Eps 9 Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen
Baca online Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen
Cersil Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen.
"Suamimu kepandaiannya sekarang ini sudah kalah jauh daripada aku. Aku telah tikam dia, tapi tidak terkena anggautanya yang berbahaya Tidakkah ini buruk? Untuk menyebutnya itu. aku jengah sendiri..."
Si Biang Hantu gusar berbareng merasa lucu.
"Hm, kau rupanya bangga sekali!"
Katanya. Tapi sekarang mau dia percaya si nona.
"Baiklah,"
Sahutnya dengan sabar.
"Mari kita pergi pada Bouwyong Ciong!"
Di luar dugaan nyonya ini, Giok Lo Sat bersikap dingin.
"Tidak bisa!"
Sahutnya. Heran si Biang Hantu.
"Apa katamu? Bukankah barusan kau sendiri yang ajak aku pergi cari Bouwyong Ciong?"
Dia tanya.
"Memang!"
Sahut nona kita.
"Tapi kau telah rusaki pintu pesanggrahanku, untuk itu kau mesti menghaturkan maaf dulu kepadaku! Tentang membetulkannya, urusan itu boleh ditunda sampai nanti kita sudah dipadu dengan Bouwyong Ciong."
Darahnya si Biang Hantu meluap. Dia memukul tanah dengan tongkatnya.
"Giok Lo Sat, apakah benar kau begini menghina padaku?"
Dia tegaskan.
"Aku adalah kepala dari satu pesanggrahan,"
Sahut Giok Lo Sat.
"Kau telah hajar rusak pintu pesanggrahanku, itu sama saja dengan menterbalikan pembaringan naga dari kaisar, sama saja dengan orang yang telah merobek bendera dari satu piauwkiok! Kau kenal atau tidak undang-undang kaum kangouw? Lekas kau haturkan maaf, supaya kita bisa lantas pergi cari orang!"
Anghoa Kuibo melengak, dia tercengang.
Ia memang tahu baik undang-undang kangouw, kaum Sungai Telaga.
Tapi ia tetap bersangsi, karena urusan masih belum jelas.
Siapa bisa pastikan suaminya tidak ada di dalam pesanggrahan si Raksasi Kumala ini?
Bagaimana dapat ia tundukkan kepala, untuk lantas menghaturkan maaf?
Maka ia menjadi gusar.
"Kau menghendaki aku menghaturkan maaf padamu?"
Dia tanya.
"Baik! Kau boleh tempur pula tongkatku ini! Jikalau tongkatku tunduk terhadapmu, aku juga nanti manggut kepadamu!"
It Hang kembali bergelisah. Ia sesalkan Giok Lo Sat, yang lagi-lagi timbulkan gara-gara. Akan tetapi si Raksasi Kumala sangat bandel. Dia tertawa dingin.
"Baik, mari kita bertarung pula sampai tiga ratus jurus!"
Ia menantang.
"It Hang, coba kau pergi ke depan gunung, kau lihat adik San Ho sudah balik atau belum!"
Anghoa Kuibo sangat gusar, dia ayunkan tongkatnya, dengan itu ia menyapu secara hebat. Itulah serangan "Pengsee lokgan"
Atau "Burung belibis turun di pasir datar". Ia tujukan ke arah pinggang dan paha si nona. Serangannya itu diulangi berkali-kali.
"Bagus!"
Seru Nona Lian.
Dengan gesit dia enjot tubuhnya, untuk berloncat.
Dengan begitu, tongkat itu lewat di bawahan kakinya.
Walaupun tubuhnya terangkat tinggi, nona ini tidak mengabaikan serangan pembalasannya.
Selagi tubuhnya turun, pedangnya menyabet, dari atas ke bawah.
Itulah tabasan "Pekhong koanjit"
Atau "Bianglala putih menutupi matahari".
Anghoa Kuibo menangkis, hingga kedua senjata bentrok keras dan menerbitkan suara nyaring.
Pedangnya Giok Lo Sat tidak terlepas, sebaliknya, tubuhnya melayang pergi menuruti arah terpentalnya.
Dia baru turun setelah lompat sejauh setumbak lebih.
Ketika pertempuran sedang berjalan dengan hebatnya, tiba-tiba terdengar suara seruling samar-samar iramanya halus, perlahan lalu menjadi tandas, suara itu terputus-putus.
Mendengar itu, pucatlah wajahnya Giok Lo Sat.
Maka ketika Anghoa Kuibo mencelat kepadanya dengan tongkatnya, dia segera lompat berkelit sambil berseru.
"Baiklah, urusan kau menghaturkan maaf boleh ditunda sampai kita sudah bertemu dengan Bouwyong Ciong!"
"Apakah kau anggap aku dapat dipermainkan sesukamu?"
Seru si Biang Hantu.
Kembali ia angkat tongkatnya, mengancam.
Mendadak, suara seruling itu lenyap, lalu terdengar pula, kali ini dengan bertambah tandas, sampai nyonya yang galak itu turut mendengar juga, hingga dia menjadi heran.
Seruling itu memberi lagu sebagai orang berduka penasaran dan murka.
"Siapakah yang meniup seruling itu?"
Tanya Anghoa Kuibo bahna herannya. Tanpa merasa, hatinya tergerak dan terpengaruh sekali.
"Itulah Tiat San Ho, puterinya Tiat Hui Liong,"
Si Raksasi Kumala beritahu.
"Es longsor dan menutupi lembah, mungkin dia berada di luar dan terhalang jalannya."
"Ah, inilah hebat!"
Teriak To It Hang.
"Jikalau lukanya Kim LooCianpwee tidak hebat, mestinya dia telah datang bersama Bouwyong Ciong..."
It Hang berkuatir, San Ho nanti diganggu Congkauwtauw pahlawan istana itu. Anghoa Kuibo rupanya mendapat pikiran yang sama, hingga ia pun berseru "Celaka!"
Ia telah pikir.
"Aku percaya betul lelaki bangsat itu ada pada Giok Lo Sat di sini, sama sekali tidak kupikir dia datang bersama Bouwyong Ciong. Jikalau benar dia ada di sini, dia baru terluka, cara bagaimana dia dapat loloskan diri dari longsoran es ini?... Ah, kalau benar dia ada di sini. sungguh hebat! Tidakkah benar Giok Lo Sat mendustai aku? Bukankah dia telah buron dan melakukan pula perbuatan busuk? Habis, bagaimana dapat aku berurusan dengan Giok Lo Sat? Apakah aku sendiri yang harus membuat dia bercacat atau biarkan saja Giok Lo Sat berpesta pora dengan penghinaannya? Ah, tidak. Tidak! Biar bagaimana, kami ada suami isteri dari puluhan tahun... Tapi, tak dapat aku lindungi dia! Bagaimana sekarang? Bila aku melindungi padanya, aku membuat kaum Rimba Persilatan nanti mentertawainya..."
Maka bingunglah si Biang Hantu Bunga Merah ini.
Giok Lo Sat sendiri tidak terlalu perhatikan nyonya itu, ia bergelisah karena suara seruling.
Itulah serulingnya Tiat San Ho.
Itulah tanda bahaya, tanda minta pertolongan.
"Celaka betul, kenapa aku biarkan diriku digerembengi Anghoa Kuibo!"
Dia sesalkan dirinya sendiri. Segera dia serukan pada nyonya di depannya itu.
"Jikalau kau tidak hendak pergi, aku akan pergi sendiri! Jikalau mukamu cukup tebal, pergilah kau perhina pasukan wanitaku!"
"Cis"
Berseru nyonya itu.
"Selama perkara ini belum selesai, walaupun kau lari terbang ke langit, aku akan kejar terus padamu!"
Itu waktu Giok Lo Sat sudah lompat, untuk lari ke arah dari mana suara seruling datang, maka si Biang Hantu pun menekan dengan tongkatnya, sampai tubuhnya mencelat, untuk menyusul nona itu.
Menampak orang pada angkat kaki, It Hang lompat dan lari, untuk menyusul, tetapi dia segera mengeluh seorang diri.
Bagaimana juga ia empos semangatnya dan kerahkan tenaganya, tidak dapat ia susul kedua wanita yang sangat gesit tubuhnya itu, hingga ia tertinggal beberapa puluh tumbak di belakang mereka!
Gak Beng Kie sendiri, setelah molos dari belakang Cenghie koan.
sudah lantas sembunyikan diri di dalam rimba.
Dia bersembunyi sampai kira-kira jam empat di waktu mana ia dengar suara dari banyak tindakan kaki.
Ia segera bergerak, untuk mengintai.
Maka ia dapatkan Bouwyong Ciong beramai sedang lalu berduyun-duyun, banyak kawannya yang menggendong kawannya yang terluka, sebagian lagi saling berpayangan.
"Ah Pek Sek Toojin tak dapat dicela,"
Pikirnya.
"Tentulah Bouwyong Ciong semua telah merasai tangannya orang-orang Butong pay..."
Beng Kie tidak ketahui datangnya Giok Lo Sat, yang menghajar rombongan pahlawan istana itu.
Ia memang tidak melihat datang dan perginya si nona gagah yang telah mengambil jalan lain.
Sesudah rombongan Bouwyong Ciong itu lewat, Gak Beng Kie mengeluarkan napas lega.
Ia merasa sangat letih akibat berjalan sepanjang hari dan setelah berkelahi hebat.
"Baiklah aku tidur sebentar di sini untuk beristirahat,"
Pikirnya kemudian.
Ia ingin menghilangkan lelahnya Iapun berpikir, sebentar --setelah terang tanah --ia mau menemui Pek Sek Toojin untuk menghaturkan maaf, sambil mengucapkan selamat berpisah dari It Hang.
Berapa lama ia telah jatuh pulas, Beng Kie tidak tahu.
Ia mendusin dengan terperanjat waktu ia dengar satu suara, hingga ia segera berbangkit untuk memasang mata.
Ia rebah di antara batu-batu besar, hingga sukar untuk orang melihat padanya, sebaliknya ia sendiri dapat memandang keluar.
Maka segera ia tampak seorang wanita tua, yang romannyajelek sekali, sedang berlari lari sambil mulutnya menggerutu.
Pada rambut di dekat kupingnya nyonya itu ada tertancap setangkai bunga merah yang besar.
Larinya sangat pesat, dan tujuannya adalah kota.
Beng Kie kaget, ia menduga, jangan-jangan wanita tua itu Anghoa Kuibo adanya.
Ia telah saksikan, ilmu enteng tubuh orang tak ada di bawahannya.
Maka setelah si nyonya pergi jauh, ia lompat bangun, dengan cepat ia rapikan pakaiannya, lalu ia berlari-lari mendaki gunung, akan kembali ke Cenghie koan.
Tidak bersangsi lagi ia ketok pintu kuil itu.
Pek Sek Toojin sedang mendongkol dan uring-uringan sekali.
Kedatangan Giok Lo Sat dan Anghoa Kuibo dengan bergantian membuat darahnya mendidih.
Ia tidak sangka, sehabisnya dua wanita yang tak dapat dibuat permainan itu, sekarang ada lagi yang mengetok' pintu.
Ia menduga-duga, siapa orang ini, hatinyapun tidak tenteram.
Ketika ia kenali Beng Kie adanya meluap pula hawa amarahnya.
Beng Kie berlaku hormat, ia perlakukan imam itu sebagai orang yang terlebih tua, sikapnya ini membikin tidak ada alasan untuk Pek Sek lantas umbar kemurkaannya.
"Apakah saudara To tak kurang suatu apa?"
Beng Kie tanya dengan halus setelah ia memberi hormat dengan menjura "Bukankah kamu ada dari rombongannya Giok Lo Sat si siluman perempuan?"
Tanya imam itu dengan bengis.
"Apa?"
Beng Kie tanya, heran.
"Kau masih berpura-pura?"
Sang imam menegur.
"Kau toh tahu, Giok Lo Sat sudah membawa lari ketua kami!"
Beng Kie menjadi heran, ia terkejut.
"Apakah itu benar?"
Tanyanya.
"Ah, kalau begitu, Giok Lo Sat pun berada di Konggoan!"
Pek Sek bertambah gusar. Ia duga orang niat permainkan padanya.
"Beng Kie!"bentaknya.
"orang muda kau benar bernyali besar, kau kurang ajar! Kau telah fitnah kami hingga Butong pay bentrok dengan pembesar negeri, sudah begitu, kau juga berkongkol dengan Giok Lo Sat hingga siluman itu datang menghina kami!"
Memang itu ada satu penghinaan besar bila ketua satu partai kena diculik, dibawa lari orang dari lain kaum. Beng Kie menjura pula "Mengenai urusan tadi malam aku mohon looCianpwee memaafkannya,"
Dia kata.
"Hanya bicara hal aku berkongkol dengan Giok Lo Sat, itulah ada salah anggapan dari looCianpwee..."
Pek Sek sangat mendongkol hingga "Sret!"
Ia hunus pedangnya.
"Kejadian tadi malam saja sudah cukup untuk kau merasai pedangku!"
Dia berteriak.
"Urusan demikian besar, mana dapat dihabiskan hanya dengan minta maaf!"
Bukan main hebatnya ilmu pedang Lianhoan Toatbeng kiam dari Pek Sek Toojin, dalam sekejab saja, serangannya telah bertubi-tubi, hingga akhirnya Beng Kie terpaksa mesti cabut pedangnya guna menangkis, sebab tak cukup ia main mundur saja dan berkelit.
Begitu kedua pedang bentrok, suara nyaring terdengar.
Tapi yang hebat adalah pedang si iman kena dibikin mental.
"Murid-muridku, hayo maju!"
Teriak Pek Sek dalam gusarnya.
Beng Kie tidak sudi melayani orang yang seperti tengah kalap itu, ia juga tak membiarkan dirinya dikepung, maka begitu mendengar teriakan si imam, ia mendahului lompat mundur, untuk putar tubuhnya dan lari keluar bagaikan terbang cepatnya.
Pek Sek Toojin mengejar tapi sia-sia saja, hingga ia kembali dengan mendongkol disebabkan penasarannya yang tak terlampias.
Beng Kie menyingkir dengan pikirannya kacau.
Semenjak kebinasaannya Him Keng Liak, hatinya sudah tawar, hingga beberapa kali ia berniat mencukur gundul rambutnya, untuk menjadi pendeta saja.
Apa mau di sana ada Tiat San Ho, ia jadi terbenam dalam keragu-raguan.
Ia menyesal atas minggatnya si nona yang hatinya mendongkol.
Karena kejadian itu, ia ingin menemui nona itu untuk menghaturkan maaf.
Maaf akan melegakan hatinya.
Sayang, pelbagai urusan membuat ia tak sempat menemui nona itu, hingga niatnya belum sampai terwujud.
Tapi sekarang ia dengar hal munculnya Giok Lo Sat, timbul harapan dalam hatinya.
"Mungkin Giok Lo Sat ketahui di mana adanya San Ho,"
Dia berpikir.
"Biarpun Giok Lo Sat tidak akur denganku, aku mesti ketemui dia guna minta keterangannya hal San Ho..."
Demikian, meskipun kacau pikirannya, pemuda ini lari turun gunung dengan tujuan pasti.
Ia dapat tahu Giok Lo Sat berdiam di Benggoat kiap.
Dari sepuluh penduduk sembilan tahu hal selat itu, hal penghuninya yang kosen.
Maka setelah peroleh keterangan, tujuannya adalah selat Rembulan Terang itu.
Anghoa Kuibo pun sedang menuju ke selat, sebab dia sudah kembali dari kota, maka itu, mereka -Beng Kie dan si nyonya tua --jadi seperti saling susul, tanpa mereka ketahui maksud dan tujuan masing-masing.
Ketika Beng Kie mendekati selat, di sana ia tampak sejumlah pahlawan yang mengejar musuh, mereka berpencaran di lamping bukit, juga ada serdadu-serdadu wanitanya Giok Lo Sat yang sedang menyingkir dari pahlawanpahlawan istana itu.
Karena herannya, ingin Beng Kie ketahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
Ia lari mendaki gunung, ia pegat satu serdadu untuk dimintai keterangannya.
Serdadu itu tampaknya bukan pahlawan, hatinya lega.
"Kau siapa?"
Dia tanya dahulu.
"Aku ada sahabat dari CeeCu kamu."
Serdadu itu percaya, iapun lihat orang beroman gagah.
"Kalau begitu, pergi kau lekas tolongi Tiat CeeCu kami!"
Kata dia, yang mendapat harapan, hingga dia menjadi girang.
"CeeCu kami telah didesak kawanan anjing itu, dia telah dikejar masuk ke dalam mulut gunung sana!"
Beng Kie kaget hingga ia berjingkrak.
"Siapa kau bilang?"
Dia tegaskan.
"Apakah kau tidak kenal Tiat CeeCu kami?"
Si serdadu wanitapun menegasi.
"Dia ada gadisnya jago tua dari Barat utara, namanya San Ho."
Tidak tunggu sampai orang tutup mulutnya, Beng Kie sudah lompat lari ke arah mulut gunung yang ditunjuk, seperti bayangan cepatnya, hingga tidak lama kemudian lenyaplah ia dari pandangan mata.
Dalam hal ilmu enteng tubuh, Beng Kie berimbang sama kepandaiannya si Raksasi Kumala, maka karena pesatnya ia lari, beberapa pahlawan yang dilewatinya tidak berani mencegat untuk menghalangi, mereka itu sangsikan manusia atau hantu...
Di saat Beng Kie memasuki mulut gunung yang pertama, San Ho justeru sudah menginjak mulut gunung yang ketiga, ialah di mana dia pertama kali meniup serulingnya.
Suara seruling itu tak dapat didengar Giok Lo Sat, barulah kemudian sesudah beberapa kali.
Tapi Beng Kie dapat segera dengar suara itu.
"Terima kasih kepada langit dan bumi, benarlah itu dianya!"
Serunya dengan girang.
Dia kenali itu adalah serulingnya San Ho.
Justeru itu waktu terdengarlah suara hebat bagaikan guruh.
Tapi Beng Kie, yang dibesarkan di Barat utara, tahu apa artinya itu, maka segera ia lompat ke tempat yang tinggi, untuk menyingkir dari uruknya es.
Ia tunggu sampai es longsor itu berhenti baru ia mencoba maju lebih jauh.
Segera ia dapat kenyataan, mulut gunung yang ketiga telah tertutup es.
Ia memandang jauh ke depan, tapi seorangpun tak tampak.
"Mungkin adik San Ho terkurung es di lembah bawah,"
Ia berpikir.
"Sungguh hebat umpama kata musuh berada bersama dia..."
Maka dengan mengempos semangatnya, pemuda ini mencoba maju terlebih jauh.
Iagunakan seluruh kepandaian enteng tubuhnya, dari tempat yang tinggi ia lompat turun, tak peduli es itu licin.
Adalah di waktu itu, Beng Kie saksikan Anghoa Kuibo yang berada di sebelah atas, yang terpisah beberapa tumbak jauhnya dari dia, melesat cepat sekali.
Ia menjadi heran.
"Heran..."
Pikirnya.
"Baru saja dia pergi ke Cenghie koan atau sekarang dia telah kembali ke Benggoat kiap. Untuk apakah?"
Karena sangat keras minatnya menolong orang, pemuda ini tidak pikir kelakuannya si Biang Hantu Bunga Merah itu, ia lanjutkan mencari jalan turun sambil berpegangan pada oyotoyot rotan.
"Jangan datang dekat!"
Mendadak Beng Kie dengar bentakan ketika ia sampai di pinggang gunung, hingga berbareng dengan heran ia segera berpaling.
Maka terlihatlah Bouwyong Ciong dengan muka menyeringai, sedang di pinggangnya ada terkempit si nona yang iajusteru lagi cari, yang selalu menjadi pikirannya.
Tentu sekali, ia menjadi sangat gusar, maka lantas ia cabut pedangnya.
"Lihat pedangku!"
Ia berseru. Keduanya segera datang dekat satu pada lain.
"Seranglah! "menantang Bouwyong Ciong, dengan sikapnya mengejek. Ia angkat tubuhnya si nona, rupanya untuk dipakai menangkis serangan. Ia tertawa.
"Jikalau kau berani celakai dia!"
Mengancam Beng Kie.
"Maka hari ini kita bertiga akan terpendam bersamasama dalam lembah ini!"
"Mari kita turun!"
Tiba-tiba Kim Tok Ek bersuara.
Dia telah merasakan kakinya sakit sekali, tidak peduli Eng Siu Yang pepayang padanya.
Sahabatnya itupun telah letih membantui dia.
Orang she Kim ini berpendapat sama dengan Bouwyong Ciong.
Ialah San Ho hendak digunakan sebagai alat untuk mendesak Beng Kie.
Ia mengerti tanpa menggempur es, sulit untuk mereka lekas menyingkir dari selat itu.
Untuk menyingkirkan es, bantuannya tentara wanita mesti diminta, dan untuk itu, Beng Kie harus dipaksa pergi mohon bantunnya Giok Lo Sat...
Tapi Bouwyong Ciong sendiri, meski benar ia hendak gunakan orang sebagai alat, mempunyai pikiran lain.
Beng Kie adalah orang yang Gui Tiong Hian hendak bekuk, Beng Kie ini ada terlebih penting daripada San Ho, pun lebih penting daripada si Raksasi Kumala.
Maka alangkah besar faedahnya baginya bila ia dapat bekuk pemuda ini.
Ia tahu Beng Kie liehay tetapi ia tidak jeri.
Memang, seorang diri saja tak dapat ia tawan anak muda ini, tetapi bersama Eng Siu Yang dan Kim Tok Ek, ia mendapat ungkulan.
Di samping itu, ia tahu juga, bila pertempuran sampai terjadi, ini akan mengambil banyak tempo, hingga ada kemungkinan Giok Lo Sat nanti keburu datang bersama barisannya.
Maka ia pikir, San Ho harus tetap dipakai sebagai alat untuk paksa pemuda she Gak ini.
Beng Kie ikuti ketiga orang itu turun sampai di lembah.
"Nah, Gak Beng Kie, apa kau inginkan sekarang?"
Tanya Bouwyong Ciong dengan tertawa dingin.
Ia hendak undang kemarahan orang.
Beng Kie awasi San Ho, hatinya sakit.
Rambut nona ini terurai, mukanya pucat sekali, pakaiannyapun robek-robek.
Pasti sekali nona itu telah menderita sangat.
"Kau perhina satu wanita, apakah kau satu enghiong?"
Pemuda ini tanya.
"Kau lepas dia!"
Bouwyong Ciong tertawa dingin pula.
"Hm, enak benar kau bicara!"
Katanya.
"Kau ingin aku merdekakan dia? Inilah gampang, asal kau suka turut kami menghadap Sri Baginda!"
Beng Kie awasi pula si nona.
"Tidak ada halangannya untuk aku turut kau ke kota raja,"
Katanya kemudian.
"Hanya sebelumnya turut kamu, ingin aku ketahui dulu bagaimana keadaan lukanya."
Bouwyong Ciong menotok dengan jari tangannya, dengan begitu dia bebaskan jalan darah San Ho yang tertutup, hingga si nona segera saja sadar.
"Koko, jangan turut dia ke kota raja!"
Kata nona ini.
"Kau lihat, bukankah dia sehat walafiat?"
Tertawa Bouwyong C iong.
"Mari kita berjual beli dengan jalan yang sama rata sama rasa! Tidak nanti aku bikin dia bercacat asal saja kau suka turut ke kota raja, tak akan aku pedayakan kau!"
Beng Kie berpikir dengan cepat, hingga segera dia ambil putusannya.
Dia telah serahkan kitab wasiat Him Kengliak kepada It Hang, maka dia tidak usah kuatirkan kitab itu.
Dia anggap tak apa dia pergi ke kota raja, untuk adu untung.
Dia hanya masih sangsikan keselamatannya San Ho.
kalau-kalau Bouwyong Ciong telah lukai bagian dalamnya, hingga dalam tempo sepuluh hari atau setengah bulan, nona itu bisa menemui ajalnya.
Dia perlu mengobati nona itu andaikata ia terluka di dalam.
"Koko, jangan mau kau dipedayakan!"
Kata pula Nona Tiat, yang melihat pemuda itu bersangsi.
"Cobalah kau menghela napas,"
Kata Beng Kie.
"Ingin aku ketahui, tulang igamu sakit atau tidak..."
"Setan alas!"
Seru Bouwyong Ciong.
"Mustahil Bouwyong Ciong menjadi tukang siksa wanita?"
Tapi San Ho pun cerdik. Ia menghela napas, ia menyedotnya.
"Ada sedikit rasa sakit,"
Katanya, dengan sengaja mendusta. Bouwyong Ciongkaget hingga dia perlihatkan wajah suram.
"Kau berpura-pura mampus?"
Tegurnya.
"Kau main gila?"
"Kau biarkan aku meniup seruling supaya kokoku dengar,"
Kata si nona tanpa pedulikan teguran itu.
"Benar, cobalah kau tiup!"
Kata Beng Kie.
"Dengan perdengarkan serulingmu aku dapat ketahui kau telah terluka di dalam atau tidak."
"Baik, tiuplah!"
Kata Bouwyong Ciong, yang kena terdesak. Dia kalah sabar. Tapi dia panggil Kim Tok Ek.
"Kau kemari!"
Sedang San Ho ditariknya ke samping. Dia pesan kawannya itu.
"Kau jagai dia, jangan ijinkan dia main gila!"
Kim Tok Ek membuat penjagaan, malah dengan sebelah tangannya ia tekan tulang piepee di pundaknya si nona, dan dengan tangan yang lainnya, ia meraba bebokong orang.
Dia memang menjagoi dengan Toksee Ciang, tangannya yang liehay, dan kekuatan di tangannya itu tak berkurang walaupun kakinya sakit dan lweekangnya sudah mundur.
Dengan persiapannya ini, andaikata San Ho gerakkan tubuhnya, dalam sekejab saja ia dapat diserang di dua tempat yang berbahaya, hingga akan .
rusaklah semua anggauta tubuh dalamnya.
Bouwyong Ciong sendiri segera ambil tempat menyelak di antara Tiat San Ho dan Gak Beng Kie, guna bertindak bilamana pemuda she Gak itu hendak melakukan sesuatu guna menolongi si nona.
"Sudah siap, budak hina!"
Kata Congkauwtauw ini.
"Eh, kenapa kau tidak lantas mulai meniup serulingmu?"
San Ho sendiri sangat masgul, pikirannya pun kusut. Apa boleh buat, ditempelkannya ujung seruling itu di kedua bibirnya. Maka terdengarlah suara yang perlahan dan halus, kemudian suara"
Itu dengan sendirinya menjadi tinggi dan keras.
Iramanya adalah irama bergembira, bagaikan bungabunga sedang mekar di musim semi atau seperti sepasang pemuda-pemudi yang asyik bergandengan tangan di tempat pesiar dan saling membisiki...
Mau atau tidak, mendengar itu, ingatlah Beng Kie --terkenanglah ia -pada saat ketika ia berdua si nona melakoni perjalanan jauh ribuan lie, bagaimana mereka menunggang kuda bermain panah.
Tanpa merasa, ia jadi bagaikan melamun.
Seruling berbunyi terus, lalu dengan mendadak bertukar irama.
Lenyaplah suasana indah di musim semi diganti dengan musim rontok ketika daun-daun menjadi tua dan kuning dan runtuh sendirinya, buyar tertiup angin.
Atau bagaikan belibis tunggal bernyanyi sedih sendirian.
Atau bagaikan tonggeret tengah mengulun seorang diri.
Beng Kie membayangkan bagaimana perasaan nona ini, sebatang kara yang sudah menjelajah dunia kangouw, bagaimana keadaannya sangat tidak menggembirakan, apapula sekarang dia sedang dipengaruhi musuh-musuhnya yang tangguh dan telengas...
Maka ia merasa sangat terharu.
Masih San Ho tiup serulingnya.
Kali ini nada berubah pula.
Suara menjadi tinggi, walaupun kesedihannya tak berkurang, malah bertambah, bagaikan orang sedang tersedu-sedu, menggerung-gerung, dan dalam pada itu, tercampur kemurkaan yang tertahan.
"Sebenarnya tak selayaknya aku tampik jodohnya, hingga sekarang dia jadi sangat berduka,"
Beng Kie berpikir.
Dalam perubahan suara yang ketiga kali, serulingnya Nona Tiat lantas menjadi perlahan pula dan halus, bagaikan sutera melayang-layang diudara, seperti bisikan-bisikan perpisahan, sebentar-senemtar terputus, hingga siapa yang mendengarnya hatinya turut menjadi terharu.
Bukan saja Beng Kie yang kena terpengaruh, tapi pun Bouwyong Ciong sendiri, yang hatinya keras bagaikan baja, air matanya berlinang-linang...
"Kenapa dapat dia melagukan suara begini?"
Pikir Beng Kie heran.
"Apakah benar dia tidak tega lihat aku pergi antarkan diri kepada malaikat maut? Aku tidak takut mati, tetapi bagaimana aku dapat biarkan dia hidup seorang diri dalam kesedihan?"
Masih terus seruling itu merayu-rayu, hingga, walaupun ia terpengaruh, Bouwyong Ciong toh masih insyaf, hingga habis sabarnya.
"He, kenapa kau masih tak hendak berhenti? Apa belum cukup?"
Bentaknya.
"Sudah, berhenti!"
San Ho berpikir.
"Sekarang ini tentulah EnCie Lian telah mendengarnya..."
Maka ia berhenti dengan lagu-lagunya.
"Gak Beng Kie, sudahkah kau mendengar nyata atau belum?"
Bouwyong Ciong tegur si anak muda.
"Kau lihat sendiri, mana dia terluka, sedikitpun tidak!"
"Baiklah!"
Beng Kie jawab.
"Sekarang kau merdekakan dia, nanti aku turut kamu!"
Tiba-tiba saja Congkauwtauw itu tertawa.
"Kau masih harus penuhi satu syarat pula!"
Dia kata.
"Apa itu?"tanya si anak muda.
"Kau jangan timbulkan yang tidak-tidak!"
"Sekarang kau talangi aku membacok kutung lenganmu yang kanan!"
"Apa?"
Teriak Beng Kie terkejut. Bouwyong C iong tertawa dingin.
"Kau terlalu liehay!"
Dia kata.
"Untuk membelenggu kau, belengguannya tidak cukup kuat, dan untuk totok padamu, kau bisa menotok sendiri untuk membebaskan pula, sedang perjalanan jauhnya selaksa lie! Mana tuan-tuan besarmu mempunyai kesempatan untuk senantiasa jagai padamu? Kau tidak percaya kami, kami juga tidak percaya kau, maka itu, dengan mengutungkan lengan kananmu, baru hati kami tenteram! Ah! Apakah kau takut sakit?"
"Koko, jangan, jangan!"
Teriak San Ho dengan cegahannya.
"Jikalau kau terbinasa, tak bisa aku hidup sendirian...!"
"Adik San, aku mengerti kau,"
Kata Beng Kie.
"Aku berterima kasih padamu. Kau masih muda sekali, kau harus hidup terus. Kau boleh berdiam bersama-sama EnCie Lian, tak usah kau pikirkan aku..."
Cong kauw tauw dari istana tertawa.
"Sungguh cinta!"
Ia mengejek.
"Masih berapa banyak katakata lagi yang kau hendak ucapkan?"
Beng Kie mendongkol.
"Kata-katanya satu kunCu ada bagaikan seekor kuda dicambuk kabur!"
Kata dia.
"Kau boleh lakukan apa yang kau suka atas diriku, asal jangan kamu ganggu dia!"
"Siapa menyesal, dia akan ditertawai kaum Rimba Persilatan!"
Bouwyong Ciong menekankan.
"Baiklah!"
Jawab Beng Kie. Ia pindahkan pedangnya dari tangan kanan ke tangan kiri, lalu ia membacok ke arah lengan kanannya.
"Aduh!"
Demikian terdengar jeritan kesakitan.
Dan pedangnya pemuda she Gak itu hampir sampai pada kulitnya, tiba-tiba pedang itu berhenti dengan sendirinya.
Menyusul jeritan dari kesakitan itu, tampaklah Kim Tok Ek dan Tiat San Ho roboh terguling ke tanah.
Nona Tiat meniup serulingnya, dengan itu ia mainkan tempo, untuk memberi tanda kepada Giok Lo Sat; ia mengharap kedatangannya si Raksasi Kumala, untuk menolongi padanya.
Tetapi di sebelah dia ada Bouwyong Ciong si licin, Congkauwtauw ini lantas bersiap sedia dengan pasang Kim Tok Ek selaku mata-mata, dengan memaksa Gak Beng Kie mengutungkan lengannya.
Tentu saja, kelicinannya itu mendatangkan kedukaan dan kekuatirannya San Ho.
Maka dalam keadaan sangat mendesak itu, nona ini berpikir keras, segera ia ambil satu putusan.
Tidak bisa ia biarkan Beng Kie jadi bercacat, dan ia sendiri, tak sudi ia dipengaruhi Kim Tok Ek.
Oleh karenanya, ia ambil tindakan tegas dan nekat.
Dengan sekonyong-konyong ia menyikut ke belakang, menyusul itu serulingnya pun diputar ke belakang, lalu ia pencet pesawat rahasia seruling itu, hingga dalam sekejab saja tiga batang panah sumpitannya menyambar ke arah Kim Tok Ek.
San Ho adalah gadisnya satu ahli silat kenamaan, walaupun bugeenya sendiri belum mahir sampai di batasnya, dia toh telah punyakan beberapa jurus atau tipu yang dapat menewaskan musuh, asal saja dia bisa gunakan tepat tipu silatnya itu.
Demikian dengan sikutnya dan sumpitannya itu.
Sikut itu tepat mengenai ulu hati, dan sumpitannya menancap telak di bagian anggauta yang berbahaya.
Maka itu, tidak perduli Kim Tok Ek liehay ilmu dalamnya, mahir bugeenya, ia toh terserang hebat, ia merasa kesakitan sekali hingga matanya kabur.
Tapi dalam keadaan seperti itu, ia tidak lupakan tugasnya, ia masih mencoba melakukan serangannya terhadap si nona, hingga mereka roboh saling susul.
Sambil bergulingan di tanah, San Ho berseru hebat.
"Koko, pergilah kau loloskan dirimu, supaya kemudian dapat kau menuntut balas untukku! Sampai kita bertemu pula!..."
Mendengar suaranya si nona Kim Tok Ek berlompat bangun. Merah matanya Beng Kie.
"Inilah hari penuntutan balas!"
Teriak dia, sambil lompat, dan memutarkan pedangnya.
Bouwyong Ciong juga kaget tapi ia masih sempat menyerang dengan kepalannya, hanya berbareng dengan itu, ia tampak mata merah mencorong dari si pemuda she Gak, hingga tahulah dia bahwa orang sudah jadi nekat.
Serangannya Beng Kie gagal, tapi dia pun bebas dari serangan karena gesitnya mengelakan tubuh, maka itu, dapat dia maju terus.
"Serahkan kepalamu!"
Dia berteriak kepada Kim Tok Ek, selagi si muka merah ini baru lompat berbangkit.
Belum sempat orang she Kim itu berdiri tegak atau dia sudah roboh pula, karena Beng Kie ulur kakinya dengan keras, menendang roboh padanya.
Bouwyong Ciong lompat hendak menolongi kawannya itu, tetapi sudah kasip, sudah tidak keburu lagi.
Untuk kedua kalinya terdengar jeritannya Kim Laokoay, sekarang ini tertahan.
Dia roboh dengan batang lehernya putus dengan segera, karena susulannya Beng Kie ada sangat hebat, dengan pedangnya yang tajam, dia tabas dan penggal, hingga sekejab saja kepalanya sudah berada di dalam cekalan pemuda yang nekat itu.
Bouwyong Ciong kaget, selagi begitu.
Beng Kie sekarang hadapi dia.
"Kau kehendaki aku turut kau ke kota raja, tapi aku inginkan kau pergi ke akherat untuk menghadap Giam LoOng!"
Terus pemuda ini menyerang dengan hebatnya Congkauwtauw itu menjadi repot, sebisa-bisanya ia membuat perlawanan.
Ia tahu, ia mesti adu jiwa, sebab ia sedang menghadapi satu orang kalap.
Ia lantas kerahkan Iweekangnya terraga"dalam.
Dengan sepasang kepalannya, ia lawan sebatang pedang.
Maka hebatlah pertempuran mereka berdua.
Kedua musuh ada sama tangguhnya, tetapi Beng Kie seperti kesetanan, pedangnya bergerak-gerak bagaikan naga menyambar-nyambar, ia tidak gubris lagi sepasang kepalan lawan yang bagaikan harimau atau macan tutul, dari itu, baru berselang kira-kira tiga puluhjurus, Bouwyong Ciong sudah bergelisah bukan main, hingga dia menjadi jeri.
Eng Siu Yang kaget, dia berdiri melengak di pinggiran.
"Jikalau aku terbinasa, mana dapat kau lolos sendirian!"
Teriak Bouwyong Ciong kepada sahabatnya itu.
Maksudnya adalah supaya sahabat itu jangan tercengang saja, harus dia maju untuk membantui, guna mengepung musuh.
Eng Siu Yang justeru sadar karenanya.
Dia berpikir.
"Gak Beng Kie sangat liehay, sekarang dia berkelahi bagaikan harimau gila, dia lupa kepada jiwanya sendiri, taruh kata aku bantui kawanku, belum tentu kita bisa rebut kemenangan. Di sebelah sana. kemungkinan Giok Lo Sat segera datang kemari... Kapan lagi hendak aku tunggu jikalau tidak sekarang juga aku angkat kaki?..."
Dan dengan kerahkan tangan dan kakinya, ia lompat ke lamping bukit, ia lantas saja kabur.
Bouwyong Ciong lihat sikap kawan itu, bukan main ia menyesal dan gusar.
Tapi ia gusar tanpa berdaya, sebab repot ia melayani Gak Beng Kie untuk bela diri.
Sampai tak sempat ia berpikir untuk angkat kaki...
Sementara itu, Giok Lo Sat dan Anghoa Kuibo berlari-lari saling susul menyusul.
Si Raksasi Kumala segera mendengar suara pertempuran, yang telah menyusuli atau menggantikan suara seruling yang telah berhenti.
Ia perlihatkan keentengan tubuhnya, pun larinya bertambah kuat, supaya bisa lekas sampai kepada adiknya.
Seringkah ia lompat, ia menekan batu gunung dengan pedangnya, hingga tubuhnya melesat bagaikan terbang melayang.
Dengan kemahiran ilmu enteng tubuhnya, ia sampai dengan cepat sekali.
Begitulah ia telah bernapasan dengan Eng Siu Yang, yang sedang kabur.
"Ha-ha-ha-ha!"
Tertawa si nona, ketika ia tampak orang yang ia kenali siapa adanya.
"Dulu di puncak Hoasan dapat kau loloskan diri. sekarang ini kau tak dapat lolos pula!"
Eng Siu Yang kaget dan ciut nyalinya, tetapi ia insaf pada ancaman bahaya, maka ia terus mainkan kebutannya guna menangkis pedangnya si nona yang menerjang padanya.
"Ha! Kau masih berani melawan!"
Tegur si Raksasi Kumala.
Dan pedangnya membabat dengan dahsyat sekali.
Bukan main repotnya Eng Siu Yang, menangkis dan berkelit.
Ia juga menjadi nekat, hingga di waktu mestinya menangkis, ia mendahului mencoba menabas lengan lawannya.
Di tanah datar ia sudah bukan tandingan si nona, apapuladi tempat yang demikian sukar, setiap tindak bisa membuat ia terpeleset dan terguling.
Giok Lo Sat desak orang demikian rupa, hingga akhirnya Eng Siu Yang menginjak sepotong batu, dan tak ampun lagi, berbareng dengan melejitnya batu itu, tubuhnya limbung, terus saja ia terguling, terjatuh ke bawah!
Si Raksasi Kumala melihat ke bawah, ia tertawa puas, akan tetapi waktu matanya bentrok sesuatu, ia kaget tak kepalang.
Di mana Beng Kie dan Bouwyong Ciong sedang adu jiwa, di sanapun melintang satu tubuh bermandikan darah tanpa kepala!
Dan tak jauh dari mereka itu, tampak tubuhnya San Ho juga menggeletak tak berkutik!
"Adik San!"
Memanggil nona ini, sambil terus lompat turun, berlari-lari ke arah tubuh Nona Tiat.
"Adik San"
Ia memanggil pula, kali ini sambil memegang tubuh orang, untuk diterbalikan.
"EnCie Lian..."
Demikian suara lemah dari San Ho.
"Kau terlambat... Tolong sampaikan kepada ayahku dan minta supaya ia jangan pikirkan pula padaku..."
Suara itu perlahan dan lemah, akan tetapi Beng Kie dapat mendengarnya, ia dengar bagaikan bunyi guntur di musim semi.
"Ha, dia belum mati..."
Pikirnya.
Maka ia putar tubuhnya, untuk lari kepada nona itu.
Bouwyong Ciong bernapas lega karena lawannya meninggalkan dia.
Inilah ketika yang baik.
Maka dia tidak kejar lawan itu, sebaliknya, ia lompat naik ke lamping, untuk angkat kaki.
Dia belum lari jauh atau dengan kagetnya, dia tampak Anghoa Kuibo sedang mendatangi.
Bukan main takutnya dia, tak sudi dia menemui wanita kosen dan galak itu.
Maka lekas-lekas dia putar arah, akan lari ke lain tujuan.
"Lian Liehiap. pergi kau kejar Bouwyong Ciong!"
Beng Kie teriaki si Raksasi Kumala "Biar aku yang tengok adik San Ho!"
Giok Lo Sat tertawa meringis, ia pondong tubuhnya San Ho, akan diserahkan kepada rangkulannya anak muda itu, dan ia sendiri segera lari, untuk menyusul Congkauwtauw dari istana.
Beng Kie lantas cium kelopak matanya San Ho.
"Adik San, buka matamu..."
Ia berkata.
"Kau lihat, aku di sini..."
Tiat San Ho membuka kedua matanya ia tersenyum.
"Koko, gi rang hatiku..."
Katanya.
"Aku menyesal, aku telah terlambat datang."
Beng Kie bilang.
"Kau tidak terlambat, koko. adalah aku yang hendak berangkat lebih dulu..."
Kata si nona.
Hebat luka di dalam tubuhnya San Ho bekas gedoran tangan yang liehay dari Kim Tok Ek.
yang terluka ialah hati dan isi perutnya, hingga untuk bisa bicara dengan si anak muda.
ia kumpulkan kekuatannya yang terakhir, habis itu ia berdiam dalam rangkulan anak muda itu.
bagaikan ia tidur nyenyak di atas kasur, bukan main ia merasa hangatnya, hatinya puas...
Beng Kie terus merangkul, ia lihat mata orang meram pula.
Ia terkejut apabila ia rasakan tubuh orang menjadi dingin, lenyap hawa hangatnya.
Sebab si nona telah menghembuskan napasnya yang penghabisan, tubuhnya itu dengan lekas telah menjadi dingin.
Pemuda ini berdiri melongo, hatinya kosong.
Ia tidak mempunyai harapan lagi.
hatinya segera menjadi tawar.
Ia seperti merasa suasana di sekitarnya dingin semua.
Ketika itu Anghoa Kuibo dari atas berlari-lari ke bawah, ia saksikan larinya Bouwyong Ciong.
yang dikejar Giok Lo Sat.
Ia memandang ke depan, ke lembah, segera ia menjadi sangat terperanjat.
"Kim Lootoa!"
Ia memanggil.
"Kim Lootoa!"
Mendengar suaranya si nyonya. Beng Kie bagaikan tersadar dari impian-nya yang muluk. Dengan hati-hati ia letakan tubuhnya San Ho di tanah, setelah itu. ia jemput kepalanya Kim Tok Ek.
"Di sini adama Lootoamu!"
Dia berteriak pada nyonya itu.
suaranya menyatakan kemarahan yang hebat.
Anghoa Kuibo lihat kepala tanpa tubuh itu.
ia kaget hingga tubuhnya bagaikan disiram air dingin, dari kepala sampai di dasar kaki.
Ia awasi kepala orang itu yang berlumuran darah...
Tidak salah, itulah kepalanya suaminya dengan siapa ia pernah hidup bersama puluhan tahun!
"Apakah kau yang telah bunuh dia?"
Tegur nyonya ini setelah ia sadar. Dia sangat gusar, tongkatnyapun diangkat tinggi.
"Suamimu yang busuk ini. sekalipun dia berjumlah sepuluh, dia masih tidak dapat dibandingkan dengan adikku San Ho!"
Jawab si anak muda. mengejek.
"Siapa kau?"
Bentak nyonya tua itu.
"Aku hendak membunuh kau. guna menggantikan jiwanya!"
"Bagus perkataanmu!"
Bentak Beng Kie.
"Aku si orang she Gak yang pernah menyerbu di antara ratusan ribu serdadu musuh, buat puluhan kali aku menghadapi ancaman bahaya maut. malah dorna sudah mengejar-ngejar aku. tapi aku tidak takut, malah jiwaku, telah aku taruhkan di luar garis! Ha-haha! kau berniat membunuh aku. Untuk mengganti jiwa? Habis, siapa yang nanti menggantikan jiwanya Him Kengliak --jiwanya adik San Ho ini?"
Anghoa Kuibo berdiam bagaikan dihajar guntur.
Jadi benarlah katanya Giok Lo Sat, suaminya ini kembali melakukan kejahatan, malah rupanya telah membinasakan menteri setia.
Maka menyesallah ia, yang telah puluhan tahun mendidiknya, ia mengharap suaminya itu mengubah tabiatnya untuk menjadi manusia baik-baik, tapi akhirnya, suami itu terbinasa sedemikian rupa...
Lemah seluruh anggauta tubuhnya wanita kosen ini, tongkatnya turun sendirinya bersama kedua bahunya.
"Habis mau apa kau sekarang?"
Tegur Beng Kie, yang hawa amarahnya mulai berkurang.
"Jadi kaulah yang bernama Gak Beng Kie? Kau adalah pembantu setia dari Him Kengliak?"
Tanya wanita kosen itu dengan sabar, sambil ia mengawasi wajah orang.
"Dan aku ketahui, kaulah yang dinamakan Anghoa Kuibo si Biang Hantu Bunga Merah!"
Sahut Beng Kie sebaliknya.
"Hm, hm, orang telah keliru menamakan julukanmu itu! Adalah suamimu yang seperti satu hantu!"
Si Biang Hantu menghela napas panjang.
"Habis, habis sudah..."
Katanya dalam hatinya.
"Apakah sekarang aku masih mendapat muka untuk bertemu dengan kaum Rimba Persilatan? Apakah artinya hidup dalam dunia ini jikalau rasanya tawar?"
Mendadak saja wanita jago ini menjadi putus asa, hingga ia jadi nekat.
Ia lompat membenturkan kepalanya kepada batu besar di sampingnya, hingga kepalanya pecah dan jiwanya melayang dalam sekejap.
Dan batu itu bermandikan darah, berlepotan polo yang hancur lebur.
Beng Kie kaget tetapi ia tidak berdaya, sebab tidak pernah ia sangka orang demikian keras hatinya.
Ia berdiri bengong karena tercengangnya.
Ketika ia sadar, ia tertawa terbahakbahak.
"Mati semua barulah bersih!"
Serunya seorang diri.
Dan iapun lompat membenturkan kepalanya kepada batu itu, untuk menelad si nyonya kosen!
Tapi tak dapat ia berbuat sekehendak hatinya itu, tak bisa ia menjadi hakim untuk jiwanya sendiri.
Tak dapat ia adu kepalanya dengan batu itu.
Karena dari belakang, ada orang menyambar sebelah kakinya, yang terus ditarik, hingga hampir ia tersungkur jikalau sebelah kakinya lagi tidak lantas menginjak tanah.
Segeralah ia menoleh, dengan mata mendelong.
"Dalam satu hari ini, tak mungkin terbinasa berbareng dua jago!"
Demikian ia dengar satu suara nyaring, suaranya Giok Lo Sat, ialah orang yang telah menyambar dan betot kakinya itu untuk mencegah ia menghabiskan jiwanya sendiri secara kecewa demikian.
Si Raksasi Kumala membatalkan mengejar Bouwyong Ciong, sebab tengah ia berlari-lari, kupingnya mendengar suara keras dari Anghoa Kuibo, suara yang ditimpali suaranya Beng Kie.
Ia jadi berkuatir.
"Jangan-jangan nyonya tua itu adu jiwa..."
Demikian ia menduga. Ia ingat kepada Beng Kie, ia ingat juga kepada San Ho, keselamatan siapa membuatnya sangsi. Maka berserulah ia pada si Congkauwtauw.
"Bouwyong Ciong, hari ini aku beri ampun kepadajiwamu!"
Habis itu ia lari kembali, tetapi alangkah terkejutnya ia, ketika ia menyaksikan kebinasaan yang menyedihkan dari si Biang Hantu.
"Celaka betul!"
Serunya dalam hatinya.
"Sejak ini aku kehilangan satu kawan yang tangguh!"
Baru ia kaget melihat yang satu, ia sudah dikagetkan oleh yang lain, demikian Giok Lo Sat.
Karena segera ia tampak perbuatan nekat dari Gak Beng Kie, maka dengan pesatnya ia mencelat kepada anak muda itu untuk menyambarnya, hingga ia merasa beruntung juga masih keburu menangkap kaki orang, hingga dapat ia mencegah satu jiwa lain melayang...
Pemuda itu lantas menjatuhkan dirinya di tanah begitu lekas si nona melepaskan cekalannya kepada kakinya.
Kalau tadi ia benturkan kepalanya dengan kedua matanya dimeramkan, sekarang ia mementangnya.
"San Ho telah terbinasa, untuk apa aku hidup terlebih lama pula?"
Katanya. Sakit hatinya Giok Lo Sat. Tetapi ia masih ingin hidup, tak sudi ia pergi meninggalkan dunia. Maka ia keraskan hatinya untuk melawan kesedihannya. Ia tertawa dengan tawar.
"Gak Beng Kie, adakah kau jeri nanti adu pedang pula denganku?"
Tanyanya, sengaja. Mendongkol Beng Kie mendengar hinaan itu.
"San Ho ada adikmu, tapi kau begini tega terhadapnya..."
Dia berpikir.
"Masakah di saat begini kau masih mempunyai keinginan untuk adu pedang denganku?"
Ia lantas lompat bangun.
"Benarkah kau hendak adu pedang?"
Dia tanya.
"Mari, mari! Sayang adikmu tak dapat menonton kegagahan enCie-nya!"
"Aku bukannya niat adu pedang denganmu sekarang!"
Giok Lo Sat berkata sambil tertawa.
"Kau tahu, guru kita telah menciptakan masing-masing semacam ilmu silat pedang, kedua ilmu silat itu adalah satu lempang, satu kebalikannya, sama seperti saling menindas, saling menghidupi juga. Adalah maksud guruku, setelah selesai merampungkan pelajarannya itu, ingin ia adu pedang dengan gurumu, untuk melatih diri, tapi sayang, guruku telah mendahului meninggal dunia, hingga karenanya, mereka berdua tak dapat lagi mengadu kepandaian mereka. Tapi kita masih hidup, kita masing masing mempunyai satu macam ilmu silat, kita adalah ahli waris tunggal dari kedua orang tua itu, dapat kita dikemudian hari melangsungkan mewujudkan cita-cita mereka. Bila telah sampai waktunya, umpama kata kau tidak sudi adu pedang denganku, aku sendiri yang nanti cari padamu! Sekarang ini, marilah kita sama-sama meyakinkan pula, sampai dua puluh tahun lagi, setelah sama-sama selesai memahamkannya, baru kita bertanding, guna memastikan siapa yang tinggi siapa yang rendah! Sekarang ini kita berimbang, inilah tak menarik hati..."
Beng Kie berpikir.
"Kiranya dia kandung maksud begini..."
Demikian pikirnya "Suhu juga telah berusia lanjut, pasti dia tidak bakal punyakan murid yang kedua, maka itu tak dapat aku tidak menyayangi jiwaku, hingga karenanya, aku dapat membuat putus warisan ilmu pedang kaumku..."
Karena berpikir demikian, ia merasakan kepalanya dingin bagaikan disiram air, ia jadi sadar.
"Terima kasih!"
Katanya kepada si nona suaranya perlahan. Lantas saja ia berbangkit.
"Baiklah, lagi dua puluh tahun, nanti aku tunggu kau di gunung Thiansan."
Giok Lo Sat juga bernapas lega. Baru sekarang ia tak dapat tahan kesedihannya. Ia tubruk tubuhnya San Ho, sambil memeluk, ia menangis menggerung-gerung.
"Kiranya di lahir saja dia bengis, hatinya tetap halus..."
Berpikir Beng Kie.
Lantas ia pikir untuk menghampiri si nona, guna menghibur padanya.
Tapi ini tak dapat ia lakukan karena ia segera tampak satu orang berlari-lari ke arahnya.
Itulah To It Hang, yang ilmu enteng tubuhnya ketinggalan jauh daripada si Raksasi Kumala dan Biang Hantu Bunga Merah, hingga baru pada saat itu ia dapat menyusul.
"Saudara To, San Ho telah mati,"
Kata Beng Kie kepada sahabatnya itu.
"Kau hiburkanlah Nona Lian..."
It Hang terkejut memandang segala apa yang dihadapinya itu.
Ia tidak sempat sahuti si anak muda, ia lantas dekati Giok Lo Sat, untuk pimpin dia bangun.
Pada itu waktu, si Raksasi Kumala justeru sedang berpikir.
"Gak Beng Kie dan adik San Ho tidak dapat menikah, tetapi mereka menyinta satu pada lain, maka meskipun dia menutup mata, hatinya tentu puas..."
Karena ini, ia jadi mengiri untuk keberuntungannya adik itu.
Tapi, ketika ia lihat It Hang, ia mengawasi dengan tajam, cahaya matanya mengandung rasa cinta dan kemenyesalan, penasaran...
It Hang tunduk dengan segera tak dapat ia memandang sinar mata orang itu.
Giok Lo Sat berdiam, hatinya bekerja.
Tiba-tiba saja ia insaf, bukannya San Ho yang harus dibuat sedih, hanya dirinya sendiri.
Ialah yang tidak beruntung dalam urusan asmara.
Maka ia berdiri menjublak.
Ia tidak lagi mengucurkan air mata.
Adalah selang sekian lama, baru ia bisa angkat kepalanya.
"Marilah kita kubur dia di lembah ini,"
Katanya.
"Kita tunggu sampai es telah menjaj_cair, baru kita urus pula jenazahnya, untuk dikubur seperti selayaknya..."
Beng Kie setuju, maka dibantu It Hang mereka menggali es.
Giok Lo Sat membantu pula membuat satu liang yang dalam, setelah mana, tubuhnya San Ho diangkat dimasukkan ke dalam liang itu, yang terus diuruk pula.
"Mari kita menggali sebuah lubang lain,"
Kemudian si Raksasi Kumala mengajak pula. Dan ia pondong tubuhnya Anghoa Kuibo, untuk dikuburkan dengan baik sebagai mayatnya gadisnya Tiat Hui Liong.
"Dia ini adalah satu nyonya yang harus dikasihani..."
Katanya.
"Biarlah dia dikubur bersama suaminya,"
Beng Kie usulkan. Lantas tubuhnya Kim Tok Ek, serta kepalanya, diangkat untuk dimasukkan dalam liang kubur dari si Biang Hantu.
"Sebenarnya hendak aku pakai kepala ini untuk sembahyangi adik San Ho,"
Kata pemuda she Gak itu.
"tetapi mengingat kepada nyony a ini. suka aku menghabiskannya..."
Maka es pun diurukkan ke liang kubur pasangan itu.
Sesudah itu bertiga mereka mengheningkan cipta, guna mendoa untuk ketenteramannya ketiga roh yang bercelaka itu.
Pada saat yang sunyi itu, Beng Kie dengar suara merintih perlahan.
Ia berpaling dengan segera.
Maka segera juga ia tampak Eng Siu Yang sedang bergulingan, akibat robohnya tadi bekas dikejar si Raksasi Kumala.
Kakinya terluka pula, tak dapat dia berjalan, sedang melihat kebinasaannya Kim Tok Ek, hatinya pedih, jeri...
"Masih ada satu lagi!"
Kata Beng Kie, sengit.
"Mari kita membuat lagi satu lubang, dia mesti dikubur hidup-hidup!"
Dalam sengitnya pemuda ini menghampiri orang she Eng itu, tubuh siapa ia sambar untuk ditenteng, guna dilemparkan ke dalam lubang.
"Tunggu!"
Seru Giok Lo Sat.
"Dia mesti dibiarkan tinggal hidup!"
It Hang bagaikan baru sadar.
"Benar!"
Dia turut bicara.
"Dia mesti dikasih tinggal hidup! Dia mesti dikorek mulutnya, supaya dia beber sekongkolannya dengan bangsa Boan!"
Beng Kie segera ingat kejadian dulu di puncak gunung Hoasan tatkala The Hong Ciauw membuat pengakuan.
"Dalam hal ini kita mengharapkan Lian Liehiap,"
Dia kata "Mari kita bawa pulang dulu dia ke pesanggrahan,"
Mengajak Giok Lo Sat.
"Biar dia hidup lebih lama dua hari lagi!"
Habis berkata demikian lama dan berlari-lari, sedang matahari sudah naik tinggi, nona ini memikir untuk beristirahat.
"Segala apa terserah padamu,"
Kata Beng Kie.
"Mustahil dia mampu terbang!"
Lantas dia angkat pula tubuh Eng Siu Yang, kali ini untuk dibawa lari ke pesanggrahan si nona.
Giok Lo Sat dan It Hang mengikuti.
Sesampainya di sarangnya si Raksasi Kumala memberi titah untuk melakukan penjagaan, terutama di mulut gunung.
Sampai di situ barulah orang dapat menghilangkan lelah.
Pada sore hari, habis bersantap, selagi sang rembulan mulai naik, barulah barisan wanita yang di kepalai Tiat San Ho dapat disambut pulang semuanya, syukur tidak ada yang kurang, kecuali semuanya letih dan lapar.
Bertiga Beng Kie dan It Hang, Giok Lo Sat berkumpul bersama.
Tak mau mereka lantas masuk tidur.
Masing-masing mempunyai pikiran sendiri.
Mereka muncul di lapangan gunung, untuk berjalan-jalan mencari angin...
Semuanyapun bungkam kemudian.
"Lian Liehiap, hendak aku mohon sesuatu kepadamu..."
Tiba-tiba Beng Kie berkata, memecah kesunyian.
"Silakan,"
Sahut si nona, ringkas.
"Him Kengliak terbinasa dengan kepala terpisah, aku minta sukalah kau berupaya hingga tubuhnya terkumpul utuh, untuk dikubur dengan baik,"
Demikian permintaan si anak muda.
"Him Kengliak itu sahabatku, nanti aku kerjakan sebisaku,"
Si nona beri kepastiannya.
"Terima kasih,"
Kata Beng Kie, yang terus pandang It Hang.
"Saudara To, aku harap kau nanti serahkan kitabnya Kengliak kepada orang yang tepat. Dalam hal ini aku mengandal padamu."
"Akan aku lakukan itu sekuat tenagaku,"
Jawab It Hang dengan janjinya.
"Hanya aku kuatir, sepulangku ke gunung, untuk menjadi ahli waris guruku, aku tak dapat kemerdekaan luas untuk bergerak di kalangan kangouw..."
"Jadi kau masih hendak pulang untuk menjadi ketua?"
Giok Lo Sat tanya pemuda itu. It Hang tunduk, ia tidak menjawab. Beng Kie nyelak, untuk menolong kawannya itu.
"Baik juga jikalau saudara To pulang untuk mengepalai kaumnya."
Katanya.
"Lebih baik dia daripada sekalian paman gurunya..."
Pemuda she To itu tertawa meringis.
"Umpama kata kau tidak menemui orang yang tepat, saudara To,"
Berkata pula Beng Kie.
"tidak apa bila kitab itu tetap disimpan olehmu."
"Jangan kuatir, saudara Gak,"
Sahut It Hang.
"Jikalau aku tidak dapat cari orang yang tepat itu. nanti aku minta pertolongan sahabatku yang baik guna menggantikan aku mengurusnya."
GiokLoSat heran mendengar kata-kata Beng Kie itu, ia berkuatir. Maka tertawalah ia ketika ia menegurnya untuk mengingatkan. Ia kata.
"Jangan kau lupakan janji kita berdua untuk mengadu pedang pula sesudah dua puluh tahun!"
"Pasti tidak akan aku lupakan!"
Jawab pemuda itu.
"Saudara Gak,"
Tanya It Hang.
"apa yang kau hendak lakukan kemudian?"
"Lihat saja nanti,"
Jawab Beng Kie.
"Tidak perduli bagaimana gangguannya penghidupan, aku toh nanti terumbang-ambing seorang diri..."
"Eh, apakah kau kata?"
Si nona tanya.
"Kau mirip dengan si pendeta tua yang lagi mendoa..."
It Hang mengerti, sahabatnya itu sudah tawar hatinya.
"Ada baiknya dia menjadi pendeta,"
Dia kata di dalam hati.
"Aku sendiri, belum ada jodohku untuk menjadi pendeta..."
Malam itu lewat dalam kesunyian, lalu besok paginya Beng Kie telah lenyap dengan tidak keruan parannya.
Dia telah berangkat pergi tanpa pamitan lagi, kecuali meninggalkan sepucuk surat pada Giok Lo Sat dan To It Hang.
Dia menulis, karena gurunya sudah lanjut usianya, maka dia akan pulang ke gunung Thiansan guna merawati hidup gurunya, berbareng itu ia akan bersungguh-sungguh meyakinkan lebih jauh ilmu silat pedangnya...
It Hang dan Giok Lo Sat telah menduga akan perbuatannya Beng Kie itu, mereka hanya tidak menduga orang pergi demikian cepat.
Biar bagaimana, mereka merasa menyesal.
Hari itu Giok Lo Sat sedang memimpin sejumlah serdadunya untuk mengurus lebih jauh penguburan sempurna bagi San Ho dan Anghoa Kuibo.
It Hang pun membantunya.
Sampai sore baru mereka dapat beristirahat.
Habis bersantap malam, mereka hendak periksa Eng Siu Yang, tatkala terlihat cahaya api berkobar di arah gudang barang makanan, segera disusul dengan suara berisiknya tentara.
Dalam kagetnya, Giok Lo Sat samber pedangnya.
Justeru itu datang laporan.
"Tentara negeri datang menyerang!"
"Demikian cepat?"
Tanya si nona.
"Mereka demikian berani?"
Inilah di luar dugaannya.
Dengan membawa pedangnya, CeeCu ini lari keluar sampai di muka pesanggrahan, di sini ia lantas tampak BouwyongCiong bersama beberapa puluh serdadunya yang sedang beraksi melepas api di sana-sini.
"Untung kau telah lolos, sekarang kau berani datang pula kemari?"
Tegur si nona.
dalam gusarnya.
Lalu dengan tanda gerakan pedangnya, tentaranya maju menerjang.
Barisan wanita itu taat kepada pemimpinnya dengan cepat mereka sudah siap sedia, tetapi di waktu bertempur mereka tempur tentara negeri secara kalut karena tentara itu berpencaran.
Giok Lo Sat sendiri maju untuk menghampiri Bouwyong Ciong.
Selagi pertempuran berjalan, di arah barat muncul serombongan imam yang bersenjatakan pedang panjang.
Mereka ini datang menyerbu.
Bouwyong Ciong sudah lantas menyerang, untuk melampiaskan penasarannya.
Dia dapat lolos setelah batalnya pengejaran Giok Lo Sat terhadapnya.
Dia kumpulkan sisa pahlawan yang tidak terluka, yang tinggal sepuluh orang.
Dia menjadi bingung, mau pulang ke kota raja, dia bersangsi.
Kota Konggoan pun masih kacau akibat penggedoran rakyat.
Syukur untuknya, sebelum ia mengambil putusan, Khamkun Lian Seng Houw telah datang bersama barisannya.
Punggawa ini dapat tugas dari Gui Tiong Hian untuk membasmi "penjahat".
Dia ini bekas Congkauwtauw dari SeeCiang, maka ia adalah rekannya orang she Bouwyong itu.
Malah dia yang mendahului cari Bouwyong Ciong apabila dia dengar kabar Congkauwtauw itu ada di kota Konggoan.
"Apa yang telah terjadi?"
Dia tanya. Bouwyong Ciong menghela napas.
"Sejak hidupku, inilah kekalahan yang belum pernah aku terima,"
Sahutnya terus terang.
"Ya, bagaimanakah terjadinya itu?"
Lian Seng Houw tanya pula.
Tanpa ragu-ragu, Bouwyong Ciong tuturkan semua.
Mendengar Kim Tok Ek terbinasa, Lian Khamkun tidak utarakan apa-apa, akan tetapi mengetahui Eng Siu Yang tertawan, dia kaget hingga mukanya menjadi pucat sekali.
Eng Siu Yang bersama-sama Gui Tiong Hian dan Lian Seng Houw ini adalah penyambut-penyambut dari bangsa Boan, karenanya Seng Houw jeri bukan main, dia takut kalau Eng Siu Yang nanti membeber rahasia.
Kalau Eng Siu Yang buka rahasia, celakalah mereka.
"Nama Giok Lo Sat itu pernah aku mendengarnya,"
Katanya, gelisah. Dia mempunyai berapa banyak serdadu?"
"Cuma kira-kira beberapa ratus jiwa dan semuanya wanita,"
Sahut Bouwyong.Ciong. Mendengar ini, barulah Seng Houw tertawa.
"Beberapa ratus serdadu wanita --apakah yang ditakuti?"
Katanya.
"Mari kita pimpin pasukan kita untuk membasmi sarang mereka!"
"Memang beberapa ratus serdadu wanita itu tidak banyak artinya,"
Kata Bouwyong Ciong.
"Di sebelah mereka, yang penting adalah keletakannya selat Benggoat kiap. Tidak dapat pasukan perang besar masuk ke sana! Sekarang ini, salju dan es sedang menutupi jalanan juga."
Lian Seng Houw lantas berpikir.
"Menurut keterangan kau barusan, tentara wanita itu juga tercegat jalanan pulangnya,"
Kata dia kemudian.
"Untuk mereka dapat kembali, perlu Giok Lo Sat membuka jalan itu, guna menyambut mereka. Baiklah kita coba ambil jalan yang diambil mereka itu. Dari dalam pasukanku, boleh aku pilih beberapa antaranya yang dapat ikut kau masuk dengan diamdiam. Di antaranya mesti yang mempunyai kebisaan enteng tubuh."
Bouwyong Ciong menggeleng kepala.
"Itulah belum cukup."
Katanya.
"Tentaramu itu. andaikata mereka dapat menerobos naik dan masuk, tidak dapat dipakai melawan pasukan wanita dari Giok Lo Sat. Jumlah beberapa puluh serdadu saja belum cukup. Di sana ada Giok Lo Sat dan Gak Beng Kie yang liehay sekali, dan mereka dibantu ketua yang baru dari Butong pay."
"Apa kau kata?"
Tanya Lian Seng Houw.
"Aku dengar Butong pay sudah pilih ketuanya yang baru, satu anak muda yang bernama To lt Hang. Tapi pihak Butong tidak biasanya memusuhi tentara negeri. Mungkinkah To It Hang itu bergandengan tangan dengan hantu wanita itu?"
"Justeru demikian adanya!"
Bouwyong Ciong membenarkan.
To It Hang itu mempunyai hubungan sangat erat dengan Giok Lo Sat dan ia pun melindungi Gak Beng Kie.
It Hang sendiri tak usah dibuat kuatir.
Bersama dia ada imamimam dari Butong pay.
mereka semuanya liehay.
Di dalam kota Konggoan ada beberapa puluh dari imam-imam itu.
apabila mereka sampai turut terlibat, itulah bukan main..."
Lian Seng Houw berkuatir juga. parasnya berubah.
"Meski begitu, tak dapat tidak. Eng Siu Yang mesti dapat ditolong."
Katanya perlahan. Terus ia berbisik di kupingnya Congkauwtauw she Bouwyong itu.
"Eng Siu Yang itu ada orang kepercayaannya Gui Kongkong, dia sangat disayang, sampai berulang kali Gui Kongkong pesan aku untuk bantu lindungi dia..."
Sebenarnya Bouwyong Ciong kurang menghargai Eng Siu Yang, tapi sekarang, mendengar keterangan orang, ia kaget, hatinya bercekat.
"Jikalau begitu, mesti dia ditolongi,"
Pikirnya. Karena ini, ia jadi ingat pikirannya Eng Siu Yang yang pernah diutarakannya terhadapnya. Ia kata.
"Pernah Eng Siu Yang mengutarakan sesuatu, cuma aku tadinya tidak memperhatikan."
Lian Seng Houw tertarik mendengar kata-katanya orang she Bouwyong itu.
"Dia telah usulkan supaya kita ubah Butong pay dari musuh menjadi sahabat-sahabat,"
Menjelaskan Congkauwtauw pahlawan istana TongCiang itu.
"Kita mesti menghaturkan maaf pada Pek Sek Toojin, habis itu kita ajak mereka untuk bersama-sama menerjang gunung musuh."
Lian Seng Houw tepuk-tepuk tangan, ia tertawa bergelakgelak.
"Bagus, inilah akal bagus!"
Serunya.
"Kita harus bertindak demikian! Pek Sek Toojin pikirannya sedang cupat, sekarang ketuanya diculik orang, pasti dia tidak dapat berpikir panjang. Mari kita bicara padanya, hatinya tentu dapat dibikin tergerak!"
Nyatalah pendapatnya Lian Seng Houw dan pikirannya Eng Siu Yang itu sama.
Dua hari Pek Sek berantai tak dapat lihat It Hang, mereka jadi sangat mendongkol, tetapi imam itu bukan tandingannya Giok Lo Sat, mereka pun tidak berani mendatangi Benggoat kiap untuk mengambil orang, ia jadi masgul sendirinya.
Tapi sekarang, setelah mendengar katakatanya Bouwyong Ciong dan Lian Seng Houw, yang mengunjungi mereka dengan hormat dan telah menghaturkan maaf juga, pikirannya berubah menjadi tetap.
Ang In pun setuju menerima ajakan bekerja sama itu.
Hanya, untuk menerima itu, mereka memajukan tiga syarat.
Ialah.
Pertama-tama.
Benar mereka bekerja sama, tetapi tujuan mereka adalah berlainan.
Sebab mereka cuma hendak mencari ketua mereka, tak suka mereka menolong tentara negeri.
Kedua.
Kecuali Giok Lo Sat, yang lainnya tak suka mereka membuat luka atau binasa.
Umpama ada serangan tentara wanita mereka cuma akan bela diri.
Dari itu, pihak tentara negeri harus maju di muka untuk melawan tentara wanita itu, mereka sendiri hanya menyerbu guna mencari ketua mereka.
Dan ketiga.
Setelah selesai tugas mereka mereka akan berpisahan masing-masing, berbareng dengan itu, dendam di antara mereka berdua pun mesti diselesaikan, ialah pihak pahlawan tidak boleh lagi memusuhi Butong pay.
Oleh karena Bouwyong Ciong hanya mengharap bantuannya, dengan gampang saja ia dan Lian Seng Houw terima baik ketiga syarat itu.
Bukankah, bila rombongan imam ini mendaki bukit mereka akan bentrok dengan pihak Giok Lo Sat?
Bukankah bentrokan itu berarti bantuan berharga untuk pihak tentara negeri?
Demikian setelah mereka membuat perjanjian, lantas mereka berangkat bersama.
Maka malam itu mereka mendaki bukit dan menyelusup masuk ke dalam, hingga tahu-tahu mereka sudah membakar gudang dan menyerang.
Giok Lo Sat murka bukan main mengetahui Pek Sek Toojin turut datang menyerbu.
Ia segera hampiri imam itu dan menegur dengan bengis.
"Pek Sek. kau membantu Tiu Ong berbuat jahat?"
Artinya, Pek Sek disamakan dengan Kaisar Tiu yang jahat dan kejam. Tentara wanita segera turun tangan melawan penyerangpenyerang itu. Pek Sek pun gusar sekali.
"Runtuhkan senjata mereka!"
Ia titahkan kepada kawankawannya.
Tentara wanita itu kosen semuanya, di pihak Butong tidak ada niatan membinasakan ataupun hanya melukai mereka, sulit juga untuk mereka dipecundangkan lekas-lekas.
Demikianlah mereka bertempur seru dan ulat.
Pek Sek maju berbareng Ang In karenanya, Ang In Toojin geser pedangnya dari tangan kanan ke tangan kiri dan Pek Sek Tooj in tetap menggunakan tangan kanannya.
Mereka ini liehay, tidak heran kalau dalam sekejap saja, belasan serdadu wanita yang alat senjatanya dapat dibikin terlepas dan terpental.
Pertempuran ada kalut sekali.
Giok Lo Sat tidak ketahui duduknya perdamaian di antara Bouwyong Ciong dan Pek Sek Toojin, dia menyangka Butong pay telah bekerja sama dengan tentara negeri, dalam sengitnya ia rangsek Congkauwtauw itu.
Dia kuatir sekali musuh nanti membakar pesanggrahannya.
Maka sesudahnya bikin Bouwyong Ciong berkelit, dia lompat akan nerobos terus.
Murid-murid Butong pay mencoba merintangi nona ini akan tetapi mereka dibikin repot oleh si nona.
Pek Sek gusar menampak kekosenan orang itu.
"Siluman perempuan, kembalikan ahli waris Butong pay!"
Teriaknya.
"Jikalau tidak, hari ini kau tidak akan lolos dari pri keadilan!"
"Kau justerulah yang memalukan kehormatannya Cie YangTiangloo!"
Si nona membaliki.
"Kau membuat tertawanya orang-orang gagah di kolong langit ini!"
Dan dengan pedangnya yang hebat, si nona membuat Pek Sek dan Ahg-In tak berdaya, mereka seperti ditutupi sinar bergemerlapan dari pedangnya itu.
To It Hang belum lagi tidur, dia menjublak bilamana ia ketahui paman-paman gurunya serta saudara-saudara seperguruannya datang menyerbu pesanggrahan si nona.
Dikucek-kuceknya matanya untuk mendapat kenyataan apakah ia tengah bermimpi.
Kini dia menjadi sangat bersusah hati, sikap apakah yang harus diambil?
Tidak lama berselang mulailah terdengar jeritan-jeritan hebat, dari kesakitan.
Inilah akibat serangan nekat dari pihaknya Bouwyong Ciong atas serdadu-serdadu wanita.
Serdadu-seidadu ini repot melayani pihak Butong pay, tapi lebih celaka lagi ketika mereka berhadapan dengan tentara negeri, sebab tentara ini bukan seperti orang-orang Butong pay, yang cuma membikin terpental senjata mereka, mereka ini di samping melukai, juga menikam dan membacok secara dahsyat.
Maka itu keadaan menjadi lekas kalut.
Di belakang barisan pelopor itu menyusul tentaranya Lian Seng Houw, yang telah mendaki gunung dengan mengambil jalan yang dibuka Bouwyong Ciong.
Mereka menerjang masuk dengan leluasa, tanpa mendapat rintangan, karena tentara wanita sedang repot melayani musuh-musuh.
Dan hebatnya, tentara Lian Seng Houw ini terus main api, membakar pesanggrahan, yang umumnya terdiri dari kayu dan atap, yang gampang menyala.
Pedih hatinya To It Hang mendengar jeritan-jeritan itu, iapun malu terhadap Giok Lo Sat, maka dari diam saja, terpaksa ia muncul juga.
Ia lompat maju di antara cahaya api berkobar dan menerjang keluar.
"Susiok, aku di sini!"
Teriaknya. Ia pun ketahui baik maksud dari kedatangannya rombongan Butong pay itu.
"Susiok, kenapa kamu bantui tentara negeri?"
"Bagus!"
Berseru Pek Sek, yang girang melihat keponakan murid itu atau ahli waris Butong pay.
"Mari kau ikut kita pulang!"
Dan ia kepalai murid-muridnya untuk menyambut ketua yang muda itu, untuk diajak berlalu.
Matanya Giok Lo Sat menjadi merah.
Tentu saja tidak dapat ia ijinkan orang membawa pergi sahabatnya itu.
Dengan beberapa lompatan saja, ia telah sampai di samping si anak muda itu.
"Kau biarkan aku pergi!"
It Hang kata.
"Kau perlu lawan tentara negeri itu!"
Dan ia lemparkan kitabnya Beng Kie kepada nona itu, sambil ia tambahkan.
"Kau tolongi aku urus pesannya saudara Gak!"
It Hang tahu, meskipun ia menjadi ketua, ia tetap ditilik keras oleh paman-paman gurunya, maka itu ia anggap baiklah kitab itu diserahkan kepada nona ini.
Giok Lo Sat tercengang atas sikapnya pemuda itu, justeru itu, Pek Sek telah datang dekat padanya, ia terus diserang.
Ia menjadi murka, ia menangkis dengan keras.
"Trang!"
Dan pedangnya si imam terpental, hampir saja terlepas dari cekalannya.
"Kami memapak ketua kami, segera kami akan berlalu,"
Kata Ang In Toojin.
"Giok Lo Sat, apakah kau keras hendak menyatrukan kami dari pihak Butong pay?"
Giok Lo Sat dengar suara riuh hebat. Ia kertak giginya.
"Baik, pergilah kamu!"
Sahutnya.
Dan tanpa tunggu jawaban lagi ia lompat menyingkir meninggalkan rombongan Butong pay itu, yang segerapun berlalu mengiringi ketua mereka yang muda.
It Hang terpaksa menurut, ia membungkam.
Pesanggrahannya Giok Lo Sat seperti telah terkurung api, yang berkobar-kobar membakarnya.
Lian Seng Houw bersama orang-orangnya menyerbu ke belakang pesanggrahan, untuk mencari orang yang dicarinya.
Di lain pihak.
Giok Lo Sat sedang serang Bouwyong Ciong, keduanya bertempur secara sangat dahsyat.
Pertempuran kusut masih berjalan di antara tentara negeri dan barisan wanita.
Bouwyong Ciong jeri terhadap ancaman api, ia bertempur sambil mundur.
Semua serdadu juga mencoba menyingkir dari hawa api yang panas sekali.
Sambil bertempur mereka itu juga berteriak-teriak, yang menambah kalutnya suasana.
Pertempuran itu merugikan sangat pasukan wanita, seolaholah sembilan dari sepuluh telah termusnah, sedang di pihak negeri, kerusakan lebih daripada separuh.
Bukan main gusarnya Giok Lo Sat.
Tiga tahun ia berusaha, sekarang dalam sekejap saja termusnah.
Dan serdaduserdadunya, dengan siapa ia hidup bagaikan kakak dan adik, sekarang menerima nasibnya secara demikian hebat dan menyedihkan.
Dalam keadaan itu.
tak sempat ia menghitung berapa sisanya...
Maka, dalam murkanya nona ini menyerang hebat sekali.
Dalam tempo yang pendek, ia telah robohkan belasan serdadu.
Bouwyong Ciong coba merintanginya, tetapi ini tidak dipedulikan, ia elakan dirinya, supaya ia bisa hajar lagi belasan serdadu.
Kelincahannya membuat ia tak dapat dihalanghalangi orang she Bouwyong itu.
Dalam saat kalut itu, tiba-tiba terdengar seruan.
"Kamu semua mundur! Pergi kamu kejar serdadu musuh! Biar kami yang melayani hantu wanita ini."
Itulah suaranya Lian Seng Houw. yang berhasil menolongi Eng Siu Yang, yang setelah beristirahat, kakinya telah sembuh. Eng Siu Yang juga berteriak.
"Jangan kasih lolos hantu wanita itu!"
Lalu ia maju mendampingi Lian Seng Houw, untuk menerjang.
Giok Lo Sat tidak banyak omong, dia lompat pada orang bekas tawanannya itu, lalu menerjang dengan hebat sekali.
Dalam dua tiga jurus saja, hampir Eng Siu Yang kehilangan jiwanya di ujung pedang si nona, syukur ia ditolongi Lian Seng Houw.
Tapi ia bandel, tidak mau ia menyingkir, sebaliknya, mendampingi Lian Khamkun, ia menyerang dari samping.
Lian Seng Houw ada Congkauwtauw, guru silat, dari SeeC iang, di dalam kalangan pahlawan istana, ia cuma ada di bawahannya Bouwyong Ciong atau di atasan Eng Siu Yang, bisa dimengerti ia sanggup melayani si Raksasi Kumala.
Ia bersenjatakan siangkauw, sepasang gaetan.
Untung baginya, baru menggebrak belasan jurus, Bouwyong Ciong sudah datang membantui, hingga bertiga mereka dapat kepung musuh mereka.
Sisa tentara wanita telah meloloskan diri, di antaranya, sambil berlari mereka teriaki ketua mereka.
"CeeCu, mari kita menyingkir!"
Ada pula yang meneriaki.
"CeeCu, selama masih ada gunung hijau, jangan takut tidak ada kayu bakar! Janganlah adu jiwa dengan mereka!"
Giok Lo Sat mendengar ajakan itu, ia menginsyafinya.
Sekarang ia berada dalam kedudukan serba salah, walaupun ia berniat untuk menyingkir, sulit untuk melakukan itu.
Ia sedang dikurung musuh-musuhnya yang tangguh, terutama Bouwyong Ciong, yang kepalannya seperti angin, dan sepasang gaetannya Lian Seng Houw sewaktu-waktu dapat menyambar kakinya apabila ia kurang gesit...
Tidak lama kemudian, dalam pertempuran itu, tinggallah Giok Lo Sat seorang di dalam kurungan.
Semua serdadunya sudah menyingkir, sudah terbinasa atau terluka.
la menjadi nekat, karena ia harus melayani kurungan yang hebat sekali.
Ia pun mulai berkuatir karena berlarutnya sang waktu.
Itu waktu sudah mendekati tengah malam.
"Apakah aku mesti terbinasa di sini?"
Nona ini berpikir melihat sukarnya ia memukul mundur musuh-musuhnya itu.
Ia bisa kehabisan napas atau tenaganya.
Itulah sangat berbahaya...
Tentara negeri tidak lagi bertempur, mereka tidak berani maju, mereka hanya berkumpul di sekitar kalangan, untuk menyaksikan pertempuran sambil bersiap sedia untuk membantu pemimpin mereka.
Melainkan mulut mereka yang tidak turut berdiam.
Ada di antara mereka yang tertawa, yang mencaci, ataupun mengejek.
"Bandit begini cantik molek, jangan lukai dia, kasihan..."
"Cis! Taruh kata dia dapat ditangkap, kau toh tak akan kebagian..."
Temannya mengejek.
Giok Lo Sat sangat mendongkol.
Kepalanya menjadi pusing, karena sudah berkelahi lama.
Dalam saat si Raksasi Kumala terancam mala petaka itu, tiba-tiba terdengar seruan hebat bagaikan guntur.
"Kawanan bangsat hinadina! Kamu berani menghina anak angkatku?!"
Belum berhenti suara itu atau menyusuli jeritan hebat dari satu serdadu, yang segera disusul dengan jeritan-jeritan yang lainnya.
Dengan tiba-tiba sajaTiat Hui Liong muncul di medan adu jiwa itu, dan sambil menerjang ia sambar serdadu yang berada di hadapannya, dilemparkannya setiap serdadu itu ke bawah gunung, ke arah lembah hingga mereka terlempar bagaikan ikatan-ikatan rumput saja.
"Ha, kau kembali, tua bangka!"
Seru Bouwyong Ciong dengan murka, ketika ia tampak ada pembela untuk wanita yang ia rasa tinggal mencekuknya saja.
"Ya, aku yang hendak ambil jiwamu!"
Bentak jago tua dari Barat utara itu.
Bouwyong Ciong tinggalkan Giok Lo Sat dalam kepungannya Lian Seng Houw dan Eng Siu Yang, ia lompat kepada orang tua itu, yang terus diserang dengan kepalannya yang hebat.
Dengan berani Tiat Hui Liong sambuti serangan itu, menyusul mana terdengarlah suara keras, dari bentroknya kedua tangan, sebagai kesudahannya kedua jago itu masingmasing terpelanting mundur!
Giok Lo Sat lihat siapa yang datang, dalam sekejap saja semangatnya telah terbangun, hingga dengan gampang ia dapat tangkis serangan kedua gaetan itu.
Ia telah gunakan tipu silat "Sengheng tauwCoan", atau.
"Bintang melintang, bintang berputar"; senjatanya Congkauwtauw itu tersampok ke samping. Bouwyong Ciong menjadi sengit, ia lompat kepada si nona untuk menyerang, akan tetapi Tiat Hui Liong lompat kepadanya untuk menghalangi hingga kembali ia mesti layani jago ini. Karena datangnya jago she Tiat itu tak terduga-duga, maka keadaan berubah rupa dengan cepat. Jago ini segera berkelahi dengan tindak tanduknya yang berjurus "ngoheng patkwa"
Atau "limajalan dan delapan penjuru", hebat serangannya yang berulang-ulang.
Bouwyong Ciong layani jago tua ini.
untuk itu ia pasang kuda-kudanya yang kuat bagaikan tubuhnya terpaku di tanah, ia tangkis setiap serangan, ia pecahkan sesuatu pukulan.
Dengan kurangnya satu musuh tangguh, Giok Lo Sat mendapat keringanan, kalau tadi ia terdesak, sekarang ia bisa balas menyerang Lian Seng Houw dan Eng Siu Yang, hingga kini kedua hamba negeri yang menjadi berkuatir hatinya.
"Mana adikmu San Ho?"
Tiba-tiba Hui Liong menanya selagi pertandingan berjalan sangat seru, ia sendiri sedang mencoba mendesak lawannya.
Mendengar pertanyaan ini Giok Lo Sat terkejut, justeru itu kedua gaetannya Seng Houw menyambar, satu menikam, yang lain menggaet.
Tentu saja, tubuhnya agak berayal, maka dengan perdengarkan suara "Bret!"
Ujung bajunya pecah sebagai korban gaetan lawan itu.
"Kurang ajar!"
Ia mendamprat dalam hatinya, saking mendongkolnya. Tidak ayal lagi ia menikam dengan pedangnya selagi lawannya itu belum sempat menarik kembali gaetannya.
"Aduh!"
Menjerit Lian Seng Houw, yang pundaknya kena tertusuk, atas mana, bukannya ia menjadi gusar dan melakukan pembalasan, sebaliknya ia angkat kaki untuk memutar tubuh dan menyingkir sekuat-kuatnya.
Eng Siu Yang pun kaget, melihat kawannya angkat kaki, ia juga lantas lari menyusul tanpa banyak berpikir lagi.
Giok Lo Sat tidak mengejar, akan tetapi ia masih bersilat terus, sebagai juga ia sedang melayani lawanlawannya itu.
Tiat Hui Liong lihat keanehannya anak angkat itu, ia terperanjat.
"Kau kenapa?"
Tanyanya. Ia sambar anak itu, untuk dipegangi. Tiba-tiba si nona tertawa berkakakan, bagaikan menangis.
"Semua musuh sudah kabur!"
Hui Liong beritahukan, sambil berteriak. Giok Lo Sat tidak berontak, hanya kakinya seperti lemas, ia jatuh terduduk di tanah.
"Kenapa kau?"
Tanya ayah angkat itu, yang kaget dan heran.
"Menyesal, ayah..."
Sahut si nona kemudian.
"Apa katamu?"
Tanya Hui Liong, kagetnya bertambah.
"Bicaralah dengan tenang..."
Giok Lo Sat tidak menyahut, matanya meram. Tiba-tiba saja ia tak sadar akan dirinya. Sebab ia terlalu letih dan hatinya mendapat goncangan hebat.
"Anak yang baik, kau terlalu letih_."
Kata Hui Liong dengan perlahan, sambil menghela napas.
Ia menduga anak angkat ini sudah berkelahi sangat lama.
Ketika itu, pesanggrahan telah menjadi abu, tinggal sisa api dan asap serta api yang merembet ke pohon-pohon.
Tiat Hui Liong telah terlambat.
Setelah bercapai lelah tiga tahun, baru ia dapat tahu di mana San Ho dan Giok Lo Sat bernaung, tetapi di luar sangkaannya, justeru ia sampai, mala petaka sedang menimpa puteri dan puteri angkatnya itu.
Memandang kesekitarnya, jago tua dari Barat utara ini tampak kesunyian.
Di situ tak kedapatan lagi serdadu musuh, mereka telah kabur semua.
"San Ho! San Ho!"
Tiba-tiba jago ini berteriak, memanggilmanggil gadisnya. Tidak ada jawaban kecuali kumandang dari tengah-tengah lembah.
"San Ho! SanHo!"
Ia mengulangi.
Kembali adalah sang kumandang yang menyahuti.
Tidak lama, dua serdadu wanita tampak muncul merayap.
Mereka ini lolos dari bahaya, mereka bersembunyi sampai mereka dengar panggilan itu berulang-ulang.
Mereka tidak kenal Hui Liong, tetapi menampak dandanan orang bagaikan rakyat jelata mereka tak takut, sebaliknya, mereka menghampiri.
Mereka menduga orang tua ini ada dari pihak kawan.
"Tiat CeeCu telah menutup mata..."
Kata mereka itu sambil menangis.
Hui Liong kaget bagaikan terpagut ular.
Tak salah ia mendengar, pasti ia menduga kepada gadisnya, gadis tunggal, yang ia telah cari sekian lama itu.
Jadi gadisnya itu telah meninggalkan dia...
"Apa yang terjadi?"
Tanyanya kemudian, sesudah tenteram goncangan hatinya. Kedua serdadu wanita itu menuturkan apa yang mereka ketahui.
"Ah, aku terlambat..."
Mengeluh Hui Liong, dan air matanya bercucuran.
"Loosianseng, bukankah kau Tiat Lounghiong yang kesohor di Barat utara?"
Tanya kedua serdadu itu.
Hui Liong berdiri bagaikan patung, matanya mengawasi ke depan.
Di kepalanya terbayang peta gadisnya, di depan matanya seperti tampak bayangan gadis itu.
Maka ia tak mendengar apa katanya si serdadu wanita itu.
Segera kedua serdadu tampak Giok Lo Sat, tubuh siapa rebah menggeletak tak jauh di pinggiran, mereka kaget.
Lantas mereka lari menghampiri, mereka balikkan tubuh pemimpin' itu.
Giok Lo Sat pingsan, mukanya pucat pasi.
"Tiat Lounghiong, tolong lihat ketua kami!"
Kata mereka, setelah mereka lari pada Hui Liong kaki siapa mereka peluki. Orang tua itu sadar.
"Jangan kuatir,"
Katanya sabar, tetapi dengan suara di tenggorokan, karena ia menangis perlahan.
"Aku pun tak dapat melenyapkan anak pungutku..."
Justeru itu. Giok Lo Sat membalik tubuh.
"Adik San Ho, aku telah menuntut balas untukmu..."
Katanya. Hatinya Hui Liong memukul.
"Benar, aku pun mesti mencari balas untuk anakku!"
Katanya, sadar. Si Raksasi Kumala membalik tubuh pula.
"It Hang, kau baik..."
Katanya perlahan. Hui Liong berduka mendengar perkataan anak pungut ini. Dari serdadu wanitanya, sudah ia dengar jelas kejadian tadi.
"Sayang, anak, kau keliru mencintai orang..."
Katanya seperti mengeluh.
"Ia ada turunan sastrawan, tidak ada padanya sifat dari kaum Rimba Persilatan, umpama kata tidak ada rintangan dari paman-paman gurunya, kamu berdua masih bukannya pasangan yang seimbang..."
Sekarang Hui Liong dapat kenyataan, matanya San Ho ada terlebih awas daripada matanya si Raksasi Kumala, maka ingat itu, ia jadi bertambah sedih.
Selagi ayah angkat ini mendekati dua tindak, tiba-tiba.
"Ha-ha-ha! Kamu semua telah pergi!"
Demikian tertawa dan kata-katanya Giok Lo Sat, nyaring.
"Adik San Ho, baik-baiklah kau pergi! Kau, BengKie, kau juga pergilah baik-baik! Melainkan kau, It Hang, kau tak dapat pergi secara baikbaik..."
Hui Liong mengerti bahwa orang sedang berduka melewati batas, maka ia tarik tangan si nona, untuk membawa dia ke dalam rangkulan-nya.
"Anak Nie, kau lihat, aku ada di sini..."
Katanya dengan sabar, sambil ia kuatkan hati, menahan kesedihannya sendiri.
Giok Lo Sat angkat mukanya ia pandang ayah angkat itu.
Ia bagaikan sadar, terus saja ia tutupi mukanyasambil menangis mengerung-gerung.
"Marilah kita tinggal bersama "
Kata Hui Liong.
"Tidak nanti kelak kita berpisahan pula..."
"Ayah,"
Kata si nona.
"aku tidak mampu melindungi adik San Ho, aku sangat menyesal, aku mesti mati..."
"Tidak, anak, aku tidak persalahkan kau,"
Hui Liong kata "Kau jangan berduka, jangan menangis. Mari ajak aku menengok kuburannya San Ho."
Orang tua ini membujuki anak angkatnya jangan menangis, akan tetapi dia sendiri suaranya dalam, air matanya mengembeng.
Giok Lo Sat cekal keras tangan ayah angkatnya itu, ia bertindak, tangannya itu menarik.
Tanpa bilang suatu apa, ia bertindak turun ke dalam lembah.
Di belakang mereka, ikut dua serdadu wanita.
Di sepanjang jalan kedua serdadu itu berulang-ulang perdengarkan suaranya-suara memanggil --maka dari sana-sini, muncullah semua lolosan dari bencana seperti mereka.
Semua belasan serdadu ini membungkam apabila mereka tengok wajah pemimpin mereka --wajah yang pucat sekali, mulut tertutup rapat, mata mendelong.
Mereka hanya bertindak mengikuti...
Tidak lama sampailah mereka di dekat kedua kuburan baru itu.
Giok Lo Sat menjemput tanah, untuk dipakai sebagai ganti hio.
untuk mengunjuk hormatnya sambil berlutut dan bangun hingga tiga kali.
Tiat Hui Liong mengawasi kuburan gadisnya, lantas ia duduk berdiam di kepala kuburan, matanya diarahkan ke udara.
Ia pun tetap bungkam sejak tadi.
Sekarang ini, air matanya seperti sudah habis...
Giok Lo Sat berdiri di muka kuburan, ia hadapi ayah angkatnya sebagaimana si ayah angkatpun menghadapi padanya.
Mereka sama-sama tutup mulut.
Waktu telah berlalu tanpa menghiraukan orang-orang yang terbenam dalam kedukaan itu.
tanpa merasa, sinar keputihputihan mulai muncul di arah timur.
Tiba-tiba satu liauwlo, satu serdadu wanita, berkata.
"CeeCu, yang telah meninggal dunia tidak bakal hidup pula, maka itu marilah kita pulang!"
Si Raksasi Kumala tertawa meringis.
"Kamu hendak ajak aku pulang ke mana?"
Tanya si nona.
Liauwlo itu melengak.
Baru ia ingat yang sarang mereka sudah terbakar ludas, bahwa bersama sarang itu telah lenyap juga sembilan dari sepuluh bagian kawan-kawannya, hingga musnahlah usaha bangunan mereka selama beberapa tahun --musnah dalam satu hari saja.
Ke mana mereka akan pulang?
Tanpa merasa, liauwlo ini serta kawan-kawannya mengucurkan air mata.
Tetapi mereka tidak berani menangis keras.
Semua orang berdiam, sampai sekian lama ketika matahari pagi mulai muncul dengan sinarnya yang lemah indah, yang menyorot ke dalam lembah melalui celah-celah cabang dan daun-daunan.
Benar di saat serdadu wanita tadi hendak mengajak pula pemimpinnya untuk berlalu dari situ, sekonyong-konyong mereka dengar suara dari tindakannya banyak kuda sedang mendatangi.
Giok Lo Sat berjingkrak.
"Hm! Mereka hendak tumpas kita habis-habisan?"
Serunya. Tiat Hui Liong lompat bangun, malah ia segera sambar sebuah batu besar di sampingnya. Ia angkat batu itu tinggitinggi.
"Biar mereka datang kemari!"
Katanya dengan nyaring.
"Nanti aku pendam mereka di dalam lembah ini!"
Dalam kedukaannya yang hebat itu, jago dari Barat utara ini umbar hawa amarahnya.
Si nona tak kurang murkanya.
Mereka pun menyangka, yang datang itu tentuiah pasukan negeri yang hendak menyerang mereka pula.
Jalanan yang ditutupi es belum dapat dibuka seluruhnya, hingga orang mesti jalan beriring-iringan, Hui Liong merasa dia dapat hajar mereka satu demi satu.
Tidak lama atau suara kaki terdengar semakin nyata dan bendera pun mulai tampak melambai-lambai menyusul mana kelihatan berlerotnya satu pasukan serdadu.
Belum lagi Hui Liong dapat melihat tegas, atau ia sudah lepaskan batu besarnya.
"Tunggu!"
Teriak si Raksasi Kumala, tetapi ia telah terlambat, batu besar itu, sudah lantas jatuh menggelinding.
Hui Liong mengawasi ke bawah, sekarang ia dapat kenyataan, barisan yang mendatangi itu ada barisan wanita semua.
"Celaka!"
Seru Giok Lo Sat.
"Itu bukannya tentara negeri! Mari!"
Ia lompat turun, niatnya untuk menyusul dan mencegah jatuhnya batu terlebih jauh.
Bersama ia, Hui Liong turut lompat juga.
Batu itu besar, turunnya pun terlebih dahulu, menggelindingnya sangat pesat dan cepat, maka itu sia-sia saja ayah dan anak angkat itu mengejarnya.
Apapula tatkala satu kali batu itu membentur sebuah batu lain dan terus terpental.
"Celaka!"
Seru si orang tua.
Ia telah saksikan ancamannya batu yang ia lemparkan itu.
Dalam saat yang sangat berbahaya itu, tampak di antara barisan wuiiiiu itu satu pemimpinnya, si-onmu wanita, yang lompat dari kuduuva sambil menggerakan sehutang tumbaknya yang panjang j'iin.t menyerang batu besar yang socl.mf turun itu!
Serangan tumbak itu ada hebat, begitu pula sang batu sendiri, hingga di antara satu suara keras dan nyaring, tumbak itu terkutung dua, batu pun mental ke samping, tidak lagi menggelinding ke arah barisannya.
Dan si pemimpin sendiri, yang tubuhnya jatuh habis dia lompat dan menyerang batu itu, turun tepat di bebokong kudanya.
Gayanya sangat menarik, seperti satu nona komedi asyik mempertunjukkan kepandaian di atas kuda.
"Bagus,"
Seru Giok Lo Sat, yang memuji tanpa merasa. Di mana itu waktu kedua pihak sedang datang dekat satu pada lain, si punggawa wanita sudah lantas menghampiri nona itu.
"Apakah aku berhadapan dengan Lian CeeCu?"
Tanyanya sambil tertawa. Giok Lo Sat tidak segera menjawab, ia hanya awasi orang yang berpakaian serba merah, habis itu baru dia menyahuti sambil balik menanya.
"Benar! Apakah kau sendiri ada lieenghiong AngNioCu si Nona Serba Merah?"
Punggawa itu menjura.
"EnCie terlalu memuji!"
Katanya.
"Siauw Giam Ong titahkan aku menanyakan kesehatan enCie!"
Ia menambahkan. Ia merendahkan diri karena disebut sebagai "Lieenghiong" -pendekar wanita. Dari dalam barisan wanita itu muncul belasan serdadu wanita juga.
"CeeCu!"
Memanggil mereka. Dan Giok Lo Sat segera kenali serdadunya.
"CieCiangkun Lie Giam kemarin sudah serang kota,"
Berkata Ang NioCu.
"dia bekerja sama dengan rakyat yang kelaparan, dia berhasil. Tentara negeri yang didatangkan dari ibu kota propinsi untuk menumpas rombongan bandit, kena dibasmi habis. Berhubung dengan terampasnya kota. Siauw Giam Ong tugaskan aku datang mengundang enCie. untuk turun gunung dan bekerja sama. Sayang aku telah terlambat satu hari. aku sampai sesudah pesanggrahan enCie kena dibakar. Aku minta sukalah enCie memaafkan aku untuk kelambatanku ini."
"Kemusnahan pesanggrahanku ini ada karena kealpaanku,"
Giok Lo Sat akui.
"Aku sebaliknya harus mengucap terima kasih kepada enCie yang sudah sudi menolongi orang-orangku ini."
Kemudian ia tanya belasan serdadunya itu.
"Apakah cuma kamu sajayang ketinggallan hidup?"
Belasan serdadu itu lantas saja menangis.
Itulah sama dengan jawaban "ya".
maka pedih rasa hatinya si Raksasi Kumala, bila ia menghitung semua sisa serdadunya itu, yang tinggal dua puluh tujuh jiwa, sedang pasukaunya sama sekali terdiri dari lima ratus jiwa lebih.
Tanpa merasa ia berlinangkan air mata.
Pasti ia bersedih hati karena kerusakannya itu serta berkasihan untuk tentaranya, yang hidup dengannya bagaikan saudara.
"Jangan berduka, enCie,"
Ang NioCu membujuk.
"Sekarang ini negara sedang kalut, mereka yang tidak punya rumah tangga ke mana mereka bisa pulang, jumlahnya bukan puluhan ribu lagi, maka asal kita suka memanjat tinggi dan memanggilnya, sekali saja, pasti mereka bakal datang berkumpul. Itu waktu enCie dapat membangun dan mendidik pula satu pasukan wanita, aku percaya, enCie akan berhasil dengan gampang."
Giok Lo Sat tertawa meringis.
"Sekarang ini Lie Giam berada di dalam kota, dia sedang repot mengumpulkan orang-orang yang terlantar, maka itu dia cuma dapat mengutus aku untuk menanyakan kesehatan enCie."
Ang NioCu berkata pula.
"Siapa itu Lie Giam?"
Tanya Giok Lo Sat.
"Dia ada sebawahannya Siauw Giam Ong yang berpangkat CieCiangkun,"
Si Nona Serba Merah menerangkan.
"Dia adalah suamiku."
"Maaf, maaf,"
Kata si Raksasi Kumala.
Sampai di situ, Tiat Hui Liong menghampiri untuk belajar kenal dengan Ang NioCu.
Mereka berdua saling mengagumi, karena sama-sama sudah pernah dengar nama masing-masing yang kesohor.
"Itu suami nyonya,"
Kata Tiat Hui Liong kemudian.
"bukankah dia ada putera dari Pengpou Siangsie Lie Ceng Pek?" (Pengpou Siangsie --menteri perang).
"Itulah benar,"
Sahut Ang NioCu.
Justeru itu, hatinya Giok Lo Sat bercekat.
Disebutnya Lie Giam sebagai suami si nyonya serba merah ini, terbayanglah wajahnya To It Hang di kepalanya.
Kedudukan Lie Giam itu mirip dengan kedudukannya It Hang, sebagaimana kedudukan Ang NioCu mirip sama kedudukannya sendiri.
Untuk wilayah propinsi Hoolam, namanya Ang NioCu terkenal sekali sebagai satu berandal wanita, cuma ia tak demikian termashyur sebagai Giok Lo Sat.
Dan Lie Giam itu, dia adalah seorang pelajar dengan gelaran kiejin, lulusan tingkat dua, dan ayahnya adalah bekas menteri perang.
Cuma ayah itu, Lie Ceng Pek namanya, telah meninggal dunia siangsiang, hingga walaupun dia berpangkat lebih tinggi daripada engkongnya It Hang, di kampungnya, di tempat kelahirannya, dia kalah terkenal dengan engkong It Hang itu.
Akan tetapi Lie Giam sendiri, seperti juga It Hang, dia gemar belajar silat di samping mempelajari surat, maka dia pun ada satu pemuda bunbu CoanCay --lengkap kepandaian ilmu silat dan suratnya.
Di samping itu, diapun berhati mulia.
Pernah pada satu tahun, wilayah Hoolam diserang musim paceklik hebat.
Menampak kesciifsniaan rakyat, Lie Giam tak sampai hati untuk membantu meringankan kesengsaraan itu, ia buka gudang padinya, akan mengamal sampai sejumlah beberapa ratus karung barang makanan.
Tapi belum puas dengan cuma mengamal.
ia juga menulis sebuah nyanyian untuk menganjurkan lain-lain hartawan menuruti teladannya menderma rangsum.
Hatinya sangat terpengaruh, ia sampai menulis dengan tak pikir panjang lagi.
Beginilah bunyi nyanyian itu.
Kalau pembesar negeri memungut pajak, galak ia bagaikan harimau, Kalau orang hartawan menagih cukai, garang dia bagaikan srigala.
Kasihan mereka yang hanya empas-empis napasnya, kasihan.
Rohnya berpulang terlebih dahulu ke liang kubur...
Tentu saja nyanyian itu membangkitkan amarahnya banyak hartawan dan juga pembesar setempat, maka kesudahannya, Lie Giam ditangkap, dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan telah menghasut "rakyat jelata yang kelaparan"
Untuk mengacau tata tertib dan keamanan.
Tapi penjara justeru merupakan sebagai dapur untuknya, yang membuatnya ia matang bagaikan baja.
Maka ketika Ang NioCu dengan pasukannya menerjang kota Kiekoan dan kota itu dapat dirampasnya, dia ditolongi hingga terus saja dia ikut pergerakannya nona itu.
Pernah Giok Lo Sat dengar nama Lie Giam, ia hanya tidak menyangka Lie Giam dan Ang NioCu itu sudah menjadi suami istcri, malah ia tidak duga juga, Lie Giam justeru ada sebawahan Siauw Giam Ong yang dapat dipercaya.
Kembali si Raksasi Kumala teringat akan It Hang, dalam hatinya ia berkata.
"Ayah angkatku pernah bilang, It Hang itu ada anak orang berpangkat, dia tidak seimbang dengan aku, tetapi bagaimana dengan Lie Giam ini? Bukankah dia pun ada turunan orang berpangkat? Tapi dia telah berjodoh dan menikah dengan Ang NioCu!..."
Nona ini tidak menginyafinya, walaupun Lie Giam dan It Hang sama-sama turunan orang berpangkat, akan tetapi Lie Giam itu siang-siang sudah seperti "salin tulang menukar wajah", tidak demikian dengan It Hang.
Ang NioCu tidak tahu apa yang dipikirkan Nona Lian itu, ia hanya mengundang si nona dan ayah angkatnya untuk turut ia ke dalam kota.
"Baiklah,"
Sahut Giok Lo Sat sesudah ia berpikir sejenak.
Ia pun haturkan terima kasihnya.
Hui Liong pun suka turut serta.
Maka, bersama-sama mereka pergi ke kota.
Kota Konggoan seperti memperlihatkan wajah baru, yang berbeda dengan beberapa hari yang lalu.
Puluhan ribu rakyat yang kelaparan sudah di kepalai Lie Giam hingga menjadi satu pasukan tentara yang garang nampaknya, walaupun mereka tidak berseragam dan tak semuanya bersenjata tajam.
Mereka mendirikan gala sebagai bendera dan merauti kayu menjadi tumbak.
Kelihatannya mereka gampang dididik.
Kagum Giok Lo Sat menampak perubahan itu, apapula bila ia tampak di setiap gang atau ujung jalan terdapat selembar kain putih yang bertuliskan kata-kata menganjurkan rakyat menyambut Giam Ong, yang membebaskan mereka dan memberi mereka makan...
"Bagus!"
Pujinya seorang diri. Anjuran itu sangat menarik hatinya. Mereka jalan sampai di muka tangsi sekali, dan segera di sana Lie Giam muncul menyambut mereka.
"Aku wakilkan kau memapak tamu agung!"
Berkata Ang NioCu sambil tertawa. Lie Giam pun tertawa. Dengan hormat ia lantas undang kedua tamu itu masuk.
"Sekarang ini orang-orang gagah bergerak di pelbagai penjuru dan pasukan perangnya Giam Ong segera akan keluar dari pegunungan Cinnia untuk menuju ke barat, guna lebih dahulu merampas kota Tongkwan, baru kemudian maju terus ke Hoolam, Ouwlam dan Ouwpak. Maka, Lian CeeCu, sudikah kau berserikat dengan kami?"
Tanya wakilnya Giam Ong itu. Giok Lo Sat berpikir.."Negara ini adalah negara kamu, tak dapat aku membantu apa-apa,"
Sahutnya kemudian.
"Juga sisa tentaraku, aku minta enCie Ang yang mengurusnya. Aku hendak pergi sekarang..."
Lie Giam mengawasi dengan mendelong.
Ia duga si nona pasti akan turut pergerakannya, tidak ia sangka si nona menjawab demikian.
Tentu sekali, dia tak tahu apa yang Nona Nie pikir.
Setelah ajakan Lie Giam itu, si Raksasi Kumala berpikir.
"Sakit hatinya adik San Ho belum terbalas, bagaimana bisa aku pendam diri di dalam satu angkatan perang? Dengan berserikat sama mereka ini, maka lebih sukarlah untuk aku nanti menemui It Hang. Hilang kemerdekaanku..."
Mengenai It Hang, nona ini menyesal, penasaran dan menyinta...
di waktu menyesal, ia berduka, tetapi di waktu penasaran, benci ia terhadap si anak muda yang lemah hatinya, ingin dia putuskan saja perhubungan mereka berdua.
Akan tetapi akhirnya ia sendiripun hatinya tak kuat...
tak bisa ia lupakan wajah pemuda sastrawan dan ksatria itu...
Lie Giam tidak gembira, ia berdiam.
"EnCie Lian,"
Berkata Ang NioCu, si Nona Serba Merah.
"pesanggrahanmu telah dimusnahkan tentara negeri, sakit hati itu tak dapat tidak dibalas!"
Mendengar itu si Raksasi Kumala tertawa bergelak-gelak.
"Di sini ada kamu semua, untuk apa aku capaikan hati lagi?"
Katanya.
"Mengatur tentara, itulah bukannya kesanggupanku. Lagi pula, aku ada seorang bebas merdeka, maka aku ingin malang melintang tanpa ada yang mencegah. Maka itu aku anggap jikalau kita bekerja masing-masing, menurut cita-cita perseorangan, tidakkah itu baik?"
Lie Giam pikir.
"Pantas dia dijuluki hantu wanita, kiranya dia masih tetap berandal. Jikalau aku mendesak dia, supaya dia bekerja dalam pasukan perang, inipun ada bahayanya. Bagaimana jikalau dia tidak mentaati tata tertib?"
Oleh karena berpikir demikian Lie Giam tidak membujuk terus, iapun puas terhadap nona merdeka itu.
"Demikian pun baik,"
Katanya.
Maka soal ditutup.
Lantas kepala perang ini bekerja repot.
Kota baru saja dirampas, pekerjaan banyak.
Dari sana-sini pun datang rombongan-rombongan Rimba Hijau yang menyerah dan suka bekerja sama, maka permintaan itu mesti diurus, antaranya untuk membagi rangsum kepada mereka itu.
Giok Lo Sat menghadapi orang bekerja, ia tampak Lie Giam tidak pernah menampik rombongan-rombongan yang menyerah itu, hanya dia menanya dengan teliti tentang sesuatu rombongan, setelah semua dicatat rapi.
rangsum segera diberikan.
Segala apa dilakukan cepat dan semua pihak rombongan itu merasa puas.
"Kenapa kau bersikap begini rupa terhadap pelbagai rombongan itu?"
Kemudian Giok Lo Sat bertanya, la merasa aneh atas sikap orang yang ramah dan murah hati itu.
"Habis bagaimana menurut enCie?"
Lie Giam balik tanya.
"Sukakah enCie memberi petunjuk kepadaku?"
Cerdik orang she Lie ini, untuk membaliki pertanyaan.
"Semasa aku di Siamsay Selatan."
Kata Giok Lo Sat.
"adalah aku yang minta uang dan rangsum dari pelbagai rombongan di atas gunung, tidak terbalik sebagai sekarang, adalah kamu yang memberi tunjangan kepada mereka itu..."
Lie Giam tersenyum. Di dalam hatinya, ia berkata.
"Kau menaklukkan orang dengan menggunakan kekuatan, mana kau bisa bekerja besar?"
Ang NioCu lihat suaminya tidak menjawab, ia mewakilkannya.
"Jikalau kami tidak berbuat demikian, mana mereka sudi dengan sesungguh hati menakluk kepada pihak kami? Di sana, di dua propinsi SuCoan dan Siamsay, ada terdapat pasukanpasukan perang besar dari pemerintah, kedua pasukan itu sedang mencari jalan untuk menyerang kami, maka jikalau kami tidak berserikat dengan pelbagai rombongan itu, rasanya sukar untuk kami menancap kaki. Masih untung jikalau mereka berdiam saja, tetapi bagaimana andaikata mereka berbalik membantu tentara negeri mengganggu kita? Jikalau sampai terjadi gangguan itu, maka janganlah kita bicara pula hal keluar ke Tongkwan, untuk maju ke utara!"
"Tetapi kaum Rimba Hijau itu ada banyak ragamnya, apakah kamu tidak kuatir mereka cuma datang untuk memperdayakan rangsum saja?"
Si nona tanya.
"Dalam hal itu, enCie benar,"
Lie Giam akui.
"Tetapi di dalam hal itu juga, dapat kami ambil sikap yang berbedaan kelak. Di lain pihakjangan kita lupakan mereka yang benarbenar laki-laki sejati. Oleh karenanya, jangan melainkan disebabkan mereka yang busuk, yang kita ragukan, kita kuncikan pintu pada mereka semua."
"Ya, kau benar juga,"
Berkata si nona, yang dapat diberi pengertian. Tapi sedetik kemudian, ia tanya pula.
"Kamu mempunyai berapa banyak persediaan rangsum hingga dapat kamu iringi permohonan rangsum dari mereka itu? Tentang rangsum di dalam kota, berikut isi gudang uang negara, aku tahu semua. Aku rasa, semua itu masih tak cukup untuk makan dan belanja satu bulan lamanya..."
Si Raksasi Kumala maksudkan juga rangsum rakyat yang kelaparan. Mendengar pertanyaan itu, Lie Giam menyeringai.
"Dalam hal itu, kita nanti pikir belakangan saja,"
Sahutnya. Mendengar itu, Giok Lo Sat sebaliknya tertawa besar.
"Tidak, tidak dapat aku turut berserikat!"
Katanya kemudian dengan terus terang.
"Akan tetapi untuk enCie Ang aku mempunyai suatu bingkisan yang berharga..."
"Ah, jangan, enCie, jangan kau sungkan!"
Kata Ang NioCu.
"Bingkisan ini tak dapat kau tampik!"
Berkata si Raksasi Kumala sambil bersenyum.
"Besok kau boleh kepalai satu pasukan wanita untuk kau turut kami pergi ke Benggoat kiap."
Habis mengucap demikian nona ini menggerakkan pinggangnya, untuk melempangkan urat-uratnya, lalu ia menguap.
"Kamu sedang repot, aku pun sudah pusing dan mataku sepat, aku ingin tidur,"
Ia tambahkan.
"Ayah pun tentu ingin beristirahat..."
Ang NioCu dan Lie Giam segera berbangkit.
"Siapkan dua kamar! "demikian titah kepala perang itu. Si Serba Merah antar si nona ke kamar yang disediakan untuknya di mana, untuk satu malam ia dapat beristirahat, hingga besok paginya bersama Ang NioCu, yang memimpin satu barisan serdadu, dapat ia kembali ke Benggoat kiap. Lie Giam telah layani Tiat Hui Liong. Ang NioCu heran atas sikap orang dan mengenai bingkisan yang dimaksudkan, maka ketika ia hendak berangkat, ia berbisik pada suaminya.
"Entah ia hendak menghadiahkan barang apa kepadaku. Kenapa dia minta satu pasukan tentara? Berapakah pentingnya itu?"
Lie Giam tertawa, ia pun berbisik.
"Aku telah dapat menerkanya tujuh sampai delapan bagian! Kau boleh pergi, jangan kuatir. Aku nanti antar kau serintasan!"
Suami ini mengantar sampai di luar kota, baru ia hendak memutar kudanya untuk kembali, atau si Raksasi Kumala serukan kepadanya.
"Kau juga boleh turut bersama!"
"Heran!"
Pikir Ang NioCu.
"Hantu wanita ini benar tidak kenal selatan. Dia ada sangat repot, ini kau ketahui sendiri, mengapa kau ajak dia?"
Ang NioCu menduga suaminya tentu tampik ajakan itu, tetapi dugaannya itu meleset.
"Baiklah!"
Demikian jawab suami itu sambil tersenyum, hingga ia pun awasi suaminya, yang terus bersenyum juga kepadanya...
"Bukankah hari ini kau berjanji dengan dua rombongan lain, yang mohon bertemu sama kau?"
Ang NioCu peringatkan suaminya.
"Hal itu dapat diserahkan pada wakilku,"
Sahut Lie Giam, singkat.
Dan ia titahkan pengiringnya pulang ke kota, guna menyampaikan tugas itu kepada wakilnya.
Ang NioCu heran tetapi ia tidak bilang sesuatu apa.
Tak lama kemudian sampailah mereka di Benggoat kiap --Selat Terang Bulan.
Benar-benar selat itu terang sekali, sebab seluruh pesanggrahan sudah ludas terbakar, tinggal sisa abunya saja.
Pohon-pohonan di dekatnya turut musnah juga.
Giok Lo Sat jalan mundar-mandir di atas abu bekas pesanggrahannya itu, ia tidak bilang suatu apa, ia membungkam, hanya matanya yang tajam, senantiasa memain.
"Jangan kau berduka, enCie,"
Lie Giam menghibur.
"Setiap kali tentara negeri merampas satu pesanggrahan kita, maka kita akan membalasnya dengan merampas sepuluh kotanya!"
Si nona tidak menjawab, ia hanya awasi panglima pemberontak itu.
"Kau menggantungkan pedang di pinggangmu, kau pasti pandai ilmu pedang,"
Kata dia tiba-tiba.
"Kita sedang senggang sekarang, mari kita coba main beberapa jurus..."
Ang NioCu heran, iapun mendongkol.
"Hm, hantu wanita!"
Katanya dalam hati.
"kau jadinya bukan hendak menghadiahkan bingkisan kepada kami, hanya kau hendak uji kepandaian kami..."
Baru nona ini hendak menjawab atau suaminya sudah melirik kepadanya dan mengedipkan matanya Itulah tanda untuk ia jangan bersuara.
Maka ia berdiam terus.
Juga Lie Giam, pada mulanya melengak.
Ajakan si nona ada sangat luar biasa.
Akan tetapi, sedetik kemudian, ia tertawa seorang diri.
"Mana bisa ilmu pedangku dibanding dengan ilmu pedang kau, enCie?"
Katanya merendah.
"Tidak demikian,"
Kata si nona.
"Dua hari aku telah beristirahat tidak ada orang yang menandingi aku, tanganku menjadi gatal. Daripada kau menghidangkan aku makanan yang lezat dan arak yang harum, lebih baik kau temani aku selama dua jurus. Budimu ini aku lebih-lebih menghargainya."
Lie Giam pun nyata polos sekali.
"Baiklah, enCie!"
Sahutnya, menerima.
"Silakan enCie mulai!"
Hui Liong tidak mengerti maksud anak pungutnya itu tetapi ia diam saja.
Giok Lo Sat hunus pedangnya hingga sinarnya berkilauan, sesudah mana tanpa ragu-ragu lagi, ia maju menyerang dengan menusuk ke arah bahu si panglima muda Lie Giam adalah murid yang pintar dari Ong Tong dari Thaykek pay, kepandaiannya pun tidak sembarang, malah ketika serangan datang, ia tidak menangkis, bahkan setelah menarik sedikit tangannya, terus saja ia balik menyerang, membabat ke bawah, ke kaki!
"Tidak kecewa!"
Seru si nona, yang terus menyerang pula malah ini kali, sampai dua kali beruntun setelah serangannya yang kedua pun gagal.
Pedangnya itu, sesudah membacok, lantas menyontek ke atas.
Lie Giam tidak dapat terka maksud orang, ia tutup dirinya dengan gerakan pedang "JiCong supie"
Atau "Seperti mengunci, seperti menutup".
Adalah harapannya, agar pedang lawan itu tidak dapat menyerang masuk.
Tetapi Giok Lo Sat benar-benar luar biasa!
Mengetahui sikapnya panglima muda itu si Raksasi Kumala unjukkan kesehatannya, ia tidak membiarkan pedangnya berada di luar kalangan lawan.
Dengan sangat cepat, berbareng dengan berkilaunya ujung pedang itu diarahkan ke leher lawan.
karena ia menusuk dari samping, tujuannya adalah pundak.
Lie Giam berkelit sambil memutar diri, tangan kirinya menjaga diri, kaki kanannya melayang ke arah pinggang si nona.
Tendangan ini hebat, sebab itulah "Bu SiongCuitaCio Mui Sin"
Atau "Bu Siong dalam mabuk arak menendang Cio Mui Sin". Dan tendangan mestinya saling susul, beruntun beberapa kali.
"Hm!"
Bersuara si nona, selagi ia elakkan diri dari tendangan itu, tidak ia menabas, cuma ia mengancam.
"Kau boleh juga!"
Ia berkelit seraya pedangnya dimajukan.
Adalah habis ditendang, baru ia menyerang pula dengan hebat.
Ketika tadi ia diancam, ia melakukan perlawanan dengan tidak kurang hebatnya.
Mengertilah ia, tidak dapat ia sembarang mundur.
Meski begitu, karena dahsyatnya gerakan si Raksasi Kumala, dia seperti terkurung cahaya pedang si nona.
Ang NioCu menghirup hawa dingin karena jerinya menonton ilmu silat pedang orang.
"Benar-benar hantu wanita ini bukan tersohor kosong..."
Kata ia dalam hatinya.
Ia pun menjadi sangat kagum.
Hui Liong tidak kurang kagumnya.
Pertempuran berjalan terus, sampai pedangnya Giok Lo Sat dapat ditempelkan pada pedang Lie Giam, untuk segera dililit dua lilitan, sampai terdengar suara nyaring dari amproknya kedua pedang.
"Celaka!"
Seru Ang NioCu sambil ia lompat ke dalam kalangan.
Justeru itu Giok Lo Sat tertawa nyaring, tubuhnya mencelat, berbareng dengan mencelatnya Lie Giam.
hingga berdua mereka jadi terpisah, sedang tadinya mereka bertarung rapat.
Si Nona Serba Merah kebogehan, ia heran.
Lie Giam memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya, ia beri hormat pada Giok Lo Sat, sambil memuji.
"Lian Liehiap. ilmu pedangmu tidak ada tandingannya di kolong langit ini! Aku takluk, aku takluk!"
Wajahnya si Raksasi Kumala guram sebentar.
"Itulah pujianmu yang berlebih-lebihan!"
Sahutnya lalu dia tertawa.
"Dalam tiga puluh jurus tidak berhasil aku merampas pedangmu, maka berhaklah kau untuk terima bingkisan dari aku!"
Masih saja Ang NioCu heran, ia mendeluh juga.
"Di kolong langit ini,"
Pikirnya.
"di mana ada aturan menghadiahkan bingkisan semacam ini? Masa sebelumnya menghadiahkan, orang menguji dulu kepandaian orang lain? Siapa yang kcsudian menerima bingkisanmu itu? Selagi sang isteri berpendapat demikian, lain adalah sang suami.
"Liehiap, lebih dahulu aku haturkan terima kasih padamu!"
Berkata Lie Giam.
"Mari!"
Giok Lo Sat mengajak, sambil menindak ke samping gunung, tindakannya perlahan. Terus ia berkata.
"Kemarin telah aku saksikan kepandaian ilmu surat dan kecerdikanmu, sekarang aku telah buktikan juga ilmu silatmu, dengan begitu maka bingkisan ini telah dihadiahkan kepada orang yang tepat!"
Pesanggrahannya Giok Lo Sat, didirikan di atas bukit dengan menuruti letaknya bukit itu.
yang tidak rata demikian juga jadinya pesanggrahan itu.
Di samping itu masih ada sebuah tiang kayu yang tebal, yang terbakar hangus tetapi tak sampai roboh.
Si nona dekati tiang itu, dengan tiba-tiba saja ya menyampok dengan tangannya hingga tiang itu patah dan roboh.
"Mari!"
Ia memanggil Ang NioCu sambil melambaikan tangannya, selagi si nyonya mengikuti dia sedikit jauh.
Nyonya itu ketinggalan, walaupun si nona jalan perlahan-lahan, sebab ia masih terbenam dalam keragu-raguan menyaksikan sikap nona yang luar biasa itu.
"Silakan kamu bongkar tiang ini. galilah tanahnya sampai tiang ini dapat diangkat."
Dalam keadaan masih mendongkol. Ang NioCu kata.
"Aku nanti perintahkan kepada lebih banyak orang supaya mereka sekal ian merapikanjuga lapangan ini!"
Wajahnya Giok Lo Sat hciuhah dengan tiba-tiba. Wajah itu menjadi gelap. Ia segera berkata.
"Dai.mi hidupku ini, dalam abad ini. tidak nanti aku bisa bersama-sama dalang pula kemari, oleh karenanya untuk apa dirapikan pula semua ini?"
Memang telah tiga tahun si Raksasi Kumala membangun pesanggrahannya itu, sekai ang pesanggrahan termusnah dalam tempo satu hari, sekarang ia dengar kata-katanya si nona serba merah, bagaimana ia tak jadi berduka?
Untung, karena kedukaannya yang hebat itu, ia tak menduga kepada ejekan si nyonya.
Menampak orang demikian berduka, Ang NioCu menjadi lak lega hati.
"Hantu wanita ini berperangai aneh tetapi ia polos,"
Pikir nyonya Lie Giam.
Lalu, tanpa bilang suatu apa lagi, ia titahkan beberapa serdadunya mulai menggali di kaki tiang itu, untuk mengangkat sisa tiangnya.
Orang tidak usah menggali lama untuk dapat mencabut sisa balok itu, tetapi sesudah itu.
Giok Lo Sat masih menitahkan serdadu-serdadu itu menggali lebih jauh, sambil membuat suatu lubang yang lebar.
Tak lama sampailah penggalian pada tanah yang empuk, lalu cangkulnya satu serdadu membentur entah benda apa yang keras, mirip batu.
"Gali terus, angkat semua tanahnya!"
Giok Lo Sat menitahkan.
Perintah itu dilakukan, hingga tanah terangkat habis, hingga di situ tertampak suatu batu yang lebar.
Giok Lo Sat lompat turun ke dalam liang itu dan semua serdadu segera mengundurkan diri, dengan sebelah tangannya ia cekal pinggiran batu itu, terus ia angkat, atas mana, kagetlah semua orang, silaulah mata mereka!
Sebab lubang itu adalah lubang tempat menyimpan hartanya si Raksasi Kumala.
Di situ orang lihat banyak perak dan emas dan barang permata, yang berkilau-kilauan seperti lagi bersaingan.
Dan itulah hartanya si Raksasi Kumala ini, yang ia kumpulkan selama tiga tahun --yang ia peroleh sebagai hadiah dari pelbagai rombongan Rimba Hijau yang tunduk kepadanya.
Di samping itu ada juga hasil pekerjaannya sendiri dari rumahnya hartawan-hartawan jahat dan merkis atau pembesar-pembesar rakus.
Semua serdadu wanita yang menggali tiang itu, berdiri menjublak.
Mereka itu kaget, heran dan kagum.
Tidak terkecuali adalah Hui Liong dan Ang NioCu, yang tadinya tetap beragu-ragu.
Cuma Lie Giam yang tersenyum, seperti juga ia telah menduga tepat akan kesudahan ini...
"Aku minta kamu angkut semua barang ini,"
Kata Giok Lo Sat kemudian.
Semua serdadu wanita itu lantas bekerja, mereka bekerja dengan hati-hati.
Selagi barang-barang permata itu diangkat naik satu demi satu, si Raksasi Kumala memberitahukan kepada Tiat Hui Liong, ayah angkatnya, permata ini didapat dari siapa, permata itu diperoleh dari siapa lagi, tak bosan ia menunjukkannya, tak lupa ia dari mana asal-usulnya permata itu.
Dan selama menuturkan, tampak tegas sekali kepuasannya nona ini.
Tiat Hui Liong, yang sampai sebegitu jauh membungkam saja, mengerutkan alisnya.
"Untuk apa kau kumpulkan ini semua?"
Tanyanya kemudian. Giok Lo Sat tertawa.
"Ayah, pernahkah kau tampak hadiah untuk perlombaan catur?"
Anak ini balik menanya.
"Orang tidak memperhatikan hadiahnya, tetapi makin besar hadiah itu, makin bertambah pula kegembiraan si peserta. Demikian juga aku. Selama di Siamsay Selatan aku telah menundukkan jago-jago Rimba Hijau, aku paksa mereka membayar upeti kepadaku, tetapi aku berbuat demikian cuma dalam sifatnya si peserta perlombaan catur itu!"
Selama dua hari.
Hui Liong selalu mengerutkan alisnya, karena sangat berduka dan selama itu jarang sekali ia bicara, hingga apabila tak perlu, anak angkatnya juga membiarkan dia tungkuli dirinya sendiri, akan tetapi kali ini, setelah dengar penjelasan si nona, ia tersenyum dan alisnya terbangun.
Begitu lekas harta karun itu selesai diangkat, Giok Lo Sat menghadap Lie Giam dan menjura terhadapnya.
"Ini bingkisan yang tidak berharga aku haturkan kepada kamu berdua suami isteri untuk membantu membelanjai tentara!"
Demikian ia berkata.
"Atas nama rakyat yang kelaparan, aku haturkan terima kasih kepada kau,"
Jawab Lie Giam tanpa ragu-ragu, tanpa banyak adat istiadat. Giok Lo Sat angkat sebuah pelana tersakit emas, dengan wajah guram ia berkata pada Lie Giam.
"Ini adalah hadiah untukku yang dahulu diberikan oleh puteranya bekas IooCeeCu Ong Kee In atas perintahnya IooCeeCu itu, sekarang ini looCeetiu telah menutup mata, maka aku minta sukalah pelana ini kau kembalikan kepada puteranya itu, Ong Ciauw Hie. Katakan padanya bahwa aku anggap ini sebagai tanda mata untuk pernikahannya!"
"Apakah kau tidak ingin memilih satu atau dua macam barang permata untuk kau simpan sendiri selaku tanda peringatan?"
Ang NioCu tanya si nona.
Sekarang ini telah berubah semua pandangannya si Nyonya Serba Merah terhadap nona kosen itu, yang ia namakan hantu wanita.
Adalah aturan umum di kalangan Hektoo, Jalan Hitam, bahwa satu kali orang turun tangan, tidak nanti dia pulang dengan tangan kosong, atau kalau dia menghadapi pihak yang dimalui, hingga tak dapat dia turun tangan, sepotong barang tak berharga juga tak mau dia mengambilnya.
Perbuatan tak mengambil itu berarti kebaikan.
Sekarang ini Giok Lo Sat menghadiahkan harta yang sangat besar, yang telah disimpan bertahun-tahun lamanya, maka Ang NioCu ingat akan aturan kaum Hektoo itu dan meminta kepada si nona untuk mengambil satu atau dua macam barang untuk tanda mata.
Giok Lo Sat tertawa besar atas pertanyaan itu.
"Mulai saat ini aku telah mencuci tangan, aku mundur dari Rimba Hijau, maka untuk apakah barang-barang semacam ini?"
Katanya. Habis mengucap demikian, tiba-tiba mata si nona terbeliak, lantas ia berkata.
"Baiklah, aku ambil sesuatu barang!"
Sama cepatnya dengan perubahan sikapnya itu, ia membungkuk seraya mengulurkan sebelah tangannya, akan meraup tanah. Lalu ia berkata.
"Aku telah tinggal di sini untuk tiga tahun lamanya. Untukku, jarang sekali aku berdiam begini lama di suatu tempat Karenanya, aku juga kenal haik sifatnya tanah di sini."
Dia bawa raupan tanah itu ke hidungnya, untuk dicium. Kemudian ia tambahkan.
"Tanah ini masih tercampur darahnya adikku, maka itu tidak ada lain barang yang lebih berharga dari pada tanah ini untuk disimpan sebagai tanda mata!"
Tanah itu terus dimasukkan ke dalam sakunya.
"Mari!"
Ia mengajak ayah angkatnya.
Dan ia lari turun gunung.
Tiat Hui Liong turut ajakan itu, iapun berlari pergi.
Lie Giam dan Ang NioCu terperanjat, si nyonya malah terus berteriak-teriak memanggil pulang.
Tapi nona itu lari terus, makin jauh makin jauh, sama sekali dia tidak menyahuti, pun tidak memalingkan muka, yang tampak, hanya bajunya bergelawiran ditiup angin...
"Aneh!"
Mengeluh Ang NioCu "Ya, aneh..."
Sahut suaminya, yang masih tersenyum.
"Mari kita pulang."
Dan bersama dengan harta besar itu, mereka kembali ke kota. TAMAT
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 1
Baca Juga: Pendekar Riang 1