Ceritasilat Novel Online

Kisah Para Pendekar Pulau Es 7

Eps 7 Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo.

Suma Hui merasa penasaran dan iapun merobah-robah ilmu silatnya, namun ilmu silat apa pun yang dikeluarkannya, dapat dihadapi dengan baik oleh Tek Ciang.

Hanya kadang-kadang saja, kalau sudah terlampau terdesak, Tek Ciang terpaksa membalas serangan, hanya untuk membuyarkan desakan Suma Hui saja.

"Tek Ciang, jangan main-main!

Balas serang!!

Tiba-tiba Suma Kian Lee berseru, tidak sabar melihat ulah Tek Ciang yang banyak mengalah itu.

Tek Ciang terkejut dan diapun tidak berani membantah, lalu mulailah dia balas menyerang.

Suma Hui melindungi dirinya dan berusaha membalas, namun ternyata kini gerakan Tek Ciang cepat sekali sehingga ia tidak memperoleh waktu untuk membalas.

Maka segera ia terdesak hebat oleh pemuda itu.

Agaknya Tek Ciang memang tidak mau mengalahkan Suma Hui, atau tidak ingin membuat malu gadis itu.

Pemuda ini memang cerdik sekali.

Dia tahu bahwa Suma Hui masih belum mau tunduk kepadanya, maka diapun ingin menundukkan hati gadis itu dengan sikap baiknya.

Kalau dia secara langsung mengalahkan gadis itu, mungkin gadis itu akan menjadi semakin penasaran dan bahkan mungkin akan membencinya.

Maka, dia bersikap cerdik dan tidak mau terlalu mendesak, membiarkan pertandingan itu berjalan seru dan seimbang.

Padahal, kalau dia mau, tidak terlalu sukar baginya untuk mengalahkan Suma Hui karena selain telah mewarisi ilmu keluarga gadis ini, juga dia telah digembleng oleh gurunya yang lain, yaitu Jai-hwa Siauw-ok yang juga lihai sekali.

Memang Tek Ciang cerdik.

Sikapnya yang banyak mengalah itu setadaknya telah membuat Suma Kian Lee semakin suka kepadanya.

Bahkan seorang wanita yang amat cerdas seperti Kim Hwee Li juga kena diakali dan kini wanita ini tidak lagi begitu tidak suka kepada Tek Ciang yang selalu bersikap baik, jujur dan halus.

Apalagi menyaksikan pertandingan ini, diam-diam Kim Hwee Li halus mengakui bahwa Tek Ciang benar-benar mengalah dan hal ini dianggapnya sebagai tanda cinta pemuda itu kepada Suma Hui.

Ciang Bun sendiri menggigit bibir dan mengepal tinju, maklum bahwa tingkat kepandaian Tek Ciang kini sudah amat hebat, lebih tinggi daripada tingkat kepandaian encinya dan dia dapat menduga bahwa tentu encinya akan kalah dan akan terpaksa menjadi isteri Tek Ciang.

Akan tetapi, tiba-tiba terjadi perobahan dalam perkelahian itu dan Kim Hwee Li mengeluarkan seruan tertahan.

Tiba-tiba Suma Hui merobah gerakannya dan Tek Ciang nampak terkejut dan bingung, lalu berbalik terdesak!

Kiranya kini gadis itu memainkan Ilmu Cui-beng Pat-ciang (Delapan Pukulan Pengejar Roh)!

Ilmu ini adalah ilmu silat istimewa terdiri dari delapan jurus yang dimiliki Kim Hwee Li dan telah diturunkan kepada puterinya.

Tentu saja Tek Ciang belum pernah mempelajari ilmu ini dan tidak mengherankan kalau dia merasa bingung karena ilmu itu, biarpun hanya delapan jurus banyaknya, akan tetapi merupakan ilmu silat tinggi pilihan.

Kim Hwee Li memperoleh ilmu silat yang sakti itu dari mendiang Dewa Bongkok dari Gurun Pasir!

Apalagi kini dimainkan oleh Suma Hui yang bersemangat penuh untuk merobohkan lawan.

Tek Ciang terdesak mundur dan hampir saja terkena pukulan sampai dia terhuyung.

Melihat betapa lihainya ilmu silat yang dimainkan Suma Hui, Tek Ciang tidak ingin kalah dan tiba-tiba diapun menggerakkan tubuh lebih cepat lagi, tangannya mencengkeram ke arah leher Suma Hui!

Suma Kian Lee sendiri sampai mengerutkan alisnya.

Jurus apa yang dimainkan muridnya itu?

Demikian keji dan tak tahu malu kalau dipergunakan menyerang lawan wanita.

Tangan kanan Tek Ciang mencengkeram ke arah leher sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah dada!

Juga Kini Hwee Li terkejut dan heran.

Akan tetapi, Tek Ciang yang tadi tanpa disadarinya memainkan jurus dari ilmu silat yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok, segera tersadar ketika Suma Hui mengeluarkan seruan kaget.

Betapa bodohnya dia, pikirnya dan cepat dia merobah gerakannya, kini menggunakan jurus dari Ilmu Silat Hong-in Bun-hwat melanjutkan cengkeramannya menjadi totokan dan tangan kanan yang tadi mencengkeram ke arah leher digerakkan ke atas dan tahu-tahu tusuk konde Suma Hui telah dapat dicabutnya!

"Hyaaaattt....!!

Suma Hui marah sekali dan menendang.

Akan tetapi sekali ini Tek Ciang memperlihatkan kelihaiannya.

Dia tidak mengelak ke belakang menghadapi tendangan itu, sebaliknya dia malah maju dan memiringkan tubuh, tusuk kondenya dipakai menotok atau menusuk ke arah lutut yang menendang.

Melihat ini, Suma Hui menahan tendangannya dan inilah yang dikehendaki Tek Ciang karena secepat kilat tangan kirinya menyambar ke depan dan....

sepatu kaki yang menendang itupun copot, terampas oleh tangan kiri Tek Ciang.

Suma Hui terbelalak dan menubruk ke depan, tangan kirinya dikepal menghantam dada lawan.

Tek Ciang yang sudah berhasil merampas tusuk konde dan sepatu, yang berarti menang mutlak, menyambut pukulan ke dadanya itu sambil tersenyum dan tidak mengelak atau menangkis.

"Dukk....!! Tubuh Tek Ciang terjengkang dan ketika dia bangkit kembali, bibirnya berdarah. Agaknya, biarpun dia telah menggunakan sin-kang untuk menahan pukulan itu, tetap saja getaran pukulan membuat dia menderita sedikit luka di dalam tubuhnya. Akan tetapi dia tetap tersenyum dan menghampiri Suma Hui sambil berkata.

"Engkau semakin lihai saja, sumoi. Maafkan aku!! Dan dia menyerahkan kembali sepatu dan tusuk konde Suma Hui menerimanya dengan renggutan, lalu mengenakan sepatunya.

"Hui-ji, apakah engkau masih tidak mau mengaku menang?! Suma Kian Lee menegur puterinya. Suma Hui bukan anak kecil, bukan pula bodoh. Sepatu dan tusuk kondenya terampas lawan, itu berarti kalah mutlak. Iapun tahu bahwa pukulannya yang mengenai dada Tek Ciang tadi adalah pukulan yang sengaja diterima pemuda itu untuk "memberi muka! kepadanya.

"Sudahlah, aku mengaku kalah!! katanya dengan suara lirih.

"Dan engkau tidak mengingkari janji, mau berjodoh dengannya?! ayahnya mendesak.

"Terserah kepada ayah sajalah, aku hanya mentaati ayah.! Setelah berkata demikian, tanpa menoleh kepada Tek Ciang, Suma Hui lalu lari meninggalkan ruangan itu, langsung masuk ke kamarnya dan membanting tubuhnya di atas pembaringannya lalu menangis terisak-isak, menutupi muka dengan bantal untuk menyembunyikan tangisnya.!Enci....! Suara halus Ciang Bun dan sentuhan lembut pada pundaknya membuat Suma Hui semakin terharu dan tangisnya semakin mengguguk. Ciang Bun duduk dengan muka pucat dan alis berkerut, membiarkan encinya menangis sepuasnya. Setelah encinya dapat menenangkan hatinya, diapun berbisik.

"Enci Hui, kalau engkau tidak suka menjadi jodohnya, jangan memaksa diri. Tolak saja, jangan mau!! Ciang Bun berkata penasaran dan merasa kasihan sekali kepada encinya. Suma Hui bangkit duduk dan menarik napas panjang. Setelah isaknya terhenti dan ia dapat menguasai kembali hatinya, ia berkata.

"Adikku, sekali ini tidak mungkin aku mengelak.

Mau tidak mau aku harus mentaati perintah ayah dan rela menjadi isteri Louw Tek Ciang.!

"Hemm, mengapa begitu, enci?

Apakah alasanmu?!

"Pertama, sudah banyak aku membikin susah hati ayah dan ibu dan aku tidak mau lagi mengulanginya.

Ke dua, aku tidak mau kalau sampai orang tuaku melanggar janji kepada keluarga Tek Ciang.

Ke tiga, aku sendiri mana sudi menjilat ludah, aku harus berani mempertanggungjawabkan semuanya dan memenuhi janjiku.

Ke empat, aku sudah tidak mempunyai ikatan hati dengan siapapun, engkau tahu betapa benciku sekarang kepada orang yang pernah kucinta.

Ke lima, aku bisa minta bantuan Tek Ciang dalam menghadapi si keparat Cin Liong karena sekarang ilmu kepandaiannya sudah memperoleh kemajuan hebat.

Dan ke enam, melihat sikapnya tadi, betapa dia mengalah, harus diakui bahwa sesungguhnya Tek Ciang berhati baik.!

Ciang Bun mengangguk-angguk.

"Terlalu baik, dia itu....

terlalu baik....!!

Pesta pernikahan yang diadakan tiga bulan kemudian di rumah pendekar Suma Kian Lee di Thian-cin itu amat meriah.

Pestanya sendiri sederhana saja karena keluarga ini bukan keluarga kaya, akan tetapi karena nama besar pendekar Suma Kian Lee sudah amat terkenal, apalagi sebagai keturunan keluarga pendekar Pulau Es, maka banyaknya para tamu yang datang membuat perayaan itu menjadi meriah dan megah.

Bukan hanya para pendekar di dunia kang-ouw yang membanjiri perayaan itu di samping para pembesar, akan tetapi bahkan tokoh-tokoh dunia hitam ada pula yang muncul sebagai tamu karena menghormati keluarga Pulau Es.

Dan sebagian besar yang datang itu tidak menanti undangan.

Orang kang-ouw yang mendengar bahwa keluarga Suma mempunyai kerja, merasa tertarik dan datang begitu saja sebagai tamu tak diundang!

Akan tetapi, Suma Kian Lee sekeluarga menerima kedatangan semua tamu tanpa pandang bulu, menyambut mereka dengan sikap hormat dan tidak membeda-bedakan.

Perayaan itu menjadi amat meriah karena kesempatan itu dipergunakan oleh para pendekar Pulau Es untuk berkumpul.

Bertemulah semua keluarga mendiang Pendekar Super Sakti di rumah Suma Kian Lee di Thian-cin dan tentu saja pertemuan keluarga ini mendatangkan suasana gembira dan juga terharu.

Mereka bergembira karena dapat memperoleh kesempatan saling bertemu dan berkumpul sekeluarga besar, dan mereka terharu karena mereka bersama kehilangan orang tua yang mereka hormati dan sayang, yaitu Pendekar Super Sakti dan kedua orang isterinya yang tewas di Pulau Es, hanya disaksikan oleh tiga orang cucu Pendekar Super Sakti, yaitu Suma Hui yang kini menikah, Suma Ciang Bun dan Suma Ceng Liong yang pada kesempatan itu belum juga pulang!

Kakak kandung Suma Kian Bu, yaitu satu-satunya puteri Pendekar Super Sakti yang bernama Milana, tidak dapat datang.

Puteri Milana dan suaminya kini telah menjauhi keramaian dunia dan bertapa di puncak Beng-san yang bernama Puncak Telaga Warna.

Akan tetapi suami isteri yang tidak lagi mau berurusan dengan keramaian dunia ini telah diwakili oleh putera kembar mereka, yaitu Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong.

Seperti telah diceritakan dalam kisah Suling Emas Dan Naga Siluman, pendekar sakti Gak Bun Beng dan isterinya, Puteri Milana, hanya mempunyai sepasang anak kembar itu.

Pada waktu mereka berdua datang berkunjung ke dalam pesta pernikahan Suma Hui, usia mereka sudah kurang lebih tiga puluh tahun, akan tetapi keduanya masih belum menikah!

Agaknya ada keistimewaan pada sepasang pendekar kembar ini, yaitu mereka agaknya tidak rela kalau saudaranya menikah dengan wanita lain!

Padahal, agaknya sukar dilaksanakan kalau mereka harus menikah hanya seorang isteri saja.

Persoalan sepasang pendekar kembar inilah yang membuat suami isteri Gak Bun Beng menjadi kecewa dan mereka lebih banyak mengasingkan diri di puncak Gunung Telaga Warna.

Adapun dua orang pendekar kembar itu sendiripun agaknya sudah putus asa untuk mendapatkan jodoh yang cocok.

Suma Kian Bu dan isterinya juga hadir.

Sepasang suami isteri pendekar inipun berada dalam keadaan yang tidak begitu gembira, bahkan mereka menahan dan menyembunyikan kegelisahan hati mereka.

Sampai sekian lamanya mereka belum herhasil menemukan kembali putera mereka, yaitu Suma Ceng Liong, walaupun keduanya sudah mengikuti jejak Hek-i Mo-ong sampai jauh ke barat dan kemudian kehilangan jejak orang itu di Pegunungan Himalaya!

Suma Kian Bu dan isterinya tentu saja merasa heran melihat bahwa Suma Hui menikah dengan seorang pemuda yang menjadi murid Kian Lee, padahal mereka pernah melihat huhungan asmara antara Suma Hui dengan Kao Cin Liong yang masih terhitung keponakan sendiri dari Suma Hui.

Akan tetapi tentu saja mereka menekan keheranan mereka ini dan tidak berani bertanya, takut kalau-kalau menyinggung.

Keluarga Kao Kok Cu tidak muncul.

Tentu saja mereka yang juga mendengar tentang pernikahan itu merasa canggung dan tidak enak untuk muncul setelah pinangan mereka terhadap diri Suma Hui ditolak, bahkan setelah terjadi keributan dengan adanya tuduhan bahwa putera mereka, Kao Cin Liong, telah memperkosa Suma Hui.

Sejak itu, ada ganjalan mendalam di antara kedua keluarga ini dan bagaimanapun juga, tidak mungkin Kao Kok Cu dan isterinya berani datang berkunjung sebagai tamu.

Di antara para tokoh pendekar yang kenamaan, yang hadir dalam perayaan pernikahan itu, nampak pula seorang pendekar tua yang gagah perkasa, wajahnya tampan, sikapnya ramah dan simpatik dan semua orang yang berada di situ memandang ketika rombongan tamu ini datang memasuki ruangan.

Dia adalah Bu-taihiap, seorang pendekar kenamaan berusia lima puluh delapan tahun, namun masih nampak gagah, diiringkan tiga orang wanita cantik yang usianya kurang lebih lima puluh tahun.

Tiga orang wanita cantik ini adalah isteri-isterinya dan pendekar bernama Bu Seng Kin itu memang terkenal sebagai seorang pria romantis yang semenjak muda dicinta banyak wanita dan bahkan mempunyai isteri di mana-mana!

Tiga orang isterinya itupun bukan wanita sembarangan.

Yang tertua, berusia lima puluh satu tahun, adalah seorang puteri peranakan Nepal yang pernah menjadi Panglima Nepal, ilmu silat dan ilmn perangnya cukup hebat dan namanya terkenal sebagai Puteri Nandini.

Yang ke dua, berusia empat puluh delapan tahun, masih nampak cantik manis, adalah seorang wanita berpakaian nikouw akan tetapi memelihara rambut dan iapun menjadi isteri pendekar petualang asmara itu, bernama Ga Cui Bi.

Yang ke tiga, mungkin yang paling lihai di antara tiga orang isteri itu, juga termuda, dua tiga tahun lebih muda daripada nikouw itu, adalah seorang wanita cantik genit hernama Tan Cun Ciu yang berjuluk Cui-beng Sian-li (Dewi Pencabut Nyawa).

Dia sendiri seorang pendekar yang memiliki ilmu silat amat tinggi, jarang dapat ditemukan tandingan, masih ada tiga orang isterinya yang kesemuanya lihai-lihai selalu berada di sampingnya!

Tentu saja jarang ada pihak yang berani mengganggu keluarga jagoan ini.Masih banyak sekali tamu yang terdiri dari orang-orang kenamaan.

Bahkan Kaisar Kian Liong sendiri mengirim utusan pribadi dan mengirim sumbangan, suatu kehormatan yang besar sekali!

Maka, suasana pesta pernikahan itu menjadi meriah, megah dan gembira sekali.

Suma Kian Lee dan isterinya sibuk menyambut dan melayani para tamu, menerima ucapan-ucapan selamat dan mereka merasa gembira bukan main.

Tak mereka sangka bahwa pernikahan puteri mereka yang diawali dengan hal-hal amat menggelisahkan itu kini dapat berlangsung dengan lancar.

Suma Hui sendiripun tidak banyak rewel, dan memang gadis ini benar-benar telah menyerahkan kesemuanya kepada ayahnya tanpa membantah.

Agaknya sudah bulat tekadnya yang bertujuan satu, ialah, mengajak suaminya untuk membantunya membalas dendam dan membunuh Kao Cin Liong kelak!

Untuk itu ia siap mengorbankan diri dan hati dan akan menerima nasib menjadi isteri Louw Tek Ciang!

Baginya toh sama saja menjadi isteri siapapun, hanya pada diri Louw Tek Ciang ia dapat mengharapkan bantuan menghadapi Cin Liong.

Dan bagaimanapun juga, Tek Ciang adalah suhengnya sendiri dan sudah dipercaya oleh ayahnya.

Ia boleh salah pilih, akan tetapi agaknya ayahnya cukup teliti sehingga tidak akan salah memilihkan suami untuknya.

Dengan pikiran ini, Suma Hui dapat melaksanakan segala upacara pernikahan itu dengan tenang dan diam saja.

Tidak nampak senyum di wajahnya, juga tidak nampakduka.

Ia hanya menunduk dan menutup semua panca indera terhadap hal lain, dan mengikuti upacara secara membuta saja.

Kiranya hanya Ciang Bun seorang yang dapat menyelami hati encinya.

Pemuda yang halus perasaan ini mengerti sepenuhnya bahwa encinya itu bagaimanapun juga masih mencinta Cin Liong dan bahwa encinya melaksanakan pernikahan itu dengan memaksakan diri.

Dia dapat membayangkan betapa hancur hati encinya dan diam-diam diapun merasa menyesal dan berjanji dalam hatinya untuk kelak menegur dan membalas dendam kepada Cin Liong yang dianggapnya tidak bertanggung jawab dan telah menghancurkan kebahagiaan hidup encinya.

Perayaan pernikahan itu berjalan lancar sampai selesai.

Meriah dan tidak terjadi sesuatu yangtidak baik, seperti yang sering terjadi dalam perayaan di rumah seorang pendekar.

Agaknya, hadirnya para pendekar gagah membuat kaum pengacau menjadi gentar dan tidak ada yang berani mencoba-coba.

Setelah semua tamu bubaran, Suma Kian Bu dan isterinya juga berpamit karena mereka hendak kembali ke rumah mereka yang sudah terlalu lama mereka tinggalkan dalam usaha mereka mencari Ceng Liong.

Sepasang pendekar kembar she Gok juga berpamit dari paman mereka.

Tinggallah kini keluarga tuan rumah yang mempunyai kerja.

Seperti biasa pada semua keluarga yang mempunyai kerja, di waktu pesta terlaksana tidak terasa apa-apa, akan tetapi begitu pesta selesai, terasalah betapa lelahnya badan!

Keluarga itu menyerahkan semua pemberesan perabot-perabot dan pembersihan tempat kepada tenaga-tenaga bantuan, dan mereka sendiri sore-sore telah memasuki kamar masing-masing.

Juga sepasang pengantin sudah memasuki kamar mereka.

Malam itu sungguh sunyi setelah pada siang harinya tempat itu demikian meriah dikunjungi banyak orang.

Tidak terdengar suara berisik, bahkan para tenaga bantuan yang masih bekerja membersihkan tempat, bekerja dengan hati-hati dan tidak berani berisik.

Setelah hari gelap benar, merekapun menghentikan pekerjaan mereka dan mengaso di bagian belakang rumah keluarga Suma itu.

Suma Kian Lee dan isterinya telah merebahkan diri beristirahat.

Ciang Bun bergulingan gelisah di atas tempat tidurnya.

Tak dapat dia melepaskan pikirannya dari membayangkan keadaan encinya.

Dia menjadi gelisah dan sedih.

Sementara itu, di dalam kamar pengantin sendiri, sepasang pengantin sudah bertukar pakaian.

Suma Hui duduk termenung di atas kursi.

Kamar yang terhias indah itu, dengan bau semerbak harum kamar pengantin, seperti tidak dirasakannya.

Ia merasa seperti ada kelumpuhan di dalam batinnya, dan kadang-kadang ia tersentak kaget dan memejamkan mata membayangkan orang yang juga berada di kamar ini, yang kini menjadi suaminya dan yang harus dilayaninya!

Ngeri ia membayangkan semua itu, akan tetapi ia maklum bahwa bagaimanapun juga, ia harus taat!

Tek Ciang sendiri nampak gugup dan canggung.

Pengantin pria inipun sudan berganti pakaian yang longgar, pakaian dari sutera biru yang membuat dia nampak tampan.

Ketika Tek Ciang menghampirinya dan menyentuh pundaknya, Suma Hui merasa tubuhnya seperti dimasuki ratusan ekor semut yang membuatnya gemetar dan bulu tengkuknya meremang.

Mengerikan, pikirnya.

Akan tetapi ia adalah seorang wanita pendekar, seorang gagah yang tidak akan mengingkari janji.

Apapun yang terjadi, ia sudah menyerah dan ia harus mempertanggungjawabkan semua itu.

"Hui-moi.... Hui-moi....! terdengar suara Tek Ciang, suara yang kedengaran aneh bagi telinga Suma Hui. Biasanya, kalau memanggilnya sumoi dan kalau bicara kepadanya, di dalam suara Tek Ciang mengandung suara halus merayu dan juga perendahan diri. Kini, suara itu selain mengandung rayuan juga kekuasaan! Maka aneh kedengarannya. Namun ia menoleh dan menjawab lirih.

"Ada apakah?!

Tentu saja jawaban ini membuat Tek Ciang menjadi agak gugup.

Dia bukan orang yang tidak biasa berdekatan dengan wanita.

Banyak sudah dia mendekati wanita dan berhubungan dengan wanita, yang dilakukan secara diam-diam selama ini.

Akan tetapi, dia harus mengakui bahwa berdekatan dengan Suma Hui ini lain lagi, ada sesuatu yang membuatnya merasa agak gentar.

Tadi, panggilannya sudah jelas maknanya, panggilan seorang suami untuk isterinya, seorang pengantin pria kepada mempelainya, yang bernada rayuan, tuntutan atau pembuka jalan.

Akan tetapi, isterinya itu langsung bertanya terang-terangan ada keperluan apa, maka tentu saja dia menjadi canggung.

Diapun membelai tangan Suma Hui yang dipegangnya.

Tangan yang memiliki jari-jari tangan kecil runcing dan berkulit halus, akan tetapi agak dingin dan Tek Ciang tahu betapa berbahayanya jari-jari tangan berkulit halus ini!

Suma Hui mendiamkan saja ketika tangannya dibelai, hanya jantungnya berdebar demikian kencangnya sampai kedua telinganya dapat mendengar detak jantungnya sendiri.

"Moi-moi, engkau tentu lelah. Mari kita mengaso di pembaringan....! Suma Hui melirik ke arah lilin di atas meja, lalu bangkit berdiri dan berkata lirih seperti berbisik.

"Padamkan dulu lilinnya....!

Tek Ciang tersenyum gembira, melepaskan tangan itu dan menghampiri meja.

Sementara itu, Suma Hui mendahuluinya menuju ke pembaringan dan segera menyingkap kelambu dan naik ke atas pembaringan yang berbau harum itu.

Detak jantungnya makin menghebat.

Lilin padam dan kamar itu hanya remang-remang saja, mendapat sedikit penerangan yang menerobos masuk melalui celah-celah atas jendela dari luar.

Detak jantung di dalam dada Suma Hui hampir disusul jerit yang ditahan ketika ia merasa betapa Tek Ciang naik ke atas pembaringan pula dan merangkulnya, menindihnya dan menggelutinya, menciumi seluruh mukanya, matanya, pipinya, hidungnya dan mengecup bibirnya.

Akan tetapi ia tidak mengelak, tidak menolak, tidak pula menyambut, hanya diam saja bergumul dengan perasaan hatinya sendiri.

Hatinya ingin menolak, akan tetapi dengan kekerasan kemauan ia melumpuhkan keinginan hatinya sendiri dan menyerah saja, bahkan memejamkan matanya, hanya merasakan apa yang diperbuat oleh Tek Ciang atas dirinya.

"Moi-moi.... ah, Hui-moi.... akhirnya engkau menjadi isteriku.... ah, betapa aku cinta padamu....! Dengan bisikan tersendat-sendat dan jari-jari tangan gemetar Tek Ciang menggeluti isterinya. Tiba-tiba terdengar jerit melengking keluar dari mulut Suma Hui. Tanpa disengaja tangannya meraba punggung suaminya yang tidak berpakaian lagi itu dan jari tangannya meraba benjolan daging di punggung kiri. Tonjolan daging sebesar telur burung yang ditumbuhi rambut! "Engkau....!! Dan iapun menghantamkan tangannya ke arah kepala suaminya! Tek Ciang kaget setengah mati. Akan tetapi dia masih sempat menggulingkan tubuhnya dari atas pembaringan sehingga terhindar dari hantaman maut.

"Hui-moi, ada apakah....?! "Keparat jahanam! Kiranya engkau malah orangnya....?! Suma Hui menjerit sambil menangis dan cepat membereskan kembali pakaiannya yang tadi sudah hampir tertanggal seluruhnya oleh jari-jari tangan Tek Ciang. Tek Ciang sendiri dalam kekagetannya cepat membereskan pakaiannya sendiri, lalu menyalakan lilin. Kamar itu menjadi terang kembali dan Suma Hui meloncat turun dari atas pembaringan, menghadapi suaminya dengan sepasang mata berapi-api walaupun ada air mata menetes-netes turun.

"Engkau....!! Telunjuknya menuding ke arah muka Tek Ciang yang memandang dengan mata terbelalak.

"Engkau lah orangnya! Jahanam terkutuk, engkau lah orangnya yang telah memperkosaku dahulu!! Setelah berkata demikian, dengan kemarahan meluap Suma Hui menerjang ke depan dan menyerang dengan sekuat tenaganya, menghantam ke arah dada Tek Ciang dengan tanganterbuka. Akan tetapi Tek Ciang mengelak dan meloncat ke belakang.

"Hui-moi, apa yang kau katakan ini....?

Sudah jelas perbuatan terkutuk itu dilakukan oleh Kao Cin Liong....!

"Tutup mulutmu yang busuk!

Baru sekarang aku mengerti!

Ternyata engkau adalah seekor ular busuk yang amat jahat, khianat, curang dan pengecut!

Engkau lah yang melakukan perbuatan terkutuk itu, dan engkau menimpakan kesalahan kepada orang lain!

Tak perlu menyangkal, daging menonjol dan berambut yang tumbuh di punggungmu itulah saksinya.!

Suma Hui menyerang lagi dengan sengit.

!Kau salah sangka....!

Tek Ciang membela diri akan tetapi suaranya gemetar dan lemah karena dia kehabisan akal setelah rahasianya terbuka.

Dia merasa menyesal sekali mengapa di punggungnya tumbuh daging jadi itu, dan mengapa pula sampai Suma Hui mengetahui tentang tonjolan daging itu.

Tentu saja dia tidak tahu bahwa dahulu ketika dia memperkosa Suma Hui, biarpun gadis itu berada dalam keadaan terbius, namun Suma Hui masih setengah sadar ketika tangannya bergerak dan jari-jari tangannya menyentuh punggung yang telanjang dan bertemu dengan tonjolan daging berambut itu.

Dia menyimpan rahasia itu di dalam hatinya.

Hanya itulah satu-satunya tanda yang dikenalnya dari tubuh pemerkosanya.

Sungguh tak pernah dia mengira bahwa yang punggungnya menonjol itu adalah Tek Ciang!

Suma Hui menyerang dengan beringas dan kini Tek Ciang juga berusaha untuk menundukkan.

Pria ini maklum bahwa rahasianya sudah terbuka dan dia hendak menundukkan Suma Hui melalui kekerasan.

Maka, sambil mengelak diapun balas menyerang dan sebuah tendangan mengenai paha Suma Hui, membuat wanita ini terguling.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara keras dan daun pintu jebol.

Muncullah Suma Kian Lee dan Kim Hwee Li.

Suami isteri ini terkejut sekali mendengar suara gaduh di kamar pengantin dan ketika mereka keluar dari kamar menghampiri kamar pengantin, mereka mendengar perkelahian itu, bahkan mereka sempat mendengarkan kata-kata Suma Hui yang terakhir tadi yang membuat mereka terkejut setengah mati.

Ketika perkelahian menghebat, Suma Kian Lee tidak sabar lagi dan sekali dorong robohlah daun pintu.

Mereka melihat Suma Hui baru merangkak hendak bangkit dan Louw Tek Ciang berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali.

"Apa yang telah terjadi?! Suma Kian Lee bertanya, suaranya marah, penuh selidik.

"Hui-ji, apa artinya kata-katamu tentang pemerkosaan dan daging tumbuh di punggung tadi?! Kim Hwee Li juga bertanya. Tendangan tadi tidak mendatangkan luka berat, akan tetapi tetap saja Suma Hui melangkah dengan terpincang-pincang menghampiri ibunya. Air matanya bercucuran.

"Ibu.... ayah.... dia.... dialah.... iblis terkutuk yang dahulu memperkosaku! Buktinya adalah tonjolan daging berambut di punggungnya.... dahulu aku mengetahui tanda itu secara tidak disengaja dan tadi.... tadipun hanya kebetulan saja.... dialah jahanam busuk itu!! "Aihhhh....!! Kim Hwee Li menjerit.

"Hahhh....?! Suma Kian Lee juga berteriak kaget dan dia lalu melangkah maju menghampiri muridnya. Tek Ciang menjadi semakin pucat dan dia sudah melirik ke arah jendela dan pintu, seperti tikus tersudut hendak mencari jalan keluar untuk melarikan diri.

"Tek Ciang! Apa artinya ini? Benarkah apa yang diceritakan Hui-ji?! Suma Kian Lee bertanya ragu karena dia belum mau percaya begitu saja akan hal yang demikian jauh berlawanan dengan perkiraan dan harapan hatinya.

"Ti.... tidak.... suhu....! Jawab Tek Ciang gugup dan suaranya gemetar.

"Kalau tidak, buka bajumu dan perlihatkan kepada kami apakah benar ada tonjolan daging jadi di punggungmu!!

Kim Hwee Li membentak dan kini wanita yang ccrdik itupun sudah dapat menduga dan membayangkan apa yang dahulu telah terjadi.

Suma Kian Lee hanya berdiri terbelalak, sampai tidak mampu mengeluarkan kata-kata saking hehatnya perasaan memenuhi hatinya.

Marah, heran, ragu-ragu, menyesal dan malu bercampur aduk menjadi satu.

Dialah yang setengah memaksakan terikatnya perjodohan antara puteri tunggalnya dan Tek Ciang, bahkan dia telah mengangkat Tek Ciang menjadi murid utama, murid yang mewarisi ilmu-ilmu keluarga Pulau Es dan kini, ternyata pemuda ini yang telah memperkosa Suma Hui!

Tentu saja sukar baginya untuk dapat menerima kenyataan ini.

"Ayah, aku sekarang mengerti semuanya!! Suma Hui berteriak lantang.

"Ayahnya telah tewas karena bersama penjahat bayaran bermaksud membunuh Cin Liong, dan penyerangan itu tentu dilakukan karena mereka ingin menyingkirkan Cin Liong yang dianggap menghalangi niatnya untuk menarik kita sebagai keluarga.

Keparat ini mendendam kepada Cin Liong atas kematian ayahnya maka dia merencanakan perbuatan terkutuk itu dengan mempergunakan nama Cin Liong untuk memfitnah.

Cin Liong kita musuhi sedangkan dia sendiri, si keparat busuk ini, tampil sebagai pahlawan yang membela nama baik keluarga kita!

Dia memperoleh keuntungan ganda.

Dapat membalas dendam kepada Cin Liong dengan fitnah itu, dapat menguasai diriku, dan dapat mewarisi ilmu keturunan keluarga kita, ayah....!

"Louw Tek Ciang!

Jawablah dan coba sangkal semua itu dengan penjelasan yang tepat kalau memang engkau bukan seorang iblis terkutuk seperti yang digambarkan oleh Hui-ji!!

Suma Kian Lee membentak dan mukanya berobah merah sekali.

"Suhu, teecu....! Tek Ciang berkata gagap karena memang apa yang dikatakan Suma Hui itu tepat sekali, menelanjangi seluruh perbuatannya sehingga dia tidak dapat menyangkal lagi. Tiba-tiba dari luar terdengar suara ketawa seorang laki-laki.

"Ha-ha-ha, Tek Ciang, apakah engkau bukan laki-laki lagi yang tidak berani menghadapi semua ini?! Mendengar suara yang amat dikenalnya ini, suara Jai-hwa Siauw-ok, gurunya yang lain, guru rahasia, wajah Tek Ciang menjadi cerah. Datangnya bantuan ini sungguh di waktu yang tepat sekali. Dia mengangkat dadanya dan berkata.

"Suhu, semua itu benar dan setelah sekarang aku menjadi suami Hui-moi....! "Jahanam!! Suma Kian Lee sudah menubruk maju dan melakukan pukulan maut dengan tenaga Hwi-yang Sin-ciang. Angin keras yang amat panas menyambar ke depan. Tek Ciang tentu saja mengenal pukulan ini dan tahu betapa hebat dan berbahayanya serangan gurnnya. Akan tetapi karena hatinya sudah menjadi besar dengan datangnya Jai-hwa Siauw-ok, diapun mengerahkan tenaganya dan sambil mengelak, diapun menangkis, mengerahkan tenaga sambil membongkokkan tuhuhnya dan ketika lengannya menangkis, terdengar suara aneh seperti suara katak dari perutnya.

"Desss....!! Tubuh Tek Ciang terhuyung, akan tetapi dengan menggulingkan tubuhnya, dia dapat meloncat bangkit kembali. Suma Kian Lee terbelalak. Tenaga tangkisan itu tadi cukup kuat dan bukan dari ilmu keluarganya, melainkan ilmu aneh yang mirip Ilmu Hoa-mo-kang atau Ilmu Katak Buduk. Memang dugaannya benar. Ketika menangkis tadi, Tek Ciang mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok, untuk menyatakan bahwa mulai saat itu dia adalah lawan keluarga Suma, pula kalau dia mengeluarkan Hwi-yang Sin-ciang pula, jelas dia kalah kuat oleh gurunya. Kim Hwee Li dan Suma Hui sudah menerjang maju pula, akan tetapi pada saat itu, terdengar seruan dari luar.

"Tek Ciang, keluarlah!! Tek Ciang menggerakkan tangan, melemparkan sesuatu ke tengah kamar itu. Terdengar bunyi ledakan keras dan asap memenuhi kamar.

"Awas asap beracun!!

teriak Suma Kian Lee untuk memperingatkan anak isterinya dan dia sendiri cepat melompat ke arah jendela dari mana tadi dia melihat tubuh Tek Ciang berkelebat keluar.

Setibanya di luar, dia melihat pemuda itu telah meloncat ke atas genteng dan di atas wuwungan telah berdiri seorang laki-laki yang berusia lima puluh tahun lebih, berpakaian indah pesolek dan wajahnya ganteng.

!Iblis busuk, jangan lari!!

Suma Kian Lee yang kini merasa marah bukan main itu kembali menyerang Tek Ciang.

Serangannya lebih hebat daripada tadi karena dia menggunakan kedua tangan menyerang secara beruntun, tangan kanan mengerahkan tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang yang panas sedangkan tangan kiri menghantam dengan pengerahan tenaga sakti Swat-im Sin-ciang yang amat dingin.

Pendekar ini, walaupun belum mampu menggabungkan kedua tenaga yang berlawanan intinya itu, ternyata kini sudah sedemikian mahirnya untuk mempergunakannya secara beruntun dengan kedua tangan.

Tentu saja Tek Ciang menjadi gentar.

Dia maklum akan kehebatan gurunya ini, dan dia sendiri walaupun sudah mempelajari kedua ilmu mujijat itu, namun latihannya belum matang dan tentu saja dia belum mampu mempergunakannya secara berbareng pada kedua lengannya.

Melihat serangan hebat ditujukan kepada muridnya, Jai-hwa Siauw-ok mendengus dan berkata.

"Mana ada murid dibunuh gurunya sendiri?! Dan diapun melangkah maju menangkis dari kiri sedangkan Tek Ciang menangkis dari kanan.

"Dess! Desss!! Kedua orang itu menangkis dua macam pukulan dan Tek Ciang yang menangkis pukulan Swat-im Sin-ciang itu merasa tubuhnya kedinginan dan dia terhuyung ke belakang. Akan tetapi, tangkisan Jai-hwa Siauw-ok membuat dia dan Suma Kian Lee melangkah mundur, tanda bahwa kekuatan mereka berimbang.

"Keparat! Siapa engkau berani mencampuri urusan antara guru dan murid?! bentak Suma Kian Lee, terkejut melihat bahwa orang ini lihai pula.

"Ha-ha, dia muridku, tentu saja kubela dia,! kata Jai-hwa Siauw-ok sambil membalas serangan lawan. Kedua tangannya bergerak, jari-jari tangan terbuka dan terdengar suara bercicitan ketika jari-jari tangan itu meluncur cepat sekali mendatangkan hawa dingin.

"Cuiiiittt....!! Jari tangan Jai-hwa Siauw-ok kembali menyambar ke arah dada Suma Kian Lee dan pada saat itu, Tek Ciang juga menyerangnya dengan pukulan Toat-beng Bian-kun! Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Suma Kian Lee melihat muridnya sendiri berani menyerangnya dengan pukulan maut. Bahkan mengeroyoknya bersama seorang tokoh jahat, dan menggunakan ilmu keluarga Pulau Es untuk menghantamnya.

"Iblis murtad!! bentaknya dan dia menyambut pukulan Tek Ciang dengan pengerahan tenaga untuk merobohkan murid itu. Akan tetapi, sambaran jari tangan Jai-hwa Siauw-ok sudah tiba dan biarpun Kian Lee mengelak dan membatalkan niatnya merobohkan Tek Ciang, melainkan hanya menangkis serangan pemuda itu, tetap saja jari tangan Jai-hwa Siauw-ok menyerempet bajunya.

"Brettt....!! Dan baju di dada Kian Lee terobek, kulitnya tergurat sehingga terasa perih seperti tergurat pedang. Dia terkejut dan maklum bahwa itu adalah ilmu yang disebut Kiam-ci (Jari Pedang) yang amat lihai. Pada saat itu, Suma Hui dan Kim Hwee Li berlompatan naik ke atas genteng. Ketika Suma Hui melihat kakek pesolek itu, ia terkejut dan membentak.

"Jai-hwa Siauw-ok manusia iblis!

Engkau datang mengantar kematian!!

Suma Hui sudah menerjang ke depan membantu ayahnya, juga Kim Hwee Li yang melihat bahwa lawan suaminya seorang lihai, cepat membantu suaminya.

Kian Lee dan isterinya terkejut mendengar bentakan puteri mereka itu.

Baru mereka tahu bahwa yaug datang membantu Tek Ciang adalah datuk sesat yang pernah menculik dan melarikan Suma Hui itu.

Marahlah hati Kian Lee.

Kini makin jelas baginya.

Kiranya sejak dahulu, Tek Ciang adalah seorang yang palsu, dan diam-diam mengelabuhinya, dengan sikap pura-pura baik, sehingga bukan hanya berhasil mempelajari ilmu-ilmu keluarga Pulau Es, akan tetapi juga malah berhasil memperisteri Suma Hui setelah memperkosanya!

Berhasil pula mengadu domba antara keluarganya dan keluarga Naga Sakti Gurun Pasir!

"Bedebah!!

bentaknya dan dia bersama isteri dan puterinya mengamuk.

Melihat keluarga yang lihai itu sudah keluar semua karena kini nampak pula bayangan Ciang Bun membawa pedang, Jai-hwa Siauw-ok berseru.

"Tek Ciang, mari kita pergi!! Guru dan murid itu menggerakkan tangan dan terdengar ledakan-ledakan diikuti asap tebal ketika mereka membanting benda-benda bulat ke atas wuwungan. Di dalam kegelapan asap tebal ini merekapun menghilang. Kian Lee, Hwee Li, Suma Hui dan Ciang Bun berusaha untuk melakukan pengejaran, akan tetapi malam gelap telah menelan dua orang itu.

"Jangan kejar secara terpisah, mereka itu berbahaya.! Kian Lee memperingatkan sehingga dengan mengejar berkelompok, mereka tidak berhasil dan akhirnya terpaksa kembali ke rumah mereka. Suma Hui menangis dalam rangkulan ibunya.

"Uhh, ibu....

aku berdosa besar sekali....

aku telah memaki, menghina dan membenci Cin Liong....

padahal dia sama sekali tidak berdosa....

ah, ibuuu....!

Ingin rasanya Suma Hui menjerit-jerit ketika ia membayangkan pemuda yang dicintanya itu.

Dapat dibayangkan betapa sakit dan sengsaranya hati Cin Liong dan betapa sakit pula hati orang tuanya menerima tuduhan yang keji itu.

Ibunya hanya dapat merangkul dan menciuminya dengan hati penuh iba.

Suma Kian Lee duduk di atas kursi, menutupi mukanya dengan kedua tangan.

Perasaan menyesal yang amat hebat seperti gelombang menyeretnya, dan di antara celah-celah jari tangannya ada beberapa tetes air.

Terdengar suaranya penuh getaran dan tubuhnya menggigil ketika dia bicara dari balik kedua telapak tangan yang menutupi mukanya.

"Aku.... aku telah merusak anak sendiri.... aku telah mengkhianati ilmu keluarga sendiri.... aku telah berdosa terhadap keluarga Kao.... ah, orang bodoh macam aku layak mati.... layak mati....!! Pendekar ini mengeluh panjang dan tubuhnya lalu terguling.

"Ayaaahhh....!!

Ciang Bun menubruk dan merangkul sehingga tubuh ayahnya tidak sampai terguling jatuh.

Ternyata pendekar itu telah roboh pingsan saking hebatnya guncangan batin yang dideritanya.

Kim Hwee Li menjerit dan melepaskan rangkulan pada puterinya, kemudian menubruk suaminya sambil menangis dan mengguncang-guncang pundak suaminya yang pingsan itu.

Setelah dipijat bagian leher dan bawah lengannya, Kian Lee siuman kembali.

Melihat dia rebah di pembaringan ditangisi oleh isterinya dan kedua orang anaknya, pendekar ini sadar lalu bangkit duduk.

Dia memandang kepada Suma Hui yang berlutut di depan pembaringannya sambil menangis.

Melihat puterinya ini, tak dapat lagi Suma Kian Lee menahan hatinya.

"Hui-ji....!! Dia menubruk dan merangkul, mendekap kepala puterinya itu, air matanya bercucuran.

"Hui-ji, kaumaafkan aku....! "Ayaahh.... ayaahhh....!! Suma Hui juga hanya dapat menangis tersedu-sedu di dada ayahnya. Suasana sungguh amat mengharukan ketika empat orang anggauta keluarga itu membiarkan diri mereka tenggelam dalam kedukaan, penyesalan yang amat mendalam. Akan tetapi Kim Hwee Li yang pada dasarnya memiliki watak keras itu, dapat lebih dahulu menguasai dirinya dan iapun berkatalah.

"Sudahlah, apa gunanya penyesalan yang berlarut-larut ini? Lebih baik kita melihat apa yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki semua kesalahan.! "Ayah, yakinkah ayah sekarang bahwa Cin Liong tidak berdosa?! Dengan halus akan tetapi suaranya membayangkan kesedihan Suma Hui bertanya. Suma Kian Lee mengangguk dan pendekar itu tiba-tiba saja nampak jauh lebih tua daripada biasanya.

"Aku pernah lupa bahwa dia adalah keturunan Naga Sakti Gurun Pasir....! "Dan ayah.... ayah masih berkeberatan terhadap hubungan antara kami?! tanya pula Suma Hui. Suma Kian Lee menarik napas panjang.

"Aku bersalah.... tadinya memang kuanggap tidak baik melakukan ikatan jodoh antara keluarga sendiri. Aku lupa bahwa urusan jodoh adalah urusan yang mutlak menyangkut diri kedua orang itu sendiri.... akan tetapi aku telah menggagalkan segalanya, aku telah merusak kebahagiaanmu. Hui-ji.! "Disesalkanpun tiada gunanya lagi,! Suma Hui menyusut air matanya.

"Aku tidak patut lagi mendekatinya. Hidupku hanya untuk dua tujuan kini. Pertama, menemui Cin Liong dan minta agar dia sudi mengampuni dosaku, dan ke dua, aku belum mau mati sebelum dapat membunuh si jahanam Louw Tek Ciang!! "Hemmm, aku sendiri yang akan menanganinya!! kata Suma Kian Lee penuh geram.

"Tidak, ayah. Harus aku sendiri yang membunuh jahanam itu!! kata pula Suma Hui.

"Dan aku akan membantumu, enci Hui!! kata Ciang Bun yang juga ikut merasa dendam. Suma Kian Lee mengangguk.

"Kita semua akan maju karena jahanam itu berkawan dengan tokoh-tokoh sesat yang pandai.

Akan tetapi, kepandaian kalian masih belum cukup untuk menandinginya, maka mulai sekarang, biar kuajar semua ketinggalan, akan kucurahkan seluruh waktu dan perhatianku untuk mewariskan semua ilmu keluarga kita kepada kalian.!

Demikianlah, peristiwa hebat yang mengguncang keluarga pendekar ini bahkan membuat ayah dan anak menjadi akrab, dan mulai hari itu, Suma Hui dan Ciang Bun digembleng oleh ayah mereka secara tekun dan keras.

Suma Kian Lee yang merasa bersalah kepada dua orang anaknya karena dia telah mengambil murid dan ahli waris dari luar yang ternyata seorang penjahat itu, kini hendak menebus kesalahannya dengan menguras seluruh kepandaiannya untuk diwariskan kepada mereka.

Sebaliknya, Suma Hui dan Ciang Bun yang bertekad untuk menandingi Tek Ciang, berlatih dengan sungguh-sungouh sehingga dalam waktu dua tahun lebih mereka tidak pernah meninggalkan rumah dan tempat latihan!

Kao Cin Liong bukan hanya seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi juga sudah digembleng oleh banyak pengalaman, baik dalam kehidupannya sebagai seorang pendekar yang berkecimpung di dunia kang-ouw maupun sebagai seorang panglima muda yang berkecimpung di dalam kancah-kancah peperangan.

Semua pengalaman pahit dalam hidupnya menbuat pemuda ini matang dan dia dapat menghadapi segala peristiwa dengan tenang.

Akan tetapi, ketika pemuda yang kini usianya sudah tiga puluh dua tahun itu pulang dari tugasnya membebaskan Tibet dari pasukan Nepal, bahkan kemudian dia menyerang Nepal dan berhasil menundukkan negara ini sehingga Kerajaan Nepal terpaksa harus mengakui kedaulatan Kerajaan Ceng yang kuat itu, dia menghadapi hal yang membuatnya tertegun.

Setelah kembali ke kota raja dan menerima hadiah dan anugerah Kaisar Kian Liong yang memuji-mujinya, Jenderal Kao Cin Liong lalu berpamit meminta cuti untuk menengok orang tuanya di utara.

Akan tetapi, begitu dia memasuki rumahnya dan menghadap ayah bundanya, jenderal muda itu tertegun melihat sikap ayah bundanya terhadap dirinya.

Ayahnya memandang dengan mata mencorong sedangkan ibunya menyambutnya dengan mata merah dan basah!

Cin Liong dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat, maka cepat dia menjatuhkan diri berlutut depan kedua orang tuanya yang duduk di kursi panjang.

"Ayah, ibu, aku datang membawa berita kemenangan dan berhasilnya tugas yang kupikul.

Akan tetapi, mengapa ayah dan ibu nampak marah dan duka?

Harap ayah dan ibu suka mengampunkan kalau aku membuat kesalahan, dan harap memberitahu kesalahan apa gerangan yang telah kulakukan?!

"Cin Liong, karena ulahmu, atau setidaknya karena engkau lah maka kami berdua, ayah bundamu menerima penghinaan dan makian orang,!

kata Kok Cu.

Pendekar ini sudah hampir enam puluh tahun usianya, namun masih nampak gagah perkasa dan buntungnya sebelah lengannya sama sekali tidak membayangkan kelemahan, bahkan menambah kegagahannya, kegagahan yang aneh.

Sikapnya tenang dan serius, sepasang matanya mencorong seperti mata naga sehingga patutlah kalau dia dikenal sebagai Naga Sakti Gurun Pasir.

Di sampingnya duduk isterinya, Wan Ceng yang kini sudah berusia lima puluh tiga tahun.

Nenek yang biasanya gembira itu nampak muram dan ketika ia memandang kepada puteranya, hampir ia tidak dapat menahan air matanya.

Tentu saja Cin Liong merasa terkejut sekali mendengar teguran ayahnya itu.

Akan tetapi sebagai seorang yang sudah matang dan berpengalaman, dia tetap tenarg.

Dia lalu bangkit duduk menghadapi ayah bundanya, dan sambil memandang kepada mereka bergantian dengan sinar mata penuh selidik, diapun bertanya.

"Ayah dan ibu, apakah yang telah terjadi? Harap suka segera memberitahu kepadaku.! Wan Ceng yang tetap tidak mau percaya akan kesalahan puteranya, segera mendahului suaminya.

"Liong-ji, kami telah pergi ke Thian-cin....! "Ahh....!! Cin Liong teringat akan urusannya dengan Suma Hui dan tentang permintaannya kepada ayah bundanya untuk mengajukan pinangan.

"Lalu bagaimana, ibu?! "Kami tiba di Thian-cin, berhasil menemui paman Suma Kian Lee dan keluarganya, dan kami telah mengajukan pinangan terhadap diri Suma Hui seperti yang kauminta.! Wan Ceng berhenti karena suaminya memotong.

"Pinangan yang janggal karena masih keluarga, dan menurut hitungan, kita kalah tua lagi, dan berakhir dengan aneh dan memalukan pula.! "Ibu, apakah yang terjadi selanjutnya?! "Singkatnya, pinangan kita ditolak, bahkan kami berdua dihina dan dimaki!! kata Wan Ceng cemas. Cin Liong bangkit berdiri dan mengepal tinju, alisnya berkerut.

"Ah, sungguh tidak pantas!

Mereka boleh saja menolak pinangan, akan tetapi mengapa harus memakai penghinaan dan makian?

Sungguh tidak patut, apakah mereka itu begitu tinggi hati karena merasa sebagai keluarga Pulau Es?!

"Cin Liong, lupakah engkau bahwa segala macam penilaian adalah palsu karena penilaian didasari pendapat sendiri yang muncul dari perhitungan untung rugi?

Dapatkah kita menilai orang dari keadaan luarnya?

Memang, menolak pinangan sambil marah-marah tidak patut sekali, akan tetapi engkau harus menyadari bahwa setiap sikap dan perbuatan itu tentu ada sebab-sebabnya!

Jadi, tanpa mengetahui sebab-sebabnya, kita sama sekali tidak berhak menilai sikap atau perbuatan orang lain!!

"Maaf, ayah.

Aku terbawa oleh perasaan penasaran mendengar betapa ayah dan ibu sudah ditolak pinangannya masih juga dihina dan dimaki.

Sebenarnya, apakah yang telah terjadi, ayah?

Mengapa keluarga Suma marah-marah kepada kita?!

"Nah, begitu lebih tepat.

Setiap menghadapi persoalan, amatilah diri sendiri dan cari tahu mengapa demikian, cari sebab-sebabnya sehingga kita tidak hanya berbuat menuruti perasaan hati dan nafsu belaka.

Ketahuilah, Cin Liong, ketika kami mengajukan pinangan, paman Suma Kian Lee dan isterinya menolak.

Bukan hanya itu, bahkan Suma Hui dengan lantang mengatakan bahwa engkau telah memperkosanya!!!Ahhh....!!

Cin Liong terbelalak kaget dan untuk kedua kalinya dia bangkit berdiri, sekali ini dengan muka menjadi pucat dan pandang mata penuh keheranan.

"Kami tidak pernah meragukan dirimu, anakku,! kata Wan Ceng.

"Tentu saja kami tidak percaya dan hampir terjadi kesalahpahaman. Akan tetapi, kiranya tidak mungkin pula kalau Suma Hui mengada-ada hendak menjatuhkan fitnah kepadamu. Sebetulnya ada apakah antara engkau dan Suma Hui?! Cin Liong sudah terduduk kembali dan menutupi muka dengan kedua tangannya, mulutnya menggumam heran.

"Diperkosa.... dan.... dan aku yang memperkosanya? Ya Tuhan, apa artinya semua ini? Ibu dan ayah, aku tidak perlu bersumpah kiranya bahwa aku tidak pernah melakukan perbuatan keji itu. Tidak kepada Suma Hui dan tidak pula kepada siapapun juga. Melihat penjahat memperkosa wanita, aku akan turun tangan membunuhnya. Kalau aku sendiri yang melakukan perbuatan keji itu, tentu aku akan membunuh diriku sendiri. Tidak, aku tidak pernah melakukan itu. Dan sekarang baru aku mengerti, kiranya ada hubungannya dengan itu maka sikap Suma Hui dahulu itu demikian aneh.! "Apa yang kaumaksudkan?! tanya ibunya.

"Seperti pernah kuceritakan kepada ayah ibu, antara aku dan Suma Hui sudah terjalin tali cinta.

Kami saling mencinta dan biarpun kami tahu akan besarnya halangan di antara kami karena ikatan keluarga, kami berdua sudah bertekad untuk bersama-sama menghadapinya.

Akan tetapi, ketika aku pergi ke kota raja dan sebelum menerima perintah kaisar aku pergi ke Thian-cin, ketika bertemu denganku, secara aneh dan tiba-tiba saja ia menyerangku dan hendak membunuh!

Ia begitu marah sehingga sukar diajak bicara, maka aku lalu pergi meninggalkannya.

Kemudian, aku terikat tugas dan sampai demikian lamanya tak pernah bertemu dengannya, dan selama ini aku memang bertanya-tanya bagaimana jadinya dengan pinangan ayah berdua.!

Ayahnya mengangguk-angguk.

"Aku makin yakin bahwa tentu ada sesuatu di balik semua itu. Suma Hui menuduhmu memperkosa, bahkan berusaha membunuhmu. Dan engkau tidak merasa sama sekali telah melakukan perbuatan keji itu. Tentu terselip suatu rahasia di antara kedua perbedaan yang saling berlawanan itu.! "Sudah menjadi kuwajibanku untuk membikin terang persoalan ini, ayah. Aku akan segera berangkat ke Thian-cin dan aku akan bicara terus terang dengan mereka.! "Akau tetapi, keluarga Suma sudah begitu marah kepadamu....! kata ayahnya sambil mengerutkan alisnya.

"Ayah. Kita semua tahu bahwa Suma Kian Lee locianpwe adalah seorang pendekar besar. Aku yakin bahwa kalau kuajak dia terus terang membicarakan persoalan itu dan menyelidiki rahasianya, dia akan dapat menerimanya.! "Tapi, Cin Liong....! Suara Wan Ceng menjadi lembut dan pandang matanya penuh iba kepada putera tunggalnya.

"Engkau terlambat sudah.... karena tak lama setelah engkau pergi, Suma Hui telah menikah....! Ciu Liong adalah seorang pemuda yang amat kuat batinnya. Berita yang diucapkan dengan lembut oleh ibunya ini sebetulnya amat hebat menikam jantungnya. Akan tetapi hanya mukanya saja yang sedikit pucat dan matanya tergetar sedikit, akan tetapi selanjutnya dia nampak tenang.

"Ah, begitukah....?! "Kami tidak datang karena.... engkau tahu sendiri, tentu tidak enak bagi kami untuk hadir setelah peristiwa peminangan dahulu itu,! kata Kao Kok Cu.

"Kami mendengar bahwa ia menikah dengan suhengnya sendiri, murid tunggal paman Suma Kian Lee,! sambung Wan Ceng.

"Ah, tentu Louw Tek Ciang itu!

Hemmm....

syukurlah kalau begitu, karena pemuda itu kelihatan baik dan berbakat.!

Cin Liong menunduk, tidak tahan melihat pandang mata ibunya yang penuh iba.

Dia telah gagal lagi dalam asmara!

"Engkau tentu tidak jadi ke Thian-cin, bukan?!

tanya ibunya.

Cin Liong mengangkat muka, memandang kepada ibunya dengan senyum.

Senyum layu!

"Tentu saja, ibu.

Aku pergi untuk menjernihkan kekeruhan antara keluarga kita dengan keluarga Suma.

Bagaimanapun juga, di antara kita masih ada hubungan keluarga, maka tidaklah baik kalau sampai awan hitam itu tidak dijernihkan.

Aku harus dapat menyadarkan mereka bahwa aku kena fitnah, bahwa aku tidak melakukan perbuatan itu.!

"Tapi....

tapi Suma Hui telah menjadi isteri orang.

Tidak baik kalau sampai urusannya yang mendatangkan aib itu dibicarakan.!

Kao Kok Cu memperingatkan.

"Aku akan membicarakannya dengan Suma-locianpwe dan isterinya.

Pula, ketika terjadi keributau, Louw Tek Ciang juga mengetahui sehingga diapun telah mengetahui segala-galanya.

Diapun sudah meugenalku.!

Karena memang masalah yang merisaukan itu perlu dijernihkan, akhirnya Kao Kok Cu dan Wan Ceng tidak dapat membantah dan setelah bermalam di rumah orang tuanya selama sepekan, berangkatlah Cin Liong kembali ke selatan, hendak pergi ke Thian-cin.

Pada suatu hari tibalah dia di dusun Pei-san yang terletak di kaki Pegunungan Tai-hang-san, tidak jauh dari kota raja, di sebelah barat.

Karena hari sudah lewat senja dan diapun merasa lelah setelah pada hari itu sejak pagi dia melakukan perjalanan jauh naik turun gunung, maka Cin Liong ingin bermalam di dusun itu.

Biarpun dusun Pei-san berada tidak jauh dari kota raja, akan tetapi Cin Liong belum pernah lewat dusun ini.

Dia kini memang sengaja mengambil jalan lain di sepanjang kaki Gunung Tai-hang-san ketika dia menuju ke Thian-cin, untuk melihat-lihat keadaan dan dia memang hendak mengambil jalan memutar agar jangan melalui kota raja.

Kalau dia melalui kota raja, dia khawatir kalau dia mendengar sesuatu yang membuat dia menunda kepergiannya ke Thian-cin.

Kalau urusannya dengan keluarga Suma sudah selesai, barulah dia akan kembali ke kota raja menunaikan tugasnya sebagai panglima kembali.

Dan karena jenderal muda ini bepergian dengan pakaian preman, tidak ada pejabat atau petugas yang mengenalnya sehingga dia dapat melakukan tugasnya secara bebas kalau dia sedang melakukan penyelidikan.

Baru dia mengenakan pakaian kebesaran kalam dia memimpin pasukan dengan resmi.

Pei-san merupakan sebuah dusun di lereng bukit Pegunungan Tai-hang-san.

Sebuah dusun yang cukup makmur karena tanahnya yang subur karena letaknya yang dekat dengan kota raja, di sebelah baratnya sehingga dusun ini menjadi semacam pintu masuk atau jembatan, juga menjadi tempat perhentian mereka yang datang dari barat hendak menuju ke kota raja.

Para pedagang yang datang dari barat atau pergi ke barat, selalu singgah di dusun ini, untuk mengaso, atau makan, atau juga untuk melewatkan malam kalau mereka kemalaman di jalan.

Tidaklah mengherankan apabila di dusun itu bertumbuhan usaha penginapan dan kedai-kedai makan minum.

Ketika Cin Liong memasuki dusun Pei-san, kesan pertama dalam hatinya adalah bahwa dusun ini amat ramai dan sibuk.

Akan tetapi, penglihatannya yang tajam dapat menangkap bayangan-bayangan ketakutan tersembunyi di balik senyum dan pandang mata para penduduk.

Agaknya ada sesuatu, atau telah terjadi sesuatu yang membuat hati penghuni dusun itu dicekam ketakutan.

Kesan ini dirasakannya pula ketika Cin Liong memasuki sebuah kedai makan yang tidak begitu ramai dan terletak di ujung jalan raya.

Perutnya lapar dan tubuhnya lelah sekali.

Dia tidak suka memasuki kedai makan yang penuh sesak oleh tamu, melainkan memilih kedai yang sepi itu.

Dalam keadaan lapar, tidak perlu terlalu memilih makanan yang enak.

Segala macam makanan terasa enak di mulut kalau perut sedang lapar.

Di kedai itu ada beberapa orang tamu yang duduk berpencaran.

Cin Liong memilih sebuah meja di sudut dalam.

Seorang pelayan tua segera menghampirinya dan dengan ramah lalu bertanya makanan apa yang hendak dipesan oleh pemuda itu.

Cin Liong juga melihat betapa di wajah kakek pelayan inipun terbayang rasa cemas seperti yang dilihatnya pada wajah orang-orang lain itu.

Dia memesan makanan dan ketika pelayan tua itu datang membawakan makanan, Cin Liong lalu berkata.

"Lopek, aku melihat wajahmu seperti orang ketakutan, dan juga pada wajah penghuni dusun ini ada bayangan ketakutan seperti itu. Apakah yang telah terjadi, lopek?! Kakek pelayan itu memandang dengan muka pucat, lalu dia menoleh ke kanan kiri, nampaknya semakin takut, akan tetapi juga ada pandang mata heran mengapa ada orang menanyakan hal itu, karena bukankah semua orang sudah tahu? "Lopek, aku bukan orang sini, dan aku baru saja masuk ke dusun Pei-san ini. Ada peristiwa apakah?! tanya pula Cin Liong secara sambil lalu seperti lumrahnya seorang tamu yang ingin tahu dan diapun makan hidangan yang diantarkan oleh pelayan itu.

"Tidak ada apa-apa, tuan.... tidak ada apa-apa....! Cin Liong mengerutkan alisnya dan diam-diam dia mengerling ke arah para tamu yang duduk di situ. Akan tetapi para tamu itu tidak memperlihatkan suatu ketidakwajaran. Mereka duduk, ada yang sedang makan minum, ada yang sedang bercakap-cakap urusan perdagangan dan pekerjaan mereka. Dia tahu bahwa kakek ini membohong dan takut bicara.

"Lopek, jangan takut. Ceritakanlah, kalau ada apa-apa aku yang akan tanggung. Kalau terjadi kesukaran menimpa dusun ini, tentu aku akan berusaha untuk membereskannya,! kata pula Cin Liong lirih agar tidak sampai terdengar oleh orang lain. Pelayan itu memandang dengan ragu, akan tetapi matanya terbelalak ketika dia melihat betapa tangan tamunya itu meremas sebuah sendok batu yang menjadi hancur seperti tepung di antara jari-jari tangannya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tahulah pelayan itu bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar.

"Di....

di dusun ini semenjak dua pekan yang lalu ada....

ada....

Eng-jiauw-pang....!

Hanya sampai di situ saja pelayan itu berani bicara karena diapun cepat meninggalkan Cin Liong sambil menoleh ke kanan kiri penuh rasa cemas.

Cin Liong tidak mendesak lebih jauh, lalu melanjutkan makan sambil termenung.

Eng-jiauw-pang (Perkumpulan Kuku Garuda)?

Dia penrah mendengar nama itu.

Kalau dia tidak salah ingat, Eng-jiauw-pang adalah perkumpulan orang jahat, perkumpulan para perampok yang amat lihai, terkenal dengan anggauta-anggauta mereka yang mempergunakan sarung tangan kuku garuda yang selain ahli dalam ilmu silat, juga lihai dalam penggunaan racun.

Akan tetapi, perkumpulan perampok Eng-jiauw-pang itu berada di daerah Se-cuan, jauh di barat.

Bagaimana bisa muncul di tempat ini dan apa yang telah mereka lakukan sehingga orang-orang menjadi ketakutan?

Tiba-tiba terdengar jeritan lemah dan Cin Liong cepat menoleh.

Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia melihat kakek pelayan yang tadi melayaninya, tiba-tiba jatuh terpelanting dan mangkok-mangkok terisi makanan dalam baki yang dibawanya ikut terbanting dan menimbulkan suara gaduh.

Gegerlah di rumah makan itu.

Para pelayan lain dan para tamu segera menghampiri.

Cin Liong tidak ketinggalan, malah dia paling dulu menghampiri kakek ini, lalu dia berlutut dan memeriksa.

Ternyata pelayan itu telah tewas dengan muka berobah kebiruan, sedangkan di leher sebelah kanan nampak tiga guratan yan masih mengeluarkan darah.

Guratan tanda kuku garuda!

Dan sekali lihat saja maklumlah Cin Liong bahwa kakek ini tewas keracunan yang memasuki tubuhnya melalui guratan-guratan pada leher itu.

Dia menjadi marah sekali dan memandang kepada semua orang yang berada di situ penuh selidik.

Akan tetapi, karena dia tidak melihat sendiri penyerangan itu, siapa yang hendak dituduhnya?

Pula, melihat kenyataan bahwa tidak ada orang yang melihat bagaimana caranya kakek itu diserang dan dibunuh, menjadi bukti bahwa penjahat itu lihai sekali, juga bahwa penjahat itu dapat mendengar atau mengetahui bahwa kakek pelayan tadi telah menceritakan sedikit tentang Eng-jiauw-pang kepadanya, membuktikan bahwa gerombolan penjahat itu benar-benar lihai.

Dia lalu bangkit berdiri dan memandang ke sekeliling.

"Siapa di antara saudara sekalian yang tahu di mana adanya sarang gerombolan Eng-jiauw-pang?!

tanyanya, suaranya halus akau tetapi penuh ancaman dan kemarahan yang ditahan.

Ada kejahatan kejam terjadi di depan hidungnya, sungguh hal ini menjengkelkan sekali, merupakann tantangan kepadanya.

Dia merasa menyesal mengapa tadi dia tidak memperhatikan kakek pelayan itu sehingga dia akan dapat mengetahui kalau kakek itu diserang orang.

Akan tetapi siapa pula mengira bahwa di situ akan terjadi pembunuhan?

Begitu Cin Liong mengeluarkan pertanyaan ini, semua orang terbelalak, muka mereka menjadi pucat dan cepat-cepat mereka menjauhkan diri, meninggalkan tempat itu seperti orang ketakutan, juga para pelayan yang lain menggelengkan kepala, tanpa menjawab pertanyaan itu.

"Wiirrr....

singgg....!!

Cin Liong dengan tenang mengelak dan tangannyya bergerak menangkap benda hitam yang meluncur di dekat telinganya, yang tadinya menyambar ke arah lehernya.

Dengan ibu jari dan telunjuk, ditangkapnya benda itu yang ternyata adalah sebatang senjata rahasia berbentuk paku yang biasanya disebut Touw-kut-ting (Paku Penembus Tulang) akan tetapi melihat warnanya yang hitam kehijauan, mudah diduga bahwa paku ini mengandung racun yang amat berbahaya!

Begitu menangkap senjata rahasia itu, Cin Liong meloncat ke pintu, akan tetapi dia tidak melihat bayangan siapapnn yang boleh disangka melakukan penyerangan itu.

Akan tetapi di daun pintu nampak sehelai kain yang tertancap pisau belati, di mana terdapat tulisan dengan huruf merah.

ENG-JIAUW-PANG MENANTI DI KUIL TUA HUTAN CEMARA SEBELAH TIMUR DUSUN.

"Hemm....!!

Cin Liong merasa penasaran sekali dan marah.

Kiranya dia berhadapan dengan perkumpulan yang mempunyai orang-orang pandai dan kejam sekali.

Tentu penyerangan senjata rahasia tadi mereka maksudkan untuk mengujinya dan kalau dia lulus ujian, tidak mati oleh serangan itu, maka dia dianggap cukup berharga untuk berkunjung ke sarang perkumpulan itu!

Dia tahu betapa bahayanya mendatangi sarang itu, karena para penjahat tentu telah siap siaga menanti kedatangannya.

Akan tetapi, Cin Liong adalah seorang pendekar yang selain banyak pengalaman dan cukup waspada, juga memiliki ilmu kepandaian tinggi dan ketabahan luar biasa.

Cin Liong melemparkan paku itu dengan pengerahan tenaga sampai amblas ke dalam tanah, lalu dia meninggalkan rumah makan itu, langsung menuju ke arah timur dan keluar dari dusun itu melalui pintu gerbang sebelah timur.

Tidak sukar mencari hutan cemara itu karena begitu keluar dari pintu gerbang, hutan itu sudah nampak di sebuah lereng bukit di kaki Pegunungan Tai-hang-san.

Sebenarnya, perkumpulan apakah yang menamakan dirinya Eng-jiauw-pang dan menjadi momok bagi para penghuni dusun itu?

Eng-jiauw-pang (Perkumpulan Kuku Garuda) sebetulnya adalah sebuah perkumpulan atau perguruan silat yang tadinya dipimpin oleh seorang tokoh yang condong kepada golongan hitam atau kaum sesat.

Mereka itu kadang-kadang suka melakukan perampokan, walaupun perampokan kaliber besar, bukan sembarangan perampok dan maling kecil saja.

Mereka hanya melakukan perampokan terhadap rombongan besar para pedagang kaya atau pembesar tinggi yang melakukan perjalanan.

Karena nama Eng-jiauw-pang sudah dikenal dan ditakuti, maka para piauwkiok (perusahaan pengawal barang kiriman) mendekatinya dan mengirim upeti-upeti sehingga perjalanan mereka tidak akan diganggu oleh perkumpulan ini.

Upeti-upeti yang cukup banyak itulah yang menjadi sumber nafkah perkumpulan ini di samping hasil-hasil perampokan mereka terhadap rombongan-rombongan yang tidak mangirim upeti kepada mereka.

Perkumpulan Eng-jiauw-pang memang tadinya berasal dari barat, dari daerah Se-cuan.

Akan tetapi semenjak pendirinya, yaitu Eng-jiauw Siauw-ong, tewas, perkumpulan itu meninggalkan Se-cuan dan di bawah pimpinan ketua mereka yang baru, mereka yang terdiri dari tiga puluh orang lebih, pindah ke timur dan kini sedang mencari-cari tempat yang baik sampai mereka tiba di hutan cemara di kaki Pegunungan Tai-hang-san itu.

Cin Liong memasuki hutan cemara dengan penuh kewaspadaan, maklum bahwa dia memasuki sarang harimau atau guha naga.

Untung baginya bahwa hutan cemara itu tidaklah begitu liar atau gelap karena pohon-pohon itu tidak lebat.

Tak lama kemudian setelah dia memasuki hutan cemara itu, nampaklah dinding kuil yang putih, agaknya tembok dinding itu baru mengalami perbaikan dan pengecatan baru.

Juga pekarangannya nampak bersih, genteng-gentengnya ada pula sebagian yang baru, agaknya genteng-genteng tua yang jebol telah diganti dan diperbaiki.

Akan tetapi, tempat itu kelihatan suuyi saja.

Biarpun begitu, Cin Liong tidak tertipu oleh keadaan yang sunyi dan dia tetap waspada, yakin bahwa pada saat itu, mata pihak musuh tentu sedang mengamati gerak-geriknya.

Selagi dia merasa heran mengapa pihak musuh yang biasanya suka bertindak curang itu belum juga turun tangan menyerangnya, tiba-tiba dia melihat gerakan di sekelilingnya dan tahu-tahu tempat itu sudah terkurung oleh sedikitnya dua puluh orang yang kesemuanya nampak beringas dan kejam.

Dengan perasaan heran Cin Liong melihat betapa pada sinar mata dua puluh orang lebih itu terbayang kemarahan dan dendam kebencian yang mendalam kepadanya!

Sungguh aneh pikirnya.

Mengapa orang-orang Eng-jiauw-pang ini memusuhinya?

Padahal, dia baru saja datang ke dusun itu dan hanya bertanya tentang Eng-jiauw-pang kepada pelayan rumah makan yang kemudian dibunuh oleh orang-orang Eng-jiauw-pang sendiri.

Akan tetapi, hal ini tidak membuat pendekar ini merasa gentar dan diapun mencari dengan matanya.

Melihat lima orang tinggi besar yang nampak keren dan agaknya menjadi pemimpin mereka semua, dia lalu menghadapi lima orang itu dan memandang tajam ke sekeliling.

"Kao Cin Liong, engkau datang mengantar kematian. Sungguh bagus dan memudahkan kami untuk membuat perhitungan denganmu!! Seorang di antara mereka yang berkumis lebat berkata. Cin Liong mengerutkan alisnya.

"Apakah kalian ini yang disebut Eng-jiauw-pang?!!Benar!! jawab si kumis lebat.

"Kami adalah para anggauta Eng-jiauw-pang yang hendak membalas kematian ketua kami!! Cin Liong memandang heran.

"Aku hanya lewat di dusun itu dan mendengar bahwa perkumpulan Eng-jiauw-pang mengacau penduduk, melakukan kejahatan sehingga para penghuni dusun hidup dicekam ketakutan. Akan tetapi sekarang kalian mengatakan hendak membalas kematian ketua kalian. Apa artinya ini?! Dia memandang si kumis dan melanjutkan pertanyaannya.

"Dan bagaimana kalian dapat mengenal namaku?!

"Jenderal Kao Cin Liong, tidak perlu berpura-pura tanya lagi.

Engkau telah membunuh ketua kami dan saat ini engkau akan menebus kematian ketua kami dengan nyawamu.!

"Dan siapakah ketua kalian itu?!

"Ketua kami adalah mendiang Eng-jiauw Siauw-ong Liok Cau Sui!

Engkau telah membunuhnya di Pulau Es....!

"Ahh!!

Kini Cin Liong teringat.

Ketika rombongan para datuk kaum sesat menyerbu Pulau Es, dia membela Pulau Es dan dalam pertempurau mati-matian itu dia telah merobohkan dan menewaskan seorang kakek yang memakai sarung tangan kuku garuda, yang merupakan lawan yang amat tangguh dan lihai.

Kiranya kakek bersarung tangan kuku garuda itu adalah ketua dari gerombolan ini!

"Kiranya kakek jahat itu ketua kalian?

Memang, aku telah menewaskannya karena dia bersama orang-orang jahat lainnya melakukan penyerbuan kepada keluarga Pulau Es.

Nah, kalian mau apa?

Apakah kalian hendak menyusul ketua kalian itu ke neraka jahanam?!

Tentu saja dua puluh orang lebih yang mengurung pemuda itu menjadi marah mendengar ucapan ini, terutama sekali lima orang pemimpin mereka yang merupakan murid-murid utama dari mendiang Eng-jiauw Siauw-ong.

"Bocah sombong!

Kematian sudah berada di depan mata dan engkau masih besar mulut!!

teriak si kumis yang agaknya merupakan pemimpin nomor satu dan memang sesungguhnya dia adalah murid kepala atau twa-suheng dari semua murid Eng-jiauw Siauw-ong.

Setelah memaki, lima orang itu lalu mengeluarkan sepasang sarung tangan kuku garuda, diturut oleh semua anggauta gerombolan itu dan kini semua tangan mereka telah mengenakan sarung kuku garuda yang terbuat daripada baja.

Setelah mengenakan sarung tangan kuku garuda, mereka itu nampaknya menjadi bertambah bengis.

Kemudian, atas isyarat si kumis, kepungan mereka makin merapat dan tiba-tiba beberapa orang anggauta gerombolan yang berdiri di belakang Cin Liong, menubruk dengan serangan mereka menggunakan kedua cakar garuda itu untuk mencengkeram.

Mulut mereka mengeluarkan suara seperti teriakan parau burung garuda dan gerakan-gerakan mereka juga seperti burung yang mencakar-cakar.

Kedua lengan mereka kadang-kadang dikembangkan dan mereka meloncat dengan gesitnya, menubruk dari atas seperti gerakan burung menyambar dari angkasa, menggunakan kedua cakar baja yang amat runcing itu.

Akan tetapi, yang mereka serang adalah Kao Cin Liong, pendekar muda yang memiliki kesaktian, putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir.

Begitu pemuda perkasa ini memutar tubuh dan menggerakkan kedua lengannya sambil membentak, tiga orang penyerang sudah terpelanting dan terbanting ke atas anah dengan keras, membuat mereka tidak dapat segera bangun kembali karena merasa kepala mereka pening.

Akan tetapi, teman-teman mereka sudah menyerang dari empat jurusan sehingga Cin Liong terpaksa harus mengeluarkan kepandaiannya karena pengeroyokan para anggauta Eng-jiauw-pang itu, terutama lima orang pimpinan mereka, bukan merupakan lawan yang lunak!

Kao Cin Liong adalah seorang pendekar gemblengan yang berjiwa gagah perkasa, selalu siap untuk membela yang lemah menentang yang jahat tanpa dipengaruhi perasaan benci.

Yang ditentangnya adalah perbuatan yang jahat dan mencelakakan orang lain, akan tetapi dia tidak pernah membenci orangnya.

Oleh karena itu, dalam sepak terjangnya menghadapi kejahatan, selalu dia berniat untuk menghukum dan mendidik, tidak mau sembarangan membunuh orang.

Tentu saja kalau dia sudah berpakaian jenderal, sikap dan tindakannya lain lagi.

Sebagai perajurit tentu saja dia harus membasmi musuh negara sesuai dengan hukum yang berlaku.

Menghadapi Eng-jiauw-pang ini, diapun tadinya bermaksud untuk menghajar dan menghukum mereka agar bertobat dan tidak berani mengacau rakyat lagi.

Akan tetapi setelah mereka mengeroyok, dia terkejut dan mendapat kenyataan betapa para anggauta perkumpulan ini benar-benar memiliki kepandaian silat yang kuat.

Apalagi lima orang pemimpin mereka itu sungguh merupakan lawan berbahaya setelah mereka maju bersama, dan pengeroyokan kurang lebih dua losin orang itu membuatnya repot juga.

Untuk dapat menghajar lawan sedemikian banyaknya dia harus memiliki tingkat jauh lebih tinggi daripada para lawan itu.

Akan tetapi kenyataannya dialah yang terdesak karena dia tadinya tidak ingin membunuh dan hanya menggunakan ilmu silat biasa saja.

Melihat betapa dia malah terdesak, terpaksa Cin Liong merobah permainannya dan demi keselamatannya sendiri, kalau perlu dia harus merobohkan beberapa orang lawan yang mungkin saja dapat menewaskan lawan karena dia akan mengeluarkan ilmu simpanannya.

"Hyaaaattt....!! Si kumis tebal menyerang dengan ganasnya, kedua tangan cakar bajanya menyambar cepat dan yang nampak hanya sinar hitam dua gulung menyambar ke arah muka dan dada Cin Liong. Serangan ini disusul oleh serangan empat orang kawannya dari kanan kiri dan belakang. Cin Liong meloncat dan tubuhnya melesat keluar dari kepungan lalu tiba-tiba tubuhnya mendekam setengah menelungkup di atas tanah. Para pengeroyok merasa girang sekali, mengira bahwa pemuda itu lelah atau kehabisan tenaga atau terjatuh. Belasan orang anak buah Eng-jiauw-pang seperti berebut menubruk musuh yang sedang mendekam di atas tanah itu.

"Haiiiikk!!

Tiba-tiba Cin Liong mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya yang tadi mendekam secara tiba-tiba bergerak, kaki tangannya mencuat ke sekelilingnya dan angin yang dahsyat menyambar seperti badai mengamuk.

Para pengeroyoknya terkejut sekali, mereka berteriak kaget dan kesakitan dan belasan orang itupun terpelanting berjatuhan dengan terbanting keras dan ada yang terlempar sampai beberapa tombak jauhnya!

Dalam segebrakan itu saja, empat orang pengeroyok tewas seketika, empat orang lain terluka parah dan beberapa orang lagi hanya terlempar dan mengalami kekagetan saja, hanya lecet-lecet karena terbanting dan terguling-guling.

Tentu saja para anggauta Eng-jiauw-pang terkejut sekali.

Mereka tidak tahu bahwa ketika mendekam tadi, Cin Liong mengeluarkan ilmu simpanan yang dipelajarinya dari ayahnya, Si Naga Sakti Gurun Pasir.

Itulah Ilmu Sin-liong-hok-te (Naga Sakti Mendekam Di Tanah) dan ketika dia mendekam sebetulnya dia sedang mengerahkan sin-kang yang mengambil tenaga inti dari bumi.

Ketika belasan orang pengeroyok itu menyerang dan menubruknya seperti hendak berlomba mencengkeramnya, Cin Liong mempergunakan Ilmu Sin-liong-cian-hoat (Silat Naga Sakti), maka akibatnya sedemikian hebat.

Lima orang pemimpin Eng-jiauw-pang dan sisa anak buah mereka melihat kehebatan pemuda ini menjadi gentar.

Mereka tahu bahwa kalau dilanjutkan pengeroyokan itu, akhirnya mereka semua akan roboh dan tewas.

Maka lima orang pemimpin itu mengeluarkan seruan memberi isyarat kepada para anak buahnya untuk melarikan diri.

Merekapun berloncatan pergi sambil menyeret teman-teman yang tewas atau terluka.

Cin Liong sendiri masih tertegun melihat akibat dari ilmunya tadi.

Jarang dia menggunakan ilmu simpanan itu dan dia selalu merasa tertegun menyaksikan kehebatan ilmu yang dipelajarinya dari ayahnya.

Dia termangu-mangu, mempertimbangkan apakah sepak terjangnya tadi tepat, dalam segebrakan saja dia telah membunuh dan melukai banyak orang.

Karena dia sendiri merasa agak menyesal, maka ketika melihat semua lawan melarikan diri, diapun tidak mau mengejar dan hanya berdiri memandang sampai mereka semua lenyap dari pandang matanya.

Setelah menarik napas panjang, Cin Liong lalu melangkah memasuki hutan itu lebih dalam karena dia ingin mencari kuil tua yang menjadi sarang Eng-jiauw-pang.

Dia tadi sudah memberi hajaran kepada mereka, akan tetapi dia harus menemukan sarang mereka dan membasmi sarang itu agar mereka bertobat dan tidak berani lagi beraksi mengumbar kejahatan mereka.Kuil tua itu ternyata sudah mengalami banyak perbaikan.

Temboknya dicat baru, gentengnya banyak yang diganti baru dan dari luar saja sudah nampak bahwa kuil tua itu kini sudah menjadi bersih dan terawat.

Bahkan di pekarangan kuil itu banyak ditanami kembang dan juga nampak bersih, tanda bahwa setiap hari tentu disapu.

Akan tetapi ketika Cin Liong menghampiri kuil itu, kelihatan sunyi sekali.

Tentu mereka sudah melarikan diri semua, pikirnya.

Mereka agaknya dapat menduga bahwa aku tentu akan mendatangi sarang mereka.

Namun dia tetap bersikap hati-hati dan waspada ketika memasuki kuil.

Dia tahu bahwa menghadapi musuh seperti Eng-jiauw-pang itu, dia harus bersikap hati-hati karena mereka tentu tidak segan-segan menggunakan kecurangan dan dia tidak akan merasa heran andaikata mereka kini memasang perangkap untuknya di dalam kuil ini.

Maka, diapun melangkah dengan hati-hati ke dalam kuil yang sudah tidak dipergunakan sebagai tempat sembahyang itu.

Ruangan depan kosong, juga ketika dia memeriksa ke ruangan dalam dan kamar-kamar di sekitarnya, tidak menemukan seorangpun.

Akan tetapi Cin Liong tetap curiga.

Dia melihat sesuatu yang tidak wajar dalam kekosongan kuil ini.

Biasanya, kalau orang-orang meninggalkan sarang mereka dengan tergesa-gesa karena mengira bahwa sarang itu akan diserbu musuh, tentu para penghuninya pergi membawa barang-barangnya dan kamar-kamar itu tentu akan mawut, barang-barang ada yang kececeran dan dibiarkan porak-poranda.

Akan tetapi di dalam ruangan dan kamar-kamar di kuil ini tidak nampak tanda-tanda demikian itu.

Semua kamar tetap bersih dan barang-barang seperti tempat pakaian dan lain-lain masih utuh, juga tidak ada tanda-tanda orang membawa pergi barang-barang dengan tergesa-gesa.

Apakah para anggauta Eng-jiauw-pang itu langsuug melarikan diri tanpa singgah dulu di sarang mereka saking takutnya?

Nampaknya begitulah atau....

ada maksud tertentu dari mereka.

Kalau benar tidak ada orangnya dan tempat ini sudah ditinggalkan para penjahat itu, sebaiknya dibakar saja, pikir Cin Liong.

Tiba-tiba Cin Liong tak bergerak dau mencurahkan perhatian kepada suara yang didengarnya.

Suara itu datang dari arah belakang kuil itu, suara ah-ah-uh-uh, bukan seperti suara manusia, diselingi suara berdebukan seperti benda dipukul-pukulkan di lantai.

Dengan hati-hati sekali dan penuh kewaspadaan, seluruh syaraf di tubuhnya menegang dan siap bergerak melindungi diri, Cin Liong lalu menuju ke ruangan belakang, satu-satunya ruangan yang belum dimasukinya.

Daun pintu yang menembus dari ruangan tengah ke ruang belakang itu tertutup dan dengan perlahan dan hati-hati Cin Liong mendorongnya terbuka.

"Uhhh....

uhhhh....!!

Cin Liong melihat seorang gadis cantik yang terbelenggu kaki tangannya, diikat di atas sebuah dipan kayu.

Mulut gadis itu ditutup pula dengan sebuah saputangan yang diikatkan ke belakang kepala sehingga mulutnya hanya dapat mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh dan gadis itu mencoba melepaskan diri, meronta-ronta dengan keras.

Akan tetapi belenggu kaki tangannya itu terlampau kuat sehingga kaki dipan kadang-kadang terangkat sedikit dan memukul-mukul lantai mengeluarkan suara dak-duk-dak-duk.

Biarpun apa yang dilihatnya itu sudah jelas, yaitu seorang gadis tawanan yang ditinggalkan di dalam ruangan belakang kuil itu, namun Cin Liong tidak tergesa-gesa menghampiri, melainkan menoleh ke kanan kiri dan meneliti keadaan sekitar tempat itu.

Dia tidak mau kalau sampai terjebak memasuki perangkap yang dipasang para penjahat.

Melihat pintu terbuka dan muncul seorang pemuda tampan, gadis itu menghentikan gerakannya meronta-ronta tadi dan kini ia memandang kepada Cin Liong dengan kedua mata basah.

Gadis itu menangis dan sinar matanya mewakili mulutnya untuk minta tolong kepada Cin Liong.

Setelah meneliti keadaan dan merasa yakin bahwa di situ tidak ada orang lain kecuali dia sendiri dan gadis yang dibelenggu itu, Cin Liong melangkah masuk dan menghampiri gadis itu sambil memperhatikannya.

Seorang gadis yang cantik sekali, usianya tentu sudah dua puluh tahun lebih, dengan bentuk tubuh yang matang dan padat.

Agaknya gadis itu menjadi tawanan baru dan belum diganggu oleh para penjahat.

Hal ini dapat diduga melihat betapa pakaian gadis itu masih lengkap dan utuh.

Melihat pakaiannya yang serba mewah, dapat diduga pula bahwa gadis ini tentulah puteri seorang hartawan atau bangsawan.

Pakaian itu belum diganggu, bahkan jubah luar terbuat daripada bahan kain indah berwarna merah itupun masih menempel di tubuhnya.

Akan tetapi, kaki tangannya dibelenggu amat kuatnya, dengan menggunakan pintalan kain sebagai tali.

Halus dan tidak menyakitkan kaki tangan, akan tetapi ulet dan sukar untuk melepaskan diri dari belenggu pintalan kain ini.

Cin Liong kini cepat menghampiri dan pertama-tama dia melepaskan saputangan yang menutupi mulut dan diikatkan ke belakang kepala itu.

Begitu bebas, gadis itu lalu berkata dengan suara memohon.

"Ah, tolonglah aku.... tolonglah aku.... mereka membelengguku dan meninggalkan aku di sini, sebentar lagi mereka tentu datang kembali. Tolong lepaskan belenggu kaki tanganku....! Tanpa diminta sekalipun tentu saja Cin Liong bermaksud membebaskannya. Dia lalu melepaskan ikatan yang membelenggu kaki dan merasa kasihan karena ternyata ikatan itu kuat sekali sehingga ketika dilepaskan, kulit kaki di pergelangan yang halus putih itu menjadi merah kebiruan! Diapun cepat melepaskan tali pengikat kedua lengan. Akan tetapi begitu dilepaskan kedua tangannya, tiba-tiba gadis itu mencengkeram ke arah perut sendiri. Wajahnya berobah pucat, keringat membasahi muka dan lehernya dan diapun mengeluh.

"Aduhhh.... perutku....aduhhh....! Cin Liong terkejut sekali.

"Perutmu kenapa, nona....! "Aduhh.... di antara mereka tadi.... ada yang menampar ke arah perutku.... tadi tidak begitu terasa, akan tetapi sekarang.... aduhhhh.... seperti terbakar rasanya....! Dan gadis itupun menangis, kedua tangannya mencengkeram ke arah perutnya dan tubuhnya berkelojotan seperti dalam keadaan yang amat nyeri. Cin Liong teringat bahwa orang-orang Eng-jiauw-pang pandai mempergunakan racun. Agaknya gadis ini terluka atau terkena racun.

"Maaf, biarkan aku memeriksanya, nona, mungkin aku dapat menolongmu....!

katanya dengan perasaan kasihan kepada gadis itu dan marah kepada para penjahat.

Agaknya orang-orang Eng-jiauw-pang itu telah menaruhkan racun entah apa yang akan terasa apabila gadis itu terbebas dari belenggunya.

Racun yang aneh dan jahat sekali.

Karena khawatir kalau-kalau keadaan gadis sudah parah dan sukar ditolong lagi, Cin Liong mengesampingkan segala perasaan malu dan canggung.

Dengan hati-hati dia menggunakan kedua tangannya untuk melepaskan kancing baju gadis itu di bagian perut, untuk memeriksa keadaan perutnya yang agaknya terluka hebat itu, entah luka di luar ataukah di dalam.

Pada saat dia berdiri membungkuk dengan kedua tangan bekerja membuka kancing dan mukanya menunduk, matanya memandang penuh perhatian ke arah perut, tiba-tiba kedua tangan gadis itu bergerak dan jubah merahnya mengebut.

Bubuk merah halus yang seperti asap memenuhi udara dan sebagian besar menimpa muka Cin Liong.

Pemuda ini sama sekali tidak menyangka.

Tadi ketika dia melepaskan belenggu dan berada di dekat nona itu, memang dia mencium bau harum yang aneh.

Akan tetapi karena keadaan gadis itu sebagai seorang tawanan yang dibelenggu kuat-kuat dan kemudian bahkan menderita nyeri yang hebat, keraguan dan kecurigaan sedikitpun terhadap gadis itu tidak ada.

Maka, betapapun lihainya, dalam keadaan berdiri bungkuk seperti itu, dan dekat sekali dengan nona yang ditolongnya, ketika nona itu menyerang dengan bubuk merah yang agaknya memang sudah sejak tadi memenuhi jubah merahnya, pendekar ini sama sekali tidak mampu menghindarkan diri dan mukanya terkena bubuk merah yang harum.

"Hehhh....!! Dia masih dapat mencengkeram ke depan, maksudnya untuk menangkap gadis yang telah mengkhianatinya itu. Akan tetapi, dengan gerakan yang luar biasa gesitnya, gadis cantik itu menangkis dan meloncat jauh.

"Dukk!!

Gadis itu terlempar dan Cin Liong juga merasa betapa tangkisan itu mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat.

Tahulah dia bahwa gadis itu memang seorang pandai yang pura-pura tertawan sehingga dia terkecoh.

Akan tetapi terlambat.

Kepalanya terasa ringan dan tiba-tiba saja semuanya gelap baginya.

Tanpa diketahuinya, dia roboh terkulai di atas pembaringan itu dalam keadaan pingsan.

Cin Liong tidak tahu berapa lama dia tidak sadar.

Akan tetapi ketika dia siuman, dia mendapatkan dirinya berada di dalam ruangan yang sama.

Akan tetapi kini dialah yang terikat dan terbelenggu di atas dipan dan ketika dia memandang, ternyata gadis cantik berpakaian mewah tadi juga berada di situ, duduk di atas sebuah kursi dan sedang memandang kepadanya dengan sepasang mata tajam penuh selidik.

Mata itu amat tajam bersinar-sinar.

Sukarlah membaca perasaan yang berada di balik sinar mata itu.

Dan tiga batang lilin di atas meja menandakan bahwa hari telah malam!

Juga suasana kuil yang tadinya sunyi kini berobah.

Dia mendengar suara orang-orang di luar ruangan itu dan tak lama kemudian, daun pintu yang menembus ruangan itu dari belakang terbuka.

Muncullah dua orang pria datang membawa baki-baki terisi hidangan makanan dan minuman.

Dengan sikap hormat mereka mengatur hidangan itu di atas meja.

Akan tetapi gadis itu sama sekali tidak melirik, tidak memperdulikan dan pandang matanya masih terus ditujukan kepada Cin Liong dengan pandang mata yang aneh.

Cin Liong tahu bahwa dua orang pria itu adalah anggauta-anggauta Eng-jiauw-pang, karena di pinggang mereka tergantung sepasang sarung tangan cakar baja itu.

"Siocia (nona), silahkan makan dulu, hari sudah malam!!

kata seorang di antara mereka dengan sikap hormat dan juga penuh rasa sayang.

Gadis itu hanya mengangguk, lalu memberi isyarat dengan tangannya agar dua orang itu pergi lagi meninggalkannya sendirian di ruangan itu.

Dua orang itu menjura, lalu keluar danmenutupkan daun pintu tembusan ke dapur itu dengan perlahan dan hati-hati.

Cin Liong yang sudah siuman itu sejak tadi pura-pura masih belum sadar, dan hanya mengintai dari balik bulu matanya saja.

Kini dia melihat nona itu menghadapi hidangan dan mulai makan.

Akan tetapi, agaknya hidangan yang banyak macamnya dan kelihatan lezat sehingga menimbulkan selera bagi Cin Liong yang memang lapar sekali, agaknya tidak membuat nona itu bernafsu untuk makan.

Hanya sedikit ia makan, lalu ia menenggak tiga cawan arak.

Cin Liong kini sadar bahwa dia sudah terperosok ke dalam perangkap yang dipasang oleh gadis ini secara cerdik sekali.

Dia menduga-duga siapa gerangan gadis ini.

Tak mungkin anggauta biasa dari Eng-jiauw-pang karena dua orang anggauta perkumpulan itu tadi bersikap hormat kepadanya dan menyebutnya nona.

Tentu seorang tokoh pimpinan.

Dan kecantikan seorang wanita dengan sikapnya yang pendiam dan halus itu bahkan lebih mengerikan dan berbahaya daripada sikap seorang musuh yang kasar dan bengis seperti orang-orang gerombolan Eng-jiauw-pang.

Diam-diam dia mengerahkan tenaga untuk menggunakan sin-kangnya menembus jalan darah yang tertotok.

Dia terkejut.

Totokan itu istimewa sekali dan betapapun dia mengerahkan sin-kang, tetap saja dia tidak mampu menggerakkan pusarnya dan hawa di dalam pusarnya tetap dalam keadaan tidur karena tidak ada yang menggerakkan keluar.

Celaka, pikirnya.

Kalau dia tidak dapat mengerahkan sin-kangnya, tentu dia tidak dapat melindungi dirinya.

Tali-tali belenggu itu bukan apa-apa baginya kalau dia mampu mengerahkan tenaga sin-kangnya.

Dia harus bersabar sampai pengaruh totokan itu menghilang atau menjadi lemah.

Tiba-tiba Cin Liong mendengar langkah-langkah kaki dan diapun memejamkan matanya kembali dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

Daun pintu sebelah depan terbuka dan muncullah lima orang laki-laki dipimpin oleh sikumis tebal.

Mereka ini adalah pimpinan gerombolan Eng-jiauw-pang!

Diam-diam Cin Liong merasa betapa jantungnya berdebar kencang.

Agaknya bukan hanya dia yang terkejut melihat munculnya lima orang tokoh Eng-jiauw-pang yang lihai itu, juga gadis cantik itu bangkit berdiri dan memandang kepada mereka dengan alis berkerut.

"Suheng berlima datang memasuki ruangan ini mau apakah?! tanyanya dengan suara dingin. Si kumis tebal melangkah maju.

"Sumoi, kami datang karena khawatir akan dirimu dan ingin melihat tampangnya musuh besar kita ini.

Dia harus dibunuh secepatnya, sumoi, karena kalau dibiarkan hidup lebih lama lagi, dia bisa mendatangkan bencana bagi kita.

Dia amat lihai dan berbahaya.!

"Twa-suheng, sudah kukatakan kepada kalian bahwa selama semalam ini, dia menjadi tawananku dan boleh kuperlakukan sesuka hatiku.

Tidak boleh ada orang lain mencampuriku!

Besok barulah kalian boleh bicara mengenai dia dan boleh kalian lakukan sesuka hati kalian.

Nah, sekarang keluarlah, jangan mengganggu aku yang sedang termenung!!

"Akan tetapi, kita semua amat benci dan sakit hati kepadanya.

Ah, betapa ingin aku menggorok lehernya dan minum darahnya untuk memuaskan hatiku.

Siang tadi dia menambah sakit hati kita dengan membunuh empat orang anak buah dan melukai beberapa orang lagi.

Dia harus mati!!

kata orang ke dua yang kepalanya botak.

"Ji-suheng!! gadis itu berkata, nada suaranya marah.

"Bagaimanapun juga, orang itu telah membunuh ayahku. Engkau hanyalah murid ayah, akan tetapi aku puterinya! Dendam sakit hatiku jauh lebih mendalam dibandingkan denganmu, maka janganlah bicara tentang dendam kebencian itu dengan aku!! "Bagaimanapun juga, dia harus kupatahkan dulu siku dan lututnya, barulah hatiku lega,! kata pula orang pertama yang disebut twa-suheng dan yang berkumis tebal itu.

"Kalau sudah kupatahkan lutut dan sikunya, tentu dia tidak akan dapat melepaskan diri lagi dan tidak akan membahayakan dirimu, sumoi.!

"Twa-suheng dan suheng sekalian.

Apakah kalian tidak percaya kepadaku?

Ingat, siapa yang telah menawannya?

Kalian berlima, dibantu oleh para anak buah, masih tidak mampu menangkapnya, bahkan mengorbankan nyawa empat orang anak buah.

Sedangkan aku seorang diri saja mampu membekuknya.

Akulah yang menangkapnya dan aku yang berhak memutuskan apa yang haris dilakukan dengan dia!

Aku pula keturunan tunggal dari ayah.

Sudahlah, aku hanya ingin bersama musuh besarku semalam ini, biarkan aku melampiaskan dendam pribadiku dengan caraku sendiri.

Besok baru kita bicarakan hukuman apa yang akan kalian berikan kepadanya.

Keluarlah sebelum aku marah!!

Lima orang itu saling pandang, lalu terpaksa mereka pergi meninggalkan ruangan itu.

Seorang di antara mereka, yang tubuhnya pendek kecil kurus, meludah ke arah Cin Liong ketika mereka pergi, dan daun pintu mereka tutupkan dari luar dengan agak keras, tanda bahwa hati mereka tidak puas dengan sikap gadis itu.

Diam-diam Cin Liong yang mengikuti semua ini harus mengakui bahwa pada saat itu, gadis cantik inilah yang telah menyelamatkannya.

Karena, kalau tidak dicegah oleh gadis itu, tentu dia sudah dibunuh atau setidaknya dibikin cacat oleh lima orang itu tanpa dia mampu melawan sama sekali.

Dia menarik napas lega.

Tiba-tiba gadis itu menoleh kepadanya.

"Kao Cin Liong, apakah engkau masih hendak pura-pura belum sadar?! Cin Liong membuka matanya, menoleh dan memandang. Dia mampu menggerakkan tubuhnya, akan tetapi tidak dapat mengerahkan sin-kangnya. Kemudian dia menarik napas panjang.

"Nona, kalau orang-orang seperti anggauta gerombolan Eng-jiauw-pang memusuhi aku, hal itu tidaklah aneh karena mereka adalah orang-orang jahat. Akan tetapi kalau sampai seorang gadis cantik dan pandai seperti engkau memusuhiku, sungguh membuat aku heran dan penasaran sekali!! Gadis itu mengejek.

"Manusia sombong!

Engkau hendak mengatakan bahwa seorang pendekar besar, seorang jenderal dan panglima muda seperti engkau tidak pantas dimusuhi oleh orang baik-baik, begitukah?!

"Aku tidak biasa memuji diri sendiri, nona.

Akan tetapi aku selalu hanya menentang kejahatan, dan engkau sama sekali tidak kelihatan sebagai orang jahat.

Maka aku merasa heran melihat engkau menjebakku dan menawanku seperti ini.!

"Engkau tidak usah heran.

Bukankah engkau yang telah menewaskan Eng-jiauw Siauw-ong Liok Can Sui?

Nah, aku adalah Liok Bwee, puterinya.

Ayahku kau bunuh dan aku berusaha membalas dendam itu.

Apa anehnya?!

"Aneh, sungguh aneh dan sukar dipercaya....!!

Cin Liong berkata, disengaja untuk mengulur waktu dan mencari kesempatan membebaskan diri.

"Apunya lagi yaug aneh?! Liok Bwee bertanya penasaran.

"Mendiang Eng-jiauw Siauw-ong adalah orang jahat yang telah diperalat oleh Hek-i Mo-ong dan antek-anteknya, para datuk sesat, untuk menyerang Pulau Es, menyerang keluarga Pendekar Super Sakti. Dan engkau, nona, engkau mengaku puterinya, sungguh tidak pantas dan aneh sekali bahwa seorang datuk sesat seperti dia mempunyai seorang puteri yang cantik dan gagah perkasa seperti engkau....! Wajah itu sebentar merah sebentar pucat dan sepasang mata yang bening itu menatap wajah Cin Liong yang tampan.

"Sudahlah, bagaimanapun juga, aku adalah puterinya dan aku harus membalas dendam kematiannya itu.! "Nona Liok Bwee, ayahmu tewas karena kesalahannya sendiri. Andaikata dia tidak kebetulan tewas karena berkelahi melawan aku yang membela keluarga Pulau Es, tentu dia akan tewas pula oleh keluarga yang sakti itu.! "Cukup! Apakah kau kira aku mau menjadi anak yang tidak berbakti?! Dan di dalam suara gadis ini terkandung kesedihan yang besar.

"Aku sudah terjatuh ke tanganmu, terserah kepadamu, nona.

Aku tidak takut mati.

Hanya aku merasa sayang sekali, mengapa seorang gagah perkasa seperti engkau ini sampai menggunakan akal busuk untuk menangkapku.

Aku tahu bahwa engkau seorang gagah perkasa, sehingga engkau tidak membolehkan ketika para suhengmu hendak membunuhku tadi.

Akan tetapi, kalau engkau membunuhku dalam keadaan aku sudah terjebak begini, sungguh aku merasa amat sayang, nona.

Tidak patut seorang seperti nona ini melakukan pembunuhan keji secara curang, tanpa memberi kesempatan orang itu untuk membela diri.

Jauh lebih baik mati sebagai seorang gagah daripada hidup sebagai seorang pengecut.!

Gadis itu memejamkan matanya dan dari kedua matanya itu menitik turun beberapa butir air mata.

"Betapa kejamnya engkau....

betapa kejamnya engkau menusuk-nusuk perasaan hatiku.

Aku memang selamanya tidak setuju dengan sepak terjang ayah.

Ibu sampai meninggal dunia karena sedih memikirkan ayah yang suka bergaul dengan kaum penjahat.

Sepeninggal ibu, ayah menjadi semakin nekat, bahkan mengangkat diri menjadi seorang di antara datuk kaum sesat.

Ah, aku malu....

aku menyesal sekali.

Ketika ayah diajak Hek-i Mo-ong, aku sudah mencegahnya, menangis, akan tetapi percuma saja.

Ketika aku mendengar bahwa ayah tewas di tangan Jenderal Muda Kao Cin Liong, tentu saja aku merasa sakit hati.

Akan tetapi apa dayaku?

Aku mendengar bahwa Kao Cin Liong adalah putera Naga Sakti Gurun Pasir!

Akan tetapi, para suhengku tak pernah putus asa dan pada suatu hari mereka menemukan jejakmu.

Akan tetapi mereka semna kalah olehmu.

Ah, betapa kagum hatiku.

Selama hidupku, belum pernah aku melihat pendekar seperti engkau, yang dapat memukul mundur lima orang suhengku berikut semua anak buah!

Akan tetapi, aku harus membalas kematian ayahku, maka aku....

aku....!

Cin Liong diam-diam merasa girang.

Tidak keliru dugaannya.

Gadis ini mempunyai kelemahan, dan pada dasarnya bukanlah seorang jahat atau kejam.

Akan tetapi keadaan yang memaksanya karena ia puteri ketua Eng-jiauw-pang.

Maka diapun tersenyum.

"Nona, aku tidak takut mati dan mati di tanganmu jauh lebih menggembirakan daripada mati di tangan orang-orang Eng-jiauw-pang itu. Kalau engkau menganggap sudah sepatutnya aku mati karena membela kebenaran, nah, bunuhlah, jangan ragu-ragu lagi. Kalau nona ragu-ragu dan melakukan tindakan yang berlawanan dengan suara hati kecil, nona akan merasa menyesal selama hidup.! Gadis itu mengusap air matanya dan dengan mata basah memandang kepada Cin Liong, lalu menggeleng-geleng kepalanya.

"Tidak.... tidak.... sejak aku berhasil meringkusmu di sini dan sampai sekarang, aku tiada hentinya menatap wajahmu dan terjadi perang di hatiku.... membuat aku gelisah dan bingung. Tidak, Kao Cin Liong, aku tidak mungkin dapat membunuhmu....! Cin Liong tersenyum.

"Sudah kuduga, nona Liok Bwee.

Seorang gadis sepertimu ini, tidak mungkin menjadi seorang yang jahat atau curang.

Tak mungkin engkau mau membunuh orang begitu saja.

Engkau gagah dan baik....!

"Bukan....bukan begitu....

kalau bukan engkau musuh besarku, tentu sudah kubunuh sejak tadi!!

Cin Liong mengerutkan alisnya.

Wanita ini sungguh aneh, pikirnya.

Dan memang kalau tadi dia memuji-muji, hal itu hanya dilakukannya untuk mengulur waktu sedangkan diam-diam dia terus berusaha untuk memulihkan tenaganya, untuk membuyarkan jalan darahnya yang buntu tertotok.

Dia sendiri tidak mungkin dapat mengharapkan puteri seorang datuk sesat dapat menjadi seorang yang berbudi mulia dan baik.

Watak seseorang amat dipengaruhi oleh lingkungannya, bahkan hampir dapat dipastikan bahwa watak dibentuk oleh lingkungan.

Kalau sejak kecil terlahir dan tumbuh di dalam lingkungan penjahat, mana mungkin gadis ini tidak menjadi jahat pula?

"Apa yang kaumaksudkan, nona?!

tanyanya dengan hati berdebar tegang dan tidak enak.

"Kao Cin Liong, aku....

sejak kecil aku bertemu dengan orang-orang kasar, setelah aku dewasa, ayahku berkali-kali mendesak agar aku suka menikah.

Akan tetapi, di antara pemuda-pemuda kasar dan jahat itu, mana ada yang dapat menarik perhatianku?

Sejak dewasa aku seringkali membayangkan dan mengimpikan jodoh seorang pemuda yang gagah perkasa, halus budi dan seperti pendekar-pendekar yang digambarkan dalam dongeng.

Maka, begitu melihatmu dikeroyok oleh para suhengku dan dengan gagah perkasa engkau mengalahkan mereka, melihat sikapmu yang halus, wajahmu, gerak-gerikmu....

sejak pertama kali melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu, dan aku....

aku menganggapmu sebagai seorang taihiap yang patut untuk kulayani selama hidupku.

Kao-taihiap....

aku cinta padamu....

dan aku tidak akan mengingat lagi tentang permusuhan antara kita kalau saja engkau sudi menerimaku....

menerima cintaku....!

Cin Liong kaget bukan main.

Sungguh tidak disangkanya bahwa urusan akan membelok ke arah itu.

Mukanya menjadi merah dan jantungnya berdebar.

Cinta?

Betapa anehnya bicara tentang cinta pada waktu seperti itu, dalam keadaan seperti itu, di waktu nyawanya bergantung pada sehelai rambut.

"Nona Liok, maksudmu....!

"Terimalah aku sebagai isterimu, taihiap.

Hanya kalau aku menjadi isterimu saja aku akan dapat menghabiskan seluruh permusuhan antara kita.

Cinta seorang isteri lebih kuat daripada bakti kepada ayah yang sudah meninggal....!

"Ah, tidak mungkin, nona.

Kita baru saja bertemu, bagaimana mungkin bagiku untuk bicara soal cinta?!

"Tapi aku cinta padamu, taihiap, aku cinta padamu....!

Gadis itu mendekat, duduk di tepi pembaringan dan tiba-tiba iapun sudah menjatuhkan dirinya di atas dada Cin Liong dan menciumi muka pemuda itu, dengan malu-malu akan tetapi juga dengan nekat dan penuh perasaan.

Tentu saja Cin Liong menjadi bingung.

Dia hanya dapat membuat gerakan lemah, akan tetapi tidak mampu menolak dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya seperti itu.

Dan ketika bibir yang lunak itu mencium bibirnya, bagaimanapun juga darah mudanya tersirap, jantungnya berdebar dan seperti otomatis, bibirnya juga membalas, menyambut ciuman itu.

Hal ini terasa oleh Liok Bwee yang mengeluarkan keluhan, mendekap lebih knat dan mencium penuh nafsu sampai keduanya terengahengah.

"Taihiap.... terimalah aku, aku mencintamu.... dengan seluruh jiwa ragaku.... aku akan menjadi seorang isteri yang mencinta, setia dan akan melakukan apa saja yang kau kehendaki....! "Nona, tenanglah dan mari kita bicara baik-baik. Cinta adalah urusan hati, tidak mungkin orang dipaksa untuk mencinta atau membenci. Bebaskan dulu totokanku dan mari kita bicara dengan hati terbuka....! Gadis itu menggeleng kepalanya.

"Tidak, taihiap. Aku hanya mempunyai dua pilihan. Kalau engkau berjanji mau menerima cintaku, berjanji akan mengambilku sebagai isterimu, baru aku akan membebaskan totokanmu, bahkan akan membebaskanmu dari sini, dari ancaman para suhengku dan para anak buah Eng-jiauw-pang.! "Dan kalau aku menolak, engkau akan membunuhku?! Kembali Liok Bwee menggeleng.

"Tidak, aku cinta padamu, aku tidak tega untuk membunuhmu.

Kalau engkau menolak, aku akan menjagamu semalam ini, akan tetapi besok aku tak mungkin dapat mencegah kalau para suhengku datang membunuhmu.!

"Nona, tidak dapatkah engkau melihat betapa tak masuk akalnya maksudmu ini?

Mana mungkin engkau memaksa seseorang untuk mencinta?

Mana mungkin pertalian cinta dihubungkan dengan pemerasan seperti yang kau lakukan ini!

Engkau seolah-olah hendak menukar nyawaku dengan janji cintaku.

Apakah engkau tidak melihat bahwa kalau aku berjanji menerima cintamu karena aku takut dibunuh, maka janji dan cintaku itu adalah palsu, sekedar untuk alat menyelamatkan diri?

Nona, janganlah engkau membiarkan dirimu ikut tersesat.

Bebaskan totokanku dan mari kita bicara.

Bagaimanapun juga, sudah jelas bahwa engkau adalah seorang yang baik, dan di antara kita terdapat pertalian persahabatan....!

"Aku membutuhkan cinta, bukan persahabatan.!

"Nona, cinta timbul kalau hati tertarik, terutama oleh budi bahasa dan kelakuan yang baik.

Kalau hati ditekan, tak mungkin timbul cinta.

Tidakkah kau dapat menyadari hal ini?

Kalau kita bersahabat, mungkin dari situ tumbuh perasaan cinta, bukan dari paksaan.!

Tiba-tiba gadis itu menangis dan merangkulnya kembali.

"Ah, taihiap, aku takut....

aku takut kalau aku membebaskanmu, kau lalu meninggalkan aku tanpa janji....

dan aku....

hidupku akan kehilangan pegangan lagi....!

"Akan tetapi kalau engkau mempergunakan kesempatan ini untuk memerasku, untuk memaksaku membalas cintamu, sikapmu ini saja sudah menjauhkan hatiku, nona.

Apakah engkau tidak menyadari akan hal ini?

Dan seorang gadis seperti engkau, betapa mudahnya mencari seorang suami yang akan sungguh-sungguh mencintamu, asal saja engkau tidak mengikuti jejak lingkunganmu yang sesat.!

"Kao-taihiap....

aku....

aku takut untuk menerima cinta pria lain, aku belum pernah bertemu dengan pria sepertimu....

aku hanya menginginkan engkau seorang....!

Gadis itu kembali menciuminya dengan penuh kemesraan dan rasa cinta yang bercampur dengan nafsu berahi.

"Braaakkk....!! Tiba-tiba daun pintu ruangan itu pecah berantakan dan muncullah lima orang suheng gadis itu dengan muka merah saking marahnya. Kedua tangan mereka masing-masing telah memakai sarung tangan cakar garuda, menandakan bahwa mereka telah berada dalam keadaan siap tempur! Liok Bwee terkejut dan melepaskan rangkulannya dari tubuh Cin Liong, dengan marah menghadap lima orang suhengnya itu.

"Kalian sungguh tidak tahu aturan, tidak pantas kuanggap sebagai saudara tua!! bentaknya Si kumis tebal menudingkan telunjaknya ke arah muka gadis itu.

"Dan engkau sungguh tidak tahu malu dan amat merendahkan dirimu seperti pengemis cinta, lebih rendah daripada seorang pelacur! Mendiang suhu menunjuk seorang di antara kami scbagai calon suamimu dan engkau tinggal memilih seorang di antara kami. Akan tetapi engkau menolak kami semua dan kini mengemis cinta dari seorang musuh besar, pembunuh ayahmu sendiri!! "Tutup mulutmu!! bentak Liok Bwee.

"Apa perdulimu dengan urusan pribadiku? Aku tidak sudi menjadi isteri seorang di antara kalian dan kalian menjadi sakit hati. Cih, tak tahu malu. Aku memilih siapapun untuk menjadi suamiku, apa hubungannya dengan kalian?! Si kumis tebal menyeringai dan empat orang suhengnya juga tersenyum mengejek. Memang mereka merasa sakit hati karena ditolak sumoi mereka itu.

"Sumoi, kami tidak perduli engkau mau memilih orang macam apa untuk menjadi suamimu. Engkau hendak memilih anjing Kao Cin Liong inipun terserah, bukan urusan kami. Akan tetapi, si keparat Kao Cin Liong ini adalah pembunuh suhu dan kami sudah bersumpah untuk membalas dendam atas kematian suhu. Maka, sekarang juga dia harus mati di tangan kami. Engkau boleh menikah dengan bangkainya saja!! Berkata demikian, si kumis menubruk ke arah Cin Liong yang belum mampu melawan itu, kedua tangan cakar baja itu terulur.

"Tahan!! Liok Bwee berteriak sambil bergerak ke samping, kedua lengannya menangkis serangan maut dari twa-suhengnya itu.

"Plak! Plak!! Tubuh Liok Bwee terhuyung akan tetapi serangan si kumis tebal gagal. Marahlah murid pertama dari ketua Eng-jiauw-pang itu.

"Sumoi, engkau hendak membela musuh besar, melindungi pembunuh ayahmu sendiri?! "Dia adalah tawananku, siapapun tidak boleh mengganggunya!! bentak Liok Bwee dengan sikap garang dan ia sudah meloncat ke depan tempat tidur itu, melindungi Cin Liong. Meiihat ini, lima orang murid kepala Eng-jiauw-pang itu menjadi marah bukan main. Mereka melangkah maju dengan sinar mata penuh ancaman.

"Sumoi, menyingkirlah. Biarkan kami membalas dendam kepada musuh besar kita, dari selanjutnya kami tidak akan mencampuri urusanmu lagi,! kata pula seorang di antara mereka.

"Tidak!! Si kumis tebal melangkah maju.

"Sumoi, sekali lagi kuperingatkan, jangan melindungi musuh. Menyingkirlah!! "Tidak. Siapapun tidak boleh mengganggunya selama aku masih hidup!! "Sumoi, itu berarti pengkhianatan! Kami akan menganggap engkau berpihak kepada musuh dan terpaksa kami akan menggunakan kekerasan terhadapmu!! "Terserah! Kalian orang-orang berwatak pengecut, beraninya hanya pada orang yang sudah tidak mampu melawan. Kalian harus melangkahi mayatku untuk dapat menjamahnya!! gadis itu berkata dengan nekat.

"Engkau anak durhaka!

Murid murtad!!

Si kumis tebal berteriak marah dan diapun sudah menyerang sumoinya sendiri dengan gerakan yang amat cepat dan kuat.

Liok Bwee mengelak dan balas menyerang.

Biarpun ia puteri mendiang Eng-jiauw Siauw-ong, akan tetapi ia tidak pernah memakai sarung tangan cakar garuda.

Sejak kecil ia merasa tidak senang dan jijik dengan senjata ini, maka oleh ayahnya yang lihai ia dilatih ilmu silat tangan kosong, terutama sekali ilmu menotok.

Ilmu inilah yang kini ia pergunakan untuk melawan dua tangan baja twa-suhengnya.

Totokan-totokan jari kedua tangannya menyambar dan menyambut serangan lawan dan karena ilmu menotok jalan darah ini memang diciptakan oleh Eng-jiauw Siauw-ong untuk mengganti ilmu cakar baja yang tidak disukai puterinya, maka tentu saja ilmu menotok ini tepat sekali untuk menghadapi cakar baja itu.

Terjadilah perkelahian yang seru, ramai dan mati-matian antara sumoi dan twa-suhengnya itu.

Empat orang suhengnya yang lain hanya berdiri menonton karena mereka merasa yakin bahwa twa-suheng itu tentu akan dapat mengalahkan sang sumoi.

Dari tempat dia rebah, Cin Liong memperhatikan perkelahian itu dan diapun dapat melihat bahwa kalau hanya satu lawan satu,ilmu silat tangan kosong yang disertai ilmu totokan lihai dari Liok Bwee itu akan mampu menandingi cakar baja dari si kumis tebal.

Akan tetapi di situ masih ada empat orang suheng gadis itu yang dia tahu setiap saat dapat turun tangan membantu si kumis.

Maka dia amat mengkhawatirkan keselamatan gadis yang mempertahankan nyawanya dan membelanya mati-matian itu.

Cin Liong kembali mengerahkan tenaga sin-kangnya, namun tetap saja jalan darahnya belum pulih dan tenaga sin-kangnya tidak mau timbul, hanya dia mampu menggerakkan tubuhnya agak lebih kuat daripada tadi.

Betapapun juga, dengan kekuatan otot biasa, tidak mungkin melepaskan diri dari belenggu kaki tangan itu dan ini berarti bahwa dia tidak akan mampu melindungi diri sendiri, apalagi membantu Liok Bwee.

"Nona, bebaskan totokanku!!

Tiba-tiba dia berseru karena kiranya hanya nona itu yang akan mampu membebaskannya.

Sekali terbebas, tidak sukar baginya untuk mematahkan belenggu dan menghajar lima orang tokoh Eng-jiauw-pang itu.

Liok Bwee yang sedang berkelahi mati-matian melawan twa-suhengnya, mendengar teriakan ini dan teringatlah ia bahwa pria yang dicintanya itu terancam bahaya maut dan hanya akan selamat kalau totokan yang membuatnya tidak berdaya itu dibebaskan.

Iapun tahu akan kesaktian pemuda itu dan dapat menduga bahwa sekali totokannya dibebaskan, pemuda itu akan mampu melepaskan diri dari belenggu dan sekali terlepas, lima orang suhengnya ini bukanlah lawannya.

Maka iapun cepat mengelak dari sambaran cakar besi twa-suhengnya yang agaknya sudah marah sekali kepadanya dan mengirim serangan maut yang bermaksud merobohkan dan menewaskan itu, kemudian cepat sekali Liok Bwee meloncat ke samping, ke arah pembaringan di mana Cin Liong rebah dengan maksud untuk membebaskan totokannya atas diri pemuda itu.

Akan tetapi, empat orang suhengnya yang sudah tahu akan maksudnya, cepat menubruknya dari kanan kiri sebelum ia sempat mendekati Cin Liong.

Delapan buah cakar baja menyerangnya dan tentu saja Liok Bwee tidak dapat melawan serangan empat orang ini sehingga kedua lengannya telah kena dicenakeram!

"Lepaskan aku!

Keparat!

Lepaskan aku!!

teriaknya dan meronta sehingga kuku-kuku baja itu merobek baju dan kulit lengannya sehingga berdarah.

Akan tetapi empat orang itu tidak mau melepaskannya dan pada saatitu, si kumis tebal yang agaknya sudah marah dan benci sekali kepada snmoi yang bukan saja menolak cintanya akan tetapi kini malah mencinta dan melindungi musuh besar Eng-jiauw-pang, agaknya sudah tidak dapat menahan panasnya hati lagi.

Pada saat itu dia menubruk sambil menggerakkan kedua cakar bajanya.

"Crott! Crottt!! Cakar baja yang runcing itu telah mencengkeram tengkuk dan punggung Liok Bwee.

"Aihhhhh....!! Liok Bwee menjerit saking nyerinya ketika kuku-kuku baja yang tajam itu menusuk kulit dagingnya. Melihat ini, empat orang suhengnya yang lain melepaskannya dan twa-suhengnya, si kumis tebal itu agaknya juga terkejut sendiri melihat betapa dia telah mencengkeram tubuh sumoinya yang pernah dicintanya! Maklum bahwa dia telah membunuh sumoinya, kemarahannya ditumpahkan kepada Cin Liong. Dia mengangkat tubuh sumoinya yang sudah tak berdaya itu ke atas kepalanya, dengan masih mencengkeram tengkuk dan punggung, lalu dilontarkannya tubuh sumoinya itu dengan penuh geram ke arah Cin Liong yang rebah di atas pembaringan.

"Nih, ambillah sebelum engkau kucincang!! bentaknya.!Brukkkk....!! Tubuh Liok Bwee yang sudah lunglai itu menimpa Cin Liong di atas pembaringan dan dipan inipun runtuh terguling. Tentu saja tubuh pemuda itu terbawa pula, terguling di atas lantai dalam keadaan menelungkup. Dengan wajah beringas dan pandang mata bengis, lima orang itu kini menghampiri Cin Liong dengan cepat, seolah-olah mereka hendak berlomba membunuh atau menyiksa musuh besar yang sudah tidak berdaya, rebah menelungkup dengan kaki tangan terbelenggu dan tubuh tertotok itu. Tubuh Liok Bwee juga terlempar sampai ke sudut ruangan di mana ia menggeletak mandi darah, tidak mampu bergerak lagi.

"Jangan bunuh dia terlalu cepat!!

Si kumis tebal memperingatkan para sutenya.

Musuh besar ini amat dibencinya dan sudah mendatangkan banyak sekali kerugian.

Bukan hanya kematian suhu mereka, akan tetapi juga kematian empat orang anak buah, bahkan kini matinya Liok Bwee juga dia timpakan kepada pemuda yang amat dibencinya itu.

Para sutenya mengerti dan setuju, maka mereka menubruk dengan maksud mencengkeram dan menyiksa musuh besar itu agar mati perlahan-lahan dan mengalami penderitaan yang amat hebat.

Akan tetapi, pada saat mereka berlima menubruk ke arah tubuh yang menelungkup tak berdaya itu, tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dari mulut Cin Liong dan tubuhnya yang menelungkup itu tiba-tiba saja bergerak, membalik dan kedua tangannya yang tadinya terbelenggu itu tiba-tiba saja bergerak, belenggu terlepas dan kedua tangannya mendorong dengan kekuatan yang dahsyat.

Juga belenggu pada kedua kakinya putus semua pada saat itu juga!

"Blaaarrrr....!!

Hebat bukan main tenaga yang keluar dari kedua telapak tangan pemuda itu, seperti ada kilat meledak dan akibatnya, lima orang yang tadi menubruknya itu terlempar dan terjengkang semua, lalu terbanting keras ke atas lantai!

Seketika itu dua orang di antara mereka tidak mampu bergerak lagi karena kepala mereka pecah.

Mereka berdua inilah yang paling dekat dan langsung menerima hantaman kedua tangan Cin Liong.

Tiga orang yang lain hanya kena disambar hawa pukulan saja, akan tetapi hal itu cukup membuat mereka terjengkang dan terbanting keras.

Mereka masih dapat bangkit dengan kepala pening dan muka mereka pucat, mata terbelalak saking kagetnya.

Sama sekali mereka tidak mengetahui bahwa ketika tubuh Cin Liong terlempar dari atas dipan tadi dan jatuh menelungkup di atas lantai, pada saat itu Cin Liong dapat meminjam tenaga inti bumi, dengan Ilmu Sin-liong-hok-te dia dapat menggerakkan hawa sakti dari pusarnya dan seketika jalan darahnya pulih kembali diterjang oleh hawa sin-kang yang berputar dari pusar.

Maka, ketika para pengeroyoknya menubruk, dengan Sin-liong-ciang-hoat dia menyambut dan karena sin-kangnya masih sedang penuh-penuhnya menguasai kedua lengannya, maka tentu saja lima orang musuh itu tidak kuat menahan, bahkan yang terkena hantaman langsung seketika mati dengan kepala pecah sedangkan yang lain, termasuk si kumis tebal, terguncang hebat sehingga ketika mereka bangkit lagi, mereka merasa kepala mereka pening!

Cin Liong sudah bangkit dan pertama kali yang dilakukannya adalah meloncat ke dekat tubuh Liok Bwee, berlutut dan memeriksa gadis itu tanpa memperdulikan akibat sambutan terhadap lima orang pengeroyok itu.

Dia melihat betapa punggung dan tengkuk gadis itu luka-luka, demikian pula kedua lengannya, terkena cakar-cakar baja yang mengandung racun!

Cepat dia menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan jalannya racun ke jantung, dan menotok jalan darah untuk mengurangi rasa nyeri.

Pada saat itu, si kumis dan dua orang sutenya melihat kesempatan baik selagi pemuda itu memeriksa dan mengobati Liok Bwee.

Dua orang sute si kumis tebal sudah menubruk dari kanan kiri.

Cin Liong maklum bahwa dirinya diserang oleh dua orang dari kanan kiri, maka diapun dengan hati-hati menurunkan lagi tubuh Liok Bwee dan secepat kilat membalik, kedua tangannya menyambut dengan dorongan, menyambut dua orang yang menyerangnya.

"Dess! Desss....!! Dua orang itu tidak sempat mengeluarkan teriakan lagi karena tubuh mereka terlempar ke atas dan sudah putus nyawanya sebelum tubuh mereka itu terbanting ke atas lantai! Melihat ini, si kumis tebal terbelalak dan diapun meloncat.... menjauhkan diri dan hendak lari dari ruangan itu.

"Pengecut....!!

Cin Liong memaki dan diapun mengejar.

Akan tetapi si kumis tebal sudah berteriak memanggil anak buahnya, maka begitu tiba di luar ruangan itu, Cin Liong sudah dikepung oleh sisa anak buah Eng-jiauw-pang yang jumlahnya masih ada hampir tiga puluh orang!

Mereka semua mempergunakan cakar garuda pada tangan mereka dan dengan dipimpin oleh si kumis tebal, mereka menyerbu dan mengeroyok Cin Liong dengan mati-matian.

Karena mereka semua tahu bahwa pemuda itu adalah musuh besar, pembunuh mendiang Eng-jiauw Siauw-ong, bahkan kini si kumis tebal berteriak-teriak memberitahukan bahwa empat orang sutenya dan sumoinya juga sudah tewas di tangan musuh ini, maka semua anggauta mengeroyok mati-matian untuk membalas dendam.

Si kumis tebal sendiripun selain memberi komando, ikut pula mengeroyok, mengerahkan seluruh tenaganya karena sekarang merupakan pengeroyokan dan harapan terakhir baginya, karena itu harus berhasil.

Akan tetapi, panglima muda putera pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu memang hebat sekali kepandaiannya.

Cin Liong juga sudah marah dan juga dia melihat kenyataan betapa kejam dan jahatnya gerombolan ini, maka dia sudah mengambil keputusan untuk membasmi mereka sampai ke akar-akarnya.

Kini dia tidak ragu-ragu lagi dan dia mengerahkan sin-kangnya, memainkan Sin-liong-ciang-hoat dan tentu saja anak buah gerombolan itu merupakan makanan yang amat lunak bagi ilmu silatnya yang amat ampuh dan tenaganya yang mujijat itu.

Setiap kali dia menyerang, tiga empat orang roboh dan tewas seketika sehingga tanpa memakan waktu lagi, para pengeroyok itu roboh berturut-turut dan akhirnya habislah mereka.

Tempat itu penuh denyan mayat yang malang melintang dan tumpang tindih!

Hanya tinggal si kumis tebal seorang saja yang belum roboh karena tadi melihat kehebatan lawan, dia menyingkir ke belakang anak buahnya dan memberi komando saja.

Melihat betapa semua anak buahnya roboh, si kumis ini menjadi ketakutan dan dia membalikkan tubuhnya untuk melarikan diri dari tempat itu.

Namun, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu musuh besar itu telah berada di depannya, menghadang dengan berdiri tegak dan sepasang mata pemuda itu mencorong seperti mata seekor naga sakti!

Karena tidak melihat jalan lain untuk melarikan diri, si kumis tebal menjadi nekat.

"Haittt....!! Dia menyerbu dengan ganas, kedua tangannya membentuk cakar garuda dau tubuhnya meloncat ke atas lalu melayang turun, persis scperti seekor burung garuda yang terbang turun menyambar seekor kelinci. Namun, yang diserangnya sama sekali tidak mengelak atau menangkis, bahkan Cin Liong juga mengulur kedua lengannya dan kedua tangannya menyambut cengkeraman lawan! "Plakk! Plakk!! Kedua tangan itu bertemu dan secepat kilat Cin Liong mengerahkan sin-kang pada jari-jari tangannya lalu dia membuat gerakan mematahkan.

"Krekk! Krekk!! Si kumis tebal menjerit mengerikan dan tubuhnya terkulai, akan tetapi kedua cakar garuda itu tertinggal dalam genggaman tangan Cin Liong karena kedua pergelangan tangannya patah tulangnya, kemudian putus sama sekali berikut daging, otot dan kulitnya karena Cin Liong membuat gerakan mematahkan dengan kekuatan yang amat dahsyat! Kedua lengan itu buntung sebatas pergelangan tangan dan darah muncrat-muncrat. Si kumis tebal itu masih belum pingsan, melolong-lolong karena nyerinya sambil berlutut dan memandang kepada kedua lengannya yang buntung sambil menangis. Cin Liong membalikkan kedua cakar itu, lalu menghantamkan kedua senjata itu ke arah pemiliknya.

"Crott! Crott!! Si kumis roboh terjengkang dan kedua cakar garuda itu telah menancap dalam-dalam di kerongkongannya dan dadanya. Agaknya ketika menyerang tadi, Cin Liong teringat akan apa yang dilakukan orang ini kepada Liok Bwee. Sejenak Cin Liong memandang tubuh lawan yang sudah tak dapat bergerak, kemudian dia meloncat masuk kembali ke dalam ruangan belakang. Liok Bwee yang sudah membuka kedua matanya itu, nampak tersenyum ketika melihat siapa yang berlutut di dekatnya. Apalagi ketika Cin Liong mengangkat tubuh atasnya dan memangkunya, sinar matanya berseri gembira.

"Mereka.... mereka tewas semua....?! tanyanya lirih. Cin Liong mengangguk.

"....aku.... aku akan mati.... ah, bagaimana aku nanti dapat menemui ayah di alam baka....?! Melihat kesedihan gadis itu, Cin Liong terharu. Bagaimanapun juga, gadis ini telah menyelamatkan nyawanya dan kini gadis ini kehilangan segala-galanya, mula-mula kehilangan ayahnya, lalu kehilangan para suhengnya dan anak buahnya, dan kini akan kehilangan nyawanya pula. Semua gara-gara dia! Dan gadis itu merasa takut untuk bertemu dengan ayahnya yang sudah meninggal lebih dahulu karena merasa telah mengkhianati Eng-jiauw-pang.

"Nona, kau.... maafkanlah aku....! katanya lirih. Alis yang berkerut itu cerah kembali.

"Ah, tidak apa. Akan kuhadapi dia, biar di alam baka sekalipun, karena dia yang bersalah, anak buahnya yang jahat. Taihiap.... engkau.... engkau tidak benci kepadaku....?! Cin Liong terbelalak memandang wajah yang cantik itu. Benci? Ah, bagaimana dia dapat membenci gadis seperti ini? "Tidak, nona. Aku.... sama sekali tidak benci kepadamu, aku bahkan.... suka sekali kepadamu....! Dia mempererat dekapannya seolah-olah hendak membuktikan kata-katanya karena memang sesungguhnya tumbuh suatu perasaan sayang dan suka sekali dalam hatinya terhadap gadis yang malang nasibnya ini. Wajah itu berseri dan senasang mata itu berkilat.

"Aih, terima kasih, taihiap.... kata-katamu itu akan menjadi sinar terang yang mengantarku ke alam sana.... terima kasih, aku sungguh cinta padamu, Kao-taihiap.... sungguh....! Cin Liong semakin terharu dan seperti ada dorongan yang amatkuat dia mendekatkan mukanya.

"Liok Bwee.... kau.... kau gadis yang malang....!! Dan diapun lalu menempelkan bibirnya pada mulut itu. Seperti tersentak kaget tubuh gadis itu mengejang, mulutnya terbuka dan Cin Liong lalu menciumnya dengan sepenuh hatinya, dengan sepenuh rasa sayangnya. Ketika dia melepaskan ciumannya dan memandang, wajah itu pucat sekali, akan tetapi berseri dan air mata mengalir di kedua pipinya yang pucat.

"....terima kasih, aku cinta padamu.... terima kasih....! Dan kepala itu terkulai, matanya terpejam dan napasnya putus. Gadis itu menghembuskan napas terakhir dengan senyum di mulut! Cin Liong tahu bahwa gadis yang dipangkunya itu telah meninggal dunia. Hal ini terasa begitu menusuk perasaan hatinya, membuatnya merasa kesepian dan kehilangan. Dia mendekap kepala itu dengan eratnya, memandangi wajahnya, menciuminya dengan air mata berlinang. Terasa sekali olehnya betapa dia membutuhkan Liok Bwee, betapa dia membutuhkan wanita, membutuhkan kasih sayang wanita, membutuhkan cinta wanita. Dia merasa seperti setangkai bunga kekeringan, sebatang pohon kehausan.

"Bwee-moi....

ah, Bwee-moi....!

keluhnya, akan tetapi ketika dia memejamkan matanya, terbayanglah wajah Suma Hui dan hatinya menjadi semakin berduka.

Cin Liong mengubur jenazah Liok Bwee dengan kedukaan yang mendalam, kemudian dia melapor kepada kota yang berdekatan, kepada komandan kota itu sebagai seorang panglima muda agar komandan itu suka mcngerahkan anak buahnya untuk mengurus mayat-mayat para anggauta gerombolan Eng-jiauw-pang.

Dia sendiri lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Thian-cin untuk mencari Suma Hui!

Biarpun dia seorang pendekar sakti yang sudah biasa menghadapi hal-hal yang menegangkan bahkan ancaman-ancaman nyawa sehingga batinnya tergembleng dan dia memiliki ketabahan yang jarang dimiliki pendekar lain, namun ketika dia memasuki pekarangan rumah keluarga Suma, jantungnya tetap saja berdebar tegang dan hatinya tidak urung merasa gelisah sekali.

Dia telah mendengar dari orang tuanya betapa orang tuanya telah mengalami penghinaan dari keluarga ini, bahkan hampir saja orang tuanya bentrok dengan keluarga ini.

Dan dia mendengar pula betapa dia telah difitnah, dituduh telah memperkosa Suma Hui.

Hal inilah yang harus dibereskannya dan dibikin terang.

Kalau toh keluarga Suma hendak menolak pinangannya terhadap Suma Hui, hal itu adalah hak mereka.

Akan tetapi kalau mereka hendakmenjatuhkan fitnah bahwa dia telah memperkosa Suma Hui, hal ini tidak boleh dibiarkan saja dan dia harus menerangkan persoalan yang amat gawat ini.

Di sepanjang perjalanannya menuju ke Thian-cin, tiada hentinya dia merenungkan fitnah yang amat aneh itu.

Kiranya, keluarga seperti itu, keturunan langsung dari Pendekar Super Sakti, keluarga Pulau Es yang terkenal itu, tidak mungkin menjatuhkan fitnah sembarangan saja, apalagi fitnah berupa kejahatan perkosaan!

Akan tetapi, mungkinkah seorang dara seperti Suma Hui itu berani atau sudi membohong?

Kalau ia tidak benar-benar menjadi korban perkosaan, apa artinya menuduh dia memperkosa?

Benarkah gadis itn menjadi korban perkosaan?

Ataukah Suma Hui sengaja berpura-pura dengan pamrih lain di balik itu?

Pamrih yang bagaimana?

Kalau benar terjadi peristiwa laknat itu, siapa orangnya yang akan dapat memperkosa seorang dara seperti Suma Hui?

Akan tetapi dia lalu teringat kepada Jai-hwa Siauw-ok.

Datuk sesat itupun pernah hampir dapat memperkosa Suma Hui kalau saja dia tidak muncul di saat yang tepat!

Pendeknya, apapun yang terjadi, dia harus menemui Suma Hui, menemui keluarga Suma untuk menerangkan semua persoalan dan untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengganggu pikirannya itu.

Ketila pelayan mempersilahkannya duduk di ruangan tamu sementara pelayan itu melaporkan kepada tuan rumah, Cin Liong duduk dengan hati berdebar tegang.

Apa yang harus dikatakannya kepada Suma Kian Lee dan isterinya kalau mereka keluar menemuinya?

Rasanya tidak patut kalau begitu datang dia langsung bicara tentang hal yang merupakan aib bagi keluarga itu.

Lalu, apa yang harus dikatakannya?

Bagaimana kalau begitu muncul, suami isteri sakti itu langsung menyerangnya?

Haruskah dia melawan?

Akan tetapi dia teringat bahwa kini Suma Hui sadah menikah.

Ah, itulah yang dapat dijadikannya alasan.

Dia datang untuk menghaturkan selamat atas pernikahan itu!

Langkah kaki tegap yang menuju ke ruangan tamu itu terdengar demikian kerasnya oleh Cin Liong, menyaingi degup jantungnya.

Dia sudah berdiri ketika daun pintu kamar tamu yang menembus ke ruangan dalam terbuka dan muncullah seorang laki-laki setengah tua gagah perkasa yang bukan lain adalah Suma Kian Lee.

Sudah kurang lebih empat tahun dia tidak bertemu dengan pendekar ini dan nampak oleh Cin Liong betapa waktu empat tahun itu menambah usia sang pendekar seperti sepuluh tahun saja!

Pendekar itu nampak jauh lebih tua, rambutnya sudah hampir putih semua dan banyak garis-garis prihatin menghias mukanya, menjadi keriput-keriput mendalam.

Matanya yang lebar itu masih tenang seperti dulu, juga masih tajam, akan tetapi ada bayangan duka di balik ketenangannya.

Pada saat itu, sepasang mata itu terbelalak membayangkan kekagetan sehingga mengherankan hati Cin Liong yang sudah cepat menjura dengan sikap hormat.

"Kao Cin Liong....!! kata pendekar itu dengan suara jelas membayangkanrasa kaget melihat pemuda itu yang agaknya sama sekali tidak disangkanya akan muncul di kamar tamunya.

"Engkau.... datang.... dengan maksud apakah....! Memang sejak dari pertemuan dengan ayah bundanya, Cin Liong sudah membawa ganjalan hati. Ayah bundanya telah mengalami penghinaan dari keluarga ini, mungkin juga pcnghinaan itu berlangsung di dalam ruangan tamu ini. Akan tetapi dia datang bukan untukmelampiaskan perasaan marah dan penasaran itu, melainkan untuk menjernihkan segala kekeruhan dan menerangkan semua kegelapan dalam perkara itu. Maka dia masih bersabar walaupun alisnya berkerut dan pandang matanya berkilat.

"Locianpwe, maafkan kalau kedatangan saya mengganggu.

Saya datang untuk menghaturkan selamat atas pernikahan bibi Suma Hui.

Sayang saya sedang bertugas sehingga tidak dapat menghadiri pesta pernikahan itu.

Juga saya menyampaikan ucapan selamat dari ayah dan ibu.!

Cin Liong sengaja menyebut locianpwe agar tidak menonjolkan hubungan keluarga di antara mereka, akan tetapi dia tetap menyebut bibi kepada Suma Hui mengingat bahwa gadis itu telah menikah dan tidak enaklah kalau dia tetap menyebut adik seperti biasa.

Akan tetapi, ucapan selamat dari Cin Liong ini terasa seperti pisau beracun menusuk hati pendekar itu.

Wajahnya sebentar merah sebentar pucat dan sepasang matanya menatap wajah Cin Liong penuh selidik.

Diapun lupa untuk mempersilahkan tamunya duduk dan mereka masih berdiri saling berhadapan.

"Terima kasih,! jawab Suma Kian Lee dengan suara lirih menahan perasaan yang bergolak.

"Lalu apa lagi keperluanmu mengunjungi kami?! Kerut-merut di antara alis pemuda itu makin mendalam. Sungguh angkuh dan sombong sekali orang ini, pikirnya. Beginikah sikap putera dari mendiang Pendekar Super Sakti? Tentu saja dia tidak tahu bahwa sikap yang diperlihatkan oleh Suma Kian Lee itu sungguh sama sekali bukan sikap aselinya. Pendekar ini telah mengalami musibah, seteguh-teguhnya batu karang seperti dia telah dilanda badai yang amat hebat sehingga membuat kekokohan batinnya menjadi goyah.

"Memang ada lagi keperluan lain, locianpwe. Saya datang untuk membikin jernih kekeruhan yang terjadi antara keluarga locianpwe dan keluarga kami.! "Bagus!! Suma Kian Lee berkata tegas dan mulutnya membayangkan senyum pahit.

"Seorang gagah harus menghadapi segala keadaan dengan sikap gagah pula. Engkau datang karena merasa bahwa keluarga Kao telah menerima penghinaan dari keluarga kami?! Kao Cin Liong mengangguk.

"Setidaknya menerima perlakuan yang tidak semestinya kami terima.! "Bagus!! kembali pendekar itu berseru.

"Mari kau ikut denganku, Kao Cin Liong!!

Melihat sikap yang tegas dan kaku itu, diam-diam di dalam hati Cin Liong sndah timbul penasaran dan hatinya semakin terbakar.

Maka tanpa banyak cakap dia mengangguk dan mengikuti tuan rumah itu yang berjalan melalui lorong di samping rumah, menuju ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat).

Dia pernah mengunjungi rumah ini dan sedikit banyak sudah mengenal keadaannya, maka diapun hanya mengikuti saja dengan hati penasaran ketika tuan rumah membawanya ke ruangan itu.

Ruangan yang luas itu kosong dan keadaan amat sunyi, membuat hati Cin Liong menduga-duga ke mana perginya anggauta keluarga lainnya.Kini mereka berdiri saling berhadapan di lian-bu-thia dan Suma Kian Lee, aneh sekali, kini berseri-seri memandang wajah pemuda itu.

"Seorang gagah akan menyelesaikan urusan dengan cara yang gagah pula.

Keluarga Kao telah merasa terhina oleh keluargaku dan engkau datang untuk membuat perhitungan, itu sudah adil sekali.

Dan aku sebagai orang yang bertanggung jawab atas keluarga Suma, sudah berdiri di hadapanmu, siap untuk menebus kesalahan dengan cara yang gagah pula.

Kao Cin Liong, aku sudah siap, majulah!!

Suma Kian Lee memasang kuda-kuda dengan sikap yang gagah.

Cin Liong terkejut dan juga marah.

Sungguh sombong, pikirnya.

Akan tetapi dia masih ingat bahwa sungguh amat tidak baik menanam permusuhan dengan keluarga Suma, apalagi kalau diingat bahwa ibunya masih terhitang anggauta keluarga Pulau Es pula.

Dia datang untuk menjelaskan perkara, untuk mencari kebenaran, bukan untuk menuntut keadilan dengan membalas dendam.

"Akan tetapi, locianpwe, kedatangan saya bukan untuk berkelahi!! bantahnya.

"Kao Cin Liong, siapa yang mau berkelahi? Kita bertanding untuk membuat perhitungan yang ada. Aku tahu bahwa engkau adalah putera Si Naga Sakti Gurun Pasir dan engkau telah memiliki tingkat kepandaian yang setanding dengan aku, maka akupun tidak malu untuk menandingimu. Mari, aku sudah siap. Kecuali kalau engkau seorang penakut, nah, tak perlu banyak cakap, pergilah.! "Locianpwe terlalu tinggi hati dan terlalu memaksa!! bentak Cin Liong marah.

"Memang!

Majulah, orang muda!!

Anehnya, suara pendekar ini semakin gembira.

Melihat betapa lawannya sudah memasang kuda-kuda, Cin Liong yang tidak sudi disebut pengecut itu sudah menerjang sambil mengeluarkan teriakan peringatan.

Hantamannya amat kuat dan cepat, namun dengan indahnya serangan pertama itu dapat dihindarkan oleh Suma Kian Lee yang juga memiliki gerakan yang mantap dan kuat.

Suma Kian Lee mengelak sambil membalas serangan dengan tidak kalah kuatnya, akan tetapi Cin Liong juga dapat mengelak dengan cepat.

Terjadilah serang-menyerang dengan serunya dan diam-diam kedua orang pendekar tua dan muda ini saling agum akan kehebatan dan kegesitan lawan.

Ilmu silat mereka berbeda sekali, dari sumber yang berlainan, akan tetapi keduanya sama kuatnya, sama indahnya dan sama mantapnya.

Mungkin saja Kian Lee menang latihan dan menang matang, akan tetapi Cin Liong yang menang muda itu tentu saja menang napas dan menang cepat gerakannya.

"Lihat pukulan!!

Tiba-tiba Suma Kian Lee berseru setelah mereka bertanding lebih dari tiga jurus dan hanya mengandalkan kecekatan mereka untuk saling mengelak dan saling membalas.

Kini pendekar Pulau Es itu mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang dan menghantam dengan kecepatan yang tak mungkin dapat dielakkan lagi oleh lawan.

Cin Liong terkejut, mengenal pukulan ampuh yang hawanya mengandung dingin luar biasa ini.

Dia sudah mendengar bahwa para pendekar Pulau Es memiliki dua macam ilmu andalan, yaitu Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Salju) dan Hwi-yang Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Api), maka merasa betapa dinginnya pukulan ini, dia dapat menduga bahwa ini tentulah pukulan Tenaga Sakti Inti Salju itu.

Diapun cepat mengerahkan tenaganya dan karena maklum bahwa kekuatan lawan amat hebat, diapun tidak mau membahayakan dirinya dan langsung saja dia mempergunakan Ilmu Sin-liong Ciang-hoat dengan mempergunakan tenaga inti bumi dalam pengerahan tenaga Sin-liong-hok-te.

Tubuhnya tiba-tiba menelungkup dan ketika pukulan datang, diapun meloncat dan menerima pukulan kedua tngan itu dengan kedua telapak tangannya sendiri.

"Desss....!! Dua tenaga raksasa bertemu di tengah udara dan akibatnya, tubuh Cin Liong terpental ke belakang sampai tiga tombak, akan tetapi sebaliknya Suma Kian-Lee terhuyung, mukanya menjadi pucat dan mulutnya mengeluarkan sedikit darah segar! Cin Liong terkejut bukan main. Dia tidak merasa terluka walaupun tubuhnya terlempar, dan kini dia menghampiri lawannya, bermaksud untuk memeriksa kalau-kalau lawannya terluka parah. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika kini Suma Kian Lee membentak lagi.

"Lihat pukulan....!! Sekali ini, pukulan pendekar Pulau Es itu membawa hawa yang panas dan tahulah Cin Liong bahwa pukulan ini tentulah Hwi-yang Sin-ciang. Maka diapun cepat mengumpulkan tenaganya dan menerima pukulan itu dengan kedua telapak tangan. Untuk mengelakkan pukulan sakti seperti itu jauh lebih berbahaya lagi.

"Blaarrr....!!

Cin Liong terlempar lagi dan terbanting keras, seluruh tubuhnya terasa panas dan dia terkejut bukan main.

Akan tetapi hanya kepalanya yang terasa pening dan dia bangkit kembali, menggoyang-goyangkan kepalanya mengusir kepeningan, dan ketika dia memandang, dia melihat lawannya berdiri tegak, namun tubuhnya bergoyang-goyang dan dari mulutnya mengalir darah segar lebih banyak lagi.

Dan pendekar tua itu tersenyum!

"Bagus!

Tidak memalukan engkau menjadi putera Naga Sakti Gurun Pasir dan engkau memang pantas mencuci penghinaan atas nama keluargamu.

Aku tidak malu roboh di tanganmu.

Mari lanjutkan....!!

Dan Suma Kian Lee sudah melangkah maju lagi walaupun terhuyung-huyung.

Cin Liong kebingungan.

Dia tahu bahwa lawannya terluka parah.

Akan tetapi, lawannya masih hendak menyerang lagi, maka terpaksa diapun cepat memasang kuda-kuda dengan waspada karena maklum bahwa para pendekar Pulau Es merupakan gudang-gudang ilmu silat tinggi yang amat hebat.

"Kao Cin Liong, terimalah seranganku!! kata Suma Kian Lee, akan tetapi pada saat dia melangkah maju, siap menerjang, terdengar jeritan nyaring.

"Tahan....!! Dan sesosok bayangan meluncur datang, lalu memeluknya dari belakang.

"Suamiku, apa yang kau lakukan ini? Ya Tuhan.... engkau.... engkau terluka....!! Wanita itu adalah Kim Hwee Li yang segera memapah suaminya diajak duduk di atas bangku di sudut ruangan yang luas itu. Ditangani isterinya, Kian Lee tidak banyak membantah. Diapun segera duduk bersila di atas lantai seperti yang diminta isterinya dan Kim Hwee Li sudah menempelkan kedua tangannya ke dada suaminya.

"Kao Cin Liong, ke sinilah dan bantu aku mengobati suamiku. Cepat!! kata wanita itu. Cin Liong cepat menghampiri. Biarpun dia bingung sekali, akan tetapi dia tidak ragu-ragu untuk cepat duduk bersila di belakang kakek itu dan menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Kian Lee sambil mengerahkan sin-kang perlahan-lahan. Diapun tahu cara pengobatan dengan sin-kang untuk menyembuhkan luka sebelah dalam tubuh orang. Setelah diobati oleh pengerahan sin-kang kedua orang itu, akhirnya wajah Kian Lee menjadi merah kembali dan pernapasannya menjadi tenang dan pulih. Dia menarik napas berkali-kali lalu berkata.

"Sudah, cukuplah....! Kim Hwee Li melepaskan tangannya dan diturut pula oleh Cin Liong yang cepat bangkit berdiri mundur beberapa largkah, menanti dengan sikap hormat. Kim Hwee Li mengajak suaminya bangkit duduk di atas bangku dan nyonya itu setelah memandang wajah suaminya dan Cin Liong berganti-ganti, lalu membanting kakinya.

"Suamiku ini semakin tua semakin bandel dan keras kepala!! Lalu nyonya itu menangis, mengusap air matanya dengan punggung tangan. Mengharukan sekali melihat nyonya ini menahan tangisnya seperti anak kecil yang sedih sekali. Suma Kian Lee kembali menghela napas.

"Isteriku, kenapa engkau tidak membiarkan aku mati terhormat seperti orang gagah? Apa artinya hidup akan tetapi menanggung malu dan telah melakukan kesalahan memalukan yang besar sekali terhadap keluarga Kao? Aku hanya akan menjadi bahan ejekan orang saja.! Kedua mata pendekar ini menjadi basah dan beberapa kali dia memejamkan mata untuk nenahan runtuhnya air matanya. Dengan air mata masih menetes di sepanjang pipinya, Kim Hwee Li bangkit berdiri dan menepuk dada, membanting kakinya.

"Hendak kulihat siapa orangnya yang berani mengejek suamiku! Ingin kulihat siapa berani! Siapa....?! Ia menantang-nantang seolah-olah di depannya berdiri seluruh manusia di dunia yang berani lancang mengejek suaminya yang dicintanya sepenuh hati. Diam-diam Cin Liong kagum melihat nyonya ini dan dapat merasakan besarnya cinta yang terkandung dalam dada nyonya itu terhadap suaminya.

"Maaf.... ji-wi locianpwe.... sesungguhnya saya menjadi bingung sekali.... saya datang untuk menjernihkan suasana, akan tetapi kiranya malah diterima salah dan kalau kedatangan saya hanya makin mengeruhkan keadaan, harap sudi memberi penjelasan dan saya bersedia untuk minta maaf,! katanya merendah. Kim Hwee Li menarik napas panjang.

"Duduklah Cin Liong.

Suamiku ini memang keras kepala dan keras hati pula.

Dia sedang dalam keadaan sakit yang cukup parah karena guncangan batin.

Dia tahu akan keadaannya itu maka agaknya menantangmu agar dia dapat mati di tanganmu.!

!Locianpwe....!!

Cin Liong berseru terkejut sekali sambil memandang kepada Suma Kian Lee.

Jadi itukah gerangan sebabnya mengapa pendekar itu menantangnya dan membiarkan dirinya terluka dalam pertemuan tenaga sakti?

Kiranya sedang menderita sakit sehingga lemah dan mencari kesempatan tewas dalam pertandingan itu!

Dia bergidik.

Tanpa disadarinya hampir dia menjadi pembunuh orang yang sedang lemah dan sakit!

"Apa....

apa artinya semua ini?!

Suma Kian Lee menarik napas panjang dan memandang pemuda itu.

Kemuraman dan kedukaan membayang di wajahnya, sungguh berbeda dengan tadi ketika menghadapi maut, wajah pendekar itu berseri gembira.

"Kami telah menghina keluarga Kao, bahkan telah menjatuhkan fitnah keji atas dirimu yang ternyata tidak berdosa.

Aku merasa malu sekali.

Maka ketika engkau datang, mewakili keluargamu, sungguh kebetulan bagiku karena aku dapat menebus dosaku itu.

Kekuatan kita seimbang, akan tetapi aku sedang sakit dan kalau aku tewas di tanganmu dalam sebuah pertandingan yang adil, aku....

aku tidak perlu malu bertemu dengan ayah bundamu....!

"Tapi, locianpwe.

Kami sekeluarga sama sekali tidak mendendam atas perlakuan ji-wi locianpwe sekeluarga karena ayah juga merasa yakin bahwa ada sesuatu di balik semua itu.

Begitu saya kembali ke rumah, ayah dan ibu menegur saya tentang....

eh, tentang....

perkosaan yang katanya saya lakukan.

Karena itulah saya penasaran, locianpwe, dan ingin membikin terang duduknya persoalan, bukan karena dendam oleh penghinaan itu.

Kalau toh ada penghinaan itu terhadap keluarga kami, tentu terjadi karena kesalah-pengertian di pihak locianpwe sekeluarga.!

"Memang sebenarnya demikianlah, Cin Liong.

Ada salah pengertian besar di pihak kami yang baru kami ketahui setelah terlambat....!

kata Kim Hwee Li dengan suara berat.

"Akan tetapi, locianpwe, sebetulnya.... apakah yang telah terjadi dengan.... Hui-i (bibi Hui)? Ji-wi locianpwe mengetahui perasaan saya terhadap Hui-i, dan maafkan kalau pertanyaan saya itu terlalu mendesak, mengingat bahwa Hui-I kini telah menikah dengan bahagia....! "Tidak! Dia.... dia.... ahhh....! Suma Kian Lee tidak melanjutkan kata-katanya dan menunduk dengan muka muram. Cin Liong menatap wajah pendekar itu, lalu menoleh kepada isteri pendekar itu. Akan tetapi keduanya tidak melanjutkan keterangan mereka dan nampaknya berat sekali untuk bicara. Akhirnya Kim Hwee Li berkata.

"Cin Liong, kami tidak dapat memberi tahu kepadamu....! Cin Liong menunduk, merasa terpukul hatinya. Dia seperti diingatkan bahwa dia bukanlah apa....apa, bukan keluarga dan tentu saja tidak berhak bertanya-tanpa tentang diri Suma Hui. Dia menundukkan mukanya dan berkata dengan suara berat.

"Maaf.... saya telah bersikap lancang....! "Tidak, Cin Liong. Engkau telah kejatuhan fitnah, biarpun kini kami mengaku telah salah paham menjatuhkan fitnah keji, namun engkau berhak mengetahui apa yang telah terjadi maka sampai kami menuduhmu. Akan tetapi.... karena hal ini menyangkut pribadi Hui-ji, maka sebaiknyalah kalau engkau mendengarnya dari mulutnya sendiri, kalau ia mau menceritakan....! "Tapi.... tapi.... Hui-i sudah....! "Temui saja ia, Cin Liong,! kata wanita itu.

"Ia sedang berlatih di telaga kecil sebelah barat di luar kota ini.

Temuilah saja dan lihat saja perkembangannya nanti.!

Cin Liong sudah tahu di mana letaknya telaga kecil itu.

Dia lalu memberi hormat kepada kedua orang tua itu, kemudian tanpa bicara lagi dia lalu keluar dan berlari cepat keluar dari kota Thian-cin menuju ke barat, ke arah telaga itu, tanpa memperdulikan orang-orang yang memandang heran melihat seorang pemuda berlari-lari secepat itu.

Seorang gadis dan seorang pemuda sedang berlatih silat di tepi telaga kecil itu.

Latihan mereka sungguh akan mentakjubkan orang yang melihatnya.

Akan tetapi tempat itu sunyi dan seandainya ada orang yang melihatnya, kiranya kedua orang muda itu tidak akan melakukan latihan di tempat itu.

Tadinya mereka berlatih silat tangan kosong, saling serang dengan hebatnya dan dari sambaran kedua tangan mereka, ada hawa pukulan yang amat kuat menyambar-nyambar, menimbulkan angin pukulan yang membuat pohon di sekitar tempat itu bergoyang-goyang seperti tertiup angin keras.

Kadang-kadang pukulan mereka itu mengeluarkan bunyi bercicitan, bahkan ada kalanya pukulan mereka mengeluarkan uap yang dingin sekali, kemudian berganti menjadi uap yang luar biasa panasnya!

Keduanya sama tangkas, sama cepat dan pukulan-pukulan mereka sungguh menggiriskan hati siapa yang melihatnya.

Setelah berlatih silat tanqan kosong, saling serang sampai seratus jurus lebih, mereka beristirahat sebentar, kemudian mereka berlatih di tepi telaga.

Bergantian mereka mengirim pukulan-pukulan ke arah air telaga dan bukan main hebatnya pukulan itu.

Pukulan yang mengandung hawa dingin aneh sekali sampai air yang terlanda pukulan mereka menjadi beku seperti salju dan es!

Kemudian, dengan pukulan yang hawanya panas mereka mencairkan kembali gumpalan-gumpalan salju itu, bahkan nona itu memasukkan lengannya ke air, menggerakkannya dengan pengerahan tenaga, mengirirn getaran-getaran melalui tangannya dan air di sekeliling lengannya menjadi panas!

Mereka itu adalah Suma Hui dan Suma Ciang Bun, dua orang putera dan puteri pendekar Suma Kian Lee.

Seperti telah kita ketahui, Suma Kian Lee merasa menyesal bukan main akan aib dan musibah yang menimpa diri puterinya, merasa menyesal bahwa dia telah salah pilih, telah menaruh kepercayaan yang amat besar kepada seorang pemuda seperti Louw Tek Ciang yang kemudian ternyata adalah seorang penjahat cabul murid Jai-hwa Siauw-ok!

Dia bukan hanya mempercayai pemuda itu, bahkan telah mengambilnya sebagai murid, sebagai ahli waris ilmu-ilmu silat keluarga Pulau Es dan juga telah memilihnya sebagai mantu!

Setelah diketahuinya bahwa pemuda bejat ahlak itu seorang penjahat licik yang telah memperkosa Suma Hui kemudian menggunakan nama Cin Liong untuk menjatuhkan fitnah, Suma Kian Lee baru sadar akan kebodohan dan kekeliruannya.

Dia melarang kedua orang anaknya melakukan pencarian.

Louw Tek Ciang sudah terlampau lihai bagi mereka, apalagi di sampingnya masih terdapat seorang datuk sesat seperti Jai-hwa Siauw-ok!

Maka, dia lalu menggembleng kedua orang anaknya itu siang malam tanpa mengenal lelah.

Dua orang muda itupun berlatih dengan amat tekunnya sehingga lewat dua tahun saja, mereka yang memang sudah mempunyai dasar ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es, telah menguasai kedua Ilmu Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang yang amat hebat itu.

Sejak mengalami peristiwa yang amat mengguncangkan batinnya, yaitu pemerkosaan terhadap dirinya yang disusul dengan guncangan-guncangan lain, Suma Hui kini nampak matang dan ada garis-garis penderitaan di ujung bibir dan ujung matanya.

Usianya baru dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun, akan tetapi ia kelihatan lebih matang.

Ia telah digembleng pergalaman-pengalaman yang amat mengguncangkan batinnya.

Pemerkosaan atas dirinya merupakan aib yang hebat, akan tetapi persangkaan yang sudah yakin bahwa pemerkosanya adalah Kao Cin Liong, pemuda yang dicintanya, benar-benar menghancurkan batinnya dan membuat ia hampir putus asa.

Kemudian, semua ini masih d susul lagi oleh peristiwa keributan antara keluarganya dan keluarga Kao, dan yang kemudian sekali, kenyataan bahwa pemerkosanya ternyata sama sekali bukanlah Kao Cin Liong melainkan Louw Tek Ciang, pemuda yang menjadi suhengnya dan juga suaminya sendiri, benar-benar merupakan pukulan terakhir baginya.

Pukulan terakhir ini melandanya dengan perasaan-perasaan yang bercampur aduk.

Ada rasa girang bahwa pemuda yang dicintanya, Kao Cin Liong, ternyata bukanlah seorang jahat dan sama sekali tidak melakukan perbuatan laknat itu!

Rasa girang ini bercampur rasa penyesalan besar sekali karena ia telah menuduh pemuda itu, menuduhnya dan hampir membunuhnya, bahkan menuduhnya di depan orang tuanya yang mendatangkan penghinaan kepada keluarga Kao!

Di samping rasa girang dan sesal yang hampir tak tertahankan olehnya ini, ada lagi rasa marah dan dendam yang berkobar-kobar terhadap Louw Tek Ciang!

Dendam inilah yang membuat Suma Hui berlatih dengan amat tekunnya, tidak ingat waktu, tidak mengenal lelah, seolah-olah tujuan hidupnya hanya tinggal belajar silat sepandai-pandainya untuk kemudian mencari dan membunuh Louw Tek Ciang si jahanam!Suma Ciang Bun juga berlatih dengan sama giatnya.

Bukan saja karena semangat belajar encinya itu menular kepadanya, akan tetapi juga pemuda ini mengalami ketegangan dan guncangan batin karena konflik-konflik yang terjadi di dalam dirinya sendiri.

Melihat kelainan yang melanda batinnya, Ciang Bun menjadi gelisah sekali.

Encinya merupakan orang pertama, bahkan satu-satunya orang yang dipercayanya dan yang mengetahui keadaan dirinya.

Akan tetapi encinya juga bingung dan tidak mampu menolongnya, bahkan tidak mampu memberi nasihat sehingga Ciang Bun lalu mencari pelarian dalam berlatih mati-matian.

Dengan melatih diri mati-matian tanpa mengenal lelah itu, sedikitnya dia dapat melupakan kegelisahannya dan karena dia tidak banyak bergaul, maka kelainan itupun tidak terlalu mengganggunya.

Demikianlah, dengan latar belakang dorongan masing-masing, kedua orang enci dan adik ini berlatih dengan amat giatnya dan pada waktu itu, latihan-latihan mereka sudah mencapai tingkat terakhir dan hanya tinggal mematangkan saja dengan latihan selanjutnya.

Ayahnya telah menuangkan semua ilmunya kepada mereka, juga ibu mereka.

Saking besarnya semangat belajar mereka, Suma Hui bahkan mempelajari ilmu-ilmu aneh dari ibunya, yaitu ilmu pawang ular, ilmu untuk menaklukkan ular-ular yang dikuasai oleh ibunya, juga memperdalam ilmu pukulan Cui-beng Pat-ciang yang hanya delapan jurus akan tetapi amat hebatnya itu dari ibunya.

Bahkan, menurut petunjuk ibunya, gadis ini sudah berhasil memperoleh ular kalung emas, seekor ular yang amat berbisa, dan memeliharanya sehingga ular yang amat ganas itu jinak sekali terhadap Suma Hui, akan tetapi merupakan senjata yang amat ampuh terhadap lawan.

Ayahnya kurang setuju, karena ilmu seperti itu, kalau dipergunakan untuk menghadapi lawan, termasuk ilmu sesat, akan tetapi Suma Hui berjanji bahwa ia akan mempergnuakan senjata ular dan ilmunya memanggil ular-ular itu hanya apabila menghadapi Tek Ciang dan kawan-kawannya, kaum sesat.

Suma Ciang Bun juga tidak mau kalah.

Pemuda ini telah memilih ilmu yang diwarisi ayahnya dari mendiang neneknya, yakni nenek Lulu.

Di samping ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es, pemuda ini mewarisi Ilmu Toat-beng Bian-kun dan Hong-in Bun-hoat.

Kemudian, dari ibunya dia mempelajari ilmu melempar senjata rahasia berupa jarum-jarum halus yang harum baunya.

Melihat betapa puteranya ini berbakat sekali bermain pedang, ayahnya memberi kepadanya sepasang pedang yang amat baik buatannya, dari baja murni dan pedang itu amat indah, terukir bunga teratai dan pedang itu bernama Lian-hwa Siang-kiam (Sepasang Pedang Bunga Teratai).

Ciang Bun suka sekali dengan sepasang pedang yang tipis ini, yang dimasukkan dalam satu sarung, gagangnya terukir indah dan dihias emas permata, juga gagangnya diukir indah dengan gambar bunga-bunga teratai putih dan merah.

Memang pada dasarnya Ciang Bun suka bersolek, maka sepasang pedang yang indah ini amat disukanya.

Dari ayahnya dia mempelajari ilmu pedang pasangan yang bernama Siang-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Sepasang Iblis).

Demikianlah keadaan dua orang kakak beradik yang sedang berlatih silat di tepi telaga itu.

Sejak tadi Cin Liong sudah tiba di situ dan hatinya diliputi rasa haru yang amat benar ketika dia melihat Suma Hui berlatih bersama Ciang Bun.

Suma Hui!

Hatinya menjerit-jerit memanggil nama gadis itu dan rasa rindunya yang sudah mendalam itu membuat dia hampir tidak dapat menahannya.

Ingin dia mendekati gadis itu, merangkulnya, menciumnya, dan membisikkan kata-kata cinta kepadanya.

Saat itu terasa benar olehnya betapa dia sangat mencinta gadis itu!

Betapa dia akan sukar untuk dapat melupakan gadis itu selama hidupnya dan betapa akan sukarnya mencari penggantinya.

"Hui-moi....!! Jeritan hatinya ini tanpa disadarinya lagi telah terlontar lewat mulutnya sendiri. Suma Hui yang kini berada di tepi telaga itu bukan lagi Suma Hui kekasihnya dahulu. Dia sudah tidak bebas lagi karena telah menjadi isteri orang! Biarpun teriakannya tadi tidak begitu keras dan jaraknya masih jauh, akan tetapi agaknya suaranya terdengar oleh kedua orang kakak beradik itu, atau mungkin juga mereka merasakan kehadirannya. Keduanya menoleh dan melihatnya. Yang pertama kali berseru adalah Suma Ciang Bun. Pemuda itu sedemikian girangnya ketika melihat Cin Liong sehingga dia melompat dan menghampiri pemuda itu, lalu merangkulnya.

"Cin Liong, ke mana sajakah engkau selama ini? Ah, engkau kurus benar!! Cin Liong hanya tersenyum dan memandang ke arah Suma Hui yang masih berdiri saja seperti telah berobah menjadi patung dan dia melihat betapa wajah gadis itu menjadi pucat sekali.

"Paman Ciang Bun, engkau kini sudah kelihatan dewasa. Ah, ilmu silatmu tentu sudah tinggi sekali sekarang!! kata Cin Liong menanggapi kegembiraan yang diperlihatkan Ciang Bun.

"Cin Liong, kebetulan engkau datang.

Kami memang sedang berlatih.

Mari, kau beri petunjuk padaku agar aku dapat melihat di mana letak kekurangan dan kesalahanku!!

berkata demikian, Ciang Bun lalu maju menyerang.

Melihat kegembiraan pemuda itu, Cin Liong merasa tidak tega menolak, maka sambil tertawa diapun mengelak dan balas menyerang.

Segera mereka mulai berlatih dengan saling serang.

Akan tetapi ketika Cin Liong menangkis, dia terkejut sekali mendapat kenyataan betapa kuatnya lengan pemuda itu, betapa besar tenaga sin-kang yang menggerakkan lengan itu!

Diapun terseret ke dalam kegembiraan dan bersilat dengan sungguh-sungguh karena dia mendapat kenyataan bahwa pemuda ini benar-benar merupakan lawan yang tangguh sekali.

Sementara itu, Suma Ciang Bun iuga merasa amat gembira, bukan hanya bertemu dengan keponakan yang amat dikagumi dan disukainya itu, melainkan karena kini dia memperoleh kesempatan berlatih dengan seorang lawan yang pandai.

Biasanya, dia hanya dapat berlatih melawan encinya, ayahnya atau ibunya saja.

Ilmu silat mereka sama, maka tentu saja dia menjadi bosan karena dia sudah tahu akan ke mana arah serangan mereka yang sekeluarga itu.

Akan tetapi, kini menghadapi Cin Liong, dia seperti menghadapi seorang lawan yang sungguh-sungguh.

Dia harus berhati-hati karena dia belum mengenal gerakan lawan dan ini merupakan latihan yang amat baik dan menarik.

Serang-menyerang terjadi dan makin lama Cin Liong semakin kagum.

Tak disangkanya bahwa selama beberapa tahun ini, Ciang Bun telah memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya dan memiliki banyak macam ilmu silat yang mutunya tinggi sekali.

Dia harus membalas serangan, karena kalau dia hanya bertahan, bukan tidak mungkin dia akan kalah oleh pemuda ini!

Tanpa mereka rasakan, mereka telah bertanding atau berlatih sampai lima puluh jurus!

Suma Hui dapat bernapas lega.

Ketika tadi ia melihat munculnya Cin Liong secara mendadak, ia merasa jantungnya terguncang hebat dan hampir saja ia melarikan diri atau roboh lemas.

Kiranya ia tidak akan mampu menghadapi Cin Liong pada saat pertemuan itu, maka ketika adiknya mengajak pemuda itu berlatih silat, dia mempunyai banyak kesempatan untuk mengatur pernapasannya dan meredakan jantungnya yang bergelora tadi.

Mukanya yang tadinya pucat sekali itu perlahan-lahan berobah merah dan kedua matanya terasa panas.

Ia menahan-nahan tangisnya melihat pemuda yang dicintanya itu.

Betapa kurusnya muka Cin Liong!

Ah, betapa sesungguhnya ia amat mencinta pemuda itu.

Baru kini terbuka matanya bahwa ia tidak pernah membenci Cin Liong, tidak pernah dapat membencinya.

Kalau dulu ia bertekad untuk mencari dan membunuh Cin Liong, hal itu bukan karena benci melainkan karena kecewa mengapa pemuda yang dicintanya itu menghancurkan segala harapannya.

Dan kini?

Ternyata pemuda itu sama sekali tidak bersalah.

Pemuda itu telah difitnahnya!

Dituduhnya melakukan hal yang demikian kotor dan rendah!

Baru kini ia merasa menyesal sekali mengapa ia sampai begitu bodoh.

Mana mungkin seorang pendekar gagah perkasa seperti Cin Liong, putera Naga Sakti Gurun Pasir, seorang panglima muda yang dipercaya kaisar, mau melakukan perbuatan serendah itu?

Kenapa ia dahulu tidak bicara terang-terangan saja dengan Cin Liong dan menceritakan segalanya tanpa menuduhnya seperti itu?

"Cukup, paman Ciang Bun, cukup....

wah, engkau lihai sekali....!!

Cin Liong meloncat ke belakang.

Ciang Bun menghentikan serangannya dan keduanya saling pandang sambil tertawa dan mengusap peluh yang membasahi leher dan dahi.

"Wah, setelah berlatih mati-matian selama beberapa tahun, masih saja aku belum mampu mengimbangimu, Cin Liong, apalagi menandingimu.! "Engkau terlalu merendah, paman. Kepandaianmu hebat, hampir-hampir aku tidak kuat menahannya,! kata Cin Lion memuji. Suma Hui kini melangkah maju menghampiri. Sejenak ia berdiri bertukar pandang dengan Cin Liong yang cepat memberi hormat.

"Hui-i, maafkan kalau aku datang mengganggu,! katanya dengan suara gemetar. Suma Hui tak mampu menjawab, hanya memandang dan dua titik air mata yang sejak tadi sudah memenuhi pelupuk matanya, kini menetes turun ke atas pipinya. Ia lalu menoleh kepada adiknya dan suaranya lirih dan gemetar ketika ia berkata.

"Bun-te, tinggalkan kami sendirian....! Ciang Bun mengangguk maklum dan pemuda inipun lalu pergi dan lari dari tempat itu. Setelah pemuda itu tidak nampak lagi bayangannya, barulah Suma Hui memutar tubuh menghadapi Cin Liong. Kembali mereka saling berpandangan, lalu terdengar suara gadis itu lirih.

"Cin Liong, engkau datang....

mau apakah....?!

Pertanyaan yang sama seperti yang diajukan oleh ayah gadis ini, pikir Cin Liong dengan hati terpukul.

Akan tetapi dia harus berani menghadapi semua ini.

Dia harus mengetahui segala yang terjadi atas diri wanita yang dicintanya ini.

Dia tidak akan mengganggu, tidak berani, karena bukankah wanita ini telah menjadi isteri orang?

"Bibi Hui....

aku datang untuk....

untuk menanyakan kesalahanku, kesalahan kami sekeluarga kepada ayah bundamu.

Aku sudah menghadap mereka dan....

dan mereka menyuruhku bertanya kepadamu sendiri.!

Suma Hui mengerutkan alisnya dan memejamkan matanya sebentar untuk mengusir semua kenangan pahit yang telah dideritanya selama ini.

Kemudian, ia melolos sepasang pedangnya.

Melihat ini, Cin Liong terkejut bukan main.

"Hui-i, kalau sekali ini engkau menyerangku lagi, biarlah aku mati di tanganmu, dan aku tidak akan melawanmu.! Sepasang mata itu terbelalak memandang, kemudian perlahan-lahan beberapa butir air mata mengalir turun. Sepasang pedang itu dilemparkannya ke dekat kaki Cin Liong dan suaranya berbisik gemetar.

"Cin Liong, aku telah bersalah kepadamu, kepada keluargamu, dosaku besar sekali dan aku layak mati. Nah, bunuhlah aku, boleh kau pergunakan pedangku yang pernah kupakai menyerang dan melukaimu dahulu itu.! "Hui-i....! Cin Liong terkejut bukan main. Cepat dia mengambil sepasang pedang itu dan melangkah maju, mengangsurkan sepasang pedang itu, mengembalikannya kepada pemiliknya.

"Mengapa begitu? Simpanlah kembali pedangmu....! Akan tetapi Suma Hui tidak dapat menahan lagi kesedihan hatinya dan iapun menjatuhkan dirinya, bersimpuh ke atas tanah berumput di tepi telaga itu. Ia menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis sedih, menahan isaknya dan hanya guncangan kedua pundaknya saja dan air mata yang mengalir melalui celah-celah jari tangannya yang menunjukkan bahwa gadis perkasa ini sedang menangis. Cin Liong berlutut di dekatnya, meletakkan sepasang pedang itu di sisi pemiliknya. Ingin dia menghibur, ingin dia merangkul, akan tetapi ingatan bahwa wanita ini adalah isteri orang lain menahan gelora hatinya.

"Hui-i.... harap jangan menangis. Di manakah.... eh, suamimu?! Pertanyaan ini agaknya amat mengejutkan Suma Hui. Ia menurunkan kedua tangannya, mukanya pucat dan matanya merah basah, kini memandang kepada wajah pemuda itu seperti orang, merasa heran dengan pertanyaan itu.

"Engkau....

engkau belum mengetahuinya dari ayah dan ibuku?!

"Belum.

Ketika aku menghadap mereka, mereka hanya menyuruh aku menemuimu di sini dan minta penjelasan darimu.

Hui-i, sebetulnya, apakah yang telah terjadi?

Aku merasa bingung dan gelisah sekali.

Engkau dahulu ingin membunuhku, kemudian orang tuaku yang datang meminang menerima penghinaan dan aku dituduh melakukan....

perkosaan.

Apakah artinya semua itu?

Dan di mana adanya suamimu?

Bukankah engkau telah menikah dengan....

suhengmu sendiri itu?!

Menerima pertanyaan bertubi-tubi itu, Suma Hui memejamkan matanya, dan hanya air matanya saja yang menyatakan betapa hancur perasaan hatinya.

Melihat keadaan wanita ini, Cin Liong merasa terharu sekali.

Ingin dia mengulur tangan merangkul, mendekap kepala itu dan menyembunyikan muka itu di dadanya, menghiburnya dan mengusap air matanya.

Akan tetapi dia tidak berani selancang itu terhadap wanita yang sudah bersuami.

Dan diapun tahu bahwa agaknya baru sekarang Suma Hui dapat melampiaskan perasaannya maka dia membiarkan saja wanita itu menangis sepuasnya.

Bagi kebanyakan orang, terutama bagi wanita yang halus perasaannya, kadang-kadang tangis merupakan obat mujarab bagi ganjalan hati.

Akhirnya Suma Hui dapat meuguasai hatinya.

Tangisnya mereda dan setelah menghapus air mata dengan ujung lengan bajunya yang menjadi basah, iapun berkata.

"Sudah sepatutnya engkau mendengar semua itu dari mulutku sendiri. Malapetaka telah menimpaku. Semua dimulai pada malam jahanam itu.... malam itu aku menjadi korban asap pembius yang ditiupkan ke dalam kamarku. Kemudian, dalam keadan setengah sadar, aku.... aku menjadi korban perkosaan orang.... dan dia.... dia menirukan suaramu. Karena kamar itu gelap dan suara itu mirip benar dengan suaramu, aku tertipu dan merasa yakin bahwa engkau lah yang melakukan perkosaan terhadap diriku itu.! Suma Hui tak dapat melanjutkan kata-katanya dan menahan tangisnya sambil menghapus air matanya yang kembali membanjir keluar. Cin Liong mengepal tinjunya.

"Hemm, jadi benar-benar ada yang melakukan perbuatan hina itu terhadap dirimu! Pantas engkau menyerangku dan hendak membunuhku, kemudian ketika orang tuaku datang meminang, mereka menerima penghinaan dari keluargamu. Aku tidak merasa heran sekarang. Akan tetapi mengapa engkau tidak mau berterus terang saja menegurku waktu itu sehingga aku mengetahui duduknya persoalan, Hui-i?! Suma Hui menunduk.

"Aku begitu yakin bahwa engkau lah orang itu.... maka kuanggap tidak perlu banyak bicara lagi. Aku begitu kecewa.... begitu hancur hatiku.... sehingga aku.... aku bersumpah.... untuk membunuhmu!! Cin Liong mengangguk-angguk.

"Aku tidak menyalahkanmu, Hui-i.

Tapi....

lalu bagaimana engkau tahu bahwa sebetulnya bukan aku pemerkosa biadab itu?!

"Dengarkan ceritaku.

Di dalam noda dan aib itu, muncullah Louw Tek Ciang....!

"Suhengmu?!

"Ya, ayah sendiri tertipu oleh sikapnya yang baik sehingga ayah berkenan mengangkatnya sebagai murid, bahkan menurunkan semua ilmu keluarga kami kepadanya.

Tek Ciang dengan sikapnya yang halus dan lembut penuh kesopanan itu muncul sebagai bintang penolong untuk menyelamatkan aku dari aib.

Biarpun dia sudah diberitahu bahwa aku telah diperkosa orang, tetap saja dia bersedia untuk menjadi suamiku.!

"Ahhh....!!

"Aku tidak suka dan membencinya, dan untuk menolak desakan ayah aku mengatakan bahwa aku hanya ingin menikah dengan orang yang dapat mengalahkan aku.

Ayah telah tergelincir oleh kelicikan Tek Ciang, ayah menggemblengnya sehingga dia menjadi lihai sekali.

Aku pergi selama dua tahun lebih, mencarimu sampai ke kaki Pegunungan Himalaya, dengan maksud untuk menantangmn dan mengajakmu bertanding sampai aku mati di tanganmu....!

"Hui-i....!!

Cin Liong berseru kaget dan memandang penuh iba.

Suma Hui mengusap kembali air matanya.

"Karena mendengar bahwa engkau memimpin pasukanmu menyerbu ke Nepal, aku kembali ke timur dan setibanya di sini, Tek Ciang telah menjadi lihai sekali. Kembali ayah mendesak aku tentang pernikahan. Aku tetap mempertahankan bahwa aku hanya mau menikah deugan orang yang dapat mengalahkan aku.! "Dan dia dapat mengalahkanmu?! tanya Cin Liong ketika gadis itu menghentikan ceritanya. Suma Hui mengangguk.

"Aku tidak dapat mengingkari janjiku. Aku dikalahkan dan aku terpaksa menurut kehendak ayahku. Apalagi aku berpikir bahwa setelah dia lihai, dia dapat kumintai bantuan untuk mencarimu dan membunuhmu....! "Hemm.... wajar sekali itu. Lalu, bagaimana?! Hati Cin Liong mulai tertarik sekali.

"Pernikahan dirayakan dan dihadiri oleh tokoh-tokoh kang-ouw dan orang-orang penting....!

"Sayang kami tidak dapat hadir....!

"Tentu saja keluarga Kao tidak diundang....

ah, betapa bodohnya kami, dan semua itu karena kesalahanku....!

"Sudahlah, Hui-i, penyesalan tidak ada gunanya lagi dan sebetulnya bukan karena kesalahanmu, atau andaikata engkau melakukan kesalahan, maka engkau melakukannya tanpa kau sadari.

Lalu bagaimana?!!Malam pengantin itulah yang membuka rahasia busuk itu!

Seperti kukatakan tadi, ketika terjadi peristiwa di malam jahanam itu, aku tidak dapat melihat wajah pemerkosa, hanya mendengar suaranya saja yang sama dengan suaramu,juga cara bicaranya kepadaku persis kalau engkau bicara.

Akan tetapi ada satu hal lagi yang menjadi rahasiaku, tidak kuberitahukan kepada siapa juga, yaitu bahwa secara kebetulan dalam keadaan setengah sadar itu aku menyentuh punggung jahanam itu dan aku mendapatkan adanya suatu cacat di punggung, suatu benjolan daging....!

"Ah, makin menarik!

Dan untuk membuktikan bahwa orang itu bukan aku, sebaiknya engkau melihat punggungku!!

Tanpa menanti jawaban, Cin Liong membuka baju atasnya dan membalikkan tubuh, memperlihatkan punggungnya yang berkulit putih bersih tanpa ada cacat benjolan daging itu kepada Suma Hui yang menjadi merah sekali mukanya.

"Cin Liong, tanpa kau perlihatkan punggungmu, akupun kini sudah percaya, karena aku telah menemukan orangnya.! "Ahhh....? Benarkah? Siapa si keparat itu?! tanya Cin Liong sambil mengenakan lagi bajunya.

"Siapa lagi kalau bukan si jahanam Louw Tek Ciang!! "Hehh....?! Cin Liong yang sedang mengancingkan bajunya itu berhenti setengah jalan, matanya terbelalak memandang kepada wajah Suma Hui, seolah-olah tidak percaya akan pendengarannya sendiri.

"Apa.... apa maksudmu? Dia....? Suhengmu...., suamimu itu....? Bagaimana pula ini?! "Benar, dialah jahanam pemerkosa itu! Kebetulan aku melihat benjolan daging di punggungnya. Tentu saja aku segera menyerangnya dan malam pengantin itu berobah menjadi malam perkelahian mati-matian. Sudah kukatakan dia lihai sekali dan aku bukan lawannya. Akan tetapi, ayah dan ibu muncul mendengar suara ribut-ribut.! "Tentu dia sudah dapat dibekuk atau dibunuh!! kata Cin Liong penuh semangat.

"Sayang, dia yang sudah tersudut itu diselamatkan orang lain.! "Siapa yang menyelamatkannya?! "Kenalan lama kita. Dia adalah Jai-hwa Siauw-ok yang ternyata juga telah menjadi guru Tek Ciang.! Kembali Cin Liong terperanjat.

"Jai-hwa Siauw-ok....?!

"Ya, dan munculnya datuk sesat itu menerangkan segalanya.

Engkau tentu tahu bahwa Jai-hwa Siauw-ok termasuk seorang di antara para datuk sesat yang menyerbu Pulau Es, yang memusuhi keluarga Pulau Es.

Agaknya dia hendak mencelakakan kami dengan cara lain.

Tentu dia yang mengatur semua itu bersama Tek Ciang, dan Jai-hwa Siauw-ok yang melepaskan asap pembius, kemudian Tek Ciang yang melakukan pemerkosaan dan menyamar seperti engkau, tentu dengan maksud untuk mengadu antara keluarga Suma dengan keluarga Kao.

Demikianlah, Cin Liong, maka kami memusuhi keluargamu....

aku telah bersikap bodoh sekali....!

"Di mana jahanam itu sekarang?!

Cin Liong bangkit dan mengepal tinju, mukanya berobah merah.

"Aku akan menghancurkannya bersama Jai-hwa Siauw-ok!! "Tidak perlu, Cin Liong. Selama ini, ayah yang juga merasa menyesal sekali telah mencurahkan seluruh tenaga dan waktu untuk menggembleng kami berdua, dan aku sendiri yang akan mencari jahanam itu!! "Hui-moi.... sungguh kasihan sekali engkau, Hui-moi....! Mendengar suara yang menggetar itu dan mendengar sebutan itu, wajah Suma Hui menjadi pucat lalu berobah merah sekali. Air matanya bercucuran lagi ketika ia memandang kepada laki-laki yang selalu menempati hatinya itu.

"Cin Liong.... maafkan.... kaumaafkan aku....! ratapnya.

"Hui-moi....!! Cin Liong melangkuh maju dan menubruknya, merangkuluya dengan hati yang penuh rindu. Seperti tanaman bunga yang sudah kekeringan lalu tiba-tiba menerima siraman hujan, Suma Hui mengembangkan kedua lengannya dan merangkul leher Cin Liong sambil menangis sesenggukan di atas dada pemuda yang dicintanya itu. Sampai lama mereka hanya saling dekap dan saling rangkul, Suma Hui menangis dan Cin Liong mengusap-usap rambutnya, menciumi mukanya dan mengisap air matanya. Tiba-tiba Suma Hui melepaskan rangkulan Cin Liong dan meronta, menjauhkan dirinya, memandang dengan mata terbelalak.

"Tidak....! Tidak....! Jangan....! Aku.... aku sudah tidak berharga untukmu, Cin Liong....!! Dia menangis lagi, menutupi muka dengan kedua tangan.

"Hui-moi, jangan berkata begitu. Aku tetap mencintamu, apapun yang telah dan akan terjadi!! kata Cin Liong sambil melangkah menghampiri dan hendak merangkul lagi. Akan tetapi Suma Hui mengelak dan sambil mengusap air matanya ia berkata.

"Tidak, engkau jangan mengotorkan tanganmu dengan menjamahku, Cin Liong.

Aku sudah kotor dan tidak berharga lagi.

Aku bukan perawan lagi....!

"Hushh, anak bodoh!

Aku mencinta Suma Hui, aku mencinta dirimu, bukan hanya mencinta keperawanan.

Aib yang menimpa dirimu bukan karena kesalahanmu.

Aku tetap cinta padamu dan aku akan meminangmu sekali lagi untuk menjadi isteriku.

Hui-moi, aku cinta padamu, aku....

aku membutuhkanmu....

aku rindu padamu....!

"Tidak, Cin Liong.

Bukan hanya bahwa aku telah ternoda, akan tetapi, di mata dunia, disaksikan oleh para tokoh kang-ouw, aku telah menjadi isteri jahanam Louw Tek Ciang!

Aku harus mencarinya, aku harus membunuhnya lebih dulu!!

"Ah, kalau engkau sudah membunuhnya baru berarti engkau bebas ikatan, ikatan pernikahan dan ikatan dendam, dan engkau....

engkau akan mau menerimaku?!

"Jangan berkata demikian, Cin Liong.

Aku....

aku selalu mencintamu, tapi aku sekarang tidak berharga....

nanti kalau aku sudah berhasil, kalau engkau masih sudi menerimaku....!

Cin Liong menangkap tangan wanita itu, dikepalnya dengan erat dan jari-jari tangan mereka saling cengkeram.

Ada getaran dari hati mereka terasa melalui jari-jari tangan itu.

"Hui-moi, aku akan membantumu....! "Tapi, engkau adalah seorang panglima, terikat oleh tugasmu.! "Tidak, aku akan meletakkan jabatan. Setelah engkau berhasil membalas dendam, dan aku mengambilmu sebagai isteri, kita akan hidup menjauhkan diri dari segala keributan, agar engkau tidak perlu mendengarkan omongan orang-orang yang suka membicarakan urusan dan keadaan orang lain.! Suma Hui tersenyum melalui air matanya.

"Ah, betapa akan bahagianya kalau begitu, Cin Liong.

Akan tetapi....

aih, bagaimana aku mungkin dapat menerimanya?

Aku telah ternoda dan aku telah menjatuhkan fitnah keji kepadamu, kemudian keluargaku telah melakukan penghinaan kepada keluargamu, ditambah lagi bahwa aku telah menikah dengan orang lain.

Engkau dan keluargamu suka memaafkan kami saja berarti sudah merupakan suatu berkah bagi kami, engkau tidak membenciku saja sudah merupakan suatu kemurahan darimu.

Mana mungkin semua ini ditambah lagi dengan....

dengan engkau sudi mengambilku sebagai isterimu.

Ah, terlalu langka dan muluk bagiku, aku....

sudah tidak berharga lagi untukmu....!

Suma Hui lalu lari meninggalkan Cin Liong, sambil menangis.

"Hui-moi....! Hui-moi....!! Cin Liong mengejar. Akan tetapi baru beberapa jauhnya dia mengejar, muncul Suma Ciang Bun menghadangnya.

"Cin Liong, jangan mendesaknya. Kegirangan hati kadang-kadang sukar dapat diterima dengan tenang. Enci Hui telah mengalami penderitaan batin selama bertahun-tahun, biarlah kebahagiaan mendatanginya dengan perlahan-lahan, kalau secara tiba-tiba dan dipaksakan, bahkan berbahaya bagi batinnya.! Cin Liong menatap wajah pemuda itu. Hampir tak percaya dia akan ucapan pemuda ini. Dalam beberapa tahun saja pemuda ini sudah menjadi dewasa dan matang, dan diapun melihat adanya bayangan duka di wajah yang tampan itu. Akan tetapi dia tidak tahu entah apa dan mengapa.

"Aku hanya ingin membantunya meucari dan membalas dendam kepada musuh besarnya,! katanya.!Si jahanam Tek Ciang?! Suma Ciang Bun tersenyum pahit.

"Sejak semula aku tidak suka kepada orang yang menjilat-jilat itu.

Sayang ayah terpedaya.

Tapi sudahlah, penyesalan tiada gunanya.

Dan dia sekarang sudah amat lihai.

Selain mewarisi ilmu-ilmu keluarga kami, juga mendapat pelajaran dari Jai-hwa Siauw-ok.

Biarpun demikian, enci Hui dan aku akan sanggup menghadapi dan mengalahkannya.

Ini adalah urusan pribadi.

Urusan dendam keluarga.

Kalau engkau hendak membantu, jangan lakukan itu dengan berterang, Cin Liong.

Engkau hanya akan membuat enci Hui merasa lebih rendah lagi.

Biarlah ia mengangkat kembali kehormatannya dengan membalas dendam kepada orang yang merenggutnya.

Dan akulah satu-satunya orang yang boleh membantunya.

Kami sudah siap dan sudah bersepakat akan mulai pergi mencari musuh itu besok pagi.!

Bersama Ciang Bun, Cin Liong lalu pergi ke rumah keluarga itu menghadap Suma Kian Lee dan isterinya.

Pemuda ini langsung menghadap dan tanpa sungkan-sungkan lagi lalu berkata.

"Ji-wi locianpwe.

Saya telah bertemu dan bicara dengan Hui-i, telah mendengar akan semua yang telah terjadi.

Dan saya mempergunakan kesempatan ini, mendahului ayah bunda saya, untuk sekali lagi mengajukan pinangan terhadap diri Hui-moi, untuk menjadi isteri saya.!

Sungguh ucapan ini sama sekali tak pernah disangka oleh Suma Kian Lee dan Kim Hwee Li.

Suma Kian Lee menjadi pucat wajahnya dan sejenak dia memejamkan mata sambil menundukkan mukanya.

Penyesalan besar menyelinap di hatinya.

Pernah ada seorang pemuda yang berbaik hati, mau menerima Suma Hui sebagai isteri walaupun sudah mendengar bahwa gadis itu sudah diperkosa orang.

Akan tetapi ternyata pemuda itu, Louw Tek Ciang, adalah seorang penjahat besar yang ternyata menjadi pemerkosanya sendiri.

Akan tetapi pemuda ini, Kao Cin Liong, seorang pendekar besar, seorang panglima muda yang berkedudukan tinggi, kini mau menerima Suma Hui sebagai isteri, setelah mendengar Suma Hui diperkosa orang, setelah menerima penghinaan dan fitnah, sungguh hal ini amat sukar diterima dan dimengertinya.

Juga hal itu membuka matanya betapa tinggi nilai cinta yang berada di hati pemuda ini terhadap Suma Hui.

"Tapi.... tapi.... kami telah....! katanya gagap dan isterinya menolongnya.

"Cin Liong, kami sebagai orang tua pernah membuat kesalahan dan kami tidak mau lagi mengulang kesalahan yang sama. Urusan pernikahan Suma Hui adalah urusan pribadinya, oleh karena itu, kalau engkau memang benar mencintanya seperti yang kupercaya sepenuhnya, bicarakanlah hal itu dengan Hui-ji sendiri. Kalau ia setuju, kami berduapun akan menyetujuinya dengan penuh kebahagiaau hati.! "Saya sudah bicara dengan Hui-moi dan ia.... ia menangguhkannya sampai ia berhasil membalas dendam kepada musuh besar itu.! "Kalau begitu, tidak ada persoalan lagi!! kata Kim Hwee Li dengan wajah berseri.

"Biarlah kami yang akan mendatangi orang tuamu untuk membicarakan soal perjodohan ini dan sekalian minta maaf atas kesalahan kami sekeluarga,!

akhirnya Suma Kian Lee berkata dengan hati lega.

Sampai Cin Liong berpamit pergi, dia tidak dapat berjumpa dengan Suma Hui yaug agaknya sengaja menjauhkan diri.

Akan tetapi pemuda ini sudah memperoleh kembali kegembiraannya dan dia yakin bahwa gadis itu masih mencintanya.

Maka diapun berpamit dari keluarga Suma dan langsung dia pergi ke kota raja dengan maksud hati hendak meletakkan jabatannya, kemudian akan menyusu1 dan membantu Suma Hui menghadapi Louw Tek Ciang yang dibantu oleh datuk sesat.

Pada keesokan harinya, Suma Hui berdua Suma Ciang Bun juga mendapat perkenan orang tua mereka untuk berangkat meninggalkan rumah, untuk mulai dengan usaha mereka mencari jejak Tek Ciang, musuh besar yang amat dibencinya itu.

Sudah lama kita meninggalkan Ceng Liong.

Selama beberapa tahun ini, Ceng Liong yang digembleng oleh Hek-i Mo-ong telah dapat mewarisi ilmu kepandaian kakek sakti itu.

Dia memang berbakat baik sekali dan juga amat suka mempelajari ilmu silat.

Otaknya cerdas dan dengan mudah dia dapat menangkap semua pelajaran yang bagaimana sukarpun.

Kekuatan ingatannya mengagumkan.

Setiap ilmu yang diajarkan kepadanya, baru berulang dua kali saja sudah dapat dihafalnya dengan baik, dari awal sampai akhir dan tinggal mematangkannya dalam latihan saja!

Bukan main girang hati Hek-i Mo-ong dengan murid tunggalnya ini.

Dia merasa bangga memiliki murid ini dan akhirnya kakek ini amat mencinta Ceng Liong.

Dia mencinta dengan penuh kasih sayang, dan dia bukan hanya menganggap Ceng Liong sebagai murid, bahkan menganggapnya sebagai anak atau cucunya sendiri.

Hek-i Mo-ong telah gagal dalam pengejaran ambisinya.

Sudah terlalu sering dia gagal dan kegagalan terakhir kalinya ini membuat dia menjadi jemu untuk mengulangnya.

Dia merasa sudah terlalu tua untuk mengejar kesenangan berupa kedudukan tinggi.

Maka diapun mengajak Ceng Liong untuk hidup menyendiri di tempat sunyi, di lembah Sungai Ceng-ho di Propinsi Shen-si.

Lembah itu sunyi sekali, dan penuh dengan hutan liar sehingga jarang didatangi manusia.

Di sini mereka berdua hidup dari hasil tanah dan sungai.

Setiap hari Hek-i Mo-ong mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menggembleng Ceng Liong.

Perasaan cinta mengandung getaran yang amat kuat.

Pada lahirnya, Ceng Liong bersikap tidak acuh terhadap kakek itu, dan tidak memperlihatkan sikap hormat, bahkan menyebutnya Mo-ong begitu saja.

Dia menganggap Hek-i Mo-ong sebagai seorang datuk sesat, sedangkan dia menganggap diri sendiri sebagai keturunan para pendekar.

Akan tetapi, agaknya rasa cinta dari kakek itu terhadap dirinya terasa olehnya sehingga Ceng Liong juga merasa sayang dan kasihan kepadanya.

Melihat kakek yang sudah tua renta ini bersusah-payah mengajarnya, bahkan tanpa ragu-ragu menurunkan segala ilmunya kepadanya, membuat Ceng Liong kadang-kadang merasa terharu juga.

Dia tahu bahwa kakek itu amat sayang kepadanya.

Maka, tanpa diminta, Ceng Liong juga giat bekerja di ladang, juga setiap hari mencari ikan untuk dimasak dan dihidangkan kepada kakek itu.

Waktu kosong mereka selalu diisi dengan latihan-latihan ilmu silat sehingga dalam waktu lima enam tahun semenjak dia ikut kakek itu, Ceng Liong telah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Pemuda remaja ini memiliki tubuh tinggi besar, dengan wajah yang ganteng dan gagah, akan tetapi pandang mata dan senyumnya mengandung kebengalan kanak-kanak.

Demikian sayangnya Hek-i Mo-ong kepada Ceng Liong sehingga dia bukan hanya mengajarkan ilmu ciptaannya yang terakhir dan mujijat, yaitu Coan-kut-ci (Jari Penusuk Tulang) dau Tok-hwe-ji (Hawa Api Beracun), akan tetapi juga membantu pemuda remaja itu berlatih, menuntunnya sehingga akhirnya dalam hal penggunaan kedua ilmu ini, Ceng Liong telah menyamai tingkat gurunya, bahkan lebih cekatan karena dia masih muda dan Hek-i Mo-ong telah berusia delapan puluh tahunan.

Ilmu silat kipas yang mengandung kekuatan sihir dari Hek-i Mo-ong juga dipelajarinya, akan tetapi dia tidak mau mencontoh gurunya dalam memilih senjata.

Kalau Hek-i Mo-ong biasa mempergunakan senjata tombak Long-ge-pang yang kelihatan mengerikan, Ceng Liong memilih senjata kipas dan pedang.

Di samping mempelajari ilmu-ilmu silat yang aneh dari Hek-i Mo-ong, juga Ceng Liong kadang-kadang suka berlatih ilmu silat dari keluarganya sendiri, akan tetapi karena tidak ada yang memberi petunjuk dalam ilmu-ilmu silat itu, maka diapun hanya dapat memperdalam beberapa ilmu silat yang pernah dipelajarinya saja, antara lain tendangan Soan-hong-twi dan Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ular Sakti).

Dia hanya tahu teorinya saja tentang ilmu-ilmu sakti Pulau Es seperti Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang, akan tetapi tanpa petunjuk dari yang ahli, dia tidak berhasil meuguasai kedua ilmu ini.

Ketika itu, usia Ceng Liong sudah hampir enam belas tahun, akan tetapi karena tubuhnya besar, dia kelihatan sudah dewasa benar.

Dan tingkat kepandaiannya sudah hebat, bahkan Hek-i Mo-ong sendiri kadang-kadang merasa kewalahan kalau berlatih melayani muridnya ini.

Pada suatu hari, pagi-pagi setelah sarapan, Hek-i Mo-ong bercakap-cakap dengan muridnya dan tidak seperti biasanya, wajah kakek tua renta ini nampak serius sekali.

"Ceng Liong, tahukah engkau, berapa lama engkau ikut bersamaku mempelajari ilmu silat?! Ceng Liong memandang wajah keriputan itu dengan heran, ingin tahu apa yang tersembunyi di balik pertanyaan itu. Akan tetapi dia menjawab juga.

"Mungkin antara lima dan enam tahun.

Ada apakah engkau menanyakan hal itu, Mo-ong?!

"Engkau menjadi muridku sejak engkau masih kecil sampai kini menjelang dewasa.

Dan tanpa kusadari, usiaku telah menggerogoti tubuhku.

Aku menjadi semakin lemah dan aku khawatir sekali kelak aku akan mati dengan mata tak dapat terpejam sebelum aku dapat menebus kekalahanku terhadap seorang musuh besarku.

Sekarangpun aku sudah mulai merasa betapa tenagaku sudah banyak berkurang, terutama sekali pernapasanku menjadi pendek, sedangkan musuh besarku itu memiliki kepandaian yang hebat.!

Ceng Liong adalah seorang yang cerdik.

Dia sudah dapat menduga ke mana arah perkataan gurunya itu.

Dan dia sendiripun sudah beberapa lamanya, sejak berbulan-bulan, ingin meninggalkan tempat sunyi itu dan melanjutkan perantauannya seorang diri, terutama lebih dahulu pulang ke rumah orang tuanya.

Akan tetapi dia selalu merasa ragu betapa Hek-i Mo-ong sudah semakin tua dan lemah dan amat memerlukan bantuannya.

Kini terbuka kesempatan baginya untuk membalas budi kebaikan Hek-i Mo-ong dengan bantuan terakhir, yaitu menghadapi musuh besar ini.

"Mo-ong, apakah engkau menghendaki agar aku menghadapi musuhmu itu?! Tanyanya langsung saja. Hek-i Mo-ong tertawa.

"Heh-heh-heh, engkau memang anak baik dan cerdik.

Benar, Ceng Liong, hanya dengan bantuanmu sajalah kiranya aku dapat menebus kekalahanku terhadap musuh besar itu.

Ketika aku mulai menciptakan Ilmu Coan-kut-ci dan Tok-hwe-ji, aku merasa yakin bahwa kalau kedua ilmu itu sudah kulatih sampai mendalam, pasti aku akan dapat melawan dan mengalahkan musuh besar itu.

Akan tetapi, waktuku telah kuhabiskan untuk menggemblengmu siang malam tanpa mengenal waktu sehingga kini aku merasa kesehatanku sangat mundur.!

"Mengapa engkau bermusuh dengan orang itu, Mo-ong?!

"Tidak ada persoalan pribadi, hanya bentrokan yang mengakibatkan perkelahian dan aku telah dikalahkannya!

Nah, kekalahan itulah yang membuat aku menderita, dan hatiku takkan merasa tenteram sebelum aku dapat menebus kekalahan itu.!

Diam-diam Ceng Liong mengeluh.

Kakek ini memang amat suka berkelahi dan dahulunya terlalu mengagulkan diri, mengira bahwa di dunia ini tidak ada orang yang lebih pandai daripadanya, dan karena pendirian itulah maka kalau dikalahkan orang kakek ini merasa penasaran setengah mati dan kekalahan itu cukup menumbuhkan dendam di dalam hatinya.

"Hemm, kalau begitu, persoalannya hanyalah dikalahkan dalam pertandingan.

Baik, aku akan membantumu mengalahkan kembali orang itu sebagai tebusan kekalahanmu dahulu.

Aku tidak mau kalau harus membunuh orang tanpa sebab tertentu.!

"Heh-heh-heh, Ceng Liong.

Orang itu lihai bukan main.

Dia telah menjadi ahli waris dari Pendekar Suling Emas!

Maka, kalau engkau bisa mengalahkan dia saja, hatiku sudah akan merasa puas sekali, dan mata dunia akan terbuka bahwa aku dan muridku telah membuktikan bahwa kita tidak kalah oleh keturunan Pendekar Suling Emas.

Ha-ha-ha!!

Ceng Liong terkejut.

Pendekar Suling Emas pernah dia mendengar nama ini dari ayah ibunya dahulu, nama seorang pendekar sakti di jaman dahulu.

Akan tetapi, dia tidak perduli.

Siapapun adanya musuh besar gurunya itu, bukankah dia menyanggupi hanya untuk membantu gurunya menebus kekalahan saja?

Itupun kalau dia dan gurunya akan sanggup mengalahkan musuh yang tentu amat lihai itu!

Dan dia tidak mewarisi pendirian gurunya bahwa dia adalah orang yang paling lihai di dunia ini.

Tidak, dia tidak gila dan dia mengerti bahwa di dunia ini banyak terdapat orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi.

Dia sudah banyak bertemu dengan orang-orang sakti di Pegunungan Himalaya, maka dia tidak lagi berani memandang diri sendiri terlalu tinggi.

"Siapakah nama musuh itu, Mo-ong?

Dan di mana tinggalnya?!

"Namanya Kam Hong dan dia tinggal di puncak Bukit Nelayan di Pegunungan Tai-hang-san, tidak sangat jauh dari tempat kita ini.

Kalau engkau sudah siap membantuku, mari kita berangkat hari ini juga.!

"Baiklah, Mo-ong.

Aku akan berkemas dan kita berangkat.!

Setelah berkemas dan membawa buntalan pakaian, berangkatlah Ceng Liong bersama kakek itu naik perahu mengikuti arus Sungai Ceng-ho menuju ke timur.

Hati Ceng Liong merasa gembira sekali karena memperoleh kesempatan meninggalkan tempat sunyi itu dan melihat dunia rantai.

Dia mengenakan pakaian sederhana seperti seorang petani biasa, dengan sebuah caping lebar, dan buntalan pakaian berada di punggungnya.

Pedangnya, sebatang pedang pemberian Mo-ong, pedang pendek terbuat dari baja yang murni, terselip di pinggang dan ditutupi jubah luarnya sehingga tidak nampak menyolok.

Adapun Hek-i Mo-ong sendiri, seperti biasa, mengenakan pakaian serba hitam yang juga sederhana berpotongan petani.

Tubuhnya yang tinggi besar itu amat kurus dan agak bongkok, dan rambutnya yang sudah putih semua itu nampak kontras sekali dengan bajunya yang hitam.

Orang-orang yang melihat kakek dan pemuda remaja ini tentu tidak akan ada yang menyangka bahwa mereka adalah dua orang yang memiliki kepandaian hebat, apalagi menyangka bahwa kakek itu adalah Hek-i Mo-ong yang namanya saja sudah membuat orang-orang kang-ouw bergidik.

Mereka berdua tentu akan disangka dua orang petani biasa saja.Siapakah orang bernama Kam Hong yang oleh Hek-i Mo-ong disebut sebagai musuh besarnya itu?

Hek-i Mo-ong memang orang yang amat aneh.

Dalam urusan-urusan besar seperti kegagalannya dalam usaha pemberontakan yang lalu, yang menghancurkan seluruh harapan dan ambisinya, dia sama sekali tidak merasa sakit hati dan tidak mendendam kepada siapapun juga.

Akan tetapi rupa-rupanya ada suatu pantangan bagi kakek ini, yalah kekalahan.

Dia tidak pernah dapat melupakan kekalahan dalam adu ilmu silat.

Selama hidupnya sebagai seorang datuk sesat, jarang dia menderita kekalahan.

Satu-satunya kekalahan mutlak harus diakuinya adalah kekalahannya ketika dia berhadapan dengan Pendekar Super Sakti di Pulau Es.

Akan tetapi pendekar itu telah tiada dan dia tidak menaruh hati dendam kepada siapapun.

Akan tetapi, di antara kekalahan-kekalahannya yang hanya dapat dihitung dengan jari tangan itu, dia sukar untuk dapat melupakan kekalahannya terhadap seorang pendekar yang pada waktu itu baru saja muncul di dania persilatan.

Pendekar itu adalah Kam Hong.

Para pembaca kisah Suling Emas Dan Naga Siluman tentu masih mengenal siapa pendekar Kam Hong ini.

Pendekar Kam Hong adalah keturunan terakhir dari Pendekar Suling Emas dan pendekar ini menjadi pewaris pula dari semua ilmu keluarga Suling Emas.

Bahkan secara kebetulan sekali, di daerah Himalaya, pendekar ini menemukan dan mewarisi suling emas berikut Ilmu Kim-siauw Kiam-sut dan ilmu meniup suling emas yang amat hebat.

Pendekar ini akhirnya berjodoh dengan seorang gadis yang masih terhitung sumoinya sendiri karena gadis itu yang bernama Bu Ci Sian adalah kawan sependeritaan di Himalaya ketika mereka berdua menemukan benda pusaka berupa suling emas dan ilmunya itu, sehingga keduanya berhak untuk mempelajarinya.

Kisah mereka yang amat menarik dapat diikuti dalam seri kisah Suling Emas Dan Naga Siluman .

Setelah menikah, Kam Hong dan Bu Ci Sian lalu tinggal di sebuah bangunan tua di puncak Bukit Nelayan.

Bangunan ini sudah kuno akan tetapi kokoh dan besar, sedangkan di sebelah dalamnya menyerupai istana tua yang kuno.

Letaknya di puncak Bukit Nelayan, di tepi sungai di Pegunungan Tai-han-san.

Istana ini dahulu menjadi pusat dari perkumpulan Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hati Kosong) yang dipimpin sejak turun-menurun oleh keluarga Yu.

Keturunan terakhir bernama Yu Kong Tek yang berjuluk Sai-cu Kai-ong (Raja Pengemis Bermuka Singa).

Akan tetapi perkumpulan itu sendiri sudah lama bubar.

Sai-cu Kai-ong inilah yang menjadi guru pertama dari pendekar Kam Hong, menggemblengnya dengan ilmu-ilmu keluarga ketua Khong-sim Kai-pang.

Kam Hong sudah dianggap sebagai anak atau cucu sendiri oleh Sai-cu Kai-ong.

Maka, setelah kakek bermuka singa yang gagah perkasa ini meninggal dan bangunan itu kosong, Kam Hong lalu mengajak isterinya untuk tinggal di situ dan hidup sebagai petani dan nelayan di tempat yang indah dan sunyi itu, di antara dusun-dusun di sekitarnya yang ditinggali oleh petani-petani miskin dan sederhana.

Pada waktu itu, suami isteri pendekar ini telah mempunyai seorang anak perempuan yang mereka beri nama Kam Bi Eng.

Anak ini mirip sekali dengan ibunya di waktu muda, baik wajahnya yang bulat manis itu, maupun kelincahannya, kejenakaannya dan keberanian atau kebengalannya.

Akan tetapi, dalam hal berpakaian, ia meniru ayahnya, sederhana dan seadanya.

Juga anak ini berbakat sekali dalam ilmu silat sehingga dalam usia hampir lima belas tahun, ia telah menguasai ilmu-ilmu silat tinggi dari kedua orang tuanya, dan juga ayahnya yang memperoleh pendidikan sastera telah mendidiknya dalam ilmu baca tulis sehingga dalam usia lima belas tahun Bi Eng telah pandai menulis sajak dan kepandaian lain seperti menyulam, menabuh yang-kim, menyuling, bahkan menyanyi dan menari!

Di antara para penghuni dusnn di sekitar tempat itu, ia dikenal sekali dan orang-orang menyebutnya Kam-siocia.

Kam Hong sendiri telah menjadi seorang laki-laki berusia hampir lima puluh tahun.

Dia selalu bersikap tenang dan halus, pakaiannya sederhana berpotongan sasterawan, akan tetapi biar sederha dia selalu bersih dan rapi.

Wajahnya tampan belum nampak tua dalam usia hampir setengah abad itu, bahkan rambutnya belum bercampur uban.

Hanya garis-garis di sekitar bibir dan matanya menunjukkan bahwa dia tidaklah muda lagi.

Sepasang matanya mencorong seperti mata naga dan ini mendatangkan kewibawaan yang kuat pada dirinya.

Banyaklah ilmu-ilmu silat tingkat tinggi yang dikuasai pendekar ini karena dia mewarisi ilmu-ilmu dari keluarga Suling Emas, nenek moyangnya, melalui Sin-siauw Seng-jin yang dahulu menjadi pembantu keluarga Suling Emas yang dipercaya menyimpan ilmu-ilmu itu untuk kemudian disampaikan kepada keturunan terakhir keluarga Suling Emas.

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 9

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert