Eps 8 Jaka Lola - Kho Ping Hoo
Baca online Jaka Lola - Kho Ping Hoo
Cersil Jaka Lola - Kho Ping Hoo.
Akan tetapi Kakek itu sama sekali bukan melompat, melainkan melangkah.
Betapapun panjang kakinya, tak mungkin dapat sekali melangkah sampai di depannya, padahal jaraknya kurang lebih lima tombak (kurang lebih sepuluh meter)!
Ilmu apakah ini?
Yo Wan memutar otak dan dapat menduga bahwa Kakek tinggi kurus ini tentu memiliki ilmu luar biasa yang mengandalkan kedua kakinya, dan hal ini mudah diduga bahwa ilmu itu tentulah ilmu tendangan.
Apalagi yang dapat dipergunakan sepasang kaki dalam pertandingan untuk menyerang lawan kecuali menendang?
Maka dia bersikap waspada dan mencurahkan sebagian besar perhatiannya kepada gerakan sepasang kaki calon lawannya.
"Orang muda"
Kata Kakek itu, suaranya jelas menyatakan bahwa dia seorang dari daerah pesisir Selatan.
"Kau sungguh seorang yang tak tahu diri, tak mengenal luasnya lautan tingginya langit. Siapakah kau ini yang berani lancang memasuki gedung tempat tinggal Ketua Hek-San-Pang dan menjual lagak di sini? Dan apakah kehendakmu?"
Mendengar ucapan ini dan melihat sikap yang berwibawa, Yo Wan dapat menduga bahwa Kakek ini tentu mempunyai kedudukan yang cukup tinggi dalam perkumpulan Hek-San-Pang, maka dia pun bersikap hormat.
Setelah menjura dia menjawab.
"Namaku Yo Wan dan secara kebetulan aku menyaksikan peristiwa di rumah makan. Karena tertarik mendengar bahwa Ketua kalian juga she Yo, apalagi ditambah sepak terjangnya merampas pedang, biarpun urusan itu dengan aku tidak ada sangkut-pautnya, namun memaksa aku untuk datang ke sini dan menonton. Kiranya Ketuanya seorang wanita yang begitu curang merobohkan dua orang muda ini dengan racun. Hal ini aku Yo Wan tak mungkin diam saja membiarkan kecurangan."
Yosiko membentak marah.
"Bocah dusun lancang. Kau sombong sekali. Apa maksudmu dengan kata-kata bahwa Hek-San-Pang dipimpin oleh seorang wanita?"
"Seorang wanita curang kataku tadi,"
Jawab Yo Wan sambil tersenyum kepada Ketua Hek-San-Pang itu.
"Mata orang lain boleh kau kelabuhi, akan tetapi bagiku jelas bahwa kau seorang wanita, mengapa memakai sebutan Kongcu (Tuan muda) segala macam? Dan memang kau curang sekali, mengambil kemenangan menggunakan racun..."
"Pouw-Lopek, hajar dia!"
Bentak Yosiko, tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Orang tua tinggi kurus itu sebetulnya adalah seorang bajak laut tunggal di pantai Selatan yang bernama Pouw Beng, akhirnya dia ditarik oleh Kipas Hitam menjadi pembantu utama di samping dua orang lain yang selalu mendampingi Ketua Kipas Hitam.
Ketika tadi menyaksikan gerak-gerik Yo Wan, Kakek yang bermata tajam ini maklum bahwa Yo Wan adalah seorang "Pemuda gunung" (istilah murid pertapa di gunung) yang tak boleh dipandang ringan, maka dia bersikap sabar dan bertanya lebih dulu.
Kini mendengar kemarahan Yosiko yang mendesaknya, dia lalu memasang kuda-kuda, kedua kakinya dipentang lebar pada bagian lutut, akan tetapi mata kakinya saling bertemu.
"Orang muda she Yo, lihat serangan!"
Bentaknya mengguntur dan sekali meraba punggung, Kakek ini sudah mencabut keluar sebatang ruyung lemas (joan-pian) yang berwarna hitam lalu menerjang dengan senjata seperti pecut ini dengan gerakan yang dahsyat.
"Wuuuttttt!"
Angin pukulan joan-pian ini menyambar ke arah kepala ketika Yo Wan mengelak, namun dengan kelincahannya, mudah saja Yo Wan melompat lagi ke samping.
Ketika joan-pian ini seperti seekor ular hidup mengejarnya terus dengan cepat, Yo Wan diam-diam menjadi kagum dan memuji kepandaian si Kakek mainkan joan-pian yang dapat terus-menerus melakukan serangan sambung-menyambung.
la masih belum dapat melihat bahayanya ancaman joan-pian ini maka Yo Wan tetap saja mengelak ke sana kemari sambil tiada hentinya memperhatikan kedua kaki lawan.
Benar saja dugaannya, gerakan joan-pian yang menyerang kalang kabut ini hanyalah usaha untuk membingungkan lawan, karena tiba-tiba kedua kaki Kakek itu bergerak menyambar, susul-menyusul dengan kecepatan yang tak terduga-duga dan dengan kekuatan yang luar biasa!
Yo Wan kagum.
Hal ini sudah diduganya, dan memang sesungguhnya tendangan-tendangan inilah yang merupakan inti dari penyerangan Kakek kurus itu.
Seorang lawan yang kurang waspada pasti akan roboh oleh tipu muslihat ini, karena hanya tampaknya saja joan-pian yang mengancam, akan tetapi sesungguhnya bukan demikian, sehingga lawan yang terlalu mencurahkan perhatian terhadap serangan joan-pian yang bertubi-tubi, akan celaka oleh tendangan-tendangan tersembunyi ini.
Yo Wan bukan seorang pemuda sombong dan dia tidak suka memamerkan kepandaiannya.
Akan tetapi keadaan sekarang memaksa dia untuk mengeluarkan kepandaiannya.
Pertama, karena dia berada di sarang harimau yang berbahaya, kedua untuk menolong muda-mudi putera Ketua Lu-liang-pai atau Cucu Raja Pedang itu, ketiga memang sudah menjadi tugasnya untuk membasmi bajak laut, apalagi setelah dia teringat akan ucapan penuh sindiran dari Ketua Siauw-Lim-Pai, yaitu Thian Seng Losu.
Maka melihat datangnya tendangan, dia sengaja bersikap seakan-akan dia kurang waspada dan memberi kesempatan orang menendangnya!
Karuan saja Pouw Beng girang bukan main.
"Pergilah!"
Bentaknya sambil mengerahkan tenaga pada tendangannya ketika lawan muda itu sibuk mengelak dari sambaran joan-pian.
"Dukkk!"
Bukan tubuh Yo Wan yang mencelat seperti yang telah dibayangkan si penendang dan teman-temannya, melainkan Kakek itu sendiri yang terpelanting dan bergulingan, tak mampu bangkit lagi karena tulang kakinya yang menendang tadi remuk sedangkan joan-pian di tangannya pun sudah mencelat entah ke mana!
Kiranya tadi ketika kakinya sudah hampir mengenai sasaran, yaitu perut Yo Wan, pemuda ini secepat kilat menggunakan tangan kirinya menotok jalan darah lalu menggencet.
Karena dia mempergunakan jurus ampuh Ilmu Silat Liong-Thouw-Kun yang dia warisi dari Kakek sakti Sin-Eng-Cu, seketika remuklah tulang kaki lawannya, sedangkan tangan kanan Yo Wan pada detik yang sama juga menghantam pergelangan lengan yang memegang joan-pian sehingga joan-pian itu terpental dan mencelat entah ke mana.
Yosiko melongo.
Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa pemuda dusun itu demikian lihainya.
Pouw Beng dirobohkan hanya dalam beberapa gebrakan saja!
Tendangan maut itu diterima tangan kiri dan kaki Pouw Beng remuk!
Mana mungkin ini?
Apakah pemuda sederhana baju putih itu main sihir?
Dia sendiri yang sudah mengenal kelihaian Pouw Beng, agaknya sebelum seratus jurus tak mungkin dapat mengalahkannya!
"Paman Sakisoto, majulah!"
Teriaknya karena dia masih merasa penasaran.
Kalau terhadap Tan Hwat Ki, dia maju sendiri karena dia sudah yakin akan kelihaian pemuda Lu-liang-pai itu.
Akan tetapi pemuda dusun yang tak ternama ini, yang kelihatan begitu lemah dan sederhana, mana berharga menghadapinya?
Para pelayan mengangkat pergi tubuh Pouw Beng yang masih pingsan, sedangkan Kakek yang botak dan pendek sekali itu sudah melangkah maju menghampiri Yo Wan.
Kakek tua yang pendek botak ini adalah seorang jagoan Jepang yang terkenal dengan ilmunya Yiu-yit-su.
la seorang jago gulat yang jarang menemui tandingan di antara sekalian bajak laut, dan menjadi juara di kalangan Kipas Hitam.
Kedudukannya tinggi, sejajar dengan kedudukan Pouw Beng dan dia menjadi tangan kanan Yosiko pula, terutama untuk urusan mengendalikan anak buah bajak laut Kipas Hitam.
Semua anak buah bajak laut, terutama yang berasal dari Jepang, takut belaka kepada Sakisoto, demikian nama jagoan tua ini.
Selain ahli dalam ilmu gulat dan ilmu tangkap Yiu-yit-su, dia pun termasuk seorang jago samurai yang ampuh.
Kalau dibandingkan dengan Pouw Beng sukarlah untuk menilai karena keduanya memiliki keistimewaan masing-masing.
"Bocah sombong, hayo lekas berlutut menyerahkan diri sebelum kubanting tubuhmu sampai remuk!"
Bentak Sakisoto, karena bagaimanapun juga dia merasa malu, kalau harus melawan seorang pemuda tak ternama, apalagi kelihatannya kurus kering dan lemah begitu, maka dia memberi peringatan lebih dulu agar bocah itu menyerah saja.
Yo Wan tentu saja sudah pernah mendengar tentang ilmu gulat dan ilmu"tangkap dari Jepang, tentu semacam Ilmu Silat Sauw-kin Na-jiu-hoat, pikirnya.
la maklum akan kelihaian ilmu ini yang sama sekali tidak membolehkan anggota badan tertangkap.
Akan tetapi menyaksikan gerakan Kakek ini, dia berbesar hati.
Langkah Kakek ini sedikit banyak sudah membayangkan keadaan tenaga Lweekang yang dimilikinya dan dia merasa sanggup untuk menghadapinya.
"Orang tua, kau tentulah seorang ahli membanting orang. Biarlah, aku ingin merasakan bantinganmu, kalau aku kalah tak usah kau suruh menyerah, tentu saja aku sudah tak berdaya lagi. Silakan!"
La sengaja bicara dengan lambat agar Kakek Jepang itu dapat mengikuti kata-katanya karena tadi ketika bicara, orang Jepang ini juga lambat-lambat dan agak sukar.
"Bocah sombong, kau cari mampus"
Sakisoto berseru, lalu kedua kakinya yang pendek itu bergerak maju, kedua lengan-nya menyambar dengan gerakan kuat dan jari-jari tangan terbuka.
Alangkah heran dan juga girangnya ketika dia melihat lawannya sama sekali tidak mengelak sehingga begitu dia menggerakkan kedua tangannya, Yo Wan sudah kena dicengkeram lengan kiri dan pundak kanannya!
Dengan sepasang mata sipitnya berseri-seri saking gembiranya akan hasil ini, Sakisoto mengerahkan tenaga dari perut, disalurkan kepada jari-jari tangannya dengan maksud untuk meremas hancur pergelangan lengan kiri dan pundak kanan pemuda kurang ajar itu.
Jari-jari tangannya mengeras, menggigil karena terisi getaran tenaga yang dahsyat, tenaga yang membuat jari-jari tangan itu mampu meremas hancur batu karang!
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika jari-jari tangannya meremas kulit yang lunak dan licin seperti kulit belut, lunak akan tetapi ulet seperti karet sehingga tenaga remasan jari-jari tangannya lenyap tertelan atau tenggelam, sama sekali tidak ada hasilnya seperti orang meremas kapas?
Dalam kagetnya jago tua Jepang yang sudah banyak pengalamannya itu dapat menduga bahwa pemuda ini memiliki tenaga dalam dari orang-orang daratan yang memang amat luar biasa, maka secepat kilat dia mengubah getaran tenaganya, kini jari-jarinya tidak mencengkeram untuk meremuk lagi melainkan mencengkeram erat-erat lalu dia mengerahkan tenaga perut untuk mendongkel dan melontarkan lawannya dengan gerak tipu dalam Ilmu Yiu-jit-su.
Kakinya menjegal dan tangannya yang satu mendorong yang lain menyentak kuat.
Namun, orang yang disentaknya tidak bergeming sama sekali.
Hal ini tidak mengherankan oleh karena Yo Wan sudah pula mengganti tenaga dalamnya, kini dia mengerahkan tenaga Selaksa Kati yang disalurkan ke arah kedua kaki dan berdiri dengan kuda-kuda Siang-kak-jip-te (Sepasang Kaki Berakar di Tanah), Jangankan baru seorang Sakisoto, biar kedua kaki itu ditarik oleh lima ekor kuda kiranya belum tentu akan dapat terangkat!
Mulut jago tua Jepang itu mengeluarkan suara ah...ah...uh...uh...uh, ketika dia beberapa kali mengganti kedudukan dan jurus untuk berusaha mengangkat kaki lawan untuk terus dilontarkan di atas pundak dan dibanting remuk.
Keringatnya sudah memenuhi muka, otot-ototnya menonjol keluar, nafasnya terengah-engah, namun hasilnya sia-sia belaka.
Pemuda yang kurus itu masih berdiri tegak dengan senyum manis, sedikit pun tidak kelihatan mengerahkan tenaga.
Hal ini selain membuat Sakisoto merasa penasaran, juga membuatnya menjadi malu dan marah sekali.
"Mampus kau!"
Bentaknya dan secepat kilat kedua tangannya melepaskan cengkeraman pada lengan dan pundak, kini berganti dengan serangan memukul dengan telapak tangan dimiringkan.
Tangan kanan memukul leher dan tangan kiri memukul lambung!
Jangan dipandang ringan serangan ini karena kedua tangan itu sudah terlatih, ampuh sekali.
Kepala orang bisa remuk terpukul oleh tangan miring ini, apalagi tempat-tempat gawat macam leher dan lambung.
Sekali pukul tentu nyawa akan melayang!
Mendengar menyambarnya hawa pukulan, Yo Wan maklum bahwa serangan ini cukup berbahaya.
Cepat dia menyambar dengan kedua tangannya, jauh lebih cepat daripada datangnya pukulan.
Tahu-tahu kedua pergelangan tangan jago tua itu sudah dia tangkap dan seketika bagaikan dilolosi semua urat syaraf dalam tubuh Sakisoto.
Tiba-tiba Yo Wan berseru keras dan tubuh pendek tegap itu melayang ke atas dan terbang sampai sepuluh meter jauhnya.
Namun, begitu dilepaskan, jago tua yang sudah berpengalaman ini dapat menggerakkan tubuhnya sehingga ketika terbanting ke bawah, dia dapat mendahulukan daging belakangnya, sehingga hanya terdengar suara berdebuk, tubuhnya membal ke atas dan dia turun lagi dalam keadaan berdiri dan mulutnya meringis karena daging tua di belakang pantatnya terasa kesemutan dan sakit!
Kemarahannya memuncak dan dengan kerongkongan mengeluarkan gerengan seperti beruang, dia menubruk maju, didahului Pedang samurainya yang panjang dan besar.
Yo Wan cepat miringkan tubuh, membiarkan sinar berkelebat Pedang panjang itu lewat, jari tangannya bekerja dan di lain saat sekali lagi tubuh Sakisoto terguling, kali ini jatuh tersungkur tak marnpu bangkit untuk beberapa menit lamanya karena jari-jari tangan Yo Wan telah berhasil menyentil sambungan tulang pundak kanan dan menotok jalan darah di punggung kiri!
Jago tua Jepang itu hanya mampu mengulet dan merintih perlahan.
Kalau tadi sepasang mata Yosiko berapi-api marah, kini mulai bersinar penuh kekaguman.
Dua orang jagonya dirobohkap demikian mudahhya.
Bukan main pemuda sederhana ini.
Mungkinkah ada pemuda yang lebib pandai daripada jago tampan dari Lu-liang-pai?
Diam-diam dia melirik ke arah Hwat Ki yang masih pingsan di dekat sumoinya, di sudut ruangan.
Kemudian dia memberi tanda dan para pelayan datang membangunkan Sakisoto dan mengangkatnya keluar dari ruangan itu.
Yo Wan tersenyum menghadap Yosiko.
"Bagaimana? Cukupkah?"
"Hemmm, setelah kau mampu merobohkan dua orang pembantuku kau mau apa?"
"Tidak apa-apa, hanya minta supaya kau bebaskan kedua orang muda dari Lu-Liang-San itu, kemudian gulung tikar dan kembali ke Jepang, jangan lagi kau atau anak buahmu mengganggu pantai dan perairan Po-Hai."
"Peduli apa dengan kau? Kau murid siapa? Dari partai apa?"
"Heran sekali. Kau masih tanya peduli apa denganku? Tentu saja aku tidak bisa membiarkan kau mengganggu keamanan wilayah ini, mengacau ketenteraman hidup bangsaku. Soal aku murid siapa, tidak ada sangkut-pautnya denganmu dan aku tidak punyai partai. Nona, kulihat kepandaianmu lumayan, mengapa kau memilih jalan sesat? Mengapa kau mendirikan perkumpulan bajak laut Kipas Hitam? Sayang sekali, kau lihai dan sepatutnya kau menjadi seorang Pendekar wanita yang cantik, gagah, dan terhormat, berguna bagi bangsamu di Jepang..."
"Tutup mulutmu yang lancang!"
Yosiko berteriak nyaring dan kini penyamarannya gagal karena setelah ia marah-marah, sepasang pipinya menjadi kemerahan, merah jambu yang hanya dapat timbul pada pipi seorang gadis, dan teriakannya pun teriakan marah seorang gadis, tidak lagi suara berat pria seperti yang ia tirukan dalam percakapan biasa.
"Kau begini sombong! Apa kau kira aku takut padamu? Kami belum kalah. Gak-Lopek, harap kau beri hajaran bocah sombong ini! Kakek ketiga yang gendut perutnya melompat maju. Gerakannya perlahan dan lambat saja, seakan-akan dia terlalu malas untuk bergerak, apalagi main silat, patutnya orang ini bertiduran di atas kursi malas sambil mengisap huncwe (pipa tembakau) dengan mata meram melek. Akan tetapi Yo Wan cukup waspada dan dia maklum bahwa di antara tiga orang Kakek tadi, si gendut inilah yang paling lihai. Wajahnya yang agak pucat kekuningan, kedua lengannya yang tidak kelihatan ada otot menonjol, langkahnya yang tenang dan kelihatan berat serta seakan-akan kakinya menempel dan lengket pada lantai yang diinjaknya, semua ini menandakan bahwa dia seorang ahli Iweekeh (ahli tenaga dalam) yang kuat. Diam-diam Yo Wan lalu mengumpulkan hawa murni di dalam pusarnya, lalu mendesaknya ke seluruh bagian tubuh, terutama pada kedua lengannya untuk berjaga-jaga. Pemuda ini mendapat gemblengan tenaga dalam dari dua orang sakti, yaitu Sin-Eng-Cu dan Bhewakala, apalagi latihan tenaga dalam ini dia sempurnakan dengan tekun di pertapaan Bhewakala, yaitu di Pegunungan Himalaya. Oleh Pendeta sakti ini, Yo Wan digembleng hebat, malah sudah mengalami gemblengan terakhir yang amat berat, bahkan yang dilakukan dengan taruhan nyawa, yaitu kalau tidak tahan dapat mati seketika. Latihan ini adalah latihan berSamadhi mengumpulkan Sinkang dan memutar-mutar hawa murni ke seluruh tubuh dengan cara bertapa telanjang bulat selama tujuh hari di bawah hujan salju di puncak gunung. Kalau dia tidak dapat menahan, dia akan mati dalam keadaan beku dan terbungkus es! "Orang muda, kau benar-benar lihai sekali! Akan tetapi, untuk dianggap berharga melayani Yo-Kongcu, kau harus dapat menandingi aku lebih dulu! Perkenalkan, aku bernama Gak Tong Sek!"
Sambil berkata demikian, seperti seorang yang menghormat tamu, dia menjura dengan kedua tangan dirangkap didepan dada, selayaknya orang memperkenalkan diri.
Tepat seperti dugaan Yo Wan, begitu Kakek gendut ahli Iweekeh ini mengangkat kedua lengan memberi hormat, dadanya terasa sesak karena terserang oleh hawa pukulan tersembunyi yang amat kuat, yang menyambar keluar dari gerakan kedua tangan yang dirangkapkan itu.
Cepat Yo Wan menggerakkan (Lanjut ke
Jilid 21) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 21 kedua lengannya, diangkat ke atas sehagai pembalasan hormat sambil diam-diam mengerahkan Sinkang mendorong ke depan.
Hawa pukulannya dan hal ini terasa benar oleh Gak Tong Sek karena wajahnya tiba-tiba berubah kaget dan jelas tampak dia mengerahkan tenaga untuk menahan dorongan lawan yang amat kuatnya itu.
la merasa heran karena tidak mengira bahwa lawan yang demikian muda ini tidak saja dapat menahan dorongan pukulan jarak jauhnya, melainkan mengembalikan hawa pukulan itu dengan tambahan dorongan yang lebih kuat lagi.
Tentu saja dia tidak mau menyerah kalah, merasa malu untuk pergi menghindar, maka sambil memasang kuda-kuda sekuatnya pada kedua kaki, dia menahan dorongan lawan.
Yo Wan merasa betapa dorongannya tertahan dengan kuatnya, dia menambah tenaganya dan terus mendorong.
Gak Tong Sek mempertahankan dengan amat kuatnya, namun yang mendorong lebih kuat lagi.
Terdengar suara keras dan tubuh Kakek gendut itu terdorong mundur, akan tetapi sepasang kakinya tetap dalam keadaan memasang kuda-kuda, sedikit pun tidak terangkat dan dia tidak roboh terguling, melainkan terdorong ke belakang dengan kedua kaki menyeret lantai sehingga retak-retaklah lantai batu yang terseret kedua kakinya!
Makin jauh Kakek ini terdorong, makin berkuranglah kekuatan dorongan Yo Wan, sehingga setelah terdorong tiga kaki jauhnya, Kakek ini berhenti.
Wajahnya pucat dan keringat dua butir tampak di dahinya.
"Orang tua, kau benar-benar amat lihai, aku yang muda merasa kagum sekali,"
Kata Yo Wan tersenyum.
Ucapannya ini sejujurnya saja karena memang dia merasa kagum akan daya tahan Kakek itu sehingga dia tidak mampu merobohkan malah membuatkakek itu mengangkat kaki pun tidak sanggup.
Benar-benar seorang Kakek yang selain memiliki tenaga Lweekang tinggi, juga amat ulet dan tahan uji.
Akan tetapi bagi Kakek Gak, ucapan ini dianggap sebagai ejekan, maka dia menjadi penasaran dan marah sekali.
Biarpun dia maklum akan besarnya tenaga Sinkang pemuda itu, namun belum tentu dia akan kalah dalam ilmu pukulan yang telah dilatihnya puluhan tahun lamanya, yang agaknya telah dia miliki sebelum orang muda ini lahir.
Selama ini, hanyalah Ketua Kipas Hitam saja orang muda yang mampu menandinginya dan hal ini tidak membuat dia kecil hati karena dia cukup maklum bahwa Pangcunya itu mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa dari orang Tuanya.
Namun dia anggap bahwa di dunia ini tidak ada keduanya dicari orang muda, seperti Pangcu (ketua) dari Hek-San-Pang.
"Bocah sombong, belum tentu aku kalah!"
Bentaknya marah sambil mengayun kedua tangannya, melancarkan pukulan-pukulan maut dari jarak jauh.
Terdengarlah suara angin menyambar bersiutan sehingga api penerangan di empat penjuru ruangan itu bergoyang-goyang hampir padam.
Demikianlah hebatnya ilmu pukulan jarak jauh dari Kakek Gak Tong Sek yang dia sendiri namai Swan-hong-sin-ciang (Pukulan Sakti Angin Puyuh).
Para pelayan yang tahu akan hebatnya ilmu pukulan ini, tanpa diperintah, lagi segera mundur dan menyelinap ke balik pintu.
Hanya Yosiko yang masih berdiri tegak, pakaian dan penutup rambutnya berkibar-kibar oleh angin pukulan, namun dia sendiri tidak apa-apa karena ia pun telah mengerahkan Sinkang melindungi seluruh tubuhnya.
"Bagus"
Mau tak mau Yo Wan memuji kehebatan ilmu pukulan ini.
Akan tetapi tidak sia-sia dia digembleng habis-habisan di puncak Himalaya.
Dengan amat tenang, penuh kepercayaan akan diri sendiri, dia melangkah maju sambil memangku kedua lengan, sama sekali tidak mengelak atau menangkis.
Pukulan-pukulan jarak jauh datang bagaikan hujan badai menimpa dirinya, namun hanya pakaian dan rambutnya saja yang berkibar-kibar, namun semua hawa pukulan itu terbentur dan membalik ketika bertemu dengan hawa Sinkang yang menyelubungi seluruh tubuhnya!
Sudah penuh keringat muka dan leher Gak Tong Sek, namun semua pukulannya sia-sia belaka.
Saking marah dan penasarannya, dia melompat maju, kini menggunakan kedua tangannya memukul dari jarak dekat dengan pengerahan tenaga Lweekang sepenuhnya.
Tentu saja Yo Wan maklum bahwa pukulan ini terlalu berbihaya untuk diterima seperti dia menerima pukulan jarak jauh tadi.
Cepat kedua tangannya bergerak.
"Duk-duk!"
Dua kali empat buah lengan itu bertemu dan tubuh Kakek Gak Tong Sek melayang keluar dari pintu ruangan, jatuh berdebuk di luar ruangan itu, tak dapat bangun lagi, hanya terdengar dia mengorok seperti kerbau disembelih.
Di antara tiga orang Kakek yang melawan Yo Wan, Kakek Gak inilah yang paling berat lukanya.
Hal ini adalah karena dia terpukul oleh tenaga Lweekangnya sendtri, sehingga biarpun tidak akan kehilangan nyawanya, namun sedikitnya tiga bulan dia harus berbaring!
Kini lenyaplah sama sekali kemarahan dari wajah Yosiko, terganti bayangan kekaguman pada wajahnya yang tampan berseri.
Sepasang matanya berkilauan dengan gerakan-gerakan cepat biji matanya yang bening menandakan kecerdikan otaknya, Bibirnya tersenyum-senyum ketika ia melangkah maju dengan senjata di tangan.
Seperti tadi ketika menghadapi Hwat Ki, kini tangan kanannya memegang pedang, dan tangan kirinya memegang sabuk sutera putih.
Dengan langkah cepat ia bertindak maju, sepasang matanya tak pernah mengalihkan pandangannya dari wajah Yo Wan.
"Hebat... kau... kau lebih lihai daripada Tan Hwat Ki... kau hebat...!"
Ketua Hek-San-Pang yang muda dan oleh Yo Wan dianggap wanita itu melangkah maju.
"Tapi... kau harus dapat mengalahkan aku lebih dulu, baru dapat kunilai apakah kau lebih patut daripada dia..."
"Hek-San Pangcu, kau bicara apa ini? Aku tidak ingin bermusuhan dengan engkau, akan tetapi kalau kau mendesakku, jangan menyesal kalau aku turun tangan besi dan membasmi gerombolan bajak yang kau pimpin. Jangan kau kira bahwa setelah kau mengerti Ilmu Langkah Kim-Tiauw-kun, kau mengira tidak akan ada yang dapat melawanmu. Justru karena kau mengenal Kim-Tiauw-kun, aku makin berkeras untuk melarangmu melakukan perbuatan jahat!"
Berubah wajah Yosiko, akan tetapi sinar matanya makin berseri.
"Kau... kau tahu tentang langkah-langkah ajaib?"
"Tentu saja aku mengenal Hui-thian-jip-te. Orang yang menggunakan ilmu ini harus menjadi seorang pembela kebenaran dan keadilan, sama sekali tidak boleh menjadi penjahat!"
Yosiko tersenyum.
"Wah, kiranya kau pun bukan orang sembarangan, dapat mengenal Hui-thian-jip-te. Kau bilang tadi namamu Yo Wan? Kau murid siapakah? Apakah kau kenal dengan Tan Hwat Ki dan sumoinya dari Lu-liang-pai ini?"
Dalam mengajukan pertanyaan ini, lenyaplah sikap bermusuhan, seakan-akan Yo Wan menghadapi seorang kenalan baru saja, Ketua Hek-san-pai itu demikian ramah.
Akan tetapi Yo Wan tidak ingin memperkenalkan diri, apalagi membawa-bawa nama Pendekar Buta.
"Namaku Yo Wan dan habis perkara, aku seorang yatim piatu, tak bersanak tak berkadang."
"Dan belum menikah?"
Merah wajah Yo Wan. Celaka orang ini benar-benar cerewet dan tak tahu malu. Karena sungkan dan jengah, dia tidak menjawab, hanya menggeleng kepala. Yosiko tersenyum lagi.
"Wah, seorang Jaka Lola kalau begitu. Eh, Jaka Lola yang lihai, dengar baik-baik. Adikku mencari jodoh dan agaknya kau patut menjadi jodohnya karena agaknya kau lebih lihai daripada Tan Hwat Ki. Akan tetapi kau harus dapat mengalahkan aku untuk membuktikan kelihainmu."
"Pangcu, harap kau jangan main-main. Aku tidak peduli adikmu itu akan menikah dengan siapapun juga, bukan urusanku. Aku pun sekali-kali tidak ingin membuktikan kelihaianku. Aku hanya minta kau bebaskan dua orang muda itu dan tarik mundur semua anak buahmu, jangan lagi mengganggu daerah Po-Hai. Kalau tidak, terpaksa aku akan membasmi Kipas Hitam!"
Yosiko tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih berkilauan dan rapi.
"Yo Wan, kalau kau bisa menangkan aku dan menikah dengan adikku, kau akan menjadi Ketua Kipas Hitam dan terserah apa yang hendak kau lakukan. Lihat senjata?"
Secepat kilat Pedang di tangan Yosiko menyambar, menjadi sebuah tusukan sutera putih di tangan kirinya sudah bergerak pula menjadi lingkaran Bundar yang melayang dari atas mengarah kepala Yo Wan.
Pedang itu sudah tentu saja amat berbahaya, akan tetapi sinar putih sabuk sutera itu kiranya tidak kalah bahayanya, karena ujung sabuk itu dapat menjadi alat menotok jalan darah yang sekali mengenai kepala akan merenggut nyawa!
Mendongkol juga hati Yo Wah.
la sebetulnya merasa sayang bahwa seorang muda seperti Yosiko, baik ia gadis se-perti dugaannya atau pun betul laki-laki, yang jelas adalah seorang peranakan Jepang, tak dapat dia sadarkan kembali ke jalan benar.
Akan tetapi orang ini terlalu memandang rendah kepadanya, kalau tidak diberi hajaran tentu tidak kapok!
"Kau menghendaki kekerasan?
Baik!"
Katanya dan cepat kakinya menggunakan langkah-langkah ajaib untuk menghindarkan serangan Pedang dan sabuk sutera.
Malah dia segera balas menyerang dengan tangan kosong, menggunakan Ilmu Silat Long-thouw-kun yang amat lihai.
la merasa sayang sekali bahwa dia kini sudah tidak memiliki senjata apa pun, karena dalam pertandingan mati-matian melawan Bhok Hwesio yang sakti, tiga buah senjatanya rusak semua.
Liong-kut-pian (Cambuk Tulang Naga) pemberian mendiang Bhewakala sudah putus ketika dia berebutan dengan Bhok Hwesio, Pedang Pek-Giok-Kiam pemberian Subooya (ibu Gurunya) patah-patah menjadi tiga potong, sedangkan Pedang Siang-Bhok-Kiam (Pedang Kayu Wangi) yang dia buat di Himalaya hancur remuk, semua berkat kesaktian Bhok Hwesio, lawan yang paling hebat pernah dia tandingi di dunia ini!
Kini dia bertangan kosong dan menghadapi lawan seperti Ketua Hek-San-Pang ini, sungguh tidak menguntungkan kalau hanya dengan tangan kosong.
Terdengar Yosiko berseru kagum dan heran berkali-kali.
Tentu saja dia merasa heran karena pemuda dusun lawannya ini ternyata mampu bermain langkah ajaib yang malah lebih hebat, lebih lengkap dan lebih lincah daripada kepandaiannya sendiri!
Keheranannya membuat dia gugup dan pada saat sabuk sutera putihnya menyambar, ujung sabuk ini kena dicengkeram oleh Yo Wan yang cepat mengirim pukulan jarak jauh dengan pengerahan tenaga ke arah lengan kiri lawan.
Hawa pukulan dahsyat menyambar dan Yosiko berteriak kaget, terpaksa melepaskan sabuk sutera putihnya sambil meloncat mundur sampai tiga meter jauhnya!
Yo Wan berdiri sambil tersenyum, mempermainkan sabuk sutera putih yang halus dan berbau harum itu.
Makin yakinlah hatinya bahwa Yosiko pastilah seorang gadis.
"Bagaimana? Menyerahkah kau sekarang?"
Ujarnya, nadanya mengejek.
Sepasang pipi itu merah padam.
Bukan main, pikirnya.
Dalam waktu kurang dari sepuluh jurus saja, pemuda ini dengan tangan kosong sudah mampu merampas sabuk suteranya!
Padahal tadi Hwat Ki dengan Pedang di tangan tak rnampu merobohkannya sampai puluhan jurus lamanya.
Benar-benar pemuda aneh dah memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.
Bahkan ilmu langkah dari Hwat Ki sekalipun tidak seindah dan sehebat ilmu langkah pemuda yang sederhana ini.
Jantungnya berdebar penuh kekaguman, namun ia masih penasaran dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ia menerjang lagi, kini memutar pedangnya sehingga Pedang itu lenyap berganti gulungan sinar seperti payung di depan dadanya, langsung menerjang Yo Wan.
"Tar-tar-tar-tar-tar!!"
Nyaring sekali ledakan-ledakan kecil ini yang tercipta dari ujung sabuk sutera yang diledakkan seperti cambuk oleh Yo Wan.
Bukan main kagetnya hati Yosiko ketika melihat betapa sabuk suteranya, yang biasanya amat ia andalkan sebagai senjata di samping pedangnya, kini di tangan pemuda itu berubah menjadi senjata yang lebih ampuh lagi.
Sabuk suteranya itu kini berubah menjadi sinar putih yang panjang membentuk lingkaran-lingkaran aneh yang susul-menyusul dan telan-menelan, lingkaran kecil yang ditelan lingkaran lebih besar, berubah-ubah dan sukar diikuti perkembangannya, namun yang dibarengi ledakan-ledakan kecil mengancam semua jalan darah di tubuhnya secara bertubi-tubi!
Tentu saja Yo Wan pandai memainkan sabuk sutera ini sebagai senjata karena memang inilah sebuah di antara ilmu-ilmunya yang sakti, yaitu Ilmu Cambuk Ngo-Sin Hoan-Kun yang merupakan gerakan daripada lingkaran sakti yang terbuat daripada ujung cambuk atau benda lemas panjang.
Kalang kabutlah permainan Pedang Yosiko.
Selama hidupnya, baru kali ini ia mengalami hal macam itu, baru kali ini ia menghadapi lawan yang begini lihainya.
Saking kagetnya, ia sampai lupa akan ilmu pedangnya dan menjadi kacau-balau gerakannya.
Mendadak ia menjerit dan pedangnya "Terbang"
Meninggalkan tangan kanannya karena Pedang itu ternyata telah terlibat sabuk sutera dan terbetot tanpa dapat ia pertahankan lagi.
Kemudian ujung sabuk itu seperti cemeti meledak-ledak dan mencambuknya.
"Aduh...! Ihhh...! Aduhhh...!"
Yosiko berteriak-teriak karena sabuk sutera itu tiap kali berbunyi pasti menghantam tubuhnya, membuat pakaiannya robek di tempat yang dicium ujung sabuk, dan kulitnya menjadi merah-merah dan matang biru, rasanya sepert ditampar atau dicubit keras!
Yo Wan tidak tega untuk merobohkan Ketua Hek-San-Pang ini, akan tetapi dia memang hendak memberi hajaran.
Mengingat bahwa Ketua itu adalah seorang wanita muda, maka dia hanya menggunakan sabuk sutera itu untuk mencambukinya agar kapok!
"Sahabat yang gagah, tolong kau bantu kami menangkap dia!
Dia Ketua bajak, kamu harus menangkapnya untuk dihadapkan kepada Bun-Goanswe di Tai-Goan!"
Tiba-tiba terdengar suara Hwat Ki yang kebetulan pada saat itu sudah sadar.
Pemuda ini meloncat bangun, disusul oleh Cui Kim yang juga sudah sadar.
Memang racun yang dipergunakan oleh Ketua Kipas Hitam dalam jamuan makan tadi hanya racun untuk membikin mabuk orang untuk sementara saja, sama sekali tidak berbahaya, hanya sekedar membuat lawan tidak berdaya.
Begitu sadar dari pingsannya dan melihat betapa Yosiko dicambuki secara aneh oleh pemuda asing yang dia kenal sebagai pemuda di rumah makanj dalam dusun Leng-Si-Bun, Hwat Ki segera| berseru untuk menangkapnya.
Pemuda Lu-Liang-San ini dapat menduga bahwa Yo Wan tentulah seorang Pendekar yang berpihak kepadanya dan memusuhi bajak laut.
Mendengar seruan ini, sejenak Yo Wan bingung dan agaknya kesempatan ini tidak disiasiakan oleh Yosiko.
la telah mengeluarkan sebuah kipas hitam dan ketika ia menekan gagangnya, dari kedua ujung kipas itu menyambarlah sinar hitam ke depan.
"Awas...!!"
Yo Wan berseru dan sekali sabuk sutera putihnya dia gerakkan, Hwat Ki dan Cui Kim roboh oleh sabuk itu, terpelanting karena kaki mereka terlibat dan dibetot.
Yo Wan sengaja melakukan ini karena dapat menduga akan bahayanya sinar hitam itu.
Namun usahanya menyelamatkan kedua orang muda itu membuat dia kurang waspada akan dirinya sendiri.
la sudah mengebutkan tangan kiri menyampok, namun dia merasa pundak kirinya sakit dan panas, maka maklumlah dia bahwa dia telah terkena senjata rahasia yang halus dan beracun.
Rasa panas bercampur rasa gatal membuat dia kaget sekali dan cepat dia melompat ke depan mengejar Yosiko yang lari.
"Berhenti, serahkan obat pemunah racun!"
Teriak Yo Wan marah. Karena Ginkangnya memang jauh lebih menang daripada Yosiko, sebentar saja dia hampir dapat menangkapnya di luar gedung itu. Namun tiba-tiba Yosiko melompat dan...
"Byurrr...!"
Ketua Kipas Hitam itu sudah terjun ke dalam air laut yang berbuih-buih.
Biarpun bukan ahli, namun kalau hanya berenang saja Yo Wan dapat juga."la maklum bahwa tubuhnya sudah terkena senjata beracun, dan Ketua Hek-San-Pang itulah satu-satunya orang yang mempunyai obat penawarnya, maka harus dia tangkap.
Dengan pikiran ini, Yo Wan menjadi nekat dan...
"Byurrr...!!"
Air laut yang hitam gelap itu untuk kedua kalinya muncrat ketika tubuh Yo Wan terjun ke dalamnya.
Yo Wan melihat di bawah sinar bulan yang remang-remang itu lawannya berenang ke tengah di mana terdapat beberapa buah perahu nelayan.
"Hemmm, ke manapun kau lari, jangan harap dapat terlepas dari tanganku,"
Pikirnya dan dia merasa girang ketika mendapat kenyataan bahwa setelah berada agak ke tengah, ternyata laut itu tenang airnya, memudahkan dia berenang melakukan pengejaran.
Perahu-perahu di depan itu adalah perahu yang berlabuh, kelihatannya sunyi dan gelap.
Tak mungkin kalau perahu nelayan berlabuh dalam keadaan gelap dan berada di tengah.
Agaknya perahu-perahu bajak laut.
Yo Wan tidak mempedulikan perahu-perahu itu.
Ke manapun juga Yosiko pergi, akan dia kejar sampai dapat, karena kalau tidak, keadaannya bisa berbahaya.
Mulailah dia menduga-duga.
Agaknya senjata rahasia yang halus itu merupakan jarum-jarum kecil halus yang dapat menembus kulit dan menyusup ke bawah kulit sehingga kalau beracun maka racunnya dapat langsung terbawa oleh darah.
Pundak kirinya mulai terasa kejang-kejang.
Air laut mengurangi rasa sakit, akan tetapi makin lama pundaknya terasa makin kaku dan lengan kirinya hampir tak dapat digunakan lagi.
la berenang mengandalkan kedua kaki dan lengan kanannya sehingga tiap kali tubuhnya miring ke kiri mukanya terbenam ke dalam air.
Akan tetapi girang hatinya karena agaknya Yosiko tak dapat berenang cepat, buktinya sebentar saja dia sudah hampir dapat menyusulnya.
la mengerahkan tenaganya hergerak maju, berseru keras.
"Pangcu dari Kipas Hitam, berhentilah kau berikan obat pemunah racun dan baru aku mau memberi ampun kepadamu!"
Yosiko menoleh dan tertawa, kemudian, tiba-tiba lenyaplah kepala yang tertawa itu.
Yo Wan terkejut.
Celaka, pikirnya.
Apakah orang itu tenggelam?
Jangan-jangan kakinya diseret ikan buas!
Kalau Yosiko kena celaka, berarti dia sendiri pun menghadapi bahaya maut.
Akan tetapi tiba-tiba bulu tengkuknya meremang saking ngeri dan kagetnya ketika dia merasa betapa kakinya terjepit sesuatu dan dia ditarik ke bawah!
Celaka, pikirnya, tentu ikan buas Yosiko menjadi korban ikan buas dan kini ikan-ikan itu mulai menyambar kakinya dan menarik ke bawah.
Cepat dia mengerahkan tenaganya dan menggerakkan kaki sehingga sepatunya terlepas.
Akan tetapi berbareng dengan terlepasnya sepatu kanannya, ikan yang menggigit kakinya itu pun terlepas.
Mendadak ada suara orang tertawa di sebelah belakangnya.
Cepat dia menengok dan...
kiranya Yosiko yang tertawa, mentertawakannya.
"Mana kegagahanmu, Yo Wan? Agaknya di air kau tidak segagah di darat!"
Yo Wan menggerakkan tangan kanan meraih untuk menangkap lawan itu, akan tetapi tiba-tiba kepala itu lenyap lagi.
Yo Wan terkejut dan maklumlah dia bahwa Yosiko kiranya adalah seorang ahli dalam air!
Tentu yang mempermainkannya, yang mencopot sepatunya adalah Yosiko inilah!
Berabe, pikirnya.
Kalau harus bertanding di air, melihat gerakan Yosiko demikian cepatnya, dia pasti takkan berdaya.
Benar saja, Yosiko muncul di sana-sini, main kucing-kucingan, sedangkan Yo Wan sudah payah dan lelah sekali.
Mendadak perahu-perahu yang sunyi dan gelap itu tiba-tiba menjadi terang benderang, agaknya ada tanda rahasia yang membuat orang-orang yang bersembunyi di dalam perahu secara serentak memasang lampu penerangan.
Terdengar teriakan-teriakan gaduh.
"Itu dia! Benar dia kepala bajak Kipas Hitam. Serbu! "Tangkap!"
"Bunuh...!"
"Hadiahnya besar kalau bisa tangkap dia, hidup atau mati!"
"Mari serbu, hadiahnya bagi rata!"
Ramai sorak-sorai itu dan perahu-perahu hitam tadi mulai bergerak mengurung tempat Yo Wan dan Yosiko main kucing-kucingan di dalam air.
Kemudian telinga Yo Wan yang tajam dapat menangkap mengaungnya suara anak-anak panah menyambar.
la terkejut sekali, akan tetapi apa dayanya.
Di dalam air, dia tidak dapat mengelak atau bergerak secepat di darat, apalagi pundak kirinya mulai kena pengaruh racun.
Tiba-tiba...
"Ceppp!"
Pundak kirinya sebelah belakang terkena anak panah yang menancap cukup dalam. Yo Wan mengeluh. Yosiko mengeluarkan seruan kaget.
"Cepat, tahan nafasmu...!"
Suara ini hanya terdengar seperti bisikan di dekat telinga Yo Wan, akan tetapi dia mentaatinya, menahan nafasnya.
Sebagai seorang ahli Iweekeh tentu saja hal ini mudah dilakukannya dan pada saat itu dia merasa betapa tubuhnya ditarik ke bawah permukaan air, lalu dibawa berenang sambil menyelam dengan kecepatan luar biasa.
Beberapa menit kemudian Yo Wan tidak ingat apa-apa lagi.
Yo Wan bermimpi.
la melihat seorang laki-laki sederhana, berpakaian seperti petani, namun berwajah tampan dan bersikap gagah, bersama seorang wanita cantik yang wajahnya diliputi kedukaan.
Mereka tersenyum-senyum kepadanya, melambatkan tangan ketika mereka berjalan meninggalkannya.
"Ayah... Ibu...!"
Yo Wan memanggil, mengeluh karena tidak dapat menggerakkan tubuh untuk mengejar mereka.
la merasa seperti dalam neraka.
Api neraka membakarnya, tenaganya habis dan dia tidak berdaya menyingkir dari api yang mengelilinginya itu.
Dadanya terasa sesak, kepalanya panas dan serasa hanipir meledak.
Sekali lagi dia memanggil Ayah Ibunya untuk minta pertolongan, namun mereka sudah terlalu jauh, hanya tampak bayang-bayang mereka saja, tidak jelas lagi.
Betapapun, Yo Wan masih dapat mengenal mereka, Ayahnya yang gagah berani, Ibunya yang cantik peramah.
Tiba-tiba muncul bayangan seorang gadis jelita.
Sejenak dia bingung dan tidak mengenal siapa gadis ini.
Wajahnya aneh, sebentar seperti Siu Bi, kemudian berubah seperti Lee Si, berubah lagi seperti wajah Bu Cui Kim, akhirnya menjadi wajah Cui Sian.
Girang hatinya.
Berdebar jantungnya.
Mulutnya bergerak hendak memanggil Cui Sian, akan tetapi rasa malu dan rendah diri menahan niatnya.
Cui Sian puteri Raja Pedang, mana bisa disejajarkan dengan dia?
Dia seorang Jaka Lola, miskin dan bodoh.
Mendadak semua bayangan itu ienyap.
Yo Wan kecewa dan menyesal, mencari-cari Cui Sian, namun gadis itu tetap tidak tampak lagi.
Sadarlah dia dari mimpi, sebuah mimpi kacau balau ketika dia pingsan.
Kini terasa betapa tubuhnya panas sekali dan sakit-sakit.
la mengeluh, membuka matanya, heran dan bingung.
Teringat dia kini betapa dia tenggelam, menahan nafas, kemudian dibawa berenang di bawah permukaan air oleh Yosiko.
Otomatis dia menahan nafasnya, takut kalau-kalau air memasuki hidung dan mulut.
Akan tetapi dia tidak merasakan air lagi di sekeliling tubuhnya.
Perlahan dibukanya mata yang tadi dia tutup kembali.
Sekali lagi dia melihat bahwa dia tidak berada di dalam air, kini lebih jelas.
Ada air tampak olehnya, namun di bawah, dan dia rebah di atas sebuah perahu yang bergerak perlahan dan tenang.
Badannya panas seperti terbakar, pundak kirinya sakit sekali.
Teringatlah dia bahwa pundaknya terluka oleh senjata rahasia beracun yang dilepas oleh Yosiko.
Di manakah dia sekarang?
Masih hidupkah perjalanan menuju ke alam baka melalui sungai dan naik perahu?
Kembali dia mengeluh, tenggorokannya terasa haus bukan main.
la mengumpulkan tenaga dalam tubuhnya yang lemas, mencoba untuk bangkit dan duduk.
"Uuhhh..."
Pundak kirinya terasa sakit sekali dan ketika tangan kanannya meraba, kiranya di pundak kiri sebelah belakang masih menancap sebatang anak panah!
Teringatlah kini Yo Wan bahwa sebelum dia tenggelam, ada anak panah yang mengenai pundaknya.
"Ee-e-eee... tidak boleh bangun dulu... kau harus rebah terus, miring kanan..."
Tiba-tiba terdengar suara halus seorang wanita dan jari-jari tangan yang halus pula merangkul pundak kanannya, kemudian dengan tekanan perlahan menyuruh dia rebah kembali, terlentang agak miring ke kanan agar anak panah di pundak kirinya tidak menyentuh lantai perahu.
Yo Wan serasa mengenal suara ini, dan ini membuat hatinya kecewa.
Ketika untuk pertama kali mendengar suarYo Wanita tanpa melihat orangnya, sepenuh hatinya dia mengharapkan bahwa orang itu Cui Sian adanya.
Akan tetapi kini dia merasa pasti bahwa itu bukanlah suara Cui Sian, dan kenyataannya ini mengecewakan hatinya.
Suara siapakah?
Serasa mengenalnya, akan tetapi dia tidak dapat memastikan siapakah wanita ini.
Setelah rebah, dia memutar leher dan memandang.
Seorang gadis cantik jelita sedang sibuk mendayung perahu itu.
Gadis itu memandangnya dengan Bibir tersenyum dan mata bersinar-sinar.
Mata itu!
la tidak mengenal wajah ini, akan tetapi dia mengenal benar mata itu.
Di mana gerangan?
Dan suara itu!
Payah Yo Wan mengingat-ingat, namun dia tetap tidak tahu di mana dan bila rnana dia pernah mendengar suara ini dan melihat mata itu.
Rasa panas menyesakkan nafasnya.
"Uhh-uhhh... panas... haus..."
Bisiknya. Gadis itu dengan gerakan perlahan menancapkan sebatang bambu panjang ke bagian yang dangkal di pinggir sungai dan perahu itu kini terikat pada bambu. Kemudian dia menghampiri Yo Wan.
"Haus? Minumlah ini, jangan banyak-banyak. Kau terserang demam, akan tetapi tidak berbahaya, jangan khawatir. Nanti setelah tiba di hutan Jeng-hwa-lim (Hutan Seribu Bunga), di sana banyak obat untuk mengusir demam, juga untuk menahan keluarnya darah. Karena itu, biar sementara kita diamkan anak panah itu, sesampainya di sana baru dicabut."
Gadis itu bicara dengan halus dan ramah seakan-akan mereka sudah menjadi kenalan baik sejak bertahun-tahun.
Tiada canggung, tiada keraguan, tidak sungkan-sungkan lagi.
Siapakah gadis jelita ini?
Matanya begitu tajam dan bening, bersinar-sinar seperti bintang pagi yang pada saat itu masih berkedap-kedip di angkasa, menghias pagi yang dingin.
Hidungnya kecil mancung, menjadi imbangan yang manis dari Bibirnya yang lunak, merah dan berbentuk indah.
"Kau siapakah, Nona?"
Tak tahan lagi Yo Wan bertanya, matanya memandang wajah itu, akan tetapi keningnya berkerut-kerut menahan sakit.
Sebelum menjawab, gadis itu mengulurkan tangan kanannya.
Gerakan ini membuat ujung lengan bajunya tersingkap dan tampaklah lengannya yang berkulit putih halus sampai ke siku membayangkan di balik lengan baju.
Jari-jarinya kecil meruncing dengan kuku mengkilap terpelihara.
Tangan halus itu dengan gerakan lembut dan mesra menyentuh dahi Yo Wan seperti biasanya orang hendak melihat panas seorang terserang demam.
Kemudian dicabutnya sehelai saputangan merah muda dari balik bajunya dan dihapusnya dahi yang penuh keringat itu, terus ke pipi dan leher Yo Wan.
Biarpun sedang menderita demam dan sakit, perbuatan ini membuat jantung Yo Wan berdebar jengah dan malu.
Siapakah gadis ini yang begini mesra dan begini telaten merawathya?
"Kau...
kau siapa...?"
Tanyanya lagi.
"Kau minum dulu ini, bukankah tadi kau bilang haus?"
Kata si gadis yang tanpa ragu-ragu menyorongkan lengan kirinya yang kecil ke bawah leher Yo Wan, mengangkat kepala pemuda itu ke atas sedikit, kemudian tangan kirinya mendekatkan sebuah cawan ke mulut Yo Wan.
Pemuda ini merasai hal yang aneh di dalam hatinya.
Seluruh isi dadanya serasa bergejolak, darahnya berdenyar-denyar dan bergelora.
Betapa tidak?
Biarpun usia Yo Wan sudah cukup dewasa, sudah dua puluh delapan tahun, namun baru kali ini lehernya dirangkul lengan seorang wanita!
Kepalanya seakan-akan bersandar kepada pundak dan dada orang, hidungnya mencium keharuman yang asing baginya, dan hampir saja dia tidak sanggup menelan air yang diminumnya karena tenggorokannya serasa tercekik.
Namun, sebagai seorang ahli tapa, dia dapat menenteramkan hatinya dan biarpun dia sedang menderita sakit, dia dapat merasa betapa lengan kiri yang lembut dan kecil halus itu mengandung tenaga yang hebat!
"Siapakah kau, Nona?"
Tanyanya lagi setelah gadis itu merebahkannya kembali.
Si gadis tersenyum.
Dekik kecil pada ujung mulut sebelah kiri membuatnya manis sekali.
Dekik pipi kiri ini mengingatkan Yo Wan akan sesuatu, akan tetapi dia tidak tahu benar apa dan siapakah "Sesuatu"
Itu.
Hanya dia merasa pasti bahwa dekik ini bukan baru sekarang dia lihat!
"Apakah kau tidak bisa menduga?
Aku adalah adik dari Ketua Kipas Hitam!
Kau terluka dan hampir celaka di laut, kakakku menolongmu, kemudian menyerahkan kepadaku untuk merawatmu sampai sembuh."
Yo Wan memandang penuh perhatian.
Salahkah dugaannya?
Betulkah Yosiko Ketua Kipas Hitam itu mempunyai seorang adik perempuan?
Wajahnya serupa benar dan kini teringatlah dia bahwa sinar mata dan dekik pada ujung mulut itu dia lihat pada wajah Yosiko!
Hemmm, gadis ini adalah Yosiko sendiri, dia hampir merasa pasti akan hal itu.
Hanya ada sebuah kemungkinan, yaitu bisa juga gadis ini adiknya, akan tetapi adik kembar.
Hanya adik kembar yang mempunyai persamaan seperti ini, bagai pinang dibelah dua.
Akan tetapi, andaikata benar adiknya, mengapa begini hebat?
Sebaliknya, apabila gadis ini adalah Yosiko sendiri, mengapa harus seaneh ini sikapnya?| la tidak mau meributkan soal itu, mengingat akan keadaannya.
Akan tetapi diapun tidak mau berhutang budi kepada kepala bajak.
Dengan menahan rasa sakit, Yo Wan bangun lagi, tidak peduli akan cegahan gadis itu.
"Eh, jangan bangun... kau mau apa...?"
Gadis itu bertanya, memegang lengannya.
"Aku... aku harus pergi dari sini."
"Eh, jangan! Kau masih terluka hebat, racun di pundakmu belum keluar habis, dan anak panah itu berbahaya sekali. Kau hendak pergi dari sini, pergi kemanakah?"
"Aku harus menolong muda-mudi dari Lu-Liang-San. Di mana mereka? Dan apa yang terjadi?"
Kini mereka duduk berhadapan di atas perahu dan terlihatlah kini dengan jelas oleh Yo Wan bahwa gadis di depannya itu benar cantik jelita, akan tetapi pada wajah yang elok itu terbayang sifat liar dan terbuka, bebas dan lincah seperti terdapat pada wajah Siu Bi si gadis liar dari Go-Bi-San.
Gadis ini masih muda, takkan lewat dua puluh tahun usianya.
Melihat kulit muka dan kulit tangan yang agak gelap dapat diduga bahwa gadis ini banyak berada di alam terbuka, banyak terkena sinar matahari.
Bagian yang paling menarik pada wajahnya adalah mata dan mulut.
Mendengar pertanyaan Yo Wan tentang muda-mudi dari Lu-Liang-San, mata gadis itu berkilat.
"Bocah-bocah kurang ajar itu! Menyesal mengapa aku tidak membunuh mereka saja. Hemmm, semestinya kakakku membunuh mereka dan melempar mayat mereka ke laut agar menjadi makanan ikan hiu, ketika mereka kena tawan!"
Yo Wan mengerutkan kening.
Benar-benar gadis ini seperti Siu Bi, liar, ganas.
Akan tetapi, ucapan itu melegakan hatiriya karena kegemasan gadis itu sudah jelas menyatakan bahwa muda-mudi Lu-Liang-San itu tidak tewas, mungkin sudah bebas.
Kelegaan hati ini membuatnya tersenyum, tapi karena pundaknya terasa nyeri, senyumnya menjadi senyum menyeringai masam.
"Apa yang terjadi? Siapakah orang-orang di dalam perahu yang menyerang kita... eh, yang menyerang aku dan... kakakmu?"
"Mereka itu adalah orang-orang yang dipimpin oleh Jenderal Bun di Tai-Goan dipimpin oleh putera jenderal itu sendiri. Mereka berusaha hendak menangkap... kakakku. Hemmm, tikus-tikus itu mana mampu menangkap Ketua Kipas Hitam? Apalagi membasmi Kipas Hitam! Kau lihat saja betapa kami akan menghancurkan mereka nanti."
Diam-diam Yo Wan terkejut.
Kiranya mereka yang menyergap dia dengan Yosiko, yang telah melukai pundaknya, adalah orang-orang pemerintah yang bermaksud membasmi bajak laut.
Dan dalam kegelapan malam tentu saja dia yang bersama-sama dengan Yosiko disangka bajak pula!
Diam-diam dia mengeluh.
"Dan mereka itu, muda-mudi Lu-Liang-San itu, bagaimana dengan mereka?"
"Uh, mereka? Biar dimakan setan rieraka mereka itu. Mereka bergabung dengan orang-orang Tai-Goan, menyebar kematian di antara anak buah kami. Awas kalau mereka terjatuh ke tanganku!"
Yo Wan girang sekali.
Tak salah dugaannya dan tak salah ketika dia membantu muda-mudi Lu-Liang-San itu.
Mereka adalah Pendekar-Pendekar muda yang perkasa, sedangkan Yosiko, dan...
adiknya ini kalau benar adiknya, serta semua anak buahnya adalah bajak laut-bajak laut yang ganas dan patut dibasmi.
Berpikir demikian, tiba-tiba dia merasa malu.
Mengapa dia harus membiarkan dirinya dirawat oleh seorang peminipin bajak laut?
Kalau para Pendekar kang-ouw mengetahuinya, alangkah akan rendah dan malunya.
Pikiran ini membuat dia serentak bangkit.
Gadis itu kaget.
"Eh, mau apa kau? Mau ke mana?"
"Aku harus pergi dari sini! Harus!"
La mengeluh karena pundak kirinya sakit sekali.
Dengan tangan kanan dia meraba ke belakang pundak kiri, memegang gagang anak panah dan mengerahkan tenaga mencabutnya.
Anak panah tercabut, darah muncrat keluar dan gadis itu menjerit berbareng dengan robohnya tubuh Yo Wan, pingsan di atas perahu!
Gadis itu cepat menerima tubuhnya sehingga tidak sampai terbanting, lalu dengan cekatan dan kelihatan ringan sekali dia memondong tubuh Yo Wan ke darat dan berlari-larilah gadis itu menuju ke sebuah hutan yang penuh dengan bunga, hutan Jeng-hwa-lim.
Bagaikan berlarian di dalam taman bunga miliknya sendiri, gadis itu dengan cepatnya menuju ke sebuah gua yang berada di hutan ini.
indah sekali tempat ini.
Letaknya tepat di tepi Sungai Kuning yang terjun ke dalam air Laut Po-Hai, lembah yang subur dan indah.
Air sungai yang amat tenang itu mengalir tak jauh di depan gua.
Apa yang diceritakan oleh gadis itu kepada Yo Wan memang tidak bohong.
Orang-orang di dalam perahu-perahu sunyi gelap pada malam hari itu, bukan lain adalah orang-orang Bun-Goanswe yang berusaha membasmi dan menangkap Ketua bajak laut, dipimpin sendiri oleh Bun Hui, pemuda putera Bun-Goanswe yang tampan dan gagah perkasa.
Adapun Hwat Ki dan Cui Kim, ketika sadar daripada pengaruh obat memabukkan di dalam gedung tempat tinggal Ketua Kipas Hitam, roboh kembali oleh Yo Wan yang menyelamatkan mereka dari sambaran senajata-senjata rahasia ampuh dan berbahaya yang dilontarkan oleh si Ketua Kipas Hitam.
Namun sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, Hwat Ki dan sumoinya sudah meloncat bangun lagi.
Mereka tahu bahwa pemuda sederhana yang membantu mereka itu telah terluka dan kini mengejar Yosiko, maka serentak mereka berdua pun meloncat melakukan pengejaran.
Akan tetapi begitu tiba di depan gedung, mereka dihadang oleh banyak sekali anak buah bajak laut Kipas Hitam yang bersenjata lengkap.
Kemarahan Hwat Ki dan sumoinya memuncak.
Mereka tadi sudah memungut Pedang masing-masing dan kini sambil berseru marah muda-mudi Lu-liang-pai ini mengamuk.
Pedang mereka berkelebatan bagaikan dua ekor naga sakti yang menyambar-nyambar.
Namun para pengeroyok mereka ternyata bukan orang-orang sembarangan pula.
Barisan bajak yang mengeroyok mereka berdua dipimpin oleh tiga orang Kakek yang tadi dikalahkan Yo Wan.
Agaknya maklum bahwa yang hendak dikeroyok adalah dua orang muda perkasa, maka yang maju adalah anggota-anggota bajak laut pilihan yang sedikit banyak sudah memiliki kepandaian silat lumayan.
Seorang demi seorang, para bajak laut itu mulai roboh.
Akan tetapi yang datang membantu jauh lebih banyak daripada yang roboh, sedangkan muda-mudi Lu-liang-pai ini masih agak pening karena pengaruh racun tadi, maka keduanya lalu beradu punggung dan mempertahankan diri dari hujan senjata dari kanan kiri.
Mereka dapat merobohkan seorang dua orang, akan tetapi tidak mampu keluar dari kepungan yang makin tebal itu.
Agaknya para bajak sudah mendapat instruksi dari atasannya untuk bertahan sampai dua orang itu dapat ditangkap atau dibunuh.
Keadaan ini bukan tidak berbahaya.
Hwat Ki maklum akan hal ini maka sambil mengeluarkan teriakan keras dia menubruk maju, tangan kirinya menggunakan pukulan-pukulan Cheng-tok-ciang dan terdengarlah pekik berturut-turut ketika empat orang roboh oleh pukulan dahsyat ini!
Akan tetapi, pukulannya yang dahsyat dan berhasil baik ini ternyata malah mendatangkan malapetaka, karena tiga orang Kakek itu yang melihat akan hebatnya Cheng-tok-ciang, lalu memberi aba-aba dan kini para bajak menggunakan obor untuk mengurung Hwat Ki dan Cui Kim!
Pucat wajah kakak beradik seperguruan ini.
Menghadapi senjata-senjata tajam dari para pengeroyok, mereka masih mampu mempertahankan diri.
Akan tetapi kalau begitu banyaknya pengeroyok menggunakan api untuk menyerang, celakalah mereka!
"Sumoi, terjang ke kiri, cari jalan keluar melalui darah mereka!"
Teriak Hwat Ki kepada adik seperguruan itu.
la mendapatkan akal untuk menggabung tenaga menerjang ke kiri, membuka jalan berdarah.
Cui Kim mengerti akan maksud Suhengnya, maka dia segera memutar pedangnya sedemikian cepatnya sehingga seorang pengeroyok yang tidak sempat menangkis, terbabat putus bahu kiri berikut lengannya.
Orang itu menjerit ngeri dan roboh.
Akan tetapi Cui Kim terpaksa meloncat mundur lagi karena ada empat orang yang menyorongkan obor kepadanya.
la merasa ngeri juga dan takut.
Api adalah benda yang amat berbahaya Sekali mencium ujung pakaiannya, akibatnya tentu amat mengerikan.
Hwat Ki juga berhasil merobohkan dua orang, akan tetapi para bajak itu ternyata dipimpin oleh orang-orang yang pandai juga, karena agaknya mereka tahu akan niat dua orang muda ini sehingga begitu mereka berdua menerjang ke kiri, bagian ini diperkuat sehingga sukarlah untuk membobolkannya.
"Gunakan jala!!"
Tiba-tiba terdengar perintah dan para bajak itu kini menyeret jala ikan.
Ketika mereka mulai menggunakan benda ini, Cui Kim dan Hwat Ki makin kaget.
Kiranya jala ikan itu mereka lemparkan ke arah kaki kakak beradik ini.
Hwat Ki dan Cui Kirn cepat meloncat, akan tetapi obor-obor menyala menyambut mereka sehingga terpaksa mereka turun lagi menginjak jala.
Dapat dibayangkan sukarnya orang bersilat di atas jala-jala ikan yang malang-melintang.
Tiba-tiba terdengar Cui Kim memekik karena gadis ini terlibat kakinya dan terguling!
Seorang bajak laut cepat menubruk maju, karena para bajak yang terdiri dari orang-orang kasar dan liar itu di dalam hati saling berlomba untuk dapat raenangkap si gadis cantik dari Lu-Liang-San agar sebelum menyerahkannya kepada ketua, mereka dapat memuaskan kekurang ajaran mereka.
Bajak yang menubruk maju ini berseru girang karena dia merasa menang dalam perlumbaan ini, lebih dulu memeluk Cui Kim.
Akan tetapi seruan girang itu berubah seketika pekik mengerikan ketika lehernya ditembusi Pedang yang berada di tangan Cui Kim.
Sebagai seorang anak murid Lu-liang-pai yang terkasih, tentu saja gadis ini bukan seorang gadis sembarangan.
Biarpun dia sudah terlibat dan jatuh terguling, namun dalam robohnya dia sudah dapat membalikkan tubuh dan bersiap dengan pedangnya.
Maka begitu ada bajak yang menubruknya, pedangnya bergerak dan berhasil menusuk tembus leher si bajak, sehingga bajak itu tewas seketika sambil membawa nafsu kekurang-ajarannya ke neraka!
Cui Kim kaget sekali ketika pedangnya sukar dicabut kembali.
Agaknya Pedang ini menembus tulang, maka tidaklah begitu mudah dicabut, padahal pada saat itu, tiga orang bajak yang melihat kawannya mati dalam keadaan mengerikan, segera maju dengan obor dan golok di tangan.
Cui Kim sudah meramkan mata menanti datangnya maut, akan tetapi ia segera membuka matanya kembali ketika di sampingnya roboh berdebukan tiga orang bajak laut itu.
Cepat ia bangkit berdiri dan sekuat tenaga menarik pedangnya, sambil melirik girang kepada Suhengnya yang dapat menolongnya dalam waktu yang tepat.
Akan tetapi Suhengnya kelihatan lelah sekali, juga dia merasa amat lelah biarpun kini berhasil membebaskan kakinya dari libatan jala.
Pada saat kedua orang jago muda dari Lu-liang-pai ini amat terancam kedudukannya, tiba-tiba terdengar sorak-sorai yang riuh-rendah dan kacaulah barisan para bajak laut.
Mereka yang mengeroyok Hwat Ki dan Cui Kim makin berkurang dan akhirnya sisa dari mereka yang roboh tewas, membuang obor mereka dan melarikan diri, menghilang ke dalam gelap setelah terdengar tanda suara seperti terompet.
Apakah yang terjadi?
Selagi Hwat Ki dan Cui Kim menduga-duga dengan hati lega karena terbebas daripada bahaya, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang memegang Pedang yang berlepotan darah.
"Saudara Hwat Ki...! Syukur kau dan sumoimu selamat...!"
"Eh, Bun-Lote (adik Bun)! Kiranya kau yang menolong kami? Dengan siapa kau datang?"
Kata Hwat Ki gembira ketika mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Bun Hui.
"Dengan pasukan khusus dari Tai-Goan, dibantu pasukan dari Cin-an! Bajak laut Kipas Hitarn itu harus dibasmi, mereka mengganas di mana-mana. Kau melihat Ketuanya? Di mana dia?"
"Lari, tadi dikejar oleh saudara baju putih yang lihai. Mudah-mudahan tertangkap,"
Kata Hwat Ki.
"Ke mana larinya?"
"Ke sana!"
Kata Cui Kim yang juga girang melihat putera jenderal ini, yang pernah ia jumpai ketika pemuda itu naik ke puncak Lu-Liang-San untuk bertemu dengan Suhunya.
"Mari kita kejar!"
Mereka bertiga mengejar ke luar dan ternyata di sekitar tempat itu sudah penuh dengan anak buah yang dibawa Bun Hui.
Akan tetapi ketika mereka tiba di tepi laut di mana anak buah Bun Hui dengan perahu-perahu mereka mengepung Yosiko, mereka kecewa mendengar betapa Ketua Kipas Hitam itu berhasil melenyapkan diri sambil menyelam.
Yang amat khawatir dan kaget hatinya adalah Hwat Ki dan Cui Kim.
Mereka mendengar dari orang-orang Kerajaan ini bahwa mereka berhasil memanah seorang pemuda, entah Ketua Kipas Hitam entah bukan karena tadinya ada dua orang pemuda yang berenang seakan-akan berkejaran atau hendak melarikan diri.
Hwat Ki dan sumoinya khawatir, jangan-jangan penolong mereka itu yang terkena anak panah!
Mereka semua harus terus melakukan pengejaran dan mencari-cari.
Hwat Ki dan sumoinya memisahkan diri, juga mereka berdua mencari.
Kalau Bun Hui dan para anak buahnya mencari jejak para bajak laut yang hendak mereka basmi, adalah kedua orang muda dari Lu-Liang-San ini mencari jejak pemuda baju putih yang telah menolong mereka.
Mereka berdua dapat membayangkan betapa berbahayanya keadaan mereka ketika mereka roboh oleh makanan yang mengandung racun.
Mereka sudah pingsan dan tidak berdaya sama sekali.
Entah apa yang akan dilakukan oleh Ketua Kipas Hitam kepada mereka dalam keadaan pingsan itu.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya kalau saja tidak muncul pemuda baju putih yang demikian aneh, yang tadinya sudah mereka lihat di dalam restoran di dusun Leng-Si-Bun.
Melihat cara pemuda pakaian putih itu menggempur Yosiko dan membuat Ketua Kipas Hitam itu terdesak hebat, sudah membuktikan bahwa pemuda baju putih itu lihai bukan main.
Mereka mencari terus, mencari di sepanjang lembah Huang-Ho, menyusuri pantai Sungai Kuning ini.
Sementara itu, Yo Wan sadar dari pingsannya.
Tubuhnya terasa enak dan nyaman, akan tetapi lemas sekali.
Cepat dia ingat akan segala peristiwa yang menimpa dirinya, maka segera dibukanya matanya.
Heran dia ketika mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan yang terbuat dari kayu kasar sederhana, dan berada di dalam sebuah gua yang gelap.
Akan tetapi harus dia akui bahwa gua ini bersih sekali, kering dan dari luar masuk bau semerbak harum dibawa oleh siliran angin.
Ketika dia melihat tubuhnya, dia merasa heran sekali karena bajunya sudah terganti dengan baju baru yang berwarna putih, terbuat dari sutera.
Baju ini bersih dan baru, jauh bedanya dengan bajunya sendiri yang sudah agak kumal.
Juga sepatunya yang lenyap ketika dia bergumul dengan Yosiko di dalam laut, kini telah mendapat pengganti berupa sepatu baru yang mengkilap.
Yo Wan terheran-heran.
Tentu gadis adik Yosiko itu yang memberi semua ini, karena dia sudah teringat akan peristiwa di atas perahu.
Tiba-tiba wajahnya menjadi merah sekali.
Tak mungkin!
Siapa yang menggantikan pakaiannya selagi dia pingsan?
Apakah gadis jelita itu?Teringat akan ini, Yo Wan melompat bangun, jantungnya berdebar-debar.
la mengeluh karena merasa jantung dan isi dadanya seakan-akan ditusuk-tusuk pisau.
Tiba-tiba dia terbatuk dan darah segar menyembur keluar dari mulutnya.
Terdengar suara kaki berlari-lari ringan memasuki gua.
Gadis jelita itu masuk, bagaikan dewi.
Akan tetapi yang sedang cemas, matanya yang indah terbelalak, kedua tangannya berkembang, dan mulutnya yang kecil berseru kaget.
"Ah, kau sudah sadar... jangan berdiri, berbaringlah dulu. Yo Wan, kau terluka parah...!"
Hanya dengan pengerahan tenaga dalamnya Yo Wan dapat menahan dorongan dari dalam untuk batuk dan mun-tah darah.
la kaget bukan main dan tahulah dia bahwa dia betul-betul telah menderita luka yang hebat di sebelah dalam tubuhnya.
Akan tetapi dia merasa malu kalau harus berbaring lagi, malu karena gadis ini sudah menggantikan pakaiannya.
Sungguh tak tahu malu!
Wajahnya menjadi merah sekali dan hampir dia tidak berani menentang pandang mata itu.
"Aku... aku harus pergi..."
Ia memaksa Bibirnya berkata demikian, sungguhpun hatinya merasa tidak enak.
Gadis itu sudah begitu baik kepadanya, agaknya sudah mengobati luka di pundaknya karena pundak itu tidak terasa sakit lagi.
Dengan tenang akan tetapi ramah dan bebas, gadis itu melangkah dekat, memegang tangan Yo Wan sambil menuntunnya setengah memaksa, duduk di atas pembaringan kayu.
Yo Wan merasa halusnya kulit tangan, kehangatan yang keluar dari jari-jari tangan kecil itu menjalari seluruh tubuhnya, membuat dia menjadi makin bingung dan memaksanya untuk tidak membantah.
"Yo Wan, ketahuilah. Biarpun luka di pundakmu sudah tidak berbahaya lagi, akan tetapi agaknya anak panah itu terlalu dalam menghunjam di tubuhmu, mungkin melukai bagian penting dalam dadamu. Tadi kaumuntahkan banyak darah, sudah kubersihkan, terpaksa kuganti pakaianmu dengan pakaian bersih. Tapi Sekarang kau batuk-batuk lagi. Kau berbaringlah! Aku bukan ahli pengobatan, akan tetapi aku maklum bahwa dalam keadaan seperti ini, tak baik kau mengerahkan tenaga dan menggerakkan tubuh. Lebih baik kau berbaring, biar kuberi minuman yang mengandung khasiat menguatkan tubuh, kemudian akan mencari seorang tabib yang pandai untuk mengobatimu."
Mendengar ucapan ini, diam-diam Yo Wan kaget dan bingung. Omongan gadis ini sama sekali tidak mengandung maksud buruk, bahkan amat baik dan membuat dia berhutang budi.
"Kenapa... kenapa kau melakukan hal ini kepadaku?"
Tanyanya, suara lemah, akan tetapi karena maklum akan kebenaran kata-kata gadis itu, dia tidak membantah lagi dan membaringkan tubuhnya.
Gadis itu memandang kepadanya, agaknya terheran mengapa Yo Wan masih bertanya macam itu.
Akan tetapi ketika pandang mata mereka bertemu, tiba-tiba warna merah menjalar ke arah kedua pipi sampai ke telinga, dan...
aneh sekali, gadis itu menundukkan muka sambil menyembunyikan senyum dikulum.
Apa-apaan ini, pikir Yo Wan, namun jantungnya berdebar lagi sehingga dia harus cepat-cepat mengerahkan Sinkang untuk menekan perasaannya yang berdebar dan yang akan menjadi bahaya bagi keselamatannya.
"Yo Wan, kau telah mengalahkan Ketua Kipas Hitam, ingat? Kepandaian kakakku itu bukan apa-apa bagimu, kau jauh lebih lihai, sepuluh kali lipat lebih lihai daripada kakakku. Karena itu, sudah sewajarnya dan seharusnya kalau aku merawatmu."
Yo Wan meramkan mata, mengingat-ingat.
Teringat dia akan ucapan Yosiko ketika hendak bertanding menghadapi Hwat Ki.
Yosiko menyatakan bahwa adik perempuannya menghendaki jodoh yang dapat mengalahkan Yosiko!
Dan kini, adik Yosiko ini agaknya kagum akan kepandaiannya.
Celaka!
Hampir Yo Wan melompat bangun, kalau saja tidak merasa betapa dadanya yang sebelah kiri sakit.
Ini hanya berarti bahwa gadis liar dan bebas ini...
telah memilihnya sebagai calon jodoh!
Ah, gerak-gerik gadis ini!
Sepasang mata dan senyum itu!
Salahkah dugaannya bahwa Yosiko Ketua Kipas Hitam adalah penyamaran gadis ini?
Akan tetapi mengapa gadis ini mengaku sebagai adik Ketua Kipas Hitam?
Andaikata betul gadis ini adiknya, dapat dipastikan bahwa mereka tentulah saudara kembar, karena serupa benar wajah dan gerak-geriknya.
Hanya pakaian saja yang berbeda!
Sambil berbaring di atas dipan kayu itu.
Yo Wan mengingat-ingat.
Hatinya girang kalau dia teringat akan muda-mudi dari Lu-Liang-San itu, terutama melihat betapa Tan Hwat Ki, Cucu Raja Pedang, ternyata adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, patut menjadi Cucu Raja Pedang, patut menjadi keponakan...
Cui Sian!
Berpikir sampai di sini, mendadak saja semua lamunannya lenyap, yang tampak dan teringat hanya gadis puteri Raja Pedang itu, Cui Sian!
"Mengapa?
Sakit sekalikah rasanya?
Kau mengasolah, biar besok aku pergi mengundang seorang tabib yang pandai."
Yo Wan tidak menjawab, hanya mengangguk, akan tetapi keningnya berkerut.
la telah dirawat oleh keluarga bajak laut yang mengganas di pesisir Laut Po-Hai!
la berada di tangan orang jahat, akan tetapi "Orang jahat"
Itu justru merawat lukanya akibat serangan anak panah seorang anggota pasukan pemerintah!
Gadis ini mencurigakan sekali.
Apa alasannya merawat dia yang terang-terang memusuhi Ketua Kipas Hitam?
Tak mungkin!
Gadis ini amat cantik jelita, dan kalau benar adik Ketua Kipas Hitam, berarti seorang yang memiliki kedudukan, biarpun hanya menjadi Ketua Hek-San-Pang.
Mana mungkin seorang gadis jelita seperti ini mencintainya!
Lalu apa kehendaknya?
Merawat seorang musuh.
Tentu ada apa-apa yang tersembunyi di balik perawatan ini.
Mendadak dia merasa amat mengantuk.
Rasa kantuk yang tak tertahankan.
Ingat dia akan obat yang diminumnya tadi, yang diminumkan oleh gadis itu.
Kecurigaannya makin menebal.
Jangan-jangan dia diberi minum obat bius.
Ia ingin melompat, menangkap gadis itu dan memaksanya membuat pengakuan.
Akan tetapi rasa kantuknya tak dapat dia tahan lagi dan di lain saat Yo Wan sudah jatuh pulas.
Suara orang bercakap-cakap dengan bisikan-bisikan lirih membuat dia sadar dari tidurnya.
Akan tetapi Yo Wan tidak segera membuka mata, melainkan memperhatikan percakapan itu dengan heran.
Ada dua orang bicara, seorang adalah gadis yang merawatnya, yang seorang lagi tentu seorang wanita pula, suaranya merdu dan tekanan kata-katanya tegas.
"Ia kelihatan lemah, aku tidak percaya..."
Kata suara ke dua.
"Pernahkah aku membohong?"
Kata suara si gadis, manja dan marah.
"Ia hebat, kau sendiri takkan mampu menang..."
"Hemmm, sebelum mencoba, mana aku bisa percaya obrolanmu?"
Yo Wan membuka sedikit pelupuk matanya.
Dari balik bulu matanya dia melihat pakaian-pakaian tergantung di atas, agaknya pakaian-pakaian yang baru habis dicuci.
Terlihat olehnya pakaiannya sendiri, dan pakaian sutera putih, pakaian Yosiko!
Ah, lagi-lagi pakaian Ketua Kipas Hitam, kalau pakaiannya berada di sini, bahkan bisa memberi pinjam pakaian kepadanya, orangnya tentu di sini pula.
Dan siapa lagi kalau bukan gadis ini orangnya?
"Tampan sekali dia tidak, juga tidak muda lagi, sedikitnya enam tujuh tahun lebih tua dari padamu...
hemmm, aku khawatir kau salah pilih..."
"Lihat, dia sadar..."
"Biar kucoba dia!"
Yo Wan cepat menggunakan Ginkangnya untuk membuang tubuhnya dari atas pembaringan ketika dia mendengar desir angin pukulan yang menggetar-getar.
Angin pukulan itu tidak mengenai dirinya, menyambar pembaringan kayu, akan tetapi tidak menimbulkan kerusakan pada pembaringan itu, melainkan tikar yang menjadi tilam pembaringan seperti tertiup angin.
Diam-diam Yo Wan terkejut.
Lweekang wanita itu hebat, akan tetapi jelas bahwa Wanita itu tidak mengirim pukulan maut, mungkin inilah yang dimaksudkan dengan mencoba atau mengujinya!
Cepat dia membalikkan tubuh dan memandang.
Kiranya di samping gadis itu berdiri seorang wanita setengah tua yang cantik pula, sikapnya keren, sepasang matanya tajam membayangkan kekerasan hati, bentuk mukanya serupa benar dengan gadis itu, dan di punggung wanita setengah tua ini tersembul gagang sebuah pedang.
Yang amat berbeda dengan gadis itu adalah pakaiannya.
Kalau gadis itu mengenakan pakaian serba putih dengan hiasan warna merah muda, wanita setengah tua itu pakaiannya serba hitam.
Yo Wan hendak bertanya, namun dia tidak diberi kesempatan lagi karena Wanita itu sudah menerjangnya dengan Pedang di tangan.
Serangan-serangannya hebat dan ganas sekali, namun amat indah seperti orang menari-nari.
Menyaksikan ilmu Pedang ini, jantung Yo Wan berdebar.
Ilmu Pedang hebat!
Serupa benar dengan ilmu Pedang yang pernah dilihatnya dalam permainan Pedang Cui Sian.
Indah seperti tarian, namun mengandung daya serang yang amat ganas!
Dan gerakan kaki itu!
Jelas adalah inti dari Ilmu Langkah Hui-thian-jip-te, yang merupakan cabang dari Ilmu Langkah Kim-Tiauw-kun.
Siapakah wanita ini?
Karena dia bertangan kosong, Yo Wan terpaksa mainkan langkah-langkah ajaib untuk menyelamatkan diri.
Ruangan dalam gua itu remang-remang, hanya diterangi oleh sinar penerangan pelita sumbu minyak sederhana, maka untuk menyelamatkan diri tidak cukup mengandalkan penglihatan yang menjadi silau oleh berkelebatnya kilatan pedang.
Namun Yo Wan telah memiliki kepandaian yang tinggi, dengan perasaannya yang peka dan pendengarannya yang tajam dia dapat mengetahui dari mana senjata lawan menyambar dan bagaimana sifat-sifat penyerangan lawannya yang cukup lihai ini.
Berkali-kali wanita setengah tua itu mengeluarkan ucapan heran menyaksikan betapa Yo Wan selalu dapat menghindarkan serangannya, dari sikap heran menjadi penasaran, kemudian menjadi marah.
Hal ini terbukti pada serangannya yang makin gencar dan sungguh-sungguh, bahkan kini setiap sambaran pedangnya merupakan jurus-jurus maut.
Yo Wan terkejut dan khawatir.
la merasa betapa nyeri di dalam dadanya masih hebat, punggungnya terasa panas dan setiap gerakan yang membutuhkan pengerahan tenaga agak banyak, terasa darah segar naik ke kerongkongannya.
la maklum bahwa untuk membalas serangan wanita galak ini, tidaklah mungkin tanpa membahayakan lukanya sendiri, maka terpaksa dia hanya dapat mengelak dan seratus prosen mengandalkan keampuhan langkah-langkah ajaib Si-Cap-It Sin-Po.
Masih untung bagi Yo Wan bahwa ruangan dalam gua itu cukup luas sehingga dengan leluasa dia dapat mainkan Si-Cap-It Sin-Po.
Dan lebih untung lagi bahwYo Wanita setengah tua ini agaknya hanya paham Ilmu Langkah Hui-thian-jip-te yang tentu saja tidak seluas Si-Cap-It Sin-Po yang mempunyai ragam sebanyak empat puluh satu langkah.
Hui-thian-jip-te hanya mempunyai dua puluh empat langkah.
Dengan demikian, maka sebegitu jauh Yo Wan selalu masih dapat meloloskan diri, sungguhpun kadang-kadang dia seperti telah terkurung dan hanya bisa lolos melalui lubang jarum!
Makin lama gerakan Yo Wan makin lemah karena rasa nyeri dalam dada dan di punggungnya makin menghebat.
la telah mempertahankan diri sampai lebih dari lima puluh jurus, selalu diserang tanpa dapat membalas kembali.
"Cukup!"
Teriak si gadis dengan suara gelisah.
"Dia dapat mempertahahkan diri sampai puluhan jurus, padahal dia terluka hebat di punggungnya, dan racun masih belum bersih betul! Bukankah itu luar biasa sekali? Mana ada orang lain sanggup menahan seranganmu sampai puluhan jurus dengan tangan kosong?"
Akan tetapi wanita setengah tua itu agaknya sudah terlanjur marah dan penasaran.
la hanya mengeluarkan suara mendengus dengan hidungnya, pedangnya terus mendesak dan melancarkan serangan yang hebat.
Pada saat itu, Yo Wan sudah merasa pening kepalanya, pandang matanya kabur dan ketika dia melangkah mundur, kakinya tertumbuk pembaringan dan dia terguling.
Pedang di tangan wanita setengah tua itu menyambar ke arah lehernya.
"Tranggggg...!"
Pedang itu tertangkis oleh Pedang di tangan si gadis.
"Masa kau hendak berlaku curang terhadap dia?"
Gadis itu memekik. Si wanita setengah tua melompat mundur, lalu mendengus marah.
"Hemmm, biarkan dia sembuh dan beri dia senjata. Dia harus bisa kalahkah aku, baru hatiku puas!"
Setelah berkata demikian, wanita itu berkelebat dan melompat keluar dari dalam gua itu.
Gadis itu menarik napas panjang dan melemparkan pedangnya ke atas meja.
Yo Wan sudah bangkit kembali dan dengan hati penuh kemarahan dia melompat maju, lalu menangkap tangan kanan gadis itu.
"Apa artinya semua ini? SiapYo Wanita itu tadi? Hayo kau lekas mengaku semuanya dan apa maksudmu menahan dan pura-pura menolongku di sini! Lekas kau mengaku, kalau tidak...!"
Gadis itu tersenyum.
Bukan main cantiknya wajah di depan Yo Wan itu.
Matanya terbuka, terbelalak lebar seperti orang kaget dan heran, mulutnya agak terbuka, dan dari balik sepasang Bibirnya yang merah basah dan mungil itu terdengar suara seperti orang menahan tawa.
la sama sekali tidak melawan ketika tangannya dipegang, bahkan dia merapatkan tubuhnya.
"Yo Wan, kau hebat! Dengan tangan kosong kau..."
"Cukup! Tak perlu melanjutkan permainan sandiwara ini. Hayo katakan semua, kalau tidak...!"
"Ihhh... dua kali kau bilang kalau tidak! Kalau tidak... kau mau apa sih?"
"Hemmm, biarpun kau sudah menolongku, mungkin pertolongan palsu, kalau kau tidak mau berterus terang, aku... aku akan mematahkan tanganmu ini!"
Mulut Yo Wan berkata demikian, namun hatinya meragu apakah dia akan tega merusak"tangan yang berkulit halus dan hangat itu, apakah dia akan sanggup menyakiti gadis yang sejak bertemu telah menolong dan merawatnya ini.
Gadis itu makin merapatkan tubuhnya sarnpai mukanya hampir menempel di dada Yo Wan.
"Kau... betul-betul hendak mematahkan tanganku?"
"Kalau kau tidak berterus terang!"
"Wah, kau benar-benar amat tega..."
Pada saat itu, keduanya hampir berbareng merenggutkan tubuh masing-masing, melangkah mundur, bahkan si gadis cepat menyambar pedangnya dan melompat ke arah pintu gua itu.
Tampak berkelebat bayangan orang yang amat gesit di luar gua itu.
Akan tetapi ketika si gadis mengejar, bayangan itu telah lenyap.
Dengan muka berkerut gadis itu kembali ke dalam gua.
(Lanjut ke
Jilid 22) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 22
"Siapa?"
Tanya Yo Wan. Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Agaknya yang akan berani mengintai ke sini tentu hanya Ibu seorang, akan tetapi kalau Ibu tak mungkin melakukan perbuatan seperti pencuri begitu."
Yo Wan menarik napas panjang.
"Nona, kuharap kau tidak mempermainkan aku dan sukalah kau bercerita terus terang. Bukankah kau ini yang menyamar sebagai pria yang menjadi Ketua Kipas Hitam dan bernama Yosiko?"
Gadis itu melemparkan pedangnya di atas meja kayu, menghela napas dan menggandeng tangan Yo Wan, diajak duduk di atas pembaringan kayu yang kasar.
"Duduklah dan dengarkan ceritaku."
Yo Wan tidak membantah karena sesungguhnya perlawanannya terhadap wanita setengah tua yang lihai tadi membuat tubuhnya lelah dan gemetar.
Pula, dia memang ingin sekali mendengar penuturan gadis yang aneh ini, gadis yang membuat hatinya bingung karena biarpun gadis ini seorang bajak laut, gerak-geriknya tidak patut menjadi bajak laut yang kejam dan ganas, lagi pula ilmu kepandaiannya lihai dan mengenal langkah-langkah Kim-Tiauw-kun!
"Tiada guna menipu orang yang berpemandangan tajam seperti kau,"
Gadis itu mulai bicara.
"Aku memang Yosiko atau Yo-Kongcu kalau berpakaian pria, juga Ketua dari Kipas Hitam."
La berhenti untuk melihat reaksi pada wajah Yo Wan. Akan tetapi oleh karena pemuda ini sudah menduga akan hal itu, maka wajahnya tidak membayangkan sesuatu, tetap tenang saja.
"Hemmm, kalau begitu kita masih satu she (nama keturunan),"
Komentar Yo Wan, keningnya berkerut karena sungguh tak sedap hatinya mendapat kenyataan bahwa dia mempunyai seorang kerabat yang kepala bajak!
Akan tetapi Yosiko tertawa.
Tidak ada keindahan pada wajah manusia melebihi di waktu ia tertawa.
Seorang yang buruk rupa sekalipun akan tampak menyenangkan kalau sedang tertawa.
Apalagi tawa seorang gadis jelita seperti Yosiko!
"Namaku memang Yosiko akan tetapi sama sekali bukan she Yo!
Yosiko adalah nama Jepang, Ayahku seorang Jepang, seorang tokoh besar Pendekar samurai yang dijuluki orang Samurai Merah!"
Agaknya Yosiko bangga sekali ketika menyebut Ayahnya.
"Ibuku yang tadi datang menggempurmu adalah seorang Pendekar wanita. Dahulu berjuluk Bi-yan-cu (Walet Cantik) Tan Loan Ki. Kepandaiannya hebat, bukan?"
Akan tetapi Yo Wan amat terkejut ketika mendengar nama-nama ini karena dia pernah mendengar dari Suhunya bahwa Raja Pedang mempunyai seorang keponakan perempuan yang menikah dengan seorang Pendekar Jepang.
Kiranya Wanita setengah tua yang tadi menyerangnya adalah keponakan Raja Pedang.
Pantas sajYo Wanita itu dan anak gadisnya ini mengerti akan ilmu Pedang indah seperti yang dimiliki Cui Sian!
Akan tetapi dia masih belum percaya begitu saja oleh karena dia merasa ragu-ragu mengapa keponakan Raja Pedang sampai menjadi bajak laut!
"Hemmm, kiranya baik Ayah maupun Ibumu keduanya adalah Pendekar-Pendekar besar!
Sayang anaknya menjadi kepala bajak!"
Bibir yang merah itu merengut.
"Apa salahnya menjadi bajak? Kami menjadi bajak secara terang-terangan, kami menuntut pajak bagi lalu lintas laut, minta bagian dari saudagar yang banyak untungnya, apa salahnya? Mana lebih jahat daripada menjadi pembesar-pembesar yang memeras rakyat melebihi bajak? Apalagi aku menjadi kepala Kipas Hitam karena terpaksa, karena kami harus menuntut balas dan melanjutkan pekerjaan mendiang Ayahku."
"Hemmm, jadi Ayahmu sudah meninggal dunia dan dahulunya juga bajak laut? Ibumu juga?"
Tanya Yo Wan yang kini menjadi terheran-heran sekali.
Bagaimana keponakan Raja Pedang bisa menikah dengan seorang kepala bajak?
(Tentang Tan Loan Ki dan Samurai Merah, baca cerita Pendekar Buta).
Ditanya demikian, wajah gadis itu menyuram, suaranya juga terdengar sedih, dan sebelum menjawab ia menarik napas panjang.
"Ayahku dahulunya bukan bajak. Sudah kukatakan, Ayah seorang Pendekar samurai, karena tidak sudi diperbudak oleh kaum ningrat, Ayah merantau ke Tiongkok dan di sana bertemu dengan Ibuku, Pendekar wanita Bi-yan-cu Tan Loan Ki. Mereka saling mencinta dan akhirnya Ibu ikut dengan Ayah ke Jepang. Akan tetapi, di negara Jepang, Ayah menerima penghinaan dan ejekan dari para samurai lain karena telah mengawini Ibu, bukan gadis bangsa sendiri. Terjadi pertengkaran dan perkelahian. Karena dikeroyok, akhirnya Ayah lari dan menjadi bajak laut antara lautan Jepang dan Tiongkok."
Namun, baru tiga tahun yang lalu karena keroyokan Pendekar Jepang dan Tiongkok, Ayah tewas. Aku melanjutkan pekerjaannya, memimpin Kipas Hitam dibantu Ibu!"
Yo Wan mengangguk-angguk dan mulai teranglah sekarang baginya mengapa keponakan Raja Pedang menikah dengan seorang bajak laut.
Hanya dia masih merasa heran bagaimana Ibu dan anak ini dapat mainkan langkah-langkah ajaib dari Kim-Tiauw-kun, padahal Raja Pedang sendiri tidak mengerti akan ilmu ini.
Yang mengerti hanyalah Suhunya, Pendekar Buta, dan tentu saja Tan Sin Lee, Ketua dari Lu-liang-pai.
"Hemmm, kiranya begitukah? Tetapi, Nona..."
"Namaku Yosiko, tak perlu kau tambahi nona segala, biasanya aku malah disebut Kongcu (Tuan muda)..."
Potong Yosiko sambil tersenyum. Hemmm, gadis ini lincah jenaka dan galak, persis seperti sifat-sifat Siu Bi gadis Go-Bi-San itu.
"Baiklah, kusebut kau Yosiko. Setelah kau menjadi Ketua bajak laut dan kau telah tahu pula bahwa muda-mudi itu adalah putera dan murid Lu-liang-pai, kenapa kau memusuhi mereka?"
"Mereka adalah komplotan alat pemerintah, mereka agaknya mata-mata yang menyelidiki keadaan kami, dan mereka telah membunuh beberapa orangku! Tadinya aku masih mengampuni mereka! Hemmm, kalau aku tahu bahwa mereka itu berkomplot dengan tentara pemerintah, tentu kemarin sudah kubunuh mereka!"
"Kau menaruh murah hati ataukah... karena tertarik kepada Tan Hwat Ki yang gagah perkasa dan tampan? Tahukah kau bahwa Tan Hwat Ki adalah Cucu Pendekar sakti Raja Pedang Tan Beng San lo-kiam-ong (Raja Pedang tua) Ketua Thai-San-Pai? Bukankah dia itu masih saudara misanmu sendiri? Bagaimana kau hendak membunuhnya?"
Yosiko terkejut dan heran.
"Wah...wah, kau agaknya mengetahui banyak hal tentang diriku Yo Wan, kau duduklah, mari kita bicara. Agaknya terhadap orang yang sudah tahu akan segala hal ini, tak perlu lagi aku menyimpan rahasia. Kau duduklah dan dengar penjelasanku."
Karena memang kesehatannya belum pulih benar, Yo Wan yang ingin sekali mengetahui keadaan gadis ini dan ingin tahu pula latar belakang mengapa dia dirawat setelah dilukai, dan mengapa pula Ibu gadis ini menyerangnya mati-matian tadi, dia tidak membantah dan duduklah dia di atas pembaringan kayu.
Gadis itu sendiri lalu duduk di atas sebuah bangku yang berdekatan.
Sambil membetulkan dan memainkan kuncir rambutnya, Yosiko berkata.
"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mengetahui bahwa aku adalah saudara misan dengan Tan Hwat Ki! Sesungguhnya, Raja Pedang Tan Beng San yang kausohorkan itu adalah Paman Ibuku. Akan tetapi kami tidak peduli akan dia, karena dia bukanlah Paman yang baik dari Ibu!"
Yo Wan pernah mendengar pula akan hal ini.
Kakak dari Raja Pedang Tan Beng San bernama Tan Beng Kui dan Ibu dari Yosiko ini yang bernama Tan Loan Ki adalah puteri Tan Beng Kui itulah.
la mendengar bahwa memang ada pertentangan antara kedua orang saudara itu, akan tetapi Suhunya, Pendekar Buta, tidak pernah menceritakan dengan jelas (baca kisah Raja Pedang dan Rajawali Emas).
"Apakah karena pertentangan antara Kakekmu dan Raja Pedang itu maka kau hendak membunuh Cucu Raja Pedang? Akan tetapi kau... tadinya kau kagum kepada Hwat Ki, bahkan kau berkata hendak menjodohkannya dengan... adikmu yang ternyata adalah kau sendiri!"
Gadis lain yang ditegur seperti ini yang sekaligus membuka rahasia hatinya, tentu akan menjadi malu dan marah.
Akan tetapi Yosiko tersenyum dan mengangguk-angguk!
"Betul, begitulah!
Akan tetapi setelah kau muncul, aku tidak kagum lagi kepada Tan Hwat Ki, bahkan setelah tahu dia berkomplot dengan bala tentara pemerintah yang membasmi kami, aku benci kepadanya."
Kini Yo Wan yang terheran-heran mendengar ucapan yang begini terus terang dari seorang gadis remaja.
"Yosiko, benar-benar aku tidak mengerti bagaimana seorang gadis sepandai engkau, memilih-milih pria seperti ini...??"
Kembali Yosiko tersenyum seakan-akan pertanyaan yang bagi gadis lain tentu akan merupakan pisau yang menusuk perasaan ini baginya hanya merupakan pertanyaan yang wajar dan biasa.
"Mengapa tidak? Yo Wan, semenjak aku masih kecil, Ibu dan aku bercita-cita agar aku mendapatkan jodoh seorang pria yang jauh lebih lihai daripada aku. Hal ini adalah karena aku dan Ibu tidak ingin melihat kematian seperti Ayah terulang kembali. Ayah meninggal karena kurang pandai ilmunya, dan aku memang tidak sudi diperisteri laki-laki yang lemah, yang tak dapat menangkan aku. Akan tetapi selama beberapa tahun ini, di antara bajak laut, aku hanya melihat laki-laki yang tidak becus, paling hebat hanya macam Shatoku murid Ayah yang tewas oleh Tan Hwat Ki kemarin. Sedangkan di darat, aku pun belum pernah bertemu laki-laki yang mampu mengalahkan aku. Itulah sebabnya mengapa pertemuanku dengan Tan Hwat Ki menarik hatiku. Dia lebih lihai daripada aku, biarpun hanya sedikit selisihnya. Tentu saja pada saat itu hatiku tertarik dan tadinya aku hendak mencalonkan dia sebagai jodohku. Akan tetapi, kemudian muncul kau yang dalam beberapa gebrakan saja mengalahkan aku. Terang bahwa tingkat kepandaianmu jauh melampaui Tan Hwat Ki, karena itu... karena itu..."
Tentu saja Yo Wan maklum akan apa yang dimaksudkan oleh gadis itu.
Akan tetapi hal ini membuatnya menjadi mendongkol sekali.
Boleh jadi Yosiko seorang gadis yang cantik jelita, yang sukar dicari bandingannya baik dalam hal kecantikan maupun kepandaian.
Akan tetapi dia bukanlah laki-laki yang boleh dipilih jodoh lalu jadi begitu saja!
Kedongkolan hatinya membuat dia tega untuk mendesak Yosiko yang mulai merasa jengah dan malu karena betapapun juga ia adalah seorang gadis.
"Karena itu... bagaimana, Yosiko? Kau melukai aku dengan jarum beracun, kemudian kau menolongku di laut dan merawatku di sini. Apa kehendakmu?"
Yosiko masih tersenyum, akan tetapi kini tidak selancar tadi ia menjawab, bahkan kelihatan gagap.
"Yo Wan, tak mengertikah kau? Aku... aku... karena kau jauh lebih lihai daripada Tan Hwat Ki, aku... aku memilih engkau!"
Diam-diam Yo Wan merasa terharu sekali.
Gadis ini amat polos dan jujur, terang bahwa di dalam sanubari seorang gadis seperti ini terkandung watak yang bersih dan tidak dibuat-buat.
Mungkin gadis ini belum pernah mengenal rasa cinta kasih antar muda sehingga dalam soal pemilihan jodoh, sama sekali ia tidak mendasarkan pada cinta, melainkan pada "Tingkat kepandaian"
Dan semua itu ia kemukakan dengan jujur dan apa adanya! "Hemmmm...! Dan Ibumu, mengapa tadi ia menyerangku mati-matian?"
"Ibu tidak percaya kepadaku akan kelihaianmu, tidak puas kalau tidak mencoba sendiri."
Ah, anaknya gila Ibunya sinting, gerutu Yo Wah di dalam hatinya.
la pernah tertarik sekali kepada Siu Bi dan agaknya kali ini dia akan jatuh cinta oleh gadis aneh yang jelita ini kalau saja hatinya tidak sudah terampas oleh Cui Sian, puteri Raja Pedang!
Setelah dia mengenal Cui Sian yang berhasil menjatuhkan hatinya dan merenggut cinta kasihnya, kini Yo Wan menganggap Yosiko sebagai seorang bocah yang nakal.
la harus segera membebaskan diri dari Ibu dan anak ini, akan tetapi kalau lukanya belum sembuh, agaknya tidak mungkin hal itu dia lakukan.
Gadis ini sudah cukup berbahaya, apalagi di situ masih ada Ibunya yang lihai.
la harus bersabar dan menanti sampai lukanya sembuh betul.
Berpikir demikian, Yo Wan lalu merebahkan dirinya tanpa berkata apa-apa.
"Bagaimana? Menarikkah penuturanku? tanya Yosiko.
"Menarik juga, tapi sudahlah. Aku mau tidur."
Yosiko merengut gemas.
"Bagaimana pendapatmu? Kau tentu tidak keberatan menjadi pilihanku?"
Edan, pikir Yo Wan. Terpaksa dia menjawab.
"Yosiko, kau memandang terlalu rendah tentang perjodohan. Apa kau kira syarat kebahagiaan perjodohan adalah ilmu silat yang tinggi? Apakah kalau kau menjadi isteri seorang ahli silat yang lebih lihai dari padamu, hidupmu lalu bahagia?"
"Tentu saja!"
Jawab Yosiko tanpa ragu-ragu lagi.
"Ayah tewas karena kepandaiannya kurang tinggi, sehingga Ibu menjadi janda. Bukankah itu celaka sekali? Seandainya Ayah berkepandaian tinggi seperti engkau, kiranya sekarang Ayah masih hidup. Dengan seorang Suami yang kepandaiannya paling tinggi hidupku akan terjamin, karena itu aku memilih engkau!"
Yo Wan menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya, akan tetapi dia tidak bangkit dari pembaringan.
"Yosiko, agaknya kau sejak kecil hidup dikelilingi kekerasan dan kekejaman, sehingga kau tidak mempedulikan tentang perasaan. Apakah kau tidak mempunyai perasaan halus? Apakah Ibumu tidak pernah memberi tahu kepadamu bahwa syarat perjodohan adalah kasih sayang?"
"Tentu saja sudah!"
Yosiko tersenyum lagi, matanya bersinar-sinar gembira.
"Apakah kau tidak kasih dan sayang kepadaku?"
Yo Wan mengeluh di dalam hatinya.
Sukar bicara dengan gadis liar ini, pikirnya.
la harus bicara dengan Ibu gadis ini yang tentu lebih mudah diajak bicara.
Diam-diam dia pun kasihan kepada Yosiko karena kalau dibiarkan demikian, kelak mungkin sekali berjodoh dengan seorang pria tanpa kasih sayang sehingga akhirnya akan merana dalam kesengsaraan batin.
Hatinya lega juga karena kini dia yakin bahwa perawatan gadis itu, sikap manisnya, bukan terdorong oleh rasa cinta yang dia khawatirkan, melainkan oleh rasa kagum akan kepandaiannya sehingga dia dipilih menjadi calon jodoh dan karenanya harus dirawat sampai sembuh!
Diam-diam Yo Wan merasa seakan-akan dirinya menjadi seekor binatang peliharaan terkasih yang sedang sakit!
"Bagaimana, Yo Wan?
Apakah kau tidak kasih dan sayang kepadaku?"
Yo Wan menarik napas panjang.
"Sudahlah Yosiko, biarkan aku mengaso. Kelak kalau aku sudah sembuh, hal ini akan kita bicarakan bersama Ibumu. Tentu saja aku sayang kepadamu, kau gadis yang baik."
Girang sekali hati Yosiko dan wajahnya berseri.
la cepat mengambil sehelai selimut dan menyelimuti tubuh Yo Wan yang segera tidur nyenyak.
Yosiko juga berbaring di atas sebuah pembaringan kayu kecil di sudut ruangan, wajahnya kelihatan puas dan berseri.
Menjelang pagi, Yo Wan terbangun dari tidurnya ketika dia mendengar orang berseru girang.
"Dia di sini...!"
Sebagai seorang ahli silat yang iihai, begitu sadar Yo Wan sudah meloncat turun dari pembaringannya, siap menghadapi bahaya.
Akan tetapi wajahnya berubah ketika dia melihat sepasang muda-mudi dari Lu-liang-pai yang berdiri di mulut gua dan memandang kepadanya dengan terheran, apalagi ketika mereka memandang kepada Yosiko yang juga sudah duduk di atas pembaringannya.
Tentu saja Yo Wan menjadi jengah dan bingung.
Betapa tidak?
Orang melihat dia berduaan dengan seorang gadis cantik dalam sebuah gua, melewatkan malam di situ!
Di lain fihak, Tan Hwat Ki dan sumoinya yang tidak mengenal keadaan Yo Wan, tentu saja mengira bahwYo Wanita itu tentu ada hubungannya dengan Pendekar yang telah menolong mereka.
"Saudara yang gagah, kiranya kau berada di sini dan dalam keadaan selamat. Syukurlah..."
Kata Hwat Ki sambill melirik ke arah Yosiko. Lirikan inilah yang membuat Yo Wan cepat-cepat memperkenalkan.
"Aku juga girang "melihat kalian selamat dan... Nona ini... eh, dia nona Yosiko..."
"Apa...? Dia... dia Ketua Kipas Hitam...?"
Yosiko tersenyum, sepasang matanya yang puas tidur itu berseri.
"Aku adiknya!"
"Srattt!"
Tampak sinar hitam berkelebat ketika Bu Cui Kim mencabut Hek-Kim-Kiam dan sambil berseru nyaring nona ini menerjang maju ke arah Yosiko.
"Eh, ah, galaknya...!"
Yosiko mengejek dan sekali meloncat ia telah menghindarkan diri.
"Sumoi...!"
Hwat Ki berseru bingung.
"Suheng, tidak lekas-lekas membantu aku membasmi bajak laut mau tunggu apa lagi?"
Bu Cui Kim berseru dan terus menyerang lagi.
Hwat Ki menjadi merah mukanya, akan tetapi biarpun tadinya dia ragu-ragu, mengingat betapa lihainya Yosiko, dia sudah mencabut pedangnya pula dan melompat maju untuk membantu sumoinya.
"Tahan senjata!"
Yo Wan berseru sambil melangkah maju.
Suaranya berpengaruh sekali sehingga tidak saja Hwat Ki dan Cui Kim menghentikan penyerangannya, juga Yosiko yang sudah memegang pedangnya, berhenti dan memandang dengan senyum mengejek kepada dua orang muda Lu-Liang-San itu.
"Saudara Tan Hwat Ki, ketahuilah bahwa nona Yosiko bukanlah orang lain, melainkan saudara misanmu sendiri. Dia adalah puteri dari Bibimu Tan Loan Ki yang menikah dengan seorang Pendekar Jepang."
Tentu saja Hwat Ki sudah mendengar nama-nama ini dari Ayahnya, maka dia memandang dengan bingung, kemudian dia menatap wajah Yo Wan penuh curiga.
"Kau siapakah? Bagaimana mengetahui namaku?"
Yo Wan menjura sambil tersenyum.
"Aku Yo Wan..."
Hwat Ki terkejut.
"Apa? Kau murid Paman Kwa Kun Hong Pendekar Buta?"
"Ahhh...!"
Seruan ini keluar dari mulut Cui Kim dan mulut Yosiko.
"Beliau adalah Suhuku yang terhormat,"
Jawab Yo Wan sederhana.
"Saudara Yo... tapi... tapi mengapa dia menjadi... eh, Ketua bajak laut? Dan di mana pula Bibi Loan Ki?"
"Suheng, biarpun masih ada ikatan keluarga, kalau jahat harus kita basmi!"
Cui Kim berseru, matanya masih melotot marah.
"Yo Wan, dua orang ini bersekongkol dengan orang pemerintah, anak buahku banyak yang tewas. Biarkan kubunuh mereka!"
Bentak Yosiko pula. Yo Wan maklum akan sulitnya keadaan. Kalau dibiarkan, tiga orang ini tentu akan bertanding mati-matian. la mengangkat kedua tangannya dan berkata, suaranya keren.
"Tidak boleh! Saudara Hwat Ki, biarlah lain kali aku menerangkan semua ini kepadamu. Sekarang kuminta dengan hormat agar kau dan sumoimu meninggalkan tempat ini dan kuminta pula agar kau tidak memberitahukan tempat ini kepada orang lain."
Hwat Ki meragu. Cui Kim mengomel.
"Mana bisa? Dia bajak..."
Akhirnya Hwat Ki menjura kepada Yo Wan.
"Saudara Yo Wan, karena kau pernah menolong kami, maka aku percaya kepadamu, apalagi mengingat bahwa kau adalah murid Paman Kwa Kun Hong. Namun, aku tetap mengharapkan penjelasanmu kelak mengapa kau melarang kami."
Setelah berkata demikian, Hwat Ki mengajak sumoinya keluar dari gua itu. Setelah dua orang muda itu pergi, Yosiko mengomel.
"Yo Wan, mengapa kau menghalangi aku membunuh dua orang itu? Mereka musuh Kipas Hitam..."
"Mereka adalah Pendekar-Pendekar muda yang gagah perkasa, pembasmi kejahatan, apalagi Tan Hwat Ki adalah putera Lu-liang-pai, Cucu Raja Pedang. Mana mungkin aku membiarkan dia terbunuh? Aku tidak menghendaki permusuhan dengan kau dan kalau kau menyerangnya, terpaksa aku membantunya."
Dengan muka masih cemberut Yosiko berkata.
"Hemmm, kau memang tak kenal budi, tidak mengasihani orang. Hwat Ki sendiri saja kepandaiannya sudah lebih lihai daripada aku, melawan dia saja aku belum tentu dapat menang, kau masih hendak membantunya. Sama saja dengan kau dan dia sengaja hendak membunuh aku!"
Aneh sekali, secara tiba-tiba gadis itu menangis! Akan tetapi hanya sebentar saja air matanya bercucuran keluar, karena segera dihapusnya dan sikapnya kembali keras.
"Kau mau bunuh aku, mengapa masih memakai jalan memutar, plintat-plintut? Mau bunuh hayo bunuh!"
"Eh...eh, kenapa kau mengamuk tidak karuan, Yosiko? Siapa ingin membunuhmu? Aku bilang membantu mereka, yaitu kalau kau hendak membunuh mereka, karena biarpun ilmu silatmu kalah lihai, namun akalmu lebih banyak dan tipu muslihatmu mungkin akan mengalahkan mereka berdua. Kalau terjadi sebaliknya, yaitu mereka mengancam keselamatanmu dan hendak membunuhmu, sudah tentu akan kuhalangi niat mereka dan kubela engkau."
Seketika berubah wajah Yosiko, kemarahannya lenyap bagaikan awan tipis ditiup angin. Akan tetapi ia masih mencela.
"Yo Wan, kalau memang kau suka kepadaku, mengapa kepalang tanggung? Kalau kau membenciku, juga kenapa tidak terus terang saja? Kau orang aneh... tapi sudahlah, kau mengaso biar sembuh, baru kita bicara lagi. Sebentar lagi Ibu tentu akan mengantarkan obat yang kuminta, atau aku akan mencari ke sana."
Yo Wan tidak mau membantah lagi.
la maklum bahwa menghadapi seorang gadis remaja yang galak ini, lebih baik dia menutup mulut dan bersabar sampai dia sembuh benar.
Kalau dilawannya cekcok mulut tentu akan menjadi-jadi dan hal ini amat tidak baik baginya.
Di tempat lain, terjadi percekcokan lain lagi.
Semenjak meninggalkan gua yang dijadikan tempat persernbunyian Ketua Kipas Hitam itu, Bu Cui Kim tampak cemberut dan pendiam.
Beberapa kali Hwat Ki mengajaknya bicara, akan tetapi sumoinya yang biasanya amat ramah dan taat kepadanya, kini hanya menjawab singkat-singkat saja, kadang-kadang bahkan tidak menjawab sama sekali.
Seakan-akan kegembiraan dan semangat sumoinya tertinggal di gua!
Diam-diam Hwat Ki curiga.
Hatinya sudah merasa amat tidak enak ketika malam tadi mereka dijamu sebagai tamu Ketua Kipas Hitam, karena dia menduga bahwa sumoinya tertarik oleh Ketua Kipas Hitam yang tampan jenaka.
Apakah sumoinya menjadi kecewa melihat Ketua Kipas Hitam yang disangkanya seorang pemuda tampan gagah itu seorang wanita?
Ataukah...
sumoinya tertarik kepada Yo Wan, pemuda sederhana yang amat sakti itu?
Akhirnya Hwat Ki tidak dapat menahan perasaannya.
la berhenti di tempat yang amat indah di tepi sungai.
Amat sejuk hawa pagi itu dengan sinar matahari dan air sungai yang mulai mengeluarkan suara berdendang ketika alirannya bermain dengan batu-batu karang.
Burung-burung pagi berkicau dan menari-nari di atas dahan-dahan pohon.
Angin pagi yang semilir merontokkan daun-daun tua dan mutiara-mutiara embun yang menempel di ujung daun-daun hijau.
Daun bambu dilanda angin berkeresekan halus seperti sepasang kekasih berbisikan mesra.
Pagi yang indah, akan tetapi anehnya, wajah muda-mudi dari Lu-Liang-San ini muram!
Melihat Hwat Ki berhenti dan berdiri bersandarkan batu karang, Cui Kim juga berhenti, berdiri termenung memandang air sungai, sama sekali tidak mempedulikan Suhengnya.
Suasana kaku dan tegang ini terasa benar oleh mereka dan Hwat Ki maklum bahwa sesuatu yang mengganjal ini kalau tidak lekas dia dongkel dan singkirkan, akan merupakan penghalang yang amat tidak menyenangkan dalam pergaulannya dengan sumoinya.
Selama bertahun-tahun, sumoinya menjadi murid Ayahnya, semenjak mereka berdua baru berusia dua tiga belas tahun, mereka telah bermain-main bersama, rukun dan tak pernah bercekcok, seperti kakak beradik kandung saja.
Baru sekarang ini terjadi hal yang amat aneh, yang membuat mereka murung dan.
seakan-akan enggan menatap wajah masing-masing, hati penuh kemarahan dan ketidakpuasan!
"Sumoi, apakah yang kau pikirkan?"
"Tidak apa-apa..."
Hemm, jawaban yang dipaksakan sebetulnya enggan menjawab dan kemarahan serta sakit hati yang amat besar terkandung dalam suara itu, pikir Hwat Ki.
Rasa cemburunya makin membesar dan dia pun membuang muka.
Sampai beberapa lama keduanya diam saja.
Hwat Ki berdiri dengan kaki kanan di atas batu karang, bersandar pada batu karang yang agak tinggi, membelakangi sungai.
Sebaliknya, Cui Kim berdiri menghadapi sungai, mukanya lurus memandang ke arah sungai, mulutnya yang biasanya manis itu cemberut.
Karena keduanya berdiam diri, makin teganglah suasana.
"Sumoi, sungguh tak enak keadaan begini!"
Akhirnya berkatalah Hwat Ki dengan suara marah pula.
"Semenjak pertemuan kita dengan Ketua Kipas Hitam malam tadi, kau sudah berubah, kemudian setelah meninggalkan gua, kau benar-benar berbeda sekali..."
Dengan gerakan serentak Cui Kim membalikkan tubuh memandang, matanya bersinar penuh kemarahan dan suaranya keras kaku.
"Suheng, apa perlunya memutar-balikkan kenyataan? Siapakah yang berubah? Kau ataukah aku?"
Hwat Ki membelalakkan matanya.
"Eh...eh, bagaimana ini? Kau bilang aku yang berubah? Sumoi, kau mencari-cari Aku berubah bagaimana?"
"Masa berpura-pura tanya lagi!"
Kembali Cui Kim membuang muka, memutar tubuh membelakangi Suhengnya. Benar-benar aneh sekali ini, pikir Hwat Ki. Belum pernah sumoinya ini bersikap seperti ini terhadapnya.
"Sumoi, bilanglah, apa kesalahanku sehingga kau marah-marah macam ini?"
"Hemmm, setelah melihat bahwa Ketua Kipas Hitam ternyata seorang gadis secantik bidadari, gadis jelita yang malam tadi menyatakan terang-terangan hendak menjodohkan kau dengan dirinya sendiri, kau... kau... melepaskan dia begitu saja!"
"Eh...eh... aku hanya mentaati permintaan saudara Yo Wan..."
"Alasan kosong. Biarpun dewa yang minta ia dilepaskan, mengingat dialah Ketua Kipas Hitam, seharusnya kita membunuhnya atau setidaknya menangkapnya. Tapi kau... dengan mudah kau melepaskannya, karena kau... karena kau cinta padanya..."
Kini suara ini mengandung isak. Hening sejenak, Hwat Ki mengerutkan kening, kepalanya dimiringkan, memutar otak. Kemudian mendadak dia tertawa bergerak.
"Ha... ha... ha...ha...ha!"
"Apanya yang lucu!"
Cui Kim yang tadinya kaget menengok, bertanya. Hwat Ki masih tertawa terus, kemudian katanya.
"Terang kau cemburu kepada Yosiko! Ha... ha... ha, dan malam tadi aku cemburu pula kepada Yosiko karena kau agaknya tertarik sekali kepadanya! Ha... ha... ha, kumaksudkan tentu saja aku cemburu kepada Yosiko laki-laki dan kau cemburu kepada Yosiko wanita! Ha... ha... ha, kita cemburu kepada satu orang, malam tadi aku mengira kau tergila-gila kepada Yosiko, sekarang kau lah yang menyangka aku tergila-gila kepada Yosiko pula. Bukankah lucu sekali ini?"
Seketika wajah Cui Kim pun menjadi merah dan jantungnya berdebar.
Bagaimanapun juga ucapan ini mengenai perasaannya karena ia tak dapat menyangkal hatinya sendiri bahwa malam tadi memang ia tertarik oleh gerak-gerik Yosiko yang disangkanya pemuda yang amat tampan dan gagah!
Akan tetapi sebagai seorang gadis, tentu saja ia tidak sudi mengakui hal ini, maka dengan tersipu-sipu ia berkata.
"Cih! Siapa tergila-gila pada seorang bajak? Suheng, jangan kau hendak menutupi kesalahan sendiri dengan fitnah pada orang lain!"
Namun Hwat Ki yang sudah mengenal sumoinya semenjak kecil, dengan lega mendapat kenyataan bahwa adik seperguruannya ini tidak marah lagi seperti tadi. la melangkah maju mendekati Cui Kim dan menegur.
"Sumoi, sungguh mati, aku berani bersumpah bahwa aku melepaskan Yosiko hanya karena melihat muka saudara Yo Wan, dan mungkin juga terdorong oleh kenyataan bahwa dia adalah puteri Bibi Tan Loan Ki. Kau tahu, Bibi Tan Loan Ki adalah saudara misan Ayah. Akan tetapi, sudahlah, hal itu tak perlu dibicarakan lagi. Yang benar-benar membuat aku heran dan tidak mengerti, Sumoi, andaikata benar-benar aku jatuh cinta kepada Yosiko, kenapa kau menjadi marah-marah? Apakah...sebabnya? Andaikata aku mencinta dia dan dia mencintaku... ah, ini hanya andaikata, Sumoi..."
Sambung Hwat Ki cepat-cepat karena melihat wajah sumoinya itu tiba-tiba menjadi pucat. Sejenak mereka saling pandang. Kemudian Cui Kim berkata, suaranya gemetar.
"Suheng, sebaliknya engkau sendiri... mengapa Kau cemburukan Yosiko laki-laki? Andaikata aku benar mencinta seorang pemuda... mengapa engkau marah-marah...?"
Mereka saling pandang sampai lama dengan sinar mata penuh selidik.
Seakan-akan baru kini mata mereka terbuka, baru sekarang mereka melihat kenyataan bahwa masing-masing merasa tidak rela kalau yang satu mencinta orang lain!
"Sumoi...
kau tidak senang melihat aku mencinta gadis lain...?"
Suara Hwat Ki juga gemetar kini. Cui Kim menggeleng kepala keras-keras.
"Aku pun tidak senang melihat kau mencinta pemuda lain! Sumoi... kalau begitu... kau mencintaku?"
Cui Kim menundukkan mukanya yang merah dan mengangguk perlahan.
Hwat Ki melangkah maju dan di lain saat dia sudah merangkul sumoinya dan Cui Kim menyembunyikan muka pada dada Suhengnya sambil menangis.
Hwat Ki mendekap kepala dengan rambut yang harum itu, menengadah dan berkata lirih.
"Ah, alangkah bodoh kita! Seperti buta! Selama ini kusangka bahwa antara kita hanya ada kasih sayang seperti saudara. Sumoi... kiranya sekarang aku yakin betul bahwa aku tak dapat mencinta Wanita lain! Sumoi, mari kita kembali ke Lu-Liang-San, biar aku yang akan beritahukan Ayah Ibu tentang urusan kita!"
Cui Kim merenggangkan tubuhnya dan ketika mereka saling pandang, sinar mata mereka sudah jauh berbeda.
Kini di antara mereka terdapat rahasia mereka berdua, sinar mata mereka membawa seribu satu macam pesan hati yang mesra, pandang mata bergulung menjadi satu, sepaham.
"Suheng,"
Kata Cui Kim, suaranya penuh kesungguhan.
"Aku pun sejak dahulu sudah yakin bahwa aku tak dapat mencinta laki-laki lain. Tentang urusan kita, terserah kepadamu, Suheng. Kelak kalau kita sudah pulang terserah kau yang menyampaikan kepada Suhu dan Subo. Akan tetapi sekarang kita belum boleh pulang. Bukankah"
Kita bertugas untuk membasmi bajak?
Suhu sendiri yang mewakilkan kepada kita.
Bajak laut belum terbasmi habis, malah kepalanya, Ketua Kipas Hitam, masih hidup berkeliaran.
Apa yang akan kita katakan kepada Suhu tentang ini?"
Hwat Ki menjadi bingung diingatkan demikian.
"Habis, apa yang harus kita lakukan, Sumoi? Yo Wan itu adalah murid Paman Kwa Kun Hong, dia sudah menolong nyawa kita, dan dia amat lihai. Kalau dia melarang kita menangkap atau membunuh Yosiko, bagaimana baiknya?"
"Di dalam menunaikan tugas, kita tidak boleh mundur oleh segala kesukaran. Murid Pendekar Buta mestinya seorang Pendekar pula yang bertugas membasmi penjahat. Kalau Yo Wan melindungi Ketua Kipas Hitam berarti dia menyeleweng dari kebenaran. Biar dia sepuluh kali lebih lihai, sudah menjadi kewajiban kita untuk menentangnya."
Terbangkit semangat Hwat Ki oleh kata-kata sumoinya yang tercinta itu. Kini pandangannya terhadap Cui Kim berbeda dan dia merasa bangga sekali mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Kau betul, Sumoi. Akan tetapi Yo Wan sudah berjanji hendak memberi penjelasan. Mari kita awasi gerak-geriknya dan kita berunding dengan saudara Bun Hui agar gua itu dikurung dan jangan sampai Yosiko dapat terbang."
"Itu benar, Suheng. Mari kita mencari saudara Bun Hui dan pasukannya."
Sambil bergandengan tangan mesra kedua orang muda-mudi yang semenjak kecil menjadi teman baik dan berkumpul, akan tetapi yang baru sekarang menemukan cinta kasih antara mereka, meninggalkan tempat yang indah sunyi itu.
Tiga hari lamanya Yo Wan dirawat oleh Yosiko di dalam gua.
Selama tiga hari tiga malam, Yosiko merawatnya penuh ketekunan, hanya pergi meninggalkan pemuda itu untuk mengambil obat dan makanan.
"Obat ini adalah obat yang amat manjur untuk membersihkan darah, dan untuk menyembuhkan luka dengan cepat. Obat ini dari Jepang, akan tetapi Ibu pandai membuat sendiri sekarang,"
Kata Yosiko dengan suara bernada bangga.
"Terima kasih kepada Ibumu, dia baik hati."
Yosiko terkekeh.
"Hi...hik, kau kira dia memberi obat karena baik hati kepadamu? Sama sekali tidak. la ingin kau lekas-lekas sembuh agar dia segera dapat datang untuk menguji kepandaianmu."
Yo Wan tercengang. Aneh sekali wanita setengah tua keponakan Raja Pedang itu.
"Kemarin Ibu bilang, kau hari ini sudah sembuh betul dan nanti Ibu tentu datang, kau diminta siap melayaninya."
Memang Yo Wan sudah merasa sembuh dan dia bersyukur sekali.
Sebetulnya kalau dia mau, bisa saja dia pergi sekarang juga.
Namun dia bukan seorang pengecut yang melarikan diri dari seseorang, apalagi dia harus bertemu dengan Ibu gadis ini, pertama untuk mengucapkan terima kasih atas pemberian obat, kedua untuk menjelaskan keadaan Yosiko agar niat buruk tentang pemilihan calon jodoh itu diubah.
"Biarlah Ibumu datang, aku memang ingin sekali bertemu dengan Ibumu. Bukan untuk bertanding, melainkan untuk bicara."
Yosiko tersenyum.
"Bicara tentang perjodohan kita? Ibu tetap tidak percaya bahwa kau bisa menangkan dia, malah Ibu juga tidak percaya bahwa kau adalah murid Pendekar Buta Kwa Kun Hong."
"Eh, Ibumu mengenal Suhu?"
"Tentu saja! Sahabat baik sekali, kata Ibu, malah bekas kekasih, kata Ibu."
"Apa...???"
Kini Yo Wan yang tidak percaya.
Suhunya seorang pria yang sakti dan gagah, berbatin mulia dan tangguh, setia kepada isteri, mana mungkin main gila dengan Nenek galak itu?
Mendadak di depan gua berkelebat bayangan yang amat gesit.
Yo Wan sudah melompat"
Dan mengejar pada saat Yosiko baru saja melihat bayangan itu. Gadis ini menyambar Pedang dan loncat mengejar pula.
"Dia bukan Ibu! Tentu mata-mata musuh!"
Teriak Yosiko. Akan tetapi Yo Wan sudah mengejar lebih dulu. Bayangan itu gesit sekali, sebentar saja sudah lenyap di dalam hutan.
"Adik Cui Sian...!"
Yo Wan berteriak dengan jantung berdebar ketika dia tadi melihat bayangan tadi sebelum lenyap.
Tak salah lagi, gadis itu tentu Cui Sian!
Mengapa berada di sini dan apa sebabnya melarikan diri dari padanya?
Karena bayangan gadis itu lenyap dan melihat sikapnya jelas tidak mau bertemu dengannya, Yo Wan menghentikan pengejarannya, berdiri termenung dengan bengong.
Dengan terengah-engah karena kalah cepat larinya, Yosiko akhirnya tiba juga di situ.
"Mana dia, Yo Wan? Siapa dia...?"
Akan tetapi Yo Wan tidak menjawab karena pemuda ini dalam bingungnya teringat akan bayangan gesit di luar gua pada beberapa hari yang lalu, di waktu malam.
Bayangan itu ternyata bukan Ibu Yosiko, juga agaknya bukan Hwat Ki dan Cui Kim.
Apakah bayangan tiga malam yang lalu itu juga bayangan Cui Sian?
Berpikir sampai di sini mendadak wajahnya berubah.
Celaka!
Kalau benar bayangan itu bayangan Cui Sian, tentu gadis pujaan hatinya itu mengetahui pula bahwa selama tiga hari tiga malam dia tinggal berdua saja dengan Yosiko, gadis cantik!
Itukah sebabnya mengapa Cui Sian menghindarkan pertemuannya dengan dirinya?
"Yo Wan, kenapa kau?
Siapa yang kau panggil-panggil tadi?"
Yosiko kini memegang lengannya dan mengguncang-guncangnya. Yo Wan menggeleng kepala, menarik napas panjang.
"Kau yang mendatangkan gara-gara ini."
"Aku? Lho! Apa maksudmu?"
Yosiko terheran dan penasaran.
"Kalau saja kau membiarkan aku pergi tiga hari yang lalu..."
"Tentu kau akan mampus karena luka-lukamu!"
Sambung Yosiko.
Mendengar kata-kata ini, Yo Wan sadar dari lamunannya dan memandang.
Mereka saling pandang dan melihat wajah yang ayu itu cemberut sehingga wajahnya berubah lucu, mau tidak mau Yo Wan tersenyum dan menghela napas lagi.
"Lebih baik mampus daripada dia menyangka yang bukan-bukan, Yosiko."
"Dia? Siapa dia? Laki-laki atau wanita tadi? Larinya cepat amat!"
Yo Wan merasa tidak perlu lagi untuk menyembunyikan sesuatu kepada gadis ini, malah lebih baik bicara sejujurnya untuk menghapus lamunan kosong gadis ini tentang perjodohan.
"Tentu saja ia lihai dan larinya cepat, dia itu Bibimu!"
Saking kagetnya, hampir Yosiko meloncat tinggi. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka dan lidahnya dikeluarkan sedikit.
"Jangan main-main kau! Siapa Bibiku?"
"Dia itu Tan Cui Sian, puteri tunggal Raja Pedang Tan Beng San. Karena Ibumu adalah keponakan Raja Pedang, maka berarti dia itu saudara misan Ibumu dan dia itu Bibimu!"
"Ahhh...!"
Yosiko mengeluh.
"Dan dia agaknya telah sejak tiga malam yang lalu memata-matai kita."
"Ohhh...!"
Yosiko mengeluh lagi.
"Mengapa ah... oh... ah... oh? Apa kau kehilangan suaramu?"
"Yo Wan, kau tadi bilang lebih baik mampus, daripada dia menyangka yang bukan-bukan! Kalau begitu... kalau begitu... kau tidak suka dia menyangka yang bukan-bukan?"
"Tentu saja tidak suka!"
"Jadi kau... kau suka kepadanya?"
Yo Wan mengangguk.
"Aku cinta kepadanya dan kalau ada wanita di dunia ini yang kuinginkan menjadi jodohku, maka satu-satunya wanita itu adalah dia orangnya!"
"Ihhhhh...!!"
Kali ini Yosiko benar-benar meloncat mundur, kemudian mulutnya mewek dan terdengar suara,"
"Uhhhu...hu...hu...!"
Dan dia menangis! "Yosiko, tak usah kau menangis. Sudah kukatakan, perjodohan hanya dapat terjadi atas dasar saling mencinta,"
Kata Yo Wan sambil melangkah maju dan memegang pundak gadis itu.
Betapapun juga, dia merasa kasihan kepada gadis ini yang kembali telah menjadi kecewa.
Mula-mula gadis ini memilih Hwat Ki yang mengecewakannya karena ternyata pemuda itu memusuhi dan membunuh orang-orangnya, kini pilihannya kepada dirinya kembali keliru.
Mendadak gadis itu menghentikan tangisnya.
"Kubunuh dia! Kubunuh dia!"
La meronta lepas dan meloncat, mengejar ke arah larinya bayangan tadi. Akan tetapi dengan loncatan panjang Yo Wan sudah mengejarnya dan memegangi tangannya.
"Jangan, Yosiko. Kau takkan menang!"
"Peduli amat! Aku menang dia mampus, aku kalah aku mampus!"
"Hush, jangan. Adikku yang baik, kau bersabarlah. Bukan begini caranya mencari jodoh. Dunia bukan sesempit telapak tangan, masih banyak sekali terdapat pria yang jauh melebihi pilihanmu sekarang."
Yosiko memandang kepadanya dengan mata terbelalak beberapa lamanya seakan-akan hendak menyelidiki isi hatinya, kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Kau bohong!"
"Ah, kau benar-benar seperti katak dalam tempurung. Yosiko, sudah kukatakan bahwa memilih jodoh dengan dasar tingkat ilmu silat adalah cara yang amat bodoh. Ilmu kepandaian adalah seperti tingginya langit, sukar diukur. Gunung Thai-San yang tinggi masih kalah oleh awan, awan yang tinggi masih kalah oleh langit. Kalau kau memilih aku berdasarkan ilmu kepandaian, bagaimana kalau di sana ada beberapa ratus orang laki-laki yang melampaui aku tingkat kepandaiannya? Apakah kelak kalau, ada pria yang lebih pandai, kau akan menyesal dan memilih dia?"
Kembali Yosiko tertegun, memandang dengan mata terbelalak, agaknya ia mulai mengerti akan maksud kata-kata Yo Wan dan mulai bimbang akan sikapnya. Yo Wan girang sekali, tersenyum dan berkata halus.
"Nah, kau agaknya mulai mengerti sekarang. Bagaimana, andaikata ada seorang Kakek tua masih jejaka yang rupanya buruk, tangan kiri dan kaki kanan buntung, mata dan telinga kiri tidak ada, hidungnya patah, tapi kepandaiannya mengalahkan aku? Apa kau akan memilih dia sebagai jodohmu?"
Mata yang indah jeli itu bergerak-gerak, tapi tiba-tiba gadis itu menubruk dan merangkul lehernya, menangis.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau memilih siapapun juga. Biar dia lebih pandai daripada engkau, tapi tidak ada yang seperti engkau, Yo Wan aku tidak mau memilih orang lain!"
Mampus kau sekarang!
Yo Wan menyumpahi dirinya sendiri.
Kenapa tiga hari yang lalu dia tidak pergi saja diam-diam meninggalkan gua, Celaka sekarang, celaka sekali kalau gadis peranakan Jepang ini mulai jatuh hati kepadanya, mulai mencintainya!
"Eh, Yosiko, jangan begitu, eh...
nanti dulu..."
Yo Wan melepaskan sepasang lengan halus yang merangkul lehernya seperti dua ekor ular itu. Dengan terisak dan ujung hidungnya merah Yosiko memandang kepadanya.
"Lihat siapa yang datang!"
Kata,Yo Wan sambil memandang ke depan.
Yosiko menoleh dan wajahnya berubah.
Cepat gadis ini menghapus air matanya dan menyusut hidungnya dengan ujung baju, dengan gerak dan sikap sewajarnya di depan Yo Wan, sama sekali tidak sungkan-sungkan!
Ternyata yang datang itu adalah seorang wanita setengah tua, Ibu Yosiko.
Wanita ini masih kelihatan cantik dan gagah, sikapnya galak dan cekatan sekali, pakaiannya ringkas, wajahnya yang masih cantik itu tidak dirias, namun kesederhanaan rias dan pakaiannya menambahkan kesegarannya yang asli.
Inilah Ibu Yosiko yang bernama Tan Loan Ki yang di waktu mudanya dahulu terkenal dengan julukan Bi-yan-cu (Walet Jelita) dan yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw dengan kelincahan, kepandaian dan keberaniannya (baca cerita Pendekar Buta)!
Dengan gerakan lari cepat yang tangkas sebentar sajYo Wanita ini sudah tiba di tempat itu, menghadapi Yo Wan dengan pandang mata penuh selidik, seakan-akan seorang yang ingin menaksir barang dagangan sebelum dibelinya!
Ada lima detik ia menatap wajah Yo Wan, keningnya berkerut.
Kemudian ia menoleh ke arah Yosiko.
"Kenapa kau menangis?"
Tanyanya tiba-tiba.
Yosiko menjadi merah mukanya.
Agaknya merupakan hal yang memalukan baginya dan aneh bagi Ibunya melihat dia menangis.
Memang semenjak Yosiko remaja dan suka memakai pakaian pria, belum pernah Ibunya melihat puterinya itu menangis.
"Aku menangis karena girang melihat Yo Wan sembuh, Ibu. Lekas kauuji dia dan kalau dia menang, kau tidak boleh membohongi aku, Ibu."
"Hemmm, bohong apa?"
Tanya Wanita itu agak gelisah karena anaknya demikian berterus terang di depan Yo Wan yang belum dikenalnya.
"Kalau Yo Wan menang, Ibu harus mengawinkan aku dengan dia. Kalau tidak tentu aku akan menganggap Ibu tukang bohong dan penipu!"
"Anak setan! Selain belum tentu dia mampu mengalahkan aku, laki-laki ini pun tidak berharga menjadi suamimu! Seperti orang gunung..."
"Memang aku tidak berharga menjadi mantumu, Twanio (Nyonya Besar),"
Kata Yo Wan sambil menjura kepadYo Wanita itu.
"Apa kau bilang?"
Tan Loan Ki membentak.
"Terus terang saja, aku sama sekali tidak cukup berharga untuk menjadi Suami seorang gadis seperti nona Yosiko."
"Apa? Kau berani menolaknya setelah dia setengah mati merawatmu dan kalian tinggal tiga hari tiga malam dalam segua?"
Wajah Yo Wan menjadi merah padam, dan kembali dia menjura.
"Harap Twanio sudi memaafkan. Aku sama sekali tidak menghendaki hal itu terjadi. Akan tetapi Yosiko... eh, nona Yosiko ini memaksaku dan mengobatiku. Aku amat berterima kasih kepadanya, dan juga amat berterima kasih kepadamu, Twanio, yang sudah memberi obat kepadaku. Percayalah, Yo Wan akan menganggap Twanio sebagai seorang Lo-Cianpwe terhormat dan Yo... eh, nona Yosiko sebagai seorang sahabat yang baik..."
"Cukup! Muak aku dengan pidatomu! Kutanya mengapa kau menolak anakku! kau anggap kurang cantik dia? Kurang pandai? Apa kau terlalu bagus untuknya? Kau merasa terlalu pandai menjadi suaminya, terlalu berharga?"
"Bukan begitu, Twanio. Sama sekali tidak, malah aku merasa diri sendiri kurang berharga. Aku tidak berani menerima maksud hati nona Yosiko karena... sesungguhnya aku tidak setuju dengan dasar pemilihan jodoh itu. Menurut nona Yosiko, Twanio dan dia sendiri sudah mengambil keputusan untuk mencari jodoh bagi nona Yosiko dengan cara menguji kepandaian. Siapa yang dapat mengalahkan dia dan Twanio akan menjadi pilihannya."
"Kalau betul begitu, mengapa?"
"Maaf, Twanio. Kurasa hal ini amatlah tidak baik, karena perjodohan harus didasari saling pengertian, saling kasih sayang dan saling cocok. Kalau dasarnya hanya kepandaian ilmu silat, aku khawatir sekali kelak nona Yosiko akan mendapat jodoh yang tidak cocok wataknya dan akhirnya akan menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya."
"Cerewet! Baru ini aku melihat laki-laki yang cerewet! Yosiko, benarkah kau memilih orang macam ini? Dia cerewet sekali, apakah Kau tidak menyesal kelak? "Tidak, Ibu. Aku tidak mau menikah dengan orang lain kecuali dengan Yo Wan!"
"Kalau dia kalah olehku?"
"Tak mungkin. Kau takkan menang, Ibu!"
Mendengar ini, diam-diam Yo Wan mengambil keputusan untuk mengalah dan sengaja memberi kemenangan kepada Ibu Yosiko apabila dia dicoba kepandaiannya.
Akan tetapi seketika maksud hatinya ini buyar sama sekali ketika dia mendengar wanita itu mendengus dan berkata.
"Huh, belum tentu! Dan biarlah aku mengalah dan membolehkan dia menjadi suamimu kalau aku kalah, biarpun dia cerewet dan aku tidak menyukai laki-laki cerewet. Mendiang Ayahmu tidak banyak cakap, seorang jantan sejati! Akan tetapi kalau si lidah tak bertulang ini kalah olehku, dia harus mampus karena dia berani menolakmu, Yosiko!"
"Ibu takkan menang!"
Yosiko bersungut-sungut. Tan Loan Ki tidak bicara lagi melainkan meloncat mundur sambil mencabut pedangnya.
"Keluarkan senjatamu!"
Bentaknya.
"Twanio, aku tidak mempunyai senjata,"
Jawab Yo Wan sejujurnya karena memang tiga macam senjatanya telah habis semua, rusak ketika dia melawan Bhok Hwesio yang sakti.
"Hemm, lekas kau cari senjata, aku tidak sudi menyerang orang bertangan kosong!"
Pikiran baik menyelinap di benak Yo Wan.
"Twanio, memang aku tidak ingin bertempur denganmu, dan aku tidak bersenjata. Nah, selamat tinggal..."
Sambil berkata demikian dia melangkah hendak pergi.
"Berhenti"
Tan Loan Ki berteriak keras dan Tahu-tahu tubuhnya sudah melayang dan menghadang di depan pemuda itu.
"Aku tidak menyerang lawan bertangan kosong, akan tetapi aku akan membunuhmu sekarang juga kalau kau berani menghina dan tidak menerima tantanganku. Hayo lawan!"
Diam-diam Yo Wan mendongkol juga. Wanita ini amat galak, dan perlu ditundukkan. Akan tetapi dia menjadi serba salah. Kalau dia menang, berarti dia "Lulus"
Sebagai calon mantu. Kalau kalah, tentu dia dibunuh. Tak mungkin dia mau dibunuh dan mati konyol. Matanya mencari-cari.
"Yo Wan, kau pakailah pedangku ini!"
Kata Yosiko dengan suara manis.
Yo Wan hendak menerima pedang, akan tetapi cepat-cepat menarik kembali tangannya yang sudah dia gerakkan.
Tidak baik ini.
Kalau dia menang dan kemenangannya menggunakan Pedang Yosiko, hal itu lebih-lebih akan menguatkan mereka mengikatnya sebagai calon jodoh Yosiko.
"Terima kasih, Yosiko. Aku tidak perlu menggunakan pedang, cukup dengan ini, karena aku memang tidak ingin bertempur sungguh-sungguh dengan Ibumu. Bukankah ini hanya ujian saja?"
Sambil berkata demikian dengan sepatu barunya pemberian Yosiko.
Yo Wan mencukil sepotong kayu, agaknya ranting pohon kering yang terletak di atas tanah.
Kayu sebesar Ibu jari kaki itu tersontek ke atas dan dia sambar di tangan kanan.
Ranting yang kecil ini panjangnya kurang lebih empat kaki, kecil dan hanya kayu kering, mana bisa dipakai senjata menghadapi Pedang pusaka?
Wajah Tan Loan Ki menjadi merah sekali.
Selama hidupnya baru kali ini ia merasa dipandang rendah orang!
Wajah yang merah berubah pucat dan merah lagi, tanda bahwa hatinya bergolak dan kemarahannya memuncak.
"Bocah sombong! Kau hendak menghadapi aku dengan ranting itu?"
"Twanio, karena pertempuran ini hanya coba-coba saja, aku yakin kau tidak bermaksud melukaiku, maka dengan sebatang ranting sudah cukuplah."
"Setan! Kau memandang rendah kepadaku, ya? Berjanjilah, kalau pedangku mengantar nyawamu ke neraka, jangan rohmu menjadi penasaran kepadaku kelak!"
Yo Wan menggelengkan kepalanya dengan sabar.
"Aku yakin Twanio tidak akan dapat membunuhku."
"Apa?? Kau begini sombong??"
Nyonya itu menjerit.
"Bukan sombong, Twanio. Akan tetapi hidupku adalah pemberian Tuhan, bagaimana kau akan dapat mengakhiri hidupku? Hanya Tuhan yang akan dapat melakukan hal itu!"
"Wah kau bersilat lidah! Lidahmu bercabang, tak bertulang! Kau lihat pedangku!"
Sambil berkata demikian, Tan Loan Ki menerjang dengan pedangnya, menusuk ke arah dada dengan gerakan yang amat cepat dan kuat.
Ujung Pedang itu bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya melayang merupakan kilatan menyilaukan mata.
"Cring! Cring! Cring!!"
Tiga kali Pedang itu berkelebat dan tiga kali pula membalik seperti terbentur tembok baja.
"Liihhhhh!!"
Nyonya itu meloncat ke belakang dengan gerakan memutar, diam-diam ia merasa terkejut dan mulai percaya akan kata-kata puterinya.
Betapa mungkin ranting kayu kecil itu menangkis pedangnya menerbitkan bunyi senyaring itu seakan-akan ranting itu telah menjadi sebatang besi baja pilihan?
Namun ia tidak gentar, dan cepat ia menubruk maju lagi dengan cekatan sekali.
Kini ia mainkan ilmu Pedang keturunan yang ia pelajari dari Ayahnya dahulu.
Ayahnya adalah Tan Beng Kui yang dahulu berjuluk Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) yang menjadi Raja kecil di hutan Pek-tiok-lim (Hutan Bambu Putih), di tepi pantai Po-Hai.
Sin-kiam-eng Tan Beng Kui ini adalah murid terkasih dari Bu-Tek Kiam-Ong Cia Hui Gan (Raja Pedang Tanpa Tanding), dan menjadi Suheng dari isteri Raja Pedang kedua, yaitu adik kandungnya sendiri.
Sebagai murid terkasih Cia Hui Gan, tentu saja dia mewarisi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-Sut (Ilmu Pedang Bidadari) yang gerakannya indah dan lemah gemulai, tetapi mengandung daya serang dan daya tahan yang luar biasa (baca cerita Raja Pedang dan cerita Rajawali Emas).
Demikianlah, Tan Loan Ki sekarang mainkan IImu Pedang Sian-li Kiam-Sut dengan hebat, dan ditambah dengan gerak langkah Hui-thin-jip-te (Terbang ke Langit Amblas ke Bumi) yang dulu pernah ia pelajari dari Kwa Kun Hong (baca cerita Pendekar Buta).
Dengan penggabungan kedua ilmu yang ampuh ini, tidaklah mengherankan apabila nyonya setengah tua yang masih cantik dan galak ini jarang menemui tandingan.
Dan tidaklah mengherankan pula bahwa puteri tunggalnya menjadi jagoan di antara para bajak sehingga diangkat menjadi ketua.
Namun kali ini ia menghadapi Yo Wan!
Seperti kita ketahui, Ilmu Langkah Hui-thain-jip-te yang dimainkan Tah Loan Ki itu hanya merupakan sebagian saja dari Si-Cap-It Sin-Po yang berdasar pada Kim-Tiauw-kun, sedangkan Yo Wan sudah hafal semua, bahkan sudah menguasai dengan sempurna semua langkah Si-Cap-It Sin-Po.
Tentu saja langkah dari nyonya itu dikenalnya baik-baik, seperti seorang Guru mengenal langkah muridnya!
Ada pun ilmu Pedang yang dimainkan nyonya itu, Ilmu Pedang Sian-li Kiam-Sut yang sukar sekali dikalahkan orang lain, juga tidak membingungkan Yo Wan.
Seperti kita ketahui orang muda ini telah digembleng secara hebat oleh dua orang Guru sakti yang memiliki tingkat ilmu amat tinggi, sejajar dengan tingkat tokoh besar seperti Si Raja Pedang sendiri.
Bahkan ilmu yang dia warisi dari Sin-Eng-Cu merupakan ilmu yang sesumber dengan Sian-li Kiam-Sut, yaitu ilmu lemas yang menyembunyikan tenaga keras.
Sebaliknya, dari Pendeta Bhewakala dia mempelajari ilmu sakti yang kelihatan kasar akan tetapi menyembunyikan tenaga lemas.
Sambil (Lanjut ke
Jilid 23) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 23 membuat gerakan seperti orang menari-nari, Tan Loan Ki mainkan pedangnya.
Pedang itu sama sekali tidak menyerang, melainkan digerakkan seperti orang menari, indah dan lemas sekali.
Akan tetapi kadang-kadang dari gulungan sinar Pedang yang indah itu menyambar keluar kilatan Pedang yang merupakan tangan maut.
Ketika kilatan Pedang macam itu menyambar ke arah leher Yo Wan, pemuda ini cepat menangkis dengan rantingnya.
Sudah lebih dari lima puluh kali rantingnya tadi menangkis dan membalikkan Pedang lawan.
Kini dia menangkis lagi.
"Prakkk!"
Patahlah ranting kayu itu.
Yo Wan terkejut dan diam-diam dia memuji kecerdikan lawan.
Kiranya Tan Loan Ki yang maklum bahwa pemuda luar biasa ini telah mengetahui rahasia ilmu pedangnya, telah dapat menangkis Pedang dengan hanya sebuah ranting karena pemuda itu mengimbangi permainannya dan setiap kali menangkis Pedang yang digerakkan secara lemas akan tetapi mengandung tenaga keras itu ditangkis dengan pengerahan tenaga Im yang lemas dan lembek.
Karena itu, dalam penyerangan ke arah leher, diam-diam Tan Loan Ki membalikkan tenaganya, menyimpan tenaga keras dan menggunakan tenaga Lweekang yang lemas disalurkan melalui pedangnya.
Inilah sebabnya maka ketika ranting yang mengandung tenaga lemas yang sama itu bertemu Pedang yang juga mengandung hawa Im, ranting itu yang pada dasarnya jauh kalah kuat daripada pedang, menjadi patah!
"Hemmm, bocah sombong, kau tidak mengaku kalah?"
Bentak Tan Loan Ki.
Akan tetapi di dalam hatinya ia diam-diam merasa kagum bukan main dan mulailah ia percaya bahwa pemuda macam ini sangat boleh jadi murid Kwa Kun Hong!
Yo Wan menjura dan melemparkan ranting di tangannya.
"Twanio benar-benar lihai bukan main, aku tidak kuat menahan, mengaku kalah!"
Yosiko meloncat ke atas.
"Tidak bisa! Tidak adil! Ibu, kau dengan Pedang pusaka dilawannya dengan ranting, sampai lima puluh jurus lebih. Dan rantingnya patah setelah menangkis puluhan kali, apa anehnya? Dia sengaja mengalah, dia tidak kalah olehmu?"
Tan Loan Ki biarpun galak dan keras wataknya namun dia adalah seorang gagah yang jujur. Mendengar ucapan anaknya ia mengangguk.
"Kau benar, Yosiko. Orang muda ini memang hebat dan kalau dia melawan sungguh-sungguh, agaknya aku takkan mudah mencapai kemenangan. He, orang muda yang bernama Yo Wan. Apakah betul kau murid Kwa Kun Hong?"
"Betul, Twanio. Beliau adalah Guruku, sungguhpun aku malu sekali harus mengaku sebagai muridnya karena kepandaianku tidak ada sepersepuluh kepandaian Suhu yang sakti."
"Aku pernah diajar Hui-thian-jip-te oleh Kun Hong. Kau agaknya pandai pula ilmu langkah itu, akan tetapi mengapa lebih lengkap dari pada aku? Apakah kau dilatih pula ilmu itu oleh Kun Hong?"
"Ah, mana bisa aku yang bodoh disamakan dengan Suhu? Aku hanya dapat menerima sedikit sekali, dan Suhu pernah menurunkan Si-Cap-It Sin-Po kepadaku."
Tan Loan Ki berdiam sejenak, matanya kini memandang penuh selidik.
Hemm, pikirnya, wajah bocah ini tidak buruk.
Malah tampan, biarpun sederhana dan kelihatan bodoh.
Akan tetapi tidak muda lagi!
"Yo Wan, berapa usiamu sekarang?"
Yo Wan kaget. Pertanyaan yang sama sekali tidak disangka-sangkanya. Sungguh sukar mengikuti jalan pikiran nyonya ini yang berubah-ubah seperti angin laut! Setengah terpaksa dia menjawab.
"Kalau tidak salah, tahun ini aku berusia dua puluh delapan tahun, Twanio."
"Berapa orang anakmu?"
"Heh"??? Anak"??"
"Ya, berapa orang anakmu. Berapa laki-laki dan berapa perempuan?"
Wajah Yo Wan menjadi merah sekali. Sinting! Mau dibawa ke mana dia dengan pertanyaan-pertanyaan macam ini? "Twanio, aku... aku tidak punya anak..."
Terdengar suara cekikikan tertawa. Yosiko yang tertawa ini dan ia berkata lantang.
"Ah, Ibu, dia adalah Jaka Lola!"
"Apa? Jaka Lola?"
"Ya, dia tidak berayah Ibu lagi, tidak bersanak kadang, tentu saja tidak punya anak atau isteri. Dia masih perjaka!"
Nyonya itu mencibirkan Bibirnya mengejek.
"Biasa! Biarpun anaknya sudah sepuluh, di luaran laki-laki selalu mengaku jejaka! Usia dua puluh delapan tahun belum kawin? Bohong! Sekali berhadapan dengan perawan cantik, laki-laki lupa isteri lupa anak."
Muka Yo Wan makin merah.
"Twanio! Aku bukanlah laki-laki macam itu. Aku betul-betul belum pernah menikah dan sama sekali tidak punya anak."
"Bagus!! Kalau begitu, biar agak tua, aku terima kau menjadi Suami Yosiko!"
Hampir saja Yo Wan mengemplang mulut sendiri dan dia hanya bengong memandang Yosiko yang lari dan menubruk Ibunya, merangkul leher dan menciumi kedua pipi Ibunya.
Menyaksikan adegan macam ini, terharu juga Yo Wan dan diam-diam dia merasa menyesal sekali mengapa dia terpaksa tak mungkin memenuhi maksud hati Ibu dan anak ini.
Kalau saja di sana tidak ada Cui Sian agaknya...
agaknya...
hemmm!
"Maaf, Twanio..."
Katanya dengan suara gemetar.
"Maaf, terpaksa sekali aku tidak dapat memenuhi kehendak Twanio yang suci ini. Betapapun juga, aku merasa amat berterima kasih dan biarpun aku tidak mungkin dapat menjadi Suami Yosiko, biar dia kuanggap sebagai adikku..."
"Apa kau bilang?!"
Tan Loan Ki berseru dan mendorong anaknya. Sepasang matanya berkilat.
"Kau... kau menolak menjadi Suami Yosiko?"
"Bukan aku menolak, Twanio, melainkan... menyesal sekali, aku... aku tidak dapat memenuhi kehendakmu, aku..., tak mungkin menjadi suaminya..."
"Keparat, kalau begitu kau harus mampus!"
Sambil memekik nyaring nyonya itu menerjang Yo Wan dengan pedangnya dengan tusukan maut yang dilakukan penuh kemarahan.
Yo Wan cepat menghindar.
Dari gerakan ini tahulah dia sekarang bahwa kali ini lawannya tidak main-main lagi, melainkan menyerang dengan penuh nafsu hendak membunuh.
Ngeri juga hatinya.
Kepandaian wanita ini sudah hebat, apa-lagi dalam keadaan marah.
Sama sekali dia tidak boleh memandang ringan, dan tidak boleh membuang waktu, karena kalau dia terlena sedikit saja pasti akan tewas.
"Maaf, Twanio...!"
Katanya berkelebat cepat.
Tan Loan Ki berseru kaget karena kehilangan lawannya.
Ketika ia membabatkan pedangnya ke belakangnya di mana ia mendengar angin gerakan lawan, tiba-tiba ia merasa tangan kanannya lumpuh dan pedangnya mencelat sampai lima meter lebih jauhnya.
Cepat ia membalik dan dilihatnya Yo Wan berdiri sambil menjura dan berkata.
"Maaf, Twanio, bukan maksudku hendak pamer."
Tan Loan Ki mendengus. Ia makin kagum dan diam-diam ia kini mengharapkan sekali mendapatkan mantu seperti ini.
"Uhhh, kau...biar kucari Kwa Kun Hong. Biar dia yang mengadili dan dia yang memaksamu. Kalau tidak, kutantang Kun Hong!"
Sambil berkata demikian, nyonya itu lari, menyambar pedangnya dan dengan loncatan-loncatan jauh menghilang dari situ.
Yo Wan menghela napas panjang.
la mendengar isak tangis.
Ketika dia menengok, dilihatnya Yosiko berdiri sambil.memandangnya dengan air mata bercucuran membasahi kedua pipinya.
"Maafkan aku, Yosiko. Aku... kau tahu sendiri... aku mencinta gadis lain. Ah, mengapa kita tidak menceritakan hal itu kepada Ibumu tadi..."
Dengan terisak-isak Yosiko berkata.
"Aku akan mencari Tan Cui Sian dan membunuhnya!"
Maka larilah gadis ini, lenyap ke dalam semak-semak di hutan itu, meninggalkan Yo Wan yang berdiri bengong dan menggeleng-geleng kepala berkali-kali dengan hati bingung.
Akhirnya dia melangkah pergi dari situ dengan maksud mencari Tan Hwat Ki.
Kiranya di dunia ini tidak ada rasa sakit hati yang lebih hebat bagi seorang wanita daripada rasa sakit hati karena ditolak oleh seorang pria!
Dan kiranya tidak ada rasa sakit yang lebih parah dan sengsara daripada rasa sakit dirundung asmara!
Sudah tentu saja bagi yang sudah mengerti, perasaan sengsara ini adalah dibuat-buat sendiri, perasaan sakit hati dan hancur merana yang tanpa disadarinya sengaja ia timpakan kepada dirinya sendiri.
Perasaan sengsara yang bersumber kepada rasa kasihan kepada diri pribadi (self pity) yang merupakan cabang terdekat dari rasa mementingkan diri pribadi (egoism).
Namun bagi Yosiko yang tidak memiliki self-pity dan egoism yang terlalu besar, sakit hatinya tidak membuat ia berduka, melainkan membuat ia marah dan penasaran.
la tetap tidak mau menerima kenyataan bahwa Yo Wan menolak dia karena mencinta Tan Cui Sian.
la marah kepada Cui Sian dan ingin membunuhnya karena ia menganggap Cui Sian telah merampas calon suaminya.
la pun penasaran dan ingin memaksa supaya Yo Wan tetap menjadi jodohnya.
Perasaan ini memang tidak wajar bagi seorang gadis, akan tetapi Yosiko adalah seorang gadis yang lain daripada yang lain.
la dibesarkan dalam asuhan Ibunya yang keras hati dan yang selama ini hidup di alam bebas yang liar, di tengah-tengah para bajak laut, setiap hari menyaksikan pertempuran-pertempuran dan peristiwa yang kejam dan mengerikan.
Hal inilah yang mempengaruhi dirinya karena sesungguhnyalah benar kalau dikatakan orang bahwa keadaan sekeliling inilah yang membentuk watak seseorang.
Yosiko menyusup-nyusup di dalam hutan di sepanjang Sungai Kuning yang amat luas.
Tiba-tiba ia menyelinap ke dalam semak-semak.
Dilihatnya beberapa orang anggota tentara Kerajaan berkelompok dan menjaga di situ.
Dengan hati-hati dan cepat Yosiko mengambil jalan lain menjauhi mereka.
la tidak takut terhadap mereka, tetapi karena ia maklum bahwa orang-orang ini dipimpin oleh putera Bun-Goanswe yaog lihai, dibantu pula oleh Tan Hwat Ki dan sumoinya, maka ia tidak berani sembarangan turun tangan.
Kini tujuan perjalanannya lain lagi, bukan sebagai Ketua Kipas Hitam lagi, melainkan sebagai seorang gadis yang mencari saingannya!
Akan tetapi ketika ia menyusup-nyusup mengambil jalan ke Timur, kembali ia melihat kelompok lain yang sudah menjaga di situ.
Bahkan di sini terdapat sebuah tenda dan samar-samar ia melihat Tan Hwat Ki dan orang-orang lain berada di dalam tenda!
Cepat ia memutar lagi dan diam-diam ia merasa khawatir.
Tahulah ia sekarang bahwa gua yang menjadi tempat persembunyiannya itu, yang sudah diketahui oleh Tan Hwat Ki, kini telah dikurung dari segala penjuru.
Apakah kehendak mereka?
Hendak menangkapnya?
Yosiko mengulum senyum mengejek.
Jangan kira mudah menangkap Ketua Kipas Hitam!
Kalau saja ia tidak sedang mencari Tan Cui Sian, agaknya ia akan menggunakan akal dan membasmi mereka.
Setidaknya ia tentu akan berhasil membunuh beberapa puluh orang di antara mereka!
Akan tetapi ia tidak ada waktu dan terutama sekali tidak ada nafsu untuk "Main-main"
Dengan nyawa mereka.
Yosiko memasuki sebuah hutan bambu yang dahulu menjadi tempat tinggal Kakeknya, yaitu Pek-tiok-lim, kemudian dari tengah-tengah rumpun bambu ia menggulingkan sebuah batu hitam yang menyembunyikan sebuah lubang.
Orang lain tentu tidak akan menduga bahwa di bawah batu ini ada lubangnya.
Andaikata ada orang lain mendapatkan lubang ini, tentu ia menyangka bahwa lubang itu adalah lubang ular atau binatang lain yang berbahaya sehingga tak mungkin orang berani masuk.
Akan tetapi Yosiko segera memasuki lubang ini, menutupnya dari dalam.
Lubang ini bukanlah lubang ular atau lubang binatang lain, melainkan sebuah lubang yang menuju kepada terowongan kecil di bawah tanah.
Yosiko merayap di dalam gelap sampai beberapa menit lamanya.
Ketika ia keluar, ia telah berada jauh di luar hutan, keluarnya dari sebuah gua di antara batu-batu karang di mana terdapat banyak gua kecil.
Juga gua ini mempunyai sebuah pintu rahasia, maka tidak pernah ada orang dapat memasukinya, mengiranya sebuah gua buntu.
Yosiko tersenyum karena ia telah keluar dari kepungan.
Ia percaya bahwa Ibunya tadi agaknya juga mengambil jalan ini dan dugaannya ini memang tidak keliru.
Yosiko berpikir sejenak.
Tan Cui Sian tadi mengintai ke gua.
Tentu gadis saingannya ini tidak berada jauh.
Mungkin berada bersama Tan Hwat Ki dan kawan-kawannya.
la harus dapat mencari kesempatan untuk berjumpa berdua dengan Cui Sian dan menantangnya berkelahi mati-matian memperebutkan Yo Wan!
Perutnya terasa lapar sekali.
la harus mencari makanan.
Celakanya, hutan yang mengandung buah-buahan dan binatang-binatang yang dapat dijadikan makanan adalah hutan yang terkepung prajurit-prajurit Kerajaan tadi.
Dan satu-satunya cara mendapatkan makanan hanya pergi ke dusun-dusun untuk membeli dari warung-warung nasi.
Akan tetapi ia harus mencari dusun yang agak jauh, siapa tahu di situ terdapat mata-mata atau penjaga-penjaga yang tentu akan mengepung dan mengejarnya, mengacaukan urusannya sendiri.
Berjalanlah Yosiko menuju ke sebuah dusun yang agak jauh.
Akan tetapi di tengah perjalanan, tiba-tiba ia menyelinap dan bersembunyi ketika ia melihat dua orang mendatangi dengan langkah perlahan.
la tertarik sekali ketika melihat betapa mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis cantik.
Mula-mula ia kaget dan mengira bahwa mereka adalah Tan Hwat Ki dan sumoinya, tetapi setelah mereka datang dekat, ternyata mereka adalah dua orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
Gadis itu cantik sekali, juga gagah dan membayangkan bahwa gadis itu bukanlah gadis sembarangan.
Akan tetapi pada saat itu, gadis itu wajahnya pucat, kedua pipinya basah air mata, rambutnya kusut dan matanya merah.
Adapun yang seorang lagi, adalah pemuda yang memiliki wajah tampan bukan main.
Belum pernah Yosiko melihat seorang pemuda setampan itu, dengan sikap yang gagah pula, sepasang mata bersinar-sinar seperti bintang.
Sayang sekali, pemuda itu buntung lengan kirinya, sebatas siku!
Mereka berjalan perlahan dan bercakap-cakap, keduanya memperlihatkan kesedihan dan kemuraman.
Siapakah mereka ini?
Demikian pikir Yosiko dengan heran.
la tertarik sekali karena dua orang ini jelas membayangkan orang-orang yang memiliki kepandaian, bukan orang-orang biasa.
Apakah mereka ini juga merupakan anggota rombongan orang gagah yang hendak membasmi bajak laut di sekitar Lautan Po-Hai?
Akan tetapi mengapa mereka berdua jalan di sini dan kelihatan sedih sekali?
Bahkan terang bahwa si gadis itu bekas menangis, matanya merah, pipinya masih basah dan hidungnya merah.
Yosiko tidak mengenal mereka, akan tetapi pembaca tentu mengenal mereka.
Mereka itu bukan lain adalah Kwa Swan Bu dan The Siu Bi!
Sudah lama sekali kita meninggalkan mereka.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Swan Bu yang masih menderita itu bersama Siu Bi melarikan diri setelah Siu Bi berhasil membunuh Ouwyang Lam dan kemudian mereka ditolong oleh The Sun yang mengorbankan nyawa untuk anak tirinya di tangan Ang-Hwa Nio-Nio.
Dua orang muda-mudi yang saling mencinta tapi yang terlibat dalam permusuhan dendam-mendendam antara orang-orang tua mereka itu, melarikan diri tanpa tujuan, dengan niat menjauhkan diri dari ancaman pihak musuh.
Rasa sakit pada lenganhya tidak membuat Swan Bu terlalu berduka.
Yang membuat dia merasa amat bersedih adalah karena urusannya membuat hal-hal yang amat ruwet dan hebat terjadi.
Nama baik Lee Si ternoda sebagai seorang gadis, malah Ayah gadis itu telah dibunuh orang dengan Pedang Ibunya menancap di dada, Pedang yang kini berada di tangannya.
Dengan terjadinya peristiwa ini, dia tidak berani pulang!
Bagaimana kalau ternyata Ibunya yang membunuh Ayah Lee Si?
Bagaimana kalau Paman Tan Kong Bu benar-benar dibunuh Ibunya karena kesalah-pahaman?
Ah, hebat perkara itu dan dia tidak ada keberanian untuk menghadapi peristiwa menyedihkan itu.
Selain itu, juga dia tidak dapat berpisah dari Siu Bi.
Andaikata Ayah Siu Bi tidak meninggal, dia tentu akan memaksa diri meninggalkan Siu Bi.
Akan tetapi kini Siu Bi tidak berayah Ibu lagi, tidak ada sanak saudara, hidup sebatangkara.
Bagaimana dia tega melepaskan Siu Bi merawat seorang diri begitu saja?
Perjalanan mereka penuh dengan kenang-kenangan memilukan.
Kadang-kadang mereka memadu kasih dan janji, ingin sehidup semati.
Ada kalanya mereka bertangis-tangisan mengingat keadaan keluarga mereka.
Bahkan ada kalanya mereka cekcok mulut karena berbeda pendapat.
Namun betapapun juga, Siu Bi selalu tekun dan rajin merawat Swan Bu sehingga luka pada lengannya sembuh.
Pada hari itu mereka tiba di lembah Sungai Huang-Ho dengan maksud melanjutkan perjalanan dengan perahu karena perjalanan dengan perahu tidak melelahkan tubuh Swan Bu yang perlu banyak istirahat.
Akan tetapi sejak pagi tadi, sambil berjalan perlahan, mereka cekcok kembali ketika Swan Bu mendesak agar Siu Bi suka ikut dia pulang saja ke Liong-Thouw-San, menghadap Ayah Bundanya dan berterus terang.
mengaku bahwa mereka sudah saling mencinta dan tak dapat terpisah lagi.
"Aku takut, Swan Bu. Aku takut untuk bertemu dengan Ayah Ibumu. Bagaimana kalau mereka tidak memperbolehkan aku dekat denganmu? Bagaimana kalau aku diusir? Aku pernah hendak membunuh mereka. Ibumu amat benci kepadaku! Ah, Swan Bu... jangan paksa aku ke sana, lebiih baik kita pergi yang jauh, biar kita mencari Pulau kosong, hidup berdua sampai kematian memisahkan kita..."
Demikian keluh-kesah Siu Bi.
"Siu Bi!"
Swan Bu membentak marah.
"Kau hanya ingat kepada dirimu sendiri saja! Apa kau tidak ingat betapa aku pun tidak mungkin selamanya harus berpisah dari Ayah Bundaku? Anak macam apa kalau begitu aku ini? Apa kau hendak memaksa aku menjadi seorang anak yang paling puthauw (murtad) di dunia ini?"
"Sesukamulah! Boleh Kau tinggalkan aku, akan tetapi kau harus membunuh aku lebih dulu. Swan Bu, aku lebih baik mati daripada Kau tinggalkan!"
Demikianlah percekcokan itu yang dilanjutkan di sepanjang jalan.
Ketika mereka tiba di dekat tempat sembunyi Yosiko, percekcokan mereka sudah memuncak dan jelas terdengar oleh Yosiko ketika Siu Bi berseru keras.
"Sudahlah! Kau boleh pergi dan kalau kau tidak mau membunuh aku, aku akan membunuh diriku sendiri di depanmu sebelum kau pergi!"
Sambil berkata demikian, Siu Bi mencabut pedangnya dan sinar menghitam menyambar ke arah lehernya.
Hampir saja Yosiko mengeluarkan jeritan ngeri karena gadis ini melihat betapa gerakan Pedang di tangan Siu Bi amat cepat sehingga agaknya sukar untuk menghindarkan gadis itu dari kematian.
Akan tetapi alangkah kagum hatinya ketika tiba-tiba pemuda itu menggerakkan tangan kanannya dan sinar keemasan berkelebat kemudian membentur sinar hitam menerbitkan suara berkerontangan nyaring.
Kiranya Pedang bersinar hitam di tangan gadis itu sudah ditangkis dan bahkan runtuh di atas tanah!
"Siu Bi, jangan gila kau!
Kalau kau membunuh diri, mana aku dapat hidup lebih lama lagi?"
Kata Swan Bu sambil menyimpan pedangnya yang bersinar emas, yaitu Pedang Kim-Seng-Kiam, Pedang Ibunya yang dia cabut dari dada jenazah Tan Kong Bu.
Siu Bi menangis.
Swan Bu mendekatinya dan keduanya lalu berpelukan mesra sambil bertangisan.
"Siu Bi, bukankah kau sudah setuju bahwa aku harus mengawini Lee Si? Kau tahu, hanya itu satu-satunya jalan untuk mengusir awan kegelapan yang meliputi keluargaku. Hanya pengorbanan itu yang dapat kulakukan untuk menebus nama baik keluarga Paman Tan Kong Bu. Kemudian bersama Lee Si aku harus mencari keterangan bagaimana matinya Paman Tan Kong Bu. Betapapun juga, aku masih belum percaya benar bahwa Ibuku yang membunuh Paman Kong Bu."
"Swan Bu, kau sudah bersumpah sehidup semati dengan aku. Biarpun tidak secara resmi, bukankah aku ini isterimu yang sah karena sumpah kita? Bukankah! Tuhan yang menyaksikan, langit, bumi, bintang dan bulan? Swan Bu, aku tidak akan melarang kau mengawini Lee Si, akan tetapi... jangan Kau tinggalkan aku."
Swan Bu mencium dan mengelus-elus rambut Siu Bi sehingga tangis gadis itu mereda.
"Siu Bi, harap kau suka berpikir dengan panjang. Aku mengajakmu menghadap Ayah Ibuku, kau merasa takut dan tidak mau. Kemudian kalau aku pulang lebih dulu seorang diri untuk kelak kita bertemu lagi, kau tidak membolehkan aku meninggalkanmu. Bagaimana ini? Siu Bi, kau tahu betapa aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku. Aku sudah bersumpah dan apa pun yang akan terjadi, sudah pasti aku akan kembali kepadamu. Sebaiknya kalau untuk sementara kita berpisah. Biarkan aku menghadap orang tuaku dan menyelesaikan urusan kami. Syukur kalau mereka tidak memaksaku mengawini Lee Si, andaikata begitu, aku tetap hendak menceritakan pada mereka tentang dirimu dan aku tetap hendak mengajukan syarat, yaitu aku mau menikah dengan Lee Si asal kau juga menjadi isteriku."
Untuk sejenak Siu Bi diam, hanya menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya.
"Betulkah kau tidak akan lupa kepadaku?"
"Apa kau kira aku gila? Marilah kita mencari tempat untukmu, di mana kau dapat menantiku. Begitu urusanku selesai, aku pasti akan datang menjemputmu dan kau tidak perlu merasa khawatir lagi bertemu dengan orang tuaku."
Keduanya berjalan lagi perlahan, Yosiko yang berada di tempat sembunyinya merasa kasihan kepada Siu Bi.
Gerak-gerik gadis itu menarik hatinya, menimbulkan rasa suka.
Agaknya, seperti juga dia, gadis bernama Siu Bi itu pun tidak beruntung dalam soal perjodohan.
Dia ingin berjodoh dengan Yo Wan tapi pemuda itu memilih Tan Cui Sian.
Agaknya gadis bernama Siu Bi itu pun ingin bersuamikan pemuda buntung itu, namun si pemuda hendak mengawini gadis lain!
Dengan seorang yang senasib ini boleh sekali ia berkawan.
Tiba-tiba terdengar seruan.
"Swan Bu...!!"
Swan Bu dan Siu Bi terkejut, berhenti dan menengok.
Seorang gadis tampak datang dengan lari cepat sekali, sebentar saja sudah tiba di tempat itu.
Dari tempat sembunyinya Yosiko menyaksikan ini dan menjadi kagum.
Gadis yang baru datang ini pun hebat sekali ilmu lari cepatnya dan ia mulai merasa heran.
Mengapa begini banyak berkumpul orang-orang muda yang lihai?
Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia mendengar pemuda buntung itu menyebut nama gadis yang baru tiba.
"Sukouw (Bibi Guru) Cui Sian...!!"
Teriak Swan Bu kaget karena dia benar-benar sama sekali tidak mengira bahwa gadis itu dapat datang ke tempat sejauh ini.
Yang datang memang benar adalah Tan Cui Sian, gadis Thai-San, puteri Raja Pedang yang amat lihai.
Dengan pandang mata tajam Cui Sian mengerling ke arah Siu Bi yang biarpun tadi sudah didorong dari dadanya oleh Swan Bu, masih saja memegangi tangan kanan pemuda itu dengan erat, seakan-akan ia khawatir kalau-kalau kekasihnya akan direnggut orang.
"Swan Bu, mengapa kau berada di sini... dengan dia ini? Ayah Ibumu mencarimu, mereka amat mengharapkan kau pulang. Mau apa kau berkeliaran di sini bersama dia?"
Kembali ia melirik tajam ke arah Siu Bi, jelas wajahnya memperlihatkan hati tidak senang "Sukouw..."
Bingung sekali hati Swan Bu dan mau tak mau dia harus melepaskan tangannya dari pegangan Siu Bi karena merasa tidak enak di depan Bibi Gurunya itu memperlihatkan kasih sayangnya kepada Siu Bi, gadis yang tentu saja oleh Bibinya dianggap musuh karena sudah membuntungi lengannya.
"Sukouw, bagaimana dengan... Ibu? Tidak apa-apakah? Siapa... yang membunuh Paman Kong Bu?"
"Tak usah khawatir, bukan Ibumu yang membunuhnya, melainkan... kawan bocah liar ini,"
Kata Cui Sian sambil melirik lagi ke arah Siu Bi.
Watak Siu Bi memang keras dan ia pantang mundur menghadapi musuh yang bagaimanapun.
Tadi ia sudah mendongkol melihat sikap Cui Sian, akan tetapi ditahan-tahannya.
Mendengar bahwa yang membunuh Ayah Lee Si bukan Ibu Swan Bu, diam-diam ia merasa lega dan girang juga.
Akan tetapi mendengar ia disebut-sebut gadis liar dan pembunuh itu adalah kawannya, kemarahannya bangkit.
Lalu segera melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke muka Cui Sian sambil berseru nyaring.
"Enak saja kau bicara! Aku tidak punya kawan pembunuh! Hayo buktikan bahwa yang membunuh adalah kawanku, jangan hanya pandai melempar fitnah!"
Cui Sian tersenyum mengejek.
"Yang biasa melakukan fitnah adalah manusia macam kau dan teman-temanmu. Pembunuh kakakku Kong Bu adalah Ang-Hwa Nio-Nio! Nah, bukankah dia kawanmu?"
"Bukan! Ngaco kau, dia bukan kawanku, aku benci kepadanya!"
"Siapa tidak tahu akan kejahatanmu? Ang-Hwa Nio-Nio sudah mampus dan sekarang kau pun harus mampus!"
Cepat sekali gerakan Cui Sian yang maju dan menerjang Siu Bi dengan pedangnya.
Pedang hitam Siu Bi belum sempat ditarik untuk menangkis, namun gadis ini dengan gesit sudah meloncat ke kiri untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang, kemudian ia sudah mencabut pula pedangnya, siap bertanding mati-matian.
"Tahan! Sukouw, harap jangan serang dia!"
Kata Swan Bu sambil melompat ke depan, menghadang Cui Sian.
Biarpun pemuda buntung ini tidak mencabut pedangnya, namun sinar matanya jelas memperlihatkan bahwa dia tidak akan membiarkan Siu Bi diganggu.
Cui Sian ragu-ragu dan membentak.
"Swan Bu! Kau membela bocah liar ini, setelah apa yang terjadi semua? Setelah lenganmu dibuntungi dan setelah keluarga kita hampir rusak berantakan?"
"Sukouw, dia... aku... aku cinta kepadanya."
Siu Bi sudah menyimpan pedangnya dan kini ia kembali menggandeng tangan kanan Swan Bu.
Wajahnya berseri memperlihatkan sinar kemenangan dan mengejek.
Cui Sian tertegun, heran dan tidak tahu harus berkata apa.
Dengan tarikan napas panjang, ia menyimpan kembali pedangnya.
Cinta memang aneh sekali, pikirnya, atau lebih tepat orang muda yang dilanda cinta memang tidak waras otaknya, seperti...
seperti...
dia sendiri!
"Swan Bu, omongan apa yang kau keluarkan ini?
Kau diharapkan pulang dan perjodohanmu dengan Lee Si sudah diatur orang tuamu."
"Aku hanya mau menikah dengan Lee Si asal Siu Bi juga diperkenankan menjadi isteriku."
Terbelalak mata Cui Sian, akan tetapi karena hal itu bukan urusannya, ia menjawab.
"Sudahlah, aku tidak tahu akan hal itu. Kau boleh bicara sendiri dengan orang tuamu dan dengan Ibu Lee Si. Sekarang kau harus pulang dulu. Bocah ini kalau betul-betul mencintaimu... hemm, aku masih ragu-ragu akan hal ini, melihat betapa ia tega membuntungi lenganmu, kalau betul ia mencinta, ia harus setia dan suka menantimu."
Swan Bu menoleh kepada Siu Bi.
"Moi-moi, kau mendengar sendiri. Memang sebaiknya aku pulang lebih dulu. Aku yakin orang tuaku akan setuju dan kalau sudah demikian, baru aku akan menjemputmu."
"Tapi... tapi... aku akan tidak senang sekali kalau kau pergi..."
Cui Sian mendapat pikiran baik. Betapapun juga, Swan Bu harus dipisahkan dari gadis liar ini dan sekaranglah terbukanya kesempatan itu. Maka ia cepat berkata.
"Yang tidak berani berkorban adalah cinta palsu! Kalau bocah ini tidak membolehkan kau pulang untuk membereskan semua urusan, maka cintanya itu pura-pura saja."
Usahanya berhasil. Memang Siu Bi orangnya keras dan jujur, tidak merasa diakali orang. Mukanya menjadi merah dan ia membentak.
"Kalau kau bukan sukouw dari Swan Bu, sudah tadi-tadi kuterjang kau! Siapa bilang cintaku palsu? Swan Bu, kau pulanglah, aku akan menantimu. Pulanglah kau dan semua orang di dunia ini akan melihat bahwa cintaku tidak palsu dan aku setia kepadamu!"
Lega hati Swan Bu, akan tetapi khawatir juga.
"Siu Bi, kita harus mencari tempat untukmu, di mana kau dapat menantiku..."
"Bukankah di sini merupakan tempat juga? Aku akan tinggal di sini, Swan Bu di lembah sungai ini, menanti sampai kau datang menjemputku. Pergilah!"
Swan Bu merasa betapa berat perasaan hatinya harus meninggalkan kekasihnya di situ seorang diri.
Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan?
Pertama, dia malu terhadap Bibinya kalau terlalu memperlihatkan kelemahan hatinya akibat cinta kasih.
Selain itu, kalau ia terlalu menahan dan tidak rela meninggalkan Siu Bi, tentu kekasihnya itu akan merasa rendah terhadap Cui Sian.
"Siu Bi, Kau tunggulah dan carilah tempat di sekitar ini. Percayalah, aku pasti akan datang menjemputmu. Percayalah..."
Siu Bi tersenyum sungguhpun kedua matanya menjadi basah.
la pun merasa tidak rela dan berat harus berpisah dari orang yang paling ia cinta di dunia ini, miliknya satu-satunya yang masih tinggal.
Tanpa Swan Bu di sampingnya, hidup tidak akan ada artinya baginya.
Akan tetapi, bagaimanapun juga, tak mungkin ia dapat merampas Swan Bu begitu saja dari orang Tuanya.
Kalau ia menghendaki agar selanjutnya ia boleh menghabiskan sisa hidupnya di dekat Swan Bu, maka urusan itu harus ada persetujuan orang Tuanya.
Baginya, tidak peduli Swan Bu akan menikah dengan Lee Si atau dengan siapa juga atas kehendak orang Tuanya, asalkan hati dan cinta kasih pemuda itu dia yang memilikinya.
Bukan main terharunya hati Swan Bu menyaksikan gadis itu berdiri lemas dengan air mata di pipi dan senyum di Bibir.
Ingin dia memeluknya, ingin dia menghiburnya, namun ia malu melakukan hal ini di depan Cui Sian.
"Siu Bi, selamat berpisah untuk sementara..."
"Pergilah Swan Bu, dan jaga dirimu baik-baik. Aku akan tetap menantimu."
Pergilah Swan Bu bersama Cui Sian dan ada tiga empat kali dia menengok sebelum bayangan mereka lenyap ditelan tetumbuhan.
Melihat wajah Swan Bu demikian sedih, diam-diam Cui Sian merasa terharu dan kasihan.
Tentu saja, kalau menurutkan hatinya, ia tidak suka melihat Swan Bu berjodoh dengan Siu Bi, gadis liar yang semenjak kecil berdekatan dengan orang-orang jahat.
Jauh lebih baik apabila Swan Bu berjodoh dengan Lee Si, selain gadis itu memang berdarah ksatria, juga perjodohan ini akan merupakan penghapus bagi luka-luka yang diakibatkan oleh kesalah-pahaman antara keluarga Pendekar Buta dan keluarga Raja Pedang.
Akan tetapi, oleh pengalamannya sendiri pada saat itu sebagai korban asmara, ia dapat merasai pula keadaan hati pemuda ini, maka diam-diam ia menaruh rasa kasihan.
Pemuda itu berjalan sambil menundukkan mukanya yang pucat, seakan-akan semangatnya tertinggal pada gadis kekasihnya yang tadi tersenyum dengan air mata bertitik.
"Swan Bu..."
Pemuda itu kaget dan menengok.
"Ada apakah, Sukouw?"
"Kau tentu maklum, bukan maksudku merusak kebahagiaanmu, akan tetapi aku memaksamu pergi menemui orang tuamu demi kebaikan kita bersama, demi kebaikan orang tuamu, kebaikan keluarga dan kebaikanmu sendiri!"
"Aku mengerti, Sukouw."
Swan Bu menarik napas panjang.
"Sekarang, sebelum kita pulang, mari kita singgah dulu di perkemahan pantai Po-Hai, di mana kau akan dapat bertemu dengan banyak sahabat baik dan saudara..."
Suara Cui Sian terdengar gembira, karena memang sengaja gadis ini hendak menghibur Swan Bu dan membangkitkan semangatnya.
Kalau pemuda ini bertemu dengan orang-orang gagah yang bertugas membasmi bajak-bajak laut, tentu akan terbangkit pula semangatnya sebagai keturunan seorang Pendekar sakti seperti Pendekar Buta.
"Mereka siapakah, Sukouw?"
Suara Swan Bu dalam pertanyaan ini tidak begitu mengacuhkan.
Setelah berpisah dengan orang yang paling dia sayangi di dunia ini di samping Ayah Bundanya, siapa pulakah yang dapat menggembirakan hatinya dalam perjumpaan?
"Kau akan bertemu dengan Bun Hui!"
"Mengapa saudara Bun Hui berada di tempat ini?"
"Dia mewakili Ayahnya untuk memimpin pasukan dari Tai-Goan yang bertugas membasmi bajak-bajak laut di daerah Po-Hai."
Swan Bu mengangguk-angguk, akan tetapi pikirannya melayang lagi, dia tidak begitu memperhatikan urusan pembasmian bajak laut yang dianggapnya bukanlah urusannya.
"Dan di sana kau akan menemui banyak orang-orang gagah, di antaranya adalah seorang yang sama sekali takkan dapat kau duga-duga siapa adanya!"
Cui Sian memperdengarkan suara gembira agar pemuda itu tertarik. Memang berhasil dia karena Swan Bu benar-benar memperhatikan.
"Sukouw, siapakah dia?"
"Seorang Pendekar muda yang hebat, dan dia masih keponakanku sendiri!"
Wajah Swan Bu mulai berseri.
"Apa? Sukouw maksudkan... dia... Hwat Ki?"
Ketika Cui Sian mengangguk membenarkan, wajah pemuda ini sudah mulai berseri gembira, pernah dia berkenalan dan bertemu dengan Tan Hwat Ki sewaktu mereka berdua masih kecil, baru berusia belasan tahun.
la membayangkan Cucu Raja Pedang itu yang tampan dan gagah.
"Dia berada di sana bersama sumoinya, seorang gadis cantik dan gagah perkasa."
Akan tetapi Swan Bu tidak memperhatikan ucapan ini karena pikirannya penuh oleh bayangan Tan Hwat Ki yang akan dijumpainya, dan perjalanan mereka kini dilakukan dengan cepat.
Yosiko yang semenjak tadi bersembunyi dan mengintai, tentu saja menjadi kaget sekali ketika tadi pemuda buntung itu memanggil nama gadis yang baru tiba.
Gadis itu disebut "Sukouw Cui Sian"!
Jadi inikah Cui Sian, gadis yang menjadi pilihan hati Yo Wan?
Hatinya dipenuhi kebencian dan ingin ia melompat ke luar untuk menyerang dan membunuh gadis itu.
Memang ia meninggalkan tempatnya dengan satu niat di hatinya, membunuh gadis yang bernama Cui Sian.
Akan tetapi Yosiko bukanlah seorang gadis yang bodoh dan ceroboh.
la tadi sudah menyaksikan gerakan gadis yang hendak membunuh diri dan gerakan pemuda buntung yang mencegahnya.
Gerakan mereka itu hebat, membayangkan kepandaian ilmu silat yang amat tinggi.
Pemuda buntung itu sudah lihai sekali, kalau Cui Sian adalah sukouwnya (bibi Gurunya), dapat dibayangkan betapa hebatnya kepandaian Cui Sian!
Baca Juga: Suling Emas 13
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 13