Eps 7 Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id
Baca online Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id
Cersil Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id.
"Kalau kau tidak segera keluar, aku akan berteriak!"
Mendadak Cong Hoa berseru keras.
Hong Coan-sin melengak, dia tidak habis mengerti apa maksud dan makna gadis itu meneriakkan ucapan tersebut.
Dia boleh melengak dan tidak mengerti, ternyata ada orang lain yang mengerti, maka terdengarlah seseorang menghela napas panjang.
Dengan sigap Hong Coan-sin berpaling, menengok ke arah sumber suara itu.
"Aku tahu, wanita memang selalu tidak mampu menahan diri,"
Kata orang itu.
"Siapa?"
Bentak Hong Coan-sin.
"Aku!"
Jawab orang itu.
"Masa kau tidak mengenali suaraku?"
Tiba-tiba paras muka Hong Coan-sin berubah hebat, berubah jadi amat tidak sedap dipandang, berubah seakan akan tidak percaya dengan pandangan mata sendiri.
"Rupanya kau?"
Serunya tertahan.
"Tentu saja aku, kecuali aku siapa lagi yang bisa membuat tabib sakti kita begitu terperanjat?"
Bersama dengan selesainya perkataan itu, seseorang telah melangkah masuk ke dalam ruangan.
Begitu berjumpa dengan orang itu, Cong Hoa segera menghembuskan napas lega, kalau tadinya jengah maka lambat laun paras mukanya berubah jadi normal kembali.
"Seandainya kau bisa sedikit menahan diri lagi, kujamin semakin banyak rahasia yang dapat kau dengar,"
Kata orang itu.
"Akupun berpendapat begitu,"
Sahut Cong Hoa.
"Sayangnya aku adalah seorang wanita."
"Darimana kau tahu kalau ada orang akan datang menolongmu?"
"Karena aku kelewat memahami watak manusia,"
Akhirnya Cong Hoa mulai tertawa.
"Tidak ada seorang manusia pun yang dapat bersikap tenang sewaktu menghadapi maut."
Setelah memandang Tay Thian sekejap, ujarnya lebih jauh.
"Tapi sejak awal hingga akhir, Tay sauya kita ini tidak menunjukkan perasaan takut bahkan sikap tidak tenang pun tidak terlihat, maka akupun mulai bertanyatanya, kenapa dia bisa begitu? Kenapa dia sama sekali tidak merasa takut? Kalau dia orang normal, mustahil reaksinya begitu aneh dan lain daripada yang lain."
Kemudian setelah memandang kembali ke arah Hong Coan-sin, lanjutnya.
"Maka aku pun mulai menduga, dia pasti sudah mempersiapkan rencana besar, dia pasti sudah mengatur segala sesuatunya dengan sempurna, dia pasti sudah menyiapkan jurus terakhir yang luar biasa."
"Dan kenyataan, segala sesuatunya sesuai dengan apa yang kau bayangkan?"
"Memang paling baik jika persis sama seperti apa yang kubayangkan."
Sejak kemunculan orang itu, Hong Coan-sin hanya berdiri mematung ditempat semula, sama sekali tidak bergerak.
"Heran dengan orang ini, kenapa mendadak dia tidak bergerak lagi?"
Gumam Cong Hoa.
"Memangnya kau telah membuatnya tertegun karena ketakutan?"
"Bukan kehadiranku yang membuatnya tertegun, tapi sarung tangan yang dia kenakan."
"Sarung tangan? Kenapa dengan sarung tangannya?"
"Kenapa tidak kau tanyakan langsung kepadanya?"
Tidak menunggu Cong Hoa mengajukan pertanyaan, Hong Coan-sin sudah menjawab duluan.
"Aku sama sekali tidak menyangka kalau dalam perkumpulan Cing Liong Hwee ternyata terdapat pengkhianat, dan lebih tidak kusangka kalau pengkhianat tersebut ternyata adalah kau."
"Sepantasnya kau bisa menduga akan hal ini, jika kau masih memiliki sedikit saja sifat manusia, sudah sepantasnya kau menduga ke situ."
"Kelihatannya perkumpulan Cing Liong Hwee masih belum cukup mendalam memahami tentang kau, kalau tidak, tidak mungkin akan terjadi peristiwa semacam ini."
"Rupanya kedatanganmu hari ini adalah untuk membalas dendam bagi kematian ayahmu?"
Kata Hong Coan-sin kemudian sambil menatap tajam orang itu.
"Siapa bilang bukan? Sudah belasan tahun dia menunggu kesempatan baik ini,"
Sela Cong Hoa riang.
"Darimana kau bisa tahu kalau bakal ada yang datang menolong kalian?"
Tanya Hong Coan-sin.
"Darimana kau tahu kalau orang yang bakal menolong kalian adalah dia? Cong Hui-miat?" ..... Ternyata orang itu tidak lain adalah Cong Huimiat! Bagaimana mungkin? Bukankah dia adalah seorang Tongcu dalam perkumpulan Cing Liong Hwee? Bukankah dia yang akan menggantikan posisi Tay Thian? Bagaimana mungkin dia bisa menjadi seorang pengkhianat? "Aku tidak tahu,"
Dengan bangga Cong Hoa berkata.
"Tapi ada satu hal aku tahu dengan pasti, manusia macam Tay Thian tidak mungkin bisa bersikap tenang apalagi disaat menghadapi maut jika dia tidak mempersiapkan sesuatu sebelumnya, aku yakin dia pasti sudah mempunyai rencana lain."
Kemudian sambil berpaling ke arah Tay Thian, katanya lagi sambil tertawa.
"Kalau ditanya persiapan apa yang telah dia lakukan? Aku pun tidak tahu, aku hanya yakin asal berteriak pasti ada orang yang akan memberi tanggapan dan pertolongan."
"Aaai... ternyata wanita memang tidak bisa diajak melakukan karya besar,"
Keluh Tay Thian sambil menghela napas.
"Bukan Cuma tidak bisa diajak melakukan karya besar, kalau punya rahasia lebih baik jangan sampai mereka ketahui, kalau tidak....."
"Kalau tidak kenapa?"
Teriak Cong Hoa sambil melotot ke arah Cong Hui-miat.
"Sebetulnya juga tidak apa-apa, hanya biasanya mereka tidak tahan kalau mendengar kelewat banyak,"
Kata Cong Hui-miat hambar.
"Aku tidak menyangka kalau kau sudah mempoleskan racun di dalam sarung tanganku!"
Tegur Hong Coan-sin sambil melotot gusar ke arah Cong Huimiat.
"Kalau bukan dipoleskan ke dalam sarung tangan, mana mungkin aku bisa meracuni?"
"Apakah kau tidak takut dengan pembalasan dari perkumpulan Cing Liong Hwee?"
"Aku masuk menjadi anggota Cing Liong Hwee karena aku memang ingin menghancurkan perkumpulan ini,"
Kata Cong Hui-miat hambar.
"mengenai pembalasan dari mereka...? hmm, tentu saja aku sangat mengerti, kalau ingin membalas, silahkan saja dilakukan."
"Kau sudah membuang banyak pikiran dan tenaga untuk menyusup masuk ke pusat perkumpulan Cing Liong Hwee, mengapa tidak menunggu sedikit hari lagi? Kenapa kau tidak menunggu sampai bisa menyusup ke markas besar dan bertemu dengan Liongtau lotoa sebelum membongkar identitasmu?"
"Sebetulnya aku ingin berbuat begitu, tapi sayang waktu sudah tidak mengijinkan lagi,"
Kata Cong Huimiat.
"Aku tidak bisa berpeluk tangan membiarkan nyawa mereka bertiga diujung tanduk, apalagi Nyoo Cing pun sudah dipojokkan hingga ke posisi mati."
"Posisi mati? Apakah Nyoo Cing berbahaya?"
Tanya Cong Hoa.
"Hingga detik ini mah belum,"
Kata Tay Thian.
"Sekarang Ti Cing-ling baru berperan sebagai si kucing yang menangkap tikus, dia pasti akan mempermainkan Nyoo Cing habis-habisan sebelum membunuhnya."
"Dia berada di mana sekarang?"
"Dalam rumah kayu kecil."
"Dari mana kau tahu kalau dia pasti berada di rumah kayu kecil itu?"
"Jauh sebelumnya diantara kami berdua sudah ada perjanjian."
"Sebelumnya? Sejauh mana itu?"
"Tiga belas tahun berselang."
"Berakhir pada saat tahun pertama Ti Cing-ling kabur dari penjara?"
"Betul."
"Kalau begitu aku adalah salah satu boneka yang berada dalam perencanaan kalian?"
Teriak Cong Hoa sambil menatap wajah Tay Thian.
"Bukan boneka, kau malah salah satu pemeran utamanya,"
Tay Thian berkilah.
"Tanpa kau, semua rencana kami tidak mungkin bisa terwujud seperti sekarang."
Cong Hoa tertawa, sekarang dia berpaling ke arah Cong-Hui-miat.
"Orang tua yang muncul di tempat kebakaran tempo hari apa benar kau?"
Tanyanya.
"Betul!"
Cong Hui-miat mengangguk.
"Tidak heran sewaktu hampir tertangkap tangan di dusun itu, tahu-tahu Ui sauya munculkan diri untuk menyelamatkan dirimu."
"Kalau aku tidak munculkan diri hari itu, mungkin dia sudah kau paksa untuk unjukkan diri,"
Kata Ui sauya.
"Kenapa tidak beritahu kepadaku terlebih dulu?"
"Kadangkala tidak mengetahui satu persoalan malah menguntungkan bagimu, paling tidak mengurangi resiko terjebak dalam ancaman bahaya,"
Cong Hui-miat menerangkan.
Totokan jalan darah sudah dibebaskan, Cong Hoa pun melompat turun dari altar panjang, dia pun meluruskan tulang belulangnya yang kaku, maklum tidur terlalu lama membuat tulangnya malah sakit dan linu.
Hong Coan-sin masih berdiri ditempat, sama sekali tidak bergerak.
Racun telah merambat naik dari jari tangan menuju ke bahunya, butiran keringat sebesar kacang kedele jatuh bercucuran membasahi jidatnya, mengalir melalui pipinya dan menetes diatas pakaian.
"Hey, kemana kaburnya budak darah?"
Mendadak Cong Hoa berteriak keras.
"Dia berada di belakang, dikurung bersama yang lain!"
Kata Cong Hui-miat.
"Pada akhirnya kita berhasil juga menjebol markas penting dari Cing Liong Hwee di tempat ini."
"Belum, kita masih belum berhasil,"
Kata Tay Thian.
"Belum?"
Tanya Cong Hoa tercengang.
"Masa tempat ini bukan markas penting dari perkumpulan Cing Liong Hwee?"
"Baik tempat ini maupun Pesanggrahan pengobatan Coan-sin-Ie-khek, kedua-duanya hanya merupakan kantor ranting."
"Apa bedanya kantor cabang dengan kantor ranting?"
"Jelas beda, setiap kantor cabang memiliki tiga ranting, setiap tiga kantor cabang tergabung dalam satu kantor yang disebut kantor musim."
"Kantor musim? Apa itu kantor musim?"
Tanya Cong Hoa.
"Ciagwe, jigwee, sagwee tergabung dalam kantor musim semi, sigwee, gogwee, lakgwee tergabung dalam kantor musim panas."
"Berarti jitgwee, pehgwee, kaugwee tergabung dalam kantor musim gugur?"
"Benar."
"Lantas kantor musim apa yang diutus perkumpulan Cing Liong Hwee untuk mengurusi tempat ini?"
"Kantor musim semi."
"Itu berarti ciagwee, jigwee dan sagwee, siapa sih Tongcu mereka?"
Tanya Cong Hoa lagi.
"Tongcu dari sagwee adalah Siau-tiap, tongcu dari ciagwe adalah pemilik pesanggrahan pengobatan ini,"
Kata Cong Hui-miat sambil berpaling kearah Hong Coansin.
"Lalu siapakah Tongcu jigwee?"
"Hoa U-gi!"
"Apa? Hoa U-gi?"
Sekali lagi Cong Hoa terkesiap.
"Bukankah dia adalah putri kesayangan Nyoo Cing?"
"Bukan!"
Sahut Tay Thian.
"Dia hanyalah seorang mata-mata yang sengaja disusupkan ke dalam istana raja muda."
"Waah, Cing Liong Hwee benar-benar hebat, manusia berbakat macam apa pun berhasil mereka rekrut, tapi ada tidak yang sengaja diutus untuk dijadikan bini peliharaannya?"
Gurau Cong Hoa sambil tertawa. Setelah tertawa terkekeh, kembali lanjutnya.
"Ciagwee, jigwee dan sagwee sudah jebol, apakah sudah diketahui siapa yang menjabat ketua kantor musim semi?"
"Belum tahu,"
Jawab Cong Hui-miat.
"Aku belum terlalu lama bergabung dengan perkumpulan Cing Liong Hwee, kecuali pernah bersua dengan para tongcu dari ciagwee, jigwee dan sagwee, yang lain aku tidak tahu apa-apa, jangan lagi siapa yang menduduki posisi ketua kantor musim."
"Waah, kalau begitu kita hanya berhasil menangkap ikan kecil sementara para ikan kakapnya masih berenang dengan bebas."
"Justru perkumpulan Cing Liong Hwee menakutkan lantaran hal ini,"
Kata Tay Thian.
"Membuat orang lain selamanya tidak pernah tahu siapa saja yang menjadi anggota perkumpulan naga hijau."
Tiba tiba Cong Hoa berpaling ke arah Hong Coan-sin, serunya.
"Mungkin kita bisa mengorek beberapa rahasia dari mulutnya?"
"Percuma, sesama anggota Cing Liong Hwee selalu berhubungan dengan menggunakan kata sandi, lagipula menggunakan cara yang khas dalam berhubungan, kecuali diri sendiri, siapa pun tidak akan tahu siapa pihak lawanmu."
"Bagaimana kalau sampai terjadi gontok-gontokan diantara sesama anggota?"
"Mustahil, sistim kerja mereka berdasarkan satu garis kebijaksanaan yang ketat, tidak nanti bisa terjadi peristiwa semacam ini."
"Tapi terkadang kejadian yang tidak mungkinpun bisa saja terjadi."
Orang yang mengucapkan perkataan itu adalah Hong Coan-sin, begitu selesai bicara, dia segera mengayunkan tangan kanannya, cahaya pisau segera berkelebat lewat.
Sinar tajam itu langsung menghujam ke tubuh Cong Hoa.
Selisih jarak diantara mereka berdua amat dekat, biar Cong Hoa ingin menghindarpun tidak sempat lagi, tampaknya pisau tipis itu segera akan menembusi tenggorokannya.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring bergema di udara, menyusul kemudian tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, langsung menghadang dihadapan Cong Hoa.
Cahaya kilat berkelebat lalu lenyap, percikan darah segar pun berhamburan kemana-mana, membasahi rambut Cong Hoa, menodai pakaiannya, mengotori seluruh badannya.
Ternyata orang yang menghadang didepan Cong Hoa adalah Ui sauya.
Ketika Hong Coan-sin menyelesaikan perkataannya tadi dan belum sempat menggerakkan tangan kanannya, Ui sauya sudah merasa kalau gelagat tidak beres, maka disaat pisau tipis itu baru meluncur keluar, dia sudah menyelinap ke depan menyongsong datangnya sambaran cahaya itu.
Selesai melemparkan pisaunya, Hong Coan-sin segera melejit ke udara, melewati pintu sempit dan lenyap diluar ruangan.
Tay Thian dan Cong Hui-miat membentak gusar, serentak mereka melakukan pengejaran.
Semburan darah masih memancar dengan derasnya, darah itu menyembur keluar dari dada kiri Ui sauya, diantara tulang rusuk ketiga dan ke empat, pisau tipis itupun masih tertinggal disana.
Paras muka Ui sauya telah berubah jadi pucat pias, peluh sebesar kacang kedele jatuh bercucuran, kendatipun kulit mukanya mengejang keras lantaran menahan sakit namun mimik wajahnya masih tampilkan perasaan gembira.
Sepasang matanya yang mengejang menatap terus wajah Cong Hoa, seolah dia mempunyai beribu patah kata yang hendak disampaikan kepada gadis itu.
"Kenapa kau... kau harus..."
Cong Hoa sudah tidak sanggup melanjutkan perkataannya lagi, sekuat tenaga dia gigit bibir sendiri sementara air mata bercucuran bagai bendungan yang jebol.
"Hanya dengan cara begini... kau baru bisa selamat."
Napas Ui sauya mulai tersengkal-sengkal, wajahnya makin lama semakin memucat, darah yang mengalirpun makin deras, rasa kesal dan murung sekali lagi melintas dibalik matanya.
"Ketika kalian sedang berbicara lagi, aku... aku selalu mem... memperhatikannya,"
Dengan bibir gemetar Ui sauya berkata.
"Aku berpendapat manusia macam... macam Hong Coan-sin tidak.... tidak semestinya keracunan de... dengan begitu gampang."
Dia tertawa getir, setelah berhenti sejenak lanjutnya.
"Ternyata... ternyata dugaanku benar, dia... dia pasti......pasti telah meletakkan obat...obat pemanahnya dibali sela gigi..."
Cong Hoa manggut-manggut.
"Masih.... masih untung tidak.... tidak sampai melukaimu..." ..... Tapi sekarang kau yang terluka, bagaimana dengan aku? Cong Hoa tidak sampai mengucapkan perkataan itu, bukannya lantaran dia tidak ingin mengatakan tapi dia tahu meski tidak usah diucapkan pun Ui sauya pasti mengerti maksud hatinya. Memandang tangan Cong Hoa yang sedang memeluknya, Ui sauya tertawa pedih. ... Sekalipun tertawa pedih, namun terselip pula perasaan manis dan mesranya.
"Sampai se tua ini aku... aku... baru pertama kali ini aku... aku dipeluk perempuan."
Air mata Cong Hoa sudah tidak terbendung lagi, dia tahu luapan perasaan Ui sauya saat ini boleh dibilang luapan perasaan yang paling tulus dan suci. Sayang masalah "Cinta"
Tidak bisa dipaksakan, karena itu Cong Hoa hanya bisa memandangnya tanpa bicara.
Dia memandang, memandang terus...
......terus sampai mati.
Mati dalam kedamaian, kepuasan dan luapan rasa gembira.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Cong Hoa memeluk tubuh Ui sauya, walaupun air mata masih meleleh namun sudah tidak mengalir lagi, bibirnya yang digigit kuat meninggalkan bekas luka yang berdarah.
Andaikata Ui sauya tidak menghadang tusukan tersebut, apakah dia masih hidup?
Mengapa dia rela menerima tusukan tersebut?
Apakah karena...?
Begitu mengayunkan pisau, tanpa berpaling Hong Coan-sin segera kabur melalui pintu sempit, dia tahu lemparan pisaunya pasti akan mengenai sasaran, masalah siapa yang terkena sudah bukan masalah lagi baginya.
Asal ada yang terkena lemparan pisau itu, suasana disitu pasti kalut, Hong Coan-sin memang hanya membutuhkan sedikit waktu untuk melarikan diri.
Menurut perhitungannya, kekalutan itu akan menyedot perhatian mereka dan diapun akan manfaatkan kesempatan itu untuk kabur jauh jauh dari situ.
Cuaca diluar rumah sangat cerah, setelah melalui lorong sempit, Hong Coan-sin kabur menuju ke arah jalan raya.
Dalam cuaca yang begini cerah, banyak orang berlalu lalang di jalan raya, gerombolan manusia itu merupakan penghambat yang baik bagi para pengejar.
Saat ini melarikan diri merupakan hal yang paling penting, maka Hong Coan-sin tidak ambil perduli bagaimana orang banyak memandangnya dengan keheranan, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dia berlarian menelusuri jalan raya.
Dalam berapa lompatan lagi dia segera akan meninggalkan pintu kota, tiba-tiba Hong Coan-sin merasakan pandangan matanya kabur, tahu-tahu dua sosok bayangan manusia telah melayang turun dari atas tembok kota.
Sewaktu diperhatikan, ternyata kedua sosok bayangan manusia itu adalah Tay Thian dan Cong Huimiat.
Satu dari depan yang lain dari belakang kedua orang itu langsung menghadang jalan mundurnya, melihat tidak ada jalan lagi untuk kabur, Hong Coan-sin pun tertawa tergelak.
"Sungguh tidak kusangka ilmu meringankan tubuh yang kalian miliki sangat hebat,"
Katanya.
"Masih banyak persoalan yang tidak kau duga,"
Kata Tay Thian.
"Pernahkah kau bayangkan, tidak sampai sepuluh gebrakan aku mampu mencabut nyawa anjingmu?"
"Tidak perlu sepuluh jurus, tujuh jurus pun sudah lebih dari cukup,"
Cong Hui-miat menambahkan.
Menonton keramaian merupakan ciri khas dari umat manusia.
Ketika melihat ada orang berlarian dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhpun sudah merupakan sesuatu yang menarik, apalagi ketika ada orang mau berduel, tentu saja semakin banyak orang datang berkerumun untuk melihat keramaian.
Tidak selang berapa saat kemudian kerumunan orang banyak sudah makin mendekat, mereka mulai menuding ke sana kemari sambil berbisik bisik.
Hong Coan-sin masih tertawa tergelak bahkan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau kuatir, perlahan-lahan dia melepaskan jubah putih nya kemudian sambil menyeringai dan mengejek dia tatap wajah Tay Thian serta Cong Hui-miat.
"Tampaknya pertarungan diantara kita tidak bisa dihindari lagi hari ini,"
Kata Hong Coan-sin kemudian.
"Aku percaya orang-orang itu pasti ingin menonton keramaian."
Begitu melihat kawanan penonton berjalan semakin mendekat, Tay Thian sebenarnya ingin membujuk mereka agar lebih menjauh karena dia kuatir Hong Coan-sin menggunakan siasat dengan menjadikan mereka sebagai perisai hidup, jika sampai demikian keadaannya, bisa jadi dia hanya bisa mengawasi orang itu kabur tanpa dapat berbuat apa-apa.
Baru saja dia bersiap membujuk, mendadak dijumpainya satu hal yang sangat aneh, ternyata walaupun para penonton itu tersebar disekitar sana namun hampir semuanya telah menghadang jalan mundur Tay Thian berdua, bahkan posisi mereka justru merupakan posisi strategis.
Tampaknya Cong Hui-miat merasakan juga gelagat tidak menguntungkan, dia segera memberi tanda kepada Tay Thian dan mereka berdua pun manggutmanggut dengan penuh pengertian.
Tampaknya kawanan penonton itu bukan penonton biasa, delapan sampai sembilan puluh persen rupanya adalah kawanan jago dari perkumpulan Cing Liong Hwee, bahkan bisa jadi mereka merupakan para pembunuh kelas satu yang sudah lama mendapat latihan dan pendidikan ketat.
Sekilas meski mereka kelihatan kalut, namun dalam kenyataan gerak-gerik mereka sangat beraturan dan tinggi disiplinnya, bahkan sorot mata mereka nyaris merupakan sorot mata binatang yang buas dan tajam, siap menerkam mangsanya.
"Tidak kusangka ternyata penduduk kota ini hampir semuanya merupakan jago-jago berilmu tinggi,"
Ujar Tay Thian sambil tertawa. Perasaan bangga mulai memancar keluar dari wajah Hong Coan-sin.
"Tajam amat matamu,"
Pujinya sambil tertawa, kemudian sambil berpaling ke arah Cong Hui-miat terusnya.
"Kau sudah cukup lama bercokol dalam perkumpulan Cing Liong Hwee, masa belum pernah mendengar tentang kawanan manusia ini?"
"Aku tahu pihak kantor pusat sedang melatih sekelompok orang yang disebut "serat", kelompok ini khusus untuk mengatasi pelbagai kejadian yang diluar dugaan, aku hanya tidak tahu siapakah kelompok itu dan biasanya berada dimana?"
"Padahal, sekalipun sudah bertemu dengan orangorang itupun belum tentu akan kau sangka kalau mereka adalah kelompok serat, sebab pada dasarnya mereka hanya kaum rakyat biasa."
Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya.
"Di waktu biasa, mereka hidup disekelilingmu sebagai layaknya rakyat biasa, penghidupan mereka, kebiasaan mereka tidak jauh berbeda dengan kehidupan pada umumnya."
"Serat?"
Gumam Tay Thian tercengang.
"Maksudmu serat sutera?"
"Benar,"
Cong Hui-miat mengangguk.
"Kenapa mereka disebut serat?"
"Sebab mereka direkrut secara khusus, harus melalui seleksi yang ketat dan sejak kecil sudah mendapat latihan dan pendidikan yang ketat dan keras mengenai pelbagai cara pembunuhan yang sadis dan keji,"
Ujar Hong Coan-sin.
"Mereka harus mampu memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dalam suasana dan kondisi yang paling tidak tepat, mereka pun harus memiliki cara paling cepat untuk membunuh lawan bahkan bisa mundur dengan selamat selesai melakukan pembunuhan."
"Apakah ada yang tidak lulus seleksi?"
"Tentu saja, ada yang tidak lulus seleksi dan terpaksa disingkirkan."
"Maksudmu disingkirkan? Dibunuh?"
"Benar, setelah dilakukan seleksi yang ketat setiap tahunnya, jumlah yang tersisa sudah tidak terlalu banyak. Kawanan manusia itu hampir semuanya dingin, sadis, tidak berperasaan, mereka rata rata licik bagai rase, buas bagai serigala, sabar bagai unta bahkan hampir semuanya menguasahi ilmu penyusut tulang, ilmu berganti wajah, sergapan, bokongan, pembunuhan gelap."
Setelah berhenti sebentar, terusnya.
"Kelompok yang tersisa bukan secara otomatis lulus pendidikan, mereka semua harus menjalani pendidikan lagi di lembah Giho-kok yang terletak di negeri Hu-siang dan menjalani latihan sebagai ninja selama tiga tahun."
Kemudian jelasnya lebih jauh.
"Setelah menjalani pendidikan yang ketat, sadis dan buas sebagai seorang ninja, gerak-gerik mereka semua ibarat seekor ular berbisa yang pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan, mereka pandai bersembunyi ditempat tempat persembunyian yang tidak mungkin bisa ditemukan orang lain, ketika suatu saat kemampuan mereka dibutuhkan maka orang-orang itu akan muncul secara tiba-tiba, melakukan penyergapan dan pembunuhan kemudian menghilang kembali."
"Oya?"
"Terkadang mereka sanggup tidak makan tidak minum, tidak tidur tidak bergerak, mereka mampu menyelinap ke dalam sebuah lubang yang kecil lagi sempit, hidup tanpa bergerak selama dua tiga hari, tapi begitu mulai bergerak, biasanya pihak lawan bakal mati secara mengenaskan,"
Kata Hong Coan-sin lagi sambil tertawa.
"Mereka pun sangat menguasahi medan, tahu semua seluk beluk diwilayah sini, kemampuan mereka yang tangguh bisa diibaratkan seekor ular serat bambu yang merupakan ulat paling beracun di dunia ini."
"Kenapa mereka tidak disebut saja sebagai kelompok ular serat bambu hijau?"
"Sebab kamuflase yang mereka gunakan tidak selalu berwarna hijau, bentuk mereka pun tidak mirip seekor ular."
Tay Thian segera tertawa, pujinya.
"Ehmm masuk diakal, sangat masuk diakal, serat tetap serat, mana mungkin ada nama lain yang jauh lebih bagus daripada sebutan ini?" ..... Biasanya analisa yang dilakukan Tay Thian, suya dari istana raja muda selatan ini sangat canggih dan akurat, mungkin dalam hal ini jarang ada yang menyangkalnya.
"Kalau ada serat, seharusnya ada juga jalan serat sutera,"
Tay Thian seakan mulai tertarik dengan masalah ini.
"Benar,"
Ternyata dengan sabar Hong Coan-sin menyahut.
"Apakah jalan sutera yang inipun sama seperti jalan sutera jaman kuno, menghubungkan kota Tiang-an melalui kota Tun Huang menuju ke barat?"
Hong Coan-sin menggeleng.
"Bukan?"
Tanya Tay Thian lagi.
"Jalan sutera ada dua, berarti jalan yang lain adalah dari kota Tiang-an menuju ke utara, setelah keluar perbatasan baru berbelok ke barat?"
Sekali lagi Hong Coan-sin menggeleng.
"Yang inipun tidak benar, lalu jalan sutera mana yang digunakan?"
Desak Tay Thian lebih jauh.
"Semuanya bukan, jalan sutera ini bukan sebuah rute jalan melainkan nama dari seorang manusia."
"Seorang manusia? Aneh, masa manusia bernama jalan sutera?"
"Sebab orang ini selalu menganggap nyawa sendiri bagaikan jalur serat sutera yang tipis tapi rapat, dia sudah menganggap dirinya bukan manusia lagi melainkan sebuah jalanan, karena tanpa kehadiran orang ini, kawanan 'serat' itu pun tak punya jalan untuk ditempuh."
"Oleh sebab itu orang tersebut dinamakan jalan sutera?"
"Benar."
"Bagus, bagus sekali,"
Sekali lagi Tay Thian memuji.
"serat, jalan sutera, nama yang luar biasa, mungkin biar ada pedang yang mengancam tenggorokanku pun aku tak akan bisa menemukan nama lain yang jauh lebih bagus."
"Jalan sutera sesungguhnya belum tentu merupakan seorang manusia, dia bisa berwujud sebuah jalanan, jalan kematian!"
Tiba tiba Cong Hui-miat menyela.
"Jalan kematian?"
"Betul!"
Sekali lagi Cong Hui-miat tertawa.
"Meskipun kawanan serat itu beranggapan tanpa dia maka tidak ada jalan, kalau ada dia pun sebenarnya tetap todak ada jalanan, kalau semisal dibilang ada, aku lihat jalanan itu tidak lebih hanya sebuah jalan kematian."
Berubah hebat paras muka Hong Coan-sin, berubah menjadi sangat tidak sedap dipandang.
Terlebih kawanan manusia yang disebut 'serat' itu, paras muka mereka berubah menjadi amat tidak sedap, bukan Cuma tidak sedap bahkan terkenan rasa kaget dan tercengang yang luar biasa, agaknya mereka tidak menyangka kalau ada orang berani memperbincangkan tentang mereka secara begitu santai bahkan bernada mengejek dan menghina.
Berapa diantara mereka sudah mulai mengggenggam senjata andalannya, asal perintah diturunkan, mereka segera akan menyerbu ke depan dan mencincang tubuh kedua orang itu hingga hancur berkeping.
Cong Hui-miat seolah tidak menyadari akan kemarahan kawanan manusia itu, kembali ujarnya.
"Dari kelompok 'serat' tersebut, kini sudah muncul dua puluh tujuh orang, ditambah kau berarti berjumlah dua puluh delapan orang."
Setelah melirik Hong Coan-sin sekejap, lanjutnya.
"Sementara kami hanya berdua saja, kelihatannya hari ini kami bakal mati."
"Dalam kenyataan agaknya memang seperti itu,"
Sambung Tay Thian cepat.
"Kelompok serat ini merupakan kelompok manusia yang sudah terlatih untuk membunuh, tapi bila kuhitung sampai angka ketiga, mereka semua pasti akan mampus, percaya tidak?"
Tanya Cong Hui-miat lagi.
"Menghitung sampai angka ketiga? Aku tidak percaya,"
Tay Thian menggeleng.
"Dihitung sampai angka tiga ratus pun aku tetap tidak percaya!"
"Kau benar benar tidak percaya?"
"Tidak percaya?"
"Bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Baik."
Cong Hui-miat pun berpaling ke arah Hong Coan-sin, tanyanya pula.
"Bagaimana dengan kau? Percaya tidak? Berani bertaruh?"
Kelihatannya orang ini sudah mabuk, apakah dia sedang mengigau dalam mabuknya?
Dua orang berhadapan dengan dua puluh delapan orang, dalam hitungan ketiga dia mengatakan semua 'serat' itu bakal mati, mana mungkin?
Tentu saja Hong Coan-sin tidak percaya, tentu saja diapun bersedia untuk bertaruh.
"Baik, aku ikut bertaruh."
BAB 2.
Kasus berdarah disiang hari bolong.
Pertaruhan sudah diputuskan, berarti pertarungan segera akan dimulai.
Bagaimana dengan barang taruhan?
Apa Yang dipertaruhan?
Berada dalam keadaan seperti ini, menurut anda apa yang mereka pertaruhkan?
Kecuali kematian, apa lagi yang bisa dipertaruhkan?
Sang pemenang akan hidup, sedang pihak yang kalah jangan harap punya kesempatan untuk merebut kembali kemenangan.
Lalu siapa yang menang dan siapa yang kalah?
Hong Coan-sin yang menang?
Atau Cong Hui-miat?
Cahaya matahari yang cerah menyinari permukaan bumi, menyoroti wajah setiap orang.
Suasana dijalan raya seketika berubah jadi hening, setiap wajah menampilkan perasaan tercengang dan tidak percaya, sementara senyuman Cong Hui-miat begitu wajar, begitu leluasa seakan dialah yang akan menjadi pemenang dalam pertaruhan ini.
Tay Thian ikut tertawa, bukan hanya bibirnya yang tertawa, bahkan hidung pun seakan ikut tertawa, dengan sorot mata yang penuh dengan senyuman dia pandang wajah Hong Coan-sin.
Tentu saja Hong Coan-sin pun sedang tertawa, tapi tertawanya jauh lebih jelek daripada menangis, bocah umur tiga tahun pun dapat melihat kalau senyuman tersebut kelewat dipaksakan.
Tertawanya memang kelewat dipaksakan, biarpun dia berusaha untuk bersikap sewajar mungkin namun kulit dan otot wajahnya seolah sudah membeku, sudah menjadi kaku, dia tidak habis mengerti kenapa dalam kondisi jumlah yang lebih kecil dan kemampuan silat yang lebih lemah, Cong Hui-miat berani bicara begitu meyakinkan?
Dia benar benar pingin segera tahu apa akibat yang terjadi setelah orang itu selesai menghitung angka ketiga.
Untuk menghitung dari angka satu ke angka tiga hanya dibutuhkan waktu yang amat singkat, bahkan perhitungan segera telah dimulai.
Ketika perhitungan angka satu mulai diteriakkan, Hong Coan-sin baru menyadari bahwa orang yang melakukan perhitungan bukan Cong Hui-miat juga bukan Tay Thian, melainkah Cong Hoa yang entah sedari kapan sudah nongkrong diatas tembok kota.
Cong Hoa berada jauh diatas tembok kota, dia sedang membopong seseorang dan orang itu tidak lain adalah Ui sauya.
Begitu melihat kemunculan Cong Hoa, Hong Coan-sin kagetnya setengah mati, tapi kejadian berikut membuat dia semakin terbelalak dengan mulut melongo.
Ketika Cong Hoa mulai menghitung angka 'satu', peristiwa yang tidak mungkin terjadi telah berlangsung di depan mata.
Hong Coan-sin menyaksikan dinding kota mendadak merekah dan terbelah dua, pasir dan batu berguguran ke mana mana, menyusul berhamburnya debu dan pasir dia saksikan munculnya satu baris manusia diatas tembok kota itu, berdiri sambil mementangkan busur dan anak panah.
Busur telah dipentang, diujung anak panah pun telah disulut api, ketika terpantul cahaya matahari terperciklah sinar kehijau hijauan.
"Sreeet, sreeet....."
Desingan angin tajam membelah seluruh angkasa, busur telah dilepas, anak panah pun berhamburan ke bawah.
Lima puluh empat batang anak panah menghujam ditubuh dua puluh tujuh orang, setiap orang 'serat' mendapat jatah dua batang anak panah.
Tatkala dinding kota mulai merekah, kelompok 'serat' sebetulnya sudah mulai bergerak, reaksi yang mereka tunjukkan sebetulnya sangat cepat dan terhitung nomor satu.
Tapi sayangnya baru saja tubuh mereka bereaksi, dua puluh enam batang anak panah sudah melesat membelah bumi dan menyongsong tubuh mereka.
Buru buru mereka berjumpalitan di tengah udara, kemudian bagaikan batu cadas yang terguling ke dasar jurang secepat kilat kedua puluh tujuh orang itu melayang turun ke bawah.
Reaksi mereka pun terhitung luar biasa, apa mau dikata baru saja tubuh mereka meluncur turun, kembali ada dua puluh enam batang anak panah yang membawa api meluncur tiba bahkan bagaikan rangkusan cewek cantik, langsung menggulung ke tubuh mereka semua.
Api itu langsung membakar pakaian yang dikenakan orang-orang itu, ada yang seketika tewas setelah terbidik panah, ada yang berusaha lari sambil membawa api yang masih berkobar, ada pula yang berusaha bergulingan diatas tanah.
Jeritan ngeri yang menyayat hati berkumandang silih berganti, ada sebagian orang yang segera terbakar hingga tubuhnya melingkar bagaikan ebi, ada pula yang masih bergulingan di tanah sambil menjerit kesakitan.
Hanya dalam waktu singkat dua puluh tujuh orang 'serat' yang lebih beracun dari ular berbisa, kini berubah jadi tikus 'mampus'.
Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri maka sulit untuk membayangkan betapa ngerinya suara jeritan kedua puluh enam orang itu, suara jeritan mereka kedengaran begitu mengerikan, begitu mengenaskan dan begitu mengecutkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Paras muka Hong Coan-sin mengejang keras, entah karena merasa ngeri?
Atau sedih?
Dibawah cerahnya sinar matahari, tubuhnya nampak gemetar keras.
Entah sejak kapan Cong Hoa sudah melayang turun ke bawah, dia berdiri disisi barat Hong Coan-sin, tangannya masih membopong tubuh Ui sauya.
Dengan pandangan mata tanpa perasaan, dengan nada ucapan tanpa perasaan dia berkata.
"Orang ini tewas diujung pisaumu yang kau lempar seenaknya, sekarang kau masih meninggalkan pisau tipismu didalam dadanya."
Hong coansin mengalihkan sorot matanya ke atas pisau yang masih menghujam di dada Ui sauya, darah di seputar mulut luka telah membeku, warnanya telah berubah jadi merah kehitam-hitaman, namun mata pisau memancarkan sinar kehijau-hijauan.
"Kau kalah!"
Ujar Cong Hui-miat kemudian.
"Yaa, aku kalah,"
Sahut Tay Thian sambil menghela napas.
"Aku memang kalah, tapi aku benar-benar kalah dengan perasaan puas."
Berbicara sampai disitu dia berpaling memandang Hong Coan-sin yang masih melengak, kemudian lanjutnya.
"Bagaimana dengan kau? Apakah mengaku kalah? Apakah kalah dengan puas?"
Hong Coan-sin tidak langsung menjawab, dia masih berdiri ditempat tanpa bergerak, seakan sebongkah batu cadas, entah berapa lama sudah lewat, dia baru berkata.
"Takluk!"
Akhirnya sekulum senyuman menghiasi bibirnya, senyuman getir.
"Bukan Cuma takluk, akupun mengaku kalah!"
Perlahan dia mengalihkan pandangan matanya mengawasi Cong Hoa bertiga, memandangnya dari atas hingga ke bawah, dari kiri ke kanan dan akhirnya dia menghembuskan napas panjang.
"Sekarang aku baru tahu, ternyata butuh waktu yang sangat lama untuk menghitung angka satu hingga ke angka tiga, sedemikian lamanya sehingga lebih dari cukup untuk menghabisi nyawa dua puluh enam orang pria jagoan. Hari ini, semestinya merupakan hari yang terpanjang dalam sejarah hidupku."
Kembali ia tertawa, tetap tertawa getir.
"Tumbuh hingga hari ini, pada hakekatnya aku tidak tahu di tahun berapa? Bulan ke berapa? Dan pada hari apa adalah saatku untuk mendusin?"
"Betul. Demikian juga dengan orang yang berbaring didalam boponganku sekarang, dia pun tidak tahu pada tahun berapa, bulan berapa dan hari apa baru akan mendusin kembali,"
Sambung Cong Hoa.
"Sebab hari inipun merupakan hari terpanjang yang harus dialaminya dalam sejarah kehidupannya."
Angin berhembus kencang, membawa suara desingan bagaikan jeritan setan, bikin hati orang bergidik, membuat tamu yang kebetulan lewat merasa ketakutan.
Masih untung ditempat itu tidak ada kaum wanita lemah, pun tidak ada tamu yang kebetulan lewat.
Disana memang tidak ada apa-apa kecuali empat manusia, namun orang yang mati jauh lebih banyak daripada orang hidup.
Suasana amat hening, sepi bagai di tanah pekuburan.
Entah sedari kapan, tiba-tiba angin tidak berhembus lagi, suasana dijalan raya hening dan sepi, hanya seekor anjing putih yang berjalan menelusuri jalan raya sambil mengendus ke sana kemari.
Darah sudah lama mengering, tapi wajah Hong Coan-sin kuning bagaikan tanah liat, dia masih berdiri termangu sambil mengawasi kabut tipis yang tiba-tiba muncul dari kejauhan sana.
Ketika kabut itu kian mendekat, mendadak sorot matanya memancarkan perasaan ngeri dan takut yang luar biasa.
Cong Hui-miat tidak melihat datangnya kabut, dia sedang mengawasi anjing putih itu, anjing putih yang sedang mengendus disudut jalan raya.
Dengan cepat kabut itu menyelimuti seluruh tubuh anjing putih itu.
Mendadak anjing itu membelalakkan matanya lebar lebar sambil mengawasi mereka yang berada ditepi pintu kota, sewaktu kabut itu melayang lewat, kakinya nampak seolah mengejang keras, disusul kemudian kepalanya terkulai lemas dan tidak bergerak lagi.
Perasaan ngeri seketika melintas dibalik mata Cong Hui-miat, teriaknya tiba-tiba.
"Mundur, cepat mundur ke atas tembok kota!"
Rupanya Tay Thian dan Cong Hoa pun sempat menyaksikan perubahan yang dialami anjing putih itu, maka begitu Cong Hui-miat berteriak memberi peringatan, serentak mereka melejit ke udara dan kabur ke atas dinding kota.
Hong Coan-sin sama sekali tidak bergerak, paras mukanya yang semula tegang, ngeri dan ketakutan, kini telah berubah jadi wajah pasrah dan ketidak berdayaan, tanpa bergerak sedikitpun dia membiarkan kabut itu menyelimuti tubuhnya.
"Aneh benar kemunculan kabut itu,"
Kata Cong Hoa kemudian.
"Setiap kali identitas seorang anggota Cing Liong Hwee terungkap, pada pada detik yang terakhir akan muncul kabut semacam itu."
"Bila kabut itu muncul, berarti ada orang bakal mampus!"
Kata Tay Thian.
"Bahkan biasanya orang yang mampus pastilah anggota perkumpulan Cing Liong Hwee."
"Ini namanya membunuh orang menghilangkan saksi,"
Cong Hui-miat menimpali sambil mengawasi kabut yang menyelimuti kaki dinding kota.
"Kalau sudah tahu setiap kemunculan kabut itu bakal mencabut nyawa seseorang, mengapa mereka tidak berusaha untuk melarikan diri?"
Kembali Cong Hoa bertanya.
"Hari ini mungkin kau berhasil lolos, tapi jangan harap bisa lolos selamanya,"
Kata Cong Hui-miat.
"Perkumpulan Cing Liong Hwee paling benci terhadap anggotanya yang melarikan diri, orang semacam itu biasanya akan diganjar dengan hukuman yang amat keji dan telengas."
"Anehnya bagaimana mungkin kabut itu bisa membunuh orang?"
"Dibalik kabut terkandung semacam racun keji yang sangat mematikan, racun jenis ini tidak perlu menyusup masuk melalui lubang hidung tapi bisa langsung menyusup melalui pori pori di kulit tubuh manusia."
"Kabut semacam ini pasti ada yang melepaskan, mengapa tidak pernah menjumpai orang yang melepaskan kabut itu?"
"Sudah cukup lama aku selidiki persoalan ini, hingga sekarang pun aku tetap belum tahu siapa yang melepaskan kabut itu,"
Kata Cong Hui-miat.
"Apa mungkin dilakukan oleh Liongtau perkumpulan Cing Liong Hwee?"
"Tidak mungkin!"
Tay Thian menggeleng.
"Manusia semacam dia tidak nanti akan turun tangan sendiri."
Cong Hui-miat manggut-manggut, dia sangat setuju dengan pendapat itu.
Tidak selang berapa saat kemudian, kabut yang semula menyelimuti jalan raya itu kini sudah buyar dan hilang lenyap.
Kabut itu datang dengan cepat, waktu buyar pun sama cepatnya.
Angin barat masih berhembus kencang, Hong Coansin masih berdiri tegak ditempat semula, bergerak sedikitpun tidak.
"Kenapa dia belum roboh?"
Tanya Cong Hoa keheranan.
"Jangan-jangan kabut tadi tidak beracun? Atau mungkin dia sudah menelan obat penawar racunnya?"
"Semuanya bukan,"
Tukas Cong Hui-miat.
"Aku jamin dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya sudah mati, hanya saja dia mati dengan tidak ikhlas, oleh sebab itu rasa gusar dan tidak puasnya membuat tubuhnya tetap bertahan pada posisi semula, dia seolah ingin menunjukkan bahwa kematiannya dalam posisi berdiri merupakan protes atas ketidak puasannya."
"Darimana kau tahu kalau dia sudah mati? Bukankah sewaktu berada di rumah bambu pun dia pernah keracunan, tapi racun itu berhasil dia punahkan sendiri, j angan j angan..."
"Aku rasa dia memang sudah mati!"
Tiba-tiba Tay Thian menyela.
"Coba kau perhatikan tangannya!"
Cong Hoa segera mengalihkan perhatiannya ke tangan Hong Coan-sin, betul juga, jari tangannya sudah menghitam semua, pertanda kalau dia sudah keracunan hebat.
Kakek pengasah pisau.
Senja telah tiba, matahari sudah condong ke langit barat, kegelapan malam pun sudah mulai menurunkan tirainya.
Guguran bunga bwee masih berserakan di permukaan hutan, meninggalkan bau lembab yang tajam di seputar tempat itu.
Kabut amat tipis.
Nyoo Cing masih duduk di depan kuburan, pandangan matanya masih kosong, hampa.
Mendadak muncul sesosok bayangan dari balik kabut, ketika semakin mendekat, terlihatlah kalau dia adalah seorang kakek.
Seorang kakek yang berperawakan tubuh pendek.
Orang itu mengenakan jubah pendek warna putih yang terbuat dari bahan kain kasar, ikat pinggangnya berwarna hitam dan sepatu kain yang dikenakan dipenuhi noda lumpur.
Wajahnya sudah penuh keriput, tangannya menggembol sebuah buntalan kuno sementara dipinggangnya terselip dua bilah pedang.
Ketika tiba ditepi kuburan, kakek itu menurunkan buntalannya dan perlahan lahan membukanya, dari dalam buntalan tersebut dia mengeluarkan sebuah batu untuk mengasah pisau.
Setelah meletakkannya ke tanah, dia pun meloloskan dua bilah pedang yang tersoren dipinggangnya.
"Criiing!"
Ketika mata pedang tertimpa cahaya matahari senja, segera terbiaslah cahaya berwarna kuning yang amat menyilaukan mata.
Dengan ujung jarinya kakek itu memeriksa sejenak mata pedangnya, kemudian gelengkan kepalanya berulang kali dengan wajah tidak puas.
Setelah membasahi batu pengasahnya dengan air, kakek itu berjongkok dan mulai mengasah pedangnya dengan khusuk.
Sejak kakek itu munculkan diri, melepaskan pedang, mengasah senjata, Nyoo Cing seolah tidak melihatnya, dia masih belum bergerak, sorot matanya masih memandang ke tempat kejauhan.
Kakek itupun sama sekali tidak menaruh perhatian, dia hanya mengasah pedangnya dengan serius, seolaholah kedatangannya hanya untuk mengasah pedang sementara urusan lain bukan urusannya.
Matahari lambat laun makin meninggi, kabut pun makin lama makin menipis.
Butiran keringat mulai membasahi jidat kakek itu, keringat yang bercucuran karena dia telah menggunakan tenaganya untuk mengasah pedang.
Ketika pedang pertama selesai diasah, dia pun mulai mengasah pedang yang kedua.
Pedang yang selesai diasah diletakkan disamping, ketika sinar matahari menimpa ditubuh pedang, terbiaslah cahaya terang yang berkilauan.
Akhirnya kedua bilah pedang itu telah selesai diasah.
Kakek itupun menghembuskan napas lega, dengan ujung bajunya ia mulai menyeka keringat yang membasahi jidatnya.
Bila tujuan kedatangannya adalah untuk mengasah pedang, sudah saatnya untuk pergi dari situ.
Tapi kakek itu seolah tidak ada niatan untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Nyoo Cing sendiripun sepertinya enggan mengusik kakek itu, masih sama seperti sebelum kedatangan kakek itu, dia duduk tanpa bergeser sedikitpun.
Akhirnya kakek pengasah pedang itu bangkit berdiri, tangannya menggenggam pedang yang baru saja diasahnya kemudian membalikkan badan dan duduk membelakangi Nyoo Cing.
Sisa cahaya senja menyinari wajah kakek itu, membuat kerutan wajahnya nampak lebih tegas dan jelas.
Tiba-tiba dia tertawa, tangan kirinya diayunkan dan pedang yang berada dalam genggamannya sudah meluncur ke tangan Nyoo Cing.
Pedang itu meluncur tepat ke tangan kanan Nyoo Cing, seakan-akan ada orang yang menyodorkan senjata itu dengan dua belah tangan.
Pedang diterima, digetarkan dan bunga pedang pun memancar ke udara.
Diantara kilauan cahaya tajam, tubuhnya ikut melompat bangun.
Sambil mengawasi pedang dalam genggamannya, Nyoo Cing menghadapkan mata pedang ke arah cahaya senja, membiarkan pantulan cahayanya berkilauan.
Kini kakek pengasah pedang sudah mulai bergerak, tiba-tiba dia melancarkan sebuah tusukan ke arah Nyoo Cing, gerakannya sangat mendadak, jurus serangannya ganas dan buas.
Nyoo Cing mengangkat pedangnya menangkis kemudian tubuhnya mengigos ke samping.
"Traaang!"
Ditengah bentrokan nyaring, terlihat percikan bunga api memancar ke empat penjuru, namun hanya sekejap kemudian sudah lenyap tak berbekas.
Semua jurus serangan yang digunakan kakek itu ganas, buas dan telengas, tapi satu demi satu berhasil dipunahkan Nyoo Cing secara manis.
Tusukan dibalas dengan tusukan, babatan dibalas dengan babatan, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah saling menyerang sebanyak enam puluh empat jurus.
Akhirnya terlihat garis kerutan diwajah kakek itu makin lama semakin bertambah jelas, tiba tiba dia menghela napas dan mengucapkan perkataan yang tidak terduga oleh siapa pun.
"Putra Nyoo Heng memang tidak malu menjadi putra Nyoo Heng."
Nyoo Cing membalikkan tubuhnya, kepada kakek pengasah pedang itu sahutnya singkat.
"Terima kasih banyak."
"Tampang dan lagakmu saat ini sama persis seperti saat aku berjumpa dengannya dulu, bahkan termasuk wataknya pun persis sama."
"Benarkah begitu?"
"Benar."
Tampaknya kakek pengasah pedang itu sudah terjerumus dalam kenangan lamanya.
"Peristiwa ini sudah berlangsung lama, lama sekali, waktu itu usianya jauh lebih muda ketimbang usiamu sekarang, dia masih dalam taraf belajar pedang, belajar menggunakan pedang, diapun sedang melatih pedang. Meskipun gurunya, Siau Gong-cu tidak terlalu bagus ilmu pedangnya, namun kemampuannya dalam menempa pedang terhitung nomor wahid dilkolong langit."
Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.
"Sayang cita cita dan konsentrasi ayahmu hanya tertumpu pada ilmu pedang, itulah sebabnya kemampuan gurunya dalam menempa senjata pun jadi punah."
"Ayahku sudah meninggal lama, semasa hidupnya dulu diapun sering merasa menyesal karena persoalan ini,"
Kata Nyoo Cing.
"Dia sering berkata kepadaku, seandainya yang dia pelajari bukan ilmu pedang melainkan kepandaian menempa senjata, mungkin penghidupannya saat itu jauh lebih senang dan bahagia."
Kakek pengasah pedang kelihatan semakin murung dan sedih.
"Kehidupan manusia sudah ditentukan oleh takdir, setiap orangpun mempunyai cita-cita sendiri, hal semacam ini memang tidak bisa dipaksakan,"
Kata kakek itu sambil memandang pedang dalam genggamannya.
"Seperti contohnya pedang ini."
Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya.
"Pedang pun mempunyai garis takdirnya, sama persis seperti manusia, ada saat beruntung ada pula saat sial, ketika aku mengunjungi Siau Gong-cu waktu itu, tujuanku sebenarnya hanya ingin meramalkan nasib dari pedang tajam yang baru berhasil ditempanya, pedang Lenggong."
"Pedang Leng-gong?"
Tanya Nyoo Cing.
"Benar, pedang tersebut adalah pedang pembawa sial, siapa yang membawanya bakal tidak selamat bahkan terancam keluarga bubar manusianya mampus, oleh sebab itu Siau gong-cu memusnahkan pedang itu, kemudian dengan sisa tubuh yang ada dia menempa lagi sebilah pisau baru, pisau yang lebih tipis dari kertas."
"Golok kelembutan?"
"Betul, golok tipis itu dinamakan kelembutan, akhirnya senjata itu jatuh ke tangan Ing Bu-ok setelah menukarnya dengan sebilah kitab pusaka kuno yang tidak utuh."
Tiba-tiba paras muka Nyoo Cing berubah, dia seolah terbayang kembali semua peristiwa tragis yang dialami ayahnya dulu.
"Konon separuh bagian buku yang sebelah kiri sudah terbakar hangus sehingga setiap jurus serangan yang tercantum dalam kitab itu hanya tersisa setengah jurus, pada hakekatnya tidak mungkin bisa terlatih menjadi sebuah ilmu pedang yang hebat,"
Ujar kakek itu lagi.
"Aku tahu."
"Kemudian Nyoo Heng dengan mengandalkan senjata kaitan malang melintang dalam dunia persilatan, ada pun jurus serangan yang dia pergunakan tidak lain adalah hasil latihannya dari kitab pusaka tidak utuh itu."
"Justru karena jurus serangan yang tercantum dalam kitab itu tidak utuh, bila digunakan untuk berlatih ilmu pedang jelas tidak akan menghasilkan apa-apa, tapi ketika digunakan untuk berlatih dengan senjata pedang yang sudah berubah bentuk jadi kaitan, terciptakan serangkaian ilmu silat yang luar biasa hebatnya, setiap jurus serangan bertentangan dengan jurus pada umumnya bahkan selalu mengancam datang dari arah yang sama sekali tidak terduga, itulah sebabnya jarang ada orang yang sanggup menghadapinya,"
Nyoo Cing menjelaskan.
"Pedang yang berubah bentuk tidak lain adalah kait perpisahan, itulah pedang yang dipesan Lan Toa sianseng untuk ditempa namun gagal menjadi sebilah pedang."
"Benar."
"Inilah yang disebut kehendak Thian,"
Kata kakek itu lagi.
"Dengan tidak utuh melengkapi tidak utuh, seandainya ada kitab tidak ada senjata, atau ada senjata tidak ada kitab, mustahil akan tercipta sebuah ilmu yang luar biasa ampuhnya."
Mendadak terpancar sinar yang sangat aneh dari balik mata kakek itu, tambahnya.
"Atau jangan jangan ini bukan kehendak Thian, melainkan niat dari Siau Gong-cu sendiri?"
Nyoo Cing membungkam, dia sama sekali tidak menanggapi.
"Oleh karena dia sudah memiliki kitab kiam-boh yang tidak utuh maka dengan sengaja dibuatlah sebilah pedang yang tidak utuh, tujuannya agar bisa diwariskan kepada anak muridnya,"
Kakek itu menghela napas panjang.
"Dia sadar kalau ilmu pedangnya kurang bagus, kalau bisa membuat anak muridnya menjadi seorang jago pedang kenamaan, jelas hal ini merupakan satu kebanggaan tersendiri baginya."
Nyoo Cing merasa bergidik, hawa dingin serasa merasuk hingga ke tulang sumsumnya, lewat lama kemudian dia baru berkata.
"Golok kelembutan saat ini sudah terjatuh ke tangan satu satunya murid tunggal Ing Bu-ok, sang bangsawan kelas satu Ti Cing-ling!"
"Bila membunuh orang dengan menggunakan golok kelembutan, mulut luka diluar pasti tidak terlihat, tidak ada darah yang mengalir keluar, tapi orang yang tertusuk pasti akan mengalami pendarahan hebat didalam rongga badannya hingga menyebabkan kematian."
"Ada bayangan tanpa wujud, ada bentuk tanpa rupa, cepat bagai kilat, lembut bagai rambut,"
Kata Nyoo Cing.
"Ayahku pernah memberitahukan kepadaku, lebih baik sepanjang hidup jangan bertemu dengan golok kelembutan."
"Lembut bisa menaklukkan keras,"
Ujar kakek itu perlahan, kemudian sambil menatapnya tajam katanya lagi.
"Mungkin kau masih belum mengerti kenapa aku membiarkan kait perpisahan terjatuh ke tangan Ti Cingling."
"Benar, aku memang tidak habis mengerti mengapa kau suruh aku berbuat begitu, sebenarnya apa alasannya?"
"Ketika terjadi pertarungan pada dua puluh tahun berselang, yang kalah seharusnya kau. Ti Cing-ling bisa kalah karena dia kalah oleh kesombongan sendiri, kalah karena kelewat pandang remeh dirimu, kelewat pandang enteng kemampuan kait perpisahan, dia selalu tak percaya kalau kelembutannya tidak mampu mengungguli kait perpisahan."
"Jadi kau beranggapan golok kelembutan pasti dapat mengatasi kait perpisahan?"
"Benar, kait perpisahan ibarat sekeping baja, keras, alot dan kuat, hanya manusia macam ayahmu yang pantas dan cocok menggunakan senjata macam kait perpisahan."
Setelah menelan air liurnya kakek itu berkata lebih jauh.
"Seperti misalnya golok kelembutan yang lemah gemulai bagai kasih seorang gadis, benda itu tidak mungkin cocok digunakan oleh manusia sebangsa Ing Bu-ok, itulah sebabnya dia serahkan senjata tersebut kepada Ti Cing-ling. Kelembutan hanya diberikan untuk sang kekasih, hanya kelembutan yang bisa merontokkan iman banyak manusia, bila Ti Cing-ling dapat memahami bagaimana mengendalikan kelembutan, maka ibarat harimau memiliki sayap, dia akan manusia tidak tertandingi di kolong langit."
Nyoo Cing tidak berbicara, dia hanya membungkam.
"Dua puluh tahun berselang dia sudah kalah, dua puluh tahun kemudian dia pasti akan menggunakan golok kelembutan untuk menghadapi kait perpisahan."
"Dan kait perpisahan pasti tidak akan mampu menghadapi golok kelembutan?"
Tanya Nyoo Cing.
"Pasti!"
Jawab kakek itu meyakinkan.
"Bila kait perpisahan masih berada ditanganmu, maka dalam pertarungan nanti yang kalah pasti kau, yang mati pun pasti kau."
"Tanpa kait perpisahan, memangnya aku mampu mengunggulinya?"
"Tidak dapat! Tidak mungkin ada seorang manusia pun yang mampu menghadapi golok kelembutan dengan tangan kosong."
"Berarti aku pasti akan kalah dalam pertarunga ini?"
"Belum tentu."
Nyoo Cing tidak mengerti apa maksud perkataannya, maka dia mengawasinya dengan mata terbelalak lebar.
Kakek itu menengadah memandang sekejap ke ujung langit, tiba-tiba perubahan aneh terlintas diwajahnya, dengan nada suara yang aneh dia berkata.
"Setelah muncul golok kelembutan dan kait perpisahan, berarti pasti akan muncul pula senjata yang ketiga."
"Senjata ketiga?"
"Benar."
"Apa namanya? Kenapa belum pernah ada yang mendengar tentang hal ini?"
"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya siau gong-cu bunuh diri karena gagal menempakan sebilah pedang untuk Lan toa sianseng, padahal berita tersebut keliru besar, Siau Gong-cu bisa tewas karena dia mengorbankan diri demi pedang yang ketiga ini."
"Kenapa?"
"Setelah golok kelembutan dan kait perpisahan beredar dalam dunia persilatan, Siau Gong-cu mendapat wangsit yang memintanya untuk melebur sisa bahan pembuat golok kelembutan dan kait perpisahan menjadi satu, dari bahan bahan yang tersisa itulah dia menciptakan senjata yang ketiga."
"Dalam bentuk apa senjata yang ketiga itu?"
"Pedang, sebilah pedang,"
Jawab kakek itu sambil menatapnya tajam.
"Pedang? Apa namanya?"
"Pedang amarah!"
"Pedang amarah?"
"Benar,"
Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata kakek itu.
"Disaat pedang ketiga selesai ditempa, garis yang muncul pada tubuh pedang itu kacau bagai serat sutera, ujung pedang pun memancarkan cahaya merah bagai bara api,"
Kata kakek itu, bahkan ketika pedang tersebut selesai ditempa, cuaca tiba-tiba berubah, iklim pun jadi kacau, musim hujan datang setengah bulan lebih dini dari jadwalnya."
"Begitu pedang itu selesai ditempa, musim hujan datang lebih dini?"
"Benar, oleh sebab itu pedang tersebut disebut pedang amarah, disebut juga musim semi yang marah!"
"Musim semi yang marah?"
Kembali Nyoo Cing bertanya.
"Saat ini pedang tersebut berada di mana?"
"Sebenarnya pedang ini merupakan benda pembawa bencana, seperti orang yang lahir cacad, sejak dilahirkan sudah membawa hawa sesat yang menakutkan, oleh sebab itu begitu pedang tersebut selesai ditempa, Siau suhu pun tidak segan menggunakan nyawanya untuk menemani pedang ketiga itu terkubur bersama."
"Dikubur di mana?"
"Sebuah tempat yang sangat menakutkan!"
Pedang ketiga.
"Sebuah tempat yang sangat menakutkan?"
Tempat manakah di dunia ini yang pantas disebut tempat yang sangat menakutkan?
Apakah tanah pekuburan menakutkan?
Apakah pembunuh menakutkan?
Apakah setan iblis menakutkan?
Apakah ayam yang sudah mati berapa hari dan mulai dikerubuti belatung disebut menakutkan?
Apa yang disebut menakutkan?
"Menurut kau, apa yang paling menakutkan?"
Tanya kakek pengasah pisau sambil menatap tajam Nyoo Cing. Nyoo Cing termenung sambil berpikir, lama kemudian dia baru menjawab.
"Sahabat, sahabat yang paling menakutkan."
"Kenapa?"
"Sebab hanya teman yang bisa sangat memahami tentang dirimu, hanya teman yang bisa memperoleh kesempatan untuk mendekatimu, hanya teman yang membuat kau sama sekali tidak waspada,"
Kata Nyoo Cing.
"Tapi seringkah justru mereka yang mengkhianatimu, justru mereka yang membuat kau sengsara dan menderita, oleh sebab itu sahabat yang paling kau percaya, sahabat yang paling akrab denganmu justru perlu diwaspadai terus."
BAB 4. Kemudian sambil menatap kakek itu, dia menambahkan.
"Dan lantaran sahabatmu telah berkhianat kepadamu, maka hidupmu jadi sengsara, menderita dan penuh siksaan."
"Berarti musuh yang paling menakutkan sebetulnya bukan musuh besarmu melainkan sahabat karibmu?"
"Benar, hanya serangan telak yang dilancarkan seorang sahabat yang bisa merenggut nyawa kita."
Sebab bila seorang sahabat yang berkhianat kepadamu, serangannya pasti mematikan, mereka pasti akan menyerang titik kelemahanmu, serangannya pasti diarahkan ke bagianmu yang paling lemah, paling tidak kau waspadai dan seringkah sangat mematikan.
Tiba-tiba kakek pengasah pedang itu mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang.
"Sahabat... wahai sahabat... kata "Bong"
Sahabat terdiri dari dua huruf gwee (rembulan), mana mungkin di dunia ini terdapat dua buah rembulan?"
Katanya.
"Itulah sebabnya sejak jaman dulu orang sudah tahu kalau sahabat adalah barang yang paling menakutkan, karena itu pula sahabat diciptakan dari perpaduan dua huruf yang tidak mungkin bisa terjadi, yakni dua rembulan."
Setelah menghela napas panjang, kembali lanjutnya.
"Di dunia ini mustahil bisa terdapat dua rembulan, berarti di dunia inipun mustahil terdapat sahabat yang benarbenar sejati."
"Makna yang menakutkan seringkah tumbuh dari pemikiran seseorang,"
Kembali gumamnya.
"Seperti misalnya ada seseorang yang takut dengan ular, dia pasti menganggap sarang ular merupakan tempat yang paling menakutkan, padahal bila sejak kecil kau sudah terbiasa bermain ular, biarpun harus memasuki sarang ular pun, tempat itu akan kau anggap seperti di rumah sendiri."
Kembali kakek itu menjelaskan.
"Ada orang mengatakan minum arak adalah kejadian yang paling menakutkan, padahal sementara orang yang lain justru menganggap minum arak merupakan kejadian yang paling menyenangkan."
"Kalau begitu jika ada seribu orang manusia, berarti ada seribu tempat kemungkinan berbeda yang dianggap paling menakutkan?"
Kata Nyoo Cing cepat.
"Berarti pedang ketiga ada kemungkinan disembunyikan di seribu tempat yang berbeda, atau dengan perkataan lain terdapat seribu bilah pedang ketiga yang disembunyikan di seribu tempat menakutkan yang berbeda?"
"Betul!"
Kakek itu mengangguk.
"Seribu orang kemungkinan terdapat seribu tempat paling menakutkan yang beda, tapi kemungkinan juga hanya ada satu tempat sama yang mereka anggap sebagai tempat yang paling menakutkan."
"Kalau begitu ada kemungkinan pedang ketiga hanya disembunyikan di sebuah tempat yang paling menakutkan?"
"Rasanya mah begitu,"
Dengan wajah senyum tidak senyum kakek pengasah pedang mengawasi Nyoo Cing.
Malam hari dengan cepat telah menjelang tiba.
Cahaya rembulan yang memantul di permukaan air menimbulkan kilauan sinar yang gemerlapan.
Nyoo Cing sedang duduk di tepi sungai, mengawasi cahaya berkilauan yang memantul di permukaan.
Sampai lama kemudian sepasang matanya baru berbinar terang.
Tiba-tiba dia berpaling, berpaling memandang kakek pengasah pedang itu, kemudian serunya dengan nada yang gembira.
"Jika dalam hati seseorang tiada rasa takut atau ngeri, maka baginya tidak akan terdapat tempat yang paling menakutkan, atau dengan perkataan lain tidak ada tempat paling menakutkan baginya, itu berarti pedang ketiga pun tidak pernah ada."
Kakek itu tidak menanggapi tapi hanya mengawasi Nyoo Cing tanpa berkedip, memandangnya dengan penuh rasa kagum.
"Kalau toh tiada tempat yang menakutkan di dalam hati, maka tidak akan pernah ada pedang ketiga,"
Ujar Nyoo Cing lebih lanjut.
"Sebab tempat yang paling menakutkan ditentukan oleh pikiran seseorang, maka tempat yang paling menakutkan justru berada dalam pikiran setiap orang, itu berarti pula bahwa pedang ketiga sesungguhnya disembunyikan dalam pikiran seseorang."
Ditatapnya kakek itu sekejap, kemudian lanjutnya.
"Siau suhu telah mengubur pedang amarah di tempat yang paling menakutkan, bukankah tempat paling menakutkan yang ada di dunia ini sesungguhnya berada dalam pikiran manusia?"
Cahaya gembira bercampur kagum semakin kental mencorong dari balik mata kakek itu.
"Bukankah pedang ketiga telah dia kubur didalam pikiran manusia?"
Nyoo Cing menambahkan.
Baru selesai dia mengucapkan perkataan itu, tiba-tiba menyambar lewat sekilas halilintar ditengah udara, disusul suara guntur yang menggelegar membelah bumi.
Ditengah alam yang begitu tenang, mengapa secara tiba-tiba muncul kilatan halilintar?
Mengapa secara tibatiba menggelegar suara guntur yang memekik telinga?
Langit mengalami perubahan secara tiba-tiba, apakah dikarenakan umat manusia berhasil membongkar rahasia alam?
Apakah perubahan terjadi karena alam menjadi gusar?
Sekali lagi halilintar membelah angkasa dan berakhir ditengah hutan bwee, disusul suara guntur yang menggelegar menyambar pepohonan tertinggi di hutan itu.
Nyoo Cing sama sekali tidak bergerak, tapi sorot matanya semakin berbinar, tiada luapan emosi atau perasaan gembira yang melintas di wajahnya, yang ada hanya perasaan tenang dan tenteram yang luar biasa.
Mendadak terdengar kakek pengasah pedang itu bergumam.
"Bodhi sesungguhnya tidak berpohon, cermin sesungguhnya tidak berpegangan, dunia tiada benda, debu pun segera sirna. Tiada aku, tiada pikiran, tiada pedang, ada aku, ada pikiran namun tiada pedang..."
Nyoo Cing hanya termenung sambil konsentrasi, dia pasang telinga baik baik untuk mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan kakek pengasah pedang.
Terdengar kakek itu menghela napas panjang, katanya lagi.
"Bila Bodhi pun tidak berpohon, dalam pikiran kita pun tidak berpedang, bila tidak berpedang maka tiada tempat yang menakutkan lagi di dunia ini."
"Benar,"
Mendadak Nyoo Cing menanggapi.
"Cermin memang tidak perlu pegangan, kalau dunia tidak ada apa-apanya, darimana datangnya debu?"
Kemudian katanya lagi.
"Ada aku tiada pikiran ada pedang, tiada aku ada pikiran ada pula pedang, tiada aku tiada pikiran namun pedang tetap ada."
"Ada dimana?"
Tanya si kakek.
"Alam semesta amat luas tidak bertepian, didalamnya terdapat aneka benda, tiada wujud, tiada berbentuk, melayang di mana-mana."
"Kenapa tidak berada dalam pikiranmu?"
"Kalau pikiran kita tidak terkendali oleh ketakutan, apa gunanya sebilah pedang?"
"Kalau memang tiada rasa takut, buat apa ada alam semesta? buat apa ada benda? Buat apa melayang tanpa wujud?"
"Mana ada pedang di alam semesta? Buat apa dia melayang tidak berwujud, pedang sebetulnya tidak ada di alam semesta, tidak ada dimana-mana dan tidak perlu melayang tanpa wujud."
"Lalu berada di mana pedangmu?"
"Pedang berada ditanganku."
"Berarti ditanganmu ada pedang?"
"Benar."
"Kenapa tidak terlihat?"
"Kenapa harus terlihat?"
Sebuah jawaban yang mengandung arti sangat mendalam, tapi kakek pengasah pedang itu seakan mengerti maksudnya, maka diapun pejamkan matanya sambil menghela napas panjang.
"Takdir!"
Gumamnya. Nyoo Cing tidak menjawab, dia hanya mengawasi kakek itu.
"Bila takdir menghendaki demikian, kau boleh menerima dengan perasaan tenteram,"
Kata kakek pengasah pedang sambil sekali lagi membuka matanya mengawasi Nyoo Cing.
"Sekarang pergilah, kemana pun kau akan pergi, perbuatan apa pun yang hendak kau lakukan, siapa pun yang hendak kau hadapi, tidak nanti kau akan gagal."
Ucapan kakek itu seolah mengandung daya pengaruh yang misterius, dia berdoa bagi kesuksesan Nyoo Cing, diapun mengutuk terhadap musuh Nyoo Cing.
Ti Cing-ling yang berada dalam ruang batunya, berapa ratus li dari tempat itu seakan akan merasakan juga firasat yang jelek, pada saat yang bersamaan secara tiba-tiba dia merasa sangat gelisah dan tidak tenang.
BAB 5.
Pedang ditangan, nasib di tangan.
Pohon bwee yang tersambar halilintar telah roboh, api pun telah padam, bunga api yang memercik bagai taburan bintang ikut lenyap dibalik kegelapan.
Alam semesta pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa.
Sinar tajam sudah lenyap dari mata kakek pengasah pisau itu, kini yang tersisa hanya keletihan yang luar biasa serta kemurungan yang amat kental.
Perlahan-lahan dia menyimpan kembali batu asahannya, perlahan-lahan memasukkan kedalam buntalan kemudian mengikatnya kuat-kuat.
.....Baru saja dia membebaskan sebuah tali simpul yang membelenggu jagad, tapi sekarang dia telah membuat tali simpul lain bagi dirinya sendiri, sebuah simpul mati yang selamanya tidak mungkin bisa diurai.
Nyoo Cing hanya memandang, mengawasi semua gerak-gerik yang dilakukan kakek itu, dia seakan sedang menonton seorang ahli silat sedang mempraktekkan jurus serangannya.
Tali simpul telah terbentuk, sudah saatnya kakek itu untuk berlalu.
Kakek pengasah pisau telah bangkit berdiri, tapi punggungnya serasa bungkuk, seolah terdapat beban beribu kati beratnya yang menindih tubuhnya, membuat dia tidak sanggup berdiri tegak.
.....Padahal setiap orang pasti sedang memikul buntalan di punggungnya, setiap orang yang hidup pasti memikul beban berat di pundaknya.
Siapa yang bisa bebas dari buntalan seperti ini?
Nyoo Cing mengawasi buntalan di punggung kakek itu sekejap, mendadak dia bertanya.
"Baik-baikkah dia?"
"Pergilah, setiap persoalan pasti ada saatnya untuk berakhir, dia pasti akan menanti kedatanganmu di tempat yang kalian janjikan!"
Suara langkah makin lama semakin jauh dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Manusia pada akhirnya harus pergi juga, sama seperti kegelapan malam pada akhirnya pasti akan lewat juga.
Ketika malam sudah berlalu, pagi hari yang cerah pun segera akan muncul, karena dia sudah berada tidak jauh dari sana.
BAGIAN -6.
Duel.
BAB 1.
Penantian di luar rumah batu.
Sebuah bukit tinggi, sebuah rumah batu, sebatang pohon siong, sebuah sungai yang bening.
Walaupun diluar hujan turun dengan derasnya, suasana didalam ruang batu amat kering dan bersih, karena rumah batu itu tidak berjendela, hanya ada sebuah pintu, pintu yang selalu dalam keadaan tertutup, cahaya matahari selamanya tidak pernah menyorot masuk, tentu saja hujan pun tidak pernah mampir disitu.
Kini, dalam ruangan batu itu hadir dua orang manusia.
Yang seorang berpakaian putih bersih tidak berdebu, dia mempunyai wajah yang bersih namun sikapnya selalu dingin dengan bibir yang senyum tidak senyum, dia bukan lain adalah Ti Cing-ling.
Masih seperti waktu waktu yang lewat, dia sedang duduk bersila diatas permadani bulu domba nya yang berwarna putih bersih.
Seorang yang lain sedang berdiri didepan meja batu, berdiri saling berhadapan dengan Ti Cing-ling, wajahnya yang sudah berkeriput tidak menampilkan perasaan apapun, namun bibirnya menunjukkan sikap hatinya yang teguh, ulet dan pantang mundur.
Dia berdiri kokoh bagaikan sebuah bukit karang.
Dengan sangat tenang dia berdiri disitu, memandang ke arah Ti Cing-ling tanpa bergerak sedikitpun.
Ti Cing-ling pun sedang memandangnya, memandang dengan sorot mata yang sangat aneh.
"Silahkan duduk."
Dia tidak duduk tapi ujarnya tiba-tiba.
"Jadi inilah tempat tinggalmu sekarang?"
"Kau merasa tidak puas dengan tempat ini?"
Tanya Ti Cing-ling. Lama sekali orang itu termenung, tapi akhirnya tertawa juga.
"Paling tidak tempat ini sangat kering."
"Yaa, memang sangat kering, kujamin tidak akan kau jumpai setetes air pun,"
Jawab Ti Cing-ling. Kemudian lanjutnya dengan suara hambar.
"Ditempat ini tidak pernah ada teh, tidak ada air, belum pernah ada yang melelehkan air mata di sini."
Mendadak dia tertawa tergelak, tambahnya.
"Ditempat ini hanya ada arak, pelbagai jenis arak."
"Bagaimana dengan darah?"
Orang itu bertanya.
"Pernahkah seseorang mengucurkan darah di tempat ini?"
"Tidak pernah ada. Sekalipun ada orang ingin mati di sini, sebelum dia mampu melangkah masuk ke tempat ini, darah sudah berceceran diluar sana,"
Ujar Ti Cing-ling sambil tertawa.
"Bila aku tidak menghendaki dia masuk kemari, mau hidup mau mati jangan harap dia bisa melangkahkan kakinya di tempat ini."
"Terus terang, walaupun hidup ditempat ini sangat tak nyaman, tapi lumayan juga bisa mati ditempat ini,"
Orang itu tertawa.
"Oya?"
"Tempat ini mirip sekali dengan kuburan."
"Kalau kau memang menyukai tempat ini, tidak ada salahnya akan kukubur dirimu di tempat ini."
Dari balik mata Ti Cing-ling terlintas secerca senyuman yang sadis, sambil menuding tanah dibawah alas duduknya, kembali dia melanjutkan.
"Biar kukubur tubuhmu disini, dengan begitu setiap kali aku sedang duduk ditempat ini maka akan terbayang olehku bahwa si kait perpisahan Nyoo Cing berada dibawah kakku, mungkin cara kerja ku juga akan semakin jernih dan lancar." .....Rupanya orang yang berdiri dihadapan Ti Cing-ling tidak lain adalah Nyoo Cing.
"Semakin jernih dan lancar?"
Nyoo Cing mengernyitkan dahinya.
"Sebab bila aku tidak selalu menjaga kejernihan pikiranku, tidak selalu lancar dalam mengolah otak, suatu ketika toch kakiku bakal diinjak orang,"
Ujar Ti Cingling sambil menatap tajam ,lawannya.
"Setiap kali teringat akan dirimu, tentu saja aku selalu mengingatkan diri sendiri agar bersikap lebih waspada."
"Tapi bila saat berpikiran jernih terlalu panjang, seringkah hal tersebut malah mendatangkan penderitaan dan siksaan."
"Aku tidak bakal tersiksa, tidak bakal menderita, selamanya tidak pernah."
"Itu disebabkan karena kau tidak pernah merasakan apa yang dinamakan kegembiraan!"
Jengek Nyoo Cing cepat.
Ujung mata Ti Cing-ling seakan sedikit bergetar, tapi seakan juga tidak pernah bergerak.
Sebuah sungai kecil, dibawah sebatang pohon siong, ada tiga manusia berdiri disitu.
Walaupun hujan dimusim dingin telah membasahi seluruh pakaian yang dikenakan, namun tidak bisa mengusir perasaan ngeri dan takut yang mencekam perasaan mereka bertiga.
Tiga orang manusia, enam buah mata, hampir semuanya tertuju ke pintu batu dihadapannya.
Pintu batu itu dalam keadaan tertutup, pintu batu yang sangat tebal.
Pintu itu berada dalam keadaan tertutup, seakan seluruh penghidupan yang ada di dunia ini sudah dikurung dibalik pintu itu.
Apa yang tersisa dibalik pintu itu?
Apakah hanya kematian yang tersisa di balik pintu batu itu?
Tapi siapa yang mati?
Nyoo Cing?
Atau Ti Cing-ling?
"Dulu, walaupun pertempuran mereka sempat menggetarkan langit dan bumi, sayang tidak seorangpun yang ikut menyaksikan,"
Ujar Cong Hui-miat.
"Sekarang, sekali lagi mereka melangsungkan pertarungan yang mengerikan, tapi tetap sama seperti dulu, tidak seorangpun dapat menyaksikan."
Cong Hoa membiarkan air hujan membasahi wajahnya, membasahi bibirnya, dalam keadaan seperti ini diapun hanya merasakan ketidak berdayaan, yaa, apa lagi yang bisa mereka lakukan kecuali menanti?
Pertarungan dimasa lalu, meski tidak sempat dia saksikan sendiri namun sudah banyak yang didengar dari pemberitaan orang lain.
Bahkan Nyoo Cing sendiripun pernah mengakui bahwa ilmu silat yang dimiliki Ti Cing-ling memang jauh lebih hebat dari kemampuannya, bahkan dia memiliki banyak kesempatan untuk menghabisi nyawa sendiri, yang lebih mengerikan lagi, dia bahkan bisa membuatnya tidak berdaya untuk membela diri, apalagi melancarkan serangan balasan.
Ti Cing-ling dengan sengaja melepaskan semua kesempatan itu dengan begitu saja karena dia kelewat sombong, dia selalu ingin membuktikan, benarkah dia mampu menghindarkan diri dari kait perpisahan milik Nyoo Cing yang amat tersohor itu.
Kali ini, tentu saja Ti Cing-ling tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, apalagi kait perpisahan sudah tidak berada ditangan Nyoo Cing sementara golok kelembutan masih berada ditangannya.
Kali ini dia bertekad akan menggunakan golok kelembutan untuk menghadapi Nyoo Cing.
Dengan tenang Nyoo Cing mengawasi wajah Ti Cing-ling, setelah itu ujarnya.
"Mungkin saja ada sementara orang hidup dalam penderitaan dan siksaan, tapi masih ada orang lain yang penghidupannya jauh lebih mengenaskan ketimbang mereka, sebab mereka hidup tanpa mengetahui karena apa mereka hidup dan mau apa mereka hidup, mereka kehilangan arah, mereka tidak tahu apa tujuannya mempertahankan hidup."
"Bagiku, mungkin masalah tersebut tidak penting, mungkin aku memang tidak ingin mengetahuinya."
"Kau tidak ingin mengetahuinya?"
"Tidak, sama sekali tidak ingin!"
Tiba-tiba Ti Cing-ling tertawa kembali.
"Karena aku tahu, hari ini kau pasti akan mampus."
Dia tertawa sangat gembira, bahkan ujung alis matapun seolah turut tertawa, lanjutnya.
"Sebab bukan saja kau sudah tidak memiliki kait perpisahan, bahkan secuwil senjata pun tidak kau bawa, sementara aku? Bukan saja golok kelembutan masih berada ditanganku, kait perpisahan pun berada ditanganku."
Diantara kilauan cahaya biru, tahu-tahu dalam genggaman tangan kanan Ti Cing-ling telah bertambah dengan sebilah golok pendek yang amat tipis.
Menyusul kemudian sekali lagi terlihat cahaya berkilauan, ditangan kirinya telah bertambah pula dengan sebilah senjata kaitan yang aneh bentuknya, kait perpisahan.
Dengan tenang Nyoo Cing memandang, bukan golok kelembutan yang dipandang, bukan pula kait perpisahan, dia justru sedang memandang sorot mata Ti Cing-ling yang terbesit senyuman sadis.
Hujan turun makin lama semakin deras, hawa dingin yang merasuk bagai sayatan golok semakin menembusi tulang belulang.
Ketiga orang itu diluar pintu rumah masih menunggu, mereka memang hanya bisa menunggu.
Tidak seorangpun sanggup membuka pintu batu tebal yang berada dihadapan mereka, kecuali pintu itu dibuka dari sebelah dalam.
Tapi siapa yang akan membuka pintu itu?
Ti Cing-ling?
Atau Nyoo Cing?
Atau bahkan selamanya pintu itu tidak pernah akan terbuka kembali?
Cong Hoa sudah terbungkuk-bungkuk, dia nyaris memuntahkan seluruh isi perutnya, penantian yang mendebarkan membuatnya nyaris runtuh, nyaris ambruk karena tidak kuasa menahan diri.
Yang lebih mengenaskan lagi adalah gadis itu sama sekali tidak tahu, apa yang sebenarnya dia nantikan?
Siapakah orang yang berada dalam ruang batu itu?
Sanak keluarganya?
Sahabatnya?
Atau kekasihnya?
Mungkin saja yang dia nantikan hanya sebuah kematian.
Terbayang kembali kelicikan dan kebusukan hati Ti Cing-ling, terbayang pula golok kelembutan beserta kehebatan ilmu silatnya, Cong Hoa sama sekali tidak tahu sebenarnya Nyoo Cing masih punya peluang berapa persen untuk bisa keluar dari ruangan itu dalam keadaan selamat.
"Jika Ti Cing-ling tahu kalau kita masih menunggu di tempat ini, dia pasti senangnya setengah mati!"
Tibatiba Tay Thian berkata.
"Kalau begitu biarkan saja dia bersenang hati!"
Kata Cong Hoa sambil menggertak gigi.
"Di dunia ini hanya orang baik yang selalu hidup menderita, sementara yang senang, yang gembira selalu orang berhati busuk."
"Kau keliru."
Tiba-tiba terdengar suara orang ke empat berkumandang memecahkan keheningan.
Pintu batu yang tebal itu meski beratnya bukan kepalang, namun ketika dibuka, sama sekali tidak kedengaran sedikit suara pun.
Entah sedari kapan pintu batu itu sudah terbuka lebar.
Dari balik pintu perlahan-lahan berjalan keluar seseorang, dia adalah Nyoo Cing.
Walaupun wajahnya tampak sangat letih, namun dia masih dalam keadaan hidup.
.....Tetap hidup merupakan hal yang paling penting dibandingkan lainnya.
Cong Hoa, Tay Thian, Cong Hui-miat serentak berpaling, ketika menyaksikan Nyoo Cing berjalan keluar dari balik pintu, air mata perlahan-lahan meleleh keluar membasahi wajah mereka bertiga.
Tentu saja air mata itu air mata kegirangan.
Disaat orang gembira sebetulnya keadaan itu tidak berbeda dengan disaat orang bersedih hati, sebab kecuali lelehan air mata, tidak sepotong perkataan pun bisa diucapkan, tidak sebuah perbuatan pun bisa dilakukan, bahkan terkadang untuk bergerak pun susah rasanya.
Sekilas terlihat sepasang mata Nyoo Cing pun seolah berkaca kaca, namun senyuman masih menghiasi ujung bibirnya.
"Kau keliru, orang baik di dunia ini selamanya tidak pernah akan menderita,"
Ujarnya perlahan.
"Sebab saat gembira bagi orang jahat selalu lebih sedikit dibandingkan saat-saat mereka menderita."
Tiba-tiba Cong Hoa buang muka ke arah lain, kini dia sudah tidak mampu menahan diri lagi, air mata sudah mengalir keluar bagaikan bendungan yang runtuh.
Inilah air mata kegembiraan!
Lewat lama kemudian dia baru menghembuskan napas panjang sambil berpaling, ditatapnya wajah Nyoo Cing.
"Mana Ti Cing-ling?"
Dia bertanya.
"Aku yakin dia sangat menderita,"
Sahut Nyoo Cing hambar.
"Sebab bagaimana pun juga dia kembali melakukan satu kesalahan yang fatal."
"Melakukan kesalahan yang fatal?"
"Kali ini, sebetulnya dia memiliki banyak kesempatan emas untuk membunuhku, bahkan dia sanggup membuatku mampus tanpa sempat melakukan perlawanan, tapi semua kesempatan emas itu sudah dia lewatkan dengan begitu saja." ..... Manusia semacam Ti Cing-ling, bagaimana mungkin bisa melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya? "Kenapa begitu?"
Tanya Cong Hoa tanpa terasa. Pertanyaan inipun ingin diajukan oleh Tay thian maupun Cong Hui-miat.
"Sebab dia ingin bertaruh lagi didalam hati,"
Kata Nyoo Cing tertawa.
"Bertaruh? Apa yang dipertaruhkan?"
"Apakah kali ini dia ingin bertaruh, mampukah kau membunuhnya dengan tangan kosong?"
"Bukan, kali ini yang dia pertaruhkan adalah pedang yang ada ditanganku."
"Pedang yang ada ditanganmu? Kau memiliki pedang itu?"
Tanya Cong Hoa.
"Betul!"
Kembali Nyoo Cing tertawa.
"Ditanganku terdapat pedang ketiga!"
"Pedang ketiga?"
Tanya Tay Thian pula.
"Apakah pedang amarah yang tersiar dalam dunia persilatan itu?"
"Benar,"
Nyoo Cing mengangguk. Cong Hoa segera menengok ke tangan Nyoo Cing, tapi tangan itu kosong.
"Tapi aku tidak melihat pedang milikmu itu!"
Serunya kemudian.
"Sebenarnya memang tanpa pedang."
"Tanpa pedang?"
Berbinar sepasang mata Cong Hoa, dia pun tertawa, diapun segera mengerti apa yang dimaksud.
"Jadi dia mempertaruhkan pedang ditanganmu itu?"
Tanyanya lagi.
"Benar."
"Tentu saja hasilnya dia yang kalah!"
"Tidak, dia menang!"
"Dia yang menang?"
Cong Hoa melengak.
"Benar, dia yang menang!"
Sekali lagi Nyoo Cing menandaskan.
"Ditanganmu jelas tidak berpedang, bagaimana mungkin dia yang menang?"
"Siapa bilang ditanganku tidak berpedang? Pedang itu memang selalu berada ditanganku,"
Sekali lagi Nyoo Cing tertawa. Kali ini senyuman Cong Hoa makin riang, sebab dia sudah mengerti.
"Benar, ditanganmu memang selamanya terdapat pedang, maka dialah yang menang, tapi dia juga yang kalah!"
Serunya.
"Yaa, dia sudah kalah!"
Menang kalah memang selalu terjadi dalam sekejap mata.
Walaupun hanya sekejap, namun bisa dibayangkan betapa tegang, betapa merangsangnya situasi waktu itu.
Cong Hoa hanya menyesal mengapa tidak punya kesempatan untuk menyaksikan "Romantika nya sebilah pedang,"
Dia menyesal mengapa tidak sempat menyaksikan kejadian yang sesaat itu.
Sekalipun tidak dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri, namun setiap kali membayangkan adegan tersebut, dia selalu merasa napas sendiri jadi sesak.
BAB Romantika sebilah pedang.
Pintu sudah terbuka.
Tidak seorang manusia pun yang bisa mengurung diri untuk selamanya didalam lingkungan yang sempit, tidak mungkin dia bisa memutuskan hubungan dengan dunia luar.
Tay Thian sudah melangkah masuk ke dalam ruang batu itu.
Pemandangan pertama yang ditangkap oleh matanya adalah sebilah golok yang tipis, tipis sekali, sebilah golok pembunuh.
Golok Kelembutan!
Golok itu masih tergenggam ditangan Ti Cing-ling, mata golok mengarah ke depan pintu.
Tubuh golok pun masih memancarkan cahaya kebiru biruan, cahaya yang mendatangkan perasaan bergidik.
Golok adalah tetap golok.
Biar ditangan manusia hidup atau pun ditangan orang mati, golok tetap adalah golok.
Kematian pun tetap merupakan kematian.
Kematian seorang enghiong tetap mati, kematian orang miskin pun tentu saja tetap mati.
Kehidupan sesungguhnya adalah sama rata, apalagi bila kematian sudah menjelang tiba, setiap orang mempunyai taraf yang tidak berbeda.
Tapi sayang, ada sementara orang justru tidak mau mengerti akan hal ini, justru mereka baru mau mengerti ketika saat ajal sudah hampir merenggutnya.
Paras muka Ti Cing-ling penuh dicekam perasaan kaget, ngeri, ragu dan tidak percaya.
Apa yang membuatnya tidak percaya?
Apa tidak percaya kalau ditangan Nyoo Cing benarbenar terdapat sebilah pedang?
Apa tidak percaya kalau pedang itu benar-benar mampu membunuhnya?
Ketika ajal merenggut nyawa tokoh luar biasa ini, keadaannya tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dialami orang-orang yang dipandang rendah, orangorang yang dipandang hina olehnya, sama-sama gugup, sama-sama ngeri dan sama-sama merasa seram.
Luka mematikan berada di tenggorokan Ti Cing-ling, sebuah luka pedang.
Luka itu sempit tapi sangat dalam, persis seperti bekas luka yang ditinggalkan Tionggoan It-tiam-hong (setitik merah dari daratan tiongoan).
Tay Thian benar-benar sukar untuk percaya dengan kenyataan itu, bahkan dia tidak habis mengerti bagaimana tusukan pedang itu bisa merenggut nyawanya.
Benarkah di dunia ini terdapat pedang ketiga?
Tangan kiri Ti Cing-ling menggenggam kencang, seakan-akan dia ingin mencengkeram sesuatu, mungkinkah dia masih enggan menyerah kalah?
Sayangnya, sekarang dia sudah tidak mampu mencengkeram apa pun, tidak sanggup memegang apa pun.
Mendadak Tay Thian merasa amat letih, tiba-tiba timbul perasaan simpatiknya terhadap "orang yang dikalahkan"
Itu.
Mengapa bisa begitu?
Bahkan dia sendiripun tidak tahu kenapa.
Mungkin bukan Ti Cing-ling yang membuatnya simpatik, mungkin dia sedang merasa simpatik terhadap diri sendiri.
Sebab dia manusia, Ti Cing-ling pun manusia.
Semua manusia mempunyai perasaan sedih yang sama, penderitaan yang sama.
Biarpun dalam perjalanan hidupnya Tay Thian belum pernah kalah, tapi apa pula yang berhasil dia peroleh selama ini?
Apa yang berhasil diraihnya?
Hujan masih turun sangat deras, orang-orang itu masih berdiri di bawah pohon siong.
Empat manusia, semuanya kehujanan hingga basah kuyup, walaupun dihadapan mereka terdapat sebuah rumah batu yang bisa digunakan untuk berteduh, tapi mereka lebih suka berdiri kehujanan diluar ketimbang menunggu di situ.
Hal ini bukan disebabkan dalam ruangan terdapat sesosok mayat, tapi mereka ingin menggunakan air hujan itu untuk membersihkan semua debu dan kotoran yang menempel ditubuh mereka.
......
Kotoran ditubuh bisa dicuci sampai bersih, bagaimana pula dengan kotoran yang menempel dalam pikiran?
Sebagai manusia, mengapa yang diperhatikan selalu penampilan?
Mengapa mereka lupa atau mengabaikan kebersihan didalam?
"Ketika seseorang berhasil meraih sebuah kemenangan, biasanya dia akan merasa amat letih, amat kesepian,"
Tiba-tiba Cong Hoa berkata sambil tertawa.
"Kenapa?"
Tanya Nyoo Cing.
"Karena kau telah meraih kemenangan mutlak, karena kau telah sukses besar, sudah tidak ada persoalan lain yang membuatmu harus berjuang lagi."
"Berarti kemenangan itu tidak enak?"
"Meski membuat perasaan tidak enak, paling tidak jauh lebih nyaman dari pada merasakan kekalahan,"
Timbrung Cong Hui-miat.
Tiba-tiba Nyoo Cing terbungkam, walaupun dia masih berada ditempat itu, namun pikiran dan perasaannya sudah berpindah entah ke mana.
......
Dia seakan menyaksikan ada seseorang sedang menunggunya ditepi sungai, diantara pepohonan....
Kemenangan dan kesuksesan belum tentu mendatangkan kepuasan bagimu, belum tentu mendatangkan kegembiraan bagimu.
Kegembiraan yang sesungguhnya justru terletak disaat kau memperjuangkannya, berjuang untuk maju, berjuang untuk berhasil.
Nyoo Cing masih termenung, sorot matanya seakan sedang memandang ke suatu tempat di kejauhan sana.
.....Di situ dia seakan menyaksikan sesosok bayangan ramping sedang menantikan kedatangannya.
Tay Thian memandang rekannya sekejap, mendadak sekilas perasaan sedih melintas di wajahnya.
"Aku harus pergi dari sini,"
Setelah lama termenung akhirnya Nyoo Cing berbisik. Pergi? Mau pergi ke mana? "Kau akan pergi?"
Tanya Cong Hoa.
"Kenapa harus pergi?"
"Sebab dia harus pergi!"
Tiba-tiba Tay Thian mewakilinya untuk menjawab.
"Walaupun Ti Cing-ling sudah mati namun perkumpulan Cing-liong Hwee belum runtuh, paling tidak pemeran utama yang diutus Perkumpulan Cing-liong-hwee dalam menangani kasus ini belum....belum dikalahkan."
Sebenarnya dia ingin menyebut kata "mati", namun setelah memandang Nyoo Cing sekejap, tiba-tiba kata mati diubahnya menjadi kata kalah.
Mungkinkah pemeran utama dari perkumpulan Cingliong-hwee mempunyai sesuatu hubungan khusus dengan Nyoo Cing?
Sebenarnya siapakah "dia" (laki) atau "dia" (wanita)?
Tampaknya Tay Thian sudah mengetahui siapakah orang itu, karenanya perasaan sedih melintas diwajahnya, namun sekali lagi, dia hanya bisa memandang dengan ketidak berdayaan.
"Bagaimana pun juga manusia akhirnya harus pergi, persoalan pun akhirnya akan beres,"
Nyoo Cing tertawa getir.
"Sepahit apa pun, segetir apa pun, kenyataan tetap harus kita hadapi!"
"Betul, hanya manusia bangsa kurcaci yang berusaha kabur dari kenyataan,"
Tay Thian menimpali.
Nyoo Cing mendongakkan kepalanya, mengawasi hujan yang masih turun dengan derasnya.
Sampai lama kemudian dia baru menghembuskan napas panjang, perlahan-lahan sorot matanya dialihkan kembali ke wajah Tay thian.
Tay thian pun balas menatap Nyoo Cing, begitulah, kedua orang itu hanya saling bertatapan muka tanpa bicara.
Lama kemudian akhirnya Tay Thian baru menghela napas panjang, perlahan-lahan dia pejamkan matanya sambil berbisik.
"Aku pasti bisa!"
Mendengar perkataan itu Nyoo Cing baru menghembuskan napas lega.
Kemudian dia pun berjalan menembusi hujan yang deras, berjalan menuju ke depan sana.
Ketika meninggalkan tempat itu dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, bahkan memandang Cong Hoa sekejap pun tidak.
Dia pergi dengan begitu saja.
Sebenarnya Cong Hoa ingin memanggilnya, tapi segera dicegah Tay Thian.
"Dia bersikeras akan pergi, maka biarlah dia pergi! Kalau tidak, selama hidup dia akan tersiksa di sini."
Mengawasi bayangan tubuhnya yang semakin menjauh, tiba-tiba Cong Hoa ikut menghela napas.
"Sekalipun dia sudah pergi, memangnya semua penderitaan dan siksaan bisa dia tinggalkan disini?"
Gumamnya.
Tampaknya Cong Hoa pun tahu kemana Nyoo Cing akan pergi, dan siapa yang akan dijumpai.
Sesungguhnya hanya orang itu yang bisa mengusir semua penderitaan dan siksaan batinnya, dan hanya orang itu yang bisa memaksanya harus pergi dari situ.
Tapi siapakah orang itu?
Dia (laki)?
Atau dia (wanita)?
Kalau dia (laki), siapakah dia?
Kalau dia (wanita), siapa pula dia?
"Dia"
Yang akan dijumpai Nyoo Cing, apakah akan menanti kedatangannya?
Kepergiannya kali ini akan membuatnya tetap hidup?
Atau mati?
Tidak seorang pun yang tahu.
Tapi hal ini memang tidak penting lagi karena paling tidak dia pernah datang, pernah hidup dan pernah mencintai.
Asal pernah datang dalam hidupnya, pernah hidup mendampinginya, pernah mencintai dirinya, itu sudah lebih dari cukup.
Dan dia sudah seharusnya merasa puas!
TAMAT.
Baca Juga: Renjana Pendekar Khulung
Baca Juga: Ular Belang Putih 1