Eps 11 Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung
Baca online Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung
Cersil Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung.
Tiba-tiba kakek berambut putih dan orang berbaju hitam itu merasakan tenaga serangan punah, lalu ada tenaga kuat menumbuk tubuh mereka hingga tergetar mundur.
Tak terlukiskan rasa kaget mereka, tak mereka sangka tenaga dalam Bok Ji sia begitu sempurna, sampai serangan si kakek berambut putih yang dahsyat pun punah dan tergetar ke samping.
Kejut dan marah Hoa Hong-hui, dia membentak.
"Bangsat pencuri kitab, ayo sambut pukulan Siauyamu?"
Ji-sia melengak, ia tidak merasa mencuri, mana ia tahu si nona baju biru itu telah menyiarkan bahwa ia membawa kabur kitab Hek-liong-kang yang diserahkannya tempo hari itu.
Dengan sendirinya ia gusar, bentaknya.
"Bangsat, kau bilang apa?"
Mendadak bayangan merah berkelebat, terdengar Oh Keng-kiau menghardik.
"Mulut yang sembarangan bicara harus ditampar!"
"Plak-plak"
Dua kali gamparan nyaring bergema.
Kedua pipi Hoa Hong-hui segera muncul bekas telapak tangan yang merah bengkak.
Sebagai orang yang tinggi hati, belum pernah ia dihina orang semacam itu, dengan geramnya ia berterak.
"Budak hina, kau ingin mampus!"
Belum lagi tangannya diangkat, tiba-tiba ia beradu pandang dengan Oh Keng kiau, seketika hatinya tergetar.
"Cakap amat gadis ini!"
Pikirnya.
Maklum, Hoa Hong-hui adalah pemuda yang tinggi hati, gadis biasa jangan harap akan memperoleh kata pujiannya, kecuali gadis berkerudung baju biru, hakikatnya dia memandang rendah perempuan lain di dunia ini.
Sejak masuk daerah Tionggoan, ia belum pernah bertemu dengan gadis yang menarik hatinya, siapa tahu hari ini dia berjumpa dengan gadis rupawan, tak heran hatinya bergetar.
Waktu itu aii mata masih membasahi wajah Oh Keng-kiau, tapi hal ini justru menambah kecantikannya yang melankolik, yang merawan hati.
Untuk sesaat dia jadi lupa pada tamparan yang baru diterimanya, dengan melenggong ia bergumam "O, hampir saja aku tak percaya dengan pandanganku, tak kusangka ada gadis secantik ini di Tionggoan!"
Oh Keng-kiau menjadi gusar, bentaknya.
"Bangsat yang tak tahu malu!!"
Dia menerjang maju dan menghantam batok kepala Hoa Hong-hui. Kakek berambut putih menjadi kuatir, serunya.
"Hoa-kongcu, cepat mundur!"
Secepat kilat telapak tangan kirinya menyapu ke depan, ia kuatir Hoa Hong-hui terluka, maka dia mengerahkan tenaga murni untuk menyambut serangan Oh Keng-kiau tersebut dengan kekerasan.
"Blang", benturan keras terjadi, keringat bercucuran di jidat kakek rambut putih itu, dia tampak letih, sekujur badannya gemetar, jelas betapa hebatnya kekuatan serangan Keng-kiau ini. Memandang wajah si kakek yang pucat kehijauan dan rambutnya yang kaku seperti landak, Hoa Hong-hui sangat terperanjat, dengan cepat dia membimbing si kakek dan bertanya.
"Kenapa kau?"
"Dia murid Kin-teng Cinjin!"
Bisik si kakek dengan muntah darah. Oh Keng-kiau mendengus.
"Hm, kalau sudah tahu lihai, cepat enyah dari sini!"
Hoa Hong-hui berpaling dan melotot sekejap dengan rasa gusar bercampur gemas, tak terlukiskan perasaannya seakan-akan merasa berat untuk pergi dari situ.
Tapi akhirnya dia berpaling sambil membentak "Ku Thian-gak, ikut pulang!"
Ketika dilihatnya lencana tembaga itu sudah disimpan kembali, Siau-yau-sia-hong-kek Ku Thian-gak menjengek.
"Kalau aku tak mau?"
"Kau takkan berani!"
Seru Hoa Hong hui sambil mengacungkan lagi lencana tembaga itu. Air muka Siau-yau-sian-hong-kek berubah seketika melihat lencana tersebut, dengan kepela tertunduk dan membungkam ia melangkah ke sana.
"Bawa kemari!"
Mendadak Oh Keng-kiau membentak.
Hoa Hong-hui merasakan embusan angin harum dan bayangan orang berkelebat, tahu-tahu tangannya terasa enteng, lencana tembaga itu sudah berpindah tangan.
Dengan sikap tersipu-sipu ia berseru.
"Kalau nona menyukainya, anggap sebagai tanda mata dariku!!"
"Hmm, siapa sudi dengan besi rongsokan ini,"
Dengus Keng-kiau.
Mendadak lencana itu dilemparkan dan mendesing di udara, setelah membuat gerak lingkaran, secepat kilat meluncur ke depan Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak.
Sekujur badan Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak bergemetar keras begitu lencana itu berada di tangannya, Ia bergelak tertawa dengan girang, tiba-tiba ia berlutut dan menyembah pada Oh Keng-kiau.
"Terimakasih atas bantuan nona merebut kembali lencana ini!"
Katanya dengan khidmat.
Sekali berkelebat, diiringi gelak tertawanya yang nyaring dia lenyap di kejauhan sana.
Sementara itu, Hoa Hong-hui dan si kakek berambut putih juga cepat kabur diri dari situ.
-oOOOo-Bintang bertaburan di angkasa, malam cerah, udara bersih ....
Malam sudah laru, suasana sepi.
Perkampungan Kiam-hong-ceng berdiri dengan angkernya di balik keheningan malam.
Waktu itu di sekeliling perkampungan telah hadir berbagai jagoan baik dari golongan putih maupun hitam, pentolan loklim, gembong iblis, semuanya siap siaga menanti saatnya untuk bergerak.
Mengapa begitu ramai suasana di Kiam-hong-ceng malam ini?
Mengapa pula pelbagai jeroan dari segala lapisan serentak berkumpul di situ?
Sudah barang tentu peristiwa ini tak terlepas sangkut pautnya dengan kitab pusaka Hek-liong-kang-ki-su.
Mendadak dua sosok bayangan hitam meluncuri arah barat bagaikan badan halus melayang ke arah rumah kecil yang bersinar lampu dipojok sana.
Kedua orang Itu adalah jago kelas tinggi, begitu sampai di depan rumah, mereka lantas memencarkan diri dan maju dari kiri dan kanan.
"Siapa?"
Suara bentakan seorang menggema dalam kegelapan menyusul lantas berkumandang suara desing angin tajam.
Bayangan orang berkelebat, dua belas jago lihai kembali meluncur tiba dan mengepung kedua orang itu di tengah, kedua orang ini adalah Lik-ih-hiat-li dan Tong Yong-ling.
"Lamkiong Hian,"
Terdengar seorang menegur "kau kira begundalmu ini mampu mengalangi Lik-ih-hiat-li?"
Menyusui Lik-ih-hiat-li lantas mengayunkan telapak tangannya, segera berkumandang suara jeritan ngeri, jeritan maut menjelang ajal.
Bayangan orang yang paling depan roboh terkapar, disusul orang kedua, ketiga ...
keenam ,..
kedelapan ..
, kedua belas orang tiada satu pun berhasil meloloskan diri.
Dalam waktu singkat dua belas sosok mayat telah bergelimpangan.
Tiba-tiba muncul seorang dari dalam rumah, bentaknya.
"Lik-ih-hiat-li berulang kali kau recoki aku, sebetulnya apa maksudmu!"
Selesai membunuh kedua belas jago itu, Lik-ih-hiat-ii berdiri berjajar dengan Tong Yong-ling.
"Aku datang mencari orang!"
Jawab Lik-ih-hiat-li ketus.
"Di sini tiada orang yang kau cari"
Kata Lamkiong Hian dengan kening berkeiut.
"Andaikata berhasil kutemukan?"
Seru Lik-ih-hiat-li lagi dengan tertawa dingin.
"Aku akan bertanggung jawab!"
"Baik,"
Kata Lik-ih-hiat-li sambil menarik tangan Tong Yongling.
"sebentar aku akan membuat perhitungan denganmu!"
Begitu selesai berkata, kedua orang itu segera berkelebat pergi.
Dengan petunjuk jalan oleh Tong Yong-ling, mereka menerjang ke sebuah bangunan kuno di depan sana, jelas kedatangan Lik-ih-hiat-li malam ini adalah untuk mencari si manusia aneh berwajah buruk yang menyerahkan lukisan kepada Tong Yong-ling tempo hari.
Lamkiobg Hian tertawa dingin memandangi bayangan punggung kedua orang itu, gumamnya.
"Kiam-hong-ceng bukan tempat yang boleh kau kunjungi sesukamu."
Segera ia bersuit nyaring, menyusul suara tambur lantas berbunyi dari empat penjuru, dalam waktu singkat bayangan orang bermunculan dan menerjang ke arah Lik-ih-hiat-li.
Mendadak terdengar seorang tertawa terkekeh-kekeh.
"Lamkiong Hian, mereka datang untuk mencari orang, sedang nona datang untuk mencari buku!"
Bayangan berkelebat, tahu-tahu di depan Lam-kiong Hian berdiri sesosok tubuh yang indah. Waktu Lamkiong Hian memperhatikan orang dengan saksama, katanya dengan tertawa.
"Hehe, kiranya Mo-li-ceng-li, kusangka jagoan dari mana!"
Mo-li-ceng-li terkekeh, katanya.
"Ah, mana, konon Kiam-hong-ceng berhasil memperoleh se
Jilid kitab pusaka, kau tahu nonamu gila silat selama hidup, apakah Toacengcu mau meminjamkan kitab itu kepadaku untuk menambah pengetahuan nona?"
"Maaf, kitab itu sudah dikirim ke Hek-liong kang ..."
Jawab Lamkiong Hian sambil tertawa dingin.
"Omong kosong, nonamu bukan orang yang dapat kau tipu!"
Sesudah berhenti sebentar, bentaknya.
"Lamkiong Hian, bila kau tidak serahkan kitab itu kepadaku, jangan menyesal bila nona akan memusnahkan Kiam-hong-ceng"
Mendadak dari kejauhan terdengar seorang membentak marah.
"Siapa yang berani membikin keonaran di Kiam-hong-ceng?"
Baru saja suaranya menggema, segera bayangan muncul, tertampaklah di sekeliling sudah dipenuhi kawanan jago psrsilatan.
semua orang mengawasi wajah Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian, terdengar seorang tertawa dan berseru.
"Lamkiong-cengcu, apakah kau akan membuat kecewa kawan sebanyak ini."
Diam-diam Kiam-hong-ceagcu Lamkiong Hian terkesiap, ia tak mengira begitu banyak jago lihai sama berkunjung kemari, ketika ia berpaling, dilihatnya pembicara itu adalah seorang kakek berwajah tak menarik.
Lamkiong Hian tertawa terbahak-bahak.
"Ha-haha, sungguh kehormatan besar bagiku, tak nyana begini banyak sahabat sudi berkunjung kemari, Mari, mari, siapakah saudara ini, marilah kita berkenalan!"
Sambil berkata ia maju ke depan kakek itu seraya menjulurkan tangan.
"Terima kasih,"
Dengus kakek itu.
"aku Gin-tan-cu (peluru perak) Kim Hong "
Sambil menggeser ke samping, tangan kanan berbalik mencengkeram pergelangan tangan Lamkiong Hian Agak terkejut Lamkiong Hian, serunya sambil tertawa.
"Aha, kiranya Gin-tan-cu Locianpwe, maaf, maaf!"
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar jeritan ngeri menggema, angin berembus kancang, udara makin gelap, kawanan jago sama berpencaran mencari tempat bersembunyi dengan perasaan waswas.
Menyusul tertampaklah seorang berlari datang dengan cepat sambil berteriak ketakutan.
"ayah, ada setan!"
"Nak, mengapa kau keluar?"
Tegur Lamkiong Hian dengan terkejut.
"Ayah, ada setan, kitab sudah tercuri!"
Seru Huan-In-kiam Lamkiong Giok dengan wajah pucat karena ketakutan.
Terkesiap semua jago yang berada di sekeliling tempat itu.
serentak mereka muncul kembali dan ikut mendengarkan.
Di bawah kelip cahaya bintang yang lemah, tiba-tiba muncul tiga belas orang berbaju putih, semuanya bermata siwer, biji mata berwarna hijau menyeramkan.
"Sobat dari mana yang menyaru sebagai setan untuk menakut-nakuti orang ... ?"
Bentak Lamkiong Hian.
Baru selesai berksta, ketiga belas orang berbaju putih itu mengeluarkan suara melengkiag aneh seperti jeritan setan.
Bersamaan dengan berhentinya jeritan mereka, tiga oraag berbaju putih segera melompat ka depan.
Dengan takut Lamkiong Giok berseru lagi.
"Ayah, mereka inilah yang merampas kitab itu!"
"Siapa kalian? Kenapa tidak berani menjawab?"
Bentak Lamkiong Hian pula. Ketiga orang berbaju putih itu menjerit melengking pula, terdengar salah seorang di antaranya berseru dengan suara yang dingin seperti es.
"Lamkiong Hian, serahkan kitab yang asli!"
"Bukankah kitab itu sudah berada di tanganmu!"
Jawab Lamkiong Hian sambil menuding ke depan. Pada tangan seorang berbaju putih itu memang terpegang se
Jilid kitab, ketika kawanan jago di empat penjuru melihat kitab itu berada di tangan orang, serentak mereka maju mendekati mauusia berbaju putih itu.
Terhadap tindakan kawanan jago itu, ketiga orang berbaju putih itu acuh-tak-acuh, seakan-akan tidak melihatnya.
"Kitab ini palsu!"
Terdengar orang tadi berkata lagi sambil tertawa seram.
Tangannya yang kurus diayunkan ke depan, kitab itu terus dilemparken ke samping dengan membawa desing angin tajam.
Walaupun jago-jago yang berada di sekeliling menyangsikan juga keaslian kitab itu, namun dipengaruhi rasa ingin tahu, serentak mereka menubruk maju untuk memperebutkannya.
Tiba-tiba ketiga orang berbaju putih itu menjerit setan, lalu menghardik keras-keras.
"Bunuh semua!"
Kesepuluh orang berbaju putih serentak menjerit seram, bagaikan hantu mereka melayang maju, bayangan putih berkelebatan, jeritan ngeri segera bergema, dalam waktu singkat kawanan jago yang menerjang ke depan itu sama termakan serangan maut dan tewas keracunan.
Seorang...
tiga orang...
enam orang..
semuanya roboh terkapar.
"Bajingan laknat, biar aku beradu jiwa denganmu!"
Tiba-tiba Gin-tan-cu Kim Hong meraung murka.
Walaupun ia terkena serangan maut setan berbaju putih itu karena kurang waspada, namun sebelum racun bekerja sedapatnya ia melancarkan serangan balasan dengan peluru perak sakti andalannya.
Segera peluru perak beterbangan di angkasa, semuanya menyambar ketiga orang pemimpinnya, sepuluh orang lainnya serentak bergerak maju dan mencengkeram Kim Hong.
Gin-tan-cu Kim Hong menjerit ngeri, badannya terobek menjadi empat-lima bagian, darah yang berhamburan menodai pakaian orang-orang berbaju putih itu, Bergidik Lamkiong Kian dan anaknya menyaksikan adegan tersebut, ia tak manyangka ketiga belas hantu itu sedemikian sukarnya dihadapi, serangan mereka sungguh amat buas.
Terdengar si baju putih paling depan tertawa seram, sambil menuding mayat yang bergelimpangan di tanah, serunya dengan suara aneh.
"Siapa yang tahu gelagat dia orang pintar! Nah, Lamkiong Hian, inilah contoh yang nyata!"
"Kau anggap aku manusia pengecut yang takut mati? Hahaha ..."
Saking gusar Lamkiong Hian tertawa malah.
"Hmm, meski kau tidak takut mati, putramu jelas takut mati!"
Terdengar rintihan memilukan hati, sekujur badan Lamkiong Giok bergemetar, wajahnya tampak kesakitan. Dengan terkejut cepat Lamkiong Hian memayang tubuh putranya.
"Jangan sentuh aku!"
Teriak Lamkiong Giok sambil mengegos.
"Anak Giok, kenapa kau?"
Tanya Lamkiong Hian terkejut. Agaknya penderitaan Lamkiong Giok waktu itu sangat hebat, dengan suara gemetar katanya.
"Tubuhku keracunan!"
"Betul, ia sudah terkena cakar beracun Kui-ing-cap-sa-sik (tiga belas jurus bayangan setan) perguruan kami,"
Ucap seorang berbaju putih.
"dalam waktu singkat badannya akan membusuk menjadi darah dan mati, bila tidak segera ditawarkan dengan obat perguruan kami, tak seorang pun yang dapat menolongnya di dunia iai!"
"Kenapa kalian turun tangan sekeji ini kepadanya!"
Seru Lamkiong Hian dengan kuatir. Memandang keadaan putra kesayangannya, tanpa terasa matanya berkaca-kaca, hampir saja air matanya bercucuran.
"Hehe, jika ingin menyelamatkan jiwanya serahkan kitab pusaka kepada kami,"
Kata si baju putih itu sambil tertawa dingin. Tiba-tiba Lamkiong Giok bergulingan di atas tanah sambil mengerang kesakitan.
"Ayah, tolong.... tolonglah aku ... beri sekali pukulan padaku...."
Hancur luluh perasaan Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian waktu itu, seketika dia tak tahu bagaimana mesti berbuat, daripada membiarkan putra kesayangannya mati menderita, lebih baik....
Sambil tertawa pedih segera katanya.
"Kalian adalah Kui-ing....."
Sekalipun Lamkiong Hian seorang yang licik dan banyak akal muslihatnya, dalam keadaan begini, iapun dibikin tak berdaya, hatinya bingung tak keruan.
Kui-ing-cap-sah-sik merupakan ilmu cakar maut tersohor dalam dunia persilatan, siapa pun tahu ilmu itu merupakan kepandaian khas perguruan Kui-ing-bun, tapi siapa dalam duuia persilatan dewasa ini yang benar-benar pernah bertemu dengan anggota Kui-ing-bun (perguruan bayangan setan) ?
Ilmu silat kawanan berbaju putih ini sangat lihai, tubuhnya mengandung racun keji, mungkinkah mereka anggota Kui-ing-bun yang tersohor itu?
Tapi perguruan Kui-ing-bun belum pernah muncul dalam dunia persilatan, mengapa mereka bisa muncul secara tiba-tiba malam ini?
Ia tidak tahu orang berbaju putih ini pernah muncul sekali ketika terjadi perebutan ruyung emas Jian-kim-in-hun-pian dulu, cuma tempo hari mereka hanya muncul sebentar saja kemudian menghilang kembali.
Pecah nyali Lamkiong Hian, dengan gemetar tegurnya kemudian.
"Apakah kalian Cap-sa-Ie-kui (tiga belas setan jahat) dari Kui-ing-bun?"
"Hmmm. tak perlu banyak bicara."
Dengus setan baju putih itu.
"sebenarnya kau menghendaki nyawa anakmu atau tidak!"
Ia menuding Lamkiong Giok yang tergeletak di tanah dengan pandangan dingin, sehingga Lamkiong Hian dibuat tak sempat mempertimbangkannya.
Waktu itu wajah Lamkiong Giok sudah berubah menjadi hijau, sinar matanya pun berubah menjadi hijau buram, peluh bercucuran, sementara mulutnya menjerit-jerit seperti babi mau disembelih.
"Ayah aku ... aku ... tidak ...."
Merah membara mata Lamkiong Hian, tiba-tiba bentaknya.
"Cepat tolong dia.........cepat ...."
Usianya sudah lanjut dan hampir masuk liang kubur, kini dilihatnya putra kesayangannya amat menderita, ia benar-benar tak kuasa menahan dui lagi, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia menyerah kepada kawanan jago dari Kui-ing-bun.
"Hahehe. aku tahu kau takkan berani menolak,"
Jengek si baju putih tadi.
Meski tertawa, suaranya tak lebih sedap daripada suara menangis sehingga Lamkiong Hian bergidik Akan tetapi karena ejekan orang berbaju putih itu, ia tak dapat menahan amarahnya lagi, sambil mendongakkan kepala ia tertawa seram, teriaknya-"Hendaknya kau sedikit sopan padaku!"
"Sekalipun tidak sopan, toh kau akan memohon kepadaku!"
Sahut si baju putih ketus.
Sekalipun kemarahan Lamkiong Hian telah mencapai puncaknya, tapi bila terbayang akan nasib putra kesayangan, bagaikan balon yang kempis, seketika ia bungkam.
Sesudah tertawa getir, katanya kemudian.
"Kau memang lihai, malam ini aku betul-betul kecundang."
Si baju putih mendengus, segera ia mengeluarkan sebungkus obat bubuk, bungkusan disentilnya ke tangan Lamkiong Hian.
Lamkiong Hian tahu isi bungkusan itu adalah obat penawar cakar beracun Kui-ing-cap-sah-sik, tanpa ayal lagi buru-buru disambutnya dan diserahkan kepada Lamkiong Giok untuk diminum.
Setelah minum obat penawar itu, air muka Lamkiong Giok yang kehijau-hijauan berangsur membaik, tapi pendsritaannya sama sekali tidak berkurang, dia masih saja menjerit tiada hentinya.
Dengan murka Lamkiong Hian membentak.
"Kenapa obat penawar kalian tidak manjur?"
"Hm, kau tak perlu berteriak-teriak, sekalipun dia masih kesakitan, jiwa tidak terancam, ketahuilah racun Kui-ing-bun tiada taranya di dunia ini, selain menelan obat penawar dari perguruan kami, masih diperlukan juga....."
"Masih diperlukan apa lagi?"
Tukas Lamkiong Hian dengan gelisah.
"Masih diperlukan pengurutan jalan darah khusus, sebelum dapat sembuh seperti sediakala"
Gusar sekali Lamkiong Hian mendengar keterangan itu, ia tak mengira orang-orang Kui-ing-bun sedemikian liciknya, padahal dia menganggap kelicikan sendiri tak ada tandingan, siapa tahu setiap langkahnya malam ini sudah berada dalam perhitungan orang-orang Kui-ing-bun.
Setelah menghela napas, katanya kemudian.
"Kalau memang begitu, cepat kalian urut jalan darahnya agar dia tidak menderita lagi."
"Hehe, tak semudah itu,"
Jengek si baju putih "Lantas apa yang kau inginkan?"
"Serahkan kitab itu kepada kami!"
Seru si baju putih sambil tertawa dingin.
Rupanya Lamkiong Hian juga tahu malam ini dia tak akan menarik keuntungan, bahwa malam ini Kui-ing-bun berani menyerbu datang, sudah barang tentu mereka sudah berencana.
Sekalipun dia adalah tuan rumah, tapi berhubung jago yang datang malam ini terlalu banyak, sedangkan jago yang dikirim untuk mencegat Lik-ih-hiat-li belum juga kembali, sadarlah Lamkiong Hian keadaan cukup gawat.
Saking gusarnya dia tertawa tergelak.
"Baik! Malam ini Kiam-hong-ceng jadi tambah pengalaman ..."
"Hm, hanya Kiam-hong ceng sekecil ini mampu berbuat apa... !"
Dengus si baju putih tadi.
Lamkiong Hian sadar bila Hek-liong ki-su tidak diserahkan, jelas keadaan tak akan beres, meski dia merasa berat hati, apa daya kalau nasib puteranya berada di tangan orang.
Maka dengan berat hati dia berkata.
"Mari, ikut padaku!"
Ia mengepit tubuh Lamkiong Giok dan dibawa melayang cepat ke depan sana!
Ketiga balas orang berbaju putih dari Kui-ing-bun itu bersuara aneh, seperti tiga belas titik putih mereka mengikut kencang di belakang Lamkiong Hian.
Bintang dan rembulan telah tenggelam, udara berwarna kelabu ....
Untuk menguji kelihaian jago-jago Kui-ing-bun, sengaja Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian mengitari perkampungan Kiam-hong-ceng itu sampai lima-enam kali, sebisanya dia mengerahkan tenaga dalamnya.
Ketika dilihatnya suasana di sekeliling tempat itu amat sepi, ia kira kawanan manusia berbaju putih itu sudah ditinggalkan jauh, tanpa terasa ia mendengus, sementara otak berputar mencari daya upaya untuk merobohkan lawan.
Ia memang ssorang yang berakal licik, tiba-tiba serunya.
"Sudah sampai!"
"Telah kau kitari tempat ini berapa kali!"
Tiba-tiba si baju putih yang berada di belakangnya menjengek.
Mendengar itu, Lamkiong Hian terperanjat, semula dia bermaksud menggunakan ucapannya sebagai pancingan untuk mengetahui apakah kawanan jago lihai itu menyusul datang atau tidak, siapa tahu baru selesai dia berkata, orang telah menyambungnya, dari sini bisa diketahui tenaga dalam kawanan jago Kui-ing-bun masih setaraf dengan kemampuannya.
Dalam kejutnya dia berpaling, tampak langkah ketiga belas orang berbaju putih itu sangat enteng dan santai, seolah-olah tidak memakai tenaga, tanpa terasa ia menjadi ngeri.
Si baju putih mendengus.
"Kami orang Kui-ing-bun, sudah barang tentu mahir Kui-ing-biau-cong (bayangan setan melayang), meski kau terhitung jago kelas satu di dunia pe-silatan, namun dalam hal ilmu meringankan tubuh jangan harap bisa menandingi orang Kui-ing-bun"
Senyuman sinis menghiasi wajah si baju putih, ia tertawa dingin, katanya.
"Bila kau penasaran, boleh coba sekali lagi"
"Hehe, bagus sekali! Suatu hari, pasti akan kupergi menyambangi kalian,"
Jawab Lamkiong Hian.
"Bagus, pintu setan selalu terbuka bagimu!"
Mendadak dari balik keheningan bergema suara jeritan setan.
"Kau betul-betul tak tahu diri, mana sudi perguruan Kui-ing-bun menyambut kedatangan manusia rendah macam kau!"
"Manusia latah dari mana itu? Ayo menggelinding keluar!"
Bentak Lamkiong Hian dengan gusar. Dia coba memeriksa keadaan di sekitar sana, tapi kecuali kegelapan malam tak nampak sesosok bayangan pun.
"Kau tak perlu mencarinya lagi,"
Ujar orang berbaju putih itu.
"dia adalah Toasuheng kami, sekarang mungkin sudah berada beberapa li dari sini!"
"Aah, masa?"
Meski terperanjat, Lamkiong Hian belum mau percaya dengan begitu saja. Kembali si baju putih tertawa terkekeh.
"Itulah gerak cepat Kui-ing tun-sin-hoat (ilmu bayangan setan menghilang), belum ada orang yang bisa memecahkannya di dunia ini ...."
Tiba-tiba terdengar Lamkiong Giok menjerit ngeri, sekujur badannya mengejang, wajahnya sangat menderita, matanya sayu dan berharap orang Kui-ing-bun mau menolong penderitaannya.
Orang berbaju putih itu memandang sekejap ke arahnya, lalu berkata.
"Lamkiong cengcu, bila terlambat, bahkan kami pun tak sanggup menolong jiwa putramu iagi!"
Kiam-hong-cengsu Lamkiong Hian terkesiap, menyaksikan penderitaan Lamkioog Giok, ia tahu ucapan lawan bukan gertak sambal belaka. Dengan cepat satu ingatan terlintas dalam benaknya, pikirnya.
"Bila kuserahkan Hek-liong-kang-ki-su padanya malam ini, maka selama hidup jangan harap bisa merampasnya kembali. Bila tidak, putraku pasti sukar hidup, betul-betul persoalan yang pelik ....
"Diam-diam dia mengertak gigi, kemudian serunya dengan gemas.
"Baiklah, anggap saja Kui-ing-bun memang hebat!"
Sambil mengempit tubuh Lamkiong Giok dia lantas menuju ke depan, tak lama kemudian ia berhenti di bawah gunung-gunungan di tengah perkampungan.
Suara air yang gemercik, bau harum semerbak, ada gardu segi delapan, sungai kecil yang bersih, sungguh pemandangan yang indah permai bagaikan di taman raja.
Mendadak dari balik kegelapan terdengar seorang membentak nyaring.
"Siapa yang berani memasuki taman pribadi Cengcu yang terlarang!"
"Cepat suruh mereka enyah!"
Bisik pemimpin orang-orang berbaju putih itu kepada Lamkiong Hian.
"Kenapa?"
Tanya Lamkiong Hian sambil berpaling.
"Mereka adalah pengawal pribadiku ...."
Rupanya orang berbaju putih itupun tahu Lamkiong Hian sukar dihadapi, maka katanya dingin.
"Kui-ing-bun mempunyai peraturan yang tidak kenal ampun, barang siapa berjumpa dengan orang-orang kami, dia harus dibunuh tanpa pandang siapa pun, apakah kau rela membiarkan mereka mati semua di tangan kami?"
Sementara itu dari kegelapan sana sudah terdengar suara manusia, jelas lantaran tiada jawaban, maka mereka hendak bertindak, suara langkah orang banyak berkumandang makin dekat.
Setelah mendengar ucapsin tadi, dengan kening berkerut Lamkiong Hian segera berkata.
"Kalau begitu, akupun tak terbebas dari kematian?!"
Orang berbaju putih itu tertawa dingin.
"Hehe, asal kau mau menyerahkan kitab itu, sudah barang tentu kalian berdua dapat pergi tanpa kurang apapun"
Ketika menyaksikan bayangan orang mulai bergerak di empat penjuru, Lamkiong Hian tahu anak buahnya telah selesai mengatur, ia berkerut kening, ia tidak menghendaki jatuh korban yang tak berguna, buru-buru bentaknya.
"Semuanya menyingkir, di sini adalah Cengcu!"
Di balik kegelapan lalu terdengar orang berseru.
"Cengcu telah tiba, perintahkan semua orang kembali ke posnya masing-masing!"
Suitan nyaring segera berkumandang di sana-sini, kawanan jago yang telah siap siaga itu dalam waktu singkat sama mengundurkan diri dari situ.
"Banyak benar permainan dalam Kiam-hong-ceng kalian ini?"
Kata si orang berbaju putih itu sambil tertawa dingin.
"Ah, sayang permainan semacam, itu sama sekali tak ada gunanya bila menghadapi anak murid Kui-ing-bun kami ...."
Ujar yang lain Lamkiong Hian naik pitam bentaknya dengan geram.
"Kui-ing-bun juga bukan pentolan dunia persilatan, tidak perlu bangga."
"Huh,"
Dengus orang berbaju putih itu dengan gusar.
"sejeleknya Kui-ing-bun, bila dibandingkan Kiam-hong-ceng jelas jauh lebih unggul."
Tiba-tiba terdengar seseorang membentak dengan gusar.
"Siapa yang berani memandang hina Kiam-hong-ceng?!"
"Hm, mungkin kau belum kenal kelihaian Kui-ing-cau-sah-sip!"
Bentuk si orang berbaju putih. Cakar setannya segera bergerak ke etas, lima jalur cahaya tajam berwarna hijau segera meluncur ke arah berasalnya suara itu. Dengan terkejut Lamkiong Hian berseru.
"Cepat mundur!"
Belum lenyap suaranya, terdengarlah jeritan ngeri yang memilukan hati. Sesosok bayangan tinggi besar segera roboh terkapar. Dengan gusar Lamkiong Hian berpaling dan berkata.
"Jangan temberang, coba kalau tidak demi keselamatan anakku, tak akan kubiarkan kau bertindak latah, hmm, suatu ketka pusti akan kubayar semua pemberianmu ini!"
"Asal saja kau tahu saja, nah, cepat jalan ....!"
Jengek orang berbaju putih itu.
Pada hari-hari biasa Kiam-hong-cengcu Lamkiong Hian adalah seorang tokoh persilatan yang gagah perkasa, tentu saja dia tak akan membiarkan orang menerbitkan keonaran di situ, apa daya Lamkiong Giok terancam jiwanya, mau-tak-mau dia harus menahan rasa dongkolnya.
Sudah tentu sebabnya Kui-ing-bun bisa memeras Lamkiong Hian adalah karena keselamatan Lamkiong Giok sudah terjatuh ke tangan mereka.
Lamkiong Hian meletakkan Lamkiong Giok ke atas tanah, siapa tahu begitu menempel tanah, mendadak Lamkiong Giok mengerang kesakitan, peluh dingin segera membasahi tubuhnya.
"Ayah, jangan ...."
Rintih anak muda itu.
"Anak Giok,"
Ujar lamkiong Hian sambil tertawa getir.
"demi kau, Ayah rela mengorbankan segalanya!"
Bicara sempai di sini, pelarian dia menghampiri bunga teratai yang sedang mekar dalam kolam kecil di tengah taman itu, dalam kolam teratai itu terdapat delapan puluh satu kuntum bunga teratai kecil, ke 81 kuntum bunga itu tumbuh di sana-sini tak teratur, tidak terlihat ada sesuatu yang aneh.
Tapi orang berbaju putih itu segera meajerit kaget setelah dang kolam itu sekejap, serunya.
"Ah, tak kusangka dalam Kiam-hong-ceng juga terdapat alat perangkap semacam ini!"
"Hm, kuyakin kau saja takkan mengetahui rahasianya!"
Jengek Lamkiong Hian.
"Hmm, kalau cuma Tian-to -kiu-kiong-tan-hoat saja setiap anggota Kui-ing-bun dapat mempergunakannya!"
Perasaan Lamkiong Hian menjadi dingin separoh mendengar perkataan itu, semula ia sangka meski orang-orang Kui-ing-bun memiliki kepandaian hebat, tak mungkin perhitungan Kiu-kiong-pat-kwa bisa lebih hebat daripadanya.
Siapa tahu bukan saja orang bisa menyebutkan barisan teratai yang diaturnya adalah Tian to-kiu kiong, malah kelihatannya mereka juga paham sekali dalam hal tersebut.
Mendadak ia mengapung dan berjumpalitan di udara, kemudian dengan matu gerakan indah meluncur ke tengah kolam, beruntun dia lancarkan sembilan kali pukulan berantai.
Begitu kesembilan pukulan selesai dilontarkan mendadak tubuhnya melejit lagi di udara dan melayang balik ke tempat semula.
Terdengar suara gemuruh yang keras, kolam kecil yang semula tenang mendadak terjadi gelombang, menyusul bunga teratai lantas bergeser tempat.
Dalam waktu singkat bunga teratai kecil tadi lenyap tak berbekas dan tinggal delapan puluh satu kuntum teratai raksasa yang berada di tengah kolam, sementara suara gemuruh masih menggelegar, ke 81 kuntum bunga teratai raksasa tadi pelahan, menaik ke atas.
Dongan terangkatnya bunga teratai itu, air pun menyibak ke samping, lalu muncul sebuah jembatan batu dari bawah yang persis menghubungkan luasnya kolam, sedeng ke 81 kuntum bunga teratai raksasa itu persis tumbuh di atas pagar jembatan, terembus angin, bunga teradai bergoyang goyang.
Betul betul karya arsitektur yang unik, siapapun tak akan mengira di balik permukaan kolam itu tersimpan sebuah jembatan kecil.
Setelah jembatan terbentang, gunung-gunungan di seberang kolam sana mendadak merekah menjadi dua, lamat-lamat tampak sebuah pintu kecil berbentuk bulat terpentang, di atas pintu bertuliskan "Thong-thian-lan" (jembatan tembus langit).
Ketika dilihatnya ketiga belas setan buas dari Kui-ing-bun menunjukkan rasa kagetnya, senyuman bangga segera tersungging di ujung bibir Lamkiong Hian.
"Silakan!"
Katanya kemudian dengan tersenyum "Banyak juga permainanmu!"
Seru si baju putih tadi dengan suara aneh. Setelah berhenti sejenak, lalu bentaknya.
"Lamkiong Hian, bila kau berani main gila di dalam sana berarti kau cari mampus sendiri!"
Lamkiong Hian tak mau kalah, serunya sambil tertawa dingin.
"Jika aku mau main giia, mana mungkin kalian bisa sampai di sini? Bila kalian tidak percaya kepadaku, lebih baik kalian jangan ikut menyeberang ke sana!"
Begitu selesai berkata, dia lantas menyeberangi jembatan itu lebih dulu dengan cara santai.
Tampaknya dia santai, padahal otaknya diperas habis-habisan untuk mencari akal yang baik untuk menyelamatkan jiwa puteranya, kemudian berusaha membasmi habis orang-orang Kui-ing-bun ini.
"Tunggu sebentar!"
Tiba-tiba orang berbaju putih itu membentak.
"Ada apa?"
Tanya Lamkiong Hian.
"Bawa serta puteramu!"
Waktu itu Lamkiong Giok lagi kesakitan di tanah hingga tubuh gemetar dan giginya gemeretuk.
Melihat penderitaan putra kesayangannya itu, diam-diam Lamkiong Hian menghela napas.
dia putar balik untuk memondong Lamkiong Giok dan membawanya menyeberangi jembatan.
"Anak Giok,"
Katanya dengan penuh kasih sayang.
"bersabarlah sejenak legi, ayah pasti akan suruh mereka mengobati lukamu."
Sekalipun sedang menderita, ternyata niat busuk Lamkiong Giok sama sekali tidak berkurang, dia melirik sekejap ke arah kawanan iblis berbaju putih itu, lalu bisiknya.
"Ayah, meski ananda menderita sekali dan rasanya tak tahan, namun kitab pusaka itu jangan sekali-kali diserahkan kepada mereka!"
Melihat kawanan berbaju putih di belakangnya tidak mendengar pembicaraan Lamkiong Giok, buru-buru Lamkiong Hian berdehem lalu berbisik.
"Anakku, jangan kuatir, tak nanti ayah salah hitung, cuma kau keracunan, terpaksa ayah mengulur waktu dan menipu mereka lebih dulu."
Lega hati Lamkiong Giok mendengar ucapan itu, kembali dia berkata.
"Apakah kitab pusaka dalam Thong-thian-tong sudah ayah tukar ...."
"Bukunya masih asli, cuma aku akan menggunakan kitab itu sebagai umpan, sampai waktunya kita akan menukarnya."
Sesudah menyeberangi jembatan kecil, sampailah mereka di muka pintu Thong-thian-tong, sebuah gua, Lamkiong Hian menggeraken gelang pintu tersebut.
"Kitab berada di sini, silakan kalian mengambilnya sendiri!"
Kata Lamkiong Hian kemudian dengan lesu.
"Kau tidak masuk!"
Tanya orang berbaju putih itu ragu.
"Hmmnn, rupanya orang-orang Kui-ing-bun sama bernyali kecil seperti tikus!"
Ejek Lamkiong Hiau.
"Haha, baik, jika sampai terjadi sesuatu, kau Lamkiong Hian juga jangan harap bisa hidup!"
Bayangan oreng berkelebat, dua orang berbaju putih menerobos ke dalam, sementara sebelas orang rskannya mengurung Lamkiong Hian di tengah sambil berjaga jaga terhadap segala kemungkinan.
Lamkiong Hian tertawa dingin, tiba-tiba ia melepaskan pukulan sambil membentak.
"Tunggu sebentar!"
Merasakan angin pukulan dahsyat menyambar tiba, dua orang berbaju putih yang hendak memasuki Tong-thian-tong itu segera melompat mundur kembali, mata mereka yang hijau melotot seperti mata iblis di tengah kegelapan.
"Masih ada apa lagi?"
Tanya pemimpin orang-orang berbaju putih itu dengan suara dingin.
Sudah barang tentu Lamkiong Hian mempunyai permintaan yang hendak diajukan, sebab dia tak akan membiarkan kitab pusaka Hek-liong-kang-ki-su itu terjatuh ke tangan orang dengan begitu saja.
"Obati dia dahulu!"
Kata Lamkiong Hian sambil menuding ke arah putranya.
"Kalau aku tak mau?"
"Hehe, jangan harap kalian bisa mendapatkan benda itu!"
Melihat perkataan orang sangat tegas, orang-orang Kui-ing-bun tahu bila orang ini bisa memimpin dunia persilatan berarti memiliki pula kepandaian yang luar biasa, apalagi jelek-jelek dia adalah tuan rumah di sini.
"Hmm, masa kukuatir kau akan main gila!"
Jengek orang berbaju putih itu.
Dengan suatu gerak cepat cakar setannya menutuk empat jalan darah kematian di tubuh Lamkiong Giok.
Melihat itu, Lamkiong Hian terperanjat, untuk menahan serangan itu jelas tak sempat, cepat hardiknya.
"Akan kuadu jiwa dengan kalian!"
Tangan kanan langsung diayunkan ke depan menghantam dada orang berbaju putih itu.
"Hehe, kenapa mesti tegang?"
Ejek orang berbaju putih itu sambil tertawa dingin.
"bila aku tidak berbuat demikian, cara bagaimana aku bisa menyelamatkan jiwanya!"
Setelah keempat jalan darahnya ditutuk orang berbaju putih itu, segera Lamkiong Giok merasakan penderitaannya berkurang, apalagi sesudah memuntahkan darah hitam, air mukanya lantas agak cerah, Lamkiong Hian mengembuskan napas lega, katanya.
"Bila dia sampai menemui sesuatu yang tak beres, kalian jangan harap bisa keluar dengan selamat!"
"Jika di dalam Thong-thian-tong ada jebakan iapun tak akan lolos dari kematian!"
Kata orang berbaju putih itu sambil memberi tanda.
Kedua kawannya tadi segera berpekik dan berkelebat maju ke sana, dalam waktu singkat bayangan mereka pun lenyap ke dalam gua.
Mandadak terdengar pekikan setan yang menyeramkan menggema dari dalam gua.
Orang berbaju putih itu melehgak, jeritan itu bukan tanda menghadapi bahaya, melainkan ada kesulitan pada kitab pusaka Hek-liong-kang-ki-su ....
"Lamkiong Hian. mengapa mereka belum juga keluar?"
Bentak pula orang berbaju putih itu. Sambil mengejap mata Lamkiong Hian menjawab dengan dingin.
"Mungkin kitab Hek-liong-kang-ki-su itu terlampau berat sehingga mereka tak sanggup menggotongnya!"
"Omong kosong, mana mungkin ada hal seperti itu."
"Kalau tak percaya, silakan mencobanya sendiri!"
Jawab Lamkiong Hian tetap tenang. Orang berbaju putih mendengus, ia memberi perintah.
"Hm, masuk lagi dua orang!"
Dua orang berbaju putih mengiakan, serentak mereka menerjang masuk ke dalam Thong-thian-tong atau gua tembus ke langit.
Mendadak terdengar pekikan tajam lalu tampak cahaya api mengurung di atas kepala kawanan jago Kui-ing-bun.
Orang berbaju putih terkejut, cepat bentaknya.
"Cepat mundur"
Bayangan manusia menyebar ke empat penjuru, ketika cahaya api itu rontok ke tanah, bunga api muncrat bertebaran, dalam waktu singkat sekeliling tempat itu sudah berubah menjadi lautan api.
Pada saat itulah Lamkiong Hian bergelak dan berseru.
"Sobat-sobat bayangaa setan, maaf tak bisa kutemani lagi!"
Tampak dia bersama Lamkiong Giok menjatuhkan diri ke tengah kolam, air muncrat dan lenyaplah kedua orang itu, jembatan tadi pun turut tenggelam ke bawah.
"Lamkiong Hian,"
Teriak orang berbaju putih.
"sekalipun kau kabur ke ujung langit, tetap Kui-ing-bun akan menangkapmu!"
Dari kegelapan terdengar seorang mendengus.
"Hm, jangan takabur, sekalipun Kiam-hong-ceng bukan perguruan besar, tidak nanti kami bisa dipermainkan!"
Dalam pada itu keadaan di sekeliling tempat itu telah berubah, terdengar suara gemuruh keras gunung-gunungan dan kolam kecil itupun lenyap tak berbekas, lalu muncul puluhan orang lelaki berbusur di sekitar situ, anak panah siap dibidikkan.
"Cepat pergi!"
Bentak orang berbaju putih.
"Kalian takkan bisa pergi!' ujar seorang sambil tertawa dingin. Suara panah mendesing, berpuluh batang anak panah berhamburan ke mana-mana, sambil menjerit kawanan jago Kui-ing-bun segera kabur ke depan di tengah hujan panah. Sementara itu, Lamkiong Hian dan Lamkiong Giok bersembunyi di balik kegelapan, menyaksikan keadaan orang-orang Kui-ing-bun yang mengenaskan mereka saling pandang dengan tertawa terbahak-bahak. Belum lenyap suara tertawa, mendadak mereka merasakan ada sesuatu ysng mencurigakan di belakang mereka.
"Siapa?"
Bentak Lamkiong Hian sambil membalik badan "Aku!"
Seorang kakek jelek menampakkan diri.
"Bok...kau.."
Kaget Lamkiong Hian.
Kakek jelek itu tertawa terbahak-bahak, sahutnya' "Sudah sekian tahun Bok Jiu kiat berdiam di sini, syukur Locengcu masih ingat padaku, hahaha...
Lamkiong Hian, begitu, cepatkah kau melupakan peristiwa tragis gada 20 tahun yang lalu?
Ha-haha"
Begitu melihat kakek itu, Lamkiong Hian lantas gugup, sudah lima-enam tahun lamanya Bok Jin-kiat hidup dalam perkampungan Kiam-hong-ceng, meski ilmu silatnya telah punah, tapi entah mengapa, setiap kali bertemu dengan kakek ini segera timbul semacam perasaan takut.
Lamkiong Giok lantas membentak.
"Budak tua, kau tidak bekerja, mau apa kemari?"
Rupanya selama berada dalam Kiam-hong-ceng, pekerjaan Bok Jin-kiat selain membersihkan halaman, juga memberi makan kuda dan memandikannya, Lamkiong Giok cuma tahu dia adalah seorang budak, tak tersangka ....
Mendadak terpancar sinar aneh dari mata Bok Jin-kiat, dengan suara gemetar katanya "Anak Giok...?"
"Bok-lo, jangan sembarang bicara dengan anak ini!"
Tukas Lamkiong Hian sambil melangkah ke depan.
Jelas di antara kedua orang ini terselip sesuatu rahasia besar, maka ia kuatir Lamkiong Giok mengetahui akan rahasia tersebut.
Dengan gusar Lamkiong Hian melotot si kakek sekejap, lalu katanya kepada Lamkiong Giok sambil tertawa.
"Anak Giok, pergilah dulu, ayah hendak berbincang-bincang dengan orang ini."
Melihat perubahan wajah ayahnya tadi, Lamkiong Giok sudah merasa curiga, meski enggan pergi, terpaksa ia menurut mundur dari situ.
Memandangi kepergian anak muda itu, Bok Jin-kiat menghela napas panjang, katanya.
"Dia sudah dewasa, kini berusia 21 tahun bukan?"
Lamkiong Hian mendengus "Hm, soal ini tiada sangkut pautnya denganmu, lebih baik jangan kau-nodai hati bersih seorang bocah."
Kulit muka Bok Jin-kiat mengejang, setelah tertegun sejenak, katanya kemudian.
"Lamkiong Hian, kau makhluk berwajah manusia dan berhati binatang, bukan saja kau menghancurkan keluargaku, merusak wajahku dengan bacokan pedang, kau mencecoki pula anak Sia dengan obat perangsang sehingga dia melakukan perbuatan yang memalukan itu, ai ...."
Ternyata Bok Jin-kiat adalah ayah Bok Ji-sia, bukan saja dia dibacok mukanya sampai rusak, ternyata Lamkiong Hiau belum puas, ia memberi obat perangsang pada Bok Ji-sia yang menyebabkan anak itu melakukan hubungan badan dengan ibunya sendiri....
Sambil tertawa seram Lamkiong Hian berkata.
"Bok Jin-kiat, kau hanya membicarakan kejelekanku, pernahkah kau pikirkan kebuasanmu sendiri? Apa sebabnya sampai istriku mati? Meski semula kalian adalah pasangan yang baik, tapi kau seorang ingin menunggang dua ekor kuda, bukan saja mencintai Tang goh-hun, juga menodai Yau Ciu-li... Bok Jin-kiat, perbuatanku apakah bisa menandingi kebusukanmu"
Dengan tenang Bok Jin-kiat mendengarkan perkataan itu, kemudian ia mendongak kepala dan tertawa terbahak-bahak.
"Haha, coba bilang siapakah di antara Tang Soh-hun dan Yau Ciu-li milikmu? Seandainya kau tidak merampas Tang Soh-hun, mana mungkin dia bunuh diri? Berapa bulan setelah melahirkan anak Giok, mengapa ia memutus urat nadi sendiri dan bunuh diri? Kau kira dia telah memberi keturunan buat keluarga Lamkiong kalian? Hahaha, Lamkiong Hian, kau keliru besar, dia berbuat demikian karena ingin melindungi keturunanku..."
Terkejut Lamkiong Hian mendengar perkataan itu, serunya.
"Jadi anak Giok bukan keturunanku?"
"Hmm, manusia berhati busuk seperti kau, mana mungkin bisa memperoleh keturunan ....."
Sakujur badan Lamkiong Hian terasa kaku, dia menjadi sedih sekali, apalagi terbayang kejadian masa lalu, tanpa terasa matanya berkaca-kaca.
Wajah Bok Jin-kiat yang jelek tampak diliputi luapan emosi, katanya lebih lanjut.
"Pada mulanya kuhormati kau sebagai seorang lelaki, maka kuperkenalkan kedua Sumoayku kepadamu, siapa tahu kau manusia berhati binatang, melihat kami bertiga akan manikah, kau mempergunakan cara yang keji untuk menodai Yau Ciu-li, padahal aku dan kedua orang Sumoayku saling mencintai, belum pernah mereka saling cemburu, tapi sejak kedatanganmu, bukan saja kau telah merusak hubungan kami, bahkan mempergunakan pula cara yang paling keji..."
Rupanya Bok Jin-kiat punya dua orang Sumoay yang jelita, kedua gadis itu dikenal umum sebagai gadis rupawan, sedang Bok Jin-kiat dan Lamkiong Hian adalah sahabat karib.
Sejak Lamkiong Hian melihat kecantikan Tang Soh-hun dan Yau Ciu-li, dia kasmaran dan rindu dendam, setiap saat dia berusaha menyusun rencana untuk merampas mereka.
Meski Tang Soh-hun dan Yau Ciu-li sama-sama mencintai Bok Jin-kiat, namun mereka cukup bijaksana, belum pernah mereka cekcok, malah secara diam-diam mereka telah berunding untuk bersama-sama kawin dengan sang Suheng.
Terhadap Lamkiong Hian, mereka pun tidak menaruh prasangka apa-apa, mereka menghormatinya dan memanggil Toako kepadanya, siapa tahu diam-diam Lomkiong Hian mencintai mereka serta berhasrat menodai kehormatannya.
Begitulah, damperatan Bok Jin-kiat tadi membikin muka Lamkiong Hian merah padam, serunya "Bok Jin-kiat, biarlah kita ke sampingkan soal itu, bahwa aku bisa mengampuni jiwamu tak lain karena mengingat hubungan kita dulu, malam ini aku-pun tidak bermaksud membunuhmu, aku hanya berharap jangan kau rusak kehidupan anak Giok."
Odwo Ada kisah suka-duka apa antara Lamkiong Hian dan Bok Jin-kiat pada masa yang lampau? Bagaimana Lamkiong Hian akan menghadapi lawan yang sama berdatangan ke perkampungannya ini? -ooo0dw0ooo-
Jilid 25
"Ha, enak saja kau bicara, anak itu anakku, kenapa aku tak boleh membicarakannya?"
Dengus Bok Jin-kiat. Lamkiong Hian menjadi beringas.
"Haha, bagus, asal kau berani menyingkap rahasia ini pada anak Giok, segera kubunuh dirimu, umpama betul anak itu bukan darah dagingku, tapi selama ini sudah tertanam hubungan batin yang erat antara kami sebagai ayah dan anak, di dalam kehidupanku sudah tak mungkin tanpa dia, hanya dia yang bila memberikan bayangan wajah Yau Ciu-li kepadaku ...."
"Kau tahu, mengapa aku mau hidup tersiksa selama 21 tahun ini?"
Seru Bok Jin kiat lagi dengan emosi.
"tak lain karena kedua orang anakku, kini kau bikin anak Sia malu hidup, maka akupun takkan membiarkan kau menjadi ayah gadungan dengan tenang?"
Perasaan Lemkiong Hian menjadi dingin, ia tahu manusia yang hendak merusak kebahagiaan hidupnya ini tak boleh dibiarkan hidup terus, hanya dengan melenyapkan dia barulah bisa mencegah terjadinya bencana di kemudian hari.
Sambil menggigit bibir, dia lantas mengambil keputusan, katanya kemudian.
"Tampaknya kau sengaja memaksa aku turun tangan!"
"Aku lebih suka mati di tanganmu daripada mengemis hidup dalam penderitaan,"
Gemetar badan Lemkiong Hian, diam-diam ia menghela napas, katanya.
"Ai, Saudara Bok, buat apa kau bersikap demikian? Aku memang salah dulu, tapi sekarang aku tak tahu cara bagaimana menunjukkan rasa sesalku padamu, penderitaan yang tertanam dalam hatiku tak kalah hebatnya daripada-mu..... Ai, cara bagaimana aku dapat membicarakannya?"
"Tak perlu berpura pura lagi, jangan munafik,"
Ejek Bok Jin-kiat.
"aku cukup kenal watakmu, dulu seandainya kau tidak berpura-pura alim, akupun takkan terjerumus seperti sekarang ini! Lamkiong Hian, jangan ragu lagi, bila kau yakin bisa membunuhku, lekaslah turun tangan, tapi-sebelum turun tangan, aku hendak memperingatkan dirimu lebih dahulu, selamanya kau takkan berhasil membunuhku!"
Terkejut sekali Lamkiong Hian.
dia mengira Bok Jin-kiat telah pulih kembali tenaga dalamnya dan melatih ilmu sakti, dulu saja dia cuma bisa bertarung seimbang, bila kini Bok Jin-kiat berhasil melatih ilmu baru, tentu kepandaiannya jauh lebih unggul lagi.
Perasaan sangsi segera menyelimuti wajahnya dia menjadi ragu untuk turun tangan, ia kuatir serangannya tidak membawa hasil yang diharapkan.
Setelah mengamatinya sejenak, dia menegur.
"Kau telah memperoleh kembali kekuatanmu?"
Menyinggung soal ilmu silat, air muka Bok Jin-kiat berubah menjadi sedih.
"Tenaga ... hahaha .... selama hidup tak perlu kupikirkan lagi!"
Hati Lamkiong Hian merasa lega, senyuman tersungging diujung bibirnya, senyuman tipis sehingga cuma dia saja yang tahu. Namun hai ini tidak dapat mengelabui Bok Jin-kiat, dengan gusar bentaknya.
"Tertawalah, berbanggaiah hatimu, memang inilah hasilmu, kemenanganmu, hahahaha ... Lamkiong Hian, kau sombong....."
Ucapan yang mirip orang kalap ini membuat orang merasa bergidik dan berdiri bulu romanya.
dalam hati kecil Lamkiong Hian timbul sebatas perasaan murni yang mencela dirinya sendiri.
Persoalan yang sudah lama disesalinya akhirnya meledak, dia mengira tiada orang di dunia ini yang mengetahui akan perbuatannya, siapa tahu....
Inilah rahasia kehidupannya, seringkah ia menegur dan memaki diri sendiri, dia merasa bersalah kepada Bok Jin-kiat, lebih-lebih lagi terhadap isterinya tercinta, Yau Ciu-li.
Kalau dibilang istrinya, maka lebih tepat dikatakan sebagai isteri yang diperolehnya secara keji dan licik, juga merupakan perbuatan yang rendah terhadap teman sendiri, suatu tindakan yang curang, Diam-diam ia menghela napas, kemudian berkata dengan sedih.
"Jin-kiat, kejadian ini sudah lama lalu, anak pun sudah dewasa, budi dan dendam di antara kita sudah buyar, buat apa kita menyinggungnya lagi.. Sobat baik, mari kita berjabatan tangan saja."
Mata Bok Jin-kiat berubah menjadi merah membara, sambil tertawa seram katanya.
"Enak saja kau bicara, urusan sudah lalu ... ya peristiwa itu memang sudah lalu, buat kau mungkin begitu, tapi tidak bagiku, siang dan malam aku tak pernah melupakannya,"
Setelah berheti sejenak, dia melanjutkan.
"Lam-kiong Hian, apakah hasil karyamu itu harus diakhir, begini saja? Pernahkah kau bayangkan, apa sebabnya seorang kakek hidup kesepian sebatang kara karena keluarganya berantakan, anak pergi isteri lenyap bekerja sebagai kuli di dalam perkampungan musuh besarnya? Apalagi kalau bukan berharap menunggu saat seperti hari ini untuk membersihkan noda dan aib yang menimpa dirinya. Pernahkah kau bayangkan seorang isteri yang tertimpa aib, tak punya muka untuk bertemu lagi dengan orang, hidup sengsara sekian tahun dalam kuburan ... pernahkah kau bayangkan seorang bocah yang patut dikasihani tertekan jiwanya akibat perbuatanmu yang memaksanya melakukan senggama dengan ibu sendiri ...."
Makin berbicara kakek itu semakin emosi, sehingga akhirnya dia menangis tersedu-sedu ... Diberondong oleh serentetan pertanyaan "pernahkah kau bayangkan"
Itu, untuk sesaat Lamkiong Hian tak mampu berbicara, semua peristiwa itu memang hasil perbuatannya, apa yang diucapkan Bok Jin-kiat secara telak telah menyinggung boroknya.
Air mukanya berubah, matanya menjadi merah, hampir saja ia melelehkan air mata, dia teringat pada Yau Ciu-li.
Memang, semua itu merupakan perbuatan tercela.
Setelah berpikir dia menghela napas, katanya kemudian.
"Bok-heng, jangan disinggung lagi, membicarakan urusan lama hanya akan menambah penderitaan saja!"
Tapi Bok Jin-kiat tak dapat memaafkannya, dengan gusar kembali dia berkata.
"Lamkiong Hian, masih ingat pada kejadian perkosaan terhadap Ciu-li, kemudian kau minta dia kawin denganmu? Matipun Ciu-li tak mau menuruti kehendakmu. Hanya karena malu padaku, dan lagi untuk melindungi darah dagingku, maka diam-diam dia pergi mengikuti dirimu."
"Kau kira dia mencintaimu? Tahukah dia berbuat demikian karena memikirkan anakku? Setahun kemudian, dia melahirkan anak Giok, lalu bunuh diri. Bukankah hal ini semakin membuktikan dia tidak mencintaimu?"
"Sesudah memperoleh pelajaran itu, seharusnya kau sadar dan bertobat, siapa tahu kau limpahkan semua tanggung jawab itu ke atas pundakku, merusak wajahku masih mendingan, tidak seharusnya kau gunakan obat perangsang untuk mencelakai anakku sehingga Soh-hun mengadakan hubungan badan dengan anak kandungnya ...."
"Tutut mulut!"
Tiba-tiba Lamkiong Hian membentak.
Rupanya dia tak tahan mendengarkan perbuatan biadabnya diungkap kembali, rahasia tersebut sudah lama terpendam dalam hatinya, ia takut bila orang lain menyinggung kembali peristiwa itu.
"Kau melarangku bicara, aku justeru ingin membicarakannya"
Teriak Bok Jin-kiat lebih lanjut.
"Haha, kau takut mendengarkan semua itu bukan? ...."
Sesungguhnya lantaran hati nuraninya tersentuh malam ini, maka Lamkiong Hian tidak melakukan tindakan keji, kini liangsimnya diselimuti lagi oleh bawa amarah, napsu membunuhnya segera berkobar kembali.
Sembil tertawa seram katanya.
"Mengingat kita pernah bersahabat, kuberi kesempatan kepadamu untuk hidup sampai kini, tak nyana kau sendiri bosan hidup dan ingin mencari kematian sendiri, terpaksa kupenuhi keinginanmu itu!"
Tiba-tiba telapak tangan kanannya terangkat dengan wajah menyeringai.
"Seharusnya sejak dulu kau lakukan hal ini!"
Kata Bok Jin-kiat sambil tetawa getir.
Habis berkata dia lantas memejamkan mata dan siap menunggu ajal.
Kakek yang hidup sengsara ini telah pasrah nasib di tangan lawan, dengan tenang dia menantikan serangan yang akan mematikannya itu.
Pada saat itulah mendadak berkelebat sesosok bayangan hitam, lalu terdengar suara pekikan sedih.
Belum tiba orangnya sudah berteriak lebih dulu.
"Ayah, Jangan!"
Tampak Lamkiong Giok melayang tiba dengan cepat luar biasa, dia mencengkeram tangan Lamkiong Hian sambil menunjukkan sorot mata yang aneh, seperti mohon belas kasihan, seperti juga sedih ....
Air muka Lamkiong Hian berubah hebat, bentaknya.
"Anak Giok, kau ... kau ...."
"Ayah, aku tak tahu engkau betul atau salah,"
Kata Lamkiong Giok dengan sedih.
"tapi tidak seharusnya kau bunuh dia, sebab hal ini bukan saja membuat engkau menderita, ananda juga merasa sedih....."
"Jangan kau percaya pada obrolan tua bangka ini, ayah bukan manusia semacam itu "
Seru Lam-kiong Hian kemudian. Dengan mata melotot Bok Jin-kiat berkata pula.
"Benar, aku cuma mengaco-belo saja, Siauseng-cu, silakan pergi, mungkin lantaran aku terlalu merindukan anakku, maka aku salah menganggap dirimu sebagai anakku ...."
Hati Lamkiong Hian agak lega setelah nada bicara Bok Jin-kiat berubah, dia tahu Bok Jin-kiat berbuat demikian karena memikirkan masa depan Lamkiong Giok, kalau tidak ....
Ia tertawa terima kasih, katanya.
"Bok-heng, syukurlah engkau dapat mengerti."
Mendadak Lamkiong Giok maju ke depan dan menjura dalam-daiam, katanya.
"Untuk sementara ini, apakah engkau ayahku atau bukan, sebagai seorang angkatan tua dunia persilatan, sudah sepantasnya engkau menerima penghormatanku!"
Mendadak berkumandang suara mendengus.
"Hm, sejak kapan kau belajar sopan santun?!"
Seorang perempuan berbaju hijau muncul dengan wajah masih basah air mata.
Lamkiong Hian maupun Lamkiong Giok sama tertegun, dandanan itu persis dandanan Lik-ih-hiat-li, logat bicaranya juga sama, tapi mukanya terasa asing ....
Lamkiong Hian terkesiap, pikirnya.
"Jangan-jangan dia? Tapi, masa dia masih hidup ....". Ia coba melirik wajah perempuan berbaju hijau itu, kecuali kelihatan tua, kecantikan dulu masih jelas tersisa, perasaan Lamkiong Hian berguncang.
"Ah, kau Soh-hun?"
Serunya gemetar.
"kenapa ...."
Perempuan berbaju hijau itu tertawa sinis, tukasnya.
"Soh-hun sudah mati, di dunia ini cuma ada Lik-ih-hiat-li". Sembari berkata dia mengusap wajahnya, muka itu segera berubah, dia memang bukan lain daripada Lik-ih-hiat-li yang belakangan ini menggemparkan dunia persilatan itu. Lamkiong Hian tak pernah menyangka Tang Soh-hun adalah Lik-ih-hiat-li, lebih-lebih tak menyangka pada malam ini bukan cuma bertemu dengan Bok Jin-kiat saja, bahkan berjumpa pula dengan Tang Soh-hun, hal ini membuat hatinya terasa pedih dan hampa. Ketika melihat kemunculan istrinya, dengan pedih Bok Jin-kiat berkata.
"Untuk apa kau kembali lagi? Bukankah kusuruh kau pergi?"
Perempuan berbaju hijau itu tertawa pedih, katanya.
"Jin-kiat, apakah kau tak mau berkumpul lagi dengan kami? Di sana ...dia ... anak Sia aku tak dapat kehilangan seorangpun, Jin-kiat, mari kita pergi!"
Bok Jin-kiat menghela napas.
"Al, aku tak punya muka untuk berjumpa lagi dengan anakku, apalagi jika dia tahu aku masih hidup, mungkin dia sendiri akan bunuh diri, daripada begitu, kan lebih baik jangan berjumpa lagi?"
"Baik, kululuskan permintaanmu,"
Kata perempuan baju hijau itu dengan sedih.
"Jin-kiat, baik-baik menjaga diri, suatu hari kita pasti akan berkumpul kembali."
"Tak pernah lagi, Soh-hun!"
Ucap Bok Jin-kiat dengan pedih.
"ingat, jangan kau katakan kejadian ini kepada anak Sia, bila dia tahu, akibatnya ... Ai, aku tak ingin membiarkan anak-anakku terjerumus ke dalam pertikaian ini"
Lik-ih-hiat-lt menggeleng kepala berulang kali.
"Percuma, usahamu cuma sia-sia belaka, aku cukup mengetahui perasaan anak Sia, dia pasti tahu orang yang mencelakai orang tuanya adalah dia!"
Sambil berkata ia menuding Lamkiong Hian, kemudian melanjutkan.
"Tak nanti dia akan menurut pada perkataannya!"
Kena ditunjuk perempuan itu, Lamkiong Hian bergidik seakan-akan hari kiamatnya sudah tiba dan saat kematiannya sudah tak jauh lagi. Dengan suara keras ia berkata.
"Asal anak Sia mencariku, takkan kusangkal semua perbuatanku itu!"
"Huh, sekalipun kau ingin menyangkal juga percuma,"
Jengek Lik-ih-hiat-li. Mendadak dari luar sana berkumandang suara Bwe-hoasian-kiam Tong Yong-ling.
"Cianpwe, mari kita pergi, barang sudah kudapatkan!"
Air muka Lamkiong Giok berubah, sambil melompat keluar bentaknya.
"Apa nona Tong di situ? Barang apa yang kau dapatkan."
Lik-ih-hiat-li mendengus, dia kuatir Tong Yong-ling menghadapi bahaya, buru-buru ia mendahului bergerak ke sana.
ooo)0d0w0(ooo Udara bersih tak berawan, rembulan bersinar dengan terangnya di tengah cakrawala, malam sunyi, hanya bunyi serangga membawakan paduan suara merdu.
Menghadapi gundukan tanah pekuburan di depan sana, hati Bok Ji-sia merasa sedih, setelah mengundurkan delapan jago pengikutnya, bergejolaklah pikirannya.
Si nona baju merah.
Oh Keng-kiau, masih terisak sambil bergumam lirih, seakan-akan segenap isi hatinya hendak ditumpahkan keluar lewat tangisnya.
Pelampiasan perasaan seperti ini tak mungkin terbendung dengan segera, tapi karena takut suara tangisnya mengejutkan Bok Ji-sia, maka sedapatnya Oh Keng-kiau merendahkan suara tangisnya.
Keng-kiau masih muda belia tentunya dia sedih karena teringat akan kehidupan selanjutnya yang sebatang kara tanpa sanak saudara, bagaimanakah kehidupannya di kemudian hari?
Kembali ke Thian-seng-po?
Jelas tak mungkin, tempat itu hanya ada kesengsaraan dan penderitaan.
Menggantungkan diri pada Bok Ji-sia?
Ia belum sempat membicarakan hal ini, hal tersebut tampaknya tak mungkin, dalam hati pemuda itu seakan-akan tak pernah tertarik pada persoalan semacam itu.
Karena tak tahu apa yang mesti dilakukan, isak tangisnya makin lama semakin keras, dari tanpa suara menjadi bersuara, sebentar keras, sebentar pelahan, membuat Bok Ji-sia turut kalut pikirannya, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus menghibur gadis itu.
Apa yang dapat dia katakan?
Ia tahu bila seorang sedang sedih, perasaannya pasti lemah, sepatah kata salah bicara, ucapan yang bermaksud menghibur bisa memancing kesedihan yang makin besar.
Bok Ji-sia menimbang berulang kali, akhirnya dia memberanikan diri dan berkata.
"Sumoay, jangan terlalu sedih, ingat akan kesehatanmu!"
Kehidupan manusia bagaikan awan dan asap yang cepat berubah dan buyar, siapapun tak akan terhindar dari kelahiran, tua, sakit dan mati, kehidupan akan berakhir di tanah, sampai saatnya dia akan beristirahat untuk selamanya.
Tapi peristiwa sekarang bukan kematian lantaran sakit melainkan suatu pembunuhan yang disertai persoalan rumit dan membingungkan, Se-to-gin-ki Bwe Siau-leng telah mati dengan penasaran.
Setelah mendengar ucapan Ji-sia, Keng-kiau mendongakkan kepalanya dan menjawab.
"Suheng, ibu telah meninggalkan diriku, membiarkan aku hidup sebatangkara di dunia ini, apa yang harus kulakukan? ... Suheng, pikirkanlah diriku, selain membalas dendam, apa pula yang bisa kulakukan?"
"Sumoay jangan bersedih hati, bila perahu sampai di ujung jembatan, dia akan lurus dengan sendirinya!"
Hibur Ji-sia seraya menepuk pelahan bahu si nona. Ken-kiau mendelik.
"Ah, itu cuma omong kosong, aku tak percaya!"
Ji-sia tertawa getir, lalu menggeleng kepala dengan sedih, dia tak tahu kata kata apa yang pantas untuk menghiburnya. Setelah memandang ke langit, dia berkata.
"Ada kalanya omong kosong justeru mendatangkan tenaga bagi hidup kita!"
"Kau percaya dengan kata-kata kosong yang tak sesuai dengan kebenaran itu?"
"Aku percaya pada kebenaran."
Oh Keng-kiau menggeleng kepala, katanya "Adakah kebenaran dalam dunia persiiatan dewasa ini?
Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya memeras yang miskin, pejahat merajalela, memperkosa, membunuh, merampok, apakah semua ini kebenaran?"
"Begitukah pengertianmu tentang kebenaran?"
Tanya Ji-sia.
"Dalam kehidupan dunia persilatan yang serba kacau dan tak tenang ini, segala sesuatunya harus dibentuk dan dibangun dengan kekuatan sendiri, hanya kekuatan ilmu silat yang merupakan kebenaran, kita harus menggunakan kekuatan tangan sendiri untuk membunuh kawanan manusia laknat itu. Bunuh! Ya, bunuh! Aku ingin membunuh setiap orang jahat di dunia ini."
Walaupun Ji-sia merasa perkataannya itu cukup beralasan, namun dalam hati ia tidak setuju dengan jalan pikiran yang sempit dan ekstrim itu, namun dia cuma tertawa saja taapa menjawab.
Mendadak di tengah kegelapan malam muncul beberapa sosok bayangan meluncur ke arah barat-laut sama secepat burung terbang.
"Sumoay, lihat!"
Ji-sia berseru dengan kaget.
Oh Keng-kiau segera mendongakkan kepalanya, air mukanya berubah hebat, nyaris dia menjerit kaget, tanpa terasa tangannya menggenggam lengan pemuda itu kencang-kencang.
Setan!!!
Dia tak percaya di dunia ini ada setan, tapi beberapa sosok bayangan itu tak berbeda dengan setan dalam dongeng, bermata hijau, bersuara mengikik mengerikan.
Dengan tubuh gemetar, dia berbisik.
"Suheng, ini...."
Mungkin kata "setan"
Terlalu mengerikan, maka ia tak berani menyebutnya, sebab pada masa kecilnya sudah terlalu banyak cerita setan yang di dengarnya.
Begitu melihat bayangan putih itu, Ji-sia merasa hatinya bergetar keras, dia merasa orang orang berbaju putih itu seperti pernah dilihatnya disuatu tempat ....
Buru-buru dia menarik tangan Keng kiau sambil berbisik.
"Cepat kejar!"
"Aku takut!"
Keng-kiau bergidik.
"Ah, jangan takut, segala apa serahkan kepadaku!"
Cepat dia memburu ke depan sambil menarik tangen Oh Keng-kiau.
Yang di muka berlari secepat terbang, yang mengejar tak kalah pula cepatnya, kedua pihak seolah-olah sedang berlomba lari saja.
Jarak kian mendekat, timpaknya orang-orang berbaju putih di depan itu tidak merasa di belakangnya mengikut dua orang muda-mudi, sedang Bok Ji-sia dan Oh Keng-kiau mengikut terus secara ketat, jaraknya tidak terlalu jauh juga tidak teramat dekat.
Tiba-tiba kawanan manusia berbaju putih itu berpekik seram.
Begitu berhenti berpekik, orang-orang itu memencarkan diri ke empat penjuru dan berdiri dengan membalik.
Ji-sia terkejut, buru-buru ia tarik Oh Keng-kiau sambil berbisik.
"Cepat bersembunyi!"
Keduanya sama-sama jago kelas satu, serentak mereka menerobos ke balik semak rumput.
Baru saja mereka bersembunyi kawanan manusia berbaju putih itu lantas menjerit seperti teriakan setan.
Mendadak bergema suara tertawa latah di kejauhan sana, hanya sejenak saja lantas mendekat.
Bayangan putih berkelebat, tahu-tahu muncul lagi seorang berbaju putih, akan tetapi kain kerudung kepalanya berwarna hitam.
Dengan suara keras, orang berkerudung hitam itu membentak.
"Keng-hun, coba katakan, mengapa kurang dua orang?"
Orang berbaju putih yang bernama Keng-hun segera menjura, sahutnya.
"Kedua setan itu sudah mendaftarkan diri dalam kitab mati hidup!"
Yang dimaksudkan sebagai mendaftarkan diri pada kitab mati hidup adalah kata sandi mereka yang ditanya telah tewas. Orang berkerudung hitam itu mendengus.
"Hmm, apa tugas kalian?"
Semua orang berbaju putih itu gemetar, salah seorang di antaranya menyahut.
"Merampas kitab pusaka Hek-liong-kang!"
"Mana kitabnya?"
Orang-orang berbaju putih itu tak berani menjawab, mendadak mereka menjerit-jerit aneh, kemudian berlompatan menandakan mereka tak dapat menyelesaikan tugas dan bersedia menerima hukuman.
Peraturan dalam perguruan Kui-ing-bun memang sangat ketat, barang siapa berani melanggar peraturan bisa dijatuhi hukuman mati.
Orang berkerudung hitam itu tertawa aneh, serunya kemudian.
"Cepat pergi ke Giam-lo-tian untuk menantikan pemeriksaan Buncu!"
Semua orang berbaju putih itu mengiakan, dengan cepat mereka berlalu dengan tertawa seram, tak lama kemudian bayangan, mereka lenyap tak berbekas.
Orang berkerudung hitam itu mendengus, mendadak ia membalik tubuh.
Sinar matanya yang tajam memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu bentaknya.
"Sudah waktunya kalian keluar dari situ!"
Ji-sia terperanjat, dia mengira jejaknya ketahuan orang, baru saja hendak keluar, tiba-tiba Oh Keng-kiau menarik tangannya sambil mendesis.
"Nanti dulu!"
Buru-buru Ji-sia sembunyi lagi, dia tahu kawanan manusia berbaju putih itu ada hubungannya dsngan kitab yang hilang, cuma dia tak tahu mereka berasal dari golongan mana.
Melihat suasana tetap tenang, orang berkerudung hitam itu mendengus, ia maju beberapa langkah.
Sorot matanya yang tajam memandang sekeliling tempat itu, akhirnya pandangannya berhenti pada tempat sembunyi Bok Ji-sia dan Oh Keng-kiau.
Serunya kemudian sambil tertawa dingin.
"Setelah datang kemari, sepantasnya kalian berdua unjukkan diri, bersembunyi terus bukan tindakan seorang lelaki sejati!"
Mendadak terdengar bentakan menggeleger, dua sosok bayangan menerjang ke depan orang berbaju putih itu dengan cepat. Ji-sia tertawa dan menegur.
"Kau ini setan atau manusia? Kenapa berdandan ...."
Orang berkerudung hitam itu menyurut mundur, lalu menyapa sambil tertawa.
"Kedatangan kalian karena tanpa sengaja atau memang disengaja!...."
"Hm, apa yang dimaksud sengaja? Apa pula yang kau maksudkan tanpa sengaja?"
Dengus Keng-kiau.
"Hebehe..."
Orang itu tertawa terkekeh.
"Jika kalian bermaksud menyadap rahasia Kui-ing-bun, terpaksa kutahan kalian, sebaliknya kalau tidak sengaja, lekas kalian pergi dari sini!"
"Kalau kedua-duanya benar, bagaimana pula sikapmu?"
Tanya Ji-sia dengan tersenyum.
"Hahaha, bisa saja Bok-siauhiap bergurau....."
Tiba-tiba berkumandang suara pekik setan dari kejauhan sana. Orang berkerudung hitam itu buru-buru berseru.
"Bok-siauhiap, cepat bersembunyi di tempatmu semula, biar kuhadapi dia!"
Ji-sia dan Keng-kiau melengak, bukan saja orang kenal mereka, logat bicaranya juga sudah dikenal, belum lagi mereka sempat tanya, orang itu berseru lagi.
"Cepat! Petugas peronda datang!"
Keadaan tidak mengizinkan berpikir panjang lagi, buru-buru Ji-sia menarik Keng-kiau dan sembunyi lagi di tempat tadi.
Baru saja kedua orang itu bersembunyi, sesosok bayangan hitam melayang tiba, orang ini berbaju hitam, berkerudung hitam sehingga mukanya tidak terlibat.
Orang berbaju putih tadi segera menegur.
"Malam-malam begini Sun-ca-su (pengawas) datang kemari, entah terjadi peristiwa apa?"
"Kim-hong-cang melawan, kitab tidak diperoleh, Kui-ing-bun sungguh mendapat malu!"
Kata orang berbaju hitam itu dengan dingin. Orang berbaju putih itu tertawa hambar.
"Po-cu pasti mempunyai rencana yang matang, tidak perlu kita risaukan!"
Tiba-tiba si baju hitam membentak.
"He, mungkin kau orang baru, di sini tak ada sebutan Pocu, hanya menyebut Buncu. Eh logatmu tidak benar, rasanya belum pernah bertemu denganmu!"
"Hahaha, jangan banyak curiga!"
Seraya berkata dia lantas berputar tiga lingkaran sambil bergerak tujuh langkah, tangan sebelah menyunggih langit, tangan lain menekan bumi, itulah kode tangan sebagai tanda anggota Kui-ing-bun.
Rupanya anggota Kui-ing-bun tidak saling kenal dengan wajah asli masing-masing, untuk menunjukkan kedudukan sendiri, mereka tak perlu berbicara, cukup menggunakan kode tangan dan segera akan terlhat apakah orang sendiri atau bukan.
Orang berbaju hitam itu mengiakan.
"O, rupanya memang anggota baru, pantas ..."
Mendadak si baju putih menuding ke depan sambil berseru.
"He, lihat!"
Si baju hitam mengira ada bahaya, buru-buru ia berpaling.
"Saudara, boleh kau jadi setan sungguhan saja!"
Bentakan keras menggelegar, baju hitam segera merasakan badannya kaku, sambil membalik badan ia menuding.
"Kau ..."
"Aku si setan gantung perenggut nyawa yang khusus menghajar setan... !"
Kata si baju putih sambil tertawa.
Dengan terluka parah si baju hitam roboh terkapar, orang berbaju putih segera, melepaskan pukulan lagi, tak sempat merintih tewaslah orang itu.
Ji-sia dan Keng-kiau merasa heran bercampur curiga seteluh menyaksikan adegan tersebut, padahal si baju putih segolongan dengan si baju hitam, tidak sepantasnya mereka saling membunuh, tapi apa sebabnya orang berbaju putih itu tiba-tiba turun tangan keji?
Siapakah dia?
Jangan-jangan dia bukan anggota Kut-ing-bun?
Sementara itu si baju putih tadi telah berpaling ke tempat sembunyi Bok Ji-sia, sambil tertawa katanya.
"Bok-siauhiap, cepat kemari!"
Dengan cepat dia melepaskan pakaian hitam orang tadi, baru saja Ji-sia merasa tercengang, orang itu telah mengangsurkan baju hitam padanya.
"Cepat dipakai!"
Seru orang itu.
Dengan cepat, kembali dia mengorek-orek tanah di sebelah sana, tak lama kemudian dia mengeluarkan lagi satu stel baju hitam yang segera diserahkan kepada Oh Keng-kiau dan menyuruhnya berganti pakaian.
Selesai mengenakan pakaian hitam, Ji-sia baru bertanya.
"Siapa kau?"
Orang berbaju putih itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, masa kau tidak tahu siapa diriku, Bok-siauhiap?"
Sambil berkata dia lantas melepaskan kerudung hitamnya. Hah, dia ternyata Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak adanya! "Kiranya Ku-locianpwe!"
Seru Ji-sia tercengang.
"Jangan kaget, di sini bukan tempat yang aman..."
Belum habis dia berkata, dari kejauhan berkumandang pula tiga kali siulan panjang dan sekali pendek.
Menyusul sesosok bayangan berkelebat datang dengan cepat.
Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak mengenakan kembali kain kerudung hitamnya, mereka bertiga dengan tenang berdiri di situ sambil memandang kejauhan.
Begitu dekat orang itu berkata dengan dingin.
"Cepat kembali ke Giam-lo-tian, Buncu segera akan tiba!"
Habis kerkata dia melanjutkan perjalanan ke depan sana, Memandangi bayangan punggung orang yang menjauh, Siau-yau-sian-hong-kek berbisik.
"Ingat, Bok-siauhiap nomor tiga. nona Oh nomor tujuh, setiba di sana jangan menyebut nama, cukup melaporkan nomor masing-masing."
Giam-lo-tian atau istana raja akhirat.
Setelah tiga kali suara genta dibunyikan, seluruh ruangan telah penuh dengan anggota Kui-ing-bun atau perguruan bayangan setan, baik berbaju putih maupun berbaju hitam.
Semuanya berbaris di kedua sisi ruangan dengan tenang dan khidmat, sementara sebelas orang berbaju putih berlutut di bawah dengan kepala tertunduk, mereka sedang menunggu keputusan sang Buccu.
pimpinan perguruan.
Tiba-tiba berjenis tiga kali suara tambur, enam puluhan orang berbaju putih dan hitam itu serentak berlutut, tangan mereka menempel tanah, kepala tertunduk rendah.
Bok Ji-sia dan Oh Keng-kiau mencampurkan diri di tengah orang-orang itu, meski enggan berbuat demikian, tapi demi merahasiakan jejaknya, terpaksa mereka ikut mendekam juga di tanah.
"Buncu tiba!......."
Teriakan nyaring bergema di ruangan.
Diam-diam Ji-sia mengintip ke sana, tampak empat orang berkerudung dan berbaju merah mengiringi seorang berbaju ungu muncul dari pintu samping, meskipun mukanya berkerudung, namun sinar matanya sungguh menggidikkan.
Ji-sia berpikir.
"Dilihat dari sorot matanya itu, jelas dia seorang bengis dan berhati busuk, sinar mata semacam itu seperti pernah kukenal ...."
Baru saja ingatan tersebut terlintas, tiba-tiba terdengar suara keras menggema pula.
"Tarian indah menyambut Buncu!"
Buncu, orang berbaju ungu itu mengulapksn tangannya sambil berseru.
"Tak usah, cepat bunyikan tambur dan membuka sidang!"
"Bunyikan tambur dan membuka sidang!"
Bentakan keras menggelegar meneruskan perintah itu.
Bunyi tambur segera menggema di dalam ruangan menggetar sukma, terutama kesebelas orang berbaju putih yang berlutut itu.
Kemudian sang Buncu lantas membentak.
"Tiga belas setan bengis, kalian tahu salah tidak!?"
Ketiga belas setan bengis semula berjumlah tiga belas, oleh karena dua di antaranya tewas dalam Kiam-hong-ceng, maka kini tinggal sebelas orang.
"Tecu tahu salah!"
Kawanan manusia berbaju putih itu menjawab.
"Baik! Kalau begitu terimalah kematian!"
Setelah berhenti sejenak, Buncu berseru pula.
"Nomor tiga dan nomor tujuh, bunuh setan ini!"
Wah, celaka!
Ji-sia dan Keng-kiau jadi serba susah, nomor tiga dan nomor tujuh tak lain adalah-nomor mereka berdua.
Sementara mereka merasa regu, Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak lantas mengedipi mereka, maksudnya supaya mereka berbuat menurut perintah.
Terpaksa Ji-sia berdua maju ke muka, sahutnya dengan tenang.
"Tecu terima perintah!"
Orang berbaju ungu itu meraba ke balik baju, tahu-tahu dua bilah pedang tajam dilolosnya, dengan lantang dia berseru lagi.
"Pedang mestika tiada taranya, gunakan darah menghormati leluhur!"
Ji-sia dan Keng-kiau menyambut pedang itu dan menghampiri kesebelas orang berbaju putih itu, pedang diangkat ka atas dan siap diayunkan ... Tiba-tiba seseorang membentak.
"Siapakah kalian berdua?"
Ji-sia terkesiap, keluhnya dalam hati.
"Wah, bisa runyam!"
Seketika suasana berubah, sementara Ku Thian-gak juga mengeluh.
Begitu mendengar ketua Kui-ing-bun itu menegur Ji-sia berdua, sadarlah dia keadaan bakal runyam, jejak mereka sukar dirahasiakan lagi.
Setajam sembilu orang berbaju ungu itu menatap Ji-sia dan Keng-kiau seakan-akan berusaha menembus hati mereka.
Kemudian sambil tertawa seram tegurnya lagi.
"Siapakah kalian berdua?"
Baik Ji-sia maupun Keng-kiau, kedua-keduanya merasa sulit lagi mengelabui ketua Kui-ing-bun ini.
Sementara itu segenap anggota Kui-ing-bun juga dibikin tercengang, dengan mata terbelalak mereka awasi kedua orang itu, mimpipun tak mereka sangka ada orang luar menyelundup ke dalam tubuh perkumpulan mereka.
Mendadak seorang maju ke depan dan berkata.
"Buncu, kedua orang ini mungkin murid yang baru menggabungkan diri dan kurang paham peraturan."
"Omong kosong!!"
Bentak orang berbaju ungu.
"nomor tiga dan nomor tujuh telah berbakti kepadaku jauh sebelum kau nomor tiga belas masuk kemari, mana mungkin mereka tidak mengerti peraturan perguruan, cepat mundur ...."
Ji-sia coba melirik orang itu, ternyata dia adalah Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak, sadarlah pamuda ini bahwa rahasianya tak dapat dipertahankan lagi, dengan cepat dia kedipi rekannnya itu agar tidak banyak bicara Diam-diam Ku Thian-gak mengeluh.
Orang berbaju ungu itu lantas mendengus.
"Hm, setelah bertemu dengan Buncu, kenapa tidak berlutut untuk menerima kematian!"
"Kau bukan manusia berkepala tiga dan berlengan enam, kenapa aku harus berlutut padamu?"
Jengek Ji-sia. Saking gusar orang berbaju ungu itu tergelak.
"Hahaha, bila Buncu tidak mencincang tubuhmu, percuma aku menjadi ketua perguruan!"
Setelah berhenti sejenak, segera bentaknja.
"Tangkap mereka!"
Segenap anggota Kui-ing-bun yang berada di-sekeliling tempat serentak menubruk maju, semua jalan keluar tertutup, menyusul sesosok bayangan merah melayang tiba.
Selagi terapung di udara, dia membentak.
"Dengarkan kedua anak jadah, kalian berani memasuki Giam-lo-tian, berani lagi menghina Buncu, biarlah aku Kui-ing-cuncia membereskan kalian!"
Dengan jurus Ok-eng-pok-keh (elang buas menyambar ayam) dia menerkam ke arah Oh Keng-kiau.
Selama ini Keng-kiau tak bersuara, ketika dilihatnya Kui-ing-cuncia berbaju merah itu menerkam ke arahnya, sambil mendengus katanya.
"Kalau kau bosan hidup, akan kukirim kau berangkat lebih dulu!"
Secepat kilat jari tangannya menutuk Kui-ing-cun-cia. Bok Ji-sia kuatir Sumoaynya terlampau gegabah, cepat ia melompat maju, katanya.
"Serahkan dia kepadaku!"
Pada saat Ji-sia menerjang maju inilah, tiba-tiba orang berbaju ungu tertawa, bayangan merah berkelebat, mendadak Kui-ing-cun-cia ditariknya dan dilempar ke luar.
Pada detik itu pula, telapak tangan kirinya menghajar ke dada Bok Ji-sia, sekaligus kakinya menendang jalan darah Ci-ji-hiat di tubuh Oh Keng kiau.
Dengan terkejut buru buru Keng-kiau merendahkan tubuhnya dan bergeser mundur.
Ji-sia mendengus, tangan menolak ke arah orang berbaju merah itu.
"Blang", benturan keras terjadi. Tubuh orang berbaju ungu itu berguncang keras, sinar matanya yang tajam menjadi buram, dengan kaget ditatapnya Bok Ji-sia tanpa berkedip, katanya kemudian.
"Lepaskan kain kerudung mukamu!"
Sssudah beradu pukulan, meski Ji-sia tidak sampai terluka, namun darah dalam dadanya bergolak keras, telinga mendenging, diam diam ia terkejut juga oleh kesempurnaan tenaga dalam musuh. Dia mendengus.
"Tidak perlu!"
"Hm, belum pernah ada orang berani membantah perintahku!"
"Tapi tuan muda tidak terima caramu ini."
Orang itu sangat marah, kembali ia mendongak dan tertawa seram. Tiba-tiba berkumandang bentakan nyaring.
"Siapa kau?"
Tahu-tahu Oh Keng-kiau sudah berdiri dihadapan orang berbaju ungu itu sambil menudingnya.
Orang berbaju ungu itu tertegun, belum lagi pertanyaannya dijawab, tak tersangka orang lain malah bertanya kepadanya, dia tidak tahu bahwa gelak tertawanya telah memancing kecurigaan Keng-kiau ..
"Aku Kui-ing-buncu!"
Sahut orang itu dengan mata melotot.
"Hm, kurasa bukan!"
Orang itu tambah murka, bentaknya.
"Memangnya kau kira aku siapa?"
"Haha ... kau Oh ..."
"Tutup mulut!"
Sambil membentak orang berbaju ungu itu menyerang, telapak tangan kanannya terpentang mencengkeram dada si nona.
"Tak tahu malu!"
Maki Keng-kiau di dalam hati.
Padahal orang itu tidak tahu dia adalah seorang gadis, kalau tidak, betapa pun rendah orang itu juga tak nanti mencengkeram dada seorang nona.
Merah wajah Keng-kiau karena malu, meski wajahnya berkerudung, jantungnya toh berdebar, sambil membentak secara beruntun dia lancarkan dua belas kali pukulan berantai.
Tiba-tiba seorang membentak.
"Kui-ing-cap-sah-sik!"
Mendadak muncul tiga belas orang berbaju hitam, merah dan putih ke tengah arena, masieg-masing mengambil posisi yang berbeda dan mengurung Ji sia, Keng-kiau dan orang berbaju ungu itu, Suatu ketika, orang berbaju ungu itu mendesak mundur Keng-kiau sejauh beberapa langkah, kemudian melompat keluar dari arena.
Sambil tertawa serunya.
"Asal kalian mampus melawan Kui-ing-cap-sah-sik ini, segera Buncu akan memberi jalan hidup untuk kalian."
"Huh, jangankan baru tiga belas gerakan, sekalipun seratus tiga puluh geraksn juga boleh,"
Jengek Ji-sia.
"Hehe, apa andalanmu sehingga berani bicara besar."
"Hahaha, benda inilah yang kuandalkan!"
Ji-sia, tertawa terbahak-bahak.
Menyusul suara bergemerincing, tahu-tahu tangannya sudah bertambah sebuah ruyung panjang yang memancarkan sinar keemasan, itulah Jian-kim-si hun-pian yang menggetarkan dunia persilatan.
"Ah, kau Bok Ji sia!!"
Seru orang itu kaget. Sambil melepaskan kain kerudungnya, Ji-sia bergelak tertawa.
"Hahaha, sekarang baru kau tahu!"
"Kali ini jiwamu takkan kuampuni lagi!"
Seru orang berbaju ungu itu dengan sorot mata liar. Lalu bentaknya.
"Lancarkan serangan!"
Diam-diam Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak merasa gelisah, dia tak bisa mencegah pertarungan itu, iapun tak bisa membantu kedua orang, saking tegangnya tanpa sadar dia maju dua langkah-Ia telah mengambil keputusan, jika keadaan terpaksa, maka ia akan tampil untuk memberi bantuan.
Sementara itu ketiga belas orang telah menghimpun tenaga dan mengawasi kedua orang muda di tengah arena.
Sudah lama Ji-sia mendengar kelihaian Kui-ing-cap-sah-sik, tiba-tiba ia berpaling dan memandang Oh Keng-kiau, tanyanya.
"Kau sudah siap?"
Keng-kiau tersenyum.
"Jangan kuatir, aku yakin dapat mengatasi lawan!"
Tiba-tiba bergema bentakan.
"Kui-ing-liu-iang (bayangan setan meninggalkan bekas)!"
Itulah jurus permulaan dari Kui-ing-cap-sah-sik, begitu jurus serangan ini dilancarkan, menyusul lantas Kui-ing-soh-hun (bayangan setan membelenggu sukma), Kui-jiau-cun-bong (cakar setan menghilangkan impian indah), Ngo-kui peng-yu (ilmu setan bersedih hati) dan seterusnya.
Yang hebat adalah serangan itu mengindung racun, bila tersentuh akan tewas, karena pada kuku ketiga belas orang itu mengandung racun jahat.
Menurut perkiraan Ji-sia, ketiga belas orang itu pasti akan segera melancarkan serangan, siapa tahu mereka hanya mengangkat telapak tangan di depan dada dengan jari terpentang, Pikir Ji-sia.
"Jurus serangan begini mana bisa melukai orang ...."
Belum lenyap pikiran tersebut, tiba-tiba terasa seluruh badan kedinginan, darah dalam tubuh terasa beku. Terdengar Keng-kiau berseru.
"Cepat tutup Hiat-to dan tahan napas!"
Buru-buru dia mengikuti petunjuk itu, namun dia masih sempat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Keng-kiau mendesis pula.
"Sebelum jurus ketiga mereka lancarkan, kita harus menggunakan waktu paling singkat untuk menghantam sebelah kiri, terjang titik terlemah mereka, jangan sampai jurus serangan lain sempat dilancarkan, kalau tidak, meski tidak terluka juga akan mati keracunan ...."
Dengan tenang Ji-sia mendengarkan penjelasan itu, diam-diam ia heran dari mana Oh Keng-kiau menguasai pengetahuan itu.
bahkan tidak mengunjuk rasa gentar sedikitpun.
Ia tidak tahu Go Keng-kisu telah mempelajari kitab pusaka Kim-teng Cinjin, meski tensga dalamnya tidak sekuat Ji-sia, tapi soal pengetahuan ilmu silat sudah jauh melebihi jago lihai mana pun.
Perlu diketahui isi kitab pusaka Kim-teng Cinjin mencakup intisari ilmu silat dari berbagai aliran di dunia ini, di antaraaya termasuk pula cara mematahkan Kui-ing-cap-sah-sik tersebut.
Sekalipun ketiga belas orang itu hanya angkat tangannya di depan dada dengan jari terpentang, tapi dari ujung jari mereka justeru terpancar desing angin tajam.
Terkejut orang berbaju ungu itu melihat jurus pertama Kui-ing-cap-sah-sik tak berhasil merobohkan kedua lawan, malahan seakan-akan tidak terjadi sesuatu apa pun.
Mau-tak-mau pandangannya terhadap kesempurnaan tenaga dalam Bok Ji-sia timbul penilaian baru.
"Kui-ing-soh-hun!"
Segera bentaknya lagi.
Mengikuti bentakan itu, ketiga belas orang Kui-ing-bun lantas menarik kembali telapak tangan kanannya, lalu berputar mengitari Bok Ji-sia dan Oh Keng-kiau, seakan-akan hendak menyesatkan pandangan musuh.
Ji-sia segera memandang ke arah Oh Keng-kiau, bisiknya.
"Boleh terjang sekarang?"
"Tunggu sampai gerakan mereka berhenti!"
Desis si nona.
Betul juga, dari gerak putar yang cepat, ko-tiga belas orang Kui-ing-bun itu melambatkan gerakannya, kemudian seperti akan berhenti.
Menyusul telapak tangan mereka pelahan diangkat lagi ke atas ....
Pada detik itulah, Ji-sia membentak.
"Terjang!"
Dia menubruk ke depan, sekaligus ia menyerang dua orang Kui-ing-bun di sisi kiri.
Keng-kiau juga membentak, telapak tangannya menghantam ke depan.
Padahal waktu itu gerakan kawanan jago Kui-ing-bun baru saja berhenti, serangan lain belum sempat dilancarkan, melihat kedua orang itu menerjang tiba, serentak mereka membentak dan menubruk pula ke depan.
Seketika barisan Kui-ing-cap-sah-sik tersebut tidak semantap tadi lagi, kekuatannya jauh berkurang, apalagi di bawah tekanan Bok Ji-sia yang hebat.
Sekali Ji-sia membentak, seorang berbaju putih di sebelah kiri terkena pukulan dan mencelat.
Keng-kiau tak mau kalah, iapun membentak dan menghantam, dalam waktu singkat barisan Ku-ing-cap-sah-sik terpatahkan, kawanan jago Kui-ing-bun jadi ketakutan.
Orang berbaju ungu itu terkejut sekali, bentaknya marah.
"Manusia tak berguna! Maju semuanya!"
Seketika bayangan berkelebat, angin pukulan menderu, segenap jago Kui-ing-bun yang hadir sama menerjang maju dan mengepung Ji-sia berdua.
"Tahan!!"
Mendadak seorang membentak.
Sesosok bayangan hitam melayang masuk ruang Giam-lotian, dari atas meja ia menodongkan sebuah tabung hitam ke bawah.
Ji-sia berpaling, ternyata orang berbaju hitam yang berada di atas meja itu adalah Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak, ia sedang mengawasi arena dengan kereng.
"Nomor tiga belas, kau hendak memberontak!"
Bentak orang berbaju ungu. Ku Thian-gak mendengus.
"Diam, goblok, kau-kira aku anak buahmu?"
Tertegun orang berbaju ungu itu, pikirnya.
"Aneh, dari logat bicaranya dia bukan nomor tiga balas. Lantas siapakah dia? Apakah di antara yang hadir ini terdapat orang luar?"
Berpikir demikian, dia lantas membentak pula.
"Kalau bukan anak buahku, lantas siapa kau?"
"Hahaha, kau ingin tahu?"
Habis berkata, segera ia melepaskan kain kerudung mukanya.
Orang berbaju ungu itu bsrseru kaget, mimpi pun dia tak menyangka nomor tiga belas yang sangat setia kepadanya itu sudah menemui ajalnya dan sekarang telah berganti orang lain.
"Ku Thian-gak, kiranya kau!"
Teriaknya. Sementara itu Keng-kiau sedang menarik tangan Ji-sia sambil berbisik.
"Suheng. kutahu siapa Buncu Kui-ing-bun ini"
"Siapa?"
Tenya Ji-sia.
"Sebentar kau akan tahu sendiri!"
Desis si nona sambil mengedipkan matanya.
Waktu itu, berhubung kemunculan Ku Thian-gak, maka pengawasan kawanan jago Kui-ing-bun terhadap Bok Ji-sia berdua menjadi berkurang, itulah sebabnya meski mereka berbisik-bisik, tak seorangpun yang menaruh perhatian.
Dalam pada itu Ku Thian-gak sedang tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kalau sudah tahu aku Ku Thian-gak, beranikah kau bertarung melawanku?"
Tantangnya. Sambil berkata, tabung hitam itu sengaja diayunkan ke udara dengan sikap menggertak.
"Benda apakah itu?"
Tanpa terasa orang berbaju ungu itu menegur.
"Obat peledak!"
Jawab Ku Thian-gak. Kaget orang itu, dia sadar keadaan tidak menguntungkan, apalagi melihat anak buahnya juga sama panik. Dia memandang sekejap anak buahnya, kemudian katanya.
"Perguruan kami yakin tak pernah mengikat permusuhan dengan kalian, kenapa kalian........"
"Utang darah sedalam lautan, kenapa kau bilang kita tak ada permusuhan?"
Dengus Ku Thian-gak dengan wajah dingin.
"Hei, apa maksudmu?"
Orang berbaju ungu itu melengak.
"Haha, masa bsgitu cepat kau lupakan perbuatanmu?"
"Kuharap kau bicara lebih jelas!"
Seru orang itu dengan ragu.
"Baik,"
Seru Ku Thian-gak dengan gusar.
"Akan kuberitahukan kepadamu sejelasnya, kau tahu aku berasal dari aliran mana?"
Dengan bingung orang itu menyahut.
"Semua orang tahu kau berasal dan Siau-lim ...."
Ji-sia terkesiap, pikirnya.
"Kalau Ku-cianpwe berasal dari Siau-lim-pai, kenapa dia menjadi anggota perguruan lencana tembaga? Tak heran di antara jurus serangannya banyak terdapat gerakan aneh."
Dengan gemas Ku Thian-gak menjawab.
"Walaupun aku berasal dari Siau-lim, namun kepandaianku meliputi delapan aliran, aku ingin tanya padamu, apa sebab kematian kedelapan Ciangbunjin angkatan yang lalu?"
"Apa sangkut pautnya denganku?"
"Hehe, masa tak ada sangkut-pautnya denganmu? Mereka berdelapan lenyap bersama, kemudian oleh Bok-siauhiap ditemukan kedelapan Ciangbunjin itu ternyata disekap sampai mati dalam Thian-seng-po....."
Orang berbaju ungu terkesiap, tiba-tiba sekujur badannya bergemetar, pikirnya.
"Ternyata Ku Thian-gak telah mengetahui semua ini, siapakah diriku mungkin diketahui pula olehnya, meski aku tidak takut kepadanya, tapi bukan pekerjaan mudah untuk melenyapkan orang ini."
Dengan gusar dia lantas mendengus.
"Antara Thian-seng-po dengan Kui-ing-bun tak ada sangkut pautnya, kau tidak pergi ke Thian-seng-po, mau apa kau bikin onar di sini? Jangan kau kira Kui-ing-bun boleh dipermainkan!!"
Menyinggung peristiwa tragis di Thian-seng-po tempo hari, amarsh Ji-sia berkorbar, dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan keadaan kedelapan Ciangbunjin yang mengenaskan itu menjelang ajalnya.
Dia tak mengira Ku Thian-gak tak pernah melupakan kejadian itu, siang malam melakukan penyelidikan, pantas dia menyusup ke sini.
Jadi orang berbaju ungu ini pasti biang keladinya, umpama bukan biang keladinya, paling tidak pasti terlibat langsung dalam peristiwa tersebut, kalau tidak, Ku Thian-gak takkan berkata demikian.
Dengan perasaan sedih bercampur merah Ku Thian-gak berteriak.
"Tampaknya antara Thian-seng-po dan Kui-ing-bun tiada sangkut-pautnya, tapi kenyataan justeru merupakan satu wadah yang sama, kalian dua bersaudara bersekongkol secara diam-diam, di luar berlagak tidak akur, agar orang mengira kalian berdua memang menempuh jalan yang berbeda ... Hmm, kau kira aku tak tahu?"
Orang berbaju ungu itu terkesiap, tiba-tiba bentaknya.
"Tangkap bangsat itu!"
Serentak kawanan jago Kui-ing-bun menerjang maju dan menyerang Ku Thian-gak. Cepat Ji-sia putar ruyung emasnya, bentaknya.
"Barang siapa berani maju, akan kusuruh dia terkapar bermandikan darah!"
"Hahaha, jangan kuatir Bok lote,"
Seru Ku Thian-gak sambil tergelak.
"Biarkan mereka maju!"
Segera bahan peledak berwarna hitam diayun-ayunkan hingga membentuk bayangan hitam di angkasa.
Dengan perasaan ngeri serentak kawanan jago Kui-ing-bun melompat mundur; Tiba-tiba sesosok bayangan hitam meluncur ke depan, secepat kilat menerjang ke arah orang berbaju ungu, sekali tangannya meraih, orang berbaju ungu itu berteriak kaget.
"Keparat, kau berani?"
Wajahnya terasa dingin, tahu-tahu kain kerudung mukanya sudah terlepas, Sementara itu Keng-kiau telah memegang kain kerudung rampasannya dan berseru.
"Kau, paman!?"
Peristiwa ini benar-benar di luar dugaan siapa-pun, semua orang tidak menyangka Kui-ing-buncu sesungguhnya adalah Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat, sudah barang tentu hanya Ku Thian gak saja yang telah menduganya.
Sementara itu suasana dalam ruangan menjadi gempar, para jago Kui-ing-bun sempat melihat wajah asli Buncunya, serentak mereka berlutut sambil berseru.
"Buncu, ampuni dosa kami!"
Perlu diketahui, sejak didirikannya Kui-ing-bun sudah berlaku peraturan yang tidak tertulis, yakni barang siapa melihat wajah sang Buncu, maka dia harus bunuh diri sebagai penghormatan terhadap kesucian seng Buncu.
Dalam waktu singkat, suara raungan berkumandang di "ana-sini, para jago Kui-ing-bun sama roboh terkapar dan tak berkutik lagi, kiranya mereka selah memutuskan urat nadi sendiri.
Padahal saat ini Oh Ku-gwat sangat membutuhkan orang, menyaksikan hal itu ia terkesiap.
"Kalian tidak berdosa!"
Cepat teriaknya.
Sayang terlambat, ada sepertiga jago Kui-ing bun yang telah bunuh diri, dengan sedih dan sakit hati Oh Ku-gwat melototi Oh Keng-kiau.
Sementara itu, setelah Ji-sia tahu orang itu adalah Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat, tiba-tiba adegan kematian ibu gurunya yang tragis terbayang dalam benaknya, seolah-olah menyaksikan Se-to-sian-ki sedang mengerang menentang maut sambil meneriakkan nama iblis pembunuh itu dan menitahkan kepadanya untuk membalaskan dendamnya ....
Makin dibayangkan semakin gusar, akhirnya bentaknya.
"Oh-lotoa, hari ini jiwamu tak bisa diampuni lagi!"
Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tertawa dingin.
"Hehe, kau pun berlagak'.*"
Tiba-tiba Ku Thian-gak melompat ke depan dan berseru.
"Bok-siauhiap, harap mundur, aku mempunyai dendam kesumat yang tiada taranya dengan manusia laknat ini, dia penyebab kematian kedelapan ketua perguruan besar, hendak kubalaskan sakit hati mereka."
"Tidak bisa,"
Seru Keng-kiau sambil maju ke depan.
"dendam kesumat ibuku harus kutuntut dulu."
Diam-diam Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat mengeluh menyaksikan ketiga lawan tangguh datang bersama menuntut balas pedanya, biji matanya berputar dan iapun mendapat akal, ia pikir ketiga orang ini sama membenciku sampai merasuk tulang, betapapun sulit kulayani mereka sekaligus?
Jalan terbaik sekarang adalah cepat meloloskan diri, paling baik lagi kalau bisa membujuk anak Kiau.
Maka dengan tersenyum ia lantas barkata.
"Keng-kiau, mana boleh kau bicara demikian kepada paman?"
Keng-kiau segera melepaskan kerudung wajahnya, dengan air mata bercucuran katanya.
"Hubungan kita telah putus, aku tidak mengakui kau sebagai paman lagi, dan kaupun tak perlu mengakui aku sebagai keponakan perempuanmu, sakit hati ayahku lebih dalam daripada lautan, aib ibuku juga tak bisa dibiarkan, setelah kutahu siapa orang tuaku, berarti dendam mereka berada di atas bahuku. Bda kau ingat hubungan aatara paman dan keponakan, tentu takkan kau bikin sengsara ayahku, lebih tak mungkin kau permainkan ibuku ...."
Makin bicara hatinya makin panas, akhirnya air mata bercucuran pula dengan derasnya. Ji-sia coba menghiburnya.
"Sumoay, jangan sedih, akan kubalaskan dendam kematian Suhu!"
Selesai berkata, ia terus melambung ke udara, ruyung emas berputar, selapis cahaya emas diikuti desing tajam menyambar musuh.
Terkesiap Oh Ku-gwat, cepat dia merendahkan badan sambil bergeser ke samping.
Tapi begitu bergerak tiba-tiba ia merasakan gelagat tidak beres, terasa angin tajam menyambar dari belakang kepalanya, nyata menyayat kulit kepalanya.
Dengan air muka berubah hardiknya.
"Orang she Bok, apa kau cari mampus!?"
"Hehehe, Oh Ku-gwat jangan harap bisa lolos malam ini!"
Pada saat itulah mendadak bergema suara tertawa nyaring dari kejauhan, tapi sebentar kemudian sudah mendekat.
Bersama dengan menggemanya suara tertawa itu, suasana dalam ruang Giam-lo-tian menjadi tegang, Ji-sia terkejut.
Tak lama kemudian, dari balik kegelapan tana muncul tiga orang gadis, tertampak si nona berbaju biru yang berkerudung itu dengan membawa kedua Pek bersaudara muncul di situ, lalu mengangguk kepada Bok Ji-sia.
"Nona, kenapa kaupun sampai di sini?"
Sapa Oh Ku gwat dengan perasaan agak tenang.
"Memangnya aku tak boleh kemari?"
Sahut nona itu ketus. Oh Ku-gwat tertawa.
"Ah, mana, ingin menyambut saja tak sempat."
Mendadak si nona berbaju biru membentak "Ku Thian-gak, nyalimu kian lama kian bertambah besar!"
Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak adalah seorang lelaki sejati dan berjiwa sekeras baja, selama hidup belum pernah takut kepada siapa pun, namun terhadap nona berbaju biru berkerudung ini ia mengunjuk rasa jeri.
"Nona, apa maksudmu?"
Sahutnya dengan tertawa getir.
"Salahkah ucapanku? Hm, bukan saja kau berani menentang aku, juga berani merebut kembali lencana tembaga itu, kau anggap tanpa lencana tembaga itu aku tak mampu menaklukkan dirimu?"
Air muka Ku Thian-gak berubah, segera kepalanya tertunduk dan tak bicara lagi. Tak tega Ji-sia menyaksikan kejadian ini, ia maju ke depan, bentaknya.
"Berdasar apa kau berani bersikap begitu garang terhadap orang lain...."
"Kau ingin mampus?"
Dengus si nona. Keng-kiau juga merasa tak senang menyaksikan gadis berkerudung itu bersikap kasar kepada Suhengnya, ia maju ke depan dan menuding gadis berbaju biru itu, teriaknya.
"Besar amat nyalimu, berani bersikap kasar kepada Suhengku."
Nona berbaju biru itu menjengek.
"Dalam hal apa perlu kuhormati dia?"
Saking gemasnya Ji-sia tertawa seram, telapak tangan kanannya segera menampar si nona berbaju biru itu dengan garang.
"Kau berani!"
Bentak, kedua Pek bersaudara sambil maju mengadang. Nona baju biru itu mendengus;
"Tak apa, masa dia berani menyentuhku!"
Betul juga, mendadak Ji-sia berubah pikiran dan menarik kembali tangannya, katanya.
"Aku tak mau berurusan denganmu!"
"Hm, siapa pula yang sudi menggubris dirimu!"
Jengek nona baju biru itu. Mendadak terdengar bentakan keras.
"Bangsat tua, hendak kabur ke mana!"
Tampak Ku Thian-gak menubruk ke sana dan melepaskan pukulan ke arah Thian-seng-kiam Oh Ku-gwat.
Baju saja Oh Ku-gwat ingin kabur, tapi segera diketahui oleh Ku Thian-gak, sadarlah dia bahwa sulit buginya untuk meloloskan diri.
Maka ketika angin pukulan Ku Thian-gak yang dahsyat menyambar tiba, terpaksa ia sambut dengan pukulan dahsyat.
"Blang", benturan terjadi dan bumi serasa berguncang. Sambil bergerak ke depan, kembali Ku Thian-gak membentak.
"Sambut lagi pukulanku!"
"Biar kuadu jiwa denganmu!"
Teriak Oh Ku-gwat dengan kalap.
"Blang", terjadi adu pukulan terlebih keras hingga ruang Giam-lo-tian bergoncang keras.
"Uak!"
Oh Ku-gwat tumpah darah, badan sempoyongan, sebaliknya Ku Thian gak sendiri pun tidak lebih baik keadaannya, pucat wajahnya. Pada suat itulah Bok Ji-sia mendongak kepala dan tertawa keras, serunya.
"Oh-lotoa, hari ini tentunya kau tak bisa berkata apa apa lagi bukan!"
"Jangan sentuh dia!"
Mendadak bergema bentakan nyaring Ji-sia melirik si nona berbaju biru sekejap, lalu mendengus.
"Hm, lebih baik jangan kau campur urusanku."
"Kubilang jangan sentuh dia,"
Ujar si nona berbaju biru dengan tenang. Ucapan kereng dan berwibawa, membuat orang merasa tak berani menentangnya, tapi Ji-sia adalah pemuda angkuh, mana ia tak mau menurut.
"Benarkah kau begitu lihai?"
Dia mengejek. Nona berbaju biru itu tertawa.
"Kalau tidak percaya, silakan coba sendiri!"
Ji-sia tak menggubrisnya, dengan langkah lebar dia mendekati Oh Ku gwat. Rasa takut timbul pada wajah Oh Ku gwat, sinar mata minta belas kasihan tiada hentinya dikirim ke arah si nona berbaju biru.
"Bunuh dia, bunuh dia!"
Teriak Ku Thian-gak. Oh Ku-gwat berpaling dan berkata dengan napas tersengal.
"Orang she Ku, utang piutang kita berdua takkan beres selamanya!". Rasa benci terpancar dari matanya, namun juga menampilkan rasa kecewa, karena nona berbaju biru sama sekali tak ada tanda akan mengalangi tindakan Bok Ji-sia. Selama hidup baru kali ini dia merasakan siksa dari batin, diam-diam ia menghela napas, pikirnya.
"Asal aku diberi waktu sedikit saja pasti aku dapat meloloskan diri dari musibah ini!"
Pada saat itulah, tiba2 terdengar nona berbaju biru tertawa terkekeh-kekeh dan menegur.
"Bok Ji-sia, mana kitab pusaka kami?"
Ji-sia tertegun, ia tidak menyangka sekarang si nona bisa mengajukan persoalan itu.
"Hilang!!"
Sahutnya.
"Hm, masa hilang? Mungkin kau gelapkan sendiri!"
Ji-sia menjadi gusar, ia membentak.
"Jangan memfitnah orang semau sendiri!"
Nona berbaju biru itu memang banyak tipu akalnya, ia tahu Ji-sia adalah seorang yang suka lunak dan tidak doyan kekerasan, maka ia bergirang orang sudah terjebak.
"Kalau begitu, serahkan kepadaku!"
Serunya dingin. Ji-sia tak mengira kitab itu akan dituntut kembali sekarang, ia menjadi bingung dan tak tahu bagaimana mesti menjawab. Tapi segera ia berkata.
"Kuyakin sanggup mencari kembali kitab yang hilang itu!"
"Kau bilang apa? Benar hilang?"
Nona itu pura-pura terperanjat. Padahal ia tahu jelas duduknya persoalan, cuma dia sengaja hendak mempermainkan Bok Ji-sia. Sedih Bok Ji-sia, katanya kemudian.
"Kubilang buku itu sudah hilang!"
"Lantas cara bagaimana pertanggungan jawabmu?"
Ji-sia tak bisa bicara, setelah berpikir sekian lama baru menjawab.
"Akan kuganti dengan nyawaku!"
"Baik, kalau begitu serahkan nyawamu!"
Tukas nona itu cepat. Ji-sia merasakan gelagat tidak baik, diam-diam ia mengakui kelihaian gadis itu, pantas tadi ia bilang bisa membuatnya mati.
"Tak bisa kuserahkan sekarang,"
Sahutnya kemudian.
"Hei, kenapa kau tak tahu aturan? Masa nyawa orang kau jadikan permainan?"
Keng-kiau membentak dengan gusar. Nona berbaju biru itu tidak menggubrisnya, malah katanya kepada Oh Ku-gwat.
"Cepat pergi, tak ada orang berani mengalangi dirimu!"
Oh Ku-gwat tertawa terima kasih, bisiknya.
"Akan kuingat budi kebaikan ini."
Sekarang ia tak perlu kuatir lagi, dia tahu Bok Ji-sia sudah jatuh dalam jebakan nona berbaju biru itu, dengan hati lega dia berlalu dari situ.
"Nona Oh, tak boleh kau lepaskan dia!"
Tiba-tiba Ku Thian-gak membentak.
Keng-kiau segera melepaskan dua kali pukulan memaksa Oh Ku-gwat mundur kembali ke tempat semula.
Waktu itu Oh Ku-gwat sudah terluka parah, ia tak berani menyambut serangan itu dengan kekerasan, terpaksa ia menyurut mundur.
"Keponakanku, masa kau jadi durhaka kepada orang tua?"
Tanya Oh Ku-gwat.
"Aku berbakti atau tidak, hanya Thian yang tahu"
Jawab Keng-kiau tegas.
Perlu diketahui, meskipun Oh Keng-kiau dibesarkan dalam Thian seng-po, namun segala sesuatu tiada berperasaan apa-apa terhadap Oh Ku-gwat, dahulu ia tidak tahu asal-usulnya, maka terhadap Oh Ku-gwat, ia menghormatinya sebagai paman, tapi setelah tahu ayah ibunya tewas di tangan Thian-seng-kiam Oh Ku-gwat dan Seng-gwat kiam Oh Kay-thian.
semua budi yang pernah diterimanya seketika lenyap, dia hanya ingat pada dendam kesumat dan lupa akan hubungan antara paman dan keponakan.
Sementara itu, si nona berbaju biru itu sedang melotot gusar pada Ku Thian gak, katanya.
"Ku Thian-gak, bila ingin turun tangan, lebih baik maju sendiri, kenapa menyuruh seorang anak perempuan untuk mengantar kematian!"
Meski dicaci maki, Ku Thian-gak sama sekali tidak memberi reaksi apa-apa.
Rupanya dalam bentrokan melawan Oh Ku-gwat tadi, tiba-tiba tenaga sukar dihimpun, jangankan bertarung lagi, untuk mengangkat tangan saja tak kuat, rupanya secara diam-diam ia terkena serangan maut Kui-ing-cap-sah-sik.
Si nona berbaju biru lantas berkata lagi kepada Bok Ji-sia.
"Bila kau berat hati untuk mati, ayo panggil kembali Sumoaymu!"
Ji-sia jadi serba susah, ia pernah berjanji kepada gadis itu bila gagal mengantar Hek liong kang-ki-su kepada Hek-liong Lojin, maka dia bersedia mati sebagai ganti kitab itu.
Sekarang orang menagih janjinya, ia sendiri tak sanggup menyerahkan kitab tersebut, karena itu dia berkeputusan lebih baik mati saja daripada dicap sebagai manusia yang ingkar janji.
Setelah menghela napas, desisnya.
"Aku lebih suka mati saja di hadapanmu!"
Ia tersenyum pedih dan memandang sekejap ruyung emas Jian kim-si hun-pian di tangannya, ia mendongak dan menghela napas panjang, ia memutuskan akan membunuh diri.
Baginya kematian memang tidak menjadi soal.
Tiba-tiba Oh Keng-kiau memburu ke sisi Ji-sia, serunya.
"Suheng, apakah kau tunduk padanya?"
"Tidak, aku hanya meluluskan permintaannya untuk mati!"
Jawab Ji-sia sambil tersenyum getir.
"Suheng, kau tak boleh mati,"
Bisik Keng kiau dengan air mata bercucuran.
"Jika kau berbuat demikian, Subo pasti tak tenteram di alam baka"
"Kalau aku tidak mati, apakah dia harus bebas?"
Kata Ji-sia sambil menuding Oh Ku-gwat.
"Untuk sementara kita ampuni jiwanya, anggap saja sebagai balas budiku kepadanya"
"Tidak, jika setiap kali perempuan itu selalu mengacau, maka selama hidup kita tak dapat membalas dendam. Ai, sungguh kubenci diriku sendiri."
"Bencimu padaku tentu sungguhan bukan?"
Nona berkerudung biru itu menambahkan sambi berkedip. Sementara itu Oh Ku-gwat tahu dirinya nyaris mampus, maka diam-diam ia hendak ngeluyur pergi..
"Oh-lotoa. berhenti!"
Tiba-tiba Ji-sia membentak.
"Kau benar-benar tidak sayang jiwamu lagi?"
Si nona berbaju biru segera mengadang ke depan Dengan benci Ji-sia menjawab.
"Sekalipun aku sanggup mati, nsmun tidak pernah menyanggupi agar tidak membunuhnya."
Dari ucapannya Keng-kiau tahu Ji-sia bertekad untuk mati, dia terperanjat, buru-buru ditariknya lengan Ji-sia sembari berseru.
"Suheng, jangan..."
Nona berbaju biru tertawa dingin, ia memberi tanda agar Oh Ku-gwat pergi dari situ.
Tentu saja Ji-sia tidak tahu si nona berbaju biru itu ada maksud menarik Thian-seng-po ke pihaknya untuk memusuhinya.
Mendadak dari luar Giam-in-thian bergema suara bentakan gusar.
"Penipu, penipu, kembalikan muridku!"
Lenyap suara itu, mendadak berkelebat masuk sesosok bayangan hitam, sambil menuding Bok Ji-sia lantas mencaci maki.
"Kau .... kau penipu, penipu orang perempuan, penggaet anak gadis orang ..."
Mula-mula Ji-sia bingung, dia tak tahu dari mana datangnya bencana tersebut, karena malam gelap hingga sukar melihat jelas raut wajah orang. Tapi setelah dekat, dia berseru tertahan.
"O, kiranya Bwe-locianpwe!"
Ternyata orang ini ialah Han-bwe-koksu, Bwe-hiang-sian-ki, yakni guru Tong Yong-ling.
Sejak Tong Yong-ling meninggalkannya, ia merasakan hal itu sebagai suatu pukulan batin, tidur tak tenang, makan tak enak, hampir setiap saat memikirkan Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling, oleh karena pengkhianatan Tong Yong-ling disebabkan oleh Oh Keng-kiau, maka tanpa terasa iapun membenci Bok Ji-sia.
Sekarang demi menemukan Bok Ji-sia di sini, giginya gemertuk saking geramnya.
Dengan mata merah dan kepalan tergenggam kencang ia menghampiri Ji-sia.
Ji-sia terkesiap, serunya.
"Locianpwe, dinginkan dulu pikiranmu!"
"Hehe, kau penipu orang perempuan bukan?"
Teriak Bwe-hian-sian-ki pula. Ji-sia menggeleng.
"Belum pernah kulakukan perbuatan seperti itu, mana mungkin ...."
"Jika kau bukan penipu, mengapa muridku minggat dari sisiku ...?"
Teriak Bwe-hiang-sian-ki.
"mengapa pula dia lari ke sana kemari bersamamu daripada menemani aku? Kalau kau tidak menipunya, mana bisa dia berbuat begini?"
Ji-sia tak dapat membantah, mukanya merah dan matanya memancarkan sinar kegusaran, serunya dengan tergagap.
"Kau ... kau ngaco belo!"
Melihat pemuda itu malu, si nona berbaju biru tertawa cekikikan, ejeknya.
"Dia bukan saja penipu, malahan seorang ahli perayu perempuan, hanya suka pada yang baru dan jemu pada yang lama!"
Dengan gusar Keng-kiau maju ke depan, bentaknya.
"Mengapa usil mulut?"
Segera Pek Sat mengadang di depannya, katanya.
"Kau budak liar ini jangan ikut urusan."
"Kau sendiri budak liar!"
Hardik Keng-kiau gusar.
Mendadak ia melancarkan serangan aneh, tampaknya mencengkeram dari depan, tahu-tahu tangan membalik dan menyambar dari samping.
Meski Pek Sat adalah dayang didikan Hek-liong Lojin, namun ia tak kenal kedahsyatan jurus serangan itu.
Dia malah mengejek.
"Huh, tak lebih cuma begini saja ..."
Siapa tahu, belum selesai ia berkata, mendadak ia menjerit kaget, punggungnya tahu-tahu sudah dicengkeram orang dan diangkat ke atas, seketika itu juga keseimbangan badannya hilang.
"Lepaskan aku!!"
Bentaknya dengan muka merah. Ia berusaha meronta dengan sepenuh tenaga namun gagal untuk melepaskan diri dari cengkeraman Oh Keng-kiau. Sambil tertawa dingin Keng-kiau mengancam.
"Apakah kau minta kubanting mampus dirimu!"
Mendadak Pek Bi melompat maju, bentaknya-"Lepaskan dia!"
"Kau-pun ingin coba?"
Ejek Keng-kiau sambil membawa Pek Sat mengelilingi arena satu kali.
Dalam keadaan begini, Pek Bi tak berani turun tangan dengan gegabah.
Melihat semua itu, diam-diam dia gelisah sekali.
Ia menengok ke sana dengan harapan si nona berbaju biru itu akan memberi kisikan kepadanya cara menolong, siapa tahu nona berbaju biru itu tetap tunduk kepala dan asyik berpikir seperti seorang pendeta yang sedang bersemadi, seakan-akan kejadian itu sama sekali tak diketahuinya.
Akhirnya Pek Bi tak tahan, teriaknya.
"Biar nonamu menghadapimu!"
Dia menerjang ke arah Oh Keng-kiau, telapak tangan kanan memukul sementara tangan kiri mencengkeram dada lawan.
Keng-kiau tertawa dingin, mendadak ia mengegos dengan enteng, dengan begitu Pek Bi menubruk tempat kosong.
Mendadak nona berbaju biru itu berseru.
"Pukul Ki-ciap, sodok Siau-im!"
Waktu itu Pek Moay sedang kesulitan, mendengar seruan tersebut, semangatnya segera berkobar, segera ia lakukan petunjuk itu.
Keng-kiau terkesiap, ia tak berani meremehkan lawan lagi, tangan segera diangkat ke atas sambil membentak.
"Pergi!"
Jeritan kaget bergema, tubuh Pek Sat melayang ke udara, meluncur ke atas Giam-in-thian.
Untung saja tenaga dalam Pek Sat lumayan, begitu terlepas dari tangan Oh Keng-kiau, buru-buru dia menekuk pinggang, ketika badannya hampir menyentuh atap rumah, tangannya segera menggaet emper rumah.
Coba meleset sedikit saja niscaya batok kepalanya terbentur hancur.
Melihat Keng-kiau melemparkan tubuh cicinya ke udara, tanpa terasa Pek Bi menjerit kaget, tanpa menggubris kelihaian orang, ia menerjang maju "Kaupun pergi saja!"
Bentak Keng-kiau.
Dengan jurus yang sama dia melemparkan tubuh Pek Bi ke udara.
Dengan perasaan dingin Pek Bi memejamkan, mata dau menanti kematian, untung deri atas rumah menyambar tiba sebuah tangan yang mencengkeram tubuhnya, Terdengar Pek Sat mendesis.
"Adikku, jangan takut!"
Mencorong sinar mata nona berbaju biru itu, terdengar ia berseru lantang.
"Hebat sekali kepandaian nona, kau telah memberi pelajaran kepada kedua orang dayangku!"
"Ah, cuma hadiah kecil, tidak seberapa!"
Jawab Keng kiau.
Dia lantas bergeser mendekati Bok Ji-sia dan tidak memperdulikan legi si nona berbaju biru.
Sementara itu Bwe-hiang-tian-ki gusar sekali karena Bok Jisia bersikap kasar padanya, bentaknya penuh benci.
"Anak keparat, kau terlalu!!"
Setelah beradu kekerasan dengan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat tadi sehingga menyebabkan darah di dadanya bergolak, Ku Thian-gak tak berbicara lagi, waktu itu dia sudah selesai bersemadi, maka ia maju dan berkata "Nenek tua, kalau muridmu hilang, tak bisa kau salahkan Bok-siauhiap!"
Bwe-hiang-sian-ki tertawa getir, katanya.
"Ku Thian-gak, lebih baik kau berdiri saja di situ, jangan kau anggap sedikit kepandaiaumu itu bisa menakuti orang."
"Haha, bagus! Kalau begitu akan kuminta pelajaran Bwe-sat-ciang yang tersohor itu!"
Telapak tangannya disilangkan di depan dada dan siap menunggu serangan Bwe-hiang-sian-ki, gaya semacam itu adalah gerak pembukaan Lo-han-kun aliran Siau-lim.
Ji-sia menjura kepada Ku Thian-gak, katanya "Cianpwe harap mundur, urusanku biar kuselesaikan sendiri, apalagi ia sudah datang mencariku, aku tak ingin merepotkan kalan."
"Tunggu dulu,"
Tiba-tica Bwe-hiang-sian-ki berubah sikap.
"aku harus memberi hajaran dulu kepada tua bangka ini, kemudian membuat perhitungan denganmu." -dw-Dapatkah Bok Ji-sia dan Oh Keng-kiau menuntut balas secara tuntas? Bagaimana akhiran daripada cinta segi banyak antara si nona berbaju biru, Tong Yong-ling dan lain2 terhadap Bok Ji sia? -ooo0dw0ooo-
Jilid 26 Tamat "Huh, berdasarkan apa berani kau remehkan orang, nonamu ingin belajar kenal dulu padamu,"
Jengek Keng-kiau. '"Keparat, kau pingin mampus!"
Bentak Bwe-hiang-sian-ki.
Sekali berputar, bayangan tangan beterbangan, di mana angin pukulan menyambar terasa dingin nerasuk tulang.
Sejak memperoleh kitab pusaka wariiau Kim-teng Cinjin, seorang tokoh sakti dunia persilatan, sesungguhnya ilmu silat Oh Keng-kiau sudah mencapai puncaknya, akan tetapi, berhubung hatinya vvelag kasih, selama ini enggan melakukan pembunuhan.
Tapi kemarahannya malam ini telah memuncak, begitu turun tangan se&era jurus-jurus serangan aneh dilancarkan sehingga pandangan orang menjedi kabur.
Bwe-hiang-sian-ki sendiri termasuk tokoh kelas satu dalam dunia persilatan, sayang usianya sudah terlampau tua, otomatis kegesitannya juga di bawah Oh Keng-kiau, seielsh beberapa jurus serangssnya mengenai sasaran kosong, dia berpekik gusar.
Pertarungan bertambah sengit, untuk sesaat kedua pihak sukar menentukan menang kalah.
Sementara itu, Pek Sat dan Pek Bi yang dilemparkan Oh Keng-kiau ke atap rumah menjadi gusar juga, kedua orang saling memberi tanda sekejap, lalu melayang turun, buru-buru si nona berbaju biru memanggil mereka untuk mundur.
Mendadak terdengar seorang terbahak-bahak dan berseru.
"Sungguh pertarungan yang hebat, hari ini agaknya si nenek telah menemukan tandingannya!"
Kemudian terdengar seorang lain menyambung.
"Jumlah yang hadir di sici tidak sedikit, bisa jadi peristiwa Bu-lim yang menggemparkan lagi."
Menyusul ucapan itu tampak Hian-thian-ko-ancu dan Pek-hoat-kui-po telah muncul dan langsung menerjang ke arah Oh Keng-kiau.
Sambil manutul tongkat pajangnya, Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau berseru lantang.
"Anak perempuan, besar amat nyalimu, berani mengusik Bu-lim-jit-koat!"
Tongkat berputar membawa desing angin tajam langsung menghantam pergelangan tangan Oh Keng-kiau.
"Hei, kalian hendak main kerubut?"
Teriak Bok Ji-sia. Ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian nya berputar memancarkan cahaya, gemerincing nyaring, tahu-tahu tongkat Pek-hoat-kui-po gumpil sebagian. Dengan gusar Bwe-hiang-sian-ki membentak.
"Cin-lopocu, tidak ada urusanmu, lebih baik jangan ikut campar."
Kejut Pek-hoat-kui-po karena tongkat kesayangan rusak akibat beradu senjata dengan Bob Ji-sia Dengan gusar dia menjawab.
"Ruyung mestika Jian-kim-sl-hun-pian memang hebat, aku ingin minta petunjuk beberapa jurus lagi."
Sebagai salah seorang tokoh Bu-lim-jit-koai, sudah barang tentu ia memiliki ilmu silat yang hebat, rusaknya senjata andalan sama artinya merusak nama baiknya, pantas ia menjadi murka.
Ji-sia tidak pedu!i, ejeknya.
"Sekalipun kalian maju bersama pun Siauya tidak akan mundur."
"Bagus, biar akupun ambil bagian!"
Teriak Hian-thian-koancu dengan gusar.
Mendadak ia menerobos ke samping Bok Ji-sia, dengan dua jari Ungsuog menutuk Ki-ti-hiat di tubuh Bok Ji-sia.
Sementara kelima jari tangan kiri terentang untuk mencengkeram urat nadi musuh, sungguh serangan yang lihai.
Satu jurus dengan dua gerakan ini dilakukan dengan cepat, yang diancam adalah tempat mematikan.
Dalam kejutnya cepat Ji-sia memutar badan, telapak tangan kiri balik memotong pergelangan tangan Hian-thian-koancu, Waktu itu, Pek-hoat-kui-po CiD Say-kiau melihat ada kesempatan, sambil membentak tongkat segera menyodok ke lambung Bok Ji-sia.
Namun Ji sia sempat putar Jian-kim-si-hun-pian sehingga membelit tongkat lawan.
menyusul terdengar bentakan menggelegar.
"Naik!"
Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau merasakan pergelangan tangan mengencang, lalu terlepas, tongkat yang sudah 20 tahun mengikuti dirinya itu mencelat ke udara.
Tenaga dalam S6hebat itu sungguh menggetarkan perasaan orang, sampai nona berbaju biru diam-diam juga mengangguk.
Setelah menerbangkan tongkat lawan, Ji-sia tiriak menghentikan gerakannya, Jian-kim-si-hun-pian sekaligus menyambar ke arah Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau.
Hian-thian-koancu terperanjat, cepat serunya.
"Hei, nenek, lekas mundur!"
Berbareng iapun menubruk maju, jarinya menutuk dan sikut menumbuk, menyusu!
kaki kirinya menendang Toa-hek-hiat dibawah pusar lawan.
Ji-sia bersiul nyaring, dia enggan melukai musuh, sambil menarik kembali senjatanya, ia meninggalkan Pek-hoat-kui-po dan khusus hanya menyerang Hian-thian-koancu.
Terkejut Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau hingga keluar keringat dingin, coba kalau Hian-thian-koancu tidak menolong tepat pada waktunya, mungkin ia sudah binasa.
Sambil meraung murka, dengan nekat ia menerjang msju lagi.
Pertarungan sengit terjadi lagi, dalam kedudukan sebagai dua jago dalam Bu-lim-jit-koat, kenyataannya mereka tak mampu menundukkan seorang pemuda, hal ini benar-benar kejadian yang memalukan.
Tiba-tiba ada orang bersuara tertahan, tampak Bwe-hiang sian-ki terduduk di tanah deugan wajah pucat, tapi dengan cepat dia melompat banguu lagi,, dengan napas terengah dia berteriak.
"Budak keparat, hari ini nyonya besar benat-benar jatuh di tanganmu!"
Oh Keng-kiau berdiri dengan wajah cerah, sambil tertawa katanya.
"Habis, kau tak tahu diri dan berani mengusir nonamu, setelah mendapat pelajaran, salahkan siapa lagi?"
Bwe-hiang-sian-ki sama sekali tidak mengira seorang nona cilik yang baru berumur dua puluh tahunan memiliki tenaga dalam sedemikian sempurna, setelah termenung sebentar wajahnya kelihatan bimbang.
Akhirnya dia menegur dengan suara dingin.
"Kau murid siapa?!"
"Dia putri Thian-seng-pocu!"
Sela si nona berbaju biru itu.
"Ah, tidak mungkin"
Kata Bwe-biang-tian-ki tidak percaya.
"sekalipun Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak terhitung pemimpin Bu-lim-jit-koai, kungfunya hanya seimbang di antara kita meski tenaga dalamnya memang setingkat lebih tinggi dari pada kita. Dangan kemampuannya itu mustahil dia bisa mendidik seorang putri sehebat ini, lagipula mati-hidup Oh Kay-thian juga tidak jelas, dari mana timbul anaknya?"
"Hehe, memangnya kau serba tahu segala urusan di dunia ini?"
Ejek Keng-kiau.
"Budak hina, bila tidak kubunuhmu hari ini, percuma aku hidup selama enam puluh tahun,"
Bentak Bwe-hiang-sian-ki murka. Kembali ia menerjang ke depan dan beruntun melancarkan beberapa kali pukulan, jurus serangan Bwe-sat-ciang yang lihai.
"Kau cari kematian sendiri, jangan salahkan aku lagi!"
Bentak Keng-kiau sambil mengegos.
"Berhentil"
Mendadak dari luar arena berkumandang suara bentakan. Si nona terbaju biru berpaling sambil tertawa, katanya.
"Bagus sekali, memang sudah kuduga kalian akan tiba di sini!"
Tampak Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat berjalan paling depan, di belakangnya mengikut Mo-in-jiu Kok Siau-thian dan Leng-hong-siau serta dua puluh empat orang lelaki berbaju hitam.
Begitu mendengar suara bentakan tadi, Ji-sia juga tabu siapa yang datang, dia segera melompat keluar arena, sementara Hian-thian-koancu dan Pek-hoat-kui-po juga manfaatkan kesempatan itu untuk mengundurkan diri.
Hati Keng-kiau bergetar menyaksikan kedua paman datang semua kesitu, timbul perasaan tak tenang.
Perlu diketahui, walaupun Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian adalah pembunuh ibunya, namun sejak kecil Keng-kiau dibesarkan oleh Oh Kay-thian, sehingga mau-tak-mau sudah ada ikatan batin.
Dia ingin turun tangan, namun perasaannya terlampau lemah, seketika tak tahu apa yang mesti dilakukannya, sambil menghela napas dia hanya berdiri di samping Bok Ji-sia.
"Jangan gugup Sumoay,"
Desis Ji-sia.
"mungkin kita harus bertarung sengit malam ini."
"Menurut dugaanmu apa yang hendak dilakukan Samsiok (paman ketiga)?"
Tanya Keng-kiau.
"Apa lagi kalau bukan berusaha melenyapkan kita dan menghilangkan bibit bencana di kemudian haril"
Dalam pada itu, Seng-gwat-kiam Oh Khay-thian lintas mengangguk terhadap setiap orang, terutama waktu melihat Ji-sia dan Keng-kiau, dia lantas tersenyum kepada kedua orang itu.
Entah senyuman permusuhan atau senyum persahabatan?
Tiada orang yang tahu.
"Nona, sudah lama sampai di sini?"
Sapa Oh Khay-thian kepada si nona berbaju biru "Ah, cuma selangkah lebih duluan daripada dirimu,"
Sahut si nona dingin. Seng-gwat-kiam tertawa, kttika melihat Bwe-hiang-sian-ki juga berada di situ, air mukanya agak berubah, tapi segera tegurnya sambil bergelak.
"Aha, nenek, kenapa tampangmu jadi masam begitu? Memangnya baru saja berkelahi dengan orang?"
"Hm, kenapa? Apakah kaupun ingin membonceng?"
Dengus Bwe-hiang-sian-ki.
"Ah, masa begitu?"
Seru Oh Kay-thian.
"kita telah berusia lanjut, akupun bukan manusia macam itu, ilmu pukulan Bwe-sat-ciangmu menjagoi dunia penilatan, siapa yang berani mengusik dirimu?"
Lalu dia berpaling ke arah Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak dan berseru lagi dengan tertawa "Ha ha, tak kusangka di sini masih ada seorang jago lagi?"
"Tak perlu menjilat pantat, aku tidak suka permainan semacam Ini!"
Jawab Ku Thian-gak dengan mendongkol.
Siapa saja tentu akan marah mendengar perkataan itu, tapi Oh Kay-thian hari ini benar-benar sabar, dia cuma tertawa dan tidak menghiraukan ucapan tersebut.
Sikapnya yang luar biasa ini sama sekali bertentangan dengan sikap biasanya, semua orang menjadi curiga.
Oh Kay-thian lantas berpaling ke arah Hian-thian-koancu dan Pek-hoat-kui-po, sapanya.
"Kalian berdua pasti sangat lelah, barusan kalian bergebrak dengan siapa?" ' Siapa pun tahu ucapan tersebut sangat licin, nama Bu-lim-jit-koat amat termashur, jika Hian-thian-koancu dan Pek-hoat-kui-po gagal mengalahkan Bok Ji-sia, sungguh hal ini amat memalukan mereka. Dengan air muka bsrubah Hian-thian-koancu lantas berseru.
"Oh-losarn, kau benar-benar lihai!"
Pek-hoat-kui-po juga lantas menjengek.
"Ku-percaya Oh losam sendiri belum tentu bisa menandingi kelihaian iawan ... ."
Air muka Oh Kay-thian agak berubah, tapi dengan cepat pulih kembali seperti biasa, sambil mengangkat bahu ia tertawa dan memperlihatkan sikap apa boleh buat.
"Aku Oh losam bukan jago nomor satu di kolong langit yang sanggup mengalahkan setiap jago di dunia ini,"
Ucapnya sambil tersenyum.
"Al, sebetulnya siapakah jago berkepandaian selihai itu yang sanggup mengalahkan dua tokoh kelas satu?"
"Itu dia orangnya!"
Seru Pek-hoat-kui-po "ambil menuding Bok Ji-sia.
Pikiran orang perempuan memang picik, Pek-huat-kui-po masih penasaran karena dikalahkan Bok Ji-sia, maka timbul ingatannya akan mengadu domba antara Oh Kay-thian dengan Bok Ji sia.
Oh Kay-thian berlagak merasa kaget, serunya.
"Wah, kalau begitu kepandaian Bok-siauhiap boleh dibilang nomor satu di dunia!"
Kata-katanya amat menyindir dan tak sedap didengar, Bok Ji-sia tahu orang bertujuan mengejeknya. Maka sambil tertawa dingin jawabnya.
"Ah, masa bisa lebih hebat daripada Seng-gwat-kiammu!"
Oh Kay-thian tersenyum, dia lantas berpaling ke arah Oh Keng-kiau, tegurnya.
"Anak Kiau, selama berapa hari ini kau ke mana saja?' Rasa benci Keng-kiau kepadanya sudah merasuk tulang sungsum, jengeknya.
"Peduli apa denganmu?"
Air muka Oh Kay-thian berubah hebat, katanya.
"Hei, makin menginjak dewasa kau jadi makin tak tahu aturan? Masa berani kurang ajar kepada ayahmu sendiri? Orang yang tidak tahu pasti mengira aku yang salah mendidik dirimu?"
Keng-kiau sangat gusar.
"Siapa bilang aku putrimu? Jangan sembarangan omongl"
Oh Ku-gwat yang berada di samping menjadi gemas, semaya.
"Jite, tak usah banyak bicara, bereskan dia saja!"
Rupanya ia gusar sekali karena terdesak oleh gadis itu tadi, maka kedatangannya ini adalah untuk membalas dendam sekaligus melenyapkan bibit bencana di kemudian hari.
"Anak Kiau,"
Kembali Oh Kay-thian berseru dengan menghela napas.
"apakah aku ayahmu atau bukan, yang pasti selama belasan tahun ini aku telah memelihara dan mendidikmu dengan baik, tahukah kau karena apa? Apa lagi kalau bukan mengharapkan kau jadi orang yang berguna dan menjayakan nama baik nenek moyangmu? Sekarang, tentu nya telah kau dengarkan perkataan ibumu sehingga membenciku setengah mati padahal semua ini hanya salah paham belaka!"
Kata katanya cukup mengharukan sehingga pedih hati Keng-kiau. meski orang ini berdosa besar, tapi sesungguhnya amat menyayangi gadis ini. Air mata Keng-kiau bercucuran, katanya kemudian.
"Bagaimanapun menariknya ucapanmu, selama hidupku tak mau psrcaya lagi kepadamu, hubungan antara kita telah putus, bersiaplah, segera kulancarkan seranganl"
Sambil berkata dia lantas mengambil ancang-ancang, tenaga dalam dihimpun pada lelapak tangannya. Oh Khay-thian tidak menanggapi tantangan tersebut, malahan sambil bergendong tangan ia berkata.
"Bila kau tidak senang, baiklah, boleh kau-pukul diriku beberapa kali, cuma sehabis memukul nanti kau harus, ikut pulang ke Thian-seng-po."
Keng-kiau melengak, ia tak menyangka Oh Kay-thian mandah diserang, meski dendam hatinya, namun ia enggan menghajar seorang yang tidak membalas.
"Jangan kau pikir begitu lagi,"
Serunya kemudian sambil tertawa seram.
"kalau bisa, aku justeru ingin meratakan Thian-seng-po dengan permukaan tanah!"
"Kau benar-benar anak yang tak berbakti!"
Bentak Oh Kay-thian dengan air muka berubah. Keng-kiau tertawa pedih.
"Thian-seng-po adalah lambang kejahatan, setiap orang yang punya rasa keadilan tentu ingin memusnahkannya, aku tak lebih hanya seorang penggerak yang lebih giat saja."
Maklumlah, sejak Thian-seng-po jatuh ke tangan Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian.
sebagian besar kejahatan yang terjadi dalam dunia persilatan selalu melibatkan pihak Thian-seng-po.
Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian menganggap Thian-seng-po sebagai lambang kehidupannya, bila benteng itu musnah berarti orangnya turut tewas, tak heran kalau air mukanya lantas berubah demi mendengar ucapan Keng-kiau tadi.
la tahu tiada kompromi lagi dengan Oh Keng-kiau, m.nka dengan gusar bentaknya.
"Anak Kiau, kau kira tak berani kubunuhmu?"
"Hm, tentu saja kauherani, perbuatan apapun berani kaulakukan, sudah lama kutahu bakal datang hari seperti ini,"
Jengek Keng-kiau.
"cuma, perlu kuberitahukan padamu, tiada sesuatu di dunia ini yang begitu sederhana seperti apa yang kau bayangkan!'. Oh Kay-thian memandang sekejap sekeliling arena, lalu katanya.
"Saudara sekalian, persoalan ini adalan masalah rumah tangga kami sendiri, kuharap orang yang tiada hubungannya dengan Thian-Seng po janganlah ikut campur, kalau tidak, terpaksa akupun tidak sungkan lagi."
Peringatan ini setengahnya ditujukan kepada semua orang, setengahnya lagi khusus ditujukan ke Keng-kiau dan Ji-sia, semua orang juga tahu hal ini, sudah barang tentu mereka enggan mencampuri urusan pribadi orang lain.
Bok Ji-sia lantas tertawa dmgiu, katanya.
"Jangan kau coba mengikat orang dengan perkataanmu, yang jelas tuan muda takkan termakan oleh ucapanmu."
"Hm, sekalipun kau tak ikut campur juga tak akan kuampuni dirimu!"
Jengek Oh Kay thian. Mendadak terdengar bentakan menggeledek, Oh Ku-gwat melolos pedangnya, dengan jurus Kiam-hai-keng-hun (lautan pedang menggetar sukma) dia terjang Bok Ji-sia.
"Bagus!"
Bentak Ji-sia.
Jian-kim-si-hun-pian itu diayunkan ke depan dengan jurus Boan-thian-hocg-piau (angin puyuh menderu di angkasa), diiringi cahaya emas dan desing tajam ia sambut serangan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat.
Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian memandang sekejap ke-24 jago Thian-seng-po, katanya.
"Perhatikan, jangan sampai ada seorang pun yang lolos!"
"Suheng, mari kita labrak mereka!"
Seru Keng-kiau, segera ia menerjang Seng-gwat-kiam Oh Kay thian.
"Sumoay, kalau tidak membunuh mereka berdua hari ini kita bersumpah takkan berhentil"
Bentak Ji-sia. Pertempuran sengit segera berkobar.
"Samsiok, hari ini keponakanmu terpaksa ber-tindak kurangajar kepadamu!"
Teriak Keng-kiau terhadap Oh Kay-thian.
"Agaknya Oh Kay-thian juga tahu Keng-kiau tidak mudah ditundukkan, apalagi dia telah membunuh orang tuanya, tentu nona itu tak akan mengampuninya begitu saja.
Satu-satunya jalan sekarang adalah berusaha memusnahkan Keng-kiau dan Ji-sia, sebab bila kedua anak itu tetap hidup di dunia ini, suatu ketika pasti akan merupakan bibit bencana baginya.
Setelah mengambil keputusan, seketika juga dia melupakan hubungan darah antara mereka, ia mendongakkan kepala dan tertawa seram, suaranya keras menggetar rumah di sekitar tempat itu.
Setelah berhenti tertawa, dia berseru "Kau-manusia yang lupa budi, hari ini harus kulenyap-kan dirimu dari muka bumi."
Selesai berkata, telapak tangan terangkat dan memapak ke depan, kontan ia hendak menutuk Khi-hay-hiat di tubuh Oh Keng-kiau, sementara kelima jari tangan lain menabas pinggang musuh, dua jurus dilancarkan bersama dengan cepat.
Cepat Keng-kiau menggeser ke samping, telapak tangan kanan balas menghantam.
Seng-gwat kiam Oh Kay thian sudah lama berkumpul dengan Keng-kiau, terhadap ilmu silatnya boleh dibilang sangat apal, ia tertawa, serunya.
"Hehehe, rupanya kau ingin mampus!"
Dengan menambahi tenaga pukulannya ia sambut hantaman si nona.
Ia tidak tahu Oh Keng kiau telah mempelajari ilmu maha sakti peninggalan Kim teng Cinjin, kepandaiannya sekarang sudah jauh melebihi apa yang diketahuinya.
Andaikata ia tahu sudah pasti takkan berani bertindak gegabah.
Oh Keng-kiau sendiri juga terkesiap menyaksikan kehebatan tenaga pukulan Oh Kay-thian, dengan kening berkerut segera bentaknya.
"Mampuslah kau sendiri!"
Dengan jurus Hek -liong kiam-tau (naga hitam mengangguk kepala) ia menangkis sambil menabas ke bawah, inilah ilmu sakti Kim-teng-pit-kip yang tidak menimbulkan suara dan tanpa berwujud.
Oh Kay thian kaget oleh serangan yang tidak menimbulkan suara ini, menyusul ia tambah terperanjat dan hendak menarik kembali serangannya, namun tak sempat lagi.
"Blang,"
Benturan keras terjadi.
Oh Kay-thian merasakan benaknya mendengung, darah bergolak, beruntun dia mundur beberapa langkah sebelum berdiri tegak lagi.
Setelah berhasil memaksa mundur Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, Keng kiau merasakan lengannya menjadi kaku, dengan wajah dingin dia membentak lagi.
"Ayo, sambut pula pukulanku ... ."
Pada saat itu juga tiba-tiba terdengar jeritan Oh Ku-gwat.
"Orang she Oh,"
Kedengaran Ji sia bersera.
"hari ini adalah hari terakhir kalian bersaudara!"
Mendadak Thian-seng-kiam Oh Ku-gwat membentak gusar;
"Maju semual"
Ke 24 orang jago Thian-seng-po yang berada di sekeliling tempat itu serentak memancarkan diri, bayangan pedang gemerdep dari empat penjuru dan serentak mengurung Ji-sia.
"Omintohud!"
Tiba-tiba bergema suara pujian kepada sang Budha yang nyaring, tahu-tahu It-hu Taysu dari Siau lim-pai berjalan masuk. Dengan cepat Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak memburu maju sambil berseru.
"Taysu, sudah lama Tecu menanti di sini!"
It-hu Taysu merangkap tangannya di depan dada seraya berkata.
"Kau berasai dari Siau-lim-pai, setiap saat selalu memikirkan kepeutingan Siau-iim-dari sini dapat diketahui betapa mulia hatimu. Begitu memperoleh kabar darimu, segera kuberangkat ke sini"
Sesudah berhenti sebentar, lalu bentaknya.
"Harap Oh-sicu menghentikan serangan dulu, ada persoalan hendak kubicarakan!"
Begitu mendengar kehadiran It hu Taysu dari Siau-Iim-si, air muka Thian-seng-kiam Oh Ku-gwat berubah bebat, buru-buru dia melompat mundur, sementara pertarungan di sebelah lain pun berhenti.
Hanya Oh Keng kiau yang dipengaruhi kobaran rasa dssdam yang tak mau menghentikan serangannya, Seng-gwat-kiam Ob Kay-thian berniat mendesaknya mundur, namun hal ini bukan pekerjaan gampang, saking jengkelnya dia berpekik berulang kali.
Dengan kepala tertunduk dan mata setengah terpejam, It-hu Taysu berseru.
"Lisieu, mengingat padaku bersediakah kau ....
"Dendam kesumat lebih dalam daripada lautan ,. ."
Belum habis perkataan Keng kiau, segera ia membentak nyaring, kembali ia melancarkan beberapa kali pukulan. Karena didesak berulang kali, Seng gwat-kiam Oh Kay-thian berteriak gusar.
"Anak Kiau, aku hanya mengalah dan bukan berarti takut padamu kalau tak berperasaan, terpaksa aku turun tangan keji!"
"Criing!"
Denting nyaring bergema, cahaya berkilauan terpancar tampaknya iblis tua yang jarang rnempergudakan pedangnya benar-benar jadi kalap.
Melihat lawannya melolos pedang Keng-kiau terkesiap, sambil tertawa seram pukulannya segera berubah, angin pukulan mtnderu-deru.
Dalam waktu singkat bayangan ped"ng dan telapak tangan memenuhi udara, dua sosok bayangan aii hitam saling gempur dengan hebatuys.
Siau-yau-sian hong kok Ku Thien-gak merasakan tekad Oh Keng-kiau untuk mati, ia tahu hanya Bok Ji-sia saja yang mampu menghentikan serangan Oh Keng-kiau.
Maka dia lantas berpaling ke arah Ji-sia sembari berseru.
"Bok-siauhiap, kau ...."
Ji-sia paham maksudnya, sebelum selcrai ucapannya, segera dia berseru.
"Jangan kuatir Cianpwe, akan kupanggil kembali Sumoy!"
"Huh, Sumoy ..mesra amat panggilannya!"
Ejek si nona berbaju biru sambil tertawa dingin.
Nada perkataannya mengandung rasa cemburu.
Dengan gemas Ji-sia melototnya sekejap, ia tak tahu kalau gadis itu secara diam-diam telah mencintainya?
Setelah melotot gusar pada nona berbaju biru, Ji sia segera berpaling dan membentak.
"Sumoay, kembali!"
Ia tidak memperhatikan sorot mata si nona berbaju biru ketika itu, gadis yarg serba hebat itu sedang melelehkan air mata. Pek Bi terperanjat menyaksikan ha! itu, segera tegurnya.
"Siocia, kenapa kau?"
"Ti ... tidak apa-apa,"
Sahut si nona berbaju biru.
Peristiwa ini meliputi cinta asmara yang rumit, dalam hati dia sangat mencintai Bok Ji-sia, tapi ada kalanya rasa benci melebihi rasa cintanya, membuat dia kehilangan kesempatan untuk dicinta.
Dia selulu terombang-ambing oleh perasaan "cinta padanya atau benci padanya?", jika tidak berjumpa ia merasa rindu dan ingin bertemu, tapi setelah bersua, iapun membencinya setengah mati.
Dalam pada itu, meski Oh Keng-kiau segan untuk mundur setengah jalan, akan tetapi setelah mendengar teriakan Suhengnya itu, sesudah ragu sejenak akhirnya dia melompat mundur sambil berkata dengan dingin.
"Baik. akan kubiarkan kau hidup satu jam lagi, tapi jangan harap meloloskan diri malam ini"
"Tak usah takabur anak Kiau. belum tentu pamanmu tak mampu menandingi dirimul"
Jengek Oh Kay-thian ketus. Oh Keng-kiau tertawa dingin, dia lantas melompat ke depan It-hu, katanya sambil menjura.
"Tolong tanya Taysu ada urusan apa kan menghentikan pertarunganku?"
It-hu membalas hormat.
"Omintohud, harap Lisicu jangan salah paham, adapun kedatanganku malam ini adalah lantaran urusan perguruan kami, dalam peristiwa ini bukan hanya perguruan kami saja yang dicelakai, bahkan berbagai perguruan lain juga mengalami peristiwa yang sama!"
"Taysu, apakah telah terjadi sesuatu atas Siau-lim-si?"
Seru Bok Ji sia terperanjat.
Bukan cuma Bok Ji-sia saja yang terperanjat oleh perkataan It hu Taysu, bahkan kawanan jago lain diam-diam ikut merasa kaget.
Eetsiah ditanya oleh Ji sia, air muka Ii-hu Taysu lantas berubah menjadi amat sedih, katanya dengan berduka.
"Kalau dibicarakan, peristiwa ini sungguh menyedihkan, tahukah kalian apa sebabnya hampir dua puluh tahun lamanya orang-orang kesembilan perguruan besar tak pernah muncul dalam dunia persilatan? Mengapa pula selama ini kami hanya mengurusi persoalan sendiri tanpa ikut campur urusan orang lain ... ."
Suaranya menggetarkan perasaan orang seakan-akan menahan rasa sedih, seketika sinar mata semua orang tertuju pada It-hu Taysu dengan tercengang. It-hu tersenyum pedih, katanya.
"Semua ini adalah akibat lenyapnya kesembilan cangbunjin kami, secara diam-diam segenap anak murid kesembilan perguruan mencari jejak ketuanya, namun sama sekali tiada kabar beiitanya. Peristiwa ini telah berlalu belasan tahun, semua orang seolah-olah telah melupakan peristiwa ini, tapi kami justeru selalu memperhatikan dengan saksama, akhirnya kami berhasil mengetahui peristiwa yang penuh diliputi suka duka ini ...."
Mengungkap kembali kejadian lama tersebut, Jl-sia jadi teringat pada perjumpaannya dengan kesembilan ketua perguruan besar dalam Thian-seng-po, wajah kesembilan orarg kakek menjelang ajalnya itupun terbayang kembali.
Sampai di sini, It-hu Taysu sengaja berhenti bicara, tiba-tiba sorot matanya yang tajam beralih ke wajah Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat.
Ketika mendengar It-hu mengungkap peristiwa tersebut, air muka berubah, apalagi pendeta itu menatap ke arah mereka, tambah kebat-kebit hati mereka.
"Hei, mengapa tidak kau teruskan ceritamu!"
Dengan tak sabar Pek-hoa-kui-po Cin Say-kiau berteriak.
"Akhirnya, murid kami Ku Thian-gak berhasil menyingkap rahasia ini di dalam Thian-seng-po, setelah melakukan penyelidikan selama beberapa bulan, diketahuilah pembunuh keji itu adalah . ..."
"Taysu seorang pendeta agung, kenapa, kau-tuduh kesembilan ketua perguruan besar itu berada di dalam Thian-seng-po kami!"
Bentak Oh Kay-thian.
"Masa kau berani menyangkal?"
Bentak It-hu Taysu dengan gusar. Segera Oh Ku-gwat maju ke muka, katanya.
"Hendaknya Taysu jangan sembarang memfitnah orang, tuduhan harus disertai dengan bukti, kalau tidak, sekalipun Thian-seng-po cuma suatu perkampungan kecil, tentu kami akan menuntut keadilan kepada Taysu."
"Omintohud, orang yang beragama tak pernah bohong, mana mungkin sembarangan berbicara."
Kata It-hu. Sedapatnya Oh-Kay-thian berlagak tenang, katanya.
"Peristiwa ini menyangkut nama baik Thian-seng-po, maka ingin kutuntut keadilan pada Taysu, berikan bukti-buktinya. Kalau tidak, terpaksa kami bersaudara akan menahan Taysu di sini, akan kami lepaskan setelah ketua Siau-lim-pai datang minta maaf, kecuali itu rasanya tiada jalan kedua lagi."
"Omitohud! Bila Oh-sicu menginginkan bukti, sudah barang tentu tak bisa kuberikan sekarang juga, tapi Ku Thian-gak telah menyaksikan sendiri tulang belulang kesembilan ketua perguruan besar tersimpan dalam penjara bawah tanah benteng kapan ____"
Oh Kay-thian tertawa dingin, katanya.
"Ku Thian-gak adalah orang kalian dan musuh kami, tentu saja dia sengaja menodai nama baik kami, ucapannya tak dapat dipercaya . .."
Siau-yau-siang-hong-kek Ku Thian-gak naik pitam, bentaknya dengan marah.
"Jangan kau samakan aku dengan dirimu yang berhati busuk ...."
"Thian-gak, jangan kasar, ayo mundurl"
Bentak It-hu Taysu.
Kemudian katanya lagi,' Ucapan Oh-sicu memang benar, Ku Thian-gak memang anak murid kami, musuh besar kalian, namun siapa benar dan siapa salah akhirnya pasti akan ketahuan.
Walaupun di.
dunia ini banyak orang jahat, namun orang baik tetap lebih banyak daripada orang jahat, tentu ada yang akan membela keadilan dan kebenaran."
Diam-diam Oh Kay-thian terkesiap, serunya kemundian.
"Apakah kedatangan Taysu malam iri khusus untuk urusan ini?"
"Benar!"
Jawab It-hu tegas.
"bukan hanya kami saja, perguruan yang lain pun segera akan datang kemari!"
Tiba-tiba terdengar orang berseru lantang.
"Bu-tong-pai tiba!"
Tampak Ki sian-it-to dari Bu-tong-pai dengaa memimpin kedelapan orang muridnya masuk ke dalam ruangan Giam-Iotian.
Begitu Bu-tong-pai muncul di situ, suasana berubah menjadi tegang, terutama Ob Ku gwat, air mukanya berubah hebat, buru-buru ia memberi tanda kepada kedua puluh empat jago Thian-seng-po.
Ki-sian-it-to lantas meojura kepada It-hu tambil menyapa.
"Taysu, sudah kau umumkan persoalan ini?"
"Omitohud, kawan dari aliran lain belum tiba, tak berani kuputuskan sendiri!"
"Ah, tidak menjadi soal, Taysu sudah cukup mewakili kesembilan perguruan besar!"
Tiba-tiba nona berbaju biru itu melangkah maju, lalu berkata.
"Ramai benar tempat ini, tampaknya kesembilan perguruan besar kalian akan datang semua."
Ki-sian-it-to tersenyum getir.
"Urusan ini menyangkut kesembilan perguruan kami, tentu saja kami harus berkumpul di sini!"
Melihat orang yang berdatangan makin banyak, Oh Kay-thian sadar bila sekarang tidak pergi, sulitlah untuk kabur bila kesembilan perguruan telah berkumpul.
Segera Oh Kay-thian menarik ujung baju Oh Ku-gwat dan.
berkata.
"Toako tak perlu banyak bicara lagi, ayo kita pergi, untuk apa bersilat lidah dengan mereka!"
"Mau kabur?"
Jengek Oh Keng-kiau dengan gusar.
"masa segampang itu?"
"Anak Kiau, kau sengaja menyusahkan empek-mu?!"
Tanya Oh Kay-thian dengan pedih. Oh Keng-kiau menggeleng, ucapnya.
"Ingin kutanya bagaimanakah kematian ibuku? Bagaimana pula kematian ayahku? Seandainya kaupunya perataan, tentu takkan kau celakai kakak kandungmu sendiri dan menodai istrinya."
Bok Ji-sia menarik mundur Oh Keng-kiau, bisiknya.
"Sabar Sumoay, jangan terlampau emosi, hari ini dia takkan lolos dari tuntutan keadilan!"
Sementara itu Cuan-sin Loni dari Go-bi-pai dengan memimpin kedelapan orang muridnya dan Tiong-ciu-it-kiam dari Tiam-cong-pai juga berdatangan.
Tak beberapa lama To-liong-kek dari Khor.g-tong-pai dan Cing-sia-pai juga datang.
Dalam waktu singkat hampir seluruh inti kekuatan dunia persilatan TioDggoan telah berkumpul, rupanya mereka sudah mempunyai persetujuan secara diam-diam, dengan cepat segenap jago Thian-sang-po terkepung di tengah.
Terkejut Oh Kay-thian, ia tahu lebih banyak bahaya daripada selamat baginya hari ini, untuk kabur jelag bukan hal yang gampang.
Sedapatnya ia bersikap tenang, katanya.
"Kalian datang untuk mencariku?"
"Hmni, perbuatan yang kaulakukan tentu pula kau sendiri paling tahu!"
Dengus Tiong-ciu-it-kiam.
"Apa yang kulakukan?"
Bentak Oh Kay-thia-.
"Sembilan nyawa dari kesembilan Ciangbunjin kami bukankah mati ditanganmu?"
"Sebaiknya mengaku saja kesalahanmu itu!"
Kata To-liong-kek dari Khong-tong-pay sambil maju ke depan.
"Kalian semua ngaco-belol"
Teriak Oh Ku-gwat dengan bermandi keringat dingin.
"Bukan kami yang melakukan perbuatan itu."
"Kalau bukan kalian, mengapa kesembilan ketua kami bisa mati di dalam Thian-seng-po?"
Tanya Cuan-sin Loni. Oh Ku-gwat menjadi gelagapan, akhirnya ia berkata.
"Semua itu perbuatan Jite kami Oh Kay-gak!"
Mendadak Bok Ji-sia berteriak.
"Betul, hal itu memang perbuatan Suhuku, tapi kalau dibicarakan dari awal, maka semua ini adalah rencana busuk kalian berdua ... ."
"Nah, masa kalian tetap tidak mengaku!"
Seru Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai.
"Omong kosong!"
Bentak Oh Ku-gwat "kami tak pernah melakukannya, mengapa harus mengaku."
Suara tertawa ejek segera berkumandang dari empat penjuru, meski mendongkol, sadarlah mereka bahwa keadaan sangat tidak menguntungkan. Mendadak Tlong-ciu-it-kian melompat maju sambil membentak.
"Kalian hendak bunuh diri atau menunggu kami yang turun tangan?"
Sambil melolos pedang andalan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat menyeringai.
"Hehe, apa kaukira aku dapat digertak?"
Berbareng ia memberi tanda, ke-24 jago Thian-seng-po juga segera melolos pedang dan menyebar ke empat penjuru dan siap tempur. Tiong-ciu-it-kiam mendongakkan kepala dan berseru.
"Pembunuh berada di depan mata, apa yang kalian tunggu lagi?"
Para jago dari pelbagai aliran memang tak sadar menunggu lagi, penyelidikan dua puluh tahun baru mendatangkan hasil, setelah mengetahui siapakah pembunuhnya, serentak mereka mendesak maju dengan gusar.
"Apakah kalian hendak membunuh kami berdua?"
Tanya Oh Kay-thian sambil menatap sekejap sekeliling.
"Kami hendak membalaskan dendam Ciang-bunjin!"
Serentak para jago menyahut, Pelahan Oh Kay-thian menghampiri It-hu Taysu.
Suasana menjadi tegang, semua orang mengawasi Oh.
Kay-thian tanpa berkedip mereka menduga inilah perlawanan yang terakhir menjelang ke-matiannya.
Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian berhenti di depan It-hu, lalu berkata.
"Taysu seorang pendeta yang mengutamakan welas asih?"
"Apakah Oh-s'cu telah menyesali perbuatanmu masa lalu dan bertekad bertobat serta kambali ke jalan yang benar?"
Seng-gwat kiam Oh Kay-thian menggeleng kepala, katanya.
"Bukan, aku ingin mengajukan suatu permohonan "
Diam diam It-hu menghela napas, ujarnya, 'Katakanlah, asal permintaanmu tidak kelewst batas, sudah pasti "kan kupenuhi."
Oh Kay-thian tersenyum getir, katanya.
"Aku hanya mengharapkan mati dengan tubuh yang utuh, sedang orang yang boleh turun tangan juga hanya terbatas keponakan perempuanku Oh Keng-kiau seorang, terus terang aku merasa menyesal sekali terhadap Jikoku Ob Kay-gak dan isterinya, Bwe-Siau-leng!"
Oh Keng-kiau merasa sedih dan terharu, mendadak dia lari ke depan dan berseru sambil menangis.
"Paman!"
Betapapun pendidikan selama delapan belas tahun merupakan budi yang besar, kendatipun Oh Keng-kiau membencinya, mau-tak-mau juga merasa berterima kasih kepadanya.
"Dapatkah aku membunuhnya? Dapatkah aku membunuhnya?"
Demikian ia menjadi ragu.
Sambil meedekap di bahu Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, tak tahan lagi Keng-kiau menangis tersedu-sedu .
Mendadak Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat melompat ke depan sambil tertawa seram, serunya.
"Budak yang tak kenal budi, tak perlu pura-pura berbelas kasihani"
Tiba-tiba pedangnya menusuk ke punggung Oh Keng-kiau.
"Kau cari mampus?"
Bentak Ji-sia dengan gusar.
Cahaya emas berkelebat, terdengar suara gerangan tertahan, tangan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat memegangi ruyung Jian-kim-si-hun-pian yang menembus perutnya, setelah berpekik ngeri, ia terguling di atas tanah dan binasa.
Segenap jago mengawasi tubuh yang terkapar itu, tak seorang pun yacg mengeluarkan suara.
Hanya It-hu Taysu yang bergumam tiada hentinya" ''OmitohudI Siancay, Siancay, syahdui ...."
Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian memandang sekejap mayat Oh Ku-gwat, katanya kemudian dengan tersenyum pedih.
"Buah kejahatan! Karma, inilah karma!"
Sehabis berkata kembali dia tertawa panjang, siapa pun tidak tahu apa yang ditertawakannya dan apa' yang akan dilakukannya.
"Sungguh perbuatan yang amat keji!"
Tiba tiba terdengar seorang membentak nyaring. Ji-sia menjadi gusar, ia berpaling dan bentaknya.
"Inilah akibat dari perbuatan sendiiri, kenapa menyalahkan aku!"
"Kau sembarangtn mencelakai orang, ini menandakan kau tak berperasaan dan berhati keji,"
Kata nona berbaju biru ketus.
"sekalipun dosanya patut diberi hukuman, tapi kau ...."
Tanpa menunggu orang menyelesaikan kata-katanya, dengan tertawa dingin Bok Ji-sia menukas.
"Kau sengaja mengadu dombal"
"Tidak berani,"
Nona itu tertawa sinis.
"sebesar-besarnya nyali nonamu juga tak berani memusuhi kesembilan perguruan besar, aku hanya merasa tidak senang menyaksikan caramu membunuh omng!"
Setelah berhenti sekejap, lalu dia membentak pula "Oh Kay-thian, tak perlu menangis, apakah kau tak ingin membalas dendam?"
Jelas Nona berbaju biru itu bermaksud tidak baik, dia ingin memusuhi Bok Ji-sia serta kesembilan perguruan besar.
"Membalas dendam, dapatkah aku?"
Gurmam Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dengan perasaan bimbang. Nona berbaju biru itu tahu pikiran orang mulai goyah oleh perkataannya, diam-diam ia bergirang, sahutnya cepat.
"Kau dapat, pasti dapat asal kau-mau mendengarkan perkataanku, selain bisa membalas dendam, kaupun dapat menaklukkan dunia!"
"Omitohud!"
Seru It-hu Taysu kepada keagungan sang Budha.
"Apakah Lisicu berhasrat memusuhi kami bersembilan perguruan?"
"Hm. aku justeru tidak senang menyaksikan lagak kalian yang sok besar!"
Jengek si noda berbaju biru. Tiba tiba terdengar Seng gwat-kiam Oh Kay-thian berteriak "Nona, aku menuruti perkataanmu, sekarang apa yaag harus kita lakukan?"
"Sekarang cepat kita menerjang keluar dari sinil"
Ujar nona berbaju biru itu dengan tertawa.
Para jago lihai berbagai perguruan itu menjadi gempar, mereka tidak menyangka perempuan aneh dari Hek-Iiong-keng ini berani memusuhi jago seluruh dunia persilatan.
"Baik, akupun ikut nona!"
Tiba-tiba Hian-thian-koancu melompat ke depan.
Menyusul Pak-hoai-kui-po Gin Say-ku juga turut melangkah maju dan berdiri di samping Hian-thian-koancu dan nona berbaju biru itu, segera kekuatan mereka menjadi jauh lebih besar.
Dengan perasaan menyesal, Bok Ji-sia memandang It-hu Taysu, katanya dengan pedih.
"Gara-gara tindakanku mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tak terduga, harap Taysu ...."
Perkataannya terasa penuh rasa menyesal dan mengharukan, para jago sama memandangnya dengan sinar mata menghiburnya, hal ini membuat Bok Ji-sia jadi rikuh, dengan emosi dia maju ke sana.
"Anak muda, janganlah terlalu bersedih,"
Buru-buru It-hu Taysu berkata sambil tarsenytim.
"kejadian ini sudah ditakdirkan dan sukar dicegah oleh tenaga manusia."
Ketika para jago dari kesembilan perguruan besar menyaksikan nona berbaju biru itu secara tiba-tiba membentuk sepasukan musuh tangguh, diam-diam mereka terkesiap, mereka saling mimberi tanda dan bertekad akan mengadu jiwa.
Sambil menghela napas It-hu Taysu berkata.
"Nona. jangan kau gunakan kecerdasan secara tersesat, peristiwa ini menyangkut mati-hidap dunia persilatan di wilayah Tionggoan pada masa mendatang, harap nona suka berpikir lagi sebelum bertindak."
"Huh, tak perlu banyak bicara lagi,"
Seru nona berbaju biru itu sambil tertawa dingin.
"orang-orangku juga segera akan berdatangan, siapa menang dan siapa kalah, kita lihat saja nanti."
Seraya berkata dia lantas bertepuk tangan tiga kali, begitu menggema tepukan tangan itu, tiba-tiba dari atas Giam-lo-tian melayang turun dua sosok bayangan, mereka adalah si kakek berambut putih dan Hoa Hong-hui.
Dalam waktu singkat, kekuatan pihak golongan hitam semakin kuat dan hampir melampui pihak sembilan perguruan, menilik keadaan yang di depan mata, menang dan kalah menjadi sukar diduga, Tiong-clu-it-kiam membentak.
"Taysu, tiada sesuatu yang perlu dipertimbangkan lagi, mari kita maju bersama!"
Begitu selesai berkata dia maju lebih dulu memimpin anak murid Tiam-cong-pay dan melancarkan serangan.
"Perkokoh posisi masing-masing", bentak si nona berbaju biru cepat.
"Musuh menyerang kita bertahan, musuh mundur kita tetap bertahaa, jangan sampai kacaukan barisan . ...!"
Gadis itu dapat mengatur siasat dengan baik, begitu kawanan jago golongan hitam ini bersatu, pertahanan mereka ibaratnya selapis dinding baja, bukan bal yang mudah bagi kesembilan perguruan besar untuk mematahkan pertahanan mereka.
Dalam waktu singkat cahaya golok dan bayangan pedang bersambaran, yang satu maju yang lain segera mundur, satu bertahan yang lain menyerang, semua jago dari pelbagai aliran saling berebut menerjang ke depan tanpa memperdulikan mati-hidup sendiri.
Dalam sekejap saja ada beberapa sosok tubuh terkapar ke tanah, sedang di pihak nona berbaju biru itupun kehilangan Hian-thian-koancu yang terluka parah, seandainya mereka tidak bertahan dengan ketat, mungkin jiwanya sudah melayang sejak tadi.
Sementara itu, Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai dan Cuan-sin Loni dari Go-bi-pai juga ikut terjun ke medan tempur, To-liong-jiu dari Khong-teng-pai dengan kedua telapak tangannya yang hitam besar tiada hentinya melancarkan pukulan dahsyat.
Hanya It-hu Taysu saja yang berbisik-bisik memuji keagungan Budha, dia berharap pertumpahan darah ini jangan berlangsung lebih lanjut.
Saat itulah Oh Ke-ngkiau mundur ke belakang, kaianye.
"Suheng, inilah barisan Su-siang-tin, tak terduga dalam waktu singkat dia dapat membentuk barisan rapi seperti ini, kita harus menyerang sudut Kan-wi, terjang Li-wi dan melangkah ke tengah....."
Waktu itu Bok Ji-sia sendiri lagi tercengang mengapa si nona berbaju biru hanya bertahan belaka tanpa menyerang, maka begitu mendengar Oh Keng kiau menjalankan barisan ini adalah Su-siang-tin, diam-diam ia terkesiap, pantaslah kawanan jago itu tak sanggup menembusnya.
Si nona berbaju biru sendiri duduk di tengah barisan sambil tiada hentinya menuding ke sana kemari memberi petunjuk.
Ji-sia segera bersiul nyaring, serunya.
"Baik! Sumoay, segera kuterjang ke dalam!"
Yang menjaga sudut "Kan"
Adalah Hoa Hong-hui, sewaktu dilihat Bok Ji-sia mengayunkan Jian-kim-ii-hun-pian dan menerjang datang, ia terkejut, buru-buru suatu pukulan dilancarkan. Sambil tertawa dingin Ji-sia segera membentak.
"Kau berani membantu kaum laknat dan melakukan keganasan, tak dapat kuampuni dirimu!"
Di pihak lain lain, Oh Keng-kiau juga segera menyerbu ke tempat 'Li", dengan gemas beberapa kali pukulannya memakksa Pek Sat yang menjaga posisi "Li"
Menjadi agak kelabakan sehingga pertahanan barisan Su-siang-tin menjadi terbuka.
Melihat ada kesempatan baik, buru buru Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak menerobos masuk lewat peluang itu dan menerjang ke titik pusat barisan Su-siang-tin, sedang Bok Ji-sia dan Oh Keng kiau juga menerjang selapis lebih ke dalam.
Dalam waktu singkat barisan Su-siang-tio,menjadi kacau tak keruan, Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau dan Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian telah meninggalkan barisan, meski barisan Su-siang-tin bisa menahan gempuran para jago, waktunya juga tak bisa berlangsung terlampau lama lagi.
Apalagi orang yang mengerti tentang kegunaan Su-sieng-tin hanya si nona berbaju biru seorang, kawanan jago yang menggabungkan diri itu belum berpengalaman, sudah barang tentu barisan mereka segera menjadi porak poranda.
Mendadak terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati, Hian-thian-koancu terkena bacokan Tiongciu-lt-kiam sehingga barisannya terpotong menjadi dua, darah berhamburan, keadaannya sangat mengerikan.
Tapi, tidak sedikit pula kawanan jago dari berbagai perguruan yang mengalami nasib sama sehingga menjadi pahlawan tak bernama.
Menyusul kemudian Pek-hoa-kui-po Cln Say-kiau juga roboh tak terkutik di atas tanah.
Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian beruntun membinasakan dua orang jago lihai, baru saja dia berusaha meloloskan diri dari kepungan, mendadak tampak Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai dan Cuan-sin Loni dari Go-bi-pai rnengadang di depannya.
"Apakah kalian benar-benar hendak membunuhku?!"
Bentaknya sabmil menyeringai.
Jurus serangan ampuh ilmu pedang Seng-gwat-kiam-hoat segera dilontarkan secara bertubi-tubi.
Mendadak dari udara meluncur tiba sesosok bayangan dan langsung menutuk ke bawah, terdengar Seng-gWat-kiam Oh Kay-thian menjerit ngeri, tubuhnya yang tinggi besar roboh terjengkang ke atas tanah.
"'Anak Kiau,"
Serunya dengan tertawa pedih.
"akhirnya ..*akhirnya aku tewas juga di .... di tanganmu!"
Sampai di sini, kepaknya terkulai dan mengembuskan napas terakhir, seorang gembong iblis akhirnya tewas di tangan keponakannya sendiri.
Mendadak terdengar suara tertawa nyaring bergema dari kejauhan yong semakin mendekat, sebelum para jago mendongakkan kepala tahu-tahu di tengah arena telah bertambah dengan seorang kakek berbaju serba hitam.
Begitu melihat kakek berbaju hitam itu, sekujur badan si nona berbaju biru jadi gemetar, sedang para jago dari berbagai aliran pun serentak berhenti bertempur.
Hofi Hong-hui, kakek berambut putih dan kedua Pek bersaudara serentak berlutut di depan kakek berbaju hitam itu sambil berseru.
"Terimalah hormat hamba. Loyal"
Sambil menuding si kakek berambut putih, kakek berbaju hitam itu segera menegur.
"Kau sebagai pelindungnya, mengapa mendidik Siocia menjadi macam begini!"
"Budak tua pantas mati, budak tua pantas mati!"
Kakek berambut putih itu mendesis dengan tubuh gemetar. Nona berbaju biru pun tampak sedih sekali, sambil menangis bisiknya.
"Ayah, ananda memang bersalah!"
Kakek berbaju hitam itu mendengus.
"Hm, masa kau tidak rikuh msngucapkannya, bencana yang terjadi di Tionggoan ini semuanya adalah akibat ulahmu!'' Siapakah kekek ini? Mengapa nona berbaju biru itu menunjukkan rasa takut pedanya? Diam-diam para jago sama memikirkan asal usul orang. Dia tak-lain-tak-bukan ialah Hek-liong Lojin, tokoh sakti dunia persilatan.
"Omintohud, masih ingatkah Lotiang pada It-hu?"
Segera It-hu Tausu menyapa. Hek-liong Lojin manggut-manggut.
"Wajahmu penuh welas asih, hati Budhamu sudah berakar, tak jauh lagi tujuan yang akan kau capai. baik-baik-lah kau jaga diri."
It-hu Taysu merangkap tangan memberi hormat dan mundur ke samping dengan tenang.
Hek-liong Lojin memandang sekejap sekeliling arena, kemudian katanya, 'Segala perbuatan anak perempuanku selama ini telah banyak membikin susah kalian, harap saudara sekalian sudi memaafkannya."
Tiba tiba dari luar arena bergema suara isak tangis lirih. Lalu terdengar Bok Ji-sia berbisik.
"Sumoay, sakit hatimu telah terbalas dan dapatlah menghibur arwah Suhu dan Subo di alam baka!"
Ketika itu Oh Keng-kiau sedang mendekap di atas mayat Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian sambil menangis tersedu-sedu, bila teringat kembali akan kasih sayang Oh Kay-thian kepadanya masa lalu, hatinya merasa pedih bagaikan ditusuk-tusuk, ia menyesal telah membinasakannya ....
Tapi, dendam kesumat ayeh-ibunya sedalam lautan dan kini terbalas, dapat legalah hatinya, cuma ....
Tiba-tiba Hek-liong Lojin mendekati Oh Keng-kiau, katanya.
"Anak bodoh, asap telah buyar, air mengalir terus ...."
Keng-kiau mendongakkan kepala dan menyahut.
"Hilang tanpa perasaan, pergi meninggalkan bekas!"
"Ah, Sumoay! Kiranya benar kau!"
Seru Hek-liong Lojin dengan gembira.
Mendengar ucapan itu, semua orang terperanjat, siapa pun tidak menyangka dengan kedudukan Hek-lioag Lojin dalam dunia persilatan ternyata menyebut Oh Keng-kiau yang masih muda belia sebagai Sumoay.
Beratus pasang mata serentak memandang mereka dengan heran.
Air muka Hek-liong Lojin tampak aneh, katanya lebih lanjut.
"Boan-ya tiada bandingan. Rintang bersuara dewa!"
Mendadak Oh Keng-kiau berubah menjadi serius dan menyambung.
"Hek liong sebenarnya tak berair, sumber berasal dari Kim-teng!"
Tanya jawab itu sekali lagi mengejutkan semua orang, siapa pula yang menduga ilmu silat Hek-liong Lojin ternyata juga bersumber dari kitab pusaka Kim-teng Cinjin.
Dia sudah tahu puluhan tahun kemudian kitab pusaka Kim-teng-pit-kip bakal diperoleh seorang anak perempuan, maka pada sampul kitab pusaka itu dia sengaja menulis empat bait kata itu untuk mempermudah usahanya di kemudian hari membuktikan siapa yang mendapatkan kitab pusaka itu.
Setelah mendapatkan kitab pusaka Kim-teng-pit-kip, Oh Keng-kiau selalu ingat pada empat bait kata itu, tak tersangka Hek-liong Lojin yang tersohor dalam dunia persilatan ini adalah saudara seperguruannya sendiri.
Dengan gembira segera ia berseru sambil memberi hormat.
"Suhengl"
Hek-liong Lojin tersenyum, katanya sambi menggandeng tangan Sumoaynya.
"Semua persoalan telah selesai, Sumoay, mari pergi!"
Dengan air mata bercucuran Keng-kiau mengangguk, ia melirik sekejap ke arah Bok Ji-sia. Tiba-tiba ia berlutut di depan jenazah Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dan berkata.
"Paman, aku membunuhmu karena harus membalaskan dendam bagi orang tuaku ... Sekarang kuberi hormat kepadamu karena engkau telah memeliharaku selama belasan tahun ..."
"Sumoay, kau mau pergi?"
Bisik Ji-sia sedih.
"Ya,"
Keng-kiau tertawa pedih.
"tapi aku pasti akan datang menengokmu!'' Sementara itu Hek-liong Lojin juga menatap wajah Bok Jisia lekat-lekat, tiba-tiba ia berkata "Usiamu masih muda dan ternyata bisa mencapai tingkatan sedemikian tingginya, sungguh sangat mengagumkan, dua tahun lagi bila kau bermain ke Hek-liong-kang tentu akan kusambut kedatanganmu dengan baik."
"Bila Wanpwe tidak mati, pasti akan datang tepat pada waktunya,"
Jawab Ji-sia pedih. Mendadak nona berbaju biru menarik kain cadarnya sambil berseru.
Baca Juga: Pendekar Setia 4
Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 8