Ceritasilat Novel Online

Romantika Sebilah Pedang 6

Eps 6 Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id

Baca online Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id

Cersil Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id.

Siapa tahu baru saja menerima kembali mangkuk berisi bubur dari tangan Hoa U-gi, mendadak terlihat nona hitam mengernyitkan dahinya, mangkuk berisi bubur panas yang berada ditangannya tahu-tahu sudah dilemparkan ke arah sebuah meja ditengah ruangan, meja yang ditempati tiga orang tamu.

Bubur panas itu segera meluncur ke udara dan menyiram ke wajah tiga orang itu.

Dengan cekatan ketiga orang itu berjumpalitan lalu menyingkir ke samping, berbarengan dengan gerakan itu, tiba-tiba sisa tamu yang lain telah melompat bangun, dalam genggaman mereka pun sudah bertambah dengan belasan macam senjata tajam.

Pedang, golok, kapak, senjata rahasia, ruyung, poankoan-pit, hampir semua jenis senjata tajam ditujukan ke tubuh nona hitam.

Dengan amat cekatan nona hitam menyambar kualinya kemudian melesat ke atas udara dengan menjebol atap rumah, kemudian dengan satu gerakan yang indah dia berdiri diatas wuwungan rumah.

Baru saja tubuhnya berdiri tegak, mendadak dari hadapan wuwungan rumah meluncur datang sebaris anak panah, nona hitam segera membungkukkan tubuh sambil melayang turun ke tengah jalanan.

Seorang pemuda bersenjata sepasang kapak segera menyongsong kedatangannya, bagaikan putaran roda pedati sepasang senjatanya membacok tubuh gadis itu berulang kali.

Dari balik kegelapan terlintas sekilas cahaya darah, disusul percikan darah segar berhamburan ke mana mana.

Tahu-tahu pemuda bersenjata kapak itu sudah roboh terkapar ke tanah, darah masih bercucuran membasahi wajahnya, perasaan kaget, tercengang, ngeri bercampur aduk diwajahnya, seakan hingga saat ajalnya dia masih belum percaya kalau nona hitam bisa menghabisi nyawanya.

Ditengah hujan darah, kembali ada empat orang muncul dari balik warung, dengan membagi diri jadi dua arah, satu rombongan menyerang tubuh bagian atas nona hitam itu sementara rombongan yang lain membabat bagian bawah tubuhnya.

Orang ke lima yang kemudian munculkan diri bersenjatakan sebuah ruyung panjang, senjatanya bagaikan seekor ular berbisa langsung melilit ke arah pinggangnya.

"Pletakk..!"

Dengan cepat ruyung itu melilit dipinggang nona hitam, sementara senjata tajam yang berada ditangan ke empat orang lainnya sudah berada tidak sampai satu inci dari tubuh nona itu.

Semua peristiwa berlangsung dalam waktu sekejap, belum sempat Hoa U-gi melihat jelas apa yang terjadi, tahu-tahu ruyung itu sudah melilit dipinggang nona hitam disusul kemudian senjata ditangan ke empat orang itu sudah dibacokkan ke atas tubuihnya.

BAB 3.

Ti Cing-ling yang berada di rumah batu.

Sebuah rumah batu, sebuah meja batu, dua buah bangku batu, sebuah lentera, sebuah anglo tembaga, sepoci arak, sebuah cawan kristal, sebuah mangkuk kristal, seorang manusia.

Anglo berada diatas meja batu, diatas anglo sedang memasak semangkuk bubur teratai, bau harum semerbak memenuhi seluruh ruangan berbatu itu.

Si manusia duduk ditepi lentera.

Dia mengenakan pakaian serba putih, bersih tidak berdebu, wajahnya pucat, bersih namun selalu membawa mimik muka senyum tidak senyum yang dingin menggidikkan hati.

Diatas lantai berlapiskan sebuah permadani bulu domba yag didatangkan dari negeri Persia.

Ti Cing-ling dengan mengenakan jubah panjang berwarna putih, bertelanjang kaki, duduk bersila didepan meja batu, duduk diatas permadani berbulu domba dan perlahan-lahan menikmati arak anggurnya yang memenuhi cawan kristal.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang perlahan bergema dari luar pintu, disusul pintu ruangan dibuka dan seorang perempuan berbaju putih bagai sesosok sukma gentayangan berjalan masuk ke dalam ruangan.

Ti Cing-ling sengaja tidak memandang ke arahnya, dia masih menikmati arak anggurnya dengan santai.

Perempuan berbaju putih itu langsung duduk dihadapannya, dia menuang sendiri secawan arak anggur lalu memandang kearah lelaki dihadapannya dengan tenang.

Lama sekali mereka duduk saling berhadapan, saling minum arak tanpa berbincang.

Lama, lama kemudian, akhirnya Ti Cing-ling mendongakkan kepalanya memandang ke arah perempuan itu.

"Rupanya kau? Kau sudah datang?"

"Tentu saja aku, tentu saja aku yang dating!"

"Tapi seingatku, seharusnya kau sudah datang semenjak setengah jam berselang?"

""Setengah jam berselang semestinya aku sudah duduk disini, tapi si kura-kura tua itu bukan manusia sederhana, aku mesti bertindak lebih hati-hati, berputar dulu ke tempat lain sebelum datang kemari."

Ti Cing-ling menatapnya lekat-lekat.

"Sejak kau datang kemari dulu, sampai sekarang sudah selisih berapa lama?"

"Tiga belas tahun."

"Tiga belas tahun lewat sembilan bulan tujuh hari!"

Ti Cing-ling segera mengkoreksi.

"Ketika kau datang selamatkan jiwaku, hari itu adalah bulan dua belas tanggal dua puluh sembilan, sementara hari ini adalah bulan sepuluh tanggal tujuh."

Kembali ditatapnya perempuan itu lekat lekat, terusnya.

"Itu berarti sudah lewat tiga belas tahun sembilan bulan tujuh hari."

"Sungguh cepat waktu berlalu,"

Perempuan itu menghela napas panjang.

"Dalam tiga belas tahun ini, nyamankah hidupmu?"

"Sangat tenang,"

Sahut perempuan itu setelah menghirup seteguk araknya.

"Apakah kura-kura tua itu seringkah munculkan diri?"

"Tidak, tapi jauh lebih menakutkan dari pada dia muncul dihadapanku,"

Suara perempuan itu kedengaran agak gemetar.

"Oya?"

"Bila dia munculkan diri, kau akan tahu kalau dia berada dihadapanmu, tapi kalau tidak muncul, maka setiap waktu setiap saat kau seolah olah merasa kalau dia berada disekelilingmu."

Setelah meneguk secawan arak, lanjutnya.

"Perasaanku waktu itu seperti berada ditengah hutan lewat, meskipun tidak menjumpai binatang apapun yang berbahaya, namun setiap mengayunkan langkah, kau selalu harus waspada, siap menghadapi terkaman dari binatang buas."

Dengan tenang Ti Cing-ling menyuap bubur bunga teratainya, diapun mengambilkan semangkuk untuk perempuan itu.

"Kapan janjimu dengan kura-kura tua itu?"

Dia bertanya.

"Dua puluh tahun lebih satu bulan."

"Dua puluh tahun lebih satu bulan?"

Dengan termangu Ti Cing-ling mengawasi asap yang mengepul dari kuali.

"Mengapa bukan dua puluh tahun, mengapa bulan dua puluh satu tahun tapi justru dua puluh tahun lewat satu bulan?"

Setelah menyuap lagi sesendok bubur, lanjutnya.

"Mengapa harus dilampaui selama satu bulan?"

"Mungkin saja dia merasa lebih asyik dengan ditambah satu bulan."

"Tidak, pasti ada maksud tertentu,"

Ujar Ti Cing-ling.

"Aku sangat memahami watak kura-kura tua itu, belum pernah dia melakukan pekerjaan yang tidak bermakna."

"Mungkin saja tujuannya agar kita selalu menaruh perasaan sangsi, curiga dan ragu."

"Moga moga saja begitu,"

Kata Ti Cing-ling setelah berpikir sejenak.

"Cara kerja kura-kura tua ini selalu lebih aneh ketimbang cara kerja Siau gongcu, ilmu silatnya juga sukar ditebak, betul-betul membuat kepala pusing."

"Sudah lama dia tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi, mengapa justru menaruh perhatian yang berlebihan terhadap Nyoo Cing?"

"Sebab ayahnya Nyoo Cing, Nyoo Heng adalah satusatunya sobat kental dia,"

Ti Cing-ling menerangkan setelah menghirup seteguk arak anggur.

"Kalau memang ingin membantu Nyoo Cing, kenapa tidak dilakukan terus terang?"

"Sebab dia tidak berharap Nyoo Cing menjadi seseorang yang tidak punya pendirian dan selalu tergantung pada orang lain, dia ingin Nyoo Cing menjadi Nyoo Heng kedua."

Ditatapnya perempuan berbaju putih itu sekejap, kemudian sambil tersenyum kembali Ti Cing-ling melanjutkan.

"Kalau bukan begini, buat apa dia paksa kau untuk menepati sumpah janjimu selama dua puluh tahun? Kalau bukan karena begini, kau sudah mati sejak dua puluh tahun berselang."

"Dia suruh aku menepati sumpahku bertahan selama dua puluh tahun lebih satu bulan, bukankah tujuannya agar Nyoo Cing membunuh aku dengan tangannya sendiri?"

Kata perempuan berbaju putih itu hambar.

"Rasanya memang begitu."

Mendadak dari balik mata perempuan berbaju putih itu terpancar sebuah perubahan yang tidak terlukis dengan perkataan, semacam rasa benci, dendam, murung, kesal, sedih dan perasaan apa boleh buat yang bercampur aduk.

"Kalau bukan begini, rasanya kau pun sudah mampus sejak dua puluh tahun berselang?"

Sindir perempuan berbaju putih itu sambil tertawa, tertawa dingin.

"Tapi paling tidak alasannya tidak membunuhku sedikit berbeda dengan alasanmu."

"Dibagian mana yang berbeda?"

"Dia pasti akan memberi sebuah kesempatan kepada Nyoo Cing, sebuah kesempatan yang benarbenar adil, dia menginginkan Nyoo Cing dengan menggunakan kekuatan sendiri untuk berduel melawanku."

Setelah tertawa, kembali terusnya.

"Kalau bukan begitu, ketika tiga belas tahun berselang kau mengingkar janji dengan secara diam-diam datang menolongku, bagaimana mungkin kau bisa lolos dari incaran serta pengamatannya?"

"Dia telah memberi sebuah kesempatan yang adil kepada Nyoo Cing untuk berduel, bagaimana dengan kau? Tampaknya kau tidak memberi kesempatan kepada Nyoo Cing untuk berduel secara adil?"

Kata perempuan berbaju putih itu.

"Ada, disaat duel itu berlangsung, aku pasti akan memberi kesempatan yang adil untuk Nyoo Cing,"

Kata Ti Cing-ling sambil tersenyum.

"Tapi sebelum duel itu berlangsung, kita harus tergantung pada kemampuan masing-masing."

"Tapi cara kerjamu kelewat keji, kelewat sadis, mulamula kau hantar putrinya agar bertemu dengannya, agar tumbuh perasaan kasih diantara mereka berdua, bila rasa kasih sudah tumbuh, perasaan orang akan bertambah lembek, kemudian setiap saat kau berusaha menciptakan ancaman bahaya kepada putrinya, agar dia merasakan tekanan batin yang berat."

Ti Cing-ling hanya mendengarkan, sama sekali tidak komentar.

"Tekanan batin bisa menimbulkan kekosongan pikiran, pikiran yang kosong akan membuatnya sangat tergantung pada orang kepercayaannya, saat itulah kau akan menyingkirkan orang kepercayaannya satu demi satu, agar dia hidup sendirian lagi."

Dengan sorot mata yang tajam perempuan berbaju putih itu mengawasinya lekat-lekat, kemudian katanya lagi.

"Bila keadaan ini dibiarkan berkembang terus, maka ketika tiba saatnya untuk berduel, kau pun bisa meraih kemenangan tanpa harus bertarung."

Ti Cing-ling balas menatapnya.

"Apakah kau tidak berharap aku menang? Apakah kau berharap aku kalah?"

Serunya.

Menghadapi pertanyaan ini, untuk sesaat perempuan berbaju putih itu tidak sanggup menjawab, dia sendiripun tidak jelas, seharusnya mengharapkan Nyoo Cing menang atau kalah.

Tapi sejujurnya, dia memang berharap Nyoo Cing kalah, tapi tidak berharap Nyoo Cing mati.

"Tampaknya posisi Nyoo Cing saat ini sudah sendiri, apa langkahmu berikut?"

Tanya perempuan berbaju putih itu.

"Langkah berikut tentu saja merupakan langkah terpenting,"

Kata Ti Cing-ling.

"Aku akan membuat pertahanan terakhirnya ikut runtuh."

"Pertahanan terakhir?"

Tanya perempuan berbaju putih.

"Apa pertahanan yang terakhirnya?"

"Perasaan, hubungan kekeluargaan."

"Perasaan? Hubungan kekeluargaan?"

"Benar, hubungan kekeluargaan, kita bisa manfaatkan putrinya Hoa U-gi, sementara perasaannya tentu kita hadapi dengan orang yang paling dicintai."

Perasaan bangga terpancar dari balik mata Ti Cingling, sinar penuh kesadisan.

"Aku akan mengirim sebuah benda milik perempuan yang paling dicintai kepadanya."

Bagi seorang pasien, pekerjaan yang paling membuat mereka tidak leluasa adalah kencing dan buang air, apalagi bagi Nyoo Cing yang patah tulang kakinya.

Mulai dari pinggang hingga ke bawah tubuhnya dijepit dengan papan kayu, membuat dia sama sekali tidak mampu bergerak, jangan lagi untuk membalikkan tubuh.

Untung sekali bukan saja pesanggrahan pengobatan Coan-sin-ie-khek memiliki tehnik pengobatan yang hebat, pelayanan mereka pun terhitung top.

Apalagi untuk seorang tokoh macam Nyoo Cing, tentu saja ada orang khusus yang melayani semua kebutuhannya.

Diujung ranjang dekat dinding terdapat seutas tali, tali itu dihubungkan melalui jendela luar langsung ke ruang istirahat para petugas pesanggrahan, tali itu dihubungkan pula dengan sebuah keleningan.

Bila pasien butuh pelayanan, cukup menarik tali itu maka petugas segera akan muncul untuk memberikan pelayanannya.

Baru saja Nyoo Cing akan menarik tali, seorang gadis cantik sudah muncul didalam ruangan sambil bertanya.

"Ongya, ada urusan apa?"

"Aku merasa ruangan ini sumpek, bisa kau buka daun jendela disebelah sana?"

"Tentu saja,"

Jawab gadis itu cepat. Tidak lama sepeninggal gadis itu, Nyoo Cing menarik napas panjang kemudian berbisik.

"Sekarang kau boleh masuk, sudah seharian aku menunggu kedatanganmu."

Padahal suasana waktu itu hening, tiada suara langkah, tiada suara ketukan pintu, darimana dia tahu kalau ada orang yang datang? Pintu segera dibuka, kemudian terdengar seseorang berkata.

"Darimana kau tahu kalau aku sudah datang?"

"Sebab bubur kedele buatan nona hitam selalu harum dan sedap."

"Ooh, rupanya ayah sudah mengendus baunya!"

Seru Hoa U-gi sambil menghampiri pembaringan.

"Pagi tadi sehabis membeli bubur, aku masih ada sedikit urusan maka baru sekarang datang kemari."

"Tidak apa-apa,"

Sahut Nyoo Cing sambil membuka matanya dan memandang dia sekejap.

"Ayah mau mencicipinya semangkuk?"

"Baik, bubur kedele buatan nona hitam ini pasti istimewa rasanya."

Ketika mengucapkan kata "istimewa", Nyoo Cing seakan sengaja menandaskannya.

Tapi Hoa U-gi seperti tidak menyadari akan hal itu, dengan riangnya dia mengambil semangkuk bubur kemudian dihidangkan didepan Nyoo Cing.

"Mau aku suapi?"

"Tidak usah, biar aku sendiri. Kalau tiduran terus, tulangku bisa kaku semua."

Nyoo Cing mencoba setengah terduduk, lalu sambil menerima mangkuk bubur dari tangan Hoa U-gi, katanya lagi.

"Hmm, baunya memang harum, tidak heran kalau dagangannya laris sekali, tiap kali ke sana, semua meja nya nyaris ditempati belasan orang tamu."

Hoa U-gi tampak mengernyitkan alis matanya, tapi Nyoo Cing berlagak tidak melihat, dia hanya mengawasi bubur dalam genggamannya dengan termangu.

"Cepat diminum, mumpung masih hangat,"

Bujuk Hoa U-gi lagi.

"Baik."

Dengan penuh riang gembira Nyoo Cing menyuapi bubur itu dan menghabiskan isi mangkuknya.

"U-gi!"

Mendadak Nyoo Cing berseru.

"Tiba-tiba aku teringat akan satu hal, boleh minta tolong kepadamu?"

"Tentu saja, urusan apa?"

"Malam ini aku belum minum obat, maukah kau pergi mengambilkan untukku?"' "Aku segera pergi."

Sebelum meninggalkan pintu ruangan, kembali Hoa U-gi berpesan.

"Kau harus minum bubur itu sampai habis."

"Jangan kuatir, sewaktu kau datang nanti, tanggung tidak setetespun yang ketinggalan,"

Sahut Nyoo Cing sambil tertawa.

Tapi begitu Hoa U-gi lenyap dari pandangan, senyuman yang semula menghiasi wajah Nyoo Cing pun seketika lenyap tidak berbekas, dengan pandangan serius diawasinya bubur itu.

Angin malam diawal musim dingin terasa menggigilkan tubuh.

Mendadak Nyoo Cing menekan perutnya kuat-kuat, kemudian dia pentang mulutnya dan menyemburkan semua isi perutnya keluar jendela, segulung cairan yang ternyata bubur yang baru diteguknya, segera menyembur ke arah kebun.

Berbareng dengan perbuatannya itu, mangkuk ditangan kanannya segera dilontarkan keluar jendela, seakan terdapat sepasang tangan tidak berwujud yang menyunggih mangkuk itu, benda tadi meluncur persis disamping semburan buburnya tadi.

Dari balik pepohonan tampak seakan ada sesosok bayangan manusia menyambut mangkuk itu dan menuang seluruh sisa bubur ke tanah kemudian melempar balik mangkuk kosong itu ke dalam ruangan Baru saja Nyoo Cing menyambut kembali mangkuk kosongnya, dari luar sudah terdengar seseorang mengetuk pintu.

"Masuk!"

Hoa U-gi muncul didalam ruangan, begitu masuk, matanya seakan melirik dulu ke arah mangkuk kosong ditangan Nyoo Cing, setelah itu sambil tertawa baru ujarnya.

"Menurut mereka, bila kau tidak bisa tidur malam nanti, obat itu baru diminum, kalau tidak, tidak usah!"

"Oya? Tapi aku rasa malam ini tidurku pasti sangat nyenyak, apalagi setelah menghabiskan semangkuk bubur."

Bicara sampai disitu tiba-tiba Nyoo Cing mulai menggeliat dan matanya tampak sangat mengantuk.

"Kenapa tiba-tiba kau mengantuk?"

Kembali Hoa U-gi menegur.

"Mungkin lantaran capek!"

"Kalau begitu cepat tidurlah,"

Hoa U-gi membantunya berbaring lalu dengan nada riang bisiknya.

"Besok, kau ingin aku bawakan apa?"

"Besok.....bawakan bunga saja......"

Kelopak mata Nyoo Cing terlihat bertambah berat.

"Baik."

Hari itu tanggal lima belas, persis bulan sedang purnama.

Cahaya rembulan yang lembut bagai belaian tangan seorang gadis yang sedang mengelus wajah Nyoo Cing.

Semenjak Hoa U-gi meninggalkan tempat itu, dia tertidur terus tanpa bergerak sedikitpun.

Daun jendela masih dibiarkan terbuka, ditengah hembusan angin malam yang sejuk terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat lewat.

Sesosok bayangan tubuh yang ramping, lembut tapi cekatan.

Bayangan itu melesat masuk ke dalam ruangan melalui jendela yang terbuka, dia mengenakan baju Yaheng-ie berwarna hitam pekat, berdiri didepan pembaringan bagai sukma gentayangan, dari balik sorot matanya yang bening terpancar hawa pembunuhan yang tebal.

Ketika Nyoo Cing menggerakkan tangannya, dengan cepat bayangan hitam itu menempekan tubuhnya rapat-rapat diatas dinding, mengawasi gerak-gerik lelaki itu sambil menahan napas.

Agaknya dalam tidurnya Nyoo Cing merasa kedinginan, sebab tangannya yang bergerak hanya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dia sama sekali tidak mendusin, apalagi mengetahui kalau ada orang sedang menghampirinya bahkan dengan membawa hawa napsu membunuh.

Perlahan-lahan orang berbaju hitam itu menghembuskan napas panjang, sekali lagi dia bergerak menghampiri ranjang, sorot matanya yang penuh napsu membunuh mengawasi Nyoo Cing tanpa berkedip.

Tangannya mulai diayunkan ke tengah udara, tampak jelas sebilah pedang pendek sudah terhunus keluar.

Sebilah pedang dengan pita merah digagangnya, sebilah pedang milik seorang wanita.

Mata pedang yang memancarkan sinar kehijauan, ibarat sorot mata setan iblis yang menyeramkan.

Angin malam berhembus makin dingin, hawa pedang terasa semakin menggidikkan hati.

Sorot mata manusia berbaju hitam itu kembali memancarkan hawa pembunuhan yang dingin membeku...

Mendadak...

"Criiing!"

Pedang pendek itu sudah dihujamkan ke bawah, menembusi selimut dan menusuk ke tubuh Nyoo Cing.

"Craaap!"

Ketika pedang itu menembusi tubuh, bergema suara yang aneh.

Suara itu mirip suara senjata rahasia yang menembusi balok kayu, suara benturan yang tidak semestinya bergema pada keadaan seperti ini.

Dengan perasaan tercengang orang berbaju hitam itu menatap ke arah Nyoo Cing, tampak lelaki itu sudah membuka matanya kembali, bahkan sedang mengawasinya sambil tertawa, tidak nampak penderitaan yang melintas diwajahnya karena tertusuk pedang.

Manusia berbaju hitam itu mengernyitkan dahinya, baru saja akan mencabut pedangnya, sekonyongkonyong Nyoo Cing berkata.

"Jangan keras-keras, kau bisa merobek selimutku!"

Ternyata Nyoo Cing membantu orang berbaju hitam itu untuk mencabut keluar pedangnya. Diujung pedang tidak nampak noda darah, dengan terperangah orang berbaju hitam itu mengawasi ke arah lawannya.

"Sasaran yang kau tusuk tadi adalah jalan darah sanma-hiat di lambungku,"

Ujar Nyoo Cing kemudian.

"Bila jalan darah ini sampai tertusuk, maka sama seperti tertusuk tepat di jantung, aku pasti akan mampus seketika, bukan begitu?"

"Memangnya kau sudah menguasai ilmu mengalihkan posisi jalan darah?"

Tanya orang berbaju hitam itu keheranan.

"Sebenarnya aku ingin mempelajari ilmu tersebut, sayang hingga hari ini aku belum berhasil menemukan kitab rahasianya."

"Tapi tusukanku tadi..."

Perasaan tercengang semakin terpancar dari wajah orang itu.

"Kau merasa heran bukan, kenapa aku belum mati walaupun jalan darah san-ma-hiat ku sudah tertusuk?"

Tanya Nyoo Cing sambil tertawa. Orang berbaju hitam itu mengangguk, dia mengawasi lubang diatas selimut itu tanpa berkedip.

"Bila keheranan, kenapa tidak kau periksa sendiri? Singkap selimut itu, kau akan menjadi jelas dengan sendirinya."

Orang berbaju hitam itu sudah menggerakkan tangannya tapi dengan cepat ditarik kembali, seakan takut dibalik selimut ada ular berbisanya, dia mundur selangkah kemudian menyingkap selimut itu dengan ujung pedang.

Begitu selimut tersingkap, orang berbaju hitam itu makin terperangah.

Ternyata bagian tubuh Nyoo Cing sebatas dada ke bawah sama sekali tidak tampak, begitu selimut terbuka maka terlihatlah sebatang kayu balok tergeletak disitu, sementara tubuh bagian perut dan kaki Nyoo Cing tidak terlihat.

Bagaimana mungkin bisa begini?

Ke mana larinya separuh badan lelaki itu?

Tanpa separuh bagian tubuhnya, mana mungkin ia bisa hidup?

Tiba-tiba Nyoo Cing tertawa tergelak.

"Apa yang terlihat di depan mata belum tentu semuanya benar, mengerti kata-kata ini?"

Ujarnya.

"Tapi tubuh bagian bawahmu?"

Suara orang berbaju hitam itu mulai gemetar.

"Kenapa kau tidak berjongkok untuk melihat bagian bawah ranjang ini?' kata Nyoo Cing sambil menuding ke bawah. Orang itu sedikit agak ragu, tapi akhirnya dia berjongkok juga. Apa yang kemudian terlihat membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Nyoo Cing ikut tertawa, kedua orang itu tertawa amat keras, seakan sedang amat gembira. Ternyata separuh tubuh Nyoo Cing yang tidak terlihat itu berada dibawah ranjang. Separuh tubuh bagian atas tetap diatas ranjang, sedang separuh tubuh bagian bawah berada dibawah ranjang, tidak heran kalau tubuhnya sama sekali tidak nampak.

"Nyoo Cing memang tidak malu disebut Nyoo Cing!"

Akhirnya orang berbaju hitam itu berseru.

Nyoo Cing tidak bicara apa-apa, dia hanya menghela napas panjang.

Orang berbaju hitam itu masih tertawa.

Dia sangat kagum atas kecerdikan Nyoo Cing, tidak disangka dengan cara yang unik dia berhasil menghindari usaha pembunuhan yang dilakukan orang.

Kini Nyoo Cing sudah duduk kembali diatas ranjang, duduk bersila diujung pembaringan.

Menyaksikan gerakan yang dilakukan Nyoo Cing, orang berbaju hitam itu segera menghentikan gelak tertawanya, dengan pandangan terkejut dia awasi sepasang kaki lawan tanpa berkedip.

"Bu...bukankah kakimu sudah terluka? Bukankah kakimu diikat dengan papan? Kenapa bisa bergerak bebas sekarang?"

Tanyanya.

"Orang mengira tulangku masih patah, padahal pada hari ke empat setelah diobati, kakiku sudah sama sekali sembuh, bahkan secara diam diam aku sudah mulai melatih kembali kekuatan kakiku ini."

"Tidak nyana Coan Hong-sin pun berhasil kau kelabui!"

"Tentu saja, sebab sesuai dengan metode penyembuhannya, paling tidak butuh seratus hari untuk pulih kembali seperti sedia kala."

"Tampaknya tidak ada yang mengira kalau kau sudah sembuh secepat itu."

"Bukan sembuh lebih cepat, melainkan luka di kakiku memang tidak terlampau parah."

"Masa Coan Hong-sin tidak bisa melihat serius tidaknya luka mu?' "Dia toch tidak membelah tulang kakiku, darimana bisa tahu kalau lukaku parah atau tidak?"

Nyoo Cing tertawa.

"Makanya jangan terlalu percaya dengan apa yang terlihat didepan mata, sebab tidak ada yang tahu bagaimana keadaan didalam yang sebenarnya."

"Aku pasti akan mengingat terus perkataanmu ini!"

Tiba-tiba orang berbaju hitam itu tertawa dingin.

"Akupun perlu memberitahukan satu hal kepadamu, bila ada orang ingin membokongmu, janganlah banyak bicara dengannya, apalagi kalau sampai membiarkan dia tahu akan rahasiamu."

Pedangnya digetarkan dan seketika menciptakan tujuh kuntum bunga pedang yang menyebar ke empat penjuru dan mengancam tujuh buah jalan darah kematian di tubuh Nyoo Cing.

Menghadapi datangnya ancaman, Nyoo Cing sama sekali tidak bergerak.

Tidak berhenti sampai disitu, kembali orang berbaju hitam itu memutar tubuhnya bagai gangsingan, semakin berputar semakin cepat, bahkan menimbulkan suara pekikan yang amat menu suk pendengaran.

Rupanya dibalik suara pekikan yang dipancarkan melalui perputaran tubuhnya itu, terkandung gelombang suara pembunuh yang amat menakutkan.

Ilmu gelombang suara pembunuh manusia termasuk salah satu ilmu andalan kaum ninja dari negeri Hu-siang.

Disaat suara pekikan itu mulai mendengung, Nyoo Cing telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi gendang telinga, tidak heran bila ilmu gelombang suara pembunuh ini sama sekali tidak berpengaruh terhadapnya.

Disaat kertas kertas daun jendela mulai retak kemudian hancur berkeping, dari tengah pusaran yang kencang mendadak berkelebat keluar berapa titik cahaya tajam berwarna hijau tua.

Dibawah cahaya bintang yang redup, sinar hijau itu sangat lemah dan tidak mencolok, sekalipun diperhatikan dengan seksama pun tidak gampang untuk menjumpainya, apalagi bagi Nyoo Cing dalam keadaan begitu.

Cahaya tajam berkelebat lalu lenyap.

.....Biasanya, hilangnya cahaya menandakan sebuah kematian.

Itulah cahaya pembunuh, sebuah ilmu ninja yang menakutkan dari negeri Hu-siang.

Yang mematikan dari cahaya pembunuh bukan terletak pada sinarnya, melainkan pada senjata rahasia yang dilancarkan berbareng kilauan cahaya itu.

Tatkala kau menyadari ada cahaya berkelebat lewat, biasanya senjata rahasia sudah menghujam ke dalam tubuhmu, menanti kau merasakan datangnya hawa kematian, cahaya itupun hilang lenyap tidak berbekas.

Nyoo Cing bukan jagoan kemarin sore, begitu cahaya tersebut berkelebat, dia sudah menyambar kain selimutnya untuk menghadang didepan tubuh.

Cahaya tajam telah lenyap, senjata rahasia pun sudah musnah dibalik tebalnya kain selimut.

Dengan lenyapnya cahaya hijau itu, pusaran tubuh pun ikut berhenti, untuk kesekian kalinya orang berbaju hitam itu memandang lawannya dengan perasaan terkesiap.

Nyoo Cing sendiri seharusnya gembira karena berhasil mematahkan ilmu mematikan yang diandalkan kaum ninja, tapi dia sama sekali tidak nampak senang, bahkan mimik muka yang tidak seharusnya tampil diwajahnya, kini terlintas diatas wajahnya.

Mimik muka itu penuh dengan perasaan murung, sedih, ketidak berdayaan dan masgul.

Sepasang matanya seakan berkaca-kaca, menahan air mata yang nyaris jatuh berlinang.

Nyoo Cing yang dihari biasa selalu tampil tegar dan penuh wibawa, saat ini hanya duduk mematung bagaikan sebuah arca tanah liat.

"Belum pernah terlintas dalam benakku untuk membunuhmu,"

Ujar Nyoo Cing sedih.

"Tapi aku.... aku harus membunuhmu!"

Nada suara orang berbaju hitam itupun kedengaran amat pedih.

"Aku tahu,"

Nyoo Cing manggut-manggut.

"Sebab sejak lahir di dunia ini, kau sudah ditakdirkan untuk memainkan peranan ini!"

"Peranan apa?"

"Memerankan seseorang yang harus membunuhku, wajib membunuhku tapi tidak tega untuk melakukannya,"

Ujar Nyoo Cing sambil menatapnya tajam.

"Karena kau memang tidak pernah berpikir ingin membunuh aku."

Sekilas perasaan sedih melintas di wajah orang berbaju hitam itu, tubuhnya mulai gemetar keras.

"Kena... kenapa aku tidak ingin membunuhmu?"

"Buat apa aku mesti menerangkannya lebih jauh?"

Kata Nyoo Cing sambil menghela napas panjang.

"Padahal kaupun sudah tahu kalau aku telah mengetahui identitasmu, buat apa mesti bertanya lagi?"

Siapakah dia sebenarnya? Permulaan musim dingin, rembulan bersinar terang, bintang bertaburan di angkasa, tapi aneh, dalam cuaca seindah ini mengapa suasananya justru memedihkan hati? "Siapakah aku?"

Sepasang mata orang berbaju hitam itu mulai kabur.

"Aku tahu, sudah sejak dulu aku tahu siapakah kau,"

Kata Nyoo Cing makin sedih.

"Katakanlah, siapakah aku? Sebenarnya siapakah aku?"

"Hoa U-gi!"

Suara Nyoo Cing berubah sangat tenang.

"Kau adalah putri kesayanganku, Hoa U-gi!"

BAB 4.

Perasaan kasih dari Hoa U-gi.

Suasana diluar jendela sangat tenang, sedemikian tenangnya hingga suara serangga yang seharusnya mulai berbunyi, saat ini seolah ikut bungkam, ikut menikmati keheningan yang mencekam.

Tubuh orang berbaju hitam yang semula gemetar, kini sudah mulai tenang kembali, pancaran sinar matanya pun tidak seemosi tadi.

"Benar, aku adalah Hoa U-gi!"

Dia melepaskan kain penutup wajahnya dan memperlihatkan raut mukanya yang cantik. Dengan mata yang sembab merah, Hoa U-gi mengawasi Nyoo Cing lekat lekat, kemudian dengan suara yang aneh ujarnya.

"Rupanya kau sudah tahu identitasku yang sebenarnya sejak bertemu pertama kali dulu di rumah kayu kecil."

"Benar."

"Mengapa kau tidak membongkar kedokku?"

"Apa gunanya membongkar kedokmu? Bila kau gagal, tentu ada orang lain yang akan menggantikan posisimu, bila rencana yang satu gagal tentu akan muncul rencana yang lain."

Setelah menghela napas, lanjutnya.

"Demi melaksanakan tugas ini, berapa banyak sudah yang menjadi korban." ....."Kenapa aku harus mengorbankan pula dirimu?"

Meski ucapan tersebut tidak sampai diutarakan Nyoo Cing, tapi Dia percaya gadis tersebut tentu mengerti.

"Kalau sudah mengetahui identitasku, apakah kau tidak kuatir aku akan membunuhmu?"

"Kalau belum tiba saatnya, tidak nanti kau akan turun tangan, apalagi tujuan utama dari Ti Cing-ling dengan menempatkan dirimu disisiku bukan lantaran ingin membunuhku."

"Lalu karena apa?"

"Dia berharap agar perasaan hatiku jadi lembek, agar tumbuh perasaan kasihku kepadamu,"

Ujar Nyoo Cing sambil tertawa getir.

"Tapi sejak awal kau sudah mengetahui identitasku, berarti rencananya sudah gagal semenjak dulu."

"Tidak, dia tidak gagal."

"Tidak gagal? Kenapa dia tidak gagal?"

Tanya Hoa Ugi.

"Meskipun kau bukan putri kandungku, namun raut wajahmu mirip sekali dengannya."

"Dia"

Yang dimaksud adalah Lu Siok-bun.

"Setiap kali berjumpa denganmu, akupun teringat akan dirinya, lebih banyak memandangmu sama seperti lebih banyak merindukan dirinya, semakin merindukan dia, perasaanku makin kalut, karena semakin kalut maka hatiku pun semakin tersiksa."

Dengan termangu Hoa U-gi mengawasi lelaki dihadapannya, orang ini adalah target yang harus dibunuh, tapi sekarang dia sadar ternyata dia tidak sanggup untuk melakukannya.

Kendatipun dia bukan putri kandungnya, juga bukan orang yang dirindukan olehnya, mengapa dia tidak tega untuk turun tangan?

Yaa, kenapa?

Hoa U-gi sendiripun tidak tahu, dia sendiripun tidak sanggup menjawab pertanyaan ini, apakah lantaran dia sudah jatuh hati kepada lelaki itu?

Atau perasaan hatinya sudah tersentuh, sudah dibuat terenyuh oleh sikap lelaki itu?

"Cinta tumbuh karena pergaulan yang rutin,"

Ternyata ungkapan ini memang tidak keliru.

Mereka berdua boleh dibilang selalu bersua tiap hari, tidak bisa dijamin tidak ada perasaan cinta atau sayang yang tumbuh diantara mereka berdua, apalagi urusan ini menyangkut urusan antara lelaki dan wanita, siapa yang bisa menjamin, siapa yang bisa menduga kalau hal ini tidak mungkin terjadi?

Tahun ini Nyoo Cing sudah berusia empat puluh delapan tahun, sementara Hoa U-gi baru dua puluh tahunan, biarpun selisih usia mereka berdua sangat banyak, bukan berarti tiada cinta yang bisa tumbuh dalam hati mereka berdua.

Hoa U-gi mulai termangu, dengan sorot mata yang memancarkan rasa cinta, rasa sayang, dia mulai mengawasi wajah lelaki itu.

Nyoo Cing berusaha menghindar dari pandangan mesra itu, buru-buru dia membuang pandangan matanya ke luar jendela.

"Rupanya hari ini kau mendapat perintah untuk membunuhku?"

Dia berkata.

"Benar."

"Kau gagal dalam melaksanakan tugas, bagaimana pertanggungan jawabmu nanti?"

"Aku tidak perlu memberikan pertanggungan jawab."

"Kenapa?"

"Seperti yang kau ungkap tadi, bila aku gagal, akan muncul orang lain untuk melanjutkan tugasku,"

Kini pancaran sinar matanya sudah tidak selembut tadi lagi.

"Gerakan pembunuhan yang datang gelombang demi gelombang, apakah tidak membuatmu ketakutan?"

"Takut!"

Jawab Nyoo Cing.

"Tapi apa yang bisa kuperbuat?"

"Apakah kau tidak berusaha untuk pergi mencarinya?"

"Mencarinya? Siapa dia? Perkumpulan Cing Liong Hwee? Atau Ti Cing-ling?"

"Semua perencanaan dan semua perbu-atan diatur dan diperintahkan oleh Ti Cing-ling,"

Ujar Hoa U-gi.

"Asal kau berhasil menemukan Ti Cing-ling maka semua persoalan dapat segera diselesaikan."

"Aku rasa persoalan yang sebenarnya tidak sesederhana apa yang kau bayangkan."

"Menurut apa yang kuketahui, untuk mendukung rencana dari Ti Cing-ling ini, pihak perkumpulan Cing Liong Hwee hanya mengu-tus dua orang Tongcu, ini membuktikan kalau perkumpulan Cing Liong Hwee sebenarnya tidak bermaksud untuk menghadapi dirimu,"

Nada suara Hoa U-gi kedengaran makin lembut dan menawan hati.

"Aku bersedia membantumu untuk menemukan Ti Cing-ling."

Akhirnya Nyoo Cing berpaling, menatap wajahnya.

"Mengapa kau harus berbuat begini? Tindakan yang kau lakukan bisa mendatangkan nasib tragis untukmu, tahukah kau bahwa perbuatan semacam ini tidak boleh kau lakukan?"

Serunya.

Tentu saja Hoa U-gi tahu, bahkan mengetahui dengan amat jelas.

Akhir bagi seseorang yang berani mengkhianati perkumpulan Cing Liong Hwee biasanya merupakan akhir yang tragis, semacam kematian yang amat mengenaskan.

Gadis itu mulai tertawa, sekulum senyuman yang penuh dengan perasaan apa boleh buat.

"Masa kau belum pernah melakukan sesuatu perbuatan yang jelas tahu kalau itu tidak boleh dilakukan?"

Dia balik bertanya.

Nyoo Cing segera terbungkam.

Tentu saja dia pernah melakukannya.

Bukan saja pernah, sekarangpun sedang dia lakukan dan dikemudian hari pun tetap akan dia lakukan.

.....Ada sementara persoalan, walaupun kau tahu tidak patut dilakukan, tapi kau tetap nekad untuk melakukannya, sebab terkadang diri sendiripun tidak sanggup untuk mengendalikannya.

Ada sementara persoalan, seakan mempunyai daya tarik yang sukar dilawan.

"perasaan kasih"

Termasuk salah satu diantaranya.

.....Ada pula sementara persoalan yang mau tidak mau harus kau lakukan, karena kau sudah didesak oleh keadaan, kau sudah terjepit sehingga ingin menghindar pun tidak mungkin bisa dihindari.

"Masa kau masih belum tahu mengapa aku berbuat begini?"

Dari balik pandangan mata Hoa U-gi seakan terpancar nada teguran.

Nyoo Cing masih tetap membungkam.

Tentu saja dia sangat paham dengan niat gadis itu, tapi bagaimana mungkin dia dapat menerimanya?

Sebagai seorang lelaki dewasa tentu saja Nyoo Cing mengerti apa sebabnya gadis itu berbuat begini, diapun sangat memahami perasaan hatinya.

Orang tua adalah manusia, orang muda juga manusia, orang jahat manusia, orang baikpun manusia, selama dia adalah manusia maka dia mempunyai hak untuk mencintai orang lain.

Perasaan terharu, terima kasih terpancar dari balik mata Nyoo Cing, namun terselip juga perasaan sedih dan ketidak berdayaan.

"Aku mengerti maksudmu, akupun mengerti mengapa kau berbuat begini,"

Kata Nyoo Cing.

"Tapi sayang...... tapi sayang perjumpaan kita terlalu lambat."

"Tapi sayang perjumpaan kita terlalu lambat!"

Dari dulu hingga sekarang, entah berapa banyak manusia yang pernah mengucapkan perkataan itu, entah berapa banyak manusia yang pernah mendengar perkataan itu.

Tapi kecuali kau sendiri pernah mengucapkan, kau sendiri pernah mendengarnya, tidak nanti kau bisa meresapi betapa pedih dan tersayatnya perasaan hatimu waktu itu.

Mengawasi Nyoo Cing yang penuh ketidakberdayaan, mendengar ucapan yang begitu memilukan hati, Hoa U-gi hanya merasakan seluruh tubuhnya menjadi ringan, pikirannya kosong, perasaannya hampa.

Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya, mengawasi bayangan tubuh sendiri, dalam keadaan seperti ini Hoa U-gi tidak tahu apa yang mesti diperbuat, tidak tahu apa yang meski diucapkan.

"Aneh, kenapa kabut ini datang secara aneh?"

Mendadak terdengar Nyoo Cing berseru sambil mengamati kabut tipis yang mulai menyelimuti ruangan mereka.

"Kabut?"

Mendadak Hoa U-gi tersentak kaget, menyaksikan kabut tipis yang mulai mengalir masuk ke dalam ruangan, paras mukanya berubah hebat, serunya tertahan.

"Kabut itu beracun, cepat tutup pernapasan!"

Belum selesai berkata, gadis itu sudah menerjang ke depan Nyoo Cing.

Saat itu paras muka Nyoo Cing telah berubah, berubah bukan lantaran dalam kabut mengandung racun, wajahnya berubah karena melihat Hoa U-gi menubruk ke arahnya.

"Jangan mendekat, berbahaya!"

Segera jeritnya.

Begitu berteriak, diapun melompat ke depan dan menubruk ke arah gadis itu.

Menyaksikan Nyoo Cing menubruk ke arahnya, sekulum senyuman manis segera menghiasi ujung bibir Hoa U-gi, tapi sayang belum selesai senyuman itu berkembang, tubuhnya sudah menjadi kaku.

Saat itulah Nyoo Cing sudah tiba disisi tubuhnya, menyambar pinggangnya dan memeluk tubuhnya yang mulai roboh terjungkal.

Ketika kabur tipis mulai mengalir masuk ke dalam ruangan, ketika Hoa U-gi berteriak memberi peringatan, tiba-tiba Nyoo Cing menyaksikan berkelebatnya dua titik cahaya hitam dan merah dari luar jendela, tapi ketika dia berusaha menarik untuk Hoa U-gi untuk menghindari serangan tersebut, sayang kedua titik cahaya tadi sudah menghujam masuk melalui punggungnya.

Kini Nyoo Cing hanya bisa memeluk tubuh Hoa U-gi yang terkulai lemas.

"Kabut itu beracun!"

Gadis itu masih berusaha memperingatkan dengan suara yang lemah.

"Aku tahu,"

Jawab Nyoo Cing lembut.

"Permainan busuk macam itu tidak nanti bisa mengelabuhi aku, tidak nanti bisa meracuni aku."

"Ku... kukira kau tidak tahu,"

Bisik Hoa U-gi semakin lemah, pancaran sinar matanya bertambah lembut dan mesrah.

"Lo Kay-sian, Tu Bu-heng, Un-hwee, mereka semua tewas oleh kabut tersebut, justru yang aku kuatirkan adalah kau..."

"Mereka pun tahu, kabut beracun semacam ini tidak nanti bisa membunuhku, senjata sesungguhnya yang mematikan adalah sepasang Cing-jin-ciam (panah kekasih) berwarna hitam dan merah dibalik kabut itu..." ... Yang hitam bagaikan sepasang mata kekasih, yang merah bagaikan darah kekasih.

"Cing-jin..cing-jin-ciam? (panah kekasih)?"

Gadis itu mulai tertawa, tapi tertawa semacam ini jauh lebih memedihkan hati, jauh lebih menyayat hati ketimbang kematian itu sendiri.

"Tidak mungkin aku... tidak mungkin aku menjadi kekasihmu lagi, tapi aku... aku dapat merasakan bagaimana disayang seorang... seorang kekasih..."

Suara Hoa U-gi semakin lirih.

"Kini aku... aku sudah puas... puas sekali..."

Dia berpaling, memandang keluar jendela sana.

Apa yang sedang dia lihat?

Diluar jendela hanya ada kegelapan?

Apakah dia masih berharap bisa melihat cahaya matahari di hari esok?

Tapi...

sekalipun bisa melihat, apa gunanya?

"Pergilah..."

Kembali Hoa U-gi berbisik.

"Aku sadar, tidak mungkin lagi aku tetap hidup... kau.... kau tidak usah menemani aku."

"Tidak, aku harus menemanimu, menungguimu hingga sembuh kembali,"

Bisik Nyoo Cing sambil menggenggam tangannya erat-erat.

"Aku tahu, kau pasti akan hidup terus."

Hoa U-gi menggeleng, menggeleng sambil tertawa pedih.

.....

Bila seseorang sudah kehilangan keyakinan untuk hidup terus, siapa yang bisa selamatkan dirinya?

"Bila kau benar-benar mati, maka kau telah menyakiti hatiku,"

Bisiknya.

"Kenapa?"

"Karena... karena aku sudah siap meminangmu....aku sudah siap mengawinimu..."

Wajah Hoa U-gi yang pucat terlintas warna semu merah karena jengah.

"Sungguh?"

Bisiknya.

"Tentu saja sungguh!"

Tegas Nyoo Cing sambil berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir.

"Setiap saat kita bisa menikah."

Lagi-lagi sebuah perkataan bohong yang selamanya tidak mungkin bisa terwujud. Pipi Hoa U-gi semakin memerah, sorot matanya pun seakan memancarkan bara api asmara yang kuat.

"Aku selalu berharap bisa menikmati suasana seperti hari ini..."

Dia mulai memejamkan sepasang matanya.

"Pergilah, kau cepat pergi..."

"Kenapa aku harus pergi?"

"Karena aku... aku tidak ingin kau menyaksikan saat kematianku,"

Sekujur tubuhnya mulai mengejang.

"Maka kau harus pergi..."

"Tidak, aku tidak akan pergi, aku tidak bakal pergi!"

Teriak Nyoo Cing tiba-tiba. Dengan penuh keharuan dia genggam sepasang tangannya, dia seakan kuatir gadis itu meninggalkan dirinya secara tiba-tiba.

"Sekalipun kau harus mati, kau harus mati dalam pelukanku."

Nyoo Cing tidak kuasa membendung air matanya lagi, butiran air mata meleleh mebasahi pipinya, menetes ke bawah, membasahi mata gadis itu.

Tapi Hoa U-gi tidak berkedip lagi, dia tidak sanggup membuka matanya kembali, namun ketika air mata membasahi matanya, tiba-tiba sekulum senyuman yang tenang, penuh rasa puas tersungging diujung bibirnya.

Maut datang bagaikan sambaran kilat.

Gadis itu tidak sanggup melawan datangnya maut.

Memang tidak seorang pun bisa melawan datangnya maut.

Lilin sudah padam, air mata belum juga mengering.

Nyoo Cing masih memeluk tubuh Hoa U-gi erat-erat, sementara air mata meleleh terus bagaikan bendungan yang jebol.

Fajar sudah mulai menyingsing diufuk timur, malam yang gelap akhirnya berlalu.

Kini lilin sudah lumer, air mata pun sudah mengering.

Bekas air mata sudah tidak nampak lagi tapi bekas noda darah masih meninggalkan jejaknya, noda yang hanya bisa dicuci bersih dengan air mata darah.

"Gigitan dibalas gigitan, darah dibalas darah."

Selama ini Nyoo Cing selalu menggunakan pengampunan untuk menggantikan pembalasan dendam, goloknya tidak pernah digunakan untuk membunuh manusia, tapi sekarang, perasaan hatinya penuh diliputi hawa amarah, benci dan dendam.

Matahari sudah memancarkan sinarnya, langit pun sudah terang benderang.

Nyoo Cing membaringkan tubuh Hoa U-gi diatas ranjangnya, menutupi dengan selimut lalu dia sendiri duduk disampingnya, sorot mata yang sayu mengawasi luar jendela, mengikuti gerakan cahaya matahari yang kian lama kian meninggi.

Dia mengawasi ke luar jendela karena dari situ dia mendengar suara petikan rebab bersenar tiga.

Irama rebab yang memilukan seolah menyebar bersama melayangnya kabut pagi.

Menyusul kemudian dari balik pepohonan diluar taman, tampak sesosok bayangan tubuh munculkan diri.

Begitu mendengar suara rebab, Nyoo Cing kontan tertawa dingin, raut mukanya nampak semakin murung dan penuh perasaan dendam.

"Hmm, orang bilang bila irama rebab bergema, usus akan putus hati akan hancur, hmmm, tiga senar yang tidak berguna!"

Irama rebab seketika berhenti, tampak orang itu berjalan semakin mendekat.

"Kau tahu siapakah aku?"

Dia menegur.

"Tiga puluh tahun berselang, banyak gadis terpikat oleh irama rebab bersenar tiga, berapa banyak nyawa harus hilang dengan percuma, kenapa aku tidak tahu?"

"Siapa menang dia adalah raja, siapa kalah dia adalah penyamun, dari dulu hingga sekarang teori itu tidak pernah berubah,"

Kata kakek itu hambar.

"Jadi kedatanganmu hari ini adalah untuk melaksanakan perintah, membunuhku?"

Ejek Nyoo Cing sambil tertawa dingin.

Ketika mengucapkan "Melaksanakan perintah", kata itu sengaja ditekan keras-keras dan penuh dengan nada penuh penghinaan.

Tentu saja Bu Sam-sian si kakek rebab bersenar tiga dapat menangkap nada menghina itu, tapi dia tidak menggubris pun tidak menanggapi, dia hanya tertawa.

"Konon kait perpisahanku sudah terjatuh ke tanganmu?"

"Benar."

"Hari ini kau akan menggunakan kait perpisahan untuk menghadapiku?"

"Mana mungkin?"

Sahut Bu Sam-sian tertawa.

"Kapan kau pernah melihat orang menimpuk anjing dengan menggunakan bakpao?"

"Perumpamaan macam apa itu?"

"Untuk menghadapi manusia macam kau, tentu saja aku harus menggunakan rebab bersenar tiga."

Irama rebab kembali bergema, ditengah alunan suara tampak tiga titik cahaya berkelebat lewat.

Cahaya tajam dengan tujuh warna.

Begitu irama rebab berkumandang, Nyoo Cing sudah menyambar vas bunga yang ada dimeja dan menimpuknya ke depan.

Ketiga titik cahaya terang itu segera menyongsong datangnya vas bunga itu.

"Blaaaam!"

Terjadi ledakan di udara menyusul meletupnya tiga kuntum bunga cahaya yang menyilaukan mata.

Kilauan cahaya berwarna warni.

Vas bunga itu hancur berkeping dan berhamburan ke mana-mana.

Ditengah kilatan cahaya warna warni, Nyoo Cing sudah melejit ke udara dan melesat keluar melalui jendela, langsung menerkam ke balik pepohonan.

Belum lagi tubuhnya mencapai sasaran, angin pukulan sudah meluncur keluar, langsung menghantam keatas rebab bersenar tiga itu.

Bu Sam-sian segera berkelit ke samping kemudian berjumpalitan di utara, mengikuti gerakan tersebut dia melepaskan sebuah pukulan ke punggung Nyoo Cing.

Dibawah sinar matahari pagi, terlihat sekilas cahaya biru berkilauan diantara jari tengahnya, ternyata dia sudah selipkan sebatang jarum beracun diantara jari tangannya.

Ketika tubuh Nyoo Cing sudah berada tiga inci dari ujung jarum, mendadak dia terperosok ke bawah, seakan-akan sebuah batu cadas yang tiba-tiba tercebur ke dalam jurang.

Gagal dengan pukulannya Bu Sam-sian seketika membalikkan tubuh, dari balik rebabnya tahu-tahu dia meloloskan sebilah pedang yang tajam, tipis lagi sempit, kemudian secara beruntun melancarkan tiga tusukan.

Dari balik tiga tusukan tercipta enam kuntum bunga pedang.

"Sreet, sreet, sreeet!"

Tiga desingan tajam bergema di udara, dada kiri Nyoo Cing sudah tersambar hingga muncul tiga buah luka memanjang.

Tahu-tahu Bu Sam-sian sudah menarik balik pedangnya disusul melancarkan sebuah serangan lagi.

Semua gerakan nyaris dilakukan hampir bersamaan waktu.

Lagi-lagi sebuah serangan pedang, tiga tusukan, enam kuntum bunga pedang, yang ditusuk pun dada sebelah kiri Nyoo Cing.

Kali ini Nyoo Cing sudah membuat persiapan, kaki kanannya sedikit menekuk, tubuhnya mengigos dari samping kanan sementara tangan kirinya diangkat melakukan tangkapan ke udara.

Ternyata dia berusaha merebut pedang itu dengan tangan kosong.

Begitu jari tangannya menggenggam, darah pun bercucuran melalui sela jari tangannya dan menetes dari ujung pedang.

Bu Sam-sian nampak sangat terkesiap, dia tidak menyangka ada manusia semacam ini dikolong langit, merampas pedang tajam dengan tangan kosong?

Ketika tangan kirinya mencengkeram pedang, tinju di tangan kanannya sudah disodokkan ke muka.

Belum sempat Bu Sam-sian melakukan reaksi, tiba-tiba terdengar suara tulang yang hancur terkena bogem mentah.

Suara tulang retak itu berasal dari tulang hidungnya.

Menyusul kemudian diapun menyaksikan cucuran darah segar menyembur keluar dari bawah matanya dan memercik ke empat penjuru.

Akhirnya dia merasakan juga bagaimana rasanya darah segar, darah yang bercucuran dari tubuh sendiri.

Tulang hidungnya telah hancur, meski tidak sampai mencabut nyawanya namun dia sudah tidak sanggup bangkit berdiri lagi.

Bukan saja bogem mentah itu sudah menghancurkan tulang hidungnya, menghancurkan pula rasa percaya diri serta semangat tempurnya yang semula berkobar kobar.

Matahari sudah bersinar terang, hawa hangat telah menyelimuti udara, namun Bu Sam-sian merasa sangat kedinginan, dia merasa hawa dingin telah merasuk hingga ke tulang sumsumnya.

Berhasil dengan serangan pertamanya, Nyoo Cing tidak melanjutkan dengan serangan berikut, dia hanya mengawasi Bu Sam-sian dengan pandangan dingin.

"Pulang dan beritahu Ti Cing-ling, tidak perlu menunggu satu tahun lagi, setiap saat aku sudah menantikan kedatangannya."

Tempat pertemuan adalah rumah kayu diluar hutan Bwee.

Walaupun rumah itu sudah dibangun kembali, namun kenangan masa lalu telah musnah.

Kepala pusing.

Kepala yang amat pening menyadarkan Cong Hoa dari pingsannya, dia seakan baru sadar dari mabuk berat, kepalanya terasa pening, mulutnya kering dan lidahnya seperti terbakar.

Dia mencoba meraba kepalanya, tapi segera sadar kalau tubuhnya sudah diikat orang, terikat diatas sebuah bangku.

Dia mencoba mengerdipkan matanya sambil memperhatikan sekeliling tempat itu, segera dijumpai ada dua orang lain mengalami nasib yang sama seperti dirinya, terikat diatas bangku.

Bangku itu terbuat dari bambu, bahkan dinding rumah pun terbuat dari batang bambu.

Berada di manakah dia?

Baru saja Cong Hoa hendak bertanya, tiba-tiba terdengar seseorang berkata/Tempat inilah rumah bambu!"

Kedengaran jelas, suara itu berasal dari Tay Thian. Cong Hoa pun menengok ke arah Tay Thian yang terikat di bangku sebelah kanan.

"Darimana kau tahu?"

Serunya.

"Karena hampir saja dia mampus disini!"

Suara itu berasal dari Ui sauya yang berada disisi kirinya.

"Jadi kalian sudah sadar semua?"

Tay Thian dan Ui sauya mengalami nasib sama seperti Cong Hoa, terikat diatas bangku bambu. Di dalam rumah bambu itu hanya ada mereka bertiga.

"Kelihatannya kita dikirim kemari pada saat tidak sadarkan diri,"

Kata Cong Hoa.

"Kemana perginya Hong Coan-sin?"

Tanya ui sauya.

"Kenapa dia mengirim kita ke tempat ini?"

"Kenapa lagi? Tentu saja akan memberi pelayanan sebaik-baiknya kepada kita semua!"

Seru Cong Hoa tertawa.

"Tepat sekali!"

Berbareng dengan bergemanya ucapan tersebut tampak seseorang munculkan diri.

Dia masih mengenakan pakaian yang sama, dia masih memiliki kecantikan yang sama, dia pun masih bertingkah laku aneh, mengenakan pakaian yang terbelah dua, satu sisi berpakaian, sisi yang lain telanjang bulat.

Budak darah dengan membawa suara tertawanya yang merdu bagai keleningan berjalan masuk ke dalam ruangan.

Menyaksikan dandanan yang dikenakan perempuan itu, tidak kuasa Cong Hoa menghela napas panjang.

"Kalau di musim dingin pun kau mengenakan pakaian cara begini, bagaimana kalau di musim panas?"

"Kalau musim panas tentu saja telanjang bulat,"

Sambung Ui sauya sambil tertawa.

"Selain sejuk juga irit, sekali raih mendapat dua."

"Biasanya aku tidak berpakaian bila berada dalam satu keadaan,"

Ujar budak darah.

"Keadaan apa?"

"Diatas ranjang,"

Jawab budak darah genit.

"Lagipula biasanya disaat sedang berduaan."

"Sewaktu diatas ranjang, biasanya aku pun suka telanjang bulat,"

Kata Ui sauya cepat.

"Tapi kalau sedang berduaan, bukan saja aku akan berpakaian bahkan akan mengenakan pakaian lebih banyak banyak dan lebih rapi."

"Itulah sebabnya sampai hari ini masih belum ada perempuan yang mau denganmu,"

Tukas budak darah sambil menghela napas panjang.

Ucapan tersebut bagaikan sebatang jarum tajam yang menusuk hati Ui sauya.

Tapi hanya sejenak dia tertegun menyusul kemudian dia pun tertawa terbahak-bahak, bukan saja suara tertawanya tidak sedap didengar, bahkan jauh lebih mengenaskan daripada suara tangisan.

"Kemana perginya Hong Coan-sin?"

Agaknya Tay Thian pun mengetahui keadaan Ui sauya yang sedang dibikin malu, buru-buru dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain.

"Kenapa dia tidak berani datang menjumpai kami?"

"Dia sedang mempersiapkan peralatan untuk menjamu kalian dengan sebaik-baiknya, tanggung jamuan yang bakal dia berikan akan sulit dilupakan untuk selamanya, bahkan setelah itu kalian bertiga pun tidak pernah akan berpisah lagi."

"Tidak pernah akan berpisah lagi? Apa maksudmu?"

Tanya Cong Hoa.

"Asal sudah menyaksikan benda yang kutunjukkan, kalian pasti mengerti!"

Budak darah tertawa makin jalang, tiba-tiba dia bertepuk tangan tiga kali.

Tidak lama kemudian, Cong Hoa sekalian pun menyaksikan seseorang berjalan masuk ke dalam ruangan.

Tapi begitu menyaksikan orang itu, mereka semua segera terbelalak dengan perasaan tertegun.

Orang itu mempunyai sepasang mata yang besar, wajahnya menampilkan kekerasan hatinya yang kuat, hidungnya mancung dan bibir mulutnya tebal.

Ternyata orang itu adalah Nyoo Cing.

Tidak tepat, seharusnya dibilang mirip Nyoo Cing, khususnya Nyoo Cing pada dua puluh tahun berselang.

Begitu menyaksikan wajah orang itu, Cong Hoa segera merasakan hatinya bergidik, tanpa sadar bulu romanya pada bangkit berdiri.

Rupanya raut wajah orang itu dipenuhi dengan bekas jahitan yang malang melintang, jahitannya tidak berbeda dengan bekas jahitan diatas pakaian.

Aneh sekali, kenapa wajah orang itu bisa muncul begitu banyak bekas jahitan?

Mengapa orang ini bisa memiliki wajah yang mirip sekali dengan Nyoo Cing?

"Kalian terperanjat bukan?"

Ujar budak darah sambil tertawa terkekeh.

"Si.... siapa orang ini?"

Tanya Cong Hoa.

"Dia bukan satu, melainkan lima orang,"

Budak darah menjelaskan.

"Lima orang?"

"Benar, dia terbentuk dari penggabungan lima orang."

"Penggabungan lima orang?"

Gumam Tay Thian.

"Tepat sekali, dari tubuh lima orang diambil bagian tubuh yang berbeda, kemudian setelah melalui semacam tehnik yang canggih digabungkan kembali di tubuh orang ini, maka terbentuklah sebuah wujud manusia yang berbeda."

Setelah berhenti sejenak, sambil menatap ketiga orang itu kembali budak darah melanjutkan.

"Dia baru contoh produk kami yang pertama!"

"Contoh produk?"

Tanya Ui sauya.

"Ehmm!"

Budak darah mengangguk.

"Berarti benda yang di produk sesungguhnya lebih mirip.... lebih mirip dengan Nyoo Cing?"

Tanya Tay Thian.

"Bukan mirip lagi, boleh dibilang bagai pinang dibelah dua."

Mendadak Tay Thian teringat akan satu peristiwa yang menyeramkan, meski penampilannya masih tetap biasa dan berusaha tenang, namun suaranya sudah kedengaran agak gemetar.

"Apakah kalian akan suruh dia untuk.....untuk menggantikan Nyoo Cing?"

"Bukan menggantikan, tapi dialah Nyoo Cing,"

Ujar budak darah dengan bangganya.

"Lantas bagaimana dengan Nyoo Cing yang asli?"

Tanya Ui sauya.

"Lenyap."

"Lenyap? Apa maksudnya lenyap?"

"Lenyap itu artinya sudah tidak ada lagi, setelah Nyoo Cing produk baru diciptakan, tentu saja Nyoo Cing yang asli harus dimusnahkan."

"Hmm, aku rasa tidak segampang itu untuk memusnahkan dirinya,"

Sela Cong Hoa. Budak darah hanya tertawa dingin. Kadangkala tertawa dingin menandakan kalau pandangannya berbeda.

"Walaupun kalian dapat menciptakan seorang Nyoo Cing yang persis bagai pinang dibelah dua, sayang tetap masih ada satu kelemahan,"

Kata Tay Thian.

"Bagaimana dengan ilmu silatnya? Masa dia pun bisa menguasai jurus maut kait perpisahan yang tidak pernah diwariskan kepada siapa pun?"

"Jika dikolong langit terdapat seseorang yang sang.it memahami Nyoo Cing, bisa ditebak siapakah dia?"

Tanya budak darah.

.....Musuh bebuyutan.

Hanya musuh bebuyutan yang berusaha untuk memahami dan mendalami segala sesuatu yang dimiliki lawannya.

Hampir pada saat yang bersamaan Cong Hoa, Tay Thian serta Ui sauya teringat akan seseorang.

"Ti Cing-ling?"

Serunya serentak.

"Benar, meskipun dia tidak menguasai jurus kait perpisahan sepenuhnya, namun baginya sudah melebihi dari cukup,"

Ujar budak darah sambil tertawa.

"Bayangkan saja, siapa sih orang di dunia ini yang tidak jemu-jemunya pergi mencari Nyoo Cing dan mengajaknya berduel tanpa sebab yang jelas?"

Angin dingin berhembus lewat, mengalir masuk melalui celah celah bambu dan meniup ditubuh Cong Hoa bertiga. Tanpa terasa mereka semua bergidik, bulu roma pada bangkit berdiri.

"Tadi kau bilang akan membuat kami bertiga tidak pernah berpisah lagi, apakah akan kau gunakan bagian tubuh kami untuk dilebur ke dalam tubuh tuan Nyoo Cing tersebut?"

Tanya Cong Hoa.

"Bukan."

"Lalu kami bertiga akan dilebur menjadi siapa?"

"Tay Thian!"

Jawab budak darah sambil berpaling ke arah Tay Thian.

"Tay Thian?"

Cong Hoa merasa sedikit terkejut.

"Disini sudah hadir Tay Thian yang asli, buat apa kalian membentuk lagi Tay Thian baru?"

"Sebab Tay Thian yang ini tidak mau menuruti perintah kami, bukan begitu?"

Kata budak darah.

"Sekalipun kami menguasai tehnik membentuk produk baru, tapi kemampuan kami baru terbatas pada penampilan, sementara pikiran dan tingkah lakunya masih belum berhasil kami kuasai."

"Oleh sebab itu kalian harus mencari seseorang yang dapat dikendalikan untuk menjadi bonekamu semua?"

"Benar."

"Siapa yang menjadi bonekanya Nyoo Cing?"

"Biar kusebut namanya, kalian juga tidak kenal!"

"Lalu siapa yang menjadi bonekanya Tay Thian?"

"Sahabat karib kalian semua."

"Sahabat karib?"

Cong Hoa tertawa.

"Masa kami mempunyai sahabat karib yang begitu tidak tahu malu?"

Sekali lagi budak darah tertawa dingin, kadangkala tertawa dingin pun melambangkan pengakuan, dia bertepuk tangan perlahan.

Ketika menyaksikan orang yang muncul kali ini, mau tidak mau Cong Hoa harus merasa amat terperanjat, diawasinya orang itu dengan mata terbelalak lebar.

"Ternyata kau?"

Serunya.

"Betul, memang aku,"

Orang itu tertawa, namun dari kerutan bekas lukanya yang melintang diatas alis mata, dia kelihatan sedang tertawa dingin.

Bertemu dengan orang itu, Tay Thian sama sekali tidak menampilkan mimik muka kaget, dia hanya mendengus dengan nada menghina.

Sebaliknya Ui sauya langsung berteriak keras, andaikata kaki dan tangannya bisa bergerak bebas, mungkin dia sudah menyerbu ke hadapan orang itu, menempelengnya berulang kali kemudian membanting tubuhnya didepan Cong Hoa, memaksanya berlutut dan minta maaf kepadanya.

"Gara-gara kau, nyaris Cong Hoa tidak bisa mempertanggung jawabkan diri kepada Nyoo Cing, gara-garamu, dia tidak segan bermusuhan dengan perkumpulan Cing Liong Hwee, demi kau, dia sempat sedih karena mengira kau sudah mampus, siapa sangka bukan saja kau masih hidup segar bugar, bahkan malah bergabung dengan perkumpulan naga hijau!"

Umpat Ui sauya gusar.

"Dia memang anggota perkumpulan Cing Liong Hwee!"

Sela Tay Thian.

"Apa? Kalau dia memang anggota perkumpulan Cing Liong Hwee, kenapa masih meminta Cong Hoa untuk membawanya pergi?"

"Walaupun kita jelas mengetahui kalau dia adalah anggota Cing Liong Hwee, namun sama sekali tidak punya bukti, lagipula masa tahanannya juga segera akan berakhir,"

Kata Tay Thian.

"Oleh sebab itu kita berlagak seolah-olah masuk perangkap dengan membiarkan Cong Hoa membawanya pergi, maksudnya menggunakan kesempatan ini kita mencari tahu markas perkumpulan Cing Liong Hwee, siapa tahu..."

"Siapa tahu setibanya di kota Say-cu-tin mendadak dia lenyap,"

Sela Cong Hoa sedikit agak mendongkol.

"Yaa, kami tidak menyangka kalau perkumpulan Cing Liong Hwee akan memainkan sandiwara tersebut di kota Say-cu-tin,"

Tiada nada menyesal dibalik perkataan Tay Thian.

"Masih banyak urusan yang kalian tidak duga!"

Seru Cong Hoa.

"Tahukah kau, gara-gara perbuatan kalian, nyaris aku ikut kehilangan nyawa. Hmm, coba aku tidak dilibatkan dalam urusan ini, mungkin saat ini aku sedang berbaring sambil minum arak."

"Atau mungkin juga kau sudah terperosok dalam keadaan berbahaya lainnya,"

Sambung Ui sauya.

Apa yang diucapkan memang ada benarnya juga, Cong Hoa bukan orang yang bisa duduk tenang, dia usil dan suka mencampuri urusan orang lain, kalau disuruh berdiam diri didalam rumah, belum sampai tiga hari mungkin dia sudah gila.

Maka setelah mendengar perkataan Ui sauya itu, perasaan hatinya terasa agak tenang kembali.

Ternyata orang yang munculkan diri itu tidak lain adalah Cong Hui-miat.

Dengan penuh rasa bangga dia awasi Cong Hoa ribut dengan Tay Thian berdua, apalagi pokok persoalan yang sedang diributkan adalah masalah yang menyangkut dia.

Menyaksikan rasa bangga yang ditampilkan Cong Hui-miat, tanpa terasa Cong Hoa teringat kembali dengan Lo Kay-sian, terbayang pula akan Cong Poanlong beserta rahasia manusia mummi nya.

"Cong Hui-miat adalah anggota perkumpulan Cing Liong Hwee, lantas bagaimana dengan ayahnya, Cong Poan-long?"

Tanya Cong Hoa. Kali ini yang menjawab ternyata bukan Tay Thian.

"Bila dia tidak keras kepala dan tidak tahu diri, tidak nanti nasibnya akan begitu tragis,"

Ujar Cong Hui-miat tawar.

"Jadi kau yang membunuhnya dan membawa lari rahasia tentang manusia mummi?"

Dengan perasaan terkejut Cong Hoa menatap ke arahnya. Yang menjawab kali ini ternyata bukan Cong Huimiat.

"Bukan dia, tapi aku!"

Sambil menjawab Hong Coansin munculkan diri dari balik ruangan.

Berjumpa dengan pembunuh orang tuanya ternyata Cong Hui-miat tidak menunjukan sikap apapun, Cong Hoa mulai menaruh curiga terhadap orang ini, sebetulnya dia masih terhitung manusia atau bukan?

"Dia adalah pembunuh ayahmu, masa kau sama sekali tidak bereaksi?"

Tegur Cong Hoa.

"Dalam organisasi Cing Liong Hwee, yang berlaku hanya perintah, sama sekali tidak mengenal perasaan,"

Cong Hui-miat bicara tanpa emosi.

"Waah mending jadi seekor anjing ketimbang jadi kaki tangan organisasi Cing Liong Hwee, paling tidak bila anjingnya mampus, majikannya akan berusaha untuk menguburnya."

Tampaknya Cong Hoa sudah mulai muak menyaksikan wajah orang ini, dia berpaling memandang kearah Hong Coan-sin, kemudian ujarnya lebih lanjut.

"Jadi kau berencana melebur tubuh kami bertiga ke dalam tubuh orang... orang itu?"

Tampaknya sedemikian muak Cong Hoa terhadap orang itu sehingga untuk menyebutkan namanya saja segan.

"Benar."

"Aku boleh memohon satu hal?"

"Soal apa?"

"Lebih baik bunuhlah aku kemudian buang mayatku ke hutan biar dimakan anjing!"

"Jadi kau lebih ikhlas tubuhmu dimakan anjing liar daripada membiarkan bagian tubuhmu menempel diatas tubuhnya?"

"Benar."

Hong Coan-sin segera tertawa terbahak-bahak, sambil tertawa dia menepuk bahu Cong Hui-miat berulang kali.

"Tampaknya kau memang tidak malu menjadi Tongcu cap-ji-gwee dari perkumpulan Cing Liong Hwee!"

Serunya.

"Dia adalah Tongcu bulan dua belas?"

Tanya Ui Sauya.

"Benar."

"Dalam perkumpulan Cing Liong Hwee terdapat dua belas orang tongcu, tongcu cia-gwee bertanggung jawab mencari target, tongcu ji-gwee bertugas penyusupan, tongcu sa-gwee.."

"Tongcu sa-gwee bertanggung jawab menyampaikan berita, Si-gwee bertanggung jawab masalah sumber dana, Go-gwee bertanggung jawab soal hukuman, Lak-gwee bertanggung jawab soal pelatihan, jit-gwee soal perencanaan, peh-gwee, kaugwee, cap-gwee bertanggung jawab dalam aksi, cap-it gwee bertanggung jawab soal pembersihan, siapa yang berkhianat dialah yang harus melakukan pembersihan, sedang cap-ji gwee bertanggung jawab soal pembokongan, jika ada target yang tidak boleh diumumkan secara terbuka, cap-ji gweelah yang bertanggung jawab melenyapkannya secara diamdiam."

"Waah, kalau begitu tongcu cap-ji gwee adakan tongcu tukang membokong?"

"Benar,"

Kali ini yang menjawab adalah budak darah.

"Bukan saja dia adalah tongcu cap-ji gwee, diapun menjabat sebagai tongcu lakgwee yang bertanggung jawab soal pelatihan."

"Kalau begitu dia satu orang merangkap dua jabatan? Imbalannya tentu dobel juga?"

"Benar, Cing Liong Hwee tidak pernah pelit soal imbalan."

"Dia telah membunuh ayahnya sendiri Cong Poanlong, untuk jasanya itu apakah diapun mendapat imbalan?"

Tanya Ui sauya sambil melirik sinis ke arah Cong Hui-miat.

Dia sama sekali tidak menjadi gusar, malah senyuman masih menghiasi wajahnya.

Cong Hoa mau tidak mau harus kagum juga terhadap orang ini, sekalipun sedang berhadapan muka dengan pembunuh ayahnya, dia masih bisa menghadapinya sambil tertawa.

"Sebenarnya aku ingin menjamu kalian secara baikbaik, sayang waktunya sudah tidak sempat lagi!"

Terdengar Hong Coan-sin berkata.

"Kalau begitu kami sudah tidak disukai disini? Kalian ingin cepat cepat suruh kami gelinding pergi?"

Terhadap sindiran semacam ini, Hong Coan-sin sama sekali tidak menanggapi, dari meja dia menuang tiga cawan arak.

"Satu jam sebelum melakukan pembedahan, perut harus dibiarkan kosong,"

Kata Hong Coan-sin lagi.

"Tapi untuk menghindari perut kalian keroncongan dan gelisah dalam penantian, maka sudah kusiapkan sejenis arak yang bisa membuat kalian tertidur sangat pulas."

"Arak yang barusan kau tuang ke dalam tiga cawan itu?"

Tanya Tay Thian.

"Benar."

"Setelah meneguknya, kami tidak pernah akan mendusin lagi?"

Tanya Ui sauya.

"Ooh tidak, aku pasti akan memberi kesempatan kepada kalian untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana aku melebur tubuh kalian bertiga kedalam tubuhnya."

"Menyaksikan bagian tubuh kami dipisah lalu dilebur ke dalam tubuh Cong Hui-miat?"

Tanya Cong Hoa.

"Benar."

"Aku boleh menolak untuk minum?"

Tiba-tiba Ui sauya bertanya.

Tentu saja tidak boleh.

Maka mereka bertiga pun terpaksa harus meneguk habis isi ketiga cawan arak itu.

Kini arak sudah mengalir ke dalam perut, mungkinkah saat kematian sudah semakin mendekat?

Lagi-lagi kasih yang tidak berdaya.

Berjalan menuju ke tengah hutan, perasaan kecut dan sedih kembali mencekam perasaan Nyoo Cing.

Bunga bwee harum semerbak, cahaya matahari memancar masuk melalui sela sela dedaunan, cahaya yang terang menyinari permukaan tanah yang becek.

Bangunan rumah kayu itu sudah dibangun kembali, tapi perasaan sedih tidak pernah sirna dari dalam hatinya.

Dia mendorong pintu dan berjalan masuk, tirai jendela dibuka lebar, membiarkan angin dan cahaya matahari menyusup masuk ke balik ruangannya yang lembab.

Nyoo Cing sudah cukup lama duduk ditepi meja, duduk sambil melamunkan si "dia"

Yang entah berada dimana.

Lama kemudian, akhirnya dia berpaling mengawasi selembar papan yang tergeletak disudut ruangan.

.....

Dibawah papan, tertanam sebuah peti besi yang telah berkarat.

Dia berjalan menghampiri, perlahan-lahan berjongkok.

Meskipun dia tahu dibawah tanah mustahil akan muncul lagi sebuah peti besi yang berkarat, namun tidak tahan dibukanya juga papan kayu itu.

BAB 5.

Ketika papan disingkap, Nyoo Cing segera menjumpai sebuah peti besi yang telah berkarat tertanam disana.

Peti besi itu sangat dikenalnya, karena memang miliknya.

.....

Mengapa peti besi itu bisa muncul dari situ?

Apakah didalamnya masih berisi kait perpisahan?

Didalam peti besi itu tidak ada kait perpisahan, yang ada hanya seikat rambut manusia.

Rambut itu hanya rambut yang sangat biasa, berwarna hitam, panjang, tidak harum pun tidak bau, sama persis seperti rambut manusia pada umumnya.

Tapi Nyoo Cing memandang rambut itu dengan termangu.

.....

Sebenarnya apa keistimewaan rambut itu?

Tidak terlihat, siapa pun tidak dapat membedakan.

Wajah Nyoo Cing bertambah berat, sepasang matanya mulai memerah.

Selama hidup belum pernah dia bersikap demikian, biar sedang mabuk beratpun sepasang matanya tetap memancarkan sinar tajam.

"Rambut itu panjang sekali, pasti rambut seorang wanita."

Kesimpulan ini tentu saja betul dan Nyoo Cing yakin analisanya tidak bakal keliru, sebab rambut seorang pria jarang yang dipelihara sepanjang itu.

"Bagaimana pun, benda itu tidak lebih hanya berapa ikat rambut, apa istimewanya?"

Suara itu muncul secara tiba-tiba dari belakang Nyoo Cing, jelas suara seorang wanita.

Nyoo Cing sama sekali tidak kaget, seakan dia sudah tahu siapakah perempuan itu dan mengapa dia bisa sampai di tempat tersebut.

"Ada keistimewaannya,"

Dia menjawab tanpa berpaling.

"Apa keistimewaannya?"

"Aneh, bahkan sangat aneh,"

Ujar Nyoo Cing masih mengawasi rambut itu.

"Bagian mana yang aneh?"

"Banyak sekali, umpama kenapa rambut itu bisa berada dalam peti besiku, kenapa peti besi itu bisa muncul lagi disini? Siapa yang meletakkannya disitu? Apa maksud tujuannya berbuat begitu?"

Agaknya perempuan itu sempat tertegun, akhirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berjalan menuju ke hadapan Nyoo Cing dan duduk, sementara sorot matanya yang bening mengawasi lelaki itu lekat lekat.

Ternyata gadis itu tidak lain adalah si nona hitam, Hek-niu.

Nona hitam ikut memperhatikan ikatan rambut diatas meja, sekali lagi dia menghela napas panjang.

"Bila tebakanku tidak meleset, seharusnya benda ini adalah hasil karya Ti Cing-ling,"

Tiba-tiba Nyoo Cing mendongakkan kepalanya dan memandang nona itu.

"Ti Cing-ling? Mengapa dia berbuat begitu?"

"Tujuannya agar aku melihat rambut tersebut."

"Tapi apa istimewanya rambut itu? Biar sudah dilihatpun tidak akan bereaksi apa-apa? Tindakannya ini bukan sangat lucu dan menggelikan?"

Meskipun bicara begitu namun dalam hatinya sudah timbul perasaan tidak beres, dia tahu persoalan tidak mungkin sesederhana itu.

Manusia macam Ti Cing-ling tidak nanti akan melakukan perbuatan yang menggelikan.

"Aku melepaskan Bu Sam-sian dalam keadaan hidup, tujuannya adalah agar Ti Cing-ling tahu kalau aku sedang menunggunya disini,"

Ujar Nyoo Cing.

"Sekalipun Bu Sam-sian tidak menyampaikan berita ini kepadanya, diapun pasti sudah menduga kalau aku bakal datang kemari, itulah sebabnya dia siapkan dulu peti besi ini dibawah papan kayu."

Nona hitam mengawasi Nyoo Cing berapa saat, mendadak seperti teringat akan sesuatu, tanyanya dengan suara gemetar.

"Berarti kau sudah tahu rambut siapakah itu?"

Nyoo Cing termenung, lama kemudian dia baru menghela napas panjang.

"Yaa, aku tahu."

"Apakah kau yakin?"

"Aku..."

"Kau tidak yakin bukan?"

Seru nona hitam. Kemudian tanpa menanti Nyoo Cing buka suara, dia berkata lebih jauh.

"Ti Cing-ling sengaja berbuat begitu karena dia ingin kau mengira rambut itu adalah rambut milik Lu Siok-bun, dia berharap kau mengira Lu Siok-bun sudah terjatuh ke tangannya, agar perasaanmu tidak tenang, agar dia memiliki kesempatan untuk membunuhmu."

Nada suara nona hitam agak emosi, dia menatap lelaki itu tanpa berkedip. Setelah berhenti sejenak, katanya lagi.

"Kenapa kau mesti tertipu? Seandainya nona Lu benar-benar terjatuh ke tangannya, kenapa dia tidak langsung tunjukkan dihadapanmu kemudian memaksa kau untuk menuruti kehendaknya?"

"Mungkin orang lain akan berbuat begitu, tapi dia tidak akan,"

Kata Nyoo Cing sambil menghela napas.

"Sebab dia tidak boleh berbuat begitu."

"Kenapa dia tidak boleh berbuat begitu?"

"Karena dia adalah Ti Cing-ling!"

Bila umat persilatan mengetahui kalau Ti Cing-ling menggunakan cara semacam itu untuk meraih kemenangan, mungkin dia akan dipermalukan oleh seluruh manusia di dunia ini.

"Tapi sekarang dia tidak mengatakan apa pun, dia tidak lebih hanya memperlihatkan seutas rambut saja,"

Kata nona hitam.

"Justru disinilah letak kehebatan dan kelicikannya."

"Bisa saja rambut itu bukan miliknya."

"Bisa bukan, bisa benar,"

Nyoo Cing mencoba menerawang angkasa diluar jendela sana.

"Siapa pun tidak bisa meyakini mana yang benar."

"Bila kau tidak menggubrisnya sama sekali, bila kau tidak menganggapnya sebagai sebuah persoalan dan bila kau berlagak seolah-olah tidak melihat, maka jerih payahnya akan mengalami gagal total."

"Tapi sayang aku telah melihatnya."

"Justru karena dia tidak mengatakan apa-apa maka kau jadi curiga, sebab dia sudah memperhitungkan secara tepat kalau kau bakal curiga, maka dari itu dia berbuat begini!"

Seru nona hitam.

"Kaupun sudah mengetahui dengan jelas maksud tujuannya, tapi mengapa kau tetap nekad untuk masuk ke dalam perangkapnya?"

"Begitulah kejadian di dunia ini,"

Nyoo Cing tertawa hambar.

"Ada sementara persoalan, walaupun sadar sudah tertipu namun kau tetap melakukannya."

"Sekarang kau sudah curiga kalau rambut itu milik nona Lu, itulah sebabnya pikiranmu kalut, bila saat ini harus bertarung melawan seseorang, biar kungfu musuhmu lebih rendah pun, kau tetap akan kalah ditangannya."

Sekalipun harus kalah, apa yang bisa dia lakukan?

Tujuan Ti Cing-ling memang ingin membuat pikiran Nyoo Cing kalut, terlepas dia mau percaya atau tidak, selama Nyoo Cing mulai memikirkan persoalan itu maka tujuan Ti Cing-ling boleh dianggap sudah tercapai.

Bagaimana mungkin Nyoo Cing tidak memikirkannya?

Perempuan itu memang merupakan sosok bayangan yang diimpikan siang malam, bagaimana mungkin dia dapat melupakannya?

Sekalipun dia tahu dengan pasti bahwa rambut itu bukan miliknya, tidak urung pikiran dan perasaannya kalut juga dibuatnya.

Karena Ti Cing-ling telah berhasil mencongkel keluar perasaan hati Nyoo Cing yang sebenarnya, sebab Ti Cing-ling telah membuatnya teringat dan terbayang kembali perempuan impiannya itu.

Sebuah bilik batu, sebuah meja batu, seorang Ti Cingling dan seorang wanita berbaju putih.

Diatas meja batu tersedia arak.

Perlahan-lahan Ti Cing-ling menghirup satu tegukan arak, kemudian sambil menga-wasi perempuan berbaju putih itu, ujarnya perlahan.

"Persoalannya bukan terletak pada rambut siapakah itu, melainkan pada Nyoo Cing adalah manusia macam apa?"

Perempuan berbaju putih itu tetap membungkam.

"Siasat ini memang khusus dirancang untuk menghadapi Nyoo Cing,"

Kembali Ti Cing-ling berkata sambil tertawa.

"Seandainya digunakan pada orang lain, mungkin siasat tersebut sama sekali tidak ada gunanya, sebab orang lain tidak bakal berpikir terlalu banyak, terlalu jauh."

Ditatapnya perempuan itu dalam dalam, kemudian terusnya.

"Sebab orang lain tidak akan romantis macam dia."

Nyoo Cing masih duduk dengan tenang, sorot matanya mulai bergeser dari rambut diatas meja ke luar jendela sana.

"Kau pasti sedang merindukannya?"

Nona hitam berbisik. Nyoo Cing tetap tidak menjawab, terkadang tidak menjawab itu berarti sedang menjawab.

"Tentu saja kau harus memikirkannya,"

Nona hitam mewakilinya menjawab.

"sebab kalau tidak memikirkannya, kau akan lebih sedih, lebih tersiksa ketimbang memikirkannya."

Ditatapnya wajah lelaki itu lekat lekat, kemudian tambahnya.

"Sebab kau kelewat romantis!"

Kadangkala orang yang kelewat romantis, kelewat perasaan pun merupakan orang yang tak berperasaan, sebab bila rasa cinta sudah mencapai pada puncaknya maka perasaan itu akan berubah jadi tak berperasaan.

Tampaknya Ti Cing-ling sudah melupakan akan hal ini, tapi dengan kecerdasannya dia pasti akan mengetahui kesalahannya itu, mungkin bukan hari ini, bukan hari esok, bukankah masih ada hari lusa dan hari yang lebih lama lagi?

"Satu hari dia tidak muncul, pikiranmu akan kalut selama satu hari, sepuluh hari tidak muncul, pikiranmu akan kalut selama sepuluh hari,"

Nona hitam menghela napas panjang.

"semakin dia mengulur waktu, pikiranmu semakin kalut, makin resah, aku lihat siapa menang siapa kalah dalam pertarungan ini sudah jelas terpampang."

Nyoo Cing termenung lama sekali, tapi akhirnya ia berkata juga.

"Tapi ada sementara persoalan, walaupun kau sadar tak dapat melakukannya, tapi kau toch melakukannya juga."

"Memangnya dia teramat penting bagimu? Sedemikian pentingnya hingga jauh lebih berharga dari nyawamu sendiri?"

Tanya nona hitam. Sepasang mata nona hitam kelihatan mulai basah, basah oleh air mata. Tapi aneh, mengapa dia bisa begitu? "Dalam pikiranmu, apakah tiada orang lain yang bisa menggantikannya?"

Kembali Nyoo Cing termenung, termenung sampai lama sekali, kemudian dia baru mendongakkan kepalanya, menatap tajam perempuan itu. Tapi buru buru nona hitam menghindari sorot matanya.

"Aku hanya berharap kau memahami akan satu hal,"

Sepatah demi sepatah Nyoo Cing berkata.

"seandainya kau berganti jadi aku, aku yakin kaupun akan berbuat demikian, bila dia berganti kau, akupun akan bersikap demikian terhadapmu."

Nona hitam tidak bergerak, dia seakan sama sekali tidak mendengar perkataan itu, namun air matanya telah jatuh bercucuran.

Kedua orang itu saling berhadapan dengan mulut membungkam, entah berapa lama sudah lewat seolah sudah melebihi sepuluh tahun, akhirnya nona hitam buka suara terlebih dulu, katanya.

"Ketika berkenalan denganmu waktu itu, aku masih berumur dua belas tahun, pertama kali berjumpa dengan kau di tempat ini. Hari itu sama dinginnya seperti hari ini, aku bersembunyi dibalik pintu sambil berdiri menggigil, ketika malam semakin larut, udara semakin dingin, tubuhku makin lama semakin membeku, namun angin yang menusuk tulang tanpa perasaan menyusup terus melalui pakaianku yang tipis, waktu itu aku benar benar membenci langit dan bumi, membenci semua manusia yang ada di dunia ini, membenci diriku sendiri, mengapa hidup sebagai seorang anak yatim piatu, mengapa musim dingin selalu begitu menggigil..."

Suaranya seolah datang dari balik angkasa yang membeku, dingin dan menyakitkan.

"Saat itulah kau muncul dihadapanku, muncul bagaikan pangeran berkuda putih dalam cerita dongeng,"

Lanjut nona hitam setengah bergumam.

"Kau mengajakku masuk kemari, melepaskan jubah luarmu dan kau kenakan ditubuhku yang menggigil, kemudian kaupun serahkan hidangan malammu yang paling lezat untuk mengisi perutku yang lapar....."

Akhirnya gadis itu berpaling, mendongakkan kepalanya dan menggunakan sorot mata yang penuh kemesrahan menatap lelaki dihadapannya.

"Sejak saat itu kau selalu muncul dalam impianku,"

Gadis itu melanjutkan.

"Lima tahun kemudian, suatu hari kau berkata kepadaku bahwa seorang musuh tangguhmu telah melarikan diri dari dalam penjara, kemungkinan besar setiap saat orang itu akan datang mencarimu untuk menuntut balas, bila dia muncul maka pertempuran sengit tak terhindarkan, kaupun bertanya kepadaku, bersediakah melakukan satu tugas deminya?"

Tentu saja nona hitam menyanggupinya.

"Kau suruh aku meninggalkan tempat itu, minta aku membuka toko dan menjual sesuatu,"

Kata si nona lebih jauh.

"Kemudian kaupun memberitahukan sejumlah kata sandi, bila suatu hari ada orang mengucapkan kata sandi tersebut maka kau suruh aku membunuh orang tersebut seketika, kemudian datang kemari untuk menunggu kau, sebab saat itu pasti menyangkut soal mati hidupmu."

Pancaran sinar minta maaf mencorong keluar dari balik mata Nyoo Cing.

"Setiap malam aku selalu berdoa, minta kepada Thian agar hari semacam ini jangan pernah datang!"

Bekas air mata belum mengering dari wajah nona hitam.

"Kemarin, sewaktu gadis itu datang ke tempatku, waktu itu aku benar-benar amat cemas, ingin sekali aku segera menyusul kemari untuk membantumu, setelah menunggumu seharian, tidak disangka akhirnya yang kusaksikan adalah sikapmu seperti saat ini."

Nyoo Cing tidak berbicara, dia memang tidak tahu harus bicara apa, berhadapan dengan nona hitam, berhadapan dengan cinta kasihnya yang tulus, dia merasa pikirannya semakin kalut.

Bila seorang wanita betul-betul mencintai seorang lelaki, dia selalu berharap dirinya menjadi satusatunya wanita yang berada dalam benaknya, dia tidak akan mengijinkan pihak ketiga menyusul masuk ke dalam kehidupannya.

Tapi sayang dalam pikiran dan perasaan Nyoo Cing, dia hanya ada Lu Siok-bun seorang.

Dengan termangu-mangu nona hitam mengawasinya, entah bagaimana perasaan hatinya waktu itu?

Kecut?

Getir?

Manis?

Atau ketidak berdayaan?

"Tiba-tiba aku sadar kalau diriku adalah seorang tolol, kau sudah kenal dengannya jauh sebelum bertemu aku, sebelum kehadiranku, diantara kalian sudah terjalin banyak persoalan dan kejadian, aku baru muncul belakangan, maka tidak seharusnya aku marah kepadamu, yang salah sebetulnya adalah aku."

Tiba-tiba dia tertawa, meski senyumannya penuh kegetiran, kepahitan dan ketidak berdayaan, namun senyuman tetap senyuman.

"Bila kau anggap perbuatan ini merupakan perbuatan yang ingin kau lakukan dan harus kau lakukan, pergilah untuk melakukan!"

Katanya tajam.

"Tapi ada satu hal perlu kusampaikan kepadamu, ada satu hal akupun harus dan tetap akan kulakukan."

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Kau memikirkan dia disini dan aku memikirkan kau disini!"

Selapis kabut tebal seolah melintas dan menyelimuti mata Nyoo Cing. Kabut itu bagai kabut tebal dimusim gugur, dingin, sepi dan tidak berdaya.

"Cinta"

Mengapa selalu membuat seseorang jadi tidak berdaya? Angin masih berhembus kencang diluar jendela, daun kering mulai berguguran memenuhi permukaan, kini matahari senja sudah condong di langit barat.

"Ada satu hal aku selalu merasa keheranan!"

Tiba tiba nona hitam mengalihkan pokok pembicaraan.

"Yang mengetahui tempat dimana Ti Cing-ling disekap hanya berapa orang, selain jalan darahnya sudah tertotok, diapun sudah diborgol dengan besi baja yang terbuat dari inti baja hasil tambang bukit Hong-san, borgol itu bukan setiap orang sanggup membukanya, rahasia inipun paling banter hanya lima orang yang tahu, tapi anehnya kenapa ada orang tetap berhasil menyelamatkan dirinya?"

Nyoo Cing tidak menjawab, dia hanya mendengarkan dengan serius.

"Menurut hasil analisa yang dilakukan kemudian, konon seorang wanita yang telah menyelamatkan Ti Cing-ling dari penjara, siapa sih wanita itu? Kenapa dia bisa mengetahui rahasia ini? Siapa yang mampu menjawab pertanyaan pelik ini? "Pada mulanya aku sangka perempuan itu adalah Siau-tiap, tapi kenyataan membuktikan kalau bukan hasil perbuatannya, jadi aku simpulkan perempuan yang berhasil menolongnya tentu sangat memahami tentang dirimu, atau bisa jadi dia adalah orang yang sangat kau percaya."

"Orang yang memenuhi seluruh syarat tersebut rasanya hanya kau seorang,"

Ujar Nyoo Cing sambil tertawa.

"Betul, kalau melihat semua fakta yang ada, memang aku seorang yang paling mencurigakan,"

Kata nona hitam sambil menatapnya tajam.

"Tapi aku percaya kau pasti tidak akan mencurigai diriku."

Nyoo Cing hanya tertawa tanpa menjawab. Apa pula arti dari senyuman itu? Percaya? Atau tidak? "Kalau bukan aku, lantas siapa?"

Katanya lagi.

"Mungkin saja orang yang menyelamatkan Ti Cingling bukan seorang wanita."

"Laki laki maksudmu?"

"Mungkin saja."

"Bila kita dapat selidiki siapakah orang itu maka tidak sulit untuk melacak tempat persembunyian Ti Cing-ling saat ini,"

Kata nona hitam lagi.

"Dengan begitu kita pun tidak usah menanti kedatangannya di tempat ini, kita bisa langsung pergi mencarinya."

"Tidak perlu!"

"Apa arti tidak perlu?"

"Tidak perlu artinya walau kita mengeta-hui tempat persembunyiannya pun tidak usah pergi mencarinya."

"Kenapa?"

"Sebab dia telah melupakan satu hal!"

"Soal apa?"

"Dia lupa, meskipun pikiran dan perasaanku sekarang amat kalut, namun dia sendiripun tidak pernah akan tenang karena pikirannya dipenuhi dengan prasangka dan keraguan."

"Maksudmu, diapun sedang menduga-duga bagaimana reaksimu sekarang?"

"Benar." ....Bila kau berharap orang lain menunggu kedatanganmu, bukankah kau sendiripun berada dalam kondisi menanti? Banyak kejadian didunia ini sebenarnya merupakan pedang bermata dua, disaat kau sedang mencelakai orang lain, terkadang kau sendiripun mengalami keadaan yang sama bahkan seringkali penderitaan yang kau peroleh justru jauh lebih parah dan berat. Bila seseorang sudah terbiasa hidup menyendiri, hidup kesepian, maka baginya penantian sudah bukan merupakan sebuah penderitaan lagi. Nona hitam menghembuskan napas panjang, akhirnya dia berhasil mengetahui titik kelemahan yang dimiliki Ti Cing-ling dalam rencana kejinya. Ini berarti dalam pertarungan tersebut, sesungguhnya Ti Cing-ling tidak berhasil peroleh keuntungan apa pun, atau dengan perkataan lain belum tentu Nyoo Cing akan menderita kekalahan dalam pertarungan ini. Ruang batu itu tidak berjendela, oleh sebab itu sulit bagimu untuk mengetahui bagaimana cuaca saat itu, apakah di siang hari atau sudah menjelang tengah malam. Diatas anglo tembaga terlihat sebaskom bubur bunga teratai yang masih hangat, uap putih masih mengepul dari balik hidangan tersebut. Ditengah kabut yang tipis, Ti Cing-ling seakan sudah tertidur pulas, wanita berbaju putih itu masih mengawasinya dengan seksama. Sudah banyak tahun dia kenal dengan orang ini, sudah banyak tahun mereka bekerja sama menggalang suatu perencanaan besar, namun hingga kini dia masih belum dapat menebak manusia macam apakah dirinya itu. Jelas kepandaian silatnya sangat tangguh, latar belakang keluarganya sangat terhormat bahkan diapun terhitung seorang bangsawan kelas satu yang kaya raya, tapi justru dengan status sosialnya yang terhormat, dia senang terlibat dalam pertikaian dunia persilatan. Apakah kesemuanya ini merupakan masalah kejiwaan baginya? Wanita berbaju putih itu menuang secawan arak, baru saja akan diteguk, mendadak terdengar suara Ti Cing-ling berkata.

"Aku selalu keheranan dengan satu hal."

"Soal apa?"

"Siau-tiap bukan saja merupakan sagwee Tongcu dari perkumpulan Cing Liong Hwee kalian, diapun seorang gadis berbakat hebat, mengapa pihak Cing Liong Hwee menghabisi nyawanya?"

Wanita berbaju putih itu tidak menjawab, dia hanya meneguk araknya.

"Apakah dia berkhianat?"

Wanita itu menggeleng.

"Apakah lantaran identitasnya sudah tersingkap?"

"Juga bukan."

"Atau karena dia sudah tidak berharga lagi untuk dipergunakan?"

Ti Cing-ling menatap tajam wajah wanita berbaju putih itu.

"Atau mungkin dia sudah mengetahui sebuah rahasia yang tidak seharusnya dia ketahui?"

"Kenapa secara tiba-tiba kau punya pikiran semacam itu?"

Bukan menjawab wanita berbaju putih itu malah balik bertanya.

"Bukannya tiba-tiba, tapi persoalan tersebut selalu membelenggu jalan pikiranku,"

Katanya cepat.

"Sekalipun identitas Siau-tiap sudah tersingkap, namun dengan kepandaian silat serta kecerdasan otaknya, bukan masalah sulit baginya untuk lolos dari ancaman bahaya, seandainya dia tidak mampu pun, bagi Cing Liong Hwee, menolong seseorang bukanlah satu perbuatan yang sulit dilakukan."

Sambil menatap wanita itu tajam tajam, sepatah demi sepatah kata tanyanya.

"Mengapa Cing Liong Hwee tidak menolongnya? Mengapa harus membunuhnya? Apa arti dan makna dari ucapan Siautiap menjelang ajalnya?"

"Menjelang ajalnya? Apa yang dia katakan?"

Tanya wanita itu keheranan.

"Dia bilang, semua gerakan dan rencana yang kita lakukan sesungguhnya tidak lebih hanya sebiji bidak dalam papan catur orang lain, apa maksud dari perkataannya itu?"

Wanita berbaju putih itu termenung sambil berpikir, kelihatannya dia pun seakan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Siau-tiap itu.

"Aku tidak mengerti,"

Tiba-tiba wanita itu berkata.

"Kau tidak mengerti? Kau pun tidak memahami arti dari perkataannya itu?"

"Aku tidak mengerti kenapa atasan harus membunuhnya, dulu belum pernah terjadi peristiwa semacam ini, seperti apa yang telah kau katakan, Siautiap merupakan seorang gadis berbakat yang sangat pintar, akupun tidak mengerti mengapa atasan harus membunuhnya?"

Sebetulnya Ti Cing-ling ingin mencari jawaban dari pertanyaan tersebut dari mulut wanita berbaju putih itu, siapa sangka bukan saja tidak peroleh apa-apa, malah sebaliknya wanita itu yang bertanya kepadanya.

Ti Cing-ling pun tertawa getir, dia memang hanya bisa tertawa getir.

"Pertanyaan ini seharusnya aku yang bertanya kepadamu, sekarang malah kau yang bertanya kepadaku."

"Karena aku sama seperti kau, tidak mengerti kenapa atasan harus membunuh Siau-tiap,"

Kata wanita berbaju putih itu.

"Mengenai berapa patah kata yang dia ucapkan menjelang ajalnya, aku rasa hanya atasan saja yang memahami."

Jawaban tersebut jelas jawaban gombal, sama artinya tidak diucapkan. Tapi Ti Cing-ling seolah bisa menerima perkataan dari wanita berbaju putih itu, dengan riang dia mengangguk.

"Kait perpisahan milik Nyoo Cing adalah demi bisa berkumpul kembali dengan wanita kecintaannya, oleh sebab itu disebut kait perpisahan, lalu bagaimana dengan golok tipismu itu, apa pula nama golok milikmu itu?"

Sekulum senyuman segera tersungging diujung bibir Ti Cing-ling, tangan yang semula menggenggam cawan, tiba-tiba saja berubah jadi sebilah golok.

Sebilah golok yang tipis sekali, cahaya kebiru-biruan terpancar keluar dari tubuh golok itu.

"Ada bayangan tidak berwujud, ada bentuk tidak bisa diraba, cepat bagai kilat, lembut bagai rambut,"

Kata Ti Cing-ling sambil memandang golok andalannya.

"Karena golok ini lebih tipis dari kertas maka kuberi nama sebagai golok kelembutan."

"Golok kelembutan?"

Gumam wanita berbaju putih itu sambil menatap golok tersebut berapa kejap.

"Golok yang biasa digunakan untuk membunuh orangpun kau sebut sebagai golok kelembutan?"

"Benar, sebab disaat golok itu merenggut nyawa manusia, keadaannya persis seperti seorang kekasih yang sedang memeluk cintanya, bukan saja lembut bahkan amat romantis."

"Konon golok ini bersama kait perpisahan milik Nyoo Cing merupakan hasil tempaan dari empu Siau Gongcu?"

"Benar."

"Kau masih memiliki golokmu sementara kait perpisahan sudah tidak berada ditangan Nyoo Cing lagi, sekarang kau dapat menggunakan golok kelembutan maupun kait perpisahan, siapa yang bisa menandingimu lagi dikolong langit saat ini?"

Tangan kiri Ti Cing-ling yang semula kosong, kini sudah bertambah dengan sebuah senjata kaitan, kait perpisahan.

Setelah meneliti sekejap bentuk aneh dari senjata itu, dengan senyuman makin melebar katanya.

"Tahukah kau, apa sebabnya kait milik Nyoo Cing ini bisa menebar begitu banyak perpisahan di dunia ini?"

"Karena semua jurus serangan yang tercipta untuk senjata tersebut merupakan jurus perpisahan, konon kitab yang digunakan Nyoo Heng untuk mempelajari jurus maut tersebut berasal dari se

Jilid kitab pusaka yang sudah cacad dan tidak utuh?"

"Tapi bukan itu penyebabnya."

"Bukan? Lalu lantaran apa?"

"Meskipun jurus serangan yang digunakan kait perpisahan berasal dari se

Jilid kitab yang tidak utuh, namun yang paling menakutkan justru kecepatan Nyoo Cing."

"Kecepatan?"

"Benar, inilah yang paling menakutkan, biarpun dia menyerang belakangan namun serangannya selalu mencapai sasaran jauh melebihi orang lain, ketika tenaga serangan musuh belum sempat mencapai pada puncaknya, kait milik Nyoo Cing seringkah sudah menghabisi dulu nyawa lawannya."

"Dan musuhnya pun segera berpisah dengan dunia ini?"

"Benar."

"Bila kait perpisahan jatuh ke tangan orang lain, dapatkah orang lain melakukan hal yang sama?"

"Tidak dapat."

"Kenapa?"

"Sekalipun kungfu yang dimiliki orang lain jauh lebih hebat pun tidak mungkin dia sanggup menggunakan kelebihan yang dimiliki senjata kait perpisahan ini."

"Aku mengerti maksudmu, kecuali Nyoo Cing sendiri, rasanya tidak ada orang lain yang bisa memanfaatkan setiap peluang yang muncul."

"Kelihatannya ilmu silatmu sudah bertambah maju."

Wanita berbaju putih itu tertawa. Tidak diketahui apa makna dari tertawanya itu, namun Ti Cing-ling ikut tertawa, senyumannya jelas senyuman gembira.

"Ada keinginan untuk mencoba kecepatan Nyoo Cing?"

"Tidak!"

"Jadi kau tahu kalau kemampuanmu masih bukan tandingannya?"

"Menurut apa yang kuketahui, di dunia saat ini mungkin hanya ada tiga sampai lima orang yang sanggup menandinginya."

"Salah satu diantaranya adalah Liongtau lotoa dari perkumpulan Cing Liong Hwee?"

"Benar."

"Satunya lagi tentu aku?"

"Benar."

"Keliru besar,"

Perlahan-lahan Ti Cing-ling berkata.

"Tidak ada orang yang bisa mengendalikan dia, akupun paling banter hanya bisa menghabisi nyawanya." .....Sebab manusia yang bernama Nyoo Cing persis seperti senjata kait perpisahannya, kau bisa mematahkannya namun tidak akan mampu membuatnya bengkok.

"Tapi sekarang aku masih belum ingin membunuhnya." .....

"Karena kau masih sangsi untuk menghadapi kemampuannya!"

Perkataan ini hanya melintas dalam benak wanita berbaju putih itu, tentu saja tak sampai diutarakan.

"Sekarang aku hanya ingin agar dia pergi membunuh orang,"

Kata Ti Cing-ling.

"Makin banyak yang dibunuh semakin baik." .....

"Agar dia pergi membunuh? Sampai kapan pembunuhan itu baru berhenti? Membunuh hingga semua orang ingin membunuhnya? Membunuh sampai dia jadi kalap?"

Dengan sorot mata yang tajam wanita berbaju putih itu mengawasinya.

"Siapa saja yang telah kau persiapkan agar dibunuh olehnya?"

Dia bertanya.

"Tentu saja orang-orang yang paling menarik, sekarang aku sudah teringat akan seseorang yang paling menarik itu..."

Malam bersalju yang sangat dingin.

Semakin larut malam, salju turun semakin deras.

Nyoo Cing masih duduk bersandar didepan jendela sambil mengawasi bunga bwee dikebun muka.

Bunga salju beterbangan dari angkasa, berhamburan ke mana mana, melapisi bunga bwee yang ada di ranting.

Ranting yang menerima beban berat segera melengkung, makin tebal salju yang melapisi, makin melengkung ranting itu tapi dia tidak pernah patah karena beban salju yang berat.

Sebagai manusia, kau harus belajar dari sifat ranting pohon, makin besar tekanan yang kau hadapi, semakin ulet kau menghadapi, jangan hanya disebabkan sedikit tekanan, kau sudah kehilangan rasa percaya diri serta semangat untuk bertempur.

Nyoo Cing sudah berjalan keluar dari rumah kayu, seorang diri duduk ditepi sungai yang mulai membeku, duduk sambil mengawasi bunga bwee disekelilingnya.

Salju yang tebal membuat seluruh permukaan berubah jadi putih keperak-perakan, air yang mengalir ditengah malam bergerak perlahan tanpa menimbulkan suara.

Aliran air disungai bagaikan napas seorang yang sekarat, air tetap akan mengalir untuk selamanya tapi napas manusia setiap saat kemungkinan akan berhenti.

Mati sebetulnya bukan sesuatu yang menakutkan, juga bukan sesuatu yang menyedihkan.

Yang menakutkan justru kepedihan hati.

Angin kembali berhembus menggoyangkan ranting pepohonan.

Bunga salju beterbangan ke bawah, sebagian menodai tubuh Nyoo Cing.

Dalam suasana begitulah dari ujung sungai terlihat ada sebuah sampan, sebuah tungku, seorang kakek kesepian pelan-pelan bergerak mendekat.

Kakek itu masih duduk bersila diujung perahu, bertopi lebar, mengenakan jas hujan dari jerami dan rambutnya telah beruban semua.

Air dalam teko diatas tungku sudah lama mendidih, bau harum semerbak terendus makin kental, sekental darah segar.

"Air teh? Atau obat?"

"Air teh, juga obat."

"Perduli teh atau obat, aku sudah tidak ingin mencicipinya."

"Aku pun tidak akan membiarkan kau untuk mencicipinya,"

Kakek itu berpaling, memandang Nyoo Cing yang ada di daratan dan tiba-tiba tertawa.

"Orang yang memasak teh belum tentu akan menjadi peminum teh, aku bukan orang yang membuat teh, akupun tidak ingin minum air teh itu,"

Kata Nyoo Cing sambil tertawa pula.

"Manusia macam apa yang akan minum air tehku?"

"Seseorang yang hampir mampus, termasuk juga sejenis manusia."

"Sejenis manusia?"

"Orang yang datang menagih hutang."

Air teh masih panas sekali, tapi cawannya sudah lama dingin membeku. Kakek itu menuang air teh di cawannya, kemudian meneguknya sendiri.

"Teh ini teh ampas!"

Kakek itu berkata.

"Aku tahu."

"Kau tahu?"

"Walaupun kau bisa meracik bubuk ngo-ma-san, namun bahan untuk membuat obat tersebut susah diperoleh,"

Kata Nyoo Cing sambil tertawa.

"Apalagi hari ini tidak ada orang yang hampir mati ditempat ini, apa gunanya disediakan bubuk ngo-ma-san?"

Tiba-tiba kakek itu tidak bicara lagi, dengan sepasang mata tuanya dia awasi Nyoo Cing dengan tenang, lewat lama, lama kemudian dia baru membungkukkan tubuh dan meloloskan sebilah pedang hitam pekat dari samping tungku.

Sarung pedangnya berwarna hitam, gagang pedang pun berwarna hitam pekat.

Sedemikian hitamnya hingga menyerupai lapisan kegelapan yang menyelimuti ujung langit nun jauh disana.

"Selamat bersua kembali!"

Nyoo Cing pun sedang mengawasi pedang hitam itu, tiba-tiba dia mengucapkan perkataan tersebut kepada benda itu.

"Sudah berapa lama kau tidak pernah bertemu dengannya?"

Tanya kakek itu.

"Delapan tahun,"

Nyoo Cing menghela napas panjang.

"Delapan tahun delapan bulan delapan hari."

"Ditambah delapan jam,"

Kakek itu menambahkan.

"Waktu itu baru menjelang senja dan sekarang sudah lewat tengah malam."

"Kelihatannya daya ingat mu sangat bagus."

Kakek itu tertawa ewa.

"Hampir setiap menit, setiap detik, setiap jam, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun aku selalu mendoakan agar kau bisa tidur dengan nyenyak."

"Tampaknya doamu sudah dikabulkan, sebab setiap hari aku dapat tidur dengan sangat nyenyak."

"Aku telah berhutang kepadamu....."

"Aku rasa hutang itu sudah impas!"

"Sudah impas?"

"Benar."

Akhirnya kakek itu mendongakkan kepalanya, mengawasi Nyoo Cing dengan wajah tanpa perasaan, sinar matanya kelihatan sangat aneh, entah sorot mata kegembiraan ataukah sorot mata kesedihan.

Nyoo Cing pun balas menatapnya, sorot matanya pun memancarkan sinar yang tidak terurai dengan perkataan.

"Aku telah dating!"

Tiba-tiba kakek itu berkata.

"Aku tahu kau pasti akan datang."

"Tentu saja aku akan datang dan tentu saja kau pasti tahu,"

Kata kakek itu sambil menatapnya makin tajam.

"Kalau tidak, mengapa kau biarkan aku pergi pada delapan tahun berselang?"

Sekali lagi Nyoo Cing memandang pedang hitam yang berada ditangan kakek itu, lewat sesaat kemudian dia baru menghembuskan napas panjang.

BAB 6.

Pedang hitam bagai kegelapan malam.

Pedang itu melebur jadi satu dengan kegelapan malam, karena sama-sama hitamnya.

Mengawasi pedang hitam yang berada dalam genggamannya, kakek itupun menghela napas panjang.

"Delapan tahun berselang, aku kalah diujung kait perpisahan."

"Mungkin tidak seharusnya kau kalah,"

Kata Nyoo Cing hambar.

"Tapi sayang meski usiamu belum tua, ilmu pedangmu justru sudah kelewat tua."

Kakek itu termenung seolah sedang mencoba untuk mencerna apa yang barusan dia dengar, lewat lama kemudian baru perlahan-lahan tanya nya.

"Menurut pandanganmu, berapa usiaku sekarang?"

Kakek itu rambutnya sudah beruban, wajahnya penuh keriput dan kelihatan sudah amat lelah, lemah dan tua, jauh lebih tua dibandingkan sewaktu Nyoo Cing bertemu untuk pertama kalinya dulu.

"Aku sudah termashur ketika berusia tujuh-delapan belas tahun, ketika bertemu delapan tahun berselang, usiaku tidak lebih baru tiga puluh enam tahun, dan tahun ini aku baru berusia empat puluh enam tahun."

Dengan wajah terperangah Nyoo Cing mengawasi kakek itu, delapan tahun berselang, rambut kakek itu sudah mulai memutih, menurut taksirannya waktu itu, meski belum mencapai usia enam puluh, paling tidak sudah mencapai lima puluh tujuh, delapan tahunan.

"Aku tahu, tampangku memang mirip orang tua, sejak delapan tahun berselang rambutku sudah mulai beruban,"

Ujar kakek itu sambil tertawa. Nyoo Cing menghela napas panjang.

"Akupun tidak menyangka kalau delapan tahun berselang Liong Ngo dari Kwang-tong baru berusia tiga puluh enam tahun."

Kakek itu tertawa pedih.

"Ini semua disebabkan aku terlalu memusatkan konsentrasi dan kekuatan tubuhku untuk melatih diri, kendatipun dengan mengandalkan pedang ini aku berhasil meraih nama besar dan reputasi, namun pedang tersebut telah menghisap seluruh darah dan sumsum dalam tubuhku."

Nyoo Cing cukup memahami maksud perkataannya, bila seseorang kelewat kesemsem dalam satu bidang tertentu, maka keadaan itu ibarat sudah melakukan transaksi dengan setan iblis.

"Kaupun terhitung seseorang yang pernah belajar ilmu pedang, bila kau mengalami keadaan seperti aku, setelah mengorbankan segala sesuatunya demi ilmu pedang, tahu-tahu suatu saat kau dirobohkan dalam sekali gebrakan saja, bagaimana perasaanmu waktu itu?"

Nyoo Cing tidak menjawab.

"Tentu saja kau tidak akan memahami perasaanku waktu itu,"

Kata si kakek lagi sambil menghela napas.

"Sebab kau belum pernah dikalahkan orang!"

Nyoo Cing pingin tertawa, tertawa keras, tentu saja dia tidak sanggup tertawa.

.....

Tak pernah kalah?

Dua puluh tahun berselang dia pernah kalah, kalah oleh nasib.

Tapi, siapa yang mengetahui akan hal ini?

Kalau dia tidak pernah mengatakannya siapa yang akan tahu?

Meja batu yang besar dan lebar bersih tanpa debu, Ti Cing-ling pun selalu bersih tanpa sedikit debu pun yang menempel ditubuhnya.

"Siapakah manusia menarik yang kau maksudkan?"

Tanya wanita berbaju putih itu.

"Liong Ngo dari Kwang-tong."

"Liong Ngo si pedang hitam?"

Wanita itu sedikit terperanjat.

"Liong Ngo inikah yang kau maksud?"

"Benar."

"Kenapa dia ingin membunuh Nyoo Cing?"

"Sebab dia berhutang kepada Nyoo Cing."

"Hutang apa?"

"Hutang pedang,"

Jawab Ti Cing-ling hambar.

"Delapan tahun berselang, Liong Ngo dari Kwangtong ibarat matahari ditengah hari, dengan sebilah pedang hitamnya dia malang melintang tanpa lawan, suatu hari tiba-tiba dia bertemu Nyoo Cing..." .... Senjata kaitan termasuk jenis pedang, sebab Liong Ngo hanya mau bertanding dengan orang yang menggunakan pedang, dia telah memasukkan senjata kaitan milik Nyoo Cing sebagai salah satu jenis senjata pedang. Dua orang itu bertempur lama sekali, dari tengah hari hingga menjelang senja, disaat matahari mulai terbenam itulah Nyoo Cing berhasil menggaet pedang hitam milik Liong Ngo hingga berpisah.

"Padahal sejak pertarungan dimulai, Nyoo Cing seharusnya sudah menang,"

Kata Ti Cing-ling.

"Sebagaimana diketahui, Nyoo Cing adalah seseorang yang sangat mengagumi bakat alam, dia tidak tega membuat Liong Ngo menderita kekalahan secara mengenaskan, oleh sebab itu pertarungan dibiarkan berlangsung hingga senja."

"Kalah berarti mati, kalau memang Liong Ngo sudah kalah, mengapa dia tidak mati?"

Tanya wanita berbaju putih itu.

"Nyoo Cing tidak membunuhnya sudah dapat diduga sejak awal, tapi dengan status dan posisi Liong Ngo dalam dunia persilatan, mana sanggup dia menanggung rasa malu dan terhina?"

"Sebelum pertarungan dimulai, Nyoo Cing sudah memberi pernyataan lebih dahulu kalau pertarungan ini bukan pertarungan antara mati dan hidup,"

Ujar Ti Cingling.

"Siapa yang kalah anggap saja berhutang budi satu kali, dan dia harus membayar kapan saja dan dalam masalah apa saja, pokoknya yang kalah tidak boleh menampik."

"Oleh sebab itu Liong Ngo berhutang budi kepada Nyoo Cing?"

"Benar."

"Sudah terbayar?"

"Belum lama hutang itu terbayar,"

Kata Ti Cing-ling sambil tertawa.

"Sewaktu Cong Hoa pergi mengambil kait perpisahan, dia bertemu ninja dalam hutan bunga bwee dan terkena ilmu Bu-hwee-sut, seandainya tidak ada Liong Ngo, mungkin nyawanya sudah lama melayang dan sekarang dia tidak perlu lagi hidup tersiksa ditangan Hong Coan-sin."

"Jadi Liong Ngo mengerti ilmu pertabiban?"

"Kau jangan lupa, marga asli dari Liong Ngo adalah Toan."

"Toan capsa?"

"Benar."

"Jadi dia adalah putra Toan Capsa?"

"Bukan, dia hanya keponakannya,"

Ti Cing-ling menjelaskan.

"Bukan saja dia telah pelajari ilmu pertabiban milik Toan Capsa, bahkan dia pun berhasil menguasahi ilmu pedang ke lima belas."

"Ilmu pedang ke lima belas?"

Wanita berbaju putih itu terperanjat.

"Ilmu pedang ke lima belas dari tiga belas ilmu pedang pembetot sukma milik Yan Capsa?"

"Benar."

"Jadi Toan Capsa sesungguhnya adalah Yan Capsa?"

"Konon begitu."

"Kenyataannya keliru?"

Ti Cing-ling manggut manggut.

"Demi mengalahkan Sam sauya, Yan Capsa tidak segan membarter ilmu pedang tiga belas jurus pembetot sukmanya dengan ilmu pertabiban milik Toan Capsa."

"Resep Ngo-ma-san?"

"Betul!"

Sekali lagi Ti Cing-ling mengangguk.

"Yan Capsa sengaja menolong Sam sauya bukan lantaran menghendaki balas jasa dari Sam sauya, tapi demi kelangsungan pertarungannya melawan orang itu, bila dia tidak dapat mengobati racunnya, bagaimana mungkin bisa melangsungkan pertarungan melawannya?"

"Lantas kenapa dia tidak langsung suruh Toan capsa yang pergi menolong? Kenapa dia mesti menukar ilmu tersebut dengan tiga belas jurus ilmu pedang pembetot sukmanya?"

"Sebab saat itu Toan Capsa sudah sakit parah dan hampir mati."

"Yan Capsa telah mempelajari resep Ngo-ma-san dan ilmu pertabiban dari Toan Capsa, berarti Toan Capsa tentu sudah mempelajari pula ketiga belas jurus ilmu pedang pembetot sukmanya?"

"Justru lantaran dia sudah hampir mati, maka Yan Capsa baru bersedia menukarnya dengan ilmu pedang?"

"Yan Capsa mengira Toan Capsa segera akan mati, biar mendapatkan tiga belas jurus ilmu pedang pembetot sukma pun tidak ada gunanya,"

Kata Ti Cingling sambil tersenyum lebar.

"Tidak disangka ternyata Toan Capsa telah mewariskan simhoat dari tiga belas ilmu pedang pembetot sukma itu kepada Toan In-seng."

"Toan In-seng? Apakah dia adalah Liong Ngo dari Kwangtong?"

"Benar."

Wanita berbaju putih itupun termenung, termenung sambil meneguk araknya.

"Kalau memang Liong Ngo sudah mewarisi tiga belas jurus ilmu pedang pembetot sukma, mengapa dia masih bisa dikalahkan oleh Nyoo Cing? Bahkan Sam sauya sendiripun sulit untuk menghindari serangan ke lima belas, kenapa Nyoo Cing malah mampu menghadapinya?"

"Yan Capsa harus mengalami banyak kegagalan dan kekalahan sebelum akhirnya berhasil menguasahi jurus yang ke lima belas, sementara Toan In-seng masih muda, belum pernah menderita, belum pernah kalah, bagaimana mungkin dia bisa menyelami dan memahami inti sari dari jurus ke lima belas?"

"Oleh sebab itu delapan tahun berselang dia kalah?"

Ti Cing-ling manggut-manggut.

"Oleh karena dia sudah merasakan menderita dan tersiksanya karena kekalahan, maka dalam delapan tahun terakhir ia berhasil menyelami inti dari jurus ke lima belas?"

"Benar."

"Kalau begitu, pertarungan kali ini bukankah menjadi milik Liong Ngo?"

"Menurut kau?"

Tangan yang pucat telah meloloskan pedang yang hitam, dibawah cahaya rembulan, pedang itu nampak jauh lebih hitam dan gelap. Berbinar sepasang mata Toan In-seng, bisiknya tibatiba.

"Aku telah membayar hutangku kepadamu."

"Benar, hutang sudah terbayar."

"Tapi pertarungan pada delapan tahun berselang belum tuntas,"

Kata Toan In-seng hambar.

"kau tentu tahu bukan, kepandaian yang kugunakan adalah tiga belas jurus ilmu pedang pembetot sukma?"

"Aku tahu."

"Dulu, sebenarnya aku sangat membencimu karena kau telah memaksaku merasakan menderita dan tersiksanya sebuah kekalahan,"

Ujar Toan In-seng sambil mengulumkan senyuman.

"Tapi setelah lewat delapan tahun, aku sudah tidak membencimu lagi."

Tiba-tiba kelopak mata Nyoo Cing menyusut kencang, dia seakan agak takut untuk menengok ke arah lawannya.

.....

Kekalahan pada delapan tahun berselang, penderitaan selama delapan tahun, apakah kesemuanya ini justru membuat dia dapat menyelami jurus ke lima belas?

Dari balik sinar ngeri yang terpancar dari wajah Nyoo Cing, terselip juga sekilas perasaan gembira.

Seandainya Toan In-seng berhasil menyelami inti sari dari jurus ke lima belas, kejadian ini memang pantas digembirakan.

Cahaya pedang berkelebat, pedang itu lagi lagi disarungkan ke dalam sarungnya yang gelap.

"Bila pedang sudah terhunus dan disarungkan kembali sebelum mencium darah, ini pertanda tidak mujur."

Mengapa Toan In-seng menyarungkan kembali pedangnya? Nyoo Cing ikut tertegun, dia tidak habis mengerti kenapa orang itu melakukan tindakan tersebut.

"Ketika bertarung delapan tahun berselang, belum sampai lima puluh gebrakan aku seharusnya sudah kalah,"

Kata Toan In-seng hambar.

"Tapi kau telah menemani aku bertempur hingga senja, dan hari ini kau tidak memegang senjata kaitan, sama seperti waktu itu dihatiku pun tidak ada pedang."

Tiba tiba ia melemparkan pedangnya ke arah Nyoo Cing sambil berseru.

"Sambut pedang itu!"

Nyoo Cing sama sekali tidak tercengang sebab dia memahami maksud lawannya, namun dengan sorot mata tidak berdaya ditatapnya orang itu sekejap sambil ujarnya.

"Pedang digunakan untuk membunuh, bukan untuk ditonton, pedang ini tak ingin bertemu orang, dia hanya ingin melihat darah."

"Pedang tajam yang pernah dipakai untuk membunuh, pasti ingin membunuh lagi bila diloloskan dari sarungnya, terkadang si pemiliknya sendiripun tidak mampu menguasahi, aku yakin perasaan semacam itu pasti pernah kau rasakan."

"Benar, memang begitu rasanya,"

Kata Nyoo Cing sambil mengawasi pedang itu.

"Pedang tajam berjiwa, begitu juga orang yang pandai menggunakan pedang, jika tubuh dan pedang telah bersatu, bila perasaan dan pedang telah terpadu, saat itulah kau bisa menggunakannya sekehendak hati."

"Aku mengerti."

"Oleh sebab itu bila pedang tersebut sudah memiliki hawa membunuh, otomatis orang yang memegang senjata itupun akan tergerak hawa pembunuhannya,"

Kata Toan In-seng.

"Bila hawa pembunuhan telah bangkit, setiap serangan yang dilancarkan pasti tak akan memberi kesempatan kepada lawannya untuk tetap hidup."

"Aku tahu."

Perlahan-lahan Toan In-seng berdiri tegak, tubuhnya masih berada disampan, seakan sama sekali tidak bergerak, tapi tahu-tahu tubuhnya sudah berada ditengah hutan pohon bwee, mematahkan sebatang ranting dan ranting itupun seakan berubah begitu berada dalam genggamannya.

Dengan ibu jari, jari manis dan jari kelingkingnya dia membentuk satu gerakan melingkar, sementara ranting pohon itu ditarik ke belakang hingga sejajar dengan kepala, tampaknya ia sudah mempersiapkan sebuah serangan dahsyat ke arah Nyoo Cing.

Nyoo Cing tak berani berayal, dia pegang gagang pedang kuat kuat, mimik mukanya memancarkan perubahan aneh, siapa pun tak bisa menebak apakah dia sedang gembira, sedih atau tidak berdaya.

Begitu memegang gagang pedang, tubuhnya ikut bangkit berdiri dan "Criiing!"

Pedang itu sudah diloloskan dari sarungnya.

Kini Nyoo Cing sudah meluruskan tubuhnya, sama sekali telah berdiri, ujung pedangnya masih menuding ke bawah tapi seluruh tubuhnya seakan telah berubah.

Toan In-seng berdiri disisi sungai, mengawasi lawannya tanpa berkedip, ranting dalam genggamannya telah berubah jadi pedang, dengan satu gerakan ringan dia lancarkan sebuah tusukan ke muka.

Hampir pada saat bersamaan Nyoo Cing melancarkan serangan juga, tidak ada yang tahu bagaimana dia menggerakkan pedangnya, tahu-tahu senjata itu sudah melesat ke depan dengan kecepatan bagaikan petir.

"Criiing!"

Benturan keras terjadi, cahaya kilat berhamburan ke empat penjuru, mendadak cahaya pedang lenyap, gerak seranganpun seakan terhenti.

Toan In-seng memeriksa sekejap batang rantingnya, bara api seakan memancar dari matanya, walaupun pedang masih berada dalam genggaman namun dia telah melakukan pelbagai perubahan yang tidak terhingga.

Pedang hitam ditangan Nyoo Cing masih tertuju ke arah ranting lawan, bila ranting Toan In-seng bagai seekor ular berbisa maka pedang ditangan Nyoo Cing bagai sebatang paku.

Paku yang telah memantek diatas tujuh inci dari kepala sang ular, membuat ular berbisa itu mati kutu.

Pertarungan yang seharusnya telah berakhir itu mendadak kembali terjadi perubahan, suatu perubahan yang aneh.

Daun yang semula beterbangan di udara tiba tiba saja rontok semua ke tanah, bumi yang semula bergetar tiba-tiba berubah jadi hening dan sepi.

Tiba-tiba kelopak mata Nyoo Cing berkerut kencang, sekilas rasa ngeri dan seram melintas diwajahnya, dia merasa pedangnya seakan sudah tidak mampu bergerak lagi, seakan setiap saat serangan lawan akan menembusi dada dan tenggorokannya, seolah tiada kekuatan lagi di dunia ini yang dapat membendung datangnya serangan lawan.

Ancaman itu seolah datangnya kematian, tatkala maut datang menjemput, kekuatan apa di dunia ini yang sanggup mencegahnya?

Tidak ada, kecuali kematian itu sendiri.

Inilah jurus ke lima belas dari tiga belas jurus ilmu pedang pembetot sukma.

Dulu, Sam sauya yang sangat ampuh pun sulit untuk menghindarkan diri, apalagi Nyoo Cing!

"Jadi itulah jurus ke lima belas dari Toh-mia-capsakiam milik Yan Capsa yang tidak bisa dipatahkan Sam sauya tempo dulu?"

Tanya wanita berbaju putih itu sambil menatap wajah Ti Cing-ling, Bagaimana dengan Nyoo Cing? Mampukah dia menghindari serangan maut itu?"

"Tidak mungkin!"

Ti Cing-ling menggeleng.

"Menurut apa yang kuketahui, belum ada seorang manusia pun di dunia ini yang mampu menghindari serangan dari jurus ke lima belas."

"Kalau begitu Nyoo Cing pasti mati kali ini?"

Ti Cing-ling tertawa, sorot matanya lembut, selembut cahaya yang memancar dari lampu kristal asal Persia, ujarnya.

"Tujuh tahun, yaaa.....sudah tujuh tahun, tahukah kau bagaimana aku melewatkan hidupku dalam tujuh tahun itu?"

Wanita berbaju putih itu tidak menjawab.

"Selama tujuh, tahun, yang kuminum adalah air yang mengalir keluar dari celah batu, yang ku makan adalah serangga yang lewat dihadapanku, jika kebetulan nasibku lagi beruntung, ada bajing yang lewat dihadapanku, tapi dalam setahun paling hanya terjadi satu kali."

Siapa pun orangnya, bila dia harus melewatkan hidupnya selama tujuh tahun dalam kondisi se tragis itu, tidak kejam pun pasti akan berubah jadi buas dan jahat.

"Bila hanya menginginkan kematian Nyoo Cing, buat apa aku mesti membuang banyak tenaga dan pikiran?"

Kembali Ti Cing-ling berkata sambil tertawa sinis.

"Kalau memang tidak menginginkan kematiannya, kenapa kau biarkan Toan In-seng pergi membunuhnya?"

Tanya perempuan berbaju putih itu.

"kalau sampai sam sauya pun tak sanggup menghindari serangan tersebut, mana mungkin dia bisa lolos dari kematian?"

"Ada sebangsa orang, dia selalu ditakdirkan beruntung, setiap kali sedang bertemu musibah seberat apapun, pasti akan muncul tuan penolong yang menyelesaikan masalahnya."

"Apakah Nyoo Cing adalah manusia semacam itu?"

"Benar."

"Siapa tuan penolongnya kali ini?"

"Menurut kau?"

Bunga bwee telah berguguran ke tanah, daun pun sudah berguguran bagaikan hamparan permadani hijau, seluruh langit dan bumi serasa dicekam dalam suasana kematian.

Air sungai seakan berhenti mengalir, salju dan kabut pun seolah membeku semua.

Menyaksikan jurus ke lima belas yang penuh diliputi "kematian", pancaran mata Nyoo Cing mulai memperlihatkan rasa ngeri yang luar biasa, bahkan jauh lebih ngeri ketimbang yang diperlihatkan Sam sauya tempo hari.

Yang membuatnya merasa ngeri bukan kematian, tapi dia seakan menyaksikan bagaimana jurus serangan itu mendatangkan bencana demi bencana, musibah demi musibah dalam dunia persilatan.

Bila jurus serangan ini dibiarkan berkembang terus, maka masa depan dunia persilatan pasti suram, sekarang dia baru mengerti kenapa Yan Capsa waktu itu tidak membunuh Sam sauya melainkan justru menggorok leher sendiri.

Rupanya disaat terakhir, Yan Capsa telah menemukan ancaman bahaya maut, kemusnahan dan kematian yang dibawa jurus serangan tersebut, dia tidak ingin jurus mematikan itu diwariskan ke generasi berikut, dia tak ingin menjadi manusia paling berdosa bagi umat persilatan.

Dibalik kegelapan, hanya sorot mata Toan In-seng yang memancarkan cahaya tajam, itulah cahaya yang mendekati kekalapan.

Dalam pandangannya sudah tak ada yang lain, yang tersisa hanya kemusnahan dan kematian.

Hanya kemusnahan dan kematian yang bisa memadamkan api kekalapannya.

Serangan berikut langsung diarahkan ke ulu hati Nyoo Cing, langsung menusuk ke jalan kematian.

Disaat kematian hampir menjelang tiba, mendadak dari balik rumah kayu berkelebat lewat sesosok bayangan manusia, bayangan itu langsung menerkam ke tengah badai kematian.

Tusukan itu langsung menghujam ke tubuh bayangan itu, darah pun menyembur keluar membasahi seluruh permukaan.

Seluruh wajah Nyoo Cing basah kuyup oleh semburan darah, namun secara lamat-lamat dia masih dapat melihat penderitaan dan siksaan yang tercermin diwajah orang itu, wajah sekarat.

Seluruh wajah Toan In-seng ternoda pula oleh semburan darah, ketika pedangnya berhasil menghujam di dada lawan, disaat darah segar mulai menyembur keluar, dia pun mulai tertawa, tertawa keras, tertawa seperti orang kalap.

Darah yang meleleh diwajah Nyoo Cing makin lama makin bertambah banyak, hawa amarah yang menyelimuti wajahnya pun makin lama semakin menebal, dengan tangan kanan memegang pedang, tangan kirinya merangkul tubuh seseorang.

Ternyata tusukan pedang dari Toan In-seng bukan menghujam di dada Nyoo Cing, tapi menembusi dada si nona hitam yang pada detik terakhir melesat keluar dari dalam rumah.

Ranting pohon itu masih menancap di dada nona hitam, darah segar masih menyembur keluar tiada hentinya.

Kini Toan In-seng baru sadar kalau sasaran yang tertusuk bukan Nyoo Cing, dia pun sempat melihat pancaran hawa amarah yang mencorong dari mata lawannya.

Dalam keadaan begini, buru-buru dia ingin mencabut keluar ranting pohon itu, tapi dengan sekuat tenaga nona hitam memeganginya.

Bersamaan waktunya, Nyoo Cing mengayunkan pula pedang hitamnya, langsung menusuk ke balik kegelapan, menusuk ke sumber cahaya kebrutalan.

Setelah itu Nyoo Cing tidak bergerak lagi, dia hanya mengawasi tubuh nona hitam yang berada dalam pelukannya, mimpi pun dia tak menyangka semalam orang yang masih menyatakan kasih kepadanya, kini harus mati dalam pelukannya.

Tapi, mau tidak mau dia harus percaya, karena nona hitam memang terbukti sudah mati, denyut nadi nona hitam telah berhenti, tangan dan kakinya telah membeku.

Yang seharusnya mati adalah Nyoo Cing, bukan dia.

Dengan termangu Nyoo Cing mengawasi wajah nona hitam yang menampilkan kepuasan, rasa sedih yang tidak terhingga seketika menyelimuti seluruh perasaannya.

Akhirnya dia melepaskan jubah yang dikenakan dan ditutupkan diatas tubuh nona hitam, kemudian dengan penuh kasih dibelainya rambutnya yang halus.

Lama, lama kemudian, dengan membopong tubuh nona hitam, selangkah demi selangkah Nyoo Cing berjalan meninggalkan arena pertarungan, perlahanlahan dia balik kembali ke rumahnya, rumah kayu kecil.

BAGIAN -5.

Pedang amarah, musim semipun marah.

BAB 1.

Kejadian di rumah bambu.

Matahari bersinar cerah diluar rumah, namun lentera masih menerangi ruangan dalam, satu satunya pintu yang tembus ke dunia luar berada dalam keadaan tertutup.

Tampaknya Ti Cing-ling mempunyai bakat untuk meramal perubahan cuaca, sambil memandang cahaya lentera, ujarnya perlahan.

"Hari ini, cuaca diluar pasti amat cerah, sedemikian cerahnya hingga membuat perasaan orang gampang gembira."

Kelihatannya wanita berbaju putih itu tidak terlalu memperhatikan soal cuaca, yang ingin dia ketahui segera adalah bagaimana akhir dari pertarungan Nyoo Cing.

"Sekarang pagi hari sudah lewat, semestinya pertarungan itupun telah berakhir,"

Kata perempuan itu sambil menatap lawannya.

"apakah si nona hitam bakal mati? Apakah Nyoo Cing berhasil lolos dari musibah kali ini?"

Ti Cing-ling tidak segera menjawab, dia memenuhi cawannya dulu dengan arak anggur, setelah itu baru ujarnya.

"Ada dua jenis lelaki yang selalu menarik perhatian kaum wanita, yang pertama adalah lelaki muda yang banyak duit."

"Contohnya seperti kau!"

Dalam hal ini Ti Cing-ling selamanya tidak pernah menyangkal, bukan saja dia banyak duit, wajahnya terhitung tampan, perawakan tubuhnya tinggi besar dan pandai merayu wanita, perempuan mana di dunia ini yang bisa lolos dari cengkeramannya?

"Lelaki jenis kedua adalah lelaki yang kelewat serius dalam bercinta, bila dia sudah mencintai seorang wanita maka tidak nanti dia mau menerima cinta kedua dari wanita lain, tapi apa mau dikata justru banyak wanita yang tergila-gila terhadap lelaki macam begini,"

Kata Ti Cing-ling sembari melirik sekejap ke arah wanita berbaju putih itu, sekilas rasa iri sempat melintas diwajahnya.

"Mereka bilang lelaki semacam inilah baru merupakan lelaki sejati,"

Dia menambahkan.

"Contohnya Nyoo Cing?"

"Benar,"

Ti Cing-ling tertawa.

"Bukan saja perempuan menyukai lelaki semacam ini, ada kalanya terhadap sesama lelaki pun banyak yang merasa tidak tega untuk membunuhnya."

"Bukannya tidak tega, semestinya lebih tepat kalau dikatakan banyak lelaki yang tidak menginginkan dia mati kelewat gampang,"

Sela wanita berbaju putih itu.

Ternyata didalam hal inipun Ti Cing-ling tidak menyangkal, perlahan dia meneguk habis isi cawannya, membiarkan arak memenuhi mulutnya kemudian baru sedikit demi sedikit menelan arak itu ke dalam perut.

"Akibat yang dihasilkan jurus ke lima belas dari Tohmia-cap-sa-kiam hanya kemusnahan dan kematian, hanya ada satu cara untuk mematahkan serangan tersebut yaitu dengan kematian,"

Kata Ti Cing-ling.

"Dengan kematian mematahkan kematian, atau dengan perkataan lain hanya kematian saja yang dapat memunahkan kekuatan dari hawa serangan tersebut."

"Seandainya nona hitam yang mati, bukankah Nyoo Cing masih tetap hidup?"

"Betul, dan kuduga pasti demikian yang bakal terjadi,"

Kata Ti Cing-ling sambil mengangguk.

"Dengan matinya nona hitam, maka Nyoo Cing pun terbebas dari ancaman kematian itu. Tapi dia pun akan hidup sendirian, tidak ada yang menunjang, tidak ada yang mendukungnya lagi."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Semangat dan pikirannya akan terjerumus dalam situasi yang pelik, dia akan hidup dalam kesendirian, tiada bala bantuan, tiada harapan."

"Jangan lupa, dia masih mempunyai seorang kurakura tua."

"Kura-kura itu hanya bisa membantu Nyoo Cing mengemukakan usul atau saran, tidak nanti dia akan turun tangan membantunya,"

Kata Ti Cing-ling lagi sambil tertawa.

"Sejak tiga puluh tahun berselang, dia sudah bersumpah untuk mundur dari keramaian dunia persilatan."

Empat buah meja panjang berlapis besi putih berjajar jadi satu, tiga diantaranya berisi tiga sosok tubuh manusia.

Dalam ruangan itu tergantung tujuh buah lentera kristal, cahaya yang terang hampir menyinari setiap sudut ruangan itu.

Disisi meja panjang terdapat berapa buah meja pendek, diatas meja tersebut tersedia pelbagai bentuk pisau kecil, ketika tersorot cahaya lentera segera memantulkan sinar hijau yang menggidikkan.

Bila ditinjau dari susunan dekorasi yang ada dalam ruangan itu, tidak disangkal tempat ini merupakan sebuah ruangan yang khusus dipakai untuk pembuatan manusia mummi.

Tidak disangkal pula, tiga sosok tubuh manusia yang berbaring diatas meja panjang pun tidak lain adalah Cong Hoa, Tay Thian serta Ui sauya.

Sejak minum ketiga cawan arak itu hingga kini, satu jam sudah lewat tanpa terasa, tapi kalau dilihat dari keadaan ketiga orang itu, tampaknya mereka belum menunjukkan gejala mendusin.

Ruangan yang semula tenang mendadak dipecahkan oleh suara pintu yang dibuka orang, menyusul kemudian terlihat Budak darah berjalan menghampiri meja panjang itu, memandang sekejap ketiga orang yang berbaring disana dan tiba-tiba tertawa tergelak.

"Bila kalian anggap tidur semacam ini sangat nyenyak dan nikmat, aku bersedia memberi tiga cawan arak lagi untuk kalian bertiga, kujamin kalian pasti akan tertidur untuk selamanya!"

Tiga orang manusia yang tampaknya seakan belum mendusin itu seketika ada yang menghela napas setelah mendengar perkataan dari budak darah.

"Aaai! Setelah terjatuh ke tangan kalian, rasanya pingin tidur sedikit lebih lama pun susah,"

Gumam Ui sauya sembari membuka matanya dan menatap budak darah.

"Aku tidak ingin tidur lagi,"

Ujar Cong Hoa pula sambil membuka matanya.

"Saat ini aku hanya pingin makan sekenyang-kenyangnya, kemudian menenggak empat puluh cawan arak."

"Kalau aku mah tidak senapsu itu, paling hanya ingin minum dua puluh cawan arak,"

Sambung Tay Thian, kemudian sambil berpaling ke arah budak darah, ujarnya lagi.

"Setiap narapidana yang sudah di vonis hukuman mati, mereka punya kesempatan untuk menikmati hidangannya yang terakhir menjelang dilaksanakannya eksekusi, entah fasilitas semacam itu berlaku tidak untuk kami bertiga?"

"Kalau arak mah tidak masalah,"

Jawab budak darah tertawa.

"Tapi soal makanan, aku rasa lebih baik kalian nikmati setelah menitis kembali jadi manusia dalam penghidupan berikut."

"Belum tentu!"

Tiba-tiba Hong Coan-sin sudah muncul di depan pintu.

"Belum tentu?"

Tanya Cong Hoa.

"Maksudmu kita masih punya kesempatan untuk menikmati hidangan yang diinginkan?"

"Bukan kita tapi kalian, salah seorang diantara kalian."

"Ooh, aku mengerti sekarang, rupanya ada satu tugas yang harus dilakukan oleh salah satu diantara kami bertiga, sebagai imbalannya kami dapat hidup terus?"

Seru Cong Hoa.

"Benar!"

"Kalau kami tidak ingin hidup terus?"

"Tidak masalah,"

Jawab Hong Coan-sin sambil tertawa.

"Aku yakin pasti ada orang yang bersedia melakukannya."

"Tugas apa yang harus kami lakukan?"

Mendadak Tay Thian bertanya.

"Cap kerajaan,"

Kata Hong Coan-sin.

"Asal bersedia memberitahukan kepada kami dimana cap kerajaan dari Raja muda Lam-kun-ong disimpan, kalian bisa hidup terus dengan riang gembira."

Tiba-tiba Cong Hoa tertawa keras, tertawa sangat gembira.

"Bukankah kalian punya kemampuan hebat untuk menciptakan seorang Nyoo Cing baru? Kenapa tidak mampu menciptakan sebuah cap palsu?"

Cong Hoa tertawa tergelak.

"Tentu saja kalian tidak sanggup, sebab setiap kerajaan, setiap raja muda, cap kekuasaannya tentu punya gambar rahasia yang unik dan rumit, kode rahasia itu tidak mudah ditiru apalagi dipalsukan, tujuannya adalah agar tidak setiap orang bisa menurunkan perintah palsu."

"Kau memang sangat cerdik,"

Ujar budak darah.

"Sayangnya, orang pintar selalu mampus lebih cepat."

"Siapa tahu orang yang pintar itu mendadak berubah jadi bodoh, saking bodohnya sehingga secara tiba-tiba memberitahukan letak penyimpanan cap tersebut?"

"Kujamin asal kau lakukan hal itu maka keinginanmu untuk makan besar dan menghabiskan empat puluh cawan arak segera akan terkabulkan!"

"Tapi sayangnya begitu berjumpa dengan kau, aku malah susah jadi bodoh,"

Kata Cong Hoa sambil menatap si budak darah.

"Siapa tahu secara tiba-tiba aku malah melompat bangun dan menggigitmu."

"Biar mau digigit sepuluh kalipun aku tidak bakal takut!"

Tertawa si budak darah sangat nyaring.

"Kalian sama sekali tidak mampu bergerak, aku sendiri yang telah menotok jalan darah di kaki kalian bertiga."

"Yaa, siapa tahu..."

Cong Hoa ikut tertawa tergelak.

"Siapa tahu kaki kami bisa bergerak secara tiba-tiba, siapa tahu kau lupa menotok jalan darah kakiku, siapa tahu barusan ada orang yang masuk kemari dan membebaskan jalan darahku yang tertotok....."

Budak darah yang semula masih tertawa riang seketika terbungkam dalam seribu bahasa, senyumannya ikut membeku, apa yang dikatakan Cong Hoa bukannya tidak mungkin terjadi, mendadak dia maju mendekat dan memeriksa jalan darah di kaki ketiga orang itu.

"Tidak usah diperiksa lagi, kujamin mereka bertiga tidak mampu bergerak,"

Kata Hong Coan-sin cepat.

"Dia memang sengaja bicara begitu, tujuannya agar pikiranmu gugup dan kalut."

"Rupanya jahe makin tua memang semakin pedas!"

Sindir Ui sauya sambil tertawa.

"Beda dengan manusia yang suka telanjang ini, tidak kuasa menahan napsu..."

Budak darah mencak-mencak saking gusarnya, dengan wajah merah padam dia segera menghampiri Ui sauya kemudian menempelengnya keras-keras.

"Aneh, kenapa kaum wanita sukanya hanya tempeleng orang,"

Kembali Ui sauya menghela napas.

"Kecuali berbuat begitu, sebenarnya apa lagi yang bisa kau lakukan?"

"Aku pintar naik ranjang dengan lelaki, mau gaya model apapun aku bisa,"

Budak darah tertawa cabul.

"Eei aku dengar kau masih jejaka tulen, betul tidak?"

Dengan matanya yang jalang budak darah mengawasi tubuh Ui sauya dari atas hingga ke bawah, kemudian sambil gelengkan kepalanya berulang kali katanya lagi.

"Belum sempat merasakan surga dunia, masa kau bisa mati dengan mata merem?"

Bicara sampai disitu, tangannya mulai meraba benda paling sensitip yang dimiliki Ui Sauya diantara dua pahanya, bukan hanya meraba, tangannya mulai merogoh ke dalam celana dan meremasnya.

Tidak terlukiskan rasa gusar dan kaget Ui sauya menghadapi kejadian seperti ini, sayang seluruh tubuhnya tidak mampu berkutik sehingga gelisah pun tidak ada gunanya.

"Apa gunanya kau hanya meraba dengan cara begitu, kurang mantap!"

Seru Cong Hoa sambil tertawa.

"Kalau ingin yang lebih hot, lebih baik langsung saja "menunggang kuda maju perang", kujamin kau pasti akan menikmati barang baru."

Ternyata dia telah samakan Ui sauya sebagai barang baru. Tay Thian tidak kuasa menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa terbahak-bahak.

"Lelaki sudah pernah dilukiskan sebagai apa saja, tapi belum pernah diibaratkan barang baru.

"Hahaha.... baru pertama kali ini aku mendengarnya. Sayang, barang baru pun tidak akan bertahan lagi."

Waktu itu seluruh wajah Ui sauya sudah merah padam karena jengah, bahkan benda miliknya sudah mulai bereaksi dan makin membengkak besar. Untunglah disaat itu Hong Coan-sin sudah berseru.

"Cukup!"

Tampaknya budak darah sangat taat dengan perkataan Hong Coan-sin, dia segera menghentikan ulahnya dan mengundurkan diri.

Akhirnya Ui sauya dapat lolos dari bahaya, tidak tahan dia menghembuskan napas panjang.

"Bagaimana dengan apa yang barusan kuusulkan? Apakah kalian bertiga berminat?"

Kembali Hong Coansin bertanya sambil tertawa.

"Asal menganggukkan kepala maka kalian boleh pergi ke mana saja yang disuka."

"Aaai! Dulu, kenapa aku tidak bertanya kepada Nyoo Cing dimana dia simpan cap kekuasaannya,"

Gumam Cong Hoa dengan wajah seperti menyesal.

"Kalau tidak sekarang aku bisa pergi bebas ke ujung dunia."

"Apalagi aku, selama hidup paling takut berurusan dengan orang pangkat,"

Kata Ui sauya sambil tertawa getir.

"Jangan lagi cap kekuasaan, memasuki rumah pejabat pun takutnya setengah mati."

Tay Thian tidak bicara apa-apa, ketika sorot mata semua orang tertuju ke wajahnya, dengan santai diapun balas memandang setiap orang, setelah itu baru ujarnya.

"Tentu saja aku mengetahui tempat penyimpanan cap kekuasaan itu, tapi sayang aku jadi orang paling takut hidup sendirian, kalau disuruh melanglang dunia seorang diri, tanggung belum sampai dua hari aku sudah mati kesepian."

Dia memandang Hong Coan-sin sekejap, kemudian lanjutnya.

"Daripada mati kesepian, lebih baik mati sekarang juga, paling tidak dalam perjalanan menuju ke alam baka aku masih mempunyai teman untuk mengobrol."

"Bagus, ternyata kalian bertiga sama-sama setia kawan, tidak takut mati, kalau memang begitu biarlah aku kabulkan permintaan kalian semua."

Jubah panjang berwarna putih terletak diatas meja pendek, Hong Coan-sin segera mengambil dan mengenakannya dengan cepat, setelah itu diapun mengenakan penutup kepala berwarna putih.

Ketika semuanya sudah siap, Hong Coan-sin baru mengenakan sarung tangan dan mengambil sebilah pisau kecil yang amat tipis.

Mata pisau yang tajam memantulkan cahaya perak kebiru biruan.

"Apakah kau akan segera melakukan pembedahan?"

Tanya Cong Hoa.

"Benar."

"Apakah meja panjang yang kosong itu kau persiapkan untuk menampung potongan tubuh kami sebelum dilebur menjadi satu?"

"Benar."

"Kenapa tidak melihat dia berbaring disitu?"

"Sekarang dia sedang mandi, menanti aku selesai membedah tubuh kalian bertiga, diapun kebetulan sudah selesai membersihkan tubuh."

"Dengan susah payah membuang banyak pikiran dan tenaga, apakah tujuannya hanya akan menciptakan seorang Nyoo Cing dan Tay Thian yang baru?"

Mendadak Tay Thian bertanya.

"Kesemuanya ini baru sebuah permulaan."

"Sebuah permulaan? Permulaan apa?"

Hong Coan-sin memandang Tay Thian sekejap, lewat berapa saat kemudian dia baru berkata.

"Cong Poanlong telah menanggung nama busuk sebagai pengkhianat negara, tentu saja kami tidak bisa membiarkan nama ini tercatat terus dalam sejarah kerajaan, oleh sebab itu dia harus segera dimusnahkan dari muka bumi, kemudian kami pun berhasil mendapatkan rahasia cara pembuatan mummi, dengan mengandalkan resep rahasia ini maka sebuah rencana besar pun segera dibuat."

"Maksudmu... kalian., kalian akan menciptakan seorang kaisar baru?' tanya Tay Thian dengan suara agak gemetar.

"Betul, untuk mewujudkan rencana besar ini, kami telah melakukan percobaan demi percobaan selama dua puluh tahun lamanya, dan inilah hasil jerih payah kami."

"Maka kau pun menggunakan Nyoo Cing dan aku sebagai kelinci percobaan, bila berhasil maka rencana berikut adalah menciptakan seorang kaisar baru?"

"Benar."

"Kalau begitu Liongtau lotoa dari perkumpulan Cing Liong Hwee adalah orang yang suruh Cong Poan-long datang ke daratan Tionggoan?"

Pertanyaan ini tidak ditanggapi Hong Coan-sin, dia hanya tertawa.

"Kenapa tidak dijawab? Apakah lantaran perkataanku sudah mendekati kebenaran?"

"Benar atau salah, setibanya di akhirat nanti kalian pasti akan tahu."

Dengan membawa pisau kecil dan mengawasi Cong Hoa, selangkah demi selangkah Hong Coan-sin mendekati gadis itu, wajahnya segera menampilkan kecabulan yang luar biasa.

"Mau.... mau apa kau?"

Teriakan Cong Hoa kedengaran agak gemetar.

"Mula-mula aku akan membuka pakaianmu dengan pisau ini, kemudian..."

Suara tertawa Hong Coan-sin kedengaran makin cabul, makin sesat.

"Kenapa kau.... kau tidak membedah mereka duluan?"

"Semestinya perempuan harus didahulukan."

"Tidak usah sungkan, biar yang laki-laki duluan,"

Cong Hoa mulai kelihatan ketakutan.

Sorot mata Hong Coan-sin yang cabul ibarat sebuah tangan tidak berwujud, bergeser terus diseputar dada Cong Hoa, dengus napasnya makin lama makin bertambah berat, setiap kali menghembuskan napas, hanya hawa panas yang dihembuskan, dia sudah mulai menggeser sorot matanya dari atas dada turun ke perut, turun ke bagian terlarang dan berputar terus disekitar situ.

Bulu kuduk mulai bangun berdiri, hawa dingin serasa menusuk ke dalam ulu hati, Cong Hoa benar-benar bergidik, rasa ngeri bercampur malu menyelimuti wajahnya...

Tangan kiri Hong Coan-sin sudah mulai diletakkan diatas dada gadis itu sementara pisau ditangan kanannya mulai ditempelkan diatas pakaiannya, kelihatannya sebentar lagi dia akan mulai menelanjangi gadis tersebut.

Baca Juga: Pendekar Cacad 6

Baca Juga: Pendekar Cacad Gu Long

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert