Ceritasilat Novel Online

Cinta Bernoda Darah 3

Eps 3 Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo

Baca online Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo

Cersil Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo.

Seorang wanita yang terkenal ganas seperti iblis sekarang lari ketakutan, mengira bahwa patung-patung itu sudah menjadi iblis.

Mungkin menghadapi sesama manusia, iblis wanita rambut panjang itu tidak akan gentar seujung rambut pun, akan tetapi menghadapi patung batu yang dapat tahan menghadapi dua kali hantaman rambutnya, benar-benar melewati batas ketabahannya.

Kalau saja Siang-mou Sin-ni tahu betapa sepeninggalnya patung yang dihantamnya tadi dapat bergerak-gerak, tentu ia tidak akan lari malah akan diserang mati-matian.

Setelah iblis wanita rambut panjang itu pergi.

"patung"

Itu menarik napas panjang, melemparkan selubung kain putih dan tampaklah seorang pemuda tinggi besar berpakaian seperti sastrawan, pakaian berwarna hitam.

Suling Emas.

Seperti juga Siang-mou Sin-ni, Suling Emas yang menyamar sebagai patung itu berkelebat lenyap ke arah perginya Hek-giam-lo.

Sian Eng sudah girang hatinya dapat terbebas.

Ia lari sekuat tenaga dan memasuki hutan besar.

Napasnya terengah-engah dan setelah masuk di bagian hutan yang gelap, merasa dirinya aman, gadis ini memperlambat langkahnya untuk mengaso dan mengatur napas.

Akan tetapi, dapat dibayangkannya betapa kagetnya, sampai mukanya menjadi pucat tak berdarah lagi, ketika ia menoleh di depannya berdiri..

Hek-giam-lo.

"Paduka hendak ke mana, Sang Puteri? Harap hati-hati, tanpa hamba yang melindungi, sebaiknya Paduka jangan pergi ke mana-mana. Banyak berkeliaran musuh-musuh kita,"

Terdengar Hek-giam-lo berkata dengan suaranya yang menyeramkan.

"Tidak.. tidak.. biarkan aku pergi sendiri. Jangan ganggu aku"

Teriak Sian Eng yang ketakutan, dan ia hendak lari.

Akan tetapi iblis itu sekali berkelebat telah berada di depannya.

Sian Eng menjadi nekat dan menggunakan pedangnya membacok.

Akan tetapi entah bagaimana pedangnya seperti bertemu benda keras dan terpental jauh kemudian tubuhnya terangkat dan ia sudah dibawa lari seperti terbang cepatnya tanpa dapat meronta sedikit pun.

Sian Eng menggigil ketakutan dan pingsan dalam pondongan Hek-giam-lo.

Lin Lin membanting-banting kedua kakinya seperti anak kecil tidak dituruti permintaannya.

"Kek, kau membohongi aku"

Kau bilang dia berada di kota raja, mana dia sekarang?

Hayo katakan, mana dia?

Sudah sepekan kita berada di sini, setiap malam berkeliaran semalam suntuk, kalau siang tidur di kuil tua, persis seperti kelelawar, malam berkeliaran siang tidur.

Dan Suling Emas belum juga tampak batang hidungnya"

Kakek gundul pelontos itu, Kim-lun Seng-jin, duduk di atas lantai kuil tua yang kotor, bersandar dinding yang sudah retak-retak, tertawa lebar memperlihatkan giginya yang putih dan mengkilap tertimpa sinar api unggun yang dibuatnya, sehingga keadaan dalam kuil yang gelap itu menjadi terang.

"Heh-heh-heh, Lin Lin, sudah kukatakan kepadamu bahwa orang macam Suling Emas itu sukar dipegang buntutnya."

"Apa dia bukan manusia, Kek?"

"Heh? Manusia tapi seperti iblis. Ya, dia manusia seperti kita."

Melihat dara remaja itu mengajukan pertanyaan dengan muka sungguh-sungguh, meledak ketawa Kim-lun Seng-jin.

"Uuhh, kau benar-benar masih hijau. Masa tidak mengerti apa yang kumaksudkan? Sukar dipegang buntutnya berarti sukar diikuti ke mana perginya."

"Wah, kalau begitu, sia-sia saja kita berkeliaran di kota raja ini, Kek?"

Lin Lin kembali timbul marahnya dan membanting kaki.

"Tidak ada yang sia-sia di dunia ini, semuanya berguna dan ada manfaatnya, asal saja kita tahu bagaimana mempergunakannya dan memetik manfaatnya. Kita sudah berada di kota raja, bukalah matamu baik-baik. Bukankah kau menemui keadaan yang baru bagimu? Tidakkah kau ingin melihat istana raja dari dalam? Aku selalu singgah di istana kalau datang ke sini dan tak pernah lupa menjenguk dapurnya. Heh-heh, sudah lama tidak kunikmati masakan istana."

Seketika kemurungan hati Lin Lin lenyap. Wajahnya yang jelita berseri, matanya berkilat dan seketika itu juga perutnya mendadak menjadi lapar sekali.

"Wah, mari kita ke sana, Kek, ada masakan apa saja di sana? Aduh perutku lapar sekali"

Kakek itu tertawa terpingkal-pingkal agaknya senang sekali melihat watak yang mudah berubah dan aneh dari gadis remaja itu.

"Heh-heh-heh, serupa benar kau, serupa benar."

"Serupa siapa, Kek?"

"Serupa dengan orang yang sudah tidak ada. Lin Lin, kau boleh ikut aku ke istana dan menikmati masakan dapur yang selama hidupmu belum pernah kau makan atau lihat. Akan tetapi amat berbahaya, banyak penjaganya yang pandai."

"Aku tidak takut"

"Bukan soal berani atau takut, melainkan kepandaianmu yang kuragukan."

"Eh, eh, kau mencela aku sama dengan mencela dirimu sendiri, Kek. Bukankah kau sudah memberi pelajaran serba kosong itu?"

Cela Lin Lin.

Kakek itu tersenyum masam.

Cara gadis itu menyebut ilmu yang ia ajarkan benar-benar amat memandang rendah.

Disebutnya "serba kosong", memang nama ilmu yang ia turunkan adalah Khong-in (Mega Kosong).

"Biarpun kau sudah menerima pelajaran dariku, akan tetapi aku belum yakin apakah kau sudah berlatih sampai matang betul."

Marah Lin Lin. Kepalanya dikedikkan, dadanya dibusungkan.

"Pagi siang sore malam kau suruh aku berlatih, tak pernah membiarkan aku mengaso, sampai lupa makan lupa tidur lupa tempat, masih kau bilang aku belum berlatih matang, Kek? Kau benar-benar seorang yang kurang terima sekali. Wah, celaka, dapat seorang teman satu kali saja begini tak ingat budi dan jerih payah orang"

"Huah-ha-ha-ha"

Kakek itu terpingkal-pingkal.

Benar-benar gila.

Dia yang mengajar ilmu kesaktian, eh, bocah ini malah memarahinya dan seakan-akan bocah ini yang memberi sesuatu kepadanya karena sudah rajin berlatih.

Benar-benar pintar memutarbalikkan kenyataan.

"Ya sudahlah, aku setuju kau berlatih keras selama ini. Akan tetapi, untuk dapat menyelinap masuk ke dapur istana, harus benar-benar mahir Khong-in-ban-kin. Coba kau perlihatkan padaku sekali lagi ilmu Khong-in-liu-san yang kau pelajari sambil mengerahkan tenaga dan gin-kang. Kau kurasa sudah cukup, sekarang juga kita pergi ke istana, makan besar, pesta-pora tanpa bayar"

Lin Lin girang sekali, lalu mencabut pedangnya dan besilat penuh semangat.

Akan tetapi pada jurus ke tujuh, ia terlalu keras menggunakan tenaga sin-kang dan "krakkk"

Pedang yang diayunnya patah menjadi tiga potong"

Gadis itu terkejut dan berdiri tertegun, kecewa dan menyesal melihat tangan kanannya hanya memegang gagang pedang sedangkan pedangnya sudah runtuh ke bawah.

Akan tetapi Kim-lun Seng-jin bersorak dan bertepuk tangan sambil menari-nari kegirangan.

Lin Lin mengerutkan kening, mulutnya cemberut, matanya merah, mengira bahwa kakek itu mengejeknya.

(Lanjut ke

Jilid 06) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06

"Bagus, bagus.."

Kau lihat sendiri, cucuku, dengan tenaga Khong-in-ban-kin, pedangmu yang buruk itu patah menjadi tiga potong.

Ha-ha-ha, sudah hebat tenagamu, hanya belum mampu kau mengendalikan sehingga membikin rusak senjata sendiri.

Cukup dan marilah ikut ke istana, tidak hanya pesta besar kita, juga kau akan bisa memilih sendiri sebatang pedang pusaka dalam kamar pusaka."

Seketika lenyap kemarahan Lin Lin seperti awan tipis disapu angin. Ia meloncat dekat kakek itu merangkul pundaknya.

"Betulkah, Kek? Hayo, lekas kita berangkat kalau begitu"

Sambil tertawa riang keduanya lalu berkelebat lenyap dalam kegelapan malam.

Kim-lun Seng-jin tidak membual ketika ia menyatakan bahwa setiap kali datang ke kota raja ia pasti mampir ke istana dan memasuki dapur istana.

Memang, kesukaan kakek ini hanya makan, makan enak, apalagi masakan-masakan lezat mahal di dapur istana yang dapat dipilihnya tanpa bayar.

Kakek itu membuktikan omongannya dengan pengetahuannya yang luas tentang seluk-beluk istana.

Hafal betul ia akan jalan menuju ke istana, malah ia dapat memilih dinding pagar mana yang tidak begitu keras penjagaannya.

Hal ini saja sudah membuktikan bahwa ia memang sudah menjadi "langganan"

Tempat terlarang itu.

Dari sebelah selatan, tembok yang mengurung kompleks istana memang amat sunyi.

Pintu gerbang sudah tertutup dan beberapa orang penjaga bercakap-cakap di dalam gubuk penjagaan.

Ada pula yang meronda pagar tembok, membawa tombak dan pedang.

Jengkel juga Kim-lun Seng-jin melihat para penjaga itu terus-menerus meronda pagar tembok yang dipilihnya untuk melompat masuk.

Pagar tembok itu amat tinggi, tidak kurang dari tujuh meter tingginya.

Akan tetapi yang ia pilih itu adalah tempat di mana tumbuh sebatang pohon tidak jauh dari tembok, hanya dua meter jaraknya dari cabang terdekat dengan tembok.

Kalau saja ia tidak pergi bersama Lin Lin, tentu saja ia bisa memilih tembok yang mana saja.

Diambilnya sebuah batu dan disambitnya ke arah kiri.

Terdengar suara orang mengaduh di sebelah kiri.

Ternyata seorang penjaga yang sedang berdiri tegak di dekat pintu gerbang, terkena sambitan batu itu, tepat pada tulang keringnya di kaki, membuat ia meloncat-loncat dan mengaduh-aduh sambil memegangi tulang kering yang dicium batu.

Teman-temannya segera lari menghampiri, termasuk mereka yang meronda.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Kim-lun Seng-jin, memberi isyarat kepada Lin Lin untuk melompat dan mengikutinya.

Mula-mula kakek itu melompat ke atas cabang pohon terdekat dengan tembok, ia melompat ke atas tembok.

Lin Lin agak ngeri juga melihat dari tempat yang tinggi itu.

Akan tetapi ia mengeraskan hati dan melompat bagaikan seekor walet.

Ia heran mendapat kenyataan bahwa lompatannya amat ringan dan mudah.

Mengertilah ia sekarang bahwa ini adalah hasil latihan Ilmu Khong-in-ban-kin, maka diam-diam ia amat berterima kasih kepada kakek itu.

Dengan mudah mereka melompat ke sebelah dalam dari atas tembok dan tibalah mereka di daerah istana.

"Siapa tahu di sini kita akan bertemu dengan Suling Emas, Kek,"

Kata Lin Lin, mengagumi bangunan-bangunan besar yang dihias lampu-lampu beraneka warna.

"Boleh jadi, boleh jadi.."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Orang macam dia itu bisa berada di manapun juga."

"Apa dia itu hebat sekali, Kek? Apakah kau pernah bertempur dengan dia?"

Kakek itu menggeleng kepala.

"Belum pernah, bertemu pun belum. Akan tetapi dalam beberapa tahun ini, ia telah membuat nama besar, jauh melebihi aku yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia kang-ouw. Aku.. aku tidak suka membuat nama besar, bikin repot saja. Nah, itu di sana dapurnya, mari"

Kim-lun Seng-jin memegang tangan Lin Lin dan keduanya melompat naik ke atas genteng.

Tanpa mengeluarkan suara seperti dua ekor kucing saja, kakek dan dara remaja itu berloncatan di atas genteng.

Kakek itu mengajak berhenti di atas genteng yang agak rendah, membuka genteng, mematahkan kayu penyangga genteng, lalu menytisup ke dalam, diikuti oleh Lin Lin.

Mereka telah berada di atas langit-langit dapur.

Dengan gerakan perlahan, Kim-lun Seng-jin membuka langit-langit di pojok yang agaknya memang sudah lama terbuka.

"Ini pintu rahasiaku, kubuat belasan tahun yang lalu,"

Bisiknya sambil tersenyum lebar.

Lin Lin menjadi geli juga hatinya.

Kakek ini benar-benar seperti seekor kucing hendak mencari daging, pikirnya.

Dari lubang itu mereka mengintip ke bawah dan bau yang sedap masuk melalui lubang itu menyambut hidung mereka.

"Ehhhmmmm, waaahhhhh, sedapnya.."

Kim-lun Seng-jin menyedot-nyedot dengan hidungnya. Juga Lin Lin merasa amat lapar sekarang.

"Di bawah tidak ada orang, sisa-sisa hidangan Kaisar sudah dipanaskan lagi, mari"

Ia membuka lubang itu dan melayang ke bawah, diikuti oleh Lin Lin.

Dapur itu tidak menyerupai dapur bagi Lin Lin.

Terlalu bersih, terlalu mewah.

Lebih bersih daripada kamar tidurnya di rumah orang tuanya sana.

Yang begini disebut dapur?

Lantainya mengkilap, dindingnya dari batu marmer putih, lemari-lemarinya yang indah berdiri berjajar di sudut, penuh dengan panci-panci dan mangkok-mangkok besar.

Tempat perapian untuk masak berada di sebelah kiri.

Betul kata kakek itu, panci dan mangkok-mangkok itu masih nampak mengebulkan uap, tanpa bahwa isinya masih panas.

Kakek itu sudah tidak mau memperhatikan atau mempedulikan Lin Lin lagi karena ia sudah sibuk membuka dan memeriksa isi panci dan mangkok.

Di tangannya sudah terdapat sepasang sumpit gading yang ia ambil dari sebuah lemari.

Sekarang tangan yang memegang sumpit ini kewalahan melayani mulutnya yang melalap dan cepat menghabiskan segala yang dimasukkannya.

Nyumpit sana, nyumpit sini, lari ke lemari sana, kemudian ke lemari sini, kakek itu benar-benar berpesta-pora.

Tangan kirinya menyambar guci arak yang berada di atas lemari terciumlah bau arak wangi ketika ia mendorong makanan di mulutnya itu dengan arak.

Mulutnya mengeluarkan bunyi seperti babi makan ketika mengunyah makanan, bibirnya mengecap-ngecap penuh nikmat.

Lin Lin juga ikut berpesta-pora sungguhpun tidak selahap kakek itu.

Namun ia pun gembira bukan main karena banyak sekali macamnya masakan yang luar biasa di situ.

Karena ia tidak mengenal masakan-masakan itu, ia menyumpit masakan yang disebut oleh kakek itu sebagai masakan istimewa.

"Ini sop sarang burung, ini tim lidah harimau, ini sop hiu masak kecap, dan ini.. wah, ini panggang ikan lele"

Tiada hentinya ia menyebut nama-nama masakan dan Lin Lin harus akui bahwa yang disebut oleh kakek itu memang benar nikmat dan lezat.

Saking gembiranya, Lin Lin juga ikut-ikutan minum arak merah yang tidak begitu keras, namun hangat di perut.

Tanpa mereka sadari perut mereka menjadi penuh dan sang perut yang tak sanggup mengikuti selera lidah.

Lin Lin yang minta ampun lebih dulu duduk terhenyak di atas kursi, terengah kekenyangan.

Dasar dara remaja yang masih kekanakan, tanpa malu-malu ia membelakangi kakek itu untuk mengendurkan tali pinggang dalam dan luar.

"Heh-heh-heh, puas sekali ini. Wah, Kaisar amat royal hari ini, ada apa gerangan? Dasar rejekimu besar, Lin Lin"

Kakek itupun tak mampu lagi mengisi perutnya.

Agaknya makanan sudah memenuhi perutnya sampai ke leher sehingga tiada ruangan kosong lagi untuk menampung masakan.

Ia menjatuhkan diri di lantai, bersandar dinding dan minum arak keras sedikit demi sedikit sambil mengecap-ngecapkan bibirnya.

Terdengar suara orang bicara dan langkah kaki mendatangi.

Cepat bagaikan maling konangan (ketahuan orang) Lin Lin sudah melompat dan menerobos ke dalam lubang di atas langit-langit.

Kakek itu mengikutinya sambil terkekeh dan sambil mengintai dari atas ia berbisik.

"Ihhh, kenapa kau begini penakut?"

Lin Lin tidak menjawab, mukanya merah.

Bukan takut, tapi siapa tidak menjadi malu kalau mencuri makanan ketahuan pemiliknya?

Hatinya berdebar-debar gelisah.

Selama hidupnya, baru kali ini ia melakukan pencurian.

Menjadi maling makanan, alangkah rendahnya dan memalukan.

Dengan muka masih merah ia ikut mengintai, hendak melihat siapakah mereka yang memasuki dapur itu.

Apakah kaisar sendiri?

Ataukah permaisuri?

Makin berdebar jantungnya.

Tiga orang memasuki dapur istana itu.

Kiranya hanyalah tukang-tukang dapur saja, melihat pakaian mereka.

Begitu memasuki dapur, ketiganya berhenti bicara dan memandang ke arah lemari dengan mata terbelalak.

Seorang di antara mereka lari mendekati lemari dan terdengarlah ia berseru kaget.

"Celaka, masakan-masakannya ada yang curi, Ada yang makan, lihat nih, ada yang tumpah di lantai"

"Wah-wah, celaka, tentu ada yang mencuri masuk"

Tiga orang itu mencari sana-sini, memandang ke seluruh penjuru, lalu berdongak ke atas.

Lin Lin makin berdebar jantungnya, merasa seakan-akan tiga orang itu telah mengetahui tempat persembunyiannya.

"Agaknya kucing, Kalau orang, mana berani main gila di dapur istana"

"Masa kucing bisa mengganyang habis begini banyak masakan?"

"Siapa tahu kucing siluman"

Ribut-ribut tiga orang tukang masak itu.

"Lekas laporkan kepada penjaga, eh.. ke komandan jaga saja, biar dikerahkan semua pengawal menangkap kucing laknat. Kalau tidak tertangkap yang makan masakan-masakan ini, celaka kita, tentu mendapat hukuman dari Sri Baginda"

Seorang di antara mereka lari keluar, agaknya hendak melapor.

Lin Lin makin gelisah, akan tetapi ia lihat Kim-lun Seng-jin malah tidur mendengkur perlahan di bawah genteng.

Agaknya kakek ini kekenyangan dan tertidur, sama sekali tidak tahu akan keributan di dalam dapur.

"Tentu kucing, entah berapa ekor yang masuk dan mencuri masakan,"

Kata lagi tukang masak yang gendut perutnya.

"Hemmm, kalau tertangkap, akan kusembelih dia, kutarik keluar jantungnya, kumasak dengan jahe dan tape ketan. Baik untuk menguatkan jantung menambah darah."

Pucat muka Lin Lin mendengar ancaman ini dan saking gelisahnya, ketika menggeser lebih dekat ke arah lubang untuk mengintai lebih jelas, kepalanya terantuk genteng mengeluarkan bunyi.

Dua tukang masak di bawah mendengar ini dan mereka berdongak memandang penuh curiga.

"Wah, kucingnya di atas sana"

Seorang menuding.

"Mana bisa? Tidak ada lubang, dari mana dia masuk?"

"Siapa tahu kucing siluman?"

Si gendut menudingkan telunjuknya ke atas, tepat ke arah Lin Lin, lalu membentak.

"He, Siapa di atas sana? Kucing atau manusia, atau setan?"

Tidak ada jawaban.

"Agaknya pencuri"

Kata temannya.

"Lebih baik panggil para pengawal, biar ditangkap dan dihujani anak panah."

"Nanti dulu, siapa tahu kalau hanya tikus atau kucing."

Kembali ia memandang ke arah Lin Lin sambil berseru.

"Heee, Siapa sembunyi di atas langit-langit? Kalau setan atau manusia, jangan jawab. Kalau kucing, jawablah"

Lin Lin mendengarkan penuh perhatian, dengan seluruh perasaan, menegang dan jantung berdebar. Mendengar pertanyaan ini, otomatis mulutnya menjawab.

".. kucing.., eh meeooonggg.."

Ia gugup sekali sehingga jawabannya kacau-balau.

"Lho, Kucing bisa bicara. Wah, celaka.. setan.."

Dua orang tukang masak itu lari tunggang-langgang dan di ambang pintu mereka bertabrakan sampai jatuh bangun.

"Heh-heh-heh"

Kim-lun Seng-jin tertawa dan menarik tangan Lin Lin, diajak melompat naik ke atas genteng.

"Kau lucu sekali, masa kucing bisa berkata seperti manusia"

Merah muka Lin Lin, mulutnya cemberut.

"Aku tidak sengaja. Habis, aku bingung, kau enak-enak ngorok sih, Kek"

"Mari kita ke gudang pusaka"

Gudang pusaka dijaga kuat.

Memang gudang ini selalu dijaga, siang malam, karena di dalamnya terdapat simpanan senjata-senjata pusaka dan bendera-bendera milik istana.

"Kau yang masuk, biar aku merobohkan lima orang penjaga itu, dan sementara kau di dalam, aku yang menjaga di luar. Lekas pilih pedang yang kau sukai, tapi hati-hati, banyak jebakan di sana. Aku percaya kau mampu menjaga diri."

Lin Lin mengangguk dan bagaikan dua ekor burung walet, kakek dan dara remaja itu melayang turun.

Lima orang penjaga serentak melongo ketika tiba-tiba di depan mereka berdiri seorang kakek gundul yang berjenggot panjang bersama seorang wanita muda secantik bidadari.

Sedetik mereka mengira bahwa mereka dikunjungi sebangsa iblis dan peri, akan tetapi pada detik lain mereka sudah bergerak hendak menangkap.

Namun mereka kalah cepat.

Kedua tangan kakek itu bergerak dan lima orang itu roboh tertotok, tak berkutik lagi.

Dengan dorongan tangannya, Kim-lun Seng-jin berhasil membuka daun pintu yang terkunci.

Lin Lin cepat melompat masuk, akan tetapi baru saja kakinya menginjak lantai di sebelah dalam gedung itu, dari kanan kiri menyambar dua batang anak panah.

Baiknya dara ini sudah melatih Khong-in-ban-kin secara tekun sehingga gin-kangnya sudah jauh lebih tinggi daripada dahulu, sudah lipat entah berapa kali.

Anak-anak panah itu cepat sambarannya, namun ia lebih cepat lagi, dengan gerakan gesit ia telah melompat maju di antara sambaran anak panah, terus ke depan sehingga anak-anak panah dari kanan kiri itu meluncur lewat di belakang punggungnya.

Tanpa menghiraukan lagi anak-anak panah itu, kini Lin Lin berdiri kagum memandang senjata-senjata yang dipasang berderet-deret di sepanjang dinding.

Bukan main indahnya senjata-senjata itu.

Tombak-tombaknya, ruyung, golok, pedang, toya dan banyak sekali macamnya, rata-rata merupakan senjata pilihan, kuno dan terbuat daripada besi aji yang mempunyai cahaya dan hawa yang ampuh.

Akan tetapi pandang mata Lin Lin lekat pada sebatang pedang tipis yang tergantung di dinding sebelah kiri.

Pedang ini kecil dan tipis, sarungnya daripada kulit harimau, gagangnya kecil dan dihias ronce-ronce merah.

Seperti dalam mimpi, kedua kakinya bergerak menghampiri dinding sebelah kiri, kemudian ia mengulur tangan kanan, merenggut pedang yang tergantung pada dinding itu.

Ringan sekali pedang ini, akan tetapi begitu ia tarik dari dinding, tiba-tiba dari atas melayang turun sebuah benda besar dan berat, meluncur cepat akan menghantam dirinya.

Karena benda itu cepat sekali datangnya, Lin Lin yang sudah memegang pedang di tangan kanan, tak sempat mengelak lagi.

Terpaksa ia mengerahkan tenaga Khong-in-ban-kin, tangan kirinya menangkis dan..

terdengar suara keras, batu besar yang meluncur turun itu pecah oleh tangkisan Lin Lin yang disertai tenaga Khong-in-ban-kin.

Saking kagetnva karena pecahnya batu itu menerbitkan suara keras dan berisik, Lin Lin cepat melompat keluar lagi dari gudang itu dan di lain detik ia sudah tiba di luar kamar.

"Kek, aku pilih pedang ini.."

Katanya terengah-engah. Kim-lun Seng-jin membelalakan kedua matanya.

"Tepat, Kau tahu pedang ini? Inliah Pedang Besi Kuning pedang rampasan dari bangsa Khitan ratusan tahun yang lalu. Wah-wah, kalau ini tidak ajaib namanya, tak tahu lagi aku harus disebut bagaimana."

Pada saat itu terdengar suara gembreng dipukuli gencar tanda bahaya.

"Hayo kita pergi"

Kim-lun Seng-jin maklum akan adanya bahaya kalau para jagoan istana ke luar, maka ia tidak mau main-main lagi.

Tangannya menyambar Pergelangan tangan Lin Lin dan mereka melesat lari secepat terbang menuju ke pagar tembok, melompati pagar tembok dan melayang keluar.

Kiranya di luar sudah berkumpul para penjaga yang melakukan pengepungan.

Namun beberapa kali kakek itu menggerakkan tangan, banyak penjaga roboh dan mereka dapat lari menghilang dalam gelap.

Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam kuil kuno kembali.

Mereka duduk dekat api unggun.

Kakek itu menghunus pedang dan tampak sinar kuning menyilaukan mata.

Dan mendadak tampak sepasang mata kakek itu berlinang air mata, kemudian ia mencium mata pedang itu.

Lin Lin memandang dengan heran.

"Kek, kau pernah mengatakan bahwa aku seperti seorang gadis Khitan. Kau sendiri bilang mempunyai gigi dan hidung bangsa Khitan. Kemudian pedang ini kaukatakan dahulu berasal dari bangsa Khitan. Kakek yang baik, apakah artinya ini semua? Bangsa apakah Khitan itu? Apakah kau mengenal pedang ini?"

Kakek itu mengusap dua butir air matanya, lalu memasukkan pedang tipis tadi ke dalam sarung, menyerahkannya kepada Lin Lin.

"Kau simpan baik-baik pedang ini dan sembunyikan di balik jubahmu. Sekarang kau dengarkan ceritaku. Bangsa Khitan adalah bangsa yang gagah perkasa, bangsa yang selalu merantau karena ingin menikmati kebebasan alam, tidak mau terikat oleh apa pun juga. Mereka adalah bangsa besar, hidup bahagia dan tidak mau diperbudak oleh harta dunia dan kemuliaan duniawi. Akan tetapi sayang, betapapun juga, masih saja nafsu setan menguasai hati, dan timbullah perebutan kekuasaan, yang kuat ingin menjadi pemimpin. Dahulu, puteri kepala suku bangsa Khitan adalah muridku. Tayami, ah, anak baik dia, gagah perkasa dan aku tidak kecewa mempunyai murid seperti dia. Dia itu puteri tunggal raja kami yang bijaksana, gagah dan adil, tidak mau tunduk kepada raja-raja lain, memimpin suku bangsanya dengan penuh kasih sayang, membawanya ke daerah-daerah yang subur. Akan tetapi, dia mempunyai banyak saudara, dan para saudaranya inilah yang menaruh iri hati, ingin merebut kekuasaan sehingga selalu terjadi perebutan kekuasaan. Aku sendiri tidak sudi terlibat, tidak suka aku akan pengumbaran nafsu hendak menjadi penguasa dan mencari kemuliaan kedudukan. Pernah kuanjurkan raja yang menjadi ayah muridku itu untuk mengalah saja, memberikan kedudukan pemimpin kepada adiknya yang amat ingin menjadi raja. Akan tetapi, dia tidak mau, malah mencurigaiku."

Sampai di sini kakek itu menarik napas panjang.

"Lalu bagaimana, Kek?"

"Aku masih terhitung paman luarnya, aku tersinggung lalu aku pergi meninggalkan suku bangsaku, merantau seorang diri tidak mau meributkan persoalan dunia ramai lagi. Betapa besar kedukaanku mendengar bahwa bangsaku masih saling gasak, sehingga pertumpahan darah sering kali terjadi antara para penguasa. Akhirnya terjadi perang antara suku bangsa Khitan dengan Kerajaan Sung. Perang besar terjadi di Shan-si. Agaknya adik raja berkhianat, bersekutu dengan musuh dan raja kami gugur, juga puterinya. Tayami, muridku yang tersayang. Kasihan dia, suaminya, seorang gagah perajurit pilihan Khitan, juga gugur. Kabarnya Tayami ikut pula bertempur dengan gagah perkasa, sambil memondong puterinya yang masih kecil. Aku menyesal sekali mengapa kutinggalkan dia, sehingga tahu-tahu aku mendengar dia gugur dan puterinya itu hilang."

Kakek itu memandang wajah Lin Lin dengan sepasang mata tajam penuh selidik.

Meremang bulu tengkuk Lin Lin.

Belum pernah kakek itu memandangnya secara begini.

"Ada apa, Kek?"

"Kau.., Kaulah puteri Tayami, tak salah lagi. Wajahmu, suaramu, watakmu, serupa benar dengan muridku. Kau cucu raja kami, kau keturunan langsung."

Lin Lin meloncat berdiri.

"Tak mungkin, Kek"

"Siapa bilang tidak mungkin? Kau anak pungut Jenderal Kam, dan pada waktu terjadi perang, justeru Jenderal Kam Si Ek yang menjadi jago dan komandan di Shan-si, yang melakukan perlawanan hebat dan mengalahkan bangsa Khitan. Dia seorang laki-laki yang perkasa pula, siapa tahu dia melihat kau dalam gendongan Ibumu yang berjuang dengan gigih, merasa tertarik, kagum dan kemudian mengambilmu sebagai puterinya. Tak salah lagi, kaulah Yalina, puteri Tayami. Namamu juga Lin Lin, dan wajahmu serupa dia. Juga pedang itu.. bukanlah terlalu kebetulan kalau di antara sekian banyaknya pusaka, kau justeru memilih pusaka Khitan? Lin Lin, tidak salah lagi, kau adalah puteri Tayami yang hilang, yang sampai sekarang dicari-cari oleh para pengikut setia dari Kakekmu mendiang raja Kulukan."

"Dicari-cari? Untuk apa, Kek?"

Kim-lun Seng-jin tertawa dan menggelengkan kepalanya.

"Memang aneh mereka itu terlalu kukuh. Karena kekukuhan mereka, terjadilah hal-hal yang menyedihkan, perebutan kursi, saling mendukung pilihan mereka. Itulah sebabnya mengapa aku menjauhkan diri Lin Lin, kau dicari oleh mereka yang tidak suka kepada raja sekarang, untuk mengangkatmu sebagai ratu dan melawan raja yang sekarang berkuasa, yaitu Pamanmu, Kubakan, Raja Khitan yang sekarang."

"Apa..?"

Lin Lin terbelalak memandang Kim-lun Seng-jin, kemudian ia membantah.

"Aku masih tidak percaya, Kek. Tak mungkin aku seorang puteri bangsa Khitan karena sepatah kata pun bahasa Khitan tidak kumengerti. Ah, kau hanya mengkhayal, Kek. Hal ini harus ada buktinya. Ahhhhh.. satu-satunya orang yang akan dapat memberi keterangan tentu dia"

"Dia siapa?"

"Putera sulung Ayah angkatku, Kam Bu Song. Kek, kau bantulah aku mencari Kakak Kam Bu Song, tidak saja hal ini untuk memenuhi pesan terakhir Ayah angkatku, juga kalau dapat bertemu dengan dia kiranya dia akan dapat bercerita, anak siapa sebenarnya aku ini."

Lin Lin lalu menceritakan pesan terakhir dari Jenderal Kam. Kim-lun Seng-jin mengangguk-angguk.

"Mungkin Kam Bu Song itu dapat bercerita. Akan tetapi, Lin Lin, jangan kau kira bahwa andaikata kau benar Puteri Khitan seperti persangkaanku, aku menghendaki kau benar-benar menjadi ratu dan memerangi Pamanmu sendiri. Aku lebih senang melihat kau bebas seperti sekarang ini, menikmati kebahagiaan hidup tanpa ikatan sesuatu yang hanya akan menimbulkan pertumpahan darah di antara saudara dan bangsa sendiri."

"Kalau aku betul keturunan Raja Khitan, tentu saja akan kujungkalkan pengkhianat yang telah merampas tahta Kerajaan Khitan, Kek"

Jawaban tiba-tiba ini mengejutkan Kim-lun Seng-jin sehingga ia duduk melongo memandang Lin Lin. Akan tetapi Lin Lin segera tertawa.

"Jangan kau gelisah, Kek. Aku bukanlah puteri raja, aku orang biasa. Setelah mencari Suling Emas tidak bertemu, aku akan mencari Kakak Kam Bu Song sambil menanti datangnya kedua orang kakakku, Sin-ko dan Enci Eng."

Mendadak kakek itu meloncat dan menyambar tangan Lin Lin.

"Hayo kita lari keluar kota raja. Berbahaya di sini"

Lin Lin kaget dan hendak membantah. Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan-bayangan yang amat gesit, lalu terdengar bentakan.

"Maling keparat, kembalikan pedang pusaka"

Mendengar ini, maklumlah Lin Lin bahwa mereka telah dikejar pengawal-pengawal istana yang berkepandaian tinggi.

Akan tetapi mengapa harus melarikan diri?

"Kek, kita lawan saja.."

Serunya sambil berusaha melepaskan tangannya.

Akan tetapi Kim-lun Seng-jin malah menariknya untuk diajak lari cepat sekali menuju ke pinggir kota raja.

Lin Lin tidak dapat melepaskan diri.

Dengan gerakan yang luar biasa, Kim-lun Seng-jin sudah membawa Lin Lin melompati dinding tembok yang mengelilingi kota raja dan para pengejar tadi makin tertinggal jauh.

"Kek, kenapa kita mesti lari-lari seperti dua ekor tikus dikejar kucing? Memalukan sekali"

Lin Lin mencela ketika mereka sudah turun di luar tembok kota raja dan tangannya dilepaskan oleh Kim-lun Seng-jin. Kakek itu tertawa.

"Bukan takut, melainkan aku tidak mau menyeretmu ke dalam kesulitan. Kau masih muda, Lin Lin, dan kau keturunan Raja Khitan. Kalau mereka mengetahui akan hal ini, kau akan dikejar-kejar terus dan selanjutnya kau takkan dapat hidup dengan tenteram. Pergilah, lanjutkan usahamu mencari kakakmu. Kita berpisah di sini. Latih baik-baik Khong-in-ban-kin dan Khong-in-liu-san, dan kau takkan kecewa kelak. Tentang Suling Emas jangan khawatir. Kalau aku kebetulan bertemu dengannya, akan kutanyai dia apakah betul dia membunuh orang tua angkatmu. Kalau betul, percayalah, dia akan kuajak bertempur sampai sepuluh ribu jurus. Sekarang cepat kau pergi, mereka sudah datang"

"Dan tinggalkan kau seorang diri menghadapi anjing-anjing dari istana itu, Kek? Tidak nanti"

Lin Lin berdiri tegak, malah segera mencabut pedangnya.

"Wah, keras kepala, seperti Tayami"

Kakek itu bersungut-sungut, tiba-tiba tangannya bergerak dan tahu-tahu ia telah menotok pundak kiri Lin Lin.

Karena dara ini sama sekali tidak pernah menduga bahwa kakek itu akan menyerangnya tentu saja ia tidak dapat menghindarkan diri dan seketika ia merasa tubuhnya lemas sekali.

Kakek itu tertawa bergelak, lalu tubuhnya melesat ke depan, menyambut datangnya para pengejar.

Lin Lin tidak berdaya.

Ingin ia lari membantu tapi tubuhnya lemas dan ia maklum dalam keadaan seperti ini, kalau bertempur, baru sejurus saja melawan orang biasa, tentu ia akan roboh.

Karena itu, ia hanya berdiri diam saja dan mendengar betapa kakek itu dikepung dan dikeroyok oleh para musuh yang berteriak-teriak.

Agaknya, kakek itu sengaja mempermainkan mereka, karena ia berlari-lari, membiarkan dirinya dikejar-kejar dan akhirnya Lin Lin tidak mendengar suara apa-apa lagi.

Sunyi di sekelilingnya.

Kakek itu sengaja memancing para musuhnya untuk mengejarnya, menjauhi Lin Lin.

Dara itu maklum akan hal ini dan ia menarik napas panjang.

Baru sekarang ia merasa betapa baiknya Kim-lun Seng-jin terhadapnya.

Kalau dekat dengan kakek itu, mereka sering kali cekcok dan berbantahan akan tetapi setelah berpisah, tak dapat Lin Lin menahan dua air matanya menitik turun.

Tak sampai seperempat jam, totokan pada pundaknya itu buyar dengan sendirinya.

Lin Lin lalu menggerakkan pedang curian, mainkan Ilmu Silat Khong-in-liu-san.

Pedang itu mengeluarkan suara bercuitan dan sinar kuning bergulung-gulung di malam buta.

Ia merasa puas sekali karena pedang yang tipis dan kecil ringan itu terasa amat enak dimainkan.

Amat cocok dengan ilmu pedang yang ia warisi dari Kim-lun Seng-jin.

Ia baru berhenti bermain silat setelah fajar berada di ambang pintu langit timur.

Kegelapan malam sudah terusir, terganti cuaca remang-remang berkabut, berwarna kelabu, ia memandang pedangnya.

Pedang yang amat indah, terbuat daripada logam yang kekuning-kuningan, akan tetapi bukan emas.

"Hemmm, Pedang Besi Kuning, pusaka Khitan?"

Lin Lin berpikir sambil memandangi pedangnya.

"Dan aku Puteri Khitan? Seperti dongeng saja"

Melihat bahwa yang aneh pada pedang itu hanyalah ronce-ronce merah yang panjang itu, Lin Lin segera melepas kedua ronce merah itu dan menyimpannya dalam saku jubahnya.

Betapapun juga, pedang ini adalah pedang curian, pikirnya.

Kalau terlalu menyolok mata dan dilihat orang, tentu sepanjang jalan hanya akan menimbulkan keributan belaka.

Dengan hati bungah (senang) ia lalu berjalan menjauhi kota raja.

Ia ingin menanti munculnya kedua orang kakaknya, yang tentu akan menuju ke kota raja pula.

Untuk kembali ke kota raja sekarang terlalu berbahaya.

Memang, tidak ada seorang pun yang melihat dia memasuki istana, akan tetapi keadaan di kota raja tentu sedang kacau, penjagaan diperkuat dan orang-orang yang datang dari luar tentu dicurigai.

Jangan-jangan pedangnya akan dikenal dan ia akan mengalami kesukaran kalau masuk kota raja.

Lebih baik menanti munculnya kedua orang kakaknya itu di luar kota.

Di sebelah barat kota raja terdapat sebuah hutan yang kecil tapi amat indah.

Pohon-pohon di situ tampak subur dan seakan-akan teratur.

Memang hutan ini adalah hutan tempat para anggauta istana menghibur diri kalau keluar kota.

Lin Lin tidak tahu akan hal ini dan girang hatinya ketika memasuki hutan ini.

Ia berjalan seenaknya memasuki hutan, mendengarkan kicau burung yang menyambut datangnya pagi.

Lin Lin memang memiliki watak periang.

Melihat suasana indah dan mendengar kicau burung yang berloncatan di cabang-cabang dan ranting-ranting pohon, kegembiraannya timbul.

Kadang-kadang ia terkekeh ketawa melihat seekor kelinci muncul dari belukar, menggerak-gerakkan sepasang telinga yang panjang dan mainkan bola mata yang bening lebar.

Ada kalanya ia berloncatan gembira meniru burung kecil yang berloncatan di daun-daun sambil berkicau.

Tiba-tiba Lin Lin terkejut mendengar suara orang tertawa.

Karena ia amat gembira dan memperhatikan burung-burung di atas pohon, tidak diketahuinya bahwa sejak tadi ada dua orang laki-laki memperhatikannya.

Dua orang laki-laki itu kini menghadang di depannya sambil tertawa.

Ketika Lin Lin memandang, kiranya mereka adalah dua orang pendeta yang berkepala gundul.

Dua orang hwesio yang masih muda, pakaian pendetanya bersih, gundul kepalanya kurang bersih, karena sudah mulai ditumbuhi rambut baru, sikap mereka riang dan wajah mereka berseri gembira, sama sekali tidak patut menjadi wajah pendeta yang biasanya serius dan alim.

Melihat bahwa yang tertawa adalah dua orang pendeta, Lin Lin tersenyum.

Pendeta-pendeta tidak perlu ditakuti dan kegembiraannya timbul kembali.

"Selamat pagi, Ji-wi Suhu (Bapak Pendeta Berdua)"

Serunya riang.

"Pagi yang indah sekali, bukan?"

Dua orang hwesio itu saling pandang, dan tertawa lebar. Seorang di antara mereka, yang alis matanya tebal, maju selangkah.

"Selamat pagi. Memang pagi yang indah sekali, agaknya karena ada Nona yang cantik manis maka suasana begini menyenangkan. Siapakah nama Nona? Kami berdua senang sekali dapat berkenalan dengan Nona cantik jelita. Bukankah begitu, Suheng ?"

Hwesio ke dua mengangguk-angguk dan mulutnya menyeringai, memperlihatkan gigi besar-besar berwarna kuning.

"Memang betul, dan hari ini kita tidak perlu tergesa-gesa kembali ke kelenteng, lebih senang main-main dengan Nona ini di sini."

Seketika keriangan Lin Lin lenyap, terganti oleh kemarahan yang membuat kedua pipinya menjadi merah, sepasang matanya yang bening seakan-akan mengeluarkan sinar berapi.

"Ihhh, kalian ini dua orang bajingan yang menyamar sebagai pendeta, ataukah pendeta-pendeta yang kemasukan iblis? Bagaimana dua orang gundul berpakaian pendeta begini kurang ajar? Minggir, biarkan aku lewat, aku tidak sudi bicara dengan kalian lagi"

"Ho-ho-hooo, nanti dulu, Manis"

Si Alis Tebal cepat membentangkan kedua lengannya menghadang di tengah jalan.

"Bukan kebetulan kita saling bertemu di sini, agaknya memang antara kita bertiga sudah ada jodoh. Kalau tergesa-gesa mau pergi juga, harus memberi ciuman dulu kepada kami, seorang tiga kali. Bukankah begitu, Suheng?"

"Ya-ya, betul itu. Di tempat sunyi begini, tak usah malu-malu, Nona"

Kata Si Gigi Kuning.

"Jahanam bermulut busuk"

Lin Lin membentak, tubuhnya berkelebat dan sekali kedua tangannya mendorong dengan jurus dari ilmu silatnya Khong-in-liu-san, dua orang hwesio itu terjengkang roboh ke kanan kiri.

Kini Lin Lin yang mendapat giliran tertawa nyaring bernada penuh ejekan.

"Hi-hik, kiranya kalian hanyalah dua ekor monyet gundul yang hanya pandai pentang mulut menghina wanita"

Dua orang hwesio muda itu kaget sekali, sama sekali tidak pernah mengira bahwa dara remaja itu dapat melakukan penyerangan yang sedemikian dahsyat dan tiba-tiba.

Mereka marah sekali dan lenyaplah keinginan hati mereka untuk mempermainkan Lin Lin, kini dengan mata merah mereka meloncat bangun, penuh nafsu menyakiti gadis ini.

Gerakan mereka cepat dan tahu-tahu mereka telah melolos sebatang cambuk dari ikat pinggang.

Cambuk hitam yang panjang dan melihat gerakan cambuk di tangan, dapat diduga bahwa mereka adalah ahli-ahli bermain cambuk yang mahir sekali.

"Bocah setan, berani kau main gila terhadap pinceng?"

Seru Si Alis Tebal.

"Sute, kita cambuki pakaiannya sampai ia telanjang bulat"

Kata Si Gigi Kuning dengan nada gemas.

"Tar-tar-tar-tar"

Dari depan dan belakang, dua batang cambuk itu mengeluarkan bunyi dan menyambar-nyambar di atas kepala Lin Lin.

Namun seujung rambut pun gadis ini tidak menjadi gentar.

Malah kemarahannya memuncak.

"Hemmm, monyet-monyet gundul tak tahu diri. Hajaran tadi masih belum cukup bagi kalian, ya? Manusia-manusia berwatak kotor macam kalian kalau tidak dibasmi, hanya akan mengotorkan dunia dan mengganggu wanita saja"

Setelah berkata demikian, Lin Lin menggerakkan tangan kanan dan "srattt"

Tampak sinar kuning menyilaukan mata karena Pedang Besi Kuning sudah berada di tangannya.

"Bagus, kau berani melawan? Rasakan cambukan ini"

Cambuk dari depan menyambar, disusul cambuk dari belakang dan di lain saat tubuh Lin Lin sudah terkurung dua batang cambuk yang menyambar-nyambar bagaikan dua ekor ular hidup.

Kiranya dua orang hwesio muda itu tidak terlalu menyombong.

Permainan cambuk mereka memang hebat, cepat dan kuat sekali.

Namun kali ini mereka bertemu dengan Lin Lin, yang baru saja mewarisi Ilmu Khong-in-ban-kin, ilmu yang membuat ia dapat mengerahkan gin-kang yang hebat sehingga tubuhnya berubah ringan dan cepat laksana gerakan seekor burung walet.

Betapapun cepatnya dua batang cambuk itu melecut dan menyambar, tubuh Lin Lin lebih cepat lagi bergerak, berkelebat di antara sambaran cambuk diselimuti gulungan sinar kuning dari pedangnya.

Memang hebat sekaii Lin Lin setelah ia mewarisi ilmu dari Kim-lun Seng-jin.

Apalagi di tangannya sekarang ada sebatahg pedang pusaka terbuat daripada besi aji yang amat ampuh.

Dengan sinar yang menyilaukan mata, pedangnya berkelebat dan..

dua orang hwesio muda itu berteriak kesakitan ketika cambuk-cambuk di tangan mereka itu putus semua berikut ujung lengan baju dan sebagian daripada kulit dan daging lengan mereka, semua terbabat oleh sinar pedang yang menyilaukan dan berhawa dingin itu"

Tentu saja mereka terkejut dan ketakutan, lalu melarikan diri sambil memegangi kepala seakan-akan merasa khawatir kalau-kalau kepala mereka pun akan terbabat putus"

"Bagus sekali. Benar-benar kiam-hoat (ilmu pedang) yang amat indah dan lihai"

Lin Lin cepat menengok.

Kiranya tak jauh dari tempat pertempuran itu tampak seorang laki-laki muda duduk di atas punggung kudanya.

Pemuda ini berusia dua puluh tahun lebih, bermuka bundar dengan jidat lebar, sepasang matanya lebar den menyinarkan kejujuran, alisnya tebal, hidungnya agak pesek, mulutnya membayangkan keramahan.

Biarpun bukan wajah yang dapat disebut tampan, namun ia tidak buruk rupa, bahkan wajahya yang sederhana ini menyenangkan hati orang.

Pakaiannya pun sederhana dan bersih, rambutnya digelung ke atas den dibungkus sutera berkembang.

Gagang sebuah pedang yang tampak menandakan bahwa ia pun seorang yang tidak asing akan senjata tajam.

Juga bentuk tubuhnya yang kekar membayangkan tenaga besar.

Lin Lin masih marah.

Sehabis bertemu dengan dua orang hwesio muda yang bermulut kotor dan lancang tadi, ia mempunyai prasangka buruk terhadap pemuda ini.

Kalau laki-laki yang sudah menjadi hwesio-hwesio saja seperti tadi kurang ajarnya, apalagi yang masih muda seperti ini.

Dengan muka merah den mulut cemberut ia membalikkan tubuh menghadapi pemuda itu, lalu menghardik.

"Memang kiam-hoatku indah dan lihai, juga pedangku ini cukup tajam untuk memenggal leher setiap orang laki-laki ceriwis den kurang ajar. Kau mau apa ikut campur?"

Ada semenit pemuda itu melongo.

Matanya yang lebar itu makin melebar ketika ia memandang Lin Lin.

Terbayang pada matanya itu kekaguman luar biasa dan sesungguhnya, ia memang kagum sekali setelah dara ini sekarang menghadapinya.

Wajah Lin Lin seakan-akan menyihirnya, membuat jantungnya jungkir balik dan kepalanya puyeng, matanya berkunang-kunang.

Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang dara seperti ini, dan belum pernah ia mengalami guncangan seperti ini pula menghadapi seorang gadis.

Lin Lin makin tidak sabar.

Agaknya laki-laki ini kurang ajar pula, duduk di atas punggung kuda dan memandangnya tanpa berkata apa-apa, memandangnya tanpa berkedip.

Ia membanting kaki dan memaki.

"Apa kau kira aku ini barang tontonan maka matamu melotot terus memandangku?"

"Bukan barang tontonan, Nona, akan tetapi tidak ada tontonan yang lebih indah, lebih mempesona, lebih.."

"Kau lebih kurang ajar lagi"

Bentak Lin Lin dan tubuhnya sudah melesat ke depan sambil mengirim serangan dengan pedangnya.

"Uiiihhhhh, ganas.."

Pemuda itu cepat sekali membuang diri dari atas punggung kuda, berjumpalitan beberapa kali dan ketika kedua kakinya sudah berdiri di atas tanah, ternyata ia telah mencabut pedangnya yang berkilauan seperti perak.

"Baiklah, Nona. Kalau kau ingin mencoba kepandaian, mari kulayani. Agaknya kau murid orang pandai dan patut menjadi lawanku bertanding pedang."

Ia melambaikan tangan kiri menantang.

Dari gerakan pemuda tadi yang amat mengagumkan hati Lin Lin, gadis inipun maklum bahwa lawannya kali ini bukanlah seorang sembarangan, bukan macam dua orang hwesio tadi.

Akan tetapi ia tidak takut, dan perasaannya ini ia keluarkan melalui bibirnya yang merah.

"Biar ada sepuluh orang macam engkau, aku tidak gentar"

"Ha-ha-ha, ada satu saja orang macam aku sudah terlalu repot bagimu, apalagi ada sepuluh orang"

Pemuda itu berkelakar, akan tetapi ia harus cepat-cepat menggerakkan pedangnya menangkis karena dengan gerakan seperti seekor burung walet, gadis itu sudah menerjangnya.

"Trang-trang-tranggggg.."

Tiga kali pedang mereka saling beradu, menimbulkan bunga api yang muncrat ke sana-sini.

Keduanya cepat menarik pedang masing-masing dan lega hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa pedang mereka tidak rusak oleh pertemuan keras lawan keras tadi.

Masing-masing kagum dan juga kaget.

Apalagi Lin Lin.

Tadi ia sudah mengerahkan tenaga Khong-in-ban-kin, dan ia maklum bahwa tenaga yang terdapat dalam ilmu ini luar biasa besarnya.

Tadi ia gunakan sedikit saja untuk menghadapi dua orang hwesio, sekali babat saja cambuk-cambuk itu putus semua.

Sekarang ia pergunakan tenaga ilmu ini dalam mengadu pedang, sedangkan di tangannya adalah pedang pusaka pula, mengapa pedang lawannya tidak menjadi rusak dan tidak terpental?

Ini hanya menjadi bukti bahwa pemuda pesek ini selain memiliki pedang yang ampuh juga memiliki kepandaian tinggi, dapat melawan terjangan tenaga Khong-in-ban-kin.

Apakah kakek gundul pelontos Kim-lun Seng-jin yang membohonginya dan membual tentang kelihaian Khong-in-ban-kin?

Kakek itu bilang bahwa jarang ada lawan yang akan dapat mengimbangi kecepatan dan kekuatan tenaga dalamnya kalau ia mengerahkan Khong-in-ban-kin, akan tetapi sekarang, baru saja bertemu dengan seorang pemuda pesek, ilmunya itu seakan-akan tiada artinya lagi.

Di lain pihak, Si Pemuda juga kaget dan tercengang di samping kekagumannya yang menjadi-jadi.

Tadinya ia mengira bahwa dara lincah itu hanya memiliki gerakan yang amat cepat dan ilmu pedang yang tinggi saja, maka dengan mudah dapat mengalahkan dua orang hwesio kurang ajar tadi.

Siapa kira, dalam pertemuan pedang tadi ia mendapat kenyataan bahwa dalam hal tenaga, gadis itu tidak usah mengaku kalah terhadapnya, juga pedang di tangannya itu adalah pedang ampuh yang dapat menahan pusakanya sendiri.

Padahal pusakanya ini adalah pedang Goat-kong-kiam (Pedang Sinar Bulan) yang jarang bandingannya, pedang pusaka pemberian suhunya.

"Wah karena pedangmu ampuh kau jadi sombong, ya? Awas lehermu"

Lin Lin membentak dan segera gadis ini mainkan Khong-in-liu-san untuk menerjang lawannya.

Hebat terjangannya ini, pedangnya berubah menjadi sinar kuning bergulung-gulung, makin lama makin tebal merupakan segunduk awan bergerak perlahan mengurung diri pemuda itu dari segala jurusan.

Pemuda itu mengeluarkan seruan tertahan.

Benar-benar tak disangkanya gadis ini sedemikian lihainya.

Ia pun lalu bersilat dengan pedangnya, ilmu silat yang aneh, gerakan-gerakannya lucu dengan tubuh megal-megol seperti seorang pelawak beraksi di atas panggung wayang.

Hampir saja Lin Lin tak dapat menahan ketawanya menyaksikan gerakan aneh dan lucu ini.

Akan tetapi ia pun terheran-heran karena ke manapun juga pedangnya menyambar, selalu dapat dielakkan atau ditangkis oleh pemuda yang gerak-geriknya aneh ini.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa pemuda itu banyak mengalah, hanya mempertahankan diri daripada serangan-serangannya yang dahsyat, tidak berusaha membalas sungguh-sungguh.

Memang pemuda itu tidak ingin merobohkan Lin Lin, kekagumannya terhadap gadis itu membuat ia mengalah dan hanya ingin menguji kepandaian orang "Hebat.., hebat..

kiam-hoat yang luar biasa"

Berkali-kali pemuda itu memuji.

Akan tetapi, makin dipuji makin marahlah Lin Lin karena pujian itu ia anggap sebagai ejekan.

Mana bisa ilmu pedangnya dipuji kalau sama sekali tidak mampu mendesak lawan?

"Balaslah!

Seranglah!

Kau kira aku takut?

Kalau kau bisa mengalahkan aku, baru kau laki-laki sejati"

Ia menantang.

Ia berbesar hati karena ia memiliki ilmu Khong-in-ban-kin dan dengan ilmu ini ia dapat menggunakan gin-kang yang sempurna sehingga ia tidak khawatir akan termakan pedang lawan.

Seperempat jam sudah mereka bertanding.

Kuda tunggangan pemuda itu menjadi gelisah, berkali-kali meringkik ketakutan.

Pemuda itu gemas juga.

Gadis ini amat menarik hatinya, dan ia tidak tega untuk merobohkan atau mengalahkannya.

Akan tetapi kalau tidak "diberi rasa", tentu tidak tahu akan kelihaiannya, demikian ia pikir, bangkit harga dirinya sebagai seorang laki-laki.

"Baiklah, Nona, lihat pedangku"

Ia memutar pedangnya cepat sekali dan mengerahkan tenaga untuk mendesak dan menindih gulungan sinar pedang lawan.

Memang hebat pemuda ini.

Amat kuat tenaga desakan hawa dan sinar pedangnya, mengejutkan hati Lin Lin.

Namun cepat gadis ini menggunakan Khong-in-ban-kin, tubuhnya begitu seakan-akan bayangan, dengan lincahnya ia menyelinap di antara sinar pedang.

Sungguhpun harus ia akui bahwa semua serangannya sekarang gagal dan buyar, tidak ada kesempatan lagi, namun ia tetap dapat mempertahankan diri daripada desakan lawan.

Makin keras pemuda itu menekan, makin lincah gerakan Lin Lin sehingga pemuda itu selain kaget juga heran dan bingung.

Tahulah ia sekarang bahwa dara lincah ini adalah murid seorang sakti, karena hanya beberapa orang saja di dunia kang-ouw, boleh dihitung dengan jari jumlahnya, yang akan dapat menghindarkan diri daripada tekanan pedangnya seperti ini.

Pada saat itu, terdengar bentakan keras.

"Susiok (Paman Guru), inilah iblis betina liar itu"

"Hemmm, hemmm, agaknya mengandalkan kecantikannya. Lihat pinceng menangkapnya"

"Mari kita berlumba, Sute, aku pun timbul kegembiraan hendak menangkap gadis liar ini"

Sambung suara ke dua.

"Hee, Sicu, harap mundur. Biarkan pinceng berdua main-main dengan budak ini"

Pemuda itu dan Lin Lin biarpun masih saling gempur, otomatis kini mengendurkan gerakan dan melirik.

Kiranya yang datang adalah dua orang hwesio muda yang tadi, yang berdiri agak jauh, akan tetapi kini mereka datang bersama dua orang hwesio setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan keduanya memegang sebatang tongkat hwesio yang panjang dan terbuat daripada baja.

Kedua orang hwesio ini sombong sekali lagaknya dan agaknya mereka memandang rendah kepada pemuda itu dan Lin Lin.

Tanpa memberi kesempatan lagi, dua orang hwesio setengah tua itu menerjang maju dari kanan kiri mengeroyok Lin Lin.

Benar-benar tak tahu malu, pikir Lin Lin, suaranya saja hendak berlumba untuk menangkapnya, kiranya mereka itu hanya ingin mengeroyok mengandalkan senjata yang panjang dan berat.

Mana ada orang yang hendak "menangkap"

Menggunakan tongkat yang begitu panjang dan berat?

Akan tetapi ketika ia mengayun pedang dengan putaran lebar, sekaligus menangkis dua batang tongkat itu, terdengar suara keras, bunga api berpijar dan Lin Lin merasa betapa telapak tangannya tergetar.

Ia kaget dan diam-diam ia mengeluh.

Kiranya di samping kesombongan mereka, dua orang hwesio ini memiliki tenaga lwee-kang yang hebat.

Cepat ia menggerakkan tubuh dan dengan mengandalkan kelincahannya, kini ia menghadapi dua orang pengeroyoknya, lupa bahwa lawan lamanya, pemuda itu, kini berdiri menonton dan tidak menyerangnya lagi.

"Tahan senjata. Melihat gerakan, Ji-wi Suhu adalah hwesio-hwesio Siauw-lim. Betulkah?"

Dua orang hwesio setengah tua itu melompat mundur, menahan tongkat mereka lalu memandang pemuda itu.

Lin Lin tidak peduli, akan tetapi ia pun tidak sudi menyerang orang yang menarik senjatanya, maka dengan pedang melintang di depan dada, ia hanya memandang, sikapnya gagah.

"Kami memang betul hwesio-hwesio Siauw-lim. Kau siapakah, Sicu, dan apa yang hendak kau katakan kepada kami?"

"Siauw-lim-pai adalah partai persilatan yang selalu menjunjung kebenaran dan keadilan, yang selalu bersih dan terkenal sebagai pusat orang-orang beribadat yang berilmu tinggi. Akan tetapi mengapa Ji-wi Suhu datang-datang menyerang seorang wanita?"

"Gadis liar ini menghina murid-murid keponakan kami"

"Hemmm, pemutarbalikan fakta yang menjijikkan"

Adalah dua orang hwesio itulah yang kurang ajar, mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan terhadap wanita terhormat.

Ji-wi Suhu akan membersihkan nama partai kalau sekarang juga memberi hukuman kepada murid-murid sendiri, daripada menyerang orang yang tidak berdosa."

"Orang muda, kau siapakah, berani bicara lancang, memberi kuliah kepada kami?"

Pemuda itu tersenyum.

"Aku she Lie bernama Bok Liong, orang biasa saja. Akan tetapi aku mengenal baik Cheng Han Losuhu, dan pedangku Goat-kong-kiam ini selalu menghendaki kebenaran dibela oleh orang-orang gagah."

Cheng Han Hwesio adalah ketua Siauw-lim-pai, maka mendengar disebutnya nama ini, kedua orang hwesio itu menjadi kaget sekali.

Mereka khawatir kalau-kalau pemuda ini akan mengadu, dan memang akhir-akhir ini banyak sekali anak buah para hwesio yang tersesat, mabuk oleh kesenangan duniawi dan mempergunakan kesempatan selagi negara kacau dan ketua dari pusat tidak sempat melakukan pengawasan, mereka mengumbar nafsu jahatnya.

Terutama sekali yang menimbulkan keadaan memalukan dan buruk ini adalah para penjahat dan pelarian yang menyembunyikan diri dengan jalan mencukur rambutnya dan memakai jubah pendeta, tinggal bersembunyi di kelenteng-kelenteng.

Merekalah yang menjadi "guru"

Dan menyeret para hwesio muda yang belum teguh batinnya dan masih lemah imannya ke jalan sesat.

Dua orang hwesio ini hanya merupakan kepala dari sebuah kelenteng kecil, sudah terlalu lama berkecimpung di dalam keduniaan, maka hanya pada lahirnya saja seperti pendeta, namun batinnya sudah menjadi penjahat-penjahat hamba nafsu buruk.

"Keparat, kau benar kurang ajar"

Kau kira kami takut padamu?

Sute, kau hajar dia ini, biar pinceng menangkap Nona liar.

Kalau tidak diberi hajaran, tidak akan kapok orang-orang muda kepala batu ini"

Dua orang hwesio Siauw-lim-pai itu terlalu memandang rendah orang muda.

Mereka mengandalkan kepandaian yang tinggi dan senjata tongkat yang berat, pula, memang ilmu tongkat atau ilmu toya dari Siauw-lim-pai amat terkenal kuat.

Namun, pemuda itu adalah murid orang sakti, juga Lin Lin telah menerima gemblengan dari seorang sakti yang tingkatnya sejajar dengan ketua Siauw-lim-pai di pusat sendiri.

Maka kalau mau dibuat perbandingan, tingkat dua orang hwesio itu masih jauh di bawah.

"Aku tidak ingin kau bantu"

Seru Lin Lin sambil menggerakkan pedang menghadapi serangan seorang hwesio.

"Siapa membantumu, Nona? Aku pun diserang oleh hwesio palsu ini"

Jawab pemuda yang bernama Lie Bok Liong itu sambil menggerakkan pedang pula menandingi lawannya. Pertempuran seru terjadi, terpecah menjadi dua.

"Nona, adu ilmu antara kita boleh ditentukan sekarang. Siapa yang lebih dulu mengalahkan lawan, dia yang lebih unggul antara kita"

Pemuda itu berseru.

"Baik, seorang laki-laki tidak melanggar janjinya"

Seru Lin Lin girang.

Gadis ini sebentar saja dapat melihat kelemahan lawan dan ia yakin akan dapat merobohkannya dalam waktu cepat, maka usul pemuda itu diterimanya dengan girang.

Melihat tongkat itu menyodok ke arah dadanya, Lin Lin sengaja berlaku lambat, membiarkan lawan lengah dan kegirangan.

Beberapa senti meter sebelum ujung tongkat mengenai dadanya, tiba-tiba ia miringkan tubuhnya menggunakan jurus Pek-wan-hian-ko (Lutung Putih Berikan Buah) dari ilmu silat ayahnya, tangan kirinya menangkis dengan jari-jari terbuka, dan pedangnya bergerak cepat ke depan.

Inilah gerakan dari Khong-in-liu-san, yang tidak terduga dan amat cepat datangnya.

Hwesio lawannya itu menjerit kesakitan, tongkatnya terlepas dan pangkal lengannya terobek pedang sampai kelihatan tulangnya.

Sambil tersenyum manis tapi penuh ejekan, Lin Lin membalikkan tubuh memandang ke arah pemuda pesek itu, siap untuk mengejek dan berbangga akan kemenangannya.

Akan tetapi tiba-tiba wajahnya berubah merah sekali.

Apa yang dilihatnya?

Pemuda itu ternyata sudah lebih dulu merobohkan lawannya, hwesio lawan pemuda itu sudah rebah dengan pundak berdarah.

"Nona, kita berhasil dalam waktu yang sama. Hayo kita berlumba merobohkan dua orang hwesio ceriwis itu"

Lin Lin melihat betapa hwesio muda yang dua orang tadi telah melarikan diri tunggang-langgang melihat betapa kedua orang paman guru mereka telah roboh.

Karena dua orang hwesio muda itu yang menjadi biang keladi pertempuran, dan dua orang hwesio itu yang sebenarnya amat kurang ajar, Lin Lin menjadi marah sekali dan tubuhnya berkelebat melakukan pengejaran.

Ia melihat sesosok bayangan dengan cepat juga berkelebat di sampingnya.

Tahu bahwa pemuda pesek itu tidak mau kalah, Lin Lin mengerahkan gin-kangnya dan di lain saat ia sudah tiba di belakang dua orang hwesio itu.

Pedangnya menyambar dan dua orang hwesio itu menjerit, roboh terguling.

Dua orang hwesio muda itu terluka pahanya.

Karena menganggap bahwa dua orang hwesio itu jahat sekali, Lin Lin kembali menggerakkan pedang hendak membunuh mereka.

"Tranggg"

Bunga api berpijar ketika pedangnya bertemu dengan pedang di tangan Lie Bok Liong.

"Nona, harap jangan bunuh mereka. Mereka adalah hwesio-hwesio Siauw-lim"

"Hwesio Siauw-lim atau hwesio-hwesio langit, siapa takut? Mereka ini jahat, kalau hwesio-hwesio tua Siauw-lim-pai membela mereka, berarti mereka pun jahat"

"Omitohud.. kasar akan tetapi harus diakui kebenarannya.."

Terdengar seruan suara halus dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang hwesio tua yang putih semua jenggotnya, akan tetapi mukanya masih segar kemerahan seperti seorang muda.

Hwesio ini berjubah kuning, memegang sebuah tongkat pendeta dan sinar matanya berpengaruh penuh wibawa.

Melihat hwesio ini, Lie Bok Liong segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat.

"Cheng Hie Losuhu, Kebetulan sekali Losuhu datang. Kami dua orang muda telah berselisih faham dengan beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai, harap Losuhu memberi kebijaksanaan."

"Lie-sicu tak perlu bersikap sungkan. Pinceng yang tua sudah melihat dan mendengar semua. Memang sudah pinceng dengar kenakalan empat orang anak murid ini, akan tetapi baru sekarang pinceng melihat buktinya."

Kemudian ia mengalihkan pandang mata kepada Lin Lin dan berkata.

"Nona, kepandaianmu hebat bagi seorang semuda Nona. Memang pantas sekali Pedang Besi Kuning berada di tanganmu. Dua orang anak murid Siauw-lim-pai yang durhaka ini telah melakukan kesalahan kepadamu, harap Nona sudi memberi maaf, biar pinceng nanti yang akan menghukum mereka."

Lin Lin kaget bukan main.

Hwesio tua ini dapat mengetahui segalanya, bahkan tahu pula tentang pedangnya, pedang curian dari gudang istana.

Tentu seorang yang berilmu tinggi, pikirnya.

Ia memang marah kepada dua orang hwesio yang kurang ajar itu, akan tetapi sekarang sudah ada pentolan Siauw-lim-pai yang mengurus dan hendak menghukum, hatinya puas.

"Terserah kepada Losuhu. Aku percaya Losuhu akan benar-benar memberi hukuman berat, kalau tidak, berarti Losuhu membantu orang jahat"

Muka hwesio tua itu berubah agak pucat, akan tetapi ia hanya tertawa dan menjura. Lie Bok Liong lalu mengajak Lin Lin pergi.

"Marilah, setelah ada Cheng Hie Losuhu, tentu mereka akan mendapat bagian mereka. Cheng Hie Losuhu terkenal sebagai pengawal tindak-tanduk dan sepak terjang para anak murid Siauw-lim-pai dan dunia kang-ouw mengenal belaka kebijaksanaan dan keadilannya. Losuhu, perkenankan kami pergi."

Cheng Hie Hwesio menggerakkan tangannya, mengangguk-angguk.

"Pergilah.. pergilah dengan hati-hati, orang-orang muda. Doa restu dan berkahku mengiringi kalian berdua.."

Lin Lin tercengang, hendak marah kepada pemuda pesek itu.

Enak saja, pikirnya, ajak-ajak seakan-akan dia itu memang teman seperjalanan.

Kenal pun tidak, Akan tetapi melihat sikap hwesio yang amat halus dan baik itu, tak enak hatinya menimbulkan ribut di depannya.

Ia pun mengangguk dan berjalan pergi bersama Lie Bok Liong yang menuntun kudanya.

Sampai lama mereka jalan berendeng, diam saja, tidak berkata-kata, juga saling lirik saja tidak.

Seakan-akan mereka saling tidak ingat lagi bahwa di sebelah mereka berjalan seorang lain.

Tentu saja tidak demikian hal yang sebetulnya.

Bok Liong sekaligus terbetot semangatnya oleh gadis lincah ini, dan ia berjalan sambil merenung, terheran-heran atas perubahan di dalam hatinya sendiri, mengapa ia merasakan hal yang aneh ini, hal yang selama ia hidup belum pernah ia rasai.

Adapun Lin Lin, ia sedang mengumpul-ngumpulkan kata-kata untuk menyerang pemuda pesek lancang ini nanti setelah mereka jauh dari hwesio tua tadi.

Setelah mereka keluar dari dalam hutan dan berada di jalan yang sunyi sekali, tiba-tiba Lin Lin berhenti dan berkata ketus.

"Nah, sekarang tidak ada siapa-siapa yang akan menghalangi kita membuat perhitungan"

Pemuda itu seakan-akan baru sadar dari alam mimpi. Ia menengok dan memandang dengan kaget.

"Perhitungan? Perhitungan apa, Nona?"

"Perhitungan apa? Pura-pura tanya lagi. Kau tadi mengajak adu cepat berlumba merobohkan dua orang hwesio ceriwis. Siapa yang menang? Aku. Lalu hwesio tua Siauw-lim-pai tadi memuji-muji dan minta maaf. Memuji siapa dan minta maaf kepada siapa? Aku. Tapi kau memerintah aku ikut denganmu, Sombong"

Bok Liong cepat menjura, sikapnya sungguh-sungguh.

"Nona, harap kau tidak main-main lagi. Maafkanlah kalau sikap dan kata-kataku pernah menyinggungmu. Aku Lie Bok Liong adalah seorang laki-laki sejati, dan kulihat sepak terjangmu membuktikan bahwa kau seorang pendekar wanita yang mengagumkan. Oleh karena itu, terimalah hormatku, Nona, dan sampai mati aku tidak nanti berani mengangkat senjata terhadapmu lagi. Aku mengaku kalah dan menyerah."

Watak Lin Lin memang aneh.

Dalam segala hal ia selalu tidak mau kalah.

Kalau orang bersikap keras terhadapnya, ia tidak mau kalah keras, kalau orang galak, ia akan lebih galak lagi.

Kini Bok Liong bersikap merendah dan mengalah dengan suara sungguh-sungguh dan wajah serius, ia pun tidak mau kalah.

"Nah, kau sih yang sombong tadinya. Padahal aku juga tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan orang seperti kau ini. Aku tahu kau bukan orang jahat, tapi, kalau aku tidak bersikap keras, orang takkan mengetahui kelihaianku. Nah, kau pun kuminta maklum saja kalau tadi aku bersikap kaku. Betapapun juga, kau telah membantuku menghadapi hwesio-hwesio kotor tadi."

Jantung Bok Liong berdebar-debar.

Alangkah girangnya melihat bahwa nona yang lincah galak ini kiranya dapat juga bicara dengan baik.

Ia menahan senyumnya dan berkata lagi.

"Nona, terima kasih atas pengertianmu. Kita menjadi sahabat, hal yang amat kuinginkan semenjak aku melihat kau menghajar hwesio-hwesio ceriwis di hutan itu. Sekali lagi, namaku Lie Bok Liong, biarpun bukan seorang tokoh besar di dunia kang-ouw, akan tetapi aku mengenal hampir semua tokoh kang-ouw, kecuali tokoh-tokoh besar yang masih muda seperti kau. Bolehkah aku mengetahui nama dan julukanmu? Terus terang saja, aku yang banyak mengenal ilmu silat, tahu akan dasar-dasar gerakan ilmu silat dari Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai dan banyak partai persilatan lain lagi, sama sekali buta akan ilmu silatmu yang luar biasa tadi, Nona."

Lin Lin merasa diayun-ayun di atas awan saking bangga dan girangnya mendengar kata-kata pujian yang keluar sejujurnya dari mulut pemuda itu.

Setelah ia pandang-pandang, pemuda berhidung pesek ini, wajahnya menarik dan menyenangkan hati juga, sikapnya jujur dan sopan tapi tidak bermuka-muka atau menjilat, sikap sewajarnya dari seorang yang memasang isi hati pada wajahnya.

Timbul rasa suka di hatinya disertai kepercayaan besar.

Apalagi tadi ia mendengar bahwa Bok Liong ini mengenal hampir semua tokoh kang-ouw.

Siapa tahu pemuda ini bisa memberitahu kepadanya (Lanjut ke

Jilid 07) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 tentang Suling Emas, atau mungkin juga tentang kakaknya, Bu Song.

Wajahnya seketika berseri, matanya bersinar-sinar, bibirnya yang manis itu tersenyum sehingga pemuda itu merasa betapa tiba-tiba kedua lutut kakinya lemas dan gemetar.

Memang hebat daya pengaruh asmara yang mulai menggerogoti jantung seorang pemuda.

Hanya si pemuda yang bersangkutan sendiri yang dapat merasakannya.

Kalau seorang pemuda sedang bercinta, terutama sekali kalau mulai jatuh cinta, segala sesuatu pada diri dara yang dicintainya tampak hebat luar biasa.

Kerling mata yang tajam melebihi pedang pusaka langsung menusuk dada menembus punggung"

Senyum sepasang bibir merah membasah bagaikan seribu manis dari madu yang memabukkan dan membuat kepalanya pening tujuh keliling dengan mata berkunang-kunang.

Kilauan gigi putih berderet rapi yang hanya tampak sekilas di balik sepasang bibir segar, lebih ampuh daripada sinar petir yang langsung menyambar kepala memasuki tubuh menyelusup ke seluruh tulang sumsum.

Tidaklah terlalu mengherankan apabila Bok Lieng berdiri dengan kedua lutut gemetar ketika ia menghadapi wajah Lin Lin yang berseri-seri itu.

"Kau kira aku seorang yang buta?"

Demikian Lin Lin mulai kata-katanya yang kini terdengar manis, hilang sama sekali ketusnya.

"Aku pun sekali bertemu saja tahu bahwa kau bukan orang jahat, akan tetapi aku harus yakin dulu. Twako.. ya, lebih baik kusebut kau Twako, karena kau tentu lebih tua daripada Sin-ko. Eh, berapa sih usiamu?"

Mau tak mau Bok Liong tersenyum, setelah gadis ini bersikap jenaka seperti ini, ia merasa betapa sinar matahari menjadi lebih terang daripada tadi.

"Usiaku hampir dua puluh dua tahun."

"Nah, betul dugaanku. Sin-ko baru dua puluh tahun, aku sendiri baru tujuh belas. Sampai di mana aku tadi? Oya, tentang nama. Namaku Lin Lin, she.. Kam."

"Kam Lin Lin.. indah benar namamu, Nona."

"Wah, kalau kau masih menyebut nona-nonaan segala, aku pun akan menyebutmu dengan tuan-tuanan. Bagaimana pendapatmu, Tuan Besar?"

Bok Liong tertawa bergelak, kemudian terheran.

Seingatnya, baru kali inilah ia dapat tertawa sampai begitu keras, sampai basah kedua matanya.

Benar-benar mengherankan.

Apa yang terjadi dengan dirinya?

"Habis, aku harus menyebut bagaimana?

Ah, kau betul.

Kau menyebutku Twako, kalau begitu kau adikku, Moi-moi."

"Nah, begitu baru enak bicara. Terhadap seorang tuan mana aku sudi mengobrol begini? Lain lagi kalau terhadap seorang kakak.."

"Maksudmu, terhadap seorang sahabat baik seperti kakak sendiri,"

Potong Bok Liong.

"Sama saja, apa bedanya? Twako, kulihat tadi ilmu silatmu juga hebat sekali. Siapakah gurumu?"

Kalau orang lain yang menanyakan hal ini, tentu Bok Liong takkan mau menerangkannya.

Selama ia berkecimpung di dunia kang-ouw, hanya beberapa orang tokoh besar saja yang tahu murid siapa pemuda lihai ini.

Akan tetapi terhadap Lin Lin yang sekaligus sudah merobohkan jantung menawan hatinya, ia tidak berani berbohong, apalagi tidak menjawab.

Ia takut kalau-kalau gadis yang sekarang sudah "jinak"

Dan baik kepadanya ini akan mengamuk lagi dan memusuhinya.

Tidak ada malapetaka baginya di saat itu yang akan lebih besar dan hebat daripada dimusuhi Lin Lin.

"Nona.. eh, Lin-moi. Guruku terkenal dengan namanya yang sederhana sekali, malah sesungguhnya, orang lain termasuk aku sendiri tak pernah mengenal namanya karena ia hanya memperkenalkan she yaitu she Gan. Karena inilah maka di dunia kang-ouw ia dikenal sebagai Gan-lopek (Empat Tua Gan)"

Senyum di bibir Lin Lin melebar.

"Gan-lopek? Hi-hik. Badut tak pernah mandi yang pantatnya besar, kumis dan jenggotnya dijadikan sarang semut, paling takut melihat cacing dan ular? Hi-hi-hik, geli hatiku kalau mengenangkan dia"

Lin Lin menutupi mulut dengan tangan kiri untuk menyembunyikan tawanya. Bok Liong membelalakkan kedua matanya yang lebar.

"Apa? Kau pernah melihat Suhu?"

Lin Lin menggeleng kepala, menahan kekehnya. Agak lama baru dia dapat bicara.

"Aku hanya mendengar ceritanya dari kakek gundul pacul. Wah, kakek dan aku tertawa-tawa sampai perutku menjadi keras dan kakek jatuh terguling dari atas cabang pohon."

Kembali Lin Lin tertawa terkekeh-kekeh dan diam-diam Bok Liong menjadi tak senang hatinya karena merasa betapa suhunya, orang yang ia anggap paling hebat di dunia ini, menjadi buah tertawaan, sungguhpun ia cukup mengenal suhunya sebagai orang yang luar biasa anehnya dan kadang-kadang membuat lelucon yang luar biasa.

"Hemmm, kau pernah mendengar cerita tentang Suhu? Dan kakek gundul pacul yang menceritakan itu, apakah dia jatuh dari cabang pohon terus mati?"

Tiba-tiba suara ketawa Lin Lin terhenti.

"Dia? Mati jatuh dari cabang? Ah, Twako, kau benar-benar tidak mengenal dia. Dialah yang menurunkan ilmu SERBA KOSONG kepadaku, dia orang sakti seperti dewa. Mana bisa mati jatuh dari cabang?"

Bok Liong benar-benar tidak mengerti.

Luar biasa sekali dara ini, pikirnya.

Kalau kakek gundul pacul itu mengajar ilmu, berarti kakek itu guru si nona.

Akan tetapi kenapa nona ini menyebutnya gundul pacul, sebutan yang seakan-akan mengejek dan memandang rendah?

"Ah, kalau begitu beliau seorang sakti?

Siapakah beliau itu, atau kau juga tidak tahu namanya?"

"Tentu saja aku tahu. Dia disebut Kim-lun Seng-jin.. eh, kenapa kau, Liong-twako?"

Lin Lin heran melihat pemuda itu meloncat seperti dipagut ular dan matanya menjadi amat bundar dan lebar.

"Kim-lun Seng-jin? Beliau itu gurumukah?"

Tanya Bok Liong. Kembali Lin Lin menggeleng kepala.

"Bukan, Bukan guruku. Dia sahabat baikku."

Makin heranlah Bok Liong.

Masa, kakek sakti yang amat terkenal di dunia ini yang tingkatnya sekelas dengan gurunya, menjadi sahabat baik gadis ini?

"Tapi kau bilang tadi bahwa kau menerima ilmu dari padanya.

Kan itu berarti bahwa dia gurumu."

"Bukan, Hanya kenalan biasa saja. Tapi ilmunya SERBA KOSONG memang boleh juga."

Lin Lin bersikap seakan-akan hal itu merupakan hal yang "bukan apa-apa"

Baginya, sikap ini sengaja ia "pasang"

Karena melihat betapa Bok Liong terheran-heran dan agaknya amat menjunjung tinggi Kim-lun Seng-jin.

"Serba kosong, Aneh sekali nama ilmu itu. Tapi, Lin-moi, aku percaya bahwa ilmu yang diturunkan oleh Kim-lun Seng-jin tentulah hebat bukan main. Ah, maafkan kalau tadi aku bersikap kurang hormat. Siapa mengira bahwa kau adalah mur.. eh, sahabat baik Kim-lun Seng-jin Locianpwe (Orang Tua Gagah)? Pantas saja beliau bisa bercerita tentang Suhuku."

Senang sekali hati Lin Lin, kebanggaannya bukan main sehingga ia mengangkat dadanya yang sudah membusung.

Karena senangnya, ia ingin memberi sekedar hiburan kepada Bok Liong dengan kata-kata manis.

"Tapi kakek berkata bahwa biarpun Gan-lopek itu orangnya lucu dan merupakan seorang badut besar, namun kepandaiannya hebat. Maka sekarang, melihat kepandaianmu, aku percaya akan kesaktiannya."

Sekarang Bok Liong teringat akan matanya menatap ke arah pedang yang tergantung di pinggang Lin Lin.

Tadi ketika mendengar ucapan Cheng Hie Hwesio tentang Pedang Besi Kuning, ia amat terkejut.

Ia mendengar pula tentang lenyapnya pedang pusaka itu dari gudang pusaka istana, dan ia tadi masih terheran-heran bagaimana pedang itu bisa terjatuh ke tangan Lin Lin.

Betapapun pandainya Lin Lin, kiranya bukanlah hal yang mudah untuk dapat memasuki istana dan mencuri sebuah pedang pusaka.

Akan tetapi sekarang terbukalah rahasia itu, kalau gadis itu pergi bersama scorang sakti seperti Kim-lun Seng-jin, soal memasuki istana dan mencuri pedang pusaka bukanlah merupakan hal yang aneh lagi.

Akan tetapi, ia mulai mengenal watak Lin Lin dan karenanya ia tidak mau bertanya-tanya akan hal pedang itu, takut kalau-kalau Lin Lin akan menjadi curiga dan marah kepadanya.

Sebaliknya ia lalu bertanya.

"Lin-moi, setelah kita menjadi sahabat dan kenalan sekarang, bolehkah aku mengetahui apa yang kau kehendaki sehingga kau seorang diri sampai berada di tempat ini? Hendak pergi ke manakah kau?"

Ini memang merupakan pertanyaan yang dinanti-nanti Lin Lin.

Gadis ini sudah mengambil keputusan untuk minta bantuan Bok Liong.

Kakek gundul Kim-lun Seng-jin biarpun telah mewariskan ilmu dan mengajaknya ke kota raja, malah ke dalam istana dan mencuri pedang, namun tidak berhasil menolong dia mendapatkan musuh besarnya, juga kakek angkatnya.

Setelah mendengar tentang sangkaan Kim-lun Seng-jin mengenal asal-usulnya dengan bangsa Khitan, makin besar keinginan hatinya untuk bertemu dengan Bu Song, karena dialah satu-satunya orang yang boleh diharapkan akan dapat menceritakan asal-usulnya, karena ketika ia diambil anak oleh Jenderal Kam, tentu Bu Song sudah besar dan dapat mengingat semua peristiwa di waktu itu.

"Liong-twako, sebelum aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, lebih dulu kau jawablah. Apakah kau akan suka membantuku?"

"Tentu saja, Dengan segala senang hati aku akan membantumu. Apakah yang dapat kulakukan untukmu, Moi-moi?"

"Tanpa syarat?"

"Eh.. tanpa syarat bagaimana? Tentu saja, aku harus mendengar dulu apa urusanmu itu dan apa yang harus kulakukan."

Bibir manis itu cemberut, tapi bagi Bok Liong malah tampak makin manis.

"Kalau begitu, tak usah kau membantuku. Ucapanmu itu menyatakan bahwa tidak sepenuh hatimu kau berniat membantuku. Kalau sepenuh hati suka membantu, tentu tidak akan bertanya-tanya lagi, apa saja urusannya, akan suka membantu."

Merah muka Bok Liong mendengar celaan ini, dan diam-diam ia harus akui bahwa ucapan gadis ini, biarpun terdengar seperti mencari menang sendiri, namun ada benarnya juga.

"Baiklah, aku akan membantumu. Akan tetapi, Moi-moi, kau tentu tahu bahwa biarpun untuk kau sendiri, terpaksa aku tidak mau melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebenaran, ringkasnya, aku tidak mau membantu pihak yang melakukan kejahatan.."

Bok Liong terpaksa menghentikan kata-katanya karena seketika Lin Lin menjadi marah sekali.

Gadis ini berdiri tegak, mengedikkan kepala, kedua tangan di pinggang, pandang matanya keras.

"Sudahlah, kita tidak jadi bersahabat. Aku tidak sudi bersahabat dengan orang yang tidak percaya kepadaku sedangkan aku amat percaya kepadamu"

Tubuhnya membalik dan berkelebat pergi. Bukan main kagetnya hati Bok Liong. Ia pun cepat mengerahkan gin-kangnya untuk mengejar.

"Nanti dulu, Non.. eh, Moi-moi. Tunggu.., Mari kita bicara.."

Akan tetapi Lin Lin tidak mempedulikannya, terus lari kencang.

Karena ia mempergunakan gin-kang dari Khong-in-ban-kin, tentu saja larinya cepat sekali, mengalahkan kuda betina yang kabur dikejar kuda jantan.

Dan Bok Liong sampai berkeringat karena harus mengerahkan seluruh tenaga mengejar.

"Lin-moi.. tunggu dulu.., Aku percaya padamu.."

Lin Lin mendengar derap kaki kuda.

Kiranya Bok Liong yang melihat betapa gerakan Lin Lin amat gesit dan cepat, kembali ke tempat tadi, meloncat ke atas punggung kudanya dan membalapkan kuda tunggangnya itu, melakukan pengejaran.

Tapi ilmu lari cepat yang dipergunakan Lin Lin benar-benar luar biasa sekali.

Kalau gadis itu sudah matang dalam melatih Khong-in-ban-kin, kiranya pemuda itu biarpun berkuda takkan mampu menyusulnya.

Sekarang pun, sukar sekali Bok Liong dapat menyusul.

Setelah berkejaran hampir dua jam dan mereka tiba di luar kota Pao-teng sebelah selatan kota raja, barulah Lin Lin tersusul.

Hal inipun hanya karena gadis itu kehabisan napas, terpaksa ia berhenti dengan napas memburu.

Sepasang pipinya menjadi merah seperti buah tomat karena darahnya bergerak cepat setelah berlari selama itu.

Bok Liong cepat-cepat melompat turun dari atas kudanya dan menghadapi Lin Lin yang berdiri cemberut.

Bok Liong kembali mengangkat kedua tangan memberi hormat dan suaranya benar-benar penuh bujuk rayu.

"Adikku yang baik, Moi-moi yang baik budi, maafkanlah aku yang tolol. Aku sungguh tidak mengerti mangapa kau marah-marah kepadaku, kalau kau suka menjelaskan, biarlah aku akan membunuh diri kalau memang aku berbuat dosa terhadapmu."

Di dalam hatinya, Lin Lin tertawa geli dan mengira pemuda itu membadut. Akan tetapi karena ia masih mendongkol, ia menjawab ketus.

"Kau sudah tidak percaya kepadaku, mengapa masih memperlihatkan sikap bersahabat?"

"Siapa bilang aku tidak percaya, Lin-moi? Aku percaya seribu prosen kepadamu. Percaya mati-matian dan bulat-bulat"

Bok Liong sengaja bersikap jenaka dan benar saja, dara yang memang pada dasarnya berwatak jenaka gembira itu sebentar saja sudah hilang marahnya.

"Kau bilang percaya hanya di mulut tapi di hati kau menyangka aku akan melakukan hal-hal jahat dan akan menyeretmu ke dalam perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan kebenaran. Bagus, ya? Lain di mulut lain di hati, berani sumpah tak berani mati"

Kini tiba giliran Bok Liong yang tertawa geli di dalam hatinya.

Entah dari mana dara ini memungut kata-kata sindiran yang merupakan istilah dalam panggung sandiwara itu untuk mengukur watak laki-laki.

"Wah, benar aku telah bersalah, Lin-moi, akan tetapi sungguh mati bukan maksudku untuk tidak percaya kepadamu."

"Nah, sekarang bunuh dirilah. Aku ingin sekali lihat"

Kata Lin Lin sambil duduk di atas tanah, dibawah pohon. Peluhnya membasahi jidat dan leher, diusapnya dengan saputangan sutera.

"Bunuh diri..? Apa maksudmu..?"

"Eh, pakai tanya lagi. Kan kau sendiri yang tadi berjanji hendak bunuh diri kalau berdosa kepadaku. Nah, kau bunuh dirilah. Atau memang kau pun termasuk golongan yang berani sumpah tak berani mati?"

"Waduh-waduh, masa kesalahan begitu saja dianggap dosa besar yang harus ditebus dengan nyawa? Lin-moi, harap jangan main-main. Biarlah, aku mengaku salah dan tidak akan banyak tanya lagi. Aku akan membantumu tanpa syarat dan tanpa tanya-tanya lagi. Sekarang katakan, apa yang dapat kulakukan untuk membantumu? Apakah kesukaranmu?"

Kata Bok Liong sambil duduk pula di atas tanah, berhadapan dengan Lin Lin.

Kudanya yang juga tampak lelah itu beristirahat sambil makan rumput gemuk hijau di pinggir jalan, ekornya dikebut-kebutkan ke kanan kiri mengusir lalat, kelihatan girang dan lega kuda itu setelah tadi berlumba lari.

Kini wajah Lin Lin tampak sungguh-sungguh.

Memang, ia tadi mendongkol.

Akan tetapi tidak mendalam dan puaslah ia sudah dapat balas menggoda Bok Liong.

Kini dengan suara serius ia berkata.

"Liong-twako, sebetulnya pikiranku amat bingung. Aku mencari musuh besar tidak bertemu, mencari kakak angkatku juga tidak berhasil, malah-malah Kakak Bu Sin dan Enci Sian Eng pun sampai sekarang tidak bertemu kembali denganku, entah lenyap ke mana mereka itu"

Tahulah sekarang Bok Liong bahwa gadis ini adalah seorang dara remaja yang hilang dalam arti kata, terpisah daripada dua orang kakaknya.

Ia tidak memotong, melainkan menanti gadis itu melanjutkan penuturannya.

"Kami bertiga pergi meninggalkan dusun kami di kaki Gunung Cin-ling-san, dengan niat mencari musuh besar kami, juga mencari kakak angkatku yang semenjak kami lahir tak pernah kami temui. Celakanya, kami bercerai-berai dan aku mencari sendiri, dibantu oleh kakek gundul Kim-lun Seng-jin. Namun hasilnya sia-sia belaka. Kakek gundul itu ternyata tidak becus membantuku, tak dapat membawaku kepada kakak angkatku, juga tidak tahu di mana adanya musuh besarku. Nah, sekarang aku minta bantuanmu, Liong-twako, bantulah aku mencari mereka itu."

Bok Liong tertawa. Hatinya lega bukan main.

"Ah, Lin-moi, kau ini memang suka bikin orang bingung. Kalau tadi-tadi kau bilang hanya bantuan seperti ini saja, tentu aku seribu kali setuju. Akan kubantu engkau, Moi-moi. Akan tetapi, tentu saja aku harus tahu lebih dulu siapakah gerangan mereka yang kau cari. Siapakah musuh besarmu itu?"

"Aku sendiri juga tidak tahu, akan tetapi menurut dugaan kami, dia adalah Si Suling Emas."

Tiba-tiba Bok Liong meloncat sampai satu meter lebih.

Mukanya berubah dan ia memandang kepada Lin Lin dengan bengong.

Lin Lin juga meloncat dan membanting kakinya.

"Nah-nah-nah, kau kumat lagi. Apakah semua laki-laki memang pengecut sehingga begitu mendengar nama Suling Emas lantas menjadi ketakutan macam ini? Kau dan kakek gundul sama saja. Menjemukan benar"

"Wah, kau yang kumat, bukan aku,"

Demikian suara hati Bok Liong. Akan tetapi mulutnya segera berkata.

"Jangan salah sangka, Lin-moi. Aku tidak takut, hanya terheran-heran. Kau agaknya tidak tahu orang macam apa dia itu, maka begitu mudah kau menuduh dia sebagai musuh besarmu. Lin-moi, Suling Emas adalah seorang pendekar sakti yang dipandang tinggi oleh para tokoh bersih di dunia kang-ouw. Masa dia membunuh ayah bundamu?"

"Biar dipandang tinggi oleh semua orang di dunia atau dipandang tinggi oleh para dewa sekali pun, aku tidak takut. Ihhh, semua orang takut kepada Suling Emas. Sampai bagaimana sih kepandaiannya? Ingin aku bertemu dengan dia dan mengajak dia duel sampai selaksa jurus". Bok Liong meraba-raba bawah hidungnya yang tidak berkumis untuk menahan tawa.

"Baiklah, Lin-moi. Aku akan membantumu dan kurasa kalau diusahakan benar, bukan tidak mungkin aku akan dapat memperjumpakan kau dengan Suling Emas."

Wajah yang cemberut itu seketika berseri dan kembali Bok Liong merasa dadanya tergetar.

Sekarang demikian hebat ia terpengaruh sehingga jantung di dalam rongga dadanya berloncatan ke atas kemudian jatuh kembali di tempatnya dalam keadaan terbalik.

Mulutnya sampai ternganga ketika ia memandang wajah Lin Lin, sinar matanya sayu penuh keharuan.

Baru kali ini ia menyaksikan sesuatu yang demikian indahnya sampai mengharukan.

Akan tetapi Lin Lin mana memperhatikan hal ini?

Ia sudah terlampau girang cepat ia menyambar tangan Bok Liong, di guncang-guncangnya.

"Betul, Liong-twako? Kau bisa mencari dia? Ah, kakek gundul itu saja tidak becus. Di mana adanya Suling Emas, Liong-ko? Jauh atau dekat? Hayo kita segera pergi ke sana, ingin kupaksa dia mengaku tentang pembunuhan itu"

Kembali Bok Liong tersenyum.

Kini ia berani tersenyum dan ini memudahkan ia menahan tawanya mendengar kata-kata dan melihat sikap yang lucu ini.

Benar-benar seorang dara lincah jenaka yang seperti seekor burung baru belajar terbang, tidak tahu tingginya gunung lebarnya lautan.

"Tidak begitu mudah, Lin-moi. Orang macam dia itu tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Akan tetapi, aku akan bertanya-tanya kepada tokoh kang-ouw. Aku mempunyai banyak kenalan di dunia kang-ouw dan dari mereka, kurasa akhirnya kita akan dapat berjumpa dengan Suling Emas. Sekarang soal ke dua, tentang kakakmu itu. Siapa dia dan bagaimana mungkin seorang kakak tidak pernah bertemu dengan adik-adiknya selamanya?"

"Kakak angkatku itu bernama Kam Bu Song, akan tetapi ketika ia mengikuti ujian di kota raja empat belas tahun yang lalu, ia memakai she Liu. Apakah kau bisa mencari keterangan tentang dia?"

"Kam.. Liu Bu Song? Tak pernah aku mendengar nama ini, akan tetapi kalau empat belas tahun yang lalu dia di kota raja, tentu saja aku tidak ingat lagi. Tentu aku masih kanak-kanak waktu itu. Akan tetapi, aku dapat mencari keterangan di kota raja tentang dia. Sekarang, kau hendak mencari yang mana lebih dulu? Kalau mencari kakakmu lebih dulu, kita kembali ke kota raja. Kalau mencari Suling Emas, tidak perlu kita ke kota raja."

Lin Lin termenung. Kedua orang itu sama pentingnya. Akan tetapi, pertemuan dengan Kim-lun Seng-jin dan cerita tentang "Puteri Khitan"

Amat menarik hatinya dan membuat ia ingin sekali segera mendengar pemecahan rahasia ini.

Pula, kalau ia mencari Bu Song di kota raja, ada keuntungannya, yaitu sambil menanti datangnya Bu Sin dan Sian Eng.

Mereka berdua itu pasti akan datang ke kota raja pula.

"Biar kita mencari Kakak Bu Song lebih dulu, ke kota raja."

Akhirnya ia berkata.

"Sekalian menanti munculnya Sin-ko dan Enci Sian Eng. Liong-twako, kau baik sekali. Perlu kau kuperkenalkan dengan Sin-ko dan terutama dengan Eng-cici. Wah, dia itu gagah perkasa, ilmu pedangnya hebat dan dia cantik sekali, Twako"

Setelah berkata demikian ia tertawa-tawa gembira. Merah muka Bok Liong.

"Hush, kau bicara apa ini? Kenapa kau bilang kepadaku tentang Cicimu? Apa perlunya?"

"Ihhh, kalau aku memuji kecantikan Enciku di depanmu, apa sih salahnya?"

Ia tertawa-tawa lagi dan matanya menggoda.

Bok Liong tersenyum masam, hatinya mengeluh.

Engkaulah yang cantik, tidak ada wanita ke dua di dalam dunia ini yang dapat menggerakkan hatiku seperti engkau, demikian suara hatinya.

"Baiklah, kita kembali ke kota raja. Akan tetapi sarung pedangmu itu harus diganti. Biar nanti kucarikan gantinya."

"Sarung pedang? Mengapa?"

Lin Lin meraba pedangnya.

"Moi-moi, tadi aku mendengar dari kata-kata Cheng Hie Hwesio tentang Pedang Besi Kuning yang hilang dari istana dan berada di tanganmu. Lebih baik sarungnya yang istimewa itu diganti, sehingga tidak akan dikenal orang."

"Memang inilah pedang itu, kakek gundul dan aku yang mengambilnya. Wah, kalau kau ikut tentu senang sekali, Liong-twako. Kami berdua sikat habis semua masakan di dalam dapur istana. Wah, enak-enak, pendeknya, selama hidup belum pernah kau merasakannya. Sampai sakit perutku, terlalu kenyang dan perut kakek itu menjadi busung. Dan kami.. kami menyamar seperti kucing.."

Lin Lin terkekeh gembira, menutupi mulutnya dan dengan suara terputus-putus diseling tawa ia menceritakan pengalamannya di istana.

Bok Liong kagum bukan main.

Kagum akan kehebatan Kim-lun Seng-jin, juga kagum akan manisnya mulut yang bergerak-gerak bicara itu.

Kemudian mereka berdua memasuki kota Pao-teng dan di sebuah toko senjata, Bok Liong membeli sebuah sarung pedang untuk pedang yang tergantung di pinggang Lin Lin.

Kini pedang itu, tanpa ronce-ronce dan dengan sarung lain, tiada bedanya dengan pedang biasa, maka tentu tidak akan ada yang tahu bahwa itulah Pedang Besi Kuning, pedang pusaka rampasan dari bangsa Khitan yang lenyap dari dalam gudang pusaka istana.

Di kota Pao-teng, Bok Liong mengajak Lin Lin memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar dan bersih.

Hari menjelang senja dan perut mereka telah lapar.

Tanpa sungkan-sungkan Lin Lin menyetujui dan seorang pelayan segera menyambut mereka dengan hormat, apalagi ketika melihat pedang yang tergantung di punggung Bok Liong dan di punggung Lin Lin.

"Kau hendak makan apa, Moi-moi?"

"Apa sajalah. Setelah makan eh.. anu.. semua itu, kiranya tidak ada makanan yang cukup bagiku."

Ia mengernyitkan hidung dan Bok Liong maklum bahwa yang dimaksudkan Lin Lin tentu masakan-masakan di dapur istana itu.

Pelayan yang menanti pesanan mereka tentu saja tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh nona yang cantik jelita dan gagah perkasa ini.

Bok Liong memesan arak wangi, nasi putih, bakmi, bakso dan beberapa macam sayur-mayur lagi.

Pesanan itu dilayani dengan cepat sehingga beberapa menit kemudian mereka telah mulai makan minum.

Kelahapan Bok Liong dan perutnya yang sudah amat lapar itu membuat Lin Lin dapat makan dengan enak juga, malah tidak kalah enaknya dengan masakan-masakan dapur istana ketika ia sudah kekenyangan.

Bukanlah masakannya yang menjadi syarat mutlak untuk kelezatan, melainkan perut lapar.

Perut lapar menyedapkan setiap makanan yang paling sederhana seakalipun.

Suara orang bercakap-cakap riuh rendah memasuki restoran itu tidak menarik perhatian Lin Lin dan Bok Liong yang sedang enak makan, juga ketika beberapa orang tamu memesan masakan dengan suara parau, mereka tidak menengok dan terus makan.

Akan tetapi karena tiga orang laki-laki yang baru datang itu duduknya di meja yang berhadapan dengan Lin Lin, mau tak mau Lin Lin dapat melihat mereka.

Mendadak gadis ini meletakkan sumpit dan mangkoknya, kemudian ia bangkit dari tempat duduk dengan mata berapi Bok Liong melihat keadaan gadis ini, sambil menghirup kuah dari mangkok, menoleh lalu mengerutkan keningnya.

Kiranya yang bercakap-cakap dan duduk mengelilingi meja itu adalah tiga orang laki-laki yang pakaiannya ditambal-tambal, pakaian pengemis gembel.

"Sssttttt, Lin-moi, tenang dan duduklah. Tak baik membuat ribut di restoran orang, bikin kacau dan rusak barang orang saja."

Bisiknya.

Lin Lin sadar, menekan perasaannya dan duduk kembali.

Seorang pelayan sedang siap untuk mengambilkan pesanan tiga orang pengemis itu, memandang penuh kekhawatiran dan curiga kepada Lin Lin, akan tetapi ketika melihat gadis ini duduk kembali, ia cepat-cepat pergi ke dapur.

Tidak mengherankan apabila Lin Lin kaget dan marah melihat tiga orang laki-laki itu, karena mereka ini adalah tiga orang di antara para pengemis yang malam-malam mengeroyok dia dan dua orang saudaranya.

Sebaliknya, tiga orang pengemis itu agaknya tidak mengenal Lin Lin, dan hal inipun tidak aneh.

Mereka baru satu kali saja melihat Lin Lin, inipun di waktu malam dan dalam pertempuran.

Apalagi ketika itu Lin Lin ditemani oleh Bu Sin dan Sian Eng, sedangkan sekarang hanya berdua dengan Bok Liong.

"Mereka adalah pengemis-pengemis yang dulu ikut mengeroyok kami,"

Bisik Lin Lin.

Bok Liong mengangguk-angguk.

Gadis itu sudah menceritakan tentang perselisihannya dengan para pengemis yang dipimpin oleh Si Raja Pengemis It-gan Kai-ong.

"Mereka itu tokoh-tokoh Hui-houw-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Harimau Terbang) dan agaknya mereka datang sebagai tamu. Wilayah mereka bukanlah di Pao-teng sini. Lin-moi, mari kita ke luar."

Bok Liong memanggil pelayan, membayar dan mengajak Lin Lin keluar dari restoran.

"Lin-moi, malam ini kita sebaiknya bermalam di sini. Pengemis-pengemis itu mencurigakan. Pengemis-pengemis Hui-houw-kai-pang merupakan orang-orang kepercayaan It-gan Kai-ong. Mereka itu bekerja untuk Kerajaan Wu-yue, kalau datang ke dekat kota raja tentu ada maksud-maksud tertentu, sebagai mata-mata. Aku akan membayangi mereka."

"Liong-ko, kenapa kau akan lakukan hal ini? Apa hubunganmu dengan urusan itu?"

Bok Liong memandang dengan sinar mata penuh perasaan ketika ia berkata.

"Lin-moi, seorang warga negara harus setia kepada negaranya. Demikian pula aku, harus setia kepada Kerajaan Sung. Kalau aku melihat persekutuan yang membahayakan negara dan aku diamkan saja bukankah itu berarti bahwa aku menjadi seorang pengkhianat? Tidak Moi-moi, takkan kudiamkan saja kalau orang-orang Hui-houw-kai-pang ini mempunyai niat melakukan sesuatu yang membahayakan negara."

Kagum hati Lin Lin, Sebagai anak angkat Jenderal Kam, seorang patriot sejati yang rela mengorbankan diri dan kebahagiaan demi negara, tentu saja ia tahu akan hal ini, dan ia dapat menghormati sikap ini.

Malam hari itu, Bok Liong dan Lin Lin membayangi tiga orang pengemis yang memasuki sebuah rumah gedung kecil di sebelah timur kota Pao-teng.

Rumah ini jauh dari tetangga, pekarangannya lebar dan kelihatannya sunyi.

Sebuah rumah kuno yang modelnya seperti rumah pesanggrahan bangsawan, yang hanya ditinggali sewaktu-waktu saja.

Bagi para penduduk Pao-teng, rumah gedung mungil ini terkenal dengan sebutan "Gedung Merah", karena memang cat rumah itu merah.

Orang-orang hanya tahu bahwa rumah itu milik seorang hanya bangsawan muda dari An-sui yang kadang-kadang saja datang ke rumah ini di mana ia mempunyai beberapa orang wanita penghibur yang menjadi selir-selirnya.

Kalau bangsawan muda itu datang, barulah tampak kesibukan di gedung merah ini.

Tukang-tukang masak pandai dipanggil, rombongan penghibur, penari dan penyanyi, diundang dan sering kali diadakan pesta oleh bangsawan itu bersama selir-selirnya, kadang-kadang ditemani beberapa orang tamu.

Bangsawan muda itu bukan lain adalah Suma Boan, putera Pangeran Suma.

Memang dia seorang pemuda penghambur nafsu dan uang.

Sebetulnya, hanya kelihatannya saja Suma Boan merupakan seorang kongcu hidung belang yang menghabiskan waktunya dengan pelesir dan bersenang-senang.

Padahal sebetulnya, dia seorang muda yang mempunyai penuh cita-cita.

Tidak sia-sia ia menjadi murid orang sakti It-gan Kai-ong, karena tidak saja ia memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun juga memiliki cita-cita setinggi langit.

Sudah banyak tokoh-tokoh kang-ouw ia hubungi, dan ia menghimpun tenaga untuk sewaktu-waktu bergerak melaksanakan tujuan dan cita-citanya, yaitu menggulingkan kedudukan kaisar dan mengangkat diri sendiri menjadi penggantinya.

Tentu saja cita-citanya ini masih merupakan rahasia dalam hatinya dan kiranya hanya gurunya dan pembantu-pembantunya yang paling setia saja yang tahu.

Orang lain hanya menganggap bahwa Suma Boan adalah seorang bangsawan, putera pangeran, masih sanak dengan kaisar, kaya raya dan royal di samping memiliki ilmu kepandaian silat tinggi.

Maka dari itu, Bok Liong menjadi heran sekali ketika ia mengintai dari atas genteng gedung merah bersama Lin Lin, ia melihat bahwa tiga orang pengemis itu mengadakan pertemuan dengan Suma Boan.

Hal ini sama sekali tak pernah diduganya.

Suma Boan putera pangeran yang tinggai di An-sui itu berada di sini?

Benar-benar di luar dugaannya, yang sejak dahulu berkelana, Bok Liong mengenal siapa adanya Suma Boan, murid It-gan Kai-ong yang lihai.

Akan tetapi ia sama sekali tidak tahu akan rahasia putera pangeran ini.

Ia tidak menjadi heran karena Suma Boan berhubungan dengan pengemis, karena guru pemuda bangsawan itu adalah raja pengemis sendiri.

Akan tetapi yang membuat ia terheran-heran adalah munculnya pemuda bangsawan itu di gedung merah, karena tadinya ia mengira bahwa tiga orang pengemis itu hendak mengadakan persekutuan atau pertemuan rahasia dengan musuh-musuh Kerajaan Sung.

Maka ia kecewa dan memberi isyarat kepada Lin Lin untuk pergi dari situ.

Akan tetapi, sebaliknya wajah Lin Lin menengang ketika ia mengenal Suma Boan.

Ia malah memberi isyarat kepada Bok Liong untuk mendengarkan percakapan mereka di bawah, lalu mendekatkan mulut pada telinga Bok Liong sambil berbisik.

"Di rumah dia itulah aku berpisah dengan kedua kakakku."

Mendengar ini, hati Bok Liong tertarik dan ia segera mendekam dan mendengarkan percakapan empat orang itu.

"Mana Suhu? Kenapa tidak datang dan bagaimana hasilnya dengan surat yang dirampas Hek-giam-lo?"

"Kai-ong-ya tidak berhasil merampas kembali, tapi memberi tahu bahwa surat itu agaknya sudah terampas kembali oleh Siang-mou Sin-ni dari tangan Hek-giam-lo. Sekarang Ong-ya berkenan pergi sendiri menyelidik ke Yu-nan."

"Apa? Suhu mendatangi wilayah Nan-cao?"

"Betul, Kongcu. Pada pertengahan bulan depan, tepat pada bulan purnama, di sana diadakan pesta menyambut hari raya kaum Agama Beng-kauw, sekalian memperingati hari wafat ke seribu dari Kauw-cu (Ketua Agama) yang telah meninggal dunia. Dalam kesempatan ini, tentu saja Kai-ong-ya dapat menghadiri karena para tokoh hitam dan putih semua diterima dengan tangan terbuka oleh Beng-kauw."

"Bagus"

Suma Boan kelihatan girang sekali.

"Hanya sayang sekali, kalau Suhu memberi tahu, tentu aku akan ikut ke sana, untuk melihat dan menambah pengalaman."

"Kai-ong-ya berpesan agar Kongcu suka menanti kedatangan Tok-sim Lo-tong yang sudah berjanji akan datang mengunjungi dan sudah siap memberi bantuan untuk menghadapi Suling Emas."

"Hemmm, si keparat itu apakah sudah dapat diketahui Suhu di mana tempatnya kalau ia datang ke kota raja?"

"Menurut Kai-ong-ya, sering kali ia berada di dalam gedung perpustakaan istana."

"Heeeee"

Apa itu?"

Tubuh Suma Boan berkelebat, diikuti tiga orang pengemis itu yeng sudah melompat keluar dan langsung melayang ke atas genteng.

Kiranya tadi ketika mendengar percakapan di bawah, Bok Liong dan Lin Lin menjadi tertarik sekali.

Apalagi ketika nama Suling Emas disebut-sebut, Lin Lin menjadi begitu bernafsu sehingga ia bergerak untuk membuat lubang lebih besar.

Karena kurang hati-hati dan hatinya tegang, gerakannya mengeluarkan bunyi dan terdengar oleh telinga Suma Boan yang tajam.

"Keparat, berani kalian main-main di depan Lui-kong-sian?"

Bentak Suma Boan sambil menerjang maju.

Lui-kong-sian atau Dewa Geledek adalah julukannya.

Bok Liong maklum akan lihainya lawan, maka cepat ia memasang kuda-kuda dan menangkis.

Dua lengan yang sama kuatnya bertemu dan akibatnya, keduanya terpental melayang dan tentu akan roboh terguling di atas genteng kalau tidak cepat-cepat mereka meloncat turun.

Lin Lin yang tahu bahaya, juga mendahului meloncat turun sambil mencabut pedangnya.

Baru saja kakinya menginjak tanah, tiga orang pengemis itu sudah menerjangnya dengan tongkat, gerakan mereka cepat dan kuat.

Namun Lin Lin sudah memutar pedangnya, tampak sinar kuning bergulung-gulung dari pedang itu menyambut datangnya tiga bayangan tongkat.

Adapun Suma Boan ketika tertangkis oleh lengan Bok Liong, terkejut bukan main dan ia menjadi penasaran.

"Siapakah kau? Apa perlunya kau malam-malam datang seperti pencuri?"

Bentaknya ketika ia sudah berhadapan dengan lawannya di atas tanah.

Sayang keadaannya agak gelap sehingga ia tidak dapat mengenal siapa pemuda yang lihai di depannya ini.

"Suma-kongcu, suruh orang-orangmu mundur, dan kami akan segera pergi, tidak akan mengganggumu lagi,"

Kata Bok Liong sambil memandang ke arah pertempuran.

Akan tetapi ia tidak khawatir akan keselamatan Lin Lin karena tiga orang pengemis itu telah terdesak hebat oleh sinar pedang kuning yang bergulung-gulung dahsyat.

"Enak saja bicara, berani kau datang untuk memerintahku? Ke neraka kau"

Suma Boan cepat menerjang dengan pukulan-pukulan maut.

Keistimewaan pemuda bangsawan ini adalah ilmu pukulan tangan kosong.

Tenaganya kuat dan ia memiliki banyak tipu muslihat, juga memiliki beberapa pukulan yang mengandung tenaga beracun.

Namun kali ini ia menghadapi lawan yang tangguh, murid seorang sakti pula, maka semua pukulannya dapat dihalau oleh Bok Liong.

Karena dia seorang pendekar yang gagah dan memang suka mengadu ilmu, apalagi sudah lama mendengar akan nama besar Lui-kong-sian Suma Boan, Bok Liong juga tidak mau mencabut pedangnya dan melayani lawannya dengan tangan kosong pula.

Keduanya sama kuat, sama cepat dan masing-masing mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi.

Tidak seramai dua orang jago muda ini keadaan Lin Lin dan para pengeroyoknya.

Dalam sekejap mata saja, pedangnya telah merobohkan dua orang pengeroyok dan pengemis yang ke tiga lari ketakutan menjauhkan diri"

Diam-diam Lin Lin menjadi girang dan juga bangga.

Ia pernah dikeroyok orang-orang seperti ini, ketika bersama Bu Sin dan Sian Eng dahulu, dan mereka bertiga amat repot menghadapi pengeroyokan banyak pengemis.

Akan tetapi sekarang, biarpun yang mengeroyoknya hanya bertiga, namun dengan pedang curian itu dan dengan ilmu warisan Kim-lun Seng-jin, terasa betapa lemahnya tiga orang pengeroyoknya dan betapa mudah ia merobohkan mereka"

Lin Lin menoleh dan melihat Bok Liong masih bertanding hebat dengan pemuda jangkung yang sombong itu.

"Liong-twako, jangan takut, pedangku akan mencabut nyawanya"

Seru Lin Lin dan cepat ia menerjang.

Sinar kuning berkelebat dan Suma Boan mengeluh sambil membuang diri ke kiri lalu berjungkir balik.

Pucat wajahnya karena hampir saja ia menjadi korban sinar pedang yang mengandung hawa dingin seperti es.

Ia tadi terlalu memandang rendah.

Kiranya selain pemuda lawannya itu hebat, juga gadis itu amat lihai dan ganas ilmu pedangnya.

Lin Lin hendak menerjang lagi, akan tetapi tangannya disambar Bok Liong, ditarik dan pemuda itu berkata.

"Moi-moi, mari kita pergi, jangan bikin kacau rumah orang"

Lin Lin baru teringat bahwa sebetulnya bukan menjadi kehendak mereka bertempur dengan orang-orang itu.

Tadi ia terpaksa merobohkan lawan karena ia dikeroyok.

Sekarang, apa perlunya bertanding terus?

Ia tidak bermusuhan dengan pemuda bangsawan itu.

Malah pemuda itu telah berjasa dalam menyebut-nyebut Suling Emas tadi.

Ia tahu sekarang ke mana harus mencari Suling Emas, musuh besarnya.

Ke kota raja.

Di dalam gedung perpustakaan istana.

Hatinya girang mengingat akan hal ini dan ia cepat meloneat pergi bersama Bok Liong, menghilang ke dalam gelap.

Suma Boan tidak mengejar.

Pemuda bangsawan ini cukup cerdik dan hati-hati.

Dua orang itu lihai, dan belum ia kenal siapa mereka.

Tiga orangnya telah roboh, mengapa ia harus mengejar tanpa bantuan yang kuat?

Setelah berlari jauh meninggaikan kota Pao-teng, Bok Liong dan Lin Lin berhenti untuk mengatur napas.

"Wah, untung kebetulan It-gan Kai-ong tidak berada di sana bersama Suma-kongcu. Kalau ada, bisa berbahaya tadi. Sama sekali tidak kuduga bahwa gedung merah itu milik Suma Boan,"

Kata Bok Liong.

"Aku tidak takut"

Biar ada gembel tua bangka setengah buta itu aku tidak takut dan akan melawannya mati-matian"

Seru Lin Lin dengan suara gagah.

"Kau memang hebat, Lin-moi. Memang tenaga kita digabung menjadi satu, belum tentu si tua dapat berbuat sekehendak hatinya. Tapi Suma Boan itupun tak boleh dipandang ringan. Dia lihai..."

Bok Liong menggeleng-geleng kepala dan ia maklum bahwa kata-katanya ini hanya untuk mencegah agar Lin Lin tidak menjadi marah.

Padahal ia tahu benar bahwa mereka berdua bukanlah lawan It-gan Kai-ong.

Melawan Suma Boan saja, baru seimbang dengan kepandaiannya.

Pemuda bangsawan itu harus ia akui amat hebat ilmu pukulannya.

Tadi pun ia sudah kewalahan dan hampir mencabut pedangnya kalau saja Lin Lin tak segera maju membantunya.

"Liong-ko, sekarang kita harus kembali ke kota raja. Suling Emas berada di sana, di dalam gedung perpustakaan istana. Wah, kali ini dia tidak akan dapat terlepas dari tanganku"

"Memang kurasa kali ini kita akan dapat bertemu dengannya. Akan tetapi sebelumnya, kuminta kepadamu, Lin-moi. Jangan kau terburu nafsu dan lancang menyerangnya kalau kita bertemu dengannya. Aku yang akan bicara dengannya, dan aku dapat mengajukan pertanyaan yang akan memaksanya mengaku apakah dia membunuh orang tua angkatmu ataukah tidak. Tak boleh sembrono dan lancang terhadap seorang seperti dia."

"Aku tidak takut"

"Memang kau tidak takut, Moi-moi, akan tetapi bagaimana kalau penyeranganmu itu salah alamat? Bagaimana kalau ternyata dia itu tidak berdosa? Bukankah kau menyerang orang yang tidak bersalah kepadamu dan kalau terjadi demikian maka berarti kaulah yang bersalah kepadanya?"

"Baiklah, baiklah, aku akan menutup mulut dan mau menyerahkan urusan kepadamu. Asal aku segera bertemu dengannya dan mendapat kepastian, baru aku puas, Twako."

Bok Liong tersenyum. Ia khawatir kalau-kalau sahabat barunya ini marah dan mengambul.

"Marilah, Moi-moi. Kau suka melakukan perjalanan malam begini?"

"Biar malam udara terang, lihat bulan tersenyum di atas tuh"

Akan tetapi Bok Liong tidak memandang bulan, melainkan memandang wajah yang tengadah, wajah yang baginya lebih daripada bulan sendiri.

"Kau tidak lelah dan ngantuk nanti?"

Lin Lin menggeleng kepala.

Maka berangkatlah dua orang muda itu, berjalan kaki di bawah sinar bulan, berendeng mereka berjalan.

Bagi Lin Lin, hal ini adalah biasa saja dan tidak mendatangkan perasaan apa-apa.

Ia merasa seperti berjalan di samping Bu Sin.

Terhadap Bok Liong ia mempunyai perasaan persaudaraan yang tebal dan menganggap pemuda ini seperti kakaknya sendiri.

Tentu saja tidak demikian apa yang berkecamuk di dalam rongga dada Bok Liong.

Suasana romantis ini mendorong-dorong hasratnya, menekan-nekan hatinya dan membakar darahnya, membuat ia ingin sekali menjatuhkan diri berlutut di depan Lin Lin menyatakan cinta kasihnya yang berkobar-kobar menghanguskan jiwanya.

Ingin ia memegang jari-jari tangan yang kecil halus itu.

Ingin ia mendekap kepala dengan wajah cantik dan rambut hitam halus harum itu ke dadanya, ingin membisikkan sumpah cinta, ingin ia..

ingin..

"Plakkk"

"Eh, ada apa, Twako?"

Lin Lin berhenti dan menoleh ke samping, memandang heran kepada pemuda yang baru saja menempiling kepala sendiri itu.

"Oh.. eh.. tidak ada apa-apa, ada nyamuk tadi menggigit pelipisku,"

Jawabnya. Untung bayang-bayang pohon menyembunyikan sinar bulan dari mukanya yang menjadi merah sekali.

"Kau bikin kaget orang saja. Masa menepuk nyamuk di pelipis sendiri begitu kerasnya?"

Lin Lin mengomel karena tadi ia dikagetkan daripada lamunannya.

Sambil berjalan ia pun melamun, teringat akan cerita Kim-lun Seng-jin akan keadaan dirinya.

Betulkah ia seorang Puteri Khitan?

Ia seorang puteri, keturunan langsung dari Raja Khitan?

Inilah yang ia lamunkan dan ia seperti melihat dirinya dengan pakaian puteri yang indah sekali, berada di dalam gedung istana seperti yang pernah ia lihat bersama Kim-lun Seng-jin, disembah-sembah ribuan orang.

Apalagi kalau ia yang menjadi ratu dari bangsa Khitan, ia akan..

akan apakah dia?

Inilah yang baru ia pikir-pikir dan rencanakan dalam alam lamunannya ketika tiba-tiba Bok Liong menempiling kepala sendiri dan mengagetkannya serta menariknya turun daripada angkasa ke alam sadar.

"Sayang tidak ada kuda. Kalau kudaku masih ada, kau dapat naik kuda, Lin-moi, dan tidak terlalu lelah."

"Kenapa kau jual kudamu kalau begitu?"

"Perlu dijual.. perlu sekali.. saku sudah kosong, apa daya?"

Lin Lin menggerakkan tangan, sejenak menyentuh lengan pemuda itu.

"Aku tahu. Kau terpaksa menjualnya untuk membelikan sarung pedangku ini dan untuk makan dan sewa kamar, untuk biaya-biaya perjalanan, bukan? Liong-ko, kau orang baik."

Hati Bok Liong berdenyut-denyut girang, akan tetapi ia pura-pura mendengus.

"Ah, yang begitu saja, mana patut diomongkan? Pula, dua orang melakukan perjalanan hanya dengan seekor kuda, canggung sekali. Kita berdua sudah sejak kecil berlatih ilmu lari cepat, untuk apa? Kalau kita mau, kita tidak akan kalah oleh larinya seekor kuda."

Mereka tertawa dan melanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap.

Kita tinggalkan dulu Lin Lin dan Lie Bok Liong yang melakukan perjalanan malam menuju ke kota raja karena Lin Lin sudah tidak sabar lagi menanti untuk segera dapat bertemu dengan orang yang dianggap musuh besarnya, yaitu Suling Emas.

Mari sekarang kita menengok keadaan Sian Eng, gadis yang mengalami hal yang amat menyeramkan hatinya itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sian Eng tadinya berhasil melarikan diri dari tempat rahasia di bawah kuburan yang menjadi tempat tinggai Hek-giam-lo, yaitu pada saat Hek-giam-lo bertempur melawan Siang-mou Sin-ni yang datang menyerbu untuk minta dikembalikannya surat rahasia.

Akan tetapi malang baginya, di dalam sebuah hutan, selagi ia merasa lega dan mengira telah terlepas daripada cengkeraman iblis itu, tiba-tiba si iblis itu sendiri muncul di depannya, Hek-giam-lo telah berada di situ, seakan-akan telah lebih dulu datang dan sengaja menanti kedatangannya.

Ia berusaha menyerang, namun apa dayanya terhadap Hek-giam-lo yang sakti?

Di lain detik ia sudah pingsan dan dipondong Hek-giam-lo, kemudian dibawa lari secepat terbang.

Kali ini si kedok iblis itu berlaku amat teliti, tak pernah memberi kesempatan sedikit pun juga kepadanya untuk dapat melepaskan diri daripada pengawasannya.

Hek-giam-lo bersikap amat menghormat kepadanya, menyebutnya tuan puteri, akan tetapi di samping sikap menghormat ini terbayang sifat memaksa yang tak dapat dibantah lagi.

Memaksa agar Sian Eng ikut dengannya dan mentaati segala permintaannya.

Akhirnya gadis ini maklum bahwa tak mungkin ia mampu membebaskan diri lagi, maka ia juga tidak lagi mencoba.

Selama iblis ini tidak mengganggunya dan memperlakukannya dengan sikap menghormat dan baik-baik, ia pun menurut saja dan hendak melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dan ke mana ia akan dibawa.

"Hek-giam-lo, sudah berkali-kali kunyatakan bahwa aku bukanlah puteri raja seperti yang kau sebut-sebut. Aku she Kam, namaku Sian Eng. Kau salah lihat, karena itu harap jangan ganggu aku, biarkanlah aku pergi."

Berkali-kali gadis itu mencoba dengan bujukannya ketika mereka berjalan melalui sebuah bukit yang sunyi.

Hek-giam-lo memang pendiam dan tak banyak ia bicara selama dalam perjalanan, sungguhpun ia amat memperhatikan keperluan Sian Eng dan tak pernah terlambat untuk mencarikan makanan dengan pelayanan penuh hormat.

Permintaan berkali-kali dari Sian Eng hanya dijawabnya singkat.

"Paduka puteri raja kami, memang sejak kecil diambil anak oleh Jenderal Kam."

Hanya demikian jawabnya dan selanjutnya ia tidak mau bicara lagi.

Melalui perjalanan yang amat cepat, kadang-kadang Hek-giam-lo memondong dan membawanya lari seperti terbang setelah minta maaf lebih dulu, mereka menuju ke arah timur laut dan pada suatu hari tibalah mereka di daerah yang jauh dari kota, daerah penuh hutan yang amat liar.

Kemudian, di tengah-tengah daerah ini, tibalah mereka di sebuah rumah perkampungan dengan rumah-rumah yang kelihatan baru.

Inilah perkampungan baru yang dijadikan pusat suku bangsa Khitan, terletak dalam sebuah hutan liar dikelilingi hutan-butan kecil di antara gunung-gunung di perbatasan Mancuria.

Dapat dibayangkan betapa heran dan berdebar hati Sian Eng ketika Hek-giam-lo berteriak-teriak dalam bahasa yang ia tidak mengerti, para penyambut menjatuhkan diri berlutut di sepanjang jalan yang mereka lalui.

"Tengoklah, Tuan Puteri, rakyat kita memberi hormat kepada Paduka,"

Kata Hek-giam-lo, nada suaranya gembira.

Sian Eng melihat orang-orang kasar yang bertubuh tegap dan kuat, wanita-wanita cantik tapi sederhana, juga terdapat sifat-sifat gagah pada para wanita yang berlutut di pinggir jalan itu.

"Kita sekarang ke mana, Hek-giam-lo?"

"Mari menghadap Sri Baginda, Paman Paduka."

"Pamanku?"

Sian Eng tidak mendapat jawaban, terpaksa ia berjalan mengikuti Hek-giam-lo yang menuju ke sebuah rumah besar di tengah-tengah perkampungan itu.

Di depan rumah besar ini terdapat banyak penjaga, laki-laki berpakaian perang yang kelihatan gagah dan kuat, dengan tombak di tangan dan golok besar di pinggang.

Mereka berbaris rapi dan memberi hormat dengan tegak ketika Hek-giam-lo dan Sian Eng lewat.

Juga di dalam rumah, di sepanjang lorong, berbaris pasukan pengawal.

Kiranya dalam rumah besar itu yang dari luar kelihatan sederhana, sebelah dalamnya amat mewah.

Bendera-bendera kecil berkibar di mana-mana, bermacam-macam warnanya.

Ketika mereka sampai di ruangan sebelah dalam, pasukan pengawal berganti, kini pasukan wanita yang cantik-cantik dan gagah serta bersinar mata tajam.

Namun, baik pasukan laki-laki maupun wanita, semua kelihatannya amat takut dan menghormat Hek-giam-lo.

Melalui pelaporan seorang penjaga yang seperti raksasa wanita, besar dan bengis, mereka diperkenankan memasuki ruangan besar di mana telah menanti seorang laki-laki tampan berpakaian indah, duduk di atas sebuah kursi atau singgasana terbuat daripada gading.

Laki-laki ini usianya kurang lebih empat puluh tahun, berwajah tampan bermata tajam.

Hek-giam-lo yang menuntun Sian Eng masuk, berkata singkat.

"Tuan Puteri, harap memberi hormat kepada Sri Baginda, Paman Paduka."

Ia sendiri lalu menjatuhkan diri berlutut dan terdengar suaranya nyaring.

"Hamba datang menghadap, dengan berkah Sri Baginda, hamba berhasil mendapatkan Tuan Puteri yang sekarang ikut menghadap Sri Baginda."

Laki-laki itu ternyata adalah Raja suku bangsa Khitan yang bernama Kubakan.

Ia memandang wajah Sian Eng penuh perhatian.

Sian Eng yang tidak sudi berlutut, mengira bahwa raja yang tampan ini tentu akan marah karena ia tidak mau memberi hormat, akan tetapi kiranya tidak demikian.

Raja itu memandang dengan sinar mata kurang ajar, kemudian tertawa bergelak dan berkata kepadanya dalam bahasa Han yang cukup lancar.

"Nona, marilah mendekat, biarkan aku memeriksa cermat apakah kau benar keponakanku ataukah palsu."Sian Eng melangkah maju sampai berada dekat dengan raja itu sambil berkata.

"Hek-giam-lo tahu bahwa aku bukan keponakanmu. Sudah kuberitahukan berkali-kali tapi ia nekat saja membawaku ke sini. Siapa pun adanya kau, harap kau suka berlaku murah dan bebaskan aku."

Raja itu memandang lagi penuh perhatian, kemudian tertawa sekali lagi. Dari mulutnya berhamburan bau arak yang keras.

"Ha-ha-ha, semua orang mengaku keponakanku, ha-ha. Alangkah inginku dapat memeluk keponakanku, dapat meraba lehernya yang halus. Untung kau bukan keponakanku, Nona, kau cukup cantik jelita. Ha-ha, untung.."

Sian Eng terkejut sekali dan ia sudah merasa ngeri ketika kedua tangan raja yang berbulu lengannya itu bergerak hendak merabanya.

Akan tetapi pada saat itu Hek-giam-lo berkata dalam bahasa Khitan yang tak dimengerti Siang Eng.

"Sri Baginda, kali ini tidak bisa salah lagi. Dia itu adalah anak Jenderal Kam. Sayang Jenderal Kam sendiri sudah mampus ketika hamba sampai di sana. Hamba mendengar bahwa anak-anaknya pergi ke kota raja, maka hamba menyelidiki dan berhasil menangkap anak perempuannya ini. Tak salah lagi, dia adalah puteri mendiang Tuan Puteri Tayami."

"Hek-giam-lo, apa yang menyebabkan kau yakin benar bahwa dia ini betul-betul keponakanku? Sudah ada dua orang gadis yang dibawa datang dan perwira-perwira yang membawanya bersumpah bahwa mereka adalah keponakanku. Tapi ternyata bukan. Kau boleh lihat mereka, biarpun mereka berdua itu jauh lebih cocok menjadi keponakan yang kucari-cari daripada gadis ini, toh mereka itu bukan keponakanku"

Raja memberi tanda dengan tepukan tangan dan tak lama kemudian dua orang gadis digiring masuk.

Dua orang gadis yang cantik jelita akan tetapi wajah mereka pucat dan di kedua pipi yang halus tampak bekas air mata.

Mereka ini berdiri di depan raja dan menundukkan muka.

"Ha-ha-ha, mereka ini keponakanku? Akan tetapi biarpun bukan, kedatangan mereka sedikit banyak menyenangkan hatiku, biarpun hanya untuk beberapa malam. Hek-giam-lo, gadis yang kau bawa ini bukanlah puteri Kakak Tayami."

"Tapi Sri Baginda.."

"Kau mau bukti? Dengar, ketika masih bayi, pernah kulihat keponakanku itu. Pada punggungnya terdapat sebuah tanda merah. Coba kita periksa bersama"

Ia memberi isyarat dan tiba-tiba Hek-giam-lo menggerakkan tangannya.

Tahu-tahu ia telah memegang senjatanya yang hebat, yaitu sabit bengkok yang amat tajam itu.

Sinar berkilauan menyambar-nyambar, Sian Eng menjerit ngeri karena merasa betapa tubuhnya dikurung sinar berkilauan.

Kemudian, hampir ia roboh pingsan ketika mendapat kenyataan bahwa pakaiannya telah terbang ke kanan kiri disambar sinar itu dan beberapa detik kemudian ia telah menjadi telanjang bulat.

Dapat dibayangkan betapa malu dan marahnya Sian Eng.

Ingin ia berlaku nekat dan menerjang mengadu nyawa, akan tetapi rasa malu karena keadaannya yang telanjang itu membuat ia kehilangan tenaga, malah ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan setengah bertiarap di atas lantai untuk menyembunyikan tubuhnya.

Tentu saja dengan berbuat demikian, punggungnya tampak jelas dan raja bersama Hek-giam-lo melihat jelas kulit punggung yang putih bersih tiada cacad sedikit pun"

"Ha-ha-ha-ha, kau lihat, Hek-giam-lo? Dia bukan keponakanku, sayang seribu sayang. Tapi lumayan juga, dia cantik manis"

"Ampun, Sri Baginda. Hamba telah berlaku ceroboh."

Terdengar Hek-giam-lo berkata, suaranya gemetar penuh sesal.

"Tidak apa, kau carilah lagi. Gadis ini pasti akan menyenangkan hatiku. Eh, Nona, kau berdirilah."

Sian Eng terkejut sekali ketika merasa betapa pundaknya diraba orang yang hendak menariknya berdiri.

Ia mengangkat muka memandang dan kiranya raja itulah yang sudah turun dari singgasana untuk membangunkannya, matanya bersinar-sinar penuh nafsu.

Saking ngeri, malu, dan marahnya, Sian Eng tidak ingat apa-apa lagi.

Bagaikan seekor harimau betina, ia melompat dan menerkam ke depan, memukul dengan kedua tangannya ke arah dada dan perut raja itu"

Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terpental ke samping, roboh menumbuk dinding.

Raja itu sendiri pucat mukanya dan terhuyung ke belakang sampai tiga langkah.

Hampir saja ia celaka kalau tidak Hek-giam-lo yang cepat menolongnya tadi.

Marahnya bukan main.

Lenyap keinginannya untuk mempermainkan Sian Eng, terganti rasa benci yang meluap-luap.

"Hek-giam-lo, kuserahkan dia kepadamu. Hukum dia, juga dua orang puteri palsu ini. Muak aku kepada mereka. Kubur mereka hidup-hidup, jadikan tontonan, biar rakyatku melihat dan berkesempatan menghina mereka yang menyebalkan hati rajanya"

Setelah berkata demikian, raja itu mendengus marah, lalu pergi memasuki kamarnya, diiringkan oleh dayang-dayang cantik jelita dan muda-muda.

Sian Eng sudah bangun kembali dan cepat menyambar pakaiannya yang robek menjadi beberapa potong.

Sedapat-dapat ia membungkus tubuhnya dengan pakaian itu dan untung bahwa pakaiannya terbuat daripada kain yang lebar dan panjang sehingga biarpun robek-robek namun masih cukup untuk menutupi ketelanjangannya.

Akan tetapi Hek-giam-lo tak memberi kesempatan lagi kepadanya.

Dengan pekik mengerikan, iblis ini bergerak dan tahu-tahu ia telah menangkap Sian Eng dan dua orang gadis pucat itu, membawa mereka bertiga seperti orang membawa tiga ekor ayam saja, kemudian melangkah lebar keluar dari gedung itu.

Malam itu terang bulan, namun keadaan di luar perkampungan itu, di pinggir hutan, amat menyeramkan.

Apalagi kalau orang melihat ke arah kiri, di mana terdapat tempat terbuka dan sinar bulan menyorot langsung tidak terhalang ke atas tanah.

Orang itu pasti akan bergidik melihat apa yang tampak di sana.

Tiga buah kepala orang berada di atas tanah.

Kepala tiga orang wanita yang masih hidup"

Yang dua buah adalah kepala dua orang wanita cantik bermuka pucat dan terdengar mereka ini menangis terisak-isak dengan air mata bercucuran.

Akan tetapi, kepala yang berada di kiri, kepala Sian Eng, biarpun tampak agak pucat juga, namun sama sekali tidak menangis, malah sepasang matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.

Memang hebat dan mengerikan sepak terjang Hek-giam-lo, si manusia iblis itu, yang mentaati perintah rajanya.

Ia menggali tiga buah lubang-lubang yang sempit dan dalam macam sumur kecil, memasukkan tiga orang gadis tawanan itu ke dalam sumur dan mengubur mereka sebatas leher.

Seluruh tubuh tiga orang gadis ini tidak tampak, hanya kepala mereka sebatas leher yang keluar dari tanah.

Kemudian iblis ini memasang benderanya di atas pohon dekat tempat itu.

Dengan adanya tanda ini, tidak ada seorang pun manusia di perkampungan itu berani mencoba menolong gadis-gadis bernasib malang ini.

Siapakah berani melawan Tengkorak Hitam yang menjadi tangan kanan raja?

Setelah Hek-giam-lo pergi, Sian Eng berpikir.

Ia mengenang kata-kata Raja Khitan terhadapnya dan teringatlah ia akan Lin Lin.

Adiknya itu bukanlah anak kandung ayah bundanya, melainkan anak angkat.

Ayahnya tidak pernah bicara tentang orang tua Lin Lin, akan tetapi adik angkatnya itu wataknya aneh sekali dan ketika ia tadi melihat pengawal-pengawal dan dayang-dayang wanita di dalam gedung Raja Khitan, alangkah besar persamaan Lin Lin dengan para wanita itu.

Terutama sekali bulu mata dan hidungnya.

Jantungnya berdebar.

Jangan-jangan Hek-giam-lo salah ambil, mengira dia Lin Lin.

Dan besar kemungkinan Hek-giam-lo menduga bahwa Lin Lin adalah keponakan raja.

Betulkah ini?

Tangis kedua orang gadis di sebelah depan dan belakangnya mengganggunya dari lamunan.

Ia (Lanjut ke

Jilid 08) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 menengok dan perasaan kasihan memenuhi hatinya melihat dua buah kepala yang tidak berdaya dan sedang menangis terisak-isak itu, sama sekali lupa bahwa keadaannya sendiri pun tiada bedanya dengan mereka berdua.

Ia tahu bahwa dia dan mereka akan menghadapi kematian yang mengerikan dari penuh sengsara.

Dipendam sebatas leher dan dibiarkan sampai mati.

Mungkin besok hari menerima penghinaan dari para penyiksanya sebelum mati kelaparan.

Tiba-tiba terdengar suara mengaum dari jauh.

Dua orang gadis itu makin keras menangis dan Sian Eng sendiri bergidik.

Tak salah lagi, itulah suara harimau yang mengaum dari dalam hutan.

Bagaimana kalau raja hutan itu datang dan menyerang mereka?

Dengan hanya kepalanya di atas tanah, Sian Eng dapat membayangkan betapa harimau itu akan makan kepala mereka seenaknya tanpa mereka dapat membalas atau pun melarikan diri.

Siapa di antara mereka bertiga yang lebih dulu akan digerogoti harimau?

"Hu-hu-huk, Ayah..

Ibu..

tolong.."

Gadis yang berada di sebelah belakang Sian Eng menjerit-jerit.

"Aku.. aku.. takut.. ya Tuhan cabutlah nyawaku.."

Gadis cantik di sebelah depan Sian Eng mengeluh dan menangis.

Sian Eng mengerutkan keningnya, penuh iba hati.

Ia tak menyalahkan dua orang gadis itu.

Tentu saja mereka ketakutan.

Mereka adalah gadis-gadis biasa yang lemah, oh, alangkah sengsaranya mati dalam keadaan ketakutan seperti itu.

"Enci berdua, tenangkanlah hati kalian. Manusia hidup memang hanya untuk menghadapi kematian yang sewaktu-waktu pasti akan tiba, cepat atau pun lambat. Mengapa takut? Mati adalah biasa, semua manusia akan mati, hanya waktu saja soalnya."

Dua orang gadis itu menengok kepadanya, terheran-heran melihat Sian Eng sama sekali tidak menangis dan sama sekali tidak nampak takut.

"Aku.. aku tidak takut mati.. aku.. aku lebih baik mati. Yang kutakuti adalah kengerian ini dan.. dan penghinaan.. ah, lebih baik aku mati, tapi jangan.. jangan mati dimakan harimau.."

Kata gadis di depannya terisak-isak.

"Sebelum hayat meninggaikan badan, tak boleh berputus asa,"

Kata pula Sian Eng.

"Enci harap tenang saja, kalau belum waktunya kita mati, percayalah, kita takkan mati. Kalau sudah tiba waktunya mati, ah, jangankan sudah setua kita, kanak-kanak pun bisa saja mati."

Hiburan dan kata-kata Sian Eng yang keluar dengan suara penuh ketabahan itu ternyata ada hasilnya juga.

Dua orang gadis itu berhenti menangis dan anehnya, auman binatang buas dari dalam hutan tidak terdengar lagi.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Sian Eng untuk mengajak dua orang teman "senasib sependeritaan"

Itu untuk bercakap-cakap.

Dari mereka dia memperoleh keterangan bahwa seperti juga dia, dua orang itu diculik oleh tokoh-tokoh Khitan karena disangka sang puteri"

Akan tetapi begitu tiba di depan raja, mereka ditelanjangi dan diperiksa punggung mereka, karena katanya puteri itu mempunyai tanda merah di punggungnya.

Tentu saja, seperti juga Sian Eng, mereka tidak memiliki tanda seperti itu karena memang mereka bukanlah puteri Khitan.

Kemudian dengan air mata bercucuran dua orang gadis itu bercerita betapa selama tiga hari mereka menjadi permainan raja yang kejam.

Sian Eng menjadi panas hatinya.

Jiwa pendekar dalam hatinya bergolak.

Kalau saja ia mendapat kesempatan, tentu akan dibunuhnya Raja Khitan itu.

Dan menghadapi penderitaan dua orang gadis itu, ia tidak dapat bicara banyak.

Akan tetapi setidaknya percakapan mereka itu juga merupakan hiburan yang lumayan untuk melewatkan malam yang mengerikan ini.

Tentu saja semalam suntuk mereka tak mampu tidur semenit pun juga dan menjelang pagi, karena teringat bahwa para penyiksa itu tentu akan menghabisi nyawa mereka dengan siksaan-siksaan keji, dua orang gadis itu mulai menangis lagi.

Sian Eng tidak mampu lagi menghibur mereka.

Gadis ini mengambil keputusan bahwa kalau ia diberi kesempatan satu kali saja terbebas dari kuburan itu, ia akan mengamuk sampai mati.

Terdengar derap kaki kuda dari jauh, makin lama makin dekat.

Dua orang wanita itu menoleh ke arah Sian Eng dan air mata mereka bercucuran.

"Adik Sian Eng, selamat berpisah.."

"Mudah-mudahan kematian segera datang menjemputku.."

Kata gadis di belakang Sian Eng, menyambut ucapan gadis di depan. Sian Eng terharu, akan tetapi ia malah memaksa diri tersenyum.

"Enci, kalau seorang di antara kita mati, tentu yang dua akan mati pula. Bagaimana bisa bilang selamat berpisah? Kita takkan pernah berpisah kurasa, mati pun akan bersama-sama. Bukankah itu menyenangkan sekali? Kita akan ada teman selalu, biar di alam sana pun."

Derap kaki kuda sudah dekat sekali, datang dari arah belakang mereka.

Tiga orang gadis itu dapat menoleh ke kiri kanan, akan tetapi tentu saja tidak mungkin menengok ke belakang, karena tubuh mereka yang terpendam tanah itu sama sekali tidak dapat digerakkan.

Oleh karena itu, biarpun hati mereka sekali memandang, mereka tidak dapat dan tidak tahu siapa gerangan penunggang kuda yang datang ini.

Tak lama kemudian, seekor kuda yang besar dan kuat berlari congklang dan berhenti dekat mereka.

Seorang laki-laki berpakaian serba hitam melompat turun.

Dua orang gadis itu hanya mengerling sebentar dan segera menutup mata dan menangis lagi.

Pakaian orang ini sama dengan Si Iblis Hitam, mengerikan.

Akan tetapi Sian Eng menoleh ke kiri dan memandang dengan mata tajam dan kening berkerut.

Darahnya berdenyut-denyut, jantungnya berdebar, membuat ia merasa dadanya sesak sekali.

Si Jubah Hitam itu sama sekali bukan Hek-giam-lo, melainkan seorang laki-laki muda yang berwajah gagah sekali, tampan dan memiliki sepasang mata yang sayu di bawah lindungan sepasang alis yang tebal, hitam dan berbentuk panjang gompyok.

Seorang laki-laki yang tampan dan tinggi besar.

Yang membuat Sian Eng berdebar tidak karuan hatinya adalah jubah hitam itu, mengingatkan ia akan laki-laki yang pernah ia lihat punggungnya yang berjubah hitam dan topinya, topi pelajar yang mempunyai ekor dua buah, yaitu tali hitam yang melambai ke bawah.

Dan gambar pada baju di dada itu.

Suling Emas.

Celaka, pikirnya.

Kiranya musuh besar ayah bundanya yang datang ini?

Orang yang sudah membunuh ayah bundanya, sudah tentu mempunyai niat yang tidak baik terhadap dirinya.

Dan orang itu semenjak melompat turun dari kudanya, terus memandangnya dengan sinar mata yang tajam penuh selidik.

Akan tetapi laki-laki itu segera melompat dekat, tangannya mencabut sebuah benda panjang kuning mengkilap.

Sebuah suling, tak salah lagi.

Dialah Suling Emas, karena yang dipegangnya itu apalagi kalau bukan suling terbuat daripada emas?

Dengan gerakan cepat, ia mendekati Sian Eng, sinar kuning berkelebat dan sebentar saja tanah di sekeliling Sian Eng terbongkar.

Setelah Sian Eng dapat membebaskan kedua tangannya, ia menekan tanah di pinggirnya dan meronta, terus meloncat ke atas, sama sekali tidak ingat bahwa pakaiannya tidak karuan macamnya karena pakaian itu sudah robek-robek dan hanya ia pakai sekedar menutupi tubuhnya saja.

Begitu melompat dan berdiri, baru ia melihat keadaan dirinya, maka cepat-cepat ia meoggerakkan kedua lengan menutupi dada.

Pemuda itu menyumpah.

"Keparat.."

Cepat ia membuka jubahnya yang hitam lebar itu, melemparnya ke arah Sian Eng.

Kain jubah itu tepat sekali menimpa Sian Eng dan menyelimutinya dari leher sampai ke kaki.

Kini Sian Eng berdiri terlongong, memandang pemuda itu yang kini tampak lebih gagah dengan pakaian dalam yang ringkas berwarna putih.

Akan tetapi laki-laki itu tanpa menoleh lagi sudah mengerjakan sulingnya, membongkar dan menggali tanah untuk membebaskan dua orang gadis itu.

Kembali ia menyumpah karena kedua orang gadis itu malah dimasukkan ke dalam sumur dalam keadaan hampir telanjang bulat.

"Benar-benar setan"

Ia menyumpah dan dengan gemas ia merenggut kain bendera besar tanda Hek-giam-lo, merobeknya menjadi dua dan menyerahkannya kepada dua orang gadis itu yang merasa berterima kasih sekali dan terus saja mengerodongkan robekan kain hitam itu ke atas tubuh mereka.

"Lekas, kalian naik ke atas kuda ini dan cepat pergi. Amat berbahaya di sini."

Ia menoleh kepada Sian Eng, tersenyum sedikit dan berkata.

"Nona, kau yang terkuat di antara kalian bertiga, kau di depan dan cepat larikan kuda ini keluar wilayah Khitan."

Semenjak tadi Sian Eng hanya melongo, tidak tahu harus berbuat apa.

"Kau.. kau.. Suling Emas..?"

Akhirnya dapat juga ia mengucapkan kata-kata. Wajah tampan dan mata sayu itu menjadi agak muram, tapi ia mengangguk.

"Bukan waktunya bercakap-cakap, lekas pergi lebih baik,"

Katanya.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar jerit ngeri dan dua orang gadis itu roboh terguling.

Kain hitam yang menyelubungi tubuh mereka terbuka dan..

kulit tubuh yang putih bersih itu sekarang berubah menghitam, mata mereka mendelik dan bibir yang tadinya merah segar kini menjadi kering membiru"

"Ah, gobloknya aku.."

Suling Emas menarik napas panjang.

"Ihhh, mereka kenapa?"

Sian Eng berseru, cemas dan ngeri. Suling Emas menunding ke arah robekan kain hitam tanda Hek-giam-lo.

"Kain itu mengandung racun yang jahat. Mereka sudah mati. Agaknya lebih baik begitu. Nah, mari kita pergi."

Sian Eng tak sempat menjawab apalagi membantah, karena tahu-tahu tangannya telah kena dipegang dan disendal.

Sentakan ini demikian kuat sehingga tak tertahankan olehnya dan tubuhnya melayang ke atas punggung kuda.

Pada detik berikutnya, kuda itu telah lari cepat sekali dan Suling Emas telah duduk di belakang Sian Eng.

"Tapi.. jenazah mereka itu..?"

Sian Eng berseru sambil menoleh ke arah mayat dua orang gadis senasib yang menggeletak di atas tanah dan ditinggalkan begitu saja.

"Mereka sudah mati, mau diapakan lagi?"

Jawab Suling Emas tak acuh dan ia mengeluarkan kata-kata asing dari mulutnya kepada kuda itu yang meringkik keras lalu membalap seperti terbang cepatnya.

Tidak karuan rasa hati Sian Eng.

Memang ia telah terlepas daripada ancaman bahaya maut di tangan orang-orang Khitan, maut yang amat mengerikan.

Akan tetapi ia terlepas dari bahaya yang satu untuk jatuh ke dalam tangan yang lain.

Ia kini terjatuh ke dalam tangan Suling Emas.

Apakah kehendak orang aneh ini?

Sikapnya mencurigakan, wataknya juga aneh.

Ada kalanya tampak baik dan suka menolong, akan tetapi di lain saat bisa berhati keras dan kejam.

Jenazah dua orang gadis itu dibiarkan begitu saja.

Ingin ia dapat memandang muka Suling Emas, akan tetapi ia duduk di depan dan orang itu duduk di belakang.

Sedikitnya ia merasa lega bahwa Suling Emas agaknya bukan laki-laki yang ceriwis.

Tidak ada bukti-bukti yang membayangkan watak kotornya terhadap wanita.

Sekarang pun, biar mereka duduk berdua di atas punggung kuda, namun Suling Emas duduknya agak jauh di belakang sehingga tidak menyentuhnya.

Kalau saja tidak tampak kedua tangan orang itu di kanan kirinya memegangi kendali kuda, tentu ia mengira bahwa Suling Emas sudah tidak berada di belakangnya lagi.

Ketika ia diculik Hek-giam-lo dan dibawa ke utara, Sian Eng mengalami perjalanan yang amat aneh, dengan Hek-giam-lo sebagai pelayan dan juga pengawasnya yang jarang mengeluarkan suara, dengan maksud yang masih merupakan rahasia baginya.

Sekarang, dalam perjalanan kembalinya menuju ke selatan bersama Suling Emas, Sian Eng mengalami perjalanan yang aneh pula.

Seperti juga Hek-giam-lo, tokoh ini jarang sekali membuka mulut.

Biarpun wajah yang tampan itu ketihatan selalu sayu dan muram, namun membayangkan sesuatu yang mengerikan bagi Sian Eng, tidak kalah seramnya oleh muka Hek-giam-lo, muka iblis tengkorak itu.

Bagaimana takkan ngeri dan seram kalau melihat orang ini diam saja, tak pernah memandangnya, tak pernah bicara, pendeknya, tidak pernah apa-apa seperti patung hidup.

Malam itu Suling Emas terpaksa menghentikan kudanya.

Malam amat gelap sehingga tak mungkin melanjutkan perjalanan.

Mereka berhenti di sebuah lereng bukit, di pinggir jalan.

Kuda hitam belang putih itu tidak diikat, dibiarkan terlepas begitu saja.

Suling Emas lalu mengumpulkan ranting dan daun kering, membuat api unggun di bawah pohon besar.

Mengambil roti kering dan tempat minum dari kantung yang tergantung di punggung kuda, lalu duduk di dekat api unggun.

Ia tidak berkata apa-apa, hanya menoleh ke arah Sian Eng dan sinar matanya saja yang mengajak gadis itu duduk mendekati api.

Sian Eng mendekat, lalu duduk di atas rumput kering dekat api unggun.

Tanpa berkata sesuatu, Suling Emas memberi roti kering dan tempat minum.

Sian Eng menghela napas, akan tetapi menerima roti dan makan roti itu, karena perutnya terasa amat lapar.

Sehari suntuk mereka menunggang kuda, tak pernah berhenti sebentar pun juga, tidak makan tidak minum.

Sudah lama Sian Eng tidak pernah menunggang kuda dan sekarang, sekali naik kuda sehari penuh.

Punggungnya terasa kaku dan seluruh badan sakit-sakit.

Mereka makan roti kering dan minum air tawar tanpa bicara.

Sesudah makan, Sian Eng melihat betapa Suling Emas hanya duduk termenung memandang api yang bernyala-nyala, duduk tak bergerak dan mata itu bersinar-sinar, hilang kesayuannya.

Wajah yang tampan dan aneh itu pun tidak muram lagi, malah agak berseri.

Keindahan api itukah yang mendatangkan semua ini?

Ataukah karena di dalam nyala api ia melihat atau teringat akan sesuatu?

Diam-diam Sian Eng menatap wajah itu dari samping.

Wajah yang tampan, dengan guratan-guratan yang membayangkan penderitaan hidup, guratan kematangan jiwa.

Tidak terlalu muda lagi biarpun tak mungkin mengatakan bahwa dia itu sudah tua.

Sukar menaksir usianya.

Akhirnya Sian Eng tak dapat menahan lagi kegelisahannya.

"Kau hendak membawaku ke mana?"

Suling Emas agaknya terkejut mendengar suara ini.

Tadinya ia melamun dan seakan-akan telah lupa bahwa di dekatnya terdapat seorang manusia lain.

Suara Sian Eng seperti menyeretnya turun dari dunia lamunan dan gagap ia menoleh sambil bertanya.

"Apa..?"

Mendongkol juga hati Sian Eng. Orang ini terlalu memandang remeh kepadanya, pikirnya. Dengan ketus ia bertanya.

"Dengan maksud apa kau menolongku, dan ke mana kau hendak membawaku pergi?"

"Dengan maksud apa?"

Agaknya pertanyaan ini membuat Suling Emas kembali melamun sebentar, mengingat-ingat setelah mengulang pertanyaan itu, kemudian ia menjawab.

"Tentu saja agar kau bebas daripada ancaman bahaya, dan tentu saja membawamu pergi dari daerah yang dikuasai orang-orang Khitan."

Sian Eng tak dapat berkata apa-apa lagi.

Memang alangkah bodohnya pertanyaannya tadi.

Tentu saja begitulah tujuan Suling Emas menolongnya, tanpa bertanya pun seharusnya ia mengerti.

Akan tetapi, Suling Emas ini bukan orang biasa, melainkan musuh besarnya.

Kembali berdebar jantungnya dan dia memandang wajah yang sudah menoleh kembali menatap api unggun.

"Kurasa bukan itu maksudmu,"

Ia berkata dengan suara tegas dan ketus.

"Suling Emas, kau telah membunuh ayah bundaku. Sekarang kau pura-pura menolongku, tentu dengan maksud tertentu yang.. yang tidak baik"

Suling Emas mengangguk-angguk, tetap memandang api, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri, agaknya ia gembira sekali mendengar ini.

"Hemmm.. itukah sebabnya mengapa kalian bertiga mencari-cari Suling Emas? Pantas saja kalian menghujankan senjata rahasia kepadaku di hutan itu.."

Sian Eng terkejut.

Jadi orang ini sudah tahu bahwa dia dan dua orang saudaranya mencari-carinya, malah tahu pula akan penyerangan di dalam hutan itu.

Benar-benar orang aneh dan lihai sekali, Akan tetapi ia tidak takut.

"Memang betul. Biarpun kau berkepandaian tinggi, karena kau membunuh ayah bunda kami, kami hendak menuntut balas. Malah sekarang juga aku menantangmu untuk bertempur. Kau harus menebus kematian orang tuaku dengan nyawamu, atau aku yang akan mengorbankan nyawa dalam menuntut balas dendam"

Sian Eng meloncat bangun dan memasang kuda-kuda, mengambil keputusan untuk mengadu nyawa dengan musuh besarnya walaupun ia cukup maklum bahwa kepandaiannya sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan tokoh aneh ini.

Suling Emas tetap tidak menoleh, malah menggunakan sebatang ranting untuk mengorek api unggun sehingga nyala api membesar, menerangi wajahnya yang tampan dan yang kini berkerut-kerut di bagian jidatnya itu.

"Hemmm, kalian bodoh. Aku tidak membunuh orang tua kalian, tahu pun tidak aku siapa mereka dan siapa kalian bertiga. Mana bisa aku membunuh orang yang tak kuketahui siapa dan di mana tempat tinggalnya?"

Sian Eng ragu-ragu dan bimbang. Ketegangan yang sudah memenuhi tubuhnya tadi mengendur.

"Tapi.. tapi.. sebelum meninggal, Ibu bilang.. tentang pembunuh itu.. menyebut-nyebut tentang suling.."

"Jangan bodoh. Duduklah dan ceritakan yang jelas. Kalau aku membunuh orang, siapapun dia itu, aku takkan menyangkal. Suling Emas tidak biasa menyangkal perbuatannya, tidak biasa bersikap pengecut, berani berbuat harus berani bertanggung jawab."

Biarpun Suling Emas tidak menengok dan masih memandang api namun terasa oleh Sian Eng bahwa ucapannya itu keluar dari lubuk hati.

Kemarahannya melunak dan ia lalu duduk lagi dekat api, melirik ke arah orang itu dengan bingung.

"Kalau bukan engkau, siapa..?"

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert