Wanita Gagah Perkasa 8

Eps 8 Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen

Baca online Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen

Cersil Wanita Gagah Perkasa - Liang Ie Shen.

Teng Hok menyelak.

"Bocah siapakah itu?"

Tanya In Yan Peng.."Bocah yang si pangeran ketemukan di tengah jalan,"

Sahut Teng Hok.

"Pangeran itu aneh, dia bertemu bocah yang cakap romannya itu, dia lantas ajak bicara dan dijadikan sebagai sahabat kekalnya. Bocah itu bicarakan halnya di Siamsay ada banyak orang jahatnya, bahwa jalan sangat tidak aman, lalu pangeran itu ajak si bocah jalan bersama dan dipandangnya sebagai pengawalnya."

"Usianya bocah itu masih muda sekali,"

Teng Hok tambahkan.

"hanya mendengar lagu bicaranya serta melihat gerak-geriknya, dia adalah seorang kangouw ulung."

Giok Lo Sat tertawa di dalam hati.

"Sejak masih kecil Tiat San Ho telah ikuti ayahnya menjelajah ke selatan dan utara, sudah tentu dia ada jauh terlebih ulung daripada kalian kawanan burung tolol!"

Pikirnya.

"Siapa namanya bocah itu?"

In Yan Peng tanya.

"Sekarang dia ada di mana?"

"Bocah itu mengaku she Kim nama Ko,"

Sahut Teng Hok.

"Dia sekarang ada bersama orang-orang itu. Si pangeran dan dua pengiringnya berdiam di kamar timur, bocah itu di kamar barat yang kecil."

"Baik!"

Kata In Yan Peng.

"Nanti aku pergi melihatnya, tidak peduli dari golongan manapun, bocah itu tidak akan dapat mengelabui aku!"

"Awas, janganlah kau keprak rumput hingga ular kaget,"

Teng Lok pesan.

"Mustahil perahuku karam di dalam selokan!"

Adalah jawaban yang jumawa dari orang she In ini. Ong Teng Hok tertawa dengan bermuka-muka.

"In Tayjin sudah kenyang mengembara, ilmu silatnyapun mahir,"

Katanya.

"dan bocah itu, berapalah tingginya ilmu silatnya? Adikku, kau terlalu berkuatir..."

In Yan Peng bersenyum.

Giok Lo Sat geli di hati, hampir ia tertawa dengan menerbitkan suara.

In Yan Peng lantas kelihatan keluar dari kamar, dengan gunai kegesitannya, ia lompat naik ke atas payon, untuk naik ke genteng sampai ke wuwungan.

Ia sama sekali tidak menyangka, di belakangnya ada orang yang terus membayangi padanya.

Ia menuju ke arah barat, ke kamar yang kecil.

Di sini ia berhentikan langkahnya dan dari sakunya ia keluarkan serupa benda mirip patuk burung ho, yang terus saja mengeluarkan sinar api mirip dengan api hio.

Sebagai seorang ulung, Giok Lo Sat tahu perbuatan apa yang akan dilakukan orang itu.

Ialah In Yan Peng hendak ukup orang dengan hio obat tidur "Keebeng Ngokouw Toanhun hio."

Siapa kena sedot asapnya hio itu, ia akan tertidur nyenyak lupa daratan, (tulah obat tidur yang biasa digunai oleh golongan rendah.

"Kecewa orang ini menjadi perwira yang memimpin pasukan serdadu,"

Pikir si Raksasi Kumala, yang mencaci di dalam hati.

"Kenapa dia bawa lagaknya seorang rendah dari kalangan Jalan Hitam? Baiklah aku singkirkan padanya..."

Tapi segera juga nona ini ubah niatnya, karena ia kuatir, dengan turun tangan di kantor itu akan terbit keonaran, sebagai gantinya pedang yang ia telah hunus tadi.

sekarang ia siapkan senjata rahasianya yang berupa jarum "Kiuseng Tengheng Ciam".

Di saat In Yan Peng mendekatkan ujung hio ke celah-celah jendela untuk meniup masuk asapnya ke dalam kamar, ia mementil jarumnya yang segera melesat.

In Yan Peng cuma rasakan siuran augin halus sekali, api hionya padam seketika.

Ia terkejut.

Lantas ia menoleh ke sekitarnya, kupingnya pun dipasang.

Giok Lo Sat umpetkan diri di sudutnya payon yang tak dapat terlihat, gerakan badannyapun tidak bersuara.

Maka orang she In ini jadi heran, hingga dia diam terpaku sedetik.

Dia j adi penasaran.

Kembali dia sulut hionya yang liehay itu.

Di saat dia hendak ceploskan pula ujung hio ke celah jendela, kembali bersiur datang angin halus lagi-lagi api hio itu padam!

Jarum yang dilepaskan Giok Lo Sat sangat halus, melesatnyapun sangat pesat, tidak heran kalau In Yan Peng tak ketahui itu.

Setelah mencoba tiga kali dan kesemuanya telah gagal, barulah si muka merah ini jeri dan tubuhnya sedikit menggigil.

Lekas-lekas dia turun dari genteng.

Kedua tongnia, Gielimkun, heran melihat "tayjin"

Ini kembali secara demikian cepat.

"Apakah tayjin sudah dapat tahu bocah itu macam apa?"

Teng Hok tanya. Muka merah dari Yan Peng jadi tambah merah.

"Dia adalah jago dari Jalan Hitam dari Barat utara,"

Sahutnya secara sembarangan.

"Kamipun menduga dia ada dari Jalan Hitam itu,"

Kata Teng Hok.

"Rupanya dia juga hendak mempunyai harta besar itu."

"Apakah selama di jalan kalian telah ketemui sesuatu yang luar biasa?"

In Yan Peng tanya.

"Sebegitu jauh tidak,"

Jawab Teng Lok.

"hanya tadi, selagi mendekati kota, kami melihat sesuatu yang mencurigakan."

Ia lantas tuturkan halnya Giok Lo Sat, lalu ia tambahkan.

"Orang itu sangat enteng tubuhnya, gerakannya cepat bagaikan angin, sampai mukanya tak dapat dilihat tegas!..."

Yan Peng diam memikir sejenak.

"Jikalau demikian, besok harus kita waspada,"

Ia kata.

"Apabila bocah itu benar-benar berlaku tidak tahu diri, aku ada mempunyai daya untuk menghadapinya. Yong Jieko (engko Yong yang kedua) ada di tangsiku, nanti aku ajak dia bersama."

Pembicaraan mereka itu Giok Lo Sat dapat mendengarnya nyata.

"Bagus, bagus sekali!"

Pikirnya.

"Besok bolehlah dengan sebatang panah aku memanah sepasang garuda! Lebih dahulu kawanan bangsat anjing ini harus dibikin mampus, baru setelah itu aku rampas barang-barang permatanya! Inilah yang dinamakan ketika baik yang dihadiahkan Thian! Aku harus kumpulkan rakyat pencinta negara di sebuah bukit, untuk kelak menghadapi tentara negeri. Untuk itu tanpa uang tak dapat aku bergerak, maka kebetulan sekali adanya harta karun ini. Bukankah tadi mereka telah katakan bahwa jumlah harta itu ribuan laksa tail? Dengan mendapatkan harta itu, tak usah aku memutar otak lagi akan memikirkan pengumpulan uang..."

Lalu nona ini pasang kupingnya lebih jauh.

In Yan Peng dan kedua saudara Ong itu berdamai lebih jauh, terutama tentang tempat di mana mereka bakal turun tangan, ialah di hutan Yatie lim yang letaknya lima puluh lie dari tembok kota.

Giok Lo Sat bersenyum sendirinya.

Ia kenal tempat itu, yang berarti "Rimba Babi Hutan", Memang itulah tempat yang berbahaya dan bagus untuk orang jahat turun tangan.

"Tapi tempat itupun cocok bagiku."

Pikirnya nona ini.

Kemudian, karena percaya In Yan Peng tidak akan intai pula bakal mangsanya, Giok Lo Sat lantas berlalu.

Sementara itu orang yang disebut pangeran asing itu bukanlah puteranya suatu raja asing, dia sebenarnya adalah putranya kepala dari suatu suku bangsa Lopu yang besar di Sinkiang Selatan bernama Tangnu dan ayahnya bernama Tangma.

Di Sinkiang Selatan terdapat banyak suku bangsa yang masing-masing berdiri sendiri, setelah Tangma diangkat menjadi kepala bangsanya, ia ikhtiarkan persatuan di antara pelbagai suku itu, dia mengadakan perserikatan dengan mengangkat dirinya sebagai kepala, atau ketua umum.

Ia bercita-cita besar untuk menjadikan Sinkiang Selatan suatu negara sendiri.

Bahwa ia telah utus puteranya, Tangnu ke Tionggoan, kota raja Kerajaan Beng, itulah disebabkan ia ingin ketahui keadaan Tionggoan, kebudayaannya, cara pemerintahannya dan lain-lain lagi, untuk nanti dijadikan teladan.

Yu Kauw ada satu raja "bocah", ia tidak tahu halnya pelbagai suku bangsa di Sinkiang Selatan itu, maka ia percaya saja satu ketua suku disebut "raja", dan satu anak ketua suku, sebagai "puteraraja"...

Ketika itu, kejayaan Kerajaan Beng telah mulai runtuh, dari negara-negara yang takluk sudah lama tidak datang antaran upeti, sekarangbelum lama dari bertahtanya Yu Kauw --datang suku bangsa Lopu yang besar dari Sinkiang Selatan ini, yang telah menghadiahkan harta besar yaitu kuda pilihan Hanhiat Pooma dan kumala Cinmo giok, tentu saja raja Beng itu menjadi sangat girang.

Tidak pernah ia menduga atau memikir seperti itu ada udang di balik batu.

Malah menteri-menteri yang biasa permainkan raja bocah ini, sengaja katakan suku bangsa Lopu sebagai suatu negara taklukan.

Hingga, dalam kegirangannya yang sangat itu, Yu Kauw lantas menghadiahkan harta besar kepada "pangeran asing"

Itu.

Memang benar walaupun Tangnu bukannya pangeran, ia mempunyai harta besar.

Tidak keliru penglihatannya Giok Lo Sat, bahwa pemuda yang menyertai Tangnu itu adalah Tiat San Ho, puterinyaTiat Hui Liong.

Nona ini kabur setelah penolakannya Gak Beng Kie terhadap jodohnya, dalam mengambulnya, ia tinggalkan ayahnya.

Ia sedang dalam perjalanan pulang ke Siamsay tatkala ia bertemu dengan rombongan Tangnu.

Ia masih muda tetapi luas pengalamannya, ia segera dapat lihat Tangnu membekal harta besar, hingga timbullah niatnya akan punyakan harta besar itu.

Sebagai juga si Raksasi Kumala, ia berani dan besar kepala, ketika ia pulang ke Siamsay, ia kandung matan menduduki gunung untuk menjadi ratu.

Demikian ia mainkan peranan, untuk menanti ketika turun tangan.

Di hari kedua pagi-pagi, Teng Hok dan Teng Lok iringi Tangnu melanjutkan perjalanan, yang kemudian ambil jalan ke jurusan jalanan kecil tidak lagi jalan besar.

Tangnu menjadi heran hingga ia menanyakannya.

"Jikalau tetap kita ambil jalan besar, hari ini sukar untuk kita sampai di KamCoan,"

Teng Hok beri keterangan.

"Di Kongkoan telah di tempatkan pasukan besar, orang-orang jahat telah pada sembunyikan diri, maka itu lebih baik kita memotong jalan di jalan kecil mempercepat perjalanan kita."

Tangnu tidak kenal jalan, ia percaya keterangan yang beralasan itu.

Tiat San Ho menduga hari itu mesti terjadi sesuatu.

Tetapi ia diam saja, ia melainkan waspada dan siap sedia Di jalan kecil itu, keadaan jalan makin jauh makin sulit.

Tepat tengah hari, mereka tiba di suatu rimba dari tanah pegunungan yang lebar jalannya cuma lima kaki lebih, yang hanya seekor kuda tunggangan saja dapat jalan di situ.

Di tepi jalan tumbuh rumput-rumput dan pohon-pohon merambat.

Tak usah dikatakan lagi bahwa tempat sangat sunyi.

"Baiklah kita beristirahat di sini,"

Berkata Teng Hok.

Dan tanpa tunggu persetujuannya Tangnu lagi, ia mendahului lompat turun dari kudanya.

Putera kepala suku Lopu itu tidak menduga jelek, ia dan pengiring-pengiringnya turut turun dari kuda mereka Menampak keadaan demikian, Tiat San Ho bersenyum ewah, ia tertawa dingin.

"Saudara Kim,"

Berkata Ong Teng Hok.

"mari kita samasama minum dari sebuah cawan!"

Tangnu dengar itu, ia heran.

"Di mana ada air di sini?"

Tanyanya.

Teng Hok dan Teng Lok menjawab dengan tertawa besar.

Justeru itu tampak dari arah depan kabur mendatangi dua penunggang kuda.

Penunggang yang satunya adalah In Yan Peng.

Dia tidak lagi mengenakan pakaian seragamnya, hanya dandan sebagai rakyat jelata.

Menampak demikian, Tiat San Ho segera berseru.

"Mereka ini adalah rombongan begal anjing!"

Terus ia hunus senjatanya, yang merupakan seruling kumala, dengan apa ia totok pinggangnya Teng Hok.

"Oh, manusia rendah tak tahu diri!"

Seru orang she Ong itu sambil berkelit, terus ia membalas dengan satu serangan telapakan tangan.

"Dengan baik hati kami suka membagi bagian kepadamu tetapi kau tidak sudi menerimanya! Apakah kau niat meminumnya sendiri saja?"

Tiat San Ho tidak hiraukan teguran itu, ia lanjutkan serangannya.

Ia tetap mencoba menotok lawannya itu, sampai Teng Hok repot menangkisnya berulang-ulang dengan tidak mampu balas menyerang.

Tangnu kaget, segera ia insyaf akan bahaya yang mengancam dirinya.

Tentu saja ia menjadi gusar, sambil berteriak ia terjang Teng Lok muka siapa ia cengkeram.

Teng Lok hunus goloknya melakukan perlawanan.

Tangnu mengerti ilmu gelut, dengan kesehatannya ia dapat sambar tangannya orang she Ong iiu untuk ditariknya.

Dua pengiring dari putera suku bangsa ini adalah orangorang kuat dari Sinkiang Selatan, merekapun segera turun tangan dengan masing-masing bersenjatakan sepasang gembolan membantui majikan mereka.

Teng Lok yang tangannya telah tercekal oleh Tangnu, tidak sempat menangkis atau berkelit dari serangannya dua pengiring itu, maka sekejap saja kepalanya pecah dan otaknya muncrat berhamburan sebagai akibat dari menimpanya dua pasang gembolan!

Justeru itu tibalah In Yan Peng, dia segera lompat turun dari kudanya.

Dia segera disambut oleh dua pengiring bangsa Lopu itu.

Orang she In ini pandai ilmu silat BitCong kun dari Tibet, ialah ilmu yang dinamakan Ilmu Lunak, maka ia tarik ikat pinggangnya yang segera digunakan sebagai senjata, untuk membuat perlawanan.

Benar-benar ia liehay.

Dengan satu gerakan saja ia telah dapat libat dua pasang gembolan.

Maka dengan sekali tarik terlepaslah senjatanya dua orang kuat bangsa Lopu itu.

Ia lantas tertawa nyaring dan panjang sambil terus merangsek, maka kali ini, dengan bergantian ia berhasil melibat kedua lawannya, yang kemudian dilemparkan ke tepi jalan di mana terdapat banyak batu-batu besar.

Kasihanlah kedua orang kuat itu, mereka terbanting di atas batu, percuma saja tenaga mereka yang besar, mereka roboh menggeletak dengan mandi darah, dan jiwanya melayang.

Di waktu itu Teng Hok, dengan tumbaknya masih melayani San Ho dalam kerepotan dan bergelisah bukan main karena hebatnya desakan lawan.

Serulingnya si nona dapat digunai sebagai dua rupa senjata, ialah sebagai alat penotok atau pedang.

Alat penotok adalah poankoat pit, yang mirip dengan pit atau alat tulis, yang berarti "pit hakim".

Sedang sebagai pedang harus dimainkan dengan jurus-jurus dari Ngoheng kiam.

In Yan Peng lihat Teng Hok keteter, ia lantas berseru.

"Pergi kau layani anjing Hoan itu, kasih aku yang bereskan bocah ini!"

Terus saja dia menyerang dengan sabuknya. Segera juga Yan Peng dapat kenyataan bahwa ilmu totoknya San Ho masih belum sempurna, dia heran untuk kejadian tadi malam.

"Kalau aku tahu kepandaiannya hanya sedemikian, tidak perlu aku undang datang Yong Jieko..."

Dia kata dalam hatinya.

"Tiat San Ho melayani orang she In ini sampai kira-kira dua puluh jurus, di saat itu terdengarlah suara riuh dan munculnya belasan orang dari dalam rimba, la menjadi kaget, hingga guguplah ia ketika ia diserang di bagian atas. Ia mencoba untuk berkelit, tidak urung kopiahnya tersarnpok juga oleh sabuk dan terpental jatuh ke tanah, hingga tampaklah rambutnya yang panjang riap-riapan.

"Ah, kiranya kau Tiat San Ho?"

Tanya In Yan Peng, yang ternganga sekian lama. Ia menyesal tidak dari siang-siang dapat mengenali nona ini yang menyamar sebagai satu pemuda.

"Karena kau telah kenali aku, lekas kau pergi!"

San Ho kata. Yan Peng memandang ke sekitarnya. Ia tertawa.

"Bangsat tuamu tidak ada bersama kau, hm, buat apa kau omong besar?"

Katanya dengan mengejek.

Segera ia menyerang pula.

San Ho pun melakukan perlawanan pula, tidak sempat ia perhatikan datangnya orang-orang baru itu, yang muncul dari rimba.

Mereka terdiri dari dua rombongan, kesemuanya begalbegal dari Siamsay Selatan dan Utara, mereka tertarik oleh harta besarnya Tangnu, dengan tidak menghiraukan ancaman tentara negeri, merekapun datang untuk dapat punyai harta besar itu.

Rombongan dari Siamsay Selatan dan Utara itu di kepalai oleh Kwe Thian Seng si Bintang Melewati Langit dan Kiu Ciat Lie si Kucing Hutan, mereka ini lantas lihat seorang tua yang panjang kumis jenggotnya, tangannya menyekal sebatang hunCwee besi panjang tiga kaki, yang tengah disedot berulang-ulang dengan asapnya dikepul-kepulkan secara merdeka...

"Apakah sahabat segolongan di sana?"

Kwe Thian Seng menegur.

Orang tua itu tidak menjawab, dia hanya tunggu sampai orang sudah datang dekat padanya, dengan mendadak dia menyampok dengan hunCwee besinya itu.

Kwe Thian Seng dan Kiu Ciat Lie bersenjatakan masingmasing bandring liuseng twie dan cambuk lunak kiuCiat pian, keduanya lantas menangkis, tetapi dengan bentroknya senjata itu, tiba-tiba Kwe Thian Seng roboh terguling.

Adalah Kiu Ciat Lie, yang berlompat ke belakang si orang tua, dari mana ia lakukan penyerangan.

Orang tua itu bagaikan mempunyai mata di belakangnya, tanpa berpaling lagi, sambil memendek diri ia menyerang ke belakang, yang dengan jitu mengenai lutut penyerangnya, hingga si Kucing Hutan menjerit menyusul robohnya tubuhnya, sebab lututnya itu terluka hebat.

Orang tua itu adalah kawannya In Yan Peng, namanya Yong It Tong.

Ia juga sahabat karibnya Eng Siu Yang.

Ketika Siu Yang atur barisan CitCiat tin di atas gunung Hoasan untuk tempur Giok Lo Sat, ia undang orang she Yong ini yang berhalangan datang, maka kejadianlah The Hong Ciauw betot To It Hang untuk dijadikan sebagai penggantinya.

Kegagalan itu membuat Eng Siu Yang sangat menyesal, karena ia menduga pasti andainya It Tong dapat hadir, Giok Lo Sat pasti akan dapat dirobohkan.

Dari kepercayaannya Eng Siu Yang, bisalah diduga liehaynya orang Yong ini.

Kawanan begal menjadi tercengang menampak pemimpin mereka roboh demikian cepat dan gampang.

Kemudian, selagi mereka hendak maju juga untuk mengepungnya, tiba-tiba It Tong tertawa gelak-gelak.

"Kawanan begal busuk, kalian terjebak!"

Berseru orang tua ini, yang terus pula memekik dengan suara yang panjang.

Sebagai sambutan dari pekikan itu, yang ternyata suatu pertandaan, dari dalam rimba terdengarlah tampik sorak riuh rendah, lalu muncul seratus lebih serdadu dengan masingmasing mengenakan baju lapis besi dan tangan menyiapkan busur serta panahnya.

In Yan Peng telah menduga, mesti ada orang-orang jahat yang ingini juga harta besar itu, maka untuk mencegah harta itu jatuh ke tangan lain orang, ia sengaja tempatkan barisan sembunyinya.

Nyata dugaannya tepat, maka sekarang, kawanan begal itu telah dapat dikurung.

Ketika itu, jalannya pertempuran telah membawa perubahan.

Menghadapi lawan yang tangguh, Tiat San Ho berbalik menjadi repot.

Juga Tangnu didesak Teng Hok.

In Yan Peng mainkan sabuknya secara hebat, hingga sabuk itu nampaknya bagaikan seekor naga yang sedang terbang menari di tengah udara.

Di saat keadaan berbahaya bagi nona Tiat itu, sekonyongkonyong di udara mendengung satu suara tertawa nyaring dan panjang.

"Giok Lo Sat datang!"

Pekiknya San Ho, yang menjadi girang dengan mendadak.

Kalau puterinya Tiat Hui Liong menjadi girang sekali, tidak demikian dengan si muka merah, bahna kaget dan ciut hatinya, penyerangannya menjadi kendor sendirinya.

Ia ada seperti tikus mendengar ngeongnya kucing...

Suaranya Giok Lo Sat, itu disusul dengan munculnya tubuh yang sangat gesit.

Dan tanpa mensia-siakan ketika sedetik juga, ia sudah lantas serang In Yan Peng.

Malah ia berlaku demikian hebat, hingga baru tigajurus, berhasillah ia dengan ujung pedangnya menyentuh jalan darah lawan di pundaknya, kemudian disusul dengan dupakan kepada tubuhnya!

Tiat San Ho, maju mendekati penolongnya itu.

"EnCie Lian, jangan lukai orang asing itu,"

Katanya dengan perlahan. Si Raksasi Kumala melengak atas pesan itu.

"Begitu?"

Katanya.

"Baiklah..."

Lantas nona kosen itu loncat ke arah Ong Teng Hok, yang ia terus serang.

Orang she Ong itu mengadakan perlawanan, tetapi dalam sekejab saja, atau di lain saat, kepalanya telah terpental.

Karena pedang si nona tak sudi memberikan keampunan.

Tangnu kaget dan heran, hingga ia tercengang.

Ia kagum untuk kegagahannya nona yang ia tak kenal ini.

Sebenarnya Giok Lo Sat telah datang terlambat.

Itulah disebabkan selagi ia baru sampai di jalanan ke Yatie lim, ia sudah lihat orang-orang yang mencurigai padanya, di antara siapa ia kenali ada beberapa orang jahat dari Siamsay Selatan.

Ia mempunyai ayah angkat yang jago dan ulung, iajuga pernah bercokol di gunung Tengkun san, selama mana ia berhak memperoleh bagian dari orang-orang jahat di Siamsay Selatan, maka ia bukanlah satu nona hijau.

Karena melihat mereka itu, ia jadi curiga, lantas timbul keinginannya untuk mencari tahu.

Demikian ia saksikan mereka mencegat Tangnu sampai mereka dipengaruhi rombongan dari Siamsay Utara, hingga ia lantas turun tangan.

Yong It Tong kaget tak kepalang melihat munculnya nona itu secara demikian tiba-tiba hingga ia pun melengak.

Waktu itu pengurungan tentara negeri sedang diperhebat.

Giok Lo Sat lompat kepada In Yan Peng, untuk sambar tubuhnya si muka merah itu, untuk diangkat.

"Siapa di antara kamu yang berani maju!"

Dia bentak rombongan tentara itu.

"Bila ada yang maju, lebih dahulu aku binasakan kepala perangmu!"

Serdadu-serdadu itu ada serdadu-serdadu kepercayaannya In Yan Peng, menampak pemimpin mereka telah kena dicekuk sampai tak berdaya, mereka tidak berani bergerak lebih jauh.

Walaupun Yong It Tong heran atas keganasan si nona, ia sebenarnya tidak kenal si Raksasi Kumala, yang usianya baru dua puluh lebih, maka setelah ia sadar dari lamunannya, ia lantas perdengarkan suaranya.

"Menawan orang untuk memeras, adakah itu perbuatan satu enghiong?"

Giok Lo Sat tertawa geli mendengar perkataan orang itu. Ia tidak lepaskan In Yan Peng, malah ia terus mengempit tubuh orang itu.

"Baiklah!"

Katanya.

"Aku nanti gunai sebelah tanganku untuk melayani kau satu enghiong besar! Jikalau kau dapat mengalahkan aku, dengan segera kuserahkan kepala perangmu ini!"

It Tong heran sekali untuk kejumawaan orang. Tidak disangka, nona ini bernyali demikian besar.

"Kau hendak gunakan orang tawananmu sebagai senjata, pasti sekali kaulah yang bakal peroleh kemenangan!"

Kata ia. Giok Lo Sat tertawa dingin.

"Kau menduga keliru!"

Katanya.

"Sebaliknya aku ingin ke mukakan, asal kau mampu lukai orang tawanan dalam kempitanku ini, kau boleh anggap kaulah yang menang! Setuju apa tidak?"

Inilah semacam pertaruhan yang langka dalam kalangan Rimba Persilatan.

Biasanya, kalau seorang dapat menawan musuh, jiwa musuh diancam untuk diperas, hingga pihak musuh tidak berdaya dengan begitu orang peroleh kemenangan yang dipaksakan.

Tidak demikian adalah caranya Giok Lo Sat sekarang.

Dia bukan hendak rebut kemenangan dengan memeras, dengan gunakan tubuh musuh sebagai tameng, dia justeru hendak lindungi tubuh musuh dari senjata kawannya!

Apakah ini tidak lebih sulit daripada diikat sebelah tangannya?

Sebab selain mesti melindungi dirinya, iapun mesti melindungi tubuh musuh!

Yong It Tong heran dan mendongkol karena pertaruhan itu.

Ia anggap itu sebagai hinaan, sedang seumurnya, belum pernah orang menghina ia secara demikian.

Maka, ia awasi nona itu dengan tajam.

"Bagaimana?"

Tegur Giok Lo Sat sambil tertawa. Seperti baru sadar, It Tong menjawab.

"Kau inginkan ini, baiklah, begini kita bertaruh. Jikalau kau menang, semua harta ini untukmu. Tapi bagaimana jikalau aku yang menang?"

Mendengar kata-kata ini, Giok Lo Sat lantas ketahui, orang ini utamakan harta, dia tidak memandang kawan, maka itu, ia memandang rendah pada It Tong.

Sudah biasanya dalam kalangan Rimba Hijau orang utamakan kehormatan, tidak demikian dengan orang ini.

"Bagaimana?"

Yong It Tong tegaskan, ketika ia lihat orang berdiam. Ia seperti tak memberikan kesempatan orang berpikir.

"Jikalau kau dapat menangkan aku,"

Sahut Giok Lo Sat.

"selain akan aku lepaskan dan serahkan kepala perangmu ini, juga semua harta itu kau boleh ambil untuk dijadikan milikmu."

Yong It Tong memandang ke sekitarnya, terutama terhadap rombongan begal.

"Apakah kau dapat ambil putusan sendiri?"

Masih dia tanya si nona.

"Berhakkah kau?"

Giok Lo Sat tertawa besar.

Ia tidak lantas menjawab, ia hanya menyahut dengan perbuatan.

Yaitu ia robek baju luarnya, hingga terlihat pakaian dalamnya --yaitu baju dan celana wanita yang berkembang.

Kemudian iapun buka ikat kepalanya, hingga terlihat rambutnya yang terkepang oleh gelang emas.

Rombongan berandal dari Siamsay Selatan memang sudah tahu nona itu adalah si Raksasi Kumala, sekarang mereka dapat lihat wajah aslinya, mereka lantas saja bertepuk tangan, bersorak-sorai.

Mereka gembira bukan buatan.

Rombongan berandal dari Siamsay Utara tahu Giok Lo Sat liehay, benar mereka tidak terpengaruh nona ini, tetapi mendengar cara bertaruh yang aneh itu, mereka setuju.

Maka mereka pun nyatakan.

"Jikalau kamu dapat menangkan Lian Liehiap, tidak peduli emas dan perak atau mutiara, kami pasti tak inginkan itu!"

Rombongan berandal itu merupakan satu lingkungan, dibelakang mereka ---artinya di sebelah luar ---tentara negeri merupakan satu kurungan.

Di tengah kalangan, Giok Lo Sat berdiri berhadapan dengan Yong It Tong, di dalam kempitannya ada In Yan Peng.

Tangnu bersama Tiat San Ho duduk di dalam kalangan, di pinggiran, sambil duduk, mereka hendak menonton...

Tangnu tidak tahu.

Giok Lo Sat pun datang untuk merampas harta, karenanya ia sangat berterima kasih terhadap nona itu, ia mengharap-harap si nonalah yang peroleh kemenangan.

"Nona,"

Berkata dia kepada San Ho.

"tidak kusangka kau mempunyai kepandaian tinggi, tetapi lebih-lebih tidak kuduga, sahabatmu itu, yang elok bagaikan bidadari ada terlebih gagah lagi! Hari ini aku telah dapatkan pertolongan kamu, tidak nanti aku lupakan budimu itu!"

San Ho tersenyum, meskipun di dalam hatinya, ia malu sendirinya.

Sebenarnya, ia berkawan dengan rombongan Tangnu ini untuk rampas harta besar orang itu, tetapi, selama di perjalanan, ia dapat kenyataan orang asing ini berhati baik, dengan sendirinya, lenyaplah niatnya itu.

Hanya sekarang, melihat sepak terjangnya Giok Lo Sat.

Ia merasa tidak tenteram.

Ia kuatir, kalau nanti si Raksasi Kumala menang, nona itu nanti akan bawa adatnya yang luar bisa...

It Tong sementara itu terperanjat mendengar gemuruhnya rombongan penjahat, karena baru sekarang ia ketahui, nona kosen di depannya itu ada si hantu wanita dari kaum kangouw yang mendengar namanya saja, sudah membuat hati orang rontok.

Ia lantas ingat halnya dahulu Eng Siu Yang mengatur tin di gunung Hoasan tetapi kesudahannya, dua kawan mereka roboh di tangan nona itu.

Dahulu ia lolos dari bahaya sebab ada urusan, ia tidak nyana, sekarang di sini ia mesti hadapi nona yang kosen itu.

Maka sekarang ia berpikir, dengan cara hagaimana dapat ia loloskan diri dari bahaya...

Giok Lo Sat awasi orang, ia tertawa.

"Mari maju!"

Ia menantang, pedangnya diangkat.

"Mari!"

Karena terdesak, dan sangat terpaksa, Yong It Tong gerakan hunCweenya. Dengan tipu silat "Lie Kong siaCio"

Atau "Lie Kong memanah batu", ia tikam dadanya si nona.

"Ha-ha-ha!"

Tertawa Giok Lo Sat seraya menangkis, hingga di antara suara nyaring, ujung hunCwee telah tersampok miring.

Beradunya kedua senjata telah mendatangkan lelatu api.

Gerakannya Giok Lo Sat tidak berhenti sampai di situ saja.

Habis menangkis, ia teruskan menikam ke arah tenggorokan lawannya.

Yong It Tong tidak menyangka lawannya ada demikian gesit, hingga tak sempat ia menarik gegamannya, guna menangkis, maka itu, ia segera undurkan diri untuk berkelit.

Ia telah bergerak sangat cepat, akan tetapi, ia masih kalah cepat dari si nona, hingga ujung pedangnya dapat menyentuh pundaknya.

Bajunya robek, dan darahnya muncrat keluar.

Syukur baginya, karena sedang mengempit satu tubuh manusia si Raksasi Kumala tak segesit biasanya, kalau tidak, mesti ia roboh.

Si Raksasi Kumala tidak puas dengan hasil pertama itu, dengan kelincahannya, ia menyerang pula, untuk mendesak lawan.

Dengan menunjukkan keuletannya, Yong It Tong layani nona ini.

Kali ini ia bisa berkelahi sampai dua gebrak, sesudah mana, ia juga gunai ketikanya, untuk menyerang.

Tapi ia telah pilih tubuhnya Yan Peng sebagai sasaran, hingga sahabat itu jadi terancam.

"Bangsat anjing yang kejam!"

Giok Lo Sat berseru apabila ia ketahui maksud musuh.

Sambil berkelit, ia tangkis tusukan hunCwee ke arah tubuhnya Yan Peng, yang hampir saja menjadi korban karena kelicikannya sahabat ini.

Setelah itu, tanpa segan-segan, It Tong incar si muka merah, hingga Giok Lo Sat terpaksa mengubah caranya berkelahi, yaitu dari menyerang, ia balik membela diri membelai si orang she In, supaya dia tak terkena oleh hunCwee kawannya sendiri.

Kegagahan It Tong tak ada di bawahan Eng Siu Yang, hunCweenya itupun bisa dipakai sebagai tumbak serta sebagai alat penotok, maka setelah mendapat angin, ia lanjutkan rangsakannya, guna mendesak lawannya itu.

"Awas! EnCie Lian,"

Berseru Tiat San Ho, sesudah ia menonton sekian lama.

"Ini bangsat anjing berniat melukai sahabatnya sendiri! Baik enCie jangan tungkuli dia!"

"Kau jujur nona, sungguh kau harus dihormati!"

MenyelakTangnu.

Giok Lo Sat tidak memberi jawaban, ia berkelahi terus, dalam mana dengan perlahan tentara negeri bergerak mendekati, sesaat kemudian, terdengar suara terompet dari arah rimba, dari mana muncul lagi satu pasukan tentara yang baru.

Menampak ini, si Raksasi Kumala mengancam.

"Tentara negeri, kamu dengar! Kita sedang berkelahi satu sama satu, jikalau kamu maju, untuk mengepung aku, jangan kamu persalahkan aku sudah tidak menetapi janji!"

Pasukan pengiring dari In Yan Peng lantas memutar tubuh, guna mencegah pasukan itu maju lebih jauh.

Yong It Tong sendiri menjadi heran.

Ia tahu, In Yang Peng bertindak di luar tahunya semua pasukannya, dia cuma bawa barisan kepercayaannya itu.

Maka, dari mana datangnya ini pasukan baru?

Pasukan baru itu di kepalai seorang perwira muda yang menunggang seekor kuda tinggi dan besar, romannya gagah, tetapi dia asing di matanya barisan In Yan Peng.

"Perwira, tahan!"

Bentak pembantunya Yan Peng.

"Kau dari tangsi mana?"

Perwira itu tidak menjawab, sebaliknya, ia membentak.

"Tentara tak berdisiplin, bikin apa kamu di sini?"

Demikian tegurnya dengan bengis.

"Lekas kamu turut aku pulang ke kota!"

Bentakan ini ditutup dengan satu serangan anak panah, hingga pembantunya In Yan Peng roboh seketika itu dan terbinasa!

Barisannya In Yan Peng itu jadi kalut, tanpa mempedulikan perwira mudanya mendesak mereka, hingga mereka tergiring ke dalam rimba.

Giok Lo Sat, yang sedang bertempur memasang mata dan kuping, menyaksikan perbuatan si anak muda dan mendengar perkataannya, ia menjadi heran.

"Bagaimana di dalam pasukan tentara ada pemuda gagah sebagai dia?"

Dia memikir, menduga-duga.

Sebaliknya Yong It Tong menjadi heran dan berkuatir.

Tanpa merasa, ia jadi bingung, ketika lawannya gunai ketikanya, untuk desak dia, dengan dua tusukan pedang saling susul.

Dia masih dapat mengelakan diri.

Dalam bingungnya, dia sempat berpikir untuk serang pula tubuh In Yan Peng.

Demikian selagi menangkis dengan hunC weenya, dia menendang ke arah kepala kawannya itu.

Giok Lo Sat gusar melihat maksud busuk orang, dalam sengitnya, dengan sebelah tangan mencekal tubuhnya In Yan Peng, untuk disingkirkan dari ancaman mala petaka, pedangnya menangkis senjata lawan dengan keras, hingga terpental, berbareng mana, pedangnya turun dari atas ke bawah, yang mengenai kepalanya sampai terbelah!

"Ha-ha-ha!"

Ia tertawa.

"Kamu lihat, aku toh tidak membikin tubuhnya terluka?"

Ia angkat tinggi tubuhnya Yan Peng itu.

Semua kawan berandal melengak.

Selagi orang berdiam, Giok Lo Sat memikir untuk pergi merampas harta, tapi justeru itu, si perwira muda telah kembali, untuk mana dia larikan kudanya.

Melihat perwira itu, semua berandal Siamsay Utara berdiri diam dengan tangan diturunkan.

"Aku larang siapa juga menggerakkan tangannya!"

Berseru punggawa muda itu.

Si Raksasi Kumala menjadi heran.

Tidak mengerti ia, kenapa rombongan berandal dari Siamsay Utara itu tunduk kepada perintah anak muda ini.

Mau tidak mau, ia menjadi mendongkol juga.

Maka dengan hunus pedangnya, ia maju untuk mendekati.

"Kau siapa?"

Tanya dia. Pemuda itu mengawasi dengan matanya yang jeli dan bersinar tajam, hingga sekalipun si nona ada satu nona gagah, ia toh merasakan juga pengaruhnya sinar mata itu.

"Bagus, aku ketemu tandingan..."

Pikir si Raksasi Kumala, sambil maju lebih dekat.

"Kau tentunya Giok Lo Sat!"

Kata si anak muda.

"Selamat bertemu! Selamat bertemu!"

Nona itu tertawa.

"Ah, kau juga kenal aku?"

Katanya.

"Satu pembesar tentara bertemu aku, itu artinya setan cilik bertemu sama Giam Lo Ong!"

Ia angkat pedangnya, untuk dipakai menunjuk.

Si anak muda bersenyum.

Semua berandal dari Siamsay Utara lantas siapkan senjata mereka, dengan wajah yang memperlihatkan kegagahan.

Mereka bersikap hendak melindungi anak muda itu.

Dalam saat tegang itu, kawanan berandal dari Siamsay Selatan, yang sejak tadi diam saja, lantas berseru-seru.

"Lian Liehiap, ini... inilah Siauw, Siauw..."

Tapi si anak muda menghalang halangi mereka, dengan menggoyangkan tangannya.

"Kita ada di antara orang sendiri!"

Serunya.

"Kamu semua mundur!"

Terus dia menghadap Giok Lo Sat, dan berkata.

"Lian Liehiap, aku adalah Siauw Giam Ong Lie Cu Seng. Kho Eng Siang adalah pamanku! Mari kita pergi ke bawah pohon sana, untuk bicara." (Paman --engku). Giok Lo Sat tercengang bahna heran. Ia kaget bukan karena mendengar namanya orang she Lie ini. Nama dia ini belum termashur. Di antara tiga puluh enam rombongan berandal, nama Ong Kee In adalah yang tersohor. Malah Kho Eng Siang pun ada pembantunya Ong Kee In itu. Ia hanya heran kenapa rombongan berandal dari Utara dan Selatan ini demikian takluk kepada pemuda ini.

"Baiklah,"

Ia jawab. Ia minta seekor kuda, untuk bersama pemuda itu pergi masuk ke dalam rimba.

"Apakah Ong Kee In ayah dan anak ada baik?"

Dia tanya.

"Ong LooCong telah menutup mata,"

Sahut Lie Cu Seng.

"Sekarang ini pamanku, Kho Eng Siang, yang pegang pimpinan. Ong Ciauw Hie dan isteri serta Pek Bin, mereka semua ada dalam pasukan kita." (Dengan Ong LooCong, ketua Ong, dimaksudkan Ong Kee In.). XII Giok Lo Sat terkejut, ia jadi berduka. Belum satu tahun ia meninggalkan Siamsay Barat, perubahan telah terjadi begitu besar.

"Kalau begitu, tahukah kau tentang anak buahku?"

Dia tanya si pemuda.

"Apakah mereka itu telah habis musna di tangan tentara negeri? Kenapa kau menyamar sebagai pasukan negara?"

"Aku tahu tetapi tidak jelas,"

Sahut Lie Cu Seng.

Lauw Teng Goan sudah kumpulkan dua puluh laksa serdadu dari empat propinsi SuCoan, Siamsay, Kamsiok dan Shoasay, dia telah kurung kami, hingga pasukan kami bercerai-berai satu sama lain.

Baru pada bulan yang berselang, aku menempuh bahaya.

Aku telah mengadakan pertemuan di antara pemimpin dari tiga puluh enam rombongan, tetapi yang hadir cuma tiga puluh tiga wakil.

Yang tak datang itu adalah rombongan kau serta rombongannya saudara Sin It Goan.

Itu waktu aku dengar, rombonganmu sudah menerobos masuk ke wilayah SuCoan, katanya, kerusakannya tidak sebesar kerusakan rombongan-rombongan lainnya.

Pada bulan yang lalu itu, juga Thio Hian Tiong dari SuCoan telah datang ke kecamatan BieCie di mana kami telah mengadakan pertemuan besar itu.

Menurut Thio Hian Tiong, dia pernah lihat suatu pasukan wanita di antara Konggoan dan Ciauwhoa, sebenarnya dia telah mencoba mengirimkan wakilnya, guna mengajak pasukan wanita itu bergabung dengannya, sayang kedua pihak kena dipegat tentara negeri.

Maka itu, untuk mencari rombongan itu, baiklah kau pergi ke sana."

Pertemuan di BieCie itu adalah satu peristiwa besar karena di sana berkumpul puluhan rombongan berandal yang bercitacitakan menyintai negara juga.

Dan namanya Lie Cu Seng, atau lebih tepat lagi, Siauw Giam Ong, si Raja Akherat Kecil, dapat dijumpai di sana.

Setelah Ong Kee In meninggal, pelbagai pemimpin kaum Rimba Hijau segera mengangkat Kho Eng Siang sebagai gantinya.

Sebenarnya, kepandaiannya Eng Siang belum tinggi namun kedudukannya itu didapatkan dengan mengandalkan kepandaian dan kegagahannya Lie Cu Seng.

Dua kali ia berperang, dua kali ia menang.

Semua pemimpin rombongan mempunyai julukannya masing-masing, seperti Heng Thian Ong --Raja Melintangkan Langit, Kun Sie Ong --Raja Mengacau Dunia, Sauw Tee Ong --Raja Menyapu Bumi, dan lainnya, yang beraneka warna.

Kho Eng Siang sendiri belum mempunyainya, lalu orang-orangnya menginginkan itu, lantas mereka memilihnya.

Sukar bagi mereka mendapat gelar yang cocok, sampai Lie Cu Seng berkata sambil tertawa.

"Kita sekarang sedang bertindak maju, entah sampai di mana, tak ada yang mengetahuinya, malah bila semua tidak bertekad, mungkin tak dapat kita keluar dari wilayah Siamsay ini. Maka seharusnya kita melupai bahaya mati, kita harus menerjang dengan bersatu hati dan bersatu tenaga, dengan begitu, untuk maju ke Pakkhia pun tak sukar. Maka yang utama sekarang adalah maju, maju, maju! Jadi tak perlu kita membicarakan gelaran raja ini atau raja itu. Jangan kita pusingkan kepala untuk segala gelaran kosong!"

Mendengar itu, semua hadirin bertepuk tangan.

"Kalau begitu, marilah kita maju bersama!"

Teriak mereka.

"Baiklah kita pakai gelaran Giam Ong!"

Demikian sudah terjadi, Kho Eng Siang dijuluki Giam Ong, maka itu, Lie Cu Seng menjadi Siauw Giam Ong, si penyerbu cilik.

Adalah kemudian, dengan meninggalkan Kho Eng Siang, dengan sendirinya Lie Cu Seng menjadi Giam Ong, tambahan Siauw atau Kecil di depannya dihilangkan.

Bukan main tegangnya perasaan Giok Lo Sat mendengar tentang anak buahnya, seperti ia hendak menyusul dengan terbang di tengah udara...

"Siauw Giam Ong adalah orang ternama,"

Pikirnya kemudian.

"maka itu baik kita membagi rata saja..."

Justeru ia lagi berpikir, Lie Cu Seng kata padanya.

"Lian Liehiap, aku hendak mohon suatu, kepadamu..."

"Apakah itu?"

"Harta ini kita jangan ganggu..."

"Apa? Apakah kamu datang bukan untuk merampas?"

"Itulah niat kita semula,"

Sahut Lie Cu Seng sambil tertawa.

"Sekarang aku sudah tahu jelas duduknya hal, harta ini tak dapat diganggu."

"Kita adalah bangsa yang tidak takut akan Thian, tak jeri akan Bumi,"

Berkata si nona.

"malah hartanya raja juga akan kita rampas! Kenapa harta ini tak dapat kita punyai?"

"Lian Liehiap,"

Lie Cu Seng tertawa pula.

"memang benda raja mesti dirampas, tapi setelah harta itu pindah ke tangan mereka, tak dapat kita mengganggunya."

"Kenapa begitu? Dalam hal ini, aku membutuhkan keterangan."

Lie Cu Seng lompat turun dari kudanya.

"Lian Liehiap, mari duduk!"

Ia mengundang. Terus ia duduk di tanah. Ia pun terus berkata.

"Apakah liehiap tahu bangsa Boan sedang incar negara kita, dan karena dayanya suasana di perbatasan ada sangat genting sekarang?"

"Apakah hubungannya kejadian di perbatasan itu dengan harta ini?"

Si nona masih tanya.

"Baiklah liehiap dengar aku,"

Kata Lie Cu Seng dengan sabar.

"Tentang orang asing ini, aku mulanya tak tahu jelas, karenanya aku niat merampas hartanya. Tetapi sekarang aku ketahui, dia adalah puteranya Tangma, kepala suku bangsa Lopu di Singkiang Selatan. Suku bangsa itu, dengan Tangma sebagai ketuanya, sekarang ini memimpin pelbagai suku bangsa lainnya di wilayah yang luas itu. Umpama puteranya Tangma ini dibunuh dan hartanya dirampas, pasti Tangma akan membalas dendam terhadap kaisar Beng, atau dia gerakan angkatan perangnya untuk menuntut balas. Apabila itu sampai terjadi maka pertempuran akan berkobar di Timur utara dan Barat utara. Yu Kauw ada satu bocah, mana dia sanggup layani semua huru-hara itu?"

Giok Lo Sat berdiam, ia tidak dapat segera berpikir.

"Walaupun kita menyatrukan kerajaan Beng,"

Lie Cu Seng tambahkan.

"akan tetapi apabila ada bangsa asing yang datang menyerang kita, kita suka menggabungkan diri dengan tentara negeri guna melawan serangan asing itu. Tidakkah benar demikian?"

Mau tidak mau, Giok Lo Sat mengangguk.

"Maka itu tak dapat kita mengobarkan huru-hara lain untuk kerajaan Beng,"

Lie Cu Seng tegaskan.

"Sayang sekali Yu Kau w si bocah butek pikirannya ini, cuma bisa kerahkan angkatan perangnya buat gempur kita saja, tapi tak bisa ia mengadakan pertahanan di perbatasan. Begitulah Him Teng Pek yang demikian pandai, dia telah pecat."

Tanpa merasa, si Raksasi Kumala kagum akan pemuda ini, yang luas pemandangannya dan bersemangat. Tapi, akhirnya, ia tertawa sendiri.

"Sayang pikiranmu yang bagus ini,"

Katanya.

"Kau memikir demikian sempurna untuk raja cilik itu, dia sebaliknya mengirim pasukan perangnya untuk menghajar padamu!"

Lie Cu Seng tidak terdesak.

"Itulah urusan dia sendiri,"

Katanya. Giok Lo Sat tertawa pula.

"Kelihatannya, kerajaan Beng tidak sanggup melawan bangsa Boan,"

Katanya.

"maka baiklah kau gunakan ketika ini, sebelum angkatan perang Boan itu masuk, kau mendahului menerjang ke kota raja, di sana kau boleh angkat dirimu menjadi raja, hingga tak usah dikuatirkan lagi bangsa Boan bakal datang menyerbu."

Lie Cu Seng tertawa terbahak-bahak.

"Untuk menjadi kaisar, setiap orang pun dapat,"

Katanya.

"Umpama aku yang mesti menjadi raja, dan negara kita dapat dilindungi karenanya, aku suka naik di tahta..."

Melihat orang berlaku terbuka, Giok Lo Sat bersenyum.

"Dia adalah seorang luar biasa,"

Ia pikir.

"Keadaan ada begini sulit tapi dia tetap bersemangat, malah dia suka lepaskan harta besar ini, yang bisa dipakai untuk merangsum tentara. Dilihat dari sini, Him Teng Pek masih kalah dengannya. Mungkin sekali dia mempunyai bakat untuk menjadi raja..."

"Bahwa kami telah menyamar sebagai tentara negeri, itulah disengaja,"

Berkata pula Cu Seng.

"Dengan berbuat begini, aku memikir untuk hari kemudian kita. Sebenarnya tidak baik bagi tentara yang harus melindungi Tangnu kemudian hendak merampas hartanya. Maka sebentar kau beritahukan Tangnu bahwa tentara itu adalah tentara pemberontak, bahwa pemerintah telah mengetahuinya dan aku di kirim untuk menyusul dan membasminya. Katakan padanya bahwa pemerintah akan mengantar dia sampai dengan selamat di negaranya."

Sepasang matanya Giok Lo Sat bercahaya.

"Bagus, bagus, aku setuju denganmu!"

Ia kata sambil tertawa.

"Kau sendiri hendak singkirkan diri, sekarang kau pikirkan keselamatannya Tangnu. Jadi kau berniat mengirim orang untuk mengantarkan dia?"

"Lebih baik kita yang mengantarkan daripada dia diiring orangnya Yu Kauw si raja bocah. Tempat ini sudah tak jauh lagi dari Kamsiok, setelah melewati wilayah Kamsiok dan memasuki Kokonor, pasti tentara negeri sudah berpengaruh lagi, hingga tak usah dikuatirkan akan muncul pula punggawa semacam In Yan Peng ini."

Giok Lo Sat setuju dengan pikiran orang ini.

"Baik,"

Katanya.

"Nanti aku bicara padanya."

Lie Cu Seng tertawa.

"Sekarang aku hendak pinjam In Yan Peng!"

Kata dia.

"Segala bangsat anjing seperti dia, apa gunanya?"

Si Raksasi Kumala tanya.

"Sekalipun barang rosokan masih ada terpakainya, apapula dia!"

Sahut Cu Seng.

"Saudara-saudara kita di pelbagai tempat telah kena didesak tentara negeri, hingga mereka merasa sulit untuk bernapas, maka itu aku ingin pakai pengaruh dia ini untuk menangkan pertempuran, guna beri hajaran kepada semangatnya tentara negeri itu, supaya di akhirnya dapat kita mundur dengan aman."

"Aku mengerti sekarang!"

Tertawa Giok Lo Sat.

"Kau hendak gunakan dia untuk serang Leekoan. Kamu memakai seragam tentara pemerintah, lalu kamu juga perlihatkan satu kepala perang, dengan demikian serdadu-serdadu penjaga kota pasti bakal kena diabui. Pantas kau telah kumpulkan demikian banyak seragam..."

Cu Seng hanya tersenyum.

Selagi tadi si Raksasi Kumala bersama Lie Cu Seng berlalu ke dalam rimba, Tangnu heran bukan main, hingga ia mohon keterangan dari Tiat San Ho.

Ia tanya, mereka itu hendak berbuat apa.

"Mungkin mereka hendak urus tentara tadi,"

San Ho jawab.

Biar bagaimana, nona Tiat ini merasa tidak tenteram karena kawanan berandal, yang berada di sekitar mereka, mengawasi saja dengan tajam.

Di lain pihak, Tangnu telah kumpulkan dua mayat pengiringnya, yang kemudian dibakarnya, menurut adat istiadat kematian di antara kaumnya.

Adalah tulang-tulang mereka, yang ia bawa pulang.

San Ho bersedih melihat air mata berlinang dari suku bangsa Lopu itu.

Ia nampaknya bersikap keras, sebenarnya, hatinya lembut.

Ia berduka untuk kemat i arinya beberapa orang asing itu, yang datangnya dari tempat jauh ribuan lie.

Pasti ayah bunda mereka dan sanak saudaranya tidak ketahui kebinasaan mereka...

Ia juga merasa tidak tenteram karena tak tahu apa yang dibicarakan Lie Cu Seng dan Giok Lo Sat, sampai akhirnya ia tampak mereka itu kembali.

Lie Cu Seng segera lompat turun dari kudanya.

Ia himpunkan kawan-kawannya, untuk berdamai.

Giok Lo Sat sebaliknya segera menghampiri Tangnu bersama siapa ia bicara secara perlahan-lahan hingga menampak demikian, San Ho awasi mereka dengan kedua matanya dibuka lebar-lebar.

Selang sesaat, mendadak Tangnu berlutut, mendekam di tanah, akan cium tanah yang bekas diinjak si Raksasi Kumala.

San Ho pernah ikut ayahnya merantau di Barat utara, maka tahulah ia, itu adalah cara menghormat paling sujut dari suku bangsanya Tangnu itu.

"Benar-benar heran,"

Pikirnya dan hatinya menjadi lega.

"Giok Lo Sat katanya, adalah seorang yang kejam dan telengas, yang pandang jiwa manusia seperti rumput tak berharga, maka aneh sikapnya sekarang ini, dari uang harta rampasannya demikian besar, sedikit juga ia tidak menginginkannya, semua dilepaskannya..."

Tangnu tidak tahu sama sekali yang Giok Lo Sat pernah memikir untuk merampas hartanya itu, ia melainkan tahu bahwa ia telah ditolongi, maka itu, ia jadi sangat bersyukur, ia cuma tahu budi orang.

Demikian ia hormati nona ini menurut cara penghormatannya itu.

Kemudian, habis mencium tanah, ia kata.

"Jikalau pada suatu hari nona datang ke Thiansan, aku minta kau nanti menyambangi aku."

Si Raksasi Kumala jengah sendirinya. Orang ada demikian baik hati, ia tadinya berniat jahat terhadapnya. Lantas ia beritahukan pesan dari Lie Cu Seng.

"Oh, kiranya demikian duduknya hal,"

Berkata Tangnu.

"Tionggoanada demikian besar, sudah selayaknya bila di sana ada orang-orang baik hati dan jahat juga. Tentang tentara jahat itu, baik tak usah diomongkan lagi."

Lalu ia ajak Giok Lo Sat menghampiri Lie Cu Seng, untuk menghaturkan terima kasihnya.

Cu Seng pun sudah bermupakatan sama rombongannya, maka untuk mengantarkan Tangnu, ia minta bantuannya Kho Kiat, satu tauwbak kepercayaan dari Kho Eng Siang, serta keponakannya, yang bernama Lie Ko.

San Ho tidak sangka bahwa kejadian akan berakhir sedemikian rupa, hingga ia kini tak mempunyai tujuan.

"Adik San,"

Berkata Giok Lo Sat.

"ayahmu sedang mencari kau, tapi sekarang, entah di mana ia berada. Maka ada baiknya kita pergi berdua ke SuCoan Barat, di sana aku hendak jadikan kau wanita berandal!"

San Ho tidak bisa lantas berikan jawabannya. Ia teringat kepada Gak Beng Kie, jodoh siapa tak dapat dirangkap sama jodohnya. Giok Lo Sat dapat menduga hati orang, ia tertawa.

"Mula-mula aku anggap pemuda she Gak itu tidak baik kelakuannya, kemudian ternyata, ia tidak dapat dicela,"

Kata Giok Lo Sat.

Lalu ia tuturkan perkenalannya dengan Beng Kie, sampai ia diberi pinjam sarung tangan mustika, untuk mengalahkan Anghoa Kuibo.

San Ho girang berbareng duka.

Ia girang karena di antara Giok Lo Sat dan Gak Beng Kie terdapat suatu pengertian.

Ia berduka sebab pemuda she Gak itu telah mensia-siakan pengharapannya.

Lama ia membisu, kemudian ia menjawab Nona Siang.

"Baik atau tidak, apa sangkutannya dia dengan aku?"

Katanya. Giok Lo Sat bisa duga hatinya Nona Tiat ini.

"Pria berbau busuk di kolong langit ini ada banyak sekali!"

Katanya dengan sengaja.

"Mungkinkah dengan tidak adanya mereka, kita tidak dapat berdiri sendiri? Baiklah kau turut aku, untuk menduduki sebuah gunung di atas mana kita dapat menjadi ratunya. Itu waktu, siapa kita suka, kita boleh tawan dan bawa ke atas gunung! Siapa cuma bisa menangis, dia adalah seorang yang tak berguna!"

"Fui, aku tak setebal mukamu!"

Kata San Ho.

"Siapakah yang cuma bisanangis saja? Untuk jadi berandal wanita, mustahil aku takut turut padamu?"

Inilah yang Giok Lo Sat harapkan, maka diam-diam.

ia girang dalam hatinya.

Ia memang tidak inginkan Nona Tiat merantau seorang diri, tanpa tujuan, hingga dia nanti berduka saja.

Itu waktu Lie Cu Seng, yang telah atur keberangkatannya Tangnu, menghampirkan Nona Lian, untuk ambil selamat berpisah.

"Tadi kau bilang, sesudah serang Lokkwan, kamu hendak undurkan diri,"

Kata si nona.

"Sebenarnya ke mana kamu hendak mundur?"

"Propinsi Siamsay adalah tulang punggung dunia dan propinsi SuCoan adalah gudang rangsum dari alam,"

Sahut Lie Cu Seng.

"maka itu, siapa hendak melakukan sesuatu yang besar hingga berhasil, tidak dapat dia membuang-buang kedua propinsi itu! Propinsi Siamsay telah bertahun-tahun diserang bahaya lapar, rakyatnya sampai mati tersia-sia di tengah jalan, keadaan mereka itu bagaikan menanti ketika untuk menjadi matang, dari itu tidaklah sukar untuk mengumpulkan sejuta serdadu, guna keluar dari Hantiong dan menduduki Pasiok, setelah mengumpulkan tenaga dan rangsum lantas bergerak pula keluar dari Tongkwan guna merampas Holam, Ouwlam dan Ouwpak, kemudian maju lebih jauh ke utara untuk memastikan Tionggoan. Kemudian aku ingin menanam dasar di perbatasan SuCoan dan Siamsay. dan di seluruh pegunungan Cinnia yang luasnya delapan ratus lie. Di sana kita akan membuka tanah guna menyiapkan tentara yang besar dan kuat, untuk kemudian bergerak pula. Bagaimana pikirmu?"

Si Raksasi Kumala tertawa.

"Aku sendiri tidak bercita-cita besar untuk menjadi ratu!"

Sahutnya.

Setelah dapat cari anak buahnya, dengan begitu, bersama-sama mereka pimpin tentara itu.

San Ho perlakukan Nona Lian sebagai kakak sendiri, sekarang tahulah ia tabiatnya nona yang disohorkan galak itu, yang sebenarnya baik.

Ketika itu pergerakan tentara di SuCoan dan Siamsay kalut.

Lie Cu Seng yang berhasil mencapai pegunungan Cinnia dan Thio Hian Tiong telah terusir sampai di Ouwpak, kemudian ke Kanghoay.

Giok Lo Sat, bersama beberapa ratus serdadu wanitanya, sudah pergi ke selat Benggoat kiap di kota Konggoan sejauh tujuh puluh lie lebih, di situ ia mendirikan kubu-kubu untuk tinggal menetap.

Selat Benggoat kiap ini ada suatu tempat ternama di wilayah propinsi SuCoan.

Tidak ada jalan umum untuk mendaki gunung, maka itu, jalan yang dipakai adalah jalan kecil bekas penduduk setempat yang berliku-liku.

Di kaki gunung terdapat sungai Keekeng kang.

Letak Benggoat kiap itu bagus sekali, karena terjepit di antara dua gunung, akan tetapi, perhubungan dengan dunia luar seolah-olah terputus.

Tiga tahun lamanya, Giok Lo Sat berdiam di tempat yang baru ini, dan selama itu, tidak pernah mereka --ia dan Tiat San Ho --mendengar tentang Tiat Hui Liong.

Di samping itu, Giok Lo Sat dengar kabar angin bahwa Him Teng Pek telah dipekerjakan kembali oleh pemerintah, untuk bertugas pula di tapal batas, akan tetapi kepastiannya belum diperoleh.

San Ho juga tak pernah dengar sesuatu mengenal Gak Beng Kie, yang selalu memikirkannya, lain tidak.

Selang tiga tahun --itu waktu ada tahun Thian Kee ke -4 tahun kerajaannya kaisar Yu Kauw --tentara negeri di perbatasan SuCoan --Siamsay telah ditarik pulang, maka dengan begitu, suasana menjadi lebih tenang.

Akan tetapi, di musim pertama, deerah Konggoan kembali mengalami musim kering.

Sebenarnya Konggoan adalah daerah beras tapi kali ini panen gagal, ditambah pula tagihan pajak yang tinggi.

Maka itu, penduduk yang terdesak keluar kota karena bahaya kelaparan, bersedia untuk menyerbu ke dalam, guna menggedor beras.

Di antara mereka ini ada yang usulkan kerja sama dengan Giok Lo Sat.

Si Raksasi Kumala setujui niat itu, malah segera ia utus satu tauwbak memasuki kota dengan menyamar, guna menyelidiki keadaan.

Sampai malam baru tauwbak itu pulang.

Habis memberi laporan, dia berkata.

"Aku tampak suasana ramai tadi, katanya ada imam menyambut kemantin."

"Ngaco! Mustahil imam menikah!"

Kata Giok Lo Sat.

"Aku juga tahu, satu imam tidak mestinya menikah,"

Sahut tauwbak itu.

"Tetapi kelihatannya kabar itu benar..."

"Kalau benar, itulah aneh!"

Si nona tertawa.

"Menurut kata beberapa orang,"

Si tauwbak lanjutkan.

"tadi ada beberapa pasang imam menunggang kuda menuju ke barat, dalam tiap-tiap setengah jam. Aku sendiri cuma lihat satu pasang. Mereka itu mengenakan jubah merah, seperti hendak mengadakan upacara. Orang-orang katakan, pasangan imam yang pertama membawa satu bungkusan merah, yang diangkat tinggi melewati kepalanya. Keadaan itu mirip dengan pihak kemantin lelaki mengantar panjar. Malah warna kuda itu, setiap pasangnya sama. Yang kurang hanya tukang musik."

Tiba-tiba kedua matanya Giok Lo Sat berputar, mendadakan ia ingat sesuatu.

"Ah, hari berjalan cepat, tiga tahun telah lewat!"

Katanya seorang diri, hingga tauwbaknya heran. Ia menghela napas.

"Apa kau kata, enCie?"

Tanya San Ho. Si Raksasi Kumala bersenyum.

"Tidak apa-apa,"

Sahutnya.

"Bukankah CeeCu anggap itu bukannya imam yang menikah?"

Kata si tauwbak kemudian.

"Turut katanya orang, di samping imam-imam ada juga orang-orang biasa, kalau si toosu kebanyakan sudah berusia lanjut, tapi orang-orang biasa masih muda dan gagah romannya, pakaiannyapun serba merah, wajahnya semua keren, tidak ada yang bersenyum..."

Mendengar keterangan itu. Giok Lo Sat tertawa.

"Itulah bukannya imam-imam akan menikah atau memapak kemantin,"

Katanya.

"Mereka adalah kaum Butong pay yang sedang berupacara untuk menyambut ketua mereka. Butong pay adalah yang paling taat kepada aturan-aturannya. Ketika dulu mereka pergi ke rumah adik San Ho, untuk mencari ketua mereka, mereka juga berpasang-pasangan."

San Ho agaknya terkejut.

"Kalau begitu, pasti It Hang, bakal pergi ke gunungnya untuk menerima hukuman..."

Katanya.

"Beberapa paman gurunya It Hang ada sangat menjemukan, lebih-lebih Pek Sek Toojin. EnCie, mereka itu memapak, mari kita merampasnya!"

"Cis! Kau ngaco!..."

Bentak si nona Lian.

"Bukankah enCie yang bilang, siapa enCie suka, enCie akan rampas?"

San Ho tegaskan.

"kenapa sekarang enCie main malu-malu kucing?"

"Hei, bocah, kau busuk! Apa kau sangka aku tak tahu hatimu?"

Kata Giok Lo Sat.

"To It Hang bersahabat kekal dengan Gak Beng Kie, sekarang kau ingin dengar dari mulutnya It Hang tentang Beng Kie itu!"

Merah mukanya Nona Tiat, yang rahasia hatinya dibuka. Ia angkat tangannya, hendak memukul nona kawannya itu. Si Raksasi Kumala tertawa.

"Tetapi, bila kita hendak merampasnya, kita harus menanti dulu sampai sudah lewat satu bulan,"

Kata Giok Lo Sat.

"Sekarang kemantin pun belum lagi disambut..."

"Muka tebal!"

Mencaci San Ho seraya menuding muka orang.

Tapi Giok Lo Sat lawan ia dengan tertawa.

Lewat lagi beberapa hari, pihak camat (tiekwan) jadi repot dan bingung.

Penduduk yang kelaparan mulai menerbitkan kekacauan.

Camat mesti buka gudang untuk menolong, tapi di lain pihak dia pun kirim utusan ke ibukota propinsi, untuk minta bantuan tentaranya guna melindungi ketenteraman.

Gudang negara tak padat isinya, rakyat yang kelaparan itu cuma bisa ditolong dua mangkok satu hari, juga dengan bubur encer.

Syukur rakyat itu sabar dan menerima nasib, dua mangkok bubur pun cukup...

Tiekoan sudah menggunakan siasat, ia bekerja diam-diam dengan sejumlah hartawan, untuk merangsum bubur itu.

Ia tahu, tenaga tentaranya tidak cukup, ia ambil sikap lunak.

Sebenarnya ia telah pikir, begitu lekas tentara negeri tiba dari ibukota propinsi, tidak nanti ia suka membagi bubur lagi.

Benar saja, ketika tiba bala bantuan, ia bersikap keras dengan memperlihatkan tangan besi.

Beberapa penduduk yang paling rewel dibekuk, mereka lantas dihukum mati.

Penduduk yang kelaparan itu menjadi kacau, mereka gusar tanpa berdaya.

Maka kembali mereka pergi pada Giok Lo Sat, guna mohon bantuan, buat bekerja sama merampas rangsum negara...

Si Raksasi Kumala ketahui, jumlah tentara negeri cuma dua ribu jiwa, maka ia suka berikan bantuannya, malah lantas iajanjikan saatnya untuk turun tangan.

Justeru pada hari itu tibalah utusan kaum Butong pay, yang kembali dari Siamsay habis memapak ketua mereka.

Mereka tiba di Konggoan.

Sebenarnya It Hang tidak sudi menjadi ketua, atau Ciangbujin, dari kaumnya itu, akan tetapi janjinya tiga tahun berkabung telah sampai, ia tidak mempunyai alasan lagi untuk menolak.

Pihak pemapak, yang diutus oleh Uy Yap Toojin, terdiri dari dua belas murid kepala, yang dipimpin oleh Ang In Toojin dan Pek Sek Toojin, dua di antara Butong Ngoloo.

Maka itu berangkatlah It Hang dengan ambil jalan ke propinsi SuCoan, kemudian masuk ke propinsi Ouwpak, untuk puiang ke Butong san.

Ketika itu hari mereka sampai di Konggoan, kota sedang berjaga-jaga, disebabkan huru-hara rakyat penderita lapar.

It Hang menghela napas.

"Di luar ada musuh asing dan di dalam ada rakyat terlantar, kelihatannya kerajaan Beng sudah tak aman lagi..."

Pikir dia.

Butong pay mempunyai murid di pelbagai tempat, demikian pula di dalam kota Konggoan, dan satu muridnya berkedudukan di kuil Cenghie koan, maka setelah memasuki kota, Pek Sek Toojin pimpin rombongannya ke kuil tersebut.

It Hang tidak tahu bahwa Giok Lo Sat berada di sekitar kota Konggoan.

Pada suatu malam selagi rembulan agak guram, dan ia tak dapat tidur, tiba-tiba ia dengar satu ketokan perlahan pada jendela.

Ia menyangka Pek Sek Toojin.

Tanpa bilang suatu apa, ia pentang jendelanya.

Tapi begitu daun jendela terbuka, satu bayangan hitam melompat masuk, hingga ia terperanjat, terlebih lagi ketika ia kenali Gak Beng Kie dengan bajunya robek dan berlumuran darah.

"Jangan berisik, saudara To!"

Kata orang she Gak itu separuh berbisik.

"Kau kenapa?"

Tanya It Hang. Beng Kie tidak menyahuti, ia hanya tiup api hingga padam.

"It Hang, apakah kau belum tidur?"

Demikian pertanyaan Pek Sek Toojin dari kamar sebelah.

Belum sampai ia menyahut, Beng Kie sudah memberikan tanda dengan menggelengkan kepala dan tangannya menunjuk, lalu tangan itu digoyang-goyangkan, maksudnya supaya orang she To ini tak memberitahukan hal adanya ia di situ.

Maka It Hang jawab saja.

"Aku sudah tidur tapi sekarang aku terjaga untuk minum teh. Baiklah susiok pun tidur."

Terus ia bisiki sahabatnya.

"Ini paman guruku sangat menyebalkan..."

Dengan berindap, Beng Kie bertindak ke pembaringan, sesudah membuka sepatunya, ia naik, untuk rebahkan diri, dengan begitu, berdua mereka dapat rebah berendeng dan sambil rebah-rebahan, pemuda she Gak itu tuturkan pengalamannya yang hebat.

Setelah Him Teng Pek letakan jabatannya kengliak di Liauwtong, penggantinya adalah Wan Eng Tay, yang bukan seorang ahli peperangan.

Maka ketika angkatan perang BoanCiu maju di bawah pimpinan NuerhaCa --pasukan mana bergerak berbareng di darat dan air, --dalam satu gebrakan Simyang kena dirampas dan lalu Liauwyang terjatuh.

Dua punggawanya Eng Tay terbinasa oleh bala tentara BoanC iu.

Mereka adalah Hoo Sie Hian dan Yu Sie Kong, yang binasa di bawah hujan anak panah.

Eng Tay sendiri, yang pegang pimpinan dari lauwteng tembok kota di atas kota Liauwyang bagian timur utara, setelah jatuhnya kota, mati dengan membakar diri.

Ketika itu bangsa BoanCiu masih disebut bangsa Kim, bangsa itu belum membangun Tay Ceng -kerajaan Ceng yang besar.

Maka juga NuerhaCa masih sebut dirinya "Khan yang besar" (Tay Khan).

Dengan kekalahan itu, delapan sampai sembilan bagian dari sepuluh bagian tentara Beng terbinasa dan terluka, dan daerah Liauwhoo ke timurnya, semua habis diduduki musuh.

Sama sekali telah hilang lebih daripada lima puluh kubu-kubu benteng dan tujuh puluh lebih kota kecil.

Kerajaan Beng tergetar karena kekalahan itu, sampai kaisar Yu Kauw ingat akan pesan almarhum .

ayahandanya, maka segera ia pecat semua menterinya yang dulu memusuhi Him Teng Pek, terus dia kirim utusan istimewa ke Kanghee, Ouwpak, guna mengundang kembali Him Kengliak, untuk diangkat menjadi penanggung jawab di Liauwtong.

Hanya, walaupun Teng Pek telah dapatkan Sianghong Pookiamnya, pedang kebesarannya, tapi kekuasaan yang berarti tidak lagi ada di tangannya seperti dahulu.

Menurut aturan kerajaan Beng, wilayah Liauwtong dipecah menjadi tiga jawatan.

Yang pertama ialah Kongleng Sunbu, penguasa di Kongleng, yang tentaranya terdiri dari tentara darat.

Yang dua lagi, semuanya pasukan air, adalah ThianCin Sunbu dan Honglay Sunbu.

Kedudukan Him Kengliak, yang di tengah, adalah kota Sanhaykwan.

Dari tempat kedudukannya ini, Him Kengliak mengatur rencana pembelaannya, yang kemudian tersohor sebagai "Rencana Tiga Jurusan"

Dalam peperangan kerajaan Beng melawan bangsa Boan. It Hang mengerti taktik perang, mendengar rencananya Him Kengliak itu ia berkata pada Beng Kie.

"Kengliak memang ada satu panglima pandai, dengan rencananya ini, untuk menyerang dan membela diri, dia tentu tidak bakal gagal."

Tetapi rencana merupakan barang mati dan manusia adalah makhluk hidup,"

Kata Beng Kie.

"Rencana membutuhkan tentara, yang dapat diperintah-perintah. Rencana juga memerlukan perwira-perwira yang mendengar titah. Tanpa ada kerja sama di ketiga pihak, rencana hanyalah sehelai kertas saja."

"Him Kengliak pandai mengambil putusan, apa masih ada perwira yang tidak taat kepadanya?"

Beng Kie menghela napas.

"Ketika dahulu Perdana Menteri Pui Ciong Tiat dipecat, dia digantikan Yap Siang Kho,"

Katanya dengan perlahan.

"Dia ini ada sebangsa Gui Tiong Hian. Di antara tiga sunbu sebawahannya Him Kengliak, Sunbu Ong Hoa Ceng di Kongleng adalah yang mempunyai pasukan paling kuat, tetapi dia justeru muridnya Yap Siang Kho, dia tidak suka dengar titahnya Kengliak, ketika Kengliak hendak pusatkan tentara di Kongleng, dia justeru hendak memencarkannya. Bekas pasukan Kengliak, yang berada di bawah pimpinan Wan Eng Tay, setelah dua kali peperangan di Liauwyang dan Simyang, telah menjadi korban hampir semua serdadu, maka itu sekarang, ia cuma dapat kumpulkan beberapa ribu jiwa serdadu suka rela saja, di pihak lain, pasukannya Ong Hoa Ceng terdiri dari belasan laksajiwa. Walaupun ia seorang Kengliak dan memegang pedang kekuasaan Sianghong Pookiam, iajauh kalah kuat daripada Ong Hoa Ceng. Untuk memusatkan tentara itu, keduanya, Kengliak dan Ong Hoa Ceng pernah menyampaikan soal kepada pemerintah agung, akan tetapi Yap Siang Kho membelai Ong Hoa Ceng. Yang hebat adalah putusannya, bahwa Ong Hoa Ceng tak usah jatuh di bawah kekuasaannya Kengliak."

"Jikalau demikian adanya, pasti keadaan di Liauwtong ada sulit,"

Kata It Hang.

"Saudara, kenapa kau tidak mendampingi Kengliak, malah kau meninggalkannya dan pulang seorang diri?"

Pertanyaan ini sampai sekian lama tidak dijawabnya, ketika ia pandang sahabatnya itu, tampak air matanya berlinanglinang hingga ia jadi sangat heran.

"Eh, kenapakah kau?"

Dia tanya. Beng Kie menahan kesedihannya.

"Mari dengar keteranganku,"

Sahutnya kemudian.

"Meski benar Him Kengliak setibanya di Liauwtong tidak mempunyai pasukan serdadu, tetapi dua kali ia pernah menangkan pertempuran. Yang mendongkolkan adalah Ong Hoa Ceng, sudah ia tak tahu siasat perang, dia juga memandang enteng kepada musuh. Pihak BoanCiu dapat tahu, Kengliak dan Hoa Ceng tidak cocok satu pada lain, dia sudah bawa angkatan perangnya menyeberangi sungai Liauwhoo. Ong Hoa Ceng telah pencarkan pasukannya, dalam pertempuran semua pasukannya itu kena terhajar musuh, kerusakannya lebih hebat daripada kekalahannya di Liauwyang dan Simyang baru-baru ini. Dia telah runtuh. Syukur, dengan lima ribu serdadunya, Him kengliak dapat lindungi dia hingga dia bisa pulang ke kota. Karena kekalahan ini, daerah Liauwhoo barat telah jatuh ke tangan musuh, begitupun kota Kongleng. Berdua Ong Hoa Ceng, Kengliak pulang ke Koanlwe, keduanya ditangkap pemerintah, tetapi Gui Tiong Hian dan Yap Siang Kho, yang bersekutu sama konco-konconya, telah menuduh dan mendakwa Kengliak. Yu Kauw tidak tahu apa-apa, ia menduga karena Kengliak kalah perang, lantas Kengliak dipersalahkan."

It Hang terkejut.

"Bagaimana kesudahannya,"

Tanya dia.

"Kasihan Kengliak, karena fitnahan dia telah binasa secara kecewa..."

Sahut Beng Kie. Hampir It Hang menjerit, syukur sahabatnya keburu bekap mulutnya. Maka itu, ia hanya menangis saja, air matanya bercucuran.

"Kengliak menutup mata dalam musim dingin,"

Beng Kie melanjutkan keterangannya.

"Kaisar Yu Kauw sangat kejam, menurut cerita Yap Siang Kho, kekalahan di Liauwtong itu dipersalahkan semuanya kepada Kengliak, maka Kengliak telah dihukum mati, ia dihukum picis! Sebaliknya Ong Hoa Ceng mendapat hukuman enteng sekali, dia hanya dipecat..."

Mendengar itu, It Hang menangis tersedu-sedu.

"It Hang, kenapa kau masih belum tidur?"

Tegur pula Pek Sek Toojin dari kamar sebelah. It Hang berpura-pura mimpi, ia bergulingan, ia tendang pembaringan.

"Ah, aku mimpi melihat suhu!..."

Sahutnya.

"Jangan kau pikir yang tidak-tidak,"

Pek Sek kata.

"Besok kita harus melanjutkan perjalanan."

"Ya,"

Sahut It Hang, lalu ia berbisik pada Beng Kie.

"Jangan kau pedulikan dia. Hayo kau bercerita terus. Kau liehay sekali, kenapa kau terluka?"

"Setelah Kengliak mati, Gui Tiong Hian kirim orang untuk menawan aku,"

Beng Kie lanjutkan.

"Hatiku sudah dingin, aku ingin menyingkir ke Thiansan. Kemarin di tengah jalan, aku ketemu rombongannya Bouwyong Ciong, hingga kita mesti bertempur hebat. Aku berhasil membinasakan empat musuh pahlawan-pahlawan Kimiewie, setelah itu, aku loloskan diri. Bouwyong Ciong benar-benar liehay, ia kejar terus padaku sampai di Konggoan. Aku gunakan saat gelap dari sang malam ini, untuk datang kemari. Apakah paman gurumu sambut kau untuk diangkat menjadi ketua?"

"Ya. Mereka menggembar-gemborkan, hingga semua orang tahu. Aku merasa tak enak."

Beng Kie rogoh sakunya, dari mana ia keluarkan se

Jilid kitab, la serahkan itu pada sahabatnya.

"Tolong kau simpan buku ini,"

Katanya.

"Apabila kau bertemu satu panglima pandai sebagai Him Kengliak, berikan kitab ini padanya. Aku kuatir, selanjutnya tak akan ada lagi orang semacam panglima pandai itu..."

"Buku apakah ini?"

Tanya It Hang.

"Selama tiga tahun Kengliak berdiam di rumahnya, ia gunakan kesempatan ini untuk mengarang kitab, yang diberi nama Liauwtong Toan, kisah dari Liauwtong. Di sini ia catat pelbagai siasat perang, tentang musuh kosong atau berisi, kuat atau lemah, cara bagaimana harus melayaninya. Kitab ini ditujukan terutama untuk menghadapi Bangsa Boan. Gui Tiong Hian mencoba menawan aku, mungkin disebabkan kitab ini yang dia ingin punyakan. Kau adalah ketua dari Butong pay, paling selamat apabila kaulah yang menyimpannya."

It Hang masukkan kitab itu ke dalam sakunya. Justeru itu di luar terdengar suara, yang kemudian disusul dengan suara toasuheng-nya Gie Sin Seng.

"Susiok, di luar ada orang datang mencari!"

It Hang lantas pasang kupingnya. Segera terdengar tindakan kaki dari Pek Sek Toojin.

"Aku hendak pergi sekarang,"

Kata Beng Kie.

"Mungkin itu ada pengejarku."

"Kita harus bekerja sama,"

It Hang kata.

"Kalau itu benar pengejarmu, lebih baik kau jangan menyingkir seorang diri."

Itu waktu Pek Sek Toojin sudah membuka pintu kuil, di luar kelihatan Bouwyong Ciong bersama Kim Tok Ek, paman dan keponakan, dan di belakang mereka ada serombongan orang, mungkin beberapa puluh jiwa banyaknya.

Maka imam itu terperanjat.

"Selamat bertemu, selamat bertemu!"

Kata Bouwyong Ciong sambil tertawa.

"Dulu kita telah bentrok satu pada lain, tapi itu ada urusan kecil dan kau terlibat karena keliru mengerti, maka sekarang, urusan telah selesai sendirinya, tak usah kita menyebut pula. Hanya malam ini di dalam kuilmu bersembunyi pemburon yang dicari pemerintah agung dan ini bukannya urusan kecil lagi, apabila kau anggap dirimu putih bersih, silakan kamu serahkan pemburon itu kepada kami."

Pek Sek menjadi heran.

"Pemburon apa?"

Tanya dia.

"Dialah Gak Beng Kie si bocah!"

Bouwyong Ciong beritahu. Pek Sek menjadi gusar dengan tiba-tiba.

"Mungkinkah aku melindungi bocah itu?"

Katanya.

"Kalau demikian pikiranmu, ini baik,"

Kata Bouwyong Ciong.

"Sekarang tak usah kami menerjang masuk ke dalam kuil, untuk menangkapnya, kau saja yang belenggu dia dan membawanya keluar!"

"Sepanjang malam aku berdiam di dalam kuil, tidak pernah aku melintas keluar, apabila benar dia datang kemari, mustahil aku tidak tahu?"

Kata imam ini.

"Di dalam kuil ini, semuanya orang-orang kami kaum Butong pay! Di mana ada Gak Beng Kie di antara kami?"

"Pek Sek Toojin, bukannya aku pandang enteng pada kau,"

Berkata Kim Tok Ek.

"tetapi harus kau insaf halnya seorang yang berkepandaian tinggi. Gak Beng Kie itu bersahabat sangat erat dengan Ciangbunjin mu!"

Pek Sek beradat tinggi tidak dapat ia terima kata-kata seperti itu, saking mendongkolnya, wajahnya menjadi merah.

"Baik, kamu boleh masuk dan memeriksanya!"

Ia berteriak.

"Jikalau kamu tidak dapatkan bocah itu, kamu mesti paykui tiga kali terhadapku!"

Dan ia pentangkan kedua daun pintu.

Tanpa berayal lagi, Bouwyong Ciong beramai menerobos masuk.

Semua orang Butong pay' menjadi terkejut, sampai Ang In Toojin pun keluar dari kamarnya.

Bouwyong Ciong atur orang-orangnya, untuk menjaga di dalam dan di luar, setelah selesai dia bertanya.

"Mana kamarnya ketua kamu?"

Pek Sek melirik kepada pihaknya, ia lihat semua dua belas murid Butong ada, melainkan To It Hang yang tidak nampak.

Ia j adi ragu-ragu.

Tapi ia memikir, It Hang ambil kamar di sebelah kamarnya, mustahil ia tidak tahu andaikata ada orang masuk ke kamarnya ketua itu.

"Nanti aku ajak kamu pergi ke kamarnya,"

Katanya.

"Ingat, kamu harus menghormati undang-undang kaum Rimba Persilatan."

Bouwyong Ciong tertawa.

"Itulah pasti!"

Sahutnya.

"Mustahil kami berani berlaku tak hormat terhadap ketua kamu?"

Pek Sek ajak orang ke kamarnya It Hang. Ia lantas mengetok pintu.

"It Hang, buka pintu!"

Ia memanggil. Suara jawaban datangnya lambat sekali, dibarengi dengan dibukanya pintu.

"Ya,"

Demikian jawaban itu, lalu It Hang berdiri dengan tenang di ambang pintu kamarnya.

"Perlu apa kamu datang kemari?"

Ia tanya.

Kim Tok Ek bertindak masuk ke dalam kamar, matanya celingukan.

Di situ tak nampak Gak Beng Kie.

Kim Cian Giam penasaran, ia singkap kelambu, terus berjongkok, akan melongok ke kolong pembaringan.

Dia juga tak lihat satu bayangan manusia.

Menampak demikian, It Hang berseru.

"Butong pay termasuk kepala dari kaum Persilatan, dapatkah dia membiarkan orang berlaku kurang ajar terhadapnya?"

Inilah hasutan untuk semua saudara seperguruannya dan pamannya. Pek Sek girang atas sikapnya ketua yang muda ini, di dalam hatinya, ia berkata.

"Bocah ini tidak kecewa, dia dapat bawa diri sebagai ketua! Aku mesti tunjang padanya..."

Maka berkatalah ia dengan membentak.

"Kim Laokoay! Jikalau kau tidak menghaturkan maaf terhadap ketua kami ini, jangan kau pikir untuk dapat keluar dari pintu kuil ini!"

Kim Tok Ek tertawa dingin. Ia ingin mencoba Pek Sek Toojin, tapi Bouwyong Ciong tarik kawannya itu.

"Kamar yang sebelah ini kamar siapa?"

Tiba-tiba dia tanya. Pek Sek memperlihatkan roman murka.

"Itulah kamarku!"

Jawabnya dengan bengis. Bouwyong Ciong tertawa.

"Apakah kau tidak hendak undang kami duduk-duduk?"

Dia kata dengan licin.

"Di dalam kamarmu masih belum terlambat untuk menghaturkan maaf. Saudara To itu adalah ketuamu tetapi dia toh tetap ada sebawahan kau, maka itu, untuk menghaturkan maaf seharusnya itu dihaturkan kepadamu!..."

Kata-kata itu dikeluarkannya secara menyindir. Pek Sek menjadi gusar sekali, hingga ia tersentak bangun dan lompat menuju pintu kamarnya, yang terus saja dipentangnya.

"Mari!"

Serunya, menantang.

Baru saja ia hendak mengucapkan kata "lihat", tiba-tiba ia menjadi kaget, ketika ia pentangkan kelambu, tampaklah Beng Kie di atas pembaringan duduk seorang diri, sikapnya tenang sekali...

Itulah hasil permupakatan di antara It Hang dan si anak muda she Gak, untuk membuat Pek Sek Toojin terlibat dalam urusan Beng Kie.

la masuk ke kamar si imam di waktu imam itu keluar.

Kim Tok Ek tertawa gelak-gelak, agaknya ia puas, terus ia mengejek.

Bouwyong Ciong sebaliknya sangat gusar, ia lompat ke dalam, sebelah tangannya terus melayang ke arah muka orang she Gak.

Menampak datangnya serangan, Beng Kie mendahului lompat turun, sambil menghunus pedangnya, untuk menabas lengan si penyerang.

Maka dalam sekejap saja, mereka berdua sudah bertempur.

Pertempuran segera menjadi hebat, hingga meja terbalik, pembaringan tersungkar, kamarnya Pek Sek Toojin menjadi sangat kalut.

Pek Sek Toojin berdiri tercengang, melihat kejadian itu hingga ia tak dapat lantas membuka mulutnya.

Justeru itu, Kim Tok Ek ulur tangannya, hendak membekuk Beng Kie.

Akan tetapi It Hang menghunus pedangnya untuk merintangi serangan itu.

"Susiok, merekalah yang lebih dahulu berlaku tak tahu adat!"

Seru ketua muda itu.

"Saudara Gak ini adalah sahabat kami kaum Butong pay, tidak dapat dia dibiarkan ditangkap oleh sembarang orang!"

"Butong pay tinggal Butong pay, habis kau mau apa?"

Kim Tok Ek menantang.

"Kamu melindungi penjahat yang dicari kaisar, kedosaanmu ini tak dapat kamu tutupi lagi!"

"Susiok, jangan dengarkan ocehannya!"

It Hang berseru pula.

"Mereka itu menggunakan Firman palsu, untuk melampiaskan sakit hati sendiri!"

Pek Sek Toojin belum tahu halnya Him Teng Pek telah terbinasa, tetapi ia masih ingat urusan panglima itu, yang dulu hendak dibikin celaka dengan firman palsu, sedang Gak Beng Kie adalah pembantu penting dari Teng Pek itu, maka masuk diakallah kalau sekarang, si anak muda juga hendak disingkirkan.

Teringat ini, ia menjadi berani.

Pikirnya.

"Bila Gak Beng Kie bukan pemburon raja, tetapi urusan perseorangan, siapa juga dapat bantu padanya... Aku tidak suka akan bocah ini, akan tetapi aku mesti bela kehormatannya Butong pay..."

Ketika imam ini memikir demikian, ia lihat It Hang terdesak Kim Tok Ek, yang tangannya liehay tidak jeri melawan pedangnya pemuda she To itu, maka tidak bersangsi lagi, ia cabut pedangnya dan ceburkan diri dalam pertempuran.

"Berontak! Berontak!"

Kim Tok Ek berseru berulang-ulang.

"Kamu adalah kurcaci kaum Rimba Persilatan, siapa juga dapat singkirkan kau!"

Bentak Pek Sek.

"Kau rasakan pedangku ini!"

Paman guru dari It Hang ini lantas menyerang hebat dengan Citcapjie Ciu Lianhoan Toatbeng kiam, atau ilmu pedang "Perampas Jiwa"

Yang mempunyai runtunan jurusan sampai ke tujuh puluh dua.

Gak Beng Kie terus layani Bouwyong Ciong, dari dalam kamar, mereka bertempur sampai di luar.

Pertempuran kalut itu menyebabkan Ang In Toojin bersama dua belas murid kepala dari Butong pay terpaksa turun tangan, hingga mereka jadi bentrok dengan rombongan pahlawan istana yang dibawa orang she Bouwyong itu.

Bukan main keruh dan berisiknya suasana itu.

Gak Beng Kie dan Bouwyong Ciong merupakan satu tandingan yang setimpal.

yang satu ahli silat tangan kosong (kepalan), yang lain ahli pedang.

Sebegitu jauh nampaknya mereka berimbang sekali.

Di lain rombongan sebenarnya, Pek Sek bukanlah tandingan dari Kim Tok Ek, akan tetapi ia sanggup melawannya.

Inilah disebabkan pada tiga tahun yang lampau, orang she Kim itu pernah diputuskan tulang pipanya oleh Giok Lo Sat, benar Anghoa Kuibo telah menolongnya, dengan obatnya yang manjur sekali, tetapi pengobatan itu meminta tempo lama, meski sekarang tulangnya telah sembuh, toh selama tiga tahun, Tok Ek tak pernah berlatih sebagai dulu lagi, maka itu ia jadi sangat mundur.

Demikian, keduanya pun jadi berimbang.

Adalah di pihak rombongan pahlawan istana, mereka tak sanggup pertahankan diri dari serangannyaAn In Toojin serta dua belas murid kepalanya, terpaksa mereka itu mundur sampai di suatu pojok.

Bouwyong Ciong yang liehay dapat melihat pihaknya keteter, segera ia perdengarkan seruannya yang nyaring dan panjang, atas mana semua pahlawan yang di tempatkan di luar segera menyerbu masuk, untuk membantui kawankawannya.

Dengan begitu, pihak Ang In dan pahlawan ini pun jadi sama tangguhnya.

Selagi pertarungan berjalan sangat serunya, tiba-tiba terdengar teriakan dari beberapa pahlawan istana yang berada di dekat pintu pekarangan.

Mereka berteriak-teriak.

"Kebakaran di dalam kota!"

Bouwyong Ciong semua menjadi terperanjat.

Pasti sekali mereka tak tahu, tempat mana yang terbakar dan apa sebabnya.

Sedang perbuatan itu sebenarnya adalah perbuatannya Giok Lo Sat dan Tiat San Ho dengan beberapa serdadu wanitanya bersama-sama dengan rakyat jelata yang dalam kesukaran.

Mereka menggunakan ketika ini dengan melepaskan api, membakar kantor camat, setelah merampas alat senjata, mereka bentrok dengan tentara di dalam kota.

Celaka bagi pihak tentara karenajumlahnya sampai jadi ribuan jiwa.

Biasanya rakyat jelata itu tidak berani melawan pembesar negeri atau tentara, biasanya mereka terima ditindih, mereka menahan sengsara, mati kelaparan pun tak apa, tetapi sekarang ada orang yang pimpin mereka, mereka menjadi nekat.

Mereka pikir, nekat mati, tidak nekat pun mati juga.

maka lebih baik nekat, mungkin ada hasilnya...

Demikian, dalam jumlah ribuan, atau belasan ribu, rakyat jelata itu baaikan gelombang dahsyat menggempur gili-gili sungai, dengan berani mereka serang tentara negeri.

Giok Lo Sat sendiri maju mencari si punggawa perang, begitu bertemu, dia lantas bekuk dan lemparkan orang itu ke dalam api berkobar!

Maka dalam sekejap saja, barisan serdadu yang kehilangan pemimpin itu menjadi kacau.

Giok Lo Sat pegang pimpinan sampai ia dapatkan banyak serdadu roboh sebagai korban luka atau binasa dan sisanya menyerah, lalu ia serahkan rakyat melarat itu kepada Tiat San Ho, ia sendiri terus lari ke arah kuil Cenghie koan.

Itu waktu sudah lewat tengah malam.

Di kuil, Bouwyong Ciong dan Kim Tok Ek hanya terperanjat dan berkuatir, mereka tidak ambil tindakan, sampai Kim Cian Giam serukan mereka.

"Mari kita bekuk si pemberontak, jangan kita pedulikan pihak Butong pay!"

Itulah tipu daya memecah lawan, mereka hendak meluruk kepada Gak Beng Kie.

Orang-orang Butong pay telah dibikin murka, tentu sekali tak suka mereka beri kesempatan kepada orang mengepung si orang she Gak, maka itu, mereka rintangi serbuan rombongan pahlawan itu, hingga tetap mereka bertempur secara kalut.

Selama itu, mereka bisa saksikan api di dalam kota berkobar makin besar.

Rim Cian Giam penasaran, ia tinggalkan Pek Sek Toojin, ia menerjang ke arah Gak Beng Kie, akan tetapi gerakannya itu dapat dilihat oleh To It Hang, yang segera merintanginya.

Secara hebat Beng Kie serang Bouwyong Ciong.

Ia telah gunakan ilmu silat Thiansan kiamhoat jurus "Ieseng tektauw"

Atau "Pindahkan bintang --menggeser bintang", guna menusuk kedua mata dan menikam tenggorokan berturut-turut.

Itulah ilmu pedang kaum Thiansan yang hebat.

Mau tidak mau, Bouwyong Ciong kena terdesak, maka ketika itu digunakan pemuda she Gak ini untuk lompat keluar kalangan.

"Saudara Gak, pergilah duluan!"

Seru It Hang.

Kim Cian Giam lompat, untuk pegat Beng Kie, tetapi pemuda itu tidak lari, walaupun tangan orang itu liehay.

Dengan gunakan sarung tangannya yang istimewa, ia menangkis dengan tangan kanan dan tangan kirinya dipSEaTmenggempur, hingga tanpa ampun, pencegat itu limbung terhuyung tubuhnya.

To It Hang juga tidak diam sambil mendek diri ia mendesak, ujung pedangnya menyambar tangannya Kim Tok Ek, hingga tangannya jago itu terluka.

Dan ketika yang baik ini digunakan Beng Kie untuk noblos keluar, terus lompat naik ke atas genteng dan menghilang...

Bukan kepalang murkanya Kim TokEk.

"To It Hang adalah konco penjahat!"

Dia berteriak.

"Penjahat tak dapat dibekuk, bekuk dia saja!"

Dan segera dia maju menyerang, dengan mainkan kedua tangannya dia mendesak.

It Hang menjadi repot Pek Sek Toojin tidak bisa membantui ketuanya yang muda itu, karena ia dirintangi Bouwyong Ciong.

Ia pun menghadapi suasana genting.

Di antara murid-murid Butong pay yang bisa noblos, untuk berikan pertolongan kepada ketuanya, akan kepung Kim Tok Ek, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak, mereka pun dapat didesak jago she Kim itu.

Akhir-akhirnya pedangnya It Hang kena ditendang Tok Ek, sampai terlepas dari cekatannya dan terpental.

"Ha-ha-ha-ha!"

Tok Ek tertawa, sambil mengulurkan tangannya untuk menjambak jantung orang.

Belum sampat tertawanya orang she Kim ini berhenti, satu suara tertawa lain yang halus tetapi nyaring mendengung di antara mereka yang sedang mengadu kepandaian.

Suara tertawa inipun tajam didengarnya oleh Tok Ek, seperti menusuknya jarum, hingga ia kaget tak terkira.

Dengan sendirinya, cengkeramannya menjadi ayal...

It Hang berkelit dari jambakan hebat itu, yang bisa membuat jantungnya terbetot keluar, iapun kaget berbareng girang.

Ia kenal akan suara tertawa itu.

Apabila ia berpaling ke arah dari mana suara itu datang, ia tampak Giok Lo Sat melayang turun dari atas payon kuil, tubuhnya bagaikan tubuh burung walet entengnya.

Kim Tok Ek kaget tidak kepalang.

Pada tiga tahun yang lalu, ia telah dikalahkan si nona, apapula sekarang, sesudah ilmu silatnya mundur sangat jauh.

Giok Lo Sat tertawa gelak-gelak apabila ia tampak orang she Kim itu.

"Ha, sungguh baik isterimu yang berhati kumala itu!"

Menggoda si nona.

"Kembali kau diijinkan keluar mengembara! Apakah tulang pipamu telah sembuh?"

Tok Ek sangat berkuatir.

Ia bukan dimerdekakan isterinya, ia hanya berlalu dari isterinya secara diam-diam.

Sekarang Giok Lo Sat sebut isterinya, maka ia ingat akan perbuatannya dan menjadi gelisah.

Teringatlah ia kepada kata-kata isterinya, yaitu apabila ia tidak bisa kendalikan diri dan keluar merantau pula, hidup atau mati tidak akan dipedulikan pula oleh isterinya.

Maka, karena jerinya, ia tinggalkan It Hang dan lari kabur dari pintu kuil.

Giok Lo Sat tertawa dan sambil menggerakkan kaki dan tangannya, ia terjang rombongan pahlawan itu.

Sebentar saja ia telah robohkan beberapa pahlawan, hingga terbukalah jalan untuk ia maju ke arah Kim Tok Ek, yang ia kejar dengan segera.

Benar-benar luar biasa gesitnya, baru Tok Ek molos di pintu besar atau tubuhnya nona ini sudah melesat dan pedangnya ditikamkan ke depan.

"Aduh!"

Demikian jeritan Tok Ek, yang kakinya kena tertikam, dan bagaikan sebuah holouw, atau cupu-cupu, tubuhnya roboh terguling!

Bouwyong Ciong tampak robohnya kawannya itu, ia jadi sangat gusar.

Ia lompat meninggalkan Pek Sek Toojin, dengan mengulurkan sebelah tangannya ia gempur bebokongnya si nona.

Hebat serangannya ini.

Giok Lo Sat lihat datangnya serangan itu, dengan lincahnya ia berkelit.

Tapi ia tidak menyingkir jauh.

Dengan mundur setindak, ia lantas menjejak tanah dengan kakinya yang dimundurkan itu, kaki yang lain dientengkan, dipakai membantu, lantas tubuhnya mencelat tinggi melewati kepala lain lawan, berbareng mana iapun menikam dengan pedangnya.

Maka tidak ampun lagi, robohlah pahlawan yang ia serang itu menimpa kawannya yang berkelahi di dekatnya.

Setiap serangannya Giok Lo Sat adalah jalan darah, maka itu setiap korbannya roboh dengan bergulingan karena sakitnya luka itu.

Ia tidak hiraukan lagi mereka yang roboh, ia hanya serang yang lain-lain, yang masih berani mengepung padanya.

Cepat sekali ia merobohkan dua atau tiga belas pahlawan, hingga pahlawan-pahlawan lainnya menjadi jeri.

Begitu ia bebas dari desakan dan sebelum Bouwyong Ciong sempat datang dekat padanya, Giok Lo Sat menghampiri Pek Sek Toojin, di samping siapa ia lewat sambil tertawa!

"Janji adu pedang tiga tahun yang lampau itu masihkah dianggap sah?"

Tanyanya.

Imam itu membungkam, mukanya meringis, sebab tak dapat ia menangis atau tertawa.

Giok Lo Sat masih terus beraksi, ia dapat lukai lagi dua pahlawan yang tetap masih mengepung imam dari Butong pay itu.

Bouwyong Ciong jadi sangat mendongkol, karena itu, ia hajar roboh satu murid Butong pay yang menghalang di hadapannya, lalu ia mencoba menghampiri si nona.

Giok Lo Sat menyambutnya dengan tertawa.

"Bouwyong Ciong?"

Kata si nona ini.

"kawan-kawanmu yang rebah bergulingan di tanah sudah cukup untuk kau mengurusinya, maka itu perkenankanlah aku untuk tidak menemani kau lebih lama pula!..."

Sehabis mengucap demikian, nona itu mencelat ke samping It Hang.

"Untuk apa kau berkelahi mati-matian di sini melayani mereka?"

Tegurnya sambil tertawa.

Kata-kata ini dibarengi dengan gerakan tangannya tak disangka-angka, hingga tahutahu anak muda itu sudah kena ditotok jalan darah di bahunya.

Menyusul itu, tanpa berdaya lagi tubuhnya disambar si nona, diangkat untuk dibawa pergi!

Pek Sek Tojjn terperanjat, sampai dia berteriak, lantas dia memburu.

Tetapi dia terlambat, sampai di luar kuil, si nona dan ketuanya yang muda itu sudah tak tampak lagi.

"Celaka, celaka!"

Seru dia berulang-ulang, karena mendongkol berbareng menyesal. Terus ia memberi hormat terhadap Bouwyong Ciong, dan berkata.

"Berdua kita telah kalah dan terluka, kita tak usah bertempur lebih jauh..."

Bouwyong Ciong menoleh pada rombongannya, hatinya gentar melihat demikian banyak korban.

Ia insaf, percuma pertempuran dilanjutkan, mungkin pihaknya mengalami kekalahan.

Maka ia terima baik tawarannya imam itu, hingga keduanya bersama-sama mengurus orangnya sendiri...

Giok Lo Sat sendiri telah menyingkir sampai beberapa lie, baru ia turunkan It Hang.

"Apakah artinya ini?"

Tanya anak muda itu yang menyesali.

"Tanpa berbuat begini, tidak dapat aku undang kau,"

Sahut si nona. It Hang ingat kekukuhan paman gurunya, ia menyeringai.

"Mungkin mereka itu sangka kau telah menculik aku,"

Katanya.

"Kau tinggal di mana?"

"Mari ikut aku,"

Sahut Giok Lo Sat, yang menyahut bukan dengan jawabannya.

Ia pun merasa lucu sendirinya atas perbuatannya ini, karena ia lantas ingat pada lelucon orang "merampas kemanten".

It Hang ikut nona ini, yang mengajaknya sampai di selat Benggoat kiap, waktu itu cuaca sudah terang tanah.

Angin fajar meniup dengan halusnya.

"Mari!"

Mengajak terus si nona, yang berlari-lari di sebelah depan mendaki bukit.

Baru ia hendak teriaki liauwlonya, mendadak ia dengar teriakan tajam dari It Hang, maka batallah maksudnya, sebaliknya, sambil memutar tubuh, ia lompat turun kepada pemuda itu.

"Ada apa?"

Tanyanya. It Hang baru sampai di mulut lembah ketika si nona sampai di sampingnya, tetapi segera ia lompat ke atas tanjakan di dekatnya.

"Aku seperti lihat orang,"

Jawabnya.

"Sekejab saja, dia lenyap pula. Tak dapat aku melihat nyata. Coba kau kemari!"

"Siapa berani datang ke sini?"

Kata Giok Lo Sat, seraya lompat naik mendekati si anak muda, terus ia memandang ke empat penjuru. Agaknya ia tidak lihat siapa juga. Ia tertawa, lalu berkata.

"Tempat ini sangat berbahaya, umpama musuh datang sendiri kemari, seperti juga dia mengantarkan jiwanya. Mungkin ini hanya perasaan saja, ataukah matamu agak kabur?"

"Ketika tadi kau lari naik, kebetulan aku berpaling,"

Menerangkan It Hang.

Baru ia mengucap demikian, atau suaranya terputus.

Karena dengan tiba-tiba saja, tangannya si nona terayun dan cahaya mengkilap melesat ke samping mereka di mana ada tumpukan rumput tebal.

Dan menyusul sambaran benda mengkilap itu, dari dalam tumpukan rumput itu lompat muncul satu orang!

Giok Lo Sat sangat cerdik, matanya awas sekali, kupingnyapun terang luar biasa, begitu ia dengar keterangannya It Hang, diam-diam ia berlaku waspada, di lain pihak, ia berpura-pura tak percaya, sengaja ia omong besar tentang keletakan lembahnya itu.

Segera ia dapat kenyataan benar ada orang yang tengah mengintai mereka berdua, maka ia menyerang dengan senjata rahasianya, jarum Tengheng Ciam.

Selagi menyerang itu, ia kata dalam hatinya.

"Walaupun kau liehay, tidak nanti kau lolos dari jarumku ini!"

Akan tetapi, orang tak dikenal yang diserang itu nyata lolos dari bahaya maut, dia malah lompat keluar dari tempat sembunyinya, hingga segera dapat dikenali, dia adalah Anghoa Kuibo Kongsun Toanio, isterinya Kim Laokoay Kim Tok Ek!

Lantas saja si Biang Hantu Bunga Merah tertawa terbahakbahak.

"Baru tiga tahun kita berpisah, nyata tanganmu bertambah liehay!"

Dia kata.

"Secara begini kau sambut tetamu tidakkah itu ada keterlaluan?"

Kata-kata ini disusul dengan gerakan tongkatnya yang berkepala naga ke arah tanah hingga menerbitkan suara dan kepalanya digoyangkan, hingga bunga merah dirambutnya turut melambai-lambai!

Biar bagaimana, Giok Lo Sat terperanjat juga.

Tak disangka olehnya pengintai itu adalah Biang Hantu yang liehay.

Tapi ia lekas dapat tenangkan diri.

Maka iapun tertawa.

"Kiranya kau!"

Katanya dengan sabar tetapi suaranya mengandung ejekan.

"Kau telah lepaskan lelaki bangsat itu, yang tidak dapat kau kendalikan, sekarang kau datang kemari, apa kau mau? Apakah kau berniat sekali lagi adu kepandaian dengan aku?"

AnghoaKuibo lantas perlihatkan roman sungguh-sungguh.

"Untuk adu silat lagi atau tidak, itu terserah kepadamu!"

Dia jawab. It Hang jadi kuatir.

"Kongsun Toanio!"

Kata pemuda ini.

"kau adalah orang tertua dari kalangan Rimba Pergilatan, satu patah kata saja dari omonganmu berarti seratus tail emas, apakah kau telah lupa pada janji tiga tahun yang lampau? Kenapa kau sebutsebut pula hal adu silat?"

"Memang aku datang kemari untuk memenuhi janji kita tiga tahun yang lampau!"

Sahut Kongsun Toanio.

"Giok Lo Sat, aku datang untuk memohon kepadamu!"

"Tak berani aku terima itu,"

Kata si nona.

"Aku minta kau sukalah menyingkap tirai dan menggurat jalanannya. Kau boleh titahkan saja!"

Dengan menggunai kata-kata rahasia "menyingkap tirai"

Dan "menggurat jalanan", Giok Lo Sat minta orang omong terus-terang serta menjelaskan caranya adu silat itu.

"Memang, lelaki bangsat itu telah diam-diam kabur dari rumah,"

Kata Anghoa Kuibo "Tapi ia kabur belum berapa lama, dan aku tahu, dia belum sampai melakukan kejahatan, maka itu aku mau minta jasa baikmu, supaya dia dikembalikan padaku untuk dibawa pulang.

Aku berjanji bahwa lain kali dia tidak akan mengganggu pula padamu."

Si Biang Hantu ini telah menjadi korbannya Bouwyong Ciong.

Begitu dia ketahui suaminya minggat, dia lantas pergi menyusul, ketika dia sampai di luar kota Konggoan, dia bertemu dengan Bouwyong Ciong yang sedang melarikan diri.

Orang she Bouwyong itu kata padanya.

"Suamimu telah ditawan Giok Lo Sat, jikalau kau hendak memintanya, pergi kau susul dia di selat Benggoat kiap. Di sana Giok Lo Sat menjadi tayong!" (Tayong = raja). Ia percaya keterangan itu, maka segera ia menyusul ke Benggoat kiap, sebab keras sekali keinginannya untuk menolongi suaminya itu. Giok Lo Sat tertawa terbahak-bahak.

"Suami bangsatmu itu tidak ada di sini!"

Sahutnya dengan dingin.

"Apakah Bouwyong Ciong telah mendusta padaku?"

Anghoa Kuibo tanya. Giok Lo Sat lintangkan pedangnya di depan dadanya, ia tidak menjawab, ia cuma tertawa dingin.

"Kau tertawakan apa?"

Tanya si nyonya dengan gusar.

"Kau sangat menyinta tetapi secara sesat, kau tak sadar!"

Si nona kata, tak kalah kerasnya.

"Aku tertawakan kau yang tak dapat membedakan baik atau buruk! Suami bangsatmu itu orang macam apa? Mustahil kau tidak ketahui? Setelah dia dapat membolos, dapatkah dia tidak melakukan kejahatan? Baru satu jam berselang bersama-sama orang she Bouwyong dia telah serbu Cenghie koan untuk menawan Gak Beng Kie, orang kepercayaannya Him Kengliak! Apakah itu bukannya perbuatan busuk?"

Belum orang menjawab, It Hang telah menambahkan.

"Kasihan Him Kengliak, yang telah terfitnah dorna, terbinasa secara menyedihkan, penasarannya dalam laksana lautan, tetapi orang masih belum puas terhadapnya, orang masih hendak membabat rumput sambil membongkar akarnya sekali! Mereka itu ketahui bahwa Gak Beng Kie mempunyai kitab wasiat dari Him Kengliak, maka itu tanpa menghiraukan perjalanan sukar selaksa lie, mereka menyusul untuk menyingkirkan juga si orang she Gak, sebelumnya, mereka belum merasa puas! Sudah merusakkan tembok besar Banlie Tiangshia, mereka juga masih hendak rampas buku rencananya Him Kengliak, soal melawan musuh negara itu. Mereka hendak serahkan itu pada bangsa lain, untuk bermuka-muka! Cianpwee Kongsun Toanio, aku mohon tanya, bukankah perbuatan itu ada perbuatan yang dibenci oleh manusia dan dunia?"

Kongsun Toanio belum tahu kebinasaannya Him Kengliak, mendengar ini dia terperanjat. Pun Giok Lo Sat tidak mengetahui hal ini, maka si nona pun kaget.

"Adakah itu benar?"

Keduanya tegaskan.

"Kenapa tidak?"

Sahut It Hang.

"Kitab wasiat dari Him Kengliak itu ada padaku sekarang! Kongsun Toanio, jikalau kau hendak bantu suamimu untuk mendapatkan kitab itu guna dipakai menjilat-jilat doma, guna memperoleh kebesaran, nanti aku serahkan kitab ini padamu!"

AnghoaKuibo menjerit, dengan tongkatnya yang panjang bagaikan toya, iahajar batu gunung hingga batu itu menerbitkan suara nyaring dan hancur.

"Kau pandang aku orang semacam apa?"

Dia berteriak, karena gusarnya.

"Jikalau benar apa yang kamu katakan itu, pergilah kamu bunuh atau cingcang suami bangsat itu! Tapi ingat, bila kamu mendusta ---hm! ---Giok Lo Sat, pasti aku hendak adu silat denganmu sampai ada keputusan menang dan kalah!"

"Pergilah kau membuat penyelidikan!"

Giok Lo Sat menantang.

"Sekarang ini kau percaya perkataannya Bouvvyong Ciong, kau tak sudi percaya aku, maka jagalah nanti, setelah penyelidikanmu, jikalau kau tidak haturkan maaf padaku dan kau tidak mencari aku, akulah yang nanti cari kau, untuk kita adu silat siapa yang menang atau kalah! Siapa yang jeri terhadapmu? Hm!"

Anghoa Kuibo terbenam dalam kesangsian.

"Akan kucari Bouwyong Ciong untuk padu dia dengan wanita ini!"

Pikirnya. Terus dengan bawa tongkatnya ia pergi. Habis mengumbar kemendongkolannya itu, Giok Lo Sat menghela napas, air matanya pun turun meleleh. Ia tak pedulikan kepergiannya Biang Hantu itu.

"Him Kengliak ada seorang yang baik tetapi ia terbinasa secara kecewa, sungguh sayang,"

Keluhnya.

It Hang terharu.

Sejak ia kenal si nona, belum pernah ia melihat orang mengeluarkan air mata.

Maka sekarang tahulah ia kesucian hati si nona, bahwa dia benar-benar berduka Giok Lo Sat seka air matanya.

"Benarlah kata-katanya Siauw Giam Ong!"

Berkata si nona.

"Mengandal pemerintah untuk menangkis serangan penyerbu asing adalah sama dengan harapkan matahari terbit dari barat!..."

"Siapa itu Siauw Giam Ong?"

It Hang tanya.

"Dialah satu enghiong sejati!"

Sahut si nona.

"Kelak di belakang hari, dialah yang akan menggantikan kerajaanBeng!"

Pemuda itu heran. Belum pernah ia dengar si nona puji lain orang. Giok Lo Sat berkata pula.

"Memang harus dikasihani kebinasaannya Him Teng Pek, akan tetapi, tanpa dia bukannya tak ada lain orang lagi yang nanti sanggup tangkis musuh asing!"

"Mendengar gelarannya saja, rupanya dia satu orang gagah dari kalangan Rimba Hijau,"

It Hang kata.

"Memang!"

Si nona jawab. Pemuda itu diam, sejenak.

"Sekarang ini angkatan perang pemerintah berkumpul di Barat utara,"

Katanya kemudian.

"di Siamsay, semua tiga puluh enam rombongan tentara pemberontak telah tersapu musnah, maka itu, kenapa kau masih saja berkecimpungan dalam dunia Rimba Hijau?"

Giok Lo Sat kerutkan alisnya. Tapi dalam sekejap saja ia beriang gembira pula. Ia tertawa.

"Tiga tahun kita tidak bertemu, maka sekarang ini baik kita jangan bicarakan lagi hal itu,"

Katanya. Terus dia perdengarkan suitan nyaring dari mulutnya, atas mana, sebentar saja, muncul beberapa serdadu wanita yang bertugas meronda, yang menyambut padanya.

"Mari!"

Ia mengajak.

It Hang ikut mendaki bukit.

Sengaja Giok Lo Sat jalan mutar, untuk sekalian meronda sarangnya itu, maka It Hang dapatkan, walaupun kecil, bukit itu bagus keletakannya.

Puncaknya juga merupakan satu bentuk harimau, yang mementangkan mulutnya menghadapi lembah.

"Lembah ini mirip dengan taman toh gaib,"

Pikirnya.

"Tidak gampang-gampang untuk tentara negeri menyerbu kemari?"

Matahari baru meninggi maka pemandangan alam waktu itu ada indah sekali, sedang lembah pun sunyi dan tenang.

Berbeda adalah sang puncak, yang ditutupi mega, yang asyik memain, memperlihatkan keindahannya.

Memandang kebesaran alam itu, Giok Lo Sat menghirup hawa, pikirannya tidak keruan.

Ia cekal tangan si anak muda sambil menanya.

"Apakah benar kau berniat pulang ke Butong san untuk memangku apa yang disebut ketua kaummu?"

Hatinya si anak muda goncang.

"Budinya guru ada sangat besar, walaupun aku sendiri tak setuju tetapi apa boleh buat,"

Ia jawab. Tiba-tiba saja si nona tertawa geli.

"Untuk membalas budi guru, tidak selalu orang mesti jadi ahli waris!"

Katanya.

"Umpama..."

"Umpama apakah?"

Tanya si anak muda cepat.

"Umpama kau dapatkan seorang kaum Rimba Persilatan yang sama maksud dan tujuannya dengan siapa kau tinggal bersama-sama dalam sebuah gubuk di atas gunung, untuk pahamkan lebih jauh ilmu silat, hingga nanti di belakang hari kau peroleh kesempurnaan dengan apa kau sanggup membuat gilang gemilang namanya Butong pay. Bukankah itu ada suatu jalan untuk membalas jasa baik gurumu?"

Kata si nona.

"Aku minta kau maklum yang aku omong terus terang. Kaum Butong pay itu, meskipun benar namanya ada sangat terkenal, akan tetapi ilmu pedang kaummu, Tatmo Kiam, sudah hilang dari muka bumi ini, dan sampai sekarang ini, kamu tidak punyakan lagi ilmu silat dengan mana kamu bisa bikin takluk dunia. Nama kosong itu tak dapat diandalkan untuk selama-lamanya. Oleh karena kau memikirkan kebaikannya Butong pay, sudah selayaknya kau yakinkan lebih jauh ilmu silatmu, supaya kau punyakan semacam kepandaian yang istimewa..."

Mendengar itu.

hatinya It Hang bimbang.

Memang benar apa yang dikatakan si nona.

Dan ia insaf, kecuali Giok Lo Sat, tidak nanti ada orang kedua lainnya yang berani atau sudi mengutarakan demikian.

Ia tahu setelah Cie Yang Tiangloo, Butong pay mulai memasuki saat kemundurannya.

Jadi penting sekali tugas memajukan pula Butong pay.

Di lain pihak, ia akui kebenarannya si nona.

tapi ia anggap nona itu terlalu sangat mementingkan kegagahan silatnya, sampai dia lupa kepada kebijaksanaan untuk dipakai menakluki orang.

Kekerasan saja tak cukup buat memegang pimpinan dalam kalangan Rimba Persilatan.

Segera It Hang sampai pada soal yang membuatnya bimbang, la mengerti sikapnya si nona, Teranglah nona itu inginkan ia jadi kawan untuk selamanya, buat bersama-sama juga meyakinkan ilmu silat terlebih jauh.

Memang maksud itu baik sekali, sebab itu berarti, ilmu silat mereka kedua pihak dapat digabung jadi satu.

Ilmu pedang si nona memang ada istimewa.

Pasti kalangan persilatan akan jadi bercahaya karena pergabungan kedua ilmu silat mereka.

Dan, di samping itu, kecuali liehay ilmu silatnya, Giok Lo Sat juga ada sangat cantik dan manis, sungguh orang akan merasa sangat beruntung seumur hidupnya siapa yang bisajadi pasangannya...

Akhir-akhirnya pemuda ini menghela napas.

"Aku kuatir impian manis tak akan kekal abadi..."

Pikirnya.

"Aku kuatir ini hanya impian di musim semi saja... Semua paman guruku pandang dia sebagai musuh besar! Tak dapat aku nikah dia kecuali aku keluar dari Butong pay. Dan aku pun ada turunan keluarga sasterawan, telah aku terima ajaran ayah dan guru bahwa tak dapat aku berjodoh dengan siapa yang dinamai hantu wanita dari Rimba Hijau... Sungguh sayang kecantikannya ini, sayang jodohku tipis... Benar-benar tidak ada harapan untuk kita berdua bisa hidup bersama-sama sampai di hari tua..."

Demikian pemuda ini melamun, hingga Giok Lo Sat, yang mengawasi padanya, menjadi heran.

Nona ini tak tahu apa yang dipikir pemuda itu, bahwa orang sebenarnya sedang menempuh gelombang hebat!

Maka ia tertawa, ia tarik tangan orang.

"Ah, anak tolol!"

Katanya.

"Apakah yang kau sedang pikirkan?"

It Hang angkat kepalanya, ia pandang nona di depannya itu.

"EnCie Lian,"

Katanya.

"memang bukannya aku tidak memikirkan untuk mendapatkan satu kawan dengan siapa aku bisa bersama membuat sebuah gubuk di atas gunung, hanya, hanya..."

Ia tak dapat segera lanjutkan kata-katanya itu.

"Hanya apa?"

Si nona tanya. Lemah hatinya si anak muda, ia jadi masgul.

"Hanya aku mesti tunggu lagi beberapa tahun, baru dapat aku bicarakan pula..."

Sahutnya ragu-ragu, suaranya tak tegas.

Giok Lo Sat menjadi putus asa, tanpa ia inginkan, sebelah tangannya menyambar memetik setangkai bunga hutan di sampingnya.

Ia berdiam.

It Hang lihat sikap orang.

"Bunga ini sungguh indah!"

Katanya, dengan sengaja.

"Eh, salah!... EnCie Lian, dibanding sama bunga ini, kau terlebih indah lagi... kau sangat cantik..."

Si nona menoleh, ia bersenyum duka. Ia pun lemparkan bunga di tangannya itu.

"Memang bunga ini indah,"

Katanya.

"akan tetapi seperginya musim semi, dia bakal rontok, terbang terbawa angin. Tapi sang bunga ada baiknya, setelah tahun ini, lain tahun dia dapat mekar pula. Tapi bagaimana dengan manusia? Setelah lewat beberapa tahun, lewat lagi beberapa tahun, ya, beberapa tahun pula, maka putihlah semua rambut kepalanya, hingga, berbareng dengan itu, kecantikannyapun berubah menjadi jelek!"

Goncang pula hatinya It Hang. Ia mengerti kenapa si nona menyebut-nyebut "beberapa tahun!"

Itu berulang-ulang. Ia ingat akan pepatah.

"Bagaikan bunga manisnya keluarga, bagaikan air kekal abadi mengalirnya". Dan ia sekarang? Ia lantas jadi sangat berduka, sampai air matanya mengembeng. Giok Lo Sat lihat kedukaan orang, sebaliknya ia tertawa.

"Anak tolol!"

Katanya gembira.

"Segala sesuatu ada pada manusia, mengapa kau menangis?"

Ia lantas dekati pemuda itu, hingga It Hang dapat mencium bau yang harum, hingga hatinya bergelombang.

Hampir saja ia tak dapat mengatasi diri, hampir ia beber isi hatinya.

Tibatiba saja ia seperti membayangkan wajah dari beberapa paman gurunya, terutama wajah dari Pek Sek Toojin, yang bagaikan mendelik terhadapnya.

Maka ia pun berpikir.

"Jikalau aku tidak pedulikan lagi segala apa dan menikah dengan Giok Lo Sat, pasti aku bakal dicaci sebagai pendurhaka guru! Jikalau aku sampai tercemar secara demikian, mana dapat kelak aku bertemu dengan sesama kaum Rimba Persilatan?"

Karena ini, ia jadi menjublek saja.

Giok Lo Sat sambar pula setangkai bunga, ia remas itu hancur dan melemparkannya ke arah lembah.

It Hang bisa saksikan bagaimana hancurnya bunga itu beterbangan jatuh di antara sampokannya sang angin.

"EnCie Lian,"

Tiba-tiba ia kata.

"kecantikanmu harusnya menjadi seperti bunga yang tak dapat layu dan rusak..."

"Manusia tolol, kau sedang bermimpi!"

Kata si nona sambil tertawa.

"Di mana di kolong langit ada manusia yang muda selama-lamanya? Coba Thian ada bagaikan manusia, banyak berpikir, banyak kedukaannya, pasti Thian juga bisa menjadi tua seperti manusia! Demikian pun kita, setiap kali kita bertemu, setiap kali ada sedikit kekurangannya, maka jikalau lain kali kau bertemu pula denganku, aku kuatir yang rambutku telah putih semuanya sebagai rambut neneknenek!"

Lagi-lagi hatinya It Hang goncang.

"Giok Lo Sat benar-benar cerdas sekali,"

Pikirnya.

"Dia tidak banyak baca buku, dia tidak bisa membuat syair, toh katakatanya tajam, menarik hati."

Si nona tak tahu apa yang dipikirkan anak muda itu, ia tertawa dan melanjutkan pula.

"Jikalau nanti rambutku telah ubanan semua, aku kuatir kau memandangnya pun tak sudi!"

It Hang tahu orang desak ia, akan tetapi benar-benar ia sulit menjawabnya. Maka ia cuma bisa tertawa dibuat-buat, untuk mengelakkan soal itu, iakata.

"Jikalau nanti rambutmu ubanan, akan aku pergi mencari obat dewa untuk memulihkan pula usia mudamu!"

Tapi, mendengar itu, si nona menghela napas.

"Ah, kau tak mengerti aku..."

Katanya di dalam hati.

"Aku omong benar-benar, kau sebaliknya main-main..."

Karena berduka, ia jadi berdiam. Ia menengadah, akan memandang langit, hingga ia lihat matahari sudah naik tinggi. Bagaikan orangyang sadar dari mimpinya, ia berseru.

"Ah, hari sudah siang! Kenapa adik San Ho masih belum kembali?"

Girang It Hang mendengar itu.

"Oh, apakah San Ho ada bersamamu?"

Tanyanya. Si nona manggut.

"Kita harus pertemukan dia dengan saudara Beng Kie!"

It Hang kata dalam kegembiraannya.

"sejak meninggalnya Him Kengliak, hatinya saudara Beng Kie telah menjadi tawar, mesti ada satu orang yang dapat menghibur dia"

Mendengar ini, Giok Lo Sat berpikir.

"Urusanmu sendiri kau tidak pedulikan, sekarang kau hendak campuri jodoh lain orang! Kalau Gak Beng Kie perlu dihibur orang, bagaimana dengan aku? Bukankah aku juga perlu orang yang dapat menghiburnya?"

Tapi nona ini telah pandang San Ho sebagai adik sejati, ia girang juga mengetahui ada orang yang perhatikan kepentingannya adik itu.

"Mana dia orang she Gak itu?"

Dia tanya.

"Tadi malam kita pasang omong dalam satu pembaringan,"

It Hang jawab.

"Ketika kita dengar kedatangannya Bouwyong Ciong, kita membuat perjanjian untuk bertemu lagi nanti. Aku telah suruh dia mencoba meloloskan diri terlebih dahulu. Kita berjanji supaya dia kembali ke kuil Cenghie koan. Apa yang tidak kusangka adalah kau sudah datang menyusul rombongannya Bouwyong Ciong dan kau sudah lantas seret aku kemari. Tidak apa andaikata Beng Kie tidak dapat cari aku, hanya aku kuatirkan paman guruku, Pek Sek Toojin, dia bisa gusari pemuda itu."

Mengenai itu, Giok Lo Sat tidak bilang suatu apa.

"Baru-baru ini aku telah bersikap keliru terhadapnya, entah dia gusari aku atau tidak?"

Tanyanya.

"Sebaliknya!"

Sahut It Hang.

"Jikalau ketahui San Ho ada bersama kau di sini, dan bila ia ketahui juga bagaimana kau bersungguh hati menjadi orang perantara untuk jodoh mereka berdua, pasti dia akan sangat bergirang!"

Mukanya si nona menjadi merah sendirinya.

Jengah ia kalau ingat bahwa ia telah menjadi tukang rekoki jodoh.

Selama pemuda dan pemudi ini pasang omong dengan asyik, semua liauwlo undurkan diri jauh-jauh, sampai mendadak, setelah pembicaraan kedua orang muda itu, mereka dengar pemimpinnya berseru.

"Beberapa dari kamu lekas pergi turun gunung untuk memapak Tiat CeeCu!"

Titah itu dituruti dengan segera. Beberapa serdadu wanita itu sudah lantas pergi turun gunung "Apakah tak akan terjadi onar apa-apa?"

It Hang tanya "Tentara dalam kota sudah terbasmi habis, jumlah rakyat penderita tak kurang dari sepuluh ribu jiwa,"

Sahut si nona "maka itu andaikata ada datang bala bantuan lagi beberapa ribu jiwa, mereka tak akan dapat berbuat suatu apa.

Di samping itu, selama belakangan ini, ilmu silatnya adik San Ho telah maju pesat sekali, maka aku percaya dia akan dapat kembali dengan tak kurang suatu apa."

Meski ia mengucap demikian, Giok Lo Sat toh terpengaruh juga pada pertanyaan si anak muda, ia merasa sedikit kurang tenteram, maka seperti si anak muda, ia memandang jauh ke kaki gunung...

Sementara itu di dalam kota, San Ho dan barisannya, dengan pimpin rakyat yang menderita, sudah hajar lumpuh tentara negeri, hingga tentara itu terbinasa, terluka dan kabur, sehingga kantor camat dapat dibakar, gudang negara bisa diserbu, untuk merampas rangsum.

Sambil membongkar rangsum itu, rakyat murka bukan main, karena gudang masih penuh padat dengan simpanan rangsum dari tahun yang baru silam, yang masih belum habis.

Sudah kepalang tanggung, rakyat yang kalap itu juga menggedor rumah-rumah orang orang hartawan di dalam kota.

Hingga setelah terang tanah, semua rakyat bubar dengan rata-rata menggondol banyak barang-barang yang diperolehnya dari gedoran itu.

Karena mereka bukan tentara, mereka kelihatan tak teratur.

"Sayang EnCie Lian hanya kehendaki tentara wanita,"

Pikir San Ho apabila ia saksikan jumlah rakyat demikian besar.

"kalau tidak, apabila rakyat kelaparan ini dipersatukan, mereka pasti bakal merupakan satu pasukan perang yang berarti. Dengan ini dapat kita serang kota besar..."

Menampak rakyat sudah bubar semua, San Ho juga ajak barisannya undurkan diri dari kota untuk berangkat pulang.

Ia bersyukur karena tidak ada tentaranya yang terbinasa atau terluka.

Selagi San Ho berjalan pulang, rombongan Bouwyong Ciong sedang turun gunung, setelah kekalahannya yang membuat ia malu, mendongkol dan menyesal.

Ada dua belas pahlawan dari TongCiang yang dilukai Giok Lo Sat, delapan lagi terlukai pihak Butong pay.

Yang tidak terluka ada enam belas orang.

Maka ketika pulang, terpaksa yang lukanya parah mesti digendong kawannya yang selamat, dan yang lukanya enteng saling bahu membahu.

Bouwyong Ciong juga ambil jalan dari belakang Cenghie koan, lalu di rimba di tepi bukit, ia ajak rombongannya berhenti dulu untuk beristirahat.

Ia telah lihat api berkobar di kota, tapi ia tidak tahu apa yang sudah terjadi, ia melainkan bisa menduga-duga.

Tak tahunya rakyat sedang mengamuk.

Justeru di saat ia berniat mengirimkan orang ke kota, guna mencari tahu -sebab waktu itu sudah terang tanah --tibatiba, ia dengar suara mengaungnya panah bersuara.

Suara itu adalah tiga kali panjang dan dua kali pendek.

Dengan tiba-tiba saja ia bergembira.

"Bagus!"

Demikian ia berseru.

"Eng Siu Yang berantai tak kurang suatu apa, kita tak usah lagi pergi ke kota untuk mencari kabar!"

Sebenarnya tugas Bouwyong Ciong ini, di samping menawan Gak Beng Kie ia juga mesti menyelidiki kabar perihal aksi "bandit"

Di propinsi SuCoan.

Karena waktu itu Thio Hian Tiong dan Lie Cu Seng sedang berada di propinsi itu.

Eng Siu Yang sendiri, setelah berlalunya Cio Hoo, sudah lantas dapatkan kedudukannya orang she Cio itu dalam pasukan pahlawan Kimiewie.

Maka itu Gui Tiong Hian, kecuali dia kirim Congkauwtauw, atau kepala dari TongCiang, yaitu Bouwyong Ciong yang terliehay, dia juga telah kirim orang she Eng ini, maksudnya adalah agar rombongan TongCiang dan rombongan Kimiewie itu bekerja sama menawan musuhmusuh negara sambil menyelidiki sepak terjang musuh.

Malam itu ketika Bouwyong Ciong menyerbu ke Cenghie koan, Eng Siu Yang berdiam di dalam kota.

Mereka telah berjanji akan melepaskan tanda panah nyaring itu apabila mereka hendak membuat perhubungan satu pada lain.

Kedua pihak sama-sama tak mengetahui keadaannya masing-masing.

Bouwyong Ciong melepaskan juga panah nyaring, untuk menyambut pertandaan dari kawannya itu, maka tak lama kemudian, muncullah Eng Siu Yang, yang berkawan bersama empat pahlawan Kimiewie.

"Hai! kenapa kamu?"

Teriak Eng Siu Yang dengan pertanyaannya, karena ia kaget menampak orang longpwee dalam keadaan kurat-karit. Ia lihat begitu banyak pahlawan TongCiang yang terluka.

"Apakah orang-orang Butong pay berani melawan kamu?"

"Bukan cuma pihak Butong pay,"

Sahut Bouwyong Ciong dengan masgul.

"Telah muncul juga itu hantu wanita, hingga dari sepuluh bagian saudara-saudara kita, sembilan bagian terluka olehnya..."

"Ah!"

Seru Eng Siu Yang dengan keheranan.

"Tadi malam aku saksikan dia di antara rakyat kelaparan yang mengacau kota, mengapa dia bisa lantas datangi Cenghie koan untuk satrukan kamu?"

Bouwyong Ciong kertak giginya.

"Hantu wanita itu sangat liehay!"

Katanya dengan sengit.

"Dia pergi dan datang bagaikan angin, maka itu sukar untuk berjaga-jaga! Jikalau ia tidak disingkirkan, akhirnya dia dapat mencelakai kita!"

Sepasang alisnya Eng Siu Yang bangkit.

"Untuk singkirkan dia, sekarang adalah waktunya..."

Katanya, yang rupanya telah mendapat daya upaya.

"Apakah dayamu?"

Tanya Bouwyong Ciong.

"Nampaknya kau gampang saja mendapat akal..."

Belum sampai Eng Siu Yang menyahut atau di samping mereka berkelebat satu bayangan.

"Siapa kau?"

Tegur Bouwyong Ciong, kaget. Atas teguran itu, muncullah satu orang, melihat siapa, Bouwyong Cjong semua berlega hati.

"Hai, Kim Laokoay, bagaimana dengan lukamu?"

Tanya si kepala pahlawan she Bouwyong.

Bayangan itu adalah bayangannya Kim Tok Ek si Tangan Pasir Beracun.

Setelah dilukai Giok Lo Sat dan menggelinding dari atas bukit, Kim Tok Ek menyembunyikan diri dalam tumpukan rumput.

Ia lihat cahaya api berkobar di dalam kota tetapi tidak berani ia pergi pulang.

Ia terus sembunyikan diri sampai ia dengar suatu tanda panah nyaring yang pertama, yang kemudian disambutnya pula.

Demikian ia muncul di antara kawan-kawannya.

"Masih syukur!"

Tertawa Tok Ek.

"Aku tidak sampai menjadi si pincang!"

Lukanya Kim Tok Ek tidak terlalu berbahaya sebab pedangnya Giok Lo Sat tidak meminta jiwanya, benar ia telah peroleh kemunduran tetapi dasar mulanya tangguh, tubuhnya tetap kokoh kuat, setelah pakai obatnya, ia dapat kumpulkan lagi tenaganya dan bisa berjalan seperti biasa.

"Jikalau hantu wanita itu belum dicingcang, tak dapat aku puaskan hatiku!"

Katanya dengan sengit. Sebaliknya, menampak demikian banyak pahlawan yang terluka, dia ulurkan lidahnya.

"Sayang enso tak sudi membantu kita!..."

Kata Bouwyong Ciong sambil tertawa.

Dengan enso ia maksudkan isterinya Kim Tok Ek yang telah ditugaskan Bouwyong Ciong sembunyi di dekat kelenteng Cenghie koan, maka itu, si Biang Hantu tak dapat bertemu sama suaminya itu, malah oleh Bouwyong Ciong dia telah diperdayakan hingga dia pergi ke Benggoat kiap.

Tentang diperdayainyaisteri ini, Tok Ek tidak tahu menahu.

"Enso telah datang kemari!"

Berkata Eng Siu Yang sambil tertawa. Tok Ek terperanjat, sampai ia bergidik sendirinya.

"Apakah kamu telah bertemu dengan dia?"

Tanyanya.

"Ya. Tadi malam tak sempat kita memberitahukan kepadamu. Mungkin sekarang, dia sedang bertempur dengan Giok Lo Sat..."

Bouwyong Ciong terangkan. Kim Tok Ek berjingkrak.

"Ah, kamu tidak kenal tabiat dia!"

Katanya dengan menyesal.

"Jikalau dia ketahui bahwa dia telah diperdayakan kamu, mungkin dia tidak cari Giok Lo Sat, sebaliknya dia tentulah akan mencari kamu untuk melampiaskan kemendongkolannya itu..."

"Itulah tak mungkin!..."

Tertawa Bouwyong Ciong. Tapi, walaupun dia tertawa, sebenarnya dia jeri.

"Jangan kuatir,"

Eng Siu Yang menghibur.

"Aku mempunyai daya..."

"Bagus! Tadi kau bilang kau ada punya akal untuk singkirkan Giok Lo Sat, coba sekarang kaujelaskan."

"Giok Lo Sat telah menculik To It Hang, bukankah itu kau telah lihat sendiri?"

Eng Siu Yang balik menanya.

"Tidak salah!"

Sahut Bouwyong Ciong.

"To It Hang itu ketua dari Butong pay,"

Siu Yang menjelaskan.

"Kalau satu ketua kena diculik orang, itulah hal yang sangat membuat malu pada partainya, terutama bagi beberapa tetua dari Butong pay. Karena itu, baiklah kita mengadakan perdamaian dengan Pek Sek Toojin, kita bikin musuh menjadi sahabat, lalu bersama-sama dia kita pergi serang Benggoat kiap."

Bouwyong Ciong adalah orang yang anggap dirinya sendiri sebagai seorang kosen kelas satu, sebagai satu enghiong, maka itu mendengar pikirannya kawannya ia kerutkan alisnya.

"Dengan cara demikian, walaupun dapat kita singkirkan Giok Lo Sat, kita akan ditertawakan orang-orang gagah di kolong langit ini..."

Katanya, masgul dan ragu-ragu.

Eng Siu Yang membungkam, meski ia sangat tidak puas dengan kata-katanya orang itu.

Biar bagaimana, Bouwyong Ciong ada seatasannya, tak dapat ia berselisih dengan sep itu.

Kim Tok Ek adalah lain.

Si Tangan Pasir Beracun ini kata.

"Sebenarnya, umpama kita berserikat dengan pihak Butong pay itu tidak ada salahnya. Tapi karena Bouwyong Toako tidak setuju, baiklah kita mencari daya lain."

Kedua matanya Eng Siu Yang berputar. Rupanya ia segera dapat pikiran lain.

"Tanpa andalkan tenaganya pihak luar, kita memang masih dapat singkirkan si hantu wanita itu!"

Katanya pula. Tapi Bouwyong Ciong menggeleng kepala "Pahlawan-pahlawan yang kita bawa telah terluka lebih dari separuhnya,"

Kata sep ini.

"di samping itu, berhubung dengan pemberontakan rakyat di dalam kota, pengaruhnya Giok Lo Sat dengan sendirinya menjadi bertambah. Oleh karenanya, tidak mudah bagi kita untuk menyingkirkan dia?"

"Bouwyong Toako ketahui satu tidak yang dua,"

Berkata Eng Siu Yang.

"Memang rakyat jelata yang kelaparan itu berjumlah besar, akan tetapi mereka adalah satu gerombolan saja. Habis merampas rangsum, pasti mereka bubar sendirinya. Tadi malam aku saksikan sendiri, barisan wanita dari Giok Lo Sat, yang masuk ke dalam kota, jumlahnya tak sampai seratus jiwa. Aku anggap, meskipun jumlah kita banyak yang terluka, kita tak usah jeri terhadap mereka!"

"Memang, menghadapi seratus lebih serdadu wanita, tak usah kita jeri,"

Kata Bouwyong Ciong.

"Bagaimana dengan Giok Lo Sat sendiri? Apakah kebutan Tiathudtimmu dapat menandingi pedangnya?"

Ditanya begitu, Eng Siu Yang berjengit, ia menyeringai. Lalu ia batuk-batuk. Tapi segera ia tertawa.

"Memang aku bukanlah tandingannya Giok Lo Sat,"

Ia mengaku.

"Akan tetapi kau, Bouwyong Toako, kau toh tidak akan mengaku kalah terhadap hantu wanita itu?"

"Jikalau ilmu silat saja yang diandalkan, dia bukanlah tandinganku,"

Sahut Bouwyong Ciong.

"tetapi dia sangat liehay ilmu entengkan tubuhnya, kegesitannya ini membikin aku tak dapat berbuat suatu apa..."

Bouwyong Ciong tidak omong besar. Di dalam hal Iweekang, ia memang lebih sempurna, kepalannyapun tak ada yang lawan. Tapi menghadapi si nona kosen, ia kalah dalam kelincahan.

"Inilah soalnya!"

Kata Eng Siu Yang tertawa.

"Sebabnya kenapa tadi malam kamu kena dirugikan adalah karena rombongan imam dari Butong pay telah satrukan kamu. Tidak demikian, jikalau Giok Lo Sat sendiri saja, dia pasti tidak sanggup melayani lama-lama. Malah untuk bela diri saja, mungkin dia tak berdaya."

"Ah, mengertilah aku maksud Eng Toako,"

Kim Tok Ek menyelak.

"Bukankah toako kehendaki kita mendahului pergi ke Benggoat kiap, untuk di depan selat itu, di tempat yang berbahaya, kita cegat padanya?"

"Benar!"

Eng Siu Yang membenarkan.

"Saudara-saudara kita yang tidak terluka dapat melayani tentara wanita. Bouwyong Toako bersama Kim Toako berdua harus bekerja sama melayani Giok Lo Sat, dengan begitu, tak peduli dia lincah bagaimana, dia pasti tidak akan lolos dari tangan kita. Aku sendiri, yang bodoh, dengan andalkan kebutanku, nanti aku bantu melawan dia, buat beberapa jurus saja. Ketika aku membolos dari dalam kota, aku lihat dia sedang kumpulkan barisannya, maka itu sekarang mestinya dia tengah perjalanan pulang ke sarangnya..."

"Apa? Dia telah kembali ke kota?"

Tanya Bouwyong Ciong yang berseru bahna herannya. Sep ini tidak pernah menduga bahwa Eng Siu Yang sudah berbuat keliru, ia telah kenali Tiat San Ho sebagai Giok Lo Sat.

"Sekejap saja, dari Cenghie koan dia sudah kembali pula ke dalam kota, ilmu entengkan tubuhnya sungguh luar biasa..."

Bouwyong Ciong berpikir.

Meski ia sangat kagum, ia masih bisa gunakan otaknya.

Maka ia tidak terlalu berkuatir.

Ia tahu benar, dengan ilmu silatnya saja, ia bisa bertanding seri melawan si Raksasi Kumala, dengan bantuannya Kim Tok Ek-tak peduli dia ini telah mundur banyak -ia mempunyai harapan untuk menang.

Apa lagi di antara mereka masih ada Eng Siu Yang.

"Baiklah,"

Akhirnya ia ambil putusan.

Dan segera ia titahkan pada sisanya lima belas pahlawan untuk mereka ini maju ke selat Benggoat kiap guna mencegat jalan pulang dari barisannya si hantu wanita.

Semua pahlawan yang terluka diminta menunda perjalanannya pulang ke kota, mereka itu diberi satu kawan yang sehat, yang akan jadi kepala mereka.

"Sekarang segala apa sudah siap,"

Eng Siu Yang berkata kemudian.

"Mengenai enso Kim, yang telah diperdayakan oleh Bouwyong Toako, telah aku sedia dayanya untuk membuat dia pergi ke Benggoat kiap. Kim Toako, jangan kau kuatirkan apa jua!"

Kim Tok Ek jadi besar hati dan girang.

Demikian rombongan ini tidak menunggu sampai matahari mencorong sudah lantas ubah tujuan, ialah dengan ambil jalan memotong, mereka berangkat ke selat Benggoat kiap.

Dengan cepat mereka telah sampai di sebelah depan selat di mana mereka lantas cari tempat guna mencegat jalan pulang dari barisannya Giok Lo Sat.

Tiat San Ho bersama barisannya pulang dengan gembira.

Mereka membawa oleh-oleh dari kota Konggoan dengan menggunakan dua ekor kuda.

Di sepanjang jalan, barisan wanita ini tidak kekurangan suatu apa untuk dahar dan minum, tidak usah mereka masak sendiri.

Rakyat sepanjangjalan selalu memapak mereka dengan suguhan barang makanan, dan air teh.

untuk menangsel perut dan menghilangkan dahaga.

Sesudah berjalan jauh kira satu jam, San Ho mulai memasuki daerah gunungnya.

Sejak itu, mereka tidak lagi menerima sujutannya rakyat jelata.

Selagi jalan, San Ho memandang ke langit di mana ia tampak matahari merah dan besar bagaikan bola api, karena gembira, ia tertawa.

"Pasti enCie Lian sedang menantikan dengan hilang sabarnya..."

Katanya seorang diri.

Masih mereka berjalan serintasan, baru mereka sampai di mulut selat.

Di kiri dan kanannya ada bukit-bukit yang seolaholah menjepit selat itu.

Di kedua tepinya, selain batu-batu gunung, kedapatan juga banyak pohon-pohon yang menyerupai rimba, malah ada rumput alang-alang yang tinggi sebatas dada.

"Tidak dapat kuda mendaki bukit,"

Kata San Ho pada orang-orangnya.

"Semua barang harus diturunkan dan kuda ditinggalkan, biarkan semuanya pergi makan rumput."

Tapi belum sempat mereka itu bekerja, atau tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara sangat berisik, disusul dengan munculnya segerombolan orang-yang muncul di sekitar mereka!

Kim Tok Ek perlihatkan diri paling dulu, ia juga perlihatkan wajah menyeringai serta suara tertawa yang seram.

"Eh, kiranya nona Tiat!"

Demikian ejekannya.

"Mana Giok Lo Sat?"

San Ho kaget, tetapi meski demikian, dia lompat maju dengan seruling kumalanya, untuk menotok. Kim Tok Ek berkelit ke samping sambil menyampok.

"Kim Laokoay, kau berani main gila?"

Tegur puterinya Tiat Hui Liong.

"Ingat olehmu, ayah pasti tak dapat memberi ampun padamu!"

Teguran itu membuat orang she Kim itu mengkerat.

"Peduli apa dengan ayahnya!"

Seru Eng Siu Yang.

"Tua bangka she Tiat itu toh ada di Shoasay! Sekarang ini lebih dulu kita bekuk gadisnya! Siapa suruh dia berkawan dengan si hantu wanita?"

Kim Tok Ek tidak lihat Giok Lo Sat, akan tetapi ia kuatir Tiat Hui Liong ada beserta gadisnya itu, tapi mendengar keterangannya Eng Siu Yang ia berlega hati.

Sebenarnya ia jeri andaikata Giok Lo Sat dan Tiat Hui Liong bekerja sama.

Segera ia pentang telapak tangannya, yang lebar bagaikan kipas, untuk mencengkeram nona she Tiat itu --pada batok kepalanya!

San Ho berkelit dan lompat ke samping, di mana ada satu pahlawan, maka ia terus menotok pahlawan itu dengan senjata serulingnya yang liehay.

Pertempuran itu menyebabkan semua serdadu wanita dari Benggoat kiap segera turun tangan untuk membantu pemimpinnya.

Tiga tahun San Ho ikuti Giok Lo Sat, ilmu enteng tubuhnya telah memperoleh banyak kemajuan, maka itu ia dapat lolos dari jambakannya Kim Tok Ek, siapa sebaliknya terhadang oleh bekas luka di kakinya karena jago ini sendiri telah mundur kepandaiannya.

"Bubar! Lekas mundur!"

Teriak San Ho apabila ia saksikan majunya barisannya itu.

la telah lihat keadaan mengancam pihaknya.

Eng Siu Yang sambuti peringatan itu dengan tertawanya bergelak-gelak, lalu ia menyerbu di antara barisan wanita itu.

Barisan wanita dari Giok Lo Sat telah terdidik baik, akan tetapi mereka bukanlah tandingan dari pahlawan-pahlawan TongCiang, maka itu dalam pertempuran ini segera terdengar jeritan-jeritan serta suara robeknya pakaian yang terkena senjata.

San Ho mengerti selatan, dengan kelincahan tubuhnya ia gunakan ketika untuk lompat ke atas seekor kuda, kemudian menyambar bungkusan yang didapatnya dari menggedor lalu ia buka dan terus dilemparkan ke tanah, hingga terlihatlah benda-benda itu bergemerlapan.

Sebab oleh-oleh itu terdiri dari uang perak, emas dan lain-lain barang permata.

Melihat ini beberapa pahlawan TongCiang menjadi kilaf, mereka lompat untuk mengambil barang berharga itu.

"Lebih dahulu habiskan musuh, baru ambil barangnya!"

Teriak Bouwyong Ciong.

"Siapa langgar titah ini, dia akan dihukum mati!"

Perbuatannya beberapa pahlawan itu memberikan kesempatan pada San Ho.

Ia jepit perut kudanya, ia gentak lesnya.

Karena kaget dan sakitnya, kuda itu meringkik keras sambil berjingkrak dan berlompat, maka si nona lantas saja menyerbu ke mulut lembah yang kedua.

Benggoat kiap memang mempunyai banyak tikungan, dan banyak mulut selatnya yang merupakan pintu, maka itu San Ho tidak sudi melayani musuh, ia lebih perlukan masuk ke sebelah dalam.

Ia pikir, bila ia dapat sampai di mulut selat yang ketiga, di sana ia nanti akan berteriak-teriak minta tolong, teriakannya itu pastilah dapat didengar Giok Lo Sat.

Barisan wanita dari Benggoat kiap taat kepada titah pemimpinnya, mereka lantas lari menyingkir ke empat penjuru, untuk terus merayap naik ke lereng-lereng bukit.

Karena mereka semua kenal baik tempat itu, ke mana saja mereka menyingkir, mereka dapat selamatkan diri.

"Tangkap berandal dan bekuk rajanya!"

Teriak Eng Siu Yang.

"Bekuklah anak ayam itu!"

Dia maksudkan Tiat San Ho.

"Ya, bekuklah dulu budak perempuan itu!"

Kim Tok Ek sambuti seman itu.

"Setelah diringkus, mustahil dia nanti tidak menyebutkan di mana adanya GiokLo Sat!"

Letaknya Benggoat kiap membuat orang sukar untuk melayani serdadu-serdadu wanita yang semuanya gesit itu.

Lagi pula bertempur di tempat demikian ada sedikit sulit.

Maka Bouwyong Ciong setuju sekali dengan seruannya Kim Tok Ek.

Memang itu adalah cara yang paling baik untuk pancing Giok Lo Sat keluar.

Dengan lekas ia rampas seekor kuda, lalu ia kabur untuk mengejar Tiat San Hong.

Nona Tiat kenal baik selat itu, ia tahu betul di manajalan yang banyak batunya dan tidak rata dan sukar untuk dilalui.

Di sini ia tidak kaburkan, kudanya, sebaliknya, dia terjang hutan alang-alang yang tinggi-tinggi.

Hutan itu kelihatannya berbahaya, tetapi tidak ada batunya, maka menyingkir di hutan ini ada lebih aman.

Sebentar saja, San Ho sudah lihat mulut selat yang merupakan pintu kedua.

Ia gentak kudanya supaya lari lebih keras.

Dengan berani Bouwyong Ciong pun terjang hutan alangalang untuk menyandak si nona.

Tiba-tiba saja kudanya tersungkur pada sebuah batu besar.

Tidak ampun lagi, binatang itu berbunyi keras dan robohlah berbareng dengan penunggangnya.

Justeru itu, San Ho sudah sampai di mulut gunung yang kedua.

Congkauwtauw dari pahlawan istanajadi sangat gusar, dia gulingkan tubuhnya untuk lompat bangun, menyusul mana, ia sambar batu yang membikin kudanya terguling, batu itu ia pakai untuk menimpuk.

Dia memang bertenaga besar dan liehay dalam ilmu menimpuk.

San Ho tengah kaburkan kudanya ketika mendadak kudanya itu berbunyi keras dan terus roboh, karena hebat sekali dia kena tertimpuk batu lancip itu.

Karena ini, si nona turut roboh juga, sampai ia tak berkutik lagi.

"Jangan-jangan nanti mati bocah itu!..."

Kata Tok Ek, berkuatir. Bouwyong Ciong pun heran, hingga di dalam hatinya ia berkata.

"Kenapa sih budak ini tak berguna? Mungkinkah dia mati benar-benar? Aku justeru berniat membekuk dia hiduphidup untuk pancing keluar Giok Lo Sat, tidak ada dalam pikiranku untuk menanam bibit permusuhan dengan Tiat Hui Liong..."

Karena ia ingin mendapat kepastian, Congkauwtauw ini lantas bertindak maju, untuk menghampiri nona itu, tapi mendadak ia dengar sambaran angin ke arahnya sambaran dari beberapa batang anak panah yang kecil mungil.

Inilah perbuatannya Tiat San Ho yang telah menyembunyikan sejumlah panah rahasia di dalam serulingnya.

Sambil mendekam, ia tiup serulingnya itu ke arah musuh yang mendatangi padanya.

Panah sumpitan itu diarahkan ke dengkul kiri dan kanan.

Sama sekali Bouwyong Ciong tidak pernah menduga-duga kepada senjata rahasia dari lawannya ini, dan serangan itu datangnyartidak ke atas, hingga gampang dilihatnya, melainkan ke bawah, maka terlambatlah ia dalam menggerakkan kakinya untuk menyingkir.

Hingga dengkulnya yang kiri, tak ampun lagi, kena tersumpit panah rahasia itu!

Bouwyong Ciong adalah jago kenamaan, tapi dia toh kena dibokong nona Tiat.

Maka itu, bukan main gusarnya dia, hingga dia berseru keras.

Dengan dua jari tangannya dia jepit panah sumpitan itu untuk dicabut.

"Biarpun kau bersayap dan terbang ke langit, mesti aku bekuk padamu!"

Serunya dengan mengancam.

Kemudian dia lompat untuk menerjang.

San Ho sendiri, sehabisnya menyerang, sudah lantas berbangkit, untuk lari ke arah mulut selat yang ketiga.

Bouwyong Ciong mengejarterus, dari kiri kanannya menyusul Eng Siu Yang dan Kim Tok Ek, hingga gadisnya Tiat Hui Liong dikejar dari tiga penjuru.

Jarak antara mereka hanya kira-kira dua puluh tindak.

XIII Sambil lari keras, San Ho masukkan ujung serulingnya ke dalam mulutnya, ia tiup sekerasnya hingga seruling itu perdengarkan suaranya beruntun beberapa kali.

Mengikuti tikungan yang dilewati, suara seruling itu jadi semakin keras dan tinggi.

"Ha, kau masih dapat meriangkan diri!"

Seru Kim Tok Ek, yang menyangka orang masih dapat kesempatan untuk meniup seruling.

Selagi orang berlari-lari, tiba-tiba pihak pengejar merasa kakinya bergerak, yang disusul dengan satu suara keras dari atas bukit.

"Celaka! Salju uruk!"

Teriak Eng Siu Yang.

Teriakan itu disusul dengan jatuhnya potongan-potongan es dari atas bukit yang menggelinding bagaikan batu-batu besar.

Pada waktu itu, kedua bukit Benggoat kiap ditutupi salju yang membeku menjadi es, dan biasanya potongan-potongan es itu menggelinding ke bawah hingga menutupi jalanan di mulut selat.

Kali ini potongan-potongan es itu merintangi pengejaran Bouwyong Ciong bertiga Tidak peduli mereka ini punyakan ilmu silat yang liehay, mereka jeri terhadap "serbuan"

Es itu, terpaksa mereka batalkan maksud mereka mengejar terus, sebaliknya, mereka mesti lompat mundur, untuk menghindarkan diri dari serangan es.

Ketika mereka sampai di tempat yang selamat, kuping mereka dirasakan hampir tuli oleh berisiknya suara potonganpotongan es yang jatuh.

Bouwyong Ciong masih penasaran, ia lihat San Ho sedang lari di lain arah.

"Ke mana kau hendak lari?"

Teriak Congkauwtauw dari istana ini.

Lalu ia enjot tubuhnya, untuk lompat, mengulangi pengejarannya San Ho tunggu orang sampai datang dekat, ia berpaling, kembali ia meniup serulingnya, guna menyumpit pula lawannya itu.

Kali ini Bouwyong Ciong sudah siap sedia, dengan menggerakkan tangan kanannya ia menyampok panah sumpitan itu, sedang tangan kirinya ia gunakan untuk menjambak si nona.

Lompatannya yang jauh membuat ia segera datang dekat pada nona itu, siapa sebaliknya karena hendak menyumpit, sudah hentikan larinya.

Belum sempat nona Tiat berkelit atau menangkis, maka lehernya kena tersamber tangannya Bouwyong Ciong, hingga ia rasakan lehernya dan separuh tubuhnya kaku, maka ia tak dapat berdiri lebih lama pula.

Tapi ia masih bisa berteriak.

"EnCie Lian! Lekas!"

Bouwyong Ciong tertawa.

"Aku memang ingin tunggu datangnya enCie-mu itu!'"

Dia kata.

Sementara itu, keruntuhan es sudah mulai reda, ketika Congkauwtauw itu memandang, ia dapatkan mulut lembah itu telah tertutup salju.

Maka itu, biar orang pandai bagaimana, sukar untuk dia merayap turun.

Dan, kecuali Kim Tok Ek dan Eng Siu Yang, yang sudah masuk ke dalam mulut lembah, pahlawan lainnya tak ada satu jua yang sanggup masuk ke situ.

Bouwyong Ciong cekal tubuhnya San Ho, untuk dikempit.

Nona itu sudah tidak berdaya sama sekali.

"Semua saudara kita tertahan di luar,"

Kata dia dengan masgul.

"jikalau Giok Lo Sat datang bersama barisan wanitanya, tentu sekali tidak dapat kita lawan jumlah mereka yang terlebih besar..."

"Karena kita sudah berhasil membekuk budak ini, lebih baik kita pulangdulu,"

Eng Siu Yang usulkan.

"Hantu wanita itu terlalu agulkan kepandaiannya, nyalinya juga besar sekali, dengan adiknya terjatuh ke dalam tangan kita, dia pasti datang menolongnya, dengan sendirinya kita, dari tetamu berbalik menjadi tuan rumah, kita pasti akan menang di atas angin."

"Baik,"

Bouwyong Ciong akur dengan usul itu.

"Sekarang mari kita lekas menyingkir dari lembah ini."

Lantas ketiga orang ini mencari jalan keluar.

Bouwyong Ciong tetap kempit San Ho.

Di antara mereka bertiga dialah yang ilmu silatnya paling liehay, walaupun ilmu entengkan tubuhnya tak semahir Giok Lo Sat.

Begitulah dijalan sukar itu, ia jalan seperti di tanah datar.

Eng Siu Yang kalah sedikit dari Congkauwtauw itu, akan tetapi dia bertangan kosong, maka itu, dapat ia susul sepnya itu.

Maka sengsaralah Kim Tok Ek, yang kalah di kaki meskipun ilmu silatnya mahir.

Untuk jalan di tanah datar, tidak apa, tetapi di tempat tak rata itu, sebentar-sebentar dia berhenti untuk beristirahat.

Bouwyong Ciong ingin lekas-lekas menyingkir, ia sudah tidak sabar.

"Coba kau bantu dia!"

Ia suruh Eng Siu Yang.

Sebenarnya tak sudi orang she Eng ini bantui Tok Ek, tetapi karena ada titah dari pemimpinnya, ia tidak dapat menolak.

Maka ia hampiri si orang she Kim, untuk membantu padanya.

Selagi menantikan Tok Ek, Bouwyong Ciong berhenti bertindak.

Tiba-tiba saja San Ho, di dalam kempitannya, berteriak keras.

"Kau cari mampus?"

Bentak Bouwyong Ciong dengan murka.

Lantas dia angkat kepalanya, akan melihat ke arah atas gunung di mana ia tampak satu peta tubuh manusia di atas bukit, tubuh mana bergerak gesit ke arah puncak bagaikan burung terbang.

Kim Tok Ek segera menjerit.

"Giok Lo Sat!"

Dia kaget sekali.

Tanpa bersangsi sedikit juga, Bouwyong Ciong totok orang tawanannya, kemudian ia letakan tubuh Nona Tiat di sampingnya.

Terus ia mengawasi ke atas, ke arah peta tubuh manusia tadi.

Sekarang terlihat tegas bukannya satu orang tetapi dua orang yang berada di bukit.

Yang satunya tidak berlari-lari naik, dia tetap berdiam diri, dia mirip dengan seorang lelaki.

Sedang yang naik, mirip dengan seorang wanita Dengan ragu-ragu, Congkauwtauw pahlawan istana ini terus memandang ke arah orang itu.

XIV Giok Lo Sat dan To It Hang berada di atas gunung.

Berdua mereka sedang memandang ke sekitarnya tatkala mereka mendengar suara sangat berisik bagaikan gemuruhnya guntur.

"Salju beku di depan gempur,"

Kata Giok Lo Sat.

"Pasti sekali adik San Ho terhalang perjalanan pulangnya."

Selagi si Raksasi Kumala berniat lari turun, untuk menengoki gadisnya Tiat Hui Liong, matanya berbentrok dengan peta tubuh yang sedang berlari-lari naik ke atas bukit menuju dia berdua.

Dia kenali orang itu adalah Anghoa Kuibo, si Biang Hantu Bunga Merah.

"Anghoa Kuibo datang lagi,"

Kata It Hang, yang pun kenali nyonya yang liehay itu.

"Terang sekali dia telah dipedayakan orang. EnCie Lian, kau harus berhati-hati."

Nona itu manggut.

"Kau diam di sini tunggui dia,"

Katanya.

"Aku akan pergi ke pesanggrahan kita, segera aku kembali."

Dan terus ia putar tubulnya, buat lari ke arah pesanggrahannya.

It Hang turut pesan itu, ia berdiri tegak, matanya mengawasi ke arah si Biang Hantu Bunga Merah, yang tidak lama kemudian sudah lantas sampai.

Sebetulnya ketika Anghoa Kuibo meninggalkan Benggoat kiap, ia beragu-ragu atas keterangannya Giok Lo Sat.

Ia pikir.

"Suami bangsat itu sudah sering aku beri nasehat, sering juga dia tak dapat ubah tabiatnya, maka ada kemungkinan yang dia berani berbuat busuk pula. Tapi, inilah tak mungkin! Bukankah dia minggat belum berapa lama? Bukankah aku telah susul dia pada hari kedua sehabis ia minggat? Mustahil dalam tempo demikian singkat dia dapat berdamai dengan Bouwong Ciong untuk melakukan kejahatan?"

Sama sekali Anghoa Kuibo buta terhadap maksudnya Kim Tok Ek buron itu.

Sebenarnya suami ini telah bermupakat dari jauh hari dengan Eng Siu Yang.

Mereka sudah janji, bilamana Anghoa Kuibo pergi mengunjungi sahabatnya, ia mesti minggat, nanti Siu Yang beramai papak padanya.

Anghoa Kuibo tetap terbenam, dalam keragu-raguannya itu.

"Giok Lo Sat kata suamiku pergi ke Cenghie koan, baik aku pergi ke sana dulu,"

Demikian pikirnya terlebih jauh.

Si Biang Hantu ini tidak tahu Pek Sek Toojin berada di kuil Cenghie koan itu, maka ketika kedua orang ini bertemu satu pada lain, hampir saja mereka bentrok dan bertarung hebat.

Selama kedua pihak saling caci, Anghoa Kuibo sudah lantas ketahui bahwa benar-benar suaminya telah pernah datang ke kuil itu, cuma ia masih belum ketahui yang suaminya itu telah dilukai si Raksasi Kumala.

Dalam mendongkolnya, Pek Sek Toojin berteriak.

"Siapa mempunyai kesempatan akan urus suamimu itu? Kau datang kemari untuk mencari suami, sungguh ini adalah satu lelucon yang maha besar! Jikalau kau hendak cari suamimu, pergilah minta kepada Giok Lo Sat! Hm! Pedangnya Giok Lo Sat pastilah tidak kenal kasihan! Suamimu itu sudah rasai tajamnya pedang si Raksasi Kumala itu! Umpama kau pergi mencari nona itu, belum tentu dia serahkan suamimu masih hidup!..."

Baru saja Pek Sek Toojin mengalami kegagalan, meskipun di dalam kuilnya ada banyak muridnya, ia agaknyajeri juga terhadap si Biang Hantu Bunga Merah ini, karenanya ia sengaja omong demikian, supaya hawa amarahnya nyonya ini meluap dan segera pergi mencari si nona kosen itu.

Inilah tipunya-tipu memindah bencana kepada pihak lain.

Anghoa Kuibo berniat keras mencari suaminya, tidak ada niatnya untuk cari gara-gara dengan pihak Butong pay, kalau dia toh omong keras, itulah disebabkan tabiatnya dan kemendongkolannya, Begitu dengar omongan Pek Sek, dia terus lari keluar dari kuil.

Ketika sampai di pintu pekarangan, mendadak ia ingat sesuatu.

Maka ia menoleh kepada si imam.

"Bagaimana dengan Gak Beng Kie?"

Tanyanya. Merah wajahnya Pek Sek Toojin.

"Siapa yang demikian usil? Tak tahu aku!"

Beberapa murid Butong pay segera menggabrukkan pintu!

Bukan kepalang gusarnya nyonya galak itu, di saat dia hendak melompati tembok, untuk menerjang masuk kembali ke dalam kuil, tiba-tiba saja ia dapat pikiran lain.

"Belum pasti suamiku itu sudah mati, tapi terang dia terluka di tangannya Giok Lo Sat, buat apa aku gerecoki lagi Pek Sek?..."

Oleh karena dia ingat ini, Anghoa Kuibo terus lari turun gunung.

Ia menuju ke kota Konggoan, ia hendak cari Bouwyong Ciong.

Ketika itu kekacauan sudah berakhir, rakyat jelata telah bubar dan pahlawan-pahlawan yang terluka sudah sampai di kantor, maka ketika si Biang Hantu tiba, dia hanya dengar rintihan korban-korban kekacauan itu.

Ia kaget berbareng heran.

Waktu ia masuk ke dalam, untuk melihat korbankorban itu ia peroleh kenyataan, mereka itu merintih kesakitan akibat luka pedang.

Itulah bekas totokan pedang di batas jalan darah dan itulah hasil tangan yang liehay dari Giok Lo Sat.

Anghoa Kuibo tidak lihat, baik Bouwyong Cong maupun Eng Siu Yang.

"Ke mana mereka pergi?"

Dia tanya pahlawan-pahlawan terluka itu.

"Bouwyong Congkoan dan Eng Touwtauw telah pergi untuk menolongi Kim LooCianpwee,"

Sahut beberapa pahlawan, yang sudah dipesan Eng Siu Yang.

"Baiklah kau lekas pergi ke Benggoat kiap, loojinkee..."

"Untuk apa aku pergi kesana?"

Tanya si nyonya.

"Ah, apakah loojinkee belum mengetahuinya?"

Sahut orang itu.

"Kim LooCianpwee telah dilukai Giok Lo Sat, dia ditawan hidup-hidup dan dibawa pergi..."

Kaget juga nyonya itu.

"Bagaimana dengan Gak Beng Kie?"

Dia masih tanya.

"Eh, ya, apakah benar Him Kengliak telah dihukum mati pemerintah?"

"Gak Beng Kie? Ohritu Gak Beng Kie!"

Sahut si pahlawan.

"Dia adalah satu bubeng siauwCut, dari mana loojinkee ketahui dia? Dia telah merampas harta besar yang seharusnya disita pemerintah ketika Him Kengliak dihukum mati! Maka pemerintah hendak cari padanya. Kita sama sekali tidak ditugaskan untuk membekuk dia. Tentang sebabnya kenapa Him Kengliak dihukum mati, inilah kita tidak tahu, tetapi mendengar kata orang dia telah berdosa menjual negara pada bangsa asing dengan siapa dia berkongkol!..."

Habis dengar itu, tanpa banyak omong lagi, Anghoa Kuibo meninggalkan kota, untuk lari ke arah Benggoat kiap.

Sesampainya di dekat selat, Nyonya Kim ini telah melihat rombongan pahlawan-pahlawan istana.

Dia lari ke arah mereka itu, dengan niat minta keterangan.

Justeru itu ia dengar suara hebat bagaikan guntur, ialah longsornya potongan-potongan es.

Itu waktu, Bouwyong Ciong bertiga sudah memasuki mulut selat yang ketiga.

Dan ketika nyonya ini sampai di mulut selat pertama, es itu sudah menutupi Seantero jalanan masuk.

Maka ia hampirkan pahlawan yang terbelakang itu, untuk meminta keterangan padanya.

Pahlawan yang ditanya itu kebetulan ada muridnya Eng Siu Yang, dia cerdik tak kalah dari gurunya.

Dengan enak dia menjawab.

"Kami datang kemari untuk menolongi Kim LoCianpwee, di tengah jalan tadi kami telah bentrok dengan barisan wanita dari si hantu gunung ini. Bagus kau telah datang loojinkee! Lihat jalanan sudah tertutup, kami semua tidak sanggup melintasinya, maka baiklah loojinkee yang pergi mendaki gunung, guna jalan mutar ke Benggoat kiap..."

Anghoa Kuibo anggap benar keterangan itu, ia tinggalkan semua pahlawan, maka dari samping dapat ia mendaki bukit untuk lintasi jalan tertutup itu.

Ketika ia sampai di atas, Bouwyong Ciong bertiga sedang merayap naik batu dan oyot rotan mengalingi mereka dari matanya si nyonya jagoan.

Karenanya, Anghoa Kuibo tidak lihat suaminya, tak tahu dia suaminya justeru berada di dekatnya.

Pun, berbareng dengan itu, nyonya kosen ini dapat lihat satu peta tubuh muncul di samping bukit, gerakannya cepat bagaikan terbang.

Ia menjadi heran dan berpikir.

"Itulah ilmu enteng tubuh yang mahir sekali, mirip dengan kepandaiannya Giok Lo Sat.

"Siapakah orang pandai ini?"

Masih terus Nyonya Kim ini berpikir, menduga-duga orang itu.

Ia tahu betul, dalam kalangan kangouw, dari pelbagai partai, tidak ada orang yang demikian liehay ilmu enteng tubuhnya.

Ia hanya dapat menduga-duga, lain tidak.

Coba tidak di saat seperti ini, pasti ia sudah susul orang itu, untuk peroleh kepastian.

Sekarang ini ia terlalu sibuk dengan soal menolongi suaminya.

Ia juga kuatirkan orang ada dari pihak musuh, kalau benar itu, pasti ia akan hadapi suatu lawan yang tangguh, sedang kalau orang ada dari pihak sahabat, sedikitnya ia mesti sia-siakan tempo untuk berbicara dengan dia itu.

Karena Benggoat kiap sudah berada di depan matanya, dia tidak ambil mumat lebih jauh, dia lari terus, mendaki, sampai melintasi sebuah puncak, dan akhirnya dia tiba di tempat di mana It Hang sedang berada sendirian saja.

"Mana Giok Lo Sat?"

Tanya si nyonya, yang bergelisah sebab ia tidak tampak si nona gagah. It Hang hormati nyonya yang liehay itu, ia menjura "Ada apa IooCianpwee kembali?"

Dia tanya mendahului.

"Inilah bukan urusanmu! Suruh Giok Lo Sat kemari!"

Bentak si nyonya.

"Baik IooCianpwee tunggu sebentar, dia segera datang,"

Kata si anak muda, yang tak menggubris sikap orang yang galak dan jumawa itu. Anghoa Kuibo menoleh ke arah pesanggrahan, yang pintunya tertutup rapat.

"Ha, kau sedang bantui dia menggunakan tipu memperlambat ketika?"

Dia kata.

"Nyonya tuamu tak dapat dipedayakan!"

Nyonya ini duga Giok Lo Sat insaf akan kesalahannya maka dia tak hendak menemui tetamunya dan pintu pesanggrahanpun ditutup.

Malah dia menduga juga, nona itu tentunya hendak menyingkir secara diam-diam dari belakang, hingga dia jadi sangat bergelisah.

Maka tanpa bilang suatu apa lagi, dengan tangan kiri dia tolak It Hang, untuk geser pemuda itu tidak menghalangi padanya, terus dia lari ke pintu, akan terus juga kumpul tenaganya, untuk dengan tongkatnya menghajar daun pintu, sedang tangan kirinya, dipakai menggebrakjuga "Brak!"

Pintu pesanggrahan roboh terbuka.

Menampak demikian, beberapa serdadu wanita, yang menjaga pintu itu, segera lari kabur, untuk selamatkan diri.

Berbareng dengan itu Giok Lo Satpun muncul, dia lari mendatangi.

"Anghoa Kuibo, kau berani merusak pintu pesanggrahanku?"

Dia menegur dengan murka, terus dia menyerang dengan pedangnya, beruntun sampai dua kali.

Anghoa Kuibo menangkis dengan tongkatnya, menghalau ujung pedang ke arah ulu hatinya.

Menggunai ketika itu, Giok Lo Sat berlompat tinggi, sampai ia lewati kepala si nyonya, dengan begitu, dapat ia pilih tempat di sebelah atas.

"Mari, mari! Mari kita bertempur pula sampai tiga ratus jurus!"

Ia menantang. Anghoa Kuibo siapkan tongkatnya.

"Giok Lo Sat, kau berani pedayakan aku?!"

Dia menegur dengan bentakannya.

"Lekas kau kembalikan orang kepadaku! Jikalau tidak, hari ini aku tak mau sudah dengan begini saja!"

Giok Lo Sat bisa duga nyonya ini sedang dipermainkan orang, tetapi karena pintu pesanggrahannya dirusak, ia tetap murka sekali. Hingga tak sudi ia bicara ngotot.

"Jikalau kau tidak perbaiki pintu pesanggrahanku,"

Katanya mengancam.

"aku sendiri kenal kau, pedangku tidak, maka itu, biar kau sendiri suka menyudahinya, aku tidak!"

Ucapan ini dibuktikan dengan serangan bertubi-tubi, sampai enam atau tujuh tikaman.

Anghoa Kuibo menjadi sangat murka, dengan tongkatnya yang berkepala naga, ia membuat perlawanan, ia menyabet dengan dahsyat, sampai sambaran dari tongkatnya menerbitkan suara seperti angin.

Maka itu berdua mereka bertempur di muka pesanggrahan, bertempur secara dahsyat.

AnghoaKuibo berkelahi dengan hati bergelisah, gusarnya terhadap si nona bukan buatan, sehingga ia seperti sedang mengadu jiwa secara mati-matian.

Repotlah Giok Lo Sat melayani musuh ini, tidak peduli selama keram diri tiga tahun di selatnya, ia juga telah peroleh kemajuan.

Syukur untuknya, selagi ia kewalahan melayaninya, ilmu enteng tubuhnya tetap mahir, hingga ia tak dapat diserang atau dilukai.

Tongkatnya sinyonya melainkan mengenai batu hingga batu itu hancur dan beterbangan.

Dalam keadaan sehebat itu si Raksasi Kumala masih bisa tertawa.

"Ha, semenjak tiga tahun, belum pernah aku dapat bertempur secara begini gembira!"

Demikian ujarnya.

Menghadapi lawan yang tangguh itu, dia mainkan pedangnya dengan sungguh-sungguh, dia keluarkan pelbagai jurusnya yang istimewa, hingga dia bergerak bagaikan naga beterbangan melilit-lilit, gesit majunya, sebat mundurnya.

Anghoa Kuibo menjadi bertambah mendongkol apabila ia dapat kenyataan tak dapat ia robohkan lawannya itu walaupun ia sudah berkelahi secara sangat mendesak.

"Baiklah, aku akan adu jiwa denganmu!"

Dia berteriak sekuatnya.

Dan serangan-serangannya diperhebat, dengan tongkatnya, dan dengan kepalannya juga Ia berlaku sangat telengas, setiap serangannya selalu di arahkan ke tempattempat yang berbahaya sekali.

Telapakan atau kepalan tangan kirinya, memainkan jurus-jurus Paysan Ciang, Menolak Gunung.

To It Hang bergelisah menyaksikan pertarungan semacam itu, meskipun ia bukannya seorang yang bernyali kecil.

Inilah disebabkan karena ia menyayangi kedua lawan itu.

"Bicaralah baik-baik!"

Dia berseru akhirnya.

"Dengan sebenarnya Kim LooCianpwee tidak ada di sini!"

Dua orang itu tidak mau berhenti dengan begitu saja, mereka bertempur terus, sampai seperti tanpa merasa, mereka sudah melalui tiga ratus jurus.

Pertempuran kali ini beda dengan pertempuran duluan di Pitmo gay.

Waktu itu, pertama-tama ada Pek Sek Toojin dan Tiat Hui Liong, yang melayani nyonya tua itu, hingga dia telah gunai terlalu banyak tenaga.

Di samping itu ada Gak Beng Kie dengan sarung tangannya yang liehay.

Hingga Giok Lo Sat mendapatkan banyak keringanan.

Kali ini mereka ada satu sama satu, segar sama segar.

Si Raksasi Kumala liehay ilmu pedangnya, liehay juga kengkang sut, ilmu enteng tubuhnya, akan tetapi di samping itu, ia kalah lweekang atau "tenaga dalam"

Dari si nyonya kosen, maka lama kelamaan ia kalah angin juga, ia merasa dirinya terdesak.

Karena itu, terpaksa ia berlaku waspada.

It Hang menjadi semakin gelisah.

Sulitnya untuk dia, tidak dapat dia menyerbu di antara mereka itu, sebab dia dapat menimbulkan salah pengertian di antara kedua orang yang sudah jadi nekat itu.

Pun teriakannya untuk minta kedua pihak menunda pertarungannya sia-sia saja.

Selagi keduanya bergulat terus, tiba-tiba terdengar seruan si nyonya tua.

"Kena!"

Itulah seruan yang dibarengi dengan hajaran tongkat kepada pedangnya, seraya disusul dengan sampokan tangan kiri ke arah muka si nona.

Riuh suara kaget dari barisan wanita dari Benggoat kiap.

Mereka kuatirkan pemimpin mereka, yang sudah terdesak itu.

"Tak bisa!"

Seru Giok Lo Sat, yang diiringi dengan suara tertawa nyaring tetapi halus.

Benar-benar si Raksasi Kumala lolos dari ancaman malapetaka Orang tidak lihat ia gunai tipu apa, tahu-tahu ia sudah terhindar dari tangan kirinya Anghoa Kuibo, pun pedangnya tak terpental karena gempuran tongkat itu, sebab dapat ia elakan senjatanya itu.

Malah sebaliknya, dengan pedangnya, ia lakukan penyerangan membalas yang dinamakan.

"gigi tukar dengan gigi!"

Tiba-tiba ujung pedangnya sudah menyambar ke ulu hati lawannya itu, si Biang Hantu Bunga Merah.

Itulah satu rahasia yang diketahui Giok Lo Sat sendiri, setelah pertempuran di Pitmo gay melawan Anghoa Kuibo, dia merasa bahwa di kolong langit ini cuma nyonya tua kosen ini yang menjadi lawannya yang seimbang tangguhnya dengan dia sendiri, karena itu, dia selalu pikirkan jurus-jurus yang istimewa saja untuk bisa melayani kelak.

Dalam hal ini ia nampak kesulitan, sebab tidak sanggup dia melayani lweekang orang.

Apa yang menambah keringanannya adalah dia telah kenal baik ilmu tongkat si nyonya, hingga untuk sementara, selama menghadapi ancaman bencana, dia mengandalkan kegesitan tubuhnya.

Demikian kali ini dalam saat ancaman bahaya maut itu, dapatlah dia selamatkan dirinya, sambil mencari balas.

Anghoa Kuibo duga, satu kali ini dia dapat peroleh hasil.

Dia percaya betul yang lawannya tidak akan lolos lagi.

Tapi dugaannya dan kepercayaan itu, gagal dua-duanya.

Atas kejadian ini, bukan dia jadi sengit dan bertambah benci kepada nona itu, sebaliknya, timbullah rasa sayangnya untuk kelincahan orang itu.

"Bocah ini masih berusia sangat muda tetapi kepandaiannya, kecerdasannya, telah begini mahir, itulah kepandaianya yang tidak mudah didapatkannya,"

Demikian dia berpikir.

"Bila dia benar-benar tidak binasakan suami bangsatku, aku suka beri ampun padanya..."

Sambil berpikir demikian, ia sampok pedang si nona. hingga ia pun bebas dari ancaman kepada ulu hatinya itu. Habis ini, keduanya bertempur sedikit kendor.

"Aku punya suami bangsat itu sudah mati atau masih hidup? Kau hendak memberitahukan atau tidak?"

Begitu si nyonya kosen menanya tetapi dengan bengis sekali. Giok Lo Sat tertawa.

"Mana aku ketahui dia sudah mampus atau masih bernyawa!"

Demikian jawabnya. Kembali naik darahnya si nyonya tua.

"Bukankah, kau telah tikam dia sampai terluka?"

Dia masih sabarkan diri, dia masih suka menanyakan.

"Kenapa kau bolehnya tidak mendapat tahu?"

"Memang, aku telah tikam dia!"

Si Raksasi Kumala akui.

"Ketika aku tikam dia, pasti sekali dia masih hidup! Hanya sekarang, dia masih hidup atau sudah mati, tidak aku tahu!"

Tergetar hatinya si Biang Hantu.

Mendengar jawabannya si nona ia menduga bahwa suaminya itu telah kena ditawan nona ini, mungkin karena lukanya parah sekali, suami itu sedang menghadapi malaikat maut.

Kalau tidak, mustahil jawabannya nona itu sedemikian rupa "Marilah kau ajak aku ke dalam pesanggrahanmu untuk menyaksikannya!"

Dia mengajak.

"Jikalau suamiku itu belum mati, lekas kau tolongi padanya. Tetapi jikalau dia betul sudah mati, --hm! --maka haruslah kau mengganti jiwa!"

Giok Lo Sat tertawa dingin.

"Jikalau kau mempunyai kepandaian, pergilah sendiri!"

Dia kata. Lantas dia lintangkan pedangnya di dadanya, untuk bersiap sedia. It Hang, dalam gelisahnya, gunakan ketika ini.

"Dengan sebenarnya Kim LooCianpwee tidak ada di sini!"

Katanya berteriak.

"Di mana dia?"

Teriak Anghoa Kuibo menegaskan.

"Tadi malam dia kena ditikam, dia jatuh menggelinding ke bawah gunung,"

Sahut It Hang.

"Mungkin dia sudah pulang ke kota untuk cari Bouwyong Ciong."

"Ngaco!"

Bentak si nyonya kosen.

"Bouwyong Ciong sekarang ini berada di luar mulut selat, dia terhalang tumpukan es. Mungkin sebentar lagi dia bakal datang kemari. Jikalau dia sudah pulang ke kota, cara bagaimana dia bisa datang pula kemari untuk menolongi?..."

Giok Lo Sat terperanjat.

"Aku tungkuli diri dengan layani dia ini bertarung, siapa nyana, Bouwyong Ciong telah datang menyerang kemari,"

Pikirnya.

"Jangan-jangan mereka datang kemari dengan mengejar adik San Ho. Sudah terang adik San Ho bukannya tandingan mereka..."

Ia jadi bergelisah, maka segera ia kata pada lawannya itu.

"Mari kita cari Bouwyong Ciong, untuk padu dengan dia! Tidakkah ini ada terlebih baik?"

Anghoa Kuibo tertawa dingin.

"Menolong orang mesti cepat seperti menolong bahaya kebakaran."

Katanya.

"Dia telah kau tikam, mungkin terkena anggauta tubuhnya yang berbahaya, mana aku punya kesempatan untuk bersama kau mencari Bouwyong Ciong?"

Nona Lian tertawa bergelak-gelak.

"Siapa bilang aku lukai dia di tempat yang berbahaya?"

Tanyanya.

"Suamimu itu mempunyai ilmu silat yang bukan sembarang! Baik aku omong terus terang! Memang niatku menikam dia pada anggauta yang berbahaya, tetapi dia berkelit secara gesit sekali, maka dia cuma tertusuk kakinya. Jangan kau gelisah tidak keruan!"

"Apakah kau omong benar-benar?"

Si Biang Hantu tegaskan.

"Apakah benar-benar dia tidak ada di sini? Giok Lo Sat, jangan kau pedayakan orang! Sekarang aku tanya kau, kenapa tadi kau tidak sebut-sebut halnya dia telah terluka?"

Giok Lo Sat tertawa berkakakan.

"Urusan sedemikian kecil, apakah ada harganya untuk disebutsebut?"dia balik tanya.

"Sekarang hendak aku tanya padamu. Jikalau kau mempunyai urusan yang buruk, apakah kau sudi orang menyebutkannya?"

"Apa? Kapan aku punyakan urusan jelek?"

Dia tanya.

"Apakah kau maksudkan kejadian di Pitmo gay itu? Ketika itu kamu berkelahi dengan main kerubuti, dengan bergilir ganti! Adakah itu memalukan aku?"

"Ini hanya suatu perumpamaan!"

Si Raksasi Kumala tertawa pula.

Baca Juga: Romantika Sebilah Pedang 7

Baca Juga: Duel Di Butong Khu Lung

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger