Ceritasilat Novel Online

Kisah Para Pendekar Pulau Es 8

Eps 8 Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo.

Dari kakek bekas pembantu ini dia mempelajari ilmu-ilmu keluarganya, yaitu antara lain Hong-in Bun-hoat, Pat-sian Kiam-hoat, Lo-hai San-hoat, dan Kim-kong Sim-in.

Selain ini, dia pernah digembleng oleh Sai-cu Kai-ong keturunan ketua Khong-sim Kai-pang dan mewarisi ilmu-ilmu Khong-sim Sin-ciang dan Sai-cu Ho-kang.

Semua ilmu yang tcrmasuk ilmu silat tingkat tinggi ini masih ditambah lagi dengan ilmu yang diperolehnya bersama isterinya di Pegunungan Himalaya, yaitu Kim-siauw Kiam-sut dan ilmu meniup suling dengan pengerahan khi-kang tingkat tinggi.

Kalau sudah memegang suling dan kipasnya, pendekar ini tiada ubahnya seperti mendiang Pendekar Suling Emas yang menjadi nenek moyangnya, gagah perkasa dan sukar ditandingi!

Isterinya, Bu Ci Sian, juga bukan seorang sembarangan.

Ketika masih gadis remaja ia pernah digembleng oleh seorang tokoh aneh dari Himalaya yang berjuluk See-thian Coa-ong (Raja Ular Dari Barat).

Dari si raja ular ini ia memperoleh Ilmu Sin-coa Thian-te-ciang dan ilmu pawang ular.

Kemudian, ia masih memperoleh hadiah dari Pendekar Suma Kian Bu yang melatih penggabungan sin-kang Im dan Yang kepadanya.

Selain itu, Bu Ci Sian ini adalah puteri dari Bu-taihiap, pendekar yang amat terkenal beberapa puluh tahun yang lalu sebagai seorang pendekar besar yang banyak isterinya!

Memiliki ayah dan ibu seperti itu, tentu saja Bi Eng mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi.

Apalagi ilmu memainkan suling sebagai senjata.

Ibunya juga mempelajari Ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas) dan ilmu meniup suling, bahkan ibunya juga memiliki senjata suling emas yang persis milik ayahnya, hanya lebih kecil.

Dan ia sendiripun telah dibuatkan sebuah suling emas seperti milik ibunya dan gadis ini sudah pandai pula mempergunakan sulingnya sebagai senjata, baik dimainkan sebagai pedang, atau dipergunakan suaranya untuk mengalahkan lawan, atau dipakai untuk menghibur diri memainkan nyanyian-nyanyian merdu.

Demikianlah serba singkat tentang keadaan keluarga Kam yang tinggal di istana tua bekas milik Raja Pengemis itu.

Selama tinggal di situ, keluarga ini tidak pernah mendapat gangguan, juga mereka tidak mau mencari perkara, bahkan boleh dibilang mereka menjauhkan diri dari dunia kang-ouw dan tidak mau melibatkan diri dengan urusan dunia ramai.

Mereka sudah merasa berbahagia hidup tenteram di antara orang-orang dusun di sekeliling tempat itu, hidup sederhana namun sehat dan tenteram.

Oleh karena itu, mereka sama sekali tidak pernah mimpi bahwa pada waktu itu, ada bahaya besar mengancam mereka, seperti awan mendung hitam gelap yang terbawa angin perlahan-lahan menuju ke tempat sunyi itu.

Siapakah yang datang menuju ke istana kuno pada siang hari itu?

Bukan hanya Hek-i Mo-ong dan Ceng Liong dua orang saja, melainkan empat orang yang amat lihai karena selain dua orang ini, kini ada pula dua orang lain yang menemani guru dan murid ini.

Dan mereka itu bukan lain adalah Jai-hwa Siauw-ok dan Louw Tek Ciang!

Bagaimanakah dua orang jahat ini dapat bergabung dengan Hek-i Mo-ong?

Seperti telah kita ketahui, Hek-i Mo-ong berhasil membujuk Ceng Liong untuk membantunya menghadapi musuh besarnya, yaitu Kam Hong.

Guru dan murid itu melakukan perjalanan naik perahu menuju ke timur.

Arus air yang deras itu mempercepat perjalanan mereka dan beberapa hari kemudian, mereka mendarat dan meninggalkan sungai yang terus mengalir masuk ke Sungai Huang-ho, menjadi aliran besar menuju ke laut timur.

Mereka sendiri melanjutkan perjalanan dengan melalui darat, menuju ke utara, ke arah Pegunungan Tai-hang-san yang sudah nampak puncak-puncaknya menjulang tinggi di angkasa.

Siang itu matahari yang terik tidak dapat mengurangi kesejukan hutan di kaki Gunung Tai-hang-san.

Hek-i Mo-ong dan Ceng Liong berjalan perlahan memasuki hutan dan dari luar hutan sudah nampak dinding sebuah kuil kuno yang agaknya terlantar dan tidak dipergunakan lagi oleh orang sebagai tempat pemujaan.

Akan tetapi, ketika guru dan murid itu lewat di depan kuil, mendadak Ceng Liong menahan langkahnya dan memandang ke arah kuil dengan alis berkerut.

Dia mendengar isak tangis wanita dari dalam kuil itu.

Tentu saja Hek-i Mo-ong juga mendengarnya.

Di antara isak tangis itu, terdengar suara wanita berkata dengan suara memohon.

"....aku ingin pulang.... ahhh, aku ingin pulang....! Ceng Liong makin penasaran, akan tetapi Hek-i Mo-ong tersenyum lebar sambil berkata.

"Cin Liong, perlu apa mencampuri urusan orang dan mengganggu kesenangan orang? Hayo kita lanjutkan perjalanan kita.! Ceng Liong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

"Aku tidak ingin mencampuri urusan orang, apalagi mengganggu kesenangan orang. Akan tetapi wanita itu menangis dan suaranya berduka. Siapa tahu aku akan dapat menolongnya.! Dan pemuda inipun melangkah mendekati kuil.

"Heh-heh, engkau cari perkara saja!! kata Hek-i Mo-ong, akan tetapi kakek ini tidak mencegah, hanya berdiri memandang sambil tersenyum lebar ketika muridnya memasuki kuil tua itu. Ruangan depan kuil itu kator karena gentengnya sudah banyak yang berlubang sehingga ruangan itu kemasukan air bocor dan kotoran. Ruangan itu kosong, akan tetapi isak tangis itu datang dari arah belakang. Ceng Liang terus memasuki kuil dengan perlahan-lahan karena dia tidak mau mengagetkan wanita yang sedang menangis itu. Tiba-tiba dia berhenti melangkah ketika mendengar suara laki-laki tertawa mengejek, agaknya tertawa kepada wanita itu.

"Kau ingin pulang? Pulang ke akhirat? Ha-ha, jangan khawatir. Aku akan memulangkanmu ke akhirat kalau aku sudah bosan padamu!! "Cici....!! Suara wanita yang tadi menjerit dan menangis.

"Siauw-moi, bersabarlah....!!

Terdengar suara wanita ke dua, akan tetapi wanita inipun menangis sehingga kini terdengar suara dua orang wanita sesenggukan.

Ceng Liong semakin penasaran dan kini dia mempercepat langkahnya memasuki ruangan belakang kuil itu yang gentengnya masih utuh sehingga lantainyapun agak bersih.

Ketika dia melangkahi pintu tanpa daun itu masuk, dia melihat ke atas lantai dan mukanya seketika berobah merah karena malu.

Di lantai itu terdapat dua orang laki-laki, seorang laki-laki tua yang pakaiannya mewah dan wajahnya pesolek, usianya lima puluh tahun lebih, dan laki-laki ke dua masih muda, paling banyak dua puluh lima tahun, juga pakaiannya mewah dan wajahnya tampan.

Akan tetapi, dua orang laki-laki ini masing-masing memangku seorang gadis muda yang pakaiannya hampir telanjang, dan dua orang laki-laki itu sedang mempermainkan gadis masing-masing, meraba dan menciuminya.

Dua orang gadis itu menangis, akan tetapi tidak melawan.

Wajah mereka pucat dan melihat mata mereka yang merah dan agak bengkak, mudah diduga bahwa mereka itu banyak menangis.

Melihat betapa dua orang pria itu sedang bermesraan dengan wanita, tentu saja Ceng Liong menjadi malu dau kikuk, akan tetapi hatinya juga merasa penasaran karena keadaan dua orang wanita itu sama sekali tidak dapat dibilang gembira dengan kemesraan yang diperlihatkan dua orang pria itu.

Kalau saja dia tahu bahwa dia akan menemukan pemandangan seperti ini, tentn dia tidak akan sudi masuk.

Akan tetapi dia sudah terlanjur masuk dan hatinyapun menjadi penasaran.

Hanya, apa yang harus dikatakan atau dilakukan setelah dia masuk?

Biarpun usianya sudah hampir enam belas tahun dan dia menjadi murid seorang datuk sesat, rajanya kaum penjahat, namun selama ini gurunya tidak pernah mengajaknya bergaul dengan para penjahat sehingga Ceng Liong tidak dapat menduga apa yang sedang terjadi di depan matanya itu.

Akan tetapi, dia adalah seorang yang mempunyai kecerdikan, maka dalam keadaan malu dan kikuk itu dia masih saja dapat bicara dengan tenang.

"Apakah yang sedang terjadi di sini?!

Pertanyaan ini seperti ditujukan kepada diri sendiri, bukan pada seorang tertentu di antara empat orang yang berada di dalam ruangan itu.

Dua orang pria itu sudah sejak tadi tahu akan munculnya pemuda remaja itu, namun agaknya mereka asyik dengan kesibukan mereka sendiri yang menyenangkan dan sama sekali tidak memperdulikan Ceng Liong.

Ketika Ceng Liong mengeluarkan pertanyaan itu, pria muda itu mengangkat mukanya dari dada wanita yang dipangkunya, menoleh dan memandang kepada Ceng Liong sambil tersenyum!

Akan tetapi senyum pada wajah yang tampan itu amat tidak menyenangkan hati Ceng Liong.

Senyum yang licik, pikirnya, maka diapun menentang pandang mata pria itu dengan tajam penuh selidik.

Agaknya pria itupun tercengang melihat penegurnya seorang pemuda remaja yang demikian tampan walaupun pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang petani muda.

"Eh, bocah ingusan!

Apakah engkau tidak dapat menduga apa yang sedang terjadi di sini?

Apakah engkau belum pernah melihat orang bermain cinta?

Setidaknya ayah ibumu sendiri?

Kami berdua sedang bersenang-senang dengan kekasih kami, apa kau tidak lihat?!

Biarpun dia sama sekali belum berpengalaman, akan tetapi Ceng Liong sudah cukup dewasa untuk dapat menduga apa yang terjadi.

Dia tadi hanya mengeluarkan pertanyaan itu untuk menutupi rasa malu dan kikuknya.

Akan tetapi kini, setelah dia melihat benar keadaan dua orang gadis itu, gadis-gadis muda yang mungkin baru lima belas tahun usianya, yang memandang kepadanya dengan mata terbelalak merah dan ketakutan seperti mata kelinci dalam cengkeraman harimau, rasa malu dan kikuknyapun lenyap.

Ada sesuatu yang tidak wajar di sini, pikirnya.

Orang bercintaan dan bercumbuan tidak memperlihatkan wajah takut dan duka seperti itu!

"Aku tadi mendengar suara tangis dan orang minta pulang....!

katanya lagi sambil menatap wajah kedua orang gadis itu bergantian.

Dua orang gadis yang masih amat muda dan berwajah manis, akan tetapi amat pucat dan seperti orang kurang makan, nampak lemas.

"Kamu hendak mencampuri urusan kami?! bentak orang muda itu, kini senyumnya menghilang dan matanya mengeluarkan sinar berapi.

"Tidak, tapi kalau ada orang menangis dan perlu kutolong....! "Ha-ha-ha!! Tiba-tiba orang muda itu tertawa, sedangkan orang yang tua sama sekali tidak perduli, hanya melanjutkan perbuatannya yang tidak tahu malu, seolah-olah di situ tidak terdapat orang lain. Gadis yang dipangkunya menggeliat-geliat, lalu menangis dan berkata, ditujukan kepada Ceng Liong.

"Tolonglah kami.... tolonglah kami, kami diculik....! Barulah Ceng Liong mengerti dan diapun tahu bahwa dua orang itu adalah penculik dan pemerkosa wanita, yang di kalangan penjahat dinamakan jai-hwa-cat (Penjahat Pemetik Bunga). Maka seketika mukanya menjadi merah dan matanya mengeluarkan sinar mencorong. Agaknya, penculik yang muda itu dapat mengerti bahwa pemuda remaja itu menjadi marah, maka diapun tertawa lagi.

"Ha-ha-ha, memang engkau dapat menolong mereka berdua ini, bocah lancang. Engkau antarkan mereka ke akhirat. Nah, kau berangkatlah lebih dulu!! Tangannya bergerak ke depan, ke arah Ceng Liong.!Singgg....!! Sinar perak menyilaukan mata menyambar ke arah leher Ceng Liong dan ternyata yang disambitkan oleh penjahat muda itu adalah sebatang pisau terbang yang amat tajam dan runcing. Kalau bukan Ceng Liong yang diserang seperti itu, tentu di lain saat dia sudah menggeletak tak bernyawa dengan leher putus terbabat pisau itu! Akan tetapi, melihat serangan ini, Ceng Liong mendengus.

"Huhhh!!

Tangan kirinya bergerak ke depan, jari tangannya dibuka dan tiba-tiba saja jari telunjuk dan ibu jarinya telah menjepit pisau terbang itu dengan gerakan yang sedemikian tenangnya seolah-olah apa yang dilakukannya tadi merupakan pekerjaan yang teramat mudah!

Kemudian, jari-jari kedua tangannya menekuk dan terdengar suara "krekk!!

lalu pisau yang sudah menjadi empat potong itu dilemparkannya ke atas lantai!

Pemerkosa muda itu adalah Louw Tek Ciang sedangkan yang tua adalah Jai-hwa Siauw-ok.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya hati Louw Tek Ciang ketika dia melihat betapa pemuda remaja yang disangkanya tentu akan roboh dengan leher putus sehingga dia dapat menikmati pemandangan ketika darah muncrat-muncrat dari leher pemuda itu ternyata dengan amat mudahnya dapat menangkap hui-to (pisau terbang) dengan jepitan dua buah jari, kemudian mematah-matahkan pisaunya itu seperti orang mematah-matahkan sebatang ranting belaka!

Dia bangkit berdiri setelah melemparkan gadis yang dipermainkannya tadi ke samping seperti orang membuang kain kotor yang tidak terpakai lagi, memandang kepada Ceng Liong seperti hendak menelan pemuda remaja itu bulat-bulat.

Kemudian, dengan suara lantang dia berseru.

"Bocah setan, siapakah engkau? Berani engkau mencampuri urusan pribadi kami?! Ceng Liong tersenyum mengejek dan menggerakkan pundaknya.

"Siapa mencampuri urusan pribadi kalian? Aku hanya mendengar wanita menangis dan minta pulang, dan aku bertanya. Tapi engkau menyambutku dengan lemparan pisau dan ini bukan urusan pribadimu lagi.! Louw Tek Ciang tentu saja tidak memandang kepada pemuda remaja itu. Kalau hanya sedikit kepandaian menangkap dan mematahkan pisau sedemikian saja, tentu tidak akan membuat dia menjadi gentar. Permainan kanak-kanak itu! "Setan cilik! Kau mau apa?! "Setan besar!! Ceng Liong balas memaki sambil tersenyum karena memang dia merasa geli melihat lagak orang di depannya itu.

"Aku mau agar kalian membebaskan dua orang nona itu, kemudian engkau makan potongan-potongan pisaumu ini sampai habis, baru aku mau sudah!! Tek Ciang terbelalak. Alangkah beraninya bocah ini! Wajahnya menjadi merah saking marahnya. Dia akan membuat anak ini menyesal tujuh turunan telah berani bersikap sedemikian kurang ajar kepadanya.

"Keparat kau!! "Jahanam kau!! Ceng Liong balas memaki, makin gembira melihat tingkah orang ini. Dia tahu orang ini marah besar, dan justeru inilah yang menggembirakan hatinya. Wataknya yang suka menggoda orang timbul.

"Eh, apakah bisamu hanya membikin susah wanita, melempar-lemparkan pisau dan maki-maki orang saja?! Louw Tek Ciang yang biasanya pandai bicara, cerdik dan licik itu, kini saking marahnya kehabisan akal untuk balas mengejek dan memaki. Dia lalu mengerahkan tenaganya dan menghantam dengan tangan kanan terbuka ke arah Ceng Liong.

"Mampuslah!! bentaknya sambil mengerahkan tenaganya dalam pukulan itu. Ceng Liong cepat mengelak dan kini matanya terbelalak.

"Wuuutt!! Pukulan yang mengandung hawa panas sekali itu lewat di sampingnya dan kini Tek Ciang yang juga kaget melihat betapa anak itu dengan mudahnya dapat mengelak dan menghindarkan diri dari pukulannya, sudah menyusulkan pukulan ke dua yang lebih panas lagi. Dan kini Ceng Liong benar-benar terkejut. Dia mengenal pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang biarpun belum dikuasainya akan tetapi sudah amat dikenal teorinya itu. Orang ini menyerangnya dengan Hwi-yang Sin-ciang! Karena dia maklum betapa berbahayanya pukulan ke dua ini dan sukar pula untuk dielakkan, terpaksa diapun mengerahkan tenaga sin-kangnya dan menangkis pukulan dengan sambutan telapak tangannya pula.

"Desss....!!

Dua tenaga sin-kang yang kuat bertemu di udara dan akibatnya, keduanya terpental mundur sampai tiga langkah!

Tentu saja Tek Ciang lebih kaget lagi.

Tidak disangkanya bahwa pemuda remaja itu akan sanggup menahan pukulannya dengan tenaga yang demikian dahsyatnya.

Baru terbuka matanya bahwa pemuda remaja yang disangkanya seorang yang usil dan lancang hendak mencampuri urusannya dan hendak mengganggu kesenangannya itu ternyata adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan mampu menahan pukulan Hwi-yang Sin-ciang!

Sementara itu, kakek yang tadinya bersenang-senang mempermainkan gadis ke dua, kini juga memandang penuh perhatian dan diapun terkejut melihat kehebatan pemuda remaja itu.

Tahulah dia bahwa ada bahaya mengancam.

Siapa tahu pemuda remaja itu tidak datang sendiri saja dan masih ada kawannya yang lebih lihai di luar kuil.

Maka Jai-hwa Siauw-ok segera melakukan tindakan pengamanan.

Yang terpenting, dua korban itu harus dibunuh dulu agar tidak dapat menjadi saksi.

Dia bangkit berdiri, tangannya bergerak cepat.

Terdengar suara mencicit seperti tikus terjepit dan ada sinar menyambar ke arah dua orang gadis itu yang sudah terlempar ke lantai.

Dua orang gadis itu menjerit kecil dan tewas seketika karena mereka telah menjadi korban serangan Kiam-ci (Jari Pedang) yang dilakukan oleh Jai-hwa Siauw-ok.

Setelah itu, Jai-hwa Siauw-ok menyerang Ceng Liong dengan Kiam-ci.

Ketika Ceng Liong mendengar bunyi mencicit dan sinar tangan menyambar ke arahnya, dia mengenal serangan ampuh dan cepat dia mengelak ke kiri.

Dari kiri, tangan Tek Ciang menyambar dan menghantamnya.

Kini Tek Ciang mempergunakan pukulan Swat-im Sin-ciang yang tentu saja dikenal pula oleh Ceng Liong.

Pemuda ini penasaran sekali dan kembali dia menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Desss....!! Keduanya terpental lagi, tanda bahwa keduanya memiliki tenaga yang seimbang. Bukan hanya Tek Ciang yang merasa heran, bahkan Jai-hwa Siauw-ok juga kaget sekali. Guru dan murid ini yang maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh, cepat bergerak hendak maju berbareng.

"Heh-heh-heh-heh, Siauw-ok, tidak malu engkau mengeroyok muridku?! Dan muncullah Hek-i Mo-ong di ambang pintu tak berdaun ruangan itu. Melihat Hek-i Mo-ong, tentu saja Jai-hwa Siauw-ok terkejut bukan main dan wajahnya berobah pucat.

"Hek-i Mo-ong....!! serunya dan seruan ini ditujukan kepada muridnya agar muridnya mengenal kakek yang pernah diceritakannya kepada muridnya sebagai raja datuk sesat itu. Dan Tek Ciang juga teringat akan cerita itu, maka pemuda inipun cepat melangkah mundur dan memandang kakek itu dengan mata terbelalak.

"Ah, kiranya dia ini muridmu sendiri, Mo-ong? Maaf, karena kami tidak mengenalnya maka terjadi kesalahpahaman,! kata Jai-hwa Siauw-ok merendah. Tek Ciang adalah seorang yang cerdik. Dia sudah mendengar dari gurunya bahwa Hek-i Mo-ong memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali, jauh lebih lihai daripada Jai-hwa Siauw-ok. Tentu saja dia tidak takut karena kepandaiannya sendiripun tidak kalah dibandingkan dengan Siauw-ok, akan tetapi melihat betapa murid kakek itu juga lihai, dia pikir lebih aman kalau bersahabat dengan mereka ini. Apalagi, bukankah mereka itu segolongan? Maka diapun cepat menjura dengan sikap hormat dan merendah sekali kepada Hek-i Mo-ong.

"Ah, kiranya saya memperoleh keberuntungan dapat menghadap locianpwe yang namanya menjulang tinggi di angkasa dan sudah lama saya kagumi itu.

Dan murid locianpwe yang masih amat muda ini sungguh lihai bukan main ilmunya, menjadi bukti betapa hebatnya kepandaian locianpwe sebagai gurunya.!Suasana penuh dengan ketegangan dan kegelisahan bagi Jai-hwa Siauw-ok.

Dia sudah mengenal baik watak Hek-i Mo-ong.

Teringat dia betapa dia pernah membantu Mo-ong dan kawan-kawan yang menjadi sekutunya menyerbu Pulau Es dan dia sendiri melarikan diri untuk menyelamatkan diri sendiri sambil membawa gadis cucu Pendekar Super Sakti sebagai tawanan.

Hal ini saja sudah menjadi alasan cukup bagi Hek-i Mo-ong untuk membunuhnya!

Dan kini mereka bertemu di sini, malah timbul perkelahian antara dia dan muridnya melawan murid Mo-ong.

Ini merupakan alasan ke dua yang cukup untuk membuat Raja Iblis itu turun tangan membunuh dia dan muridnya.

Tentu saja dia tidak akan menyerahkan nyawa begitu saja.

Muridnya telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, mungkin malah lebih kuat daripadanya, dan dengan kepandaian mereka berdua, mungkin saja mereka akan dapat menandingi Hek-i Mo-ong.

Akan tetapi di situ terdapat murid Hek-i Mo-ong yang biarpun masih remaja namun sudah lihai itu dan hal ini membuatnya semakin gelisah.

Seluruh urat syaraf di tuhuhnya menegang dan dia sudah siap-siap untuk melawan apabila Hek-i Mo-ong turun tangan menyerang seperti yang diduganya.

Dugaan Jai-hwa Siauw-ok memang tidak berlebihan.

Hek-i Mo-ong adalah seorang datuk besar yang berjuluk Raja Iblis.

Kesalahan sedikit saja sudah cukup baginya untuk mencabut nyawa orang lain.

Apalagi kesalahan yang diperbuat oleh Jai-hwa Siauw-ok dan muridnya itu terlalu besar.

Siauw-ok telah berkhianat dalam penyerbuan di Pulau Es, lari menyelamatkan diri sendiri tanpa memperdulikan kawan-kawan.

Dan kini, Siauw-ok dan muridnya malah berani mengeroyok Ceng Liong.

Dalam keadaan biasa, tentu apa yang diduga oleh Siauw-ok itu akan terjadi.

Hek-i Mo-ong tentu akan turun tangan "menghukum!

mereka.

Akan tetapi, sekali ini Hek-i Mo-ong malah tersenyum memandang kepada Tek Ciang.

"Siauw-ok, dia ini muridmukah? Sungguh murid yang baik sekali!! Jai-hwa Siauw-ok hampir tidak dapat mempercayai mata dan telinganya. Hek-i Mo-ong tersenyum, bersikap ramah dan malah memuji Tek Ciang! Diapun merasa girang dan cepat berkata.

"Mo-ong, terima kasih atas pujianmu!!

"Aaah, kita di antara teman sendiri, tidak perlu banyak sungkan.

Kesalahpahaman tadi adalah biasa, dan baik sekali bagi muridku untuk berlatih.!

"Muridmu hebat, Mo-ong.

Masih begini muda akan tetapi sudah hebat ilmunya.!

"Ha-ha-ha, tentu saja!

Kalau benar dipertandingkan, engkau sendiripun tentu akan kalah oleh dia.

Akan tetapi, muridmu itupun bukan barang murahan.

Siauw-ok, kenapa engkau dan muridmu berada di sini?

Apakah kebetulan saja?

Ataukah ada hubungannya dengan puncak Bukit Nelayan?!

"Bukit Nelayan....?

Eh, Mo-ong, bagaimana....

bagaimana engkau bisa mengetahuinya....?!

"Heh-heh, jangan mengira aku sudah pikun karena tua.

Engkau hendak pergi ke sana untuk mencari Bu Ci Sian, bukan?!

Jai-hwa Siauw-ok mengangguk-angguk.

"Agaknya Mo-ong telah mengetahui segalanya.! Kembali Hek-i Mo-ong tertawa "Tentu saja aku tahu. Coba kau ingat di antara Im-kan Ngo-ok (Lima Jahat Dari Akhirat) yang menjadi guru-gurumu, bukankah Ji-ok Kui-bin Nio-nio dan Su-ok Siauw-siang-cu tewas di tangan Bu Ci Sian?! Jai-hwa Siauw-ok mengangguk, dan Hek-i Mo-ong melanjutkan.

"Dan kini Bu Ci Sian telah menikah dan tinggal di puncak Bukit Nelayan maka melihat engkau di sini bersama muridmu yang lihai, ke mana lagi engkau hendak pergi kalau bukan ke bukit itu? Dan agaknya engkau dan muridmu sudah membawa bekal.... ha-ha, agaknya muridmu itu bukan hanya mewarisi ilmu-ilmumu, melainkanjuga kebiasaanmu!! Hek-i Mo-ong memandang ke arah mayat dua orang gadis belasan tahun itu. Jai-hwa Siauw-ok tersenyum.

"Ah, hanya kesenangan laki-laki biasa saja, Mo-ong. Semua dugaanmu memang benar. Kami berdua hendak ke sana dan kalau mungkin, kami hendak membalas dendam kematian guru-guruku.! "Ha-ha-ha-ha!! Tiba-tiba Hek-i Mo-ong tertawa bergelak dan Jai-hwa Siauw-ok mengerutkan alisnya. Jelas bahwa Raja Iblis itu mentertawakannya, akan tetapi dia menanti keterangan dengan sabar karena maklum bahwa Raja Iblis ini berwatak kejam sekali, sedikit-sedikit mudah saja membunuh orang, baik orang itu sekutunya maupun musuhnya. Dan memang Hek-i Mo-ong melanjutkan kata-katanya yang diawali suara ketawa mengejek ini.

"Dan engkau bersama muridmu hanya pergi mengantar nyawa dengan sia-sia belaka, untuk mati konyol, ha-ha ha!! Kini Jai-hwa Siauw-ok menjadi penasaran, bahkan Louw Tek Ciang juga memandang tajam dengan alis berkerut. Bagaimanapun juga, kakek ini memandang rendah kepada dia dan gurunya dan biarpun kakek ini Hek-i Mo-ong, dia tidak berhak memandang rendah orang segolongan seperti itu.

"Harap locianpwe suka menjelaskan!! katanya penasaran, sementara itu, Ceng Liong sejak tadi hanya mendengarkan, akan tetapi matanya sering tertuju kepada dua buah mayat gadis itu.

"Ha-ha-ha, apakah kalian belum tahu dengan siapa Bu Ci Sian menikah? Dan apa macam suaminya? Ha-ha, suaminya itu adalah Kam Hong si Pendekar Suling Emas!! Jai-hwa Siauw-ok terbelalak, sedangkan Tek Ciang tidak perduli karena memang pemuda yang belum lama berkecimpung di dunia kang-ouw ini belum pernah mendengar akan nama Pendekar Suling Emas yang merupakan tokoh tua dalam dongeng persilatan, lebih tua daripada nama keluarga Pulau Es. Sebaliknya, Jai-hwa Siauw-ok sudah mendengar akan nama Pendekar Suling Emas, maka dia terbelalak dan bertanya dengan suara terheran.

"Ah, jangan berkelakar, Mo-ong. Bukankah Pendekar Suling Emas hidup di jaman puluhan tahun yang lalu, lebih seratus tahun yang lalu? Mana mungkin Bu Ci Sian menikah dengan dia yang sudah lama mati.! Kembali Hek-i Mo-ong tertawa, tertawa gembira, tawa seorang yang merasa unggul dan lebih tahu.

"Bodoh, tentu saja bukan dengan Pendekar Suling Emas yang pertama, melainkan dengan keturunannya.

Dan Kam Hong adalah keturunannya yang telah mewarisi semua ilmu kepandaian keluarga Suling Emas.

Maka, kalau kalian ke sana, selain berhadapan dengan Bu Ci Sian, juga akan berhadapan dengan suaminya itu yang sepuluh kali lebih lihai daripada Bu Ci Sian.!

Jai-hwa Siauw-ok tertegun dan saling pandang dengan muridnya.

Hal ini memang sama sekali tidak pernah disangkanya.

Menurut penyelidikannya, Bu Ci Sian hidup di puncak Bukit Nelayan itu bersama suaminya dan seorang anaknya yang sudah remaja puteri.

Sama sekali dia tidak pernah memperhitungkan bahwa suaminya malah lebih lihai daripada pendekar wanita itu.

Akan tetapi Jai-hwa Siauw-ok adalah seorang cerdik.

Diapun mempunyai dugaan bahwa kedatangan orang macam Hek-i Mo-ong ke tempat itu sudah pasti tidak sia-sia, bukan sekedar jalan-jalan saja, tentu ada maksudnya tertentu yang amat penting.

"Mo-ong, apakah engkau dan muridmu juga hendak pergi ke sana? Barangkali kalian hendak mencari.... eh, orang she Kam yang lihai itu?! Hek-i Mo-ong tertawa bergelak, nampak giginya yang tinggal tiga buah di dalam rongga mulutnya.

"Ha-ha-ha, engkau cerdik seperti srigala!

Memang benar, aku hendak membuat perhitungan pribadi dengan Kam Hong.!

Kini mengertilah Jai-hwa Siauw-ok mengapa Mo-ong tidak membunuh dia dan muridnya.

Kiranya Raja Iblis inipun hendak menyerbu puncak Bukit Nelayan dan agaknya si Raja Iblis ini masih ragu-ragu apakah akan mampu mengalahkan keturunan Pendekar Suling Emas.

Inilah sebabnya maka Hek-i Mo-ong tidak mengganggunya, bahkan mendekatinya untuk diajak bersekutu lagi, kini bukan menyerbu Pulau Es, melainkan menyerbu puncak Bukit Nelayan!

Persekutuan yang saling menguntungkan, yang satu pihak hendak memusuhi isterinya dan pihak yang lain memusuhi suaminya.

Jadi dapat saling bantu!

Maka diapun berani tertawa bergelak dan wajahnya yang tua akan tetapi masih tampan itu nampak jauh lebih muda kalau tertawa.

"Bagus sekali, Mo-ong. Agaknya memang sudah ditakdirkan bahwa kita akan menjadi sekutu dan sekawan dalam menghadapi apapun. Engkau dan muridmu menyerbu suaminya, aku dan muridku meringkus isterinya dan anak mereka, dan pekerjaan kita menjadi jauh lebih ringan, bukan?! Hek-i Mo-ong tertawa.

"Huh, engkau dan muridmu, yang dipikirkan hanya perempuan saja.

Nah, mari kita berangkat, berjalan sambil merencanakan siasat yang baik....!

Kakek ini menghentikan kata-katanya ketika dia menoleh dan melihat Ceng Liong sedang bekerja menggali tanah dengan kedua tangannya.

Jai-hwa Siauw-ok dan Tek Ciang memandang dengan mata terbelalak.

Sungguh mengejutkan melihat cara pemuda remaja itu menggunakan kedua tangannya menggali tanah.

Kedua tangannya itu seperti berubah menjadi cangkul baja saja ketika jari-jari tangannya menghunjam ke dalam tanah dan menggali dengan cepatnya.

Itulah kekuatan Coan-kut-ci (Jari Penusuk Tulang) yang amat hebat.

Sebentar saja Ceng Liong sudah dapat menggali tanah yang cukup lebar dan panjang.

"Eh, apa yang kau lakakan?! Hek-i Mo-ong bertanya kaget dan heran. Tanpa menoleh dan tanpa menghentikan pekerjaannya Ceng Liong menjawab.

"Mo-ong, aku tidak mau pergi sebelum mengubur mayat dua orang wanita ini.! Dan diapun menggali semakin cepat, seolah-olah hendak melampiaskan kemarahannya kepada tanah di depannya. Setelah lubang itu cukup besar, diapun lalu mengangkat dua mayat gadis itu ke dalam lubang, lalu ditimbuninya lubang itu dengan tanah. Sebentar saja dua orang gadis bernasib malang yang telah menjadi mayat itu telah dikuburkan dengan sederhana namun cukup pantas.

"Ha-ha-ha, Mo-ong, muridmu yang gagah perkasa ini sayang sekali berhati lemah!! Jai-hwa Siauw-ok tertawa dan Tek Ciang juga melempar senyum sinis.

"Jai-hwa-cat! Kau majulah dan kau coba kelemahanku!! Tiba-tiba Ceng Liong membentak, memasang kuda-kuda dan kedua lengannya masih hitam terkena lumpur, sepasang matanya mencorong ketika dia memandang kepada Jai-hwa Siauw-ok. Dimaki sebagai jai-hwa-cat (Penjahat Pemetik Bunga) orang itu sama sekali tidak marah, bahkan tertawa senang karena julukan itu baginya sama dengan pengakuan dan pujian! Bagaimanapun juga, andaikata dia tidak ingat bahwa pemuda itu murid Hek-i Mo-ong dan terutama sekali pada saat itu Hek-i Mo-ong hadir di situ, tentu dia tidak akan tinggal diam ditantang oleh seorang muda.

"Hemm, orang muda, gurumu dan aku adalah sekutu yang sama-sama akan menghadapi lawan tangguh. Tidak baik kalau urusan kecil kita harus bentrok sendiri dan melemahkan kedudukan kita sendiri,! katanya.

"Ceng Liong, musuh kita adalah penghuni istana di puncak Bukit Nelayan, bukan Jai-hwa Siauw-ok.

Jangan engkau layani ocehannya tadi, karena memang dia bermulut cerewet seperti perempuan!!

Mo-ong sengaja balas menghina untuk meredakan kemarahan Ceng Liong yang dikatakan berhati lemah tadi.

Dan Jai-hwa Siauw-ok yang mengerti maksud ucapan Hek-i Mo-ong hanya tersenyum saja, walaupun Tek Ciang memandang marah mendengar gurunya dimaki.

Empat orang itu lalu melanjutkan perjalanan.

Hek-i Mo-ong dan Jai-hwa Siauw-ok berbincang-bincang membicarakan musuh-musuh mereka.

Memang terdapat permusuhan antara keluarga yang tinggal di istana tua Khong-sim Kai-pang di puncak Buki Nelayan itu dengan mereka berdua.

Kam Hong pernah bentrok dengan Hek-i Mo-ong dan kakek iblis ini telah dihajarnya, dan terpaksa mengakui keunggulan pendekar itu.

Hal ini membuat dia merasa penasaran sekali dan hatinya takkan puas sebelum dia dapat membalas kekalahan itu.

Adapun Jai-hwa Siauw-ok mempunyai dendam sakit hati kepada Bu Ci Sian, pendekar wanita yang kini telah menjadi nyonya Kam Hong.

Bu Ci Sian pada belasan tahun yang lalu telah membunuh Ji-ok Kui-bin Nio-nio dan Su-ok Siauw-siang-cu, dua orang di antara Im-kan Ngo-ok (Lima Jahat Dari Akhirat).

Hal ini amat menyakitkan hati Jai-hwa Siauw-ok, tertama sekali kematian Ji-ok karena Ji-ok adalah gurunya dan juga kekasihnya.

Dendam kedua orang datuk sesat itu terjadi belasan tahun yang lalu dan mereka selalu menanti kesempatan untuk dapat membalas dendam (baca kisah Suling Emas dan Naga Siluman).

Gedung yang nampak kokoh kuat di puncak itu adalah bekas istana kuno yang di jaman dahulu terkenal sebagai pusat perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hati Kosong).

Di jaman dahulu, perkumpulan itu terkenal sekali dan mempunyai anggauta-anggauta yang berilmu tinggi.

Bangunannya kuno dan kokoh, temboknya tebal.

Akan tetapi, walaupun dari luar nampak tua dan kuno, namun di sebelah dalamnya bersih dan rapi, tanda bahwa tempat itu terawat dengan amat baik.

Di ruangan khusus keluarga terhias gambar-gambar lukisan dari nenek moyang atau keturunan Suling Emas, yang menjadi sahabat baik nenek moyang Khong-sim Kai-pang.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, yang tinggal di dalam istana tua itu adalah pendekar sakti Kam Hong, dan isterinya yang bernama Bu Ci Sian.

Kam Hong adalah keturunan Suling Emas, akan tetapi dia berhak menempati istana ini karena selain dia pernah menjadi anak angkat dan juga murid tokoh terakhir dari Khong-sim Kai-pang, juga keturunan terakhir dari Khong-sim Kai-pang yang bernama Yu Hwi, kini telah menikah dengan seorang pendekar she Cu yang tinggal di Pegunungan Himalaya, di Lembah Naga Siluman.

Untuk memperkenalkan keadaan Kam Hong di waktu mudanya kepada para pembaca yang belum membaca kisah Suling Emas Dan Naga Siluman , marilah kita menjenguk riwayat singkat pendekar sakti ini.

Kam Hong adalah keturunan terakhir dari keluarga Suling Emas dan sejak kecil dia diserahkan oleh seorang pelayan keluarga itu kepada Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek tokoh terakhir Khong-sim Kai-pang.

Dia diperlakukan sebagai anak atau cucu sendiri dan digembleng ilmu-ilmu keluarga itu.

Bahkan diapun telah ditunangkan dengan cucu Sai-cu Kai-ong yang merupakan keturunan terakhir keluarga Yu pendiri Khong-sim Kai-pang, yang bernama Yu Hwi.

Akan tetapi, agaknya Tuhan menghendaki lain.

Kam Hong dan Yu Hwi yang sejak kecil telah ditunangkan oleh keluarga yang sejak jaman dahulu telah saling bersahabat erat itu, setelah menjadi dewasa, menemukan jalan hidup masing-masing, bahkan menemukan pilihan hati masing-masing.

Karena itulah, usaha kedua keluarga untuk menjodohkan mereka gagal.

Kam Hong bertemu dengan Bu Ci Sian, saling jatuh cinta dan akhirnya mereka menjadi suami isteri.

Sebaliknya, Yu Hwi yang berjuluk Ang-siocia itu bertemu dengan Cu Kang Bu, seorang di antara pendekar-pendekar keluarga Cu pencipta suling emas aseli, saling jatuh cinta dan akhirnya menjadi suami isteri pula.

Kini Yu Hwi, yang sebenarnya merupakan keturunan terakhir dari para pemimpin Khong-sim Kai-pang dan menjadi ahli waris dari istana tua di Puncak Nelayan, ikut suaminya tinggal di Lembah Naga Siluman di Pegunungan Himalaya.

Dan istana tua itu kini dirawat dan ditinggali oleh Kam Hong yang dahulu menjadi tunangannya.

Demikianlah sekelumit riwayat Kam Hong yang berhubungan dengan istana tua itu.

Dia hidup rukun dan penuh kebahagiaan bersama isterinya dan seorang anaknya, anak tunggal yang mereka beri nama Kam Bi Eng.

Selain mereka bertiga, juga di situ terdapat enam orang pembantu atau juga dapat dinamakan murid pendekar itu, tiga orang pria dan tiga orang wanita yang usianya antara dua puluh sampai tiga puluh tahun.

Karena bantuan enam orang inilah maka istana tua itu selalu dalam keadaan bersih dan terawat baik.

Sudah menjadi kebiasaan bagi Kam Hong dan Bu Ci Sian untuk berjalan-jalan di waktu pagi sekali sebelum matahari terbit.

Mereka berdua akan berdiri di puncak bukit, menanti sampai matahari muncul di balik gunung, menikmati udara sejuk dan sinar matahari pagi yang segar.

Pada pagi hari itu, seperti biasa mereka berdua bergandeng tangan mendaki puncak sebelah timur untuk menyambut munculnya matahari di pagi yang cerah itu.

Kadang-kadang Bi Eng ikut kedua orang tuanya karena berjalan mendaki puncak di pagi hari, selain amat baik untuk latihan, menyehatkan badan dan batin, juga keindahan alam yang luar biasa akan dapat dinikmati dan tidak pernah membosankan.

Akan tetapi, pada pagi hari itu Bi Eng tidak ikut bersama ayah bundanya.

Ia sedang berlatih silat seorang diri di taman bunga di samping istana dengan asyikya.

Taman itu indah, terawat olehnya sendiri, bersama ibunya dan dibantu oleh tiga orang pelayan wanita.

Dan pada pagi hari itu Bi Eng melatih ilmu yang menjadi inti ilmu ayah bundanya, yaitu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas).

Seperti ayah bundanya, ia juga memainkan ilmu ini dengan sebatang suling emas.

Suling ini terbuat dari emas tulen, merupakan tiruan dari suling emas aseli di tangan ayahnya, seperti juga yang dijadikan senjata ibunya.

Mula-mula Bi Eng memainkan suling di tangannya secara lambat dan perlahan, nampak seperti orang menari saja, tarian yang indah dan aneh.

Akan tetapi, lambat-laun suling di tangannya bergerak semakin cepat dan mulailah terdengar suara melengking keluar dari suling itu dan bentuk sulingpun lenyap berobah menjadi gulungan sinar emas yang indah menyilaukan mata.

Semakin lama, suara melengking itu semakin nyaring, naik turun seperti melagu.

Tubuh yang berkelebatan gesit itu terbungkus galungan sinar emas, amat indahnya.

Bi Eng tidak tahu bahwa pada saat itu, empat pasang mata memandang dengan penuh kagum.

Empat orang itu bukan lain adalah Hek-i Mo-ong, Ceng Liong, Jai-hwa Siauw-ok dan Tek Ciang yang menonton dari luar taman.

Pandang mata Jai-hwa Siauw-ok dan Tek Ciang yang mata keranjang itu sudah berminyak menyaksikan seorang dara belasan tahun yang berwajah cantik jelita dan bertubuh padat dan bagaikan setangkai bunga sedang mulai mekar itu memainkan suling sedemikian indahnya.

Akhirnya Bi Eng menghentikan gerakan silatnya, lalu duduk bersila di atas tanah mengatur pernapasan.

Setelah pernapasannya pulih kembali, dara itu, tanpa menyadari bahwa ada empat orang selalu mengikuti gerak-geriknya dengan pandang mata kagum, lalu menempelkan lubang suling di depan mulutnya dan mulailah ia meniup suling itu, dan keluarlah suara suling yang amat merdu, meninggi dan merendah dengan indahnya.

Akan tetapi, empat orang yang mendengarkan itu terkejut bukan main.

Bukan hanya indah dan merdu suara suling itu, akan tetapi juga mengandung getaran hebat yang membuat mereka itu tergetar!

Tahulah mereka bahwa nona itu meniup suling bukan untuk melagu santai, melainkan meniup untuk melatih khi-kang yang amat kuat dan agaknya menjadi satu di antara keistimewaan ilmu keluarganya.

Dan memang sesungguhnyalah.

Tiupan suling Bi Eng itu masih dalam rangka berlatih ilmu dan tiupan itu dinamakan Kim-kong Sim-in, yaitu suara yang mengandung getaran dan dapat menyerang lawan!

Empat orang itu cepat mengerahkan sin-kang untuk melawan daya serang suara itu yang semakin lama menjadi semakin kuat menusuk-nusuk telinga.

Tek Ciang sudah tidak kuat lagi menahan gelora hatinya melihat dara jelita itu.

Nafsu berahinya timbul dan dia sudah keluar dari tempat sembunyinya.

Dara itu amat menarik hatinya dan dia seperti lupa akan maksud kedatangannya ke tempat itu.

Siapapun adanya gadis itu harus dia dapatkan!

Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan-bentakan dan muncullah enam orang, tiga orang pria dan tiga wanita.

Mereka adalah para pembantu keluarga Kam dan tadi seorang di antara mereka melihat munculnya empat orang asing di dekat taman.

Cepat dia memberitahukan teman-temannya dan kini mereka semua datang dan menegur.

"Siapakah kalian dan ada urusan apakah datang ke tempat kami?! tegur seorang di antara para pembantu keluarga Kam.

"Kami mencari Kam Hong dan Bu Ci Sian. Apakah kalian keluarga mereka?! tanya Tek Ciang tanpa mengalihkan pandang matanya kepada Bi Eng yang kini sudah menghentikan tiupan sulingnya dan memandang dengan alis berkerut.

"Majikan kami sedang keluar berjalan-jalan dan kami adalah pelayan-pelayan mereka. Kalau memang su-wi ada keperluan dengan majikan kami, harap menunggu di kamar tamu sampai mereka kembali dari jalan-jalan.! "Ha-ha-ha, kiranya hanya pelayan-pelayan yang harus mampus!! kata Jai-hwa Siauw-ok. Kini Bi Eng sudah bangkit berdiri dan kerut-merut di alisnya makin mendalam ketika ia mendengar kata-kata itu.

"Ada keperluan apakah kalian dengan ayah ibuku? Orang tuaku tidak mempunyai kenalan orang-orang kasar seperti kalian!! katanya dengan suara merdu akan tetapi tajam dan menusuk. Bi Eng memang menuruni watak ibunya yang lincah jenaka, akan tetapi juga dapat bersikap berani, bengal dan galak.

"Ehh, kiranya engkau nona Kam, puteri Kam Hong dan Bu Ci Sian?

Bagus, mari ikut aku bersenang-senang, nona manis!!

kata Tek Ciang dan mendengar kata-kata ini, melihat sikap ini, diam-diam Ceng Liong sudah merasa mendongkol sekali, Akan tetapi dia diam saja hanya memandang.

Enam orang pelayan itupun marah mendengar ucapan yang kurang ajar itu.

Mereka dapat menduga bahwa tentu kedatangan empat orang ini tidak mengandung niat baik, maka rasa setia terhadap majikan mereka membuat mereka serentak maju mengepung dan menyerang.

Karena yang berada paling depan adalah Jai-hwa Siauw-ok dan Tek Ciang, maka guru dan murid inilah yang lebih dahulu menghadapi serangan mereka.

Sambil tertawa mengejek, Tek Ciang menggerakkan tangannya menampar, demikian pula Jai-hwa Siauw-ok.

Dua orang pelayan pria mencoba untuk mengelak atau menangkis, akan tetapi hawa pukulan itu saja sudah membuat mereka seperti lumpuh dan terdengar suara keras ketika kepala mereka terkena tamparan.

Mereka hanya sempat menjerit satu kali lalu roboh dan tewas seketika!

Empat orang kawan mereka terkejut dan marah.

Mereka mencabut pedang dan menerjang maju.

Akan tetapi, hanya dengan beberapa kali menggerakkan tangan, Tek Ciang dan Jai-hwa Siauw-ok yang menyambut mereka itu telah berhasil menggulingkan mereka.

Mereka roboh dengan kepala retak dan tewas seketika dalam beberapa gebrakan saja!

"Ha-ha-ha-ha!!

Mo-ong tertawa bergelak.

"Hanya begini sajakah kekuatan pasukan yang dididik Kam Hong?

Ha-ha-ha!!

Hatinya senang melihat betapa para anak buah musuhnya, dalam waktu singkat telah roboh dan tewas oleh sekutunya.

Ceng Liong mengepal tinju, akan tetapi tidak bergerak.

Dia merasa penasaran sekali.

Dia mau ikut gurunya dan berjanji membantunya, akan tetapi hanya untuk mengalahkan lawan, menebus kekalahan gurunya.

Dia sama sekali tidak mau terlibat atau membantu untuk membunuh orang.

Dan kini dia melihat sekutu gurunya membunuhi orang secara kejam.

Orang-orang itu mungkin hanya pelayan-pelayan yang tidak berdosa, tanpa bersalah apa-apa mengapa dibunuh sedemikian kejamnya?

Akan tetapi karena dia tidak mempunyai sangkut-paut apa-apa, dia hanya memandang saja dengaan tangan terkepal dan alis berkerut tak senang.

Sementara itu, melihat betapa enam orang pelayannya roboh dan tewas soketika, Bi Eng menjadi terkejut bukan main.

Enam orang pelayannya itu memang belum memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi, mereka itu jauh lebih kuat daripada orang-orang biasa.

Akan tetapi, dalam beberapa gebrakan saja mereka telah roboh dan tewas oleh dua di antara empat orang ini, maka dapat diduga bahwa mereka berempat itu tentulah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Akan tetapi, kemarahannya tidak memungkinkan ia untuk bertanya-tanya lagi.

Sambil mengeluarkan bentakan halus, iapun sudah menerjang ke depan dengan suling emasnya.

"Ha-ha, biar aku yang menjinakkan kuda betina yang muda dan liar ini!!

Tek Ciang berkata sambil menyambut terjangannya.

Akan tetapi, bukan main kagetnya hati jai-hwa-cat muda ini ketika dia menggerakkan tangan hendak menangkap suling di tangan si nona, tiba-tiba saja suling itu mengelak dan tendangan kaki kiri nona itu tahu-tahu sudah menyambar dan nyaris mengenai lambungnya kalau saja dia tidak cepat meloncat ke belakang!

Nona itu dapat menghindarkan suling yang akan dirampasnya, bahkan dalam segebrakan hampir saja dapat menendang lambungnya.

Dan dari angin tendangan itu, tahulah Tek Ciang bahwa kalau dia tadi terkena tendangan, belum tentu dia akan dapat menahannya!

Tadinya dia berniat mempermainkan dara ini sebeluan menangkapnya dan mempermainkan sepuas hatinya.

Akan tetapi, kini gadis itu mendesaknya dan serangan yang bertubi-tubi dengan suling itu membuat semua lamunan untuk mempermainkan gadis itu lenyap seperti asap tipis dihembus angin.

Jangankan untuk mempermainkan, bahkan dia sendiri harus mempergunakan seluruh kepandaian dan kelincahannya untuk menghindarkan diri dari totokan-totokan ujung suling yang luar biasa cepat dan kuatnya itu!

Dan semua itu masih ditambah lagi dengan lengkingan suara suling yang keluar dari suling yang digerakkan untuk menyerang, membuat dia merasa bising dan bingung juga.

Untung dia memiliki ilmu silat yang amat tinggi, telah digembleng oleh Suma Kian Lee sehingga dengan ilmu gabungan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang dia dapat memperbaiki keadaannya dan dapat membendung datangnya serangan bertubi-tubi seperti air bah dari gadis itu.

Perlahan-lahan dia dapat menguasai keadaan dan dapat membalas dan kini terjadilah perkelahian yang amat seru.

Kini Tek Ciang sama sekali tidak berani main-main lagi, maklum bahwa tingkat kepandaian gadis itu tidak berada di bawah tingkatnya, bahkan gadis itu memiliki ilmu silat suling yang benar-benar aneh, kuat dan sukar diduga gerakan-gerakannya.

Hampir saja Ccng Liong berseru kaget ketika dia mengenal gerakan ilmu silat keluarganya dimainkan oleh murid Jai-hwa Siauw-ok yang bernanna Tek Ciang itu.

Bagaimanakah penjahat muda yang menjijikkan ini mampu memainkan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang sedemikian mahirnya?

Bahkan setiap kali bergerak, muncullah hawa panas sekali atau dingin sekali dari kedua lengannya, tanda bahwa orang itu telah benar-benar menguasai kedua ilmu keturunan keluarga Pulau Es itu!

Juga Hek-i Mo-ong diam-diam terkejut dan kagum.

Murid dari sekutunya benar-benar hebat dan tidak boleh dipandang ringan, mungkin lebih hebat daripada gurunya.

Sedang Jai-hwa Siauw-ok hanya tersenyum-senyum bangga.

Tek Ciang adalah muridnya dan dia tahu bahwa muridnya itu telah menguasai ilmu-ilmu keturunan keluarga Pulau Es!

Akan tetapi, di lain pihak mereka juga kagum sekali melihat dara remaja yang jelita itu.

Ilmu silatnya tinggi, sulingnya benar-benar amat lihai sehingga dengan gulungan sinar emas, gadis itu mampu membendung semua serangan balasan lawan.

Diam-diam gadis itu sendiripun kaget betapa lawannya amatlah tangguhnya.

Maka iapun tidak mau kalah dan mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya.

Ilmu Kim-siauw Kiam-sut adalah ilmu yang mujijat, akan tetapi ia belum menguasai secara mendalam, hanya menguasai teorinya dan baru berlatih selama beberapa bulan.

Kepandaiannya dalam ilmu silat ini belum matang dan menurut ayahnya, kematangan itu membutuhkan ketekunan dan latihan yang lama dan tepat.

Maka, iapun mengeluarkan bermacam ilmu yang dipelajarinya dengan penuh semangat dari ayah bundanya.

Sulingnya berkelebatan, bergulung-gulung memainkan ilmu-ilmu pedang yang langka di dunia ini.

Di antaranya ia memainkan Pat-sian Kiam-hoat, Hong-in Bun-hoat dan Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut sendiri.

Karena merasa memperoleh kesukaran untuk mengalahkan lawannya dengan mengandalkan ilmu silat dan kecepatan, Tek Ciang merasa penasaran dan dia hendak mengadu tenaga.

Dia maklum bahwa lawannya ini memiliki tenaga sin-kang yang kuat, akan tetapi dia tidak percaya kalau dia kalah kuat.

Bagaimanapun juga, lawannya hanyalah searang dara remaja!

Maka, ketika untuk kesekian kalinya suling itu berkelebat dan ada gulungan sinar emas menyambar ke arah dadanya, dia tidak mengelak, melainkan menggerakkan tangan kanan menangkis dengan usaha menangkap itu sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.

"Plakkk!!

Telapak tangan Tek Ciang bertemu dengan suling.

Jangankan menangkap, telapaknya malah terasa seperti dibakar.

Cepat dia mengerahkan Hwi-yang Sin-kang untuk melawannya, akan tetapi tetap saja dia terhuyung ke belakang, sedangkan dara itu hanya melangkah mundur dua langkah saja!

Dari pertemuan ini, ternyatalah bahwa dara itu lebih kuat dalam tenaga sin-kang daripadanya!

Sesungguhnya tidaklah demikian.

Kalau saja Tek Ciang bukan seorang jai-hwa-cat yang hampir setiap malam menghamburkan tenaganya dengan mempermainkan wanita yang diculik dan diperkosanya, tentu dia tidak kalah kuat, bahkan mungkin lebih kuat dari Bi Eng.

Akan tetapi, dia malas berlatih, malah memboroskan tenaganya dengan perbuatan jahat menculik dan memperkosa wanita seperti yang dilakukan pula oleh Jai-hwa Siauw-ok.

Benturan tenaga sin-kang yang membuat Tek Ciang terhuyung itu membuat orang ini merasa malu, penasaran dan marah sekali.

Bagaimanapun juga, sejak tadi masih belum ada niat di dalam hatinya untuk membunuh atau mencelakai gadis ini.

Ingin dia membuat gadis itu tidak berdaya, mengalahkannya tanpa membunuhnya agar dia dapat lebih dulu mempermainkannya sebelum membunuhnya kelak.

Akan tetapi, sikapnya yang mengalah ini bahkan hampir mencelakakan dirinya sendiri.

"Ciiiittt....

ciiittt....!!

Tek Ciang menyerang ganas dan kini tusukan-tusukan jari tangannya yang mempergunakan Ilmu Kiam-ci (Jari Pedang) mengeluarkan bunyi mengerikan.

Bi Eng terkejut.

Belum pernah ia melihat ilmu yang ganas dan aneh seperti itu.

Ketika ia mengelak dan tusukan jari tangan itu melanggar ujung sabuknya, maka ujung sabuknya itu terbabat putus seperti disambar pedang!

Cepat ia mengandalkan kelincahannya sambil membalas dengan sulingnya.

Tiba-tiba Tek Ciang tergelincir dan roboh miring.

Kalau saja Bi Eng sudah berpengalaman dalam perkelahian, apalagi kalau saja ia sudah sering berhadapan dengan lawan dari golongan sesat, tentu ia akan bersikap waspada karena ia tentu tahu bahwa golongan sesat tidak segan mempergunakan siasat curang untuk memperoleh kemenangan.

Ia tidak mengira bahwa Tek Ciang mempergunakan siasat itu.

Maka sulingnya menyambar dalam kemarahannya hendak membalaskan kematian enam orang pelayannya.

Pada saat ia menubruk itu, tiba-tiba Tek Ciang mengeluarkan suara berkokok dan dia mendorongkan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka ke arah Bi Eng, sambil mengerahkan ilmu pukulan Hoa-mo-kang yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok.

Ilmu pukulan ini dahulu merupakan ilmu pukulan yang ampuh dari Su-ok, orang ke empat dari Im-kan Ngo-ok yang berhasil dicuri oleh Jai-hwa Siauw-ok melalui Ji-ok dan telah dipelajari dengan baik oleh Tek Ciang.

"Desss....!! Bi Eng yang sama sekali tidak pernah menyangka lawan yang sudah tergelincir itu akan mampu melakukan pukulan sehebat itu, terlanda pukulan Hoa-mo-kang dan tubuhnya terpelanting roboh dalam keadaan pingsan! Memang kehebatan ilmu pukulan Hoa-mo-kang itu adalah cara penggunaannya dari bawah, dari dalam keadaan rebah miring atau berjongkok. Bau amis tercium ketika ilmu pukulan ini dilakukan dan Bi Eng yang roboh pingsan itu mukanya berobah agak kehijauan karena ia telah terkena pukulan beracun amat hebat.

"Tolol kamu....!! Hek-i Mo-ong melangkah maju dan memaki Tek Ciang yang cepat melangkah mundur dengan muka pucat. Biarpun dia telah berhasil, akan tetapi pukulannya tadi bertemu dengan kekuatan sin-kang yang membuatnya merasa tergetar jantungnya dan kini dia dibentak dan dimarahi, maka dia menjadi khawatir.

"Mo-ong, kenapa engkau marah-marah? Bukankah muridku telah berhasil....! "Berhasil apa? Apa sukarnya mengalahkan anak perempuan itu? Ia merupakan sandera yang paling berharga, kenapa malah dibunuh? Kalau ia ditangkap dalam keadaan hidup dan sehat, kita akan mudah menundukkan ayah ibunya!! Jai-hwa Siauw-ok baru mengerti dan diapun menyesal.

"Bagaimanapun juga, dara itu belum mati, dan menghadapi suami isteri itu, kita berempat tentu akan mampu mengalahkan mereka.! "Hei, ke mana engkau akan membawanya?! Tiba-tiba Tek Ciang berteriak. Semua orang menengok dan ternyata Ceng Liong sudah memanggul tubuh Bi Eng yang sudah lemas tak berdaya itu.

"Mo-ong, aku akan mencoba untuk mengobati dan menyembuhkannya,! Ceng Liong berkata, ditujukan kepada Hek-i Mo-ong dan sama sekali tidak memperdulikan teriakan Tek Ciang.

"Tahan dulu....!! Tek Ciang hendak mengejar.

"Diam kau....!!

Jai-hwa Siauw-ok membentak muridnya.

Tek Ciang menoleh dan melihat betapa kakek iblis Hek-i Mo-ong memandang kepadanya dengan marah.

Tahulah dia mengapa gurunya menghardik karena kalau dia mengejar murid iblis itu, siapa tahu Hek-i Mo-ong akan membunuhnya.

Watak dan sikap kakek iblis itu memang sukar diselami, maka diapun mengalah, bahkan diam-diam tersenyum mengejek.

Biarlah, biarlah dicobanya oleh anak setan itu untuk mengobati bekas tangannya dengan pukulan Hoa-mo-kang tadi, pikirnya.

Dia sendiri tidak tahu bagaimana cara mengobatinya, akan tetapi sebelum dara itu mati, ingin dia mempermainkannya lebih dahulu.

Sayang kalau dara yang cantik jelita dan sedang mekar itu dibiarkan mati tanpa diganggu.

"Sudahlah, mari kita mencari Kam Hong dan Bu Ci Sian,! kata Hek-i Mo-ong, kemarahannya mereda ketika Jai-hwa Siauw-ok memperlihatkan rasa takut kepadanya.

"Biar nanti muridku menyusul dan biarkan dia mencoba untuk menyembuhkan sandera kita.! "Locianpwe, gadis itu tadi akulah yang merobohkannya, maka aku yang berhak untuk menikmatinya, bukan murid locianpwe,! kata Tek Ciang yang masih merasa penasaran, akan tetapi suaranya menghormat karena dia takut kalau-kalau kakek iblis ini akan menjadi marah.

"Cihh!

Jangan samakan muridku dengan manusia gila perempuan macam engkau!

Muridku adalah laki-laki sejati.

Kalau dia bilang mau mencoba mengobati, tentu dia akan mengobati saja dan tidak melakukan hal lain!

Mari kita pergi!!

Jai-hwa Siauw-ok berkedip kepada muridnya dan Tek Ciang tidak berani banyak cakap lagi.

Bagaimanapun juga, hatinya masih mendongkol karena dia membayangkan betapa Ceng Liong tentu akan mempergunakan kesempatan itu untuk menguasai gadis cantik yang sudah pingsan itu!

Memang, orang yang sudah biasa melakukan penyelewengan di dalam kehidupannya, akan selalu menganggap orang lain sama seperti dia sendiri dan dia tidak akan dapat mempercayai orang lain.

Demikian pula dengan Louw Tek Ciang ini.

Dia dan gurunya adalah dua orang jai-hwa-cat, maka dia menganggap bahwa semua orang laki-laki tentu mempunyai watak seperti dia pula dan timbul cemburu dan tidak percaya ketika Ceng Liong membawa pergi gadis cantik yang pingsan itu.

Hek-i Mo-ong sendiri tentu saja sudah mengenal watak muridnya.

Kadang-kadang, kalau dia sedang melamun, dia merasa malu sendiri kepada muridnya.

Jelas nampak olehnya bahwa biarpun selama bertahun-tahun Ceng Liong menjadi muridnya, namun anak itu sungguh memegang teguh janjinya, yakni hanya belajar ilmu saja kepadanya dan tidak mau belajar menjadi manusia sesat!

Dia kadang-kadang merasa malu mengapa anak itu dapat memiliki watak gagah, seorang pendekar tulen!

Kadang-kadang timbul penyesalan di dalam hatinya mengapa dia, yang di waktu mudanya juga mempelajari banyak tentang kebatinan, kemudian dapat menyeleweng dan sekali menceburkan diri ke dalam jurang kesesatan, sukarlah untuk keluar dari situ.

Dia sudah merasa terlanjur menjadi tokoh kaum sesat dan dia akan merasa malu kalau keluar dari lingkungan itu.

Dia tahu bahwa sekali berkata hendak mengobati gadis yang terkena pukulan murid Jai-hwa Siauw-ok itu, tentu hal ini akan dilaksanakan oleh Ceng Liong dan tak mungkin ada sedikitpun niat buruk lain di dalam hati muridnya.

Diam-diam kakek iblis ini malah merasa bangga sekali bahwa muridnya adalah seorang pendekar, bahkan bukan sembarangan pendekar melainkan cucu aseli dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es!

Diapun tahu bahwa korban pukulan macam yang dilakukan oleh Tek Ciang itu sukar sekali ditolong, apalagi muridnya tidak pernah mempelajari cara menyembuhkan korban seperti itu, maka tentu muridnya akan gagal, gadis itu akan tewas dan tak lama kemudian muridnya tentu akan menyusulnya.

Akan tetapi, dia merasa kehilangan muridnya ketika tiba-tiba dia dan dua orang kawannya mendengar bunyi suling ditiup secara aneh.

Mereka berhenti serentak, saling pandang dan jelas betapa wajah mereka menjadi tegang.

Bahkan Tek Ciang yang biasanya bersikap tenang dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, agak berubah air mukanya mendengar suara suling itu.

Suara suling itu aneh sekali, tidak seperti suara suling biasanya.

Melengking-lengking naik turun, dan terdengar dua suara suling yang saling susul, saling belit dan saling mengisi.

Kadang-kadang terdengar seperti nyanyian lagu gembira, kadang-kadang seperti berbisik-bisik, seperti sepasang kekasih sedang memadu asmara, dan ada kalanya berabah menadi gegap-gempita seperti ada perang di sana.

Dan dalam nada bagaimanapun juga, selalu ada getaran yang amat kuat, yang membuat tiga orang itu harus mengerahkan sin-kang untuk melawannya.

Kemudian suara suling itu merendah, sampai rendah sekali dan jantung tiga orang itu terasa seperti dipukuli palu godam yang amat berat, berdentang-dentang dan dada seperti akan pecah rasanya.

Hanya dengan pengerahan sin-kang saja mereka dapat bertahan.

Tiba-tiba, suara yang amat rendah itu melengking, makin lama makin tinggi dan tiga orang itu hampir tak kuat bertahan, lalu mereka duduk bersila dan mengerahkan sin-kang.

Suara itu melengking terus sampai tinggi sekali, sampai lenyap suaranya tak dapat tertangkap lagi oleh pendengaran, akan tetapi getarannya amat kuatnya seperti jarum menusuk-nusuk jantung mereka rasanya.

Akhirnya, suara itu berhenti dan lenyap.

Legalah hati mereka dan mereka membuka mata, saling pandang dan muka mereka menjadi agak pucat.

Bukan main hebatnya suara tadi dan tanpa bicarapun mereka dapat menduga siapa yang meniup suling seperti itu.

Dugaan mereka terbukti dengan munculnya dua orang dari puncak, jalan bergandengan tangan dan suling yang mereka bunyikan tadi, yang menciptakan suara aneh, kini terselip aman di ikat pinggang mereka.

Yang seorang laki-laki, berpakaian sasterawan sederhana, dengan jubah luar yang terlalu lebar kedodoran.

Usianya antara lima puluh tahun, namun masih nampak tampan dan anggun, halus gerak-geriknya dan mulutnyapun membayangkan keramahan dan kehalusan budi.

Hanya sepasang matanya yang tak dapat dicuri memiliki sinar mencorong seperti naga.

Kumis dan jenggotnya tidak begitu panjang dan terawat baik.

Seorang sasterawan yang tampan dan halus!

Dan di sebelahnya berjalan seorang wanita yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun, masih nampak cantik dan manja, kadang-kadang menggandeng lengan pria itu dan kalau bicara melirik dan tersenyum, kadang-kadang memandang wajah pria itu dengan perasaan cinta dan sayang dan manja!

Itulah pendekar sakti Kam Hong, keturunan dari keluarga Pendekar Suling Emas, bersama isterinya, Bu Ci Sian yang juga menjadi sumoinya dalam mewarisi Ilmu Kim-siauw Kiam-sut dan ilmu meniup suling dengan khi-kang yang amat tinggi.

Mereka kelihatan begitu rukun dan saling mencinta.

Melihat musuh besarnya, Hek-i Mo-ong lupa akan rasa gentarnya dan dia sudah memandang dengan mata mendelik dan napas memburu, didorong oleh hawa amarah yang menyesak dada.

Adapun Jai-hwa Siauw-ok dan muridnya memandang ke arah wanita itu.

Seorang wanita cantik yang sudah matang dan agaknya inilah musuh besarnya, pikir Jai-hwa Siauw-ok dengan jantung berdebar.

Kalau saja dia mampu membalaskan sakit hati guru-gnrunya!

Dengan mengalahkan wanita ini, merobohkannya, memperkosanya sepuas mungkin baru menyiksa dan membunuhnya!

Alangkah akan puas rasa hatinya.

Kini sepasang suami isteri yang bukan lain adalah Kam Hong dan Bu Ci Sian itu, melihat adanya tiga orang laki-laki yang berdiri menghadang di jalan dan mereka merasa heran dan kaget.

Biasanya, setelah berjalan-jalan dan menikmati matahari terbit, mereka suka iseng-iseng dan berlatih suling.

Tadipun mereka berlatih dan mereka tahu bahwa di sekitar tempat itu sunyi tidak ada orang lain.

Kini, tahu-tahu ada tiga orang dan melihat betapa tiga orang itu agaknya tidak mengalami sesuatu oleh suara suling mereka, mudah diduga bahwa tiga orang ini tentu "berisi!.

Akan tetapi, keheranan hati mereka segera lenyap ketika mereka mengenal kakek berpakaian hitam yang sedang berdiri tegak sambil mengipas-ngipaskan tubuhnya dengan sebuah kipas merah itu.

Hek-i Mo-ong!

Siapa lagi kalau bukan kakek iblis itu yang kini berdiri dengan kipas merahnya yang amat berbahaya itu?

Ketika mengerling kepada dua orang laki-laki di dekat Hek-i Mo-ong, Kam Hong dan isterinya tidak mengenal mereka, akan tetapi dapat menduga bahwa dua orang yang datang bersama seorang datuk sesat seperti Hek-i Mo-ong, mudah diduga tentu juga bukan orang-orang baik dan juga tentu memiliki kepandaian yang tinggi.

Sikap Kam Hong amat tenang ketika sambil tersenyum dia menjura.

"Ah, kiranya Hek-i Mo-ong yang datang berkunjung! Sudah belasan tahun tidak bertemu, apakah engkau dalam keadaan sehat, Mo-ong?! Sungguh tidak dapat dimengerti oleh Tek Ciang bagaimana seorang yang dianggap musuh menyambut Hek-i Mo-ong dengan keramahan seperti itu, seolah-olah bertemu dengan seorang sahabat lama saja. Dan Hek-i Mo-ong juga menjawab dengan suara wajar, akan tetapi mengandung penuh ancaman.

"Orang she Kam, selama belasan tahun ini aku menjaga diriku baik-baik agar aku dapat bertemu lagi denganmu dan menebus kekalahanku dahulu. Nah, sekarang kita bertemu di sini. Bersiaplah untuk menebus dan membayar hutangmu dahulu!! Kam Hong menarik napas panjang.

"Mo-ong, seorang tua seperti engkau ini, pantaskah untu meracuni batin dengan dendam yang hanya disebabkan oleh kekalahan dalam suatu perkelahian? Sungguh kasihan!! Saat itu dipergunakan oleh Jai-hwa Siauw-ok untuk menudingkan telunjuknya ke arah muka wanita cantik itu sambil bertanya.

"Apakah engkau yang bernama Bu Ci Sian dan dahulu telah membunuh Ji-ok Kui-bin Nio-nio dan Su-ok Siauw-siang-cu?! Bu Ci Sian memandang laki-laki yang usianya sedikit lebih tua dari suaminya itu, yang berwajah ganteng berpakaian pesolek, mengamatinya akan tetapi ia tidak ingat pernah berkenalan dengan orang ini. Juga, mendengar pertanyaannya, jelas bahwa laki-lakiinipun baru sekarang bertemu dengannya.

"Benar, siapakah engkau dan apa hubunganmu dengan Im-kan Ngo-ok?! tanyanya, suaranya juga tenang karena wanita ini telah menerima gemblengan dari suaminya sendiri dan kini menjadi seorang wanita yang jauh lebih lihai dibandingkan dahulu sebelum ia menjadi isteri Kam Hong. Sikap seorang yang penuh kepercayaan akan diri sendiri.

"Namaku Ouw Teng dan orang mengenalku sebagai Jai-hwa Siauw-ok. Im-kan Ngo-ok adalah guru-guruku. Maka tidak perlu kiranya kujelaskan apa maksud kedatanganku ini.! Bu Ci Sian tersenyum dan menoleh kepada suaminya, saling pandang, lalu berkata kepada suaminya, sikapnya tak acuh.

"Aihh, sudah belasan tahun kita tidak pernah mencampuri urusan dunia, siapa tahu kini bajingan-bajingan ini malah yang datang mengantar nyawa. Sungguh tidak dapat disalahkan peribahasa ular mencari penggebuk!! Kam Hong mengerti bahwa isterinya sengaja mengejek para datuk sesat itu, maka diapun hanya mengangkat pundak mengembangkan kedua tangan.

"Apa boleh buat.

Akan tetapi berhati-hatilah, isteriku.

Orang yang sudah berani datang mengantar nyawa tentu telah memperhitungkan sebelumnya dan agaknya mereka ini sudah membawa bekal yang cukup memadai.!

Setelah berkata demikian, pendekar ini berdiri membelakangi isterinya beradu punggung.

Isyarat ini dapat dimengerti oleh Bu Gi Sian.

Suaminya bersikap hati-hati dan karena lawan mereka bertiga, sedangkan mereka belum mengenal sampai di mana kepandaian mereka bertiga itu, suaminya minta agar ia berhati-hati dan saling jaga dengan berdiri saling membelakangi.

Ia sudah mencabut sulingnya yang tadi terselip di pinggang dan memasang kuda-kuda dengan melintangkan suling di depan mulut, persis seperti orang yang hendak meniup suling!

Akan tetapi, suaminya berdiri seenaknya, bahkan belum mencabut sulingnya, seolah-olah hendak menjajaki dulu sampai di mana kelihaian lawan.

Akan tetapi karena Kam Hong menduga bahwa di antara tiga orang lawan itu yang terlihai adalah Hek-i Mo-ong maka diapun sengaja berdiri menghadapi kakek iblis itu dan membiarkan isterinya menghadapi dua orang lawan lainnya.

Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng sudah bernafsu sekali untuk dapat segera merobohkan wanita musuh besarnya itu, maka dia sudah memberi isyarat kepada muridnya untuk maju bersama mengeroyok wanita itu.

Sedangkan Hek-i Mo-ong ketika melihat sikap Kam Hong yang demikian tenangnya, muncul kembali rasa gentar di hatinya.

Memang benar bahwa dia sudah menguasai ilmu baru seperti Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) dan Tok-hwe-ji (Hawa Api Beracun), akan tetapi diapun dapat menduga bahwa selama ini tentu Kam Hong juga memperdalam ilmunya!

Baru tiupan sulingnya tadi saja sudah membuat dia dapat mengerti akan kelihaian lawan ini.

Maka teringatlah dia akan muridnya yang diandalkan dan cepat dia mengerahkan khi-kangnya.

Suaranya hanya terdengar lirih, akan tetapi sebenarnya suara itu dibawa oleh tenaga khi-kang sampai jauh sekali.

"Ceng Liong, cepat engkau ke sinilah....!! Kam Hong tersenyum.

"Mo-ong, apakah tiga lawan dua masih belum cukup untukmu?

Haruskah engkau mendatangkan teman lagi untuk mengeroyok kami?!

Ucapan yang halus ini lebih menusuk daripada makian.

Hek-i Mo-ong menjadi merah mukanya dan diapun mengeluarkan suara gerengan.

Akan tetapi sebelum dia menggerakkan tubuhnya, Jai-hwa Siauw-ok dan muridnya sudah lebih dulu maju menyerang Bu Ci Sian.

Begitu maju, Jai-hwa Siauw-ok dan muridnya mengeluarkan ilmnnya yang istimewa, yaitu Kiam-ci yang merupakan ilmu andalan mendiang gurunya, Ji-ok Kui-bin Nio-nio.

Suara mencicit terdengar ketika jari-jari tangannya menyambar ke arah lawan.

Ci Sian sudah mengenal ilmu ini dan tahu akan kehebatannya, maka iapun sudah mengebutkan sulingnya menghalau dan balas menotok.

Dari samping, Tek Ciang mengirim serangan hebat karena pemuda ini menggunakan Ilmu Thian-te Hong-i (Badai Langit Bumi) yang dahulu pernah menjadi ilmu andalan dari Sam-ok Ban Hwa Sengjin.

Tubuhnya berpusingan dan dari pusingan itu mencuat lengannya yang mengirim serangan amat cepat dan kuatnya!

Ci Sian terkejut, tidak mengira bahwa laki-laki muda ini demikian hebat sudah menguasai ilmu andalan dari Sam-ok yang pernah menjadi musuh lamanya, maka iapun cepat menyambut lengan lawan yang menyerang dengan totokan ke arah pergelangan tangan.

Melihat kecepatan wanita ini, Tek Ciang terpaksa menarik kembali lengannya.

Dia tahu bahwa betapapun cepat serangannya tadi, kalau dilanjutkan, dia kalah cepat dau sebelum tangannya mengenai tubuh lawan, tentu pergelangan tangannya akan tercium ujung suling dan akibatnya tentu hebat.

Sementara itu, Hek-i Mo-ong juga sudah menyerang Kam Hong.

Karena maklum akan kelihaian pendekar itu, begitu menyerang Hek-i Mo-ong sudah mengeluarkan sepasang senjatanya, yaitu tombak Long-ge-pang dan kipas merahnya.

Dia tidak mau mencoba untuk menggunakan kekuatan sihirnya, maklum betapa kuatnya sin-kang dan khi-kang pendekar itu yang tidak akan dapat ditundukkan oleh kekuatan sihirnya.

Maka diapun sudah menyerang dengan hebat, menggunakan tombaknya menyerang dan kipas merahnya menyambar ke arah muka, mendahului tombak yang menusuk ke arah perut.

Serangan ini amat hebatnya karena Hek-i Mo-ong tidak mau berlaku sungkan dan begitu menyerang telah mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya!

"Tringg....

trakkk....!!

Hebat sekali cara Kam Hong mencabut suling dan mempergunakannya.

Sekali bergerak, suling itu menangkis tombak dan kipas berturut-turut dan lawannya terdorong dua langkah ke belakang!

Hek-i Mo-ong terkejut, jelaslah bahwa selama ini Kam Hong telah melatih diri dan tenaga sin-kangnya menjadi jauh lebih hebat daripada dahulu.

Dia harus mengakui bahwa dia kalah kuat dalam mengadu tenaga sin-kang.

"Hiyeeeeehhhh!!

Dia mengeluarkan bentakan aneh dan tangan kiri yang sudah menyimpan kipasnya itu kini menyambar ke depan dengan membentuk cakar yang mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala.

Gerakan itu sedemikian hebat dan cepatnya dan mengandung hawa yang menyeramkan, seperti digerakkan oleh tenaga mujijat.

Itulah Ilmu Coan-kut-ci yang selama itu dilatih secara tekun oleh kakek ini bersama muridnya!

Entah sudah berapa banyak tengkorak yang menjadi bulan-bulan jari-jari tangannya ketika dia berlatih.

Dan sebelum serangan dengan ilmu menyeramkan ini dilakukan, tombaknya juga sudah menyambar lebih dahulu ke arah lambung lawan!

Kini Kam Hong terkejut bukan main.

Dia tidak mengenal ilmu serangan aneh itu, akan tetapi dengan tenang dia menghantamkan lengan kirinya menyambut tombak, sambil mengerahkan sin-kang sekuatnya.

Karena pada saat itu Hek-i Mo-ong lebih mencurahkan tenaganya pada tangan kiri yang mencengkeram dengan Ilmu Coan-kut-ci, maka pegangan pada tombaknya tidak begitu kuat, dan tombaknya itupun tadi hanya menggertak saja, sedangkan serangan dipusatkan pada tangan kiri yang mencengkeram ke arah ubun-ubun itu.

Karena itu, begitu kena dihantam oleh lengan kini Kam Hong, tombaknya terlepas dan terlempar jauh.

Akan tetapi jari-jari tangan kirinya sudah menyambar ke arah kepala dengan kedahsyatan yang mengerikan.

Akan hancurlah kepala itu kalau terkena cengkeraman itu!

Kam Hong mengenal bahaya.

Tangan kirinya sudah mencabut kipasnya dan kini sekali bergerak, kipasnya yang berkembang menyambut cengkeraman sedangkan dia sendiri melempar kepala ke belakang.

"Bretttt....!! Kipas itu hancur berkeping-keping terkena cengkeraman Coan-kut-ci dan Kam Hong terpaksa melanjutkan lemparan tubuhnya ke belakang, bergulingan dan meloncat bangun. Kipasnya hancur dan dia melemparkan kipasnya. Keadaan mereka seperti satu lawan satu. Tombak Hek-i Mo-ong terlempar dan kipas Kam Hong juga hancur. Kam Hong tersenyum gembira. Ternyata lawannya ini jauh lebih lihai daripada dahulu dan tentu saja memperoleh lawan yang demikian kuatnya, timbul kegembiraannya.

"Mo-ong, engkau makin tua makin hehat saja!!

katanya dengan tenang dan gembira, seolah-olah dia baru saja tidak terancam bahaya dan nyaris pecah kepalanya!

Kini Kam Hong menerjang dengan sulingnya.

Demikian hebat terjangannya sehingga Hek-i Mo-ong terpaksa meloncat ke sana-sini sambil terus mengerahkan Ilmu Coan-kut-ci yang hebat itu.

Ketika dia terdesak oleh gulungan sinar emas suling, tiba-tiba dia membuka mulutnya dan uap putih yang amat panas menyambar ke arah muka Kam Hong!

Kembali pendekar ini terkejut.

Dia tidak mengenal Ilmu Tok-hwe-ji itu, tapi dia tahu bahwa uap itu berbahaya sekali.

Cepat dia meloncat ke samping dan dari samping dia memutar sulingnya.

Untung dia melakukan ini karena serangan Tok-hwe-ji tadi sudah disusul dengan cengkeraman tangan maut itu lagi.

Pemutaran suling menahan serangan ini karena Hek-i Mo-ong juga maklum bahwa sekali tubuhnya tertotok suling, tentu dia akan celaka.

Mereka bertanding lagi dengan hati-hati karena maklum bahwa lawan masing-masing sungguh tak boleh dihadapi dengan ceroboh.

Sementara itu, Bu Ci Sian juga mendapat kenyataan bahwa dua orang pengeroyoknya itu lihai bukan main, dan terutama sekali yang muda!

Tak disangkanya bahwa laki-laki muda itu malah jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan Jai-hwa Siauw-ok!

Yang membuat ia terheran-heran adalah ketika mengenal pukulan-pukulan dari ilmu silat keluarga Pulau Es!

Ia sendiri pernah menerima pelajaran penggabungan tenaga Im dan Yang dari Suma Kian Bu, dan kini ia melihat betapa laki-laki muda yang mengeroyoknya itu bahkan pandai sekali memainkan ilmu sakti dari Pulau Es yang pernah dilihatnya, yaitu Ilmu Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang!

Ia terheran-heran mengapa ada murid Pulau Es yang membantu penjahat macam murid Im-kan Ngo-ok ini.

Akan tetapi karena tidak ada keseanpatan lagi bertanya, iapun mengeluarkan semua ilmunya dan mengerahkan seluruh tenaga untuk menghalau setiap serangan dengan memutar sulingnya yang memiliki kecepatan dan kekuatan luar biasa itu.

Melihat betapa dia dan gurunya dapat menandingi wanita yang hebat ini, timbul kegembiraan di hati Tek Ciang dan laki-laki yang cerdik ini lalu mempergunakan siasat untuk memancing kemarahan Ci Sian.

"Ha-ha, suhu, perempuan ini lebih montok daripada puterinya.

Biarlah ia nanti diserahkan kepadaku saja.

Timbul berahiku melihatnya, suhu!!

Mendengar ucapan ini, Jai-hwa Siauw-ok maklum akan akal muridnya dan iapun tertawa bergelak untuk memanaskan hati lawan.

Akal muslihat Tok Ciang ini memang baik sekali untuk memanaskan hati lawan dan orang yang sedang bertanding, sungguh merupakan pantangan besar untuk membiarkan hatinya panas dan marah.

Kemarahan mengurangi kewaspadan.

Akan tetapi tentu saja kalau akal itu ditujukan kepada orang lain baru akan berhasil.

Terhadap suami isteri itu, akal Tek Ciang malah mendatangkan malapetaka bagi dia dan kawan-kawannya sendiri.

Tadinya, Kam Hong dan Ci Sian hanya mengerahkan ilmu dan tenaga mereka yang biasa saja untuk menghadapi lawan karena memang mereka yang sudah belasan tahun menjauhkan pertikaian itu tidak berniat untuk mencelakai lawan.

Cukup asal dapat menahan mereka dan mengusir mereka saja.

Akan tetapi, ucapan Tek Ciang yang amat menghina tadi sama sekali tidak dapat memanaskan hati Ci Sian atau Kam Hong, hanya mendatangkan rasa khawatir karena mereka berdua teringat akan puteri mereka yang disebut oleh Tek Ciang tadi.

Mereka khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu dengan puteri mereka.

Siapa tahu apa yang dilakukan oleh orang-orang sesat ini!

Dan kekhawatiran inilah yang membuat suami isteri itu merobah gerakan mereka.

Mereka hendak mengakhiri perkelahian itu secepatnya untuk dapat segera menengok puteri mereka yang berada sendirian saja, hanya ditemani enam orang pelayan di dalam istana tua.

Kini terjadilah keajaiban.

Bukan hanya permainan suling mereka yang berobah, akan tetapi terdengarlah bunyi suara melengking-lengking dari suling mereka.

Terutama sekali suling di tangan Kam Hong mengeluarkan bunyi melengking demikian kuatnya sehingga Hek-i Mo-ong merasa kedua telinganya seperti ditusuk-tusuk pedang.

Dia terkena pengaruh yang paling hebat, sedangkan dua orang kawannya juga menjadi pusing oleh serangan suara suling yang melengking-kngking itu.

Permainan silat mereka kacau-balau dan kesempatan ini dipergunakan oleh suami isteri pendekar itu untuk mendesak.

Mula-mula Hek-i Mo-ong yang terkena pukulan suling pada dadanya.

Tidak begitu keras, akan tetapi akibatnya, kakek ini muntah darah dan roboh, terus bergulingan sampai jauh.

Kam Hong tidak mengejarnya, melainkan membantu isterinya dan dengan cepat mereka juga telahmengalahkan dua orang lawannya.

Suling di tangan Ci Sian berhasil menotok lambung Tek Ciang.

Pemuda ini berteriak kesakitan dan terjengkang lalu bergulingan, sedangkan pundak Jai-hwa Siauw-ok juga terkena hantaman suling Kam Hong.

Tulang pundaknya remuk dan diapun terpelanting jauh.

"Mari pulang!! kata Kam Hong kepada isterinya dan tanpa memperdulikan tiga orang yang sudah terluka parah itu, suami isteri ini mempergunakan ilmu lari cepat seperti terbang menuju ke istana tua tempat tinggal mereka. Mereka memasuki semua ruangan akan tetapi rumah besar itu kosong. Ketika mereka berlari-larian memasuki taman, mereka berseru kaget melihat tubuh keenam orang pelayan mereka malang-melintang dalam keadaan tak bernyawa lagi. Akan tetapi seorang di antara mereka masih merintih. Cepat Kam Hong dan Ci Sian berlutut di dekat orang itu. Sekali pandang saja tahulah mereka bahwa orang inipun tak mungkin tertolong lagi karena kepalanya retak.

"Mana.... mana nona?! tanya Ci Sian. Orang itu mengumpulkan kekuatan terakhir.

"Nona.... nona.... dilarikan.... seorang di antara.... mereka, seorang pemuda....! dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan terkulai, tewas. Tentu saja suami isteri pendekar itu terkejut bukan main. Mereka tidak tahu ke mana puteri mereka dilarikan orang dan siapa pula yang melarikannya. Bagaimana mereka akan dapat melakukan pengejaran? "Iblis-iblis itu! Mereka tentu tahu ke mana Bi Eng dilarikan!! tiba-tiba Kam Hong berkata dan diapun meloncat dan lari, diikuti isterinya.

"Kulumatkan kepala orang-orang itu kalau anakku diganggu!!

teriak Bu Ci Sian yang teringat bahwa laki-laki pesolek setengah tua itu berjuluk Jai-hwa Siauw-ok, seorang penjahat pemerkosa wanita!

Dengan kecepatan seperti terbang saja, suami isteri pendekar perkasa itu lalu lari ke tempat di mana mereka merobohkan tiga orang lawan tadi.

Akan tetapi, betapa kaget, gelisah dan marah rasa hati mereka ketika mereka tidak menemukan tiga orang bekas lawan yang telah mereka lukai tadi di tempat itu.

Mereka mencari-cari, namun tidak berhasil menemukan jejak mereka.

Tentu saja suami isteri ini menjadi bingung sekali dan mereka lalu mencari di sekitar puncak Bukit Nelayan, bahkan setelah gagal mereka lalu menjelajahi Pegunungan Tai-hang-san untuk mencari puteri mereka yang dilarikan orang.

Sebelumnya, mereka minta bantuan penduduk yang tinggal di dusun terdekat untuk mengurus mayat enam orang pelayan mereka, sedangkan mereka sendiri terus mencari-cari tanpa jejak dan tujuan tertentu.

Selama belasan tahun hidup dalam keadaan aman dan tenteram, baru sekaranglah suami isteri pendekar itu mengalami bencana yang menggelisahkan hati mereka.

Ceng Liong memang tidak pergi jauh.

Setelah melihat betapa dara remaja yang lihai itu terpukul roboh oleh Tek Ciang yang mempergunakan siasat curang, hatinya merasa penasaran sekali.

Hanya karena sungkan kepada gurunya maka dia tidak mau mencampuri perkelahian itu, akan tetapi hatinya berpihak sepenuhnya kepada gadis yang tidak berdosa itu dan diam-diam dia merasa tidak suka sekali kepada Tek Ciang yang dianggapnya tak tahu malu dan jahat.

Maka begitu melihat nona itu terpukul roboh dan pingsan, dia lalu mendekati lalu menyambar tubuh dara itu, dipanggul dan dibawanya pergi.

Dia tidak memperdulikan teguran Tek Ciang dan hanya berkata kepada gurunya bahwa dia hendak berusaha mengobati dara itu.

Dia sudah memperhitungkan bahwa andaikata Tek Ciang menghalanginya, tentu dia akan menyerang murid Jai-hwa Siauw-ok itu dan menghajarnya.

Akan tetapi, berkat kehadiran Hek-i Mo-ong, Tek Ciang dan gurunya tidak berani menghalanginya maka Ceng Liong cepat membawa tubuh yang pingsan itu menuruni lereng.

Setelah tiba di tempat sunyi, dia menurunkan tubuh itu di bawah sebatang pohon.

Dengan hati-hati dia merebahkan tubuh yang lunglai itu ke atas tanah dan memeriksanya sejenak.

Dilihatnya wajah yang jelita itu pucat kehijauan, napasnya tinggal satu-satu dan detik jantungnya lemah, juga tubuhnya lunglai dan lemas tak berdaya sama sekali.

Ketika dia membuka kelopak mata, ternyata mata itu kehilangan cahayanya.

Baju di pundak kanan nona itu hancur dan kulit pundak kanan nampak matang biru kehijauan.

Agaknya pukulan ampuh dari Tek Ciang tadi mengenai pundak kanan ini.

Ketika disentuhnya pundak itu, Ceng Liong merasa betapa bagian itu amat dinginnya, seperti ada esnya di bawah kulit.

Hemm, kiranya pukulan ampuh itu mengandung hawa dingin, pikirnya.

Dia bukan ahli pengobatan, akan tetapi merantau selama bertahun-tahun dengan seorang sakti seperti Hek-I Mo-ong, sedikit banyak membuka matanya dan diapun tahu bahwa dara itu menjadi korban pukulan yang memiliki dasar tenaga sakti Im.

Maka diapun lalu meletakkan telapak tangannya pada pundak dan perut dara itu, kemudian perlahan-lahan dia mengerahkan tenaga panas Hwi-yang Sin-kang disalurkan melalui kedua telapak tangannya.

Tangan yang menempel di pundak berusaha untuk mengusir hawa dingin yang meracuni tubuh nona itu, sedangkan yang menempel di perut dimaksudkan untuk mengalirkan sin-kangnya ke dalam pusar nona itu untuk membantu nona itu membangkitkan kombali sin-kangnya.

Dengan hati-hati dan penuh ketekunan Ceng Liong menyalurkan sin-kangnya yang panas, dan tiba-tiba nona itu mengeluarkan suara rintihan.

Giranglah hatinya ketika melihat betapa tubuh itu mulai dapat bergerak dan pernapasannya mulai kuat, juga telapak tangannya merasa betapa detak jantung nona itu tidak selemah tadi.

Akan tetapi, yang membuat dia terkejut dan gelisah adalah ketika melihat bahwa warna kehijauau pada wajah dara remaja itu menjadi semakin gelap!

Pemuda remaja ini sama sekali tidak tahu bahwa Hwi-yang Sin-kang yang disalurkan pada tubuh dara itu memang benar mampu mengusir hawa dingin dari pukulan Hoa-mo-kang, akan tetapi sama sekali tidak mampu mengeluarkan racun yang terkandung dalam hawa dingin itu.

Maka, nona itu hanya terbebas dari rasa nyeri saja, akan tetapi tidak terbebas dari racun yang kini ditinggalkan hawa dingin dan mulai meracuni jalan darahnya!

Betapapun juga, ada rasa girang di hati Ceng Liong ketika melihat nona itu membuka kedua matanya.

Sesaat dua pasang mata itu bertemu dan bertaut.

Nona itu kelihatan terkejut dan hendak meronta, akan tetapi ketika merasa betapa ada hawa panas memasuki tubuhnya dari pundak dan perut, puteri suami isteri pendekar sakti inipun mengerti bahwa pemuda yang duduk bersila di dekatnya ini sedang berusaha mengobatinya.

Maka iapun diam saja, bahkan ia lalu mcnerima hawa panas yang memasuki perutnya itu dan mencoba untuk membangkitkan hawa sin-kangnya sendiri dari dalam tiantan (pusar).

Akan tetapi, begitu ia mencoba mengerahkan sin-kang, ia merasakan kenyerian hebat di perutnya dan iapun mengeluh.

"Aduuuhhh....!! Mendengar keluhan ini dan mendengar pula perut dara itu mengeluarkan bunyi berkeruyuk, Ceng Liong terkejut dan melepaskan kedua tangannya, lalu bangkit sambil membantu nona itu bangkit duduk.

"Bagaimana? Sakitkah rasanya? Mana yang sakit?! tanyanya dengan wajah khawatir. Bi Eng adalah seorang dara lincah dan tabah. Ia segera teringat bahwa mengeluh merupakan suatu kecengengan dan tidak pantas bagi seorang gagah, maka sambil menggigit bibir menahan rasa nyeri yang mengaduk perutnya, ia menggeleng kepala.

"Tidak sangat nyeri.... eh, bukankah engkau yang datang bersama iblis-iblis itu?! Ceng Liong menarik napas panjang dan menundukkan mukanya sebentar, lalu diangkatnya lagi memandang wajah yang masih kehijauan itu.

"Benar, aku adalah.... eh, murid Hek-i Mo-ong.! Wajah yang gelap kehijauan itu nampak kaget. Memang, Bi Eng sering mendengar cerita ayah ibunya tentang dania kang-ouw, juga tentang tokoh-tokoh sesat dan Hek-i Mo-ong pernah disebut oleh ayahnya sebagai seorang di antara para datuk sesat yang paling berbahaya dan lihai. Akan tetapi menurut ibunya, tokoh ini pernah dikalahkan oleh ayahnya dan sekarang pemuda itu menyebut nama Hek-i Mo-ong. Dara inipun teringat akan kakek berjubah hitam yang tua renta tadi. Seperti itulah penggambaran orang tuanya tentang diri Hek-i Mo-ong.

"Jadi kakek berjubah hitam tadi Hek-i Mo-ong dan engkau muridnya? Lalu mengapa engkau.... berusaha mengobati dan menolongku?! Melihat betapa dara itu memandang kepadanya dengan sinar mata amat tajam penuh selidik, Ceng Liong menunduk lagi. Dara itu memiliki sepasang mata yang amat indah dan tajam, membuat dia merasa tidak enak untuk menentang pandang matanya, apalagi karena dia merasa malu akan sekutunya.

"Mo-ong dan aku sudah berjanji bahwa aku hanya belajar ilmu silat darinya, bukan mempelajari kejahatannya. Aku melihat engkau tidak berdosa dan engkau dirobohkan secara curang oleh murid Jai-hwa Siauw-ok itu, maka aku membawamu ke sini untuk mengobatimu, akan tetapi aku bodoh dan tidak tahu bagaimana caranya....! Hati Bi Eng merasa tertarik sekali.

"Aneh.... engkau menjadi murid iblis itu dan engkau.... berani menentangnya?! "Mo-ong baik kepadaku, sayang aku tidak dapat merobah wataknya.... tapi.... aku menjadi bingung bagaimana aku harus mengobatimu, nona?! "Engkau sudah berhasil, aku sudah siuman dan tidak merasa sangat nyeri lagi....! "Tapi.... wajahmu masih berwarna gelap kehijauan, tanda keracunan. Aku khawatir sekali.! Bi Eng memaksa senyum.

"Bagaimanapun juga, engkau sudah menyelamatkan dan menolongku, mungkin tanpa kau turun tangan, aku sudah mereka bunuh.

Tentang pengobatan, biarlah ayah ibuku yang akan mengobatiku.

Eh, siapa namamu?!

"Namaku Ceng Liong....

dan....

dan engkau, nona?!

"Aku Kam Bi Eng dan orang tuaku....!

"Aku sudah tahu dan mendengar dari mereka.

Ayahmu seorang pendekar keturunan keluarga Pendekar Suling Emas, bernama Kam Hong, dan ibumu bernama Bu Ci Sian.!

"Ah, mereka itu sedang mencari ayah dan ibu!

Mari kita kembali ke sana....!

Dara remaja itu bangkit berdiri, akan tetapi ia segera memegangi kepalanya dan memejamkan matanya, terhuyung-huyung sehingga terpaksa Ceng Liong menangkap lengannya agar dara itu tidak sampai jatuh.

"Kenapa, nona....?! "Kepalaku.... ah, kepalaku pening sekali....! Terpaksa Bi Eng duduk kembali dan setelah duduk barulah ia dapat membuka kedua matanya walaupun masih agak pening. Sepasang matanya nampak kemerahan dan Ccng Liong menjadi semakin khawatir.

"Bagaimana rasanya, nona? Apakah engkau tidak dapat berjalan....?! Bi Eng menggeleng kepala.

"Jangankan berjalan, baru berdiri saja rasanya tanah sekelilingku berombak dan kepalaku pening bukan main.! "Kalau begitu, mari kupondong engkau....! "Ihh! Tidak sudi! Jangan kurang ajar engkau, Ceng Liong!! Tiba-tiba Bi Eng menghardik. Pemuda remaja itu memandang dengan mata terbelalak. Selama ini sudah beberapa kali dia bertemu anak perempuan dan selalu sikap mereka itu aneh-aneh. Agaknya nona inipun tidak terkecuali, baru bertemu sudah membuat dia bingung karena wataknya yang aneh.

"Apa salahnya? Bukankah ketika membawamu ke sini akupun memanggulmu, nona? Apanya yang kurang ajar?! dia membantah penasaran. Agaknya Bi Eng menyadari bahwa dengan tergesa-gesa ia telah menuduh orang. Ia teringat betapa Ceng Liong telah berusaha mengobatinya dan sedikitpun tdak memperlihatkan tanda-tanda atau sikap kurang ajar. Iapun tersenyum.

"Maafkan, Ceng Liong, dan jangan engkau menyebut nona-nonaan segala kepadaku. Namaku Bi Eng, lupakah engkau?! Ceng Liong semakin heran. Dara ini sikapnya berubah-ubah seperti angin di musim hujan! Akan tetapi dia tidak membantah dan mengangguk.

"Baiklah, Bi Eng. Bagaimana sekarang baiknya? Engkau harus cepat diobati oleh ahli dan kalau orang tuamu dapat mengobatimu, itu baik sekali. Akan tetapi engkau tidak dapat berjalan sendiri, dan tidak mau kupondong....! "Siapa bilang tidak mau?! "Engkau tadi....! "Bukankah aku sudah minta maaf? Kalau memang perlu kau pondong dan engkau memondongnya dengan sungguh-sungguh, bukan untuk main-main, tentu saja aku mau.! Ceng Liong menggeleng-gelengkan kepala dan mengangkat pundak, merasa bodoh dan tidak dapat menyelami hati wanita.

"Kalau begitu marilah, non.... eh, Bi Eng.! Dia lalu menggunakan kedua lengannya untuk memondong tubuh dara remaja itu, bukan memanggulnya seperti tadi. Kini Bi Eng tidak pingsan, tentu saja tidak baik kalau dipanggulnya seperti tadi. Dan begitu dipondong, tanpa ragu-ragu lagi Bi Eng juga merangkulkan lengan kanannya pada pundak dan leher Ceng Liong.

"Tidakkah terlalu berat, Ceng Liong?! tanya Bi Eng, tidak enak hati karena ia merasa mengganggu pemuda itu.

"Engkau?

Berat?

Tidak, engkau ringan sekali, Bi Eng.

Sepuluh kali beratmupun aku masih mampu mengangkatnya.!

"Hemm, jangan sombong.

Kalau saja aku tidak keracunan dan dapat mengerahkan sin-kang, hendak kulihat apakah engkau akan mampu memondongku....!

Tiba-tiba Ceng Liong menghentikan langkahnya ketika melihat tiga orang sekutunya berlari turun dari puncak dan wajah mereka namnak pucat.

Tadi ketika dia sedang mengobati Bi Eng, dia mendengar suara suhunya memanggil, akan tetapi dia sengaja diam saja tidak menjawab karena hatinya masih mendongkol melihat kecurangan Tek Ciang dan juga dia sedang mengobati Bi Eng sehingga tidak ada waktu untuk memenuhi panggilan gurunya.

Kini dia melihat mereka turun dan melihat gelagatnya, mereka bertiga itu sedang menderita luka.

Memang demikianlah.

Tiga orang itu, Hek-i Mo-ong, Jai-hwa Siauw-ok dan Louw Tek Ciang melarikan diri dari puncak dalam keadaan menderita luka oleh pukulan-pukulan suling suami isteri yang sakti itu.

Begitu melihat nona yang dirobohkannya itu dipondong dengan amat mesranya oleh Ceng Liong, Tek Ciang menjadi marah sekali.

Dia yang merobohkan, pemuda ingusan itu yang menikmati hasilnya sedangkan dia dan garunya terluka oleh orang tua gadis itu!

"Ceng Liong, ia milikku, berikan kepadaku!!

kata Tek Ciang sambil menyerang ke depan, menubruk dan hendak merampas tubuh Bi Eng dari pondongan Ceng Liong.

Namun dengan sigapnya Ceng Liong meloncat dan menghindarkan tubrukan Tek Ciang.

"Berikan sandera ini kepadaku!! Jai-hwa Siauw-ok juga berteriak dan kakek cabul ini menubruk pula ke depan. Ceng Liong terkejut dan kembali dia melompat ke kiri untuk mengelak. Kini guru dan murid itu menghadapinya dari kanan kiri dengan sikap mengancam. Ceng Liong menjadi bingung. Melawan mereka dia tidak takut. Akan tetapi kalau kedua lengannya memondong tubuh Bi Eng, bagaimana dia akan mampu melawan mereka yang lihai itu? Dan menurunkan dulu tubuh Bi Eng lalu menghadapi mereka, dia khawatir kalau-kalau seorang di antara mereka akan merampas dan mencelakai dara itu. Dia sudah mengenal watak mereka yang cabul dan jahat.

"Perlahan dulu!!

Tiba-tiba Hek-i Mo-ong melangkah maju menghadapi guru dan murid itu.

Ceng Liong melihat betapa gerakan gurunya ini lemah bahkan wajah gurunya amat pucat, napasnya juga memburu tanda bahwa gurunya itupun terluka, mungkin lebih parah daripada luka yang diderita oleh guru dan murid cabul itu.

Dan memang sesungguhnya begitulah.

Luka dalam yang diderita oleh Hek-i Mo-ong paling parah.

Akan tetapi, melihat muridnya diancam oleh kedua orang itu, Hek-i Mo-ong menjadi marah dan membelanya.

Melihat Hek-i Mo-ong maju, Jai-hwa Siauw-ok dan muridnya menjadi marah.

Mereka kini tidak merasa takut lagi karena mereka berdua maklum bahwa iblis tua itu telah menderita luka yang lebih parah daripada mereka.

"Mo-ong, sandera ini harus kutawan untuk memaksa ibunya tunduk kepadaku!! katanya.

"Aku yang tadi merobohkannya, maka akulah yang berhak memilikinya!! kata pula Tek Ciang. Hek-i Mo-ong mengerutkan alisnya dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.

"Siauw-ok, kalau muridku tidak membolehkannya, berarti akupun tidak membolehkan kalian merampas gadis ini.

Pergilah dan jangan ganggu kami lagi!!

Akan tetapi, sekali ini Jai-hwa Siauw-ok dan muridnya tidak mau mentaati perintah kakek iblis itu.

Mereka melawan bukan hanya karena ingin memiliki gadis itu, melainkan terutama sekali mengingat akan keselamatan mereka sendiri.

Setelah mereka dihajar oleh suami isteri dari Istana Khong-sim Kai-pang, mereka menjadi gentar sekali.

Kalau suami isteri itu mengetahui bahwa puteri mereka terculik, apalagi terkena pukulan Jai-hwa Siauw-ok, tentu mereka berdua akan melakukan pengejaran dan celakalah kalau sampai suami isteri itu dapat mengejar atau menyusul.

Maka, gadis itu harus mereka kuasai untuk dijadikan sandera kalau-kalau orang tua gadis itu dapat menyusul mereka.

Inilah sebabnya mengapa mereka berkeras hendak merampas Bi Eng dari tangan Ceng Liong.

"Mo-ong, kami sama sekali tidak ingin mengganggumu, akan tetapi muridmulah yaug merusak rencana kita. Kalau tadi dia datang membantu, tentu keadaan kita lebih kuat dan belum tentu kita kalah. Dan sekarang gadis itu dirobohkan oleh muridku, maka kami berdualah yang berhak memilikinya. Serahkan gadis itu kepada kami dan kami akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi,! kata Jai-hwa Siauw-ok sambil memandang dengan mata disipitkan.

"Setan, berani engkau menentangku, manusia rendah?!

Hek-i Mo-ong marah sekali dan tubuhnya bergerak ke depan, tangannya membentuk cakar menyambar ke arah ubun-ubun kepala Jai-hwa Siauw-ok.

Hebat sekali serangan dengan Ilmu Coan-kut-ci ini, akan tetapi Jai-hwa Siauw-ok yang sudah tahu akan kelihaian lawan, cepat meloncat ke belakang, kemudian bersama muridnya dia maju membalas dan mengeroyok Hek-i Mo-ong!

Hek-i Mo-ong sudah terluka parah oleh pukulan suling dari Kam Hong tadi.

Dadanya terasa sesak dan napasnya memburu, akan tetapi dia adalah seorang datuk sesat yang lihai sekali.

Biarpun sudah terluka parah, dia menghadapi dua orang pengeroyoknya dengan gagah.

Apalagi keadaan Jai-hwa Siauw-ok dan muridnya juga sudah terluka, walaupun tidak separah luka yang diderita Hek-i Mo-ong namun setidaknya mengurangi kekuatan mereka.

Karena dikeroyok dua, Hek-i Mo-ong terkena pukulan Jai-hwa Siauw-ok yang menggunakan Ilmu Kiam-ci.

Jari tangan yang tajam seperti pedang itu menyerempet lambungnya, merobek baju dan kulit lambung sehingga mengeluarkan darah dan pada saat itu juga, hantaman tangan Tek Ciang yang disertai tenaga Hwi-yang Sin-ciang mengenai punggung kakek iblis itu.

"Dukkk....!! Hek-i Mo-ong terpelanting roboh. Melihat ini, giranglah hati Jai-hwa Siauw-ok. Kakek iblis ini harus ditewaskan dulu, baru dengan mudah akan dapat mereka hadapi muridnya dan merampas gadis itu. Diapun menubruk ke bawah, hendak menghabisi nyawa Hek-i Mo-ong dengan Kiam-ci. Akan tetapi, pada saat itu, tiba-tiba saja Hek-i Mo-ong mengeluarkan bentakan nyaring sekali.

"Diam kau....!!

Dibentak dengan kekuatan sihir ini, seketika Jai-hwa Siauw-ok terdiam dan tubuhnya seperti menjadi kaku.

Pengaruh bentakan itu hebat sekali dan biarpun hanya beberapa detik dia berhenti, sudah cukup bagi Hek-i Mo-ong untuk melontarkan serangannya.

Jari tangan kirinya mencengkeram, terdengar suara berbeletok ketika jari-jari tangan itu terhunjam ke dalam kepala Jai-hwa Siauw-ok dan penjahat cabul ini menjerit mengerikan, tubuhnya terjengkang roboh dan dari kepala yang berlubang-lubang itu mengalir keluar darah bercampur otak!

Melihat ini, wajah Tek Ciang menjadi pucat sekali, matanya terbelalak dan tanpa menoleh lagi ke arah mayat gurunya, pemuda pengecut inipun sudah meloncat jauh dan melarikan diri tunggang-langgang!

Hek-i Mo-ong bangkit berdiri, terhuyung-huyung dan dari mulutnya dia muntahkan darah segar!

Kiranya tenaga yang diperas dalam perkelahian itu, apalagi pukulan-pukulan lawan, membuat luka yang dideritanya semakin parah.

Diapun cepat menjatuhkan dirinya duduk bersila dan mengatur pernapasan.

Ceng Liong menurunkan tubuh Bi Eng.

Setelah Jai-hwa Siauw-ok tewas dan kini tinggal Tek Ciang yang juga sudah melarikan diri, dia tidak khawatir lagi menurunkan dara itu.

Andaikata Tek Ciang datang lagi, dia dapat menghadapinya tanpa mengkhawatirkan keadaan Bi Eng.

Kemudian Ceng Liong menghampiri gurunya yang duduk mengatur pernapasan.

Tadi dia tidak membantu Hek-i Mo-ong karena melihat bahwa gurunya belum perlu dibantu.

Ketika gurtnya terjatuh, diapun sudah tahu bahwa jatuhnya kakek itu setengah disengaja untuk memancing lawan dan ternyata akalnya itu berhasil.

Akan tetapi diapun tahu bahwa luka di dalam tubuh gurunya semakin hebat.

Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Ceng Liong bersila di depan gurunya, menempelkan kedua tangannya di dada dan pundak, lalu diapun mengerahkan sin-kangnya untuk membantu gurunya.

Ketika Hek-i Mo-ong merasa ada saluran hawa panas memasuki tubuhnya, dia membuka matanya dan melihat betapa muridnya yang membantunya, diapun tersenyum lebar dengan wajah berseri gembira.

"Heh-heh, manusia macam Ouw Teng itu berani melawan aku? Hah, dia bosan hidup!! katanya terengah-engah.

"Mo-ong, tenanglah dan beristirahatlah. Biarkan aku membantumu meringankan penderitaanmu,! kata Ceng Liong dengan halus. Kakek itu terdiam dan beberapa lamanya mereka duduk bersila, berhadapan dan Ceng Liong membantu gurunya dengan penuh ketekunan. Bi Eng melihat semua itu dengan sinar mata penuh keheranan. Jelas bahwa Ceng Liong bukan orang jahat, akan tetapi bagaimana seorang pemuda seperti ini bisa menjadi murid datuk sesat yang demikian mengerikan seperti Hek-i Mo-ong? Akhirnya Hek-i Mo-ong berkata.

"Cukup untuk sementara ini. Ceng Liong, lekas bawa aku pergi dari sini....!! Di dalam ucapan itu terkandung rasa gentar.

"Akan tetapi.... aku ingin membawa nona Kam kepada orang tuanya agar dapat memperoleh pengobatan,! Ceng Liong membantah.

"Apa engkau ingin melihat aku dibunuh mereka? Aku sudah terluka dan tidak mungkin melakukan perlawanan.! "Tapi, luka nona Kam Bi Eng juga parah....! "Bawa ia bersama kita, aku dapat mengobati luka akibat pukulan Hoa-mo-kang,! kata kakek itu. Melihat keraguan Ceng Liong, Bi Eng berkata.

"Turutilah permintaannya, Ceng Liong, karena kalau ayah dan ibu melihatnya tentu mereka akan turun tangan membunuhnya, membikin aku merasa tidak enak kepadamu.

Mari kita pergi.!

Ceng Liong memandang heran.

Sungguh makin tidak mengerti saja dia terhadap watak gadis ini.

Akan tetapi diapun menjadi girang dan tanpa banyak cakap dia memondong tubuh Bi Eng dan bersama gurunya diapun lari meninggalkan tempat itu.

Gurunya yang mencari jalan dan ternyata Hek-i Mo-ong yang banyak pengalamannya itu amat cerdik.

Dia menuruni kaki gunung dan meninggalkan Pegunungan Tai-hang-san karena dia dapat menduga bahwa Kam Hong dan isterinya yang tidak tahu harus mengejar ke mana itu tentu akan mencari-cari di sekitar Pegunungan Tai-hang-san dan untuk mencari daerah yang luas itu membutuhkan waktu sedikitnya tiga hari!

Maka dia meninggalkan daerah Tai-hang-san.

Kalau tidak cerdik, tentu dia memilih yang dekat, dan dianggap aman, yaitu di dalam hutan-hutan yang lebat dari daerah itu dan kalau dia berbuat demikian, tak mungkin dia dapat menghindarkan diri dari suami isteri yang luar biasa lihainya itu.

Pada keesokan harinya, di dalam sebuah hutan di luar Tai-hang-san, di tepi pantai Sungai Huang-ho, mereka beristirahat.

Seperti yang telah dijanjikannya, Hek-i Mo-ong mencarikan obat untuk Bi Eng.

Obatnya aneh karena dia menyuruh Ceng Liong mencari anak-anak katak yang banyak terdapat di tepi sungai.

Puluhan ekor katak kecil itu diremas-remas oleh Hek-i Mo-ong, air perasan ditampung dan dicampur dengan obat pulung yang dibawanya.

Hampir tidak dapat Bi Eng menelannya karena baunya yang amis, akan tetapi Ceng Liong membujuknya dengan halus.

"Minumlah, Bi Eng.

Ini obat dan aku yakin bahwa obat dari Hek-i Mo-ong tentu manjur.

Minumlah.!

Bi Eng teringat akan puluhan ekor anak katak yang diperas dan ia bergidik.

Akan tetapi ia percaya sepenuhnya kepada Ceng Liong dan sambil memejamkan kedua matanya iapun menuang obat cair itu ke dalam perut dan terus ditelannya.

Dengan menutup hidungnya, obat itu tidak terasa apa-apa, bahkan baunya yang amispun tidak terasa.

Baru setelah obat itu memasuki perutnya dan ia melepaskan jari tangan yang menutup hidung, tercium bau amis yang hampir membuat ia muntah.

Akan tetapi, dara remaja yang sejak kecil menerima gemblengan orang tuanya itu cepat mengerahkan tenaga mencegah muntah.

Akan tetapi, dorongan dari dalam hampir tak dapat dikuasainya lagi dan pada saat wajahnya menjadi pucat sekali menahan rasa hendak muntah, terdengar suara Hek-i Mo-ong.

"Ha-ha, nona kecil, kalau engkau muntah, engkau akan langsung mati, dan kalau engkau menahan muntah itu, engkau akan mati dalam waktu tiga hari lagi, ha-ha-ha!! Dapat dibayangkan betana kagetnya hati Bi Eng mendengar ucapan itu dan seketika rasa hendak muntah itu hilang. Tentu saja ia tidak mau muntah langsung mati! Biarpun demikian, wajahnya menjadi semakin pucat karena nyawanya hanya tinggal tiga hari saja. Kekagetan hati Bi Eng kiranya tidak sehebat Ceng Liong ketika dia mendengar ucapan gurunya. Dia meloncat ke depan kakek itu, matanya mencorong menakutkan.

"Mo-ong, apa artinya kata-katamu itu?! tanyanya dengan suara membentak.

"Heh-heh, Ceng Liong. Kata-kataku sudah jelas bukan? Gadis ini akan mati seketika kalau muntah, dan akan mati tiga hari kemudian kalau tidak muntah.! "Mo-ong, engkau sengaja meracuni Bi Eng?! Ceng Liong berkata lagi dan dia mengepal kedua tangannya. Kakek itu mengangguk dan tertawa.

"Ha-ha, aku melakukan demi engkau, muridku yaug baik.! Keheranan yang amat besar melanda hati Ceng Liong, membuat dia melupakan rasa marahnya.

"Apa.... apa maksudmu....?! "Heh-heh, kau tunggulah saja.! Kakek itu lalu memandang Bi Eug yang masih duduk dengan muka pucat dan memegangi perutnya yang mual.

"Nona, nyawamu tergantung kepada keputusanmu sendiri. Yang kaumakan tadi menambah hebatnya pengaruh pukulan Hoa-mo-kang dan engkau tentu akan mati dalam waktu tiga hari. Tidak ada obat yang akan dapat menyembuhkanmu kecuali obat dari pemilik ilmu Hoa-mo-kang atau.... obat dariku. Sekarang, aku mau menukar nyawamu itu dengan sebuah janjimu.! Bi Eng merasa marah sekali, akan tetapi karena maklum bahwa nyawanya berada di tangan kakek itu, ia menjawab dengan ketus.

"Kakek iblis berhati keji! Janji apakah yang kau kehendaki dariku maka engkau tidak segan melakukan kekejian yang kotor ini?! "Berjanjilah bahwa engkau kelak akan menjadi isteri Ceng Liong, dan aku akan mengembalikan nyawamu!! "Ahhhh....!! Teriakan ini keluar dari mulut Ceng Liong yang sudah menerjang gurunya dengan pukulan keras.

"Dukkk!! Hek-i Mo-ong menangkis dan terjengkang, dari mulutnya keluar darah segar lagi karena untuk menangkis pukulan hebat tadi dia harus mengeluarkan tenaga sin-kang sekuatnya, padahal luka di dalam tubuhnya belum sembuh benar.

"Ahhh....! kembali Ceng Liong berseru, kini bukan karena marah melainkan karena kaget melihat suhunya terjengkang lalu bangkit berdiri sambil terhuyung. Cepat dia menubruk dan merangkul suhunya, dipapahnya duduk di atas rumput. !Heh-heh-heh....!! Hek-i Mo-ong terkekeh melihat betapa muridnya yang tadinya memukulnya itu kini malah memapahnya.

"Engkau murid yang baik, heh-heh....

selama menjadi muridku, baru sekarang berani memyerangku, kusangka tadinya engkau lemah, kiranya berani memukulku.

Hebat....!

Ceng Liong sudah lama hidup di dekat kakek iblis itu dan sudah mengenal wataknya yang amat aneh, tidak lumrah manusia.

Diapun tahu bahwa kakek itu dalam pandangan umum tentu merupakan iblis yang kejam dan ganas, akan tetapi dia sendiri mengenalnya sebagai seorang kakek yang wataknya aneh dan kekejaman-kekejamannya itupun termasuk satu di antara keanehan-keanehannya yang tidak normal.

Kadang-kadang dia berpikir bahwa gurunya ini sebenarnya menderita suatu penyakit dalam otaknya atau jiwanya, sudah gila sehingga segala yang dilakukannya itu sama sekali bukan karena kekejaman, melainkan karena pandangannya yang berbeda, bahkan kadang-kadang terbalik dari pandangan umum.

Kinipun gurunya telah melakukan hal yang amat luar biasa.

Guru ini dapat tertawa bergelak kesenangan melihat muridnya berani melawan dan memukulnya.

Mana ada guru macam ini di seluruh dunia ini?

Dan dia sendiri merasa amat menyesal.

Dia dapat merasakan cinta yang mendalam di hati gurunya terhadap dirinya, dan kini dia berani memukul gurunya yang sedang terluka parah itu!

Diapun merasa tidak perlu minta maaf walaupun hatinya menyesal.

Bagi orang seperti Hek-i Mo-ong, tidak ada kata maaf!

"Mo-ong, mengapa kau lakukan itu?

Terlalu sekali engkau!!

"Apanya yang terlalu?

Sudahlah, kau diam saja dan biarkan aku menyelesaikan urusanku denggan gadis itu!!

Kakek itu masih bersila, akan tetapi kini sambil mengatur pernapasan, dia memandang kepada Bi Eng yang berdiri bengong terlongong, sebentar memandang kepada Ceng Liong dan sebentar pula kepada kakek iblis itu, mukanya yang tadi pucat tiba-tiba berobah merah, lalu pucat kembali.

"Bagaimana, nona cilik? Jawablah sebelum terlambat. Kalau racun itu keburu bekerja, engkau takkan bisa menjawab lagi.! "Kakek iblis! Kau kira aku ini orang macam apa? Kau kira aku takut mampus? Lebih baik mati daripada menuruti kehendakmu yang hina!! "Eh-eh-eh, bocah sombong! Kau bilang hina kalau aku minta engkau menjadi calon isteri Ceng Liong? Ha-ha-ha, bercerminlah. Sepuluh kali engkau pun belum tentu pantas menjadi isteri muridku, tahu?! "Mo-ong....!! Ceng Liong memprotes.

"Diamlah dan jangan mencampuri urusanku!!

kakek itu membentak muridnya dan Ceng Liong terdiam sambil cemberut.

Sungguh keterlahuan gurunya ini.

Membicarakan urusan perjodohannya dan mengatakan bahwa dia tidak boleh mencampuri urusannya.

Diam-diam dia merasa geli.

Biarkan saja kakek gila ini melanjutkan kehendaknya.

Masih ada batu penghalang besar bagi keinginannya yang gila itu.

Kalau gurunya itu nanti hendak melanjutkan niatnya, masih ada dia yang tentu saja boleh dan berhak menolak!

Kalau gadis itu tidak mampu menolak karena tertekan dan terancam nyawanya, masih ada dia yang dapat menolak dan dia tidak terancam apapun!

"Iblis tua, kenapa engkau mempunyai pikiran yang gila ini, tanpa sebab menyuruh aku berjanji....

seperti itu?!

Bi Eng yang menjadi tertarik dan ingin tahu, mengajukan pertanyaan sebelum mengambil keputusan, walaupun dara ini tadi sudah menunjukkan ketidaksetujuannya tanpa memperdulikan ancaman nyawa.

"Heh-heh, kenapa aku ingin menjodohkan muridku denganmu, begitukah maksud pertanyaanmu?

Karena....

karena dia mencintamu, anak bodoh!!

"Ahhhh....!!

Kembali Ceng Liong yang berteriak mendengar ini dan matanya melotot, mukanya menjadi merah sekali dan dia memandang gemas kepada gurunya, namun teringat bahwa dia harus membiarkan gurunya itu menyelesaikan "urusannya!

dengan gadis itu.

Bi Eng memandang kepada Ceng Liong dan berjebi, tersenyum mengejek.

Perbuatan kakek itu otomatis membuat dia juga membenci pemuda yang menjadi murid kakek iblis ini.

Bahkan kini timbul dugaannya bahwa Ceng Liong menolongnya dengan niat buruk, mungkin sudah diatur terlebih dahulu dengan gurunya!

Siapa tahu sikap pemuda itupun hanya pura-pura, hanya sandiwara saja!

"Kakek iblis, kau kira aku sudi menjadi isteri murid seorang iblis macam engkau?

Lebih baik seribu kali mati dari pada....

aukhhh....!!

Dara remaja itu hampir muntah.

Ia menekuk tubuhnya dan menekan perutnya yang terasa mual.

Sekali meloncat, Ceng Liong sudah berada di dekatnya dan menyentuh pundak dara itu.

"Bi Eng, jangan muntah....! katanya khawatir sekali. Sekali muntah, dara ini akan tewas! Betapa mengerikan bayangan ini.

"Ha-ha-ha, bocah sombong kau! Kau belum tahu siapa muridku ini, hah? Dia adalah Suma Ceng Liong, cucu Pendekar Super Sakti majikan Pulau Es, dan kau bilang seribu kali lebih baik mati daripada menjadi isterinya?! "Mo-ong....!! Ceng Liong meloncat dan kembali dia memukul ke arah gurunya karena tidak dapat menahan kemarahan hatinya. Gurunya ini sungguh amat menghina Bi Eng dan seolah-olah memaksa gadis itu agar mau berjanji menjadi isterinya! "Desss....!! Dalam keadaan bersila itu, Hek-i Mo-ong menangkis hantaman muridnya yang tertuju ke arah kepalanya dan tubuhnya terlempar dan bergulingan. Ketika dia bangkit duduk, dia tertawa-tawa sambil muntahkan darah segar lagi.

"Ahhh!! Ceng Liong terkejut dan cepat menghampiri, berlutut dan membantu pernapasan gurunya dengan saluran sin-kang dari telapak tangannya.

"Heh-heh-heh,! Hek-i Mo-ong merangkulnya penuh kasih sayang.

"Tahukah engkau bahwa baru ini engkau memukulku?

Semua terjadi karena engkau mencinta gadis itu, tahukah engkau?!

Ceng Liong terkejut bukan main.

Memang aneh.

Dia merasa berhutang budi kepada kakek ini, bahkan tanpa disadarinya, dia merasa sayang kepadanya.

Dan memang benarlah, dia menyerang gurunya sampai dua kali karena kemarahan melihat gurunya menghina Bi Eng!

"Tapi, Mo-ong, kenapa kau lakukan ini?

Kenapa....?!

"Uakhhhh....!!

Mendengar suara muntah ini, Ceng Liong menoleh dan dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat Bi Eng tak dapat menahan lagi muntahnya, dan sudah mulai hendak muntah.

Melihat ini, sekali meloncat tubuh Ceng Liong mencelat ke dekat Bi Eng dan tangannya bergerak menotok.

Bi Eng yang sedang dilanda rasa muak hehat itu tidak sempat mengelak dan roboh terkulai.

Ceng Liong cepat memondongnya dan merebahkannya di atas rumput.

Dalam keadaan tertotok pingsan, dara itu tidak jadi muntah.

Kini Ceng Liong kembali meloncat ke dekat gurunya.

"Mo-ong, cepat, sembuhkan Bi Eng! Cepat sebelum ia muntah!! teriaknya kepada gurunya sambil memegang pundak gurunya.

"Heh-heh-heh....!! Kakek itu hanya tertawa.

"Cepat, Mo-ong!! Ceng Liong mengguncang-guncang pundak itu sehingga tubuh Hek-i Mo-ong bergoyang-goyang keras.

"Heh-heh, kalau aku tidak mau mengobatinya?! Tangan yang mengguncang pundak itu mencengkeram makin kuat.

"Kalau tidak mau, aku akan memaksamu!! bentak Ceng Liong.

"Ha-ha-ha, muridku yang pandai. Dengan cara bagaimana....?! Ceng Liong kehabisan akal dan tidak mampu menjawab. Bagaimana mungkin dia akan dapat memaksa kakek iblis ini? Gertakan-gertakannya tentu hanya akan disambut dengan ketawa geli saja. Menghadapi kakek iblis ini dia merasa kalah segala-galanya.

"Ha-ha-ha, engkau paling-paling hanya dapat membunuhku!

Dan kalau engkau membunuhku, gadis itupun akan mati dan engkau ditinggalkan dua orang yang mencintamu, atau setidaknya ditinggalkan aku yang mencintamu dan gadis itu yang kau cinta.

Ha-ha, apa enaknya hidup begitu?

Masih lehih enak aku yang mati!!

Melihat bahaya mengancam nyawa Bi Eng dan mendengar ucapan gurunya yang menutup semua harapan dan jalan keluar, tiba-tiba Ceng Liong menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya!

"Suhu, kau tolonglah Bi Eng....!!

Tiba-tiba sepasang mata Hek-i Mo-ong terbelalak dan dia meloncat berdiri, mukanya yang tadinya pucat itu berobah merah.

Memang seorang manusia yang luar biasa kakek ini!

Menerima penghormatan seperti itu dia malah merasa tersinggung dan marah, sedangkan kalau muridnya bersikap tak acuh dan tidak menghormat, menyebutnya Mo-ong saja dia malah merasa girang!

"Enak saja!

Aku baru mau mengobatinya kalau kau mau berjanji.

Kalau tidak, biar kau membunuhku, aku tidak akan sudi mengobatinya!!

"Baiklah, suhu, aku akan memenuhi semua permintaanmu.!

"Nah, berjanjilah bahwa kelak engkau akan menjadi suami gadis ini!!

Ceng Liong terbelalak.

Bi Eng sendiri yang rebah tak berdaya juga terkejut mendengar permintaan aneh itu.

"Hayo cepat berjanji sebelum aku berobah pikiran dan menolak pengobatan atas diri gadis ini!! Hek-i Mo-ong mengancam. Tidak ada lain jalan bagi Ceng Liong.

"Baiklah, aku berjanji kelak akan menjadi suami gadis ini....!

"Sebutkan namamu dan nama nona itu!!

"Aku Suma Ceng Liong berjanji kelak akan menjadi suami nona Kam Bi Eng....!

katanya dengan suara terpaksa sekali.

Sementara itu, wajah Bi Eng berobah merah, akan tetapi nona ini tidak mampu berkutik.

Kalau ia bisa berkutik, tentu ia akan mengamuk dan menyerang guru dan murid itu kalang kabut.

Akan tetapi ada keheranan besar di dalam hatinya, keheranan yang muncul ketika ia mendengar bahwa Ceng Liong she Suma dan cucu Pendekar Super Sakti majikan Pulau Es.

Benarkah itu?

Menurut penuturan ayahnya, Pendekar Super Sakti adalah seorang pendekar yang amat tinggi ilmunya, seorang pendekar terkenal yang memiliki keluarga hebat terdiri dari pendekar-pendekar budiman.

Mengapa kini cucu pendekar itu malah menjadi murid seorang datuk sesat macam Hek-i Mo-ong?

Benar-benar ia tidak mengerti sama sekali.

"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Ingat, seorang gagah harus memegang teguh janjinya sampai mati!! kata kakek itu dengan girang bukan main.

"Suhu....! "Heh? Apakah engkau sudah lupa bahwa aku ini Hek-i Mo-ong dan tidak menyebutku Mo-ong lagi?! "Tidak, engkau adalah guruku dan sudah sepatutnya kusebut suhu. Nah, suhu, sekarang cepatlah obati Bi Eng agar sembuh dan tidak terancam nyawanya.! "Ha-ha-ha, siapa yang mengancam nyawanya? Ia sudah sembuh kalau engkau tidak usil tadi. Bebaskan totokan itn dan biarkan ia muntah-muntah, tentu sembuh!! Ceng Liong melongo.

"Ehh....?

Jadi....!

"Jadi apa?

Yang kuminumkan tadi memang obatnya, dan memang wajar kalau ia mau muntah karena racun itu sudah terkumpul dan tersedot oleh obat, kini tinggal muntahkan saja dan sembuh!!

Ceng Liong tertegun.

Kiranya kakek ini tidaklah sekejam yang disangkanya.

Sama sekali kakek ini bukan hendak mencelakai Bi Eng!

Dia percaya sepenuhnya dan cepat dia menotok tubuh Bi Eng sehingga gadis itu dapat bergerak kembali.

Begitu bangkit duduk, Bi Eng muntah-muntah!

Dan yang dimnntahkan adalah gumpalan-gumpalan darah hitam!

Ceng Liong mendekatinya, berlutut dan menekan-nekan tengkuk dan mengelus punggung gadis itu untuk membantunya mengeluarkan semua racun dari dalam tubuhnya.

Mula-mula Bi Eng yang dirangsang muntah itu membiarkan saja, akan tetapi setelah ia berhenti muntah-muntah, ia menepiskan tangan Ceng Liong, meloncat bangun berdiri dengan sinar mata galak.

Ia merasa kepalanya agak pening dan tubuhnya gemetar, wajah dan lehernya penuh keringat, akan tetapi dalam tubuhnya terasa ringan danenak.

Ia benar-benar telah sembuh.

Dengan pikiran tidak karuan, bercampur aduk antara rasa girang dan marah, terima kasih dan dendam, ia memandang kepada guru dan murid itu, kehabisan akal harus bicara apa dan bertindak bagaimana.

Mereka telah menghinanya, menipunya, akan tetapi juga telah menyelamatkan nyawanya!

Apa yang harus dilakukannya untuk mengimbangi semua perbuatan mereka?

Mendadak ia memejamkan matanya karena rasa pusing membuat pandangan matanya berputar melihat segala di sekelilingnya.

"Calon mantuku, engkau baru saja terbebas dari serangan racun yang amat berbahaya.

Duduklah dan bersilalah menghimpun hawa murni.!

kata Hek-i Mo-ong dan seperti mimpi Bi Eng duduk bersila dan ia memejamkan mata, menaati perintah itu karena sebagai puteri seorang pendekar sakti iapun tahu bahwa nasihat itu amat tepat baginya.

Begitu bersila dan mengatur pernapasan, tubuhnya terasa amat enak dan nyaman.

Akan tetapi pikirannya tidak mau diam, melayang-layang tidak karuan.

Penyebab kacaunya pikiran itu adalah ingatan tentang keadaan Ceng Liong seperti yang dikatakan oleh kakek iblis itu tadi.

Cucu Pendekar Super Sakti majikan Pulau Es!

Hal inilah yang mengganggu pikirannya.

Pada saat itu terdengar bentakan orang.

"Hek-i Mo-ong, akhirnya aku dapat juga menemukanmu setelah mencari bertahun-tahun lamanya!!

Hek-i Mo-ong saat itu sudah duduk bersila dan mengatur pernapasannya.

Dia telah menderita luka yang cukup berat.

Pukulan yang diterimanya dari mendiang Jai-hwa Siauw-ok membuat luka dalam yang dideritanya ketika dia melawan Pendekar Suling Emas Kam Hong makin menghebat dan dalam keadaan luka parah sekali itu dia masih mengadu tenaga dengan muridnya sendiri.

Kalau bukan Hek-i Mo-ong yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, tentu dia sudah roboh dan tewas oleh pukulan sakti yang melandanya bertubi-tubi itu.

Maka ketika terdengar bentakan itu, walaupun telinganya dapat menangkapnya, dia masih saja duduk bersila dengan mata terpejam dan dia sibuk mengatur pernapasan.

Juga Bi Eng masih duduk bersila dan mengatur pernapasan mengusir kepeningan kepalanya.

Tinggal Ceng Liong seorang yang begitu mendengar bentakan ini lalu membalikkan tubuh menghadapi orang yang baru datang itu.

Ternyata yang muncul itu seorang pemuda yang usianya antara sembilan belas atau dua puluh tahun.

Seorang pemuda bertubuh jangkung, dengan punggung agak bongkok, pakaiannya sederhana dan sikapnya juga sederhana seperti orang biasa.

Akan tetapi sepasang mata yang mencorong itu, dan wajah yang mengandung bayangan dendam penuh kebencian, membuat Ceng Liong cukup waspada karena dia dapat menduga bahwa orang ini datang bukan dengan niat hati yang baik.

Dengan penuh perhatian dia mengamati wajah pemuda itu karena dia merasa seperti pernah mengenal wajah ini, akan tetapi telah lupa lagi kapan dan di mana.

Pemuda itu agaknya tidak memperhatikan Ceng Liong karena pandang matanya ditujukan terus kepada Hek-i Mo-ong yang masih duduk bersila.

Kemudian, dengan sikap perlahan dan tenang namun penuh ketegasan, dia melolos pedang dari balik jubahnya dan terkejutlah Ceng Liong ketika dia mengenal sebatang pedang pusaka yang ampuh.

Pedang itu mengeluarkan sinar berkilat ketika dicabut dan tahulah dia bahwa pedang itu bukan pedang sembarangan, melainkan sebatang pedang yang terbuat dari bahan yang amat baik dan ampuh.

"Hek-i Mo-ong, jangan berpura-pura tidak tahu. Bangkitlah dan lunasi hutangmu!! pemuda itu membentak dan dengan langkah perlahan dia menghampiri Hek-i Mo-ong yang masih duduk bersila tanpa membuka kedua matanya.

"Perlahan dulu, sobat!! Tiba-tiba Ceng Liong berseru dan sekali menggerakkan kedua kakinya, tubuhnya sudah mencelat ke depan pemuda berpedang itu dan dia bertolak pinggang menghadang.

"Mau apa engkau datang menghampiri guruku dengan menghunus pedang?! Pemuda itu tertegun, mengamati wajah Ceng Liong dan akhirnya dia berkata setelah menarik napas panjang.

"Aih, jadi engkau ini murid Hek-i Mo-ong, bocah setan itu? Bagus, membasmi pohon beracun harus dengan akar-akarnya agar tidak tumbuh lagi!! Ceng Liong mengerutkan alisnya dan kini dia melihat sesuatu yang menggugah ingatannya. Tahi lalat di ujung bawah telinga kiri itu! Terbayanglah dia ketika anak laki-laki berusia tiga belas tahunan itu memondong jenazah Yang I Cin-jin yang tewas di tangan Hek-i Mo-ong, pandang mata anak laki-laki itu yang penuh dendam kebencian kepada Hek-i Mo-ong! "Ah, kiranya engkau murid mendiang Yang I Cin-jin....!! Pemuda itu tersenyum.

"Dan engkau murid Hek-i Mo-ong yang memiliki ingatan baik sekali. Memang, aku Pouw Kui Lok, murid suhu yang dahulu membawa pergi jenazah suhu ketika suhu terbunuh oleh gurumu. Dan sekarang tiba saatnya bagiku untuk membalas dendam yang bertumpuk-tumpuk!! Ceng Liong melihat betapa sikap pemuda ini gagah dan tidak kelihatan jahat. Diapun teringat kepada mendiang Yang I Cin-jin yang juga lebih pantas menjadi seorang pendekar daripada seorang sesat, walaupun pada waktu itu Yang I Cin-jin agaknya ikut pula bersekutu dengan para pemberontak. Diapun menarik napas panjang.

"Pouw Kui Lok, urusan antara guruku dan gurumu dahulu itu adalah urusan pribadi. Tentu engkau pada waktu itu mengetahui juga bahwa yang menyerang lebih dahulu adalah gurumu dan mereka lalu berkelahi secara adil. Kalau seorang di antara mereka kalah dan tewas, bukankah hal itu wajar saja? Urusan di antara mereka, kenapa engkau harus mencampurinya?! Diam-diam Pouw Kui Lok tertegun mendengar ucapan ini. Sama sekali tidak disangkanya bahwa murid seorang iblis seperti Hek-i Mo-ong itu mempunyai pandangan seperti itu! Maka, kemarahannya terhadap Ceng Liong sebagai murid Hek-i Mo-ong mereda dan suaranyapun terdengar lembut.

"Orang muda, urusan antara aku dan gurumu juga urusan pribadi.

Engkau tidak tahu berapa banyak hutang gurumu kepadaku.

Dia pernah membunuh mendiang kakek guruku yang bernama Thian Teng Losu, kemudian membunuh paman guruku Yang Heng Cin-jin dan memperkosa isterinya.

Kemudian, ketika guruku mencoba untuk membalas dendam, guruku malah tewas di tangannya.

Sebagai muridnya, mana mungkin aku mendiamkannya saja?

Selama ini aku menggembleng diri tak kenal lelah, semua kulakukan hanya untuk hari ini, untuk membalas semua itu kepada gurumu.

Sebaiknya engkau jangan mencampuri, dan aku tidak akan mengganggumu.

Biarlah permusuhan habis di sini saja setelah gurumu atau aku tewas dalam suatu perkelahian yang adil!!

Sikap Pouw Kui Lok gagah sekali dan diam-diam Ceng Liong merasa menyesal mengapa dia harus berdiri di situ sebagai murid Hek-i Mo-ong, sehingga dia terpaksa terlibat dalam urusan permusuhan pribadi yang tidak menyenangkan itu, karena bagaimanapun juga dia dapat merasakan bahwa permusuhan itu diawali oleh perbuatan gurunya yang tidak benar.

"Pouw Kui Lok, adalah hakmu untuk menuntut balas kematian gurumu. Aku tidak akan mencampuri urusan permusuhan pribadi, akan tetapi pada saat ini Hek-i Mo-ong sedang dalam keadaan sakit, maka aku akan melarangmu kalau engkau hendak menyerangnya. Aku terpaksa mencampuri karena melihat ketidakadilan....! "Ho-ho-ho, siapa bilang aku sakit? Ha-ha, kalau hanya murid Yang I Cin-jin, jangankan hanya seorang, biar ada sepuluh orang aku masih sanggup untuk membunuhnya satu demi satu!! Tiba-tiba Hek-i Mo-ong bangkit berdiri dan tertawa-tawa dengan sikap mengejek.

"Suhu....!! Ceng Liong berseru kaget dan juga marah karena dia tahu bahwa suhunya hanya berpura-pura saja karena sebenarnya suhunya terluka parah dan tidak mungkin dapat menghadapi lawan tanggah.

"Heh-heh, Ceng Liong. Sejak kapan gurumu ini gentar menghadapi ancaman musuh? Jangan kau turut campur, biar kuhabiskau riwayat bocah scmbong itu!! Mendengar ini, Pouw Kui Lok menjadi marah. Kalau tadinya dia merasa agak ragu-ragu mendengar bahwa musuh besarnya berada dalam keadaan sakit, kini mendengar ucapan dan tantangan Hek-i Mo-ong, tentu saja dia merasa lega. Dengan pedang di tangan, dia lalu mengeluarkan suara geraman nyaring menyerang ke arah Hek-i Mo-ong. Akan tetapi, bayangan Ceng Liong berkelebat dan pemuda remaja ini sudah menghadangnya dan memandangnya dengan tajam.

"Guruku sedang sakit, engkau tidak boleh mengganggunya sekarang!! "Bocah tolol, minggirlah dan jangan mencampuri urusanku!! Akan tetapi Ceng Liong tidak mau minggir sehingga terpaksa Pouw Kui Lok menusukkan pedangnya. Ceng Liong mengelak dan membalas dengan tendangan kilat, membuat Pouw Kui Lok terkejut dan meloncat ke samping. Pada saat itu, muncullah dua orang tosu berpakaian kuning dan mereka segera menghadapi Ceng Liong dari kanan kiri sambil berkata.

"Pouw-taihiap, biar pinto berdua menghadapi iblis muda ini!! Dan merekapun langsung menyerang Ceng Liong dengan tangan kosong. Ceng Liong melihat betapa gerakan kedua orang tosu ini cukup lihai. Mereka bertangan kosong akan tetapi ketika mereka menyerang, ujung kedua lengan baju mereka menyambar dahsyat dengan kekuatan yang cukup ampuh. Tahulah dia bahwa dua orang tosu ini bukan lawan yang lunak, maka diapun cepat mengelak dan menangkis pukulan tosu ke dua untuk mengukur tenaganya.

"Dukk!! Tosu itu hampir terjengkang dan melangkah sampai lima langkah ke belakang dengan muka berobah.

"Siancai....!

Iblis muda ini berbahaya....!!

katanya dan mereka berdua bersikap hati-hati sekali menahan Ceng Liong agar pemuda ini tidak dapat membantu gurunya yang sudah diserang oleh Pouw Kui Lok.

Hek-i Mo-ong memang seorang aneh.

Dia sengaja tadi mengejek dan menantang musuhnya, hanya untuk melihat sampai di mana kesetiaan muridnya kepadanya!

Padahal, sikapnya ini amat membahayakan dirinya.

Gerakan Pouw Kui Lok amat cepat dan kuat, pedangnya lenyap bentuknya berobah menjadi sinar terang yang menyambar laksana kilat.

Memang sesungguhnya pemuda ini telah menggembleng diri dan telah berhasil mewarisi ilmu pedang mendiang Yang I Cin-jin, bahkan telah memperdalam ilmu pedangnya di Kun-lun-pai sehingga dia menjadi seorang ahli pedang yang lihai.

Yang I Cin-jin adalah seorang tosu, dan biarpun bukan menjadi pendekar budiman yangg terkenal, setidaknya bukan penjahat dan sudah kenal baik dengan para tosu Kun-lun-pai.

Inilah sebabnya ketika Pouw Kui Lok menceritakan tentang kematian gurunya di tangan datuk sesat Hek-i Mo-ong, mereka mau membantunya, menggemblengnya, bahkan ketika pemuda ini mencari musuh besarnya, dua orang tosu Kun-lun-pai yang menjadi para suhengnya menemaninya.

Sebagai pendekar-pendekar Kun-lun-pai, dua orang tosu itu tidak berniat mengeroyok Hek-i Mo-ong karena urusan antara Hek-i Mo-ong dan Pouw Kui Lok adalah urusan pribadi.

Akan tetapi mereka menemani pemuda itu karena ingin membantunya kalau-kalau sute mereka yang ilmu pedangnya amat lihai itu dikeroyok oleh kawan-kawan atau anak buah Hek-i Mo-ong.

Inilah sebabnya ketika Ceng Liong maju, mereka berdua langsung turun tangan mencegah Ceng Liong membantu gurunya dan memberi kesempatan kepada Pouw Kui Lok untuk bertanding secara adil melawan musuh besarnya.

Biarpun kini tingkat kepandaian Pouw Kui Lok sudah lebih tinggi dari mendiang gurunya, akan tetapi andaikata keadaan Hek-i Mo-ong seperti biasa, sehat dan tidak sedang menderita luka yang amat parah, jangan harap pemuda itu akan mampu mengalahkannya.

Akan tetapi saat itu Hek-i Mo-ong memang sudah payah sekali.

Dipakai bernapas saja dadanya terasa nyeri, apalagi kalau dia mengerahkan sin-kang, rasanya seperti ditusuk-tusuk jantungnya.

Dan penyerangnya yang muda itu benar-benar amat lihai.

Pedangnya membuat sinar bergulung-gulung dan repotlah Hek-i Mo-ong mengelak ke sana sini.

Dia tidak berani mempergunakan kekebalannya untuk menghadapi pedang lawan.

Pertama karena pedang lawan amat ampuh dan kuat, kedua kalinya karena dia tidak berani mengerahkan terlalu banyak tenaga sin-kang.

Hal ini bisa membuat lukanya menjadi semakin parah.

Maka tidaklah mengherankan apabila dia terdesak hebat dan main mundur terus, mengelak ke kanan kiri dan terhuyung-huyung.

Hek-i Mo-ong bukanlah seorang tolol yang ingin membiarkan dirinya mati konyol.

Kalau dia tahu bahwa pemuda musuh besarnya itu dibantu oleh dua orang tosu Kun-lun-pai yang demikian lihai, tentu dia tidak mengeluarkan ejekan dan tantangan tadi.

Kini, dia terkejut melihat betapa muridnya dihadang dua orang tosu itu sehingga tentu saja Ceng Liong tidak dapat membantunya.

Dia harus menghadapi sendiri amukan Pouw Kui Lok dan ternyata pemuda ini lihai bukan main ilmu pedangnya.

Lewat beberapa puluh jurus saja, sudah dua kali tubuhnya terserempet ujung pedang sehingga bajunya robek dan kulitnya juga robek.

Darah bercucuran!

Sejak tadi Bi Eng menonton perkelahian itu dengan mata terbelalak dan bingung.

Dara ini tidak mengenal siapa adanya pemuda dan dua orang tosu yang memusuhi Hek-i Mo-ong dan Ceng Liong.

Akan tetapi, iapun cukup mengerti bahwa biasanya, tosu adalah pendeta yang mengutamakan kebaikan.

Bagaimanapun juga, ia adalah puteri Pendekar Suling Emas dan ayahnya sudah seringkali memperingatkan kepadanya bahwa ia tidak boleh menilai orang dari keadaan lahirnya.

Manusia tidak dapat dinilai dari pakaiannya, kekayaannya, kepandaiannya, agamanya dan sebagainya.

Semua itu hanya pakaian.

Yang penting adalah manusianya itu sendiri, lepas dari pada semua pakaiannya yang kadang-kadang hanya dipakai untuk menutupi dan menyembunyikan kekotoran dan keburukannya.

Ternyata dua orang tosu itu lihai sekali, walaupun mereka behum juga dapat mendesak Ceng Liong.

Melihat betapa pemuda itu mampu menahan dua orang tosu yang demikian lihainya, diam-diam Bi Eng menjadi semakin kagum saja kepadanya.

Dan ketika dara remaja ini menoleh dan memandang kepada Hek-i Mo-ong, ia mengerutkan alisnya.

Kakek itu sedang terluka parah dan kini didesak amat hebatnya oleh pemuda berpedang.

Sudah terluka di sana-sini dan tubuhnya berlumuran darah.

Akan tetapi, Bi Eng mempunyai harga diri.

Ia tidak mungkin danat turun tangan membantu Hek-i Mo-ong.

Hal itu akan berarti pengeroyokan dan ia sama sekali tidak mempunyai sangkut paut dengan urnsan pribadi dua orang itu.

Bagaimanapun juga, kakek iblis itu telah menyelamatkan nyawanya, kalau kini ia mendiamkan saja kakek itu terancam bahaya, kalau sampai kakek itu dibunuh orang di depan matanya tanpa ia berusaha menyelamatkannya, sungguh ia akan menjadi orang yang tidak mengenal budi sama sekali!

Secara otomatis, matanya mulai mencari-cari senjata karena suling emasnya telah hilang ketika ia berkelahi melawan Louw Tek Ciang.

Melihat keadaan Hek-i Mo-ong makin lemah, Pouw Kui Lok memperhehat desakannya.

Pedangnya membentuk sinar bergulung-gulung yang seperti tali-temali melibat-libat tubuh Hek-i Mo-ong.

"Cetttt....!! Kembali ujung pedang itu merobek pundak kiri Hek-i Mo-ong. Kakek itu terhuyung dan terjengkang. Melihat ini, Pouw Kui Lok menubruk ke depan dengan serangan kilatnya. Demikian hebat serangannya itu sehirgga tahu-tahu pedangnya telah amblas ke dalam dada Hek-i Mo-ong.

"Cratttt....!! Kakek itu meregang, akan tetapi tangan kirinya dengan membentuk cakar menyambar ke arah kepala Pouw Kui Lok. Pemuda ini terkejut setengah mati. Tak disangkanya bahwa kakek yang sudah ditembusi pedang dadanya itu masih mampu melakukan serangan sedemikian hebatnya! Itulah ilmu mujijat Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) dari Hek-i Mo-ong! Kalau tadi kakek itu tidak mengeluarkan ilmu ini adalah karena ilmu ini membutuhkan pengerahan sin-kang yang amat kuat dan untuk mengerahkan ini, sama saja dengan membunuh diri karena luka di dalam tubuhnya tentu akan makin menghebat. Maka baru sekarang, setelah pedang lawan menembus dadanya, dia mengeluarkan ilmu ini.

"Crokkk....!!

Betapapun lihainya Pouw Kni Lok dan biarpun dia sudah berusaha untuk mengelak, dia hanya berhasil menyelamatkan kepalanya saja dan jari-jari tangan kakek itu tetap saja mencengkeram pundaknya sehingga kulit dan daging pundak itu menjadi hancur, dan ujung tulang pundak juga patah!

Pouw Kui Lok mengeluh kesakitan dan meloncat ke belakang.

Pundak kirinya terluka parah dan lengan kirinya lumpuh sama sekali.

Akan tetapi melihat kakek itu masih belum tewas, dia menjadi nekat dan maju lagi untuk memberi tusukan-tusukan lagi.

Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring dan sebatang ranting digerakkan secara istimewa menyerangnya dari samping!

Pouw Kui Lok terkejut dan menangkis dengan pedangnya.

"Trakkk!! Ranting itu tertangkis, akan tetapi melesat dengan gerakan menyerong dan tahu-tahu ujung runting hampir menusuk matanya! Pouw Kui Lok berseru kaget dan melempar tubuhnya ke belakang, terus bergulingan. Dia selamat, akan tetapi keringat dingin membasahi lehernya karena nyaris matanya buta oleh tusukan ranting tadi. Ketika dia meloncat dan menyeringai kesakitan karena pundak yang terluka tadi terasa nyeri sekali ketika dipakai bergulingan, dia melihat dengan heran bahwa yang menyerangnya dengan ranting hanyalah seorang gadis remaja yang wajahnya masih pucat, agaknya baru sembuh dari sakit.

"Suheng, pergi....!! Pouw Kui Lok berseru. Dia sudah terluka parah, dan dia sudah berhasil menusuk tembus dada musuhnya sehingga dia merasa yakin bahwa musuh besarnya pasti akan mati, dan di situ selain ada murid Hek-i Mo-ong yang amat lihai, terdapat pula gadis remaja yang memiliki ilmu silat istimewa pula. Dua orang tosu yang memang kewalahan menghadapi Ceng Liong, nmeloncat jauh ke belakang dan mereka bertiga melarikan diri.

"Suhu....!! Ccng Liong berseru ketika melihat kakek itu berdiri dengan mendekapkan tangan kiri ke dadanya, wajahnya berseri akan tetapi pucat sekali dan berdirinya terhuyung-huyung. Ketika Ceng Liong merangkul gurunya, kakek itu tertawa.

"Ha-ha-ha, dalam saat terakhir, muridku membelaku dan calon isterinya juga membantuku.

Aku puas sudah....

ha-ha-ha, Hek-i Mo-ong....

hari akhirmu diantar oleh hati orang-orang muda yang sayang kepadamu....

ha-ha!!

Dan kakek itu tentu terguling kalau tidak cepat dipondong oleh Ceng Liong.

Gurunya setengah pingsan dan ketika Ceng Liong memondongnya dan merebahkannya di atas rumput, terasa oleh Ceng Liong betapa kakek yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu kini amatlah kurusnya dan amat ringannya.

Hatinya merasa terharu, apalagi ketika melihat bahwa gurunya telah menderita luka parah sekali.

Dada dan punggungnya berlubang dan mengucurkan darah, napasnya tinggal satu-satu.

Bi Eng juga berlutut di dekat tubuh kakek itu yang dengan lemah memandangi mereka berdua.

Pada saat itu ada angin menyambar dan berkelebat dua bayangan orang.

Tahu-tahu di situ telah berdiri Kam Hong dan isterinya!

Akhirnya, suami isteri ini dapat juga menyusul dan betapa kaget, heran dan juga girang rasa hati mereka melihat Bi Eng berada di tempat itu dalam keadaan selamat, akan tetapi gadis itu berlutut di dekat tubuh Hek-i Mo-ong yang terluka parah, bersama seorang pemuda yang tampaknya sedang berusaha menotok beberapa jalan darah di tubuh kakek itu untuk menghentikan darah yang bcrcucuran dan menghilangkan rasa nyeri.

Akan tetapi begitu melihat siapa yang datang, Hek-i Mo-ong mendorong tangan muridnya dengan halus dan diapun seperti memperoleh kekuatan baru, bangkit duduk lalu berdiri menghadapi Pendekar Suling Emas dan isterinya!

"Heh-heh-heh, orang she Kam!

Engkau datang untuk melanjutkan perkelahian denganku?

Baik, hayolah, aku sudah siap!!

katanya menantang.

Tentu saja Kam Hong menjadi marah.

Gara-gara kakek ini dan kaki tangannya, dia kehilangan nyawa beberapa orang murid, bahkan puteri merekapun terculik dan nyaris celaka.

"Hek-i Mo-ong, orang seperti engkau ini adalah iblis jahat yang sudah sepatutnya dienyahkan dari muka bumi!! bentak Kam Hong, siap untuk menyerang.

"Ha-ha-ha, biar jahat seperti aku atau baik seperti engkau, kita semuapun pada akhirnya akan lenyap dari muka bumi!

Hayo, sudah lama aku menanti saat ini, dan aku tidak akan merasa penasaran kalau engkau yang mengantar kematianku, orang she Kam, karena engkau lah yang berhasil mengalahkan aku!!

Keadaan kakek itu sebetulnya sudah payah sekali, bicarapun sudah terengah-engah, sudah lebih mendekati mati daripada hidup.

Akan tetapi dia kelihatan gembira menghadapi kematiannya dan dengan kedua tangannya membentuk cakar penuh pengerahan hawa sakti dari Ilmu Coan-kut-ci, dia berdiri menghadapi musuh besarnya.

Akan tetapi, Kam Hong adalah seorang pendekar besar yang pantang melakukan hal-hal yang rendah atau licik.

Dia sudah melihat betapa payah keadaan musuhnya, maka biarpun dia marah sekali mengingat betapa kakek iblis ini telah menyebabkan tewasnya para pelayannya yang dianggap sebagai murid-murid pula, namun dia nampak ragu-ragu untuk menyerang orang yang sudah tidak mampu melawan lagi.

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan seorang pemuda remaja telah berdiri menghadang antara pendekar ini dan kakek iblis itu.

Pemuda yang bertubuh tinggi tegap, wajahnya cerah dan gagah, sinar matanya mencorong aneh, akan tetapi belum dewasa benar sehingga nampak lucu bahwa seorang pemuda remaja yang masih hijau itu berani berdiri menghadapi dan menentang seorang pendekar seperti Kam Hong!

"Suhuku sudah terluka dan tidak dapat melawan, biarlah aku yang menggantikannya menghadapimu kalau engkau hendak menyerangnya.!

kata Ceng Liong dengan sikap tenang sekali, menandakan bahwa nyalinya amat besar dan dia tidak takut menghadapi lawan yang berpakaian sasterawan sederhana ini.

Diapun tahu dari ucapan gurunya tadi bahwa sasterawan inilah musuh besar gurunya yang dapat diduganya tentu lihai bukan main.

Kam Hong mengerutkan alisnya.

Kini dia tahu bahwa tentu pemuda ini yang mengaku murid Hek-i Mo-ong yang telah menculik Bi Eng.

"Hemm, tidak patut aku menyerang seorang bocah, akau tetapi mengingat engkau murid iblis tua ini, sudah semestinya kalau aku mengenyahkan engkau pula yang tentu akan menjadi lebih jahat daripada gurunya kelak!! Akan tetapi anak muda itu hanya berdiri memandangnya dan tidak juga bergerak menyerang.

"Majulah,! kata Kam Hong.

"Engkau boleh mewakili gurumu menghadapiku!! Akan tetapi Ceng Liong menggeleng kepala.

"Aku tidak ingin memusuhi siapapun juga, akan tetapi aku harus melindungi guruku dari serangan siapapun juga!! Kerut di antara alis pendekar itu mendalam dan dia mengeluarkan dengus mengejek dari hidungnya.

"Hemm, seorang murid yang berbakti, ya? Murid iblis tua tentu menjadi calon iblis pula!! "Heh-heh-heh, muridktu yang baik! Tidak percuma aku mendidikmu bertahun-tahun dan mewariskan semua ilmuku kepadamu. Lebih baik menjadi murid iblis akan tetapi berbakti daripada menjadi murid pendekar akan tetapi murtad, heh-heh!! Hek-i Mo-ong terkekeh, akan tetapi terpaksa dia cepat duduk bersila dan mengatur pernapasan karena kata-katanya dan tawanya tadi membuat darah mengucur keluar dari luka di dadanya.

"Hahh!!

Kam Hong sudah menyerang dengan tamparan kilat ke arah leher Ceng Liong.

Tamparan yang selain amat cepat, juga mengandung hawa pukulan yang amat kuat sehingga terdengar suara angin mendesis.!Dukk!

Dukk!

Dukkk!!

Tiga kali Kam Hong melakukan tamparan bertubi yang amat hebat, akan tetapi semua serangan itu dapat ditangkis dengan baiknya oleh Ceng Liong.

Barulah mata Kam Hong terbelalak ketika dia merasa betapa tangkisan-tangkisan itu selain cepat dan tepat, juga mengandung tenaga yang hebat, yang mampu menahan tenaganya sendiri!

Tahulah dia bahwa ucapan Hek-i Mo-ong tadi tidaklah bualan belaka.

Anak ini, biarpun masih muda, telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari kakek iblis itu!

Tentu saja dia tidak tahu bahwa sebetulnya, pada saat itu, andaikata diadukan antara Hek-i Mo-ong dan Ceng Liong, agaknya kakek itupun belum tentu akan mampu mengalahkan muridnya, terutama sekali dalam hal tenaga sakti.

Seperti kita ketahui, Suma Ceng Liong telah mewarisi tenaga sakti dari kakeknya, yaitu Pendekar Super Sakti Suma Han.

Selain itu, juga semua ilmu yang dimiliki Hek-i Mo-ong telah diwarisinya.

Setelah merasa yakin akan kelihaian lawan yang amat muda ini, Kam Hong tidak mau membuang waktu lagi dan diapun mencabut suling emasnya.

Sinar emas berkilat menyilaukan mata ketika suling tercabut dan melihat ini, tiba-tiba saja Bi Eng melompat ke depan.

Gadis ini sejak tadi dirangkul oleh ibunya yang merasa lega dan girang sekali melihat bahwa puterinya dalam keadaan sehat dan selamat.

Tadinya, Bi Eng juga diam saja tidak mau mencampuri urusan antara Hek-i Mo-ong dan ayahnya karena iapun tahu bahwa Hek-i Mo-ong dan kawan-kawannya datang untuk memusuhi dan menyerbu keluarga ayahnya sehingga mengakibatkan tewasnya para pelayan.

Akan tetapi ketika ia melihat ayahnya menyerang Ceng Liong, kemudian ayahnya mencabnt suling emas, hatinya merasa ngeri.

Ia tahu akan kehebatan suling emas di tangan ayahnya dan ia tidak ingin ayahnya membunuh Ceng Liong yang telah begitu baik terhadap dirinya.

"Ayah....! Jangan....!! teriaknya sambil melompat. Kam Hong terkejut, juga heran sekali melihat puterinya mencegahnya menyerang murid musuh besar yang berbahaya itu. Dia menunda gerakannya, berdiri dan memandang puterinya dengan mata tajam dan alis berkerut tak senang.

"Bi Eng! Kau kenapakah?! bentak ayah ini. Tentu saja dia marah. Bukankah para pelayannya telah terbunuh oleh musuh, bahkan Bi Eng sendiri diculik. Sekarang, anaknya itu malah melarangnya membunuh musuh yang jahat ini! Bi Eng maklum apa yang dipikirkan ayahnya, maka ia dengan cepat maju dan berdiri di dekat Ceng Liong dengan sikap seperti hendak melindungi pemuda itu dari kemarahan ayahnya.

"Ayah, jangan serang dia! Ceng Liong tidak bersalah apa-apa....!! "Hemm, bukankah dia murid iblis tua itu?! tanya Kam Hong meragu.

"Benar, akan tetapi dialah yang menyelamatkan aku, ayah. Aku roboh oleh penjahat cabul dan tentu akan celaka kalau tidak dibawa lari dan diobati oleh Ceng Liong ini. Ayah, dia telah menyelamatkan puterimu, apakah sekarang, sebagai imbalannya ayah hendak membunuhnya?! Kam Hong menjadi bingung. Tentu saja dia merasa heran. Pemuda yang lihai ini adalah murid Hek-i Mo-ong, lalu bagaimana dia harus bersikap kalau murid musuh besarnya itu menolong puterinya.

"Tapi.... tapi mereka membunuh para pelayan kita....!! "Bukan Ceng Liong yang membunuh, melainkan penjahat cabul itu dan gurunya!! Bi Eng membela. Kam Hong mengangguk-angguk. Dia tahu siapa yang dimaksudkan puterinya dengan penjahat cabul itu. Tentu pemuda lihai yang menjadi murid Jai-hwa Siauw-ok itu. Kalau memang pemuda remaja ini tidak ikut melakukan pembunuhan, dan sudah menyelamatkan Bi Eng, memang tidak layak kalau dia membunuhnya.

"Baik,! katanya.

"akan tetapi suruh dia minggir agar aku dapat membunuh raja iblis jahat Hek-i Mo-ong itu.! Diapun melangkah maju dengan suling di tangannya.

"Siapapun hanya dapat menyerang suhu dengan melangkahi mayatku!! kata Ceng Liong, sikapnya tenang akan tetapi suaranya terdengar tegas. Sikap pemuda ini kembali membangkitkan kemarahan di hati Kam Hong. Siapa orangnya tidak akan marah kalau menghalangi dia menghukum iblis yang telah menyebar maut di tempat tinggalnya? "Ayah, Hek-i Mo-ong juga telah menyelamatkan nyawaku. Bahkan.... dia berkorban nyawa untuk membelaku....! "Apa....?! Ayahnya bertanya, terkejut juga kini karena pernyataan puterinya itu sungguh tak disangkanya.

"Aku dirobohkan oleh penjahat cabul lalu ditolong oleh Ceng Liong.

Akan tetapi aku terluka parah karena pukulan beracun penjahat itu.

Ketika penjahat-penjahat guru dan murid itu hendak merampasku, kakek ini mempertahankan dan dia membunuh guru penjahat itu akan tetapi dia sendiri terluka.

Dan luka beracun di tubuhku juga diobati oleh Hek-i Mo-ong.!

Kembali Kam Hong menjadi bingung, tak tahu harus berbuat apa.

Dia tahu benar bahwa Hek-i Mo-ong adalah seorang datuk kaum sesat, seorang penjahat besar yang kejam dan ganas.

Entah berapa banyak orang yang celaka atau tewas di tangannya.

Akan tetapi, kakek itu telah menyelamatkan puterinya.

Kalau kini dia menyerang dan membunuhnya, apakah dia tidak akan merasa menyesal selama hidupnya?

Akan tetapi, kalau dia tidak turun tangan, berarti pula bahwa dia membiarkan saja penjahat keji berkeliaran dan ini bertentangan dengan watak seorang pendekar.

Hek-i Mo-ong yang duduk bersila itu kini membuka matanya memandang, mulutnya menyeringai dalam usahanya untuk tersenyum mengejek, akan tetapi dia tidak berani tertawa karena luka di dalam tubuhnya amat parah.

Dengan mengerahkan kekuatan terakhir yang masih bersisa, dia berkata.

"Orang she Kam, lihat bagaimana seorang jahat dan sesat seperti aku dibela oleh dua orang muda yang gagah!

Dan yang seorang puterimu sendiri malah.

Hati siapa takkan bangga dan senang?

Jangan khawatir, tanpa kau turun tanganpun aku takkan hidup lama lagi.

Akan tetapi sebelum mati aku ingin memberitahu kepadamu bahwa puterimu ini akan menjadi isteri muridku....!

"Apa?

Tidak mungkin!

Hek-i Mo-ong, aku tidak akan membunuhmu karena engkau pernah menolong puteriku, akan tetapi jangan harap lebih daripada itu.

Sampai mati kami tidak sudi berbesan denganmu!!

"Tapi....

tapi....

puterimu telah berjanji untuk menjadi isteri Ceng Liong muridku ini!!

Kam Hong dan isterinya terkejut dan Bu Ci Sian yang sejak tadi hanya menonton saja, tiba-tiba menjadi marah.

"Bi Eng! Apa artinya ini? Benarkah engkau berjanji seperti itu?! "Tidak, ibu. Aku tidak pernah berjanji!! jawab Bi Eng dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi Bu Ci Sian yang biasanya berwatak keras, hanya setelah menjadi isteri Kam Hong saja ia dapat merobah kekerasannya di bawah pimpinan suaminya, masih belum puas dengan jawaban itu. Hati ibu ini sungguh merasa khawatir membayangkan puterinya akan menjadi isteri murid seorang datuk seperti Hek-i Mo-ong, walaupun ia harus mengakui bahwa pemuda remaja itu gagah, tampan dan juga berilmu tinggi seperti yang dilihatnya tadi ketika pemuda itu mampu menahan serangan suaminya.

"Bi Eng, katakanlah, apakah engkau mau menjadi mantu seorang penjahat terkutuk seperti Hek-i Mo-ong itu?

Apakah engkau mau menjadi calon isteri murid orang sesat ini?!

Didesak oleh ibunya seperti itu, Bi Eng menggeleng kepalanya.

Ia sendiri sebetulnya tidak pernah mempertimbangkan hal itu.

Ketika Hek-i Mo-ong mengajukan syarat agar ia berjanji mau menjadi calon isteri Ceng Liong untuk diobati, ia menolak keras, bukan karena ia membenci Ceng Liong melainkan karena ia tidak sudi ditekan dan ia tidak mau tunduk.

Akan tetapi, mengenai perjodohannya, sama sekali ia tidak pernah memikirkan.

Biarpun demikian, ketika didesak ibunya, dalam keadaan seperti itu, tentu saja ia merasa tidak enak dan jalan satu-satunya bagi Bi Eng hanyalah dengan menolak.

"Tidak, ibu, aku tidak mau.!

Hening sejenak setelah dara itu memberikan jawabannya dan diam-diam Ceng Liong merasa sesuatu yang amat tidak enak dalam hatinya.

Dia sendiri sama sekali belum pernah memikirkan tentang perjodohan dan perasaannya terhadap Bi Eng hanyalah perasaan suka biasa saja.

Kalau dia bersikeras menolong dara itu adalah karena terdorong rasa iba dan karena pada dasarnya dia memang tidak senang melihat kejahatan dilakukan orang di depan matanya.

Biarpun demikian, melihat dan mendengar betapa dara itu dan ayah bundanya jelas memperlihatkan sikap tidak suka kepadanya merupakan suatu hal yang amat tidak enak.

Akan tetapi tentu saja dia tidak mau membuka mulut dan hanya memandang kepada suhunya dengan hati kasihan.

Dia sudah berjanji kepada gurunya untuk kelak menjadi suami dara ini, bukan karena memang dia sudah mengambil keputusan itu, melainkan hanya untuk menyenangkan hati gurunya dan agar kakek itu mau mengobati Bi Eng.

"Hemm, kakek iblis! Engkau mendengar sendiri bahwa puteriku tidak sudi menjadi isteri muridmu!! kata nyonya itu dengan hati lega. Hati Ceng Liong diliputi rasa iba melihat betapa gurunya yang sudah tua itu kini memandang dengan mata sayu dan wajah kakek yang biasanya keras itu kini nampak begitu kecewa sehingga mewek-mewek seperti anak kecil yang mau menangis. Sepasang mata kakek itu yang sudah kehilangan sinarnya memandang kepada Ceng Liong, kemudian kepada Bi Eng dengan penuh duka, kemudian kepada suami isteri pendekar itu.

"Tapi.... tapi.... muridku sudah berjanji akan menjadi suaminya.... dan aku.... ah, aku tidak akan dapat mati dengan tenang kalan mereka belum terikat jodoh....! Seluruh sikap dan kata-kata, terutama pandang mata kakek itu penuh diliputi kekecewaan dan penyesalan yang antat menyedihkan. Akan tetapi, tentu saja hal ini hanya terasa oleh Ceng Liong. Bagi Kam Hong dan Bu Ci Sian, sikap itu tentu saja malah menjengkelkan. Puteri tunggal mereka hendak dijodohkan dengan murid datuk sesat itu? Sungguh merupakan suatu penghinaan besar! Kalau saja tidak ingat bahwa kakek itu pernah menyelamatkan Bi Eng dan kini berada dalam keadaan luka parah sekali, tentu Kam Hong atau Bu Ci Sian sudah menyerangnya.

"Hek-i Mo-ong,! kata Kam Hong dengan sikap tenang, mendahului isterinya yang dikhawatirkannya akan mengeluarkan kata-kata keras.

"Engkau tentu tahu bahwa kami sekeluarga tidak sudi mengikat pertalian keluarga denganmu. Puteri kami tidak suka menjadi calon isteri muridmu, juga kami berdua sebagai ayah bundanya tidak sudi. Maka, tidak perlu kau melanjutkan mimpi kosongmu itu. Bi Eng, mari kita pulang!! kata Kam Hong mengajak puterinya dan isterinya untuk meninggalkan tempat itu.

"Kam Hong, kau.... kau....!! Hek-i Mo-ong meloncat bangun berdiri dan menerjang ke depan, maksudnya untuk menyerang pendekar itu yang sudah melangkah pergi. Akan tetapi tiba-tiba dia mengeluh dan roboh terguling.

"Suhu....!! Ceng Liong dengan sigap merangkulnya dan ternyata kakek itu terkulai lemas dalam pelukannya, tak bernapas lagi! Kakek itu tewas dengan muka membayangkan kekecewaan dan kedukaan, juga matanya terbuka melotot penuh rasa penasaran! Setelah merasa yakin bahwa kakek itu sudah tidak bernyawa lagi, Ceng Liong merebahkannya di atas tanah dengan sikap tenang. Kam Hong bertiga tidak jadi pergi dan mereka memandang kepada Ceng Liong. Kemudian Kam Hong melangkah maju.

"Orang muda, ketahuilah bahwa permusuhan antara Hek-i Mo-ong dan kami dimulai oleh kejahatan kakek yang menjadi gurumu itu.

Kini, di akhir hidupnya dia masih membawa teman-teman menyebar maut sehingga menewaskan para pelayan yang juga menjadi murid-muridku.

Akan tetapi, karena dia telah menyelamatkan puteri kami, maka aku sudah membuang rasa permusuhan itu.

Kini dia sudah mati, engkau lah murid yang mewarisi kepandaiannya.

Nah, kalau memang engkau mempunyai dendam terhadap kami dan ingin melanjutkan sikap bermusuh mendiang gurumu, silahkan agar urusan itu dapat diselesaikan sekarang juga.!

Jelaslah bahwa sikap dan ucapan Kam Hong merupakan tantangan.

Sebenarnya bukan ini maksud hati pendekar itu.

Dia dapat melihat betapa pemuda remaja itu memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan kalau kelak sudah dewasa dan matang, akan merupakan lawan yang amat berbahaya sekali.

Selain itu, juga sikap pemuda itu sama sekali tidak mirip penjahat, maka kini dia mempergunakan kesempatan itu untuk menyelesaikan dan menghabiskan permusuhan antara dia dan pihak Hek-i Mo-ong sampai di situ saja.

Dia mengharapkan pemuda itu agar mau menyadari keadaan, bahwa setelah raja iblis itu tewas maka tidak ada lagi persoalan yang perlu dijadikan bahan permusuhan, akan tetapi kalau pemuda itu masih mendendam, tentu saja dia ingin segera diadakan perhitungan agar beres.

Bagaimanapun juga, Ceng Liong adalah seorang pemuda yang darahnya masih panas.

Bertahun-tahun lamanya dia ikut Hek-i Mo-ong merantau, mengalami banyak sekali peristiwa menegangkan bersama gurunya itu, dan dia merasakan betul kasih sayang gurunya terhadap dirinya.

Gurunya telah mewariskan semua kepandaiannya kepadanya dan gurunya telah menunjukkan cintanya dengan berbagai cara, membelanya mati-matian.

Biarpun dia tahu bahwa gurunya adalah seorang tokoh bahkan datuk kaum sesat, namun dia tidak pernah melihatnya melakukan kejahatan, dan terhadap dirinya amat baik.

Memang dia melihat dan mengalami sendiri betapa gurunya dengan bersekongkol dengan datuk-datuk lain telah menyerbu Pulau Es dan menyebabkan terbasminya kakek dan para neneknya di pulau itu.

Akan tetapi hal itu terjadi karena ada dendam permusuhan antara mereka.

Dia sendiri tidak menyetujui cara hidup gurunya, dan andaikata suhunya tidak menolong dan menyelamatkan nyawanya berkali-kali, tentu dia sendiri akan memusuhi Hek-i Mo-ong sebagai musuh besar keluarganya.

Kini, melihat Hek-i Mo-ong membela dia dan Bi Eng sampai berkorban nyawa, hatinya terharu dan berduka juga.

Dan mendengar tantangan Kam Hong, hatinya terasa panas.

Pendekar ini telah memperlihatkan sikap angkuh dan menghina terhadap Hek-i Mo-ong.

Dia sendiri tidak menyesal kalau tidak diperbolehkan berjodoh dengan Bi Eng karena hal itu adalah kehendak gurunya, bukan kehendaknya sendiri, akan tetapi cara penolakan keluarga Kam itu terhadap gurunya sungguh menghina.

Dan kini dia ditantang!

"Kam-locianpwe,!

katanya dengan sikap dan nada suara menghormat.

"Aku tidak pernah mencampuri urusan pribadi suhu dan ini memang telah menjadi janji antara kami.

Kalau aku membelanya di waktu dia masih hidup, hal itu adalah sepatutnya mengingat dia guruku.

Kini dia telah tewas, dan aku tidak mendendam kepada siapapun juga.

Akan tetapi, pernyataanku ini bukan sekali-kali berarti bahwa aku takut.

Kalau ada yang masih hendak memperlihatkan rasa bencinya kepada suhu, dan setelah suhu meninggal kini hendak memperlihatkannya melalui aku sebagai muridnya, akupun tidak akan mengelak.

Kalau locianpwe hendak memusuhi aku sebagai murid suhu, akupun tidak akan melarikan diri.!

Ucapan pemuda ini terdorong oleh rasa panas mendengar tantangan Kam Hong tadi, walaupun dia bersikap hormat.

Ucapannya mengandung penyambutan tantangan!

Kam Hong tersenyum dan dia akan merasa malu kalau harus mundur.

Apalagi dia didahului isterinya yang berkata.

"Kalau gurunya seperti Hek-i Mo-ong, mana mungkin muridnya orang baik-baik? Aku khawatir anak ini kelak akan lebih jahat dari pada gurunya!! Bu Ci Sian memang sejak gadis memiliki watak keras dan hanya setelah menjadi isteri Kam Hong saja dia tidak begitu binal lagi. Akan tetapi ia sudah biasa mengeluarkan semua isi hatinya melalui kata-kata tanpa sungkan-sungkan lagi.

"Hemm, orang muda.

Engkau telah kematian gurumu, akan tetapi akupun kematian enam orang muridku.

Biarpun para muridku itu bukan tewas di tangan gurumu, akan tetapi sesungguhnya gurumulah yang menjadi biang keladinya sehingga mereka tewas.

Agaknya biarpun di antara kita pribadi tidak ada dendam, namun kita telah berdiri di dua pihak yang saling bertentangan.

Daripada berlarut-larut, marilah kita selesaikan urusan itu sekarang saja.

Nah, kau majulah, orang muda!!

Ini merupakan tantangan terbuka bagi Ceng Liong.

Lebih dari itu malah, pendekar itu telah mencabut suling emasnya dan memegang senjata itu dengan sikap siap tempur.

Wajah Ceng Liong berobah merah dan dia menahan kemarahannya.

Gurunya seringkali mengatakan bahwa kalau kaum sesat dianggap jahat, sebaliknya kaum pendekar amat angkuh dan tinggi hati, selalu memandang rendah kepada golongan lain yang dianggap sesat dan jahat.

Dia sendiri memang tidak membenarkan orang-orang yang suka melakukan kejahatan seperti mendiang Jai-hwa Siauw-ok dan muridnya itu, akan tetapi sikap para pendekar yang tinggi hati seolah-olah menyudutkan golongan lain itu sehingga mereka tidak akan dapat merobah jalan kehidupan mereka, bahkan sikap para pendekar itu akan membuat mereka menjadi semakin menjauh dan ganas.

"Locianpwe, sekarang aku sudah bebas, berdiri sendiri. Maka, kalau locianpwe menantangku, maka tantangan itu langsung kuterima pribadi, tidak ada sangkut-pautnya dengan Hek-i Mo-ong. Dan karena locianpwe menantang, akupun tidak akan mundur selangkahpun. Siapa yang menantang dia yang harus menyerang dulu. Nah, silahkan!! Diapun sudah siap memasang kuda-kuda dan karena selama ini memang dia tidak pernah memegang senjata, maka diapun menghadapi pendekar itu dengan tangan kosong saja! Melihat sikap pemuda yang menantangnya seperti itu, wajah Kam Hong juga menjadi merah.

"Bagus, orang muda. Kuhargai kegagahanmu. Nah, keluarkanlah senjatamu!! Aku hanya memiliki sepasang lengan dan sepasang kaki, itulah senjataku!! Tentu saja Kam Hong merasa malu kalau harus menghadapi seorang lawan muda dengan suling emasnya, maka diapun menyelipkan snlingnya di ikat pinggangnya, kemudian dengan kedua tangan di pinggang, dia maju menghampiri Ceng Liong.

"Orang muda, lihat seranganku!!

katanya dan diapun menerjang dengan amat cepatnya.

Pada waktu itu, tingkat kepandaian Kam Hong sudah amat tinggi dan serangannya itu membawa hawa pukulan yang dahsyat sehingga angin pukulannya sudah terasa oleh Ceng Liong, menyambar dan mengeluarkan suara bersiutan.

Hebatnya, bukan hanya tangan kiri itu saja yang menyambar sebagai alat penyerang ampuh, juga ujung lengan baju yang panjang itu mendahului tangan menyambar, membuat totokan ke arah leher Ceng Liong, sedangkan jari-jari tangan itu menampar ke dada.

Melihat dahsyatnya pukulan orang, Ceng Liong yang memang sudah tahu betapa lihainya lawan, cepat mengelak dengan geseran-geseran kaki ke kiri, masih belum mau balas menyerang, karena dia harus mempelajari dulu bagaimana perkembangan serangan lawan yang lihai ini.

Akan tetapi, ujung lengan baju dan tangan pendekar she Kam itu tidak melanjutkan pukulannya.

Tangan kiri ditarik mundur dan kini tangan kanan yang menyambar, mengikuti arah elakan Ceng Liong.

Dan kini tangan kanan yang memukul itu melayang tanpa suara, tidak membawa angin seolah-olah tidak mengandung tenaga sedikitpun.

Heranlah hati pemuda itu.

Mengapa pendekar selihai ini menggunakan pukulan yang sama sekali tidak mengandung sin-kang, seperti pukulan orang biasa saja, bahkan lebih lembut dan lunak?

Apakah pendekar itu memandang rendah kepadanya sehingga sengaja melakukan serangan seperti itu ringannya?

Dia merasa penasaran kalau dipandang rendah, maka diapun kini menangkis dengan pengerahan tenaga untuk membuat lengan lawan yang lemah itu terpental.

"Dukk!!

Dan tubuh Ceng Liong terpental ke belakang, sebaliknya Kam Hong terpaksa melangkah dua tindak.

Keduanya terkejut.

Kam Hong tidak mengira bahwa pemuda itu akan mampu membuatnya terdorong mundur dua langkah.

Sebaliknya, Ceng Liong terkejut dan merasa heran.

Jelas bahwa pukulan lawannya tadi tidak mengandung tenaga sin-kang akan tetapi begitu ditangkisnya, dia merasa betapa tenaga tangkisannya membalik dan membuat dia terpental tanpa dapat dipertahankannya lagi.

Akan tetapi dengan ringan dia mampu berjungkir balik dan tidak sampai terhuyung.

Dia makin waspada.

Memang tadi Kam Hong mempergunakan Ilmu Khong-sim Sin-ciang, ilmu pukulan wasiat dari Khong-sim Kai-pang.

Keistimewaan ilmu ini adalah seperti Ilmu Silat Bian-kun (Silat Kapas) yang mengutamakan kekosongan dan kelembutan untuk melawan kekerasan.

Maka Ceng Liong yang mempergunakan sin-kang tadi terpukul oleh kekuatannya sendiri yang membalik.

Ceng Liong adalah seorang pemuda yang amat cerdik.

Begitu bertemu tenaga, diapun maklum akan sifat ilmu yang dipergunakan lawan.

Kini dia membalas serangannya yang dahsyat.

Karena maklum bahwa menghadapi lawan seperti Kam Hong ini dia tidak boleh memandang ringan sama sekali, begitu menyerang diapun mempergunakan ilmunya yang paling ampuh dan paling baru, yaitu Coan-kut-ci!

Melihat serangan dengan jari-jari tangan yang meluncur demikian cepatnya, sambil mengeluarkan bunyi bercicitan, Kam Hong terkejut.

"Ilmu keji....!! Serunya dan diapun tidak berani sembarangan menangkis melainkan mengelak. Akan tetapi, ilmu ini memang hebat, bukan hanya ampuh karena dipenuhi tenaga kuat, melainkan juga mujijat dan mengandung hawa mengerikan karena ketika melatih, yang dipergunakan sebagai sasaran adalah tulang-tulang dan tengkorak manusia. Jari-jari tangan ilmu ini seolah-olah dapat mencium tulang dan seperti ada daya tarik sembrani. Maka, biarpun Kam Hong sudah bergerak mengelak, jari-jari tangan Ceng Liong tetap saja menyambar dan mengikuti ke mana arah elakan lawan dengan cepat sekali, seolah-olah setiap batang jari hidup sendiri-sendiri seperti ular-ular yang ganas.

"Plak-plak-plakk!! Terpaksa Kam Hong menangkis beberapa kali untuk memunahkan daya serang lawan. Agaknya, mengelak saja dari serangan Coan-kut-ci ini amat berbabaya dan setelah berturut-turut dia menangkis dengan pengerahan sin-kang, barulah daya serang jari-jari tangan itu dapat ditolak. Kembali kedua pihak merasa lengan mereka tergetar hebat oleh beradunya kedua tangan itu.

"Ayah, jangan serang dia! Dia adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es! Dia adalah Suma Ceng Liong, keluarga para pendekar Pulau Es!! Tiba-tiba Bi Eng berteriak karena dara ini merasa khawatir melihat perkelahian antara ayahnya dan Ceng Liong. Mendengar ini, Kam Hong dan juga Bu Ci Sian mengeluarkan seruan kaget, bahkan Kam Hong sudah meloncat ke belakang seperti diserang ular. Matanya terbelalak memandang wajah pemuda remaja yang tampan itu dan alisnya berkerut.

"Apa katamu....?! Dia berseru kepada puterinya, akan tetapi matanya tetap menatap wajah Ceng Liong.

"Dia.... dia she Suma....?! "Ayah, Ceng Liong adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, Hek-i Mo-ong yang memberitahu padaku,! kata Bi Eng. Kam Hong masih memandang heran. Sikapnya sudah berbeda, tidak lagi siap tempur. Bahkan dia kini bertanya halus.

"Orang muda, benarkah engkau cucu Suma Locianpwe, Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Kalau benar demikian, bagaimana engkau dapat menjadi murid seorang datuk sesat seperti Hek-i Mo-ong? Sungguh sukar dipercaya....! Ceng Liong mengerutkan alisnya, lalu berkata dengan suara tegas.

"Kam-locianpwe, orang tidak dapat dinilai begitu saja dari namanya. Urusan aku menjadi murid Hek-i Mo-ong adalah urusan pribadi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan siapapun juga. Kam-locianpwe, selamat tinggal!! Dia lalu menghampiri mayat Hek-i Mo-ong, mengangkat dan memondongnya, kemudian meloncat dan lari pergi dari tempat itu tanpa mau menoleh lagi.

"Ceng Liong....!! Bi Eng memanggil, akan tetapi pemuda itu tetap tidak menoleh dan sebentar saja sudah lenyap dari pandangan mata. Dara remaja itu merasa kecewa dan menyesal. Ia sudah merasakan benar kebaikan-kebaikan pemuda yang menjadi sahabat barunya itu dan merasa berhutang budi. Maka, tentu saja ia merasa menyesal sekali melihat penolongnya itu berkelahi melawan ayahnya dan pergi dalam keadaan tidak bersahabat.

"Bi Eng, sebenarnya, apakah yang telah terjadi? Dan mana mungkin seorang cucu Pendekar Super Sakti menjadi murid seorang datuk sesat seperti Hek-i Mo-ong?! kini Bu Ci Sian bertanya. Bi Eng lalu menceritakan semua yang telah dialaminya sejak ia dirobohkan oleh Louw Tek Ciang secara curang, kemudian ia diselamatkan oleh Suma Ceng Liong dan Hek-i Mo-ong.

"Entah, ayah dan ibu, dalam pandanganku, biarpun ia berwatak aneh, akan tetapi Hek-i Mo-ong tidak jahat kepadaku. Dan Ceng Liong amat baik.! Kam Hong mengangguk-angguk dan mengelus dagunya.

"Hemmm, sungguh aneh sekali, sukar dipercaya bahwa cucu Pendekar Super Sakti menjadi murid Hek-i Mo-ong!

Setahuku, Pendekar Super Sakti mempunyai tiga orang keturunan.

Pertama adalah Puteri Milana yang menikah dengan pendekar sakti she Gak, kemudian dua orang puteranya adalah Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu.

Entah yang mana di antara kedua pendekar itu yang menjadi ayah Suma Ceng Liong.

Dan bagaimana sampai bisa menjadi murid datuk sesat yang julukannya saja Raja Iblis itu?

Sungguh sukar dimengerti....!

"Dan bagaimana tentang perjodohan seperti dikatakan oleh iblis itu tadi?!

Bu Ci Sian bertanya, nada suaranya masih penasaran walaupun kini nadanya agak lunak karena pemuda yang menjadi murid iblis itu ternyata adalah cucu Pendekar Super Sakti!

Kita dapat memaafkan sikap Ci Sian ini karena kalau kita membuka mata memandang kehidupan masyarakat kita ini, di mana termasuk juga diri kita, bukankah kita semua telah mempunyai penyakit yang sama?

Kedudukan dan nama seorang amat penting bagi kita sehingga kita tidak lagi memandang orangnya, manusianya, melainkan kedudukannya, hartanya, kepandaiannya, namanya, agamanya, dan sebagainya lagi.

Ketika mendengar puterinya akan dijodohkan dengan murid Hek-i Mo-ong yang dikenalnya sebagai seorang datuk sesat, hati nyonya ini menjadi marah karena merasa direndahkan atau terhina dan tentu saja seratus prosen ia menentang.

Akan tetapi, begitu mendengar bahwa murid kakek iblis itu ternyata adalah cucu Pendekar Super Sakti, terdapatlah suatu perasaan lain!

Kalau keturunan Para Pendekar Pulau Es yang hendak berbesan dengannya, hal itu menjadi lain sama sekali!

"Ibu, mengenai perjodohan itu adalah satu di antara keanehan watak Hek-i Mo-ong.

Dia berpura-pura tidak mau mengobatiku kalau aku tidak mau berjanji kelak akan menjadi isteri Ceng Liong.

Tentu saja aku menolak dan aku tidak sudi berjanji seperti itu.

Dan ternyata dia mengobatiku juga sampai sembuh, hanya dia memaksa Ceng Liong yang berjanji agar kelak mau menjadi suamiku.

Ceng Liong berjanji karena ingin agar gurunya menyembuhkanku.!

Suami isteri itu saling pandang, tidak tahu harus bicara apa.

"Sudahlah, memang orang-orang sesat memiliki watak yang aneh-aneh, akan tetapi dia sudah mati dan tentu saja tidak ada ikatan apa-apa antara Bi Eng dari pemuda itu.

Mari kita pulang untuk mengurus jenazah para pelayan.!

Biarpun mereka itu hanya pelayan, akan tetapi mereka menerima pelajaran ilmu silat dari Kam Hong sehingga merekapun dapat disebut murid-muridnya.

Maka, ketika menyembahyangi enam buah peti mati yang berjajar di halaman depan rumahnya, Kam Hong, Ci Sian dan Bi Eng merasa berduka sekali.

Bahkan Ci Sian dan Bi Eng tak kuasa menahan air mata mereka.

Enam orang itu tewas karena membela keluarga mereka.

Akan tetapi, siapakah yang akan dikutuk?

Hek-i Mo-ong yang agaknya menjadi biang keladi penyerbuan itu telah tewas, juga Jai-hwa Siauw-ok sudah tewas.

Hanya tinggal murid-murid mereka.

Banyak juga tamu berdatangan untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah enam orang itu.

Mereka sebagian besar adalah penduduk dusun di sekitar pegunungan itu.

Ada pula beberapa orang tokoh ilmu silat yang kebetulan mendengar akan malapetaka yang menimpa keluarga pendekar Kam lalu datang pula berkunjung untuk menyatakan belasungkawa.

Malam itu tidak ada tamu lain.

Hanya tiga orang anggauta keluarga itu saja yang masih duduk di ruangan depan, menjaga enam buah peti jenazah.

Bulan bersinar terang sehingga pekarangan depan pondok itu, yang merupakan istana tua, nampak jelas.

Maka, ayah, ibu dan anak itupun dapat melihat dengan jelas ketika ada dua bayangan orang berkelebat di pekarangan mereka.

Kam Hong memberi isyarat dengan tangan kepada isteri dan puterinya agar waspada.

Akan tetapi dua orang wanita itu juga sudah melihat berkelebatnya bayangan dua orang dan merekapun sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Setelah peristiwa penyerbuan Hek-i Mo-ong dengan kawan-kawannya, keluarga Kam menjadi waspada dan selalu dalam keadaan tegang dan curiga.

Kini dengan gerakan gesit, dua bayangan itu telah tiba di tengah pekarangan, berdiri di situ dengan tegak.

Di bawah sinar bulan, nampak jelas bahwa mereka adalah dua orang pria.

Yang seorang berusia hampir empat puluh tahun, kira-kira tiga puluh enam tahun, bertubuh tegap dan bersikap gagah, dengan pakaian sederhana dan ringkas membayangkan tubuh yang masih kekar, wajahnya cerah dan mulutnya membayangkan senyum ramah.

Adapun pria yang ke dua, berusia kurang lebih enam belas tahun, wajahnya putih bundar dan alisnya tebal, nampak tampan dan gagah.

Kalau pria setengah tua itu membawa sebatang pedang di punggung, pemuda itu membawa sebatang pedang di pinggang dan kedua orang itu jelas merupakan orang-orang yang datang bukan dengan maksud baik.

Maka, terdorong oleh rasa duka dan marah kehilangan enam orang pelayan yang tewas, dara ini tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi dan sambil mengeluarkan suara melengking, tubuhnya sudah melayang ke depan, agak tinggi dan membuat gerakan jungkir balik tiga kali baru tubuhnya itu hinggap dengan ringannya di depan dua orang pria itu yang memandang dengan kagum.

"Gin-kang yang bagus!! Pria setengah tua itu berseru memuji. Sementara itu, Bu Ci Sian sudah bangkit berdiri dan wanita inilah yang lebih dulu mengenal pria itu.

"Hong Bu....!

Dia Hong Bu, Sim Hong Bu....!!

Dan sekali meloncat, tubuh nyonya inipun melayang sampai ke depan dua orang pria itu, di sisi puterinya yang memandang ragu mendengar seruan ibunya.

Kam Hong juga melangkah keluar menyambut dengan wajah berseri.

Kini diapun mengenal pria yang gagah itu, dan diapun terkenang akan masa lalu, belasan tahun yang lalu.

Pria itu bernama Sim Hong Bu, seorang ahli pedang Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman) yang amat lihai dan boleh dibilang masih seketurunan dalam ilmu silat dengannya, karena Ilmu Pedang Naga Sihunan berasal dari sumber yang sama dengan Ilmu Pedang Suling Emas (baca kisah Suling Emas dan Naga Siluman).

Bukan itu saja.

Sim Hong Bu dahulu, di masa mudanya, pernah jatuh cinta kepada Bu Ci Sian.

Ketika masih gadis, Bu Ci Sian menjatuhkan hati banyak sekali pemuda-pemuda pilihan, di antaranya Jenderal Muda Kao Cin Liong dan pendekar pedang Sim Hong Bu ini.

Akan tetapi akhirnya Bu Ci Sian memilih yang dekat, memilih dia yang menjadi suhengnya sendiri walaupun usianya belasan tahun lebih tua.

Selain pernah jatuh cinta kepada Bu Ci Sian, juga Hong Bu inilah yang merupakan lawan paling tangguh di antara semua jagoan yang pernah dilawannya.

Sian Hong Bu inilah yang paling gigih melawan Ilmu Pedang Suling Emas, merupakan lawan yang seimbang, dan sungguh tidak mudah mengalahkan Hong Bu pada belasan tahun yang lalu itu.

Mereka pernah saling gempur, bertanding mati-matian, kemudian berpisah sebagai sahabat.

Dan kini, setelah belasan tahun berpisah dan tidak saling memberi kabar, tahu-tahu pendekar itu muncul pada saat merekaberkabung atas kematian enam orang pelayan atau murid itu.

Pendekar bernama Sim Hong Bu itu menjura kepada Bu Ci Sian.

"Nona Bu Ci Sian.... eh, maaf, nyonya Kam Hong, selamat bertemu! Aku berani bertaruh bahwa nona ini tentulah puterimu!! Sikap Sim Hong Bu nampak gembira sekali. Kam Hong yang sudah tiba pula di situ tersenyum.

"Saudara Sim Hong Bu, apa kabar? Dan akupun berani bertaruh bahwa pemuda ini tentulah puteramu!! Sim Hong Bu tertawa bergelak, kemudian menepuk pundak pemuda di sebelahnya.

"Houw-ji (anak Houw), lihatlah baik-baik.

Inilah keluarga yang sering kuceritakan kepadamu.

Inilah Kam-taihiap yang perkasa, Pendekar Suling Emas yang tanpa tanding, dan isterinya yang lihai pula!!

Pemuda itu adalah putera tunggal Sim Hong Bu.

Pendekar ini kemudian menikah dengan Cu Pek In, puteri dari gurunya sendiri yang bernama Cu Han Bu.

Dia bersama isteri dan anak mereka itu tinggal di Lembah Gunung Naga Siluman, di daerah Himalaya, di mana tinggal keluarga Cu yang merupakan keluarga sakti itu.

Dan di sini pula Sim Hong Bu menggembleng putera tunggalnya yang kini diajaknya melawat ke timur mengunjungi bekas lawan, juga bekas sahabat yang menikah dengan wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.

Ketika dia diperkenalkan kepada keluarga Kam yang memang sudah seringkali diceritakan oleh ayahnya, Sim Houw memberi hormat.

"Saya Sim Honw memberi hormat kepada Kam-locianpwe dan....! "Wah, anak baik. Kalau engkau putera saudara Sim Hong Bu, jangan menyebut locianpwe kepadaku. Sebut saja paman!! kata Kam Hong gembira. Pemuda itu kembali menjura.

"Terima kasih, paman Kam Hong dan bibi!! Bu Ci Sian memandang kepada pemuda itu sambil tersenyum. Ia merasa suka kepada pemuda yaug gagah ini, yang mengingatkan ia akan keadaan Sim Hong Bu di waktu mudanya. Sejak kecil Sim Hong Bu adalah seorang pemburu binatang buas di hutan sehingga sikapnya gagah dan jantan. Demikian pula sikap pemuda yang menjadi puteranya ini.

"Sim Houw, apakah seperti ayahmu, engkau juga suka berburu binatang?! tanya nyonya ini sambil tersenyum.

"Karena daerah tempat tinggal kami penuh dengan hutan-hutan, maka saya memang kadang-kadang suka pergi berburu, bibi,! jawab Sim Houw sederhana.

"Kam-taihiap,! kata Hong Bu yang memang sejak dahulu menyebut taihiap kepada Kam Hong.

"Maafkan kami yang datang mengganggu di waktu malam. Akan tetapi kami tadi menjadi ragu-ragu melihat adanya perkabungan di sini. Enam buah peti jenazah! Apakah yang telah terjadi dan siapakah yang meninggal dunia?! "Mereka adalah enam orang muridku yang tewas di tangan penjahat-penjahat yang datang menyerbu tempat tinggal kami. Engkau tentu masih ingat kepada Hek-i Mo-ong?! "Apa? Iblis tua itu yang datang menyerbu?! Sim Hong Bu bertanya kaget.

"Dia dan Jai-hwa Siauw-ok murid Im-kan Ngo-ok, bersama dua orang murid mereka.! "Ahhh....!! Sim Hong Bu berseru kaget dan marah.

"Dan di mana mereka? Tentu taihiap telah dapat memukul mundur mereka.! Kam Hong menarik napas panjang.

"Dua orang datuk sesat itu tewas dan murid-murid mereka melarikan diri. Mari, mari kita bicara di dalam, saudara Hong Bu,! ajak Kam Hong. Sim Hong Bu dan Sim Houw lalu mengikuti Kam Hong sekeluarga setelah Bu Ci Sian memperkenalkan Kam Bi Eng yang segera memberi hormat kepada "paman Sim Hong Bu!. Ayah dan anak yang datang sebagai tamu itu lalu memasang hio di depan enam buah peti jenazah. Kemudian mereka duduk di ruangan depan sambil bercakap-cakap, saling menceritakan pengalaman-pengalaman mereka semenjak berpisah belasan tahun yang lalu.

"Tempat tinggal kalian terlalu jauh, di Himalaya, maka kami tidak pernah mendapat kesempatan untuk berkunjung ke tempat sejauh itu,! kata Bu Ci Sian kepada tamunya.

"Baik sekali kalian datang berkunjung, kami merasa gembira dan berterima kasih. Sim Hong Bu menarik napas panjang.

"Bertahun-tahun kami seperti hidup terasing di Lembah Gunung Naga Siluman dan baru sekarang saya mendapat kesempatan mengajak anak kami memperluas pengetahuan dan menjelajah ke timur. Di dalam perjalanan menuju ke sini, saya mendengar berita di dunia kang-ouw bahwa Kam-taihiap telah mempunyai seorang puteri. Maka ketika puteri kalian tadi muncul, saya dapat mengenalnya, apalagi karena wajahnya mirip benar dengan ibunya.

"Dan puteramu mirip sekali dengan ayahnya,! kata Bu Ci Sian.

"Kam-taihiap dan lihiap, begitu melihat puteri kalian, saya merasa terharu dan timbul suatu niat dalam hati, bahkan maksud hati ini pernah saya bicarakan dengan isteri saya sebelum saya berangkat.! "Kenapa isterimu tidak ikut datang berkunjung?! Bu Ci Sian bertanya seperti baru teringat.

"Ibunya Houw-ji pasti akan datang berkunjung kalau maksud hati kami ini mendapatkan sambutan baik dari Kam-taihiap berdua.! "Saudara Sim Hong Bu, katakanlah terus terang, apakah maksud baik kalian itu?! Kam Hong sudah dapat menduga, akan tetapi dia menginginkan kepastian maka dia mengajukan pertanyaan itu.

"Baiklah, saya akan berterus terang saja.

Dan kehadiran anak-anak kita di sinipun saya kira tidak menjadi halangan, karena bukankah kita senantiasa menghargai keterbukaan dan kejujuran?

Kam-taihiap, kita menikah dalam waktu yang tidak begitu jauh selisihnya, bahkan mungkin saya lebih dahulu beberapa bulan.

Mengingat bahwa setahun kemudian terlahir Houw-ji, maka saya yakin Houw-ji lebih tua dari puteri taihiap berdua.

Nah, maksud hati kami adalah untuk mengharapkan persetujuan Kam-taihiap berdua, kalau berkenan di hati, kami ingin sekali melihat anak kami yang bodoh dapat berjodoh dengan puteri taihiap yang mulia.!

Hening sejenak, keheningan yang terasa seperti mencekik leher Bi Eng.

Sebagai seorang dara remaja, biarpun sejak kecil ia digembleng menjadi orang gagah yang berpikiran terbuka, namun kalau orang-orang membicarakan tentang perjodohannya, tentu saja ia merasa risi, rikuh dan malu.

Akhirnya, keheningan yang menyambung akhir ucapan Sim Hong Bu yang jujur itu, begitu mencekam hatinya dan iapun tanpa bicara bangkit berdiri perlahan-lahan, dengan kepala tunduk lalu pergi meninggalkan ruangan itu, masuk ke dalam kamarnya!

Adapun Sim Houw, pemuda remaja itu, juga tidak berani bergerak dari tempat duduknya, menundukkan mukanya yang menjadi merah.

Ayah dan ibunya tidak pernah mengajaknya bicara tentang perjodahan, apalagi tentang maksud hati ayahnya yang berkunjung ke rumah keluarga Kam yang ternyata adalah untuk membicarakan perjodohannya atau melamar gadis orang!

Kemudian terdengar Kam Hong menarik napas panjang, disusul suara ketawanya yang lembut.

"Aih, saudara Sim, sungguh pernyataanmu tadi seperti serangan mendadak yang membuat kami terkejut dan bungkam. Betapapun juga, kami merasa amat berterima kasih, bangga dan girang bahwa engkau mempunyai niat yang demikian mulia terhadap diri puteri kami yang bodoh. Karena pinanganmu ini datangnya terlalu tiba-tiba, dan untuk mengambil keputusan kami perlu mengadakan perundingan dalam keluarga lebih dahulu, maka harap engkau suka bersabar menanti. Tunggulah sampai kami selesai mengurus penguburan jenazah-jenazah ini, baru kami akan memberi jawaban dan keputusan.! Sim Hong Bu cepat bangkit dan menjura dengan hormat.

"Maaf.... harap ji-wi maafkan karena memang aku telah tergesa-gesa dan lancang sekali. Baik, tentu saja aku harus tahu diri, lupa bahwa sekarang bukan saatnya yang baik. Saya akan menanti dengan sabar, Kam-taihiap.! "Akan tetapi, kalian tinggal saja di sini,! kata Bu Ci Sian.

"Benar, tinggallah di sini selama beberapa hari,!

sambung suaminya.

Hong Bu tidak menolak dan ayah bersama puteranya ini tinggal di rumah gedung tua itu, bahkan membantu pihak tuan rumah ketika mengurus penguburan enam buah peti jenazah.

Pekerjaan ini dibantu pula oleh para penduduk yang berdekatan.

Selama itu, biarpun seringkali jumpa, Bi Eng dan Sim Houw tidak pernah bicara.

Bi Eng biasanya lincah jenaka dan gembira, pandai bicara, akan tetapi karena para orang tua membicarakan perjodohannya dengan pemuda ini, ia menjadi malu dan tidak berani mendahului meregur pemuda itu.

Sebaliknya, Sim Houw memang seorang pemuda yang pendiam dan canggung kalau berhadapan dengan wanita, maka mereka hanya saling bertukar pandang saja sekilas tanpa saling menegur kecuali mengangguk tanda hormat.

Kam Hong selalu membicarakan perkara perjodohan itu dengan isterinya.

Mereka sebetulnya merasa suka melihat putera Hong Bu itu.

Mereka mengenal ayah pemuda itu sebagai seorang pendekar perkasa, juga ibunya adalah keturunan keluarga Cu yang sakti.

Sim Houw adalah keturunan orang-orang gagah dan pemuda itupun cukup tampan dan bersikap baik, pantas kalau menjadi suami Bi Eng.

Akan tetapi, mereka harus berhati-hati agar jangan sampai salah memilih calon suami puteri tunggal mereka.

Oleh karena itu, setelah upacara penguburan para jenazah itu selesai, suami isteri ini mengadakan perundingan dan memanggil puteri mereka.

Keluarga ini selalu bersikap bebas dan dalam hal inipun mereka akan bersikap terbuka kepada puteri mereka.

"Eng-ji,! kata ibunya yang bertugas menyampaikan urusan itu kepada puteri mereka.

"seperti telah kau dengar sendiri, keluarga Sim datang meminangmu.

Engkau telah melihat sendiri pemuda itu dan kami dapat menerangkan bahwa keluarga Sim adalah keluarga gagah perkasa dan ayah pemuda itn sejak dahulu telah menjadi sahabat baik kami.

Betapapun juga, ayah ibumu ingin mengetahui isi hatimu karena engkau lah yang akan menjalani dan urusan pernikahan adalah urusan yang menyangkut diri selamanya.

Bagaimana pendapatmu, Eng-ji, setujukah engkau kalau menjadi calon isteri Sim Houw?!

Biarpun pada waktu itu, belum dikenal orang tentang kebebasan memilih jodoh sendiri, dan hampir setiap perjodohan yang terjadi selalu terjadi atas pilihan orang tua masing-masing bahkan jarang ada pemuda atau pemudi yang dapat mengenal lebih dahulu siapa calon jodohnya dan tahu-tahu saling berjumpa di waktu upacara pernikahan, namun keluarga Kam memang menganut sikap bebas dalam kehidupan keluarga mereka.

Bagaimanapun juga, tentu saja pengaruh tradisi yang sudah mengakar dan menjadi kebiasaan dan kesopanan umum itu tidak dapat terlepas begitu saja, maka Kam Hong dan Ci Sian juga terpengaruh dan mereka lehih condong untuk menilai dan memilih calon jodoh puteri mereka, walaupun mereka kini menyerahkannya kepada penilaian Bi Eng sendiri.

Di lain pihak, juga Bi Eng sebagai seorang dara muda yang hidup di jaman itu, tidak terlepas dari rasa kikuk dan malu untuk membicarakan urusan perjodohannya.

Pada jaman itu, hubungan antara pria dan wanita merupakan suatu hal yang dianggap rahasia dan amat memalukan kalau dilihat atau didengar orang lain, sedangkan urusan pernikahan adalah urusan hubungan antara pria dan wanita, maka setiap orang, terutama gadisnya, tentu akan merasa malu sekali kalau diajak berunding tentang pernikahannya.

Bi Eng yang baru berusia lima belas tahun itu sebetulnya belum pernah berpikir tentar perjodohan, maka ketika tempo hari mendengar pinangan yang diajukan tamunya, ia tidak kuat mendengar terus saking malunya, dan ia melarikan diri bersembunyi ke dalam kamarnya.

Kini, mendengar pertanyaan ibunya, iapun menunduk dan mukanya berobah merah sekali.

Ia menjadi bingung karena sama sekali belum pernah membayangkan bahwa ia akan dilamar orang, akan menjadi isteri orang.

Harus diakuinya bahwa pemuda yang akan dijodohkan dengannya itu cukup ganteng dan gagah, akan tetapi ia tidak tahu apakah ia akan suka menjadi isteri pemuda itu.

Kini, ia merasa bingung harus berkata apa.

Untuk menolak begitu saja tentu dia tidak sampai hati kepada orang tuanya, karena bukankah urusan jodoh adalah urusan orang tua dan anak yang berbakti tinggal mentaatinya saja?

Demikianlah anggapan umum para muda pada jaman itu.

Menyimpang dari anggapan ini akan dianggap hal yang amat tidak patut sekali!

Maka, seperti sikap seorang gadis sopan yang diharapkan semua orang pada jaman itu, iapun menunduk ketika menjawab lirih.

"Aku.... aku tidak tahu, ibu.... hal ini.... terserah kepada ayah dan ibu saja!! setelah berkata demikian, Bi Eng lalu pergi meninggalkan orang tuanya, keluar dari rumah melalui pintu belakang dan memasuki kebun belakang yang luas. Hatinya bingung dan perasaannya masih terguncang oleh pertanyaan ibunya tadi. Selama ini belum pernah ia berpikir tentang perjodohan, maka datangnya pertanyaan itu sungguh merupakan hal yang mengejutkan dan membingungkan hatinya.

"Ah, ia masih terlalu muda untuk dapat mengambil keputusan tentang perjodohannya sendiri.! kata Ci Sian kepada suaminya. Suaminya mengangguk.

"Akan tetapi kita sudah menanyakan pendapatnya sehingga kelak ia tidak akan dapat menuduh kita melakukan pemaksaan dalam hal perjodohannya. Dan sebagai seorang anak yang amat baik ia telah menyerahkan urusan itu kepada kita untuk mengambil keputusan.! "Apakah ini berarti bahwa engkau akan menerima begitu saja pinangan Sim Hong Bu?! isterinya bertanya. Suaminya menarik napas panjang dan menggeleng kepala.

"Memang, dilihat begitu saja tidak ada alasan apapun bagi kita untuk tidak menerima pinangan Hong Bu.

Dia seorang gagah perkasa yang sudah kita kenal benar wataknya, dan isterinyapun keturunan keluarga Cu yang perkasa.

Pemuda itu sendiri kelihatan tidak ada cacatnya dan cukup gagah.

Betapapun juga, kita harus berhati-hati sekali memilihkan jodoh anak kita.

Akupun tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, maka aku mengajakmu berunding dan kitapun tadi sudah menanyakan pendapat Eng-ji sendiri.!

Suami isteri itu termenung, masih diliputi kebimbangan walaupun mereka berdua memang sudah condong sebelumnya untuk menerima pinangan itu dengan girang karena merasa bahwa puteri mereka telah mendapatkan jodoh yang cocok.

Setelah suami isteri itu termenung beberapa lamanya, akhirnya Ci Sian memperoleh suatu hasil pemikiran yang dianggapnya baik sekali.

"Memang kita harus berhati-hati, dan kurasa ada jalan yang amat baik. Kita berdua memang sudah merasa cocok, kalau anak kita menjadi mantu Sim Hong Bu. Bagaimana kalau kita menerima pinangan mereka akan tetapi menangguhkan pernikahannya sampai satu dua tahun lagi? Pertama, mengingat Bi Eng sekarang baru berusia lima belas tahun dan ke dua, penangguhan ini dapat kita pergunakan sebagai waktu untuk melakukan penyelidikan. Kita amati bagaimana tingkah laku calon mantu itu agar hati kita menjadi lega dan puas.! Kam Hong menjawab hati-hati.

"Usulmu itu memang baik sekali, akan tetapi kurasa tidak mudah untuk dilaksanakan.

Engkau tahu, keluarga itu tinggal jauh sekali di Pegunungan Himalaya.

Dalam jarak sejauh itu, bagaimana mungkin kita akan dapat mengamati kelakuan calon mantu kita?

Tidak, kita harus mencari jalan lain yang lebih baik.!

"Jalan lain bagaimana?!

"Aku mempunyai pikiran yang kukira baik sekali.

Ingat, ilmu yang kita warisi, yaitu Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut, merupakan lawan paling seimbang dan juga pasangan yang amat baik dari ilmu pedang warisan mereka, yaitu Koai-liong Kiam-sut.

Kurasa Sim Houw telah memarisi Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut, sedangkan anak kitapun sudah mewarisi Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut kita, walaupun belum sempurna benar dan tinggal memperdalam dengan latihan saja.

Untuk dapat menilai keadaan Sim Houw, satu-satunya jalan adalah kalau dia tinggal bersama kita di sini.!

"Ehh?

Bagaimana mungkin?

Tidak pantas kalau dia tinggal dulu di sini sebelum menjadi suami Bi Eng....!

"Bukan begitu maksudku.

Biarlah perjodohan itu kita ikat, akan tetapi masa pertunangan itu kita manfaatkan, baik juga sebagai syarat pernikahan.

Biar Eng-ji mereka didik dan diajari Koai-liong Kiam-sut, sedangkan Sim Houw kita didik dan kita ajari Kim-siauw Kiam-sut.

Dengan demikian, kita memperoleh dua keuntungan.

Pertama, dengan menjadi murid kita beberapa tahun lamanya, tentu saja kita akan dapat mengenal wataknya yang sebenarnya dan kita dapat menilai apakah dia memang pantas menjadi jodoh anak kita.

Dan ke dua, dengan penukaran ilmu itu, tentu anak kita akan menguasai dua ilmu itu dan menggabungnya sehingga ia akan menjadi seorang yang amat tangguh, lebih tangguh daripada kita.

Bagaimana?!

Bu Ci Sian termenung.

Usul suaminya itu sungguh baik sekali, akan tetapi kalau ia membayangkan harus berpisah dari puterinya selama beberapa tahun, hatinya merasa sedih.

Agaknya Kam Hong dapat mengetahui isi hati isterinya.

Dia memegang lengan isterinya dengan mesra lalu berkata, suaranya halus dan penuh kasih sayang.

"Isteriku, engkau tahu bahwa demi cinta kita kadang-kadang harus berani berkorban.

Aku sendiripun tentu saja merasa berat harus berpisah dari puteri kita yang kita cinta.

Akan tetapi, ingatlah bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini.

Sekali waktu, pasti kita akan berpisah dari orang-orang yang kita cinta, termasuk Bi Eng.

Akan tetapi, biarpun kita merasa tidak senang kalau harus berpisah dari anak kita, kita harus ingat bahwa perpisahan sementara ini adalah demi kebaikan anak yang kita cinta.

Maka, demi anak kita, perasaan kita sendiri haruslah dikesampingkan.

Setujukah engkau?!

Bu Ci Sian menghela napas panjang.

Tentu saja, demi kebaikan Bi Eng sendiri, mau tidak mau ia harus menyetujui usul suaminya ini.

Bagaimanapun juga, amat baik kalau Bi Eng memperdalam ilmunya dengan menguasai Koai-liong Kiam-sut.

Ilmu yang amat tinggi dan penting untuk kehidupan puterinya.

Bukankah ia dan suaminya sendiri, walaupun sudah memiliki kepandaian tinggi, tidak luput daripada bencana ketika Hek-i Mo-ong dan kawan-kawannya muncul?

Dan Bi Eng pernah hendak dijodohkan oleh iblis itu dengan muridnya!

Biarpun kemudian ternyata bahwa murid iblis itu adalah cucu Pendekar Super Sakti, namun sebagai murid iblis itu tentu saja ia tidak setuju kalau menjadi suami Bi Eng.

Putera Sim Hong Bu jauh lebih baik dibandingkan dengan murid iblis itu.

Maka iapun mengangguk setuju.

Tiba-tiba suami isteri ini terkejut mendengar suara angin dan lengkingan-lengkingan nyaring diseling suara mengaum dan berdesing.

Lengkingan itu adalah suara senjata suling anak mereka, dan hal itu berarti bahwa Bi Eng sedang berkelahi mempergunakan sulingnya!

Seperti disengat binatang berbisa karena teringat akan malapetaka yang baru saja menimpa keluarga mereka dengan kemunculan datuk-datuk sesat, suami isteri perkasa ini sudah meloncat dan seperti berlumba saja mereka lari menuju ke arah datangnya suara itu, yalah dari kebun belakang.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marah hati Bu Ci Sian melihat bahwa puterinya itu sedang bertanding mati-matian melawan Sim Houw, pemuda yang direncanakan akan menjadi mantunya itu!

Tentu saja ia marah dan hendak meloncat dan membentak, akan tetapi lengannya dipegang Kam Hong dan ketika isteri itu menoleh kepada suaminya, ia melihat suaminya memberi tanda agar ia diam saja.

"Agaknya mereka sedang berlatih.!

bisik Kam Hong.

Ci Sian memandang dengan mata terbelalak khawatir.

Ia sama sekali tidak melihat mereka sedang berlatih, akan tetapi karena perkelahian yang nampak sungguh-sungguh itu agaknya dikuasai oleh Bi Eng yang lebih banyak menyerang dan mendesak dengan sulingnya dibandinakan dengan Sim Houw yang lebih banyak mengelak atau menangkis dengan pedangnya, maka iapun diam saja.

Apakah yang telah terjadi antara Sim Houw dan Bi Eng?

Seperti kita ketahui, ketika ia diajak bicara tentang perjodohan oleh ayah ibunya, Bi Eng menyerahkan urusan itu kepada orang tuanya dan karena merasa risi, canggung dan malu, iapun meninggalkan orang tuanya dan memasuki kebun belakang rumahnya.

Kebun ini luas, terdapat banyak pohon buah, sayur dan bunga-bunga yang dirawatnya sendiri dibantu oleh para pelayan yang kini telah tewas semua.

Melihat kebunnya, Bi Eng teringat kepada para pembantu yang juga merupakan murid-murid ayahnya dan hatinya bersedih.

Apalagi teringat akan pembicaraan ayah ibunya tadi, hatinya menjadi semakin sedih.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 7

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert