Ceritasilat Novel Online

Suling Emas 10

Eps 10 Suling Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Emas - Kho Ping Hoo.

Karta Lu Sian tenang saja. Coa Kim Bwee memberi perintah kepada para pengawal untuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan, lalu berkata.

"Harap Cici suka pulang dulu dan mengaso, saya harus memberi laporan kepada Baginda."

Memang pada waktu itu, pengawal dalam dari Kaisar telah keluar, yaitu dua orang thaikam (orang kebiri) yang mewakili junjungan mereka untuk memeriksa keributan diluar istana.

Ketika Coa Kim Bwee kembali ke kamar Lu Sian, ia memeluk gurunya ini dengan penuh kagum.

"Cici kepandaianmu hebat sekali! Raja sendiri telah mendengar akan jasamu dan beliau memerintahkan saya memanggil Cici menghadap."

Lu Sian mengerutkan kening.

"Ehhh...? Aku... tidak suka..."

"Akan tetapi, Cici. Sepak terjangmu tadi disaksikan banyak pengawal dan para thaikam tentu memberi laporan. Bukan aku yang membocorkan kehadiranmu disini. Jangan khawatir, beliau hanya akan menyampaikan penghargaannya, dan akulah yang menanggung bahwa Cici takkan mendapat susah dan tetap akan bebas. Pula... eh..."

Wanita itu tertawa genit.

"Bukan hanya raja yang kagum kepadamu, Cici. Juga disana akan hadir semua pangeran dan panglima muda, bukankah ini kesempatan baik untuk... eh, belajar kenal dengan mereka?"

Lu Sian tersenyum dan mengerling genit.

"Iihhh! Tentu hanya pangeran-pangeran dan panglima-panglima pucat dan panglima-panglima bopeng (cacat)!"

"Hi-hi-hik! Siapa bilang? Masa saya berani berdusta? Cici lihat saja. Ada Pangeran Kang yang tampan seperti gadis cantik berpakaian pria, ada pula Pangeran Liang yang gagah perkasa, bertubuh seperti seekor harimau jantan. Dua orang pangeran ini termasuk pangeran-pangeran yang sukar didekati, saya sendiri tidak pernah berhasil. Barangkali Cici..."

"Ihh! Kalau kau saja mereka tolak, apalagi aku yang lebih tua!"

"Lain lagi engkau dan aku, Cici. Kau lebih cantik, lebih menarik, pula kepandaianmu istimewa. Masih ada lagi beberapa orang panglima yang tampan dan ganteng, pendeknya Cici takkan kecewa, tinggal pilih..."

"Sudahlah, kita tidur. Besok saja kita lihat..."

Demikianlah, dua orang wanita yang menjadi hamba nafsu itu tidur mengaso.

Pada keesokan harinya, Lu Sian diajak Coa Kim Bwee menghadap Raja dan benar saja, Lu Sian menjadi pusat perhatian, bukan hanya oleh Raja, akan tetapi juga oleh para pangeran dan panglima yang merasa amat kagum.

Dan benar pula seperti yang dikatakan Kim Bwee, disitu hadir pangeran-pangeran yang amat tampan dan panglima-panglima yang amat gagah.

Raja sendiri amat ramah menyambut Lu Sian.

Raja kerajaan Hou-han ini amat pandai dan cerdik.

Ia maklum bahwa kerajaannya selalu dimusuhi pihak yang ingin meruntuhkannya, oleh karan ini ia perlu membaiki para tokoh pandai.

Dengan ucapan manis ia menyatakan syukur dan terima kasihnya atas bantuan Lu Sian dan melihat kenyataan bahwa Lu Sian adalah kakak angkat selirnya yang ke tujuh, raja menganugerahkan gelar Pelindung Dalam Istana kepada Lu Sian dan memberi kebebasan kepada Lu Sian untuk pergi kemana saja dalam istana tanpa ijin lagi.

Kehormatan besar yang hanya dimiliki permaisuri dan kepala pengawal!

Kemudian ia memberi hadiah sutera-sutera halus dan perhiasan ketika Lu Sian diberi perkenan mengundurkan diri.

Setelah kembali kekamar sendiri, Kim Bwee berseru girang.

"Wah, Raja suka kepadamu, Cici. Kalau kau mau..."

"Hush! Kau mau samakan aku denganmu? Selera kita berbeda, Kim Bwee. Siapa suka melayani laki-laki setengah tua yang jenggotnya kasar itu? Tidak, aku tidak mau. Kalau Raja memaksa, aku akan minggat dari sini."

Coa Kim Bwee tertawa.

"Jangan kuatir, Cici. Saya dapat membujuk raja dan menyatakan bahwa kau sudah menjauhkan diri daripada pria. Beliau membutuhkan kepandaianmu, tentu tidak akan memaksa. Bagaimana pendapat Cici tentang para pangeran dan panglima muda? Hebat, kan?"

Lu Sian tersenyum, memainkan biji matanya.

"hebat sih hebat, akan tetapi sebagai wanita, bagaimana aku dapat mendekati mereka? Kau sendiri bilang, mereka itu sukar didekati." (Lanjut ke

Jilid 23) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23

"Ihh, siapa berani menolak Cici? Tadi pun kulihat mereka melirak-lirik kearah Cici penuh kagum dan mengilar! Kalau memang Cici ada hasrat berkenalan, aku ada jalan untuk mempertemukan Cici dengan mereka."

Selir ke tujuh Kaisar ini benar-benar pandai mengambil hati sehingga Lu Sian merasa gembira sekali.

Setelah berjanji akan menurunkan Ilmu Pukulan Tangan Api Merah kepada Kim Bwee, Lu Sian lalu mengatakan tanpa malu-malu lagi bahwa diantara para muda yang hadir tadi, ia tertarik kepada dua orang pangeran dan seorang panglima muda.

"Hi-hi-hik! Siapa bilang selera kita tidak cocok?"

Kim Bwee bersorak.

"Dan dua orang pangeran itu adalah Pangeran Kang yang kuilt mukanya halus seperti wanita, dan Pangeran Liang yang gagah seperti harimau. Cocok, bukan? Dan panglima muda itu adalah seorang jejaka asli, usianya baru dua puluh tahun, kuat seperti seekor kuda jantan dan pandai mainkan golok. Ganteng, ya? Terutama sekali kumisnya yang tipis dan dagunya. Hemm...!"

Dengan lagak genit Kim Bwee meramkan matanya dan menelan ludah.

"Cihh! Genit benar engkau, Kim Bwee. Bagaimana kau hendak atur agar aku dapat berkenalan dengan mereka?"

"Mudah saja, mudah saja! Setelah Cici menjadi Pelindung Dalam Istana ini, sudah sewajarnya Cici mengadakan makan-makan dalam pesta perkenalan. Aku akan mengundang mereka dalam pesta, siapa bilang mereka akan berani menolaknya?"

Malam hari itu, ditemani oleh Coa Kim Bwee, Lu Sian tercapai hasrat hatinya, makan minum semeja dengan tiga orang muda yang ganteng tampan, Pangeran Kang, Pangeran Liang dan Panglima Muda Cu Bian.

Ketiga orang muda ini tentu saja mereka tidak enak untuk menolak undangan Lu Sian yang kini dikenal sebagai Sian-toanio (Nyonya Besar Sian), pelindung istana yang memiliki kepandaian tinggi.

Biarpun dengan malu-malu, mereka merasa girang juga dapat berkenalan denga tokoh hebat ini dan bau semerbak harum di kala mereka makan bersama, membuat hati muda mereka berdebar-debar.

Memang mereka semua maklum akan kegenitan selir ke tujuh kaisar yang sudah lama menggoda mereka, akan tetapi mereka tidak berani melayani karena mereka adalah orang-orang gagah yang tidak melakukan perbuatan hina.

Akan tetapi, kecantikan dan kesaktian Sian-toanio benar-benar mengguncangkan hati dan pertahanan mereka.

Karena kini Lu Sian bebas mengunjungi bagian mana saja dalam lingkungan istana, akhirnya kedua orang Pangeran Kan dan Liang roboh dalam pelukannya, tidak kuat menahan goda dan bujuk rayunya.

Orang-orang muda yang kurang pengalaman ini tentu saja mudah dipermainkan Lu Sian yang sewaktu-waktu diwaktu malam dapat mengunjungi kamar mereka, dapat melakukan semua ini tanpa terlihat pengawal atau orang lain karena ia mempergunakan kepandaiannya yang tinggi.

Akan tetapi dasar moralnya sudah bejat rusak, Lu Sian masih belum puas dengan hasil kemenangan-kemenangan ini.

Sudah banyak ia berhasil menjadikan pangeran-pangeran dan panglima muda tunduk dan menjadi kekasihnya.

Ia berpesta pora dengan pangeran-pangeran ganteng dan panglima-panglima gagah, namun satu hal membuat ia kecewa dan penasaran.

Yaitu Panglima Muda Cu Bian yang sampai berbulan-bulan belum juga mau menyerah!

Panglima muda ini benar-benar keras hati dan setiap kali Lu Sian datang, melayani wanita ini dengan sopan dan keras, tidak mau tunduk dan tak pernah menyatakan tanda-tanda runtuh dibawah sikap manis dan bujuk rayu.

Malam itu, untuk kesekian kalinya Lu Sian yang merasa penasaran mendatangi kamar Panglima Muda Cu Bian.

Pemuda ini tengah membaca kitab di dalam taman di luar kamarnya, di bawah penerangan lampu kehijauan.

Ketika melihat bayangan berkelebat, Cu Bian cepat melompat berdiri dan siap karena pada masa itu memang tidak aneh kalau ada musuh datang di waktu tengah malam.

Akan tetapi ketika melihat bahwa yang datang adalah Lu Sian ia tersenyum dan berkata.

"Ah, kiranya Sian-toanio yang datang. Silakan duduk!"

Lu Sian tersenyum manis dan duduk di atas bangku depan pemuda itu sambil berkata.

"Cu-ciangkun benar-benar rajin sekali, asyik mempelajari kitab apakah?"

Cu Bian tersenyum dengan muka merah.

"Ah, Toanio, sungguh malu kalau bicara tentang ilmu didepanmu. Aku terlalu bodoh untuk memahami isi kitab ini."

"Ilmu apakah yang berada dalam kitab?"

"Ilmu Sia-kut-hoat (Lemaskan Tulang)."

"Ah, Ciangkun sudah begini lihai masih mempelajari Sia-kut-hoat?"

Cu Bian cepat berdiri dan menjura.

"Harap Toanio jangan mentertawakan aku yang masih bodoh."

Lu Sian menutupi mulutnya menyembunyikan tawa.

"Para panglima disini benar-benar pandai merendahkan diri. Ciangkun, apakah kau menemui kesukaran dalam pelajaran Sia-kut-hoat?"

"Benar, Toanio."

"Hemm, apakah sukarnya? Kurasa mudah saja mempelajari ilmu ini. Kalau Ciangkun suka, boleh saja aku mengajarmu sampai berhasil."

"Sungguh? Ah, terima kasih, Toanio, terima kasih."

"Ciangkun suka?"

"Tentu saja saya suka, kalau tidak terlalu mengganggu Toanio."

"Ilmu Sia-kut-hoat berinti kepada pengguna hawa sakti dalam tubuh. Akan tetapi untuk mengetahui sampai dimana tingkat Ciangkun, harap Ciangkun memberi petunjuk sebentar. Mari kita main-main sebentar, Ciangkun boleh saja menggunakan golokmu yang terkenal ampuh, dan akan kuperlihatkan betapa Sia-kut-hoat dapat melawannya."

"Mana saya berani? Tak usah dengan senjata, baik dengan tangan kosong saja, akan tetapi harap Toanio jangan mentertawai kebodohanku."

Lu Sian berdiri dan tersenyum manis.

"Tangan kosong pun boleh. Nah, silakan, Ciangkun."

Karena mendapat janji akan diberi pelajaran Ilmu Sia-kut-hoat yang amat ia inginkan, pemuda ini memenuhi permintaan Lu Sian, lalu menyimpan bukunya dan berdiri menghadapi Lu Sian.

Akan tetapi karena ia merasa sungkan-sungkan, ia menjura dan memberi hormat.

"Harap Toanio maafkan kelancanganku."

"Tak usah Ciangkun sungkan, mulailah."

"Toanio, awas serangan!"

Sambil berkata demikian Cu Bian menyerang dengan pukulan ke arah pundak.

Pukulan ini seharusnya menuju ke dada, akan tetapi Cu Bian yang pemalu merasa tidak pantas memukul dada dalam latihan maka memukul pundak.

Diam-diam Lu Sian menjadi gemas.

Pemuda ini amat pemalu dan terlalu sopan, pikirnya.

Ia segera mengangkat tangannya menangkis, sengaja bergerak perlahan dan lambat.

Sebagai seorang ahli silat yang sudah pandai, tentu saja Cu Bian melihat kelambatan ini.

Betapapun juga ia seorang panglima muda yang sudah terkenal, tentu saja dalam pertandingan ilmu silat, ia ingin mencari kemenangan.

Melihat tangkisan lambat ini, kepalan tangannya dibuka dan ia menangkap lengan Lu Sian sambil menariknya.

Tepat sekali tangannya berhasil mencengkeram kulit lengan yang halus dan hangat.

Akan tetapi mendadak sekali pegangan yang erat itu terlepas seakan-akan lengan itu seekor belut atau ular yang licin, dan seakan-akan tulang lengan itu lenyap.

Ia kaget sekali.

"Nah, itulah kegunaan Sia-kut-hoat, Ciangkun. Kau boleh menangkapku lagi dimana saja!"

Tantang Lu Sian sambi tersenyum. Cu-ciangkun masih belum mau percaya.

"Maaf, Toanio!"

Katanya dan ia bergerak maju, kedua tangannya cepat sekali berhasil menangkap kedua lengan Lu Sian dan kini ia mengerahkan tenaga, jari-jari tangannya mencengkeram.

Dengan mulut tetap tersenyum Lu Sian berkata.

"Yang keras, Ciangkun, lebih keras lagi."

Cu Bian penasaran sekali dan mempererat pegangannya, tidak peduli lagi apakah pegangannya itu akan meyakitkan, bahkan ia lalu mempergunakan cengkeraman dari Ilmu Silat Eng-jiauw-kang (Ilmu Cakar Garuda).

Dengan ilmu ini, ia berani mencengkeram senjata tajam lawan, maka kini memegang lengan halus, dapat dibayangkan betapa kuatnya.

Namun tiba-tiba Lu Sian mengeluarkan suara lirih dan...

tahu-tahu kedua lengannya sudah terlepas lagi dari cengkeraman Cu Bian!

"Hebat...!"

Cu Bian berseru girang.

"Cu-ciangkun, kalau hanya mencoba dengan lengan saja, tentu akan dikira bahwa Sia-kut-hoat hanya dapat dipakai untuk melemaskan tulang lengan. Cobalah sekarang Ciangkun menangkapku seperti orang menangkap pencuri, boleh Ciangkun menjepit tubuhku dengan kedua lengan boleh kau rangkul dan jepit."

Seketika wajah Cu Bian menjadi merah.

"Ini... ini... mana saya berani...?"

"Ihh, Ciangkun mengapa sungkan-sungkan dan malu-malu? Bukankah kita ini sedang berlatih menguji ilmu? Hayo, lakukanlah jangan ragu-ragu. Sebaiknya Ciangkun menggunakan ilmu menangkap yang paling kuat, membekuk leherku melalui bawah kedua lenganku keatas."

Berdebar jantung Cu Bian.

Dilubuk hatinya ia amat mengagumi wanita ini, kagum akan ilmu kepandaiannya, juga kagum akan kecantikannya.

Akan tetapi dia bukanlah seorang pemuda hidung belang, dan ia selalu menjaga kesopanan dan menjaga nama.

Kalau saja ia tidak amat ingin mempelajari Sia-kut-hoat, agaknya ia akan berkeras menolak.

Merangkul seperti itu sama saja dengan memeluk, pikirnya.

"Aku... aku... tidakkah itu berarti saya berani kurang ajar terhadap Toanio?"

Ia masih membantah dan ragu-ragu.

Makin gemas hati Lu Sian.

Benar-benar seorang pemuda istimewa.

Belum pernah ia bertemu dengan pemuda yang begini pemalu dan tahan uji dan kuat menahan perasaan.

"Cu-ciangkun, bagaimana ini? Aku sedang memberi petunjuk tentang Sia-kut-hoat yang ingin kau pelajari, mengapa begini saja kau keberatan? Ada apakah terselip dalam hatimu?"

Makin bingung dan guguplah Cu Bian mendengar ini.

Celaka, pikirnya.

Keraguanku ini bahkan menimbulkan kesan bahwa memang hatiku memikirkan hal-hal kurang layak!

Ia segera melangkah maju dan berkata tegas.

"Baiklah, Toanio!"

Lu Sian tersenyum mengejek lalu membalikkan tubuhnya, mengangkat kedua lengannya ke atas.

"Nah, kau bekuklah aku!"

Cu Bian mendorong kedua lengannya melalui bawah lengan Lu Sian, lalu membalikkan tangan ke atas dan kedua tangannya bertemu diatas tengkuk Lu Sian.

Jantungnya berdebar makin keras dan pemuda ini memejamkan matanya menggigit bibir!

Kasihan sekali pemuda yang hijau ini.

Mana ia tidak merasa "tersiksa"

Ketika kedua lengannya merasai kulit leher yang halus, dadanya merapat pada punggung yang lunak, hidungnya dekat sekali dengan rambut yang harum semerbak?

Demi kesopanan ia agak mengundurkan tubuhnya dan pelukannya pada leher mengendur.

"Eh-eh, bagaimana ini? Kalau cara Ciangkun membekuk pencuri selemah ini, tanpa Sia-kut-hoat sekalipun akan mudah lepas. Jangan sungkan-sungkan, Ciangkun. Atau... kuatirkan engkau kalau-kalau leherku akan patah?"

Cu Bian makin bingung dan terpaksa sekali ia mengerahkan tenaga mempererat kedua lengannya yang membekuk leher dan untuk melakukan ini, terpaksa pula ia merapatkan dadanya ke punggung Lu Sian.

Jantungnya berdebar kencang sekali, darahnya berdenyut-denyut dan kepalanya menjadi pening, napasnya terengah-engah!

Lu Sian tersenyum, hampir terkekeh geli.

Tentu saja ia dapat merasakan betapa dada bidang dan keras yang merapat punggungnya itu berdenyut-denyut keras, betapa kedua lengan yang berotot dan kuat itu menggigil, betapa napas di belakang tengkuknya itu panas sekali dan terengah-engah!

Makin kagumlah ia.

Alangkah kuatnya pemuda ini, kuat lahir batin.

Tubuhnya kuat, juga batinnya kuat sehingga biarpun nafsu muda yang sudah selayaknya itu masih dapat bertahan dan berusaha menekannya.

"Yang lebih kuat lagi, Ciangkun!"

Ia menggoda dan sengaja berlama-lama melepaskan diri sehingga pemuda itu merasa semakin "tersiksa".

"Sudah cukup, Toanio. Lekaslah gunakan Sia-kut-hoat..."

"Kenapa sih Ciangkun terburu-buru?"

Lu Sian menggoda terus.

"Saya... eh... saya kuatir kalau-kalau... Toanio akan terluka..."

Karena sudah yakin bahwa diam-diam pemuda ini tidak dapat menahan daya tarik kewanitaannya, Lu Sian lalu berkata.

"Nah, yang kuat, kerahkan tenagamu, aku akan melepaskan diri!"

Sambil berkata demikian, ia menggerakkan tubuhnya, menggeliat-geliat dan... dengan mudah ia dapat "merosot"

Keluar dari pelukan ketat itu!

Cu Bian masih berdiri agak membongkok dengan kedua lengan memeluk seperti tadi, akan tetapi yang dipeluknya sudah terlepas dan ia masih terengah-engah dan meramkan matanya!

"Bagaimana, Ciangkun?"

Lu Sian tertawa dan menggigit bibir menahan geli. Cu Bian cepat sadar dan ia segera membungkuk dan memberi hormat.

"Benar-benar Toanio lihai sekali, saya merasa takluk. Dan amat beruntunglah saya akan mendapat bimbingan Toanio dalam mempelajari Sia-kut-hoat."

"Ciangkun, Ilmu Sia-kut-hoat mudah, akan tetapi dasarnya harus kuat, seperti kukatakan tadi, berdasarkan penggunaan hawa sakti dalam tubuh yang disalurkan pada sambungan tulang. Untuk mempelajari ini, kita harus berada dalam ruangan tertutup dan biarlah aku membantu penyaluran hawa dalam tubuh Ciangkun agar lebih cepat hasilnya. Sanggupkah Ciangkun?"

Makin merah muka Cu Bian, akan tetapi ia percaya betul bahwa Sian-toanio ini bersungguh-sungguh hendak melatihnya.

Kalau memang caranya demikian, apa mau dikata lagi?

Toh ini hanya latihan, demi memenuhi syarat agar berhasil!

"Baiklah, Toanio, apakah kamar saya cukup memenuhi syarat?"

"Cukuplah, asal ditempat tertutup,"

Jawab Lu Sian menahan geli hatinya.

Mereka lalu meninggalkan taman dan memasuki kamar Cu Bian yang cukup luas dan bersih.

Sebuah tempat tidur lebar berdiri disudut kamar.

Lu Sian tidak mau tergesa-gesa, karena ia tidak ingin membuat pemuda ini terlalu sungkan, malu dan bercuriga.

Maka ia berkata.

"Ciangkun harus duduk bersila menyatukan perhatian dan mengerahkan hawa sakti dalam tubuh. Biar saya yang membantu penyaluran hawa sakti itu. Akan tetapi agaknya Ciangkun akan merasa tidak pantas kalau kita berlatih diatas... sana itu!"

Ia menuding kearah ranjang dan Cu Bian menundukkan muka, tak berani memandang wajah Lu Sian.

"Karena itu, biarlah kita duduk bersila dilantai ini saja."

Cu Bian tidak berani menjawab.

Ia benar-benar merasa amat sungkan dan malu.

Selama hidupnya belum pernah ia berdua dengan seorang wanita didalam kamar, apalagi berada diatas satu ranjang, biarpun hanya bersila!

"Terserah...

kepada Toanio..."

Jawabnya dan ia lalu mendahului duduk bersila di atas lantai.

Lu Sian pun duduk bersila didepannya, kemudian wanita itu menempelkan kedua telapak tangannya kepada tangan Cu Bian sambil berkata.

"Atur napas kerahkan tenaga biar nanti aku yang membantumu menyalurkan tenaga kesambungan-sambungan tulang. Kau menurutlah saja dan lihat hasilnya."

Cu Bian mengangguk karena sukarlah baginya mengeluarkan suara setelah kedua tangan mereka saling menempel.

Betapa takkan berdebar jantungnya karena tapak tangan yang halus lunak itu menyalurkan hawa mujijat yang seperti membanjir kedalam tubuhnya membuat tubuhnya penuh getaran-getaran aneh.

Dan bau yang semerbak harum itu!

Cu Bian cepat memejamkan kedua matanya, mencurahkan perhatiannya dan mengerahkan sin-kang (hawa sakti) dalam tubuhnya.

Terasa olehnya betapa satu kekuatan hebat yang masuk ketubuhnya melalui telapak tangan itu menguasai hawa saktinya dan mendorongnya menembus seluruh tulang dalam tubuh.

Mula-mula lengan kanannya berbunyi berkeretakan, lalu lengan kiri, kedua kaki, kedua pundak, leher dan punggung.

"Sia-kut-hoat dapat membuat tubuh menjadi kecil, tulang-tulang seperti dapat dilipat sehingga kita mudah lolos dari ikatan apapun juga."

Lu Sian berbisik.

"tanpa menggerakkan tubuh sekalipun kita dapat meloloskan diri dari cengkeraman apa saja. Lihatlah buktinya!"

Tiba-tiba Cu Bian yang masih meramkan mata itu merasa betapa tulang pundaknya bergoncang, ia tidak melawan karena tadi sudah dipesan, menurut saja.

Pundaknya serasa tak bertulang lagi sehingga ia terkejut.

"Cu Ciangkun, lihat hasilnya, buka matamu..."

Kembali Lu Sian berbisik perlahan.

Cu Bian membuka kedua matanya dan...

terbelalak ia memandang tubuh bagian atas yang tak tertutup apa-apa lagi itu.

Kulit yang putih halus memerah terkena sinar lampu, dada yang montok padat dengan lekuk lengkung sempurna.

Dia sendiri pun bertelanjang ditubuh bagian atas.

Entah bagaimana, baju mereka berdua telah terlepas dan bergantungan di pinggang, sedangkan kedua tangan mereka masih saling menempel dan tak pernah lepas.

Pemuda yang selama hidupnya belum pernah menyaksikan pemandangan seperti ini, tak dapat menahan lagi.

Tubuhnya menggetar, mukanya menjadi merah dan terasa panas, dadanya menggelora menyesakkan napas.

Kedua tangan Lu Sian kini memegang kedua tangan pemuda itu dan memijit-mijitnya mesra.

"Tak senangkah hatimu karena hasil ini?"

Ia berbisik dengan senyum memikat dan mata basah penuh nafsu.

Makin berombak dada Cu Bian, ia hanya mengangguk-angguk tanpa dapat berkata apa-apa, matanya tidak berani langsung bertemu pandang dengan Lu Sian melainkan tak pernah berkedip menatap kearah dada!

Tiba-tiba Lu Sian tertawa lirih dan menubruknya, merangkul dan menciumnya.

"Eh... eh... Toanio..."

Cu Bian terengah-engah dan tubuhnya menggigil, akan tetapi kedua lengannya yang kuat itu memeluk dan mendekap tubuh yang menggairahkan, mendekap sekuat tenaganya sehingga kalau yang dipeluknya itu wanita lain tentu akan remuk-remuk tulang iganya.

Akan tetapi Lu Sian bukannya wanita biasa.

Didekap sekuat itu, ia hanya tertawa dan kini ia menoleh ke arah lampu, tampak senyumnya melebar, senyum kemenangan ketika bibirnya meruncing untuk meniup kearah lampu disudut kamar sehingga padam!

Karena didalam istana Kaisar Cin Muda ini Lu Sian mengalami penghidupan yang penuh kesenangan dimana ia dapat memuaskan semua nafsunya, hidup bergelimang harta dunia dan kesenangan, maka ia merasa seakan-akan tercapai semua yang menjadi cita-citanya.

Sampai delapan tahun ia tinggal didalam istana, dan selama itu Coa Kim Bwee berhasil menyenangkan hatinya dengan pelayanan-pelayanan manis sehingga banyak pula ilmu yang ia turunkan kepada selir raja ini.

Bahkan ilmu awet muda ia turunkan pula kepada Coa Kim Bwee yang tentu saja menjadi amat girang.

Biarpun maklum bahwa wanita yang didalam istana dikenal sebagai Sian-tonio itu sesungguhnya adalah puteri Beng-kauwcu yang berjuluk Tok-siauw-kwi dan yang menghabiskan pangeran-pangeran dan panglima-panglima muda yang tampan untuk dijadikan kekasihnya, namun Raja tidak mau menghalanginya.

Hal ini adalah karena hadirnya Lu Sian di dalam istana itupun merupakan hal yang menguntungkan, semenjak ada Lu Sian di dalam istana, jarang sekali terjadi penyerbuan musuh dan kalaupun ada, tentu akan disapu bersih oleh wanita sakti itu.

Karena istana sudah terjaga dengan adanya Lu Sian, para panglima yang tadinya bertugas menjaga keselamatan raja, kini memindahkan perhatiannya keluar istana dan mulai membantu melakukan pembersihan dalam kota raja.

Banyak sudah mata-mata musuh ditangkap dan dibunuh, bahkan belum lama ini belasan orang pengikut atau anak buah Couw Pa Ong yang masih selalu berusaha merampas kekuasaan, dapat dibasmi habis dalam sebuah kuil kosong di sebelah selatan kota raja.

Yang memimpin pembasmian ini adalah Panglima Muda Cu Bian yang kini telah memperoleh kemajuan hebat dalam ilmu silatnya semenjak ia menjadi kekasih Lu Sian.

Panglima muda ini banyak berhasil dalam usaha membasmi musuh, karena dia melakukan penyelidikan dengan menyamar sebagai penduduk biasa, tidak berpakaian sebagai panglima.

Dalam penyelidikannya, Cu Bian tahu bahwa komplotan mata-mata yang paling aktif di kota raja adalah gerombolan anak buah Couw Pa Ong atau Kong Lo Sengjin, bekas Raja Muda Kerajaan Tang yang masih setia kepada dinasti yang sudah runtuh itu.

Dan ia tahu pula bahwa di dalam kota raja terdapat sebuah tempat yang dijadikan tempat pertemuan mereka, di samping kuil kosong dimana ia telah membasmi tiga belas orang mata-mata belum lama ini.

Pada suatu pagi, seorang diri Cu Bian pergi menyelidiki rumah tua di ujung kota yang sunyi sebelah barat itu, berpakaian sebagai seorang penduduk biasa.

Goloknya ia sembunyikan di balik baju dan ia mendekati rumah tua itu dengan hati-hati dan menyelinap diantara pohon-pohon dibelakang rumah.

Biasanya rumah tua ini kosong, akan tetapi tadi ia melihat berkelebatnya bayangan orang melalui jendela yang tidak berdaun lagi itu.

Setelah dekat ia mengintai dan terdengar suara orang bercakap-cakap.

Ketika ia melihat seorang kakek tua duduk diatas kursi sedang marah-marah kepada seorang laki-laki yang berdiri ketakutan, hatinya tergerak.

Siapakah kakek ini, pikirnya.

Kakek yang mukanya penuh cambang, pakaiannya longgar dan wajahnya berwibawa!

"Goblok!

Tolol sekali kalian!

Bagaimana sampai berhasil disergap dan dibunuh?

Benar-benar tidak berotak.

Dan semua usaha ke istana gagal belaka, mengantar nyawa dengan sia-sia!

Ah, baru beberapa tahun aku mengaso di Pek-coa-to (Pulau Ular Putih), usaha kita macet karena ketololan kalian.

Kalau para pembantuku seperti kalian ini patriot-patriot konyol, mana mungkin Kerajaan Tang yang jaya dapat bangkit kembali?"

"Ampun, Ong-ya, sesungguhnya kami cukup hati-hati, akan tetapi semenjak Tok-siauw-kwi berada disini, kami tidak berdaya apa-apa. Semua serbuan ke istana gagal dan teman-teman kita banyak yang mati konyol. Gerakan kita di sini menjad macet sama sekali."

Diam-diam Cu Bian terkejut.

Kiranya inilah Sin-jiu Couw Pa Ong yang terkenal pula dengan julukannya Kong Lo Sengjin?

Ia memandang penuh perhatian dan melihat betapa kedua kaki yang tergantung di kursi itu lemas dan lumpuh, ia tidak ragu-ragu lagi.

Hatinya berdebar dan ia menoleh kebelakang.

Kalau saja ada pembantu, ah, kalau saja ada Sian-toanio!

Akan tetapi masa ia tidak akan dapat mengalahkan seorang kakek yang lumpuh kedua kakinya?

Dan orang kedua itupun kelihatan lemah.

"Huh, menghadapi Tok-siauw-kwi saja takut? Biarlah, setelah aku datang, akan kuhancurkan kepala siluman betina itu. Hemm, kau lihat baik-baik!"

Tiba-tiba kakek itu menggerakkan lengannya dan angin besar menyambar kearah jendela di mana Cu Bian mengintai.

"Brakk!"

Runtuhlah sebagian dinding jendela itu, akan tetapi Cu Bian sudah melompat ke samping, terus ia memutar golok yang sudah dicabutnya sambil menyerbu ke dalam rumah melalui jendela.

"Pemberontak tua bangka! Lebih baik kau menyerahkan diri untuk diadili daripada harus berkenalan dengan golokku!"

Bentaknya. Kong Lo Sengjin tidak mempedulikan panglima muda ini, bahkan menoleh kearah laki-laki temannya tadi sambil bertanya.

"Siapakah budak ini?"

Laki-laki itu meloncat kepinggir, gerakannya cukup ringan, dan ia berkata.

"Ong-ya, inilah dia Cu-ciangkun, panglima muda yang memimpin pembasmian teman-teman kita di kuil tua...!"

"Oho! Bagus sekali, kau mengantarkan nyawa kesini, budak. Lekas berlutut agar kau dapat terbebas dari kematian mengerikan!"

Suara Kong Lo Sengjin berubah menyeramkan.

"Ong-ya, dia ini seorang diantara kekasih Tok-siauw-kwi!"

Laki-laki itu berkata pula. Sementara itu, Cu Bian sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Pemberontak rendah! Rasakan golokku!"

Ia menerjang maju, membacok dengan goloknya, gerakannya cepat dan kuat sekali, goloknya lenyap berubah sinar putih seperti kilat menyambar kearah leher kakek itu.

"Singgg...!!"

Namun goloknya mengenai angin belaka karena kakek yang sakti itu telah mencelat keatas bersama kursinya!

Dengan masih duduk diatas kursi, Kong Lo Sengjin telah berhasil mengelakkan sambaran golok!

Gerakan luar biasa ini dibarengi suara tertawa bergelak-gelak.

Cu Bian penasaran sekali.

Sambil berseru keras ia menerjang terus kemanapun berkelebatnya bayangan kakek bersama kursinya.

Ia sudah memperoleh pelajaran dari wanita cantik itu, tidak hanya pelajaran bermain cinta, melainkan juga pelajaran untuk memperhebat gin-kangnya, lweekang dan ilmu goloknya.

Namun menghadapi kakek lumpuh ini, ia benar-benar tidak berdaya.

Goloknya selalu membacok angin belaka danpada detik terakhir, kakek itu selalu dapat berpindah tempat bersama kursinya dan masih tetap tertawa-tawa.

"Ha-ha, disuruh berlutut tidak mau, kau menghendaki kematian yang mengerikan!"

Kakek itu berkata dan lengan bajunya yang panjang itu berkibar menyambar ke depan, yang kanan menangkis golok, yang kiri menyambar ke arah kepala Cu Bian.

Bukan main kagetnya pemuda ini ketika goloknya hampir saja terlepas dari pegangannya bertemu dengan ujung lengan baju.

Akan tetapi ia lebih memperhatikan sambaran ujung lengan baju ke dua ke arah kepalanya.

Cepat ia miringkan tubuh membuang diri, akan tetapi tetap saja pundaknya kena dihantam ujung lengan baju.

"Plakk!"

Perlahan saja tampaknya hantaman itu, namun akibatnya cukup hebat karena tubuh Cu Bian terhuyung-huyung kebelakang dan kepalanya serasa hampir pecah saking hebatnya rasa nyeri di pundaknya.

Namun orang muda ini mempunyai keberanian besar.

Ia meloncat bangun dan kini dengan kemarahan meluap, sambil meluapkan rasa nyeri yang menusuk jantung, ia menerjang maju lagi dengan dahsyat.

"Hah, rebahlah kau!"

Bentak Kong Lo Sengjin tanpa berpindah dari kursinya, hanya dengan gerakan kedua tangannya, dilain saat ia telah dapat merampas golok dan merobohkan Cu Bian dengan totokan yang membuat tubuh pemuda itu lemas dan seperti lumpuh.

Cu Bian mengerahkan tenaga hendak bangun, akan tetapi begitu bangun duduk ia terbaring kembali karena tubuhnya menjadi amat lemas.

Akan tetapi matanya tetap melotot memandang kakek ini, sedikit pun tidak membayangkan ketakutan.

Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan diluar dan menerobos masuklah tiga orang berpakaian perwira diikuti oleh belasan orang anak buahnya.

Mereka ini adalah pasukan keamanan di kota raja yang tadi melihat gerakan Cu Bian menyelidiki rumah kosong dan kini datang memberi bantuan.

"Kau hadapi mereka!"

Teriak Si Kakek dan sekali mengulur tangan, ia telah menyambar Cu Bian berikut goloknya, kemudian tubuhnya melayang kearah pintu.

"Serbu! Tolong Cu-ciangkun!"

Teriak seorang perwira dan mereka yang berada dekat pintu segera memapaki tubuh kakek yang melayang itu dengan tombak dan golok.

Terdengar suara berkerontangan disusul robohnya empat orang perajurit ketika Kong Lo Sengjin menangkis dengan kebutan ujung lengan bajunya sambil mengibaskan tangan mengirim tamparan.

Tubuhnya sudah mencelat keluar dengan mempergunakan sepasang tongkat yang tadinya ia sambar dari dekat meja, ia telah meleset jauh ke depan, sebentar saja lenyap dari tampat itu membawa tubuh Cu Bian yang tak dapat bergerak sama sekali dalam kempitannya.

Yang celaka adalah anak buah Kong Lo Sengjin yang tertinggal dalam rumah tua.

Dia lihai juga, melawan mati-matian dengan golok rampasan, akan tetapi tiga orang perwira itu adalah pengawal-pengawal istana yang tangkas, maka setelah mengalami pertempuran hebat, akhirnya orang itu tewas dibawah bacokan banyak senjata dan tubuhnya hancur.

Peristiwa tertawanya Cu-ciangkun oleh seorang kakek pemberontak amat menggegerkan kota raja.

Penjagaan diperketat, diseluruh kota tampak para perajurit hilir mudik mengadakan pemeriksaan dan penjagaan.

Juga sekitar istana dijaga keras.

Namun semua itu tidak menghalangi Kong Lo Sengjin yang menyelundup kedalam istana, mempergunakan kepandaiannya yang luar biasa.

Bagaikan seekor burung saja ia melompati pagar tembok yang mengurung istana, tidak tampak oleh para penjaga, kemudian menyelinap dalam gelap, meloncat ke atas bangunan istana, Cu-ciangkun masih berada dalam kempitannya ketika ia tiba diatas istana, mencari-cari.

Lu Sian juga mendengar tentang tertawannya Cu-ciangkun.

Ia ikut merasa gelisah, karena Cu Bian merupakan seorang diantara kekasihnya yang menyenangkan hatinya.

Ia menduga-duga siapa gerangan kakek tua lihai itu dan samar-samar ia teringat akan Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Couw Pa Ong.

Diam-diam ia bergidik.

Pernah beberapa tahun yang lalu ia menyaksikan sepak terjang kakek lumpuh itu yang amat lihai.

Akan tetapi ia tidak takut sekarang.

Bahkan iangin ia mencoba kepandaian kakek itu.

Agaknya sekarang ia takkan kalah menandingi kesaktian Si Kakek yang ia tahu amat lihai ilmu silat tangan kosong dan amat kuat tenaga sin-kangnya untuk melakukan pukulan jarak jauh.

Malam itu Lu Sian tak dapat tidur.

Ia duduk dalam kamarnya termenung menghadapi meja.

Karena hawa udara agak panas, ia membuka jendela kamarnya yang berbentuk bulat seperti bulan purnama.

Telinganya yang terlatih itu dapat menangkap suara perlahan diluar kamar, akan tetapi ia hanya tersenyum mengejek dan tidak bergerak dari bangku yang didudukinya, pura-pura tidak tahu bahwa ada seorang tamu malam yang tinggi gin-kangnya sehingga gerakan kakinya hampir tidak menerbitkan suara tengah mendekati kamarnya.

Selama ini, tak pernah berhenti ia berlatih sehingga Lu Sian merasa amat percaya akan kepandaiannya sendiri.

Tiba-tiba sinar putih menyambar dari luar jendela memasuki kamar.

Biarpun sinar itu menyambar dari belakangnya, namun Lu Sian maklum bahwa senjata itu tidak akan mengenai tubuhnya, maka ia tetap duduk tidak bergoyang sama sekali.

"Capp!"

Sinar itu ternyata sebatang golok yang kini menancap diatas meja didepannya, golok yang indah dan diujung golok itu terdapat sebuah benda merah kebiruan yang kini berada diatas meja tertancap golok.

Benda yang berlumur darah.

Sebuah jantung manusia!

Melihat golok itu, jantung Lu Sian berdebar.

Inilah golok Cu Bian, kekasihnya.

Dan jantung itu...??

Tiba-tiba terdengar berkesiurnya angin dan sesosok tubuh melayang masuk melalui jendela, menubruk Lu Sian.

Wanita ini bangkit berdiri, tangan kirinya menyampok dan tubuh itu terbanting keatas lantai.

Ketika ia memandang, ternyata itu adalah sesosok mayat seorang laki-laki yang telentang dengan dada robek dan mata terbelalak.

Mayat Cu Bian!

"Ha-ha-ha!

Tok-siauw-kwi, kukirim pulang tubuh kekasihmu!

Wanita tak tahu malu, kau mengotori nama besar Beng-kauw!"

Terndengar suara memaki dan mengejeknya diluar.

Hampir meledak rasa dada Lu Sian saking marahnya.

Mukanya menjadi merah sekali, sepasang matanya berkilat dan ia menyambar pedangnya, terus melayang keluar dari jendela.

Ketika ia turun didalam taman bunga dipinggir rumah, ternyata disitu telah berdiri seorang kakek, berdiri diatas kedua tongkatnya yang menggantikan kaki.

Sin-jiu Couw Pa Ong alias Kong Lo Sengjin!

"Hemmm, kiranya engkau tua bangka keparat!

Bukankah engkau ini si pemberontak Couw Pa Ong yang juga bernama Kong Lo Sengjin!"

"Ha-ha-ha! Betul sekali, Tok-siauw-kwi. kau boleh menyebut aku pemberontak, akan tetapi aku memberontak kepada kerajaan-kerajaan yang dahulunya memberontak dan merobohkan Dinasti Tang, aku seorang patriot sejati! Tidak seperti engkau ini! Suamimu, Jenderal Kam Si Ek juga seorang patriot sejati, akan tetapi engkau telah mengkhianatinya, mencemarkan namanya. Apalagi kalau diingat bahwa engkau puteri Beng-kauwcu Pat-jiu Sin-ong Liu Gan benar-benar menyebalkan dan merendahkan nama ayahmu dan Beng-kauw!"

"Tutup mulutmu yang kotor! Kong Lo Sengjin, orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi aku tidak!"

"Ha-ha-ha, sombongnya! Ayahmu sendiri tidak akan berani kurang ajar terhadapku, kau ini bocah sombong bisa apakah? Mengingat muka Ayahmu, biarlah aku mengampunimu dan lekas kau minggat dari Kerajaan Hou-han ini dan jangan membelanya. Ada hubungan apakah Hou-han denganmu maka kau membelanya mati-matian?"

"Kakek tua bangka! Apa yang kulakukan, ada hubungannya apa denganmu? Kau peduli apa?"

"Wah, benar keras kepala! Kukira aku tidak tahu bahwa kau disini mengumpulkan pemuda-pemuda tampan untuk memuaskan nafsumu yang kotor dan hina? Kau...."

"Keparat!"

Lu Sian sudah menerjang maju dengan pedangnya karena tidak tahan lagi mendengar kata-kata Kong Lo Sengjin.

Pedangnya berkelebat cepat bagaikan kilat menyambar, dengan gerakan dahsyat sekaligus telah menyerang dengan tiga kali bacokan dan dua tusukan berubi-tubi.

"Trang-trang-trang-trang-trang....!"

Lima kali pedang bertemu tongkat dan keduanya meloncat kebelakang sampai mereka terpisah dalam jarak enam meter.

Hebat serangan Lu Sian, akan tetapi hebat pula tangkisan Si Kakek Tua.

Keduanya merasa telapak tangan mereka tergetar dan diam-diam Kong Lo Sengjin terheran-heran.

Tangkisannya tadi telah ia gerakkan dengan pengerahan sin-kang dengan maksud membuat pedang lawan terpental, akan tetapi jangankan terpental, bahkan pedang itu masih dapat menyerang terus sampai lima kali.

Hal ini membuat Kong Lo Sengjin menjadi marah dan penasaran.

Di lain fihak, Lu Sian juga bersikap hati-hati.

Ia maklum bahwa kakek ini pandai sekali serta kuat tenaganya.

Serangannya tadi merupakan jurus yang lihai dari Toa-hong Kiam-sut, akan tetapi dapat ditangkis dengan baik oleh lawan dan tangannya terasa gemetar tanda bahwa tenaga yang tersalur pada tongkat itu amat kuatnya.

Tangan kiri Lu Sia bergerak dan dan sinar merah menyambar ke depan.

Itulah jarum-jarum Siang-tok-ciam yang ia lepas dengan pengerahan tenaga.

Belasan batang jarum halus yang mengeluarkan bau harum itu menyambar ke arah jalan darah yang mematikan, sukar sekali dielakkan lawan karena begitu tangannya bergerak, sinar berkelebat dan jarum-jarum itu sudah sampai ditempat sasaran!

Namun sambil tertawa Kong Lo Sengjin mengebutkan ujung lengan bajunya dengan gerakan memutar dan jarum-jarum itu bagaikan tergulung angin kemudian runtuh ditanah sebelum sampai ke tubuh kakek sakti itu.

"Ha-ha, jangan berlagak didepan Kakekmu! Rasakan ini!"

Bentak Kong Lo Sengjim sambil mengerahkan tenaga dan menggerakkan kedua tangannya mendorong ke depan.

Terdengar angin bersiutan menerjang ke arah Lu Sian.

Angin pukulan ini amat dahsyat dan karena kehebatan kedua tangannya inilah maka Kong Lo Sengjin dijuluki Sin-jiu (Kepalan Sakti).

Banyak musuh kuat roboh hanya oleh angin pukulannya ini.

Bahkan Lu Sian sendiri dahulu pernah menyaksikan betapa kakek ini merobohkan banyak lawan dengan penggunaan ilmu pukulan jarak jauh.

Dahulu ia merasa ngeri melihat kedahsyatan pukulan Si Kakek, akan tetapi sekarang ia bukanlah Lu Sian beberapa tahun yang lalu.

Melihat kakek itu menggunakan pukulan jarak jauh, ia cepat memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang, lutut ditekuk, tubuh direndahkan, kemudian kedua tangannya juga dia pukulkan kedepan.

Pedang di tangan kanan ditarik ke dalam di belakang lengan, dan ia mengerahkan tenaga sin-kang untuk melawan dorongan hawa pukulan lawan.

Dari kedua tangannya menyambar pula angin pukulan dahsyat kedepan!

Benturan dua tenaga sin-kang di udara itu tidak menimbulkan suara, juga tidak tampak oleh mata, akan tetapi akibatnya hebat karena keduanya terpental kebelakang dengan kuda-kuda masih tidak berubah.

Mereka saling pandang dengan kaget, karena adu tenaga sin-kang tadi membuktikan bahwa keduanya memiliki tingkat seimbang!

Hal ini tentu saja tidak dinyana-nyana oleh Kong Lo Sengjin, maka kakek ini menjadi penasaran sekali.

Ia tidak pernah mimpi bahwa tingkat kepandaian Lu Sian pada waktu itu sudah mengejar ayahnya sendiri dan dibandingkan dengan tingkat Kong Lo Sengjin, ia barangkali hanya kalah matang saja.

"Kau ingin mampus!"

Seru Kong Lo Sengjin dan kini kakek itulah yang berkelebat ke depan dengan lompatan tinggi.

Inilah terjangan berbahaya sekali karena dari atas, kakek sakti ini dapat menyerang dengan sepasang tongkatnya.

Namun Lu Sian maklum dan sama sekali tidak takut, bahkan ia pun mengeluarkan pekik melengking nyaring lalu tubuhnya mencelat pula keatas, menyambut serangan lawan.

Dua tubuh itu masih melayang ketika mereka bertemu di udara, dekat sebatang pohon dan dekat pula dengan ujung atap.

Mereka menggerakkan senjata dan bertanding di udara, saling tusuk dan tangkis sebelum tubuh mereka meluncur turun.

Terdengar suara keras senjata beradu disusul muncratnya bunga api menyilaukan mata.

Ketika keduanya turun ke atas tanah, daun-daun pohon rontok terbabat pedang Lu Sian sedangkan ujung atap dari tembok itu pecah berantakan dihantam tongkat Kong Lo Sengjin.

Begitu keduanya hinggap diatas tanah, keduanya cepat membalik saling berhadapan, sejenak tak bergerak, mata memandang tak berkedip, napas agak terengah karena biarpun baru beberapa gebrakan, namun tadi mereka telah mempergunakan seluruh tenaga sin-kang.

Ikatan rambut Lu Sian terlepas dan kulit lehernya berdarah sedikit, akan tetapi pangkal lengan kiri Kong Lo Sengjin juga berdarah, bajunya robek.

Kiranya dalam pertempuran di udara tadi, keduanya telah terluka, biarpun hanya luka ringan!

Makin panas dan penasaran hati Kong Lo Sengjin.

Ia mengeluarkan gerengan seperti harimau terluka.

Kakek ini memang wataknya tidak mau kalah, maka kini menghadapi seorang wanita muda ini ia hanya dapat menandingi seimbang saja, kemarahannya memuncak.

Sambil menggereng liar ia menerjang maju, tongkatnya bergerak cepat sekali dan amat kuat sehingga berpusinglah angin pukulan yang mengeluarkan bunyi bersiutan.

Namun Lu Sian yang juga tak pernah mau kalah kembali memekik panjang melengking-lengking, lalu tubuhnya bergerak cepat terbungkus sinar pedangnya yang mengeluarkan suara berdesing-desing.

Kini kedua orang sakti ini bertanding dari jarak dekat, tak lagi mengandalkan tenaga sin-kang seperti tadi, melainkan mempergunakan ilmu silat dan mengandalkan kegesitan gerakan tubuh.

Hebat bukan main pertandingan ini.

Lu Sian sudah mahir akan Ilmu Coan-in-hui yang ia pelajari dari jago gin-kang Tan Hui, maka gerakannya cepat dan tubuhnya ringan seperti seekor lebah.

Pedangnya mainkan ilmu pedang campuran Pat-mo Kiam-hoat dan Toa-hong Kiam-sut, hebat bukan main, tubuhnya seakan-akan sudah lenyap dan yang tampak hanyalah cahaya pedang gemerlapan yang merupakan sinar panjang melayang-layang membentuk lingkaran-lingkaran seperti seekor naga mengamuk.

Namun Kong Lo Sengjin bukanlah lawan ringan.

Kakek lumpuh ini amat lihai.

Biarpun kedua kakinya sudah lumpuh, namun kegesitannya tidak berkurang.

Malah kedua tongkat yang menggantikan kedudukan sepasang kaki itu dapat dipakai menyerang dan meloncat, diikuti tamparan dan kebutan tangan dan ujung lengan baju yang kesemuanya merupakan senjata yang tiak kalah ampuhnya.

Kadang-kadang pedang bertemu tongkat, ada kalanya lengan bertemu lengan dan pertandingan itu sukar diikuti pandang mata karena keduanya seakan-akan telah menjadi satu gundukan sinar yang saling gulung.

"Trang... cring... plak-plak....!"

Tiba-tiba keduanya meloncat setengah terlempar ke belakang.

Kiranya dalam jurus terakhir tadi, Kong Lo Sengjin berhasil menghajar punggung Lu Sian dengan telapak tangan kirinya, akan tetapi pada detik yang sama Lu Sian berhasil pula menggunakan rambutnya yang riap-riapan untuk menghantam jalan darah di leher lawan!

Ketika mereka terhuyung ke belakang dan saling pandang, ternyata dari ujung bibir Lu Sian mengucur darah segar, akan tetapi Kong Lo Sengjin memejamkan dan lehernya kelihatan biru menghitam.

Setelah membuka matanya lagi, ia tertawa.

"Ha-ha-ha, Tok-siauw-kwi siluman betina. Kiranya kau benar-benar lihat sekali!"

"Tua bangka tak usah banyak cerewet. Mau lanjutkan, hayo maju! Kalau kau sudah menerima kalah, lekas minggat dari sini!"

"Siluman betina, siapa kalah?"

Kong Lo Sengjin sudah siap menerjang lagi, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Iblis tua, jangan menjual lagak! Cici, biarkan kami membantumu!"

Muncullah Coa Kim Bwee bersama tujuh orang panglima istana yang merupakan orang-orang pilihan dan memiliki kepandaian yang lumayan.

Segera mereka mengurung dan menerjang Kong Lo Sengjin!

"Ha-ha-ha, Tok-siau-kwi, lain kali kita bertanding pula.

Eh, anjing-anjing buduk, Kakekmu tidak ada waktu melayani segala macam anjing!"

Tiba-tiba tubuh Kong Lo Sengjin mencelat keatas, melayang melampaui kepala para pengurungnya dan cepat sekali sudah menghilang keatas tembok istana.

"Tak usah dikejar... sia-sia belaka....!"

Kata Lu Sian. Coa Kim Bwee membalik dan baru terlihat olehnya Lu Sian mengusap darah dari bibir.

"Eh, Cici, kau... kau terluka...?"

Ia memegang lengan wanita itu hendak menolongnya. Akan tetapi Lu Sian mengibaskan lengannya.

"Aku tidak apa-apa. Lebih baik suruh orang mengurus mayat Cu-ciangkun didalam kamar itu,"

Coa Kim Bwee terkejut sekali dan ngeri hatinya ketika melihat betapa panglima muda yang tampan itu sudah menjadi mayat yang tidak berjantung lagi karena jantungnya sudah tertancap diatas meja oleh goloknya sendiri!

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Kwee Seng dan keluarganya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, perubahan besar terjadi dalam kehidupan Kwee Seng.

Tadinya ia seakan-akan telah bosan hidup, tidak peduli lagi akan dirinya dan hidup sebagai seorang jembel tanpa sedikit pun memelihara diri.

Ia telah menjadi korban asmara ketika gagal dalam cinta dengan Liu Lu Sian, kemudian hatinya terpukul hebat pula ketika ia mengalami hubungan cinta yang luar biasa dengan nenek Neraka Bumi.

Semua ini menambah hebat luka dihatinya yang tadinya sudah tergurat oleh peristiwa pengalamannya dengan Ang-siauw-hwa.

Memang, semenjak keluar dari Neraka Bumi, ilmu kepandaian Kwee Seng meningkat tinggi, akan tetapi juga keadaan dirinya berubah sama sekali.

Kalau dahulu ia merupakan seorang pemuda terpelajar yang halus dan selalu berpakaian rapi bersih, kini ia berubah menjadi seorang yang tidak peduli dan keadaannya seperti jembel.

Tidak ada lagi bekas-bekasnya seorang pelajar yang sopan dan bersih, sehingga ia disana-sini disangka seorang gila.

Akan tetapi, semenjak pertemuannya kembali dengan Khu Gin Lin saudara kembar Ang-siauw-hwa yang ternyata adalah seorang wanita cantik yang dahulu menyamar sebagai nenek-nenek tua di Neraka Bumi, berubahlah keadaan hidupnya.

Timbul pula kagairahan dan kegembiraan hidupnya.

Apalagi karena "nenek"

Yang ternyata seorang wanita muda cantik itu datang bersama seorang anak perempuan, anaknya!

Ia telah menjadi seorang ayah dan ternyata dia dahulu sama sekali tidak melakukan hubungan gila dengan seorang nenek-nenek tua, melainkan dengan seorang gadis jelita, bahkan saudara kembar Ang-siauw-hwa yang merupakan wanita pertama yang menggugah cinta kasihnya.

Kegembiraan ini ditambah pula dengan kenyataan tentang diri Bu Song.

Sama sekali tidak pernah ia sangka bahwa muridnya yang menimbulkan sayangnya ini ternyata adalah putera Liu Lu Sian!

Dua hal yang datang berbareng ini benar-benar telah mengobati luka-luka di hati Kwee Seng.

Seperti telah kita ketahui, Kwee Seng membawa isteri dan puterinya, juga muridnya, ke Gunung Min-san di mana ia hidup berbahagia dengan mereka, Khu Gin Lin adalah seorang isteri yang mencinta suami, adapun Kwee Eng atau biasa dipanggil Eng Eng adalah seorang anak perempuan yang lincah gembira, merupaka matahari ke dua di puncak Min-san itu.

Bu Song sebagai murid juga amat penurut dan taat sehingga makin membahagiakan hati Kwee Seng.

Adapun Bu Song dan Eng Eng yang selalu berdua di puncak gunung itu semenjak kecil, menjadi amat rukun.

Ketika masih kecil, mereka itu seakan-akan kakak beradik, akan tetapi makin besar makin berakarlah rasa kasih sayang mereka satu kepada yang lain sehingga tidaklah aneh kalau menjelang dewasa, daya tarik gadis itu menjatuhkan hati Bu Song sehingga diam-diam ia mencinta Eng Eng yang kini telah menjadi seorang gadis remaja berusia enam belas tahun yang cantik jelita, lincah jenaka dan lihai ilmu silatnya.

Adapun Bu Song telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan serius, wataknya pendiam, dan pandai dalam ilmu surat.

Tanpa ia sadari, di dalam tubuhnya telah terdapat dasar-dasar ilmu silat, Bu Song telah memiliki tenaga dan hawa sakti didalam tubuhnya.

Hanya saja, ia tidak tahu bagaimana harus mempergunakannya!

Pada suatu pagi yang indah di puncak Gunung Min-san, Kwee Seng bersama isterinya duduk di depan pondok, menikmati hawa pagi pegunungan yang bersih sejuk dan menyehatkan.

Sinar matahari pagi dari timur mulai mengusiri halimun pagi yang tebal.

Dalam usianya empat puluh tahun lebih, Kwee Seng belum kelihatan tua benar.

Wajahnya masih segar berseri, tubuhnya makin tegap dan agak gemuk.

Hanya jenggotnya dan kumisnya yang tipis itu dipeliharanya dan membuat ia tampak lebih tua daripada dahulu.

Adapun isterinya yang amat cinta kepadanya, juga belum tampak tua benar.

Tubuhnya masih ramping, senyumnya masih segar dan sepasang matanya masih bening seperti bintang.

Ketika mereka duduk di depan pondok itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa Eng Eng yang nyaring gembira, lalu tampak gadis itu berlari-lari mendekat puncak sambil berseru.

"Koko, kayu bakar kita telah habis. Hayo berlumba mencari kayu!"

Tubuhnya yang kecil ramping itu berkelebat cepat, bajunya yang berwarna merah berkibar-kibar ketika ia lari sambil menengok ke belakang, wajahnya cantik berseri-seri.

Di belakangnya tampak Bu Song berusaha mengejarnya.

Pemuda ini memiliki bentuk tubuh yang baik sekali.

Bahunya bidang, dadanya berbentuk segitiga dan jelas membayangkan kekuatan, langkahnya tidak seperti seorang pelajar yang lemah melainkan seperti seekor harimau.

Wajahnya tampan dan ganteng, dengan alis hitam tebal berbentuk golok, mata lebar bersinar tajam sekali penuh wibawa, hidungnya mancung dan bibirnya jarang tersenyum.

Dagunya terdapat belahan kecil ditengah-tengahnya, menambah ketampanan dan sifat yang ganteng ini terbayang kemurungan yang membuat ia pendiam dan sering kali keningnya berkerut.

"Moi-moi, biarlah aku yang mengumpulkan kayu. Pekerjaan kasar ini adalah pekerjaan laki-laki. Kalau berlomba, tentu saja aku kalah. Larimu lebih cepat daripada larinya rusa, mana aku bisa menyusulmu?"

Biarpun ia berkata demikian, namun Bu Song lari juga agar tidak mengecewakan hati gadis yang menjadi teman bermain sejak kecil selama belasan tahun.

Sebentar kemudian bayangan kedua orang muda itu lenyap dalam sebuah hutan di puncak.

Suami isteri yang duduk di depan pondok itu tersenyum, saling pandang penuh arti.

"Tak dapat disangkal lagi, mereka adalah pasangan yang amat cocok dan setimpal,"

Kata Kwee Seng setelah menarik napas panjang penuh kepuasan. Isterinya mengangguk.

"Benar Eng Eng orangnya lincah jenaka sebaliknya Bu Song pendiam dan penyabar, amat cocok dan dapat saling mempengaruhi. Juga kulihat mereka itu saling mencinta. Hanya sayang..."

"Mengapa sayang, isteriku?"

"Ada dua hal yang kusayangkan. Pertama, orang tuanya tidak hidup bahagia, rumah tangga orang tuanya berantakan, ayah bunda bercerai, Ayah kawin lagi, Ibu..."

Kwee Seng menghela napas.

"Memang tak dapat disangkal hal itu, akan tetapi apakah kita harus mengukur keadaan seseorang anak dari orang tuanya? Bu Song anak baik, semenjak kecil dia dalam pengawasan kita. Bertahun-tahun kita melihat dia tumbuh dewasa, melihat watak-wataknya, apakah masih belum cukup dan haruskah kita mengingat keadaan ayah bundanya?"

"Kau memang betul. Aku terpengaruh oleh keadaan orang tuanya karena biasanya dari keluarga yang berantakan akan tumbuh anak-anak yang kurang baik. Akan tetapi Bu Song semenjak kecil menjadi muridmu. Hanya aku sayangkan, karena kalau saja orang tuanya tidak demikian, alangkah akan lebih baiknya..."

"Hemmm, tak salah omonganmu itu. Dan hal kedua yang kau sayangkan, apakah itu?"

"Aku menyayangkan bahwa Bu Song tidak mau belajar ilmu silat. Sedangkan anak kita, sungguhpun tidak sangat pandai, boleh dibilang telah memiliki kepandaian tinggi. Apakah hal ini tidak akan menjadi penghalang kesesuaian faham dan watak mereka kelak?"

Kwee Seng tersenyum.

"Kau tidak tahu, isteriku. Karena memang hal ini kurahasiakan agar jangan sampai bocor dan mengagetkan hati Bu Song. Kasihan anak yang hidupnya sebatang kara dan berhati bersih itu. Dia begitu benci kepada ilmu silat karena sejak kecil ia menelan filsafat-filsafat hidup penuh damai dan penuh cinta kasih terhadap sesama hidup, dan terutama sekali karena ia kecewa melihat ayah bundanya yang menurut jalan pikirannya terpisah dan tersesat oleh ilmu silat. Disamping ini, telah banyak ia menyaksikan kekejaman dan kekejian di waktu ia masih kecil sehingga timbul anggapannya bahwa ilmu silat hanya menjadi alat untuk melakukan kekejaman dan pembunuhan belaka. Inilah sebabnya ia tidak mau belajar ilmu silat. Akan tetapi, aku melihat bakat baik sekali terpendam dalam dirinya. Bakat luar biasa yang bahkan jauh lebih baik daripada aku sendiri. karena inilah, diam-diam aku menanam dasar-dasar ilmu silat dan telah menyuruh dia berlatih siulian dan napas. Sekarang pun ia telah memiliki sin-kang yang hebat, hanya saja, ia tidak sadar akan hal ini. Kelak, kalau ia mengalami penderitaan hidup karena ketidakmampuannya bersilat, baru akan terbuka pikirannya dan sekali ia mempelajarinya, ia akan menjadi seorang yang luar biasa, bahkan mungkin melebihi kepandaian dan tingkatku."

Gin Lin tercengang, akan tetapi juga girang sekali.

"Syukurlah kalau begitu. Kini hilang keraguanku. Sebaiknya kita lekas-lekas laksanakan perjodohan mereka. Setelah mereka menjadi suami isteri, baru lega hatiku dan dapat kita tinggalkan mereka...."

"Ah, isteriku. Kurang bahagiakah kita tinggal disini? Adakah yang lebih nikmat daripada hidup tenang dan tenteram seperti hidup kita sekarang ini? Apakah kau masih selalu merindukan dunia ramai dan menyaksikan pertumpahan darah?"

Tiba-tiba wajah berseri nyonya itu digelapi mendung, bahkan kedua matanya menjadi basah sehingga cepat-cepat ia mengusap air mata itu dengan saputangannya.

Dengan muka tunduk ia berkata.

"Suamiku, memang aku berterima kasih kepada Thian, juga bersyukur kepadamu yang telah memberi kebahagiaan hidup kepadaku di tempat ini. Aku cukup bahagia, akan tetapi... ah, betapa aku dapat melupakan ayah bundaku terbunuh secara kejam, saudara kembarku menjadi... pelacur... dan aku sendiri, seandainya tidak bertemu denganmu, apa jadinya dengan aku? Semua itu karena kebiadaban musuh yang membunuh, merampok, memperkosa, menghina... suamiku, katakanlah, apakah aku harus diam saja sekarang? Apakah mungkin kebahagiaan hidupku tanpa mengingat sedikitpun akan penderitaan orang tua dan keluargaku? Suamiku, diwaktu sadar aku hidup bahagia di sampingmu dan di samping anak kita, akan tetapi tahukah kau betapa setiap malam aku bermimpi dan bertemu dengan arwah orang tuaku yang memandang penuh penyesalan? Ah, suamiku..."

Gin Lin lalu menangis. Kwee Seng memegang pundak isterinya.

"Tenangkan hatimu, isterku. Jangan kau kira bahwa aku pun tidak peduli akan hal itu semua. Akan tetapi, kurasa tidaklah tepat kalau urusan pribadi dicampuradukkan dengan urusan negara. Keluargamu terbasmi bukan karena urusan pribadi, melainkan karena urusan negara. Karena keluargamu bangsawan Tang, maka ketika Dinasti Tang roboh, tentu saja keluargamu terlanda malapetaka. Andaikata kau hendak membalas, kepada siapakah kau akan membalas? Dalam keributan seperti itu, dalam perang, mana bisa kita membalas kepada seseorang?"

"Memang betul ucapanmu, suamiku,"

Kata Gin Lin yang sudah dapat menenangkan hatinya.

"Dan memang aku tidak mendendam kepada seseorang, melainkan menaruh dendam kepada mereka yang menurunkan Dinasti Tang, karena mereka itulah yang menghancurkan keluarga kami. Karena itu, kalau anak kita sudah menikah, aku... ijinkanlah aku membantu Paman Couw Pa Ong untuk menghancurkan musuh sehingga dengan jalan itu berarti aku sudah melakukan kewajibanku berbakti kepada orang tua dan keluarga..."

"Baiklah... baiklah, kita bicarakan hal ini kelak. Apa kau kira aku dapat melepasmu begitu saja? Sekali kita berkumpul, untuk selamanya. Kalau memang kulihat bahwa musuh-musuhmu itu orang jahat, sebagai seorang pendekar tentu saja aku akan suka membantumu membasmi mereka."

Gin Lin memegang lengan tangan suaminya dan matanya basah memandang wajah suaminya ketika ia berkata terharu.

"Aku tahu engkau suamiku yang berhati baik sekali..."

Mereka berpadangan dan diam-diam Kwee Seng menarik napas.

Ia hanya menaruh kasihan kepada wanita ini, wanita yang menjadi isterinya karena kebetulan dan terpaksa.

Ia tahu bahwa Gin Lin amat mencintanya, mencintanya semenjak masih menyamar sebagai nenek di Neraka Bumi.

Akan tetapi dia, cinta jugakah dia kepada isterinya ini?

Sukar dikatakan, dan Kwee Seng akan membohongi diri sendiri kalau dia mengaku demikian.

Cinta kasih terhadap wanita agaknya telah lenyap dari hati Kwee Seng.

Hatinya sudah kosong.

Cintanya sudah lenyap bersama Lu Sian.

Akan tetapi, sampi mati pun ia tidak akan suka menyatakan hal ini melalui mulut, bahkan ia coba mengusir dari dalam hatinya setiap kali timbul.

Ia merasa kasihan kepada Gin Lin dan akan membela isterinya ini dengan seluruh jiwa raganya.

"Isteriku, bukankah sekarang Paman Couw Pa Ong telah berhasil pula meruntuhkan Kerajaan Cin dan dengan demikian berarti sudah menang perang?"

"Betul, suamiku. Akan tetapi Paman bersekutu dengan golongan lain sehingga kini didirikan Kerajaan Han Muda (947-951). Akan tetapi Kerajaan Han ini pun selalu dibayangi musuh, selalu diserang dan keadaan Paman kabarnya makin payah..."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Merah wajah isterinya ketika menjawab.

"Aku telah menyuruh seorang penduduk lereng gunung pergi menyelidik ke kota raja...."

Kwee Seng terkejut.

Hemmm, kiranya isterinya ini diam-diam tak pernah melupakan urusan negara.

Akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu seorang kakek telah berada disitu, kedua kakinya bersila, tergantung diantara dua batang tongkat yang dipegangnya, menggantikan kedua kaki untuk berdiri.

"Paman...!"

Gin Lin berseru girang.

"Ah, kiranya Paman yang datang. Maafkan kami tidak dapat menyambut lebih dulu karena tidak tahu,"

Kata Kwee Seng yang sudah bangkit berdiri dan memberi hormat.

Sejenak kakek itu tidak menjawab, hanya berdiri menatap tajam kepada suami isteri itu.

Kemudian dia berkata.

"Kim-mo Taisu Kwee Seng, aku ingin bicara empat mata denganmu."

"Tentu saja boleh, silakan Paman masuk ke pondok kami yang buruk...."

"Tidak disitu, Kwee Seng. Mari kau ikut aku menuruni puncak. Dilereng sunyi sana kita bicara. Waktu hanya sedikit, musuh-musuh mengejar-ngejarku, aku perlu... bantuanmu, suami keponakanku!"

"Paman! Apakah yang terjadi...?"

Gin Lin berseru kaget.

"Diamlah kau, Lin-ji. Tidak perlu ribut-ribut, hanya perlu kau tahu bahwa Kerajaan Han Muda runtuh pula. Masih untung Pamanmu ini tidak tewas. Relakah kau kalau suamimu membantuku?" (Lanjut ke

Jilid 24) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24

"Tentu saja, Paman! Kwee-koko, kau pergilah ke lereng bersama Paman. Kasihanlah, bantulah..."

Ucapan nyonya ini disertai pandang mata penuh permohonan, juga suaranya menyembunyikan isak tangisnya.

Agaknya ia sedih sekali mendengar bahwa pamannya kembali sudah jatuh!

"Baiklah, Lin-moi.

Mari, Paman!"

Kedua orang sakti itu berkelebat cepat menuruni puncak.

Di sebuah lereng yang sunyi Kong Lo Sengjin berhenti, lalu menjatuhkan diri duduk bersila dengan sepasang kakinya yang lumpuh sambil berkata.

"Kim-mo Taisu, kali ini kau benar-benar membutuhkan bantuanmu."

"Hemm, bantuan bagaimana yang Paman maksudkan?"

"Duduklah disini. Aku sengaja mengajakmu kesini agar lebih enak kita bicara secara terbuka, jauh dari wanita yang tentu akan mengganggu saja."

Di dalam hatinya Kwee Seng tidak setuju dengan pendapat ini, akan tetapi ia tidak membantah lalu duduk didepan kakek itu.

Kakek yang sudah amat tua, akan tetapi dari pandang matanya jelas tampak semangat bernyala-nyala.

Setelah melihat Kwee Seng duduk didepannya, kakek ini berkata, suaranya lambat perlahan.

"Engkau tentu telah mendengar dari isterimu betapa malapetaka hebat menimpa Kerajaan Tang berikut semua bangsawan dan keluarga kaisar. Dan tentu kau pun sudah tahu betapa aku kehilangan tenaga kedua kakiku dalam perang itu dan kemudian betapa aku mengorbankan seluruh hidupku untuk berusaha membangun kembali Kerajaan Tang yang telah dirobohkan para pemberontak."

Kwee Seng mengangguk.

"Bagaimana pendapatmu tentang semua usahaku itu?"

"Sudah sepatutnya mengingat bahwa Paman adalah seorang bekas pangeran dan Raja Muda Tang yang tentu harus bersetia kepada Kerajaan Tang,"

Jawab Kwee Seng sejujurnya.

"Bukan itu saja. Akan tetapi juga mengingat akan malapetaka yang menimpa keluargaku, keluarga Gin Lin isterimu. Jangan mengira bahwa aku aktif bergerak untuk mencari kedudukan. Sama sekali bukan. Terus terang kukatakan bahwa ketika Kerajaan Tang Muda berhasil meruntuhkan Kerajaan Liang, aku lalu mengundurkan diri ke pulau kosong di mana aku melatih dua orang muridku. Baru setelah Kerajaan Tang Muda roboh, aku keluar lagi dari pulau dan berusaha membangun kembali Kerajaan Tang. Akan tetapi, banyak pengikut Tang sudah tewas sehingga terpaksa dengan mengadakan persekutuan dengan golongan lain, akhirnya kami berhasil meruntuhkan Kerajaan Cin dan membangun Kerajaan Han Muda. Namun, begitu aku kembali ke pulau mengundurkan diri, sekarang Kerajaan Han telah runtuh kembali, hanya berdiri selama empat tahun saja (947-951)!"

"Hemm, lalu sekarang apa yang dapat kulakukan untuk membantu Paman?"

"Sekarang sudah runtuh semangatku untuk membangun kembali Kerajaan Tang. Sudah habis sekarang keturunan kaisar, dan sudah musnah pula pengikut-pengikutnya. Apa artinya kalau tinggal aku seorang? Betapapun juga, aku harus membalas dendam kepada tokoh-tokoh yang dahulu telah meruntuhkan Kerajaan Tang, juga tokoh-tokoh yang sekarang telah merobohkan Han Muda. Akan tetapi aku hanya sendiri, dan musuh-musuh itu begitu banyak. Oleh karena itulah. Kwee Seng, demi sakit hati dan dendam isterimu, maukah kau membantuku?"

"Maaf, Paman. Menurut pendapatku, keluarga isteriku terbasmi dalam keadaan perang dan dia sendiri pun tidak dapat mengatakan dengan jelas siapa-siapa orangnya yang melakukan pembasmian, karena dalam perang tentu keadaan kacau-balau dan seluruh barisan pihak musuh merupakan lawan. Tak mungkin saya dan isteri saya membalas secara membabi buta, karena bukankah tentara pihak musuh itupun hanya memenuhi tugas mereka? Tidak ada dendam pribadi dalam urusan perang. Adapun tentang membantu Paman, agaknya sudah sepatutnya aku membantu kalau Paman terancam bahaya. Akan tetapi, kulihat Paman tidak terancam siapa-siapa pada saat ini. Kalau Paman mempunyai musuh-musuh pribadi lalu minta bantuanku, tentu saja harus kulihat dulu siapakah mereka itu. Kalau mereka terdiri dari golongan jahat, tentu aku tidak akan segan-segan membantumu."

Kong Lo Sengjin menampar batu didekatnya sehingga hancurlah batu.

"Heh! Sudah kuduga kau akan banyak membantah! Banyak sekali musuh-musuhku dan sekarang pun aku sedang dikejar-kejar mereka. Diantara mereka adalah Ban-pi Lo-cia, Hek-giam-lo tokoh setan baru yang mewakili Khitan. Pouw-kai-ong Si Raja Pengemis baru yang jahat. Ma Thai Kun orang Beng-kauw yang murtad, dan terakhir ada pula Tok-siauw-kwi..."

"Ahh...?"

Tanpa disadarinya Kwee Seng berseru kaget.

"Hemm, kau kaget mendengar nama Tok-siau-kwi? Benar, dia adalah puteri Beng-kauwcu yang dulu menjadi tunanganmu!"

Kata Kong Lo Sengjin sambil memandang tajam.

Diam-diam Kwee Seng mengeluh.

Kiranya peristiwa dua puluh tahunan yang lalu itu telah diketahui pula oleh kakek sakti ini.

"Mereka adalah orang-orang jahat, akan tetapi tidak mempunyai urusan pribadi dengan saya, Paman. Pernah saya mendengar nama mereka yang terkenal kejam, akan tetapi kiranya hanya Ban-pi Lo-cia seorang yang menimbulkan dendam dihati saya karena dialah pembunuh keponakanmu Khu Kim Lin!"

"Hah, segala urusan wanita! Bagiku yang terpenting adalah karena mereka ikut bersekongkol merobohkan Kerajaan Han sehingga kini berdiri kerajaan yang menamakan dirinya Kerajaan Cou! Pendeknya, kau membantuku atau tidak menghadapi mereka?"

"Kalau Paman diancam dan diserang, saya tentu akan membela Paman. Akan tetapi mencari mereka untuk memusuhi? Benar-benar kurang cocok dengan..."

Pada saat itu terdengar pekik dari puncak. Samar-samar terdengar suara Khu Gin Lin menjerit memanggil suaminya disertai pekik minta tolong..

"Celaka....!"

Bagaikan kilat menyambar, tubuh Kwee Seng sudah berkelebat dan seperti terbang saja ia berlari ke puncak.

Kakek lumpuh itupun bangkit dan menggunakan sepasang tongkatnya berlari mengejar, akan tetapi wajahnya sama sekali tidak membayangkan kekhawatiran, bahkan mulutnya tersenyum dingin.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Kwee Seng ketika ia tiba di puncak, dari jarak jauh ia melihat isterinya, Khu Gin Lin, sedang bertanding seru melawan seorang laki-laki yang berjenggot pendek, berambut panjang seperti saikong dan memegang sebatang pedang.

Isterinya pun berpedang, akan tetapi pedang di tangan isterinya itu tinggal sepotong, agaknya patah ketika bertanding.

Laki-laki lawan isterinya itu hebat ilmu pedangnya dan isterinya yang memang kurang terlatih terdesak hebat sekali dan berada dalam keadaan bahaya.

"Lin-moi... lari...!"

Teriak Kwee Seng dengan wajah pucat karena ia maklum bahwa setiap detik nyawa isterinya terancam bahawa.

Ujung pedang lawan itu sudah mematahkan semua jalan keluar dan sudah mengancam hebat.

Mendengar teriakan ini, Gin Lin timbul semangatnya dan memutar pedang buntungnya, namun sekali tangkis pedangnya terlepas.

Kwee Seng meloncat dan mengeluarkan seruan keras sekali seperti seekor garuda memekik, namun terlambat.

Gerakan pedang laki-laki itu amat cepatnya ketika menusuk dan...

"blessss...!"

Ujung pedangnya amblas kedalam dada kiri Khu Gin Lin!

Hanya beberapa detik Kwee Seng terlambat.

Melihat hal mengerikan ini, Kwee Seng menggereng, tubuhnya mencelat maju dan tangan kirinya menampar.

"Krakk!!!"

Hebat bukan main tamparan ini.

Tepat mengenai kepala penyerang yang masih memegangi gagang pedang yang menancap didada kiri Gin Lin.

Seketika pecah kepala itu, kedua biji matanya terloncat keluar dan otaknya muncrat bercampur darah, tubuhnya terkulai tak bernyawa lagi.

Dengan gerakan aneh Kwee Seng menyambar tubuh isterinya yang terhuyung-huyung.

Pedang itu masih menancap di dada kiri.

Tak berani Kwee Seng mencabutnya, karena ia maklum bahwa hal itu berbahaya sekali.

Dengan pedang menancap, berarti darah masih tertahan sementara.

Ia memeluk dengan hati hancur karena mendapat kenyataan bahwa nyawa isterinya tak mungkin dapat tertolong lagi.

Pedang itu menancap terlalu dalam, hampir menembus dada!

"Lin-moi...

oh, Lin-moi...!"

Ia mendekap dan air mata turun bertitik membasahi pipinya.

Gin Lin membuka matanya dan tersenyum!

"Kwee-koko...

aku puas...

akhirnya aku dapat mengorbankan nyawa untuk berbakti kepada orang tua dan keluarga, untuk Kerajaan Tang...!

Aku puas...

dia...

dia...

sengaja datang mencari aku...

begitu aku mengakui namaku, dia...

terus menyerang...."

Ia terbatuk payah, lalu merangkul leher suamnya, mencium pipinya..

"Koko... jaga baik-baik anak kita... kawinkan dengan Bu... Song..."

Tiba-tiba mata itu terpejam, leher itu lemas dan nyawa Gin Lin meninggalkan tubuhnya.

"Lin-moi...!"

Kwee Seng mendekap muka isterinya itu ke dada, sejenak ia memejamkan matam, menahan napas.

Kemudian ia sadar kembali, perlahan mengangkat tubuh isterinya, membawanya masuk kedalam pondok.

Ketika ia keluar lagi dengan muka pucat, ia melihat Kong Lo Sengjin ikut mengamuk, menusuk-nusuk mayat laki-laki itu dengan kedua tongkatnya sampai hancur lebur!

"Dia adalah seorang di antara musuh-musuhku!

Lihat ini, disakunya ada surat penantang Ban-pi Lo-cia ditujukan kepadaku!

Aku mengenal dia ini seorang jagoan di pantai timur yang ikut bersekutu menjatuhkan Kerajaan Han!"

Kwee Seng tidak memperhatikan ucapan itu, akan tetapi ia menerima surat itu dan membacanya.

Sebuah surat tantangan!

Ditandatangani oleh Ban-pi Lo-cia yang isinya menantang Kong Lo Sengjin datang ke muara Sungai Kuning d Laut Po-hai.

"Kau akan mencari mereka..."

Seperti dalam mimpi Kwee Seng menggelengkan kepalanya.

"Harap Paman berangkat lebih dulu. Aku tidak berjanji apa-apa, akan tetapi kalau Paman bertemu dengan mereka, katakanlah bahwa Kim-mo Taisu akan menemui mereka, biarpun mereka bersembunyi dalam neraka sekalipun!"

Kong Lo Sengjin mengangguk-angguk.

"Begitupun baik, akan tetapi bulan pertama tahun depan mereka berkumpul di lembah Sungai Kuning di Laut Po-hai. Nah, sampai ketemu lagi!"

Kakek itu tanpa mempedulikan kematian keponakannya, lalu berkelebat dan pergi dari puncak Min-san.

Kwee Seng memasuki pondok, berlutut disamping jenazah isterinya, menahan getaran hatinya ketika mendengar suara Bu Song dan Eng Eng di luar pondok.

Mendengar Eng Eng berseru tertahan dan Bu Song yang juga kaget.

Agaknya mereka menemukan mayat yang hacur di luar pondok, pikir Kwee Seng seperti dalam mimpi.

Lalu kedua orang muda itu berlari-lari, membuka pintu pondok dan...

"Ayah...??"

Eng Eng lari mendekati ayahnya yang duduk bersila seperti patung, kemudian ia memandang keatas pembaringan depan ayahnya.

"Ibu...??!!"

Ia memeluk, lalu melihat pedang yang menancap di dada ibunya.

"Ibu...!! Ibu...!!! Ibuuu...!!!"

Eng Eng memeluk dan terguling, pingsan disamping mayat ibunya.

Semenjak kematian isterinya, Kwee Seng atau Kim-mo Taisu berpekan-pekan selalu duduk termenung, bersamadhi didalam kamarnya.

Jarang ia keluar, jarang pula ia suka makan hidangan yang disediakan puterinya.

Puncak Min-san seperti kosong, sunyi dan gelap, seakan-akan selalu tertutup mendung kedukaan.

Biarpun di dalam hatinya Kim-mo Taisu tidak pernah mencinta isterinya seperti seorang pria mencinta wanita, namun ia mendapatkan seorang isteri yang berbudi dalam diri Gin Lin.

Seorang teman hidup yang menyenangkan dan ia merasa amat iba kepada wanita itu.

Kini ia merasa menyesal mengapa hatinya tak pernah menjatuhkan cinta kasihnya kepada Gin Lin, wanita yang demikian baiknya, melainkan masih saja terikat kepada Lu Sian.

Ia merasa menyesal dan berdosa kepada isterinya.

Ia harus membalas dendam.

Biarpun pembunuh isterinya telah ia bunuh pula, namun ia harus mencari orang-orang yang memusuhi Kong Lo Sengjin dan isterinya.

Keadaan yang merupakan perubahan besar ini amat mempengaruhi pula jiwa Kwee Eng.

Gadis ini menjadi sedih melihat ayahnya yang selalu termenung dan berduka seperti seorang yang kehilangan semangat.

Sore hari itu, Kwee Seng baru keluar dari kamarnya, akan tetapi ia tidak melihat puterinya.

Hanya melihat Bu Song yang sedang duduk didepan pondok membaca kitab.

Melihat gurunya keluar, Bu Song cepat menghentikan bacaannya dan segera memberi hormat.

Suaranya terharu ketika ia berkata.

"Maafkan teecu yang berlancang mulut, Suhu. Akan tetapi teecu ingat betapa tidak baiknya membiarkan diri hanyut diseret dan ditenggelamkan perasaan yang dibiarkan berlarut-larut tanpa dilawan akan berubah menjadi racun yang melemahkan batin?"

Sejenak Kim-mo Taisu memandang muridnya yang berdiri dengan sikap hormat dan yang menundukkan muka. Ia tersenyum pahit dan menjawab.

"Terima kasih, Bu Song. Aku tidak lupa akan kenyataan itu. Akan tetapi... ah, betapa lemahnya manusia. Dan engkau tidak tahu pula betapa hebat penderitaan batinku selama itu. Akan tetapi, bukanlah peristiwa ini saja yang membuat hatiku jatuh, muridku, melainkan hal-hal yang mendatanglah yang membuat aku prihatin. Aku harus pergi, akan tetapi betapa aku dapat meninggalkan Eng Eng seorang diri? Bu Song, berjanjilah engkau bahwa engkau bersedia melindungi adikmu Eng Eng selamanya."

Pemuda itu mengangkat mukanya yang membayangkan kesungguhan hatinya, memandang gurunya dengan sinar mata yang jujur.

"Teecu berjanji untuk melindungi Eng-moi selama teecu hidup!"

Tergetar jantung Kwee Seng menatap wajah muridnya ini.

Terbayang kekerasan hati Lu Sian pada wajah itu dan ia menaruh kepercayaan penuh kepada pemuda ini.

"Bu Song, apakah kau mencinta Eng Eng?"

Wajah itu tidak berubah dan sinar matanya masih penuh kejujuran.

"Tentu saja Suhu, teecu mencinta Adik Eng Eng."

"Mencinta seperti adik kandung?"

"Benar, Suhu."

"Ah, aku tidak ingin kau mencintanya seperti adik kandung."

Bu Song terkejut.

"Maksud Suhu...?"

Kim-mo Taisu memegang pundak wajahnya dengan pandang mata tajam.

"Aku ingin kau mencintanya seperti seorang pria mencinta wanita! Seperti seorang laki-laki mencinta calon isterinya!"

Seketika wajah pemuda itu menjadi merah sekali dan ia menundukkan mukanya, menjawab gagap.

"Ah, ini... ini..."

Jawablah sejujurnya, Bu Song. Dapatkah kau mencintanya seperti itu...?"

Dengan hati perih Kim-mo Taisu bertanya, karena ia tidak ingin puterinya mendapatkan suami yang baik akan tetapi tidak mencintanya, seperti mendiang ibunya.

Bu Song mengangguk.

"Memang teecu.... mencintanya seperti itu, Suhu... hanya tentu saja tadinya tak berani mengaku..."

"Bagus! Legalah hatiku. Bu Song, kalau begitu kau tentu bersedia menjadi suami Eng Eng, bukan?"

Pemuda yang memiliki hati yang kuat itu telah dapat membebaskan diri dari rasa malu dan canggung.

Kini ia mengangkat muka memandang gurunya dan menjawab dengan sungguh-sungguh.

"Suhu, teecu menghaturkan beribu terima kasih kepada Suhu yang tidak saja telah mengangkat teecu dari lumpur kehinaan, mendidik teecu, juga kini menganugerahi teecu menjadi calon mantu. Hanya teecu sendiri dan Thian yang mengetahui betapa besar rasa terima kasih itu. Tentu saja teecu bersedia sehidup semati dengan Eng-moi. Akan tetapi, Suhu. Bagaimana teecu berani lancang menjadi suami Eng-moi kalau keadaan teecu seperti ini? Teecu sebatang kara, miskin dan tidak bekerja. Sungguh teecu akan menyesal seumur hidup kalau kelak hanya akan menyia-nyiakan harapan Suhu dan menyeret Eng-moi dalam kehidupan miskin sengsara."

Kim-mo Taisu menepuk-nepuk pundak Bu Song.

"Hemm, anak baik. Kau mempunyai cita-cita apakah? Katakan padaku."

"Semenjak kecil teecu mempelajari sastra. Tentu pelajaran itu akan menjadi sia-sia belaka kalau tidak teecu pergunakan. Teecu ingin sekali mengikuti ujian di kota raja..."

Kim-mo Taisu mengerutkan kening.

Teringat ia akan pengalamannya sendiri ketika ia masih muda.

Ia pun dahulu bercita-cita demikian, namun cita-cita itu kandas karena pada masa itu tak mungkin orang dapat lulus ujian kalau tidak mampu memberi uang suapan yang besar kepada para petugas.

Oleh karena itu, ia dapat memaklumi isi hati calon mantunya.

"Baiklah, Bu Song. Perjodohanmu dengan Eng Eng tidak tergesa-gesa. Cukup bagiku asal kalian sudah bertunangan. Kau boleh menempuh ujian di kota raja dan setelah itu, lulus atau gagal, kau harus melangsungkan pernikahanmu dengan Eng Eng. Biar aku sendiri yang akan menyelidiki ke kota raja. Mudah-mudahan sekarang sudah ada perubahan dan mudah-mudahan Kerajaan Cou Muda yang baru ini tidak lagi mempraktekkan keburukan jaman lama Dinasti Tang. Eh, di mana Eng Eng?"

Bu Song menghela napas.

"Sejak Ibu Guru meninggal, karena melihat Suhu setiap hari menutup diri dan tenggelam berduka cita. Kalau Suhu tidak mau makan, Eng-moi pun tidak suka makan. Kalau Suhu sudah tidur, barulah Eng-moi mau mengaso. Kerjanya hanya menangis setiap hari dan teecu sampai bingung bagaimana harus menghiburnya."

Naik sedu-sedan di tenggorokan Kim-mo Taisu.

"Ahhh, salahku... salahku... mengapa aku selemah ini, Bu Song."

Ia memandang wajah muridnya yang agak kurus dan pucat.

"Kau pun tentu ikut pula kurang makan kurang tidur! Jangan bohong."

"Melihat keadaan Suhu dan Eng Moi, bagaimana teecu bisa senang? Semua akibat sambung menyambung. Subo meninggal dan Suhu berduka. Suhu berduka dan Eng-moi bersusah. Eng-moi bersusah, teecu bingung merana."

"Ah, memang aku bersalah, Bu Song. Lekas kau susul Adikmu dan suruh pulang!"

Bu Song girang hatinya.

Bukan hanya girang karena berita tentang pertunangannya dengan Eng Eng atau tentang maksud suhunya menyuruh dia mengikuti ujian di kota raja, melainkan terutama sekali girang karena perubahan suhunya ini tentu akan mengubah pula keadaan Eng Eng.

Ia melangkah lebar dan berjalan cepat mendaki sebuah puncak di mana ia yakin tentu Eng Eng berada.

Ia tidak tahu betapa suhunya mengawasi dari belakang lalu menarik napas panjang dan berkata seorang diri.

"Anak baik sekali! Mutiara belum tergosok. Kelak ia akan menjadi pendekar yang sukar dicari bandingannya. Akan tetapi bagaimana dapat menggerakkan hatinya untuk menjadi pendekar? Kematian isteriku tentu lebih membuat ia benci akan ilmu silat. Jelas tampak dimukanya betapa ia menyalahkan ilmu silat dalam peristiwa ini!"

Tepat seperti dugaan Bu Song, ia mendapatkan Eng Eng duduk berlutut diatas tanah di puncak yang sunyi, menangis sesenggukan.

Bu Song berhenti dan memandang dengan hati perih.

Kasihan sekali, pikirnya.

Akan tetapi ketika ia melangkah mendekat, tidak seperti biasanya jantungnya berdebar aneh.

Rasa iba hatinya bercampur dengan rasa yang aneh, yang membuat jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas.

"Eng-moi...!"

Ia memanggil lirih.

Sejenak isak itu terhenti dan Eng Eng menoleh, memandang kepada Bu Song dengan mata basah.

Kemudian ia menangis lagi sambil berkata.

"koko, mau apa kau menyusulku disini? Tinggalkanlah aku seorang diri..."

Tangisnya makin menjadi. Bu Song maju mendekat, berlutut dan menyentuh pundak gadis itu.

"Eng-moi, mengapa kau menyiksa diri seperti itu? Menyerahlah kepada keadaan, Moi-moi. Ahh... apakah yang kekal didunia ini? Sewaktu-waktu maut pasti merenggut, memisahkan kita dari orang yang kita sayang. Bahkan setiap saat dapat saja maut merenggut nyawa kita sendiri. Moi-moi, kuatkanlah hatimu, tenangkan batinmu. Ah, sakit rasa hatiku melihatmu sehari-hari menangis begini..."

"Song-koko...!"

Gais itu makin keras menangis dan menutupkan muka pada dada pemuda yang berlutut didepannya.

Bu Song mendekap kepala itu, jantungnya berdebar penuh kasih sayang.

Setelah tangis gadis itu berkurang, ia perlahan mengangkat muka itu dari dadanya, memegang kedua pipi gadis itu dan memandang mukanya.

Sepasang mata jeli yang memerah, hidung kecil mancung yang ujungnya merah dan pipi yang basah air mata, pipi yang agak pucat dan kurus.

"Moi-moi, kau kehilangan Ibumu, akan tetapi disini masih ada aku, masih ada Ayahmu. Aku akan menjagamu, akan menemanimu selamanya, Moi-moi."

Air mata bercucuran keluar dari mata Eng Eng dan gadis ini terisak sambil memejamkan matanya.

Tak tahan Bu Song menyaksikan ini dan ia menundukkan mukanya.

Bibirnya menyapu ujung hidung, mengecap air mata dari pipi.

"Ah-hu-hu-hu...!"

Eng Eng menangis lagi dan mendekapkan muka pada dada yang bidang itu.

Bu Song menghela napas dan mengelus-ngelus rambut yang hitam halus.

Tiba-tiba Eng Eng mendorongkan kedua tangannya pada dada Bu Song.

Biarpun tangan gadis itu kecil halus, namun ia memiliki tenaga lwee-kang, maka tubuh Bu Song terjengkang ke belakang!

Pemuda itu kaget, cepat merayap bangun dan memandang.

Gadis itu masih duduk di tanah, air matanya masih bertitik akan tetapi tidak menangis lagi, mulutnya cemberut dan ia menegur, nada suaranya marah.

"Song-koko... apa yang kau lakukan tadi...??"

"... apa...? Mengapa...? Ah, aku... menciummu... aku kasihan..."

"Engkau nakal!"

"Moi-moi, bukan baru sekarang aku menciummu!"

Bu Song memperotes.

"Memang sejak kita masih kecil kau suka mencium, memang tukang cium! Akan tetapi, kau biasa hanya mencium pipi. Kenapa tadi kau... kau mencium hidung...??"

Mata itu tidak menangis lagi, kini memandang marah.

"Ah, maaf, Moi-moi. Aku tidak... tidak sengaja... aku... aku..."

Aneh sekali. Terbayang senyum dibibir merah itu.

"Sudahlah! Aku bukan marah karena kau mencium, melainkan... ah, hidung dan pipiku kotor, aku sedang menangis, penuh air mata, mengapa kau tidak menunggu mukaku bersih kalau mencium?"

Bu Song tercengang.

Sungguh masih seperti kanak-kanak!

Akan tetapi memang sejak kecil Eng Eng tinggal di puncak gunung, jarang bergaul dengan orang banyak.

Dialah satu-satunya kawan bermain, seperti kakak dan adik.

Eng Eng masih kekanak-kanakan.

Akan tetapi ayahnya sudah bicara tentang jodoh!

"Eng-moi, mari kita pulang."

Dia membungkuk dan menyentuh pundak gadis itu.

"Hari sudah hampir petang."

"Tidak, aku tidak pulang!"

Kata Eng Eng merajuk dan jari tangannya menghapus air matanya yang mulai keluar lagi.

"Untuk apa pulang melihat Ayah bersusah saja? Aku tidak pulang, biar tidur disini!"

"Aihh, jangan begitu, Moi-moi. Suhu sekarang sudah sadar kembali, tadi sudah keluar pondok dan menanyakanmu. Suhu mengharap-harap pulangmu, Moi-moi."

"Kau bohong!"

"Wah, kapan aku pernah membohongimu? Marilah adik manis, tuh Ayahmu menanti disana. Sebentar lagi gelap disini dan Suhu tentu akan marah kalau aku tidak pulang bersamamu. Marilah...!"

Ia menarik tubuh gadis itu berdiri. Eng Eng seperti sengaja berlambat-lambat dan merajuk manja sehingga ia setengah diseret oleh Bu Song.

"Marilah, Moi-moi. Apakah kau masih marah kepadaku? Boleh kau memukulku agar puas hatimu!"

"Siapa mau pukul? Aku tidak marah!"

Akan tetapi suaranya ketus.

"Kalau tidak marah marilah kita jalan cepat-cepat, ayahmu menanti."

"Kau janji dulu!"

"Janji apa?"

"Lain kali mau cium, harus bilang."

Bu Song menahan senyum.

"Mengapa?"

"Biar kubersihkan dulu pipi dan hidungku."

Bu Song tak dapat menahan lagi senyumnya. Ia menjura dan mengangkat kedua tangan didepan dada.

"Baiklah, baiklah, Nona. Dan ampunkan aku....!"

Eng Eng terkekeh ketawa lalu tubuhnya berkelebat lari turun dari puncak itu meninggalkan Bu Song.

Bu Song juga tertawa dan mengejar, akan tetapi tentu saja ia tidak mampu mengejar gadis yang terlatih baik memiliki gin-kang yang lumayan itu.

Karena itu Bu Song lalu tidak mengejar lagi.

Ia berjalan seenaknya.

Biarlah Eng Eng pulang lebih dulu, pikirnya, agar tidak canggung rasanya bagi gadis itu kalau ayahnya memberi tahu tentang perjodohan.

Sambil tersenyum-senyum Bu Song melanjutkan perjalanan pulang perlahan-lahan, hatinya girang sekali dan ia mengenang gadis kekasihnya itu yang menjadi teman bermain sejak kecil.

Semenjak kecil, Eng Eng memang lincah jenaka sekali, kadang-kadang amat nakal dan manja.

Semenjak kecil, karena hubungan mereka seperti kakak beradik, tidak jarang ia mencium pipi Eng Eng, ciuman kanak-kanak dan setelah mereka menjadi besar, ciuman mereka itu menjadi ciuman saudara.

Akan tetapi tadi, terus terang harus ia akui bahwa ketika ia tadi mencium Eng Eng, berbeda sekali perasaannya dengan biasanya.

Agaknya perasaan inilah yang mengagetkan Eng Eng.

Ia tersenyum lagi, kemudian Bu Song bersenandung.

Kegembiraan hatinya membuat ia bernyanyi-nyanyi perlahan.

Gurunya benar.

Ia tidak hanya mencintai Eng Eng sebagai seorang kakak, malah lebih dari itu, ia mencintai Eng Eng sebagai seorang pria mencintai seorang wanita!

Sebagai cinta gurunya terhadap ibu gurunya!

Karena sejak kecil hidupnya selalu di puncak dekat guru dan ibu gurunya, maka kedua orang tua inilah yang ia jadikan contoh dan ia gembira sekali.

Guru dan ibu gurunya selalu hidup rukun, dan ia akan senang sekali kalau dapat melanjutkan hidup bersama Eng Eng sebagai isterinya.

Ketika ia tiba dekat pondok, Bu Song melihat Eng Eng menangis.

Gadis ini bersembunyi dibalik pohon tak jauh dari pondok.

Didepan pondok itu terdengar dua orang berbantahan dengan suara keras.

Ternyata mereka itu adalah Kim-mo Taisu dan Kong Lo Sengjin, kakek lumpuh yang dikenal oleh Bu Song sebagai paman ibu gurunya yang meninggal dunia.

Melihat wajah Eng Eng pucat sekali, Bu Song kaget dan heran.

Akan tetapi ia pun tidak berani muncul dan hanya melihat dari jauh.

Ia hanya mendengar ucapan Kong Lo Sengjin yang suaranya parau.

"Nah, Kwee Seng! Jangan dikira aku tidak tahu akan riwayatmu yang busuk itu! Sekali lagi kutekankan, engkau tidak berhak menentukan perjodohan Eng-jin! Mau enaknya saja engkau ini! Sekarang pun, apa tanda setiamu terhadap isteri? Isteri terbunuh, musuh berkeliaran, dan kau enak-enak disini. Inikah yang disebut orang gagah?"

"Kong Lo Sengjin. Kau pergilah,"

Jawab gurunya, suaranya mengandung duka dan marah.

"Tentang anakku, tak boleh orang lain turut campur, engkau sendiri pun tidak boleh! Soal membalas, tentu saja akan kulakukan. Kau lihat saja, Kim-mo Taisu takkan berhenti sebelum semua musuh terbasmi habis!"

Kakek lumpuh itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, inilah baru ucapan seorang pendekar sejati, seorang patriot sejati! Karena isterimu meninggal, engkau bukan keponakanku lagi, Kim-mo Taisu, melainkan seorang sahabatku, sahabat seperjuangan. Ha-ha-ha!"

"Sayang sekali bukan begitu, Kong Lo Sengjin! Jalan kita berpisah biarpun musuh-musuh kita sama. Nah, kau pergilah!"

Sambil terbahak-bahak Kong Lo Sengjin berkelebat pergi diatas sepasang tongkatnya.

Eng Eng tersedu dan berlari menghampiri ayahnya yang memeluknya dan membiarkan gadis itu menangis Bu Song tak berani bergerak.

Untung pada waktu itu cuaca sudah mulai gelap sehingga kedua orang ayah dan anak itu agaknya tidak melihatnya.

Ia terheran-heran dan bingung.

Apakah yang terjadi?

Ia merasa menyesal mengapa tadi tidak mengejar Eng Eng sehingga kini agaknya ia terlambat datang dan tidak tahu apa yang terjadi sebelum ia datang.

Apa sesungguhnya yang terjadi?

Hanyalah perbantahan antara Kim-mo Taisu dan Kong Lo Sengjin, namun bantahan yang isinya menghancurkan hati Eng Eng yang kebetulan datang dan mendengar sambil bersembunyi karena ia takut melihat ayahnya bicara keras dengan paman ibunya yang sejak dahulu menimbulkan rasa takut dihatinya.

Mula-mula ia mendengar ayahnya membentak keras.

"Tidak! Urusan jodoh anakku adalah ditanganku, tiada orang lain boleh mencampurinya! Akulah yang berhak menentukan, karena bukankah aku ayahnya?"

Kong Lo Sengjin tertawa mengejek.

"Kwee Seng, berani kau membuka mulut besar setelah isterimu meninggal? Kau kira aku tidak tahu betapa kau dahulu meninggalkan Gin Lin karena kau kira dia nenek-nenek? Betapa kau meninggalkan dia menderita seorang diri, mengandung dan melahirkan Eng Eng karena perbuatanmu? Tak ingatkah engkau bahwa perbuatanmu yang hina itu, Gin Lin menjadi wanita ternoda dan Eng Eng menjadi anak tanpa ayah, anak yang lahir dari perhubungan gelap? Dan akulah orangnya yang mengangkat Gin Lin dan anaknya dari sengsara. Setelah Eng Eng besar, setelah Gin Lin ternyata seorang gadis cantik, baru kau muncul dan mengaku sebagai suami Gin Lin, sebagai ayah Eng Eng! Huh, tak bermalu! Kini Gin Lin dibunuh orang, engkau enak-enak saja, sebaliknya kau mengukuhi hakmu sebagai ayah Eng Eng."

"Kong Lo Sengjin, tutup mulutmu! Kalau tidak, jangan sesalkan kalau aku terpaksa melawanmu!"

Kim-mo Taisu membentak marah.

"Aha, kau kira aku takut? Kau kira engkau gagah? Kegagahanmu untuk melawan Paman Gin Lin karena aku tahu rahasiamu? Ha-ha-ha! Bukannya mencari musuh-musuh Gin Lin, sebaliknya engkau malah hendak melawan aku! "Boleh, engkau boleh menjadi musuhku, akan tetapi sekali-kali engkau tidak boleh mengaku sebagai ayah Eng Eng! Gin Lin hanyalah kekasihmu barangkali, akan tetapi bukan isterimu. Bilakah engkau menikah dengan keponakanku itu? Siapa saksinya? Ha-ha-ha!"

"Diam!!"

Kim-mo Taisu membentak lagi.

"Kong Lo Sengjin, kuminta kepadamu, jangan ulangi semua itu. Baiklah, kuakui bahwa memang aku telah meninggalkan Gin Lin di Neraka Bumi, akan tetapi aku tidak mengira bahwa dia telah mengandung! Dan aku telah memperbaiki semua kesalahan, dan aku berjanji pula akan membasmi musuh-musuhnya."

"Ha-ha-ha! Betulkah itu? Kau berani menghadapi Tok-siauw-kwi?"

Kong Lo Sengjin mendesak.

"Aku pun tahu bahwa cintamu bukan kepada Gin Lin melainkan kepada siluman betina itulah. Pat-jiu Sin-ong sudah menceritakan semuanya kepadaku! Jenderal Kam Si Ek sudah menceritakan semuanya kepadaku! Ha-ha-ha, alangkah lucunya. Engkau yang patah hati menjadi buta, Gin Lin yang menyamar nenek-nenek sekalipun engkau tubruk. Sebaliknya, Tok-siauw-kwi tanpa mempedulikan cintamu telah berpesta pora dan bermain gila, menghabiskan para bangsawan muda di Hou-han. Dia pun termasuk komplotan yang memusuhi aku, memusuhi Gin Lin, dialah seorang diantara musuh-musuh yang menyebabkan kematian Gin Lin. Beranikah kau kini membalas kepadanya?"

Kim-mo Taisu merasa kepalanya berdenyut-denyut.

Pening kepalanya, sakit hatinya.

Akan tetapi apa hendak ia jawab?

Ucapan kakek keji ini semua tepat dan benar.

Terbayang di depan matanya betapa ia telah mengalami hal-hal yang amat memalukan, betapa semua itu menjadi bukti dari pada kelemahan batinnya terhadap asmara.

"Pergilah...! Aku akan menghadapinya... kau pergilah!"

Hanya demikian ia menjawab dan pada saat itulah Bu Song datang dan mendengar percakapan selanjutnya.

Pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa tadi telah terjadi percakapan yang menyinggung-nyinggung ibunya.

Namun, andaikata ia mendengar sekalipun, ia tidak akan tahu bahwa Tok-siauw-kwi adalah ibu kandungnya.

Bu Song masih belum berani keluar ketika melihat Eng Eng tersedu-sedu dalam pelukan ayahnya.

Baru setelah mereka memasuki pondok, ia berani mendekati pondok.

Malam itu Kim-mo Taisu dan Eng Eng tidak keluar lagi dan Bu Song mendengar betapa Eng Eng bergelisah didalam kamarnya, kadang-kadang menangis.

Adapun gurunya terdengar menarik napas berulang-ulang dalam kamar samadhinya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kim-mo Taisu sudah memanggilnya menghadap.

"Bu Song,"

Kata guru ini yang mukanya pucat.

"Kau kumpulkan semua persediaan akar-akar obat yang sudah kering, juga kulit ular dan harimau yang sudah kering, pilih yang baik-baik. Kemudian kau bawa semua itu turun kelereng barat dan temui Paman Kui Sam."

"Suhu maksudkan Kui Sam lopek di dusun Hek-teng?"

Bu Song menjelaskan.

Ia mengenal Kui Sam si pedagang keliling yang banyak menceritakan tentang kota raja dan kota-kota besar lainnya dalam perantauannya.

"Betul, dia. Berikan semua barang itu kepadanya dan katakan agar ia tukar dengan lima stel pakaian sekolah untukmu, kemudian sisanya supaya dia persiapkan saja, nanti kalau aku hendak pergi, kuambil uangnya."

Berdebar jantung Bu Song.

Jelas bahwa ia benar-benar akan disuruh mengikuti ujian ke kota raja!

Tak enak hatinya.

Akar-akar obat dan kulit ular dan harimau itu adalah simpanan mereka, hasil perburuan bertahun-tahun.

"Suhu, selain pakaian untuk teecu, apakah tidak ada lain pesanan? Pakaian untuk Eng-moi, untuk Suhu sendiri, atau lain keperluan..."

Kim-mo Taisu menggeleng kepala.

"Bu Song, ketahuilah. Aku segera akan turun gunung pergi ke kota raja, mencarikan tempat untukmu. Kau jaga adikmu baik-baik sampai aku pulang. Setelah aku pulang, kaulah yang akan pergi mengikuti ujian. Setelah itu baru kelak kita bicara tentang yang lain-lain..."

Guru ini menarik napas panjang dan Bu Song tidak berani membantah lagi.

Cepat ia mengumpulkan barang itu, mengikatnya menjadi satu, menggulung kulit dan menyediakan pikulan.

Barang-barang itu sudah kering, tidak terlalu berat, apalagi Bu Song sudah biasa turun naik puncak sambil memikul beban.

Sudah menjadi pekerjaannya sehari-hari.

Ia agak merasa heran mengapa Eng Eng belum juga muncul.

Ingin ia bertemu dengan gadis itu sebelum ia pergi ke dusun Hek-teng.

Akan tetapi karena matahari sudah mulai muncul dan gadis itu belum keluar, ia tidak berani menanti lebih lama lagi, lalu dipikulnya barang-barang itu dan mulailah ia menuruni puncak menuju ke dusun Hek-teng yang letaknya dilereng Gunung Min-san bagian barat.

Hari sudah siang ketika ia tiba didusun Hek-teng dan langsung ia menuju ke rumah Kui Sam.

Pedagang itu girang sekali menerima kiriman barang-barang yang baginya amat berharga dan menguntungkan itu.

Kalau barang-barang ini dibawa ke kota akan menghasilkan uang banyak.

Akan tetapi pada saat Bu Song tiba di situ, Kui Sam sedang sibuk sekali dan di situ berkumpul semua penduduk dusun Hek-teng.

Maka sesingkatnya saja Bu Song menyampaikan semua pesan suhunya yang diterima baik oleh Kui Sam, kemudian Bu Song bertanya.

"Kui Sam lopek, ada apakah ramai-ramai ini? Mengapa semua Paman berkumpul di sini dan menyiapkan tombak dan obor seperti orang mau perang saja?"

"Kebetulan sekali Kongcu datang ke sini. Tentu Kongcu sebagai murid Kim-mo Taisu akan dapat membantu kami mengusir atau membinasakan musuh ganas!"

Kata seorang diantara penduduk Hek-teng yng mewakili Kui Sam menjawab. Muka Bu Song menjadi merah.

"Ah, maafkan, Paman. Biarpun aku benar murid Suhu, namun aku bukan belajar ilmu silat, melainkan belajar ilmu sastra. Oleh karena itu, mana aku mampu berkelahi dan membunuh orang?"

Tentu saja para penduduk dusun itu tidak ada yang mau percaya.

Mereka anggap sudah wajar seorang pendekar murid orang sakti selalu merendahkan diri, rendah hati dan pura-pura lemah.

"Wah, Kongcu terlalu merendah!"

Kui Sam tertawa bergelak.

"Gurumu memiliki kepandaian seperti malaikat, tentu muridnya lihai sekali. Pula, kami bukan hendak membunuh orang, karena musuh kami bukan orang."

"Bukan orang? Lalu... apakah musuh kalian?"

"Burung. Burung raksasa yang dalam waktu sebulan ini sudah menghabiskan sepuluh ekor domba kami!"

"Oohhh... agaknya hek-tiauw (Rajawali Hitam) yang pernah disebut-sebut Suhu,"

Kata Bu Song kagum.

Pernah ia bersama suhunya pada suatu senja melihat titik hitam tinggi di angkasa, makin lama titik itu makin besar dan akhirnya tampaklah seekor burung hitam melayang-layang amatlah gagahnya.

Tadinya Bu Song menyangka bahwa burung itu sekor garuda, akan tetapi suhunya segera menerangkan.

"Bukan, burung itu adalah seekor hek-tiauw yang sukar dilihat. Agaknya ia datang kesini untuk mencari-cari tampat yang aman untuk bersarang dan bertelur."

"Mungkin sekali,"

Kata Kui Sam.

"Besarnya bukan main, ganas dan kuat. Sebuah kakinya mampu mencengkeram seekor domba. Paling akhir ia mencengkeram dua ekor domba dan dibawanya terbang dengan mudah. Memang bulunya agak kehitaman, akan tetapi matanya merah seperti api menyala."

Bu Song makin tertarik.

"Lalu kalian ini hendak menyerbunya secara bagaimanakah? Dia pandai terbang, bagaimana kalian dapat mengejarnya?"

"Kami akan menyerbu sarangnya, Kongcu. Sudah kami ketahui dimana sarangnya, dipuncak batu karang sebelah selatan. Agaknya dia bertelur disana. Kita akan obrak-abrik sarangnya tentu dia akan lari ketakutan dan biar dia minggat mencari tempat lain! Hendak kami lihat apakah dia berani melawan api, ha-ha!"

Bu song tertarik sekali.

"Boleh aku ikut menonton?"

"Ha-ha, tentu saja boleh. Dengan adanya Kongcu, kami makin tidak takut terhadap burung raksasa itu,"

Jawab mereka.

Berangkatlah rombongan itu sebanyak dua puluh lima orang.

Kui Sam menjadi pemimpin rombongan berjalan didepan.

Bu Song berjalan disampingnya.

Mereka bernyanyi-nyanyi dan bersenda-gurau seperti seregu pasukan hendak maju perang melawan musuh!

Diam-diam Bu Song mengalami kegembiraan yang belum pernah ia rasakan selama ini.

Orang-orang ini benar gagah, pikirnya.

Perjalanan mulai sukar, mendaki sebuah puncak yang penuh batu-batu seperti karang, runcing tajam dan kasar.

Namun mereka adalah penduduk gunung yang sudah biasa melalui jalan seperti itu, maka perjalanan dapat dilanjutkan tanpa banyak kesukaran.

Hanya kini tidak ada yang bernyanyi lagi, tidak ada yang bersendau-gurau, karena keringat telah membasahi tubuh yang telah membasahi tubuh yang lelah dan hati mulai berdebar tegang.

Makin dekat dengan sebuah batu karang berbentuk menara yang menjulang tinggi di puncak, makin berdebarlah hati mereka.

Di ujung batu karang itulah si burung raksasa bersarang.

Akhirnya mereka tiba dibawah batu karang seperti menara itu, terengah-engah menyusuti keringat.

Tiba-tiba terdengar bunyi bercicit-cicit nyaring diatas batu karang, lalu terdengar kelepak sayap dan...

mereka menjadi gelisah ketika tampak seekor burung hitam raksasa terbang melayang keluar dari atas batu karang.

Inilah si Rajawali Hitam yang ganas itu.

Bulunya kehitaman, matanya mencorong seperti api bernyala.

"Cepat nyalakan obor!"

Seru Kui Sam dan ramai-ramai mereka nyalakan obor.

Ada yang mulai melepas anak panah ke arah burung itu karena si Rajawali kadang-kadang menyambar ke bawah sambil memekik-mekik nyaring.

Akan tetapi, anak panah itu disampok runtuh oleh sayapnya yang besar seakan-akan anak-anak panah itu hanyalah mainan kanak-kanak belaka.

Orang-orang itu berteriak-teriak dan mengacung-acungkan tombak serta obor.

Benar saja, karena melihat api, burung itu tidak berani menyerang, hanya terbang mengitari mereka dari atas sambil memekik-mekik marah.

Selama orang-orang itu berkumpul dan melindungi kepala dengan api, burung itu tidak berani apa-apa.

"Hayo kita keatas, kita bakar sarangnya!"

Teriak Kui Sam.

Akan tetapi jalan pendakian keatas batu karang itu amat sempit, hanya dua orang saja dapat bersama mendaki keatas, itupun amat sukar.

Kui Sam dan seorang lain lagi mendaki, akan tetapi baru kurang lebih tiga meter, burung rajawali itu menyambar dari atas.

"Awas...!!"

Teriak mereka yang tinggal dibawah.

Kui Sam dan temannya terkejut, cepat mengangkat obor ditangan kanan untuk melindungi kepala sedangkan tangan kiri memegang batu karang yang menonjol.

Bahkan Kui Sam menggerakkan tombak untuk menusuk ketika bayangan hitam itu menyambar.

Akan tetapi, kibasan sayap yang besar dan amat kuat sekaligus memadamkan dua buah obor, mematahkan tombak dan membuat kedua orang itu terlempar jatuh kebawah!

Baiknya teman-teman di bawah segera menerima tubuh mereka dan yang tertimpa ikut roboh bergulingan.

Biarpun babak-belur, namun mereka selamat.

Kembali burung itu menyambar, akan tetapi sambil memekik marah ia terbang keatas kembali setelah semua orang menyatukan obor dan mengacung-acungkan keatas.

"Dia takut api dan tidak berani menyerang kita!"

Kata Kui Sam yang masih merasa mendongkol.

"Akan tetapi mana bisa kita mendaki bersama? Paling banyak hanya dua orang yang bisa mendaki bersama, dan hal itu berbahaya. Menghadapi dua obor saja ia tidak takut!"

Kata yang lain.

"Kita gunakan panah api! Kita ikatkan benda bernyala diujung anak panah dan kita panahkan kebagian atas. Agaknya sarang itu berada dipuncak, dalam sebuah gua,"

Kata Kui Sam.

"Lihat itu...!"

Tiba-tiba Bu Song berkata.

Pemuda ini sejak tadi menonton dan tidak ikut-ikut membawa obor.

Ia merasa kagum bukan main menyaksikan gerakan dan sepak terjang burung rajawali hitam itu.

ketika melihat penuh perhatian kearah puncak karang, ia tiba-tiba melihat tiga buah kepala burung muncul, tiga buah kepala burung yang lucu sekali karena tidak berbulu, matanya melotot.

Semua orang berdongak memandang.

"Itu anak-anaknya. Kita serang dengan anak panah...!"

Kata Kui Sam.

Lebih mudah dikatakan daripada dilakukan usul ini, karena selain terlindung batu karang yang menonjol, juga semua anak panah disapu habis oleh rajawali hitam yang melindungi anak-anaknya.

Bahkan terjadi ribut dan gempar ketika seorang diantara mereka tertusuk anak panah yang runtuh dari atas, tepat mengenai daun telinganya sehingga robek.

Tiba-tiba Bu Song meloncat dari tempat duduknya.

Ia sejak tadi memperhatikan anak-anak burung itu dan melihat betapa seekor diantara mereka agaknya tertarik oleh ribut-ribut di bawah, entah tertarik entah ketakutan, akan tetapi anak burung yang seekor ini bergerak-gerak makin kepinggir.

Ia sudah khawatir sekali, maka begitu melihat anak burung itu tergelincir keluar dan jatuh kebawah, ia sudah melompat dan menerima burung kecil itu dengan kedua tangannya!

Dari bawah burung itu kelihatan kecil, akan tetapi setelah ia terima dengan tangannya, ternyata sebesar bebek!

"Saudara-saudara, harap mundur.

Tak baik ribut-ribut ini dilanjutkan!"

Bu Song berkata dengan suara keras.

Entah suaranya yang berwibawa, entah karena mereka menganggap ia seorang pendekar murid Kim-mo Taisu, akan tetapi semua orang berhenti memanah dan mengundurkan diri, memandang kepada Bu Song yang memegang anak burung itu ditangannya.

"Sekarang aku mengerti."

Kata Bu Song.

"Rajawali itu mencuri kambing untuk memelihara anak-anaknya. Kalau anak-anaknya sudah pandai terbang, tentu mereka akan pergi meninggalkan tempat ini, karena asal mereka bukan disini."

Anak burung itu bercicit ditangan Bu Song dan induk burung beterbangan diatas, memekik-mekik dan menyambar-nyambar kearah Bu Song, akan tetapi tidak menyerang pemuda itu karena Bu Song mengangkat anak burung itu diatas kepalanya.

Kemudian dengan tenang pemuda itu lalu mendaki batu karang berbentuk menara itu, perlahan-lahan dan hati-hati ia mendaki keatas.

Burung rajawali hitam menyambar-nyambar lagi sambil memekik-mekik dan orang-orang dibawah sudah menahan napas melihat betapa burung besar itu menyambar kearah Bu Song.

Namun, burung itu tidak menyerang.

Agaknya melihat pemuda itu memegangi anaknya sambil mendaki dan tidak membawa api yang ditakuti, burung itu dapat mengerti niat orang menolong anaknya.

Setelah tiba dipuncak, Bu Song melihat sebuah gua yang besar.

Kiranya didalam gua itulah sarang si Rajawali, karena lubang itu penuh dengan rumput kering.

Ia menaruh anak burung itu didekat dua saudaranya, dua ekor burung kecil yang serupa dan yang memandang Bu Song dengan mata melotot-lotot lucu.

Bu Song tertawa dan mengelus-elus kepala mereka.

Tiba-tiba matanya tertarik oleh setumpuk benda putih kekuningan dipinggir sarang, benda seperti agar-agar kering.

Ia teringat akan cerita suhunya tentang khasiat liur burung yang sudah kering dalam sarang burung wallet, maka tanpa ragu-ragu ia lalu mengambil setumpuk benda itu, kemudian turun lagi kebawah.

Burung rajawali itu mengeluarkan suara aneh terbang berputaran mengelilingi tempat itu dan matanya selalu melirik kearah Bu Song.

Sama sekali ia tidak mengganggu Bu Song yang mendaki turun.

Setibanya dibawah, orang-orang menyambut Bu Song dengan kening berkerut.

Mereka merasa tidak puas karena belum berhasil membasmi musuh, malah pemuda dari puncak Min-san ini seakan-akan berpihak kepada musuh!

Bu Song seorang pemuda yang luas pandangan cerdik.

Ia maklum akan isi hati orang-orang itu, maka ia segera berkata.

"Saudara-saudara, maafkan pendapatku ini. Akan tetapi burung rajawali hitam itu tidaklah jahat. Buktinya, ia tidak pernah membunuh manusia untuk dijadikan mangsanya. Ia menyerang manusia sekarang ini hanya karena kita yang lebih dahulu mengganggunya. Maka tidak perlu kita memusuhinya."

"Akan tetapi, dia sudah menghabiskan sepuluh ekor kambing kami!"

Bantah seorang.

"Kalau tidak dibunuh, tentu akan menghabiskan lebih banyak lagi!"

Sambung orang kedua.

"Tidak, asal dijaga baik-baik,"

Kata pula Bu Song.

"Kambing-kambing yang sudah diterkamnya, biarlah kelak aku yang menggantinya, kutukar dengan akar-akar obat. Selanjutnya, jika kalian menggembala domba, supaya mempersiapkan obor. Begitu dia muncul, kalian menyerang. Dengan cara begini, burung yang lapar itu tentu akan mencari binatang lain dalam hutan. Lebih aman begini daripada harus bermusuh melawan burung ajaib yang amat berbahaya itu. untuk apa mengorbankan nyawa manusia kalau jalan lain dapat ditempuh?"

Akhirnya semua orang itu setuju dengan pendapat Bu Song dan pemuda ini dengan hati girang pulang kepuncak membawa liur (ilar) kering burung rajawali hitam.

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Kam Si Ek, bekas suami Liu Lu Sian, bekas Jenderal Hou-han yang gagah perkasa.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, semenjak ditinggalkan isterinya, Kam Si Ek hidup menduda di samping puteranya, Kam Bu Song, selama tiga tahun.

Kemudian ia menikah lagi dengan Ciu Bwee Hwa, puteri seorang sastrawan bernama Ciu Kwan yang tinggal di Ting-chun.

Peristiwa ini menekan perasaan Bu Song yang lalu minggat meninggalkan rumah ayahnya.

Tentu saja kepergian puteranya itu menyedihkan hati Kam Si Ek yang melakukan segala usaha untuk mencari puteranya, namun sia-sia belaka.

Baru setelah istrinya melahirkan anak, kesedihan Kam Si Ek yang kehilangan Bu Song agak mereda, sungguhpun ia masih senantiasa teringat dan berusaha mencari puteranya yang sulung itu.

Jenderal Kam Si Ek adalah seorang panglima yang setia dan mentaati perintah atasan.

Biarpun ilmu silatnya tidak amat hebat, namun kepandaiannya mengatur barisan, menggunakan siasat perang, terkenal sekali.

Dengan siasatnya yang cerdik, Jenderal Kam Si Ek sanggup menghadapi musuh yang jauh lebih besar bala tentaranya.

Berkat kepandaiannya mengatur bala tentara inilah maka Hou-han menjadi kuat sekali dan biarpun berkali-kali musuh, terutama pasukan-pasukan Khitan, berusaha menyerbu, selalu dapat dipukul hancur dan digagalkan.

Nama Jenderal kam Si Ek terkenal sampai diluar daerah, sampai di Khitan dan di kerajaan-kerajaan lain yang pernah memusuhi Hou-han.

Akan tetapi hati Kam Si Ek makin lama makin bercuriga terhadapi Gubernur Li Ko Yung di Shan-si, yang ia anggap seorang yang setia kepada kerajaan dan seorang pejabat tinggi yang tidak mempunyai ambisi pribadi.

Kemudian ia dapat tahu bahwa Gubernur Shan-si ini mempunyai cita-cita untuk membangun kerajaan sendiri di Shan-si, apalagi setelah Kerajaan Tang makin lemah.

Kam Si Ek mendengar bahwa Gurbernur Li ini ikut pula membantu dan bersekutu dengan pemberontak!

Pada saat itu juga Kam Si Ek sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri, akan tetapi pada hari ia hendak mengirim surat permohonan berhentinya kepada gubernur, tiba-tiba Shan-si diserang oleh gelombang pasukan Khitan yang amat besar.

Biarpun Kam Si Ek sudah tidak suka untuk mengabdi kepada Gubernur Li Ko Yung yang mengkhianati Kerajaan Tang, namun Kam Si Ek masih mengingat akan nasib rakyatnya.

Maka ia cepat-cepat mengenakan pakaian perang, membantah cegahan isterinya yang menggendong puterinya yang baru berusia empat tahun.

Kini Ciu Bwee Hwa telah mempunyai dua orang anak, yang pertama laki-laki berusia enam tahun diberi nama Kam Bu Sin, yang kedua perempuan yang digendong itu bernama Kam Sian Eng.

"Bukankah sudah bulat keputusanmu hendak meninggalkan Shan-si dan kita mengundurkan diri ke gunung? Mengapa sekarang kau hendak maju perang lagi?"

Antara lain isterinya memperingatkan.

"Bala tentara Khitan yang menyerbu kali ini amat besar dan kuat. Aku maju bukan untuk membela Gubernur Li, melainkan untuk mencegah bangsa Khitan merusak kota-kota dan membunuhi rakyat. Biarlah kali ini menjadi tugas terakhir bagiku. Kau tenanglah dan jaga baik-baik kedua orang anak kita, isteriku."

Kemudian berangkatlah Kam Si Ek.

Ia memimpin barisan memotong jalan yang akan dilalui bala tentara Khitan yang datang menyerang bagaikan gelombang.

Dengan siasat memecah-mecah barisan dan membuat jebakan-jebakan dan perangkap, akhirnya ia berhasil memotong barisan musuh menjadi beberapa bagian terpisah, lalu pasukan-pasukannya yang terlatih baik itu menyerbu dari tempat-tempat sembunyi mereka, pertama-tama menggunakan panah-panah api untuk mengacaukan bala tentara Khitan yang sudah terpotong itu, kemudian mengurung mereka yang sudah terputus dengan bagian perlengkapan dan setelah mereka menjadi lemah keadaannya, barulah pasukan-pasukan ini menyerbu!

Seperti telah kita ketahui, pada waktu itu, Raja Kulukan, ayah puteri Tayami telah meninggal dunia dan kedudukan Raja Khitan berada di tangan Kubakan, kakak tiri Tayami.

Setelah Kubakan menjadi Raja Khitan, ia mengerahkan pasukannya untuk menyerang ke selatan dan ke timur.

Pasukan-pasukannya ganas dan kuat, dibantu panglima-panglima yang kosen.

Hanyalah karena maklum bahwa banyak panglima tua masih setia kepada Puteri Tayami, maka Raja Kubakan bersikap baik terhadap Tayami.

Akan tetapi, kebaikan ini hanya lahiriah belaka, sebetulnya didalam hati ia amat membenci Tayami yang tidak membalas cintanya.

Apalagi Raja Kubakan juga tahu bahwa sewaktu-waktu dapat goyah.

Ia mencari kesempatan untuk melenyapkan saingan ini.

Tayami telah menikah dengan Salinga, seorang panglima muda, perajurit perkasa dari Khitan.

Mereka berdua hidup bahagia, saling mencinta dan setahun kemudian mereka dikaruniai seorang puteri yang mungil dan sehat, dan yang mereka beri nama Puteri Yalina.

Makin bahagialah kehidupan mereka dan biarpun bekas puteri mahkota ini tidak menggantikan kedudukan mendiang ayahnya menjadi raja, melainkan diganti oleh kakak tirinya, Kubakan, namun hati puteri ini tidaklah merasa penasaran.

Ia merasa cukup berbahagia disamping suaminya yang mencinta dan puterinya yang mungil.

Kurang lebih dua tahun kemudian sejak Puteri Tayami melahirkan puterinya, terjadilah penyerbuan besar-besaran terhadap Shan-si digerakkan oleh Raja Kubakan.

Dalam operasi ini, Raja Kubakan memerintahkan kepada Panglima Salinga, suami Tayami, untuk memimpin pasukan.

Sebagai seorang perajurit yang bertugas membela negaranya, tentu saja Salinga tidak berani membantah dan siap-siap berangkat.

Akan tetapi isterinya merasa khawatir dan berkata.

"Suamiku, selama ini tugasmu menjaga keselamatan kerajaan disini. Sekarang Raja memerintahmu untuk memimpin pasukan menyerang Shan-si. Serbuan ini besar-besaran dan mati-matian, apalagi kalau diingat bahwa di Shan-si terdapat Jenderal Kam Si Ek yang amat pandai sehingga penyerbuan ini amat berbahaya. Aku merasa tidak enak dan curiga, oleh karena itu, aku harus ikut."

"Ah, mengapa harus ikut? Kau seorang wanita dan tugasmu menanti dirumah..."

"Biar seorang wanita, sejak dahulu aku sudah biasa ikut mendiang Ayah melakukan perang. Pula, aku seorang puteri, sudah menjadi tugasku pula menyertai pasukan kita melawan musuh."

"Benar, isteriku. Akan tetapi kau harus ingat Yalina yang masih kecil."

"Dia anak kita, anak orang-orang perangan. Usianya sudah dua tahun lebih. Pula, aku hanya mengantar dan berada di barisan belakang. Aku hanya ingin menyaksikan sendiri bahwa tidak ada sesuatu dibalik perintah penyerbuan ini, suamiku."

Karena tidak dapat ditentang, akhirnya Puteri Tayami berangkat juga bersama barisan yang dipimpin suaminya.

Dengan gagah Puteri Tayami naik kuda disamping suaminya sambil menggendong puterinya yang berusia dua tahun lebih.

Anggota pasukan menjadi besar hati menyaksikan betapa puteri yang gagah perkasa ini menyertai suaminya.

Demikianlah, terjadi perang hebat melawan bala tentara yang dipimpin Kam Si Ek.

Dan seperti telah disebutkan tadi, Kam Si EK mengatur siasat memecah-mecah barisan Khitan, memasang jebakan dan menyerbu dengan tiba-tiba sehingga barisan Khitan menjadi kocar-kacir.

Pasukan-pasukan Khitan terdiri orang-orang gagah dan pandai perang, akan tetapi menghadapi siasat Jenderal Kam Si Ek, mereka tidak berdaya dan kacau-balau.

Banyak orang Khitan tewas terkena panah gelap.

Dalam keadaan terkurung dan terjebak, Panglima Salinga tewas dalam pertempuran.

Berita ini segera sampai ditelinga Puteri Tayami yang berada di barisan belakang dan sudah terputus hubungannya.

Puteri Tayami menjadi kaget dan berduka sekali, juga marah.

Cepat ia melompat keatas seekor kuda, menggendong puterinya dan dengan pedang ditangan, puteri yang perkasa ini lalu terjun kedalam kancah perang, mengamuk secara hebat.

Pedangnya merobohkan banyak lawan.

Keinginan sampai dapat bertemu dengan Jenderal Kam Si Ek yang memimpin sendiri barisannya dan jika berhasil membunuh pimpinan lawan ini hatinya akan puas.

Pedang Besi Kuning ditangannya adalah pusaka Khitan yang ampuh sekali.

Setiap senjata lawan yang bertemu dengan pedangnya ini tentu akan patah dan bagaikan seekor naga betina puteri ini mengamuk terus.

Akhirnya ia berhasil mendekati tempat Jenderal Kam mengatur siasat dan memimpin pasukannya.

Semangat dan kegagahan Puteri Tayami ini menarik dan membangkitkan kembali semangat para pasukan Khitan sehingga dalam waktu singkat banyak pula pasukan Khitan yang ikut menyerbu dibelakangnya dan sampai pula ketempat itu.

pertempuran menjadi makin hebat dan melihat (Lanjut ke

Jilid 25) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 25 kegaduhan ini Jenderal Kam Si Ek terkejut.

Seorang pembantunya lalu melaporkan bahwa sepasukan musuh yang dipimpin seorang wanita Khitan menyerbu dengan nekat dan berhasil menghacurkan kepungan.

Jendral Kam meloncat keatas kudanya dan segera memimpin pasukan pengawal untuk membantu pertahanan menghadapi amukan pasukan musuh yang menurut laporan amat berani dan kuat itu.

Dari tempat agak jauh dan tinggi ia memeriksa keadaan, lalu memberi perintah pengepungan, memberi isyarat kepada pasukannya untuk mundur dan bersembunyi, kemudian dari empat penjuru pasukannya menghujani pasukan musuh yang mengamuk itu dengan anak panah!

Dalam keadaan dihujani anak panah itulah tiba-tiba Puteri Tayami Roboh dari atas kudanya, bukan terkena anak panah musuh, melainkan terkena anak panah yang dilepas dari belakang, dari dalam pasukannya sendiri!

mengapa begitu?

Kiranya dari sejak mula, Raja Kubakan sudah mengirim orangnya untuk menggunakan kesempatan ini membunuh Salinga dan Tayami!

Salinga tewas dalam perang, tinggal Puteri Tayami.

Namun pembunuh itu tidak mendapatkan kesempatan melaksanakan tugasnya yang jahat dan berat, karena tentu saja selain hendak mentaati perintah raja dan mengharapkan hadiahnya, ia pun ingin menyelamatkan diri sendiri sehingga tugas itu dapat ia lakukan tanpa membahayakan nyawanya sendiri.

Puteri Tayami adalah seorang wanita kosen, tidak mudah dibunuh begitu saja.

Selain itu, apabila ketahuan para panglima bahwa dia membunuh Tayami, tentu ia pun tidak akan selamat!

Maka kini melihat puteri itu mengamuk, ia pun lalu masuk kedalam pasukan yang mengikuti jejak puteri perkasa ini.

Dalam keadaan kacau-balau karena terjebak dan dihujani anak panah inilah, ia mendapat kesempatan baik sekali.

Teman-temannya dalam pasukan juga membalas musuh dengan anak panah.

Melihat betapa Puteri Tayami melindungi diri sendiri dan puterinya dengan memutar pedang bersinar kuning di depannya, pembunuh ini lalu menarik gendewa dan mengirim pula anak panahnya, bukan kepada musuh melainkan tepat kearah Puteri Tayami!

Tak seorangpun mengetahui bahwa dialah yang menewaskan Puteri Tayami.

Semua mengira bahwa Sang Puteri menjadi korban anak panah musuh!

Robohnya Tayami ini tak dapat disangkal lagi malah menyelamatkan nyawa puteri dalam gendongannya.

Setelah ia roboh, puteri Tayami masih memeluk puterinya, melindunginya dengan tubuh dan dengan Pedang Besi Kuning.

Robohnya puteri ini mengagetkan pasukan Khitan, apalagi karena selain Sang Puteri, banyak pula anggota pasukan roboh terkena anak panah.

Mereka menjadi agak panik dan kacau, sungguhpun mereka tidak takut.

Melihat musuh bergerak kacau-balau, Jenderal Kam Si Ek memberi aba-aba dan menyerbulah barisannya dari depan dan kanan kiri.

Terjadilah perang mati-matian dan Jenderal Kam Si Ek yang sejak tadi memperhatikan dari tempat tinggi dan kagum melihat gerakan Puteri Tayami yang disangkanya seorang perajurit wanita biasa, lalu mengeprak kudanya, memainkan goloknya ikut menyerbu musuh.

Ia mengerahkan kudanya ketengah lapangan mendekati tempat perajurit wanita tadi roboh.

Alangkah kaget, kagum dan terharunya ketika ia melihat seorang wanita cantik jelita menggeletak miring dalam keadaan tak bernyawa lagi, akan tetapi tangan kanannya masih erat-erat memegang sebatang pedang bersinar kuning dan tangan kiri memeluk seorang anak perempuan kecil yang menangis sesenggukan!

Ia merasa heran sekali mengapa seorang perajurit wanita ikut perang membawa anaknya, namun kekaguman dan keharuan hatinya membuat ia cepat-cepat meloncat turun dari atas kuda dan mengambil pula pedang bersinar kuning yang berada ditangan kanan mayat si wanita.

Tak pernah ia mimpi bahwa yang ditolongnya adalah puteri keturunan aseli Raja Khitan, dan bahwa perajurit wanita itu adalah Puteri Mahkota!

Karena siasat dan kecerdikan Jenderal Kam Si Ek, sebentar saja pasukan Khitan yang menyerbu Shan-si dapat dipukul hancur dan sisanya lari cerai-berai kembali ke Khitan.

Jenderal Kam Si Ek membuat laporan ke atasan, mengirim pula Pedang Besi Kuning sebagai barang rampasan, akan tetapi ia merahasiakan soal anak kecil itu dan dibawanya anak itu pulang.

Isterinya girang sekali menyambutnya dan terheran-heran melihat suaminya pulang perang membawa seorang anak perempuan kecil yang cantik mungil!

Kam Si Ek menceritakan keadaan anak itu dan terharulah hati isterinya.

"Biar kita pelihara dia. Dia pantas menjadi adik Sian Eng."

Kata isterinya sambil menimang-nimang anak itu. anak itu memang lincah dan tertawa-tawa manis.

"Siapakah namamu, anak manis?"

Berkali-kali Nyonya Kam bertanya.

Anak itu adalah anak Khitan, tidak pandai bahasa asing ini, akan tetapi ia agaknya cerdik dan mengerti maksud orang, buktinya ia menuding dadanya sendiri dan berkata sambil tertawa-tawa.

"Lin Lin..., Lin Lin...!"

"Ah, agaknya ia bernama Lin!"

Kata Nyonya kam gembira.

"nak baik, mulai sekarang kau adalah anak kami dan bernama Kam Lin!"

Seperti telah direncanakannya semula, Kam Si Ek yang melihat gelagat tidak baik dengan sikap Gubernur Li yang agaknya hendak mendirikan kerajaan sendiri, lalu mengajukan permohonan berhenti.

Mengingat jasa-jasanya, maka permohonannya dikabulkan dan berangkatlah Kam Si Ek dengan isteri dan tiga orang anaknya, termasuk Kam Lin, kedusun Ting-chun dikaki bukit Cin-ling-san.

Dilembah Sungai Han yang tanahnya subur ini, ia hidup bertani dengan aman dan tentram.

"Ayah, biarkan aku ikut denganmu. Kalau Ayah hendak mencari musuh-musuh yang telah membunuh ibu dan membasmi keluarga ibu, sudah menjadi tugasku pula untuk membantumu, ayah!"

Dengan suara merengek Kwee Eng membujuk ayahnya. Mereka duduk dibawah pohon besar, tak jauh dari pondok mereka.

"Tidak bisa, Eng-ji (Anak Eng). Musuh-musuh itu terlalu sakti, aku sendiri belum tentu dapat melawan dan menangkan mereka, apalagi engkau. membawamu berarti membiarkan engkau terancam bahaya maut."

"Aku tidak takut! Bukankah Ayah sering menyatakan bahwa bagi seorang gagah, maut bukanlah apa-apa? Nama baik lebih penting daripada maut!"

Kwee Seng atau Kim-mo Taisu mengelus rambut anaknya.

"Betul sekali dan karena itulah maka aku harus pergi menunaikan tugas, sedangkan engkau harus berada disini. Engkau sudah dewasa dan untuk menjaga nama baik keluarga kita, terutama nama baikmu, engkau harus berumah tangga."

"Ayah...!!"

Tiba-tiba sepasang pipi gadis itu menjadi merah sekali dan sepasang matanya terbelalak seperti mata seekor kelinci berhadapan dengan harimau.

Kim-mo Taisu dan menepuk puncak anaknya.

"Mengapa kau merasa ngeri? Sudah semestinya seorang gadis menghadapi pernikahan. Bu Song seorang anak yang baik, dan aku yakin kau akan hidup bahagia sebagai isterinya."

Tiba-tiba Eng Eng menundukkan mukanya yang menjadi makin merah, tidak berani ia menentang pandang mata ayahnya.

Kim-mo Taisu mengangguk-angguk dan tersenyum gembira.

"Inilah sebabnya mengapa aku hendak menyuruh Bu Song mengikuti ujian di kota raja. Dia anak baik dan soal perjodohan ini sudah kubicarakan dengannya. Kau tahu, Eng Eng. Bu Song sejak dahulu tidak suka belajar ilmu silat sungguhpun aku belum pernah bertemu orang yang memiliki bakat dan tulang lebih baik daripadanya untuk menjadi pendekar. Dia lebih tekun dan suka belajar sastra. Dan dipikir-pikir memang betul dia. Buktinya ahli-ahli silat selalu hanya terlibat dengan permusuhan dan pertempuran belaka, seperti aku ini. Karena itu, dia harus menempuh ujian dan mencari kedudukan yang sesuai dengan kepintarannya. Setelah itu, baru kalian menikah dan kalau sudah begitu, hatiku tenteram dan kelak aku akan dapat mati meram."

"Ayah...!"

Kembali Eng Eng memandang ayahnya, kali ini wajahnya agak pucat.

"Ha-ha mengapa kaget? Orang hidup kemana lagi akhirnya kalau tidak mati? Kepergianku kali ini tidak akan lama, Eng Eng. Ayahmu hanya akan pergi mencarikan tempat untuk Bu Song. Akan kuselidiki lebih dulu bagaimana keadaan kota raja sekarang ini dan bagaimana pula keadaan mereka yang menempuh ujian. Setelah aku kembali, baru Bu Song kusuruh berangkat. Selama Ayah pergi, kau hati-hatilah disini bersama Bu Song."

"Ahhh, aku... aku malu, Ayah..."

"Malu? Malu kepada siapa?"

"...Siapa lagi? Malu kepada... dia tentu. Habis, Ayah tidak ada... dan kami... hanya berdua..."

"Ha-ha-ha, anak aneh! Sudah sejak dahulu kau seringkali berdua dengan Bu Song, mengapa malu?"

"Dulu lain lagi, sekarang tidak sama, Ayah. Habis.."

"Sstttt!"

Tiba-tiba Kim-mo Taisu mendorong tubuh anaknya kesamping dan tubuhnya sendiri melesat ke depan.

Sesosok bayangan manusia berkelebat dan didepannya telah berdiri Kong Lo Sengjin yang tertawa lebar.

"Kau...? belum pergikah engkau? Mau apa kau datang lagi kesini, Kong Lo Sengjin?"

Suara Kim-mo Taisu jelas membayangkan ketidaksenangan hatinya.

Sebetulnya ia memang membenci kakek ini yang ia tahu memiliki watak aneh dan tidak baik, sungguhpun harus diakui bahwa kakek lumpuh ini seorang yang setia lahir batin kepada Kerajaan Tang.

"Ha-ha-ha, Kim-mo Taisu. Siapa yang sepatutnya bertanya? Akulah yang semestinya bertanya mengapa engkau belum juga pergi! Ha-ha-ha, orang seperti engkau ini memang tiada gunanya hidup. Mempunyai cita-cita apa lagi! Baru berniat hendak menuntut balas saja masih ragu-ragu dan berlambat-lambatan. Heh-heh, Kim-mo Taisu, ingatlah. Sejak dahulu apakah artinya hidupmu? Kau mengaku sebagai seorang pendekar, sejak kecil engkau mengejar ilmu. Setelah kini menjadi orang pandai, kau hanya menyembunyikan diri, menjadi korban perasaanmu sendiri. apakah engkau lupa bagaimana kewajiban seorang satria, seorang pendekar? Berbakti kepada negara tak pernah! Semenjak muda hanya menjadi korban perasaan dan nafsu, patah hati dan bermain dengan wanita. Ha-ha-ha! Manusia hidup menanti mati, selagi masih hidup tidak mengisi hidup dengan perbuatan-perbuatan berarti, untuk apa hidup lebih lama lagi? Hanya memenuhi dunia belaka!"

Pucat wajah Kwee Seng. Melihat ini, Eng Eng memegang lengan ayahnya dan dengan kedua pipi basah air mata ia berkata kepada kakek itu.

"Kong-kong (kakek), mengapa kau terus mengganggu Ayah? Kau tahu betapa hancur hati Ayah karena kematian ibu, akan tetapi engkau malah terus mengganggunya. Kong-kong, harap kau pergi meninggalkan kami!"

"Ha-ha-ha, Eng Eng! Ibumulah wanita yang patut dikasihani. Ibumu adalah keponakanku dan keluarga ibumu seluruhnya habis musnah. Bahkan ibumu sendiri menjadi korban keganasan musuh. Akan tetapi Ibumu tertipu oleh laki-laki yang kini menjadi ayahmu ini, yang sama sekali tidak dapat membela nama baiknya. Ibumu adalah seorang berdarah Kerajaan Tang yang jaya!"

"Kong Lo Sengjin!"

Kim-mo Taisu membentak marah.

"Pergilah! Bukankah sudah kujanjikan bahwa aku akan mencari musuh-musuh keluarga isteriku dan takkan berhenti sebelum membasmi mereka? Pergilah, aku takkan melanggar janji. Mengapa kau masih datang untuk menyakiti hati kami Ayah dan Anak?"

Kong Lo Sengjin tertawa bergelak dan tiba-tiba pada saat itu terdengar suara melengking tinggi.

Lengking tinggi yang aneh dan mirip orang tertawa, akan tetapi juga seperti suara tangisan.

Bukan seperti suara seorang manusia, patutnya lolong srigala, akan tetapi suara itu mengandung daya yang luar biasa.

Tubuh Eng Eng menggigil.

Kim-mo Taisu cepat memegang pundak puterinya dan mengerahkan sin-kang untuk memperkuat daya tahan puterinya.

Kong Lo Sengjin tampak kaget dan berdiri diatas sepasang tongkatnya dengan kepala dimiringkan, wajahnya tegang.

Suara melengking itu terhenti, dan terganti suara orang ketawa terkekeh-kekeh.

Kim-mo Taisu cepat mendorong tubuh anaknya sambil berbisik.

"Bersembunyilah di sana!"

Eng Eng kaget dan mentaati permintaan ayahnya, ia lari bersembunyi dibalik semak-semak sambil mengintai.

Dilihatnya betapa ayahnya berdiri tenang akan tetapi keningnya berkerut, kedua kakinya terpentang lebar dan kedua tangannya bersedekap, matanya mengerling kearah datangnya suara ketawa.

Adapun Kong Lo Sengjin juga kelihatan tegang.

Sebagai orang-orang berilmu mereka dapat mengukur kelihaian orang yang akan muncul ini dari suaranya saja.

Lengking macam itu hanya dapat dikeluarkan oleh orang yang amat tinggi ilmunya dan karena mereka belum tahu siapa yang datang, kawan atau lawan, sambil menduga-duga mereka menanti dengan hati tegang.

"Heh-heh-heh-heh, Kong Lo Sengjin kakek buntung, hayo berikan kepadaku suling emas itu...!"

Terdengar suara yang seakan-akan bergema dan seperti diucapkan dari tempat amat jauh.

Kong Lo Sengjin kaget, akan tetapi untuk menutupi kekagetan hatinya ia tertawa.

Sambil mengerahkan khikangnya ia pun berseru nyaring.

"Tak peduli siluman atau manusia, siapa takut kepadamu? Keluarlah, jangan main sembunyi dan menggertak seperti anak kecil!"

Baru saja ucapan Kong Lo Sengjin ini terhenti, terdengar suara ketawa dan tiba-tiba muncul disitu seorang kakek cebol sekali.

Bentuk tubuhnya seperti kanak-kanak belasan tahun, akan tetapi kepalanya besar dengan rambut riap-riapan dan cambang-bauk menutupi mulut dan dagu.

Kakinya telanjang tak bersepatu, pakaiannya sederhana dan pada pundaknya hinggap seekor burung hantu yang matanya seperti mata harimau, berwarna merah, sedangkan paruhnya runcing kuat seperti emas warnanya.

Baik Kong Lo Sengjin maupun Kim-mo Taisu tidak melihat bagaimana kakek aneh ini datang, hal ini saja sudah menjadi bukti bahwa tingkat ilmu kepandaian kakek cebol ini amatlah tingginya.

Diam-diam Kim-mo Taisu terkejut.

Ia segera mengenal kakek cebol ini yang bukan lain adalah Bu Tek Lojin yang pernah ia jumpai diwaktu ia berkelana sampai di Khitan!

Akan tetapi Kong Lo Sengjin tidak mengenalnya, bahkan belum pernah mendengar tentang seorang tokoh kang-ouw seperti kakek cebol ini.

Maka ia hanya dapat memandang dengan heran dan bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan kakek cebol ini dan mengapa datang-datang menuduhnya mengambil suling emas!

Kalau tadi Bu Tek Lojin, menegur Kong Lo Sengjin, kini setelah melihat Kim-mo Taisu ia tertawa bergelak dan menudingkan telunjuknya kepada Kim-mo Taisu sambil memegangi jenggotnya yang panjang.

"Ha-ha-ha-ha! Lucu sekali! Apakah kau sudah sembuh dari penyakit gilamu? Apakah kau sekarang bukan jembel lagi, Kim-mo Taisu?"

Kim-mo Taisu menjura dan menjawab.

"Locianpwe salah duga. Dahulu itu saya waras dan sekarang inilah saya benar-benar gila."

"Huah-hah-hah! Betul..., betul sekali....! Eh, bukankah kau terkenal sekali dengan permainanmu sepasang senjata, kipas dan suling? Aha? Kalau begitu tentu kakek buntung ini merampas suling emas untuk diberikan kepadamu!"

Kim-mo Taisu tak sempat menjawab karena ia merasa terheran-heran.

Adalah Kong Lo Sengjin yang dibiarkan dan seakan-akan tidak dipedulikan itu, tak dapat menahan lagi kemendongkolan hatinya.

Ia menghentakkan tongkat kirinya keatas batu sambil berteriak.

"Tua bangka cebol! Apakah otakmu tidak miring? Kau datang-datang menuntut kembalinya suling emas dariku? Hemmm, kalau suling emas berada padaku, apa kau kira aku masih tinggal ditempat ini?"

"Kong Lo Sengjin! Dahulu ketika engkau masih menjadi Sin-jiu Couw Pa Ong, memang kau sudah terkenal jahat. Kini engkau masih sama saja! Tiada hentinya mengumbar nafsu, haus akan kedudukan dan kemuliaan. Siapa tidak tahu bahwa engkau telah membunuh sastrawan Ciu Bun? Nah, suling emas berada ditangannya, kalau dia terbunuh olehmu, bukankah itu berarti sulingnya berada ditanganmu? Hayo kembalikan kepadaku kalau kau masih ingin hidup beberapa tahun lagi!"

"Sombong!"

Kembali Kong Lo Sengjin membanting ujung tongkatnya.

"Kau berani bicara macam ini didepanku?"

"Ha-ha-ha-ha, mengapa tidak berani? Macammu ini apa sih? Pangeran atau Raja Muda yang sudah dipensiun! Pelarian yang tiada harganya! Pecundang yang sudah berkali-kali kalah dan keok dalam memperebutkan kerajaan. Kau mau tahu siapa aku? Namaku Bu Tek Lojin, orang tua tiada taranya! Hayo berikan kepadaku suling emas!"

"Orang gila! Suling emas tidak ada padaku!"

Jawab Kong Lo Sengjin dengan sebal dan marah.

"Ho-ho-ha-ha! Orang lain boleh kau bohongi, akan tetapi aku tidak! Aku tahu bahwa engkaulah orangnya yang membunuh Sastrawan Ciu Bun."

"Betul aku membunuhnya. Siapa takut mengaku? Akan tetapi suling emas tidak ada padaku, juga tidak ada padanya."

"Wah-wah engkau bohong! Menjual kentut busuk!"

Bu Tek Lojin mencak-mencak dan marah.

Kim-mo Taisu yang sudah tahu bahwa kakek cebol itu amat sakti, akan tetapi juga amat aneh wataknya, segera berkata.

"Bu Tek Lojin, aku cukup mengenal watak Kong Lo Sengjin. Dia tidak pernah mau menyangkal perbuatannya, kalau dia mengambil suling emas, tentu dia akan mengaku."

"Ah, kalian bersekongkol! Mungkin tua bangka ini memberikan suling itu kepadamu. Hayo kalian lekas keluarkan suling itu sebelum aku habis sabar dan maksa..."

"Setan keparat! Siapa takut padamu?"

Tiba-tiba Kong Lo Sengjin sudah menyambar datang, tongkat kirinya terayun mengemplang kepala kakek cebol itu.

Hebat serangan ini, mendatangkan angin keras.

Kim-mo Taisu hendak mencegah, tapi tidak keburu.

Namun kakek cebol itu memang amat tinggi tingkat kepandaiannya.

Sekali tubuhnya menggelinding, tongkat itu menyambar angin dan tahu-tahu perut Kong Lo Sengjin telah diserangnya dengan serudukan kepalanya yang besar!

"Celaka...!"

Kong Lo Sengjin berseru kaget, cepat mengerahkan tenaga menekan tongkat dan tubuhnya mencelat keatas.

Ia berjungkir balik dan dapat turun kembali keatas tanah, akan tetapi mukanya pucat sekali dan napasnya terengah, perutnya terasa panas biarpun hanya terkena sambaran hawa serangan yang keluar dari kepala kakek tadi.

Ia tahu betul bahwa andaikata ia tadi kurang cepat dan perutnya sempat dibentur kepala Si Cebol, tentu nyawanya takkan tertolong lagi!

"Ho-ho-ha-ha!

Kong Lo Sengjin kiranya bukan apa-apa, hanya namanya saja yang besar.

Hayo kalian maju berdua!"

Setelah berkata demikian, kakek cebol itu sudah menerjang Kim-mo Taisu yang terdekat.

Kedua tangannya melancarkan serangan dengan pengerahan tenaga sakti sehingga sebelum kepalan tiba, angin pukulannya sudah terasa, amat hebatnya.

Kim-mo Taisu tidak bermusuhan dengan kakek cebol ini, akan tetapi karena diserang, terpaksa ia melayani.

Pula, ia tahu bahwa Kong Lo Sengjin pasti tidak mengambil suling emas seperti yang dituduhkan, maka dalam hal ini kalau terjadi pertempuran, ia harus membela pihak yang tidak bersalah.

Melihat datangnya pukulan yang amat ampuh, Kim-mo Taisu yang merasa sudah kuat sekarang hawa saktinya, sengaja menangkis sambil mengerahkan tenaganya kearah tangan.

"Dukkkk!!!"

Dua tangan yang penuh terisi tenaga sakti itu bertemu.

Kuda-kuda kaki Kim-mo Taisu tergempur sehingga tubuhnya terhuyung-huyung kebelakang, akan tetapi tubuh kakek cebol itu melayang bagaikan sebuah layangan putus talinya.

Namun jangan disangka bahwa kakek ini terlempar karena kalah tenaga.

Sama sekali bukan.

Namun kakek sakti ini jauh lebih cerdik dan lebih berpengalaman daripada Kim-mo Taisu.

Melihat Kim-mo Taisu berani menangkis dan menghadapi pukulannya secara keras lawan keras, kakek ini sudah menduga bahwa Kim-mo Taisu memiliki tenaga sakti yang ampuh pula.

Apalagi dahulu ia pernah pula melihat sepak terjang Kim-mo Taisu.

Maka ia mempergunakan kecerdikan nya.

Disamping menggunakan tangkisan untuk mengadu tenaga, ia pun meminjam tenaga gempuran itu untuk membuat tubuhnya melayang.

Melayang bukan sekedar melayang, melainkan melayang kearah...

Kong Lo Sengjin yang dipukulnya selagi tubuhnya melayang itu!

Kong Lo Sengjin terkejut.

Akan tetapi ia pun seorang yang sakti dan berpengalaman.

Maklum bahwa pukulan dari udara ini amat berbahaya, tidak kalah bahayanya oleh serudukan kepalanya ke perut tadi, kakek lumpuh ini lalu mengangkat tongkat kanannya dan menyapu tubuh kakek cebol itu dengan tongkat sambil mengerahkan tenaga.

"Aiiihhh!"

Si Kakek Cebol berseru dan tubuhnya yang masih melayang di udara itu tiba-tiba dapat mengelak dan seperti seekor burung saja tubuhnya sudah menyambar turun menghantam tubuh Kong Lo Sengjin bagian kiri.

Tentu saja hal ini membuat Kong Lo Sengjin menjadi sibuk sekali.

Kedua kakinya sudah lumpuh dan diganti dengan dua tongkat yang dipegangnya.

Kini tongkat kanannya masih terangkat untuk menyerang tadi sehingga keadaannya seakan-akan seperti orang menendang dengan kaki kanan.

Maka kini diserang bagian tubuh kiri, ia tentu saja menjadi repot.

Namun dasar ia lihai sekali.

Secepat kilat tongkat kanannya menyambar turun dan memukul tanah.

Tenaga pukulan ini membuat tubuhnya dapat melompat sambil menggerakkan tongkat kiri menangkis.

Namun karena agak terlambat dan kalah dulu, tangkisannya kurang kuat sehingga begitu tongkatnya terbentur lengan Bu Tek Lojin, tubuh kakek lumpuh ini mencelat dan terhuyung-huyung hampir roboh terguling.

"Hua-ha-ha-ha, bagus..., bagus....!"

Bu Tek Lojin bersorak-sorak, tertawa-tawa dan menepuk-nepuk kedua pahanya dengan girang sekali, sikapnya jelas mengejek Si Kakek Lumpuh.

Kemudian tiba-tiba ia sudah meloncat lagi menyerang Kim-mo Taisu yang sudah sempat memperbaiki kedudukannya.

Serangan ini merupakan serangan jurus yang amat aneh dan cepat, kelihatannya kedua lengannya itu tidak mengandung tenaga ketika bergerak, seperti orang menari saja, akan tetapi begitu dekat dengan tubuh lawan, terasa betapa gerakan itu mengandung tenaga pukulan yang dahsyat.

Ternyata kakek cebol ini menggunakan Ilmu Khong-in yang sakti, yaitu ilmu pukulan yang kelihatan kosong, akan tetapi kekuatannya dapat merobohkan gunung, maka disebut Khong-in-liu-san.

Biarpun Kim-mo taisu juga seorang yang berilmu tinggi, namun belum pernah ia menghadapi ilmu seperti ini, maka ia terjebak dan mengira Si Kakek Cebol hanya main-maian dan tidak menyerang sungguh-sungguh.

Maka ia pun hanya menggunakan kegesitannya mengelak dan siap pula menangkis kalau ada susulan pukulan yang berat.

Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa begitu pukulan kakek itu mendekati tubuhnya, ia merasa dorongan yang hebat kearah dada.

Cepat ia mengerahkan tenaga pula dan hendak menangkis akan tetapi tubuh lawannya tiba-tiba miring seperti orang jatuh dan dari pinggirlah datangnya pukulan yang sesungguhnya!

Kim-mo Taisu terkejut dan cepat meloncat, namun tidak keburu atau kurang cepat, terdengar suara "bretttt!"

Dan ujung bajunya telah robek dan hancur kena sambaran pukulan sakti Si Kakek Cebol.

"He-he-ha-ha!"

Bu Tek Lojin bersorak-sorak dan bertepuk-tepuk tangan saking girangnya karena dalam dua jurus berturut-turut ia telah memperoleh kemenangan terhadap kedua orang lawannya.

Mendongkolah hati Kim-mo Taisu dan Kong Lo Sengjin.

Kakek cebol ini selain lihai juga cerdik, sengaja melayani mereka berdua secara bergantian dan mengirim serangan-serangan yang tak terduga-duga.

Maka kedua orang itu sekarang melangkah maju dan mengurung Bu Tek Lojin yang masih terkekeh-kekeh dan enak-enak saja.

Ia melihat betapa sinar mata Kong Lo Sengjin mengeluarkan sinar maut, sedangkan Kim-mo Taisu sudah mengeluarkan sebuah kipas.

Sedangkan untuk mengganti pedang atau suling, Kim-mo Taisu mengeluarkan sebuah guci arak yang selalu tergantung di punggungnya.

Jangan dipandang remeh sepasang senjata yang menjadi lambang sastrawan pemabokan ini, karena dengan sepasang senjata aneh ini, Kim-mo Taisu jarang menemui tanding!

Akan tetapi Si Kakek Cebol masih enak-enak tertawa ha-ha-he-he, malah kini mengelus-ngelus kepala burung hantu yang sejak tadi masih saja duduk dipundaknya, seakan-akan tidak tahu menahu akan pertempuran itu.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert