Ceritasilat Novel Online

Jaka Lola 6

Eps 6 Jaka Lola - Kho Ping Hoo

Baca online Jaka Lola - Kho Ping Hoo

Cersil Jaka Lola - Kho Ping Hoo.

Tak sampai seperempat jam, gadis itu sudah siuman kembali dan jalan pernafasannya tidak memburu seperti tadi, malah akhirnya ia membuka kedua matanya, menggerakkan kepala memandang ke kanan kiri.

"Tenang dan kau berbaring saja, Nak. Biar kuobati luka-lukamu,"

Kata Hui Kauw sambil mengeluarkan sebungkus obat bubuk. Gadis itu meringis kesakitan, akan tetapi membiarkan Hui Kauw mengobatinya.

"Mula-mula memang perih rasanya, akan tetapi sebentar pun akan sembuh,"

Kata Hui Kauw dan memang ucapannya ini betul karena hanya sebentar gadis itu merintih, kemudian kelihatan tenang.

"Terima kasih, cukuplah. Kau baik sekali, Bibi..."

Gadis itu bangkit duduk dan ketika ia menoleh ke kiri memandang Kun Hong, wajahnya berubah dan ia nampak kaget.

"Siapa dia...??"

Hui Kauw tersenyum.

"Jangan khawatir, dia itu hanya suamiku. Kau kenapakah, tubuhmu bekas dicambuki dan kau kelihatan berduka, marah, dan mudah kaget. Siapakah kau?"

Gadis itu menengok ke kanan kiri seakan-akan ada yang dicari dan ditakuti, kemudian ia berkata.

"Aku belum tahu siapakah kalian ini, bagaimana aku berani bicara tentang diriku?"

Kembali Hui Kauw tersenyum, sama sekali tidak marah melihat kecurigaan orang. Agaknya gadis ini telah banyak menderita dan menjadi korban kejahatan sehingga mudah menaruh curiga terhadap orang lain.

"Jangan khawatir, anak manis. Kami bukanlah orang jahat, dia itu suamiku bernama Kwa Kun Hong dan aku isterinya... he, kenapa kau...?"

Hui Kauw terheran-heran melihat gadis itu melompat dan mukanya pucat.

"Aku... aku takut kalau... kalau, mereka mengejar..."

"Jangan takut, kalau ada orang jahat mengganggumu, kami akan membantumu,"

Kun Hong berkata, suaranya halus, akan tetapi diam-diam hatinya menduga-duga.

"Kau siapakah dan siapa pula mereka yang mengancam keselamatanmu?"

Gadis itu duduk kembali, memandang bergantian kepada Kun Hong dan isterinya.

"Aku Ciu Kim Hoa, dan mereka itu musuh-musuhku."

"Siapa mereka dan apakah yang terjadi? Mengapa kau bermusuhan dengan mereka?"

Tanya Hui Kauw. Gadis itu kelihatan tenang sekarang. la duduk dan menarik nafas beberapa kali, kemudian ia bercerita, suaranya perlahan dan agaknya keraguannya lenyap.

"Aku seorang yang yatim piatu, hidup sebatangkara. Keluargaku habis dengan meninggalkan musuh besar, musuh keturunan yang harus kubalas. Aku mencarinya dan bertemu, tapi... tapi... aku tidak dapat benci kepadanya, betapapun juga... aku harus melaksanakan balas dendam. Baru berhasil sebagian, aku lalu dikeroyok... dan ditawan, dicambuki dan disiksa. Akhirnya aku berhasil membebaskan diri dan lari sampai di sini."

La menengok lagi ke sana ke mari, tampak ketakutan.

"Aku tahu mereka tentu akan mengejarku, dan aku tidak berani pergi seorang diri..."

Hui Kauw mengerutkan kening. Di dunia ini banyak sekali terjadi permusuhan, banyak terjadi pertandingan dan darah mengalir, semua hanya karena dendam-mendendam yang tiada habisnya.

"Kau perlu menenangkan hati dan memulihkan tenaga, Kim Hoa. Biarlah semalam ini kau bersama kami agar kami dapat mencegah musuh-musuhmu mencelakaimu. Kalau sampai besok tidak ada yang mengejarmu, baru kau melanjutkan perjalanan."

"Terima kasih, Bibi. Kau baik sekali."

Gadis itu masih kelihatan gelisah, akan tetapi ia tidak banyak bicara.

Hanya menjawab kalau ditanya, itu pun singkat saja.

la tidak menolak ketika Kun Hong dan Hui Kauw memberi roti kering dan minum kepadanya, dan juga tidak membantah ketika matahari sudah agak menurun, Suami isteri itu mengajaknya melanjutkan perjalanan.

Atas pertanyaan, gadis itu menjawab bahwa hendak pergi ke Kota Raja di mana katanya berdiam seorang Pamannya.

Karena jalan menuju ke Kota Raja melewati Kong-Goan, maka Hui Kauw mengajak gadis itu melakukan perjalanan bersama.

Akan tetapi tentu saja ia tidak menghendaki gadis ini mengetahui urusan apa yang sedang diselidikinya di Kong-Goan.

Oleh karena itu, pada sore harinya ia dan suaminya mengajak gadis itu berhenti di sebuah gubuk di tengah sawah, di luar kota Kong-Goan.

Kalau besok pagi tidak terjadi sesuatu, ia akan menyuruh gadis ini melanjutkan perjalanan sendiri.

Malam itu dingin hawanya, jauh berbeda dengan siang tadi.

Gubuk atau pondok itu adalah pondok yang didirikan oleh Tuan tanah untuk menampung hasil panen tiap tahun, hanya merupakan sebuah pondok bambu yang berlantai batang padi kering.

Bagi mereka yang lelah, tempat ini amatlah nyaman untuk beristirahat melewatkan malam yang dingin.

Batang-batang padi kering itu hangat dan empuk, dinding bambu biarpun reyot dapat menahan sebagian angin yang bertiup dingin.

Kegelisahan hati, kelelahan, ditambah dinginnya hawa membuat Pendekar Buta dan isterinya tidur nyenyak menjelang tengah malam.

Orang yang berhati gelisah atau susah menjadi lelah sekali dan memang sukar tidur, akan tetapi apabila tidur sudah menguasainya, dia akan nyenyak sekali dan agaknya dalam ketiduran inilah segala kegelisahan, segala kelelahan, lenyap tanpa bekas.

Suami isteri ini tidur pulas di sudut pondok bambu.

Kun Hong telentang, nafasnya panjang-panjang berat sedangkan isterinya tidur miring menghadapinya, nafasnya halus tidak terdengar.

"Bibi...!"

Hening tiada jawaban.

"Paman...!"

Juga kesunyian mengikuti panggilan ini.

Siu Bi bangkit perlahan.

la tadi rebah di sudut lain, tak pernah meramkan matanya.

Setelah duduk, kembali ia memanggil Suami isteri itu, menyebut mereka Paman dan Bibi, malah kali ini agak dikeraskan suaranya.

Akan tetapi sia-sia, mereka agaknya amat nyenyak tidurnya, tidak mendengar panggilannya.

la menahan nafas lalu bangkit berdiri, mengerahkan seluruh tenaga ke arah matanya untuk memandang.

Bulan di luar pondok bersinar cemerlang, cahayanya yang redup dingin menerobos di antara celah-celah atap dan dinding yang tidak rapat, memberi sedikit penerangan ke dalam pondok.

Siu Bi dapat melihat Suami isteri itu tidur.

Pendekar Buta telentang, isterinya miring menghadapinya.

Jantungnya berdebar keras dan tangan kanannya bergerak meraba gagang pedang.

Kesempatan baik, pikirnya.

Kesempatan baik untuk melaksanakan sumpahnya, melaksanakan dendam Kakeknya!

Sepasang matanya beringas dan nafasnya agak terengah mudah sekali.

Satu kali bacok selagi mereka tidur nyenyak dan...

lengan mereka akan buntung!

Sungguh suatu hal yang sama sekali tak pernah ia mimpikan bahwa akhirnya ia akan dapat bertemu dengan musuh-musuh ini dalam keadaan sedemikian menguntungkannya.

Agaknya arwah Kakeknya sendiri yang menuntunnya sehingga ia dapat bertemu dengan mereka, dapat tidur sepondok dan mendapat kesempatan begini baik.

"Singgg!!"

Pedang Cui-Beng Kiam telah dicabutnya.

Siu Bi kaget sendiri mendengar suara ini cepat ia memandang ke sudut itu dan telinganya mendengarkan.

Akan tetapi, Suami isteri itu tidak bergerak, juga pernafasan mereka masih biasa, tidak berubah.

la berpikir sebentar.

Salah, pikirnya dan Pedang itu ia masukkan kembali ke sarung pedang.

Dia tidak bermaksud membunuh mereka, melainkan membuntungi lengan mereka yang kiri.

Akan tetapi ia teringat bahwa biarpun lengan mereka sudah buntung, agaknya kalau mereka sadar, ia tak mungkin dapat menghadapi mereka yang memiliki kesaktian luar biasa.

Membuntungi seorang di antara mereka tentu menimbulkan pekik dan mereka terbangun, lalu dialah yang akan celaka di tangan mereka.

Tidak, bukan begini caranya!

Harus lebih dulu membuat mereka tidak berdaya.

Ada sepuluh menit Siu Bi berdiri termangu-mangu, memeras otak mencari keputusan yang tepat.

Tubuhnya agak menggigil tadi karena tegang, akan tetapi sekarang ia sudah berhasil menekan perasaannya dan menjadi tenang.

la amat memerlukan ketenangan ini, karena apa yang akan ia lakukan adalah soal mati hidup.

la menghadapi Suami isteri yang terkenal sebagai orang-orang sakti di dunia persilatan.

Nama Pendekar Buta menggegerkan dunia kang-ouw, bahkan orang-orang sakti seperti Ang-hwa Nio-mo dan kawan-kawannya merasa gentar menghadapi rendekar Buta dan menghimpun banyak tenaga sakti untuk menghadapinya.

Dan sekarang.

sekaligus menghadapi Suami isteri itu dalam keadan yang amat menguntungkan!

Siu Bi membiasakan pandang matanya di dalam pondok yang remang-remang itu.

Baiknya sinar bulan makin bercahaya, agaknya angkasanya amat cerah, tidak ada awan menghalangi.

Perlahan-lahan Siu Bi melangkah menghampiri sudut di mana mereka tidur nyenyak.

Dadanya kembali berdebar, terasa amat panas sukar baginya untuk bernafas punggungnya terasa dingin sekali, akan tetapi sekarang kaki tangannya tidak menggigil lagi.

la menahan nafas yang disedotnya dalam-dalam, lalu melangkah lagi.

Matanya tertuju ke arah Hui Kauw.

Nyonya itu tidurnya miring sehingga memudahkannya untuk menotok jalan darah di punggung yang akan melumpuhkan kaki tangan.

Pendekar Buta tidur terlentang, lebih sukar untuk membuatnya tidak berdaya dengan sekali totokan.

Oleh karena inilah maka Siu Bi mengincar punggung Hui Kauw dan maju makin dekat.

Setelah dekat sekali dan matanya dapat memandang dengan jelas, Siu Bi menahan nafas mengerahkan tenaga dalam, tangan kanannya bergerak dan dua buah jari tangannya yang kanan menotok punggung Hui Kauw.

la merasa betapa ujung jari-jarinya dengan tepat menemui jalan darah di bawah kulit yang halus.

Hui Kauw tanpa dapat melawan telah kena ditotok jalan darahnya di punggungnya dan pada detik berikutnya, Siu Bi sudah menotok jalan darah di leher yang membuat nyonya itu menjadi gagu untuk sementara.

Hui Kauw mencoba untuk menggerakkan tubuh, sia-sia dan tubuhnya yang miring itu menjadi telentang, matanya terbelalak akan tetapi ia tidak mampu bergerak atau bersuara lagi.

Siu Bi yang merasa takut sekali kalau-kalau Pendekar Buta bangun, cepat menggerakkan kedua tangannya menotok kedua jalan darah di pundak kanan kiri, kaget sekali karena ujung jari-jari tangannya bertemu dengan kulit yang amat lunak, lebih lunak daripada kulit punggung Hui Kauw tadi.

Pendekar Buta mengeluh dan tubuhnya bergerak miring.

Melihat ini, cepat Siu Bi menotoknya pada punggung dan...

tubuh Pendekar Buta yang sakti itu kini tak dapat bergerak lagi kaki tangannya, lumpuh seperti keadaan isterinya!

Akan tetapi karena dia tidak tertotok jalan darah di lehernya, dia dapat mengeluarkan suara yang terheran-heran.

"Eh... eh... apa-apaan ini? Siapa melakukan ini? Hui Kauw, apa yang terjadi...?"

Akan tetapi Hui Kauw tidak dapat menjawab karena nyonya ini selain lumpuh kaki tangannya, juga tak dapat mengeluarkan suara!

Saking tegangnya, Siu Bi terengah-engah dan jatuh terduduk.

Dalam melakukan totokan-totokan tadi, ia telah mengerahkan tenaga dalamnya, ditambah suasana yang menegangkan urat syaraf, maka setelah kini berhasil, ia terengah-engah lemas tubuhnya dan...

ia menangis terisak-isak.

"Eh, anak baik, Kim Hoa... apa yang terjadi? Kenapa kau menangis, dan Bibimu kenapa?"

Kun Hong bertanya.

Siu Bi merasa betapa nafasnya sesak dan hawa udara tiba-tiba menjadi panas baginya.

la melompat berdiri, kedua tangannya menyambar leher baju dua orang yang sudah lumpuh itu dan diseretnya mereka keluar pondok!

"Eh-eh-eh, kau kah ini Kim Hoa?

Apa yang kau lakukan ini?"

Siu Bi menyeret mereka keluar dan melepaskan mereka di depan pondok.

la sendiri berdiri menengadah, menarik nafas dalam-dalam.

Hawa malam yang dingin, angin yang bersilir dan sinar bulan membuat nafasnya menjadi lega.

la tidak gelisah lagi.

"Pendekar Buta, ketahuilah, aku yang menotokmu dan menotok isterimu."

La tersenyum dan tangannya bergerak membebaskan totokan pada jalan darah Hui Kauw. Nyonya ini terbatuk, mengeluh perlahan lalu berseru.

"Bocah, kau siapa? Kenapa kau menyerang kami secara membuta?"

Siu Bi tersenyum lagi.

"Dengarlah baik-baik. Namaku Siu Bi dan aku melakukah hal ini karena aku ingin membalaskan dendam Kakekku, Hek Lojin. Pendekar Buta, ingatkah kau ketika kau membuntungi lengan Kakekku? Nah, sekarang aku akan memenuhi sumpahku, membalas kalian dengan membuntungi lengan kiri kalian seperti yang kau lakukan terhadap Kakek!"

Siu Bi mencabut pedangnya.

"Singgg!"

Lalu ia mendongakkan mukanya ke angkasa berseru perlahan.

"Kakek yang baik, kau lah satu-satunya orang di dunia ini yang menyayangku... sekarang kau tiada lagi... tapi kesayanganmu tidak sia-sia, Kakek... lihatlah dari sana betapa saat ini Cucumu telah melunasi semua hutang, harap kau beristirahat dengan tenang..."

Setelah berkata demikian dalam keadaan seperti terkena pengaruh gaib atau kemasukan roh jahat yang berkeliaran di malam terang bulan itu, Siu Bi menggerakkan pedangnya, dibacokkan ke arah lengan kiri Kun Hong.

"Crakkk!"

Sebuah lengan terbabat putus, darah muncrat-muncrat dan Siu Bi menjerit sambil melompat ke belakang.

Di depannya, entah dari mana datangnya, telah berdiri seorang laki-laki yang buntung lengan kirinya!

"Kakek...!"

Siu Bi memekik penuh kengerian, mengira bahwa roh Kakeknya yang muncul ini.

Akan tetapi ia melihat betapa lengan kiri yang buntung itu masih meneteskan darah segar sedangkan atas tanah menggeletak buntungan tangan.

Pendekar Buta dan isterinya masih rebah terlentang.

Siu Bi cepat mengalihkan pandang matanya yang terbelalak ke arah orang di depannya, wajahnyaa pucat sekali.

"Siu Bi... anakku..."

Orang itu berkata, biarpun lengannya sudah buntung dan wajahnya pucat keringatnya memenuhi muka menahan sakit yang hebat, namun mulutnya tersenyum, wajahnya yang setengah tua dan tatapan dibayangi kedukaan hebat.

"Kau... kau..."

Siu Bi berbisik ketika mengenal bahwa orang itu, orang yang datang menangkis pedangnya tadi dengan lengan kiri sehingga bukan lengan Pendekar Buta yang buntung, melainkan lengannya, adalah The Sun Ayah tirinya!

"Aku Ayahmu, Siu Bi...

lama sekali dan susah payah aku mencarimu..."

"Bukan, kau bukan Ayahku! Pergi...!"

The Sun menggeleng kepalanya.

"Tidak boleh, Siu Bi, anakku. Kau tidak boleh menambah dosa yang sudah bertumpuk-tumpuk, dosa yang diperbuat mendiang Kakekmu dan aku..."

"Kau... kau membunuh Kakek, kau bukan Ayahku... sa... salahmu sendiri...,. kau menangkis pedangku..."

"Memang sepatutnya lenganku yang buntung, bukan lengan Kun Hong! Biarpun lengan Suhu buntung oleh Pedang Kun Hong, akan tetapi akulah yang berdosa, dan karenanya sudah sepatutnya aku pula yang menanggung hukumannya. Siu Bi, kau tidak tahu betapa jahatnya Kakekmu Hek Lojin, betapa jahatnya pula aku dahulu. Kakekmu dan aku yang dahulu menyerbu dan bermaksud membunuh Pendekar Buta, kami bersekutu dengan orang-orang jahat di dunia kang-ouw. Kami haus akan kemuliaan, akan kedudukan dan harta, karena itu kami memusuhi Pendekar Buta dan Raja Pedang. Akan tetapi kami semua kalah, Kakek Gurumu juga kalah, baiknya Pendekar Buta masih menaruh kasihan, hanya membuntungi lengan, tidak membunuhnya...! Aku bertemu dengan Ibumu, Ibumu yang mengandungmu karena dipermainkan majikan-majikannya, aku membelanya, kami menjadi Suami isteri, dan kau... kau anakku juga, Siu Bi. Aku sudah berusaha menebus dosa, mengasingkan diri di Go-Bi-San, siapa kira... penebusan dosa yang sia-sia, dirusak Kakekmu... dia mendidikmu untuk membalas dendam...,, akhirnya dosaku bertambah, dia tewas di tanganku... dan sekarang, Tuhan menghukum hambaNya kau sendiri membuntungi lenganku. Ah, aku puas... seharusnya beginilah..."

Tiba-tiba Siu Bi menjerit dan menutupi mukanya, menangis terisak-isak.

la teringat akan Swan Bu yang sudah ia buntung lengannya.

Pada saat itu Suami isteri yang tadinya rebah lumpuh, bersama melompat bangun.

"The Sun, hukum karma tak dapat dielakkan oleh siapapun juga,"

Kata Kun Hong. The Sun tercengang dan membalikkan tubuhnya. Siu Bi menurunkan tangannya dan memandang bengong.

"Kau... kau... sudah kutotok kalian..."

Katanya gagap. Hui Kauw melangkah maju dan.

"Plak! plak!"

Dua kali kedua pipi Siu Bi ditamparnya, membuat gadis itu terpelanting dan bergulingan beberapa kali. Ketika ia berhasil melompat bangun, kedua pipinya menjadi bengkak.

"Bocah yang dididik menjadi binatang liar, dan keji!"

Kata nyonya ini, senyumnya mengejek.

"Kau kira akan dapat membikin lumpuh Pendekar Buta? Kalau dia mau, tadi sudah dengan mudahnya merobohkanmu. Sengaja dia hendak menanti apa yang akan kau lakukan. Pada saat kau membacok tadi, dia sudah siap menangkis dan merobohkanmu. Kiranya The Sun muncul dan mewakilinya dengan berkorban lengan. Benar, Tuhan menghukum hamba-Nya!"

Siu Bi kaget, malu, menyesal dan segala macam perasaannya bercampur aduk di dalam dadanya.

Kembali ia menjerit lalu ia melarikan diri di malam gelap karena bulan sudah menyembunyikan diri di dalam awan.

"Siu Bi... tunggu..."

The Sun lari mengejar, terhuyung-huyung dan darah berceceran dari lengannya.

Kun Hong memegang tangan isterinya.

Memang betul apa yang dikatakan Hui Kauw tadi.

Ketika Siu Bi menotoknya, ia kaget akan tetapi dengan Sinkangnya yang luar biasa, dia dapat memunahkan totokan itu dan sengaja dia berpura-pura lumpuh dan diseret keluar menurut saja.

Malah ketika Siu Bi mencabut pedang, dia tetap diam saja, hanya siap untuk melakukan serangan balasan merobohkan gadis itu.

Ketika The Sun muncul, dengan mudahnya dia membebaskan totokan isterinya.

"Hebat..."

Bisiknya.

"Jadi itukah bocah yang dikabarkan mengancam kita? Heran sekali, siapakah sebetulnya yang telah menangkapnya dan menyiksanya...? Anak itu sebetulnya tidak jahat... dan syukurlah bahwa The Sun telah dapat menguasai nafsu-nafsunya dan berubah menjadi manusia baik-baik."

"Hemm, suamiku. Kau selalu mengalah, sabar, dan menilai orang lain dari segi-segi baiknya saja. Gadis demikian kejam dan liar, tidak kenal budi, ditolong malah membalas dengan ancaman membuntungi lengan, kau bilang sebetulnya tidak jahat? Dan The Sun itu, terang dialah gara-gara semua perkara ini, kau bilang sudah menjadi manusia baik-baik?"

Hui Kauw sendiri terkenal seorang yang sabar hatinya, akan tetapi dibandingkan dengan suaminya, ia kadang-kadang merasa bahwa suaminya itu terlalu lemah, dan terlalu sabar.

"Aku tidak mau menilai orang dari kebodohannya, isteriku. Menilai orang harus dari segi-segi baiknya, kalau ia melakukan, itu hanya karena ia lupa dan terseret oleh sesuatu yang membuat ia menyeleweng dari kebenaran. Gadis itu pada dasarnya baik, hanya ia dimabukkan oleh rasa dendam untuk membalas sakit hati Kakeknya. Bukankah itu wajar bagi seorang gadis yang terdidik ilmu silat di pegunungan yang sunyi? Adapun The Sun, mendengar suaranya, ternyata dia telah mendapatkan kemajuan pesat dalam hatinya. Agaknya kalau kali ini kita menghadapi tentangan-tentangan, tentu bukan dari The Sun datangnya dan... he, ada orang di pondok!"

Cepat bagaikan kilat tubuh Pendekar Buta ini sudah mencelat ke arah pondok, disusul isterinya.

Akan tetapi Hui Kauw hanya melihat berkelebatnya bayangan yang cepat sekali menghilang di balik pondok itu.

Ketika mereka memeriksa, ternyata buntalan pakaian mereka masih ada juga tongkat Kun Hong masih ada.

Akan tetapi Pedang Kim-Seng-Kiam, Pedang Hui Kauw, lenyap dari tempatnya semula, yaitu tadinya disandarkan pada bilik.

"Pedangku hilang! Mari kejar...!"

Seru Hui Kauw, akan tetapi Kun Hong memegang lengannya.

"Jangan, percuma saja. Tentu dia sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Biarlah, kelak tentu kita akan bertemu dengan pencurinya. Bukan tidak ada maksudnya mencuri pedangmu...? "Ah, tentu gadis iblis tadi... atau mungkin The Sun! Memang mereka jahat...!"

Kun Hong menggeleng-geleng kepalanya dan alisnya berkerut.

"Bukan mereka... The Sun terluka parah, lengannya buntung, tak mungkin dia melakukan hal ini, juga puterinya tidak. Mereka takkan senekat itu. Eh, bagaimana kau lihat orang tadi, ataukah kau tidak sempat melihatnya?"

"Hanya bayangan berkelebat cepat, kurasa lebih cepat daripada gerakan Siu Bi, entah laki-laki entah wanita, akan tetapi kalau laki-laki, tentu dia seorang bertubuh kurus kecil. Mungkin wanita."

"Hemmm, isteriku. Kalau tidak meleset dugaanku, orang yang mencuri pedangmu dan orang yang melakukan fitnah atas diri anak kita sehingga membuat Kong Bu marah, adalah sama. Entah siapa dia, akan tetapi yang jelas dia atau mereka adalah pengecut-pengecut yang tiada berharga, tidak berani menghadapi kita secara langsung melainkan dengan cara mengadu domba dan melakukan fitnah. Kita harus cepat ke Kong-Goan dan menyelidiki ke kuil tua. Sekarang juga kita berangkat."

Apakah sesungguhnya yang terjadi dengan diri Tan Kong Bu, Pendekar dari Min-San?

Pedang Kim-Seng-Kiam milik Hui Kauw telah lenyap dicuri orang dari pondok itu, bagaimana tahu-tahu bisa menancap di dada Kong Bu yang mayatnya ditemukan oleh Tan Cui Sian dan Kwa Swan Bu seperti telah dituturkan di bagian depan?

Untuk mengetahui hal ini, mari kita mengikuti pengalaman mendiang Kong Bu, jago tua yang berhati sekeras baja dan berwatak jujur dan terbuka itu.

Dapat dibayangkan betapa malu, sedih, menyesal yang kesemuanya menimbulkan kemarahan besar di dalam hati Tan Kong Bu ketika dia menyaksikan puteri tunggalnya yang terkasih, mendapat penghinaan dari Kwa Swan Bu.

Biarpun Swan Bu putera Pendekar Buta yang dia kagumi dan dia sayang pula, namun perbuatan pemuda itu melebihi segala batas dan jalan satu-satunya hanya memberi hukuman mati kepadanya!

Lebih sakit hatinya ketika dia mendaki puncak Liong-Thouw-San bertemu dengan Pendekar Buta Suami isteri terjadi percekcokan dan dia tak mainpu menandingi Suami isteri sakti itu.

Hal ini amat menyakitkan hatinya dan dia segera kembali menuju ke Kong-Goan untuk mencari jejak Swan Bu lagi dan dia takkan mau berhenti sebelum bertemu dengan pemuda itu dan mengadu nyawa dengannya!

Pada suatu pagi yang naas baginya, dia memasuki sebuah hutan kecil.

Di tengah hutan itu, di atas lapangan rumput yang luas, dia melihat tiga orang berdiri memandangnya, seakan-akan mereka sengaja menanti dan mencegat perjalanannya.

Sebagai seorang tokoh kang-ouw, tentu saja Kong Bu dapat menduga niat mereka itu, maka dia pun bersiap-siap sambil memandang tajam penuh selidik.

Akan tetapi ternyata bahwa dia tidak mengenal orang-orang itu, sungguhpun dia dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang di dunia kang-ouw yang berkepandaian tinggi.

Seorang di antara mereka adalah Nenek tua yang berkulit kehitaman, pakaiannya berkembang merah, di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Orang kedua adalah seorang Kakek pendek gendut, mukanya seperti seorang dari Utara, tidak membawa senjata, sedangkan orang ketiga adalah seorang Kakek yang mulutnya tersenyum-senyum mengejek, juga pakaiannya serba merah sehingga kelihatan lucu sekali dan aneh, seperti seorang gila, tangannya memegang sebatang tongkat panjang.

Melihat Kakek ketiga ini, Kong Bu mengerutkan keningnya, serasa pernah dia melihat muka ini, tapi lupa lagi kapan dan di mana.

la hendak berjalan terus, tanpa menoleh, hanya melirik dari sudut matanya.

Kalau mereka tidak mengganggunya, dia pun tidak akan mencari perkara selagi perkara sendiri yang cukup gawat belum selesai.

Namun dia maklum bahwa ketiga orang itu bukanlah tokoh baik-baik, maka dia bersikap waspada.

"Bukankah dia itu jago Min-San? Kenapa berkeliaran sampai di sini?"

Tiba-tiba terdengar suara parau dari Kakek pendek gendut.

"Aha, apa kau tidak tahu, Sianjin? Anak perempuannya dihina orang, akan tetapi dia tidak berani berkutik karena yang menghina adalah putera Pendekar Buta!"

Jawab si nenek.

"Aih...aih...aih... yang begitu mana patut disebut Pendekar? Pengecut besar dia..."

Kata Kakek berpakaian merah.

Akan tetapi Kakek ini terpaksa menghentikan kata-katanya dan cepat dia melempar diri ke kiri sambil menggerakkan tongkatnya menangkis ketika sesosok sinar cemerlang menyambarnya.

Sinar itu adalah sinar Pedang di tangan Kong Bu yang sudah menerjangnya dengan kecepatan kilat menyambar.

"Swiiinggg...!"

Sinar Pedang menyambar, merupakan gulungan sinar putih yang mendatangkan angin tajam! "Hayaaaaa...!"

Kakek berpakaian merah berseru kaget dan cepat membanting tubuh ke kiri, berjungkir balik dan tongkatnya sudah diputar melindungi tubuhnya.

Di lain detik Kong Bu sudah berdiri dengan kaki terpentang lebar, Pedang melintang di depan dada, mata memandang tiga orang itu dengan sinar bernyala-nyala.

"Siapakah kalian dan apa maksud kalian menghina orang lewat tanpa sebab?"

Nenek itu tertawa mengejek.

"Hi...hi...hik, kau bilang tanpa sebab? Apakah kau hendak menyangkal betapa puterimu di kuil tua di Kong-Goan tidur di samping putera Pendekar Buta yang telanjang...? Hi...hi...hik, dan kau tidak berani..."

Nenek itu menghentikan tawanya karena Kong Bu sudah melangkah maju setindak, mukanya beringas, Pedang di tangannya tergetar.

"Bagaimana kau bisa tahu? Ah... tahulah aku sekarang. Agaknya kalian inilah manusia-manusianya yang sengaja mengatur itu... ah, betapa bodohku! Dan kau..."

La menuding muka Kakek berpakaian merah dengan pedangnya.

"Kau Ang-Mo-Ko. Ya, ingat aku sekarang, kau bekas pengawal Kaisar muda. He, Ang-Mo-Ko, apa kehendakmu menghadang dan menghinaku? Dan dua orangj ini siapa?"

Nenek itu melangkah maju, pedangnya sudah tercabut dan berada di tangannya, Pedang yang mengeluarkan sinar keemasan.

"Kau putera Raja Pedang kan? Hi...hi...hik, Raja Pedang dan Pendekar Buta musuh-musuh kami, keluarga mereka pun musuh kami. Memang kami yang mengatur di kuil tua di Kong-Goan. Hi...hi...hik, Tan Kong Bu, kau mau mengenal kami? Aku Ang-hwa Nio-nip, Kui Ciauw..."

"Ah, kau sisa dari Ang Hwa Sam Ci-moi? Bagus, kiranya musuh besar!"

Bentak Kong Bu.

"Dan sahabatku ini adalah Bo Wi Sianjin, Sute dari mendiang Ka Chong Hoatsu..."

"Hemmm, semua adalah musuh-musuh besar Ayah. Pantas, pantas... heee, Ang-Hwa Nio-Nio, apa yang telah kalian lakukan terhadap anakku? Kalau memang kalian mendendam, mengapa tidak langsung menghadapi Ayah atau aku, tua lawan tua. Kenapa mesti mengganggu bocah? Tak tahu malu engkau!"

Ang-Hwa Nio-Nio tertawa terkekeh.

"Kami tawan anakmu dan anak Pendekar Buta, kami menotok mereka dan menjajarkan di dalam kuil, memancing kau masuk. Ihhh, kiranya kau begitu goblok, tidak dapat membunuh putera Pendekar Buta, ataukah... kau tidak berani?"

"Keparat"

Kong Bu tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Pedangnya Sudah berkelebat menyambar dengan sebuah tusukan kilat ke arah dada Ang-Hwa Nio-Nio.

Serangan ini hebat sekali, didorong oleh tenaga Yangkang yang luar biasa, tak mungkin dapat dielakkan lagi saking cepatnya.

Kalau bukan Ang-Hwa Nio-Nio yang diserang, tentu telah tembus dadanya oleh pedang.

Akan tetapi wanita tua ini bukan orang lemah dan ia pun maklum bahwa mengelak berarti menghadapi bahaya maut.

Maka sambil menjatuhkan diri ke kanan, pedangnya bergerak menangkis, berubah menjadi sinar keemasan.

"Tranggggg...!"

Tangan Kong Bu tergetar dan dia cepat-cepat menarik kembali pedangnya.

Diam-diam dia mengakui kelihaian Nenek ini, akan tetapi yang membuat dia lebih bingung dan kaget adalah ketika dia melihat Pedang bersinar keemasan di tangan si nenek.

IA mengenal Pedang ini, serupa benar dengan Pedang isteri Pendekar Buta yang baru beberapa pekan ini dihadapinya.

Ketika bertanding dengan Hui Kauw, nyonya itu pun menggunakan Pedang ini.

Apakah Pedang mereka memang kembar?

"Iblis, Pedang siapa kau pakai?"

Kong Bu membentak dan melanjutkan serangannya. Akan tetapi pedangnya bertemu dengan tongkat panjang dan kiranya Ang-Mo-Ko sudah maju pula mengeroyok.

"Hi...hi...hik, mau tahu? Pedang nyonya Pendekar Buta ini, dan sebentar lagi Pedang ini yang akan mengambil nyawamu!"

Kong Bu seorang yang jujur, akan tetapi dia bukanlah orang bodoh pertemuannya dengan tiga orang ini sudah cukup baginya untuk membuka matanya, untuk memecahkan rahasia itu.

Tahulah dia sekarang bahwa peristiwa antara Swan Bu dan Lee Si adalah peristiwa buatan mereka ini, musuh-musuh besar Ayahnya dan musuh-musuh Pendekar Buta pula.

Me.reka sengaja memancing kemarahannya agar dia bermusuhan dengan Pendekar Buta.

Agaknya melihat bahwa ia belum dapat membunuh Swan Bu, mereka tidak sabar dan kini mereka hendak turun tangan sendiri, membunuhnya dan kembali mereka hendak menjalankan siasat mengadu domba, yaitu hendak membunuhnya menggunakan Pedang isteri Pendekar Buta yang entah bagaimana bisa terjatuh ke tangan Ang-Hwa Nio-Nio.

"Jangan kira gampang!!"

La membentak dan segera Ketua Min-San-Pai ini mainkan pedangnya dengan Ilmu Pedang Yang-Sin Kiam-Hoat yang ampuh.

Pedangnya lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar putih yang panjang dan lebar melibatlibat dan melayang-layang seperti seekor naga di angkasa yang mengamuk dan bermain-main di antara awan putih.

"Kok-kok-kok?"

Bo Wi Sianjin si Kakek gendut pendek sudah berjongkok dan melancarkan pukulan Katak Saktinya.

Pada saat itu baru saja Kong Bu menangkis Pedang Ang-Hwa Nio-Nio dan melompat ke kanan menghindarkan diri dari tongkat Ang-Mo-Ko yang menyapu pinggangnya.

Kagetlah dia ketika tiba-tiba mendengar suara aneh itu dari belakang dan tiba-tiba menyambar angin pukulan yang amat dahsyat.

Melihat sikap dan kedudukan Kakek itu aneh sekali, Kong Bu tidak berani menghadapinya dengan kekerasan, melainkan mengelak sambil berjongkok.

Angin pukulan menyambar lewat di atas kepalanya dan alangkah kagetnya ketika kain pembungkus kepalanya hancur berkeping-keping.

Baru diserernpet hawa pukulan itu saja sudah demikian hebat akibatnya, dapat dibayangkan betapa akibatnya kalau pukulan aneh itu tepat mengenai perutnya!

Maklumlah Pendekar ini bahwa di antara tiga orang lawannya, Kakek pendek yang bertangan kosong inilah yang paling berbahaya.

Karena itu, Kong Bu segera mengubah siasat.

la sengaja bergerak dan melayang cepat, sengaja dia menjauhkan diri dari Bo Wi Sianjin, atau dia sengaja mengambil posisi sedemikian rupa agar Kakek pendek itu selalu terhalang oleh Ang-Mo-Ko atau Ang-Hwa Nio-Nio sehingga tidak berani melancarkan pukulan jarak jauh yang mujijat tadi karena jika demikian, tentu ada bahayanya memukul kawan sendiri.

Setelah dalann pertempuran seperempat jam lamanya belum juga mereka dapat merobohkan Kong Bu, Ang-Hwa Nio-Nio menjadi marah dan penasaran sekali.

Nenek ini mengeluarkan pekik nyaring, tubuhnya meloneat bagaikan seekor burung walet, pedangnya diputar menerjang Kong Bu dari atas, dan tangan kirinya mengirim pukulan Ang-Tok-ciyng yang tak kalah berbahayanya.

"Cring-cring-cring...!"

Tiga kali Pedang Kong Bu menangkis serangan beruntun itu.

Serangan Ang-Hwa Nio-Nio memang aneh dan hebat.

Begitu pedangnya tertangkis, Pedang itu terpental bukan ke belakang, melainkan menyeleweng dan terus menjadi gerak serangan susulan yang makin lama makin hebat.

Terpaksa Kong Bu mainkan Yang-Sin Kiam-Hoat bagian pertahanan setelah melihat betapa tiga kali tangkisannya tidak membuyarkan rangkaian serangan lawan.

Kini pedangnya diputar seperti payung dan jangankan baru serangan Pedang Ang-Hwa Nio-Nio, biarpun hujan deras menyiramnya, tak setetes pun air akan dapat mengenai bajunya.

Pukulan Ang-Hwa Nio-Nio dengan tangan kiri, tak berani Kong Bu menerimanya langsung.

la dapat melihat betapa tangan Nenek itu menjadi merah, tanda bahwa pukulan itu mengandung hawa beracun yang jahat.

la hanya menggeser kaki miringkan tubuh sambil menangkis dari samping.

Sebagai ahli Yang-Sin Kiam-Hoat, tentu saja Kong Bu memiliki tenaga Yangkang istimewa kuatnya, maka benturan ini membuat Nenek tadi terhuyung-huyung dan serangannya otomatis gagal.

Ang-Mo-Ko menanti kesempatari baik.

Selagi kedua Pedang tadi berkelebatan beradu cepat, dia tidak berani sembrono dengan tongkatnya, karena selain hal ini dapat mengacaukan permainan Pedang Ang-Hwa Nio-Nio, juga salah-salah tong, katnya akan kena benturan Pedang kawannya.

Kini melihat betapa libatan sinar-sinar Pedang itu sudah teriepas dan Kong Bu juga terhuyung ke kanan oleh benturan tenaga tadi, cepat laksana kilat tongkatnya menyelonong maju, digetarkan sehingga ujungnya berubah menjadi belasan batang yang kesemuanya menyerang dengan totokan-totokan maut ke arah bagian tubuh yang berbahaya.

Hebat memang ilmu tongkat Ang-Mo-Ko.

Bagian tubuh yang berbahaya dimulai dari ubun-ubun kepala terus ke bawah dalam jarak sejengkal tangan, yaitu dari ubun-ubun ke mata, telinga, tenggorokan, pundak, ulu hati, pusar dan seterusnya.

Anehnya, ujung tongkat yai g hanya satu ini, setelah dia getarkan sedemikian kuatnya, seakan-akan berubah menjadi belasan batang dan menyerang semua bagian berbahaya itu sambil mengeluarkan suara mendengung-dengung!

Melihat penyerangan yang luar biasa ganasnya ini Kong Bu mengeluarkan suara melengking tinggi dari kerongkongannya.

Inilah pengerahan Sinkang yang istimewa, disertai suara melengking, sebuah ilmu kesaktian yang dia warisi dari mendiang Kakeknya, Song-Bun-Kwi Kwee Lun Si Iblis Berkabung!

Bunyi lengking tinggi ini selain menambah daya pemusatan Sinkang, juga mengandung tenaga yang menggetarkan jantung lawan.

Sambil melengking-lengking Kong Bu menggerakkan pedangnya yang menerobos di antara bayangan ujung tongkat.

Terdengar suara keras ketika tongkat di tangan Ang-Mo-Ko patah-patah menjadi lima potong dan disusul pekik mengerikan karena tanpa dapat dielakkan lagi oleh Ang Moko, Pedang di tangan Kong Bu sudah menancap tenggorokannya sampai tembus dan sekali Kong Bu merenggut ke kanan, leher itu hampir putus!

Tubuh Ang-Mo-Ko roboh miring, kepala yang lehernya hampir putus tertindih paha, darah menyembur-nyembur dan kaki tangan berkelojotan, kaku kejang seakan-akan tubuh yang rusak lehernya oleh Pedang itu masih tak tega berpisahan dengan nyawa!

"Keparat, terimalah pukulanku!"

Terdengar bentakan dari belakang Kong Bu disusul suara "Kok-kok-kok!"

Seperti tadi.

Kong Bu maklum bahwa Kakek pendek itu sekarang mendapat kesempatan melancarkan pukulannya yang aneh dan mujijat.

Cepat dia memutar tubuhnya, berusaha mengelak sambil mengerahkan Sinkang di kedua lengannya, mendorong ke depan untuk menahan gelombang serangan tenaga yang tidak tampak.

Nampak pukulan Katak Sakti dari Bo Wi Sianjin ini bukan main hebat dan kuatnya.

Kong Bu merasa betapa tubuhnya seperti ditembus angin taufan yang tak tertahankan, dorongannya membalik dan tubuhnya melayang seperti layang-layang putus talinya!

Pada saat itu, Pedang Ang-Hwa Nio-Nio meluncur dan membabat pinggangnya.

Baiknya Kong Bu adalah seorang jagoan yang sudah matang kepandaiannya, maka biarpun tubuhnya melayang di udara, dia cepat dapat menguasai dirinya lagi sehingga melihat sinar Pedang berkelebat mengancam pinggang, dia masih dapat menggerakkan pedangnya sekuat tenaga menangkis.

"Tranggggg...!!"

Tubuh Kong Bu melompat sambil berjungkir-balik, membuat salto sampai tiga kali sebelum kedua kakinya menginjak bumi.

Akan tetapi kagetlah dia ketika melihat bahwa pedangnya telah patah di dekat gagangnya.

Dengan hati geram dia membanting gagang pedang, lalu melolos sarung Pedang yang dipegang di tangan kanannya, juga melepaskan ikat pinggang yang terbuat dari sutera kuning.

Biarpun tidak sehebat pedangnya yang patah, namun dengan sarung Pedang dan ikat pinggang di tangan, Kong Bu masih merupakan lawan yang amat tangguh!

Kembali Ang-Hwa Nio-Nio menyerang, kali ini Nenek itu memperlihatkan Ginkangnya.

Sekali kedua kakinya menjejak tanah, tubuhnya melayang seperti terbang ke arah Kong Bu, pedangnya diputar-putar di depannya, berubah menjadi segulung sinar Bundar, diiringi suara seruannya yang nyaring, Kong Bu maklum akan keampuhan Pedang di tangan Nenek itu, Pedang yang mengeluarkan sinar keemasan.

la maklum pula bahwa kalau dia menangkis dengan sarung pedang, tentu senjatanya ini akan terbabat putus, maka dia lalu membentak keras, ikat pinggangnya di tangan kiri bergerak seperti seekor ular nienyambar, ujungnya menyambut Pedang lawan dengan maksud melibat Pedang atau lengan yang memegang pedang.

Namun Ang-Hwa Nio-Nio juga bukan seorang ahli silat sembarangan.

Tak mau ia mengadu pedangnya dengan benda lemas itu.

la menarik pedangnya, turun ke atas tanah lalu mengubah serangannya, menusuk dan membabat bertubi-tubi, tidak memberi kesempatan lagi kepada lawannya.

Kong Bu melengking keras ketika dari belakang terdengar suara "Kok-kok-kok,"

Pukulan mujijat dari Bo Wi Sianjin.

Terpaksa dia menghindar ke kiri, akan tetapi di sini dia disambut oleh tusukan Pedang yang dapat ditangkisnya dari samping dengan sarung pedang.

Ikat pinggangnya dikelebatkan ke belakang menyerang kaki Bo Wi Sianjim Serangan ini kelihatannya sepele, akan tetapi kiranya akan celakalah Kakek pendek itu kalau kakinya sarnpai kena terlibat ikat pinggang!

Bo Wi Sianjin tertawa mengejek, sambil melompat tinggi, kemudian turuni dan melancarkan pukulan Katak Sakti lagi yang juga dapat dielakkan oleh Kong Bu, walau dengan susah payah.

"Heh...heh...heh, ada apa ini ribut-ribut? terdengar suara yang kaku dan ganjil, suara orang asing. Kong Bu melirik dan melihat seorang Kakek asing berkulit hitam, tinggi besar bersorban, telinganya memakai anting-anting, jalan mendatangi bersama seorang Hwesio yeng juga tinggi besar akan tetapi sudah tua sekali, Hwesio yang pakaiannya sederhana dan bajunya dibuka lebar di bagian dada. Mereka itu bukan lain adalah Maharsi dan Bhok Hwesio "Ji-wi Lo-Suhu mengapa baru datang? Ang-Mo-Ko tewas oleh keparat ini"

Teriak Ang-Hwa Nio-Nio, setengah menyesal akan tetapi juga girang.

"Dia mampus pun salahnya sendiri, karena kepandaiannya masih rendah,"

Jawab Maharsi seenaknya.

"Inikah jago Min-San putera Raja Pedang? Heh...heh...heh, ingin kucuba!"

Kong Bu kaget sekali.

la masih sibuk menghadapi desakan Pedang Ang-Hwa Nio-Nio dan pukulan mujijat Bo Wi Sianjin.

Sekarang tiba-tiba Pendeta India yang tinggi itu berjalan miring-miring mendekatinya, lengan tangannya bergerak dan lengan itu seperti mulur, tahu-tahu sudah dekat dengan kepalanya, didahului angin pukulan yang tak kalah mujijatnya oleh angin pukulan Katak Sakti Bo Wi Sianjin.

Kong Bu cepat menjatuhkan diri di atas tanah dan bergulingan.

Hanya dengan cara ini dia tadi dapat terbebas dari bahaya maut.

Saking marahnya, Kong Bu mengeluarkan lengking tinggi bersambung-sambung, melompat bangun dan mengamuk.

Namun pihak lawan terlalu banyak dan terlalu tangguh.

Pada suatu saat dia berhasil menghindar dari pukulan Katak Sakti Bo Wi Sianjin, akan tetapi tidak dapat mengelak dari pukulan Pai-San-Jiu dari Maharsi.

Punggungnya kena dorongan dahsyat ini, dia terbanting roboh, nafasnya sesak dan setengah pingsan.

Pada saat itulah Ang-Hwa Nio-Nio melompat dekat dan menusukkan Kim-Seng-Kiam ke dadanya.

Pedang ini amblas sampai setengahnya lebih, tepat menghunjam dada kiri dan menembus jantung sehingga jagoan sakti Pendekar Min-San ini tewas di saat itu juga tanpa dapat mengeluh lagi.

Dan demikianlah, seperti telah dituturkan di bagian depan, Tan Cui Sian dan Kwa Swan Bu dari jauh mendengar lengking tinggi dari Kong Bu, akan tetapi ketika mereka tiba di tempat itu, hanya melihat mayat Tan Kong Bu dengan Pedang Kim-Seng-Kiam menancap di dadanya.

Melihat Pedang ini yang diakui sebagai Pedang Ibunya oleh Swan Bu, Cui Sian marah bukan main.

la dapat menduga bahwa kakaknya yang berdarah panas dan berwatak keras itu tentu tewas di tangan isteri Pendekar Buta.

la pun maklum bahwa tentu kakaknya itu marah-marah kepada Pendekar Buta Suami isteri, menuduh Swan Bu melakukan perbuatan hina terhadap Lee Si, dan mungkin Suami isteri itu pun merasa marah karena puteranya dimaki-maki sehingga timbul percekcokan.

Akan tetapi, kalau sampai membunuh kakaknya, ini keterlaluan namanya dan ia tidak akan menerima begitu saja!

Jangankan Cui Sian, sedangkan Swan Bu sendiri diam-diam juga menduga demikian.

Mana bisa lain orang yang membunuh Kong Bu kalau Pedang Kim-Seng-Kiam menancap di dadanya.

Pedang itu tak mungkin terlepas dari tangan Ibunya!

Swan Bu gelisah sekali, bingung dan berduka.

Akan tetapi ada satu kenyataan yang menghibur hatinya, yakni bahwa Pedang itu masih tertancap di dada Kong Bu dan ditinggalkan begitu saja.

Mungkinkah kalau memang Ibunya yang membunuh Kong Bu, Ibunya meninggalkan Pedang itu tertancap di dada lawannya?

Apakah karena mendengar kedatangannya bersama Cui Sian tadi, Ibunya lalu tergesa-gesa pergi sehingga tak sempat mencabut pedangnya?

Ah, sukar dipercaya kemungkinan ini.

Apa sukarnya mencabut Pedang apalagi bagi Ibunya!

Agaknya lebih patut kalau ada orang yang SENGAJA meninggalkan Pedang itu di dada Kong Bu.

Dan siapapun orangnya, tak mungkin orang itu Ibunya!

Jadi, tentu ada orang lain yang kembali melakukan fitnah untuk kali ini memburukkan nama Ibunya.

Akan tetapi bagaimana orang itu dapat menggunakan Pedang Kim-Seng-Kiam?

Swan Bu berjalan terhuyung-huyung, kesehatannya masih belum pulih seluruhnya, kini hatinya terhimpit perasaan yang tidak karuan, jiwanya tertekan oleh peristiwa-peristiwa yang hebat.

la berjalan perlahan memandangi Pedang Ibunya di tangan.

"Ah, Kim-Seng-Kiam... kalau saja kau bisa bicara... tentu kau akan dapat bercerita banyak..."

Keluhnya.

"Swan Bu...!"

Pemuda itu tersentak kaget.

Suara itu!

Cepat dia membalikkan tubuh dan sejenak wajahnya yang tampan dan pucat itu berseri.

Dilihatnya gadis yang selama ini mengaduk-aduk hatinya, yang mendatangkan derita, bahagia, kecewa dan harapan di hatinya, Siu Bi, berdiri hanya beberapa meter jauhnya di depannya!

Gadis itu mukanya pucat, rambutnya awut-awutan, pakaiannya kusut, sinar matanya sayu dan pipi yang masih berbekas air mata itu kini kembali digenangi air mata yang mengalir turun.

"Siu Bi..."

Swan Bu berbisik, tak sengaja melirik ke arah lengan kirinya yang buntung dan ujungnya dibalut.

Lirikan ke arah lengan buntung inilah yang agaknya memecahkan bendungan yang menahan gelora di hati Siu Bi yang ditahan-tahan.

Gadis ini menjerit, lalu lari maju, menjatuhkan diri berlutut di depan Swan Bu, memeluk kedua kaki pemuda itu dan menangis tersedu-sedu.

"Swan Bu... Swan Bu... kau ampunkan aku... Swan Bu... ampunilah aku..."

Tak kuat hati Swan Bu menahan air matanya yang turun bertitik-titik ketika dia menunduk memandang kepala Siu Bi yang kusut rambutnya. Kedua kakinya terasa lemas dan dia pun berlutut pula.

"Siu Bi, selalu aku memaafkanmu..."

Mereka berpandangan melalui air mata, kemudian bagaikan besi tertarik semberani, keduanya berangkulan, bertangisan dan berpelukan.

Dengan air mata mereka saling membasahi muka masing-masing dalam ciuman-ciuman yang digerakkan oleh hati penuh kasih sayang, penuh iba dan haru.

Setelah gelora hati mereka mereda, Siu Bi menyembunyikan mukanya ke dada Swan Bu dan mereka terhenyak duduk di atas tanah, tak bergerak, seluruh tubuh lemas, tenaga habis oleh letupan gelora hati tadi, terasa nikmat penuh damai di hati.

Dengan tangan kanannya Swan Bu membelai dan mengelus-elus rambut hitam yang awut-awutan itu.

"Siu Bi aku selamanya mengampunkan engkau, karena aku cinta kepadamu Siu Bi, karena aku tahu apa yang mendorongmu melakukan semua itu..."

Bisik Swan Bu. Siu Bi mengangkat mukanya dari atas dada Swan Bu dan memandang. Kedua muka itu berpandangan, dekat sekali, masih basah oleh air mata.

"Swan Bu aku... aku tidak turut dalam tipu muslihat busuk itu... aku bukan sekutu Ang-Hwa Nio-Nio..."

Swan Bu mendekap muka yang kelihatan begitu pucat dan penuh kekhawatiran itu.

"Siu Bi jiwaku... tidak, aku tidak percaya itu, kau bukanlah jahat seperti mereka..."

Siu Bi menarik nafas panjang, hatinya lega dan ia kembali membaringkan kepalanya di atas dada Swan Bu, sepasang matanya dimeramkan.

"Aku memang jahat, Swan Bu, tapi... tapi... untuk menyenangkan hatimu, hati seorang yang kucinta dengan seluruh jiwa ragaku, aku... aku mau belajar baik! kau bimbinglah aku Swan Bu, ajarilah aku bagaimana bisa menjadi orang baik..."

Swan Bu tersenyum.

"Kau adalah orang baik, Siu Bi..."

"Tidak, aku tak tahu harus berbuat apa kalau terpisah dari padamu, Swan Bu. Jangan kita berpisah lagi, aku... aku takut hidup sendiri. Aku ikut denganmu..."

Tiba-tiba ia memegang lengan yang buntung itu, memandangnya dan kembali ia menangis tersedu-sedu, menciumi ujung lengan yang dibalut.

"Ahhh... aku tak dapat mengganti lenganmu, Swan Bu... biarlah kuganti dengan seluruh tubuhku, dengan nyawaku... aku... aku selamanya akan mendampingimu, melayanimu..."

Dengan mesra Swan Bu memeluk dan menciuminya, kemudian pemuda ini teringat akan sesuatu dan menarik nafas panjang.

"Tak mungkin..."

Katanya lirih dengan nada sedih. Siu Bi tampak kaget.

"Apa katamu? Apa yang tak mungkin?"

"Siu Bi, kau tahu bahwa aku mencintamu, dan takkan ada kebahagiaan yang lebih besar daripada selalu berada di sampingmu selama hidupku. Akan tetapi agaknya hal ini hanya lamunan kosong... karena... apa pun yang terjadi, apalagi setelah Paman Kong Bu tewas... agaknya jalan satu-satunya bagiku hanya... mengawini Lee Si."

"Apa...?"

Siu Bi merenggutkan dirinya dan memandang dengan mata terbelalak. Swan Bu menunduk sedih, tidak tahan menatap pandang mata yang penuh keperihan hati itu. Menarik nafas panjang lagi lalu berkata.

"Siu Bi, kau sendiri mengerti betapa tipu muslihat dan fitnah yang dilakukan oleh Ang-Hwa Nio-Nio menimbulkar kejadian yang amat hebat. Ayah Lee Si, yaitu Paman Kong Bu, marah sekali dan tentu saja marah kepadaku dan kepada orang tuaku. Dan tadi... aku mendapatkan Paman Kong Bu telah tewas, terbunuh orang di dalam hutan. Peristiwa di Kong-Goan ini akan merusak nama Lee Si untuk selamanya, kecuali kalau... kalau aku... mengawininya. Hanya itu jalan satu-satunya, dan demi menjaga kerukunan kedua keluarga, demi mencuci bersih nama Lee Si yang tidak berdosa, agaknya... agaknya... jalan itulah satu-satunya..."

"Swan Bu... tapi kau... kau cinta padaku kan?"

"Aku cinta padamu, Siu Bi."

Siu Bi menubruk dan memeluknya lagi.

"Cukup bagiku. Kau boleh mengawininya, kalau itu kau anggap penting. Bagiku, asal kau cinta padaku, asal aku boleh menebus dosaku kepadamu dengan jiwa ragaku, asal..."

Tiba-tiba Siu Bi bangun, juga Swan Bu bangkit berdiri.

Keduanya sudah mencabut Pedang dan memandang ke arah seorang pemuda yang jalan mendatangi, pemuda yang bukan lain adalah Ouwyang Lam!

Ouwyang Lam memandang sambil tersenyum kepada Siu Bi, kemudian dia memandang Swan Bu, ke arah lengannya yang buntung, dan tertawalah dia.

"Ha... ha... ha, Bi Moi-moi, agaknya kau sudah berhasil dalam usahamu membalas dendam. Ha... ha... ha, kalau anjing buntung ekornya hanya kelihatan tidak pantas, tapi kalau manusia buntung tangannya, benar-benar canggung sekali! Eh, Kwa Swan Bu, Ayahmu buta dan kau anaknya buntung, cocok sekali. Tolong tanya, dengan tangan kirimu buntung, kalau kau ada keperluan di belakang, apakah kau menggunakan tangan kananmu pula? Ha... Ha... ha... ha...ha!"

Sampai pucat sekali muka Swan Bu mendengar penghinaan ini, akan tetapi kemarahannya ini amat merugikan, karena kepalanya menjadi pening sekali dan tubuhnya yang sudah lemas itu malah gemetar karenanya.

"Tutup mulutmu yang kotor!"

Siu Bi membentak sambil melompat ke depan menghadapi Ouwyang Lam. Pemuda Ching-Coa-To ini terkejut sekali, memandang dengan mata terbelalak.

"Eh...eh... eh, Moi-moi...

"Aku bukan Moi-moimu! Cih, tak tahu malu! Ouwyang Lam manusia rendah, ketahuilah bahwa dibandingkan dengan Swan Bu, kau hanya patut menjadi sepatunya! Maka tak boleh kau menghinanya dan lekas pergi dari sini kalau tidak ingin mampus di tanganku!"

Saking heran dan bingungnya, Ouwyang Lam hanya berdiri melongo.

Mukanya yang berkulit putih menjadi merah sekali, mulutnya yang biasanya pandai bicara, sukar mengeluarkan kata-kata saking kaget dan herannya.

"Siu Bi... apa artinya ini...?"

"Artinya, tutup mulutmu yang busuk dan lekas enyah kau dari sini!"

Ouwyang Lam mulai marah.

la memang tergila-gila kepada gadis cantik ini, tergila-gila akan kecantikannya sesuai dengan wataknya yang mata keranjang, akan tetapi kalau gadis ini mulai menghinanya, tentu saja timbul kebenciannya.

"Tapi... kenapa kau membelanya?, Bukankah kau membuntungi lengan..."

"Bukan urusanmu! Lekas pergi!"

Ouwyang Lam adalah seorang yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, tentu saja timbul kemarahannya dan dia mengangkat dadanya yang bidang.

Biarpun tubuhnya agak pendek, tapi dadanya bidang dan tegap.

"Siu Bi, aku menantang Swan Bu, jangan turut campur! Ataukah putera Pendekar Buta ini sekarang telah menjadi seorang pengecut nomor satu di dunia sehingga dia menyembunyikan diri di belakang pantat wanita?"

"Ouwyang Lam keparat, kotor mulutmu..."

Siu Bi menggerakkan pedangnya.

"Siu Bi, tunggu dulu!"

Suara Swan Bu ini menahan Siu Bi yang menarik pedangnya kembali dan menoleh kepada kekasihnya itu.

"Siu Bi, aku bukan pengecut dan biarpun tidak kau bantu, aku masih takkan mundur menghadapi tantangan siapapun juga!"

La melangkah maju menghadapi Ouwyang Lam lalu tersenyum mengejek.

"Ouwyang Lam, setelah melihat keadaanku terluka, kau berani membuka mulut besar, ya? Hmmm, kau benar-benar gagah sekarang. Majulah!"

Ouwyang Lam tertawa mengejek.

Pemuda ini memang cerdik sekali Sekilas pandang dia maklum bahwa lengan Swan Bu yang baru saja buntung membuat pemuda itu lemah dan menderita, maka tentu saja dia berani menantang dan sengaja dia membangkitkan kemarahan Swan Bu agar lawannya ini melarang Siu Bi membantunya.

Sekarang dengan Pedang terhunus, Ouwyang Lam menyerbu, menggeser kaki dengan langkah-langkah pendek seperti harimau kelaparan, pedangnya dimainkan dengan Ilmu Pedang Hui-Seng-Kiam yang lihai, mulutnya berseru.

"Lihat serangan!"

Swan Bu bersikap tenang sekali bahwa keadaannya sebetulnya tidak membenarkan untuk melayani pertandingan, apalagi menghadapi lawan berat, akan tetapi, sebagai seorang berjiwa Pendekar, lebih baik menantang maut daripada mandah dicap pengecut!

Melihat gerakan Pedang Ouwyang Lam menyambar ganas dan mengeluarkan suara bersuitan, dia mengerahkan tenaga Sinkang sekuatnya, menanti sampai Pedang lawan mendekat, lalu tiba-tiba dia menghantamkan Pedang Ibunya menangkis dengan harapan akan dapat mematahkan Pedang lawan dalam segebrakan.

Ouwyang Lam terkejut, tak sempat menarik kembali pedangnya, terpaksa dia mengerahkan tenaga pula dan membiarkan pedangnya bertemu dengan Pedang Swan Bu yang bersinar keemasan.

"Cringgg...!"

Bunga api memancar ke arah muka kedua orang muda itu sehingga mereka menjadi silau.

Ouwyang Lam merasa betapa tangannya tergetar hebat, akan tetapi Swan Bu yang tenaganya lemah karena lukanya, juga terhuyung mundur.

Kagetlah dia melihat betapa Pedang pendek pemuda tampan itu tidak patah, malah kini Ouwyang Lam sudah menerjang lagi dengan ganas, sepasang matanya kemerahan, mulutnya yang menyeringai mengeluarkan suara mendesis, wajahnya diliputi bayangan (Lanjut ke

Jilid 16) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16 kejam dan buas.

Swan Bu harus berloncatan ke sana-sini sambil memutar pedangnya menangkis, akan tetapi makin lama pandang matanya makin kabur, kepalanya pening dan lengan kirinya yang terluka terasa panas dan nyeri.

"Sraaattttt...!"

Pundak kanan Swan Bu tergores ujung pedang!

Baiknya dia masih sempat menggulingkan diri sehingga Pedang di tangan Ouwyang Lam tidak membabat buntung pundak kanannya itu.

Dengan gerakan terlatih Swan Bu bergulingan, mengelak dari bacokan-bacokan Pedang Ouwyarig Lam yang tidak mau memberi kesempatan lagi.

Tiga kali bacokan pedangnya mengenai tanah dan sebelum dia sempat menyerang lagi, tubuh yang bergulingan cepat itu telah meloncat berdiri lalu Swan Bu sudah siap dan memutar Pedang melindungi tubuhnya.

Akan tetapi melihat betapa keningnya berkerut-kerut, keringat membasahi mukanya yang pucat, jelas bahwa pemuda itu menderita sekali, malah matanya beberapa kali dimeramkan.

"Ha... ha... ha, Swan Bu. Lebih baik kau membuang pedangmu dan menyerah kalah, aku sudah puas. Takkan kubunuh engkau asal mengaku kalah, Ha... ha... ha!"

Memang pandai sekali Ouwyang Lam. Melihat lawannya sudah payah, dia sudah mendahului dengan ejekan ini untuk memancing kemarahan.

"Tidak sudi!"

Jawab Swan Bu, tepat seperti yang diharapkan Ouwyang Lam.

"Lebih baik mati daripada menyerah. Ouwyang Lam manusia sombong, jangan kira kau akan dapat mengalahkan aku. Majulah!"

"Swan Bu...! Mundurlah dan biarkan aku memberi hajaran kepada anjing busuk ini!"

Siu Bi berseru, Pedang di tangannya sudah gatal-gatal hendak menerjang Ouwyang Lam.

Hatinya sudah gelisah tadi melihat pundak kekasihnya tergores Pedang sehingga kini mengucurkan darah membasahi bajunya.

Tentu saja ia tidak mau turun tangan sebelum Swan Bu mundur, karena betapapun juga, di lubuk hati Siu Bi tersimpan sifat gagah dan ia merasa malu kalau harus mengeroyok, apalagi ia maklum bahwa tingkat ilmu kepandaian Swan Bu amatlah tinggi, jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Ouwyang Lam atau dia sendiri.

"Tidak, Siu Bi, aku masih kuat menghadapi kesombongannya!"

Kata Swan Bu.

Ucapan Swan Bu ini tidak bohong, juga bukan bual belaka.

Sebagai putera tunggal Pendekar Buta yang sakti, tentu saja dia mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa sekali.

Sekarang kepalanya sudah pening, pandang matanya kabur dan tubuhnya lemas seakan-akan tidak bertenaga lagi, akan tetapi kepandaiannya masih ada.

Maklum bahwa dia tidak akan dapat menghadapi lawan dengan tenaga, Swan Bu segera mengubah gerakannya, kini tahu-tahu dia telah terhuyung-huyung, jongkok berdiri, berloncatan dan kadang-kadang seperti orang menari, kadang-kadang seperti orang mabuk.

Sama sekali dia tidak perlu mempergunakan tenaga dalam ilmu langkah ajaib ini, akan tetapi hasilnya, semua serangan Ouwyang Lam mengenai angin kosong!

Makin cepat, Ouwyang Lam yang penasaran dan marah ini menghujankan serangannya, makin aneh gerakan Swan Bu, kadang-kadang ada kalanya dia merebahkan diri sehingga Siu Bi hampir menjerit ketika Ouwyang Lam menubruk tubuh yang rebah itu dengan tikaman maut.

Akan tetapi di lain detik tubuh yang rebah itu sudah bergulingan dan berdiri lagi, enak-enakan menari aneh.

Andaikata Swan Bu tidak demikian lelah dan lemahnya, satu dua kali balasan serangannya tentu akan merobohkan Ouwyang Lam.

Akan tetapi Swan Bu sudah terlalu lemah sehingga dia hanya mampu menghindarkan diri dari serangan lawan tanpa mampu membalasnya.

Karena tenaganya makin lemah, gerakannya mulai kurang gesit dan dia mulai terdesak.

Empat penjuru angin telah dikuasai oleh sinar Pedang Ouwyang Lam, tidak ada jalan lari lagi bagi Swan Bu kecuali menggunakan ilmu langkah ajaibnya untuk menghindar dari setiap tusukan atau bacokan, akan tetapi serangan hanya serambut saja selisihnya!

Siu Bi mulai kecut hatinya, gelisah bukan main dan ia sudah mengambil keputusan untuk nekat menerjarg maju ketika tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang.

"Keparat, mundur kau!"

Bayangan itu berseru keras.

"Cringgg...! Crakkk!"

Siu Bi menjerit ketika melihat betapa bayangan itu dalam menangkis Pedang Ouwyang Lam, telah kalah tenaga, pedangnya terlepas dan Pedang Ouwyang Lam membacok dadanya!

Siu Bi mengenal orang itu yang bukan lain adalah The Sun!

Dengan jerit tertahan Siu Bi menerjang maju karena Swan Bu juga sudah terhuyung-huyung kelelahan, pedangnya berkelebat mengirim tusukan dibarengi tangan kirinya mengirim pukulan Hek-In-Kang!

Bukan main hebatnya serangan Siu Bi yang dilakukan dengan penuh kemarahan ini.

la mempergunakan jurus-jurus lihai dari Cui-Beng Kiam-hoat dan pukulan Hek-In-Kang dengan tangan kirinya mengeluarkan uap hitam.

Ouwyang Lam yang tertawa-tawa bergelak-gelak karena girangnya dan sombongnya itu mana mampu menghadapi serangan yang tak diduga-duganya ini?

la terkejut sekali dan berusaha menangkis, namun terlambat.

Pukulan Hek-In-Kang telah membuat dadanya serasa meledak dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, Pedang Cui-Beng Kiam telah dua kali memasuki lambung dan dadanya, membuat dia terkulai dan roboh tak bernyawa lagi.

"Ayah...!"

Siu Bi menubruk The Sun yang terengah-engah, dengan tangan kanannya meraba luka di dadanya yang mengeluarkan banyak darah.

The Sun yang duduk itu tersenyum lebar, matanya bersinar-sinar, wajahnya yang pucat berseri penuh bahagia.

"Ah, anakku... anakku... Siu Bi, kau menyebut apa tadi...?"

Dada Siu Bi penuh keharuan.

Orang tua ini, yang baru-baru ini amat dibencinya, telah kehilangan lengan untuknya, sekarang menghadapi maut juga untuknya.

Orang ini menolong Swan Bu, berarti menolongnya juga.

Seketika lenyap semua bencinya, terganti kasih sayang yang dahulu, kasih sayang seorang anak perempuan yang dimanja Ayahnya.

"Ayah...!"

Siu Bi merangkul dan menangis. The Sun berdongak ke atas, pipinya basah air mata.

"Terima kasih, atas pengampunMu, bahwa di saat terakhir ini harapan hambaMu masih terkabul. Siu Bi anakku...!"

The Sun mendekap kepala gadis itu dan mencium dahinya, rambutnya, penuh kebahagiaan.

"Siu Bi, dengar baik-baik. Orang ini banyak kawannya, mereka tentu akan datang. Kau pergilah bersama Swan Bu. Aku tahu, dia putera Pendekar Buta, bukan? Ah, Siu Bi, harapanku terakhir, semoga kau dapat hidup bahagia bersama dia. Ya, ya... sejak kau kecil, kutimang-timang engkau agar kelak menjadi isteri seorang Pendekar keturunan Raja Pedang atau Pendekar Buta. Ha... ha... ha, pengharapanku terkabul kiranya. Pergilah, bawa dia pergi, dia terluka parah... biar aku di sini menghadang teman-temannya yang hendak mengejar."

Setelah berkata demikian, dengan sikap gagah The Sun bangkit berdiri, memungut pedangnya yang tadi terlempar dan berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar.

Siu Bi menengok, melihat Swan Bu dengan nafas memburu berdiri bersandar pohon.

"Tapi Ayah, kau,... kau terluka hebat..."

The Sun menggerakkan lengannya yang buntung, menyayat hati Siu Bi penglihatan ini.

"Aku sudah tua, aku penuh dosa, jangan renggut kenikmatan pengorbanan dan penebusan dosa ini, anakku. Kau berhak hidup bahagia, berhak hidup bersih dari dosa-dosaku. Penjahat-penjahat itu dahulu bekas teman-temanku, biarlah sekarang kutebus dengan darahku, melawan mereka untuk membersihkan engkau dari kekotoran ini. Kau pergilah, jaga baik-baik Ibumu, dan... dan... jangan lepaskan Swan Bu... itu harapanku..."

Ucapan terakhir ini dilakukan dengan suara terisak.

"Ayah... selamat tinggal..."

Kata Siu Bi karena tidak melihat jalan lain.

la maklum juga bahwa kedatangan Ouwyang Lam tentu disusul yang lain.

Kalau Ang-Hwa Nio-Nio, Maharsi, Bo Wi Sianjin, apalagi Bhok Hwesio sampai muncul di situ, tentu dia, Swan Bu, dan Ayahnya akan tewas semua secara konyol.

la dapat menduga pula bahwa luka Ayahnya amat berat, maka Ayahnya menjadi nekat, berkorban untuknya.

Dengan air mata bercucuran ia menghampiri Swan Bu, digandengnya lengan kanan pemuda itu dan ditariknya.

"Mari kita berangkat, Swan Bu."

"Sebentar, anakku..."

The Sun dengan langkah lebar menghampiri mereka, memandang dengan penuh keharuan, tiba-tiba merangkul Swan Bu dan mencium dahi pemuda itu, merangkul Siu Bi dan mencium dahi gadis ini, lalu melepaskan mereka.

"Pergilah, lekas... pergilah, selamat berbahagia!"

La masih berdiri dengan air mata bercucuran memandang ke arah lenyapnya dua orang muda itu ketika muncul Ang-Hwa Nio-Nio yang berlari-lari ke tempat itu.

Terdengarlah Nenek itu menjerit lalu menubruk jenazah Ouwyang Lam dan menangis tersedu-sedu.

Akan tetapi hanya sebentar saja karena ia segera meloncat bangun dan berdiri menghadapi The Sun yang sudah membalikkan tubuh karena sadar dari lamunan sedih oleh tangis dan jerit tadi.

Ang-Hwa Nio-Nio hampir gila oleh marah dan sedihnya melihat murid atau kekasihnya telah tewas.

Dengan mata mendelik ia memandang kepada Siu bi dan berteriak penuh kemarahan.

"Katakan, siapa yang membunuhnya? Dan kau ini siapa?"

The Sun yang sudah dapat menguasai keharuan hatinya, kini tersenyum duka.

"Kui-Toanio (Nyonya Kui), agaknya kau lupa lagi kepadaku. Dua puluh tahun yang lalu, aku dan Guruku Hek Lojin bukankah menjadi kawan seperjuangan dengan Ang Hwa Sam Ci-moi?"

Nenek itu memandang heran ke arah lengan yang buntung, akan tetapi ia teringat sekarang.

"Aaahhhhh, kau The Sun... eh, gadis itu, Siu Bi... dia puterimu?"

Sebelum The Sun menjawab, Nenek itu yang teringat lagi akan mayat pemuda kekasihnya, cepat bertanya, suaranya berubah tidak semanis tadi.

"The Sun, siapakah yang membunuh Ouwyang Lam? Siapa"

Setelah sekarang Siu Bi dan Swan Bu pergi, baru The Sun merasa betapa dadanya sakit bukan main, juga lengannya yang buntung.

Rasa nyeri menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsum dan ke jantung, membuat matanya berkunang-kunang, kepalanya pening dan tubuhnya menggigil.

Akan tetapi dia menggigit Bibirnya, mengerahkan seluruh daya tahan yang ada di tubuhnya untuk melawan rasa nyeri ini agar dia dapat menghadapi Ang-Hwa Nio-Nio.

"Dia ini hendak mengganggu anakku dan... mantuku, karena itu aku turun tangan membunuhnya!"

Ang-Hwa Nio-Nio kelihatan kaget dan heran, akan tetapi kemarahannya memuncak mengalahkan perasaan-perasaan lain.

la mundur tiga langkah, mengeluarkan jerit aneh setengah menangis setengah tertawa, kemudian menubruk ke depan melakukan penyerangan dahsyat, pedangnya menubruk perut, tangan kirinya melancarkan pukulan Ang-Tok-Ciang!

The Sun adalah seorang jago kawakan yang tentu saja sudah maklum betapa lihainya Nenek ini.

Apalagi dia dalam keadaan terluka hebat, lengan buntung dan dada tergores pedang.

Andaikata dia dalam keadaan sehat dan segar bugar sekalipun, dia maklum bahwa Nenek ini bukanlah lawannya yang seimbang.

Mendiang Gurunya, Hek Lojin, kiranya baru merupakan lawan setanding.

Maka dia bukan tidak tahu bahwa pertempuran ini akan diakhiri dengan kekalahannya.

Namun dia tidak takut, tidak gentar.

Apalagi karena sudah tercapai apa yang dia idam-idamkan, yaitu menarik Siu Bi kembali kepadanya, sebagai anaknya.

la terlalu cinta kepada anak itu yang semenjak kecil dia anggap anak sendiri.

Ketika Siu Bi pergi, dia sudah mengalami penderitaan batin yang lebih hebat daripada penderitaan apa pun juga, lebih hebat daripada kematian.

Bahkan sebelum dia bertemu dengan Siu Bi, hanya tubuhnya yang masih hidup untuk menghadapi segala kepalsuan hidup, sedangkan batinnya sudah hampir mati.

Baru setelah Siu Bi menyebutnya Ayah, mengaku Ayah kepadanya, jiwanya segar kembali dan The Sun merasai kebahagian dan kenikmatan yang tiada bandingnya di dunia.

la puas, dia lega, dan dia bahagia sehingga menghadapi bahaya maut di tangan Ang-Hwa Nio-Nio disambutnya dengan senyum!

Betapapun juga, darah jagoan tidak membiarkan dia mati konyol begitu saja.

la seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi, biarpun tingkatnya tidak setinggi tingkat Ang hwa Nio-Nio, namun dia harus memperlihatkan bahwa selama puluhan tahun belajar ilmu silat tidaklah sia-sia.

la harus melawan mati-matian.

Tangan kanannya yang memegang Pedang bergerak melindungi tubuh dan dia menggeser kakinya ke belakang terus ke kiri, membabatkan pedangnya ke tengah-tengah gulungan sinar Pedang di tangan Ang-Hwa Nio-Nio.

"Trang-trang-tranggg..."

Mereka berdua terpental mundur, masing-masing tiga langkah.

Hal ini aneh.

Sebetulnya dalam hal kepandaian maupun tenaga dalam, The Sun kalah jauh oleh Ang-Hwa Nio-Nio.

Apalagi dia dalam keadaan terluka dan tubuhnya sudah lemah sekali.

Akan tetapi, mengapa tiga kali pedangnya dapat menangkis Pedang lawan dan dia dapat mengimbangi tenaga Ang-Hwa Nio-Nio?

Bukan lain karena rasa bahagia dan ketabahan yang luar biasa, yang membuat The Sun tidak peduli lagi akan mati atau hidup, perasaan ini mendatangkan tenaga mujijat kepadanya.

Memang, di dalam tubuh manusia ini tersimpan tenaga mujijat yang rahasianya tak diketahui oleh si manusia sendiri.

Kadang-kadang saja, di luar kesadarannya, teriaga ini menonjolkan diri, membuat orang dapat melakukan hal yang takkan mungkin dilakukannya dalam keadaan normal.

Rasa takut yang berlebih-lebihan, rasa marah yang melewati batas, rasa duka maupun gembira yang mendalam, kadang-kadang dapat menarik tenaga mujijat dalam diri ini sehingga timbul dan memungkinkan orang melakukan hal yang luar biasa, di atas kemampuannya yang normal.

Demikian pula agaknya dengan The Sun pada saat itu.

Secara aneh sekali, perasaan bahagia yang amat mendalam membuat dia tidak gentar menghadapi apa pun juga, mati atau hidup baginya sama saja, pokoknya dia sudah diterima sebagai Ayah oleh Siu Bi dan inilah idam-idaman hatinya.

Perasaan inilah yang membangkitkan tenaga mujijat sehingga dia mampu menangkis sambaran Pedang Ang-Hwa Nio-Nio sambil mengelak dari pukulan Ang-Tok-Ciang.

Akan tetapi, ka-rena memang kalah tingkat dan pula ta-ngan kirinya tak dapat dia pergunakan lagi sehingga keseimbangan tubuhnya dalam bersilat juga terganggu, maka ketika Ang-Hwa Nio-Nio terus mendesaknya dengan kemarahan meluap-luap, The Sun hanya mampu mempertahankan dirinya saja.

"Singgg!!"

Pedang Ang-Hwa Nio-Nio menyambar, hampir saja mengenai kepala The Sun kalau saja dia tidak cepat-cepat membanting dirinya ke belakang dan terhuyung.

Pada saat itu, Ang-Hwa Nio-Nio sudah menyusulkan pukulan Ang-Tok-Ciang.

Dalam keadaan terhuyung-huyung ini, tentu saja The Sun tidak mampu lagi.

mengelak.

"Uhhh...!"

Dadanya serasa ditumbuk palu godam, tergetar seluruh isi dadanya dan tubuhnya terlempar sampai tiga meter lebih.

The Sun roboh dan muntahkan darah segar dari mulutnya.

Pada saat itu Ang-Hwa Nio-Nio sambil terkekeh-kekeh mengerikan sudah melompat datang dengan Pedang terangkat.

Namun The Sun sama sekali tidak gentar, juga tidak mau menyerah.

Dalam keadaan setengah rebah ini, dia masih mampu mengangkat pedangnya menangkis bacokan Pedang lawan.

"Trangg...!"

Pedang di tangan The Sun patah menjadi dua, ujungnya menancap di dadanya sendiri dan gagangnya mencelat entah kemana.

The Sun menggulingkan tubuhnya ke depan dan tangan kanannya dikepal melancarkan pukulan sambil menendang.

Hebat serangan ini, dan tidak terduga-duga lagi.

Siapa bisa menduga orang yang sudah terluka seperti itu masih dapat melakukan serangan begini dahsyat?

"Ihhh...!"

Ang-Hwa Nio-Nio berteriak kaget dan marah karena biarpun ia dapat menghindar, namun ujung kaki The Sun menyambar pipinya, dekat hidung.

la mencium bau sepatu yang sangat tidak enak dan ini dianggap merupakan penghinaan yang melewati takaran.

"Keparat, mampus kau!"

Bentaknya, pedangnya membacok lagi sekuat tenaga.

"Crakkk!"

Lengan kanan The Sun yang menangkis bacokan ini seketika terbabat buntung!

Darah muncrat seperti air pancuran.

Akan tetapi The Sun masih melompat bangun, kedua kakinya bergerak seperti kitiran angin melakukan tendangan berantai.

"Wah, gila...!"

Ang-hwa Nio-Nio merasa serem juga.

The Sun sudah penuh darah, juga pakaiannya ternoda darah yang mancur dari lengannya, akan tetapi tendangannya masih amat berbahaya.

Dengan marah dan penasaran Ang-Hwa Nio-Nio mengayun pedangnya memapaki kaki yang menendang.

"Crokkk!"

Kaki kanan The Sun putus sebatas lutut dan tubuhnya terguling.

Namun hebatnya, tidak satu kali pun jagoan ini mengeluarkan suara keluhan.

la rebah dengan mata melotot memandang Ang-hwa Nio-Nio, mulutnya tersenyum penuh ejekan.

"Setan kau!"

Ang-Hwa Nio-Nio menubruk maju dan pedangnya dikerjakan seperti seorang penebang pohon mainkan kapaknya. Terdengar suara "Crak-crok-crak-crok"

Dan dalam waktu beberapa detik saja tubuh The Sun tercacah hancur!

Mengerikan sekali!

Ang-Hwa Nio-Nio mengangkat mayat Ouwyang Lam dan dibawanya lari pergi.

Terdengar lengking tangisnya sepanjang jalan.

Mayat The Sun yang sudah tidak karuan lagi bentuknya itu menggeletak di atas tanah di dalam hutan.

Sunyi sekali di situ.

Tidak ada suara apa-apa kecuali suara burung hutan yang bersembunyi mengintai di atas pohon.

Yang bergerak hanya binatang-binatang hutan yang bersembunyi di dalam gerumbulan, menanti saat untuk menikmati hidangan daging dan darah yang disia-siakan itu.

Kematian seorang manusia yang amat mengerikan, juga menyedihkan.

Patut dikasihani manusia seperti The Sun itu, sungguhpun kematiannya itu tidaklah mengherankan apabila kita mengingat dan menilai perbuatan-perbuatannya di waktu dia masih muda.

Telah ditumpuknya dosa, dan sekarang agaknya dia harus menebusnya.

Sayang, amat terlambat dia insyaf.

Di Waktu muda dahulu, kedudukan, kekuasaan, kekuatan, dan harta benda membuat dia tekebur.

Membuanya sewenang-wenang, seakan-akan tidak ada kekuasaan di dunia ini yang dapat melawannya, yang dapat mengadili perbuatan-perbuatannya.

la lupa pada waktu itu bahwa di atas segala kekuasaan yang tampak di dunia ini, masih ADA kekuasan tertinggi, kekuasaan Tuhan yang tak terlawan, yang maha adil dan yang takkan membiarkan kejahatan lewat tanpa hukuman.

Setiap perbuatan merupakan sebab dan setiap sebab mempunyai akibat.

Nasib di tangan Tuhan?

Betul, karena Tuhanlah yang mengatur lancarnya akibat-akibat ini seadil-adilnya maka Maha Adilkah DIA.

Nasib di tangan manusia sendiri?

Juga betul, karena sesungguhnya, si manusia itu sendirilah yang menjadi sebab dari akibat yang disebut kemudian sebagai nasib!

Perbuatan baik tentu berakibat baik, sebaliknya perbuatan busuk pasti berakibat buruk, maka baik buruknya akibat atau nasib sesungguhnya adalah di tangan si manusia itu sendiri.

Jangan terlalu keras ketawa gembira mereka yang berbuat kejahatan tapi belum menerima hukuman dari Tuhan, karena yakinlah, bahwa akibat perbuatanmu pasti tiba!

Tuhan Maha Adil!

Kuil tua di kota Kong-Goan makin sunyi keadaannya.

Semenjak kuil tua itu dijadikan semacam markas oleh Ang-Hwa Nio-Nio dan sekutunya, penduduk menganggap tempat itu sebagai tempat terlarang, tempat yang seram dan berbahaya sehingga kuil ini seakan-akan terasing.

Apalagi di waktu malam, tidak ada orang berani lewat dekat kuit ini.

Malah banyak penduduk Kong-Goan yang menganggap kuil itu sebagai tempat yang angker, sebagai rumah setan!

Hal ini tidaklah aneh kalau mereka pernah melihat berkelebatnya bayangan yang dapat "Menghilang"

Dan kadang-kadang dapat "Terbang"

Ke atas genteng, sering pula melihat cahaya berkelebatan di atas kuil.

Akan tetapi pada malam hari itu, dua sosok bayangan orang dengan langkah perlahan dan tenang menghampiri kuil tua ini, tanpa ragu-ragu memasuki pekarangan kuil yang gelap.

Mereka ini bukan lain adalah Suami isteri sakti dari Liong-Thouw-San, Pendekar Buta dan isterinya!

"Sunyi sekali, agaknya kosong,"

Kata Hui Kauw setelah meneliti keadaan sekeliling tempat itu dengan pandang matanya.

"Memang kosong,"

Kata Kun Hong yang juga meneliti keadaan dengan pendengarannya, akan tetapi mungkin nanti atau besok mereka akan kembali.

Tempat ini belum lama ditinggalkan orang, hawa manusia masih bergantung tebal di ruangan ini."

Setelah melakukah pemeriksaan dan yakin bahwa kuil tua itu tidak ada penghuninya, Kun Hong dan Hui Kauw lalu duduk bersila di ruangan belakang yang lantainya bersih.

Mereka melewatkan malam di tempat itu, sambil menanti dan bersikap waspada.

Di tempat inilah Kong Bu melihat putera mereka yang didakwa melakukan perbuatan jahat terhadap Lee Si, puteri Pendekar Min-San itu.

Dengan demikian berarti bahwa putera mereka itu kena fitnah di tempat ini, dan dengan hati penuh kekhawatiran mereka menduga-duga apakah yang telah terjadi di sini dan siapa gerangan yang melakukan perbuatan curang mengadu domba itu.

Akan tetapi malam itu tak terjadi apa-apa.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali terdengar langkah-langkah kaki di luar kuil tua.

Kun Hong dan isterinya tentu saja mendengar suara ini dan mereka sudah siap sedia mengnadapi segala kemungkinan.

Mereka bangkit berdiri dan tanpa kata-kata keduanya seperti sudah bermufakat, berjalan perlahan keluar menuju ke ruangan depan untuk menyambut datangnya musuh.

Setelah mereka tiba di luar, Hui Kauw melihat seorang gadis cantik dan gagah berdiri dengan tegak dan pandang mata marah.

"Siapakah dia?"

Bisik Kun Hong kepada isterinya.

Hui Kauw memandang penuh selidik, mengingat-ingat di mana dan bilamana ia pernah melihat wajah cantik yang serasa amat dikenalnya ini.

Gadis itu balas memandang kepadanya, penuh selidik pula.

Dua orang wanita ini saling pandang, agaknya masing-masing menanti ditegur terlebih dulu.

Melihat betapa sikap gadis itu seakan-akan menahan kemarahan besar, Hui Kauw mengalah dan menegur lebih dulu.

"Nona, siapa kau dan siapa yang Kau cari di tempat ini?"

Hui Kauw bertanya hati-hati karena ia belum tahu apakah gadis ini termasuk sekutu pihak"

Lawan ataukah bukan.

"Kalian ini bukanlah Pendekar Buta dan isterinya?"

Gadis itu balas bertanya. Hui Kauw dapat menduga bahwa gadis ini pada dasarnya memiliki suara yang halus dan sopan, akan tetapi karena sedang marah maka terdengar ketus.

"Kalau betul demikian, kenapa?"

Balas bertanya, sabar dan tersenyum.

"Sudah kuduga,"

Gadis itu berkata perlahan seperti diri sendiri.

"Sepasang Suami isteri yang sakti, berilmu tinggi dan menganggap di dunia ini mereka yang paling pandai..."

"Eh, kau siapakah dan apa sebabnya bicara begitu?"

Kun Hong bertanya, keningnya berkerut karena pendengarannya tadi menangkap keperihan hati yang sakit dan penuh dendam.

Namun gadis itu tidak menjawab, melainkan bertanya lagi kepada Hui Kauw sambil memandang tajam.

"Bibi yang gagah perkasa, bolehkah aku bertanya di mana kau menyimpan pedangmu Kim-Seng-Kiam?"

Berubah wajah Hui Kauw dan Kun Hong mendengar ini.

Bangkit kemarahan di hati Hui Kauw.

Pedangnya lenyap dicuri orang, pencurinya hanya tampak bayangannya saja yang betubuh ramping dan tak seorang pun tahu akan kejadian itu.

Gadis ini bertubuh ramping dan tahu akan pedangnya yang hilang.

Tentu gadis ini yang mencurinya, atau setidaknya tahu akan pencurian Pedang itu.

Mudah saja menduganya, seperti dua kali dua empat!

"Eh, bocah nakal!

Kiranya kau yang mencuri pedangku?

Hayo katakan, di mana sekarang kau sembunyikan pedangku itu dan apa sebabnya kau mencurinya?"

La melangkah maju dua tindak menghadapi gadis itu. Kun Hong tetap berdiri, telinganya mengitari segala gerakan dan suara.

"Hemmm, tidak kukira, isteri Pendekar Buta yang sakti itu pandai pula berpura-pura. Siapa berani dan dapat mencuri Pedang dari tangan isteri Pendekar Buta? Lebih baik berterus terang, Pedang itu tertinggal di atas dada Ketua Min-San-Pai. Kalian mengandalkan kepandaian sendiri membunuh Tan Kong Bu dengan Pedang Kim-Seng-Kiam, apakah sekarang masih berpura-pura lagi?"

Kun Hong menahan seruannya, kerut-merut di antara kedua matanya yang buta menjadi makln dalam.

"Kong Bu terbunuh dengan Kim-Seng-Kiam? Ah..., kau siapakah, Nona? Dan apakah yang kau kehendaki setelah kau menceritakan itu kepada kami?"

"Lebih dulu kalian mengakulah bahwa kalian yang membunuh Tan Kong Bu. Orang yang berani mempertanggung-jawabkan perbuatannya barulah orang gagah, dan hanya kepada orang gagah aku mau memperkenalkan diri. Kalau kalian menyangkal padahal Pedang Kim-Seng-Kiam menancap di dadanya, berarti kalian biarpun terkenal sakti ternyata hanyalah pengecut dan aku tidak sudi banyak bicara lagi, karena pedangku yang akan mewakili aku bicara!"

Hui Kauw tidak dapat menahan sabarnya lagi.

la melangkah maju lagi beberapa tindak sehingga kini ia berhadapan dengan gadis itu.

Sepasang matanya yang bening memandang tajam seakan-akan berkilat, alisnya saling berdekatan, urat lehernya menegang.

"Bocah lancang! Besar mulutmu! Kami tidak pernah mengagulkan diri sebagai orang-orang sakti dan gagah, akan tetapi kami juga tidak sudi dimaki pengecut! Pedang Kim-Seng-Kiam memang pedangku, mau tahu namaku ataukah sudah mengenalku? Aku Kwee Hui Kauw. Pedangku itu beberapa hari yang lalu lenyap dicuri orang. Hal ini tidak ada yang tahu, kecuali aku, suamiku, dan si pencuri. Sekarang kau muncul dan bicara tentang ini, siapa lagi orangnya kalau bukan kau yang mencuri pedangku? Dan sekarang setelah kau menggunakan Pedang itu untuk membunuh Kong Bu, kau datang ke sini menuduh kami? Keparat, kiranya kau ini biang keladi semua urusan!"

Setelah berkata demikian Hui Kauw menerjang ke depan, menyerang gadis itu. Gadis itu bukan lain adalah Tan Cui Sian. Melihat datangnya serangan, ia cepat mengelak dan meloncat ke kiri.

"Singgg!!"

Pedang Liong-Cu-Kiam telah dicabutnya.

Pedang ini mengeluarkan sinar berkilat yang menyilaukan mata sehingga Hui Kauw yang dapat mengenal Pedang pusaka yang ampuh, ragu-ragu untuk menyerang lagi dengan tangan kosong, apalagi tadi ia melihat betapa gerakan gadis itu amat ringan dan gesit.

"Huh, ganas!"

Bentak Cui Sian.

"Tak kusangka Pendekar Buta dan isterinya hanya begini! Mengandalkan diri dan kepandaian sendiri untuk menjagoi dan membunuh orang. Aku tahu, tentu Tan Kong Bu ketika bertemu dengan kalian telah menuduh bahwa putera kalian menghina puterinya sehingga terjadi percekcokan dan pertempuran. Akan tetapi kalau kalian membunuhnya, hal ini keterlaluan sekali dan aku tidak akan mendiamkannya begitu saja. Hayo, Pendekar Buta, majulah! Kwee Hui Kauw, karena pedangmu sudah kau tinggalkan menancap di dada Tan Kong Bu, kau boleh mencari lain senjata menghadapiku!"

Bukan main heran dan kagetnya hati Pendekar Buta dan isterinya mendengar ucapan ini.

Bagaimana gadis ini tahu akan urusan Kwa Swan Bu dan Lee Si?

Dan tahu pula bahwa Kong Bu telah bentrok dengan mereka berdua?

Siapakah gadis ini?

Perlu diketahui bahwa Hui Kauw belum pernah bertemu dengan Cui Sian, dan Kun Hong pun tak pernah bertemu semenjak Cui Sian berusia lima tahun.

Ketika Swan Bu dalam usia belasan tahun pergi ke Thai-San, dia ditemani Kakeknya, Kwa Tin Siong.

"Kau... kau anak Kong Bu?"

Hul Kauw bertanya.

Cui Sian tersenyum mengejek.

Gadis ini tidak mau memperkenalkan namanya, karena kalau ia melakukan hal ini, agaknya akan sukar baginya untuk bersikap seperti ini.

Untuk dapat membalas kematian kakaknya, ia harus bersikap kasar dan bermusuhan.

Melihat betapa tadi Hui Kauw telah menyerangnya, ia makin merasa yakin bahwa Kong Bu tentu tewas di tangan nyonya ini, dan agaknya dibantu oleh Pendekar Buta karena ia menaksir bahwa kepandaian kakaknya itu tidak kalah oleh kepandaian Kwee Hui Kauw.

"Tidak peduli aku siapa, kematian Tan Kong Bu tak boleh kudiamkan saja. Pendekar Buta, kau terkenal sebagai seorang Pendekar yang sakti. Awas, pedangku menyerangmu!"

Dengan gerakan kilat Cui Sian menerjang Pendekar Buta dengan Pedang Liong-Cu-Kiam!

Gadis ini semenjak kecil tak pernah lagi bertemu dengan Pendekar Buta akan tetapi ia sudah mendengar banyak sekali tentang Kun Hong.

Mendengar betapa Ayahnya memuji-muji kepandaiannya dan mendengar pula dari Ibunya betapa Kwa Kun Hong menjadi buta karena urusan cinta kasih dengan mendiang encinya yang bernama Tan Cui Bi dan yang tak pernah ia lihat (baca Rajawali Emas).

Mendengar cerita tentang kematian encinya yang membunuh diri, diam-diam Cui Sian sudah mempunyai rasa tak senang kepada Pendekar Buta, karena ia menganggap bahwa kematian encinya itu adalah gara-gara Kwa Kun Hong.

Apalagi setelah mendengar bahwa Kwa Kun Hong tidak setia kepada encinya yang sudah mengorbankan nyawa demi cinta kasihnya, yaitu bahwa Kun Hong telah menikah, maka diam-diam ia pun merasa cemburu demi encinya, kepada Kwee Hui Kauw.

Puji-pujian Ayahnya tentang kelihaian Pendekar Buta telah membangkitkan juga penasaran di hatinya dan ia dahulu sering kali melamunkan untuk mengadu kepandaian dengan Pendekar Buta yang telah menyebabkan encinya membunuh diri dan yang dipuji-puji setinggi langit oleh Ayahnya.

"Singgg...!"

Pedang Liong-Cu-Kiam mengeluarkan suara mendesing ketika digerakkan oleh tangan kanan Cui Sian yang terlatih dan yang gerakannya mengandung tenaga Sinkang murni, ketika berubah menjadi seberkas sinar kilat meluncur cepat ke arah leher Pendekar Buta!

Biarpun kedua matanya buta, sebagai pengganti kekurangan ini, telinga Pendekar Buta amatlah tajam pendengarannya, sehingga dengan pendengarannya dia dapat mengikuti gerakan Cui Sian dengan pedangnya.

Alangkah heran dan kaget hati Kun Hong ketika telingahya menangkap gerakan yang jelas sekali dari Im-Yang Sin-Kiam murni!

Siapa yang dapat mainkan Im-Yang Sin-Kiam begini indah dan murni kecuali dia sendiri, dan tentu saja, Raja Pedang Tan Beng San?

la mendiamkan saja tusukan Pedang ke arah lehernya ini, tidak ditangkis tidak dielakkannya.

la tahu bahwa gadis ini menusuknya dengari jurus Sian-Li Cui-Siauw (Dewi Meniup Suling), sebuah jurus yang tergolong Im-Sin-Kiam mempunyai sebutan yang sifatnya "Im"

Sedangkan sian-li atau dewi termasuk wanita maka banyak dipakai untuk jurus-jurus Im-Sin-Kiam. Sebaliknya, dalam Yang-Sin-Kiam banyak dipergunakan sebutan yang sifatnya "Yang."

Kun Hong yang telah mewarisi ilmu Pedang sakti ini dari Raja Pedang, tentu saja tahu akan perubahan-perubahannya dan dia tahu pula bahwa tusukan ke arah leher ini, biarpun ujung pedangnya sudah menyentuh kulit leher lawan, dapat saja dibelokkan kalau memang si penyerang tidak ingin membunuh lawannya.

Oleh karena ini maka dia sengaja tidak mengeiak atau menangkis, tentu saja siap untuk menghancurkan lawan kalau serangan ini diteruskan.

Dugaannya tepat.

Ketika Cui Sian melihat betapa orang buta itu sama sekali tidak menangkis maupun mengelak sehingga pedangnya meluncur terus mengarah leher, ia menjerit tertahan dan cepat ia menggerakkan pergelangan tangannya mengubah arah pedang.

Namun karena ia sedang marah, gerakan serangannya tadi hebat sekali, apalagi ia menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga.

Inilah yang membuat ia kurang cepat mengubah arah Pedang sehingga ujung pedangnya masih menyambar pundak kiri Kun Hong sehingga robeklah baju di pundak berikut kulit dan sedikit daging sehingga darah bercucuran dari luka di pundak.

"Kau... Cui Sian..."

Kun Hong seakan-akan tidak merasai perihnya luka di pundak.

"Oohhh... kau bocah kurang ajar!"

Bentak Hui Kauw setelah mendengar seruan suaminya.

Kemarahannya bangkit.

Kalau anak ini Cui Sian, berarti ia adik tiri Tan Kong Bu dan sungguhpun wajar kalau ia marah atas kematian Kong Bu, akan tetapi tidak seharusnya berlaku begitu nekat dan menuduh mereka tanpa penyelidikan lagi.

Apalagi sekarang berani menyerang dan melukai suaminya yang nyata-nyata tidak melawan!

Di lain pihak, Cui Sian yang sudah dikenal, lalu berdiri dengan Pedang melintang di depan dada, tangan kiri bertolak pinggang.

la seorang gadis yang berpengetahuan dan berpemandangan luas, akan tetapi biarpun demikian, ia tetap seorang wanita yang berperasaan halus, mudah tersinggung sehingga ia bersikap seperti itu karena teringat akan mendiang encinya yang membunuh diri karena Kun Hong ditambah pula kematian kakaknya yang tewas tertikam Pedang milik isteri Pendekar Buta.

"Betul, aku Tan Cui Sian! Pendekar Buta dahulu sebelum aku lahir, kau sudah menggoda enciku Cui Bi dengan ketampanan wajahmu, tapi kemudian kau tidak bertanggung jawab sehingga menyebabkan enciku tewas membunuh diri. Sekarang, Pedang isterimu membuat kakakku Kong Bu tewas pula, akan tetapi kembali kalian tidak berani mempertanggung-jawabkan perbuatan kalian. Apakah ini perbuatan orang gagah?. Hayo lawan aku, untuk membereskan perhitungan lama dan baru!"

"Ihhh, sungguh lancang mulutmu!"

Hui Kauw berteriak marah sekali.

"Ssttt, sabarlah isteriku, dia masih anak-anak,"

Kata Kun Hong untuk menyabarkan hati isterinya.

Akan tetapi bagi Cui Sian, ucapannya itu merupakan bensin menyiram api di dadanya.

la disebut anak-anak!

Akan tetapi sebelum ia sempat membuka mulut menyatakan kemarahannya, Pendekar Buta telah mendahuluinya berkata.

"Cui Sian, alangkah sedih hatiku menghadapi kau seperti ini. Teringat aku betapa dahulu, ketika kau masih kecil, berusia lima enam tahun..."

"Cukup! Tak perlu menggali-gali urusan lama!"

Kun Hong tersenyum.

"Kau yang mulai menggali tadi, anak baik. Kau ketahuilah, apa yang dikatakan isteriku tadi tidak bohong. Pedangnya memang dicuri orang dan kami berdua tidak tahu-menahu tentang kematian kakakmu Kong Bu. Tentu saja berita ini amat mengagetkan dan menyedihkan..."

"Sudahlah, siapa bisa percaya omongan seorang yang sudah biasa melanggar sumpah sendiri?"

"Apa maksudmu?"

Kun Hong membentak, suaranya keren.

"Enciku membunuh diri demi cinta kasih, memperlihatkan kesetiaannya kepadamu, lebih baik mati daripada dijodohkan orang lain. Akan tetapi, belum juga dingin jenazah enciku, kau... kau sudah menikah dengan perempuan lain. Apakah aku sekarang harus percaya omonganmu?"

"Bocah kurang ajar! Jangan kau menghina dia!"

Hui Kauw berseru marah sekali dan tahu-tahu ia sudah merenggut tongkat suaminya, meloloskan Pedang dari dalam tongkat itu, Pedang yang mengeluarkan sinar merah, Pedang Ang-Hong-Kiam!"

"Hui Kauw, jangan..."

Kun Hong mencegah, akan tetapi Hui Kauw dengan Pedang Ang-ho-kiam di tangan sudah melompat maju menghadapi Cui Sian.

Kemarahan hebat membuat sepasang pipinya merah sekali.

Pedangnya berkelebat dan dengan cepat ia telah mengirim serangan hebat kepada gadis itu.

"Tranggg!"

Liong-Cu-Kiam bertemu dengan Ang-ho-kiam, digerakkan oleh dua buah lengan wanita yang memiliki tenaga sakti. Bunyi nyaring itu diikuti bunga api yang muncrat seperti kembang api.

"Bagus!"

Kata Cui Sian.

"Memang Kim-Seng-Kiam yang menancap di dada kakakku adalah pedangmu, maka sudah sepatutnya kau mempertanggung-jawabkan keganasanmu. Ini bukan berarti aku takut kalau kau mengandalkan suamimu Si Pendekar Buta..."

"Tutup mulut! Lihat pedang!"

Hui Kauw membentak lagi sambil memutar Pedang dan segulung sinar merah berkelebatan di udara, membentuk lingkaran-lingkaran lebar bergelombang lalu bagaikan seekor naga berwarna merah gulungan sinar Pedang itu menyambar ke arah kepala Cui Sian.

Cepat bukan main sambaran sinar Pedang ini, cepat dan anginnya begitu tajam mendesing sehingga ketika Cui Sian menggerakkan kaki menekuk pinggang ke bawah, sinar Pedang itu menyambar lewat di atas kepalanya, meninggalkan bunyi.

"Singgggg...!"

Yang menyeramkan.

Namun Cui Sian sendiri adalah seorang ahli Pedang yang sudah tergembleng matang di puncak Thai-San.

Tidak percuma kiranya ia menjadi puteri seorang Pendekar sakti yang berjuluk Raja Pedang.

Ibunya pun seorang ahli pedang, malah puteri tunggal Raja Pedang Tua Cia Hui Gan, Pewaris Ilmu Pedang Sian-li Kiam-Sut yang tiada taranya sebelum muncul Tan Beng San dengan Ilmu Pedang Im-Yang Sin-Kiam yang sebetulnya sesumber dengan Sian-li Kiam-Sut.

Dengan latar belakang keturunan seperti ini, tentu saja Cui Sian adalah seorang ahli Pedang yang sakti, biarpun ia hanya seorang gadis yang berusia dua puluh empat tahun.

Begitu sinar merah yang berdesing itu lewat di atas kepalanya, Cui Sian tidak menanti sampai lawannya nienyerangnya kembali.

la maklum bahwa menghadapi seorang lawan tangguh seperti isteri Pendekar Buta, tidak boleh sekali-kali berlaku sungkan atau menghemat serangan, harus dapat membalas serangan demi serangan, malah sedapat mungkin memperbanyak serangan daripada pertahanan.

Pedangnya digerakkan cepat dan sesosok sinar putih menyilaukan mata, seperti kilatan halilintar, menyelonong dari bawah masuk ke arah dada Hui Kauw.

Pedangnya tidak hanya berhenti sampai di sini karena ujungnya tergetar dan hal ini menyatakan bahwa setiap saat pedangnya ditangkis atau dielakkan lawan, ujung Pedang akan dapat melanjutkan serangan dengan jurus lain.

Tangan kiri gadis itu ditarik ke belakang, lurus dan telapak tangannya dibalik menghadapi ke atas.

Indah sekali gerakannya, dengan ujung kaki kanan menotol tanah, tumit diangkat, lutut agak ditekuk ke depan.

Inilah gerakan indah seperti gerak tari yang bernama jurus Sian-li-hoan-eng (Sang Dewi Menukar Bayangan), sebuah jurus dari Sian-li Kiam-Sut yang mengandung tenaga Im-Yang Sin-Hoat, maka hebatnya bukan kepalang!

Ketika tadi menyerangkan pedangnya ke arah kepala lawan dan dapat dielakkan, otomatis dada Hui Kauw terbuka.

Sebagai isteri Pendekar Buta, tentu saja ia maklum akan kedudukan yang lemah ini.

Memang setiap penyerang berarti membuka suatu bagian yang tidak terlindung.

Akan tetapi kalau sudah menguasai kelemahannya sendiri, tentu saja dapat menjaga diri.

Hui Kauw pernah mewarisi ilmu silat tinggi dari sebuah kitab kuno yang ia temukan, kemudian oleh suaminya, ia dibimbing dan mewarisi beberapa jurus Kim-Tiauw-kun yang amat hebat, yang ia gabung dengan ilmu silatnya sendiri sehingga kini memiliki ilmu Pedang gabungan yang amat kuat dan dahsyat.

Seperti yang ia telah duga, kekosongan yang terbuka dalam posisinya dipergunakan lawan.

Melihat sinar Pedang putih mengancam dada, Pedang ia balikkan ke bawah lengan dan dengan pengerahan tenaga Sinkang ia menarik lengan yang ditamengi Pedang ini ke bawah.

"Cring...!"

Kembali sepasang Pedang bertemu di udara.

Sinar Pedang putih yang amat lincah itu begitu kena ditangkis, membalik dan tahu-tahu sudah berubah menjadi sabetan ke arah kaki!

Inilah kelihaian Sian-li-hoan-eng tadi.

Begitu ditangkis dan ditindas dari atas oleh lengan Hui Kauw yang dilindungi Pedang dibalik, Pedang Liong-Cu-Kiam terpukul ke bawah, namun pukulan ini malah merupakan landasan tenaga untuk membabat kaki dengan kecepatan kilat!

"Aiiiiihhh..."

Nyonya Pendekar Buta menjerit lirih dan tahu-tahu kakinya menjejak bumi dan tubuhnya mumbul ke atas seperti dilontarkan.

Demikian hebat Ginkangnya sehingga lebih cepat lompatannya daripada sambaran pedang.

Sinar putih itu hanya beberapa senti meter saja lewat di bawah kakinya, nyaris sepasang kaki nyonya ini terbabat buntung!

"Bagus...!"

Cui San memuji saking kagumnya menyaksikan gerakan yang indah dan cepat ini.

Itulah gerakan dari Kim-Tiauw-kun yang disebut jurus Sin-Tiauw Coan-Hong (Rajawali Sakti Terjang Angin).

Jurus ini tidak hanya dapat dipergunakan untuk menyelamatkan serangan di tubuh bagian bawah dengan cara melompat lurus ke atas dengan jalan menotolkan ujung kaki ke tanah, melambung ke atas sambil mengembangkan kedua lengan seperti sayap Rajawali sakti, Namun lebih dari itu, jurus ini dapat dipergunakan untuk menyerang lawan dengan cara yang dilakukan seekor Rajawali.

Dan hal ini pun dilakukan oleh Hui Kauw karena tiba-tiba tubuhnya dari atas telah berjungkir-balik dua kali sehingga tubuh itu mencelat makin tinggi, kemudian turunnya tepat melayang ke arah lawan, pedangnya menusuk dada, tangan kiri mencengkeram muka, dan kedua kakinya masih melakukan tendangan udara.

Benar-benar seperti Rajawali yang menyerang dengan sepasang sayap dan sepasang cakarnya!

Kagetlah Cui Sian melihat perubahan Ini.

la tadinya agak terpesona oleh keindahan gerakan lawan, tidak tahu bahwa di dalam keindahan itu tersembunyi bahaya maut yang kini mengancamnya!

la sadar akan kehebatan penyerangan ini setelah lawan tiba dekat sekali, bahkan angin Pedang yang bersinar merah itu sudah lebih dahulu meniup.

"Hayaaaaah!"

Cui Sian berseru, Pedangnya berubah menjadi segulungan sinar putih melingkar di depan dada menangkis sinar Pedang merah, kemudian menggunakan tenaga benturan ini dia membanting tubuhnya ke belakang.

Orang lain tentu akan celaka kalau melakukan gerakan ini.

Sedikitnya, kepala akan terbanting kepada tanah atau batu di belakangnya.

Akan tetapi tidak demikian dengan Cui Sian.

Gerakan inilah yang disebut jurus Sian-li-loh-be (Gerakan Membalik Seorang Dewi) yang selain menegangkan, juga amat indah karena digerakkan oleh tubuh yang ramping, manis dan lemah-gemulai.

Biarpun tadinya kepala yang berambut hitam panjang halus harum itu seperti terbanting ke belakang dan ke bawah, namun bukan menghantam tanah di belakang, melainkan terayun terus ke bawah seiring dengan terangkatnya kedua kaki ke depan dan ke atas, terus tubuh itu membuat salto sampai tiga kali ke belakang!

Membuat salto ke depan adalah mudah dan agaknya dapat dilakukan oleh siapa saja yang mau melatihnya.

Akan tetapi membuat salto ke belakang berturut-turut tiga kali tanpa ancang-ancang dan dalam keadaan terjepit seperti itu, kiranya hanya dapat dilakukan oleh akrobat-akrobat tingkat tinggi saja!

Diam-diam Hui Kauw kaget dan kagum.

Serangannya tadi dengan jurus Sm-tiauw-coan-hong tadi amatlah hebat dan jarang sekali tak membawa hasil baik karena serangan itu selain tidak terduga-duga datangnya, juga amat sukar ditang-kis atau dielakkan karena sekaligus kedua tangan dan kedua kakinya menyerang.

Akan tetapi ketika gadis itu tubuhnya berputar-putar seperti kitiran angin ke belakang menjauhinya, otomatis serangannya gagal mutlak, karena tubuhnya yang melayang dari atas tak mungkin dapat "Terbang"

Mengikuti gerakan lawan.

Terpaksa ia turun kembali ke atas tanah dan pada saat kedua kakinya menginjak tanah, lawannya yang muda belia itu sudah berdiri pula dengan tegak.

Kini mereka berdiri agak berjauhan karena gerakan salto Cui Sian tadi.

Jarak di antara mereka ada lima meter.

Masing-masing berdiri dengan Pedang di tangan, melintang depan dada.

Kedua kaki agak terpentang, tangan kiri di atas pinggul kiri, Bibir agak terbuka dan nafas sedikit memburu karena pengerahan tenaga Sinkang tadi dicampur ketegangan, sepasang mata menyinarkan api berkilat-kilat, sepasang pipi merah jambu.

Bagaikan dua ekor singa betina mereka saling pandang, seakan-akan hendak menaksir kekuatan lawan sambil mengasah otak untuk mengeluarkan jurus-jurus pilihan agar dapat segera merobohkan lawan yang tangguh.

Sejak tadi, kerut-merut di antara kedua mata Kun Hong tampak nyata, nafasnya agak terengah dan beberapa kali dia membanting kaki kiri ke atas tanah.

Bingung sekali dia.

la maklum bahwa di antara mereka terjadi kesalah-pahaman yang amat besar dan amat berbahaya, akan tetapi bagaimana ia dapat mencegah mereka bertanding?

Keduanya telah tersinggung perasaan dan kehormatan, masing-masing membela kebenaran sendiri dan satu-satunya jalan untuk menghentikan salah paham ini hanya mengemukakan fakta-fakta.

Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, tak mungkin dia dapat memperlihatkan bukti untuk membuka tabir rahasia ini.

Kong Bu terbunuh orang, Pedang Kim-Seng-Kiam menancap di dadanya.

Tentu saja adiknya ini Cui Sian menjadi marah dan menuduh mereka berdua yang melakukan pembunuhan itu.

"Hui Kauw... Cui Sian... hentikanlah pertempuran yang tiada gunanya ini... dengarkan aku..."

Akan tetapi dia melanjutkan kata-katanya dengan helaan nafas panjang karena pada saat itu kedua orang singa betina itu sudah saling terjang lagi dengan lebih hebat daripada tadi.

Kini mereka saling menguji lawan dengan gerakan cepat, atau jelasnya, masing-masing hendak mengandalkan kecepatan untuk mencapai kemenangan.

Gerakan mereka seperti sepasang burung walet, sukar sekali diikuti pandangan mata biasa.

Pedang mereka lenyap bentuknya, berubah dua gulung sinar merah dan putih yang berkelebatan ke sana ke mari, saling belit, saling tekan, saling dorong dan saling kurung sehingga menimbulkan pemandangan yang ajaib, indah, namun penuh ketegangan karena di antara semua keindahan itu mengintai maut!

Segera ternyata oleh kedua orang wanita jagoan itu bahwa dalam ilmu gin-kang, nyonya Pendekar Buta dengan gerakan Kim-Tiauw-kun lebih unggul sedikit.

Akan tetapi keunggulan ini ditutup oleh puteri Raja Pedang dengan kelebihannya dalam tenaga Lweekang yang merupakan penggabungan atau kombinasi dari Im-kang dan Yangkang dari Im-Yang Sin-Hoat.

Ketika Hui Kauw melakukan serangan dengan jurus Kim-Tiauw Liak-Sui (Rajawali Emas Sambar Air), pedangnya membacok dari atas ke bawah dengan kelebatan dua kali seperti orang menulis huruf Z.

Cui Sian yang menjadi silau matanya saking hebatnya serangan ini, cepat menggerakkan Pedang Liong-Cu-Kiam menangkis dilanjutkan dengan serangan menusuk dada.

Dalam menangkis ini, Cui Sian menggunakan jurus Yang-Sin Kiam-Hoat yang disebut Jit-Ho Koan-Seng (Api Matahari Menutup Bintang), pedangnya diputar menjadi gulungan sinar Bundar yang digerakkan hawa panas sehingga tangan Hui Kauw yang memegang Pedang serasa akan pecah-pecah telapak tangannya.

Kemudian, sinar Pedang yang Bundar seperti bentuk matahari ini tiba-tiba mengeluarkan kilatan meluncur ke depan ketika jurus dari Yang-Sin-Kiam itu diubah mejadi jurus Im-Sin-Kiam yang disebut Bi-Jin Sia-Hwa (Wanita Cantik Memanah Bunga).

"Hui Kauw... awas..."

Terdengar Kun Hong berseru kaget.

Pendengarannya yang luar biasa tajam itu dapat mengikuti pertandingan ini seakan-akan dia dapat melihat saja.

Tanpa seruan ini pun Hui Kauw sudah kaget bukan main karena sama sekali tidak disangkanya bahwa Pedang lawan yang diputar untuk menangkis itu tahu-tahu dapat diubah menjadi serangan yang mengeluarkan hawa dingin.

Pedangnya sendiri dalam detik itu berada di atas karena tangannya terpental oleh tangkisan tadi, maka untuk menangkis tidak ada kesempatan lagi.

Agaknya Pedang lawan itu akan menancap di dadanya, dan mungkin ini yang dikehendaki Cui Sian untuk membalas kematian kakaknya dengan serangan yang sama, menikam dada!

Akan tetapi Hui Kauw bukanlah seorang wanita sembarangan yang akan putus asa menghadapi terkaman maut.

Dengan nekat ia hendak mengadu nyawa.

Tubuhnya ia tekuk ke bawah menjadi setengah berjongkok dan pedangnya membabat miring ke arah kaki lawan.

la maklum bahwa ia tidak akan dapat terhindar dari tusukan maut itu, akan tetapi agaknya pedangnya sendiri pun akan mendapat korban dua buah kaki!

"Aiihhh...!"

Cui Sian berseru, kagum dan kaget, tapi ia cepat melompat ke atas sehingga Pedang Hui Kauw menyambar lewat di bawah kedua kakinya, hanya beberapa senti meter saja selisihnya.

Akan tetapi karena tubuh Hui Kauw merendah dan ia sendiri terpaksa melompat, pedangnya berubah arahnya dan tidak jadi menancap dada melainkan menyerempet pundak kiri Hui Kauw.

Nyonya Pendekar Buta itu mengeluh perlahan, daging pundaknya robek dan darah mengalir banyak.

la terhuyung ke belakang, pandang matanya nanar.

"Hui Kauw...!"

Sekali kakinya bergerak, Kun Hong sudah melayang ke dekat isterinya dan merangkulnya.

Cepat jari-jari tangannya mencari dan mendapatkan luka di pundak.

Hatinya lega, luka itu besar akan tetapi hanya luka daging saja, tidak berbahaya.

la menotok dua jalan darah untuk menghentikan keluarnya darah dan mengurangi rasa nyeri.

"Cu Sian, kau terlalu mendesak kami..."

Katanya kemudian sambil menyuruh isterinya duduk beristirahat di pinggir.

Pedang Ang-Hong-Kiam sudah dia masukkan ke dalam tongkatnya lagi.

Cui Sian melangkah maju, Suaranya lantang, ketus dan penuh tantangan.

"Pendekar Buta, untuk membalaskan kematian kakakku yang sama sekali tidak berdosa, pembunuhnya harus kubunuh pula!"

Setelah berkata demikian, Cui Sian tiba-tiba melompat cepat sekali dengan maksud supaya orang buta itu tidak sempat menghalanginya.

la melompat kedekat Hui Kauw yang duduk bersila sambil meramkan mata mengumpulkan kembali tenaga dan memulihkan luka.

Dengan gerakan cepat ia mengangkat pedangnya, menusuk ke arah dada Hui Kauw.

"Tranggggg...!"

Cui Sian hampir jatuh jungkir-balik saking kerasnya tangkisan ini yang membuat lengannya kesemutan dan membuat ia cepat melompat ke belakang.

Matanya terbelalak marah ketika melihat bahwa yang menangkis pedangnya tadi adalah tongkat di tangan Kun Hong yang entah kapan telah berada di dekat isterinya.

"Bagus, kau telah membelanya? Awas pedang!"

La sudah menerjang maju dan kini dengan pengerahan tenaga sepenuhnya karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang sakti.

Hampir saja Cui Sian berdiri melongo saking herannya kalau saja ia tidak didorong oleh kemarahan dan sakit hati.

Pendekar Buta itu hanya berdiri tegak dengan tongkat di tangan, kulit di antara kedua mata kerut-merut, mulut setengah tersenyum setengah menangis membayangkan keperihan hati, akan tetapi sama sekali tidak melayani ancaman serangan Cui Sian yang sudah menggerakkan Pedang sehingga gulungan sinar putih bergerak-gerak mengurung tubuhnya dari atas ke bawah!

Cui Sian adalah puteri seorang Pendekar besar, tentu saja tidak sudi menyerang orang yang tidak melawannya.

"Pendekar Buta, tak perlu menghina orang dengan kepandaianmu! Hayo kau lawan pedangku kalau kau membela isterimu yang membunuh kakakku!"

Teriak Cui Sian sambil menodongkan ujung pedangnya di depan dada Kun Hong. Akan tetapi Pendekar Buta tersenyum pahit dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Aku bukan orang gila, Siauw-moi (Adik Kecil)! Mana bisa aku melawanmu berkelahi? Isteriku tidak membunuh Kong Bu, aku berani sumpah..."

"Sumpahmu tidak ada harganya!"

Bentak Cui Sian yang teringat akan mendiang Cicinya.

"Mungkin kau tidak membunuh Kong Bu Koko, akan tetapi isterimu adalah puteri Ching-Coa-To, sejak kecil tergolong keluarga penjahat! Aku bunuh dia!"

Sambil berkata demikian Cui Sian melompat cepat sekali sambil menyerang Hui Kauw yang masih duduk bersila mengumpulkan tenaga.

"Tranggg!"

Kembali Cui Sian terhuyung mundur ketika pedangnya tertangkis tongkat di tangan Kun Hong.

Namun gadis ini menjadi makin marah dan dengan nekat mengirim serangan bertubi-tubi, dengan jurus-jurus terlihai dari Im-Yang Sin-Kiam.

Betapapun ia mengerahkan tenaga dan kepandaian, semua sinar pedangnya terpental mundur oleh tangkisan tongkat yang merupakan sinar merah.

Sinar merah itu jauh lebih kuat daripada sinar putih dari pedangnya dan agaknya Pendekar Buta hafal betul akan semua gerak-geriknya sehingga ke manapun juga pedangnya berkelebat dalam penyerangannya terhadap Hui Kauw, selalu Pedang itu membentur tongkat, seakan-akan tubuh Hui Kauw terkurung benteng baja yang tak tertembuskan!

Karena semua serangannya selalu tertangkis, Cui Sian menjadi makin marah dan penasaran.

Kalau saja Pendekar Buta melawannya dan ia dikalahkan, hal itu takkan mendatangkan rasa penasaran.

Akan tetapi orang buta itu hanya menangkis dan melindungi isterinya, Sama sekali tidak membalas sehingga ia merasa dipermainkan, dipandang rendah, dan dianggap anak-anak saja!

Apalagi karena telapak tangannya yang memegang pe-dang tepasa perih dan panas, hampir Cui Sian menangis saking jengkelnya.

la pada dasarnya seorang yang berpemandangan luas dan tidak mudah dipengaruhi kemarahan, akan tetapi karena ia memiliki hati yang keras pula, kini ia hampir tak dapat mengendalikan kesabaran.

Saking gemasnya, ia lalu mulai mengalihkan serangarinya kepada Kun Hong sendiri!

Di lain pihak, diam-diam Kun Hong mulai merasa tak senang.

Gadis ini tidak tahu diri, pikirnya.

Tidak tahu dia mengalah terus.

Tentu saja tak mungkin dia membiarkan isterinya dibunuh!

Siapapun juga orangnya yang akan mengganggu isterinya, akan dia lawan mati-matian.

la akan rela mengorbankan nyawanya untuk membela isterinya yang tercinta.

"Sian-moi, kau tak tahu diri!"

Bentaknya sambil menangkis agak keras sehingga Cui Sian terhuyung dan terpental sampai beberapa meter jauhnya.

"Memang aku tidak tahu diri!"

Dalam kemarahannya Cui Sian berteriak-teriak.

"Kakakku dibunuh isterimu, seharusnya aku diam saja dan minta ampun kepada isterimu, begitukah? Mengapa aku marah-marah dan hendak menuntut balas? Memang aku tidak tahu diri, nah, gunakanlah tongkatmu untuk melawanku dan membunuhku pula!"

Ucapan ini ditutup dengan serangan kilat, serangan dengan jurus yang disebut Pat-Sian Lo-Hai (Delapan Dewa Kacau Lautan) yang merupakan jurus Yang-Sin Kiam-Hoat, hebatnya bukan main.

Sambaran angin pedang"

Liong-Cu-Kiam menjadi panas seperti mengandung api dan serangannya menyambar datang dari delapan penjuru angin.

Inilah jurus yang paling hebat dari ilmu Pedang Cui Sian yang sengaja di pergunakan oleh gadis itu secara nekat untuk menghadapi Pendekar Buta yang jauh lebih lihai dari padanya itu.

Kaget sekali hati Kun Hong ketika pendengarannya menangkap desir angin serangan jurus yang ampuh ini.

la menyesal sekali dan juga makin tak senang.

Jurus ini dikenalnya baik dan dia beranggapan bahwa kalau orang sudah menggunakan jurus macam Pat-sian-lo-hai ini, berarti orang itu hendak mengadu nyawa dan sudah nekat.

la mengeluarkan suara melengking keras dan tongkatnya berkelebat menjadi sinar merah seperti darah.

Terderigar bunyi "Cring-cring"

Delapan kali dan...

Cui Sian terlempar sampai lima meter lebih jauhnya, terbanting ke atas tanah diikuti pedangnya yang melayang ke atas dan menancap di dekatnya!

Seketika gadis itu nanar dan bumi di sekelilingnya serasa berputaran!

"Bocah tak tahu diri!"

Kembali Kun Hong mengomel.

"Sian-ji (anak Sian), kau benar-benar tidak tahu diri, berani melawan Pendekar Buta. Tentu saja kau kalah..."

Tiba-tiba terdengar suara halus dan dalam.

"Ayah...!"

Cui Sian berseru girang dan mengandung isak.

"Ayah... kau balaskan kematian... kematian... Kong Bu Koko..."

Dan gadis ini menangis terisak-isak.

Kakek tua yang secara tiba-tiba berdiri di situ memang bukan lain adalah Ayah Cui Sian, Bu-Tek Kiam-Ong Tan Beng San Si Raja Pedang, Ketua dari Thai-San-Pai!

Seorang Kakek berusia hampir tujuh puluh tahun, tubuhnya tinggi tegap, rambutnya sudah banyak yang putih, jenggotnya panjang, sepasang matanya tajam berpengaruh, sikapnya tenang berwibawa.

"Tenanglah, Sian-ji, aku sudah mendengar semua tadi. Aku tidak percaya Kun Hong membunuh Kong Bu, akan tetapi entah kalau isterinya. Betapapun juga, kau tidak boleh terburu nafsu anakku, sebelum ada bukti."

Sementara itu, bukan main kagetnya hati Kun Hong ketika mendengar suara Raja Pedang tadi, apalagi ucapan pertama yang keluar dari mulut Raja Pedang tadi sedikit banyak mengandung sindiran terhadap dirinya!

Serta-merta dia menjatuhkan diri berlutut di depan Raja Pedang sambil berkata.

"Lo-Cianpwe, sekali-kali saya tidak berani menghina adik Cui Sian, akan tetapi dia mendesak terus. Kami berdua tidak merasa membunuh Kong Bu, tentu saja tidak mengaku. Kalau betul isteri saya membunuh Kong Bu, biarlah Lo-Cianpwe turun tangan membunuh kami, kami takkan melawan. Harap Lo-Cianpwe sudi mempertimbangkan dan memeriksa, karena tuduhan itu hanya fitnah belaka.

"Hemmm, Kun Hong, berdirilah. Kau cukup mengenal watakku yang selamanya tidak akan mudah mendengar keterangan sepihak saja. Betapapun juga, kiranya Cui Sian takkan sudi melakukan fitnah, dan aku pun tahu bahwa kau bukanlah orang yang suka menyangkal perbuatan sendiri. Sian-ji, tidak boleh kita menuduh buta tuli tentang pembunuhan atas diri Kong Bu sebelum melihat bukti dan melakukan pemeriksaan. Mari antarkan aku ke tempat kau menemukan jenazah kakakmu. Kun Hong, kau dan isterimu ikut agar kita bersama dapat membuktikan sendiri."

"Ayah, yang menemukan jenazah Kong Bu Koko adalah aku dan Swan Bu. Karena marah, aku segera pergi mencari Pendekar Buta dan isterinya, sedangkan Swan Bu berada di sana, tentu jenazah itu sudah dikuburnya."

"Biarlah kita melihat ke sana."

Mendengar bahwa Swan Bu berada di tempat pembunuhan itu, Kun Hong dan isterinya segera bangun dan tanpa banyak cakap lagi segera mengikuti Cui Sian dan Ayahnya.

Hati mereka berempat diliputi pelbagai dugaan dan perasaan tegang maka di sepanjang jalan mereka tidak banyak bicara.

Ada sesuatu yang merenggangkan mereka dan membuat mereka merasa tidak enak dan tidak suka satu kepada lain.

Karena melakukan perjalanan cepat mempergunakan ilmu mereka, akhirnya mereka tiba di dalam hutan kecil di mana Cui Sian menemukan jenazah Kong Bu.

Mereka berempat berdiri di depan kuburan baru yang ditandai tiga buah batu besar.

"Di sini tempatnya. Tentu ini kuburannya, dibuat oleh Swan Bu,"

Kata Cui Sian dan air matanya sudah mengucur.

"Mana Swan Bu...? Mana anakku...?"

Terdengar Hui Kauw berkata perlahan.

"Diamlah, baik sekali dia melakukan penguburan ini. Tentu saja dia telah pergi,"

Kata Kun Hong sambil meraba-raba kuburan.

"Kun Hong, kita sekarang berhadapan dengan kenyataan. Kong Bu terbunuh dan menurut kesaksian Cui Sian, Pedang isterimu menancap di dadanya. Akan tetapi hal itu, biarpun sudah merupakan bukti bahwa Kong Bu terbunuh oleh Pedang isterimu, masih belum meyakinkan. Sekarang kita harus bongkar kuburan ini, biar aku melihat mayat Kong Bu, mungkin aku akan dapat menemukan pemecahan rahasianya."

"Ayah... kasihan Kong Bu Koko... baru beberapa hari dikubur, masa harus dibongkar...?"

"Diamlah, Sian-ji. Orang yang sudah mati tidak perlu dikasihani lagi, karena sesungguhnya yang masih (Lanjut ke

Jilid 17) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 17 hidup inilah yang patut dikasihani oleh si mati. Kau bantulah aku!"

Setelah berkata demikian, Pendekar tua ini menggunakan tangannya membongkar tanah kuburan, dibantu oleh Cui Sian yang bekerja sambil mencucurkan air mata.

Akhirnya terbongkarlah kuburan itu dan tampak mayat yang sudah mulai berbau busuk akan tetapi masih utuh.

Utuh?

Sama sekali tidak karena kedua matanya bolong dan lehernya putus, kepalanya terpisah dari tubuh.

Terdengar Cui Sian menjerit dan roboh pingsan dalam pelukan Ayahnya.

Raja Pedang mengeluarkan suara, geraman hebat berkali-kali seperti seekor harimau marah.

"Apa yang terjadi? Ada apa...?"

Kun Hong bertanya-tanya sambil memegang lengan isterinya erat-erat.

Hui Kauw sendiri berdiri memandang ke arah mayat dengan muka berubah pucat sekali.

Jelas bahwa mayat itu selain tertusuk Pedang dadanya menyebabkan kematian, juga kedua matanya dibikin buta orang dan lehernya dipenggal pedang!

Saking kagetnya, nyonya ini hanya tertegun, tak dapat menjawab pertanyaan suaminya.

Cui Sian siuman kembali dan menangis tersedu-sedu.

"Ah, kasihan Kong Bu ko-ko... mengapa begini? Ayah... ketika aku menemukannya, kedua matanya tidak rusak dan lehernya tidak putus... ah, apakah Swan Bu... dia... dia..."

Tiba-tiba gadis itu melompat dan mencabut pedangnya, wajahnya beringas ketika ia memandang kepada Pendekar Buta dan isterinya.

"Jelas sekarang! Kiranya Pendekar Buta yang selama ini dipuji-puji Ayah, memiliki seorang isteri berhati iblis dan mempunyai anak berwatak siluman! Ayah, ini tentu perbuatan Swan Bu si bocah iblis! Ah, aku tertipu olehnya. Ia bilang kena fitnah, ditawan musuh bersama Lee Si dan dalam keadaan tertotok berdua Lee Si berada sekamar, terlihat oleh Kong Bu Koko yang menjadi marah karena Kong Bu Koko menyangka bahwa bocah itu berbuat kurang ajar terhadap Lee Si. Kiranya memang demikianlah. Anak Pendekar Buta tak boleh dipercaya! Pantas saja dia dibuntungi lengannya oleh gadis liar itu tidak menjadi sakit hati, kiranya memang segolongan!"

Dengan kemarahan yang meluap-luap Cui Sian menceritakan semua itu dengan cepat sehingga sukar bagi tiga orang itu mengikutinya.

Akan tetapi wajah Hui Kauw menjadi lebih pucat ketika ia berkata sambil terisak.

"Anakku... anakku... Swan Bu... lengannya kenapa...?"

Memang pada saat itu, Cui Sian sudah seratus prosen menuduh akan kejahatan keluarga Pendekar Buta.

Tadinya ia percaya akan kebenaran Swan Bu tentang fitnah itu, akan tetapi sekarang, melihat mayat kakaknya dirusak, dia berpendapat lain.

Agaknya memang Swan Bu seorang pemuda berwatak jahat, mempermainkan Lee Si dan merusak mayat Kong Bu.

Tadinya ia percaya karena sikap Lee Si yang seakan-akan membenarkan tentang fitnah, seakan-akan membenarkan bahwa Swan Bu dan ia kena fitnah sehingga Lee Si hampir membunuh Siu Bi.

Akan tetapi sekarang Cui Sian mengerti bahwa Lee Si melindungi niat baik Swan Bu dan...

tentu saja nama baik Lee Si sendiri.

Hal ini hanya dapat terjadi karena puteri kakaknya itu jatuh cinta kepada Swan Bu yang tampan dan gagah!

Sekarang ia mengerti semua dan kemarahannya memuncak.

"Wanita iblis, kau memang keturunan Ching-Coa-To yang jahat! Setelah kau membunuh Kong Bu Koko dan anakmu merusak mayatnya, kau mau bilang apa lagi? Kau harus menebus dosa!"

Gadis itu membentak lalu berteriak nyaring dan tubuhnya melayang ke depan dalam serangannya yang hebat kepada Hui Kauw.

Nyonya ini masih tercengang dan menangis sedih mendengar puteranya buntung lengannya, masih bingung sehingga ia tidak dapat mengelak atau menangkis menghadapi serangan Cui Sian yang dahsyat ini.

"Trang... plak...!"

Kembali Kun Hong yang turun tangan menangkis dan Cui Sian terlempar dan roboh, Kini gadis itu tidak dapat segera bangkit karena pundaknya tadi ditampar Kun Hong sehingga tulang pundaknya terlepas dan lengan kanannya menjadi lumpuh, tak dapat digunakan sementara waktu untuk mainkan Pedang lagi!

Pedang Liong-Cu-Kiam menggeletak di sampingnya.

Sementara itu, Raja Pedang Tan Beng San yang menyaksikan puteranya telah menjadi mayat yang mulai berbau busuk dan dirusak sedemikian rupa, berdiri seperti patung setelah mengeluarkan teriakan nyaring tadi.

la berdiri seperti patung dan baru bergerak setelah Cui Sian terlempar dan roboh.

la melangkah perlahan menghampiri Pedang Liong-Cu-Kiam pendek yang menggeletak di situ, kemudian tanpa mempedulikan Cui Sian yang dilihatnya hanya menderita terlepas tulang yang tidak membahayakan nyawanya, Kakek sakti ini membalikkan tubuhnya menghadapi Kun Hong, sikapnya penuh ancaman, tapi wajahnya tenang, hanya pandang matanya dingin seperti salju.

"Kwa Kun Hong, bagus sekali sikapmu. Kau sekarang membela yang salah, biarpun yang salah itu anak isterimu sendiri. Sekarang pilihlah, kau sendiri yang menghukum isterimu ataukah aku yang harus turun tangan? Kun Hong... betapa hancur hatiku karena kekecewaan. Entah dosa apa yang kau perbuat dalam kehidupanmu dahulu sehingga dalam kehidupan sekarang kau menebus dengan nasib yang amat buruk. Tak patut kau yang memiliki watak mulia, mendapatkan isteri yang curang dan palsu, dan mendapatkan putera yang jahat dan keji. Kun Hong, demi hubungan baik antara kita, kau hukumlah orang yang bersalah, biarpun orang itu isterimu sendiri, agar aku tidak usah menyentuh isterimu."

Ucapan Raja Pedang Tan Beng San terdengar tenang, tapi penuh dengan penyesalan dan keharuan tercampur duka.

Betapapun juga, terasa amat dingin yang menjadi selimut dari kemarahan besar.

Kun Hong berdiri tegak seperti patung.

Kerut-merut di antara kedua matanya yang buta amat dalam, membuat wajahnya yang tampan itu kelihatan tua sekali.

Rambut-rambut di pelipisnya seketika berubah menjadi putih.

Kiranya saat ini merupakan saat yang paling perih baginya, saat yang paling menusuk di hati, di mana bercampur aduk pelbagai perasaan.

la yakin, seyakin-yakinnya, bahwa isterinya tidak membunuh Kong Bu.

Dan dia yakin pula bahwa puteranya tidak akan melakukan perbuatan demikian hina, merusak mayat Kong Bu.

la maklum bahwa semua ini fitnah belaka, dilakukan oleh orang-orang jahat.

Akan tetapi dia pun maklum bahwa Raja Pedang dan Cui Sian yang dipengaruhi duka cita besar menyaksikan mayat Kong Bu yang mulai membusuk, menjadi miring pertimbangannya dan gelap pandangnya, sukar diajak berunding, kecuali kalau ada fakta-fakta yang mutlak sehingga dapat membuka mata hati mereka.

Di samping keyakinan akan kebersihan anak isterinya, ada rasa duka yang membuat hatinya merasa ditusuk-tusuk jarum berbisa ketika dia mendengar bahwa lengan puteranya buntung.

Semua perasaan ini ditambah rasa penasaran mengapa Cui Sian begitu mendesak dengan tuduhan-tuduhan membuta dan mengapa pula Raja Pedang yang selama ini dia anggap sebagai seorang yang paling bijaksana di dunia ini tak dapat melawan kedukaan hati dan memihak Cui Sian tanpa pikir panjang lagi.

Keyakinannya akan kebersihan isterinya, ditambah cinta kasihnya yang mendalam, membuat Kun Hong mengambil keputusan untuk melindungi isterinya dari gangguan siapa pun juga.

Sampai lama dia tidak menjawab ucapan Raja Pedang tadi.

Keduanya berdiri saling berhadapan dalam jarak tiga meter, sama-sama tegak dan sama-sama tidak bergerak.

Cui Sian masih duduk bersila menahan sakit dan memulihkan tenaganya yang seakan-akan habis.

Tangkisan Pendekar Buta tadi hebat bukan main.

Juga Hui Kauw menjatuhkan diri di atas tanah duduk sambil menangis, menutupi mukanya dengan kedua tangan.

la sedih, marah, dan penasaran, akan tetapi semua itu terkalahkan oleh kepedihan hatinya mendengar lengan anaknya menjadi buntung.

Suasana sunyi sepi, sunyi yang menyeramkan.

Udara diracuni bau mayat membusuk.

Dua jagoan yang dianggap paling sakti di dunia persilatan, kini saling berhadapan dengan perasaan saling bertentangan.

Keduanya memiliki ilmu tingkat tinggi, yaitu Im-Yang Sin-Hoat, Tongkat besi Ang-Hong-Kiam telah gemetar di tangan kanan Kun Hong, sedangkan kedua tangan Raja Pedang telah memegang sepasang Liong-Cu-Kiam yang berkilauan.

Tadi dia mengambil Liong-Cu-Kiam pendek dari puterinya dan kini tangan kanannya sudah mencabut Liong-Cu-Kiam panjang.

Dengan sepasang Liong-cu-siang-kiam di tangan, Raja Pedang kini seakan merupakan seekor harimau yang diberi sayap!

"Kwa Kun Hong, sekali lagi, kalau kau tidak mau menghukum isterimu, aku akan turun tangan sendiri!"

Kembali suara Raja Pedang itu menggema di antara pohon-pohon di sekeliling tempat itu.

"Lo-Cianpwe, isteri saya tidak berdosa. Harap Lo-Cianpwe jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum jelas benar. Tak mungkin saya membolehkan siapa juga mengganggu isteri saya yang tidak bersalah."

"Hemmm, tidak nyana, bukan hanya matamu yang menjadi buta. Hatimu pun buta terhadap kenyataan dan keadilanmu goyah oleh cinta kasih. Hui Kauw, terimalah hukumanmu!"

Dua sinar putih berkilau bagaikan dua bintang terbang menyambar dibarengi suara bercuit panjang dan angin berdesir menyambar. Tubuh Si Raja Pedang sudah lenyap memanjang seperti dua setera putih.

"Hyiiiaaaaattt!"

Pekik nyaring melengking ini keluar dari mulut Kun Hong dan tampaklah sinar merah gemilang menyilaukan mata menggantikan tubuhnya yang lenyap pula digulung sinar pedangnya sendiri.

Maklum bahwa Raja Pedang melakukan gerakan maut untuk membunuh isterinya, Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta juga mengeluarkan jurus simpanannya karena hanya dengan jurus inilah dia akan mampu menandingi Raja Pedang.

Hebat sekali penglihatan di saat itu.

Cui Sian dan Hui Kauw lupa akan keadaan diri sendiri, masing-masing membelalak memandang ke depan.

Memang luar biasa dan indah pula.

Dua sinar yang amat terang dan panjang berwarna putih seperti perak, melayang di udara dan dari jurusan yang bertentangan meluncur sinar merah yang amat terang pula.

Kemudian sinar-sinar itu beradu di udara, mengeluarkan suara keras seperti ledakan, membuat bumi serasa berguncang dan daun-daun pohon rontok berhamburan.

Cui Sian dan Hui Kauw tak dapat menahan hawa pukulan sakti itu, masing-masing menggigil tubuhnya dan otomatis mereka bertiarap sambil menutup mata.

Ketika mereka membuka mata lagi memandang, ternyata Pendekar Buta dan Raja Pedang sudah berdiri lagi di atas tanah, tegak berhadapan dalam jarak tiga meter.

Di atas tanah, antara mereka, tiga batang Pedang menancap di atas tanah, sepasang Liong-Cu-Kiam dan sebatang Ang-Hong-Kiam yang sudah keluar dari tongkat yang hancur berkeping-keping!

Kiranya pertemuan sepasang Liong-Cu-Kiam dan tongkat berisi Ang-Hong-Kiam tadi sedemikian hebatnya sehingga membuat tongkat yang membungkus Ang-Hong-Kiam hancur, akan tetapi juga membuat tiga batang Pedang itu terlepas dari pegangan kedua orang jago sakti dan menancap di atas tanah, amblas hampir sampai ke gagangnya.

"Lo-Cianpwe, saya tidak berani melawan Lociaripwe, akan tetapi jangan Lo-Cianpwe mengganggu isteri saya yang tidak berdosa."

Terdengar suara Kun Hong memecah kesunyian, suaranya gemetar bercampur isak tertahan. Raja Pedang menarik nafas panjang.

"Hebat kau, Kun Hong. Dengan kepandaianmu seperti ini, seharusnya aku si tua bangka takluk. Akan tetapi, jelas isterimu membunuh Kong Bu dan anakmu menghina mayatnya sedemikian rupa, orang-orang dunia akan mentertawai aku sebagai berat sebelah kalau tidak memberi hukuman. Kalau kau hendak melindungi isterimu, terserah, itu hakmu, sungguhpun hal itu mengecewakan hatiku karena berarti kau melindungi orang bersalah, Hui Kauw, awas terimalah pukulanku!"

Seluruh tubuh Raja Pedang tergetar, terutama kedua tangannya, ketika dia mengerahkan tenaga Im Yang, kemudian dia melangkah maju tiga kali dan menggerakkan kedua tangannya mendorong ke arah Hui Kauw yang masih duduk di atas tanah.

"Jangan... Lo-Cianpwe...!"

Kun Hong melompat dan menghalang di antara isterinya dan Raja Pedang, tentu saja sambil mengerahkan Sinkang untuk menahan hantaman hawa pukulan Im Yang yang sedemikian hebatnya itu.

"Werrrrr...!!"

Bagaikan sehelai daun kering tertiup angin, tubuh Kun Hong terlempar oleh hawa pukulan, menabrak isterinya dan keduanya terguling-guling sampai tiga meter lebih.

Kun Hong melompat bangun, wajahnya berubah merah, akan tetapi ia tidak terluka.

Adapun Hui Kauw, biar tadi sudah terlindung olehnya dan pukulan itu hampir seluruhnya menimpa dirinya, namun saking hebatnya hawa pukulan, nyonya ini menjadi sesak dadanya dan wajahnya pucat.

Cepat-cepat ia duduk bersila mengerahkan Sinkang untuk mengusir pengaruh hawa pukulan dahsyat itu.

Kening Raja Pedang berkerut-kerut.

Tentu saja dia merasa tidak senang sekali harus melakukan ini, namun demi keadilan untuk menghukum yang bersalah, dia melangkah maju lagi beberapa tindak sambil berkata.

"Menyesal sekali, Kun Hong, tapi aku terpaksa harus turun tangan!"

Kembali Raja Pedang menggerakkan kedua tangannya melakukan dorongan dari jarak jauh sambil mengerahkan tenaga Im Yang.

"Lo-Cianpwe, jangan terburu nafsu...?"

Kun Hong mencegah, namun Raja Pedang melanjutkan pukulannya ke arah Hui Kauw.

Sekali lagi Kun Hong meloncat, kini langsung menghadapi Raja Pedang sehingga dorongan itu sepenuhnya menghantam dadanya.

Sekali lagi Pendekar Buta terlempar dan untuk menjaga agar isterinya jangan diserang, terpaksa dia menabrak dan menyeret Hui Kauw sehingga bergulingan di atas tanah.

Kun Hong bangkit berdiri perlahan-lahan, tapi Hui Kauw tidak dapat bangun, nyonya ini dalam keadaan setengah pingsan!

Kun Hong sendiri, selain rambutnya kusut, pakaiannya kotor penuh debu, juga dari ujung kiri mulutnya mengalir darah.

la tidak terluka dalam, namun pengerahan tenaganya tidak berhasil menahan pukulan maha dahsyat itu sehingga dia terbanting dan mulutnya berdarah.

Wajahnya sebentar pucat sebentar merah ketika dia melangkah maju menghadapi Raja Pedang.

"Lo-Cianpwe, benar kata orang bahwa tiada gading yang tak retak, tiada manusia yang tanpa cacad. Setiap orang mempunyai kelemahan dan kebodohannya sendiri-sendiri. Mungkin saya mempunyai banyak kelemahan dan kebodohah, namun ternyata Lo-Cianpwe sendiri pun memiliki cacad ini. Karena sayang putera, karena duka cita, karena sesal dan kecewa, pertimbangan Lo-Cianpwe menjadi miring."

"Aku bukan anak kecil, tak perlu kau memberi kuliah, Kun Hong. Kau minggirlah!"

Bentak Raja Pedang, sedikit banyak penasaran juga karena dua kali pukulannya untuk menghukum Hui Kauw dapat digagalkan oleh Pendekar Buta.

"Aku tidak akan minggir, Lo-Cianpwe, dan kalau kau hendak membunuh isteriku, terpaksa aku akan mencegah!"

Jawab Pendekar Buta. Dengan hati geram Raja Pedang tersenyum pahit.

"Bagus, sudah kuduga akan begini jadinya. Nah, aku akan memukul isterimu lagi, terserah kau hendak berbuat apa!"

Setelah berkata demikian, Raja Pedang menggerakkan kedua lengannya dan kali ini terdengar suara berkerotokan pada kedua lengan itu, Kun Hong kaget bukan main karena maklum bahwa kali ini Pendekar sakti itu menggunakan seluruh tenaganya, tenaga Im dan Yang, tenaga yang bertentangan itu hendak digunakan sekaligus mengeluarkan bunyi berkerotokan.

Sungguhpun tenaga itu bertentangan, namun kalau dipergunakan bersama, akan menjadi, tenaga mujijat yang sukar dilawan.

Isterinya pasti akan binasa oleh pukulan ini, biar hanya terkena sedikit saja.

"Tahan, Lo-Cianpwe!"

Bentak Kun Hong dengan suara keras, tubuhnya merendah "

Ketika dia menekuk kedua lututnya, kedua lengannya dia luruskan ke depan dan dengan pengerahan Sinkang dia pun mendorong ke depan, langsung menyambut hawa pukulan dahsyat dari Raja Pedang.

Luar biasa sekali!

Keduanya hanya tampak meluruskan kedua lengan mendorong ke depan, jarak di antara mereka masih ada tiga meter.

Namun keduanya seperti tertahan, seakan-akan tertumbuk kepada sesuatu yang tak tampak namun amat kuatnya.

Keduanya menarik kembali kedua lengan, membuat gerakan menyimpang lalu mendorong lagi, hampir berbareng, atau lebih tepat, Raja Pedang yang mendorong dulu karena dia yang menyerang, disusul dorongan lengan Kun Hong yang menyambutnya.

Berkali-kali mereka saling dorong dengan pukulan jarak jauh, makin lama jarak di antara mereka makin dekat.

"Kun Hong, hebat kau... aku atau kau penentuannya..."

Kata Raja Pedang terengah, namun wajahnya berseri gembira, kegembiraan seorang jagoan besar yang menemukan tanding yang seimbang.

"Terserah, Lo-Cianpwe..."

Kata Kun Hong agak terengah pula, sambil menggeser kedua kaki secara berbareng ke depan dan kini ketika keduanya mengulurkan lengan, kedua pasang tapak tangan itu saling tempel.

Kun Hong terkejut sekali karena kalau tadi tenaga dorongan Raja Pedang merupakan tenaga yang keluar sehingga tiap kali dia tangkis maka dua tenaga bertentangan saling menendang, adalah kini kedua tapak tangan Raja Pedang itu mengandung tenaga menyedot dan menempel!

Terpaksa dia mengerahkan seluruh tenaganya mempertahankan sehingga kedua orang itu kini berdiri setengah jongkok dengan kedua lengan lurus ke depan, tapak tangan mereka saling tempel dan melekat.

Dua tenaga raksasa saling betot dan kadang-kadang saling dorong melalui telapak tangan itu, dan keduanya terkejut karena ternyata tenaga mereka seimbang.

Kun Hong menjadi duka dan bingung sekali ketika mendapat kenyataan bahwa Raja Pedang agaknya sudah dihinggapi penyakit yang selalu menular pada ahli-ahli silat, yaitu kalau menemui lawan seimbang timbul kegembiraannya dan sebelum ada ketenTuan siapa lebih unggul takkan puas.

la maklum bahwa Raja Pedang telah menggabungkan tenaga Im Yang, maka dia pun terpaksa melakukan hal yang sama karena tidak ada kekuatan lain dapat menghadapi tenaga gabungan ini selain juga menggabungkan tenaga Im Yang di tubuhnya.

Namun dia maklum pula bahwa dengan cara mengadu tenaga seperti ini, mereka takkan dapat mundur lagi.

Siapa mundur berarti celaka, karena andaikata dapat menghindarkan tenaga serangan lawan, namun akan terpukul oleh tenaga sendiri dan menderita luka yang dapat membawa maut.

Pengerahan tenaga gabungan Im Yang seperti ini hanya dapat disurutkan secara perlahan-lahan, tidak mungkin "Ditarik"

Sekaligus tanpa mendatangkan luka hebat di dalam tubuh sendiri.

Kedua orang jago sakti itu seperti dua buah arca, sama sekali tidak tampak bergerak.

Uap putih mengepul dari kedua pasang lengan dan makin lama uap itu makin banyak, terutama kini keluar dan kepala.

Ini adalah tanda bahwa pengerahan Sinkang mereka sudah memuncak dan keadaan menjadi kritis sekali.

Keduanya maklum bahwa seorang di antara mereka pasti akan tewas.

Hui Kauw sudah sadar kembali.

Seperti halnya Cui Sian, ia duduk dengan muka pucat.

Sebagai orang-orang yang tahu akan ilmu silat tinggi, keduanya maklum apa yang terjadi di depan mata mereka.

Baik Cui Sian maupun Hui Kauw maklum bahwa dua orang itu sedang berada di ambang maut dan mereka maklum pula sepenuhnya bahwa mereka tidak dapat membantu, tidak dapat memisah karena tenaga Sinkang jauh lebih rendah.

Turun tangan mencampuri "Pertandingan"

Yang aneh ini berarti mengirim nyawa secara sia-sia belaka.

Melihat betapa suaminya setengah berjongkok, kedua matanya yang bolong itu terbelalak, kerut-merut di seluruh mukanya yang penuh keringat dan amat pucat, tiba-tiba Hui Kauw tak dapat menahan hatinya.

Suaminya, sedang berjuang dengan maut, dan hal itu dilakukan suaminya untuk menolong dan melindungi dirinya.

Tak tertahankan lagi nyonya ini menangis tersedu-sedu dan menjatuhkan diri di atas tanah.

la menangis seperti anak kecil hatinya penuh iba, penuh kegelisahan, dan penuh kasih sayang kepada suaminya.

Melihat keadaan Hui Kauw ini, Cui Sian tak dapat menahan pula air matanya yang bercucuran keluar.

la pun tahu apa artinya pertandingan ini dan timbullah rasa sesal dalam hatinya.

Bagaimana kalau Ayahnya kalah dan tewas?

Tentu selama hidupnya ia akan memusuhi Pendekar Buta Suami isteri dan anak.

Sebaliknya bagaimana kalau Pendekar Buta yang tewas dan kemudian ternyata bahwa Suami isteri itu tidak berdosa?

Cui Sian menjadi bingung dan tangisnya menjadi-jadi.

Keadaan yang amat menyeramkan dan menyedihkan.

Di sana menggeletak mayat Kong Bu yang mulai membusuk sehingga mengotori kebersihan hawa udara hutan itu.

Dan di sana dua orang jago sakti sedang mati-matian mengadu tenaga dan ilmu secara aneh.

Tak jauh dari mereka, dua orang wanita menangis tersedu-sedu!

Sunyi di hutan itu, kecuali sedu-sedan dua orang wanita dan dari jauh terdengar rintihan burung yang memanggil-manggil pasangannya yang tak kunjung datang dan suara bercicit anak monyet di gendongan induknya minta susu.

Beberapa menit kemudian, suara burung dan monyet tiba-tiba terhenti setelah terdengar kelepak sayap burung-burung terbang dan teriakan monyet-monyet melarikan diri bersembunyi.

Inilah tanda bahwa ada sesuatu yang mengejutkah mereka.

Hanya kedua orang wanita itu masih menangis penuh kegelisahan sehingga mereka tidak memperhatikan keadaan sekeliling.

Maka betapa kaget hati Cui Sian dan Hui Kauw ketika tiba-tiba muncul banyak sekali orang-orang yang mengurung tempat itu.

Sedikitnya ada dua puluh lima orang, dipimpin oleh seorang Nenek berpakaian serba merah yang memegang sebatang Pedang telanjang.

Nenek ini bukan lain adalah Ang-Hwa Nio-Nio yang datang sambil tertawa-tawa gembira dan mulutnya tiada hentinya berkata.

"Bagus... bagus... dua ekor binatang ini sudah masuk perangkap, tinggal menyembelih saja, hi... hi... hik!"

Di sebelahnya tampak seorang Pendeta bertubuh tinggi bersorban, telinganya memakai anting-anting dan kulitnya agak hitam, hidungnya mancung sekali.

Itulah dia Pendeta Maharsi, pertapa dari Barat yang masih terhitung Suheng (kakak seperguruan) Ang-Hwa Nio-Nio.

Pendeta Barat ini didatangkan oleh Ang-Hwa Nio-Nio untuk diminta bantuannya membalas dendam atas kematian kedua orang saudaranya.

Juga tampak Bo Wi Sianjin, tokoh dari Mongol yang bertubuh pendek dan gendut, tokoh sakti yang memiliki Ilmu Pukulan Katak Sakti, dan yang turun dari pegunungan di Mongol untuk mencari Raja Pedang untuk membalaskan kematian Suhengnya, Ka Chong Hoatsu.

Dan di samping tokoh-tokoh itu semua, dengan sikap yang tenang sekali dan amat dihormati oleh tokoh-tokoh lain, adalah seorang Hwesio tinggi besar, tua sekali usianya, kedua matanya selalu meram, mukanya pucat tak berdarah seperti muka mayat dan bajunya terbuka sdi bagian dada memperlihatkan dada yang bidang dan berbulu di tengahnya, Hwesio yang amat sakti karena dia ini bukan lain adalah Bhok Hwesio, itu tokoh dari Siauw-Lim-Pai yang murtad!

Munculnya orang-orang ini mendatangkan rasa gelisah bukan main di hati Cui Sian dan Hui Kauw.

Raja Pedang dan Pendekar Buta sedang.

bersitegang, tidak dapat dipisah begitu saja, dan orang-orang yang datang ini jelas merupakan tokoh-tokoh ahli silat tinggi yang agaknya tahu pula akan keadaan dua orang itu.

Bagaikan mendengar komando dua orang wanita yang telah terluka ini meloncat, menyambar Pedang yang menancap di atas tanah.

Hui Kauw mencabut Ang-Hong-Kiam sedangkan Cui Sian mencabut Liong-Cu-Kiam pendek, lalu keduanya bersiap membela Suami dan Ayah masing-masing.

Mata tajam terlatih Ang-Hwa Nio-Nio dan tiga orang temannya tentu saja dapat melihat bahwa nyonya Pendekar Buta itu telah terluka bahkan puteri Raja Pedang memegang Pedang dengan tangan kiri karena tangan kanannya setengah lumpuh.

Nenek berpakaian serba merah ini tertawa mengejek sambil berkata mengejek.

"Wah, masih galak betina-betina ini! Kalian lihat betapa kami akan membunuh dan menyiksa dua orang musuh besar kami, kemudian datang giliran kalian berdua. Kong Bu sudah mampus, anak Pendekar Buta Cucu Raja Pedang sudah rusak nama dan kehormatannya. Hi...hi...hik, alangkah nikmatnya pembalasanku!"

Tiba-tiba Hui Kauw berseru keras.

"Kau yang mencuri Kim-Seng-Kiam!"

"Hi...hi...hik, dan kau bersama suamimu yang buta itu tidak tahu..."

Hui Kauw maklum sekarang siapa yang melakukan semua fitnah itu.

Dengan teriakan nyaring ia menerjang maju, tidak mempedulikan betapa kesehatannya belum pulih.

Teriakannya ini disusul oleh bentakan Cui Sian yang sekaligus juga dapat menduga apa yang sesungguhnya terjadi.

Kiranya semua kejadian itu diatur oleh musuh-musuh yang bekerja secara curang untuk membalas dendam kepada Ayahnya dan kepada Pendekar Buta.

Karena itu, saking marahnya, ia melupakan pundaknya yang terlepas sambungan tulangnya dan menyerang dengan Pedang di tangan kiri.

"Ho... ho... ho, galaknya!"

Pendeta Maharsi menggerakkan tangannya yang panjang dan...

Hui Kauw yang lemah karena terluka itu berseru kaget, tahu-tahu pedangnya dapat dirampas dan ia roboh terguling.

Kiranya Kakek ini telah memperlihatkan kepandaiannya membantu Sumoinya menggunakan Pai-San-Jiu, sekaligus merampas Pedang dan merobohkan Hui Kauw.

Andaikata Hui Kauw tidak sedang terluka dan gelisah memikirkan suaminya, kiranya Pendeta Barat itu tidak akan begitu mudah mengalahkannya, sungguhpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi.

Adapun Cui Sian yang menyerang dengan Pedang di tangan kiri, dihadapi oleh Ang-Hwa Nio-Nio yang sudah menghunus Hui-Seng-Kiam.

Ilmu Pedang Cui Sian sudah amat tinggi tingkatnya, maka biarpun lengan kanannya tak dapat dipergunakan, dengan tangan kiri dan Pedang Liong-Cu-Kiam di tangan ia masih merupakan lawan yang berat.

Namun keadaan tubuhnya yang terluka itu tentu saja amat mengganggu gerakannya dan sebentar saja sinar Pedang di tangan Ang-Hwa Nio-Nio sudah mengurungnya.

Dengan sekuat tenaga Cui Sian mempertahankan diri.

Tiba-tiba terdengar suara.

"Kok-kok-kok!"

Dan Cui Sian terlempar ke belakang sambil mengeluh dan pedangnya terlepas dari tangan.

la roboh dan pingsan, terkena pukulan Katak Sakti yang dilontarkan Bo Wi Sianjin yang membantu Ang-Hwa Nio-Nio.

Kini Ang-Hwa Nio-Nio dengan sikap beringas seperti harimau betina kelaparan, menghampiri Pendekar Buta dari belakang, dengan Pedang di tangan.

Di lain pihak, Bo Wi Sianjin yang hendak membalas dendam atas kematian Suhengnya, Ka Chong Hoatsu, menghampiri Raja Pedang.

Keduanya melihat kesempatan yang baik sekali, selagi dua orang musuh besar itu saling libat dengan tenaga Sinkang yang sukar dilepas begitu saja, untuk melakukan balas dendam mereka.

"Tan Beng San, mungkin kau tidak mengenalku. Aku adalah Bo Wi Sianjin dari Mongol, sengaja datang mencarimu untuk membalaskan kematian Suheng Ka Chong Hoatsu."

"Tunggu dulu, Sianjin,"

Kata Ang-Hwa Nio-Nio sambil tertawa mengejek.

"Kita harus bergerak berbareng, biarkan aku bicara dulu kepada musuhku, si buta sombong ini. Heh, Kwa Kun Hong, kau tentu masih ingat akan Ang Hwa Sam Ci-moi, bukan? Nah, aku Kui Ciauw. Saat engkau menyusul arwah kedua orang saudaraku telah tiba"

Setelah berkata demikian, Ang-Hwa Nio-Nio memberi isyarat kepada Bo Wi Sianjin untuk turun tangan.

"Curang!"

Hui Kauw memaksa diri meloncat dan menerjang Ang-Hwa Nio-Nio dengan pukulannya.

Akan tetapi tenaganya telah lemah dan bekas pukulan Pai-San-Jiu dari Maharsi tadi masih setengah melumpuhkan kaki tangannya, maka serangannya ini tidak ada artinya bagi Ang-hwa Nio-io.

Dengan mengibas-kan tangan kirinya, Ang-Hwa Nio-Nio berhasil menangkis dan sekaligus menampar, Tepat mengenai leher Hui Kauw sehingga nyonya ini terjungkal dan pingsan, tak jauh dari Cui Sian yang masih tak sadarkan diri.

Kembali Ang-Hwa Nio-Nio memberi isyarat.

Betapapun juga, agaknya ia mempunyai rasa malu untuk menyerang Kun Hong dari belakang dengan pedangnya, tahu bahwa Pendekar Buta sedang dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.

Apalagi Bo Wi Sianjin yang menyerang Raja Pedang juga bertangan kosong, maka ia menyimpan pedangnya dan mengerahkan tenaga memukul ke arah jalan darah pusat di punggung Kun Hong.

Juga Bo Wi Sianjin mengerahkan tenaga memukul tai-hui-hiat Raja Pedang.

Pada saat kedua orang ini melakukan serangan curang dari belakang, terdengar Bhok Hwesio tertawa mengejek, bukan seperti orang tertawa biasa melainkan seperti suara seekor kerbau mendengus.

"Desssss...!!"

Pukulan yang disertai saluran tenaga Lweekang tinggi itu mengenai sasaran.

Terdengar jerit mengerikan dari mulut Ang-Hwa Nio-Nio dan pekik nyaring dari mulut Bo Wi Sianjin.

Kedua orang ini tadi tepat memukul punggung kedua orang sakti yang sedang bertanding itu, akan tetapi akibatnya malah tubuh mereka terlempar ke atas dan ke belakang, kemudian terbanting roboh dalam keadaan tidak bernyawa lagi, dari mulut, hidung dan telinga mereka keluar darah merah!

Kun Hong dan Tan Beng San juga terguling-guling ke belakang dan ketika mereka berhasil bangkit berdiri, muka mereka pucat sekali dan nafas mereka terengah-engah, menggigit Bibir menahan rasa nyeri.

Mereka tadi telah tertolong dengan adanya penyerangan dari belakang.

Semenjak orang-orang itu muncul dan mendengarkan ucapan-ucapan mereka, Raja Pedang menjadi kaget dan menyesal bukan main, juga marah luar biasa.

Demikianpun Kun Hong.

Akan tetapi mereka tidak mungkin dapat saling membebaskan diri dari libatan-libatan tenaga Sinkang mereka yang sudah saling betot dan saling gempur itu.

Kalau secara mendadak mereka merenggut lepas tenaga mereka tentu mereka akan mengalami luka hebat yang berakibat maut.

Keduanya mengikuti gerak-gerik Bo Wi Sianjin dan Ang-Hwa Nio-Nio.

Betapapun hancur hati mereka mendapat kenyataan betapa Hui Kauw dan Cui Sian jatuh bangun, mereka tidak mampu membantu.

Akhirnya mereka mempunyai harapan yang sama, yaitu diserang lawan dari belakang.

Baiknya kedua orang lawan itu menyerang dengan tangan kosong.

Inilah kesempatan mereka.

Begitu merasa datangnya pukulan di punggung, baik Kun Hong maupun Raja Pedang masing-masing menerima tenaga dorongan lawan dan menggunakan tenaga ini untuk menyalurkan ke belakang lewat punggung sekaligus tenaga itu mereka dapat saling gunakan untuk menghantam pukulan lawan dari belakang.

Dengan adanya gangguan tenaga luar ini, mereka dapat saling membebaskan diri karena tenaga serangan masing-masing telah disalurkan oleh lawan dan mendapatkan sasaran berupa penyerang-penyerang itu.

Kesaktian macam ini tak dapat dilakukan oleh sembarang orang, dan biarpun Pendekar Buta dan Raja Pedang sendiri, sungguhpun berhasil merobohkan Ang-Hwa Nio-Nio dan Bo Wi Sianjin yang sakti sampai tewas dengan pukulan mereka sendiri, namun keduanya tidak luput dari luka dalam yang hebat!

Baik Ang-Hwa Nio-Nio maupun Bo Wi Sianjin, sama sekali tidak menyangka akan hal ini, bahkan Maharsi sendiri pun tidak mengerti.

Hanya Bhok Hwesio tokoh Siauw-Lim-Pai yang lihai itu tahu akan hal ini dan sudah menduganya, maka tadi dia mendengus mengejek kepada dua orang penyerang gelap itu.

Pada saat itu, dua puluh orang lebih para pengikut Ang-Hwa Nio-Nio, marah bukan main melihat pemimpin mereka tewas.

Dengan senjata Pedang dan golok, mereka menerjang maju.

Melihat Pendekar Buta dan Raja Pedang sudah terluka hebat, mereka menjadi besar hati dan menyerang kalang-kabut.

Akan tetapi, biarpun gerakan-gerakannya sudah amat lambat dan tenaga mereka sudah terbuang setengahnya lebih, namun menghadapi segala orang kasar ini tentu saja kedua Pendekar sakti itu masih jauh lebih kuat.

Setiap kali mereka berdua menggerakkan kaki atau tangan, tentu ada pengeroyok yang roboh dengan dada pecah atau kepala remuk.

Dalam kemarahan mereka, Pendekar Buta dan Raja Pedang mengamuk hebat, tidak memberi ampun lagi kepada lawan-lawan mereka.

Hal ini adalah tidak sewajarnya karena biasanya kedua orang Pendekar sakti itu amat murah hati dan tidak mau sembarangan membunuh lawan.

Soalnya adalah karena mereka menyangka bahwa isteri dan anak mereka telah tewas terbunuh musuh, maka kedukaan dan kemarahan yang bercampur aduk dengan penyesalan besar serta sakit hati membuat mereka menjadi ganas.

"Lo-Suhu, kau tadi sudah tahu bahwa dua teman kita akan celaka. Kenapa kau hanya mendengus, tidak mencegah mereka?"

Sementara itu Maharsi bertanya penasaran kepada Bhok Hwesio, tidak mempedulikan anak buah Ang-Hwa Nio-Nio yang bagaikan sekelompok laron menyerbu api itu.

"Hemmm, mereka tolol, juga curang. Sudah sepantasnya mampus,"

Jawab Bhok Hwesio.

la seorang tokoh besar dari Siauw-Lim-Pai, biarpun dia tersesat dalam kejahatan, namun dia tetap seorang Hwesio yang memiliki tingkat kepandaian tinggi dan amat percaya akan kepandaian sendiri.

Oleh karena itu Bhok Hwesio memandang rendah orang-orang yang berwatak curang.

Semenjak Ang-Hwa Nio-Nio menggunakan siasat mengadu domba keluarga Raja Pedang dan keluarga Pendekar Buta, dia sudah memandang rendah Ang-Hwa Nio-Nio, akan tetapi seperti biasa, karena bukan urusannya, Bhok Hwesio tidak peduli.

Maharsi mendongkol bukan main.

Akan tetapi karena dia tahu bahwa menghadapi Hwesio tinggi besar yang selalu meram ini dia tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk melampiaskan kegemasan hatinya, dia hanya merengut saja dan memandang ke arah dua orang musuhnya.

Diam-diam dia kaget dan juga kagum.

Jelas bahwa dua orang itu sudah terluka hebat, malah besar kemungkinan takkan dapat hidup lagi.

Akan tetapi bagaikan orang mencabuti rumput mudahnya, dua puluh tiga orang pengeroyoknya itu roboh malang-melintang bertumpang-tindih dan mati semua.

Sebentar saja tidak ada seorang pun pengeroyok lagi yang masih hidup!

Raja Pedang melompat ke arah puterinya dan Pendekar Buta menghampiri isterinya, tangannya meraba-raba, mencari-cari.

Akhirnya dia menemukan tubuh isterinya dan cepat-cepat melakukan pemeriksaan seperti yang dilakukan Raja Pedang terhadap puterinya.

"Syukur kau selamat, Hui Kauw..."

Terdengar suara Kun Hong terharu, kemudian ia menoleh ke arah Raja Pedang.

"Bagaimana keadaan Cui Sian, Locian-pwe?"

"Dia pun selamat, hanya terluka dan pingsan. Kun Hong, kita menghadapi dua orang lawan yang amat tangguh... entah bagaimana aku akan dapat melawan mereka... aku terluka hebat..."

Raja Pedang tersedak dan cepat dia duduk bersila untuk mengatur nafas dan berusaha mengembalikan tenaganya.

Namun dengan kaget dia mendapat kenyataan bahwa tenaganya lenyap setengahnya lebih dan dadanya terasa sakit.

Terang bahwa tak mungkin dia dapat bertempur menghadapi lawan berat.

Sedangkan dia tahu betul betapa saktinya Bhok Hwesio.

Dalam keadaan sehat saja belum tentu dia mampu menandingi Hwesio itu, apalagi dalam keadaan terluka hebat seperti ini.

"Saya... saya pun terluka... Lo-Cianpwe..."

Kun Hong juga merasa dadanya sakit sekali, akan tetapi dia segera menghampiri Raja Pedang, lalu menempelkan tangannya pada punggung orang tua itu untuk memeriksa.

Kagetlah hatinya mendapat kenyataan bahwa Raja Pedang benar-benar terluka hebat.

Tanpa ragu-ragu lagi dia lalu mengerahkan sisa tenaga Sinkangnya untuk disalurkan melalui punggung dan membantu Si Raja Pedang.

Hawa hangat menjalar dari tangan Kun Hong dan rasa panas memenuhi dada Raja Pedang.

Rasa sakit sekitar jantungnya mendingan dan dia lalu menolak tangan Kun Hong dengan halus.

"Cukup, Kun Hong. Terima kasih... kau sendiri lemah, jangan mengerahkan tenaga lagi. Kun Hong, kau... kau maafkan aku... benar-benar aku telah terburu nafsu seperti katamu..."

"Sudahlah, Lo-Cianpwe. Yang perlu sekarang bagaimana kita harus menghadapi mereka."

Raja Pedang lalu melompat bangun, memaksa diri bersifat gagah ketika dia melempar-lempar mayat para pengeroyok yang menghalang di depan kakinya.

Dengan langkah tegap dia menghampiri Bhok Hwesio dan Maharsi, lalu berdiri tegak dan bertanya dengan suara berwibawa.

"Bhok Hwesio, setelah segala kecurangan digunakan oleh pihakmu, sekarang kau mau apa lagi?"

Di dalam ucapan yang sederhana ini terkandung nada menantang dan mengejek.

Mendengar suara menantang dan sikap yang gagah ini sejenak Bhok Hwesio tercengang dan dia membuka matanya untuk menatap penuh perhatian, mengira bahwa Raja Pedang itu telah dapat memulihkan tenaganya maka dapat bersikap segagah itu.

Akan tetapi pandang matanya segera mendapat kenyataan bahwa orang di depannya ini masih terluka hebat dan tenaganya tinggal sedikit lagi.

la menghela nafas dan diam-diam merasa kagum sekali.

"Tan Beng San, segala urusan kotor yang dilakukan Ang-Hwa Nio-Nio tiada sangkut-pautnya dengan Pinceng (aku). Pinceng mencarimu untuk membereskan perhitungan lama."

"Bhok Hwesio, dua puluh tahun yang lalu kau tersesat kemudian datang Thian Ki Lo-Suhu yang menjadi Suhengmu dan membawamu kembali ke Siauw-Lim-Pai. Apakah selama dua puluh tahun ini kau belum juga dapat mengubah kesesatanmu?"

"Tan Beng San, kau sungguh bermulut besar. Karena kau, Pinceng menderita puluhan tahun. Tapi sekarang kau telah terluka, sayang sekali. Tidak enak melawan orang sudah terluka parah, akan tetapi tidak bisa Pinceng melepaskanmu begitu saja. Raja Pedang, hayo kau lekas berlutut dan minta ampun sambil mengangguk tiga kali di depanku, baru Pinceng mau melepaskanmu dan memberi waktu kepadamu untuk menyembuhkan lukamu, setelah itu baru kita bertanding melunasi perhitungan lama."

Tidak ada penghinaan bagi seorang Pendekar silat yang lebih hebat daripada menyuruhnya mengaku kalah dan berlutut minta ampun!

Kalah menang dalam pertandingan bagi seorang Pendekar adalah lumrah.

Raja Pedang sendiri tentu takkan merasa penasaran kalau memang dia kalah dalam pertandingan melawan musuh yang lebih pandai.

Akan tetapi mengaku kalah sebelum bertanding, apalagi berlutut minta ampun?

Lebih baik mati!

Perasaan marah yang mendatang karena mendengar penghinaan ini menyesakkan dada Tan Beng San yang terluka, membuatnya sukar bernafas.

Oleh karena itu, dia tidak menjawab ucapan Bhok Hwesio, melainkan membalikkan tubuhnya membelakangi Hwesio tua itu dan duduk bersila, meramkan mata.

"Tan Beng San, kau berjuluk Raja Pedang, Ketua Thai-San-Pai. Mana kegagahanmu? Hayo kau lawan aku! Kalau tidak berani, lekas berlutut minta ampun!"

Bentak Bhok Hwesio pula.

Namun Raja Pedang tidak menjawab, tetap meramkan mata dan duduk bersila tak bergerak seperti patung.

la maklum bahwa nyawanya berada di dalam genggaman musuh, kalau musuh menghendaki, dia dan Kun Hong pasti akan tewas karena untuk melawan mereka tidak mampu lagi.

"Bhok-Lo-Suhu, kenapa tidak pukul pecah saja kepalanya? Manusia-manusia sombong ini harus dihajar, baru kapok. He, manusia buta, hayo kau lawan aku, Maharsi yang tak terkalahkan. Kau sudah membunuh tiga orang Sam-ci-moi yang menjadi adik-adik seperguruanku, juga sahabatku Bo Wi Sanjin telah tewas. Untuk menebus kematian mereka, kau harus mati empat kali."

Maharsi menghampiri Kun Hong yang juga duduk bersila sambil memusatkan perhatiannya untuk mengobati luka dalam yang amat berat.

Seperti juga Raja Pedang, dia maklum bahwa melawan akan sia-sia belaka karena lukanya hebat.

Lebih baik berusaha untuk memulihkan tenaga saktinya dari pada melawan dan kalah.

Melawan berarti kalah dan mati.

Kalau tidak melawan ada dua kemungkinan, pertama, mungkin lawan akan membunuhnya pula, akan tetapi kalau terjadi hal demikian, berarti lawan melakukan kecurangan besar yang akan merupakan hal yang mencemarkan nama sendiri.

Kemungkinan kedua, lawan akan cukup memiliki kegagahan sehingga segan menyerang orang yang terluka dan sedang berSamadhi mengobati lukanya sehingga dia akan terbebas dari kematian dan kekalahan.

Akan tetapi dia juga yakin bahwa hal kedua ini sukar akan dia dapatkan dari lawan yang jahat, maka keselamatan nyawanya berada di dalam genggaman lawan dan dia menyerahkan nasib kepada Tuhan.

"Maharsi,"

Kata Pendekar Buta perlahan.

"Aku tidak kenal padamu dan tidak tahu kau manusia macam apa. Akan tetapi aku tahu bahwa hanya seorang rendah budi, seorang pengecut yang curang, seorang yang sama sekali tidak ada harganya saja yang menantang lawan yang berada dalam keadaan terluka parah. Mungkin engkau termasuk orang rendah macam itu, atau mungkin juga tidak, aku tidak tahu."

"Keparat! Kau sudah membunuh adik-adikku, sekarang mengharapkan ampun dariku? Tidak mungkin! kau lah yang rendah dan hina, Adik-adikku yang lemah kau bunuh, sekarang menghadapi aku karena kau merasa tidak akan menang, kau beraksi luka parah!"

Setelah berkata demikian, Maharsi menendang.

Tubuh Kun Hong terguling-guling sampai tiga meter lebih, akan tetapi tetap dalam keadaan bersila, dan setelah berhenti terguling-guling dia juga tetap duduk bersila.

Hal ini saja membuktikan bahwa biarpun keadaannya terluka parah, Pendekar Buta itu benar-benar amat lihai.

Diam-diam Maharsi terkejut juga.

Dengan langkah lebar dia menghampiri, kedua lengannya digerak-gerakkan karena dia mengerahkan Sinkang untuk menghantam dengan Pai-San-Jiu, llmu pukulannya yang dia andalkan.

"Kau ingin mampus? kau kira aku, Maharsi tidak mampu sekali pukul menghancurkan kepalamu? Batu dan pohon remuk oleh pukulanku ini, tahu?"

La tiba-tiba menghantamkan kepalan tangan kanannya ke arah sebatang pohon di sebelahnya dan terdengar suara keras, batang pohon itu remuk dan tumbanglah pohon itu. Maharsi tertawa bergelak.

"Kau melihat Itu? Eh... matamu buta, kau tidak pandai melihat. Kau tentu mendengar itu, bukan? Nah, apakah kepalamu lebih keras daripada batang pohon?"

Kun Hong tersenyum dan berkata, nadanya mengejek.

"Kasihan sekali kau, Maharsi. Menilik suaramu, kau seorang tua bangka yang kembali seperti kanak-kanak. Dengan ilmu pukulanmu itu, kau seperti kanak-kanak mendapat permainan baru dan menyombong-nyombongkannya, padahal kelak kau akan menyadari bahwa ilmu itu tiada gunanya sama sekali, seperti kanak-kanak bosan pada permainan yang sudah butut. Menumbangkan pohon, apa sukarnya? Segala sifat merusak mudah dilakukan, anak kecil pun bisa. Apa anehnya?"

Maharsi marah sekali dan kakinya mencak-mencak.

"Setan, kau akan kubunuh sedikit demi sedikit, jangan kira kau akan dapat memanaskan hatiku sehingga aku akan membunuhmu begitu saja! Kau memanaskan hati agar aku membunuhmu seketika sehingga kau tidak menderita? Ho... ho... ho, aku tidak sebodoh itu. Kau akan kusiksa, kubunuh sekerat demi sekerat untuk membalaskan sakit hati adik-adikku!"

Pendeta Barat itu kini melangkah maju, tangannya yang berlengan panjang diulur ke depan, siap mencengkeram tubuh Kun Hong dan menyiksanya.

Pendekar Buta hanya tersenyum dan bersila, sikapnya tenang.

Kebetulan sekali Cui Sian sadar lebih dulu dari pingsannya.

Gadis ini berada dekat dengan Maharsi yang melangkah maju.

Melihat sikap yang mengancam dari Pendeta itu terhadap Kun Hong yang tidak mampu melawan, Cui Sian marah sekali.

la juga sudah terluka, namun tidak sehebat Kun Hong lukanya.

Sambungan tulang pundak kanan terlepas dan dadanya agak Sesak akibat pukulan Katak Sakti yang dilontarkan Bo Wi Sianjin kepadanya.

Melihat Kun Hong terancam maut, dan mengingat bahwa ia dan Ayahnya telah menuduh secara keliru sehingga terjadi malapetaka ini, Cui Sian melompat dengan nekat dan menyerang Maharsi untuk menolong Kun Hong.

Biarpun keadaannya terluka, namun serangan Cui Sian yang nekat ini cukup hebat.

la menggunakan jurus Sian-Ii-siu-goat (Dewi Sambut Bulan), tentu saja ia hanya dapat memukul dengan tangan kiri, maka ia sengaja menggunakan pukulan yang mengandung tenaga lemas untuk menyesuaikan keadaannya yang terluka.

Namun pukulan yang halus ini merupakan jangKau an tangan maut karena yang diserang adalah bagian yang mematikan di ulu hati.

Biarpun penyerangnya hanya seorang gadis jelita yang sudah terluka parah, namun kalau Maharsi berani menerimanya tanpa mengelak maupun menangkis, jurus puteri Raja Pedang ini masih cukup kuat untuk menamatkan riwayat Maharsi!

Tentu saja sebagai seorang berilmu tinggi, Maharsi dapat membedakan mana serangan ampuh dan mana yang bukan.

la tahu bahwa selama itu, gadis puteri Ketua Thai-San-Pai ini masih amat berbahaya dan serangannya tak boleh dipandang ringan.

la mengeluarkan suara ketawa mengejek, kedua lengannya yang panjang itu menyambut, menangkap lengan Cui Sian dan dengan sentakan kuat dia melemparkan tubuh Cui Sian ke arah Ayahnya!

Karena nadi pergelangan tangannya sudah dipencet, Cui Sian kehabisan tenaga dan ia tentu akan terbanting pada tubuh Ayahnya yang duduk bersila kalau saja orang tua sakti itu tidak mengulur tangan dan menyambutnya.

Biarpun Tan Beng San sudah terluka hebat dan parah, namun menyambut tubuh puterinya ini masih merupakan hal yang mudah baginya.

Cui Sian memeluk Ayahnya dan menangis.

"Ayah... kita harus tolong Suheng..."

Beng San menggeleng kepala.

"Keadaanku tidak mengijinkan untuk menolong orang lain maupun menolong sendiri, Sian-ji. Kun Hong hebat sekali tadi sehingga luka di tubuhku amat parah. Biarlah, mari kita menonton orang-orang gagah perkasa tewas di tangan orang-orang pengecut rendah dan hina!"

Ucapan ini keluar dengan suara nyaring dari mulutnya sehingga Bhok Hwesio menjadi merah sekali mukanya.

"Ketua Thai-San-Pai, aku bukan pengecut yang suka membunuh lawan yang terluka. Akan tetapi untuk menebus dosamu dan untuk mencegah perjalananku tidak sia-sia, kau harus berlutut minta ampun kepada Pinceng. Baru Pinceng mau melepaskanmu untuk bertanding di lain hari,"

Katanya marah.

"Hwesio sesat, kau mau bunuh boleh bunuh, apa artinya mati? Yang harus dikasihani adalah kau yang pada lahirnya merupakan seorang Hwesio, namun di sebelah dalam kau bergelimang dengan kesesatan!"

"Pinceng takkan membunuhmu, kalau kau tidak mau berlutut minta ampun, Pinceng hanya akan mencabut kesaktianmu agar selanjutnya Pinceng dapat hidup tenteram, tidak memikirkan soal balas dendam lagi,"

Jawab Bhok Hwesio, nada suaranya seperti orang kesal.

Diam-diam Beng San dan puterinya kaget bukan main.

Mereka maklum apa artinya mencabut kesaktian.

Berarti bahwa Kakek gundul itu hendak melumpuhkan kaki dan tangannya sehingga Raja Pedang takkan mungkin melakukan gerakan silat lagi.

Dan perbuatan seperti itu lebih menyiksa daripada membunuh.

Lebih ringan dibunuh daripada dijadikan seorang tapa daksa yang hidupnya tiada gunanya lagi.

"Ha... ha... ha. Lo-Suhu benar sekali! Mengapa aku tidak berpikir sampai di situ?"

Maharsi tertawa bergelak mendengar ini.

"Alangkah akan menyenangkan begitu, melihat musuh besar menjadi seorang yang hidup tidak mati pun tidak. Orang buta, aku juga tidak akan membunuhmu, aku akan membikin kau dan isterimu menjadi orang-orang tiada guna, ho... ho... ha... ha... ha!"

Sambil berkata demikian, Maharsi melangkah maju mendekati Hui Kauw yang masih setengah pingsan. Sekali meraih dia telah menyambar tubuh nyonya itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya.

"Ho... ho... ho, Pendekar Buta, kau dengar baik-baik betapa aku akan membuat isterimu seorang tapadaksa selama hidupnya dan kau boleh menyesalkan perbuatanmu membunuh adik-adik seperguruanku!"

Muka Kun Hong pucat sekali.

Telinganya dapat mengikuti setiap gerakan Maharsi dan tahulah dia bahwa keadaan isterinya takkan dapat ditolong lagi.

Suaranya terdengar dalam dan menyeramkan ketika dia berkata.

"Maharsi, kau benar-benar gagah perkasa, menghina seorang wanita yang tak berdaya lagi. Kalau memang kau laki-laki gagah, jangan ganggu wanita dan kau boleh berbuat sesuka hatimu terhadap aku!"

"Ha... ha... ho... ho... ho... ngeri hatimu, Pendekar Buta? Ada banyak cara membikin orang kehilangan kepandaiannya, di antaranya memutuskan otot-otot dan menghancurkan tulang-tulang. Isterimu cantik, biar sudah setengah tua masih cantik dan kau tidak bermata, tiada bedanya bukan? Biar kupatahkan tulang-tulangnya, tulang kaki tangan dan punggung. Ha... ha... ha... tentu menjadi bengkok-bengkok kaki tangannya, dan punggungnya menjadi bongkok! Pendekar Buta, kau dapat mendengarkan patahnya tulang-tulang tubuh isterimu...!"

Kun Hong diam saja, hanya berdoa semoga isterinya tewas saja dalam penghinaan itu.

Mati adalah jauh lebih ringan.

la sendiri tidak dapat berbuat apa-apa.

Keadaan sudah amat kritis dan agaknya tidak ada yang dapat menolong isteri Pendekar Buta dari malapetaka yang hebat itu.

Tiba-tiba terdengar suara orang berkata-kata.

Akan tetapi tak ada yang mengerti artinya, karena suara itu berkata-kata dalam bahasa asing.

Kecuali Maharsi yang agaknya mengerti artinya, karena tiba-tiba dia menurunkan tubuh Hui Kauw, tidak jadi menggerakkan tangan memukul.

Matanya terbelalak menoleh ke arah suara.

Betapa dia tidak akan kaget sekali mendengar kata-kata dalam bahasa Nepal, dan kata-kata itu justru merupakan sumpah di depan Gurunya dahulu yang berbunyi.

"Tidak akan mernpergunakan kepandaian untuk melakukan kejahatan."

Alangkah herannya ketika dia melihat di situ muncul seorang pemuda berpakaian putih sederhana, yang memandangnya dengan sepasang mata penuh wibawa.

"Siapa kau? Apa yang kau katakan tadi?"

Ia membentak, tubuh Hui Kauw masih di tangan kiri, dicengkeram baju di punggungnya.

"Maharsi, setelah Gurumu tidak ada lagi, kau hidup tersesat. Guruku yang mulia, Pendeta Bhewakala telah dua kali memberi ampun kepadamu, mengingat kau masih murid sutenya. Akan tetapi tidak ada kejahatan yang bisa diampuni sampai tiga kali. Kalau kau melanjutkan perbuatanmu yang biadab, menggunakan kepandaian untuk menghina Wanita yang tak berdaya, aku akan mewakili Guruku memberi hukuman kepadamu!"

Pemuda itu bukan lain adalah Yo Wan.

la belum pernah berjumpa dengan Maharsi, akan tetapi melihat Pendeta jangkung ini dia segera teringat akan cerita mendiang Gurunya di Himalaya, tentang Pendeta Nepal yang murtad dan sesat, yaitu Maharsi yang masih terhitung murid keponakan Gurunya itu.

la tiba di situ bersama Lee Si dan gadis ini serta merta lari dan memeluk Cui Sian sambil bertanya apa gerangan yang terjadi.

Ketika ia melihat jenazah Ayahnya menggeletak dalam lubang kuburan, Lee Si menjerit, menubruk dan roboh terguling, pingsan.

Cui Sian segera memeluk dan memondongnya ke dekat Ayahnya, menjauhi jenazah.

Adapun Yo Wan ketika melihat Subonya (ibu Guru) berada dalam cengkeraman Maharsi dan terancam malapetaka hebat, segera dia menggunakan kata-kata dalam bahasa Nepal untuk mengalihkan perhatian Maharsi dan kini menyerangnya dengan kata-kata.

Sementara itu, Maharsi yang tadinya terkejut, kini tertawa mengejek, akan tetapi dia melepaskan tubuh Hui Kauw dan melempar nyonya itu ke arah Pendekar Buta.

"Huh, boleh kutunda sebentar permainan dengan Pendekar Buta. Kau ini bocah lancang sombong. Apakah kau yang pernah kudengar diambil murid oleh Supek (uwa Guru) Bhewakala, seorang bocah yatim piatu dari Timur?"

"Benar, Maharsi. Aku Yo Wan murid Bhewakala."

"Dengan maksud apa engkau mencegah perbuatanku? Apakah kau hendak membela Pendekar Buta dan Raja Pedang?"

"Aku hanya akan membela yang benar. Aku mencegah perbuatanmu karena tidak ingin melihat kau melakukan perbuatan sesat, mengingat bahwa kau masih ada hubungan perguruan dengan aku."

"Ho...ho...Ha... ha... ha, bocah masih ingusan berani memberi petunjuk kepadaku? Yo Wan, kau sombong seperti supek! Aku... benar dua kali aku mengalah terhadapnya, mengingat dia seorang tua. Akan tetapi terhadap kau aku tidak sudi mengalah. Hayo pergi sebelum timbul marahku dan menghajarmu!"

Baca Juga: Dewi Maut 9

Baca Juga: Si Bangau Merah 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert