Ceritasilat Novel Online

Petualang Asmara 15

Eps 15 Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Petualang Asmara - Kho Ping Hoo.

"Mungkin, akan tetapi sekarang aku melihatnya sebagai mayat dua orang yang tidak mungkin kubiarkan tersia-sia dan membusuk begitu saja tanpa dikubur, Nona."

Giok Keng diam saja, lalu duduk di atas batu dan menonton pemuda itu bekerja dengan susah payah karena paha kirinya terluka.

Tentu saja dia mengerti akan kebenaran pendapat pemuda itu.

Tidak percuma dia menjadi puteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang terkenal berwatak budiman.

Akan tetapi dia mewarisi watak keras dari ibunya dan kini kebaikan Kong Tek itu dianggapnya sebagai suatu aksi untuk menarik perhatiannya!

Maka dia diam saja tidak membantu.

Betapapun juga, melihat pemuda itu bekerja dengan amat susah payah, dan satu kali pun tidak pernah menengok atau melirik ke arahnya, Giok Keng merasa tidak enak hatinya.

Benarkah pendapatnya bahwa pemuda itu bersikap baik hanya untuk menarik perhatiannya?

Bagaimana kalau tidak?

Pemuda itu tidak pernah melirik ke arahnya, tidak seperti orang yang sedang berlagak minta dipuji.

Akhirnya Giok Keng merasa betapa tidak enaknya duduk diam seperti itu menonton orang yang susah payah bekerja.

Bagaimanapun juga, pemuda itu tadi telah susah payah membelanya, bahkan telah menderita luka yang amat berbahaya.

Dan dia teringat pula betapa wanita yang tewas itu pun telah membantunya, karena biarpun mata sebelah Ouwyang Bouw sudah terluka, agaknya tidaklah akan mudah merobohkan manusia iblis itu.

Tanpa berkata-kata lagi Giok Keng turun dari batu yang didudukinya, lalu menghampiri Kong Tek dan membantunya menggali tanah.

Pemuda itu pun tidak berkata apa-apa dan keduanya bekerja keras sampai akhirnya tergali sebuah lubang yang cukup lebar dan dalam.

"Biarlah aku yang mengubur mereka, Nona,"

Kata Kong Tek.

Sambil terpincang-pincang dia menyeret dua mayat itu ke dalam lubang, kemudian menguruknya dengan tanah kembali.

Setelah selesai, keduanya menyeka peluh dengan saputangan, dan Giok Keng berkata.

"Hari sudah hampir senja, kita lanjutkan perjalanan."

Kong Tek mengangguk, akan tetapi ketika mereka berdua baru saja melangkah beberapa tindak, Kong Tek terguling dan tanpa mengeluh dia roboh pingsan!

Ketika dia siuman kembali karena mukanya dibasahi air oleh Giok Keng, Kong Tek membuka matanya dan melihat betapa gadis itu sedang memeriksa luka di pahanya dengan merobek sedikit celananya di bagian yang terluka, di atas lutut kiri.

Luka itu merah dan agak kebiruan, membengkak besar.

"Ahhh, engkau terluka oleh jarum beracun yang amat berbahaya, Lie-toako. Aku pun pernah terluka oleh jarum-jarum yang dilepas oleh Ouwyang Bouw dan kalau tidak ada pertolongan Kun Liong, aku tentu sudah mati. Engkau terluka dan masih mengerahkan tenaga untuk menyerangnya, kemudian malah menggali tanah, lukamu menjadi makin hebat dan racun itu tentu menjalar makin luas."

Kong Tek menarik napas panjang.

"Nona, aku hanya membikin repot saja kepadamu. Aku terluka dan tidak mampu jalan, maka silakan Nona melanjutkan perjalanan. Kalau umurku masih panjang, kelak aku menyusul ke Cin-ling-pai."

Giok Keng bangkit berdiri.

Orang ini benar-benar angkuh bukan main!

Semenjak terluka, mengeluh sedikit pun tidak, minta tolong satu kali pun tidak.

Apakah semua ini termasuk aksinya agar dikagumi?

Apakah menyuruh dia pergi sendiri meninggalkan dia yang terluka parah itu termasuk lagaknya agar dianggap sebagai seorang gagah sejati?

Dia akan mencobanya!

"Begitulah kehendakmu, Toako?

Aku harus melanjutkan sendiri perjalananku dan meninggalkan engkau di sini?"

Kong Tek mengangguk.

"Lukaku parah, aku akan mengusahakan sendiri pengobatannya."

"Kalau tidak berhasil?"

Kong Tek tersenyum.

"Paling hebat mati!"

"Dan kau tidak ingin aku membantumu?"

"Apakah yang dapat kau lakukan, Nona? Engkau hanya akan ikut repot dan sengsara, dan...dan andaikata aku tidak tertolong lagi dan mati, aku tidak ingin engkau berada di sini."

"Eh! Mengapa?"

Kong Tek tak dapat menjawab, ketika didesak dia menjawab.

"Tidak apa-apa."

"Hemm, kalau begitu baiklah. Selamat tinggal, Lie-toako."

"Selamat jalan, harap Nona hati-hati di dalam perjalanan."

Giok Keng berjalan pergi dengan cepat, beberapa kali dia menengok akan tetapi dia melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak memandang kepadanya, melainkan memeriksa luka di pahanya dengan kaku dan canggung.

Setelah melalui sebuah tikungan, Giok Keng menyelinap di antara pohon-pohon dan kembali ke tempat itu, mengintai dari balik pohon.

Penasaran juga hatinya ketika mendapat kenyataan babwa pemuda itu sama sekali tidak pernah menengok ke arah dia pergi.

Satu kalipun tidak pernah!

Benar-benar tidak peduli sama sekali!

Jangankan tergila-gila kepadanya pemuda ini melirik pun tidak pernah!

Apakah daya tariknya terhadap pria sudah pudar?

Ataukah pemuda ini yang berhati sekeras baja dan dingin seperti es membeku?

Hemm, ingin kulihat kalau dia berhutang budi dan nyawa kepadaku!

Giok Keng kembali ke tempat itu membawa daun lebar dibentuk corong berisi air bersih.

"Mari kurawat lukamu itu"

Kong Tek mengangkat mukanya.

"Ahh... kau belum pergi, Nona?"

Giok Keng tidak mau menjawab melainkan duduk bersimpuh dekat pemuda itu, merobek kain celana di luka itu lebih lebar, kemudian menggunakan kain bersih untuk (Lanjut ke

Jilid 47) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 47 mencuci darah menghitam dari atas luka itu.

Setelah tercuci, tampaklah jarum merah itu terbenam di dalam daging, jauh di bawah kulit.

Giok Keng melihat tarikan pada dagu pemuda itu.

"Sakitkah?"

"Tidak berapa, Nona,"

Jawab Kong Tek dan diam-diam Giok Keng merasa kagum juga.

Pemuda ini memang luar biasa, kuat menderita bukan main dan sedikit pun tidak memiliki sifat cengeng.

"Aku pernah menderita luka karena jarum ini. Racunnya hebat, dapat mematikan. Ketika aku diobati oleh Kun Liong, jarum-jarum di tubuhku dikeluarkan dulu, kemudian semua darah yang berada di sekitar luka harus dikeluarkan. Kalau tidak, amat berbahaya karena begitu racun jarum ini naik sampai ke jantung, tidak dapat disembuhkan lagi."

"Memang pantas kalau orang macam Ouwyang Bouw menggunakan jarum beracun sekeji itu!"

Hanya ini saja komentar Kong Tek.

"Aku harus mengeluarkan jarum itu. Ketika Kun Liong... eh, suhengku itu mengeluarkan jarum dari lukaku, dia mempergunakan sin-kang yang amat kuat, menyedot jarum-jarum itu sampai keluar dengan kekuatan sin-kang dari telapak tangannya saja. Akan tetapi aku tidak mungkin dapat melakukan itu. Aku akan menggunakan ujung pedang untuk merobek sedikit daging di luka itu, mengeluarkan jarumnya. Akan tetapi tentu amat nyeri..."

"Nyeri dapat kupertahankan, akan tetapi apakah kau tidak merasa ngeri, Nona? Biarlah aku yang membedahnya sendiri."

"Pertahankanlah!"

Giok Keng mencabut pedangnya, mencuci ujung pedang itu, kemudian dia merobek kulit di luka itu, terus ke dalam daging.

Dia melihat Kong Tek hanya menggerakkan sedikit pelupuk matanya ketika ujung pedang itu mencokel keluar jarum merah dan darah kehitaman keluar dari luka yang agak lebar itu.

"Darah itu harus dikeluarkan semua sampai keluar darah merah, Toako. Caranya harus disedot..."

Giok Keng maklum bahwa kalau hal itu tidak segera dilakukan, nyawa pemuda ini takkan tertolong lagi.

Biarpun luka itu hanya disebabkan sebatang jarum, namun racun itu sudah menjalar sejengkal lebih di seputar luka!

Pemuda ini sudah berkali-kali membelanya dengan taruhan nyawa, bahkan luka ini pun hasil membela dirinya, maka dia sendiri akan tersiksa batinnya untuk selamanya kalau sampai dia membiarkan pemuda ini mati, padahal dia dapat menolongnya.

Dengan mengeraskan hatinya dia berkata.

"Aku akan menyedotnya bersih seperti yang ditakukan Yap-suheng kepadaku kemarin dulu."

"Jangan, Nona...!"

Kong Tek sudah memegang pundak Giok Keng dan menahan gadis itu yang sudah hendak menunduk untuk menyedot luka dengan mulutnya!

"Jangan!

Lebih baik aku mati saja daripada membiarkan engkau melakukan hal itu!

Harap jangan merendahkan diri seperti itu.

Aku dapat menyedotnya sendiri.

Lihat!"

Biarpun dengan susah payah mengangkat-angkat kakinya yang terluka dan menundukkan kepalanya sampai dalam sekali, ternyata mulut Kong Tek dapat juga mencapai luka di atas lutut itu dan dia menyedot, meludahkan darah hitam, menyedot lagi sampai tubuhnya menggigil dan mukanya pucat, napasnya agak terengah.

Giok Keng memandang dan membantu, mengurut jalan darah di paha agar darahnya terkumpul di luka.

Setelah melihat pemuda itu meludahkan darah merah, dia berseru girang.

"Cukup, Toako! Kau tertolong sudah!"

Kong Tek kehabisan tenaga lalu menjatuhkan dirinya terlentang, rebah di atas tanah.

"Berkat pertolonganmu, Nona,"

Katanya terengah.

Giok Keng tidak menjawab, mengambil obat luka yang selalu ada padanya, mengobati luka itu dengan saputangannya yang bersih.

Dan dua jam kemudian, biarpun agak terpincang-pincang, Kong Tek sudah dapat melanjutkan perjalanan di sampingnya.

Diam-diam hati gadis ini makin kagum.

Memang kuat sekali pemuda ini.

Kuat tubuhnya, kuat daya tahannya, dan kuat pula hatinya.

Akan tetapi hal terakhir ini makin membuat dia penasaran karena biarpun dia sudah memperlihatkan sikap menolong, bahkan hendak menyedot luka, pemuda itu tetap saja biasa, sama sekali tidak memperlihatkan sikap manis atau bermuka-muka, seolah-olah pemuda itu bukan melakukan perjalanan di samping seorang dara yang cantik jelita, yang telah banyak membuat laki-laki bertekuk lutut dan tergila-gila melainkan agaknya seperti melakukan perjalanan bersama seorang teman biasa saja yang tidak ada keistimewaannya apapun juga!

Hatinya kagum bercampur mendongkol karena baru satu kali ini dia merasa tidak dipedulikan oleh seorang pria!

"Lama Jubah Merah di Tibet?

Jahanam benar berani menantangku!"

Pendekar Cia Keng Hong mengepal tinjunya ketika dia mendengar penuturan isterinya yang berwajah pucat tentang diculiknya puteranya oleh dua orang pendeta Lama yang bernama Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama, tokoh-tokoh Perkumpulan Agama Lama Jubah Merah di Tibet.

Wajah pendekar ini sebentar merah sebentar pucat dan kemarahan memenuhi dadanya.

"Aku akan segera mengejar ke sana!"

"Tenanglah dulu, urusan ini harus kita pertimbangkan baik-baik, selain mereka itu lihai sekali, jelas bahwa mereka itu tidak menghendaki permusuhan dengan kita, juga mereka tidak mengganggu Houw-ji. Hal ini aku percaya benar. Yang mereka kehendaki adalah Kun Liong, entah ada urusan apa mereka dengan Kun Liong. Kalau kita langsung menyerbu ke sana, bukankah hal itu malah membahayakan keselamatan Houw-ji? Ketika aku melawan mereka dan melihat Bun Houw berada dalam kekuasaan mereka, aku tidak berdaya dan terpaksa menyerah. Kalau kita tiba di sana dan melihat mereka mengancam anak kita, apa yang dapat kita lakukan? Sebaiknya kalau kita mencari Kun Liong dan menanyakan urusan apa yang terjadi antara dia dan mereka. Mungkin dia seoranglah yang akan dapat menolong anak kita dan suka bersama kita ke Tibet."

Dengan panjang lebar Biauw Eng lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi sepekan yang lalu kepada suaminya yang baru saja tiba ini, didengarkan oleh Keng Hong dengan muka keruh dan seringkali menggeleng kepala dan mengepal tinju.

Setelah cerita isterinya tentang diculiknya Bun Houw itu berakhir, dia menepuk meja di depannya.

"Semua gara-gara Giok Keng! Kalau tidak ada urusan dia, tentu aku sudah pulang dan dapat mencegah terjadinya penculikan ini."

"Giok Keng? Bagaimana dengan anakku itu?"

Biauw Eng bertanya dan wajah ibu ini makin pucat.

Batinnya berkali-kali mengalami pukulan, pertama mengingat akan puterinya yang diusir oleh suaminya itu, ke dua ditambah dengan peristiwa diculiknya Bun Houw.

"Hehhhh..."

Keng Hong menghela napas.

"Masih untung akhirnya. Untung bahwa di saat terakhir, anakmu itu masih tertolong dan dia tidak jadi menikah dengan bangsat Liong Bu Kong itu!"

"Apa? Giok Keng... menikah?"

"Hampir saja!"

Keng Hong kini mendapat giliran menceritakan semua yang terjadi atas puteri mereka itu.

Berkali-kali Biauw Eng mengeluarkan seruan tertahan karena merasa ngeri mendengar akan bahaya yang mengancam puterinya itu.

Kemudian dia menarik napas lega, hatinya lega dan bersyukur, terutama sekali karena suaminya telah "berbaik kembali"

Dengan puteri mereka.

"Sekarang, di mana dia?"

"Dia mengejar-ngejar Liong Bu Kong."

"Aihh, berbahaya kalau begitu."

"Tidak, Kun Liong sudah menyusulnya."

"Aahhh, kalau begitu, tak lama lagi tentu dia pulang. Mudah-mudahan bersama Kun Liong agar dapat kita ajak ke Tibet bersama. Memang sebaiknya kalau puteri kita itu berjodoh dengan Kun Liong..."

Kembali Keng Hong menghela napas.

"Sebaiknya kita tidak mencampuri urusan jodoh anak kita. Biarlah dia yang memilih sendiri, karena kalau kita mencampurinya, tidak urung kita hanya akan kecewa. Agaknya Kun Liong dan Giok Keng tidak saling mencinta, dan di dalam peristiwa di Pek-lian-kauw itu, aku malah menghadapi pinangan orang lain."

"Siapa?"

"Dari Hong Khi Hoatsu yang menolong aku dan Giok Keng untuk muridnya yang bernama Lie Kong Tek, seorang pemuda yang hampir kubunuh."

Dia lalu menceritakan betapa Lie Kong Tek membela Giok Keng. Biauw Eng menggeleng-geleng kepalanya.

"Memang sukar mengurus soal cinta-mencinta orang-orang muda. Padahal, di dalam cinta-mencinta antara pemuda-pemudi itu terdapat banyak sekali persoalan rumit dan banyak bahaya mengancam, terutama di pibak wanita. Wanita yang masih gadis remaja, masih hijau, mudah terkena bujuk rayu mulut pria, dan cintanya hanya berdasarkan ketampanan wajah dan kebaikan sikap belaka, padahal sangat boleh jadi bahwa semua itu palsu. Dahulu sudah kunasihati Keng-ji agar berhati-hati. Kuberi tahu bahwa seorang calon suami yang baik adalah seorang laki-laki yang dapat menjaga kehormatan sang kekasih, yang memperlakukan kekasihnya itu dengan penuh pengharapan dan penghormatan sebagai seorang calon suami yang ingin melihat calon isterinya itu dalam keadaan murni. Kalau ada seorang laki-laki yang membujuk pacarnya untuk melakukan perjinahan, maka jelas bahwa cintanya itu hanya cinta birahi belaka, dan dia tidak menghargai calon isterinya, tidak menghormatinya, tega menyeret calon isteri dan calon ibu anak-anaknya ke dalam lumpur perjinahan yang akibatnya selalu ditanggung oleh si wanita sebagai aib! Namun...betapa banyak gadis yang membutakan mata akan hal ini, setelah terlanjur dan terlambat, baru menyesal, penyesalan yang tidak ada gunanya sama sekali!"

Melihat isterinya bicara secara bersemangat itu, Keng Hong lalu merangkulnya dan mengajaknya masuk ke dalam.

Dia tahu betapa menderita batin isterinya memikirkan kedua orang anak mereka.

"Memang kita harus tenang, Isteriku. Urusan Giok Keng sudah bebas dari bahaya, hanya tinggal Bun Houw. Kita harus mencari jalan yang sebaiknya untuk menolong anak kita itu."

Pada saat itu, Kwee Kin Ta datang menghadap Suhu (Guru) dan Subonya (Ibu Gurunya), melaporkan bahwa ada utusan dari kota raja ingin bertemu dengan suhunya.

"Dari kota raja?"

Keng Hong berseru dengan kaget.

"Mereka dipimpin oleh Tio-ciangkun."

"Aih, tentu dari The-taiciangkun (Panglima Besar The)!"

Keng Hong dan isterinya bergegas keluar dan cepat mereka menyambut dengan hormat dan gembira ketika melihat bahwa yang datang adalah Tio Hok Gwan, pengawal The Hoo yang telah lama menjadi sahabat mereka, seorang kakek pengantuk tinggi kurus yang terkenal dengan julukan Ban-kin-kwi (Iblis Bertenaga Selaksa Kati), bersama dua orang pengawal lain yang menjadi pembantu-pembantu tetapnya, yaitu Kui Siang Han dan Song Kin.

"Ahh, kiranya Tio-toako yang datang berkunjung! Selamat datang! Selamat datang!"

Tio Hok Gwan memberi hormat diikuti oleh Keng Hong dan isterinya.

"Mudah-mudahan saja keadaan Taihiap dan Li-hiap selama ini baik-baik saia,"

Katanya.

Suami isteri itu merasa tertusuk batinnya, akan tetapi sambil menekan batin mereka tersenyum dan mempersilakan tiga orang tamunya duduk di ruangan dalam dan para pelayan dan anak murid Cin-ling-pai segera mengeluarkan suguhan minuman sekadarnya.

"Kunjungan kami ini memenuhi perintah The-taijin untuk menyerahkan surat beliau kepada Taihiap. Silakan Taihiap membacanya dan baru kita dapat mengadakan perundingan."

Tio Hok Gwan berkata sambil menyerahkan sesampul surat dengan sikap hormat.

Karena surat itu mewakili Pembesar The Hoo, maka Keng Hong berlutut dan menerimanya dari tangan perwira pengawal itu.

Kemudian dia duduk lagi dan membuka sampul surat dan membaca isi surat yang singkat itu.

"Ke Tibet...?"

Serunya dengan suara terkejut dan juga girang.

Mendengar seruan ini, serentak Biauw Eng merampas surat dari tangan suaminya dan membacanya.

Kiranya di dalam surat itu, Panglima The Hoo minta bantuan Keng Hong agar menemani Tio Hok Gwan yang dikuasai untuk menghubungi pemerintah di Tibet.

"Sungguh kebetulan!"

Biauw Eng juga berseru setelah membaca surat itu.

"Kami berdua pun merencanakan hendak pergi ke sana!"

"Ahhh! Begitukah? Agaknya ada urusan penting sekali maka Ji-wi hendak pergi ke barat."

Tio Hok Gwan berkata dengan heran juga karena keperluan apakah yang memaksa suami isteri itu akan pergi ke tempat asing dan penuh rahasia itu?

Suami isteri itu saling pandang dan keduanya mufakat untuk menceritakan urusan mereka kepada Tio Hok Gwan, dan mereka pun percaya kepada dua orang perwira pengawal yang menjadi pembantu Ban-kin-kwi itu.

"Di antara sahabat baik tidak ada rahasia,"

Kata Keng Hong.

"karena yakin bahwa Sam-wi tidak akan membocorkan urusan kami ini. Sesungguhnya, baru sepekan yang lalu, putera kami Cia Bun Houw yang baru berusia lima tahun telah diculik dan dibawa pergi oleh dua orang Lama Jubah Merah ke Tibet!"

Kini tiga orang pengawal itulah yang terkejut sekali.

"Lama Jubah Merah? Sungguh aneh! Satu di antara tugas kita di Tibet nanti juga berkenaan dengan perkumpulan Agama Lama Jubah Merah itulah!"

Cia Keng Hong dan isterinya menjadi terheran-heran dan ingin sekali mendengar penuturan Tio Hok Gwan.

"Harap Tio-toako cepat menceritakan apa gerangan yang akan menjadi tugas kita di Tibet."

Tio Hok Gwan lalu bercerita.

Kiranya Pemerintah Kerajaan Beng ingin berbaik dengan para negara tetangga yang terdekat, dan satu di antaranya tentu saja adalah Kerajaan Tibet yang sesunguhnya dikuasai oleh para Lama, sedangkan rajanya hanya boneka belaka.

Untuk mempererat hubungan baik, Kaisar mengajukan lamaran kepada seorang puteri Kerajaan Tibet untuk menjadi isteri seorang pangeran putera Kaisar.

Di samping urusan keluarga ini yang akan disampaikan oleh Tio Hok Gwan sambil membawa surat dan hadiah ke Tibet, juga urusan yang lebih penting lagi, yaitu Pemerintah Tibet diam-diam telah minta bantuan Pemerintah Beng, karena mendengar akan gerak-gerik perkumpulan Agama Jubah Merah yang makin kuat dan yang menurut penyelidikan mereka kini mulai mengadakan hubungan dengan perkumpulan Pek-lian-kauw.

Mereka merencanakan persekutuan, untuk merobohkan dan merampas kekuasaan di Tibet yang kalau berhasil kelak akan dipegang oleh para Lama Jubah Merah, dan sebagai imbalannya Tibet akan mengerahkan pasukan membantu Pek-lian-kauw memberontak terhadap Kerajaan Beng.

"Sebetulnya, urusan pemberontakan inilah yang lebih penting,"

Tio Hok Gwan menutup ceritanya.

"Akan tetapi, mengapa mengutus Toako dan dibantu oleh kami berdua? Mengapa The-taijin tidak mengirim pasukan saja yang kuat untuk menundukkan para calon pemberontak itu?"

"Tidak semudah itu, Taihiap. The-taijin ingin menjaga hubungan baik antara rakyat Tibet dengan kita. Rakyat Tibet amat peka terhadap penyerbuan tentara asing dan kalau sampai kita mengirim pasukan ke sana, biarpun pasukan itu akan membantu Pemerintah Tibet yang sah untuk menumpas gerombolan pemberontak, namun dapat menyinggung hati dan kehormatan rakyat di sana. Karena itu, penumpasan para pemberontak Lama Jubah Merah itu diserahkan kepada Pemerintah Tibet sendiri yang cukup kuat. Hanya atas permintaan Kerajaan Tibet, The-taijin mengirim bantuan tenaga yang sekiranya memiliki cukup kelihaian untuk menghadapi para Lama Jubah Merah yang kabarnya banyak yang lihai itu."

"Memang mereka lihai, terutama dua orang yang datang menculik puteraku!"

Kata Biauw Eng.

"Namanya adalah Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama!"

"Hemmm..."

Tio Hok Gwan mengangguk-angguk.

"Kalau tidak salah mereka adalah tokoh-tokoh besar, pembantu-pembantu ketuanya yang namanya Sin Beng Lama. Menurut cerita Ji-wi tadi, mereka menculik putera Ji-wi sebagai sandera untuk ditukar dengan Yap Kun Liong?"

"Benar demikianlah, dan kami pun belum tahu apakah yang terjadi antara mereka dengan Kun Liong. Karena itu, sebaiknya kalau Kun Liong dapat membantu dalam tugas kita ini, selain dia dapat menyelamatkan anak kami juga kepandaian anak itu sudah cukup tinggi untuk memperkuat tenaga kita menghadapi para Lama Jubah Merah."

"Sebaiknya demikian, Taihiap. Akan tetapi di manakah adanya Yap-sicu?"

"Justeru ini yang membingungkan kami karena sampai sekarang dia belum juga muncul. Akan tetapi mudah-mudahan saja tidak lama lagi dia datang ke sini,"

Kata Keng Hong.

"Biarlah kami akan membantu dengan menyebar para penyelidik untuk mencari Yap-sicu, Taihiap."

"Bila kita berangkat ke Tibet?"

"Menurut perintah The-taijin, jika Ji-wi setuju, sebulan lagi Ji-wi diharapkan datang ke kota raja dan kita berangkat bersama."

Setelah mengadakan perundingan semalam suntuk, pada keesokan harinya tiga orang tamu itu meninggalkan Cin-ling-san dan agak legalah hati Cia Keng Hong dan isterinya.

Tentu saja mereka mengharapkan bantuan Kun Liong yang dikehendaki oleh para Lama Jubah Merah untuk menukar putera mereka.

Akan tetapi dengan adanya peristiwa yang kebetulan itu, andaikata tidak dapat mengajak Kun Liong pun, Mereka memperoleh bantuan yang besar, bukan hanya datang dari tiga orang pengawal Panglima The Hoo, melainkan terutama sekali pasukan Pemerintah Tibet yang hendak membasmi Lama Jubah Merah yang hendak memberontak.

Bermacam perasaan mengaduk hati Kun Liong ketika dia berpisah dari Yo Bi Kiok dan adik kandungnya, Yap In Hong.

Tentu saja dia merasa berduka dan kecewa, bahwa adiknya, satu-satunya keluarganya di dunia ini, menolak untuk pergi bersamanya.

Akan tetapi di samping rasa kecewa dan duka ini, terdapat juga rasa lega dan girang karena hatinya boleh merasa tenteram mengingat bahwa adik kandungnya ternyata masih hidup dan aman berada di dalam perlindungan Yo Bi Kiok yang telah menjadi seorang wanita sakti karena mewarisi pusaka yang seharusnya tersimpan di dalam bokor emas.

Dalam perlindungan Bi Kiok, adiknya tentu akan aman sentausa dan bahkan memperoleh pendidikan ilmu yang tinggi.

Juga, andaikata adiknya itu memilih dia dan ikut bersamanya, tentu dia tidak akan dapat leluasa mencari Hong Ing!

Andaikata demikian, agaknya dia pun akan terpaksa menitipkan In Hong kepada orang lain, tentu saja paling tepat menitipkannya ke Cin-ling-san, karena dia tidak mau membawa adik kandungnya yang masih kecil itu ke Tibet dan menempuh perjalanan yang penuh bahaya.

Di sepanjang perjalanan ke barat, yang terbayang di depan matanya hanyalah wajah Hong Ing dan adik kandungnya itu.

Hanya dua orang itulah yang kini menjadi tangkai hidupnya, yang memberi dorongan semangat kepadanya.

"Hong Ing... semoga Tuhan melindungimu..."

Dia menghela napas teringat akan kekasihnya itu dan dia mempercepat langkahnya.

Kini baru terasa olehnya betapa mendalam cinta kasihnya terhadap dara itu.

Kini baru terbayang seluruh pengalamannya di waktu dahulu, ketika dia memandang rendah cinta kasih, ketika dia bersikap sebagai seorang pemuda ugal-ugalan yang mempermainkan cinta kasih wanita terhadap dirinya.

Teringat akan itu semua, dia merasa berduka.

Terutama sekali mengingat akan dua orang wanita, yaitu Hwi Sian dan Bi Kiok.

Mengingat Hwi Sian, terbayang hubungannya dengan gadis itu, perjinahan mereka di dalam kuil tua, dia merasa malu dan menyesal bukan main.

Baru terasa olehnya betapa besar pengorbanan Hwi Sian, betapa dara itu telah menjadi korban cinta yang tidak dibalasnya.

Betapa ganas dan kejinya dia, mau saja menerima tubuh dan kehormatan dara itu tanpa cinta kasih di hatinya!

Betapa rendahnya dia, betapa kotor dan keji!

"Hwi Sian...

kau maafkanlah aku..."

Berkali-kali dia berbisik di dalam hatinya setiap kali dia teringat akan itu semua.

Dan Bi Kiok, gadis yang berwajah dingin itu pun cinta padanya.

Sukar mengukur isi hati Bi Kiok, namun dia merasa bahwa cinta gadis itu tentu mendalam dan berbahaya.

Bahkan Bi Kiok sudah mengeluarkan ancaman akan membunuh setiap orang wanita yang mencintanya, yang dipilihnya!

Timbul kekhawatirannya apakah kelak hidupnya tidak akan selalu menghadapi kesulitan dari gadis bersikap dingin ini.

Kemudian Pek Hong Ing!

Wajahnya berseri-seri dan matanya bersinar-sinar setiap kali dia teringat kepada Hong Ing, akan tetapi segera menyuram kalau dia teringat akan kebodohannya sendiri.

Betapa dia sudah banyak merongrong hati dara yang halus budi itu.

Terbayanglah kembali semua pengalamannya bersama Hong Ing semenjak pertemuannya dengan "nikouw"

Itu sampai perpisahan mereka di pulau kosong.

Betapa sekarang tampak jelas olehnya cinta kasih dara itu terhadap dirinya yang tiada taranya!

Dan dia, si tolol, si canggung dan dungu, selalu menyakiti hati dara itu dengan ketololannya dengan perantaraan kata-katanya, sikapnya!

Bahkan dalam saat terakhir sebelum mereka berpisah, dia sudah menikam ulu hati kekasihnya itu dengan ujung pedang beracun yang amat menyakitkan, yang berupa kata-kata setolol-tololnya!

Ingin dia menampar kepalanya sendiri, kepala yang kini sudah berambut panjang, hitam dan lebat itu, kalau dia teringat akan semua itu.

Bagaimanakah nasib Hong Ing?

Dia tidak dapat mengira-ngira karena dia tidak tahu betul apakah dua orang pendeta Lama itu bermaksud buruk terhadap kekasihnya ataukah tidak.

Betapapun juga, kalau dua orang pendeta itu mempunyai niat buruk, keselamatan kekasihnya terancam bahaya hebat.

Dua orang pendeta Lama itu amat lihai.

Akan tetapi, kalau benar mereka itu adalah para susiok Hong Ing, tentu tidak akan terjadi sesuatu atas diri kekasihnya itu.

Apa pun yang akan terjadi, dia harus menemukan gadis itu dan melihat dengan mata sendiri bahwa Hong Ing berada dalam keadaan selamat.

Hatinya agak lega kalau dia mengingat bahwa besar kemungkinan dua orang pendeta itu tidak ingin mengganggu Hong Ing, karena kalau berniat buruk, mengapa susah payah mengajak dara itu pergi?

Siapa yang akan dapat mencegah mereka kalau mereka itu berniat buruk terhadap Hong Ing, ketika mereka tiba di pulau kosong dahulu itu dan setelah dia sendiri dirobohkan oleh mereka?

Tidak, mereka pasti tidak akan berbuat buruk terhadap Hong Ing.

Kelegaan hatinya ini hanya sebentar saja membuat wajahnya berseri karena kembali dia teringat kepada Hwi Sian!

Dia akan melewati Secuan, apa salahnya kalau dia singgah di tempat tinggal Hwi Sian?

Kabarnya gadis itu bersama dua orang suhengnya tinggal bersama guru mereka, Pendekar Gak Liong yang terkenal sekali di Secuan.

Mengapa tidak?

Kalau belum bertemu dengan Hwi Sian dan melihat keadaan gadis itu baik-baik saja dan mendengar sendiri dari mulut gadis itu bahwa kesalahannya telah diampuni, tentu Hwi Sian akan merupakan pengganggu ketenangan hatinya di masa depan.

Karena kini merasa yakin bahwa Hong Ing pasti tidak akan dicelakakan oleh para pendeta Lama yang lihai itu, Kun Liong mengambil keputusan untuk mencari Hwi Sian di Secuan, karena perjalanannya memang melewati tempat itu jadi bukan berarti pembuangan waktu yang terlalu banyak.

Memang benar seperti dugaannya, tidaklah sukar mencari tempat tinggal Gak Liong di Secuan karena hampir semua orang mengenal, siapakah Gak-taihiap (Pendekar Besar Gak) yang telah banyak berjasa di Secuan, sejak dia membantu paman gurunya, yaitu Panglima The Hoo untuk membasmi para pemberontak dan para penjahat sehingga daerah itu menjadi aman dan penghuninya hidup makmur.

Dia memperoleh keterangan bahwa Gak-taihiap tinggal di tepi sungai yang menjadi anak sungai Yang-ce-kiang di luar kota Mian-ning.

Ternyata tempat itu sunyi sekali dan memang Gak Liong sekarang setelah tua tidak mencampuri lagi urusan dunia ramai sehingga setiap urusan selalu diselesaikan oleh tiga orang muridnya, bahkan jarang sekali pendekar tua ini menemui tamu.

Tempat tinggalnya di tepi sungai itu hanya merupakan sebuah bangunan kayu yang sederhana namun suasananya di situ hening dan menyenangkan.

Setelah memperoleh keterangan jelas, pagi hari itu berangkatlah Kun Liong ke tempat yang ditunjukkan orang dan menjelang tengah hari tibalah dia di tepi sungai dan sudah tampaklah bangunan tempat tinggal Gak Liong itu.

Tempat yang amat sunyi namun menyenangkan karena selalu terdengar bunyi percik air sungai dan kicau burung di pohon-pohon sepanjang sungai.

Berdebar juga hati Kun Liong kalau membayangkan betapa dia akan bertemu dengan Hwi Sian yang tinggal di rumah itu.

Sudahkah gadis itu menikah dengan suhengnya, Tan Swi Bu?

Apakah bersama suheng yang kini menjadi suaminya itu tetap tinggal di situ?

Ataukah sudah pindah?

Dia hanya ingin melihat Hwi Sian sekali lagi, melihat betapa keadannya selamat dan baik-baik saja, dan melihat sinar mata yang telah memaafkannya.

Barulah hatinya akan lega dan dia akan dapat melanjutkan perjalanannya ke Tibet mencari Hong Ing dengan hati tenang.

Akan tetapi sunyi sekali di luar pondok itu.

Kun Liong yang berada di seberang sungai melihat sebuah jembatan kecil yang terbuat daripada bambu di sambung-sambung.

Tidak semua orang akan berani melewati jembatan macam itu, karena sekali terpeleset, akan terjungkal ke dalam sungai yang permukaannya amat dalam, merupakan tebing yang curam dan banyak batu-batu yang runcing tajam mengerikan.

Kun Liong tidak ragu-ragu lagi, segera melintasi jembatan penyeberangan itu dengan langkah ringan tanpa berpegang kepada bambu melintang di atas jembatan itu.

Begitu dia tiba di seberang, di depan rumah yang menghadap ke tebing sungai itu, tiba-tiba muncul sesosok bayangan dari belakang sebatang pohon dan sinar pedang yang menyilaukan menyambar ke arah lehernya!

"Singggg...

ehhhh...!"

Kun Liong cepat mengelak dan meloncat ke belakang, memandang kepada penyerangnya yang memegang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.

Orang itu adalah seorang laki-laki yang usianya sudah mendekati lima puluh tahun, sikapnya gagah, tubuhnya tinggi kurus dan sepasang matanya bersinar tajam.

"Iblis dari Pek-lian-kauw, sudah lama aku menanti kedatanganmu! Suruh Tok-jiauw Lo-mo keluar, tidak usah dengan Suhu, cukup dengan aku..."

"Heiii, bukankah Toako adalah Poa Su It, Twa-suheng dari Hwi Sian?"

Tiba-tiba Kun Liong memotong kata-kata penuh tantangan dari orang itu.

Orang itu memandang terbelalak, akan tetapi karena dia tidak mengenal Kun Liong, dia menjawab dengan kaku.

"Benar! Aku Poa Su It, mewakili Suhu untuk menghadapi manusia-manusia jahat macam..."

"Nanti dulu, Poa-toako! Aku sama sekali bukan iblis Pek-lian-kauw, apalagi teman Tok-jiauw Lo-mo!"

Orang itu menarik kembali pedangnya yang sudah bergerak hendak menusuk Kun Liong, melangkah mundur tiga kali dan memandang penuh perhatian, matanya masih menyorotkan keraguan dan kecurigaan.

Melihat sikap Kun Liong bukan seperti seorang musuh, dia menjadi heran lalu bertanya.

"Siapakah engkau...?"

Kun Liong mengelus rambut di atas telinga kanannya, tersenyum.

"Poa-toako, beberapa tahun yang lalu, kepalaku gundul dan aku pernah bertemu dengan Toa-ko, sutemu Han Swi Bu dan sumoimu Liem Hwi Sian. Aku Yap Kun Liong."

"Aihhh...!"

Poa Su It teringat dan menghela napas panjang sambil menyarungkan pedangnya, lalu menjura.

"Maafkan aku, Yap-enghiong (Orang Gagah she Yap)! "Biarpun baru satu kali bertemu, aku sudah banyak mendengar tentang engkau dari kedua adik seperguruanku."

"Tidak mengapa, Toako. Karena lupa, maka Toako menyangka aku musuh. Akan tetapi, mengapakah di tempat yang damai dan aman ini Toako agaknya menanti datangnya musuh?"

Orang tinggi kurus itu kembali menarik napas panjang.

"Mari kita masuk ke dalam, Yap-enghiong, dan akan kuceritakan apa yang telah terjadi."

Karena memang dia hendak mencari Hwi Sian, Kun Liong mengangguk dan mengikuti twa-suheng (kakak seperguruan pertama) dari Hwi Sian itu memasuki pondok yang kelihatan amat sunyi itu.

Setelah mempersilakan Kun Liong duduk, Poa Su It lalu bercerita.

"Memang tidak keliru dugaanmu tadi, Yap-enghiong. Aku menyangka engkau adalah seorang di antara musuh-musuh yang sudah mengancam akan menyerbu tempat ini. Beberapa hari yang lalu, selagi Suhu bersamadhi seperti biasa, lapat-lapat aku mendengar suara orang yang diteriakkan dari jauh mempergunakan tenaga khi-kang sehingga terdengar jelas dari tempat ini. Suara itu mengaku suara Tok-jiauw Lo-mo yang mengancam Suhu, akan datang membunuh Suhu dalam beberapa hari ini. Nah, ketika engkau muncul, tentu saja aku mengira bahwa engkau adalah musuh itu."

"Dan bagaimana keputusan Gak-locianpwe tentang ancaman itu?"

Poa Su It menghela napas panjang.

"Suhu tenang-tenang saja bahkan menjawab dengan sabar, mempersilakan musuh itu datang. Suhu hanya berpesan kepadaku agar aku menjaga datangnya musuh dan melaporkan kepada Suhu kalau musuh itu datang. Tentu saja aku tidak bisa bersabar seperti Suhu menghadapi musuh yang mengancam nyawa Suhu."

"Hemmm, Tok-jiauw Lo-mo memang bukan orang baik-baik,"

Kata Kun Liong.

"Yap-enghiong pernah bertemu dengan dia?"

Kun Liong mengangguk dan berkata lagi.

"Kalau dia datang bersama kawan-kawannya, tentu berniat buruk sekali. Oleh karena itu, setelah mendengar ini, aku akan membantumu, Poa-toako. Aku akan ikut menanti mereka dan membantumu menghadapi mereka."

Wajah Poa Su It yang tadinya muram itu kini berseri dan dia memegang lengan Kun Liong.

"Aku memang amat mengharapkan bantuanmu! Yap-enghiong! Terima kasih!"

Kun Liong menoleh ke kanan kiri karena merasa heran mengapa pondok itu demikian sunyi, dan mengapa pula Tan Swi Bu, terutama Liem Hwi Sian, tidak muncul.

"Kenapa Toako berjaga seorang diri? Di manakah Sute dan Sumoimu?"

"Suami istri itu pergi ke barat mewakili Suhu yang sekarang sudah tidak suka lagi mencampuri urusan dunia. Dahulu Suhu terkenal sekali di Secuan ketika Suhu masih membantu Susiok-kong (Paman Kakek Guru) Panglima The Hoo membasmi para pemberontak dan penjahat di daerah Secuan ini. Akan tetapi sekarang Suhu sudah mengundurkan diri, maka ketika datang perintah dari Susiok-kong yang minta bantuannya menyelidiki ke barat, Suhu mewakilkan tugas itu kepada Sute dan Sumoi"

Lega rasa hati Kun Liong.

Inilah yang ingin didengarnya, jadi ternyata Hwi Sian telah menikah dengan ji-suhengnya (kakak seperguruan ke dua), Tan Swi Bu seperti yang dia dengar dari Hwi Sian dahulu.

Bagus, kalau demikian keadaan Hwi Sian baik-baik saja dan dia yakin bahwa gadis yang pernah menyerahkan tubuhnya kepadanya itu tentu telah memaafkannya.

Sayangnya dia tidak dapat bertemu sendiri dan melihat sinar pengampunan itu dari mata gadis itu sendiri.

"Kalau boleh aku bertanya, tugas penyelidikan apakah itu, Toako?"

"Menyelidiki ke Tibet."

Jawaban ini mengejutkan hati Kun Liong karena dia sendiri pun akan ke Tibet.

"Ada terjadi apakah di Tibet?"

"Panglima The menugaskan Suhu untuk menyelidiki perkumpulan Agama Lama Jubah Merah yang kabarnya mengadakan persekutuan dengan Pek-lian-kauw dan kedua perkumpulan ini merencanakan pemberontakan kepada Kerajaan Tibet dan juga Kerajaan Beng."

Kun Liong mengangguk-angguk dan berpikir keras.

Mengapa ada hal begini kebetulan?

Kalau terjadi huru-hara di Tibet, dia makin mengkhawatirkan keselamatan Hong Ing.

Apakah sangkut-pautnya penculikan atas diri Hong Ing dengan pemberontakan ini?

"Memang Tok-jiauw Lo-mo seorang tokoh sesat yang berbahaya.

Aku ingin sekali dapat berhadapan dengan dia, karena dahulu pernah aku ditangkap oleh kakek itu bersama teman-temannya."

Poa Su It menghela napas.

"Itulah yang menggelisahkan hatiku, Yap-enghiong. Suhu berpesan bahwa kalau Tok-jiauw Lo-mo datang, beliau sendiri yang hendak menghadapinya karena di antara mereka terdapat urusan pribadi, demikian kata Suhu."

"Urusan pribadi?"

"Ya, dan aku sendiri tidak tahu urusan apakah itu. Kata Suhu, aku hanya boleh menghadapi kaki tangan kakek itu kalau memang ada, sedangkan kakek itu sendiri akan dihadapi Suhu, padahal Suhu sudah tua dan kesehatannya kurang baik, aku khawatir sekali."

"Hemm, seorang gagah perkasa seperti suhumu itu, tidak perlu dikhawatirkan karena apa pun yang dilakukannya, tentulah berdasarkan kegagahan dan beralasan. Dan agaknya kakek iblis itu tidak akan datang sendiri. Orang seperti dia itu, apalagi menghadapi lawan berat seperti suhumu, tentu tidak akan datang sendiri dan hendak mengandalkan jumlah banyak untuk memperoleh kemenangan. Maka kalau dia datang dengan banyak teman, berarti engkau sendiri sudah sibuk menghadapi kaki tangannya, Toako."

"Benar, dan sungguh untung bagiku engkau datang berkunjung, Yap-enghiong, karena dengan adanya bantuanmu di sini, hatiku menjadi lebih lega dan tenteram."

Mereka bercakap-cakap sambil berjaga-jaga dan makin larut hari, makin besar rasa kagum dan suka di hati Kun Liong terhadap murid tertua dari pendekar Secuan itu.

Selain luas pengalamannya, juga laki-laki yang tidak pernah menikah selamanya ini memiliki dasar watak pendekar tulen.

Karena itu, Kun Liong juga menjadi terbuka sikapnya, dan dia dengan terus terang menceritakan niat perjalanannya, yaitu menuju ke Tibet karena kekasihnya diculik oleh tiga orang Lama Jubah Merah.

Mendengar ini, Poa Su It terkejut sekali.

"Kalau tidak salah dugaanku, tiga orang Lama Jubah Merah yang kauceritakan itu adalah pucuk pimpinan dari perkumpulan Agama Lama Jubah Merah itu! Sungguh berbahaya sekali! Aku mendengar bahwa ilmu kepandaian mereka bertiga itu seperti iblis, amat sakti. Karena itu, Suhu juga memberi peringatan kepada Sute dan Sumoi yang menyelidik ke sana agar berhati-hati dan menghindarkan bentrokan, menyamar sebagai penduduk biasa, yang hendak bersembahyang dan minta berkah."

Hari berganti malam dan yang mereka tunggu-tunggu pun datanglah!

Mula-mula terdengar teriakan dari jauh sekali, teriakan yang dibawa angin dan yang datang karena pengerahan khi-kang yang cukup kuat.

"Tua bangka she Gak! Aku datang memenuhi janji!"

Mendengar suara ini, Poa Su It dan Kun Liong meloncat bangun dan cepat lari keluar pondok, menanti dengan hati tegang di depan pondok.

Sejak tadi Poa Su It memang sudah siap dan menggantung lampu-1ampu sehingga di depan pondok pun cukup terang.

Sebatang pedang tergantung di pinggang murid tertua dari Gak Liong ini.

Bagaikan segerombolan setan, muncullah bayangan-bayangan dari dalam gelap, makin dekat makin teranglah bayangan itu, tersorot sinar lampu yang bergantungan di depan pondok.

Di depan sendiri tampak Tok-jiauw Lo-mo yang sudah dikenal oleh Kun Liong.

Biarpun kakek ini sudah lebih tua, namun tidak berbeda dengan dahulu.

Tinggi kurus, kepala botak dan bentuknya seperti kura-kura, membawa sebatang tongkat pendek yang ujungnya berbentuk cakar setan, punggungnya agak melengkung dan matanya dari muka yang menunduk karena bongkoknya itu selalu melirik dari bawah, amat tajam.

Mata itu memandang bergantian kepada Poa Su It dan Kun Liong, tidak pedulian, dan melirik ke kanan kiri mencari-cari.

Memang sukarlah mengenal kembali Kun Liong yang dulu gundul kelimis itu dan yang sekarang memiliki rambut yang aneh, pendek tidak panjang pun belum.

Terkejut dan ngeri juga hati Poa Su It melihat kakek ini, akan tetapi sama sekali hati pendekar ini tidak merasa takut.

Dia memandang lagi dengan penuh perhatian kepada orang-orang lain yang ikut datang bersama kakek itu.

Ada sepuluh orang banyaknya dan melihat pakaian mereka seperti pendeta berwama kuning dengan lukisan teratai putih di bagian dada, Poa Su It tidak merasa heran dan mengertilah dia bahwa mereka adalah orang-orang Pek-lian-kauw.

Pendekar yang sudah banyak pengalaman ini lalu menarik kesimpulan bahwa kedatangan Tok-jiauw Lo-mo (Iblis Tua Cakar Beracun) ini bukanlah semata-mata karena dia adalah musuh gurunya, melainkan tentu ada hubungannya dengan persekutuan Pek-lian-kauw dengan Lama Jubah Merah, dan ada hubungannya pula dengan perintah susiok-kongnya, Panglima The Hoo.

Tentu Pek-lian-kauw dan kakek ini maklum bahwa gurunya adalah murid keponakan The Hoo dan seorang pembantu yang aktip dari panglima itu.

Agaknya gurunya yang tinggal di Secuan akan merupakan penghalang bagi kelancaran persekutuan antara Pek-lian-kauw dan Lama Jubah Merah, maka mereka memusuhi gurunya.

Dugaan Poa Su It ini memang tepat.

Antara Tok-jiauw Lo-mo dan Gak Liong memang terdapat permusuhan pribadi yang dimulai di waktu mereka, masih muda dahulu.

Tok-jiauw Lo-mo di waktu mudanya adalah penculik gadis-gadis muda yang kemudian dijualnya di sarang-sarang pelacuran di kota-kota besar.

Pada suatu hari, ketika dia menculik seorang gadis, muncullah pendekar Gak Liong yang menghajarnya sampai setengah mati.

Gadis itu kemudian menjadi isteri Gak Liong, akan tetapi beberapa bulan kemudian, selagi Gak Liong tidak berada di rumah, Tok-jiauw Lo-mo datang dan membunuh wanita itu!

Gak Liong menjadi marah dan sakit hati, mencarinya dan kembali menghajar Tok-jiauw Lo-mo sampai menjadi cacad, kepalanya botak tak berambut, punggungnya membungkuk, akan tetapi dia berhasil melarikan diri.

Demikianlah, antara kedua orang ini timbul permusuhan dan entah sudah berapa belas kali mereka bentrok dan bertanding, akan tetapi selalu pihak Tok-jiauw Lo-mo yang kalah dan selalu dapat melarikan diri.

Tok-jiauw Lo-mo terus menggembleng dirinya dan demikian pula Gak Liong.

Setelah menjadi murid keponakan The Hoo, Gak Liong menghentikan permusuhan itu dan mengundurkan diri, akan tetapi tentu saja selalu siap menghadapi kalau Tok-jiauw Lo-mo mencarinya.

Ketika Pek-lian-kauw mengadakan hubungan dengan Lama Jubah Merah, Tok-jiauw Lo-mo telah menggabungkan diri dengan Pek-lian-kauw.

Maka, mendengar bahwa demi kelancaran persekutuan dengan Lama Jubah Merah pendekar Secuan harus dienyahkan dulu, apalagi mengingat bahwa pendekar itu adalah pembantu The Hoo, serta merta Tok-jiauw Lo-mo mengajukan dirinya sebagai petugas yang akan membasmi pendekar Secuan.

Tentu saja sekali ini dia tidak mau gagal dan minta dibantu oleh sepuluh orang tokoh Pek-lian-kauw yang cukup tinggi kepandaiannya.

"Manusia she Gak, kenapa kau sembunyi saja? Keluarlah menerima kematian!"

Tok-jiauw Lo-mo berseru dengan lagak sombong.

Sekali ini dia yakin akan dapat mengenyahkan musuh besar itu karena dia dibantu oleh sepuluh orang Pek-lian-kauw yang tangguh.

Poa Su It hendak melangkah maju, akan tetapi dia didahului oleh Kun Liong yang sudah meloncat ke depan kakek itu sambil berkata.

"Tok-jiauw Lo-mo, sejak dahulu kau selalu membikin kacau dan melakukan kejahatan saja!"

Melihat seorang pemuda remaja bersikap kurang ajar dan berani menegurnya, kakek itu menjadi marah sekali.

"Kau mampuslah!"

Tongkatnya menyambar dan cakar setan yang mengandung racun amat berbahaya itu menyambar ke arah muka Kun Liong.

Memang kakek itu tidak main-main dan bukan hanya menggertak sambal belaka.

Sikap dan teguran Kun Liong itu baginya sudah menjadi alasan cukup untuk membunuh pemuda ini!

"Plak!

Plak!"

"Uughhhh...!"

Tubuh kakek itu terhuyung ke belakang dan dengan mata terbelalak dia memandang pemuda yang berdiri dengan tersenyum itu.

Hampir dia tak dapat mempercayai kalau tidak mengalaminya sendiri.

Pemuda yang masih remaja itu bukan saja berani menangkis tongkatnya yang ampuh itu, bahkan menangkis dua kali dan membuat dia terhuyung-huyung karena tongkatnya itu membalik bertemu dengan tenaga yang amat dahsyat!

"Kau...

kau siapakah?"

Bentaknya, mukanya berubah karena dia maklum bahwa pemuda ini adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat.

"Hemm, Tok-jiauw Lo-mo! Pernah kau bersama Marcus dan pasukan pemerintah yang kau bohongi menangkap aku untuk memperebutkan bokor pusaka!"

Kakek itu melongo, masih tidak mengenal Kun Liong.

"Ketika itu kepalaku tidak berambut..."

"Ahaiiii! Kau Si Gundul keparat itu!"

Kakek itu makin kaget dan kembali tongkatnya sudah diangkat.

"Tahan...!"

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah muncul seorang kakek lain yang berpakaian sederhana seperti petani, tubuhnya kurus dan wajahnya agak pucat, namun sikapnya gagah dan berdiri tegak.

"Suhu...!"

Poa Su It berkata.

"Biarlah teecu dan Yap-enghiong yang menghadapi penjahat-penjahat ini! Silakan Suhu beristirahat!"

Gak Liong, kakek itu, menoleh kepada muridnya.

"Su It, kau mundurlah."

Kemudian dia menghadapi Yap Kun Liong sambil berkata.

"Yap-sicu, namamu sudah banyak kudengar, terutama dari tiga muridku. Terima kasih atas bantuanmu, akan tetapi, untuk menghadapi Tok-jiauw Lo-mo ini, terpaksa harus aku sendiri yang menghadapinya. Antara dia dan aku terdapat urusan lama, urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri orang lain."

Kun Liong membungkuk dan berkata hormat.

"Saya mengerti, Locianpwe. Dan saya tidak akan berani lancang mencampuri, hanya akan membantu Poa-toako kalau iblis tua ini berlaku curang dan mengerahkan kaki tangannya mengeroyok."

"Heh-heh-heh, Gak Liong! Engkau sudah berpenyakitan mau mampus masih berlagak sombong."

"Lo-mo, kita sama-sama tua dan marilah kila selesaikan urusan lama tanpa membawa-bawa yang muda. Kalau para anggauta Pek-lian-kauw di belakangmu itu mencampuri urusan kita, terpaksa aku membiarkan Yap-sicu dan muridku untuk turun tangan pula."

"Heh-heh-heh, siapa yang mau curang? Aku akan menghadapi sendiri, satu lawan satu sampai seorang di antara kita mampus. Tentu aku percaya bahwa pendekar Secuan yang terkenal gagah itu tidak akan mengandalkan orang muda untuk mengeroyok aku orang tua!"

Kata Tok-jiauw Lo-mo sambil melirik ke arah Kun Liong.

Kakek ini memang cerdik.

Begitu bentrok dengan Kun Liong dia maklum bahwa pemuda itu merupakan lawan yang paling berat, maka dia sengaja memancing dengan kata-kata ini.

"Aku bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun mencampuri urusan kita. Mari kita selesaikan sampai mati urusan pribadi kita sebelum usia tua merenggut nyawa kita."

"Bagus! Bersiaplah kau untuk mampus, Gak Liong!"

Tok-jiauw Lo-mo berteriak dan dia sudah menyerang ke depan.

"Tranggg! Trakkk!"

Pendekar dari Secuan itu telah menggerakkan tongkatnya pula dan balas menyerang.

Terjadilah pertandingan yang amat seru dan mati-matian.

Kun Liong menonton dengan hati khawatir.

Memang, pada dasarnya ilmu silat pendekar Secuan itu lebih kuat, Namun Tok-jiauw Lo-mo mempunyai gerakan liar yang ganas dan mengandung banyak gerak tipu.

Kalau saja pendekar Secuan itu tidak sedang dalam keadaan lemah karena penyakit, tentu dia lebih kuat.

Akan tetapi kakek itu sudah lemah sehingga setiap tangkisan atau serangannya tidak dapat menggunakan tenaga sepenuhnya dan beberapa kali dia terhuyung-huyung, sungguhpun setiap serangannya membuat lawan terdesak hebat.

Poa Su It yang sudah mencabut pedangnya dan berdiri di dekat Kun Liong, juga menonton dengan alis berkerut karena dia merasa gelisah sekali melihat gurunya yang sedang tidak sehat itu harus menghadapi seorang lawan sedemikian tangguhnya.

Namun dia juga tidak berani mencampurinya dan hanya merasa mendongkol mengapa kaki tangan Tok-jiauw Lo-mo tidak segera bergerak sehingga dia mendapat kesempatan untuk mengamuk!

Andaikata tadi Tok-jiauw Lo-mo tidak merasakan kelihaian Kun Liong, tentu dia sudah mengerahkan teman-temannya untuk mengeroyok.

Akan tetapi melihat kelihaian pemuda itu, dia berlaku cerdik.

Lebih baik dia tidak mengerahkan teman-temannya agar di pihak Gak Liong, pemuda lihai itu pun tidak dapat turun tangan mencampuri.

Dia tahu bahwa Gak Liong amat lihai, akan tetapi melihat keadaan musuh besarnya ini sedang tidak sehat, dia merasa yakin akan dapat mengalahkannya.

Dengan penuh semangat dia terus menerjang dan menggerakkan tongkat cakar setan itu secepatnya sambil mengerahkan tenaga seadanya pula.

Namun Gak Liong bukanlah seorang yang hijau.

Dia telah memiliki pengalaman puluhan tahun dan karena sering bertanding melawan musuh besrnya ini, dia sudah mengenal sifat ilmu silat lawan.

Maka biarpun dia sedang lemah, dengan ilmu silatnya yang amat hebat, sealiran dengan kepandaian silat The Hoo, dia mulai mendesak lawannya.

"Eeeaaaghhh...!"

Tiba-tiba Tok-jiauw Lo-mo memekik panjang.

Tongkatnya bergerak cepat dan tangan kirinya memukul dengan telapak tangan terbuka, itulah pukulan baru yang telah dilatihnya baru-baru ini, untuk dipakai sebagai bekal jika menghadapi musuh besar ini.

Gak Liong agak terkejut, tidak mengira bahwa pukulan-pukulan tongkat cakar itu yang dilancarkan secara hebat kiranya hanya merupakan pancingan belaka, karena pukulan tangan kiri itu yang kini datang seperti kilat menyambar ke arah dada dan kepalanya.

Cepat dia menjatuhkan diri ke kiri dan melihat lowongan baik, tongkatnya meluncur ke depan.

"Plakk! Crokkkk... Aughhhh...!"

Tubuh Tok-jiauw Lo-mo terjengkang, tongkat Gak Liong menancap di ulu hatinya, sedangkan pendekar Secuan itu sendiri terhuyung karena tadi pundaknya masih terkena pukulan tangan kiri Tok-jiauw Lo-mo, pukulan sin-kang yang mengandung racun seperti cakar setan di tongkatnya yang masih dipegangnya itu.

Tubuh Tok-jiauw Lo-mo berkelojotan dan dari mulutnya terdengar kata-kata terputus-putus.

"Aku...aku cinta padanya... kau telah merampasnya... maka kubunuh... dia... hanya kalungnya... yang menjadi penggantinya... ini... ini... kukembalikan kalungnya padamu.... Gak Liong..."

Melihat seuntai kalung bermata batu kemala berbentuk hati, wajah Gak Liong membayangkan keharuan.

Itulah kalung yang diberikannya kepada isterinya dan yang kemudian lenyap ketika isterinya terbunuh oleh Tok-jiauw Lo-mo.

Kini kalung itu berada di tangan kiri Tok-jiauw Lo-mo yang diulurkan kepadanya.

Keharuan membuat dia kurang waspada dan dia lalu membungkuk hendak menerima kalung itu dari tangan Tok-jiauw Lo-mo yang sudah sekarat.

"Gak-locianpwe, awas...!"

Kun Liong berteriak namun terlambat.

Ketika Gak Liong mendekati Tok-jiauw Lo-mo dan hendak mengambil kalung dari tangan bekas musuh itu, tiba-tiba tongkat cakar setan menyambar.

Dia mengelak namun kurang cepat dan pelipis kepalanya kena dicakar.

Gak Liong mengeluh dan roboh terguling, kalung isterinya itu digenggamnya erat-erat.

Terdengar Tok-jiauw Lo-mo tertawa-tawa kemudian berkelojotan dan tewas seketika bersama dengan tewasnya Gak Liong yang tidak dapat mengeluh lagi.

"Suhu...!"

Poa Su It berteriak, akan tetapi pada saat itu, sepuluh orang Pek-lian-kauw sudah bergerak dengan senjata mereka menyerbu.

Poa Su It membalikkan tubuhnya dan mengamuk dengan pedangnya.

Namun, orang-orang Pek-lian-kauw itu ternyata bukan orang-orang sembarangan dan sebentar saja Poa Su It sudah sibuk melayani pengeroyokan tiga orang Pek-lian-kauw.

Kun Liong juga dikeroyok dan karena orang-orang Pek-lian-kauw itu pun tadi menyaksikan betapa pemuda ini berani menangkis tongkat Tok-jiauw Lo-mo dengan tangan kosong, mereka tahu bahwa pemuda ini lihai, maka tujuh orang Pek-lian-kauw mengepungnya.

Namun, dengan tenang, Kun Liong menghadapi mereka, mengelak dan menangkis dengan amat mudahnya semua senjata yang menyambar ke arah tubuhnya.

Semenjak dia masih kecil, dia sudah merasakan kejahatan kaum Pek-lian-kauw, bahkan di dalam kuil tua dia menyaksikan betapa seorang tokoh Pek-lian-kauw yang bernama Loan Khi Tosu telah membunuh-bunuhi petugas dan orang orang gagah, kemudian dia sendiri hampir menjadi korban dibunuh oleh tosu itu kalau saja mendiang ayahnya tidak muncul menyelamatkannya.

Kemudian, di dalam pengalaman hidupnya selanjutnya, Sering sekali dia bertemu dengan para tokoh Pek-lian-kauw yang palsu dan jahat.

Tahulah dia sekarang bahwa Pek-lian-kauw adalah sebuah perkumpulan yang berkedok agama, yaitu suatu pecahan atau penyelewengan dari Agama Buddha bercampur Agama To, dan yang diam-diam hanya menjadi alat untuk menyalurkan nafsu keinginan para pimpinannya, terutama sekali dalam hal mengejar kedudukan dan kemuliaan dengan jalan memberontak.

Demikianlah memang keadaan manusia pada umumnya.

Semenjak kecil, kita dididik dan digembleng oleh tradisi dan kebudayaan, dibina oleh cara pendidikan yang sudah diakui dan dibenarkan oleh masyarakat, untuk bercita-cita, untuk mengejar sesuatu, untuk berambisi dan menujukan mata kita jauh ke depan untuk menjangkau dan meraih sesuatu yang kita kehendaki dan yang belum terdapat oleh kita.

Hal ini sudah dibenarkan oleh kita sehingga setiap manusia, sejak kecil, bergulat dan berjuang untuk mencapai cita-cita masing-masing sehingga terjadilah saling dorong, saling jegal, saling berebut dan bersaing, karena cita-cita semua manusia pada hakekatnya tentu sama, yaitu untuk mencari kesenangan bagi diri pribadi.

Cita-cita boleh diberi nama yang muluk-muluk, yang bersih-bersih, bahkan yang megah-megah, namun semua itu hanyalah kulit yang membungkus isi yang sama, yaitu .

mengejar sesuatu yang menyenangkan diri sendiri, baik lahir maupun batin!

Kalau kita mau membuka mata, jelas tampak dalam penghidupan sehari-hari betapa cita-cita atau keinginan mencapai sesuatu mendatangkan kepalsuan-kepalsuan, pertentangan dan kejahatan di dalam hubungan antara manusia.

Sekelompok anak-anak pun, kalau melakukan suatu permainan di mana terdapat kemenangan, setiap orang anak memperebutkan kemenangan itu dan sudah pasti akan terjadi persaingan, perebutan yang segera diikuti dengan pertentangan dan pertengkaran.

Mengapa demikian?

Karena dengan adanya cita-cita yang dikejar, mata ditujukan kepada cita-cita itu dan cita-cita itulah yang penting lagi!

Cita-cita itu saja yang dianggap akan mendatangkan nikmat, permainannya tidak terasa lagi, seluruh gairah didorong oleh pengejaran akan cita-cita dalam permainan itu, ialah kemenangan.

Karena kita mementingkan cita-cita yang merupakan khayal karena belum ada, maka kita tidak mengacuhkan caranya, tidak memandang lagi kepada keadaan sebagaimana adanya.

Kita memandang kepada masa depan, yaitu cita-cita, tidak pernah memperhatikan sekarang, saat ini.

Maka terjadilah penyelewengan, terjadilah penggunaan cara-cara yang tidak sehat, semua demi mencapai cita-cita.

Bahkan ada pendapat yang amat menyesatkan bahwa "cita-cita menghalalkan segala cara".

Betapa menyesatkan pendapat seperti itu.

Kita lupa bahwa cara dan cita-cita tidak ada bedanya.

Kalau caranya buruk, mana mungkin cita-cita atau tujuannya baik?

Demikian pula dengan para pimpinan Pek-lian-kauw.

Demi mengejar cita-cita mereka, cita-cita pribadi yang diselimuti dengan sebutan cita-cita rakyat, bangsa, dan lain sebagainya, terjadilah permainan-permainan kotor.

Nama rakyat dicatut, nama negara, bangsa, agama, bahkan kadang-kadang nama Tuhan pun dipergunakan orang tanpa segan-segan lagi, semua demi mencapai cita-citanya.

Tentu ada yang membantah bahwa cita-cita tidak selamanya buruk, banyak terdapat cita-cita yang baik.

Baik maupun buruk tetap saja cita-cita, tetap saja keinginan yang disusul dengan pengejaran dan di dalam pengejarannya inilah terjadi penyelewengan dan kekerasan, dan terjadilah bentrokan dan pertentangan.

Karena cita-cita menghidupkan dan membesarkan si "aku"

Dan penonjolan si "aku"

Dan si "kamu"

Tentu saja memperbesar pula bentrokan-bentrokan.

Yang baik bagi aku belum tentu baik bagi kamu, dan demikian sebaliknya.

Mengapa pula kita dibius oleh cita-cita dan keinginan memperoleh sesuatu yang belum ada?

Mengapa kita menujukan mata kita jauh ke depan, ke masa depan yang abstrak?

Mengapa kita tidak menghayati hidup di saat ini?

Hidup di saat ini berarti menujukan seluruh perhatian kepada saat ini, saat demi saat tanpa diganggu oleh bayangan masa depan yang menyesatkan.

Kalau kita melakukan segala sesuatu di saat ini dengan kasih di hati, apakah perlunya kita bercita-cita?

Kalau kita memperhatikan setiap dari langkah-langkah hidup kita, segala akan tampak oleh kita, sebaliknya kalau mata kita ditujukan jauh ke depan, banyak bahayanya kaki kita yang akan tersandung.

Apa perlunya kita memandang "sana"

Yang bukan lain hanyalah kelanjutan dari "sini"? Mengapa kita menginginkan yang "begitu"

Dan tidak menghayati yang "begini"? Yang "begitu"

Adalah khayal, sedangkan yang "begini", saat ini, barulah nyata dan hidup!

Karena sudah seringkali bertemu dengan orang-orang Pek-lian-kauw yang melakukan banyak kejahatan, dan yang terakhir sekali di sarang Pek-lian-kauw yang mempergunakan kekejian hendak mengawinkan Cia Giok Keng, maka Kun Liong tidak mau memberi hati lagi.

"Kalian orang-orang jahat!"

Bentaknya.

Bentakan ini disusul oleh berkelebatnya bayangan tubuh Kun Liong yang menyambar-nyambar seperti halilintar.

Tujuh orang Pek-lian-kauw yang mengepungnya menjadi terkejut.

Pandang mata mereka menjadi kabur dan sebelum mereka dapat melihat jelas karena tubuh pemuda itu seolah-olah telah berubah menjadi banyak, tahu-tahu senjata mereka terlepas dari tangan dan lengan mereka terasa nyeri dan lumpuh.

Mereka berteriak kaget, meloncat mundur tanpa senjata lagi, akan tetapi Kun Liong sudah menerjang ke depan dan satu demi satu tujuh orang itu terlempar ke kanan kiri sambil menjerit kesakitan, ada yang patah tulang lengannya, pundaknya, dan ada yang benjol-benjol kepalanya.

Dapat dibayangkan betapa kagum rasa hati Poa Su It.

Pendekar Secuan yang mengamuk dengan pedangnya menghadapi pengeroyokan tiga orang Pek-lian-kauw itu baru berhasil merobohkan seorang lawan dan dia masih harus menahan desakan dua orang lagi.

Namun, pemuda yang bertangan kosong itu telah merobohkan tujuh orang pengeroyoknya dalam waktu singkat!

"Pergilah...!"

Kun Liong membentak, tubuhnya menerjang ke depan dan tangan kirinya sudah menangkap tongkat seorang lawan, tangan kanan menampar pangkal lengan kanan orang ke dua sehingga goloknya terlempar, kemudian secepat kilat kakinya menendang dua kali dan tubuh dua orang pengeroyok Poa Su It tadi pun terlempar jauh.

Habislah semangat perlawanan sepuluh orang Pek-lian-kauw itu.

Mereka saling bantu, bangkit dari atas tanah, membawa mayat Tok-jiauw Lo-mo kemudian meninggalkan tempat itu, ada yang terbongkok-bongkok dan ada yang setengah merangkak.

"Biarkan mereka pergi,"

Kata Kun Liong ketika melihat Poa Su It hendak mengejar.

Pendekar Secuan itu menarik napas panjang, sejenak memandang kepada Kun Liong kemudian lari menghampiri mayat suhunya dan menjatuhkan diri berlutut, menutupi mukanya dengan penuh duka.

Orang tua itu telah puluhan tahun menjadi gurunya dan menjadi pengganti ayahnya sendiri, maka dapat dimengerti betapa sedih hati Poa Su It melihat kematian gurunya itu.

Penduduk kota Mian-ning terkejut sekali mendengar akan kematian pendekar tua Secuan itu dan berbondong-bondong mereka datang melayat.

Kun Liong membantu Poa Su It mengurus penguburan jenazah jago tua Gak Liong, kemudian dia berpamit untuk melanjutkan perjalanan ke barat setelah dia mendengar banyak petunjuk dan keterangan dari Poa Su It tentang perjalanan menuju ke sarang perkumpulan Agama Lama Jubah Merah.

Wajah Pek Hong Ing yang cantik jelita dan segar itu sebentar pucat sebentar merah ketika dia mendengar dari para pelayan bahwa kedua orang pendeta Lama yang telah pergi hampir dua bulan itu, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama, hari itu telah kembali ke kuil.

Jantungnya berdebar keras dan bermacam pertanyaan mengaduk-aduk hatinya.

Apakah kedua orang pendeta itu telah berjumpa dengan Kun Liong?

Apakah bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai?

Apa yang telah terjadi?

Harapan dan kecemasan membuat jantungnya berdebar tegang dan dia segera lari keluar dari dalam kamarnya untuk menemui mereka.

Mereka telah duduk di ruangan besar, bersila di atas bantalan kuning.

Hun Beng Lama, Lak Beng Lama, dan Sin Beng Lama yang mendengarkan pelaporan mereka.

Ketika mereka bertiga melihat munculnya Hong Ing, Sin Beng Lama lalu tersenyum dan berkata.

"Hong Ing, kau duduklah. Biarpun kedua orang susiokmu belum berhasil mendatangkan Kun Liong, namun kami yakin bahwa tidak lama lagi dia akan muncul di sini."

Hong Ing tidak menjawab, matanya memandang ke arah seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang duduk di atas lantai dekat dengan Lak Beng Lama.

Anak laki-laki itu tampan dan sehat, matanya tajam bersinar-sinar dan kelihatan sedang marah.

Mendengar ucapan Sin Beng Lama, anak laki-laki itu segera membuka mulutnya dan berkata, suaranya nyaring dan lantang.

"Kalau Suheng Yap Kun Liong datang bersama ayahku, kalian tentu akan dihajar sampai mampus!"

Tentu saja Hong Ing terkejut sekali mendengar ucapan anak itu yan menyebut Suheng (kakak seperguruan) kepada Kun Liong.

Dia menghampiri, memandang anak itu dan bertanya kepada Sin Beng Lama.

"Susiok, siapakah anak ini dan dari mana dia datang?"

Sin Beng Lama yang bersikap lemah lembut itu tersenyum.

"Dia ikut bersama kedua orang susiokmu..."

"Aku diculik!"

Anak itu berseru marah.

"Pendeta-pendeta menculik anak kecil, sungguh tak tahu malu!"

Hong Ing makin kaget dan heran, juga kagum menyaksikan sikap yang demikian tabah dari anak itu.

(Lanjut ke

Jilid 48) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 48

"Lak Beng Susiok, siapakah dia itu?"

Tanyanya kepada paman gurunya ke tiga yang menjaga anak itu.

"Dia? Ha-ha-ha, dia adalah putera Ketua Cin-ling-pai..."

"Ohhh...! Ji-wi Susiok (Paman Guru Berdua) tidak memegang janji! Aku minta agar supaya Yap Kun Liong yang dibawa ke sini, kenapa malah membawa anak kecil, putera Ketua Cin-ling-pai yang tidak tahu apa-apa?"

"Siancai...! Kami sama sekali tidak melanggar janji. Kami membawa anak ini ke sini justeru adalah untuk memenuhi janji karena hanya dengan cara inilah Yap Kun Liong dapat muncul di sini,"

Lak Beng Lama berkata.

"Apa maksud Susiok?"

Hun Beng Lama yang lebih halus sikapnya dibandingkan dengan Lak Beng Lama, menjawab.

"Kami tidak berhasil bertemu dengan Yap Kun Liong di Cin-ling-san, bahkan Ketua Cin-ling-pai juga tidak berada di rumahnya. Kami hanya bertemu dengan isteriya dan puteranya ini, maka terpaksa kami membawa puteranya ini ke sini dan meninggalkan pesan kepada isterinya bahwa apabila Ketua Cin-ling-pai mengantarkan Yap Kun Liong ke sini, maka puteranya akan dikembalikan. Bukankah ini merupakan cara terbaik untuk memaksa Yap Kun Liong datang ke sini?"

Wajah yang tadinya pucat itu menjadi merah kembali dan berseri gembira setelah mendengar penjelasan ini.

Diam-diam hati Hong Ing merasa girang sekali karena siasatnya telah berhasil.

Memang sebaiknya begini karena perbuatan dua orang pendeta Lama itu tentu memancing kemarahan Pendekar Sakti Cia Keng Hong, dan tentu pendekar itu bersama Kun Liong akan muncul di tempat ini!

Kalau Kun Liong datang bersama Pendekar Sakti Cia Keng Hong, tentu ayahnya dan dia sendiri akan dapat diselamatkan.

"Ah, maafkan saya, Ji-wi Susiok! Kiranya begitukah? Memang baik sekali dan saya amat berterima kasih kepada Ji-wi Susiok. Akan tetapi, agar anak ini tidak rewel dan suka tinggal sementara di sini, blarlah dia tidur bersama saya."

Sin Beng Lama tersenyum.

"Sebaiknya begitu. Bawalah dia ke kamarmu."

Hong Ing menghampiri anak itu yang memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh curiga.

Hong Ing tersenyum manis dan menyentuh pundak Cia Bun Houw.

"Mari ikut bersama Enci."

Tiba-tiba Bun Houw menggerakkan tangan menangkis lengan dara itu dengan sigap dan mengelak ke belakang.

"Siapa kau? Kalian semua orang jahat!"

Bentaknya.

Hong Ing memandang kagum.

Anak ini benar-benar amat tampan dan bersemangat, baru berusia lima tahun sudah memperlihatkan kegagahan dan keberaniannya.

"Jangan salah duga, Adik baik. Para Locianpwe yang membawamu ke sini bukan berniat jahat. Engkau hanya disuruh tinggal di sini sampai ayahmu datang menjemputmu. Marilah aku Pek Hong Ing, dan aku sama sekali tidak berniat jahat kepadamu."

Melihat dara yang cantik jelita itu bersikap halus kepadanya, Bun Houw mulai berkurang kecurigaannya.

Dia mengangguk biarpun dia tidak mau ketika Hong Ing hendak menggandengnya.

"Siapakah namamu, Adik yang baik?"

"Namaku Cia Bun Houw,"

Jawabnya singkat.

"Adik Bun Houw, marilah ikut bersamaku. Engkau tentu lapar. Kita makan lalu bermain dan bercakap-cakap di dalam taman. Di sini terdapat sebuah taman yang indah."

Sikap yang amat ramah dan baik dari Hong Ing menghibur juga hati anak itu dan dalam beberapa hari saja dia telah menjadi sahabat baik Hong Ing dan menaruh kepercayaan besar kepada dara itu.

Dua pekan kemudian, ketika Hong Ing mengunjungi ayahnya di dalam kamar hukuman, dia sengaja mengajak Bun Houw.

Kamar hukuman itu amat luar biasa, tidak patut disebut kamar hukuman, karena kamar itu merupakan kamar yang lebarnya empat meter persegi dan kosong sama sekali tidak ada perabotnya sepotong pun.

Di tengah-tengah kamar ini, duduk bersila seorang kakek tinggi besar yang bukan lain adalah Kok Beng Lama.

Memang luar biasa cara para Lama Jubah Merah ini.

Yang merupakan belenggu hukuman hanyalah janji-janji mereka yang lebih kokoh daripada belenggu baja.

Dan dia melaksanakan hukuman yang dijatuhkan kepadanya dengan cara bersamadhi siang malam, hanya berhenti apabila tubuhnya membutuhkan makan saja, atau membutuhkan istirahat dan tidur.

Selain terpaksa memenuhi kebutuhan jasmaninya, semua waktunya dihabiskan dengan bersamadhi!

Agaknya kakek ini sudah mengambil keputusan nekat untuk menghabiskan usianya dengan bersamadhi, setelah dia memperoleh janji ketiga orang sutenya bahwa puterinya, Pek Hong Ing, takkan diganggu.

Satu-satunya orang yang dapat menyadarkan kakek ini dari samadhinya hanyalah Hong Ing.

Setiap kali puterinya ini datang tentu dia suka untuk menghentikan samadhinya dan bercakap-cakap, bahkan menurunkan ilmu-ilmunya kepada Hong Ing.

Kalau bukan puterinya, biar siapa saja dan biar diapakanpun dia tidak akan dapat disadarkan dari samadhinya.

Setelah membuka pintu kamar itu dengan hati-hati dan melihat ayahnya sedang bersamadhi seperti biasanya, Hong Ing menuntun tangan Bun Houw dan mengajak anak itu berlutut lalu duduk bersila di depan kakek itu, dalam jarak dua meter karena mereka berdua duduk bersandar dinding di atas lantai yang mengkilap bersih, karena seringkali dibersihkan sendiri oleh Hong Ing.

Kakek itu masih duduk bersila dan memejamkan matanya.

Namun pendengarannya yang sudah terlatih hebat dan amat tajam itu dapat menangkap semua suara dan mengikuti semua gerak-gerik Hong Ing dan Bun Houw.

"Anakku, dengan siapakah kau memasuki kamar ini dan mengapa engkau mengajak orang lain?"

Suara itu halus, akan tetapi penuh teguran. Hong Ing cepat menjawab dengan suara agak manja.

"Ayah, inilah Adik Cia Bun How, putera dari Ketua Cin-ling-pai!"

"Hemm, suruh dia keluar dari kamar ini!"

Kakek itu membentak tanpa membuka matanya.

Tiba-tiba Bun Houw yang menyaksikan itu semua, berkata dengan suaranya yang bening nyaring.

"Enci Hong Ing, kenapa engkau mengajak aku masuk ke tempat ini? Mana ayahmu? Kakek yang galak dan tua ini? Ah, tidak patut dia menjadi ayahmu, Enci. Engkau begini halus dan baik, akan tetapi dia begitu galak dan jahat!"

"Hushh... diamlah!"

Hong Ing menegur anak itu.

Dia teringat akan cerita Kun Liong tentang Pendekar Sakti Cia Keng Hong, maka dia cepat berkata lagi untuk memancing perhatian ayahnya.

"Ayah, dia ini adalah putera dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong, Ketua Cin-ling-pai, murid dari mendiang Sin-jiu Kiam-ong...!"

Akan tetapi, kakek itu sudah tertarik sekali ketika mendengar suara Bun Houw tadi, suaranya yang begitu bening dan seperti jarum-jarum menusuk telinganya, suara yang hanya dapat dimiliki seorang bocah yang cerdas dan berbakat baik sekali.

Maka dia telah membuka kedua matanya memandang.

Sinar kagum berpancar keluar dari matanya ketika dia memandang Bun Houw, apalagi ketika mendengar bahwa Bun Houw adalah putera dari seorang murid mendiang Sin-jiu Kiam-ong!

Melihat sikap ayahnya, Hong Ing cepat menyambung.

"Ayah, aku ingin agar Adik Bun Houw menjadi muridmu!"

"Hemmmm...!"

Tiba-tiba kakek itu meluruskan lengan kanannya dan Bun Houw yang sejak tadi memandang wajah kakek itu menjadi terbelalak kaget melihat betapa lengan yang besar itu dapat memanjang keluar dari lengan bajunya, terus memanjang sampai tangan itu mencengkeram punggung bajunya dan mengangkatnya ke atas lalu menariknya dekat dengan muka kakek itu!

Memang hebat sekali kepandaian Kok Beng Lama.

Sin-kangnya sudah sedemikian tinggi tingkatnya sehingga dia mampu membuat lengannya memanjang sampai hampir dua meter!

Dengan kepandaian seperti ini, tentu saja dia merupakan seorang lawan yang amat berbahaya bagi siapa pun.

"Bagus! Kau anak baik sekali...kau benar ingin menjadi muridku?"

Tanya kakek itu sambil memeriksa tubuh anak itu dengan pandang matanya dan dengan rabaan jari-jari tangan kirinya, terutama sekali meraba-raba tengkorak kepala Bun Houw.

Bun Houw adalah seorang anak yang usianya baru lima tahun, akan tetapi dia putera suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dia cerdik sekali.

Melihat kenyataan bahwa kakek aneh ini adalah ayah dari Pek Hong Ing yang amat baik kepadanya, kemudian bahwa kakek ini memiliki kepandaian yang hebat sehingga akan mampu melindunginya di tempat asing itu, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menjawab.

"Aku suka sekali menjadi muridmu!"

"Ha-ha-ha!"

Kok Beng Lama tertawa dan melepaskan tubuh anak itu ke atas lantai.

Hatinya girang sekali karena tadinya dia merasa agak kecewa melihat bahwa bakat puterinya sendiri masih jauh dapat mewarisi seluruh ilmu-ilmunya yang membutuhkan "wadah"

Yang kuat dan berbakat.

Kini, melihat Bun Houw, dia menemukan seorang murid yang pasti akan dapat mewarisi semua kepandaiannya.

"Suhu...!"

Bun Houw yang cerdas itu pun sudah berlutut sambil memberi hormat dan menyebut suhu.

"Ha-ha-ha...!"

Kakek itu kembali tertawa. Hong Ing girang sekali. Dia memeluk Bun Houw dengan girang.

"Sekarang engkau menjadi suteku (adik seperguruanku) dan aku adalah sucimu (kakak seperguruanmu)."

"Suci...!"

Bun Houw memberi hormat kepada dara itu.

Mulai hari itu, Bun Houw menjadi murid Kok Beng Lama dan setiap hari anak itu berada di dalam kamar hukuman untuk menerima petunjuk dan gemblengan kakek aneh itu.

Kok Beng Lama memang berwatak luar biasa.

Dia sama sekali tidak peduli dan tidak ingin tahu mengapa putera Ketua Cin-ling-pai itu bisa berada di tempat itu.

Dia tidak mau mempedulikan lagi urusan dunia, maka dia tidak pernah bertanya kepada Hong Ing maupun kepada Bun Houw.

Dia setiap hari hanya mengajar ilmu kepada puterinya dan muridnya itu, tanpa membicarakan urusan lain lagi.

Pekerjaannya setiap hari hanya mengajar dan bersamadhi, lain tidak.

Tentu saja setiap gerak-gerik Pek Hong Ing dan Cia Bun Houw tidak pernah terlepas dari penyelidikan tiga orang pendeta Lama, namun mereka tidak menghalangi ketika melihat bahwa Bun Houw menjadi murid suheng mereka yang menjalani hukuman itu.

Mereka percaya penuh akan janji Kok Beng Lama, dan mereka sudah mengenal betul watak suheng mereka itu yang mungkin dapat mengamuk dan memusuhi mereka mengenai urusan pribadi, Namun akan membela dengan pertaruhan nyawa apabila perkumpulan agama mereka diserang musuh dari luar.

Selain itu, Hong Ing juga tidak memperlihatkan sikap mencurigakan, bahkan dara ini menurut dan mempelajari dengan teliti semua pelajaran keagamaan mereka sehubungan akan menjadi korban untuk dewa kelak, setelah permintaannya dipenuhi, yaitu hadirnya Yap Kun Liong di situ.

Bahkan dia menurut pula ketika diharuskan melakukan puasa dan pantang makan barang berjiwa agar dirinya tetap bersih apabila saatnya tiba dia mengorbankan diri kepada dewa sebagai penebus "dosa"

Ibunya dabulu.

Melihat sikap dara ini, Sin Beng Lama dan dua orang sutenya tidak menjadi curiga, dan mereka hanya menanti-nanti kedatangan Yap Kun Liong untuk ditukar dengan Cia Bun Houw, agar pelaksanaan korban suci untuk dewa dapat segera dilaksanakan.

Dalam hal ini, para pendeta Lama mempunyai keyakinan bahwa pengorbanan suci seorang dara kepada dewa akan mendatangkan berkah yang amat hebat, akan mendatangkan keajaiban yang membawa kejayaan kepada perkumpulan mereka.

Mereka percaya bahwa dengan bantuan dan perlindungan dewa yang tentu akan membantu mereka setelah menerima pengorbanan istimewa, yaitu puteri mendiang Pek Cu Sian yang mengecewakan dan membikin marah dewa, tentu Kerajaan Tibet akan dapat mereka tumbangkan dan mereka rampas!

Mereka berkeyakinan bahwa kalau selama ini mereka belum juga berhasil adalah karena dewa marah kepada mereka berhubung dengan peristiwa kedosaan yang dilakukan oleh Pek Cu Sian, gadis calon mempelai dewa yang melarikan diri!

Sekarang, begitu Pek Hong Ing berada pada mereka, sudah nampak tanda-tanda bahwa mereka akan berhasil, Terutama sekali dengan adanya kenyataan bahwa hubungan mereka dengan Pek-lian-kauw menjadi erat dan saling membantu.

Memang perkumpulan Lama Jubah Merah mulai membuat persiapan untuk memberontak dan menyerang Pemerintah Tibet.

Semua Lama Jubah Merah telah dikumpulkan dan jumlah mereka ternyata hampir dua ratus orang.

Selain melatih semua Lama Jubah Merah ini menjadi pasukan istimewa yang amat kuat, juga kini telah dikumpulkan banyak bantuan dari luar, bantuan yang terdapat dari berbagai cara.

Ada yang karena percaya kepada keampuhan Kelenteng Lama Jubah Merah, yaitu para penduduk di sekitar daerah itu yang pernah menerima "berkah"

Dari kelenteng, ada pula yang karena terpaksa atau dipaksa oleh pengaruh para pimpinan Lama, ada pula yang "dibeli"

Dengan uang!

Betapapun juga, Sin Beng Lama telah berhasil menghimpun ratusan orang perajurit "sukarelawan", yang dilatih di luar markas mereka, dilatih ilmu perang dan barisan, juga kontak langsung telah diadakan dengan Pek-lian-kauw yang sudah siap membantu para Lama untuk menyerbu Tibet dengan janji bahwa kelak, para Lama yang telah menguasai Tibet akan mengerahkan kekuatan pula untuk membantu mereka menumbangkan Pemerintah Beng-tiauw!

Kini, para Lama hanya menanti tibanya saat yang suci itu, ialah pengorbanan seorang dara kepada dewa untuk memberkahi mereka.

Semua orang sudah tahu bahwa perawan yang cantik jelita dan yang kini berada di markas, keponakan murid dari Sin Beng Lama sendiri, dara jelita Pek Hong Ing yang akan menebus dosa ibunya mengorbankan diri kepada dewa dengan cara seperti biasa, yaitu dibakar hidup-hidup!

Akan tetapi gadis itu baru mau menjalani upacara pengorbanan diri kalau musuhnya sudah berlutut di bawah kakinya!

Dan kini semua orang menanti datangnya saat itu.

Bukan hanya Sin Beng Lama, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama saja yang setiap hari menanti-nanti munculnya Cia Keng Hong yang membawa Yap Kun Liong untuk ditukar dengan Cia Bun Houw.

Juga Hong Ing dan Bun Houw setiap hari menanti-nanti dengan penuh harap.

Bagi Hong Ing, saat kedatangan Kun Liong akan merupakan saat penentuan mati hidupnya!

Sin Beng Lama memang cerdik sekali.

Untuk melakukan suatu pemberontakan terhadap pemerintah, terutama sekali lebih dulu haruslah mencari kesan baik dari rakyat jelata, agar dalam hati rakyat terkandung simpati terhadap "perjuangan"

Mereka.

Dan untuk ini, dia hampir setiap hari mengadakan sembahyangan besar di kelentengnya yang amat luas, Tentu saja disertai jamuan tanpa bayar bagi rakyat yang berkunjung dan yang bersembahyang.

Mendengar bahwa di Kelenteng Lama Jubah Merah diadakan sembahyangan besar, berbondong-bondong rakyat dari berbagai jurusan di sekitar daerah itu datang berkunjung.

Bahkan banyak pula di antara para pengunjung yang bermalam di halaman kelenteng untuk dapat mendengarkan khotbah Sin Beng Lama atau kedua orang sutenya yang diadakan setiap hari, khotbah tentang kebatinan dan sekaligus khotbah yang memburuk-burukkan Pemerintah Tibet dan bujukan-bujukan untuk memberontak!

Pada suatu pagi, ketika para pengunjung kelenteng sedang berkumpul di halaman mendengarkan khotbah yang dilakukan sendiri oleh Sin Beng Lama, tiba-tiba terdengar suara berbisik di dalam markas.

Sin Beng Lama menyuruh kedua orang sutenya untuk memeriksa apa yang terjadi sedangkan dia sendiri melanjutkan khotbahnya.

Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama cepat berlari melalui pintu belakang kelenteng, langsung memasuki markas dari mana terdengar suara ribut-ribut.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dua orang tokoh Lama Jubah Merah itu melihat beberapa orang anak buah mereka bergelimpangan dan di tengah-tengah kepungan para pendeta Lama berdirilah seorang pemuda yang tampan dan gagah.

Lak Beng Lama yang berwatak agak keras dan kasar segera berseru.

"Minggir semua!"

Lalu dia memasuki kepungan bersama suhengnya, Hun Beng Lama.

Kini mereka berhadapan dengan pemuda itu yang bukan lain adalah Yap Kun Liong!

Melihat datangnya dua orang pendeta Lama ini, Kun Liong segera mengenal mereka.

"Hemm, kebetulan sekali Ji-wi Losuhu (Kedua Bapak Pendeta) datang!"

Tegurnya dengan nada suara tegas.

"Aku datang untuk menemui tiga orang pemimpin Lama Jubah Merah, akan tetapi tahu-tahu para pendeta di sini menyerbu dan mengeroyokku."

Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama tidak mengenal Kun Liong karena ketika mereka dahulu menculik Hong Ing di pulau kosong, pemuda ini berkepala gundul dan pakaiannya hanya sehelai cawat.

Kini pemuda itu sudah berambut panjang dan hitam, dan biarpun pakaiannya sederhana, namun lengkap.

"Orang muda yang lancang, siapakah kau dan apa keperluanmu mencari kami?"

"Aku bernama Yap Kun Liong dan kedatanganku adalah untuk minta kepada para pimpinan Lama Jubah Merah agar suka membebaskan Nona Pek Hong Ing!"

Mendengar Ini, terkejutlah dua orang pendeta Lama itu dan mereka memandang lebih teliti, kemudian saling pandang dan Lak Beng Lama berseru kepada para anak buahnya.

"Tangkap pemuda ini!"

Belasan orang pendeta Lama menyerbu dengan tangan kosong.

Mereka mendengar perintah "tangkap", maka tentu saja mereka tidak mau menggunakan senjata tajam yang dapat membunuh pemuda ini.

Namun, untuk kedua kalinya Kun Liong menggerakkan tubuh seperti tadi ketika dia diserbu, Tubuhnya berkelebatan dan berputaran dengan kaki tangan bergerak dan berturut-turut robohlah belasan orang pengeroyok itu!

Hal ini tentu saja menimbulkan kemarahan para pendeta yang lain.

Segera mereka menyerbu dan Kun Liong dikepung dan dikeroyok oleh banyak pendeta, bahkan kini Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama yang maklum akan kelihaian pemuda itu, sudah bergerak menyerbu pula.

Majunya dua orang pendeta Lama yang amat sakti ini membuat Kun Liong terdesak.

Dia memang hanya bermaksud membela diri dan hanya merobohkan lawan sedapat mungkin tanpa melakukan pembunuhan.

Tentu saja menghadapi serangan dua orang pendeta Lama yang berilmu tinggi itu, dia bersikap hati-hati sekali, lebih-lebih karena masih ada puluhan orang anggauta perkumpulan Lama Jubah Merah itu yang membantu Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama.

Mendengar suara ribut-ribut di halaman depan markas itu, Pek Hong Ing cepat lari keluar dan dapat dibayangkan betapa tegang rasa hatinya ketika dia melihat Yap Kun Liong sedang dikepung dan dikeroyok banyak pendeta.

Sejenak dia seperti terpesona melihat pemuda yang menjadi kekasih pujaan hatinya itu, yang setiap saat dirindukannya dan diharap-harapkan kedatangannya.

Kini pemuda itu telah muncul, akan tetapi dikepung dan dikeroyok.

Menurutkan perasaannya, ingin dia ikut mengamuk dan membantu kekasihnya.

Namun dia teringat betapa liciknya para pendeta Lama itu.

Kalau dia maju, tentu mereka akan menangkap dia dan menggunakan dia untuk memaksa Kun Liong menyerahkan diri.

Teringat akan ini, dia lalu cepat-cepat masuk lari ke dalam dan langsung dia memasuki kamar hukuman ayahnya.

"Ayah... tolonglah aku...!"

Dia berlutut memeluk ayahnya dengan muka pucat dan napas terengah-engah.

Bun Houw yang sedang duduk bersila melatih diri bersamadhi seperti yang diajarkan gurunya, membuka mata dan terkejut melihat keadaan sucinya.

Akan tetapi dia tidak berani membuka suara, hanya memandang kepada gurunya.

Kok Beng Lama juga membuka matanya, sejenak memandang heran kepada puterinya, lalu bertanya.

"Hong Ing, apakah yang terjadi?"

"Ayah..."

Dengan suara terisak Hong Ing berkata.

"Lekas Ayah menolongnya...! Yap Kun Liong telah datang dan dikeroyok oleh kedua orang Susiok dan puluhan orang pendeta...! Lekaslah Ayah...!"

Namun Kok Beng Lama tidak bergerak.

"Hemmm...salahnya sendiri kalau datang ke sini dan dikeroyok, tidak ada urusannya dengan pinceng."

"Ayah, akulah yang salah! Akulah yang menyebabkan semua itu. Ayah, aku mencinta Kun Liong dan dia mencintaku. Kami saling mencinta, karena itu... aku telah mencari akal untuk memancing Kun Liong ke sini. Aku membohongi para Susiok, aku bilang bahwa aku bersedia mengorbankan diri kepada dewa untuk menebus dosa ibuku, asal mereka dapat mendatangkan Yap Kun Liong. Karena tidak bertemu dengan Kun Liong, para Susiok membawa Adik Bun Houw ke sini dengan pesan agar orang tua anak ini mengantarkan Kun Liong ke sini untuk ditukar dengan Bun Houw. Ayah... semua itu kulakukan demi cintaku kepada Kun Liong. Aku ingin pergi dari sini, ingin ikut dia, hidup bersama dia. Tapi dia... dia dikeroyok di luar. Ayah, tolonglah aku, bantulah dia... hu-huuuuh!"

Hong Ing menangis, penuh kekhawatiran terhadap keselamatan kekasihnya.

Dia tahu akan kelihaian kekasihnya itu, namun membayangkan kesaktian para susioknya dan banyaknya para pendeta yang mengeroyok, tentu saja hatinya gelisah sekali.

"Hemmm...!"

Kok Beng Lama mengeluarkan suara dari dalam rongga perutnya yang tertahan di kerongkongan, sampai lama dia diam saja.

Setelah Hong Ing sambil menangis berkali-kali membujuknya, akhirnya dia mendorong tubuh puterinya sehingga tubuh Hong Ing terpental ke belakang.

"Tidak! Kau minta agar ayahmu menjadi seorang hina dina yang melanggar janji? Tidak, lebih baik kau menyuruh aku mati! Anak tidak berbakti, kau berani minta ayahmu melakukan hal yang hina itu?"

Setelah membentak demikian, kakek ini sudah memejamkan matanya kembali dengan alis berkerut.

"Ayaaaahhh...!"

Hong Ing menjerit dan pada saat itu, di luar terdengar suara makin berisik, tanda bahwa jumlah para pengeroyok bertambah banyak dan makin gelisah hati Hong Ing.

Dia menubruk lagi ayahnya dengan nekat sambil menangis.

"Ayah, aku tidak minta Ayah melanggar janji. Hanya tolonglah dia, tolonglah Kun Liong yang dikeroyok... kalau sampai dia mati, aku pun akan mati di depan kakimu, Ayah!"

Sampai berkali-kali Hong Ing mengulangi kata-katanya sambil menangis, dan akhirnya kakek itu membuka mata dan mengangguk.

"Memang lebih baik mati daripada hidup dalam hina melanggar janji. Pergilah!"

Sikap dan kata-kata ayahnya ini tiba-tiba membuat Hong Ing timbul semangat dan kenekatannya.

Memang sebelum bertemu dengan ayahnya, dia hidup di dalam dunia tanpa mengandalkan siapapun juga, maka terasalah olehnya betapa sikapnya tadi amat lemah dan manja.

"Baik, Ayah! Aku akan mati bersama Kun Liong, akan tetapi bukan karena tidak hendak melanggar janji terhadap para Susiok yang palsu itu! Aku akan melawan mereka sampai mati!"

Dengan isak tertahan Hong Ing lalu berlari keluar dari dalam kamar hukuman.

"Suci...!"

Bun Houw berteriak memanggil namun Hong Ing tidak menengok lagi.

Sementara itu, di luar markas terjadi pertempuran yang amat hebat.

Kun Liong masih dapat mempertahankan dirinya biarpun kini Hun Beng Lama yang menggunakan senjata tasbih dan Lak Beng Lama yang bertongkat mengurung dan mendesaknya, dibantu oleh banyak sekali pendeta Lama yang berjubah merah.

Yang membuat kepala Kun Liong terasa pening adalah persamaan pakaian para pengeroyoknya itu sehingga sukar baginya untuk membedakan orangnya.

Hal ini membuat dia seringkali terkena hantaman tasbih atau tongkat di tangan kedua orang pendeta Lama yang lihai itu.

Untung bahwa sin-kangnya memang amat tinggi tingkatnya sehingga dengan perlindungan tenaga sakti ini, tubuh yang kena dihantam dua senjata itu tidak mengalami luka.

Bagaikan seekor jangkerik yang dikeroyok banyak semut, Kun Liong mengamuk, kaki tangannya bergerak dan siapa saja, kecuali dua orang pendeta Lama Jubah Merah itu, yang terkena sentuhan kedua tangan atau kakinya tentu terlempar jauh ke belakang.

"Kun Liong jangan khawatir, aku membantumu!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah seorang wanita cantik bersama seorang laki-laki gagah yang datang menyerbu dengan pedang mereka.

Dengan beberapa gebrakan saja dua orang yang datang membantu Kun Liong ini sudah berhasil merobohkan dua orang pendeta Lama.

"Hwi Sian...!"

Kun Liong terkejut bukan main ketika mengenal wanita cantik yang membantunya.

"Tan-twako...!"

Dia mengenal pula Tan Swi Bu, bekas suheng dari Hwi Sian yang telah meniadi suami wanita itu.

"Mundurlah, pergilah dan jangan mencampuri urusanku...!"

Teriaknya dengan suara penuh kekhawatiran karena dia maklum betapa lihainya para pendeta Lama Jubah Merah ini, sama sekali bukanlah lawan kedua orang suami isteri itu.

Betapa pun, melihat Hwi Sian, ulu hatinya seperti tertusuk sesuatu dan dia merasa terharu.

"Kun Liong, aku... girang dapat membantumu... tranggg...!"

Hwi Sian menangkis datangnya sambaran sebatang golok dengan pedangnya lalu melanjutkan pedangnya menusuk yang dapat ditangkis pula oleh lawannya.

"Yap-taihiap, mari kita basmi para pemberontak ini!"

Tan Swi Bu juga berseru dan mendengar seruan ini, para pendeta menjadi kaget bukan main.

Maklumlah mereka bahwa rahasia mereka telah diketahui orang dan tentu dua orang laki-laki dan perempuan yang baru datang ini adalah mata-mata pemerintah.

"Tangkap mata-mata!"

"Bunuh mata-mata!"

Teriakan-teriakan ini disusul dengan menyerbunya banyak pendeta mengepung Hwi Sian dan Tan Swi Bu yang memutar pedang mereka dan mengamuk penuh semangat.

Seperti telah diceritakan oleh Poa Su It kepada Kun Liong, Suami isteri murid pendekar Secuan Gak Liong ini telah melaksanakan tugas mereka menyelidiki perkumpulan Agama Lama Jubah Merah yang dikabarkan hendak memberontak itu, mentaati perintah dari susiok-couw mereka, yaitu Panglima Besar The Hoo.

Mereka menyamar sebagai orang-orang yang datang hendak bersembahyang dan setiap hari mereka melakukan penyelidikan sehingga akhirnya mereka dapat mengetahui tentang gerakan Lama Jubah Merah yang sudah mempersiapkan dan melatih pasukan-pasukannya, dan juga kontak mereka dengan pihak Pek-lian-kauw yang kini banyak pula berkumpul di luar markas, ikut melatih para penduduk yang dapat dibujuk oleh Lama Jubah Merah.

Akan tetapi pada pagi hari itu, selagi mereka mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu dan melaporkan hasil penyelidikan mereka, mereka mendengar ribut-ribut di dalam markas.

Dengan cerdik mereka berhasil menyelundup masuk dan dapat dibayangkan betapa kaget hati Hwi Sian ketika melihat bahwa pemuda tampan yang kini memiliki rambut kepala bagus itu dan yang dikeroyok oleh banyak pendeta adalah Yap Kun Liong, pria yang tak pernah dapat dilupakannya!

Maka serta merta dia mencabut pedang yang disembunyikan di bawah bajunya dan menyerbu tanpa berunding dulu dengan suaminya!

Tentu saja Tan Swi Bu juga tidak membiarkan isterinya menempuh bahaya seorang diri dan dia pun menyerbu mati-matian.

Melihat betapa Hwi Sian dan Swi Bu terus mengamuk dan dikepung banyak pendeta, Kun Liong menjadi gelisah sekali.

Apalagi ketika dari jauh dia melihat munculnya seorang pendeta Lama yang amat lihai, yaitu Sin Beng Lama dengan lima batang hio mengepul, maklumlah dia bahwa bahaya besar mengancam suami isteri itu.

"Hemmm...!"

Dia menggeram dengan mengerahkan tenaganya, menerima hantaman-hantaman Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama serta lain-lain pendeta, kemudian secepat kilat dia menangkap lengan kedua orang pendeta Lama yang lihai itu sambil mengerahkan tenaga sakti Thi-khi-i-beng!

"Auhhh...!"

"Aduhhh...!"

"Haiii..., lepaskan aku...!"

Teriakan-teriakan penuh kepanikan itu terdengar dari mulut mereka yang memukul tubuh Kun Liong dan tangan mereka yang mengenai tubuh pemuda ini melekat tak dapat ditarik kembali, bahkan segera mereka merasakan betapa tenaga sin-kang mereka membanjir keluar disedot oleh tubuh pemuda itu!

Karena banyaknya para pendeta yang tadi memukul Kun Liong untuk membantu kawan, maka belasan orang pendeta, Termasuk Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama melekat pada tubuh pemuda itu dan kedua orang Lama yang sakti itu merasa panik dan juga marah kepada anak buah mereka sendiri.

Kalau saja tidak ada anak buah mereka yang ikut-ikut memukul dan melekat sehingga menghalangi gerakan mereka, tentu dengan tangan mereka yang masih bebas mereka dapat mengirim pukulan maut dengan totokan-totokan ke bagian tubuh yang lemah dari pemuda luar biasa itu.

Kun Liong yang melihat betapa Sin Beng Lama sudah menggerakkan tubuhnya meloncat dekat Hwi Sian dan Swi Bu, cepat mengembalikan tenaga sin-kang yang tersedot olehnya dan terkumpul menyesak di pusar, mengeluarkan bentakan nyaring dan menggoyang tubuhnya seperti seekor harimau menghalau air dari bulu-bulu tubuhnya.

"Haaaiiiihhhh!"

Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama, juga belasan orang anak buahnya, berseru kaget dan terlempar ke arah Sin Beng Lama!

Belasan orang anak buah mereka itu terlempar dalam keadaan pingsan, sedangkan Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama masih dapat mengumpulkan tenaga dan mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga tubuh mereka itu tidak meluncur menerjang suheng mereka sendiri.

Mereka berjungkir balik dan terjatuh ke atas tanah dalam keadaan berdiri dan terhuyung-huyung.

Sementara itu, Sin Beng Lama telah membuat pedang di tangan Hwi Sian dan Swi Bu terpental jauh, kemudian dua kali tangannya bergerak dan robohlah Hwi Sian dan suaminya.

Akan tetapi pada saat itu, belasan batang tubuh beterbangan menerjangnya dari arah Kun Liong!

"Omitohud...!"

Dia berseru dan cepat tubuhnya mencelat ke atas, tinggi sekali sehingga belasan batang tubuh yang meluncur itu lewat di bawah kakinya lalu terbanting dan terguling-guling ke atas tanah dalam keadaan pingsan.

"Pendeta keji...!"

Kun Liong membentak dan segera dia sudah bertanding melawan Sin Beng Lama yang amat lihai.

Tampak sinar-sinar kecil berapi seperti ada banyak sekali kunang-kunang beterbangan di sekitar tubuh Kun Liong.

Diam-diam pemuda itu terkejut juga melihat betapa lima batang hio membara itu meluncur dan menyambar-nyambar cepat sekali ke arah seluruh jalan darah di tubuhnya.

Dia maklum betapa hebatnya serangan ini, maka dia pun cepat menggerakkan kaki tangannya, mengelak, menangkis dan balas menyerang.

Karena lawan menggunakan lima batang hio yang amat luar biasa itu, dia tidak mungkin dapat mengandalkan Thi-khi-i-beng, dan untuk mengimbangi kecepatan lawan dia terpaksa memainkan Ilmu Silat Pat-hong-sin-kun dan mempergunakan tenaga sin-kang Pek-in-ciang sehingga dari kedua telapak tangannya mengepul uap putih yang menyambar-nyambar dahsyat.

"Yap Kun Liong menyerahlah engkau dan pinceng akan mengampunimu,"

Kata Sin Beng Lama.

Pendeta ini diam-diam merasa kagum bukan main terhadap Kun Liong dan kalau pemuda ini mau menyerah sehingga Hong Ing dapat mengorbankan diri kepada dewa, kemudian pemuda ini mau membantunya, tentu merupakan tenaga bantuan yang tidak ternilai harganya!

"Sin Beng Lama, bebaskan Pek Hong Ing dan aku akan pergi dari sini dengan damai!"

Kun Liong berkata pula, akan tetapi matanya melirik ke arah Hwi Sian dan Swi Bu yang sudah rebah tak bergerak lagi.

Dia tidak dapat menyatakan sakit hatinya kalau suami isteri itu tewas, karena hal itu adalah kesalahan Hwi Sian dan suaminya sendiri, dan mereka itu pun telah merobohkan dan membunuh beberapa orang pendeta!

"Pemuda sombong!"

Sin Beng Lama berseru dan kini dia memperhebat serangannya dan bahkan dibantu oleh Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama yang sudah dapat memulihkan kembali tenaganya.

"Suheng, hati-hati terhadap Thi-khi-i-beng!"

Berkata Lak Beng Lama.

"Ya, dia tentu menggunakan ilmu mujijat itu!"

Kata pula Hun Beng Lama. Sin Beng Lama berseru.

"Jangan melewatkan bagian-bagian yang paling lemah. Serang matanya!"

Kun Liong mendongkol bukan main, akan tetapi juga sibuk karena tiga orang lawannya itu benar-benar amat sakti, sedangkan dia amat khawatir melihat keadaan Hwi Sian yang sudah bergerak dan mengeluarkan rintihan perlahan.

"Kun Liong... ohhh... Kun Liong...!"

Suara ini cukup menusuk perasaan hati pemuda itu.

Dia mengeluarkan suara melengking nyaring sekali dan tenaga sakti mujijat yang terkumpul di dalam tubuhnya berkat latihan menurut ilmu dalam kitab Keng-lun Tai-pun secara tiba-tiba bekerja didorong oleh perasaannya.

Tiga orang pendeta Lama itu mengeluarkan seruan kaget dan seperti tiga helai daun kering tertiup angin, mereka terlempar ke belakang dan terbanting jatuh!

"Hwi Sian...!"

Kun Liong meloncat dan menghampiri Hwi Sian, berlutut dan merangkul leher wanita itu.

"Kun Liong...!"

Hwi Sian menggerakkan lengan merangkul leher Kun Liong.

"Kun Liong, dia... suamiku... dia telah mati..."

Kun Liong menoleh dan menghela napas.

Memang jelas bahwa Tan Swi Bu telah tewas, dan wanita ini pun berada dalam keadaan payah sekali, dadanya berlubang dan seperti terbakar.

"Kun Liong... aku... aku tetap cinta padamu..."

Kun Liong menarik napas lagi, dua butir air mata membasahi pipinya.

Dia tidak mampu mengeluarkan suara.

"Kun Liong..."

Suara itu berbisik.

"Dengarlah..."

Terpaksa Kun Liong mendekatkan telinganya ke dekat mulut yang amat dikaguminya itu, mulut yang bentuknya amat indah dan selalu menjadi daya tarik utama dari kecantikan Hwi Sian.

"Aku akan mati... dan kaupelihara baik-baik anak itu... kutitipkan di Kuil Kwan-im-bio di kaki bukit, tanya Suheng Poa Su It..."

"Plak-plakk...!"

Tanpa menoleh Kun Liong mengangkat tangan kirinya dan dua kali dia menangkis datangnya dua batang golok yang menyambarnya dari belakang.

Golok-golok itu terpental dari tangan pemegangnya dan dua orang pendeta Lama meloncat ke belakang, memegangi tangan yang terasa panas!

"Anakmu...?"

Kun Liong bertanya.

Mata itu bersinar-sinar memandang wajahnya, dan bibir yang masih merah membasah itu tersenyum sehingga nampak sebagian gigi berkilat putih.

"Kini aku... dapat membuka rahasia... dia... dia anak kita, Kun Liong... rawatlah dan... selamat tinggal..."

Keduanya menjadi lemas seketika.

Hwi Sian lemas karena tubuhnya tak bernyawa lagi, sedangkan Kun Liong lemas lunglai mendengar pengakuan yang hebat dan di luar dugaannya itu.

Hwi Sian meninggalkan seorang anak, anak mereka!

Anak Hwi Sian dan dia!

Betapa mungkin ini?

Hubungan yang dahulu itu...

di kuil tua itu...

menghasilkan keturunan?

"Tidak mungkin!"

Dia meletakkan tubuh Hwi Sian ke atas tanah dan meloncat berdiri, matanya merah.

"Wuttt-wuuuttt...desss! Aughhh...!"

Lak Beng Lama berteriak keras karena kini tongkatnya yang menyambar bertemu dengan tangkisan yang dilakukan dengan tenaga mujijat sedemikian dahsyatnya sehingga tidak hanya tongkatnya yang terpental, juga tubuhnya terasa seperti disambar petir!

Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama cepat menyerang dan kembali Kun Liong dikeroyok dan didesak hebat.

Pemuda ini melawan dengan pandang mata masih termenung, dan dengan dua butir air mata membasahi pipinya.

Pikirannya masih penuh dengan pengakuan Hwi Sian.

Anak Hwi Sian, anaknya!

"Siuttt...

cussss...

dukk!"

Dia terhuyung ke belakang.

Ketika nyaris lehernya tertusuk hio membara dan dia mengelak sambil membuang diri ke belakang tadi, tasbih di tangan Hun Beng Lama menyambar lambungnya dengan tepat, membuat dia terpelanting ke belakang.

Tentu saja kedua orang pendeta Lama itu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, terus mendesak maju, Kun Liong menggoyangkan kepalanya untuk mengusir suara Hwi Sian yang masih mengiang-ngiang mengikuti telinganya, agar dia dapat memusatkan perhatian menghadapi pengeroyokan dua orang lawan tangguh itu.

"Kun Liong...!"

Untuk kedua kalinya selama beberapa menit itu jantung Kun Liong terguncang hebat.

Dia cepat meloncat ke belakang dan melihat dara yang dirindukannya selama ini, Pek Hong Ing, meronta-ronta dalam pegangan Lak Beng Lama!

Cepat dia mengerahkan tenaganya dan tubuhnya melayang ke arah Lak Beng Lama.

"Mundur! Kalau tidak, kubunuh dia!"

Lak Beng Lama berseru, tongkatnya menempel di ubun-ubun kepala Hong Ing.

Kun Liong mundur dengan muka pucat.

"Hong Ing... Hong Ing...!"

Bibirnya berbisik.

"Kun Liong, lawanlah! Lawan dan bunuhlah mereka yang keji dan jahat! Jangan pedulikan diriku!"

Hong Ing berkata sambil menangis.

"Tidak! Sam-wi Lo?suhu (Tiga Bapak Pendeta), dengarlah! Aku menyerah asal Sam-wi Losuhu tidak mengganggu Hong Ing!"

"Omitohud, bagus kalau begitu. Berlututlah!"

Sin Beng Lama berseru sambil menghampiri Kun Liong.

"Kun Liong, jangan...!"

Hong Ing menjerit akan tetapi karena mengkhawatirkan keadaan kekasihnya, Kun Liong sudah maju berlutut di depan Sin Beng Lama.

Kakek ini mengeluarkan segulung tali hitam, lalu dibantu oleh Hun Beng Lama dia membelenggu kedua pergelangan tangan Kun Liong di belakang tubuhnya.

Tali hitam itu bukanlah sembarang tali, melainkan terbuat dari bulu biruang hitam yang hanya terdapat di pegunungan yang sunyi dari daerah Tibet.

Bulu binatang ini amat kuat, tidak mungkin dibacok putus oleh senjata pusaka yang mana pun.

Orang hanya dapat membunuh biruang hitam itu dengan jalan menusuknya, sehingga senjata runcing menyusup di antara bulu kuat itu melukai tubuh.

Kalau dibacok, jangan harap dapat melukai binatang itu.

Akan tetapi tentu saja ada kelemahan bulu itu bagi yang mengerti.

Kun Liong membiarkan kedua tangannya dibelenggu tanpa mengadakan perlawanan.

"Hong Ing, jangan melawan, menurutlah saja. Kurasa para Losuhu ini tidak akan berniat buruk."

"Omitohud, sama sekali tidak, Yap-taihiap. Engkau sungguh gagah dan kami bukanlah orang-orang yang tidak menghargai orang pandai. Kami ingin sekali bersahabat dengan Taihiap."

Sin Beng Lama berkata dan halus penuh bujukan.

Akan tetapi dengan sinar mata tajam dan suara tegas, Kun Liong kepada ketua para Lama Jubah Merah itu dan berkata.

"Losuhu, aku menyerah bukan karena ingin bersahabat dengan Losuhu sekalian, melainkan karena Losuhu berjanji tidak akan mengganggu Hong Ing. Sekarang, setelah aku menyerah, harap lekas bebaskan Hong Ing dan lakukan apa saja yang Losuhu sukai terhadap diriku."

"Kun Liong...!"

Hong Ing yang sudah dilepas oleh Lak Beng Lama karena pemuda lihai itu telah dibelenggu, cepat lari menubruk pemuda itu, merangkulnya sambil menangis.

"Kun Liong... oh, Kun Liong...!"

Hong Ing hanya dapat meratap karena hatinya menyesak oleh perasaan terharu.

Seluruh kerinduan hatinya menyesak di dada, kegirangan melihat pemuda ini kembali bercampur dengan kekhawatiran melihat kekasihnya menyerah dan dibelenggu.

Dia merangkul memeluk, mendekapkan mukanya yang basah oleh air mata itu di pipi, leher, dan dada Kun Liong yang menunduk dan mencoba meredakan hati kekasihnya.

"Tenanglah, Hong Ing. tenanglah..."

Akan tetapi mana mungkin hati Hong Ing dapat ditenangkan kalau dia teringat bahwa dia akan dikorbankan kepada dewa di depan mata Kun Liong seperti yang telah dijanjikannya kepada Sin Beng Lama?

Siasatnya memang berhasil membawa Kun Liong menyusulnya ke tempat ini, akan tetapi kesudahannya sama sekali berbeda dengan yang dikehendakinya.

Dia mengharapkan kedatangan Kun Liong bersama Cia Keng Hong untuk melawan para pendeta Lama itu dan membebaskan dia dan ayahnya, akan tetapi hasilnya jauh berlainan.

Ayahnya tidak mau membantu, dan Kun Liong menyerah untuk melindunginya!

Bagaimana dia dapat tenang menghadapi malapetaka ini?

"Mundurlah kau!"

Lak Beng Lama menarik lengan Hong Ing sehingga terlepas dari rangkulan pada leher Kun Liong.

"Hong Ing, sekarang Yap-taihiap sudah datang, kau harus memenuhi janjimu."

Sin Beng Lama berkata, suaranya halus akan tetapi nadanya mengandung paksaan dan ancaman.

Dengan kedua mata masih basah Hong Ing memandang kepada Kun Liong yang masih berdiri tegak dengan lengan terikat ke belakang.

Pemuda itu memandangnya dengan tenang dan bibirnya tersenyum seperti hendak menghibur dan membesarkan hatinya.

Maklumlah dara ini bahwa siasatnya telah gagal sama sekali, bahkan dia telah menyeret Kun Liong ke dalam bahaya maut.

Dia tahu pula akan kepalsuan hati para paman gurunya, maka dia khawatir sekali akan keselamatan kekasihnya itu.

"Susiok, aku hanya mau berkorban diri kalau Susiok bertiga suka berjanji takkan membunuh Yap Kun Liong."

"Hong Ing, apa maksudmu berkorban diri?"

Kun Liong bertanya dengan tiba-tiba dan hatinya berdebar tegang.

Akan tetapi Hong Ing menundukkan mukanya tidak berani menjawab.

Kalau dia bicara terus terang, tentu Kun Liong akan marah-marah kepada para pendeta dan memberontak.

Dalam keadaan sudah terbelenggu seperti itu, hasilnya tentu akan sia-sia, bahkan akan membahayakan keselamatannya, maka dia diam saja, bahkan mendesak Sin Beng Lama.

"Sin Beng Susiok, bagaimana? Tanpa janji Sam-wi untuk membebaskan Kun Liong segera setelah saya berkorban, saya tidak akan mau dan saya akan membunuh diri kalau dipaksa!"

Tanpa ragu-ragu lagi Sin Beng Lama berkata.

"Kami berjanji! Kami akan segera membebaskan Yap Kun Liong setelah kau selesai berkorban diri untuk dewa."

Hong Ing menoleh kepada Kun Liong, menarik napas panjang dan terisak, lalu menunduk dan berkata.

"Kalau begitu, saya bersedia."

Sin Beng Lama merasa girang sekali.

"Hayo kauikut denganku untuk menghafal doa penyeberangan ke kahyangan! Sute berdua, harap bawa Yap-taihiap ke kamar tamu dan menjaganya baik-baik."

Kakek ini lalu menggandeng lengan Hong Ing, dituntunnya gadis ini pergi dari situ masuk ke dalam.

"Hong Ing...! Losuhu, nanti dulu! Hong Ing, jelaskan kepadaku apa artinya ini semua! Apa artinya pengorbanan itu!"

Teriak Kun Liong.

Akan tetapi Hong Ing yang memandang kepadanya, hanya menggeleng kepala dan air matanya bercucuran, kemudian dengan cepat dia mengikuti Sin Beng Lama berjalan masuk.

Kun Liong hendak mengejar, akan tetapi Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama memegang kedua lengannya dari kanan kiri, Hun Beng Lama berkata.

"Harap kau tidak memberontak. Kaulihat sendiri bahwa kami tidak melakukan paksaan kepada Pek Hong Ing. Dia melakukan segala sesuatu dengan suka rela atas kehendaknya sendiri, semoga para dewa melindunginya."

Kun Liong terpaksa menahan kemarahannya.

Ketika dia digiring masuk, dia melirik ke arah mayat-mayat di sekeliling tempat itu dan melihat mayat Hwi Sian dan suaminya, dia memejamkan kedua matanya.

"Hwi Sian, kauampunkan aku..."

Bisik hatinya.

Betapa hidupnya yang lalu bergelimang kepalsuan dan dosa, dan bahkan saat ini pun dia tidak berdaya menolong Hong Ing.

Ingin dia meronta dan memberontak, namun dia menekan kemarahannya.

Hal ini tidak mungkin ia lakukan selama Hong Ing masih berada di tangan mereka.

Dia harus bersabar dan melihat perkembangan selanjutnya untuk menentukan sikap.

Sementara itu, dengan hati penuh harapan, penuh kegirangan, karena dia merasa yakin bahwa kalau Pek Hong Ing, keturunan Pek Cu Sian yang pernah membikin murka dan kecewa kepada dewa itu dengan suka rela mengorbankan diri menjadi "mempelai dewa"

Tentu para dewa akan memberkahi dan melindungi Lama Jubah Merah dan membantu mereka dalam "perjuangan"

Mereka yang suci, Sin Beng Lama menuntun Pek Hong ing ke dalam ruangan sembahyang untuk mengajarkan doa-doa yang harus diucapkannya ketika pengorbanan dilaksanakan.

Sebagai seorang dara yang sedikit banyak sudah kemasukan kepercayaan agama itu, kepercayaan tradisi, diam-diam Hong Ing menerima nasib, bahkan dia pun mengharapkan bahwa pengorbanan dirinya selain akan menebus dosa mendiang ibunya, Juga akan dapat membebaskan orang yang dicintanya, yaitu Yap Kun Liong, dan membebaskan pula ayahnya dari segala dosa!

Dia benar-benar hendak berkorban secara suka rela, demi mereka bertiga itu, terutama sekali demi kebebasan Kun Liong.

Maka dia pun menahan kedukaan hatinya dan menghafalkan doa-doa itu dengan tekun tanpa banyak membantah lagi.

Hal ini makin menggirangkan hati Sin Beng Lama yang menganggap bahwa dewa telah memilih dara ini maka telah menurunkan kegaiban dan mempengaruhi hati dara itu!

Selama tiga hari Kun Liong menjadi tamu yang terbelenggu!

Dia diperlakukan dengan baik dan dengan ilmunya melemaskan tubuh Sia-kut-hoat yang telah mencapai tingkat tinggi sekali, dia telah berhasil memindahkan kedua lengannya yang terikat di belakang tubuhnya itu kini menjadi berada di depan tubuhnya!

Bagi seorang ahli seperti Kun Liong, tidaklah sukar untuk menurunkan kedua tangan yang terbelenggu di belakang itu melalui bawah pinggulnya, menarik kedua kakinya dan membiarkan belenggu kedua tangan itu terus melalui bawah kedua kakinya yang ditekuk ke atas sehingga kini kedua tangannya berada di depan tubuh, biarpun masih dalam keadaan terbelenggu kedua pergelangan tangannya.

Melihat hal ini, Hun Beng Lama hanya memandang kagum, namun mereka merasa lega bahwa pemuda itu tidak dapat mematahkan belenggu.

Dengan kedua tangan kini berada di depan, Kun Liong dapat makan dengan mudah dan tidak merasa terlalu tersiksa lagi.

Tubuhnya tidak merasa tersiksa, akan tetapi batinnya amat gelisah.

Beberapa kali dia membujuk kedua orang pendeta Lama itu untuk menceritakan apa yang telah terjadi, dan apa yang hendak dilakukan oleh Hong Ing.

Namun kedua orang itu hanya menjawab.

"Harap Taihiap bersabar karena Taihiap akan menyaksikan dengan mata sendiri apa yang akan dilakukan oleh murid keponakan kami itu. Karena itulah maka Taihiap ditahan di sini, agar dapat menyaksikan. Setelah selesai upacara pengorbanan itu, kami pasti akan membebaskan Taihiap."

Pada hari ke tiga itu, di halaman belakang markas Lama Jubah Merah telah dibangun sebuah tempat pembakaran yang berupa sebuah panggung kecil dari kayu.

Di tengah panggung terdapat sebatang tiang dan di sekeliling tiang ini ditumpuk kayu-kayu yang mudah terbakar.

Sebuah meja sembahyang besar telah disiapkan dan di atas meja itu dihidangkan lengkap segala keperluan sembahyang, dan banyak lilin dinyalakan.

Tempat itu penuh dengan para anggauta Lama Jubah Merah yang sudah berkumpul di sekeliling tempat pembakaran.

Mereka duduk bersila di atas tanah sehingga kelihatan seperti bunga-bunga besar berwarna merah karena mereka semua mengenakan jubah merah mereka.

Dengan penuh khidmat para pimpinan yang terdiri dari Sin Beng Lama, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama dibantu oleh para Lama lain yang tinggi tingkatnya, mengatur meja sembahyang.

Tak lama kemudian muncullah Pek Hong Ing, berjalan perlahan-lahan, diikuti dengan sikap penuh hormat oleh para Lama dan disambut sambil membungkuk-bungkuk oleh Sin Beng Lama sendiri yang bersikap seperti seorang pendeta menyambut datangnya tamu agung, dalam hal ini pengantin agung!

Semua mata para pendeta, yang telah bertahun-tahun bertapa dan berpuasa terhadap nafsu, terutama sekali nafsu birahi, kini memandang penuh gairah.

Bagi pandang mata mereka, Pek Hong Ing bukan lagi manusia, melainkan seorang dewi, seorang calon isteri dewa, karena itu memiliki kecantikan agung, bukan kecantikan jasmaniah belaka yang kasar, kotor dan hanya sedalam kulit!

Mereka yakin bahwa kelak, di alam baka, mereka akan bersahabat dengan wanita-wanita seperti ini!

Memang pada saat itu, melihat Pek Hong Ing akan menimbulkan rasa takjub, hormat dan kagum.

Dara ini telah dirias dengan teliti, kelihatan cantik tapi agung sekali, tidak seperti seorang dara dari darah daging lagi, melainkan sepatutnya telah menjadi seorang bidadari dari kahyangan!

Wajahnya yang putih halus itu seolah-olah bersinar, pandang matanya meremang jauh, menembus segala sesuatu di depannya, langkahnya lembut dan agung, kepalanya tegak, tubuhnya lurus dan lenggangnya lemah gemelai.

Rambutnya yang mengkilap bersih karena sudah dicuci secara istimewa, hitam subur dan panjang digelung ke atas seperti gelung rambut para dewi dalam dongeng, Dihias ratna mutu manikam, gemerlapan tertimpa cahaya matahari pagi.

Seluruh pakaian dara itu, sampal ke sepatunya, berwarna putih bersih, dari sutera termahal, sutera yang amat halus sehingga seolah-olah terbayang lekuk lengkung tubuhnya di balik pakaian putih itu.

Warna pakaian yang putih bersih ini kelihatan makin mencolok karena dilatarbelakangi warna merah darah dari jubah merah yang dikenakannya.

Banyak di antara para pendeta Lama yang hadir di situ memandang bengong, ada yang tanpa disadarinya berlinang air mata, ada pula yang beberapa kali meneguk air liurnya sendiri, ada pula yang langsung merangkap kedua tangan ke depan dada dan mulutnya berkemak-kemik membaca doa untuk memuja para dewata dan mohon kekuatan bagi batinnya yang terguncang hebat.

Dengan langkah-langkah yang sudah teratur dan terlatih, Hong Ing menghampiri Sin Beng Lama dan membalas penghormatan kakek ini, menerima hio dan bersembahyang di depan meja sembahyang, berlutut dan membungkuk sampai dahinya yang halus menempel pada permadani yang dibentang di situ, semua gerak-geriknya diikuti oleh mata para pendeta dengan seksama.

Setelah selesai bersembahyang, Hong Ing lalu melangkah meninggalkan meja sembahyang, diikuti oleh suara tambur yang sejak tadi dipukul lambat-lambat mengikuti gerakan "pengantin puteri"

Ini, lalu langsung melangkah menaiki anak tangga ke atas panggung, diikuti oleh Sin Beng Lama, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama.

Tiga orang pendeta ini membawa bunga yang dirangkai menjadi tali yang amat panjang, Kemudian, setelah Hong Ing berdiri membelakangi tiang sampai punggung menempel pada tiang, menghadap ke meja sembahyang, tiga orang pendeta itu sambil membaca doa lalu melibat-libatkan tali kembang itu ke seluruh tubuh Hong Ing.

Kembang-kembang itu dirangkai dengan menggunakan tali yang kuat dan tahan api, dan hal ini dilakukan untuk menjaga agar sang mempelai akan tetap berdiri ketika dilakukan pembakaran nanti, tetap berdiri dan habis terbakar dalam sikap yang agung.

Setelah selesai mengikat Hong Ing pada tiang itu, mereka bertiga turun lalu dimulailah upacara sembahyang dan membaca doa sebelum pembakaran dilakukan.

Dengan penuh khidmat dan kesungguhan hati para pendeta itu, dipimpin oleh Sin Beng Lama, bersembahyang dan berdoa dan seluruh panca indria, seluruh perasaan dan perhatian mereka tujukan kepada dewa di langit!

Semenjak kecil, kita manusia telah digembleng dan dibentuk oleh tradisi, oleh agama, oleh kebudayaan dan oleh peradaban untuk menjadi permainan daripada kepercayaan-kepercayaan dan karena itu kita hidup tidak bebas lagi.

Jalan pikiran kita tidak lagi bebas karena sudah digariskan dan ditentukan oleh kepercayaan yang ditanamkan kepada kita sejak kecil, sesuai dengan masyarakat dan lingkungan masing-masing.

Oleh karena itu, kita tidak mengenal hidup seperti apa kenyataannya, melainkan memandang hidup melalui tirai yang berupa kepercayaan, ketahyulan, kebiasaan yang membentuk pendapat-pendapat.

Kesemuanya ini diperkuat oleh makin membesarnya si aku yang juga diciptakan oleh pikiran menurut bentukan keadaan dan pendidikan kita.

Demikian palsu adanya hidup kita sehingga segala sesuatu yang kita lakukan tidaklah wajar lagi, melainkan sebagai pengulangan belaka dari kebiasaan kita.

Segala yang kita lakukan bersumber kepada si aku, sehingga setiap perbuatan kita adalah palsu dan tidak wajar.

Namun, kita tidak sadar akan hal ini, dan semua kepalsuan itu telah kita terima sebagai cara hidup kita yang wajar!

Kepalsuan dianggap kewajaran, itulah pelajaran kebudayaan kita.

Para pendeta Jubah Merah itu pun hidup sebagai benda-benda mati yang hanya bergerak menurut garis yang sudah ditentukan lebih dulu.

Mereka tidak mau menyelidiki dan mempelajari lagi apa yang mereka lakukan itu, karena yang terpenting bagi mereka, Seperti bagi kita pada umumnya, adalah tujuan daripada perbuatan mereka.

Perbuatannya sendiri menjadi tidak penting, karena semua perhatian ditujukan untuk mencapai tujuan.

Upacara sembahyang mereka lakukan bukan semata demi sembahyang itu sendiri, melainkan bagi tercapainya yang mereka tuju sebagai hasil dari sembahyang itu.

Mereka menghadapi "perjuangan"

Menumbangkan Pemerintah Tibet, maka mereka melakukan upacara pengorbanan dan sembahyang dengan segala kesungguhan hati, bukan demi upacara itu sendiri, melainkan demi terkabulnya harapan dan cita-cita mereka.

Sembahyang, pengorbanan, dan segala upacara itu hanya menjadi cara atau jembatan belaka untuk memperoleh yang mereka kehendaki, yaitu kemenangan dalam "perjuangan"

Itu, melalui berkah para dewa yang mereka sembah-sembah.

Kalau kita mempunyai kepercayaan lain, tentu akan mencela mereka dan mengatakan bahwa mereka tahyul, dan sebagainya.

Kita lupa bahwa kita sendiri pun sesungguhnya tidak jauh bedanya dengan mereka!

Mari kita membalikkan pandangan mata kita untuk memandang dan meneliti, untuk mengenal keadaan diri sendiri!

Kalau kita bersembahyang baik kepada Tuhan, kepada Nabi, kepada Dewa, atau kepada apa saja yang kita puja sebagai kepercayaan kita masing-masing, kepercayaan yang dibentuk oleh keadaan sekeliling atau oleh keadaan keluarga, kelompok, atau bangsa kita masing-masing, apa yang terucapkan oleh mulut atau hati kita?

Mari kita menengok diri sendiri.

Bukankah kita memohon kepada Tuhan atau Dewa atau Nabi dengan kata-kata masing-masing.

"Ya Tuhan berkahilah SAYA, lindungilah SAYA, ampunilah SAYA, bimbinglah SAYA,"

Atau di dalam kelompok kita berdoa.

"Ya Tuhan lindungilah KAMI, berilah kemenangan dalam perang kepada KAMI, ampunilah dosa-dosa KAMI", dan selanjutnya lagi?

Dengan demikian, bukankah seluruh doa dan upacaranya itu semata-mata ditujukan demi kepentingan SAYA, atau KAMI, atau si aku ini!

Dengan demikian, apakah ini disebut pemujaan kepada Tuhan atau apa pun yang kita sembah?

Ataukah hanya merupakan pemujaan kepada diri sendiri semata-mata?

Dengan cara demikian, Tuhan tidak dipentingkan lagi, karena yang penting adalah aku, untukku, bagiku, demi aku, dan seterusnya.

Bahkan seolah-olah nama Tuhan hanya kita peralat demi tercapainya segala keinginan kita, keinginan lahir maupun keinginan batin, keinginan memperoleh kedudukan dan kemuliaan di dunia maupun keinginan memperoleh kedudukan dan kemuliaan di alam baka!

Bukankah semua ini merupakan kepurapuraan dan kemunafikan yang palsu?

Segala macam perbuatan yang dicap sebagai perbuatan baik maupun perbuatan buruk oleh masyarakat kita dan kebudayaannya, segala macam perbuatan itu adalah munafik dan palsu selama di dasarnya terkandung pamrih untuk kepentingan atau kesenangan diri pribadi!

Ini sudah jelas dan nyata, bukan?

Perbuatan barulah benar kalau digerakkan oleh CINTA KASIH dan cinta kasih bukanlah pamrih dalam bentuk apapun juga.

Cinta kasih akan menghilang selama di situ terdapat pamrih!

Dan tanpa cinta kasih tidak mungkin ada kebenaran, tidak mungkin ada kebaikan.

Kebaikan tidak mungkin dapat dilatih, yang dilatih hanyalah yang palsu, yang berpamrih karena melatih kebaikan itu pun sudah merupakan suatu pamrih yang berselubung halus.

Oleh karena itu, marilah kita belajar mengenal diri sendiri dan melihat segala kepalsuan, kemunafikan, keburukan, yang berjejal penuh di dalam hati dan pikiran kita.

Dengan memandang dan mengerti, semua itu akan runtuh dan lenyap, dan setelah bebas dari semua itu, baru sinar cinta kasih akan timbul.

Ibarat matahari yang sinarnya takkan menimbulkan penerangan karena tertutup awan, demikian pula cinta kasih tidak bersinar karena tertutup oleh awan hitam yang bersumber kepada si aku!

Di mana ada si aku, tentu timbul pertentangan dan permusuhan.

Karena itu, di mana ada si aku, tidak mungkin ada cinta kasih.

Baru saja upacara sembahyang selesai, Sin Beng Lama berkata kepada dua orang sutenya.

"Jemput Yap Kun Liong ke sini!"

Dua orang pendeta Lama itu bergegas masuk ke dalam markas dan memasuki kamar di mana Kun Liong duduk menanti dengan tenang, dijaga oleh dua losin orang pendeta Lama Jubah Merah.

Melihat Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama masuk, Kun Liong berkata.

"Ji-wi berjanji akan mempertemukan aku dengan Pek Hong Ing pagi ini."

"Marilah, dia sudah menanti sejak tadi. Upacara sembahyang telah dilakukan, dan kini tinggal menanti kehadiranmu untuk segera melaksanakan upacara pengorbanan,"

Kata Hun Beng Lama dengan sikap serius.

"Pengorbanan...? Hong Ing...?"

Kun Liong bangkit berdiri dan bertanya dengan penuh ketegangan.

Hun Beng Lama tersenyum dan memegang siku kanan Kun Liong sedangkan Lak Beng Lama memegang siku kirinya.

"Marilah, Taihiap, kau menyaksikan sendiri dan melihat bahwa kami sama sekali tidak melakukan pemaksaan kepada Hong Ing."

Dengan jantung berdebar penuh ketegangan Kun Liong mengikuti dua orang pendeta Lama ini menuju ke belakang markas dan dia merasa makin gelisah dan tegang melihat banyaknya pendeta yang berkumpul di halaman belakang itu.

Sementara itu, di dalam kamar hukuman di mana Kok Beng Lama duduk bersila, Bun Houw berlutut di depan kakek itu sambil menangis.

"Suhu...! Suhu...! Kenapa Suhu selama tiga hari tidak mau mendengarkan permintaan teecu (murid)?"

Bun Houw berteriak sambil menyusut air matanya.

"Terjadi banyak hal luar biasa. Suheng Yap Kun Liong telah datang dan dia ditangkap oleh para Susiok dan dimasukkan kamar tahanan. Teecu sama sekali tidak boleh mendekat, bahkan diancam akan dipukul kalau teecu mendekati kamar itu. Juga Suci Hong Ing selalu berada di kamar sembahyang, tidak boleh teecu dekati. Suhu, semua itu telah terjadi dan Suhu tidak ambil pusing."

Kok Beng Lama termenung, kemudian membuka mata dan menunduk, menatap wajah muridnya yang masih kecil itu, yang kini memandang kepadanya dengan pipi basah air mata.

Dia tersenyum lebar.

(Lanjut ke

Jilid 49) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 49

"Bun Houw, engkau muridku penuh semangat, akan tetapi engkau masih kanak-kanak. Engkau tidak tahu bahwa hidup ini baru berharga kalau kita menjaga kehormatan, dan kehormatan baru terjaga kalau kita selalu menyatukan kata-kata dan perbuatan. Pinceng (aku) telah berjanji tidak akan memberontak, mana mungkin engkau. minta pinceng mencampuri urusan para suteku itu?"

"Tapi, Suhu..."

"Sudahlah, jangan ganggu aku lagi. Pergilah dan latih pelajaranmu,"

Kakek itu menghardik.

Tiba-tiba Bun Houw yang mengusap air matanya itu berkata, suaranya penuh kemarahan.

"Aku malu menjadi muridmu!"

Kata-kata ini mengejutkan Kok Beng Lama dan kakek ini membuka lagi matanya, memandang wajah yang kini merah dan penuh kemarahan, sepasang mata kecil yang berapi-api ditujukan kepadanya itu.

"Apa... apa katamu?"

Tanyanya penuh keheranan karena selama ini Bun Houw memperlihatkan sikap hormat, penuh sayang, dan penurut kepadanya.

"Aku bilang bahwa aku malu menjadi muridmu! Suhu mengecewakan hati, Suhu bukan seorang laki-laki gagah seperti yang kuduga! Suhu pengecut!"

Kalau saja tidak ingat bahwa yang bicara adalah seorang anak kecil yang sudah diambil sebagai muridnya, tentu sekali menggerakkan tangan Kok Beng Lama akan membunuh orang yang memakinya pengecut itu!

Matanya terbelalak lebar dan telinganya mendengarkan kata-kata anak kecil itu yang terus menyerangnya!

"Suhu lebih percaya kepada para Susiok yang jahat itu daripada kepadaku!

Suhu bilang memegang janji, akan tetapi apakah mereka juga memegang janji?

Tahukah Suhu bahwa sekarang ini, seperti yang kuintai tadi, Suci sedang menghadapi ancaman maut, akan dibakar hidup-hidup?

Akan tetapi Suhu tidak mau menolong.

Suhu takut dan pengecut...!"

Bun Houw tidak menangis lagi, dan kini sudah bangkit berdiri, telunjuk kanannya menuding-nuding ke arah muka kakek itu.

"Kau bohong...!"

Kok Beng Lama membentak ketika mendengar cerita Bun Houw bahwa puterinya hendak dibakar hidup-hidup!

"Suhu lihat sendiri!

Kalau saya bohong masih belum terlambat untuk menghukum saya.

Suhu boleh bunuh saya."

Anak itu menjawab tegas.

Pada saat itu, terdengarlah suara hiruk pikuk di bagian belakang markas, seperti kegaduhan orang-orang yang bertempur, dan di antara suara hiruk pikuk itu pendengaran Kok Beng Lama yang amat tajam menangkap jeritan suara puterinya!

Dia mendengus, dan tubuhnya yang tadinya duduk bersila itu, tiba-tiba berkelebat dan seperti terbang cepatnya dia sudah melompat keluar dari kamar itu dan terus berlari ke belakang!

Apa yang disaksikannya di halaman belakang markas itu membuat dia terkejut bukan main!

Puterinya, dengan pakaian yang biasa dipakai gadis-gadis yang menjadi mempelai dewa, telah berdiri di panggung dengan tubuh berbelit-belit rangkaian bunga dan api di bawah panggung sudah mulai dinyalakan oleh Sin Beng Lama, Hun Beng Lama, dan Lak Beng Lama!

Dia melihat puterinya itu memandang ke kanan kiri dan menjerit-jerit.

"Kun Liong...! Jangan melawan... oh, Kun Liong!"

Kok Beng Lama terheran-heran.

Melihat sikapnya dan keadaan di situ, agaknya puterinya itu tidak dipaksa, melainkan dengan suka rela ingin mengorbankan diri kepada dewa.

Maka dia menjadi ragu-ragu dan bingung.

Untuk merampas puterinya, menolong puterinya seperti yang telah dilakukan dahulu ketika dia menolong dan menyembunyikan Pek Cu Sian, dia tidak berani.

Bukan tidak berani kepada para Lama, melainkan tidak berani melanggar janji, dan tidak berani lagi melakukan dosa terhadap dewa yang dimuliakannya.

Ketika menoleh ke kiri, dia melihat seorang pemuda sedang mengamuk.

Pemuda itu masih terbelenggu kedua tangannya di depan tubuh, dengan belenggu bulu biruang hitam, akan tetapi biarpun kedua tangannya terbelenggu, dengan tangan terangkap dan dengan kedua kakinya, pemuda itu telah merobohkan setiap orang Lama yang berani menghadangnya dan mengeroyoknya!

Inilah yang menimbulkan kegaduhan dan kini para pendeta Lama sedang marah dan mulai menggunakan senjata untuk mengeroyok pemuda yang memberontak dan mengamuk itu.

"Kalian orang-orang kejam! Akan kubunuh semua kalau Hong Ing tidak dibebaskan!"

Kun Liong berteriak-teriak dan beberapa orang pendeta Lama terlempar jauh tersambar tendangan kakinya yang dilakukan dengan kemarahan meluap-luap tercampur rasa gelisah yang hebat melihat betapa kekasihnya akan dibakar hidup-hidup!

"Manusia lancang!

Dia dengan suka rela hendak mengorbankan diri menjadi mempelai dewa, ada sangkut-pautnya apa denganmu!"

Bentak seorang Lama dengan marah.

Mendengar ini, Kok Beng Lama makin bingung.

Dia sudah berjanji tidak akan memberontak, dan tentu saja dia merasa bahwa dia bersalah kalau sampai dia mencegah puterinya yang hendak melakukan pengorbanan diri, suatu hal yang amat dimuliakan di dalam tradisi mereka.

Akan tetapi, tentu saja dia pun tidak akan dapat membiarkan puterinya tewas begitu saja dan melihat sepak-terjang pemuda itu yang amat hebat, dia mendapat akal.

Sambil mengeluarkan suara gerengan hebat dia menyerbu ke depan, mendorong semua Lama ke pinggir kemudian dia menyerang Kun Liong dengan hebatnya!

Melihat munculnya Kok Beng Lama, semua Lama, termasuk tiga orang pimpinan Lama, menjadi terkejut sekali.

Akan tetapi hati mereka menjadi lega ketika melihat betapa Kok Beng Lama menyerang Kun Liong.

Diam-diam Sin Beng Lama tersenyum girang melihat suhengnya telah benar-benar bertobat dan hendak menebus dosa terhadap dewa itu.

Dengan adanya suhengnya itu yang membantu, tentu perjuangan mereka akan lebih mantap lagi.

Sementara itu, Kun Liong sudah mengenal kakek tinggi besar yang muncul ini, kakek yang bernama Kok Beng Lama dan yang dulu pernah menolong dia dan Hong Ing, yang kemudian dia ketahui adalah ayah kandung dara itu.

"Lociapwe, saya hendak menolong Hong Ing!"

Katanya ketika kakek itu menerjangnya.

Namun terlambat, serangan telah tiba dan hebat bukan main serangan kaki itu.

Pukulan yang dahsyat, mendatangkan hawa pukulan seperti halilintar menyambar, menuju ke arah dadanya.

Kun Liong mengangkat kedua lengannya yang masih terbelenggu, mengerahkan sin-kangnya menangkis dari kiri ke kanan.

"Desss... belenggu itu kalah oleh api...!"

Tubuh Kun Liong terpental ke belakang sedangkan Kok Beng Lama juga terhuyung-huyung.

Hal ini amat mengejutkan Kok Beng Lama karena pertemuan tenaga tadi membuktikan bahwa tenaga sin-kang pemuda itu amat kuatnya, tidak kalah kuat olehnya sendiri, bahkan mungkin lebih kuat atau setidaknya berimbang.

Akan tetapi, Kun Liong juga terkejut dan girang karena pada saat lengan mereka bertemu tadi, dia mendengar bisikan kakek itu.

Tahulah bahwa ayah kandung Hong Ing itu membantunya secara diam-diam dan dia tahu pula bahwa belenggu yang amat kuat itu, lebih kuat dari besi yang akan dapat dia patahkan, kiranya ada rahasia kelemahannya, yaitu api!

"Haiiiihhhh!"

Lengking yang nyaring keluar dari dalam dada Kun Liong ketika tubuhnya melayang ke arah panggung yang mulai terbakar!

Dia meloncat tinggi melewati kepala para pengeroyoknya dan ketika dia turun di dekat panggung, Cepat dia merobohkan empat orang yang lari menerjangnya.

Kemudian dia membalik, mengulur kedua tangannya ke api yang sudah menyala di bawah panggung.

Betapa girang rasa hatinya ketika melihat lidah api menjilat belenggunya dan seperti daun kering saja, bulu-bulu hitam itu dimakan api dan dalam sekejap mata dia telah bebas!

Berkat sin-kangnya yang tinggi, dia dapat menjaga kulit pergelangan tangannya sehingga tidak hangus oleh bakaran api yang tidak terlalu lama itu.

Kembali beberapa orang pendeta Lama mengeroyoknya dan kembali dia merobohkan empat orang.

Akan tetapi dia melihat Kok Beng Lama juga lari mengejarnya, tepat pada saat Sin Beng Lama, Hun Beng Lama, dan Lak Beng Lama tiba di situ.

Dan kini Kok Beng Lama berdiri melindunginya, bahkan menghadapi tiga orang sutenya sambil bertolak pinggang!

"Pengkhianat, kau berani membuat dosa lagi?"

Sin Beng Lama membentak.

"Kau tidak malu untuk melanggar janji?"

"Sin Beng Lama, pikir dulu baik-baik sebelum membuka mulut!"

Bentak Kok Beng Lama dengan mata melotot.

"Siapa yang melanggar janji? Siapa yang membuat dosa? Tidak ada buktinya bahwa aku memberontak, maka aku tidak melanggar janji. Sebaliknya, kalian berjanji takkan mengganggu anakku buktinya kalian hendak mengorbankan dia!"

Tiga orang pimpinan Lama itu khawatir sekali melihat betapa Kun Liong sudah meloncat naik ke atas panggung dan bergegas membebaskan kekasihnya dari tiang yang sudah dihampiri oleh lidah api itu, kemudian menarik dara itu menjauhi api.

"Kun Liong...!"

"Hong Ing...!"

Mereka berpelukan, berdekapan, berciuman tanpa mempedulikan keadaan di sekeliling mereka.

"Kun Liong... hu-huhhh... Kun Liong...!"

Berkali-kali Hong Ing menyebut nama kekasihnya dengan mesra, akan tetapi dengan suara merintih dan menangis.

Kun Liong mengusap rambut kekasihnya penuh kemesraan, diangkatnya muka dara itu dan dipandangnya sampai lama dengan mata basah.

"Hong Ing... kekasihku, pujaan hatiku... syukur aku tidak terlambat, semua ini berkat pertolongan ayahmu..."

"Ayah...?"

Hong Ing yang masih berpelukan dengan kekasihnya itu menoleh ke bawah panggung.

Juga Kun Liong kini teringat bahwa mereka masih belum bebas dari ancaman bahaya, masih terkepung oleh banyak lawan, maka cepat dia memandang ke bawah panggung.

Kok Beng Lama masih berhadapan dengan tiga orang sutenya, dan kini kakek itu berkata lantang.

"Apa? Kau bilang bahwa anakku secara suka rela hendak mengorbankan dirinya? Benarkah itu? Mana buktinya? Itu dia, aku akan bertanya. Heiii, Hong Ing, benarkah kau dengan suka rela hendak mengorbankan dirimu menjadi mempelai dewa yang mulia?"

"Tidak, Ayah! Mereka memaksaku karena mereka menangkap Kun Liong dengan cara yang curang! Mereka mengancam hendak membunuhku sehingga Kun Liong menyerahkan diri dan untuk menolong agar Kun Liong tidak dibunuh, aku mau dibakar asal Kun Liong tidak diganggu. Mereka itu pendeta-pendeta yang berhati palsu!"

"Locianpwe, mereka adalah pemberontak-pemberontak yang bersekutu dengan Pek-lian-kauw untuk merampas Kerajaan Tibet dan Kerajaan Beng!"

Kun Liong juga berteriak.

"Pengkhianat dan manusia rendah!"

Sin Beng Lama sudah membentak marah sekali karena rahasianya dibongkar.

Biarpun dia maklum akan kelihaian bekas suhengnya ini dan juga betapa pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, namun dengan bantuan banyak anak buahnya, juga pasukan-pasukannya bersama pasukan Pek-lian-kauw berada di luar markas, tentu saja dia tidak takut.

"Serbuuu...! Bunuh mereka manusia-manusia berdosa ini!"

Teriaknya nyaring dan dia sendiri bersama Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama sudah menerjang Kok Beng Lama.

"Locianpwe, jangan khawatir, saya akan membantu!"

Kun Liong berteriak sambil membawa Hong Ing meloncat turun dari panggung yang sudah terbakar.

"Desss...! Dukkk! Dukkk!"

Tiga orang pimpinan Lama itu terdorong ke belakang ketika lengan Kok Beng Lama menangkis mereka dengan kekuatan yang amat dahsyat.

Kok Beng Lama menoleh ke arah Kun Liong sambil berseru.

"Orang muda, jangan bantu aku. Kau bawalah Hong Ing menyingkir, selamatkan dia, aku serahkan dia kepadamu dengan berkatku!"

Kun Liong mengangguk.

"Hong Ing, mari kita pergi...!"

Katanya sambil memegang pergelangan tangan kekasihnya. Hung Ing merenggutkan tangannya terlepas.

"Tidak! Aku tidak mau meninggalkan Ayah dalam bahaya. Aku harus bantu dia! Aku akan menjadi seorang anak tak berbakti yang selamanya akan tersiksa batinku kalau aku meninggalkan ayahku yang sedang terancam bahaya."

Kun Liong memandang kekasihnya dengan wajah berseri dan dia tersenyum, merangkul dan mencium dahi Hong Ing.

Bagus!

Memang begitulah seharusnya seorang wanita gagah dan berbakti.

"Aku kagum kepadamu, Hong Ing, aku bangga!"

Kun Liong dan Hong Ing lalu menyerbu dan membantu Kok Beng Lama yang dikeroyok tiga oleh pimpinan Lama Jubah Merah yang sakti itu.

Akan tetapi, para Lama menyerbu dan mengepung mereka sehingga terpaksa Kun Liong dan Hong Ing tidak dapat mendekati Kok Beng Lama dan menghadapi pengeroyokan puluhan orang pendeta Lama.

Mereka ini juga tidak berani membantu pimpinan mereka karena mereka maklum bahwa mencampuri pertandingan antara pimpinan Lama Jubah Merah amatlah berbahaya, sama dengan mengantar nyawa.

Apalagi mereka memang merasa gentar terhadap Kok Beng Lama yang merupakan tokoh tertua di antara mereka, tokoh paling sakti pula.

Terjadilah pertandingan yang hebat sekali.

Kok Beng Lama mengamuk dikeroyok oleh tiga orang sutenya, sedangkan Kun Liong bersama Hong Ing mengamuk dikeroyok puluhan orang pendeta Lama.

Sementara itu, api dari panggung menjilat-jilat kemana-mana dan karena tidak ada yang mengurus, api itu bahkah kini menjilat ke bangunan belakang markas itu!

Betapa pun saktinya Kok Beng Lama, menghadapi pengeroyokan tiga orang sutenya yang penuh kemarahan itu, dia mulai terdesak juga.

Demikian pula dengan Kun Liong yang menghadapi pengeroyokan puluhan orang pendeta, bahkan masih ada puluhan orang lain yang siap mengeroyoknya menggantikan kawan yang roboh, di samping itu Kun Liong harus selalu melindungi kekasihnya pula.

Keadaan mereka makin terdesak dan terancam hebat.

Tiba-tiba terdengar suara sorak-sorai dan kegaduhan luar biasa di sebelah luar markas itu dan biarpun belum dapat melihat dengan mata kepala sendiri, Sin Beng Lama dan dua orang sutenya maklum bahwa pasukan mereka yang berada di luar telah diserbu musuh dan terjadi perang di luar markas.

Tentu saja mereka terkejut bukan main dan Sin Beng Lama berteriak kepada seorang anak buahnya untuk menyelidiki keluar markas.

Sebentar saja ributlah para pendeta Lama ketika terdengar berita bahwa di luar markas, tentara Pemerintah Beng telah menyerbu dan kini sedang berperang melawan pasukan Lama Jubah Merah yang dibantu oleh pasukan Pek-lian-kauw!

Mendengar ini, para pendeta Lama yang tidak memperoleh kesempatan ikut mengeroyok Kun Liong dan Hong Ing, berserabutan lari keluar dari markas untuk membantu teman-teman mereka berperang menghadapi penyerbuan bala tentara Beng.

Tiba-tiba terdengar suara keras dan pintu gerbang yang tadinya ditutup oleh para pendeta Lama yang menjaga di dalam, bobol dan berbondong-bondong masuklah bala tentara Beng dipimpin oleh dua orang laki-laki dan wanita yang amat gagah perkasa.

Mereka ini bukan lain adalah Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan isterinya, pendekar wanita Sie Biauw Eng!

Bagaikan sepasang naga yang marah mengamuk, suami isteri ini menyerbu ke dalam dan setiap lawan yang berani menghadang tentu roboh dan tak dapat bangkit kembali.

Ketika melihat munculnya suami isteri pendekar ini, Kun Liong merasa girang bukan main karena kini dia merasa yakin bahwa dia, Hong Ing, dan ayah kekasihnya akan tertolong dari bahaya maut.

"Supek... Supekbo...!"

Teriaknya girang.

"Harap Ji-wi suka membantu Kok Beng Lama Locianpwe menghadapi pimpinan mereka yang lihai!"

Mendengar ini dan melihat Kun Liong bersama seorang dara cantik mengamuk menghadapi pengeroyokan banyak pendeta Lama, Keng Hong dan isterinya agak terheran, akan tetapi mereka, diikuti oleh beberapa orang pengawal dari Panglima Besar The Hoo yang memimpin pasukan, lalu menyerbu ke tengah di mana Kok Beng Lama bertanding melawan tiga orang pendeta Lama Jubah Merah yang amat lihai.

Melihat kedatangan mereka itu, Sin Beng Lama mendengus marah, mengeluarkan seikat dupa dari sakunya dan sekali tiup, api di ujung lima dupa yang dipegangnya telah membakar semua ujung hio seikat itu, kemudian cepat sekali tangannya bergerak-gerak menyambit-nyambitkan dupa-dupa biting yang sudah membara ujungnya itu ke arah Cia Keng Hong, Sie Biauw Eng, dan para pengawal.

Tampak sinar-sinar kecil beterbangan ke arah pendatang-pendatang ini.

"Awas...!"

Cia Keng Hong berseru keras.

Dia dan isterinya cepat menggerakkan kaki tangannya, kakinya menendangi hio-hio yang beterbangan di bawah, sedangkan jari-jari tangan mereka menyambar dan menjepit hio-hio yang menyambar tubuh atas mereka, lalu melempar benda-benda itu ke atas tanah.

Akan tetapi, di belakang mereka terdengar jeritan-jeritan dan ternyata ada empat orang pengawal yang roboh berkelojotan, terkena hio-hio membara yang menancap di tubuh mereka.

Cia Keng Hong dan isterinya terkejut sekali.

Para pengawal itu adalah orang-orang yang memiliki tingkat kepandaian cukup tinggi, namun ternyata tidak mampu menghindarkan diri dari sambaran hio-hio tadi dan sekali terkena senjata rahasia istimewa itu roboh berkelojotan dalam keadaan sekarat.

Mereka menjadi marah, maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh, maka Cia Keng Hong lalu mengeluarkan pedang Siang-bhok-kiam yang sejak tadi tidak pernah dipergunakannya itu.

Pedang Kayu Harum ini mengeluarkan cahaya kehijauan ketika dicabut dan dengan mata memandang tajam dia bersama isterinya menerjang ke depan, disambut oleh Hun Beng Lama dah Lak Beng Lama.

"Trakkkk-trakkk!"

"Trangg! Cring...!"

Tasbih di tangan Hun Beng Lama bertemu dengan Siang-bhok-kiam dan Lama itu tergetar hebat, terhuyung ke belakang dan memandang dengan mata terbelalak.

Juga tongkat di tangan Lak Beng Lama bertemu dengan Pek-in Sin-pian (Cambuk Lemas Sakti Awan Putih) yang berupa sehelai sabuk sutera putih yang dapat digerakkan menjadi kaku seperti baja oleh tangan halus yang penuh tenaga sin-kang sehingga kakek ini juga terkejut dan terhuyung ke belakang.

Sin Beng Lama yang kini harus menghadapi bekas suhengnya sendirian saja, segera terdesak hebat oleh Kok Beng Lama.

Dari kedua ujung lengan jubah Kok Beng Lama menyambar-nyambar angin dahsyat dan betapa pun Sin Beng Lama berusaha untuk menyerang dengan dupa-dupa membaranya, percuma saja karena terkena sambaran angin itu dupa-dupanya menjadi padam dan patah-patah.

Terpaksa Sin Beng Lama mencabut sebatang pedang lemas yang tadinya dipergunakan sebagai ikat pinggang.

Sinar terang menyilaukan mata tampak dan disusul suara berdesing tinggi ketika sinar ini menyambar ke arah Kok Beng Lama.

Kakek tinggi besar ini terkejut, mengelak cepat namun tetap saja kulit lehernya robek berdarah.

Sambil menyeka darah di lehernya, Kok Beng Lama mendengus dan memandang penuh kemarahan kepada bekas sutenya.

"Manusia munafik!"

Kok Beng Lama membentak dan menggerakkan kedua tangannya menyerang dengan lembut.

Sin Beng Lama diam saja, kemudian cepat menggerakkan pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat putih menyilaukan mata itu.

Dia tidak dapat menjawab makian bekas suhengnya karena dia tahu bahwa dia telah melanggar sumpah, sumpah kepala Lama Jubah Merah.

Pedang itu adalah pedang pusaka yang selalu menjadi pegangan seorang Kepala Lama Jubah Merah, akan tetapi membunuh merupakan pantangan bagi seorang kepala Lama, apalagi membunuh dengan pedang pusaka ini!

Pantangan ini diperkuat dengan sumpah bahwa kalau seorang Kepala Lama melanggarnya, dia akan tewas di ujung pedang pusaka itu sendiri.

Dan kini, karena merasa tidak kuat menandingi bekas suhengnya, Sin Beng Lama melanggar sumpahnya sendiri dan mengandalkan pedang pusaka itu untuk memperoleh kemenangan.

Sambil mengeluarkan suara menggereng yang keluar dari dadanya, Kok Beng Lama menghadapi pedang pusaka di tangan Sin Beng Lama itu.

Kedua lengan kakek tinggi besar ini mengeluarkan hawa pukulan yang amat kuat sehingga gulungan sinar pedang putih selalu terdorong mundur.

"Robohlah...!"

Sin Beng Lama berteriak, melakukan penyerangan kilat, pedang pusakanya menyusul tangan kiri yang mencengkeram ke arah ubun-ubun, menusuk dari samping menuju lambung lawan.

Kok Beng Lama maklum akan jurus serangan yang amat berbahaya ini, akan tetapi dia sudah mengambil keputusan nekat untuk membunuh bekas sutenya yang kejam dan hampir membunuh anaknya itu.

Apalagi mendengar dari Kun Liong tadi bahwa sutenya ini telah menyelewengkan perkumpulan mereka, bersekutu dengan Pek-lian-kauw untuk merampas Kerajaan Tibet.

Sungguh merupakan dosa yang tak dapat diampunkan.

Bagaikan sepasang garuda yang menyambar cepatnya, kedua tangannya bergerak, yang kanan menangkap tangan sutenya yang mencengkeram ke arah ubun-ubun, yang kiri dengan gerakan membalik dari samping, dengan telapak tangan terbuka memukul ke arah pedang yang menusuk lambungnya.

"Desss! Trangggg...!"

Pedang itu terlepas dari pegangan, bahkan tangan kanan Sin Beng Lama sudah tertangkap pula oleh tangan kiri Kok Beng Lama sehingga kini kedua tangan Ketua Lama Jubah Merah telah ditangkap oleh bekas suhengnya!

Keduanya saling mengerahkan sin-kang, namun tahulah Sin Beng Lama bahwa dia kalah tenaga dan kedua lengannya sudah menggigil hebat.

"Haaaaiiiikkkk...!"

Tiba-tiba Sin Beng Lama mengeluarkan pekik yang menggetarkan seluruh tempat itu dan kepalanya yang gundul menyeruduk seperti seekor kerbau mengamuk ke arah perut Kok Beng Lama.

Inilah serangan maut yang amat berbahaya karena kepala gundul yang kini mengeluarkan uap putih itu mengandung pemusatan sin-kang yang amat dahsyat sehingga batu karang sekalipun akan hancur lebur kalau kena diseruduk oleh kepala ini!

"Ceppppp...!"

Kok Beng Lama yang melihat serangan ini, tidak mengelak bahkan memasang perutnya, menerima serudukan, bahkan perutnya yang gendut itu tiba-tiba menjadi lunak sekali, membuat kepala Sin Beng Lama menancap ke dalam rongga perutnya, terus disedot dengan pengerahan sin-kang.

Terdengar suara berkerotokan keras dan tubuh Sin Beng Lama menjadi lemas.

Ketika Kok Beng Lama menarik napas panjang dan melembungkan lagi perutnya, tubuh Sin Beng Lama terlempar ke belakang dalam keadaan tak bernyawa lagi karena kepalanya retak-retak dan remuk di sebelah dalamnya.

Kok Beng Lama membalikkan tubuh untuk mencari dua orang musuhnya lagi, yaitu Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama.

Begitu dia memandang, dia menjadi bengong dan terbelalak.

Dua orang pendeta lama itu sedang bertanding melawan seorang laki-laki dan seorang wanita yang memiliki gerakan amat luar biasa hebatnya.

Pada saat itu, sabuk sutera putih di tangan wanita cantik itu melayang seperti seekor naga putih, menyambar-nyambar ke arah Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama dan ketika kedua orang pendeta Lama ini menggerakkan tasbih dan tongkat untuk menangkis, kedua uJung sabuk itu telah melibat senjata-senjata mereka!

Kedua orang Lama ini mengerahkan tenaga untuk menarik dan membikin putus dan rusak sabuk sutera putih, akan tetapi pada saat itu, berkelebat sinar kehijauan dari Pedang Kayu Harum, dan dua orang pendeta Lama itu mengeluh lalu roboh dan tak dapat bangkit kembali.

Sedemikian cepatnya pedang itu menembus dada dan keluar lagi sehingga tidak tampak oleh pandangan mata.

Siasat kerja sama yang dilakukan oleh Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng memang hebat.

Tadinya, ketika Keng Hong menghadapi Hun Beng Lama dan Biauw Eng melawan Lak Beng Lama, keadaan ramai bukan main.

Keng Hong dapat mendesak Hun Beng Lama, namun, Biauw Eng merasa repot menghadapi serbuan tongkat Lak Beng Lama sehingga sampai lama kedua orang suami isteri perkasa ini belum mampu merobohkan lawan.

Tiba-tiba Biauw Eng berseru keras dan ini adalah tanda bagi suaminya akan siasatnya bekerja sama.

Dan ternyata berhasil baik karena selagi kedua orang lawan tangguh itu bersitegang untuk menarik kembali senjata dan merusak sabuk sutera, Siang-bhok-kiam di tangan Keng Hong memperoleh kesempatan untuk melakukan serangan kilat yang berhasil baik.

Kok Beng Lama mengeluarkan suara gerengan hebat.

Dia kaget dan heran, juga kagum akan tetapi marah sekali.

Dia kaget dan heran melihat betapa dua orang sutenya itu sampai kalah, kagum melihat kelihaian suami isteri perkasa itu, akan tetapi dia marah sekali setelah kini melihat betapa para pendeta Lama diserbu oleh musuh dan banyak yang telah roboh dan tewas.

Setelah kini tiga orang sutenya tewas semua, lenyap pulalah semua permusuhan di dalam hatinya terhadap perkumpulan Lama Jubah Merah, bahkan timbul kemarahannya karena dia merasa bahwa golongannya diserbu musuh.

Sambil berteriak marah dia menyambar pedang pusaka yang tadi dipergunakan Sin Beng Lama, lalu berlari ke depan menyerang Keng Hong dan Biauw Eng.

"Singgg... trangg-trakkk... singgg...!"

Keng Hong dan Biauw Eng yang sudah menangkis itu terdorong ke belakang dan mereka terkejut.

Kiranya pendeta Lama tinggi besar ini bahkan jauh lebih lihai lagi dibandingkan dengan dua orang pendeta Lama yang telah berhasil mereka robohkan!

Namun, Keng Hong cepat mendahului isterinya, menggerakkan Siang-bhok-kiam menerjang kakek itu sambil berseru.

"Mundurlah, biarkan aku menghadapinya!"

Biauw Eng mengerti akan peringatan suaminya.

Memang suaminya telah melihat betapa lihainya Lama tinggi besar ini sehingga kalau dia maju, akan membahayakan dirinya.

Betapapun juga, Biauw Eng siap dengan sabuk sutera di tangannya, siap membantu kalau suaminya sampai terdesak dan terancam keselamatannya.

Serangkaian serangan pertama yang dilakukan Keng Hong terhadap Kok Beng Lama amatlah hebatnya sehingga mengejutkan hati pendeta Lama tinggi besar itu.

Sinar kehijauan dari Siang-bhok-kiam diikuti bau yang harum dan halus menyambar-nyambar, mula-mula dari atas dengan gerakan miring membacok ke bawah mengarah leher, ketika dapat ditangkis oleh pedang di tangan kakek tinggi besar itu, pedang Siang-bhok-kiam terus menyeleweng ke samping dan membacok serta menusuk bertubi-tubi mengarah tujuh jalan darah terpenting di tubuh depan lawan, sedangkan tangan kiri pendekar sakti itu mengimbangi gerakan pedang, melakukan pukulan-pukulan tangan kosong dari jurus Thai-kek Sin-kun disertai tenaga mujijat Thi-khi-i-beng!

Kok Beng Lama repot setengah mati menghadapi serangkaian serangan ini, menangkis dengan pedang, dengan lengan kiri, mengelak dan berloncatan ke sana-sini sehingga akhirnya dia mampu lolos dari serangkaian serangan itu, setelah meloncat ke belakang dia lalu menyerbu ke depan dan membalas dengan serangannya yang tak kalah dahsyatnya sehingga kini tiba giliran Keng Hong untuk menghadapi serangan itu dengan kaget namun berhasil pula menyelamatkan diri.

Terjadilah serang-menyerang yang amat seru dan Biauw Eng yang menonton di pinggir harus mengakui bahwa agaknya baru sekarang ini suaminya menghadapi tanding yang amat kuat dan seimbang!

Dan biarpun tingkat kepandaiannya sendiri sudah tinggi, namun dia tahu bahwa dia sendiri bukanlah lawan pendeta Lama tinggi besar ini.

"Supek... harap tahan senjata... Locianpwe ini bukan musuh...!"

"Ayah...! Ayah, jangan melawan, Ayah...!"

Munculnya Kun Liong dan Hong Ing ini membuat Keng Hong dan Kok Beng Lama meloncat mundur.

Kun Liong menghampiri Keng Hong yang memandangnya dengan alis berkerut penuh pertanyaan, sedangkan Hong Ing lalu mehubruk ayahnya.

"Ayah, lekas... markas terbakar dan Sute berada di dalam...!"

Kok Beng Lama terbelalak dan cepat membalikkan tubuhnya memandang markas yang benar-benar telah menjadi lautan api itu.

Dia menyelipkan pedang pusaka di pinggangnya, kemudian terdengar dia mengeluarkan seruan yang keras sekali seperti gerengan seekor singa.

"Bun Houw...!"

Dan tubuhnya yang tinggi besar sudah melesat ke depan.

"Brakkkkk!"

Dinding itu diterjangnya saja sampai ambrol.

"Bresss!"

Dinding yang ke dua ambrol lagi dan tampak kakek itu menerjang melalui dinding yang diruntuhkannya memasuki lautan api!

"Ayaaahhh...!"

Hong Ing juga lari ke arah lautan api, akan tetapi tiba-tiba pinggangnya dirangkul Kun Liong dari belakang.

Dara itu meronta dan menangis.

"Biarkan aku menyusul Ayah!"

Namun Kun Liong memperkuat pelukannya.

"Hong Ing... ingatlah, ayahmu sedang berusaha menyelamatkan Bun Houw, tidak ada gunanya engkau membuang nyawa sia-sia di situ."

Sementara itu, Keng Hong dan Biauw Eng menjadi pucat mukanya ketika melihat kakek tinggi besar tadi menerjang api dan meneriakkan nama Bun Houw, putera mereka!

"Kun Liong, apa artinya ini?

Mana Bun Houw?"

Keng Hong bertanya.

"Supek, saya pun baru saja mendengar dari Hong Ing bahwa Adik Bun Houw berada di sini, di dalam markas yang terbakar itu."

Hong Ing kini menghadapi Cia Keng Hong dan isterinya, tanpa banyak sopan santun lagi karena keadaan sedang tegang seperti itu segera berkata.

"Sute Cia Bun Houw diambil murid oleh Ayah... dan... kini Ayah sedang mencarinya ke dalam sana..."

"Houw-ji (Anak Houw)...!"

Sie Biauw Eng menjerit.

"Harap Supek-bo tenang...!"

Kun Liong berkata khawatir melihat keadaan nyonya yang perkasa itu, yang memandang ke arah api dengan mata terbelalak.

"Ayahku lebih tahu akan keadaan di dalam, mudah-mudahan dapat menyelamatkan Sute."

Hong Ing berkata lirih, seperti kepada diri sendiri.

"Aku akan mencarinya!"

Biauw Eng hendak meloncat, akan tetapi tangannya disambar suaminya.

"Ucapan Nona ini tepat. Ayahnya lebih mengenal keadaan, kalau kau atau aku yang masuk ke lautan api itu tanpa mengenal keadaan dan tanpa mengetahui persis di mana adanya Bun Houw sama dengan membunuh diri."

"Aku tidak takut mati untuk membela anakku!"

Biauw Eng berteriak marah dan meronta.

Keng Hong terpaksa merangkul dan memeluknya seperti yang dilakukan oleh Kun Liong kepada Hong Ing tadi.

"Siapa takut mati? Aku pun tidak takut, akan tetapi perlukah mati konyol? Bagaimana kalau nanti Bun Houw selamat akan tetapi kita berdua mati terbakar di sana?"

Kata-kata ini dapat diterima oleh Biauw Eng.

Dia memandang dengan muka pucat dan menahan napas.

Bukan hanya dia, juga Keng Hong, Kun Liong, dan Hong Ing memandang ke arah lautan api dengan muka pucat dan menahan napas, dalam suasana yang amat menegangkan hati.

Sampai lama mereka berdiri tanpa bergerak, seolah-olah mereka lupa keadaan sekeliling di mana masih terdapat pertempuran-pertempuran berat sebelah antara pasukan pemerintah melawan para pendeta Lama yang hanya melakukan perlawanan dengan setengah hati karena selain pasukan Pek-lian-kauw sudah kocar-kacir dan lari bersama pasukan sukarela terdiri dari penduduk dusun, juga pimpinan mereka telah tewas semua.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak dari dalam lautan api dan muncullah tubuh tinggi besar dari Kok Beng Lama yang berlari meloncat keluar dari dalam lautan api, kedua tangannya memondong Bun Houw yang diselimuti jubah merahnya.

Ketika Kok Beng Lama tiba di dekat Hong Ing, dia mengeluh dan roboh terguling, akan tetapi Bun Houw tetap berada di dalam pondongannya.

"Houw-ji...!"

"Ibu...!"

Biauw Eng cepat menyambar Bun Houw yang selamat dan hanya menderita sedikit luka-luka ringan, akan tetapi Kok Beng Lama pingsan dengan tubuh hitam semua, mukanya hitam gosong dan tubuhnya penuh luka terbakar!

Keng Hong cepat menolong pendeta Lama itu sedangkan Hong Ing dan Kun Liong lalu membujuk semua pendeta untuk menghentikan perlawanan sehingga perang dapat dihentikan.

Keng Hong sendiri lalu memerintahkan pasukan untuk mundur dan keluar dari tempat itu, sedangkan Hong Ing, dibantu oleh Kun Liong dan para pembantu Lama, membawa Kok Beng Lama ke dalam bangunan samping yang belum terbakar, lalu merawat kakek ini penuh ketekunan.

Sebulan kemudian tampak betapa bangunan Lama Jubah Merah yang terbakar lebih dari separuhnya itu mulai diperbaiki oleh sisa-sisa anggauta Lama yang sudah insyaf dan diampuni oleh Pemerintah Tibet.

Kini, atas saran dan tanggungan dari pendekar Cia Keng Hong, Kok Beng Lama ditunjuk oleh Pemerintah Tibet untuk menjadi ketua baru dari Lama Jubah Merah.

Dan pendeta tinggi besar yang kini mukanya berubah hitam itu memimpin sendiri pembangunan itu dengan wajah yang berseri.

Dia mengambil keputusan di dalam hatinya untuk memperbaiki nama Lama Jubah Merah ygng telah dicemarkan dan diselewengkan oleh Sin Beng Lama bertiga.

Tak jauh dari tempat itu, di lereng gunung yang sunyi, Kun Liong dan Hong Ing duduk berdua di atas rumput hijau sambil bercakap-cakap.

Wajah mereka berseri dan segar tanda bahwa hati mereka bergembira, terutama sekali Hong Ing yang telah mengalami perubahan yang amat hebat dalam hidupnya.

Tadinya, dia menghadapi ancaman hebat, terpisah dari Kun Liong yang dicintanya, dan ayah kandungnya juga menjadi orang hukuman ygng tidak berdaya.

Kini, ayah kandungnya sudah sembuh dan bahkan menjadi Ketua Lama Jubah Merah, dan terutama sekali Kun Liong yang dicintanya berada di sampingnya!

"Hong Ing..."

"Hemmm...?"

Di dalam panggilan dan jawabannya yang memecah kesunyian tempat itu terkandung kemesraan dan cinta kasih yang tak perlu dinyatakan lagi dalam kata-kata karena di dalam nada suara yang singkat itu terkandung getaran penuh kasih sayang yang terasa sampai di lubuk hati masing-masing.

Demikian hebat pengaruh getaran ini sehingga Kun Liong menjadi terharu dan terpesona, membuatnya sukar untuk melanjutkan kata-katanya.

Hong Ing mendesaknya dengan pertanyaan melalui pandang matanya.

Kun Liong menarik napas panjang tiga kali, barulah dia dapat menenangkan gelora hatinya yang dibangkitkan oleh getaran cinta kasihnya kemudian berkata.

"Hong Ing, setelah keadaan telah menjadi baik kembali, ayahmu telah sembuh sama sekali, kini aku...aku... terus terang meminangmu untuk menjadi isteriku, Hong Ing."

Sejenak mereka berpandangan, kemudian kedua pipi dara itu menjadi merah sekali dan mukanya ditundukkan.

Mereka sudah saling menyatakan cinta tanpa sungkan dan malu-malu lagi, akan tetapi mendengar pinangan untuk menjadi isteri pemuda yang dikasihinya ini, Hong Ing menjadi canggung dan malu juga.

"Bagaimana jawabanmu, Hong Ing?"

"Kun Liong, kenapa... kenapa engkau memilih aku menjadi... isterimu?"

"Kenapa? Ah, tentu saja karena aku cinta padamu, Hong Ing."

Hong Ing mengangkat mukanya, sepasang matanya bersinar-sinar memandang dan dia bertanya lagi.

"Mengapa engkau cinta padaku? Kun Liong, berhari-hari sudah aku menahan pertanyaan yang ingin kuajukan kepadamu ini. Sekaranglah saatnya. Kenapa engkau cinta kepadaku. Kun Liong? Kenapa?"

Kun Liong memegang kedua tangan kekasihnya dan memandang tajam.

"Aku memang telah bersikap bodoh sekali dan berkali-kali menyakiti hatimu, Hong Ing. Menyakiti hatimu karena kebodohanku dan kecanggunganku. Aku cinta padamu, semenjak kita pertama kali bertemu, namun aku terlalu angkuh, canggung dan tidak mau mengakui, biar terhadap diri sendiri sekalipun. Aku cinta padamu karena engkaulah satu-satunya wanita di dunia ini yang bagiku sempurna tanpa cacat, engkaulah yang menciptakan bayangan wanita khayal yang kupuja-puja dahulu, karena engkaulah orangnya. Wanita khayal itu adalah engkau, Hong Ing, dan lebih lagi, kalau wanita khayal itu hanya angan-angan dan bayangan saja, engkau adalah seorang manusia dari darah daging, seperti aku, maka engkau bagiku lebih daripada wanita khayal itu. Engkau satu-satunya wanita yang kucinta, yang ingin kujadikan isteriku, teman hidupku selamanya, membentuk keluarga denganmu, mempunyai keturunan dan suka duka kita pikul bersama, Hong Ing."

Hong Ing terisak dan rebah dalam pelukan Kun Liong.

Dara ini merasa seperti diayun ke sorga ke tujuh.

Kata-kata yang diucapkan Kun Liong tadi baginya merupakan nyanyian sorga yang amat merdu.

"Kun Liong, aku... aku hanyalah seorang gadis bodoh dan hina yang... sejak dahulu tak pernah berhenti mencintamu, yang setiap saat bermimpi menginginkan menjadi isterimu dan aku... aku menerima segalanya, aku... bersedia menjadi isterimu asal engkau suka mengirim Cia Keng Hong Locianpwe sebagai walimu untuk melamarku kepada Ayah."

"Hong Ing...!"

Kun Liong mendekap dan menciuminya.

Sejenak mereka tenggelam ke dalam buaian cinta kasih yang memabukkan.

Akhirnya Hong Ing menarik tubuhnya agak menjauh dan menarik napas panjang beberapa kali.

Kedua pipinya menjadi makin kemerahan, matanya sayu seperti mata orang mengantuk, bibirnya tersenyum aneh membayangkan rahasia hatinya.

"Aih, Kun Liong, betapa mengerikan kalau aku mengenangkan waktu yang lalu, ketika aku melakukan segala siasat dan daya upaya agar engkau dapat datang ke tempat ini. Ketika itu, sudah bulat keputusanku bahwa aku lebih baik mati daripada tidak bertemu lagi denganmu."

Kun Liong memegang kedua tangan dara itu.

"Engkau hebat, Hong Ing. Dan betapa bahagianya seorang seperti aku mendapatkan cinta kasih seorang dara seperti engkau yang begini mulia! Padahal aku adalah seorang laki-laki yang bodoh, yang sombong dan angkuh, yang selalu merendahkan cinta. Betapa aku dahulu selalu memandang rendah kepada cinta kasih antara pria dan wanita! Semua ini timbul karena di dalam kehidupanku banyak sekali aku mengalami godaan asmara! Sungguh aku harus merasa malu kepada diri sendiri, dan aku menyesal sekali terutama sekali tentang satu hal... yang harus kuberitahukan kepadamu sebelum... sebelum kita menjadi suami isteri. Kalau tidak kuberitahukan kepadamu, hal ini hanya akan menjadi penghalang kebahagiaan kita..."

Dia berhenti dengan ragu-ragu sambil memandang kekasihnya.

"Kun Liong! Apakah itu? Apa yang ingin kau sampaikan? Mengapa wajahmu tiba-tiba kehilangan serinya dan engkau kelihatan khawatir dan ragu-ragu? Katakanlah, apakah hal yang kaurisaukan itu?"

"Hong Ing, apa yang akan kuceritakan adalah hal yang amat memalukan, hal yang amat kotor. Kalau nanti engkau marah kepadaku, mengutukku, bahkan kalau hal ini membuat engkau menolak aku, memandang rendah kepadaku, aku akan menerimanya dengan rendah hati, karena memang engkau patut mengutukku."

Wajah Hong Ing menjadi pucat.

"Tidak...! Tidak...! Kalau begitu lebih baik jangan kauceritakan itu!"

Kun Liong menggeleng kepala dan tersenyum duka.

"Harus kuceritakan, Hong Ing. Daripada menyimpan rahasia. Rahasia yang terselip di antara suami isteri hanya akan menimbulkan bencana. Aku, harus menceritakan kepadamu, kemudian terserah kepadamu keputusannya. Engkau terlalu bersih dan murni, sedangkan aku akan merasa diriku kotor dan tidak berharga bagimu, selamanya kalau aku belum menceritakan hal ini."

Hong Ing memandang kepada kekasihnya, dengan sinar mata penuh kekhawatiran, akan tetapi juga penuh iba, kemudian katanya lirih.

"Kalau begitu, ceritakanlah, Kun Liong. Ceritakanlah semuanya dan sebelumnya aku sudah memaafkan segala kekeliruanmu."

Kun Liong memegang kedua tangan kekasihnya, tidak dilepasnya lagi seolah-olah dia mendapatkan kekuatan batin dari kedua tangan kekasihnya itu untuk menceritakan hal yang amat menindih perasaannya itu.

"Terima kasih, Hong Ing. Ingatkah engkau kepada wanita yang telah tewas bersama suaminya sebulan yang lalu di tempat ini ketika mereka berdua membelaku?"

"Dua orang murid pendekar Secuan itu? Tentu saja aku masih ingat, kasihan sekali mereka. Engkau telah memberi tahu kepadaku bahwa mereka adalah Tan Swi Bu dan Liem Hwi Sian."

Kun Liong mengangguk.

"Mereka adalah sahabat lamaku, terutama sekali Liem Hwi Sian. Ketika mereka roboh, sebelum menghembuskan napas terakhir, Hwi Sian meninggalkan pesan kepadaku."

"Pesan apakah?"

"Bahwa dia mempunyai seorang anak yang ditinggalkannya di Kuil Kwan-im-bio di kaki bukit, dekat rumah gurunya dan dia berpesan kepadaku agar aku suka merawat anak itu..."

Pandang mata yang tadinya diliputi kekhawatiran itu kini berseri dan jari-jari tangan yang dipegang Kun Liong itu membalas dengan sentuhan lembut, mulut yang tadi agak terbuka itu kini tersenyum.

"Aihhh, kau membikin orang menjadi tegang dan gelisah saja! Kalau hanya urusan itu, mengapa dirisaukan benar? Tentu saja aku setuju sepenuhnya untuk merawat anak yang bernasib malang itu!"

Akan tetapi Kun Liong masih memegang kedua tangan Hong Ing dan sikapnya masih sungguh-sungguh, pandang matanya masih penuh kegelisahan.

"Bukan hanya itu, Hong Ing, akan tetapi... anak itu... anak Hwi Sian itu bukanlah keturunan suaminya, bukan anak Tan Swi Bu..."

"Ehhh...?"

Hong Ing memandang tajam dengan alis berkerut, timbul persangkaan bahwa yang disebut rahasia itu adalah rahasia keburukan Hwi Sian, tentu sahabat suaminya itu telah melakukan penyelewengan sehingga melahirkan seorang anak bukan dari keturunan suaminya!

"Kun Liong, aku tidak ingin mengetahui rahasia orang lain, kalau kau mau menerima anak sahabatmu itu untuk kau rawat, aku setuju saja.

Tidak perlu kau menceritakan rahasia pribadi Liem Hwi Sian itu."

"Bukan begitu, Hong Ing, bukan rahasianya, melainkan rahasiaku. Dengarlah baik-baik, dahulu, setahun lebih yang lalu, sebelum aku bertemu denganmu, aku amat meremehkan soal cinta sehingga aku memandang rendah pula terhadap cinta kasih wanita terhadap diriku. Di antara mereka yang mencintaku adalah Hwi Sian. Akan tetapi aku yang suka menggodanya tidak membatas cinta kasihnya. Ketika dia ditunangkan dan akan dikawinkan dengan suhengnya, yaitu Tan Swi Bu, hatinya hancur dan dia mencariku, lalu... lalu... dia minta agar aku suka menjadi suaminya untuk semalam! Kalau menolak, dia akan membunuh diri karena dia tidak mencinta suhengnya, melainkan mencintaku. Dan aku... aku yang bodoh dan sombong, aku... aku menuruti permintaannya. Kemudian, ketika dia akan mati, dia meninggalkan pesan bahwa anak itu... anaknya itu... adalah... anak hasil dari hubungan kami semalam itu, dia adalah anakku..."

Hong Ing merenggut kedua tangannya, bangkit berdiri dan mukanya pucat sekali, sepasang matanya terbelalak seperti kelinci ketakutan memandang kepada Kun Liong.

Pemuda itu juga bangkit dengan tubuh gemetar.

"Aku seorang manusia kotor, seorang rendah yang tidak patut untukmu, Hong Ing. Aku akan menerimanya kalau engkau mengutukku, ketika itu aku memandang rendah cinta kasih antara pria dan wanita. Aku menganggap bahwa semua cinta kasih menjurus kepada cinta birahi belaka. Akan tetapi, ternyata tidak... cinta kasih adalah sesuatu yang luhur dan mulia, yang bersih tak ternoda dari segala sesuatu, termasuk hubungan jasmani antara pria dan wanita, barulah suci dan murni kalau didasari cinta kasih. Tanpa cinta kasih, segala adalah kotor dan hina. Namun aku... aku seperti buta pada waktu itu, Hong Ing."

Hong Ing tidak menjawab, hanya berdiri memandang dengan mata terbetalak dan muka pucat.

Melihat keadaan kekasihnya ini, Kun Liong merasa kasihan sekali, akan tetapi seperti seorang pesakitan yang menanti keputusan hakim, dia berdiri dan menundukkan mukanya, menanti suara Hong Ing.

Akhirnya terdengar tarikan napas panjang, disusul suara dara itu.

Halus lirih dan mengandung isak tertahan.

"Aku... aku cinta padamu bukan karena kebaikanmu... aku cinta padamu karena engkau... dan aku menerimamu dengan segala cacat celamu. Kau telah melakukan penyelewengan yang sudah kausadari... sudahlah, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi... dan anak itu... dia anakmu yang harus kita rawat baik-baik..."

"Hong Ing...!"

Kun Liong terisak dan menjatuhkan diri berlutut di depan dara itu.

"Betapa mulia hatimu...!"

Sejenak Hong Ing berdiri menunduk, air matanya bercucuran, kemudian dia juga menjatuhkan diri berlutut dan merangkul Kun Liong.

Keduanya berpelukan, berciuman sambil menangis, keharuan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu.

"Hong Ing, engkau dewiku, engkau mulia dan berbudi...!"

"Husshhh, aku merasa malu kepada Hwi Sian kalau kau berkata demikian, terlalu memujiku. Dialah wanita yang amat mencintamu..."

"Keliru, Hong Ing. Dia telah mencelakakan diri sendiri. Dia mengira bahwa cinta hanyalah hubungan badan... tapi sudahlah, betapapun juga, Hwi Sian telah membuktikan cintanya dengan mengorbankan diri untuk membantuku. Dan semua memang kesalahanku... aku dahulu terlalu nakal suka menggoda wanita, sungguhpun godaanku tidak terlalu mendalam, tidak memancing hubungan badan namun telah mendatangkan akibat-akibat yang menyedihkan. Aku dahulu sebelum berjumpa denganmu... ahhh, harus kuceritakan semua kepadamu."

Sambil duduk di atas rumput dan saling berangkulan, Kun Liong lalu menceritakan semua riwayatnya, semua petualangannya dengan banyak wanita yang dijumpainya, tentang Yo Bi Kiok yang kini menjadi guru adik kandungnya dan yang menunjukkan cinta terhadap dirinya, cinta yang garang dan mengerikan, kemudian dia bercerita pula tentang lain wanita yang dijumpainya, diantaranya mendiang Souw Li Hwa, Cia Giok Keng, Liem Hwi Sian dan Lauw Kim In, kemudian Pek Hong Ing sendiri.

Menceritakan betapa dia menggoda mereka itu.

Setelah mendengarkan semua penuturan yang terus terang dari kekasihnya, Hong Ing tersenyum lalu berkata.

"Dengan menceritakan semua itu kepadaku berarti bahwa mulai saat ini engkau telah menghentikan semua perbuatan itu."

"Memang dahulu aku bodoh dan dungu sesuai dengan kepalaku yang gundul. Akan tetapi sejak bertemu denganmu, perasaan yang luar biasa telah membuka mataku. Dahulu aku memang sombong dan pongah, bodoh dan..."

"Dan petualang asmara yang canggung!"

"Petualang asmara?"

"Ya, engkau seorang petualang asmara yang canggung dan yang kini terjerat oleh asmara itu sendiri. Sekarang, sudah mengertikah engkau apa artinya mencinta?"

Kun Liong memeluk.

"Sudah mengerti, kekasihku. Karena engkau yang mengajarku, dengan sikapmu yang sederhana dan terbuka. Cintamu kepadaku begitu tulus dan polos bersih, dan biarlah aku mencontohmu. Aku cinta kepadamu karena engkau adalah engkau, Hong Ing, aku mencintamu dari ujung rambut kepalamu sampai ke kuku jari kakimu, tidak ada kecualinya, aku mencintamu dengan segala kebaikanmu dan semua keburukanmu, dengan segala kesempurnaanmu sampai kepada segala cacatmu, kalau memang ada keburukan dan cacatmu. Karena dengan cinta kasih, tidak adalah cacat dan keburukan itu."

Hong Ing balas memeluk dan suaranya agak manja ketika dia berkata.

"Dan aku hanyalah calon isterimu yang setia, bodoh dan penurut..."

"Suci Hong Ing...! Liong-twako...!"

Sepasang muda mudi yang sedang berpelukan itu cepat melepaskan diri masing-masing dan meloncat berdiri.

Sambil tersenyum mereka memandang tubuh Bun Houw yang berlari-larian mendaki lereng itu dari bawah.

Cia Bun How, putera pendekar Cia Keng Hong ini masih berada di Tibet.

Kok Beng Lama menuntut kepada Ketua Cin-ling-pai itu agar dia boleh menurunkan ilmu-ilmunya kepada Cia Bun Houw yang sudah menjadi muridnya.

Tadinya, Biauw Eng merasa keberatan, akan tetapi karena suaminya merasa bahwa Bun Houw berhutang nyawa kepada kakek itu, Pula melihat bahwa kakek itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, terpaksa meluluskan.

Untuk menyenangkan hati isterinya, Cia Keng Hong menjanjikan kepada Kok Beng Lama untuk kelak mengirim Bun Houw ke Tibet dan berguru kepadanya setelah puteranya itu berusia lima belas tahun.

Kok Beng Lama maklum bahwa suami isteri pendekar yang lihai itu ingin menanamkan dasar-dasar kepandaian mereka kepada putera mereka lebih dulu, maka dia pun setuju, hanya minta agar anak itu diperbolehkan tinggal di situ dan kelak kembali ke Cin-ling-san bersama Kun Liong.

Demikianlah, Cia Keng Hong dan isterinya kembali ke Cin-ling-san dan meninggalkan Bun How di tempat itu.

Pada pagi hari itu, Bun Houw berlari-lari dan memanggil-manggil Kun Liong dan Hong Ing yang sedang duduk bercakap-cakap di lereng bukit.

"Eh, Sute, ada apakah engkau berlari-lari menyusul kami?"

Hong Ing bertanya setelah anak itu tiba di depannya.

"Suhu memanggil Suci dan Twako."

Mereka bertiga lalu menuruni lereng kembali ke markas yang sedang dibangun kembali itu.

Kok Beng Lama sudah menanti mereka di bangunan samping yang masih utuh, setelah mereka menghadap, dia menyuruh Bun Houw untuk keluar dari ruangan dan bermain-main di luar.

"Kun Liong dan Hong Ing,"

Katanya ramah.

"pinceng telah mengetahui akan hubungan kalian dan pinceng merasa gembira sekali serta memberi restu. Akan tetapi, mengingat bahwa Hong Ing sudah cukup umurnya, pinceng minta kepadamu mengirim pinangan agar hari pernikahan dapat ditetapkan dengan segera."

Mendengar ini, wajah Hong Ing menjadi merah sekali.

"Ihh... Ayah...!"

Katanya sambil berlari keluar! Kok Beng Lama tertawa.

"Engkau tentu mengerti, Kun Liong, bahwa penghargaan yang terutama bagi seorang gadis adalah pinangan, karena hanya pinangan saja yang merupakan bukti bagi seorang pemuda bahwa dia mencinta gadis itu dan menghendakinya sebagai isterinya. Pinceng tahu bahwa selain kalian berdua saling mencinta dengan penuh kesetiaan, juga bahwa engkau sudah tidak ada ayah bunda, dan pinceng pun sudah setuju, akan tetapi demi menghargai diri Hong Ing, engkau harus mengajukan pinangan secara resmi."

Kun Liong menunduk.

"Hal itu sudah kami bicarakan tadi, Locianpwe. Dan saya akan pergi ke Cin-ling-san, mengajak Adik Bun Houw pulang ke sana, sekalian minta pertolongan Supek dan Supek-bo untuk mengajukan pinangan secara resmi serta menetapkan hari pernikahan itu. Akan tetapi... saya hanyalah seorang pemuda sebatang kara yang... yang miskin dan..."

"Hushhh! Apa kaukira bahwa pinceng hendak menjodohkan anak pinceng dengan harta benda?"

"Maaf, Locianpwe."

"Sudahlah, kau berangkat hari ini juga dan ajaklah Bun Houw. Sampaikan salamku kepada Cia Keng Hong Taihiap dan isterinya."

"Maaf, saya tidak dapat berangkat hari ini karena ada suatu urusan yang harus saya selesaikan lebih dulu."

"Huh, apa lagi?"

Kakek itu membentak.

Pada saat itu, Hong Ing datang berlari.

Tadi dia tidak pergi jauh, hanya bersembunyi di balik pintu dan mendengarkan percakapan antara kekasihnya dan ayahnya maka kini mendengar ucapan Kun Liong, dia cepat lari masuk.

"Ayah, aku dan dia mau pergi ke Kuil Kwan-im-bio di rumah mendiang Gak-taihiap untuk mengambil seorang anak yang dititipkan di kuil itu."

"Huh? Apa? Anak siapa?"

Hong Ing yang khawatir kalau-kalau kekasihnya yang jujur itu akan menceritakan rahasianya bersama mendiang Hwi Sian, cepat mendahului Kun Liong dan berkata.

"Tahukah Ayah tentang suami isteri yang tewas di sini ketika mereka membela kami berdua? Mereka itu adalah murid-murid Gak-taihiap di Secuan, sahabat-sahabat dari Kun Liong. Mereka telah mengorbankan diri demi kami berdua, dan pada saat terakhir mereka minta kepada Kun Liong agar kami berdua suka merawat anak mereka yang ditinggalkan di kuil itu. Bagaimana menurut pendapat Ayah? Setelah ayah bundanya tewas demi membela kami, apakah kami tidak seharusnya memenuhi permintaan mereka itu?"

Kok Beng Lama termenung, mengerutkan alisnya lalu mengangguk-angguk.

"Tentu... tentu saja! Aku akan membencimu kalau kau tidak memenuhi permintaan mereka itu. Nah, cepat ambil anak yang ditinggalkan itu. Kasihan dia!"

"Ayah, aku bersama Kun Liong akan ke Secuan menjemput anak itu dan selain itu..."

"Apa lagi?"

Ayahnya membentak.

"Kami berhutang budi kepada orang tuanya, maka, kami berdua telah bersepakat untuk mengambil anak itu sebagai anak kami."

"Huh! Belum menikah sudah mempunyai anak! Tapi... aku akan benci kalian kalau kalian tidak melakukan itu!"

Hong Ing dan Kun Liong berlari ke luar dan setelah tiba di luar bangunan itu, Kun Liong merangkul kekasihnya dengan hati penuh keharuan.

"Hong Ing, engkau..., engkau seorang dewi yang berhati mulia..."

Hong Ing membalas pelukan Kun Liong, melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu dan berkata lirih manja.

"Ah, aku hanyalah calon isterimu yang bodoh..."

Maka berangkatlah Kun Liong dan Hong Ing ke Secuan.

Setelah bertemu dengan Poa Su It yang berduka sekali mendengar tentang kematian sute dan sumoinya, mereka lalu diajak oleh Poa Su It mengunjungi Kuil Kwan-im-bio dan dari ketua nikouw (pendeta wanita) mereka menerima seorang anak perempuan yang baru berusia tiga empat bulan!

Seorang anak perempuan yang mungil dan sehat karena sejak kecil, juga setelah ditinggalkan ibunya, Dia dipelihara dengan baik oleh para nikouw di Kwan-im-bio yang memanggilkan seorang inang pengasuh, dibesarkan dengan air susu sapi.

Kun Liong memandang anak itu dengan jantung seperti ditusuk-tusuk rasanya.

Anaknya!

Keturunan dan darah dagingnya!

Dia terharu sekali, apa pula ketika melihat betapa Hong Ing meraih dan memondong anak itu dengan penuh kasih sayang!

Poa Su It merasa girang sekali dan berkali-kali menghaturkan terima kasih bahwa Kun Liong dan Hong Ing, calon suami isteri itu, suka mengambil Mei Lan, demikian nama anak itu, sebagai anak mereka!

Tentu saja dia tidak pernah tahu bahwa anak itu sebetulnya adalah anak Kun Liong!

Disangkanya bahwa anak itu adalah anak Hwi Sian dan Tan Swi Bu, hasil dari hubungan mereka sebagai suami isteri!

"Harap Poa-toako suka merahasiakan pemungutan anak ini agar anak ini kelak tidak mengetahui bahwa dia hanyalah anak pungut,"

Kun Liong berkata.

"Tentu saja!"

Poa Su it menjawab.

"Sejak hari ini namanya menjadi Yap Mei Lan, anak Ji-wi berdua. Saya sudah merasa bingung sekali mendengar akan kematian ayah bundanya, tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan anak ini. Syukur bahwa Ji-wi sudi mengambilnya sebagai anak memenuhi pesan terakhir mereka."

Kun Liong dan Hong Ing lalu berpamit kembali ke Tibet membawa Mei Lan bersama inang pengasuhnya yang juga diajak untuk merawat anak itu, karena Hong Ing belum berpengalaman merawat anak kecil dan merasa khawatir dan tidak berani.

Setelah tiba kembali di Tibet, Kun Liong lalu meninggalkan anak itu bersama Hong Ing dan mengajak Bun Houw untuk meninggalkan Tibet, kembali ke Cin-ling-san.

Kok Beng Lama dan Hong Ing mengantar keberangkatan mereka sampai di ujung lereng pertama dan Kun Liong didesak sampai berkali-kali mengucapkan janji bahwa dia tidak akan lama pergi dan akan cepat mengajak Cia Keng Hong dan isterinya untuk datang mengajukan pinangan yang dinanti-nanti itu.

Cia Giok Keng berjalan dengan wajah bersungut-sungut, sedangkan Lie Kong Tek berjalan melangkah dengan langkah-langkah tetap di belakangnya.

Keduanya tidak bicara, hanya berjalan dengan sunyi di dalam panas terik matahari siang itu.

Hati Giok Keng mendongkol bukan main.

Telah berhari-hari dia melakukan perjalanan bersama Kong Tek dan selama ini merasa betapa hatinya makin tertarik dan makin kagum kepada pemuda tinggi besar ini.

Tampak jelas olehnya betapa jauh bedanya pribadi Kong Tek dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain seperti Kun Liong dan terutama sekali Bu Kong.

Pemuda ini gagah perkasa, kuat dan tahan menderita, juga jujur dan pendiam, tidak banyak cakap, tidak pula suka menggodanya, bahkan sama sekali tidak pernah memujinya, apalagi menjilat atau bermuka-muka!

Hal inilah yang menimbulkan kesal dan mendongkol hatinya.

Semua pemuda, bahkan semua laki-laki yang dijumpainya, sudah pasti akan memandangnya dengan sinar mata jelas membayangkan kekaguman, Mata laki-laki yang bersinar kagum dan kurang ajar, yang ceriwis dan nakal, namun yang diam-diam memuaskan dan membuat hatinya bangga karena semua itu membuktikan kecantikan dan daya tariknya.

Akan tetapi Kong Tek memandangnya biasa saja, tanpa sinar berapi dan kagum, bahkan seolah-olah dia dipandang seperti kalau pemuda itu memandang pohon, awan, atau tanah saja!

Mengkal hatinya!

Sudah berkali-kali dia sengaja hendak memancing perhatian Kong Tek, hanya (Lanjut ke

Jilid 50 Tamat) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 50 (Tamat) untuk memancing pujian, memancing pandang mata penuh gairah dan kagum namun hasilnya sia-sia belaka.

Betapa pun dia menggigiti bibirnya sampai menjadi merah dan basah hampir berdarah, betapa dia menyanggul rambutnya atau mengurainya sehingga terlepas panjang sampai ke pinggul, Betapa dia mengatur pakaiannya sehingga serapi-rapinya, atau mencuci muka dan menggosoknya sampai kedua pipinya menjadi kemerahan dan segar seperti sepasang buah tomat, betapa dia bergaya sampai merasa menjadi seorang sripanggung pemain opera, hasilnya sia-sia belaka!

Sama halnya dengan bersolek dan bergaya di depan sebuah patung mati yang berhati batu!

Apalagi pengalamannya tadi membuat dia cemberut dan bersungut-sungut, penuh kekecewaan dan kemendongkolan hati.

Dia tadi sudah memancing pemuda itu dengan omongan dan masih terngiang di telinganya jawaban-jawaban Kong Tek yang membuat bibirnya makin cemberut.

Tadi mereka sedang duduk di bawah pohon rindang, berlindung dari terik panas matahari.

Sambil mengusap peluhnya dari muka dan lehernya dengan saputangan, dia berkata.

"Lie-toako, kalau aku teringat akan pengalaman-pengalamanku di Pek-lian-kauw, masih bergidik ngeri dan bangkit bulu tengkukku. Untung aku tertolong, kalau tidak... hemmm, entah apa jadinya dengan diriku."

"Memang kau beruntung sekali tidak jadi menjadi isteri Liong Bu Kong, Nona."

Sebutan nona itu sudah mulai membuat hatinya tidak senang.

Sudah beberapa kali dia mengatakan bahwa pemuda itu tidak selayaknya menyebut dia nona setelah mereka menjadi sahabat, akan tetapi pemuda itu selalu lupa dan menyebutnya nona sehingga dia tidak peduli lagi untuk menegurnya.

"Mengapa beruntung, Toako?"

Dia mendesak.

"Ya, beruntung karena tidak jadi isteri orang seperti dia."

"Lalu pantasnya aku menjadi isteri orang macam apa, Toako?"

"Hemm, pantasnya menjadi isteri seorang yang tidak seperti Liong Bu Kong."

"Siapa, misalnya?"

Giok Keng mendesak lagi. Kong Tek menggerakkan kedua pundaknya yang lebar.

"Entahlah, pendeknya yang tidak jahat dan palsu seperti Bu Kong."

Hening sejenak dan hati Giok Keng sudah mulai tidak puas.

Sukar betul membongkar hati dan perasaan pemuda ini.

Dari perbuatan dan pembelaannya yang berani mempertaruhkan nyawa, dia yakin bahwa pemuda ini cinta kepadanya.

Akan tetapi dia tidak pernah menyatakannya, baik dari pandang mata, maupun suara mulut, atau gerak-geriknya.

Inilah yang membuat dia penasaran dan tersinggung "harga dirinya"!

"Eh, Toako, sekarang sudah berapakah usiamu?"

Ditanyai usianya, Kong Tek memandang kepadanya dengan mata terbelalak heran, akan tetapi lalu menjawab juga.

"Sudah dua puluh lima tahun."

"Dan kau sudah menjadi duda."

"Aku belum menikah!"

"Tapi sudah bertunangan dengan Bu Li Cun."

"Ya, kasihan sungguh gadis itu..."

Kong Tek menghela napas dan termenung.

Giok Keng mengerutkan alisnya.

Agaknya pemuda yang luar biasa ini telah "patah hati"

Karena kematian tunangannya itu, pikirnya.

"Lie-toako, cinta sekalikah engkau kepadanya?"

"Hah...?"

Kong Tek balas bertanya, terbelalak karena belum menangkap maksud pertanyaan itu.

"Engkau tentu amat mencinta mendiang Bu Li Cun itu..."

Kong Tek menghela napas panjang dan menyusut peluh dari dahinya sambil menggeleng kepalanya.

"Nona, selama hidupku, baru satu kali itu aku bertemu dengan dia. Kami ditunangkan sejak kecil oleh orang tua, aku tidak pernah kenal dengan dia, mana bisa mencinta."

Hening sampai lama, akhirnya kembali suara Giok Keng memecah kesunyian.

"Akan tetapi, usiamu sudah dua puluh lima tahun, dan engkau tentu telah mempunyai banyak pengalaman selama perantauanmu dengan suhumu yang lihai."

"Memang sudah banyak aku merantau, ikut bersama Suhu yang berbudi."

"Tentu sudah banyak, atau setidaknya ada wanita yang saling jatuh cinta denganmu, Toako."

Pemuda itu menunduk dan kulit mukanya agak merah, akan tetapi dia menggeleng kepalanya dengan keras.

"Tidak ada, tidak pernah!"

"Eh, kenapa kau marah?"

"Aku tidak marah."

"Akan tetapi jawabanmu kasar sekali."

"Aku memang belum pernah saling jatuh cinta dengan wanita."

"Hemm, sungguh luar biasa. Engkau tampan dan gagah perkasa, usiamu sudah dua puluh lima tahun, dan engkau belum pernah jatuh cinta. Hebat! Akan tetapi setidaknya tentu ada wanita yang pernah jatuh cinta kepadamu, Toako. Aku berani bertaruh tentu pernah ada!"

Kembali Giok Keng mendesak dan memancing sambil menatap wajah itu dengan tajam dan penuh selidik.

"Tidak!"

Kembali pemuda itu menggeleng kepala keras-keras.

"Tidak, aku tidak sempat...!"

Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, seolah-olah terkecik oleh kata-katanya sendiri.

"Tidak sempat apa, Toako? Tidak sempat bermain cinta?"

Giok Keng mendesak dan menggoda makin berani melihat betapa pemuda itu sibuk dan bingung.

"Tidak sempat memikirkan itu."

"Hemm, engkau memang aneh atau... engkau tidak jujur, Toako. Kalau aku, biar usiaku jauh lebih muda dari padamu, aku sudah seringkali dicinta orang."

Kong Tek mengangkat muka memandang, sinar matanya biasa saja, akan tetapi dia melanjutkan.

"... dan mencinta..."

Giok Keng tersenyum, diam-diam tegang dan girang, mengharapkan pemuda itu akan merasa iri dan cemburu!

"Ya, dan mencinta!

Banyak sudah laki-laki yang tergila-gila dan mencintaku."

"Memang sudah semestinya, engkau... seorang gadis luar biasa, tentu banyak laki-laki yang jatuh hati dan mencintamu."

Giok Keng merasa kecelik mendengar ucapan ini.

Kiranya pemuda ini sama sekali tidak merasa iri atau cemburu, apalagi panas hati!

"Aku tadinya saling mencinta dengan Liong Bu Kong, bahkan hampir menjadi isterinya."

"Engkau tertipu dan dikuasai ilmu sihir."

"Tapi, tadinya aku memang jatuh cinta kepada Bu Kong."

"Memang dia tampan dan menarik, sayang hatinya kotor sekali, dan sungguh beruntung engkau belum sampai terjatuh dalam perangkapnya, Nona."

"Jadi engkau tidak memandang rendah kepadaku, setelah aku... aku begitu bodoh jatuh hati kepada seorang seperti dia? Ayah sendiri sampai marah dan pernah mengusirku."

Kong Tek menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang.

"Mengapa harus memandang rendah? Aku malah kasihan kepadamu, Nona, dan aku kagum. Engkau telah salah pilih, bukan kesalahanmu kalau kau jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang pada lahirnya kelihatan menarik, dan aku kagum bahwa di dalam cintamu itu, biarpun kemudian ternyata bahwa kau salah pilih, engkau berani bertanggung jawab dan menanggung semua akibatnya."

Giok Keng menarik napas panjang.

Sungguh sukar sekali, menghadapi pemuda ini sama halnya dengan menghadapi batu karang yang kokoh kuat, yang tidak goyah sedikit pun biar ada gempa bumi!

Atau sebongkah bukit es, yang dingin!

Dia menjadi makin penasaran.

Di antara segala macam pria yang telah dijumpainya di dalam hidupnya, hanya ada dua orang yang pernah menariknya.

Pertama adalah Kun Liong dan kedua adalah Bu Kong.

Akan tetapi, baru sekarang dia bertemu dengan seorang laki-laki seperti Kong Tek!

Kun Liong dan Bu Kong ternyata masih lemah, begitu jelas membuktikan kekaguman terhadap dirinya melalui pandang mata dan kata-kata, akan tetapi pemuda ini benar-benar seperti batu karang yang mati!

"Lie-Toako, kenapa engkau selalu membelaku mati-matian?"

Kalau tadi Kong Tek menghadapi semua pertanyaan gadis itu dengan tenang, kini dia kelihatan gelisah dan bingung!

"Kenapa?

Hal itu sudah semestinya, Nona, sudah menjadi kewajibanku seperti diajarkan oleh Suhu untuk menolong sesama hidup yang dilanda bahaya."

"Tapi engkau membelaku dengan pengorbanan diri, beberapa kali engkau menghadapi maut demi aku. Mengapa, Toako?"

Hening sejenak, kemudian terpaksa Kong Tek menjawab.

"Aku sendiri tidak tahu, Nona. Akan tetapi aku tidak rela melihat engkau sengsara, aku tidak akan diam saja melihat engkau diancam bahaya, aku ingin melihat engkau bahagia, Nona. Seorang seperti engkau ini... pantasnya hidup dalam kebahagiaan. Itulah agaknya yang menyebabkan aku selalu siap membelamu, Nona."

Jawaban ini keluar dari lubuk hati Kong Tek.

Memang pemuda ini selama hidupnya tidak pernah membohong, akan tetapi menghadapi desakan dan pertanyaan-pertanyaan dari Giok Keng dia merasa bingung untuk menjawab.

Gurunya telah mengatakan bahwa dia jatuh cinta kepada gadis ini, akan tetapi dia sendiri tidak tahu bagaimanakah rasanya jatuh cinta itu!

Gurunya malah hendak menjodohkan dia dengan gadis ini dan dia merasa betapa akan bahagianya hidupnya kalau hal itu terlaksana, namun betapa mungkin dia menyatakan hal ini kepada Giok Keng?

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 12

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert