Ceritasilat Novel Online

Jaka Lola 7

Eps 7 Jaka Lola - Kho Ping Hoo

Baca online Jaka Lola - Kho Ping Hoo

Cersil Jaka Lola - Kho Ping Hoo.

"Maharsi, kalau kau lanjutkan kesesatanmu, terpaksa aku yang akan memberi hukuman kepadamu, mewakili mendiang Guruku."

Keduanya sudah saling menghampiri, keadaan menjadi tegang.

Pendekar Buta, Hui Kauw yang sudah sadar, Raja Pedang, Cui Sian, dan Lee Si merasa betapa jantung mereka berdebar penuh ketegangan.

Yo Wan merupakan pemuda harapan mereka, satu-satunya orang yang dapat diharapkan menolong mereka keluar dari jurang malapetaka yang mengancam hebat.

Akan tetapi diam-diam mereka sangsi, dapatkah pemuda itu melawan Maharsi yang amat lihai?

Dan di situ masih ada lagi Bhok Hwesio yang berdiri seperti patung, atau agaknya seperti sudah pulas sambil berdiri karena kedua matanya meram.

Hanya Cui Sian seorang yang penuh percaya akan kesaktian Yo Wan.

Diam-diam gadis ini merasa terharu.

Satu-satunya pria yang ia kagumi, yang ia harapkan, yang menimbulkan debar aneh di jantungnya, kini muncul di saat yang amat berbahaya untuk menolong dia sekeluarga.

la menjadi girang sekali sungguhpun kegirangan itu bercampur dengan rasa khawatir juga.

"Ha... ha... ha, Yo Wan. Kalau sekarang Gurumu masih hidup, ingin aku mencobanya dengan ilmuku yang baru. Akan tetapi karena dia sudah mampus, kau lah penggantinya. Ha... ha... ha, kalau dulu aku sudah memiliki ilmu ini, kiranya dia tidak akan mampu menundukkan aku. Kau terimalah ini!"

Tubuh yang miring-miring itu tiba-tiba bergerak dan tangannya yang panjang mengirim pukulan Pai-San-Jiu beruntun sampai tiga kali.

Hebat bukan main pukulan ini.

Angin pukulannya berdesir menimbulkan suara bersiutan.

Memang kali ini Maharsi mengerahkan tenaganya untuk pamer, Juga dalam kegemasannya untuk segera merobohkan murid supeknya yang mengganggu ini, sekaligus membalas sakit hatinya karena dahulu sampai dua kali dia dirobohkan dan ditekan oleh Bhewakala ketika dia mengganggu seorang gadis dusun, dan kedua kalinya ketika dia berusaha merampas sebuah kuil untuk tempat dia bertapa dari tangan pertapa lain.

Melihat hebatnya pukulan dengan tubuh miring ini, Yo Wan tidak berani memandang ringan.

la cukup maklum betapa ilmu pukulan dari Nepal disertai tenaga mujijat dari latihan kekuatan batin.

Akan tetapi, tanpa menahan pukulan dengan tangkisannya, dia juga tidak akan dapat mengukur sampai di mana kehebatan tenaga pukulan lawan itu.

Oleh karena inilah, maka setelah menggunakan langkah ajaib dari Si-Cap-It Sin-Po untuk menghindarkan dua pukulan, dia lalu mengangkat tangan menangkis pukulan ketiga.

"Desssss""

Dua telapak tangan bertemu dan Maharsi melanjutkan dengan cengkeraman, akan tetapi bagaikan belut licinnya, telapak tangan pemuda itu sudah lepas pula, karena Yo Wan cepat menariknya ketika tubuhnya terpental dan terhuyung-huyung ke belakang.

"Heh...heh...heh, mana kau mampu menahan pukulanku, bocah?"

Maharsi mengejek dan seperti seekor kepiting, tubuhnya yang miring itu merayap maju untuk menerjang lagi.

Karena yakin bahwa pemuda itu tidak akan mampu menahan serangan-serangannya, Maharsi lalu melancarkan serangan beruntun dengan ilmu pukulan Pai-San-Jiu yang amat lihai.

Yo Wan tetap menghindarkan pukulan-pukulan itu dengan Si-Cap-It Sin-Po, sehingga tampaknya dia selalu terhuyung-huyung dan terdesak hebat, sungguhpun tak pernah ada pukulan yang menyentuh tubuhnya.

"Hebat pemuda itu..."

Raja Pedang Tan Beng San memuji perlahan.

"Ayah, dia terdesak... bagaimana kalau dia kalah...?"

Cui Sian berkata lirih penuh kekhawatiran. Mendengar suara anaknya ini, Beng San menoleh dan memandang aneh, lalu tersenyum.

"Sian-ji, kau kenal dia?"

Dalam keadaan terluka seperti itu, kedua pipi halus Cui Sian masih sempat memerah.

Maklum bahwa Ayahnya sedang menatapnya, ia tidak berani balas memandang, takut kalau-kalau sinar matanya akan bercerita sesuatu tentang isi hatinya.

"Aku pernah bertemu dengan dia, Ayah. Dia Yo Wan, murid Kwa-Suheng..."

Raja Pedang mengangguk-angguk.

"Pantas... pantas langkah-langkah itu terang adalah langkah ajaib yang dimiliki Kun Hong. Tapi dia tadi mengaku murid Bhewakala..."

"Ayah, Pendeta itu begitu lihai, bagaimana kalau Yo-Twako kalah...?"

Kembali Cui Sian menyatakan kekhawatirannya ketika ia memandang ke arah pertempuran.

"Dia tidak akan kalah,"

Jawab Raja Pedang. Sementara itu Lee Si sadar dari pingsannya dan gadis ini menangis tersedu-sedu.

"Siapa membunuhnya, Bibi? Siapa? Kong-kong (Kakek), Ayah dibunuh orang, kenapa Kong-kong diam saja?"

Raja Pedang Tan Beng San tidak menjawab, hanya menghela nafas panjang.

Pertanyaan Cucunya ini mengingatkan dia akan kecerobohannya, menuduh Pendekar Buta sehingga dia dan Pendekar Buta terluka parah, sehingga tidak mampu menghadapi lawan-lawan tangguh.

Akan tetapi Cui Sian merangkul Lee Si dan berkata lirih.

"Tenanglah Lee Si. Kami semua terluka parah sebagai akibat membela kematian Ayahmu. Pembunuh Ayahmu adalah Ang-Hwa Nio-Nio, dia sudah tewas. Akah tetapi masih ada Maharsi dan Bhok Hwesio yang lihai, sedangkan kami semua terluka. Mudah-mudahan Yo-Twako dapat menolong kita, kalau tidak..."

"Aku tidak terluka, biar aku membantunya!"

Lee Si melompat bangun.

"Lee Si, duduklah! Jangan ganggu dia!"

Tiba-tiba Raja Pedang mencegah.

Gadis itu kecewa sekali, akan tetapi suara Kakeknya demikian berwibawa sehingga ia tidak berani membantah, lalu menjatuhkan diri lagi duduk di atas rumput dekat Cui Sian yang memeluknya.

Lee Si menangis lagi sambil melihat arah lubang di tanah, di mana menggeletak jenazah Ayahnya.

Kemudian ia menengok ke sekeliling dan melihat mayat-mayat orang amat banyak malang-melintang memenuhi tempat itu.

Biarpun Lee si puteri Suami isteri berilmu tinggi dan ia sendiri adalah seorang Pendekar wanita yang lihai, ia bergidik juga menyaksikan penglihatan yang menyeramkan itu.

Ada dua puluh lima sosok mayat yang malang-melintang di tempat itu!

Sementara itu, Hui Kauw juga memegang lengan suaminya dan menekannya erat-erat ketika melihat munculnya Yo Wan tadi.

Kun Hong tentu saja sudah mendengar suara muridnya, dan jantung Pendekar Buta ini pun berdebar tegang.

Tanpa disengaja, Hui Kauw menyatakan kekhawatiran hatinya yang serupa dengan kekhawatiran Cui Sian.

"Dia belum belajar apa-apa darimu, bagaimana kalau dia kalah...?"

Dan seperti juga Raja Pedang dalam menjawab puterinya, kini Pendekar Buta berkata kepada isterinya.

"Tenanglah, dia tidak akan kalah."

Jawabannya mantap dan penuh keyakinan.

Biarpun kedua matanya tak dapat melihat lagi, namun pendengaran Pendekar Buta yang tajam dapat membedakan gerakan Yo Wan dan gerakan Maharsi, malah dia dapat menduga bahwa Yo Wan sengaja berlaku murah kepada (Lanjut ke

Jilid 18) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 18 murid keponakan Bhewakala itu.

Dugaan Pendekar Buta dan dugaan Raja Pedang memang tepat sekali.

Dalam pertemuan tenaga tadi, Yo Wan sudah mengukur kekuatan lawan dan tahulah dia bahwa pukulan Pai-San-Jiu dari Maharsi itu mengandung tenaga mendorong dan menekan dari hawa sakti Yangkang.

la maklum bahwa pukulan macam itu amat berbahaya bagi orang-orang yang menghadapi Maharsi dengan tenaga keras, akan tetapi sesungguhnya hilang bahayanya kalau dihadapi dengan tenaga halus.

Oleh karena itu dia sengaja mainkan langkah-langkah ajaib dari Si-Cap-It Sin-Po sehingga semua pukulan dahsyat itu hanya menyambar-nyambar dan menimbulkan angin pukulan yang berputar-putar seperti angin puyuh yang berpusingan.

"Maharsi, sekali lagi, atas nama mendiang Suhu Bhewakala, aku memberi kesempatan kepadamu untuk insyaf dan sadar dari kesesatan, kembali ke jalan benar. Kembalilah ke Barat dan jangan ikat dirimu dengan segala macam permusuhan yang tiada gunanya,"

Terdengar Yo Wan berkata dengan sabar. Maharsi tertawa sampai terkekeh-kekeh.

"Ho... ho... hah, bocah sombong! Kau benar-benar tak tahu diri. Kematian sudah di depan mata, sejak tadi kau tidak mampu balas menyerang dan sekali menangkis kau hampir roboh, kau masih berani membuka mulut besar? Hah...hah...hah. Sungguh tak tahu malu dan tak tahu diri..."

"Kau sendiri yang mencari penyakit. Kau yang memutuskan, nanti jangan sesalkan aku!"

Yo Wan menutup kata-katanya ini dengan lecutan cambuk yang berbunyi.

"Tar-tar-tar!"

Disusul sinar cambuk Liong-kut-pian (Cambuk Tulang Naga) warisan Bhewakala.

Menyaksikan cambuk ini, kagetlah Maharsi.

Cambuk inilah yang dahulu di tangan Bhewakala yang telah menghajarnya sampai dua kali.

Akan tetapi sekarang kepandaiannya sendiri sudah meningkat tinggi sedangkan pemegang cambuk hanya seorang pemuda!

Tentu saja dia tidak menjadi jerih.

Sambil mengeluarkan seruan aneh, Pendeta jangkung itu menyerbu lagi, tangan kiri mencengkeram ke arah cambuk, tangan kanan mengirim pukulan Pai-San-Jiu ke arah lambung Yo Wan.

Namun pemuda ini sudah siap.

Kakinya melangkah mundur lalu ke kanan, sehingga serangan itu sekaligus dapat dia hindarkan, kemudian dengan langkah-langkah aneh seperti tadi, seperti orang terhuyung-huyung ke depan, dia maju lagi.

Maharsi gemas dan juga girang.

Cepat dia memapaki tubuh Yo Wan dengan serangan kilat yang dia yakin akan mengenai sasaran.

Akan tetapi kembali dia tertipu karena secara aneh dan tiba-tiba tubuh Yo Wan lenyap ketika pemuda itu menyelinap di antara kedua lengannya.

Sebelum Maharsi sempat mengirim susulan serangannya, terdengar suara keras di pinggir telinganya.

"Tar!!"

Keringat dingin membasahi muka Maharsi.

Ujung cambuk tadi meledak di pinggir telinganya, dekat benar.

Kalau tadi mengenai jalan darah atau kepalanya, agaknya dia sudah akan roboh.

Rasa penasaran dan malu membuatnya marah dan dengan geraman hebat dia menubruk maju, mengirim pukulan Pai-San-Jiu dengan hebat.

Pukulan ini merupakan pukulan jarak jauh yang lihai sekali, disusul cengkeraman yang dapat menghancur lumatkan batu karang.

Namun sekali lagi dia menubruk dan memukul angin, karena Yo Wan sudah menyelinap pergi, dan sekali dia menggerakkan tangan kanan, cambuknya melecut bagaikan seekor ular hidup, kali ini diam-diam tidak mengeluarkan suara sedikit pun juga, akan tetapi tahu-tahu ujung cambuknya sudah membelit pergelangan tangan kanan Maharsi!

Pendeta itu kaget sekali, cepat mengerahkan tenaganya untuk merenggut lepas tangannya yang terbelit cambuk.

Namun sia-sia belaka, karena pada saat itu, dia telah dibetot oleh tenaga luar biasa melalui cambuk.

Betapapun dia mempertahankan diri dengan mengerahkan tenaga pada sepasang kakinya, Maharsi tidak mampu menahan dan dia terhuyung ke depan.

Tiba-tiba cambuk terlepas dari tangannya dan hampir saja Maharsi roboh terguling kalau saja dia tidak cepat melompat ke samping untuk mematahkan tenaga dorongan tadi.

"Maharsi, sekali lagi kuberi kesempatan. Pulanglah ke Barat!"

Yo Wan berkata lagi nada suaranya keren.

Maharsi termenung, ragu-ragu.

Baru saja dia mendapat kenyataan bahwa pemuda murid uwa Gurunya itu.

benar-benar lihai sekali.

Permainan cambuknya tidak saja menyamai Bhewakala, malah lebih aneh dan hebat karena gerakan langkah kaki pemuda itu benar-benar membingungkannya.

Gerakan cambuk Bhewakala masih dapat dikenalnya sedikit, akan tetapi langkah kaki itu benar-benar amat sukar dia ikuti sehingga dia tidak dapat menduga dari mana datangnya serangan cambuk.

la menjadi serba salah.

Jelas bahwa pemuda itu masih memandang perhubungan perguruan dan memberi kesempatan kepadanya.

Akan tetapi rasanya amat memalukan kalau harus mengaku kalah terhadap seorang pemuda.

Kalau melawan, dia agak jerih, khawatir kalau-kalau sekali lagi dia akan menderita kekalahan, kali ini malah dari murid uwak Gurunya, Bhewakala.

"Sungguh memalukan menjadi seorang pengecut..."

Yo Wan menengok dan mencari dengan pandang matanya, akan tetapi dia hanya melihat Hwesio tua dengan mata meram itu berdiri agak jauh.

la menduga bahwa Hwesio tua itu yang bicara, akan tetapi Hwesio itu tidak menggerakkan mulut dan dia tidak mengenal siapa adanya Hwesio tinggi besar itu.

Akan tetapi bagi Maharsi, suara ini mengembalikan keberaniannya.

la tadi lupa bahwa di situ masih ada Bhok Hwesio yang kesaktiannya telah dia ketahui.

Dengan adanya Hwesio itu di situ, takut apakah?

"Bocah sombong, Maharsi bukanlah seorang pengecut!"

Setelah membentak keras, Pendeta Jangkung ini melompat ke depan dan mengirim serangan yang lebih dahsyat daripada tadi.

Yo Wan menjadi gemas sekali.

Ia mengerahkan tenaganya, menyalurkan Sinkang kepada sepasang lengan lalu sengaja dia menerima serangan itu dengan dorongan kedua lengan.

Kini sepasang lengan bertemu telapak tangannya dan bagaikan diterbangkan angin puyuh, tubuh Pendeta itu terjengkang ke belakang dan roboh.

Kiranya kali ini dia menggunakan jurus rahasia Pek-In-Ci-Tiam (Awan Putih Keluarkan Kilat), yaitu jurus yang paling ampuh dari empat puluh delapan jurus Liong-Thouw-Kun yang dia pelajari dari mendiang Sin-Eng-Cu.

Ketika dia masih kanak-kanak dahulu, dia telah mewarisi jurus-jurus yang khusus dipergunakan oleh Sin-Eng-Cu untuk menghadapi Bhewakala, juga dari pihak Bhewakala dia mewarisi jurus-jurus sebaliknya.

Oleh karena itu, dia sudah hafal betul akan ilmu silat dari Barat dan tahu pula akan kelemahan-kelemahannya.

Demikian pula, dia dapat segera mengetahui kelemahan Ilmu Pukulan Pai-San-Jiu dari Maharsi, maka untuk menghadapinya, dia menggunakan Pek-in-ci-tiam yang sekaligus telah berhasil baik sekali karena Maharsi yang terbanting roboh itu tidak dapat bangun lagi.

Tenaga Yangkang telah membalik ke dalam tubuh Pendeta itu sendiri, merusak isi dada dan memecahkan jantung sehingga nyawanya melayang.

Yo Wan menyesal sekali melihat Maharsi tewas.

Akan tetapi, hanya sebentar dia mengerutkan kening.

Pendeta itu telah mencari kematian sendiri.

Sudah beberapa kali dia memberi kesempatan tadi.

Dengan cepat dia lalu menghampiri Kun Hong dan berlutut di depan Pendekar Buta dan isterinya.

"Suhu dan Subo, maafkan Teecu datang terlambat sehingga Ji-wi (kalian) mengalami luka..."

Untuk sejenak Kun Hong meraba kepala Yo Wan dengan terharu, kemudian dia berkata.

"Bangkitlah dan kau wakili Thai-San-ciang bunjin (ketua Thai-San-Pai) yang juga terluka parah untuk menghadapi Bhok Hwesio. Hati-hati, dia tokoh Siauw-Lim-Pai, lihai sekali. Jangan lawan dengan keras, gunakan Si-Cap-It Sin-Po, hindarkan adu tenaga dan biarkan dia lelah karena usia Tuanya."

Yo Wan kaget sekali.

Kiranya orang tua gagah perkasa yang duduk bersila di sana dengan muka pucat tanda luka dalam itu adalah Raja Pedang atau Ketua Thai-San-Pai yang amat terkenal!

Dan jago tua yang luka itu adalah Ayah Cui Sian!

Mengapa Raja Pedang bisa terluka?

Dan mengapa pula Pendekar Buta, Gurunya yang sakti itu.

Juga Subonya, dan agaknya Cui Sian juga, semua terluka?

Tiada waktu untuk bicara tentang ini, karena dia mendengar Hwesio itu bertanya kepada Raja Pedang dengan nada mengejek sekali.

"Tan Beng San, kau dan kawan-kawanmu berhasil menghabiskan musuh-musuhmu. Bagus sekali! Akan tetapi Pinceng tetap tidak sudi melawan orang luka. Sekali lagi Pinceng memberi kesempatan kepadamu. Kau berlutut dan mengangguk tiga kali minta maaf dan Pinceng akan memberi waktu satu bulan kepadamu untuk memulihkan kesehatan dan tenaga sebelum Pinceng datang mengambil nyawamu di Thai-San. Kalau tidak, terpaksa Pinceng akan membuat kau menjadi seorang bercacad seumur hidup."

"Bhok Hwesio, mengapa mesti banyak bicara lagi? Sekali lagi dengarlah, dalam keadaan terluka begini aku tidak mampu melayani bertanding. Akan tetapi bukan berarti aku kalah atau takut padamu. Mau bunuh boleh bunuh, jangan harap aku sudi minta maaf kepadamu. Nah, aku tidak mau bicara lagi!"

Bhok Hwesio melebarkan matanya dan keningnya berkerut.

"Hemmm, manusia keras kepala, kau mencari sengsara sendiri"

Hwesio tua itu melangkah maju, matanya membayangkan kemarahan. Yo Wan melompat cepat dan tubuhnya melayang ke depan Bhok Hwesio.

"Lo-Suhu, tidak layak seorang Hwesio berhati kejam, dan sungguh memalukan bagi seorang sakti menyerang lawan yang terluka parah."

Bhok Hwesio berhenti melangkah, lalu tertawa mengejek.

"Raja Pedang, apakah kau hendak mewakilkan bocah ingusan ini untuk melawanku? Kau tahu, dia bukan lawanku!"

Yo Wan cukup maklum betapa tokoh-tokoh sakti seperti Raja Pedang dan Pendekar Buta, tak mungkin suka mengharapkan bantuan orang lain untuk mewakili mereka dalam sebuah pertandingan.

Bagi seorang Pendekar besar, hal seperti itu merupakan pantangan dan dipandang hina.

Ia dapat menduga bahwa pertanyaan seperti yang telah diajukan oleh Bhok Hwesio itu tentu akan disangkal oleh Raja Pedang.

Oleh karena inilah dia sengaja cepat-cepat mendahului Raja Pedang dan menjawab, suaranya lantang.

"Hwesio tua, para Lo-Cianpwe seperti Raja Pedang dan Pendekar Buta, tidak membutuhkan wakil dalam pertandingan. Kalau beliau-beliau itu tidak dalam keadaan terluka parah, tentu sejak tadi sudah melayani kesombonganmu. Aku maju bukan mewakili mereka, melainkan untuk mencegah kau melakukan perbuatan pengecut dan mengganggu mereka yang terluka."

"Omitohud...!"

Bhok Hwesio mengeluarkan pujian.

"Dunia terbalik, anak kecil berani menantang Pinceng! Sungguh memalukan. Heh, Raja Pedang, Pinceng tidak sudi melayani segala bocah, kecuali kalau kau menganggap dia wakilmu!"

Memang tidak mengherankan kalau Bhok Hwesio merasa sungkan melawan Yo Wan.

Bhok Hwesio adalah seorang tokoh besar di dunia persilatan, dia menduduki tingkat teratas di Siauw-Lim-Pai, dan seorang dengan kedudukan seperti dia tentu saja tidak sudi melayani lawan yang tidak setingkat kedudukannya.

Kalau dia mau melayani orang-orang muda seperti Yo Wan, apalagi di depan tokoh-tokoh seperti Pendekar Buta dan Raja Pedang, sama artinya dengan merendahkan diri dan menjadikan diri sebagai bahan tertawaan belaka.

Kecuali kalau orang muda itu memang diangkat oleh lawannya menjadi wakil, hal itu tentu saja lain lagi sifatnya.

Raja Pedang maklum akan hal ini.

Ia pun tidak begitu rendah untuk mewakilkan seorang muda menghadapi tokoh seperti Bhok Hwesio, kecuali kalau dia yakin bahwa orang muda itu berpihak kepadanya dan memiliki kepandaian yang cukup.

Biarpun Yo Wan adalah murid Pendekar Buta, namun dia murid Bhewakala pula, dan dia tidak mengenal pemuda itu.

Selagi dia ragu-ragu, terdengar Kun Hong berkata.

"Lo-Cianpwe, Yo Wan sama dengan saya sendiri, saya harap Lo-Cianpwe sudi mengijinkan dia mewakili Lo-Cianpwe."

Raja Pedang menarik nafas panjang, masih meragu.

"Ayah, biarlah Yo-Twako mewakili Ayah. Dia cukup berharga untuk menjadi wakil Ayah,"

Kata Cui Sian perlahan.

Kata-kata puterinya ini membuat wajah Beng San berseri.

Akhirnya!

Hatinya menjadi terharu.

Akhirnya gadisnya yang selalu menolak pinangan dan tidak mau dijodohkan itu kini mendapatkan pilihan hati!

Sebagai seorang yang berpengalaman matang, ucapan Cui Sian tadi saja cukup baginya untuk menjenguk isi hati anaknya.

"Yo Wan, ke sinilah sebentar,"

Ujarnya. Yo Wan cepat menghampiri dan berlutut di depan Raja Pedang.

"Maaf, Lo-Cianpwe, saya tidak berani lancang mewakili Lo-Cianpwe, akan tetapi..."

Raja Pedang mengangguk-angguk.

"Aku sudah menyaksikan gerakan-gerakanmu tadi. Kau cukup baik, akan tetapi tidak cukup untuk menghadapi Bhok Hwesio. Apakah kau tahu bahwa dengan mewakili aku menghadapinya, keselamatan nyawamu terancam bahaya?"

"Lo-Cianpwe, dalam membela kebenaran, berkorban nyawa merupakan hal yang mulia."

Raja Pedang tersenyum gembira. Ucapan ini saja cukup membuktikan bagaimana mutunya pemuda yang menjadi pilihan hati Cui Sian, dan dia puas.

"Baiklah, kau hadapi dia, akan tetapi tenang dan waspadalah, dia amat lihai dan kuat. Seberapa dapat kau ulur waktu pertempuran, mengandalkan nafas dan keuletan. Mudah-mudahan aku atau Kun Hong sudah dapat memulihkan tenaga selama kau menghadapinya."

"Saya mengerti, Lo-Cianpwe."

"He, Bhok Hwesio. Kuanggap bocah ini cukup berharga, malah terlalu berharga untuk menghadapimu dan menjadi wakilku. Bhok Hwesio, aku terima tantanganmu dan kuajukan Yo Wan, kalau dia kalah olehmu, kau boleh melakukan apa saja terhadap diriku dan aku akan menurut!"

Bhok Hwesio tertawa masam.

"Sialan memang, harus melawan seorang bocah! Akan tetapi karena kau mengangkatnya sebagai wakil, apa boleh buat. He, bocah sombong, mari!"

Yo Wan memberi hormat kepada Raja Pedang dan bangkit sambil mengerling ke arah Cui Sian yang memandangnya dengan air mata berlinang.

"Yo-Twako... kau hati-hatilah..."

Yo Wan tersenyum dan mengangguk, Bibirnya tidak mengeluarkan suara, akan tetapi pandang matanya Jelas menghibur dan minta supaya gadis itu tidak khawatir.

Maklum akan kehebatan lawan, sehingga Pendekar Buta dan Raja Pedang sendiri memberi peringatan kepadanya, Yo Wan tidak berani memandang rendah.

sambil menghampiri Bhok Hwesio, dia mengeluarkan cambuk Liong-kut-pian.

Cambuk ini peninggalan Bhewakala, biarpun disebut Cambuk Tulang Naga, tentu saja bukan terbuat dari tulang naga, melainkan dari kulit binatang hutan yang hanya terdapat di Pegunungan Himalaya.

Cambuk ini lemas, tapi amat ulet dan berani menghadapi senjata tajam yang bagaimanapun juga.

Karena sifatnya yang lemas inilah maka bagi seorang ahli silat yang tinggi tingkatnya, senjata ini dapat dipergunakan secara tepat karena dapat menampung penyaluran tenaga sakti melalui tangan yang memegangnya.

Cambuk Liong-kut-pian dipegang oleh Yo Wan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mengeluarkan pedangnya.

Bukan Pedang Pek giok-kiam pemberian Hui Kauw dahulu, melainkan Pedang Siang-Bhok-Kiam (Pedang Kayu Wangi) yang dibuat dari semacam kayu cendana yang tumbuh di Himalaya.

Dengan sepasang senjata di tangannya ini, Yo Wan seakan-akan menjelma menjadi dua orang tokoh sakti, yaitu Sin-Eng-Cu (Bayangan Garuda) di tangan kanan dan Bhewakala di tangan kiri!

Yo Wan adalah seorang yang jujur dan polos, sederhana dan dia belum banyak pengalaman bertempur, maka dia berkata.

"Hwesio tua, harap kau suka keluarkan senjatamu."

Kalau saja dia tidak demikian jujur, tentu dia tidak akan mengeluarkan kata-kata ini, tidak akan merasa sungkan berhadapan dengan lawan bertangan kosong, karena lawannya ini bukanlah tokoh sembarangan.

Kata-kata yang jujur dan berdasarkan sungkan melawan orang bertangan kosong ini diterima oleh Bhok Hwesio sebagai penghinaan.

la merasa dipandang rendah!

"Bocah sombong, melawan cacing macam engkau saja, mana perlu menggunakan senjata?

Terimalah ini!"

Sepasang lengan Hwesio tua itu bergerak dan dari kanan kiri menyambarlah angin pukulan dahsyat mendahului ujung lengan baju yang lebar.

Yo Wan terkejut sekali ketika tiba-tiba diserang oleh angin pukulan dari dua jurusan, akan tetapi melihat betapa kedua lengan Kakek itu bergerak lambat, dia melihat kesempatan baik sekali.

Diam-diam dia heran mengapa Kakek itu memandangnya terlalu ringan sehingga melancarkan penyerangan begini bodoh, serangan yang tidak berbahaya, sebaliknya malah membuka diri sendiri ini menjadi sasaran.

Cepat dia menggerakkan kedua tangannya, cambuk di tangan kirinya melecut ke arah urat nadi tangan kanan lawan sedangkan Pedang Kayu Wangi di tangan kanannya memapaki lengan kiri lawan dengan tusukan ke arah jalan darah dekat siku.

Semacam tangkisan yang sekaligus merupakan serangan mematikan, karena kalau kedua senjatanya itu mengenai sasaran, sepasang lengan Kakek itu sedikitnya akan lumpuh untuk sementara!

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Yo Wan dan sekaligus dia melihat kenyataan akan tepatnya peringatan Pendekar Buta dan Raja Pedang kepadanya tadi, ketika mendadak cambuk dan Pedang kayunya terpental oleh hawa pukulan sakti, kembali menghantam dirinya sendiri!

Demikian kuatnya hawa pukulan sakti yang menyambar dari kedua lengan Kakek itu sehingga selain sepasang senjatanya terpental kembali, juga angin pukulan itu masih dengan dahsyatnya menghantam dirinya.

"Lihai...!!!"

Yo Wan berseru keras, cepat dia melempar diri ke belakang sampai punggungnya hampir menyentuh tanah, kemudian dia membalik dan cepat dia menggunakan langkah ajaib untuk keluar dari pengurungan hawa pukulan yang dahsyat tadi.

Dengan terhuyung-huyung dia melangkah ke sana ke mari, akhirnya berhasillah dia keluar dari kurungan hawa pukulan!

Hwesio tua itu tersenyum mengejek, hidungnya mendengus seperti kerbau, kemudian lengannya bergerak-gerak lagi mengirim pukulan.

Gerakan kedua tangannya lambat-lambat saja, jari tangannya terbuka dan dari telapak tangan itulah keluar hawa pukulan yang dahsyat tadi, sedangkan ujung lengan bajunya berkibar-kibar merupakan sepasang senjata kuat.

Sepasang ujung lengan baju ini yang tadi menangkis dan membentur cambuk dan pedang, membuat kedua senjata itu terpental kembali.

Dari peristiwa ini saja sudah dapat dibuktikan bahwa tenaga Sinkang Kakek Siauw-Lim-Pai ini luar biasa hebatnya.

Setelah mengalami gebrakan pertama yang hampir saja mencelakainya, wajah Yo Wan sebentar pucat sebentar merah.

la merasa malu sekali.

Tadinya dia mengira Kakek itu terlalu memandang rendah kepadanya, kiranya perkiraan itu malah sebaliknya.

Dialah yang tadi terlalu memandang rendah, menganggap gaya gerakan Kakek itu sembarangan dan ceroboh.

Sekarang dia dapat melihat jelas dan dapat menduga bahwa agaknya inilah Ilmu Silat Lo-han-kun dari Siauw-Lim-Pai, yang dimainkan oleh seorang tokoh tingkat tertinggi sehingga bukan merupakan ilmu pukulan biasa, melainkan lebih mirip ilmu gaib karena biarpun digerakkan begitu lambat seperti gerakan Kakek-kakek lemah tenaga, namun di dalamnya mengandung hawa pukulan yang bukan main kuatnya.

Sekaligus terbukalah mata Yo Wan dan diam-diam dia harus mengakui kewaspadaan Pendekar Buta dan Raja Pedang yang tadi memesan kepadanya agar dia tidak mengadu tenaga dan menghadapi Kakek tua renta yang sakti ini dengan permainan kucing-kucingan, berusaha menghabiskan nafas Kakek itu sambil menanti pulihnya tenaga Raja Pedang atau Pendekar Buta.

Setelah kini yakin bahwa Kakek yang dihadapinya ini benar-benar luar biasa lihainya, dia tidak berani berlaku ceroboh lagi.

Begitu Kakek ini menyerangnya dengan pukulan lambat yang mendatangkan angin keras, dia cepat mengelak dengan langkah-langkah ajaib.

Akan tetapi Yo Wan tidak mau mengalah begitu saja, karena biarpun dia maklum akan kelihaian lawan, dia merasa penasaran kalau tidak membalas.

Pedang kayunya menyambar-nyambar mainkan Liong-Thouw-Kun yang empat puluh delapan jurus banyaknya, sedangkan cambuk Liong-kut-pian di tangan kirinya melecut-lecut dan melingkar-lingkar ketika dia mainkan Ngo-Sin Hoan-Kun (Lima Lingkaran Sakti), berubah menjadi segulung awan menghitam yang melingkar-lingkar dan sambung-menyambung, sedangkan Pedang kayunya kadang-kadang menyambar keluar seperti kilat menyambar dari dalam awan hitam!

"Omitohud...

bocah ini berilmu iblis...,.!"

Bhok Hwesio berseru memuji tapi dengan kata-kata mengejek.

Diam-diam dia kagum bukan main dan sama sekali tidak mengira bahwa pemuda itu memiliki ilmu yang demikian aneh dan dahsyatnya.

Selain ini, juga dia merasa amat penasaran karena tidak seperti biasanya, pukulan-pukulannya yang penuh dengan hawa Sinkang itu kali ini tak pernah mengenai sasaran.

Setelah mainkan ilmu gabungan yang indah dan dahsyat itu selama hampir seratus jurus tahulah Yo Wan bahwa menghadapi Kakek ini benar-benar dia tidak berdaya, jurus-jurus simpanannya dia keluarkan dan beberapa kali ujung cambuk dan ujung Pedang kayunya menyentuh tubuh Bhok Hwesio.

Akan tetapi semua itu sia-sia belaka karena begitu menyentuh kulit Kakek itu, senjatanya membalik dan telapak tangannya serasa panas dan sakit.

Malah ada kalanya, ketika senjatanya terbentur hawa pukulan Kakek itu, senjatanya membalik hampir menghantam tubuhnya sendiri.

la maklum apa artinya ini.

Ternyata dia jauh kalah kuat dalam adu kekuatan dan menghadapi seorang yang Sinkangnya jauh lebih kuat, tentu saja sukar baginya untuk dapat merobohkan.

Sebaliknya, andaikata dia tidak dapat mainkan Si-Cap-It Sin-Po, yaitu Empat Puluh Satu Langkah Ajaib, sekali saja terkena pukulan Bhok Hwesio, sukar untuk menolong keselamatan nyawanya!

Oleh karena ini, penyerangan-penyerangannya dia ubah sama sekali, kini dia hanya menyerang apabila mendapatkan kesempatan baik dan sasarannya hanya tempat-tempat yang tak dapat dilindungi oleh Lweekang, seperti mata dan ubun-ubun kepala.

Bhok Hwesio makin penasaran.

Dia, seorang tokoh tinggi Siauw-Lim-Pai yang hanya dapat dijajari tingkatnya oleh Ketua Siauw-Lim-Pai, kini menghadapi seorang pemuda tak dapat mengalahkannya dalam seratus jurus lebih!

Betapa aneh dan memalukan!

Bukan itu saja, malah sekarang pemuda itu mengarahkan serangan ke mata dan ubun-ubun kepala, membuat dia terpaksa harus mengelak atau menangkisnya!

Karena rasa penasaran inilah, dia mempercepat gerakannya dan makin lama dia bersilat makin cepat untuk mengimbangi kecepatan Yo Wan dan untuk dapat cepat-cepat merobohkan bocah itu.

Namun benar-benar Ilmu Langkah Si-Cap-It Sin-Po luar biasa sekali, karena tak pernah pukulan Bhok Hwesio mengenai sasaran.

Hal ini sebetulnya tidaklah mengherankan.

Ilmu langkah itu didapat oleh Yo Wan dari Pendekar Buta dan Pendekar ini mendapatkannya dari Ilmu Silat Kim-Tiauw-kun.

Padahal Kim-Tiauw-kun yang diciptakan oleh Bu-Beng-Cu di puncak Liong-Thouw-San (Bu Beng Cu adalah Suheng dari Sin-Eng-Cu) dan kemudian ditemukan Kun Hong, bersumber pada Ilmu Silat Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng yang menjadi Raja segala ilmu silat tinggi dan menjadi pegangan dari Pendekar Sakti Bu Pun Su ratusan tahun yang lalu!

Tidaklah mengherankan kalau langkah ajaib ini sekarang dapat membuat seorang tokoh besar Siauw-Lim-Pai menjadi tidak berdaya.

Di lan pihak Yo Wan adalah seorang pemuda yang cerdik.

Setelah menjadi yakin bahwa terhadap Bhok Hwesio dia tidak akan mampu menggunakan ilmunya untuk mencapai kemenangan, dia sepenuhnya menjalankan pesan Pendekar Buta dan Raja Pedang.

Ia mainkan langkah ajaib dengan cermat sekali dan setiap kali ada kesempatan, dia mengancam mata atau ubun-ubun kepala lawan.

Selain ini, dia sengaja berloncatan menjauhkan diri mempergunakan Ginkangnya, sehingga lawannya yang makin bernafsu itu mengejarnya lebih cepat.

Ini membutuhkan pergerakan cepat sehingga makin lama mereka bergerak makin cepat sampai lenyap bentuk tubuh berubah menjadi dua bayangan yang berkelebatan.

Betapapun saktinya Bhok Hwesio, dia hanyalah seorang manusia juga.

Manusia yang mempunyai darah daging, otot-otot dan tulang.

Manusia yang tidak akan mampu, betapapun sakti dia, melawan kekuasaan dan kesaktian usia tua.

Usia Kakek ini sudah amat tinggi, mendekati sembilan puluh tahun.

Boleh Jadi dia matang dalam kepandaiannya, amat kuat dalam tenaga Sinkang.

Namun harus diakui bahwa usia tua telah menggerogoti daya tahannya.

Tanpa dia sadari, setelah mengejar-ngejar Yo Wan seperti orang mabuk mengejar bayangannya sendiri, lewat tiga ratus jurus, nafasnya mulai kempas-kempis, mukanya penuh peluh dan pucat, sedangkan dari kepalanya yang gundul itu mengepul uap putih tebal!

Dapat dibayangkan, seorang Kakek berusia sembilan puluh tahun main kejar-kejaran dengan gerakan secepat itu selama tiga jam!

Ini masih ditambah oleh rasa marah dan penasaran yang tentu saja menambah sesak nafasnya.

Saking marahnya Bhok Hwesio, ketika untuk ke sekian kalinya, bagaikan ujung ekor ular mempermainkan kucing, cambuk Yo Wan menyambar ke arah kedua matanya.

Bhok Hwesio menggeram, tidak mengelak melainkan menangkap cambuk ini dengan kedua tangannya!

la berhasil menangkap cambuk, lalu merenggut keras.

Yo Wan terkejut, tapi dia mempertahankan cambuknya.

Terjadi betot-membetot.

Tentu saja pengerahan tenaga menarik jauh bedanya dengan tenaga mendorong.

Mendorong merupakan tenaga yang dipaksakan, dan dalam hal ini Yo Wan tidak berani menerima dorongan lawan karena kalah kuat.

Akan tetapi dalam adu tenaga menarik, tidak ada bahayanya kalau kalah, paling-paling harus melepaskan cambuk.

Karena itulah maka Yo Wan tidak mau menerima kalah begitu saja.

la memegang gagang cambuk erat-erat dan mengerahkan tenaganya menahan.

Ada sedikit keuntungan baginya.

la memegang gagang cambuk yang tentu saja lebih "Enak"

Dipegang, daripada ujung cambuk yang kecil dan menggigit kulit tangan.

Keuntungan inilah agaknya yang membuat Yo Wan dapat menebus kekalahannya dalam hal tenaga sehingga tidak mudah bagi Bhok Hwesio untuk dapat merampas cambuk itu cepat-cepat.

Cambuk Liong-thouw-pian peninggalan Bhewakala ini luar biasa kuatnya.

Ditarik oleh dua orang yang memiliki tenaga sakti itu, benda ini mulur panjang, kadang-kadang mengkeret kembali seperti karet.

Lama dan ramailah adu tenaga ini, seperti dua orang kanak-kanak main adu tambang.

Hanya penasaranlah yang membuat Bhok Hwesio bersitegang tidak mau menyudahi betot-membetot yang lucu dan tidak masuk dalam kamus persilatan ini!

Yo Wan mengangkat muka memandang.

Hwesio itu mukanya pucat sekali, seperti tidak berdarah atau agaknya semua darah di mukanya sudah terkumpul di kedua matanya yang menjadi merah mengerikan.

Keringat sebesar kacang kedelai memenuhi muka dan leher, juga kepala, dadanya kembang-kempis secara cepat.

Melihat ini, Yo Wan mengerahkan tenaganya dan mempertahankan cambuknya.

Bukan karena dia terlalu sayang akan cambuknya, melainkan dengan jalan ini dia dapat menguras dan memeras habis tenaga lawan.

Dalam ilmu silat dan tenaga dalam dia kalah, namun dia harus mencari kemenangan dalam keuletan dan pernafasannya, mencari kemenangan mengandalkan usianya yang jauh lebih muda.

Dia sendiri juga mandi keringat, akan tetapi agaknya tidak sehebat Kakek itu.

Bhok Hwesio makin penasaran, menahan nafas dan mengerahkan seluruh tenaganya, menarik.

Tubuhnya seakan-akan membesar, otot-otot di lehernya mengejang dan menonjol ke luar.

"Krekkkkk!!"

Cambuk itu putus di tengah-tengah!

Yo Wan terbanting ke belakang, terus bergulingan seperti bola, ada lima meter jauhnya.

Tanpa disengaja, dia terguling ke dekat Cui Sian dan agaknya akan menabrak gadis itu kalau saja Cui Sian tidak mengulurkan tangan dan menahannya sehingga mereka seperti berpelukan!

Cepat-cepat Cui Sian menjauhkan diri dan mukanya menjadi merah sekali!

"Ah...

eh...

maaf, Sian-moi..."

Kata Yo Wan, juga merah mukanya. Akan tetapi Cui Sian segera dapat mengatasi hatinya.

"Waspadalah, Yo-Twako, dia lihai bukan main. Kau usap peluhmu itu..."

Sambil berkata demikian, Cui Sian menyerahkan sehelai sapu tangan sutera.

Yo Wan menerimanya, teringat akan lawannya dan cepat dia melompat bangun dan berdiri sambil mengusapi peluh di mukanya.

Bau sedap dari saputangan itu menyegarkan semangatnya sehingga dia lupa akan cambuknya yang amat disayangnya, cambuk yang kini sudah putus menjadi dua.

la melihat Kakek itu juga berdiri tegak, sepasang matanya yang biasanya meram itu kini terbelalak, merah menakutkan.

Jelas sekali Kakek itu tidak dapat menahan nafasnya yang terengah-engah.

"Hwesio tua, kalau kau mau mengaso, mengasolah dulu. Nafasmu perlu diatur, jangan-jangan putus nanti seperti cambukku..."

Yo Wan sengaja mengejek, karena dia khawatir kalau Kakek itu mengaso dan mendapatkan kembali tenaga dan nafasnya, tentu akan lebih berbahaya.

"Iblis cilik, sekarang Pinceng akan menghancurkan kepalamu!"

Sambil berkata demikian, Bhok Hwesio menerjang maju lagi.

Yo Wan meloncat dan menghindar.

Kini tangan kirinya sudah memegang sebatang Pedang yang berkilauan putih sebagai pengganti cambuknya yang putus.

Itulah Pedang Pek-Giok-Kiam pemberian Hui Kauw dahulu.

"Tidak mudah, Hwesio, kalau kepandaian yang kau bawa dari Siauw-Lim-Pai hanya seperti ini..."

Terdengar teriakan ngeri ketika Bhok Hwesio melompat maju seperti harimau menerkam.

Teriakan ini keluar dari mulut Cui Sian saking kaget dan gelisahnya.

Terkaman itu hebat bukan main.

Tubuh Bhok Hwesio seperti terbang di angkasa dan tampaknya kedua kakinya ikut pula menyerang, persis seperti seekor harimau yang menerjang.

Yo Wan melompat lagi menghindar, akan tetapi tubuh Bhok Hwesio itu mengikutinya, seperti seekor kelelawar besar, mengancam dari atas.

Melihat jari-jari tangan yang gemetar dan mengeluarkan bunyi berkerotokan itu, Yo Wan menjadi pucat.

Sekali kena dicengkeram, akan hancurlah dia.

Jangankan kena dicengkeram, kena sentuh jari-jari itu saja cukup untuk membuat orang roboh!

Melihat betapa tubuh di atas itu seperti terbang dapat mengikutinya, Yo Wan menjadi nekat.

Sekuat tenaga dia menggerakkan kedua pedangnya, Pedang Siang-Bhok-Kiam (Pedang Kayu Wangi) di tangan kanan dan Pedang Pek-Giok-Kiam (Pedang Kumala Putih), menyerang dengan tusukan-tusukon maut ke arah tenggorokan dan bawah pusar!

Tapi Kakek yang melayang Itu menggerakkan kedua tangannya, langsung menerima pedang-pedang itu dengan cengkeramannya.

Terdengar bunyi.

"Krakkk-krekkk!"

Dan Pedang kayu Siang-Bhok-Kiam hancur berkeping-keping sedangkan Pedang Pek-Giok-Kiam patah-patah menjadi tiga potong!

Akan tetapi terjangan ini membuat tubuh Hwesio itu terpaksa turun kembali dan ternyata tangan kanannya yang mencengkeram Pek-Giok-Kiam tadi mengeluarkan darah karena terluka!

Bhok Hwesio mengeluarkan suara gerengan keras, lalu tiba-tiba berlari menerjang Yo Wan dengan kepala di depan.

Gerakan ini luar biasa sekali, aneh dan lucu, seperti seekor kerbau gila mengamuk.

Seekor kerbau tentu saja mengandalkan tanduknya yang kuat dan runcing, akan tetapi Hwesio tua itu kepalanya gundul licin, masa hendak dipergunakan sebagai andalan serangan?

Karena Yo Wan memang kurang pengalaman, dia melihat gerakan Hwesio ini dengan hati geli.

Biarpun dia telah kehilangan cambuknya, kehilangan Siang-Bhok-Kiam dan Pek-Giok-Kiam, namun dia tidak menjadi gentar karena mengandalkah Si-Cap-It Sin-Po dan ilmu silat-ilmu silatnya yang tinggi, dia masih mampu mempertahankan dirinya sampai Hwesio tua ini kehabisan nafasnya.

"Yo Wan, awaaasss...!!"

Seruan ini hampir berbareng keluar dari mulut Raja Pedang dan Pendekar Buta.

Kagetlah hati Yo Wan.

Tadinya dia menganggap gerakan Bhok Hwesio itu gerakan nekat yang pada hakikatnya hanya gerakan bunuh diri karena dengan kepala menyeruduk macam itu, alangkah mudah baginya untuk mengirim pukulan maut ke arah ubun-ubun kepala Hwesio itu.

Maka dapat dibayangkan betapa kagetnya mendengar seruan dua orang sakti itu.

Cepat dia menggerakkan kaki mengatur langkah cepat karena tadinya tidak menganggap serangan itu berbahaya.

la hanya merasa tekanan hawa yang luar biasa, panas dan membawa getaran aneh, lalu tubuhnya terjengkang.

Kepala maupun tubuh Hwesio itu sama sekali tidak menyentuhnya, serangan kepala itu boleh dibilang tidak mengenai dirinya, karena tubuh Bhok Hwesio menyambar lewat, namun hawa pukulannya, demikian hebat sehingga Yo Wan terjengkang, terbanting dan merasa betapa dadanya sesak!

Cepat dia menekan perasaan ini dengan mengerahkan Sinkang di tubuhnya, akan tetapi dia tidak dapat mencegah tubuhnya terbanting dan bergulingan.

Pada saat itu, Bhok Hwesio sudah mengejar maju, dan bertubi-tubi mengirim pukulan dengan kedua tangannya, pukulan jarak jauh yang tidak kalah ampuhnya oleh pukulan Toya baja yang beratnya ratusan kati!

Raja Pedang memandang cemas, demikian pula Pendekar Buta mengepal tangan, hatinya tegang, kepalanya agak miring untuk dapat mengikuti semua gerakan itu dengan baik melalui pendengarannya.

Yo Wan melihat bahaya maut datang, cepat dia bergulingan lagi sehingga pukulan-pukulan jarak jauh itu hanya mengenai tanah, membuat debu beterbangan dan batu-batu terpukul hancur.

Dengan gemas Bhok Hwesio menyambar Pedang Pek-Giok-Kiam yang tadi patah dan menggeletak di atas tanah, dilontarkannya Pedang buntung itu ke arah dada Yo Wan yang masih bergulingan di atas tanah.

Yo Wan mendengar bersiutnya angin, cepat dia menekankan kedua tangan di atas tanah, tubuhnya melejit ke atas dan.

"Syyyuuuttt!"

Pedang buntung itu lewat di pinggir tubuhnya, merobek baju kemudian menancap sampai amblas di dalam tanah!

Yo Wan sudah berhasil melompat bangun, agak terhuyung-huyung dia karena pengaruh angin pukulan sakti tadi masih membuat dia sesak dadanya.

Keadaannya berbahaya sekali karena setelah sekarang bertangan kosong dan terluka di sebelah dalam, biarpun tidak parah namun cukup akan mengurangi kelincahannya, agaknya dia akan roboh oleh Kakek Hwesio yang luar biasa tangguhnya itu.

Adapun Bhok Hwesio sudah menggereng lagi dan kepalanya menunduk, tubuhnya merendah, siap menerjang seperti tadi, terjangan dengan kepala seperti seekor kerbau mengamuk.

"Omitohud, Bhok-Sute, banyak jalan utama, mengapa memilih jalan sesat? Selagi masih ada kesempatan, mengapa tidak mencuci noda lama dan kembali ke jalan benar?"

Ucapan yang dikeluarkan dengan suara halus dan tenang penuh kasih sayang ini mengagetkan semua orang, terutama sekali Bhok Hwesio.

la cepat mengangkat muka yang tadi ditundukkan itu memandang dan alis matanya yang sudah putih itu bergerak-gerak, keningnya berkerut-kerut.

Kiranya di depannya telah berdiri seorang Hwesio tua yang tinggi kurus, usianya sudah sangat tua, kepalanya gundul mengkilap, alis, jenggot dan kumisnya yang jarang sudah putih semua, jubahnya kuning bersih dan tangannya memegang sebatang tongkat Hwesio.

Melihat Hwesio tua ini, Raja Pedang dan Hui Kauw terkejut.

Juga Pendekar Buta miringkan kepalanya.

Hanya Cui Sian dan Lee Si yang tidak mengenal siapa adanya Kakek itu, juga Yo Wan tidak mengenalnya.

Tentu saja Raja Pedang dan Hui Kauw terkejut karena mengenal Kakek itu sebagai Thian Seng Losu, Ketua Siauw-Lim-Pai.

Kalau Kakek ini datang dan membantu Bhok Hwesio yang terhitung sutenya sendiri, celakalah mereka semua.

Menghadapi Bhok Hwesio seorang saja sudah repot, apalagi ditambah Suhengnya yang tentu saja sebagai Ketua Siauw-Lim-Pai memiliki ilmu yang hebat.

Mana Yo Wan akan sanggup menahan?

"Suheng, harap jangan ikut-ikut, ini urusanku sendiri!"

Bhok Hwesio mendengus marah ketika melihat Ketua Siauw-Lim-Pai itu.

"Bhok-Sute, insyaf dan sadarlah. Bukan saatnya bagi orang-orang yang mencari penerangan seperti kita ini melibatkan diri pada karma yang tiada berkesudahan. Mengapa sudah baik-baik kau bertapa, diam-diam kau pergi, Sute? Kalau kau masih ingin terikat karma, bukan begitu caranya. Lebih baik kau melakukan bakti terhadap negara. Pinceng mendengar bahwa Kaisar sekarang kembali memimpin sendiri pasukan ke Utara, dan kabarnya di luar tembok besar, Orang-orang Mongol mengganas dan memiliki banyak orang-orang sakti dari Barat. Kalau memang hatimu belum puas dan ingin terikat pada dunia, kenapa kau tidak menyusul ke Utara dan membantu Kaisar?"

"Suheng, sekali lagi, jangan ikut-ikut. Raja Pedang adalah musuh besarku, dia harus menebus!"

"Omitohud! Pinceng lihat Bu-Tek Kiam-Ong Ketua Thai-San-Pai yang terhormat sudah terluka parah dan tidak melawanmu. Mengapa kau sekarang main-main dengan anak muda?"

"Bocah ini mewakili Raja Pedang, terpaksa aku harus membunuhnya, Suheng, kemudian aku akan membikin musuh besarku tapa daksa, baru aku akan ikut dengan Suheng kembali ke kelenteng dan bertapa mencari jalan terang."

"Ah... ah... menumpuk dosa dulu baru bertobat? Mengganas dalam kegelapan untuk mencari jalan terang. Mana bisa, Sute. Kau tersesat jauh sekali. Marilah kau ikut dengan Pinceng dengan damai..."

"Nanti sesudah kurobohkan bocah ini!"

Setelah berkata demikian, kembali Bhok Hwesio merendahkan tubuhnya, menundukkan muka dan siap untuk menerjang Yo Wan dengan ilmunya yang dahsyat.

"Jangan, Sute..."

Tiba-tiba tubuh Kakek tua itu melayang bagaikan sehelai daun kering dia tiba di depan Yo Wan, menghadang di antara pemuda itu dan Bhok Hwesio.

"San-Jin Pai-Hud (Kakek Gunung Menyembah Buddha) bukanlah ilmu untuk membunuh manusia...!"

"Suheng, minggir!"

Bentak Bhok Hwesio.

"Jangan, Sute. Pinceng tidak membolehkan kau melakukan pembunuhan, sayang akan pengorbananmu selama puluhan tahun menderita dalam hidup. Apakah kau ingin mengulanginya lagi dalam keadaan yang lebih sengsara? Insyaflah."

"Suheng, sekali lagi. Minggirlah!"

Bhok Hwesio membentak marah sekali.

"Tidak, Sute..."

"Kalau begitu terpaksa aku akan membunuhmu lebih dahulu!"

"Omitohud, semoga kau diampuni..."

Bhok Hwesio mengeluarkan suara menggereng keras dan tubuhnya segera menerjang maju, kepalanya mengeluarkan uap kekuningan dan bagaikan sebuah pelor baja kepala gundul itu menubruk ke arah perut Thian Seng Losu yang kurus.

Ketua Siauw-Lim-Pai ini hanya berdiri diam, tidak mengelak, juga tidak menangkis.

"Desssss!!!"

Kepala gundul itu bertemu dengan perut dan tubuh Thian Seng Losu terpental dan tak bergerak lagi!

Sedangkan Bhok Hwesio berdiri, tubuhnya bergoyang-goyang, lalu maju terhuyung-huyung.

Yo Wan melompat marah.

"Hwesio jahat! Iblis kau, telah membunuh Suheng sendiri!"

Yo Wan hendak menerjang Bhok Hwesio dengan penuh amarah, akan tetapi terdengar Kun Hong berseru.

"Yo Wan, mundur...!"

"Yo Wan, tak perlu lagi, pertempuran sudah habis..."

Kata Raja Pedang pula.

Yo Wan terkejut dan alangkah herannya ketika dia melihat tubuh Bhok Hwesio menggigil keras, lalu roboh miring.

Ketika dia mendekat, ternyata Hwesio tinggi besar ini telah tewas, kepalanya retak-retak!

Dan pada saat dia menengok, dia terbelalak memandang Thian Seng Losu sudah bangkit perlahan, wajahnya pucat dan matanya sayu memandang ke arah Bhok Hwesio.

Kemudian dia menghampiri jenazah sutenya, perlahan dia mengangkat jenazah itu, dipanggulnya, dan sambil menarik nafas panjang dia menoleh ke arah Yo Wan.

"Orang muda, kepandaianmu hebat. Tapi apa gunanya memiliki kepandaian hebat kalau hanya untuk saling bunuh dengan saudara dan bangsa sendiri? Di pantai Timur bajak laut dan penjahat merajalela, di Utara orang-orang liar mengganas, di dalam negeri sendiri, para pembesar menyalahgunakan wewenangnya, para menteri durjana berlomba mencari muka sambil menggerogoti kekayaan negara. Kasihan Kaisar yang bijaksana, pendiri Kota Raja baru, sampai di hari Tuanya bersusah payah menghadapi musuh demi keamanan negara. Kalau orang-orang muda berkepandaian seperti kau ini hanya berkeliaran di gunung-gunung, saling serang dan saling bunuh dengan bangsa sendiri, bukankah itu sia-sia dan mengecewakan sekali?"

Kembali Kakek itu menarik nafas panjang dan melangkah hendak pergi dari tempat itu.

"Thian Seng Lo-Suhu, harap maafkan bahwa saya tidak dapat menyambut kedatangan Lo-Suhu. Menyesal sekali urusan pribadi antara kami dan Bhok Hwesio membuat Lo-Suhu terpaksa bertindak dan mengakibatkan tewasnya Sute dari Lo-Suhu,"

Kata Raja Pedang dengan suara menyesal dan mengangkat kedua tangan memberi hormat sambil duduk bersila.

Kakek itu menengok kepadanya, memandang sejenak, lalu memutar pandang matanya ke arah mayat bertumpuk-tumpuk di tempat itu.

Kembali dia menarik nafas panjang lalu berkata.

"Bunuh-membunuh, dendam-mendendam, apakah hanya untuk ini orang hidup di dunia mempelajari bermacam-macam kepandaian? Bu-Tek Kiam-Ong, sayang kau yang memiliki kepandaian tinggi memihak kepada sifat merusak, alangkah baiknya kalau kau memihak kepada sifat membangun."

Setelah berkata demikian, Kakek itu melanjutkan langkahnya, dibantu tongkat, dan mayat Bhok Hwesio tersampir di pundaknya.

Akan tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, terdengar suara orang memanggilnya.

"Lo-Suhu!"

Thian Seng Losu menengok dan memandang kepada Kun Hong yang memanggilnya tadi. Pendekar Buta ini melanjutkan kata-katanya.

"Lo-Suhu, perbuatan yang sifatnya merusak amatlah perlu di dunia ini, bahkan amat dipentingkan karena tanpa ada sifat merusak, maka tidak akan sempurnalah sifat membangun. Merusak bukanlah selalu jahat, asal pandai orang memilih, apa yang harus dirusak, apa yang harus dibasmi, kemudian apa yang harus dibangun dan dipelihara. Petani yang bijaksana takkan ragu-ragu mencabuti dan membasmi semua rumput liar yang akan mengganggu kesuburan padi. Seorang gagah yang bijaksana takkan ragu-ragu pula untuk membasmi penjahat-penjahat yang akan mengganggu ketenteraman hidup rakyat. Semua baik-baik saja dan sudah tepat kalau masing-masing mengetahui kewajibannya, melaksanakannya tanpa pamrih dan kehendak demi keuntungan pribadi. Tentang membunuh dan dibunuh... ah, Lo-Suhu yang mulia dan waspada tentu lebih maklum bahwa hal itu sudah ada yang mengaturnya dan kita semua hanyalah alat belaka..."

Wajah Kakek tua yang tadinya muram itu kini berseri-seri, bahkan mulutnya yang ompong membentuk senyum lebar.

"Omitohud... ucapan-ucapan peringatan sama nilainya dengan air jernih dingin bagi seorang yang kehausan! Bukankah Sicu ini Pendekar Liong-Thouw-San yang terkenal dijuluki Pendekar Buta? Hebat... kau gagah sekali, Sicu, gagah lahir batin! Betul kata-katamu, kita semua hanyalah alat yang tidak berkuasa menentukan sesuatu, akan tetapi... sama-sama alat, bukankah lebih menyenangkan menjadi alat yang baik dan berguna? Dan kita berhak untuk berusaha ke arah pilihan yang baik, Sicu. Ha... ha... ha, sungguh pertemuan yang menyenangkan. Pinceng akan merasa bahagia sekali kalau Cu-wi (Tuan-Tuan sekalian) sewaktu-waktu sudi mengunjungi Siauw-Lim-Si untuk melanjutkan obrolan ini. Nah, selamat tinggal!"

Bagaikan segulungan awan, Kakek itu bergerak dan seakan-akan kedua kakinya tidak menginjak bumi.

Demikian hebat Ginkang dan ilmu lari cepatnya.

Biar Raja Pedang sendiri sampai menjadi kagum dan menarik nafas panjang.

Tidak kelirulah kalau orang-orang kang-ouw menganggap bahwa Siauw-Lim-Pai adalah gudangnya orang-orang sakti yang menjadi murid-murid Buddha.

Sunyi di tempat itu setelah Ketua Siauw-Lim-Pai pergi.

Masing-masing merenung dan baru terasa betapa hebat akibat daripada pertempuran itu.

Raja Pedang masih duduk bersila, berulang kali menarik nafas panjang.

Pendekar Buta juga duduk bersila, berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan kesehatan secepat mungkin, Hui Kauw dan Cui Sian saling pandang dengan sinar mata terharu karena mereka telah menjadi korban fitnah dan hampir saja saling bunuh.

Yo Wan masih berdiri seperti patung, merasai betapa hebatnya Kakek Siauw-lim yang tadi menjadi lawannya.

Hanya Lee Si yang kini terisak kembali.

Isak tangis ini menyadarkan mereka.

Raja Pedang Tan Beng San berkata kepada Lee Si.

"Lee Si, hentikan tangismu. Ayahmu tewas sebagai seorang laki-laki gagah, tak perlu disedihkan. Lebih baik sekarang kita urus jenazahnya."

Kun Hong yang juga sudah sadar dari keadaan termenung dan merasa perlu segera bertindak, segera berkata kepada Yo Wan.

"Wan-ji (anak Wan), hanya kau yang tidak terluka. Jangan takut lelah, kau galilah lubang untuk semua mayat ini dan kuburkan mereka baik-baik."

Yo Wan menyanggupi dan pemuda ini segera menggunakan patahan Pedang Pek-Giok-Kiam untuk menggali lubang yang besar.

Melihat pemuda ini mengerahkan tenaga bekerja, tanpa diminta lagi Lee Si bangkit dan membantunya, juga Cui Sian dan Hui Kauw, biarpun terluka, segera membantu sedapatnya.

Pertama-tama mereka mengubur jenazahnya Tan Kong Bu dengan sikap hormat akan tetapi sederhana tanpa upacara, hanya diiringi tangis Lee Si yang sampai tiga kali jatuh pingsan saking sedihnya, dihibur oleh Cui Sian dan Hui Kauw yang juga menangis.

Kemudian mereka menggali lubang besar untuk mengubur semua jenazah itu sekaligus, jenazah Ang-Hwa Nio-Nio, Maharsi, Bo Wi Sianjin, dan anak buah Ang-Hwa Nio-Nio.

Setelah lebih setengah hari mereka bekerja, selesailah penguburan itu.

Pada waktu itu, Kun Hong yang mengerti akan ilmu pengobatan sudah berhasil menyembuhkan lukanya sendiri, bahkan dia membantu penyembuhan luka yang diderita Raja Pedang.

la bersila di belakang Raja Pedang dan menempelkan tangan kiri pada punggung Ketua Thai-San-Pai itu sambil mengurut jalan darah di pundak dengan jari-jari tangan kanannya.

"Cukuplah, Kun Hong. Tidak berbahaya lagi sekarang."

Akhirnya Raja Pedang berkata dan mereka berdua bangkit berdiri. Tiba-tiba Lee Si berlari menghampiri Raja Pedang dan berlutut di depan kakinya sambil menangis tersedu-sedu.

"Sudahlah, Lee Si."

Tan Beng San mengangkat bangun Cucunya.

"Kehendak Thian tak dapat dibantah oleh siapa pun juga. Aku hanya bingung memikirkan bagaimana kita harus menyampaikan berita ini kepada Ibumu..."

Mendengar ini, Lee Si makin keras tangisnya.

"Betapapun juga, pembunuh Ayahmu telah kita ketahui, dan dia sudah tewas pula."

Akan tetapi Lee Si masih menangis dan Raja Pedang berkali-kali menghela nafas karena dia dapat menduga bahwa kali ini Lee Si menangis karena mengingat keadaannya sendiri.

Betapapun juga, gadis ini telah mengalami hinaan dan fitnah yang merusakkan namanya.

Maka dia membiarkan Cucunya menangis.

Adapun Hui Kauw yang mendekati Cui Sian, dengan wajah pucat bertanya.

"Sian-moi, kau tadi bilang tentang Swan Bu... bagaimanakah dia? Siapa yang membuntungi lengannya?"

Terang nyonya ini mengeraskan hati dan menggigit Bibir untuk menahan tangisnya. Hatinya ngeri dan cemas membayangkan puteranya itu menjadi buntung lengannya. Cui Sian memeluk Hui Kauw.

"Maafkan aku, Cici. Kau... kau telah mengalami tekanan batin berkali-kali, difitnah, dituduh, dan sekarang puteramu menjadi korban lagi. Akan tetapi, hal yang sudah terjadi tak perlu melemahkan hati dan semangat kita, bukan? Swan Bu telah dibuntungi lengannya oleh gadis liar yang bernama Siu Bi..."

"Ahhh...!"

Hui Kauw menahan seruannya, sedangkan Pendekar Buta yang juga mendengarkan penuturan ini, juga mengerutkan kening.

Diam-diam dia merasa menyesal sekali bahwa dahulu dia telah menanam Bibit permusuhan yang tiada berkesudahan.

Terbayanglah dia akan musuh lamanya, The Sun, yang agaknya sekarang menimbulkan bencana hebat, bukan langsung olehnya sendiri, melainkan oleh keturunannya.

"Aku sudah menangkapnya, menghajarnya, bahkan Lee Si harnpir membunuhnya. Akan tetapi... Swan Bu sendiri yang dibuntungi lengannya oleh iblis betina itu mencegah, malah minta supaya Siu Bi dibebaskan."

Berdebar jantung Hui Kauw.

Aneh sekali!

Adakah suatu rahasia di balik itu, ataukah Swan Bu menjadi seorang pemuda yang berwatak aneh dan kadang-kadang lerdah penuh welas asih seperti Ayahnya.

Orang telah membuntungi lengannya, dan orang itu hendak memusuhi Ayah Bundanya, akan tetapi dia membebaskannya!

Teringat dia akan wajah Siu Bi.

Gadis yang cantik jelita berwatak iblis, hampir saja berhasil membunuh ia dan suaminya.

Tiba-tiba dia merasa khawatir.

Jangan-jangan kecantikan gadis itu telah melemahkan hati puteranya.

"Di mana dia sekarang, Sian-moi?"

"Aku tidak tahu, Cici. Ketika dia dan aku menemukan jenazah Kong Bu Koko aku lalu meninggalkan dia di sini. Agaknya dia yang menguburkan jenazah Kong Bu Koko, yang kemudian, tentu saja dibongkar kembali oleh penjahat-penjahat itu untuk dirusak dalam usaha mereka mengadu domba antara kita. Adapun Swan Bu sendiri, entah ke mana dia pergi."

Tak dapat ditahan lagi Hui Kauw menangis karena ia membayangkan puteranya dalam keadaan buntung lengannya itu masih bersusah payah mengubur jenazah Kong Bu!

Pendekar Buta menghampiri isterinya dan menghiburnya.

"Tahan air matamu. Swan Bu tidak apa-apa. la tentu akan pulang ke Liong-Thouw-San. Sedikit banyak dia mengerti tentang ilmu pengobatan, luka di lengannya pasti akan sembuh."

Hui Kauw bangkit amarahnya mendengar sikap suaminya yang begitu dingin, seakan-akan soal buntungnya lengan Swan Bu "Bukan apa-apa"

Bagi suaminya.

la hendak membentak, menyatakan marahnya dan menyatakan kehendaknya untuk mencari Siu Bi untuk dibuntungi kedua lengan berikut kakinya!

Akan tetapi begitu mengangkat muka dan melihat sepasang mata suaminya, hatinya menjadi tertusuk dan kekerasan amarahnya mencair seketika.

la sampai lupa saking marahnya, lupa bahwa suaminya sendiri adalah seorang yang cacad, seorang yang buta kedua matanya, namun tetap menjadi Pendekar yang tak terkalahkan, menjadi Pendekar Buta yang terkenal.

Apakah artinya buntung lengan kirinya kalau dibandingkan dengan buta kedua matanya?

Masih ringan, hanya cacad yang kecil tak berarti.

Itulah sebabnya Pendekar Buta tadi mengatakan "Tidak apa-apa dan akan sembuh."

"Tapi... tapi... dia terlunta-lunta melakukan perjalanan dalam keadaan terluka, tidak ada yang merawatnya..."

Yo Wan yang mendengar percakapan ini segera menghampiri mereka, dan berkata.

"Suhu dan Subo harap tenangkan hati. Biarlah Teecu yang akan pergi mencari Swan Bu dan menemaninya pulang ke Liong-Thouw-San."

Girang hati Pendekar Buta mendengar ini. Memang tidak ada orang yang lebih dapat dia percaya untuk ini kecuali Yo Wan. la melangkah maju dan tangan kanannya merangkul pundak pemuda itu.

"Yo Wan, kau anak baik. Kau tahu betapa besar rasa syukur di hati kami terhadapmu. Wan-ji, Kau carilah Swan Bu dan ajaklah dia pulang bersama."

Suara Kun Hong terdengar menggetar penuh keharuan sehingga tak terasa lagi dua titik air mata membasahi bulu mata Yo Wan. Cepat dia mengusapnya, memberi hormat kepada Suhu dan Subonya.

"Teecu berangkat sekarang juga,"

Katanya.

Kemudian dia memberi hormat kepada Raja Pedang yang memandangnya dengan sinar mata kagum.

Sungguh di luar sangkaannya sama sekali bahwa murid tunggal Pendekar Buta ternyata begini hebat, kuat menghadapi seorang tokoh besar seperti Bhok Hwesio yang kepandaiannya amat luar biasa sehingga dia sendiri pun belum tentu akan dapat mengalahkannya.

Diam-diam dia tertarik dan kagum, dan makin gembiralah di dalam hati Kakek perkasa ini ketika Yo Wan menjura kepada Cui Sian dan berkata halus.

"Adik Cui Sian, selamat berpisah, semoga kita dapat saling bertemu kembali."

Wajah gadis itu menjadi merah, kerling matanya jelas membayangkan hati yang gugup dan jengah ketika ia balas menghormat.

"Yo-Twako, semoga kau lekas dapat menemukan Swan Bu."

Yo Wan lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata yang mengandung bermacam perasaan.

"Kun Hong, muridmu itu... hemmm, ajaklah dia ke Thai-San sekali waktu. Aku perlu sekali bicara denganmu tentang dia."

Ucapan Raja Pedang Tan Beng San ini terdengar jelas dan artinya pun mudah ditangkap sehingga Cui Sian makin merah mukanya sehingga ia menundukkan mukanya itu untuk menyembunyikan debar jantungnya.

Kwa Kun Hong mengangguk-angguk karena dia pun tentu saja mengerti bahwa Pendekar tua itu bermaksud menjajaki kemungkinan terikatnya jodoh antara Cui Sian dengan Yo Wan.

Akan tetapi sebagai seorang yang berperasaan halus, dia tidak berkata apa-apa agar jangan membuat Cui Sian menjadi malu.

"Kong-kong (Kakek), saya tidak berani pulang sendiri, tidak berani menyampaikan kematian Ayah kepada Ibu. Harap Kong-kong suka memperkenankan Bibi Cui Sian menemani saja ke Min-San,"

Kata Lee Si.

"Tidak hanya Cui Sian yang menemanimu, aku sendiri pun akan ke sana untuk menghibur Ibumu. Malah kalau kalian tidak keberatan, Kun Hong dan isterimu, lebih baik kita semua pergi ke Min-San. Selain tempat itu paling dekat dari sini sehingga kita dapat beristirahat dan memulihkan kesehatan di sana, juga dengan hadirnya kalian berdua, kurasa akan mengurangi kedukaan Ibunya Lee Si."

"Bukan itu saja, kuharap Suheng dan Cici ikut ke Min-San untuk membicarakan hal yang amat penting."

"Hal penting apakah?"

Tanya Pendekar Buta dan Raja Pedang hampir berbareng.

"Aku sudah ceritakan hal itu kepada Cici Hui Kauw yang telah menyetujui pula. Marilah kita berangkat, nanti di dalam perjalanan aku akan ceritakan hal itu kepada Ayah, biar Cici Hui Kauw menceritakannya kepada Kwa-Suheng."

Jawab Cui Sian dan kali ini Lee Si yang menundukkan mukanya karena gadis ini sudah dapat menduga apa yang akan dikemukakan oleh Cui Sian itu.

Diam-diam ia amat berterima kasih kepada Cui Sian, karena ia pun tadi, biarpun kurang jelas, mendengar percakapan antara Cui Sian dan Hui Kauw.

Dan ia pun maklum sedalam-dalamnya bahwa satu-satunya jalan untuk mencuci bersih namanya, dan untuk melenyapkan kesalah pahaman antara mereka, untuk mencuci habis peristiwa yang hampir merusak hubungan di antara mereka, hanya satu itulah yaitu ikatan jodoh antara dia dan Swan Bu!

Dan ia sudah setuju seratus prosen.

di dalam hatinya yang telah tercuri oleh Swan Bu yang gagah dan tampan, biarpun ada satu hal yang merupakan ganjalan dan merupakan duri dalam daging, yaitu Siu Bi!

Sesungguhnya tidaklah terlalu sukar mencari keterangan tentang Swan Bu.

Tidak banyak terdapat seorang pemuda tampan dengan tangan kiri buntung.

Akan tetapi karena tidak tahu ke jurusan mana pemuda itu pergi, Yo Wan harus menjelajahi semua dusun di sekitar tempat itu, dan setelah dia berkeliling sampai sehari lamanya, barulah di sebuah dusun kecil dia mendengar keterangan tentang Swan Bu.

Di dusun ini orang melihat pemuda tampan berlengan kiri buntung yang berjalan menuju ke Utara.

Yo Wan segera mengejar ke Utara dan terpaksa dia bermalam di sebuah dusun karena terhalang malam.

Pada keesokan harinya, dia melanjutkan pengejarannya sambil bertanya-tanya.

Keterangan yang dia dapatkan kemudian benar-benar membuat dia mengerutkan alisnya.

Orang melihat Swan Bu melakukan perjalanan bersama seorang wanita cantik jelita yang merawat luka pemuda itu.

Dari keterangan yang didapat, dia dapat menduga bahwa gadis itu adalah Siu Bi!

Swan Bu agaknya bertemu dengan Siu Bi dan melakukan perjalanan bersama!

Hatinya amat gelisah.

Tak salah dugaannya, Swan Bu saling mencinta dengan gadis itu, gadis yang telah membuntungi lengannya.

la sudah menduga akan perasaan Swan Bu ini ketika dahulu Swan Bu minta supaya Siu Bi yang membuntungi lengannya dibebaskan.

Akan tetapi tadinya dia tidak tahu bahwa Siu Bi pun membalas cinta kasih itu.

Baru sekarang, mendengar gadis itu mengawani Swan Bu dan merawat lukanya dalam perjalanan yang mereka lakukan berdua, dia dapat menduga akan hal itu.

Akan tetapi, mengapa Siu Bi membuntungi lengan Swan Bu?

Yo Wan benar-benar tidak mengerti.

Akan tetapi dia cukup mengenal watak Siu Bi yang aneh dan liar dan tentu saja gadis seperti itu dapat melakukan hal yang aneh-aneh dan tak masuk akal, seperti misalnya membuntungi lengan orang yang dicintanya.

Yang membuat Yo Wan mengerutkan keningnya adalah karena dia merasa tidak senang kalau benar-benar mereka berdua saling mencinta.

Menurut pendapatnya, Swan Bu harus berjodoh dengan Lee Si.

Gadis yang malang itu selain kehilangan Ayahnya, juga telah difitnah dan dicemarkan nama baiknya.

Swan Bu harus mengambilnya sebagai isteri, karena jalan inilah satu-satunya untuk mencuci noda pada nama baik Lee Si.

Kalau Swan Bu berjodoh dengan Siu Bi, hal ini akan menimbulkan banyak akibat yang tidak baik dan tentu saja orang tua pemuda itu akan menentangnya.

Di dunia ini memang terjadi hal aneh-aneh.

Cinta memang aneh, seperti anehnya sikap Cui Sian tadi!

Terang bahwa hatinya telah bertekuk lutut dan mencinta puteri Raja Pedang itu.

Akan tetapi tentu saja dia tidak berani nekat.

la mengenal diri sendiri, seorang yatim piatu yang bodoh dan miskin, dan dia cukup mengenal pula siapa Cui Sian.

Puteri tunggal Raja Pedang, Ketua Thai-San-Pai!

Betapapun juga, dia tidak dapat menahan gelora di hatinya dan tak dapat menghapuskan harapan hampa di hatinya bahwa gadis itu akan membalas cintanya, harapan bahwa kelak gadis itu akan menjadi jodohnya.

Betapapun gila harapan-harapan itu!

Akan tetapi sikap Cui Sian tadi ah, siapa tahu, cinta memang aneh.

Ataukah orang-orang yang terjerat cinta lalu menjadi sinting dan melakukan hal-hal aneh?.

Di dalam perjalanannya mencari Swan Bu ini Yo Wan mendengar banyak hal yang selama ini tidak pernah menjadi (Lanjut ke

Jilid 19) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 perhatiannya.

Hal-hal mengenai keadaan.

Agaknya ucapan Ketua Siauw-Lim-Pai telah mengukir kesan mendalam di hatinya, membuat dia sadar bahwa selama ini hidupnya hampa, tidak ada isinya, karena dia telah lalai akan kewajibannya sebagai seorang anak bangsa.

Kesan inilah yang membuat dia menaruh perhatian akan berita yang didengarnya di sepanjang jalan.

Semenjak Kaisar Yung Lo, pendiri dan Kota Raja Utara (Peking), memegang tampuk pemerintahan, keadaan dalam negen boleh dikata menjadi tenteram.

Kaisar yang semenjak mudanya menjadi panglima perang ini memerintah dengan tangan besi.

Sayangnya bahwa pada waktu itu, Kerajaannya masih mengalami banyak gangguan dari luar, terutama sekali dari bangsa Mongol dan suku bangsa lain di Utara, yang berusaha keras menebus kekalahan bangsanya setengah abad yang lalu.

Selain ini, juga para bajak laut di pantai Timur yang terdiri dari bangsa Jepang, merupakan gangguan.

Namun tentu saja gangguan para bajak laut ini tidaklah sebesar gangguan dari Utara.

Oleh karena inilah Kaisar Yung Lo mencurahkan perhatiannya ke arah Utara.

Tembok besar yang melintang di Utara itu dia betulkan dengan mengerahkan ratusan ribu tenaga manusia.

Tadinya tembok besar ini boleh dibilang sudah runtuh, atau sengaja diruntuhkan di jaman Kerajaan Mongol berkuasa, karena tentu saja bagi Kerajaan Mongol, tidak perlu adanya tembok besar yang memisahkan negara jajahan dengan negara asal mereka.

Setelah Kerajaan Mongol jatuh dan Kerajaan Beng-tiauw berdiri, tembok besar yang seakan-akan merupakan tanggul pencegah banjirnya serbuan lawan dari Utara itu dibangun kembali.

Dan ketika Yung Lo menjadi Kaisar, pembangunan ini dipergiat, juga Kota Raja Peking dibangun dengan hebatnya.

Namun, semua pembangunan ini oleh Kaisar diserahkan kepada para pembantunya, karena Kaisar sendiri, sebagai seorang bekas panglima perang yang berpengalaman, sibuk memimpin pasukan-pasukan menyerbu ke Utara untuk memerangi bangsa Mongol yang selalu merupakan ancaman itu.

Agaknya karena terlalu sering Kaisar meninggalkan istana untuk memimpin barisannya berperang itulah yang mengakibatkan"

Merajalelanya kaum koruptor, golongan-golongan pembesar yang menyalahgunakan kedudukan dan wewenangnya, terjadi pertentangan dalam perebutan kekuasaan antara para penjilat dan para penentang, antara pangeran yang mencalonkan diri menjadi pengganti kelak apabila Kaisar meninggal dunia.

Terjadilah perpecahan menjadi beberapa golongan yang berdiri di belakang pangeran yang menjadi calon atau jago aduan masing-masing, dengan mereka sebagai "Botoh-botohnya."

Yo Wan mendengar betapa banyak orang gagah pergi ke Utara dan menjadi barisan suka rela membantu Kaisar memerangi orang-orang Mongol.

Ternyata bahwa musuh dari Utara itu tidak boleh dipandang ringan.

Sungguhpun mereka tidak pernah berhasil menyerbu ke Selatan melalui tembok besar, namun perlawanan yang mereka lakukan di Utara cukup sengit sehingga di pihak tentara Kerajaan banyak jatuh korban.

Orang-orang Mongol mempunyai panglima-panglima yang pandai, malah kabarnya dibantu oleh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Bantuan dari orang-orang sakti inilah yang menarik banyak orang kang-ouw menjadi sukarelawan, karena sudah menjadi semacam penyakit pada ahli-ahli silat kelas tinggi untuk mencoba-coba ilmu mereka apabila mereka mendengar tentang musuh yang berilmu tinggi pula.

Demikian pula, penyakit macam ini terdapat pula dalam diri Yo Wan.

Ketika pada suatu hari dia mendengar dongeng seorang bekas sukarelawan akan adanya seorang jagoan Mongol yang sekaligus menewaskan enam orang jagoan Kerajaan dalam sebuah pertempuran, dia menjadi penasaran sekali.

Kemudian mendengar akan kegagahan Kaisar yang memimpin setiap perang tanding besar-besaran dengan gagah perkasa, ikut pula mengayun Pedang memutar tombak sebagai panglima yang tidak hanya mengomando dari belakang dan dari tempat yang aman saja, hati Yo Wan ikut bergelora penuh semangat dan tertarik.

Alangkah senangnya ikut berjuang di bawah pimpinan seorang Kaisar segagah itu, pikirnya, dan ucapan dari Ketua Siauw-Lim-Pai makin jelas berdengung di telinganya.

"Apa gunanya memiliki kepandaian kalau hanya untuk saling bunuh dengan saudara dan bangsa sendiri?"

Demikian ucapan Ketua Siauw-Lim-Pai yang berdengung di telinganya.

Diam-diam Yo Wan merasa heran ketika jejak Swan Bu menuju terus ke Utara, malah agaknya ke Kota Raja.

la telah mengeluarkan kepandaiannya untuk menyusul, akan tetapi ternyata selalu dia tertinggal di belakang.

Soalnya adalah karena kedua orang itu agaknya melakukan perjalanan secara sembunyi sehingga kadang-kadang mereka lenyap, tak dapat dia mendengar keterangan.

Kalau akhirnya dia mendapatkan lagi keterangan tentang Swan Bu dan Siu Bi, ternyata mereka itu telah mengambil jalan memutar secara diam-diam, seakan-akan mereka memang sengaja menghilangkan Jejak agar jangan mudah disusul orang.

Inilah yang membuat Yo Wan kewalahan dan sampai sekian lamanya belum juga dia dapat menyusul.

Akan tetapi, hatinya lega selama dia masih bisa mendengar berita tentang Swan Bu.

Ke manapun juga dia akan mengejar sampai dapat bertemu.

Pada suatu hari sampailah dia ke kota Leng-Si-Bun, sebuah kota kecil di sebelah Timur Cin-an, di lembah Sungaij Huang-Ho.

Kota Raja baru berada di sebelah Utara daerah ini, tidak begitu jauh lagi, paling jauh dua ratus li.

Laut Timur, yaitu Lautan Po-Hai, tidak jauh pula dari tempat ini, hanya, terpisah seratus li kurang lebih.

Ramai di kota Leng-Si-Bun ini, karena tempat ini merupakan pelabuhan bagi perahu-perahu yang mengangkut barang hasil bumi yang hendak dilayarkan ke laut Timur.

Yo Wan memasuki kota Leng-Si-Bun karena dua hari yang lalu dia mendengar keterangan bahwa pemuda lengan buntung dan gadis cantik yang dicarinya menuju ke kota ini.

Hari telah siang ketika dia memasuki kota itu.

Dimasukinya sebuah rumah makan yang cukup besar, yang berada di tengah-tengah kota.

la merasa lelah dan kecewa juga karena di kota ini pun dia tidak melihat Swan Bu, biarpun dia tadi sudah berputar-putar di sepanjang jalan yang panas berdebu.

Rumah makan itu mempunyai sepuluh buah meja, meja-meja Bundar lebar dikelilingi delapan buah bangku tiap meja.

Akan tetapi pada saat itu hanya ada tiga buah meja saja yang dihadapi tamu.

Sebuah meja di sudut luar dikelilingi enam orang laki-laki yang minum arak sambil makan mie dan bersendau-gurau dengan suara parau.

Agaknya mereka itu adalah juragan-juragan perahu bersama pedagang pedagang.

Yo Wan mengerutkan keningnya ketika mendengar percakapan yang mereka lakukan dengan suara keras itu, karena percakapan ini kotor dan cabul.

Mereka membicarakan pengalaman mereka dengan perempuan-perempuan lacur di kota itu dan percakapan mereka diseling tertawa terkekeh-kekeh.

Tentu saja Yo Wan tidak akan mempedulikan mereka kalau saja dia tidak mengerling ke arah meja kedua yang dihadapi tamu.

Di meja sebelah dalam, duduk dua orang muda, seorang gadis dan seorang laki-laki muda.

Tadi ketika dia lewat di depan restoran ini, hatinya berdebar tegang karena"mengira bahwa mereka adalah Swan Bu dan Siu Bi.

Akan tetapi setelah dia masuk, dia mendapat kenyataan bahwa sepasang orang muda itu bukanlah orang-orang yang dia cari.

Si pemuda mengenakan jubah biru muda dengan ikat pinggang dan ikat kepala warna kuning.

Wajah pemuda itu tampan dan gagah, sikapnya tenang dan usianya paling banyak dua puluh dua tahun.

Si gadis berpakaian serba merah muda, cantik jelita antara dua puluh tahun usianya, di punggungnya tampak menonjol gagang pedang.

Gadis ini kelihatan keren dan angkuh.

Keduanya sedang makan mie dan masakan daging sambil minum arak, sama sekali tidak bicara maupun memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Akan tetapi karena Yo Wan duduk menghadap ke arah gadis yang kebetulan juga duduknya menghadap ke arahnya, dia dapat mencuri pandang dan melihat betapa sepasang mata gadis itu menyambar-nyambar dari sudut mata, mengerling dengan ketajaman bagaikan gunting.

Namun sikapnya tenang sekali.

Dengan hadirnya seorang gadis di situlah yang membuat Yo Wan merasa mendongkol dan tidak senang hatinya mendengar kelakar enam orang laki-laki kasar itu, yang sama sekali tidak tahu sopan, bicara kotor dan cabul di dekat seorang wanita muda.

Makin mendongkol hati Yo Won ketika melihat betapa orang-orang kasar itu kadang-kadang menengok ke arah si gadis baju merah sambil menyeringai memperlihatkan gigi kuning.

Akan tetapi diam-diam dia kagum melihat betapa gadis itu tetap tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan perasaan apa-apa, juga si pemuda tetap makan dengan tenang-tenang saja.

Seorang di antara mereka, yang bermuka lonjong dan pipinya cacad sebelah kiri, agaknya sudah setengah mabuk.

Dengan kepala bergoyang-goyang dia berkata kepada laki-laki pendek muka kuning yang agaknya menjadi pemimpin rombongan itu.

"Heh... heh... heh, Pui-Twako, yang kau dapatkan hanya kembang-kembang mawar kota yang sudah layu, yang tiada durinya sama sekali. Itu sih membosankan! Lain lagi kalau bisa mendapatkan mawar hutan yang liar, yang harumnya semerbak asli, yang berduri runcing, yang segar..."

"Ha... ha... ha"

Sambung seorang yang matanya sipit hampir meram dengan ketawanya yang kasar.

"Pui-Twako tentu saja berhati-hati, apalagi menghadapi mawar merah yang selain berduri, juga dijaga siang malam oleh tukang kebunnya! Jangan-jangan tangan akan tertusuk Pedang dan kepala akan dikemplang tukang kebun! Ha... ha... ha!"

Si mata sipit mengerling ke arah meja muda-muda itu.

"Ah, mana Pui-Twako takut akan semua itu? Pedang itu hanya untuk berlagak agar harganya naik menjadi mahal, tukang kebunnya pun kecil kurus, bisa berbuat apa terhadap Pui-Twako? Tidak percuma Pui-Twako dijuluki Tiat-Houw (Macan Besi), siapa yang tidak mengenal Harimau dari Huang-Ho?"

Orang yang disebut Pui-Twako dan berjuluk Harimau Besi itu hanya tersenyum-senyum dan mengerling ke arah meja muda-mudi itu.

Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya pendek tapi tegap dan kelihatan kuat, sikapnya seorang jagoan asli, tersenyum-senyum mengejek dengan pandangan mata acuh tak acuh dan memandang rendah segala di sekelilingnya.

Mukanya yang kekuningan itu kini menjadi merah oleh pengaruh arak dan jelas sekali dia menjadi bangga mendengar puji-pujian teman-temannya.

"Aku bukan termasuk lelaki rendah yang suka mengganggu wanita baik-baik,"

Katanya dengan suara lantang, agaknya sengaja dikeluarkan agar didengar oleh gadis di seberang itu.

Yo Wan mengenal orang macam ini.

Seorang dengan hati palsu dan mulut pandai bicara, pandai berlagak dan pandai pura-pura menjadi seorang gagah dan seorang yang baik hati.

Akan tetapi ucapan ini dikeluarkan berlawanan dengan isi hatinya, hanya dengan maksud agar supaya dia kelihatan "Berharga"

Dalam pandang matYo Wanita itu. Yo Wan tahu betul akan hal ini, karena suara dan pandang mata orang she Pui itu berlawanan, seperti bumi dengan langit.

"Ahhh, Pui-Twako. Siapa yang tidak tahu bahwa kau seorang gagah perkasa? Mengganggu lain lagi dengan mengajak berkenalan. Gagah sama gagah, berkenalan dengan segala macam cacing busuk yang lemah, lebih baik berkenalan dengan Harimau Besi, sedikit banyak bisa ketularan kegagahannya!"

Kata si muka cacad sambil mengerling ke arah meja muda-mudi itu penuh arti.

Yo Wan makin mendongkol.

Alangkah kurang ajar dan beraninya enam orang itu.

Terang bahwa si pemuda diejek dan dihina, karena memang sikap dan pakaian pemuda itu seperti seorang pelajar yang pada masa itu sering kali diejek dengan sebutan cacing buku atau kutu buku.

Akan tetapi muda-mudi yang dijadikan bahan percakapan dan bahan ejekan itu masih saja makan dengan lambat dan tenang, sama sekali tidak menghiraukan mereka berenam.

Hanya terdengar gadis itu berkata, suaranya halus dan perlahan, seakan-akan bicara pada diri sendiri, tanpa melirik ke arah enam orang itu.

"Hemmm, banyak lalat-lalat kotor menjemukan di sini. Sayang... biar bukan gangguan besar, sedikitnya mengurangi selera makan..."

"Biarlah, Sumoi... biasanya dekat sungai besar memang banyak lalat kotor. Tapi mereka tidak ada artinya..."

Kata pemuda itu menghibur.

Yo Wan hampir tak dapat menahan ketawanya.

Bagus, pikirnya.

Kiranya mereka itu adalah kakak beradik seperguruan, dan tepat sekali sindiran mereka itu yang diam-diam memaki enam orang kasar itu sebagai lalat-lalat hijau yang kotor.

Tentu saja enam orang itu mengerti pula akan sindirian ini.

Si pipi cacad bangkit berdiri menepuk meja.

"Pui-Twako, masa diam saja dihina orang? Kalau Suhengnya kutu buku, tentu Pedang sumoinya itu hanya hiasan belaka, untuk menakut-nakuti orang supaya dianggap Pendekar-Pendekar jempolan. Hayo minta maaf pada..."

"Sssttttt, Gong-Lote, jangan mencari gara-gara di sini!"

Tiba-tiba si Harimau Besi berkata tajam dan si pipi cacad itu segera duduk kembali.

"Pui-Twako, orang-orang bilang singa-singaan batu dari restoran ini beratnya lebih dari tiga ratus kati dan tidak pernah ada yang kuat mengangkat. Dasar orang-orang lemah, siapa bilang tidak ada yang kuat angkat? Harap Pui-Twako suka membantah kabar itu dengan membuktikan kepada mereka!"

Si Harimau Besi hanya tersenyum-senyum saja? "Ah, kalian ini ada-ada saja,"

Katanya ketika teman-teman yang lain juga membujuknya.

"He, pelayan-pelayan, ke sinilah!"

Teriak si mata sipit. Lima orang pelayan berlari menghampiri mereka sambil tertawa-tawa. Agaknya enam orang itu memang langganan mereka.

"Apa betul selama ini tidak ada orang yang mampu mengangkut singa-singaan batu di depan itu?"

Tanya si sipit sambil menuding ke arah sebuah singa-singaan batu yang terukir kasar dan diletakkan di depan pintu restoran sebagai hiasan.

"Betul, Loya. Singa itu berat sekali. Empat orang baru dapat mengangkatnya, itu pun harus orang-orang kuat dan menggunakan tambang,"

Jawab seorang pelayan yang kurus.

"Ah, dasar orang-orang tiada guna. Lihat, Pui-Twako akan mengangkatnya seorang diri tanpa bantuan siapa pun juga!"

Kata si mata sipit sambil memandang kepada orang she Pui.

"Ahhh, harap Loya jangan main-main! Singa itu beratnya lebih dari tiga ratus kati! Jangankan mengangkat, kalau hanya sendiri, menggeser saja tidak ada yang mampu lakukan!"

Si mata sipit melotot, akan tetapi tetap sipit, karena memang lubang pelupuk matanya sempit.

"Menggeser? Huh, dasar kalian ini gentong-gentong kosong. Lihat!"

La melangkah lebar menghampiri singa-singaan batu, kedua lengannya memegang kepala singa-singaan itu dan sambil berseru "Hiyaaahhh!"

La menggeser singa-singaan itu beberapa dim jauhnya! "Wah, Loya kuat sekali!"

Lima orang pelayan itu memuji dan memandang kagum. Si mata sipit mengangkat dadanya yang tipis dan yang bersengal-sengal.

"Ini belum!"

La menyombong.

"Tapi Pui-Twako yang di sana itu, dia mampu mengangkat singa-singaan ini. Kalian tidak tahu siapa itu adalah Tiat-Houw Pui-Enghiong, Harimau Besi dari Huang-Ho! Aku sendiri, tenagaku tidak sebesar Pui-Twako, akan tetapi sepasang golokku ini siapa berani melawan Huang-Ho Siang-to (Sepasang Golok Huang-Ho) inilah orangnya! Dan saudaraku di sana itu"

Ia menudingkan telunjuknya ke arah pipi cacad.

"Siapa tidak pernah mendengar nama Huang-Ho Sin-Piauw (Piauw Sakti dari Huang-Ho)? Kami bertiga sudah malang -melintang di sepanjang Huang-Ho, baru sekarang berkesempatan memperkenalkan diri di Leng-Si-Bun."

Mendengar ini, lima orang pelayan itu segera menjura dengan muka berseri-seri.

"Kiranya Sam-wi (Tuan Bertiga) tiga orang gagah juragan-juragan perahu yang terkenal itu? Maaf, kami tidak tahu dan kurang hormat. He, teman-teman, lekas sediakan arak wangi, untuk menghormati tamu-tamu besar"

Melihat sikap para pelayan yang menghormat mereka, diam-diam Yo Wan memperhatikan.

Kiranya mereka itu adalah tiga orang juraga!

perahu yang terkenal juga.

Dan agaknya yang tiga lagi adalah pedagang-pedagang langganan mereka.

"Pui-Twako, setelah kita memperkenalkan diri, harap suka turun tangan sedikit agar cacing-cacing buku tidak tertutup matanya!"

Kata pula Huang-Siang-To yang bermata sipit.

"Bhe-Lote, apa sih artinya angkat-angkat batu macam ini? Tidak ada artinya bagiku!"

Kata orang she Pui, akan tetapi dia melangkah ke arah singa-singaan batu, membungkuk, mengangkat dengan kedua tangannya lalu sekali dia berseru keras, singa-singaan batu itu sudah terangkat ke atas kepalanya!

Tepuk tangan menyambut demonstrasi ini, tepuk tangan para pelayan dan lima orang teman-teman si Harimau Besi.

Ketika singa-singaan batu itu sudah diturunkan kembali, si Harimau Besi tidak kelihatan tersengal nafasnya hanya mukanya yang kuning berubah merah.

Yo Wan yang memandang dari sudut matanya tentu saja tidak heran menyaksikan demonstrasi itu dan dia sekaligus maklum bahwa si Harimau Besi adalah seorang ahli Gwakang yang bertenaga besar.

Ketika dia melirik ke arah muda-mudi itu, dia melihat si gadis tersenyum mengejek.

Diam-diam Yo Wan terkejut juga.

Kalau gadis itu masih berani tersenyum mengejek setelah menyaksikan demonstrasi ini, tentu saja gadis itu mempunyai andalan dan menganggap demonstrasi itu bukan apa-apa.

Mulailah dia menaruh perhatian dan kalau tadi dia agak mengkhawatirkan keselamatan muda-mudi itu, sekarang perhatiannya terbalik dan dia malah mengkhawatirkan keselamatan enam orang itu.

la melihat kilatan mata yang penuh ancaman di atas Bibir yang tersenyum mengejek.

"Dasar manusia-manusia tak tahu diri,"

Diam-diam Yo Wan berpikir.

"Benar-benar seperti rombongan monyet berlagak, mencari penyakit sendiri."

Ahli golok bermata sipit she Bhe itu cengar-cengir, kini terang-terangan memandang ke arah meja si muda-mudi sambil berkata.

"Kalau si kutu buku dan sumoinya sanggup mengangkat batu ini, biarlah kami takkan banyak bicara lagi. Akan tetapi kalau tidak sanggup, si kutu buku harus membiarkan sumoinya yang cantik manis untuk menemani kami minum beberapa cawan arak."

Sungguh keterlaluan si mata sipit ini, kekurangajarannya sudah memuncak.

Yo Wan ingin sekali mernberi tahu agar muda-mudi itu pergi saja meninggalkan restoran dan menjauhi keributan.

Akan tetapi muda-mudi itu enak-enak saja makan, lalu terdengar si gadis berkata mengomel.

"Suheng, makin lama lalat-lalat hijau busuk itu membosankan. Bagaimana kalau aku tepuk mampus binatang-binatang hina itu?"

"Ihhh, apa perlunya melayani segala macam lalat bau, Sumoi? Biarkan saja, memang biasanya lalat-lalat hijau itu hanya berkeliaran di tempat-tempat kotor, lalu menimbulkan suara ribut dan menyebar penyakit. Biarkan saja, mereka tentu akan mampus sendiri kelak."

Muda-mudi itu tertawa geli sambil melanjutkan makan minum.

Tiga orang jagoan itu kelihatan marah sekali, juga si pendek yang mengangkat batu tadi.

Mukanya yang kuning menjadi merah, matanya melotot.

la lalu mengangkat lagi singa-singaan batu, mengerahkan tenaga dan melontarkan singa-singaan itu ke atas, ke arah meja si muda-mudi.

la sudah memperhitungkan bahwa dua orang muda itu tentu akan mengelak dengan melompat pergi sehingga singa-singaan batu akan menimpa dan menghancurkan meja dan mereka akan dapat mentertawakan dua orang itu.

Batu besar itu berputaran ke atas, lalu menyambar ke arah meja si muda-mudi yang masih enak-enak saja makan minum seakan-akan tidak melihat datangnya bahaya!

Akan tetapi setelah singa-singaan batu itu melayang di atas kepala mereka dan agaknya akan menimpa mereka berdua dan meja di depan mereka, si nona cantik itu menggerakkan tangan kiri, dengan jari-jari terbuka, jari-jari tangan yang kecil meruncing dan halus itu hanya menyentuh batu itu tampaknya, akan tetapi batu itu tiba-tiba terputar di udara dan melayang kembali ke arah meja enam orang itu!

"Wah, celaka, lari...!"

Teriak si mata sipit.

Karena tiga orang saudagar yang menjadi langganan mereka itu tak pandai silat, maka si mata sipit, si pendek, dan Si pipi cacad masing-masing menarik"tangan seorang saudagar dan dibawa meloncat pergi dari dekat meja.

Terdengar suara hiruk-pikuk ketika singa-singaan batu jatuh menimpa meja.

Meja pecah, keempat kakinya patah-patah, mangkok piring hancur berantakan, sumpit beterbangan dan cawan-cawan arak tumpah.

"Ha... ha... ha!"

Si pemuda tertawa.

"Hi...hi...hik!"

Si pemudi mengikutinya.

Akan tetapi mereka tetap saja makan minum tanpa pedulikan tiga orang jagoan yang melotot marah dan tiga orang saudagar yang menjadi pucat mukanya.

Adapun Yo Wan yang masih duduk tenang, memandang kagum, akan tetapi juga merasa betapa gadis itu agak terlalu ganas.

Enak saja bermain-main dengan batu seberat itu.

Bagaimana kalau tadi menimpa kepala orang?

Tentu akan remuk dan mati seketika juga.

"Kurang ajar!"

Tiat-Houw atau si Harimau Besi berseru marah.

Dengan muka merah dia menarik singa-singaan batu dari atas meja yang sudah ringsek, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala dan kini dia melontarkan batu itu sekuatnya ke arah si nona manis!

"Kau terimalah ini!"

Singa-singaan batu itu kali ini tidak melayang seperti tadi yang hanya dilontarkan ke atas ke arah meja si muda-mudi, melainkan langsung menyambar ke arah nona itu merupakan sambitan keras dan berbahaya.

Namun, seperti juga tadi, nona itu dengan amat tenang masih terus asyik makan minum, malah pada saat singa-singaan batu sudah menyambar dekat, nona itu dengan tangan kirinya mengangkat cawan arak dan meminumnya!

Para pelayan memandang dengan muka pucat, bahkan ada yang meramkan mata, tidak sampai hati menyaksikan nona cantik jelita yang sedang minum itu remuk kepalanya oleh singa-singaan batu Hanya Yo Wan yang dapat menduga apa yang akan terjadi maka dia pun enak-enak minum araknya.

Tepat seperti dugaan Yo Wan, nona itu dengan tangan kanannya mengangkat sepasang sumpitnya, dan secara mudah dan enak saja ia "Menerima"

Batu itu dengan sumpit.

Batu besar berbentuk singa itu terputar-putar di ujung sumpit, kemudian sekali menggerakkan lengan kanan, singa batu itu terbang dari ujung sumpitnya, kembali ke alamat pengirim.

Semua ini dilakukan dengan cawan arak masih menempel di Bibir!

"Aiiihhh..."

Orang she Pui yang berjuluk Harimau Besi itu berteriak kaget sekali ketika melihat singa-singaan batu itu tiba-tiba menyambar ke arahnya.

la tidak sempat lagi mengelak, terpaksa dia menggerakkan kedua lengannya menerima singa-singaan batu itu.

Sambil mengerahkan tenaganya dia menerima, akan tetapi alangkah kagetnya ketika singa-singaan batu itu ternyata berlipat kali lebih berat daripada tadi.

Hal ini adalah karena batu itu dilontarkan dengan tenaga Sinkang.

Si pendek sombong berusaha menahan, namun dia terhuyung-huyung ke belakang, singa batu menghimpit dadanya dan setelah terhuyung-huyung sampai lima meter ke belakang dan menabrak meja, baru dia berhenti.

Singa-singaan batu itu dia lemparkan ke sebelah kanannya dan dia batuk-batuk.

Darah segar tersembur keluar ketika dia batuk-batuk itu, temudian dengan lemas dia menjatuhkan diri ke atas kursi, nafasnya terengah-engah, mukanya pucat, matanya meram.

Jelas bahwa dia menderita luka di sebelah dalam dadanya, yang cukup hebat!

Kini terbukalah mata si mata sipit dan si pipi cacad bahwa gadis yang mereka tadi sebut-sebut sebagai bunga hutan liar itu benar-benar liar dan tentang durinya, jangan tanya lagi!

Melihat teman mereka terluka hebat, si pipi cacad yang berjuluk Huang-Ho Sin-Piauw dan she Gong menjadi amat marah.

Dengan gerakan yang tak dapat diikuti pandang mata saking cepatnya, tahu-tahu dia telah mengayun kedua tangannya bergantian ke arah muda-mudi itu dan terdengar teriakannya.

"Bocah-bocah mau mampus, makanlah ini!"

Sinar hitam berkelebatan menyambar ke arah meja muda-mudi itu ketika beberapa batang piauw menyambar.

Tidak heran si pipi cacad ini berjuluk Piauw Sakti dari Huang-Ho.

Kiranya dia pandai sekali bermain piauw dan dapat menyambitkan senjata rahasia itu dengan gerakan yang cepat.

Agaknya orang akan kalah cepat kalau harus berlomba mencabut dan mempergunakan senjata rahasia dengan si pipi cacad yang bermuka lonjong buruk itu.

"Menjemukan!"

Seru si gadis, matanya yang bening dan indah itu memancarkan cahaya kemarahan.

"Biarlah, Sumoi...!"

Kata si pemuda yang mendahului sumoinya, menggerakkan"

Sumpitnya. Sumpit itu bergerak-gerak seperti tergetar. Terdengarlah suara "Cring-cring-cring"

Beberapa kali disusul berkelebatnya sinar-sinar hitam ke atas lalu.

"Cap-cap-cap-cap-cap!."

Empat batang piauw sudah menancap pada langit-langit di atas pemuda itu!

Si pemuda yang wajahnya masih belum tampak oleh Yo Wan karena pemuda itu duduknya membelakangi Yo Wan, kini bersikap seperti tak pernah terjadi apa-apa, minum araknya kemudian berdongak ke atas dan dari mulutnya tersembur arak lembut Seperti uap yang terus menyambar ke langit-langit.

Terdengar suara nyaring dan...

empat batang piauw yang menancap pada langit-langit itu rontok dan runtuh semua ke bawah!

"Hebat...!!"

"Luar biasa...!"

"Bagus sekali...!!"

Demikian teriakan para pelayan yang menjadi amat gembira menyaksikan kesudahan-kesudahan dari serangan-serangan yang tadinya amat mengkhawatirkan itu.

Yo Wan enak minum araknya.

Semua ini sudah diduganya dan dia tidak heran, hanya dia merasa kagum akan sikap muda-mudi yang begitu tenang.

Timbul keinginan keras di hatinya untuk mengenal mereka.

Akan tetapi yang paling marah adalah si Piauw Sakti!

Bagaimana julukannya Piauw Sakti akan dapat bertahan terus kalau permainan piauwnya diperlakukan seperti lalat-lalat menyambar oleh pemuda tak terkenal itu?

Timbul pikiran yang licik dalam benaknya.

Tadi si gadis mendemonstrasikan tenaga yang hebat ketika menghadapi singa-singaan batu.

Kini yang menghadapi piauwnya adalah si pemuda, agaknya ini membuktikan bahwa si gadis tidaklah sehebat si pemuda dalam menghadapi piauw.

Untuk menebus kekalahannya, si pipi cacad kembali mengayun senjata-senjata rahasianya, kali ini sekaligus dia menyambitkan enam batang piauw yang kesemuanya menyambar ke arah si gadis, bahkan menyambar ke enam bagian tubuh yang berbahaya.

"Suheng, kali ini jangan larang aku! terdengar si gadis berkata halus, tiba-tiba ia meloncat bangun dan sepasang sumpit telah berada di kedua tangannya. Dengan gerakan yang cepat kedua tangan yang memegang sumpit itu menangkis, terdengar suara nyaring berkali-kali dan sinar-sinar hitam itu menyambar kembali ke arah penyerangnya! Si pipi cacad kaget sekali, cepat mengelak, namun dia hanya dapat menghindarkan diri dari empat batang piauw, sedangkan yang dua batang lagi telah menancap di pundak dan pahanya. la memekik dan roboh, termakan senjatanya sendiri seperti keadaan kawannya si pendek tadi! Melihat perkembangan peristiwa itu menjadi pertandingan yang mengakibatkan luka dan darah, para pelayan yang tadi gembira menyaksikan demonstrasi kepandaian yang mengagumkan, sekarang menjadi bingung dan ketakutan. Ingin mereka melerai, ingin mereka minta agar supaya orang keluar dari restoran kalau hendak berkelahi, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka berani bicara. Karena itu mereka hanya lari ke sana ke mari dan saling pandang dengah muka pucat, tak tahu harus berbuat apa seperti ayam hendak bertelur. Kini tinggallah seorang jagoan lagi, yaitu si mata sipit yang berjuluk Huang-Ho Siang-to. Orang she Bhe ini melihat dua orang kawannya sudah terluka, diam-diam merasa gentar juga dan maklum bahwa ternyata mereka bertiga yang selama ini menjagoi daerah lembah Sungai Huang-Ho di bagian Leng-Si-Bun, kiranya telah tersandung batu! la maklum bahwa kedua orang muda itu adalah Pendekar-Pendekar yang berilmu tinggi. Akan tetapi melihat dua orang kawannya terluka, tak mungkin dia diam saja. Ke mana akan disembunyikan mukanya kalau dia tidak membela? Nama besarnya tentu akan menjadi bahan ejekan orang. Maju dan kalah oleh lawan yang lebih lihai bukanlah hal memalukan, akan tetapi mundur teratur tanpa melawan, benar-benar tak mungkin dapat dia lakukan.

"Bocah-bocah sombong, siapakah kalian berani bermain gila di daerah ini? Hayo layani sepasang golok dari Huang-Ho Siangrto, kalau dapat mengalahkan sepasang golokku, barulah boleh disebut gagah!"

Pemuda itu hanya tersenyum, akan tetapi si pemudi mendengus dengan sikap mengejek.

"Suheng, agaknya tukang cacah daging bakso ini sudah sinting, mau apa dia bawa-bawa golok pencacah bakso? Biar kuhabiskan saja dia..."

"Ssttt, jangan. Biarkan, kita lihat mau apa tikus ini..."

Kata si pemuda. Tentu saja si mata sipit tahu bahwa dirinya yang dimaki tukang cacah bakso dan tikus, maka kemarahannya memuncak. Matanya menjadi makin sipit dan mukanya merah sekali.

"Keparat, kalian yang akan kujadikan bakso..."

Sambil berkata demikian, dia mengayun dan menggerakkan kedua goloknya di atas kepala.

Sepasang golok itu berkelebatan mengeluarkan sinap berkeredepan.

Mendadak gerakannya terhenti dan si mata sipit terkejut dan heran karena dia merasa betapa sepasang goloknya terhenti di tengah udara, di belakang kepalanya seakan-akan tersangkut sesuatu.

Betapapun dia berusaha membetotnya, tapi sia-sia.

Cepat dia membalikkan tubuh dengan bulu tengkuk meremang dan terpaksa dia melepaskan kedua goloknya.

Apa yang dilihatnya?

Ketika dia membalikkan tubuh, di depannya telah berdiri seorang laki-laki bertubuh pendek, berkepala botak.

Laki-laki ini mengangkat kedua tangannya dan ternyata sepasang goloknya itu telah dijepit oleh jari tengah dan telunjuk yang ditekuk.

Dapat dibayangkan betapa hebat tenaga orang ini, karena dengan dua jari menjepit sebuah punggung golok, si mata sipit tak mampu membetotnya!

Ketika si mata sipit melihat bahwa di belakang orang pendek ini masih terdapat tujuh orang pendek lain kesemuanya berdiri tegak dan angker, tiba-tiba tubuhnya menggigil dan dia berkata gagap.

"Ki... kipas... Kipas Hitam..."

Mendengar suara ini, para pelayan berserabutan lari melalui pintu belakang restoran dan sebentar saja mereka tidak tampak lagi.

Diam-diam Yo Wan memperhatikan hal ini dan dia dapat menduga bahwa nama Kipas Hitam tentulah sudah terkenal dan ditakuti orang.

Cepat dia memandang penuh perhatian.

Laki-laki yang menjepit sepasang golok dengan jari tangannya itu, benar-benar pendek tubuhnya, pendek gempal dan tegap, tampak amat kuat sepasang lengannya yang juga pendek itu.

Di pinggangnya tergantung sarung Pedang yang panjang dan agak bengkok, sedangkan di ikat pinggang depan terselip sebuah kipas berwarna hitam.

Tujuh orang di belakangnya pun seperti itu dandanannya, hanya bedanya, orang yang di depan itu sarung pedangnya lebih indah.

Agaknya kipas-kipas hitam yang berada di pinggang mereka itulah yang menjadi tanda bahwa mereka adalah anggota-anggota Kipas Hitam.

Dan lucunya, mereka semua, delapan orang ini kepalanya dicukur botak tinggal di atas kedua telinga dan di sebelah belakang saja.

Laki-laki pendek yang menjepit golok itu lalu berkata, suaranya kaku dan asing.

"Tiga ekor cumi-cumi banyak tingkah!"

Tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan entah bagaimana, tahu-tahu tubuh si mata sipit sudah melayang keluar dari restoran setelah melalui jarak belasan meter.

Dua orang jagoan lain, si pipi cacad dan si pendek muka kuning yang sudah terluka, tahu-tahu sudah melarikan diri diikuti oleh tiga orang saudagar.

Mereka inilah yang mengangkat si golok sakti dan setengah diseret pergi dari tempat itu!

Yo Wan dapat menduga sekarang.

Agaknya rombongan Kipas Hitam ini adalah perampok-perampok atau lebih tepat agaknya bajak-bajak laut, mengingat akan makiannya tadi.

Hanya orang orang yang biasa berlayar saja agaknya yang akan menggunakan nama binatang laut cumi-cumi untuk memaki orang, Apalagi orang pendek ini suaranya kaku dan asing.

Mereka inilah bajak laut-bajak laut Jepang seperti yang pernah didengar Yo Wan dari percakapan orang-orang di sepanjang perjalanan!

Sementara itu, sepasang muda-mudi yang tadinya kelihatan tenang-tenang saja itu, kini bangkit dari tempat duduk mereka.

Agaknya sebutan Kipas Hitam tadi yang membuat mereka serentak bangkit dan memandang tajam kepada delapan orang yang baru tiba.

Kini Yo Wan dapat melihat bahwa si pemuda juga amat tampan dan gagah, tubuhnya tegap dan biarpun tidak tampak, Yo Wan dapat mengetahui bahwa pemuda itu menyembunyikan sebatang Pedang di balik jubahnya, jubah seorang pelajar.

Pandang mata yang amat tajam dari pemuda itu satu kali melirik ke arahnya, dan tercenganglah hati Yo Wan.

Biarpun hanya melirik satu kali, namun pandang mata itu tajam menembus hati, seakan-akan si pemuda itu sudah dapat menilainya hanya dengan sekali lirikan saja!

"Hemmm, bukan pemuda sembarangan.

Harus hati-hati menghadapi orang seperti ini..."

Pikirnya.

Keadaan di restoran itu tegang.

Para pelayan sudah lari menyingkir, juga di depan restoran tampak sunyi.

Agaknya orang-orang di situ sudah mendengar akan kedatangan delapan orang pendek-pendek rombongan Kipas Hitam.

Muda-mudi itu sudah berdiri berhadapan dengan pemimpin rombongan, saling pandang seperti lagak jago-jago mengukur pandang dan saling menaksir lawan.

Akhirnya si pendek itu bertanya, suaranya ketus, kasar dan kaku.

"Kalian berdua yang membunuhi teman-teman kami di pantai Laut Po-Hai seminggu yang lalu?"

Gadis itu melangkah maju dan dengan sikap menantang ia berkata nyaring.

"Kalau betul, kalian mau apa? Kalian inikah bajak laut Kipas Hitam? Apakah kau kepalanya?"

Kepala rombongan itu mengeluarkan suara makian dalam bahasa asing, sikapnya mengancam.

"Kami tidak diberi perintah untuk membunuh kalian, hanya diperintah untuk mengajak kalian ikut menghadapi Kongcu (Tuan muda) kami."

"Mau apa dia? Siapa Kongcu kalian itu?"

Tanya si gadis, lalu terdengar bisiknya kepada Suhengnya.

"Suheng, kau awasi tikus di belakang kita itu, dia mencurigakan..."

Si pemuda membalikkan tubuhnya dan sekali lagi Yo Wan tercengang ketika melihat sinar mata tajam menyambarnya di samping senyuman mengejek.

Ia tahu bahwa dirinya dicurigai, maka untuk menyembunyikan wajahnya, dia menenggak araknya dan berkata seperti orang sinting.

"Ahhh... arak habis para pelayan pergi semua. Ke manakah orang-orang tolol itu?"

Sementara itu, si pendek menerangkan dengan suara kaku.

"Kongcu adalah pemimpin kami, sekarang Kongcu menanti di pantai. Kalian harus ikut dengan kami menghadap Kongcu."

"Mau apa dia?"

"Kalian bicara sendiri dengan Kongcu, kami hanya diperintah untuk mengajak kalian dengan baik, harap kalian jangan membantah lagi..."

"Kalau kami tidak mau?"

Tanya pula si gadis.

"Hemmm... hemmmmm... mudah-mudahan jangan begitu. Mau tidak mau kalian harus menghadap Kongcu. Kongcu bilang bahwa kalian bukanlah orang-orang pengecut yang tidak berani menghadapi pemimpin Kipas Hitam"

"Aku tidak mau! Persetan dengan Kongcu kalian! Pergi dari sini, kalian mau apa kalau aku tidak mau?"

Tantang si gadis dengan sikap menantang, sedangkan si pemuda tetap tenang saja,kadang-kadang melirik ke arah Yo Wan yang dicurigai.

Si pendek itu sejenak memandang dengan mata mengancam, kemudian dia menarik nafas panjang.

"Sayang,"

Katanya.

"Sudah lama aku tidak bertemu lawan yang pandai. Segala macam cumi-cumi seperti juragan-juragan perahu tadi hanya menjemukan saja. Alangkah senangnya kalau dapat mengadu ilmu dengan kalian yang kabarnya lihai. Sayangnya, Kongcu tidak memperkenankan kami mengganggu kalian. Kongcu mengundang kalian dengan baik-baik, untuk diajak bercakap-cakap entah urusan apa. Kalau saja tidak ada pesan dari Kongcu, sudah sejak tadi samuraiku bicara!"

Sambil berkata demikian dia menepuk-nepuk Pedang panjang yang tergantung di pinggangnya sambil berkata.

"Cakar Naga, jangan kecewa, mereka bukan musuh..."

"Sumoi, kalau orang yang mereka sebut Kongcu itu hendak bicara, mari kita pergi menemuinya. Kita bukanlah pengecut, takut apa bertemu dengan pemimpin Kipas Hitam?"

Kata si pemuda, agaknya tertarik juga menyaksikan sikap orang Jepang itu.

"Wah, tidak ada alasan untuk bersikap murah dan mengalah, Suheng. Kalau memang ingin bicara, mengapa yang menyebut dirinya Kongcu itu tidak datang sendiri menemui kita? He, orang pendek. Pedangmu kausebut Cakar Naga, tentu kau pandai bermain pedang. Dengarlah! Kalau kau dapat mengalahkan aku dengan pedangmu, baru kuanggap kau cukup pantas menjadi utusan untuk mengundang kami. Kalau tidak dapat, jangan banyak cerewet lagi!"

Orang Jepang itu mengangkat muka, keningnya berkerut lalu dia menepuk dada dengan tangan kirinya.

"Aku Kamatari tidak pernah mundur menghadapi tantangan siapapun juga, akan tetapi aku taat kepada perintah Kongcu. Nona, mungkin kau berkepandaian, akan tetapi harap kau jangan memandang rendah samurai Cakar Naga di tanganku. Lihatlah betapa saktinya Cakar Naga!"

Sambil berkata demikian, Kamatari menggunakan kakinya menendang sebuah bangku kayu yang berada di dekatnya.

Bangku itu terlempar ke atas dan pada saat bangku melayang turun, tiba-tiba tampak sinar berkeredepan berkelebat beberapa kali, terdengar suara.

"Crak-crak!"

Perlahan.

Dalam sekejap mata, sinar berkeredepan itu, lenyap dan...

bangku yang sudah terbelah menjadi tiga potong itu runtuh ke bawah.

Anehnya, yang sepotong melayang ke arah meja Yo Wan menimpa di atas meja membikin pecah mangkok dan menggulingkan cawan arak!

Yo Wan tidak berkata apa-apa, hanya berdiri sebentar, mengebut-ngebutkan bajunya yang terkena percikan arak, lalu duduk kembali dengan tenang.

la maklum bahwa orang Jepang yang lihai ilmu pedangnya dan besar tenaga dalamnya itu agaknya mencurigainya dan sengaja mementalkan sepotong kayu bangku ke arahnya untuk memancing.

Tentu saja dia dapat melihat betapa tadi orang pendek itu mencabut Pedang samurainya dengan gerakan yang betul-betul cepat serta mengandung tenaga yang hebat.

Demikian cepatnya gerakan Kamatari sehingga bagi mata orang biasa, orang pendek ini tidak berbuat apa-apa, karena sebelum potongan-potongah bangku jatuh ke tanah, samurainya sudah kembali ke sarungnya.

Seperti main sulapan saja!

Kamatari mengerling sekejap ke arah Yo Wan, kemudian dia menghadapi nona itu, wajahnya membayangkan kepuasan dan harapan bahwa kali ini gadis itu akan menjadi jerih dan suka menurut.

Akan tetapi dugaannya meleset jauh.

Gadis itu berpaling kepada Suhengnya dan berkata.

"Suheng, bukankah lucu sekali badut pendek ini?"

"Sumoi, jangan main-main. Agaknya dia jujur dan mari kita menemui Kongcu itu, kita lihat apa kehendaknya,"

Jawab Suhengnya yang agaknya tidak ingin mencari keributan.

"Suheng, setelah dia mengeluarkan Pedang cakar ayamnya, kalau kita menurut saja, bukankah orang akan menganggap kita ini tidak becus apa-apa? Biarkan aku main-main sebentar dengannya."

Si pemuda menghela nafas, lalu jawabnya lirih.

"Sesukamulah, akan tetapi jangan menimbulkan gara-gara."

Si gadis tersenyum manis.

"Aku hanya ingin main-main, siapa hendak menimbulkan gara-gara?"

Kemudian ia menghampiri Kamatari dan berkata.

"Namamu Kamatari dan pedangmu yang bengkok adalah Pedang cakar ayam, ya? Sengaja ia mengganti Cakar Naga dengan cakar ayam.

"Bagus, aku pun punya Pedang yang saat ini kuberi nama Pedang penyembelih ayam. Boleh kau coba-coba layani pedangku ini, Kamatari. Sekali lagi kunyatakan bahwa kalau kau tidak bisa menangkan pedangku ini, aku tidak sudi bertemu dengan Kongcumu!"

Setelah berkata demikian, gadis itu mencabut sebatang Pedang dengan perlahan.

Tertawalah orang-orang Jepang yang berada di belakang Kamatari ketika melihat sebatang Pedang pendek dengan ukuran kurang lebih dua puluh cun (satu cun "2 senti meter), warnanya hitam sama sekali tidak mengkilap, bahkan warna hitamnya hitam kotor seperti tanah.

Dari jauh tampak seperti Pedang terbuat dari tanah lempung saja.

Tentu saja orang-orang Jepang yang terkenal dengan pedang-pedang samurai mereka yang terbuat dari baja tulen dan berkilauan saking tajamnya itu tertawa mengejek menyaksikan Pedang si nona yang begitu buruk dan pendek.

Akan tetapi diam-diam Yo Wan kagum.

Ia maklum bahwa pusaka yang ampuh tampak sederhana, seperti juga orang pandai kelihatan bodoh dan air dalam kelihatan tenang.

Kamatari juga tertawa.

Suara ketawanya pendek-pendek susul-menyusul dan kepalanya bergoyang-goyang, kemudian dia menoleh kepada teman-temannya yang masih berdiri seperti barisan dengan tubuh tegak di belakangnya.

"Kalian mendengar sendiri, dia yang memaksaku bermain-main, harap. kalian nanti dapat melaporkan kepada Kongcu agar aku tidak dipersalahkan."

Setelah berkata demikian, dia melangkah maju menghadapi gadis itu sambil berkata, lagaknya sombong.

"Aku sudah siap Nona!"

Nona itu tersenyum mengejek, akan tetapi alisnya yang hitam kecil itu bergerak-gerak.

"Cabut pedangmu, orang sombong!"

"Cakar Naga tak pernah meninggalkan sarungnya kalau tidak perlu. Nona boleh menyerang."

"Cih, siapa sudi? Aku bukan orang yang suka menyerang orang tak memegang senjata. Kalau kau mengajak kami menemui Kongcumu, kau harus menyerang dan mengalahkan pedangku. Habis perkara!"

"Begitukah? Nah, lihat pedangku!"

Kamatari tiba-tba mengeluarkan pekik menyeramkan, tubuhnya menerjang maju didahului sinar berkilauan.

Bagi mata orang biasa, gerakan mencabut dan mempergunakan Pedang samurai tidak akan tampak, yang kelihatan hanya sinar Pedang yang menyilaukan mata.

Akan tetapi gadis itu agaknya dapat melihat jelas karena sekali menggeser kaki ia telah mengelak ke kiri.

"Crakkk!"

Terdengar suara kayu terbelah.

Kamatari sudah berdiri tegak lagi, tangan kiri dengan jari terbuka melindungi dada, tangan kanan tergantung di plnggang, dekat gagang pedang, akan tetapi pedangnya sendiri sudah bersarang di dalam sarung pedangnya lagi.

Meja yang tadi berada di dekat gadis itu, meja kosong, bergoyang-goyang, tidak kelihatan disentuh, tidak kelihatan rusak, akan tetapi perlahan-lahan miring lalu roboh menjadi dua potong.

Begitu tajamnya samurainya, seakan-akan meja itu terbuat dari agar-agar saja!

"Hi...hi...hik, mengapa kau berhenti, Kamatari?

Kalau hanya membelah meja, anak kecil pun bisa!"

"Jagalah ini. Haiiiiittttt!"

Kamatari sudah menerjang lagi, didahului sinar samurainya yang berkelebatan menyambar-nyambar.

Sambaran pertama dihindarkan oleh gadis itu dengan melejit ke kanan, sambaran kedua yang menyerampang kakinya dia hindarkan dengan loncatan indah ringan ke atas melalui meja.

Serangan ketiga yang luar biasa sebat dan berbahayanya, dia tangkis dengan Pedang hitamnya.

"Cring... tranggggg...!!"

Dua kali samurai tajam mengkilat bertemu Pedang pendek hitam buruk.

Bunga api berpijar menyilaukan mata dan tampak Kamatari terhuyung ke belakang sedangkan gadis berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tersenyum.

"Kenapa berhenti lagi? Kau mau merusak pedangku?"

Gadis itu mengejek.

Kini Kamatari mengurangi lagaknya.

Pedang samurai tidak dimasukkan ke dalam sarung pedangnya, melainkan dipegang di tangan kanan.

la tadi terkejut setengah mati karena selain Pedang buruk lawannya itu dapat menahan samurainya, juga telapak tangannya serasa hendak pecah-pecah dan kuda-kuda kakinya tergempur.

Tahulah dia bahwa gadis di depannya ini sama sekali tak boleh dipandang ringan.

Kini dia tidak main-main aksi-aksian lagi, dan menyerang dengan sungguh-sungguh.

Terdengar mulutnya mengeluarkan pekik berkali-kali, pekik serangan, dan samurainya menyambar-nyambar menjadi gulungan sinar memanjang.

Gerakannya penuh tenaga dan gesit samurainya selalu membalik dan mengikuti gerakan si gadis yang mengelak ke sana ke mari.

Namun dia seakan-akan menyerang bayangannya sendiri.

Ke manapun dia menyabet, selalu samurainya membelah angin belaka.

Diam-diam Yo Wan terkejut dan matanya terbelalak, jantungnya berdebar.

Baginya, pemandangan di depan mata ini mengejutkan.

Betapa tidak?

Ia mengenal baik gerakan gadis itu, gerakan mengelak sambil berloncat-loncatan, jongkok, berdiri, terhuyung-huyung.

Biarpun ada beberapa perbedaan, namun tak salah lagi, itulah gerakan-gerakan yang mirip sekali dengan Si-Cap-It Sin-Po, yaitu empat puluh satu jurus langkah ajaib yang dia pelajari dan Suhunya, Pendekar Buta.

Memang gaya dan perkembangannya berbeda, namun dasarnya memiliki persamaan yang tidak dapat diragukan lagi tentu dari satu sumber.

Keduanya memiliki ciri-ciri yang khas dari gerakan seekor burung, atau jelasnya, gerakan seekor burung Rajawali.

Setelah bertempur kurang lebih lima puluh jurus lamanya, tiba-tiba gadis itu membuat gerakan aneh, tubuhnya meloncat ke atas seperti hendak menubruk.

Kamatari berseru heran, pedangnya menyambar memapaki tubuh itu, akan tetapi secara indah dan mengagumkan sekali kaki kiri gadis itu menendang dari samping sehingga sekaligus mengancam pergelangan tangan lawan sedangkan Pedang hitamnya berkelebatan di depan muka Kamatari.

Sebelum jago Jepang itu dapat menyelami jurus yang aneh ini, tiba-tiba dia merasa pundaknya sakit dan terhuyunglah dia ke belakang.

Kiranya pundak kirinya sudah terluka oleh ujung Pedang hitam, membuat tangan kirinya serasa lumpuh!

Cepat dia menyimpan samurainya dan menutupi lukanya, lalu menjura sampai dalam.

"Ilmu Pedang Nona sungguh hebat..."

Pada saat itu berkelebat bayangan putih, cepat dan tak terduga gerakannya, seperti seekor burung dara melayang memasuki restoran itu.

"Sumoi, awas...!"

Seru si pemuda yang sudah melompat maju.

Gadis itu cepat mengangkat pedangnya, akan tetapi ia tertahan dan tertegun melihat bahwa yang meloncat masuk ini adalah seorang pemuda berpakaian serba putih berkembang-kembang kuning yang indah sekali, sebuah muka yang tampan luar biasa, dengan sepasang mata bersinar-sinar seperti bintang pagi, sepasang Bibir yang merah dan tersenyum amat tampannya!

Begitu kaki pemuda ini menginjak tanah, tangannya bergerak dan dua bayangan putih melayang ke depan, langsung sinar ini menyambar ke arah leher si gadis.

Gadis itu berseru keras dan mengelak ke belakang, akan tetapi tiba-tiba sinar putih kedua menyambar pedangnya dan di lain saat Pedang itu sudah terlibat sesuatu dan terampas dari tangannya!

"Kembalikan Pedang Sumoi!"

Si pemuda menerjang maju, gerakannya cepat dan amat kuat sehingga diam-diam Yo Wan kagum melihatnya.

Akan tetapi lebih kagum lagi hati Yo Wan menyaksikan gerakan pemuda baju putih yang baru masuk, karena sekali menjejakkan kedua kaki, tubuh pemuda baju putih itu sudah melayang keluar restoran, meninggalkan dua sinar putih menyambar yang diikuti teriakannya nyaring.

"Awas senjata rahasia!"

Si pemuda kaget sekali, apalagi ketika melihat dua sinar putih berkilauan menyambar ke arah jalan darah yang berbahaya di tubuhnya.

Cepat dia mengibaskan lengan baju dan runtuhlah dua senjata rahasia itu.

Anehnya, senjata rahasia itu hanyalah dua potong uang perak!

Uang perak untuk senjata rahasia benar-benar merupakan hal yang langka, pemboros mana yang menghamburkan uang perak begitu saja?

Ketika dia memburu keluar, pemuda baju putih itu sudah lenyap!

Marahlah si pemuda.

Sekali dia bergerak, dia sudah menangkap Kamatari, menjambak baju pada punggungnya dan mengangkatnya ke atas seperti orang mengangkat seekor kelinci saja!

"Tikus busuk!

Kalau kami menghendaki, apa susahnya mencabut nyawamu yang tak berharga?

Hayo katakan, siapa bangsat tadi"

Kamatari terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa si pemuda begini galak dan begini kuat. Tentu saja dia tidak sudi diperlakukan seperti ini, maka dia membentak.

"Lepaskan bajuku!"

Dan tangannya memukul.

Akan tetapi tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi kaku, kedua lengannya yang bergerak hendak memukul seakan-akan berubah menjadi dua batang kayu kering!

"Keparat, jangan banyak lagak kau!

Hayo bilang siapa dia tadi!"

Tahulah kini Kamatari bahwa pemuda ini memiliki ilmu yang luar biasa. Percuma untuk berkeras kepala lagi, maka dengan suara merintih dia berkata.

"Dia adalah Kongcu kami. Baiknya Kongcu masih tidak berniat memusuhi kalian. Kalau kalian ada kepandaian, boleh datang merampas Pedang di pantai Po-Hai di dusun Kui-bun, cari gedung Yo-Kongcu!"

Dengan sekali gerakan, pemuda itu melempar tubuh Kamatari ke belakang.

Jago Jepang ini menabrak kawan-kawannya dan roboh terguling, ditolong teman-temannya, lalu mereka pergi dari tempat itu dengan cepat.

Si pemuda teringat akan Yo Wan, cepat dia melompat dan membalikkan tubuh.

Akan tetapi pemuda tenang yang mencurigakan hatinya tadi telah lenyap dari situ, di atas mejanya terletak beberapa potong uang, agaknya untuk membayar makanan dan minuman.

Makin curigalah pemuda itu.

"Sumoi, kita harus mengejar si baju putih she Yo itu."

"Mari, Suheng. Aku pun gemas sekali terhadap manusia itu. Kalau dia tidak menyerang secara menggelap, jangan harap dia bisa merampas pedangku Hek-Kim-Kiam (Pedang Emas Hitam)!"

Biarpun mulutnya berkata demikian, diam-diam hatinya berdebar, matanya terbayang wajah yang tampan itu dan ia sendiri merasa sangsi apakan ia akan rnampu menandingi pemuda luar biasa itu.

Pemuda itu memanggil pelayan, dengan suara nyaring.

Datanglah seorang pelayan berlari-lari, diikuti oleh empat temannya.

Agaknya para pelayan yang sejak tadi bersembunyi, sekarang berani keluar lagi setelah keadaan menjadi reda dan pertempuran berhenti.

"Hitung semua, termasuk pengganti kerusakan-kerusakan di sini akan saya bayar."

Pelayan itu membungkuk-bungkuK dan tersenyum-senyum penuh hormat.

"Harap Kongcu jangan repot-repot, semua sudah dibayar lunas."

"Siapa yang membayar?"

Pemuda itu mengangkat alisnya.

"Yang membayar pemberi benda ini kepada Kongcu, semua sudah dibayarnya dan meninggalkan benda ini yang harus saya serahkan kepada Kongcu."

Sambil berkata demikian, pelayan itu menyerahkan sebuah kipas dari sutera hitam. Pemuda itu mengerutkan kening, akan tetapi menerima juga kipas itu sambil bertanya.

"Siapa dia?"

"Siapa lagi kalau bukan yang terhormat Pangcu (ketua) dari Hek-San-Pang (Perkumpulan Kipas Hitam) yang tersohor? Kiranya Kongcu dan Siocia (Tuan Muda dan Nona) adalah sahabat-sahabat Hek-San Pangcu, maaf kalau kami berlaku kurang hormat..."

Pemuda itu mengerutkan kening, menggeleng-geleng kepala lalu meninggalkan restoran itu bersama sumoinya.

"Benar-benar manusia aneh. Apa artinya dia membayari semua hidangan, mengganti semua kerusakan dan memberi kipas hitam ini kepada kita? Apakah ini semacam hinaan lain lagi? Keparat!"

"Kurasa kalau orang membayar makan minum kita dan memberikan kipasnya, hal itu bukanlah berarti penghinaan, Suheng. Coba buka kipasnya, barang kali ada maksud di dalamnya."

Pemuda itu membuka kipas sutera hitam.

Benar saja, kipas sutera hitam yang amat indah dan berbau semerbak harum itu ditulisi dengan tinta putih, merupakan huruf-huruf bersyair yang halus indah gayanya.

"Berkawan sebatang Pedang menjelajah laut bebas, sunyi sendiri merindukan kawan dan lawan seimbang hati mencari-cari..."

"Bagus...!"

Tak terasa lagi ucapan ini keluar dari mulut mungil gadis itu.

Si pemuda cepat menoleh, memandang dan sepasang pipi gadis itu menjadi merah sekali.

la merasa seakan-akan sajak itu ditujukan khusus kepadanya.

Pemuda yang aneh, luar biasa, tampan dan berkepandaian tinggi, merasa sunyi, merindukan kawan yang memiliki kepandaian seimbang!

Dan pedangnya dirampasnya, dengan maksud supaya ia datang ke sana!

"Pemuda sombong, atau cengeng..."

Si pemuda malah mencela.

Sumoinya diam saja, takut kalau-kalau tanpa disadarinya mengucapkan sesuatu yang membuka rahasia hatinya.

Mereka segera melakukan perjalanan cepat, menuju ke Timur, melalui sepanjang lembah Sungai Kuning, menuju ke pantai Po-Hai.

Pemuda dan sumoinya itu bukanlah Pendekar-Pendekar biasa, bukanlah petualang-petualang biasa di dunia kang-ouw.

Si pemuda adalah putera tunggal dari Pendekar besar Tan Sin Lee.

Seperti kita ketahui, Pendekar besar putera Raja Pedang ini tinggal di Lu-Liang-San, bersama isterinya yang bernama Thio Hui Cu murid Hoa-San-Pai.

Pemuda inilah putera sepasang Suami isteri Pendekar itu yang bernama Tan Hwat Ki, berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun, seorang pemuda yang sejak kecilnya digembleng oleh orang Tuanya dan mewarisi ilmu silat tinggi.

Adapun sumoinya, gadis jelita itu, bernama Bu Cu Kim.

Pendekar besar Tan Sin Lee mempunyai murid sepuluh orang jumlahnya termasuk putera mereka.

Akan tetapi di antara para murid, yang paling menonjol kepandaiannya adalah Bu Cui Kim.

Cui Kim adalah anak yatim piatu, Ayah Bundanya sudah meninggal dunia karena penyakit yang merajalela di dusunnya.

Karena kasihan kepada anak yang bertulang baik ini, Tan Sin Lee mengambilnya sebagai murid, bahkan karena mereka tidak mempunyai anak perempuan sedangkan Cui Kim sejak kecil kelihatan amat rukun dengan Hwat Ki, Cui"

Kim lalu dianggap anak sendiri.

Demikianlah, semenjak kecil Cui Kim seakan-akan menjadi adik angkat Hwat Ki dan bersama putera Suhunya itu mempelajari ilmu silat tinggi.

Pada suatu hari di puncak Lu-Liang-San menerima kunjungan seorang tamu yang bukan lain adalah Bun Hui, putera Bun-Goanswe yang tinggal di Tai-Goan.

Boleh dibilang, di antara Pendekar-Pendekar keturunan Raja Pedang, Yang paling dekat tinggalnya dengan Tai-Goan dan Kota Raja, adalah Tan Sin Lee inilah.

Lu-Liang-San terletak di sebelah Barat kota Tai-Goan, bahkan dari kota itu sudah kelihatan puncaknya.

Maka, begitu menghadapi kesulitan, Bun-Goanswe teringat akan sahabat baiknya ini dan menyuruh puteranya mengunjungi Tan Sin Lee.

Di dalam suratnya, Bun-Goanswe minta bantuan Tan Sin Lee dan muridnya untuk membantu negara yang sedang menghadapi banyak gangguan.

Di dalam surat itu, dia ceritakan betapa gangguan dari pihak Mongol di Utara masih makin menghebat sehingga Kaisar sendiri berkenan memimpin barisan untuk menumpas perusuh-perusuh dari Utara itu.

Diceritakan pula betapa bajak-bajak laut di laut Timur juga merupakan pengganggu-pengganggu keamanan, tidak saja bagi para nelayan di laut, akan tetapi juga di darat sepanjang pesisir Laut Po-Hai.

Demikian besar gangguan ini sehingga Kaisar sendiri memerintahkan kepada Bun-Goanswe untuk mengerahkan tenaga menumpas para bajak laut itu kalau mereka berani mendarat.

Bun-Goanswe sudah melakukan usaha ini, akan tetapi ternyata bahwa para bajak laut Jepang itu bersama-sama bajak"

Laut bangsa sendiri, mempunyai banyak orang-orang yang berilmu tinggi sehingga banyak sudah perwira dari Kota Raja yang tewas di tangan para bajak laut.

Karena inilah Bun-Goanswe mengharapkan pertolongan Tan Sin Lee dan murid-muridnya.

Dan inilah pula sebabnya maka Pendekar Lu-Liang-San itu menyuruh puteranya sendiri ditemani oleh Cui Im, turun gunung melakukan penyelidikan ke pantai Po-Hai.

Sepasang orang muda ini sengaja menyewa perahu berlayar di sepanjang pantai Po-Hai.

Betul saja, pada suatu hari perahu itu diganggu bajak laut yang menggunakan bendera Kipas Hitam.

Akan tetapi kali ini para bajak laut menemui hari naas karena mereka itu kocar-kacir dan banyak yang tewas di tangan sepasang Pendekar dari Lu-Liang-San ini.

Kemudian karena mendengar bahwa banyak bajak mengganas pula di sepanjang Sungai Huang-Ho, Hwat Ki dan sumoinya lalu pergi ke kota Leng-Si-Bun di tepi Sungai Huang-Ho, memasuki rumah makan dan terjadi peristiwa dengan anak buah Kipas Hitam seperti yang telah dituturkan di bagian depan.

Tentu saja Hwat Ki dan Cui Im menjadi girang karena mereka mendapatkan jejak Ketua perkumpulan Kipas Hitam yang merupakan gerombolan bajak laut yang cukup terkenal, di samping bajak-bajak laut lainnya yang banyak mengganas di sepanjang pantai Timur.

Hari telah menjadi hampir malam ketika kedua orang Pendekar muda dari Lu-Liang-San ini tiba di dusun Kui-bun.

Dusun ini bukanlah dusun besar, hanya didiami oleh para nelayan yang tidak lebih dari tiga puluh buah keluarga banyaknya.

Di setiap rumah nelayan itu nampak jala-jala dibentangkan, dan di (Lanjut ke

Jilid 20) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 pinggir rumah banyak terdapat bekas-bekas perahu dan tiang-tiang layar.

Di ujung yang paling jauh dari pantai, terdapatlah sebuah rumah gedung besar yang kelihatan ganjil karena jarang terdapat gedung sedemikian besarnya di dusun sekecil itu.

Di pantai laut itu sendiri banyak terdapat para nelayan besar kecil sibuk bekerja, agaknya mereka itu sedang memasang atau pun menarik jaring dari pantai.

Biasanya kalau hari mulai gelap itulah mereka menarik jaring dan kalau untung mereka baik, mereka akan menarik banyak ikan di dalam jaring.

Hwat Ki dan Cui Kim segera tertarik oleh rumah gedung itu.

"Kiranya takkan salah lagi, tentu gedung ini sarang mereka,"

Kata Hwat Ki kepada sumoinya.

"Akan tetapi sebaiknya kalau kita mencari keterangan dulu, Suheng. Di tempat yang asing ini, sungguh tak baik kalau kita keliru memasuki rumah orang."

Hwat Ki mengangguk, menyuruh adik seperguruannya itu menanti di tempat gelap, lalu dia sendiri melangkah cepat menuju ke pantai.

Dengan lagak seperti sudah mengenal baik orang yang dicarinya, dia bertanya dengan lantang kepada seorang nelayan.

"Sahabat, ingin saya bertanya. Di manakah tinggal seorang bernama Yo-Kongcu? Apakah rumah gedung itu?"

Mendadak sekali orang-orang yang tadinya sibuk bekerja itu berhenti bergerak dan memandang kepada Hwat Ki.

Melihat ini, pemuda itu dapat menduga bahwa agaknya mereka ini pun anak buah pimpinan Kipas Hitam itu, atau setidaknya tentu teman-teman baik, maka cepat-cepat dia menyambung.

"Saya adalah sahabat baiknya, belum pernah datang ke sini, tidak tahu di mana rumahnya. Apakah gedung besar itu?"

Seorang nelayan setengah tua mengangguk pendek.

"Betul."

Kemudian dia memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Hwat Ki lega hatinya, cepat dia kembali ke tempat Cui Kim menanti.

"Sudah kuduga bahwa orang she Yo itu tentu berkuasa di sini. Orang-orang itu agaknya"

Takut kepadanya. Sumoi, mari kita ke sana."

Keduanya lalu berjalan menghampiri gedung besar.

Di sekitar gedung itu gelap, akan tetapi tampak sinar lampu-lampu menerangi sebelah dalam gedung yang dikelilingi tembok setinggi satu setengah tinggi orang.

Hwat Ki dan adiknya mengelilingi luar tembok dan mendapat kenyataan bahwa pintu satu-satunya hanyalah pintu depan yang tertutup rapat.

"Kita ketuk saja pintunya,"

Kata Cui Kim.

"Hemmm, takkan ada gunanya. Mengunjungi tempat lawan tak perlu banyak aturan. Mengetuk pintu berarti membuat mereka siap untuk menjebak kita. Mari!"

Pemuda itu menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya melayang naik ke atas tembok, diikuti oleh Cui Kim.

Bagaikan dua ekor burung walet mereka sudah meloncat dan berdiri di atas tembok.

Terang sekali di sebelah dalam tembok.

Ruangan depan rumah gedung itu pun amat terang dan bersih, akan tetapi sunyi tidak tampak ada orangnya.

"Orang she Yo! Kami datang untuk minta kembali pedang!"

Teriak Tan Hwat Ki dengan suara lantang.

Adapun Cui Kim berdiri di dekatnya dengan tegak, siap menghadapi segala kemungkinan.

Sunyi menyambut suara teriakan Hwat Ki yang bergema sedikit di dalam gedung.

Kemudian terdengar suara halus dan nyaring.

"Silakan masuk, pintu tidak dikunci dan kami menanti di ruangan tengah!"

"Hati-hati, Suheng, jangan-jangan musuh mengatur perangkap!"

Bisik Cui Kim.

"Tak usah takut, marilah!"

Kata Hwat Ki yang melayang turun ke ruangan depan.

Dengan gerakan lincah sekali Cui Kim mengikutinya, melompat turun ke atas lantai ruangan depan yang licin dan bersih itu tanpa mengeluarkan suara.

Sejenak keduanya berdiri memandang ke sekeliling dengan sikap waspada.

Ruangan ini, yang merupakan ruangan depan menyambung halaman, amat bersih dan indah.

Ketika mereka memandang ke dalam, di sebelah kiri dinding ruangan penuh dengan tulisan-tulisan bersajak.

Mereka lalu melangkah ke dalam melalui pintu besar yang memang tidak tertutup.

Ruangan tengah itu luasnya ada lima belas meter persegi, juga terhias lukisan-lukisan indah dan di tengah ruangan terdapat sebuah meja Bundar dikelilingi bangku-bangku terukir burung hong.

Empat orang duduk mengelilingi meja dan seorang di antaranya adalah Kongcu yang berpakaian serba putih.

Melihat pemuda baju putih ini duduk di kepala meja, dapatlah diduga bahwa dia menjadi pemimpinnya.

Tiga orang yang lain adalah dua orang laki-laki setengah tua dan seorang wanita berusia empat puluh tahun yang rambutnya sudah berwarna dua dan di gelung tinggi-tinggi di atas kepala.

Melihat sikapnya, tiga orang setengah tua ini tentu bukan orang sembarangan pula.

Seorang di antara dua laki-laki itu bertubuh pendek gemuk, modelnya seperti Kamatari, juga di pinggang orang ini tergantung Pedang samurai.

Mudah diduga bahwa dia seorang Jepang, tubuh dan mukanya tidak bergerak-gerak, akan tetapi sepasang matanya lincah bergerak ke kanan kiri.

Yang seorang pula bertubuh tinggi kurus, bajunya lebar dan lengan bajunya panjang, kumisnya tipis panjang bertemu dengan jenggotnya yang menutupi dagu dan leher.

Mereka berempat kini memandang kepada sepasang orang muda yang baru datang.

Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata yang lembut dari pemuda baju putih, tiba-tiba jantung Cui Kim terasa berdebar tidak karuan.

Akan tetapi begitu ia melihat Pedang hitamnya terletak di atas meja depan pemuda itu, timbul kemarahannya.

Seketika sinar matanya berapi-api dan dia berteriak dengan nyaring.

"Dengan muslihat curang kau telah merampas pedangku. Orang she Yo, kalau kau memang jantan, kembalikan pedangku dan kita boleh bertanding sampai seribu jurus!"

Pemuda itu tersenyum, bangkit dari bangkunya lalu memberi hormat dengan membungkuk dalam-dalam.

"Bukan salahku...!"

Jawabnya sambil tersenyum ramah.

"Aku mengutus orang mengundang kalian baik-baik, kalian tidak datang malah menyerang orangku. Kalau tidak merampas Pedang mana bisa memancing kalian datang pada malam ini?"

Berkata demikian, mata pemuda baju putih itu menatap wajah Hwat Ki dengan tajam dan pandang mata penuh selidik.

Hwat Ki tetap tenang, memang pemuda ini semenjak kecil memiliki sikap yang tenang.

la maklum bahwa bersama sumoinya dia telah memasuki gua harimau, akan tetapi sedikit pun dia tidak gentar.

"Setelah kami datang untuk minta kembali pedang, apakah yang hendak kau bicarakan dengan kami?"

Tanyanya. Pemuda baju putih itu kembali tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih dan rapi. Hwat Ki harus mengakui bahwa wajah orang ini memang amat tampan.

"Banyak yang hendak kami bicarakan. Akan tetapi, kalian berdua adalah tamu-tamu kami, silakan duduk. Sebelum menjamu tamu terhormat, mana bisa bicarakan urusan penting? Silakan duduk, ataukah... barangkali kalian takut kalau-kalau kami menipu? Apakah kalian tidak berani duduk?"

Hwat Ki tersenyum mengejek.

"Takut apa?"

La lalu melangkah maju, diikuti sumoinya.

Keduanya lalu duduk di atas bangku, berhadapan dengan empat orang itu.

Tiga orang setengah tua itu pun berdiri dan mengangguk, dibalas oleh Hwat Ki dan Cui Kim yang merasa heran dan aneh, karena sama sekali tidak menyangka mereka akan diterima sebagai tamu.

Hanya adanya Pedang Hek-Kim-Kiam di atas meja itu yang membikin suasana menjadi kaku.

Agaknya Tuan rumah merasai hal ini.

Dipungutnya Hek-Kim-Kiam dan disodorkannya Pedang itu kepada Cui Kim sambil berkata.

"Silakan, Nona. Ini pedangmu, maaf atas kelancanganku tadi."

Cui Kim menerima pedangnya dengan kedua pipi merah dan kembali jantungnya berdebar tidak karuan.

Semangatnya serasa terbetot oleh senyum dan pandang mata yang menarik itu.

Setelah menyimpan Pedang ke dalam sarung pedangnya, kembali ia duduk dengan muka tunduk.

Si pemuda baju putih bertepuk tangan tiga kali dan bermunculanlah pelayan-pelayan wanita yang muda-muda dan cantik-cantik, berjumlah lima orang.

Mereka sibuk membawa datang hidangan-hidangan lezat dan arak wangi yang mereka Tuangkan ke dalam cawan enam orang itu dengan gerakan dan gaya yang manis.

Si pemuda baju putih itu dengan ramah-tamah mempersilakan kedua orang tamunya makan dan minum arak.

Memang sehari itu, Hwat Ki dan sumoinya baru makan sekali, yaitu di rumah makan kota Leng-Si-Bun sebelum tengah hari, tentu saja pada saat itu mereka sudah merasa lapar.

Hwat Ki yang tahu bahwa pihak Tuan rumah menguji ketabahan mereka, tentu saja tidak sudi memperlihatkan kekhawatiran.

Dengan wajar dan tenang dia mulai makan minum menemani Tuan rumah dengan enaknya.

Hanya Cui Kim yang merasa canggung.

Sebagai seorang gadis, ia berbeda dengan gadis biasa dan baginya sudah biasa merantau di dunia kang-ouw, makan bersama orang-orang lelaki bukanlah hal yang menyulitkan.

Akan tetapi entah bagaimana, berhadapan dengan Tuan rumah she Yo yang muda, tampan dan luar biasa itu, membuat hatinya bergoncang dan sepasang sumpit yang dipegangnya agak gemetar!

"Nona, mengapa sungkan-sungkan?

Marilah, harap kau suka mencoba masakan ini.

Ini masakan sirip ikan Hiu Harimau, Nona tentu belum pernah mencobanya, bukan?

Silakan!"

Pemuda Yo itu mengangkat mangkok masakan itu dan menawarkannya kepada Cui Kim.

Dengan amat ramah dia menawarkan beberapa macam masakan, malah menuangkan arak memenuhi cawan gadis itu sehingga si gadis menjadi makin canggung dan jengah.

Diam-diam Hwat Ki mendongkol sekali.

Tuan rumah yang masih muda dan tampan ini, biarpun amat ramah, namun agaknya terlalu manis sikapnya terhadap Cui Kim.

la diam-diam menduga bahwa orang she Yo ini tentulah seorang pemuda hidung belang, seorang Kongcu yang gila akan wanita cantik.

Buktinya para pelayannya tadi pun muda-muda cantik-cantik dan lagaknya menarik, membayangkan pendidikan cukup.

la takkan heran kalau para pelayan itu pandai bernyanyi, menari dan main musik untuk menghibur hati sang Kongcu hidung belang.

Oleh karena dugaan ini, Hwat Ki bersikap waspada dan hati-hati.

Siapa tahu, pancingan ini pada hakekatnya hanya untuk menjadikan sumoinya yang cukup cantik sebagai korban!

Sikap pemuda she Yo itu makin manis terhadap Cui Kim, selalu tersenyum dan mengajak Cui Kim bercakap-cakap Malah kelancangannya makin menjadi ketika dia bertanya sambil tersenyum manis dan mengerling tajam.

"Nona, agaknya lebih patut aku menyebutmu adik. Aku berani bertaruh bahwa usia kita sebaya, akan tetapi lebih enak aku menyebut adik. Berapakah usiamu tahun ini dan eh... betul juga, aku belum mengetahui namamu. Namamu tentu indah, sama manis dengan orangnya."

Muka Cui Kim menjadi merah sekali, sampai ke telinga dan lehernya.

Karena sikap yang manis dan pembicaraan yang manis tadi ia sampai lupa akan kewaspadaan dan agak terlalu banyak minum arak.

Mungkin inilah yang membuat ia sekarang merasa betapa badannya panas dingin dan jantungnya berdegupan hampir meledak mendengar kata-kata itu.

Biasanya, ia akan marah dan memukul atau sedikitnya memaki orang yang berani bersikap begini lancang kepadanya.

Akan tetapi entah mengapa, kali ini ia hanya menundukkan muka dan mulutnya berkata gagap.

"Aku... namaku... Bu Cui Kim dan... dan..."

"Sumoi, tak perlu memperkenalkan diri pada orang yang belum kita ketahui keadaannya!"

Tiba-tiba Hwat Ki memotong, lalu menarik bangkunya agak mundur dari meja, menggunakan ujung lengan baju menghapus Bibirnya, kemudian dia berkata, suaranya tenang dan penuh wibawa.

"Sahabat, kami berdua sudah menerima undanganmu, sudah makan dan minum hidanganmu, semua ini kami lakukan untuk melayanimu sebagaimana lazimnya kebiasaan di dunia kang-ouw. Sebagai orang yang mengundang, berarti kau lah yang mempunyai urusan dengan kami, maka sudah sepatutnya kalau kau yang harus memperkenalkan dirimu kepada kami dan menyatakan secara terus terang apa yang tersembunyi di dalam hatimu terhadap kami."

Begitu melihat sikap Suhengnya dan mendengar ucapan ini, sadarlah Cui Kim.

la pun segera menarik bangkunya menjauhi meja, mukanya masih merah akan tetapi kini pandang matanya berkilat dan penuh curiga!

Pemuda berbaju putih itu tersenyum lebar, sebelum bicara dia menggunakan sehelai saputangan putih bersih menghapus mulutnya.

Agak keras dia menggosok-gosok Bibirnya yang berleporan minyak masakan itu sehingga ketika dia menurunkan saputangan itu, sepasang Bibirnya menjadi merah seperti dipulas gincu.

Makin tampan wajahnya sehingga kembali Cui Kim harus menekan perasaan hatinya yang bergelora.

Selama hidupnya baru kali ini Cui Kim mengalami hal seaneh ini melihat seorang pemuda.

Akan tetapi, memang pemuda ini luar biasa tampannya!

"Sayang, kalian masih belum percaya bahwa aku mengandung maksud hati yang baik.

Padahal kalau dipikir, kau telah membunuhi belasan orang-orang kami, bahkan kau tadinya tidak mengindahkan undangan kami.

Baiklah aku memperkenalkan diri.

Aku adalah keturunan campuran antara bangsamu dan darah Jepang, namaku Yosiko atau boleh diubah menjadi Yo Si Kouw."

Ia tersenyum. Dengan masih berdiri dan sikapnya angker, Hwat Ki berkata, pandang matanya tajam menyelidik.

"Kau bernama Yosiko dan menjadi Ketua dari perkumpulan bajak Kipas Hitam yang mengganggu keamanan Laut Po-Hai dan muara Sungai Kuning. Terus terang saja, kami berdua kakak beradik seperguruan memang bertugas untuk membersihkan daerah ini dari gangguan bajak! Karena itulah ketika anak buahmu mengganggu, kami bunuh mereka. Nah, sekarang kau mengundang kami, ada keperluan apakah?"

Ucapan Hwat Ki ini merupakan tantangan langsung. Akan tetpai Yosiko tidak menjadi marah, bahkan tersenyum dan memandang kagum.

"Kau benar gagah berani! Apa kau kira mudah saja membasmi kami? Apa kau berani menghadapi kami yang banyak, sedangkan banyak perwira Kerajaan tewas di tangan kami?"

"Orang she Yo, kalau tadi aku sudah berani mengaku terus terang di depanmu, berarti kami tidak takut menghadapi kalian! Akan tetapi karena sikapmu berbeda dengan bajak-bajak yang kasar, bahkan kau telah mengundang kami dan menjamu sebagai tamu, biarlah kunasihatkan agar kau segera kembali ke tempat asalmu dan jangan melanjutkan pekerjaan kotor menjadi bajak di daerah ini. Aku sudah bicara dan kalau tldak menghargai saranku, baiklah, terpaksa aku melupakan kebaikanmu dan menganggapmu sebagai musuh!"

Yo-Kongcu itu tertawa, giginya putih berkilat.

"Ah, alangkah gagahnya! Kau tentu she Tan, bukan? Bukankah kau putera dari Ketua Lu-liang-pai dan Ayahmu bernama Tan Sin Lee?"

Hwat Ki tidak menjadi heran. Sebagai seorang kepala bajak, tentu saja kepala bajak muda ini mempunyai banyak kaki tangan dan penyelidik sehingga dapat mengetahui keadaan dirinya.

"Memang aku Tan Hwat Ki dan Ayahku bernama Tan Sin Lee Ketua dari Lu-liang-pai. Setelah tahu akan hal itu, lebih baik kau menerima saranku, hentikan pembajakan-pembajakan di daerah ini."

"Ahhh, benar dugaanku. Orang sendiri! Eh, Tan Hwat Ki, enak saja kau menyuruh orang menghentikan pekerjaan. Kalau aku tidak mau mundur, bagaimana?"

"Pedangku akan membereskan segalanya!"

Kata Tan Hwat Ki sambil menepuk gagang pedangnya. la maklum bahwa menghadapi kepala bajak yang aneh dan lihai ini, perlu sikap tegas, karena mereka berdua sudah berada di sarang harimau.

"Tapi... tapi aku tidak ingin bermusuhan denganmu!"

Kini Cui Kim yang merasa tidak enak kalau diam saja, menjawab.

"Kalau tidak ingin bermusuhan, lebih baik menerima saran Suhengku, sebelum terlambat dan Pedang kami membasmi kalian!"

"Wah...wah...wah, galaknya!"

Yo-Kongcu mengeluh.

"Tan Hwat Ki, dengarlah sekarang maksud hatiku. Aku sengaja mengundang kau dan Sumoimu ke sini dengan maksud baik. Ketahuilah bahwa telah lama aku mendengar nama besar jago-jago di daratan, di antaranya jago dari Lu-Liang-San. Aku mempunyai seorang adik perempuan yang sedang mencari jodoh, sukarnya, dia menghendaki jodoh seorang pemuda yang dapat mengalahkan aku! Nah, kulihat kau cukup hebat, maka ingin aku mencoba kepandaianmu."

Setelah berkata demikian, Yo-Kongcu ang aneh ini melolos sehelai sabuk sutera putih dan sebatang Pedang yang kecil panjang. Merah sekali wajah Hwat Ki, juga dia menjadi makin marah.

"Ucapanmu tidak karuan, orang she Yo! Siapa sudi melayani ucapan gila-gilaan itu? Hayo lekas kau memilih, mengundurkan diri dari wilayah ini dengan aman atau harus makan pedangku!"

"Bagus, Tan Hwat Ki, kau majulah. Memang aku hendak menguji kepandaian-mu!"

Tantang Ketua Hek-sin-pang (Perkumpulan Kipas Hitam) itu.

"Suheng, biarkan aku maju menghadapi bajak ini!"

Tiba-tiba Cui Kim meloncat maju dengan Pedang Hek-Kim-Kiam di tangan. Pemuda tampan baju putih itu tersenyum, membuat wajahnya menjadi ganteng sekali.

"Aha, adik yang manis. Apakah kau juga hendak memasuki sayembara?"

"Apa... apa maksudmu?"

"Agaknya kau sama dengan adik perempuanku, mencari jodoh dengan menguji kepandaian pemuda yang disukainya. Kau hendak menguji kepandaianku?"

Wajah Cui Kim menjadi merah sekali.

"Setan kau...!!"

"Sumoi, tunggu! Laki-laki ceriwis ini tak perlu kau layani, serahkan kepadaku. He, orang she Yo! Kalau kau memang laki-laki sejati, jangan mengganggu wanita dengan ucapan kotor. Hayo kau tandingi pedangku!"

"Srattt!"

Tampak sinar berkilauan ketika pemuda dari Lu-Liang-San ini mencabut pedang.

Pedangnya pendek saja, akan tetapi Pedang ini mengeluarkan cahaya menyilaukan dan mengandung hawa dingin.

Inilah Pedang yang terbuat dari logam putih yang sudah terpendam di dalam salju ribuan tahun lamanya, maka diberi nama Swat-cu-kiam (Pedang Mustika Salju).

Karena logam putih itu tidak banyak terdapat, maka hanya dapat dibuat menjadi sebatang Pedang pendek saja.

Logam putih itu didapatkan oleh Tan Sin Lee di puncak gunung yang selalu tertutup salju, dibuat menjadi Pedang pendek dan diberikan kepada puteranya.

Pada saat itu, dari pintu samping melompat masuk seorang pemuda.

Pemuda ini pendek tegap tubuhnya, kelihatan kuat sekali, mukanya agak hitam karena sering terbakar sinar matahari, pakaiannya ringkas dan kepalanya dicukur botak semodel dua orang Kakek yang duduk di situ, tangannya memegang Pedang Samurai dan matanya berkilat-kilat penuh kemarahan.

"Yosiko... eh, Yo-Kongcu, tidak ada laki-laki yang cukup berharga menandingimu sebelum menangkan Shatoku!"

Yo-Kongcu kelihatan kaget dan membentak.

"Shatoku, mundur...!"

"Maaf, dia harus mengalahkan aku lebih dulu!"

Setelah berkata demikian, pemuda Jepang yang bernama Shatoku itu menerjang ke depan, ke arah Hwat Ki sambil memekik keras.

"Haaaiiiiittt!"

Pedang samurainya berkelebat bagaikan halilintar menyambar, kuat dan cepat bukan main, jauh lebih kuat dan lebih cepat daripada gerakan samurai di tangan Kamatari.

Menyaksikan gerakan ini, Hwat Ki tidak berani memandang ringan.

la dapat menduga apa yang terjadi.

Tentu pemuda Jepang yang bernama Shatoku ini seorang yang mencinta atau tergila-gila kepada gadis adik Ketua Kipas Hitam dan kini menjadi cemburu.

Diam-diam dia mendongkol sekali kepada orang she Yo itu, juga dia marah kepada pemuda Jepang ini yang datang-datang menerjangnya dengan mati-matian.

la harus perlihatkan kepandaian.

Cepat dia mempergunakan langkah-langkah Kim-Tiauw Sin-po (Langkah Ajaib Rajawali Emas) yang dia warisi dari Ayahnya.

Begitu dia mainkan langkah-langkah ini, sinar samurai yang menyambar-nyambar bagaikan halilintar itu selalu mengenai tempat kosong.

Pemuda Jepang Shatoku itu menjadi penasaran sekali.

Dia seorang yang terkenal paling hebat di antara pemuda bangsanya yang menjadi anggota Kipas Hitam.

Masa sekarang dia tidak mampu merobohkan seorang pemuda kurus yang kelihatan lemah?

Samurainya diputar secepatnya dan kini serangannya mengeluarkan bunyi berdesingan di samping menciptakan gulungan sinar yang melibat-libat di sekitar tubuh Hwat Ki.

Setelah mainkan Kim-Tiauw Sin-po sampai tiga puluh jurus sambil memperhatikan gerakan lawan, tahulah sekarang Hwat Ki rahasia dan kelemahan ilmu silat Pedang lawannya yang aneh itu.

Ilmu Pedang itu hanya mengandalkan tenaga dan kecepatan tanpa ada variasi atau kembangan, juga tenaga yang diandalkannya hanya tenaga kasar.

Memang harus diakui amat cepat dan andaikata dia tidak mempunyai Ilmu Kim-Tiauw Sin-po, agaknya serangan kalang-kabut seperti hujan badai itu sedikitnya akan membuat dia gugup dan kacau.

Setelah mempelajari gerakan lawan, tiba-tiba Hwat Ki mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya berkelebat dan bagi pandangan Shatoku, tiba-tiba lawannya lenyap dari pandangan matanya.

Kemudian dia mendengar angin di belakangnya, cepat samurainya dia kelebatkan ke belakang.

Namun hanya mengenai angin belaka dan tahu-tahu, sebelum dia sempat menjaga karena tidak tahu lawan menyerang dari mana, Shatoku merasa betapa dadanya dimasuki sesuatu yang amat dingin sehingga membuat dia menggigil.

Samurainya terlepas dari tangan, dia terhuyung-huyung lalu roboh miring.

Dari dadanya mengucur keluar darah karena dada itu sudah ditebusi Pedang Swat-cu-kiam!

"Yosiko..."

Bibirnya berbisik sedangkan matanya yang sudah mulai pudar sinarnya itu ditujukan ke arah Ketua Kipas Hitam. Orang she Yo itu membuang muka dan berkata.

"Salahmu sendiri, Shatoku. Kau tidak tahu diri, seperti si cebol merindukan bulan. Matilah dengan tenang, kau roboh di tangan seorang Pendekar gagah!"

Mata Shatoku tertutup dan matilah pemuda Jepang itu.

Atas isyarat Yo-Kongcu, empat orang laki-laki muncul dan membawa pergi jenazah itu, sedangkan para pelayan wanita cepat membersihkan sisa-sisa darah di lantai dengan kain dan air.

Cepat pekerjaan ini dan sebentar saja keadaan sudah bersih kembali seperti semula.

"Tan Hwat Ki, kepandaianmu cukup untuk menandingi aku. Hayo majulah!"

Yo-Kongcu berseru, pedangnya tegak lurus ke atas di depan keningnya, sabuk sutera putih di tangan kiri digulung. Gaya kuda-kuda ini indah dipandang, akan tetapi juga aneh dan asing.

"Orang she Yo, sekali lagi kunasihatkan supaya kau mundur dan menarik semua bajak dari daerah ini, kembali ke tempat asalmu. Contohnya orangmu tadi, terpaksa kurobohkan karena secara kurang ajar dia menyerangku tanpa sebab. Aku sungguh tidak ingin membunuh orang yang baru saja menjamu kami."

"Tak perlu banyak cakap lagi, Tan Hwat Ki. Kalau kau dapat menangkan aku, kau akan menjadi jodoh adikku, kalau tidak, terpaksa kami memberi hukuman atas kelancanganmu membunuh banyak orang anggota Kipas Hitam."

"Bagus, kau lihat baik-baik pedangku!"

Hwat Ki segera menikam dengan jurus Kim-Tiauw-liak-sui (Rajawali Emas Sambar Air).

Mula-mula jurus ini digerakkan dengan lambat, akan tetapi secara mendadak berubah cepat dan dahsyat sekali, yang dijadikan sasaran sekaligus adalah tiga tempat, yaitu tenggorokan, ulu hati dan pusar!

Ujung Pedang tergetar menjadi tiga, biarpun menusuk secara berturut-turut, namun saking cepatnya seakan-akan merupakan tiga batang Pedang menusuk sekaligus.

"Bagus!"

Yo-Kongcu memuji dalam bahasa Jepang, dan sepasang kakinya dengan cekatan melangkah ke samping dan sekaligus terhindarlah dia dari Pedang lawan.

"Ehhh...!!"

Hwat Ki berseru kaget melihat cara lawannya menghindarkan diri dan cepat dia menerjang lagi bertubi-tubi dengan tiga jurus dirangkai sekaligus tanpa memberi kesempatan lawan balas menyerang.

Pancingannya berhasil karena Yo-Kongcu melanjutkan langkah-langkahnya untuk menghindar.

Lincah sekali gerakannya dan tiga jurus yang dilancarkan dengan cepat ini dapat dihindarkan dengan baik.

"Tahan!"

Teriak Hwat Ki yang tak dapat menahan keheranan hatinya lagi.

"Orang she Yo, dari mana kau mencuri langkah-langkah ajaib dari Kim-Tiauw-kun?"

Yo-Kongcu tertawa mengejek, mempermainkan sabuk sutera putih di tangan kirinya.

"Tan Hwat Ki, apa kau kira hanya engkau sendiri yang mampu mainkan langkah Kim-Tiauw-kun? Ihhh..., kau terlampau memandang rendah kepadaku. Lihat seranganku!"

Dengan cepat sekali sesosok sinar putih menyambar ke arah Hwat Ki.

Pemuda ini mengenal sinar putih yang siang tadi telah merampas Pedang Hek-Kim-Kiam dari tangan sumoinya.

la tidak menjadi gentar, lalu memutar tangan kirinya dan mendorong ke depan.

"Plakkk!"

Ujung sinar putih atau lebih tepat ujung sabuk sutera putih itu terpental kembali ketika bertemu dengan tangan kiri Hwat Ki yang ketika didorongkan mengeluarkan cahaya kehijauan itu.

Kagetlah Yo-Kongcu.

Pukulan tangan kiri Hwat Ki tadi jelas adalah pukulan jarak jauh yang luar biasa sekali.

Memang sesungguhnya demikianlah.

Hanya satu macam ilmu pukulan jarak jauh di dunia ini yang dilakukannya dengan cara memutar-mutar lengan kiri seperti itu, yaitu Ilmu Pukulan Ching-tok-ciang (Tangan Racun Hijau)!

Ilmu Pukulan Ching-tok-ciang ini diwarisi oleh Hwat Ki dari Ayahnya, karena ilmu ini merupakan peninggalan neneknya, Ibu dari Tan Sin Lee.

Karena ilmu yang sifatnya ganas dan liar, lebih tepat dipergunakan oleh golongan hitam, maka Tan Sin Lee tidak mengajarkannya kepada murid-muridnya yang lain kecuali kepada putera tunggalnya, dengan pesan agar ilmu ini jangan dipergunakan kalau tidak perlu.

Biarpun ilmu ini merupakan ilmu ganas, namun karena merupakan peninggalan Ibunya, terpaksa dia wariskan kepada puteranya.

Akan tetapi pemuda she Yo yang tangkas itu hanya sebentar saja terkejut karena selain dia segera dapat mengatasi kekagetannya, juga pedangnya kini sudah menerjang dengan gerakan yang amat ganas dan cepat.

Jauh bedanya sifat gerakan pedangnya kalau dibandingkan dengan gerakan samurai di tangan Shatoku, pemuda Jepang tadi.

Gerakan samurai itu cepat bertenaga, akan tetapi tenaganya adalah tenaga kasar sedangkan kecepatannya wajar, berbeda dengan ilmu silat Pedang yang lebih banyak mengandalkan kecepatan Ginkang, tenaga dalam dan gerak-gerak tipu dan pancingan-pancingan yang berbahaya.

Hwat Ki menjadi heran dan kagum juga.

Pemuda Jepang darah campuran ini ternyata memiliki ilmu Pedang yang hebat dan aneh sekali, karena gerakan-gerakannya biarpun masih jelas merupakan ilmu Pedang yang pilihan, juga tercampur gerakan silat Jepang.

Ginkangnya cukup tinggi, tenaga Sinkangnya juga amat kuat, sedangkan Pedang di tangannya itu pun terbuat dari bahan baja pilihan karena setiap kali bertemu dengan Swat-cu-kiam di tangannya, mengeluarkan warna seperti perak dan mempunyai tenaga getaran tanda logam pusaka.

Selain ini, pemuda peranakan Jepang itu benar-benar lincah sekali menggunakan langkah-langkah bersumber Kim-Tiauw-kun.

la pernah mendengar dari Ayahnya bahwa Kim-Tiauw-kun merupakan sumber banyak macam ilmu langkah ajaib, di antaranya yang paling hebat adalah Si-Cap-It Sin-Po dan yang kedua adalah Ilmu Langkah Hui-thian-jip-te (Terbang di Langit Masuk ke Bumi).

Berbeda dengan Si-Cap-It Sin-Po yang mempunyai empat puluh satu langkah, Hui-thian-jip-te mempunyai dua puluh empat langkah.

Agaknya, pemuda she Yo ini menggunakan Hui-thian-jip-te karena langkah-langkahnya tidak terlalu banyak macamnya namun cukup untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan berbahaya.

Yang lebih berbahaya adalah sabuk sutera putih ini berkelebatan menjadi gulungan sinar putih yang menyilaukan mata, kadang-kadang bergulung-gulung menjadi lingkaran-lingkaran besar kecil yang selain dipergunakan untuk menotok jalan darah lawan, juga suka dipergunakan untuk berusaha melibat Pedang lawan dan merampasnya.

Namun Tan Hwat Ki tidak selemah sumoinya, ilmu pedangnya mantap, gerakannya penuh tenaga dalam, sikapnya tenang dan pertahanannya Kokoh kuat.

Sama sekali sabuk sutera putih itu tidak membuat hatinya gugup, malah perlahan-lahan dengan dorongan-dorongan Ching-tok-ciang serta tekanan Pedang Swat-cu-kiam di tangan kanan, dia mulai mendesak lawannya setelah pertandingan berlangsung seratus jurus lebih dengan amat serunya.

Tiga orang tua yang masih duduk menghadapi meja, juga Bu Cui Kim, memandang penuh kekaguman.

Diam-diam Cui Kim makin kagum terhadap pemuda Jepang yang tampan sekali itu.

Tadinya ia menganggap bahwa di antara semua pemuda di dunia ini, sukarlah mencari tandingan Suhengnya yang memiliki kepandaian luar biasa.

Siapa kira, kini pemuda peranakan Jepang yang tampan sekali itu mampu menandingi Hwat Ki sampai seratus jurus lebih dalam pertandingan yang seru dan seimbang.

Hatinya makin kagum dan ia memandang penuh perhatian.

Setelah melihat betapa perlahan-lahan pemuda peranakan Jepang itu mulai terdesak oleh lingkaran-lingkaran sinar Pedang Suhengnya, diam-diam ia menaruh kekhawatiran kalau-kalau kakak seperguruan itu akan menurunkan tangan besi dan membunuh si pemuda Jepang seperti yang dilakukannya terhadap Shatoku, pemuda Jepang tadi.

Memang Hwat Ki tidak mau memberi kesempatan lagi kepada Yosiko.

la pikir lebih baik melenyapkan Ketua Kipas Hitam ini karena kalau Ketuanya sudah tewas, tentu akan lebih mudah membasmi gerombolan bajak laut yang mengganggu keamanan wilayah Po-Hai.

Maka dia makin hebat mendesak dengan jurus-jurus pilihan dari ilmu pedangnya.

Adapun Yo-Kongcu yang terdesak itu, berkali-kali mengeluarkan seruan kagum atas ilmu kepandaian lawan.

la tidak, kelihatan gelisah, biarpun terdesak dan tertekan, seruan-seruan kagum dari mulutnya mengandung kegembiraan.

"Hebat, kau patut menjadi jodohnya..."

Demikian berkali-kali dia berseru.

"Ilmu pedangmu hebat!"

"Tidak usah banyak cakap, bersiaplah untuk mampus!"

Hwat Ki membentak dan pedangnya menyambar-nyambar seperti tangan maut mencari korban. Mendadak dia mendengar suara Cui Kim berseru keras.

"Suheng, celaka... kita tertipu...!"

Hwat Ki kaget dan menengok.

Ternyata adik seperguruannya itu terhuyung-huyung lalu roboh pingsan di atas lantai!

la tidak tahu apa yang terjadi atas diri sumoinya, cepat dia meloncat ke arah adik seperguruannya itu, akan tetapi mendadak dia merasakan kepalanya pening, pandang matanya berkunang-kunang.

Tahulah dia sekarang.

la, seperti juga sumoinya, terkena racun!

Agaknya tadi karena dia bertanding dan mengerahkan Sinkang, racun itu tidak begitu terasa olehnya, apalagi memang Sinkang yang dimiliki sumoinya tidak sekuat Sinkangnya.

Dengan penuh kemarahan Hwat Ki menengok.

Dilihatnya Yosiko atau Yo-Kongcu (Tuan muda Yo) itu tersenyum, berdiri memandang kepadanya seperti orang mengejek.

"Keparat! Kau... curang! Kau meracuni kami...!"

Hwat Ki menguatkan diri dan memaki.

Senyum itu melebar, akan tetapi kini pandangan mata Hwat Ki sudah remang-remang kurang jelas, hanya kelihatan gigi putih berkilat, kemudian terdengar suara pemuda Jepang kepala bajak itu berkata, terdengar oleh telinganya seperti suara yang datang dari jauh sekali.

"Tan Hwat Ki, kau belum mengenal kelihaian Kipas Hitam. Kalau kau kalah bertanding denganku, kau dan adikmu tentu sudah mati sekarang. Akan tetapi kalau menang, kau dan adikmu harus menjadi tawananku. Jangan khawatir, kami takkan membunuh kalian, racun itu hanya beberapa menit saja membuat kalian pingsan..."

Apa yang diucapkan selanjutnya, tak terdengar lagi oleh Hwat Ki yang sudah roboh pingsan di samping adik seperguruannya.

"Siauw-Pangcu... (Ketua Muda), untuk apa menawan mereka? Lebih baik lekas bunuh saja agar tidak menimbulkan keruwetan di belakang hari,"

Kata seorang di antara dua Kakek itu, yang bertubuh kurus kering.

"Pauw-Lopek (uwa Pauw), mereka itu masih orang sendiri, tak mungkin aku membunuh mereka, kecuali... hemmm kecuali kalau mereka tidak mau menurut memihak kita,"

Jawab Yosiko dengan suara tegas.

"Bagus sekali! Kipas Hitam kiranya hanya perkumpulan bajak busuk yang dipimpin oleh seorang wanita curang"

Tiba-tiba terdengar suara orang.

Kaget bukan main hati Yosiko, serentak dia meloncat dan siap, demikian pula tiga orang tua itu.

Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di situ telah muncul seorang pemuda berpakaian serba putih yang sederhana, dengan wajah yang tenang dan penuh wibawa.

Pemuda ini bukan lain adalah Yo Wan!

Seperti kita ketahui, secara kebetulan sekali Yo Wan berada di rumah makan dalam dusun Leng-Si-Bun dan menyaksikan peristiwa yang terjadi antara muda-mudi Lu-Liang-San itu dengan orang-orang Kipas Hitam.

Ketika muncul Yosiko yang mengaku she Yo dan memiliki gerakan yang hebat, dia kaget dan heran sekali, juga ingin tahu karena bagaimana Ketua Kipas Hitam itu memiliki she (nama keturunan) yang sama dengan dia?

Diam-diam dia menyelinap pergi sambil meninggalkan uang pembayaran makan minum, kemudian membayangi si pemuda Ketua Kipas Hitam itu ke dusun Kui-bun di pantai Po-Hai.

Dengan kepandaiannya yang luar biasa, Yo Wan berhasil membayangi terus sampai di gedung tempat kediaman Ketua Kipas Hitam itu dan bersembunyi.

la dapat menduga bahwa muda-mudi yang dirampas pedangnya itu pasti akan menyusul ke Kui-bun, maka diam-diam dia bersembunyi sambil memasang mata, siap menolong muda-mudi itu apabila mereka terancam bahaya.

Kalau muda-mudi itu bertentangan dengan golongan bajak laut yang mengganggu ketenteraman penghidupan para nelayan dan saudagar di tepi laut, pasti dia akan memihak mereka.

Apalagi karena timbul dugaan di dalam hatinya bahwa muda-mudi itu sedikit banyak tentu mempunyai hubungan dengan Gurunya, Pendekar Buta.

Ketika dugaannya terbukti dengan munculnya muda-mudi di ruangan besar gedung itu, dia mendapat kenyataan yang menggirangkan, juga mengherankan hatinya.

Bahwa pemuda itu bernama Tan Hwat Ki putera Tan Sin Lee Ketua Lu-hang-pai.

Kini tidaklah heran dia mengapa pemuda itu dan sumoinya demikian lihai dan memiliki gerakan langkah Kim-Tiauw-kun.

Tentu saja dia girang dan niatnya menolong atau membantu mereka lebih mantap lagi.

Akan tetapi, hal yang amat mengherankan hatinya adalah ketika dia melihat pula kenyataan bahwa pemuda baju putih yang disebut Yosiko atau Yo-Kongcu dan menjadi Ketua Kipas Hitam itu ternyata adalah seorang wanita!

Pandang matanya yang tajam segera dapat membuka rahasia ini ketika Yosiko mulai bersilat melawan Hwat Ki.

Ada gerakan-gerakan otomatis pada kaki dan lengan seorang wanita, yang amat berbeda dengan gerakan otomatis kaki tangan pria.

Dalam menggerakkan lengannya, seorang wanita otomatis tidak mau membuka pangkal lengannya menjauhi dada, hal ini adalah sifat pembawaan tiap wanita.

Tentu saja dalam mainkan ilmu silat, hal ini tidak mengikat benar, namun dalam ilmu silat pun tercampur dengan gerakan otomatis yang menjadi dasar menurut pembawaan masing-masing.

Melihat gerak ini, kemudian melihat wajah yang terlalu tampan itu, kulit yang terlalu halus untuk pria, mudah saja Yo Wan menduga bahwa pemuda tampan itu adalah seorang gadis cantik yang menyamar pria!

Keheranan ini belum seberapa kalau dibandingkan dengan keheranan ketika dia melihat betapa gadis peranakan Jepang ini menggerakkan kaki dalam langkah-langkah ajaib yang amat dikenalnya.

Itulah inti ilmu langkah ajaib yang pernah dia pelajari dari Suhunya, Pendekar Buta!

Hanya bedanya, yang dia pelajari adalah lebih lengkap berjumlah empat puluh satu jurus, sedangkan yang dikuasai gadis Jepang itu adalah dua puluh empat jurus Hui-thian-jip-te!

Benar-benar amat luar biasa dan hal ini meragukan hatinya untuk memusuhi dan membasmi Ketua Kipas Hitam ini.

Demikian, ketika dia melihat Hwat Ki sudah mendesak hebat, seperti juga Cui Kim, dia khawatir kalau-kalau Hwat Ki dalam kemarahannya membunuh Ketua Kipas Hitam itu, maka dia bersiap-siap untuk menghentikan pertandingan mati-matian itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dia melihat Cui Kim roboh pingsan, disusul oleh Hwat Ki dan mendengar ucapan Yosiko, dia mengerutkan kening.

Gadis peranakan Jepang itu benar-benar lihai, berani, juga liar dan curang, maka sambil mengejek dia lalu menampakkan diri.

Marahlah hati Yosiko ketika melihat munculnya seorang asing secara mendadak.

la bertepuk tangan tiga kali dan muncullah enam orang pendek-pendek yang ternyata bukan lain adalah Kamatari dan lima orang temannya.

Si Pedang Cakar Naga ini bersama lima orang temannya menjura dalam-dalam sampai jidat mereka hampir menyentuh tanah di depan Yosiko.

"Apa yang dapat kami lakukan untuk Yo-Kongcu yang terhormat?"

Tanyanya dalam bahasa Jepang.

"Kalian ini sekelompok udang goblok, bagaimana dengan tugasmu menjaga sehingga orang dusun ini bisa masuk ke sini tanpa ijin?"

Bentak Yosiko sambil menudingkan telunjuknya ke arah Yo Wan. Kamatari melirik dan tampak kaget ketika melihat Yo Wan.

"Dia... dia adalah orang yang kelihatan di dalam rumah makan di Leng-Si-Bun!"

Katanya gagap dan heran.

"Goblok, seret dia keluar!"

Bentak Yosiko.

Diikuti lima orang temannya, Kamatari melangkah maju, lambat-lambat, selangkah demi selangkah, dengan gerak kaki menurutkan ilmu silatnya, kedua tangannya tergantung di kanan kiri, agak ditekuk sikunya dan jari-jari tangannya terbuka dan tertutup, sikapnya mengancam sekali!

Lima orang temannya juga seperti itu gerakannya, malah dengan teratur mereka berenam membuat gerakan mengelilingi Yo Wan.

"Eh, cakar nagamu ke mana? Apakah sudah Kau tukar dengan cakar ayam maka kau malu mengeluarkannya?"

Yo Wan berkata sambil menghadapi Kamatari, karena di antara enam orang itu, Si Cakar Naga inilah yang paling kuat.

Merah muka dan kepala yang botak itu, kemudian tiba-tiba Kamatari mengeluarkan pekik nyaring yang agaknya keluar dari dalam perutnya, disusul dengan gerakannya seperti katak melompat dan tahu-tahu Pedang samurainya telah menyambar ke arah Yo Wan.

Dalam detik-detik berikutnya, lima orang temannya juga sudah menerjang dengan samurai terhunus sehingga dari enam penjuru menyambarlah kilatan enam sinar samu-rai yang amat tajam!

"Cring-crang-cring!"

Tampak bunga api berpijar menyilaukan mata ketika enam batang samurai itu saling bentur dalam kekacauan yang membingungkan.

Tadinya Kamatari dan lima orang temannya merasa yakin bahwa samurai-samurai mereka pasti akan mencincang hancur tubuh si pemuda desa yang agaknya sudah tidak dapat mengelak ke mana-mana karena semua jalan keluar sudah tertutup enam buah samurai.

Enam buah samurai itu menghantam ke satu titik, yaitu di mana Yo Wan berada.

Akan tetapi, ternyata tepat tiba di sasaran, pemuda itu tidak tampak bayangannya lagi dan enam buah samurai itu saling bentur.

Karuan saja enam orang itu terheran-heran dan terkejut sekali, dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, mereka merasa didorong dari belakang oleh tenaga mujijat dan...

berturut-turut terdengar suara beradunya kepala sama kepala dan bergelimpanglah enam orang itu dengan tambahan benjol sebesar telor ayam pada botak kepala masing-masing.

Mereka pingsan seketika.

"Hek-San Pangcu (ketua Kipas Hitam), udang-udang busuk begini kau pergunakan untuk menakut-nakuti orang? Memalukan sekali"

Kata Yo Wan, kedua tangannya bergerak dan enam orang itu terlempar keluar pintu depan satu demi satu seperti rumput-rumput kering ditiup angin saja.

Sepasang alis Yosiko terangkat naik, lalu turun dan hampir bersambung.

Marahlah dia, juga heran karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa "Orang desa"

Ini ternyata lihai juga.

"Hemmm, kau boleh juga, akan tetapi belum cukup berharga untuk bertanding denganku. Pouw-Lopek, harap wakili aku beri hajaran kepada bocah dusun ini!"

Kakek tinggi kurus yang kulitnya sudah berkeriput semua, melangkah lebar.

Kagetlah Yo Wan karena sekali melangkah saja Kakek itu sudah berada di depannya!

Mana mungkin begini?

Kalau Kakek itu melompat, dia tidak merasa heran, bahkan hal itu biasa saja.

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 15

Baca Juga: Jodoh Rajawali 18

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert