Eps 4 Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo.
Yu Lee semakin terheran-heran, akan tetapi tidak berani mendesak bertanya.
Sementara itu Siok Lan juga sadar kini bahwa ia telah bicara terlalu banyak dengan pelayannya ini sehingga ia telah menuturkan keadaan dirinya.
Hal ini menimbulkan kejengkelannya dan ia menghardik.
"Kau cerewet benar sih! Hayo jalan lebih cepat. Perutku sudah lapar dan hari sudah hampir gelap. Itu di depan ada dusun, kita berhenti dan makan di sana. Syukur kalau ada, aku akan membeli seekor kuda untukmu agar perjalanan kita dapat lebih cepat lagi."
"Saya rasa tidak perlu membeli kuda, nona. Bahkan kuda nona ini pun dalam waktu tiga hari lagi lebih baik dijual saja."
Saking kaget dan heran bercampur marah, Siok Lan menghentikan kudanya dengan tiba-tiba.
"Eh, kau bilang apa tadi?"
Ia mengangkat cambuknya dan mengancam hendak memukul.
"Wah, wah, jangan pukul nona. Maksud saya baik, harap nona dengarkan dengan sabar. Kita menuju ke kota raja, bukan? Apakah nona pernah pergi ke kota raja?"
Siok Lan yang masih marah, hanya menggelengkan kepadanya.
Makin jengkel dia karena pertanyaan itu malah membuktikan bahwa ia kurang pengalaman, belum pernah ke kota raja!
"Nah, kalau nona belum pernah ke sana, saya sudah pernah!
Karena itu saja lebih mengetahui jalan.
Sebab itu pula, tadi saya katakan dalam waktu tiga hari, terpaksa kuda nona ini harus dijual sebab dalam waktu tiga hari kita akan tiba di kota Kai-feng dan seterusnya dari situ kita berlayar naik perahu sepanjang Sungai Huang-ho ke timur laut, terus sampai ke teluk Po-hai.
Dari sana barulah mendarat dan melanjutkan perjalanan melalui pesisir ke utara sampai ke kota raja.
Perjalanan ini selain lebih cepat, juga lebih indah menarik dengan pemandangan-pemandangan alam yang hebat sekali.
Nona pasti akan senang melihat pemandangan-pemandangan indah dari tamasya alam sepanjang sungai dan laut."
Bibir yang merah basah itu berjebi.
"Hem aku bukan mau pesiar denganmu!"
"Bukan pesiar, tetapi mencari Pendekar Cengeng dan perjalanan itu jauh lebih cepat serta tidak melelahkan. Hanya sayang...... dan saya sendiri lebih senang melakukan perjalanan melalui darat yang melelahkan dan jauh karena perjalanan melalui Sungai Huang-ho ini penuh bahaya maut!"
Kembali Siok Lan terkena pancingan Yu Lee yang cerdik serta mengetahui wataknya dengan baik.
"Bahaya apa?"
"Pelayaran melalui Sungai Huang-ho penuh dengan bahaya serbuan kaum bajak sungai, belum lagi para perampok serta penjahat. Apa lagi pada saat ini pemerintah sedang membangun terusan Sungai Huang-ho sampai ke kota raja, maka kabarnya keadaan makin tidak aman. Laki-laki muda yang lewat suka diculik oleh para serdadu dan dipaksa bekerja di terusan itu sampai mati. Wanita-wanita muda jaga diculik untuk para perwira pasukan yang menjaga pekerjaan terusan itu. Sebetulnya saya tidak berani melakukan perjalanan lewat di situ, hanya mengandalkan kelihaian pedang nona. Akan tetapi kalau nona juga merasa takut, lebih baik......"
"Apa?? Aku....... takut......?? Jangan ngaco belo kau, ya? Kaulihat saja nanti, kubasmi semua penjahat yang menghalang di jalan. Biarlah mereka tahu bahwa Sian-li Eng-cu tak boleh dibuat main-main dan jalan menuju ke kota raja akan menjadi bersih daripada pangguan penjahat setelah aku lewat. Kita jalan melalui Sungai Huang-ho!"
"Dan kuda ini akan dijual nanti di Kai-feng nona?"
Yu Lee menuntun kuda itu serta melanjutkan perjalanan menuju ke dusun yang sudah tampak di depan.
Diam-diam ia tersenyum.
Apa yang dikatakan Yu Lee kepada Siok Lan perihal penggalian terusan itu memang betul bukan sekedar cuma pancingan belaka agar si nona mau melanjutkan perjalanan melalui Sungai Huang-ho.
Pada waktu itu, Kaisar Kubilai Khan yang memerintah kerajaan Goan, melihat perlunya diadakan perhubungan yang baik sekali ke selatan demi lancarnya pengiriman barang terutama bahan makanan.
Bahan makanan terutama beras terdapat banyak sekali di lembah Sungai Yang-ce, maka untuk melancarkan pengangkutan bahan makanan ke kota raja, kaisar memerintahkan untuk menggali terusan dari Sungai Huang-ho ke kota raja.
Terusan antara Yang-ce dengan Huang-ho memang sudah ada, yaitu peninggalan dari jaman kerajaan Sui dan Sung dahulu.
Seperti juga ketika diadakan penggalian terusan di jaman Sui dan Sung itu kini kerajaan Goan, apalagi sebagai kerajaan penjajah, rakyatlah yang menjadi korban.
Buat pekerjaan menggali terusan sampai ke kota raja ini memerlukan banyak sekali tenaga manusia.
Dan buat memenuhi kebutuhan ini para petugas serta pembesar, demi melaksanakan perintah kaisar melakukan paksaan kepada rakyat.
Laksaan rakyat dan ratusan ribu petani dipaksa meninggalkan sawah ladang serta keluarganya buat dipekerjakan dalam penggalian ini.
Mereka dipaksa bekerja melebihi kuda beratnya serta tidak mendapat jaminan selayaknya sehingga banyak sekali diantara mereka meninggal dalam kerja paksa itu.
Kalau sudah mati dikubur sejadinya di tepi sungai.
Bagaimana dengan sawah ladang mereka di dusun?
Ada yang "membereskannya", yaitu para tuan tanah yang menjadi raja-raja kecil di setiap dusun.
Bukan hanya sawah ladang yang dirampas, tetapi juga isteri muda yang cantik dan anak-anak gadis remaja dirampas buat dipaksa menjadi selir oleh tuan tanah dan kaki tangannya.
Anak lelaki otomatis menjadi buruh tani yang nasibnya tidak lebih dari pada budak belian.
Kebencian rakyat terhadap pemerintah penjajah dan "raja kecil"
Di dusun, kehidupan rakyat yang morat marit, dendam yang bertumpuk-tumpuk, semua ini tentu saja menimbulkan akibat yang sangat tidak baik.
Kekacauan, timbullah pemberontak-pemberontak kecil-kecilan dalam bentuk gerombolan-gerombolan yang mengganggu keamanan.
Rakyat pula yang makin menderita.
Di satu pihak takut kepada tangan-tangan kejam pemerintah yang setiap saat siap untuk menciduk mereka untuk dijadikan pekerja paksa, di lain pihak takut kepada gerombolan-gerombolan yang menjadi pengganggu siapa saja tanpa mengenal hukum.
Dan dalam keadaan jaman seperti itulah Yu Lee melakukan perjalanan bersama Siok Lan bahkan mendekati daerah "angker, daerah gawat karena pelayaran melalui Sungai Huang-ho itu akan melewati terusan yang kini sedang dilanjutkan penggaliannya menuju ke utara, ke kota raja!
Dua hari kemudian, mereka telah tiba di luar kota Kai-feng, kota besar bekas kota raja yang amat ramai yang terletak di lembah Sungai Huang-ho ini.
Yu Lee masih berjalan menuntun kuda, pakaian dan mukanya penuh debu dan keringat, sehingga kini ia agak patut menjadi pelayan Siok Lan duduk di atas pelana kudanya, melenggut dan mengantuk karena hawa amat panasnya di siang hari itu, apalagi musim kering membuat jalan berdebu.
Karena kudanya dituntun sehingga ia tidak perlu memperhatikan jalan lagi.
Siok Lan menjadi mengantuk dan tidur ayam sambil duduk di atas punggung kuda "Nona yang mulia mohon sudi membantu!"
Siok Lan membuka matanya memandang ke depan.
Ternyata di pinggir jalan itu berdiri seorang pengemis penuh tambalan, memegang tongkat yang dipakai bersandar dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah mangkok retak.
Dari rambutnya yang panjang awut-awutan sampai kakinya yang telanjang dan pakaiannya yang butut, jelas dia seorang pengemis biasa, akan tetapi anehnya, pengemis yang berpakaian butut itu memakai sabuk merah yang melibat pinggangnya.
Dan sabuk merah ini dari sutera yang masih baru dan bersih.
"Lopek, harap kau orang tua suka memaafkan kami, biarlah kali ini kami tidak memberi apa-apa dan lain kali saja akan kami beri sumbangan kepadamu. Harap lopek ketahui bahwa nona majikanku ini sedang melakukan perjalanan jauh sekali ke kota raja dan karenanya memerlukan biaya yang banyak."
Demikian Yu Lee berkata dengan suara halus kepada kakek pengemis itu.
Siok Lan merasa sebal mengapa pelayannya bersikap begitu menghormat dan halus terhadap seorang pengemis!
Akan tetapi sebelum ia sempat menegur, pengemis itu sudah membuka mulutnya lagi dan kali ini bernyanyi dengan suara parau, akan tetapi hanya perlahan seperti berbisik sehingga hanya mereka berdua saja yang mendengarnya.
Membanting tulang bekerja paksa anak bini di rumah menderita tanpa makan tiada upah mengharap nona memberi sedekah Siok Lan marah.
Nona ini melihat betapa A-liok memandang dan berkedip seperti memberi isyarat atau mencegah kemarahannya akan tetapi ia tidak perduli, bahkan makin mendongkol karena A-liok tampaknya begitu takut terhadap jembel tua yang banyak lagu itu.
Ia menudingkan telunjuknya ke arah muka pengemis sambil membentak.
"Sungguh engkau ini jembel tua yang tidak tahu malu! Jelas engkau seorang pemalas yang tidak mau bekerja, becusnya hanya minta-minta saja, akan tetapi masih bicara tentang bekerja keras dan membanting tulang! Cih, tak tahu malu. Masih mempunyai sabuk sutera merah yang tentu dapat kau tukar dengan nasi untuk dimakan tetapi ada muka untuk mengemis! Hayo pergi!"
Akan tetapi kakek itu tidak mau pergi, juga pada wajahnya yang berdebu tidak tampak perubahan, seolah-olah kemarahan dan ucapan Siok Lan itu dianggapnya seperti tingkah seorang anak kecil saja.
Malah ia menengadahkan mukanya ke atas dan bernyanyi lagi, kini suaranya yang parau terdengar lantang dan gagah, tidak berbisik seperti tadi.
Dengan sabuk merah di pinggang sampai mati kami berjuang Siok Lan makin panas hatinya.
Dengan gerakan kilat tubuhnya mencelat dari atas kudanya lalu berdiri di depan pengemis itu.
Sengaja ia memperlihatkan ginkangnya yang hebat dan kini ia berdiri sambil bertolak pinggang di depan kakek pengemis itu terus berkata.
"Rupanya engkau bukan jembel sembarangan, melainkan seorang anggauta kai-pang (perkumpulan pengemis). Akan tetapi tidakkah engkau tahu siapakah aku?"
Pengemis tua itu melihat tajam sejenak kepada Siok Lan, lalu melirik ke arah Yu Lee kemudian berkata sambil merangkap kedua tangan di depan dada.
"Maaf bahwa saya yang bodoh tidak mengenal nona. Akan tetapi saya cuma tahu sebuah hal yaitu bahwa tiada seorang gagah akan menolak buat membantu kami yang miskin. Harap nona tidak terkecuali dan suka membantu kami dengan sedekah."
"Aku tidak punya uang!"
"Uang tidak berapa perlu, kuda serta pedang nona itu cukuplah......"
"Jembel busuk! Kau buka mata serta telinga lebar-lebar! Aku adalah Sian-li Eng-cu, tahukah engkau? Aku adalah cucu dan juga murid Thian-te Sin-kiam mengertikah engkau?"
"Maaf"".. maaf...... tentu saja saya telah mendengar nama besar Thian-te Sin-kiam yang amat kami hormati......"
"Nah, kalau sudah tahu, lekas minggir jangan menghalangi jalan dan membuat malu saja kepadaku!"
Bentak Siok Lan memotong kata-kata Yu Lee yang merendah serta membujuk pengemis itu. Si pengemis menghela napas panjang.
"Ahh andaikata kakekmu sendiri yang lewat, tentu beliau tidak akan menolak permintaanku dan memberikan seluruh harta benda yang dibawanya. Percuma saja engkau mengaku murid dan cucu Thian-te Sin-kiam kalau begini pelit......"
"Apa kau bilang? Jembel busuk bermulut lancang! Kau sendiri yang tidak tahu malu! Mana di dunia ini ada orang mengemis secara paksa? Kau ini pengemis atau perampok?"
Siok Lan makin marah, sepasang pipinya sampai merah sekali dan matanya bercahaya seperti kilat.
"Sudah menjadi peraturan perkumpulan kami jika seorang budiman memberi sedekah secara sukarela dan tulus ikhlas, biarpun hanya sekepal beras dan sesuap nasi akan kami terima dengan rasa syukur serta berterima kasih. Sebaliknya, jika berhadapan dengan orang pelit tidak berpribudi kami akan memilih sendiri sedekahnya. Maka saya sekarang memilih sendiri kuda serta pedang nona!"
"Ngaco belo! Perkumpulanmu itu apakah? Berani mengeluarkan peraturan-peraturan seenak perutnya sendiri!"
Pengemis itu tiba-tiba lenyap sifatnya yang merendah, kini berdiri tegak lalu menunjuk sabuk sutera merahnya itu yang melilit di perut.
"Kami adalah anggauta Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah) dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan pangcu (ketua) kami, biar kaisar sendiripun tidak boleh melanggarnya!"
Siok Lan merasa betapa ujung bajunya dibetot orang dari belakang.
Ia menoleh dan melihat A-liok kembali berkedip kepadanya seperti orang memberi isyarat, memang Yu Lee yang sudah mendengar tentang Ang-kin Kai-pang dan tadipun sudah mengenal pengemis ini tidak menghendaki si nona bertengkar dan mengharapkan Siok Lan mengalah saja.
Akan tetapi cegahan-cegahannya dengan kedipan mata itu dianggap oleh Siok Lan bahwa dia takut terhadap si pengemis, bahkan menambah kemarahan gadis itu.
"Boleh jadi kaisar akan takut menghadapi Ang-kin Kai-pang, akan tetapi aku Sian-li Eng-cu tidak gentar menghadapinya! Aku tidak mau memberikan pedang dan kudaku kepadamu, dan hendak kulihat kau mau dan bisa apa!"
Gadis itu berdiri tegak, kedua tangan bertolak pinggang, sikapnya gagah dan memandang rendah.
Wah, berabe!
Demikian pikir Yu Lee yang tahu bahwa pertandingan takkan bisa dielakkan lagi.
Ia sudah mendengar perihal Ang-kin Kai-pang yang merupakan sebuah perkumpulan pengemis terbesar dan berpengaruh di waktu itu.
Ang-kin Kai-pang merupakan perkumpulan tokoh-tokoh berjiwa patriot yang mementang kekuasaan kerajaan Goan serta sudah banyak melakukan kekacauan-kekacauan dan membunuhi pembesar-pembesar Mongol.
Juga perkumpulan ini bergerak membantu para pekerja paksa, diam-diam menjamin ransum kepada mereka, menyogok para petugas agar meringankan beban mereka, atau membunuh para petugas yang terlalu kejam.
Mengumpulkan dana-dana buat menanggung beban hidup para keluarga yang ditinggalkan suami atau ayah mereka dalam melakukan kerja paksa menggali terusan.
Ang-kin Kai-pang selain besar juga dipimpin oleh orang-orang yang berilmu tinggi!
Menurut kabar yang ia dapat, ketuanya adalah seorang tokoh kang-ouw yang bernama Ang Kwi Han dan terkenal dengan sebutan Ang-pangcu (ketua Ang) atau juga terkenal sebagai kai-ong (raja pengemis).
Ilmunya amat tinggi dan dalam urutan tingkat ilmu yang diatur rapi dalam perkumpulan, dia adalah seorang yang tingkatnya tertinggi.
Yang tingkatnya nomor dua adalah pengemis-pengemis yang membawa pedang beronce merah besar sebanyak dua buah, tingkat nomor tiga yang ronce di pedangnya ada tiga pula, tetapi kecil sedikit.
Begitu seterusnya makin menurun tingkatnya, makin banyak roncenya yang menghias gagang pedang akan tetapi makin kecil pula bentuknya.
Yu Lee tidak melihat pengemis yang menghadapi Siok Lan ini berpedang, maka ia tidak tahu pengemis ini termasuk tokoh tingkat berapa dalam Ang-kin Kai-pang, tetapi melihat gerak geriknya membayangkan bahwa pengemis ini bukan orang sembarangan.
"Nona, perjalanan kita masih amat jauh, perlu apa mencari keributan di sini? Lebih baik berikan kuda ini kepadanya dan kita melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Betapapun juga kuda ini sesampainya di Kai-feng toh akan kita tinggalkan."
"Diam kau! Jangan turut campur! Kalau jembel ini minta dengan baik-baik, tentu aku tidak begini pelit. Akan tetapi dia punya peraturan, akupun punya peraturan. Kalau orang minta-minta kepadaku dengan baik, akan kuberi hadiah sebanyaknya. Tapi kalau minta dengan paksa, jangankan kudaku, buntut kuda sehelaipun dia tidak boleh ambil!"
"Bagus! Jalan ke Kai-feng kelihatan dekat tetapi tidak mudah kau capai dengan sikapmu itu, nona. Karena kau melanggar peraturan kami, maka kau baru boleh melanjutkan perjalananmu ke Kai-feng kalau kau sudah dapat mengalahkan aku si pengemis bodoh!"
Setelah berkata demikian, pengemis itu menggerakkan tangan kanannya dan terdengar bunyi berdesing dan tercabutlah sebatang pedang dari dalam tongkatnya yang butut tadi.
Kiranya tongkat itu merupakan sebuah sarung pedang sehingga pedangnya sendiri tersembunyi.
Kiranya gagang tongkat itu adalah gagang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya dan tampak kini hiasan ronce merah sebanyak lima buah!
Wah, pikir Yu Lee, kiranya adalah seorang tokoh Ang-kin Kai-pang yang bertingkat lima.
Di samping kekhawatirannya karena Siok Lan mencari keributan dengan anggauta perkumpulan pengemis yang besar dan berpengaruh itu, juga di hati Yu Lee timbul keinginan menyaksikan kelihaian pengemis itu, juga kelihaian "nona majikannya"
Dalam melawan.
Ia lalu menarik kuda diajak minggir, mengikatkan kendali kuda pada sebatang pohon kemudian dia sendiri berdiri untuk menonton pertandingan itu, siap-siap untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah yang membawa maut.
Sementara itu, melihat si pengemis mencabut sebatang pedang dari tongkatnya, Siok Lan makin marah.
"Singg......!"
Tangannya mencabut pedang dan telunjuk kirinya menuding.
"Si keparat, maka tampaklah belangmu! Engkau berkedok pengemis padahal pada dasarnya memang seorang penjahat. Perampok berpedang yang menyamar sebagai pengemis bertongkat! Hari ini bertemu Sian-li Eng-cu, berarti akan berakhir praktek kejahatanmu."
Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban pengemis itu Siok Lan sudah menerjang maju dengan pedangnya.
Gerakan nona ini memang amat cekatan dan pedangnya yang menyambar itupun cepat laksana kilat, tahu-tahu sudah meluncur ke arah dada pengemis tua itu.
"Bagus!"
Teriak si pengemis yang juga sudah menggerakkan pedang, menangkis dari kiri dengan ujung pedang digetarkan.
"Cringgg......!!"
Pedang yang bertemu di udara itu mengeluarkan bunyi nyaring, terutama sekali pedang perak di tangan Siok Lan, sehingga menimbulkan nyeri pada telinga, Siok Lan terkejut karena ada getaran yang kuat menyelinap dari pedangnya memasuki lengan, membuat lengannya tergetar dan kesemutan.
Jelas bahwa hal ini membuktikan betapa kuat tenaga sinkang pihak lawannya.
Namun ia tidak gentar dan mempercepat gerakannya, tahu-tahu tubuhnya sudah menyambar lagi, pedangnya membabat kaki disusul tendangan kaki kiri ke arah lambung lawan "Aiihhh......!"
Pengemis itu berseru kaget.
Begitu cepatnya gerakan nona muda itu sehingga sukar diikuti pandangan mata.
Tahu-tahu ujung pedang gadis itu sudah dekat dengan kaki.
Cepat ia meloncat ke atas dan ketika kaki Siok Lan menyambar lambung dengan tendangan kuat, ia membacok ke arah kaki gadis itu dari atas.
Siok Lan maklum akan bahayanya hal ini cepat ia menarik kembali kaki kirinya dan kembali pedangnya membabat dengan bacokan ke arah leher begitu tubuh lawan sudah turun kembali.
Hal ini dapat pula dielakkan oleh si pengemis yang berjongkok dan berbareng dari bawah menusukkan pedangnya ke arah perut Siok Lan.
Dara perkasa ini cepat menekuk siku menangkis tutukan lawan dengan pedang.
Kembali kedua pedang beradu menimbulkan suara nyaring.
Selanjutnya dalam waktu singkat dua orang itu telah terlibat dalam pertandingan yang seru dan mati-matian.
Dua batang pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi dua gulung sinar pedang.
Akan tetapi biarpun kedua pedang itu sama-sama menjadi sinar putih pedang perak di tangan Siok Lan lebih cemerlang sinarnya, merupakan gulungan sinar perak yang memanjang dan lincah menyambar ke sana sini sehingga gulungan sinar lawan terkurung, terdesak dan terhimpit.
Yu Lee yang berdiri menonton, setelah pertandingan lewat tigapuluh jurus, maklum bahwa ilmu pedang Siok Lan jauh lebih menang dalam hal variasi dan gerak tipu, terutama sekali menang dalam kecepatan.
Hal ini tak dapat ditutup oleh kemenangan pengemis itu dalam kekuatan sinkang dan ia tahu bahwa kalau dilanjutkan, tidak sampai sepuluh jurus lagi kakek pengemis itu tentu akan menjadi korban gin-kiam yang berada di tangan nona ganas itu.
Ia bingung dan hendak mencari akal untuk mencegah hal ini.
Tiba-tiba ia terkejut.
Kakek itu dengan tangan kirinya telah mengeluarkan mangkok bubur dari saku bajunya.
Saat itu Siok Lan sedang menerjang dengan pedangnya ke tubuh bagian bawah si pengemis yang sudah terdesak.
Pengemis itu hendak mengadu jiwa karena ia sama sekali tidak mengelak, sebaliknya membarengi dengan tutukan pula ke dada Siok Lan dan tangan kirinya yang memegang mangkok retak dihantamkan ke arah pelipis gadis itu!
Gerakan pengemis itu jelas merupakan gerakan orang nekad yang hendak mengadu jiwa tidak memperdulikan sambaran pedang Siok Lan ke arah lambungnya itu.
Pedang gadis itu pasti akan memasuki lambungnya, akan tetapi kedua serangannya pun, salah satu dan agaknya mangkok itu, akan mengenai sasarannya pula.
Melihat ini, Yu Lee yang sudah memegang beberapa butir kerikil cepat mengayunkan tangan.
Sebuah kerikil mengenai pergelangan tangan Siok Lan yang memegang pedang, dan dua buah kerikil mengenai kedua pergelangan tangan pengemis itu!
Siok Lan berseru kaget, pedangnya menyeleweng dan cuma berhasil melukai paha si pengemis.
Sambaran kerikil ke arah kedua pergelangan tangan pengemis itu mengandung tenaga lebih kuat dan......
pedang serta mangkok pengemis itu terlepas dari pegangan, mangkoknya pecah-pecah dan pedangnya jatuh ke tanah.
Siok Lan yang kaget sudah lompat mundur memegangi pedangnya, tangannya masih kesemutan karena sambaran kerikil tadi.
Ia terheran-heran dan terkejut, sama sekali tidak tahu bahwa yang membuat tangannya lumpuh adalah sebutir kerikil yang dilemparkan A-liok, menyangka bahwa si pengemis itulah yang melakukan hal ini.
Di lain pihak, pengemis itu terguling dan jatuh berlutut.
Paha kirinya terluka mengeluarkan darah.
Yu Lee yang mau mencegah supaya Siok Lan tidak menerjang lagi lawannya yang sudah terluka itu cepat lari menghampiri pengemis itu dan sebelum Siok Lan dapat mencegah, ia sudah memegang pundak pengemis itu, berusaha membangunkan sambil berkata.
"Lopek, nona majikanku sedang melakukan perjalanan jauh, harap lopek sudahi saja pertengkaran ini......"
Pengemis itu berusaha bangkit, namun tak sanggup.
Bahkan ketika ia mengerahkan tenaga untuk bergerak, sama sekali tubuhnya tak dapat digerakkan.
Ia merasa betapa kedua tangan pelayan itu menindih pundaknya seperti dua buah gunung raksasa!
Ia merasa penasaran sekali, mengumpulkan tenaga dari pusar lalu mengerahkan sinkang.
Namun makin kagetlah ia dan terpaksa meringis kesakitan ketika tenaga sinkangnya itu sampai ke pundak bertemu dengan telapak tangan si pemuda pelayan, tenaganya itu membalik dengan cepat.
Tentu ia akan celaka dan terluka kalau saja ia tidak cepat-cepat membuyarkan tenaganya sendiri.
Ia menengadah dan memandang wajah pelayan itu.
Terkejut ia melihat betapa sinar mata pemuda itu sangat tajam berpengaruh, sampai sampai ia bergidik.
Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepala, berkata lirih.
"Sungguh tak tahu malu...... seperti seekor tikus berani menantang naga......!"
Pengemis itu lalu berdiri terus memungut pedang dan mangkoknya yang sudah pecah, memasukkan pedang ke dalam tongkat, kemudian pergi dari situ dengan kepala tunduk dan langkah terpincang-pincang.
Siok Lan menyarungkan gin-kiam dan mengangkat dada, menepuk nepuk debu yang mengotori bajunya.
"Huh, tak tahu diri! Kalau tadi-tadi mengaku tikus bertemu naga, tentu tak perlu aku mencabut pedang."
Ia menggerutu lalu menghampiri kudanya.
"Untung kelihaian nona bermain pedang membuat dia kalah dan mundur,"
Kata Yu Lee.
"Akan tetapi bagaimana, kalau kawan-kawannya nanti datang? Tentu diantara kawan-kawannya ada yang lebih lihai. Oleh karena itu, kuharap nona sukalah berlaku sabar dan tidak meladeni mereka. Di Kai-feng banyak sekali orang-orang kai-pang."
"Hemm...... kaukira aku tidak tahu? Biarpun aku belum pernah melakukan perjalanan ke kota raja seperti engkau, akan tetapi pengertianku tentang dunia kang-ouw jauh lebih luas dari pada pengetahuanmu. Aku tahu akan Ang-kin Kai-pang, tahu pula dari kakekku bahwa ketuanya bernama Ang Kwi Han yang berjuluk Kai-ong dan memiliki ilmu pedang yang amat tinggi tingkatnya, kabarnya pernah Ang Kwi Han itu dengan pedangnya mengalahkan si iblis betina Hek-siauw Kui-bo! Akan tetapi kalau orang tua she Ang itu tidak becus mendidik anak buahnya yang bersikap edan-edanan serta seperti perampok mengganggu orang lewat tanpa pilih bulu, akupun tidak takut menghadapinya!"
Yu Lee menggerakkan pundaknya.
Sukar mengatur serta mengatasi gadis ini!
Kalau saja hatinya tidak begitu terikat oleh semacam kekuatan gaib yang membuatnya tidak berdaya, kalau saja hasratnya tidak begitu menyala-nyala serta tertarik buat dia untuk tetap bisa selalu berdekatan, untuk setiap saat dapat memandang wajah itu, bertemu pandang dengan sinar mata yang begitu cemerlang, melihat mulut berkembang mengarah senyum seperti munculnya matahari pagi, kalau saja ia tidak jatuh bangun dalam cinta asmara terhadap Siok Lan, tentu saat itu juga ia sudah pergi meninggalkannya!
"Saya tahu kelihaianmu, nona.
Saya hanya mengharap agar tidak ada lagi perkelahian-perkelahian itu.
Melihat nona bertanding pedang, ihh......
sungguh mengerikan sekali.
Bagaimana kalau sampai nona terbacok atau tertusuk pedang lawan?"
"Tak mungkin!"
Jawab Siok Lan. Dia kalah dan terbacok? Rasanya tidak mungkin hal itu bisa terjadi. Akan tetapi melihat sinar mata pelayannya yang penuh kekhawatiran, ia melanjutkan.
"Kalau kena paling-paling juga terluka dan paling hebat mati!"
Mendengar jawaban yang dikeluarkan secara tak acuh ini. Yu Lee menghela napas untuk menekan perasaannya yang tergoncang.
"Kalau hanya terluka, tentu saja dapat mengusahakan obatnya, akan tetapi kalau sampai mati."
"Habis kenapa? "
"Kalau nona mati...... bagaimana saya dapat melakukan perjalanan bersama dan melanjutkan ke kota raja?"
Siok Lan tertawa geli dan menutupi mulutnya, lalu meloncat naik ke punggung kudanya.
"Aihh kau aneh sekali A-liok. Kalau aku mati, kau dapat melanjutkan perjalananmu seorang diri, atau mencari majikan baru. Mengapa susah-susah?"
Gadis itu tidak tahu betapa jawabannya yang berkelakar ini seperti pisau menusuk jantung Yu Lee.
Pemuda itu menyambar kendali di hidung kuda dan menuntun binatang itu.
Kini ia berjalan di depan kuda membelakangi nona majikannya dan terdengar suaranya "Mari kita berangkat siocia.
Jangan sampai kemalaman di Kai-feng, sukar mencari tempat penginapan kalau sudah malam, penuh oleh tamu."
Hanya semalam mereka bermalam di Kai-feng, kota yang besar dan ramai itu Siok Lan menyewa sebuah kamar, sedangkan Yu Lee yang kehabisan kamar bujang, yaitu kamar besar dimana para bujang dari tamu-tamu tidur menjadi satu, terpaksa tidur di emper, di luar kamar Siok Lan di bawah jendela.
Akan tetapi bagi Yu Lee hal ini amat menyenangkan hatinya, sebab biarpun tidur di atas lantai, ia berdekatan dengan "nona majikan"
Yang makin lama makin menguasai cinta kasihnya itu.
Pada keesokan harinya Yu Lee berhasil menjualkan kuda nonanya, kemudian mereka pergi ke pangkalan perahu di Sungai Huang-ho yang amat besar.
Karena perutnya merasa lapar, Siok Lan lalu mengajak A-liok untuk makan di sebuah restoran di pinggir sungai.
Hawa di siang hari itu amat panas, Siok Lan lalu mengajak A-liok duduk di kursi terdepan, di dekat pintu masuk restoran itu.
Sambil duduk menghadapi meja, mereka dengan mudah bisa melihat keramaian di luar restoran, dimana terlihat kesibukan para pedagang serta para nelayan, pengangkutan barang-barang dari dan ke perahu-perahu yang banyak terdapat di pangkalan itu.
Pagi hari tadi Yu Lee telah mencari perahu buat disewa melakukan pelayaran sampai ke teluk Po-hai, akan tetapi tidak ada satupun tukang perahu yang mau menyewakan perahunya buat pelayaran melalui jarak sejauh itu.
"Kami hanya melakukan pelayaran di sepanjang Huang-ho dan sebelum tiba diterusan, kami sudah kembali lagi ke sini. Dalam waktu seperti sekarang ini, siapa berani menyeberangi terusan?"
Demikian rata-rata jawaban tukang perahu sehingga menjengkelkan hati Siok Lan dan akhirnya nona itu mengajak pelayannya untuk mengaso dan makan di restoran itu.
"Sialan!"
Siok Lan mengomel.
"Tukang-tukang perahu pengecut dan penakut! Kalau tidak ada yang berani mengantar akan kubeli saja perahunya dan kita dayung sendiri!"
Yu Lee hanya tersenyum, kagum akan keberanian nona ini. Untuk menghibur hati nona itu, ia berkata.
"Harap siocia jangan khawatir. Saya rasa dengan bayaran yang memadai ada juga nanti tukang perahu yang berani membawa kita ke sana."
"Sekarang lebih baik nona makan dulu, masakan apakah yang hendak dipesan, akan saya sampaikan kepada pelayan restoran."
"Hemm, apa sajalah! Asal enak, aku tidak tahu masakan apa yang paling enak di sini."
"Saya tahu nona. Di Kai-feng ini bumbu masakannya rata-rata agak manis, berbeda dengan di selatan. Akan tetapi, yang paling tersohor adalah masakan ikan kakap merah dimasak saus tomat. Bukan main enaknya, gurih dan sedap. Maukah nona mencoba?"
Siok Lan tersenyum sedikit.
Makin lama makin suka ia kepada pelayannya yang ternyata penurut, sopan dan pandai menggembirakan hati, juga agaknya pelayan ini tidak begitu bodoh, tahu akan tempat-tempat asing.
Terhibur sedikit hatinya yang mendongkol sebab penolakan tukang-tukang perahu tadi.
"Boleh, sesukamulah asal enak-enak kataku tadi, jangan lupa arak yang baik, yang sedang kerasnya."
Setelah Yu Lee memberitahu pengurus restoran dan pengatur pesanan, tidak lama kemudian pelayan datang membawa baki besar terisi beberapa macam masakan daging dan sayur, sepiring besar ikan kakap merah yang semua digoreng kering dan dibumbui saus tomat yang kemerahan.
Melihat saja sudah menimbulkan selera dan membuat orang menelan air liur!
Setelah lengkap dengan minumannya, Siok Lan memberi isyarat kepada Yu Lee dan makan minumlah mereka.
Biarpun Yu Lee pada waktu itu dianggap sebagai seorang pelayan oleh Siok Lan namun gadis ini tidak terlalu memakai banyak peraturan serta selalu mengajak si pelayan makan bersama!
Kepolosan watak ini makin mengagumkan hati Yu Lee yang menganggap Siok Lan seorang gadis yang paling cantik, paling baik, paling menyenangkan dan paling menimbulkan kasih sayang di dunia ini.
Begitulah kalau seorang pria sudah bertekuk lutut dalam cinta asmara!
"A-liok hayo ambil dagingnya!
Masa kau cuma makan sirip, buntut, kepala dan tulang-tulang saja!"
Biarpun berkali-kali Siok Lan mendesak dan Yu Lee mengangguk, namun tetap pemuda ini tidak mau mengambil daging yang paling gemuk dari ikan kakap di depan mereka.
Hal ini bukan karena dia malu-malu, bukan pula sebab terlalu sayangnya kepada si nona saja, melainkan bagi dia ialah, bagian yang paling lezat dari sebuah ikan adalah sirip, buntut, kepala dan daging yang menempel pada tulang.
Maka dia lebih suka menggerogoti tulang dari pada mengambil daging yang empuk, sehingga, di atas meja dekat mangkoknya terdapat tumpukan tukang-tulang ikan yang runcing.
Baru saja keduanya selesai makan dan minum, duduk terhenyak kekenyangan di atas kursi masing-masing, tiba-tiba terdengar suara yang kecil tinggi.
"Kasihanilah kami, nona yang budiman......!"
Mereka berdua menengok dan berubahlah wajah mereka.
Yu Lee melihat kaget serta khawatir, sebaliknya Siok Lan melihat marah.
Kiranya yang mengucapkan kata-kata tadi adalah dua orang pengemis berusia enampuluhan tahun, pakaian mereda butut tetapi pinggang mereka memakai sabuk sutera merah!
Sekali melihat saja maklumlah Siok Lan serta Yu Lee bahwa dua orang pengemis tua ini adalah kawan-kawan dari pengemis yang mereka usir di jalan tadi, serta agaknya dua orang pengemis ini sengaja datang untuk membalas dendam dan pasti mereka ini memiliki tingkat yang lebih tinggi.
Siok Lan marah, akan tetapi ia menekan kemarahannya dan masih enak-enak duduk, lalu bertanya dengan suara ketus.
"Kalian ini datang mau apakah?"
Pengemis yang tertua yang mempunyai tahi lalat besar di pelipis kanannya, berkata sambil bersandar pada tongkat dan mengangkat mangkok retaknya ke arah Siok Lan.
"Saya bernama Ang Ci dan bersama suteku ini Ang Sui kami telah mendengar dari Ang Kun tentang kemurahan hati nona yang suka sekali memberi sedekah dan sumbangan kepada orang-orang miskin seperti kami. Karena itu kami sengaja datang untuk mohon kasihan dan sedekah dari nona."
Siok Lan tadinya sudah marah sekali, akan tetapi dasar wataknya memang jenaka dan gembira, mendengar ucapan kakek itu yang menyebut nama mereka, ia melihat kelucuannya dan tertawa geli.
"Aihhh, kiranya kalian dari Ang-kin Kai-pang ini merupakan sebuah keluarga besar yang mempunyai she (nama keturunan) Ang? Lucu sekali!"
"Kami memang dari keluarga besar Ang dan hal ini sama sekali tidak ada lucunya. Harap nona sebagai cucu Thian-te Sin-kiam suka berpemandangan jauh, agar tidak mengecewakan orang yang menjadi kakek dan guru,"
Kata pengemis kedua yang mukanya kuning. Kini Siok Lan tak dapat menahan kemarahannya. Ia bangkit berdiri dari kursinya dan membentak.
"Jembel busuk mengapa banyak cerewet dan membawa-bawa nama kakekku? Kalian dan golongan kalian inilah yang berpemandangan cupat. Orang minta sedekah harus mempunyai tata susila, harus sopan dan dengan sukarela mengharapkan bantuan orang. Akan tetapi kalian melakukan paksaan, sungguh pekerjaan yang hina dan rendah melebihi perampok. Kalau perampok, mereka minta dengan paksa secara terang-terangan, sebaliknya kalian ini minta secara paksa berkedok pengemis! Aku tidak mau memberi apa-apa, kalian mau apakah?"
Ucapan Siok Lan yang dilakukan dalam keadaan marah ini menimbulkan keributan dan menarik perhatian orang sehingga para tamu dalam restoran itu kini menengok, bahkan mereka yang tadinya bekerja menghentikan pekerjaan mereka dan menengok.
Namun mereka semua itu tampak kaget ketika melihat bahwa yang dimarahi gadis cantik itu adalah dua orang pengemis tua yang bersabuk sutera merah!
Bagi mereka, sabuk sutera merah ini merupakan tanda yang sudah amat dikenal dan ditakuti.
Siapakah yang tidak mengenal Ang-kin Kai-pang perkumpulan pengemis gagah perkasa yang berani menantang pemerintah dan yang telah banyak bekerja membantu para pekerja paksa pembuat terusan air?
Dan sekarang ada seorang nona muda berani marah-marah terhadap mereka!
Ang Ci yang bertahi lalat di pelipisnya itu tersenyum, lalu berkata suaranya masih tenang seperti tadi, tinggi kecil suaranya, seperti suara wanita.
"Nona, justeru mengingat nama besar Liem Kwat Ek kakekmu, kami masih bersikap mengalah kepadamu. Akan tetapi harus nona ketahui bahwa Thian-te Sin-kiam sendiri tidak akan berani bersikap seperti nona terhadap kami. Karena itu kami pun akan menghabiskan urusan ini asal nona mau menyumbangkan pedang nona kepada kami!"
Yu Lee tahu bahwa biarpun Siok Lan berada di pihak benar, namun nona ini telah melanggar sopan santun dan peraturan dunia kang-ouw, tidak mengindahkan perjuangan Ang-kin Kai-pang maka kini mendengar bahwa dua orang pengemis itu mau menghabiskan perkara asalkan si nona suka memberikan pedang, yang dalam dunia kang-ouw dapat dianggap sebagai tanda mengaku kalah menganggap bahwa hal itu cukup patut.
Nona ini masih amat muda, dan mengaku kalah terhadap dua orang tokoh Ang-kin Kai-pang bukanlah hal yang memalukan apalagi mengaku kalah tidak karena bertanding melainkan karena telah melanggar dan memalukan pihak Ang-kin Kai-pang ketika mengalahkan Ang Kun tadi.
"Nona, berikanlah saja, nona. Nona dapat membelinya lagi pedang yang lebih bagus nanti............!"
"Apa.........? Menyerahkan gin-kiam begitu saja? Bah, nanti dulu!"
Bentak Siok Lan yang sudah melompat maju. Ia mencabut pedangnya dan tampak sinar berkilauan dibarengi bunyi berdesing yang nyaring. Dengan melintangkan pedang perak di depan dada Siok Lan berkata.
"Jembel tua! Pedang merupakan pelindung dan andalan seorang gagah! Aku tidak akan memberikannya kepada siapa juga dan kalau sanggup merampasnya dari tanganku ambillah!"
Ini merupakan sebuah tantangan!
Yu Lee yang mengetahui bahwa kembali pertandingan takkan dapat dielakkan, menjadi makin khawatir dan diam-diam ia mempersiapkan diri untuk mencari jalan keluar tanpa diketahui nona itu.
"Ha, ha, ha, apa sukarnya merampas pedang itu?"
Ang Ci berkata, kemudian seperti dikomando saja, kedua orang pengemis itu mengangkat tongkat mereka dan menggerakkan tongkat ke arah Siok Lan.
Gadis ini yang sudah marah, ingin membabat putus tongkat itu dengan pedangnya, untuk membikin malu dua orang pengemis.
Pedangnya berkelebat dan membacok dua batang tongkat yang diangkat dan bergerak ke arahnya itu.
"Plakkk!"
Pedangnya menempel pada dua tongkat dan tak......
tak dapat ditarik kembali.
Betapapun si gadis jelita mengerahkan tenaga untuk membetot pedangnya, namun pedang gin-kiam seperti telah berakar pada dua tongkat, lengket dan tak dapat digerakkan sama sekali.
"Wah, wah, ji-wi locianpwe...... kami tidak punya apa-apa, makanan sudah habis hanya tinggal tulang-tulang ikan, kalau ji-wi sudi boleh saja ambil......!"
Yu Lee mengeluarkan ucapan ini dengan gugup serta sikapnya gugup pula.
Ia mengambil tulang-tulang ikan di depannya lalu melemparkannya ke arah dua buah mangkok di tangan kiri kedua pengemis itu.
Sebab ia gugup serta gerakannya tidak keruan dan kacau balau, tulang-tulang itu tidak semua memasuki mangkok dan ada yang mencelat ke mana-mana.
Siok Lan yang lagi memusatkan seluruh tenaga, tidak tahu akan hal ini semua.
Tiba-tiba ia merasa betapa dua batang tongkat yang menempel pedangnya itu mengendor, tanda bahwa dia mulai menang tenaga, maka ia lalu memusatkan seluruh tenaga serta membuat gerakan membetot secara tiba-tiba dan......
usahanya kali ini berhasil, pedangnya terlepas.
Sebab marah, ia lalu memakai kedua kakinya menendang secara bergantian dan tubuh kedua kakek pengemis itu terlempar keluar pintu restoran sampai empat meter!
Pucat wajah kedua orang kakek itu.
Mereka tadi sudah merasa yakin dapat mengalahkan gadis itu serta bisa merampas pedangnya tanpa banyak kesukaran.
Akan tetapi tiba-tiba mereka merasa betapa jalan darah di pundak kanan mereka yang memegang tongkat menjadi kesemutan seperti terkena totokan yang tepat sekali maka mereka tidak mampu menahan ketika gadis itu menendang biarpun tendangan itu amat cepat tetapi mereka bisa mengelak kalau saja pada waktu yang bersamaan mereka tidak merasa tubuh masing-masing tergetar oleh totokan pada pinggang mereka sehingga tanpa bisa dicegah lagi mereka kena ditendang sampai mencelat keluar restoran!
Ang Ci dan Ang Sim adalah tokoh-tokoh tingkat tiga dari Ang-kin Kai-pang.
Ilmu kepandaian mereka sudah amat tinggi serta jarang dikalahkan musuh.
Mereka juga merasa sungkan menghadapi seorang gadis muda seperti Siok Lan, apalagi mengingat kakek gadis itu yang menjadi teman baik pangcu (ketua) mereka, maka mereka cuma mau merampas pedang Siok Lan yang telah menghina Ang-kin Kai-pang dengan merobohkan serta mengusir pengemis tokoh tingkat lima yang bertemu Siok Lan di jalan.
Siapa duga, di restoran ini, di bawah mata banyak sekali orang, mereka berdua telah di tendang sampai mencelat oleh seorang gadis remaja!
Tentu saja hal ini amat memalukan serta merendahkan nama mereka.
Juga mereka menjadi penasaran sekali dan mau berhadapan dengan orang yang telah membantu gadis itu, maka kini mereka sudah mencabut pedang dari tongkat masing-masing sambil berseru.
"Berani kau menghina Ang-kin Kai-pang?"
Yu Lee telah berlari keluar dan berkata.
"Wah-wah...... kalian telah membikin nona majikanku marah! Masih baik kalau hanya ditendang kalau dia tak sabar, jangan jangan kalian telah dibunuhnya!"
Sambil berkata demikian, ia mengangkat kedua tangan diluruskan ke depan serta digoyang-goyangkannya.
Ang Ci dan Ang Sun yang baru saja mencabut pedang, merasa betapa ada hawa yang panas serta kuat menyambar mereka.
Tubuh mereka terdorong dan alangkah kaget hati mereka ketika melihat tiga buah ronce yang menghias gagang pedang mereka telah putus semua!
Sejenak mereka melihat ke arah "pelayan"
Nona itu, tahulah mereka bahwa inilah dia seorang lihai yang telah membantu Siok Lan.
Melihat sikap Yu Lee, kedua orang pengemis tua ini maklum bahwa Yu Lee adalah seorang pendekar sakti yang sedang meyembunyikan diri, pura-pura menjadi pelayan.
Mereka mengenal watak aneh dari orang-orang pandai dan menghormati penyembunyian diri serta rahasia ini.
Sebab dari totokan-totokan tak tampak tadi yang kini dapat mereka duga adalah tulang-tulang ikan yang menyambar, serta dari pukulan jarak jauh yang menerbangkan ronce-ronce merah di pedang mereka.
Kedua orang pengemis tua ini maklum bahwa pemuda itu memiliki ilmu silat yang benar-benar hebat dan tidak terlawan oleh mereka, maka keduanya lalu berlutut dan berkata.
"Mata kami seperti buta tidak melihat gunung tinggi menjulang di depan. Maaf dan sampai jumpa pula!"
Setelah berkata demikian, dua orang kakek itu memasukkan pedang mereka ke dalam tongkat lalu pergi dari situ dengan muka merah serta muram.
Siok Lan khawatir melihat pelayannya berani mendekati dua orang kakek itu, cepat meloncat dan telah berada di dekat Yu Lee ketika dua orang kakek itu menjura berlutut.
Nona ini membusungkan dada sebab bangga karena menganggap bahwa dialah yang dikatakan "gunung tinggi menjulang di depan"
Oleh dua orang Kakek itu! "Yang tidak mengenal Sian-li Eng-cu memang sama dengan orang buta!"
Katanya bangga dan menyarungkan kembali pedangnya dengan sikap gagah.
Semua orang yang hadir di situ kini memandang ke arah Siok Lan dengan mulut ternganga dan mata terbelalak penuh keheranan dan kekaguman.
Mereka tahu bahwa para pengemis Ang-kin Kai-pang adalah orang yang berilmu tinggi, apalagi dua orang pengemis tadi sudah tua dan pedangnya mempunyai ronce-ronce hanya tiga buah entah kenapa jatuh ke tanah, berarti bahwa dua orang kakek itu adalah tokoh tingkat tiga yang tentu saja amat lihai!
Namun dalam segebrakan saja telah ditendang mencelat olah gadis remaja ini dan di depan mereka dua orang tokoh itu mengakui kelihaian si gadis.
Ketika mereka mendengar ucapan Siok Lan, kekaguman mereka makin memuncak dan nama julukan Sian-li Eng-cu menjadi buah bibir sejak saat itu.
Sian-li Eng-cu Si Bayangan Bidadari!
Julukan yang indah, dan memang orangnya pun amat jelita!
Para nelayan yang mendengar akan kegagahan Sian-li Eng-cu kini berduyun datang dan menawarkan perahunya untuk dipakai gadis perkasa itu berlayar ke Po-hai!
Melihat ini Siok Lan tersenyum puas dan berkata kepada Yu Lee.
"A-liok, kau pilihlah sebuah perahu yang cukup baik katakan kepada pemiliknya bahwa kami akan menyewanya sampai ke Po-hai dan berani membayar mahal. Selain itu katakan bahwa dia tidak usah khawatir atau takut. Kalau ada bajak di tengah jalan, tentu akan kubasmi mereka. Kalau ada perajurit berani mengganggu di terusan itu, biar aku yang akan mengobrak abrik mereka. Pendeknya, aku menjamin keselamatan si tukang perahu dan perahunya!"
Mendengar ucapan yang gagah ini, makin kagumlah para pedagang dan nelayan yang berada di situ, Akan tetapi Yu Lee diam-diam menghela napas panjang dan hatinya diam-diam menjadi gelisah.
Ia tahu bahwa kepandaiannya Ang Ci dan Ang Sun tadi cukup tinggi, jangankan melawan mereka berdua, melawan satu sama satu saja belum tentu Siok Lan menang.
Juga ia amat bersyukur dan kagum kepada dua orang pengemis tadi yang ternyata mengerti bahwa dia ingin merahasiakan dirinya, maka kedua orang pengemis itupun tidak mendesaknya dan mereka tahu diri mengaku kalah dan pergi.
Namun iapun tahu bahwa mereka itu merasa penasaran dan tentu akan melaporkan hal ini kepada ketua mereka.
Perjalanan selanjutnya tidaklah selancar dan semudah yang di duga Siok Lan apa lagi ditambah dengan sikap gadis itu yang agak tekebur.
Dipuji-pujinya nama Sian-li Eng-cu sampai setinggi langit tentu akan memancing banyak orang kang-ouw yang hendak mengujinya!
Setelah memilih sebuah perahu milik seorang tukang perahu yang berusia kurang lebih empatpuluh tahun, bertubuh tinggi tegap dan kuat, Siok Lan lalu meloncat ke atas perahu, diantar oleh orang-orang yang berada di situ dengan pandang mata penuh kagum.
Yu Lee juga sudah naik ke perahu dan ia berkata dengan suara serius kepada Siok Lan.
"Siocia, pelayaran ini bukanlah perjalanan yang aman. Biarpun nona lihai, akan tetapi banyak sekali orang-orang pandai dan jahat berkeliaran di sepanjang tepi sungai. Saya takut kalau-kalau kita akan menemui banyak rintangan di sepanjang sungai."
"Ahhh, takut apa. Pokoknya, kita tidak bermaksud jahat terhadap orang lain! Kalau toh ada orang lain hendak berbuat jahat, akan kulawan dia dan akan kubasmi agar dunia makin bersih!"
Jawaban ini disambut sorakan para pengantar yang menganggap nona ini amat gagah perkasa, sebaliknya pelayannya amat penakut.
Berangkatlah perahu itu ke tengah sungai diikuti teriakan-teriakan dari tepi sungai.
"Selamat jalan, Sian-li Eng-cu!"
"Hidup Sian-li Eng-cu!"
Siok Lan berdiri di kepala perahu, tangan kiri bertolak pinggang meraba gagang pedang, tangan kanan melambai ke arah para pengagumnya di tepi sungai.
Sungguh jelita dan gagah.
Dan Yu Lee hanya dapat menggeleng kepala dan menghela napas.
Edan bocah ini pikirnya gemas.
Akan tetapi aku lebih edan lagi karena aku tergila-gila kepada seorang bocah gila!
Perahu meluncur terus, menurutkan aliran air sungai ditambah dorongan dayung tukang perahu.
Wanita berpakaian merah itu lari terhuyung-huyung menaiki sebuah bukit.
Tubuhnya lemas dan pakaiannya kusut, rambutnya pun terlepas sanggulnya, terurai, sebagian menutupi mukanya yang pucat.
Dia wanita yang masih muda, tidak akan lebih dari duapuluh lima tahun usianya, cantik jelita dengan muka yang berbentuk bulat telur, dan bentuk tubuh yang padat menggairahkan.
Pendeknya seorang wanita muda yang cantik menarik, tetapi keadaan tubuhnya sangat menyedihkan pada waktu itu.
(Lanjut ke
Jilid 11) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11 Ia terluka, tetapi tidak diperdulikannya luka-luka itu, serta tubuh yang letih tidak diperdulikannya pula, dan pakaiannya yang kusut, ia terus saja jalan terhuyung-huyung kadang-kadang lari ke depan seperti orang buta.
Memang ia seperti orang buta oleh air matanya sendiri, buta oleh kehancuran hati, oleh penyesalan, oleh rasa malu serta patah hati!
Malam itu biarpun terang bulan, tetapi jalan mendaki bukit amatlah sukarnya, sinar bulan kurang cukup menerangi jalan yang berbatu-batu dengan di tepinya jurang-jurang menganga seperti mulut maut.
Tetapi wanita itu berjalan terus, naik ke bukit tanpa tujuan.
Siapa dia ini?
Bukan lain adalah Ma Ji Nio yang terkenal dengan julukan Cui-siauw Sianli (Dewi Suling).
Seperti telah kita ketahui, Ma Ji Nio atau Dewi Suling ini adalah murid terkasih Hek-siauw Kui-bo yang selain mewarisi ilmu silat gurunya yang tinggi, juga mewarisi sifatnya yang buruk yaitu kesukaan mengumbar dan melampiaskan nafsu birahi.
Bahkan dalam kebiasaan melampiaskan nafsu birahi ini, Ma Ji Nio lebih ganas dari gurunya.
Pria yang bagaimanapun yang menarik hatinya, harus ia dapatkan, baik secara halus maupun secara kasar.
Dan yang mengerikan, setelah ia merasa bosan, ia lalu membunuh pria itu sebab selain ia enggan membagi cinta kasih pria itu dengan wanita lain juga ia tidak mau dijadikan bahan percakapan pria-pria bekas kekasihnya.
Dengan demikian.
Selama mengumbar nafsunya.
Ma Ji Nio telah membunuh puluhan orang pria muda dan tampan!
Namun, selama masa petualangannya yang mengerikan itu, Dewi Suling selalu mendapatkan pria-pria tampan tetapi lemah dan hatinya tergerak ketika ia bertemu Ouwyang Tek dan Gui Siong, dua orang pemuda tampan serta perkasa murid Siauw-bin-mo Hap Tojin.
Akan tetapi, alangkah kecewa serta menyesal hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa bukan saja dua orang pemuda perkasa itu tidak sudi melayani nafsunya, bahkan sebaliknya menghina memaki serta memusuhinya.
Kemudian pula, sekali ia bertemu Yu Lee dan kali ini hatinya betul-betul jatuh cinta.
Belum pernah selama hidupnya ia jatuh cinta sampai mendalam seperti ketika ia bertemu pemuda ini.
Melihat Yu Lee serta menyaksikan kelihaian pemuda itu yang tidak hanya melebihi kepandaiannya bahkan jauh lebih pandai sampai berhasil membunuh gurunya, Hek-siauw Kui-bo.
Hati Dewi Suling benar-benar terpikat dan di dalam hatinya ia bersumpah bahwa kalau bisa menjadi istri pemuda itu, ia baru merasa puas dan akan berhenti dari petualangannya.
Itulah sebabnya mengapa ketika ia melihat Yu Lee tertawan oleh gurunya ia menolong pemuda itu dan berani menghadapi kemarahan gurunya.
Ia sudah mempertaruhkan jiwanya buat menolong pemuda itu serta membujuk pemuda perkasa itu menjadi suaminya.
Akan tetapi apakah jadinya?
Tidak saja ia telah dikalahkan, lalu gurunya terbunuh, dia sendiri terluka, malah Yu Lee sengaja memberi ampun serta mengancam bahwa kalau kelak jalannya masih sesat, maka pemuda yang dicintanya itu akan membunuhnya!
Ia telah menerima penghinaan yang hebat sekali serta mengalami penyesalan.
Ia merasa malu serta menyesal akan semua perbuatannya yang telah lampau.
Andaikata dia masih seorang gadis yang bersih, dengan kecantikannya dan ilmu silatnya yang tinggi, tentu lebih besar harapan baginya buat mempersuami Yu Lee.
Akan tetapi kenyataannya tidak demikian, serta semua petualangannya itu sudah membosankan, tidak memberi kebahagiaan buatnya lagi.
Ia menghendaki kasih sayang murni, cinta kasih antara suami isteri yang tulus ikhlas, membina keluarga, mempunyai keturunan serta hidup sebagai seorang isteri terkasih dan ibu terhormat.
Makin dipikir dan dikenang, makin hancurlah hati Dewi Suling.
Apalagi ketika ia terusir dari Istana Air tempat tinggal gurunya yang sudah terbasmi musuh itu.
Makin bosanlah ia hidup dan tanpa memperdulikan lukanya, ia melarikan diri terus siang malam sampai akhirnya ia mendaki bukit itu di malam hari, tanpa tujuan, hanya ingin lari, lari pergi jauh sekali, menjauhi rasa malu, rasa rendah serta kekecewaan hati.
Bulan tertutup awan hitam, keadaan gelap pekat, segelap hati Dewi Suling, kakinya tersandung batu dan ia terguling roboh.
Kepalanya terasa pecah ketika ia terbanting itu.
Dirabanya dahinya, berdarah tertumbuk batu gunung.
Ia mengeluh dan merangkak bangun, gelap gulita disekelilingnya.
Kepeningan kepalanya menambah kegelapan, sudah matikah dia?
Di manakah dia?
Tiga hari tiga malam ia berlari terus tanpa berhenti keluar masuk hutan, naik turun gunung sampai akhirnya ia tiba di tempat ini yang sama sekali tidak dikenalnya.
Matanya berkunang dan pandangannya gelap.
Tiba-tiba tampak sebuah cahaya kecil kelap kelip di dalam kegelapan malam, tidak jauh di sebelah depan.
Dewi Suling bangkit berdiri, ia hampir tidak kuat lagi.
Dengan terhuyung-huyung ia maju ke arah cahaya kecil dan akhirnya ia roboh terguling pingsan di depan pintu sebuah kuil tua, pintu yang terbuka dan dari mana keluar cahaya api tadi, cahaya sebatang lilin yang bernyala di atas meja di ruang dalam.
"Omitohud...... kasihan sekali nona muda ini!"
Terdengar suara halus dan seorang nikouw (pendeta perempuan) keluar, berlutut lalu memanggil beberapa nikouw lain.
Kemudian beramai-ramai para pendeta wanita itu menggotong tubuh Dewi Suling, dibawa masuk ke dalam kuil tua.
Ternyata itu adalah sebuah kuil Kwan-im-bio yang amat tua di lereng bukit yang sunyi, dan didiami lima orang nikouw tua yang hidup sunyi dan suci di tempat itu.
Hanya penduduk dusun di sekitar bukit itu yang kadang-kadang mengunjungi kuil untuk minta berkah dan petunjuk dan untuk menyambung hidup, lima orang nikouw ini bercocok tanam disamping sumbangan yang didapat dari harta penduduk dusun.
Sampai dua hari dua malam Dewi Suling rebah pingsan, terserang demam yang hebat.
Keadaannya amat berbahaya dan hanya berkat perawatan para nikouw yang amat tekun dan penuh kasih sayang.
Pada hati ketiga, pagi sekali, Dewi Suling dapat sadar dari pingsannya.
Panas tubuhnya menurun banyak.
Selama pingsan, Dewi Suling merasa seolah-olah ia melayang di udara bingung karena tidak tahu harus terbang ke mana.
Ia terkejut ketika sadar dan merasa bahwa ia berbaring dalam sebuah kamar, menoleh ke kanan kiri, kamar itu sederhana namun bersih sekali.
Tercium bau asap yang sedap harum.
Ah, tidak mungkin ini neraka.
Terlalu baik untuk sebuah neraka.
Sorgakah?
Tidak mungkin orang seperti dia masuk sorga!
Kalau begitu, berarti dia belum mati.
Ia teringat betapa ia roboh lemas di depan sebuah bangunan seperti kuil, yang terbuka pintunya dan dari pintu itulah cahaya terang menyinar.
Teringat pula ia betapa ia menderita luka-luka yang cukup parah ketika ia bertanding melawan Siauw-bin-mo Hap Tojin dan Tho-tee-kong Liong Losu dan pasti dia akhirnya akan roboh binasa di tangan kedua orang pendeta lihai itu.
Kalau saja tidak muncul Yu Lee yang menyelamatkannya.
Teringat ini ia meraba-raba tubuhnya dan mendapat kenyataan bahwa luka-lukanya telah sembuh.
Ah, kembali ia ditolong orang yang merawat dan mengobatinya.
Ia masih belum mati dan karenanya berarti ia masih harus terus menderita, teringat akan sikap Yu Lee yang tidak membalas cintanya bahkan memperlakukannya dengan sikap yang menyakitkan hati, tak tertahankan lagi Dewi Suling menangis.
"Omitohud......! Nona sudah sadar syukurlah. Mengapa menangis? Di dunia ini tidak ada kedukaan yang tak dapat diatasi dengan pengendalian tidak ada dosa yang tak dapat ditebus oleh kesadaran. Kalau nona bersedia, ceritakanlah segala penderitaan nona kepada pinni (aku), mungkin pinni akan dapat membantu meringankan beban itu, walaupun hanya dengan kata-kata dan nasihat!"
Mendengar suara yang halus penuh welas asih ini tangis Dewi Suling makin mengguguk.
Namun hanya sebentar saja ia telah dapat menguasai dirinya tangisnya terhenti dan ia mengangkat mukanya memandang.
Seorang nikouw tua, berusia enampuluh tahun lebih, berkepala gundul dan berpakaian serba kuning amat sederhana, wajahnya membayangkan ketenangan jiwa dan kehalusan budi, telah berdiri di dalam kamar itu memandangnya dan merangkap kedua tangan di depan dada.
"Engkau siapakah?"
Tanyanya.
Nikouw tua itu menggerakkan alis, dapat menangkap sikap dan suara yang tinggi hati dari nona di depannya, namun bibirnya tetap tersenyum ramah, seolah-olah baginya bukan hal aneh menghadapi sikap kasar dan selalu sudah siap memaafkannya.
"Nona pinni adalah Sui-lian Nikouw yang memimpin empat orang nikouw lain di kuil Kwan-im-bio ini."
Sepasang mata yang jernih dan tajam itu melotot marah.
"Kenapa kalian menolongku? Kenapa? Aku mau mati.......! Aku mau mati......!!"
Dan kembali Dewi Suling menangis tersedu-sedu.
"Omitohud! Sungguh keliru sekali kalau nona mengira bahwa kematian adalah jalan kebebasan dari pada derita! Tidak sama sekali, nona. Kematian hanyalah akibat daripada dosa dan setelah mati sekalipun kita tidak akan terbebas daripada akibat perbuatan kita sendiri, bahkan penderitaannya akan lebih hebat lagi sebab kita tidak mempunyai kesempatan lagi buat menebusnya dengan kesadaran. Selagi masih hidup, masih terdapat jalan bagi kita buat bertobat, menjauhi dosa, hidup dalam kesadaran dan memeluk kebajikan buat menebus semua dosa yang telah kita perbuat. Nona, sadarlah dan dengarkan baik-baik ucapan seorang tua seperti pinni."
Biarpun kata-kata itu amat halus, tetapi bagi Dewi Suling merupakan tetesan-tetesan embun yang amat dingin menembus dada menyayat hati. Ia terbelalak melihat, lalu berkata, suaranya gemetar.
"Dapat menebus dosa......? Kesadaran.......? Apa...... apa yang kau maksud dengan kesadaran!"
Sui-lian Nikouw tersenyum, lalu terdengarlah ia bernyanyi perlahan, suaranya merdu serta nyanyiannya adalah sebuah pelajaran dalam Agama Buddha.
"Apabila seorang selalu sadar selalu membangkitkan diri dengan kesadaran bersikap waspada perbuatannya bersih bertindak dengan bijaksana teguh terhadap diri sendiri hidup sesuai dengan ajaran benar maka kemuliaannya bertambah"
Dewi Suling amat tertarik.
Selama hidupnya, tak pernah ia mendengar atau memperhatikan pelajaran-pelajaran tentang kebatinan dan kata-kata sederhana yang didengarnya sekarang adalah seperti sinar terang yang mengusir kegelapan hatinya.
Namun kalau ia teringat akan semua perbuatannya yang sudah sudah ia jadi ragu-ragu dan menyesal kembali.
"Akan tetapi, Sui-lian Nikouw, aku adalah seorang yang telah banyak berbuat dosa! Kedua tanganku sudah kotor, penuh lumpur dosa......!"
Ia mengeluh.
Kini Sui-lian Nikouw meramkan kedua matanya dan pendeta wanita ini yang berusaha untuk menyadarkan seorang manusia yang menyeleweng dalam hidupnya, kembali bernyanyi dengan suara yang tergetar penuh perasaan, penuh pengaruh halus yang amat kuat.
"Apabila seorang berbuat dosa biarlah ia sadar dan tidak mengulang perbuatan, biarlah ia tidak senang lagi akan kejahatan karena hanya penderitaan menjadi timbunan kejahatan."
Dewi Suling terisak, hatinya seperti ditusuk-tusuk.
"Aahh, Sui-lian Nikouw! Engkau tidak tahu, tidak mengenal siapa aku! Dosaku adalah dosa tak berampun. Tahukah engkau siapa aku? Aku adalah iblis betina yang terkenal dengan julukan Cui-siauw-kwi (Iblis Peniup Suling)! Aku pula yang disebut Dewi Suling. Aku telah membunuh banyak sekali orang, baik orang jahat ataupun orang baik-baik. Aku juga membunuh puluhan orang pemuda bekas kekasihku sendiri! Nah, katakan sekarang, Nikouw, apakah dosa sebesar itu bisa ditebus? Apakah tidak lebih baik kalau aku mati saja sekarang agar segera menerima hukuman di neraka serta tidak lagi mengotori dunia?"
Nikouw tua itu menggerakkan alisnya yang sudah setengah putih.
Rupanya ia terkejut mendengar ucapan nama Dewi Suling yang namanya telah tersohor sebagai wanita bersifat iblis.
Hampir ia tidak percaya bahwa seorang wanita muda cantik seperti ini bisa menjadi seorang yang berwatak iblis.
Tetapi ia tidak heran, lalu menarik napas panjang dan berkata.
"Tidak ada dosa yang betapapun besarnya tak bisa diampuni nona. Nona sudah merasa bahwa nona telah melakukan banyak dosa. Hal ini saja telah menjadi pertanda baik, karena barang siapa menyadari akan kesalahannya, itu merupakan awal yang baik sekali. Terus kesadaran akan dosa dan semua kesalahan ini ditingkatkan menjadi sebuah perasaan menyesal akan dosa-dosanya kemudian dilanjutkan dengaa perasaan bertaubat. Akan tetapi bertaubat dengan mulut saja percuma melainkan harus dengan hati dan diperkuat dengan perbuatan. Hanya dengan perbuatan sajalah manusia dapat membuktikan isi hatinya. Menurut pendapat pinni, masih belum terlambat bagimu, nona."
Mendengar ini Dewi Suling yang tadinya sudah putus asa, bangkit semangatnya. Ia melompat dari pembaringan menjatuhkan diri berlutut di depan nikouw yang bersikap tenang itu lalu berkata.
"Tunjukkanlah jalan bagiku...... nikouw yang baik, tunjukkanlah agar aku dapat kembali menjadi manusia baik...... agar aku dapat terbebas daripada noda-noda dan dosa-dosaku......"
"Hanya dengan penebusan, nona. Penyesalan hatimu harus diujudkan dalam perbuatan yang tegas. Engkau tadi mengatakan bahwa engkau telah membunuh puluhan orang? Nah, mulai detik ini, kau usahakanlah agar engkau dapat menyelamatkan nyawa orang, mencegah terjadinya pembunuhan-pembunuhan sampai engkau dapat menolong nyawa orang yang terancam bahaya maut sebanyak atau melebihi jumlah orang yang pernah kau bunuh. Pupuklah kebaikan sebanyak mungkin, dan kelak...... kalau di antara kita ada jodoh dan kita dapat bertemu kembali, pinni akan menuntunmu mencari kebebasan dari pada segala penderitaan."
Dewi Saling termenung, menengadahkan mukanya memandang wajah nikouw itu.
Sinar kedukaan mulai menghilang, terganti sinar penuh harapan yang membuat wajahnya yang cantik itu berseri.
Seakan-akan ada cahaya suci yang keluar dari pribadi nikouw itu memasuki dirinya, mambuatnya sadar dan dapat melihat kebenaran.
Sambil berlutut ia mohon petunjuk-petunjuk lagi dari Sui-lian Nikouw yang memberi wejangan kepadanya tentang memenangkan diri sendiri menguasai nafsu dan mencari jalan kebenaran dengan liku-liku utama.
Sepekan kemudian seorang Dewi Suling yang lagi melesat keluar dari Kwan-im-bio itu.
Masih sama cantik jelitanya, masih seorang nona bernama Ma Ji Nio yang sepekan lalu roboh pingsan di depan kuil itu.
Akan tetapi dengan pandang mata yang jauh berbeda dengan pakaian yang bukan sutera tipis warna merah lagi melainkan pakaian berwarna putih, yang sederhana dan kasar.
Seorang wanita yang mempunyai satu tekad di hatinya, yakni memupuk kebaikan untuk menebus segala perbuatan dosanya yang lalu, seorang wanita yang tidak lagi mau menyentuh makanan berjiwa atau memabukkan, tidak lagi menjadi hamba nafsu karena ia bertekad untuk menundukkan nafsu-nafsunya.
Dan gemparlah lagi dunia kang-ouw dengan munculnya Dewi Suling yang merupakan kebalikan daripada Dewi Suling yang pernah ada.
Dewi Suling yang sekarang ini benar-benar merupakan seorang dewi penolong yang mempergunakan ilmu kepandaiannya untuk menolong mereka yang tertindas, menyelamatkan banyak nyawa yang terancam, penentang kejahatan dan memupuk kebaikan.
Yu Lee mendayung perahu perlahan, sebenarnya bukan mendayung karena perahu itu sudah berjalan sendiri hanyut bersama aliran sungai, melainkan mengemudi perahu dibantu dayungnya.
Malam itu terang bulan, amat indahnya dan ia menggantikan tukang perahu A-bouw yang tidur mendengkur di perahu.
Siok Lan tidak mau berhenti malam itu, maka terpaksa Yu Lee menggantikan tukang perahu yang sudah terlalu lelah dan mengantuk.
Siok Lan menghampirinya dan duduk di depannya memandang ke kanan kiri karena memang pemandangan di malam ini amatlah indahnya.
Tertimpa sinar bulan purnama yang amat terang keadaan di sepanjang tepi sungai merupakan pemandangan seperti dalam mimpi, diantara terang dan samar sehingga terbentuk bayang-bayang aneh dan cahaya kuning emas menyelimuti permukaan air.
"Nona, mengasolah, saya rasa besok pagi kita sudah akan sampai dekat dengan tempat penggalian terusan di sebelah utara pantai Huang-ho,"
Kata Yu Lee sambil menikmati keindahan luar biasa di depan matanya, bukan keindahan pemandangan di tepi pantai, melainkan keindahan rambut-rambut halus tertimpa sinar bulan yang kuning emas itu.
"Mana mungkin mengaso apalagi tidur di malam seindah ini?"
Siok Lan mencela membetulkan rambutnya yang agak mawut oleh angin semilir.
"Bulan purnama, pemandangan begini indah, menunggang perahu benar-benar amat menyenangkan. Jauh lebih senang dari pada melakukan perjalanan darat. Aku tidak tidur, A-liok, aku ingin mengajak kau bercakap-cakap."
Berdebar jantung Yu Lee.
Kadang-kadang sikap nona ini amat mesra, seolah-olah seperti bicara terhadap seorang teman baik, kalau nona ini telah bersikap demikian, hampir lupa dia bahwa dia adalah seorang "pelayan".
Sebab denyut jantungnya makin berdebar, ia mau menekannya dengan mengingatkan kedudukan mereka kepada nona itu, sekalian mau tahu isi hatinya.
"Ah, nona.......betapa janggalnya. Saya cuma seorang pelayan!"
"Siapa mau melarang aku bercakap-cakap dengan pelayanku?"
Nona itu melihat dengan mata menantang, agak marah. Akan tetapi ia segera tersenyum dan menyambung.
"Engkau kadang-kadang aneh sekali membuat aku mendongkol, A-liok. Apa sih perlunya engkau kadang-kadang merendah-rendah serta menekankan bahwa kau adalah pelayan? Justeru sebab kau sekarang menjadi pelayanku maka aku mau mengajak engkau bercakap-cakap!"
Yu Lee tidak berani melihat wajah itu, wajah yang sepenuhnya kini tersinar cahaya kuning emas bermandi cahaya keemasan membuat wajah itu bersinar indah hingga ia tak berani melihat langsung, tidak percaya kepada dirinya sendiri.
Sebagai gantinya ia melihat ke arah bulan sambil kadang-kadang saja melihat ke depan kalau-kalau arah perahunya menyeleweng.
"Bercakap-cakap soal apakah, nona?"
"Soal dirimu."
Kedua tangan Yu Lee yang tadi bergerak-gerak mendayung, berhenti sejenak, baru digerakkan pula setelah mulutnya berkata.
"Soal diriku? Ahhh, saya...... tidak ada sesuatu yang menarik, soal diri saya, seorang bekas pelayan......"
"Dimana orang tuamu, A-liok? "Sudah meninggal dunia, ikut terbasmi ketika Hek-siauw Kui-bo mengamuk...... enambelas tahun yang lalu......"
Terhenti suaranya sebab terasa tercekik lehernya dan tak bisa dicegah lagi air matanya menetes-netes ke atas kedua pipinya.
Yu Lee berusaha keras mencegah hal ini, tetapi tidak kuat sebab ia teringat akan peristiwa yang menimpa keluarganya dan seketika hatinya seperti diremas-remas.
Siok Lan melihat bengong, kemudian tertawa tetapi cepat-cepat menutupi mulutnya.
"Hi hi, lucunya......! Agaknya memang sekeluarga Si Dewa Pedang, sampai ke pelayan-pelayannya cengeng semua......!"
Barulah Yu Lee teringat dan cepat ia menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya.
"Ah, maaf nona. Sebab teringat bahwa ayah bundaku telah tiada serta saya hidup sebatangkara saya menjadi berduka......"
"Tidak apa, cuma lucu karena aku teringat akan majikanmu yang kini terkenal disebut Pendekar Cengeng! A-liok, ketika peristiwa itu terjadi, enambelas tahun yang lalu kau bilang?"
"Betul nona."
"Berapa sekarang usiamu, A-liok?"
Yu Lee berdebar lagi jantungnya.
Mengapa nona ini begini memperhatikan dirinya, sampai tanya tanya usia segala?
Tidak sepatutnya seorang nona majikan bersikap begitu terhadap pelayannya.
Ataukah......
mungkin nona ini tertarik kepadanya, seorang pelayan?
"Eh, ditanya malah melamun!"
Teguran ini mengingatkan Yu Lee, ia lalu menjawab dengan gagap.
"Duapuluh empat tahun usia saya, nona"
Ia merasa heran kenapa hatinya berdebar cepat.
Ia telah digembleng oleh suhunya serta memiliki ketabahan hati dan keberanian yang lengkap biasanya menghadapi apapun ia akan tetap tenang saja, bahkan menghadapi bahaya maut sekalipun ia tidak akan gentar dan tetap tenang.
Namun kini berhadapan dengan Liem Siok Lan, berdua di atas perahu di bawah sinar bulan purnama, lenyaplah ketenangannya seperti awan ditiup angin membuat ia berubah menjadi seorang yang penggugup.
"Hemm duapuluh empat tahun, ya? Kalau begitu engkau berusia delapan tahun ketika peristiwa pembunuhan hebat itu terjadi. Dan kau sedang pulang ke dusun ketika terjadi sehingga kau tidak menyaksikannya sendiri seperti yang kau katakan tempo hari?"
"Betul nona."
Yu Lee mencuri pandangan dan melihat betapa kini nona itu memandang bulan dengan mata setengah disipitkan.
Wah berbahaya, pikirnya.
Nona ini agaknya bukan orang bodoh!
Jangan-jangan rahasianya akan terbuka sebelum habis perjalanan ini dan ia ngeri memikirkan apa akan menjadi akibatnya dan apa yang akan dilakukan Siok Lan kalau ia tahu dialah Si Pendekar Cengeng.
"Si Pendekar Cengeng itu......."
Nah celakakah pikir Yu Lee dan kembali kedua tangannya berhenti mendayung, bahkan ia tidak tahu bahwa perahunya kini mencong arahnya ke pinggir.
"....... tua mana antara dia dengan engkau?"
Yu Lee menghela napas lega dan cepat-cepat ia menggerakkan dayung membetulkan arah perahu.
"Saya tidak begitu ingat lagi, nona""
Kalau tidak salah, kami hampir sebaya, sama...... kurang lebih begitulah."
"Siapa namanya?"
"Yu-kongcu? Namanya Lee."
Siok Lan kembali berdiam diri merenungi bulan dan Yu Lee mendapat kesempatan untuk sejenak bernapas lega.
Percakapan yang diarahkan gadis itu benar-benar menimbulkan gelisah hatinya, akan tetapi juga ia menjadi agak kecewa karena kini ia maklum bahwa kalau tadi gadis ini bertanya-tanya tentang dirinya, sesungguhnya bukan dia yang menjadi perhatian melainkan Pendekar Cengeng!
Ia mengerling dan melihat gadis itu masih merenungi bulan.
Alangkah cantiknya.
Kalah cemerlang bulan purnama dengan wajah gadis ini!
Pantasnya, bulan begitu cemerlang karena adanya wajah gadis inilah!
Karena wajah itu berdongak, mulutnya terbuka dan tampaklah deretan gigi yang kecil-kecil dan putih seperti mutiara.
Ujung lidah yang kecil merah mengintai di antara gigi.
Alis yang kecil panjang hitam itu agak bergerak-gerak, tanda bahwa di dalam kepala yang bagus ini otaknya sedang bekerja.
Mau rasanya Yu Lee memberikan seluruhnya miliknya di saat itu kalau saja ia dapat menjenguk dan melihat apa yang sedang dipikirkan gadis itu!
"A-liok, dia itu kalau dibandingkan dengan engkau......"
"Dia siapa nona?"
Yu Lee berpura-pura bertanya.
"Dia yang bernama Yu Lee itu, kalau dibandingkan dengan engkau misalnya...... siapa lebih tinggi? Bagaimanakah rupanya? Apakah dia...... ah, tampan......? Dan apakah benar-benar dia lihai?"
Anehnya, dalam bertanya kali ini Siok Lan tidak berani menoleh dan memandang pelayannya, bahkan kedua pipinya tampak kemerahan karena jengah dan malu-malu!
"Ah, Yu-kongcu itu biasa saja, nona.
Orangnya sederhana saja dan tentang kelihaian, saya rasa tidak akan menang dari nona.
Saya tidak tahu apakah dia tampan, akan tetapi......
saya rasa biasa malah lebih pantas dikatakan bermuka buruk, agak bopeng, kulitnya hitam, tubuh......
eh, agak tinggi juga tapi agak bongkok!"
Kacau balau keterangan Yu Lee, dan terjadi sesuatu yang aneh dalam hatinya.
Setelah kini Siok Lan mencurahkan perhatiannya kepada Pendekar Cengeng, bertanya-tanya tentang diri Yu Lee, tentang ketampanannya eh......
hatinya mendadak menjadi cemburu!
Karena biarpun yang dibicarakan adalah dirinya sendiri, namun pada saat itu Yu Lee adalah seorang lain!
Girang hatinya melihat betapa kini Siok Lan menoleh kepadanya dan alis nona itu berkerut-kerut pandangan matanya jelas membayangkan kekecewaan.
Agaknya nona itu tanpa disadarinya mengulang kata-katanya setengah berbisik.
"Buruk......? Bopeng, hitam dan bongkok......"
Melihat Yu Lee mengangguk membenarkan, nona itu menghela napas panjang, lalu termenung lagi memandang bulan.
Yu Lee melirik dan tersenyum lagi.
Nona itu benar-benar kecewa sekarang, agaknya kesal dan tidak senang hatinya.
Keadaannya menjadi sunyi sekali, malam telah larut dan yang terdengar hanya suara keras dari ujung perahu, suara dengkur si tukang perahu yang tidur pulas saking lelahnya.
"Menjemukan benar!"
Tiba-tiba Siok Lan berkata dengan nada marah. Yu Lee melihat terkejut.
"Apa....... nona? Apa yang menjemukan?"
"Coba dengar suara dengkurnya...... dengar itu! Seperti babi disembelih!"
Yu Lee merapatkan bibirnya menahan ketawa.
Ia tahu nona ini sedang jengkel, sungguhpun ia tidak mengerti mengapa mendengar kejelekan Pendekar Cengeng menjadi jengkel, akan tetapi ia tidak berani menambah kemarahannya dengan ketawa.
Setelah termenung lagi sampai lama, Siok Lan menutup mulut dengan jari-jari tangan kiri dan ia menguap.
Yu Lee merasa heran bukan main bagaimana orang menguap bisa kelihatan begitu manis!
Pemuda yang masih hijau dalam soal asmara ini tidak tahu bahwa kalau orang sedang dilanda asmara, segala macam gerak gerik "si dia"
Tentu selalu kelihatan menarik.
"Kalau nona merasa lelah, harap mengaso."
"Aku mau tiduran......"
Kata Siok Lan setelah mengangguk, lalu bangkit berdiri dan melangkah ke arah bilik perahu di tengah, di mana terdapat sebuah gubuk kecil buat tempat berteduh di waktu panas atau hujan.
Akan tetapi baru beberapa langkah, nona itu telah memhalikkan tubuh pula lalu bertanya.
"Eh, A-liok......! Yu Lee itu dibandingkan dengan engkau, siapa lebih...... buruk?"
Diserang oleh pertanyaan yang tiba-tiba seperti ini serta sama sekali di luar dugaannya. Yu Lee menjadi bingung lalu menjawab gugup.
"Ah...... nona, mana mungkin saya disamakan Yu-kongcu? Tentu saya lebih buruk, jauh lebih buruk!"
Aneh sekali, di bawah sinar bulan purnama jelas tampak oleh Yu Lee betapa muka cantik yang tadinya muram kecewa itu kini berseri, tersenyum lebar dan sorot matanya bersinar-sinar.
Suaranya juga terdengar riang ketika nona itu berkata.
"Terima kasih, A-liok......! Aku makin ingin bertemu dengan Pendekar Cengeng yang buruk rupa seperti setan itu!"
Setelah berkata demikian lalu Siok Lan memasuki ruang gubuk di tengah perahu dan merebahkan diri terus tidak bergerak atau berkata-kata lagi.
Tinggal Yu Lee seorang diri, yang tiba-tiba merasa sunyi, ia termenung memikirkan ucapan dan sikap terakhir dari gadis itu.
Yu Lee terus mengemudikan perahu sambil termenung.
Tak habis heran ia terhadap dirinya sendiri.
Kenapa ia kini bermain api yang amat berbahaya?
Kenapa ia mempermainkan seorang dara yang belum dikenalnya, membohonginya serta membiarkan gadis itu mencari Pendekar Cengeng ke kota raja padahal pendekar yang dimaksudkan itu adalah dia sendiri?
Kenapa dia tidak berterus terang saja mengaku dan menanyakan apa yang dikehendaki gadis itu?
Ah, kesadarannya memang mendesaknya berbuat begitu, tetapi hatinya tidak mengijinkan.
Ia merasa ngeri kalau membayangkan betapa gadis itu menantangnya, memusuhinya, dan......
akan meninggalkannya.
Makin malam, makin dalam gemericik seolah-olah berbisik kepadanya.
"Kau gila...... kau gila......."
Waktu menjelang pagi, ketika tiba-tiba perahu itu berhenti di tengah-tengah sungai, Yu Lee terkejut, ia menengok ke kanan kiri sungai itu yang penuh rumput alang-alang, kemudian ia melihat bahwa yang menahan perahunya adalah sebuah tambang yang dipasang melintangi sungai.
Kemudian ia melihat bahwa di balik alang-alang di kanan kiri sungai tampak banyak sekali perahu-perahu kecil hitam!
"Eh, mengapa berhenti......
Ada......
ada apakah......?"
Yang berseru ini adalah A-bouw si tukang perahu.
Biarpun sedang tidur pulas, sebagai seorang tukang perahu yang ulung, begitu perahunya berhenti meluncur, ia terbangun dan seketika ia menduga hal yang tidak baik.
Apa lagi setelah ia menengok ke arah rumput alang-alang tubuhnya menggigil dan ia cepat mengambil dayung dari tangan Yu Lee seraya berbisik.
"Harap segera bangunkan lihiap (nona pendekar)! Ada bajak......!"
Pada saat itu dari tepi sungai meluncur sebuah perahu hitam yang amat cepat dan tampaklah tiga orang di atas perahu itu, yang seorang memegang obor, yang kedua mendayung serta yang ketiga berdiri di kepala perahu, yaitu seorang laki-laki tinggi besar dan sebatang golok besar tergantung di pinggangnya.
Setelah perahu ini dekat, laki-laki tinggi besar itu memegangi tambang dan perahu terhenti, itu saja sudah membuktikan bahwa laki-laki itu mempunyai tenaga yang kuat.
"Huang-ho Sam-liong mengundang Sian-li Eng-cu untuk datang berkunjung!"
Suara laki-laki tinggi besar itu parau namun keras sekali.
Yu Lee dapat menduga bahwa yang berjuluk Huang-ho Sam-liong (Tiga Naga dari Huang-ho) tentulah kepala bajak.
Selagi ia hendak bersikap pura-pura gugup dan memanggil Siok Lan tampak berkelebat bayangan nona itu yang tahu-tahu telah berdiri di sisinya dan nona itu menghadapi perahu bajak sambil membentak nyaring.
"Akulah Sian-li Eng-cu dan selamanya aku tidak bergaul dengan bangsa perampok dan bajak sungai! Apakah kehendak kalian menahan perahuku di tengah sungai?"
Laki-laki tinggi besar itu membungkuk sedikit tanpa melepaskan tambang, lalu ia berkata.
"Ketiga orang Tai-ong kami telah mendengar nama besar Sian-li Eng-cu yang diketahui akan lewat di sini. Oleh karena hari ini ketiga orang Tai-ong kami sedang menjamu beberapa orang gagah, maka apabila benar-benar Sian-li Eng-cu adalah searang wanita gagah seperti yang dikabarkan orang, maka tiga Tai-ong kami mengundang dan menantang Sian-li Eng-cu untuk mengunjungi markasnya di lembah sungai kalau memang memiliki keberanian!"
Kata-kata itu biarpun nadanya menghormati namun mengandung tantangan yang hebat dan sekaligus mengandung tekanan bahwa kalau Sian-li Eng-cu tidak menerima undangan berarti dia takut dan tidak memiliki keberanian.
Undangan macam ini tentu saja sukar ditolak tanpa menimbulkan kesan bahwa yang di undang takut.
Akan tetapi Yu Lee yang tidak ingin melihat nona itu terlihat dalam kesukaran sudah cepat menjawab.
"Eh, twako yang baik. Nona majikanku adalah seorang wanita yang sedang melakukan perjalanan jauh, bagaimana mungkin memenuhi undangan ketua-ketuamu? Harap kau maafkan kami dan beri kesempatan perahu kami lewat. Biarlah lain kali saja nonaku memenuhi......"
"Baik! Kuterima undangan Huang-ho Sam-liong! Jangan kira bahwa Sian-li Eng-cu takut akan sarang tiga ekor naga Huang-ho! Eh tukang perahu hayo dayung ke pinggir!"
Bentak Siok Lan tanpa memperdulikan ucapan Yu Lee tadi.
Yu Lee diam-diam menghela napas panjang.
Dia benar-benar telah melakukan sebuah kesalahan besar membohongi nona ini dan membiarkan dirinya terlibat dalam akibat-akibat dari pada watak gadis yang ugal-ugalan dan tidak pernah mau kalah ini!
Apa boleh buat, pikirnya, ia harus menanggung akibat daripada kebohongannya dan kelemahan hatinya sendiri!
Begitu perahu itu didayung ke pinggir, muncullah beberapa buah perahu kecil dari kanan kiri dan diam-diam Yu Lee harus mengakui bahwa kalau tadi Siok Lan nekad tidak menerima undangan, tentu pelayaran mereka akan mengalami banyak gangguan yang berat.
Siok Lan yang berdiri di kepala perahunya begitu perahu sudah mendekati daratan lalu menggunakan ginkang, melompat ke tepi dengan gerakan yang lincah dan ringan sekali.
Terdengar seruan-seruan kagum dari mulut para bajak dan inilah memang yang dikehendaki Siok Lan mendemonstrasikan kepandaian agar membikin kuncup hati orang kasar itu.
"Eh, nona......., harap tunggu saya......"
Yu Lee berkata gugup dan ikut meloncat, akan tetapi loncatannya cupat dan tercebur ke pinggir sungai.
Para bajak tertawa dan Siok Lan sangat mendongkol sekali, cepat menghampiri Yu Lee yang gelagapan menyambar tangannya dan menariknya ke atas.
Yu Lee berdiri dengan pakaian basah kuyup dan menggigil kedinginan!
Tentu saja diam-diam ia mengerahkan sinkang untuk melawan hawa dingin dan hanya pura-pura melakukan hal ini agar dapat mengelabui mata para bajak!
A-bouw biarpun seorang tukang perahu berpengalaman namun kini berhadapan dengan para bajak sungai, apa lagi tadi mendengar disebutnya nama Huang-ho Sam-liong, ini mati kutunya dan iapun bergegas minggirkan perahu.
Melompat turun, mengikat tali perahu dan berkata dengan muka pucat kepada Siok Lan.
"Lihiap. Harap lindungi nyawa hamba yang tak berharga......."
"Jangan takut, kau ikut bersama kami,"
Kata Siok Lan karena nona ini tidak ingin melihat tukang perahu diganggu bajak kalau ditinggalkan sendiri.
Kemudian ia berkata kepada pimpinan bajak yang tinggi besar dan yang kini sudah mendarat, seorang laki-laki setengah tua yang bercambang bauk sehingga muka sebagian bawah tidak tampak tertutup rambut kasar.
"Hayo lekas bikin api unggun lebih dulu untuk pelayanku berdiang! Baru kita akan lanjutkan perjalanan mengunjungi ketuamu!"
Suara Siok Lan berwibawa dan pimpinan bajak ini yang agaknya sudah menerima pesan dari ketuanya untuk bersikap lunak terhadap Sian-li Eng-cu, tidak menolak.
Lalu memberi aba-aba dan beberapa orang bajak sungai segera membuat api unggun, Yu Lee menggunakan kesempatan itu untuk mengeringkan pakaian dan menghangatkan badan.
"Harap nona suka mandi-mandi dulu atau bertukar pakaian biar saya memasak air. Eh, Bouw-lopek, tolong ambilkan tempat air untuk nona bercuci muka!"
Siok Lan mengangguk, kemudian berkata lagi kepada para bajak.
"Kalian menantilah di sana, agak jauh. Setelah siap baru aku akan memanggil kalian!"
Pemimpin bajak mengerutkan alisnya yang tebal akan tetapi melihat sikap gadis yang tidak suka dibantah, ia hanya mengangkat pundak dan berkata.
"Harap lihiap tidak berlama-lama karena aku yang akan mendapat marah."
"Perduli apa? hayo pergi dulu!"
Siok Lan membentak dan pimpinan bajak itu mengajak anak buahnya menjauh. Setelah mereka menjauhi Yu Lee berkata pura-pura takut.
"Nona apakah tidak lebih baik kita lari saja selagi mereka menjauh?"
"Apa? Kau takut?"
"Siapa yang tidak takut? Akan tetapi saya tidak mengkhawatirkan diri saya sendiri. Bajak-bajak itu mau apa terhadap seorang pelayan miskin seperti saya ini. Akan tetapi nona ini......"
"Sudahlah, cerewet benar kau. Aku tidak takut! Lekas panaskan air, yang banyak aku ingin mandi!"
Sibuklah Yu Lee dan A-bouw memasak air dan terdengar oleh Yu Lee tukang perahu itu mengomel perlahan.
Diam-diam ia merasa geli.
Memang keterlaluan sekali Siok Lan.
Dihadang bajak begitu banyak, malah enak-enak mandi air hangat dan menyuruh para bajak menunggu!
Memang Siok Lan sama sekali tidak tampak takut.
Nona ini mandi di dalam bilik perahu sambil bersenandung dan kembali Yu Lee tertegun mendapat kenyataan betapa merdu dan indah suara nona itu.
Agaknya nona itu pun pandai bernyanyi merdu di samping kegalakannya.
Tak lama kemudian, nona itu sudah muncul keluar dari dalam perahu dengan pakaian yang bersih, rambut tersisir rapi dan wajah segar kemerahan tertimpa cahaya matahari pagi yang mulai muncul.
Bengong Yu Lee memandang, seperti melihat Dewi Fajar sendiri!
Ia tadipun mempergunakan kesempatan itu untuk mandi di sungai dan berganti pakaian yang kering dan bersih, sekalian mencuci pakaiannya.
A-bouw makin banyak mengomel melihat ini.
Dia sendiri sama sekali tidak ada nafsu uatuk bertukar pakaian, apa lagi mandi-mandi segala!
Dengan langkah tegap gagah Siok Lan bersama Yu Lee dan A-bouw berjalan bersama rombongan bajak menuju ke markas Huang-ho Sam-liong.
Kiranya markas itu tidak begitu dekat dengan sungai, berada di lembah yang tertutup hutan lebat.
Di tengah hutan itulah terdapat bangunan-bangunan yang menjadi perkampungan bajak sungai yang dipimpin oleh Tiga Naga dari Huang-ho ini.
Ketika rombongan ini memasuki perkampungan bajak, kiranya di sini sedang diadakan perayaan dan pertemuan penting.
Tiga orang kepala bajak sedang menerima tamu dan penghormatan belasan orang tamunya yang terdiri dari orang-orang gagah, dan yang sejak kemarin telah berada di sini dan pagi ini telah berkumpul di ruangan besar yang berada di tengah kampung bajak, mengelilingi beberapa buah meja besar yang penuh hidangan dan minuman.
Amat sedap dan lezat baunya, mengepulkan uap yang menyambut hidung Yu Lee dan membuat perut pemuda ini berkeruyuk karena lapar.
Belasan orang tamu ikut bangkit berdiri ketika pihak tuan rumah bangkit dan melangkah keluar menyambut kedatangan Siok Lan.
Gadis ini memandang tajam dan melihat bahwa yang menyambutnya adalah tiga orang laki-laki berusia limapuluhan tahun yang bertubuh kurus-kurus namun jelas memiliki gerakan gesit dan bertenaga.
Ia dapat menduga bahwa tentulah mereka ini yang disebut Huang-ho Sam-liong, maka ketika mereka mengangkat kedua tangan ke dada, ia pun membalas seperlunya.
Orang yang tertua, yang putih kedua alisnya, berkata.
"Kami Huang-ho Sam-liong, baru-baru ini mendengar dari sahabat-sahabat Ang-kin Kai-pang tentang munculnya seorang pendekar wanita muda yang berjuluk Sian-li Eng-cu. Hari ini kebetulan Sian-li Eng-cu lewat, kami merasa girang sekali dapat menyambut dan memperkenalkan nona kepada sahabat-sahabat kami yang terdiri dari pada orang-orang gagah yang berjiwa besar!"
Setelah meneliti keadaan tiga orang tuan rumah, Siok Lan mengerling kearah para tamu.
Belasan orang tamu itu terdiri dan bermacam-macam orang, bahkan di sana terdapat beberapa orang wanita cantik yang bersikap gagah.
Namun karena tuan rumahnya adalah kepala bajak, iapun menilai mereka sebagai golongan kaum hitam di dunia kang-ouw dan memandang rendah, iapun menjawab dengan suara kering.
"Beberapa orang Ang-kin Kai-pang karena mengemis secara paksa sebagai perampok, terpaksa telah bentrok dengan aku. Tidak tahu apakah maksud Sam-wi (tuan bertiga) mengundangku ke sini? Apakah hendak membalaskan kekalahan beberapa orang pengemis kasar itu?"
Siok Lan memang tidak suka bicara berbelit-belit, sikapnya polos sungguhpun sewaktu-waktu ia bisa bersikap amat nakal menggoda siapa saja. Orang ketiga dari Huang-h"
Sam-liong yang tubuhnya paling jangkung, mukanya pucat dan matanya genit, tertawa.
"Ha, ha, ha, Sian-li Eng-cu terlalu curiga! Tentu saja kami tidak mencampuri urusan nona dengan sahabat-sahabat kai-pang. Hanya karena nona seorang dara remaja yang amat cantik jelita sehingga patut diberi julukan Dewi, juga nama nona sebagai seorang ahli pedang cucu dan murid Thian-te Sin-kiam amat terkenal, maka setelah lewat di sini, bagaimana kami dapat lewatkan begitu saja tanpa mengundang dan minta sedikit petunjuk untuk menambah pengetahuan? Nona silakan duduk! Dan kau pelayan dan tukang perahu, pergilah ke belakang dimana kalian akan dapat makan minum sepuasnya sampai kenyang!"
Sambung si muka tikus ini kepada Yu Lee dan A-bouw.
"Nanti dulu!"
Seru Siok Lan, matanya sudah memancarkan sinar kemarahan.
"Pelayanku dan tukang perahuku adalah aku yang membawa mereka dan aku pula yang bertanggung jawab atas keadaan mereka, maka kalau kalian mengundang aku, pelayan dan tukang perahu harus diajak pula duduk bersamaku."
Terdengar suara berisik karena semua tamu serta para bajak merasa heran mendengar ini.
Mana ada seorang nona majikan mengajak pelayan dan tukang perahunya duduk makan semeja?
Benar-benar seorang nona majikan yang aneh.
Akan tetapi melihat pelayan yang muda dan tampan sekali itu, mulailah beberapa diantara mereka tersenyum-senyum maklum dan mereka menduga bahwa tentu Sian-li Eng-cu ini tidak banyak bedanya dengan Cui-siauw Sian-li Si Dewi Suling yang selain lihai juga mempunyai kesukaan pengeram pria!
"Boleh, boleh, silakan......
silakan......!"
Kata orang tertua Huang-ho Sam-liong sambil mempersilakan mereka bertiga masuk.
Yu Lee sengaja masuk dan berjalan ke belakang Siok Lan dengan sikap seorang dusun memasuki gedung besar, ragu-ragu, takut-takut, malu-malu.
Adapun si tukang perahu berjalan paling belakang, mukanya kelihatan sangat pucat dan berjalan menunduk.
Tak berani dia mengangkat muka, takut kalau kalau para bajak itu akan mengenal dan mengingat mukanya sehingga dikemudian hari kalau ia melakukan pelayaran seorang diri, ia akan dikenal dan diganggu.
Yu Lee menarik napas lega ketika mendapat kenyataan bahwa tak seorangpun diantara para tokoh kang-ouw yang hadir di tempat itu ada yang mengenalnya, seperti yang tadi ia khawatirkan ketika melihat banyak orang kang-ouw menjadi tamu Huang-ho Sam-liong.
Memang sesungguhnya biarpun ia telah membikin nama besar dalam tahun ini dan mengguncang dunia kang-ouw, namun ia selalu menyembunyikan diri dan tidak pernah menonjolkan diri sehingga dunia kang-ouw hanya mengenal namanya saja namun jarang ada orang yang pernah melihatnya.
Ia selalu melakukan tugasnya sebagai seorang pendekar secara bersembunyi dan saking cepatnya gerakannya, baik mereka yang ditolongnya maupun mereka yang dihajarnya tidak sempat mengenal mukanya.
Inilah sebabnya ia tidak merasa khawatir menyamar sebagai pelayan Sian-li Eng-cu.
Siok Lan memilih tempat duduk menghadapi sebuah meja yang tidak berapa besar, cukup untuk enam orang saja.
Ketika ia dan dua orang pelayan duduk, terdengar suara.
"Biarlah kami yang menemani Sian-li Eng-cu duduk!"
Suara ini adalah suara seorang laki-laki muda yang berpakaian serba biru.
Pemuda ini tidak menanti jawaban, langsung berdiri bersama seorang wanita cantik berusia tigapuluh tahun lalu menghampiri meja Siok Lan dan keduanya memberi hormat yang dibalas oleh gadis itu dengan sederhana.
Mereka duduk dan pemuda berusia antara tigapuluh tahun itu berkata.
"Maaf kalau kami mengganggu nona, akan tetapi karena kami tertarik mendengar bahwa nona adalah cucu Thian-te Sin-kiam, maka kami memberanikan diri untuk berkenalan. Kami berdua adalah murid-murid Gwat Kong Tosu."
Berseri wajah Siok Lan dan ia cepat berkata.
"Ah, Gwan Kong Tosu ketua Kim-hong-pai? Pernah aku bertemu dengan Gwat Kong Totiang ketika dia berkunjung kepada kakek dan ayah! Guru ji-wi itu adalah sahabat baik kong-kong (kakek). Aku girang dapat berkenalan dengan ji-wi!"
"Saya bernama Pui Tiong dan ini adalah suci (kakak seperguruan) Can Bwee,"
Pemuda baju biru itu memperkenalkan diri dengan ramah. Sucinya dengan mengangguk dan tersenyum, agaknya wanita cantik ini memang seorang yang pendiam dan tidak pandai bicara.
"Namaku Siok Lan. Liem Siok Lan dan dia ini pelayanku A-liok, dan tukang perahu ini A-bouw lopeh."
Siok Lan memperkenalkan kedua orang pelayannya.
Dua orang murid Kim-hong-pai itu berdiri dan juga memberi hormat kepada A-liok dan A-bouw yang dibalas cepat-cepat oleh kedua orang ini.
Beberapa orang tertawa menyaksikan ini.
Sungguh lucu kalau dua orang pendekar yang terkenal diperkenalkan dengan seorang pelayan dan seorang tukang perahu miskin!
Akan tetapi, sikap kedua orang murid Gwat Kong Tosu ini benar-benar wajar dan mereka menghormat dua orang yang dianggap rendah itu secara semestinya.
Juga diam-diam Yu Lee menjadi kagum karena dari sikap itu saja dapat diketahui bahwa dua orang ini benar-benar memiliki jiwa yang gagah.
Kini Can Bwee, wanita cantik berusia tigapuluh tahun yang jarang bicara itu berbisik.
"Adik, harap hati-hati, tiga orang itu tidak boleh dipandang ringan."
Biarpun ucapan ini hanya berbisik dan singkat namun jelas mengandung kekhawatiran akan keadaan Siok Lan, maka gadis ini tersenyum manis dan mengangguk sambil berkata.
"Cici yang manis, terima kasih, atas peringatanmu. Aku dapat menjaga diri. Ji-wi (anda berdua) sendiri, bagaimana bisa menjadi tamu di sini?"
Pui Tiong berkata perlahan.
"Betapapun juga, mereka ini semua adalah pejuang-pejuang yang membela rakyat dan menentang pemerintah penjajah......"
Sampai disini pemuda baju biru ini menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, Huang-ho Sam-liong bertepuk tangan memberi isyarat supaya semua orang memperhatikan mereka dan orang tertua dari Huang-ho Sam-liong berkata dengan suara lantang.
"Cuwi sekalian, para orang gagah patriot sejati yang hadir di sini tentu sudah maklum semua bahwa Ang-kin Kai-pang adalah perkumpulan besar yang menjadi sekutu dan kawan seperjuangan kita. Hari ini sampai tidak ada wakil dari Ang-kin Kai-pang, tiada lain karena Ang-kin Kai-pang baru saja menderita pukulan besar karena beberapa orang tokohnya di antaranya saudara Ang Ci dan Ang Sun, telah menderita kekalahan dalam bentrokan melawan Sian-li Eng-cu. Kita akan menjadi hakim untuk mengadili siapa salah siapa benar dalam bentrokan ini, apalagi kalau diingat bahwa Sian-li Eng-cu adalah cucu Thian-te Sin-kiam yang sudah kita kenal sebagai seorang pejuang yang gigih. Karena itu, selanjutnya kita serahkan kepada sikap dan sepak terjang Sian-li Eng-cu sendiri, apakah dia benar-benar seorang pendekar wanita yang patut meujadi kawan ataukah seorang pengacau yang harus (Lanjut ke
Jilid 12) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12 dilawan.
Sementara itu karena dia telah menjadi tamu, biarlah dia menyaksikan bahwa kita orang-orang pejuang bukanlah golongan yang mudah dipermainkan dan diperhina oleh semua orang.
Pertama biarlah kami sebagai tuan rumah memberi hormat kepada Sian-li Eng-cu dengan secawan arak!"
Setelah berkata demikian, dengan tangan kirinya ia memberi isyarat kepada dua orang adiknya untuk minggir sedangkan tangan kanannya menyambar sebuah cawan berisi arak.
Orang tertua dari Huang-ho Sam-liong ini bernama Ie Cu Lin usianya sudah limapuluh tahun lebih dan ia terkenal sebagai seorang ahli lweekeh.
Semua tamu yang berada disitu adalah orang-orang rimba persilatan belaka maka penyambutan tuan rumah terhadap seorang tamu dengan jalan menguji ilmu itu bukankah hal yang aneh, apalagi kalau diingat bahwa tamu yang baru tiba ini telah melakukan pelanggaran, yaitu telah bentrok dan mengalahkan tokoh-tokoh Ang-kin Kai-pang.
"Dua orang saudara muda dari Kim-hong-pai, apakah tidak suka mundur dulu agar aku dapat menyambut dengan sebaik-baiknya kepada Sian-li Eng-cu?"
Ucapan Ie Cu Lin ini ditujukan kepada Pui Tong dan Can Bwee, dan merupakan pertanyaan yang mengandung teguran.
Memang, sikap dua orang kakak berdik seperguruan dari Kim-hong-pai yang amat ramah terhadap Sian-li Eng-cu tadi sedikitnya membuat hati Huang-ho Sam-liong menjadi tidak senang.
Sudah jelas bahwa tamu ini belum dapat dikatakan seorang sahabat, mengapa dua orang muda itu memperlihatkan keramahan?
"Maafkan kami,"
Kata Pui Tiong yang lalu bangkit bersama Can Bwe dan meninggalkan meja Siok Lan.
Ucapan maaf ini tidak di tujukan pada orang tertentu sehingga dapat diartikan terhadap Siok Lan maupun terhadap tuan rumah.
Siok Lan maklum bahwa suasana menjadi tegang dan bahwa pihak tuan rumah sudah mulai hendak beraksi!
Ia melirik ke arah Yu Lee dan A-bouw, berkata perlahan.
"Kalian tenang saja!"
Kemudian ia bangkit berdiri, menghadap ke arah Ie Cu Lin dan berkata, suaranya lantang dan mulutnya tersenyum manis.
"Aku sudah mendengar bahwa undangan paksaan dari Huang-ho Sam-liong tentulah mengandung maksud hati yang tidak baik. Betapapun juga, aku telah menerima undangan, dan aku siap menghadapi segala suguhanmu!"
Ie Cu Lin tersenyum dingin, lalu melangkah maju, ia menuangkan arak dari guci ke dalam cawan sambil berkata.
"Saya Ie Cu Lin orang tertua Huang-ho Sam-liong menyambut Sian-li Eng-cu dengan secawan arak kehormatan!"
Ia menuang terus sampai cawan menjadi penuh dan baru berhenti menuang arak ketika arak sudah memenuhi cawan dengan permukaan lebih tinggi daripada bibir cawan.
Namun arak itu tidak meluber dan tidak tertumpah setetespun!
Sungguh amat mengagumkan bahwa arak yang lebih banyak dari pada cawan itu dapat tinggal tetap dalam cawan seolah-olah membeku dan permukaannya sampai membulat di atas cawan.
Inilah demonstrasi tenaga sinkang yang menyedot arak melalui cawan sehingga arak itu lekat dan tidak tumpah.
Dengan perbuatan ini Ie Cu Lin bermaksud membikin malu tamunya, karena kalau cawan itu diterima tamunya dan araknya meluber tumpah hal ini tentu saja akan membikin malu kepada tamunya.
Akan tetapi Siok Lan agaknya tidak perduli akan hal ini.
Dengan wajah berseri ia berkata.
"Menyembunyikan niat buruk atau tidak, sebuah penghormatan tidak boleh ditolak!"
Gadis ini mengangsurkan lengannya dengan tangan kanan menerima cawan itu.
Ia tidak kelihatan mengerahkan tenaga, namun ketika cawan tiba di tangannya, arak itu sedikitpun tidak bergerak, apalagi meluber!
Semua tamu yang menonton dengan napas ditahan, kini menjadi kagum.
Tidak mereka sangka bahwa seorang nona yang begini muda sudah memiliki kekuatan sinkang yang demikian hebatnya.
Siok Lan mengangkat cawan itu dan terus mengangkat sampai di atas mulut, lalu menuangkannya akan tetapi ......
arak itu tetap tidak mau turun!
Biarpun kini cawan sudah ia balikkan, isinya tidak tumpah sama sekali.
Dan terdengar suara tepuk tangan dan ketika semua tamu memandang, yang bertepuk tangan itu adalah Yu Lee yang diikuti oleh A-bouw.
"Lihat, nona bermain sulap. Apa tidak hebat?"
Kata Yu Lee.
Pui Tiong tertawa, Can Bwee tersenyum, bahkan dua orahg murid Kim-hong-pai ini lalu ikut bertepuk tangan pula.
Tamu-tamu lainnya yang merasa kagum baru berani ikut-ikutan bertepuk tangan.
Siok Lan menurunkan lagi cawan arak dan berkata.
"Ah, siauwmoi (adik) tidak bisa minum arak keras, dan agaknya arakmu ini terlalu keras lo-enghiong. Sampai sampai arakmu tidak berani memasuki mulutku, maafkan!"
Ia meletakkan cawan di atas meja dan ketika ia melepaskan tangan, arak itu melebar dan tertumpah di atas meja.
"Biarlah pelayanku saja yang mewakili aku minum arak kehormatan!"
Yu Lee lalu menyambar cawan dan mengangkatnya, akan tetapi A-bouw berseru.
"A-liok, bagi aku setengahnya dong! Aku belum pernah selama hidupku minum arak kehormatan."
Yu Lee tersenyum dan menuangkan setengah cawan arak itu ke dalam mangkok di depan A-bouw, keduanya tertawa lalu minum arak masing-masing setelah mengangkat cawan dan mangkok ke arah Siok Lan dan Ie Cu Lin sebagai tanda penghormatan.
Semua tamu tertawa dan muka Ie Cu Lin berubah merah seperti udang yang direbus.
Arak penghormatan yang tadinya ia maksudkan untuk membikin malu Siok Lan, kiranya malah diminum oleh seorang pelayan dan seorang tukang perahu sehingga berarti bahwa dia telah memberi penghormatan kepada dua orang rendah itu.
Akan tetapi sebagai tuan rumah yang harus menghormati tamu, diantara begitu banyak orang gagah, pula karena dia sebagai seorang tua yang sudah banyak pengalaman dapat menahan kemarahan ia tersenyum dan berkata.
"Sian-li Eng-cu benar-benar lihai!"
Kemudian ia mundur ke tempat duduknya sendiri.
Si jangkung Ie Kiok Soe, orang kedua dari Huang-ho Sam-liong yang sejak tadi menyaksikan sepak terjang kakaknya dengan kurang sabar, kini sudah bangkit dan menghampiri Siok Lan yang sudah duduk kembali menghadapi mejanya bersama dua orang pelayannya dan kedua orang murid Kim-hong-pai yang kembali sudah menemaninya.
Si muka tikus yang jangkung ini cengar cengir dan kembali para tamu menjadi tegang karena maklum bahwa orang kedua dari pihak tuan rumah hendak melanjutkan menguji kepandaian nona yang masih muda remaja namun amat lihai itu.
"Wah, benar-benar Sian-li Eng-cu tidak bernama kosong, memang seperti bayangan seorang dewi yang cantik jelita. Maafkan, nona. Kakakku tadi salah tafsir. Tentu saja seorang muda seperti kau tidak biasa minum arak keras yang hanya menjadi minuman orang-orang kasar seperti kami. Akan tetapi kurasa nona tidak akan menolak, kalau aku Ie Kiok Soe, sebagai tuan rumah kedua, menyambut kunjungan nona dengan suguhan sepotong daging."
Cepat sekali tangannya bergerak dan tahu-tahu ia sudah menggerakkan sebuah garpu bergigi dua yang runcing yang tadi dibawa dari mejanya, langsung ia menusukkan garpu perak ini ke dalam tempat sayur di atas meja depan Siok Lan.
Ketika ia mengangkat tangannya, garpu itu sudah menusuk sepotong daging kecil.
Dengan garpu di tangan ia menghampiri Siok Lan yang masih duduk dengan tenang, sedangkan Yu Lee memandang penuh kekhawatiran.
Di dalam hatinya, ia mencaci maki si jangkung ini yang hendak menggunakan kebiasaan, kaum kasar untuk menguji kepandaian orang, yaitu dengan jalan menyuguhkan makanan di ujung pisau atau garpu bahkan adakalanya di ujung pedang!
Bagi seorang yang sudah mempelajari cara mempergunakan kegesitan menghadapi serangan senjata gelap penyuguhan macam ini memang tidaklah membahayakan.
Sambaran sebatang piauw saja dapat diterima dengan mulut, apalagi hanya tusukan pisau atau garpu.
Yang mengerikan kalau si penyuguh mempunyai niat membunuh, karena garpu di tangan tentu saja berbeda dengan menyambarnya piauw, karena si penusuk dapat mengerahkan tenaga dan dapat mengubah arah sesuka hatinya.
Ada tiga jalan untuk menghadapi penyuguhan seperti ini.
Pertama begitu saja mengelak membebaskan diri dan habis perkara.
Kedua, dapat menangkis dengan tangan.
Ketiga dan ini yang diharapkan oleh semua orang akan tetapi juga paling berbahaya menerimanya dengan mulut!
Sejenak mereka berpandangan Ie Kiok Soe yang berdiri dengan garpu di tangan dan Siok Lan yang duduk dan tersenyum simpul.
Kemudian nona itu berkata, suaranya menantang.
"Silakan!"
Baru saja si nona mengeluarkan kata-kata ini, garpu itu sudah menyambar ke depan, tepat ke arah mulut Siok Lan yang kecil mungil.
Semua tamu menahan napas dan seluruh urat saraf di tubuh Yu Lee menegang karena pemuda ini sudah siap menolong nona pujaan hatinya dari pada ancaman berbahaya, A-bouw mengeluarkan pekik tertahan saking ngerinya.
Semua mata tertuju kepada garpu yang berubah menjadi sinar putih, Siok Lan hanya membuat sedikit gerakan, miringkan kepalanya lalu membuka mulutnya yang kecil dan......
garpu itu ujungnya telah memasuki mulutnya!
Si jangkung yang tergila-gila kepada nona remaja yang jelita ini, tidak tega mencelakai Siok Lan dan memang ia hanya mau mempermainkan dan membikin nona itu mengakui kelihaiannya, maka begitu melihat bahwa garpunya sudah diterima dan digigit oleh si nona, ia lalu membuat tangannya menggetar dengan tenaganya.
Gerakan ini tentu takkan tertahan oleh Siok Lan, membuat giginya sakit dan akan memaksanya membuka mulut memuntahkan daging dari garpu sehingga dengan demikian nona itu akan kalah dan kehilangan muka.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba terdengar suara "krekk!"
Dan si jangkung terhuyung mundur karena garpunya yang berada di tangannya itu tinggal gagangnya saja.
Dua gigi garpu yang runcing patah dan berada di mulut Sian-li Eng-cu!
Nona itu dengan ayem dan enaknya mengunyah daging dan menelannya, tidak perduli betapa semua mata ditujukan ke arahnya.
Kemudian ia membuka mulut dan meniup.
"Werrr......cap cap......!"
Dua buah gigi garpu yang runcing itu meluncur keluar dari mulut yang mungil dan kini menancap pada kayu yang melintang di bawah atap ruangan itu.
"Terima kasih lo-enghiong. Daging yang kau suguhkan enak sayang sekali ada tulangnya!"
Kata Siok Lan dengan sikap biasa, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.
Kembali terdengar orang bersorak, dan kali ini yang mendahului bersorak adalah Pui Tiong dan Can Bwe.
Makin kagumlah semua orang menyaksikan demonstrasi yang luar biasa ini.
Bahkan Yu Lee diam-diam makin kagum terhadap Siok Lan, terutama sekali ketenangan dan keberaniannya yang hebat.
Ie Kiok Soe memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Siapa kira, bukan dia yang mempermainkan, bahkan sebaliknya si nona yang mempermainkannya, membuatnya menderita malu dan kehilangan muka.
Ia marah sekali, akan tetapi ia masih dapat melihat kakaknya memberi isyarat mata sehingga ia hanya membanting kaki lalu mengundurkan diri.
Orang ketiga dari Huang-ho Sam-liong adalah yang paling pendiam diantara mereka.
Tubuhnya pendek kate dan biarpun dia seorang kepala bajak tetapi melihat di pinggangnya terselip sepasang senjata poan-koan-pit (alat tulis seperti tongkat pena).
Tentu dia bukan seorang kasar yang buta huruf.
Dan memang sebetulnya demikian.
Ie Bhok, orang ketiga ini terkenal pandai menulis, dan memang amat aneh seorang kepala bajak pandai menulis, dan senjatanya poan-koan-pit.
Tidak mengherankan apabila sikapnyapun tidak sekasar kedua orang kakaknya.
Tetapi, betapapun juga hatinya panas menyaksikan dua orang kakaknya dipermainkan seorang nona muda yang baru saja muncul di dunia kang-ouw, apalagi kalau nona itu berani pula menantang Ang-kin Kai-pang.
Ia sesegera bangkit berdiri lalu melangkah tenang menghampiri Siok Lan yang sudah memandangnya karena nona ini sudah dapat menduga bahwa kini tentu orang ketiga Huang-ho Sam-liong akan mencari perkara.
Akan tetapi Ie Bhok menjura kepadanya dan berkata.
"Sian-li Eng-cu sebagai seorang tamu, nona tidaklah mengecewakan kedua orang kakakku. Perkenankanlah aku, Ie Bhok, mendapat bagian untuk menyambut nona dengan penghormatan."
"Hemm...... sudah kukatakan tadi, sebagai tuan rumah memang, berhak melakukan apa saja yang dikehendaki, sebaliknya aku sebagai tamu tentu tidak bisa menolak penghormatan tuan rumah. Silakan."
Siok Lan sudah siap-siap, akan tetapi Ie Bhok bahkan menduduki bangku yang masih kosong menghadapi meja Siok Lan.
Memang, meja itu mempunyai enam buah bangku dan baru lima buah yang dipakai.
Dengan tenang Ie Bhok mengambil sepasang sumpit dari tempat sumpit, lalu dengan sumpit itu ia mengambil sepotong daging dan dengan siku kanan di atas meja ia berkata.
"Saya seorang bodoh, tidak ada permainan sesuatu untuk diperlihatkan kepada nona. Harap nona sudi mengambil daging ini dari sumpit saya!"
Siok Lan maklum bahwa lawan ini hendak memperlihatkan kepandaiannya memainkan sumpitnya.
Untuk dapat mempergunakan sepasang sumpit merebut daging di antara sumpit itu, selain ia harus memiliki tenaga yang kuat, juga ia harus mempunyai kegesitan dalam mempergunakan sepasang sumpit itu sebagai senjata.
Dan ia tahu, atau dapat menduga bahwa Ie Bhok yang bersenjata sepasang poan-koan-pit ini tentu amat mahir bermain sumpit.
Betapapun juga gadis remaja ini tidak mau kalah.
Iapun lalu mengambil sumpitnya sambil tersenyum ia berkata.
"Ie-loenghiong sungguh baik, mau memilihkan sepotong daging untukku."
Setelah berkata demikian, ia menggunakan sumpitnya menyambar daging yang terjepit disumpit lawan.
Akan tetapi, benar seperti yang disangkanya, dengan gerakan tangan yang kuat, Ie Bhok membuat sumpitnya itu mengelak, bahkan dari atas sepasang sumpitnya yang menjepit daging itu menangkis dan menindih sepasang sumpit di tangan Siok Lan dengan tenaga yang demikian kuatnya sehingga hampir saja gadis itu melepaskan sumpitnya.
Sumpit itu tertangkis sampai tergetar dan jari-jari tangannya sampai kesemutan!
Hebat gerakan orang she Ie yang pendek ini, pikirnya.
Kalau sampai lama ia tidak mampu mengambil daging itu, tentu ia akan menjadi buah tertawaan.
Namun untung bahwa orang ini berwatak halus dan biarpun ia akan kalah, namun tidaklah memalukan.
Maka sambil tertawa ia berkata.
"Ie Bhok loenghiong sungguh mahir menggunakan sumpit. Kalau sampai lima kali aku gagal merebut daging, biarlah aku orang muda mengaku kalah."
"He, he, baiklah. Dan kalau ia sampai lima kali nona dapat merampasnya, benar-benar aku orang she Ie merasa takluk. Terus terang saja, ketahuilah nona bahwa di dunia ini kiranya harus dipilih-pilih dulu orang yang akan mampu merampas daging dari sumpitku selama lima jurus!"
Panas rasa perut Siok Lan.
Biarpun sikapnya halus ucapan terakhir dari Ie Bhok ini boleh dibilang mengandung kesombongan.
Masa aku tidak dapat merampas sampai lima jurus pikirnya, dan tahu bahwa biarpun kelihatan hanya "berebutan daging"
Dengan sumpit, gerakan-gerakannya mirip dengan mengadu ilmu silat dan untuk dapat berhasil, tentu saja boleh menggunakan taktik-taktik pertandingan misalnya dengan menggunakan sumpit menyerang tangan, pendeknya asal dapat membuat daging itu terlepas dari sumpit lawan dan dirampas dengan sumpit sendiri.
Tentu saja serangan hanya terbatas pada tangan kanan lawan saja, tidak boleh menyerang bagian tubuh yang lain.
"Aku sudah menyerang satu kali tinggal empat kali. Awas, lo-enghiong,"
Siok Lan berkata, sepasang sumpitnya bergerak, bukan langsung menjepit seperti tadi, melainkan dengan gerakan menggunting dari atas ke bawah meluncur ke depan dan digerakkan dengan membentuk lingkaran.
Dengan demikian tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk mengelak sepert"
Tadi.
Menghadapi serangan ini, mulut Ie Bhok masih tersenyum, akan tetapi pergelangan tangannya bergerak sepasang sumpitnya juga membentuk lingkaran, lalu digetarkan dan dengan daging masih terjepit sumpitnya itu menangkis dengan keras sekali dari atas ke bawah "Trik rikkkkk!"
Biarpun yang beradu hanya sumpit dengan sumpit namun menerbitkan suara keras dan kembali tangan Siok Lan tergetar hebat.
Masih untung bahwa ia tidak sampai melepaskan sepasang sumpitnya dan cepat-cepat menarik tangannya.
Serangan kedua kembali gagal!
Kini mereka sudah bersiap-siap kembali, Ie Bhok dengan siku tetap menekan meja, memegangi sumpitnya melintang dan biarpun sumpit itu kelihatannya dipegang dengan seenaknya, namun kekuatan yang tersalur melalui sumpit menjepit daging adalah amat kuat.
Matanya dengan tajam memandang kepada sumpit lawan, siap menghadapi serangan jurus ketiga.
Sampai lama Siok Lan tidak menyerang karena gadis ini memutar otak untuk dapat mencapai kemenangan.
Kemudian ia berseru keras dan kembali sumpitnya menyambar.
Sumpit-sumpitnya itu kini terbuka, yang satu meluncur dan menotok ke arah jalan darah diantara ibu jari dan telunjuk lawan yang menjepit sumpit, yang sebatang lagi meluncur dan menusuk ke arah daging!
"Bagus!"
Ie Bhok berseru kagum karena jurus ini benar-benar amat indah dan lihai.
Akan tetapi biarpun kelihatannya sumpit lawannya menotok jalan darah, ia maklum bahwa yang dituju adalah tusukan pada daging.
Sebagai seorang ahli Poan-koan-pit, ia adalah seorang yang sudah ulung dengan ilmu menotok, maka ia telah dapat menduga jurus nona ini.
Ia memutar pergelangan tangannya untuk mengelak dari totokan, dan tiba-tiba ia melepaskan jepitan sumpitnya pada daging sewaktu sumpit kedua Siok Lan menusuk daging sehingga daging itu terlepas dan jatuh, karenanya terluput dari tusukan Siok Lan.
Sebelum gadis ini dapat mengatur sumpit untuk merampas, lebih dulu Ie Bhok sudah menggerakkan sumpitnya cepat sekali menyambar daging yang melayang turun dan kembali daging itu sudah dijepit oleh sumpitnya.
"Masih dua jurus lagi, nona,"
Kata Ie Bhok.
Kalau saja serangan Siok Lan tidak makin lama semakin lihai sehingga mengejutkan hatinya, tentu Ie Bbok akan membiarkan saja gadis itu menyerang sampai beberapa jurus sekalipun.
Akan tetapi ia harus mengakui bahwa seranggan-serangan dara remaja itu makin lama makin ganas dan semakin berbahaya sehingga ia harus berhati-hati sekali biarpun hanya tinggal dua kali atau dua jurus saja serangan yang bakal dilancarkan.
Siok Lan menggigit bibirnya.
Di antara tiga orang Huang-ho Sam-liong, hanya yang paling muda inilah merupakan orang paling berbahaya.
Kalau sampai terjadi pertandingan, ia harus berhati-hati menghadapi orang ini.
Jelas bahwa biarpun dalam hal ilmu kepandaian, orang ini belum tentu lebih lihai daripada dua orang kakaknya, namun jelas bahwa orang yang pendiam ini lebih berbahaya lebih cerdik dan banyak akal, tidak gegabah dan kasar seperti dua orang kakaknya.
Kembali ia memutar otak mencari akal sebelum melakukan serangannya yang keempat.
Kali ini ia mau mengadu tenaga dan kalau sampai daging itu kembali terlepas dari sumpit lawan, ia harus mencegah sumpit lawan menyambarnya kembali dan biarlah daging itu terjatuh ke atas meja.
Dengan demikian, biar pun ia tidak berhasil merampasnya, sedikitnya ia telah mampu membuatnya terlepas dari sumpit lawan dan hal ini saja sudah berarti bahwa ia telah menang setengah bagian!
Dengan akal ini Sok Lan lalu berseru.
"Lihat serangan!"
Kini sepasang sumpitnya digerakkan dengan cepat dan bertenaga kuat karena ia kini mengerahkan sinkangnya, tidak lagi mengandalkan kecepatan melainkan mengandalkan tenaga.
Ie Bhok kelihatan kaget sekali dan sekali pandang saja ia sudah menduga akan akal gadis ini.
Kalau ia menangkis dan melayani adu tenaga dengan gadis yang ia ketahui memiliki kekuatan sinkang hebat ini, tentu daging yang dijepit sumpitnya akan terlempar dan dengan demikian ia sudah akan mendapat malu.
Maka secara tiba-tiba sekali ia melontarkan daging yang dijepit itu ke atas, sumpitnya mengelak ke bawah dan terus melakukan tiga kali totokan ke arah tiga jalan darah di sekitar tangan dan pergelangan tangan Siok Lan yang memegang sumpit!
Jadi kali ini Siok Lan menghadapi jurus serangan ilmu senjata poan-koan-pit yang berbahaya!
Tentu saja Siok Lan tidak mau membiarkan tangannya tertotok karena biarpun andaikata ia mampu membuat daging itu terlepas, kalau sampai ia tertotok dan sumpitnya sendiri terlepas, ia tentu akan mendapat malu dan itu berarti ia kalah!
Cepat ia menggerakkan pergelangan tangan memutar sumpitnya membetuk lingkaran yang kuat, menangkis tiga kali totokan lawan.
Akan tetapi, ternyata lawan tidak jadi menyerang, sebaliknya sumpit lawan kini lagi-lagi sudah menyambar dan menjepit dagingnya yang tadi terpental ke atas dan kini sudah melayang turun lagi.
Karena Siok Lan tertipu dan gadis ini tadi mencurahkan perhatian untuk menangkis totokan-totokan masa tentu saja ia tak cepat mencegah lawannya menjepit kembali daging itu.
"Tinggal sejurus lagi nona."
Ie Bhok tersenyum dan mengacungkan daging dalam jepitan sumpitnya.
Merah wajah Siok Lan dan nona ini hampir putus asa.
Orang di depannya benar-benar lihai dan cerdik, semua mata para ramu ditujukan kepada adu kepandaian yang aneh dan lucu ini dan kalau sekali lagi ia tidak mampu merampas daging, betapapun juga ia akan kehilangan muka di tempat itu!
Tiba-tiba Yu Lee beikata.
"Nonaku ini tidak mau sungguh-sungguh merampas, mengapa kau orang tua tidak bisa mengerti? Kalau nona majikanku menghendakinya, maka dalam sejurus saja pasti daging itu dapat dirampasnya? Dan sekarang ini nonaku sudah memberi muka terang kepada lo-enghiong, mengapa lo-enghiong tidak mau mengerti?"
Ie Bhok mengerling ke arah Yu Lee dan tertawa.
"Ha, ha, namamu A-liok tadi bukan? Eh, A-liok, kalau benar nonamu sengaja tidak mau merampas bolehkah aku tahu mengapa tidak mau?"
"Karena daging disumpitmu itu bau dan tidak enak!"
Terdengar suara ketawa di sana sini, tetapi Ie Bhok tidak marah hanya tersenyum.
Sebaliknya malah Siok Lan menjadi marah dan mendongkol, A-liok ini bicara ngaco-belo, apakah mengira bahwa yang hadir itu anak-anak kecil yang mudah saja dibohongi?
Akan tetapi karena pelayannya sudah terlanjur bicara, ia berkata singkat.
"Aku sudah menyerang empat kali, kalau sekali lagi tidak berhasil biarlah aku mengaku kalah!"
"Nona pasti berhasil kalau memang mau sungguh-sungguh! Mengapa tidak?"
Kata Yu Lee dan seperti tanpa disengaja dengan muka tegang pelayan ini menaruh kedua tangannya di atas meja, di depannya.
Tiba-tiba tampak sinar gembira di muka si nona.
Gerakan Yu Lee yang seperti tak di sengaja itu mengingatkannya!
Ah, kenapa ia begini bodoh?
Sejak tadi lawannya itu memegang sumpit dengan siku ditekan di atas meja, sehingga dapat tegak dan lebih bertenaga.
Sikunya itulah yang menjadi semacam "kaki"
Dan ia kalau mampu melemahkan "kaki"
Ini, tentu dengan mudah, sumpitnya mampu merampas daging. Tanpa tergesa-gesa sehingga tidak kentara nona itu lalu menaruh pula tangan kirinya di atas meja.
"Kau benar A-liok. Kalau aku mau, tentu sekali serang aku berhasil. Orang tua she Ie, kali ini kau waspadalah!"
Dengan ucapan ini Siok Lan hendak memancing perhatian lawan agar lebih memusatkan perhatian pada sumpitnya yang menjepit daging.
Pancingan ini berhasil karena Ie Bhok yang mendengar ucapan pelayan dan nonanya tadi kini benar-benar memusatkan perhatian kepada sumpitnya bertekad untuk mempertahankan daging, sumpitnya menghadapi penyerang yang terakhir.
Siok Lan dengan amat tajam memandang daging disumpit lawan, kemudian sumpitnya sendiri bergerak, dibarengi bentakannya keras.
"Lepaskan."
Dan ia menggunakan sumpitnya untuk menggempur sumpit lawan.
Diam-diam Ie Bhok tertawa.
Alangkah bodohnya nona ini, pikirnya.
Dengan jurus-jurus yang lihai saja masih belum mampu merampas dagingnya, apalagi dengan cara kasar seperti ini, hanya menggempur sumpit beradu sumpit, menggunakan tenaga.
Mana mungkin berhasil?
Ia tertawa dan hendak mengerahkan tenaga menerima benturan sumpit lawan.
Akan tetapi mulutnya yang menyeringai tertawa itu berubah mengeluarkan seruan kaget ketika tiba-tiba meja tergetar dan sikunya menjadi lumpuh, tangannya menggigil dan ketika benturan tiba, ia tidak mampu mempertahankan lagi sumpitnya yang runtuh terlepas dari jari-jari tangannya!
Ketika Ie Bhok tersadar bahwa gadis itu menyerangnya melalui meja dengan tangan kiri yang menggunakan sinkang menggempur sikunya, ternyata telah terlambat.
Daging yang jatuh dari sumpitnya telah disambar oleh sumpit Siok Lan yang tersenyum-senyum sambil mengangkat daging itu tinggi-tinggi agar tampak oleh semua orang.
Sorak sorai menyambut kemenangan Siok Lan ini didahului oleh Yu Lee yang tadi diam-diam membantu nonanya dengan menggetarkan tangan pada meja.
Kalau saja tidak dibantu pemuda sakti ini, agaknya belum tentu Siok Lan berhasil karena menyerang siku lawan melalui meja yang digetarkan tenaga sinkang membutuhkan tenaga yang kuat sekali!
"Nona sungguh cerdik, saya mengaku kalah!"
Kata Ie Bhok yang segera mengundurkan diri.
Pada saat itu terdengar suara mendengus disusul kata-kata yang nadanya mengejek.
Suara ini datangnya dari meja sebelah kiri meja Siok Lan, suara seorang wanita yang terdengar lantang karena pada saat itu semua orang sudah diam kembali.
"Huh, permainan macam itu saja apa sih anehnya? Anak kecilpun bisa!"
Tentu saja suara yang terdengar pada saat semua tamu berdiam dan keadaan menjadi sunyi ini.
Terdengar jelas dan amat menarik perhatian.
Semua mata menengok dan karena wanita yang bicara itu duduk di meja sebelah kirinya, Siok Lan hanya mengerling dan memandang dari sudut matanya.
Tidak seperti Yu Lee dan A-bouw yang langsung menoleh dan memandang penuh selidik.
Dia adalah seorang wanita berusia kurang lebih tigapuluh tahun, bentuk mukanya tentu akan cantik manis kalau saja wajah itu kulitnya tidak dirusak oleh bekas penyakit cacar sehingga kulit mukanya kini tidak halus lagi, melainkan agak bopeng dan totol-totol hitam ini dicobanya untuk dihilangkan dengan lapisan bedak putih yang agak tebal.
Untuk menutupi kekurangan itu, wanita ini menghitamkan alisnya dengan alat penghitam alis sehingga alis itu bentuknya tebal dan panjang melengkung dan bibirnya dicat merah sampai menyolok.
Tubuhnya agak gemuk, akan tetapi pinggangnya sengaja diikat dengan ikat pinggang amat eratnya agar kelihatan ramping dan yang luar biasa adalah pinggulnya.
Pinggul ini berdaging besar dan amat montok sekali sehingga ketika ia duduk seakan-akan ada yang mengganjal di bawah pantatnya.
Ketika melihat bahwa semua mata, termasuk mata ketiga tuan rumah memandang kepadanya, wanita itu menjebikkan bibirnya lalu tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih dan rata akan tetapi agak besar-besar sehingga membuat mulutnya kelihatan lebar.
Dengan gerakan yang jelas ia lakukan agar tampak oleh semua orang, ia menggerakkan sumpitnya, memasukkan sepasang sumpit ke dalam mangkok dan ketika ia mengambil sumpitnya diujung masing-masing sumpit sudah tertusuk sebuah bakso ikan yang bundar dan putih.
Kemudian sekali ia menggetarkan tangan dua buah bakso itu melayang naik ke atas dan tepat sekali memukul potongan gigi garpu yaug tadi ditiup menancap oleh Siok Lan di tiang yang melintang di bawah atap.
Semua orang jadi terbelalak kaget dan kagum karena dua buah bakso itu menghantam potongan garpu dengan keras sekali dan ketika melayang turun ternyata potongan garpu itu sudah terbawa turun menancap pada dua buah bakso!
Diam-diam Yu Lee terkejut.
Itulah hasil dari kekuatan sinkang yang hebat, sama sekali tidak boleh dipandang ringan, apa lagi oleh Siok Lan.
Ia tahu bahwa gadis ini jauh di bawah wanita itu tingkat kekuatan sinkangnya.
Siok Lan biarpun kelihatan tersenyum dan tidak mengacuhkan, namun sesungguhnya iapun terkejut sekali.
Sebagai seorang ahli yang sudah tergembleng sejak kecil, iapun bukan tidak tahu bahwa wanita itu amat tinggi kepaadaiannya dan dia sendiri tidak akan mampu melakukan demonstrasi yang diperlihatkan wanita itu tadi.
Akan tetapi tentu saja ia tidak merasa gentar seujung rambutpun.
Ia masih duduk tidak perduli dan melanjutkan makan minum.
Kesunyian yang menyusul perbuatan demonstrasi wanita itu dipecahkan oleh suara ketawa Ie Cu Lin.
Perbuatan tamunya yang menjadi sahabat baiknya ini sedikit banyak telah membantu pihak tuan rumah menebus "kekalahan"
Dalam demonstrasi mereka tadi melawan Sian-li Eng-cu.
"Ha-ha-ha ha! Sungguh Cui Toanio amat hebat, makin lama makin lihai saja membuat kami takluk dan kagum. Akan tetapi, agaknya pertunjukan-pertunjukan para tamu yang terhormat dan gagah perkasa seharusnya dilakukan menurut urutan yang rapi dan tidak kacau balau. Kita semua tahu bahwa pertemuan ini di samping membicarakan tentang siasat-siasat dan rencana-rencana pekerjaan kita menentang kaum penjajah, juga diadakan pertemuan saling mempererat persahabatan dan saling menambah ilmu pengetahuan serta saling mengisi dan menuntun agar kita makin kuat menghadapi musuh rakyat!"
Semua tamu menyambut kata-kata ini dengan mengangguk-angguk setuju, malah ada diantara mereka yang sudah terlalu banyak minum, saking gembira sebab akan menyaksikan demonstrasi-demonstrasi ilmu silat linggi, sudah bersorak dan bertepuk tangan.
Ie Kiok Soe, orang kedua dari Huang-ho Sam-liong yang tadi merasa mendongkol kepada dua orang murid Kim-hong-pai karena mereka berdua itu seolah-olah berpihak dan bersikap ramah kepada Sian-li Eng-cu, kini bangkit berdiri dan mengangkat kedua lengan ke atas sebagai tanda agar para tamu tidak berisik karena ia mau bicara.
Setelah suasana menjadi sunyi, si muka tikus ini berkata sambil memandang ke arah meja Sian-li Eng-cu.
"Cuwi sekalian! Dalam pertemuan hari ini, kami mendapat kesempatan untuk memperkenalkan sahabat-sahabat seperjuangan yang baru. Biarpun belum lama, baru beberapa pekan menggabungkan diri dengan kita, namun nama Kim-hong-pai sudah cukup terkenal di dunia kang-ouw. Saat ini diantara kita yang hadir terdapat dua oraug murid Kim-hong-pai yang menjadi teman seperjuangan bahkan menjadi murid-murid terkasih dari Gwat Kong Tosu sendiri. Kim-hong-pai sesungguhnya adalah sebuah ranting dari Kun-lun-pai yang besar, karena Gwat Kong Tosu adalah seorang anak murid Kun-lun-pai yang telah mendirikan partai persilatan tersendiri. Nah kami perkenalkan Pui Tiong sicu (tuan gagah) dan Can Bwee lihiap (nona gagah) dari Kim-hong-pai!"
Sejak si muka tikus angkat bicara Pui Tiong dan Can Bwee sudah saling pandang. Kemudian Pui Tiong berbisik kepada Sian-li Eng-cu.
"Harap nona hati-hati wanita itu adalah Cui Hwa Hwa atau yang disebut Cui Toanio, ilmu kepandaiannya tinggi sekali."
Diam-diam Siok Lan terkejut, pernah kakeknya menyebut nama Cui Hwa Hwa ini sebagai seorang tokoh kang-ouw yang terkenal.
Kini mendengar kata-kata si muka tikus ia tahu bahwa dua orang murid Kim-hong-pai yang amat baik terhadapnya ini dikutik-kutik maka ia mendengarkan penuh perhatian.
Iapun tahu bahwa Kim-hong-pai masih merupakan partai sesumber dengan dia, karena benar seperti dikatakan si muka tikus tadi, dahulu Gwat Kong Tosu adalah seorang anak murid Kun-lun-pai yang melakukan "pelanggaran"
Sehingga diusir dari Kun-lun-pai yang kemudian membentuk sebuah partai persilatan sendiri.
Maka ia tadi tidak heran menyaksikan betapa dua orang itu bersikap baik terhadap dirinya.
Memang kedua orang anak murid Kim-hong-pai ini merupakan "pejuang-pejuang"
Baru yang menggabungkan diri dengan golongan pejuang yang berkumpul di sepanjang Sungai Huang-ho ini.
Maka setelah kini diri mereka diperkenalkan Pui Tiong dan Can Bwee lalu bangkit berdiri mengangkat kedua tangan depan dada lalu memberi hormat ke sekeliling.
"Harap saja Pui-sicu sudi memberi sedikit permainan pedang Kim-hong-pai untuk membuka mata kita!"
Tiba-tiba Ie Kiok Soe berkata dengan suara lantang dan semua tamu lalu menyusulnya dengan ucapan ucapan yang sifatnya mendesak.
Pui Tiong bertukar pandang dengan sucinya yang mengangguk perlahan, pemuda baju biru itu lalu bangkit menjura ke arah Ie Kiok Soe dan berkata.
"Sesungguhnya saya yang muda merasa malu harus memperlihatkan kebodohan di depan banyak orang gagah. Akan tetapi untuk sekedar menggembirakan pertemuan ini, biarlah saya melupakan kebodohan sendiri, harap sahabat sekalian tidak menjadi kecewa."
Para tamu bertepuk tangan ketika pemuda ini melangkah ke tengah lapangan kemudian menjura ke sekeliling dan mencabut pedangnya.
Sebuah pedang yang bagus dan berkilau saking tajam.
Kemudian Pui Tiong mainkan pedangnya mula-mula lambat, makin lama makin cepat sehingga pedangnya berubah menjadi segulungan sinar putih berkeredepan.
Siok Lan yang menonton penuh perhatian, mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang pemuda She Pui ini cukup kuat, mempunyai sumber ilmu pedang Kun-lun-pai, hanya gayanya yang dirobah sehingga kini ilmu pedang ini disebut Kim-hong-kiam-hoat (Ilmu pedang partai Kim-hong-pai).
Pada saat itu berkelebat bayangan hijau dan tahu-tahu Cui Hwa Hwa sudah berdiri di tengah lapangan menghadapi Pui Tiong sambil berkata nyaring.
"Orang she Pui ilmu pedangmu bagus sekali kalau bermain sendiri tentu kurang menarik!"
Pui Tiong menghentikan tarian pedangnya dan menjura sambil menekuk pergelangan tangan sehingga pedangnya tersembunyi di bawah lengan.
"Toanio, apakah yang toanio maksudkan?"
Cui Hwa Hwa tertawa sehingga tampak giginya yang besar-besar, matanya yang lebar mengeluarkan sinar berseri ketika ia berkata.
"Pui-enghiong biarpun engkau dikenal sebagai seorang tokoh Kim-hong-pai namun ilmu pedangmu masih dapat kukenal sebagai Kun-lun-kiam-hoat. Aku sudah sering kali berhadapan dengan ilmu pedang Kun-lun-pai dan sudah seringkali menundukkannya."
Sampai di sini wanita ini mengerling ke arah Siok Lan dengan senyum mengejek dan memandang rendah sekali.
"Maka aku mengenalnya begitu melihat gerakanmu!"
Merah telinga Pui Tiong akan tetapi masih bersikap merendah dan hormat.
"Tidak salah ucapan Toanio. Memang tidak perlu kami sangkal bahwa guru kami Gwat Kong Tosu adalah bekas murid Kun-lun-pai akan tetapi ilmu pedang kami adalah Kim-hong-kiam-hoat, bukan Kun-lun-kiam-hoat!"
Kembali wanita itu tertawa dan setelah kini ia berdiri, tampak betapa pinggulnya benar-benar besar, menjendul di kanan kiri dan ketika ia tertawa, kedua gunung pinggul penuh daging itu bergoyang-goyang di balik pakaian yang berwarna hijau dan terbuat dari sutera tipis.
Orang-orang yang berada di sebelah belakangnya seolah-olah dapat melihat daging pinggul yang montok itu menari-nari.
"Pui-enghiong, sudah kukatakan tadi, bahwa bermain seorang diri kurang menarik. Maka biarlah aku menemanimu dengan tangan kosong dan sebagai bukti kata-kataku tadi, hendak kuperlihatkan kepadamu dan kepada semua tamu betapa dalam sepuluh jurus aku sanggup menundukkanmu seperti yang sudah terlalu sering kulakukan terhadap ilmu pedang Kun-lun-pai!"
Semua yang hadir terkejut.
Biarpun tak dapat dikatakan bahwa ilmu pedang pemuda itu indah sempurna, namun harus diakui cukup hebat, dan tangguh.
Mungkin kalau menghadapinya dengan senjata lain, Cui Hwa Hwa yang terkenal sekali itu akan dapat mengambil kemenangan.
Akan tetapi, menghadapi pedang pemuda itu dengan tangan kosong dan berjanji akan menundukkannya dalam sepuluh jurus?
Benar-benar terlalu tekebur!
Yu Lee yang menyaksikan gerak gerik wanita itu penuh perhatian, diam-diam merasa khawatir.
Jelas dapat terlihat oleh siapapun juga bahwa sesungguhnya bukan murid Kim-hong-pai yang ditekan atau ditantang oleh Cui Hwa Hwa, melainkan Siok Lan, Sian-li Eng-cu yang dikenal sebagai murid Kun-lun-pai!
Dan menurut penilaian Yu Lee, tingkat kepandaian wanita itu lebih tinggi dari pada Siok Lan sehingga kalau ejekan-ejekan menantang itu dilayani Siok Lan tentu akan berbahaya sekali bagi nona pujaan hatinya itu.
Memang kekhawatiran Yu Lee itu ada tanda-tandanya akan terjadi, Siok Lan biasanya berwatak riang gembira, akan tetapi kalau ia tersinggung dan marah, sepasang pipinya menjadi bersemu kemerah-merahan dan sepasang matanya yang biasanya bening dan riang jenaka itu memancarkan cahaya kilat.
Dan pada saat itu keadaan Siok Lan pun sudah seperti itu ketika dara ini memandang ke arah Cui Hwa Hwa yang hendak mempermainkan Pui Tiong.
Pui Tiong sendiri juga penasaran.
Ditantang untuk dihadapi dengan tangan kosong dan akan dikalahkan dalam sepuluh jurus benar-benar memanaskan hatinya.
Maka ia segera menjura lagi dan berkata.
"Sebelumnya terima kasih bahwa Cui Toanio yang tersohor lihai suka memberi petunjuk!"
"Tak perlu sungkan, seranglah!"
Kata Cui Toanio sambil tersenyum lebar.
Pui Tiong lalu memutar pedangnya, mengayun ke atas kepala dan mulai menyerang maju.
Putaran pedangnya cepat dan kuat sekali, lalu meluncur ke arah leher lawan.
Namun gerakan Cui Toanio benar-benar mengagumkan.
Hanya pinggulnya yang besar montok itu saja yang tampak bergerak, sedangkan lain tubuh tidak tampak bergerak, akan tetapi tahu-tahu ia sudah miringkan tubuh dan serangan pedang itu menyambar lewat, kemudian secepat kilat, tangan kirinya menyambar maju ke arah siku kanan Pui Tiong yang memegang pedang!
Pui Tiong kaget sekali karena kalau sampai sikunya tertotok atau terpukul tentu pedangnya akan terlepas, maka cepat ia berseru sambil meloncat ke belakang pedangnya ditarik dan diputar melingkar dari luar, kini membabat ke arah pinggang.
Akan tetapi agaknya Cui Toanio tadi tidak berkata main-main karena buktinya, ia seperti telah tahu atau mengenal gerakan pedang Pui Tiong dan sebelum pedang itu membabat pinggangnya, tubuhnya sudah melompat ke atas, kemudian dari atas tubuhnya melayang turun dengan kedua ujung kaki menyerang pundak Pui Tiong!
Pemuda baju biru ini tentu saja tidak mau ditendang pundaknya dari atas, ia merendahkan tubuh dan memutar pedang di atas kepala seperti payung yang bertugas menyerampang buntung kedua kaki lawan.
Terdengar Cui Hwa Hwa tertawa dan tubuhnya yang masih di udara itu tiba-tiba membuat salto atau poksai dua kali sehingga serampangan pedang Pui Tiong tidak berhasil.
Pui Tiong mendesak terus dan sampai berlangsung sembilan jurus, belum juga ia mampu menyentuh ujung baju Cui Hwa Hwa, akan tetapi hatinya girang karena sejurus lagi kalau wanita sombong itu belum dapat mengalahkannya, berarti ia menang!
Maka ia kini tidak menitik beratkan kepada serangan.
Jurus terakhir ini ia menitikberatkan kepada pertahanan dan ia hanya membacokkan padangnya ke arah leher lawan sambil menjaga diri sendiri, menutup segala lubang.
Alangkah kaget hati Pui Tiong ketika mendapat kenyataan bahwa kini lawannya sama sekali tidak mengelak atau menangkis, membiarkan pedang menyambar pinggir leher sebelah kiri!
Betapapun juga Pui Tiong tiaak bermaksud melukai lawan, apalagi membacok leher yang dapat menimbulkan bahaya maut, maka dengan gugup ia berusaha menahan bacokan atau sedikitnya mengurangi tenaga nya.
Namun terlambat pedangnya tetap mengenai leher Cui Toanio.
"Takk!"
Pui Tiong terkejut sekali karena pedangnya seperti mengenai benda keras dan pada saat itu Cui Toanio membuat gerakan menghantam dengan kepalan kiri ke arah lambungnya.
Selagi ia bingung dan menangkis dengan tangan kiri, tiba-tiba pedangnya terampas oleh jari-jari tangan Cui Toanio yang kanan, yang menjepit pedang itu dengan jari-jari ditekuk dan dengan kenyataan yang luar biasa telah merampas pedang sehingga terlepas dari tangannya dan kini berada dalam jepitan jari tangan kanan Cui Toanio yang mengangkatnya tinggi-tinggi!
"Nah, tepat sepuluh jurus!
Inilah jurusku yang ampuh untuk menghadapi ilmu pedang Kun-lun-pai yang tak pernah gagal merampas pedang Kun-lun-pai.
Jurus ini kuberi nama Eng-jiauw-phok-kiam (Cakar Garuda Sambar Pedang).
Jurus macam ini barulah ada harganya disebut ilmu, tidak seperti segala macam kepandaian anak kecil seperti yang telah diperlihatkan tadi!"
Sambil berkata demikian, kembali dengan sengaja dan penuh tantangan Cui Hwa Hwa mengerling ke arah meja Siok Lan.
Kemudian dengan sikap memandang rendah, ia mengangsurkan pedang kepada Pui Tiong yang menerimanya dan yang segera mengundurkan diri dengan muka pucat.
Tadinya ia marah, akan tetapi ketika bertemu pandang dengan sucinya, ia melihat Can Bwee berkedip maka ia lalu mengundurkan diri tanpa berkata sesuatu.
Seperti telah diharap-harapkan orang banyak dengan pancingan tantangan Cui Hwa Hwa terhadap tamu istimewa Sian-li Eng-cu yang dianggap telah memusuhi Ang-kin Kai-pang sebagai teman-teman seperjuangan mereka ini Siok Lan bangkit berdiri.
Akan tetapi Yu Lee yang sudah siap menghindarkan Siok Lan daripada bahaya, juga cepat bangkit berdiri bahkan berlari-lari mendahului nona itu ke tengah lapangan di mana Cui Hwa Hwa masih berdiri.
Sambil tertawa-tawa ia berkata, mendahului Siok Lan yang sudah hendak menegurnya.
"Eh, nona! Bukankah ilmu yang dipertontonkan tadi, menjepit pedang, sama benar dengan ilmu yang pernah nona ajarkan kepada saya? Namanya juga hampir sama! Heran sekali kenapa bisa begitu sama, bukankah yang nona ajarkan itu hanya untuk tontonan anak-anak di tengah pasar?"
Hanya beberapa detik saja wajah Siok Lan tercengang keheranan, akan tetapi dasar ia cerdik dan jenaka, segera saja wajahnya yang cantik jelita itu berubah, berseri-seri dan mulutnya tersenyum simpul manis sekali.
"Kau betul, A-liok! Baiknya kau ingatkan aku, hampir aku lupa. Memang sudah pernah kuajarkan padamu. Leher tidak luka oleh bacokan pedang itu namanya ilmu leher kepala batu. Dan ilmu menjepit pedang dengan jari itu namanya jurus Hek-mauw-phok-ci (Kucing Hitam Sambar Tikus)!"
Jelas sekali apa yang diperbuat dan dipercakapkan antara nona dan pelayannya ini menyinggung peristiwa tadi.
Lebih-lebih nama jurus itu!
Kalau jurus lihai dari Cui Hwa Hwa tadi bernama Cakar Garuda Sambar Pedang, kini jurus kedua orang ini bernama Kucing Hitam Sambar Tikus!
Justeru muka Cui Hwa Hwa memang agak kehitaman karena bekas penyakit cacar, jadi sama saja dengan menyamakan dia dan memakinya kucing hitam!
Para tamu memandang dengan wajah tegang, dan hal yang lucu ini membuat mereka ingin tertawa akan tetapi tidak berani maka banyak yang menutup mulutnya agar tidak kelihatan tertawa.
Wajah Cui Hwa Hwa sebentar merah sebentar makin hitam.
Kemarahannya hampir tak dapat ditahannya lagi.
Akan tetapi ia tidak tahu harus berkata atau berbuat apa karena dua orang itu tidak terang-terangan menyinggung namanya.
Pada saat itu, tiba-tiba Siok Lan mencabut pedangnya dengan gerakan indah dan cepat.
Semua orang tertegun kagum menyaksikan sinar pedang putih kemilau dari pedang perak itu.
"Awas, A-liok. Mari kita perlihatkan apa yang telah kita latih dahulu. Aku akan bacok lehermu, keluarkan ilmu leher kepala batu kemudian kau cakar pedang ini dengan ilmu Hek-mouw-phok-ci!"
Mata Yu Lee berseri.
Pemuda ini merasa geli, akan tetapi juga gembira dan kagum Siok Lan benar-benar seorang gadis yang selain berani dan jenaka, juga berotak tajam sekali sehingga dapat mengerti ajakannya untuk bergurau dan "memukul"
Kesombongan Cui Hwa Hwa.
"Baiklah, nona! Biar semua orang melihat bahwa saya, biarpun hanya seorang pelayan, akan tetapi adalah pelayan dari Sian-li Eng-cu dan tentu saja mengenal ilmu kucing ini!"
Ia mengatakan ilmu kucing untuk mengimbangi ucapan Cui Hwa Hwa yang mengatakan bahwa kepandaian Siok Lan tadi seperti anak kecil. Siok Lan memainkan pedangnya, memutar-mutar ke atas dan berteriak.
"Hiaaaatt!"
Pedang itu menyambar leher Yu Lee.
Pemuda ini maklum bahwa nonanya sudah tahu akan keadaannya yang tidak pandai silat, maka ia pun sengaja membuat gerakan takut-takut sehingga tampak lucu.
Pedang itu meluncur dan berhenti tepat setelah menyentuh kulit leher Yu Lee!
Dari situ saja para ahli yang hadir di situ maklum bahwa Sian-li Eng-cu benar-benar seorang ahli pedang yang hebat!
Karena pandainya Yu Lee bersandiwara.
Siok Lan berlaku hati-hati sekali agar pedangnya jangan sampai melukai pelayannya, maka ia tadi telah mengukur tenaganya dan tepat sekali pedangnya sudah terhenti ketika menyentuh kulit leher pelayan itu.
Dengan lagak dibuat-buat Yu Lee lalu mengangkat tangannya, ditekuk jari-jarinya seperti yang dilakukan Cui Hwa Hwa tadi, lalu perlahan-lahan ia menggerakkan jari-jarinya menjepit pedang.
Ia sengaja membuat jari-jarinya seperti tidak kuat dan takut-takut menghadapi mata pedang yang tajam, maka ia lalu menggunakan pula tangan kirinya membantu, barulah jari-jari kedua tangannya dapat menjepit pedang dan diangkatnya ke atas.
"Inilah jurus Kucing Hitam Sambar Tikus......? Ciiiieet ......ciiieeet......!"
Kata Yu Lee sambil berjingkrak-jingkrak dan berputaran di lapangan itu menjinjing pedang.
Sorak sorai meledak menyaksikan pertunjukan yang lucu ini.
Apalagi A-bouw, dia sampai hampir terjungkal dari bangku yang didudukinya saking terpingkal-pingkal, kemudian ia bangkit dan menghampiri Yu Lee, menjura sampai dalam dan berkata mengacungkan jempolnya.
"Wahh, siapa kira, nona telah memberi pelajaran begini hebat. Siapa duga saudara A-liok ini ternyata seorang pendekar yang hebat! Ha-ha-ha!"
Yu Lee mengembalikan pedangnya kepada Siok Lan yang menyimpannya, kemudian berkata kepada A-bouw.
"Engkau sendiri, sudah dipilih menjadi tukang perahu Sian-li Eng-cu, tentulah bukan orang sembarangan pula. Ini aku ketahui benar!"
Pada saat itu, suara ketawa mereda dan terdengar bentakan nyaring.
Inilah suara Cui Hwa Hwa yang menjadi marah bukan main.
Wanita ini tak dapat menahan kemarahannya lagi sampai hampir meledak rasa dadanya.
"Keparat laknat! Berani kalian memandang rendah kepada nyonya besarmu? Kalau kalian sudah bosan hidup, hayo maju. Baik nona majikannya, maupun pelayannya, apa lagi tukang perahunya semua akan kupatahkan batang lehernya satu persatu! Kalau tidak bisa, jangan sebut namaku Cui Hwa Hwa lagi!"
Wanita itu menghadapi Siok Lan bertiga sambil bertolak pinggang, matanya seakan-akan membakar mereka bertiga.
"Nah, paman A-bouw. Kau ditantang orang! Beranikah?"
"Aku...... aku......!"
Tentu saja A-bouw tidak berani dan mukanya pucat matanya terbelalak, kedua kakinya menggigil.
Di sana sini sudah terdengar orang tertawa Cui Hwa Hwa tersenyum mengejek dan memandang rendah sekali.
Akan tetapi Yu Lee sudah mendapat akal.
Ia menghadapi wanita itu dan bertanya.
"Kau tadi benar-benar menantang kami? Termasuk paman A-bouw tukang perahu ini?"
"Betul! Bujang hina dina!"
"Aduh aku...... aku......!"
"Tahan, paman A-bouw mengapa begitu merendahkan diri? aku tahu bahwa dalam mengadu kepandaian, kau jauh lebih menang dari pada Toanio ini, kenapa kau pura-pura khawatir?"
Sebelum sempat A-bouw membantah. Yu Lee berkedip kepadanya lalu bertanya lagi kepada Cui Hwa Hwa.
"Cui Toanio, di sini banyak saksi. Benarkah kau berani menantang paman A-bouw untuk mengadu kepandaian? Siapa yang kalah harus lekas-lekas angkat kaki dari sini? Beranikah Kau?"
"Boleh! Suruh dia maju akan kupatahkan batang lehernya!"
Yu Lee lalu menghampiri A-bouw yang masih gemetaran, lalu mendekatkan mulut di telinga tukang perahu itu berbisik-bisik.
Seketika cerah wajah A-bouw dan sambil mengangkat dada, ia melangkah maju menghampiri Cui Hwa Hwa.
Akan tetapi betapapun juga masih tampak jelas kedua kakinya (Lanjut ke
Jilid 13) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 menggigil sehingga keadaan yang lucu ini membuat semua orang tertawa geli.
Baca Juga: Naga Sakti Sungai Kuning 5
Baca Juga: Jaka Lola 6