Eps 14 Suling Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Suling Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Suling Emas - Kho Ping Hoo.
"Aku sudah mengorbankan seluruh keluargaku untuk negara, bahkan mengorbankan kedua kakiku! Aku memang menyuruh bunuh isterimu untuk membangkitkan semangatmu agar kau mengikuti jejakku! Kau yang baru berkorban isteri saja sudah ribut dan hendak membalasku. Jangan kira aku takut. Kini kau menuduhku yang bukan-bukan. Kau anak kecil tahu apa? Semenjak Kerajaan Tang runtuh, selama setengah abad rakyat kita ditindas oleh raja-raja lalim. Mula-mula mereka baik, akan tetapi akhirnya sama saja. Keadaan begini harus diakhiri dan bangsa Khitan yang jaya sajalah yang akan dapat membantu merubah keadaan. Dengan bantuan bangsa Khitan, aku akan mendirikan kembali Kerajaan Tang yang megah! Kau, Kim-mo Taisu, kalau kau mau membantu kami, aku dan sahabat-sahabatku ini akan melupakan segala urusan diantara kita yang sudah lewat, dan mari kita bangun kembali Kerajaan Tang dengan bantuan sahabat-sahabat Khitan. Kelak kau akan menjadi raja muda, karena kau masih terhitung mantu keponakanku!"
Kim-mo Taisu memandang dengan mata terbelalak, kemudian bertanya, suaranya perlahan dan lirih.
"Dan kau...kau menjadi kaisarnya?"
"Siapa lagi? Akulah raja muda Kerajaan Tang yang terakhir!"
Jawab Kong Lo Sengjin sambil membusungkan dada.
Celaka, pikir Kim-mo Taisu.
Kakek ini sudah menjadi gila!
Menjadi Kaisar Kerajaan Tang yang dibangun dengan bantuan bangsa Khitan?
Sama saja dengan memasukkan barisan srigala kedalam rumah.
Apakah kalau seandainya bangsa Khitan berhasil, mereka mau menyerahkan kekuasaan kepada Kong Lo Sengjin?
Kepada seorang kakek lumpuh?
Membayangkan betapa kerajaan dikuasai oleh seorang kaisar lumpuh, Kim-mo Taisu menjadi geli hatinya dan tak tertahankan lagi ia tertawa tergelak.
"Ha-ha-ha! Kong Lo Sengjin, kiranya engkau sudah menjadi gila! Tak usah kau melamunkan yang bukan-bukan karena sekarang juga kau harus menebus kematian isteriku dengan nyawamu! Adapun teman-temanmu ini, terutama sekali Ban-pi Lo-cia, juga takkan lepas dari tanganku karena dia harus menebus kematian adik isteriku. Kong Lo Sengjin, tahukah engkau bahwa adik kembar Gin Lin yang bernama Khu Kim Lin tewas karena kekejian dan kebiadaban manusia Khitan ini?"
"Tutup mulut! Urusan pribadi tidak penting, yang penting urusan negara!"
Kong Lo Sengjin sudah menjadi marah sekali dan menerjang Kim-mo Taisu dengan kedua tongkatnya yang bergerak-gerak bergantian secara dahsyat.
Tentu saja kakek yang berubah wataknya ini tidak peduli betapa keponakannya mati karena Ban-pi Lo-cia, karena dia sendiripun tega menyuruh membunuh keponakannnya, isteri Kim-mo Taisu, hanya untuk kepentingan cita-citanya.
Kim-mo Taisu yang kini sudah siap untuk bertanding, cepat mengelak dengan lompatan tinggi kekanan.
Ketika kakinya kembali menyentuh bumi, tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang, tangan kirinya memegang sebuah kipas.
Memang semenjak ia mengambil keputusan untuk mencari musuh-musuh besarnya yang terdiri dari orang-orang sakti, dan mengingat akan pengalamannya ketika ia dikeroyok tanpa memegang senjata.
Kim-mo Taisu sudah mempersiapkan diri dengan sepasang senjatanya yang lengkap yaitu pedang dan kipas.
Begitu lawannya mendesak maju, sekaligus Kim-mo Taisu menggerakkan pedang dan kipas, pedangnya mainkan Pat-sian Kiam-hoat dan kipasnya mainkan Lo-hai San-hoat yang merupakan pasangan luar biasa dan hebat.
Betapapun saktinya Kong Lo Sengjin menghadapi serbuan sepasang senjata aneh yang mengeluarkan angin pukulah dahsyat ini, kakek itu terhuyung ke belakang.
Akan tetapi pada saat itu, Ban-pi Lo-cia sudah menerjang maju dengan cambuk hitamnya sambil tertawa.
"Ha-ha-ha, Kim-mo Taisu, sekali ini kau takkan dapat lolos dari cambukku!"
Betapa kaget hati kakek Khitan raksasa ini ketika ujung cambuknya menyambar dan dekat dengan tubuh lawan, ujung cambuk itu terpental kembali seakan-akan ada tenaga luar biasa yang menolaknya.
Kiranya kebutan kipas ditangan kiri Kim-mo Taisu telah berhasil mendorong kembali ujung cambuk itu.
Dari gerakan ini saja dapat dibayangkan betapa hebat tenaga sin-kang Kim-mo Taisu dan diam-diam Ban-pi Lo-cia merasa khawatir.
Ia maklum bahwa selama belasan tahun ini, Kim-mo Taisu telah mendapat kemajuan pesat sekali dan dalam hal tenaga dalam saja ia sudah tidak dapat menandingi lawannya!
Biarpun begitu, kakek raksasa ini tidak takut, apalagi pada saat itu, Pouw-kai-ong dan Lauw Kiat sudah menyerbu maju untuk membantu.
Yang hebat dan tak tersangka-sangka oleh Kim-mo Taisu adalah Pouw-kai-ong.
Begitu Raja Pengemis ini bergerak menggunakan sebatang tongkat pengemis, terdengar angin menderu dan serangannya berbahaya sekali.
Kiranya Raja Pengemis yang sebaya dengannya itu, juga telah memperoleh kemajuan hebat.
Hanya Lauw Kiat murid Ban-pi Lo-cia sajalah yang merupakan lawan paling lemah diantara empat orang ini.
Namun pengeroyokan mereka cukup berbahaya dan membuat Kim-mo Taisu harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya.
Pertandingan berlangsung dengan amat hebatnya.
Betapapun dia dikurung dan tidak diberi kesempatan oleh empat orang pengeroyoknya, namun Kim-mo Taisu kadang-kadang menggunakan kesempatan untuk mengerling kebawah puncak, untuk melihat kalau-kalau ia dibutuhkan oleh panglima bala tentara Sung.
Dibawah puncak juga terjadi perang hebat antara pasukan-pasukan Khitan melawan bala tentara Sung.
Terjadilah penyembelihan manusia besar-besaran oleh kedua fihak.
Penyembelihan dan pembuhuhan kejam tanpa sebab-sebab pribadi, hanya untuk memenuhi kehendak beberapa gelintir manusia yang ingin melihat cita-citanya terlaksana!
Bunuh-membunuh, yang kalah roboh dan harus mati, yang menang tertawa dan hidup.
Seolah-olah yang menang lupa bahwasannya mereka pun hanya menang untuk sementara saja, menang untuk waktu yang tidak lama, karena maut tentu akan datang menjemput nyawa mereka untuk menyusul nyawa mereka yang kalah!
Pedang dan golok yang memang haus darah, menusuk membacok mencincang hancur tubuh lawan yang kalah, senang hati menyiksa yang kalah.
Seolah-olah mereka ini lupa bahwasanya sebelum maut kelak mencabut nyawa mereka, akan tiba masanya mereka mengalami suka dan derita sebelum mati, mungkin jauh lebih mengerikan dan lebih sengsara daripada penderitaan mereka yang dicincang dalam perang.
Lupa bahwa siksaan dalam bentuk penyakit sebelum mati kadang kala amat mengerikan dan sengsara.
Dalam mengejar hasrat dan nafsu, manusia lupa bahwa tidak ada yang menang atau kalah dalam kehidupan manusia.
Yang menang mutlak dan abadi hanya Tuhan.
Karena itu, bahagialah mereka yang mengabdikan diri sebagai hamba Tuhan, sebagai perajurit Tuhan yang bersenjatakan kasih, yang hanya mengharapkan damai dan tenteram di dunia, tidak ada perang, tidak ada bunuh membunuh, tidak ada benci, tidak ada dendam.
Yang ada hanya kasih sayang sesama hidup, bergembira melihat orang lain bersenang, prihatin dan mengulurkan tangan menolong melihat orang lain bersusah.
Kalau hidup antar manusia sudah seperti itu, hidup antar negara tentu menjadi demikian pula.
Tidak ada bentrok politik, tiada perang agama, tiada perbedaan diantara bangsa, penuh kasih, penuh toleransi.
Amboi, alangkah nikmat hidup di dunia dalam keadaan seperti itu.
Kim-mo Taisu benar-benar seorang pendekar sakti.
Empat orang lawannya adalah orang-orang luar biasa, ahli-ahli silat yang sudah mencapai tingkat tinggi.
Bahkan yang dua orang, yaitu Kong Lo Sengjin dan Ban-pi Lo-cia adalah dua orang sakti yang merupakan tokoh-tokoh besar didunia persilatan.
Namun, sampai sejam lebih mereka bertempur, belum juga empat orang itu dapat merobohkan Kim-mo Taisu.
Betapapun juga, harus diakui bahwa keadaan Kim-mo Taisu amat berbahaya.
Selain empat orang itu lihai juga mereka, terutama Ban-pi Lo-cia dan Kong-lo Sengjin, bertanding penuh semangat dan kebulatan tekad.
Agaknya dua orang kakek itu maklum bahwa kali ini harus ada keputusan terakhir, mempertaruhkan nyawa untuk menang atau kalah.
Hidup atau mati!
Karena kenekatan inilah maka Kim-mo Taisu mulai terdesak.
Ia belum mampu melukai seorang diantara empat orang pengeroyoknya yang dapat bekerja sama amat baik dan rapi, saling melindungi dan saling menjaga.
Agaknya Lauw Kiat mulai hilang sabar.
Ia bersuit keras dan dari dalam hutan di puncak gunung muncullah dua belas orang Khitan yang bertubuh tinggi besar.
Mereka datang membawa sebuah jala ikan.
Aneh sekali mengapa sebuah jala ikan dibawa oleh dua belas orang.
Sebetulnya jala itu bukan sembarang jala, melainkan sebuah alat untuk menangkap orang sakti.
Jala ini terbuat daripada bahan yang kuat sekali, tidak putus oleh sabetan senjata tajam, dan di sebelah dalamnya terdapat banyak kaitan-kaitan berbentuk pancing sehingga sekali seorang tertutup jala, betapapun saktinya, akan sukar baginya untuk lolos karena makin keras ia bergerak memberontak akan makin banyak pula kaitan-kaitan kecil berbentuk pancing manancap di tubuhnya!
"Bantu kami tangkap dia!"
Seru Lauw Kiat dalam bahasa Khitan.
Akan tetapi selagi dua belas orang itu mempersiapkan jala dan mengatur kedudukan mereka yang dipersulit oleh adanya pertandingan yang sedemikian cepat gerakannya, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan.
Begitu tiba di situ, bayangan itu tertawa-tawa dan menyerang dua belas orang tinggi besar itu secara kalang-kabut.
Dari sudut matanya Kim-mo Taisu melihat bahwa yang datang menyerang dua belas orang penebar jala itu bukan lain adalah Gan-lopek si pelukis tadi!
Benar saja dugaan Kim-mo Taisu ketika bertemu dengan kakek pelukis ini tadi.
Tidak hanya pandai melukis dan melawak, Gan-lopek ini ternyata lihai pula ilmu silatnya.
Setidaknya terlalu lihai untuk dua belas orang tinggi besar yang hanya pandai bermain dengan jala itu.
Mereka itu adalah orang-orang Khitan yang biasa menjala ikan, biasa pula mereka menangkap anjing laut dengan jala.
Tentang ilmu silat, mereka hanya tahu sedikit-sedikit, walaupun bertenaga besar.
Karena penyerbuan Gan-lopek ini tak tersangka-sangka, dua belas orang itu tidak sempat mempergunakan jala mereka, maka mereka mencabut golok besar dan menerjang kakek yang tertawa-tawa itu.
Kiranya Gan-lopek hanya melayani mereka dengan sepasang mouw-pitnya.
Pedangnya masih tergantung dipinggang, sama sekali tidak ia pergunakan.
Akan tetapi sepasang mouw-pitnya hebat.
Ketika tubuhnya berkelebatan dengan pinggul megal-megol seperti orang menari agogo, kedua tangannya bergerak cepat, terdengar teriakan-teriakan marah.
Sebentar saja enam orang tinggi besar sudah tidak bisa berkelahi lagi karena mereka menggunakan kedua tangan mereka yang menjadi gelap karena dicoret-coret oleh sepasang mouw-pit sehingga muka mereka itu coreng-moreng dengan warna hitam dan putih sedangkan mata mereka penuh tinta!
Kemudian mereka roboh seorang demi seorang tertotok gagang mouw-pit.
Sayang Gan-lopek orangnya suka bergurau.
Kalau saja ia cepat-cepat merobohkan dua belas orang itu tanpa bergurau seperti itu, agaknya ia masih akan sempat membantu Kim-mo Taisu yang terdesak hebat.
Ketika Gan-lopek sedang enak-enaknya membabati roboh dua belas orang tinggi besar itu seperti orang membabat rumput saja, tiba-tiba ia merasa angin menyambar hebat dan dahsyat dari belakangnya, didahului suara Kim-mo Taisu.
"Gan-lopek, awas!"
Gan-lopek terkejut, cepat menggerakkan kedua tangan kebelakang, menangkis dengan sepasang mouw-pitnya.
Akan tetapi terdengar suara keras, sepasang mouw-pitnya patah dan pundak kanannya kena hantam ujung cambuk di tangan Ban-pi Lo-cia yang telah menyerang Gan-lopek ketika melihat Gan-lopek merobohkan dua belas orang tukang jala.
"Aduuhh...!"
Gan-lopek roboh terguling dan terus ia menggulingkan tubuhnya untuk menghindari serangan susulan.
Sambil bergulingan Gan-lopek muntahkan darah segar, tanda bahwa hantaman pada pundaknya tadi telah mengakibatkan luka berat disebelah dalam tubuhnya.
Akan tetapi cambuk hitam itu bagaikan tangan maut terus mengejarnya untuk memberi pukulan maut terakhir.
Melihat keadaan ini, Kim-mo Taisu berseru keras, pedangnya bergerak menjadi sinar panjang ke depan, membuat para pengeroyoknya kaget dan mundur.
Kesempatan ini ia pergunakan untuk menggerakkan tubuhnya, meloncat dan melayang kearah Ban-pi Lo-cia sambil mengirim tusukan dengan pedang ke arah punggung kakek raksasa itu.
Ban-pi Lo-cia tengah mendesak Gan-lopek yang bergulingan.
Mendengar angin serangan dari belakang, raksasa Khitan itu cepat membalikkan tubuh sambil mengayun Lui-kong-pian, yaitu cambuk hitamnya yang ampuh itu.
Kim-mo Taisu sudah menduga akah hal ini, cepat menggerakkan kipasnya ketika kakinya sudah turun diatas tanah sambil mengerahkan sin-kang, mencipta tenaga melekat.
Begitu bertemu kipas, cambuk Lui-kong-pian itu tak dapat terlepas dari kipas dan pada saat itu pedang Kim-mo Taisu datang menusuk dada.
Ban-pi Lo-cia cepat mengerahkan tenaga Hek-see-ciang ditangan kirinya, menghantam kearah lambung Kim-mo Taisu tanpa mempedulikan tusukan pedang.
Dalam keadaan berbahaya itu, kakek raksasa ini agaknya ingin mengadu nyawa, mengajak mati bersama.
Namun Kim-mo Taisu tidak sudi menerima ajakan ini, pedangnya yang menusuk otomatis bergerak membabat kebawah.
"Crakkk!""
Buntunglah lengan kiri Ban-pi Lo-cia sebatas bawah siku.
Darah menyemprot akan tetapi sedikitpun tidak terdengan keluhan Ban-pi Lo-cia, bahkan kakek itu tertawa bergelak dan cambuknya yang kini sudah terlepas, menyambar pula.
Kim-mo Taisu melihat sambaran cambuk ditambah serangan dari belakang tentu dari seorang diantara para pengeroyok, cepat merebahkan diri kebawah, bergulingan dan melihat kesempatan baik, ia meloncat keatas dan mengerjakan pedangnya yang tak dapat dielakkan lagi oleh Ban-pi Lo-cia yang sudah terhuyung-huyung.
Pedang menancap diperutnya yang gendut.
Kim-mo Taisu menyontek pedang keatas lalu meloncat sambil mencabut pedang.
Ban-pi Lo-cia makin keras tertawa bergelak, akan tetapi kini ia tertawa sambil memandang ususnya yang keluar dari lubang besar diperut, dipegangnya usus itu dengan kedua tangannya.
Akan tetapi ia terhuyung lalu roboh berkelojotan.
Hasil menewaskan seorang musuh besar ini bukan didapat dengan mudah begitu saja oleh Kim-mo Taisu.
Tanpa pencurahan tenaga dan perhatian yang menyeluruh dalam serangan ini, tidak mungkin ia akan mampu merobohkan seorang sakti seperti Ban-pi Lo-cia.
Dan karena pencurahan perhatian yang menyeluruh inilah, maka Kim-mo Taisu menebus dengan pengorbanan dirinya.
Ketika Kim-mo Taisu bergulingan kebawah tadi, dari belakang telah menyambar serangan hebat yang datang dari pukulan tongkat Pouw-kai-ong.
Dengan gerakan berguling ia berhasil menghindarkan ancaman tongkat Pouw-kai-ong, bahkan berhasil menusuk dan menewaskan Ban-pi Lo-cia.
Namun selagi ia menusuk dan menyontekkan pedangnya ke atas lalu dicabut dan siap meloncat mundur, tiba-tiba datang pukulan yang hebat dari arah kiri sedangkan dari arah kanannya menyambar tongkat Pouw-kai-ong, dari belakang juga ia ditusuk oleh tongkat ditangan Lauw Kiat, murid Ban-pi Lo-cia yang marah sekali melihat suhunya tewas.
Pada saat itu, Kim-mo Taisu baru saja meloncat, kedudukan kedua kakinya masih belum menginjak tanah dengan kuat.
Terpaksa ia menggerakkan tubuh miring sehingga ia dapat menangkis tongkat Lauw Kiat denga pedang dan menyampok tongkat Pouw-kai-ong dengan kipas.
Maksudnya hendak melanjutkan tangkisan pedangnya itu terus kekanan membabat pukulan yang anginnya dahsyat dan membuntungkan lengan Kong Lo Sengjin.
Namun terlambat.
Kiranya Kong Lo Sengjin tidak memukul kearah yang tadi, melainkan mengirim pukulan jarak jauh kearah punggung.
Kim-mo Taisu yang sedang menangkis dua tongkat itu tak sempat lagi mengelak.
Punggungnya terkena pukulan jarak jauh dan ia terguling!
Sebagai seorang ahli silat yang tinggi ilmunya, pukulan jarak jauh itu hanya mampu membuat ia terguling saja.
Cepat ia terus menggelinding sambil menggerakkan pedang dan kipasnya menjaga diri.
Akan tetapi ketika ia meloncat berdiri, tubuhnya terhuyung-huyung dan ia merasa punggungnya sakit dan kaku!
Inilah hebatnya Kong Lo Sengjin dan ini pula yang menyebabkan ia dahulu dijuluki Sin-jiu (Kepalan Sakti).
Kakek ini memiliki ilmu pukulan tangan kosong yang ampuh.
Orang-orang yang kepandaiannya rendah, sekali terkena sambaran angin pukulannya akan roboh dan tewas seketika.
Kim-mo Taisu memang kuat dan bukanlah seorang lawan berilmu rendah.
Akan tetapi tadi ia sedang menangkis dan ternyata kakek lumpuh itu telah mengirim pukulan tepat pada saat ia menangkis dan dengan tepat pula memilih bagian yang pada saat itu "kosong".
Tadi Kim-mo Taisu menangkis dengan pengerahan tenaga sin-kang karena maklum bahwa kedua tongkat itu digerakkan oleh dua lawan yang lihai.
Oleh karena inilah maka tentu saja tenaga sin-kangnya dipergunakan dan disalurkan kedalam kedua lengan sehingga bagian punggungnya yang amat kuat itu menjadi kosong dan lemah.
Kim-mo Taisu terkejut, maklum bahwa ia telah menderita luka berat.
Ia memuntahkan darah hidup, akan tetapi segera dapat mengatur pernapasan dan serangan berikutnya dari ketiga orang itu dapat ia hadapi lagi dengan gerakan yang cukup kuat dan cepat.
Memang hebat kekuatan Kim-mo Taisu, kuat dan ulet berani dan pantang mundur.
"Taisu, mari lari...!"
Dengan suara lemah Gan-lopek yang sudah terluka pun itu mengajak.
Gan-lopek terluka hebat oleh pukulan ujung cambuk Ban-pi Lo-cia, dan tak mungkin kuat lagi menghadapi lawan-lawan yang tangguh itu, maka ia mengajak Kim-mo Taisu melarikan diri.
Ia melompat pergi dari tempat itu.
Akan tetapi Kim-mo Taisu tidak mau melarikan diri.
Ia melawan terus dengan nekat sungguhpun punggungnya terasa makin sakit.
Gan-lopek berlari pergi sambil menarik napas panjang.
Tentu saja ia tidak bisa nekat seperti Kim-mo Taisu.
Dia adalah orang luar yang tidak tahu-menahu tentang urusan mereka.
Kalau tadi ia turun tangan membantu Kim-mo Taisu adalah karena ia melihat dua belas orang Khitan itu hendak menggunakan jala yang ia kenal dan tahu amat berbahaya itu.
Pula ia memang merasa simpati dan suka kepada Kim-mo Taisu yang namanya terkenal harum.
Ia sudah turun tangan menolong Kim-mo Taisu dengan jalan merobohkan dua belas orang tukang jala.
Dan ia pun baru saja tertolong oleh Kim-mo Taisu dari ancaman maut di tangan Ban-pi Lo-cia.
Sudah impas.
Akan tetapi dia sudah terluka dan tak mungkin nekat memberikan nyawanya tanpa sebab.
Kim-mo Taisu boleh nekat, mungkin mempunyai alasan yang kuat untuk tidak melarikan diri.
Memang wawasan Gan-lopek itu benar.
Andaikata Kim-mo Taisu tidak berhadapan dengan Kong Lo Sengjin, agaknya ia pun akan melarikan diri.
Lawan juga menggunakan kecurangan dengan mengeroyok, maka melarikan diri bukanlah hal yang memalukan.
Akan tetapi sekarang ia berhadapan dengan Kong Lo Sengjin.
Semua perhitungan harus diselesaikan saat itu juga.
Pertandingan antara Kim-mo Taisu dikeroyok tiga orang lawannya masih berjalan seru.
Biarpun Kim-mo Taisu telah terluka berat, akan tetapi pihak pengeroyok juga telah kehilangan Ban-pi Lo-cia.
Kini Kim-mo Taisu hanya dapat membatasi diri dengan bertahan karena kalau ia terlalu banyak menghamburkan tenaga untuk menyerang, tentu keadaannya akan makin payah dan berbahaya.
Pada saat lawan menyerang saja ia mengandalkan kegesitannya mengelak sambil balas menyerang dan dengan cara ini ia dapat menghemat tenaganya.
Ia sudah bertekad bahwa biarpun akhirnya ia kalah dan tewas, ia harus dapat merobohkan Kong Lo Sengjin lebih dahulu!
Pada saat yang amat berbahaya bagi Kim-mo Taisu itu, tiba-tiba muncullah Bu Song dan sepasukan tentara.
Melihat suhunya dikeroyok dan keadaannya payah, Bu Song mengeluarkan suara melengking tinggi dan mendahului pasukan itu meloncat kedepan.
Munculnya Bu Song mengagetkan tiga orang yang mengeroyok.
Kim-mo Taisu seorang diri saja sudah cukup berat dan sukar dirobohkan, apa lagi datang bala bantuan belasan orang banyaknya!
Mereka terdiri dari orang-orang yang licik dan curang, maka begitu melihat pihak mereka terancam, tanpa dikomando lagi mereka lalu melompat pergi dan Luw Kiat yang pergi lebih dulu menyambar jenazah gurunya.
Bu Song cepat menghampiri suhunya yang berdiri terhuyung-huyung.
"Suhu...!"
Tegurnya penuh khawatir. Kim-mo Taisu menggeleng kepala.
"Tidak apa-apa. Dari mana kau? Mengapa kesini?"
"Teecu baru saja datang. Dari kota raja mendengar akan keberangkatan Suhu bersama barisan. Teecu menyusul dan hendak membantu. Dilereng gunung barisan kita telah berhasil memukul mundur musuh dan kini sedang mengadakan pengejaran. Phang-ciangkun yang melihat Suhu belum juga kembali, menyuruh teecu menyusul kesini dengan pasukan pengawal. Apakah Suhu terluka?"
Biarpun mukanya pucat dan punggungnya nyeri, Kim-mo Taisu masih sanggup melakukan perjalanan cepat bersama muridnya, mendahului pasukan turun dari puncak.
Akan tetapi begitu tiba diperkemahan, pendekar ini kembali muntahkan darah segar dan roboh pingsan.
Bu Song menyambar tubuh suhunya, memondongnya kedalam perkemahan dan membaringkannya, lalu merawatnya.
Setelah siuman Kim-mo Taisu berkata.
"Kong Lo Sengjin hebat sekali pukulannya. Akan tetapi tidak cukup hebat untuk merenggut nyawaku. Bu Song, kau cepat ceritakan pengalamanmu. Berhasilkah?"
Setelah bertanya demikian, Kim-mo Taisu lalu duduk bersila dan mengatur napas.
Bu Song yang maklum bahwa suhunya perlu mengaso dan memulihkan kesehatannya, segera menuturkan pengalamannya di Pek-coa-to dan perjumpaannya dengan Bu Tek Lojin.
Perjalanannya berhasil baik dan merupakan berita menyenangkan, maka ia berani bercerita kepada suhunya.
Benar saja, biarpun matanya dipejamkan, wajah Kim-mo Taisu berseri-seri mendengar penuturan muridnya.
Ia masih mengatur napasnya, panjang-panjang, menarik napas sehingga dadanya mekar dan perutnya mengempis, ditahannya lama-lama baru dikeluarkan seenaknya.
Begitu terus menerus.
Kemudian ia membuka kedua matanya, memandang muridnya.
"Keluarkan suling itu "
Katanya lirih.
Dengan hati bangga dan girang dapat menyenangkan hati suhunya, Bu Song mengeluarkan suling emas dari balik jubahnya, menyerahkan suling itu kepada suhunya.
Akan (Lanjut ke
Jilid 33) SULING EMAS (Seri ke 02
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 33 tetapi Kim-mo Taisu tidak memegang suling itu, hanya memandang dan berkata.
"Memang betul ini suling emas, hadiah Bu Kek Siansu kepada sastrawan Ciu Bun. Apakah sudah kau pelajari cara meniupnya untuk mengiringi sajak dalam kitab?"
"Sudah, Suhu."
"Coba kau mainkan suling itu dalam gerakan Pat-sian Kiam-hoat."
Bu Song melangkah mundur, lalu menggerakkan suling melakukan jurus-jurus Pat-sian Kiam-hoat. Baru tiga jurus suhunya sudah berkata.
"Cukup! Kau sungguh bernasib baik sekali, muridku. Sekarang aku tidak khawatir lagi. Dengan bantuan Bu Tek Lojin, kau sudah melampaui gurumu...."
"Ah, mana bisa begitu, Suhu? Murid yang bodoh..."
Kim-mo Taisu tertawa dan bertanya memotong kata-kata muridnya.
"Coba ceritakan bagaimana keadaan perang ketika kau tiba disini."
Ternyata ketika Bu Song tiba di medan perang yang terjadi disekitar Pegunungan Tai-hang-san, pasukan-pasukan Sung berhasil menguasai keadaan dan memberi hajaran kepada pasukan-pasukan Khitan yang jumlahnya jauh kalah banyak.
Girang hati Bu Song melihat keadaan ini dan disepanjang jalan, sambil bertanya-tanya kepada para perajurit tentang suhunya, Kim-mo Taisu, ia membuka jalan darah dan merobohkan setiap musuh yang hendak menghalangi jalannya.
Akhirnya ia tiba diperkemahan besar itu dan pada saat itu, sedang terjadi penyerbuan hebat diperkemahan.
Keadaan kacau balau dan perang terjadi dengan hebatnya.
Keadaan para panglima terancam karena pihak musuh muncul seorang yang luar biasa sekali.
Orang itu pakaiannya seba hitam, mukanya tertutup kedok tengkorak mengerikan, senjatanya sebuah sabit dan sepak-terjangnya pun menyeramkan.
Gerakannya cepat dan tenaganya mujijat sehingga setiap orang perajurit yang berani menentangnya tentu roboh dengan tubuh terpotong menjadi dua!
Akan tetapi, para perajurit pengawal itu adalah perajurit-perajurit pilihan yang tidak takut mati.
Untuk menyelamatkan para komandannya dari ancaman manusia iblis ini, puluhan orang perajurit mengurung iblis itu.
Biarpun banyak sekali perajurit yang roboh malang melintang dan tewas ditangan manusia iblis ini, namun Sang Manusia Iblis tidak mampu menerobos kedalam tenda besar untuk membunuh empat orang panglima.
Pada saat itulah Bu Song tiba ditempat itu.
Melihat keadaan ini, ia menjadi marah dan sekali melompat, ia telah melompati pagar manusia yang mengeroyok manusia iblis, tiba didepan iblis itu lalu menerjang dengan suling emasnya yang ia tahu adalah senjata yang ampuh sekali.
Si Manusia Iblis itu tadi mengaku berjuluk Hek-giam-lo (Maut Hitam), kini berseru kaget karena hampir saja lehernya kena hantaman suling yang mengeluarkan sinar kuning.
Ia cepat mengayun sabitnya yang tajam, ke arah pinggang Bu Song, akan tetapi dengan mudah Bu Song menangkis dengan sulingnya.
Terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar menyilaukan mata ketika kedua senjata itu bertemu.
Akan tetapi Hek-giam-lo memekik kesakitan, hampir saja sabitnya terlepas dari pegangan.
Melihat betapa orang muda didepannya ini luar biasa kepandaiannya, Hek-giam-lo merasa khawatir, apalagi para perajurit pengawal yang nekat dan gagah berani itu masih mengepung.
Ia mengeluarkan pekik aneh dan tubuhnya mencelat jauh, sabitnya diputar sehingga para pengawal terpaksa mundur.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Hek-giam-lo untuk melarikan diri!
Setelah Hek-giam-lo lari, penyerbuan itu dengan mudah dan cepat dapat dibasmi habis.
Selebihnya melarikan diri ke empat penjuru mencari selamat memasuki hutan-hutan dilereng gunung.
"Demikianlah, Suhu. Karena musuh telah dapat diusir mundur, para ciangkun memimpin barisan melakukan pengejaran ke utara dan teecu disuruh menyusul Suhu bersama sepasukan pengawal tadi,"
Bu Song mengakhiri ceritanya. Kim-mo Taisu mengangguk-angguk, senang hatinya. Kemudian ia lalu mengerutkan keningnya lalu bertanya.
"Kau bilang tadi bahwa sastrawan tua Ciu Bun dan kakek sakti Bu Tek Lojin bersikap aneh sekali setelah mendengar perpaduan suara antara sajak dalam kitab dan suara suling? Coba jelaskan lagi, karena hal itu amat menarik."
Bu Song mengulang ceritanya tentang sikap Ciu Bun yang aneh setelah mendengar sajak terakhir dan iringan suara suling, kemudian betapa Bu Tek Lojin bersikap lebih aneh lagi.
Dengan penuh perhatian Kim-mo Taisu mendengarkan, kemudian tiba-tiba ia berkata.
"Bagaimana bunyi sajak terakhir itu?"
Bu Song lalu membaca sajak dengan suara bernada tinggi rendah, jelas dan berirama.
Gurunya mendengarkan dan sekali saja mendengar, sebagai seorang sastrawan, Kim-mo Taisu sudah hafal.
Ia menarik napas panjang dan berkata.
"Sajak yang baik dan mengandung kebenaran mutlak, namun terlalu tinggi untuk otak dan terlalu dalam untuk diselami pengertian. Hanya dapat diterima oleh rasa dan getaran. Akan kunyanyikan, coba kau iringi dengan tiupan suling, Bu Song muridku!"
Tiba-tiba Kim-mo Taisu yang tadinya menanggung nyeri dipunggungnya tampak bergembira dan wajahnya berseri.
Diam-diam Bu Song merasa khawatir.
Dua orang tokoh golongan sastera dan silat bersikap aneh sekali mendengar perpaduan itu.
Jangan-jangan suhunya juga akan bersikap aneh seperti mereka!
Maka ia menjadi ragu-ragu.
Siapa tahu perpaduan suara itu mengandung sesuatu yang mujijat dan jahat!
"Jangan kau khawatir, Bu Song.
Ciu Bun kegirangan seperti gila karena ia memang mencari dan mengharapkan sesuatu sehingga ketika mendapatkannya ia menjadi girang luar biasa.
Bu Tek Lojin terlalu banyak melakukan hal-hal yang membuat ia merasa menyesal, mungkin karena sesalnya ia bersikap sedih seperti orang gila pula.
Aku tidak mengharapkan sesuatu, juga tidak menyesalkan sesuatu, maka tidak akan apa-apa kecuali mendapatkan penjernihan batin.
Mulailah!"
Setelah berkata demikian, sambil duduk bersila dengan tulang punggung lurus, Kim-mo Taisu bernyanyi seperti Bu Song tadi, suaranya merdu dan nyaring.
ADA muncul dari TIADA, betapa mungkin mencari sumber TIADA?
Mengapa cari ujung sebuah mangkok?
Mengapa cari titik awal akhir sebuah bola?
Akhirnya semua itu kosong hampa, sesungguhnya tidak ada apa-apa!
Sampai tiga kali Kim-mo Taisu mengulang nyanyian ini, diiringi suara suling Bu Song yang merayu-rayu.
Kemudian ia diam dan keadaan menjadi sunyi, sunyi hening dan gaib.
Kim-mo Taisu memejamkan matanya.
Dua butir air mata menempel diatas pipi.
Napasnya tenang dan wajahnya tersenyum, seperti orang yang merasa puas dan lega.
Tadinya Bu Song kaget melihat dua butir air mata, akan tetapi hatinya lega melihat wajah yang tenang tenteram itu.
"Bu Song, dengarlah baik-baik,"
Katanya, suaranya lirih sehingga Bu Song mendekat dan duduk bersila di atas lantai, di bawah gurunya.
"Ada muncul dari tiada, akan tetapi tiada itu sendiri adalah suatu keadaan, karenanya, tiada juga muncul dari ada. Maka jangan salah duga, muridku, dan jangan salah laku. Mencari sesuatu dalam arti kata mengejar-ngejar, berarti mencari kekosongan. Segala sesuatu tercipta atau terjadi karena dua kekuatan Im dan Yang di alam semesta ini, yang saling tolak, saling tarik, saling isi-mengisi. Segala sesuatu yang ada dan yang tidak ada dalam pengertian manusia, terjadi oleh Im Yang ini, kemudian segala sesuatu di alam semesta ini saling berkait, saling mempengaruhi sehingga tidak mungkin lagi dipisah-pisahkan. Tidak ada yang paling penting dan tidak ada yang paling tidak penting, tidak ada yang paling tinggi ataupun paling rendah. Semua itu tali-temali dan kait-mengkait, seperti hukum Ngo-heng (Lima Anasir), Kayu, Api, Tanah, Logam, Air, saling mempengaruhi, saling membasmi juga saling menghidupkan, karenanya berputar dan terus berputar merupakan bibir mangkok. Tidak ada ujungnya dan tidak ada pangkalnya, tiada awal tiada akhir, sekali saja terganggu akan menjadi rusak sebentar dan mengakibatkan kekacauan, menjatuhkan korban, baru dapat pulih kembali, kait-mengait, berputar-putar. Semua sudah sewajarnya dan sudah semestinya begitu, jadi tidak perlu dianehkan atau diherankan lagi. Semua itu kosong, lahirmu, hidupmu, sepak terjangmu, susahmu, senangmu, matimu. Semua itu kosong dan hampa belaka karena memang sudah semestinya begitu, sudah wajar, sehingga pengorbanan perasaan dan pikiran itu sia-sia dan kosong belaka. Karena sesungguhnya yang disusah-senangi, ditawa-tangisi manusia, itu bukan apa-apa. Kosong hampa dan sesungguhnya tidak ada apa-apa! Mengertikah engkau, Bu Song?"
Dengan terus terang Bu Song menjawab.
"Terlalu dalam untuk teecu, Suhu. Teecu kurang mengerti."
Kim-mo Taisu tersenyum dan membuka matanya. Sepasang matanya memancarkan sinar aneh dan tajam sekali, bening dan penuh pengertian.
"Tidak aneh, Bu Song. Memang kau masih terlalu muda untuk mudah menangkap semua itu, sungguhpun engkau sudah banyak dijadikan permainan perasaan dan jasmanimu sendiri. Nah, contohnya begini. Seorang ibu kematian anaknya yang terkasih. Apakah yang aneh dalam peristiwa ini? Tidak aneh. Anak itu terlahir, tentu saja bisa mati karena sakit atau karena sebab lain. Jadi tidak aneh, dan sewajarnyalah kalau seseorang yang dilahirkan itu akan mati, cepat atau lambat. Kuulangi lagi. Seorang ibu kematian anaknya yang terkasih. Peristiwa wajar, bukan? Kejadian itu wajar, semestinya, tidak ada sifat suka maupun duka. Sang ibu berduka, menangis dan tersiksa hatinya, merana dan merasa sengsara. Inilah yang tidak wajar!"
Bu Song kaget, terheran, jelas membayang diwajahnya.
"Mengapa kukatakan tidak wajar? Memang, karena semua ibu bersikap demikian, bagi umum hal ini adalah wajar. Namun bagi hukum alam tidaklah wajar karena tidak ada kaitannya sama sekali antara dua peristiwa itu. Disusah-senangi, atau ditawa-tangisi, peristiwa kematian itu tidaklah berubah karena tidak ada pertaliannya! Sang ibu berduka sampai jatuh sakit paru-parunya. Nah, ini wajar, karena duka itu ada hubungannya dengan paru-paru, keduanya termasuk kekuasaan Im. Karena hukum kait-mengait, tali-temali inilah maka timbul bermacam peristiwa di dunia ini, semua wajar dan semestinya. Yang tidak semestinya, yang tidak wajar, mendatangkan kekacauan dan karenanya menimbulkan hal-hal lain sehingga meluas sampai menimbulkan perang, menjadikan wabah penyakit, menimbulkan bencana alam dan lain-lain karena perputarannya tidak selaras. Maka, kalau semua manusia dapat menempatkan diri masing-masing selaras dengan kehendak alam, kalau manusia dapat menyesuaikan diri dengan segala apa yang dihadapinya, menyesuaikan diri dengan segala apa yang diperbuatnya, dengan kehendak alam, maka kekuatan Im dan Yang akan berimbang, perputaran Ngo-heng akan sempurna, dunia akan tenteram dan aman."
Sampai lama keadaan menjadi hening. Akhirnya Bu Song berkata.
"Maafkan teecu, Suhu. Teecu yang masih bodoh hanya dapat menangkap secara samar-samar saja. Namun, menurut pendapat teecu, justeru menyesuaikan diri dengan kehendak alam itulah yang hanya mudah dibayangkan sukar dilaksanakan. Manusia sudah terlanjur menganggap wajar dan benar akan sesuatu yang sudah dilakukan dan dibenarkan banyak orang, sudah menjadi kebiasaan umum! Daun telinga wanita menurut kehendak alam tidak ada lubangnya, akan tetapi oleh manusia dilubangi untuk tempat perhiasan telinga. Ini sudah wajar dan benar menurut pendapat umum sehingga kalau ada wanita yang daun telinganya tidak dilubangi, dia ditertawai dan dianggap menyeleweng dari kebenaran umum. Pula, manusia terikat oleh wajib, terikat oleh hal-hal yang menyangkut kemanusiaan. Betapa dapat melepaskan diri daripada kemanusiaan, Suhu? Manusia dikurniai akal budi untuk dipergunakan. Maaf kalau kata-kata teecu keliru."
"Tidak, kau tidak keliru. Memang semua ucapanku tadi hanya dapat diterima oleh getaran perasaan. Memang manusia mempunyai wajib, yaitu wajib ikhtiar. Dan kau memang betul bahwa sukar bagi kita untuk melepaskan diri daripada kemanusiaan. Kalau tidak, tentu kita akan dicap sebagai seorang gila karena menyeleweng daripada kebiasaan umum. Kurasa cukuplah Bu Song, kelak kau akan mengerti sendiri. Kalau kau sudah hafal akan isi kitab itu, kau pelajari dan selami baik-baik. Nah, tinggalkan aku, aku hendak mengaso dan memulihkan tenagaku."
Bu Song keluar dari tenda suhunya.
Diluar sunyi karena barisan sudah meninggalkan tempat itu.
Hanya belasan orang pengawal tadi masih berjaga disitu, didepan satu-satunya tenda yang sengaja ditinggalkan untuk Kim-mo Taisu.
Bu Song lalu menyuruh belasan orang pengawal itu menyusul barisan mereka, melapor kepada Phang-ciangkun bahwa Kim-mo Taisu selamat dan kini sedang beristirahat disitu, Enam belas orang pengawal itu memberi hormat lalu meninggalkan lereng untuk menyusul induk pasukan dan bergabung dengan teman-temannya.
Kemudian Bu Song mengaso pula, dibagian belakang tenda.
Lewat tengah hari, Bu Song mendengar suara ribut-ribut didepan tenda.
Baru saja ia tadi hening dalam samadhinya sehingga ia tidak memperhatikan apa yang terjadi disekitarnya.
Karena terganggu samadhinya, Bu Song melompat bangun dan lari kedepan.
Kiranya suhunya sudah berdiri didepan tenda dan berhadapan dengan Kong Lo Sengjin, Pouw-kai-ong, Luw Kiat dan Hek-giam-lo si manusia berkedok tengkorak seperti iblis!
"Hemm, Kong Lo Sengjin!
Kau merasa penasaran melihat aku masih hidup dan datang lagi hendak melihat aku mati?
Baik, kau majulah dan mari kita selesaikan urusan kita agar lekas beres!"
Kim-mo Taisu sudah siap dengan sikap tenang sekali, bahkan pedang dipunggung dan kipas dipinggang belum ia ambil.
Sikap yang penuh ketenangan dan suara yang sama sekali tidak mengandung nada permusuhan itu agaknya membuat empat orang itu terpukul hati nuraninya.
"Kwee Seng! Kau selalu membawa maumu sendiri, tidak mau menurut kehendakku. Karena itu engkau harus mati, kalau tidak tentu kau hanya akan merintangi usaha kami!"
Kata Kong Lo Sengjin.
"Kau harus menebus kematian Suhu!"
Bentak Lauw Kiat sambil menggerakkan tongkatnya.
"Ha-ha, Kim-mo Taisu. Ingatkah akan penghinaan-penghinaanmu belasan tahun yang lalu? Sekarang harus kau tebus!"
Kata Pouw-kai-ong.
Hanya Hek-giam-lo yang diam saja, dan diam-diam Kim-mo Taisu menduga-duga siapa gerangan orang yang bersembunyi di balik kedok tengkorak ini.
Kim-mo Taisu menarik napas panjang.
"Menang atau kalah, hidup atau mati, sama saja. Yang penting adalah berdiri diatas kebenaran! Kalau kalian merasa penasaran, majulah!"
Pada saat itu Bu Song sudah tidak sabar lagi. Ia melompat keluar dan membentak.
"Manusia-manusia berhati keji dan curang! Setelah memiliki ilmu kepandaian tinggi, mengapa masih belum dapat membuang sifat pengecut dan curang? Suhu sedang terluka, hal ini kalian semua tahu. Akan tetapi kalian datang berempat untuk mengeroyoknya. Di mana keadilan dan kegagahan kalian?"
"Bu Song, kau mundurlah dan lihat saja. Jangan mencampuri dan melibatkan dirimu dengan urusan kotor ini. Bu Song, jangan kau tiru gurumu yang menanamkan pohon kebencian sehingga menghasilkan buah-buah dendam dan permusuhan."
Suara Kim-mo Taisu tenang dan sabar, namun mengandung wibawa sehingga Bu Song terpaksa mundur lagi.
Dada pemuda ini panas dan penuh amarah, namun ditekan-tekannya dan ia hanya dapat memandang dengan hati was-was dan penasaran.
Muak ia melihat sikap musuh-musuh gurunya itu yang sama sekali tidak mengindahkan aturan dunia kang-ouw.
Orang yang sudah menamakan dirinya pendekar, pantang melawan orang sakit, apalagi mengeroyoknya!
Dan empat orang itu, melihat tingkat ilmunya, sudah menempati tingkat lebih tinggi daripada pendekar-pendekar silat biasa.
Sungguh menjemukan dan menyakitkan hati, menimbulkan rasa penasaran.
Diantara empat orang itu, agaknya hanya Lauw Kiat seorang yang masih memiliki harga diri.
Lauw Kiat murid kedua Ban-pi Lo-cia ini adalah seorang Khitan peranakan.
Ibunya seorang Khitan, ayahnya seorang Han yang bernama keturunan Lauw.
Akan tetapi karena sejak kecil ayahnya telah meninggal dunia dan ia ikut ibunya di Khitan, maka ia berjiwa orang Khitan.
Ia selain berkepandaian tinggi, juga terkenal sebagi seorang gagah perkasa di Khitan, yang biarpun tidak mengikatkan diri dalam ketentaraan, namun ia setia kepada rajanya dan selalu membantu gerakan bala tentara Khitan.
Ia menghargai kegagahan, dan mengenal tata cara, aturan dan sopan santun pendekar dunia persilatan.
Mendengar teguran Bu Song tadi, merah seluruh muka Lauw Kiat.
Ditegur tentang aturan oleh seorang pemuda, benar-benar amat memalukan.
Maka ia lalu menerjang maju sambil berseru.
"Kim-mo Taisu, aku membela kematian Suhu Ban-pi Lo-cia! Lihat seranganku!"
Hebat juga serbuan Lauw Kiat ini, karena tongkatnya yang baru, berat dan terbuat daripada baja, menyambar ganas dan mendatangkan angin pukulan yang amat kuat.
Kim-mo Taisu yang sudah terluka disebelah dalam tubuhnya dan masih belum sembuh, tidak mau menghamburkan tenaga dan ingin menyelesaikan pertandingan itu secara secepat mungkin.
Maka ia tidak mengelak menghadapi sambaran tongkat baja itu, namun secepat kilat kipas dan pedangnya sudah berada dikedua tangan.
Kipas ditangan kirinya menahan tongkat yang menjadi lekat pada kipas, kemudian bagaikan halilintar menyambar pedangnya sudah membabat kearah leher Lauw Kiat.
Tokoh Khitan ini kaget bukan main.
Berusaha keras membetot tongkatnya sambil merendahkan tubuh untuk menghindarkan sabetan pedang.
Akan tetapi sungguh tak disangkanya bahwa pedang itu sama sekali tidak menyabet leher seperti tampaknya, melainkan membabat kaki.
Kasihan sekali Lauw Kiat yang tidak sempat menghindarkan serangan luar biasa ini.
Terdengar ia mengeluh dan robohlah tokoh ini dengan kedua kakinya buntung.
Darah bercucuran dari kedua lutut yang sudah buntung itu, akan tetapi Lauw Kiat sudah pingsan, tidak merasai nyeri lagi.
Kim-mo Taisu mengeluarkan suara aneh dari kerongkongannya dan tahu-tahu ia sudah berlutut didekat tubuh Lauw Kiat, menotok jalan darah dipaha untuk menghentikan darah yang mengalir keluar, kemudian mengeluarkan obat bubuk untuk mengobati luka agar melenyapkan rasa nyeri.
Akan tetapi tiba-tiba Bu Song berseru.
"Suhu, awas!"
Seruan peringatan Bu Song ini tidak ada gunanya karena tentu saja pendekar sakti itu sudah tahu bahwa dia diserang hebat oleh Kong Lo Sengjin, Hek-giam-lo dan Pouw-kai-ong secara berbareng, pada saat ia masih berlutut dan hendak mengobati luka kedua kaki Pak-sin tung!
Cepat Kim-mo Taisu menggerakkan tubuh melesat pergi dari situ sambil membawa pedang dan kipasnya.
Obat bubuk tadi ia sebarkan, merupakan senjata rahasia mengarah mata ketiga orang pengeroyoknya yang terpaksa melompat mundur, karena tahu bahwa jika obat bubuk itu memasuki mata, akan celakalah mereka, mata menjadi pedih dan tak dapat dibuka dan tentu saja akan berbahaya bagi mereka.
Dalam detik-detik selanjutnya terjadilah pertandingan mati-matian yang amat cepat.
Kalau tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian yang tinggi sudah mengeluarkan jurus-jurus simpanannya, pertandingan silat berubah menjadi adu nyawa yang cepat dan menyeramkan.
Setiap gerak merupakan serangan maut.
Cepat dan kuat, sukar diikuti pandangan mata, seakan-akan mereka sudah bergulat menjadi satu.
Tiba-tiba terdengar suara keras, dan empat buah senjata runtuh dan rusak.
Tongkat Pouw-kai-ong patah menjadi dua ketika bertemu secara hebat dengan kipas ditangan kiri Kim-mo Taisu yang juga robek tengahnya dan patah gagangnya.
Senjata sabit ditangan Hek-giam-lo yang mengerikan itu juga patah menjadi tiga bertemu dengan pedang Kim-mo Taisu yang juga patah menjadi dua.
Terdengar mereka mengeluarkan teriakan-teriakan kaget dibarengi dengan lengking tinggi yang keluar dari mulut Kim-mo Taisu dan tahu-tahu Kim-mo Taisu telah beradu telapak tangan dengan Kong Lo Sengjin.
Keduanya berhadapan, Kim-mo Taisu agak merendahkan tubuh dengan lutut ditekuk, kedua lengan diluruskan kedepan, kedua telapak tangan beradu dengan telapak tangan Kong Lo Sengjin yang "berdiri"
Dikedua tongkatnya.
Mereka mengerahkan sin-kang dan mengadu tenaga dalam secara mati-matian!
Pouw-kai-ong cepat menempelkan telapak tangan kanan kepunggung Kong Lo Sengjin sebelah kanan, dan Hek-giam-lo juga meniru perbuatan Raja Pengemis itu, menempelkan telapak tangan kiri ke punggung kakek lumpuh yang sebelah kiri.
Mereka berdua sebagai ahli-ahli tingkat tinggi maklum bahwa dalam keadaan mengadu tenaga seperti itu, kalau mereka menyerang Kim-mo Taisu dengan pukulan, yang berbahaya adalah Kong Lo Senjin sendiri.
Pukulan yang mengenai tubuh Kim-mo Taisu dapat "ditarik"
Dan "disalurkan"
Oleh lawan kepada Kong Lo Sengjin sehingga sama artinya dengan memukul kawan sendiri meminjam tangan lawan!
Satu-satunya cara terbaik untuk membantu adalah seperti yang mereka lakukan.
Tenaga sin-kang mereka tersalur dan membantu Kong Lo Sengjin menekan lawan.
Hebat akibatnya.
Tadinya menghadapi Kong Lo Sengjin yang sudah tua, Kim-mo Taisu masih menang tenaga.
Kalau dilanjutkan, beberapa menit lagi tentu ia akan sanggup merobohkan kakek itu.
Akan tetapi setelah dua orang lawannya yang lain datang mengeroyoknya, bukan main hebatnya tenaga yang tersalur melalui dua telapak tangan Kong Lo Sengjin, Kim-mo Taisu berusaha menahan, namun ia tidak kuat, apalagi karena disebelah dalam dadanya masih terluka cukup berat.
Betapapun juga, pendekar yang gagah perkasa ini sama sekali tidak mengeluh, dan sama sekali tidak mau menyerah begitu saja.
Ia tetap mengarahkan sin-kangnya dan mempertahankan diri sehingga wajahnya pucat, matanya berkilat dan dari kedua ujung bibirnya menetes darah segar!
Melihat keadaan gurunya sedemikian rupa itu, Bu Song tak dapat tinggal diam lagi.
Biarpun suhunya tadi sudah memesan agar ia tidak turut campur, namun bagaimana ia dapat berpeluk tangan melihat suhunya terancam kematian oleh tiga orang lawan itu?
"Maaf, Suhu.
Terpaksa teecu harus turun tangan!"
Ia membentak dan segera melompat maju.
Seperti juga Hek-giam-lo dan Pouw-kai-ong, Bu Song mengerti bahwa untuk membantu suhunya yang sedang mengadu tenaga dalam itu, sama sekali ia tidak boleh menggunakan Iwee-kang memukul para lawan suhunya karena hal ini amat membahayakan suhunya sendiri.
Maka ia lalu menggerakkan kedua tangannya, keduanya dengan jari-jari terbuka, yang kanan menusuk kearah mata Pouw-kai-ong sedangkan yang kiri merenggut kedok hek-giam-lo.
Perhitungan Bu Song tepat, Pouw-kai-ong yang ia serang matanya, dan tidak dapat mengelak mau tak mau harus melayaninya dengan tangkisan, yang berarti menarik tenaganya membantu Kong Lo Sengjin, sedangkan Hek-giam-lo yang selalu mengenakan kedok, tentu merupakan pantangan paling besar baginya untuk dibuka kedoknya dan pasti akan melayaninya.
Kalau dia menggunakan suling, tentu hasilnya lebih baik.
Namun betapapun juga, Bu Song tak sampai hati dan merasa malu harus menyerang dua orang yang tak bersiap itu dengan senjata!
Pouw-kai-ong dan Hek-giam-lo yang melihat bahayanya serangan, cepat menangkis sambil melompat mundur, melepaskan bantuan mereka pada Kong Lo Sengjin.
Bu Song kini baru mau menggunakan sulingnya dan sekali sulingnya bergerak, terdengar suara melengking tinggi dan sinar suling itu membawa hawa pukulan dahsyat.
Bukan main kagetnya Hek-giam-lo dan Pouw-kai-ong karena mereka maklum bahwa tenaga dan kepandaian orang muda itu hebat bukan main, jelas tampak dari gerakan serangan itu.
Sedangkan mereka berdua sudah tidak bersenjata lagi, yang tadi patah dan rusak sampyuh (sama-sama rusak) dengan senjata-senjata Kim-mo Taisu.
Maka mereka hanya mengandalkan gerakan mereka yang cepat untuk mengelak dan mundur-mundur!
Sementara itu, Kim-mo Taisu yang sudah terluka hebat disebelah dalam tubuhnya, ketika melihat betapa Kong Lo Sengjin ditinggalkan kedua orang pembantunya, cepat mengerahkan tenaga terakhir dan mendorong sekuatnya.
Kong Lo Sengjin mengeluh dan tubuhnya terlempar sampai enam tujuh meter kebelakang, seperti daun kering tertiup angin, lalu roboh terbanting.
Ketika ia bangkit berdiri diatas kedua tongkatnya, wajahnya pucat sekali, matanya seperti tidak bersinar lagi, dan tanpa berkata apa-apa kakek ini melangkah pergi sempoyongan seperti orang mabok.
"Bu Song, mundur!!"
Kim-mo Taisu berseru.
Bu Song girang mendengar suara suhunya dan ia mencelat mundur disamping suhunya, siap membela orang tua ini.
Kim-mo Taisu lalu memandang dua orang musuh itu sambil berkata, suaranya penuh wibawa.
"Apakah kalian masih hendak melanjutkan pertandingan?"
Dua orang itu, Hek-giam-lo dan Pouw-kai-ong, tentu saja menjadi jerih hati mereka.
Tanpa berkata apa-apa, Hek-giam-lo mengempit tubuh Lauw Kiat dan melompat pergi dari situ bersama Pouw-kai-ong yang juga pergi mengambil jurusan lain.
Kedua tokoh ini memang telah dapat dibujuk oleh Kong Lo Sengjin untuk membantunya, bersama Ban-pi Lo-cia, dengan janji-janji muluk seperti biasa.
Kini melihat betapa Kong Lo Sengjin sendiri telah dikalahkan Kim-mo Taisu dan pergi meninggalkan gelanggang tanpa mempedulikan mereka, tentu saja mereka pun tiada nafsu lagi untuk menandingi Kim-mo Taisu yang demikian saktinya.
Setelah semua musuh pergi, Kim-mo Taisu terhuyung-huyung dan tentu roboh kalau saja tidak segera dipeluk oleh Bu Song.
"Bagaimana, Suhu? Hebatkah lukamu...?"
Kim-mo Taisu menggeleng kepala, menarik napas dalam lalu berdiri lagi, dibantu oleh Bu Song.
"Lukaku hebat memang, dan berat, Akan tetapi tidak apa, sudah semestinya terjadi dalam pertandingan, tidak seberat luka Kong Lo Sengjin. Akan tetapi hatiku terasa pedih dan sakit. Bu Song, kau lihatlah baik-baik disekelilingmu... kau lihatlah mayat-mayat itu..."
Tentu saja sejak tadi Bu Song sudah melihatnya.
Ratusan, mungkin ribuan mayat berserakan disekitar lereng bukit, mayat-mayat tentara Sung dan Khitan yang belum sempat diurus orang karena perang masih terus terjadi, kejar-mengejar.
Pemandangan itu amat mengerikan, juga menyedihkan.
"Bu Song, kau berlututlah!"
Tiba-tiba Kim-mo Taisu berkata. Bu Song terkejut, juga merasa heran, akan tetapi ia tidak membantah, lalu menjatuhkan diri berlutut didepan suhunya.
"Bersumpahlah bahwa kau menaati pesanku yang terakhir ini!"
Bu Song menekan perasaannya yang diselimuti kedukaan karena ia maklum akan keadaan suhunya.
"Teecu bersumpah demi Thian Yang Maha Kuasa akan menaati pesan Suhu."
"Kau hanya boleh mempergunakan kepandaian silat yang kau miliki untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, untuk menentang yang jahat dan untuk menolong yang lemah tertindas, disamping penggunaan untuk membela diri. Kalau kau mempergunakan ilmu silatmu untuk menyombongkan kepandaian, untuk menanam permusuhan, dan untuk melampiaskan nafsu mencari kemenangan, kau... kau akan terkutuk..!"
"Teecu akan mentaati pesan Suhu ini!"
Jawab Bu Song, suaranya tegas karena keluar dari hati yang jujur. Tanpa pesan suhunya, memang ia pun berpendirian seperti yang diinginkan suhunya itu.
"Jangan kau mendendam kepada siapa juga dan untuk dapat melakukan hal ini, kau harus mematikan rasa benci terhadap siapapun juga. Hati-hatilah terhadap wanita, Bu Song. Sesungguhnya, hidup gurumu selama ini jatuh bangun hanya karena wanita, karena kelemahan hatiku terhadap wanita. Jangan mudah menjatuhkan cinta, karena bagi penghidupanku selama ini, cinta itulah yang merupakan pangkal segala derita. Leburkan rasa cintamu menjadi kasih sayang yang merata terhadap semua manusia, dan hidupmu akan penuh bahagia."
Kembali Kim-mo Taisu berhenti dan napasnya terengah-engah.
Ia menekan dadanya dan wajahnya menjadi pucat sekali.
Bu Song cepat bangun dan memeluk suhunya.
"Mari kita masuk kedalam kemah dan beristirahat, Suhu."
Kim-mo Taisu tidak membantah diajak masuk dan dibaringkan didalam, akan tetapi ia masih sempat memberi pesan terakhir.
"Sewaktu-waktu.. pada hari pertama musim semi... datangilah puncak Thai-san. Siapa tahu kau berjodoh dengan... Bu Kek Siansu.."
Kata-katanya terhenti karena Kim-mo Taisu lalu muntahkan darah segar.
Bu Song terkejut dan cepat menolong.
Dengan cepat tanpa ragu-ragu ia menotok beberapa jalan darah dileher dan dada suhunya seperti yang pernah ia pelajari dari suhunya, kemudian ia mengulur tangan, meletakkan telapak tangannya didada suhunya sambil mengerahkan tenaga.
Akan tetapi tak lama kemudian Kim-mo Taisu membuka mata dan tangannya bergerak perlahan menolak tangan muridnya, bahkan memberi tanda dengan tangan agar muridnya keluar dari tenda.
Ia bangkit duduk dengan susah payah.
Bu song dengan hati terharu membantu gurunya bersila, kemudian melihat gurunya duduk diam meramkan mata, ia tidak berani mengganggu dan hendak keluar memenuhi permintaan gurunya dengan isyarat tangan tadi.
Pada saat itu tampak sinar menyambar-nyambar dari luar tenda.
Kiranya benda-benda itu adalah hui-to (pisau terbang) yang dilontarkan dengan kuat, bagaikan anak-anak panah meluncur keseluruh bagian tubuhnya yang berbahaya.
Bu Song terkejut, namun tidak gugup.
Dengan cepat dan tenang, kedua tangannya bergerak dan berhasil menyampok runtuh pisau-pisau terbang itu, bahkan kedua kakinya berhasil menendang pergi empat buah hui-to!
"Pengecut keji!"
Ia membentak dan ternyata yang muncul adalah Hek-giam-lo bersama sepuluh orang yang semua memegang sebatang pisau seperti yang menyambar tadi.
Teringatlah Bu Song ketika ia masih kecil, melihat dua orang anggota Hui-to-pang yang membunuhi lawan dengan hui-to, kemudian dua orang itu terbunuh oleh Kong Lo Sengjin.
Agaknya sepuluh orang yang kini ikut dengan Hek-giam-lo ini adalah anggauta-anggauta Hu-to-pang.
"Hek-giam-lo, kau kembali mau apa? Dan sobat-sobat ini apakah orang-orang Hui-to-pang?"
"Wah, bocah ini mengenal kita!"
Seorang diantara pemegang pisau itu berseru dan tiba-tiba pisau ditangannya menyambar kearah leher Bu Song.
Bu Song sengaja memperlihatkan kepandaiannya untuk mengecilkan nyali lawan.
Ia tidak mengelak, melainkan membuka mulut dan "menangkap"
Pisau itu dari samping dengan giginya!
Kemudian sekali meniup, pisau itu meluncur cepat dan menancap pada batang pohon sampai kegagangnya!
"Jangan mencari perkara, harap kalian pergi!"
Kata Bu Song, teringat akan pesan suhunya.
"Si Tua Bangka sedang terluka, serbu!"
Teriakan ini keluar dari balik kedok tengkorak dan menyerbulah sepuluh orang itu, juga Hek-giam-lo mengurung Bu Song!
Hek-giam-lo sudah mempunyai senjata baru, yaitu sabit bergagang panjang yang mengerikan.
Agaknya tokoh ini memang mempunyai banyak senjata macam ini sehingga begitu senjatanya rusak, ia sudah memiliki gantinya.
Bu Song mencabut sulingnya dan cepat ia melompat ke depan menyambut serbuan mereka.
Dengan pengerahan tenaga sakti, ia menangkis sabit Hek-giam-lo mengeluarkan seruan aneh seperti orang menangis ketika sabitnya dihantam membalik.
Akan tetapi Bu Song tidak dapat balas menyerang karena ia harus menghadapi para anggauta Hui-to-pang yang ternyata merupakan orang-orang lihai pula.
Permainan golok mereka luar biasa, juga amat teratur merupakan barisan golok yang saling berantai, saling Bantu dan saling susul amat rapi!
Dalam kemarahannya menyaksikan kecurangan Hek-giam-lo dan orang-orang ini yang hendak mendesak gurunya yang terluka parah, Bu Song mengeluarkah semua kepandaiannya dan dengan lengking tinggi yang keluar dari lubang sulingnya, senjata istimewa ini berhasil menotok roboh seorang pengeroyok dan orang kedua yang agaknya menjadi gentar oleh lengking suling, kena dihantam oleh tangan kiri Bu Song sehingga roboh bergulingan dan tidak mampu bangkit kembali!
"Hek-giam-lo manusia curang!
Diantara Suhuku dan engkau tidak ada permusuhan, mengapa kau mendesaknya?"
Bu Song masih mampu melontarkan pertanyaan ini sambil memutar sulingnya dan berloncatan kekanan kiri.
Akan tetapi Hek-giam-lo hanya mengeluarkan suara mendengus seperti seekor lembu, bahkan menerjang makin galak.
Bu Song teringat betapa isteri gurunya juga tewas oleh seorang tokoh Hui-to-pang yang disuruh Kong Lo Sengjin, maka kemarahannya menjadi-jadi.
Ia hanya tidak mengerti mengapa Hek-giam-lo memusuhi gurunya.
Bukankah Hek-giam-lo tadinya muncul dalam barisan Khitan?
Mengapa pula Hek-giam-lo kini mengajak orang-orang Hui-to-pang untuk mengeroyok gurunya yang sudah terluka parah?
Tentu saja Bu Song sama sekali tidak tahu bahwa Hek-giam-lo ini bukan lain adalah Bayisan!
Hek-giam-lo selalu mengenakan kedok tengkorak untuk menyembunyikan mukanya yang rusak dan mengerikan, bahkan menakutkan.
Seperti telah kita ketahui dalam bagian depan cerita ini, Bayisan yang menjadi Panglima Muda Khitan, adalah murid Ban-pi Lo-cia, murid terkasih yang telah mewarisi ilmu kepandaian kakek raksasa itu.
Karena tergila-gila kepada Puteri Tayami, ia hendak memaksa puteri itu menjelang pembunuhan Raja Kulukan, ayah Puteri Tayami.
Tentu saja yang melakukan pembunuhan gelap itu bukan lain adalah Bayisan sendiri yang bersekongkol dengan Pangeran Kubakan putera selir raja yang kemudian menggantikan kedudukan ayahnya yang ia suruh bunuh sendiri.
Akan tetapi, tanpa disengaja, untuk melindungi kehormatannya yang hendak diperkosa oleh Bayisan, Puteri Tayami telah menaburkan racun pada muka Bayisan yang tadinya tampan sehingga muka Bayisan terbakar dan berubah menjadi seperti muka setan yang menakutkan.
Semenjak malam itu, Bayisan melarikan diri dan tidak berani mucul lagi dimuka umum.
Khitan kehilangan Bayisan yang melarikah diri ke hutan-hutan.
Namun diam-diam Bayisan memperdalam ilmunya dengan hati penuh dendam.
Beberapa tahun kemudian, Khitan menjadi gempar dengan munculnya seorang tokoh berkedok yang menamakan diri Hek-giam-lo.
Akan tetapi karena ilmu kepandaian Si Kedok Tengkorak ini amat tinggi, ditambah pula agaknya Raja Kubakan bersahabat baik dengan Hek-giam-lo serta mempercayainya sebagai pengawal, maka tidak ada orang yang berani mencari tahu akan keadaan atau riwayatnya.
Sesungguhnya, Hek-giam-lo ini pulalah yang telah diam-diam menewaskan Tayami dan suaminya, Salinga, didalam perang.
Menewaskan dengan cara curang dari belakang selagi suami dan isteri yang patriotik ini maju perang membela bangsanya!
Oleh karena Hek-giam-lo adalah murid Ban-pi Lo-cia, tentu saja ia mendendam karena Kim-mo Taisu yang telah menewaskan gurunya.
Namun hal ini tidak ada seorangpun yang tahu, juga orang-orang yang terkenal di Khitan tidak ada yang tahu, tidak ada yang menduga bahwa Hek-giam-lo yang mengerikan itu sebetulnya adalah Bayisan, bekas Panglima Khitan yang dulunya tampan itu.
Tentu saja hanya Raja Kubakan yang tahu dan menerima sahabatnya itu, juga sutenya (adik seperguruannya), Lauw Kiat yang kini buntung kedua kakinya oleh Kim-mo Taisu.
Tewasnya gurunya dan buntungnya kedua kaki Lauw Kiat membuat Hek-giam-lo marah sekali dan belum merasa puas kalau belum dapat membunuh Kim-mo Taisu!
Inilah sebabnya mengapa ia memusuhi Kim-mo Taisu dan Bu Song yang tidak tahu duduk persoalannya, tentu saja merasa heran dan marah.
Juga orang muda ini tidak tahu mengapa Hui-to-pang memusuhi Kim-mo Taisu, bahkan yang membunuh isteri gurunya, yang disuruh oleh Kong Lo Sengjin, adalah orang Hui-to-pang.
Hal ini juga ada sebab-sebabnya.
Ketika Kim-mo Taisu masih merantau sebagai seorang pendekar jembel gila, di kota besar Cin-an di Propinsi Shan-tung, Kim-mo Taisu pernah bentrok dengan ketua Hui-to-pang.
Persoalannya adalah karena Ketua Hui-to-pang menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya merampas dengan paksa seorang gadis yang dicintai puteranya.
Puteranya jatuh cinta kepada seorang gadis anak pedagang kulit di kota itu.
Maka diajukannya pinangan.
Akan tetapi ayah si gadis menolak pinangan itu dengan alasan bahwa puterinya sejak kecil telah dipertunangkan dengan keluarga lain.
Sesungguhnya ayah si gadis menolak karena tidak suka bermantukan putera Ketua Hui-to-pang yang terkenal sebagai perkumpulan tukang-tukang pukul.
Kalau saja Ketua Hui-to-pang tidak mendengar akan dasar penolakan yang sesungguhnya, agaknya ia pun tidak akan memaksa setelah mendengar gadis itu sudah dipertunangkan dengan orang lain.
Akan tetapi begitu mendengar alasan penolakan yang sesungguhnya, ia menjadi marah sekali.
Toko Si Penjual Kulit diobrak-abrik, Si Penjual Kulit dan isterinya mati terbunuh dan anak perempuannya diculik!
Kebetulan pada hari itu Kim-mo Taisu lewat di kota itu.
Mendengar peristiwa ini bangkitlah jiwa pendekarnya dan malam hari ia mendatangi gedung Ketua Hui-to-pang.
Kemarahannya memuncak ketika mendengar betapa gadis itu menggantung diri sampai mati setelah menjadi korban keganasan putera Ketua Hui-to-pang.
Pertempuran terjadi dan Ketua Hui-to-pang yang tadinya memandang rendah kepada jembel gila itu dan yang marah karena Kim-mo Taisu dianggap terlalu lancang dan usil mengurusi urusan "sepele"
Orang lain, ternyata kalah dan terluka!
Ketika para anggauta Hui-to-pang hendak mengeroyok, Kim-mo Taisu berhasil menangkap putera Ketua Hui-to-pang dan dijadikan perisai sehingga ia berhasil keluar.
Saking marahnya, ketika hendak meninggalkan tempat itu dan membebaskan putera Ketua Hui-to-pang, Kim-mo Taisu membuntungi ujung hidung dan kedua telinga pemuda hidung belang itu!
Inilah sebab-sebab permusuhan dan dendam Hui-to-pang kepada Kim-mo Taisu, dan tokoh yang berhasil dihasut Kong Lo Sengjin dan membunuh isteri Kim-mo Taisu adalah adik kandung Hui-to-pangcu (Ketua) sendiri.
Demikianlah tidak mengherankan apabila kini mereka bersekongkol dengan Hek-giam-lo untuk mengeroyok Kim-mo Taisu.
Apalagi ketika mendengar dari Kong Lo Sengjin bahwa dua orang tokoh mereka yang berusaha menawan sastrawan Ciu Gwan Liong dalam usaha mereka merampas dan mencari kitab dan suling pemberian Bu Kek Siansu itu terbunuh oleh Kim-mo Taisu!
Dendam mereka makin mendalam.
Memang kakek tua renta yang lumpuh, Kong Lo Sengjin, bekas raja muda itu amat licin, penuh tipu muslihat dan curang.
Pandai ia melempar batu sembunyi tangan, melemparkan kesalahan ke pundak orang untuk mengadu domba!
Biarpun dua orang anggauta pimpinan Hui-to-pang sudah roboh oleh totokan suling dan pukulan tangan kiri Bu Song, namun jumlah mereka masih delapan orang dan karena kini mereka bergerak hati-hati dan tidak berani memandang rendah lawan muda ini, keadaan mereka menjadi lebih kuat daripada tadi.
Apalagi Hek-giam-lo juga mendesak dengan terjangan-terjangan dahsyat.
Pertandingan di luar tenda itu benar-benar seru dan mati-matian.
Namun Bu Song seperti seekor burung garuda yang mengamuk Setelah mendapat gemblengan Bu Tek Lojin, gerakannya luar biasa sekali.
Apalagi senjatanya merupakan senjata yang ampuh dan aneh, terbuat daripada logam yang tampaknya seperti emas, akan tetapi sesungguhnya merupakan logam campuran yang ajaib, yang menjadi lebih ampuh lagi karena benda ini tadinya milik Bu Kek Siansu, seorang pertapa yang sudah dijuliki dewa oleh tokoh-tokoh besar persilatan.
Sepak terjangnya hebat menggetarkan para pengeroyoknya dan beberapa kali orang-orang Hui-to-pang itu kehilangan golok mereka yang terbang atau runtuh begitu terbentur suling yang mengandung tenaga sin-kang mujijat!
Tiba-tiba orang-orang Hui-to-pang ini meloncat mundur dan begitu tangan mereka bergerak, golok terbang melayang dan meluncur cepat menghujani tubuh Bu Song!
Bu Song kaget dan marah sekali, Ia memutar sulingnya dan menerjang maju, dengan tidak terduga-duga ia menggunakan kedua kakinya melakukan tendangan berantai dan robohlah dua orang Hui-to-pang setelah tubuh mereka mencelat sampai lima meter lebih!
Namun pada saat itu, selagi Bu Song masih memutar sulingnya melindungi tubuh dari hujan hui-to dari empat penjuru, tiba-tiba terdengar angin keras dan berkelebatlah belasan batang hui-to yang mengeluarkan sinar menyilaukan mata!
Inilah Cap-sha-hui-to (Tiga belas Golok Terbang) yang dilontarkan oleh Hek-giam-lo!
Ketika Bayisan menyembunyikan diri, ia pernah mempelajari ilmu golok terbang dari Ketua Hui-to-pang, yaitu melontarkan golok sebagi senjata rahasia.
Dan karena tingkat kepandaiannya memang amat tinggi, bahkan lebih tinggi daripada Ketua Hui-to-pang sendiri, maka begitu ia mendapatkan rahasia ilmu melontarkan golok terbang ia dapat menciptakan ilmu ini yang lebih hebat daripada orang yang mengajarnya.
Ia dapat menciptakan golok yang gagangnya melengkung sehingga kalau ia melontarkannya, golok itu dapat terbang kembali kepadanya apabila tidak mengenai lawan dan dapat ia sambut dan pergunakan lagi!
Lebih hebat pula, kedua tangannya dapat melontarkan tiga belas batang golok terbang sekaligus!
Ini memang hebat luar biasa, karena Hui-to-pangcu sendiri, ketua Perkumpulan Golok Terbang, hanya dapat melontarkan sebanyak tujuh batang golok!
Menghadapi serangan ini, Bu Song terkejut dan tentu saja ia memutar sulingnya menangkis sambil mengelak.
Akan tetapi ia sama sekali tidak mengira bahwa golok yang tidak mengenai sulingnya, dapat terbang membalik.
Ada tiga batang yang terbang membalik sehingga ia amat kaget dan berusaha menyelamatkan diri.
Akan tetapi kurang cepat dan sebatang golok milik Hek-giam-lo menancap dipundak kirinya!
Melihat hasil ini, enam orang Hui-to-pang menyerbu serentak dengan tusukan dan bacokan golok yang datang bagaikan hujan ke arah tubuh Bu Song.
Bu Song mengeluarkan suara keras dari kerongkongannya, suara keras yang mengiringi pengerahan tenaga dalam, memutar sulingnya untuk melindungi tubuh karena Hek-giam-lo pun sudah menerjangnya lagi.
Pundaknya terasa sakit dan panas sekali sehingga lengan kirinya hampir lumpuh.
Keadaannya berbahaya sekali, namun Bu Song menggigit bibir dan memutar suling, mengambil keputusan akan melindungi suhunya sampai titik darah terakhir.
Pada saat itu tiba-tiba Kim-mo Taisu muncul dipintu tenda.
Mukanya tidak kelihatan pucat, matanya berkilat penuh wibawa, sikapnya menantang dan dia membentak.
"Hek-giam-lo, kau masih tidak mau pergi? Orang-orang Hui-to-pang, belum puaskah kalian dengan pertumpahan darah dan pengorbanan nyawa?"
Sambil berkata demikian, dengan mudah saja Kim-mo Taisu menggunakan ujung lengan bajunya menyampok beberapa buah hui-to yang menyambar ke arahnya, karena orang-orang Hui-to-pang sudah menyerangnya dengan hui-to begitu melihat musuh besar ini muncul.
Golok-golok terbang itu runtuh dan patah semua menjadi dua potong!
Gentarlah hati Hek-giam-lo dan sisa orang-orang Hui-to-pang ketika melihat Kim-mo Taisu yang ternyata masih gagah perkasa itu.
Jelas bagi mereka bahwa kalau pendekar sakti ini maju, dengan bantuan muridnya yang pandai, pihak mereka akan mengalami kekalahan besar.
Maka Hek-giam-lo mendengus dan membalikkan tubuh lalu berlari pergi, diikuti oleh enam orang anggauta Hui-to-pang yang tidak pedulikan empat orang temannya yang tewas.
Begitu orang-orang itu lenyap dari pandangan, Kim-mo Taisu roboh terguling didepan pintu tenda!
Bu Song cepat melompat dan berlutut memeriksa keadaan suhunya.
Akan tetapi ternyata Kim-mo Taisu Kwee Seng, pendekar sakti yang pernah menggemparkan dunia persilatan itu telah menghembuskan napas terakhir.
Bu Song menundukkan kepalanya, termenung sejenak, lalu ia mengangkat jenazah suhunya dibawa kedalam tenda dan dibaringkan.
Bu Song lalu mencabut hui-to yang menancap dipundak kirinya.
Darah mengucur keluar, akan tetapi segera berhenti setelah Bu Song menekan jalan darah dipundaknya dan menaruh obat bubuk pada luka dipundak.
Ia tidak khawatir akan racun, karena menurut suhunya, tubuhnya sudah kebal terhadap racun.
Kemudian Bu song mencari dan memilih tempat yang baik dilereng Gunung Tai-hang-san, menggali lubang dan mengubur jenazah suhunya, menaruh sebuah batu besar didepan kuburan.
Kemudian ia mengerahkan tenaga, dengan jari telunjuk kanan Bu Song mencorat-coret pada permukaan batu itu dan terjadilah goresan sedalam dua senti meter yang membentuk huruf-huruf indah.
MAKAM PENDEKAR BUDIMAN KIM-MO TAISU KWEE SENG Setelah itu, Bu Song lalu mengubur pula jenazah empat orang Hui-to-pang, lalu mendaki puncak mengubur mayat yang dilihatnya berserakan.
Tak lama kemudian muncullah penduduk daerah Pegunungan Tai-hang-san.
Mereka beramai-ramai lalu mengubur semua jenazah, baik mayat tentara Sung maupun mayat orang Khitan.
Bu Song membantu sekuat tenaga.
Saking banyaknya mayat disekitar pegunungan, pekerjaan dilanjutkan sampai keesokan harinya dengan mengubur lima sampai sepuluh mayat dalam satu lubang.
Ketika pada keesekokan harinya akhirnya semua mayat terkubur, penduduk dusun tidak melihat lagi pemuda tampan yang ikut bekerja mati-matian tanpa mengeluarkan sepatah katapun itu.
Bu Song telah pergi dengan diam-diam, hatinya trenyuh memikirkan keadaan perang dan segala akibatnya.
Rakyat dusun, rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa, yang selalu taat dan patuh dan takut, mereka inilah yang selalu menjadi korban terakhir.
Tanpa diperintahkan mereka mengubur semua mayat.
Mereka harus mengubur semua mayat itu karena kalau tidak, keselamatan mereka terancam oleh bahaya menjalarnya wabah penyakit yang hebat.
Setelah gurunya meninggal dunia, barulah Bu Song merasa betapa hidupnya sunyi dan sebatang kara.
Ada timbul ingatan dalam hatinya untuk pergi ke Nan-cao, menjumpai kakeknya, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ayah dari ibunya yang sampai kini tidak pernah ia jumpai.
Tentu saja ia tidak pernah mimpi bahwa pernah ia bertemu dengan ibunya, bahkan ia berani menegur dan menasihati ibunya itu yang hendak membunuhnya!
Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa karena sikap dan kata-katanya maka ibunya menjadi sadar dan insyaf, membuat ibunya lalu menyembunyikan diri tidak mau muncul lagi didunia ramai untuk menebus dosa-dosanya!
Akan tetapi Bu Song tidak dapat melupakan Suma Ceng.
Betapapun juga, cinta kasih yang terpendam dalam hatinya takkan dapat lenyap.
Betapa mungkin ia dapat melenyapkan rasa cinta kasihnya terhadap Suma Ceng, gadis yang telah merampas hatinya, yang telah menyerahkan jiwa raga kepadanya?
Karena rasa rindunya kepada Suma Ceng tak tertahankan lagi, maka ia menunda niatnya pergi ke Nan-cao mencari keluarga ibunya, sebaliknya ia lalu pergi lagi ke kota raja.
Tadinya memang ia sudah ke kota raja, akan tetapi ketika itu ia hendak mencari suhunya dan mendengar bahwa suhunya pergi bersama tentara Sung ke utara, ia segera keluar dari kota raja untuk menyusul suhunya.
Sekarang ia pergi ke kota raja dengan tujuan lain, yaitu mencari tahu tentang diri kekasihnya, Suma Ceng.
Ketika ia memasuki pintu gerbang kota raja, hatinya berdebar.
Ia tahu betapa perhubungannya dengan Suma Ceng kurang lebih tiga tahun yang lalu, telah menimbulkan kegemparan didalam rumah tangga keluarga Pangeran Suma Kong.
Dia sendiri telah disiksa dan kalau tidak ditolong suhunya, tentu ia akan tewas tersiksa.
Akan tetapi bagaimanakah dengan Suma Ceng?
Darahnya naik dan mukanya menjadi panas kalau ia membayangkan jangan-jangan kekasihnya itu mengalami siksa dan derita pula, jangan-jangan malah telah mati!
Ia menggeget giginya.
Ia harus menyelidiki dan membuktikan bahwa Suma Ceng kekasihnya tidak sengsara hidupnya.
Ia memasuki pintu gerbang kota raja ketika hari sudah menjelang senja.
Keadaan mulai sepi, apalagi karena Bu Song masuk dari pintu gerbang bagian selatan, ia melalui pinggiran kota raja yang paling sunyi.
Mendadak ia mendengar suara ribut-ribut disebelah depan.
Bu Song melihat seorang laki-laki muda, berpakaian penuh tambalan akan tetapi baik baju maupun tambalannya terbuat dari kain baru dan bersih sekali sehingga lebih patut disebut pakaian berkembang aneh, sedang berdiri bertolak pinggang dan memaki-maki belasan pengemis berpakaian penuh tambalan dan butut.
Tertarik hati Bu Song dan ia segera mendekat.
Pengemis baju bersih itu usianya kurang lebih tiga puluh tahun, sedangkan sebelas orang pengemis baju kotor paling muda berusia tiga puluh lima tahun.
Akan tetapi sungguh mengherankan betapa belasan pengemis itu yang kelihatan murung dan muram wajahnya, dimaki-maki oleh Si Pengemis Baju Bersih sama sekali tidak berani membalas atau marah.
Bahkan seorang diantara mereka, yang usianya sudah amat tua, dengan muka sabar berkata.
"Sudahlah, Sahabat muda. Harap kau suka maafkan kami orang-orang tua yang tadi tidak mengenal siapa adanya engkau."
"Huh, memang kalian ini jembel-jembel busuk! Biar pura-pura sudah menerima kalah dan menjadi jembel, masih bersikap sombong-sombongan. Kau kira engkau masih guru silat kenamaan dan anggauta-anggauta Sin-kauw-bukoan? Huh!"
Pengemis muda baju bersih itu lalu menggerakkan kaki menendang.
Tendangan keras dan mengandung tenaga, mengenai perut kakek jembel itu mengeluarkan suara berdebuk keras.
Bu Song terkejut.
Tendangan itu keras sekali dan dapat diduga bahwa pengemis baju bersih itu memiliki tenaga kasar yang amat kuat.
Akan tetapi ketika mengenai perut si Kakek, agaknya tidak terasa apa-apa oleh kakek itu.
Diam-diam ia merasa kagum dan heran.
Terang bahwa ilmu kepandaian kakek jembel berbaju kotor itu jauh lebih tinggi daripada kepandaian Si Pengemis Baju Bersih, akan tetapi mengapa dihina diam dan mengalah saja?
Bahkan kini pengemis baju bersih itu marah-marah dan memaki-maki.
"Kau hendak melawan? Mengandalkan ilmu kepandaianmu?"
Sambil memaki, pengemis baju bersih ini menggerakkan kaki tangannya, menghantam dan menendang.
Biarpun kakek itu dapat menerima tendangan dan pukulan ini tanpa terluka, namun ia terhuyung-huyung dan ketika ia mundur-mundur, tak diketahuinya bahwa dibelakangnya terdapat selokan.
Kakinya terpeleset dan ia jatuh kedalam selokan yang airnya kotor!
Pengemis baju bersih itu tertawa bergelak, lalu pergi dari situ dengan lagak sombong.
Para pengemis baju kotor yang lain hanya memandang lalu menundukkan kepala sambil menarik napas panjang.
Jelas bahwa mereka ini pun menahan kemarahan hati dan melihat gerak-gerik mereka, Bu song dapat menduga pula bahwa mereka ini pun bukan orang sembarangan dan belum tentu kalah oleh pengemis baju bersih yang sombong tadi.
Akan tetapi mengapa mereka itu, seperti juga kakek yang dipukulinya tadi, diam saja dan mengalah?
Setelah pengemis baju bersih itu pergi tak tampak lagi, kakek pengemis yang jatuh kedalam selokan tadi membanting banting kaki dan menarik napas panjang berulang-ulang sambil mengeluh.
"Aahh... heh..!"
"Suhu, mengapa Suhu menerima terus-menerus penghinaan macam ini? Mari kita serbu saja dan mengadu nyawa dengan si bedebah!"
Seorang pengemis yang termuda berkata, suaranya mengandung penasaran.
"Hushh, jangan bicara sembarangan!"
Kakek itu menegur, lalu kembali menghela napas dan menggeleng-geleng kepalanya. Seorang pengemis lain yang lebih tua berkata.
"Twa-suheng (Kakak Tertua), ada benarnya juga ucapan muridmu. Seorang gagah lebih baik mati daripada mengalami penghinaan dalam hidupnya!"
"Sudahlah, Sute (Adik Seperguruan). Melawan tanpa perhitungan kepada lawan yang jauh lebih kuat sehingga lebih merupakan bunuh diri, bukanlah gagah namanya, melainkan bodoh. Siapa orangnya mau mengalami penghinaan? Aku pun tidak suka, akan tetapi kita harus mencari jalan keluar yang baik, menanti kesempatan yang tepat!"
"Akan tetapi sampai kapan kita menanti lagi, Suhu?"
Si murid mendesak.
"Mungkin Suhu cukup sabar menghadapi semua penghinaan itu, akan tetapi teecu (murid) tidak dapat bertahan lagi, Suhu. Lain kali, kalau mereka itu berani sekali lagi melakukan penghinaan terhadap Suhu, teecu tidak berani tanggung apakah teecu akan dapat menahan diri. Agaknya pasti akan teecu lawan dengan taruhan nyawa! Teecu rasa, biarpun akhirnya kita kalah oleh Si Bedebah she Pouw, namun sebelum kita mati, kita tentu dapat membunuh puluhan orang musuh sehingga mati pun tidak penasaran!"
Si Kakek kembali menggeleng kepala dan menarik napas panjang.
"Percuma... tidak ada gunanya...!"
Bu Song adalah seorang yang masih muda.
Melihat sikap pengemis baju bersih tadi pun ia sudah merasa mendongkol hatinya.
Kini mendengarkan pembantahan antara guru dan murid ini, ia merasa penasaran dan tanpa disadarinya ia lalu berkata.
"Muridnya begitu bersemangat, gurunya begini melempem, sungguh lucu. Kalau seseorang sudah kehilangan keberaniannya menentang si jahat, dia tidak patut menjadi guru lagi!"
Pengemis termuda yang menjadi murid kakek itu tiba-tiba melompat kedepan Bu Song dan semua pengemis kaget dan heran.
Mengapa ada orang mendekati mereka tanpa mereka ketahui?
"Eh, orang muda, lancang sekali mulutmu berani menegur Suhu!
Tidak tahukah engkau dengan siapa kau berhadapan?
Suhu adalah Sin-kauw-jiu Liong-kauwsu (Guru Silat Liong berjuluk Kepalan Monyet Sakti), dahulu jagoan kota Sin-Yang!
Hayo lekas kau minta maaf dan menarik kembali omonganmu yang lancang kalau kau tidak ingin merasai pukulanku!"
"Aihh... aihh...! Kenapa mendadak menjadi begini galak? Tadi ada pengemis tolol memaki-maki lalu memukul dan menendang Kakek ini sampai masuk selokan bau, kau diam saja!"
Sejenak mereka itu memperlihatkan muka malu, akan tetapi pengemis muda itu, yaitu yang termuda di antara mereka, baru tiga puluh lima tahun, lalu membentak marah.
"Urusan sesama kaum kai-pang (perkumpulan pengemis) tidak ada hina-menghina, pula merupakan urusan dalam, bukan urusanmu. Akan tetapi engkau ini orang luar berani menghina kami? Tidak tahukah bahwa kami adalah bekas orang-orang Sin-kauw-bukoan yang terkenal?"
Bu Song tersenyum.
Tentu saja dia tidak pernah mendengar Sin-kauw-bukoan (Perguruan Monyet Sakti).
Kalau mereka ini bekas orang-orang perguruan silat ternama, mengapa sekarang menjadi pengemis?
Bahkan agaknya golongan pengemis yang paling rendah tingkatnya.
Buktinya tadi diperhina oleh pengemis lain yang jelas kepandaiannya tidak berapa tinggi, mereka ini tidak berani melawan.
"Aku bicara sejujurnya. Siapa menghina? Dan kau ini galak amat, mau apa?"
Bu song sengaja memancing kemarahan orang dan cepat sekali pengemis itu menerjangnya dengan pukulan kearah dada disusul dengan tangan kiri mencengkeram kearah lambung.
Memang Bu Song hendak menguji kepandaian mereka ini, terutama kepandaian mereka yang menjadi guru dan setingkatnya.
Dengan tenang ia menggerakkan kakinya mundur dua langkah, sengaja berlaku lambat untuk memancing lawannya.
Benar saja, lawannya terkena pancingannya karena menyangka bahwa ia tidak begitu lihai sehingga dengan girang lawannya sudah menubruk maju, kedua tangannya mencengkeram kearah dada dengan keyakinan pasti kena.
Bu Song memiringkan tubuhnya, menyampok dari samping dan mengerjakan kakinya, yaitu ujung sepatunya menotok sambungan lutut.
Tak dapat dicegah lagi pengemis itu terguling!
Terdengar teriakan keras dan tahu-tahu orang yang disebut adik seperguruan kakek itu tadi menyerbu.
Pukulannya jauh lebih cepat dan berat jika dibandingkan dengan murid keponakannya yang kini sudah merangkak bangun sambil memijit-mijit lututnya.
Diam-diam Bu Song makin terheran, Kepandaian murid tadi, apalagi paman guru ini, agaknya sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan pengemis baju bersih yang menghina tadi.
Apalagi kepandaian Si Kakek yang berjuluk Sin-kauw-jiu itu!
Mengapa mereka sama sekali tidak melawan tadi dan kini terhadap seorang luar seperti dia, biarpun kata-katanya sejujurnya dan sama sekali tidak bisa dibilang menghina, mereka sudah turun tangan?
Disamping keheranannya ini, hatinya pun tertarik dan suka kepada para pengemis baju kotor ini.
Jelas bahwa jika maju seorang demi seorang, mereka itu bukan tandingannya.
Namun mereka tidak mau maju mengeroyok.
Hal ini saja membuktikan bahwa mereka ini bukan golongan orang-orang jahat yang mengandalkan kepandaian atau teman banyak untuk berlaku sewenang-wenang dan menghina orang lain.
Sikap mereka terhadapnya adalah sikap orang gagah yang hendak memperebutkan kebenaran dan kehormatan dengan ilmu kepandaian secara gagah pula.
Karena tertarik dan ingin berkenalan, Bu Song tidak mau mempermainkan lawannya terlalu lama.
Dengan gerakan indah, ia berhasil merobohkan lawannya dengan sebuah dorongan yang disertai tenaga dalam.
Biarpun dorongannya tidak menyentuh dada orang, namun pengemis itu tetap saja tanpa dapat ia pertahankan lagi, roboh terjengkang kebelakang dan hanya dengan berjungkir balik saja ia dapat menyelamatkan diri tidak terbanting keras!
Namun hal ini sudah cukup membuka matanya bahwa orang muda yang kelihatan lemah ini sama sekali bukan tandingannya.
"Kau hebat, orang muda!"
Orang ketiga yang lebih tua sudah menyambar kedepan.
Orang ini adalah kakak seperguruan dari yang tadi roboh, merupakan orang kedua di Sin-kauw-bukoan.
Pukulannya mengandung tenaga Iwee-kang yang ampuh dan kuat sehingga setiap ia menggerakkan tangannya, terdengar suara angin menyambar.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba lawannya berkelebat dan lenyap dari depannya!
Pengemis yang berwajah muram ini kaget dan bingung, lalu mendengar suara ketawa dibelakangnya.
Ketika ia membalikkan tubuh, kiranya lawannya sudah berada disitu, enek-enak saja tersenyum dan memandangnya.
Ia menjadi penasaran dan cepat menerjang lagi, kini menggunakan kedua tangan yang dibuka jari-jarinya, seperti tangan monyet hendak mencengkeram..
Hebat tubrukannya ini, karena tangan itu tidak segera mencengkeram, melainkan menanti kemana lawan akan mengelak.
Gerak tipu Ilmu Silat Monyet Sakti ini amat hebat dan jarang sekali gagal.
Namun kembali matanya mejadi kabur karena lawannya yang muda itu berkelebat tanpa dapat ia duga kemana, hanya tahu-tahu sudah melewati atas kepalanya.
Ketika ia memutar tubuh, kembali orang muda itu berkelebat menyelinap dari samping, kemudian pada detik selanjutnya, sebelum ia sempat membalikkan tubuh, ia merasa tengkuknya disentuh oleh jari-jari tangan yang hangat.
Pengemis ini kaget sekali dan berseru.
"Hebat... aku mengaku kalah...!"
Ia melompat kepinggir dan memandang dengan mata terbelalak keheranan.
Kini kakek tua renta itu berjalan maju.
Langkahnya sudah membayangkan usia tua.
Matanya memandang Bu Song, berkedip-kedip penuh keheranan.
"Melihat gerakanmu, orang muda, kau mengingatkan aku akan seseorang... ah, seseorang yang tadinya kukagumi, akan tetapi ternyata mengecewakan hatiku..."
Makin tertarik hati Bu Song.
"Siapakah orang itu, Sin-kauw-jiu Liong-kauw-su? "Ah, jangan sebut-sebut julukanku yang kosong melompong. Dan aku bukan kauwsu lagi melainkan seorang jembel busuk yang tiada harganya. Sebut saja aku Lokai (Pengemis Tua). Nama orang itu selalu kusimpan sebagai rahasia, biarpun dia sudah mengecewakan hatiku, namun tidak akan kusebut-sebut. Akan tetapi karena gerakanmu mirip dia, kalau kau bisa mengalahkan toyaku, biarlah hitung-hitung aku kalah bertaruh dan akan kusebut namanya di depanmu. Kau jagalah, orang muda!"
Kakek itu menerima sebatang toya kuningan yang kedua ujungnya dilapis baja.
Begitu toya itu berada dikedua tangnnya, benda itu seakan-akan menjadi hidup dan bergerak-gerak amat cepatnya.
"Orang muda, keluarkan (Lanjut ke
Jilid 34) SULING EMAS (Seri ke 02
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34 senjatamu, mari kita main-main sebentar!"
Sesungguhnya, biarpun kakek ini kelihatannya jauh lebih lihai daripada si murid atau sutenya tadi, ia tidak takut menghadapinya dengan tangan kosong.
Akan tetapi mengingat bahwa kakek ini adalah seorang yang dahulunya tentu ternama, ia pun segan untuk memandang rendah.
Ia tidak mempunyai permusuhan dengan mereka, apalagi Sin-kauw-jiu Liong-kauwsu, dan ia bahkan menaruh iba kepada bekas guru silat dan murid-muridnya ini yang telah merosot derajatnya menjadi pengemis-pengemis yang dihina orang.
Disamping rasa iba ini, ada pula rasa penasaran mengapa semangat si guru demikian melempem dan tidak layak menjadi sikap seorang gagah.
"Kauwsu, bukan aku yang mengajak berkelahi. Kalau tidak terdesak, untuk apa aku mengeluarkan senjata? Aku tidak mau melukai orang!"
Jawabnya.
"Kalau kau hendak main-main, silakan mulai."
Kakek itu kelihatan marah sekali.
"Sudah terlalu lama dihina orang tanpa berani membalas! Sekarang ada engkau ini orang muda yang datang-datang menghina kami. Orang muda, jangan salahkan aku kalau toyaku tidak mengenal kasihan. Kau sambutlah!"
Tampak gulungan sinar kuning ketika toya itu menyambar dahsyat, menyerang dengan pukulan menyamping kearah lambung kiri Bu Song disusul gentakan ujung lain yang menyusul dengan hantaman kearah kepala andaikata pukulan pertama dapat dielakkan.
Akan tetapi, sekali berkelebat tubuh orang muda itu lenyap dari depannya!
Liong-kauwsu terkejut, cepat membalikkan tubuh menggerak kan toyanya menerjang kebelakang tubuh.
Benar saja dugaannya, orang muda yang dapat bergerak luar biasa cepatnya itu tadi telah berada dibelakangnya sehingga serangan susulannya ini tepat sekali.
Dengan tusukan kuat ujung toyanya menyambar kearah dada, kemudian ketika orang muda itu mengelak kekiri, toyanya mengejar terus dengan sontekan kekanan, menghantam leher lalu disontekkan lagi, menggunakan ujung yang lain menyerampang kaki.
Semua ini dilakukan oleh kakek itu dengan kecepatan kilat, dan biarpun ia sudah tua, namun kedua ujung toya itu tiap kali digerakkan, menggetar dan dilihat dengan mata biasa, ujungnya berubah menjadi puluhan batang.
"Ilmu toya yang bagus!"
Bu Song memuji akan tetapi kembali tubuhnya lenyap tanpa diketahui kakek itu saking cepatnya.
Dari belakangnya, Liong-kauw-su merasa betapa ujung toyanya disentuh lawan.
Ia cepat membalikkan tubuh dan melihat lawannya itu tersenyum-senyum berdiri dibelakangnya, kini sudah mengeluarkan sebuah benda kuning berkilauan ditangan.
Bukan main kaget dan kagumnya hati kakek itu.
Ia tadi maklum bahwa lawannya akan mudah merobohkannya, atau merampas toyanya, karena bukankah tadi lawannya sudah menyentuh ujung toya dari belakang sebelum ia mampu membalikkan tubuh?
Akan tetapi orang muda itu tidak melakukan hal ini bahkan mengeluarkan senjata, padahal dengan tangan kosong sekalipun agaknya akan sukar baginya untuk mengalahkan orang muda ini.
Ketika ia memperhatikan senjata ditangan orang muda itu, ia berseru kaget, juga sutenya berseru.
"Kim-siaw (Suling Emas)...!"
Bu Song memandang suling emas ditangannya dan pada saat itu, jantungnya berdebar aneh.
Nama yang bagus!
Kim-siauw!
Namanya sendiri sudah lapuk, sudah terlalu banyak mendatangkan hal-hal yang menyedihkan!
Namanya sendiri, Bu Song, selalu terkait dengan hal-hal yang mematahkan hati, mengingatkan ia akan ayah bundanya yang cerai-berai, akan hidupnya yang sebatang kara.
Mengingatkan ia akan pengalaman-pengalamannya yang pahit-getir, akan kematian Kwee Eng yang sudah dicalonkan menjadi isterinya, wanita pertama yang merampas hatinya.
Kemudian, yang masih membekas dalam sekali dikalbunya, mengingatkan ia akan Suma Ceng, wanita kekasihnya yang tadinya ia anggap sebagai pengganti Kwee Eng yang tewas.
Nama Bu Song sungguh diselimuti kegelapan, nama yang sial!
Akan tetapi ia tidak dapat melamun terus karena kembali toya yang berat itu menyambar dibarengi seruan Liong-kauw-su.
Tampak sinar emas bergulung-gulung ketika Bu Song menggerakkan sulingnya.
Sinar ini seakan-akan merupakan tali emas yang menggulung dan melibat-libat toya, kemudian tanpa dapat dicegah lagi oleh Liong-kauwsu, juga tanpa ia ketahui bagaimana caranya, toyanya terlepas dari tangannya, melayang tinggi keatas dan ketika turun, disambut oleh suling ditangan Bu Song, diputar-putar sampai berhenti melintang diatas suling yang disodorkan kepada Liong-kauwsu, diikuti kata-kata.
"Terimalah kembali toyamu, Liong-kauwsu!"
"Hebat...! Kau lebih hebat daripada Kim-mo Taisu...!"
Kakek itu berkata dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Juga murid-muridnya serta sutenya memandang penuh kekaguman.
"Dan suling emas itu...! Orang muda, bolehkah kami mengetahui, siapakah namamu yang mulia?"
Bu Song tersenyum pahit, memandang sulingnya yang ia pegang ditangan kanan, ditegakkan lurus depan muka, kemudian berkata.
"Suling emas... suling emas... inilah namaku... Suling Emas!"
Sin-kauw-jiu Liong-kauwsu adalah seorang kang-ouw yang sudah banyak pengalaman nya.
Ia maklum bahwa orang muda ini adalah seorang sakti yang tidak mau memperkenalkan namanya.
Timbul harapan dalam hatinya bahwa orang muda yang luar biasa ini akan dapat membantunya menebus semua penghinaan dan sakit hati yang selama puluhan tahun ia derita.
Akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan orang yang datang-datang membentak.
"Lagi-lagi ada manusia tak berbudi yang berani menghina kaum jembel mengandalkan kepandaiannya?"
Para kakek pengemis dan juga Suling Emas (karena Bu Song sendiri merubah namanya, mulai sekarang kita mengenalnya sebagai Suling Emas) menoleh dan melihat bahwa yang datang itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun, pakaiannya tambal-tambalan dan bahkan kedua lengan bajunya buntung compang-camping, memakai caping (topi petani) lebar yang menutupi sebagian mukanya.
Juga capingnya itu butut, compang-camping pinggirnya.
Namun tubuh orang itu tampak kuat, matanya bersinar-sinar, mukanya bersih tidak berjenggot.
Celananya yang butut juga buntung sebatas lutut.
Setelah berkata demikian, serta merta orang yang baru tiba ini menerjang Suling Emas dengan serangan-serangan kilat.
"Eh, sahabat.. jangan salah kira. Dia... Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas) tidak..."
Liong-kauwsu tidak melanjutkan kata-katanya karena Suling Emas sudah memotong.
"Biarlah, Kauwsu. Orang ini lihai, biarkan kami main-main sebentar!"
Memang Suling Emas kagum menghadapi serbuan orang yang baru datang ini.
Baru bergebrak sejurus saja tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada tingkat kakek guru silat itu.
Pukulan kedua tangan dan tendangan kedua kakinya mendatangkan angin halus, seakan-akan tidak mengandung tenaga, namun ternyata penuh dengan tenagan sin-kang yang amat kuat.
Juga gerakan-gerakannya aneh dan membingungkan, cepat sekali membuktikan bahwa gin-kang orang ini pun sudah mencapai tingkat tinggi!
Suling Emas sudah menyimpan sulingnya dan cepat ia mengelak lalu balas menyerang, juga ia mempergunakan kecepatan gerakannya.
Ketika merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lutut sampai hampir berjongkok untuk menghindarkan hantaman kedua tangan kearah dada dan leher tadi, sambil secepat kilat membalas dengan tusukan jari-jari tangannya kearah pusar lawan, dengan amat cepatnya tubuh lawannya itu sudah melambung tinggi sehingga tusukannya tak berhasil.
Dari atas pengemis itu sudah berjungkir balik dan kini melakukan serangan dari atas, dengan kepala dibawah kaki diatas, tangan kiri mencengkeram kearah ubun-ubun kepala dan tangan bergerak membentuk lingkaran-lingkaran untuk mencegah jalan keluar!
Suling Emas maklum bahwa menghadapi serangan ini, tidak ada jalan untuk mengelak.
Satu-satunya jalan hanyalah mengadu tenaga.
Karena lawan ini melayang turun sehingga tenaganya ditambah oleh berat tubuh serta tenaga luncuran turun, tentu saja orang itu lebih menguntungkan keadaannya.
Namun ia tidak gentar, bahkan ia lalu memasang kuda-kuda.
Kedua kakinya seakan berakar di atas tanah, membiarkan lawan melayang turun sampai dekat lalu tiba-tiba kedua tangannya bergerak mengimbangi kedudukan kedua tangan lawan untuk menangkis.
"Dukkk...!!"
Dua pasang tangan bertemu dan akibatnya, tubuh pengemis itu mencelat keatas sampai lima meter lebih, sedangkan kuda-kuda Suling Emas sungguhpun tidak tergeser, namun kedua kakinya melesak kedalam tanah sampai lewat sepatunya!
Pengemis ini memang hebat.
Walaupun tubuhnya terlempar begitu tinggi, namun ia tidak kehilangan akal.
Beberapa kali pinggangnya bergerak, tubuhnya melentik seperti ular dan ia sudah berhasil memulihkan keseimbangan tubuhnya dan meloncat turun dengan gerakan ringan, tepat berdiri menghadapi Suling Emas.
Keduanya saling pandang, penuh kekaguman.
"Kepandaianmu luar biasa sekali, sobat!"
Kata Suling Emas sambil tersenyum.
Kata-kata ini keluar dari hatinya yang tulus, karena memang ia kagum menyaksikan kepandaian pengemis ini.
Pula, ketika terlempar keatas, caping pengemis itu terlepas dan tampaklah kini wajahnya yang cukup tampan dan gagah.
Wajah yang banyak membayangkan kepahitan hidup, rambutnya awut-awutan, namun bersih dan mengandung cahaya bersemangat.
Dilain pihak, pengemis itu agaknya merasa penasaran, kagum, dan juga kaget.
Tentu saja ia tidak menyangka akan berhadapan dengan orang yang begini sakti.
Mendengar ucapan Suling Emas dan melihat senyum itu, ia salah sangka, mengira bahwa lawannya mengejek.
Maka ia lalu memandang dengan sinar mata tajam, mulutnya berkata penuh geram.
"Orang muda, kau memang hebat! Akan tetapi jangan kau tertawa-tawa lebih dahulu. Aku Yu Kang baru menerima kalah kalau kau mampu mengalahkan senjataku ini!"
Suling Emas sudah menaruh hati sayang kepada pengemis yang amat lihai ini, maka ia tidak ingin menanam permusuhan.
Akan tetapi sebelum ia mampu menjawab, pengemis yang bernama Yu Kang itu dengan jari-jari kaki telanjang telah mengenjot tanah dan tubuhnya melayang kedepan Suling Emas, tangan kanannya sudah memegang sebatang tongkat rotan kecil.
Tongkat itu tadinya terselip dibelakang punggungnya.
Kelihatannya sederhana sekali, besarnya hanya seibu jari kaki, panjangnya dua lengan.
Namun melihat betapa "senjata"
Yang lebih patut disebut senjata kanak-kanak bermain perang-perangan itu setelah berada ditangan pengemis ini menggetar-getar dan mengeluarkan suara melengking tiada hentinya, diam-diam Suling Emas kaget dan cepat ia pun mencabut sulingnya.
Gerakan tongkat rotan yang mengeluarkan suara melengking itu mengandung tenaga khi-kang yang hebat, maka Suling Emas segera memutar sulingnya pula dan terdengarlah suara melengking lebih tinggi dan nyaring.
"Bagus! Sambutlah seranganku!"
Yu Kang berseru keras dan tubuhnya menyambar maju, tongkatnya bekelebatan dan membentuk sinar kilat menyambar amat cepatnya.
Suling Emas pun maklum akan bahayanya serangan ini, maka ia lalu menggerakkan sulingnya dan lenyaplah bentuk suling, berubah menjadi gulungan sinar kuning emas yang membentuk lingkaran-lingkaran.
Ia telah mainkan jurus-jurus Pat-sian Kiam-hoat yang luar biasa ampuhnya.
Harus diakui bahwa diantara para tokoh persilatan, banyak kiranya yang mengenal tokoh persilatan, banyak kiranya yang mengenal Pat-sian Kiam-hoat, bahkan banyak yang ahli.
Namun Pat-sian Kiam-hoat yang dimainkan oleh Suling Emas ini lain daripada yang lain.
Kalau Pat-sian Kiam-hoat biasa mempunyai enam puluh empat jurus, akan tetapi Pat-sian Kiam-hoat yang diwariskan oleh Kim-mo Taisu kepada Suling Emas hanya mempunyai enam belas jurus.
Enam belas jurus yang sudah mencakup semua inti sari Pat-sian Kiam-hoat, bahkan sudah pula meliputi bagian-bagian terpenting yang terpendam.
Disamping ini, setelah semua pintu dalam tubuh Suling Emas dibuka oleh Bu Tek Lojin, maka sin-kang ditubuhnya dapat bergerak lancar sehingga permainan ilmu pedang ini menjadi makin hebat.
Setiap gerakan, setiap getaran, mengandung hawa sakti yang dahsyat.
Sin-kauw-jiu Liong Kong, guru silat yang telah menjadi pengemis itu, bersama murid-muridnya dan sutenya, menjadi penonton yang bengong terlongong.
Terheran-heran mereka menonton pertandingan luar biasa ini.
Tak dapat mata mereka mengikuti gerakan kedua orang muda itu, yang tampak hanyalah gulungan sinar kuning bercampur aduk dengan kilatan ujung tongkat yang menjadi ratusan banyaknya, membungkus bayangan dua orang yang tidak kelihatan bentuknya dan kabur saking banyaknya!
Diam-diam guru silat itu menarik napas panjang dan insyaf betapa ilmu kepandaian didunia itu tiada batasnya.
Dahulu ia amat kagum kepada sahabatnya, Kim-mo Taisu yang gerakannya sama dengan Pendekar Suling Emas ini.
Kemudian ia dibikin penasaran akan tetapi tidak berdaya oleh seorang tokoh muda yang baru, dua puluh tahun yang lalu, yaitu orang yang mengaku menjadi raja pengemis, berjuluk Pouw-kai-ong (Raja Pengemis Pouw) yang memiliki ilmu kepandaian hebat pula.
Kini di depan matanya, bertanding dua orang muda yang begini hebat, benar-benar membuat ia merasa betapa tingkat kepandaiannya sendiri sebenarnya bukan apa-apa!
"Wah-wah-wah, kau hebat!
Aku yang mengaku kalah!"
Tiba-tiba terdengar Yu Kang berseru keras dan tubuhnya terlempar sejauh enam tujuh meter dimana kedua kakinya berhasil menahan robohnya, akan tetapi ia masih tetap saja terhuyung-huyung!
Suling Emas sudah menyimpan sulingnya, melangkah maju sambil menjura.
"Yu-twako, kau benar-benar hebat! Aku kagum sekali."
Pengemis muda itu menghela napas, berjalan maju, meyelipkan tongkatnya di belakang punggung sambil berkata.
"Sudahlah, tak perlu kau merendah. Sudah jelas aku bukan tandinganmu. Kalau saja si keparat she Pouw itu selihai engkau, biarlah aku mati ditangannya dan mendiang ayah takkan dapat tenang dalam kuburnya!"
Setelah berkata demikian, Yu Kang melangkah pergi.
"Yu-enghiong (Orang Gagah she Yu), nanti dulu...!"
Tiba-tiba Sin-kauw-jiu Liong-kauwsu berseru sambil mendekat. Yu Kang membalikkan tubuhnya.
"Kau orang tua mau apa lagi? Aku melihat betapa kalian jembel-jembel tiada guna dipermainkan orang-orang, akan tetapi aku sendiri juga seorang jembel tiada guna, tak dapat membela kalian."
"Bukan demikian, Yu-enghiong. Ketahuilah bahwa kami sama sekali tidak dihina oleh Kim-siauw-eng, sama sekali tidak! Yang menghina kami adalah si keparat she Pouw yang kau sebut tadi! Dua puluh tahun kami dihina dan ditindas, karena itu mohon bantuan Yu-enghiong. Marilah kita bersatu untuk menghadapi Pouw-kai-ong yang jahat!"
Yu Kang melotot, terheran.
"Kalian ini pun mendendam kepada Pouw-kai-ong si jahat?"
Tiba-tiba Suling Emas yang mendengarkan percakapan itu berkata.
"Ah, kiranya kita adalah orang-orang segolongan. Aku sendiri pun boleh dianggap sebagai seorang musuh besar Pouw-kai-ong, bahkan beberapa kali pernah aku bertanding melawan dia dan kawan-kawannya!"
Kakek itu berseru girang, lalu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut didepan dua orang muda gagah itu, diturut oleh teman-temannya.
"Mohon bantuan Ji-wi Enghiong membasmi Pouw-kai-ong yang jahat..."
"Lo-kai (Pengemis Tua), harap jangan banyak tingkah. Kita dapat saling bantu dalam hal ini. Bangunlah! Lo-kai ini dari kai-pang (perkumpulan pengemis) yang manakah? Aliran apa?"
Pertanyaan Yu Kang ini diajukan dengan sikap penuh wibawa yang menunjukkan bahwa dia agaknya mengenal baik akan peraturan perkumpulan pengemis.
Orang tua itu bangkit berdiri dan sukar untuk menjawab.
Timbul kekhawatiran di hatinya bahwa pengemis muda yang perkasa ini takkan mau bekerja sama kalau mendengar bahwa dia sebetulnya bukan pengemis sama sekali, melainkan pengemis paksaan!
Melihat keadaan kakek itu meragu, Suling Emas lalu berkata.
"Saudara Yu Kang, Lopek (Paman Tua) ini sama sekali bukan pengemis. Dia dahulu adalah kedua dari Sin-jiu-bu-koan, berjuluk Sin-kauw-jiu bernama Liong Keng."
"Nama kosong belaka...., nama kosong belaka...."
Liong-kauwsu menggoyang-goyang kedua tangan dengan perasaan malu.
"Hemm, kalau begitu bukan golongan pengemis? Mengapa berpakaian pengemis? Mau main-main dengan pengemis, ya? Liong-kauwsu, kalau kau dan kawan-kawanmu ini hanya pura-pura menjadi pengemis untuk mencapai tujuan, aku tidak sudi bekerja sama!"
"Tidak... tidak... ah, Yu-enghiong salah sangka. Memang kami terpaksa menjadi pengemis, akan tetapi andaikata pembalasan dendam kami sudah terkabul, kami pun tetap akan menjadi pengemis. Kami sudah tidak punya apa-apa, dan untuk selanjutnya, kami rela menjadi pengemis asal saja Si Keparat Pouw-kai-ong sudah mendapat hukumannya!"
"Kalau begitu, boleh kita bekerja sama."
Kata Yu Kang mengangguk-angguk.
"Marilah Ji-wi Enghiong, kita bicara sambil berunding ditempat kami, dibawah jembatan Tembok Merah."
Yu Kang mengangguk dan Suling Emas juga menerima baik undangan ini.
Mereka lalu berangkat menuju ke jembatan besar dipinggir kota itu dan turunlah mereka kekolong jembatan.
Ditempat sederhana inilah Liong-kauwsu beserta anak buahnya tinggal!
Biarpun kolong jembatan, karena dirawat, maka tanahnya cukup bersih dan baunya tidak busuk.
Beberapa orang murid Liong-kauwsu sibuk menyembelih angsa besar yang mereka tadi tangkap, entah darimana.
Tak lama kemudian bau harum paha angsa dipanggang membuat air liur memenuhi mulut.
Beberapa orang lagi mengeluarkan cawan retak dan seguci besar arak!
Sambil memegangi paha angsa panggang yang gurih dan berlemak, menggerogoti daging yang lezat didorong masuk arak keras, mereka bercakap-cakap.
Mereka duduk seenaknya, ada yang berjongkok, ada yang bersandar pada dinding jembatan, ada pula yang berdiri, ada pula yang sambil rebah-rebahan dan mencari kutu pada baju mereka yang rombeng!
Suling Emas duduk ditengah-tengah bersila dan ikut makan dengan enaknya.
Yang mendapat giliran pertama untuk bercerita adalah Liong-kauwsu.
Kakek ini menghentikan makannya, melempar tulang paha angsa ketengah air kali yang mengalir didekat mereka, mengusap minyak lemak dari bibir dengan ujung bajunya yang kotor, kemudian menarik napas dan bercerita.
"Belasan tahun yang lalu terjadinya malapetaka itu, yang merubah semua jalan hidupku dan murid-muridku serta keluarga kami..."
Ia menarik napas panjang lagi, kemudian ia menceritakan pengalamannya secara jelas singkat seperti berikut.
Perguruan Sin-kauw-bu-koan di kota Sin-yang cukup terkenal karena baik gurunya, yaitu Sin-kauw-jiu Liong Keng, maupun para murid-muridnya merupakan orang-orang gagah yang biarpun kuat tidak mempergunakan kekuatannya untuk melakukan penindasan, bahkan membela kebenaran dan keadilan.
Liong-kauwsu tidak mempunyai anak keturunan sendiri, akan tetapi ia mengangkat seorang murid wanita sebagai anak.
Wanita itu bernama Liong Bi Loan, seorang gadis cantik yang pandai silat.
Pada suatu hari, Liong Bi Loan bertemu dengan Pouw-kai-ong yang ketika itu masih muda dan tampan.
Dalam pertandingan, Bi Loan dikalahkan dan gadis ini terpikat, lalu lari bersama Pouw-kai-ong yang.
Liong-kauwsu tidak mampu mencegahnya karena terhadap Pouw-kai-ong, ia sama sekali tidak berdaya, jauh kalah lihai kepandaiannya.
Seperti telah kita ketahui, dalam kesedihan dan kebingungannya, Liong-kauwsu bertemu dengan Kim-mo Taisu, kemudian minta pertolongan Kim-mo Taisu untuk menghadapi Pouw-kai-ong.
Akan tetapi, Kim-mo Taisu tidak dapat berbuat sesuatu terhadap Pouw-kai-ong ketika pendekar ini melihat betapa gadis puteri guru silat itu dengan suka rela ikut Pouw-kai-ong!
Hal inilah yang membuat kecewa hati Liong-kauwsu yang tadinya amat mengharapkan Kim-mo Taisu berhasil membawa pulang puteri angkatnya.
Terpaksa ia menerima keadaan dan tidak mau merintangi lagi puteri angkatnya yang ikut Pouw-kai-ong.
Akan tetapi, dua tahun kemudian, luka dihatinya menjadi robek kembali ketika Liong-kauwsu mendengar kabar betapa anak angkatnya itu hidup merana dan sengsara disamping Pouw-kai-ong yang mulai nampak "belangnya".
Pouw-kai-ong sudah mulai bosan dan memperlakukan Liong Bi Loan seperti seorang budak belian, bahkan tidak jarang memukulinya.
Kemudian secara berterang Pouw-kai-ong main gila dengan wanita-wanita lain dengan memaksa Liong Bi Loan melayani dia berpesta dengan perempuan-perempuan lain yang menjadi kekasih baru.
Akhirnya Liong Bi Loan tak kuat menahan, untuk melawan ia kalah kuat, dan wanita ini mengambil jalan terakhir dengan menggantung diri!
Mendengar ini, Liong-kawsu dan beberapa orang muridnya yang setia, juga dua orang sutenya secara nekat menyerbu ke tempat yang dijadikan markas besar Pouw-kai-ong, yaitu sebuah kuil tua diluar kota Kang-hu, bekas markas besar perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang.
Namun, mereka ini sama sekali bukanlah tandingan Pouw-kai-ong.
Bahkan bukan Pouw-kai-ong sendiri yang turun tangan, baru anak buahnya saja sudah membuat Liong-kauwsu dan anak buahnya kocar-kacir dan dihajar habis-habisan.
Pouw-kai-ong tidak membunuh Liong-kauwsu, namun merampas semua miliknya, kemudian memaksa bekas Ketua Sin-kauw-bu-koan ini bersama anak buahnya hidup sebagai anggota kai-pang, berpakaian seperti pengemis!
Lebih hebat lagi, rombongan Liong-kauwsu ini selalu dihina oleh anak buah Pouw-kai-ong yang berpakaian tambal-tambalan namun bersih, atau terkenal dengan sebutan pengemis baju bersih sebaliknya daripada rombongan Liong-kauwsu dan para pengemis taklukan lain yang disebut rombongan pengemis baju kotor.
"Demikianlah, Kim-siauw-hiap (Pendekar Suling Emas),"
Liong Keng mengakhiri ceritanya dengan muka berduka.
"Bertahun-tahun kami menderita penghinaan dan sepatutnya penderitaan ini kami akhiri dengan bunuh diri saja seperti yang dilakukan puteriku. Akan tetapi, dalam hati ini masih belum mau menerima, masih menyimpan penasaran dan dendam setinggi langit, masih selalu mengharapkan kesempatan untuk membalas! Oleh karena itulah, sampai begini tua saya tetap mempertahankan nyawa untuk menanti datangnya kesempatan itu. Untung sekali hari ini mempertemukan kami dengan Ji-wi Taihiap (Kedua Pendekar Besar) sehingga boleh diharapkan cita-cita akan tercapai juga sebelum nyawa meninggalkan badan."
Yu Kang melompat berdiri, membanting tulang paha angsa kekanan.
Tulang itu melesak ke dalam dinding tembok jembatan yang keras!
"Harap Paman Tua Liong tidak berkecil hati.
Dengan bekerja sama, masa Si Keparat Pouw itu tidak akan dapat ditundukkan?
Dengarlah baik-baik, aku Yu Kang juga sudah bersumpah, takkan berhenti berusaha sebelum si jahat Pouw Kee Lui menerima hukumannya.
Seluruh keluargaku habis dibasmi keparat itu hanya karena Tuhan menghendaki saja aku bebas daripada pembasmian sehingga setidaknya ada keturunan ayah yang berusaha membalaskan dendam keluarga ini."
Yu Kang lalu bercerita.
Dia adalah putera bungsu mendiang Yu Jin Tianglo ketua perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang.
Seperti telah diceritakan dibagian depan cerita ini, pada belasan tahun yang lalu ketika Pouw Kee Lui yang memiliki kepandaian tinggi itu muncul dari timur, dia telah menyerbu Khong-sim Kai-pang, merobohkan semua yang melawannya, membunuh Ketua Khong-sim Kai-pang sekeluarga, membunuh tokoh-tokoh Khong-sim Kai-pang pula dan merampas kedudukan Ketua Khong-sim Kai-pang.
Para anggota yang tidak mau tunduk, dibunuhnya sehingga akhirnya para anggota lain menjadi ketakutan dan mengakui kekuasaan ketua baru ini, yang kemudian memakai julukan Pouw-kai-ong Si Raja Pengemis Pouw.
Bersama anak buahnya yang dilatihnya, ia menundukkan hampir seluruh perkumpulan pengemis sehingga julukannya "raja pengemis"
Benar-benar tepat.
Akan tetapi sama sekali di luar dugaan Pouw-kai-ong yang cerdik bahwa ketika ia melakukan pembasmian terhadap keluarga Yu Jin Tianglo ketua Khong-sim Kai-pang, Yu Kang putera bungsu ketua pengemis itu yang baru berusia tiga belas tahun dan kebetulan sekali pada waktu peristiwa hebat terjadi, sedang bermain-main diluar kota sehingga terbebas daripada maut.
Ketika Yu Kang melihat keadaan keluarganya yang terbasmi habis, tidak seorang pun masih hidup, ayah bundanya, kakak-kakaknya, semua tewas ditangan Pouw-kai-ong, ia segera melarikan diri.
Selama belasan tahun Yu Kang putera ketua pengemis Khong-sim Kai-pang ini menggembleng diri dengan ilmu silat, belajar dari tokoh-tokoh pengemis yang telah mengasingkan diri bertapa digunung-gunung.
Ia selalu berpakaian sebagai pengemis dan hidup sebagai pengemis pula, tetap setia kepada cara hidup ayahnya dan dendam di hatinya terhadap Pouw Kee Lui tak pernah terlupa sehari pun!
Setelah tujuh belas tahun menggembleng diri, kini dalam usia hampir tiga puluh tahun, barulah Yu Kang turun dari puncak gunung-gunung dan mulai mencari musuh besarnya, Pouw Kee Lui yang kini sudah menjadi Pouw-kai-ong.
Karena tidak tahu harus mencari di mana, maka ia langsung menuju ke kota raja, oleh karena untuk mencari seorang "raja"
Pengemis, kiranya paling tepat menyelidiki dari kota raja, pusat segala macam kegiatan.
"Demikianlah sedikit riwayatku, dan kebetulan aku bertemu dengan kalian yang kukira adalah pengemis-pengemis yang mengalami penghinaan. Disepanjang perjalanan banyak aku mendengar akan perpecahan golongan pengemis menjadi dua, pengemis baju bersih dan pengemis baju kotor, dan tentang penindasan yang dilakukan pengemis baju bersih terhadap pengemis baju kotor. Siapa kira, pengemis baju bersih adalah pengikut-pengikut setia dari Pouw-kai-ong, musuh besarku! Disepanjang jalan, tidak ada yang berani menyebut-nyebut tentang Pouw-kai-ong."
Liong-kauwsu yang kini sudah berubah sebutan menjadi Liong-lokai (Pengemis Tua Liong) itu menarik napas panjang.
"Memang demikianlah. Tidak ada yang berani membicarakan perihal Pouw-kai-ong, apalagi bicara buruk, karena kaki tangannya banyak sekali dan hukumannya amatlah berat mengerikan."
Kakek itu kini menoleh kepada Suling Emas dan berkata.
"Setelah kini saya dan Yu Tai-hiap bercerita, saya harap Kim-siaw Tai-hiap sudi pula memberi sedikit penuturan dan penjelasan."
"Sesungguhnya tidak ada apa-apa yang patut kuceritakan,"
Suling Emas berkata dan tiba-tiba wajahnya yang tampan itu seperti diselubungi awan gelap.
Betapa tidak akan keruh hatinya kalau ia diingatkan akan riwayatnya yang sembilan puluh persen terisi hal-hal menyedihkan itu?
Pula ia sudah tidak mau mengingat hal-hal lampau, bahkan hendak melupakan namanya.
Setelah berhenti sejenak, ia menyambung.
"Pertemuanku dengan Pouw-kai-ong dalam pertempuran hanyalah secara kebetulan saja. Akan tetapi karena aku tahu betapa jahatnya Pouw-kai-ong, maka aku bersimpati kepada orang-orang yang telah menjadi korbannya seperti kalian. Dan, untuk bicara terus terang, Yu-twako menduga tepat. Pouw-kai-ong amat lihai dan... maaf, kurasa Yu-twako sendiri tidak akan dapat mengalahkannya!"
Yu Kang mengangguk-angguk, sepasang alisnya yang tebal berkerut-kerut.
"Aku pun sudah menyelidiki dan mendengar bahwa Si Keparat she Pouw itu amat lihai. Kau yang sudah bertanding dengannya, tentu dapat menilainya dengan tepat, Kim-siauw-eng, dan aku percaya. Kalau kau yang begini lihai masih mengaguminya, tentulah ia merupakan lawan yang amat tangguh. Akan tetapi, aku tidak akan mundur setapak, kalau perlu nyawaku kupertaruhkan untuk membalas kematian seluruh keluarga ayahku."
Yu Kang mengepal tinju, mukanya merah dan matanya berapi-api.
"Yu-tai-hiap..."
"Harap Liong-lokai jangan menyebut aku Tai-hiap (Pendekar Besar)!"
Yu Kang memotong kata-kata kakek itu dengan sengit.
"Aku hanyalah seorang pengemis jembel yang tiada guna!"
Memang watak Yu Kang keras dan jujur, tanpa dipalsukan tata cara dan sopan santun.
Mungkin sakit hatinya dan malapetaka yang menimpa keluarganya membuat ia berwatak seperti itu.
"Baiklah, Yu-hiante. Harap jangan berkecil hati. Kalau kita maju bersama dan minta bantuan Kim-siauw-eng dan orang-orang gagah lainnya, kiranya Si Keparat Pouw itu akan dapat dibasmi."
"Hemm, terserah kau orang tua yang mengaturnya."
Akhirnya Yu Kang berkata sambil duduk kembali, menyambar paha angsa panggang dan menenggak araknya. Liong-lokai lalu menjura kepada Suling Emas.
"Kami mohon dengan hormat sudilah kiranya Kim-siauw-eng membantu usaha kami membalas dendam, mengeroyok Si Keparat she Pouw yang jahat."
Suling Emas tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Mana bisa begitu, Lo-kai? Tak mungkin aku mengeroyok lawan."
"Akan tetapi, bukankah Kim-siauw-enghiong juga memusuhinya?"
"Betul. Seperti telah kukatakan tadi, aku bolehlah dimasukkan sebagai seorang diantara musuh-musuhnya. Akan tetapi aku tidak mempunyai dendam pribadi dengannya. Siapa saja yang jahat, boleh dianggap musuhku, karena kalau dia tidak bisa diinsyafkan, tentu akan kugunakan kekerasan mencegah si jahat merajalela menindas si lemah. Karena itu, berbeda sekali dengan kalian, aku tidak menaruh dendam dan aku hanya akan menghadapinya satu lawan satu. Tak mungkin aku sampai hati melakukan pengeroyokan terhadap lawan yang betapapun juga lihainya."
Tiba-tiba Yu Kang menghentikan gerakannya makan paha panggang. Ia memandang tajam kearah Suling Emas, lalu mengangguk-angguk dan berkata murung.
"Benar sekali, Suling Emas! Aku sendiri pun, kalau tidak dimabok dendam kesumat, tidak sudi mengeroyok orang. Akan tetapi, kalau maju sendiri tidak menang sampai kapan dapat membalas dendam? Dendamku jauh lebih besar daripada segala macam aturan pertandingan."
Agaknya ucapannya ini berlawanan dengan wataknya yang gagah, maka untuk mencuci rasa malu, Yu Kang menggelogok arak sebanyaknya kedalam perutnya!
"Akan tetapi, menghadapi seorang penjahat keji macam Pouw-kai-ong, bagaimana harus mengingat akan peraturan?
Dia membunuhi orang, merampas kai-pang, mengangkat diri sendiri menjadi raja pengemis, kemudian merampas anak gadis orang tanpa melamar, memaksa kami menjadi pengemis, apakah semua perbuatannya itu menurutkan aturan?
Bukankah orang bijaksana jaman dahulu mengatakan bahwa kebaikan dibalas dengan kebaikan berganda, akan tetapi kejahatan harus dibalas dengan keadilan?
Dan terhadap seorang keji jahat macam Pouw-kai-ong, apakah yang lebih adil daripada mengeroyoknya dan menghukumnya bersama?"
"Sudahlah, Liong-kai!"
Tiba-tiba Yu Kang berkata keras.
"Orang yang tidak mau, apa gunanya dipaksa-paksa? Biarlah siapa yang mendiamkan saja kejahatan merajalela, dia itu membantu kejahatan! Apalagi, urusan ini adalah urusan kita para pengemis, mana seorang kongcu terpelajar mau mencampuri urusan segala jembel?"
Hening sejenak setelah Yu Kang mengeluarkan kata-kata yang keras, jujur tanpa tedeng-tedeng lagi ini.
Para pengemis tua itu merasa khawatir, kalau-kalau Suling Emas akan menjadi marah.
Namun, Suling Emas bukanlah seorang yang mudah marah.
Gemblengan hidup membuat ia kuat bertahan akan segala serangan.
Pula, ia dapat membedakan mana emas mana tembaga dan tahu bahwa di balik sikap kasarnya, Yu Kang adalah seorang gagah.
"Yu-twako, ucapanmu memang benar sekali. untuk mengeroyok orang, biar dipaksa-paksa aku tentu tetap tidak akan mau. Pula, justeru aku paling tidak mau mencampuri urusan orang lain karena aku menghormat kalian golongan pengemis yang biarpun berpakaian kotor namun berhati bersih. Akan tetapi kau keliru sangka kalau aku akan mendiamkan saja kejahatan merajalela."
"Hemm, omongan Suling Emas seperti omongan guru sekolah berbelit-belit! Pendeknya, kau mau membantu kami atau tidak?"
Yu Kang mencela.
"Tentu saja, akan tetapi tidak secara keroyokan. Biarlah dia nanti kuhadapi sendiri, kalian lihat saja. Kalau aku kalah dan tewas ditangannya, anggap saja hal itu urusanku, dan barulah kalian boleh turun tangan terhadap Pouw-kai-ong."
Tiba-tiba Yu kang melompat lagi keatas.
"Mana bisa?? Liong-lokai, mari kita berangkat. Urusan ini adalah urusan kita, urusan antara para pengemis, bahkan Pouw-kai-ong sendiri pun seorang pengemis yang jahat dan menyeleweng. Kitalah yang harus menghukumnya, bagaimana kita bisa menyerahkan hal ini kepada orang luar? Suling Emas, kami tidak membutuhkan bantuanmu lagi. Marilah, Liong-lokai. Engkau tahu dimana Si Jahanam itu?"
Kakek jembel itu mengerling kepada Suling Emas dengan mata kecewa, akan tetapi ia lalu bangkit berdiri diikuti teman-temannya dan menjawab pertanyaan Yu Kang.
"Kebetulan dia berada tak jauh dari sini. Marilah, Yu-hiante. Kami ada sebelas orang, bersama Hiante jadi dua belas. Masih ada lima orang saudara Bhong, pengemis-pengemis dari Yu-nan yang telah lama menanti-nanti kesempatan untuk menuju mengeroyok musuh besar mereka. Seperti juga engkau, Hiante, kelima Bhong-heng-te (Persaudaraan Bhong) itu pun keturunan ketua kai-pang (perkumpulan pengemis) yang dibasmi oleh Pouw-kai-ong."
"Bagus, kalau begitu marilah kita berangkat!"
Kata Yu Kang.
Rombongan pengemis itu meninggalkan kolong jembatan.
Hanya Liong-lokai seorang yang menjura kepada Suling Emas.
Yu Kang melangkah pergi tanpa menoleh.
Suling Emas berdiri terlongong, akan tetapi tersenyum pahit melihat rombongan pengemis itu pergi dari situ.
Sejenak ia termangu dan mengangkat pundak.
Memang benar ucapan Yu kang bahwa urusan diantara pengemis adalah urusan dalam, orang luar tidak berhak mencampuri.
Akan tetapi tiba-tiba Suling Emas mengerutkan keningnya.
Mereka itu seperti domba-domba digiring ke pejagalan!
Ia tahu benar bahwa biarpun dikeroyok oleh mereka, Pouw Kee Lui masih tetap merupakan lawan yang terlalu kuat.
Mereka itu seakan-akan mengantar nyawa dengan sia-sia, akan mati konyol.
Dan ia tahu bahwa mereka adalah orang baik-baik.
Mana mungkin ia mendiamkan Pouw-kai-ong membunuh mereka begitu saja?
Kedua kakinya bergerak dan dilain saat Suling Emas sudah mengikuti rombongan itu dari jauh.
Malam itu terang bulan.
Rombongan pengemis yang tadinya hanya dua belas orang itu kini sudah bertambah lima lagi, yaitu lima orang Bhong-heng-te yang tubuhnya tinggi-tinggi dan dari langkah kaki mereka dapat diketahui bahwa mereka ini pun bukan orang-orang lemah.
Tujuh belas orang pengemis ini berangkat keluar kota, menuju kesebelah utara kota raja.
Di kaki gunung yang sunyi, jauh dari kota raja dan jauh dari dusun-dusun, mereka berhenti lalu bergerak sembunyi mengurung sebuah pondok kecil yang berdiri sunyi ditempat itu.
Dua orang diantara kelima Bhong-heng-te melompat keluar dari tempat persembunyian, menghadapi pintu pondok dan seorang diantara mereka berseru nyaring.
"Pouw Kee Lui, keparat busuk! Kami telah datang hendak menagih hutangmu kepada keluarga Bhong, hayo keluar!"
Suling Emas yang bersembunyi tak jauh dari tempat itu, dibalik batu-batu besar, mengerutkan kening.
Kalau memang mereka hendak mengeroyok, mengapa tidak langsung saja mendatangi pondok dan menyerbu?
Dengan pengeroyokan tujuh belas orang, agaknya Pouw-kai-ong akan kewalahan juga.
Apakah mereka terlalu memandang rendah kepandaian Si Raja Pengemis?
Tiba-tiba terdengar suara ketawa terkekeh dan dari atas gunung kecil melayang turun sesosok bayangan yang luar biasa gesitnya.
Begitu kedua kaki orang saudara Bhong, bayangan itu tertawa bergelak dan berkata.
"ha-ha-ha, tikus-tikus busuk berani mengantar nyawa?"
Ucapan ini disusul gerakan yang hebat sekali.
Sebelum dua orang itu mampu menjawab, bayangan yang bukan lain adalah Pouw Kee Lui atau Pouw-kai-ong ini, telah menerjang maju dengan gerakan seperti kilat dan...
dua orang saudara Bhong itu yang sudah berusaha menangkis, terpental kebelakang dan roboh tak dapat bergerak lagi!
Pada saat itu muncul tiga orang saudara Bhong yang lain, muncul dari samping kiri, disusul munculnya tiga orang dari depan dan tiga orang dari kanan.
Tampak Liong-lokai ikut pula dari kanan sedangkan Yu Kang tampak diantara tiga orang dari depan.
Enam orang pengemis lain mengambil jalan memutar hendak menyerbu dari belakang punggung Pouw-kai-ong.
"Ha-ha-ha! Kiranya tikus tua she Liong ikut pula. Bagus!!"
Seruan ini disusul suara bersiutan dan Pouw-kai-ong telah memutar sebatang tongkat yang berubah menjadi segulung sinar hitam.
Ketika Pouw-kai-ong menerjang kekanan sambil menggerakkan tongkatnya, terdengar seruan kaget dan kesakitan.
Liong-lokai dan dua orang temannya sudah mengeluarkan senjata masing-masing, akan tetapi begitu sinar bergulung-gulung berwarna hitam itu datang, dan mereka menangkis, ternyata tubuh Liong-lokai berikut toyanya terlempar kebelakang sedangkan dua orang muridnya roboh dan tewas!
Baiknya Liong-lokai tadi dapat menangkis dengan toyanya dan ketika terlempar masih dapat menggulingkan tubuh, kalau tidak tentu ia menjadi korban pula.
"Ha-ha-ha, tikus-tikus busuk!"
Pouw-kai-ong berseru sambil tertawa-tawa dan memutar tongkatnya membalikkan tubuh karena pada saat itu, belasan orang telah mengeroyok.
Hanya Yu Kang seoranglah yang merupakan lawan berat dalam pengeroyokan ini.
Yang lain-lain hanyalah lawan lunak bagi Pouw-kai-ong sehingga enak saja ia membabat dengan tongkatnya.
Dalam waktu kurang dari seperempat jam, sepuluh orang anggota pengemis telah roboh terluka berat atau tewas.
Kini tinggal Liong-lokai, Yu Kang, dua orang saurdara Bhong, dan tiga orang pengemis lain yang masih bertahan.
Namun mereka terdesak hebat, hanya mampu menangkis saja karena tongkat di tangan Pouw-kai-ong benar-benar luar biasa sekali!
Suling Emas tidak tega melihat ini.
Kalau ia diamkan saja, tentu tujuh orang itu lama-lama akan roboh semua.
Ia mengeluarkan suara melengking tinggi, tubuhnya mencelat kedepan dan begitu ia menggerakkan sulingnya menangkis tongkat, Pouw-kai-ong berseru keras dan meloncat mundur sampai empat lima meter jauhnya.
"Siapa kau??"
Bentaknya. Suling Emas tidak mempedulikannya, melainkan menoleh ke belakang dan berkata.
"Harap rawat teman-temanmu yang terluka, biar kulayani dia sendiri!"
Setelah berkata demikian, Suling Emas menerjang maju, menyerang dengan sulingnya sambil berkata.
"Keparat she Pouw, dosamu sudah bertumpuk!"
Pouw-kai-ong terkejut menyaksikan berkelebatnya sinar kuning emas yang begitu cepatnya, dan lebih kaget lagi ia begitu ketika menangkis dengan tongkat, tangan kanannya tergetar.
Hebat lawan ini, pikirnya.
Ketika ia memandang dan mendapat kenyataan bahwa lawannya hanya seorang muda yang takkan lebih dari dua puluh lima tahun usianya, ia merasa penasaran dan melihat suling emas itu, tiba-tiba ia teringat.
"Setan! Kau murid Kim-mo Taisu...??"
"Orang tua jahat, tak usah banyak cerewet!"
Suling emas merasa ngeri menyaksikan muka Raja Pengemis itu yang menyeringai menyeramkan.
Pouw-kai-ong berusia lima puluh tahun kurang lebih, pakaiannya tambal-tambalan akan tetapi amat indah kembang-kembangnya, mukanya sudah berkeriput, rambutnya licin ditutup pembungkus kepala dari sutera, matanya berkilat-kilat seperti mata setan dan gerakan tongkatnya memang luar biasa cepat dan beratnya.
Pertandingan antara dua orang sakti ini hebat luar biasa.
Yu Kang sendiri yang sudah banyak menerima gemblengan orang-orang sakti, berdiri tertegun dan diam-diam harus ia akui bahwa seorang diri, tak mungkin ia dapat menangkan Raja Pengemis itu.
Dengan kepandaiannya yang cukup tinggi, kalau ia maju membantu Suling Emas, tentu kakek jahat itu dapat dirobohkan dengan mudah, akan tetapi ia tahu dan mengenal watak Suling Emas yang tentu tidak mau dibantu.
Maka ia hanya menonton penuh kekaguman, sedangkan Liong-lokai dan anak muridnya merawat mereka yang terluka dan tewas.
Suling Emas sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat yang hebat.
Gerakannya selain cepat, juga mengandung tenaga mujijat sehingga sulingnya mengeluarkan suara melengking seperti ditiup orang.
Namun, kelebihannya dalam ilmu silat sakti ini diimbangi oleh kelebihan Pouw-kai-ong dalam pengalaman dan kematangan.
Suling Emas belum lama menguasai ilmunya, sedangkan Pouw-kai-ong sudah matang, sudah digembleng dalam pertandingan-pertandingan berat.
Maka hebatlah pertandingan ini yang sekaligus merupakan ujian berat bagi Suling Emas.
Tubuh kedua orang sakti itu sudah tak dapat dilihat lagi, lenyap terbungkus gulungan sinar senjata mereka!
Biarpun pertandingan itu mengerikan dan merupakan pertandingan mati-matian, namun kelihatannya amat indah di malam bulan purnama itu!
Perawatan terhadap mereka yang terluka sudah selesai dan kini Liong-lokai dan Yu Kang berdiri dengan mata terbelalak kagum.
"Bukan main... sungguh hebat...!"
Bisik kakek jembel itu penuh keheranan dan kekaguman.
"Suling Emas benar,"
Kata Yu Kang.
"Kepandaian iblis itu benar-benar hebat sekali. Pantas saja ayah sekeluarga terbasmi habis...!"
"Mengapa kita tidak menyerbu sekarang? Kesempatan baik terbuka..."
"Tidak, Liong-lokai. Tidak boleh kita menggunakan keadaan ini mencari kemenangan. Hal itu akan merupakan penghinaan bagi Suling Emas. Dia berwatak aneh, akan tetapi patut dihormati. Mari kita kurung Si Iblis agar dia jangan sampai dapat melarikan diri!"
Tujuh orang sisa rombongan pengemis itu segera mengurung, siap dengan senjata masing-masing.
Yu Kang bersenjatakan sebatang pedang, Liong-lokai bersenjatakan toya kuningan, tiga orang muridnya juga bersenjatakan toya, sedangkan dua orang saudara Bhong yang kehilangan tiga saudaranya itu bersenjatakan golok.
Untuk mengalahkan Pouw-kai-ong dengan ilmu silatnya, Suling Emas kurang matang latihannya.
Akan tetapi berkat tenaga sin-kang yang hebat didalam tubuhnya, ia berhasil mendesak lawannya itu yang mulai terengah-engah dan bermandi peluh.
"Bocah setan, mampuslah!"
Saking marahnya, Pouw-kai-ong lalu mengerahkan tenaganya dan menghantam dengan tongkatnya kearah kepala Suling Emas dengan gerakan memutar.
Sebuah serangan yang luar biasa hebatnya merupakan jurus maut tanpa memperhatikan pertahanan diri lagi.
Agaknya Pouw-kai-ong sudah nekat, apalagi melihat betapa sisa rombongan pengemis tadi sudah mengurungnya.
Suling Emas mengangkat sulingnya menangkis.
"Plakk...!!"
Sepasang senjata ampuh bertemu dan...
tubuh Pouw-kai-ong terhuyung kebelakang, tongkatnya patah-patah!
Suling Emas juga tidak mengejar, hanya berdiri sambil meramkan kedua mata mengumpulkan tenaga.
Pertemuan tenaga lewat senjata tadi benar-benar hebat, membuat dadanya sesak dan agak sakit.
Mendadak terdengar suara hiruk-pikuk dan ketika Suling Emas membuka matanya, ia melihat tujuh orang itu sudah menyerbu sambil berteriak-teriak.
Suling Emas menarik napas panjang dan melompat mundur, menonton dari tempat persembunyiannya yang tadi.
Setelah ia tidak bertanding dengan Raja Pengemis itu, tentu saja ia tidak dapat menghalangi mereka mengeroyok Pouw-kai-ong.
Agaknya rombongan pengemis yang dipimpin Yu Kang dan Lionglokai itu ketika melihat Pouw-kai-ong terhuyung mundur dan tongkatnya sudah patah-patah, segera menyerang.
Namun Si Raja pengemis adalah seorang yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Memang kini senjatanya sudah rusak dan dadanya terasa sesak sekali, akan tetapi, menghadapi pengeroyokan tujuh orang itu, ia sama sekali tidak gentar.
Bahkan diantara hujan senjata itu ia bergerak sambil memekik, kedua kaki tangannya bergerak dan...
kembali dua orang murid Liong-lokai roboh terguling!
Pada saat itu terdengar sorak-sorai gemuruh dan bermunculanlah puluhan, bahkan ratusan orang pengemis yang serta merta mengeroyok Poouw-kai-ong!
Mereka ini adalah rombongan-rombongan pengemis yang tadi sudah diberi kabar melalui teman-teman oleh Liong-lokai sehingga dari pelbagai penjuru datanglah mereka yang ingin sekali melihat Si Raja Pengemis yang dibenci menemui kematiannya.
Pouw-kai-ong terkejut sekali.
Matanya jelalatan hendak mencari jalan keluar, namun ia sudah terkurung rapat.
Birpun ia lihai, namun menghadapi ratusan orang pengemis yang mengurungnya rapat dengan senjata ditangan, benar-benar merupakan ancaman maut yang mengerikan.
Ia mengamuk dan lagi-lagi ia merobohkan beberapa orang.
Bahkan Yu Kang yang maju paling dekat, telah kena pukulan tangannya sehingga tulang pundak kiri Yu Kang patah!
Juga Liong-lokai kena hantaman lambungnya, membuat kakek ini terlempar dan roboh tak bernyawa lagi di saat itu juga.
Masih banyak lagi korbannya, ada belasan orang.
Namun ia sendiri mulai terkena pukulan, dari kanan kiri, dari depan belakang.
Pouw-kai-ong terhuyung-huyung, mandi darah tapi masih terus mengamuk.
Bacokan-bacokan dan hantaman-hantaman ruyung datang bagaikan hujan, bajunya sudah compang-camping, tubuhnya penuh darah.
Akhirnya ia roboh!
Masih saja mereka menghujani senjata.
"Berhenti...!!"
Tiba-tiba Suling Emas melayang dan tiba didekat Pouw-kai-ong.
Sekali sulingnya bergerak, tampak sinar kuning emas dan semua senjata yang ditujukan kepada tubuh yang mandi darah itu terpental.
"Wah, ini konconya! Keroyok...!!"
Teriak seorang pengemis.
"Jangan! mundur semua!!"
Yu Kang berseru sambil menggunakan tangan kananya yang tidak terluka untuk mendorong minggir beberapa orang pengemis yang menghalang jalan.
"Dia bukan konco iblis Pouw, bahkan dialah yang memungkinkan kita merobohkan iblis itu!"
Suara Yu Kang nyaring dan penuh wibawa.
Apalagi ketika para pimpinan pengemis mengenal bahwa pengemis kosen ini adalah putera mendiang Yu Jin Tianglo seperti yang diperkenalkan oleh Liong-lokai, mereka lalu mundur.
Yu Kang mendekati Suling Emas dan bertanya, suaranya nyaring.
"Suling Emas! Apa maksudmu menghalangi kami membunuh iblis ini?"
Suling Emas menggeleng kepala, memandang kepada tubuh yang mandi darah didepannya.
Muka itu hancur, bahkan sebuah daripada matanya remuk!
Bibirnya robek hidungnya bengkok.
Muka yang mengerikan!
Andaikata dapat hidup terus tentu menjadi seorang yang cacad mukanya.
"Sudah kukatakan tadi bahwa aku tidak suka akan pengeroyokan. Biarpun dia roboh oleh kalian, akan tetapi lebih dulu aku telah membikin dia tidak berdaya dengan merusak tongkatnya. Kalau ia masih bersenjata, apakah kalian kira akan dapat dengan mudah merobohkannya? Tentu dia akan dapat melarikan diri. Karena itu aku merasa seakan-akan ikut mengeroyoknya! Dia sudah mendapat hajaran keras, lebih mati daripada hidup. Lihat mukanya! Lihat mukanya! Lihat badannya! Urusannya dengan kalian adalah urusan pribadi, aku tidak mau terseret dalam pengeroyokan dan pembunuhan begini curang."
Sejenak Suling Emas beradu pandang dengan Yu Kang.
Kemudian Yu Kang menunduk dan melihat keadaan Pouw-kai-ong.
Ia agaknya merasa puas, berdongak ke udara, mulutnya berkemak-kemik seperti membaca doa.
Kemudian ia meloncat keatas batu besar tak jauh dari situ.
Tangan kirinya sengkleh, tergantung lepas karena tulang pundak kirinya patah.
Akan tetapi sikapnya gagah dan suaranya nyaring.
"Kawan-kawan! Dengarkan aku bicara. Aku adalah Yu Kang, putera mendiang Yu Jin Tianglo ketua Khong-sim Kai-pang. Bicara tentang dendam kepada Si Jahat Pouw agaknya diantara kita akulah yang paling parah. Akan tetapi aku puas melihat dia kini dirobohkan, dan... harus kita akui bahwa tanpa bantuan Pendekar Suling Emas belum tentu kita akan berhasil. Oleh karena itu, biarlah kita jangan membunuhnya sesuai dengan permintaan Pendekar Suling Emas. Tanpa kita turun tangan lagi, kurasa dia pun akan mampus! Bergembira dan bersoraklah bahwa mulai detik ini kita terbebas daripada cengkeraman seorang jahat seperti Pouw-kai-ong!"
Ratusan orang pengemis baju kotor itu bersorak gegap-gempita. Ada pula yang berseru.
"Hancurkan pengemis baju bersih!"
"Angkat Saudara Yu Kang menjadi ketua seluruh kai-pang!"
"Mari saudara-saudara, kita iringkan Saudara Yu Kang mengumpulkan semua pengemis baju kotor untuk membasmi pengemis baju bersih!"
Sorak-sorai makin menjadi-jadi dan ratusan pasang tangan diulur kedepan sehingga Yu Kang tak kuasa lagi mencegah para pengemis itu mendukungnya dan mengaraknya pergi dari situ sambil bersorak-sorak!
Hanya beberapa orang pengemis tua yang tinggal untuk mengurus penguburan para korban dan merawat mereka yang terluka.
Suling Emas berdiri memandang semua ini dengan hati terharu.
Ia kagum akan kegagahan Yu Kang yang biarpun kasar dan jujur, namun memiliki jiwa pendekar.
Ia terharu menyaksikan jembel-jembel itu bersatu padu untuk membasmi penindas dan memperbaiki nasib, menggantungkan harapan mereka kepada Yu kang, satu-satunya pengemis yang boleh diharapkan akan dapat memimpin mereka, melepaskan diri daripada penindasan orang-orang jahat.
Setelah semua mayat dikubur dan para pengemis tua pergi membawa teman-teman yang terluka sehingga di situ sunyi sepi, Suling Emas kembali memandang tubuh Pouw Kee Lui yang masih menggeletak mandi darah.
Suling Emas menarik napas panjang, lalu menyambar tubuh itu, membawanya kedalam pondok.
Ia merebahkan tubuh yang masih pingsan itu keatas pembaringan, kemudian pergilah ia dari tempat itu.
Belum jauh ia pergi, ia mendengar suara orang dan cepat ia menyelinap lalu mengintai.
Kiranya beberapa orang wanita cantik dan beberapa orang laki-laki, semua berpakaian seperti pelayan-pelayan, berindap-indap memasuki pondok dari belakang.
Ia kembali menghela napas.
Kiranya orang she Pouw itu menjadikan pondok itu sebagai tempat istirahat dan bersenang-senang, ditemani beberapa orang wanita cantik dan mempunyai pelayan-pelayan secukupnya.
Biarlah, biar mereka itu merawatnya.
Suling Emas tidak jadi mencari daun obat didalam hutan, menyerahkan nasib bekas Raja Pengemis itu kepada para selir dan pelayannya.
Ia hanya mengharap mudah-mudahan pelajaran pahit itu tadi akan membuat Pouw-kai-ong menjadi bertobat.
Suling Emas melanjutkan perjalanannya menuju ke kota raja.
Ia merasa girang mendengar percakapan rakyat yang merasa puas dengan adanya raja baru yang adil dan tidak suka menjalankan kekerasan terhadap rakyatnya.
Ia tidak melihat perubahan apa-apa ketika pada keesokan harinya ia memasuki pintu gerbang kota raja, sehingga ia makin gembira.
Ketika pertama kali ia masuk kota raja ketika ia menyusul suhunya, ia tidak mendapat kesempatan unutk melihat-lihat kota raja.
Kini ia menggunakan kesempatan untuk keliling kota sehingga bertambah kegembiraannya menyaksikan keadaan yang makmur dan ramai.
Akan tetapi kegembiraan ini musnah seketika setelah ia mendengar berita tentang keluarga Suma.
Ia mendengar berita bahwa Pangeran Suma Kong sudah pindah ke An-sui, kota yang menusuk perasaannya.
Berita bahwa Suma Ceng telah menikah dengan seorang pangeran she Kiang yang menghancurkan hatinya.
Bahkan ia mendengar bahwa Suma Ceng, bekas kekasihnya, kini hidup di lingkungan istana raja, bersama suaminya dan dua orang anaknya!
Suma Ceng sudah menjadi isteri seorang pangeran dan malah sudah menjadi ibu dari dua orang anak!
Hancur hatinya, perih seperti tertusuk seribu batang jarum.
Setelah mendapatkan keterangan ini, Suling Emas meninggalkan kota raja, berjalan ditengah malam buta sambil meramkan mata, menahan air mata yang hendak jatuh berderai.
Akhirnya ia berhenti di jalan yang sunyi, duduk dipinggir jalan, menyembunyikan mukanya diantara kedua lutut, jari-jari tangan mencengkeram rambutnya.
Habislah sudah harapannya.
Padamlah semua cahaya hidupnya.
Apa lagi yang boleh dipandang?
Kekasih pertama direnggut maut.
Kekasih berikutnya direnggut laki-laki lain!
Ayah kandung menikah lagi.
Ibu kandung tak tentu rimbanya, mungkin sudah mati karena tidak pernah ia mendengar beritanya.
Siapa lagi yang dapat dijadikan teman dalam hidupnya?
Kakeknya!
Ya benar.
Kakeknya masih ada.
Kakeknya bukanlah sembarang orang.
Kakeknya adalah Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, Ketua Beng-kauw, bahkan menduduki tempat tinggi di Kerajaan Nan-cao!
Mengapa ia tidak pergi ke negara kakeknya?
Siapa tahu kalau-kalau ibunya juga pulang kesana?
Selain menghubungi keluarga yang terdekat dan masih ada, juga ia maklum bahwa disana ia akan dapat banyak belajar untuk memperdalam ilmunya.
Gurunya sendiri seringkali bicara tentang Pat-jiu Sin-ong dengan penuh kagum.
Setelah duduk termenung dalam keadaan duka cita seperti itu sampai sinar matahari memerah menjelang fajar, Suling Emas mengangkat mukanya.
Orang lain akan kaget kalau menyaksikan perubahan wajah pendekar ini.
Tampak tua dan tidak ada lagi sinar pada mukanya.
Hanya kemuraman yang tampak.
Pandang matanya sayu.
Tiba-tiba ia meloncat bangun dan menyelinap cepat, bersembunyi dibalik sebatang pohon besar dipinggir jalan.
Biarpun keadaan hati Suling Emas sedang mengalami kehancuran dan dirinya tenggelam dalam duka nestapa, namun naluri kependekarannya tak pernah menjadi tumpul.
Panca inderanya peka sekali dan gerakan tiga sosok bayangan yang berlari-lari keluar dari kota raja, menimbulkan kecurigaannya sehingga ia cepat-cepat bersembunyi untuk mengintai.
Tiga orang yang berlari amat cepat itu tidak berlari lagi, kini tampak berjalan sambil bercakap-cakap.
Suling Emas cepat menyelinap dan mendekati mereka untuk mendengarkan.
Setelah dekat, dari balik pohon melihat seorang nenek dan dua orang kakek.
Nenek itu berwajah galak penuh keriput, memondong sebuah bungkusan kain kuningan dari sutera halus.
Kakek pertama sudah tua, akan tetapi tubuhnya tinggi besar dan nampak kuat, tubuh atasnya tidak berbaju.
Serasa ia mengenal tiga orang tua ini, akan tetapi dimana ia pernah bertemu.
Akan tetapi begitu mereka bertiga bercakap-cakap segera ia ingat.
"A-liong, kau yang paling kuat dan dapat menempuh perjalanan jauh, kau sajalah yang mengantarkan pangeran cilik ini kepada Ong-ya. Biar aku dan A-kwi menyambut para pengejar sehingga kau dapat pergi jauh takkan terkejar lagi,"
Kata Si Nenek Tua.
"Betul ucapan Sam Hwa,"
Kata kakek pertama yang bertongkat.
"Langkahmu lebar daripada kami berdua, dan aku pun malas kalau harus berlari-lari dikejar-kejar seperti maling."
"Ihh..., aksinya! Memang kita bertiga maling, siapa tidak tahu?"
Bentak nenek itu sambil menyerahkan bungkusan sutera kuning kepada kakek tinggi besar yang disebut A-liong.
Kakek A-liong agaknya tidak senang dengan tugas ini, akan tetapi karena "kalah suara"
Ia menerima juga bungkusan itu. akan tetapi begitu bungkusan itu dipondongnya, tiba-tiba terdengar tangis anak kecil yang nyaring sekali.
"Eh-eh, kau apakan dia? Sejak tadi diam saja, begitu kausentuh lalu menangis!"
Kata Si Nenek Tua mengomel.
"Wah, celaka. Kalau menangis seperti itu tentu kau akan menjadi tontonan disepanjang jalan,"
Kata A-kwi.
"Bagaimana kau akan menjawab pertanyaan orang-orang di jalan? Bahwa anak ini anak selirmu? Ataukah cucumu yang kematian ayah bundanya?"
Namun A-liong sudah menggigil ngeri, agaknya semua bulu dibadannya berdiri semua ketika ia merasa betapa anak kecil meronta-ronta dan menjerit-jerit keras.
Cepat ia mengulurkan tangan kedepan, memberikan bungkusan itu kembali kepada Sam Hwa sambil berkata.
"Tidak baik..., tidak baik...! Dalam pondongan tangan halus dia diam saja. Tanganku kasar, tidak sehalus tanganmu, Sam Hwa."
"Cihh! Omongan tua bangka tak bermalu!"
Kata Sam Hwa dengan muka agak merah sambil menerima kembali bungkusan sutera kuning yang ternyata berisi seorang anak kecil itu.
"Ha-ha-ha! Bukan karena tanganmu kasar, A-liong, melainkan bau keringatmu yang terlalu keras sehingga anak itu tidak tahan!"
A-kwi menggoda.
Suling Emas mengenal tiga orang ini sebagai pelayan-pelayan Kong Lo Sengjin!
Setelah ia mendengar percakapan mereka, ia menjadi kaget sekali.
Sam Hwa si nenek tua tadi menyebut "pangeran cilik"
Yang harus diantarkan kepada Ong-ya!