Eps 8 Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo.
Ilmu mengubah diri dengan penyamaran yang amat rapi ini dia pelajari dari ayahnya, berikut ilmu sihir dan penggunaan obat pasang yang mengeluarkan asap tebal.
ooOOoo Keterangan yang diberikan petugas kuil kepada Hong San itu memang benar.
Thian-te-kauw yang urusan luarnya dilaksanakan oleh perkumpulan Thian-te-pang, akan mengadakan perayaan ulang tahun dari ketua perkumpulan agama itu.
Ketua Thian-te-kauw adalah Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu dan kalau semua anggauta mengenakan pakaian biasa walaupun para petugas kuil berseragam kuning putih, namun ketuanya ini kalau bertemu dengan orang luar atau kalau kebetulan keluar dari kuil selalu mengenakan jubah longgar berwarna kuning walaupun rambutnya tidak dicukur.
Tiga tahun yang lalu, setelah bersama Ban-tok Mo-li berhasil mengembangkan Thian-te-kauw, Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu secara resmi, disaksikan semua anggauta dan para tamu undangan, menyatakan dirinya sebagai kauw-cu (kepala agama) dari Thian-te-kauw.
Sedangkan Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu diangkat menjadi pangcu (ketua perkumpulan) dari Thian-te-pang.
Karena kedua orang ketua ini dapat bekerja sama dengan amat baiknya dan keduanya memang merupakan tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi, maka Thian-te-pang menjadi perkumpulan yang besar dan berpengaruh, sedangkan Thian-te-kauw juga menarik banyak orang menjadi anggautanya.
Kedua orang tokoh ini tidak bodoh.
Mereka tidak mau lagi sembarangan melakukan upacara korban kepada Thian-Te Kwi-ong dengan darah pemuda dan perawan.
Kalau hal ini mereka lakukan, maka mereka melaksanakannya dengan sembunyi dan hanya untuk kepentingan mereka memperkuat ilmu hitam mereka saja.
Bagi para anggauta dan penganut, korban berupa sumbangan barang berharga atau uang.
Untuk menyambut perayaan peringatan ulang tahun yang ke tiga, semua anggauta Thian-te-pang datang berkumpul.
Jumlah mereka tidak kurang dari tiga ratus orang!
Dan mereka juga mengundang sahabat-sahabat mereka yang terdiri dari tokoh-tokoh dunia kang-ouw para tokoh sesat yang biarpun tidak menjadi anggauta Thian-te-pang dan bukan penganut Thian-te-kauw, namun merupakan sahabat dari Ban-tok Mo-li atau dari Lui Seng Cu.
Sejak pagi, sudah berdatangan para anggauta dari luar daerah Ceng-touw utusan dari cabang-cabang, dan berdatangan pula para undangan, yaitu tokoh-tokoh kang-ouw yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang.
Di antara mereka yang mendapat tempat kehormatan di panggung bersama dua orang ketua itu adalah para sahabat lama seperti Siang koan Bok dengan puteranya Siangkoan Tek, Ouw Kok Sian dengan muridnya Ban To dan masih banyak lagi.
Dua orang murid utama Thian-te-pangcu Lui Seng Cu, yaitu Siok Boan dan Poa Kian So menjadi penyambut para tamu undangan itu dan mereka berdua mempersilakan para tamu yang terpilih untuk duduk di panggung kehormatan.
Yang lainnya duduk di kursi sebelah bawah bersama utusan dari cabang-cabang, kemudian paling belakang duduk para anggauta Thian-te-pang.
Di atas panggung yang luas itu, selain kursi para pengurus dan para undangan yang mendapat tempat kehormatan juga terdapat sebuah meja sembahyang besar penuh dengan hidangan sembahyang dan di belakang meja berdirilah sebuah patung yang menyeramkan, yaitu patung Thian-te Kwi-ong yang mereka sembah dan puja.
Dengan sikap ramah pang-cu dan kauw-cu yang duduk sebelah menyebelah di atas panggung menyambut para tamu yang sebelum dipersilakan duduk lebih dahulu memberi hormat kepada mereka sambil mengucapkan selamat.
Sebagai Thian-te Pang-cu, Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu nampak anggun berwibawa.
Dalam usianya yang sudah hampir enam puluh tahun itu, wanita ini masih nampak mu dan cantik.
Hal ini dibantu sekali ole wataknya yang pesolek, dengan pakai serba indah terbuat dari sutera ya mahal, rambutnya yang disanggul ke atas dihiasi perhiasan emas permata dan san bil tersenyum-senyum manis nenek itu duduk mengipasi dirinya dengan sebuah kipas yang dipegang di tangan kirinya.
Setiap kali menerima kehormatan dari tamu yang baru tiba, ia menutup kipas itu dan membalas penghormatan dengan merangkap kedua tangan di depan dada.
Dilihat begitu saja, ia merupakan seorang nenek yang masih cantik dan pesolek, dan kipas itu nampaknya seperti perlengkapan pakaian saja atau untuk bergaya.
Akan tetapi, bagi yang sudah, mengenal siapa Ban-tok Mo-li, akan memandang kipas yang indah itu dengan hati ngeri dan gentar.
Mereka tahu bahwa kipas di tangan wanita itu merupakan sebuah senjata yang ampuh dan berbahaya sekali.
Di sebelah kanan Ban-tok Mo-li duk Lui Seng Cu yang berjuluk Hok-hoi Toa-to dan yang menjadi Thian-te Kauw-Cu atau Kepala Agama.
Dia mengenakan pakaian jubah kuning yang juga terbuat dari sutera mahal, dan rambutnya yang masih nampak hitam itu diikat dengan kain sutera putih.
Kakek ini usianya sudah enam puluh tahun, akan tetapi dia nampak jauh lebih muda.
Hal ini yang dipakai untuk berpropaganda bahwa penyembah Thian-te Kwi-ong akan diberkahi umur panjang dan awet muda.
Dengan sikap yang dibuat-buat seperti sikap seorang alim, dia menyambut para tamu yang datang mengucapkan selamat kepadanya.
Akhirnya tibalah saatnya upacara dimulai.
Pertama-tama akan diadakan sembahyangan besar-besaran.
Seorang di antara murid-murid Thian-te-pang sudah membakar ujung hio-swa dan kedua orang ketua itu sudah bangkit dari tempat duduk mereka.
Akan tetapi pada saat itu, di depan tempat perayaan, tepat di tengah-tengah lorong yang menuju ke situ, nampak asap tebal mengepul setelah terdengar suara ledakan keras.
Tentu saja semua orang menjadi kaget, tidak terkecuali dua orang ketua itu.
Mereka sudah berloncatan menuju ke halaman itu.
Akan tetapi, setelah asap tebal itu perlahan-lahan buyar tertiup angin dan akhirnya terbang ke udara, di situ tidak nampak sesuatu.
Semua orang bertanya-tanya siapa gerangan yang menimbulkan ledakan yang diikuti asap tebal itu.
Tidak nampak seorang pun di situ yang asing bagi mereka.
Lui Seng Cu saling pandang dengan Phang Bi Cu.
Kedua orang ketua ini terkejut dan heran.
Akan tetapi diam-diam Lui Seng Cu merasa ngeri.
Asap tebal itu mengingatkan dia akan gurunya, yaitu Cui-beng Sai-kong.
Akan tetapi, tidak mungkin gurunya muncul seperti itu, apalagi sekarang tidak nampak seorang pun manusia di dalam asap tebal itu.
Semenjak gagal dalam usahanya mengadu domba antara para to-su dan para hwesio, Cui-beng Sai-kong melarikan diri dan tak pernah pula Lui Seng Cu mendengar tentang gurunya itu, apalagi bertemu.
Dan dia pun segera melegakan hatinya.
Andaikata benar gurunya yang datang, dia tidak perlu takut karena bukankah selama ini dia berjasa dengan mengembangkan Thian-te-kauw yang didirikan oleh Cui-beng Sai-kong?
Setelah masing-masing menerima segenggam hio-swa (dupa biting) dari seorang petugas, dua orang ketua itu menghadap ke arah patung Thian-te Kwi-ong di belakang meja sembahyang untuk mulai sembahyang, disaksikan oleh semua tamu dan juga para anggauta Thian-te-kauw yang sudah menjatuhkan diri berlutut dan menghadap ke arah patung intuk ikut menghormati patung itu.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara yang datangnya dari patung itu!
"Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu, engkau telah mengkhianati Thian-te Kwi-ong!"
Tentu saja Lui Seng Cu dan juga Ban-tok Mo-li terkejut bukan main.
Bahkan Lui Seng Cu menatap patung itu iengan muka berubah pucat, dan timbul lagi dugaannya bahwa gurunya tentu telah hadir di situ walaupun belum memperlihatkan diri.
Agaknya gurunya bersembunyi di balik patung itu, maka dengan sikap hormat dia menghadap ke arah patung dan berkata, suaranya lirih.
"Suhu yang mulia harap suka memperlihatkan diri dan mendengarkan keterangan teecu. Sama sekali teecu (murid) tidak pernah mengkhianati Thian-te Kwi-ong."
"Hemmm, masih hendak menyangkal? Engkau mengangkat dirimu sendiri menjadi kauw-cu, engkau bahkan mendirikan Thian-te-pang dan mengangkat seorang wanita menjadi pangcu, bukankah itu mengkhianati pendiri Thian-te-kauw?"
Lui Seng Cu menjadi semakin ketakutan.
"Harap Suhu ampunkan teecu, karena teecu tidak tahu ke mana harus mencari Suhu, maka teecu bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Suhu. Teecu tidak bermaksud hendak mengkhianati........"' "Aku bukan Suhumu!"
Kata suara iti dan tiba-tiba dari belakang patung nampak bayangan orang berkelebat dan tahu.
tahu di atas meja sembahyang telah berdiri seorang pemuda tampan!
Terkejut dan marahlah Lui Seng Cu yang merasa dipermainkan, apalagi melihat pemuda itu berani berdiri di atas meja yang dikeramatkan!
"Siapa engkau?"
Bentaknya marah.
Hong San tersenyum mengejek.
Dia tadi menggunakan peledak mendatangkan asap tebal untuk mencari kesempatan menyelinap tanpa diketahui orang dan bersembunyi di balik patung.
Kini dia berdiri tegak dan memandang kepada Lui Seng Cu, matanya mencorong tajam dan terdengar suaranya lantang, terdengar oleh semua anggauta dan tamu yang hadir di tempat itu.
"Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu dan seluruh penganut Thian-te-kauw, dengarlah baik-baik. Pendiri Thian-te-kauw, yaitu yang mulia Cui-beng Sai-kong Can Siok telah meninggalkan dunia ini dan telah bersatu dengan junjungan kita Thian-te Kwi-ong! Dan sebagai pengganti atau penerusnya, ada seorang puteranya, yaitu aku sendiri. Namaku Can Hong San dan mendiang ayah Can Siok telah mewariskan kepemimpinan Thian-te-kauw kepadaku. Akulah yang berhak memimpin Thian-te-kauw dan menunjuk para pimpinan yang membantuku. Li, Seng Cu telah bertindak lancang tanpa perkenanku yang melanjutkan kepemimpinan Ayahku!"
OoOOoo Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu pernah mendengar dari Cui-beng Sai-kong bahwa gurunya itu memang mempunya seorang putera, akan tetapi dia tidak pernah bertemu dengan putera suhunya itu.
Suhunya berasal dari tempat yang amat jauh, yaitu di Pegunungan Himalaya dan ketika dia bertemu dengannya orang sakti itu sedang dalam perantauan.
Dia tidak pernah mendapat kesempatan berkunjung ke tempat asal gurunya itu.
Kini, mendengar bahwa pemuda tampan itu mengaku putera Cui-ben Sai-kong, apalagi katanya berhak untuk meneruskan kepimpinan Cui-beng Sai kong yang dikatakan telah bersatu dengan Thian-te Kwi-ong atau telah meninggal dunia, tentu saja dia tidak mau menerima semudah itu.
Apalagi dia telah dipermainkan dan direndahkan di depan semua anggauta dan para tamu, oleh seorang pemuda asing!
Pemuda ini berani memaki dia sebagai seorang pengkhianat.
Padahal, dialah kauw-cu dari Thian-te-kauw, orang nomor satu dari perkumpulan agama itu.
Kalau yang muncul ini gurunya, Cui-beng Sai-kong, tentu dia mau tunduk karena gurunya itu selain sakti, juga terbukti bahwa gurunya dapat mengubah dirinya menjadi dewa atau raja iblis presis seperti patung itu.
Maka, marahlah hatinya dan matanya terbelalak memandang kepada pemuda yang berdiri secara kurang ajar di atas meja sembahyang itu.
"Orang muda sombong dan lancang!"
Bentaknya dengan suara mengguntur.
"tidak kusangkal bahwa pendiri Thian-te-kauw adalah Suhuku Cui-beng Sai-kong, akan tetapi beliau yang memberi tugas kepadaku untuk menyebar-luaskan dan mengembangkan Thian-te-kauw. Karena beliau tidak ada, hanya akulah yang berhak menjadi kauw-cu! Engkau ini orang muda sombong berani mengaku sebagai putera Suhu! Sungguh kurang ajar!"
Dia lalu memberi aba-aba kepada para murid utama.
"Kepung dan tangkap jahanam yang telah menghina agama kita ini!"
Dua puluh lebih murid tingkat atas perkumpulan itu sudah maju dan bergerak mengepung.
Akan tetapi dengan gerakan yang indah dan cepat seperti burung terbang saja, tubuh Hong San sudah melayang turun dari atas meja sembahyang dan berdiri di tengah ruangan, menghadapi tuan rumah dan para tamu agung yang duduk di atas panggung kehormatan.
"Lui Seng Cu, beginikah sikap seorang kauw-cu? Hanya garang kalau menyuruh anak buah mengeroyok? Aku bukan musuh Thian-te-pang, bahkan aku pemimpin besarnya, menggantikan kedudukan Ayahku, maka aku tidak melawan anak buah Thian-te-pang, kecuali kalau mereka itu memang patut dijatuhi hukuman. Biarlah para Saudara yang gagah dan hadir di sini menjadi saksi. Aku Can Hong San adalah putera pendiri Thian-te-kauw, maka tentu aku akan mampu mengalahkan engkau yang hanya dua tahun saja dilatih silat oleh mendiang Ayahku. Kalau aku kalah olehmu, engkau berhak menjadi pemimpin Thian-te-kauw dan aku akan mundur. Akan tetapi kalau engkau kalah olehku, itu membuktikan bahwa keteranganku tadi semua benar."
"Suhu, biar teecu (murid) yang menghajar bocah sombong ini!"
Terdengar teriakan dan dua orang pemuda berloncatan dari kursi mereka menghadapi Hong San.
Mereka itu adalah dua orang murid utama Lui Seng Cu, yaitu Siok Boan yang berusia dua puluh delapan tahun, berperut gendut dan bertubuh gagah namun mukanya kekanak-kanakan, dan sutenya bernama Poa Kian So yang bertubuh pendek dan hidungnya pesek sekali.
Mereka adalah dua orang murid andalan Lui Seng Cu.
Melihat guru mereka yang kini berkedudukan tinggi sebagai kauw-cu itu dihina oleh seorang pemuda asing, mereka sudah marah sekali dan tanpa diperintah mereka maju mewakili guru mereka untuk menghajar pemuda sombong itu.
"Aku akan bantu kalian menghajar bocah kurang ajar itu!"
Terdengar bentakan lain dan seorang pemuda yang bertubuh kurus kering dan bermuka pucat meloncat maju pula.
Pemuda kurus kering berusia dua puluh tujuh tahun ini adalah Ji Ban To, murid dari datuk sesat Ouw Kok Sian yang juga hadir ditempat itu bersama murid utamanya inii Sebetulnya antara Ouw Kok Sian dan Luj Seng Cu hanya ada hubungan kenalan yang saling menyegani saja dan tidak sepatutnya kalau Ji Ban To yang datang mengikuti gurunya sebagai tamu kini langsung turun tangan membantu tua rumah menghadapi seorang lawan.
Kalau hal ini dilakukan oleh Ji Ban To adalah karena pemuda ini melihat betapa di situ hadir pula banyak murid wanita Thian te-ka w, dan hampir semua murid atas anggauta wanita ini masih muda dan cantik, juga rata-rata bersikap genit.
Inilah yang mendorongnya untuk terjun ke dalam pertentangan itu, untuk menjual lagak dan memamerkan kepandaian di depan para anggauta Thian-te-kau terutama para anggauta wanitanya.
Melihat muridnya maju tanpa perintahnya Ouw Kok Sian hanya mengerutkan alis akan tetapi tidak melarang karena dia pun ingin melihat muridnya berjasa.
Dia melihat betapa Thian-te-kauw makin banyak pengikutnya dan Thian-te-pang menjadi perkumpulan yang kuat dan kaya raya, maka amat baik untuk mendekati perkumpulan ini.
Melihat majunya tiga orang pemuda ini, seorang pemuda lain yang juga duduk sebagai tamu terhormat di atas panggung, hanya tersenyum, senyum mengejek.
Dia adalah seorang pemuda tinggi kurus yang berwajah tampan dan berpakaian mewah.
Seorang pesolek yang berusia kurang lebih dua puluh tujuh tahun.
Pemuda ini bernama Siangkoan Tek, yang datang bersama ayahnya pula, yaitu Siangkoan Bok, majikan Pulau Hiu yang terkenal sebagai datuk para bajak laut di sepanjang pantai Shantung.
Siangkoan Tek seorang pemuda pesolek yang mata keranjang.
Dia pun, seperti Ji Ban to ingin memamerkan kepandaian dan membuat jasa di Thian-te-pang untuk menarik perhatian para anggauta perempuan perkumpulan itu.
Akan tetapi Siangkoan Tek memiliki watak yang angkuh.
Dia merasa bahwa ilmunya jauh lebih tinggi daripada tiga orang pemuda itu yang sudah menjadi kenalannya sejak lama.
Dia tidak mau merendahkan diri dengan melakukan pengeroyokan.
Sementara itu, melihat tiga orang pemuda itu menghadapinya dengan sikap menantang, Hong San tersenyum mengejek.
Dia bertanya kepada dua orang pemuda yang maju lebih dulu.
"Apakah kalian berdua murid Lui Sei Cu dan kalian juga anggauta Thian-te kauw?"
"Benar sekali!"
Jawab Siok Boan tegas.
"Karena itu, kami mewakili Su dan Thian-te-kauw untuk menghajarmu!"
"Bagaimana dengan engkau? Apakai engkau juga anggauta Thian-te-kauw? Hong San bertanya kepada Ji Ban To. Ji Ban To menggeleng kepala.
"Aku adalah seorang tamu, murid dari Suh Ouw Kok Sian yang menjadi tamu kehormatan. Sebagai seorang tamu yang baik, aku tidak dapat tinggal diam saja melihat tuan rumah dihina orang, namaku Ji Ban To!"
Ketika mengeluarkan kata-kata ini, pemuda kurus kering itu membusungkan dadanya yang kerempeng sambil mengerling ke arah tempat duduk para gadis anggauta Thian-te-kauw yang manis-manis itu.
Hong San tertawa mengejek.
"Ha-ha-ha, kalian ini seperti cucu-cucu muridku yang hendak melawan kakek guru. Nah, majulah, hendak kulihat sampai di mana kemajuan kepandaian cucu-cucuku!"
Mendengar ucapan itu, tiga orang pemuda itu menjadi marah bukan main. Mereka dianggap cucu-cucu murid! Tidak ada penghinaan yang lebih hebat daripada itu, karena dipandang rendah sekali.
"Can Hong San manusia sombong, sambutlah serangan kami!"
Bentak Siok Boan yang mendahului sutenya, menyerang dengan dahsyat sekali, menghantamkan kepalan tangan kanan ke arah kepala Hong San.
Sutenya, Poa Kian So, juga mengeluarkan bentakan dan menyerang pula dari samping kiri dengan ccngkeraman tangan kiri ke arah dada Hong San.
Menghadapi serangan dua orang ini Hong San mengelak dua kali dan pada saat itu, Ji Ban To memekik dan kaki kanannya menendang.
Kaki itu kurus hanya tulang dibungkus kulit, akan tetapi karena terlatih dan tendangan itu memang dahsyat, maka tidak boleh dipandang ringan.
Hong San juga mengelak dengan miringkan tubuhnya.
Dia membiarkan tiga orang pengeroyoknya mengepung dan melancarkan serangan bertubi kepadanya.
Semua serangan itu dengan mudah dapat dia gagalkan dengan elakan atau tangkisan.
Dia belum mempergunakan kepandaiannya, belum mengerahkan tenaga sin-kangnya sehingga kelihatannya perkelahian itu berjalan seru, bahkan nampaknya Hong San di desak terus oleh tiga orang pengeroyoknya sehingga tidak sempat membalasnya.
Akan tetapi sesungguhnya tidak demikian.
Tiga orang itu memiliki tingkat kepandaian yang jauh dibawah tingkat kepandaian Hong San.
Kalau tadi dia mengejek bahwa mereka itu seperti cucu-cucu muridnya, ejekan ini bukan hanya kosong belaka.
Tingkat kepandaian Hong San memang sudah tinggi, sebanding dengan tingkat kepandaian mendiang Cui-beng Sai-kong, maka tingkat kepandaian tiga orang pemuda itu memang pantas menjadi cucu muridnya.
Kalau Hong San tidak cepat merobohkan tiga orang lawannya, hal itu bukan karena dia beriktikad baik atau menaruh hati kasihan kepada mereka, sama sekali tidak.
Hanya dia ingin mendatangkan kesan yang mendalam bahwa dia benar seorang pemimpin yang bukan saja mampu menundukkan anggautanya, juga mampu bersikap murah, seperti seorang guru besar terhadap muridnya.
Karena dia tidak menonjolkan diri, maka dalam penglihatan para murid Thian-te-kauw yang tingkat kepandaiannya belum begitu tinggi, nampaknya Hong San terdesak terus oleh tiga orang itu tanpa mampu membalas serangan sehingga mulailah para anggauta itu bersorak memberi semangat kepada dua orang kakak seperguruan mereka dan seorang tamu yang membela tuan rumah.
Bahkan Siangkoan Tek, yang tingkat kepandaiannya sudah jauh melampaui tingkat dua orang murid Thian-te-kauw itu, tertipu pula.
Dia menganggap bahwa kepandaian pemuda yang datang mengacau itu tidak berapa tinggi!
Akan tetapi mereka yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya, seperti Ban-tok Mo-li, Lui Seng Cu, Siangkoan Bok, Ouw Kok Sian dan masih ada beberapa orang lagi di pihak tamu undangan, diam-diam terkejut.
Mereka ini melihat betapa Hong San seolah-olah mempermainkan tiga orang pengeroyoknya, hanya mengelak atau menangkis dan sengaja tidak mau membalas!
Dan yang membuat mereka terkejut adalah kecepatan gerakan pemuda itu.
Beberapa serangan para pengeroyok itu nampaknya pasti akan mengenai tubuhnya akan tetapi pada detik terakhir, dia menggerakkan tubuhnya dan serangan itu luput!
Tiga orang pengeroyok itu pun terkejut dan merasa penasaran sekali.
Sudah jelas bahwa orang yang mereka keroyok itu tidak mampu membalas, nampak repot sekali mengelak dan menangkis, akan tetapi anehnya, tidak sebuah pun pukulan yang mengenai sasaran, bahkan menyentuh pun tidak mampu!
Mereka menjadi semakin penasaran dan menyerang semakin ganas dan cepat, seolah mereka bertiga itu berlumba untuk lebih dahulu merobohkan lawan yang mereka keroyok.
Akan tetapi, Hong San yang sudah merasa cukup menahan serangan mereka, tiba-tiba menggerakkan tubuhnya dengan cepat sekali.
Dari kedua tangannya menyambar hawa pukulan yang amat kuat.
Ketika dia mengembangkan kedua lengannya dengan gerakan mendorong sambil mengeluarkan seruan keras, tubuh tiga orang pengeroyok itu terlempar dan terus terpelanting sampai ke bawah panggung!
"Bocah sombong, terpaksa aku turun tangan menghajarmu!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan semua orang melihat bahwa Siangkoan Tek, seorang di antara tamu kehormatan, telah meloncat di depan Hong San deng pedang telanjang di tangannya.
Ayahnya Siangkoan Bok terkejut melihat ini akan tetapi dia tidak sempat mencegahnya, dan karena puteranya sudah maju, tentu akan memalukan sekali dan menjatuhkan nama besarnya kalau dia menyuruh anaknya mundur kembali.
Maka, dia pun hanya menonton dengan penuh perhatian siap setiap saat untuk melindungi puteranya.
Melihat seorang pemuda tinggi kurus dan tampan pesolek berdiri di depannya dengan pedang di tangan, Hong San bertanya.
"Apakah engkau juga seorang cucu muridku?"
Siangkoan Tek memandang dengan mata melotot.
"Aku Siangkoan Tek bukan anggauta atau murid Thian-te pang, akan tetapi sebagai seorang tamu yang dihormati, aku tidak bisa membiarkan saja engkau membikin kacau di sini. Kalau engkau memang sudah bosan hidup keluarkan senjatamu dan lawanlah pedangku!"
Berkata demikian, Siangkoan Tek mengelebatkan pedangnya dan terdengar suara mendesing disertai kilatan sinar pedang.
Pemuda ini tidak boleh disamakan dengan tiga orang pemuda yang baru saja kalah tadi.
Dia sudah menguasai semua ilmu ayahnya dengan baik sehingga tingkat kepandaiannya hanya sedikit di bawah tingkat ayahnya.
Ini pula yang membuat ayahnya membiarkan dia menghadapi pemuda yang dianggap pengacau itu, karena bagaimanapun juga, Siangkoan Bok percaya akan kemampuan puteranya.
Hong San teringat akan keterangan yang pernah dia dengar dari ayahnya.
"Aku pernah mendengar nama besar Majikan Pulau Hiu yang bernama Siangkoan liok, tidak tahu apakah engkau ada hubungan dengan dia, Sobat?"
Siangkoan Tek membusungkan dadanya.
"Beliau adalah Ayahku!"
"Aha! Pantas engkau begini gagah. Aku akan merasa senang sekali kalau kelak Thian-te-pang mendapat bantuan seorang muda seperti engkau!"
"Tidak perlu banyak cakap, keluarkan senjatamu dan lawanlah aku!"
Siang-koan Tek kembali membentak.
Kalau bukan di tempat ramai dan disaksikan banyak orang, tentu dia sudah menyerang lawan yang tidak bersenjata itu agar cepat dia dapat merobohkannya.
Hong San tidak gentar menghadapi pedang di tangan Siangkoan Tek, akan tetapi dia pun maklum bahwa perbuatannya yang nekat ini tentu akan mendapat tentangan dari semua orang, maka di harus memperlihatkan ilmu kepandaiannya untuk menundukkan mereka semua.
Dengan sikap tenang dia pun mencabut sebatang suling dari ikat pinggangnya.
"Aku sudah siap berpi-bu (mengadu ilmu silat) dengan siapa saja yang tidak mau mengakui bahwa akulah yang paling berhak memimpin Thian-te-kauw sebagai penerus mendiang Ayahku, Cui-beng Sai-kong Can Siok! Dan untuk menghadapi senjatamu, aku cukup mempergunakan suling ini!"
Setelah berkata demikian, Hong San menempelkan suling itu di bibirnya dan dia pun meniup dan memainkan sebuah lagu rakyat melalui suara sulingnya yang merdu.
Semua orang merasa heran dan juga terkejut.
Benarkah pemuda itu demikian lihainya sehingga berani menghadapi Hnngkoan Tek yang lihai dengan pedangnya itu, hanya dengan sebatang suling?
Apalagi, dia kini meniup sulingnya itu, seperti memandang rendah lawan dan mempermainkannya.
Siangkoan Tek adalah seorang yang sudah biasa bertindak sewenang-wenang dan curang.
Dia sudah menantang, dan lawan sudah mengeluarkan suling yang diakuinya sebagai senjata, maka dia pun tidak membuang waktu lagi.
Melihat lawan meniup suling dengan asyik dan seolah-olah tidak menghiraukan dirinya itu, dia merasa dipandang rendah, akan tetapi juga melihat kesempatan baik.
Maka, dia segera menggerakkan pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang.
Pedangnya mendatangkan sinar menyilaukan mata ketika menyambar dan membacok ke arah leher Hong San!
Hong San menanti sampai pedang itu menyambar dekat, baru dia menekuk kedua lututnya sehingga tubuhnya merendah dan pedang itu menyambar lewat di atas kepalanya.
Dan sambil mengelak itu, dia masih terus meniup suling, nya, melanjutkan nyanyian lagu rakyat itu.
Siangkoan Tek menghujankan serangan bertubi-tubi, menusuk membacok membabat dari segala jurusan, susul me nyusul, namun semua itu dapat dielakkan oleh Hong San tanpa banyak kesulitan dan dia masih terus melanjutkan permainan sulingnya.
Baru setelah lagu itu selesai dimainkan dengan sulingnya, dii menggerakkan sulingnya untuk menangkis pedang dari samping, lalu membalas dengan totokakan-totokan ke arah jalan darah.
Serangannya cepat dan tidak terduga sehingga dalam beberapa gebrakan saja, Siangkoan Tek mulai terdesak!
"Tranggggg ....
cringgggg ...........!"
Bunga api berpijar-pijar ketika pedang berkali-kali hertemu dengan suling dan akibatnya, tubuh Siangkoan Tek terhuyung dan pedangnya hampir terlepas dari tangani Baru dia terkejut bukan main.
Juga semua orang yang hadir di situ terkejut, Singkoan Bok bukan hanya terkejut, melainkan juga amat khawatir karena dia dapat menduga bahwa pemuda yang menggunakan suling sebagai senjata itu benar-benar lihai bukan main dan puteranya itu terancam bahaya.
Oleh karena itu, tanpa malu-malu lagi, dia pun meloncat dari tempat duduknya.
Pada saat itu suling di tangan Hong San mengirim totokan ke arah pundak Siangkoan Tek dan hampir mengenai sasaran.
"Tranggggg ........!!"
Suling itu tertahan oleh sebatang pedang yang digerakkan di tangan Siangkoan Bok. Melihat munculnya seorang kakek bertubuh pendek tegap dengan muka hitam, Hong San meloncat ke belakang.
"Maaf, apakah Paman juga seorang tokoh Thian-te-pang?"
Tanyanya.
"Henimm, aku hanya seorang tamu, ergkau sudah mengenal namaku tadi. Aku Majikan Pulau Hiu."
"Ah, kiranya orang tua gagah pemilik Pulau Hiu!"
Kata Hong San dan dia memandang heran. Kakek ini memiliki wajah begini buruk, akan tetapi puteranya demikian tampannya.
"Ayah, kita hajar saja manusia sombong ini, untuk apa bicara lebih banya teriak Siangkoan Tek yang berbesar hati lagi melihat majunya ayahnya.
"Aku sudah banyak mendengar tentang majikan Pulau Hiu, dan kalau aku memimpin Thian-te-kauw, tentu aku ingin menarik Paman sebagai seorang sahabat kata pula Hong San.
"Sombong! Siapa percaya bahwa engkau pemimpin Thian-te-kauw? Lihat pedangku!"
Siangkoan Tek yang sudah marah sekali karena merasa penasaran dan malu bahwa dia sama sekali tidak mampu mengalahkan lawannya, kini menyerang, diikuti ayahnya yang juga sudah menggerakkan pedangnya.
"Hemmm, kalian ini Ayah dan ana agaknya harus mengenal dulu siapa aku sebetulnya!"
Kata Hong San sambil memutar sulingnya menyambut serangan dua orang lawannya itu.
Biarpun dikeroyok dua, Hong San masih saja mengenakan caping merahnya yang lebar, dan kini sulingnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang mengeluarkan suara melengking-lengking seolah-olah suling itu yang ditiupnya.
Dan ayah bersama puteranya dari Pulau Hiu itu segera terdesak dan dua sinar pedang mereka terimpit oleh sinar suling yang menjadi semakin kuat.
Sejak tadi Ouw Kok Sian menonton dengan hati panas.
Muridnya, Ji Ban To tadi terlempar ke bawah panggung.
Biarpun tidak menderita luka parah, namun peristiwa itu tentu saja merupakan suatu tamparan yang memalukan bagi dia sebagai gurunya.
Melihat betapa Siangkoan Bok sudah maju menghadapi pemuda pengacau itu, dia merasa tidak enak kalau harus berdiam diri.
Pertama, dia harus memperlihatkan setia kawan dan membantu Thian-te-pang, dan ke dua, dia harus membalaskan penghinaan atas diri muridnya tadi.
Sekali meloncat, Ouw Kok Sian sudah terjun ke medan perkelahian sambil menggerakkan sepasang goloknya.
Dia seorang yang mengandalkan keahlian bersilat sepasang golok.
Hong San cepat menangkis ketika ada sinar golok menyambar.
Terdengar suara nyaring dan nampak bunga api berpijar dan Ouw Kok Sian terkejut sekali karena tangkisan suling itu hampir saja membuat golok kanannya terlepas dari tangannya.
"Heiii, tahan dulu! Siapakah Paman yang ikut menentangku? Apakah seorang tokoh Thian-te-pang?"
Tanya Hong San.
"Aku Ouw Kok Sian dari Pegunungan Liong san, seorang tamu yang tidak saja melihat orang mengacau dalam pesta tuan rumah!"
Jawab Ouw Kok Sian sambil menyerang lagi. Siangkoan Bok Siangkoan Tek juga sudah menerjang maju dengan marahnya.
"Ha-ha-ha, sekarang mulai ramai-Hong San tertawa.
"Akan tetapi, aku pingin menarik Raja Pegunungan Liong, san sebagai sahabat, bukan menjadi musuh. Baik, aku melayani kalian bertiga main-main sebentar!"
Setelah berkata demikian, Hong San kembali bergerak cepat dan tubuhnya lenyap menjadi bayangan yang dibungkus gulungan sinar sulingnya.
Tiga orang lawannya terkejut dan bingung, namun mereka menyerang membabi-buta ke arah bayangan itu.
HongSan tidak mau main-main lagi.
tiga orang pengeroyoknya ini sama sekali tidak boleh disamakan dengan tiga orang pemuda yang pertama kali mengeroyoknya.
Apalagi sekarang mereka itu memegang senjata dan dia tidak ingin melukai mereka.
Terpaksa dia harus mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk berkelebatan, menghindarkan diri dari Sambaran senjata mereka dan membalas dengan totokan-totokan yang dapat merobohkan akan tetapi tidak sampai mematikan atau melukai dengan parah.
Wajah Lui Seng Cu berubah agak pucat.
Dia tahu bahwa tingkat kepandaian Siangkoan Bok atau Ouw Kok Sian tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya sendiri.
Pemuda pengacau itu ternyata tidak membual saja.
Dia sungguh lihai bukan main.
Jelaslah baginya bahwa kalau dia seorang diri saja menghadapi pemuda itu, dia tentu akan kalah!
Juga Ban-tok Mo-li mengerutkan alisnya.
Pemuda itu sungguh lihai sekali.
Ia sendiri tentu akan kewalahan kalau menghadapi pengeroyokan tiga orang itu.
Akan tetapi pemuda itu enak-enak saja, nampaknya bukan hanya dapat mendesak tiga orang pengeroyoknya, juga seperti mempermainkan mereka.
Lui Seng Cu memberi isyarat kepa Ban-tok Mo-li untuk maju mengeroyok lawan yang berbahaya itu.
Ban-tok Mo-li mengerutkan alisnya.
Bagi iblis betina ini sungguh memalukan kalau sebagai seorang pangcu ia harus mengeroyok seorang pemuda!
Apalagi, nama Ban-tok Mo-li sudah terkenal di seluruh dunia kang-ouw.
la pun percaya akan kepandaiannya sendiri yang masih lebih tinggi dibandingkan Lui Seng Cu.
Akan tetap karena yang mengajaknya adalah rekannya, ia merasa tidak enak untuk menolak dan mereka berdua sudah bangkit berdiri lalu berloncatan ke tengah panggung.
Melihat betapa dua orang ketua itu sudah maju, diam-diam Hong San merasa ragu juga.
Dia tidak takut kepada mereka, akan tetapi bagaimana kalau mereka nanti mengerahkan seluruh anak buah Thian-te-pang untuk mengeroyoknya?
Kalau sudah demikian, dengan sendirinya dia dianggap sebagai musuh Thian-te-Pang dan hal ini sama sekali tidak dikehendakiriya.
Dia ingin agar mereka menerimanya dengan baik, dan untuk itu dia harus dapat meyakinkan mereka.
"Hok-houw Toa-to dan Ban-tok Mo-li! Kalian berani menentangku? Lihat baik-baik, siapa aku ini!"
Tiba-tiba tubuh pemuda itu lenyap menjadi sesosok bayangan yang meloncat kebelakang meja sembahyang dan menghilang dibalik patung Thian-te Kwi-ong!
Ketika lima orang pengeroyok itu hendak menjenguk ke balik meja, tiba-tiba terdengar ledakan dan nampak asap tebal menutupi patung dan meja sembahyang.
Semua orang terkejut bukan main dan mereka terbelalak memandang ke arah asap tebal.
Ketika perlahan-lahan asap itu membuyar, nampaklah betapa patung sebesar orang itu sudah berdiri di atas meja sembahyang!
Atau lebih tepat, patung itu masih berada di tempatnya yang tadi akan tetapi ada kembarannya yang kini mendadak hidup dan berdiri di atas meja!
Wajah Lui Seng Cu menjadi semakin pucat.
Hanya gurunyalah yang mampu mengubah diri menjadi Thian-te Kwi-ong!
Maka, tanpa ragu lagi dia lalu menjatuhkan diri berlutut di atas panggung menghadap ke arah "patung hidup"
Di atas meja sembahyang itu, sambil menangguk-anggukkan kepala ke atas lantai panggung.
"Hamba Lui Seng Cu mengaku bersalah, mohon ampun .............!"
Ban-tok Mo-Ii terkejut, demikian pula seluruh anggauta Thian-te-kauw.
Kalau Sang Kauw-cu (Kepala Agama) sendiri sudah begitu menghormati mahluk itu mereka tidak ragu lagi bahwa tentu itulah penjelmaan Thian-te Kwi-ong!
Ban tok Mo-Ii dan para anggauta juga segera menjatuhkan diri berlutut menghadap patung hidup itu.
Para tamu juga terkejut dan mereka semua bangkit berdiri, tidak menjatuhkan diri berlutut namun berdiri dengan sikap hormat.
Siangkoan Bok, Siangkoan Tek, dan Ouw Kok Sian juga cepat mundur dan berdiri dengan sikap hormat dan bingung.
Mereka juga heran sekali melihat betapa patung itu kini menjadi dua dan yang sebuah lagi hidup!
Memang patung hidup itu mengenakan pakaian seperti yang dipakai pemuda pengacau tadi, akan tetapi wajahnya jelas berubah menjadi wajah patung Thian-te Kwi-ong.
Tadinya mereka menduga bahwa tentu pemuda pengacau itu yang mengenakan kedok, akan tetapi setelah mengamati penuh ketelitian, mereka mau percaya bahwa itu bukan semacam topeng, melainkan wajah yang sesungguhnya karena wajah itu hidup, tidak mati seperti topeng atau kedok!
Kini patung hidup itu mengembangkan kedua lengannya ke depan dan terdengar suaranya, suara yang parau besar dan dalam, tidak seperti suara pemuda tadi.
Suaranya aneh dan penuh wibawa.
"Para pemujaku, dengarlah baik-baik dan taati perintahku! Cui-beng Sai-kong Can Siok telah kupanggil karena aku membutuhkannya dalam kerajaanku! Dan aku menunjuk puteranya, Can Hong San, kini menjadi penggantinya memimpin kalian semua!"
Tiba-tiba terdengar lagi ledakan dan nampak lagi asap hitam tebal.
Ketika asap menbuyar, patung hidup itu sudah lenyap dan yang nampak adalah Can Hong San yang sudah berdiri di atas meja sembahyang.
Dengan gerakan indah pemuda itu melompat turun dari atas meja, menghadapi Lui Seng Cu dan Bani tok Mo-Ii.
Dua orang pimpinan Thian-te-kauw itu bangkit berdiri dan sejenak mereka mengamati wajar Hong San.
Pemuda ini pui tersenyum dan terdengar suaranya lantang gembira.
"Apakah kalian masih belum mau percaya? Thian te Kwi-ong sendiri yang berkenan memberitahu kalian! Aku adalah Can Hong San, aku putcra tunggal mendiang Cui beng Sai-kong Can Siok dan aku yang ditugaskan untuk menjadi penggantinya."
Lalu dia memandang kepada Siangkoan Bok, Sjangkean Tek dau Ouw Kok Sian sambil berkata.
"Aku sungguh tidak ingin bermusuhan dengan Sam-wi, melainkan ingin bersahabat. Silakan sam-wi mundur kembali ke tempat masing-masing karena urusan ini adalah urusan pribadi antara para pimpinan Thian-te-kauw."
Tiga orang itu belum sampai dirobohkan, jadi belum kehilangan muka.
Akan tetapi mereka maklum kalau tadi dilanjutkan, mereka pun akan roboh.
Kini, mereka mendapatkan kesempatan baik untuk mundur tanpa kehilangan muka, karena urusan pribadi antara para pimpinan Thian-te-kauw memang tidak sepatutnya mereka ikut mencampuri.
Mereka pun kembali ke tempat duduk masing-masing dan yang berdiri di panggung hanya tinggal dua orang ketua itu yang berhadapan dengan Hong San.
Sejenak Hong San saling tatap dengan dua orang ketua itu dan dia tahu bahwa biarpun mereka berdua kini agaknya percaya kepadanya, namun masih terdapat keraguan dan ketidak-puasan.
"Bagaimana sekarang pendapat kalian? Apakah kalian sudah percaya kepadaku dan mau mengakui aku sebagai pengganti Cui-beng Sai-kong dan memimpin Thian-te-kauw?"
Tanya Hong San den sikap tenang, ramah dan suara lembut.
"Hemmm, bagaimana kami harus menjawab?"
Lui Seng Cu menjawab.
"Memang kami sudah menyaksikan sendiri bahwa engkau dapat mengubah diri menjadi pujaan kami Thian-te Kwi-ong, akan tetapi .......... engkau masih begini muda, sedangkan memimpin Thian-te-kauw membutuhkan seorang yang sudah berpengalaman agar perkumpulan ini dapat meperoleh kemajuan."
"Juga seorang ketua harus memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sehingga akan mampu menjaga nama dan kehormatan perkumpulan yang diasuhnya, sambung Ban-tok Mo-li. Hong San tersenyum.
"Pendapat kalian berdua memang benar. Aku pun berpendapat demikian. Oleh karena itu, aku tidak ingin menurunkan kalian dari kedudukan kalian yang sekarang. Hok-hou Toa-to tetap menjadi Kauw-cu dan Ban tok Mo-li tetap menjadi Thian-te Pang cu. Akan tetapi kalian berdua berada dibawah pengawasan dan kekuasaanku, karena aku yang menjadi pemimpin umum. Pekerjaan sehari-hari boleh kalian laksanakan, akan tetapi segala hal yang penting harus lebih dahulu mendapat persetujuanku. Dan tentang ilmu kepandaian, kalau yang kuperlihatkan tadi belum meyakinkan hati kalian, nah, kalian boleh maju sendiri untuk mengujiku"
Berkata demikian, tangan kanan .Hong San bergerak dan tahu-tahu dia telah memegang sebatang pedang di tangan kanan, dan sulingnya masih berada di tangan kirinya.
"Lui Seng Cu, engkau terkenal dengan julukan Hok-houw Toa-to, ingin sekali aku mencoba kehebatan golok besarmu dan melihat sampai di mana kemajuanmu menerima bimbingan ilmu silat dari Ayahku!"
Katanya dan kini suaranya mengandung wibawa dan tegas, tidak lagi bersikap seperti orang bermain-main seperti tadi.
Lui Seng Cu juga tidak berani mengajak Ban-tok Mo-li untuk melakukan pengeroyokan lagi.
Bagaimanapun juga, dia sudah hampir merasa yakin bahwa pemuda ini memang pengganti Cui-be Sai-kong, entah puteranya entah muridnya, namun buktinya mampu mengubah diri menjadi raja iblis itu.
Dan kesempatan mengadu ilmu silat ini pun memberi kesempatan baginya untuk membuktikan apakah benar pemuda ini putera gurunya, karena kalau hal ini benar tentu pemuda itu mengenal ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari Cui-beng kong.
Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, Lui Seng Cu sudah mencabut sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya.
Sebelum menjadi murid Cui-beng Sai-kong, Lui Seng Cu sudah menjadi perampok tunggal yang di takuti.
Karena kebetulan saja, yaitu berjumpa dengan Cui-beng Sai-kong dan hendak merampoknya, maka dia berkenalan dengan pendiri Thian-te-kauw itu.
Denga mudah dia dikalahkan dan sejak itula dia menjadi pengikut dan menerima pelajaran dan Cui-beng Sai-kong.
Bukan hanya tentang penyembahan Thian kui-mo, akan tetapi sedikit ilmu sihir dan juga ilmu silat Koai-liong-kun (Silat Naga Setan).
"Lui Seng Cu, engkau boleh mulai menyerangku!"
Kata Hong San. Nada suaranya sudah memerintah.
"Lihat serangan!"
Lui Seng Cu berseru.
Biarpun kauw-cu ini nampaknya sudah percaya dan tunduk kepada Hong San namun ketika dia menyerang tahulah Hong San bahwa sebenarnya di dalam hatinya kauw-cu ini masih merasa penasaran.
Dalam serangan itu terkandung kemaarahan dan kebencian sehingga serangan itu merupakan gerakan dahsyat yang amat berbahaya dan mematikan, liong San dapat mengerti kemarahan Kauw-cu ini.
Bagaimanapun juga, tentu orang yang sudah berpengalaman ini masih merasa penasaran kalau harus mempunyai atasan seorang pemuda seperti dia!
Maka, dia pun ingin memamerkan kepandaiannya.
Melihat serangan golok itu, dia tahu bahwa dari ayahnya, kauw-Cu ini hanya menerima pelajaran Koai-Liong kiam saja yang agaknya kini di sesuaikan dengan gerakan golok.
Dia memutar pedangnya, dengan jurus-jurus dari ilmu pedang Koai-liong kiam dan karena memang tingkat kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi, maka Liu Seng Cu seolah-olah menghadapi sebuah dinding baja yang amat kuat, yang menolak seluruh jurus serangannya!
Dia pun mengenal gerakan pedang pemuda itu yang memainkan ilmu pedang Koai liong kiam, akan tetapi demikian hebatnya permainan itu sehingga pandangan matanya menjadi silau dan dia seperti berhadapan dengan dinding baja yang sudah ditembus!
Setelah lewat tiga puluh jurus, habislah sudah semua jurus Koai liong kiam dia mainkan untuk menyerang, pemuda itu dan kini dia pun yakin bahwa memang pemuda ini telah mewarisi ilmu-ilmu dari gurunya, bukan hanya ilmu silat, akan tetapi juga ilmu mengubah diri menjadi Thian-te Kwi-ong.
Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.
Biarpun tidak banyak, dia pernah mempelajari ilmu sihir.
Belum tentu pemuda ini mengenal sihir pula dan kalau demikian halnya, Betapapun lihainya ilmu silat pemuda ini, kalau sampai dapat dia kuasai dengan sihirnya, maka dia akan mampu menundukkannya!
Di samping harapan ini, juga dia dapat mempergunakannya sebagai ujian sampai di mana pemuda ini mewarisi ilmu-ilmu dari Cui-beng Sai-kong yang diaku sebagai ayahnya itu.
"Can Hong San, berlututlah engkau!"
Tiba-tiba kauw-cu itu membentak sambil mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya.
Semua anggauta Thian-te-kauw memandang dengan hati tegang.
Mereka semua tahu bahwa kauw-cu mereka memiliki ilmu sihir yang amat kuat dan dia dapat memaksa setiap orang dengan perintah sihirnya.
Akan tetapi, terjadilah hal yang sama sekali tidak mereka duga.
Pemuda yang memegang pedang dan suling itu sama sekali tidak berlutut, bahkan dia berkata dengan suara yang nyaring.
"Engkaulah yang berlutut di depanku, Lui Seng Cu!"
Dan kauw-cu itu tiba-tiba saja menjatuhkan diri berlutut di depan Hong San!
Lui Seng Cu terkejut bukan main.
Tadi pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh oleh bentakannya dan ketika pemuda itu menjawab, dia sama sekali tidak merasakan kekuatan sihir yang memaksanya untuk berlutut, akan tetapi tiba-tiba saja dua buah lututnya disambar ujung suling dan itulah yang memaksanya jatuh berlutut karena kedua kakinya terasa lumpuh!
Akan tetapi, untuk mengambil orang, Hong San cepat menghampiri, dengan gerakan cepat tanpa diketahui orang, dia telah membebaskan totok?
itu dan menarik lengan Kauwcu itu bangkit berdiri kembali.
Kini Kauw-cu sudah takluk benar karena dia tahu bahwa dia berhadapan dengan orang yang jauh lebih pandai darinya.
Dia merasa seperti berhadapan dengan gurunya saja!
Dia memberi hormat dan berkata lirih.
"Can Kongcu (Tuan Muda Can), saya mengaku kalah."
Dengan kepala tertunduk kauw-cu itu lalu mundur dan duduk kembali tempat semula.
Akan tetapi dia segera berbisik kepada dua orang muridnya, Siok Ban dan Phoa Kian So yang tadi juga kalah ketika mengeroyok Hong San, agar mereka berdua mempersiapkan tempat duduk yang paling baik untuk pemuda yang kini berhadapan dengan Ban-tok Mo li itu.
Dia sendiri lalu menonton dan ingin tahu Bagaimana Ban-tok Mo-li akan menandingi pemuda yang luar biasa itu.
Ban-tok Mo-li adalah seorang yang amat cerdik, juga ia memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi dibandingkan Liu Seng Cu, atau para tamu yang hadir disitu.
Sesuai dengan julukannya, yaitu Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun), ia seorang ahli dalam menggunakan racun sehingga ilmu silatnya menjadi semakin berbahaya lagi.
Bukan hanya pukulan telapak tangannya yang mengandung hawa beracun, bahkan kuku-kuku jari tangannya mengandung racun, dan ia dapat pula mempergunakan ludah beracun untuk menyerang lawan!
Ia tadi sudah melihat kehebatan pemuda itu bermain senjata.
Golok Lui Seng Cu yang amat lihai itu pun sama sekali bukan tandingan pemuda itu.
Kalau ia mempergunakan sepasang senjatanya, yaitu kipas dan pedang, agaknya akan berat pula baginya, untuk dapat keluar sebagai pemenang Maka mengingat akan keahliannya mempergunakan racun dalam pukulannya, pun ingin mengajak pemuda itu untuk bertanding dalam tangan kosong dulu sebelum terpaksa menggunakan kipas dai pedangnya.
Seperti juga Lui Seng Cu tentu saja ia tidak rela kalau harus menjadi bawahan seorang pemuda, kecuali kalau ia sudah yakin bahwa pemuda itu jauh lebih lihai daripadanya.
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 22
"Can Kongcu,"
Ia menirukan panggilan yang dipergunakan Lui Seng Cu tadi.
"Sebenarnya aku sendiri pun mulai percaya bahwa engkau adalah pewaris dari pendiri Thian-te-kauw dan engkau berhak memimpin perkumpulan kita. Akan tetapi karena kemunculanmu Begini tiba-tiba, tentu saja hati kami menjadi penasaran. Karena itu, aku pun Ingin sekali menguji kepandaianmu, dan lebih dulu aku ingin menguji ilmu kepandaianmu bertangan kosong."
Hong San memandang dan hatinya kagum.
Wanita ini kabarnya sudah berusia lima puluh tahun lebih, bahkan hampir enam puluh tahun, akan tetapi sungguh orang takkan percaya kalau melihatnya.
Pantasnya ia baru berusia tiga puluh tahun lebih!
Masih cantik dan bentuk tubuhnya masih padat dan ramping, dan anehnya, ada sesuatu yang menarik hanya pada wajah itu, seperti wajah seorang wanita yang pernah dikenainya.
Perasaan pemuda ini memang tidak menipunya.
Yang membuat ia merasa kenal adalah karena wajah Ban-tok Mo-li Pha Bi Cu mirip sekali, hanya berbeda usia dengan wajah puterinya, yaitu Sim Lan Ci, isteri Coa Siang Lee yang hampir saja menjadi korban perkosaan Hong San Hong San tersenyum.
Dia sudah mendengar dari ayahnya bahwa Ban-tok Mo-li adalah seorang wanita yang lihai lebih lihai dibandingkan Lui Seng Cu.
Dari nama julukannya saja dia pun sudah menduga bahwa wanita ini tentu ahli racun dan memiliki pukulan-pukulan beracun maka sengaja menantangnya bertanding dengan tangan kosong.
Tentu saja dia tidak merasa gentar.
Ayahnya adalah seorang datuk besar golongan sesat, dan dia sudah banyak belajar dari ayahnya tentang pukulan yang mengandung hawa beracun dan bagaimana untuk mengatasinya.
"Baik sekali, Ban-tok Mo-li. Aku pun tidak ingin kita yang hanya menguji kepandaian sampai terluka oleh senjata tajam walaupun aku tahu bahwa kedua tangan dan kedua kakimu tidak kalah ampuhnya dibandingkan senjata tajam Pedang bagaimanapun. Nah, aku sudah siap!"
Dia pun menyimpan kembali pedang dan sulingnya, lalu berdiri tegak menghadapi Ban-tok Mo-li, kelihatan tenang saja dan acuh, namun diam-diam dia siap siaga dengan penuh kewaspadaan.
"Can Kongcu, sambut seranganku!"
Ban-tok Mo-li tanpa sungkan lagi mendahului, membuka serangan dengan pukulan tangan kanan terkepal ke arah muka disusul cengkeraman tangan kiri yang membentuk cakar ke arah perut.
"Bagus sekali!"
Hong San memuji sambil mengelak ke belakang, akan tetapi kaki kanan wanita itu menyusul dengan tendangan dahsyat mengarah dadanya!"
"Plakkk!"
Hong San menangkis dan tubuh Ban-tok Mo-li berputar di atas sebelah kaki saking kerasnya tangkisan itu.
Namun, wanita itu tidak menjadi gugup, bahkan sambil berputar, kaki tetap melancarkan tendangan susu bertubi-tubi.
Hong San berloncatan mengelak, ia membalas dengan tamparan tangannya kearah wanita itu.
Karena tamparan hebat, maka terpaksa Ban-tok Mo-li menghentikan desakan tendangannya untuk mengelak.
Kemudian ia mengeluarkan gerengan halus seperti seekor kucing yang dielus lehernya dan ke dua lengannya tergetar.
Hong San melihat betapa kedua tangan dan sebagian lengan yang nampak dari lengan baju itu berubah menghitam!
Tahulah dia bahwa wanita itu telah mengeluarkan simpanannya yaitu kedua tangan bahkan sampai lengan yang mengandung hawa beracun yang amat berbahaya, maka diam-diam dia pun mengerahkan tenaga sinkangnya untuk melindungi tubuh dari hawa racun.
"Hyaaaaattt ...........!!"
Wanita itu mengluarkan bentakan melengking dan ia sudah menerjang dengan gerakan yang amat cepat dan kuat.
Angin pukulannya desir dan mengeluarkan suara bersuitan, dibarengi hawa panas dan bau yang amis.
Itulah ilmu silatnya yang paling hebat dan mengerikan, yang diberi nama Ban-tok Hwa-kun (Silat Bunga selaksa Racun).
Kedua tangan itu, sampai ke kuku-kukunya, mengandung racun yang dapat menghanguskan kulit dan daging lawan.
Hong San menyambutnya dengan ilmu Koai-liong-kun (Silat Naga Iblis) yang dahsyat dan ganas.
Dia menjaga diri dengan hati-hati sekali jangan sampai kulitnya tergores kuku-kuku runcing melengkung beracun itu.
Karena dia memIliki si-kang yang kuat, maka dari semua gerakannya timbul angin pukulan yang mendorong pergi semua hawa beracun yang keluar dari gerakan kedua tangan lawan.
Semua orang yang menonton pertandingan itu merasa tegang.
Bukan main hebatnya gerakan Ban-tok Mo-li, bukan saja gerakannya amat cepat sehingga tubuhnya berubah menjadi bayangan, namun juga amat kuat karena setiap tangannya menampar atau memukul, terdengar angin bersiut.
Akan tetapi mereka amat kagum kepada Hong San.
Pemuda itu sama sekali tidak nampak terdesak, melainkan membalas dengan serangan dahsyatnya sehingga pertandingan itu berlangsung amat seru dan menegangkan Akan tetapi hal ini disengaja oleh Hong San.
Dia melihat betapa wanita ini lebih lihai dan kelak akan dapat menjadi tangan kanannya yang boleh diandalkan.
Selain itu, gairahnya sudah bangkit oleh gerak-gerik wanita yang usianya sudah lanjut namun masih cantik menarik ini, dan dia tidak ingin menanam kebencian dalam hati wanita itu.
Kalau dia menghendaki, tentu pertandingan itu tidak akan berlangsung lama itu.
Dia sengaja mengalah dan membuat pertandingan itu nampak seru dan ramai.
Setelah lewat lima puluh jurus, barulah dia mencari kesempatan baik dan ketika kedua tangan lawannya itu menyerang dengan cakaran dari kanan dan kiri, tiba-tiba tubuhnya meluncur ke atas dan berjungkir balik, lalu di meluncur turun menyerang dari atas den gan kedua tangan melakukan pukulan dasyat ke arah ubun-ubun kepala lawan.
"Ihhhhh ........!"
Ban-tok Mo-li terkejut bukan main karena serangan itu sungguh dahsyat dan tidak mungkin baginya untuk mengelak lagi.
Satu-satunya jalan hanya mengangkat kedua tangan menangkis dengan resiko terluka dalam karena tentu tenaga pemuda itu ditambah berat badannya akan merupakan beban yang sukar dapat ditahannya.
"Dukkk!"
Ban-tok Mo-li terkejut ketika kedua lengannya bertemu dengan sebuah lengan saja, itu pun lunak.
Ia segera menduga bahwa tentu tangan lain pemuda itu akan menyerangnya, namun terlambat.
Jari tangan kiri Hong San sudah menotok punggungnya dan seketika tubuh Ban-tok Mo-li menjadi lemas, kehilangan tenaga dan ketika Hong San melayang turun, ia pun terhuyung dan hampir jatuh.
"Mo-li, hati-hati .........!"
Hong San menubruk, tangan kanan memegang pundak akan tetapi tangan kiri dengan gerakan yang luar biasa cepatnya sehingga tidak nampak oleh siapapun, memegang payudara kanan Ban-tok Mo-li.
Hanya memijat sekali saja namun tentu saja.
terasa sekali oleh wanita itu, yang juga merasa betapa totokan itu telah dibebaskan pula oleh Hong San ketika pemuda itu menahan sehingga ia tidak sampai terjatuh itu.
Wajah Ban-tok Mo-li menjadi merah sekali, akan tetapi bibirnya tersenyum dan matanya menatap tajam wajah yang tampan itu.
Bukan main bocah ini, kirnya.
Masih begitu muda, tampan pandai bicara, lincah Jenaka, dan miliki ilmu kepandaian sehebat itu!
Bukan itu saja, bahkan tadi pemuda itu sempat memijat dadanya dan hal ini saja sudah jelas baginya bahwa kecantikannya masih sempat dikagumi pemuda i tu.
Jantungnya berdebar dan ia melihat kesempatan baik untuk memperoleh seorang kekasih baru yang selain muda, tampan, akan tetapi juga lihai sekali dan agaknya akan menjadi seorang atasannya!
Akan tetapi, ia harus menjaga nama besarnya, bukan hanya sebagai pang-Cu dari Thian-te-pang, akan tetapi juga sebagai Ban-tok Mo-li yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia kang-ouw.
Biarpun tadi kekalahannya tidak kelihatan mutlak berkat sikap Hong San, namun tetap saja semua orang melihat betapa ia terhuyung akan jatuh dan bahkan dibantu oleh Hong San sehingga tidak jadi terpelanting jatuh.
Kini ia habis memperlihatkan kehebatannya bermain senjata, bukan saja kepada Hong San akan tetapi juga kepada semua orang yang berada di situ.
Selain itu, juga ingin membuktikan sendiri kehebatan pedang dan suling di tangan pemuda itu.
"Singgggg .........!"
Nampak sinar merah berkelebat dan tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang yang kemerahan dan tangan kirinya memegang sebatang kipas yang terbuka dan di atas Kipas itu nampak gambar kelabang dan kalajengking, seolah-olah memberi isarat bahwa kipas itu mengandung racun seperti binatang itu!
Pedang kemerahan itu pun merupakan pedang beracun yang disebut Ang-tok Pokiam (Pedang Pusaka Racun Merah).
Ban-tok Mo-li memiliki dua batang pedang.
Yang sebuah lagi adalah Cui-mo Hek-kiam yang hitam dan pedang hitam ini telah ia beri kepada Sim Lan Ci, puterinya.
Yang pegangnya itu, Ang-tok Po-kiam juga merupakan pedang pusaka yang ampuh karena telah direndam racun ular mer ahyang amat berbahaya.
Jangankan sampai tertusuk atau terbacok pedang itu, baru tergores sedikit saja kulitnya, kalau sudah berdarah, maka luka itu akan melepuh dan kalau tidak cepat mendapatkan obat pemunah, racunnya akan naik dengan darah dan membuat seluruh tubuh yang dilalui racun itu melepuh membengkak!
"Can Kongcu, hebat ilmu silatmu dengan tangan kosong.
Sekarang, harap tidak bersikap pelit, berilah petunjuk kepadaku dalam ilmu silat bersenjata jelas bahwa ucapan Ban-tok Mo-li itu mulai merendahkan diri dan menghormat, seperti orang bicara kepada lawan yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya.
Senang hati Hong San mendengar itu dan dia pun ingin memamerkan ilmu kepandaiannya kepada wanita cantik ini dan kepada semua orang yang hadir.
Dia tidak mengeluarkan suling dan pedang seperti tadi, melainkan kini memegang suling di tangan kanan dan dia mengambil caping (topi lebar) dengan tangan kiri!
"Mo-li, bagaimanapun juga, aku adalah seorang pria dan engkau seorang wanita.
Tidak enak kalau aku harus menggunakan senjata tajam terhadap seorang wanita.
Nah, aku menggunakan suling dan capingku ini saja dan kita main-main sebentar.
Aku sudah siap, Ban-tok Mo-li, engkau boleh mulai menyerangku!"
Diam-diam Ban-tok Mo-li mendongkol juga.
Pemuda ini terlalu memandang rendah kepadanya, pikirnya.
Betapapun lihainya pemuda itu, kalau senjatanya hanya suling dan caping bambu, mana akan mampu menghadapi pedang dan kipasnya yang merupakan senjata senjata beracun yang ampuh sekali?
Hemm pikirnya.
Kalau engkau kalah dan mati terluka oleh senjataku, salahmu sendiri dan engkau layak mampus karena telah memandang rendah kepadaku.
Akan tetapi kalau engkau dengan senjata seperti itu mampu menandingiku, sungguh pantas menjadi atasanku dan lebih pantas la menjadi kekasihku!
Dengan pikiran demikian, Ban-tok Mo-li mengeluarkan jerit melengking dan pedangnya berkelebat menjadi sinar merah menyambar denga tusukan ke arah ulu hati, sedangkan kipasnya ditutup dan ditusukkan sebagai totokan ke arah leher.
Hong San menangkis pedang denga santai, menggunakan sulingnya dan totokan kipas itu pun dapat dihalau dengan menggerakkan capingnya yang lebar.
Caping itu dapat bertugas seperti perisai dan ketika gagang kipas menyambar, terdengar bunyi keras dan tahulah Ban-tok Mo-li bahwa caping yang dipandangnya rendah itu ternyata hanya di luarnya saja merupakan anyaman bambu, akan tetapi di sebelah dalamnya terlindung baja atau besi atau semacam logam yang kuat.
Ia pun tidak berani memandang rendah dan memainkan pedang dan kipasnya dengan cepat sehingga nampak gulungan sinar yang menyambar-nyambar.
Hong San menggerakkan sulingnya dan terdengar suling itu seperti ditiup dan dimainkan.
Dan caping itu ternyata mampu melindungi tubuhnya dari sambarang hawa beracun dari pedang dan kipas!
Sebaliknya, dari kanan kiri atas atau bawah caping, mencuat suling secara tiba-tiba dan sukar diduga, melakukan totokan-totokan yang amat cepat.
Ban-tok Mo-li menjadi bingung dan beberapa kali nyaris jalan darah dibagian depan tubuhnya tertotok.
Setidaknya, ujung suling sudah menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang peka dan ia pun semakin kagum.
Pemuda itu masih sempat main-main dan menyatakan berahinya lewat sentuhan-sentuhan ujung suling!
Tentu saja amat sukar diduga dari mana suling itu akan mencuat ke luar karena tertutup caping.
Sedangkan semua serangan pedang dan kipasnya selalu dapat dihindarkan oleh Hong San.
Akhirnya, setelah lewat hampir lima puluh jurus, tenaga Ban-tok Mo-li mulai berkurang dan napasnya mulai memburu Hong San tidak mau membikin malu wanita itu, maka ujung sulingnya secepal kilat menotok siku kanan dan ketika pedang lawan terlepas dari tangan yang mendadak lumpuh itu, dia cepat menempel pedang dengan sulingnya dan memutar pedang itu sedemikian rupa sel hingga terus menempel pada sulingnya dan tidak sampai jatuh!
Ban-tok Mo-li terkejut dan cepat melompat ke belakang.
Dirampasnya pedang dari tangannya sudah merupakai bukti cukup jelas bahwa ia memang kalah pandai.
Diam-diam ia berterima kasih kepada Hong San yang memberi ia kekalahan terhormat, tidak sampai terluka atau roboh, bahkan pedangnya pun tidak sampai terjatuh ke lantai!
Hong San lalu menggerakkan tangan dan pedang itu terlepas dari suling, lalu melayang ke arah Ban-tok Mo-li yang menerima dengan tangan kanannya dan wanita ini pun memberi hormat kepada pemuda itu tanpa malu lagi.
"Can Kongcu telah memberi petunjuk kepadaku, aku merasa kagum sekali dan mengaku kalah."
Kemudian, wanita itu berdiri menghadap ke arah mereka yang duduk di bawah panggung, lalu berkata dengan suara lantang.
"Para anggauta Thian-te-pang, dengarlah. Mulai detik ini, aku memerintahkan kalian semua untuk mengakui dan menerima Can Kongcu sebagai pemimpin kita semua!"
Ucapan yang nyaring ini disambut tepuk sorak para anggauta Thian-te-pang yang sudah merasa kagum sekali melihat betapa pemuda tampan itu dapat mengalahkan kauwcu dan pangcu, suatu hal yang mereka anggap luar biasa sekali.
Apalagi mereka tadi pun menyaksikan dengan mata kepada sendiri betapa pemuda itu mampu mengubah diri menjadi Thian-te Kwi-ong yang hidup!
Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu juga segera bangkit menghampiri Can Hong San dengan sikap hormat dia mempersilakan pemuda itu duduk di kursi kehormatan yang berada di antara dia dan Ban-tok Mo-li.
Tempat itu memang telah diaturnya ketika pemuda itu bertanding melayani Ban-tok Mo-li.
Dia sudah menduga bahwa Ban-tok Mo-li juga bukan tandingan pemuda sakti itu, maka.dia sudah mengatur sebuah tempat duduk terhormat bagi Hong San.
Tentu saja Hong San merasa gembira sekali melihat sikap dua orang itu!
Setelah duduk di atas kursi di antara mereka, dia lalu berkata kepada mereka.
"Hek-houw Toa-to dan Ban-tok Mo-li, seperti sudah kukatakan tadi, aku datang untuk menuntut hakku sebagai ahli waris mendiang Ayahku, menjadi orang nomor satu dalam Thian-te-pang. Akan tetapi itu bukan berarti aku merampas kedudukan kalian. Aku tidak ingin repot bekerja menjadi kauwcu atau pang-cu. Biarlah kalian lanjutkan kedudukal kalian sebagai kauwcu dan pangcu, akan tetapi kalian adalah pembantu-pembantuku. Akulah pemimpin umumnya, dan aku tidak ingin disebut pemimpin atau ketua, cukup kalau kalian dan semua anggauta menyebut aku Can Kongcu saja. Akan tetapi seluruh harta milik dan pemasukan uang harus berada di bawah pengamatanku dan aku yang menentukan dan mengatur semuanya. Mengertikah kalian?"
Tentu saja kedua orang ini merasa girang sekali.
Mereka tidak kehilangan muka dan juga tidak kehilangan kekuasaan.
Maka keduanya mengangguk-angguk dan secara langsung maka kauwcu dari Thian-te-kauw itu bangkit berdiri dan dengan lantang dia lalu bicara kepada semua orang yang hadir.
"Para tamu yang terhormat, sobat-sobat dan para anggauta Thian-te-kauw dan Thian-te-pang! Kami mengumumkan bahwa mulai detik ini, Kongcu Can Hong San ini menjadi pemimpin besar kita. Semua harus tunduk kepada perintahnya dan kebijaksanaannya. Ketahuilah bahwa Kongcu adalah putera dari mendiang Suhu kami, yaitu Cui-beng Sai-kong, pendiri Thian-te-kauw. Hidup Can Kong-cu!"
Serentak para anggauta, juga para tamu berteriak.
"Hidup Can Kongcu!"
Hong San tersenyum-senyum penuh kegembiraan.
"Nah, mari kita lanjutkan pesta perayaan ini. Urusan dalam perkumpulan kita dapat kita bicarakan lain waktu di antara kita sendiri."
Para tamu lalu datang satu demi satu untuk memperkenalkan diri kepada Hong San.
Di antara mereka itu, yang merasa amat kagum dan menyatakan ingin sekali membantu sepenuhnya adalah Siangkoan Tek, putera Siangkoan Bok, Ji Ban To murid Ouw Kok Sian, dan dua orang murid Lui Seng Cu sendiri, yaitu] Siok Boan dan Poa Kian So.
Empat orang pemuda ini merasa kagum bukan main kepada Hong San dan mereka berempat merasa gembira untuk dapat membantu seorang seperti Hong San.
Dan Hong San sendiri senang kepada mereka, apalagi mengingat bahwa mereka adalah murid-murid dan putera orang-orang yang pandai dan berpengaruh.
Ketika hidangan dikeluarkan, Hong San bahkan mengundang mereka berempat itu untuk duduk semeja dengan dia, bersama Ban-tok Mo-li dan lui Seng Cu.
Can Hong San merasa betapa bintangnya terang.
Dia memberi selamat pada dirinya sendiri yang sudah memilih tempat yang amat tepat baginya.
Apalagi setelah dia mendapat kenyataan bahwa Thian-te-pang telah merupakan sebuah perkumpulan yang kaya!
Dia dapat mempergunakan kekayaan itu sesuka hatinya.
Selain itu, juga mulai hari itu, Ban-tok Mo-li, wanita yang masih amat cantik dan menggairahkan itu, wanita yang memiliki banyak sekali pengalaman, selalu menemaninya dan melimpahkan cinta yang berkobar-kobar kepadanya.
Lebih menyenangkan hatinya lagi, para anggauta Thian-te-pang yang wanita, banyak di antara mereka yang muda dan cantik, agaknya juga berlomba untuk mendekatinya dan menjadi kekasihnya!
Sekali pukul saja, Hong San kini telah dibanjiri harta, kedudukan terhormat, wanita-wanita cantik dan segala kesenangan dapat diraihnya dengan amat mudahnya!
ooOOoo Liu Bhok Ki yang berjalan seora diri meninggalkan rumah suami isteri Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci itu sungguh jauh berbeda dengan Liu Bhok Ki ketika datang ke dusun itu kemarin.
Kini dia melangkah dengan hati ringan dengan dada lapang dan perasaan penuh bahagia.
Dia merasa seolah-olah ada batu besar sekali yang selama bertahun talah menekan hatinya, kini telah lenyap membuat dadanya terasa lapang sekali.
Kakek berusia enam puluh tahun yang bertubuh tinggi besar itu nampak lebih muda dari biasanya.
Dadanya yang bidang itu makin membusung, langkahnya bagaikan langkah seekor harimau jantan dan sepasang matanya mencorong, bibirnya yang terhias kumis dan jenggot itu tersenyum cerah, bahkan ketika mendaki bukit itu, dia setengah berlari sambi bersenandung!
Sin-tiauw Liu Bhok Ki Si Rajawali Sakti itu bersenandung!
Sungguh suatu hal yang luar biasa sekali dan kalau ada orang yang sudah mengenalnya mendengar senandung itu, tentu dia akan terheran-heran.
Pendekar yang biasanya berwatak kasar dan keras itu hampir tidak pernah kelihatan bergembira, dan pada hari ini dia berjalan kaki seorang diri sambil bersenandung!
Tidak mengherankan kalau kita mengingat akan keadaan hidup pendekar yang perkasa ini.
Sejak muda dia menderita sakit hati, dendam yang setinggi langit sedalam lautan.
Hatinya disakiti oleh isterinya yang mengkhianatinya, yang melakukan penyelewengan dengan pria lain.
Padahal dia amat menyayangi isterinya itu!
Dendam ini membuatnya seperti gila dan membuat dia menjadi seorang yang luar biasa kejamnya terhadap dua orang yang berjina itu.
Dia menyimpan kepala isterinya dan kasih isterinya, dan setiap hari dia seperti menyiksa dua buah kepala itu!
Bahkan lebih dari itu, dia mendendam kepada keturunan dan keluarga dengan istennya dan kekasih isterinya.
Kepada putera kekasih isterinya putera keponakan isterinya datang untuk membalas dendam dan membunuhnya, dia menangkap mereka, bahkan dengan memberi obat perangsang dia membuat mereka itu terangsang dan melakukan hubungan suami isteri.
Dia ingin menghukum mereka itu sehebatnya.
Dia ingin merasa berdua itu menjadi suami isteri, saling mencinta, kemudian selagi mereka hidup bahagia, dia ingin muridnya merusak kebahagiaan rumah tangga mereka dengan merayu si isteri atau memperkosanya, agar hancur luluh hati mereka dua!
Akan tetapi, ternyata muridnya, Si Han Beng, tidak melakukan perintahnya itu, bahkan membela mereka.
Dan dalam keadaan marah itu, suami isteri putera mereka pun menyerahkannya di tangannya.
Dan dia pun sadar!
Dia sadar akan semua kesalahannya, sadang betapa dia menjadi seperti gila karena cemburu dan dendam.
Terutama sekali anak mereka itulah yang membuatnya sadar, seorang anak kecil berusia tiga tahun yang lucu dan pemberani!
Dan kini dia telah bebas!
Dan baru sekarang dia mengenal apa yang dinamakan kebahagiaan itu!
Kebahagiaan adalah kebebasan!
Bebas dari segala perasan seperti marah, dendam, benci, iri, malu, takut dan sebagainya.
Juga bebas dari perasaan senang yang timbul dari nafsu.
Sebelum ini dia terikat oleh senang dan susah, puas dan kecewa yang bukan lain hanya permainan daya-daya rendah atau nafsu-nafsu dalam dirinya.
Ketika dia tiba di tepi sebuah hutan kecil di lereng bukit, tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suara orang berkelahi.
Tak salah lagi, suara berdentingnya senjata-senjata tajam saling bertemu, dan terdengar pula teriakan-teriakan banyak orang.
Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar perkasa yang berjuluk Sin-tiauw, tentu saja setiap kali ada perkelahian atau adu ilmu silat, hatinya tertarik sekali.
Apalagi suara orang berkelahi itu terjadi di dalam hutan, maka dia pun merasa khawatir kalau-kalau sedang terjadi kejahatan di dalam hutan itu.
Dia segera mengerahkan tenaganya dan berlari cepat memasuki hutan.
Ketika dia tiba di tempat terbuka tengah hutan itu, dia melihat seorang wanita muda yang memegang sepasa pedang dikeroyok oleh sedikitnya lima belas orang!
Dan di situ sudah men geletak lima orang dalam keadaan terluka.
Agaknya gadis itu mengamuk berhasil merobohkan lima orang, akan tetapi pengeroyoknya masih banyak dan di antara para pengeroyok terdapat dua orang laki-laki setengah tua yang cukup lihai.
Gadis itu telah menderita beberapa luka, pakaiannya sudah berlepotan darah dan gerakannya mulai mengendur sehingga ia terancam bahaya maut!
Melihat ini, tentu saja Liu Bhok tak dapat tinggal diam saja.
Dia melihat betapa kini dua orang di antara para pengeroyok yang paling lihai itu memang "masing-masing mempergunakan sebatang golok besar, mendesak Si Gadis berbaju hijau.
Gadis itu melawan matian-matian, memutar sepasang pedangnya, namun terdesak dan terhuyung.
"Tranggggg.. ..........!"
Pertemuan pedang kanannya dengan golok seorang di antara dua pengeroyok itu demikian kerasnya sehingga pedang di tangan gadis itu terpental dan lepas dari tangannya.
Padahal, pada saat itu, orang ke dua sudah mengayun goloknya membacok ke arah kepalanya.
Sungguh berbahaya sekali keadaan gadis itu dan agaknya sudah tidak ada waktu lagi baginya untuk dapat menghindarkan diri dari bacokan kilat itu.
Tiba-tiba nampak sinar putih meluncur dari samping dan sinar ini menangkis golok yang membacok kepala gadis berbaju hijau.
"Plakkk!"
Sinar putih itu ternyata sehelai sabuk sutera yang telah menangkis golok, sekaligus menggulungnya dan sekali tarik, golok di tangan laki-laki itu terlepas dan berpindah ke tangan Liu Bhok Ki!
Semua pengeroyok terkejut melihat munculnya seorang laki-laki berusia enam puluh empat tahun yang tinggi besar dan gagah perkasa.
Mereka merasa penasaran sekali karena mereka sudah hampir berhasil merobohkan wanita itu, akan tetapi kini muncul seorang kakek yang menggagalkan usaha mereka!
Dua orang lihai yang agaknya menjadi pemimpin rombongan itu, dengan marah lalu memberi aba-aba untuk mengeroyok Liu Bhok Ki!
Liu Bhok Ki melihat betapa gadis berbaju hijau itu terhuyung dan jatuh terduduk, lalu gadis itu memejamkan mata dan agaknya sedang menderita nyeri yang hebat.
Dia pun cepat mendekati gadis itu, tanpa ragu lagi dia menotok punggungnya sehingga gadis itu roboh pingsan dan segera dipondongnya gadis itu.
Pada saat itu, belasan orang itu sudah maju mengeroyoknya.
Liu Bhok Ki menggerakkan sabuk putihnya dan tubuhnya berloncatan bagaikan seekor rajawali sakti, menyambar-nyambar dan dalam waktu beberapa menit saja, hampir semua senjata di tangan para pengeroyok telah terampas dari tangan mereka.
Ada yang terlibat sabuk dan ditarik lepas, ada yang terlepas karena pergelangan tangan pemegangnya tertotok ujung sabuk.
Dan sabuk itu pun lalu lecut-lecut seperti cambuk dengan mengeluarkan suara ledakan-ledakan.
Kocar-kacirlah para pengeroyok itu dan tak lama kemudian mereka semua melarikan diri sambil membawa teman-teman yang tadi terluka oleh gadis itu.
Liu Bhok Ki berdiri dengan memondong tubuh gadis yang pingsan itu, sejenak memandang kepada mereka yang melarikan diri.
Pada saat itu baru dia rasa keadaan hatinya sudah mengalami perubahan yang luar biasa.
Tanpa disengaja, tadi dalam perkelahian itu, dia sama sekali tidak mau melukai berat para pengeroyoknya, apalagi merobohkan dan membunuhnya!
Padahal, dahulu kalau dia berhadapan dengan lawan, dia tidak mengenal ampun lagi!
Lebih-lebih lagi kalau lawannya itu orang-orang jahat.
Dan gerombolan yang mengeroyok seorang wanita seperti itu, mana bisa disebut orang-orang baik?
Liu Bhok Ki tidak menyesali perubahan pada dirinya, hanya merasa heran saja, kemudian dia membawa pergi gadis itu keluar dari dalam hutan, membawanya mendaki bukit dan setelah tiba puncak, di mana terdapat sebatang pohon yang lebat daunnya, dia berhenti merebahkan tubuh gadis itu ke atas tanah bertilamkan rumput tebal.
Dengan lembut dia menyadarkan gadis itu dari pingsannya.
Gadis itu membuka matanya dan begitu melihat seorang laki-laki duduk di dekatnya, ia mengeluarkan seruan tertahan dan cepat meloncat bangun dengan sikap menyerang.
Akan tetapi karena luka-lukanya, ia pun terpelanting dan tentu akan roboh terbanting kalau saja Liu Bhok Ki tidak menangkap lengannya.
"Nona, tenanglah. Aku bukan musuhmu. Mereka itu sudah melarikan diri."
Gadis itu mengamati wajah Liu Bhok Ki dan teringatlah dia bahwa kakek itu yang tadi muncul menyelamatkan sambaran golok.
Akan tetapi ia pun teringat bahwa setelah itu, kakek itu merontoknya sehingga ia roboh dan tidak ingat apa-apa lagi.
"Tapi .......... tapi kenapa engkau menotokku dan membuat aku pingsan?"
Tanyanya penuh keraguan dan dengan sikap masih siap untuk menyerang walaupun seluruh tubuhnya terasa nyeri, dan terutama sekali luka di paha kirinya mendatangkan rasa panas bukan main.
"Aku terpaksa, Nona. Kalau tidak kubikin pingsan, tentu engkau akan tetap mengamuk dan hal itu berbahaya sekali karena engkau sudah terluka parah. Tentu engkau tidak mau pula kupondong. Setelah membuat engkau pingsan dan memondongmu, aku berhasil memaksa mereka melarikan diri."
Sepasang mata yang tajam itu mengamati Liu Bhok Ki penuh perhatian, kemudian ketegangannya melunak dan ia pun terkulai dan jatuh terduduk, lalu terdengar suaranya lemah.
"Harap Lo-cian-pwe sudi memaafkan aku. Karena tidak mengenal maka aku tadi mengira Lo-cian-pwe seorang di antara mereka dan aduhhh ............."
La mengeluh dan kedatangannya memijat-mijat paha kiri.
"Cukup, jangan banyak cakap dulu Nona. Engkau terluka parah dan agaknya yang paling parah adalah luka di pahamu. Biarkan aku memeriksanya. Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan."
Agaknya gadis itu sudah percaya penuh kepada Liu Bhok Ki.
Ia hanya mengangguk dan membiarkan kakek itu memeriksa luka di paha kirinya.
Ketika melihat betapa celana di bagian paha dirobek dan penuh darah, Liu Bhok berkata.
"Maaf, untuk dapat memeriksa dengan baik, celana ini terpaksa dirobek sedikit di bagian yang terluka. Engkau tidak keberatan, Nona?"
Gadis itu menggeleng kepala.
Dengan hati-hati Liu Bhok Ki merobek sedikit celana itu di bagian paha yang terluka sehingga luka itu pun nampak jelas.
Liu Bhok Ki adalah seorang laki-laki jantan yang usianya sudah enam puluh tahun lebih.
Walaupun sudah bertahun-tahun dia tidak pernah dekat dengan wanita, namun dia telah mampu menundukkan gejolak nafsunya sehingga melihat kulit paha yang putih mulus itu dia sama sekali tidak tergerak.
Yang menjadi pusat perhatiannya hanyalah luka itu.
Luka tusukan yang tidak berapa lebar, dan dalamnya juga tidak sampai mengenai tulang.
Akan tetapi melihat keadaan luka yang membengkak dan kehitaman itu, dia mengerutkan alisnya.
"Nona, engkau terluka oleh senjata beracun!"
Gadis itu mengangguk.
"Yang melukai aku di paha adalah sebatang pisau yang dipergunakan secara curang oleh seorang di antara kedua pemimpin gerombolan itu. Mungkin pisau itu yang beracun. Aughhh ........... nyeri, panas rasanya .............!"
Gadis itu mengeluh.
"Untung bahwa racun ini hanya racun biasa saja, Nona. Belum terlalu jauh menjalar, hanya di sekitar luka. Engkau tidak berkeberatan kalau aku menyedot racun itu dan luka di pahamu?"
Sejenak mereka saling pandang dan melihat sinar mata tajam yang penuh kejujuran itu, gadis itu lalu mengangguk.
Liu Bhok Ki lalu menundukkan mukanya dan menyedot luka itu dengan mulut.
Di mengerahkan sin-kang sehingga sedotannya itu kuat sekali.
Setelah menyedot dia meludahkan darah bercampur racun yang tersedot, lalu mengulangi lagi.
Sampai lima kali dia menyedot dan setiap kali disedot, gadis itu merasakan kenyerian yang menusuk jantung namun dia mempertahankan diri dan tidak mau mengeluh, hanya menggigit bibir sendiri.
"Nah, sekarang kurasa racun itu sudah keluar semua,"
Kata Liu Bhok Ki sambil menyusut bibirnya, dan memeriksa luka itu.
"Dengan obat luka tentu akan cepat sembuh."
Dia lalu mengeluarkan obat bubuk dari saku bajunya, menaburkan obat itu kedalam luka dan membalut paha itu dengan kain bersih robekan sabuknya.
Setelah itu, dia memeriksa luka-luka lain, akan tetapi hanya luka biasa saja, tidak berbahaya.
Gadis itu kembali memberi hormat "Lo-cian-pwe telah menolong diriku bahkan telah menyelamatkan nyawaku.
Kalau tidak ada Lo-cian-pwe, tentu aku sudah tewas di tangan gerombolan itu."
"Sudahlah, Nona. Engkau tidak perlu banyak sungkan dan tidak boleh terlalu banyak bicara. Jawab saja secara pendek hal-hal pokok yang ingin kuketahui. Gerombolan apakah mereka tadi?"
"Mereka perampok-perampok,"
Jawab gadis itu.
"Bagaimana engkau bentrok dengan mereka? Jelaskan singkat saja."
"Ketika aku lewat di sini aku melihat mereka itu merampok sebuah keluarga yang lemah. Aku menolong keluarga itu dan berhasil mengusir para perampok. Akan tetapi mereka itu datang lagi membawa dua orang yang lihai tadi dan aku terdesak."
Liu Bhok Ki mengangkat tangan.
"Cukup, Nona. Aku melihat engkau lemah kali, kalau bicara engkau menjadi pucat dan nampak kesakitan. Apakah ada sesuatu yang terasa sakit?"
"Dalam dadaku .......... nyeri dan kalau bicara .......... ah, semakin nyeri."
"Coba aku memeriksanya,"
Kata Liu Bhok Ki dan dia pun berdiri di belakang gadis itu, lalu berlutut sedangkan gadis itu duduk bersila. Liu Bhok Ki menempelkan telapak tangannya pada punggung itu, menekan-nekan.
"Ah, ternyata selain luka beracun pahamu,, juga engkau menderita luka dalam oleh pukulan yang cukup kuat Nona."
"Tadi ............. Si Muka Hitam itu ............ berhasil memukul punggungku."
"Hemmm, sekarang ke manakah engkau hendak pergi?"
Tanya Liu Bhok Ki kini sudah berada kembali di depan gadis itu sambil memperhatikan wajah yang bulat berkulit putih dan bermata tajam itu.
"Aku akan melanjutkan perjalanan mungkin ke kota raja. Aku sedang mencari Pamanku ..........."
Kata gadis itu lirih dan hati-hati karena kalau dipakai bicara, dadanya seperti ditusuk rasanya. Liu Bhok Ki menggeleng-geleng kepalanya.
"Nona, engkau perlu mengaso dan perlu perawatan. Keadaanmu tidak memungkinkan engkau melakukan per jalanan, apalagi yang jauh dan seorang diri pula. Engkau seorang gadis muda, itu akan menghadapi banyak rintangan di jalan dan dalam keadaan seperti ini, kalau itu akan berbahaya sekali. Kalau engkau mau, Nona, marilah engkau ikut bersamaku. Aku akan melanjutkan perjalanan dengan berperahu sehingga tidak melelahkan dan kalau tiba di tempat tinggalku, aku akan merawatmu sampai sembuh. Kalau engkau sudah sembuh dan sehat kembali, baru engkau dapat melanjutkan perjalananmu. Sekarang tidak perlu banyak bicara. Kalau engkau mau, marilah."
Gadis itu nampak ragu dan bingung, ucapan kakek itu memang benar.
Ia terluka parah dan dalam keadaan seperti itu, kalau muncul orang-orang jahat, dan mengganggunya, tentu ia tidak akan mampu membela diri lagi.
Akan tetapi, ia baru saja bertemu dengan kakek ini.
Sama sekali tidak mengenalnya dan tidak tahu orang macam apakah adanya kakek Ini.
"Lo-cian-pwe ........ siapakah ......... ?"
Akhirnya ia memberanikan diri bertanya belum mengambil keputusan. Liu Bhok Ki tersenyum. Dia dapat menduga apa yang membuat gadis itu meragu, maka dia pun menjawab.
"Harap engkau jangan khawatir, Nona. Aku Bhok Ki. disebut orang Sin-tiauw dan selamanya aku tidak pernah berbuat jahat apalagi kepada seorang gadis muda yang sepantasnya menjadi anakku."
Sepasang mata bintang itu terbelak "Ah, kiranya Lo-cianpwe adalah Sin tiauw Liu Bhok Ki? Paman pernah bercerita kepadaku tentang Lo-cian-pwe."
"Siapakah Pamanmu itu?"
"Dia bernama Lie Koan Tek "
"Lie Koan Tek? Tokoh Siauw-Lim pai itu? Pantas kulihat tadi permainan siang-kiam (sepasang pedang) darimu adalah ilmu pedang Siauw Lim-pai. Kiranya engkau murid Siauw lim-pai! bagaimana, Nona? Apakah engkau menerima usulku tadi demi kebaikan sendiri?"
Keraguan kini lenyap sama sekali dan mata gadis itu.
Sudah lama ia dengar tentang nama besar Sin-tiauw Liu Bhok Ki sebagai seorang pendekar perkasa walaupun menurut pamannya, watak pendekar ini aneh dan keras.
Namun, ia tidak melihat kekerasan dalam sepak terjangnya tadi.
"Baiklah, Lo-cian-pwe dan sebelumnya terima kasih atas kebaikan Lo-cian-pwe kepadaku."
"Hemmm, siapakah namamu? Sudah pantasnya aku mengetahuinya."
Gadis itu agak tersipu. Orang telah melimpahkan bantuan kepadanya dan ia pun lupa untuk memperkenalkan namanya! "Namaku Bi Lan, Lo-cian-pwe."
"Nah, Bi Lan, mari kau ikut dengan aku. Terpaksa engkau harus kupondong karena kakimu itu akan menjadi bengkak kalau kau pakai berjalan jauh. Sungai itu tidak berapa jauh lagi dan setelah tiba di sana, kita selanjutnya menggunakan perahu."
Gadis itu tidak membantah, dan ia melawan perasaan malunya dengan memejamkan mata ketika merasa betapa tubuhnya diangkat oleh lengan yang kokoh kuat itu.
Sambil memondong tubuh gadis i Liu Bhok Ki mempergunakan ilmu berlari cepat sehingga dalam waktu dua jam saja dia sudah tiba di Sungai Huang ho.
Dia lalu menyewa perahu melanjutkan perjalanan sampai ke kaki bukit Kim-hong-san di lembah Huang-ho.
Kemudian, kembali dia memondong tubuh Bi Lan mendaki puncak dan semenjak hari itu Sin-tiauw Liu Bhok Ki merawat Bi Lan dengan penuh perhatian.
Gadis itu merasa terharu dan bersukur sekali karena kakek itu merawatnya dengan penuh ketelitian seolah-olah ia dirawat oleh ayahnya sendiri.
Setelah gadis itu agak pulih kesehatannya dan tidak lagi nyeri dadanya kalau bicara, barulah Liu Bhok Ki menanyakan riwayatnya.
Bi Lan kini tinggal sedikit lemah saja, akan tetapi luka-lukanya sudah sembuh, baik luka di badan maupun luka di dalam dadanya.
Kwi Bi Lan hidup berdua saja dengan ibunya karena ayahnya telah meninggal dunia ketika ia masih kecil.
Oleh pamanya, yaitu Lie Koan Tek adik kandung ibunya, ia dimasukkan ke dalam perguruan silat seorang murid Siauw-lim-pai, bahkan kemudian pamannya itu melanjutkan memberi pelajaran ilmu silat Siauw-Lim pai kepada keponakannya itu.
Bi Lan dan ibunya hidup di sebuah dusun sebagai petani.
Biarpun agak jarang, namun Lie Koan Tek tentu singgah di dusun itu kalau dia kebetulan melakukan perjalanan melalui daerah itu sehingga hubungan antara paman dan keponakan itu cukup akrab.
Akan tetapi, dua bulan yag lalu, ibu Bi Lan jatuh sakit dan meninggal dunia.
Tentu saja Bi Lan yang menjadi sebatangkara itu merasa berduka sekali.
Hanya dibantu oleh para tetangga, ia mengurus penguburan jenazah Ibunya, dan setelah itu ia hidup menyendiri kesepian.
Pamannya Lie Koan Tek yang sudah lama tidak pernah datang itu ditunggu-tunggunya, akan tetapi tidak pernah muncul.
Akhirnya, Bi Lan mengambil keputusan nekat untuk mencari pamannya.
"Paman memberi dua alamatnya kepada kami, yaitu di kuil Siauw-lim-dan di kota raja. Karena kota raja lebih dekat, maka saya hendak menyusul dan mencarinya di sana, Lo-cian-pwe."
Liu Bhok Ki mengelus jenggotnya merasa iba kepada gadis ini.
Bi Lan telah memiliki ilmu silat Siau lim-pai yang cukup tangguh namun kepandaian itu masih belum cukup untuk bekal seorang gadis muda yang cantik melakukan perjalanan seorang diri.
"Kota raja itu ramai dan luas, Bi Lan. Tahukah engkau di mana rumah tinggal Lie Koan Tek?"
Bi Lan menarik napas panjang.
"Paman Lie Koan Tek tidak pernah memberitahu dengan jelas di mana letaknya hanya di kota raja saja. Saya akan mencari keterangan di sana."
"Aih, sungguh berbahaya sekali, Bi Lan. Perjalanan ke kota raja cukup jauh dan melalui daerah-daerah rawan, banyak sekali orang jahat di dunia ini engkau tentu akan menemui banyak halangan. Biarpun aku tahu bahwa engkau telah menguasai ilmu silat cukup baik, namun kiranya masih belum cukup untuk melindungi dirimu dari gangguan para tokoh sesat di dunia kang-ouw."
"Bagaimanapun juga, saya harus berani menghadapi bahaya itu, Lo-cian-pwe. Saya tidak mungkin hidup sebatangkara saja di dunia ini. Saya masih mempunyai seorang paman, maka saya akan menumpang hidup pada Paman Lie Koan Tek."
"Memang benar pendapatmu itu. Akan tetapi setelah engkau bertemu denganku, bagaimana mungkin aku membiarkan engkau pergi menempuh bahaya seperti itu? Bi Lan, terus terang saja, aku merasa kasihan kepadamu dan kalau engkau suka, biarlah engkau tinggal beberapa lama di sini. Aku akan mengajarkan beberapa ilmu silat kepadamu agar engkau lebih kuat dan lebih mampu membelamu di dalam perjalananmu mencari Pamanmu. Bagaimana pendapatmu?"
Mendengar ucapan penolongnya itu, Bi Lan menjadi girang sekali dan segera ia menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar tua itu.
"Sungguh berlimpahan Suhu, menumpuk budi kebaikan terhadap diri teecu, semoga Tuhan yang akan membalasnya. Teecu mentaati perintah Suhu Liu Bhok Ki tersenyum, hatinya merasa lega sekali dan diapun memegang kedua pundak gadis itu dan menyuruhnya bangkit dan duduk kembali di atas pembaringannya.
"Cukup, Bi Lan. Aku hanya ingin melengkapi kepandaianmu, akan tetapi kalau engkau suka mengakui aku sebagai gurumu, aku pun merasa gembira sekali. Ketahuilah bahwa selama hidupku, hanya mempunyai seorang saja murid dan kini kepandaiannya sudah jauh melampaui kepandaianku sendiri. Dan kau adalah murid ke dua, padahal engkau sudah menguasai banyak ilmu silat Siau lim-si dan aku hanya akan menambahi beberapa jurus saja untuk memperkuat dirimu dan sebagai bekal."
Demikianlah, mulai hari itu Bi Lan menjadi murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki d setelah tubuhnya sehat kembali, mulailah ia merima gemblengan kakek perkasa itu yang mengajarkan jurus-jurus pilihan dari Hui-tiauw Sin-kun (Silat sakti Rajawali Terbang) dan juga dia pemberi petunjuk tentang ilmu siang-kiam pedang pasangan) kepada gadis itu sehingga dalam waktu tiga bulan saja, Bi Lan telah memperoleh kemajuan pesat.
Gadis yatim piatu itu pun tahu diri.
lama tinggal di pondok gurunya sebagai murid, ia bukan hanya mengantungkan diri sendiri dengan mempelajari ilmu ilat saja.
la rajin bekerja membersihkan pondok, mencuci pakaian, memasak dan menyediakan semua keperluan suhunya dengan penuh perhatian.
Biarpun ia seorang gadis yang pendiam, namun ia selalu bersikap ramah, lembut dan penuh hormat kepada gurunya sehingga kakek perkasa itu merasa semakin sayang kepadanya.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Bi Lan sudah memasak air dan membuatkan air teh panas untuk gurunya, kemudian ia menyapu pekarangan dan membawa pakaian kotor ke sumber air untuk mencucinya.
Gurunya baru saja bangun dan kini gurunya sedang berlatih silat untuk melemaskan otot-otot.
Setiap pagi, untuk setengah jam lamanya, Sin tiauw Liu Bhok Ki selalu bersilat untuk menjaga kesehatan dan kesegaran tubuhnya.
Liu Bhok Ki merasa segar dan gembira hatinya pagi itu.
Semenjak Bi Lan berada di situ sebagai muridnya, Bhok Ki merasa seolah-olah kehidupan menjadi lebih menyenangkan.
Kalau dahulu kadang-kadang dia merasa kesepian sekali, merasa betapa hidupnya sudah tidak ada guna dan manfaatnya lagi baik bagi diri sendiri apalagi bagi orang lain, merasa tidak dibutuhkan manusia lain, kini dia merasa sebaliknya.
Bi Lan membutuhkan bimbingannya!
Dan dia merasa berguna, juga tidak lagi merasa kesepian.
Kalau saja Bi Lan itu puterinya!
Dia menghentikan latihannya menyeka keringat dan duduk di atas batu di pekarangan depan rumahnya itu.
Pekarangan itu sekarang nampak bersih.
Daun-daun pohon kering tertumpuk sudut dan terbakar.
Bunga-bunga tumbuh dengan segarnya.
Memang tempat tinggalnya telah berubah sejak Bi Lan datang di situ.
Pekarangan selalu bersih, bunga-bunga subur berkembang, dalam rumah juga bersih, semua pakaiannya tercuci bersih dan setiap hari pun ada saja sayur dimasak gadis itu dengan lezatnya.
Kalau saja Bi Lan itu puterinya, pikirnya lagi.
Akan tetapi, dia mengerutkan alisnya.
Andaikata puterinyaa, setelah menikah pun akan meninggalkannya' Demikianlah hidup, pikirnya sambil menarik napas panjang.
Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan.
Memang demikianlah keadaan hidup ini.
Kita selalu diombang-ambingkan senang dan susah.
Senang kalau bertemu dan berkumpul, lalu susah kalau berpisah.
Senang kalau mendapatkan, susah kalau kehilangan.
Senang susah menjadi dua hal bertentangan yang silih berganti mencengkeram dan mempermainkan kita.
Dan kita selalu menghendaki senang dan menolak susah.
Bagaimana mungkin?
Senang dan susah merupakan dua muka yang tak dapat disahkan, seperti dua permukaan dari satu mata uang yang sama.
Kalau kita mengejar senang, tentu akan bertemu susah pula.
Bahkan adanya senang karena ada susah dan sebaliknya.
Kalau tidak ada senang, bagaimana tahu akan susah.
Kalau tidak ada susah pun tidak mungkin mengenal senang.
Seperti terang di gelap, seperti siang dan malam.
Biasanya, kalau ada kesadaran pada kita sehingga kita berusaha untuk mengatasi kesusahan, maka yang ingin kita atasi, yang ingin kita tiadakan atau h ilangkan, tentu hanya susah itu saja.
sebaliknya, senang ingin tetap kita rangkap dan kita miliki!
Padahal keadaan seperti ini tidak mungkin.
Keinginan ini pun timbul karena ingin senang, dengan cara ingin terlepas dari susah.
Jadi yang masih sama saja!
Bahkan susah itu sudah membuat ancang-ancang hendak menerka begitu kita menginginkan senang!
Susah dan senang bukan suatu keadaan, melainkan buatan hati dan pikir belaka.
Merupakan kerjasama antara hati dan akal pikiran.
Pikiran yang bergelimang nafsu yang timbul dari dayanya rendah selalu ingin mengulang segala pengalaman yang mengenakkan dan Menghindari segala pengalaman yang tidak enak.
Kalau bertemu pengalaman yang mengenakkan, yang menguntungkan, maka hati pun senanglah.
Kalau pikiran bertemu peristiwa yang dianggap tidak kuak dan merugikan, maka hati pun susah.
Enak atau tidak enak ini timbul dari an daya-daya rendah.
Suatu pengalaman yang mengenakkan selalu dikejar oleh pikiran, ingin diulang sampai menjadi suatu kebiasaan.
Segala yang menyerangkan ingin dijadikan miliknya.
Dari kemilikan ini, makin besarlah rasanya.si aku, makin berarti.
Kemilikan ini yang memupuk dan membesarkan aku.
Karena itu, kalau terpisah dari yang dimilikinya, yang mengenakkan dan menyenangkan atau menguntungkan, hati terasa sakit.
Peristiwa yang terjadi di dunia ini tidaklah baik ataupun buruk.
Baik buruknya hanya merupakan pendapat saja dari hati dan pikiran yang disesuaikan dengan kebutuhannya.
Suatu peristiwa yang saja dapat saja mendatangkan penilaian yang saling bertentangan bagi satu orang karena tergantung dari keadaan hati dan pikirannya.
Seseorang menjadi sahabat baik kita karena kita menganggap dia mengenakkan hati, menguntungkan atau menyenangkan.
Kalau dia pergi atau merasa susah, merasa kehilangan kita selalu ingin agar dia dekat dengan kita.
Akan tetapi, suatu ketika dia melakukan sesuatu yang merugikan kita tidak mengenakkan hati kita, dan diapun menjadi tidak menyenangkan!
Kalau pergi kita merasa senang!
Padahal, sebel itu kalau dia pergi kita merasa susah!
Jelah bahwa senang dan susah adalah keada hati yang timbul dari pertimbangan pikir yang selalumengejar enak dan menghindarkan yang tidak enak.
Semua itu wajar.
Hidup memang sudah disertai daya-daya rendah yang menjadi alat untuk mempertahankan hidup.
Kalau daya-daya rendah itu tetap berfungsi menjadi alat, maka hidup pun baiklah.
Yang gawat adalah kalau daya-daya rendah demikian kuatnya sehingga menjadi penguasa dan memperalat kita.
Hidup kita seolah-olah hanya untuk mengejar pemuasan nafsu belaka.
Pengejaran pemuasan nafsu Inilah yang menimbulkan perbuatan-perbuatan yang menimpang dari kebenaran.
Bukan lagi hawa nafsu yang menjadi kuda dan kendalinya dan di tangan kita, melainkan kita yang menjadi kuda, dikendalikan nafsu!
Banyak daya upaya manusia untuk mengembalikan fungsi nafsu daya-daya rendah ini di tempatnya semula, yaitu sebagai hamba, sebagai alat dan daya upaya ini dilakukan melalui bermacam-macam agama, melalui ancaman hukuman dan harapan-harapan.
Bahkan ada yang sengaja menjauhkan diri dari keramaian dunia, bertapa di tempat-tempat sunyi agar daya-daya rendah tidak mendapatkan sasaran, agar nafsu-nafsu dalam diri tidak dapat hidup subur karena tidak adanya pupuk.
Ada pula usaha melalui nasihat-nasihat, petuah.
Namun, betapa sedikitnya hasil yang diperoleh dari semua usaha itu.
Nafsu tetap merajalela di antara manusia.
Manusia pada umum masih saja diperbudak nafsu daya-daya rendah sehingga perbuatan-perbuat sesat, jahat dan menyeleweng daripada kebenaran terjadi di seluruh dunia.
Selama usaha untuk menalukkan nafsu ini timbul dari hati dan akal pikiran maka selalu akan gagal.
Karena hati dan akal pikiran sudah bergelimang dengan daya-daya rendah, sehingga apa pun yang dilakukan hati dan akal pikiran, selama berpamrih pula.
Hati dan akal pikiran sudah mengerti bahwa perbuatan yang dilakukan itu tidak benar, namun hanya dan akal pikiran sendiri tidak berada karena memang sudah diperhamba oleh nafsu, sudah dipegang oleh nafsu semua kendalinya.
Hanya Tuhan yang akan mampu mengubah segalanyal Tuhan Maha Pencipta Tuhan pula yang menciptakan semua yang berada dalam diri manusia, Tuhan pula yang menganugerahkan nafsu sebag alat untuk hidup.
Maka kalau alat itu merajalela dan mengubah kedudukannya menjadi penguasa, hanya Tuhan yang menciptakannya saja yang akan dapat fnengubahnya.
Oleh karena itu, satu-satunya usaha yang dapat ditempuh oleh kita hanyalah menyerah kepada Tuhan!
Menyerah dengan pasrah, menyerah dengan Ikhlas, dengan sabar dan tawakal.
Kita membiarkan pintu hati terbuka dan sekali cahaya Tuhan masuk, maka kekuasaan luhan yang akan membersihkan semua kekotoran dalam batin kita, kekuasaan Tuhan yang akan mengadakan perombakan, menaruh segalanya di tempatnya yang benar, dan mengadakan pembaharuan.
Kalau sudah begitu, maka kekuasaan Tuhan yang akan memegang kendali dan memberi bimbingan.
Liu Bhok Ki duduk termenung, mengenangkan hidupnya yang penuh kepahitan.
Semenjak kematian isterinya, tiga puluh tahun lebih yang lalu, sinar matahari kebahagiaan seolah-olah selalu bersembunyi, tertutup awan gelap baginya.
Kemudian, setelah dia terbebas dari tekanan dendam, baru dia merasa lega dan bebas.
Dan perjumpaannya dengan Bi Lan seolah-olah merupakan cahaya terang dan membuatnya merasa berbahagia sekali Ketika pikirannya membayangkan betapa gadis itu suatu ketika akan pergi ninggalkannya, untuk mencari pamannya alisnya berkerut dan dia cepat mengusir bayangan yang menyedihkan itu.
Tiba-tiba dia memandang ke depan dan alisnya berkerut kembali!
Dia lihat dua sosok tubuh orang mendaki puncak bukit itu.
Dari gerakan mereka tahulah dia bahwa dua orang yang mendaki puncak itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.
Hatinya marasa tegang.
Apakah dalam keadaannya yang sekarang ini pun datang gangguan?
Siapa yang berani mendaki bukit ini kalau bukan mereka yang datang dengan niat buruk terhadap dirinya?
Sudah lama dia meninggalkan dunia kang ouw sehingga boleh dibilang dia sudah putus hubungan dengan para tokoh persilatan, maka tidak masuk di akal kalau ada tokoh kang-ouw yang sengaja datar berkunjung dengan iktikad baik.
Dia sudah siap siaga, akan tetapi tetap duduk dengan sikap tenang.
Bahkan ketika kedua orang itu sudah tiba di depannya, Liu Bhok Ki tidak mengangkat muka memandang, melainkan tetap menunduk, akan tetapi tentu saja dia mengikuti gerakan mereka itu pendengarannya.
"Suhu ...........!"
Suara ini yang membuatnya cepat angkat muka.
Seorang pemuda tinggi besar yang tampan dan gagah berdiri di depannya, bersama seorang gadis yang cantik jelita!
Pemuda itu segera menjatuhkan diri berlutut di depannya dan kembali suaranya yang amat dikenalnya itu menggetarkan perasaan Liu Bhok Ki.
"Suhu ............. !"
Wajah Liu Bhok Ki kini berseri, sinar matanya mencorong dan suaranya terdengar penuh kegembiraan ketika dia berseru.
"Han Beng muridku ............!"
Semenjak peristiwa yang terjadi di rumah Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci, yaitu pertemuannya yang terakhir kalinya dengan muridnya, dia merasa semakin kagum dan sayang kepada muridnya ini.
Seorang murid yang berani menyerahkan nyawanya demi untuk menyadarkan hatinya yang ketika itu menjadi buta dan mabuk oleh dendam.
Sejak itulah dia merasa betapa selama puluhan tahun hidupnya dipenuhi racun dendam, selama puluh tahun hatinya terhimpit oleh gunung dendam yang membuat hidup terasa seperti dalam neraka.
Dan muridnya inilah yang menghapus racun itu, yang menyingkirkan gunung itu, yang membuat dia menjadi seorang manusia yang bebas.
"Suhu sehat dan baik-baik saja, bukan?"
Han Beng berkata lagi.
Liu Bhok Ki mengangguk dan kini dia memandang kepada gadis cantik yang datang bersama muridnya itu.
Seorang gadis yang wajahnya cantik, berbentuk bulat telur, dengan tubuh yang tinggi semampai dan ramping, pakaiannya rapi dan bersih, bibirnya yang merah sehat itu selalu tersenyum, matanya jeli dan kocak.
Gagang pedang yang tersembul belakang pundak itu saja menunjukkan bahwa gadis ini bukan seorang wanita lemah.
"Han Beng, siapakah Nona yang datang bersamamu ini?"
Sebelum Han Beng menjawab, Giok Cusudah mengangkat kedua tangan di depan dadanya dan memberi hormat.
"Locian-pwe, dua belas tahun yang lalu Lo-cian-pwe pernah berjumpa dengan saya di Sungai Huang-ho. Apakah Lo-Cianpwe sudah melupakan saya?"
Berkata demikian, Giok Cu menatap wajah Si Rajawali Sakti itu dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Eh? Bertemu di Huang-ho? Kapankah itu, Nona? Dan di mana?"
Dia bertanya heran.
"Dua belas tahun yang lalu, di atas perahu dekat pusaran maut ketika terjadi perebutan anak naga. Ketika itu, seperti juga Han Beng, saya dijadikan perebutan oleh para tokoh kang-ouw, dan Ayah Ibu saya menderita luka di atas perahu mereka ........"
Giok Cu bukan sekedar mengingatkan, akan tetapi juga memancing sambil menatap tajam wajah Pendekar tua itu.
Sin-tiauw Liu Bhok Ki mengingat-ingat dan membayangkan peristiwa yang terjadi dua belas tahun yang lalu itu.
Peristiwa memperebutkan anak naga Sungai Huang-ho yang takkan terlupakan selama hidupnya karena dalam peristiwa itulah dia bertemu dengan Han Beng yang kemudian menjadi muridnya.
Teringatlah dia akan seorang gadis cilik yang kemudian ikut pula diperebutkan orang-orang kang-ouw karena seperti juga Han Beng, gadis itu telah bergulat dengan "anak naga"
Dan menggigit serta menghisap darah anak naga itu.
"Ahhhhh ........... sekarang aku ingat! Engkau adalah gadis cilik yang pemberani itu yang bersama Han Beng melawan anak naga dan berhasil membunuhnya dan menghisap pula darahnya. Bukankah engkau gadis cilik itu?"
Bukan itu yang dikehendaki Giok "Benar, Lo-cian-pwe.
Dan Lo-cian-pwe tentu masih ingat kepada Ayah Ibunya berada dalam perahu dalam keadaan terluka.
Lo-cian-pwe bersama Han Beng datang dengan perahu lain dan naik perahu orang tuaku, bukan?
Tentu Lo-cian-pwe masih ingat apa yang terjadi dengan Ayah Ibuku pada waktu itu ia sengaja tidak melanjutkan karena ingin memancing pendekar tua itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, Liu Bhok Ki sudah tentu saja ingat akan semua itu.
Dia mengangguk-angguk.
"Ya benar, aku ingat semuanya. Setelah menyelamatkan Han Beng dari tangan tokoh-tokoh sesat itu, Han Beng mengajak aku mencari kedua orang tuanya. Akan tetapi gagal, dan kami bertemu dengan orang tuamu di perahu yang juga menderita luka-luka. Aku bahkan masih sempat mengobati mereka sebelum kami berdua meninggalkan mereka."
Giok Cu memandang semakin tajam dan penuh selidik sehingga Liu Bhok Ki terheran, lalu berseru.
"Ah, Nona, kenapa engkau memandangku seperti itu?"
Sejak tadi Han Beng hanya diam saja, bahkan menundukkan mukanya.
Dia mengerti akan sikap Giok Cu.
Dia tahu bahwa gadis itu, walaupun percaya kepadanya, namun masih merasa penasaran dan ingin mendengar sendiri pengakuan gurunya, dan kini gadis itu memancing-mancing agar Liu Bhok Ki menceritakannya apa yang sesungguhnya terjadi ketika itu.
Dia sengaja diam saja tidak mau mencampuri karena dia yakin akan kebersihan gurunya maka tidak perlu dia membelanya.
Biarlah gadis itu mendapat keyakinan sendiri setelah bicara dengan gurunya yang dia percaya dapat mengusut semua keraguan dari hati Giok Cu.
"Lo-cian-pwe, apakah yang Lo-cia pwe lakukan ketika naik ke perahu Ayah Ibuku?"
Tanyanya dan pandang matanya menatap tajam. Liu Bhok Ki memandang heran.
"Eh? Apa yang kulakukan? Aku bertanya kepada orang tuamu tentang orang tua Han Beng, kemudian melihat mereka menderita luka-luka, aku lalu mengobatinya."
"Apakah ketika Lo-cian-pwe mengobati mereka, Ayah dan Ibuku itu menderita luka-luka parah?"
Liu Bhok Ki menggeleng kepala dengan tegas.
"Sama sekali tidak! Luka yang mereka derita hanya luka di luar saja, dan aku yakin setelah kuobati ketika itu mereka tentu sembuh kembali."
Giok Cu membayangkan ketika ia bersama subonya berada di perahu ayah Ibunya itu.
Ayah ibunya yang ia temukan dalam keadaan terluka, akan tetapi mereka tidak parah, dan mereka bercerita bahwa mereka diserang oleh orang-orang jahat, mereka terluka dan hanya seorang saja pembantu mereka selamat.
Yang lain tewas.
Juga ayah bundanya yang menceritakannya bahwa orang tua Han Beng tewas.
Juga ayahnya bercerita bahwa Han Beng dan Liu Bhok Ki, pendekar tua itu yang mengobati mereka, demikian cerita ayahnya.
Dan tiba-tiba Ban-tok Mo-li yang berseru keras mengatakan bahwa ayah bundanya diracuni Liu Bhok Ki dan ayah ibunya tiba-tiba terkulai dan tewas dengan muka berubah menghitam!
Racun yang amat keras dan dapat menewaskan orang seketika.
Hal itu tentu saja baru diketahuinya setelah ia mempelajari ilmu dari Ban-tok Mo-li.
Ayah ibunya tewas oleh racun jahat yang merenggut nyawa orang seketika, bukan racun yang membunuh perlahan-lahan.
Kalau benar Liu Bhok Ki yang meracuni ayah ibunya, tentu ayah ibunya sudah tewas ketika ia dan Ban-tok Mo-li tiba perahu mereka.
Jelas bahwa ayah ibunya tewas oleh racun yang membunuh mereka seketika, dan racun itu pasti bukan dari Liu Bhok Ki datangnya dan lebih masuk akal kalau Ban-tok Mo-li yang meracuni mereka!
"Lo-cian-pwe adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, tentu Lo-cian-pwe tidak sudi untuk berbohong, dan bukan seorang pengecut yang tidak berar mempertanggung jawabkan perbuatannya ..........."
"Heiiiii! Nona, apa maksud kata-katamu itu?"
Liu Bhok Ki terbelalak dan wajahnya yang gagah itu menjadi kemerahan, matanya mengeluarkan sinar mencorong.
"Ketika Lo-cian-pwe berada di perahu orang tua saya itu, Lo-cian-pwe mengobati ataukah meracuni mereka?"
Dengan alis berkerut dan mata mencorong pendekar tua itu bertanya, suaranya dalam dan berwibawa.
"Nona, mengapa engkau bertanya demikian? Aku telah mengobati mereka. Kenapa aku harus meracuni mereka? Tidak ada alasan sama sekali! Dan mengapa pula engkau menduga bahwa aku telah meracuni orang tuamu?"
"Karena ketika saya dan Subo tiba di perahu orang tua saya itu, saya menemukan mereka dalam keadaan terluka dan tak lama kemudian mereka tewas keracunan. Dan menurut keterangan Subo (Ibu Guru), mereka itu tewas karena Lo-tan-pwe yang meracuni mereka."
Liu Bhok Ki semakin terkejut.
"Aku meracuni mereka? Gilakah sudah Subomu itu? Siapa gurumu itu yang bermulut demikian lancang melempar fitnah kepadaku?"
"Subo adalah Ban-tok Mo-li ..............."
"Ahhhhh! Pantas kalau begitu! Iblis betina ahli racun itu yang mengatakannya? Ha-ha-ha, Nona. Kalau ada orang yang dapat membunuh orang lain dengan racun tanpa diketahui, orang itu adalah Ban-tok Mo-li! Jelas bahwa Ban-tok Mo-li itulah yang telah meracuni orang tuamumu, bukan aku!"
"Akan tetapi, ia adalah guru saya. Bagaimana mungkin ia yang sudah mengambil saya sebagai murid, membunuh orang tua saya?"
Giok Cu membantah. Tiba-tiba Liu Bhok Ki tertawa.
"Hal ha-ha! Alangkah lucunya, akan tetapi juga amat penasaran! Nona, engkau mengaku sebagai murid Ban-tok Mo-li akan tetapi agaknya engkau belum mengenal siapa adanya gurumu itu! Ia seorang tokoh sesat yang amat jahat, seorang wanita iblis yang tidak segan melakukan kejahatan dalam bentuk apa pun juga. Dan engkau agaknya lebih percaya kepada Ban-tok Mo-li daripada kepadaku, bahkan menduga bahwa aku yang telah membunuh orang tuamu? Heiii, Hai Beng, apa alasanmu engkau mengajak murid Ban-tok Mo-li ini datang ke sini?"
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 23 Han Beng yang sejak tadi memang diam saja dan masih berlutut, kini bangkit berdiri.
"Suhu, teecu sudah mencoba untuk meyakinkan hati Giok Cu bahwa Suhu sama sekali tidak membunuh orang tuanya, dan teecu juga sudah menduga bahwa yang membunuh mereka adalah Ban-tok Mo-li sendiri. Akan tetapi Giok Cu masih belum puas. Untuk meyakinkan hatinya, maka ia ingin mendengar sendiri keterangan dari Suhu. Karena itulah maka ia datang bersama teecu menghadap Suhu."
"Akan tetapi, ia menjadi murid Ban-tok Mo-Ii, bagaimana dapat dipercaya? Ban-Tok Mo-li amat jahat, dan orang yang menjadi muridnya............"
"Akan tetapi, Suhu! Giok Cu akhir-akhir ini telah menjadi murid Hek-bin Hwesio selama lima tahun!"
Han Beng membela.
Sepasang mata Liu Bhok Ki kembali terbelalak ketika ia mendengar ucapan muridnya itu dan dia memandang gadis itu dengan sinar mata penuh kagum.
Kalau gadis ini sudah menjadi murid hwesio yang sakti itu, maka lain persoalannya!
"Ah, kiranya begitu?
Nona, kalau begitu, tentu engkau sudah cukup dewasa dan bijaksana untuk menilai dan menduga siapa sebenarnya pembunuh Ayah Ibumu.
Apakah engkau masih meragukan aku dan masih ada sangkaan bahwa aku yang telah membunuh Ayah Ibumu yang tidak kukenal, kubunuh begitu saja tanpa alasan sama sekali?
Andaikata aku mempunyai kepentingan harus membunuh Ibumu pun, aku tidak akan mempergunaka racun, Nona.
Kiranya pukulanku masih cukup ampuh untuk membunuh orang kalau hal itu kukehendaki."
Giok Cu menarik napas panjang.
"Maafkan saya, Lo-cianpwe. Tentu Lo-cian pwe dapat mempertimbangkan bagaimana perasaan saya yang melihat Ayah Ibu tewas di depan mata saya karena di bunuh dan diracuni orang. Setelah mendengar keterangan dan pendapat Han Beng memang saya mulai menyangsikan pemberitahuan Subo Ban-tok Mo-li yang dahulu tentu saja saya percaya sepenuhnya. Sejak kecil, saya mengandung dendam yang mendalam terhadap Lo-cian-pwe yang saya anggap sebagai pembunuh orang tua saya. Akan tetapi, saya merasa belum puas kalau tidak bertemu sendiri dengan Lo-cian-pwe."
"Hemmm, aku dapat mengerti, Nona. Dan bagaimana pendapatmu sekarang! Apakah engkau masih juga belum yakin bahwa aku bukan pembunuh orang tuamu?"
Giok Cu agak tersipu, akan tetapi ia memang seorang gadis yang tabah dan memiliki watak yang lincah maka ia pun tersenyum.
"Sekarang saya baru yakin bahwa bukan Lo-cianpwe yang membunuh Ayah Ibuku. Dari sini saya akan menemui Subo Ban-tok Mo-li dan akan menuntut agar ia berterus terang tentang kematian Ayah dan Ibu saya."
Liu Bhok Ki tertawa, hatinya merasa lega sekali.
"Tidak ada orang lain yang membunuh orang tuamu dengan racun yang jahat, Nona ............"
"Lo-cian-pwe, harap jangan membuat saya merasa sungkan dengan sebutan nona. Lo-cian-pwe adalah guru Han Beng ia, sudah menjadi sahabat baik saya sejak kami masih kecil, maka harap Lo-cian-pwe menyebut nama saya saja tanpa nona. Nama saya Bu Giok Cu."
Sepasang mata Liu Bhok Ki berseru dan dia mulai suka kepada gadis yang Sikapnya lincah dan terbuka ini.
"Baiklah Giok Cu. Aku bukan orang yang suka melempar fitnah dan menuduh yang bukan-bukan. Akan tetapi, agaknya engkau belum mengenal benar watak dari Ban-tok Mo li walaupun wanita itu per nah menjadi gurumu. Aku percaya bahwa Ban-tok Mo-li sajalah yang akan dapat melakukan kekejaman seperti itu, membunuh orang tuamu yang sama sekal tidak dikenalnya dan tidak bersalah apapun. Dan kurasa ia membunuh mereka bukan tanpa alasan, la melihat bahwa engkau telah menghisap darah anak naga, maka ia ingin mengambilmu sebagai murid. Dan agaknya ia ingin memutuskan seluruh ikatanmu dengan keluargamu, dan untuk itu, ia tidak segan membunuh orang tuamu sehingga engkau menjadi sebatangkara dan tentu saja amat tergantung kepadanya."
Giok Cu mengangguk-angguk.
"Agaknya pendapat Lo-cianpwe itu memang benar. Dan terus terang saja, sekarang Ini hubungan antara kami sudah putus sebagai guru dan murid, bahkan ia menganggap saya sebagai musuh. Hampir saja beberapa tahun yang lalu saya sudah mati di tangannya kalau saja tidak muncul Suhu Hek-bin Hwesio yang menyelamatkan saya dan kemudian mengambil saya sebagai murid."
"Bagus sekali kalau begitu, Giok Cu. Ketahuilah bahwa orang yang dibenci dan dimusuhi Ban-tok Mo-li adalah orang yang baik. Dan aku percaya bahwa engkau seorang gadis yang baik, apalagi engkau telah menjadi murid Hek-bin Hwesio."
Pada saat itu, muncullah Kwa Bi Lan dari dapur.
Han Beng memandang dengan heran.
Tak disangkanya bahwa di tempat tinggal suhunya terdapat seorang gadis yang tidak dikenalnya.
Seorang gadis yang cantik manis, dengan wajah bulat dan kulit putih mulus, sepasang matanya tajam berwibawa dan hidungnya mancung.
Namun, gadis itu nampak kaget melihat bahwa di situ terdapat dua orang tamu, seorang pemuda dan seorang gadis yang tidak dikenalnya dan ia pun hanya berdiri dengan muka ditundukkan dan tidak mengeluarkan kata apa pun, bahkan kelihatan canggung dan ragu.
"Suhu, siapakah Nona ini?"
Han Beng yang bertanya kepada gurunya. Liu Bhok Ki tertawa.
"Ha-ha-ha, aku sampai lupa, Han Beng, atau memang belum sempat bicara tentang dirinya. Gadis ini adalah Kwa Bi Lan dan ia Sumoimu (Adik Seperguruanmu), Han Beng Lalu dia berkata kepada Bi Lan.
"Bi Lan inilah Si Han Beng, muridku dan Suhengmu seperti yang pernah kuceritakan kepadamu."
"Suheng ............ !"
Kata Bi Lan lirih dengan muka kemerahan sambil mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan.
"Sumoi!"
Kata Han Beng dengan girang, lalu membalas penghormatan itu lantas berkata kepada suhunya.
"Ah, kiranya Suhu mempunyai seorang murid baru? Teecu merasa girang sekali!"
"Hanya kebetulan saja aku bertemu dengan Bi Lan ketika dia dikeroyok banyak penjahat. Aku membantunya dan ia pun menjadi muridku. Ketahuilah, Han Beng, bahwa Sumoimu ini hidup sebatangkara dan ia tadinya dalam perjalanan mencari Pamannya, yaitu Lie Koan Tek. Engkau pernah mendengar nama itu, bukan?"
"Tentu saja! Bukankah dia itu pendekar Siauw-lim-pai yang terkenal gagah perkasa itu, Suhu? Ah, Sumoi, kiranya engkau keponakan pendekar terkenal itu? Mari perkenalkan, Sumoi. Ini adalah Bu Giok Cu, seorang sahabatku sejak kecil, dan ia adalah murid .......... Hek Bin Hwesio."
Bi Lan kagum mendengar ini.
"Enci Giok Cu, sungguh mengagumkan sekali bahwa engkau adalah murid dari Locian-pwe Hek Bin Hwcsio. Dia adalah Paman Guru dari para pimpinan Siauw-lim-pai dan masih terhitung Susiok couw (Paman Kakek Guru) dariku. Kalau begitu, engkau masih terhitung Bibi Guruku sendiri!"
Giok Cu tersenyum dan muncul kelincahan dan keramahannya, la merangkul Bi Lan.
"Ihhh, Adik Bi Lan. Engkau hanya satu dua tahun lebih muda dariku kukira, maka tidak sepantasnya kalau aku menjadi Bibi Gurumu. Biarlah kita menjadi enci adik saja. Engkau sebatangkara, bukan? Sama dengan aku, maka kita seperti enci adik. Dan sebagai Suheng dari Han Beng, engkau tentu lihai bukan main dan aku sama sekali tidak patut menjadi Bibi Gurumu."
Bi Lan yang pendiam menjadi gembira sekali bertemu dengan Giok Cu yang ramah dan lincah, dan keduanya sudah akrab sekali. Melihat ini, Liu Bhok Ki tersenyum.
"Giok Cu, engkau masuklah ke dalam dan bantulah Bi Lan di dapur. Aku ingin bercakap-cakap dengan Han Beng dan mendengarkan segala pengalamannya semenjak kami saling berpisah."
Giok Cu juga tidak malu-malu lagi dan kedua orang gadis itu bergandeng tangan masuk ke dalam rumah.
Liu Bhok Ki mengajak Han Beng untuk bercakap-cakap di ruangan luar dan dia pun minta kepada pemuda itu untuk menceritakan semua pengalamannya.
Dengan singkat Han Beng menceritakan semua pengalamannya semenjak dia neninggalkan suhunya, menjadi murid Sin-ciang Kai-ong, kemudian menjadi nurid Pek I Tojin dan betapa dia kemudian dikenal sebagai Huang-ho Sin-long (Naga Sakti Sungai Kuning).
Tentu saja Liu Bhok Ki merasa gembira dan kagum bukan main, terutama mendengar bahwa muridnya itu telah menjadi murid Pek I Tojin yang sakti!
Juga gembira mendengar betapa muridnya telah membantu pemerintah membasmi gerombolan penjahat yang mengadu domba antara para hwesio dan para tosu.
Ketika Han Beng menceritakan bahwa dia mengangkat saudara dengan Coa Siang Lee Liu Bhok Ki gembira bukan main.
"Bagus, bagus, Han Beng. Berita yang paling membahagiakan hatiku. Engkau akan menebus, walaupun sedikit dosaku terhadap Ayah Coa Siang Lee dan Bibi Sim Lan Ci. Ah, aku girang sekali. Dan pesanku kepadamu, Han Beng, kelak jangan engkau melupakan anak mereka yang bernama Thian Ki itu. Dialah yang telah menyadarkan aku dari cengkeraman dendam! Kelak kau wakililah untuk mendidiknya, Han Beng, menjadikan dia seorang pendekar yang budiman. Han Beng menarik napas panjang.
"Suhu Kakak Coa Siang Lee dan isterinya sudah bersumpah dan mengambil keputusan bahwa mereka tidak akan memberi pelajaran ilmu silat kepada Thian Ki. Mereka telah mengalami betapa pahitnya kehidupan para ahli silat yang selalu dimusuhi orang. Mereka hendak menjadikan Thian Ki seorang biasa saja agar tidak memiliki banyak musuh kelak dan dapat hidup tenteram dan berbahagia, tidak seperti ayah ibunya."
Liu Bhok Ki juga menarik napas panjang.
"Hemmm, itu adalah perkiraan mereka. Apakah kalau orang tidak dapat membela diri lalu tidak ada yang datang mengganggu? Bahkan yang lemah akan selalu ditindas oleh yang kuat. Akan tetapi, tentu saja tidak baik menentang kehendak mereka. Mereka yang berhak menentukan bagaimana harus mendidik putera mereka. Akan tetapi, jangan lupakan keponakanmu itu dan andaikata engkau kelak tidak diperbolehan menjadi gurunya, engkau amatilah ia untuk membalas budi anak itu kepadaku, Han Beng."
Hati pemuda itu merasa terharu.
Memang, gurunya ini baru sadar setelah melihat Thian Ki yang berlutut di depannya.
Seolah-olah anak itu yang menyadarkannya.
Padahal, yang menyadarkan manusia hanya Tuhan, dan kekuasaan Tuhan dapat menyusup kemanapun juga, dapat pula menyusup ke dalam diri Thian Ki yang dipergunakan oleh Tuhan untuk menyadarkan Liu Bhok Ki dari mabuk dendam.
"Teecu berjanji akan mentaati pesan Suhu."
Wajah pendekar tua itu berseri karena dia merasa yakin bahwa muridnya ini kelak akan memegang janjinya. Kemudian dengan hati-hati dia bertanya.
"Han Beng, sejauh manakah hubunganmu dengan Giok Cu?"
Terkejut hati Han Beng mendengar pertanyaan itu. Dia memandang wajah gurunya dengan penuh selidik, akan tetapi segera menjawab karena melihati sikap gurunya itu bersungguh-sungguh.
"Suhu, apakah yang Suhu maksudkan? Sejak kecil teecu telah berkenalan dan menjadi sahabat Giok Cu, bahkan keluarga kami menjadi sahabat, senasib sependeritaan karena melarikan diri mengungsi dari jangkauan tangan para petugas yang memaksa orang menjadi pekerja paksa. Tentu saja kami bersahabat baik, Suhu."
"Yang kumaksudkan, sampai sejauh manakah keakrabanmu dengan Giok Cu?"
Wajah Han Beng menjadi kemerahan.
Teecu tetap tidak mengerti, Suhu.
Hubungan kami wajar saja, sebagai dua orang sahabat yang sama-sama kehilangan orang tua dalam perjalanan bersama.
Bahkan sama-sama bergulat dengan ular, eh, anak naga itu, lalu bersama pula menjadi rebutan orang-orang kang-ouw.
Anehkah kalau kami menjadi sahabat amat akrab, Suhu?"
Pendekar tua itu mengangguk-angguk.
Muridnya ini berwatak polos dan jujur, dan biarpun usianya sudah cukup dewasa, sudah dua puluh empat tahun, namun agaknya masih hijau dalam urusan pergaulan dengan wanita sehingga tidak dapat menangkap maksud pertanyaannya tadi.
Dia tidak mau mendesak, tidak ingin menyinggung perasaan muridnya dan mengotori perasaan murni antara dua orang sahabat itu.
"Sekarang akan kutanyakan hal lain, Han Beng. Apakah selama ini engkau telah menemukan calon jodohmu? Apakah engkau sudah menjatuhkan hatimu kepada seorang gadis yang kaupilih sebagai calon isterimu?"
Ditanya demikian, Han Beng terbelalak, tersipu dan menjadi bingung.
"Teecu .......... teecu ............ tidak mengerti ............... eh, maksud teecu, teecu belum berpikir sama sekali tentang perjodohan, Suhu."
"Jadi belum ada pilihan?"
Suhunya mendesak dan terpaksa Han Beng men geleng kepala walaupun di dasar hatinya dia tahu benar bahwa hatinya telah memilih seorang gadis, bahwa dia mencinta seorang gadis.
Dahulu, pernah dia merasa tertarik kepada Souw Hui Im, akan tetapi setelah mendengar Hui Im telah bertunangan dengan pemuda lain, dia pun "mundur teratur"
Dan mengalah, meninggalkan Hui Im bersama tunangannya walaupun dia maklum pula bahwa Hui Im mencintanya.
Kemudian dia bertemu dengan Giok Cu seketika dia jatuh cinta.
Akan tetapi, bagaimana dia berani menyatakan rasa hatinya ini kepada suhunya?
Giok Cu sendiri belum tahu akan rahasia hatinya itu.
Maka, mendengar desakan itu, dia pun menggeleng tanpa menjawab.
"Bagus sekali! Aduh, betapa lega dan senangnya rasa hatiku mendengar bahwa engkau belum mempunyai pilihan, muridku. Dengar baik-baik, Han Beng. Engkau tahu betapa aku sayang sekali kepadamu, dan bahwa engkau selain sebagai muridku, juga kuanggap sebagai anakku sendiri karena engkau sudah tidak mempunyai orang tua atau sanak keluarga."
Han Beng merasa terharu.
"Terima kasih banyak atas segala budi kebaikan Suhu,"
Katanya.
"Karena itulah, Han Beng, aku amat memperhatikan keadaan dirimu. Engkau kini sudah berusia dua puluh empat tahun. Dan sebagai guru, juga pengganti orang tuamu, aku ingin sekali melihat engkau hidup berbahagia, berumah tangga dengan baik, memiliki seorang isteri yang pilihan dan mempunyai anak-anak yang sehat. Dan Thian agaknya menaruh kasihan kepadaku, maka Dia mengirimkan eorang calon mantu itu kepadaku. Han Beng, aku ingin agar engkau suka berjodoh dengan Kwa Bi Lan, Sumoimu tadi. Bagaimana pendapatmu, Han Beng? Bukankah ia seorang gadis yang memenuhi syarat sebagai seorang isteri yang baik, la cukup cantik, bakatnya dalam ilmu silat baik sekali, murid Siauw-lim-pai dan selama ia hidup di sini aku melihat bahwa ia seorang anak yang rajin dari pandai, mengatur rumah tangga, juga wataknya pendiam dan sopan berbudi bahasa baik."
Han Beng terpukau dan berdiam diri, tak bergerak seperti telah berubah menjadi patung.
Dia terkejut bukan main, lebih kaget daripada kalau diserang dengan pedang secara tiba-tiba.
Dia tidak mampu menjawab, bahkan tidak mampu berpikir karena pikirannya sudah berputar putar tidak karuan, mengikuti gerak jantungnya yang berdebar karena terguncang oleh kata-kata suhunya tadi.
Liu Bhok Ki dapat memaklumi keadaan muridnya dan dia tertawa.
"Ha-ha-ha, jangan engkau tertegun seperti itu, Han Beng. Engkau seorang laki-laki, apa anehnya kalau tiba saatnya engkau harus beristeri? Pikirlah baik-baik. Kala engkau sudah beristeri, dengan seorang isteri sebaik Bi Lan, hidupmu akan tenteram. Berumah tangga, berkeluarga, dan engkau bekerja untuk menghidupi keluargamu. Tidak menjadi seorang pengelana yang tidak menentu hidupnya, tidak menentu pekerjaan dan tempat tinggalnya. Dan aku sudah tua, muridku. Aku ingin pula mondok di rumah tanggamu, mengasuh Cucu-cucuku kelak, ha-ba-ha!"
Han Beng merasa tersudut.
Apa yang harus dia katakan?
Dia tahu bahwa gurunya ini memiliki watak yang jujur akan tetapi keras bukan main.
Kalau dia begitu saja menjawab bahwa dia tidak setuju dan menolak usul gurunya, tentu dia akan menyakiti hati gurunya yang dihormati dan disayangnya itu.
Akan tetapi dia pun tentu saja tidak mungkin dapat menerima ikatan jodoh semudah itu!
Dia belum mengenal Bi Lan, belum tahu akan watak atau isi hati gadis itu.
Dia dan Bi Lan bukanlah dua ekor ayam atau anjing atau sapi yang dapat dikawinkan begitu saja.
Bagaimana mungkin dia dapat hidup di samping seorang wanita selama hidupnya, kalau dia tidak mencinta wanita itu dan sebaliknya wanita itu tidak mencintanya?
Dan di sana masih ada Giok Cu?
Bagaimana mungkin dia meninggalkan Giok Cu dan menikah denngan gadis lain?
Dia harus lebih dulu mengetahui isi hati Giok Cu, dan mengetahui pula isi hati Bi Lan.
Bahkan yang terpenting adalah isi hati Giok Cu, karena bagaimanapun perasaan Bi Lan terhadap dirinya, tidak begitu penting baginya.
Dia tidak mencinta Bi Lan bahkan berkenalan pun baru saja.
Yan penting, kalau memang Giok Cu mencintanya, tidak mungkin dia menikah dengan Bi Lan atau gadis lain mana pun Kecuali kalau Giok Cu tidak mencintainya, mungkin baru dia dapat memenuhi permintaan gurunya, semata-mata demi membalas budi kebaikan gurunya itu.
"Hei, Han Beng, kenapa engkau dian saja? Jawablah!"
Seruan Liu Bhok Ki ini menyadarkan Han Beng dan dengan gagap dia menjawab, Bagaimana teecu harus menjawab Suhu?
Urusan ini .........
terlalu tiba-tiba dan teecu sendiri bingung.
Teecu membutuhkan waktu untuk memikirkan usul Suhu ini."
Pendekar tua itu mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah, engkau memang terlalu berhati-hati. Kuberi waktu padamu. Berapa lama engkau hendak memikirkan persoalan ini dan memberi jawaban pasti kepadaku?"
Han Beng yang lebih dulu ingin menyelami perasaan hati Giok Cu terhadap di rinya, lalu berkata.
"Suhu, teecu sudah berjanji kepada Giok Cu untuk menghadap Suhu dan bertanya tentang kematian orang tuanya. Kemudian dari sini, kami akan mendatangi Ban-tok Mo-li untuk menuntut pertanggungan jawab dari wanita iblis itu. Nah, setelah teecu menemaninya bertemu dengan Ban-tok Mo-li, barulah teecu akan kembali ke sini dan memberi jawaban yang pasti kepada suhu."
Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar besar.
Dia menghargai kehormatan lebih besar daripada nyawa.
Kalau dia sudah mengeluarkan janji, sampai matipun harus dia hadapi untuk memenuhi janji itu.
Maka, mendengar bahwa muridnya sudah berjanji kepada Giok Cu untuk menemaninya menghadap Ban-tok Mo-li dia pun mengangguk-angguk, dan tidak mau dia melarang.
Apalagi dia tahu bahwa gadis bernama Giok Cu adalah seorang teman sejak kecil dari Han Beng maka sudah sewajarnya kalau Han Beng membantunya mencari pembunuh ayah ibu gadis itu.
"Baiklah, Han Beng. Engkau boleh menemani Giok Cu menemui Ban-tok Mo-li sambil berpikir-pikir tentang keinginanku menjodohkan engkau dengar Bi Lan. Setelah selesai urusan dengan Ban-tok Mo-li itu, engkau segera kembalilah kesini dan kita membuat persiapan untuk perayaan pernikahanmu."
Han Beng mengangkat muka memandang kepada gurunya.
"Akan tetapi, Suhu. Bagaimana mungkin Suhu sudah dapat demikian memastikan? Padahal, baru saja teecu bertemu dengan Sumoi. Belun tentu Sumoi okan menyetujui ikatan itu!"
Liu Bhok Ki tersenyum.
"Aku yakin ia tidak akan menolak, la seorang gadis yang baik dan penurut. Aku akan mencari pamannya, Lie Koan Tek, yang merupakan wali tunggalnya dan akan kubicarakan tentang urusan perjodohan kalian itu dengan pendekar Siauw-lim-pai itu."
Han Beng tidak menjawab lagi, akan tetapi hatinya merasa tidak enak bahkan khawatir sekali.
ooOOoo Kaisar Yang Ti (604 -618) merupakan kaisar ke dua dari wangsa Sui, setelah menggantikan mendiang Kaisar Yang Cien yang merupakan kaisar pertama dari dinasti Sui.
Kaisar Yang Cien memulai dengan penggalian terusan-terusan yang menghubungkan Sungai Huang-ho dan Sungai Yang-ce.
Dan setelah dia meninggal dalam tahun 604, penggantinya, yaitu Kaisar Yang Ti yang sekarang melanjutkan pekerjaan itu, bahkan memperluasnya sehingga terusan itu digali sampai ke Hang-couw.
Kaisar Yang Ti bukan hanya giat melakukan penggalian terusan yang besar artinya bagi lalu-lintas perdagangan, namun dia juga terkenal giat dengan gerakan balatentaranya untuk menundukkan negara-negara tetangga.
Juga dia amat aktip dalam gerakan politik untuk memperkuat kedudukannya dan memperluas kekuasaan kerajaannya.
Bahkan saja Tongkin dan Annam di bagian selatan dia serbu, bahkan di utara dia pun melakukan gerakan.
Pada waktu itu, daerah utara didiami bermacam suku bangsa yang oleh bangsa Han dianggap sebagai bangsa "liar".
Di antara mereka adalah bang Toba, Turki dan Mongol.
Mereka semua adalah bangsa Nomad yang berpindah-pindah untuk mencari daerah subur untuk memelihara ternak, dan daerah di mana terdapat banyak binatang untuk diburu.
Dan seringkali terjadi perselisihan dan pertempuran antara suku-suku bangsa itu karena mereka memperebutkan daerah yang subur.
Keadaan mereka yang hidup saling bermusuhan itulah yang dimanfaatkan oleh Kaisar Yang Ti.
Dia mengirim orang-orangnya yang pandai untuk memperuncing pertentangan antara suku-suku bangsa itu, mendukung yang satu membasmi yang lain.
Dengan cara demikian, kedudukan suku-suku bangsa itu menjadi lemah dan setelah itu barulah bala tentara dinasti Sui menyerbu akhirnya daerah utara dapat dikuasainya tanpa menemukan perlawanan yang berarti karena suku-suku bangsa itu sudah menjadi lemah karena saling gempur sendiri.
Untuk memuaskan ambisinya yang besar, Yang Ti belum merasa cukup dengan menaklukkan daerah utara barat itu.
Dia masih mencoba untuk menguasai Timur laut, yang sekarang termasuk daerah Mancuria dan Korea.
Namun, berkali-kali pasukannya mengalami kegagalan.
Di samping ambisinya yang besar sehingga dia seringkali memimpin pasukannya sendiri untuk memperluas kekuasaan dan wilayahnya, dan melanjutkan penggalian terusan, juga Kaisar Yang Ti terkenal sebagai seorang kaisar yang mata keranjang.
Selir dan dayangnya tak terhitung banyaknya.
Dan dia begitu mata keranjang sehingga dia memaksa dua orang selir ayahnya, ketika ayahnya masih hidup, untuk menjadi kekasihnya.
Bahkan setelah ayahnya meninggal dunia, dia menarik dua orang selirnya yang masih muda itu menjadi selirnya sendiri.
Hal ini tentu saja membuat beberapa orang menteri yang setia mengerutkan alisnya.
Bagaimanapun juga, selir-selir itu adalah isteri mendiang ayahnya, jadi termasuk ibu tirinya!
Menurut catatan yang kemudian ditinggalkan dan diketahui umum setelah Kerajaan Sui jatuh, Kaisar Yang Ti termasuk mempunyai permaisuri, dua orang wakil permaisuri, enam selir utama dan tujuh puluh dua selir muda.
Di samping itu masih ada tiga ribu orang perawan-perawan istana yang menjadi dayang dan juga setiap orang dari para gadis ini dapat saja setiap waktu diharuskan melayani kaisar yang tidak pernah merasa puas itu!
Semua pembesar tinggi di istana tahu belaka bahwa Kaisar Yang Ti merupakan seorang laki-laki yang menjadi hamba nafsu berahinya dan selalu dia memenuhi dorongan nafsunya dengan cara yang menyolok dan kadang tidak tahu malu.
Ketika dia mengadakan pembukaan dan pelayaran pertama merayakan selesainya penggalian terusan yang menghubungkan Sungai Huang-ho dan Yang-ce, atau menghubungkan daerah utara dan selatan, dia menggunakan perahu di terusan yang lebarnya sekitar tiga puluh kaki itu.
Perahunya besar dan mewah, dan dia memerintahkan beberapa ratus orang perawan istana atau dayang-dayang muda yang cantik manis untuk menarik perahunya hilir mudik di tepi terusan itu.
Ratusan orang gadis remaja yang cantik itu sambil bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa, menarik tali yang dihias kembang-kembang, diiringi suling dan yang-kim.
Dari perahunya, Kaisar Yang Ti menikmati penglihatan yang amat indah menggairahkan itu.
Pakaian para dayang yang beraneka warna, dari sutera yang halus, membayangkan bentuk-bentuk tubuh para gadis remaja yang bagaikan kembang sedang mulai mekar.
Bayangan para dayang itu terpantul di dalam air dalam keadaan terbalik.
Mendengarkan suara mereka bernyanyi dan tertawa merdu, melihat gerakan tubuh mereka yang lemah gemulai, goyangan pinggang dan pinggul, cukup mendorong gairah dalam hati kaisar itu dan nafsu berahinya berkobar.
Untuk melayani hasratnya, di perahu yang besar itu telah siap para selirnya sehingga Sang Kaisar, di balik tirai perahu, dapat melampiaskan nafsunya sepuas hati sambil mendengarkan nyanyian dan tertawaan para dayang remaja.
Apalagi kalau sedang di dalam istana, bahkan di waktu melakukan perjalanan daratpun, Sang Kaisar yang menjadi budak nafsu-nafsunya itu tidak pernah lupa mengajak beberapa orang selir terkasih.
Keretanya sengaja dibangun secara istimewa, besar dan panjang, bukan hanya cukup untuk dia duduk dilayani lima enam orang selir, bahkan tempat duduk itu dapat pula dijadikan tempat tidur!
Tirai kereta itu dihiasi permata mutu manikam dan keleningan kecil-kecil yang mengeluarkan bunyi musik, suara ini dapat menyembunyikan suara-suara lain yang keluar dari kerongkongan sang Kaisar dan para selirnya.
Dalam keroyalannya yang luar biasa, yang jauh melampaui kemewahan para kaisar dahulu, Kaisar Yang Ti mengutus seorang ahli bangunan terbesar di aman itu, yaitu Siang Seng, untuk membangun sebuah istana yang amat indah di Lok-yang.
Bangunan istana yang luar biasa besarnya dan megahnya dan dikerjakan siang malam selama satu setengah tahun oleh tidak kurang dari lima puluh ribu orang tukang yang pandai!
Sungguh merupakan suatu pekerjaan berat juga suatu kemewahan dan keroyalan yang luar biasa.
Istana induk yang amat megah dan mewah itu dikelilingi tiga puluh enam istana yang lebih kecil, dibangun di antara hutan bunga beraneka ragam dan warna!
Istana induk menjulang tinggi, berkilauan ditimpa sinar matahari, seperti sebuah menara raksasa dari emas.
Di beranda yang mengelilingi setiap loteng setiap hari kalau kaisar berada di situ ratusan orang gadis dayang bermain musik, menari dan bernyanyi sambil berbisik-bisik, bersendau gurau dan hujan senyum manis dan kerling memikat, dan pakaian mereka yang tipis hampir tembus pandang itu membayangkan tubuh mereka yang mulai matang.
Kamar Sang Kaisar sendiri memang dibangun sebagai tempat untuk pelesir untuk bersenang-senang mengumbar nafsu bersama para selir dan dayang.
Ruangan kamar itu amat luas, terlalu luas untuk sebuah kamar tidur, sebuah ruagan yang dapat menampung seratus meja.
Tempat ini merupakan harem Sang Kaisar, di mana para selir yang terpilih untuk menghiburnya hari itu, sedikitnya tiga puluh orang, dengan pakaian minim hampir telanjang, berkeliaran, bermain-main, bersendau-gurau atau hanya rebahan di atas lantai yang ditilami kasur dengan bulu-bulu harimau dan permadani dari barat.
Ruangan itu penuh dengan cermin yang dipasang di sekelilingnya, pada dinding.
Dari lubang-lubang di dinding mengepul lembut asap dupa harum dari bermacam bunga, sehingga mereka yang berada di dalam ruangan itu merasa seolah-olah mereka berada di dalam sebuah taman yang penuh bunga mekar.
Lampu-lampu gantung beraneka warna, dengan lilin di dalamnya, menambah semarak dan romantis ruangan itu.
Begitu Sang Kaisar memasuki ruangan itu, delapan orang pengawal thaikam (orang kebiri) menyambutnya sambil berlutut dan mereka dengan hormat membantunya menanggalkan pakaian kebesaran, menggantikannya dengan pakaian yang longgar dari sutera dan kulit harimau.
Para thaikam itu lalu keluar dan berjaga di luar ruangan.
Kaisar sendiri disambut oleh salam halus "Ban-swe" (Panjang Usia) oleh mulut para wanita muda yang cantik itu.
Tangan-tangan kecil lembut dan halus putih mulus segera menyuguhkan anggur gin-seng, buah-buahan, manisan atau daging panggang, apa saja yang dikehendaki Sang Kaisar sudah tersedia di tempat itu.
Bahkan di dalam sejarah, kaisar terkenal pula sebagai seorang yang menyuruh para ahli di jaman itu menciptakan segala macam alat untuk memuaskan nafsunya yang tak kunjung padam, segala macam perabot atau alat yang ditujuk untuk mendatangkan kesenangan yang lebih.
Barulah Sang Kaisar ini agak menjadi jinak dan tidak seliar sebelumnya setelah ia mendapatkan seorang selir baru Han Cun Ji.
Selir inilah yang dapat merebut hatinya, dan semenjak ada selir ini, Kaisar Yang Ti tidak begitu haus lagi, seolah-olah segala rasa lapar dan hausnya telah terpuaskan oleh Sang Selir yang terkasih ini.
Dan timbul kembali nafsunya untuk bertualang, untuk menundukkan daerah-daerah yang belum dikuasainya.
Dalam hal ini pun dia kadang-kadang melampaui batas kekuatan pasukannya.
Ketika dia memimpin pasukannya dan mati-matian berusaha untuk menundukkan daerah Shansi Utara, pasukannya terpecah belan oleh siasat pihak musuh dan hanya dengan pasukan pengawal yang tidak begitu besar jumlahnya, Kaisar Yang Ti terkepung oleh suku bangsa Turki.
Nyaris keselamatan kaisar itu terancam hebat kalau saja pada saat itu tidak muncul seorang perwira yang bersama pasukannya dengan gagah berani menerjang dan membobolkan kepungan, berhasil menyelamatkan Kaisar Yang Ti dari ancaman maut.
Perwira yang gagah perkasa ini adalah Li Si Bin, yang kelak merupakan seorang tokoh yang amat penting dalam sejarah karena perwira ini pula yang kelak menjatuhkan Kerajaan Sui dan bahkan kelak dia akan menjadi seorang kaisar yang terkenal di dalam jaman dinasti berikutnya yaitu dinasti Tang (618-907)!
Demikianlah sedikit tentang keadaan kaisar yang berkuasa di jaman cerita ini terjadi.
Ketika itu, istana megah dan mewah di Lok yang sedang dibangun dan hampir selesai karena pembangunan sudah berlangsung setahun.
ooOOoo Pada suatu pagi, dua orang muda memasuki kota Lok-yang.
Mereka bukan lain adalah Han Beng dan Giok Cu.
Mereka telah meninggalkan Kim-hong-san setelah tinggal di rumah Liu Bhok Ki dan murid barunya, Kwa Bi Lan selama belasan hari lamanya.
Ketika mereka berpamit untuk pergi mengunjungi Ban-tok Mo-li di Ceng-touw, Liu Bhok Ki menyetujuinya.
Pendekar tua ini ingin agar muridnya, Han Beng, segera menyelesaikan tugas yang dijanjikan kepada Giok Cu, lalu pulang dan memberikan!
jawaban pasti tentang usul ikatan perjodohan dengan Bi Lan.
Dan pandangan mata yang berpengalaman dari Liu Bhok Ki melihat betapa ada perubahan sikap dalam diri gadis yang menjadi muridnya!
itu setelah Han Beng dan Giok Cu pergi.!
Muridnya itu, yang tadinya biarpun pendiam selalu bergembira, kini setelah Han Beng pergi, gadis itu nampak seringkah termenung, bahkan murung!
Hal ini bagi Liu Bhok Ki merupakan suatu pertanda baik!
Beberapa kali, secara halus dia memancing pendapat Bi Lan tentang Han Beng.
"Bagaimana pendapatmu tentang Si Han Beng, Suhengmu itu, Bi Lan?"
Tanyanya sambil lalu ketika mereka membicarakan dua orang muda yang baru saja meninggalkan tempat itu.
"Suheng Si Han Beng? Ah, dia seorang yang baik sekali, gagah perkasa dan ramah. Teecu mendapatkan petunjuk berharga ketika melatih Hui-tiauw Sin-kun di bagian yang paling sulit, Suhu."
Liu Bhok Ki mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Memang, dia kini telah menjadi seorang pendekar yang gagah perkasa. Naga Sakti Sungai Kuning! Ha-ha, sungguh aku bangga mempunyai murid seperti dia. Kau tahu, sekarang kepandaiannya jauh melampaui tingkatku, dia dua kali lebih lihai daripada aku, ha-ha-ha "
Bi Lan semakin kagum.
"Sungguh hebat. Teecu juga bangga mempunyai Suheng seperti dia, Suhu."
Liu Bhok Ki tidak mendesak terus atau memancing terus.
Pertemuan antara dua orang muridnya itu baru satu kali terjadi, dan tidak enak kalau bertanya tentang perasaan hati gadis pendiam itu tentang Han Beng.
Biarlah, dia akan menanti dengan sabar.
Dia hampir yakin bahwa Bi Lan pasti menerima dengan hati terbuka kalau dijodohkan dengan Han Beng.
Yang mengkhawatirkannya adalah kalau Han Beng yang menolak mengingat betapa akrabnya hubungan muridnya itu dengan Giok Cu.
Kita kembali kepada Han Beng dan Giok Cu.
Mereka tiba di Lok-yang karena mereka tertarik mendengar bahwa di kota itu dibangun sebuah istana yang amat megah dan mewah, amat indah sehingga berita tentang pembangunan itu terdengar sampai jauh, menjadi bahan pergunjingan orang.
Ada yang mengagumi ada pula yang mencela karena kaisar terlalu royal.
Berita-berita yang mereka dengar di sepanjang perjalanan itu menarik perhatian mereka, terutama sekali Giok Cu.
"Kaisar macam apa yang kita miliki sekarang?"
Gadis itu mengepal tinju.
"Rakyat diperas dan dipaksa untuk bekerja sampai mati menggali terusan. Suhu Hek Bin Hwesio pernah menjelaskan kepadaku bahwa bagaimanapun juga, niat menggali terusan itu masih dapat dibenarkan karena kalau hal itu sudah dilaksanakan, maka rakyat pula yang akan banyak menerima keuntungan. Terusan itu dapat dimanfaatkan oleh rakyat, bukan saja untuk mengairi sawah ladang di daerah yang dilalui terusan, akan tetapi juga m ereka dapat mengangkut hasil ladang ke kota lain dengan lebih mudah dan murah. Biarlah, walau pelaksanaannya mengorbankan banyak rakyat, terusan itu kelak akan berguna pula bagi rakyat. Akan tetapi istana yang besar dan indah? Apa gunanya untuk rakyat? Hanya untuk kesenangan kaisar dan keluarganya saja! Dan pembangunan itu menggunakan uang negara yang besar! Sungguh membikin hatiku penasaran dan aku harus melihat pembangunan itu dengan mata sendiri."
Han Beng dapat mengerti akan kemarahan di hati Giok Cu.
Dia sendiri, kalau tidak digembleng oleh Pek I Tojin tentang kehidupan dan isinya, pasti akan merasa penasaran pula.
Akibat pembangunan dan penggalian Terusan Besar gadis itu kehilangan ayah ibunya, seperti juga dia.
Gadis itu masih bersabar dan menerima nasib.
Nasihat Hek Bin Hwesio agaknya menyadarkannya bahwa kematian ayah ibunya sebagai akibat penggalian terusan itu dapat dianggap, sebagai pengorbanan karena kelak terusan itu akan dinikmati pula oleh rakyat banyak.
Akan tetapi pembangunan istana yang megah dan mewah?
Memang membuat orang merasa penasaran, setidaknya orang-orang yang masih menghargai keadilan di dunia ini.
Betapa banyaknya rakyat jelata yang hidup di bawah garis kemiskinan, untuk makan esok hari pun masih belum ada ketentuan.
Dan kaisar mereka membangun istana untuk pelesir.
Padahal, biaya untuk membangun istana itu kalau dibagikan rakyat yang kelaparan, akan menolong puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu nyawa orang!
Pagi itu, Han Beng dan Giok Cu memasuki kota Lok-yang.
"Giok Cu, akui pesan kepadamu dengan sungguh, agar engkau suka menahan kesabaran hatimu. Jangan menurutkan hati yang panas kalau melihat bangunan istana itu. Ingat kalau engkau menimbulkan keributan, hal itu sama sekali tidak akan menolong rakyat, tidak akan menghentikan pembangunan itu. Sebaliknya, engkau hanya akan menimbulkan kekacauan yang membahayakan kita sendiri."
"Aku tidak takut!"
Jawab gadis itu lantang.
Han Beng tersenyum.
Giok Cu sungguh merupakan seorang gadis yang tabah dan pemberani, terlalu pemberani malah.
Teringatlah dia akan anak perempuan yang menjadi sahabatnya dahulu.
Sejak kecil Giok Cu memang nakal, manja, lincah Jenaka dan pemberani.
Betapa seorang anak perempuan berani melawan seekor ular anak naga!
Untuk membantu dia yang telah digigit ular itu, Giok Cu juga menggigit ular dengan keberanian luar biasa!
Dan kini, setelah menjadi seorang gadis yang dewasa, cantik jelita, dan memiliki ilmu silat tinggi, tentu saja keberaniannya semakin hebat!
"Aku percaya bahwa engkau tidak takut, Giok Cu.
Aku pun tidak menghadapi ancaman bahaya.
Akan tetapi untuk apa kita membiarkan diri dalambahaya kalau bukan untuk suatu tujuan yang memang perlu sekali kita lakukan.
Dalam hal pembangunan istana ini kita tidak mempunyai kepentingan apa pun dan tidak akan dapat mencampuri sama sekali.
Dan kita masih menghadapi tugas yang lebih penting, yaitu mencari Ban-tok Mo-li, maka tidak perlu terjun ke dalam bahaya untuk yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita."
Biarpun ia berwatak keras dan berani namun Giok Cu setelah menjadi murid Hek Bin Hwesio, sudah dibiasakan menggunakan pikiran sehat. Ia dapat memahami ucapan Han Beng tadi dia pun mengangguk.
"Baiklah, Han Beng. Aku pun hanya ingin melihat seperti apa bangunan istana yang menjadi bahan percakapan semua orang itu. Setelah melihat kita akan melanjutkan perjalanan ke Ceng-touw."
Tentu saja Han Beng menjadi girang sekali.
Makin lama dia merasa semakin kagum dan suka kepada gadis yang dulu menjadi sahabat baiknya di waktu kecil ini.
Seorang gadis yang lincah Jenaka dan pandai bicara, akan tetapi juga bijaksana dan mau menerima pendapat orang lain!
Biasanya, gadis yang lincah dan pandai seperti ini suka berwatak tinggi hati dan merasa pintar sendiri sehingga nampak kebodohannya.
Akan tetapi Giok Cu tidak.
Ia dapat menerima pendapat orang lain dan menyetujuinya kalau dianggapnya pendapat itu patut dituruti karena memang tepat dan benar.
"Kalau begitu, kita tidak perlu bermalam di sini, bukan? Hari ini masih pagi, kita dapat melihat-lihat sehari ini dan siang nanti kita melanjutkan perjalanan menuju ke Ceng-touw. Bagaimana pendapatmu?"
Kata Han Beng. Giok Cu mengangguk.
"Kalau tidak terjadi sesuatu dan kalau tidak ada sesuatu yang menarik, memang tidak perlu kita bermalam di sini. Mari kita melihat bangunan istana itu!"
Dan keduanya tak lama kemudian sudah terpukau memandang bangunan istana itu dari luar pagar, dari tempat yang agak jauh karena selain para pekerja, mereka atau orang luar tidak diperkenankan memasuki pagar.
Dari jauh pun sudah nampak bangunan yang hebat itu Istana induknya sudah jadi dan menjulang tinggi di atas pohon-pohon, sudah nampak megah walaupun belum dicat.
Para pekerja yang seperti semut banyaknya, sepagi itu sudah bekerja, karena memang siang malam pembangunan itu dikerjakan tiada hentinya.
Mereka kini sudah mulai dengan bangunan-bangunan lebih kecil yang mengelilingi bangunan induk, sudah jadi lebih dan dua puluh buah.
"Bukan main............!"
Kata Han Beng tertegun karena selama hidupnya belum pernah dia melihat bangunan sehebat itu.
"Alangkah besar dan luasnya!"
"Hemmm, entah berapa banyak emas dan perak dikeluarkan untuk membiayai bangunan itu. Akan tetapi lihat, Han Beng, para pekerja itu bekerja dengan giat dan gembira. Jelas bahwa mereka bukanlah pekerja-pekerja paksa, bahkan mungkin mereka mendapatkan perlakuan baik dan gaji yang cukup besar,"
Kata Giok Cu.
Ternyata bukan hanya mereka saja yang berada di luar pagar dan melihat pembangunan istana itu.
Ada pula belasan orang lain dan di antara mereka terdapat empat orang pemuda yang usianya antara dua puluh sampai dua puluh lima tahun.
Mereka itu berpakaian seperti para pemuda kota, dengan lagak yang tinggi hati dan nakal.
Sudah lajim bahwa lebih mudah bagi syaitan atau nafsu untuk menggoda hati orang apabila orang itu berkumpul dengan orang-orang lain yang sepaham.
Seorang pemuda mungkin tidak akan begitu berani berlagak atau berbuat sesuatu yang tidak layak, tidak begitu nampak kenakalannya.
Akan tetapi kalau pemuda itu berkumpul dengan pemuda-pemuda lain yang menjadi kawannya, maka dia pun akan menjadi berbeda daripada kalau dia seorang diri saja.
Kalau dia seorang diri, walaupun nafsu mendorong dan membujuknya untuk melakukan hal-hal yang tidak patut, masih ada rasa takut, rasa malu dan sebagainya yang menghalangi dia melakukan tindakan yang didorong nafsu dan setan.
Akan tetapi, kalau sudah berkelompok, maka rasa takut, malu atau yang lain itu pun menipis atau bahkan lenyap sama sekali!
Menghadapi segerombolan orang muda, setan menjadi lebih leluasa menggoda hati.
Demikian pula dengan empat orang pemuda itu.
Tadinya, mereka bersikap biasa,melihat pembangunan istana, mengagumi keindahan bentuk istana yang megah itu seperti para penonton lainnya.
Akan tetapi begitu muncul seorang gadis cantik seperti Giok Cu, sikap mereka berubah sama sekali.
Kini mereka tidak lagi nonton bangunan, melainkan nonton gadis cantik dan mulailah mereka menyeringai, tersenyum atau tertawa, saling berbisik sambil melirik ke arah Giok Cu.
Godaan nafsu atau godaan setan memang seperti berkobarnya api, dari sedikit lalu makin lama makin membesar kalau tidak segera dipadamkan.
Kalau tadinya mereka itu menyeringai dan berbisik-bisik, akhirnya bisikan mereka menjadi semakin keras sehingga terdengar orang lain, dan suara ketawa mereka pun makin keras.
"Yang laki-laki memang banyak harapan diterima bekerja. Lihat bentuk badannya tinggi besar seperti kuli kasar. Tentu dia diterima sebagai kuli angkat-angkat batu dan kayu!"
Kata seorang di antara mereka sambil melirik ke arah Han Beng dan Giok Cu.
"Memang, potongan badannya seperti kuli kasar. Dia dibutuhkan untuk pembangunan ini. Akan tetapi perempuan itu, mana mungkin diterima walaupun ia ........... hemmm, cantik dan manis seperti malu?"
Orang ke dua berkata sambil terkekeh. Teman-temannya juga tertawa.
"Kenapa tidak? Di manapun kalau perempuan, apalagi yang jelita seperti ia, pasti diterima dengan tangan terbuka ..............."
"............. dan pakaian terbuka ........."
Ha-ha-ha!"
Mereka tertawa-tawa kembali.Han Beng dan Giok Cu mendengar percakapan itu, akan tetapi karena percakapan itu tidak jelas menyinggung mereka maka keduanya pun diam saja, walaupun sepasang alis Giok Cu sudah berkerut karena ialah satu-satunya wanita situ, maka siapa lagi yang dibicarakan kalau bukan dirinya?
Akan tetapi masih ingat akan pesan Han Beng tadi, maka ia pun pura-pura tidak mendengar saja.
"Akan tetapi seorang gadis, disuruh bekerja apa?"
"Bekerja apa? Biar ia duduk atau berdiri saja di tempat pekerjaan, tanggung para pekerja semakin bersemangat dalam pekerjaan dan lupa untuk pulang, ha-ha-ha!"
"Dan malamnya tentu akan dijadi rebutan oleh para mandornya!"
"Ihhh, sayang sekali kalau hanya mendapatkan mandor. Lebih baik mendapatkan aku, setidaknya Ayahku mempunyai toko yang cukup besar!"
"Menjadi milikku lebih tepat! Ayahku pegawai pemerintah!"
Ramailah empat orang itu berebutan, merasa bahwa masing-masing lebih pantas memiliki wanita itu.
"Sudahlah, siapa tahu ia menginginkan menjadi seorang di antara dayang Kaisar? Kabarnya tempat ini kelak akan penuh dengan dayang dan selir Kaisar."
"Ssssst, lihat. Ia membawa pedang! jangan-jangan ia seorang wanita kang-ouw!"
"Ah, mana mungkin? Lihat, kulitnya begitu mulus, halus dan pinggangnya ramping. Ia wanita seratus prosen, lemah gemulai. Pedang itu tentu hanya untuk menakut-nakuti saja, ha-ha-ha!"
"Bunga yang indah biasanya tidak harum baunya!"
"Siapa bilang! Bunga mawar itu indah dan harum. Coba kudekati, baunya harum atau tidak!"
Wajah Giok Cu semakin merah dan ia tentu akan mengajak Han Beng pergi dari situ karena takut kalau tidak tahan lagi, akan tetapi pada saat itu, pemuda bermuka bopeng karena penyakit cacar yang bicara paling akhir tadi sudah melangkah dan mendekatinya, mendekatkan muka dan hidungnya kembang kempis mencium-cium.
Jarak antara muka itu dengan pundaknya hanya dua jengkal saja.
Begitu beraninya pemuda itu!
"Aduh, harum ........., harum ..........!"
Pemuda itu berseru dan tiga orang kawannya tertawa dan memuji "keberanian"
Kawam mereka yang muka bopeng dan agaknya menjadi pemimpin mereka itu.
"Wuuuttt .............. plakkk! Aduuuuuh.............!"
Tubuh pemuda muka bopeng itu terpelanting dan mulutnya bocor mengucurkah darah karena empat buah giginya copot ketika tangan Giok Cu menamparnya tadi.
Gadis itu tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Masih untung bagi pemuda itu bahwa Giok Cu tidak menggunakan tenaga sakti.
Kalau ia mempergunakan tenaga saktinya, bisa remuk tulang rahang pemuda itu, atau kalau ia menggunakan tenaga beracun, pemudi muka bopeng itu tentu tewas seketika!
Kini, hanya giginya empat buah copol dan bibirnya pecah-pecah berdarah.
Dia melompat bangun dan menjadi marah bukan main.
"Perempuan rendah, berani engkau memukulku?"
Bentaknya dan dia pun menyerang dengan tubrukan seperti seekor biruang menubruk domba, dan tiga orang kawannya juga berebut maju untuk menangkap gadis yang sejak tadi telah membuat mereka tergila-gila.
Mereka berempat masih lebih terpengaruh keinginan untuk merangkul gadis itu daripada untuk memukul.
Giok Cu menggerakkan kaki tangannya.
Terdengar empat orang pemuda itu mengaduh.
Pertama adalah Si Muka Bopeng yang menyerang lebih dulu, menerima tendangan pada perutnya.
"Ngekkk! Aughhhhh ...............!"
Dia muntah-muntah dan memegangi perutnya, tidak dapat bangkit kembali, hanya berjongkok sambil muntah dan mengaduh karena perutnya seketika mulas.
Agaknya usus buntunya kena tertendang ujung sepatu Giok Cu, nyeri bukan main, seperti ditusuk-tusuk jarum rasa perutnya.
Orang ke dua dari kiri disambut sambaran tangan kiri yang mengenai dadanya.
"Plakkk! Hukkk............!"
Pemuda itu pun terpelanting, dan tidak mampu bangkit, hanya duduk terbatuk-batuk seperti mendadak sakit asmanya kambuh terengah-engah terasa sesak dan nyeri dalam dada.
Orang ke tiga dari kanan juga disambar tangan kanan mengenai lehernya dan dia pun terpelanting, lalu bergulingan dengan leher bengkok karena lehernya terasa nyeri seperti patah tulangnya.
Bahkan suaranya mengaduh tidak jelas lagi!
Orang ke empat disambut tendangan pula sehingga terjengkang dan karen kepalanya dengan kerasnya membentur tanah, maka dia pun pingsan seketika mungkin gegar otak!
Gegerlah para penonton di situ.
Da pada saat itu, terdengar bunyi roda kereta dan derap kaki kuda.
Sebuah kereta berhenti di situ, dikawal oleh selosin pasukan pengawal.
Semua orang minggir dan seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun yang sikapnya agung dan berwibawa, turun dari kereta.
Dia melihat kearah empat pemuda yang masih belum dapat bangkit bahkan seorang masih pingsan dan yang tiga lagi mengaduh-aduh, memijat perut, ada yang mengurut-urut dada, ada yang lehernya bengkok.
Kemudian dia memandang kepada gadis cantik jelita yang, berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang, muka merah karena marah.
"Apa yang terjadi disini?"
Pria berpakaian pembesar itu bertanya dan dia pun maju menghampiri tempat keributan itu.
Giok Cu yang sudah marah, membalik dan menghadapi laki-laki itu.
Disangkanya laki-laki itu tentu hendak membela empat orang pemuda itu maka ia pun berkata dengan nada menantang, Siapa saja yang menibela empat ekor tikus busuk ini akan kuhajar!"
Akan tetapi pembesar itu sama sekali tidak nampak takut, melainkan menentang pandangan mata Giok Cu dengan tajam penuh selidik.
"Siapa yang membela siapa, Nona? Kami hanya bertanya apa yang telah terjadi disini? Mengapa terjadi perkelahian di sini?"
Sebelum gadis itu menjawab dengan ketus, tiba-tiba Han Beng berseru girang "Liu Tai-jin!
Aih, Giok Cu, apakah engkau tidak mengenalnya?
Dia adalah Liu Tai-jin, utusan dari kota raja yang kita jumpai di kota Siong-an itu!"
Giok Cu segera teringat dan ia pun seperti Han Beng memberi hormat.
"Liu Tai-jin, maafkan saya,"
Katanya.
Tentu saja ia teringat.
Pernah bersama Can Hong San ia bahkan menghadang pembesar ini yang disangkanya jahat dan korup.
Pembesar itu memang Liu Tai-jin, pembesar kepercayaan kaisar dari kota raja yang suka diutus menjadi peneliti dan pemeriksa para petugas dan memberi hukuman kepada mereka yang korup dan nyeleweng.
Dia pun segera ingat kepada Han Beng.
"Ah, kiranya Huang-ho Sin-liong yang berada di sini!"
Serunya dan dia pun cepat membalas penghormatan mereka.
"Dan Nona ini adalah Li-hiap (Pendekar Wanita) yang gagah perkasa itu!"
Seorang di antara pemuda yang tadi pingsan, kini sudah siuman dan mereka berempat menjadi pucat dan mendekam dengan tubuh menggigil ketika mendengar ucapan pembesar itu bahwa pemuda dan gadis yang mereka ganggu tadi adalah dua orang pendekar yang gagah perkasa!
Bahkan pemuda itu adalah Naga Sakti Sungai Kuning yang namanya menggetarkan seluruh lembah Sungai Huang-ho!
Mereka ingin melarikan diri, akan tetapi kedua kaki mereka tidak dapat digerakkan karena menggigil.
Bahkan dua orang di antara mereka, saking takutnya, tak dapat menahan lagi bocor di tempat sehingga celana mereka basah kuyup!
"Tai-hiap, Li-hiap, apa yang terjadi di sini?"
Pembesar itu bertanya sambil memandang kepada empat orang pemuda itu.
"Maafkan saya, Liu Tai-jin,"
Kata Giok Cu.
"Mereka itu bersikap kurang ajar karena saya seorang wanita, mulut mereka kotor sekali dan sikap mereka tidak sopan sehingga terpaksa saya menghajar mereka!"
Pejabat tinggi itu dengan mata mencorong dan alis berkerut memandang kepada empat orang pemuda itu. Melihat keadaan mereka, dia pun tersenyum.
"Li-hiap, kami kira hajaran itu sudah cukup bagi mereka. Apakah perlu di tambah lagi?"
Mendengar ini, empat orang yang sudah ketakutan setengah mati, bukan hanya karena mendengar bahwa dua oran muda yang mereka ganggu adalah pendekar-pendekar sakti, juga mereka takut sekali kepada Liu Tai-jin yang terkenal sebagai seorang pejabat tinggi yang selain besar kekuasaannya, juga adil dan tegas, tidak mau disogok, segera menjatuhkan diri berlutut di depan Giok Cu.
"Li ........... hiap, ampunkan kami, ampunka kami..........."
Kata Si Muka Bopeng, dan tiga orang kawannya juga ikut pula mohon ampun.
Giok Cu menggangguk kepada Liu Tai-jin.
Memang mereka itu kurang ajar, akan tetapi hajaran yang diberikan tadi sudah lebih dari cukup.
"Asal kalian berjanji mulai sekarang Tidak ugal-ugalan dan tidak akan mengganggu wanita lagi, aku tidak akan mematahkan semua tulang kaki tanganmu!"
Mendengar ini, empat orang itu menjadi semakin ketakutan dan seperti empat ekor ayam mematuk gabah, mereka mengangguk-angguk membenturkan dahi di tanah sambil berkata berulang-ulang.
" ........... tidak berani lagi, tidak berani lagi......... tidak berani lagi ..............."
"Nah, cukuplah. Berterima kasihlah kalian kepada Liu Taijin yang bijaksana, kalau tidak ada beliau, tentu aku tidak mau memberi ampun kepada kalian!"
Empat orang pemuda itu lalu berlutut menghadap Liu Tai-jin dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
Liu Tai-jin tersenyum, senang melihat sikap Giok Cu.
Kalau ada beberapa orang pendekar seperti gadis ini di setiap kota, tentu akan aman keadaannya.
"Sudah, kalian pergilah!"
Katanya dan empat orang itu lalu bangkit, terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu.
Orang-orang yang melihat peristiwa itu diam-diam merasa kagum kepada Giok Cu yang selain merupakan seorang pendekar wanita yang lihai, juga ternyata menjadi kenalan Liu Tai-jin yang disegani semua orang.
"Tai-hiap dan Li-hiap, bagaimana kalian dapat berada di sini? Apakah hanya kebetulan saja, ataukah memang sengaja datang untuk melihat pembangunan istana ini?"
"Dalam perjalanan, kami mendengar semua orang membicarakan pembanguna istana di Lok-yang ini, maka kami sengaja lewat di sini untuk menontonnya, kata Han Beng.
"Kalau begitu, mari masuk saja. Ji-wi (Kalian Berdua) dapat melihat keadaan di sebelah dalam istana. Mari naiklah ke dalam kereta kami."
Han Beng dan Giok Cu naik ke dalam kereta bersama pembesar itu dan para penonton memandang dengan kagum dan juga iri melihat betapa dua orang muda itu mendapat kesempatan yang amat langka itu, yaitu melihat keadaan istana itu dari dalam!
Han Beng dan Giok Cu mengagumi istana yang luar biasa megahnya itu.
Biarpun belum dicat, namun istana itu sudah nampak indah bukan main.
Liu Tai-jin membawa mereka berkeliling dan menerangkan segalanya kepada mereka sehingga dua orang muda itu semakin kagum dan juga merasa senang sekali mereka telah mendapatkan kesempatan yang demikian baiknya.
Setelah melihat-lihat, Liu Tai-jin mengajak mereka memasuki sebuah ruangan yang dia pergunakan untuk tempat duduk apabila dia datang ke tempat itu.
Mereka duduk berhadapan dan pelayan menghidangkan minuman dan makanan kecil.
Liu Tai-jin lalu menyuruh semua pelayan dan pengawal untuk meninggalkan ruangan dan membiarkan mereka bertiga bercakap-cakap.
"Ji-wi (Kalian) tentu heran melihat aku bertugas di sini,"
Pejabat tinggi itu berkata. Han Beng dan Giok Cu memandang kepadanya dan Han Beng berkata.
"Memang kami merasa agak heran. Bukankah Tai-jin biasanya bekerja sebagai pejabat yang mengontrol pekerjaan para petugas, dan memberantas penyelewengan yang dilakukan para pejabat di luar kota raja. Liu Tai-jin menghela napas panjang, lalu mengangguk.
"Memang benar. Itulah pekerjaanku dan aku senang dengan pekerjaan itu. Aku paling membenci pembesar yang melakukan korup, menindas rakyat dan mencuri uang negara, menumpuk harta kekayaan untuk diri sendiri dan tidak melaksanakan tugas dengan sebaiknya. Demi mencari harta, banyak pula pembesar yang bertindak sewenang-wenang, bahkan curang, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Aku senang sekali bekerja memberantas segala penyelewengan itu walaupun pekerjaan itu amat berbahaya dan membuat aku dibenci dan dimusuhi banyak pejabat. Akan tetapi Sri baginda terlalu percaya kepadaku sehingga untuk pembangunan istana ini pun beliau memerintahkan aku untuk melakukan pengamatan di sini agar pekerjaan dilaksanakan sebaik mungkin, agar bahan-bahan bangunannya tidak dicuri, dikurangi mutunya dan tidak terjadi korupsi. Nah, begitulah. Terpaksa aku harus bekerja menjadi pengawas di tempat ini."
"Kalau Tai-jin yang menangani, tentu pembangunan ini cepat selesai dengan baik,"
Kata Giok Cu. Liu Tai-jin tertawa, tahu bahwa pujian pendekar wanita itu bukan sekedar basa-basi belaka.
"Pembangunan negara baru akan berhasil kalau semua petugas dan karyawannya bekerja dengan jujur dan setia, kalau semua pekerja, dari yang tinggi sampai yang paling rendah, tidak menjadi hamba nafsu rendah untuk menyenangkan diri sendiri dan melakukan korupsi. Semua tenaga harus bersatu untuk pembangunan, barulah pembangunan itu akan berhasil dengan baik.Tidak mungkin hanya tergantung pada satu orang saja. Tugasku di sini hanya mengawasi dan menjamin lancarnya pekerjaan dan bersihnya para pekerja. Akan tetapi, para tukang itulah yang menangani. Tanpa para tukang, bahkan tanpa para kuli kasar, pembangunan tidak akan selesai. Semua harus bersatu dan bekerja sama. Aih, maaf. Aku lupa bahwa Ji-wi bukan petugas negara. Apakah Ji-wi akan lama tinggal di Lok-yang?"
Giok Cu menggeleng kepala.
"Tidak Tai-jin. Mungkin hari ini juga kami aka melanjutkan perjalanan."
"Ji-wi akan pergi ke manakah?"
"Kami bermaksud pergi ke Ceng touw "
Pembesar itu nampak terkejut mendengar ini, dan wajahnya berseri, pandang matanya penuh harap.
"Ke Ceng touw.......... ? Ah, kalau saja aku tidak terikat oleh tugasku mengawasi pembangunan istana Lok-yang ini, tentu aku sudah pergi ke Ceng-touw. Ada perkembangan yang amat gawat di sana!"
"Perkembangan yang amat gawat Apakah itu, Tai-jin? Apa yang telah terjadi di sana?"
Giok Cu bertanya.
"Ji-wi dapat membantu kami dalam hal ini,"
Kata pembesar itu.
"Kalau -Ji wi pergi ke Ceng-touw, tolonglah selidik kebenaran berita yang kami dengar tentang sebuah perkumpulan agama baru yang kabarnya makin besar pengaruh dan kekuasaannya sehingga tidak saja perkumpulan itu menundukkan perkumpulan lain dan menguasai dunia kang-ouw, bahkan mereka mulai menanamkan pengaruh mereka kepada para pejabat setempat. Gerakan mereka di luar bukan urusanku, melainkan tugas para petugas keamanan untuk mengawasi mereka. Akan tetapi kalau mereka sudah menanamkan kuku mereka mencengkeram para pejabat, ini berbahaya sekali, dapat menyeret para pejabat ke dalam kesesatan dan harus dicegah."
"Liu Tai-jin, perkumpulan agama apakah itu?"
Tanya Giok Cu, jantungnya berdebar karena ia sudah dapat menduga.
Perkumpulan agama apalagi kalau bukan Thian-te-kauw yang menyembah Thian-te Kwi-ong, perkumpulan yang dipimpin oleh Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu dan Ban-tok Mo-li?
"Perkumpulan Thian-te-pang yang berdasarkan agama baru Thian-te-kauw dan berpusat di Ceng-touw."
Mendengar ini, Han Beng memandang tajam, akan tetapi dia pun diam saja, dan dia hanya menyerahkan kepada Giok Cu untuk membicarakan urusan itu.
Dia tahu bahwa perkumpulan itu dipimpin oleh Ban-tok Mo-li guru pertama gadis itu, seperti yang pernah diceritakan Giok Cu kepadanya.
"Jangan khawatir, Tai-jin. Kami berdua akan menyelidiki dan kelak akan memberi laporan kepada Tai-jin."
Kata Giok Cu dengan sikap sungguh-sungguh. Wajah pembesar itu makin berseri.
"Ah, terima kasih, Lihiap. Legalah hatiku mendengar kesanggupan Ji-wi. Akan tetapi, harap Ji-wi berhati-hati, karena menurut keterangan yang kuperoleh, perkumpulan itu dipimpin oleh orang-orang yang amat lihai. Akan tetapi, rakyat menganggap perkumpulan itu sebagai perkumpulan agama yang baik, mereka mempunyai sebuah kuil pula, dari banyak orang datang bersembahyang Dilihat dari luar, mereka itu seperti orang-orang beribadat dan hidup saleh akan tetapi di balik semua itu, mereka merupakan gerombolan orang sesat yang amat berbahaya. Kalau sampai mereka dapat mencengkeram dan mempengaruhi, para pejabat, maka mereka merupakan bahaya besar karena dapat menghasut agar para pejabat itu memberontak terhadap pemerintah."
Han Beng dan Giok Cu mengangguk-angguk.
Mereka berjanji akan berhati-hati dan kelak akan memberi laporan.
Kemudian, setelah menerima jamuan makan dari pembesar yang bijaksana itu, Han Beng dan Giok Cu melanjutkan perjalanan menuju Ceng-touw.
Di tengah perjalanan, mereka membicarakan apa yang mereka dengar dari Liu Tai-jin tadi.
"Tak salah lagi, yang dimaksudkan Liu Taijin tentulah perkumpulan penyembah Thian-te Kwi-ong yang dipimpin oleh iblis busuk Lui Seng Cu dan dibantu oleh Ban-tok Mo-li,"
Kata Giok Cu yang sejak meninggalkan guru pertama itu tidak pernah lagi menyebut su-bo (ibu guru) kepada Ban-tok Mo-li yang memang tidak dianggapnya sebagai guru lagi.
Mana ada Guru hendak mencelakai bahkan hendak membunuh muridnya?
Kalau dulu tidak ada Hek Bin Hwesio, tentu ia telah tewas di tangan Ban-Tok Mo-li dan Lui Seng Cu.
"Akan tetapi, maksud kita berkunjung kepadanya hanya untuk bertanya tentang kematian orang tuamu, Giok Cu. Kita tidak perlu mencampuri urusan perkumpulan mereka, hanya menyelidiki saja bagaimana sesungguhnya pengaruh mereka terhadap para pejabat untuk kelak kita laporkan kepada Liu Taijin,"
Kata Han Beng. KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 24
"Hemmm. engkau tidak tahu mereka itu orang-orang macam apa, Han Beng! Mereka itu jahat sekali. Untuk keperluan agama mereka yang sesat, mereka itu tidak segan-segan untuk membunuhi muda-mudi, dan melakukan segala macam bentuk percabulan. Mengerikan sekali! Dan mungkin saja kini tokoh-tokoh sesat sudah mulai membantu mereka, maka kita harus berhati-hati. kalau perlu, bukan saja aku akan menyelidiki tentang kematian orang tuaku, akan tetapi juga aku siap untuk menghancurkan dan membasmi mereka!"
Baca Juga: Dewi Ular 5
Baca Juga: Pedang Naga Kemala 11