Eps 9 Jaka Lola - Kho Ping Hoo
Baca online Jaka Lola - Kho Ping Hoo
Cersil Jaka Lola - Kho Ping Hoo.
la tidak mau bertindak sembrono menurutkan nafsu amarah kemudian sekali turun tangan dan gagal, apalagi kalau diingat bahwa Cui Sian pada saat itu mempunyai dua orang kawan yang kalau mengeroyoknya tentu akan lebih sukar mencapai kemenangan.
la tertarik sekali ketika menyaksikan dan mendengar percakapan tiga orang muda itu.
Keadaan Siu Bi selain menarik perhatiannya, juga mendatangkan sebuah pikiran baik sekali.
Oleh karena ini, maka Yosiko mendiamkan saja ketika Cui Sian dan Swan Bu pergi.
Untuk beberapa lamanya ia memandang Siu Bi yang sepergi kedua orang itu lalu duduk di atas tanah dan menangis.
Memang hati Siu Bi berduka sekali.
la tidak dapat menahan kepergian kekasihnya.
la maklum bahwa kalau ia tidak memperbolehkan Swan Bu pulang lebih dulu menemui orang Tuanya, Selamanya ia tidak akan dapat membereskan urusannya dengan Swan Bu.
la percaya penuh akan cinta kasih pemuda yang lengannya ia buntungi itu, akan tetapi ia pun maklum betapa Swan Bu takkan dapat membantah orang Tuanya.
la takut sekali kalau-kalau ia akan kehilangan pemuda itu dan andaikata hal ini terjadi, hidup tiada artinya lagi baginya.
Kekhawatiran inilah yang mengamuk di hatinya setelah di situ tidak ada siapa-siapa dan ia boleh puas menangis.
Di depan Cui Sian tadi, tak sudi ia memperlihatkan kelemahan hatinya.
Yosiko keluar dari tempat sembunyinya menghampiri Siu Bi dengan perlahan.
la melihat gadis itu menangis sedih dan agaknya tidak tahu akan kedatangannya, maka ia pun duduk pula di depan Siu Bi yang menyembunyikan mukanya, di belakang kedua tangan.
Air mata bercucuran keluar dari celah-celah jari tangannya.
Yosiko menarik napas panjang.
"Dia memang seorang pemuda yang amat tampan dan gagah perkasa..."
Katanya lirih.
"Tidak ada pemuda lebih tampan dan gagah daripada Swan Bu di dunia ini!"
Serta merta Siu Bi menjawab tanpa menurunkan kedua tangan dari depan mukanya.
Kembali Yosiko menarik napas panjang.
Kalau bagi Siu Bi ucapan Yosiko tadi cocok benar dengan suara hatinya, adalah jawaban Siu Bi juga tepat dengan perasaan Yosiko.
Tentu saja keduanya melamunkan dua macam pemuda!
"Pemuda sehebat itu patut dicinta sampai mati..."
Kembali Yosiko berkata seperti kepada dirinya sendiri. Kembali seperti dalam mimpi, tanpa menurunkan kedua tangannya, Siu Bi menyambung.
"Aku cinta kepada Swan Bu dengan sepenuh jiwa ragaku."
Hening pula sejenak. Siu Bi masih terisak-isak, Yosiko duduk termenung. Keduanya duduk di atas tanah berhadapan, akan tetapi seakan-akan tidak tahu akan keadaan masing-masing.
"Perempuan yang bernama Cui Sian itu sungguh amat menjemukan"
Kembali Yosiko berkata.
"Aku benci kepadanya! Aku benci kepadanya!"
Tiba-tiba Siu Bi berseru dan menurunkan kedua tangannya.
Tiba-tiba ia berseru keras dan meloncat bangun sambil mencabut pedangnya.
Sinar hitam berkelebat ketika Siu Bi menerjang Yosiko dengan pedangnya itu.
Akan tetapi Yosiko sudah menangkis dengan pedangnya pula sehingga keduanya terhuyung mundur.
"Siapa kau?"
Bentak Siu Bi. Yosiko tersenyum.
"Adik yang baik, simpanlah pedangmu. Aku bukan musuh, aku bukan Cui Sian. Kita senasib sependeritaan, kita sama-sama dibikin sengsara oleh perempuan bernama Cui Sian tadi!"
"Apa kau bilang?"
"Namaku Yosiko, dan aku benar-benar suka kepadamu karena nasib kita sama. Kau berpisah dari kekasihmu karena Cui Sian, aku pun... aku terpaksa berpisah dari dia karena Cui Sian. Adik Siu Bi, sebaiknya kita bersatu untuk menghadapi Cui Sian."
"Kau mengerti namaku?"
Yosiko menyimpan pedangnya.
"Mari kita bicara secara sahabat baik. Sudah sejak tadi aku melihat dan mendengar semua."
Siu Bi menjadi merah mukanya, akan tetapi karena melihat bahwa gadis cantik itu tidak bersikap sebagai musuh, ia pun menyimpan pedangnya dan kembali mereka duduk, akan tetapi kali ini mereka saling memandang dan memperhatikan.
"Mengapa sikapmu begini aneh? Apa yang kau kehendaki dari padaku?"
"Begini, adik Siu Bi. Aku tadi tanpa kusengaja sudah mendengar dan melihat semua apa yang terjadi. Kau dan pemuda buntung yang tampan tadi saling mencinta, bersumpah sehidup semati, akan tetapi lalu datang Cui Sian yang mengajaknya pergi, kalau tidak salah... untuk menjodohkan pemuda kekasihmu itu dengan wanita lain, bukan?"
"Swan Bu takkan mau melupakan aku!"
Teriak Siu Bi bernafsu.
"Aku percaya, dia amat mencintamu tampaknya. Akan tetapi, jangan pandang rendah perempuan bernama Cui Sian itu. Dia, mendengar tadi, adalah Bibi Gurunya, tentu akan dapat membujuk dan mengubah pendiriannya."
Pucat wajah Siu Bi.
"Hemmm, tidak mungkin... andaikata begitu, apa kehendakmu?"
"Aku pun benci kepada Cui Sian. Lebih baik kita berdua mencarinya dan membunuhnya!"
"Huh, enak saja kau bicara. Namamu Yosiko, agaknya kau orang asing dan tidak tahu siapa Cui Sian! kau kira gampang membunuh dia? Kau tahu siapa dia? Dia adalah puteri tunggal dari Raja Pedang, tahukah engkau?"
Yosiko mengangguk dingin.
"Tentu saja aku tahu. Kalau tidak tahu bahwa dia lihai, tentu tadi aku sudah muncul dan kubunuh dia. Karena dia lihai itulah, maka aku mengajak kau bersekutu, mari kita berdua mengeroyok dan membunuhnya.
"Hemmm, tidak segampang menggoyang lidah, Yosiko. Eh, nanti dulu, kau ini siapakah dan mengapa tiada hujan tiada angin begini benci kepada Cui Sian? Kalau kau tidak ceritakan persoalanmu lebih dulu, aku tidak sudi bicara lebih lanjut denganmu."
Siu Bi memandang curiga. Yosiko kembali menarik napas panjang.
"Baiklah, dan terserah kepadamu apakah kau suka berteman denganku atau tidak setelah kau mendengar keadaanku. Seorang sahabat tidak perlu pura-pura. Aku bernama Yosiko dan aku adalah Hek-San Pangcu, Ketua dari bajak laut Kipas Hitam!"
La berhenti sebentar untuk melihat reaksi pada wajah cantik itu. Akan tetapi karena Siu Bi tidak pernah mendengar tentang bajak-bajak laut, hanya ayem saja mendengarkan.
"Semenjak kecil aku dan Ibu selalu bercita-cita agar aku mendapatkan jodoh seorang Pendekar yang tinggi ilmu silatnya, yang tidak saja dapat menangkan aku, akan tetapi bahkan dapat mengalahkan Ibu!"
"Baik sekali,"
Siu Bi segera memberi komentar.
"Swan Bu juga tiga kali lebih lihai daripada aku! Akan tetapi bagiku, andaikata Swan Bu tidak lebih lihai daripada aku, aku pun tetap akan cinta padanya!"
"Uh, salah besar! Aku tidak tahu tentang cinta, pendeknya, calon jodohku sudah cukup kalau kepandaiannya jauh melebihi aku!"
Siu Bi mengangkat pundak, tidak peduli.
"Lalu bagaimana? Kepandaianmu tinggi, ini dapat kuketahui ketika kau menangkisku tadi. Adakah pria yang dapat menandingimu?"
"Bukan hanya menandingi!"
Kata Yosiko, wajahnya berseri.
"La malah patut menjadi Guruku! Ibu sendiri tidak mampu menangkan dia! la hebat, wah, pendeknya di dunia ini tidak akan ada pria yang dapat mengalahkan dia!"
Siu Bi tersenyum mengejek.
Belum tentu, pikirnya.
Swan Bu memiliki kepandaian yang luar biasa!
"Siapa sih namanya laki-laki pilihanmu itu dan mengapa kau membenci Cui Sian?
Apa hubungannya dengan laki-laki pilihanmu itu"
Seketika wajah Yosiko menjadi muram.
"Laki-laki itu bernama Yo Wan dan celakanya, dia mencinta Cui Sian."
Terbelalak mata Siu Bi memandang ketika ia mendengar disebutnya nama ini.
"Yo Wan kau bilang? Yo Wan...??"
Yo Wan murid Pendekar Buta?"
Kini Yosiko yang menjadi tercengang dan kaget.
"Apa? Kau kenal dia?"
"Kenal dia?"
Siu Bi tertawa dan luculah melihat gadis yang matanya masih merah bekas menangis ini tertawa geli.
"Aku mengenal Yo Wan? Ah, aku mengenalnya baik sekali! Suatu kebetulan yang amat tak tersangka-sangka, sahabatku! Tahukah kau siapa kekasihku, pemuda buntung yang paling tampan dan gagah di seluruh dunia tadi? Dia adalah putera tunggal Pendekar Buta!"
Untuk kedua kalinya Yosiko tercengang. Sesaat ia memandang Siu Bi dengan bengong, kemudiah ia merangkulnya.
"Kebetulan sekali! Kau mencinta putera Pendekar Buta, dan aku memilih muridnya. Bukankah dengan demikian kau dan aku masih ada hubungan dekat? Sudah sepatutnya kita tolong-menolong, sudah selayaknya kita bersatu. Kita sama-sama membenci Cui Sian yang agaknya menjadi perusak kebahagiaan kita!"
Siu Bi memandang ragu dan Yosiko yang cerdik sekali dapat menduga akan hal ini. Maka cepat-cepat Yosiko memutar otaknya dan berkata.
"Kau dengar, Siu Bi adikku yang manis. kau bantulah aku menghalau Cui Sian ini, dan kalau aku sudah berjodoh dengan Yo Wan, aku dapat membujuknya agar dia mau membantumu mendapatkan kekasihmu tanpa diganggu oleh siapapun juga. Sebagai murid Pendekar Buta, tentu dia akan dapat membujuk Suhunya untuk meluluskan puteranya menikah dengan engkau seorang. Bukankah ini kerja sama yang baik sekali namanya?"
Yosiko terus membujuk dan karena Siu Bi berwatak sederhana, akhirnya ia kena bujuk juga dan menyanggupi.
Menghadapi Yosiko, ia kalah bicara dan memang keduanya memiliki watak yang cocok, maka sebentar saja mereka merasa senasib sependeritaan dan menjadi dua orang sahabat baik.
"Mereka takkan pergi jauh!"
Kata Yosiko.
"Aku tahu bahwa Cui Sian itu hendak membantu pembasmian bajak-bajak laut di daerah Po-Hai ini, dan kurasa pekerjaan itu tidaklah mudah, tidaklah dapat diselesaikan dalam waktu singkat. kau lihat saja, tentu mereka masih berada di sekitar tempat ini, dan aku tahu kemana harus mencari Cui Sian!"
Mereka bercakap-cakap dan sama sekali mereka tidak tahu bahwa semenjak tadi ada seorang laki-laki yang mengintai, melihat dan mendengarkan percakapan mereka.
Mendengar bujukan Yosiko, laki-laki ini menggeleng-geleng kepala dan berkali-kali menarik napas panjang, Keningnya berkerut dan tak lama kemudian setelah tahu apa yang menjadi rencana dua orang gadis yang diliputi perasaan dendam itu, dia meninggalkan tempat itu dengan diam-diam.
Laki-laki ini bukan lain adalah Yo Wan!
Apa yang dikatakan Yosiko memang betul, Bun Hui dengan dibantu oleh Tan Hwat Ki dan Bu Cui Kim, memimpin orang-orangnya untuk membasmi bajak-bajak laut yang merajalela di daerah Po-Hai.
Akan tetapi tidaklah mudah membasmi gerombolan penjahat itu, karena selain jumlah mereka banyak, juga mereka itu rata-rata adalah orang-orang yang pandai berkelahi dan dipimpin oleh orang-orang yang tangguh.
Apalagi semenjak digempur oleh pasukan Kerajaan ini, para bajak laut lalu siap-siap dan bersatu, bahkan mereka lalu mengangkat Ketua Kipas Hitam menjadi pemimpin untuk melakukan perlawanan.
Semua gerombolan bajak laut sudah tahu belaka akan kelihaian Hek-San Pangcu (ketua dari Kipas Hitam), Yosiko!
Ketika mendengar penuturan Tan Hwat Ki dan sumoinya tentang Yo Wan, Bun Hui merasa menyesal sekali mengapa orang gagah yang aneh itu tidak mau datang menggabungkan diri untuk bersama-sama membasmi bajak laut.
Pemuda bangsawan ini ingin sekali dapat menangkap Ketua Kipas Hitam yang tersohor, untuk dibawa sebagai tawanan ke Kota Raja sehingga dengan jasa itu dia akan dapat mengangkat nama besar Ayahnya.
Akan tetapi selama beberapa pekan ini, dia hanya dapat mendengar namanya saja yaitu Hek-San Pangcu yang bernama Yosiko, akan tetapi belum pernah dia melihat orangnya.
Hampir dia tidak percaya ketika dua orang muda dari Lu-Liang-San itu bercerita bahwa Ketua Kipas Hitam adalah seorang gadis peranakan yang cantik.
"Itulah sebabnya mengapa saudara Yo Wan melarang kami berdua menyerang Yosiko,"
Demikian penuturan Tan Hwat Ki.
"Saudara Yo Wan adalah murid Pendekar Buta, maka dia termasuk orang dalam dan dia tidak menghendaki kalau di antara keluarga terjadi permusuhan. Memang aneh sekali, kenapa segala hal bisa terjadi secara kebetulan sekali. Siapa kira kepala bajak laut itu adalah saudara misanku sendiri."
Bun Hui mengerutkan keningnya.
"Kalau memang begitu, mengapa tidak menginsyafkan gadis itu? Kalau dia dapat diinsyafkan dan anak buahnya tidak melakukan perlawanan, bahkan suka menyerah, bukankah tidak akan terjadi ribut-ribut lagi? Kalau memang dia itu masih Cucu Raja Pedang dan suka membubarkan perkumpulan bajak laut, aku bersedia untuk mintakan ampun ke Kota Raja."
Tan Hwat Ki menggelengkan kepala.
"Agaknya sukar. Dia itu, biarpun wanita, lihai bukan main dan juga berwatak liar."
"Biarpun ada hubungan keluarga, kalau dia jahat patut dibasmi!"
Sambung Bu Cui Kim yang masih merasa cemburu.
Demikianlah, setiap hari masih terus Bun Hui melakukan pengejaran terhadap para bajak laut yang melakukan perlawanan secara sembunyi-sembunyi, dipimpin oleh Yosiko yang amat licin.
Banyak di antara anak buah Bun Hui menjadi korban dan selama ini belum pernah dia berhasil mendapatkan sarang bajak laut itu yang selalu berpindah-pindah.
Kedatangan Tan Cui Sian bersama Kwa Swan Bu menggirangkan hati semua orang.
Tan Cui Sian merupakan bantuan yang hebat, karena semua maklum bahwa puteri Raja Pedang ini memiliki kepandaian yang luar biasa.
Apalagi setelah Bun Hui dan Tan Hwat Ki diperkenalkan kepada si pemuda buntung yang ternyata adalah putera Pendekar Buta, mereka menjadi girang bukan main.
Mereka menjadi terharu sekali menyaksikan lengan yang buntung dari pemuda tampan ini, tetapi karena wajah pemuda itu kelihatan muram dan sedih, mereka pun tidak berani banyak bertanya.
Lebih besar lagi kegembiraan hati Bun Hui ketika mendengar dari Cui Sian bahwa gadis perkasa ini tahu akan sarang Yosiko Ketua Kipas Hitam.
Malah di bawah pimpinan Pendekar wanita ini mereka lalu melakukan penggerebekan, yaitu di dalam gua di mana Cui Sian melihat Yosiko bersama Yo Wan.
Semenjak saat ia melihat Yo Wan tinggal bersama Yosiko itu, hati Cui Sian serasa ditusuk-tusuk, penuh cemburu.
Akan tetapi dasar seorang wanita Pendekar, ia dapat menyembunyikan perasaannya ini dengan baik.
Namun mereka kecewa karena ketika mereka menggeropyok tempat itu, burungnya sudah terbang pergi dari kurungan.
Yosiko tidak tampak bayangannya, dan di situ hanya tinggal terdapat bekas-bekas ditinggali orang saja.
Dan sewaktu Cui Sian bersama Swan Bu, Bun Hui, Hwat Ki, dan Cui Kim melakukan penggeropyokan di situ, ternyata perkemahan mereka yang hanya dijaga oleh pasukan dari tiga puluh orang lebih, diserbu oleh bajak laut yang jumlahnya dua kali lipat!
Belasan orang penjaga tewas dan perkemahan itu dibakar!
Hal ini membuat Bun Hui makin gemas dan pusing.
Dan hal ini pula yang membuat Cui Sian terpaksa menunda perjalanannya, karena ia melihat para bajak laut itu tidak boleh dipandang ringan, dan sudah sepatutnya kalau ia membantu Bun Hui.
Swan Bu juga tidak keberatan, karena sebagai seorang Pendekar, dia pun tidak mungkin dapat melihat saja tanpa membantu usaha Bun Hui yang bertugas memulihkan keamanan dan membasmi bajak-bajak laut yang begitu lihai.
Setelah tinggal di situ beberapa hari lamanya, akhirnya Bun Hui dapat mendengar juga penuturan Swan Bu tentang buntungnya lengannya.
Swan Bu segera tertarik kepada Hwat Ki dan Bun Hui yang gagah.
Mereka segera menjadi sahabat-sahabat baik dan mulai beranilah mereka saling membuka rahasia hati masing-masing.
Akan tetapi betapa terkejut hati Bun Hui ketika mendengar bahwa yang membuntungi lengan Swan Bu adalah The Siu Bi, gadis yang pernah mengacau gedung Ayahnya, dan pernah pula mengacau hatinya!
"Ah, kalau begitu betullah kekhawatiran Ayah,"
Komentar Bun Hui.
"Ayah telah melihat betapa sakit hati nona Siu Bi itu sungguh-sungguh, sehingga dahulu Ayah sengaja menyuruh aku pergi menemui Ayahmu untuk menyampaikan peringatan agar berhati-hati. Kiranya ekornya begini hebat..."
Swan Bu tersenyum.
"Tidak apa, saudara Bun Hui, dan ini agaknya sudah kehendak Thian. Buktinya, dibuntunginya lenganku oleh Siu Bi, malah menjadi perantara ikatan jodoh antara dia dan aku."
"Heee...???"
Bun Hui kaget bukan main, juga Hwat Ki menjadi bingung. Akan tetapi Swan Bu hanya menarik napas panjang, tidak melanjutkan kata-katanya yang tadi tanpa sengaja terloncat dari Bibirnya.
"Karena kalian adalah sahabat-sahabat baik dan orang sendiri, kelak tentu akan mendengar juga."
Mereka tidak berani mendesak, hanya Bun Hui diam-diam mencatat di dalam hatinya bahwa Siu Bi bukanlah jodohnya, sungguhpun gadis itu dahulu pernah mengaduk-aduk hatinya dan pernah pula menjadi buah mimpinya setiap malam.
Kiranya gadis yang hendak memusuhi Pendekar Buta dan yang sudah berhasil membuntungi lengan Swan Bu, malah akan menjadi jodoh pemuda ini.
Apalagi kalau bukan gila namanya ini?
Bun Hui masih termenung, menggeleng-geleng kepala, berkali-kali Bibirnya mengeluarkan bunyi "Tsk-tsk-tsk"
Kalau dia teringat akan Siu Bi dan Swan Bu.
Sukar dipercaya memang.
Apakah Siu Bi sudah gila?
Ataukah Swan Bu yang tolol?
Atau juga barangkali dia yang miring otaknya?
Gadis itu dahulu bersumpah untuk memusuhi Pendekar Buta sekeluarga.
Kemudian gadis itu berhasil dalam balas dendamnya, membuntungi lengan Swan Bu.
Akan tetapi sekarang menurut pengakuan Swan Bu, mereka akan berjodoh, berarti mereka saling mencinta!
Adakah yang lebih aneh daripada ini?
Betapapun juga, diam-diam dia iri kepada Swan Bu.
Ketika pemuda itu bercerita tentang Siu Bi, wajahnya berseri matanya bersinar-sinar.
"Ah, alangkah senangnya mencinta dan dicinta. Kalau dia? Masih sunyi! Ah, dunia memang banyak terjadi hal aneh-aneh...!"
La menghela napas dengan kata-kata agak keras.
Bun Hui sedang berada seorang diri di pinggir pantai yang sunyi, merenung dan menyepi karena hatinya kesal.
Siang hari itu panas sekali dan seorang diri dia pergi ke pantai, sekalian melihat-lihat dan mengintai.
Beberapa hari ini dia jengkel karena para penyelidiknya belum juga dapat mencari tempat sembunyi pimpinan bajak laut.
"Dunia memang aneh..."
Sekali lagi dia berkata dan kakinya menumbuk-numbuk pasir.
"Lebih aneh lagi pertemuan ini!"
Tiba-tiba terdengar suara orang dan Bun Hui kaget sekali, cepat dia menengok dengan tangan meraba gagang pedangnya.
Akan tetapi seketika tangannya lemas dan kekhawatirannya lenyap terganti kekaguman.
Bukan musuh mengerikan atau bajak laut yang kejam liar yang dihadapi, melainkan seorang gadis yang cantik molek dengan pakaian sutera tipis warna putih berkembang merah, berkibar-kibar ujung pakaian dan rambut hitam halus terkena angin laut!
Dewi laut agaknya yang datang hendak menggodanya!
Kalau memang dewi laut atau siluman, biarlah dia digoda!
Pandang mata Bun Hui lekat dan sukar dialihkan dari lesung pipit yang menghias ujung Bibir.
"Bun-Ciangkun (Perwira Bun), panglima muda dari Tai-Goan, bukan?"
Gadis jelita itu menegur dan memperlebar senyumnya sehingga berkilatlah deretan gigi kecil-kecil putih yang membuat pandang mata Bun Hui makin silau.
Bun Hui terkejut dan heran sekali.
Akan tetapi dia adalah seorang pemuda yang cerdas, dalam beberapa detik saja dia sudah dapat menduga siapa adanya nona yang cantik dan tidak pemalu ini.
Maka dia pun cepat-cepat menjura dan berkata.
"Dan kalau tidak salah dugaanku, kau adalah Yosiko, Hek-San Pangcu, bukan?"
Yosiko kembali tersenyum, tapi pandang matanya berkilat.
"Tak salah dugaanmu. Agaknya kau cukup cerdik untuk menduga pula apa yang harus kita lakukan setelah kita saling berjumpa di tempat ini. Sudah berpekan-pekan kau memimpin orang-orangmu untuk membasmi aku dan teman-temanku. Sekarang kita kebetulan saling bertemu di sini, berdua saja. Nah, orang she Bun, cabutlah pedangmu dan mari kita selesaikan urusan antara kita."
Aneh sekali.
Timbul keraguan dan kesangsian di hati Bun Hui.
Padahal, sering kali tadinya dia ingin dapat menangkap Ketua bajak laut Kipas Hitam dengan tangannya sendiri, atau membunuhnya dengan pedangnya sendiri.
Semestinya dia akan menyambut tantangan ini dengan penuh kegembiraan.
Akan tetapi entah bagaimana, bertemu dengan Yosiko, dia terpesona dan tidak tega untuk mengangkat senjata menghadapi nona jelita ini!
Apalagi ketika dia teringat akan penuturan Tan Hwat Ki bahwa gadis ini masih terhitung Cucu keponakan Raja Pedang sendiri, makin tidak tegalah dia untuk memusuhinya.
"Hayo lekas siapkan senjatamu, mau tunggu apa lagi? Menanti kawan-kawanmu agar dapat mengeroyokku?"
Yosiko mengejek dan gadis ini sudah berdiri tegak dengan Pedang di tangan kanan dan sabuk sutera putih di tangan kiri, sikapnya gagah menantang, juga amat cantik.
"Hek-San Pangcu, dengarlah dulu omonganku,"
Akhirnya Bun Hui dapat berkata setelah dia menenteramkan jantungnya yang berdebaran keras.
"Memang suatu kebetulan yang tak tersangka-sangka aku dapat bertemu denganmu di sini dan memang hal ini sudah kuharapkan selalu. Ketahuilah, setelah aku mendengar siapa adanya Ketua Kipas Hitam yang memimpin para bajak, sudah lama sekali keinginanku untuk memerangimu lenyap. Aku mendengar bahwa engkau adalah Cucu keponakan Lo-Cianpwe Tan Beng San, Raja Pedang Ketua Thai-San-Pai. Setelah kini aku berhadapan denganmu, melihat kau seorang gadis muda yang gagah dan pantas menjadi Cucu seorang Pendekar sakti seperti Raja Pedang, kuharap kau suka mendengar omonganku dan marilah kita berdamai..."
"Apa? Kau perwira tinggi Kerajaan mengajak damai bajak laut? Mengajak damai setelah kau mengobrak-abrik orang-orangku, membunuhi banyak anak buahku?" (Lanjut ke
Jilid 24) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 24
"Pangcu... Nona, ingatlah. Kita masih orang sendiri. Aku amat menghormati keluarga Raja Pedang, dan kau adalah Cucunya. Aku merasa sayang sekali melihat kau tersesat. Kembalilah ke jalan benar. kau bubarkan para bajak, menyatakan takluk dan bertobat. Percayalah, aku yang akan menanggung, aku yang akan mintakan ampun agar kau tidak akan dituntut..."
"Huh, siapa minta kasihan darimu? Eh, orang muda she Bun, mengapa kau mendadak sontak begini sayang kepadaku?"
Wajah Bun Hui menjadi merah. Gadis jelita ini selain gagah dan liar, juga lidahnya amat tajam! "Sudah kukatakan tadi, Nona. Karena kau seorang wanita muda, karena kau masih keluarga Raja Pedang."
"Hemmm, karena kau takut! Karena kau seorang diri, tidak dapat mengandalkan bantuan orang-orangmu, maka kau takut melawan aku! Huh, begini sajakah panglima muda dari Tai-Goan?"
Wajah pemuda itu sebentar pucat, sebentar merah. Perlahan-lahan dia menggerakkan tangannya meraba gagang Pedang dan dengan sinar mata marah dia mencabut pedangnya.
"Hek-San Pangcu, aku seorang laki-laki sejati, mengapa harus takut? Aku tadi bicara dengan kesungguhan hati karena sayang melihat engkau tersesat, seberapa dapat hendak menyadarkanmu. Akan tetapi kalau kau menganggap sikapku itu karena takut, silakan maju!"
Yosiko tersenyum lagi.
"Nah, ini baru namanya jantan. Orang she Bun, bersiaplah untuk mampus!"
Pedangnya berkelebat diikuti gerakan sabuk suteranya ketika gadis ini menyerang dengan hebat.
Terkejut juga hati Bun Hui.
Tak disangkanya gadis ini demikian ganas dan serangannya begitu dahsyat.
Cepat dia memutar Pedang menangkis sambil meloncat ke samping menghindarkan diri daripada sambaran sabuk sutera yang mendatangkan angin pukulan hebat itu.
"Tranggggg...!"
Sepasang Pedang bertemu dan keduanya terhuyung mundur.
Akan tetapi tiba-tiba Yosiko terguling dan hanya dengan berjungkir balik saja gadis ini dapat menahan diri tidak jatuh.
la terheran-heran.
Mungkinkah pemuda she Bun ini begitu kuat sehingga sekali benturan senjata membuat dia terguling hampir jatuh?
Diam-diam ia kaget dan juga kagum.
Yo Wan sendiri yang pernah ia uji kepandaiannya, tak mungkin sekuat ini!
Di lain pihak, Bun Hui juga terkejut dan heran.
la tadi merasa betapa pedangnya terbentur membalik oleh Pedang gadis itu dan biarpun dia sudah menghindar, hampir saja ujung sabuk sutera putih itu menyentuh lambungnya.
Akan tetapi entah mengapa, tiba-tiba sabuk itu berkibar pergi dan dia merasa ada sambaran hawa panas lewat di samping tubuhnya dan melihat gadis itu hampir jatuh.
la maklum bahwa nama besar Ketua Kipas Hitam ini bukanlah nama kosong belaka, dan bahwa gadis jelita ini benar-benar lihai, maka dengan hati penuh kekaguman dan penyesalan, dia siap menghadapi serangan lawan.
Dengan hati penasaran Yosiko menerjang maju lagi, kini lebih hebat.
Pedangnya diputar di atas kepala lalu melayang turun ke arah leher lawan, sedangkan sabuk suteranya meluncur maju menotok ulu hati yang akan mendatangkan maut apabila mengenai sasaran dengan tepat.
Kembali Bun Hui menggerakkan pedangnya menangkis, sedangkan tangan kirinya dikebutkan untuk menyambar ujung sabuk yang menyerang dada.
"Tranggg...!"
Kembali keduanya terhuyung dan alangkah kaget hati Yosiko ketika ia merasa tadi betapa sabuknya tiba-tiba hilang kekuatannya dan bahkan membalik ke belakang dan menyerang dirinya sendiri!
la membanting tubuh ke belakang dan bergulingan, wajahnya pucat.
Hebat pemuda ini!
Ilmu siluman apakah yang digunakan pemuda itu sehingga dalam dua gebrakan saja ia hampir celaka, padahal pemuda itu bukannya menyerang, melainkan menghadapi serangannya?
Bukan Yosiko saja yang terheran-heran dan kagum, juga Bun Hui merasa heran sekali.
la tadi merasa tangannya kesemutan dan kalau dilanjutkan, tentu serangan ujung sabuk akan mencelakakannya sungguhpun serangan Pedang dapat dia tangkis, akan tetapi kembali dia merasa ada angin pukulan menyambar membantunya dan membuat gadis penyerangnya itu terserang sabuk sendiri.
la cepat menoleh, akan tetapi tidak melihat apa-apa.
Yosiko kini mengeluarkan sebuah kipas hitam!
la benar-benar merasa kagum, akan tetapi di samping kekagumannya ini pun terkandung rasa penasaran.
Pemuda bangsawan yang tampan ini tidak kelihatan terlalu sakti, akan tetapi mengapa ia sama sekali tidak berdaya menghadapinya?
Bun Hui sudah mendengar akan jahatnya kipas hitam yang mengandung racun ini, maka dia khawatir sekali.
"Nona, aku sungguh-sungguh tidak ingin bertempur mati-matian melawanmu, marilah kita bicara baik-baik!"
"Terima ini!"
Yosiko membentak dan sudah melompat maju, pedangnya menyambar, diikuti gerakan kipas yang dikibaskan ke arah Bun Hui.
Uap hitam menyambar dan agaknya pemuda itu akan celaka kalau pada saat itu tidak tampak sinar menyilaukan berkelebat dan tahu-tahu Yosiko memekik kesakitan, kipasnya mencelat jauh dan pundaknya terluka ujung Pedang Bun Hui.
la roboh dan mengerang kesakitan.
Melihat ini, kagetlah Bun Hui.
Kini dia merasa yakin, bahwa diam-diam ada orang yang membantunya.
Tadi pedangnya bergerak menangkis lagi, akan tetapi entah bagaimana pedangnya itu meleset dan terus menusuk ke arah leher Yosiko, sedangkan sinar yang berkelebat dari belakangnya menghantam kipas.
Baiknya dia masih cepat menarik pedangnya sehingga tidak menembus leher yang indah, melainkan menyeleweng dan melukai pundak.
Mungkin saking kaget, penasaran dan sakit, Yosiko rebah pingsan!
Ketika la membuka mata, ia rebah di tanah dan Bun Hui sedang mengobati pundaknya!
Bukan main kaget dan herannya hati Yosiko, akah tetapi ia pura-pura masih pingsan.
Dari balik bulu matanya yang panjang ia memandang wajah tampan itu yang dengan penuh perhatian memeriksa lukanya dan kemudian mengobatinya dengan obat bubuk yang terasa dingin sekali.
Melihat gadis itu menggerakkan matanya, Bun Hui cepat menyelesaikan pengobatan dan berkata perlahan.
"Maaf... maaf, aku menyesal sekali, bukan maksudku untuk..."
Yosiko sudah melompat bangun.
Mukanya merah dan ia memungut pedangnya yang menggeletak di atas tanah.
Ketika ia melihat kipas hitamnya yang sudah remuk, ia menendang kipas itu jauh-jauh, lalu menarik napas panjang.
"Maaf, Nona, aku... aku tidak sengaja."
Yosiko berpaling, dan kembali wajahnya berubah ketika memandang Bun Hui. Pandang matanya masih penuh kekaguman, penuh keheranan, penuh penasaran.
"Kau hebat sekali! Gerakanmu begitu cepat sehingga aku tidak lahu bagaimana caranya kau mengalahkan aku. Agaknya aku kurang hati-hati. Bun-Ciangkun, mari kita lanjutkan, aku masih penasaran. Kalau kau dapat mengalahkan aku tanpa menggunakan ilmu siluman itu, aku... aku bersedia menuruti segala kehendakmu, tanpa syarat!"
La tersenyum dan diam-diam Bun Hui morat-marit hatinya.
Senyum dengan lesung pipit itu bukan main manisnya.
la juga bingung.
la tahu bahwa kepandaiannya hanya dapat mengimbangi gadis ini.
Kemenangan-kemenangan aneh yang oleh gadis itu dianggap ilmu siluman tadi adalah kemenangan karena bantuan orang sakti yang dia sendiri tidak tahu siapa adanya.
"Nona Yosiko, sudahlah, aku tidak ingin bertempur denganmu. Aku bahkan minta maaf dan ingin berdamai, kita habisi permusuhan ini..."
"Kalahkan dulu Pedangku! Perlihatkan ilmu silatmu!"
Sambil membentak demikian kembali Yosiko menyerang, kini ia hanya menggunakan Pedang saja, tetapi ia mengerahkan seluruh ilmu pedangnya untuk menyerang.
Karena ia mendapat kesan bahwa pemuda panglima dari Tai-Goan ini memiliki ilmu kesaktian yang hebat, maka timbullah rasa sayangnya dan Yosiko tidak lagi ingin mempergunakan senjata gelap, melainkan hendak menguji dengan ilmu pedangnya.
Melihat gerakan nona ini sungguh-sungguh tentu saja Bun Hui tidak mau tinggal diam.
la pun lalu menggerakkan pedangnya dan mainkan ilmu silatnya, yaitu Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-hoat yang amat kuat dan lihai.
Setelah bergerak beberapa jurus kembali Yosiko menahan pedangnya, meloncat mundur dan berseru.
"Pernah aku menyaksikan Ilmu Pedang Kun-lun yang hebat. Apakah kau anak murid Kun-Lun-Pai?"
Dengan perasaan bangga di hati Bun Hui menjawab tenang.
"Ketua Kun-Lun-Pai adalah Kakekku". Makin kagumlah hati Yosiko dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu menerjang lagi dengan jurus yang amat berbahaya. Bun Hui terkejut dan cepat dia mengelak ke kiri. Akan tetapi gulungan sinar Pedang lawannya seperti uap menyambanya terus, kini mengancam lambung. Dengan pemutaran pergelangan tangan Bun Hui menangkis. Bunga api berpijar ketika sepasang Pedang bertemu, akan tetapi kali ini dengan cerdik sekali Yosiko sengaja mementalkan pedangnya, bukan ditarik ke belakang, melainkan menyeleweng ke depan terus menusuk dada. Inilah gerak tipu yang amat hebat dan tak tersangka-sangka. Semua ini dibantu dengan langkah-langkah kaki gadis itu yang membuat Bun Hui benar-benar bingung. Jalan satu-satunya hanya menggerakkan Pedang membabat kaki lawan yang terdekat, akan tetapi untuk melakukan hal ini dia merasa tidak tega. Pada saat yang berbahaya itu, kembali ada angin menyambar dan... tubuh Yosiko terhuyung-huyung ke samping, serangan pedangnya kembali menyeleweng.
"Kau gunakan ilmu setan!"
Bentaknya marah.
Pada saat itu muncullah Siu Bi.
Melihat betapa Yosiko bertanding dengan Bun Hui, ia merasa khawatir.
Betapapun juga, pemuda putera jenderal di Tai-Goan ini pernah bersikap baik sekali kepadanya, dahulu ketika ia menjadi tawanan Jenderal Bun.
"Yosiko, mari pergi! Dia seorang diri di sana, kesempatan baik. Mari!"
Yosiko ragu-ragu, akan tetapi mendengar ucapan-ucapan terakhir itu ia segera membalikkan tubuh, lalu lari meninggalkan Bun Hui sambil menoleh dan berkata.
"Aku masih belum puas. Lain kali kita lanjutkan!"
Bun Hui berdiri bengong.
la benar-benar bingung dan kaget melihat nona yang mengajak pergi Yosiko itu.
Dia merasa mengenal baik nona itu, nona yang pernah mengobrak-abrik hatinya Siu Bi.
Siu Bi bersekutu dengan Kipas Hitam?
Ini hebat.
Namun pengalamannya bertanding melawan Yosiko tadi masih meninggalkan ketegangan di hatinya.
Apalagi setelah melihat munculnya Siu Bi di samping Yosiko, membuat dia termenung berdiri seperti patung dengan Pedang masih di tangan.
Dia tidak boleh mengharapkan diri Siu Bi lagi, yang dahulu perhah merampas cintanya.
la mendengar pengakuan Swan Bu dan dari mulut pemuda itu sendiri ia tahu bahwa antara Swan Bu dan Siu Bi terjalin kasih sayang yang mendalam.
Kalau Siu Bi mencinta Swan Bu, tentu dia tidak akan mau mengganggunya.
Biarlah mereka bahagia dalam cinta kasih mereka.
Akan tetapi...
ketika tadi dia berhadapan dengan Yosiko, dia segera merasa bahwa gadis peranakan Jepang, gadis liar Ketua bajak laut inilah yang menggantikan Siu Bi di hatinya.
la jatuh cinta kepada Yosiko!
Bun Hui dapat mengetahui hal ini dengan cepat, karena sebagai putera bangsawan yang terkenal, tampan dan gagah, tentu saja sudah banyak dia bertemu dengan gadis-gadis kota, puteri-puteri bangsawan yang cantik dan yang oleh orang Tuanya maupun handai-taulannya seakan-akan ditawarkan kepadanya untuk menjadi jodohnya.
Banyak sudah dia bertemu dengan gadis-gadis cantik, akan tetapi tidak pernah dia merasa seperti ketika dia berhadapan dengan Siu Bi dahulu, atau ketika dia berurusan dengan Yosiko tadi!
Bukan hanya kecantikan kedua orang gadis itu agaknya yang mengguncangkan jantungnya dan membetot semangatnya, melainkan sikap mereka, agaknya karena keduanya sama lincah, sama liar, dan sama aneh!
Bun Hui menarik napas panjang, bingung memikirkan keadaan hatinya sendiri.
Mengapa dia selalu jatuh cinta kepadYo Wanita yang sebenarnya menjadi musuh!
Ayahnya tentu takkan setuju.
Dan bagaimana dia dapat berjodoh dengan seorang seperti Yosiko?
la tahu bahwa hal ini amatlah tidak mungkin, akan tetapi dia tidak dapat menyangkal perasaan hatinya yang benar-benar tertarik sekali oleh lesung pipit di sebelah pipi Yosiko tadi.
Dengan murung Bun Hui meninggalkan tempat itu, sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada bayangan orang yang kini berkelebat mengejar ke arah larinya Yosiko dan Siu Bi.
Bayangan orang yang tadi secara rahasia telah membantunya mengalahkan Yosiko dengan mudah.
Apa kata gadis tadi?
"Kalau dapat mengalahkan aku, aku bersedia menuruti segala kehendakmu tanpa syarat!"
Ucapan Yosiko ini berdengung-dengung dalam telinga Bun Hui ketika dia berjalan kembali ke perkemahannya.
la kembali dalam keadaan jauh berbeda daripada tadi ketika berangkat.
la telah menjadi seorang Bun Hui yang lain, seorang pemuda yang linglung terombang-ambing gelora asmara!
Bayangan yang dengan gesit bagaikan setan tadi membantu Bun Hui dan kini melesat secepat terbang mengejar Yosiko dan Siu Bi, kemudian mengikuti dua orang gadis itu secara diam-diam.
Ia bukan lain adalah Jaka Lola!
Yo Wan selalu mengikuti Yosiko dan karenanya dia tahu akan grak-gerik gadis ini.
la tahu pula, bahwa Yosiko dan Siu Bi bersekutu untuk mencelakai Cui Sian!
Dan ia menjadi saksi pula akan adegan-adegan aneh dari dua orang muda itu tadi, melihat betapa dengan mesra dan penuh perasaan Bun Hui merawat luka di pundak Yosiko.
Dia sengaja membantu Bun Hui karena dia tahu bahwa tanpa dia bantu, biarpun ilmu kepandaian Bun Hui belum tentu kalah oleh Yosiko, namun gadis yang amat lincah itu mungkin merobohkan Bun Hui dengah senjata rahasianya.
Ketika Yo Wan melihat Siu Bi muncul memanggil Yosiko kemudian dua orang gadis itu berlari cepat, hatinya menjadi khawatir sekali.
Dan kekhawatirannya terbukti karena tak lama kemudian dia melihat Cui Sian sedang bertempur mati-matian dikeroyok belasan orang bajak laut anak buah Yosiko!
Kiranya Siu Bi memanggil Yosiko untuk melaksanakan kehendak mereka, yaitu mengeroyok dan membunuh Cui Sian.
Seperti juga Bun Hui, siang hari itu Cui Sian berada seorang diri di pinggir laut.
la termenung-menung memikirkan Yo Wan, Semenjak ia melihat Yo Wan berada di dalam gua bersama Yosiko, hatinya terasa sakit sekali.
la ingin marah, ingin membunuh wanita itu dan juga ingin menantang Yo Wan untuk mengadu kepandaian, ia penasaran dan merasa terhina.
Bukankah Yo Wan terang-terangan menyatakan perasaannya ketika perjumpaan mereka dahulu?
Kiranya Yo Wan hanya seorang pemuda yang gila perempuan, seorang hidung belang yang menjemukan.
Selagi ia termenung, mukanya sebentar merah sebentar pucat, tiba-tiba ia tersentak kaget dan cepat ia mengelak.
Sebatang anak panah menyambar di atas kepalanya, lenyap ke dalam pohon-pohon.
Cui Sian cepat mencabut pedangnya dan bermunculanlah lima belas orang laki-laki, dipimpin oleh seorang gadis yang membuat Cui Sian membelalakkan matanya.
Gadis itu adalah Siu Bi!
"Bocah jahat!
Kau...
kau bersekutu dengan bajak-bajak ini...?"
Tegurnya, terheran-heran dan kemarahannya memuncak.
Memang ia tidak suka kepada Siu Bi yang membuat Swan Bu tergila-gila, maka dapat dibayangkan kebenciannya melihat Siu Bi muncul bersama para bajak itu.
Akan tetapi Siu Bi tidak mempedulikannya, malah memberi aba-aba.
"Kurung dia, jangan boleh lolos!"
La sendiri lalu melarikan diri untuk pergi mencari Yosiko!
Demikianlah, dengan kemarahan meluap-luap Cui Sian memutar pedangnya menghadapi pengeroyokan belasan orang itu.
Dalam waktu beberapa menit saja pedangnya sudah merobohkan empat orang pengeroyok, sedangkan yang lainnya hanya berani mengurungnya dari jarak yang tidak terlampau dekat.
Namun pengurungan mereka ketat, tidak memberi kesempatan gadis ini keluar dari kepungan.
Cui Sian adalah puteri tunggal Raja Pedang.
Ilmu silatnya tinggi, akan tetapi sebagai puteri Pendekar sakti yang namanya dipuji-puji di mana-mana, tentu saja sifatnya tidaklah ganas.
Ilmu pedangnya bersih, mengandung daya Im dan Yang, tidak gentar menghadapi kepungan.
Namun, sudah menjadi sifat ilmu Pedang keturunan Raja Pedang, selalu menitik-beratkan kepada serangan balasan, yaitu apabila diserang barulah timbul keampuhannya untuk merobohkan si penyerangnya.
Oleh karena sifat ini pula, agaknya Cui Sian merasa segan untuk menyerang para bajak laut yang ia anggap bukan lawan sebanding itu.
Ia hanya menanti dan empat orang yang roboh tadi pun adalah karena mereka dengan ganas menyerangnya, maka akibatnya hebat pula.
Kini karena para pengeroyoknya hanya mengepung dari jarak agak jauh, Cui Sian hanya berdiri tegak saja.
Baru setelah para bajak menerjang maju dari segenap penjuru, ia mainkan pedangnya dan kembali dua orang roboh mandi darah!
Kedatangan Yosiko dan Siu Bi menggembirakan para bajak yang sudah mulai menjadi gentar.
Yosiko berseru keras dalam bahasa Jepang, memberi perintah agar anak buahnya siap mengepung dari jarak jauh dengan anak panah disiapkan, memberi kesempatan kepada dia untuk menangkap musuh.
Para bajak mundur sambil menyeret enam mayat temannya.
Yosiko dan Siu Bi dengan Pedang terhunus sudah melompat maju menghadapi Cui Sian.
Gadis dari Thai-San ini menjadi merah mukanya.
Dengan Pedang menuding ke depan ia memaki.
"Sungguh kebetulan Sekali! Memang besar keinginanku membasmi kalian berdua perempuan yang tak tahu malu!"
"Sombong!"
Bentak Yosiko.
"Kau kah yang bernama Cui Sian? Hemmm, kematian sudah di depan mata masih berani berlagak!"
Setelah berkata demikian Yosiko menggerakkan Pedang dan meloloskan sabuk suteranya.
Siu Bi juga sudah melangkah maju dengan sikap mengancam.
la membenci Cui Sian yang dianggapnya hendak menjauhkan Swan Bu dari padanya.
Hebat penyerangan Yosiko dan Siu Bi, terdorong oleh kebencian hati mereka.
Namun, makin kuat ia diserang, makin kuatlah pertahanan Cui Sian.
Liong-Cu-Kiam di tangannya laksana halilintar menggulung-gulung dan gerak Ilmu Pedang Sian-li Kiam-Sut dimainkan dengan indahnya seakan-akan ia menjadi seorang dewi yang menari-nari.
Dengan gaya permainannya yang ampuh ini ia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada senjata lawan untuk dapat mendekatinya.
Betapapun juga, ketika Cui Sian menyaksikan gerakan Pedang Yosiko mainkan jurus-jurus yang serupa, yaitu jurus-jurus campuran dari Sian-li Kiam-Sut, tergeraklah hatinya.
Teringat ia akan penuturan Tan Hwat Ki, bahwa gadis ini adalah puteri Tan Loan Ki yang masih terhitung saudara misannya sendiri, masih sedarah!
Teringat ia akan penuturan orang Tuanya tentang Paman tua (uwaknya) Tan Beng Kui, yaitu Ayah Tan Loan Ki atau Kakek gadis ini!
Dengan bentakan keras ia menangkis, sehingga terpentallah Pedang kedua orang lawannya, kemudian ia meloncat mundur.
"Tahan dulu!"
"Mau bicara apa lagi?"
Bentak Yosiko.
"Yosiko, bukankah kau ini puteri enci Tan Loan Ki? Tahukah engkau bahwa aku masih Bibimu sendiri? Dan kau, Siu Bi, kau sudah berjanji hendak menanti Swan Bu. Beginikah kesetiaanmu kepadanya?"
"Bibi macam apa engkau ini! Aku tidak peduli, kau adalah musuh Kipas Hitam!"
Balas Yosiko.
"Tan Cui Sian, kau lah yang memisahkan Swan Bu dari sampingku!"
Bantah Siu"Bi.
"Ah, dua bocah liar! Kalian jahat..."
"Cukup! Apa kau takut menghadapi kami?"
Ejek Yosiko.
"Hemmm, boleh ditambah sepuluh Orang lagi macam kalian aku takkan mundur. Aku hanya mengingat bahwa kau masih terhitung keponakanku, dan Siu Bi... ah, aku ingat Swan Bu maka aku mau bicara!"
"Cerewet!"
Yosiko membentak dan menerjang lagi, diikuti Siu Bi.
Kembali mereka bertanding dengan seru.
Sementara itu, dengan tanda suitan Yosiko sudah mengundang anak buahnya sehingga tempat itu kini terkurung oleh kurang lebih lima puluh orang bajak!
Namun mereka tidak ada yang turun tangan sebelum mendapat perintah pemimpin mereka.
"Yosiko! Siu Bi!.Mundur...!!"
Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan orang ini bukan lain adalah Yo Wan! Kagetlah kedua orang gadis itu ketika melihat munculnya Yo Wan.
"Kau?""
Yosiko berseru.
"Kau... membelanya?"
"Tentu saja! Yosiko, kenapa kau belum juga mau insyaf? Siu Bi, kenapa kau ikut-ikut?"
"Dia membawa pergi Swan Bu. Dia memisahkan kami...!"
Siu Bi bingung menjawab.
Gentar hatinya kalau harus menghadapi Yo Wan, apalagi kalau diingat bahwa Yo Wan yang telah menolongnya sehingga ia tidak terbunuh dahulu oleh Lee Si dan Cui Sian.
Tiba-tiba dua orang pimpinan bajak dengan Pedang di tangan menerjang Yo Wan.
Serangan ini mendadak sekali, dilakukan dari belakang.
Namun dengan gerakan ringan Yo Wan menggeser kaki, tanpa menengok tangannya bergerak ke belakang dan kakinya menendang.
Akibat gerakan ini, sebatang Pedang terampas!
dan dua orang pimpinan bajak itu terlempar oleh tamparan dan tendangannya!
Ributlah para bajak laut.
Seorang yang bercambang bauk dan bermata lebar melompat maju dengan golok besar di tangannya, diikuti anak buahnya!
"Bong-Twako, jangan serang!"
Bentak Yosiko.
"Tapi..."
Bantah si cambang bauk.
"Tidak ada tapi, mundur semua!"
Bentak Yosiko yang segera memimpin anak buahnya pergi dari situ, diikuti oleh Siu Bi yang beberapa kali memandang ragu ke arah Yo Wan.
Dalam waktu sebentar saja tempat itu telah menjadi sunyi kembali setelah Yosiko dan anak buahnya menghilang di balik pohon-pohon besar di hutan tepi pantai.
Hanya tinggal Yo Wan dan Cui Sian berdua yang masih berdiri di situ.
"Bagus, akhirnya kita bertemu juga. Nah, kebetulan kau sudah mendapatkan pedang. Lihat seranganku!"
Setelah berkata demikian, Cui Sian lalu menyerang Yo Wan dengan pedangnya! Bukan main kagetnya hati Yo Wan.
"Eh...! Bagaimana ini...?"
La cepat mengelak ketika melihat betapa gadis itu tidak main-main, serangannya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan amat berbahaya.
"Tak perlu pura-pura kaget! Kau bersekutu dengan kepala bajak laut Kipas Hitam?"
Kata Cui Sian marah.
"Karena itu kau adalah musuh kami!"
Kembali ia menyerang dengan gerakan kilat.
Kembali Yo Wan mengelak dan mengelebatkan Pedang rampasannya untuk menangkis.
la maklum bahwa Pedang di tangan Cui Sian adalah sebuah Pedang pusaka yang ampuh, sedangkan Pedang yang di tangannya hanyalah Pedang biasa yang tajam, sekali beradu tentu akan patah.
Oleh karena itu, dia sengaja mengerahkan Sinkangnya dengan tenaga lemas sehingga ketika terbentur, pedangnya hanya membalik dan tidak menjadi rusak.
Hal ini bagi Yo Wan adalah merupakan hal yang amat mudah, dan memang di sini terletak kelihaiannya sehingga jangankan sebuah Pedang baja, sedangkan sebatang Pedang kayu saja merupakan senjata yang dapat menghadapi pusaka-pusaka ampuh jika berada di tangannya.
Ketika kedua Pedang bertemu dan Pedang di tangan Yo Wan tidak rusak, diam-diam Cui Sian kaget dan kagum sekali.
Sebagai seorang ahli silat tinggi, ia pun dapat menduga bahwa pemuda ini sudah mahir dalam memindahkan tenaga sakti ke dalam benda yang dipegangnya.
Hal ini membutuhkan Lweekang yang mendalam dan kiranya hanya orang-orang setingkat Ayahnya atau Pendekar Buta saja yang mampu melakukan hal itu!
"Eh, nanti dulu...
Sian-moi (adik Sian)...
sejak kapan aku bersekutu dengan kepala Kipas Hitam?"
"Pembohong pandai berpura-pura... laki-laki mata keranjang! Jai Hwa Cat (penjahat pemetik bunga)!"
Cui Sian menusukkan pedangnya ke arah dada Yo Wan.
Yo Wan begitu kaget mendengar tuduhan ini sehingga dia meloncat ke atas, akan tetapi dia segera menangkis Pedang Cui Sian, mengerahkan tenaga dan pedangnya berhasil menindas Pedang gadis itu ke bawah.
Betapapun Cui Sian mengerahkan tenaga, ia tidak mampu mengangkat pedangnya yang tertindas itu!
"Wah, nanti dulu, Sian-moi!
Apa artinya tuduhan Jai Hwa Cat dan mata keranjang itu?"
Yo Wan bertanya gugup.
"Hemmm, apa kau hendak menyangkal bahwa kau tinggal siang malam berdua saja dengan... dengan... Ketua Kipas Hitam yang cantik itu?"
Yo Wan menarik napas panjang. Hal ini sudah dia khawatirkan. la melepaskan pedangnya dan berkata.
"Aahhh, kau salah duga, Moi-moi. kau dengarlah penjelasanku, atau kalau kau tidak percaya lagi kepadaku, boleh kaugunakan pedangmu itu menusuk mampus dadaku, aku takkan melawan lagi!"
Cui Sian meragu, memandang tajam, pedangnya tidak bergerak, ia menanti.
Dengan tenang Yo Wan lalu menuturkan pengalamannya ketika dia mencari Swan Bu, betapa di tengah jalan dia melihat Tan Hwat Ki dan sumoinya menyerang sarang Kipas Hitam, betapa dia menolong Tan Hwat Ki dan Bu Cui Kim, kemudian dia mengejar Yosiko dan terluka, lalu dirawat oleh gadis yang menjadi kepala Kipas Hitam itu.
"Memang kasihan gadis itu, semenjak kecil terdidik liar. Dia dan Ibunya beranggapan bahwa pemuda yang dapat mengalahkan mereka adalah calon jodohnya...,"
Demikian Yo Wan menutup ceritanya sambil menarik napas panjang.
"Akan tetapi aku tentu saja menolaknya... aku bukan mata keranjang atau Jai Hwa Cat..."
Cui Sian tersenyum mengejek, akan tetapi wajahnya sudah ditinggalkan kemuramannya.
"Siapa percaya kau akan menolak seorang gadis yang begitu cantik jelita?"
"Sian-moi...!!"
"Sudahlah, percaya atau tidak, apa bedanya? Kau suka menjadi jodohnya atau tidak, sebetulnya aku pun tidak peduli. Bukan urusanku, kan?"
Hampir Yo Wan tertawa bergelak menyaksikan sikap ini.
Tadi gadis ini menyerangnya hebat, hampir membunuhnya karena cemburu, akan tetapi sekarang setelah menerima penjelasan, mengatakan bahwa ia tidak peduli dan bukan urusannya!
Memang aneh sekali watak perempuan, pikirnya.
"Sian-moi...,"
Yo Wan memegang tangan Cui Sian, yang berkulit halus lunak dan yang tidak ditarik ketika dia pegang.
"Kuharap kau tidak kehilangan kepercayaanmu kepadaku. Sian-moi, tahukah kau mengapa Yosiko tadi hendak mengeroyok dan membunuhmu? Karena aku secara terus terang menolak usul perjodohannya dan mengatakan bahwa di dunia ini hanya seorang gadis yang kucinta dan kuharapkan menjadi calon jodohku, yaitu gadis yang bernama Tan Cui Sian. Dia menjadi marah dan hendak, membunuhmu, bahkan Ibunya juga marah lalu pergi hendak menemui Suhu agar suka memaksaku. Akan tetapi Ibunya tidak tahu akan pengakuanku tentang kau, hanya mengira aku menolak begitu saja. Sian-moi, apa pun yang terjadi, siapapun yang akan menggodaku, tak mungkin aku mengubah pendirian hatiku yang sudah teguh bagaikan karang di pantai laut. Lihat, benda inilah yang menjadi saksi akan kesetiaanku kepadamu, Moi-moi!"
Cui Sian tidak mengangkat mukanya, yang sejak tadi menunduk, hanya matanya mengerling kepada benda yang dikeluarkan Yo Wan dari sakunya.
Ternyata benda itu adalah sehelai saputangan, saputangannya yang ia berikan kepada pemuda itu ketika Yo Wan menghadapi lawan-lawan sakti, di antaranya Bhok Hwesio.
Kepala itu makin menunduk.
"Sian-moi... percayakah kau kepadaku kini?"
Cui Sian tidak menjawab dengan mulut, akan tetapi dua titik air mata yang terjatuh di tangan Yo Wan ketika kepala itu mengangguk perlahan merupakan jawaban yang cukup meyakinkan.
Sampai beberapa lama keduanya hanya berdiri saling berpegang tangan, tidak ada suara keluar dari mulut mereka, namun hati masing-masing dipenuhi kebahagiaan.
Akhirnya, setelah agak terlambat karena selalu menolak para pemuda yang merayunya, Cui Sian mendapatkan juga jodohnya.
Akhirnya Cui Sian juga yang memecahkan kesunyian karena terdorong rasa sungkan dan malu di samping rasa bahagianya.
la menarik tangannya, mengangkat muka dan sepasang mata bintang bersinar-sinar menentang wajah Yo Wan, Bibirnya tersenyum.
Yo Wan membalas dengan pandang mata mesra dan tersenyum pula, senyum dan sinar mata itu cukup mewakili hati, menyampaikan seribu satu macam bahasa yang penuh madu asmara.
"Ah, kita melamun sampai melupakan urusan!"
Kata Cui Sian, wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya. la memasukkan pedangnya dan berkata.
"Hatiku masih bingung memikirkan keadaan Swan Bu dan Siu Bi si gadis liar itu. Aku berjumpa dengan mereka sedang berdua, dan agaknya Swan Bu merasa berat untuk berpisah dari Siu Bi. Pada-hal Ayah Bundanya tentu saja mengharapkan agar Swan Bu dapat mencuci segala kesalah-pahaman dan noda akibat fitnah jahat dengan jalan mengawini Lee Si..."
Yo Wan mengangguk-angguk dan menarik napas panjang.
"Kita tidak mungkin dapat menyalahkan Swan Bu. Moi-moi, kalau hati sudah menyerah kepada kasih, apalagi yang dapat menjadi halangan? Banyak sudah contoh-contohnya kita dapat petik dari cerita lama. Tentu kau tahu akan riwayat Ayahmu sendiri yang diombang-ambingkan oleh asmara, kemudian riwayat Suhu yang juga menjadi korban kasih tak sampai. Dan aku maklum benar bahwa pada dasarnya, gadis-gadis seperti Siu Bi dan Yosiko bukanlah jahat. Hanya karena mereka sejak kecil terdidik dalam suasana yang kasar dan liar, mereka menjadi orang yang berwatak liar dan keras pula. Soal Swan Bu dan Siu Bi, biarlah kita urus perlahan-lahan dan kita bicarakan bersama dengan orang-orang tua bagaimana baiknya."
Cui Sian mengangguk-angguk. Dia sendiri sedang diamuk cinta, tentu saja ia dapat merasakan keadaan Siu Bi sehingga rasa bencinya berkurang.
"Akan tetapi bagaimana tentang Yosiko? Biarpun dia itu masih keponakanku sendiri, bagaimana aku bisa membenarkannya kalau dia menjadi Ketua gerombolan bajak laut? Apakah kita harus mendiamkannya saja? Kurasa hal ini amat tidak sejalan dengan sikap yang harus diambil orang gagah menghadapi kejahatan. Biarpun keluarga sendiri, kalau jahat, harus ditentang!"
Yo Wan memandang kekasihnya dengan bangga.
"Kau seorang Pendekar wanita sejati, Moi-moi. Memang seharusnya demikianlah. Akan tetapi, sebelum mengambil jalan kekerasan, marilah kita mencari jalan yang lebih halus dan agaknya aku melihat jalan yang baik sekali untuk mengatasi hal ini. Kalau kita bisa mengaturnya..."
La lalu bercerita tentang pertemuan dan pertandingan antara Bun Hui dan Yosiko, menyatakan dugaannya bahwa Bun Hui tertarik dan suka kepada Ketua Kipas Hitam yang cantik itu.
Sambil berjalan perlahan kembali ke perkemahan bersama Yo Wan, Cui Sian mendengarkan cerita kekasihnya.
Pertemuan antara Yo Wan dan orang-orang gagah di situ amatlah menggembirakan, terutama Swan Bu dan Tan Hwat Ki.
Mereka bercakap-cakap sampai jauh malam, akan tetapi tidak sepatah kata pun Yo Wan atau Cui Sian bicara tentang diri Siu Bi.
"Apakah kalian tidak percaya lagi kepadaku?"
Terdengar Yosiko membentak marah dan meloncat turun dari atas batu yang tadi ia duduki.
Di depannya, puluhan bajak laut yang dipimpin oleh empat orang laki-laki tampak bersungut-sungut.
Empat orang ini adalah empat orang kepala bajak yang kini menggabungkan diri dengan Kipas Hitam untuk bersama-sama menghadapi dan melawan pasukan Kota Raja yang dipimpin Bun Hui dan teman-temannya.
Orang pertama adalah si cambang bauk yang bernama Bong Ji Kiu yang berjuluk Kim Bwee Liong (Naga Berekor Emas).
Mungkin julukan ini dia dapatkan karena dia bersenjatakan sebatang golok besar yang bergagang emas, golok yang terukir dengan gambar naga dan ekornya tiba di gagang yang terbuat dari emas.
la tadinya seorang kepala bajak Sungai Kuning dan terkenal akan kelihaian dan kekejamannya.
Tiga orang yang lain adalah kepala-kepala bajak laut yang selama ini mengganas di pantai Selatan.
Seorang di antara mereka, yang kurus pucat adalah adik kandung Bong Ji Kiu bernama Bong Kwan, sedangkan yang dua lagi adalah teman-teman yang sudah mengangkat saudara.
Mereka ini juga bukan orang-orang lemah.
Kalau Bong Kwan, seperti kakaknya, pandai pula bermain golok, adalah dua orang temannya yang bernama Tio Khong dan Yauw Leng merupakan ahli-ahli bermain pedang.
Empat orang pimpinan bajak itu, kini menghadapi Yosiko yang kelihatan marah-marah.
Mula-mula adalah Bhong Ji Kiu si cambang bauk yang menyatakan rasa tidak puasnya terhadap pimpinan ini karena Yosiko melarang Bong Ji Kiu dan anak buahnya mengeroyok Yo Wan dan Cui Sian.
"Mengapa Pangcu (Ketua) kelihatan memihak musuh? Terang bahwa mereka adalah sahabat-sahabat pimpinan pasukan musuh, kenapa tidak menangkap atau membunuh mereka?"
Bong Ji Kiu yang mewakili tiga orang temannya dan juga puluhan orang anak buahnya mengajukan tuntutan ini dengan suara menantang, sehingga Yosiko menjadi marah dan membentak apakah mereka tidak percaya lagi kepadanya.
"Kalau tidak percaya lagi kepada Pangcu, kiranya kita tidak akan berkumpul di sini,"
Jawab Bhong Ji Kiu.
"Sayang Toanio (nyonya besar) tidak berada di sini, kalau ada tentu dapat kami mintai pertimbangan. Hendaknya Pangcu ingat bahwa anak buah Pangcu kini tinggal sedikit, sudah banyak yang tewas, tinggal dua puluh orang lebih saja. Apakah Pangcu tidak merasa sakit hati? Jika tidak ada kami yang membantu dengan orang-orang kami yang semua mendekati seratus orang jumlahnya, bagaimana kita dapat melawan pasukan pemerintah?"
"Hemmm, Bong-Twako! Apa perlunya kau bersikap mengancam? Habis, apa yang kalian kehendaki? Apa yang kalian ingin lakukan?"
"Kami hanya menghendaki supaya Pangcu sungguh-sungguh berdaya upaya untuk menghancurkan mereka, bukan melindungi mereka. Buktikan bahwa Pangcu tidak miring hatinya terhadap pimpinan pasukan pemerintah atau kalau tidak demikian, kami terpaksa akan meninggalkan Pangcu dan tidak mau lagi bekerja sama menghadapi musuh."
"Boleh! Kalian boleh tinggalkan aku, aku masih mempunyai anak buah yang setia!"
Bentak Yosiko marah.
Tiba-tiba Kamatari, jagoan Kipas Hitam, bangsa Jepang yang terkenal dengan samurai Cakar Naga, maju dan memberi hormat kepada Yosiko, sikapnya tenang dan tegas, kata-katanya nyaring.
"Pangcu, terus terang saja kami melihat gejala-gejala tidak baik terhadap diri Pangcu. Agaknya Pangcu memilih musuh menjadi sahabat, bahkan Pangcu hendak memilih jodoh dari golongan musuh. Hal ini mengecewakan hati kami dan kami membenarkan ucapan Bong-Twako bahkan kami pun akan berpihak kepadanya kalau terjadi perpecahan."
Pucatlah wajah Yosiko.
Baru kali ini semenjak ia kecil, anak buahnya berani mencelanya.
Kalau tidak ingat akan jasa-jasa Kamatari, tentu ia sudah turun tangan membunuhnya di saat itu juga.
Melihat keadaan Yosiko ini, Siu Bi maju menghampiri dan berkata perlahan.
"Sudahlah, Yosiko, biarkan mereka itu semua pergi. Apa sih enaknya menjadi kepala bajak?"
Ucapan ini membuat para bajak menjadi marah.
Mereka sudah berdiri dan sikap mereka mengancam, seakan-akan mereka siap untuk mengeroyok dua orang nona cantik itu.
Melihat gelagat tidak baik ini, Yosiko lalu mengangkat tangannya dan berkata nyaring.
"Baiklah, kalian orang-orang tiada guna! Kalian berani menghinaku, berani mengira bahwa Yosiko memihak musuh? Biar kubuktikan bahwa aku tidak takut terhadap musuh. Kamatari, kausampaikan surat tantanganku kepada panglima pasukan musuh. Biar kutantang dia maju dan bertanding satu lawan satu denganku, sampai dia atau aku yang mampus. Selama dia bertanding denganku, karena tidak ada pimpinan, tentu pasukannya juga lengah. Nah, pada saat itu boleh Bong-Twako memimpin orang-orangnya mengadakan serbuan besar-besaran. Bagaimana?"
Wajah orang-orang di situ menegang. Kamatari yang diam-diam menaruh rasa sayang kepada Yosiko berkata.
"Tapi... tapi... bukankah itu berbahaya sekali? Pemimpin mereka, panglima muda itu, kabarnya lihai bukan main."
"Siapa takut dia? Lakukah perintahku, habis perkara!"
Yosiko lalu menyuruh anak buahnya menyediakan alat tulis, kemudian dengan huruf-huruf tebal ia menulis surat tantangan yang ditujukan kepada "Panglima muda she Bun"
Dari Tai-Goan! Panglima muda itu ditantang untuk mengadakan "Duel"
Di tepi laut untuk menentukan siapa lebih unggul antara pemimpin bajak laut dan pemimpin pasukan Kota Raja.
Malam hari yang gelap gulita itu menyembunyikan gerak-gerik Kamatari yang menancapkan surat tantangan itu dengan sebatang anak panah di batang pohon besar yang tumbuh di luar perkemahan pasukan pemerintah.
Keesokan harinya, ributlah para pasukan pemerintah ketika melihat surat ini dan cepat-cepat mereka menyampaikan kepada Bun Hui.
Bukan main bingungnya hati panglima muda ini ketika membaca surat tantangan Yosiko.
la ingin mencari jalan damai dengan gadis kepala bajak yang telah merebut hatinya itu, siapa kira si gadis malah menantangnya untuk melakukan pertandingan secaia terbuka!
la maklum bahwa gadis itu kepandaiannya tinggi, dan bahwa belum tentu dia dapat menang.
Hal ini bukan merupakan hal yang mengecilkan hatinya, akan tetapi dengan adanya surat tantangan ini, habislah jalan untuk dapat mengadakan perdamaian, untuk dapat menginsyafkan Yosiko.
Kalau surat tantangan macam itu tidak dia terima, tentu dia akan menjadi bahan ejekan orang.
Kalau dia terima dan mereka bertanding, tentu seorang di antara mereka akan tewas!
Selagi Bun Hui kebingungan dan termenung di dalam kamarnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang dan ternyata orang ini adalah Yo Wan.
Bun Hui cepat mempersilakan Pendekar ini dengan ramah.
"Saudara Bun, mengapa bingung memikirkan pertandingan melawan Yosiko?"
Ragu? Yo Wan sambil tersenyum. Muka Bun Hui menjadi merah ketika dia menjawab dengan pertanyaan pula.
"Yo-Twako bagaimana tahu bahwa aku bingung memikirkan pertandingan itu?"
"Ah, aku tahu semua, saudara Bun. Jangan khawatir, aku mendapat akal agar kau dapat mengalahkan Yosiko dengan mudah seperti yang terjadi kemarin dulu."
Sejenak Bun Hui melongo, kemudian dia tersenyum maklum dan meloncat dari tempat duduknya, memegang tangan Yo Wan.
"Wah, kiranya kau yang telah membantuku, Yo-Twako?"
Ah, pantas saja begitu mudah aku mendapat kemenangan! Mengapa kau lakukan itu, Yo-Twako?"
"Bun-Lote, ada sebabnya mengapa aku membantumu. Seperti juga engkau, aku merasa sayang melihat Yosiko dan tidak ingin melihat dia tersesat lebih jauh. Dia sebetulnya adalah seorang gadis baik, keturunan keluarga Raja Pedang, berdarah Pendekar. Sayang dia terdidik dalam lingkungan liar. Oleh karena itu, aku akan merasa girang sekali kalau kau berhasil menundukkan dia, Bun-Lote, membujuknya kembali ke jalan benar dan membubarkan anak buahnya. kau hadapilah dia dan kau akan menang!"
"Tapi... aku belum yakin bahwa aku akan bisa menang, Yo-Twako. Ilmu pedangnya hebat dan karenanya aku tahu bahwa yang menjatuhkannya kemarin dulu bukanlah aku. Tanpa bantuanmu, belum tentu aku menang, atau andaikata dapat mencapai kemenangan juga, kiranya harus melalui pertandingan mati-matian dan seorang di antara kami harus tewas di ujung pedang!"
Keperihan hati Bun Hui terbayang pada wajahnya yang tampan dan diam-diam Yo Wan merasa geli.
Cinta kasih memang tidak memilih bulu, tidak memandang pangkat, kedudukan, atau pun keadaan orang yang dicinta.
Melihat kedudukannya, semestinya Bun Hui menganggap Yosiko sebagai musuh besar yang harus dibasminya, akan tetapi bahkan rintangan berat ini dapat dilalui dengan mudah oleh cinta kasih.
"Bun-Lote, kau cinta kepada Yosiko, bukan?"
Ditanya begini langsung Bun Hui rasa seakan-akan diserang tusukan Pedang yang langsung menembus jantungnya. Wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya, dan dengan gagap dia menjawab.
"Aku... aku tertarik kepadanya..."
"Kau cinta padanya?"
"Aku... aku suka..."
"Dan cinta padanya?"
Akhirnya Bun Hui mengangguk.
"Nah, karena itu kau harus menangkan dia, Lote. Yosiko seorang gadis yang cukup pantas dilindungi. la memang berwatak aneh dan akan tunduk jika kau dapat memenangkannya. Karena itu, kau harus menang."
"Bagaimana caranya? Aku belum tentu dapat..."
"Waktu yang ia tentukan untuk bertanding masih tiga hari lagi. Biarlah aku menurunkan beberapa jurus ilmu pukulan Pedang kepadamu. Aku sudah hafal akan ilmu Pedang Yosiko, pernah aku bertanding melawan dia dan aku tahu di mana letak kelemahan-kelemahannya. Memang dia pandai, ilmu pedangnya adalah Sian-li Kiam-Sut yang sudah tercampur ilmu lain, juga ia pandai Ilmu Langkah Hui-thian-jip-te. Akan tetapi dengan ilmu pedangmu Kun-Lun Kiam-Sut, kau tentu dapat menghadapinya dan mempertahankan diri. Jika kau melihat kesempatan baik, nah, kaugunakan jurus-jurus yang kuajarkan, tentu ia akan roboh. Kau perlihatkan baik-baik, Lo-te. Kalau kau melihat dia berada dalam kedudukan langkah seperti ini, nah, kau lalu pergunakan jurus ini sebagai pancingan, dan tentu dia akan bergerak begini, maka kau cepat-cepat menekan pedangnya dan menyapu kakinya dengan jurus ini."
Sambil bicara Yo Wah memberi contoh gerakan yang diperhatikan baik-baik oleh Bun Hui.
Yo Wan menurunkan lima jurus serangan, disesuaikan dengan keadaan atau posisi yang akan dilakukan Yosiko.
Dengan tekun Bun Hui mempelajarinye selama tiga hari sehingga dia hafal betul.
"Kau pasti akan berhasil, Bun-Lote. Andaikata tidak, percayalah, aku takkan berada jauh dan akan menggunakan akal lain. Kalau dia sudah mengaku kalah, kau bujuk dia supaya membubarkan anak buahnya dan mengusir mereka dari wilayah ini, kemudian kau ajak dia pergi ke Thai-goan menghadap Ayahmu untuk kaumintakan ampun. Tentang bagaimana kau membujuk Ayahmu supaya mengambilnya sebagai mantu, terserah..."
Yo Wan tertawa melihat Bun Hui menjadi merah mukanya.
"Terima kasih, Yo-Twako. Baru satu kali aku bertemu denganmu, akan tetapi kau sudah begini baik kepadaku..."
"Bukan satu kali, Bun-Lote. Pernah aku mengunjungi gedung Ayahmu beberapa bulan yang lalu, mengunjungi tempat tahanan untuk membebaskan adik Siu Bi.
"Ahhh...!"
Bun Hui berseru kagum.
"Kiranya kau yang melakukan hal itu, Yo-Twako? Kau benar-benar lihai! Akan tetapi... mengapa kau menolong nona Siu Bi?"
Bun Hui mengerutkan kening lalu menyambung.
"Kau adalah murid Pendekar Buta, sedangkan nona Siu Bi bermaksud membalas dendam kepada Pendekar Buta sekeluarga, bahkan kini berhasil membuntungi lengan Swan Bu."
Yo Wan menarik napas panjang.
"Dia hidup sebatangkara, seperti aku, patut dikasihani. Tentang dendam dan balas membalas itu, ahhh... bukan salah Siu Bi. la hanya menjadi korbah pendidikan keliru seperti... Yosiko. Kasihan Siu Bi, dan kasihan Swan Bu..."
Bun Hui mengerti apa yang dimaksudkan Yo Wan, maka keduanya berdiam sejenak, tenggelam dalam keharuan hati masing-masing.
Kemudian Bun Hui kembali berlatih jurus-jurus yang dia terima dari Yo Wan sampai Yo Wan merasa puas karena gerakan Bun Hui sudah boleh dibilang cukup memenuhi syarat.
Saat pertandingan antara pimpinan bajak dan pimpinan pasukan pemerintah tiba, seperti yang diajukan dalam surat tantangan Yosiko.
Tempatnya di tepi laut, di mana tiga hari yang lalu Bun Hui sudah mengadu ilmu melawan Yosiko.
Pagi hari itu, Bun Hui dengan ditemani Tan Hwat Ki, Kwa Swan Bu, Tan Cui Sian, dan Bu Cui Kim, mendatangi tempat itu dengan langkah kaki tenang.
Tentu saja Bun Hui besar hati dan tabah karena di sebelahnya berjalan empat orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, sehingga andaikata terjadi pengeroyokan, dia tidak usah merasa khawatir.
Sesungguhnya, andaikata para bajak laut itu melakukan pertempuran secara terbuka, dia dengan bantuan empat orang muda perkasa ini, apalagi ditambah dengan Yo Wan sudah cukup untuk membasmi para bajak laut.
Akan tetapi celakanya, para bajak laut itu tidak pernah meiakukan pertempuran terbuka, melainkan melakukan penyerangan tiba-tiba dan di waktu malam secara diam-diam dan curang!
Ini yang menyebabkan sukarnya usaha pembasmian para bajak itu.
Di lain pihak, Yosiko sudah muncul pula dengan pakaian serba putih yang ringkas, sikapnya gagah dan wajahnya cantik sekali, membuat jantung Bun Hui makin berdebar kencang, seakan-akan dia merasa bahwa pertemuannya dengan Yosiko ini bukan pertemuan untuk bertanding, melainkan pertemuan sebagai pengantin!
Yosiko diiringkan oleh empat orang pula, yaitu empat orang kepala bajak, sedangkan belasan orang anggota bajak pilihan kelihatan agak jauh di belakang, merupakan pasukan pengawal.
Swan Bu sudah mendengar bahwa Siu Bi berada bersama Yosiko, kini tidak melihat kekasihnya itu muncul bersama Yosiko, dia tidak dapat menahan kesabaran hatinya lagi lalu melangkah maju dan bertanya.
"Kau kah Pangcu dari Hek-San-Pang? Aku mendengar bahwa Siu Bi bersamamu. Di mana kau menahan dia? Lekas bebaskan dia dan jangan bawa-bawa dia dalam kejahatanmu!"
Yosiko hanya memandang tajam dan sebelum ia sempat menjawab, dari sebelah kirinya terdengar Bong Kwan si kepala bajak pucat kurus membentak marah, agaknya menunjukkan wibawa.
"Bocah buntung mengapa banyak mulut? Tutup mulutmu, atau aku akan membuntungi lenganmu yang sebelah lagi!"
Penghinaan yang tak tersangka-sangka ini membuat Yosiko dan pihak Bun Hui terkejut sekali sehingga mereka tak dapat berkata-kata.
Swan Bu dengan muka tenang seperti biasa, akan tetapi sepasang matanya memancarkan api, bertanya.
"Kau siapakah, orang gagah?"
Bong Kwan yang pucat kurus membusungkan dada, karena ucapan Swan Bu yang merendah itu dia anggap sebagai tanda gentar terhadap dirinya.
"Aku Bhong Kwan berjuluk Si Ular Terbang!"
"Dengan apa kau hendak membuntungi lenganku yang sebelah ini?"
Swan Bu bertanya lagi, wajahnya masih tenang seperti biasa, hanya suaranya agak gemetar, tanda bahwa dia menahan kemarahan yang meluap-luap.
"Dengan apa? Hah, dengan golokku ini!"
Kembali Bong Kwan menyombong sambil mencabut goloknya. Inilah agaknya yang dikehendaki Swan Bu. Terdengar ucapannya.
"Bersiaplah!"
Dan tubuhnya berkelebat lenyap, yang tampak hanya gulungan sinar Pedang berkelebat bagaikan halilintar menyambar ke depan, ke arah Bong Kwan.
Kejadian ini begitu cepatnya sehingga tidak ada yang dapat mencegah.
Bong Kwan sendiri segera menggerakkan goloknya membacok sinar berkeredepan yang menyambarnya itu.
Terdengar bunyi "Tranggg!"
Diiringi pekik kesakitan dan ketika semua orang memandang, ternyata Swan Bu sudah melesat kembali dan berdiri seperti biasa, pedangnya masih tergantung di dalam sarung pedang, wajahnya biasa seperti tadi.
Akan tetapi di pihak sana, Bong Kwan berkelojotan dan mengerang-erang kesakitan, golok berikut lengan kanannya telah terbabat buntung!
Kejadian ini terjadi amat cepatnya sehingga semua orang melongo dan kaget.
Pasukan bajak laut lalu berlarian datang, dan atas perintah Bong Ji Kiu si cambang bauk yang marah sekali melihat adiknya menjadi buntung, mereka menggotong pergi Bong Kwan dari tempat itu.
Diam-diam Yosiko kagum bukan main.
Ilmu Pedang si pemuda buntung kekasih Siu Bi itu hebat bukan main, membuat ia merasa gentar juga.
Dia sendiri merasa yakin bahwa dia bukanlah lawan pemuda buntung putera Pendekar Buta yang luar biasa itu, dan bergidiklah ia kalau mengingat betapa Bun Hui didampingi orang-orang yang begitu lihai.
Alangkah banyaknya orang lihai di dunia ini dan ia teringat akan ucapan Yo Wan betapa kelirunya kalau ia memilih jodoh orang yang terlihai kepandaiannya.
Di dunia ini kiranya sukar dicari orang yang paling pandai, karena tentu ada saja yang melebihinya.
"Ah, tidak keliru Siu Bi memilih!"
Ucapan ini tak terasa keluar dari mulut Yosiko.
"Kau putera Pendekar Buta yang bernama Swan Bu? Jangan khawatir, Siu Bi tidak ditahan, ia tidak ikut muncul karena takut kepada dia ini!"
La menudingkan telunjuknya ke arah Cui Sian sambil mengerling nakal.
"Dia galak benar sih! Akan tetapi Siu Bi titip pesan bahwa dia selalu menantimu dengan setia."
Wajah Swan Bu berseri mendengar ini, akan tetapi dia hanya mengangguk, merasa agak malu untuk menjawab.
"He, Bun-Ciangkun, kau datang bersama begini banyak orang lihai, apakah kau merasa jerih terhadap aku dan hendak mengandalkan pengeroyokan mereka ini untuk mengalahkan aku?"
"Ihhh, sombongnya!"
Cui Sian membentak.
"Aku sendiri pun cukup untuk membereskan orang seperti kau ini, masa harus mengeroyok?"
Yosiko tersenyum kepadanya.
"Aku bicara dengan Bun-Ciangkun, siapa minta kau turut campur? Eh, Bun-Ciangkun, bagaimana jawabmu?"
"Mereka hanya menemaniku sebagai saksi,"
Jawab Bun Hui.
"Kulihat kau juga membawa teman, apa bedanya?"
"Kalau begitu biar kita suruh mereka menyingkir mundur yang jauh. Aku hanya ingin bicara dan bertanding denganmu, yang lain-lain tak boleh mencampuri!"
Tanpa diminta Cui Sian lalu mengajak Swan Bu, Hwat Ki, dan Cui Kim untuk mengundurkan diri dan berdiri dari jauh, hanya untuk menjaga kalau-kalau musuh mempergunakan tipu curang.
Dari tempat mereka berdiri, mereka hanya dapat melihat, akan tetapi tidak dapat mendengar kata-kata mereka berdua.
Juga Bong Ji Kiu dan dua orang temannya lalu mengundurkan diri di tempat pasukan anak buah mereka, juga cukup jauh dari tempat pertandingan.
"Nah, sekarang kita hanya berdua bebas untuk bicara. Nona Yosiko, sebetulnya apakah maksudmu mengadakan tantangan seperti ini? Sudah kukatakan dahulu bahwa aku tidak ingin bermusuhan denganmu, malah ingin menawarkan perdamaian."
"Hemmm, pertandingan antara kita tempo hari belum selesai. Sekarang kita selesaikan dengan perjanjian, kalau kau kalah, kau harus menarik pulang pasukanmu dan jangan mengganggu kami lagi."
"Kalau kau yang kalah?"
"Kalau aku yang kalah, aku tetap memegang janjiku lima hari yang lalu, aku menyerah dan menurut segala kehendakmu."
"Nona..., betulkah itu? Kau takkan melanggar janji?"
"Janji lebih berharga daripada nyawa."
Gemetar suara Bun Hui ketika dia berkata.
"Nona, kalau Thian mengabulkan dan aku berhasil menangkan engkau, aku hanya minta agar kau membubarkan semua bajak, melarang mereka melakukan perbuatan jahat lagi, kemudian kau ikut bersamaku ke Thai-goan, kuhadapkan Ayah, kumintakan ampun... bagaimana, setujukah engkau?"
Yosiko mengangguk.
"Aku sudah berjanji, dan aku menurut segala kehendakmu."
"Bagus! Mari kita mulai, mudah-mudahan aku akan menang,"
Kata Bun Hui gembira. Mereka mencabut Pedang masing-masing dan memasang kuda-kuda.
"Akan tetapi kau harus mempergunakan ilmu pedang, jangan menggunakan ilmu sihir seperti dahulu,"
Kata Yosiko sebelum mulai. Bun Hui tersenyum. Yang disangka llmu sihir itu tentulah bantuan Yo Wan secara diam-diam.
"Tidak, aku hanya akan menggunakan ilmu silatku, akan tetapi kau pun harap jangan menggunakan senjata gelap dan segala racun."
"Baik, mulailah!"
Bun Hui menggerakkan pedangnya menyerang dan beberapa menit kemudian mereka sudah saling terjang dengan hebat dan seru.
Sebetulnya hanya Yosiko yang terus-menerus melakukan penyerangan.
Karena mentaati pesan Yo Wan, Bun Hui tidak mau menyerang, hanya melindungi tubuhnya dengan Ilmu Pedang Kun-Lun Kiam-Sut yang amat kuat.
Pedangnya membentuk benteng baja yang sukar ditembus sehingga makin penasaranlah hati Yosiko.
Namun, biarpun hanya mempertahankan diri, Bun Hui selalu mengincar kedudukan kaki Yosiko untuk menanti kesempatan seperti yang diajarkan oleh Yo Wan.
Kesempatan pertama terbuka ketika Yosiko menyerangnya dengan mengembangkan lengan kiri dan menusukkan Pedang ke dadanya.
Kedudukan kaki dan posisi badan gadis itu persis seperti yang diajarkan Yo Wan kepadanya.
Cepat dia miringkan tubuh ke kiri seperti diajarkan Yo Wan, kemudian pedangnya berkelebat menyabet lengan kiri gadis yang dikembangkan itu dengan cepat sekali.
Kagetlah Yosiko menghadapi serangan balasan ini.
Lengan kirinya terancam bahaya dan serangan balasan yang tiba-tiba ini sama sekali tidak pernah ia sangka karena justru kelemahan kedudukannya adalah pada lengan kiri itu.
Tepat seperti diperhitungkan dan diajarkan Yo Wan kepada Bun Hui, gadis itu menarik lengan kirinya dan melangkah mundur setindak dengan kaki kiri pula.
Bun Hui mempergunakan kesempatan itu untuk mencengkeram dengan tangan kirinya ke arah Pedang si gadis sambil berseru.
"Lepaskan pedang!"
Kembali Yosiko terkejut sekali dan cepat ia menarik gagang pedangnya sambil menggoyang pergelangan tangan untuk menangkis cengkeraman itu dengan mata pedang.
Akan tetapi ternyata cengkeraman itu hanya gertakan belaka karena tahu-tahu yang betul-betul menyerang adalah Pedang di tangan kanan Bun Hui.
Pedang itu berkelebat dan...
putuslah sabuk sutera yang mengikat pinggang Yosiko, putus kedua ujungnya yang berkibar-kibar!
"Ihhh...!!"
Yosiko meloncat lagi air mukanya menjadi merah sekali.
"Maaf... tidak sengaja..."
Kata Bun Hui sambil tersenyum.
"Aku belum kalah!"
Kata Yosiko menutupi rasa malunya dan pedangnya berkelebat lagi melakukan serangan yang lebih hebat.
Bun Hui yang sudah siap cepat memutar pedangnya melindungi tubuhnya dan kembali mereka bertanding dengan seru.
Pedang mereka berkali-kali bertemu mengakibatkan bunyi nyaring dan percikan bunga api.
Kesempatan kedua tiba ketika Bun Hui melihat posisi menyerang lawannya dengan tubuh miring.
Cepat ia "Memasuki"
Lowongan dengan memukulkan tangan kirinya ke arah pundak sambil menangkis Pedang Yosiko.
Tepat seperti yang diajarkan Yo Wan.
Yosiko mengelak sambil menusukkan pedangnya dari samping.
Cepat bagaikan kilat karena sudah menduga akan perubahan atau perkembangan kaki Yosiko, Bun Hui menekan Pedang lawan ke bawah dan selagi gadis itu mengerahkan tenaga untuk menarik pedangnya, kaki Bun Hui menyapu dan..., terjungkallah Yosiko!
Namun gadis itu dapat cepat melompat berdiri dan memandang dengan mata terbelalak.
la terheran-heran karena seakan-akan pemuda itu mengenal baik jurus-jurusnya dan tahu pula akan perubahannya, kalau tidak demikian bagaimana dapat tahu bahwa pada saat itu kelemahannya terletak pada kedudukan kakinya sehingga dapat melakukan penyerangan yang begitu tepat?
"Maaf...!"
Untuk kedua kalinya Bun Hui berkata perlahan.
"Aku tetap belum mengaku kalah!"
Kata Yosiko pula yang merasa penasaran dan cepat menerjang lagi.
Diam-diam Bun Hui menarik napas panjang.
Tepat, betul penafsiran Yo Wan tentang gadis ini, keras dan liar wataknya, namun gerak-geriknya benar-benar telah mencengkeram hati Bun Hui.
la telah melakukan pesan Yo Wan dengan baik.
Menurut petunjuk Yo Wan, dia tidak boleh sekaligus merobohkan gadis ini, karena hal itu akan melukai harga dirinya.
Maka setelah dua kali memperlihatkan keunggulannya, baru Bun Hui menanti kesempatan baik untuk mengalahkannya.
Kesempatan itu tiba setelah Yosiko mulai mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh.
Memang sudah diperhitungkan oleh Yo Wan bahwa setelah dua kali berturut-turut menderita kekalahan, pasti Yosiko yang keras hati itu akan mengeluarkan jurus-jurus yang paling hebat dan oleh karena inilah untuk menjatuhkan Yosiko, dia sengaja mengajar Bun Hui untuk menghadapi jurus yang paling berbahaya.
Pada saat Yosiko menerjang dengan bacokan Pedang ke arah leher diteruskan sabetan ke bawah mengarah pinggang dibarengi dengan dorongan-dorongan tangan kiri yang mengandung hawa pukulan (Lanjut ke
Jilid 25 -Tamat) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25 (Tamat) jarak jauh, terbukalah kesempatan ketiga itu bagi Bun Hui.
Tepat seperti ajaran Yo Wan yang sudah dilatihnya baik-baik, karena tahu bahwa Pedang lawan yang membacok leher itu akan terus menyabet pinggang, otomatis Pedang Bun Hui menjaga leher dan pinggang sehingga dua serangan itu otomatis gagal.
Adapun pukulan atau dorongan tangan kiri Yosiko itu oleh Bun Hui sengaja diterima dengan pundak kanannya.
Girang sekali hati Yosiko karena ia melihat bahwa ia bakal menang, karena sekali pukulannya mengenai pundak, tak dapat tidak pemuda itu tentu akan roboh, sedikitnya terhuyung-huyung sehingga memudahkan dia untuk mendesak terus.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pada saat pukulannya mampir ke pundak, tangan kiri Bun Hui dengan kecepatan luar biasa telah menotok bawah siku kanannya, membuat lengan kanannya setengah lumpuh dan sebelum ia dapat mencegahnya, tangan kiri pemuda itu sudah berhasil merampas pedangnya dari tangan kanan yang setengah lumpuh itu.
Memang betul pukulan kirinya tepat mengenai pundak Bun Hui dan membuat pemuda itu terhuyung ke belakang dengan muka pucat, akan tetapi pedangnya telah berada di tangan kiri pemuda itu.
Hal ini berarti ia kalah mutlak!
Dengan pandang mata penuh kekaguman Yosiko berdiri memandang Bun Hui.
Tak mungkin ia melawan terus setelah pedangnya terampas.
Jelas bahwa pemuda ini lebih lihai dari padanya!
"Kau lihai sekali, Nona.
Pundakku terluka oleh pukulanmu!"
Kata Bun Hui merendah sambil mengangsurkan Pedang rampasannya kepada Yosiko.
"Tidak, aku telah kalah dan aku mengaku kalah. Tak dapat aku menerima kembali pedangku. Aku sudah berjanji dan biarkan aku kembali untuk membubarkan mereka, besok baru aku akan datang kepadamu dan selanjutnya terserah."
Saking girangnya Bun Hui tak dapat berkata-kata, hanya memandang dengan sinar mata penuh kebahagiaan dan dia hanya dapat menjura ketika nona itu mengundurkan diri.
Dari tempat dia berdiri, dia melihat Yosiko memberi tanda dengan tangan kepada anak buahnya dan mereka lalu menghilang di balik semak-semak di hutan.
Cui Sian dan yang lain-lain segera lari menghampiri.
"Selamat, saudara Bun Hui, kau telah menang!"
Kata Tan Hwat Ki girang.
"Setelah ia kalah, apa yang akan ia lakukan?"
Tanya Cui Sian.
"La telah berjanji akan membubarkan anak buahnya, dan ia sendiri menyerahkan diri besok untuk menjadi tawanan dan dibawa ke Kota Raja,"
Kata Bun Hui.
"Semua ini adalah jasa Yo-Twako. Ehhh..., Yo-Twako mengapa tidak muncul?"
La menoleh ke arah belakang di mana terdapat banyak pohon besar.
la menduga bahwa Yo Wan tentu bersembunyi di situ dalam persiapan membantunya apabila rencananya gagal.
Benar saja, Yo Wan muncul dari balik pohon dan tertawa girang.
"Kau berhasil baik, Bun-Lote. Bagus sekali! Kurasa seorang seperti Yosiko akan memegang janjinya. Alangkah baiknya urusan ini dapat dibereskan dengan jalan damai sehingga daerah ini akan bebas dari gangguan bajak laut tanpa banyak banjir darah."
"Betapapun juga, aku sangsi apakah jalan ini cukup baik dan menjamin keamanan. Andaikata para bajak itu betul-betul mau pergi dari sini, kiranya mereka akan mengganas di tempat lain,"
Kata Cui Sian menyatakan pendapatnya.
"Setuju sekali dengan ucapan Bibi,"
Sambung Hwat Ki.
"Membasmi pohon jahat harus sampai ke akar-akarnya, kalau tidak tentu akan tumbuh kembali. Penjahat-penjahat itu kalau tidak dibasmi habis, kelak tentu akan melakukan kejahatan pula."
Yo Wan menggeleng-geleng kepalanya, lalu berkata, suaranya sungguh-sungguh.
"Kurasa tidak demikian persoalannya. Kejahatan bukanlah suatu sifat dari jiwa. Tidak ada manusia yang lahir sudah jahat atau selama hidupnya setiap saat ia jahat. Kejahatan adalah kebodohan atau penyelewengan dari kesadaran hati nurani oleh keadaan yang terdorong oleh nafsu-nafsu keduniawian. Memang sudah menjadi kewajiban kita yang mempelajari ilmu dan mengabdi kebenaran dan keadilan untuk memberantas kejahatan-kejahatan, tetapi bukanlah cara yang sempurna kalau kita harus membunuhi setiap orang yang melakukan kejahatan yang sesungguhnya hanya kebodohan itu. Hal ini akan merupakan pekerjaan sia-sia belaka, bahkan membunuh itu sendiri pun termasuk kebodohan yang berdasar pada kebencian, jadi pada umumnya juga disebut jahat! Yang kita musnahkan bukanlah orangnya melainkan kebodohannya itulah."
Yo Wan berhenti sebentar mengumpulkan ingatannya tentang filsafat yang pernah dia pelajari ketika dia bertapa di Himalaya. Orang-orang muda yang gagah mendengarkan dengan tertarik.
"Yo-Twako, teruskanlah, aku masih belum dapat memahami filsafatmu ini."
Kata Bun Hui.
"Anggapan bahwa orang yang sekarang dianggap jahat akan menjadi jahat selamanya, dan anggapan bahwa orang yang sekarang dianggap baik akan menjadi baik selamanya, adalah anggapan yang sempit. Apa yang disebut jahat maupun baik hanyalah akibat dari kesadaran si orang itu pada saat itu. Apabila dia lupa dan lemah, bodoh menghambakan diri pada hawa nafsu, maka dia melakukan perbuatan yang dianggap jahat. Sebaliknya apabila pada saat itu ia sadar dan kuat menghadapi godaan nafsu, ia akan ingat dan menjauhi perbuatan yang dianggap jahat. Jadi hanyalah akibat sementara saja dari kesadaran. Tidak akan selamanya begitu. Yang sadar mungkin lain waktu akan lupa, sebaliknya yang sekarang lupa mungkin sekali lain waktu akan sadar. Saudara-saudaraku yang baik, pada hakikatnya, apakah itu yang disebut baik dan jahat? Dari manakah timbulnya sebutan ini? Ingat, banyak sekali di antara kita yang menyalahtafsirkan istilah baik dan jahat ini, bahkan banyak yang menyeleweng dari kebenaran dan keadilan dalam menentukan tentang orang baik dan orang jahat,"
"Bagaimana ini? Baru sekarang aku mendengarnya. Yo-Koko, coba kau beri penjelasan,"
Kata Cui Sian dengan hati tertarik sehingga ia lupa bahwa ia menggunakan sebutan mesra sekali, yaitu sebutan "Koko."
Baiknya semua orang pun sedang dalam keadaan tertarik oleh filsafat Jaka Lola sehingga tidak ada yang memperhatikan sebutan itu.
"Sebelumnya maaf. Kalian adalah putera-puteri Pendekar-Pendekar sakti yang berilmu tinggi, tentu sudah menerima gemblengan-gemblengan batin yang dalam. Akan tetapi, tiada salahnya kalau sekarang kita bertukar pikiran untuk memperlengkapi ilmu dan mencari kesesuaian pendapat. Yang kumaksud penyelewengan dalam penilaian seseorang terhadap orang lain yang dianggap baik dan jahat adalah karena sebagian besar manusia menilai orang lain berdasarkan nafsu kodrati..."
"Nanti dulu, Yo-Twako. Apa artinya kodrati?"
Tanya Hwat Ki.
"Nafsu kodrati adalah nafsu mementingkan diri pribadi, demi kesenangan sendiri, demi keuntungan sendiri, demi kepentingan sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Orang menilai orang lain sebagai orang baik kalau orang lain itu mendatangkan keuntungan atau kesenangan kepadanya. Dan orang menilai orang lain sebagai orang jahat kalau orang lain itu mendatangkan kerugian atau kesusahan kepadanya."
"Tentu saja, bukankah itu wajar?"
Bun Hui berkata. Yo Wan mengangguk.
"Wajar bagi penilaian yang berdasarkan kodrati. Memang ini menjadi kesalahan atau penyelewengan yang tak terasa lagi oleh manusia yang dalam setiap geraknya dikendali oleh nafsu kodrati. Akan tetapi sebetulnya tidak wajar bagi orang yang mengabdi kepada kebenaran dan keadilan!"
"Mengapa begitu?"
Tanya Hwat Ki.
"Agaknya persoalan ini sulit dimengerti. Baiklah aku menggunakan contoh. Ada seorang yang menjadi perampok, merampasi barang lain orang dengan jalan kekerasan. Orang ini pada umumnya disebut jahat, bukan? Akan tetapi orang ini amat baik kepadamu, tidak merampokmu, malah membantumu, menolongmu dengan ikhlas. Nah, saudara Hwat Ki, bagaimana penilaianmu terhadap orang ini? Tentu kau akan sukar sekali menganggap dia orang jahat, dan akan menerima dia sebagai seorang yang baik karena memang ia amat baik terhadapmu. Sebaliknya, andaikata ada seorang yang oleh umum dianggap baik, suka menolong orang lain, akan tetapi justru kepadamu orang itu berbuat hal yang merugikan, misalnya menghina atau menyusahkan. Bukankah kau akan sukar sekali menilai dia sebagai orang baik, Bun-Lote? Kiranya akan lebih mudah bagimu untuk menilai dia sebagai seorang yang jahat karena ia kau anggap amat jahat kepadamu. Nah, bukankah jelas bahwa penilaian saudara Hwat Ki dan Bun-Lote ini menyeleweng dari kebenaran dan keadilan? Karena penilaian ini hanya mendasarkan kepada untung atau rugi bagi dirinya sendiri! Bagaimana pendapat kalian?"
"Betul sekali! Baru sekarang aku dapat mengerti!"
Kata Cui Sian, sepasang matanya berseri penuh kekaguman.
"Memang betul apa yang dikatakan Yo-Twako. Aku pun pernah mendengar filsafat seperti ini diwejangkan oleh Ayah,"
Kata Swan Bu. Yo Wan mengangguk.
"Suhu adalah seorang yang bijaksana. Sungguhpun Suhu kehilangan kedua alat penglihatannya, namun mata batinnya terbuka lebar sehingga tidak mudah Suhu terperosok ke dalam jurang penyelewengan. Banyak orang yang kedua matanya awas, namun mata batinnya seperti buta sehingga terjadilah di dunia ini perebutan kebenaran, dan yang diperebutkan itu adalah kebenaran palsu, kebenaran diri sendiri yang bukan lain hanyalah penyamaran dari nafsu kodrati juga. Kebenaran sejati tidak diperebutkan orang, karena sesungguhnyalah bahwa siapa yang merasa diri tidak benar, dialah yang paling dekat kepada kebenaran sejati! Perasaan bahwa diri sendiri tidak benar ini menghilangkan atau setidaknya mengurangi nafsu yang amat buruk, yaitu nafsu membencl orang lain. Tentu saja orang lain dibenci karena dianggap jahat. Kalau kita merasa bahwa diri kita sendiri pun tidak benar, maka tidak mudah menilai orang lain jahat dan karenanya berkuranglah rasa benci. Hapuskan rasa benci dari dalam lubuk hati dan kita akan mudah menerima cahaya kasih, yaitu kasih sayang kepada sesama manusia, dan ini merupakan jembatan yang akan membawa kita kepada kebenaran sejati."
Hening sejenak karena orang-orang muda itu seakan-akan terpesona dan terpengaruh hikmat kata-kata yang mengandung filsafat hidup itu.
Kemudian dengan perasaan kagum dan bangga Cui Sian tertawa, memecah suasana yang tercekam oleh kesunyian itu.
"Wah-wah, mengapa kita jadi menyimpang jauh dari persoalan pokok? Bukankah kita tadi bicara tentang bajak-bajak itu?"
Yo Wan juga tertawa, hatinya gembira karena dia dapat menangkap suara kekasihnya yang mengandung kekaguman dan kebanggaan.
"Kita tidak menyimpang karena apa yang kita bicarakan tadi juga ada hubungannya dengan para bajak. Aku tidak membenci mereka, namun kasihan terhadap kebodohan dan penyelewengan mereka. Aku akan merasa lebih bersyukur apabila mereka itu dapat diinsyafkan dan dapat ditunjukkan jalan benar. Kalau hal ini tidak berhasil, tentu saja kita harus mencegah mereka melakukan kejahatan, menggunakan kepandaian kita. Cuma baiknya kalau tidak terpaksa sekali untuk mempertahankan diri, tidak perlu membunuh lain orang."
"Wah, nasihat Yo-Twako sama benar dengan nasihat Ayah, kata Swan Bu lagi.
"Memang aku murid Ayahmu, tentu saja sependirian."
Malam ini tidak terjadi sesuatu, akan tetapi pada keesokan harinya pagi-pagi sekali menjelang subuh, di waktu ayam hutan ramai berkokok, tiba-tiba terjadi penyerbuan besar-besaran dari pihak bajak laut.
Para penjaga malam di perkemahan pasukan Kota Raja yang hanya berjumlah dua puluh orang lebih, tak dapat menahan serbuan ratusan bajak itu sehingga dalam waktu beberapa puluh menit saja dua puluh orang lebih penjaga itu telah tewas.
Ributlah keadaan pasukan ketika malam keadaan masih nanar karena baru bangun tidur secara mendadak menghadapi musuh-musuh menyerbu itu.
"Wah, agaknya Yosiko tidak pegang janji!"
Seru Cui Sian marah sambil mencabut pedangnya setelah para orang muda gagah itu berkumpul di ruangan depan.
"Belum tentu,"
Jawab Yo Wan.
"Mari kita berpencar, kita tahan serbuan mereka dari empat penjuru, membantu Bun Hui yang sudah pergi lebih dulu mengatur pasukannya."
Orang-orang muda itu lalu berloncatan ke luar di dalam cuaca yang masih gelap itu.
Hwat Ki dan sumoinya berlari ke arah Barat untuk menahan gelombang serangan bajak laut dari arah ini.
Cui Sian berlari ke arah Utara sedangKan Yo Wan berlari ke Selatan.
Swan Bu sendiri yang sejak malam tadi gelisah memikirkan Siu Bi, kini menghilang seorang diri dengan tujuan untuk mencari kekasihnya di antara para bajak laut.
Hebat perang kecil yang terjadi di pagi buta yang masih gelap itu.
Banyak anggota pasukan pemerintah roboh karena hujan anak panah, akan tetapi setelah orang-orang muda perkasa itu keluar turun tangan, keadaan berubah dan banyak bajak laut yang roboh dan banyak pula yang mengundurkan diri.
Akan tetapi tak seorang pun di antara para muda perkasa itu melihat Yosiko.
Bahkan pimpinan bajak laut yang lain hanya dua orang yang muncul, yaitu Thio Kong dan Yauw Leng, sedangkan yang dua orang lagi, Bong Ji Kiu dan adiknya Bong Kwan yang lengan kanannya kemarin buntung oleh serangan kilat Swan Bu juga tidak tampak batang hidungnya.
Bun Hui memimpin anak buahnya mengamuk dan mengejar bajak-bajak yang melarikan diri.
Karena tidak melihat Yosiko memimpin mereka, setelah merobohkan Thio Kong, Bui Hui membentak kepala bajak yang terluka ini.
"Hayo katakan, di mana adanya Hek-San Pangcu Yosiko?"
Biarpun sudah terluka parah, Thio Kong masih tertawa mengejek.
"Kau takkan melihat dia hidup lagi! Dia menjadi tawanan Bong Ji Kiu di dalam gua di tepi laut!"
Bukan main kagetnya hati Bun Hui.
Di samping kaget dan khawatir akan keselamatan Yosiko, diam-diam dia juga lega.
Ternyata gadis itu tidak mengingkari janji, tidak mengkhianatinya, melainkan menjadi tawanan bawahannya sendiri yang memberontak!
"Hayo kau tunjukkan aku di mana gua tempat ia ditawan!"
Bentaknya sambil mengempit tubuh Thio Kong yang terluka dan membawanya lari.
Pasukannya itu ikut pula mengejar para bajak, dan selebihnya lalu mengikuti komandan mereka ke tepi laut.
Di depan sebuah gua yang besar dan gelap, Bun Hui berhenti.
Dengan napas empas-empis Thio Kong berkata.
"Di situlah tempatnya... Bong-Twako pesan bahwa kau sendiri harus memasuki gua melawannya kalau kau ingin bertemu dengan Yosiko. Kalau membawa pasukanmu menyerbu, dia akan dibunuh..."
Setelah berkata demikian, Thio Kong roboh pingsan.
Bun Hui memerintahkan anak buahnya untuk menawan Thio Kong.
Kemudian dia menghampiri mulut gua.
Gua ini lebar, akan tetapi gelapnya bukan main.
Dari luar tidak tampak apa-apa, hanya hitam gelap menyeramkan, agaknya ada terowongannya.
Gua batu karang itu merupakan mulut naga yang mengerikan dan tahulah Bun Hui bahwa memasuki gua ini merupakan bahaya besar.
Akan tetapi mengingat akan nasib Yosiko di tangan Bong Ji Kiu, tak mungkin dia berdiam diri saja di luar gua.
Pada saat itu, Yo Wan dan Hwat Ki berlari-lari menghampiri Bun Hui.
Dua orang muda ini tadinya bersama Cui Kim dan Cui Sian yang bertemu setelah mereka berhasil mengundurkan para bajak laut.
Akhirnya Yo Wan mengajak Hwat Ki untuk membantu Bun Hui, sedangkan Cui Sian mengajak Cui Kim untuk mengejar ke lain jurusan sambil mencari Swan Bu yang belum tampak.
Pada saat Yo Wan dan Hwat Ki tiba di tempat itu, Bun Hui sudah mulai meloncat memasuki gua setelah dia memerintahkan anak buahnya menjaga di luar.
"Bun-Lote! Ke mana kau?"
Yo Wan berteriak heran.
Akan tetapi Bun Hui yang khawatir kalau-kalau Yo Wan dan Hwat Ki akan merintanginya jika mendengar bahwa Yosiko tertawan di dalam dan hanya dia yang boleh masuk seorang diri, tidak mempedulikan seruan ini dan terus melompat ke dalam.
Yo Wan bukan seorang sembrono.
Cepat dia menghampiri seorang kepala regu dan bertanya apa maksudnya semua itu.
"Siauw-Ciangkun masuk gua untuk menolong nona Yosiko yang menjadi tawanan bajak!"
Orang itu menerangkan cepat.
"Orang lain tak boleh masuk..."
Yo Wan cepat melompat ke depan gua, berteriak.
"Bun-Lote! Kembalilah cepat, kau terjebak...!"
Akan tetapi terlambat sudah terdengar suara keras dan dari sebelah atas di dalam gua itu tiba-tiba runtuhlah batu-batu karang yang besar dan berat menutupi mulut gua di mana tadi Bun Hui lari masuk!
Debu mengebul tinggi keluar dari gua disertai pecahan-pecahan batu yang berhamburan ke sana ke mari.
Yo Wan menggerakkan kakinya melompat keluar sehingga terhindar dari hujan batu kecil yang hancur beterbangan tertimpa batu karang besar dari atas itu.
Selagi Yo Wan, Hwat Ki dan para perajurit tertegun dan gelisah, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari belakang.
"Apa yang terjadi? Mana Yosiko anakku?"
Ketika Yo Wan menengok, ternyata yang datang ini adalah wanita setengah tua yang pernah menguji kepandaiannya, yaitu Tan Loan Ki, Ibu dari Yosiko.
Wanita ini wajahnya pucat, agaknya sudah mendengar tentang perang antara pasukan pemerintah dengan anak buah bajak laut, dan kini mencari Yosiko.
"Dia tertawan oleh Bong Ji Kiu dan berada di dalam gua ini. Komandan pasukan, Bun-Ciangkun sedang berusaha menolongnya, akan tetapi terjebak ke dalam gua,"
Kata Yo Wan.
Wanita itu mengeluarkan seruan marah keras sekali, lalu tiba-tiba ia lari dari tempat itu!
Yo Wan tidak mempedulikanya lagi, lalu maju dan bersama Hwat Ki memimpin para prajurit untuk membongkar runtuhan batu-batu dari atas yang menutup gua.
Bagaimanakah Yosiko bisa tertawan oleh Bong Ji Kiu?
Betulkah ia tertawan?
Memang sebetulnya begitu.
Setelah kalah bertanding melawan Bun Hui, hati gadis ini kagum sekali dan ia sudah mengambil keputusan untuk membubarkan orang-orangnya dan mencuci tangan, menyerah kepada Bun Hui yang bersikap baik terhadap dirinya.
la tidak pedulikan anak buahnya yang tampak tidak puas.
Dengan kata-kata singkat ia berkata kepada Bong Ji Kiu dan yang lain-lain.
"Aku lelah sekali. Biarlah aku mengaso malam ini dan besok kau kumpulkan semua kawan, aku mau bicara penting sekali. Jangan bergerak dan jauhkan dari pasukan Kota Raja agar tidak terjadi bentrokan."
Yang kelihatan tidak puas sekali adalah Bong Ji Kiu.
Adik kandungnya telah kehilangan lengan kanan dan kini pemimpin ini tampaknya tidak mempedulikan, bahkan tadi dalam pertandingan kelihatan mengalah terhadap musuh!
Malam itu Yosiko tidur di dalam pondoknya, bersama Siu Bi.
Gadis ini tak dapat tidur, apalagi ketika ia tadi mendengar dari Yosiko tentang Swan Bu yang masih berada bersama pasukan Kota Raja, malah Yosiko memuji-muji Swan Bu dan menceritakan betapa pemuda buntung itu dengan hebatnya telah membuntungi lengan Bong Kwan yang menghinanya.
"Pilihanmu tidak keliru, Siu Bi. Putera Pendekar Buta itu hebat. Akan tetapi, Bun-Ciangkun lebih hebat. Mereka memang orang-orang yang mengagumkan."
Demikian kata Yosiko menutup ceritanya sebelum gadis kepala bajak itu pulas.
Siu Bi tak dapat pulas, gelisah hatinya.
Mungkin sekali kekasihnya akan salah sangka, mengira bahwa dia kini menjadi bajak pula membantu Yosiko.
Padahal ia bersama Yosiko karena tadinya hendak bersama-sama memusuhi Cui Sian.
Aku harus pergi dari sini, pikirnya.
Tidak ada gunanya lagi berkumpul dengan Yosiko.
Tiba-tiba Siu Bi mencium sesuatu yang harum sekali.
la menjadi curiga dan cepat ia mengerahkan Sinkang menahan nafas.
Dilihatnya Yosiko bernapas panjang dan tenang dalam tidurnya.
Ada asap kekuningan memasuki kamar itu dari celah-celah dinding.
Siu Bi makin curiga.
Dengan masih menahan napasnya, ia mengguncang-guncang tubuh Yosiko.
Akan tetapi alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat Yosiko membuka sedikit matanya akan tetapi gadis itu lemas dan tidak mampu bangun.
"Asap beracun!"
Bisik Siu Bi kaget.
Cepat ia mencabut pedangnya dan meloncat turun dari pembaringan, terus menerjang ke arah pintu.
Ternyata di depan pintu sudah menanti banyak anak buah bajak, dipimpin oleh Bong Ji Kiu yang langsung menyerangnya dengan pengeroyokan.
Siu Bi memutar pedangnya, akan tetapi karena ia memang sudah mengambil keputusan untuk pergi dari tempat itu, setelah berhasil merobohkan dua orang pengeroyok, ia lalu melompat ke dalam gelap, terus melarikan diri.
Kemudian di dalam hutan itu ia mendengar keributan dan perang tanding antara bajak-bajak laut melawan pasukan pemerintah.
la tetap bersembunyi.
Adapun Yosiko yang sudah menjadi korban asap beracun itu, sama sekali tidak dapat melawan ketika Bong Ji Kiu membelenggunya dan memanggulnya pergi.
Andaikata gadis ini tidak berada dalam keadaan tidur pulas, seperti halnya Siu Bi, tentu ia takkan menjadi korban.
Akan tetapi dalam keadaan pulas, ia telah menyedot asap beracun dan terbius dalam keadaan setengah pingsan.
Ketika melihat anak buahnya terdesak hebat dan banyak yang tewas, akhirnya Bong Ji Kiu maklum bahwa pihaknya akan kalah.
Maka dia lalu membawa Yosiko lari ke dalam gua rahasia dan berhasil menjebak masuk Bun Hui.
la hendak menggunakan Bun Hui dan Yosiko untuk menjadi jaminan menyelamatkan diri.
Sementara itu, Swan Bu yang lebih dulu menyerbu ke daerah musuh dalam usahanya mencari Siu Bi, menjadi gelisah karena dia tidak melihat gadis itu di antara para bajak.
Juga dia tidak melihat Yosiko.
Pemuda ini mengamuk dan setiap orang bajak yang berani menghadangnya tentu roboh dengan sekali gerakan.
Banyak sudah dia merobohkan anak buah bajak, menangkap mereka dan bertanya di mana adanya kekasihnya, Siu Bi.
Akan tetapi para bajak itu tidak ada yang tahu, atau tidak ada yang mau memberi tahu sehingga Swan Bu menjadi makin bingung.
Akhirnya dia dikepung oleh belasan orang bajak yang dipimpin oleh kepala bajak Yauw Leng yang bertubuh tinggi besar dan memegang sepasang pedang.
Yauw Leng kemarin ikut dengan rombongan Yosiko, karena itu dia mengenal pemuda buntung ini yang kemarin telah membuntungi lengan kanan temannya, Bong Kwan.
Maka melihat pemuda ini, marahlah Yauw Leng dan ingin membalas dendam sahabatnya.
la lalu mengerahkan anak buahnya mengepung.
Akan tetapi kasihan bajak-bajak kecil itu.
Mereka seakan-akan merupakan serombongan laron yang menerjang api lilin.
Api itu hanya bergoyang-goyang, sama sekali tidak padam, akan tetapi laron-laron itu satu demi satu roboh!
Swan Bu berpikir bahwa sebagai pemimpin bajak, tentu orang tinggi besar yang kemarin datang bersama Yosiko ini sedikitnya tahu akan Siu Bi.
Maka dia lalu mempercepat permainan pedangnya, merobohkan para bajak dan dengan gerakan yang tak tersangka-sangka dia meloncat ke depan Yauw Leng yang tadinya hanya memberi komando dari jarak aman.
Bajak laut itu kaget setengah mati.
Tak disangkanya pemuda buntung itu dengan mudahnya mampu menembus kepungan belasan orang anak buahnya dan tahu-tahu sudah berkelebat di depannya.
la cepat menggerakkan sepasang pedangnya menyerang, Pedang kanan menyerang tubuh lawan, Pedang kiri menyerang bagian atas.
Gerakannya cepat dan ganas, tenaganya besar sehingga sepasang pedangnya mengeluarkan bunyi berdesingan.
Namun hal ini bajak laut yang biasanya jarang menemukan lawan dengan sepasang pedangnya yang dahsyat itu, menemui lawan yang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripadanya.
Biarpun Swan Bu telah kehilangan lengan kirinya, namun kalau baru lawan setingkat bajak laut ini, biar ada sepuluh orang macam Yauw Leng kiranya dia takkan kalah.
Pedang Kim-Seng-Kiam, berkelebat bagaikan halilintar menyambar, dari mulutnya keluar bentakan yang menggetarkan jantung, kemudian terdengar bunyi nyaring dan tahu-tahu sepasang Pedang di tangan Yauw Leng telah patah-patah, disusul pekik kesakitan ketika bajak itu tertotok roboh oleh gagang Pedang Swan Bu.
Para anak buah bajak berteriak-teriak menyerbu, namun sekali memutar pedang, empat orang bajak laut roboh.
Kemudian Swan Bu menyambar tubuh Yauw Leng dan sekali dia berkelebat, lenyaplah dia dari depan para bajak laut yang menjadi kebingungan karena kehilangan pimpinan.
Akhirnya mereka lari cerai-berai ketika melihat pasukan pemerintah sudah berlari-lari dari lain jurusan dengan senjata diacung-acungkan penuh ancaman!
"Hayo katakan, di mana adanya nona Siu Bi yang tadinya bersama ketuamu Yosiko?
Katakan sebenarnya, kalau tidak...akan kucincang hancur tubuhmu!"
Swan Bu mengancam setelah dia berada di tempat sunyi dan membanting tubuh bajak ke bawah. Yauw Leng mengeluh panjang, lalu berkata.
"Dia... dia tertawan oleh... Bong Kwan yang kemarin kau buntungi lengannya! Dia tentu akan tewas oleh Bong Kwan yang sakit hati kepadamu kalau tidak lekas kau tolong..."
"Di mana dia? Di mana bangsat itu dan di mana Siu Bi ditawan?"
Tanya Swan Bu dengan gugup.
"Apa gunanya aku memberi tahu kalau kau akhirnya toh membunuhku? Berjanji dulu bahwa kau takkan membunuhku, baru aku mau menunjukkan tempatnya."
Karena amat khawatir akan keadaan Siu Bi, Swan Bu segera berkata.
"Baiklah kau akan kubebaskan. Lekas tunjukkan tempatnya."
La menotok bebas bajak itu dan menyeret tangannya diajak lari ke tempat yang ditunjukkan oleh Yauw Leng.
Tibalah mereka di depan batu-batu karang di tepi laut, di mana terdapat banyak sekali gua-gua batu karang yang liar.
Kadang-kadang kalau ombak laut besar, air laut sampai di mulut gua-gua ini, dan batu-batu karang di tempat ini amat runcing, tajam dan licin.
"Di sinilah tadi malam Bong Kwan membawa Siu Bi. Kau carilah sendiri ke dalam gua, aku tidak berani,"
Kata Yauw Leng. Cepat bagaikan kilat menyambar, tangan kanan Swan Bu menotok Yauw Leng roboh.
"Akan kubuktikan, kalau kau tidak membohong, kau kubebaskan. Akan tetapi awas kalau kau bohong!"
Dengan Pedang di tangan, Swan Bu lalu meloncat memasuki gua itu dengan gerakan tangkas. la meloncat ke atas batu-batu karang yang runcing, terus memasuki gua yang amat dalam itu.
"Siu Bi...!! la memanggil. Tidak ada jawaban kecuali gema suaranya dari dalam gua. la meloncat ke atas batu karang sebelah dalam lagi.
"Siu Bi...!"
Mendadak telinganya menangkap suara yang terdengar dari jauh.
"Swan Bu...!!"
Itulah suara Siu Bi!
Tak salah lagi!
Gemetar kaki Swan Bu mendengar suara ini, suara yang sukar diketahui dari mana datangnya, akan tetapi terpengaruh oleh keterangan Yauw Leng tadi, ia menduga bahwa suara itu pasti datang dari dalam gua ini.
Dengan cepat dia meloncat terus, memasuki bagian yang gelap.
Tiba-tiba terdengar angin menyarnbar dari kanan kiri.
Swan Bu terkejut, pedangnya bergerak cepat, diputar sedemikian rupa sehingga dia berhasil menangkis banyak anak panah yang beterbangan dari kanan kiri menyambarnya.
Anak-anak panah itu runtuh ke bawah dan dia meloncat lagi ke depan.
Sekali lagi dia menangkis sambaran senjata-senjata gelap yang terbang dari depan.
Tiba-tiba terdengar suara keras dan asap hitam tebal memenuhi tempat itu.
Swan Bu terbatuk-batuk dan cepat menahan napas, maklum bahwa asap itu beracun, akan tetapi karena tempat itu gelap, ketika meloncat ke atas batu karang di sebelah kanan yang kelihatah hanya hitam saja, dia tergelincir.
Pada, saat itu dia merasa pundak kanannya sakit.
Sebatang senjata piauw telah menancap di pundaknya.
Tak tertahan lagi Swan Bu roboh terguling, tubuhnya terbanting di atas batu-batu karang yang runcing dan tajam.
Lalu sunyi senyap!
Bagaikan terbang cepatnya, Siu Bi datang berlari-lari.
la tadi mendengar suara Swan Bu yang memanggilnya dan ia telah menjawab dengan menyerukan nama pemuda itu sambil berlari ke arah datangnya suara.
Ketika ia tiba di depan gua, dari dalam gua berlompatan empat orang bajak yang tadi bersembunyi di situ dan menghujankan anak panah pada Swan Bu.
Siu Bi marah sekali.
Melihat Yauw Leng menggeletak dalarn keadaan tertotok, pedangnya menyambar dan putuslah leher kepala bajak itu.
Empat orang bajak menjadi marah, beramai menyerbu.
Namun Siu Bi memutar pedangnya dan dalam beberapa menit saja empat orang bajak itu sudah roboh tak bernyawa lagi, mandi darah!
"Swan Bu."
Siu Bi menjerit ke dalam gua. Tiba-tiba dari dalam gua itu terdengar suara orang tertawa bergelak, menyeramkan suara ini.
"Ha... ha... ha, Manis! Kau mencari kekasihmu? Si buntung lengan? Ha... ha... ha, dia di sini. Masuklah!"
Siu Bi terkejut. Itulah suara Bong Kwan yang katanya kemarin dibuntungi lengannya oleh Swan Bu. la tidak percaya dan memanggil lagi.
"Swan Bu...!!"
"Ha... ha... ha, kau tidak percaya? Lihat, apakah ini?"
Dari dalam gua itu melayang sebatang Pedang yang mengkilap putih, menyambar ke arah Siu Bi.
Dengan cekatan Siu Bi menyambar Pedang itu dengan tangan kirinya.
Tangannya menggigil.
Itulah Pedang Kim-Seng-Kiam, Pedang kekasihnya!
"Swan Bu...!"
"Masuklah kalau hendak menemui kekasihmu!"
Kembali suara Bong Kwan mengejek.
Pada saat itu, Cui Sian dan Cui Kim datang berlari-lari.
Melihat Siu Bi dengan sepasang Pedang berdiri di depan gua, timbul kemarahan mereka berdua.
Gadis liar ini telah bersekutu dengan Yosiko dan terang bahwa Yosiko telah bersikap curang, melanggar janji dan diam-diam melakukan penyerbuan yang menewaskan banyak perajurit.
Terang bahwa Siu Bi ini membantu penyerbuan Yosiko.
"Gadis jahat!"
Cui Sian melompat maju hendak menyerang. Kemudian ia mengenal Pedang Kim-Seng-Kiam di tangan Siu Bi.
"Eh, itu Pedang Kim-Seng-Kiam milik Swan Bu! Di mana dia? kau apakan dia?"
Bentaknya. Muka Siu Bi pucat sekali.
"Dia... dia... entah bagaimana keadaannya, tapi... dia... dia di dalam gua ini, ditawan...!"
Sambil berkata demikian,. Siu Bi lalu melompat memasuki gua dengan sepasang Pedang di tangan.
"Swan Bu...!"
La berseru lagi sambil berlari dan berloncatan dari batu karang ke batu karang sebelah dalam.
Tiba-tiba terdengar ledakan keras dan asap hitam memenuhi tempat di sebelah dalam gua di mana Siu Bi berdiri.
Gadis ini menjadi limbung, pandang matanya gelap dan dalam keadaan matanya gelap dan dalam keadaan setengah sadar itu, tiba-tiba ia merasa dadanya sakit sekali.
la terhuyung-huyung dan terbanting roboh di samping Swan Bu yang menggeletak pingsan di antara batu-batu karang.
"Swan Bu..."
Siu Bi merintih lemah, merangkak dan merangkul pemuda itu.
Cui Sian dan Cui Kim terkejut sekali.
Mereka lalu meloncat masuk pula dengan Pedang terhunus, bergerak hati-hati sekali.
Cui Sian di depan, Cui Kim di belakangnya.
"Mundur...!"
Teriak Cui Sian sambil melompat keluar lagi ketika dia mencium bau yang memuakkan, bau asap hitam yang masih tergantung tebal di dalam gua.
Terpaksa keduanya melompat keluar lagi dan berdiri bingung.
Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di depan gua itu sudah berdiri sepasang Suami isteri yang gagah perkasa.
Mereka ini bukan lain adalah Pendekar Buta sendiri bersama isterinya.
Kedatangan mereka ini sebetulnya bersama Tan Loan Ki.
Seperti kita ketahui.
Tan Loan Ki mencari Pendekar Buta untuk memaksa Pendekar ini menjodohkan muridnya, Yo Wan dengan puterinya Yosiko.
Mendengar permintaan yang aneh ini, Pendekar Buta yang kebetulan bertemu di jalan dengan Tan Loan Ki sepulang mereka dari Thai-San, segera ikut dengan wanita aneh itu.
Perjalanan dilakukan cepat bukan main karena biarpun sudah setengah tua, Tan Loan Ki masih berwatak keras dan tidak mau kalah, maka dia seakan-akan mengajak suami-isteri dari Liong-Thouw-San itu berlomba adu lari cepat!
Setiba di daerah Po-Hai, melihat kekacauan dan peperangan, Tan Loan Ki merasa khawatir sekali dan cepat-cepat ia mencari puterinya sehingga ia bertemu Yo Wan di depan gua di mana puterinya tertawan.
Adapun Pendekar Buta dan isterinya, mendengar keterangan dari para perajurit bahwa Swan Bu putera mereka juga berada di situ malah ikut bertempur.
Atas petunjuk para prajurit inilah mereka berdua mencari dan akhirnya mereka bertemu dengan Cui Sian dan Cui Kim yang berloncatan keluar dari dalam gua yang penuh asap hitam beracun!
"Cui Sian...
apa yang terjadi?
Apa kau melihat Swan Bu?"
Tanya Hui Kauw, isteri Pendekar Buta, tak sabar lagi.
"Saya khawatir... Swan Bu berada di dalarn gua... dan Siu Bi baru saja meloncat masuk untuk mencarinya, akan tetapi agaknya... agaknya dia mengalami kecelakaan. Gua ini penuh asap hitam beracun..."
"Ahhh...!"
Hui Kauw mencabut pedangnya dan bergerak hendak meloncat masuk, akan tetapi cepat Kwa Kun Hong si Pendekar Buta menyambar lengan isterinya.
"Tunggu! Biar aku yang masuk!"
Katanya dan sebelum isterinya sempat membantah, tubuhnya sudah bertindak ke depan, dengan hati-hati dia melangkah masuk, meraba-raba dengan kedua kakinya.
Segera dia mencium bau asap hitam yang beracun.
"Bahan ledak berbahaya..."
Katanya perlahan, kemudian Pendekar Buta menggerak-gerakkan kedua tangannya, mendorong ke dalam gua.
Asap hitam itu yang tadinya mengambang di dalam gua, menjadi buyar, terdorong oleh angin pukulan dahsyat yang memenuhi gua.
Karena dorongan ini, asap itu lalu terbang keluar gua dan sebentar saja habislah asap hitam itu.
Kemudian dari dalam gua menyambar senjata-senjata rahasia piauw bagaikan hujan lebatnya.
Namun, hanya dengan gerakan kedua tangannya yang mengeluarkan angin pukulan luar biasa, semua piauw itu terpental, ada pula yang membalik dan menyambar lebih cepat lagi ke dalam gua.
Terdengar pekik kesakitan ketika piauw-piauw beracun itu menyambar tubuh Bong Kwan sendiri yang segera terjungkal dari atas batu karang di sudut gua, tewas seketika itu juga.
Pada saat itu, matahari telah naik tinggi dan sinarnya memasuki gua.
Hui Kauw, Cui Sian dan Cui Kim sudah berani memasuki gua setelah asap hitam itu buyar semua.
"Swan Bu...!"
Hui Kauw menjerit ketika melihat puteranya yang kini sudah buntung lengannya itu menggeletak seperti mayat, dipeluki oleh Siu Bi yang tubuhnya mandi darah.
Sekali lagi Kun Hong mencegah isterinya, malah dia berjongkok dan memeriksa puteranya dengan rabaan tangannya.
Hatinya lega karena luka di pundak puteranya tidak berbahaya.
Swan Bu hanya pingsan karena ketika tadi terguling, kepalanya tertumbuk batu.
Hanya keadaan Siu Bi yang payah.
Ketika Kun Hong memeriksanya sebentar, Pendekar ini mengerutkan keningnya.
"Biarkan dia sebentar..."
Katanya, hatinya penuh keharuan. Tiga batang piauw beracun yang menancap di dada Siu Bi tak mungkin dapat dicegah pengaruhnya lagi.
"Swan Bu..."
Siu Bi berbisik, tetap merangkul leher pemuda itu erat-erat.
"Swan Bu... aku hanya punya engkau..."
Ucapan ini gemetar dan lemah, mendatangkan rasa haru pada mereka yang menyaksikan dan mendengar.
Mata gadis itu penuh air mata, akan tetapi sinarnya sudah redup.
Jari-jari tangannya dengan lemah meraba-raba muka Swan Bu yang masih pingsan.
"Swan Bu... aku tidak punya apa-apa lagi... hanya ingin punya engkau... masa tidak boleh...? Swan Bu... kenapa diam saja...? Kau marah kepadaku? Swan Bu... ah, kau... kau terluka... kau mati? Aku pun ikut... Swan Bu... aku ikut!!"
Gadis itu lalu berkelojotan, menjerit-jerit.
"Aku ikut! Aku ikut!!"
Pelukannya mengeras, akan tetapi hanya sebentar, tubuhnya menjadi lemas dan kata-kata terakhir yang keluar dari Bibirnya hanya helaan napas dan bisikan.
"Swan Bu kekasihku... aku... ikut..."
Terdengar sedu-sedan dari kerongkongan Hui Kauw yang memeluk dua tubuh itu, tubuh Siu Bi yang sudah tak bernyawa lagi dan tubuh Swan Bu yang masih pingsan.
Juga Cui Sian menangis terisak-isak, ingat betapa tadinya ia membenci Siu Bi.
Baru kini dia sadar betapa Siu Bi patut dikasihani, seorang gadis yatim piatu yang hidup sebatangkara di dunia ini, tidak punya apa-apa, tidak punya orang yang dikasihinya, tidak punya harapan.
Sekali lagi ia sadar betapa benar pendapat kekasihnya, Yo Wan.
Adapun Cui Kim berdiri bengong, air matanya juga membasahi pipinya.
"Sudahlah, mari kita angkat keluar mereka. Swan Bu perlu diobati,"
Kata Pendekar Buta.
Hui Kauw memondong tubuh puteranya, Cui Sian memondong mayat Siu Bi dan mereka keluar dari gua itu, terus menuju ke perkemahan di dalam hutan.
Di sepanjang jalan Hui Kauw menangis sesunggukan, menangisi puteranya yang kehilangan lengan kiri, menangisi Siu Bi yang betapapun juga sampai di akhir hidupnya membuktikan cinta kasih dan pengorbanan yang besar kepada Swan Bu.
Hanya Pendekar Buta yang berjalan dengan muka tunduk itu diam-diam berterima kasih kepada Tuhan bahwa Tuhan telah mengatur sedemikian rupa demi kebaikan.
Memang sebaiknya begini.
la tahu bahwa puteranya mencintai Siu Bi, tetapi dia tahu pula bahwa demi kebenaran, demi menjaga kerukunan keluarga, demi mencuci bersih nama dan kehormatan keluarga Raja Pedang, Swan Bu harus berjodoh dengan Lee Si.
Dengan pengerahan tenaga para prajurit, dan dia sendiri pun menggunakan kepandaiannya untuk menggulingkan batu-batu yang besar dan berat, akhirnya sejam kemudian Yo Wan berhasil membongkar batu-batu karang yang tadi menutupi gua.
Cepat dia menerjang masuk dan apa yang dia lihat?
Tempat itu kini sudah terang, diterangi oleh dua buah obor yang dipasang di kanan kiri.
Di atas sebuah batu karang halus tampak duduk seorang wanita yang bukan lain adalah Tan Loan Ki, duduk sambil tersenyum-senyum.
Di depannya berlutut dua orang yang bergandeng tangan, Bun Hui dan Yosiko!
Adapun di sudut ruangan gua itu menggeletak mayat si cambang bauk Bong Ji Kiu, lehernya putus!
Yo Wan berdiri tertegun, namun hatinya merasa lega.
Apakah yang terjadi?
Kiranya ketika Bun Hui memasuki gua itu, Bong Ji Kiu menggerakkan sebuah alat rahasia dan runtuhlah batu-batu dari atas menutupi gua, sebagian dari batu-batu itu menimpa Bun Hui yang cepat melompat ke dalam akan tetapi karena keadaan gelap, dia tidak dapat menghindarkan serangan Bong Ji Kiu.
Sambaran golok Bong Ji Kiu melukai pahanya dan sebuah tendangan mengenai dadanya membuat Bun Hui terpelanting dan roboh tak dapat bangun pula.
Kemudian Bong Ji Kiu menyalakan obor dan dengan hati penuh kegelisahan Bun Hui melihat betapa Yosiko benar benar berada di situ, terbelenggu kaki tangannya!
"Ha...
ha...
ha, kau berani datang untuk melihat kekasihmu?
Kau mencinta Yosiko, bukan?
Ha...ha, bagus sekali.
Kau saksikanlah betapa nona manis ini menjadi isteriku, kemudian kau mampus!
kau kira akan dapat mengalahkan Kim Bwee Liong Bong Ji Kiu?
Ha...
ha...
ha!"
Kemudian secara kasar kepala bajak ini memeluk dan menciumi Yosiko.
"Bangsat! Kalau kau laki-laki, jangan mengganggu wanita! Hayo bertanding secara laki-laki, jangan menggunakan kecurangan!"
Bun Hui memaki sambil merangkak bangun dengan susah payah.
la berhasil berdiri setelah mengambil pedangnya, lalu meloncat menggunakan sebelah kaki menyerang kepala bajak itu.
Sambil tertawa Bong Ji Kiu menangkis dengan goloknya.
Tangkisannya keras sekali dan karena Bun Hui masih pening, luka di pahanya parah, serta dadanya masih membuat napasnya sesak, tangkisannya ini saja cukup membuat pedangnya terlepas dan kembali dia terguling roboh karena tendangan lawan.
"Ha... ha... ha, macam mana kau berani melawan aku?"
Bong Ji Kiu melangkah maju dengan golok di tangan.
"Bong Ji Kiu!"
Yosiko berseru keras.
"Kalau kau bunuh dia, aku bersumpah akan mencari kesempatan menghancurkan kepalamu sampai lumat!"
"Ha... ha... ha, kiranya kau benar-benar mencinta bocah ini? Ah, Yosiko, kau benar-benar aneh sekali dan mengecewakan hati. Sepatutnya kau anak bajak laut, berjodoh dengan bajak laut pula. Akan tetapi kau memang tak kenal budi, tak menghargai kawan sendiri. Dulu Shatoku, murid Ayahmu sendiri tewas di tangan Tan Hwat Ki dan kau tidak peduli, padahal Shatoku amat mencintamu. Juga kau tidak mau pedulikan lamaranku, sebaliknya kau mencinta bocah ini, padahal dia ini adalah komandan pasukan Kerajaan yang sengaja datang hendak membasmi kita! Ah, di mana kegagahan Ayahmu? Mana rasa setia kawanmu?"
Setelah berkata demikian, Bong Ji Kiu menggunakan sehelai tambang untuk mengikat kaki tangan Bun Hui yang sudah tidak berdaya lagi kemudian dia meraih hendak memeluk Yosiko lagi untuk menyiksa hati Bun Hui.
"Jangan sentuh aku! Dengar, Bong Ji Kiu, aku hanya bersedia menjadi isterimu kalau kau membebaskan Bun Hui dan jangan menyentuhku di depannya. Kalau kau melanggar pantangan ini, biarpun kau akan memaksaku, pasti akan tiba saatnya aku merobek dadamu dan mengeluarkan jantungmu!"
"Ha... ha... ha, baiklah, Manisku. Akan tetapi tidak bisa aku membebaskan dia sekarang. Dia harus ikut dengan kita ke pantai dan ke perahu. Aku akan membawamu lari ke Pulau Selatan di mana kita dapat membuat sarang baru yang aman, sebagai Suami isteri bajak laut. Dia harus menjamin keselamatan kita sampai kita berlayar, baru dia kubebaskan. Mari, mari kita pergi, Manisku!"
Bong Ji Kiu memondong tubuh Yosiko dan menyeret tubuh Bun Hui melalui terowongan yang kasar sehingga dapat dibayangkan betapa tersiksanya Bun Hui.
Diam-diam Yosiko cemas sekali.
Terowongan rahasia ini adalah peninggalan Kakeknya dahulu, tidak ada yang tahu kecuali dia dan Ibunya, dan anak buahnya.
Agaknya Kamatari telah membocorkan rahasia ini sehingga kini dipergunakan oleh Bong Ji Kiu untuk menjebak Bun Hui dan untuk melarikan diri melalui terowongan rahasia.
Kalau sampai Bong Ji Kiu dapat menggunakan Bun Hui sebagai jaminan, agaknya apa yang dikatakan bajak ini akan terlaksana!
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa yang menyeramkan.
Bong Ji Kiu kaget bukan main sehingga pondongannya terlepas, tubuh Yosiko terguling di dekat tubuh Bun Hui.
Bajak laut itu menghunus golok besarnya dan membentak.
"Siluman dari mana berani mengganggu Kim Bwee Liong?"
"Bong Ji Kiu, kematian sudah di depan mata masih berani berlagak?"
Suara itu terdengar aneh karena bercampur dengan kumandangnya, seperti suara yang datang dari alam lain.
"Keluarlah dan makan golokku ini...!"
Tiba-tiba suara Bong Ji Kiu terhenti dan matanya terbelalak lebar ketika dia melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu Tan Loan Ki telah berdiri di depannya dengan Pedang di tangan!
"Toa...
Toanio...!
Saya terpaksa menangkap Yosiko karena dia berkhianat dan bersekutu dengan pasukan Kota Raja, dan...
dan ini...
komandan pasukan juga sudah saya tangkap..."
"Setan kau..! Anakku boleh memilih jodoh siapapun juga, peduli apa dengan kau? Keparat! Hayo berlutut menerima kematian!"
Menggigil sepasang kaki Bong Ji Kiu.
"Tidak, Toanio... ini tidak adil! Aku... aku..."
Akan tetapi terpaksa dia menghentikan kata-katanya karena Tan Loan Ki dengan kemarahan meluap-luap sudah menerjangnya dengan serangan kilat.
Terpaksa Bong Ji Kiu melawan dan memutar goloknya.
Terjadilah pertempuran mati-matian yang amat seru di dalam ruangan gua yang kini diterangi obor itu.
Bong Ji Kiu berlaku nekat, tetapi mana mungkin dia dapat menandingi Tan Loan Ki?
Belum tiga puluh jurus, sambaran Pedang merobek kulit lengan dan hampir membuntungi pergelangan tangannya sehingga golok besarnya terbang.
"Ti... tidak... Toanio... ampun..."
Bong Ji Kiu meloncat ke belakang dengan tubuh gemetaran dan muka pucat.
Akan tetapi Tan Loan Ki menghampirinya dengan mata berapi-api dan langkah-langkah lambat sampai akhirnya Bong Ji Kiu tak dapat lari lagi karena punggungnya menyentuh dinding di sudut.
Pedang Tan Loan Ki berkelebat, hanya tampak cahayanya dan tahu-tahu tanpa dapat sambat lagi Bong Ji Kiu terguling dengan kepala terpisah dari tubuh!
Tan Loan Ki cepat membebaskan dua orang muda itu dan dengan gembira sekali Yosiko menceritakan semuanya kepada Ibunya.
"Ibu, aku memilih dia ini menjadi suamiku. Kalau tidak dijodohkan dengan Bun Hui, aku lebih baik mati! Ibu, permintaanku hanya sekali ini kepadamu, harap kau suka mengabulkan."
"Hemmm... kau bocah aneh. Mula-mula Tan Hwat Ki, kemudian Yo Wan, dan sekarang Bun Hui komandan pasukan Kota Raja. Bagaimana ini?"
"Dulu aku tidak tahu, Ibu. Kukira hanya laki-laki yang dapat mengalahkan aku saja yang patut menjadi jodohku, tetapi setelah mendengarkan nasihat Yo Wan, dan mendengar pula penuturan Siu Bi, aku... aku tahu bahwa tanpa cinta tak mungkin menjadi isteri orang. Dan aku... aku mencinta Bun Hui!"
Bukan main girang hati Bun Hui mendengar pengakuan ini, pengakuan yang begini terus terang, terbuka, membayangkan kejujuran dan kepolosan hati gadis ini.
Yo Wan benar, pikirnya, gadis ini jujur dan baik, hanya liar karena pengaruh pendidikan dan lingkungan.
"Bun Hui, kau anak siapa?"
"Ibu, dia itu Cucu Ketua Kun-Lun-Pai, bukan sembarang pemuda!"
Yosiko yang menjawab cepat.
"Ehhh?"
Tan Loan Ki tercengang.
"Kalau begitu, kau ini putera Bun Wan?"
"Betul, Bibi,"
Jawab Bun Hui, girang dan heran bahwa Ibu Yosiko ini kiranya mengenal Ayahnya.
"Hemmm, dia juga baik dan boleh saja. Tapi... eh, Bun Hui, anakku mencintamu, apakah kau juga cinta kepadanya?"
"Dia tentu cinta kepadaku, Ibu, dia... dia membujukku untuk insyaf dan dia hendak membawaku ke Thai-goan...
"Diam kau! Harus dia sendiri yang menjawab. Bagaimana, Bun Hui? Apakah kau mencinta Yosiko?"
"Saya... saya mencintanya, Bibi."
Yosiko meloncat dan memegang tangan Bun Hui, wajahnya berseri gembira dan ia mengguncang-guncang lengan itu.
"Betulkah itu, Bun Hui? Ah, alangkah bahagia dan lega hatiku. Tadinya... tadinya kukira kau tidak mencintaiku... aku sudah khawatir sekali..."
Tan Loan Ki tertawa dan berkata.
"Anak-anakku, aku girang melihat Kalian bahagia. Bun Hui, kau tidak memberi hormat kepada Ibu mertuamu?"
Bun Hui dengan muka merah, dengan tangan masih digandeng Yosiko, segera berlutut di depan wanita itu.
Mereka berbahagia, tidak peduli akan suara hiruk-pikuk dari Yo Wan dan para prajurit yang membongkar batu-batu di depan gua.
Demikianlah, ketika akhirnya Yo Wan menerjang masuk dengan hati penuh kekhawatiran menyaksikan adegan yang tenteram bahagia, yang membuatnya bengong terlongong keheranan!
Bajak laut menjadi kocar-kacir setelah kehilangan pimpinan.
Apalagi ketika Tan Loan Ki dan Yosiko keluar dan menyerukan perintah agar mereka menyerah, sebagian besar di antara mereka lalu membuang senjata dan berlutut, menyerah.
Bun Hui cukup bijaksana untuk menyerahkan urusan mereka kepada Yosiko dan Ibunya yang membubarkan Hek-San-Pang dan perkumpulan bajak laut yang lain.
Selanjutnya harta kekayaan yang ada oleh Yosiko dibagi-bagikan kepada mereka dengan peringatan agar mereka memulai hidup baru, jangan melakukan kejahatan lagi.
Adapun Swan Bu setelah sadar dan melihat kekasihnya, Siu Bi, meninggal karena membelanya, menjadi berduka sekali.
Namun, sebagai seorang yang telah menerima gemblengan batin dari orang Tuanya, apalagi di situ terdapat Pendekar Buta yang menasihati dan menghiburnya, dia menerima kenyataan pahit yang menimpa dan mendukakan hatinya.
Semenjak saat itu, Swan Bu berubah menjadi seorang yang pendiam, seorang yang masak jiwanya, dan biarpun dia kehilangan lengan kiri dan kehilangan Siu Bi yang dikasihinya, dia mendapatkan pengalaman hidup yang membuatnya menjadi seorang yang kuat lahir batin.
Orang-orang gagah ini berpisahan dari daerah pantai Po-Hai ketika para bajak laut sudah dibubarkan.
Bun Hui memimpin sisa pasukannya ke Kota Raja, tentu saja selain membawa kemenangan lahir juga kemenangan batin, karena di sebelahnya ikut pula Yosiko dan Ibunya, sedangkan di dalam sakunya terdapat sebuah surat dari Pendekar Buta untuk Ayahnya, surat yang membantu dan mengusulkan agar Bun Wan memperkenankan perjodohan antara Bun Hui dan Yosiko.
Tan Hwat Ki dan sumoinya, yang masing-masing menyimpan rahasia kebahagiaan sendiri, yang dalam perjalanan kali ini telah menemukan cinta kasih mereka satu kepada yang lain, buru-buru kembali ke Lu-Liang-San dengan pengharapan besar mendapat restu Ayah dan Guru mereka, dengan lamunan dan cita-cita yang muluk-muluk!
Pendekar Buta dengan isteri dan puteranya kembali ke Liong-Thouw-San.
Tentu saja Swan Bu membawa keperihan hati karena dia harus meninggalkan Siu Bi di dalam gundukan tanah kuburan di dalam hutan tepi pantai.
la merasa kasihan sekali kepada kekasihnya ini.
Sampai mati pun harus bersunyi sendiri, dikubur di tempat sunyi.
la baru mau pergi bersama Ayah Bundanya setelah dia menemani kuburan Siu Bi semalam suntuk, di mana dia duduk berSamadhi di dekat gundukan tanah kuburan baru itu.
Masih terngiang di telinganya ketika dia mulai sadar, dia sempat mendengar jeritan Siu Bi berkali-kali.
"Swan Bu, aku ikut... aku ikut...!"
Kenangan inilah yang akhirnya membesarkan hatinya karena ketika dia melakukan perjalanan pulang, dia merasa seakan-akan Siu Bi benar-benar mengikutinya.
Biarpun bukan Siu Bi dalam kenyataan, atau bayangannya, namun setidaknya cinta kasih gadis itu selalu mengikutinya!
Sebelum pergi, Pendekar Buta memanggil Yo Wan, lalu berkata di depan Cui Sian yang menundukkan mukanya karena jengah.
"Muridku, Yo Wan. Aku sebagai wakil orang tuamu, telah membicarakan urusan perjodohanmu dengan Tan Beng San Lo-Cianpwe. Beliau berkenan menjodohkan Cui Sian denganmu. Segala hal telah kami rundingkan dengan masak-masak, dan sekarang, kau ajaklah calon isterimu itu kembali ke Thai-San. Kelak pada saat pernikahan kalian, sudah pasti aku akan datang ke sana menghadirinya. Yo Wan, aku merasa bangga kepadamu dan aku sungguh-sungguh merasa bahagia bahwa dahulu aku ikut mendidikmu sehingga sekarang kau menjadi seorang yang benar-benar tak mengecewakan. Arwah Ibumu akan ikut bahagia, muridku."
Yo Wan tak dapat menjawab, hanya berlutut dan memeluk kaki Gurunya itu dengan air mata bertitik yang cepat-cepat dihapusnya.
"Banyak terima kasih atas budi kebaikan Suhu dan Subo. Semoga Thian yang akan membalasnya kalau Teecu tidak mampu membalas."
Maka berangkatlah Yo Wan dan Cui Sian berdua, sebagai orang-orang terakhir yang meninggalkan tempat itu menuju ke Thai-San, tentu saja dengan hati penuh kebahagiaan dan perjalanan itu merupakan perjalanan yang paling menyenangkan selama hidup mereka, karena bukankah di depan mereka terbentang masa depan yang penuh madu?
Memang tidak ada kebahagiaan yang melebihi bagi orang muda selain kebahagiaan menghadapi hidup baru berdampingan, membina rumah tangga bersama, mendayung biduk rumah tangga mengarungi samudera hidup, menempuh gelombang dan ombak samudera bersama-sama, menuju pantai cita yaitu keluarga bahagia.
Susah sama diderita, senang sama dirasa, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Biarlah kita mendoakan mereka itu, Bun Hui dan Yosiko, Hwat Ki dan Cui Kim, Swan Bu dan Lee Si, Yo Wan dan Cui Sian, semoga orang-orang muda yang gagah perkasa, pengabdi kebenaran dan keadilan itu, akan menjadi pasangan Suami isteri yang rukun dan menurunkan manusia-manusia yang selalu akan sadar dan ingat.
Sadar sebagai manusia yang harus bertindak dengan dasar perikemanusiaan, dan ingat selalu kepada Yang Maha Kuasa.
Karena hanya manusia yang sadar dan ingat demikianlah yang akan menjadi manusia-manusia berguna bagi dunia dan akhirat.
Sampai di sini, pengarang mengakhiri cerita JAKA LOLA yang merupakan bagian terakhir dari rangkaian cerita RAJA PEDANG, RAJAWALI EMAS, PENDEKAR BUTA, dan JAKA LOLA ini.
Harapan pengarang, semoga cerita-cerita tersebut di samping memberi hiburan ringan kepada para pembaca sebagai cerita khayal yang tegang dan romantis, juga sedikit banyak mengandung teladan dan sumbangan bagi pembangunan moral.
Teriring salam bahagia pengarang dan sampai jumpa di lain cerita.
TAMAT Penerbit .
CV.
GEMA, Solo Cetakan Tahun .
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 7
Baca Juga: Dewi Maut 12