manggut-manggut, orang tua itu menghunus pedangnya perlahan-lahan.

"Mari kita bertarung-"

Usai berkata begitu.

Bu In Sin Liong menyerang Tio Cie Hiong denganjurus Sin Liong yu Hai (Naga sakti Main Di Laut).

Tio Cie Hiong segera meloncat ke belakang, namun Bu In sin Liong menyerangnya bertubi-tubi denganjurus Hai Liong seng Thian (Naga Laut Naik Ke Langit), sin Liong Pah Bwe (Naga sakti Mengibaskan Ekor) dan sin Liong jip Hai (Naga sakti Ma"uk.

Ke Laut).

Jurus-jurus itu merupakan jurus-jurus andalan Bu In sin Liong.

Karena dahsyatnya jurus-jurus tersebut, maka ia memperoleh julukan naga sakti Tanpa bayangan.

Akan tetapi, setelah menyerang dengan tiga jurus beruntun itu.

Bu In sin Liong tertegun karena tidak melihat Tio cie Hiong.

orang itu itu menengok ke sana ke mari, ternyata pemuda itu berdiri di belakangnya sambil tersenyum.

"Ginkangmu cukup tinggi"

Ujar Bu In sin Liong.

"Engkau mampu berkelit, tapi coba sambutlah seranganku ini"

Bu In sin Liong langsung menyerang Tio Cie Hiong dengan jurus yang paling lihay, yakni jurus Thian Liong soh Te (Naga Langit Menyapu Bumi) Jarang sekali ia mengeluarkan jurus tersebut, kecuali dalam keadaan terpaksa.

Pedangnya tampak berkelebatan mengarah ke Tio Cie Hiong, namun pemuda itu tetap berdiri diam di tempat, membuat Bu In sin Liong ter-heran-heran.

la ingin menarik kembali serangannya, tapi sudah tidak keburu, hanya dapat memperlambat serangannya.

Justru pada saat bersamaan, Tio Cie Hiong mengibaskan lengan bajunya ke arah Bu In sin Liong.

"Trang Trang Trang...."

Pedang di tangan Bu In sin Liong patah menjadi beberapa potong, sedangkan badan In Sin Liong terhuyung-huyung ke belakang beberapa depa.

Betapa terkejutnya Bu In Sin Liong, la segera menghimpun Iweekangnya, maka tidak terjadi apa-apa.

Itu membuatnya tidak habis berpikir, namun melegakan hatinya.

"Kenapa engkau tidak memusnahkan kepandaianku?"

Tanya Bu In sin Liong terheran-heran.

"Paman bukan orang jahat, kenapa aku harus memusnahkan kepandaian Paman?"

Sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Bagaimana engkau tahu aku bukan orang jahat?"

Bu In Sin Liong menatapnya.

"Ketika melihat aku berdiri diam di tempat, Paman-memperlambat serangan-. Aku tahu Paman khawatir akan melukaiku, Itu pertanda Paman-bukan orang jahat."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Aaaahh..."

Bu In Sin Liong menghela nafas.

"Engkau telah mengalahkanku, berarti tugasku membela adik seperguruanku itu telah selesai. Anak muda, engkau memang Pek Ih sin Hlap yang bijaksana."

"Paman pun pendekar yang bijaksana,"

Ucap Tio Cie Hiong, kemudian mendadak melesat pergi.

"Sampai jumpa, Paman"

"Ha a h..."

Bu In Sin Liong terbelalak, la sama sekali tidak menyangka kalau Tio Cie Hiong memiliki ginkang yang begitu tinggi.

Setelah itu.

Bu Insin Liong juga memandang gagang pedang yang di tangannya, lalu menghela nafas seraya bergumam.

"Aaaahhhh.... Sin Liong Kiam (Pedang Naga Sakti) ku telah patah, pertanda sudah waktunya aku mengundurkan diri dari rlmba persilatan." -ooo00000ooo-Sebuah gunung menjulang tinggi di depan, puncaknya diselimuti awan putih. Bukan main indahnya gunung itu. Tio Cie Hiong berdiri termangu-mangu sambil memandangnya. Mungkinkah itu gunung Pek In san? Tanyanya dalam hati. Ternyata ia telah sampai di tempat yang sepi ini-Kebetulan muncul seorang petani. Tio Cie Hiong menghampirinya dan bertanya.

"Paman Apakah itu gunung Pek In san?"

"Betul."

Petani itu menatapnya-"Anak muda, kenapa engkau menanyakah gunung itu?"

"Cuma ingin tahu saja-"

Tio Cie Hiong tersenyum-"ohya Puncak gunung itu disebut Pek In Nia?"

"ya-"

Petani itu manggut-manggut.

"Pek In Nia Pek In Nia-"

Gumam Tio Cie Hiong. la teringat akan penuturan kakaknya tentang kematian kedua orang tuanya di Pek In Nia. sebab itu timbullah niatnya untuk ke Pek In Nia, kemudian bertanya kepada petani itu.

"Paman sudah lama tinggal di daerah ini?"

"Sudah puluhan tahun aku tinggal di sini. Anak muda, kenapa engkau menanyakan ini?"

"Karena.-"

Tio Cie Hiong menggeleng-ge-lengkan kepala.

"ohya, Paman tahu akan kejadian belasan tahun lampau di Pek In Nia?"

"Tahu."

Petani itu mengangguk-"Belasan tahun lampau telah terjadi pertempuran dahsyat di sana-"

"Terima kasih, Paman"

Ucap Tio Cie Hiong yang kemudian melesat pergi menuju gunung Pek In san.

"Sungguh tak terduga--"

Petani itu menghela nafas.

"Ternyata pemuda itu kaum rimba persilatan."

Sementara Tio Cie Hiong telah tiba di gunung itu, ia pun langsung menuju Pek In Nia.

sesampainya di tempat itu, ia menengok ke sana ke mari dan kemudian melihat sebuah makam di bawah sebuah pohon.

Tio Cie Hiong mendekati makam itu, dan setelah membaca tulisan di batu nisan, ia segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan makam itu dengan mata basah-"Ayah Ibu-"

Ujarnya terisak-isak-"Cie Hiong sudah datang, cie Hiong bersumpah akan membuat perhitungan dengan Bu Lim sam Mo dan Empat Dhalai LNama Tibet."

Pada waktu bersamaan, tampak sosok bayangan melayang turun di belakang Tio Cie Hiong.

Walau sangat ringan, Tio Cie Hiong telah mendengarnya.

Namun ia tetap berlutut di hadapan makam itu, yang ternyata makam kedua orang tuanya.

Berselang beberapa saat, barulah ia bangkit berdiri lalu membalikkan badannya, la terbelalak karena melihat seorang padri tua berdiri di situ, yang tidak lain Lam Hai sin Ceng.

"sin ceng-?"

"omitohud"

Lam Hai sin ceng tersenyum lembut.

"cie Hiong, kini engkau telah berkepandaian tinggi."

"Terima kasih atas petunjuk sin Ceng, sehingga aku berhasil menemui Thian Thay siansu"

Ucap Tio Cie Hiong memberitahukan.

"omitohud Itu memang sudah merupakan takdir-"

Lam Hai sin ceng tersenyum lagi.

"Itu memang makam kedua orang tuamu."

"Sin Ceng tahu siapa yang mengubur kedua orang tuaku?"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak.

"omitohud Aku tidak tahu itu."

"ohya"

Tio cie Hiong menatap Lam Hai sin ceng.

"Kek sin ceng berada di sini?"

Lam Hai sin ceng menghela nafas, dan wajahnya tampak murung. Berselang sesaat, barulah membuka mulut.

"omitohud Aku memang berada di bawah jurang itu"

Lam Hai sin ceng memberitahukan.

"oh?"

Tio cie Hiong tertegun.

"ciat Lun sin Ni, guru kakakmu berada di dalam sebuah goa di dasar jurang itu, aku... aku menemaninya,"

Ujar Lam Hai sin ceng.

"ohi?"

Tio Cie Hiong terbelalak-"Kalau beo itu, aku harus ke sana memberi hormat kepadanya."

"Tidak usah"

Lam Hai sin ceng menggelengkan kepala.

"Kenapa?"

Tio Cie Hiong heran.

"Karena aku hanya menemani tulang belulangnya di dalam makam,"

Jawab Lam Hai sin Ceng sambil menghela nafas.

"oooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"sin Ceng..,."

"cie Hiong Aku sudah tidak mencampuri urusan rimba persilatan, juga tidak akan muncul lagi, sebab aku harus menemani makam Ciat Lun sinni dengan sisa hidupku."

"sin ceng...."

"Ketika Ciat Lun sinni masih hidup, aku tidak menemaninya-Kini dia telah mati, aku harus menemaninya."

"sin Ceng... begitu cinta padanya?"

"ya, namun semua itu telah berlalu."

Lam Hai sin ceng menatapnya dalam-dalam.

"Engkau harus berhati-hati, jangan sampai terjerat oleh cinta"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Kini...,"

Lanjut Lam Hai sin ceng.

"Engkaulah yang berkewajiban menyelamatkan rimba persilatan."

"ya, sin Ceng"

Tio Cie Hiong mengangguk lagi-"Dan ingat"

Tambah Lam Hai sin ceng.

"janganlah engkau beritahukan kepada siapa pun tentang diriku, termasuk Bu Lim Ji Khie"

"Aku berjanji, sin ceng"

"omitohud"

Ucap Lam Hai sin Ceng, yang kemudian melesat pergi.

Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

Lam Hai sin ceng adalah padri sakti dalam rimba persilatan, namun masih tidak dapat melepaskan diri dari persoalan cinta, itu membuat Tio cie Hiong tidak habis pikir.

-ooo00000ooo-Tio Cie Hiong terbelalak ketika menyaksikan Puri Angin Halilintar yang sudah tidak karuan.

Hong Liu Po yang begitu megah telah berubah menjadi reruntuhan.

Apa yang telah terjadi di Puri Angin Halilintar?

Hong Lui Kiam Khek, Ku Tek Cun, Phang Ling Hiang dan Paman Tan hilang ke mana?.

Tio Cie Hiong berdiri mematung di depan Hong Lui Po.

la sangat merindukan Paman Tan dan Phang Ling Hiang yang baik hati itu, tapi mereka tidak kelihatan.

Apa sebenarnya yang telah terjadi di Hong Lui Po?

Tio cie Hiong sungguh tidak habis pikir.

Di saat ia berdiri termangu-mangu, tibatiba muncul seorang tua menghampirinya.

"Anak muda, kenapa engkau berdiri di situ?"

Begitu mendengar suara itu, hati Tio Cie Hiong tersentak dan langsung membalikkan badannya-"haaahhhh Paman Tan"

Seru Tio Cie Hiong ketika melihat orang tua itu.

"Engkau... engkau adalah Tio Cie Hiong?"

Sahut orang tua itu. la memang Paman Tan, kepala pengurus di Hong Lui Po.

"Paman Tan...."

Tio Cie Hiong merangkul orang tua itu dengan air mata bercucuran.

"Aku Cie Hiong."

"Nak"

Paman Tan membelainya sambil tersenyum dengan air mata berderai.

"Kini engkau telah besar, aku... girang sekali."

"Paman Tan, Hong Lui Po...."

"Nak Mari ikut aku ke rumah"

Ujar Pamna Tan "Tidak leluasa kita bicara di sini."

Tio Cie Hiong mengangguk, ia mengikuti Paman Tan ke rumahnya. Rumah Paman Tan sangat sederhana dan kecil, setelah masuk, mereka berdua lalu duduk berhadapan.

"Nak"

Paman Tan menatapnya dengan wajah berseri.

"Aku yakin kini engkau telah berkepandaian tinggi, ya, kan?"

"Semua itu berkat jasa Paman"

Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Kalau Paman tidak berikan aku kitab tipis itu, tentunya aku pun tidak bisa memiliki kepandaian tinggi,."

"Ha ha"

Paman Tan tertawa gembira.

"Aku tahu engkau berhati bajik, maka aku berani memberikan kitab tipis itu kepadamu."

"Paman Tan Apa gerangan yang telah terjadi di Hong Lui Po?"

Tanya Tio Cie Hiong ingin mengetahuinya.

"Aaakh-"

Paman Tan menghela nafas.

"Kira-kira tujuh delapan bulan lalu, mendadak muncul puluhan orang berpakaian hitam, dan memakai kain hitam penutup kepala pula, menyerbu ke Hong Lui Po. Hong Lui Kiam Khek-Phang Ling Hiang dan para pelayan terbunuh semua...."

"Bagaimana Ku Tek Cun?"

"Entahlah-"

Paman Tan menggelengkan kepala-"Tiada jejaknya sebab tidak terdapat mayatnya."

"Paman Tan...."

Tio Cie Hiong memandangnya heran.

"Tentunya engkau merasa heran, kenapa aku tidak mati kan?"

Ujar Paman Tan.

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk-la merasa heran kenapa Paman Tan tidak terbunuh-Namun ia bersyukur dalam hati, karena orang tua yang baik hati itu masih hidup.

"Mungkin umurku masih panjang,"jawab Paman Tan memberitahukan.

"Hari sebelum kejadian itu, Hong Lui Kiam Khek mengutusku ke kota lain. Karena itu, aku selamat."

"oooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Terus terang, aku pun masih merasa heran...."

Paman Tan mengerutkan kening.

"Heran kenapa?"

"Sebetulnya itu merupakan suatu rahasia, namun kini aku harus memberitahukan kepadamu."

Wajah Paman Tan tampak serius.

"Rahasia apa?"

"sesungguhnya Ku Tek Cun bukan anak kandung Hong Lui Kiam Khek-Ku TiokBeng."

Paman Tan memberitahukan.

"Aku tahu jelas tentang itu, tapi Ku TiokBeng yang membesarkannya."

"Jadi-siapa orang tua Ku Tek Cun?"

"Aku tidak tahu tentang itu, aku hanya tahu Ku Tiok Beng membawanya ke dalam Hong Lui Po ketika Ku Tek Cun masih bayi."

"Kalau begitu-"

"Sebelum kejadian itu. Ku Tek Cun tampak agak aneh"

Ujar Pamna Tan sambil mengerutkan kening.

"Dan juga mendadak Ku TiokBeng kelihatan lemah, sepertinya mengidap suatu penyakit.-"

"oh?"

Tio Cie Hiong juga mengerutkan kening setelah mendengar itu.

"Aku curiga-"

Lanjut Paman Tan.

"Jangan-jangan Ku Tek Cun tersangkut dalam hal pembunuhan itu."

"Maksud Paman dia bersekongkol dengan para penjahat untuk membunuh Hong Lui Kiam Khek, Phang Ling Hiang dan sekaligus memusnahkan Hong Lui Po?"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Aku memang bercuriga begitu, tapi tiada bukti."

Paman Tan menggeleng-gelengkan kepala.

"Hingga kini masih tiada kabar beritanya Ku Tek Cun?"

"sama sekali tiada kabar beritanya. Nak, dia berhati licik dan jahat. Kalau bertemu dia, engkau harus berhati-hati"

"Ya."

Tio cie Hiong mengangguk-"Nak"

Paman Tan memandangnya dengan wajah berseri.

"Dugaanku tidak meleset, engkau pasti akan menjadi pendekar yang gagah dan bijaksana. Kini telah terbukti."

"Paman Tan, semua itu berkat jasa dan kebaikan Paman"

Ujar Tio Cie Hiong setulus hati.

"Nak, jadi kini engkau sudah mulai berkecimpung dalam rimba persilatan?-tanya Paman Tan.

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kalau begitu, engkau harus membela kebenaran dan menegakkan keadilan dalam rimba persilatan"

Pesan Paman Tan.

"Ya.

"Ppyar^ Tio Cie Hiong tersenyum.

"Aku pasti menuruti apa yang Paman pesankan."

"Bagus."

Paman Tan tertawa gembira. ,o\f\\^c-.,^rv"OjRV"

Lupa ke mari lagi kelak"

"Setelah urusanku usai, aku pasti datang menengok Paman"

Ujar Tio Cie Hiong berjanji.

"Danjuga jangan lupa-."

Pesan Paman Tan sambil tertawa terbahak-bahak-"Harus membawa calon isterimu ke mari"

"Paman...."

Wajah Tio Cie Hiong kemerah-merahan.

-ooo00000ooo-Bab 21 Kejadian di luar dugaan setelah berpamitpada Paman Tan, Tio Cie Hiong melanjutkan perjalanannya.

Kali ini tujuannya ke Ekspedisi Harimau Terbang, sebab timbul rasa rindunya pada gouw sian Eng.

Namun rindunya itu merupakan kerinduan seorang kakak terhadap adik, lagi pula ia sudah rindu pada Tui Hun Lojin dan cit Pou Tui Hun-Gouw Han Tiong yang baik hati itu.

Maka ia melanjutkan perjalanannya menuju kota Po Teng.

Dalam perjalanan ia selalu menumpas berbagai kejahatan, oleh karena itu, julukannya makin dikenal dalam, rimba persilatan, menciutkan nyali para penjahat maupun kaum golongan hitam, sehingga menyebabkan kaum golongan hitam harus mencari tempat untuk bernaung.

Beberapa hari kemudian, Tio Cie Hiong memasuki sebuah rimba.

Ketika ia baru mau mengerahkan ginkangnya, sekonyong-konyong muncul belasan orang berpakaian hitam dengan kain penutup kepala.

"Engkau adalah Pek Ih Sin Hiap?"

Tanya salah seorang berpakaian hitam.

"ya,"

Sahut Tio Cie Hiong sambil memandang mereka.

"Kenapa kalian menghadangku?"

"Pek Ih Sin Hiap"

Ujar orang berpakaian hitam itu.

"Engkau sering memusnahkan ilmu silat kaum golongan hitam, maka hari ini ajalmu telah tiba"

"oh?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"jadi kalian ingin membunuhku?"

"Tidak salah"

Sahut orang berpakaian hitam itu sekaligus berseru.

"Bunuh dia"

Seketika juga berbagai macam senjata mengarah kepadanya, belasan orang berpakaian hitam langsung menyerangnya.

Tio Cie Hiong segera berkelit dengan Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat), kemudian mengibaskan lengan bajunya ke sana ke mari.

"Aaaakh..."

Terdengar suara jeritan di sana sini.

Tampak belasan orang berpakaian hitam telah roboh terkapar, dan kepandaian mereka pun telah dimusnahkan Tio Cie Hiong.

Pemuda itu mendekati salah seorang berpakaian hitam, lalu menyambar kain hitam penutup kepalanya.

"Kalian yang mengadakan pembunuhan di Hong Lui Po?"

Tanya Tio Cie Hiong. orang berpakaian hitam itu diam saja.

"siapa kalian?"

Bentak Tio Cie Hiong.

orang berpakaian hitam itu tetap diam, namun mendadak matanya mendelik, dari mulutnya mengalir ke luar darah hitam dan nyawanya pun putus.

Tio Cie Hiong tercengang, namun ia tahu mereka semua pasti menaruh pil yang sangat beracun di bawah lidah.

Apabila terdesak, mereka pasti bunuh diri dengan menelan pil itu demi menjaga rahasia organisasi mereka.

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala, dan karena itu ia tidak mau mendesak mereka dengan pertanyaan-pertanyaan lagi.

la tahu bahwa mereka pasti tidak akan memberitahukan, sebaliknya malah akan membuat mereka bunuh diri la memandang mereka sejenak, kemudian melesat pergi.

Tergolong organisasi apa orang-orang berpakaian hitam itu?

Kenapa mereka begitu nekat bunuh diri demi menjaga rahasia organisasi?

Tio Cie Hiong betul-betul tidak habis pikir, dan ia terus melanjutkan perjalanannya menuju kota PoTeng-(Bersambung ke Bagian 13)

Jilid 13 Beberapa hari kemudian, Tio Cie Hiong sudah sampai di kota tersebut, dan langsung menuju Ekspedisi Harimau Terbang.

Akan tetapi, ia sangat tercengang karena bangunan itu kelihatan begitu sepi.

la mendorong pintu halaman dan berjalan ke dalam, namun tidak tampak seorang pun di situ.

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

Di saat bersamaan muncul seorang tua, yang tangannya membawa sebuah sapu.

"Paman tua"

Tio Cie Hiong mendekatinya.

"Apakah Cit Pou TUi Hun-Gouw Han Tiong berada di rumah?"

"Eh?"

Orang tua itu menatapnya heran.

"Siapa engkau, anak muda? Mau apa menanyakan majikanku?"

"namaku Tio Cie Hiong. Aku ke mari ingin bertemu Paman-Gouw."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Maaf, anak muda"

Sahut orang tua itu.

"Majikanku tidak mau bertemu siapa pun."

"Kenapa?"

Tanya Tio Cie Hiong heran. orang tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tio Cie Hiong memandangnya seraya bertanya.

"Paman tua baru bekerja di sini?"

"Sudah hampir setahun."

"Pantas Paman tua tidak mengenalku"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Aku keponakannya."

"oh?"

Orang tua itu terkejut.

"Maaf, Tuan muda. Aku tidak tahu Kalau begitu silakan masuk saja. Di dalam ada beberapa piauwsu."

"Terima kasih Paman tua"

Ucap Tio Cie Hiong dan segera memasuki rumah itu. Tampak beberapa piauwsu sedang duduk di ruang depan. Ketika melihat Tio Cie Tiong mereka terbelalak-"Engkau... engkau Tio Cie Hiong?"

Tanya salah seorang piauwsu.

"Betul."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Aku ingin bertemu Paman Gouw."

"TUnggu sebentar"

Piauwsu itu segera masuk ke dalam, tapi tak seberapa lama ia sudah keluar bersama Cit Pou TUi Hun-Gouw Han Tiong.

"Paman.. Paman..."

Seru Tio Cie Hiong sekaligus memberi hormat.

"Engkau...."

Gouw Han Tiong tertegun ketika melihatnya, sebab kini Tio Cie Hiong telah besar dan sangat tampan.

"Tio Cie Hiong?"

"Benar, Paman."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Nak-""

Gouw Han Tiong menatapnya lembut.

"Mari kita ke ruang dalam saja"

Tio Cie Hiong mengangguk, kemudian mengikuti Gouw Han Tiong ke ruang dalam, sesampainya di ruang itu mereka lalu duduk berhadapan.

"Paman, kenapa begitu sepi? Apakah para piauwsu sedang pergi?"

"Aaakh-"

Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Akan kuceritakan nanti. sekarang aku ingin bertanya, apakah engkau sudah memiliki kepandaian tinggi?"

"Cukup tinggi,"jawab Tio Cie Hiong merendahkan diri-"Bagus."

Gouw Han Tiong tersenyum sambil memandangnya.

"Kini engkau sudah besar dan tampan, aku gembira sekali."

"Paman, di mana kakek?"

"Setengah tahun lalu ayahku pergi, hingga kini masih belum pulang."

"Kakek ke mana?"

"Ayahku pergi...."

Wajah Gouw Han Tiong tampak murung.

"Pergi mencari Sian Eng."

"Kakek pergi mencari sian Eng?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Ya."

Gouw Han Tiong mengangguk sambil menarik nafas.

"Adik Eng ke mana?"

Tanya Tio Cie Hiong heran.

"Kira-kira tujuh delapan bulan lalu, dia-dia diculik orang."

Gouw Han Tiong memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Maka ayahku pergi mencarinya."

"Adik Eng diculik oleh siapa?"

Tanya Tio Cie Hiong cemas.

"Entahlah, Pagi itu dia sedang duduk melamun di halaman, salah seorang piauwsu melihat dia bersama dua wanita muda. Piauwsu itu segera melapor kepadaku dan ayahku, maka segeralah kami ke sana. Namun.... sian Eng sudah tidak kelihatan lagi, karena itu, ayahku langsung pergi mengejar kedua wanita tersebut, sehingga kini ayahku belum pulang."

"siapa kedua wanita itu?"

"Entahlah-"

Gouw Han Tiong menghela nafas.

"Paman tidak minta bantuan pihak Kay pang untuk mencari sian Eng?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Sudah-"

Gouw Han Tiong mengangguk-"Tapi pihak Kay Pang pun tidak berhasil mencarinya. Aaaakh--."

"Paman jangan putus asa dan cemas, aku yakin sian Eng tidak akan terjadi apa-apa."

"Tapi-sudah sekian bulan tiada kabar beritanya. Aku khawatir... kedua wanita muda itu telah membunuh sian Eng."

"Tidak mungkin."

"Kenapa engkau katakan tidak mungkin?"

Tio Cie Hiong tersenyum, setelah itu barulah menjawab.

"Kalau kedua wanita itu mau membunuh sian Eng, tentunya Sian Eng telah terbunuh di halaman. Aku yakin kedua wanita muda itu membawa sian Eng pergi dengan suatu tujuan tertentu."

"Ngmm"

Gouw Han Tiong manggut.

"Mudah-mudahan begitu oh ya, engkau sudah berhasil mencari Ku Tok Lojin?"

"Tidak, tapi aku malah bertemu Pek Ih Mo Li"

Tio cie Hiong memberitahukan dengan wajah murung.

"Pek Ih .Mo Li?"

"ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Ternyata dia kakak kandungku...."

"Apa?"

Gouw Han Tiong terbelalak-"Jadi engkau sudah tahu siapa kedua orang tuamu?"

"ya-"

Tio Cie Hiong memberitahukan dengan wajah murung.

"Ayahku adalah Hui Kiam Bu Tek-Tio It seng, ibuku adalah sin Pian Bi jin-Lie Hui Hong dan Ku Tok Lojin adalah kakekku...."

"Haaahhh-"

Gouw Han Tiong memandangnya dengan mulut ternganga lebar-"Tidak disangka engkau putra almarhum Hui Kiam BuTek"

"Paman kenal kedua orang tuaku?"

"Kenal."

Gouw Han Tiong mengangguk.

"Ayahmu pernah menolongku ketika aku diserang Hek Pek siang Koay, maka aku berhutang budi pada almarhum ayahmu."

"Hek Pek siang Keay sudah mati di tangan kakakku"

"Hek Pek siang Keay sangat jahat dan kejam, mereka memang pantas mati"

Ujar Gouw Han Tiong.

"ohya, di mana kakakmu sekarang?"

"Dia..-."

Mata Tio Cie Hiong mulai basah-"Dia telah mati."

"Apa?"

Gouw Han Tiong terperanjat.

"Bagai mana kakakmu bisa mati?"

"Empat Dhalai Lhama melukainya, akhirnya dia mati dalam pelukanku."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Aaakh-"

Gouw Han Tiong menghela nafas.

"Tak disangka kakakmu mati di tangan Empat Dhalai Lhama Tibet itu Bahkan mereka pun sering membunuh para murid tujuh partai besar...."

"oh ya Paman tahu siapa orang-orang berpakaian hitam?"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak.

"Tidak tahu."

Gouw Han Tiong menggelengkan kepala.

"Tapi orang-orang berpakaian hitam itu telah memusnahkan Puri Angin Halilintar."

"Aku justru dari Hong Lui Po itu."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Ketika aku menuju ke mari, muncul belasan orang-orang berpakaian hitam ingin bunuh aku."

"oh?"

Gouw Han Tiong menatapnya. Tiba-tiba mulutnya ternganga lebar karena teringat akan sesuatu.

"cie Hiong, engkau adalah-. Pek Ih sin Hiap?"

"ya, Paman."

Tio Cie Hiong mengangguk dengan wajah agak kemerah-merahan lantaran merasa malu.

"Nak"

Gouw Han Tiong tertawa gelak-"Engkau memang hebat, tidak membunuh tapi memusnahkan kepandaian para penjahat dan kaum golongan hitam, julukanmu itu telah terkenal dalam rimba persilatan."

"Paman Aku merasa malu akan julukan itu."

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau memang merupakan pendekar muda yang gagah dan bijaksana, maka pantas memperoleh julukan itu,"

Ujar Gouw Han Tiong sung-guh-sungguh.

"Paman"

Tio Cie Hiong memandangnya seraya bertanya.

"Tahukah Paman, siapa yang mengubur kedua orang tuaku di Pek In hia?"

"Engkau telah ke sana?"

Gouw Han Tiong balik bertanya-"ya-"

Tio Cie Hiong mengangguk-"yang mengubur kedua orang tuamu adalah ayahku, Hui Khong Taysu ketua partai siauw Lim dan It Hian Tejin ketua partai Butong."

Gouw Han Tiong memberitahukan.

"oh?"

Tio Cie Hiong menatap Gouw Han Tiong dengan penuh rasa terima kasih-"Ternyata kakek dan kedua ketua itu yang mengubur orang tuaku"

"Nak. almarhum ayahmu pernah menyelamatkan nyawaku, namun aku masih belum membalas budinya itu-"

Gouw Han Tiong menarik nafas.

"Sesungguhnya Paman telah membalas budi itu,"

Ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Maksudmu?"

Gouw Han Tiong tercengang.

"Kakek-Paman dan Sian Eng sangat baik terhadapku, itu berarti Paman telah membalas budi tersebut,"

Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Paman, aku pasti mencari Sian Eng."

"Nak"

Gouw Han Tiong tersenyum.

"Kasihan dia-sejak engkau pergi, dia terus memikirkanmu."

"Adik Eng memang baik sekali terhadapku, maka akupun sayang kepadanya,"

Ujar Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Aku menganggapnya sebagai adik sendiri"

"oh?"

Gouw Han Tiong tersenyum lagi.

"Tapi engkau harus tahu, sian Eng sangat menyukaimu lho"

"Aku tahu itu."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"ohya, aku ingin ke markas pusat Kay Pang, bagaimana menurut Paman? "

"Itu ada baiknya juga, sebab engkau akan bertemu Bu Lim Ji Khie, mungkin mereka berada di sana,"

Sahut Gouw Han Tiong.

"Kalau begitu..."

Tio Cie Hiong bangkit berdiri-"Paman, aku mohon diri"

"Kok cepat?"

"ya. sebab akupun harus mencari Sian Eng."

"Baiklah"

Gouw Han Tiong manggut-manggut dan berpesan.

"Cie Hiong, apabila engkau berhasil memperoleh kabar tentang sian Eng, aku harap engkau bersedia ke mari memberitahukan kepadaku."

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Terima kasih, Cie Hiong"

Ucap Gouw Han Tiong sambil memandangnya lembut.

"sama-sama, Paman"

Tio Cie Hiong tersenyum-"sampaijumpa"

"sampai jumpa, aku menunggu kabar baik darimu."

Gouw Han Tiong memegang bahu Tio Cie Hiong dan memandangnya dengan penuh kasih sayang.

setelah meninggalkan Ekspedisi Harimau Terbang, Tio cie Hiong langsung berangkat ke markas pusat Kay Pang (Partai Pengemis).

Dua hari kemudian, ia telah tiba di sebuah kota kecil.

Tio cie Hiong mampir di sebuah kedai untuk mengisi perut, namun ketika ia sedang bersantap, mendadak muncul seorang pemuda tampan berusia dua puluhan menghampirinya.

"cie Hiong Apakah engkau masih ingat kepadaku?"

Tanya pemuda tampan itu.

"saudara--"

Tio Cie Hiong memandangnya, lama sekali barulah ia berseru girang.

"Tek Cun"

Ternyata pemuda tampan itu Ku Tek Cun, putra almarhum Hong Lui Kiam Khek-Ku Tiok Beng. Tio cie Hiong sama sekali tidak menduga kalau ia akan bertemu Ku Tek Cun di kedai ini.

"cie Hiong"

Ku Tek Cun tersenyum.

"Boleh-kah aku duduk?"

"silakan silakan"

Ucap Tio Cie Hiong cepat.

"Terima kasih"

Ku Tek Cun duduk dan kemudian menarik nafas panjang.

"cie Hiong, tentunya engkau sudah tahu tentang Hong Lui Po, bukan?"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Itu tak terduga sama sekali."

"Ayahku...."

Sepasang mata Ku Tek Cun tampak basah-"Dan Phang Ling Hiang-."

"Aku sudah tahu, mereka dibunuh oleh orang-orang berpakaian hitam, oh ya, pada malam kejadian itu, engkau di mana?"

Tanya Tio cie Hiong mendadak-"Pagi harinya, ayahku suruh aku pergi menemui seseorang,"

Jawab Ku Tek Cun menutur.

"Aku menginap di rumah orang itu, maka aku selamat...."

"oooh"

Tio Cie Hiong mengangguk-"Kalau tidak salah, ayahmu mengidap suatu penyakit. Benarkah itu?"

"Benar."

Ku Tek Cun manggut-manggut.

"Tentunya engkau dengar dari penduduk setempat, bukan?"

"Ya."

Tio Cie Hiong tidak berani memberitahukan bahwa "Paman Tan yang menceritakannya.

"ohya, Tek Cun Apakah engkau anak kandung Ku Tiok Beng?"

"Cie Hiong"

Air muka Ku Tek Cun tampak berubah.

"Kenapa engkau bertanya begitu?"

"Itu.... Nona Phang pernah mengatakan bahwa...."

Sebetulnya Tio Cie Hiong adalah pemuda jujur yang tak bisa berbohong, namun kali ini ia terpaksa berbohong karena demi kebaikan Paman Tan.

la mengatas namakan Phang Ling Hiang, sebab gadis itu telah mati, jadi Ku Tek Cun tidak akan mencurigai Paman Tan.

"Phang Liang Hiang yang mengatakan begitu?"

Kening Ku Tek Cun berkerut.

"Ya-"

Tio Cie Hiong mengangguk-"Itu-itu bagaimana mungkin?"

Gumam, Ku Tek Cun tidak percaya.

"Maaf"

Ucap Tio Cie Hiong dan menambahkan agar Ku Tek Cun percaya.

"Pada waktu itu, engkau sering menggunakan diriku untuk melatih ilmu pedangmu, maka dia mengatakan begitu"

"ooooh"

Ku Tek Cun manggut-manggut, kemudian wajahnya berubah dingin, tapi Tio Cie Hiong tidak melihatnya.

"sekarang sekali dia telah mati, kalau tidak-aku pasti akan menegurnya karena omong yang bukan-bukan"

"Tek Cun"

Tio Cie Hiong memandangnya.

"Engkau sudah tahu siapa pembunuh ayahmu?"

"sudah sekian lama aku menyelidikinya, namun...."

Ku Tek Cun menghela nafas.

"Aku masih belum berhasil menyingkap siapa orang-orang berpakaian hitam itu."

"Perlahan-lahan menyelidikinya...."

"ohya, cie Hiong"

Ku Tek Cun menatapnya.

"Engkau mau ke mana?"

"Aku mau ke markas pusat Kay Pang,"jawab Tio Cie Hiong jujur.

"oh?"

Ku Tek Cun mengerutkan kening.

"engkau mempunyai hubungan dengan Partai Pengemis?"

"Tidak juga."

Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.

"Aku ke sana hanya ingin menemui seseorang."

"oooh"

Ku Tek Cun manggut-manggut, kemudian memandang Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Cie Hiong, aku harus memberi selamat pada mu."

"Lho? Kenapa?"

Tio Cie Hiong kebingungan.

"Engkau kok masih berpura-pura?"

Ku Tek Cun tertawa.

"Bukankah kini engkau telah berkepandaian tinggi, bahkan memperoleh julukan Pek Ih sin Hiap pula?"

"Itu cuma julukan kosong,"

Sahut Tio Cie Hiong merendah-"Padahal aku tidak memiliki kepandaian tinggi."

"Cie Hiong"

Wajah Ku Tek Cun berseri.

"Aku sungguh gembira, tapi akupun harus minta maaf kepadamu."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Tio Cie Hiong heran.

"Sebab dulu aku sering menghinamu. Aaakh, dulu aku memang terlampau sombong Setelah ayahku dan Phang Ling Hiang mati terbunuh, barulah aku menyadari akan kesalahanku itu. Cie Hiong, sudikah engkau memaafkan aku?"

Ku Tek Cun tampak bersungguh-sungguh.

"Itu telah berlalu, lagi pula aku tidak pernah membencimu."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Jadi engkau tidak perlu minta maaf kepadaku."

"cie Hiong...."

Ku Tek Cun menggeleng-ge-lengkan kepala, kemudian mengangkat cangkir yang di hadapan Tio Cie Hiong. Ketika mengangkat cangkir itu. Ku Tek Cun pun menjatuhkan sesuatu ke dalam cangkir.

"Aku mengangkat cangkir ini untukmu, engkau harus terima dan meneguknya, pertanda engkau sudi memberi maaf kepadaku"

"Baiklah-"

Tio Cie Hiong tersenyum. la menerima cangkir itu dan meneguknya sampai kering.

"Terima kasih, Cie Hiong"

Ku Tek Cun tertawa gembira.

"Engkau memang berjiwa besar mau memaafkan aku"

"Kita adalah teman, tentunya harus saling memaafkan"

Ucap Tio Cie Hiong dan tersenyum, la tidak tahu bahwa secara diam-diam Ku Tek Cun telah menaruh semacam racun ke dalam cangkir yang berisi air teh itu.

la girang bukan main karena Tio Cie Hiong telah meneguknya.

"Cie Hiong, aku masih ada urusan lain"

Ujar Ku Tek Cun.

"Maaf, aku mohon diri dulu"

Tio Cie Hiong mengangguk-Ku Tek Cun meninggalkan kedai itu, kemudian bersembunyi di balik pohon sambil mengintip ke arah Tio Cie Hiong.

la tahu, dalam waktu setengah jam, racun itu pasti bereaksi sehingga akan membuat Tio Cie Hiong mati keracunan.

Sementara Tio Cie Hiong masih bersantap.

Kira-kira setengah jam kemudian, barulah ia meninggalkan kedai itu.

Ku Tek Cun terbelalak dan tidak habis pikir, sebab Tio Cie Hiong tidak terjadi apa-apa.

la mana tahu, kalau Tio Cie Hiong lelah memakan buah Ling che, maka dirinya kebal terhadap racun apa pun.

justru sungguh mengherankan, padahal Tio Cie Hiong tiada dendam apa pun terhadap Ku Tek Cun, namun kenapa pemuda itu ingin membunuhnya dengan cara meracuninya?

Apabila Tio Cie Hiong tahu tentang itu, tentunya ia pun tidak habis pikir-Mungkinkah Ku Tek Cun masih merasa cemburu, karena Phang Ling Hiang pernah bersikap lembut dan baik terhadap Tio cie Hiong, ketika Tio cie Hiong bekerja di Hong Lui Po?

Tapi gadis itu telah mati, kenapa Ku Tek Cun masih merasa cemburu pada Tio Cie Hiong?

Bukankah aneh sekali?

Lagi pula pada waktu itu, usia Tio Cie Hiong masih kecil, mungkinkah ada sebab lain sehingga membuat Ku Tek Cun harus membunuh Tio Cie Hiong?

itu memang merupakan suatu teka-teki-Sementara itu di tempat lain, yakni di-markas pusat Kay Pang, tampak Lim Ceng Im terus menerus berjalan mondar-mandir di ruang dalam, la masih tetap berpakaian pengemis yang penuh tambalan, dan mukanya dekil sekali.

"Ceng Im"

Lim Peng Hang si Tongkat Maut, ketua Kay Pang mendekatinya sambil menggelenggelengkan kepala.

"Kenapa dari tadi engkau berjalan mondar-mandir di sini?"

"Ayah Apakah aku masih belum boleh pergi mengembara?"

Tanya Lim Ceng Im dengan wajah masam.

"Ceng Im"

Lim Peng Hang menarik nafas.

"Untuk sementara ini jangan, sebab rimba persilatan kelihatan dalam bahaya...."

"Ayah"

Lim Ceng Im membanting-banting kaki-"Kenapa engkau ingin pergi mengembara?"

Tanya Lim Peng Hang mendadak-"Aku... aku--"

Lim Ceng Im tergagap.

"ooooh"

Lim Peng Hang manggut-manggut sambil tertawa "Engkau pasti sangat merindukan Tio Cie Hiong, maka ingin pergi mencarinya, bukan?"

"Ayah sudah tahu kok masih bertanya?"

Sahut Lim Ceng Im dengan wajah agak kemerahmerahan.

"Ceng Im, apakah engkau tidak pernah menerima informasi dari para pengemis handal dalam Kay Pang kita?"

Lim Peng Hang menatapnya.

"Aku terus menerus memikirkan cie Hiong, mana ada waktu-"

Wajah Lim Ceng Im bertambah merah, sebab telah keterlepasan omong.

"Engkau terus menerus memikirkan cie Hiong?"

Lim Peng Hang tersenyum.

"Tidak heran badanmu menjadi kurus Cie Hiong mana mau gadis yang kurus kering?"

"Ayah"

Lim Ceng Im cemberut, kemudian tersenyum-senyum seraya berkata dengan suara lembut "Ayah memperbolehkan aku pergi mencarinya?"

"Wah"

Lim Peng Hang tertawa gelak.

"Bisa merayu juga nih?"

"Ayah"

Lim Ceng Im langsung melotot.

"Kalau ayah tidak memperbolehkan aku pergi mencarinya, aku-aku-."

"Akan kabur kan?"

Lim Peng Hang tertawa lagi.

"Ya-"

Lim Ceng Im mengangguk-"Ceng Im"

Ujar Lim Peng Hang serius sambil memandangnya-"Tentunya engkau belum tahu, bahwa kini Tio cie Hiong telah berkepandaian tinggi."

"oh?"

Wajah Lim Ceng Im berseri.

"Kok Ayah tahu?"

"Ayah telah menerima informasi tentang Tio cie Hiong, dia telah berkecimpung dalam rimba persilatan, selalu memberantas kejahatan."

Lim Peng Hang memberitahukan.

"oh, ya?"

Lim Ceng Im tertegun.

"Apakah dia telah banyak membunuh para penjahat?"

"Dia tidak pernah membunuh penjahat yang manapun, melainkan hanya memusnahkan kepandaian mereka."

"Ayah Apakah kepandaiannya sudah tinggi sekali?"

"Tentang itu belum begitu jelas. Namun dia telah memperoleh julukan Pek Ih sin Hiap."

"Pendekar sakti Baju Putih?"

"Ya."

Lim Peng Hang mengangguk dan menambahkan, julukannya itu sudah cukup terkenal dalam rimba persilatan."

"Ayah"

Wajah Lim Ceng Im cerah ceria.

"Kalau begitu, aku ingin cepat-cepat pergi mencarinya."

"Ceng Im"

Lim Peng Hang tersenyum.

"Kini kepandaianmu sudah cukup tinggi, maka ayah...."

"Ayah memperbolehkan aku pergi mencarinya?"

Tanya Lim Ceng Im cepat dan ia girang bukan main.

"Ng"

Lim Peng Hang mengangguk-"Terima kasih, Ayah"

Lir"

Ceng Im langsung merangkul ayahnya erat-erat.

"Iiih"

Goda Lim Peng Hang.

"engkau berbau keringat dan mukamu begitu dekil, Cie Hiong mana menyukaimu?"

"Ayah"

Lim Ceng Im cemberut.

"Bagaimana rencanamu?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Aku akan berangkat esok pagi,"

Jawab Lim Ceng Im, kemudian tersenyum sambil melanjutkan.

"Aku tetap berpakaian pengemis, muka ku pun tetap kubikin dekil."

"Eh?"

Lim Peng Hang terbelalak-"Kini engkau sudah boleh berpakaian wanita, tidak usah berpakaian pengemis lagi-"

"Ayah Aku justru ingin berpakaian pengemis dengan muka dekil,"

Ujar Lim Ceng Im dan tersenyum lagi-"Kalau begitu, bukankah dia tidak akan tahu kalau engkau seorang gadis?"

Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Aku punya cara istimewa untuk memperlihatkan asliku"

Jawab Lim Ceng Im serius.

"Bah-kan akan membuat kejutan."

"oh?"

Lim Peng Hang menatapnya, kemudian berkata menggoda-"Asal jangan membuatnya kelewat terkejut sehingga langsung kabur. Akhirnya engkau yang menggigit jari-"

"Ayah-""

Lim Ceng Im cemberut.

"Ceng Im"

Lim Peng Hang menatapnya dalam-dalam.

"Ayah harap engkau jangan membuat onar dalam rimba persilatan"

"Ya, Ayah"

Lim Ceng Im mengangguk-"Aku hanya ingin mencari kakak Hiong saja.Mudah-mudahan aku bisa bertemu dia dalam waktu singkat"

"Mudah-mudahan"

Ucap Lim Peng Hang sambil tersenyum.

-ooo00000ooo-Bab 22 Pek sim seng Li (Wanita suci Hati Putih) Tio Cie Hiong terus melanjutkan perjalanannya menuju markas pusat Partai Pengemis.

Tiba-tiba ia tersenyum karena teringat akan Lim Ceng Im, karena itu ia pun ingin lekas-lekas bertemu pengemis dekil itu.

Ketika Tio cie Hiong memasuki sebuah lembah, sekonyong-konyong melayang turun dua wanita muda di hadapannya.

Begitu melihat kedua wanita itu, Tio Cie Hiong pun teringat sesuatu.

"Apakah Anda Pek Ih sin Hiap bernama Tio Cie Hiong?"

Tanya salah seorang wanita muda itu sambil menjura.

"Betul."

Tio cie Hiong mengangguk dan balas menjura.

"Kalau begitu. Anda harus ikut kami"

"Kenapa aku harus ikut kalian?"

"Setelah sampai di tempat tujuan. Anda pasti mengetahuinya."

"Maaf Aku mau ke markas pusat Kay Pang, maka tidak bisa ikut kalian."

Tio Cie Hiong menatap mereka, kemudian bertanya.

"Apakah kalian berdua yang mencu... maksudku membawa pergi Gouw sian Eng, putri cit Pou Tui Hun-Gouw Han Tiong?"

"Benar."

Kedua wanita muda itu mengangguk sambil tersenyum.

"Kenapa kalian membawanya pergi? sungguh keterlaluan kalian berdua"

Tegur Tio Cie Hiong.

"Bikin susah Tui Hun Lojin dan membuat ayahnya cemas sekali"

"oh?"

Salah seorang wanita muda itu tertawa.

"Tadi engkau mau bilang kami menculik gadis itu, kan?"

"Ya."

Tio cie Hiong mengangguk.

"Kenapa tidak dicetuskan?"

Wanita muda itu tertawa lagi.

"Kalian berdua... tidak mirip wanita jahat, jadi aku tidak mau bilang begitu,"jawab Tio Cie Hiong menjelaskan.

"O0ooo"

Wanita muda itu manggut-manggut "Kalau begitu, engkau harus ikut kami"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Itu memang harus, sebab aku ingin bertemu sian Eng."

"Apakah gadis itu kekasihmu?"

Tanya wanita itu mendadak sambil tersenyum.

"Bukan. Tapi aku menganggapnya sebagai adik,"

Jawab Tio Cie Hiong jujur.

"Dia gadis baik dan lemah lembut,"

Ujar wanita muda itu.

"Nah, mari ikut kami"

Tio Cie Hiong mengangguk-Kemudian kedua wanita muda itu melesat pergi menggunakan ginkang.

Tio Cie Hiong sebera mengikutinya dengan menggunakan ginkang juga.

Kedua wanita muda itu saling memandang sambil memberi isyarat, kemudian mereka melesat lebih cepat.

Namun Tio Cie Hiong tetap mengikuti mereka dengan jarak yang sama.

Kedua wanita muda itu kelihatan penasaran, maka mereka melesat lebih cepat lagi.

Tio Cie Hiong tersenyum, la tahu kedua wanita muda itu sedang menguji ginkangnya.

Karena itu, ia pun mengerahkan Pak Yok Hian Thian sin Kang, sehingga badannya melesat laksana kilat melewati kedua wanita muda itu.

Bukan main terkejutnya kedua wanita muda itu.

Mereka berdua tidak menyangka kalau Tio Cie Hiong yang masih belia itu memiliki ginkang begitu tinggi, maka timbullah rasa kagum dalam diri hati mereka.

Berselang beberapa saat kemudian, kedua wanita itu berhenti, begitu pula Tio cie Hiong.

Ternyata mereka berhenti di depan dinding tebing, maka membuat Tio Cie Hiong keheranan.

"Kenapa kalian berdua mengajakku ke mari?"

"Memang harus ke mari,"

Sahut salah seorang wanita muda itu sambil tersenyum.

"Gin-kangmu sungguh tinggi, maka kami kagum sekali pada mu."

Tio Cie Hiong hanya tersenyum, sedangkan wanita muda yang satu lagi memutar sebuah batu yang ada di situ. Kreeek Dinding tebing itu terbuka dan tampak sebuah goa.

"Mari ikut kami ke dalam"

Ujar salah seorang wanita muda itu.

Tio Cie Hiong mengangguk-Kemudian kedua wanita muda itu melangkah masuk, dan Tio cie Hiong mengikuti mereka dari belakang, setelah ketiga-tiganya masuk, dinding tebing itu tertutup kembali.

Akan tetapi, goa itu tetap terang sehingga membuat Tio cie Hiong terheran-heran.

"Jangan heran"

Ujar salah seorang wanita muda itu memberitahukan.

"Dinding goa ini terdapat semacam batu yang memancarkan cahaya, maka goa ini menjadi terang."

"ooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

Goa tersebut mirip sebuah terowongan.

Kedua wanita muda itu terus berjalan ke dalam.

dan Tio Cie Hiong terus mengikuti mereka.

Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di ujung goa dan melihat sinar yang terang benderang di luar.

Begitu keluar dari goa itu, Tio cie Hiong terbelalak karena menyaksikan pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan.

Ternyata tempat itu merupakan sebuah lembah-Di lembah itu terdapat air terjun dan taman bunga bwee-Akan tetapi, taman bunga Bwee itu tampak agak aneh "Setelah melewati taman bunga dan sebuah kolam besar, kita sudah sampai di tempat tujuan."

Salah seorang wanita muda itu memberitahukan.

"Taman bunga bwee itu kok kelihatan agak aneh?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil memandang taman bunga bwee itu.

"Taman bunga bwee itu merupakan semacam formasi, yang orang bisa masuk tapi sulit keluar."

Jawab wanita muda itu "Maka engkau harus mengikuti langkah kami."

"Maksudmu semacam formasi Ngo Heng?"

Tanya Tio Cie Hiong tertarik. sebab Thian Thay siansu pernah menjelaskan tentang berbagai macam formasi tersebut kepadanya.

"Ya."

Wanita muda itu mengangguk,-"Kalau begitu.."

Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Bolehkah aku mencoba berjalan sendiri ke dalam taman bunga bwee itu?"

Kedua wanita itu saling memandang, berselang sesaat barulah, mereka mengangguk-"Baiklah,"

Sahut kedua wanita muda itu serentak-Perlahan-lahan Tio Cie Hiong berjalan ke dalam taman bunga bwee itu setelah ia masuk, mendadak pohon-pohon bwee itu bergerak, makin lama makin cepat sehingga memusingkan Tio Cie Hiong.

Pemuda itu segera duduk bersila, sedangkan pohon-pohon bwee itu masih terus bergerak dan berputar.

Tio Cie Hiong memejamkan matanya, lalu mengerahkan Pan yok Hian Thian sin Kang.

setelah itu, ia membuka matanya, dan seketika ia terbelalak karena tempat itu telah berubah gelap, bahkan terdengar suara hembusan angin dan suara halilintar yang memekakkan telinga.

Tio Cie Hiong memandang dengan penuh perhatian, kemudian bangkit berdiri lalu berjalan.

Entah berapa lama, barulah ia berhenti, tetapi ternyata ia masih berada di tempat itu.

Diam-diam ia mengakui akan kelihayan formasi pohon-pohon bwee itu.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, seketika juga wajahnya berseri dan langsung melesat ke atas berjungkir balik di udara sehingga badannya melambung ke atas lagi.

Pohon-pohon bwee itu juga ikut meluncur ke atas, namun tidak secepat gerakan Tio Cie Hiong, maka akhirnya ia berhasil menginjak ujung salah satu pohon bwee itu Kemudian ia bergerak lagi menggunakan Kiu Kiong san Thian Pou, sehingga tubuhnya berkelebatan laksana kilat, setelah itu ia pun berhasil melewati formasi pohon bwee tersebut.

Ketika sepasang kakinya menginjak tanah, ia melihat kedua wanita muda itu memandangnya dengan mata terbelalak-"Aku berhasil, kan?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum-"Bukan main sungguh luar biasa sekali"

Gumam kedua wanita muda itu-"Apakah sekarang kita harus melewati sebuah kolam?"

Tanya Tio Cie Hiong-"Ya-"

Salah seorang wanita muda itu mengangguk-"Mari ikut kami-"

Tio Cie Hiong mengikuti kedua wanita muda itu, dan tak seberapa lama mereka sudah tiba di pinggir sebuah kolam besar.

Air kolam itu berbuih dan mengepulkan asap.

Begitu lihat, Tio Cie Hiong sudah tahu bahwa air kolam itu mengandung racun.

"Apakah aku harus melewati kolam ini?"

Tanya Tio Cie Hiong sambil memandang ke seberang. Dari tempat ia berdiri ke seberang berjarak lima puluhan depa.

"Ya."

Salah seorang wanita muda itu mengangguk-"Kali ini engkau harus mengikuti langkah kami,"

"oh?"

Tio Cie Hiong tersenyumsekonyong-konyong di dalam kolam itu muncul puluhan buah batu berbentuk segi empat, lalu secara tersusun batu itu menuju seberang.

"Kita harus menginjak batu-batu itu ke seberang, namun tidak boleh salah injak-"

Ujar salah seorang wanita muda itu menjelaskan.

"Apabila salah injak, maka batu itu akan tenggelam-"

"orang yang menginjak batu itu pasti tenggelam juga-"

Ujar Tio Cie Hiong sambil mengerutkan kening.

"Dan pasti mati keracunan, bukan?"

"Ya."

Kedua wanita muda itu mengangguk,-"Sungguh ganas racun itu"

Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala-"Siapa yang menaburkan racun ke dalam kolam itu?"

"Itu kolam alam, air kolam itu memang mengandung racun."

Salah seorang wanita muda itu memberitahukan.

"Jadi tidak ditaburi racun."

"ooooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut, kemudian tersenyum.

"Aku akan menyeberang."

Mendadak Tio Cie Hiong melesat ke depan, Itu sungguh mengejutkan kedua wanita muda, sehingga wajah mereka langsung berubah pucat pias.

Tapi kemudian mereka berdua malah terbelalak dengan mulut ternganga lebar.

Ternyata Tio Cie Hiong telah berhasil menyeberang, dengan empat kali jungkir balik saja.

Tio Cie Hiong berdiri di seberang sambil tersenyum-senyum.

la melihat kedua wanita muda itu berloncat-loncat di permukaan kolam, dan tak lama sudah sampai di seberang.

"ginkangmu...."

Kedua wanita muda itu menatap Tio Cie Hiong dengan mata tak berkedip sama sekali.

"Ayoh, mari ikut kami"

Kedua wanita muda itu mengajak Tio Cie Hiong ke sebuah goa besar.

Ketika sampai di dalam Tio Cie Hiong terbeliak, karena goa besar itu bergemerlapan.

Tampak puluhan butir mutiara menempel di dinding goa memancarkan cahaya.

Makin ke dalam goa itu makin luas dan makin terang pula.

Bukan main indahnya tempat itu, membuat Tio Cie Hiong kagum dan takjub.

Tampak seorang wanita duduk di sebuah kursi batu.

Wanita itu berusia lima puluhan, namun masih tampak anggun, la mengenakan jubah putih yang terbuat dari bahan sutera.

"seng Li (Wanita suci)"

Ucap kedua wanita muda itu sambil memberi hormat.

"Kami telah berhasil membawa Tio Cie Hiong kemari."

"Ng"

Wanita itu manggut-manggut kemudian menatap Tio Cie Hiong dengan penuh perhatian.

"Tahukah engkau kenapa aku mengutus siauw Loan dan siauw Ing pergi menjemputmu ke mari?"

"Tidak tahu."

Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.

"Engkau bernama Tio Cie Hiong. Tahukah engkau siapa kedua orang tuamu?"

Tanya wanita itu mendadak.

"Tahu."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Ayahku adalah Hui Kiam Bu Tek Tio Hiang, ibuku adalah sin Pian Bijin Lie Hui Hong."

"Aaaakh..."

Wanita itu menghela nafas dan matanya tampak bersimbah air.

"Eng kau tahu masih punya seorang kakak?"

"Kakakku adalah Tio suan suan."

"Cie Hiong...."

Mendadak wanita itu terisak-isak-"Tahukah engkau siapa aku?"

"Maaf, aku tidak tahu"

"Nak"

Air mata wanita itu telah meleleh-"Aku adalah Pek sim seng Li (Wanita suci Hati Putih) Lie Mei Hong...."

"Apa?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Jadi seng Li adalah bibiku?"

"Ya"

Pek sim seng Li mengangguk-"Bibi"

Panggil Tio Cie Hiong dan langsung menjatuhkan diri untuk berlutut.

"Bangunlah, Nak"

Ujar Pek sim seng Li sambil tersenyum lembut.

Tio Cie Hiong bangkit berdiri, lalu memandang Pek sim seng Li dengan air mata berderai-derai, ia sama sekali tidak menyangka, Pek sim seng Li adalah adik ibunya-"Bibi Kakakku telah mati-"

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Apa?"

Wajah Pek sim seng Li berubah murung.

"Dia-dia kok mati?"

Tio Cie Hiong menutur tentang kejadian yang menimpa kakaknya. Pek sim seng Li menghela nafas setelah mendengar penuturan Tio Cie Hiong.

"Aku tidak tahu tentang keempat Dhalai Lhama Tibet itu, namun aku yakin mereka berempat berkepandaian tinggi, maka engkau harus hati-hati terhadap mereka."

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk,-"Jangan terus berdiri"

Pek sim seng Li tersenyum lembut.

"Duduklah"

Tio Cie Hiong duduk di hadapan Pek sim seng Li, kemudian bertanya sambil memandangnya -"Kenapa Bibi menyuruh kedua wanita itu membawa Gouw sian Eng ke mari?"

"Nak Kedua wanita itu pelayanku, panggil saja mereka kakak siauw Loan dan kakak siauw Ing"

Pek sim seng Li memperkenalkan kedua wanita muda itu.

"Ya-"

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kira-kira setengah tahun talu, aku mengutus kedua pelayanku itu ke gunung Wu san. Aku pun berpesan kepada mereka, apabila bertemu anak gadis yang berbakat, harus dibawa pulang."

Pek sim seng Li memberitahukan.

"Kenapa Bibi mengutus mereka ke gunung Wu san?"

Tanya Tio Cie Hiong heran.

"Untuk mengundang Sok Beng Yok ong (Raja obat Penyambung Nyawa) ke mari, namun dia telah meninggal."

Pek sim seng Li menghela nafas.

"Kenapa Bibi ingin mengundang Sok Beng Yok ong ke mari?"

Tio Cie Hiong bertambah heran.

"Setahun lalu, aku menderita semacam penyakit aneh-"

Pek sim seng Li menjelaskan.

"Aku telah makan obat ini dan itu, tapi tidak bisa sembuh."

"Bibi tidak mengundang tabib lain ke mari?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"sudah puluhan tabib kuundang ke mari, tapi tiada satu pun yang dapat menyembuhkan penyakitku."

Pek sim seng Li menggeleng-geleng-kan kepala.

"sebetulnya Bibi menderita sakit apa?"

Tio Cie Hiong ingin mengetahuinya.

"Justru sungguh mengherankan, tujuh delapan bulan lalu, tiba-tiba sepasang tangan dan kakiku tak bertenaga sama sekali, setelah itu akupun sering kedinginan."

"Bibi Bolehkah aku memeriksa nadi Bibi?"

"Nak"

Pek sim seng Li menatapnya heran.

"Apakah engkau mengerti ilmu pengobatan?"

"sedikit."

Tio Cie Hiong tersenyum, lalu mulai memeriksa nadt Pek sim seng Li, setelah itu ia manggut-manggut.

"Bagaimana?"

"Ternyata ada beberapa jalan darah yang tersumbat."

Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Itu disebabkan terjadi suatu kesalahan di saat Bibi mengerahkan Iweekang, jadi tidak bisa disembuhkan dengan obat, harus ditembusi dengan Iweekang orang lain."

"oh?"

Pek sim seng Li mengerutkan kening.

"Kalau begitu harus bagaimana?"

"Bibi, aku bisa melakukannya."

Tio Cie Hiong tersenyum, lalu mengerahkan Pan yok Hian Thian sin Kang ke dalam tubuh Pek sim seng Li.

seketika juga Pek sim seng Li merasakan adanya hawa hangat mengalir ke dalam tubuhnya, membuatnya merasa nyaman sekali.

Berselang sesaat, barulah Tio Cie Hiong berhenti-"Kini Bibi sudah sembuh"

Katanya.

"Nak"

Pek Sim Seng Li memandangnya kagum.

"Engkau memang hebat dan luar biasa sekali Mampu melewati formasi pohon bwee dan dapat pula melewati kolam beracun itu hanya dengan empat kali jungkir balik-"

"Bibi menyaksikan itu?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Ya."

Pek sim seng Li mengangguk-"ohya. Bibi"

Tanya Tio Cie Hiong mendadak-"Bagaimana Bibi bisa tahu tentang diriku, sehingga mengutus siauw Loan dan siauw Ing pergi menjemputku ke mari?"

"Itu dikarenakan sian Eng pernah bergumam menyebut namamu, kemudian aku bertanya lalu mengutus siauw Loan dan siauw Ing pergi mencarimu."

Pek sim seng Li memberitahukan.

"Bibi, di mana sian Eng?"

"Dia sedang melatih seng Li sin Kang (Tenaga sakti Wanita suci) dan seng Li Kiam Hoat (Ilmu Pedang Wanita suci), jadi untuk sekarang ini tidak boleh diganggu."

"oooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"ohya, tahukah Bibi Ku Tok Lojin berada di mana?"

"Tentunya engkau sudah tahu. Ku Tok Lojin itu kakekmu. Beberapa tahun lalu, kakekmu ke mari dalam keadaan sakit, dan tak lama...."

Pek sim seng Li menghela nafas.

"Kakek sudah meninggal?"

"ya."

Pek sim seng Li menatapnya.

"Nak. engkau harus menuntut balas dendam kedua orang tuamu dan dendam kakakmu"

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk-"Bibi...."

"Katakankaniah, Nak"

Pek sim seng Li tersenyum lembut.

"Jangan ragu"

"Ayah Sian Eng sangat mencemaskannya, maukah Bibi menyuruh Sian Eng menulis sepucuk surat kepada ayahnya?"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Tentu mau. siauw Loan, cepat ke ruang rahasia menyuruh sian Eng menulis sepucuk surat untuk ayahnya"

"ya, seng Li."

Siauw Loan segera masuk ke dalam.

"Nak"

Ujar Pek sim seng Li memberitahukan.

"Aku tidak bisa mewariskan kepandaian kepadamu, sebab kepandaianmu jauh lebih tinggi d ariku. Tapi aku akan menjelaskan kepadamu tentang berbagai macam alat rahasia untuk mengontrol berbagai macam jebakan."

"Terima kasih, Bibi"

Ucap Tio Cie Hiong girang. Pek sim seng Li mulai menjelaskan tentang itu, dan Tio Cie Hiong mendengarkan dengan penuh perhatian, setelah usai menjelaskan, Pek sim seng Lipun memberitahukan.

"Nak. aku murid Kiu Thian seng Bo (Ibu suci Langit sembilan). Puluhan tahun lampau guruku pernah memunculkan diri tiga kali dalam rimba persilatan. Karena hanya tiga kali, maka guruku tidak begitu terkenal. Tapi guruku berkepandaian tinggi, kebetulan aku bertemu beliau, maka aku dijadikan muridnya, seng Li sin Kang dan seng Li Kiam Hoat hanya boleh diwariskan kepada anak gadis, maka kini kuwariskan kepada sian Eng."

"Ooooh"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Aku harus memberitahukan kabar gembira ini kepada ayahnya"

Siauw Loan sudah muncul, ia menyerahkan sepucuk surat pada Tio Cie Hiong, yaitu surat dari Gouw sian Eng untuk ayahnya. Tio Cie Hiong menerima surat tersebut lalu disimpan dalam bajunya.

"Terima kasih. Kakak Siauw Loan"

"Sama-sama"

Sahut Siauw Loan sambil tersenyum.

"Bibi Aku mau mohon pamit"

Ujar Tio Cie Hiong sambil bangkit berdiri.

"Baiklah."

Pek Sim Seng Li mengangguk.

"Nak, apabila urusanmu telah selesai, jangan lupa datang ke mari"

"Ya"

Tio Cie Hiong mengangguk.

-ooo00000ooo-Sementara itu, di dalam istana Thian mo telah berlangsung pembicaraan yang sangat serius, yaitu antara Bu Lim Sam Mo, Empat Dhalai Lhama Tibet, Im yang Hoatsu.

Ku Tek Cun dan beberapa tokoh tua dari golongan hitam.

Sungguh di luar dugaan, ternyata Empat Dhalai Lhama dan Im yang Hoatsu telah bergabung dengan Bu Lim Sam Mo.

yang lebih di luar dugaan lagi justru Ku Tek Cun, karena ia murid Bu Lim sam Mo.

"Kini kekuatan kita sudah cukup, maka tidak perlu bergerak secara sembunyi-sembunyi lagi."

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 8

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert