Ceritasilat Novel Online

Suling Emas 13

Eps 13 Suling Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Emas - Kho Ping Hoo.

Sebelum hilang kekagetan mereka, tiba-tiba Kim-mo Taisu sudah bergerak cepat sekali, menggunakan kipasnya dan setiap kali kipasnya bergerak, seorang pengeroyok roboh.

Hiruk-pikuk suara mereka, golok dan pedang beterbangan dan dalam waktu beberapa menit saja dua belas orang itu sudah roboh tak berkutik!

"Jangan bunuh semua!"

Cao Kuang Yin mencegah, namun terlambat.

Orang terakhir sudah roboh pula.

Jenderal itu cepat melompat kedekat orang terakhir yang masih bergerak-gerak, kemudian ia menjambak leher baju orang itu dan membentak.

"Hayo mengaku! Siapa menyuruh kalian!"

Orang itu berusaha membuka mulut, akan tetapi suara yang keluar hanyalah suara seperti babi disembelih karena jalan darahnya sudah putus oleh ketukan gagang kipas dan ia hanya dapat menuding-nudingkan telunjuknya, lalu lemas dan nyawanya melayang.

"Cao-goanswe, orang-orang yang berbuat khianat macam mereka ini sudah sepatutnya dibunuh semua,"

Kata Kim-mo Taisu.

"Ah, akan tetapi saya ingin mengetahui siapakah pesuruh mereka."

"Dia tadi menunjuk kearah selatan, kearah kota raja. Agaknya dari kota raja datangnya perintah."

Cao Kuang Yin mengerutkan keningnya.

Ia mengingat-ingat dan merasa bahwa di kota raja dia tidak mempunyai musuh.

Kecuali ibu suri tentunya karena ia telah mengajukan protes.

Mungkinkah ibu suri yang mengirim pembunuh-pembunuh ini?

"Taisu telah menyelamatkan nyawa saya, sungguh merupakan budi besar."

"Penyelamat atau pencabut nyawa hanyalah menjadi kekusaan Thian! Sungguhpun kebetulan saya berada disini ketika Goanswe diserang orang-orang itu, akan tetapi sesungguhnya bukan karena kebetulan saya mendekati Goanswe. Saya memang sengaja membayangi Goanswe ketempat ini karena maksud tertentu."

"Ahh...?"

Jenderal Cao kaget dan memandang tajam.

"Maksud apakah?"

"Saya mempunyai urusan pribadi dengan orang yang kini kebetulan berada dalam barisan Goanswe. Tanpa perkenan Goanswe saya tidak berani mencari keributan dalam pasukan Goanswe."

Jenderal itu mengelus jenggotnya.

"Hemm, siapakah orang itu?"

"Dia adalah Kong Lo Sengjin, atau dahulu terkenal dengan nama Sin-jiu Couw Pa Ong!"

"Hah? Sin-jiu Couw Pa Ong? Akan tetapi dalam barisanku tidak ada Kakek terkenal itu!"

"Sudah lama saya mengejarnya dan tidak salah lagi, dia berada dalam barisan Goanswe."

"Kalau begitu, biarlah kita periksa besok. Marilah Taisu ikut bersama saya. Malam ini harap Taisu suka menemani saya dan besok kita sama-sama memeriksa. Kalau betul ada Kakek itu dengan barisan, sudah tentu saya perkenankan Taisu untuk menyelesaikan urusan pribadi Taisu dengan dia tanpa campur tangan kami."

"Terima kasih. Goanswe benar bijaksana."

Kim-mo Taisu memberi hormat, kemudian mereka berdua berjalan bersama kembali ke perkemahan.

Jenderal Cao bercakap-cakap dan rasa cocok sekali dengan pendekar itu sehingga mereka bercakap-cakap sampai jauh malam.

Kim-mo Taisu diberi tempat mengaso dekat tenda besar dan lewat tengah malam barulah keduanya menghentikan percakapan lalu tidur di kemah masing-masing.

Peristiwa bersejarah itu terjadi pada pagi hari benar, ketika matahari belum muncul, baru sinarnya kemerahan yang nampak.

Pada saat itu, Panglima Besar Cao Kuang Yin masih tidur nyenyak.

Tiba-tiba ia terbangun dengan kaget dan tahu-tahu didalam kemahnya telah penuh orang.

Tujuh orang panglima bawahannya dan sebelas orang perwira, kesemuanya adalah komandan-komandan pasukan dalam barisan yang ia pimpin, telah hadir didalam kemahnya dan diantara mereka tampak seorang kakek lumpuh bertongkat.

Panglima tertua membawa sebuah baki perak yang ditutup sutera kuning dan para komandan yang lain berdiri dengan pedang ditangan!

"Heee!

Apa artinya ini?

Apa kehendak kalian sepagi ini tanpa dipanggil memasuki kemahku dan mengganggu orang tidur?"

Cao Kuang Yin berseru sambil melompat turun dari permbaringannya.

Ia sama sekali tidak merasa khawatir karena ia percaya penuh kepada semua pembantunya ini yang ia tahu amat setia dan sayang kepadanya.

"Kami menghadap Goanswe untuk mempersilakan Goanswe untuk mempersilahkan Goanswe mengenakan pakaian ini kemudian memimpin kami semua kembali ke kota raja,"

Kata panglima tertua itu sambil menyodorkan baki.

Cao Kuang Yin merasa heran, mengerutkan keningnya dan membuka sutera kuning yang menutupi baki.

Diatas baki itu, terlipat rapi, tampak satu stel pakaian berwarna kuning bersulamkan naga.

Kagetlah Cao Kuang Yin.

Pakaian seperti itu adalah pakaian kaisar!

Pakaian seorang raja besar!

Mereka ini menghendaki ia mengenakan pakaian kaisar dan memimpin mereka kembali ke kota raja.

Itu berarti bahwa mereka ini menghendaki ia memberontak dan menggantikan kedudukan raja!

"Ah, mana mungkin...?"

Ia membantah dan undur dua langkah.

Kakek lumpuh itu menggerak kan tongkatnya maju, akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Kim-mo Taisu telah menerobos dari belakang Cao Kuang Yin dengan merobek tenda.

Dengan sikap tenang ia berdiri disebelah kiri panglima itu dan berkata.

"Coa-goanswe, apakah mereka ini perlu dibasmi?"

Akan tetapi Cao Kuang Yin menggeleng kepala.

"Biarkan mereka bicara dulu."

Kakek itu yang bukan lain adalah Kong Lo Sengjin, kaget sekali melihat munculnya Kim-mo Taisu, akan tetapi setelah mengenalnya ia pun tersenyum, dan kemudian berkata.

"Bagus! Hadirnya Kim-mo Taisu merupakan penambahan kekuatan kita. Cao-goanswe, perkenalkanlah, aku adalah Sinjiu Couw Pa Ong. Aku mengenal baik kakekmu yang menjadi panglima ketika masa jayanya Kerajaan Tang. Semenjak Kerajaan Tang roboh oleh para pengkhianat bangsa, raja-raja bermunculan akan tetapi sampai sekarang pun tidak ada raja yang cukup bijaksana seperti dikala Kerajaan Tang. Oleh karena itu, para Ciangkun ini bermufakat untuk mengangkat Goanswe menjadi raja baru dan kita semua kembali ke kota raja untuk mengambil alih kekuasaan. Harap saja Goanswe tidak menolak oleh karena keputusan para Ciangkun ini sudah bulat. Dan karena hal ini cocok dengan cita-citaku, maka aku pun memasuki persekutuan ini. Kuharap saja tidak perlu aku harus menghadapi cucu bekas sahabatku sebagai musuh!"

Sebelum Cao Kuang Yin menjawab. Kim-mo Taisu yang sudah mendahuluinya, berkata kepada Kong Lo Sengjin atau Couw Pa Ong.

"Kong Lo Sengjin, tak perlu kau ikut bicara, karena kata-kata perbuatanmu berdasarkan kepalsuan belaka, seperti pengkhianatanmu menyuruh bunuh isteriku! Biarkan Cao-goanswe berurusan sendiri dengan para panglimanya, dan nanti setelah selesai, akulah yang akan berurusan dengan kau!"

Berubah wajah Kong Lo Sengjin mendengar ucapan ini, akan tetapi ia lalu mundur dan matanya memancarkan kemarahan besar.

Sementara itu, panglima tua yang membawa baki sudah menekuk lutut didepan Cao Kuang Yin sambil berkata.

"Kami semua mengharap agar Goanswe tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kota raja sedang kosong, mengambil alih kekuasaan amatlah mudah bagi kita. Kami semua mengharapkan pimpinan seorang raja yang kuat, bukan seorang anak-anak dipangkuan ibunya yang lemah! Kami telah bertekad bulat mengangkat Goanswe menjadi kaisar baru dan memimpin kami menyerbu ke kota raja."

"Kami landasi ketekatan ini dengan nyawa kami!"

Terdengar riuh para panglima dan perwira itu menyambung ucapan panglima tua ini.

Suasana menjadi sunyi dan tegang.

Otot-otot ditubuh mereka semua, termasuk Kim-mo Taisu dan Kong Lo sengjin, menegang dan mereka sudah siap.

Mati hidup dan bertanding mati-matian hanya tergantung daripada jawaban Cao Kuang Yin yang masih berdiri termenung, memandang pakaian kuning yang berada diatas baki.

Wajahnya menjadi pucat, keningnya berkerut-kerut, matanya memancarkan sinar aneh.

Didalam hatinya timbul bermacam perasaan, dalam otaknya berkelebat macam-macam pikiran.

Memang berat baginya, bagi seorang patriot yang semenjak nenek moyangnya dahulu terkenal sebagai panglima-panglima dan pembesar-pembesar yang setia kepada raja.

Bagi seorang pejabat kesetiaan adalah nomor satu.

Namun sebagai seorang bijaksana, ia maklum bahwa semenjak Kerajaan Tang roboh, rakyat tidak pernah mengalami ketenteraman dan perdamaian dalam hidupnya.

Perang saudara terjadi terus menerus, perebutan kekuasaan tak kunjung henti.

Untuk mengakhiri semua penderitaan rakyat itu, perlu adanya tangan besi seorang pemimpin yang dapat menyatukan mereka dan menumpas yang ingkar dan para pengacau.

Ia maklum bahwa para panglima dan perwira ini mengangkatnya sebagai kaisar bukan semata-mata karena mengaguminya dan ingin mengagungkannya, melainkan karena rasa benci mereka kepada pucuk pimpinan yang berada di tangan seorang kanak-kanak di atas pangkuan seorang ibu yang gila kuasa.

Karena mereka ini melihat bahwa jalan satu-satunya agar pemberontakan mereka berhasil adalah mengangkat dia sebagai komandan tertinggi barisan, menjadi raja.

Akan tetapi ia pun maklum bahwa kalau ia menolak, tentu mereka ini akan menjadi nekat dan menyerangnya, berusaha membunuhnya.

Ia tidak takut, apalagi disampingnya terdapat Kim-mo Taisu yang sakti, akan tetapi kalau hal itu terjadi, maka akan menjadi rusaklah semua.

Bagaimana sebuah barisan besar ditinggalkan para pimpinannya yang saling bermusuhan sendiri?

Jenderal Cao Kuang Yin menarik napas panjang, lalu terdengar ia berkata, suaranya nyaring dan berwibawa.

"Aku hanya dapat menerima dan memakai pakaian ini setelah kalian semua bersumpah akan mentaati segala perintahku mulai detik ini juga!"

Delapan belas orang komandan pasukan itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan seperti telah dikomando mereka berbareng lalu menyatakan sumpah setia dan taat kepada kaisar baru!

Kembali Cao Kuang Yin menarik napas panjang.

Sebelum menjemput pakaian kuning itu, ia lebih dulu melirik kearah Kim-mo Taisu.

akan tetapi pendekar sakti ini hanya tersenyum, sama sekali tidak memperlihatkan sikap menentang.

Memang didalam hati Kim-mo Taisu juga menyetujui usul para komandan itu dan ia tahu bahwa hanya dengan jalan ini agaknya negara akan dapat diselamatkan dan dibebaskan daripada perang saudara yang berlarut-larut.

Cao Kuang Yin adalah seorang jenderal yang cakap, bertangan besi dan disegani.

Pakaian itu diambil oleh Cao Kuang Yin, lalu dipakainya, diluar pakaian tidurnya karena ketika itu ia masih berpakaian tidur.

Seorang panglima mengambilkan topinya, topi jenderal sehingga Cao Kuang Yin kelihatan sebagai seorang raja yang sedang memimpin pasukan untuk maju perang.

Melihat betapa angker dan gagah raja baru mereka itu, para komandan ini lalu berlutut memberi hormat dan mengucapkan "Banswee!" (Hidup) berkali-kali.

Kim-mo Taisu maju dan memberi hormat kepada Cao Kuang Yin.

"Mohon perkenan Hong-siang (Kaisar) agar hamba menyelesaikan urusan pribadi hamba dengan Kong Lo Sengjin."

Cao Kuang Yin melirik kearah kakek lumpuh yang masih berdiri disudut, lalu mengangguk dan berkata lirih.

"Terserah, akan tetapi kami masih membutuhkan bantuan Taisu, harap suka menemui kami di kota raja."

Kim-mo Taisu menyanggupi, lalu menoleh kearah Kong Lo Sengjin dan berkata nyaring.

"Kong Lo Sengjin, urusan disini telah selesai. Mari kita bereskan perhitungan kita di luar!"

Inilah tantangan yang tak mungkin dapat dielakkan lagi oleh seorang sakti seperti Kong Lo Sengjin.

Akan tetapi pada saat itu diluar tenda terdengar suara hiruk-pikuk, suara banyak sekali orang dan mulailah terdengar teriakan-teriakan.

"Hidup Kaisar! Hidup Kaisar! Hidup Kaisar!"

Cao Kuang Yin melirik kearah para komandannya, dan melihat mereka masih berlutut dan tersenyum, tahulah ia bahwa para komandannya itu memang sudah mengatur sebelumnya agar usul mereka diperkuat oleh para anak buah mereka!

Ia lalu berkata.

"Para Ciangkun boleh keluar dan mempersiapkan barisan. Hari ini juga kita kembali ke kota raja. Akan tetapi perintahku pertama kepada kalian dan kepada semua anggota barisan adalah. Dilarang keras untuk melakukan kekerasan kepada siapa saja di kota raja, karena tidak mungkin akan ada perlawanan. Tidak ada seorang pun keluarga raja boleh diganggu, juga para pembesar dan pejabat lama, atau para penduduk, sama sekali tidak boleh diganggu harta benda atau nyawanya. Siapa melanggar perintah laranganku ini, akan dihukum mati!"

Para komandan menyatakan taat dan setelah memberi hormat, keluarlah mereka bersama Kong Lo Sengjin.

Kim-mo Taisu menjura kearah Cao Kuang Yin dan keluar pula.

Akan tetapi ternyata diluar tenda itu telah penuh dengan tentara, keadaan menjadi ribut sekali, apalagi setelah mereka itu diberi tahu bahwa Cao Kuang Yin telah menerima menjadi kaisar baru, mereka berteriak-teriak, bersorak-sorak dan bertepuk tangan.

Gegap-gempita keadaan disaat itu dan Kim-mo Taisu menjadi bingung kemana harus mencari Kong Lo Sengjin yang tidak tampak batang hidungnya.

Ia menjadi penasaran dan mendongkol sekali, dan makin yakinlah hatinya bahwa kakek itu benar-benar seorang yang curang dan licik dan lain kali apabila ia mendapat kesempatan bertemu muka, tentu ia takkan menyia-nyiakan waktu lagi dan memaksanya bertanding mati-matian.

Karena tidak ingin terlibat dalam urusan ketentaraan, maka ia segera menjauhkan diri, akan tetapi diam-diam ia berjanji dalam hati bahwa ia harus dan akan membantu kaisar baru ini apabila kelak ternyata kaisar baru ini berlaku bijaksana dan adil.

Mendengar perintah pertamanya tadi, banyak hal-hal baik dapat diharapkan dari kaisar baru ini.

Demikianlah, seperti tercatat dalam sejarah, Cao Kuang Yin berhasil mengambil alih kekuasaan tanpa pertumpahan darah.

Cao Kuang Yin mendirikan Kerajaan Song (Sung) dan ia menjadi kaisar pertama berjuluk Sung Thai Cu.

Dengan cerdik kaisar ini dapat mengambil hati para pembesar dan bangsawan yang ia pilih untuk menjadi pembantu-pembantunya.

Yang jujur dan pandai tetap mendapatkan jabatan lama.

Yang curang dan korup dipensiun dan diberi gelar.

Juga delapan belas komandan yang memaksanya menjadi kaisar itu, dengan alasan cerdik sekali telah diangkat oleh kaisar, diberi gelar kehormatan dan banyak hadiah, akan tetapi mereka tidak aktif lagi memimpin pasukan, dan diganti dengan tenaga-tenaga baru.

Mulailah Dinasti Sung yang kuat dan berhasil menyatukan bangsa.

Buktinya dinasti ini dapat bertahan sampai tiga abad lebih (960-1279).

Seorang pemuda yang tampan gagah, bertubuh tinggi besar dan berpakaian sederhana, berjalan dengan langkah tegap menuruni lereng bukit terakhir dilembah Sungai Mutiara.

Dari puncak bukit tadi sudah tampaklah Laut Selatan, dimana air Sungai Mutiara mengakhiri perjalanannya dan tampak pula samar-samar pulau-pulau kecil tidak jauh dari pantai.

Pemuda ini bukan lain adalah Bu Song.

Dia bukanlah Bu Song beberapa bulan yang lalu!

Biarpun orangnya masih sama, akan tetapi keadaannya sudah jauh berbeda, seperti bumi dengan langit.

Perubahan yang nampak pada wajahnya hanyalah bahwa kini timbul guratan-guratan pada wajahnya yang tampan, dikanan kiri kedua matanya, didahi dan dekat mulut, juga didagunya.

Guratan yang timbul dari penderitaan batin.

Guratan-guratan pada muka yang membuat ia tampak dewasa dan matang, akan tetapi juga membuat mukanya tampak murung dan tertutup awan, membuat wajahnya seperti topeng yang tidak lagi mencerminkan isi hatinya.

Pandang matanya jauh, dilindungi kelopak mata dan bulu mata yang seringkali bergetar dan setengah terpejam.

Bu Song masih muda akan tetapi pengalaman-pengalaman pahit membuat ia berpemandangan seperti orang tua.

Perubahan lebih lagi terjadi dalam tubuhnya.

Ia kini bukanlah Bu Song beberapa bulan yang lalu, yang lemah dan tidak tahu bagaimana caranya menjaga diri daripada serangan orang lain.

Dia sekarang adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

Dalam beberapa bulan saja ia sudah mewarisi semua ilmu kepandaian suhunya, ilmu yang ia latih siang malam tanpa bosan.

Dia kini sudah menjadi seorang pendekar.

Ketika Bu Song menceritakan semua pengalamannya kepada suhunya, ada dua hal yang dianggap penting oleh Kim-mo Taisu.

Pertama tentang kekejian Kong Lo Sengjin yang menyuruh anggota Hui-to-pang membunuh isteri Kim-mo Taisu.

Kedua adalah tentang kitab kuno pemberian sastrawan Ciu Gwan Liong dan cerita kakek sastrawan itu akan suling emas yang berada ditangan sastrawan Ciu Bun dan yang menurut kakek itu berada di Pulau Pek-coa-to di Lam-hai.

Melihat kitab itu, Kim-mo Taisu menarik napas panjang dan berkata kepada muridnya yang telah ia gembleng selama beberapa bulan dengan hasil baik sekali.

"Bu Song, kitab ini biarpun hanya terisi sajak-sajak kuno, akan tetapi sesungguhnya merupakan pelajaran ilmu yang luar biasa. Kuncinya berada pada suling emas itulah. Hal inipun sudah kuketahui dan juga diketahui oleh semua orang kang-ouw. Memang aneh sekali mengapa Bu Kek Siansu menghadiahkan benda-benda seperti itu kepada dua orang sastrawan lemah. Memang suling dan kitab itu adalah pegangan para sastrawan, akan tetapi dibalik sajak dan suara suling, terdapat daya yang hebat sekali dan yang dapat dipergunakan orang jahat untuk memperhebat kepandaiannya. Kau telah berjodoh dengan kitab ini dan sudah dipilih oleh mendiang sastrawan Ciu Gwan Liong, maka sudah menjadi kewajibanmu untuk mencari suling emas itu ke Pulau Pek-coa-to di Lam Hai."

Pesan Kim-mo Taisu inilah yang menjadi sebab mengapa pada pagi hari itu Bu Song telah menuruni bukit di lembah Sungai Mutiara.

Pulau Pek-coa-to adalah sebuah diantara pulau-pulau kecil dimuara Sungai Mutiara itu, di Lam-hai (Laut Selatan).

Dengan kepandaiannya, Bu Song dapat melakukan perjalanan cepat sekali dan menjelang tengah hari ia telah tiba di pantai muara Sungai Mutiara.

Suhunya telah memberi tahu bahwa Pulau Pek-coa-to adalah pulau yang ketiga dari timur, yang tampak dari situ sebagai pulau yang paling kecil, akan tetapi agak panjang dan bentuknya berliku seperti tubuh ular.

Juga dibandingkan dengan pulau lain, pulau ini tampak putih warnanya, atau lebih muda warnanya, maka inilah agaknya pulau ini disebut Pek-coa-to (Pulau Ular Putih).

Demikian pikir Bu Song.

Pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa bukan hanya karena bentuknya seperti ular putih maka pulau itu disebut Pulau Ular Putih, melainkan karena diatas pulau itu memang terdapat semacam ular berkulit putih yang tidak terdapat ditempat lain, ular yang amat berbisa!

Selagi Bu Song bingung karena tidak tahu bagaimana ia harus menyeberang ke pulau itu, tiba-tiba hatinya girang melihat seorang nelayan mendorong-dorong perahu kecilnya diatas pantai berpasir.

Agaknya nelayan ini hendak berlayar mencari ikan.

Bu Song segera berlari menghampiri lalu berkata.

"Twako, apakah kau hendak berlayar?"

Nelayan itu kaget.

Daerah ini amat sepi, biasanya tidak pernah ada orang maka heranlah ia melihat seorang pemuda yang bersikap halus seperti orang kota dan suaranya agak asing, dengan lidah orang utara.

"Betul. Seperti biasa saya hendak mencari ikan,"

Jawab nelayan itu sambil memasang tali layar dan bersiap-siap.

"Kebetulan sekali, Twako. Kau tolonglah aku menyeberang ke pulau itu. Berapa biayanya pulang pergi?"

Nelayan itu tidak segera menjawab, melainkan memandang kearah pulau yang ditunjuk Bu Song.

Berkali-kali ia menoleh dari Bu Song ke pulau itu, memandangnya bergantian lalu bertanya.

"Kongcu, pulau yang mana...?"

"Itu yang ketiga dari kiri, Pulau Pek-coa-to..."

"Wah...!"

Tiba-tiba wajah nelayan itu menjadi pucat dan ia memandang Bu Song dengan mata terbelalak. Bu Song merasa tidak enak hatinya.

"Twako, kenapa?"

Dengan suara tergagap nelayan yang berusia hampir empat puluh tahun itu bertanya.

"Kongcu... mau apakah... pergi ke... pulau itu...?"

Sungguh aneh, muka yang menghitam karena sering dipanggang terik matahari itu kelihatan ketakutan ketika memandang Bu Song.

"Ah, aku hanya ingin pesiar, Twako."

Orang itu menarik napas panjang, agaknya lega hatinya mendengar bahwa pemuda kota ini bukan sengaja hendak ke pulau itu, dan agaknya tidak mengenal keadaan maka ingin pesiar ketempat itu.

"Kongcu salah pilih! Kalau ingin pesiar, banyak tempat yang indah, mengapa memilih pulau... maut... itu?"

"Pulau maut? Apa maksudmu, Twako?"

"Ah, Kongcu tentu saja tidak tahu. Pulau Pek-coa-to itu adalah pulau angker sekali. Karena keangkeran pulau itulah maka tempat ini sekarang menjadi sepi. Para nelayan merasa takut mencari ikan dimuara ini, karena adanya pulau itulah. Jangankan mendarat, mendekati pulau itu saja sudah cukup untuk kehilangan nyawa!"

"Mengapa begitu?"

"Entahlah. Pulau itu penuh binatang-binatang yang luar biasa, berbisa dan buas. Selain itu, agaknya juga... iblis dan siluman menjadi penghuninya. Sudahlah, Kongcu, membicarakannya saja merupakan pantangan disini. Saya seorang nelayan yang terpaksa mencari ikan disini, karena satu-satunya sumber nafkah saya adalah pekerjaan ini. Akan tetapi saya selalu menjauhkan diri dari pulau itu. Kongcu benar-benar salah pilih kalau hendak bersenang-senang dan berpesiar di daerah ini."

"Tidak salah pilih, Twako. Aku benar-benar ingin pergi ke pulau itu. jangan kau kuatir, aku dapat menjaga diri dengan baik. Dan ini untuk biaya kalau kau suka mengantarku kesana."

Bu Song sengaja mengeluarkan lima potong perak yang ia dapat dari suhunya sebagai bekal di perjalanan.

Ia mempunyai sekantung uang perak dan beberapa potong uang emas.

Melihat lima potong perak ini, Si Nelayan memandang terbelalak.

Bukan sedikit perak itu!

mencari ikan sebulan belum tentu akan menghasilkan sebanyak itu.

Akan tetapi ia memandang Bu Song dan berkata lagi.

"Bukan saya tidak mau menyeberangkan kesana, Kongcu. Akan tetapi aku takut."

"Tidak usah takut, aku menjamin keselamatanmu."

"Kongcu kelihatan kuat akan tetapi... banyak temanku nelayan yang lebih besar dan kuat daripada Kongcu tewas secara aneh di dekat pulau itu..."

"Kau tidak usah ikut mendarat. Cukup asal kau antar aku ke pulau itu dan kau boleh berlayar mencari ikan. Nanti menjelang senja, kau jemput aku. Bagaimana?"

Si Nelayan ragu-ragu.

Bu Song maklum bahwa perlu ia memperlihatkan kepandaiannya agar nelayan ini hilang rasa takutnya.

Ia menghampiri sebuah batu karang besar dan berkata.

"Twako, apakah penghuni pulau itu kepalanya lebih kuat daripada batu karang ini?"

Ia menggerakkan tangan kanannya menampar.

Terdengar suara keras dan debu mengebul.

Ujung batu karang itu pecah berantakan!

Si Nelayan melongo dan mengangguk-angguk.

"Ah, kiranya Kongcu adalah seorang demikian kuat. Baiklah, akan tetapi seperti yang Kongcu katakan tadi, saya hanya mengantar dan menjemput, tidak ikut mendarat disana."

"Jangan kuatir, asal perahumu sudah dekat dengan daratan pulau itu, tidak perlu terlalu dekat dan kau boleh tinggalkan aku untuk dijemput senja nanti."

Nelayan itu menyeret perahunya dan tak lama kemudian, setelah dapat melalui ombak yang memecah di pantai, lajulah perahu itu membawa Bu Song dan Si Nelayan berlayar ketengah laut.

Berdebar jantung Bu Song.

Ia sama sekali tidak tahu akan keadaan pulau itu.

Mendiang Ciu Gwan Liong hanya menceritakan bahwa kakak sastrawan itu yang bernama Ciu Bun bersembunyi di pulau kosong yang bernama Pek-coa-to ini.

Kenapa sekarang Si Nelayan menceritakan hal yang aneh-enah dan seram!

Kalau memang pulau itu sedemikian hebat dan berbahaya, apakah Ciu Bun sastrawan tua itu dapat hidup disana?

Bu Song tidak menjadi gentar, malah keanehan perkara ini makin menarik hatinya untuk segera mendarat di pulau itu, membuktikan omongan Si Nelayan dan pesan mendiang Ciu Gwan Liong.

Dengan perahu layar yang mendapat angin penuh dan amat laju, sebentar saja mereka sudah tiba didekat pulau itu.

kiranya yang membuat pulau itu tampak putih dari jauh adalah bukit-bukit atau batu-batu karang besar yang mengandung kapur.

Pulau itu tampak sunyi dan kosong, sama sekali tidak kelihatan ada bahaya mengancam.

Akan tetapi jelas tampak tubuh Si Nelayan menggigil ketakutan.

Maka Bu Song lalu meloncat kedarat.

"Kau pergilah mencari ikan, Twako. Nanti sore jemput aku ditempat ini!"

Si Nelayan hanya mengangguk-angguk dan cepat-cepat memutar perahunya untuk menjauhi tempat yang ditakuti ini.

Bu Song tersenyum ketika membalikkan tubuhnya memandang ketengah pulau Nelayan itu agaknya menjadi korban kepercayaan tahyul maka ketakutan seperti itu.

Pulau ini agaknya sunyi dan tenteram, sama sekali tidak ada bahaya mengancam kecuali keadaannya yang liar dan agaknya tak pernah didatangi manusia.

Ia melompat keatas batu karang dan mendaki tempat yang paling tinggi untuk mengadakan pemeriksaan dari atas tentang keadaan pulau itu.

Setelah tiba dipuncaknya, ia memandang kebawah.

Kiranya di tengah pulau itu tanahnya cukup subur, banyak pohon-pohon yang merupakan hutan.

Akan tetapi sekeliling pulau itu adalah pantai batu karang sehingga dari jauh yang tampak hanyalah karang putih.

Beberapa menit lamanya Bu Song mengintai dari atas, akan tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa dipulau itu ada orangnya.

Kemana ia harus mencari Ciu Bun?

Benarkah kakek sastrawan itu berada disitu?

Pulau ini hanya kecil saja.

Ia tentu dapat menjelajahi sampai habis dan kembali ketempat ia mendarat sebelum senja.

Bu Song turun dari batu karang itu dan berloncatan dari batu ke batu menuju ketengah pulau.

Tiba-tiba terdengar angin menyambar dan sinar putih menyambar lehernya.

Cepat Bu Song miringkan tubuh mengelak.

Sinar itu lewat dan ketika ia menengok kebelakang, sinar itu telah lenyap sehingga ia tidak tahu senjata rahasia apakah yang menyambarnya tadi.

Jantungnya berdebar.

Kiranya benar ada orangnya dan agaknya orang itu berwatak keji karena buktinya tanpa tahu-tahu sudah menyerang dengan senjata rahasia!

Ia memandang kekanan dari mana senjata rahasia tadi menyambar.

Akan tetapi disebelah kananya hanya tampak batu karang dan tidak ada tanda-tanda manusia disitu.

Ia kaget sekali.

Tadi ia diserang lagi dan kini bahkan serangan itu datang dari tiga jurusan, depan, kanan dan kiri.

Juga menggunakan senjata rahasia seperti tadi, putih kecil yang menyerang leher, perut dan kaki.

Untung ia dapat bergerak cepat dan loncatannya tadi menggagalkan serangan.

Celaka, pikirnya.

Agaknya sedikitnya ada tiga orang manusia yang memusuhinya.

"Cu-wi sekalian harap jangan turun tangan! Saya datang dengan maksud baik, bukan untuk bermusuhan dengan siapa juga."

Pada saat itu, dari sebelah kanan menyambar lagi benda putih.

Bu Song penasaran dan ingin memperlihatkan kepandaiannya.

Dengan dua jari tangan ia menyambar benda putih itu dan berhasil menjepitnya.

Akan tetapi hampir saja ia berteriak saking kagetnya.

Benda yang disangkanya senjata rahasia itu kiranya adalah seekor ular putih yang kini terjepit diantara dua jarinya akan tetapi ular itu telah menggigit telapak tangannya!

Bu Song gemas dan sekali remas kepala ular itu hancur.

Telapak tangannya mengeluarkan darah sedikit, Bu Song tidak kuatir.

Tubuhnya sudah kebal terhadap racun.

Akan tetapi ia tidak mau mengambil resiko, maka dengan pengerahan hawa sakti kearah tangannya, ia berhasil mendorong keluar darahnya melalui luka.

Darahnya berubah putih yang keluar dari luka, tanda keracunan!

Akan tetapi hanya sedikit dan setelah yang mengucur keluar adalah darah merah bersih, ia menghentikan usahanya.

Luka tidak berarti, dan ia diam-diam merasa geli.

Kiranya ia tadi bicara terhadap ular-ular putih kecil yang menyerang orang sambil "terbang"

Atau lebih tepat, meluncur dan melayang.

Benar-benar amat berbahaya ular-ular itu.

Kalau bukan dia yang digigit, bisa mendatangkan maut.

Mulai mengertilah kini Bu Song mengapa Si Nelayan itu takut setengah mati terhadap pulau ini.

Dan ia pun menduga bahwa tentu masih ada bahaya-bahaya lainnya dipulau ini.

Dengan hati-hati ia berjalan terus kedepan.

Serangan ular-ular putih ia hindarkan dengan mengelak atau kadang-kadang mengebutnya dengan ujung baju lengan.

Tiba-tiba jantungnya berdebar keras dan ia menghentikan langkahnya.

Ia menahan napas dan mendengarkan penuh perhatian.

Tidak salah lagi!

Itulah tiupan suling!

Suara suling yang luar biasa sekali.

Dia sendiri seorang ahli meniup suling, akan tetapi tiupan suling yang terdengar itu benar-benar mengagumkan.

Dan suara itu datang dari depan sebelah kiri, dari pinggir hutan di mana terdapat bukit-bukit dengan batu-batu hitam.

Girang sekali hati Bu Song.

Kiranya mendiang Ciu Gwan Liong tidak menipunya.

Ia tidak ragu bahwa yang meniup suling itu tentulah sastrawan Ciu Bun yang dicarinya!

Cepat ia berlari menuju ke bukit dekat hutan itu.

kini ia tiba di daerah penuh pasir.

Dan tiba-tiba ia roboh terguling karena pasir yang diinjaknya itu bergerak memutar!

Begitu jatuh, pasir yang menerima tubuhnya itu mengisap dan berputaran.

Bu Song kaget bukan main.

Cepat ia mengerahkan tenaganya dan memukulkan kedua telapak tangan keatas pasir, menggunakan daya dorongan ini untuk mengangkat tubuh keatas dan sambil berjungkir balik ia meloncat jauh kedepan.

Mukanya pucat melihat pasir itu masih bergerak-gerak seperti air!

Bukan main!

Kalau ia tadi tidak cepat membebaskan diri, tentu tubuhnya akan terisap terus kebawah dan sekali tubuhnya terisap, sukarlah melepaskan diri lagi.

Benar-benar tempat yang amat berbahaya.

Kini ia melangkah dengan hati-hati sekali.

Kiranya daerah berpasir ini banyak sekali berpusing seperti itu.

Akan tetapi karena ia sudah hati-hati, begitu kakinya menginjak pasir bergerak, ia segera meloncat dan dengan demikian terhindarlah ia dari bahaya itu dan akhirnya ia tiba didekat bukit dari mana suara suling kini terdengar jelas.

Suara suling itu keluar dari sebuah gua.

Dengan hati girang Bu Song terus berjalan menghampiri.

Gua itu merupakan terowongan yang dalam dan gelap.

Merasa bahwa ia berada di tempat orang, Bu Song tidak berani masuk dan hanya berdiri didepan gua, menanti sampai suara suling itu habis dilagukan.

Akhirnya suara suling berhenti dan Bu Song segera berseru.

"Apakah Paman Ciu Bun berada didalam?"

Hening, tiada jawaban sampai lama.

"Saya datang membawa pesan mendiang Paman Ciu Gwan Liong!"

Segera terdengar jawaban dari dalam, suaranya penuh ejekan.

"Sin-jiu Couw Pa Ong, apa artinya semua lelucon ini? Kalau kau mau coba memaksaku, mau menyiksaku atau membunuhku, kau masuk saja. Perlu apa menyebut-nyebut nama Gwan Liong?"

Bu Song terkejut.

Mengapa orang didalam itu menyebut-nyebut nama Sin-jiu Couw Pa Ong?

"Paman Ciu Bun, saya bukan Sin-jiu Couw pa Ong.

Nama saya Liu Bu Song!"

Teriaknya.

Ia sengaja menggunakan she ibunya, karena ia masih merasa tak senang kepada ayahnya yang dianggap telah menceraikan ibunya dan menikah lagi.

"Orang muda, apakah kau bukan kaki tangan Couw Pa Ong?"

Agaknya orang didalam gua yang gelap itu dapat melihatnya yang berada diluar gua, buktinya dapat mengetahui bahwa dia adalah seorang pemuda.

"Sama sekali bukan, Paman."

"Kau membawa pesan apa dari Ciu Gwan Liong?"

"Sebelum Paman Ciu Gwan Liong meninggal, dia menyerahkan sebuah kitab kepada saya dan menyuruh saya mencari Paman Ciu Bun dipulau ini."

"Aaahhh...!"

Orang itu mengeluarkan seruan kaget, diam sampai lama lalu berkata.

"Orang muda, coba kau bacakan sajak ketiga dari dalam kitab itu!"

Bu Song sudah sering membaca kitab pemberian Ciu Gwan Liong, maka tanpa membaca pun ia sudah hafal.

Maka ia lalu membacakan kalimat dalam sajak ketiga.

Matahari bersinar miring ditengah hari.

Sesuatu mati begitu lahir.

Selatan tiada batas dan ada ujungnya.

Aku pergi ke selatan hari ini dan tiba disana kemarin!

Cintalah semua benda dengan sama.

Alam adalah satu.

Kitab kecil kuno itu memang mengandung sajak-sajak yang amat aneh dan sukar dimengerti.

Sajak ketiga yang dibacakan oleh Bu Song itu adalah sajak dari seorang menteri Kerajaan Wei bernama Hui Su (370-319 BC), seorang tokoh Mohism, yaitu pengikut ajaran-ajaran Mo Cu.

Keistimewaan Mohism adalah kata-kata yang saling bertentangan atau saling berlawanan.

Begitu mendengar Bu Song membacakan sajak itu, orang disebelah dalam gua berseru girang.

"Tepat...! Orang muda, engkau dapat sampai disini tentu memiliki kepandaian, siapakah Gurumu?"

"Suhu bernama Kim-mo Taisu."

"Wah, pantas... pantas saja adikku mempercayaimu. Kau masuklah dan suling ini tentu akan kuberikan kepadamu. Akan tetapi engkau harus bisa menghalau perintang yang menyeramkan itu lebih dulu. Ingin kulihat apakah kepercayaan Gwan Liong kepadamu tidak sia-sia! Masuklah, orang muda, akan tetapi awas terhadap binatang-binatang itu. mereka amat buas!"

Bu Song melangkah masuk.

Karena orang didalam gua sudah memberi peringatan, ia bersikap hati-hati sekali, melangkah perlahan-lahan dan mata serta telinganya siap.

Tiba-tiba ia mendengar desis keras dan hidungnya mencium bau yang amis.

Baiknya cahaya matahari masih cukup terang memasuki gua itu sehingga ia dapat melihat bayangan hitam merayap datang didepannya dan ternyata yang merayap itu adalah seekor binatang seperti buaya yang luar biasa!

Kulitnya tebal, matanya besar bersinar hijau, lidahnya panjang bercabang seperti lidah ular dan dari mulutnya yang mendesis-desis itu keluar uap putih yang berbau amis.

Suara mendesis makin hebat dan ternyata bukan seekor saja binatang itu, melainkan ada empat ekor!

Mereka datang dari depan, kanan dan kiri dengan sikap mengancam.

Bu Song berdiri memasang kuda-kuda dan begitu melihat binatang yang paling dekat dengannya menyergap dengan kedua kaki depan terangkat dan mulut terbuka lebar, Bu Song segera mengerahkan tenaga ketangan kanan dan ia memukul dengan jari terbuka.

"Desss!!"

Binatang seperti buaya itu terlempar, mengeluarkan suara keras akan tetapi lalu merayap pergi, gerakannya lemah dan limbung.

Lega hati Bu Song.

Kiranya binatang-binatang ini lebih menakutkan daripada membahayakan.

Ia tidak menanti sampai binatang-binatang itu menyerbunya, melainkan mendahului menerjang maju dan dengan gerakan cepat sekali kedua tangannya membagi-bagi pukulan yang diarahkan kepada tiga ekor binatang yang lain.

Terdengar suara keras dan binatang-binatang itu menjerit-jerit lalu lari kacau-balau, bersembunyi dibalik batu karang yang gelap dikanan kiri gua.

"Bagus! Kau tidak kecewa menjadi murid Kim-mo Taisu dan kepercayaan adikku Gwan Liong. Tunggulah, orang muda. Setelah empat ekor binatang buruk itu pergi aku dapat keluar sendiri!"

Suara orang itu terdengar girang dan tak lama kemudian muncullah sesosok bayangan hitam dari dalam gelap.

Ketika tiba ditempat yang diterangi sinar matahari dari luar, Bu Song melihat seorang laki-laki tua tinggi kurus bermuka pucat.

Tubuh dan mukanya menyatakan bahwa kakek ini tidak sehat, atau bahkan sakit, akan tetapi ketika ia berjalan keluar, langkahnya dan sikapnya membayangkan keangkuhan seorang terpelajar tinggi.

Ditangan kanannya terdapat sebatang suling yang berkilauan ketika terkena sinar matahari, sebatang suling berwarna kuning.

Tidak salah lagi, itulah suling emas, pikir Bu Song dengan hati penuh ketegangan.

Kakek itu pun memandang Bu Song penuh perhatian.

Agaknya ia puas melihat Bu Song.

"Mari kita keluar. Kau harus cepat-cepat mempelajari cara meniup suling ini dan menyesuaikan bunyinya dengan sajak-sajak didalam kitab. Hayo cepat, jangan samapi ia keburu datang!"

Tergesa-gesa kakek ini mengajak Bu Song keluar dari dalam gua.

"Apakah Paman maksudkan Kong Lo Sengjin?"

Kakek itu berhenti didepan gua dan memandang. Matanya yang tajam penuh selidik dan membayangkan kecurigaan.

"Kau mengenal dia?"

"Tentu saja saya mengenal Kong Lo Sengjin, Paman. Isteri Suhu adalah keponakan Kong Lo Seng Jin, akan tetapi anehnya, kakek yang sakti tapi kejam itu menyuruh bunuh keponakannya sendiri untuk menipu Suhu."

Kakek yang bukan lain adalah sastrawan Ciu Bun yang selama bertahun-tahun dicari-cari oleh tokoh-tokoh kang-ouw itu tercengang.

"Apa...? Kim-mo Taisu menjadi mantu keponakan Couw Pa Ong? Sungguh aneh! Dan tua bangka itu menyuruh bunuh keponakannya sendiri? Orang muda, eh... siapa namamu tadi? Bu Song? Bu Song, kau ceritakan semua kepadaku!"

Mereka pergi kebelakang tumpukan karang tak jauh dari gua.

Disitu Kakek Ciu Bun duduk dan Bu Song segera menceritakan keadaan suhunya dan Kong Lo Sengjin menipu Kim-mo Taisu bahwa pembunuhnya adalah musuh-musuh Kong Lo Sengjin.

Kemudian betapa secara tidak sengaja ia mendengar percakapan antara Kong Lo Sengjin dan tokoh-tokoh Hui-to-pang maka ia tahu akan rahasia itu.

Kemudian ia bercerita juga sedikit tentang keadaan dirinya, bahwa selain murid Kim-mo Taisu, dia pun bekas calon mantunya dan betapa calon isterinya puteri Kim-mo Taisu tewas di dalam jurang.

Mendengar penuturan itu, Ciu Bun bengong lalu memaki gemas.

"Tua bangka itu benar-benar telah menyeleweng jauh daripada kebenaran! Untung bukan dia yang mendapatkan kitab ditangan Gwan Liong. Kau tadi bilang Gwan Liong sudah meninggal, bagaimana kau tahu?"

"Bukan hanya tahu, Paman. Bahkan saya yang mengubur jenazahnya."

Kembali Bu Song bercerita tentang nasib Ciu Gwan Liong yang buruk dan betapa kakek sastrawan itu agaknya membunuh diri agar jangan sampai terjatuh ketangan Kong Lo Sengjin.

Ciu Bun membanting-banting kaki kanannya.

"Couw Pa Ong, kau benar-benar patut dimaki dan dikutuk!"

Hening sejenak, kemudian Ciu Bun berkata.

"Nah, kau ambil kitab itu, kau baca sajaknya dan aku akan meniup suling itu disesuaikan dengan isi sajak. Kau tahu, setiap huruf itu mengandung bunyi tertentu sesuai dengan maknanya, dan suara suling ini harus ditiup sesuai dengan bunyi huruf sehingga merupakan lagu tertentu sesuai dengan bunyi huruf sehingga merupakan lagu tertentu sesuai dengan bunyi sajak. Kami yaitu aku dan adikku yang telah meninggal adalah sastrawan-sastrawan yang mengutama kan keindahan seni, maka pemberian anugerah dari Bu Kek Siansu berupa dua buah benda berharga ini bagi kami semata-mata hanyalah mengandung keindahan yang luar biasa. Keindahan seni sastera diselaraskan dengan seni suara. Menurut Bu Kek Siansu, kalau bunyi sajak dan suara suling ini sudah dapat diselaraskan seperti mestinya, maka akan mendatangkan hikmat luar biasa, menenangkan batin menjernihkan pikiran dan menghalau segala macam pikiran jahat, menindih nafsu dan membawa orang ketingkat batin yang lebih tinggi. Akan tetapi, selain itu, aku yakin bahwa dua benda ini pun mengandung sesuatu yang amat hebat bagi dunia persilatan, karena buktinya tokoh-tokoh kang-ouw dari segala penjuru mencari-cari dan mengejar-ngejar kami. Nah, kau bacakan sajak yang mana saja, biar kutimpali dengan suling ini!"

Bu Song mendengar penjelasan itu merasa betapa sulitnya mempelajari ilmu menyesuaikan bunyi huruf dan bunyi suling, namun ia menaruh perhatian besar dan segera ia membaca lambat-lambat sederet sajak.

Kakek Ciu Bun sudah meniup sulingnya dan terdengarlah bunyi suling mengalun aneh, akan tetapi lebih aneh lagi bagi Bu Song, suara suling itu demikian enak dan cocok dengan suaranya yang membaca huruf-huruf secara lambat.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan suara aneh lucu.

"Ngieeehhh... ngieeehhh!"

Seketika Ciu Bun menghentikan tiupan sulingnya.

Karena ini, Bu Song juga menghentikan bacaannya dan menoleh kearah suara.

Kiranya didepan gua tadi kini tampak sekor kuda yang ditunggangi oleh dua orang.

Dua orang laki-laki aneh sekali karena mereka itu menunggang kuda dengan menghadap kebelakang dan laki-laki yang dibelakang memegang ekor kuda sambil mengeluarkan suara "ngieeeeh-ngieeeeh"

Tadi.

Dua orang laki-laki ini benar-benar luar biasa sekali.

Yang seorang bertubuh tinggi kurus seperti rangka terbungkus kulit berkepala gundul dan bertelanjang baju, hanya memakai celana sebatas lutut dan bertelanjang kaki.

Orang kedua yang memegangi ekor kuda tidak kalah anehnya.

Tubuhnya gemuk sekali, punggungnya berpunuk mulutnya besar dan dan kepalanya juga gundul bertelanjang baju dan bercelana seperti pertama.

"Kiu-ji dan Ciu-ji (Anak Kiu dan Anak Ciu)! Berani kalian mengganggu aku selagi meniup suling? Awas, kuadukan nanti kepada Ong-ya!"

Muka kedua orang gundul itu menjadi ketakutan, Si Gendut lalu menggerak-gerakkan seekor kuda agar kudanya berlari cepat.

"Tidak... tidak... tidak...!"

Mereka berkata ketakutan. Benar-benar pemandangan yang luar biasa sekali. Tak dapat Bu Song menahan keinginan hatinya.

"Paman, siapakah mereka tadi?"

"Mereka itu dua orang pelayan dan juga murid Couw Pa Ong. Gigitan-gigitan beracun dari binatang-binatang berbisa membuat mereka tidak waras otaknya. Akan tetapi mereka itu hebat kepandaiannya, mewarisi ilmunya Couw Pa Ong. Memang tua bangka itu aneh sekali, menurunkan ilmunya kepada dua orang gila macam itu."

"Jadi Kong Lo Sengjin tinggal di pulau ini?"

Bu Song bertanya kaget karena hal ini sama sekali tidak pernah disangkanya. Ciu Bun mengangguk.

"Tentu saja tinggal disini! dengarlah. Couw Pa Ong adalah sahabat baikku semenjak dahulu. Kami berdua orang-orang yang setia kepada Kerajaan Tang. Dia banyak belajar ilmu kesusateraan dari aku yang dulu menjabat kedudukan guru sastera di kota raja! Atas ajakannyalah aku tinggal disini untuk menyembunyikan diri dari orang-orang jahat yang hendak merampas suling ini. Mula-mula Couw Pa Ong memang tetap menjadi sahabat baikku. Akan tetapi agaknya kegilaan kedua orang murid atau pelayannya itu menular kepadanya. Sikapnya mulai berubah dan dia mulai membujuk-bujukku untuk (Lanjut ke

Jilid 31) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 31 menurunkan rahasia suling dan kitab pemberian Bu Kek Siansu kepadanya!

Akan tetapi setelah kutahu bahwa pikiran dan wataknya telah berubah, aku selalu mengatakan bahwa suling ini tidak ada artinya baginya, hanya untuk ditiup melagu menghibur diri.

Ia penasaran lalu memasukkan aku kedalam gua itu, dijaga oleh binatang-binatang liar.

Tentu saja aku tidak berani keluar dan yang berani memasuki gua hanyalah dua orang bocah edan tadi yang mengantar makanan setiap hari kepadaku.

Kau tahu bahwa Couw Pa Ong tentu hendak mencari dan menangkap adikku untuk memaksa kami kakak beradik membuka rahasia kitab dan suling.

Untung sekali adikku bertemu dengan engkau.

Nah, tahukah kau sekarang?

Hayo kita berlatih lagi.

Kau sudah dapat menangkap contohku tadi?"

"Sudah, Paman. Memang mendatangkan perasaan yang hebat, tapi aku masih bingung karena hal ini memang amat sukar dimengerti."

"Memang. Sekarang biarlah kau belajar meniup suling..."

"Paman, saya sudah biasa bersuling dan mendapat petunjuk Suhu..."

"Bagus! Ah, agaknya memang sudah jodoh. Nah, lekas kau meniup suling ini dan usahakan agar suara sulingmu dapat sesuai dengan bunyi dan sifat huruf yang kubaca!"

Mereka bertukar benda.

Kakek itu menyerahkan suling emas dan menerima kitab dari tangan Bu Song.

Sastrawan Ciu Bun membacakan sajak terakhir dari kitab itu dan Bu Song segera meniup sulingnya.

Hebat tiupan suling anak muda ini.

Memang ia berbakat sekali sehingga tiupannya mengandung getaran perasaannya.

Pula, karena Bu Song sendiri sudah hafal akan isi kitab, ia segera dapat menyesuaikan bunyi sulingnya, mengarah bunyi huruf dan ketika meniup suling, seluruh perhatiannya dicurahkan kepada makna dari huruf yang ditiupnya.

Terdengar perpaduan suara sajak dan suling yang luar biasa, mengalun-alun dan merayu-rayu.

ADA muncul dari TIADA.

Betapa mungkin mencari sumber TIADA?

Mengapa cari ujung sebuah mangkok?

Mengapa cari titik awal akhir sebuah bola?

Akhirnya semua itu kosong hampa, sesungguhnya tidak ada apa-apa!"

Demikianlah bunyi sajak terakhir itu dan sampai tiga kali Ciu Bun membaca sajak itu, terus diikuti oleh tiupan suling Bu Song.

Setelah habis, terdengar Ciu Bun berseru.

"Ya Tuhan....!!"

Bu Song memegang suling itu dan memandang Kakek Ciu Bun.

Ia terkejut melihat wajah kakek itu makin pucat, seperti kehijauan, akan tetapi mata kakek itu bersinar-sinar, mulutnya tersenyum sehingga biarpun wajah itu amat pucat, namun seperti berseri-seri.

Kedua kakinya ditekuk dan bersila, kedua tangan memegang kitab, lalu bibirnya bergerak.

"Dapat sudah sekarang... ya Tuhan, dapat sudah..."

Bu Song tidak mengerti, lalu bertanya hormat.

"Paman, apakah yang Paman maksudkan?"

"Bu Song, kau sudah hafal akan isi kitab?"

Tiba-tiba kakek itu bertanya, suaranya biasa kembali.

"Sudah, Paman."

"Kalau begitu tinggalkan kitab ini padaku dan kau bawalah suling itu pergi dari sini. cepat! Kau sudah tahu akan rahasia isi kitab dan suara suling. Bahagialah kau, Bu Song."

Bu Song mendekati.

"Akan tetapi, kalau Paman disini tertawan, marilah Paman ikut pergi dengan saya. Untuk apa tinggal dipulau berbahaya ini?"

"Tertawan? Berbahaya? Ahh, tidak sama sekali. Sudahlah, kau pergi cepat jangan sampai dia datang mendapatkan kau disini."

"Tapi, Paman..."

"Keraguan hati akan merintangi kemajuanmu, orang muda. Pergilah!"

Kakek itu berkata dengan suara tegas sehingga Bu Song tidak berani membantah lagi.

Ia menjatuhkan diri berlutut didepan kakek yang bersila diatas batu, menghaturkan terima kasih lalu bangkit berdiri dan berjalan pergi dari situ, menuju ketempat ia mendarat tadi.

Dibelakangnya ia mendengar suara kakek itu membaca sajak terakhir dan ketika tiba di dua kalimat terakhir, suara itu seperti berteriak girang.

Akhirnya semua itu kosong hampa, sesungguhnya tidak ada apa-apa!

Ketika Bu Song tiba ditepi pulau, diatas batu karang, ia melihat layar perahu nelayan itu dari jauh.

Bu Song menaruh kedua tangan dipinggir mulutnya lalu berseru sambil mengerahkan khikang didadanya.

"Kak nelayan...! Kemarilah...!!"

Layar itu makin besar dan kini tampaklah perahu kecil itu bersama Si Nelayan yang berwajah ketakutan.

Setelah perahu itu dekat, dalam jarak lima meter Bu Song lalu meloncat keatas perahu.

Akan tetapi Si Nelayan memandang ke arah pulau dengan muka pucat dan tubuh menggigil, sehingga kedua tangannya tidak dapat lagi mengemudi perahu.

Bu Song terheran dan cepat menoleh.

Untung ia sudah berada diatas perahu karena ternyata ditepi pulau itu berdiri dua orang manusia aneh yang tadi menunggang kuda dan mereka itu membawa sebuah batu karang besar yang kini mereka lemparkan kearah perahu!"

Dua batu karang itu besarnya seperut kerbau dan dilempar dengan kekuatan dahsyat kearah perahu! "Cepat jalankan perahu ketengah!"

Bu Song masih sempat berteriak dan ia melompat kebuntut perahu, memasang kuda-kuda dan ketika dua batu karang itu datang menyambar, ia menggunakan kedua tangannya mendorong sambil mengerahkan sin-kangnya.

"Byurrr...!"

Dua batu karang itu dapat terdorong menyeleweng dan jatuh keair, akan tetapi saking hebatnya tenaga lemparan itu, kedua kaki Bu Song melesak ke bawah karena papan atas perahu yang diinjaknya jebol!

Selain itu, dua batu karang yang terbanting keair itu menimbulkan gelombang hebat sehingga perahunya miring dan hampir saja terbalik.

Baiknya nelayan itu tahu akan bahaya dan sudah cepat-cepat mengatur keseimbangan perahunya, mengemudi layar dan cepat sekali angin besar mendorong perahu menjauhi pulau!

Dua manusia aneh itu meloncat-loncat di tepi pulau dan sebentar saja lenyap.

"Kongcu.... Mereka itu tadi.... Siluman.... Atau ibliskah.....?"

Bu Song tersenyum.

Biarkan para nelayan ini ketakutan agar tidak berani mendekati pulau Pek-coa-to, karena kalau mendekati pulau itu memang besar kemungkinan mereka akan tewas, mengingat betapa selain di pulau itu terdapat banyak binatang buas dan berbisa.

Juga disitu tinggal Kong Lo Sengjin dan dua orang pelayannya yang gila dan kejam.

"Agaknya mereka itu iblis pulau. Untung kita dapat melarikan diri!"

Jawab Bu Song.

Jawaban ini membuat nelayan itu makin ketakutan dan ia mengerahkan seluruh kecakapannya untuk berlayar secepat mungkin menyeberang kedaratan yang aman.

Bu Song menyimpan sulingnya diselipkan diikat pinggang dan tertutup baju.

Ia maklum bahwa suling itu tentu akan menimbulkan perkara kalau sampai terlihat orang jahat.

Orang-orang kang-ouw mencarinya tentu mengharapkan hikmatnya, sedangkan orang-orang jahat tentu juga menginginkannya karena harganya.

Suling ini terbuat dari emas yang tentu saja mahal harganya.

Setelah tiba didarat, Bu Song menambah hadiah sepotong perak kepada nelayan itu yang menjadi girang sekali karena hari itu ia benar-benar mendapatkan rejeki besar.

Kemudian Bu Song meninggalkan pantai dan melakukan perjalanan cepat ke utara.

Ia harus mencari suhunya dan menceritakan semua pengalamannya di Pulau Pek-coa-to.

Makin ke utara, makin ramailah ia mendengar orang bicara tentang perubahan besar di kerajaan.

Ia mendengar bahwa seorang panglima besar yang gagah perkasa telah mengambil alih kekuasaan dan medirikan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Sung!

Juga mendengar bahwa kaisar baru ini amat murah hati, tidak akan menghukum siapapun juga asal tidak mengadakan perlawanan.

Karena berita inilah maka di kota-kota kecil tidak timbul keributan, dan para pembesar melakukan tugasnya seperti biasa sambil menanti perkembangan lebih lanjut.

Pada waktu itu, Bu Song berusia dua puluh tiga tahun.

Maklum bahwa suhunya tentu memperhatikan perubahan di kota raja, ia mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja mencari suhunya Kita tinggalkan dulu Bu Song yang melakukan perjalanan menuju ke kota raja, dan mari kita menengok keadaan Suma Ceng, gadis bangsawan yang tak dapat menahan gelora cinta kasihnya sehingga mengadakan hubungan rahasia dengan Bu Song, pegawai ayahnya itu.

Melihat betapa puterinya telah mencemarkan nama keluarga, Pangeran Suma Kong marah bukan main.

"Anak macam itu hanya akan menyeret nama orang tuanya kedalam lumpur kehinaan!"

Ia memaki setelah menerima laporan puteranya.

"Lebih baik mati daripada dibiarkan hidup! Boan-ji (Anak Boan), enyahkan saja dia dari muka bumi!"

Suma Boan terkejut.

Ia juga merasa tak senang dan marah melihat adiknya melakukan perhubungan gelap dengan Bu Song.

Akan tetapi betapapun juga Suma Boan menyayang adiknya.

Ia tidak mempunyai saudara lain kecuali Suma Ceng.

Bagaimana ia tega membunuhnya?

Diam-daim ia merasa kecewa dan menyesal sekali mengapa Bu Song sampai dapat lolos dari tangannya.

"Ayah, harap ampunkan Ceng-moi. Betapapun juga, yang salah besar dan jahat adalah Bu Song. Ceng-moi seorang yang masih muda, tentu saja mudah dibujuk dan dipikat. Ayah, karena hal itu telah terjadi, maka sebaiknya kita mencari jalan keluar."

"Jalan keluar satu-satunya hanyalah menyuruhnya minum racun agar habis riwayatnya dan tidak mengotori nama keluarga kita!"

Bentak Pangeran Suma Kong marah.

"Bukan begitu, Ayah. Yang kumaksudkan adalah jalan keluar yang baik dan terhormat. Betapapun juga, Ceng-moi adalah adikku, mana aku tega kepadanya? Ayah, sahabatku Pangeran Kiang pernah melihat Ceng-moi dan pernah dalam keadaan mabok ia memuji-muji Ceng-moi didepanku. Ayah, aku dapat atur agar Ceng-moi segera dijodohkan dengan dia! Selain sahabat baik, dia pun belajar silat kepadaku, dan dalam segala hal, dia selalu menurut kepadaku."

Berseri sedikit wajah Suma Kong yang tadinya keruh. Pangeran Kiang yang dimaksudkan puteranya itu memang betul bukan seorang yang cukup "berharga"

Untuk menjadi mantunya.

Seorang pangeran miskin, sudah tiada ayah lagi, hanya mengandalkan Jenderal Cao Kuang Yin yang menjadi pamannya.

Akan tetapi betapapun juga orang muda itu masih seorang pangeran!

Tidak buruk!

"Sesukamulah.

Akan tetapi atur supaya cepat-cepat menikah, dalam bulan ini juga.

Siapa tahu..."

Suma Kong mengigit bibir dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Aku mengerti, Ayah."

Demikianlah, dengan perataraan Suma Boan, urusan perjodohan itu dibicarakan.

Pangeran Kiang adalah seorang pangeran muda yang tidak punya ayah lagi, menganggur, hidupnya hanya bersenang-senang, menjadi sahabat, murid, juga "antek"

Suma Boan.

Mendengar usul dan bujukan Suma Boan, serta merta ia menyatakan setuju dengan hati girang.

Ibunya miskin, pamannya yaitu adik ibunya, Jenderal Cao Kuang Yin yang terkenal, adalah seorang pembesar bu (militer) yang jujur dan setia sehingga hidupnya sederhana dan tidak kaya raya, sehingga bantuan dari paman inipun hanya sekadarnya.

Kalau disatu pihak Pangeran Kiang Ti girang bukan main atas usul Suma Boan, karena dia sendiri sampai mati pun tidak berani lancang melamar puteri Pangeran Suma Kong yang kaya raya itu, adalah dilain pihak Suma Ceng mendengarkan berita yang disampaikan kakaknya itu, dengan banjir air mata.

"Koko... ah, mengapa begini...?"

Ratap tangisnya.

"Dimana... Kanda Bu Song...? Kau apakan dia...? Suma Boan marah sekali kepada adiknya, akan tetapi kasih sayangnya sebagai seorang kakak membuatnya kasihan juga. ia mendongkol bahwa dalam keadaan seperti itu adiknya masih saja memikirkan Bu Song! "Ceng Ceng! Kau ini puteri seorang bangsawan agung! Puteri seorang pangeran besar! Pergunakanlah pikiranmu dan akal sehat. Mengapa kau merendahkan diri sedemikian rupa? Apakah kau hendak menyeret nama baik ayah dan keluarga kedalam lumpur?"

"Aku... aku... cinta padanya, Koko..."

"Setan! Sudah, jangan sebut-sebut lagi namanya. Bu Song sudah mampus!"

Ceng Ceng menangis tersedu-sedu.

"Kau bunuh dia...! Ah, kau bunuh dia, Koko... kenapa kau tidak bunuh aku sekali...!"

"Goblok? Kalau tidak ada kakakmu ini yang berjuang mati-matian, apa kau kira sekarang kau masih hidup? Ayah lebih senang melihat kau mati daripada kau bermain gila dengan seorang macam Bu Song."

"Ohhh..., Ayah...!"

Suma Ceng makin sedih mendengar hal ini.

"Dengar, Ceng-moi. Mengadakan hubungan gelap, apalagi dengan seorang yang kedudukannya rendah, hukumannya hanya mati bagi seorang gadis bangsawan. Akan tetapi aku berhasil meredakan kemarahan Ayah dan mengusulkan agar kau dijodohkan dengan Pangeran Kian Ti."

"Aku tidak mau... tidak sudi...!"

"Plak!"

Suma Boan menampar pipi adiknya sehingga Suma Ceng hampir terpelanting jatuh.

"Auuhhh!"

Suma Ceng berdiri, memegangi pipinya dan memandang dengan mata terbelalak kepada kakaknya.

Biasanya, kakak kandungnya ini amat mencintanya, tidak pernah memukulnya.

Maka ia menjadi kaget dan heran, lupa akan kesedihannya dan memandang dengan mata terbelalak.

"Ceng-moi, kau tahu apa artinya kalau perbuatanmu yang tak tahu malu ini diketahui orang luar? Cemar yang menimpa keluarga kita berarti menodai nama keluarga raja! Dan akibatnya, tidak hanya kau yang menerima hukuman, juga Ayah dan kita sekeluarga! Mungkin Ayah akan dihentikan, dipecat, dan dibuang! Nah, inginkah kau melihat hal itu terjadi?"

Suma Ceng menundukkan kepala, terisak-isak dan menggeleng-gelengkan kepala. Suma Boan mendekati dan mengelus rambut adiknya.

"Kau tahu aku sayang kepadamu dan aku melakukan ini untuk kebaikanmu pula. Kiang Ti adalah seorang pemuda yang baik, dia keturunan pangeran setingkat dengan ayah. Tentang dia miskin bukanlah hal yang perlu dipikirkan. Bukankah Ayah keadaannya cukup? Nah, adikku yang manis, kau harus menurut demi kebaikanmu dan kebaikan keluarga kita."

Suma Ceng menubruk dan menyembunyikan muka didada kakaknya sambil menangis tersedu-sedu.

Suma Boan mengelus rambut adiknya dan tersenyum, maklum bahwa bujukannya berhasil.

Demikianlah, dalam enam bulan itu juga, secara meriah sekali Suma Ceng dikawinkan dengan Kiang Ti, pangeran yang miskin.

Dibalik tirai yang menutupi mukanya, Suma Ceng menangis.

Sebaliknya, Kiang Ti tersenyum-senyum girang.

Memang ia pernah melihat Suma Ceng dan mengagumi kecantikan puteri pangeran ini.

Kini gadis yang membuatnya rindu dan mabok kepayang itu secara tak terduga-duga dijodohkan dengannya.

Ia benar-benar merasa heran karena belum pernah ia mimpi kejatuhan bulan!

Ia merasa untungnya baik sekalil.

Akan tetapi, kurang lebih dua tahun kemudian setelah Suma Ceng menjadi isteri Kiang Ti, keadaannya menjadi terbalik sama sekali.

Kini keluarga Suma Konglah yang merasa untungnya baik karena mempunyai mantu Kiang Ti.

Seperti telah diketahui, Kiang Ti adalah putera seorang pangeran yang menjadi keponakan Jenderal Cao Kuang Yin.

Dan kebetulan jenderal inilah yang menggulingkan tahta kerajaan, kemudian menjadi kaisar pertama dari Dinasti Sung!

Tentu saja, Kiang Ti sebagai keponakan Kaisar, kini menjadi pangeran yang terhormat dan tinggi kedudukannya dan kerena itu, keluarga Suma juga ikut terangkat naik!

Memang hal ini sedikit banyak ada pengaruhnya dan menguntungkan Suma Kong.

Dia terkenal sebagai seorang pangeran yang korup.

Akan tetapi kaisar baru, yaitu bekas Jenderal Cao Kuang Yin, walaupun tahu akan watak korup pangeran ini, namun mengingat bahwa masih ada pertalian keluarga melalui Kiang Ti, tidak mau mengutik-utik tentang perbuatan-perbuatannya yang lalu, hanya memberi pensiun kepada Pangeran Suma Kong dan membiarkan keluarga pangeran yang sudah kaya raya itu pindah dari kota raja, ke kota An-sui.

Adapun pangeran Kiang Ti yang masih keponakan Sang Kaisar, tentu saja dapat tinggal di kompleks istana yang megah, bersama isterinya yang telah mempunyai seorang putera.

Pangeran Kiang Ti amat mencinta isterinya, dan karena sikap yang amat baik, penuh cinta dan penuh kesabaran dari Kian Ti ini maka sedikit banyak kepahitan hati Suma Ceng karena terpisah dari kekasihnya terobati.

Demikianlah keadaan keluarga Suma selama dua tahun itu, dan kini biarpun Suma Boan tinggal di An-sui bersama ayahnya, namun karena ia kaya raya dan masih terhitung keluarga kerajaan, ditambah pula dengan ilmu kepandaian yang tinggi sejak ia menjadi murid Pouw kai-ong, Suma Boan amat terkenal di kota raja.

Siapakah yang tidak mengenal Suma Kongcu yang berjuluk Lui-kong-sian Si Dewa Guntur?

Mengandalkan kedudukan keluarganya sebagai sanak kaisar, serta harta benda dan ilmunya, pemuda bangsawan ini malang melintang di kota raja dan sekitarnya tanpa ada yang berani mengganggunya.

Bu Song meninggalkan pantai selatan dan menuju ke utara.

Akan tetapi baru saja ia meninggalkan pantai, ia mendengar suara aneh diatas kapalnya.

Ketika ia memandang keatas, ternyata seekor burung yang buruk rupanya terbang melintas dekat kepalanya sambil mengeluarkan bunyi "kuk-kuk-kuk!"

Dan teringatlah Bu Song bahwa pulau Pek-coa-to tadi pun serasa pernah ia melihat burung ini, akan tetapi ia lupa lagi entah dimana.

Burung itu adalah burung hantu, atau burung malam yang matanya berkilauan seperti mata kucing, bertelinga seperti kucing pula.

Burung itu terbang cepat sekali dan lenyap didalam sebuah hutan kecil di depan.

Hari telah menjelang senja ketika Bu Song mempergunakan ilmu lari cepat memasuki hutan kecil itu.

Hutan itu kecil namun liar dan gelap, hutan belukar yang agaknya tidak pernah didatangi manusia.

Banyak bagian yang gelap, apalagi karena disitu terdapat batu karang.

Agaknya di jaman dahulu, air laut sampai dibagian daratan ini.

"Aduhhh...! Setan iblis siluman tak bermata! Perut orang diinjak-injak seenaknya, keparat!"

Bu Song juga kaget bukan main.

Tadinya tidak ada apa-apa didepannya, bagaimana ketika ia berlari, kakinya sampai bisa menginjak perut orang tanpa ia ketahui?

Betapapun suram dan agak gelap tempat itu, tak mungkin ia tidak melihat seorang tidur telentang didepannya menghalang jalan.

Tak mungkin!

Tadinya benar-benar tidak ada siapa-siapa, bagaimana tahu-tahu kakek aneh itu dapat terinjak perutnya oleh kakinya?

Ia demikian kaget sampai ia berjungkir-balik kebelakang dan mendengar suara marah-marah itu ia memandang penuh perhatian.

Seorang kakek yang aneh.

Tubuhnya pendek sekali seperti seorang anak berumur belasan tahun.

Kakinya yang kecil telanjang, kedua tangannya juga kecil.

Akan tetapi kepalanya besar, kepala seorang kakek tua renta penuh jenggot dan kumis panjang.

Rambutnya panjang terurai.

Benar-benar seorang kakek aneh dan kalau memang di dunia ini ada setan iblis atau siluman seperti makian kakek tadi, kiranya kakek inilah patut menjadi seorang diantaranya.

Akan tetapi karena kakek itu pandai mengumpat caci, agaknya ia manusia biasa, pikir Bu Song.

Cepat-cepat ia menjura dan memberi hormat.

"Mohon maaf sebesarnya, Kek. Saya tidak buta dan tidak sengaja menginjak perutmu, akan tetapi aku berani bersumpah bahwa tadi aku tidak melihat ada orang disini!"

"Memang tidak ada! Kalau aku tidak sengaja membiarkan perutku tersentuh kakimu, apa kau kira akan mampu menginjak perutku? Cih!"

Diam-diam Bu Song terkejut dan juga mendongkol.

Ia dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan sengaja hendak mempermainkannya, karena ia benar-benar tadi tidak melihat ada orang tidur ditengah jalan.

Hal ini saja sudah membuktikan betapa hebat ilmu kepandaian kakek itu sehingga dapat membiarkan dirinya terinjak tanpa dia yang mengijaknya melihatnya!

Karena yakin bahwa kakek itu seorang sakti, ia cepat-cepat memberi hormat lagi dan berkata.

"Maafkan saya, Locianpwe (Orang Tua Sakti). Sesungguhnya seorang muda seperti saya mana berani bersikap kurang ajar terhadap seorang tua? Apalagi sampai menginjak perut Locianpwe, selain tidak berani juga takkan sanggup melakukannya. Bolehlah saya bertanya, Locianpwe siapakah dan apakah maksud hati Locianpwe mempermainkan seorang muda seperti saya yang tidak bersalah apa-apa terhadap Locianpwe?"

Tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak.

Suara ketawanya amat tidak enak didengar, bukan seperti suara manusia.

Bu Song teringat akan suara burung hantu yang tadi terbang lewat dan...

benar saja, dari atas kini terdengar suara burung itu dan sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu burung hantu yang tadi itu kini sudah hinggap diatas pundak kanan kakek pendek itu!

"Siapa main-main?

Aku sengaja membiarkan perutku kau injak atau tidak, itu urusanku!

Tapi yang jelas dan tak dapat dibantah lagi, kau sudah berlaku kurang ajar menginjak perutku.

Betul tidak?

Hayo, kau sangkal kalau berani, kau...

eh, siapa namamu?"

Kata-kata dan sikap kakek ini amat menggelikan, tidak karuan dan seperti orang gila, atau seperti anak kecil yang nasar (mau menang sendiri).

"Nama saya Bu Song, Locianpwe, she... Liu."

"Heh, Bu Song! Hayo bilang, kau tadi menginjak perutku atau tidak?"

"Heh... betul... tapi... tapi saya tidak sengaja Locianpwe."

"Tidak sengaja atau sengaja, apa bedanya? Yang jelas, buktinya kau sudah menginjak perutku. Kau tahu siapa aku?"

"Saya belum mendapat kehormatan mengenal nama Locianpwe yang mulia."

"Aku adalah Bu Tek Lojin! Dan kau sudah berani menginjak perutku, hukumannya hanya satu, yaitu mati!"

Biarpun tadinya Bu Song menganggap kakek itu seorang sakti yang patut ia hormati, akan tetapi mendengar ucapan-ucapannya dan melihat sikapnya, ia mulai merasa mendongkol sekali.

Betapa pun saktinya, kiranya kakek ini bukanlah seorang yang patut dihormati, bukan seorang sakti yang budiman.

Akan tetapi ia tetap menahan kemarahannya, dan bersikap sabar.

Ia belum pernah mendengar nama Bu Tek Lojin.

Biarpun tak dapat disangkal bahwa ia tadi telah menginjak perut orang, akan tetapi ia melakukan hal ini tanpa ia sengaja, bahkan Si Kakek itu sendiri yang agaknya sengaja mencari perkara.

"Bu Tek Lojin,"

Jawabnya, tidak lagi menyebut locianpwe karena ia merasa tidak senang melihat sikap kakek yang luar biasa ini.

"Yang memberi kehidupan kepadaku adalah Tuhan. Apabila Tuhan yang berkenan mengambil kehidupanku, aku akan pasrah dengan rela, akan tetapi kalau orang lain yang menghendaki kematianku, biarpun orang itu seorang tua terhormat dan sakti seperti kau, bagaimanapun juga akan kupertahankan hak hidupku!"

Kakek itu memandang dengan mata tajam dan tertarik.

"Aha, kau pandai bicara. Bicaramu seperti seorang terpelajar, pakaianmu seperti seorang terpelajar pula, agaknya kau seorang sastrawan muda! Dan seorang terpelajar tentu pandai bermain catur. Orang muda, kau pandai main catur?"

Kakek aneh, pikir Bu Song. Bicaranya membolak-balik sukar ditentukan arahnya. Akan tetapi ia melayaninya juga dan menjawab.

"Bermain catur tentu saja aku bisa, akan tetapi tidak pandai."

"Bagus!"

Kakek itu terkekeh-kekeh dan dari balik bajunya ia mengeluarkan sehelai kertas yang dilipat-lipat dan segenggam biji catur.

Kertas itu ia bentangkan diatas tanah dan ternyata adalah kertas gambar papan catur!

"Duduklah, mari kita bertanding catur!"

Kakek itu tidak waras otaknya barangkali, pikir Bu Song. Akan tetapi ia menjadi curiga dan bertanya.

"Bu Tek Lojin, apa arti permainan catur ini?"

"Ha-ha-ha, bicara tentang ilmu silat, memalukan sekali kalau aku melayani kau bertanding. Burungku akan mentertawakan aku, akan menganggap aku keterlaluan mendesak orang muda dengan ilmu silatku yang tentu saja jauh lebih unggul karena aku jauh lebih tua, menang pengalaman dan menang latihan. Akan tetapi permainan catur tidak tergantung dari umur, melainkan dari siasat yang muda mengalahkan yang tua! Kalau tadi kukatakan bahwa kau telah berdosa kepadaku dan harus dihukum mati, sekarang aku memberi kesempatan kepadamu untuk menebus nyawamu dengan permaianan catur. Kalau kau menang, kesalahanmu menginjak-injak perutku habislah dan aku tidak menghendaki nyawamu!"

Bu Song diam-diam makin penasaran dan mendongkol.

"Kalau aku kalah?"

Tanyanya, menahan hati panas.

"Ha-ha! Tentu saja kau kalah! Kalau kau kalah, berarti kau hutang dua kali kepadaku. Sebelum kubunuh kau harus menyerahkan suling emas dengan suka rela kepadaku!"

Berdebar jantung Bu Song.

Kakek ini tidaklah gila, dan tidak bodoh.

Kiranya sengaja mencari gara-gara dan mencari perkara karena ingin merampas suling dan untuk itu tidak akan segan-segan membunuhnya.

Maklumlah Bu Song bahwa ia menghadapi hal yang amat gawat dan berbahaya dan oleh karena ini seketika ketenangannya timbul.

Ia teringat akan nasihat suhunya bahwa dalam menghadapi perkara apapun juga, terutama sekali harus menenangkan hati.

Ketenangan akan membuat kita waspada dan hanya dengan ketenangan kita akan dapat menguasai diri dan mengambil tindakan secara tepat.

Maka ia lalu mengerahkan tenaga untuk menenangkan hati dan mengusir semua kekhawatiran.

Bahkan wajahnya membayangkan senyum ketika ia memandang kakek itu.

"Orang tua, bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa seorang perantau miskin seperti aku ini mempunyai sebuah benda dari emas?"

"Ha-ha-ho-ho-ho! Kau datang dari Pulau Pek-coa-to, aku mendengar suara suling disana. Siapa lagi kalau bukan kepadamu suling itu diberikan oleh Ciu Bun si tua bangka berkepala batu? Ha-ha-ha! Dasar aku yang bodoh, percaya saja Si Kepala Batu telah dibunuh Couw Pa Ong!"

Makin kagetlah hati Bu Song.

Kiranya kakek ini tahu pula bahwa ia bertemu dengan Ciu Bun di pulau.

Kalau begini, tak dapat dihindarkan lagi.

Kakek ini tentu luar biasa saktinya dan bertanding ilmu silat dengan kakek ini, jelas ia takkan menang.

Namun bertanding catur, belum tentu!

Suhunya sendiri, Kim-mo Taisu yang juga seorang jago catur, sukar mengalahkan dia dan menurut suhunya, ia memiliki bakat yang luar biasa untuk bermain catur.

"Baiklah, kuterima tantanganmu bermain catur, orang tua?"

Katanya, wajahnya berseri dan matanya bersinar.

"Akan tetapi, sebagai seorang kakek yang sudah berusia tua, tidak sepatutnya engkau menipu mentah-mentah seorang muda seperti aku. Biarpun disini tidak ada orang kecuali kita berdua, setidaknya kau tentu akan malu sikapmu itu diketahui burungmu."

"Apa? Menipumu mentah-mentah? Heh-heh, orang muda, jaga baik-baik lidahmu kalau kau ingin mati dengan lidah utuh nanti!"

"Bu Tek Lojin, orang bertanding apa saja ada taruhannya. Kita akan bertanding catur, jadi kita berdua harus bertaruh pula. Akan tetapi engkau tadi hanya menyuruh aku yang bertaruh, akan tetapi kau sendiri tanpa modal alias bermain tanpa taruhan. Kalau aku kalah, aku harus mati dan memberikan sebuah suling emas kepadamu. Akan tetapi kalau kau yang kalah, harus ada taruhannya pula!"

Mata kakek itu ketap-ketip (berkejap-kejap), agaknya otaknya dikerjakan keras-keras. Akhirnya ia mengangguk-angguk dan berkata.

"Omonganmu cengli (menurut aturan) juga! Nah, kalau aku kalah, kau boleh bunuh aku!"

Kembali Bu Song kaget.

Jawaban-jawaban kakek ini benar-benar aneh dan mengagetkan karena tidak disangka-sangka.

Akan tetapi melihat betapa sepasang mata itu bersinar-sinar dan biji matanya bergerak-gerak seperti tingkah seorang kanak-kanak nakal yang cerdik dan penuh tipu muslihat, mulut yang tersembunyi dibalik jenggot itu bergerak-gerak seperti menahan tawa, Bu Song maklum dan berseru.

"Wah, ternyata Bu Tek Lojin tidak hanya pandai ilmunya, akan tetapi pandai pula akal bulusnya. Pantas saja menjadi Bu Tek (Tiada Lawan), kiranya selain mengandalkan kesaktian juga mengandalkan tipu muslihat!"

Kakek itu yang tadinya sudah duduk menghadapi kertas bergambar papan catur, kini meloncat tinggi sehingga burung dipundaknya kaget dan mengembangkan sayapnya menjaga keseimbangan tubuh.

Bu Tek Lojin mencak-mencak dan menari dengan kedua kakinya berloncatan, kedua tangannya bergerak seperti orang lari ditempat, mukanya menjadi merah dan matanya bergerak-gerak melotot.

"Kurang ajar kau! Tipu muslihat apa yang kau maksudkan sekarang? Awas, jangan bikin aku marah!"

"Habis, taruhanmu benar-benar tidak adil. Kalau kau kalah main catur, kau bilang aku boleh membunuhmu. Tentu saja ini tidak adil sama sekali. Aku boleh membunuhmu, akan tetapi dalam hatimu kau mentertawakan aku dan bilang mana aku sanggup membunuhmu? Wah, Bu Tek Lojin kakek tua, kau memberikan ekor menyembunyikan kepala! Tidak mau aku diakali begitu. Kalau kau mau memenuhi syarat taruhanku, boleh kau coba-coba melawan aku bermain catur kalau kau becus! Akan tetapi kalau tidak mau memenuhi syarat taruhanku, sudahlah, kalau kau orang tua hendak berlaku sewenang-wenang terhadap orang muda dan tidak malu didengar semua orang kang-ouw betapa kakek yang bernama Bu Tek Lojin beraninya hanya menghina orang muda, terserah kau apakan aku, boleh saja!"

Sejenak kakek itu tidak dapat berkata-kata.

Ucapan Bu Song itu benar-benar tepat sekali menghantam apa yang tersembunyi didalam rencana pikirannya sehingga ia menjadi terkesima, seolah-olah menerima serangan tepat di ulu hatinya.

Kembali matanya berkedip-kedip memandang kagum lalu berkata.

"Wah, kiranya kau bukan bocah sembarang bocah, cukup cerdik! Tentu akan merupakan lawan catur yang ulet! Coba kau kemukakan syaratmu, orang muda."

Sebetulnya Bu Song bukanlah termasuk orang muda yang suka banyak bicara, bukan pula pandai berdebat.

Kalau sekarang ia bersikap demikian adalah semata-mata terdorong oleh pengertian yang timbul dari ketenangannya bahwa hanya dengan cara ini sajalah agaknya ia dapat menghadapi kakek ini!

"Begini syarat taruhanku, Bu Tek Lojin.

Kalau aku kalah bermain catur denganmu, biarlah takluk dan menyerah kepadamu.

Akan tetapi kalau kau yang kalah, kau harus pergi tinggalkan aku dan jangan mengganggu lagi, jangan minta benda emas atau suling segala macam dan jangan membunuh atau melukaiku!

Coba pertimbangkan, kalau aku kalah, aku hanya minta engkau pergi dan aku tidak mengganggumu.

Sebaliknya kalau aku kalah, aku takluk kepadamu dan menyerah.

Bukankah ini berarti aku sudah banyak mengalah kepadamu?"

Kakek itu menggaruk-garuk jenggotnya yang putih dan tebal, mendapatkan seekor semut yang entah bagaimana tahu-tahu tersesat ketempat itu, dengan gemas memencet semut itu hancur di antara kedua jarinya.

Ia mengangguk-angguk.

"Kongto, kongto (adil, adil). Mari kita mulai!"

Bu Song menarik napas lega.

Setidaknya, bahaya pertama sudah dapat diatasi.

Ia dapat menghadapi kakek ini bermain catur dengan tenang.

Kalau ia menang nanti, ia bebas.

Kalau kalah, ia masih dapat melihat keadaan.

Kalau kakek itu tidak membunuhnya, tentu saja hal itu baik sekali.

Kalau kakek itu akan memubunuhnya, tentu saja ia tidak akan tinggal diam dan mati konyol!

Permainan catur dimulai.

Kakek itu mempersilakan Bu Song menggerakkan biji caturnya lebih dahulu.

Bu Song berlaku hati-hati dan membuat gerakan sederhana.

Akan tetapi gerakan biji catur kakek itu amat luar biasa, terlalu berani, kasar dan sama sekali tidak mempergunakan teknik bermain catur, membabi buta dan asal makan saja!

Sibuk juga Bu Song menghadapi perlawanan kasar dan ceroboh macam ini.

Kakek itu bermain seperti tidak mempergunakan otak sehingga sebentar saja Bu Song dipaksa saling makan dan dalam waktu singkat biji-biji catur mereka yang berada diatas papan tinggal sedikit.

Sekarang mulailah kakek itu benar-benar bermain catur.

Gerakan-gerakan atau langkah-langkah biji caturnya teratur rapi, mendesak dan memancing penuh tipu muslihat dan ternyata merupakan tingkat permainan catur yang tinggi!

Bu Song kaget dan mengertilah ia akan cara bermain lawannya.

Ia tetap berlaku hati-hati sebelum menggerakkan biji caturnya.

Kening pemuda ini sampai kerut-merut karena pencurahan perhatian yang bulat dan pemerasan otak yang sungguh-sungguh.

Kakek itu pun kini tidak main-main lagi.

Duduk tekun menghadapi papan catur, tangan kiri menekan tanah, lutut kaki tangan diangkat untuk menumpangkan tangan kanan, matanya tidak pernah berkedip memandang papan catur, bibir yang tersembunyi di balik kumis itu berkemak-kemik seperti orang membaca doa atau menghafal sesuatu.

Bahkan burung hantu yang hinggap diatas lengan kanannya juga diam tak bergerak seperti mati.

Pertandingan kini menegangkan sekali.

Bu Song menang sebuah biji catur.

Biji caturnya tinggal empat, akan tetapi biji catur kakek itu tinggal tiga buah lagi!

Kini setiap gerakan dilakukan hati-hati dan setelah memakan waktu pemikiran yang cukup lama.

Keadaannya tegang.

Biarpun mereka berdua kelihatan tenang-tenang dan sama sekali tidak mengeluarkan suara, bahkan bergerakpun hanya kalau menjalankan biji catur, namun ketegangannya tidak kalah oleh pertandingan silat.

Hal ini adalah karena bagi Bu Song, pertandingan ini sama artinya dengan pertandingan mengadu nyawa!

Dalam keadaan menang kuat satu biji, Bu Song berusaha memancing lawan dengan umpan-umpannya.

Ia mengumpankan biji yang kelebihan itu dan apabila lawannya kena dipancing, tentu dalam waktu singkat ia dapat menghabiskan biji catur lawan.

Akan tetapi dalam keadaan kalah kuat itu, Bu Tek Lojin ternyata cerdik sekali dan tidak menghiraukan umpan, melainkan main dalam sistim pertahanan yang ulet bukan main.

Bu Song menukar siasat.

Karena semua umpan pancingannya tidak berhasil, ia kini mempergunakan kelebihan biji caturnya untuk mendesak dan mengurung, lalu menggiring biji-biji lawan kesudut sehingga Si Kakek itu tidak bisa mendapatkan jalan keluar lagi kecuali mengadu biji atau saling makan.

Dan kalau saling makan, berarti Bu Song akan menang karena ia masih kelebihan sebuah biji catur!

Sampai lama kakek itu memandang kearah papan dimana tiga buah biji caturnya sudah kehabisan jalan.

Keringat besar-besar memenuhi dahinya dan akhirnya ia menarik napas panjang, menggerakkan biji caturnya dan terpaksa makan biji catur lawan.

Bu Song tersenyum.

Kemenangan sudah pasti berada ditangannya.

Dengan gembira ia pun balas memakan, akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia hendak mengambil biji catur lawan, biji catur itu lekat pada kertas dan tak dapat diambil kecuali kalau dengan kertasnya.

Diam-diam ia mendongkol sekali.

Kakek ini mulai curang, pikirnya, atau menggunakan akal bulus.

Terpaksa ia lalu mengerahkan sin-kangnya, disalurkan pada jari-jari tangannya dan dapatlah ia kini mengambil biji catur itu dari atas kertas dan tiba-tiba Bu Tek Lojin tertawa bergelak-gelak dan melompat berdiri.

"Ha-ha-ha! Hebat kepandaianmu main catur."

Dengan girang Bu Song juga bangkit berdiri dan hatinya lega sekali."

"Bu Tek Lojin, apakah kau mengaku kalah?"

"Eh, Bu Song. Selain ilmu bermain catur, juga tenaga lwee-kangmu lumayan. Kau murid siapa?"

"Suhu Kim-mo Taisu berkenan memberi sedikit pelajaran kepada saya."

"Oh-oh-oh...! Kiranya murid Kim-mo Taisu? Ha-ha-ha, benar-benar tidak kusangka! Orang gila itu punya murid sebaik ini? Berapa tahun kau belajar ilmu silat dari Si Gila itu?"

Tak senang hati Bu Song mendengar suhunya disebut orang gila dan sama sekali tidak dipandang mata oleh kakek ini, padahal ia tahu benar betapa di dunia kang-ouw gurunya adalah seorang tokoh besar yang disegani kawan atau lawan.

Akan tetapi ia menjawab juga.

"Hanya dua tahun. Dibanding dengan Suhu, saya belum ada sepersepuluhnya!"

Mendadak kakek itu menggerakkan tubuhnya dan alangkah kagetnya Bu Song karena tanpa peringatan apa-apa kakek itu sudah menyerangnya dengan pukulan yang hebat sekali karena mendatangkan angin berciutan.

Pukulan tangan kiri kakek dengan jari tangan terbuka itu menusuk kearah dadanya.

Cepat Bu Song miringkan tubuh mengelak.

Akan tetapi pukulan susulan tangan kanan kakek itu memasuki bagian lambung kiri!

Kecepatan serangan susulan ini tidak memungkinkan Bu Song mengelak lagi.

Terpaksa ia mengerahkan tenaga pada lengannya dan menangkis.

"Dukkk!"

Tubuh kakek itu tergetar sehingga burung hantu yang hinggap dipundaknya mengeluarkan suara keras lalu terbang keatas.

Akan tetapi tubuh Bu Song terlempar kebelakang seperti layang-layang putus talinya!

Orang muda itu terhuyung-huyung dan setelah beberapa meter jauhnya barulah ia berhasil mempertahankan diri agar tidak sampai terbanting jatuh.

Cepat ia memutar tubuh menghadapi kakek itu, lalu menegur.

"Bu Tek Lojin, apakah begitu mudah kau melupakan janji taruhanmu?"

Akan tetapi kakek itu menjawab dengan makian.

"Bocah lancang. Berani kau berani gila dan membohongi seorang tua bangka seperti aku?"

Kakek itu tertawa mengejek.

"Kau kira aku begitu bodoh? Jangankan belajar kepada Kim-mo Taisu si gila itu, biarpun kau belajar dari aku sendiri, tak mungkin kau seperti sekarang ini!"

"Aku bersumpah bahwa aku tidak membohong!"

"Sudahlah! Keluarkan suling emas itu dan kau ajari aku meniup suling!"

Bu Song kaget.

Tak disangkanya kakek ini seorang yang sama sekali tidak merasa malu untuk melanggar janjinya.

Kalau begini, percuma saja ia tadi mati-matian menggunakan otak untuk memenangkan pertandingan catur!

"Bu Tek Lojin!

Benar-benarkah kau tidak malu melanggar janjimu?

Kau sudah kalah bermain catur, berarti kau harus memenuhi taruhanmu!"

"Huh! Jangan banyak cerewet! Aku minta pinjam suling dan minta kau mengajar tiupan suling, sama sekali tidak pernah kujanjikan. Hayo cepat keluarkan suling emas itu, jangan kau bikin marah orang tua seperti aku!"

Bu Song maklum bahwa kakek ini hanya menggunakan ucapan tipuan, akan tetapi sesungguhnya ingin merampas suling berikut rahasianya.

Akhirnya ia toh harus melawan dengan kekerasan juga.

Maka ia berdiri tegak, menggeleng kepala dan menjawab.

"Bu Tek Lojin! Suling adalah alat musik untuk menenangkan hati dan pikiran, dan menjadi pegangan seorang yang suka akan kesenian dan kesusasteraan. Aku sudah berjanji takkan memberikan benda ini kepada siapapun juga. Harap kau jangan memaksa."

Kakek itu berjingkrak-jingkrak saking marahnya.

"Bocah sial! Semua tokoh kang-ouw tidak ada seorangpun berani membantah perintahku! Apa kau sudah bosan hidup? Serang dia!"

Ia membentak sambil menudingkan telunjuknya kearah Bu Song.

Agaknya ini merupakan perintah bagi burung hantu yang terbang berputaran diatas karena tiba-tiba burung itu mengeluarkan pekik menyeramkan lalu seperti sebuah peluru kendali burung itu meluncur kearah muka Bu Song, menyerang dengan paruh dan kedua cakarnya ditambah kedua sayapnya yang menampar!

Bu Song sudah siap siaga.

Sungguhpun ia tidak mengira bahwa binatang itu yang akan mewakili Si Kakek menyerangnya, namun karena ia sudah siap, dengan mudah saja ia berhasil mengelak dengan merendahkan dirinya.

Burung itu menyambar lewat diatas kepalanya, akan tetapi luar biasa sekali burung ini karena begitu sambarannya luput, secara tiba-tiba ia dapat menghentikan luncuran tubuhnya dan dengan gerakan sayap ia sudah membalik, lalu menerjang lagi mengarah sepasang mata Bu Song!

Cepat dan tak terduga-duga gerakan ini sehingga biarpun Bu Song sekali lagi mengelak, burung itu masih berhasil menggores pipi kanan Bu Song dengan cakarnya!

Luka dipipi itu tidak berbahaya, hanya luka kulit, namun mengeluarkan darah menetes-netes!

Bu Tek Lojin tertawa terkekeh-kekeh dan bertepuk-tepuk tangan.

Mendengar ini, bangkit kemarahan dihati Bu Song.

Ia mulai panas.

Apalagi burung itu kini sudah menyambar pula dari depan.

Tadi Bu Song sampai terkena cakaran karena ia kurang hati-hati dan sama sekali tidak menduga bahwa binatang itu dapat bergerak secepat itu, atau ada juga sedikit sikap memandang rendah.

Burung hantu itu hanya seekor burung sebesar ayam, tentu saja ia tadinya memandang rendah.

Siapa kira, burung itu ternyata bukanlah burung biasa dan memiliki gerakan cepat dan berbahaya!

Bahkan gerak-geriknya seperti seorang ahli silat yang terlatih baik, kini dengan gerakan ekor dan sayapnya, burung itu sudah membalik lagi dan menerjang Bu Song, seperti tadi menyerang muka, paruhnya menusuk di antara kedua mata, sayapnya menghantam kanan kiri kepala bagian pelipis, kedua cakarnya mencengkeram kearah tenggorokan!

Serangan hebat yang boleh dikatakan serangan maut!

Namun Bu Song selain marah juga sudah siap dan waspada.

Kini ia tidak mau mengelak, melainkan mengulur tangan kanan kedepan menyambut burung itu dengan cengkeraman dari samping.

Cengkeraman tangan Bu Song ini hebat karena mengandung pengerahan tenaga dalam yang amat kuat.

Kalau burung itu kena dicengkeram oleh jari-jari tangan kanan Bu Song, pasti akan hancur!

Burung itu ternyata hebat.

Paruhnya mengeluarkan teriakan keras, agaknya ia kaget menghadapi cengkeraman tangan yang amat kuat itu dan secara luar biasa tubuhnya membalik keatas dan...

cengkeraman tangan Bu Song luput!

Bahkan susulan hantaman tangan kiri Bu Song yang dilancarkan menyusul cengkeramannya juga tidak dapat menyusul kecepatan gerakan burung itu dan hanya menyerempet ekornya sehingga tiga helai bulu ekor burung itu rontok!

Si burung hantu agaknya menjadi marah sekali.

Dari atas ia menyambar turun dengan kecepatan roket, menerjang kepala Bu Song.

Kagetlah orang muda ini, cepat ia miringkan tubuh menggerakkan kepala, namun pita rambutnya masih terkena cengkeraman dan terlepaslah rambutnya!

Bu Song tidak diberi kesempatan karena lagi-lagi burung itu sudah menerjangnya sambil mengeluarkan pekik menyeramkan.

Benar-benar seekor burung luar biasa, pikir Bu Song.

Kali ini Bu Song mengangkat lengan kanan melindungi kepala, akan tetapi ia sengaja tidak balas menyerang, melainkan memberikan lengannya sebagai umpan dan penutup kepala.

Agaknya burung itu yang juga penasaran tak pernah dapat mengenai kepala lawan, kini hendak melampiaskan kemarahannya kepada lengan itu.

Ia mencengkeram, mematuk dan manampar lengan kanan Bu Song.

Namun, begitu kedua cakarnya mencengkeram lengan kanan Bu Song yang kulitnya keras licin karena penuh hawa sakti sehingga kuku-kuku burung tajam meruncing itu hanya merobek baju, tangan kiri Bu Song bergerak menghantam, tepat mengenai punggung burung itu.

"Bukkk!"

Burung itu mengeluarkan pekik keras lalu tubuhnya mencelat, kedua sayapnya berusaha terbang namun sia-sia, ia jatuh lagi seperti sebuah batu, berdebuk diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi karena tulang-tulang punggungnya remuk dagingnya hancur.

Dari paruhnya keluar darah.

"Wah, berani kau membunuh burungku yang kupelihara puluhan tahun?"

Bentak Bu Tek Lojin marah.

"Aku hanya membela diri,"

Bantah Bu Song.

"Burungmu yang menyerang dan hendak membunuhku!"

Bu Song membereskan rambutnya yang terlepas awut-awutan, mengikat kembali dengan sutera pengikat rambut yang tadi terlepas dan jatuh ke tanah.

Kakek itu menarik napas panjang.

"Nah, kau keluarkan suling emas itu cepat-cepat!"

Bu Song mendongkol sekali.

"Kalau saya tidak mau menuruti permintaanmu, bagaimana Bu Tek Lojin?"

"Mau atau tidak masa bodoh, pokoknya kau harus keluarkan suling emas itu!"

Jawaban ini disusul tangan kakek itu yang diulur kedepan mencengkeram dada Bu Song.

Dari tangan kakek itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat sehingga belum juga tangan kakek itu mendekati dada, Bu Song sudah merasa betapa dadanya tergetar hebat.

Cepat ia terus saja maju hendak mencengkeram pundaknya, ia mengerahkan tenaga dan melawan mati-matian.

Dengan gerakan yang gesit ia berhasil mengelak, lalu dari samping ia membalas dengan pukulan tangan kiri.

Biarpun baru belajar dua tahun lebih, akan tetapi karena memang dasar-dasar ilmu silat tinggi sudah ada padanya, maka Bu Song sudah berhasil mewarisi ilmu-ilmu simpanan Kim-mo Taisu, yaitu ilmu silat tangan kosong Bian-sin-kun (Tangan Kapas Sakti), Cap-jit-seng-kun (Ilmu Silat Tujuh Belas Bintang), Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa) dan Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Mengacau Lautan).

Empat ilmu ini adalah ilmu silat pilihan, tingkatnya tinggi dan hanya dapat dimainkan oleh orang yang memiliki sin-kang sempurna karena setiap gerakan selalu harus disertai pengerahan tenaga lwee-kang.

Oleh karena ini maka pukulannya kearah dada kakek itu pun bukan pukulan biasa, dan sebelum tiba ditubuh orang sudah didahului angin pukulan yang dahsyat pula.

Namun kakek itu amat luar biasa gerakannya.

Hanya dengan kepretan jari tangan saja ia berhasil menghalau serangan balasan Bu Song, kemudian dengan gerak ilmu silat aneh sekali ia mulai mendesak Bu Song.

Pemuda ini yang maklum akan kesaktian lawan, melawan sekuat tenaga, namun ia kalah cepat sehingga untuk tiga kali serangan lawan ia hanya dapat membalas satu kali saja!

"Wah, kau bohong...!

Kau bohong...!"

Kakek itu menyerang, mendesak sambil memaki-maki.

Bu Song diam saja.

Bagaimana ia dapat menjawab kalau seluruh perhatiannya harus ia curahkan untuk menjaga diri agar jangan sampai terkena pukulan lawan yang lihai ini?

"Masa belajar dua tahun sudah memiliki kepandaian seperti ini?

Kau bohong atau...

memang kau seorang manusia luar biasa!"

Sambil bicara kakek pendek itu melakukan gerakan yang amat aneh dan cepat sehingga tanpa dapat dicegah lagi dalam serangkaian serangan yang susul menyusul, lutut Bu Song terkena ciuman ujung kaki telanjang itu hingga pemuda ini terguling!

Tentu saja Bu Song terkejut sekali.

Dengan gerakan lincah, begitu tubuhnya mencium tanah, ia menggerakkan kaki tangannya menekan dan sekaligus tubuhnya sudah mencelat keatas dan berdiri kembali.

Malah kini ia mengeluarkan suling emas dari balik bajunya dan serta merta Bu Song menyerang dengan Ilmu Silat Pat-sian Kiam-hoat!

Ia tidak berpedang, maka suling itu dapat ia pergunakan sebagai pedang.

Hebat sekali gerakan Pat-sian Kiam-hoat ini dan ternyata suling itu juga merupakan benda mujijat karena sekali berkelebat telah membentuk segulung cahaya kekuningan yang menyilaukan mata, bahkan mengeluarkan bunyi melengking aneh karena dalam gerakan itu lubangnya kemasukan angin seperti ditiup!

"Aih...!"

Bu Tek Lojin mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya ia lempar kebelakang, terus ia bergulingan diatas tanah menjauh.

Setelah melompat berdiri, ia memandang kaget dan kagum.

"Wah, hebat ilmu pedangmu, tidak kecewa kau menjadi murid Kim-mo Taisu. Akan tetapi dua tahun... ah, tak mungkin! Dan suling emas itu.... hebat pula!"

Akan tetapi sambil bicara, kakek itu sudah menerjang maju lagi, dengan gerakan aneh dan cepat, tubuhnya miring-miring kemudian menerjang Bu Song dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin menderu.

Bu Song yang sudah bertekad bulat tidak hendak menyerahkan sulingnya mentah-mentah dan hendak melawan sekuat tenaga, menyambut bayangan kakek yang berkelebatan itu dengan gerakan sulingnya.

Ia tetap mainkan Pat-sian Kiam-hoat bahkan kini tangan kirinya ia gerakkan dengan ilmu Lo-hai San-hoat.

Biarpun ilmu silat ini adalah ilmu silat yang khusus diciptakan Kim-mo Taisu untuk mainkan senjata kipas, akan tetapi dapat juga dimainkan dengan tangan kosong.

Gerakan kipas menampar dengan jari-jari dikembangkan, adapun totokan ujung gagang kipas dapat diubah menjadi totokan jari tangan.

Kembali Bu Tek Lojin memuji-muji.

Kakek yang tak pernah mau kalah dan merasa bahwa dialah orang nomor satu didunia ini, tidak memuji kosong belaka.

Dalam hatinya ia benar-benar memuji.

Baru sekali ini selama hidupnya ia bertemu dengan seorang muda yang begini hebat kepandaiannya, apalagi kalau diingat bahwa orang muda ini hanya belajar silat selama dua tahun!

Dia sendiri merasa tidak sanggup mendidik murid yang bagaimana berbakat pun selama dua tahun menjadi sehebat ini!

Pertandingan kini berlangsung lebih hebat daripada tadi.

Memang Bu Song seorang luar biasa.

Dia memang kurang latihan kalau dibandingkan dengan lawannya.

Akan tetapi gerakan-gerakannya sudah hampir sempurna, apalagi suling emas ditangannya itu ternyata cocok sekali dipakai mainkan Pat-sian Kiam-hoat.

Tubuhnya tidak nampak lagi, lenyap saking cepatnya gerakan kaki tangan dan terselimut gulungan sinar kuning menyilaukan mata dari suling itu.

Gulungan sinar ini memanjang dan membentuk lingkaran-lingkaran seperti seekor naga emas bermain-main, sedangkan tangan kirinya melancarkan pukulan-pukulan yang mengeluarkan bunyi angin berciutan.

Namun, lawannya adalah seorang sakti dan luar biasa.

Memiliki sin-kang yang jauh melampaui manusia biasa sehingga Bu Song selalu masih terdesak.

Ketika tangan kirinya menampar ke arah pelipis kanan kakek itu, Bu Tek Lojin tertawa dan meloncat keatas, membiarkan jari-jari tangan Bu Song bertemu dengan pundaknya.

"Plakkk!"

Bu Song kaget sekali, tangannya serasa hancur dan panas.

Selagi ia hendak melompat kebelakang, kakek itu sudah menyambar ke depan, tangan kanan kakek itu mencengkeram kearah matanya sedangkan tangan kiri merampas suling!

Bu Song terkejut melihat tangan yang menyambar kearah mata.

Lengan sedikit saja tentu matanya akan menjadi buta atau setidaknya mukanya akan terluka dan bercacad.

Terpaksa ia mengelak dan karena perhatiannya tercurah sepenuhnya menghadapi bahaya mengerikan ini, ia tidak dapat mencegah lagi sulingnya terampas.

Ia hanya merasa betapa tiba-tiba pergelangan tangan kanannya tertotok dan menjadi seperti lumpuh, kemudian sulingnya terlepas dari genggamannya.

Dengan nekat ia melancarkan tendangannya mengenai pantat kurus Si Kakek tua yang sudah membalikkan tubuh setelah berhasil merampas suling, dan...

tubuh kakek itu terlempar keatas tinggi sekali dan tidak turun lagi!

Bu Song terheran dan memandang keatas.

Kiranya kakek itu sudah duduk diatas cabang sebatang pohon, duduk menggantungkan kedua kakinya dan kedua tangannya menimang-nimang suling emas, mengelus-elusnya dan mengintai lubang-lubangnya.

Kemudian kakek itu meniup-niup lubang suling.

Memang bisa berbunyi suling itu, akan tetapi bunyinya tidak keruan dan menyakitkan telinga.

Memang kakek aneh ini selamanya tidak pernah meniup suling.

Beberapa kali ia berusaha meniup, bahkan mengerahkan khi-kangnya akan tetapi dalam hal meniup suling, ilmu khi-kang tidak dapat menolong banyak.

Makin kuat angin memasuki lubang, makin tidak karuan bunyi suling, bahkan ketika kakek itu meniup sekerasnya, terlampau banyak tenaga angin memasuki lubang sehingga yang keluar hanya suara mendesis saja!

Akhirnya kakek itu berhenti meniup, memijit-mijit kedua pelipisnya yang merasa lelah dan berdenyut, mulutnya merengut kecewa.

"Heiii, hayo kau ajari aku meniup suling! Benda ini diperebutkan semua orang, apa sih kegunaannya kalau aku tidak pandai meniup dan melagukannya?"

Bu Song sudah dapat menguasai dirinya.

Ia mendapat kenyataan pahit betapa kesaktian kakek itu mengandalkan kepandaian silat.

Mengingat akan kesaktian kakek itu, belum tentu kalau seorang tokoh seperti itu suka melanggar janji.

Mungkin kakek ini memang benar-benar hanya ingin meminjam suling emas dan mempelajari bunyinya serta tahu rahasianya.

Mungkin kakek ini hanya tertarik karena semua orang memperebutkannya, karena benda ini adalah benda keramat pemberian seorang kakek yang dianggap manusia dewa, yaitu Bu Kek Siansu.

Bu Tek Lojin sudah sedemikian saktinya, kiranya dicari tandingnya sukar diatas dunia ini, maka untuk apakah kakek itu menginginkan suling emas?

Tentu hanya karena ingin tahu.

Maka ia lalu menjawab.

"Bu Tek Lojin adalah seorang Locianpwe yang sakti dan berkedudukan tinggi. Betulkah kali ini tidak melanggar janji, hanya akan meminjam suling dan belajar meniupnya? Kalau betul demikian, saya yang muda tentu saja akan suka sekali memberi petunjuk tentang ilmu meniup suling kepada Locianpwe."

"Ha-ha-ha, begitu baru anak baik!"

Tiba-tiba tubuh kakek itu melayang turun dan ia sudah duduk diatas batu besar sambil melambaikan tangan menyuruh Bu Song mendekat.

"Coba kau beritahu, bagaimana memegangnya, bagaimana meniupnya dan bagaimana membuka tutup lubang-lubangnya?"

Bu Song memberi petunjuk sedapatnya, bahkan ia memberi contoh membunyikan suling itu, dari nada rendah sampai nada tertinggi.

Akan tetapi dasar kakek itu sudah terlalu tua, sudah terlambat untuk belajar, apalagi mempelajari seni musik yang membutuhkan bakat!

Bukan main sukarnya.

Jari-jari tangannya canggung kaku, bibirnya sukar meniup sempurna karena terganggu kumis tebal dan ia tidak memiliki perasaan peka akan bunyi seperti perasaan seniman.

Lebih dua jam kakek itu meniup-niup sampai sepasang matanya melotot dan kedua pipinya kembung, hasilnya sia-sia belaka, yang dikeluarkan dari suling hanya suara merengek-rengek seperti kucing terinjak ekornya!

Tiba-tiba kakek itu menghentikan usahanya belajar, mendengus-dengus dan dari matanya keluar dua butir air mata yang besar-besar!

Kiranya saking marah dan jengkelnya melihat hasil kosong usahanya, kakek itu sampai mengeluarkan air mata.

"Tidak ada gunanya! Suling sialan, tidak ada gunanya. Hanya suara iblis yang keluar dari lubangnya. Untuk apa diperebutkan? Suling keparat lebih baik dihancurkan!"

Setelah berkata demikian, kakek itu menghantamkan suling itu kepada batu yang didudukinya, berulang-ulang.

Terdengar suara keras dan tampak bunga api berpijar keluar ketika suling bertemu dengan batu.

"Locianpwe, jangan...!"

Bu Song kaget dan mencegah sambil melangkah maju karena ia khawatir kalau-kalau sulingnya akan rusak.

Akan tetapi sebuah dorongan tangan kiri kakek itu mengeluarkan angin yang menghantam dadanya dan membuat Bu Song terpelanting kebelakang!

Kakek itu agaknya makin marah ketika mendapat kenyataan bahwa suling itu tidak rusak sama sekali biarpun ia pukul-pukulkan batu, bahkan batunya yang remuk-remuk dibagian yang dipukul suling.

"Locianpwe, harap jangan marah. Suara suling itu dapat dibarengi bunyi sajak, baru selaras dan nikmat didengar!"

Dalam gugupnya, Bu Song sengaja bicara terus terang akan rahasia suling.

Tangan yang sudah diangkat untuk menghantamkan suling sekuatnya pada batu itu berhenti bergerak.

Kakek itu memandangnya seperti orang terheran-heran.

"Kau tahu pula akan kitab kuno yang dibawa Ciu Gwan Liong? Apakah begitu kebetulan sehingga engkau mendapatkan kitab itu pula?"

Bu Song menggeleng kepala.

"Kitab apakah, Locianpwe? Saya hanya pernah mendengar Suhu bersyair yang katanya Suhu dengar dari Locianpwe Bu Kek Siansu dan yang ternyata menjadi timpalan bunyi suling ini."

Berubah wajah kakek itu, matanya bersinar-sinar.

"Bagaimana bunyinya? Hayo perdengarkan padaku, bagaimana bunyinya!"

"Locianpwe, syair dan bunyi suling harus dilagukan bersama, barulah dapat dinikmati perpaduannya yang luar biasa. Oleh karena hal ini membutuhkan dua orang maka biarlah Locianpwe menghafal bunyi syair, kemudian kita berdua mainkan lagu mujijat ini, Locianpwe yang membaca syair dan saya yang menyuling."

"Boleh, boleh!"

Kakek itu berkata tak sabar.

"Lekas kau perdengarkan, akan kuhafalkan!"

ADA muncul dari TIADA, betapa mungkin mencari sumber TIADA!

Mengapa cari ujung sebuah mangkok?

Mengapa cari titik awal akhir sebuah bola?

Akhirnya semua itu kosong hampa, (Lanjut ke

Jilid 32) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 32 Sesungguhnya tidak ada apa-apa!

Bu Song sengaja memilih syair terakhir dari kitab kuno itu yang telah membuat Ciu Bun girang luar biasa.

Mula-mula Bu Tek Lojin mengikuti dan meniru bunyi syair sebaris demi sebaris, kemudian setelah hafal, kakek itu berseri-seri wajahnya, sajak itu dihafal berulang-ulang dan makin lama suaranya menjadi makin nyaring!

Tiba-tiba kakek itu menubruk dan meloncat, kedua lengannya merangkul pundak Bu Song dan memeluknya!

"Anak baik!

Lekas kau tiup suling ini, lekas beri kesempatan telingaku mendengar perpaduannya...!"

Bu Song lalu duduk bersila, sambil berkata.

"Mulailah, Locianpwe, saya akan mengiringi dengan bunyi suling."

Kakek itu pun melompat berdiri diatas batu besar, membusungkan dada, menengadah kelangit lalu membaca syair itu kuat-kuat dengan suara dilagukan seperti yang dipelajarinya dari Bu Song tadi.

Lambat-lambat keluarnya suara itu, dan berirama.

Suara suling yang ditiup Bu Song mengiringi dan karena Bu Song berusaha memenangkan kakek itu dengan cara ini, maka ia mencurahkan seluruh perhatian dan perasaannya sehingga suara suling itu luar biasa sekali, menggetar-getar dan mengalun, menggores perasaan.

Mula-mula kakek itu nampak gembira, suaranya makin nyaring dan setelah habis syair itu ia baca, ia mengulanginya lagi dari permulaan, makin lama suaranya makin penuh perasaan, matanya bersinar-sinar, kulit mukanya sebentar pucat sebentar merah dan tak lama kemudian air mata bertitik-titik turun dari kedua matanya.

Suaranya mulai menggetar-getar, kemudian menjadi parau dan akhirnya ia tidak melanjutkan nyanyiannya, melainkan jatuh duduk diatas batu terisak-isak menangis, menjambak-jambak rambutnya seperti orang gila, kemudian tertawa-tawa dan menangis lagi!

Bu Song kaget sekali.

Sungguh jauh bedanya akibatnya yang menimpa diri kakek ini kalau dibandingkan dengan Ciu Bun.

Sastrawan itu menerima hikmat perpaduan suara mujijat itu dengan penuh kebahagiaan, sebaliknya kakek ini menjadi seperti orang gila.

Bu Tek Lojin masih terisak-isak, kemudian ia meloncat turun dari atas batu, berjingkrak-jingkrak dan tertawa-tawa, meloncat lagi keatas batu dan akhirnya ia terduduk dengan lemas.

Duduk bersila seperti orang bersamadhi, kedua lengannya bersilang didepan dada, mukanya menunduk dan ia tidak bergerak-gerak lagi seperti berubah menjadi arca!

Bu Song melihat semua tingkah kakek itu dengan mata terbelalak.

Pemuda ini masih duduk bersila diatas batu lain, tiga meter jauhnya dari tempat kakek itu.

tadinya ia terheran-heran dan tidak dapat menduga apa yang selanjutnya akan terjadi.

Ia tidak tahu apakah akibatnya nanti akan baik baginya atau tidak.

Namun harus ia akui bahwa perpaduan suara itu benar-benar mengandung sesuatu kemujijatan yang luar biasa.

Dia sendiri hanya merasa betapa nikmat paduan suara syair dan suling itu.

Tadinya ia girang melihat betapa kakek itu menangis dan menjambaki rambutnya, kini ia merasa kuatir karena kakek itu diam seperti berubah menjadi batu.

Dengan hati-hati ia memanggil.

"Locianpwe...!"

Kakek itu tidak menjawab.

Bu Song bukan seorang bodoh.

Seharusnya ia menggunakan kesempatan ini untuk pergi dengan aman, membawa pergi suling emas yang dicari oleh orang-orang pandai itu.

Akan tetapi, dia seorang yang memiliki dasar hati penuh welas asih (belas kasihan) kepada orang lain.

Melihat kakek itu seperti orang berduka, ia menjadi iba hati dan perlahan ia meniup lagi sulingnya, lirih namun amat merdu karena ditiup dengan penuh perasaan.

Belum habis ia meniup suling, kakek itu bergerak lalu mengangkat mukanya memandang kepada Bu Song.

Ternyata kedua matanya merah dan basah.

"Bu Song, lekas kau mainkan semua jurus Pat-jiu Kiam-hoat dengan suling itu! Jangan melawan kalau aku menotok dan memukulmu. Hanya inilah yang dapat kulakukan untuk membalas budimu yang telah membuka mata hatiku. Mulailah, Anak baik!"

Bu Song tidak tahu apa yang akan dilakukan kakek itu.

akan tetapi karena ia maklum bahwa menghadapi kakek ini ia sama sekali tidak berdaya, maka ia tidak membantah dan menyerahkan keselamatan dirinya kepada Tuhan.

Mulailah ia mainkan suling itu dengan jurus pertama dari Pat-sian Kiam-hoat.

Tiba-tiba berkelebat bayangan kakek itu yang melayang turun dari atas batu dan ketika melakukan gerak jurus pertama, Bu Song merasa betapa lambungnya tertotok.

Ia kaget namun tidak melawan dan bukan main herannya karena jurus pertama yang dilakukan dengan tusukan suling dari pinggang itu sama sekali tidak terganggu oleh totokan, malah ia merasa betapa hawa sakti ditubuhnya tersalur keluar melalui lambung yang baru saja terkena totokan sehingga jurus yang ia gerakkan itu mengandung tenaga yang jauh lebih kuat daripada biasanya.

Bu Song menjadi girang, lenyap semua sisa kekuatirannya karena ia maklum bahwa kakek ini membantunya, membantu membuka "pintu"

Dalam tubuh agar hawa sakti yang ia salurkan dari pusat dapat lancar.

Ia teringat akan cerita suhunya bahwa ilmu semacam ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali.

Penggunaan hawa sakti dalam tubuh untuk disalurkan kedalam tubuh kedalam tubuh orang lain, seperti dalam pengobatan, jika dilakukan akan membahayakan tubuh penolong itu sendiri.

Namun Bu Song tidak sempat mencegah lagi karena ia sudah bersilat menghabiskan enam belas jurus Pat-sian Kiam-hoat gubahan suhunya dan enam belas kali ia merasa ditotok dan dipukul dibagian-bagian tertentu dari tubuhnya oleh kakek itu yang melakukannya dengan amat cepat dari belakang, kanan kiri atau dari depan.

Begitu selesai mainkan Pat-sian Kiam-hoat, Bu Song menyimpan sulingnya dan cepat menengok.

Kiranya kakek itu sudah bersila lagi diatas batu, mukanya pucat seperti mayat, matanya tertutup dan sama sekali tubuhnya tidak bergerak.

Bu Song meloncat mendekati dan memanggil lirih.

"Locianpwe...!"

Kakek itu tidak menjawab.

Melihat keadaan orang yang pucat dan payah, makin yakin hati Bu Song bahwa kakek itu telah mengorbankan diri dan menurunkan ilmu yang hebat kepadanya.

Maka tanpa ragu-ragu lagi ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata.

"Locianpwe, banyak terima kasih teecu haturkan atas budi kebaikan Locianpwe!"

Kembali tidak ada jawaban.

Sampai lama Bu Song berlutut.

Karena tidak ada suara apa-apa dari kakek itu, Bu Song mengangkat muka memandang.

Hatinya khawatir.

Kakek itu duduk seperti mayat kaku.

Ia meloncat keatas batu dan mengulur tangan meraba.

Bukan main kagetnya ketika meraba dada, sama sekali tidak ada tanda-tanda kakek itu bernapas!

Juga jantung didada tidak terasa detiknya.

Bu Song meraba pergelangan tangan.

Juga tidak berdetik.

Tangan yang ditaruh di depan hidung kakek itu pun tidak merasai hembusan napas!

Kakek ini telah mati!

Karena menyangka bahwa kakek itu mati kehabisan tenaga setelah membantunya menyempurnakan gerakan dengan bantuan hawa sakti tadi, Bu Song menjadi terharu dan tak terasa lagi ia menjatuhkan diri berlutut didepan kakek itu sambil menitikkan air mata!

Kemudian ia melompat turun, mencari tempat yang baik untuk membuat lubang di tanah.

Tak jauh dari situ, sekira sepuluh meter jauhnya, terdapat sebatang pohon.

Dibawah pohon itulah Bu Song lalu menggali lubang, hanya menggunakan sebuah batu runcing dibantu tangannya dengan pengerahan tenaga dalam.

Matahari telah condong ke barat ketika akhirnya pekerjaannya selesai.

Sebuah lubang yang cukup lebar dan dalam terbuka.

Selagi ia hendak menghampiri kakek itu yang duduk bersila dan disangka mati itu melayang langsung kedalam itu dan kini duduk didalam lubang dalam keadaan bersila!

Bu Song bengong.

Lalu berlutut sambil memanggil.

"Locianpwe...!"

Hatinya girang karena jelas bahwa Bu Tek Lojin belum mati.

Kalau sudah mati, mana mungkin ada mayat bisa meloncat sehebat itu memasuki lubang?

Akan tetapi kalau masih hidup, kenapa tidak bernapas dan tidak terasa detik perjalanan darahnya, dan mengapa pula diam saja dan malah masuk sendiri kedalam lubang kuburan?

Setelah berkali-kali memanggil tanpa jawaban, tahulah Bu Song bahwa kakek itu sudah tidak mau melayaninya, maka dia lalu berlutut memberi penghormatan terakhir sambil berkata.

"Locianpwe, sekali lagi terima kasih atas budi kebaikan Locianpwe. Perkenankan teecu pergi melanjutkan perjalanan mencari Suhu."

Kemudian ia bangkit berdiri, untuk beberapa menit memandang tubuh yang seperti arca duduk bersila didalam lubang itu, kemudian ia menghela napas dan membalikkan tubuh, pergi dari tempat itu dengan langkah-langkah lebar.

Pergantian kekuasaan terjadi secara lunak.

Benar luar biasa, sungguhpun selama jaman Lima Dinasti yang setengah abad lamanya itu (907-960), kerajaan jatuh bangun tanpa ada perang saudara yang cukup serius.

Akan tetapi habisnya jaman Lima Dinasti yang diambil alih oleh Kerajaan Sung ini benar-benar merupakan peralihan kekuasaan yang paling lunak.

Hal ini adalah karena Jenderal Cao Kuang Yin menguasai sebagian terbesar bala tentara, disamping politiknya yang lunak sehingga dia sama sekali tidak membolehkan anak buahnya melakukan kekerasan dan gangguan di kota raja.

Keluarga kerajaan "musuh"

Pun tak seorang pun diusik, bahkan banyak di antara mereka diberi kedudukan sesuai dengan kepandaian mereka.

Biarpun keadaan di kota raja sendiri aman tenteram dan tidak terjadi banyak keributan dalam peralihan kekuasaan itu, namun peristiwa itu menarik perhatian suku bangsa Khitan yang sejak dulu menjadi musuh besar.

Kerajaan Khitan menduga bahwa tentu keadaan di kota raja menjadi kacau karena peralihan kekuasaan ini.

Oleh karena itulah maka bala tentara Khitan lalu menyerbu dari utara.

Juga kerajaan-kerajaan lain ingin mengambil keuntungan dari peralihan kekuasaan ini dan mereka mengadakan serangan ke perbatasan untuk memperlebar wilayah mereka, menggunakan kesempatan selagi para pemimpin pasukan di perbatasan kebingungan karena mendengar tentang pergantian kekuasaan di kota raja.

Mendengar tentang serangan-serangan dari empat penjuru ini, Kaisar Sung pertama, menjadi marah dan segera mengirim pasukan-pasukan dan utusan-utusan keperbatasan untuk membantu para pasukan lama disana sambil mengangkat pemimpin lama menjadi pemimpin baru.

Adapun yang paling diperhatikan adalah serangan dari utara, dari suku bangsa Khitan, oleh karena memang dari suku bangsa Khitan inilah datangnya bahaya yang paling besar.

Untuk menghalau musuh lama ini, Kaisar Sung Thai Cu lalu mengerahkan sebuah barisan besar, dipimpin oleh panglima-panglima pembantunya yang setia dan gagah perkasa, pandai mengatur barisan.

Selain ini, juga kaisar yang bijaksana dan pandai mempergunakan tenaga ini memanggil Kim-mo Taisu dan minta bantuan pendekar ini untuk menyertai barisan besar itu melawan pasukan-pasukan Khitan yang terkenal kuat dan memiliki panglima-panglima yang berkepandaian tinggi pula.

Kim-mo Taisu maklum bahwa hanya kaisar kerjaan baru inilah yang dapat diharapkan akan mendatangkan kemakmuran kepada rakyat, maka dengan rela hati ia mengulurkan bantuannya dan berangkatlah Kim-mo Taisu dengan barisan Kerajaan Sung yang pertama kali mengadakan ekspedisi ke utara untuk melawan musuh besar mereka, yaitu bangsa Khitan.

Selain memang suka membantu kaisar ini, juga Kim-mo Taisu memiliki urusan pribadi di utara, yaitu untuk mencari musuh lamanya, ialah Ban-pi Lo-cia si tokoh Khitan yang sakti.

Juga ingin ia bertemu kembali dengan musuh lamanya, Bayisan manusia Khitan yang curang.

Ingin ia memberi hajaran orang itu untuk kedua kalinya!

Pada masa itu, kedudukan bangsa Khitan sudah jauh, sudah melewati tembok besar yang tadinya dibangun dengan maksud mencegah masuknya musuh-musuh seperti bangsa Khitan!

Hal ini terjadi ketika Dinasti Cin (936-947) berdiri.

Kerajaan Cin hanya dapat berdiri dan merebut kekuasaan dari Kerajaan Tang muda karena bantuan barisan Khitan.

Untuk jasa ini, Kerajaan Cin memberikan wilayah ujung timur laut disebelah selatan tembok besar sampai ke kota besar Yen (Peking sekarang), juga wilayah Pegunungan Yin-san.

Wilayah yang luas dan jauh lebih subur daripada daerah kekuasaan bangsa Khitan sendiri jauh di utara.

Ketika barisan besar dari Kerajaan Sung sudah menyeberangi Pegunungan Tai-hang-san di sebelah selatan Peking, tiba-tiba muncullah pasukan-pasukan Khitan dari segala jurusan dan terjadilah perang hebat disekitar lereng pegunungan Tai-hang-san.

Perang yang berlangsung dengan seru dan baru berakhir setelah matahari menyelam disebelah barat.

Pasukan-pasukan Khitan seperti pasukan-pasukan setan melenyapkan diri dan sunyilah keadaan disekitar bekas tempat peperangan.

Mayat-mayat menggeletak bergelimpangan dan udara penuh dengan bau amisnya darah, penuh pula dengan rintihan dan keluhan mereka yang menderita luka.

Para Panglima Sung memerintahkan pasukan-pasukan dalam barisan besar untuk mundur dibalik puncak Tai-hang-san dan membuat perkemahan besar dilapangan terbuka sehingga tidak memungkinkan pihak musuh untuk melakukan penyerbuan serentak.

Bendera besar Kerajaan Sung dipasang ditengah-tengah perkemahan, dikelilingi oleh bendera-bendera para panglima yang memimpin barisan itu.

Dalam perang ini, Kim-mo Taisu tidak ikut maju karena pendekar ini melihat betapa dipihak Khitan juga tidak ada tokoh bukan tentara yang ikut perang.

Ikut sertanya dalam barisan itu adalah untuk menandingi orang-orang sakti seperti Ban-pi Lo-cia.

Kalau hanya perang biasa, pasukan lawan pasukan, tidak perlu ia bantu karena selain ia tidak mengerti tentang mengatur pasukan dan siasat perang, juga hal ini selain merendahkan kemampuan pasukan Sung, juga dapat merendahkan namanya sendiri sebagai pendekar sakti.

Malam itu para penjaga perkemahan menjaga dengan penuh kewaspadaan, akan tetapi juga diam tidak berani mengeluarkan suara ribut.

Para panglima sudah memberi perintah agar malam itu dipergunakan betul-betul oleh pasukan untuk beristirahat secukupnya agar besok menjadi segar kembali untuk menghadapi lawan.

Karena itulah maka tidak ada penjaga yang bermain kartu, tidak ada yang bersenda-gurau dan malam menjadi sunyi sekali.

Namun pada pagi harinya, para penjaga menjadi gempar ketika mereka melihat betapa bendera-bendera itu kini telah lenyap dan diatas tiang bendera yang tengah, yang paling tinggi, tampak sebuah benda kecil bergantung.

Dalam keadaan terjaga keras dan rapat, ada orang dapat menyelundup masuk kedalam perkemahan sudah merupakan hal aneh.

Akan tetapi kalau orang itu dapat mengambil semua bendera lalu meninggalkan sesuatu di puncak tiang tanpa merobohkan tiang-tiang bendera, benar-benar merupakan hal yang amat luar biasa.

Beberapa orang penjaga hendak menurunkan tiang untuk mengambil benda yang tergantung diatas, akan tetapi komandan jaga melarangnya.

"Jangan sentuh! Biar kita melapor kedalam agar panglima menyaksikan sendiri hal ini. Siap saja untuk menerima teguran, mungkin hukuman!"

Dengan muka pucat dan lesu komandan jaga lalu menghadap para panglima yang juga sudah bangun karena mendengar suara ribut-ribut diluar.

Empat orang panglima yang memimpin barisan itu berlari-lari keluar.

Semalam mereka semua dalam barisan, dari perajurit sampai panglima, tidak ada yang menanggalkan pakaian seragam dan selalu berdekatan dengan senjata.

Empat orang panglima itu masih dalam pakaian dinas, hanya muka dan rambut mereka kusut karena begitu bangun tidur mereka berlarian keluar.

Mereka berhenti diluar tenda untuk menerima pelaporan komandan jaga yang melapor dengan suara gemetar, menceritakan betapa keras dan ketat mereka melakukan penjagaan semalam, namun ternyata pagi hari itu semua bendera lenyap dan sebagai gantinya diujung tiang tengah yang paling tinggi, terdapat sebuah benda kecil tergantung diatas.

Pada saat itu, Kim-mo Taisu dengan tenang juga sudah datang ketempat itu.

Empat orang panglima itu saling pandang dengan kening berkerut, lalu memberi perintah untuk mencatat semua perajurit dan komandannya yang bertugas jaga malam itu untuk dihukum kelak kalau memang mereka bersalah dan lalai.

Setelah itu, bersama Kim-mo Taisu, mereka melangkah keluar.

Para perajurit yang tadinya ribut-ribut kini semua terdiam melihat muculnya empat orang panglima.

Keadaan sunyi dan ketika mereka melihat keatas, empat orang panglima itu menjadi pucat mukanya.

"Betapa mungkin menyelundup masuk dan melakukan perbuatan itu!"

Kata Panglima Phang tertua diantara rekan-rekannya, kemudian menoleh kepada Kim-mo Taisu sambil berkata.

"Agaknya pihak musuh mempergunakan orang sakti untuk mempermainkan kita. Kami kira hanya Taisu yang dapat menerangkan hal ini."

Diam-diam Kim-mo Taisu menarik napas panjang.

Ia suka kepada kaisar pendiri Kerajaan Sung, maka ia menyambut permintaan bantuan raja itu dengan hati terbuka.

Akan tetapi maklum pula bahwa empat orang panglima ini diam-diam didalam hati mereka memandang rendah kepadanya.

Memang hal ini pun tidaklah aneh dan ia tidak terlalu menyalahkan panglima-panglima itu, karena sesungguhnya, apakah artinya dia sebagai seorang pendekar silat dalam perang yang begitu besar?

Kepandaiannya tidak berarti banyak.

Andaikata ia mampu mengamuk dan membunuh puluhan orang lawan, akan tetapi tidak mungkin ia mengundurkan serbuan ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu orang musuh dengan kepandaian silatnya itu!

berbeda dengan panglima ini yang memiliki kepandaian ilmu perang, pandai mengatur barisan dan siasat perang.

Sesungguhnya, di tangan mereka inilah letak dasar kemenangan.

Andaikata dia disuruh memimpin seratus ribu orang perajurit dan disuruh melawan perang panglima yang pandai yang hanya mempunyai lima puluh ribu orang perajurit belum tentu dia dapat mencapai kemenangan!

Ilmunya hanya berguna untuk pertandingan perorangan, namun hampir tidak ada gunanya dalam perang antara ratusan ribu orang itu.

Akan tetapi, kalau ada peristiwa seperti pagi hari ini, barulah ilmu perorangan seperti yang ia miliki dapat dipergunakan, bahkan dibutuhkan.

Ia menjura dan berkata.

"Phang-ciangkun, permainan itu tidak ada artinya sama sekali. Anak-anak pun kalau dilatih mampu melakukannya. Biar kuturunkan benda itu dan kupasang kembali bendera-bendera tanpa menurunkan tiangnya!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakan sembarangan Kim-mo Taisu menggenggam sekepal tanah pasir itu keatas, kearah ujung tiang.

Tiang bendera itu tingginya sepuluh meter lebih dan agaknya bagi orang biasa takkan mungkin menimpuk jatuh benda yang berada ditempat setinggi itu hanya menggunakan tanah pasir.

Akan tetapi Kim-mo Taisu bukanlah orang biasa!

Begitu sinar hitam berkelebat keatas, benda yang tergantung dipuncak tiang itu pun melayang jatuh, disambut sorak sorai para perajurit yang mengagumi kehebatan Kim-mo Taisu.

Phang-ciangkun mengambil benda itu yang ternyata hanyalah surat bersampul kuning.

Ketika ia melihat huruf-huruf yang tertulis diluar sampul ia berseru heran.

"Haiii! Kiranya sebuah surat ditujukan kepada Taisu!"

Dengan hati heran akan tetapi sikapnya tenang, Kim-mo Taisu menerima sampul kuning itu dan membacanya.

Benar saja.

Huruf-huruf indah menghias sampul itu dan ditujukan kepadanya.

Ia segera mengeluarkan suratnya dan membaca.

Kiranya terisi surat tantangan dari...

Kong Lo Sengjin!

Sungguh hal yang tak tersangka-sangka!

Dia mencari-cari Kong Lo Sengjin kemana-mana, kiranya malah kakek lumpuh itu kini berada disini dan mengajukan surat tantangan kepadanya!

Tentu saja kalau kakek itu yang datang menyelundup dan melakukan hal-hal itu, bukanlah sesuatu yang aneh.

Hanya anehnya, mengapa kakek itu menurunkan semua bendera?

Bukankah itu merupakan penghinaan bagi Kerajaan Sung, padahal kakek lumpuh itu dahulu ikut pula membantu para panglima memaksa Cao Kuang Yin menjadi raja dan memberontak?

Mungkin untuk memamerkan kepandaian saja?

Saking girang hatinya akan bertemu dengan kakek yang hendak dimintai pertanggungan jawabnya tentang pembunuhan terhadap isterinya, tanpa disadarinya Kim-mo Taisu bergelak, lalu berkata.

"Harap diambilkan bendera-bendera baru, biar kupasangkan ditempatnya!"

Didalam hatinya, sama sekali tidak terkandung niatnya untuk memamerkan kepandaian, melainkan hanya untuk menandingi perbuatan Kong Lo Sengjin dan disamping itu, juga untuk membesarkan hati barisan.

Bukankah ia ditugaskan menyertai barisan itu untuk melawan pihak musuh kalau menggunakan tenaga orang sakti?

Ketika lima buah bendera itu dibawa keluar oleh petugas dan diterima Panglima Phang lalu diberikan kepadanya, Kim-mo Taisu lalu mengayun tubuhnya keatas.

Memang sepandai-pandainya manusia, tak mungkin ia mampu terbang tanpa sayap, maka loncatan Kim-mo Taisu pun tidak dapat mencapai puncak tiang yang tingginya belasan meter itu.

Namun dengan tangan menyambar tiang, ia dapat menggunakan tenaga tangannya untuk menekan tiang dan tubuhnya mencelat lagi keatas.

Dengan cara ini akhirnya tubuhnya mencapai ujung tiang, kedua tangannya memasangkan bendera Kerajaan Sung.

Jauh dibawahnya, para perajurit bertepuk-tepuk tangan memuji tiada hentinya.

Memang, apa yang dilakukan oleh Kim-mo Taisu itu adalah pertunjukan hebat yang takkan mudah dilakukan oleh orang lain.

Hanya seorang sakti yang sudah memiliki lwee-kang tinggi saja akan mampu melakukan hal ini.

Selesai mengikatkan bendera diujung tiang sehingga bendera itu berkibar tertiup angin pagi, Kim-mo Taisu menggunakan tenaga loncatan dengan menekan ujung tiang untuk meloncat ke tiang lain yang lebih rendah.

Berturut-turut ia memasangkan bendera-bendera tanda pangkat para panglima pada empat batang tiang itu dengan cara berloncatan sehingga dalam waktu singkat saja lima helai bendera itu sudah berada ditempatnya, menggantikan bendera-bendera yang hilang, berkibar megah.

Kim-mo Taisu dengan gerak layang yang amat indah dan ringan, meloncat turun dari atas tiang terakhir dan hinggap di atas tanah tanpa menimbulkan sedikit pun suara maupun debu!

Kembali sorak-sorai menyambutnya.

"Phang-ciangkun, surat ini adalah surat tantangan dari seorang musuh besar saya. Terpaksa saya harus meninggalkan Ciangkun sekalian sebentar untuk melayaninya!"

Panglima Phang mengerutkan alisnya yang tebal. Sebagai seorang panglima yang tahu akan banyak siasat perang, ia menaruh curiga.

"Maaf, Taisu, kalau Taisu tidak menyertai kami dan kalau tidak berada dalam kancah perang melawan musuh bangsa Khitan yang terkenal cerdik dan curang, agaknya tantangan untuk Taisu itu sewajarnya saja dalam dunia persilatan. Akan tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, kami merasa curiga. Jangan-jangan mereka menggunakan siasat memancing naga keluar dari sarang, disatu pihak mereka menggunakan orang-orang pandai untuk mengepung Taisu, dilain pihak mereka hendak menggunakan saat Taisu tidak berada di sini untuk melakukan penyerbuan besar-besaran!"

Kim-mo Taisu mengagguk-angguk.

"Benar sekali kecurigaan Ciangkun, dan memang agaknya begitulah. Namun, musuhku ini dahulu sama sekali bukan seorang musuh negara, bahkan sejak dahulu ia musuh orang Khitan pula. Entah mengapa kali ini ia merampasi bendera, agaknya hanya untuk memamerkan kepandaian dan menakut-nakuti kanak-kanak saja. Betapapun juga, memang dia selama ini kucari-cari, maka saya harus menerima tantangannya. Jangan Ciangkun berkhawatir. Saya ditantang untuk mendatangi puncak itu dimana dia menanti. Dari puncak saya akan dapat melihat keadaan barisan disini dan setiap waktu Ciangkun membutuhkan tenagaku, dapat Ciangkun melepas tanda panah berapi ke udara. Kalau ada tanda itu, berarti saya harus datang, dan saya pasti akan meninggalkan urusan pribadi dan akan kembali kesini secepatnya! Karena, andaikata orang-orang Khitan mengerahkan barisannya menyerbu, untuk menghadapi mereka tergantung dari keahlian Ciangkun berempat mengatur barisan. Tugas saya hanya menghadapi orang-orang macam yang semalam datang menyelundup kesini. Bukankah demikian? Nah, sekarang juga saya pergi!"

Kim-mo Taisu menjura, kemudian berkelebat dan lenyap dari situ.

Yang tampak hanya bayangannya saja berkelebat cepat sekali, bahkan ada kalanya melalui atas kepala sekumpulan perajurit yang berdiri menghadang jalan keluar!

Semua orang kagum dan untuk beberapa lamanya mereka memandang kearah puncak gunung yang berada tidak jauh dari tempat perkemahan itu.

Betapa kagum hati mereka ketika tak lama kemudian tampak bayangan kecil Kim-mo Taisu bergerak-gerak lari mendaki puncak!

"Puncak itu tidak berapa jauh, mudah saja kita undang ia kembali atau mengirim pasukan menyusul kalau kita memerlukan tenaganya,"

Kata Phang-ciangkun kepada teman-temannya.

Mereka lalu bersiap-siap menyambut musuh dan memang tidak terlalu pagi mereka berkemas dan bersiap karena tak lama kemudian terdengar suara derap kaki bercampur sorak-sorai dan suara terompet dan tambur orang-orang Khitan!

Cepat Phang-ciangkun dan tiga orang temannya naik ketempat tinggi untuk mempelajari keadaan, kemudian setelah musuh tampak muncul dari depan dan dari kiri.

Phang-ciangkun dahulu pernah menjadi pembantu Jenderal Kam Si Ek yang amat pandai, dan dia sudah mempunyai banyak pengalaman pula menghadapi barisan Khitan sehingga banyak ia mengenal siasat-siasat barisan Khitan yang mengandalkan kekuatan atau siasat perang gerilya.

Maka Phang-ciangkun tidak hanya mencurahkan perhatian kearah utara dan barat (depan dan kiri), melainkah menaruh perhatian dan penjagaan pula kepada jurusan lain mencegah dan mematahkan serangan gelap.

Dengan ilmu lari cepatnya, Kim-mo Taisu mendaki puncak Gunung Tai-hangsan.

Setelah tiba dilereng puncak, tampaklah matahari rendah di timur, bulat dan besar berwarna merah seperti bola api yang indah sekali.

Sejenak Kim-mo Taisu menunda langkah kakinya dan memandang penuh kekaguman.

Kemudian ia memutar tubuh dan melihat kebawah.

Tampak barisan Sung yang amat besar jumlahnya itu mulai bergerak dan juga amat megah dan indah tampaknya.

Barisan itu seperti semut, terpisah-pisah dan terbagi menjadi lima bagian, ke mpat penjuru dan yang kelima tinggal ditengah.

Barisan darat, barisan kuda, barisan panah, barisan tombak, dan barisan golok panjang serta golok pendek tampak jelas dari atas karena barisan-barisan itu memakai pakaian seragam yang berbeda-beda.

Bendera-bendera berkibar dan suara penyambutan perang dari bawah yang amat gemuruh itu dari tempat tinggi ini hanya terdengar gemanya saja, seperti sekumpulan tawon merah.

Jauh di sebelah utara, tampak samar-samar pasukan-pasukan Khitan, ada pula yang bergerak dari balik puncak.

Dibandingkan dengan barisan Sung, pasukan-pasukan Khitan itu tidak berarti jumlahnya dan legalah hati Kim-mo Taisu.

Ia percaya akan kemampuan para komandan pasukan Sung, akan keberanian perajurit-perajuritnya.

Dengan hati lega Kim-mo Taisu melanjutkan perjalanannya ke puncak.

Sedikitpun ia tidak merasa ragu-ragu atau takut-takut, sesungguhpun ia dapat menduga bahwa Kong Lo Sengjin yang berwatak aneh dan curang itu mungkin sekali membawa pembantu-pembantu.

Tiba-tiba ia terheran ketika dari balik sebatang pohon muncul seorang laki-laki yang bersenandung seorang diri, tangan kanannya memegang sebuah mouw-pit (pena bulu) hitam, tangan kirinya memegang mouw-pit putih.

Kiranya ia muncul bukan untuk menghadangnya, karena ia mundur-mundur, memandang kearah batang pohon yang besar itu, maju lagi dan tangan kirinya bergerak kedepan.

"Rettt!"

Mouw-pit putih telah membuat coretan pendek pada sehelai kertas putih yang dibentangkan dibatang pohon.

Kemudian ia mundur lagi sampai tiga meter lebih, matanya menyipit, menatap kedepan, kepalanya miring-miring, lalu ia maju lagi menggerakkan mouw-pit hitam ditangan kanan.

"Rettt!"

Lalu ia mundur lagi.

Mulutnya yang tadinya bersenandung tidak jelas apa maksudnya, kini bernyanyi, suaranya serak dan suara nyanyian itu tidak enak didengar.

Biar iblis kalau berhati emas, bukan jahat namanya!

Biar raja kalau berwatak srigala, dia melebihi iblis!

Biar srigala kalau banyak dan mengandalkan pengeroyokan, seekor harimau pun bisa mengalami bencana!

Karena itu lebih baik lari menjauhkan diri!

Kim-mo Taisu yang sedang menghadapi urusan penting, tadinya tidak ingin menunda perjalanannya.

Akan tetapi mendengar nyanyian ini, terutama baris kalimat pertama dan kedua, dia menjadi tertarik.

Dia dijuluki Kim-mo Taisu.

Guru Besar Iblis Berhati Emas!

Sedangkan Kong Lo Sengjin adalah Sin-jiu Couw Pa Ong, seorang raja muda!

Jelas bahwa sajak yang dinyanyikan itu bukan hanya kebetulan saja.

Apalagi disebut-sebut tentang srigala-srigala yang hendak mengeroyok, maka sang harimau lebih baik pergi jauh.

Tak salah lagi!

Orang aneh itu bernyanyi dengan kata-kata memberi peringatan kepadanya agar jangan melayani tantangan Couw Pa Ong yang akan mengeroyoknya!

Ketika Kim-mo Taisu mendekat, tampaknya olehnya bahwa laki-laki yang usianya lima puluh tahun lebih, agak pendek dan matanya lebar itu sedang melukis.

Ia memandang kearah kertas yang dibentangkan dan menempel batang pohon dan...

hampir saja Kim-mo Taisu berseru saking kagumnya.

Dia sendiri adalah seorang sastrawan, tentu saja mengenal seni lukis, bahkan sedikit banyak pandai juga melukis.

Bukankah menulis huruf sama dengan seni lukis pula?

Apa yang dilihatnya diatas kertas itu benar-benar sebuah lukisan yang mengagumkan.

Coretan-coretannya kuat sekali, kuat dan hidup.

Gambar itu melukiskan empat ekor serigala sedang berkelahi mengeroyok seekor harimau.

Biarpun lukisan itu hanya hitam putih, namun hidup sekali.

Mata empat ekor srigala itu seolah-olah hidup dan menyinarkan kelicikan dan kecurangan disamping kebuasan.

Mulut mereka seolah-olah tampak hidup mengeluarkan uap amis, dengan air liur menetes-netes, lidah terjulur keluar, gigi runcing-runcing penuh ancaman.

Juga harimau itu amat indah, membayangkan kegagahan dan keberanian, akan tetapi keadaannya payah dikeroyok empat ekor srigala yang buas dan berkelahi dengan cara yang curang itu, selalu mengarah kaki belakang sang harimau.

"Lukisanmu indah sekali, Sobat!"

Kim-mo Taisu memuji.

Orang itu kelihatan kaget bukan main, kedua mouw-pitnya sampai melayang keatas dan sekali tangan kanannya bergerak ia sudah mencabut sebatang pedang yang bersinar terang kekuningan, tubuhnya melompat kebelakang membalikkan tubuh dan siap dengan pedang didepan dada, ketika sepasang mouw-pit hitam putih itu meluncur turun, tanpa mengalihkan pandang mata kearah Kim-mo Taisu dengan tangan kirinya bergerak kedepan dan tahu-tahu kedua mouw-pit itu sudah terjepit diantara tangan kirinya!

Mereka saling pandang.

Kim-mo Taisu maklum bahwa pelukis aneh ini ternyata memiliki kepandaian yang tinggi pula, maka ia makin kagum dan cepat-cepat ia mengangkat kedua tangan kedepan dada, memberi hormat dan menjura.

"Maafkan saya kalau saya mengganggu Saudara yang sedang enak-enak melukis. Akan tetapi melihat lukisan yang hebat luar biasa ini, dan mendengan nyanyian Saudara, tak mungkin saya lewat begitu saja. Kim-mo Taisu bukanlah seorang yang tidak tahu akan maksud baik orang lain, juga tidak buta akan kepandaian melukis yang begini mengagumkan!"

Tiba-tiba orang itu tertawa dan mukanya berubah lucu sekali.

Apalagi ketika ia memasang kuda-kuda tadi, pinggulnya lenggak-lenggok seperti orang sedang ber-agogo!

Cepat-cepat ia menyimpan pedangnya, lalu balas memberi hormat sambil pecuca-pecucu (mulut digerak-gerakkan meruncing).

"Wah-wah-wah! Akulah yang layak ditampar! Aku yang layak minta maaf karena seperti orang buta saja tidak melihat timbulnya matahari pagi yang demikian indah merajai angkasa raya! Tidak mengenal Kim-mo Taisu yang tersohor sebagai seorang pendekar sakti, terutama baik budi pekertinya. Maaf, maaf!"

Ia menghormat lagi lalu berkata.

"Aku yang bodoh bernama Gan Siang Kok, akan tetapi anak-anak kecil yang suka melihat gambar-gambarku menyebutku Gan-lopek. Heh-heh-heh, memang aku sudah tua tentu saja suka disebut lopek (paman tua)! Mau pura-pura muda saja, rambut sudah beruban gigi sudah tidak lengkap, Heh-heh, hati sih tinggal muda, tapi rambut dan gigi ini tak dapat disangkal ketuaannya. Ha-ha-ha!"

Kim-mo Taisu tersenyum.

Orang ini biarpun aneh, wataknya terbuka dan mempunyai pandangan luas dan selalu gembira.

Agaknya memandang dunia dengan hati terbuka dan dari sudut yang mengandung kelucuan.

Memang kalau orang berpemandangan awas dan berhati terbuka, didunia ini banyak sekali terdapat hal-hal yang membuat hati menjadi geli, seperti melihat badut-badut berlagak diatas panggung.

Melihat betapa didalam kehidupan manusia sehari-hari, selalu manusia tunduk kepada kepalsuan yang disebut kebiasaan umum!

Kekeliruan-kekeliruan dan penyelewengan-penyelewengan yang tidak dianggap salah lagi karena orang banyak, bahkan semua orang melakukannya!

Kepalsuan yang kadang-kadang disebut kesopanan, disebut kebiasaan umum, disebut peraturan dan bahkan disebut hukum!

Alangkah lucunya manusia-manusia yang berselimut segala yang baik-baik itu membiarkan diri berlagak seperti badut-badut berkedok kepalsuan!

Tentu saja hal ini tidak akan tampak oleh manusia sesama badut.

Hanya orang yang sudah sadar saja yang akan dapat menjadi penonton.

Orang-orang yang masih mabok dan belum sadar, mabok keduniaan, akan terseret dan ikut main diatas panggung menjadi badut-badut dan bahkan saling berlomba memperebutkan kejuaraan badut!

"Kalau begitu, biarpun selisih usia kita tidaklah terlalu banyak, aku yang lebih muda akan menyebutmu Gan-lopek juga."

"Heh-heh-heh, itu yang paling baik. Merupakan kehormatan besar sekali mempunyai keponakan seorang berwatak pendeta dan bertubuh pendekar yang harus disebut Taisu (guru besar) oleh Paman tuanya. Ha-ha!"

"Gan-lopek, harap sudahi main-main ini. Tidak perlu kiranya kau berpura-pura lagi bahwa yang kau nyanyikan dan yang kau lukis ini kebetulan saja menyangkut diriku. Terima kasih atas peringatanmu bahwa diatas sana menanti musuh-musuhku yang berjumlah banyak hendak mengeroyokku. Akan tetapi agaknya kau lupa bahwa seekor harimau tidak pernah mengenal takut. Nah, aku pun tidak takut karena aku berbekal kebenaran. Sekali lagi terima kasih dan selamat berpisah, Gan-lopek!"

Setelah memberi hormat lagi, Kim-mo Taisu melanjutkan perjalanannya. Gan-lopek melanjutkan corat-coretnya, mulutnya mengomel.

"Cari mati...., cari mati...!"

Ketika kemudian Kim-mo Taisu menengok, ia melihat betapa Gan-lopek yang aneh dan lucu itu telah mencoret-coret gambarnya sehingga gambar yang indah itu berubah menjadi hitam semua, seperti seorang kanak-kanak yang ngambul dan sengaja merusak lukisan itu untuk melampiaskan kekecewaan dan kemendongkolan.

Kim-mo Taisu tersenyum, mengangkat kedua pundak, lalu melanjutkan perjalanannya mendaki puncak.

Diatas puncak Tai-hang-san itu terdapat bagian yang rata dan ditumbuhi rumput hijau, cukup luas dan pemandangan dari puncak itu ke bawah amatlah indahnya.

Kim-mo Taisu melihat kebawah dan tampak pemandangan luar biasa karena kini "semut-semut"

Dibawah itu sudah mulai berperang!

Tiba-tiba dari belakang pohon-pohon disekitar lapangan itu muncul empat orang yang bergerak cepat menghampirinya.

Paling depan ia mengenal Kong Lo Sengjin yang "berjalan"

Diatas kedua tongkatnya.

Akan tetapi alangkah kaget, heran dan juga girangnya ketika melihat bahwa orang kedua adalah Ban-pi Lo-cia!

Tanpa ia cari-cari kini musuh-musuh besarnya telah berkumpul sehingga mudah baginya untuk segera menyelesaikan perhitungan lama!

Dasar seorang yang berwatak pendekar, Kim-mo Taisu hanya teringat akan keuntungan perjumpaan ini, sama sekali tidak ingat bahwa Kong Lo Sengjin dan Ban-pi Lo-cia menjadi satu merupakan lawan yang bukan main beratnya, belum lagi ditambah dua orang yang berada dibelakang mereka.

Adapun dua orang itu juga bukan orang sembarangan, karena yang satu adalah Pouw-kai-ong, Si Raja Pengemis yang jahat dan licik, memiliki kepandaian yang aneh sekali, sedangkan orang kedua adalah Lauw Kiat, murid Ban-pi Lo-cia yang tentu saja tinggi ilmunya dan semenjak dahulu mengeroyoknya tentu kini telah bertambah ilmunya.

Akan tetapi Kim-mo Taisu sama sekali tidak merasa gentar.

Memang harus ia akui bahwa bersatunya Kong Lo Sengjin dengan Ban-pi Lo-cia, merupakan hal yang tidak ia sangka-sangka dan memang kedua orang itu ditambah Pouw-kai-ong dan Lauw Kiat merupakan lawan yang berat sekali, jauh lebih berat ketika ia dikeroyok oleh Ban-pi Lo-cia, Pouw-kai-ong, dan Ma Thai Kun dahulu.

Namun selama belasan tahun ini pun ilmunya sendiri sudah mendapat kemajuan pesat.

Dahulu ia terhitung masih muda, dan kini ia sudah dapat mematangkan ilmu kepandaiannya, sedangkan dua orang lawannya yang paling pandai, Ban-pi Lo-cia dan Kong Lo Sengjin, sudah terlalu tua sekarang dan karenanya tentu berkurang tenaganya.

"Hemm, siapa duga Sin-jiu Couw Pa Ong yang dahulu terkenal sebagai seorang patriot sejati, seorang pembela tanah air dan negara sampai mengorbankan kedua kakinya, kini menyeberang kepada musuh dan tidak malu dalam usia tua merubah diri menjadi seorang penghianat yang serendah-rendahnya karena bersekutu dengan orang Khitan!"

Kim-mo Taisu menegur karena memang hatinya merasa tertusuk dan marah bukan main menyaksikan paman mendiang isterinya itu bersekutu dengan Ban-pi Lo-cia.

"Berlaku curang, menggunakan orang Hui-to-pang membunuh keponakannya sendiri dan melemparkan fitnah kepada orang lain adalah biasa, akan tetapi menghianati negara adalah kejahatan yang rendah, yang akan mendatangkan noda yang tak terhapuskan selama tujuh keturunan!"

Marahlah Kong Lo Sengjin mendengar ini.

Marah luar biasa sehingga mukanya menjadi pucat, alisnya berdiri dan rambutnya yang sudah awut-awutan itu seketika seperti menjadi kaku.

Ia melangkah lebar dengan tongkatnya mendekati Kim-mo Taisu dan memaki dengan bentakan keras.

"Tutup mulutmu! Kwee Seng, kau anak kecil tahu apa tentang perjuangan? Ketika kau belum terlahir aku sudah berjuang membela negara. Sekarang kau berani memberi kuliah tentang perjuangan kepadaku? Keparat!"

Kim-mo Taisu tersenyum mengejek "Justeru karena kau sudah terlalu tua maka engkau menjadi pikun.

Sudah layak kalau orang dinilai dari perbuatannya paling akhir.

Seribu perbuatan baik akan terhapus oleh sebuah perbuatan buruk.

Seribu perbuatan buruk dapat saja dicuci oleh sebuah perbuatan baik terakhir.

Kong Lo Sengjin, kau sudah tua, mendekati saat kematian, mengapa tidak menyiapkan bekal yang baik malah menumpuk dosa dan kecemaran?

Mengapa tidak mencari jalan terang malah tersesat dalam kegelapan?

Mengapa seorang patriot berubah menjadi penghianat?"

"Setan neraka!"

Kong Lo Sengjin semakin marah.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert