Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 12

Eps 12 Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Baca online Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung

Cersil Kemelut Di Ujung Ruyung Emas - Khu Lung.

"Aku tidak mau pakai benda ini lagi!'' Sambil berkata kain biru yang selalu menutupi wajahnya itu lantas dibanting ke atas tanah .... Seketika itu juga semua orang terbelalak, seraut wajah cantik yang tiada taranya muncul di hadapan mereka, sungguh sukar melukiskan betapa cantik gadis ini. Bok Ji-sia tertegun, ia tidak menyangka kecantikan nona berbaju itu sedemikian luar biasa, bila dibandingkan Bwe-hoa-siao-kim Tong Yong ling, nona yang tersebut terakhir ini sungguh bukan apa-apanya.

"Ciu-gwatl"

Terdengar Hek-liong Lojin berseru kaget.

"tahukah tindakanmu itu merupakan pantangan besar Hek-liong-kang!"

Kiranya dalam perguruan Hek-liong-kang berlaku suatu peraturan yang tidak tertulis, yakni sebelum anak murid perempuan aliran Hek-iiong-kang menikah, maka ia dilarang melepaskan kain kerudungnya, kalau tidak, maka selama hidup ia tak boleh kawin.

Hoa Hong-hui juga sangat terperanjat, jeritnya.

"Sumoay, kau ... ."

Si nona berbaju biru alias Ciu-gwat tertawa pedih, katanya.

"Selama hidup aku takkan kawin!"

Hoa Hong-hui berkaok-kaok mendongkol, langsung lari keluar Giam lo-tian.

Siapa tahu bila sudah kembali ke Hek-liong-keng, maka jangan harap akan muncul kembali di daerah Tionggoan, ini berarti jangan harap akan bersua dengan Bok Ji-sia.

Seketika cinta dan benci bercampur aduk, ia benci juga cinta, akhirnya ia memutuskan tidak kawin selama hidup, inilah semacam pengorbanan.

Hanya Bok Ji-sia yang tolol saja yang sama sekali tidak merasa dirinya dicintai orang padahal oleh karena tragedi yang pernah menimpanya maka ia tak berani menerima cinta gadis mana pun.

-oo0dw0oo-Udara malam bersih, hawa terasa dingin.

Hek-liong Lojin menghela napag, katanya kemudian.

"Mari kita pulang ke Hek-Iiong-kang!"

"Selamat jalan Lotiangl"

It-hu Taysu berseru lantang.

Semua jago dari pelbagai aliran itu tahu bahwa Hek-liong Lojin adalah tokoh aneh nomor satu di dunia mi, sekalipun Ciangbunjin angkatan tua juga tiga tingkat lebih lendah daripada kedudukan Hek-liong Lojin, maka semua orang sama memberi hormat sebagai angkatan muda.

Tiba-tiba gadis berbaju biru lari ke hadapan Bok Ji-sia, lalu berkata dengan lirih.

"Aku cinta padamu, tapi akupun benci padamu, aku bernama Ciu-gwat, lupakan saja diriku!"

Selesai berkata, dengan air mata bercucuran dia lari pergi dari situ.

Diam-diam Hek-liong Lojin menghela napas, dengan langkah berat iapun berlalu.

Oh Keng-kiau seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya dengan air mata bercucuran iapun mengikuti Hek-liong Loj'n berlalu dari situ.

'"Ciu-gwat!"

Pelahan Ji-sia bergumam.

Suasana kembali hening, remang fajar mulai nampak di ufuk timur sana.

Fajar mendatangkan segala harapan, juga membawa air mata dan darah bagi hubungan antara ayah, ibu dan anak.

Bok Ji-sia kembali menghadapi urusan yang sukar diputuskan selama hidupnya.

Angin pagi berhembus kencang, sinar sang surya semakin tinggi menerangi bumi raya ini.

Selagi Ji-sia meluncur ke depan dengan cepat, mendadak terdengar seorang membentak.

"Orang she Bok, berhenti!"

Muncul sesosok bayangan. Ji-sia kelihatan kaget, cepat ia membalik tubuh, tertampak Huan-in-kiam Lamkiong Giok sedang menatapnya dengan dingin. Setelah tertegun, sapanya sambil tertawa.

"Saudara Lamkiong, kebetulan hendak kucari dirimu!"

"Aku juga sedang mencarimu,"

Jawab Lamkiong Giok dingin.

Segera Ji-sia melibat air muka Lamkiong Giok pada hari ini sedikit berlainan, biasanya pemuda ini tak pernah menunjukkan sikap semacam ini, apakah ...

Sambil tersenyum dia menegur.

"Saudara Lamkiong, air mukamu hari ini tampak tidak ...."

"Aku hendak membunuhmu!"

Ucap Lamkiong Giok ketus.

"Kenapa?"

Ji-sia menjadi bingung. Lamkiong Giok tertawa pedih, sahutnya.

"Karena hanya ada seorang saja di antara kita yang boleh hidup di dunia ini!"

"Ah, kukira tidak sampai segawat itu bukan?"

"Siapa bilang tidak!"

Sama sekali Ji-sia tidak menduga orang yang dianggap sebagai sahabat karibnya ini dapat berubah menjadi begini tak berperasaan, ia tidak tahu bahwa budi dan dendam orang tua mereka masa lalu telah didengar oleh Lamkiong Giok?

Karena Lamkiong Giok kuati-Bok Ji sia akan mencari Lamkiong Hian untuk membalas dendam maka ia menjadi nekat akan mendahului membunuh Bok Ji-sia.

Siapa yang mengira bahwa mereka berdua sebenarrya adalah sandata seayah lain ibu?

Untuk sesaat Ji-sia menjadi bingung dan berdiri tertegun.

"Bersiaplah"

Seru Lamkiong Giok.

"aku akan segera turun tangan!"

Ji-sia menggeleng.

"Kukira tiada gunanya kita melangsungkan pertarungan im!"

"Ayo cabut ruyungmu, aku segera turun tangan!"

Namun Ji-sia tetap berdiri tak bergerak.

"Lam-kiong-heng,"

Katanya.

"aku takkan membalas, silakan kauturun tangan!"

"Mengapa kau tidak membalas?"

Lamkiong Giok melengak.

"Aku tidak tahu apa sebabnya, aku hanya merasakan bila bertarung, maka hal ini merupakan suatu kesalahan besar!"

Ji-sia memang selalu merasakan antara dia dengan Lamkiong Giok seskan akan ada hubungan yang luar biasa, dia merasa tidak layak mereka saling gontokan sendiri, mungin hal ini disebabkan mereka memang mempunyai bubungan darah.

Sejak kecil Lamkiong Giok dibesarkan dalam lingkungan golongan hitam, wataknya terdidik keji dan kejam, baginya sama sekali tak penting soal hubungan darah segala.

Sambil mendongak dia tertawa, serunya.

"Kau mau bertarung tidak?"

"Sudah kukatakan, aku tidak mau bertarung melawanmu!"

Sahut Ji-sia sambil menggeleng.

"Baik, kalau begitu akan kusempurnakan dirimu!"

Dengan kejinya Lamkiong Giok menggetarkan ujung bajunya, sekilas cahaya putia segera menyambar ke depan Tipi Ji-sia tetap tidak bergerak. Tiba-tiba Lamkiong Giok menarik kembali pedangnya, katanya.

"Biarlah kuberitahukan kepadamu alasannya mengapa aku membunuhmu!"

"Katakanlah!"

Secara ringkas Lamkiong Giok lantas mengisahkan kembali percakapan antara Bok Jin-kiat dan Lamkiong Hian yang dapat disadapnya tempo hari, kemudian ia menambahkan.

"Tahukah kau siapakah ayah-ibumu?"

"Tahu!"

Jawab Ji-sia dengan hati bergetar. Padahal dia hanya sempat bertemu dengan Lik-ih-hiat-li, namun tidak tahu bahwa ayahnya, Bok Jin-kiat, masih hidup.

"Bagus sekali,"

Kata Lamkiong Giok ketus.

"ayahmu juga ayahku, tapi ibumu bukan ibuku, hal ini tentunya kau mengerti bukan?"

Hati Ji-sia bergetar, sesaat ia terbelalak dan hampir tidak percaya pada apa yang didengarnaya. Sampai lama baru dia menjawab.

"Kalau begitu, kita adalah saudara seayah lain ibu!"

"Hehe, jangan terburu napsu, siapa yang sudi menjadi saudaramu?"

Jengek Lamkiong Giok. Setelah tertegun sejenak, lalu sambungnya.

"Cuma di antara kita memang ada sedikit hubungan, kenyataan ini tak bisa disangkal."

Bok Ji-sia benar-benar terkesiap oleh keterangaa Lamkiong Giok, mimpi pun dia tak menyangka dirinya bisa mempunyai hubungan dengan pihak Kiam hong-ceng.

Sekalipun dia tak tahu ada hubungan apakah itu, tapi dia tahu srmuanya ini akibat perbuatan ayahnya, pikirannya.

"Apakah ayahku mempunya dua orang isteri? Mengapa dulu aku tidak tahu?"

Berpikir demikian, dia lantas tertawa, katanya.

"Saudara Lamkiong, kalau kita mempunyai hubungan, selayaknya kita rayakan bersama, mengapa kau malahan hendak membunuhku?"

"Hehe, justeru karena hubungun ini, maka aku ingin membunuhmu!"

Setelah bsrhenti sejenak, bentakkya pula.

"Waktu sudah tidak banyak lagi, saudara Bok, aku akan segera turun tangan!"

Segera ia menerjang ke muka, telapak tangan kirinya menahas, sementara telapak tangan kanan menyodok ke bawah. Ji-sia tertawa gusar, serunya.

"Sandara Lamkiong. benar tidak kau pikirkan hubungan baik lagi?"

Tenaga segera dihimpun pada telapak tangannya, tanpa berkelit maupun menghindar ia menyambut serangan Lam kiong Giok.

"Blang", bentrokan keras terjadi, tubuh Ji-sia mencelat ke sana.

"Uak!"

Darah segar tumpah dari mulut Ji-sia anak muda ini tak mengira Lamkiong Giok berhati sekeji ini dan benar benar melancarkan serangan, sedahsyat ini kepadanya.

"Saudara Lamkiong, kau benar-benar kejam!"

Serunya dengan suara gemetar gusar Lamkiong Giok tertawa terkekeh-kekeh.

"He-hehe, kau sendiri yang mencari mampus, kenapa salahkan orang?"

Air mukanya berubah di-gin, kedua mata memancarkan sinar kebencian, pelahan ia mendekati Bok Ji sia. Sambil menahan rasa sakit, J!-sia segera membentak.

"Kau masih akan turun tangan."

"Hehe, aku menghendaki jiwamu!"

Tangannya bergetar, mendadak dari balik bajunya terpancar keluar cahaya putih yang langsung menyambar tubuh Bok ji-sia. Tiba-tiba seorang membentak.

"Bangsat, kau benar-benar keji!"

"Tring!"

Diiringi denting nyaring pedang pendek Lamkiong Giok itu mencelat balik, bahkan malah menyamar tubuhnya sendiri.

Lamkiong Giok terperanjat, buru-buru dia ke-baskan lengan bajunya sambil membalik badan dan melompat ke samping.

Seketika dia gemetar.

Tertampak Lik-ih hiat-li dengan sinar mata yang mengerikan sedang mengawasinya, sementara Bwe-hoa-kiam Tong Yong-lisg juga sedang mendelik padanya penuh rasa benci.

"Lamkiong Giok, manusiakah kau?"

Dengus Lik-ih-hiat-Ii.

"Aku ...aku ...."

Lamkiong Giok gelagapan. Cepat Ji-sia melompat bangun dan berseru, 'Ibu!"

"Nak,"

Kata Lik-ih hiat-li dengan air mata bercucuran.

"ibu tahu kau sangat menderita!"

"Engkoh Bok, kau terluka?"

Tanya Tong Yong-ling sambil membangunkan Ji-sia.

"Terima kasih, nona Tong!"

Sahut Ji-sia. Sebutan "nona Tong"

Itu sangat menghancurkan perasaan Tong Yong-ling, rasa cintanya kepada Ji-sia sangat mendalam, dia berharap bisa hidup bahagia dengan pemuda tersebut, siapa tahu mengharapnya terasa begitu asing, begitu jauh.

Tanpa terata air matanya menitik.

Menyaksikan adegan tersebut Lamkiong Giok menjadi tak keruan perasaannya, dia mendengus.

"Orang the Bok, lihat saja akhirnya nanti?"

"Saudara Lamkiong, mengapa kau benci padaku!"

Seru Jisia sambil tertawa pedih.

"Tanyakan sendiri kepada ayah ibumu?"

Seru Len kiong Giok dengan penuh dendam. Seraya berkata dia memandang sekejap Bok Ji-sia dan Lik ih-hiat-li dengan penuh kebencian, kemudian segera berlalu.

"Kembalil"

Hardik Lik-ih-pit-li tiba-tiba sambil menyerang ke depan.

"Ada apa?"

Lamkiong Giok berpaling dengan marah.

Entah mengapa, rasa takutnya terhadap Lik-ih-hiat-Ii pada masa lalu kini lenyap seluruhnya, seakan-akan dia tahu perempuan itu takkan turun tangen kepadanya, mungkin hal ini disebabkan mereka masih mempunyai hubungan yang erat.

Dengan suara dingin Lik-lh-hiat-li berkata "Bila berdasarkan perbuatanmu masa lalu, kau pantas mampus, cuma ....'* "Hanya ucapan itukah yang hendak kau sampalksn kepadaku?"

Jengek Lamkiong Giok. Tiba-tiba Ji-sia menjadi gusar, bentaknya.

"Saudara Lamkiong, biasanya kuhormati dirimu sebagai lelaki sejati, tak tahunya kau sudah gila, berani kurangajar kepada ibuku!"

Dengan melupakan rasa sakit, ia siap menerjang Lamkiong Giok pula. Lik-ih-hiat-li menghela napas dan menarik Ji-sia, katanya.

"Sudahlah nak, bagaimana pun jahatnya dia toh adikmu sendiri!"

"Bagus sekali,"

Seru Lamkiong Giok.

"pelajaran saudara Bok takkan kulupakan ... hmm .... selama hayat masih dikandung badan, pasti kubalas."

"Cepat pergi dari sinil"

Bentak Lih-ih-hiat-li.

"beritahu kepada bapakmu, kami akan segera membereskan utang darah inil"

"Sampai jumpa, Wanpwe akan menanti kedatangan kalian di Kiam-houg-ceng,"

Segera Lam-kiong Giok melayang pergi.

"Bagaimanapun jahatnya dia toh adikmu sendiri"

Karena perkataan ini, maka segalanya menjadi terang. Dengan tertawa pedih Ji-sia berkata.

"Ibu, benarkah dia adikku?"

"Benarl"

Dengan air mata bercucuran Lik-ih-hiat-li mengangguk.

"Nak, andaikata kuberitahukan satu hal padamu, adakah keberanianmu untuk hidup?"

Ji-sia malu berjumpa dengan ibunya, ketika tahu ibunya masih hidup di dunia ini, mestinya dia enggan berjumpa lagi dengan siapa pun.

Perbuatan terkutuk dengan ibu kandung sendiri selalu menghantui pikirannya, diam diam la pernah bersumpah, asal pembunuh laknat yang mencelakainya dulu berhasil dibunuh, maka iapun akan bunuh diri di depan pusara ibu dan ayahnya, Sekarang ia berhadapan dengen ibunya, tentu saja penderitaan batinnya sukar dilukiskan, Sambil mengertak gigi, katanya kemudian.

"Ibu, katakanlah!"

Diam-dism Lik-ih-hiat-li menghela napas, katanya.

"Nak, kesalahan dulu bukan atas kehendakmu akan sendiri, terutama dalam dunia persilatan yang penuh dengan dosa dan kejahatan ini, di mana-mana terdapat perangkap, selangkah kurang hati-hati, bisa menyesal sepanjang hidup Jangan kauingat' pada kejadian dulu, kutahu peristiwa itu bukan kesalahanmu lupakan peristiwa itu, mari kita mulai dengan hidup baru "Ibu, aku tidak paham dalih ini!"

Kata Ji-sia sambil menggeleng, Kembali air mata Lik-ih-hiat-li berderai, katanya pedih.

"Sekarang urusan telah berkembang menjadi begini, biarlah kuberitahukan kepadamu, ayahmu masih hidup."

Saking malunya Ji-sia menangis.

"Aku tak punya muka untuk bertemu dengan ayah, aku tak..."

Sambil berkata, ia menangis tersedu-sedu hingga Tong Yong-ling yang berada di sampingnya ikut terharu daa meneteskan air mata. Sambil menahan penderitaan batin tiba-tiba Lik-ih-hiat-li berseru.

"Jin-kiaf, keluarlah untuk bertemu dengan anakmu!"

Segera muncul seorang kakek tua renta berwajah jelek, dengan air mata bercampur darah dan kedua tangan direntangkan, pelahan ia mendekati Ji-sla.

"Anak Sia, inilah ayahmul"

Kata Lik-ih-hiat-li sambil menuding si kakek.

"Ayah!' Ji-sia menjerit pedih. Di balik panggilan tersebut entah terkandung berapa banyak air mata dan darah? Pahit dan getir. Mereka bertiga saling raegkul sambit menangis. Sambil membelai rambut Ji-sia, kakek itu berkata.

"Nak, tak perlu sedih lagi, aku tidak menyalahkan dirimu, yang salah adalah ayahmu dan manusia laknat itu, sekarang kita harus berani menghadapi kenyataan dan membalas sakit hati ini ..."

"Ayah. siapa yaug mencelakai kita? Siapa ....?"

Pekik Ji-sia.

"bentahukan padaku, dia berada di mana? Berada di mana?."

"Dia berada di Kiam-hong-ceng, dia ialah Lamkiong Hian."

Gelak tertawa seram sagera berkumandang menggema angkasa, sambil melompat ke depan Ji-sia berteriak.

"Balas dendam! Balas dendam! Ayah, ananda berangkat!"

"Tak perlu pergi, aku berada di sinil"

Mendadak seorang berseru nyaring.

Menyusul seorang telah muncul di situ, dia tak lain ialah Kim-hong-cengcu Lamkiong Hian.

Ia tampak sangat tenang, dengan khidmat selangkah demi selangkah maju ke tengah arena.

Ji-sia menyeringai, serunya.

"Lamkiong Hian, serahkan nyawamu hari inil"

"Ya, aku datang untuk menyerahkan nyawaku!"

Jawab Lamkiong Hian dengan dingin. Cahaya emas segera terpancar, Ji-sia telah melolos Jian-kim-si-hun-pian dan mendongak sambil tertawa.

"Lamkiong Hian,"

Bentak Lik-ih-hiat-li.

"kami sudah cukup menderita kau celakai!"

"Enso, dapatkah kau lupakan masa lalu?"

Tanya Lamkiong Hian.

"Tidak dapat, aku menghendaki nyawamu!"

Bentak Ji-sia. Ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian segera diputar dan menusuk ke dada Lamkiong Hian.

"Kupasrahkan nyawaku kepada kalian,"

Kata Lamkiong Hian sambil memejamkan mata.

"semoga Toako dan enso baik baik merawat kedua orang anak itu!"

Ucepan seorsng yang mendekati ajalnya selalu merupakan kata-kata yang mulia, tak nyana gembong iblis ini mau bertobat pada akhirnya den pasrah nasib.

Darah segar muncrat, menyusul tubuh Lamkiong Hian lantas roboh terkapar.

Melihat musuh telah tewas, Ji-sia tertawa seram pula.

teriaknya.

"Dendam terlampias! Lebih baik pulang ...Dendam telah terlampiaskan! Lebih baik pulang . .. Menyusul tertawa yang seram itu, bagaikan orang gila dia lari menuju sebuah jurang secepat terbang..Dengan terperanjat Tong Yong-Iing menjerit, ;

"Engkoh Bok, kembali!"

"Anak Sia, kau ...."

Lik-ih-hiat-li juga berteriak, cepat mereka berdua mengejar ke sana. Tiba2 muncul sesosok bayangan dari tepi jalan seraya membentak.

"Orang she Bok, kembalikan nyawa ayahku!"

Mengikuti bentakan itu, kedua orang lantas bergumul menjadi satu dan menggelinding ke tepi jurang. Lik-ih-hikt-lt terperanjat menyakskan hal itu dari belakang, teriaknya.

"Nona Tong. kedua bocah itu tak mau hidup lagi!"

"Kalau dia mati, akupun tak ingin hidup!"

Sahut Tona Yongling dengan cemas. Mendadak terdengar Bok Ji-sia berteriak.

"Saudara Lamkiong, kau benar-benar tak ingin hidup?"

"Ya, biarlah mati, biar kita mati bersama!"

Seru Lamkiong Giok sambil menangis.

Kedua orang terus bergelinding ke tepi jurang, Ji-sia memang sudah bertekad mati, ia pejamkan mata dan menyerah kepada elmaut.

Tiba-tiba Lamkiong G'ok mencengkeram kedua tangan Jisia sambil berteriak.

'Saudara Bok, kita berangkat bersama ke alam baka!"

Makin cepat kedua orang itu terguling ke jurang dan lenyaplah bayangan mereka.

Beberapa kali jeritan ngeri bergema dari dasar jurang, dasar jurang yang tertutup oleh kabut tebal.

Ketika Lik-ih-hiat-li sampai di tepi jurang ia hanya bisa bergumam.

"Dendam telah terlampias, lebih baik pulangi"

Siapa pula yang tahu keenam patah kata tersebut merupakan kata terakhir Bok Ji-sia menjelang kematiannya? Pulang ke akhirat, yaitu jalan yang harus dilalui oleh setiap manusia. -TAMAT -

Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 17

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga Chin Yung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert