Eps 9 Dewi Maut - Kho Ping Hoo
Baca online Dewi Maut - Kho Ping Hoo
Cersil Dewi Maut - Kho Ping Hoo.
"Apa... apa artinya ini? Kami memang diperalat, akan tetapi diperalat oleh Kaisar dan para pembesar untuk membasmi komplotan pengkhianat yang kabarnya bersembunyi di dalam gedung ini. Mengapa yang berada di sini malah Cia-Taihiap? Mana komplotan pengkhianat itu?"
"Ouw-Pangcu!"
Cia Keng Hong yang mengenal tokoh ini sebagai seorang pejuang dahulu, berkata tegas.
"Yang menjadi komplotan pengkhianat adalah mereka yang memperalat Pangcu."
Muka kakek itu berobah.
"Apa... apa maksudmu, Taihiap?"
"Tahukah Pangcu siapa yang berhak menjadi Kaisar? Siapakah sesungguhnya Kaisar? Kalau Kaisar lama, Sri Baginda Ceng Tung masih ada dan dalam keadaan selamat dan sehat, apakah Kaisar yang sekarang ini sah?"
"Cia-Taihiap, apa maksud kata-katamu itu? Bukankah Sri Baginda Kaisar Ceng Tung telah tewas di tangan pemberontak Mongol dan sekarang yang menjadi penggantinya adalah Sri Baginda Kaisar Cing Ti?"
"Nah, itulah buktinya bahwa yang memperalat Pangcu itulah yang sebenarnya pengkhianat. Sri Baginda Ceng Tung masih hidup dan sehat, saya sendiri yang mengawalnya ketika beliau lolos dari tawanan orang-orang Mongol, akan tetapi ternyata kawanan pengkhianat telah mengangkat seorang Kaisar lain, bahkan kini memperalatmu untuk membunuh Kaisar Ceng Tung."
"Ahhh...?"
Ouw Kian terkejut setengah mati dan kedua tangannya gemetar.
"Saya... saya disuruh membunuh Sri Baginda Kaisar Ceng Tung?"
Cia Keng Hong mengangguk, lalu mengambil Kaisar yang masih tidur pulas di bawah tempat tidur dan membaringkan Kaisar di atas pembaringan kembali.
Melihat ini, Ouw Kian menjatuhkan diri berlutut, membentur-benturkan dahinya di atas lantai dengan air mata bercucuran membasahi mukanya yang keriputan!
"Celaka...
aku layak mampus...!
Cia-Taihiap...
bunuhlah aku yang berdosa ini..."
Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar dan bentakan-bentakan keras dari para pengawal.
"Tangkap pembunuh...!"
Cia Keng Hong menjawab dari dalam.
"Harap di luar tenang. Kaisar dapat diselamatkan dan singkirkan mayat orang-orang di luar jendela dan di atas genteng."
Terdengar para pengawal berseru girang dan lega.
Mereka adalah para pengawal yang melihat enam orang teman mereka tahu-tahu telah tewas di tempat penjagaan masing-masing di sekitar kamar Kaisar.
Mendengar suara Cia Keng Hong, mereka menjadi lega dan segera memeriksa tiga tempat itu dan benar saja, di masing-masing tempat mereka menemukan mayat dua orang asing yang dadanya bengkak-bengkak merah terkena jarum-jarum halus!
Sementara itu, di dalam kamar itu, Cia Keng Hong menguras keterangan dari Ouw Kian, siapa saja yang memperalatnya.
Dengan jujur Ouw Kian lalu membeberkan persekutuan yang mendukung Kaisar Cing Ti dan dicatat secara diam-diam oleh Cia Keng Hong, kemudian setelah kakek itu mengakhiri pembongkaran rahasia persekutuan itu, Cia Keng Hong lalu berkata.
"Ouw-Pangcu, biarpun engkau telah melakukan suatu kedosaan yang besar sekali, melakukan usaha untuk membunuh Kaisar, namun kesalahanmu ini adalah karena engkau diperalat orang dan kau lakukan di luar kesadaranmu. Oleh karena itu, sebagai imbalan semua keteranganmu, aku membebaskanmu. Pergilah!"
Kakek itu memandang Cia Keng Hong dengan muka pucat.
"Cia-Taihiap, keputusanmu ini jauh lebih berat bagiku daripada kalau engkau membunuhku sekarang juga."
"Ouw-Pangcu, pergilah."
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Baik, aku pergi dan aku pergi hanya untuk membalas kepada orang yang telah membodohi dan memperalatku. Taihiap, selamat tinggal dan terima kasih bahwa Taihiap telah menghalangiku melakukan perbuatan terkutuk malam ini!"
Kakek itu lalu melangkah keluar dari pintu kamar itu dan Cia Keng Hong berkata ke arah para penjaga di luar.
"Biarkan sahabatku itu keluar! Dia bukan musuh!"
Tentu saja para penjaga itu terheran-heran karena mereka tadi tidak melihat ada orang masuk, tahu-tahu sekarang ada yang keluar dari dalam kamar.
Akan tetapi mereka percaya penuh kepada pendekar sakti itu, maka tidak ada yang berani membantah dan membiarkan kakek yang menyeramkan itu keluar dari gedung.
Cia Keng Hong lalu menyuruh seorang penjaga untuk minta kedatangan Janderal Bao Ciang di malam itu juga dan setelah Jenderal Bao datang, dia menceritakan semua peristiwa yang terjadi malam itu, juga dia menyebutkan nama-nama para pembesar yang merupakan komplotan pendukung Kaisar Cing Ti sehingga Jenderal Bao menjadi makin girang, karena kini dengan mudah dia dapat melakukan pembersihan.
"Sebaiknya sekarang juga Sri Baginda Kaisar dipindahkan ke dalam Markas Pasukan agar lebih aman dan lebih mudah menjaga beliau,"
Kata jenderal itu dan Cia Keng Hong segera menyetujui.
Kaisar lalu digugah, diceritakan tentang peristiwa penyerangan itu dan malam itu juga dikawal oleh Cia Keng Hong sendiri untuk pindah ke dalam markas pasukan kepercayaan Jenderal Bao.
Dan malam itu terjadilah peristiwa hebat di dalam istana.
Tiga orang pembesar tinggi yang dekat dengan Kaisar telah dibunuh oleh seorang jagoan mereka sendiri dan si jagoan yang mengamuk itupun dapat ditewaskan.
Mendengar ini, mengertilah Cia Keng Hong bahwa Ouw Kian benar-benar telah menebus dosanya terhadap Kaisar dan telah membalas dendam kepada orang-orang yang memperalatnya.
Diam-diam pendekar ini bersyukur bahwa orang gagah itu akhirnya dapat insyaf dan mati sebagai seorang gagah perkasa yang mempertahankan kebenaran.
Demikianlah, dengan bantuan dari Cia Keng Hong, akhirnya Jenderal Bao berhasil juga mempengaruhi sebagian besar para pembesar di istana dan setelah menang suara, terutama sekali karena sebagian besar kekuatan militer telah dihimpun oleh Jenderal Bao Ciang, maka pada suatu hari Kaisar Ceng Tung dinaikkan kembali ke singgasananya dan Kaisar Cing Ti diturunkan!
Seperti terbukti di dalam sejarah, nasib Kaisar Cing Ti, adik dari Kaisar Ceng Tung ini, amatlah menyedihkan.
Dia naik ke atas tahta kerajaan di waktu kakaknya yang menjadi Kaisar tertawan musuh dan dia naik karena dorongan dan setengah paksaan para pembesar yang berlomba mencari kedudukan.
Kemudian, dia diturunkan dan dianggap sebagai seorang keluarga Kaisar yang melakukan perbuatan khianat terhadap Kaisar sehingga Kaisar Cing Ti ini lalu diasingkan, bahkan kelak setelah dia meninggal dunia, Jenazahnya tidak berhak dikubur di dalam kedudukan sebagai Kaisar, melainkan dikuburkan dalam sebuah kuburan terpencil yang berada di belakang Taman Pancuran Kumala, beberapa li jauhnya di sebelah barat Kota Raja Peking, jauh dari tanah pekuburan para raja dari Kerajaan Beng-tiauw yang lain, seolah-olah kenyataannya bahwa Cing Ti pernah menjadi Kaisar di jaman kerajaan itu hendak dihapus dari sejarah!
Setelah Kaisar Ceng Tung kembali menduduki singgasananya, Kaisar muda ini tentu saja amat berterima kasih kepada Cia Keng Hong dan ingin memberi anugerah pangkat besar, akan tetapi pendekar sakti ini menghaturkan terima kasihnya dan mohon maaf karena dia sama sekali bukan membela Kaisar untuk mencari kedudukan!
Dengan halus dia menolak anugerah itu, kemudian mohon diri dan kembali ke Cin-ling-pai.
Suasana di ruangan besar itu amat menegangkan.
Menegangkan urat syaraf mereka semua, dari Raja Sabutai sampai kepada para perajurit yang mengepung dan menjaga ruangan itu dengan ketat dan dengan senjata lengkap di tangan.
Ada tiga ratus orang perajurit yang menjaga di sekitar ruangan itu, menutup setiap lubang sehingga tidak ada kemungkinan bagi siapapun yang berada di dalam ruangan itu untuk lolos keluar!
Terutama sekali bagi mereka yang berada di dalam ruangan itu, yang kini berkumpul untuk menghadapi lawan masing-masing karena Raja Sabutai telah mengumumkan bahwa permusuhan di antara kedua golongan itu akan diselesaikan dengan mengadu kedua golongan itu dengan adil!
Akan diadakan pibu (adu kepandaian) yang adil dan menentukan antara fihak para pembantu Wang Cin dan fihak Bun Houw dan In Hong sebagai fihak kedua, sedangkan para jagoan Raja Sabutai menjadi fihak ketiga!
Jadi semua ahli yang memiliki kepandaian di dalam ruangan itu kini terpecah menjadi tiga bagian.
Raja Sabutai dengan wajah berseri hadir tanpa isterinya, karena Ratu Khamila tidak suka nonton adu manusia ini.
Akan tetapi semua panglimanya hadir, dan juga semua jagoan Mongol termasuk kakek dan nenek guru raja itu yang selain hadir sebagai guru dan orang-orang yang diandalkan dari fihak raja, juga sebagai pengawal pribadi Raja Sabutai.
Bun Houw duduk di atas bangku tidak jauh dari In Hong dan Yo Bi Kiok.
Jantung pemuda ini berdebar keras dan dia merasa tidak tenang.
Sejak tadi dia melihat gadis itu duduk dengan tenang dan seolah-olah tidak akan terjadi sesuatu, bahkan wajahnya membayangkan ketenangan yang dingin.
Juga wanita cantik setengah tua yang menjadi guru gadis yang dikaguminya itu duduk tenang, wajahnya yang lebih dingin lagi bahkan menjadi mengerikan karena membayangkan suatu ancaman bagi siapapun yang berani menentangnya, dan mulut yang kecil manis itu mengulum senyum penuh ejekan, yang tidak ditujukan kepada orang-orang tertentu.
Akan tetapi mata mereka ditujukan kepada Raja Sabutai yang pagi hari itu kelihatan gembira sekali.
"Hong-moi..."
Akhirnya Bun Houw tak dapat menahan lagi kegelisahan hatinya dan dia berbisik memanggil gadis itu.
Akan tetapi In Hong tidak menjawab, juga tidak menoleh.
"Hong-moi..."
Bun Houw memanggil lagi, maklum bahwa tidak mungkin gadis yang berkepandaian tinggi itu tidak mendengar bisikannya.
In Hong mengerutku alisnya, melirik tanpa menoleh, sebuah tanda bahwa dia telah mendengar.
Bun Houw tidak merasa menyesal gadis itu agaknya tidak memperdulikannya, bahkan dia berkata lagi.
"Hong-moi, harap kau jangan mencampuri urusanku dengan Bayangan Dewa. Mereka adalah lawanku, jangan kaumembahayakan dirimu sendiri."
In Hong menoleh dan sejenak mereka saling pandang.
Tiba-tiba In Hong merasa betapa jantungnya berdebar aneh dan tanpa disadarinya, seluruh wajahnya berobah merah sekali dan dara itu tidak tahu betapa subonya melirik kepadanya dan subonya mengulum senyum melihat keadaannya itu.
Entah bagaimana, dia merasa malu dan cepat menundukkan mukanya.
Kemudian untuk menutupi perasaan malu yang aneh ini, yang tidak dikenal dan tidak dimengertinya, In Hong mengangkat muka memandang lagi dan kini sinar metanya mengandung kemarahan!
"Aku adalah Dewi Maut, kejam seperti iblis, pembunuh gadis tidak berdosa, kenapa engkau memperdulikan aku?
Bun-ko, engkau datang ke sini karena terbawa-bawa olehku, maka sebaiknya engkau tidak ikut-ikut dalam pertandingan ini.
Biar aku yang menghadapi mereka.
Mereka itu berbahaya dan lihai, apalagi kakek dan nenek di belakang sri beginda itu!"
"Hong-moi...!"
Bun Houw hendak membantah.
"Sudahlah!"
In Hong membuang muka dan terpaksa Bun Houw menghentikan desakannya karena suaranya mulai menarik perhatian semua orang, babkan Raja Sabutai sendiri mulai memandang ke arahnya.
Bun Houw kini melirik dan memandang ke arah orang-orang yang akan menjadi lawannya.
Selama beberapa hari ini dia telah mencari keterangan dan tahulah dia siapa tiga orang tua yang berdiri di belakang Wang Cin itu.
Mereka itu musuh-musuh besarnya, musuh besar Cin-ling-pai yang memang selama ini dicarinya.
Kakek berkuncir panjang yang berwajah tampan gagah dan kelihatan masih muda itu, yang berpakaian serba putih adalah orang pertama dari Lima Bayangan Dewa, yaitu yang bernama Phang Tui Lok dan berjuluk Pat-pi Lo-sian.
Dia itulah yang datang ke Cin-ling-pai selagi empat orang kawannya memancing pergi Cap-it Ho-han dari Cin-ling-pai dan dia pula yang mencuri pedang Siang-bhok-kiam.
Dialah yang terlihai di antara Lima Bayangan Dewa.
Kemudian kakek berjubah hitam, kepalanya bertopi, bertubuh kokoh kuat dan yang hidungnya besar itu adalah orang kedua dari Lima Bayangan Dewa yang bernama Liok-te Sin-mo Gu Lo It sedangkan hwesio tua gendut memegang tasbeh hijau itu adalah Sin-ciang Siauw-bin-siang Hok Hosiang.
Di samping tiga orang yang diincarnya itu, ada pula beberapa orang pengawal pribadi Wang Cin yang tidak dia perhatikan, dan kini dia melirik ke arah Raja Sabutai.
Raja itu sendiri kelihatan gembira sekali seolah-olah sedang berada dalam suasana suatu pesta meriah!
Yang diperhatikan oleh Bun Houw adalah nenek berwajah kehitaman dan kakek berwajah putih yang berdiri seperti arca di belakang raja itu.
Dia sudah mendengar nama Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko yang kabarnya memiliki kepandaian amat tinggi itu.
Selain dua orang kakek dan nenek yang kabarnya menjadi guru Sabutai yang juga lihai, di situ masih terdapat beberapa orang Mongol tinggi besar yang kelihatannya kuat dan memiliki kepandaian.
"Eh, orang she Bun!"
Tiba-tiba ada suara orang berbisik, suaranya mendesis tajam.
Bun Houw menoleh dan ternyata yang bicara kepadanya adalah Yo Bi Kiok, wanita setengah tua yang cantik itu.
Dia tahu bahwa wanita itu adalah guru dari In Hong, maka dia memandang dan mendengarkan penuh perhatian.
"Hayo kau minta maaf kepada muridku atas tuduhanmu yang bukan-bukan itu. Dia bukan seorang kejam seperti iblis, juga tidak membunuh orang. Hayo minta maaf kau!"
"Subo, jangan ikut mencampuri..."
In Hong berbisik pula mencela subonya. Bun Houw mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi..."
"Tidak ada tapi, hayo minta maaf!"
Yo Bi Kiok mendesak.
Bun Houw merasa mendongkol.
Tidak biasa dia didesak dan dipaksa orang seperti itu, maka sikap yang angkuh dan keras dari Yo Bi Kiok itu malah membuat dia berkeras tidak mau minta maaf dan dia menggeleng kepala.
"Subo, sudahlah..."
In Hong kembali mencela gurunya dan pada saat itu Raja Sabutai sudah mengangkat tangan kanan ke atas, tanda bahwa semua orang diminta untuk diam dan dia mau bicara.
"Saudara sekalian harap maklum bahwa pertemuan ini diadakan pertama-tama untuk merayakan kemenangan seorang sahabatku yang kukagumi, yaitu Kaisar Ceng Tung yang telah dapat menduduki singgasananya kembali dan berhasil mengalahkan semua pengkhianat di dalam kerajaannya! Silakan saudara sekalian mengangkat cawan untuk kehormatan dan keselamatan Kaisar Ceng Tung!"
Tentu saja Bun Houw menjadi terkejut dan juga terheran-heran menyaksikan sikap dan mendengar ucapan Raja Sabutai itu, akan tetapi dengan girang dia lalu mengangkat cawan arak yang memang sejak tadi disuguhkan di meja depan mereka semua.
Semua orang mengangkat cawan dan minum arak, termasuk Yo Bi Kiok setelah nyonya ini melirik ke arah Wang Cin dengan senyum mengejek.
"Pyarrr...!"
Tiba-tiba mendengar suara mangkok pecah dan nampak sebuah cawan arak menggelinding di atas lantai.
Cawan itu dibanting oleh Wang Cin yang kini sudah bangkit berdiri dengan marah sekali, matanya ditujukan ke arah Raja Sabutai dan tubuhnya yang gendut itu menggigil, mukanya merah padam.
Suasana menjadi sunyi karena semua orang menahan napas dengan hati tegang menyaksikan betapa dua orang sekutu itu kini berhadapan sebagai musuh.
"Sabutai, engkau sungguh merupakan seorang sekutu yang khianat!"
Bentak Wang Cin, suaranya melengking tinggi, saking marahnya suaranya menjadi seperti suara wanita, yaitu satu di antara ciri-ciri orang kebiri yang sedikit demi sedikit berobah sifatnya menjadi kewanita-wanitaan.
"Bagaimana dengan tak tahu malu engkau berani menyuruh aku untuk memberi selamat atas kemenangan Ceng Tung dan secara tidak langsung memaki aku?"
Raja Sabutai tersenyum mengejek.
"Eh, Wang-taijin, salahkah aku kalau mengatakan bahwa engkau adalah seorang pengkhianat yang gagal? Engkau adalah seorang palsu, dan aku sudah benci kepadamu semenjak pertama kali, hanya karena kita bekerja sama maka aku masih dapat menahan diri membiarkan kehadiranmu yang memuakkan. Aku memang sejak semula kagum kepada Ceng Tung dan muak kepadamu. Sekarang, engkau merupakan seorang pengkhianat yang sudah tidak ada harganya lagi, dan Kaisar Ceng Tung berhasil manduduki tahta kerajannya lagi dan memegang janjinya kepadaku. Sudah sepatutnya kalau kita, apalagi seorang renah seperti engkau, mengucapkan selamat kepada Kaisar Ceng Tung yang gagah perkasa."
Makin marahlah Wang Cin.
Dia adalah seorang yang pernah mencapai kedudukan tinggi sekali, kepercayaan Kaisar dan hampir menjadi orang kedua di kerajaan, dan sekarang dia dihina oleh seorang raja liar, raja pemberontak!
"Sabutai, raja liar yang rendah...!
Kau...
kau...
hayo serbu dan bunuh dia!"
Bentaknya sambil monoleh dan memerintah para pengawal dan pembantunya.
Akan tetapi tidak ada seorangpun yang berani bergerak.
Tentu saja, para pengawalnya, juga termasuk tiga orang Bayangan Dewa, bukanlah orang-orang tolol yang mau membunuh diri secara konyol menyerang seorang raja di dalam bentengnya sendiri!
Mereka semua adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada Wang Cin atas perhitungan rugi untung, maka setelah kini malihat Wang Cin kalah dan gagal, tentu saja mereka tidak sudi untuk membuang nyawa sia-sia untuk pembesar kebiri itu.
Memang demikianlah adanya "kesetiaan"
Yang didengung-dengungkan manusia di seluruh dunia itu!
Apakah sesungguhnya kesetiaan itu?
Apakah artinya kalau orang bersetia dan berani mengorbankan nyawanya demi untuk rajanya, untuk negaranya, untuk agamanya dan lain-lain?
Apakah artinya itu?
Kalau kita mau membuka mata dan menjenguk keadaan batin sendiri akan nampaklah dengan nyata bahwa sesungguhnya sebutan kesetiaan itu merupakan sebutan lain saja penonjolan diri pribadi, atau dapat juga dilihat bahwa yang mendorong "kesetiaan"
Itu hanyalah keinginan menonjolkan diri sendiri dan kesetiaan itu hanya merupakan suatu cara untuk memperoleh keuntungan diri pribadi, biarpun keuntungan itu bukan berupa benda lagi, melainkan dalam bentuk "nama besar"
Atau "nama baik", kepahlawanan, dan sebagainya lagi. Mereka yang "setia"
Kepada Wang Cin juga tidak ada bedanya.
Mungkin saja mereka itu tadinya benar-benar setia, yaitu ketika mereka masih menaruh harapan bahwa kalau perjuangan Wang Cin itu berhasil kelak, mereka tentu akan menerima ganjaran-ganjaran besar.
Akan tetapi, setelah mereka sekarang melihat bahwa tidak ada manfaatnya dan tidak ada untungnya lagi untuk terus "setia"
Kepada Wang Cin, Tentu saja kesetiaan merekapun lenyap seperti awan tipis ditiup angin badai.
Jelaslah bahwa di dalam apa yang dinamakan kesetiaan itu tersembunyi pamrih demi keuntungan diri pribadi, baik keuntungan jasmani maupun keuntungen rohani yang sesungguhnya sama saja, karena keduanya bersumber kepada kepentingan diri pribadi.
Sunyi menyambut perintah Wang Cin yang tidak mendapat sambutan sama sekali itu.
Kesunyian yang amat menyakitkan hati Wang Cin, yang benar-benar merasa kecewa dan mukanya berobah pucat, matanya terbelalak hampir tidak percaya memandang kepada para jagoannya yang diam seperti patung, ada yang menatap lantai, ada yang menatap langit-langit, seolah-olah mereka tidak tahu akan keheranan pembesar kebiri itu!
"Ha-ha-ha-ha!"
Raja Sabutai tertawa bergelak.
"Wang Cin, jangan kau mimpi yang bukan-bukan! Orang-orang yang tadinya membantumu bukanlah orang-orang bodoh atau orang-orang buta yang tidak depat melihat kenyataan. Engkau sekarang seperti seekor macan ompong tua yang tinggal kulitnya saja! Orang-orangmu hanya mempunyai dua pilihan, yaitu ikut bersama kami ke utara dan membantu kami atau melarikan diri menjadi buruan pemerintah Beng-tiauw, menjadi penjahat-penjahat dan perampok-perampok, akan tetapi tentu tidak ada yang sudi ikut denganmu karena hal itu berarti ikut ke neraka. Ha-ha-ha!"
"Sabutai, manusia palsu kau!"
Wang Cin marah sekali, lalu meneabut pedangnya dan lari menyerang Raja Sabutai.
Tidak ada seorangpun berani bergerak, bahkan para pengawal Raja Sabutaipun tidak bergerak tanpa perintah rajanya, dan mereka hanya memandang sambil tersenyum karena mereka maklum bahwa rajanya bukaniah seorang lemah yang perlu dilindungi terhadap serangan seorang pembesar kebiri macam Wang Cin.
"Sabutai, mampuslah kau...!"
Wang Cin yang sudah putus harapan dan marah sekali itu menaiki tangga dan menyerang ke arah Raja Sabutai yang duduk sambil tertawa, pedang di tangannya diangkat tinggi-tinggi.
Biarpun Wang Cin pernah pula mempelajari ilmu silat, akan tetapi pembesar ini sudah puluhan tahun lamanya tidak pernah berlatih, dan pedang yang dibawa-bawanya itu hanya merupakan hiasan belaka, tidak pernah dimainkan satu kalipun, maka tentu saja gerakannya kaku dan baru lari sebentar begitu saja napasnya sudah ngos-ngosan.
Ketika dia tiba di depan meja Raja Sabutai dan mengayun pedangnya, tiba-tiba kaki Raja Sabutai yang masih tersenyum lebar itu menyambar dari bawah, cepat dan kuat sekali menendang ke arah perut yang gendut itu.
"Bukkkkk!!"
Wang Cin terpekik, pedangnya terlempar, tubuhnya terjengkang dan terbanting ke belakang, berdebuk menimpa lantai.
"Seret babi ini keluar dan habisi dia!"
Raja Sabutai memerintah dan empat orang pengawal menubruk maju, masing-masing memegang tangan atau kaki lalu menyeret tubuh gendut itu keluar.
Wang Cin menjerit-jerit seperti babi disembelih, memaki-maki lalu menangis akan tetapi setiap gerakan dan setiap suaranya hanya mendatangkan perasaan muak saja karena seluruhnya membayangkan sifat pengecut yang menyebalkan.
Dari jauh terdengar jerit melengking dari bekas pembesar kebiri yang pernah mempermainkan Kaisar Ceng Tung itu.
Setelah gema lengking terakhir itu mereda, Sabutai yang masih tersenyum lalu berkata, ditujukan kepada semua orang.
"Sekarang, seperti yang telah kami janjikan, mari kita selesaikan semua urusan pribadi, semua permusuhan pribadi, diselesaikan secara terhormat dan adil, cara orang-orang gagah agar seluruh dunia tidak akan menganggap bahwa Raja Sabutai tidak menghargai kegagahan orang! Sekarang, siapa yang mempunyai rasa penasaran dan mempunyai tuntutan kepada seseorang atau orang-orang lain, dipersilakan untuk menyatakan di depan kami secara terang-terangan!"
Setelah berkata demikian, Raja Sabutai memandang ke sekeliling, terutama kepada bekas pembantu-pembantu Wang Cin dan kepada Bun Houw, In Hong, dan Yo Bi Kiok.
Tiga orang Bayangan Dewa saling lirik, akan tetapi mereka tidak bergerak.
Mereka bertiga adalah orang-orang yang mempunyai dua maksud tersembunyi ketika mereka datang ke tempat itu sebagai pembantu-pembantu Wang Cin.
Pertama, untuk menyembunyikan diri dari pengejaran fihak Cin-ling-pai dan mencari perlindungan, kedua untuk mengejar kemuliaan, membonceng pengkhianatan Wang Cin.
Kini Wang Cin sudah tamat riwayatnya, maka mereka tidak berani banyak berlagak lagi, apa pula karena empat orang kawan mereka yang mereka andalkan, yaitu Go-bi Sin-kouw dan teman-temannya, telah pergi entah ke mana.
Betapapun juga, mereka bertiga percaya akan kemampuan sendiri dan tidak merasa gentar, apalagi karena di antara fihak lawan yang paling tinggi ilmunya hanyalah Yo Bi Kiok, dan sesungguhnya mereka tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan ketua Giok-hong-pang itu.
Maka mereka masih merasa tenang saja menanti perkembangan selanjutnya.
Suasana yang sunyi itu dipecahkan oleh suara nyaring dari Bun Houw yang mengangkat tangan kanan ke atas dan berkata.
"Saya mempunyai tuntutan, mohon perkenan dari baginda untuk saya sampaikan!"
Semua orang memandang kepada pemuda yang bersikap sederhana akan tetapi gagah dan tampan itu dan karena semua orang sudah mendengar bahwa pemuda yang baru datang itu mempunyai permusuhan dengan para pembantu Wang Cin yang telah mereka kenal sebagai orang-orang lihai, maka suasana mulai menjadi tegang.
Raja Sabutai tersenyum lebar.
"Ketahuilah kalian semua bahwa yang bicara adalah pendekar muda Bun Houw yang baru saja tiba. Dia adalah seorang sahabat nona Hong yang telah kita kenal."
In Hong hendak membantah akan tetapi sebelum dia mengeluarkan suara, sudah terdengar tepuk tangan para hadirin yang dipolopori oleh Raja Sabutai sendiri, maka In Hong diam saja.
"Orang muda, katakanlah apa yang menjadi tuntutanmu dan kepada siapa!"
Raja Sabutai berkata lagi sambil melirik ke arah tiga orang Bayangan Dewa, Di dalam hatinya raja ini agak kecewa mengapa dua orang kakek dan dua orang nenek yang dia tahu amat lihai, yang selama ini menemani para pembantu Wang Cin, telah lenyap ketika terjadi pertempuran yang terakhir menghadapi serbuan pasukan Beng-tiauw yang tadinya mengurung benteng.
Bahkan menurut keterangan dua orang gurunya, Bouw Thaisu memiliki kepandaian yang paling tinggi di antara para pembantu Wang Cing akan tetapi sekarang Bouw Thaisu juga telah pergi entah ke mana, bersama Go-bi Sin-kouw, Hwa Hwa Cinjin, dan Hek I Siankouw.
"Maaf, Sri Baginda. Sebetulnya, urusan saya ini tidak ada sangkut-pautnya dengan paduka atau dengan orang lain, akan tetapi oleh karena musuh-musuh saya itu berada di sini, maka terpaksa saya menyusul pula ke sini dan sekarang atas perkenan peduka, saya akan menuntut secara terang-terangan. Yang saya tuntut adalah mereka bertiga itulah, yang menamakan diri Lima Bayangan Dewa dan yang sekarang tinggal tiga orang lagi. Mereka itu adalah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, Liok-te Sin-mo Gu Lo It, dan Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang. Mereka bertiga itu telah dengan curang mencuri pedang pusaka milik Cin-ling-pai dan telah membunuh sebelas orang Cap-it Ho-han murid-murid utama Cin-ling-pai secara kejam. Oleh karena itu, saya menuntut agar pedang Siang-bhok-kiam dikembalikan kepada saya dan saya menantang mereka untuk bertanding agar saya dapat menebus kematian para murid Cin-ling-pai!"
Raja Sabutai mendengarkan tuntutan ini dan dia menjadi gembira, menoleh ke arah tiga orang kakek itu dan berkata.
"Nah, kalian telah mendengar tuntutan. Kalian boleh membela diri dan menjawab. Silakan!"
Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok mewakili dua orang sutenya, melangkah maju menghadapi Bun Houw dan terdengarlah suaranya yang tenang dan lantang, penuh suara dan nada meremehkan.
"Maaf, Sri Baginda. Perkenankan saya bicara dengan orang muda she Bun ini."
Raja Sabutai mengangguk-angguk.
"Orang she Bun, sebelum aku menjawab tuntutanmu, lebih dulu kami bertiga ingin mengetahui, ada hak apakah engkau menuntut urusan kami dengan Cin-ling-pai? Sepanjang pengetahuan kami, engkau hanyalah seorang pengawal dari Kiam-mo Liok Sun pemilik tempat perjudian di Kiang-shi. Engkau tidak berhak untuk mencampuri urusan kami dengan Cin-ling-pai!"
Sudah berada di ujung lidah Bun Houw untuk mengaku bahwa dia adalah putera ketua Cin-ling-pai, akan tetapi karena dia sudah terlanjur menyembunyikan keadaan diri sebenarnya, pula diapun tidak mau mendatangkan keributan dengan kenyataan baru itu, maka dia menjawab.
"Ketahuilah, Pat-pi Lo-sian! Aku adalah terhitung murid dari Cin-ling-pai, oleh karena itu, pedang Siang-bhok-kiam merupakan pusaka yang kuhormati dan Cap-it Ho-han termasuk suheng-suhengku, maka sudah semestinya kalau aku menentangmu!"
Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok adalah seorang kakek yang sudah banyak makan garam, sudah banyak pengalaman dan dia amat cerdik.
Dia maklum bahwa kedudukan dia dan dua orang sutenya sebagai bekas pengawal Wang Cin amatlah tidak menguntungkan, karena hal itu saja membuat mereka berada di tempat yang tidak begitu disuka oleh Raja Sabutai.
Dan diapun maklum bahwa In Hong adalah seorang yang lihai, dan kalau benar gadis itu merupakan sahabat pemuda ini dan ikut turun tangan, maka keadaan bagi dia dan adik-adiknya akan makin berbahaya.
Menghadapi pemuda itu, dia sama sekali tidak khawatir, bahkan memandang rendah.
Akan tetapi, kalau menghadapi In Hong satu lawan satu, bukan merupakan hal yang tidak berbahaya, maka dia lalu berkata dengan cerdik.
"Orang she Bun! Agaknya engkau sudah tahu bahwa Lima Bayangan Dewa terdiri dari lima orang bersaudara. Terus terang saja, kami berlima memang memusuhi Cin-ling-pai karena kami hanya membalaskan kematian suheng kami, Ban-tok Coa-ong, dan memang sejak dahulu kami menanam hati dendam terhadap Cin-ling-pai. Sudah sewajarnya kalau engkau sebagai anak murid Cin-ling-pai kini membela Cin-ling-pai pula. Akan tetapi engkau tentu maklum pula bahwa Lima Bayangan Dewa selalu bekerja bersama-sama, dan karena kini jumlah kami tinggal tiga orang, maka Tiga Bayangan Dewapun biasa bekerja sama tidak terpisah-pisah. Entah bagaimana engkau akan menghadapi kami bertiga. Tentu saja kalau engkau tidak berani menghadapi kami bertiga..."
"Pat-pi Lo-sian, tidak perlu engkau bersikap sombong dan memancing-mancing!"
Bun Houw memotong.
"Tentu saja aku yang sudah berani membela Cin-ling-pai, berani pula menghadapi kalian bertiga, karena akupun tahu bahwa Lima Bayangan Dewa adalah orang-orang pengecut."
"Tidak, Bun-ko!"
Tiba-tiba In Hong berseru dan cepat gadis ini menghadapi Raja Sabutai sambil berkata.
"Maafkan saya, Sri Baginda. Akan tetapi sesungguhnya, sayalah yang lebih dulu bentrok dengan Lima Bayangan Dewa! Sejak semula, sebelum saudara Bun Houw ini bertemu dengan mereka, saya yang berniat untuk merampas kembali pedang Siang-bhok-kiam dari tangan mereka. Kini, setelah berhadapan dengan mereka, sayapun tidak akan membiarkan saudara Bun Houw seenaknya turun tangan sendiri merampas pedang, karena saya juga berhak untuk mengadu kepandaian merampas pedang pusaka Cin-ling-pai."
"Heh-heh, sayapun tentu saja ingin melihat seperti apa sih pedang pusaka yang disohorkan orang itu dan sayapun tidak mau ketinggalan meramaikan pertemuan ini, Sri Baginda!"
Yo Bi Kiok tiba-tiba berkata pula.
Raja Sabutai menggosok-gosok kedua tangannya, kelihatan makin gembira.
Memang raja ini suka sekali nonton orang pibu, maka makin ramai dan makin banyak yang mengambil bagian dalam pertandingan mengadu ilmu, makin gembiralah hatinya.
"Sam-wi lo-sicu,"
Katanya kepada Pat-pi Lo-sian bertiga.
"Ternyata hebat juga pedang Siang-bhok-kiam yang kalian rampas itu sehingga semua orangpun ingin memilikinya. Kalian telah mendengarkan pendapat nona Hong dan gurunya. Nah, bagaimana?"
Pat-pi Lo-sian terkejut sekali ketika tadi mendengar ucapan Yo Bi Kiok.
Akan tetapi dia cerdik sekali dan sambil menghadapi Yo Bi Kiok dia menjura ke arah ketua Giok-hong-pang itu dan berkata.
"Maaf, Yo-Pangcu. Dahulu pernah Yo-Pangcu mengatakan bahwa Pangcu telah menawan Lie Seng, bocah cucu ketua Cin-ling-pai itu, bahwa Pangcu hendak menukarkan bocah cucu musuh besar kami itu dengan pedang Siang-bhok-kiam. Akan tetapi sayang keburu terjadi perang dan..."
Memang Pat-pi Lo-sian cerdik bukan main.
Dia tadi mendengar bahwa pemuda tampan ini adalah anak murid Cin-ling-pai, maka melihat gelagat bahwa ketua Giok-hong-pang itu hendak turun tangan menentang mereka, maka cepat dia mengatakan hal tentang ditawannya cucu ketua Cin-ling-pai oleh Yo Bi Kiok agar diketahui oleh murid Cin-ling-pai itu.
Akalnya ini berhasil karena tentu saja Bun Houw terkejut bukan main mendengar ucapan itu.
"Yo-Pangcu! Kau apakan Lie Seng...?"
Bentaknya marah, hatinya khawatir sekali mendengar bahwa keponakannya itu tertangkap oleh wanita cantik berwajah dingin ini.
"Ha-ha-ha-ha!"
Pat-pi Lo-sian tertawa untuk menambah minyak pada api itu.
"Ketika kami menyerbu Sin-yang, membalas dendam kepada puteri ketua Cin-ling-pai, di mana kami berhasil menewaskan empat orang murid utama Cin-ling-pai dan besan dari ketua Cin-ling-pai, kami tentu tidak akan berhasil tanpa bantuan Yo-Pangcu. Mengingat akan kerja sama yang sudah, kiranya sekarang Yo-Pangcu tidak akan membalik dan membantu fihak musuh kita bersama."
"Kau...!"
Bun Houw marah sekali dan kalau saja dia tidak ingat bahwa dia berada di dalam benteng Raja Sabutai, tentu dia sudah menyerang Yo Bi Kiok yang hanya tersenyum-senyum saja itu, senyum penuh ejekan.
"Pat-pi Lo-sian, engkau tahu bahwa aku tidak pernah memihak siapa-siapa, melainkan memihak diriku sendiri. Aku hanya mau bilang bahwa aku menghendaki pedang itu, siapapun yang keluar sebagai pemenang, harus menghadapi aku lebih dulu untuk dapat memperoleh pedang."
Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok diam-diam merasa girang karena kini dia boleh merasa lega karena tak mungkin nyonya yang amat lihai itu akan membantu Bun Houw.
Akan tetapi juga dia harus merelakan pedang Siang-bhok-kiam kalau tidak mau berurusan dengan wanita yang menyeramkan itu, maka dia lalu mendapatkan sebuah akal yang amat baik.
Dia lalu menjura ke arah Raja Sabutai dan berkata.
"Sri Baginda, karena saya tidak ingin ada yang main curang dalam pibu ini, maka saya hendak menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada paduka agar paduka yang menyimpannya dan menyerahkannya kepada pemenang setelah pibu selesai."
Tentu saja Raja Sabutai menjadi girang dan mengangguk-angguk.
Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok lalu memberi tanda kepada Hok Hosiang dan hwesio ini lalu mengeluarkan sebuah bungkusan panjang dari bawah jubahnya yang lebar.
Memang Pat-pi Lo-sian cerdik.
Dia sebagai orang pertama Lima Bayangan Dewa, tidak mau menyimpan sendiri pedang itu karena semua orang tentu menyangka bahwa dialah yang memegang pedang, sebaliknya dia malah menitipkannya kepada sutenya yang nomor tiga dan hwesio ini tentu saja dengan mudah menyembunyikan pusaka itu di bawah jubahnya yang amat lebar dan terlalu besar.
Raja Sabutai menerima bungkusan kain kuning, membuka bungkusan dan mengeluarkan sebatang pedang dalam sarungnya.
Kemudian, perlahan-lahan dicabutnya pedang itu dan nampak sinar kehijauan yang dingin.
Itulah Siang-bhok-kiam, pedang pusaka Cin-ling-pai!
Bun Houw sekali pandang saja mengenal pedang itu dan hatinya terharu.
"Suhu dan subo, pedang ini terlalu berharga, maka sebaiknya suhu dan subo yang menyimpannya agar aman,"
Raja Sabutai berkata sambil menyerahkan pedang itu yang diterima tanpa banyak cakap oleh Pek-hiat Mo-ko dan diselipkan di pinggangnya.
"Sekarang, pertandingan boleh dimulai!"
Raja Sabutai berkata.
"Orang muda she Bun, apakah kau sudah siap untuk menghadapi lawan?"
"Saya sudah siap!"
Bun Houw bangkit berdiri dan melangkah ke tengah ruangan.
"Sayapun siap, Sri Baginda!"
In Hong tak dapat mencegah dirinya, diapun sudah meloncat ke depan.
Betapapun juga, gadis ini tidak akan membiarkan Bun Houw seorang diri menghadapi tiga Bayangan Dewa yang dia tahu amat lihai itu.
Melawan satu orang saja di antara mereka, belum tentu pemuda ini menang, apalagi dikeroyok tiga!
Melihat sikap muridnya, Yo Bi Kiok hanya tersenyum dan berkata.
"Hong-ji, bodoh kau! Suruh dia minta maaf dulu!"
Akan tetapi In Hong tidak memperdulikan kata-kata gurunya itu.
Sementara itu, Raja Sabutai diam-diam juga girang melihat In Hong maju karena sebagai seorang gagah diapun merasa tidak senang kalau pemuda ini harus menghadapi pengeroyokan tiga orang kakek, maka kini dia berkata kepada Phang Tui Lok.
"Apakah sam-wi sudah siap dan hendak maju berbareng?"
Phang Tui Lok mengerutkan alianya "Sebetulnya, urusan kami dengan pemuda she Bun sebagai wakil Cin-ling-pai tidak ada sangkut-pautnya dengan nona Hong maka tidak semestinya kalau nona Hong mencampuri."
"Manusia curang!"
In Hong membentak.
"Katakan saja kalian takut dan beraninya hanya ingin maju bertiga mengeroyok satu orang!"
"Siapa takut menghadapi pemuda Cin-ling-pai itu? Mundurlah, nona, dan pemuda itu hanya akan dihadapi oleh seorang di antara kami saja!"
Kata Phang Tui Lok yang memandang rendah kepada Bun Houw dan lebih jerih menghadapi In Hong.
"Hong-moi, mundurlah, biar aku melawan sendiri mereka,"
Kata Bun Houw.
"Ha, kami sudah mendengar!"
Raja Sabutai berseru gembira.
"Satu lawan satu, itu baru adil namanya! Nona Hong, harap mundur dan biarkan Bun-sicu menghadapi seorang di antara tiga Bayangan Dewa!"
Terpaksa In Hong mundur dan karena hatinya gelisah mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu, dia mundur ke dekat gurunya tanpa disadarinya.
"Jangan khawatir, kalau kekasihmu itu kalah, kita dapat menggunakan Siang-tok-swa,"
Bisik gurunya.
In Hong terkejut, mukanya menjadi merah mendengar gurunya menyebut Bun Houw sebagai kekasihnya.
Dia mengerutkan alisnya dan cepat menjauhi gurunya, duduk di atas bangku sambil memandang ke depan, tidak memperdulikan Yo Bi Kiok yang tersenyum dingin.
Phang Tui Lok memberi tanda kepada sutenya yang nomor tiga, yaitu Hok Ho-siang.
Hwesio ini sambil tersenyum menyeringai, bangkit berdiri dan melangkah lebar menuju ke tengah ruangan.
Sambil berjalan dia memainkan senjatanya, yaitu tasbeh hijau sehingga terdengar suara berderik-derik nyaring sekali dan ketika dia memutar tasbehnya, terdengar suara mengaung dan nampak sinar hijau bergulung-gulung!
Semua orang terkejut dan maklum bahwa hwesio ini memiliki tenaga sin-kang yang dahsyat dan senjatanya itu amat berbahaya.
Ketika hwesio itu menggerak-gerakkan kepala, maka penghias kepalanya yang runcing itu berkilauan, dan diam-diam In Hong terkejut karena hiasan kepala yang runcing itu ternyata merupakan senjata yang hebat pula, terbuat dari baja pilihan!
Maka khawatirlah dia melihat Bun Houw berdiri dengan kedua tangan kosong menghadapi lawan yang cukup kuat ini.
"Ha, satu lawan satu, itu baru adil namanya! Dan karena ada tiga orang kakek, harus pula dilawan oleh tiga orang dan akupun ingin mendapat bagian dan meramaikan pesta ini!"
Ucapan nyaring itu disusul berkelebatnya bayangan orang mendahului Bun Houw dan tahu-tahu Yo Bi Kiok telah meloncat ke depan hwesio itu dengan pedang Lui-kong-kiam di tangan kanan dan pedang pendek di tangan kiri.
Sikapnya gagah bukan main.
"Eh, Yo-Pangcu, kau mau apa?"
Hok Hosiang membentak marah akan tetapi juga khawatir sekali.
"Yang diperebutkah adalah Siang-bhok-kiam, bukan? Nah, aku ikut memperebutkan dan kau lawanlah aku. Atau engkau tidak berani? Kalau begitu, bilang saja bahwa kau pengecut dan tidak berani!"
"Oho, wanita sombong! Siapa yang tidak berani?"
Jawab Hok Hosiang tersinggung.
"Kalau begitu, makanlah ini!"
Cepat seperti kilat pedang pendek di tangan Yo Bi Kiok bergerak menyerang.
"Tranggg...!"
Tasbeh di tangan hwesio itu menangkis, akibatnya, hwesio gendut itu terhuyung dan pada saat itu sinar kilat Lui-kong-kiam menyusul cepat, membuat hwesio itu terkejut setengah mati.
"Tranggg... cringggg...!"
Kalau tidak dibantu oleh Phang Tui Lok yang membantu temannya menangkis Lui-kong-kiam, agaknya hwesio itu akan celaka.
"Tahan!"
Phang Tui Lok membentak marah, lalu menoleh kepada raja.
"Kami memprotes campur tangan Yo-Pangcu. Sri Baginda maklum bahwa pertikaian tentang pedang Siang-bhok-kiam adalah urusan Bayangan Dewa dan Cin-ling-pai.
"Kalau Yo-Pangcu menghendaki pedang, semestinya dia baru maju menghadapi pemenang dalam pertandingan ini. Kecuali kalau Yo-Pangcu menjadi wakil Cin-ling-pai!"
Raja Sabutai mengangguk-angguk membenarkan.
"Harap Yo-toanio suka mundur dan jangan mengacaukan pertandingan."
Bun Houw juga melangkah maju.
"Harap Yo-toanio tidak mencampuri urusan kami!"
Yo Bi Kiok tersenyum dan menyimpan pedangnya.
"Baiklah, aku akan maju paling akhir, memang hwesio ini bukan tandinganku!"
Kini Bun Houw menghadapi hwesio itu dengan kedua tangan kosong dan berkata dengan sikap tenang.
"Hok Hosiang, aku telah siap. Majulah!"
Hok Hosiang inipun memandang rendah kepada Bun Houw yang biarpun kabarnya pandai akan tetapi kedudukannya hanya sebagai pengawal Liok Sun si pemilik rumah judi!
Maka sambil memutar-mutar tasbehnya dia berkata.
"Orang muda, jangan mati konyol, hayo keluarkan senjatamu!"
"Penjahat tua menyamar sebagai hwesio, tak perlu banyak cakap, aku tidak perlu memegang senjata untuk menghadapimu."
"Kalau begitu, bersiaplah untuk mampus!"
Hok Hosiang membentak.
"Tahan dulu...!"
Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu In Hong telah tiba di tengah ruangan itu.
"Sri Baginda, tidak adil kalau pertandingan dilakukan dengan yang seorang memegang senjata sedangkan yang lain tidak!"
Raja Sabutai mengangguk.
"Pertandingan sekali ini adalah pertandingan untuk menyelesalkan urusan dendam pribadi, maka fihak yang kalah dan tewas tidak boleh merasa penasaran. Bun-sicu, engkau boleh menggunakan senjata pula."
"Saya... saya tidak mempunyai senjata, Sri Baginda."
"Bun-ko, ini pedangmu, pakailah!"
In Hong mencabut Hong-cu-kiam dan menyerahkan pedang itu kepada Bun Houw.
Bun Houw cepat mundur dan memandang pedang itu dengan alis berkerut.
"Aku tidak akan menggunakan senjata pedang itu, Hong-moi. Kausimpanlah...!"
In Hong menghela napas dan menyimpan pedangnya.
Dia mengerti bahwa pemuda ini masih belum hilang rasa marahnya, mengira bahwa dia adalah seorang pembunuh kejam, maka tidak mau menggunakan pedang itu.
Akan tetapi dia khawatir sekali kalau pemuda ini menghadapi Hok Hosiang yang demikian lihai tanpa senjata.
"Sri Baginda, karena Bun-twako tidak mempunyai senjata, maka harus diberi kesempatan untuk meminjam senjata dari benteng ini."
Raja Sabutai mengangguk-angguk, teringat akan pesan isterinya, Ratu Khamila yang pernah membisikkan bahwa pemuda dan gadis itu saling mencinta.
Dia lalu memerintahkan pengawal mengambil delapan belas macam senjata yang diangkut ke tempat itu.
"Bun-sicu, silahkan memilih senjata mana yang kausuka dan boleh kau pergunakan dalam pertandingan ini,"
Kata raja.
Hok Hosiang tersenyum mengejek, berjalan berkeliling dan menggerak-gerakkan tasbehnya sehingga sinarnya bergulung-gulung menyilaukan mata dan suaranya mengaung mengerikan.
Dia yakin bahwa semua senjata itu sekali bertemu dengan tasbehnya pasti akan patah-patah.
Untuk mendemonstrasikan kepandaian dan kehebatan senjatanya, juga untuk membikin kecil nyali calon lawannya, hwesio ini menggunakan kakinya mencokel sebatang tombak panjang ke atas kemudian menggerakkan tasbehnya yang diputar cepat.
"Krek-krek-krekk!"
Tombak itu patah-patah menjadi beberapa potong.
Demonstrasi ini disambut suara berisik karena orang-orang terkejut sekali melihat betapa senjata tasbeh itu demikian ampuhnya!
Padahal tombak itu terbuat dari baja pilihan dan merupakan senjata para pengawal raja!
Melihat ini, Bun Houw merasa sebal.
"Hong-moi, tolong kauuji dengan pedangmu itu. Senjata mana yang kuat menghadapi babatan pedangmu, akan kupakai."
In Hong girang.
Karena memang diapun tahu bahwa tidak ada senjata di situ yang akan mampu melawan tasbeh Hok Hosiang kecuali Hong-cu-kiam, maka dia sengaja mengangkat setiap pedang, golok atau tombak diadukan dengan Hong-cu-kiam dan semua senjata itu satu demi satu terbacok patah!
Melihat ini, Raja Sabutai diam-diam kagum.
Orang-orang dari selatan ini memang hebat, pikirnya, hebat ilmu kepandaiannya, juga hebat senjata pusakanya.
"Bun-ko, tidak ada senjata yang cukup baik, kaupakailah pedang ini!"
Akhirnya In Hong menyerahkan pedang Hong-cu-kiam yang tipis dan amat tajam itu.
Akan tetapi kembali Bun Houw menggeleng kepala menolak, bahkan pemuda ini lalu mengambil gagang tombak yang terbuat daripada kayu dan menyodorkannya ke arah In Hong.
"Hong-moi, tolong kaupotong runcing kayu ini, sepanjang ukuran pedang."
In Hong mengerutkan alisnya, tidak tahu apa yang dimaksudkan sebenarnya oleh pemuda itu, akan tetapi Hong-cu-kiam berkelebat, sinar emas menyambar dan gagang tombak dari kayu itu terbabat putus dan ujungnya meruncing.
Bun Houw mengobat-abitkan potongan kayu itu seperti sebatang pedang, lalu berkata kepada calon lawannya yang sejak tadi memandang dengan sikap marah karena pemuda itu seolah-olah memandang ringan sekali kepadanya.
"Hok Hosiang, inilah senjataku!"
"He, orang muda she Bun!"
Tiba-tiba Raja Sabutai berseru.
"Begitu sombongkah engkau sehingga engkau hendak menghadapi lawan yang memiliki senjata pusaka hanya dengan sebatang gagang tombak pendek dari kayu?"
Raja ini adalah seorang ahli silat yang lihai pula.
Dia mengenal senjata tasbeh yang lihai itu dan tahu bahwa seorang ahli silat yang sudah berani mempergunakan sebuah senjata aneh seperti tasbeh tentulah memiliki kepandaian yang luar biasa.
Maka, melihat pemuda itu hanya menggunakan sebatang pedang-pedangan dari kayu seperti yang biasa dipakai anak-anak yang bermain perang-perangan, tentu saja dia merasa khawatir, penasaran dan juga marah atas sikap Bun Houw yang dianggapnya sombong dan tolol.
Bun Houw cepat menjura setelah dia membalikkan pedang-pedangan kayu itu di bawah lengan kanannya.
"Harap paduka suka memaafkan saya, Sri Baginda, sesungguhnya sama sekali saya tidak berani bersikap sombong, akan tetapi hendaknya paduka ingat bahwa pusaka Cin-ling-pai adalah sebatang pedang dari kayu, yaitu Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Harum) itu. Oleh karena itu, setiap orang muridnya tentu dapat pula memainkan kayu sebagai pedang yang merupakan kepandaian simpanan dari ketua Cin-ling-pai. Maka, kini saya memilih sebatang kayu ini sebagai pengganti pedang sama sekali bukan keluar dari sikap sombong, melainkan karena bagi saya, kayu ini merupakan senjata yang paling baik bagi saya."
Raja Sabutai mengangguk-angguk, akan tetapi di dalam hatinya dia masih sangsi dan mengkhawatirkan keselamatan pemuda yang menurut isterinya adalah kekasih nona Hong yang amat disuka oleh isterinya itu.
Sementara itug diam-diam Yo Bi Kiok mulai percaya kepada pemuda yang dicinta oleh muridnya ini.
Terbayanglah dia akan pengalamannya sendiri ketika dia harus menghadapi ketua Cin-ling-pai.
Pedang pusakanya juga hanya dilawan dengan sebatang ranting kayu oleh ketua Cin-ling-pai itu dan akibatnya dia kalah!
Akan tetapi, ketua Cin-ling-pai itu memang seorang sakti yang amat tinggi kepandaiannya, pemuda ini hanya seorang anak murid yang masih muda, sedangkan tasbeh di tangan Hok Hosiang itu agaknya berbahaya bukan main.
"Orang muda, sudah siapkah engkau, ataukah engkau masih mau mengoceh lagi?"
Hok Hosiang (Lanjut ke
Jilid 31) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 31 bertanya sambil tersenyum mengejek.
Beberapa orang anggauta pengawal yang hadir dan yang berfihak kepada kakek gundul yang kelihatannya amat lihai ini ikut tertawa.
"Majulah, Hok Hosiang, sudah sejak tadi aku siap dan ingin merasakan bagaimana kerasnya tanganmu dan akan kulihat apakah engkau akan bisa tertawa lagi nanti!"
Kata Bun Houw sambil melintangkan gagang tombak di depan dadanya.
Ucapan ini membuat Hok Hosiang menjadi makin marah karena merasa diejek.
Memang dia berjuluk Sin-ciang (Tangan Sakti) dan Siauw-bin-sian (Dewa Muka Tertawa).
"Lihat senjata!"
Bentaknya dan tubuhnya sudah menerjang ke depan.
Biarpun kakek berkepala gundul ini gendut tubuhnya, namun ternyata dia dapat bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan dan ketika tubuhnya bergerak, ada angin menyambar dari arahnya, menandakan bahwa kakek ini memiliki tenaga besar.
Dalam serangan pertama ini, dia didahului oleh gulungan sinar hijau yang menyilaukan mata, yaitu gulungan sinar senjata tasbehnya yang sudah menyambar ganas dengan gerakan melengkung ke atas lalu menghantam ke arah kepala Bun Houw, sedangkan tangan kiri kakek itu dengan pengerahan sin-kangnya yang membuat dia terkenal dengan julukan Sin-ciang, membarengi dengan pukulan dengan jari-jari terbuka ke arah pusar pemuda itu!
Jelas dari gerakan cepat ini betapa kakek itu hendak merobohkan lawan dalam gebrakan pertama.
Dia memandang rendah kepada pemuda itu, akan tetapi sama sekali tidak bersikap sembrono karena begitu menyerang, dia telah melakukan serangan maut dan telah mengerahkan tenaganya.
Raja Sabutai sendiri yang dapat melihat kehebatan dan bahayanya serangan ini, diam-diam merasa ngeri karena agaknya sukarlah bagi orang muda yang hanya memegang gagang tombak kayu pendek itu untuk menghindarkan diri dari cengerakam maut itu.
Juga In Hong memandang dengan jantung berdebar dan diam-diam dia merasa menyesal akan keangkuhan Bun Houw yang memaksa diri menghadapi lawan tangguh tanpa senjata yang baik itu.
Akan tetapi tidak seorangpun di antara mereka itu yang pernah menduga bahwa lawan semacam Hok Hosiang itu sesungguhnya hanyalah merupakan seorang lawan yang lunak dan tidak ada artinya bagi pemuda itu!
Cia Bun Houw adalah murid terkasih dari Kok Beng Lama, yang telah mewarisi sebagian besar ilmu-ilmu pendeta Lama yang berkepandaian luar biasa itu, juga dia adalah putera ketua Cin-ling-pai yang telah digembleng pula oleh ayah bundanya yang sakti.
Maka, jangankan memegang sebatang senjata kayu, andaikata dia tetap bertangan kosong sekalipun, tentu saja dia masih dapat mengatasi dan mempermainkan seorang lawan seperti orang ketiga dari Lima Bayangan Dewa itu!
Melihat gerakan lawan dalam penyerangan pertama itu, segera pemuda ini maklum bahwa dalam penyerangan pertama ini, yang berbahaya bukanlah tasbeh hijau, melainkan pukulan dengan tangan kiri itulah.
Memang kelihatannya tasbeh hijau itu melakukan serangan dahsyat ke arah kepalanya, seolah-olah seekor harimau yang menubruk dengan ancaman maut menghancurkan kepalanya, akan tetapi serangan yang terlalu menyolok itu sebetulnya hanya merupakan pancingan belaka agar perhatian lawan tersedot semua ke situ dan yang sebenarnya mengancam nyawanya adalah pukulan diam-diam dengan tangan kiri itu karena dalam jari-jari yang terbuka itu mengandung getaran tenaga sin-kang sepenuhnya.
Jari-jari tangan kakek gundul ini kalau mengenai batu karang akan remuklah batu itu!
"Wirrr...
wuuuttt...!"
Tasbeh hijau itu menyambar ganas, dan tangan kiri meluncur ke arah pusar Bun Houw tanpa suara.
Pemuda ini tersenyum geli di dalam hatinya dan tiba-tiba timbul keinginan di dalam hati pemuda yang biasanya pendiam ini untuk mempermainkan lawan.
Timbulnya keinginan ini mungkin karena kegembiraan hatinya dapat melihat Siang-bhok-kiam, mungkin juga karena dia memperoelh kesempatan membalas kematian para murid Cin-ling-pai kepada tiga orang musuh besarnya ini, atau mungkin juga karena kehadiran In Hong di situ.
Dia teringat betapa dalam pandang mata In Hong, dia hanyalah seorang pengawal seorang pemilik rumah judi, yang tentu saja tidak berapa tinggi kepandaianannya.
Teringat akan hal ini, Bun Houw juga tidak ingin memperkenalkan diri secara menyolok.
"Syetttt... cessas... aughhh...!"
Kakek gundul itu memekik kesakitan dan meloncat ke belakang sambil menarik tangan kirinya yang tadi ditusuk oleh ujung kayu runcing itu!
Pemuda itu tadi mengelak dari sambaran tasbeh hijau dan hati Hok Hosiang sudah menjadi girang karena tepat seperti yang dikehendakinya, pemuda itu agaknya mencurahkan seluruh perhatian kepada serangan tasbeh sehingga kelihatan sibuk menghindarkan diri dari tasbeh sambil mengelak, maka dengan girang tangan kirinya terus melakukan tusukan ke arah pusar.
Sudah terbayang olehnya betapa tangan itu akan "memasuki"
Pusar dan pemuda itu akan roboh dan tewas dalam segebrakan saja!
Akan tetapi tiba-tiba dia menjerit dan menarik tangannya terus meloncat mundur karena ternyata punggung tangannya "digigit"
Oleh ujung kayu runcing itu.
Ketika dia melihatnya, ternyata punggung tangan kirinya itu berdarah.
Bukan main marahnya.
Saking marahnya dia sampai lupa bahwa kalau pemuda itu dengan kayunya dapat melukai punggung tangannya yang penuh terisi sin-kang tadi, berarti bahwa pemuda itu lihai sekali.
Dia lupa akan hal ini dan saking marahnya kakek ini sudah mengeluarkan suara menggereng seperti seekor singa kelaparan, menyerang dengan tubrukan maut, tasbehnya diputar dan dalam sekali terjang saja tasbehnya telah melakukan serangan bertubi-tubi ke tujuh bagian tubuh yang lemah dari lawannya.
In Hong menonton dengan jantung berdebar tegang.
Dia melihat bahwa dibandingkan dengan dua orang terakhir dari Lima Bayangan Dewa yang telah tewas, kepandaian hwesio ini lebih tinggi sedikit, akan tetapi biarpun gerakan tasbeh itu hanya kelihatannya saja hebat, namun sambaran tangan kiri hwesio itu benar-benar amat berbahaya dan melihat gerakan Bun Houw yang seenaknya dan tidak teratur itu, diam-diam In Hong merasa cemas juga.
Terdengar suara keras berkali-kali dan semua serangan tasbeh dapat dihalau oleh tangkisan pedang-pedangan kayu!
Semua orang terkejut dan merasa heran, akan tetapi In Hong merasa makin khawatir karena dia melihat bahwa gerakan Bun Houw makin kacau-balau dan agaknya semua tangkisannya yang berhasil menyelamatkan dirinya itu hanya soal kebetulan saja.
"Sri Baginda, pemuda itu lihai bukan main..."
Terdengar oleh Raja Sabutai bisikan gurunya dan dia terkejut.
Menurut penglihatannya sendiri, pemuda itu terdesak hebat dan hanya dengan susah payah saja dapat menyelamatkan dirinya, akan tetapi ketika dia menoleh, ternyata gurunya itu memandang dengan mata terbelalak penuh kagum!
Bagaimana gurunya dapat memuji permainan silat kacau-balau yang lebih mirip dengan orang ketakutan dan repot sekali itu.
Akan tetapi dia tahu bahwa di dunia ini jarang ada ahli silat yang dipuji oleh Hek-hiat Mo-li atau Pek-hiat Mo-ko dan kini mereka berdua memuji.
"In, Hong, kau telah dipermainkah oleh kekasihmu itu! Hi-hik, jangan kau khawatir, muridku. Dia jauh lebih lihai daripada lawannya."
Yo Bi Kiok juga berbisik kepada muridnya.
Akan tetapi In Hong tetap merasa tegang.
Memang, biarpun gadis ini juga memiliki tingkat kepandaian yang sudah tinggi, tidak banyak selisihnya dengan gurunya, namun dia belum memiliki kewaspadaan pandangan seperti gurunya yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam ilmu silat.
Dia melihat betapa pemuda itu terus diserang dan didesak dan kini tubuh kedua orang itu lenyap terbungkus gulungan sinar tasbeh yang hijau dan agaknya robohnya Bun Houw tinggal menanti saatnya saja!
Pemuda itu kelihatannya terus-menerus menangkis, bahkan semua jalan keluar sudah tertutup oleh sinar tasbeh yang mengelilinginya.
"Cruuusss... auuuuuttthhh...!"
Tiba-tiba kakek gundul itu mencelat ke belakang dan tangan kirinya meraba hidungnya.
Darah!
Daun hidungnya terobek dan darah bercucuran.
Makin teganglah para penonton setelah mulai melihat darah.
Mereka tidak tahu bagaimana hidung kakek yang terus-menerus mendesak itu tahu-tahu bisa robek dan berdarah seperti itu!
Bahkan Hok Hosiang sendiripun tidak mengerti.
Pemuda itu terus didesaknya dan pedang-pedangan kayu itu terus-menerus bergerak menangkis dan melindungi tubuh pemuda itu dari kurungan sinar tasbeh, bagaimana tahu-tahu dapat "menyelonong"
Dan merobek hidungnya?
"Hati-hati, Hok Hosiang, kau main-main dengan tasbeh sampai melukai hidung sendiri!"
Ucapan pemuda ini mendatangkan suara tertawa dari para penonton karena sesungguhnya para penonton percaya bahwa hwesio itu saking semangatnya menyerang dan mendesak telah berlaku kurang hati-hati dan melukai hidungnya sendiri dengan tasbehhya!
Tidak ada orang yang tahu bahwa hidung itu dirobek ujung pedang-pedangan kayu yang runcing, kecuali tentu saja orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi seperti dua orang suheng hwesio itu, Raja Sabutai dan guru-gurunya, beberapa orang perwira pengawal, In Hong dan Yo Bi Kiok.
Akan tetapi In Hong masih saja belum merasa puas karena cara Bun Houw melukai hidung lawan bukan dilakukan dengan gerakan silat yang indah lihai, lebih mirip gerakan kebetulan saja yang hanya dapat berhasil karena ketidak hati-hatian lawan.
"Keparat busuk... kuhancurkan kepalamu, kulumatkan tubuhmu!"
Hok Hosiang membentak.
"Omitohud... betapa besar dosamu, Hok Hosiang!"
Bun Houw menjawab sehingga kembali terdengar suara orang tertawa karena sungguh menyolok sekali sikap dan kata-kata kedua orang itu, si hwesio penuh kemarahan, sedagkan pemuda itu mengambil sikap seorang alim!
Hok Hosiang kini menyerang dengan penuh kemarahan, tasbeh hijaunya lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar hijau bergulung-gulung.
Akan tetapi anehnya, tidak pernah serangannya dapat mengenai sasaran, kalau tidak dielakkan oleh pemuda itu, tentu terbendung oleh pedang-pedangan kayu sederhana itu dan setiap kali tasbehnya terbentur oleh kayu itu, Hok Hosiang merasa betapa seluruh lengan kanannya tergetar hebat dan kesemutan!
Mulailah dia mengerti bahwa lawannya yang muda ini ternyata memang lihai dan memiliki tenaga yang amat kuat, sungguhpun hal itu tidak diperlihatkannya.
Ketika Bun Houw merasa sudah cukup mempermainkan lawannya, pada saat untuk ke sekian kalinya sinar hijau menyambar ke arah kepalanya, pemuda ini memekik keras, kayu di tangannya menyambut lalu membuat gerakan memutar dan tasbeh itu tak dapat dipertahankan lagi membelit-belit ujung pedang-pedangan kayu dan tidak dapat ditarik kembali oleh Hok Hosiang!
Beberapa kali pendeta gendut ini mengerahkan tenaganya menarik, namun hasilnya sia-sia belaka, tasbehnya telah membelit kuat pada kayu itu dan tidak bisa terlepas kembali.
"Mampus kau...!"
Bentaknya dan tiba-tiba tangan kirinya yang mengandung tenaga sin-kang sekuatnya itu menghantam ke arah dada Bun Houw.
Pemuda ini mengibaskan tangan kirinya, sekaligus dia "mengisi"
Tangan kirinya dengan tenaga dari ilmu mujijat Thian-te Sin-ciang.
"Plakkkk! Krekkkk... pyuuurrr...!"
Dua tangan bertemu hebat, tubuh hwesio tergetar, tasbeh itu putus untaiannya dan berjatuhan ke atas tanah, kemudian tubuh hwesio itu terhuyung ke belakang dan biarpun dia mempertahankannya, tetap saja dia roboh terguling saking hebatnya tenaga tangkisan tangan kiri pemuda itu tadi.
"Eihhh...?"
In Hong berseru aneh karena dia seperti mengenal tangkisan yang dilakukan oleh Bun Houw itu.
Bukankah itu Thian-te Sin-ciang?
Sementara itu, dengan muka pucat dan mata mendelik saking marahnya, Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang sudah bangkit kembali, kini tubuhnya merendah seperti seekor harimau hendak menubruk, kepalanya yang gundul di depan dan hiasan kepala yang memakai alat runcing itu menuding ke arah lawan, matanya melirik seperti mata seekor kerbau marah, kemudian dari mulutnya keluar suara perut yang dalam, seperti kerbau menguak dan kepala yang gundul itu mengepulkan uap putih.
"Sute, jangan...!"
Pat-pi Lo-sian berseru namun terlambat sudah, karena Hok Hosiang sudah lari ke depan dengan kepala menyeruduk ke arah perut Bun Houw!
"Bun-ko, awas...!"
In Hong menjerit karena dia maklum kini mengapa hiasan kepala itu mengandung baja runcing.
Kiranya hwesio ini memiliki ilmu aneh yang jarang digunakan orang, yaitu serangan dengan serudukan kepala!
Dan dia mendengar dari subonya bahwa siapa yang melakukan serangan dengan kepala, Berarti dia telah melatih kepalanya menjadi senjata yang amat berbahaya dan bahwa serangan kepala merupakan serangan untuk mengadu nyawa dengan lawan.
Bun Houw juga terkejut.
Mendengar seruan Pat-pi Lo-sian tadi, diapun maklum bahwa kalau sang suheng itu mencegah, berarti bahwa serangan ini merupakan serangan adu nyawa yang amat berbahaya.
Kalau dia mengelak lalu menggunakan kayu di tangannya membunuh lawan, tentu saja amat mudah hal itu dilakukannya.
Akan tetapt dia harus memperlihatkan kepada lawan dan membuktikan kepada semua orang bahwa murid Cin-ling-pai bukanlah seorang penakut yang jerih menghadapi serangan seperti itu, maka dia lalu melempar pedang kayu ke atas lantai, kemudian dengan kaki terpentang lebar dia sengaja menerima serudukan kepala Hok Hosiang itu.
"Bun-ko...!"
In Hong menjerit ngeri menyaksikan kenekatan pemuda itu dan semua orang memandang dengan hati tegang.
"Desss...!"
Pertemuan antera kepala dan perut itu hebat bukan main.
Seolah-olah terasa oleh semua yang hadir hebatnya pertemuan itu, yang seolah-olah menggetarkan ruangan itu dan semua mata terbelalak melihat betapa kepala yang dihias alat runcing itu seperti menancap ke dalam perut si pemuda yang masih berdiri tegak.
Tubuh gendut hwesio itu seperti sebatang balok yang menancap, kakinya lurus ke belakang dan sama sekali tidak bergerak.
"Uhhh!"
Bun Houw mengeluarkan suara, perutnya digerakkan dan tubuh hwesio itu tertolak ke belakang, lalu terbanting jatuh dan semua yang memandang merasa ngeri karena kepala itu sudah berlepotan darah, dan hiasan kepala baja runcing itu ternyata kini telah amblas menancap ke dalam kepala gundul itu!
Ternyata bahwa ketika kepala itu bertemu dengan perut, Bun Houw mengerahkan sin-kang mengeraskan perutnya sehingga hiasan kepala itu membalik dan menancap ke dalam kepala pemiliknya sendiri, Kemudian perut itu berobah lunak sehingga kepala hwesio itu amblas ke dalam rongga perutnya dan dihimpit sehingga remuk di sebelah dalam dan hwesio itu tewas pada saat itu juga!
Sorak-sorai menyambut kemenangan yang luar biasa ini dan Raja Sabutai sendiri sampai bertepuk tangan memuji.
Dia melirik ke arah dua orang gurunya dan melihat kakek dan nenek itu saling pandang dan jelas nampak bahwa keduanya juga kagum bukan main.
In Hong duduk dengan kedua kaki lemas.
Mukanya agak pucat dan dia sendiri merasa heran mengapa dia menjadi begini penakut.
Belum pernah selama hidupnya dia mengalami ketegangan sehebat ini yang membuat kedua kakinya lemas.
Akan tetapi kini diapun memandang ke arah Bun Houw dengan sinar mata penuh selidik dan keraguan.
Benarkah dia itu Bun Houw pengawal pemilik rumah judi itu?
Melihat permainan silatnya tadi memang tidak berapa hebat, akan tetapi dia bergidik ngeri membayangkan cara pemuda itu menerima serangan kepala tadi.
Dia sendiri tidak akan berani memasuki bahaya seperti itu!
Dan peristiwa tadi saja jelas membuktikan bahwa Bun Houw memiliki lwee-kang yang amat kuat, bahkan agaknya tidak kalah kuatnya kalau dibandingkan dengan tenaga dalam dari dia sendiri!
Diam-diam dia merasa kagum, juga bangga, juga...
penasaran!
Atas isyarat Raja Sabutai, jenazah Hok Hosiang disingkirkan dari tempat itu setelah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok memeriksa keadaan sutenya itu, kemudian Phang Tui Lok bersama Liok-te Sin-mo Gu Lo It melangkah ke tengah ruangan menghadapi Bun Houw yang sudah mengambil pedang-pedangan kayunya kembali dan berdiri dengan sikap tenang.
"Orang she Bun, di antara Lima Bayangan Dewa, kini tinggal kami berdua dan kami akan mempertahankan pedang Siang-bhok-kiam dan nama kami sebagai Bayangan Dewa. Majulah dan kalau kau takut mewakili Cin-ling-pai sendirian dan ingin dibantu oleh nona Hong, boleh juga dia maju membantumu."
Phang Tui Lok adalah orang yang cerdik.
Di dalam pertandingan antara Hok Hosiang dan pemuda tadi, dia sudah mengerti bahwa pemuda yang kelihatan tidak berapa hebat ini ternyata lihai juga, dan kalau dia membiarkan Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang tingkat kepandaiannya tidak banyak selisihnya dengan Hok Hosiang, Agaknya sutenya inipun akan kalah.
Oleh karena itu, dia sengaja maju bersama agar dapat membantu sutenya, dan andaikata pemuda itu dibantu oleh In Hong sekalipun, dia tidak takut karena dia dan sutenya lebih dapat bekerja sama daripada pemuda itu dan In Honk yang tidak mempunyai hubungan apa-apa.
Dengan bekerja sama, dia dan sutenya pasti akan mampu mengalahkan Bun Houw dan In Hong karena dia dan sutenya akan dapat memaksa mereka berdua untuk bertanding secara campuran, bukan satu lawan satu.
Dan dalam hal pertandingan pasangan, dia dan sutenya sudah terlatih.
Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, tubuh In Hong sudah mencelat ke tengah ruangan dan dengan wajah dingin dia sudah menghadapi Phang Tui Lok, mulutnya yang manis tersenyum mengejek.
"Agaknya kau ingin sekali mati di tanganku, kakek sombong. Majulah!"
Dia menantang. Akan tetapi Bun Houw sudah menghadapi In Hong.
"Hong-moi, harap, kau suka mundur. Aku akan menghadapi mereka berdua seorang diri."
"Bun-ko!"
In Hong membantah.
"Aku tidak takut, Hong-moi!"
"Akan tetapi, engkau akan dikeroyok dan mereka ini lihai..."
"Ha-ha-ha, orang she Bun, mengapa pakai sungkan-sungkan segala? Nona ini ingin menemanimu mampus, mengapa engkau menolaknya?"
Gu Lo It berkata dengan suaranya yang parau dan sikapnya yang kasar.
Bun Houw tidak memperdulikan ejekan Gu Lo It bahkan dia lalu memberi hormat ke arah Raja Sabutai dan berkata lantang.
"Harap paduka suka memaafkan saya, Sri Baginda. Urusan yang sekarang sedang diselesaikan adalah urusan antara Lima Bayangan Dewa yang merupakan golongan penjahat dengan Cin-ling-pai, merupakan urusan pribadi kedua fihak yang sekarang oleh paduka dipertemukan di sini dan oleh kebijaksanaan paduka kedua fihak diperkenankan untuk menyelesaikan urusan dendam pribadi ini dengan mengadu kepandaian. Oleh karena itu, saya mengharap kebijaksanaan paduka agar paduka melarang pencampurtanganan dari fihak luar."
Raja Sabutai mengangkat tangannya dan menjawab.
"Pernyataanmu itu benar dan tepat, Bun-sicu. Nona Hong, harap kau suka mundur karena sekarang adalah urusan pribadi antara Bun-sicu dan dua orang dari Bayangan Dewa. Giliranmu belum tiba, nona."
In Hong cemberut dan merah mukanya, akan tetapi tidak berani membantah.
"Hong-moi, maafkan aku. Kaupercayalah, aku dapat mengatasi musuh-musuhku,"
Kata Bun Houw perlahan.
"Kau... kau... pakailah pedang ini..."
Bun Houw menggeleng kepala, tersenyum dan mengangkat pedang-pedangan kayu itu.
"Senjata ini sudah cukup ampuh."
In Hong membanting kaki kanannya.
"Kau... sombong! Kuharap kau kalah, baru aku akan membunuh mereka!"
Setelah berkata demikian, In Hong mundur dan duduk di tempatnya kembali, disambut oleh subonya dengan senyum.
"Jangan khawatir, muridku, kalau dia terancam bahaya, aku siap membantunya,"
Bisik gurunya.
"Jangan, subo. Biarkan dia kalah, si... kepala besar itu!"
Sementara itu, Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok sudah menghadap Raja Sabutai dan berkata.
"Paduka menyaksikan sendiri, betapa pemuda ini hendak menghadapi kami berdua dengan sendirian saja. Bukan kami berdua yang sengaja mengeroyok, Sri Baginda."
Raja Sabutai mengerutkan alisnya.
Tentu saja dia mengerti akan kelicikan orang pertama dari Lima Bayangan Dewa itu, maka dia bertanya kepada Bun Houw.
"Bun-sicu, benarkah kau hendak menghadapi keroyokan mereka berdua? Kalau kau keberatan, tentu saja boleh kau menghadapi mereka satu demi satu."
Bun Houw memberi hormat dan menjawab, suaranya lantang.
"Sri Baginda, ketika Lima Bayangan Dewa menyerbu Cin-ling-pai dan mencuri pedang pusaka, mereka menggunakan siasat licik, menanti ketika ketua Cin-ling-pai dan isterinya yang sakti tidak berada di Cin-ling-san. Mereka adalah pengecut-pengecut yang setelah melakukan perbuatannya itu, melarikan diri dan bersembunyi di sini, menggunakan nama dan pengaruh paduka untuk bersembunyi karena mereka takut akan pembalasan Cin-ling-pai. Mereka adalah pengecut-pengecut, akan tetapi Cin-ling-pai tidak pernah melahirkan seorang pengecut. Oleh karena itu, sebagai wakil Cin-ling-pai, tentu saja saya akan menghadapi mereka, apapun kehendak mereka. Jangankan baru mereka berdua, andaikata yang tiga lagi di antara mereka bangkit dari neraka dan ikut pula mengeroyok, saya tidak akan mundur, Sri Baginda!"
Raja Sabutai tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Engkau benar-benar seorang gagah dan pantas menjadi murid dan wakil sebuah perkumpulan yang besar, Bun-sicu."
Lalu Raja Sabutai memandang Pat-pi Lo-sian dan berkata.
"Nah, kalian sudah mendengar sendiri, majulah."
Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok menggerak-gerakkan kedua lengan tangannya dan terdengar bunyi suara berkerotokan seolah-olah semua tulang-tulang kedua lengannya bergerak-gerak.
Kemudian dia menggerakkan kepala dan kuncirnya yang panjang itu melibat leher, gagah sekali nampaknya.
Dengan gerakan perlahan tangan kanannya meraba punggung dan nampaklah sinar kemerahan berkelebat menyilaukan mata dan ternyata tangannya telah memegang sebatang pedang yang bentuknya seperti ular yang tahu-tahu telah berada di tangannya saking cepatnya dia mencabut pedang itu.
Liok-te Sin-mo Gu Lo It juga menggerakkan kedua lengannya, dengan jari-jari terbuka dan tampaklah uap mengepul di antara jari-jari tangannya.
Tokoh yang berjuluk Iblis Bumi ini memang terkenal memiliki tenaga besar sekali, dan senjata potongan-potongan baja merupakan senjata rahasia yang tersembunyi di ujung kedua lengan bajunya.
Kelihatannya saja dia tidak bersenjata, hanya menggunakan kedua tangannya yang kuat, akan tetapi sesungguhnya kedua ujung lengan bajunya itu mengandung potongan-potongan baja yang amat kuat dan yang menyambar secara tidak terduga dan karenaya amatlah berbahaya bagi fihak lawan.
Bun Houw bersikap tenang, namun dia sama sekali tidak memandang rendah kedua orang lawannya yang dia tahu merupakan orang-orang yang tangguh, terutama sekali orang pertama dari musuh-musuhnya ini.
Dia sudah mendenngar keterangan dari ayahnya tentang musuh-musuhnya, maka dia bersikap waspada dan bermaksud untuk mengukur lebih dulu sampai di mana tingkat kepandaian dua orang lawannya dengan jalan membiarkan mereka menyerang.
Dari cara mereka menyerangpun dia sudah akan dapat mengukur kepandaian dan tenaga mereka, dan mengetahui pula kelemahan-kelemahan mereka.
Pemuda ini hanya memasang kuda-kuda sederhana saja, dengan kedua kaki agak terpentang, dan tubuh miring sehingga menghadapi kedua orang lawan itu di kanan kirinya, bukan di depan belakang.
Tangan kirinya miring di depan dada seperti orang menyembah dengan sebelah tangan, lengan kanan diangkat ke atas dengan pedang-pedangan kayu menuding ke depan, tubuhnya tidak bergerak, dan hanya kedua matanya saja yang hidup, bergerek ke kanan kiri, dan melihat ujung jari-jari tangan kiri dan ujung pedang-pedangan kayu tergetar, kagumlah In Hong.
Kini gadis itu mulai mengerti bahwa pemuda itu sesungguhnya bukan orang sembarangan dan dia tahu pula bahwa seluruh urat syaraf pemuda itu dalam kewaspadaan, dan bahwa seluruh tubuh pemuda itu kini sedang dialiri oleh hawa tenaga sakti yang hebat!
Dia menjadi terharu dan mulai dia mencela kebutaannya sendiri karena dia mulai yakin bahwa Bun Houw adalah seorang pendekar muda yang sakti, yang hanya memiliki kepandaian sederhana saja.
"Hyaaaatttt...!"
Liok-te Sin-mo membentak.
"Heeeeiiiitttt...!"
Pat-pi Lo-sian juga memekik keras.
Keduanya sudah menerjang dengan cepat.
Kedua tangan Liok-te Sin-mo menyerang secara bertubi dan pedang ular itu mengimbangi serangan itu, menyambar-nyambar dari atas dan bawah dari lain jurusan.
"Wut-wut-wut, plak-plak-cringgg... tranggg...!"
Dengan gerakan yang amat sigap, terlalu cepat malah sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata, Bun Houw mengelak, menangkis pukulan-pukulan dengan tangan kiri dan menangkis pedang ular dengan kayu di tangannya, semua dilakukan dengan tepat, indah dan kuat.
Kini tubuhnya sudah diam lagi setelah dia berhasil menghalau serangan gelombang pertama dan kembali dia menghadapi dua orang lawan di kanan kirinya.
Dalam serangan gebrakan pertama itu saja, Phang Tui Lok dan Gu Lo It sudah menjadi terkejut bukan main.
Ternyata kayu itu berhasil menangkis pedang dan membuat pedang ular terpental dan tangan yang memegangnya tergetar hebat, sedangkan serangan ujung lengan baju yang mengandung baja itu ditangkis begitu saja oleh tangan kiri pemuda itu.
Tangan telanjang itu berani menangkis baja yang disembunyikan di dalam lengan baju, dan setiap tangkisan tadi membuat ujung lengan baju itu membalik keras!
In Hong terbelalak.
Kagum bukan main dia.
Biarpun baru segebrakan, akan tetapi sekarang Bun Houw agaknya baru memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya!
Tadi di waktu melawan Hok Hosiang, pemuda itu memang berpura-pura.
Baru sekarang, gerakannya tampak indah dan hebat bukan main, cepat dan tepat, kuat dan juga amat luar biasa!
Dan In Hong teringat akan gerakan tangan kiri Bun Houw yang mirip Thian-te Sin-ciang tadi.
Siapakah sebenarnya pemuda ini?
Dia menduga-duga dan hatinya makin kagum sungguhpun kekhawatiran masih belum meninggalkan hatinya ketika dia melihat dua orang kakek itu kini sudah menerjang lagi dengan dahsyatnya.
Bun Houw maklum bahwa dia berhadapan dengan dua orang kakek yang berkepandaian tinggi dan yang berkelahi dengan mati-matian, maka diapun tidak berani main-main lagi menghadapi musuh besar ini.
Dengan cepat dia menggerakkkan potongan gagang tombak itu di tangannya dan segera kedua orang lawannya terkejut bukan main dan berseru keras, Juga semua penonton menjadi bengong ketika melihat betapa cepatnya gerakan pemuda itu sehingga tubuhnya seolah-olah berobah menjadi delapan orang yang menghadapi dua orang pengeroyok itu dari delapan penjuru!
Gagang tombak dari kayu itu mengeluarkan suara mengaung dan berobah menjadi sinar kehijauan dan kini seolah-olah dua orang Bayangan Dewa itu bukan mengeroyok, bahkan mereka berdua merasa seperti dikeroyok banyak orang!
In Hong terbelalak.
Gerak kaki pemuda itu jelas mengandung unsur-unsur pokok dari Thian-te Sin-ciang!
Dia tidak tahu bahwa memang Bun Houw mainkan Ilmu Pedang Thian-te Sin-kiam ciptaan gurunya, Kok Beng Lama, akan tetapi karena tangannya memegang sebatang kayu, Ilmu Thian-te Sin-ciang ini hanya menjadi gerakan dasar saja, sedangkan kembangannya sudah dia campur dengan Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut dari ayahnya!
Ilmu pemuda itu memang amat tinggi, apalagi dia mainkan dua ilmu yang digabung menjadi satu, dua ilmu pedang yang merupakan ilmu simpanan dari Kok Bang Lama dan Cia Keng Hong.
Dua orang lawannya menjadi silau pandang matanya dan bingun.
Pat-pi Lo-sian dan Liok-te Sin-mo yang tadinya hendak mendesak dan menghujankan serangan, kini berbalik malah didesak hebat, dihimpit oleh serangan yang datang dari delapan penjuru, dan mereka berdua itu dengan muka pucat kini hanya mampu mengelak dan menangkis saja sambil mundur-mundur.
Bun Houw mempercepat gerakan "pedangnya"
Dan kini pemuda itu menambah serangannya dengan tamparan-tamparan tangan kiri, tamparan Thian-te Sin-ciang yang mengandung hawa mujijat sepenuhnya!
Melihat tamparan-tamparan ini, In Hong makin terbelalak dan dia kini tidak syak lagi bahwa pemuda itu jelas mempergunakan Thian-te Sin-ciang, ilmu mujijat yang pernah dia pelajari dari pendeta Lama ini, akan tetapi pemuda itu menggunakannya secara matang dan hebat sekali!
Dia makin terheran-heran dan menduga-duga.
Bagaimana murid Cin-ling-pai bisa memiliki kepandaian demikian hebat dan dapat memiliki limu pukulan pendeta Lama itu?
Pat-pi Lo-sian dan Liok-te Sin-mo makin terdesak dan kini keringat dingin membasahi leher dan muka mereka yang pucat, napas mereka mulai memburu dan setiap kali pedang ular bertemu dengan kayu, pedang itu terpental, demiktan pula ujung lengan baju Gu Lo It, selalu terpental begitu bertemu dengan pedang kayu atau dengan tangan kiri pemuda itu.
"Bersiaplah kalian untuk membuat perhitungan dengan para suheng Cap-it Ho-han di alam baka!"
Tiba-tiba Bun Houw berseru dan gerakannya menjadi makin cepat dan makin kuat.
Pat-pi Lo-sian mengeluarkon suara melengking panjang.
Dewa Tua Berlengan Delapan ini mengerahkan seluruh tenaganya, menubruk ke depan, pedang ularnya menusuk pusar, Tangan kirinya mencengkeram ke arah ubun-ubun dan kepalanya digerakkan sehingga kuncir rambutnya yang besar panjang itupun bergerak hidup seperti seekor ular, menyambar dan menotok ke arah kedua mata Bun Houw!
Hebat bukan main serangan dari orang pertama Lima Bayangan Dewa ini.
Akan tetapi berbeda dengan para penonton yang menahan napas memandang, Bon Houw bersikap tenang.
Tusukan pedang ular ke arah pusarnya itu dia hindarkan dengan gerakan tubuh yang dimiringkan karena perobahan kuda-kuda kaki sehingga pedang itu menyeleweng ke samping tubuhnya, kemudian dengan kecepatan kilat pedang kayunya membabat putus kuncir rambut mengancam matanya dan sebelum Phang Tui Lok sempat menarik kembali tangan kirinya, Bun Houw sudah menangkap pergelang tangan itu dengan tangan kirinya.
"Aughhhhh...!"
Pat-pi Lo-sian berteriak keras karena dari telapak tangan lawan yang mencengkeram lengannya itu keluar hawa panas yang menjalar dari lengan ke dadanya, seperti membakar tubuhnya.
Rasa nyeri dan kemarahan membuat dia nekat dan pedangnya yang mengenai tempat kosong itu sudah ditarik dan ditusukkan kembali ke perut Bun Houw!
Dan pada saat yang hampir bersamaan, Gu Lo It juga sudah menubruk dari belakang pemuda itu, menghantamkan kedua tangannya didahului oleh dua ujung lengan baju yang menyambar ke arah punggung Bun Houw.
"Trakkk! Krekkkk... aaaiiihhhhh...!"
Pedang ular terlepas dari tangan Pat-pi Lo-sian karena didahului oleh pedang kayu yang menotok pergelangan tangan kanan dan lengan kiri Phang Tui Lok itu remuk tulang-tulangnya ketika Bun Houw menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk mencengkeram.
"Buk! Bukk!"
Pukulan Gu Lo It dari belakang sengaja diterima oleh Bun Houw setelah dia melindungi punggungnya dengan sin-kangnya yang amat kuat.
Kemudian dia membalik cepat sambil mengangkat tubuh Phang Tui Lok, dilemparkan ke arah Gu Lo It dengan amat kuatnya.
"Brressss...!"
Tubuh Phang Tui Lok yang lengan kirinya sudah patah-patah itu menimpa tubuh Gu Lo It sehingga keduanya jatuh tunggang langgang dan sebelum mereka sempat sadar dari keadaan nanar dan dapat bangkit kembali, Nampak sinar hijau berkelebat dua kali dan terdengarlah pekik-pekik mengerikan dan dua orang Bayangan Dewa yang amat terkenal setelah mereka mengacau Cin-ling-pai itu tewas seketika.
Hanya ada sedikit darah mengucur keluar dari tengkuk mereka yang ditusuk oleh pedang-pedangan kayu di tangan Bun Houw.
Sejenak suasana menjadi sunyi sekali, seolah-olah semua orang masih termangu-mangu, heran dan terkejut menyaksikan kesudahan pertandingan yang tak tersangka-sangka itu, akan tetapi begitu Raja Sabutai bertepuk tangan memuji, terdengarlah sorak-sorai dan tepuk tangan yang meriah dan di antara mereka yang bertepuk tangan, juga tidak ketinggalan In Hong yang menjadi gembira dan lega bukan main!
Di antara suara sorak-sorak itu, terdengar Yo Bi Kiok berbisik kepada muridnya.
"Kekasihmu itu bisa menjadi orang yang amat berbahaya, muridku. Kau harus dapat menundukkan dia, kalau tidak bisa berbahaya..."
Dan Pek-hiat Mo-ko juga berbisik kepada Raja Sabutai.
"Pemuda itu mencurigakan, Sri Baginda. Dia bukan orang sembarangan, bukan murid sembarangan..."
Akan tetapi Bun Houw tidak memperdulikan sorak-sorai pujian itu.
Dia membiarkan para pengawal menyeret pergi dua mayat musuh-musuhnya itu lalu dia melangkah ke dekat Raja Sabutai, menjura dengan hormat dan berkata.
"Terima kasih atas kemurahan paduka yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk berhadapan dengan musuh-musuh saya. Setelah mereka semua tewas, saya mohon kembalinya pedang pusaka perkumpulan kami dan mohon perkenan untuk keluar dari tempat ini."
"Bocah she Bun, nanti dulu!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan nampak bayangan berkelebat cepat.
Yo Bi Kiok sudah berdiri di tengah ruangan itu dengan sikap menantang!
"Bayangan Dewa memang sudah kalah terhadap engkau, akan tetapi di sini masih ada ketua Giok-hong-pang yang juga ingin memperebutkan Siang-bhok-kiam!
Memang pibu ini diadakan untuk mengukur siapa yang paling pandai, siapa yang paling tinggi kepandaiannya dan yang paling pandai berhak memiliki Siang-bhok-kiam!
Bukankah begitu, Sri Baginda?"
Raja Sabutai tersenyum.
Tentu saja raja ini tidak memperdulikan urusan pribadi orang lain dan dia hanya ingin melihat orang-orang pandai mengadu ilmu.
Bagi raja ini, siapapun yang akan memiliki pedang kayu itu tidak ada bedanya.
"Siapapun yang mempunyai urusan pribadi hendak diselesaikan melalui pibu, boleh diselesaikan sekarang di sini,"
Jawabnya mengangguk.
Bun Houw memutar tubuhnya, perlahan-lahan dan kini dia memandang kepada Yo Bi Kiok dengan sinar mata tajam penuh selidik, bahkan mukanya mulai berobah merah karena dia teringat akan ucapan Phang Tui Lok tadi tentang perbuatan Yo Bi Kiok ini.
Menurut pengakuan Phang Tui Lok tadi, Bayangan Dewa itu berhasil membunuh empat murid utama dari Cin-ling-pai, sudah tentu Kwee Kin Ta, Kwee Kin Ci, Louw Bu dan Un Siong Tek, dan juga membunuh besan ayahnya yang tentu adalah Hong Khi Hoatsu di Sin-yang atas bantuan Yo-Pangcu ini.
Bahkan katanya wanita ini telah menculik Lie Seng, keponakannya, putera dari encinya!
Baru sekarang dia mendengar akan hal itu dan belum sempat menyelidikinya, akan tetapi sekarang wanita iblis ini malah mencari gara-gara hendak merampias Siang-bhok-kiam!
"Subo...
Bun-ko...
jangan...!"
Terdengar suara In Hong khawatir.
Akan tethpi Bun Houw tidak perduli, dan kini dia sudah melangkah perlahan menghampiri Yo Bi Kiok yang berdiri di tengah ruangan, menantinya sambil tersenyum.
Bahkan kini hati Bun Houw menjadi makin panas dan marah mengingat bahwa wanita iblis ini adalah guru dari gadis yang telah merampas hatinya!
Gadis yang ternyata juga amat kejam, dan agaknya kekejaman itu diwarisi dari gurunya ini!
Maka marahlah dia kepada Yo Bi Kiok.
Kini mereka sudah berhadapan dan sejenak keduanya saling pandang, Bun Houw marah dan Yo Bi Kiok tersenyum mengejek.
"Orang muda she Bun."
Yo Bi Kik berkata.
"Demi persahabatanmu dengan muridku, lebih baik kau menyerahkan Siang-bhok-kiam kepadaku, dengan demikian tidak ada perlunya lagi bagi kita untuk saling bertanding."
Akan tetapi pada saat itu pikiran Bun Houw sama sekali tidak mengingat Siang-bhok-kiam, melainkan urusan lain lagi.
"Yo-Pangcu, Siang-bhok-kiam adalah pusaka Cin-ling-pai dan siapapun juga tidak boleh mengambilnya. Akan tetapi, sekarang aku hendak menuntut Pangcu tentang urusan di Sin-yang!"
Berkerut alis mata yang panjang melengkung itu dan dagu yang runcing manis itu diangkat.
"Hemm, bocah she Bun, ada apa kau tanya-tanya soal itu?"
"Yo-Pangcu! Urusan ini bahkan lebih penting lagi! Aku mendengar tadi bahwa engkau telah menculik Lie Seng, benarkah itu?"
"Bocah she Bun, tidak perlu kau lancang hendak mencampuri urusan orang lain! Aku hendak menyimpan Siang-bhok-kiam hanya untuk melindungimu, mengerti? Sebagai sahabat baik muridku, engkau tak perlu membahayakan diri, engkau harus menjadi seorang... kekasih yang baik, jangan menjadi seorang laki-laki yang berhati palsu. Hati-hati engkau kalau sampai engkau menyakiti hati muridku. Gadis dusun itu menjadi contohnya, dan kalau engkau yang tidak setia, engkaulah yang akan kubunuh. Nah, mundurlah dan hiburlah hati In Hong, biarkan aku yang menghadapi mereka itu. Tak tahukah engkau bahwa mereka berdua itu agaknya tidak akan mengembalikan Siang-bhok-kiam begitu saja?"
Bun Houw terkejut bukan main.
Di dalam ucapan wanita itu tadi tersangkut banyak sekali persoalan!
Pertama, urusan cinta yang belum diketehui siapapun juga, cinta yang terkandung di dalam hatinya tarhadap In Hong, agaknya telah diketahui oleh wanita ini dan dibicarakan di depan umum begitu saja!
Kedua, wanita ini mengaku bahwa dia yang membunuh gadis dusun she Ma itu!
Lapanglah hati Bun Houw.
Jadi bukan nona Hong yang membunuh, melainkan wanita iblis ini.
Dan ketiga, baru dia tahu bahwa dua orang kakek dan nenak itu, yang tadi menyimpan Siang-bhok-kiam, guru-guru dari Raja Sabutai, juga menginginkan padang pusaka itu!
"Yo-Pangcu, semua urusan itu boleh kukesampingkan, karena yang penting sekarang adalah persoalan yang kau lakukan di Sin-yang!
Benarkah engkau menculik Lie Seng, cucu ketua Cin-ling-pai?"
"Kalau benar, engkau mau apa?"
Yo Bi Kiok bertanya dengan nada mengejek karena hatinya menjadi jengkel sekali.
Dia teringat akan Lie Seng, bocah yang telah menghinanya secara menggemaskan sekali, yang telah menghajarnya babak belur, dan dia tidak mampu berbuat apa-apa karena anak itu dibantu oleh pendeta Lama yang amat sakti.
Akan tetapi akhirnya dapat juga dia membalas menyerang anak itu dengan Siang-tok-swa dan agaknya bocah itu sekarang sudah mampus!
"Bagus!
Yo-Pangcu, kalau begitu aku menantangmu untuk mengadu nyawa di sini!"
Bun Houw membentak marah.
"Bun-ko...!"
In Hong berseru kaget dan tubuh dara ini sudah melayang ke tengah ruangan itu, menghadang antara Bun Houw dan gurunya.
"Bun-ko, engkau tidak boleh melawan subo!"
"Hong-moi, aku telah bersalah kepadamu. Engkau tidak berdosa, akan tetapi gurumu itu... dia iblis betina keji yang harus kubasmi. Minggirlah, Hong-moi!"
"Tidak! Engkau tidak boleh melawan Subo..."
"Hong-moi!"
Bun Houw membentak.
"Kalau engkau berkeras, terpaksa aku yang mewakili subo menghadapimu, Bun-ko."
"Hong-moi...!"
Bun Houw terkejut, meragu dan bingung. Pada saat itu, tedengar seruan.
"Tahan...!"
Semua orang terkejut melihat berkelebatnya bayangan orang yang mencelat melalui atas kepala para penjaga, cepat sekali gerakannya seperti burung terbang dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang laki-laki sederhana, berusia tiga puluh tujuh tahun, mukanya kurus sekali dan agak pucat sehingga nampak sepasang matanya yang tajam memenuhi wajah kurus yang masih membayangkan sisa ketampanan itu.
"Sute, mundurlah, biar aku yang menghadapinya!"
Kata pria itu kepada Bun Houw.
"Suheng...!"
Bun Houw berseru ragu-ragu dan alisnya berkerut.
Hati Bun Houw masih penasaran bertemu dengan Yap Kuh Liong ini, yang mengingatkan dia akan peristiwa hebat yang menimpa keluarga encinya.
In Hong juga terkejut melihat kakak kandungnya, akan tetapi kesempatan itu dipergunakannya untuk mundur dengan hati lega karena diapun melihat Bun Houw mundur dengan muka berobah.
In Hong makin terheran-heran mendengar kakak kandungnya menyebut sute kepada Bun Houw.
Sementara itu, begitu melihat pria ini, wajah Yo Bi Kiok berobah, sebentar pucat sebentar merah, mukanya kadang-kadang seperti orang hendak menangis kadang-kadang seperti orang bergembira.
Aneh sekali sikap wanita cantik ini.
Orang itu memang Yap Kun Liong.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, pendekar ini bertemu dengan Cia Keng Hong, mendengar bahwa adik kandungnya, Yap In Hong, berada di benteng musuh dan bahwa sutenya, Cia Bun Houw, sedang menyusul untuk melindungi In Hong, maka diapun lalu menyusul.
Ketika dia menyelidiki, dia mendengar bahwa di dalam benteng sedang ramai diadakan pibu antara orang-orang yang berkepandaian tinggi, dan bahwa yang mengadakan pibu itu adalah Raja Sabutai sendiri.
Mendengar ini dia lalu mencari jalan masuk dan akhirnya, berkat kepandaiannya yang tinggi, dia berhasil pula masuk dan tiba di tempat itu tepat pada saat Bun Houw mendesak Yo Bi Kiok untuk mengaku tentang Lie Sang.
Mendengar bahwa Lie Seng yang kabarnya terculik itu ternyata diculik oleh Yo Bi Kiok, Kun Liong menjadi kaget dan marah sekali maka tak tertahankan lagi dia berseru dan meloncat ke tengah ruangan dengan hati penuh kemarahan.
Akan tetapi, pendekar ini masih ingat bahwa dia berada di dalam benteng Raja Sabutai yang telah mundur dan menyerang kota raja, maka dia lalu memberi hormat kepada raja itu, berkata.
"Harap Sri Baginda mengampunkan kelancangan saya yang datang tanpa diundang."
Raja Sabutai mengerutkan alisnya.
Tadi, para pengawal sudah menggerakkan senjata dan memandang kepadanya menanti perintah, juga kedua orang gurunya sudah siap bendak menerjang, hanya menanti isyaratnya, akan tetapi dia memberi isyarat kepada mereka semua agar jangan turun tangan.
Andaikata tidak ada sebutan sute dan suheng antara pendatang baru ini dan Bun Houw, tentu dia telah memberi isyarat untuk menanqkap penyelundup itu.
Akan tetapi, ketika melihat bahwa pendatang baru ini adalah suheng dari Bun Houw yang demikian lihai, hatinya tertarik.
Akan tetapi kini mendengar ucapan Yap Kuli Liong, Raja Sabutai dengan alis berkerut dan suara marah membentak.
"Siapakah engkau?"
"Sri Baginda, dia adalah kakak kandung saya!"
Tiba-tiba In Hong berkata.
Kun Liong memutar tubuhnya memandang In Hong dengan wajah berseri.
Tidak ada kata-kata yang lebih merdu, lebih menggembirakan daripada suara dara itu yang kini di depan orang banyak mengakui dia sebagai kakak kandungnya.
"Adikku...!"
Dia berbisik dengan hati terharu, akan tetapi In Hong hanya memandang kepadanya dengan mata terbelalak, karena gadis ini mengakui kakaknya hanya untuk meredakan kemarahan Raja Sabutai.
Dan memang tepatlah dugaannya.
Mendengar seruan gadis yang pernah amat dipercayanya, yang menjadi pengawal, pelindung dan juga sahabat isterinya, berkuranglah kemarahan dalam hati Raja Sabutai atas kelancangan Kun Liong.
"Apa keperluanmu datang ke sini tanpa diundang?"
Raja Sabutai bertanya lagi.
"Saya bernama Yap Kun Liong dan kedatangan saya secara lancang ini adalah karena saya mendengar bahwa adik kandung saya, Yap In Hong dan sute Cia Bun Houw berada di sini..."
"Ouhhh...!"
Yang menjerit ini adalah In Hong.
Dan gadis itu kini berdiri dengan mata terbelalak memandang kepada Bun Houw yang juga sedang memandang kepadanya dengan bengong.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati In Hong ketika mendengar bahwa pemuda yang selama ini disangkanya orang she Bun, yang baru saja dengan kepandaiannya yang hebat membuat dia terheran-heran, ternyata adalah Cia Bun Houw putera ketua Cin-ling-pai atau...
tunangannya sendiri yang dia batalkan!
Cia Bun Houw!
Kekasih Yalima!
Tak terasa lagi matanya menjadi panas dan cepat-cepat dia mengusap air mata yang belum keluar itu.
Cia Bun Houw!
Mengapa dia begitu bodoh?
Begitu buta?
Orang yang mati-matian membela Cin-ling-pai, orang muda yang begitu lihai, tentu saja Cia Bun Houw!
Di lain fihak, Bun Houw juga bengong terlongong.
Kiranya gadis yang mengagumkan hatinya, yang menjatuhkan hatinya, ternyata adalah adik Yap Kun Liong sendiri!
"Kedatangan saya ini sama sekali bukan hendak mengacaukan benteng paduka Sri Baginda.
Melainkan karena urusan pribadi.
Setelah mendengar bahwa mereka berdua berada di sini, saya menyusul dan tadi hanya mendengar tentang pengakuan wanita bernama Yo Bi Kiok atau Yo-Pangcu, ketua Giok-hong-pang ini.
Maka saya hendak menyelesaikan urusan pribadi saya dengan dia, jika paduka memperkenankan."
Melihat sikap gagah dan kata-kata yang lancar dan hormat itu, Raja Sabutai tahu bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang yang berkepandaian tinggi, maka dia menjadi gembira sekali.
Akan lebih ramai sekarang!
Maka dia mengangguk.
"Baik, silakan."
Yap Kun Liong kini menghampiri Yo Bi Kiok, alisnya berkerut dan pandang matanya penuh selidik, penuh penyesalan.
"Yo Bi Kiok, sungguh menyesal bahwa kita sekarang saling berhadapan dalam keadaan seperti ini! Sekarang harap engkau suka berterus terang apa saja yang telah kaulakukan di Sin-yang, dan ke mana kau membawa Lie Seng putera dari Cia Giok Keng itu."
Yo Bi Kiok sejenak memandang wajah pria yang sejak dahulu dipuja dan dicintanya itu, memandang mesra, kemudian dia tersenyum.
"Kun Liong, kenapa engkau mencampuri urusan ini? Apa perdulimu tentang urusanku dengan keluarga Cin-ling-pai?"
"Benar! Engkau tidak berhak, Yap-suheng. Mundurlah dan aku yang akan menyelesaikan perhitungan ini dengan Yo-Pangcu!"
"Kalau engkau melawan subo, terpaksa aku akan maju menghadapimu... Bun-ko!"
"Ahhh... tapi kau... kau adik Yap-suheng dan dia itu..."
Bun Houw bingung.
"Sute, biarkan aku yang menghadapinya. Ini adalah urusan pribadiku. Aku telah bersumpah kepada encimu untuk mencari Lie Seng sampai dapat. Kalau benar dia yang menculik Lie Seng, maka akulah yang akan menghadapinya."
Kun Liong berkata kepada Bun Houw, kemudian dia mendesak.
"Bi Kiok, katakanlah, mengapa engkau menculik Lie Seng dan di mana dia sekarang?"
"Kun Liong, engkau terlalu, selalu kau hendak membikin marah aku. Kalau aku tidak menjawab pertanyaanmu, bagaimana?"
"Aku akan memaksamu."
"Kun Liong... ah, Kun Liong, mengapa kita berdua seperti ini? Berhadapan sebagai musuh? Kun Liong, marilah kita pergi dari sini, meninggalkan semua ini, meninggalkan dunia yang menjemukan ini, mari kita hidup bersama, jauh dari segala pertikaian dan segala urusan... marilah dan aku akan menceritakan segala-galanya kepadamu."
Kun Liong mengerutkan alisnya, pandang matanya menusuk.
"Tidak perlu banyak membujuk lagi, Yo Bi Kiok. Katakan, apa yang kaulakukan terhadap Lie Seng?"
Tiba-tiba wanita itu meloncat dengan marah, matanya berkilat dan mukanya merah.
"Kau lebih memberatkan anak Cia Giok Keng itu daripada aku? Keparat Yap Kun Liong. Sekali lagi kau mau pergi bersamaku atau hendak memusuhi aku?"
"Kalau kau tidak mengaku, terpaksa aku menggunakan kekerasan."
"Singgg...!"
Yo Bi Kiok sudah mencabut pedang Lui-kong-kiam.
"Kalau begitu, aku ingin melihat engkau mampus di tanganku!"
Wanita itu mengeluarkan suara melengking tinggi dan dia sudah menyerang dengan hebatnya, melakukan tusukan kilat ke arah dada Yap Kun Liong.
Pendekar ini cepat mengelak, akan tetapi baru saja dia mengelak, pedang Lui-kong-kiam sudah menyambar lagi ke arah lehernya.
"Plakk!"
Dengan kecepatan mengagumkan, tangan Kun Liong berhasil menampar lengen kanan Bi Kiok sehingga sambaran pedang menyeleweng.
Namun hal ini membuat Bi Kiok makin marah dan makin hebatlah serangannya yang datang seperti hujan.
Dalam waktu singkat saja tubuh Kun Liong sudah digulung oleh sinar pedang.
Pendekar ini hanya mengelak ke sana-sini karena dia tidak menggunakan senjata, dan sesungguhnya di dalam hatinya, Yap Kun Liong merasa kasihan kepada Bi Kiok yang sampai saat itu masih tergila-gila dalam cintanya kepadanya, cinta yang tak mungkin dapat dibalasnya.
Bun Houw dan In Hong menonton dengan jantung berdebar.
Terlalu banyak peristiwa terjadi dalam waktu singkat, terlalu banyak rahasia yang mengejutkan tersingkap sehingga mereka masih merasa terguncang dan menjadi tegang.
Biarpun tadinya dia marah kepada Yap Kun Liong, karena antara pendekar itu dan keluarga encinya terjadi hal yang amat hebat, akan tetapi melihat kini Kun Liong bertanding mati-matian membela keponakannya, yaitu Lie Seng yang terculik oleh ketua Giok-hong-pang, tentu saja hatinya berfihak kepada Yap Kun Liong.
Maka, melihat pendekar itu menghadapi ketua Giok-hong-pang dengan tangan kosong padahal permainan pedang wanita itu lihai bukan main, hatinya menjadi gelisah sekali.
Melihat gerakan Yap Kun Liong yang demikian murni, cepat dan tepat, diam-diam dia kagum sekali dan tahulah dia mengapa ayahnya amat memuji-muji suhengnya ini.
Gerakan suhengnya sudah demikian matangnya sehingga sukarlah untuk melihat sedikitpun kesalahan, perhitungannya demikian tepat sehingga semua serangan pedang yang demikian berbahayanya itu dapat dihindarkan dengan baik.
Semua orang, termasuk kakek dan nenek guru Raja Sabutai, memandang dengan bengong karena yang disuguhkan oleh dua orang yang sedang bertanding itu adalah betul-betul ilmu yang amat tinggi tingkatnya.
Para penonton yang tidak memiliki kepandaian tinggi menjadi silau matanya dan tidak dapat mengikuti gerakan dua orang itu, hanya melihat betapa mereka itu kadang-kadang lenyap dan kadang-kadang bergerak dengan lambat sekali seperti orang main-main saja!
Yang paling gelisah dan bingung adalah In Hong!
Dia sudah dibingungkan oleh kenyataan bahwa Bun Houw adalah Cia Bun Houw putera ketua Cin-ling-pai yang tadinya ditunangkan dengan dia dan ditolaknya, Cia Bun Houw kekasih Yalima dan sekarang dia menghadapi pertandingan antara kakak kandungnya dan gurunya!
Sekarang, setelah merantau selama satu tahun meninggalkan gurunya, terjadi perobahan besar dalam batin gadis ini.
Sekarang dia dapat melihat betapa kejam dan anehnya watak gurunya, dan sekarang baru dia dapat melihat betapa kakak kandungnya telah mengalami perhtiwa yang amat hebat!
Kakaknya itu kematian isterinya dan kakaknya itu menolak cinta gurunya karena memang sudah sepatutnya demikian.
Kakaknya sudah beristeri, dan sebagai seorang laki-laki yang jantan tentu saja menolak cinta kasih wanita lain.
Baru sekarang tampak olehnya bahwa dalam urusan kakaknya dan gurunya, sesungguhnya gurunya yang tidak tahu malu, mencinta suami orang lain.
Betapapun juga, hatinya tetap merasa berat kepada gurunya, maka melihat pertandingan itu, dia gelisah bukan main.
Dia tahu betapa lihai gurunya, apalagi memegang Lui-kong-kiam yang ampuh, sedangkan kakaknya bertangan kosong.
Ini tidak adil, pikirnya.
Dia boleh tidak berfihak manapun, akan tetapi pertandingan itu harus dilakukan dengan adil.
Barulah menang atau kalah merupakan suatu kehormatan.
Dan pedang ini...
pedang Hong-cu-kiam, adalah pedang putera Cin-ling-pai...
pedang...
tunangannya yang sudah mencinta orang lain, mencinta Yalima...!
Tiba-tiba hatinya terasa panas sekali dan dia cepat melolos pedang Hong-cu-kiam, melontarkan pedang itu kepada Kun Liong sambil berkata.
"Koko, pakailah ini, baru adil!"
Sebetulnya Kun Liong tidak mau menggunakan senjata.
Dia tahu bahwa kepandaian wanita ini amat tinggi dan aneh, akan tetapi karena Yo Bi Kiok melatih ilmu silat tinggi yang murni dan sukar itu tanpa petunjuk, limu silat peninggalan Panglima The Hoo yang amat tinggi dan murni, maka dia melihat kelemahan-kelemahannya.
Dengan mengandalkan Thi-khi-i-beng sehingga kalau perlu dia boleh menggunakannya agar tidak sampai terluka, dan dengan kematangan ilmu silatnya yang telah digemblengnya dengan dasar ilmu mujijat dari kitab Keng-lun Tai-pun dari Bun Ong, maka dia percaya bahwa dia akhirnya akan dapat mengalahkan Yo Bi Kiok tanpa membunuhnya.
Dia hanya ingin memaksa wanita itu mengembalikan Lie Seng dalam keadaan selamat dan dia tidak tega untuk membunuh wanita yang sebetulnya amat mencintanya itu.
Akan tetapi, mendengar seruan adik kandungnya yang melemparkan sebatang pedang, hatinya girang bukan main, bukan girang karena memperoleh pedang, melainkan girang karena melihat perobahan pada adiknya.
Dahulu, di waktu pertama kali dia bertanding melawan Yo Bi Kiok, Adiknya itu malah membantu wanita yang menjadi gurunya ini.
Akan tetapi sekarang, adiknya membantunya dengan meminjamkan pedang.
Kegirangan melihat adiknya benar-benar berobah, bahkan telah menyelamatkan Kaisar dan kini membantunya, membuat Kun Liong menyambar pedang Hong-cu-kiam dan begitu dia memutar pedang itu, dia terkejut karena yang dimainkarmya itu adalah sebatang pedang yang luar biasa ampuhnya!
Dia tidak tahu bahwa itu adalah pedang kepunyaan Cia Bun Houw, pemberian dari Kok Beng Lama.
Terdengar suara mengaung-aung, seperti ada ribuan lebah beterbangan dan baik Bun Houw maupun In Hong memandang kagum sekali.
Pedang Hong-cu-kiam itu setelah dimainkan oleh tangan pendekar sakti ini seolah-olah menjadi hidup dan menjadi ribuan lebah yang berbunyi sambung-menyambung.
Juga gulungan sinar emas dari pedang itu amat lebar dan panjang, kilatan yang mencuat dan menyambar-nyambar amatlah banyaknya sehingga selain nampaknya amat indah, juga amat berbahaya sehingga Yo Bi Kiok sendiri sampai beberapa kali menjerit kaget!
Tidak disangka sama sekali, bantuan In Hong dan kegembiraan Kun Liong yang membuat permainan pedangnya makin hebat itu dan membuat Yo Bi Kiok seketika terdesak secara berat, membuat wenita ini menjadi marah bukan main.
Marah kepada muridnya, kepada In Hong!
Memang, watak Bi Kiok amatlah aneh dan keji, juga ganas.
Dia tidak marah kepada Kun Liong atau orang lain, sebaliknya malah marah kepada muridnya yang tidak membantunya malah membantu Kun Liong dengan memberikan pedangnya.
"Murid durhaka...!"
Tiba-tiba dia menjerit dan sekali meloncat, dia telah meninggalkan Kun Liong dan menyerang muridnya!
"Ihhh...!"
In Hong cepat melempar tubuh ke belakang untuk menghindar ketika sinar pedang menyerangnya secara hebat.
Serangan itu luput akan tetapi Bi Kiok menyusulkan serangan lain yang lebih berbahaya.
"Subo...!"
In Hong kembali mengelak dan nyaris lambungnya keserempet pedang.
"Bi Kiok, gilakah engkau?"
Kun Liong juga meloncat dan menggerakkan pedangnya.
"Cringg... cringg... tranggg!"
Tiga kali pedangnya menangkis bacokan-bacokan pedang Bi Kiok yang ditujukan kepada In Hong.
Akan tetapi Bi Kiok sudah seperti gila, dia terus menyerang tanpa memperdulikan dirinya sendiri.
"Singgg... Wuuuttt! Murid durhaka!"
Kembali pedang Lui-kong-kiam membabat ke arah In Hong yang meloncat mundur.
"Bukk... aihhhh!"
In Hong yang kurang cepat mengelak itu kena ditendang kaki kiri gurunya dan dia terguling.
Sesungguhnya tidak akan semudah itu Yo Bi Kiok dapat menendang muridnya sampai terguling kalau saja In Hong berada dalam keadaan biasa.
Namun gadis itu memang sedang tertekan hebat batinnya.
Hanya dengan hati berat dan sakit dia terpaksa melemparkan pedangnya kepada kakak kandungnya tadi, dan dia menonton dengan wajah pucat, kedua kaki gemetar dan jantung berdebar penuh ketegangan, merasa seolah-olah dia sendiri yang menyerang gurunya, orang yang sejak kecil memelihara, mendidik, dan menyayangnya.
Karena keadaan seperti itulah maka ketika diserang secera hebat oleh gurunya In Hong hanya dapat menghindarkan pedang, tidak menyangkanya akan ditendang oleh gurunya sampai terguling.
Dan cepat bagaikan kilat, Yo Bi Kiok sudah menubruk dan menusukkan pedangnya ke arah tubuh muridnya!
"Bi Kiok, terlalu engkau!"
Kun Liong sudah membentak marah sekali, gerakannya lebih cepat sedetik daripada gerakan pedang Yo Bi Kiok yang menusuk In Hong.
"Cringggg... ceppp!"
"Aihhhhhhh...!?"
Tubuh ketua Giok-hong-pang itu terguling dan pedang Lui-kong-kiam terlepas dari pegangannya.
Dia jatuh miring dan menggunakan tangan kiri mendekap lambungnya yang mengucurkan darah dari luka bekas tusukan pedang Hong-cu-kiam tadi.
"Bi Kiok...!"
Yap Kun Liong terbelalak dan cepat dia berlutut dekat tubuh wanita itu.
"Bi Kiok, kau... ampunkan aku...!"
Pendekar ini merasa menyesal bukan main karena tadi dia terpaksa menyerang wanita itu untuk menyelamatkan nyawa adiknya.
Kalau tidak terpaksa seperti keadaan tadi, bagaimanapun juga tentu dia akan mengalah dan tidak akan tega melukai apalagi membunuh wanita yang dia tahu hidup sengsara karena cintanya kepadanya tidak dibalasnya itu.
Yo Bi Kiok tersenyum, mengeluh dan darah masih menetes-netes dari celah-celah jari tangannya, membasahi bajunya.
"Kun Liong... aku cinta padamu... uuh, Kun Liong..."
Wanita itu mengulur tangan kanannya dan Kun Liong menangkap tangan itu, menekapkan tangan itu ke dadanya.
"Ampunkan aku, Bi Kiok..."
Tiba-tiba wanita itu tertawa.
"Hi-hi-hik, heh-heh, aku... tidak menyesal, Kun Liong. Aku tewas di tanganmu, sungguh menyenangkan sekali."
"Maafkan aku, ampunkan aku..."
"Heh-heh, kau minta maaf? Minta ampun? Ha-ha, Yap Kun Liong... aku... aku tidak pernah minta ampun kepadamu... ahhhh... sungguhpun... aku telah menusukkan pedang itu ke dada isterimu... ah, puas hatiku! Aku membunuhnya, Kun Liong... heh-heh, kau terkejut...? Aku aku membunuh Hong Ing yang telah merampas engkau dariku... ha-ha-ha, dan bocah itu... siapa namanya? Lie Seng... ha-ha, (Lanjut ke
Jilid 32) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 32 putera Giok Keng itu... aku telah membunuhnya dengan Siang-tok-swa...!"
"Bi Kiok!"
Kun Liong yang tadi melepaskan tangan itu dan terbelalak memandang dengan muka pucat, kini berseru keras, seruan yang penuh dengan kejijikan dan penyesalan mengapa wanita yang ketika masih gadis merupakan seorang yang manis dan gagah itu kini berobah menjadi iblis yang demikian kejamnya.
"Kau... kau kejam sekali!"
"Heh-heh-heh... aku... kejam...? Bukan aku, melainkan engkau yang kejam, Kun Liong... oughhhh... kalau tidak karena kekejamanmu kepadaku... aku tidak... tidak akan... ahhh, Kun Liong... aku tidak kuat lagi, aku... aku mati dan... kau harus ikut bersamaku!"
"Suheng...!"
"Koko, awas...!"
Bagaikan seekor burung cepatnya, tubuh Kun Liong mencelat ke atas, berjungkir balik sampai lima kali, akan tetapi karena jaraknya yang amat dekat dan karena tangan kiri yang berlumuran darah itu tadi tak tersangka-sangka telah menggenggam pasir beracun, maka betapapun cepat Kun Liong mengelak, tetap saja ada sebagian pasir harum beracun yang menembus kulit dadanya.
Tubuh pendekar ini jatuh lagi menimpa mayat Yo Bi Kiok yang mati dengan mata terbelalak.
Pendekar itu terkulai dan pingsan!
"Yap-suheng...!"
Bun Houw menubruk ke depan dan hendak memeriksa dada suhengnya, akan tetapi In Hong sudah berlutut dan berkata kepadanya.
"Minggirlah, biarkan aku menolong kakakku!"
Suara dara itu kaku dan keras, tanda bahwa dia marah kepada Bun Houw.
Bun Houw maklum bahwa gadis ini tentu saja lebih ahli untuk menolong luka yang terkena Siang-tok-swa, maka dia bangkit berdiri dan melangkah mundur, hanya menonton ketika jari-jari tangan yang mungil dan kuat itu merobek baju di dada Kun Liong, kemudian memeriksa dada kanan yang penuh dengan bintik-bintik hijau bekas terkena Siang-tok-swa itu.
"Lekas kau carikan tempat memasak obat, dan masak obat ini!"
Tanpa menoleh dan dengan sikap seolah-olah seorang nyonya majikan memerintah jongosnya, In Hong menyerahkan sebungkus obat kepada Bun Houw.
Pemuda itu cepat menerimanya dan dengan petunjuk seorang pengawal dia lari ke dapur dan memasak obat itu dengan air dua mangkok.
Sementara itu, In Hong menggunakan obat bubuk lain lagi untuk dicampur air dan diborehkan ke dada yang terluka.
Kemudian dia menotok beberapa jalan darah di dada dan pundak kakaknya, dan menempelkan telapak tangannya pada tempat yang terluka, lalu mengerahkan tenaga saktinya menyedot.
Tak lama kemudian, beberapa butir pasir halus sekali telah menempel di telapak tangannya dan cepat disimpannya pasir-pasir berbahaya itu.
Ketika Bun Houw datang membawa obat, dengan bantuan pemuda itu In Hong lalu meminumkan obat itu kepada Kun Liong yang sudah mulai sadar.
"Uhhhh...!"
Begitu sadar Kun Liong lalu meloncat ke atas akan tetapi dia terhuyung.
"Koko, engkau belum boleh banyak bergerak."
In Hong berkata.
Kun Liong memejamkan mata sejenak, tubuhnya yang berdiri tegak itu agak bergoyang, kemudian dia membuka mata memandang ke sekelilingnya, lalu kepada mayat Yo Bi Kiok.
Dia menghampiri mayat itu, dengan jari tangannya dia menutupkan kelopak mata dan mulut mayat itu, baru kemudian dia duduk bersila di atas lantai, mengerahkan sin-kang mengusir sisa racun dan mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan tenaganya.
"Hebat...!"
Tiba-tiba terdengar Raja Sabutai berkata, memecah kesunyian yang tadi mencekam keadaan di situ semenjak terjadi peristiwa hebat itu.
"Sungguh ilmu kepandaian hebat-hebat yang telah diperlihatkan tadi. Kami merasa kagum sekali!"
Bun Houw lalu melangkah maju dan menjura kepada Raja Sabutai.
"Terima kasih atas kebijaksanaan paduka. Sekarang, urusan pribadi telah selesai dan musuh-musuh Cin-ling-pai telah tewas. Maka kami hendak mohon diri dan mohon agar pedang pusaka kami dikembalikan kepada kami."
Sambil berkata demikian, pemuda ini mengerling ke arah Pek-hiat Mo-ko karena pedang Siang-bhok-kiam terselip di pinggang kakek bermuka putih itu.
Raja Sabutai menoleh kepada gurunya, tersenyum lebar dan menjawab.
"Pek-hiat Mo-ko ini adalah guruku, dan dia mempunyai omongan untuk disampaikan kepadamu, Bun... eh, Cia-sicu. Bukankah engkau sesungguhnya adalah putera ketua Cin-ling-pai yang terkenal bernama Cia Keng Hong itu? Nah, terserah kepada suhu Pek-hiat Mo-ko dan subo Hek-hiat Mo-li tentang pedang Siang-bhok-kiam itu."
Raja ini memandang dengan mata bersinar gembira karena dia ingin sekali melihat apakah tiga orang Han yang lihai ini akan mampu menandingi kedua orang gurunya.
Sesungguhnya Raja Sabutai tidak tertarik oleh pedang kayu itu dan diapun tidak tertarik oleh urusan-urusan pribadi, akan tetapi karena dia ingin sekali melihat kedua orang gurunya bertanding dengan Yap In Hong, Yap Kun Liong atau Cia Bun Houw, maka dia tidak melarang ketika Pek-hiat Mo-ko tadi berbisik-bisik kepadanya tentang pedang itu.
Berkerut alis tebal di atas mata yang bersinar-sinar itu ketika Bun Houw kini langsung menentang pandang mata nenek dan kakek yang menyeramkan itu.
"Urusan perebutan pedang pusaka adalah urusan pribadi antara Lima Bayangan Dewa dan Cin-ling-pai,"
Katanya lantang.
"Sama sekali tidak menyangkut orang lain. Locianpwe hanya bertugas menyimpan pedang dan menyerahkannya kepada fihak yang menang. Oleh karena itu, saya harap dengan sangat dan minta dengan hormat agar locianpwe suka menyerahkan pedang pusaka kami itu kepada saya."
"Hoh-hoh, nanti dulu, orang muda!"
Pek-hiat Mo-ko tertawa dan melangkah maju, sikapnya memandang rendah.
"Mengembalikan pedang kayu ini adalah perkara mudah. Akan tetapi lebih dulu jawablah pertanyaan-pertanyaan dengan jujur."
"Silakan bertanya, locianpwe,"
Kata Bun Houw sambil mengamati wajah yang rusak itu, dan dari logat bicara kakek ini dia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang asing.
"Siapakah namamu yang sesungguhnya?"
"Nama saya Cia Bun Houw,"
Menjawab demikian, Bun Houw merasa tengkuknya dingin dan tahulah dia bahwa tengkuknya itu disambar sinar mata In Hong.
Akan tetapi perasaan ini dilawannya dengan kenyataan bahwa gadis itupun tadinya hanya dikenal sebagai nona Hong saja, sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa gadis itu adalah Yap In Hong, adik kandung Yap Kun Liong!
"Engkau putera dari Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai?"
Tanya lagi Pek-hiat Mo-ko dengan suaranya yang mengandung getaran dingin menyeramkan.
"Benar."
"Bukankah Cia Keng Hong itu adalah pendekar yang dahulu terkenal sebagai sahabat baik, bahkan tangan kanan dari Panglima Besar The Hoo?"
Tanya lagi kakek yang sukar ditaksir berapa usianya itu karena mukanya yang putih itu seperti muka mayat.
Kepahlawanan merupakan suatu kebanggaan bagi tiap orang gagah di dunia kang-ouw.
Kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang pahlawan pembela nusa bangsa, juga bahwa ayahnya merupakan sahabat baik dari Panglima Besar The Hoo yang telah terkenal di seluruh dunia bahkan amat disegani dan ditakuti kawan dan lawan itu, tentu saja dia tidak hendak menyangkalnya.
"Benar,"
Jawabnya pula.
"Bahkan, biarpun mendiang Panglima Besar The Hoo telah meninggal dunia, ayahku tetap setia setiap saat menyediakan jiwa raganya untuk membela tanah air dan sekarang ayah membantu Kaisar memperoleh kembali singgasananya yang dirampas oleh pengkhianat-pengkhianat."
"Ho-ho, bagus kalau begitu! Nah, dengarlah baik-baik, orang muda. Sampaikan kepada ayahmu itu, kepada Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai, bahwa pedang Siang-bhok-kiam akan kami bawa terus dan hanya akan kami serahkan kalau Panglima The Hoo sendiri yang datang menemui kami dan mengambilnya!"
Bun Houw terbelalak dan suasana menjadi sunyi sekali.
Setelah dapat menekan ketegangan hatinya, barulah Bun Houw menjawab, suaranya mengandung rasa penasaran.
"Permintaan locianpwe sungguh tidak masuk akal. Panglima The Hoo telah meninggal dunia, bagaimana bisa menemui locianpwe kecuali kalau locianpwe menyusul beliau?"
Jawaban ini sekaligus mengandung ejekan.
"Hih-hih, bocah itu lancang mulut. Ketuk saja kepalanya!"
Tiba-tiba Hek-hiat Mo-li berseru, suaranya tinggi melengking dan mengandung getaran panas.
"Ho-ho, bocah lancang! Siapa tidak tahu bahwa The Hoo telah mati? Akan tetapi mustahil tidak ada muridnya atau keturunannya? Setidaknya masih ada ayahmu yang menjadi tangan kanan dan sahabat baiknya. Nah, pedang ini kami simpan sambil menanti wakil dari The Hoo untuk mengambilnya."
Bun Houw menjadi marah sekali.
"Biarlah sekarang juga aku menjadi wakilnya!"
Bentaknya.
"Dan aku juga!"
In Hong juga berseru dan sudah meloncat ke dekat Bun Houw yang mengerlingnya, juga gadis itu melirik dan mereka saling bertemu pandang dalam kerling mereka.
"Bagus...! Akan tetapi kami lebih senang berhadapan dengan Cia Keng Hong, tua sama tua, bukan dengan bocah-bocah ingusan!"
Kata Pek-hiat Mo-ko.
"Tahan...!"
Tiba-tiba terdengar suara yang menggetarkan seluruh ruangan itu.
Kiranya Yap Kun Liong yang berseru itu dan kini pendekar ini telah bangkit berdiri dan dengan perlahan melangkah maju.
Wajahnya masih pucat, akan tetapi dia telah terbebas dari racun, hanya tinggal tenaganya yang belum pulih karena dia memeras semua tenaganya untuk mengusir hawa beracun dari Siang-tok-swa.
"Heh-heh-heh, kau orang yang sudah lemah karena lukamu mau bicara apa?"
Pek-hiat Mo-ko berkata mengejek. Yap Kun Liong menjura ke arah Raja Sabutai dan berkata.
"Harap paduka maafkan kami bertiga. Sama sekali bukan maksud kami untuk membikin ribut di dalam benteng paduka ini."
Kemudian dia memandang kepada Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, lalu berkata.
"Ji-wi locianpwe sungguh bersikap jujur, dan maafkan kedua orang adikku ini. Sudah menjadi kewajiban kami untuk menyampaikan tantangan ji-wi locianpwe kepada supek Cia Keng Hong, dan kepada para murid dan keturunan mendiang Panglima The Hoo. Kami bertiga tidak berhak mencampuri urusan antara ji-wi dan mendiang Panglima The Hoo. Akan tetapi agar jelas, hendaknya ji-wi suka menerangkan mengapa ji-wi mendendam kepada mendiang Panglima The Hoo agar kalau ditanya kami dapat memberitahukan."
"Ho-ho, kau ternyata lebih cerdik dan sopan! Ketahuilah, kami berdua datang dari Sailan dan kami pernah dilukai dan hampir tewas oleh Panglima The Hoo. Oleh karena itu, belum puas hati kami sebelum membalas kekalahan kami puluban tahun yang lalu itu kepada keturunannya, muridnya, ataupun sahabatnya yang mewakilinya mengambil pedang Siang-bhok-kiam."
Yap Kun Liong berpikir sejenak, kemudian berkata.
"Kami tidak ingin mengganggu Sri Baginda Raja, dan mengingat bahwa urusan ini merupakan urusan pribadi, ke manakah wakil mendiang Panglima The Hoo boleh datang mencari ji-wi untuk mengambil pedang?"
"Ho-ho, kau kira kami akan mengandalkan pasukan murid kami untuk membantu kami? Ha-ha-ha, orang muda, sampaikan kepada Cia Keng Hong bahwa kami akan menanti kedatangan wakil Panglima The Hoo di Lembah Naga, di mana kami berdua akan bertapa dan menanti dengan tidak sabar."
"Lembah Naga? Di mana itu?"
"Di tikungan Sungai Luan-ho, di kaki Pegunungan Khing-an-san."
Yap Kun Liong mengangguk.
"Baiklah, Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li,"
Jawabnya dan kini sikap menghormatnyapun lenyap.
"Akan kami sampaikan kepada supek Cia Keng Hong."
Kemudian, mewakili dua orang adiknya dia lalu menghadap Raja Sabutai dan berkata.
"Sekali lagi terima kasih kami haturkan atas kebijaksanaan paduka, dan perkenankan kami sekarang untuk pergi dari benteng ini dan membawa jenazah Yo Bi Kiok."
Raja Sabutai mengangguk-angguk.
"Sampaikan kepada Kaisar Ceng Tung bahwa kami menerima uluran tangannya, dan dalam bulan ini juga kami akan kembali ke utara. Nona Hong, untuk membalas jasa-jasamu sebagai pengawal dan sahabat sang ratu, beliau minta kepadaku untuk menyampaikan terima kasih dan tanda mata ini. Terimalah!"
In Hong merasa terharu juga mengingat akan kebaikan Khamila, maka dia melangkah maju dan tidak menolak ketika Raja Sabutai mengalungkan seuntai kalung mutiara ke lehernya.
"Terima kasih, Sri Baginda, dan semoga paduka dan Sang Ratu Khamila hidup berbahagia."
Mereka berpamit lagi kemudian dengan diantar sepasukan pengawal kehormatan, mereka bertiga meninggalkan benteng itu dan Kun Liong memondong mayat Yo Bi Kiok yang masih lemas.
Setibanya di luar benteng, di dalam sebuah hutan yang sunyi, Kun Liong lalu mengubur jenazah wanita itu, dibantu oleh Bun Houw dan In Hong.
Ketika In Hong berlutut di depan kuburan itu, tak tertahankan lagi dua titik air mata membasahi pipinya yang segera diusapnya dengan punggung tangan.
Sementara itu, terdengar Bun Houw berkata kepada Yap Kun Liong, dengan nada suara terheran dan penasaran.
"Yap-suheng, kenapa suheng tidak membolehkan saya untuk mewakili ayah menghadapi dua orang kakek dan nenek iblis itu untuk merampas kembali Siang-bhok-kiam? Saya tidak takut melawan mereka."
"Aku percaya, sute. Akan tetapi, kalau hal itu kau lakukan juga, berarti kita membiarkan diri dalam bahaya besar dan hal itu merupakan kebodohan yang sembrono. Kakek dan nenek itu amat lihai dan biarpun engkau dan Hong-moi-moi belum tentu kalah, akan tetapi harus kau ingat bahwa mereka adalah guru-guru dari Raja Sabutai. Tidak mungkin raja akan membiarkan saja kedua orang gurunya ditentang, apalagi dikalahkan orang di hadapannya. Kalau pasukan maju mengeroyok, mana mungkin kita dapat melawan? Bahkan meloloskan diripun akan sukar, apalagi karena kesehatanku belum pulih. Kalau sampai terjadi demikian, kita tidak bisa lolos dan pedang tidak dapat terampas, bukankah hal itu amat celaka dan menyesalpun tiada gunanya lagi. Yang lebih hebat lagi, kita akan dicap sebagai pengacau di benteng, dan ini amat bertentangan dengan kehendak Kaisar. Setelah mereka berdua menantang dan akan menanti di Lembah Naga, bukankah hal itu lebih mudah lagi?"
Bun Houw mengangguk-angguk dan benar-benar dia kagum akan pandangan yang luas dari pendekar itu.
"Koko, mengapa engkau masih mau mengurus jenazah subo?"
Tiba-tiba In Hong juga mengajukan pertanyaan.
"Setelah semua pengakuannya itu... setelah ternyata bahwa dia yang membunuh go-so (kakak ipar)... dia yang menghancurkan hidupmu, akan tetapi engkau masih merawat jenazahnya. Mengapa?"
Dara itu kini memandang wajah kakaknya dengan penuh kagum dan bangga.
Kakaknya ini benar-benar seorang pendekar sakti yang hebat, bukan hanya hebat ilmunya seperti yang telah diperlihatkannya ketika bertanding melawan gurunya, akan tetapi juga hebat perangainya.
Kun Liong menghela napas lalu duduk di atas tanah berumput, memandang sejenak kepada adiknya dan kepada Bun Houw.
Dia tahu bahwa adiknya berhati keras dan aneh, bahwa adiknya tidak mau dijodohkan begitu saja dengan Bun Houw.
Dan di dalam hatinya dia tidak ingin melihat adiknya mengalami guncangan batin akibat cinta seperti yang banyak dialaminya selama ini.
Teringat dia akan semua pengalamannya, akan semua petualangannya ketika masih muda dahulu, petualangannya dalam asmara dengan banyak gadis cantik.
Semua peristiwa itu, kematian isterinya, kekejaman Yo Bi Kiok, semua adalah akibat dari petualangannya itulah (baca cerita Petualang Asmara).
"Adikku, dan juga engkau, sute. Dengarlah dan agar kalian tidak usah heran mengapa sampai detik ini aku menaruh hati kasihan kepada Yo Bi Kiok, pembunuh dari isteriku yang tercinta. Dia membunuh isteriku bukan karena permusuhan pribadi, bukan karena kebencian pribadi, melainkan karena... cinta kasihnya kepadaku."
"Ahhh...!"
Bun Houw yang belum tahu akan riwayat suhengnya itu berseru kaget dan heran, akan tetapi In Hong yang sudah tahu hanya menunduk.
"Karena cintanya kepadaku, dia merasa cemburu dan iri kepada isteriku. Ah, kasihan Bi Kiok. Dia menjadi seperti gila karena cinta, cinta yang sebetulnya sama sekali bukanlah cinta. Orang yang mencinta tentu ingin melihat orang yang dicintanya hidup berbahagia! Akan tetapi tidak demikian dengan cinta Bi Kiok. Dia mencinta diri sendiri dan cinta macam itu hanya menimbulkan kedukaan, kebencian dan kejahatan belaka. Betapapun juga, dia telah mengakui perbuatannya dan... dan rasa penasaran besar itu telah terbongkar. Rahasia yang hebat itu telah terbongkar dan legalah hatiku karena sekarang terbukti keyakinan hatiku selama ini bahwa encimu, sute, bahwa Giok Keng tidak berdosa. Akan tetapi... ah, diapun ikut berkorban hebat, suaminya tewas dan sekarang puteranya..."
Yap Kun Liong menundukkan mukanya, penuh penyesalan mengapa peristiwa yang menimpa dirinya itu merembet kepada keluarga Giok Keng.
"Sungguh hebat...!"
Dia melanjutkan.
"Aku kehilangan isteri dan puteriku karena perbuatan Bi Kiok, akan tetapi akibatnya, encimu yang tidak tahu apa-apa telah kehilangan suami dan sekarang juga puteranya terbunuh oleb Bi Kiok. Aih, Bi Kiok, mengapa hatimu menjadi seganas itu? Kasihan anak itu... yang tidak berdosa."
"Koko, anak itu tidak mati oleh Siang-tok-swa."
Kun Liong mengangkat muka dan memandang adiknya dengan mata terbelalak, penuh harapan dan keheranan.
"Apa... apa maksudmu? Lie Seng..."
"Dia tidak mati. Aku sendiri yang telah mengobatinya,"
Jawab In Hong.
"Lie Seng tidak mati? Ya Tuhan, syukurlah...!"
Bun Houw juga berseru girang ketika memandang wajah gadis itu, akan tetapi ketika pandang mata mereka bertemu dan melihat kemarahan di pandang mata gadis itu, dia menunduk kembali, mukanya menjadi merah.
"Ketika aku pergi kepada Yok-mo di Gunung Cemara untuk mencari obat, di sana aku bertemu dengan anak laki-laki yang hampir mati karena terluka oleh Siang-tok-swa. Aku lalu mengobatinya dan dia sembuh, dia tidak mati. Aku yakin bahwa dia itulah anak yang kau maksudkan, koko."
Kun Liong menjadi girang sekali.
"Bagaimana dia bisa berada di sana? Dan bagaimana pula secara kebetulan kau berada di tempat itu, moi-moi? Ceritakanlah!"
"Aku... aku pergi mencarikan obat..."
Gadis itu menunduk.
"Dia mencarikan obat untuk aku yang hampir mampus, suheng,"
Tiba-tiba Bun Houw menjawab cepat.
"Aku menderita luka-luka parah oleh Bayangan Dewa dan kalau tidak ada adikmu ini, agaknya sekarang aku sudah mati."
"Ahhh...!"
Kun Liong makin girang dan memandang adiknya yang menjadi merah mukanya.
"Bohong! Dia memang terluka dan aku mencarikan obat kepada Yok-mo. Di sana aku bertemu dengan seorang pendeta yang datang membawa anak laki-laki yang luka-luka oleh Siang-tok-swa itu. Kami berebutan untuk memperoleh pertolongan Yok-mo. Pendeta itu lihai bukan main dan aku lalu menukar obatku untuk menyembuhkan anak itu dengan pelajaran Ilmu Pukulan Thian-te Sin-ciang..."
"Hehh...?"
Tiba-tiba Bun Houw meloncat ke atas mengejutkan In Hong dan Kun Liong.
"Kalau begitu dia adalah suhu!"
Kini Kun Liong juga kaget.
"Apa? Gak-hu (ayah mertua)?"
In Hong menjadi bingung mondengar Bun Houw menyebut guru kepada pendeta itu dan kakaknya menyebut ayah mertua.
Hal ini sama sekali tidak disangka-sangkanya.
"Dia seorang pendeta Lama berjubah merah, bertubuh tinggi besar dan..."
"Dia suhu!"
Bun Houw berseru.
"Jelas, dia adalah gak-hu. Aih, sungguh kejadian yang kebetulan sekali!"
Kun Liong berkata dengan wajah girang.
"Kalau begitu, putera encimu itu berada di tangan gak-hu dan keselamatannya terjamin, sute."
Bun Houw mengangguk dan memandang kepada In Hong, kemudian berkata.
"Kalau begitu, engkau terhitung adalah sumoiku sendiri."
In Hong menggeleng kepala.
"Dia berpesan bahwa aku tidak boleh mengaku dia sebagai guru, dan memang demikianlah perjanjiannya."
Diam-diam gadis ini kagum sekali.
Pantas saja Cia Bun Houw ini demikian lihainya, kiranya pemuda putera ketua Cin-ling-pai ini adalah murid pendeta Lama sakti itu!
"Urusan encimu sudah beres, sute, sekarang aku harus pergi untuk mencari anakku.
Anakku melarikan diri ketika ibunya terbunuh dan sampai kini tidak kuketahui ke mana perginya.
Engkau pulanglah ke Cin-ling-pai untuk melaporkan soal Siang-bhok-kiam kepada ayahmu dan sampaikan pula berita pengakuan Yo Bi Kiok kepada keluargamu, jangan lupa beritakan tentang Lie Seng yang sudah berada di tangan gak-hu itu kepada ibumu.
Aku sendiri akan mencari jejak puteriku, dan...
kalau kau suka, adikku, marilah kau ikut bersamaku..."
Dia memandang kepada adiknya dengan sinar mata penuh kasih.
Isterinya telah tewas, puterinya telah hilang dan kini dia menemukan kembali adiknya yang agaknya telah kembali ke jalan benar.
Akan tetapi In Hong menggeleng kepalanya.
"Aku masih mempunyai urusan, koko. Biarlah kalau urusanku sudah selesai, aku pasti akan pergi ke Leng-kok dan selanjutnya aku akan hidup di sana bersama kakakku."
Kun Liong melangkah maju dan memegang kedua tangan adiknya, digenggamnya kedua tangan adiknya dengan mesra.
"In Hong, adikku. Keadaan telah memaksa kita saling berpisah. Kakakmu ini telah mengalami banyak penderitaan hidup. Mudah-mudahan saja engkau tidak akan seperti kakakmu. Hanya pesanku, jangan terlalu menurutkan perasaan, adikku, bersikaplah bijaksana dan mudah-mudahan kalau sekali waktu cinta menguasai dirimu, semoga cintamu itu bukan seperti cinta kasih mendiang Bi Kiok kepada kakakmu. Mengertikah engkau, adikku?"
In Hong terharu.
Ingin dia merangkul kakak kandungnya itu, akan tetapi dia menggigit bibir mengeraskan hatinya, lalu mengangguk.
Kun Liong melepaskan tangan adiknya.
"Nah, kalau begitu,selamat tinggal, selamat berpisah sampai jumpa kembali dalam keadaan yang lebih baik lagi."
Pendekar ini sekali lagi menengok ke arah gundukan tanah kuburan Yo Bi Kiok, menghela napas panjang lalu pergi dari situ, diikuti pandang mata sepasang orang muda itu.
Mereka berdiri, saling berhadapan dan sejenak mereka saling pandang penuh selidik, bahkan kemudian pandang mata In Hong dibayangi rasa marah dan penasaran.
"Kau..."
"Kau..."
Keduanya terdiam karena kata itu keluar dengan berbareng.
"Hemm, kiranya engkau Cia Bun Houw!"
In Hong kemudian berkata dan membuang pandang mata ke atas, ke arah daun pohon di ujung yang dikibarkan oleh angin.
"Ya..."
"Engkau putera ketua Cin-ling-pai yang terkenal di seluruh dunia itu!"
"Ya..."
"Engkau pura-pura menyamar sebagai pengawal pemilik rumah judi untuk menyelidiki keadaan Bayangan Dewa."
"Ya..."
"Engkau berpura-pura bodoh dan tidak memiliki kepandaian sampai akupun tertipu."
"Ya... tapi..."
"Sungguh cerdik sekali!"
"Hemm..."
"Kiranya yang terhormat putera ketua Cin-ling-pai, seekor harimau berpakaian kulit domba."
"Ahh..."
"Dan pendekar muda sakti putera ketua Cin-ling-pai itu memberikan pedang pusakanya kepada..."
"Kepada seorang dara pendekar yang lihai..."
"Seorang Dewi Maut yang kejam, yang membunuh gadis dusun yang tidak berdosa!"
"Eh, aku salah lihat... eh, salah duga..."
"Seorang putera ketua Cin-ling-pai yang berpandangan tajam mana mungkin salah lihat? Karena memang gadis itu dianggapnya kejam, ganas dan tidak berperi kemanusiaan!"
"Eh, dengar dulu..."
"Jadi Cia Bun Houw si pendekar muda sakti itu adalah murid pendeta Lama..."
"Ya, suhu Kok Beng Lama."
"Pendeta Lama yang sakti dari Tibet?"
"Ya..."
"Dan Cia Bun Houw si pendekar sakti itu adalah seorang pemuda perayu wanita, seorang hidung belang yang mata keranjang!"
"Heiii..."
"Cia Bun Houw itu adalah seorang laki-laki yang tidak setia, yang mudah berganti kekasih!"
"Eh, nanti dulu! Hong-moi, jangan kau menuduh yang bukan-bukan."
"Seorang pendekar sakti yang menggunakan kepandaiannya merayu untuk menjatuhkan hati seorang gadis dusun yang bodoh..."
"Heiii, aku tidak merayu gadis dusun she Ma itu. Dialah yang... ah, sudahlah. Hong-moi, mengapa engkau menuduhkan semua itu kepadaku?"
"Siapa menuduh? Aku hanya membicarakan kenyataan, bukan seperti engkau yang sebelum jelas perkaranya sudah menuduhku membunuh orang tak berdosa."
"Hong-moi, aku mengaku salah. Aku memang tadinya menyangka engkau yang melakukan pembunuhan kejam itu terhadap gadis she Ma karena agaknya bukti-bukti tadinya menunjukkan demikian. Kiranya subomu yang melakukan hal itu dan maafkanlah aku. Harap saja kesalahanku itu tidak menyakitkan hatimu terus sehingga engkau membenci dan menuduhku yang bukan-bukan."
"Sekali lagi, aku tidak menuduh yang bukan-bukan. Apakah engkau hendak menyangkal bahwa engkau merayu seorang gadis dusun, kemudian engkau melupakan dia, bahkan menerima ikatan jodoh dengan gadis lain yang belum pernah kau lihat selamanya?"
"Ehhh...?"
Bun Houw terbelalak dan tentu saja dia teringat kepada Yalima yang manis, yang ditinggalkannya di Tibet.
Akan tetapi tidak mungkin In Hong tahu akan hal itu dan diapun tidak akan membicarakan hal itu dengan siapapun juga.
Peristiwa dengan Yalima dianggapnya sudah lewat dan merupakan masa kanak-kanak baginya.
Baru sekarang dia sadar bahwa sesungguhnya tidak ada ikatan cinta kasih di dalam batinnya terhadap gadis Tibet itu.
Kalau toh akan dinamakan cinta, agaknya itulah cinta monyet, cinta remaja yang tidak mendalam, hanya karena saling tertarik oleh rupa dan karena biasa bergaul secara akrab saja.
"Hong-moi, harap kau jangan menuduh yang bukan-bukan."
"Sekali lagi, aku tidak menuduh yang bukan-bukan. Apakah engkau hendak menyangkal bahwa engkau merayu seorang gadis dusun, kemudian engkau melupakan dia, bahkan menerima ikatan jodoh dengan gadis lain yang belum pernah kau lihat selamanya?"
"Ehhh...?"
Bun Houw terbelalak dan tentu saja dia teringat kepada Yalima yang manis, yang ditinggalkannya di Tibet.
Akan tetapi tidak mungkin In Hong tahu akan hal itu dan diapun tidak akan membicarakan hal itu dengan siapapun juga.
Peristiwa dengan Yalima dianggapnya sudah lewat dan merupakan masa kanak-kanak baginya.
Baru sekarang dia sadar bahwa sesungguhnya tidak ada ikatan cinta kasih di dalam batinnya terhadap gadis Tibet itu.
Kalau toh akan dinamakan cinta, agaknya itulah cinta monyet, cinta remaja yang tidak mendalam, hanya karena saling tertarik oleh rupa dan karena biasa bergaul secara akrab saja.
"Hong-moi, harap kau jangan menuduh yang bukan-bukan."
Sinar mata In Hong membayangkan rasa kemarahan dan penasaran.
"Cia Bun Houw! Apakah kau berani menyangkal bahwa engkau melupakan gadis dusun dan secara tak tahu malu menerima ikatan jodoh dengan seorang gadis lain?"
Wajah In Hong menjadi merah.
Tentu saja dara ini merasa penasaran dan marah.
Sudah jelas pemuda ini meninggalkan dan melupakan Yalima, lalu mengikatkan diri dengan dia sebagai calon isteri, dan sekarang pemuda ini hendak menyangkal.
Akan tetapi dengan wajah sungguh-sungguh dan sinar mata jujur Bun Houw menjawab.
"Tentu saja aku menyangkalnya, Hong-moi. Aku tidak menerima ikatan jodoh dengan gadis manapun dan tentang gadis yang kau katakan kurayu dan kutinggalkan dan lupakan..."
"Hemm, sungguh berani mati. Tidak perlu banyak berbantahan, kalau memang kau berani, mari bersamaku pergi ke Cin-ling-san."
In Hong menantang. Bun Houw makin terheran dan terkejut.
"Cin-ling-san?"
Tentu saja dia terkejut.
Cin-ling-san adalah tempat tinggalnya, mau apa gadis ini mengajak dia ke sana?
"Ya, ke Cin-ling-san.
Ke Cin-ling-pai..."
"Eh, kau maksudkan menjumpai ayah dan ibuku?"
Bun Houw tentu saja menjadi girang sekali.
"Ya dan engkau akan tahu sendiri bahwa aku sama sekali tidak menuduhmu yang bukan-bukan dan ingin aku mendengar jawabmu!"
Bun Houw menjadi girang sekali.
"Baik, mari kita pergi. Aku memang ingin kembali ke Cin-ling-san untuk melaporkan pada ayah tentang Siang-bhok-kiam dan syukurlah engkau suka ikut bersamaku ke sana, Hong-moi. Tahukah engkau bahwa ayah bundamu dahulu adalah sahabat-sahabat terbaik dari orang tuaku, bahkan antara ibumu dan ayahku masih ada hubungan saudara seperguruan? Ayah dan ibu tentu akan girang sekali menerima kedatanganmu."
"Hemmm, aku telah bertemu dengan mereka. Akan tetapi kepergianku ke Cin-ling-pai ini bukan untuk bertemu dengan ayah dan bundamu, melainkan..."
In Hong tidak melanjutkan kata-katanya dan dia teringat akan Yalima dan hatinya menjadi panas lagi.
"Melainkan... apa, Hong-moi?"
"Kau lihatlah saja nanti!"
In Hong berkata kaku dan dingin lalu membuang muka, membuat Bun Houw makin terheran-heran akan sikap gadis ini.
Akan tetapi betapapun juga, hatinya gembira bukan main karena dia akan melakukan perjalanan ke Cin-ling-san bersama dengan gadis ini.
Akan tetapi, perjalanan itu ternyata tidaklah begitu menyenangkan seperti yang dibayangkannya.
Benar dia melakukan perjalanan bersama In Hong, akan tetapi gadis itu selalu menjauhkan diri dan betapapun dia berusaha untuk menyelami isi hati gadis itu, untuk membuka rahasia apa yang tersembunyi di balik tuduhan-tuduhan gadis itu, usahanya sia-sia belaka karena In Hong tidak mau bicara, hanya menjawab singkat bahwa pemuda itu akan tahu segalanya setelah tiba di Cin-ling-san.
Sikap yang dingin kaku dari gadis ini dan yang agaknya bersungguh-sungguh dalam tuduhan-tuduhnya membuat Bun Houw merasa khawatir dan tidak enak juga dan mulailah dia menduga-duga yang ada hubungannya dengan Yalima.
Apakah Yalima datang menyusulnya ke Cin-ling-san?
Akan tetapi pertanyaan ini dibantahnya sendiri.
Yalima adalah seorang gadis lemah, seorang gadis dusun di Tibet, mana mungkin bisa berada di Cin-ling-san?
Tidak mungkin sekali gadis dusun itu melakukan perjalanan sejauh itu.
Pula, tidak mungkin Yalima berani selancang itu menyusulnya ke Cin-ling-san.
Pula, sesungguhnya, selain sedikit kemesraan, tidak ada ikatan apa-apa antara dia dan Yalima.
Hanya suatu peristiwa cinta remaja yang masih hijau dan mentah, betapapun juga, melihat sikap In Hong yang amat serius dan melihat dara itu benar-benar seperti orang marah dan penasaran kepadanya, hati Bun Houw menjadi tidak enak dan ingin dia cepat-cepat tiba di Cin-ling-san agar persoalan itu segera menjadi terang.
Ketika pada suatu pagi mereka tiba di Pegunungan Cin-ling-san, otomatis perjalanan yang tadinya dilakukan dengan cepat itu menjadi lambat!
Hal ini karena terjadi keraguan di hati masing-masing.
In Hong yang teringat akan kunjunganya yang lalu, Sikapnya yang kasar terhadap keluarga Cia, kekurang-ajarannya, merasa tidak enak hati untuk bertemu dengan ayah bunda pemuda itu.
Sebaliknya, Bun Houw yang menduga bahwa tentu ada sesuatu yang luar biasa terjadi di sini melihat sikap In Hong, juga merasa khawatir.
Tanpa bicara mereka melanjutkan perjalanan itu dengan jalan kaki biasa mendaki lereng Gunung Cin-ling-san.
Mereka tidak tahu bahwa kedatangan mereka itu tampak oleh Kwee Siong, seorang pemuda remaja adik dari Kwee Tiong.
Melihat kedatangan Bun Houw, Kwee Siong menjadi terkejut dan ketakutan.
Dia sudah tahu bahwa kakaknya, Kwee Tiong, telah merampas Yalima, kekasih putera ketua Cin-ling-pai itu dan kini Bun Houw pulang.
Diam-diam Kwee Siong lalu berlari-lari naik ke puncak dan mengabarkan kepada kakaknya tentang kedatangan Bun Houw.
"Twako... twako... celaka, twako...!"
Kwee Siong yang berusia lima belas tahun itu berkata, napasnya terengah-engah ketika dia bertemu dengan kakaknya.
"Eh, adik Siong, ada apakah?"
Kwee Tiong bertanya khawatir.
"Apa yang terjadi?"
"A Siong, kau kenapakah?"
Kakak iparnya, Yalima juga bertanya melihat wajah adik ipar yang pucat dan ketakutan itu.
"Twako... twaso... celaka, aku melihat... Cia-Taihiap datang..."
"Ahhh...!"
"Ihhh...!"
Suami isteri itu terkejut sekali karena berita itu amat tiba-tiba, akan tetapi Kwee Tiong segera tenang kembali.
Dia memegang tangan isterinya dan berkata.
"Isteriku, engkau tahu bahwa aku bertanggung jawab atas perbuatan kita ini. Maka biarlah aku akan menyambut kedatangannya dan mengabarkannya tentang kita. Kautunggu saja di sini."
"Tidak... tidak...! Yang berbuat adalah kita berdua, yang bertanggung jawab kita berdua pula! Aku tahu bahwa dia adalah seorang yang berbudi mulia, tentu akan dapat memaafkan kita."
"Jangan, aku tidak kuat melihat engkau dimarahi..."
Cegah sang suami.
"Dan hatikupun tidak akan tenteram membayangkan engkau sendirian menghadapi kemarahannya. Suamiku, pendeknya, apapun yang akan terjadi, kita akan menghadapi bersama! Kita hidup bertiga dan matipun bertiga!"
"Bertiga...?"
Kwee Tiong menoleh ke arah Kwee Siong karena dia tidak ingin menyeret adiknya itu dalam urusannya dengan Yalima, akan tetapi dia melihat isterinya mengelus perutnya yang gendut, maka mengertilah dia.
Dengan terharu dia merangkul isterinya dan berkata halus.
"Marilah kalau begitu."
Kwee Tiong dan Yalima sambil bergandeng tangan dan berbesar hati lalu menuruni puncak untuk menyambut kedatangan Bun Houw, diikuti pandang mata Kwee Siong penuh kekhawatiran.
Kemudian pemuda remaja ini lalu lari ke gedung tempat tinggal ketua Cin-ling-pai untuk melapor, karena dia mengkhawatirkan keselamatan kakaknya berdua.
"Hong-moi, mengapa engkau menyiksa hatiku seperti ini?"
Terdengar suara Bun Houw memecah kesunyian ketika dia dan In Hong berjalan mendaki lereng gunung melalui lorong itu.
"Aku tidak merasa menyiksa hati siapapun,"
Jawaban In Hong kaku dan dingin karena makin dekat dengan Yalima, makin tak senang hatinya.
Akan tetapi dara ini di dalam perjalanan sering melamun dan merasakan betapa rasa tidak senang di hatinya itu kini sama sekali berobah.
Bukan lagi condong ke arah ketidaksenangan karena Bun Houw mempermainkan Yalima, melainkan tidak senang mengapa pemuda ini mencinta Yalima, rasa tidak senang oleh cemburu.
"Mengapa engkau tidak berterus terang saja, Hong-moi? Apakah sebetulnya segala rahasia sikapmu ini? Engkau mengajak aku ke sini, ke tempat tinggalku, ada urusan apakah?"
In Hong hanya mengerling dan menjawab pendek.
"Engkau akan melihat sendiri nanti..."
"Enci In Hong...!"
"Cia-Taihiap...!"
Bun Houw dan In Hong yang sedang tenggelam dalam lamunan masing-masing, terkejut dan mengangkat muka memandang.
Ketika mereka melihat Kwee Tiong dan terutama sekali Yalima datang menuruni lorong itu, keduanya otomatis menghentikan langkah dan memandang dengan mata terbelalak.
Bun Houw yang sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Yalima di situ, terbelalak heran, dan In Hong yang melihat Yalima datang bergandeng tangan bersama seorang pemuda tampan, juga terbelalak heran.
Kwee Tiong yang masih menggandeng tangan isterinya itu segera menarik isterinya dan mereka berlutut di depan kaki Bun Houw!
Tentu saja pemuda ini terkejut bukan main sampai melangkah mundur dua tindak.
"Eh... apa yang kalian lakukan ini?"
"Cia-Taihiap, kami berdua menyerahkan jiwa raga kami kepada Taihiap!"
"Heii, Kwee Tiong koko, apakah kalian sudah gila?"
"Cia-Taihiap, kami... telah menjadi suami isteri..."
"Bagus!"
Bun Houw berseru girang sekali, merasa seolah-olah batu sebesar gunung dilepaskan dari hatinya yang tertindih.
"Biarpun agak terlambat, aku mengucapkan selamat kepada kalian!"
"Terima kasih, Taihiap..."
Kwee Tiong berkata terharu.
"Terima kasih... aku tahu bahwa engkau adalah seorang yang berbudi mulia, Taihiap, sedangkan aku... aku hanya seorang bodoh..."
Yalima terisak dan menutupi mukanya, air matanya mengalir turun.
"Yalima! Apa artinya ini? Engkau... sudah mengandung malah?"
Terdengar In Hong berseru, suaranya mengandung kemarahan.
"Enci In Hong... aku... aku telah menikah... dengan suamiku ini... beberapa bulan yang lalu..."
"Singgg...!"
Tampak sinar berkelebat.
"Keparat kau, perempuan tidak setia dan memalukan!"
Bun Houw terkejut bukan main dan secepat kilat dia meloncat dan berdiri di depan In Hong, menghadang antara In Hong dan Yalima.
"Hong-moi, apa yang hendak kau lakukan ini?"
"Harus kubunuh perempuan tidak setia itu!"
Bentak In Hong. Kwee Tiong sudah bangkit pula untuk melindungi isterinya.
"Hong-moi, engkau tidak berhak berbuat demikian! Kepada siapakah Yalima tidak setia?"
"Kepadamu! Dia mengaku telah saling mencinta denganmu, akan tetapi mengapa dia sekarang..."
"Hong-moi, waktu itu kami masih seperti kanak-kanak. Yalima mengira dia mencintaku sebelum dia bertemu dengan Kwee Tiong koko yang benar-benar dicintanya. Aku sendiri tidak merasa dikhianati, tidak menganggap bahwa Yalima tidak setia. Kenapa engkau yang tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan ini menjadi marah dan hendak membunuhnya? Hong-moi, apa sih sebenarnya arti perbuatanmu yang aneh ini?"
Mereka saling berhadapan, saling pandang, In Hong dengan muka merah padam dan mata berapi-api, Bun Houw dengan muka agak pucat dan mata penuh keheranan.
Akhirnya pedang yang tergetar di tangan In Hong, pedang Hong-cu-kiam itu bergerak, akan tetapi bukan menyerang siapa-siapa, melainkan meluncur ke atas tanah.
"Cappppp...!"
Pedang itu menusuk tanah sampai amblas ke gagangnya.
Terdengar suara isak ditahan, dan In Hong lalu membalikkan tubuhnya dan meloncat lalu lari pergi dengan cepat sekali.
"Hong-moi...!"
Bun Houw berseru memanggil akan tetapi dara itu sama sekali tidak menoleh lagi dan sebentar saja lenyap dari pandang mata.
"Hong-moi...!"
Bun Houw hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu terdengar suara lirih, suara Yalima yang mengandung tangis.
"Taihiap, harap ampunkan aku..."
Bun Houw menarik napas panjang, tidak jadi mengejar karena dia maklum betapa anehnya watak dara itu sehingga kalau dia kejar dan desak, tentu hanya akan menimbulkan kemarahan yang makin hebat di dalam hati In Hong.
Maka dia lalu menoleh lagi.
"Berdirilah dan ceritakanlah semuanya. Bagaimana Yalima tahu-tahu bisa berada di sini, dan mengapa pula In Hong mengenalmu dan kini marah-marah?"
Kwee Tiong menarik isterinya bangkit dan dialah yang menjawab, karena isterinya masih menangis sesenggukan.
"Taihiap, karena isteriku telah menceritakan segalanya kepadaku, maka bolehkah saya yang bercerita kepada Taihiap?"
"Silakan, Kwee-koko, sama saja."
"Yalima dipaksa oleh orang tuanya, akan diberikan kepada seorang yang berkuasa di Tibet. Dia lalu melarikan diri ke timur, dengan maksud untuk pergi menyusul dan mencari Taihiap karena Taihiap satu-satunya orang yang dapat diharapkan akan menolongnya. Akan tetapi dia terjatuh ke tangan seorang datuk kaum sesat, yaitu Go-bi Sin-kouw..."
"Ahhh...!"
Bun Houw terkejut sekali.
"Biar aku yang melanjutkan,"
Tiba-tiba Yalima berkata kepada suaminya.
"Taihiap, aku tentu sudah celaka dan mungkin sudah tewas kalau saja tidak muncul enci In Hong yang menolongku dari tangan orang-orang jahat itu. Karena pertolongan itu, maka aku lalu berterus terang menceritakan riwayatku, juga tentang... Taihiap. Sungguh mati aku sama sekali tidak tahu bahwa antara Taihiap dan dia... bahwa kalian telah saling bertunangan..."
"Eh, bohong itu! Siapa bilang begitu?"
Bun Houw berseru kaget.
"Agaknya Taihiap telah ditunangkan dengan enci In Hong oleh ayah bunda Taihiap di luar tahumu, dan hal itu telah disampaikan kepada enci In Hong. Oleh karena itu dia menjadi marah sekali mendengar bahwa antara kita... eh, terdapat semacam hubungan. Enci In Hong lalu memaksaku pergi bersama ke Cin-ling-pai dan dengan terang-terangan dia lalu berkata kepada Cia-locianpwe berdua bahwa hubungan jodoh antara dia dan Taihiap putus sudah, dan bahwa Taihiap adalah tunanganku. Itulah sebabnya dia tadi marah-marah melihat aku telah berjodoh dengan Kwee-koko dan... entah mengapa aku sendiri tidak mengerti, Taihiap. Kami berdua tadinya khawatir bahwa engkaulah yang akan marah-marah, siapa tahu, engkau dapat memaafkan kami, malah sebaliknya enci In Hong yang hampir membunuhku..."
Bun Houw menjadi bengong dan melamun.
Sungguh sukar dimengerti sikap In Hong tadi.
Dia mencabut pedang Hong-cu-kiam dan hatinya tiba-tiba terasa kosong dan sunyi sekali.
Dipungutnya sarung pedang Hong-cu-kiam yang tadi dilemparkan ke atas tanah oleh In Hong yang marah, lalu disimpannya pedang itu Dia teringat akan burung hong kemala di dalam saku bajunya dan otomatis tangannya meraba benda itu dan hatinya makin terasa sedih.
"Sungguh aneh... sungguh tak mengerti aku..."
Hatinya berbisik dan pada saat itu terdengar seruan nyaring.
"Houw-ji (anak Houw)...!"
Bun Houw mengangkat muka memandang dan melihat ayah dan ibunya turun dari puncak dengan cepat.
Mereka tadi mendengar pelaporan Kwee Siong tentang kedatangan putera mereka itu dan karena khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu antara Bun Houw dan Kwee Tiong berdua Yalima, mereka cepat-cepat turun.
"Ayah! Ibu!"
Bun Houw memberi hormat dan ibunya merangkulnya dengan hati lapang.
Terutama sekali ibunya merasa lega melihat puteranya kelihatan tidak marah sungguhpun pandang matanya yang tajam dapat melihat bahwa Yalima baru saja menangis dan wajah Kwee Tiong masih pucat, tanda bahwa mereka berdua baru saja mengalami guncangan batin yang hebat.
"Bukankah kau tadi datang bersama In Hong?"
Cia Keng Hong yang tadi menerima laporan Kwee Siong bertanya heran, matanya memandang ke kanan kiri mencari-cari.
"Dia sudah pergi, ayah."
Jawab Bun Houw dengan lesu dan keadaan puteranya ini tidak terlepas dari pandang mata ayahnya.
"Lebih baik kalau begitu. Bocah galak itu membikin ribut saja."
Kata Sie Biauw Eng yang menggandeng tangan puteranya dan mengajaknya naik ke puncak.
Beramai mereka naik ke puncak Cin-ling-san, menuju ke markas Cin-ling-pai yang barada di lereng dekat puncak.
Nenek Sie Biauw Eng kelihatan gembira bukan main dan menghujani puteranya dengan pertanyaan-pertanyaan.
Setelah tiba di dalam rumah, Bun Houw lalu lebih dulu menceritakan soal pembunuh isteri Kun Liong yang menjadi pokok dan penyebab semua peristiwa menyedihkan antara keluarga Kun Liong itu.
"Ayah dan ibu, sekarang pembunuh isteri Yap-suheng telah diketahui."
Tentu saja suami isteri pendekar itu menjadi terkejut dan juga girang.
"Siapa dia?"
"Dia adalah seorang wanita bernama Yo Bi Kiok, ketua dari Giok-hong-pang. Dia lihai sekali karena sebetulnya dialah yang dahulu memperoleh bokor emas pusaka dari Panglima The Hoo, Ayah."
"Ahhh...!"
Cia Keng Hong terkenang akan keributan puluhan tabun yang lalu ketika pusaka bokor emas itu diperebutkan orang-orang gagah di seluruh dunia kang-ouw.
"Di mana sekarang keparat itu? Biar kucari dan kubunuh iblis betina yang menjadi gara-gara itu!"
Kata nenek Sie Biauw Eng yang masih belum juga kehilangan kegalakannya setiap kali menghadapi kejahatan.
"Dia sudah tewas di tangan Yap-suheng sendiri, ibu. Yo Bi Kiok itu dahulunya adalah seorang sahabat baik dari Yap-suheng sendiri, malah wanita itu... dia adalah guru dari adik Yap In Hong."
"Ahhh...!"
Suami isteri pendekar itu berseru kaget, lalu mereka mendengarkan penuturan puteranya tentang peristiwa di dalam benteng Raja Sabutai dan tentang kematian Yo Bi Kiok yang mengaku sebagai pembunuh Pek Hong Ing isteri Yap Kun Liong karena iri!
Mendengar penuturan puteranya itu, suami isteri yang sudah tua itu menggeleleng kepalanya.
"Jadi kembali gara-gara cinta..."
Nenek Sie Biauw Eng berbisik.
"Betapa hanya mendatangkan malapetaka belaka."
"Hemm, jangan berkata demikian, isteriku. Hanya cinta palsu saja yang mendatangkan malapetaka. Buktinya, di antara kita berdua yang ada hanyalah kebahagiaan dan belas kasihan, baik dalam keadaan apapun juga."
Sie Biauw Eng menjadi terharu dan menyentuh tangan suaminya.
Ingin rasanya dia menangis kalau suaminya bersikap dan berkata seperti itu.
"Jadi engkau telah berhasil membunuh sisa Lima Bayangan Dewa yang tinggal tiga orang itu, Bun Houw?"
Cia Keng Hong bertanya.
"Benar, ayah."
"Dan Siang-bhok-kiam..."
"Itulah yang membikin jengkel, ayah. Siang-bhok-kiam itu oleh Bayangan Dewa diserahkan kepada Raja Sabutai yang kemudian memberikannya kepada gurunya, yaitu Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, dan mereka tidak mau menyerahkan pedang pusaka kita kepadaku."
"Eh, mengapa? Mau apa dua orang iblis jantan dan betina itu?"
Ibunya membentak.
"Ada sebabnya, ibu. Mereka itu ternyata adalah musuh-musuh yang menaruh dendam kepada mendiang Panglima The Hoo dan karena mereka tidak dapat lagi membalas dendam mereka kepada Panglima The Hoo yang sudah tidak ada, maka mereka menimpakan dendamnya kepada Cin-ling-pai. Mendengar bahwa pedang itu milik ayah, dan karena mereka tahu bahwa ayah dahulu adalah sahabat dan pembantu yang baik dari mendiang Panglima The Hoo, maka mereka menahan pedang itu."
"Keparat!"
Sie Biauw Eng memaki.
"Hemm, sudah setua ini masih dicari orang untuk bermusuhan."
Cia Keng Hong mengomel.
"Mereka itu menantang kepada ayah untuk datang ke Lembah Naga jika ayah menghendaki kembalinya pedang pusaka kita Siang-bhok-kiam."
Kembali Cia Keng Hong menarik napas panjang.
"Aku bukan anak kecil, bukan pula orang muda yang berdarah panas. Untuk apa susah payah dan jauh-jauh pergi hanya untuk berkelahi memperebutkan pedang?"
"Akan tetapi kita harus menjaga nama! Pedang Siang-bhok-kiam adalah pusaka dari lambang kebesaran Cin-ling-pai. Kalau jatuh ke tangan orang dan mereka menentang, lalu kita diam saja, tentu kita akan diketawai orang sedunia!"
Bantah isterinya.
"Huh, kalau ada yang mau mentertawakan kita, biarlah mereka itu tertawa sampai robek mulutnya, perduli apa kita?"
Cia Keng Hong membantah.
"Tapi..."
Bantah isterinya.
"Isteriku, hidup kita tidak ditentukan oleh pendapat orang lain, bukan? Ingat, pendapat orang-orang itu tidaklah sama dan kalau kita mengandalkan pendapat-pendapat orang lain, bagaimana macamnya kehidupan yang kita tempuh?"
"Akan tetapi, suamiku. Memang kita sendiri secara pribadi tidak perlu memikirkan omongan orang lain, namun kita sebagai pendiri dan pimpinan Cin-ling-pai bertanggung jawab untuk menjaga nama dan kehormatan Cin-ling-pai! Setelah sudah berhasil jerih payah Bun Houw membasmi Lima Bayangan Dewa, apakah kini gangguan dua orang iblis keparat itu harus didiamkan saja? Kalau kau enggan pergi, biarlah aku sendiri yang akan pergi mencari mereka ke Lembah Naga!"
"Ayah dan ibu harap suka bersabar. Urusan Siang-bhok-kiam tentu saja dapat kita rundingkan kemudian dan aku sendiripun merasa bertanggung jawab dan aku yang akan mewakili ayah dan ibu demi menjaga kehormatan Cin-ling-pai. Akan tetapi ada berita yang lebih menyenangkan untuk disampaikan... eh, di manakah enci Giok Keng? Dia yang terutama akan senang mendengar berita ini."
Ibunya mengerutkan alis.
"Encimu belum pulang sampai sekarang. Sungguh malang sekali nasib encimu, Houw-ji."
"Kalau begitu biarlah ayah dan ibu mendengarnya lebih dulu. Lie Seng telah dapat diketahui berada di mana."
"Ahh! Di mana cucuku itu?"
Cia Keng Hong bertanya girang.
"Ternyata dia telah tertolong oleh suhu. Hampir saja dia tewas di tangan wanita kejam Yo Bi Kiok itu, terkena racun Siang-tok-swa, akan tetapi baiknya masih dapat tertolong oleh adik In Hong."
Lalu diceritakanlah oleh Bun Houw tentang Lie Seng seperti yang didengarnya dari In Hong.
Tentu saja dua orang tua itu merasa girang dan lega sekali.
Kalau cucu mereka itu sudah berada di tangan Kok Beng Lama, tentu saja akan terlindung.
"Hanya aku khawatir sekali... melihat keadaan gurumu itu..."
Teringatlah Cia Keng Hong akan sikap Kok Beng Lama yang seolah-olah tidak kuat menahan guncangan hatin karena kematian anaknya yaitu Pek Hong Ing isteri Yap Kun Liong.
Akan tetapi sebagai seorang bijaksana, dia tidak mau menyiksa diri dengan bayang-bayang khayal yang buruk.
"Sudahlah, semua urusan itu telah lewat dan ternyata semua hal yang membingungkan telah terbongkar. Lima Bayangan Dewa telah terbasmi dan biang keladi kehancuran rumah tangga Giok Keng dan Kun Liong telah pula ditewaskan. Sekarang kami ada berita yang amat menyenangkan untukmu, anakku,"
Kata Sie Biauw Eng sambil tersenyum.
Aneh tapi nyata, Sie Biauw Eng yang usianya sudah enam puluh tahun lebih itu setelah tersenyum masih jelas nampak bekas-bekas kecantikannya!
Bun Houw memandang ibunya dengan wajah berseri, girang melihat ibunya begitu gembira.
Cia Keng Hong yang hendak menjawab, akan tetapi dengan tangannya, Sie Biauw Eng mencegahnya dan pada saat itu, pelayan-pelayan mereka datang menghidangkan makanan dan minuman.
Percakapan tertunda sebentar, setelah para pelayan itu pergi, Sie Biauw Eng yang agaknya tidak sabar lagi untuk segera menyampaikan berita itu kepada puteranya, melanjutkan.
"Beberapa pekan yang lalu, ketika ayahnya baru saja tiba di sini, pulang dari kota raja, di sini kedatangan tamu yang sama sekali tidak kami sangka-sangka."
Dia berhenti dan kelihatan girang sekali melihat puteranya memandang dengan penuh perhatian dan penuh keinginan tahu.
"Siapa, ibu?"
"Kau tentu tidak dapat menduganya. Dia adalah murid mendiang Panglima The Hoo dan..."
"Ah, aku tahu...! Tentu ibu Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng si kembar itu!"
Suami isteri pendekar itu saling pandang dan tersenyum. (Lanjut ke
Jilid 33) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 33
"Kau benar, dan mereka berdua ikut datang bersama ibu mereka,"
Kata pula Sie Biauw Eng.
"Eh, sayang aku tidak dapat berjumpa dengan mereka!"
Kata Bun Houw membayangkan dua orang kakak beradik kembar itu, terutama Kwi Eng, yang memiliki kecantikan yang khas dari seorang berdarah campuran, dengan matanya yang biru dan rambutnya yang hitam agak keemasan!
"Kwi Eng itu cantik bukan main, anakku!"
Tiba-tiba ibunya berkata dan karena pada saat itu Bun Houw sedang membayangkan wajah Kwi Eng, tentu saja dia menjadi terkejut dan wajahnya menjadi merah sekali.
Ibunya tertawa.
"Dan engkau sudah mengenalnya, Houw-ji."
"Benar, ibu. Kami telah berkenalan dan bahkan Kwi Eng dan Kwi Beng membantuku menghadapi dua orang Bayangan Dewa dan para pembantu mereka yang lihai."
"Dara itu sudah menceritakan semuanya kepada kami. Dia memang cantik jelita, belum pernah aku bertemu dengan seorang gadis yang seperti itu cantiknya, dan dia cerdas sekali, juga gagah perkasa seperti ibunya, selain itu dia juga pada dasarnya lemah lembut, sopan, tidak seperti... eh, misalnya Yalima yang lemah dan... si In Hong yang liar itu..."
"Ibu, kenapa ibu menceritakan semua kepadaku?"
Bun Houw memotong karena hatinya tidak senang mendengar In Hong dibawa-bawa dan disebut liar.
Di sini ayahnya turun tangan mencampuri.
"Sebenarnya, Bun Houw, kedatangan nyonya Yuan de Gama atau Souw Li Hwa itu, selain untuk mengunjungi sebagai murid mendiang Panglima The Hoo, mempererat persahabatan, juga untuk mengajukan usul atau permohonan agar diadakan ikatan jodoh..."
"Ehh? Ikatan jodoh...?"
Hati Bun Houw berdebar keras.
"Ya, antara engkau dan Kwi Eng, anakku! Aku girang sekali, aku sudah cocok dan suka kepada anak itu, aku senang mempunyai mantu dia!"
"Ibu...!"
Dan Bun Houw lalu menundukkan mukanya, memejamkan matanya, karena dia merasa pening dan bingung.
Cia Keng Hong mengedipkan mata kepada isterinya, mencegah isterinya bicara dan memberi kesempatan kepad puteranya untuk menenangkan diri.
Bun Houw yang memejamkan matanya itu melihat bayangan Kwi Eng, terbayang olehnya betapa dahulu ketika dia menolong Kwi Eng menyelamatkan dara jelita itu dari perkosaan Gu Lo It, melihat Kwi Eng dalam keadaan tanpa pakaian, kemudian...
kemudian teringatiah dia betapa mereka berciuman ketika dia memondong gadis itu.
Membayangkan itu, Bun Houw merapatkan matanya dan diam-diam dia merasa menyesal, mengapa dia melakukan hal itu, mengapa dia selalu ingin mendekap dan mencium dara-dara cantik!
Dan terbayanglah dia akan wajah In Hong, dan pikirannya menjadi makin bingung.
"Houw-ji...!"
Terdengarlah suara ayahnya yang tenang dan dia membuka matanya, sadar kembali akan keadaannya.
"Maaf, ayah dan ibu..."
"Bun Houw, ayah dan ibumu melihat engkau sudah cukup dewasa, tahun ini usiamu sudah dua puluh tahun lebih, dan ayah ibumu sudah makin tua, ingin menimang cucu dalam sebelum menutup mata,"
Kata Sie Biauw Eng dan nada suaranya terharu.
"Bun Houw, tadinya kami berdua bersepakat untuk menjodohkan engkau dengan In Hong, bahkan kami telah merundingkan hal ini dan mendapat persetujuan Yap Kun Liong. Akan tetapi, terjadi peristiwa dengan Yalima itu dan In Hong sendiri yang memutuskan tali perjodohan itu..."
Bun Houw mengangguk dan hatinya terasa perih.
Dia sudah mendengar akan hal itu dari Yalima dan kini mengertilah dia mengapa setelah In Hong tahu bahwa dia adalah Cia Bun Houw, dara itu berubah sikapnya dan menjadi dingin.
Mengertilah dia mengapa In Hong memakinya sebagai seorang perayu wanita yang tidak setia!
Tentu In Hong merasa penasaran mengapa dia yang dianggapnya sudah "bertunangan"
Dengan Yalima, mau dijodohkan dengan In Hong dan hal ini oleh dara yang berhati keras itu dianggapnya sebagai suatu penghinaan!
"Kemudian kami mencari-cari dan memilih-milih,"
Sambung Sie Biauw Eng melanjutkan penjelasan suaminya.
"Dan ketika kami melihat Kwi Eng, dan mendengar permohonan ibunya, kami berdua dengan hati bulat menyetujuinya."
"Ibu...!"
Kembali Bun Houw berseru, kaget sekali.
"Hemm, kenapakah, Bun Houw? Apakah kau tidak setuju dengan Kwi Eng? Kulihat dari gerak-gerik dara itu, dia sudah jatuh cinta padamu,"
Sambung pula ibunya.
"Bun Houw, katakanlah, apa yang menyebabkan engkau keberatan dan tidak menyetujui pilihan ayah bundamu?"
Keng Hong berkata dengan tenang mendesak.
"Ayah dan ibu, sesungguhnya sama sekali bukan karena saya tidak suka kepada adik Kwi Eng, akan tetapi aku... aku belum ingin terikat oleh tali perjodohan."
"Ha-ha, mengapa begitu saja dirisaukan amat?"
Ayahnya mencela.
"Ikatanmu dengan Kwi Eng barulah pertunangan saja, sedangkan tentang pernikahannya, hemmm... sesungguhnya kami ingin segera melihat engkau menikah, akan tetapi kalau kau masih belum suka, dapat diundur beberapa lamanya karena Kwi Eng juga baru berusia enam belas tahun lebih."
"Akan tetapi jangan lama-lama, anakku,"
Kata Biauw Eng.
"Aku sudah ingin sekali mempunyai cucu dalam dan dilayani mantu perempuan!"
Bun Houw merasa hatinya bingung dan tertindih oleh desakan-desakan ayah bundanya.
Tiba-tiba dia memperoleh pandangan, seolah-olah ada sinar terang memasuki hatinya.
"Ayah dan ibu, kita masih menghadapi urusan, Siang-bhok-kiam masih berada di tangan orang lain. Aku hendak mencari dan merampas kembali pusaka itu, barulah kita bicarakan urusan perjodohan. Dan aku harus cepat-cepat pergi ke Lembah Naga, karena kalau dibiarkan terlalu lama, aku khawatir akan makin sukarlah pusaka kita itu dapat dirampas kembali. Kalau saja dua orang iblis itu tidak berada di benteng Raja Sabutai ketika mereka menguasai Siang-bhok-kiam, tentu sudah kuserang mereka dan kurampas pedang pusaka kita itu."
"Eihh, baru saja kau datang, jangan tergesa-gesa pergi lagi, Houw-ji!"
Ibunya berseru dan memegang pundak puteranya.
"Engkau hampir tidak pernah berkumpul dengan kami. Sejak kecil berguru kepada Lama itu Tibet sampai bertahun-tahun, begitu pulang kau terus pergi mencari Lima Bayangan Dewa. Sekarang, baru saja datang hendak pergi lagi merampas kembali Siang-bhok-kiam di Lembah Naga yang begitu jauh di utara. Tidak, kau tidak boleh cepat-cepat pergi!"
"Ibumu benar, Bun Houw. Kau harus beristirahat dulu dan nanti kalau kau pergi, kami akan titip surat untuk keluarga Souw atau keluarga de Gama di pelabuhan Yen-tai. Kami sudah tua, tidak sempat membalas kunjungan mereka, maka kaulah yang mewakili kami membalas kunjungan mereka di Yen-tai. Selain itu, kaupun harus menyerahkan suratku kepada Kaisar di kota raja. Sesudah kauselesaikan tugas itu, baru kau boleh mencari dua orang tua yang merampas Siang-bhok-kiam itu di Lembah Naga."
Bun Houw tidak dapat membantah lagi dan dengan berkeras ibunya menahannya sehingga baru satu bulan kemudian dia meninggalkan Cin-ling-san, membawa dua buah surat dari ayahnya, yang satu untuk diserahkan kepada Yuan de Gama dan keluarganya di Yen-tai, dan yang satu lagi untuk dihaturkan kepada Kaisar di kota raja.
In Hong bersandar pada batang pohon di dalam hutan itu, memejamkan matanya dan mengatur kembali napasnya yang agak terengah-engah.
Kepalanya terasa pening dan biarpun matanya dipejamkan, Namun nampak bayangan beberapa orang berputaran, yaitu bayangan wajah Bun Houw dan Yalima.
Ingin dia menjerit dan menangis untuk memberi pelepasan kepada perasaan hatinya yang berdesakan dan penuh dengan segala macam perasaan yang saling bertentangan.
Dia suka kepada Bun Houw, hal ini tak mungkin dapat dibantahnya lagi!
Bahkan, sejak pertama kali dia melihat pemuda itu dengan gagahnya menolak bujuk rayu wanita-wanita itu, dia sudah merasa kagum dan suka sekali kepada Bun Houw.
Anehnya, ketika dia memperoleh kenyataan pahit bahwa pemuda itu adalah tunangannya sendiri yang telah ditolaknya, ketika dia mendapat kenyataan bahwa Bun Houw adalah seorang pemuda yang luar biasa lihainya, Yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi darinya, rasa kagum dan suka makin meresap di dalam hatinya!
Dan kalau tadinya dia menganggap seorang yang bernama Cia Bun Houw itu dengan pandangan rendah karena dianggap tidak setia kepada Yalima, setelah dia tahu bahwa Cia Bun Houw adalah pemuda yang telah memberi pedang pusaka kepadanya, yang telah diberi Giok-hong-cu olehnya, pandangan tidak setia kepada Yalima berobah cemburu dan iri terhadap Yalima!
Bahkan ketika dia melakukan perjalanan ke Cin-ling-pai, biarpun dia selalu bersikap diam dan dingin kaku, namun diam-diam dia merasakan sesuatu yang indah di dalam hatinya, sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan!
Dan ketika dia melihat Yalima ternyata telah menikah dengan orang lain, saking malunya terhadap Bun Houw dia ingin membunuh Yalima!
Akan tetapi di balik itu semua, harus dia akui bahwa dia merasa girang bukan main melihat Yalima telah menjadi isteri orang lain.
"Aku telah gila... aku telah gila...!"
Dia berbisik dan menjambak rambutnya sendiri "Houw-koko...!"
Keluh hatinya dan dia merasa betapa hidupnya sunyi dan sendiri, betapa dia merindukan kehadiran Bun Houw di sampingnya, di dekatnya, biarpun tidak usah berdekatan dan bersikap baik, asal ada nampak Bun Houw di situ dia tidak akan merasa tersiksa seperti sekarang ini.
Dia merasa rindu sekali dan otomatis tangannya meraba pinggang.
Dia terkejut, memandang ke arah pinggangnya dan baru teringat dia bahwa Hong-cu-kiam telah ditinggalkannya di Cin-ling-san!
Dia mengeluh panjang dan merasa makin sunyi dan sepi, merasa kehilangan!
"Houw-ko...!"
Kembali bibirnya mengeluh, jantungnya seperti diremas rasanya dan ingin dia menjerit-jerit memanggil nama pemuda yang dirindukannya itu.
In Hong mengepal tinju dan membuka matanya.
Kekerasan hatinya yang dulu timbul lagi dan matanya menjadi beringas.
Dia cepat membalik seolah-olah diserang orang dari belakangnya, dan tangannya yang dikepal itu menghantam batang pohon.
"Dessss... krakkkkk!"
Batang pohon itu patah dan kepalan tangannya berdarah karena saking marahnya dan saking gelisahnya dia tadi menghantam tanpa melindungi tangan dengan sin-kang.
Terasa nyeri sekali tangannya yang berdarah dan dia mencucupi darahnya sendiri di tangan itu, wajahnya agak terang dan dia berterima kasih kepada rasa nyeri di tangannya, karena rasa nyeri itu mengurangi rasa nyeri yang lebih mendalam dan menyiksa tadi.
"Persetan dengan Cia Bun Houw...!"
Dia membentak lalu dara ini lari secepatnya keluar dari hutan itu dan mendaki lereng gunung di depan.
Ketika dia keluar dari hutan dan tiba di jalan raya kasar yang diapit-apit padang rumput, dia mendengar derap kaki kuda dan melihat serombongan orang berkuda, pakaian mereka seragam mendatangi dengan cepat.
Karena hatinya lagi risau In Hong tidak perduli dan terus saja dia mempergunakan ilmu berlari cepat sehingga dia berpapasan dengan rombongan belasan orang itu tanpa memperhatikan sama sekali.
"Heiii...!"
Tiba-tiba terdengar seruan dari rombongan penunggang kuda itu dan In Hong masih tetap berlari terus.
Akan tetapi kini dia mendengar derap kaki kuda dari belakangnya dan agaknya rombongan penunggang kuda tadi telah membalikkan arah kuda mereka dan kini mengejar In Hong.
"Lihiap...! Perlahan dulu...!"
Setelah tiga kali mendengar seruan ini, barulah In Hong sadar bahwa ada orang-orang mengejarnya dan bahwa panggilan itu ditujukan kepadanya, maka dia lalu berhenti berlari dan menanti di pinggir jalan sambil memandang tajam penuh perhatian, Hatinya sudah mulai panas karena merasa bahwa perjalanannya diganggu orang!
Kalau serombongan orang laki-laki itu hendak berlaku kurang ajar kepadanya, awas, pikirnya!
Aku takkan mengampunkan kalian!
Kini rombongan yang terdiri dari lima belas orang berpakaian seragam gemerlapan karena disulam benang emas itu berhenti pula di situ dan seorang di antara mereka, yang bertubuh tegap dan bersikap gagah, usianya empat puluhan tahun, meloncat dengan gesitnya dari atas kuda lalu menghampiri In Hong yang berdiri tegak dengan kedua lengan bersilang depan dada.
Laki-laki yang ternyata adalah komandan dari pasukan itu, menjura dan mengeluarkan sehelai kain bergambar, dipandangnya kain itu, kemudian dia menatap wajah In Hong penuh selidik dan bertanya.
"Maafkan saya, lihiap. Bukankah lihiap ini yang bernama Yap In Hong?"
Tangan dara itu bergerak cepat seperti kilat menyambar.
Komandan pasukan itu bukanlah orang biasa, melainkan seorang komandan atau perwira dari pasukan Kim-i-wi yaitu pasukan pengawal istana yang berpakaian seragam keemasan atau yang dinamakan Pasukan Baju Emas.
Kepandaiannya sudah cukup tinggi, kalau tidak tentu saja dia tidak akan terpilih menjadi perwira.
Melihat gerakan dara itu, dia terkejut sekali dan cepat mengelak sambil menarik kembali tangannya yang memegang lukisan.
"Prrrttt...!"
Betapapun cepatnya perwira itu mengelak, tetap saja gambar itu telah berpindah tangen dan kini dengan tenang, tanpa merobah kedudukan tubuhnya, In Hong yang masih cemberut itu memandang gambar di tangannya.
Dia kaget dan heran sekali melihat lukisan yang indah di atas kain itu, lukisan seorang wanita muda yang bukan lain adalah dirinya sendiri!
In Hong mengerutkan alisnya dan pandang matanya ke arah wajah perwira itu seperti todongan ujung pedang yang amat runcing sehingga perwira itu kembali terkejut dan otomatis mundur selangkah ke belakang.
"Hayo katakan, siapa yang melukis ini dan apa maksudnya semua ini?"
Suaranya dingin sekali dan nadanya mengancam sehingga terasa pula oleh semua anggauta pasukan pengawal Kim-i-wi yang mendengarnya.
Akan tetapi, pasukan pengawal Kim-i-wi adalah terkenal sebagai pasukan yang gagah berani dan setia, semacam pasukan pengawal istana yang telah disumpah untuk setia sampai mati!
Perwira itupun lalu menjawab dengan tabah.
"Maafkan saya, lihiap. Demi tugas kami, maka sebelum lihiap menjawab apakah benar lihiap yang bernama Yap In Hong, kami tidak dapat menerangkan apapun."
In Hong memandang dengan marah, akan tetapi ketika dia bertemu pandang dengan perwira itu, dia merasa kagum.
Perwira ini benar-benar berani, akan tetapi tidak kurang ajar, dan tidak sombong pula.
Kekagumannya membuat dia agak lunak.
"Aku benar Yap In Hong. Nah, sekarang terangkan semua, kalau tidak, terpaksa aku akan menghajar kalian semua karena gangguan ini!"
Wajah perwira itu menjadi berseri gembira dan juga anak buahnya menjadi girang sekali nampaknya.
"Wah, maaf... eh, betapa girang hati kami, lihiap. Susah payah kami mencari lihiap. Ketahuilah, kami adalah pasukan Kim-i-wi dari istana Kaisar dan ratusan orang anggauta kami disebar di seluruh pelosok untuk mencari lihiap dan ini merupakan perintah dari Sri Baginda Kaisar sendiri! Setiap pasukan diberi gambar seperti ini agar lebih mudah mengenal lihiap. Ketika tadi kita saling berpapasan, saya segera mengenal lihiap maka kami melakukan pengejaran."
Akan tetapi pandang mata In Hong masih belum melenyapkan kecurigaannya.
"Apa sebabnya istana mengerahkan pasukan pengawal untuk mencari aku?"
"Lihiap, saya hanya seorang pemimpin pasukan kecil saja, mana saya bisa mengetahui akan kehendak Sri Baginda Kaisar? Yang saya ketahui hanya bahwa pasukan-pasukan pengawal menerima perintah keras dari Sri Baginda Kaisar untuk mencari lihiap sampai jumpa..."
"Dan kalau sudah jumpa?"
"Agar dipersilakan ke istana untuk memenuhi undangan Kaisar."
In Hong berpikir sejenak.
Tidak mungkin ada sesuatu yang buruk di belakang undangan Kaisar ini, pikirnya.
Dia tahu bahwa Kaisar yang muda itu adalah seorang yang baik dan gagah.
Dia sudah menolong Kaisar lolos dari benteng Sabutai, tidak mungkin Kaisar yang kini sudah menduduki tahtanya lagi itu berniat buruk terhadap dirinya.
Menarik juga undangan Kaisar ini, menjanjikan pengalaman-pengalaman baru untuknya, dan pada saat seperti itu, selagi hatinya diliputi gundah, pergi kepada kakaknya di Leng-kokpun tidak ada gunanya.
Lebih baik ke kota raja memenuhi undangan Kaisar dan hendak dilihatnya apa yang akan dilakukan oleh Kaisar terhadap dirinya.
"Baik, aku akan ikut dengan kalian ke istana,"
Katanya.
Wajah perwira itu berseri-seri dan girangnya bukan main.
Juga anak buahnya semua tersenyum girang karena kalau pasukan mereka ini yang menemukan pendekar wanita itu, tentu berarti mereka akan menerima pujian dan ganjaran besar!
"Saya akan memberi isyarat kepada semua pasukan Kim-i-wi!"
Katanya dan tak lama kemudian dia melepaskan panah ke udara, anak panah berapi yang menyalakan kembang api berwarna biru di udara.
Setiap hari mereka mengirim isyarat panah berapi itu dan sebelum mereka tiba di istana pasukan itu telah bertambah terus, didatangi oleh pasukan-pasukan Kim-i-wi lain yang tersebar ke mana-mana dan akhirnya ketika rombongan itu tiba di istana, yang mengirimkan In Hong tidak kurang dari seratus orang!
Dara itu sendiri diberi seekor kuda yang pilihan dan di sepanjang perjalanan memperoleh pelayanan sebagai seorang puteri saja sehingga In Hong yang sudah biasa hidup bebas dan menghadapi kesukaran-kesukaran sampai merasa sungkan sendiri.
Akan tetapi karena dia tahu bahwa perlakuan dan sikap mereka itu adalah untuk memenuhi perintah Kaisar, maka diapun tidak menolak.
Kalau mereka kemalaman di jalan, setiap pembesar-pembesar setempat menyambutnya dengan penuh penghormatan, menjamunya dan memberinya kamar yang terbaik dari gedung mereka.
Akhirnya In Hong dibawa oleh panglima pengawal menghadap Kaisar.
Begitu melihat dara perkasa ini muncul di ruangan, Kaisar sudah tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan girang, sehingga para menteri dan pembesar yang hadir di situ menjadi terheran-heran.
"Yap In Hong lihiap...! Alangkah girang hati kami mendengar akan kedatanganmu!"
In Hong adalah seorang gadis yang sejak kecil hidup di dunia kang-ouw dan tentu saja dia tidak mengenal tata tertib istana, tidak pula mengenal kesusilaan yang sudah menjadi tradisi di dalam istana Kaisar.
Akan tetapi dia seorang yang cerdas, maka biarpun dia tidak tahu akan kebiasaan di situ, dia segera menjatuhkan diri berlutut dan berkata.
"Semoga paduka selamat, bahagia, dan berusia panjang!"
Tiba-tiba Kaisar yang kini agak gemuk dan wajahnya segar berseri itu tertawa bergelak dan kembali semua menteri saling pandang dengan heran.
"Ha-ha-ha, Hong-lihiap, dari manakah engkau memperoleh kepandaian memberi hormat seperti itu! Bangkitlah dan duduklah di atas bangku yang sudah tersedia itu. Kita bicara seperti dahulu ketika kita bersama lolos dari benteng Sabutai dan keluar masuk hutan!"
Wajah In Hong menjadi merah dan dia bangkit, menjura lalu duduk di atas bangku sambil tersenyum.
"Hamba hanya ikut-ikut saja, Sri Baginda. Kalau keliru harap tidak ditertawakan dan diampunkan."
"Tidak, engkau adalah tamuku, penolongku, bahkan kuanggap saudaraku sendiri, Hong-lihiap! Semenjak aku kembali ke sini, aku selalu teringat kepadamu dan kusuruh mencari ke mana-mana. Aku minta kepadamu, lihiap, agar engkau suka tinggal di istana ini, sebagai seorang saudaraku dan untuk jasa-jasamu kuangkat engkau menjadi Puteri Pelindung Kaisar yang juga kuanggap sebagai adikku sendiri. Engkau berhak keluar masuk di selurub istana ini dan berhak tinggal di sini selama yahg engkau sukai."
Kembali semua menteri melongo mendenger ini, akan tetapi karena merekapun sudah mendengar behwa pendekar wanita bernama Yap In Hong inilah yang telah membebaskan Kaisar dari tawanan Raja Sabutai, maka mereka hanya dapat mengangguk.
Di waktu Kaisar menjadi tawanan dan terancam bahaya, orang sekerajaan tidak ada yang mau atau berani menolong kecuali dara ini!
Sudah sepatutnya kalau kini Kaisar membalas jasanya yang amat besar itu.
In Hong merasa terharu juga oleh limpahan perasaan seperti itu, akan tetapi dia masih bertanya.
"Tentu hamba tidak terikat di sini, bukan?"
Kaisar tersenyum lebar.
"Tidak, lihiap. Akan tetapi kuharap dengan sungguh agar engkau dapat selamanya tinggal di sini, bahkan kelak kalau engkau sudah bersuami, suamimu akan kami beri pangkat dan kedudukan tinggi agar engkau selalu dekat dengan kami."
In Hong lalu menghaturkan terima kasih dan Kaisar lalu memanggil kepala pengawal dalam istana dan memerintahkan panglima ini untuk mengantar In Hong ke dalam istana dan memberinya sebuah gedung yang serba indah dan lengkap di bagian keputren.
Mulai hari itu, kehidupan In Hong berobah sama sekali!
Biarpun dia tidak suka bersolek, dan tidak ingin memakai pakaian yang indah-indah, akan tetapi setelah semua pakaian tersedia dan dia tidak ingin membikin malu Kaisar karena dia dianggap sebagai seorang puteri, atau adik angkat Kaisar sendiri, terpaksa In Hong mengganti pakaiannya yang sederhana dengan pakaian yang serba indah gemerlapan!
Dan diapun menduga bahwa di balik semua ini, tentu ada suatu maksud dari Kaisar dan dia menduga bahwa hal itu tentulah ada hubungannya dengan Khamila!
Karena, bukankah hanya dia yang tahu bahwa Kaisar ini dengan isteri Raja Sabutai itu terdapat jalinan hubungan yang amat mesra?
Dugaannya memang tepat karena beberapa hari kemudian, ketika terdapat kesempatan Kaisar bertemu berdua saja dengan dia, Kaisar berkata.
"Hong-lihiap, aku lebih suka menyebutmu lihiap daripada adik atau puteri, karena sebutan ini mengingatkan aku akan pengalaman-pengalaman kita dahulu. Engkau tentu tahu, lihiap, bahwa hadirnya engkau di dalam istana ini, di dekatku membuat aku merasa seolah-olah diapun tidak jauh dariku."
In Hong mengangkat muka memandang wajah Kaisar yang kelihatan terharu dan berduka itu.
Dia mengangguk akan tetapi tidak tahu harus berkata apa.
"Aku hanya mengharap, lihiap, engkau sebagai satu-satunya orang yang tahu akan rahasia kami itu, selain tidak akan membocorkan rahasia ini, juga kelak sekali waktu engkau dapat mewakili aku untuk menengok... anak itu di sana."
In Hong mengangguk-angguk.
Dia mengerti, dan mudahlah menduga siapa yang dimaksudkan dengan anak itu.
Tentu anak yang dulu dikandung oleh Khamila.
"Harap paduka jangan khawatir. Sewaktu-waktu hamba akan memenuhi perintah paduka."
Demikianlah In Hong kini menjadi seorang puteri yang bebas keluar masuk di seluruh bagian istana itu, dihormati oleh semua pengawal, pelayan dan ponggawa istana.
Kalau tadinya ada yang menduga bahwa pendekar wanita yang cantik itu menjadi kekasih Kaisar, kini mereka itu keliru dan ternyata bahwa benar-benar Kaisar melakukan kebaikan itu untuk membalas jasa.
Akan tetapi, karena sikap In Hong yang tidak sombong, bahkan kini dara itu mempelajari segala macam kebiasaan di istana, dan mulai dapat merobah sifatnya yang tadinya dingin, kaku dan ganas, di samping berita akan kelihaian dara itu, semua orang merasa suka kepadanya.
"Tio-twako...!"
"Eh, Tio-twako datang...!"
Kwi Beng dan Kwi Eng yang sedang duduk di serambi depan rumah mereka di Yen-tai, meloncat dengan girang dan lari ke pekarangan menyambut kedatangan seorang pemuda yang tinggi kurus, bersikap gagah dan berpakaian sederhana, berwarna kuning dan yang memasuki pekarangan itu dengan sikap ragu-ragu.
Pemuda itu bukan lain adalah Tio Sun.
Begitu bertemu dan melihat wajah Maria de Gama atau Souw Kwi Eng, sepasang mata Tio Sun bersinar-sinar, kedua pipinya menjadi agak kemerahan dan jantungnya berdebar keras.
Betapa hebat rasa rindu hatinya terhadap dara ini, baru sekarang benar-benar terasa olehnya setelah berhadapan muka!
Akan tetapi, tentu saja dia menekan perasaannya ini dan cepat menjura.
"Beng-te dan Eng-moi, apa kabar? Kuharap kalian baik-baik saja selama ini. Apakah aku tidak mengganggu kalian dengan kunjunganku ini?"
"Ahhhh, Tio-twako kenapa begini sungkan?"
Kwi Eng yang memang berwatak bebas dan ramah itu menegur.
"Bukankah kita sudah menjadi sahabat-sahabat baik?"
"Tio-twako, marilah masuk menemui ayah dan ibu kami, kemudian kami ingin banyak bicara, banyak bertanya kepadamu, twako."
Kwi Beng lalu menggandeng tangan tamunya itu.
"Aih, dia ingin banyak bertanya tentang enci Hong yang dirindukannya, hi-hik!"
Souw Kwi Eng menggoda.
"Hushh, jangan main-main kau!"
Kwi Beng membentak dan melototkan matanya.
Tio Sun tersenyum menyaksikan dua orang yang wajahnya serupa hanya bedanya pria dan wanita itu berkelakar dan bergurau.
Yuan de Gama dan isterinya, Souw Li Hwa, segera keluar menyambut dengan ramah ketika mendengar akan kedatangan sahabat kedua orang anak mereka itu.
Tentu saja mereka telah mendengar penuturan kedua orang anak mereka tentang Tio Sun yang dahulu telah membantu Kwi Eng ketika hendak menyelamatkan Kwi Beng yang diculik oleh Tokugawa.
Tentu saja mereka berterima kasih sekali kepada Tio Sun, apalagi ketika mendengar bahwa Tio Sun adalah putera tunggal Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, Souw Li Hwa makin suka dan ramah kepada pemuda sederhana itu.
"Aku mengenal baik ayahmu itu,"
Katanya.
"Dia seorang pengawal yang amat setia dan berlimu tinggi."
Tio Sun memandang dengan wajah berseri dan menjura.
"Ayah banyak bercerita tentang toanio sebagai murid yang amat lihai dari mendiang Panglima The Hoo."
"Aih, jangan menyebut aku toanio, Tio Sun. Sebut saja bibi, karena sesungguhnya kita adalah orang-orang sendiri bukan?"
Kata Souw Li Hwa dengan ramah sambil tersenyum dan biarpun usia nyonya ini sudah sekitar empat puluh tahun, namun dia masih nampak muda dan cantik.
"Terima kasih, bibi."
"Dan kau boleh menyebut aku paman, Tio Sun."
Kata pula Yuan de Gama yang sudah pandai sekali berbahasa daerah sehingga tidak seperti orang asing, Sungguhpun kebiruan matanya dan kekuningan rambutnya tentu saja tidak dapat menyembunyikan keasingannya.
Suami isteri itu mengajak Tio Sun bercakap-cakap sejenak dan mereka berdua menyatakan terima kasih mereka kepada pemuda ini yang telah menolong anak-anak mereka ketika mereka dahulu sedang berlayar ke barat.
Tio Sun merendahkan diri dan akhirnya menerima penawaran mereka untuk bermalam di rumah mereka selama beberapa hari dan untuk mempererat persahabatan.
Kemudian, suami isteri itu meninggalkan tiga orang muda itu untuk bercakap-cakap sendiri.
Setelah ayah bundanya maninggalkan mereka, dan pelayan membawa buntalan pakaian Tio Sun ke sebuah kamar serta mengeluarkan makanan dan minuman, Kwi Eng lalu berkata.
"Tio-twako, dia itu sudah tidak sabar menanti ceritamu."
"Eh, cerita apa?"
Tio Sun balas menanya.
"Jangan pura-pura, twako, lihat dia seperti ikan di darat. Lekas kauceritakan apakah kau pernah bertemu dengan enci Hong itu?"
Kwi Eng berkata pula.
"Enci Hong...? Ah, tentu kau maksudkan nona Yap In Hong itu? Hemmm, memang menarik sekali ceritanya."
Kini Kwi Beng benar-benar tidak dapat menahan keinginan tahunya.
"Kau berjumpa dengan dia, twako? Di mana? Bagaimana dengan dia? Bagaimana ceritanya?"
Tio Sun memegang tangan pemuda itu dan diam-diam dia menghela napas panjang.
Jelas bahwa pemuda remaja ini yang usianya kurang lebih tujuh belas tahun, telah jatuh cinta kepada Yap In Hong!
"Bertemu sih tidak, akan tetapi nona Yap In Hong..."
"Begitukah namanya? Setahu kami hanya Hong saja..."
Kata pula Kwi Beng dengan girang.
"Yap In Hong... sungguh tepat, namanya memang sesuai dengan orangnya yang..."
"Cantik manis!"
Kwi Eng menggoda.
"Yang amat lihai,"
Kwi Beng melanjutkan tanpa memperdulikan godaan saudaranya.
Kembali Tio Sun menarik napas panjang, tidak tahan dia melihat gerak-gerik Kwi Eng yang serba membetot semangat dan menarik hatinya.
Pandang mata yang biru itu, kerlingnya, senyumnya, gerakan bibirnya, cara dara itu menggerakkan kepala untuk menyingkapkan rambut yang selalu turun menutupi mukanya, ahhhh...
sungguh sukar baginya untuk bercerita, apalagi menceritakan orang lain.
Kalau boleh, dia hanya akan duduk saja memandangi dara itu yang demikian lincah, demikian jelita, demikian...
"Eh, kenapa kau bengong saja, twako?"
Tiba-tiba Kwi Beng menegur.
"Dan kau memandang saja padaku, ada apa sih pada wajahku? Apa ada kotorannya?"
Kwi Eng sibuk mengusap hidung dan pipinya.
"Tio-twako tentu jengkel karena kau menyela terus, sih!"
Kwi Beng mengomel.
Bagi Kwi Beng, tentu saja amat sukar membayangkan ada orang laki-laki bisa tergila-gila kepada saudara kembarnya ini!
"Tidak apa-apa, maafkan aku..."
Tio Sun menunduk dan menelan ludah menenteramkan jantungnya yang berdebar tidak karuan.
"Sebetulnya... eh, banyak sekali hal-hal aneh kudengar tentang nona Yap In Hong itu. Dia benar-benar amat luar biasa, di luar dugaan dan hebat!"
"Nah, apa kataku? Dia memang wanita paling hebat di dunia ini!"
Kata Kwi Beng sambil memandang kepada adiknya.
"Siapa yang menyangkal?"
Kwi Eng menjawab.
"Akan tetapi dia terlalu hebat untukmu. Tio-twako, ceritakanlah, kami ingin sekali mendengarnya,"
Kata Kwi Eng sambil menyentuh tangan pemuda tinggi kurus itu.
Tersirap darah ke leher dan muka Tio Sun dan tangannya yang tersentuh itu menggigil.
Dia merasa heran sendiri mengapa dia menjadi lemah seperti ini menghadapi gadis itu.
Untuk menenangkan jantungnya yang bergelora, Tio Sun meneguk air teh di depannya, kemudian dia bercerita.
"Pertama-tama, dara perkasa yang kita kenal sebagai nona Hong itu bernama Yap In Hong, adik kandung dari paman Yap Kun Liong..."
"Ahhh...!"
Seruan ini keluar dari dua mulut yang bentuknya sama, mulut Kwi Eng dan mulut Kwi Beng.
"Tapi... tapi paman Yap Kun Liong sudah setengah tua dan nona Hong..."
"Tentu lebih tua daripada kita!"
Kata Kwi Eng.
"Paling banyak selisih dua tahun!"
Kata Kwi Beng membantah.
"Entahlah. Akan tetapi kenyataannya demikian, dia adalah adik kandung paman Yap Kun Liong dan dia memang memiliki ilmu tinggi sekali karena kabarnya dia itu adalah murid tunggal dari ketua Giok-hong-pang. Yang paling hebat adalah karena dialah yang berhasil menyelamatkan Kaisar."
"Hebat...!"
Seru Kwi Eng.
"Twako, bukankah kabarnya Kaisar telah ditawan oleh raja liar dan kini telah kembali lagi ke kota raja?"
Tanya Kwi Beng.
"Benar, dan Yap In Hong itulah yang menyelamatkan Kaisar, menolong Kaisar lolos dari tawanan benteng Raja Sabutai."
"Luar biasa! Dia seorang pahlawan kalau begitu!"
Souw Kwi Beng berseru gembira.
"Memang hebat dia, bahkan ketua Cin-ling-pai sendiri, dengan bantuan banyak orang pandai, tidak mampu menyelamatkan Kaisar yang ditawan. Akan tetapi nona Yap In Hong seorang diri menyelundup ke dalam benteng musuh, pura-pura menjadi kaki tangan Raja Sabutai, akan tetapi tahu-tahu dialah yang meloloskan Kaisar dari tawanan."
"Bukan main...! Di mana sekarang dia berada, twako?"
Kwi Beng bertanya.
"Entah, saya belum mendengar lagi, akan tetapi ada berita bahwa nona Yap In Hong kini berada di kota raja."
"Dan bagaimana kabarnya dengan... kanda Cia Bun Houw...?"
Tiba-tiba Kwi Eng bertanya.
"Ehm, ehm...!"
Kwi Beng terbatuk-batuk, dehem buatan dan Kwi Eng melotot kepadanya.
Tio Sun merasa jantungnya tertusuk.
Dahulupun dia sudah melihat bahwa dara ini tertarik kepada Bun Houw.
"Dia...? Dia bersama dengan aku membantu ayahnya ketika kami berusaha menyerbu benteng Sabutai untuk menolong Kaisar, akan tetapi gagal. Kemudian, setelah Kaisar dapat diselamatkan oleh nona Yap In Hong, agaknya terjadi perdamaian antara Kaisar dan Raja Sabutai, dan Cia-Taihiap lalu pergi menyusul nona Yap In Hong yang setelah berhasil menolong Kaisar lalu kembali ke dalam banteng Raja Sabutai."
"Aih, berbahaya sekali! Lalu apa yang terjadi?"
Kwi Eng bertanya kaget mendengar betapa Bun Houw memasuki benteng Raja Sabutai.
"Kabarnya banyak yang terjadi di sana. Banyak terjadi pertempuran antara orang-orang pandai yang sengaja diadu oleh Raja Sabutai dan katanya tiga orang Bayangan Dewa telah tewas di tangan Cia-Taihiap."
"Hebat...!"
Kwi Eng bersorak girang.
"Lalu bagaimana, twako? Pedang Siang-bhok-kiam tentu sudah kembali kepada Houw-koko, bukan?"
"Entahlah, aku sendiri belum sempat bertemu lagi dengan dia."
"Sayang, kami berduapun belum lama kembali dari Cin-ling-san, akan tetapi juga tidak berjumpa dengan dia,"
Kata Kwi Eng.
"Cin-ling-san?"
Tio Sun bertanya heran.
"Ya, bersama ibu,"
Jawab Kwi Eng dan tiba-tiba dia menunduk dengan kedua pipi berobah merah sekali.
"Ha, dia sudah amat rindu kepada Houw-koko, Tio-twako, rindu kepada tunangannya! Ha-ha!"
"Ihhh, tak tahu malu kau!"
Kwi Eng mencubit lengan saudaranya lalu lari ke dalam. Seketika wajah Tio Sun berobah pucat.
"Tunangan...?"
Dia berbisik.
"Kami ke sana bersama ibu dan ibu membicarakan tentang pertunangan mereka, dan sudah disetujui. Adikku yang bengal itu beruntung sekali telah dijodohkan dengan kanda Cia Bun Houw... eh, kau kenapa, Tio-twako?"
Kwi Beng bertanya kaget melihat wajah yang menjadi pucat dan mata yang dipejamkan itu.
"Ahh... ehh, tidak apa-apa..."
Tio Sun membuka matanya dan meraba-raba cangkirnya, lalu diminumnya isi cangkir, akan tetapi jelas tangannya gemetar dan ketika dia mengembalikan cangkir ke atas cawan, terdengar bunyi berkeretakan karena tangan itu tidak dapat diam.
"Kau... kau pucat sekali dan gemetar... kau seperti orang sakit, twako,"
Kwi Beng bertanya khawatir. Tio Sun menggigit bibir.
"Tidak apa-apa, mungkin karena lelah, Beng-te, aku permisi..."
Tio Sun bangkit dari bangkunya.
"Ehhh? Ke mana?"
Kwi Beng berseru kaget.
Tio Sun sadar kembali bahwa dia telah menerima undangan mereka untuk menginap di situ, maka dia menahan kakinya yang sudah hendak melangkah pergi.
"Eh... mau beristirahat..."
"Kamarmu di sebelah sana, twako. Marilah kuantar, kau kelihatan pucat dan gemetar, agaknya kau sakit."
"Agaknya begitulah, Beng-te... terima kasih..."
Tanpa bicara apa-apa lagi Tio Sun lalu mengikuti Kwi Beng yang mengantarkan sampai ke kamarnya.
Setelah pemuda itu meninggalkannya, Tio Sun menutup pintu kamarnya dan rebah terlentang, berkali-kali menarik napas panjang dan akhirnya dia bisa menenangkan batinnya yang terguncang hebat mendengar bahwa Kwi Eng telah bertunangan dan dijodohkan dengan Bun Houw itu.
"Ahh, engkau sungguh tak tahu diri!"
Dia menghela napas dan menyesalkan diri sendiri.
"Sejak dulupun sudah jelas bahwa dia tertarik kepada Cia Bun Houw, dan memang sudah sepantasnyalah demikian. Dia seorang gadis yang cantik jelita, pandai dan kaya raya, sudah sepatutnya berjodoh dengan Cia Bun Houw yang lihai, putera ketua Cin-ling-pai. Sedangkan aku ini apa? Sungguh tak tahu diri!"
Penyesalan kepada dirinya sendiri dan kesadaran bahwa sudah sepatutnya kalau Kwi Eng berjodoh dengan Cia Bun Houw yang dikaguminya dan bahwa sudah semestinya kalau dia ikut girang melihat gadis yang dicintanya itu berbahagia memperoleh jodoh seorang pilihan seperti putera ketua Cin-ling-pai itu dan mengesampingkan keinginannya untuk mementingkan diri sendiri, meringankan beban guncangan batinnya dan ketika Kwi Eng dan Kwi Beng datang menengoknya, Tio Sun telah tenang pula.
"Kata Beng-ko engkau sakit, twako?"
Kwi Eng menegurnya ketika dia menyambut kedatangan dua orang kakak beradik itu ke kamarnya.
"Ah, mungkin hanya terlalu lelah dan masuk angin."
Jawab Tio Sun sambil tersenyum.
"Akan tetapi setelah mengaso sebentar di kamar yang nyaman ini sudah sembuh kembali. Terima kasih. Oh ya, aku... aku menghaturkan selamat atas pertunanganmu dengan Cia-Taihiap, adik Kwi Eng!"
Tergopoh-gopoh Kwi Eng membalas pemberian selamat itu dengan kedua pipi berobah merah.
"Terima kasih, Tio-twako. Kau baik sekali."
Tio Sun yang bijaksana itu ternyata telah dapat memulihkan sikapnya dan dia bergaul seperti biasa dengan Kwi Eng dan Kwi Beng.
Souw Li Hwa dan suaminya diam-diam juga merasa suka kepada pemuda yang sederhana dan rendah hati ini.
Maka dia membujuk Tio Sun untuk memberi petunjuk dalam hal ilmu silat kepada anak-anaknya.
Permintaan ini dipenuhi dengan suka hati oleh Tio Sun dan setiap hari nampak tiga orang muda itu berlatih silat di taman bunga.
Dalam waktu beberapa hari saja mereka bergaul dengan akrab sekali.
Dan karena maklum bahwa harapannya untuk dapat berjodoh dengan dara yang dicintanya itu lenyap sama sekali, sikap Tio Sun terhadap Kwi Eng dan Kwi Beng seperti sikap seorang kakak terhadap adik-adiknya sehingga dua orang saudara kembar itupun merasa seolah-olah Tio Sun adalah kakak mereka.
Keakraban inilah yang membuat Kwi Beng menaruh kepercayaan pada suatu hari, ketika memperoleh kesempatan berdua saja dengan Tio Sun, pemuda ini dengan muka sedih mengeluarkan isi hatinya.
"Tio-twako, setelah beberapa hari bergaul denganmu, aku memperoleh keyakinan bahwa engkau seoranglah yang akan dapat menolongku, twako. Sebenarnya aku menderita sekali, menderita batin yang hebat dan selama ini hanya kusimpan dan kutahan-tahan agar jangan sampai ketahuan oleh adikku dan oleh orang tuaku. Akan tetapi kalau terus kusimpan, akhirnya aku tentu tidak tahan juga."
Melihat wajah yang biasanya gembira itu kini kelihatan amat berduka, Tio Sun terkejut dan merasa heran.
Dia memegang pundak pemuda tampan itu dan berkata sambil tersenyum.
"Ah, Beng-te. Seorang pemuda dalam keadaan seperti engkau ini bagaimana bisa mengatakan menderita batin yang hebat? Engkau mesih muda, mempunyai orang tua dan saudara yang amat baik, berkepandaian cukup tinggi, hartawan dan apapun yang kaukehendaki tentu terlaksana. Mengapa masih menderita, tekanan batin?"
"Justeru yang kukehendaki tidak terlaksana, twako."
Tio Sun menarik napas panjang.
Demikianlah hidup!
Manusia, termasuk dia sendiri, selalu menghendaki yang tidak ada, menghendaki yang berada di luar jangkauan sehingga kehendaknya tidak dapat tercapai dan lahirlah duka!
"Beng-te, apakah kehendakmu yang tidak dapat terlaksana itu?"
"Tio-twako, jangan kau mentertawai aku, ya? Aku cinta kepada nona Yap In Hong."
Tio Sun tidak terkejut mendengar ini.
Dari sendau-gurau antara Kwi Beng dan Kwi Eng dia sudah dapat menduga akan hal ini.
Maka dia tersenyum.
"Mengapa orang jatuh cinta ditertawai? Dan mengapa pula engkau menderita batin karena itu, Beng-te? Kau mencinta siapapun, apa halangannya?"
Kwi Beng menarik napas panjang.
"Akan tetapi, twako. Cintaku ini tidak akan dapat terlaksana karena ibuku tidak setuju."
"Justeru yang kukehendaki tidak terlaksana, twako."
Tio Sun menarik napas panjang.
Demikianlah hidup!
Manusia, termasuk dia sendiri, selalu menghendaki yang tidak ada, menghendaki yang berada di luar jangkauan sehingga kehendaknya tidak dapat tercapai dan lahirlah duka!
"Beng-te, apakah kehendakmu yang tidak dapat terlaksana itu?"
"Tio-twako, jangan kau mentertawai aku, ya? Aku cinta kepada nona Yap In Hong."
Tio Sun tidak terkejut mendengar ini.
Dari sendau-gurau antara Kwi Beng dan Kwi Eng dia sudah dapat menduga akan hal ini.
Maka dia tersenyum.
"Mengapa orang jatuh cinta ditertawai? Dan mengapa pula engkau menderita batin karena itu, Beng-te? Kau mencinta siapapun, apa halangannya?"
Kwi Beng menarik napas panjang.
"Akan tetapi, twako. Cintaku ini tidak akan dapat terlaksana karena ibuku tidak setuju."
Tio Sun memandang heran.
"Tidak setuju? Apa maksudmu, Beng-te?"
"Ketika aku dan adikku pulang dahulu itu, kami berdua langsung menyatakan isi hati kami kepada ayah dan ibu. Dalam hal pilihan hati, ayah sama sekali memberi kebebasan. Ibu segera menyatakan persetujuannya ketika Eng-moi menyatakan cintanya kepada Cia Bun Houw, bahkan ibu lalu mengajak kami pergi ke Cin-ling-pai untuk membicarakan soal jodoh Eng-moi dan Cia Bun Houw itu sehingga berhasil diterima baik. Akan tetapi ketika aku menyatakan cintaku kepada nona Yap In Hong, ibu menolaknya!"
Tio Sun menahan senyumnya melihat pemuda itu kelihatan berduka sekali.
Pemuda itu masih demikian kekanak-kanakan!
Kedukaannya itu lebih merupakan sikap merajuk dan "ngambek"
Kepada ibunya! "Menolak bagaimana maksudmu, Beng-te?"
"Aku minta agar ibu juga mengurus perjodohanku dengan nona Yap In Hong, akan tetapi ibu keberatan."
"Mengapa?"
"Pertama, karena tadinya kami belum tahu siapa sebenarnya nona itu, hanya tahu sebagai penolongku yang bernama nona Hong. Dan kedua, karena ibu mendengar dari Eng-moi bahwa nona itu lebih tua kira-kira dua tahun dari aku. Akan tetapi, dalam hal cinta, apa artinya perbedaan usia? Ayah sendiri mengatakan bahwa hal itu sebenarnya bukan merupakan soal yang besar, hanya ayah setuju dengan ibu bahwa kami harus mengenal dulu siapa sebenarnya nona itu. Ketika kemarin, setelah mendengar darimu bahwa Yap In Hong adalah adik dari Yap Kun Liong, ibu lebih-lebih merasa tidak setuju lagi."
"Hemm... mengapa pula?"
"Kata ibu, Yap Kun Liong adalah sababatnya yang sebaya. Setelah kini nona Hong tidak mempunyai orang tua, jelas bahwa kami harus melamar kepada Yap Kun Liong sebagai wali gadis itu. Dan ibu merasa malu dan sungkan kalau harus melamar adik sahabatnya itu untuk menjadi calon mantunya. Akan tetapi aku tahu bahwa keberatan itu yang terutama adalah soal perbedaan usia. Menurut ibu, seorang calon suami haruslah lebih tua daripada calon isteri."
"Siapa yang mengharuskan, Beng-te?"
"Entahlah, akan tetapi begitulah kata ibu. Pendeknya, ibu menolak dan hatiku hancur, twako."
Tio Sun tersenyum, senyum yang pahit.
Betapa banyaknya manusia yang dipermainkan oleh cinta!
Betapa banyaknya kisah duka ditimbulkan oleh cinta yang sepihak.
Dia sendiri jatuh cinta kepada Kwi Eng, namun dara itu sebaliknya mencinta Bun Houw, bahkan telah terikat sebagai calon jodoh pemuda Cin-ling-pai itu.
Dia menderita karena cinta sepihak.
Sedangkan Kwi Beng jatuh cinta kepada gadis yang lebih tua dari padanya dan biarpun belum diketahui apakah gadis yang dicintanya itu akan menerima atau membalas cintanya ataukah tidak, namun ibunya tidak menyetujuinya!
Apakah Kwi Beng juga akan menderita cinta yang gagal?
"Aku merasa ikut berduka mendengar keadaanmu, Beng-te.
Akan tetapi apa maksudmu ketika mengatakan tadi bahwa hanya aku yang dapat menolongmu?"
Pemuda yang usianya baru tujuh belas tahun itu memegang lengan Tio Sun dan memandang dengan matanya yang biru, penuh permohonan.
"Twako, sudikah twako menolongku?"
Tio Sun merasa terharu.
Mata itu sama benar dengan mata Kwi Eng dan ketika pemuda ini memegang lengannya dan mengajukan permohonan itu, seolah-olah dia menghadapi Kwi Eng sendiri yang memohon pertolongan kepadanya!
"Tentu saja, Beng-te.
Jangan khawatir, aku selalu siap untuk menolongmu.
Akan tetapi dalam hal ini, bagaimana mungkin aku dapat menolongmu?"
"Aku mohon engkau suka menjadi waliku twako! Ibu tidak mau melamarkan nona Yap In Hong, biarlah engkau yang menjadi waliku dan melamarkan untukku kepada kakak nona itu, yaitu kepada pendekar Yap Kun Liong."
"Ahhh...?"
Tio Sun terkejut sekali, tidak menyangka bahwa pemuda ini akan mengajukan pormintaan seperti itu.
"Mana mungkin, Beng-te? Ayah bundamu masih ada, bagaimana aku berani lancang..."
Dan tiba-tiba Kwi Beng menjatuhkan diri berlutut di depan Tio Sun!
"Kalau twako tidak mau menolongku, habislah harapanku..."
Katanya dengan suara seperti orang hendak menangis. Tio Sun cepat membangunkan pemuda itu.
"Duduklah, Beng-te dan mari kita bicara dengan baik dan dengan tenang."
"Akan tetapi twako tidak mau menolongku..."
Baiklah, aku mau menolongmu, akan tetapi hanya atas dasar desakan dan permintaanmu.
Kalau kelak orang tuamu marah kepadaku dan menganggap aku lancang..."
"Aku yang bertanggung jawab dan akan kukatakan bahwa twako melakukan itu hanya karena desakanku dan permohonan tolong dariku."
Tio Sun merasa terdesak.
"Akan tetapi, apakah itu bijaksana kalau langsung mengajukan lamaran, Beng-te? Apakah tidak lebih baik kalau lebih dulu diadakan pendekatan dari fihakmu kepada gadis itu? Sebaiknya mengukur isi hatinya lebih dulu, apakah kiranya dia akan mau menerimanya, sehingga dengan demikian tidak sampai kelak hatimu patah karena penolakan dari fihaknya."
"Tidak, tidak! Kalau terlambat, tentu ibu akan mendahului kita, mencarikan jodoh untukku, karena Eng-moi juga sudah terikat jodoh dengan calon suaminya. Dan kalau aku sudah diikat jodoh dengan orang lain, sampai bagaimanapun tentu ibu akan menghalangi aku berjodoh dengan nona Yap In Hong. Mengingat bahwa kakak nona itu adalah sahabat baik ayah dan ibu, yaitu menurut penuturan ibu, agaknya lamaran itu tidak akan ditolaknya. Dan tentang nona Yap In Hong sendiri, kurasa diapun... eh, cinta padaku. Buktinya dia telah menyelamatkan nyawaku dari tangan Hui-giakang Ciok Lee Kim dan sikapnya terhadapku baik sekali."
"Hemm, Beng-te. Pertolongan adalah kewajiban setiap orang gagah dan sama sekali tidak boleh dimaksudkan sebagai tanda cinta, demikian pula sikap yang baik belum tentu membayangkan cinta."
"Aku yakin bahwa kita tidak akan gagal, twako. Akan tetapi kalau Kau pikir lebih dulu menemui nona itu, akupun setuju. Pendeknya, aku ingin pergi dari sini untuk mendahului ibu. Aku akan menemui nona Hong, akan tetapi untuk mengajukan lamaran kepada kakaknya, aku mengharapkan bantuanmu, twako. Dan aku minta agar twako suka menemaniku pergi besok pagi."
"Ehh...? Tentu orang tuamu akan melarang."
"Tidak! Aku tidak akan berterus terang. Twako bilang saja terus terang bahwa twako hendak pergi ke kota raja dan aku akan ikut untuk meluaskan pengalaman dan pengetahuan."
Tio Sun menarik napas panjang.
"Ahhh... engkau menarik aku dalam keadaan amat tidak enak terhadap orang tuamu, Beng-te."
"Tidak, twako. Aku yang bertanggung jawab akan hal itu. Kalau twako berpamit dan berkata hendak pergi ke kota raja, berarti twako tidak membohongi mereka, karena bukankah nona Hong kabarnya berada di sana? Dan aku ikut pergi bersama twako, apa salahnya itu?"
Akhirnya Tio Sun tak dapat mengelak lagi karena diam-diam dia merasa kasihan juga kepada pemuda remaja ini.
Pula, diapun tidak ingin terlalu lama tinggal di Yen-tai, karena makin lama dia berkumpul dengan Kwi Eng, makin beratlah penderitaan dan kekecewaan hatinya.
Kalau sudah jelas bahwa nona itu bukan jodohnya, lebih baik secepat mungkin pergi dan sejauh mungkin agar tidak usah berjumpa lagi dengan dara yang dicintanya akan tetapi yang menjadi milik orang lain itu.
Ketika Tio Sun berpamit kepada Yuan de Gama dan isterinya, juga kepada Souw Kwi Eng, mereka menyatakan sayang bahwa pemuda itu tidak tinggal lebih lama lagi, akan tetapi mereka tidak berani menahan, dan mengucapkan selamat jalan.
Namun, ketika Kwi Beng minta perkenan orang tuanya untuk ikut bersama Tio Sun ke kota raja untuk meluaskan pengetahuan dan orang tuanya tidak keberatan karena mereka percaya penuh atas bimbingan Tio Sun kepada putera mereka, Kwi Eng yang rewel!
"Aku juga ikut...!"
Katanya manja.
"Maria, engkau seorang gadis dewasa, kurang leluasa dan kurang baik untuk pergi jauh menempuh perjalanan sukar tanpa orang tuamu!"
Kata Yuan de Gama mencegah.
"Dan kau harus ingat bahwa engkau telah terikat sekarang, Kwi Eng. Bagaimana kalau ada utusan dari Cin-ling-pai datang dan engkau tidak berada di rumah? Alangkah akan mengecewakan dan membuat kami menjadi malu."
Diingatkan akan hal ini, reda kekecewaan Kwi Eng dan akhirnya dua orang pemuda itu berangkat meninggalkan Yen-tai menuju ke kota raja.
Tidak ada seorangpun di antara keluarga itu yang tahu betapa beratnya hati Tio Sun ketika dia melangkah pergi menjauhi dara yang dicintanya itu.
Semangatnya seolah-olah tertinggal di rumah gedung itu, dan telinganya selalu mendengar suara ketawa Kwi Eng sehingga beberapa kali dia kadang-kadang tidak mendengar kata-kata Kwi Beng ketika pemuda ini bicara kepadanya.
Malam yang gelap.
Langit hitam pekat, tidak nampak sebuahpun bintang.
Padahal malam itu sebetulnya adalah giliran bintang-bintang menggantikan bulan yang tidak muncul di malam hari itu, akan tetapi awan hitam tebal memenuhi langit.
Biar di kota raja sekalipun, tempat tinggal orang-orang yang beruang dibandingkan dengan orang-orang dusun, lampu-lampu yang digantung di luar rumah tidak mampu menembus kegelapan yang tebal itu, bahkan penerangan yang dibandingkan dengan kekuatan malam gelap itu amat lemah mendatangkan bayang-bayang yang menyeramkan.
Hanya di daerah bangunan istana sajalah, di sebelah dalam lingkungan tembok istana, keadaannya agak terang karena banyaknya lentera dan lampu besar yang dinyalakan para penjaga keamanan.
Di malam yang gelap itu, yang mengancam dengan hujan, orang-orang menjadi malas keluar, toko-toko dan restoran-restoran sepi sehingga mereka itu menutup dagangan mereka sebelum waktunya.
Hanya mereka yang mempunyai keperluan penting sekali, dan laki-laki iseng yang tak betah di rumah dan keluar untuk mencari hiburan, kaum penjudi, kaum pemabok dan kaum hidung belang saja yang malam itu masih nampak berkeliaran d luar rumah-rumah yang sudah menutupkan daun pintu dan jendelanya.
Seorang laki-laki setengah tua yang mabok jalan sempoyongan di atas jalan raya, digandeng oleh seorang laki-laki muda yang setengah mabok dengan susah payah karena si penggandeng itu sendiri pun tidak tetap langkahnya.
Keduanya bernyanyi-nyanyi gembira dan memang orang yang mabok dapat merasakan kegembiraan yang luar biasa, karena dalam keadaan terbius oleh minuman keras itu segala macam keruwetan hidup lenyap atau terlupa oleh pikiran sehingga pikiran menjadi kosong, bebas dan karenanya dapat melihat segala sesuatu tanpa penolakan dan menimbulkan kegembiraan "Heeeee, manusia-manusia terbang...!
Ha-ha, manusia-manusia terbang...!"
Tiba-tiba yang mabok sekali itu berkata sambil menuding ke atas genteng-genteng rumah di sepanjang jalan raya itu.
"Manusia terbang... heh-heh, ya benar... manusia terbang..."
Sambung yang setengah mabok.
Orang-orang di dekat mereka memandang sambil tersenyum.
Kata-kata orang mabok, pikir mereka tak acuh.
Akan tetapi ada sebagian di antara mereka yang mempercepat langkahnya agar dapat segera tiba di rumah yang aman.
Mereka merasa ngeri karena bukankah orang mabok itu kadang-kadang dapat melihat lebih awas daripada orang yang sadar dan tidak mabok?
Siapa tahu mereka benar-benar melihat manusia terbang yang berarti bahwa mereka itu melihat setan dan iblis berkeliaran di malam gelap itu?
Dan bukan tidak mungkin karena malam itu memang menyeramkan, bahkan setiap bayang-bayang yang dipantulkan oleh pohon-pohon dan rumah-rumah tersinar penerangan pucat membentuk iblis-iblis mengerikan.
Akan tetapi kalau kebetulan di atas genteng-genteng rumah itu terdapat seorang berkepandaian tinggi yang berpandangan tajam, tentu dia akan menyaksikan keanehan dan bahwa teriakan orang mabok tadi bukanlah penglihatan khayal belaka karena sesungguhnya memang terdapat dua bayangan manusia yang seolah-olah terbang saja di atas genteng-genteng rumah itu.
Gerakan mereka demikian cepatnya sehingga seperti dua ekor kucing berlari-larian dia atas genteng-genteng itu, tanpa menimbulkan suara dan mereka menuju ke arah istana!
Ketika dua bayangan yang benar-benar memiliki kegesitan dan keringanan tubuh luar biasa itu tiba di luar tembok istana, mereka mendekam dan menanti dengan penuh kewaspadaan.
Sudah tentu saja banyak terdapat penjaga dan peronda di luar tembok istana itu.
Pintu gerbang istana sudah ditutup rapat-rapat dan dijaga oleh belasan orang pengawal luar.
Di atas menara di ujung tembok juga terdapat pengawal yang mengawasi ke arah sekeliling tempat itu.
Kemudian secara bergiliran masih diadakan perondaan, dan sekali meronda terdiri dari enam orang bersenjata tombak dan memegang lentera yang terang.
Bayangan yang berpakaian putih dan mukanya hitam, tubuhnya kecil dan agak pendek, memberi isyarat kepada kawannya yang berpakaian hitam dan bermuka putih, menudingkan telunjuk tangannya yang kecil ke arah menara.
Si muka putih mengangguk, dan diapun menunjuk ke arah enam orang peronda yang datang dari depan.
Keduanya mengangguk.
Agaknya tanpa kata-kata mereka sudah saling mengerti dan kini si muka hitam merunduk ke depan, setengah merangkak seperti seekor harimau mengintai korban mendekati menara.
Setelah dekat, dia memandang ke atas, ke arah dua orang penjaga yang berdiri di menara, hanya kelihatan tubuh bagian atas, Dari dada sampai ke pundak dan tangan mereka memegang sebatang busur sedangkan segebung anak panah tersandang di pundak.
Mereka berdua adalah ahli-ahli panah yang dapat menyerang setiap orang pengacau dari atas (Lanjut ke
Jilid 34) Dewi Maut (Seri ke 03 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34 dengan anak panah mereka.
Sementara itu, si muka putih menggunakan kedua tangannya, mengangkat sebuah batu besar, sebesar perut kerbau hamil.
Seperti dikomando saja, pada saat si muka hitam menggerakkan tangannya dan sinar mengkilat menyambar ke arah menara, si muka putih melontarkan batu besar itu jauh ke depan, ke arah yang berlawanan dengan menara.
Terdengar suara pekik dua orang penjaga di menara yang roboh di tempat penjaga mereka dengan leher tertusuk pisau hitam!
Akan tetapi pekik ini tertutup oleh suara berdebuk yang amat keras dibarengi suara berkerosakan ketika sebongkah batu besar itu menimpa pohon, Menumbangkan batang pohon dan jatuh berdebuk ke atas tanah.
Enam orang peronda itu terkejut sekali dan cepat memburu ke depan, sama sekali tidak mendengar pekik dua orang penjaga di menara, juga sama sekali tidak tahu bahwa begitu mereka lari ke arah pohon tumbang, ada dua bayangan melesat ke atas tembok istana dengan keringanan tubuh yang luar biasa dan sekejap mata saja bayangan dua orang itu lenyap ke sebelah dalam tembok istana!
Baca Juga: Si Tangan Sakti 1
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 8