Eps 1 Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung
Baca online Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung
Cersil Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung.
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com. SERULING PERAK SEPASANG WALET (GIN TIE SUANG YEN) Karya. Khulung
Jilid 01 PENDAHULUAN.
Bum!
Bum!
Bum!
Itulah suara gelombang yang amat dahsyat.
Gelombang yang amat dahsyat itu menghantam dinding tebing, menimbulkan buih-buih yang menyerupai bunga.
Di bawah sinar bintang-bintang yang bertaburan di langit, tampak cahaya bergemerlapan di permukaan laut.
Bukan main indahnya panorama itu!
Kalau seorang pelukis ada di sana, pasti akan melukisnya.
Itu adalah tebing Giok Li Hong.
Tergeletak tujuh delapan sosok mayat di atas tebing tersebut.
Darah membanjiri tebing itu.
Mayat-mayat itu sudah tidak utuh.
Terlihat beberapa kepala berserakan di sana.
Begitu pula anggota badan.
Perut tersobek oleh senjata tajam.
Bahkan sebuah kepala tampak terbelah dua.
Dan....
Sungguh mengerikan pemandangan itu!
Tiada sesosok mayat pun yang utuh.
Di antara mayat-mayat itu, tampak seorang wanita sedang memeluk erat-erat seorang anak berusiatiga tahunan.
Hanya badan wanita itu yang masih utuh, namun sekujur badannya berlumuran darah.
Menyeramkan.
Di bawah sinar rembulan, sungguh mengerikan pemandangan itu!
Serangkum demi serangkum bau dapatir menyebar terhembus angin....
Mendadak wanita itu mendongakkan kepala, lalu menengok ke sekelilingnya.
Dia bangkit berdiri, sambil memeluk anak itu erat-erat.
Ternyata wanita itu belum mati.
Disaat bersamaan terdengar pula suara tawa yang menyeramkan.
Suara tawa seram itu berasal dari balik sebuah batu.
Kemudian muncul seorang suseng (Pelajar) berusia pertengahan, dengan wajah bengis berjalan mendekati wanita tersebut.
Begitu melihat suseng itu, wanita tersebut langsung menyingkir ke samping.
Suseng itu berhenti, kemudian berkata dengan suara yang amat lembut sekali.
"Cen Soat Ngo, kau tidak akan bisa kabur!"
"Chiu Tiong Thau, aku bersumpah akan melawanmu!"
Sahut wanita itu gusar. Chiu Tiong Thau tertawa terkekeh-kekeh.
"Sudah dua puluh tahun lebih, aku terus menunggumu. Hari ini...."
Dia tertawa terkekeh-kekeh lagi, lalu melesat ke arah wanita itu.
Dalam waktu bersamaan itu tampak sosok bayangan berkelebat dan lenyap seketika.
Di atas tebing itu kembali sunyi, menyeramkan dan menakutkan!
Di bawah tebing, masih terdengar suara gelombang bergemuruh, seakan turut berduka cita atas kematian orang-orang yang berada di atas tebing itu.
Sang waktu terus berlalu.
Mayat-mayat di atas tebing Giok Li Hong semuanya telah membusuk.
Kini yang ada hanya tinggal tulang-belulang.
Tiada seorang pun menguburkannya.
Juga tiada seorang pun yang datang ke tempat itu.
Karena tempat itu amat menyeramkan, lagi pula amat berbahaya, siapa yang akan datang ke tempat itu?
Dan siapa pula yang akan berziarah ke sana?
Sebab itu, tulang belulang tersebut tetap berserakan di atas tebing itu, selamanya berserakan.
Di sini -----Juga merupakan tempat yang menyeramkan selama-lamanya.
Bunga-bunga salju beterbangan.
Angin terus berhembus kencang.
Terdengar suara 'Huuh!
Huuuh!' Membuat merinding sekujur badan orang yang mendengarnya.
Malam semakin larut.
Angin terus berhembus kencang dan dingin sangat mencekam.
Bunga-bunga salju beterbangan tak hentihentinya.
Alam semesta amat hening seperti berkabung.
Di sekitar Gunung Tay Pah San, berdiri sebuah rumah yang amat besar.
Karena hawa udara amat dingin, para penghuni rumah telah tidur lelap.
Karena itu, suasana di sekitar rumah besar itu terasa sepi menyeramkan.
Di atas pintu rumah besar tersebut, tergantung sebuah papan bertulisan Tong Keh Cuang (Rumah perkampungan Tong).
Tampak kamar yang berderet, dibangun dengan bahan kayu mahal, sungguh merupakan bangunan mewah.
Di belakang rumah itu terdapat sebuah taman.
Banyak tanaman hias bunga-bungaan di dalam taman itu.
Namun karena saat itu musim salju, maka dedaunan dan bunga-bunga di taman itu semuanya rontok.
Akan tetapi, di sekitar sebuah bangsal istana, terdapat belasan bunga bwee yang memekar segar, sebagian tertutup bunga-bunga salju, sehingga kelihatan indah sekali.
Saat itu sudah lewat tengah malam, mendadak sosok bayangan hitam berkelebat memasuki bangsal, lalu menaruh barang yang dibawanya di atas meja batu.
Sungguh di luar dugaan, barang yang dibawa orang itu ternyata seorang gadis cantik berusia lima belasan.
Orang yang membawa gadis itu adalah seorang pemuda berusia tujuh belasan.
Wajah pemuda itu tampan, hanya saja sepasang matanya menyorotkan sinar kelicikan, bibirnya menyungging senyuman puas.
Sedangkan gadis yang dibaringkan di atas meja batu itu sepasang matanya menyorotkan sinar yang diliputi ketakutan.
Pemuda itu menatapnya.
"Adik Ping, kau tidak usah takut, toako (Kakak) tidak akan mencelakaimu,"
Katanya dengan ringan, sambil menjulurkan tangannya ingin menanggalkan baju gadis itu.
Sepasang tangan dan kaki gadis itu tidak bisa bergerak, namun mulutnya dapat mengeluarkan suara 'Aah!' "Aku Bwee Han Ping memang menumpang di rumahmu.
Tapi kau tidak bisa berbuat semaumu terhadapku...", kata gadis itu.
Akan tetapi pemuda tersebut tetap menanggalkan baju gadis itu.
"Adik Ping, kalau kau mengabulkan permintaanku, kita akan baik selama-lamanya,"
Katanya.
Baju bagian atas gadis itu telah terbuka, sehingga tampak sepasang payudara yang amat montok dan indah.
Sepasang mata pemuda itu membara penuh nafsu birahi, seakan ingin menelannya bulat-bulat.
Sedangkan Bwee Han Ping saking gugup dan panik, akhirnya mengucurkan air mata.
Dia menggigit bibir.
"Tong Eng Kang, kau adalah binatang...!"
Teriaknya memilukan Pemuda itu tidak membiarkannya terus berteriak. Maka ditotoknya jalan darah gagu gadis itu. Setelah itu, dia tertawa dingin.
"Bween Han Ping, kau kira teriakanmu akan mengundang orang kemari menyelamatkanmu? Terus terang. kalaupun ada orang kemari, orang itu tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap siauw ya (Tuan Muda)!"
Sepasang mata Tong Eng Kang semakin membara, kelihatan nafsu birahinya telah memuncak.
Bwee Han Ping tidak bisa bergerak, bahkan juga tidak bisa bersuara.
hanya air mata yang bercucuran, menunggu badai menerpa dirinya....
Tong Eng Kang mulai menanggalkan baju bagian bawah gadis itu.
Kelihatannya dia sudah siap memangsa anak domba yang berada di hadapannya.
Akan tetapi, tiba-tiba di luar bangsal itu tampak sesosok bayangan kecil.
Lantaran agak berat langkahnya, maka terdengar suara.
"Serrt! Serrrt!"
Setelah diperhatikan, ternyata seorang anak lelaki berusia tiga belasan. Ketika menyaksikan pemandangan di dalam bangsal, sepasang matanya langsung terbelalak.
"Tong Eng Kang, bagus sekali perbuatanmu!"
Bentaknya keras.
Anak lelaki itu segera menerjang ke dalam bangsal.
Mendengar bentakan itu, Tong Eng Kang cepat-cepat membalikkan badannya.
Sepasang matanya tampak bersinar bengis, kemudian tersenyum licik.
"Anak jahanam, kau makan, pakaian dan tidur dariku! Justru sekarang kau berani mencampuri urusanku! Kau memang ingin cari mampus!"
Tangan Tong Eng Kang bergerak cepat mencengkeram lengan anak itu, sekaligus mengayunkan kakinya menendang, membuat anak itu terpental keluar.
Terdengar suara jeritan anak itu.
Ternyata dia roboh pingsan seperti mati seketika.
Bayangkan!
Anak itu berusia lima belasan sama sekali tidak mengerti ilmu silat.
Kalaupun mengerti, dia tidak akan tahan terkena tendangan tersebut.
Tong Eng Kang berjalan ke luar mendekati anak yang pingsan itu, kemudian menambah sebuah tendangan lagi.
Anak yang pingsan itu terpental.
Sedangkan Tong Eng Kang berkertak gigi.
"Siauw ya akan menghabiskanmu dulu!"
Katanya.
Selangkah demi selangkah Tong Eng Kang menghampirinya, lalu menyambar anak itu seperti menyambar seekor anak ayam.
Badannya melesat ke luar melalui tembok, ternyata Tong Eng Kang membawa anak itu ke atas gunung.
Bukan main cepatnya gerakan Tong Eng Kang!
Hanya sekejap dia sudah berada di puncak gunung.
Terdengar suara tawa puas, menyusul terdengar pula Tong Eng Kang berkata dengan sinis.
"Anak jahanam, pergilah mengurusi urusanmu!"
Tangan Tong Eng Kang bergerak, ternyata dia melemparkan anak itu ke dalam sebuah lembah.
Terdengar suara hembusan angin yang menderu, kedengarannya seperti meratapi nasib anak yang malang itu.
Tong Eng Kang memandang ke bawah lembah itu sejenak, setelah itu barulah dia melesat pergi menuju kaki gunung.
Pemuda tersebut kembali ke halaman belakang rumahnya.
Namun tak disangka, di dalam bangsal itu tidak tampak seorang pun.
Kening Tong Eng Kang berkerut, lalu dia melesat ke arah sebuah loteng.
Dalam sekejap bayangannya sudah tidak kelihatan.
Ternyata ketika Tong Eng Kang melesat turun dari gunung, terlihat pula sosok bayangan kecil, melesat ringan menuju ke atas gunung melalui sebuah rimba yang lebat dengan pohon besar.
Sosok bayangan kecil itu, tidak lain adalah seorang gadis berusia tiga belasan.
Begitu sampai di puncak gunung, sepasang matanya mencari kesana kemari, lalu dia melesat ke bawah lembah.
Samar-samar dia melihat ada sedikit bekas di sana.
Gadis itu segera meloncat ke atas sebuah batu, lalu memandang ke arah bekas itu dengan hati berdebardebar.
Batu besar itu lebih tinggi maka gadis itu dapat melihat tempat yang terdapat suatu bekas.
Mendadak dia melihat ada sesuatu di tempat itu.
Karena agak jauh, dia hanya dapat melihat samar-samar.
Gadis itu langsung melesat ke arah tempat itu.
Gerakannya laksana kilat.
Sampai di tempat itu, tanpa sadar dia mengeluarkan seruan.
"Haah...!"
Tanpa ayal lagi gadis itu cepat-cepat membungkukkan badannya, lalu berseru dengan suara ringan.
"Adik Yin! Adik Yin!"
Ternyata di atas permukaan salju, terdapat seorang anak lakilaki, tidak lain adalah anak laki-laki yang dilempar ke bawah lembah oleh Tong Eng Kang.
Walaupun gadis itu berseru berulang kali, namun anak itu tidak menyahut sama sekali.
Gadis itu cepat-cepat meraba dadanya, masih terasa hangat dan jantung anak laki-laki itu masih berdetak.
Oleh karena itu, gadis tersebut menarik nafas lega, lalu berseru lagi memanggil anak itu.
Anak gadis itu, kelihatan amat memperhatikan anak laki-laki tersebut.
Di saat berseru, air matanya pun terus berderai.
Berselang beberapa saat kemudian, anak laki-laki itu siuman perlahan-lahan.
Mulutnya mengeluarkan suara rintihan.
Betapa girangnya gadis itu!
"Adik Yin, bagaimana keadaan dan rasmau sekarang?"
Serunya. Anak laki-laki itu menatapnya dengan mata sayu, kemudian meledaklah isak tangisnya.
"Adik Yin, bangunlah! Kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini,"
Kata anak gadis itu, lalu memapahnya bangun dan memeluknya erat-erat. Anak laki-laki itu menahan rasa sedih dalam hatinya. Dia menatap anak gadis itu dengan penuh rasa terimakasih.
"Banyak-banyak terimakasih, Kakak Wen!"
Ucapnya. Mendadak terdengar suara bentakan bengis dari kejauhan, sepertinya terjadi di Tong Keh Cuang. Air muka anak gadis itu langsung berubah dan dia cepat-cepat mengambil tusuk rambutnya.
"Adik Yin, kau tidak bisa lagi tinggal di rumah kami, lebih baik cepat pergi! Bawalah tusuk rambutku ini! Tusuk rambut ini bisa ditukarkan dengan uang perak, di saat kau membutuhkannya,"
Katanya sambil memberikan tusuk rambutnya kepada anak laki-laki itu.
Saat itu di tempat nan jauh masih terdengar suara-suara bentakan bengis, bahkan tampak pula cahaya api.
Anak gadis itu kelihatan amat gugup dan gelisah.
Dia menatap anak lelaki itu sejenak, lalu melesat pergi.
Ketika sampai di Tong Keh Cuang, tampak perkampungan itu telah berubah menjadi lautan api.
Bayangan-bayangan orang berkelebatan.
Terdengar pula suara-suara bentakan dan suara yang hiruk pikuk memekakkan telinga.
Bukan main terkejutnya anak gadis itu!
Dia langsung melesat ke halaman rumah Tong Keh Cuang itu....
Sementara anak laki-laki itu memandang kepergian anak gadis tersebut dengan air mata bercucuran.
"Aku harus pergi ke mana?"
Gumamnya. Dia melihat tangannya, ternyata tangannya menggenggam sebuah tusuk rambut pemberian anak gadis tadi.
"Kenapa Kakak Wen memberiku benda ini?"
Katanya seorang diri dengan air mata berderai.
Dia kelihatan agak membenci.
Tangannya diangkat sepertinya ingin membuang tusuk rambut itu.
Akan tetapi, tangannya diturunkan lagi, kemudian disimpannya tusuk rambut itu di dalam bajunya.
Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi keras.
"Setahun lebih, sudah cukup aku menerima siksaan, aku harus pergi mencari kakek tua berjenggot putih!"
Katanya sambil menyusut air matanya.
Kemudian dengan menahan rasa sakit dia berjalan perlahan-lahan ke dalam lembah itu.
Di dalam benaknya, teringat kembali kejadian yang lalu.
Dia pernah mendengar dari kakek tua berjenggot putih, bahwa namanya adalah Ciok Giok Yin.
Dia ikut kakek tua tersebut belajar membaca, menulis dan ilmu pengobatan.
Tiga tahun yang lalu, dia dibawa oleh kakek tua berjenggot putih itu ke perkampungan Tong Keh Cuang.
Setelah berada di perkampungan itu, dia berkenalan dengan Bwee Han Ping.
Sejak kecil Bwee Han Ping tidak punya orang tua, maka keluarga Tong memeliharanya.
Dia pernah mendengar dari Bwee Han Ping, bahwa gadis itu masih punya hubungan famili dengan keluarga Tong.
Tapi bagaimana hubungan famili itu, dia sama sekali tidak bertanya.
Majikan Tong Keh Cuang di dunia persilatan amat terkenal.
Dia bernama Tong Lip Ceng, julukannya adalah Pah San Hui Pa (Macan Tutul Terbang Gunung Pahsan), mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, bernama Tong Eng Kang dan Tong Wen Wen.
Mereka berdua telah mewarisi kepandaian ayahnya, namun Tong Eng Kang amat licik terhadap orang, bahkan juga selalu berlaku sewenang-wenang.
Sudah lama dia berniat jahat terhadap Bwee Han Ping.
Akan tetapi, Bwee Han Ping tinggal bersama Tong Wen Wen, maka membuat Tong Eng Kang belum berhasil menodai gadis tersebut.
Lagi pula Tong Eng Kang takut pada ayahnya, karena itu niat jahatnya tersebut belum tercapai.
Selain itu, Tong Eng Kang pun amat segan terhadap kakek tua berjenggot putih.
Setahun yang lalu, kakek tua berjenggot putih berpesan pada Ciok Giok Yin harus rajin belajar membaca dan menulis, karena kakek tua itu akan pergi jalan-jalan ke dunia persilatan, dan entah kapan baru akan kembali.
Sejak kakek tua berjenggot putih pergi, Tong Eng Kang mulai berlaku semena-mena terhadap Ciok Giok Yin, bahkan mengancamnya apabila berani memberitahukan kepada orang lain, maka Ciok Giok Yin akan dibunuhnya.
Mengenai Tong Wen Wen, juga pernah menghinanya, mengatainya sebagai anak yang tidak mempunyai orang tua.
Memang kebetulan sekali segala urusan itu.
Tiga hari yang lalu, Pah San Hui Pa Tong Lip Ceng diajak pergi oleh teman akrabnya, maka tidak heran Tong Eng Kang semakin jadi bertindak sewenang-wenang.
Malam ini, Tong Eng Kang memanfaatkan kesempatan ketika adiknya tidak berada di dalam kamar.
Dia menculik Bwee Han Ping ke halaman belakang, maksudnya ingin menodai gadis itu.
Justru sungguh di luar dugaan!
Di saat bersamaan Ciok Giok Yin tidak bisa tidur, maka dia jalan-jalan ke halaman belakang itu.
Tanpa sengaja, dia mendengar suara orang di dalam bangsal.
Dia kenal benar akan suara itu, tidak lain adalah suara Kakak Ping.
Segeralah dia ke sana dan menyaksikan....
Akan tetapi, Tong Eng Kang memang sangat kejam.
Dia langsung menendangnya tanpa ampun, lalu membawanya ke atas gunung dan melemparnya ke bawah lembah.
Yang tak terduga sama sekali yakni kemunculan Tong Wen Wen.
Padahal anak gadis itu pernah menghinanya, namun kini sebaliknya malah menolongnya.
Ciok Giok Yin teringat lagi pada kakek tua berjenggot putih.
Sebetulnya siapa kakek tua itu dan pergi ke mana dia?
Masih ada Kakak Ping, apakah dia akan ternoda oleh Tong Eng Kang?
Selanjutnya dia akan bagaimana?
Kini dia tidak boleh kembali ke perkampungan Tong Keh Cuang.
Lagi pula dia tidak bisa ilmu silat, maka pasti tidak mampu melawan Tong Eng Kang.
Bagaimana mungkin membantu Kakak Ping?
Mengenai Tong Lip Ceng adalah orang macam apa?
Dia orang baik atau orang jahat?
Kelihatannya dia tidak terkesan baik terhadap Ciok Giok Yin, namun memandang muka kakek tua berjenggot putih, dia masih tidak berbuat apa-apa.
Akan tetapi, sejak kakek tua berjenggot putih pergi, setiap kali melihat Ciok Giok Yin, maka Tong Lip Ceng pasti tampak dingin, tak pernah berseri sama sekali.
Mendadak terlintas suatu pikiran dalam benak Ciok Giok Yin, yaitu apabila ada kesempatan, harus belajar ilmu silat, paling rendah harus setingkat dengan Tong Eng Kang, agar mampu melawannya, maka bisa melindungi Kakak Ping.
Kecuali begitu, sama sekali tiada akal lain.
Berbagai macam pikiran berkecamuk di dalam benak Ciok Giok Yin, akhirnya dia bergumam.
"Aku harus belajar ilmu silat! Aku harus belajar ilmu silat!"
Karena pikiran Ciok Giok Yin sedang menerawang, membuatnya kurang berhati-hati.
Kakinya kesandung sebuah batu kecil, menyebabkannya jatuh terguling-guling.
Mendadak dia merasa dirinya berada di udara, sepertinya terangkat oleh sebuah jala besar.
Dia terangkat ke atas hampir empat depa.
Secara reflek dia meronta, justrudia meronta, justru terdengar suara Ting!
Ting!
Ting!
yang amat nyaring.
"Berhasil menangkap satu! Cepat!"
Terdengar orang berkata.
Terdengar pula suara langkah yang tergesa-gesa.
Saat itu hari sudah mulai terang.
Ciok Giok Yin yang berada di dalam jala.
Dia memandang ke bawah, tampak tiga lelaki bergegas-gegas menuju ke arahnya.
Tangan mereka membawa senjata bercagak tiga, yaitu senjata berburu.
Setelah mendekat, salah seorang dari mereka langsung mengangkat senjatanya, lalu ditusukkan ke arah jala.
Ciok Giok Yin melihat itu, segera berteriak sekeras-kerasnya.
"Aduuuh! Ibu...!"
Lelaki itu cepat-cepat menarik kembali senjatanya, sekaligus meloncat ke belakang.
Dua orang temannya pun meloncat ke belakang, bahkan air muka mereka tampak ketakutan.
Setelah saling memandang, mereka bertiga lalu memandang ke arah jala.
Karena hari baru mulai terang, maka mereka bertiga tidak dapat melihat dengan jelas apa yang berada di dalam jala besar itu.
"Apakah... adalah orang?"
Kata salah seorang diantara ketiga lelaki itu. Sedangkan Ciok Giok Yin yang berada di dalam jala besar itu amat terkejut dan ketakutan. Sekujur badannya menggigil.
"Paman! Tolong turunkan aku!"
Sahutnya ketika mendengar perkataan orang itu.
"Kau adalah orang?"
"Ya!"
"Siapa namamu?"
"Ciok Giok Yin!"
Lelaki yang berbicara itu mendekati seutas tali, kemudian ditariknya tali itu. Buuk! Jala besar itu jatuh ke bawah. Terdengar pula suara jeritan Ciok Giok Yin yang amat keras.
"Aduuuuh!"
Dia merasa semua tulangnya seakan patah.
Bukan main sakitnya sehingga membuatnya nyaris pingsan.
Ketiga lelaki itu maju serentak, melihat seorang anak kecil berusia sekitar tiga belasan.
Salah seorang dari mereka melotot.
Dia membungkukkan badannya dan mendadak mengayunkan tangannya menampar Ciok Giok Yin seraya mencaci.
"Anak sundel! Kami menahan haus, lapar dan dingin menjaga semalaman di sini untuk menangkap hewan! Tidak pergi bermain ke tempat lain, justru malah kemari! Dasar anak nakal!"
Saking gusarnya, dua kali lagi lelaki itu menampar muka Ciok Giok Yin. Tamparan-tamparan itu membuat mata Ciok Giok Yin berkunang-kunang dan dari bibirnya keluar darah.
"Paman, aku tidak sengaja, aku..."
Katanya dengan suara lemah dan gemetar. Plak! Lelaki itu menampar lagi.
"Apakah aku yang menghalangi jalanmu?"
Ben-taknya kemudian mengayunkan kakinya menendang Ciok Giok Yin.
Sungguh kasihan anak kecil itu!
Semalam dia ditendang dan dilempar ke dalam lembah.
Kalau tidak diselamatkan Tong Wen Wen, mungkin nyawanya telah melayang.
Kali ini dirinya terperangkap ke dalam jala besar, kemudian ditampar beberapa kali dan ditendang lagi.
Itu membuatnya menderita sekali, sehingga men-jerit-jerit.
"Aduuuh! Sakit sekali!"
Mata Ciok Giok Yin jadi gelap, akhirnya dia jatuh pingsan. Di saat bersamaan, lelaki itu mengangkat sebelah kaki, lalu membentak sengit.
"Dasar anak sundel! Kami terganggu olehmu, sehingga kami tidak mendapat hasil apa-apa! Sebaliknya harus mengalami kedinginan di sini! Kau memang harus mampus!"
Lelaki itu menendang lagi, menyebabkan Ciok Giok Yin terguling-guling dan membentur batu, sehingga mukanya lecet-lecet dan berdarah.
Ketiga lelaki itu melototi Ciok Giok Yin.
Mereka tidak perduli anak itu mati atau masih hidup, segera memasang jala besar itu lagi, siap menangkap hewan yang melalui tempat itu.
Mendadak salah seorang lelaki itu melihat di permukaan salju terdapat suatu benda yang bergemerlapan.
Dia cepatcepat memungut benda itu, tidak lain adalah sebuah tusuk rambut.
Betapa girangnya lelaki itu!
"Ini tusuk rambut emas!"
Serunya dengan wajah berseri. Kedua temannya tidak menghiraukannya.
"Omong kosong! Bagaimana mungkin di tempat ini terdapat tusuk rambut emas?"
"Lihatlah kalian!"
Kata lelaki itu. Kedua temannya menoleh ke arahnya. Mereka melihat tangan lelaki itu memegang sebuah benda kekuning-kuningan.
"Tusuk rambut emas!"
Seru mereka berdua serentak.
"Tidak salah kan?"
Bukan main girangnya ketiga lelaki itu! Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha...."
Berselang sesaat, salah seorang lelaki itu berkata.
"Apakah milik anak sundel itu jatuh?"
"Geledah!"
Sahut yang lain.
Mereka bertiga segera menggeledah badan Ciok Giok Yin, akan tetapi, mereka tidak menemukan apa-apa.
Salah seorang lelaki itu menendangnya saking gusar, membuat Ciok Giok Yin terguling-guling.
"Jangan-jangan anak sundel ini yang mencurinya?"
Kata lelaki itu sengit.
"Dilihat dari pakaiannya, pasti dia bukan berasal dari keluarga kaya. Tentunya dia boleh mencuri,"
Sahut temannya.
Di saat mereka bertiga sedang bercakap-cakap, haripun semakin terang.
Mereka bertiga sependapat, bahwa kalau anak itu yang mencuri tusuk rambut emas tersebut, pasti ada orang mengejarnya.
Apabila tidak cepat-cepat pergi, mungkin....
Mereka bertiga saling memberi isyarat, lalu segera memberesi jala besar itu.
Kemudian mereka bertiga bergegas meninggalkan tempat itu.
Kini di dalam lembah itu hanya tinggal Ciok Giok Yin seorang diri.
Dia dalam keadaan tergeletak.
Sudah mati atau masih hidupkah dia?
Tiada seorang pun yang tahu.
Lagi pula hawa udara amat dingin menusuk tulang.
Siapa yang begitu iseng datang di tempat itu?
Sudah pasti tidak!
Sementara sang waktu terus berlalu, tak terasa hari sudah mulai sore.
Hembusan angin menerbangkan bunga-bunga salju, sehingga terdengar suara menderu-deru.
Bunga-bunga salju itu kemudian berjatuhan di muka Ciok Giok Yin, membuatnya merinding.
Perlahan-lahan kesadarannya mulai pulih, namun pandangannya masih agak kabur.
"Paman, aku bukan sengaja..."
Gumamnya dengan suara rendah.
Gumaman berikutnya, tidak terdengar begitu jelas.
Berselang beberapa saat kemudian dia menghela nafas panjang, barulah betul-betul siuman.
Dia merasa tulang-tulangnya seakan telah remuk.
Matanya terbuka perlahan-lahan.
Kemudian dia menengok kesana kemari, tapi tidak tampak seorang pun berada di sekitarnya.
Dasar, dia masih kecil, setelah mengalami berbagai macam kejadian yang menyiksa dirinya, tak tertahan lagi akhirnya dia menangis tersedu-sedu.
Lalu di tempat yang amat sepi itu, siapa yang akan menghiburnya?
Dia tidak punya orang tua, yatim piatu.
Tiada seorang pun yang dekat padanya.
Sedangkan kakek tua berjenggot putih, justru tidak ketahuan jejaknya.
Saat ini, yang bisa menghiburnya hanyalah hembusan angin dingin dan bunga-bunga salju yang beterbangan.
Akan tetapi, hembusan angin dingin dan bungabunga salju itu sama sekali tidak mempunyai perasaan, menyebabkan Ciok Giok Yin amat menderita.
"Huuuh! Huuuh...."
Hembusan angin terus menderu-deru.
Itu membuat Ciok Giok Yin merasa kedinginan, terutama bagian dadanya.
Dia mengangkat sebelah tangannya perlahan-lahan, meraba bagian dadanya.
Ternyata baju bagian dadanya terbuka.
Ciok Giok Yin berkertak gigi, bangun duduk lalu menutup bajunya.
Sesudah itu, barulah terasa agak hangat.
Bagi manusia, baik masih kecil atau sudah besar, tentu memiliki daya untuk terus hidup.
Begitu pula Ciok Giok Yin yang masih kecil itu.
Dia tidak mau duduk di situ menunggu kematiannya.
Asal masih terdapat setitik kehidupan, pasti harus ditempuhnya.
Sejak kecil dia telah terbiasa hidup menderita dan tersiksa, maka terciptalah sifat keras pada pribadinya.
Oleh karena itu, dia segera menyusut menghapus air matanya, kemudian bangkit berdiri.
Namun sekujur badannya telah terluka, maka ketika dia bangkit berdiri, sekujur badannya terasa sakit sekali.
Disebabkan itu, akhirnya dia terkulai lagi.
Kendatipun demikian, dia terus berupaya bangkit berdiri.
"Aku harus meninggalkan tempat ini, dan harus berhasil menemukan kakek tua berjenggot putih! Kalau aku berhasil mencarinya siapa pun tidak akan berani menghinaku lagi!"
Gumamnya.
Ciok Giok Yin berusaha bangkit berdiri, akhirnya dia berhasil, barulah berjalan terseok-seok meninggalkan lembah itu.
Dia terus berjalan ......
Tak terasa haripun sudah malam.
Dia beristirahat di bawah sebuah pohon, mengisi perutnya dengan daun-daun muda.
Setelah hari mulai terang, dia mulai melanjutkan perjalanan lagi.
Ketika hari mulai petang, dia sudah sampai di sebuah kota kecil.
Sepasang kakinya terasa ngilu tak bertenaga, nyaris tak kuat berjalan lagi.
Sampai di sebuah jalan, dari sebuah rumah makan kecil, tercium aroma arak dan masakan, membuat air liurnya nyaris mengalir.
Ciok Giok Yin berdiri termenung di depan rumah makan itu.
Rasa haus dan lapar membuatnya tak tahan.
Teringat olehnya di dalam bajunya terdapat sebuah tusuk rambut emas, maka dia melangkah memasuki rumah makan itu.
Seorang pelayan membawanya ke sebuah meja di dekat jendela.
Dia tidak tahu harus memesan masakan apa, cuma berpesan semangkok nasi dan semangkok sup sampi.
Tak seberapa lama, pelayan rumah makan sudah rnenyajikan apa yang dipesannya.
Tanpa membuang waktu, dia langsung bersantap dengan lahap sekali.
Sedangkan pelayan itu terus berdiri di dekat meja, mengawasi gerak geriknya.
Usai bersantap, Ciok Giok Yin sudah siap mengeluarkan tusuk rambut emas dari dalam bajunya, agar bisa ditukar dengan uang perak.
Namun tak disangka ketika tangannya merogoh ke dalam bajunya, justru tidak dapat dikeluarkannya lagi.
Ternyata tusuk rambut emas tersebut telah hilang entah dimana.
Bukan main terkejutnya!
Seketika keringat dinginnya mengucur deras membasahi sekujur badannya.
Dia bertanya dalam hati.
'Kemana tusuk rambut emas pemberian Kakak Wen?
Ini harus bagaimana?' Gugup dan panik hati Ciok Giok Yin.
Dia melirik pelayan itu.
Tampak pelayan itu menatapnya dengan sinis dan sambil tersenyum menghina.
Keringat dingin sudah mulai merembes keluar dari kening Ciok Giok Yin.
Dia tidak berani bangkit berdiri, cuma duduk termenung di tempat duduknya.
Dia tahu, apabila tidak dapat mengeluarkan uang, pasti akan digebuk bagaikan seekor anjing, bahkan mungkin juga dirinya akan dibawa ke pengadilan.
Semakin dipikirkan, hatinya semakin takut, sehingga wajahnya yang semula merah padam, kini telah berubah menjadi pucat pias.
Pelayan itu memang berpengalaman.
Begitu melihat sikap Ciok Giok Yin, dia sudah mengerti apa yang telah terjadi.
Oleh karena itu, dia terus menatap Ciok Giok Yin dengan mata tak berkedip.
Sementara hampir separuh tamu yang bersantap di rumah makan itu sudah pergi.
Tiba-tiba pelayan itu tertawa sinis sambil mendekati Ciok Giok Yin.
"Apakah perlu tambah sedikit makanan lagi?"
Ciok Giok Yin segera bangkit berdiri.
"Ti... tidak usah,"
Sahutnya tersendat-sendat.
"Semuanya berjumlah dua keping perak,"
Kata pelayan itu lalu melotot. Ciok Giok Yin menelan ludah, kemudian memberanikan diri berkata.
"Paman! Aku... aku tidak membawa...."
Pelayan itu langsung mencaci.
"Anak sundel! masih kecil tapi sudah bernyali besar! Cepat keluarkan perakmu, tidak boleh kurang sama sekali!"
Saat itu para tamu yang sedang bersantap semuanya memandang ke arah Ciok Giok Yin.
"Masih berbau susu, sudah belajar makan gratis!"
Kata salah seorang tamu.
"Harus diberi sedikit pelajaran, agar dia tahu diri!"
Sambung seorang tamu yang lain.
Para tamu itu terus memanasi suasana, dan itu mmembuat pelayan tersebut bertambah berani.
Dia langsung menyambak leher baju Ciok Giok Yin, sekaligus mengayunkan tangannya.
Plak!
Pelayan itu menamparnya seraya membentak sengit.
"Anak sundel! Kalau kau tidak bayar, jangan harap bisa pergi dengan badan utuh!"
Pelayan itu menjinjing Ciok Giok Yin, kemudian membantinya ke bawah.
"Aduuuh! Paman, aku... aku akan cari akal!"
Jerit Ciok Giok Yin kesakitan.
"Cepat bayar!"
Bentak pelayan.
"Paman, aku... aku sungguh tidak punya uang!"
Kata Ciok Giok Yin terputus-putus. Mendadak seorang pelayan lain berseru.
"Tanggalkan pakaiannya!"
Udara di musim rontoh amat dingin. Kalau pakaiannya ditanggalkan, tentu Ciok Giok Yin akan mati kedinginan. Oleh karena itu, Ciok Giok Yin memeluk erat-erat dadanya sendiri seraya bermohon.
"Paman! Jangan...."
Belum lenyap suaranya, sudah tampak dua pelayan menyambaruya.
Salah seorang menamparnya, yang satu lagi mulai menanggalkan pakaiannya.
Justru di saat ini, mendadak dari luar masuk seorang wanita berusia pertengahan.
"Pelayan, berapa banyak anak itu makan, hitung ke dalam rekeningku saja! Kalian harus melepaskannya!"
Katanya dengan lantang. Kedua pelayan itu menoleh samba menaruh Ciok Giok Yin ke bawah.
"Tidak begitu banyak, terimakasih!"
Sahutnya dengan wajah berseri-seri. Akan tetapi pelayan yang satu lagi masih mengayunkan kakinya, menendang Ciok Giok Yin hingga anak itu terpental sampai di luar rumah makan.
"Aaaaakh...!"
Jeritnya memilukan.
Di saat Ciok Giok Yin terpental ke luar, wanita berusia pertengahan itu sampai di dalam sekaligus mengayunkan tangannya.
Plak!
Ternyata wanita berusia pertengahan itu menampar pelayan yang menendang Ciok Giok Yin.
"Dasar budak buta! berapa banyak yang dimakannya, pasti kubayar, tapi kau justru masih menendangnya!"
Bentaknya. Pelayan yang kena tampar itu, mulutnya mengeluarkan darah. Jelas keras sekali tamparan itu. Pelayan yang satu lagi segera menggeram.
"Wanita busuk, kau berani pukul orang!"
Pelayan itu langsung mengayunkan tinjunya ke arah wanita tersebut, justru mengarah pada bagian dadanya. Wanita itu tertawa dingin.
"Mau cari mampus?"
Katanya. Wanita berusia pertengahan itu berkelit ke samping kiri, sekaligus menepuk bahu pelayan itu, sehingga membuat pelayan itu terpental jatuh.
"Aduh! Mak!"
Teriaknya Ternyata hidung pelayan itu telah mencium lantai.
Darah segar langsung mengucur, bahkan dua buah giginya juga rontok.
Pelayan yang satunya ketika menyaksikan rekannya terpental, cepat-cepat menendang wanita itu, tepatnya di bagian terlarangnya.
Dalam dunia persilatan jika lelaki bertarung dengan wanita, justru pantang menyerang bagian dada dan tempat terlarang.
Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa gusarnya wanita berusia pertengahan itu.
Wanita tersebut tidak bergerak, melainkan menjulurkan tangannya menangkap kaki pelayan itu.
"Kaupun harus tahu bagaimana rasanya terlempar keluar!"
Katanya. Disaat bersamaan, badan pelayan itu tampak melayang ke luar, kemudian jatuh gedebuk di tanah.
"Aduuuh!"
Jeritnya.
Ternyata muka pelayan itu membentur tanah, sehingga memar.
Sementara para tamu yang berada di dalam rumah makan itu mulai bangkit berdiri.
Mereka menatap wanita berusia pertengahan itu dengan mata berapi-api, kelihatannya mereka gusar sekali.
Menyaksikan itu, wajah wanita tersebut langsung berubah dingin.
"Kalian mau apa?"
Tanya sepatah-sepatah.
"Pukul mati wanita busuk itu!"
Terdengar sahutan serentak.
Kemudian dengan tiba-tiba salah seorang tamu menerjang ke arah wanita tersebut.
Berdasarkan gerakan tamu itu, wanita tersebut tahu bahwa dia tidak mahir ilmu silat.
Wanita itu tidak bergerak sama sekali, hanya mengerahkan tenaga murninya, lalu berisul panjang.
Suara siulannya bagaikan hallilintar menggelegar memekakkan telinga para tamu.
Sedangkan tamu yang menerjang itu, sekujur badannya sudah bergemetar, bahkan sudah terkencing-kencing.
Di saat suara siulan wanita itu mulai lenyap, mendadak terdengar pula suara bentakanbentakan sengit di tempat jauh.
Air muka wanita itu langsung berubah.
Dia segera mengeluarkan setael uang perak lalu dilemparkannya ke atas meja.
"Uang ini untuk membayar makanan anak kecil itu. Kalau kalian masih berani menghinanya, hati-hati batok kepala kalian!"
Katanya.
Badan wanita itu bergerak, tahu-tahu sudah berkelebat pergi bagaikan sosok arwah!
Saat itu Ciok Giok Yin menahan rasa sakit sambil bangkit berdiri.
Dia ingin pergi mengucapkan terimakasih pada wanita itu.
Namun, dia justru melihat wanita itu berkelebat pergi laksana kilat.
Dalam waktu sekejap, wanita berusia pertengahan itu sudah tidak kelihatan bayangannya.
Walaupun cuma memandang sekilas, namun wajah wanita itu sudah terukur dalam benak Ciok Giok Yin.
Dia pernah mengikuti kakek tua berjenggot putih belajar membaca dan menulis.
Bahkan dia juga pernah belajar ilmu pengobatan, maka dia tahu dalam hal tata krama, dan bagaimana cara jadi orang.
Dia pun masih ingat akan perkataan kakek tua, bahwa budi seseorang harus dibalas dengan budi.
Oleh sebab itu, Ciok Giok Yin mengambil keputusan, bahwa kelak dirinya harus membalas budi kebaikan wanita itu.
Ciok Giok Yin tidak berani lama-lama berada di tempat itu.
Maka dengan menahan rasa sakit, dia segera beranjak pergi.
Akan tetapi dunia sedemikian luas.
Kemanakah dia harus pergi mencari kakek tua berjenggot putih itu?
Seandainya kakek tua itu mempunyai nama, tentu dia akan bertanya pada orang.
Namun dia justru tidak tahu nama kakek tua tersebut, bagaimana bertanya pada orang?
Itu sungguh membingungkan Ciok Giok Yin.
Sudah barang tentu pikirannya pun jadi kacau balau.
Tapi kalau dia tidak mencari kakek tua berjenggot putih, lalu harus pergi mencari siapa?
Sebab di dunia ini, selain kakek tua yang dekat dengannya, sudah tiada orang lain lagi.
Sedangkan mengenai perkampungan Tong Keh Cuang, kini dia sudah tidak bisa kembali ke sana.
Ciok Giok Yin berjalan terseok-seok, menimbulkan suara 'Sert!
Sert!' Dia mendongakkan kepala memandang ke depan, yang dilihatnya hanya salju putih menutupi alam semesta.
Tiada jejak manusia, juga tidak tampak hewan lain, semuanya berada di dalam sarang masing-masing.
Ciok Giok Yin kedinginan, maka wajahnya berubah menjadi kebirubiruan.
Sementara haripun mulai gelap.
Hembusan angin dingin yang tak berperasaan, terus menerus menderu-deru.
Bunga-bunga salju, tak henti-hentinya beterbangan terhembus angin.
Angin dan bunga-bunga salju itu sepertinya sengaja menyiksa anak yatim piatu yang tak punya tempat tinggal itu.
Ciok Giok Yin menghentikan langkahnya, memandang ke depan lalu memandang ke belakang.
Di depan hanya tampak salju putih bagaikan kapas.
Sedangkan di belakang, samar-samar masih terlihat kota kecil itu, hanya tertutup oleh bunga-bunga salju.
Dia berdiri bimbang tidak tahu harus kembali ke kota kecil itu, ataukah terus berjalan ke depan.
Namun Ciok Giok Yin masih ingin hidup.
Kalau dia terus berjalan ke depan, pasti akan mati kedinginan.
Jalan satu-satunya yang harus ditempuhnya, tidak lain harus kembali ke kota kecil itu mencari tempat berteduh.
Sebab itu, dia mengambil keputusan untuk kembali ke kota kecil tersebut.
Ketika tiba di kota itu, semua penduduk sudah menutup pintu, karena tidak tahan akan udara dingin di luar.
Mereka duduk menghadap parapian untuk menghangatkan badan.
Ciok Giok Yin menghampiri sebuah rumah, lalu mengangkat sebelah tangannya untuk mengetuk pintu.
Akan tetapi, mendadak tangannya ditariknya kembali.
Karena sehari semalam itu dia telah mengalami tiga kali siksaan, bagaimana mungkin masih berani....
Oleh sebab itu, dia melangkah pergi dengan mata bersimbah air, tidak berani mengetuk pintu rumah itu Di saat itulah dia melihat tumpukan-tumpukan rumput.
Setelah menyusut air matanya, barulah dia mendekati tumpukan-tumpukan rumput itu.
Udara memang dingin sekali, membuat sepasang tangan Ciok Giok Yin berkesemutan dan terasa kaku.
Rasa dingin yang menusuk tulang itu membuatnya merasa tidak tahan, akhirnya dia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya untuk mengusir rasa dingin.
Akan tetapi, lama kelamaan dia merasa lelah, maka terpaksa meringkuk di tumpukan rumput itu.
Sedangkan malam semakin larut.
Udara pun bertambah dingin.
Ciok Giok Yin sama sekali tidak tidur.
Bukan karena matanya tidak mengantuk, melainkan karena kedinginan, sehingga membuatnya tidak dapat memejamkan mata.
Dia harus membuka mulut menghembuskan hawa hangatnya ke arah tangannya, star tidak terlampau dingin.
Mendadak tampak sepercik cahaya muncul di lat yang tak begitu jauh, ternyata di sana ada seseorang membakar kertas.
Ciok Giok Yin tercengang.
Dia tak habis pikir mengapa di tengah malam ada orang membakar kerta?
Dia berharap orang itu cepat-cepat pergi, agar dia bisa mendekati api itu untuk menghangatkan badan.
Kalau sudah melewati malam yang amat dingin ini, setelah siang dia sudah tidak merasa takut lagi.
Apa yang diharapkan Ciok Giok Yin tercapai, karena sebelum kertas-kertas itu habis terbakar, orang itu sudah bangkit berdiri lalu kembali ke dalam rumahnya.
Ciok Giok Yin tidak berlaku ayal lagi, segera bangkit berdiri sekaligus menyambar segenggam rumput, cepat-cepat berlari ke arah api.
Namun tak disangka, sebelum dia sampai di tempat itu, tiba-tiba berhembus angin yang amat kencang, rnenerbangkan kertas-kertas yang belum terbakar.
Sungguh keterlaluan, kertas-kertas yang masih menyala itu terbang ke arah tumpukan-tumpukan rumput dan seketika menyala pula rumput itu.
Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin.
Dia khawatir api itu akan membesar, maka segera mengambil sebatang kayu, kemudian dipukulkannya pada rumput yang terbakar itu.
Akan tetapi, malah membuat api itu semakin membesar.
Ciok Giok Yin amat gugup dan panik.
"Tolong! Tolong padamkan api!"
Teriaknya sambil terus memukul rumput-rumput yang terbakar itu. Saat itu di dalam kota kecil tersebut sudah terdengar suara kentungan yang amat nyaring.
"Tong! Tong! Tong!"
Disusul pula suara teriakan-teriakan orang.
"Tolong! Tolong! Ada kebakaran!"
Seketika muncul belasan orang membawa tong yang berisi air, mereka menyiram ke arah api itu.
Akhirnya berhasil juga mereka memadamkan api itu.
Namun tumpukan-tumpukan rumput itu telah terbakar separuh.
Salah seorang berkata dengan heran.
"Aneh! Mengapa tumpukan-tumpukan rumput ini bisa terbakar? Padahal udara sedemikian dingin! Apakah ada orang sengaja membakarnya? Sebetulnya perbuatan siapa itu?"
Yang lain manggut-manggut.
Belasan mata langsung menengok ke sana kemari.
Salah seorang di antara mereka, tentunya orang membakar kertas tadi.
Ciok Giok Yin berdiri di samping.
Dia ingin tahu bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah itu.
Apabila perlu, dia akan tampil sebagai saksi menceritakan hal yang sebenarnya.
Tanpa sengaja dia justru melihat salah seorang pelayan rumah makan.
Pelayan itu mencaci maki.
"Siapa orang yang sialan itu, berani membakar tumpukantumpukan rumputku! Kalau aku tahu, pasti kubeset kulit orang itu!"
Usai mencaci, wajahnya tampak gusar sekali.
Sepasang matanya yang berbentuk segi tiga mengerling kian kemari memandang orang-orang di sekitarnya.
Sedangkan yang lain juga saling memandang, seakan tidak tahu siapa yang membakar rumput itu.
Tiba-tiba, pelayan rumah makan itu menggeram, 'Sudah ketemu!"
Dia langsung menerjang ke arah Ciok Giok Yin. Ditatapnya anak itu dengan gusar, 'Anak sundel! Ternyata kau yang membakar tumpukan rumput itu!"
Bentaknya.
Tangan pelayan itu bergerak, dia mencengkeram Ciok Giok Yin.
Begitu melihat wajah pelayan itu sedemikian Ciok Giok Yin ketakutan setengah mati, sehingga tak mampu bersuara.
Sementara orang-orang itu pun menatap Ciok Giok Yin.
"Mampusi dia! Mampusi dia!"
Serunya serentak.
Pelayan rumah makan itu amat sakit hati, karena siang tadi dia ditampar oleh wanita berusia pertengahan dan rasa sakit hatinya itu belum hilang.
Kini setelah mencengkeram Ciok Giok Yin, langsung saja membantingnya ke tanah, disusul pula dengan tendangan keras, membuat anak kecil itu terpental.
"Aduuuh...!"
Jeritnya kesakitan. Sedangkan pelayan rumah makan itu masih terus mencaci, sekaligus menudingnya dengan sengit.
"Kau memang anak sundel! Tadi siang kau makan tak punya uang, aku menamparmu beberapa kali, tak disangka malam ini kau malah membakar rumputku!"
Pelayan rumah makan itu mulai menendang Ciok Giok Yin lagi, sehingga anak kecil itu menjerit-jerit.
"Bukan aku! Melainkan...."
Belum usai berkata, Ciok Giok Yin sudah jatuh pingsan.
Coba bayangkan!
Bagaimana mungkin anak kecil yang lemah itu dapat menahan tendangantendangan yang amat keras?
Lagi pula dia dalam keadaan kedinginan.
Sekonyong-konyong salah seorang berkata.
"Jangan pukul dia lagi, kita akan celaka kalau anak kecil itu mati!"
Pelayan rumah makan itu telah mengangkat tangannya, siap memukul Ciok Giok Yin.
Tapi ketika dia mendengar perkataan itu, tangannya langsung diturunkan.
Memang benar apa yang dikatakan orang itu, apabila anak kecil itu mati di tangannya, bukankah pihak pengadilan akan menghukumnya?
Oleh karena itu, dengan sengit dia menendang pantat Ciok Giok Yin.
Setelah menendang, barulah dia tahu bahwa anak kecil itu telah pingsan.
Hati pelayan rumah makan itu tersentak.
Wajahnya yang penuh kegusaran pun langsung sirna.
"Aku ampuni anak sundel ini!"
Katanya.
Sesungguhnya dia takut ada orang melapor pada pejabat setempat.
Maka dia sengaja berkata begitu, agar mengurangi dosa perbuatannya, sebab banyak saksi mata bahwa dia tidak memukul anak kecil itu hingga mati.
Setelah berkata demikian, pelayan rumah makan itu berjalan pergi sambil menjinjing teng air.
Sudah barang tentu yang lain pun tidak mau banyak urusan, karena mereka takut urusan akan menimpanya, oleh karena itu, mereka pun segera meninggalkan tempat tersebut.
Di atas tanah yang penuh bunga-bunga salju, anak kecil yang nafasnya amat lemah itu terus terhembus oleh angin dingin.
Saat itu dia telah kehilangan rasa, tidak tahu sakit maupun dingin, karena dalam keadaan setengah mati.
Entah berapa lama kemudian, Ciok Giok Yin mulai siuman.
Perlahan-lahan anak kecil itu membuka sepasang matanya.
Dia mendapatkan dirinya berada di atas bunga-bunga salju.
Semula dia sama sekali tidak ingat lagi apa yang telah menimpa dirinya.
"Bagaimana aku berada di atas bunga-bunga salju?"
Gumamnya perlahan-lahan.
Dia ingin bangkit berdiri, namun sekujur badannya terasa sakit sekali, seakan semua tulangnya telah patah.
Mendadak dia teringat akan apa yang telah menimpa dirinya.
Sungguh penasaran, dirinya difitnah melepaskan api!
Sedangkan pelayan rumah makan itu, tidak bertanya lagi langsung memukulnya tanpa ampun.
Karena sekujur badannya terasa amat sakit, akhirnya Ciok Giok Yin menangis tersedu-sedu.
Mendadak api kebencian menerjang ke rongga dadanya.
Seketika dia berhenti menangis, lalu berkertak gigi menahan sakit sambil duduk.
Dalam hati kecilnya penuh diliputi dendam dan kebencian.
Asal masih bisa hidup, dia pasti akan mencari orang-orang yang pernah menghina dirinya.
Namun persoalan di depan matanya, justru harus berusaha cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Kalau esok hari sudah terang, pelayan rumah makan itu kemari lagi, bukankah dirinya....
Berpikir sampai di situ, dia teringat bahwa kakek tua berjenggot putih pernah menghadiahkan sebutir pil Ciak Kim Tan (Pil Emas Ungu) kepadanya, juga berpesan agar baik-baik menyinipan pil tersebut, kelak dapat dipergunakan untuk menolong orang.
Teringat akan itu, Ciok Giok Yin segera mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam bajunya.
Kemudian dibukanya kotak kecil itu.
Tampak sebutir pil berwarna ungu di dalamnya.
Diambilnya pil tersebut lalu dimasukkan ke mulutnya.
Setelah menelan pil itu, tak lama rasa sakit di sekujur badannya mulai sirna.
Bukan main girangnya!
Dia tidak berani membuang waktu lagi, maka cepatcepat bangkit berdiri.
Selangkah demi selangkah dia berjalan meninggalkan tempat itu.
Walau jalan yang dilaluinya penuh batu-batu runcing, dia tetap terus berjalan, tidak berani berhenti sama sekali.
Ciok Giok Yin menuju sebuah lembah.
Sementara itu hari sudah mulai terang, tapi udara masih tetap terasa dingin menusuk tulang.
Karena kedinginan, wajah Ciok Giok Yin telah berubah menjadi kebiru-biruan.
Nafasnya tersengal-sengal karena terlampau lelah.
Akhirnya dia beristirahat di bawah sebuah pohon.
Dia mengedarkan pandangannya.
Tampak berderet pegunungan, puncak-puncak gunung menjulang tinggi, diselimuti kabut yang amat tebal.
Ciok Giok Yin menundukkan kepala memandang pakaiannya.
Ternyata pakaiannya telah tersobek sana sini tidak karuan.
Dalam keadaan seperti itu, entah harus bagaimana hidupnya.
Bukan hanya itu persoalan yang dihadapinya.
Ternyata dalam benaknya masih terdapat persoalan lain, yaitu dia harus ke mana?
Di mana kakek tua berjenggot putih berada?
Persoalan itu merupakan persoalan yang amat berat dan penting bagi Ciok Giok Yin.
Justru karena persoalan tersebut, dia pun jadi berkeluh dalam hati, cemas tidak akan berhasil mencari kakek tua itu.
Kalau tidak berhasil, selanjutnya dia harus bagaimana?
Oleh karena itu, tanpa terasa air matanya bercucuran lagi.
Hembusan angin menerpa wajahnya, sehingga wajahnya yang sudah murung itu bertambah murung.
Di saat bersamaan terdengar suara helaan nafas panjang tak jauh dari tempatnya.
Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, menyebabkan sekujur badannya gemetar.
Dalam suasana yang begitu sepi dan udara yang amat dingin, justru ada orang di dalam lembah?
Apakah orang itu juga patut dikasihani seperti dirinya?
Namun dia berpikir sejenak, rasanya tidak benar.
Bagaimana mungkin ada orang bernasib malang seperti dirinya?
Mungkin seekor binatang liar, karena tidak memperoleh makanan, maka mengeluarkan suara helaan nafas.
Berpikir sampai di situ, rasa takutnya semakin mencekam.
Dia cepat-cepat bangkit berdiri.
Namun ketika baru siap....
Karena terlalu terburu-buru, dia malah terjatuh.
Di saat itulah terdengar suara yang amat dingin.
"Siapa?"
Ciok Giok Yin memandang ke arah suara itu. Ternyata di balik sebuah batu besar, duduk seorang pengemis tua. Setelah melihat pengemis tua itu, legalah hati Ciok Giok Yin.
"Paman pengemis, aku!"
Katanya sambil memberi hormat. Pengemis tua itu menatap Ciok Giok Yin dengan mata melotot.
"Bocah, mau apa kau kemari?"
Katanya sejenak kemudian.
"Aku mau mencari kakek tua berjenggot putih!"
Sahut Ciok Giok Yin sungguh-sungguh. Pengemis tua itu tercengang.
"Siapa kakek tua berjenggot putih itu?"
Katanya. Mulut Ciok Giok Yin ternganga lebar, tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Mendadak pengemis tua itu membuka mulutnya, terdengar suara....
"Uaaakh !"
Ternyata pengemis tua itu memuntahkan darah segar. Ciok Giok Yin terperanjat.
"Paman pengemis sakit ya?"
Katanya cepat. Pengemis tua itu mengangguk sambil memejamkan matanya.
"Ya! Aku terluka parah!"
Sahutnya perlahan-lahan. Ciok Giok Yin terbelalak.
"Terluka parah?"
Katanya dengan suara rendah.
"Ng!"
"Terluka karena dipukul orang?"
Hati Ciok Giok Yin berdebardebar.
Ternyata dia teringat akan apa yang telah menimpa dirinya.
Bukankah kemarin malam dan malam ini dia juga dipukul orang hingga terluka?
Justru tidak menyangka, pengemis tua itu pun terluka dipukul orang.
Oleh karena itu, di dalam hati kecil timbul suatu kebencian.
Dia berharap dirinya punya kesempatan untuk belajar ilmu silat, agar kelak dapat menuntut balas pada orang jahat, jadi orang baik bisa melewati hari yang tenang.
Berselang sesaat, barulah pengemis tua itu menyahut.
"Tidak salah. Aku dilukai oleh Iblis Sang Yen Hwee (Perkumpulan Sepasang Walet)."
Ciok Giok Yin tercengang.
"Sang Yen Hwee?"
Pengemis tua itu manggut-manggut, tapi tidak bersuara sama sekali.
"Paman pengemis, apakah Sang Yen Hwee itu jahat?"
Tanya Ciok Giok Yin lagi.
"Untuk apa kau menanyakan itu?"
Mendadak mata Ciok Giok Yin melotot.
"Kelak setelah aku dewasa, harus memiliki kepandaian tinggi, aku ingin membunuh mereka semua!"
Sahutnya sambil membusungkan dada.
Usai berkata begitu, dia berdiri dengan gagah, seakan ada orang Sang Yen Hwee berada di hadapannya.
Sikapnya bukan main, begitu pula air mukanya, tampak seperti telah menguasai kungfu yang amat tinggi.
Mendadak pengemis tua itu menatapnya dengan tajam, seolah-olah ingin menembus ke dalam hatinya.
Itu membuat Ciok Giok Yin merasa merinding, kemudian berkata dalam hati.
'Sepasang matanya seperti mata kakek tua berjenggot putih, amat tajam dan lihay.' Setelah menatap Ciok Giok Yin sejenak, pengemis tua itu memuntahkan darah segar lagi.
"Uaaakh!"
Badan pengemis tua itu bergoyang-goyang seakan mau jatuh. Ciok Giok Yin cepat-cepat memijit-mijit punggungnya.
"Paman pengemis, lukamu amat parah dipukul penjahat!"
Katanya.
Di saat bersamaan, terdengar suara langkah menuju lembah itu.
Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin bangkit berdiri untuk melihat siapa yang datang, namun sekujur badannya merasa sakit sekali, membuatnya tidak mampu bangkit berdiri.
Berselang beberapa saat, tampak empat lelaki memasuki lembah.
Begitu melihat Ciok Giok Yin, seketika mereka mengeluarkan suara "Ih!"
Salah seorang dari mereka segera melesat ke hadapan Ciok Giok Yin, kemudian membentak sengit.
"Dasar anak sialan! Kau telah menyusahkan kami!"
Ternyata keempat lelaki itu adalah orang-orang Tong Keh Cuang. Ciok Giok Yin menyurut mundur dua langkah.
"Paman... cari aku?"
Katanya gemetar.
"Kalau tidak cari kau, cari siapa?"
Tanpa sadar Ciok Giok Yin mundur selangkah lagi.
"Ada urusan apa Paman cari aku?"
Katanya lagi dengan takuttakut. Saat ini ketiga lelaki itu juga telah mendekati Ciok Giok Yin, mengambil posisi mengepungnya. Lelaki yang pertama kali mendengus dingin, lalu berkata.
"Anak sialan! Kau masih kecil tapi hatimu tidak kecil lho! Kalau aku tidak mengulitimu, tentu kau tidak tahu kelihaianku!"
Usai berkata, dia pun melangkah maju. Sekujur badan Ciok Giok Yin gemetar.
"Paman.... Paman...,"
Katanya terputus-putus. Lelaki itu membentak keras.
"Siapa pamanmu? Dasar anak tak tahu diri! Keluarga Tong amat baik terhadapmu, budi kebaikan mereka boleh dikatakan setinggi gunung! Tapi kau malah melepaskan api di halaman belakang, lalu kabur! Apa maksudmu itu?"
"Buat apa banyak bicara dengan anak sialan itu? Cepat habisi dia saja!"
Selak lelaki lain.
Lelaki itu menjulurkan tangannya, wajahnya tampak penuh hawa membunuh.
Ciok Giok Yin tidak bisa berbuat apa-apa, sama sekali tidak mampu melawan, cuma bisa bermohon sambil terisak-isak.
"Paman, aku... aku tidak melepaskan api. Yang melepaskan api adalah...."
Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, tangan kiri lelaki itu telah mencengkeram lengannya, sedangkan tangan kanannya telah diayunkan ke arah Thian Ling Hiat anak kecil itu.
Apabila pukulan itu mendarat di jalan darah tersebut, jangankan Ciok Giok Yin yang tidak mahir kungfu, sedangkan yang mahir kungfu pun pasti akan mati seketika.
"Haaah...!"
Jerit Ciok Giok Yin ketakutan. Ketika telapak tangan lelaki itu hampir berhasil memukul Thian Ling Hiat Ciok Giok Yin, mendadak terdengar suara bentakan keras.
"Kau berani!"
Ternyata yang membentak itu pengemis tua.
Dia mengibaskan sebelah tangannya ke arah dada lelaki itu.
Terdengar suara menderu-deru, bahkan terasa amat dingin pula.
Demi keselamatan dirinya, lelaki itu terpaksa harus berkelit.
Sudah barang tentu tidak jadi memukul Ciok Giok Yin.
"Pengemis, siapa kau?"
Bentaknya.
"Kau masih tidak berderajat menanyakan namaku!"
Bukan main gusarnya lelaki itu!
Dia memberi isyarat pada ketiga temannya.
Setelah itu, mereka berempat langsung menerjang pengemis tua.
Pengemis tua telah terluka dalam.
Dia menarik nafas panjang untuk menghadapi mereka.
Namun salah seorang di antara mereka berempat, mendadak mendekati Ciok Giok Yin.
Ternyata dia menggunakan kesempatan ketiga temannya menerjang pengemis tua, dia ingin menghabisi anak kecil itu.
Dia mengerahkan lweekangnya, lalu mengangkat tangannya perlahan-lahan siap memukul Ciok Giok Yin.
Perbuatan lelaki itu tidak terlepas dari mata pengemis tua.
Dia menggeram, mengelak terjangan ketiga lelaki itu, kemudian mendadak melancarkan sebuah pukulan ke arah lelaki yang siap memukul Ciok Giok Yin.
Plak!
Lelaki itu terpental ke udara, kemudian terdengar lagi suara.
Duuuuk!"
Ternyata lelaki itu jatuh menimpa sebuah batu, hingga kepalanya pecah dan mati seketika. Menyaksikan kejadian itu, ketiga lelaki lainnya gusar bukan main.
"Pengemis tua! Kau berani membunuh orang?"
Bentaknya dengan mata berapi-api.
Sesungguhnya pengemis tua itu masih merasa amat gusar terhadap orang-orang Sang Yen Hwee yang telah melukainya, maka rasa kegusarannya dilampiaskan pada lelaki itu, lantaran lelaki itu ingin membunuh Ciok Giok Yin yang amat lugu.
Oleh karena itu, kemarahan pengemis tua menjadi semakin memuncak.
Sepasang tangannya terus bergerak, melancarkan pukulan-pukulan yang amat dahsyat.
Sebab itu, terdengar lagi tiga kali suara jeritan yang amat menyayat hati, kemudian ketiga lelaki itu roboh tak berkutik lagi.
Pengemis tua menarik nafas dalam-dalam, lalu duduk kembali.
Tadi Ciok Giok Yin pingsan saking takutnya.
Maka apa yang terjadi barusan, dia sama sekali tidak mengetahuinya.
Kini dia telah siuman.
Ketika melihat darah berceceran, dan kematian keempat lelaki yang amat mengenaskan, dia terbelalak dengan wajah pucat pias.
Selama ini, dia sama sekali tidak pernah menyaksikan orang mati.
Maka ketika melihat di hadapannya ada empat sosok mayat, dia sangat ketakutan.
Dia tidak berani lama-lama di situ, segera bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Namun ketika dia baru mau mengayunkan kakinya, tiba-tiba terdengar suara nafas memburu, ternyata suara nafas pengemis tua.
Wajahnya pengemis itu pucat pias bagaikan kertas, kelihatannya sudah sulit untuk ditolong.
Ciok Giok Yin tahu jelas bahwa keadaan pengemis tua menjadi seperti itu karena demi menyelamatkan dirinya, sehingga harus menguras tenaga untuk membunuh keempat tukang pukul keluarga Tong.
Kini pengemis itu sudah sekarat, tapi anak kecil itu justru ingin pergi.
Bukankah itu merupakan sikap orang tak berbudi?
Setelah berpikir demikian, Ciok Giok Yin tak jadi pergi.
Dia cepat-cepat meraba dada pengemis tua, ternyata nafas pengemis itu sudah semakin lemah.
Ciok Giok Yin pernah belajar ilmu pengobatan dari kakek tua berjenggot putih.
Walau dia belum berpengalaman, namun sudah cukup mahir, maka dia tahu bahwa keadaan pengemis itu sudah payah sekali.
Karena itu dia segera memeriksa nadi pengemis tua.
Justru mendadak nadi pengemis itu berdenyut normal.
Namun itu bukan pertanda kesembuhan, melainkan pertanda ajalnya telah dekat.
Kecuali terjadi suatu kemujizatan!
Kalau tidak, nyawa pengemis tua itu sudah sulit ditolong.
Akan tetapi, Ciok Giok Yin belum berani memastikan, bahwa pengemis itu akan mati.
Lagipula dia tidak bisa melihat pengemis tua mati begitu saja, sebab pengemis itulah yang telah menyelamatkan nyawanya.
Bahkan dia pun tahu bahwa pengemis itu berkepandaian amat tinggi.
Apabila bisa menyelamatkan nyawanya, bukankah boleh berguru padanya?
Ciok Giok Yin terus berpikir, akhirnya dia mengeluarkan sebutir pil Ciak Kim Tan (Pil Emas Ungu) pemberian kakek tua berjenggot putih, lalu dimasukkan ke mulut pengemis tua.
"Paman pengemis boleh mengerahkan lwee kang untuk melumerkan obat Ciak Kim Tan...."
Belum usai Ciok Giok Yin berkata, mendadak sepasang mata pengemis tua terbuka lebar-lebar, dan tampak berbinar-binar.
"Ciak Kim Tan? Kau peroleh dari mana?"
Katanya heran.
"Kakek tua berjenggot putih yang berikan padaku"
Sahut Ciok Giok Yin. Pengemis tua tampak tercengang.
"Kakek tua berjenggot putih?"
"Ng!"
"Kau tahu namanya?"
Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala.
"Orang tua itu tidak pernah memberitahukan namanya padaku."
Pengemis tua menghela nafas panjang, kemudian duduk bersamedi untuk menghimpun hawa murninya.
"Kalau dugaanku tidak keliru, yang kau maksudkan kakek tua berjenggot putih itu adalah Tiong Cu Sin Ie (Tabib Sakti Tiong Ciu) yang amat terkenal di dunia persilatan!"
Katanya setelah bersemedi. Ciok Giok Yin memandang pengemis tua dengan bodoh, karena kurang mengerti akan perkataan pengemis tua itu. Mendadak pengemis itu menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata.
"Aku dikeroyok oleh beberapa iblis dari perkumpulan Sang Yen Hwee, terkena ilmu pukulan beracun mereka. Kalau obat Ciak Kim Tan ini milik Tiong Ciu Sin le, pasti bisa memperpanjang nyawaku beberapa hari, itu pun sudah cukup bagiku."
Usai berkata, pengemis itu berusaha bangkit berdiri. Ciok Giok Yin cepat-cepat memapahnya.
"Bocah! Papah aku ke tempat yang sepi!"
Kata pengemis tua.
Ciok Giok Yin mengangguk, lalu memapah pengemis itu memasuki lembah tersebut.
Tak lama kemudian, bukan cuma Ciok Giok Yin yang berkeringatan, bahkan pengemis tua itu pun mulai memburu nafasnya.
Dapat diketahui betapa beratnya luka yang diderita pengemis itu.
Setelah melewati jalan berlikuliku, akhirnya mereka berdua sampai di depan sebuah goa batu alami, dan mereka berdua segera memasuki goa itu.
Pengemis tua duduk, memandang Ciok Giok Yin.
"Bocah, kita beristirahat di sini. Aku ingin bicara denganmu."
Dia memejamkan matanya, kelihatannya ingin beristirahat sejenak.
Dua kali Ciok Giok Yin dipanggil 'Bocah', membuat hatinya merasa kurang enak.
Namun melihat keadaan pengemis tua, dia tidak mempermasalahkannya.
Beberapa saat kemudian barulah pengemis tua membuka matanya, memandang Ciok Giok Yin dengan lembut sekali.
"Anak ini...,"
Gumamnya terputus. Kelihatannya pengemis itu sedang memikirkan sesuatu.
"Bocah, itu tergantung pada peruntunganmu! Menurutku Ciak Kim Tan memang berasal dari Tiong Ciu Sin le. Ilmu pengobatan orang itu amat luar biasa. Apabila kau berhasil mencarinya, kau pasti akan berhasil mempelajari ilmu tinggi,"
Katanya sesaat kemudian.
"Maksud Paman pengemis adalah kakek tua berjenggot putih?"
"Tidak salah."
"Betulkah beliau adalah Tiong Ciu Sin Ie?"
"Menurut dugaanku pasti dia."
"Aku justru ingin pergi mencarinya, namun tidak tahu, beliau berada dimana."
"Kau boleh mencarinya ke Tionggoan,"
Kata pengemis tua.
Mendengar saran pengemis itu, bukan main girangnya Ciok Giok Yin, itu berarti dia punya harapan lagi.
Seandainya dia berhasil mencari kakek tua berjenggot putih, dia pasti akan belajar kungfu tinggi, agar dapat menuntut balas pada orangorang yang pernah menghinanya.
Badan pengemis tua menggigil sejenak.
"Bocah, kalau nyawaku dapat dipertahankan, aku pasti membantumu mencarinya. Kini, berkat khasiat obat Ciak Kim Tan, aku akan pergi menemui seseorang untuk mengobati lukaku,"
Katanya perlahan-lahan. Usai berkata, pengemis tua itu bangkit berdiri. Begitu melihat pengemis tua itu akan pergi, guguplah hati Ciok Giok Yin.
"Paman pengemis mau pergi?"
Katanya. Pengemis itu mengangguk.
"Ya. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Sebab kalau aku tidak bisa menemukan orang itu, diriku pasti celaka."
Dia menatap Ciok Giok Yin.
"Kalau aku tidak mati, sebulan kemudian, kita akan bertemu di sebelah timur kota Lok Yang, di Kuil Kwan Kong."
Badan pengemis itu bergerak, ternyata dia telah melesat pergi.
Kini di tempat itu tinggal Ciok Giok Yin seorang diri.
Dia berdiri termangu-mangu di tempat.
Lama sekali barulah Ciok Giok Yin mendongakkan kepala memandang langit, ternyata hari sudah menjelang sore.
Lembah itu amat sunyi, hawa udaranya pun amat dingin.
Ciok Giok Yin cuma mengenakan pakaian tipis, maka rasa dingin itu betul-betul menusuk ke dalam tulangnya.
Dia harus segera meninggalkan lembah itu, kalau tidak, pasti akan mati kelaparan.
Di saat bersamaan, perutnya pun mulai berbunyi keroncongan, pertanda minta segera diisi.
Akan tetapi di depan matanya cuma ada salju putih, bagaimana mungkin mencari makanan di tempat tersebut?
Karena sudah lapar, maka dia berjalan tertatih-tatih meninggalkan lembah itu.
Setelah berjalan beberapa saat, sekujur badan Ciok Giok Yin terasa semakin lemah, bahkan pandangannya pun mulai kabur.
Perlu diketahui, perutnya cuma diisi satu kali, lalu melakukan perjalanan malam, bahkan juga dipukul orang, sehingga membuat perutnya semakin kosong.
Langkahnya makin lamban, namun lembah itu sepertinya tiada ujungnya, sulit sekali melewatinya.
Di depan matanya cuma tampak batu curam, dan harus melewati batu-batu itu, sebab tiada jalan lain.
Demi perutnya yang harus segera diisi, dia terus berjalan meskipun badannya sudah semakin lemah, tidak menghiraukan bahaya yang ada di tempat itu.
Namun berselang sesaat, sepasang kakinya sudah tak bertenaga, akhirnya dia terkulai tak mampu bangkit berdiri lagi.
Sungguh kasihan sekali anak kecil itu!
Dia masih kecil sudah mengalami penderitaan yang tiada tara.
Sementara sang waktu terus berlalu, tak terasa hari sudah mulai senja.
Bunga-bunga salju mulai turun dari langit.
Sedangkan Ciok Giok Yin tergeletak di tanah, tak mampu bergerak.
Tampak sepasang matanya mengucurkan air mata, mengucur dan terus mengucur....
Namun dia masih teringat ketika bersama si Kakek berjenggot putih, kemudian teringat pula ketika berada di keluarga Tong....
Semua itu terus terbayang di depan matanya.
Saat ini dia tidak mengharapkan apa-apa, cuma berharap ada sedikit makanan untuk mengisi perutnya.
Oleh karena itu, justru membuat perutnya semakin terasa lapar....
Dia menengok kesana kemari, yang tampak hanya bungabunga salju beterbangan dihembus angin.
Betapa takutnya anak kecil itu, sehingga sulit diuraikan dengan katakata.
Apabila malam ini dia tidak berhasil meninggalkan lembah itu, tentunya dia akan terkubur di sana, atau mungkin juga akan menjadi mangsa binatang buas.
Ciok Giok Yin berkertak gigi, memaksa diri untuk bangkit berdiri.
Dia berhasil, tapi baru berjalan beberapa langkah, dia sudah terkulai dan matanya gelap, akhirnya pingsan.
Sesungguhnya kalau cuma satu hari tidak makan, Ciok Giok Yin tidak akan merasa lapar hingga seperti itu.
Namun dia dipukul orang beberapa kali, bahkan juga harus melakukan perjalanan dalam keadaan cuaca buruk dan dingin, itulah yang membuat kondisi badannya semakin lemah dan tak dapat bertahan lagi.
Entah berapa lama kemudian, barulah dia siuman.
Dia membuka matanya lalu menengok ke sekeliling, ternyata hari sudah gelap.
Air matanya berderai-derai lagi membasahi pipinya, bahkan sekujur badannya menggigil.
Di saat itulah dia berpikir, sebetulnya dia orang dari mana?
Di mana kedua orang tuanya?
Kakek tua berjenggot putih pernah memberitahukannya, bahwa beliau menemukannya di sebuah lembah.
Pada waktu itu usianya baru tiga tahun.
Di bajunya bersulam tiga huruf yaitu Ciok Giok Yin.
Itu pasti namanya, tidak akan salah.
Kalau begitu, siapa ayahnya dan mengapa dia dibuang di dalam lembah itu?
Apakah kedua orang tuanya dibunuh oleh penjahat?
Akan tetapi, kalau kedua orang tuanya dibunuh oleh penjahat, mengapa dirinya tidak turut dibunuh?
Bukankah membabat rumput harus pula mencabut akarnya?
Bagaimana mungkin dirinya dibiarkan hidup?
Dia berpikir lagi, seandainya kedua orang tuanya dibunuh penjahat, bagaimana mungkin sempat membuangnya ke lembah itu?
Sesungguhnya Ciok Giok Yin berharap akan berhasil mencari kakek tua berjenggot putih, lalu bermohon padanya diajarkan ilmu silat.
Kalau sudah memiliki ilmu silat tinggi, dia bukan cuma bisa membalas dendam, bahkan juga bisa pergi mencari kedua orang tuanya.
Namun kini segalanya telah kandas.
Semuanya itu hanya merupakan suatu mimpi belaka, karena dia akan mati kelaparan di tempat ini.
Kini Ciok Giok Yin sudah tidak merasa takut lagi.
Di saat orang sedang menunggu ajalnya, justru akan berubah tenang.
Usia Ciok Giok Yin masih kecil, namun dia sering mengalami berbagai macam penderitaan, maka pikirannya jauh melebihi anak-anak seusia itu.
Sementara bunga-bunga salju terus menari-nari di angkasa.
Angin terus berhembus tanpa mengenal belas kasihan, menimbulkan suara menderuderu.
Mendadak angin dingin berhembus, membawa suatu aroma yang amat harum menerobos ke dalam hidung Ciok Giok Yin.
Seketika semangatnya terbangkit.
Sedangkan aroma harum itu, makin lama makin menebal.
Ciok Giok Yin pernah mendengar dari kakek tua berjenggot putih, bahwa di rimba liar kadang-kadang terdapat semacam buah langka.
Seandainya nyawanya tidak akan berakhir di sana, kemungkinan besar dia akan memperoleh buah langka yang dimaksud Memang menakjubkan, setelah mencium aroma harum itu, tanpa sadar sekujur badannya terasa agak bertenaga.
Dia langsung bangkit berdiri, memandang ke arah datangnya aroma harum itu.
Akan tetapi hari amat gelap, maka dia tidak melihat apapun.
Namun berdasarkan aroma harum itu, dia berjalan perlahanlahan menuju ke sana.
Kira-kira dua depa kemudian, tiba-tiba aroma harum itu hilang.
Dia terpaksa membalikkan badannya untuk berendus-endus lagi.
Tak lama terendus lagi aroma harum itu.
Dia cepat-cepat berjalan ke sana.
Tampak sebuah tumbuhan melekat di dinding tebing.
Tumbuhan itu cuma berdaun empat helai agak bergemerlapan.
Di pucuk tumbuhan itu terlihat dua biji buah.
Ketika melihat buah itu, Ciok Giok Yin nyaris bersorak, kemudian sekujur badannya tergetar.
"Ginseng Daging! Ginseng Daging!"
Gumamnya perlahan.
Ginseng Daging merupakan buah yang amat langka dan berkhasiat luar biasa sekali.
Bagi orang mahir kungfu, apabila makan buah Ginseng Daging itu, bukan cuma akan menambah tiga puluh tahun latihan lwee kang, bahkan juga akan membuatnya awet muda.
Bagaimana Ciok Giok Yin tahu tentang hal itu?
Ternyata kakek tua berjenggot putih pernah memberitahukannya mengenai berbagai macam buah langka berikut khasiatnya.
Dia pun ingat akan pesan kakek tua berjenggot putih, bahwa siapa yang dapat menemukan buah Ginseng Daging, dia betul-betul beruntung sekali.
Sebab khasiat Ginseng Daging dapat menghidupkan orang yang baru mati.
Teringat akan pesan itu, maka Ciok Giok Yin menjulurkan tangannya perlahan lahan dan berhatihati sekali memetik kedua biji buah Ginseng Daging itu.
Namun tumbuhan itu malah tercabut semua berikut akarnya.
Saking laparnya, Ciok Giok Yin menyantap satu biji buah Ginseng Daging itu, bahkan berikut daun, batang dan akarnya.
Ketika dia baru mau menyantap buah Ginseng Daging yang satu lagi, mendadak teringat akan kakek tua berjenggot putih.
Orang tua itu telah banyak berbudi padanya, mengapa Ginseng Daging yang satu ini tidak disimpan untuk beliau?
Karena berpikir begitu, dia segera menyimpan Ginseng Daging itu ke dalam kotak Ciak Kim Tan.
Setelah makan Ginseng Daging itu, Ciok Giok Yin sudah tidak merasa lapar maupun dingin lagi.
Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Ciok Giok Yin!
Dia langsung berjalan pergi meninggalkan lembah itu.
Jilid 02 Ketika Ciok Giok Yin berjalan beberapa langkah, tiba dia merasa Tantian (Bagian Pusar)nya mengalir hawa panas, kemudian menjalar keseluruh tubuhnya.
Itu membuatnya merasa tidak tahan, akhirnya dia roboh berguling-guling di tanah.
Saking panasnya hawa itu di dalam tubuhnya, menyebabkannya menjadi pingsan.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah dia siuman.
Dia merasa badannya kembali segar, tidak merasa lapar dan bersemangat.
Tapi masih terasa hawa panas di bagian Tantiannya, hanya tidak mengganggu dirinya.
Ciok Giok Yin pernah belajar ilmu pengobatan, maka dia tidak begitu memperdulikan itu.
Dia girang bukan main lantaran badannya telah regar, maka langsung meloncat bangun.
Namun tiba-tiba dia terbelalak, ternyata badannya berubah menjadi agak tinggi.
Itu sungguh mengherankannya!
Dia tidak menyangka bahwa Ginseng Daging itu berkhasiat begitu luar biasa.
Kini pakaiannya berubah agak pendek, sepatunya juga agak sempit, sehingga membuatnya tertawa geli.
Saat ini, dia kelihatan seperti telah berusia sembilan belas tahun, padahal usianya baru menginjak enam belas.
Ciok Giok Yin terus berjalan meninggalkan lembah itu.
Justru sungguh di luar dugaan, langkah kakinya terasa amat ringan.
Walau berjalan perlahan, tapi seperti terbang.
Betapa girangnya Ciok Giok Yin, sungguh sulit dilukiskan!
Oleh karena itu, dia berjalan sambil bersenandung dengan riang gembira.
Dalam rimba tampak asap tipis, gunung dingin menyimpan kedukaan orang, senja hari memasuki loteng, ada orang bermuram durja di loteng.
Suara nydapatiannya amat merdu, bergema-gema dan berkumandang ke mana-mana.
Dia terus berjalan, sesekali kakinya menendang bunga salju, bahkan juga berloncat-loncatan.
Ciok Giok Yin terus berjalan.
Mendadak dia melihat di depan ada sosok bayangan hitam duduk di atas sebuah batu besar.
Ciok Giok Yin tersentak, langsung berhenti, tidak berani berjalan lagi.
Dia tidak dapat melihat dengan jelas, sosok bayangan itu sebenarnya orang hidup atau mayat.
Kalau itu orang hidup, mengapa dia duduk di situ di malam hari yang amat dingin?
Bagaimana orang itu tahan duduk diam di situ?
Apakah dia tidak merasa dingin?
Karena itu, Ciok Giok Yin tidak berani maju lagi.
Sampai lama sekali Ciok Giok Yin tidak melihat orang itu bergerak, maka timbullah rasa keberani-annya dan dia mulai maju perlahanlahan.
Setelah dekat, barulah Ciok Giok Yin melihat jetas, orang itu sudah tua, duduk dengan mata terpejam kelihatannya sedang bersemadi menghimpun hawa murninya.
Ciok Giok Yin cepat cepat memberi hormat.
Justru di saat itulah dia melihat jenggot orang tua itu bernonda darah, dan nafasnya agak memburu.
Ciok Giok Yin memperhatikannya.
Kelihatannya orang tua itu seperti terluka parah.
Dia merasa iba dan simpati pada orang tua itu.
Maka, setelah memberi hormat, diapun bertanya.
"Mohon tanya pada lo cianpwee, apakah lo cianpwee terluka?"
Orang tua itu membuka matanya, menatap Ciok Giok Yin sejenak, lalu dipejamkan lagi tanpa menghiraukannya.
Ciok Giok Yin bertanya lagi, tapi orang tua itu tetap tidak menyahut.
Karena itu, dia menggeleng-gelengkan kepala, kemudian berjalan pergi.
Ketika dia baru berjalan belasan depa, mendadak terdengar suara bentakan di belakangnya.
"Berhenti!"
Ciok Giok Yin segera menoleh ke belakang.
Seketika juga wajahnya berubah menjadi pucat pias, dan sekujur badannya tampak gemetar.
Ternyata Tong Eng Kang dan tiga lelaki berdiri di belakangnya, Ciok Giok Yin berkertak gigi, dan sepasang matanya membara.
Namun dia tahu dirinya tidak mengerti ilmu silat, maka terpaksa menekan hawa kegusarannya.
Sedangkan Tong Eng Kang, begitu melihat Ciok Giok Yin, seketika juga tertegun, karena dalam waktu satu malam, Ciok Giok Yin telah bertambah besar, dan kelihatan seperti berusia sembilan belas tahun.
Tong Eng Kang tidak habis pikir, bagaimana seseorang bisa tumbuh besar dalam waktu satu malam?
Ketiga lelaki itu juga tampak tertegun.
Mereka menatap Ciok Giok Yin dengan mata terbelalak.
Begitulah.
Mereka saling menatap.
Berselang sesaat, Tong Eng Kang berusaha tersenyum ramah dan lembut.
"Adik Ciok, beberapa malam yang lalu aku telah bersalah padamu, mohon dimaafkan! Untung adik Ciok tidak terjadi apaapa. Kemarin pagi ayah tidak melihatmu, maka aku dipukul oleh ayah! Adik Ciok, silakan ikut aku pulang, jangan berkeliaran di luar lagi!"
Begitu mendengar perkataan Tong Eng Kang, kemarahan Ciok Giok Yin semakin memuncak.
"Terimakasih atas kebaikanmu. Namun kalaupun aku harus mati kelaparan di luar, aku tetap tidak mau pulang ke sana, tiada hubungan apa-apa dengan kalian!"
Sahutnya dengan ketus. Usai menyahut, Ciok Giok Yin lalu membalikkan badannya berjalan pergi. Wajah Tong Eng Kang tampak tersenyum.
"Adik Ciok, dengarlah dulu! Kau mau pulang atau tidak itu terserah."
Dia memandang ketiga lelaki itu, dan seketika ketiga lelaki itu meloncat ke arah Ciok Giok Yin, mengurungnya di tengah-tengah. Sedangkan Tong Eng Kang juga maju beberapa langkah.
"Adik Ciok, pakaianmu sudah begitu pendek, tidak bisa dipakai lagi. Untung ketika aku mau kemari, tidak lupa membawa dua stel pakaian untukmu."
Dia mengambil sebuah bungkusan yang tergantung di punggungnya, kemudian dibukanya. Ternyata bungkusan itu berisi dua stel pakaian dan sepatu.
"Cepatlah pakai, lalu ikut aku pulang!"
Dia menyerahkan pakaian dan sepatu itu pada Ciok Giok Yin.
Sesungguhnya itu adalah pakaian Tong Eng Kang.
Semula Ciok Giok Yin tidak mau menerimanya, namun mengingat pakaian dan sepatunya yang dipakainya sudah tidak karuan, maka terpaksa diterimanya pakaian itu, lalu dipakainya.
"Terimakasih!"
Ucapnya sambil memandang Tong Eng Kang.
Pakaian dan sepatu itu memang amat pas dengan badannya.
Ketika Ciok Giok Yin sedang mengenakan pakaian itu, Tong Eng Kang maju dua langkah lagi, sehingga amat dekat dengan Ciok Giok Yin.
Tong Eng Kang adalah pemuda yang licik dan banyak akal busuk.
Dia tersenyum-senyum seraya berkata.
"Adik Ciok, sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi atas dirimu? Bagaimana dalam waktu satu malam, kau bisa tumbuh lebih tinggi dan besar?"
Berhubung Tong Eng Kang belum tahu jelas apa yang telah terjadi atas diri Ciok Giok Yin, maka tidak berani sembarangan turun tangan.
Karena Tong Eng Kang bersikap begitu baik, maka Ciok Giok Yin menyahut dengan jujur.
"Aku telah makan Ginseng Daging."
"Ginseng Daging?"
"Ng"
Wajah Tong Eng Kang langsung berubah, sepasang biji matanya berputar dan kemudian berkata.
"Adik Ciok, dalam waktu satu malam kau sudah tumbuh besar. Kalau kau hidup sampai lima enam puluh tahun kemudian, bukankah kau akan tinggi sekali? Aku pernah dengar dari orang, setelah makan Ginseng Daging, harus pula menggunakan Ping Ko (Buah Es) untuk mencairkan Ginseng Daging itu. Kalau tidak...."
Hati Ciok Giok Yin berdebar-debar mendengar ucapan Tong Eng Kang itu.
"Bagaimana?"
Tong Eng Kang tertawa licik.
"Setiap hari kau akan bertambah tinggi, cobalah bayangkan!"
Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin. Dia langsung bertanya dengan suara bergemetar.
"Kakak Tong, aku harus bagaimana?"
"Asal kau ikut aku pulang, ayah pasti dapat membantumu,"
Sahut Tong Eng Kang sungguh-sungguh.
Walau Ciok Giok Yin pernah ikut kakek tua berjenggot putih belajar ilmu pengobatan, namun tidak pernah mendengar Ginseng Daging masih mengandung khasiat seperti itu.
Maka tidak mengherankan kalau dia jadi ragu.
Tong Eng Kang terus menatapnya.
Dalam hatinya dia merasa girang, karena merasa telah berhasil mendustai anak itu.
Maka dia maju setengah langkah lagi dan langsung mencengkeram lengan Ciok Giok Yin.
Sementara itu, orang tua yang duduk di atas batu, mendengar jelas pembicaraan mereka, tapi dia tetap diam.
Sedangkan Tong Eng Kang, setelah berhasil mencengkeram lengan Ciok Giok Yin, wajahnya berubah menjadi bengis.
Ciok Giok Yin ingin meronta, tapi sebelah tangan Tong Eng Kang bergerak cepat mencengkeram lengannya lagi.
"Ciok Giok Yin! Apa yang kutanyakan harus kau jawab dengan jujur!"
"Mau bertanya apa?"
"Siapa yang membunuh keempat orangku di dalam lembah itu?"
Ciok Giok Yin teringat pada keempat lelaki yang ingin membunuhnya, untung pengemis tua menyelamatkannya.
Kini Tong Eng Kang muncul di tempat ini, tentunya akan membuat perhitungan dengannya.
Oleh karena itu dia menyahut.
"Aku tidak tahu,"
Tong Eng Kang tertawa dingin.
"Tidak tahu?"
Katanya.
Dia mengeraskan cengkeramannya.
Sebetulnya Ciok Giok Yin ingin meronta, namun merasa tak bertenaga sama sekali, lagipula lengannya terasa mau patah sehingga keringat dinginnya mulai mengucur.
Saat ini Ciok Giok Yin baru sadar, ternyata tadi Tong Eng Kang cuma berkata bohong belaka.
"Cepat katakan! Siapa yang membunuh mereka?"
Desak Tong Eng Kang. Ciok Giok Yin tidak menyahut, cuma mendengus.
"Hmmm!"
Walau merasa amat sakit, tapi dia tidak mengeluh sama sekali, sebab sudah terbiasa menderita dan disiksa.
Oleh karena itu, dia menutup mulutnya rapat-rapat sambil berkertak gigi.
Dengan cara kekerasan tidak memperoleh hasil, maka Tong Eng Kang ingin menggunakan cara lunak Dia mengendurkan cengkeramannya, lalu berkata dengan lembut.
"Adik Ciok, maafkan aku karena terlampau emosi sehingga menyakitkan lenganmu. Adik Ciok, beritahukanlah, siapa yang membunuh mereka! Apakah kau tega membiarkan mereka mati penasaran?"
Ciok Giok Yin tetap diam.
Namun dalam hatinya berkata.
'Aku yakin Tong Eng Kang juga tidak akan melepaskan diriku.
Aku telah makan Ginseng Daging, langkah kakiku amat ringan, mengapa aku tidak kabur?' Ketika dia baru mau membalikkan badan ingin kabur, mendadak ketiga lelaki itu telah melancarkan tiga buah pukulan ke arahnya.
Di saat bersamaan, Tong Eng Kang tertawa dingin seraya berkata.
"Anak jahanam, kau masih ingin melarikan diri? Kalau kau tidak mau mengatakan secara jujur, aku pasti menyiksamu sampai menderita sekali, tidak bisa hidup dan tidak bisa mati!"
Wajahnya berubah menjadi bengis, penuh hawa membunuh.
Sedangkan Ciok Giok Yin tahu bahwa dirinya sudah tidak bisa lolos dari maut.
Maka, dari pada mati konyol, lebih baik melawan.
Karena itu, mendadak dia menerjang ke arah Tong Eng Kang sambil berkertak gigi.
Dia tidak mengerti ilmu silat, maka pukulannya agak ngawur tidak karuan.
Akan tetapi, Tong Eng Kang langsung mengayunkan kakinya menendang Ciok Giok Yin, sehingga anak itu terpental beberapa depa lalu roboh.
Tong Eng Kang tidak berhenti sampai di situ.
Dia meloncat ke arah Ciok Giok Yin yang masih terlentang di tanah, lalu menginjak dadanya.
"Aaaakh...!"
Jerit anak itu.
Mulutnya menyemburkan darah segar.
Akan tetapi, entah muncul dari mana Ciok Giok Yin memperoleh kekuatan.
Dia menyambar sebuah batu.
lalu disambitkan ke arah kepala Tong Eng Kang.
Jaraknya amat dekat, lagipula Tong Eng Kang tidak menduga kalau Ciok Giok Yin akan menyambitnya.
Maka tidak ampun lagi batu itu mendarat di keningnya.
Bukan main gusarnya Tong Eng Kang!
"Anak sundel!
Aku akan menghabisimu!"
Bentaknya sengit.
Tong Eng Kang mengeluarkan sebilah belati yang bergemerlapan, tampak tajam sekali.
Dia menatap Ciok Giok Yin dengan bengis, lalu menusuk dadanya dengan belati itu.
Kelihatannya anak yang yatim piatu yang selalu hidup menderita itu akan mati tertusuk.
Namun mendadak terdengar suara bentakan keras.
"Berhenti!"
Tampak sosok bayangan bagaikan setan gentayangan berkelebat, dan terdengar pula suara menderuderu. Seketika terdengar suara jeritan.
"Aaaakh...!"
Tampak seseorang terpental tiga depa, dan kemudian jatuh gedebuk di tanah.
Ternyata Tong Eng Kang.
Begitu melihat tuan mudanya terpental, ketiga lelaki itu cepat-cepat mendekatinya, kemudian salah seorang dari mereka memapahnya bangun.
Sedangkan dua orang lainnya membentak keras.
"Tua bangka! Cari mampus!"
Mendadak mereka menyerang orang tua tersebut.
Sepasang mata orang tua itu menyorot tajam.
Begitu tangannya bergerak, terdengar lagi dua kali jeritan.
Ternyata kedua lelaki itu pun terpental lalu jatuh di tanah.
Tong Eng Kang yang telah dipapah bangun, menyaksikan kepandaian orang tua tersebut.
Dia tahu dirinya bukan lawan orang tua itu, maka tanpa bicara lagi dia langsung mengajak ketiga lelaki itu Ciok Giok Yin yang telah memejamkan matanya menunggu mati, tidak menyangka bahwa orang tua yang duduk diam di atas batu itu, melesat cepat menyelamatkan nyawanya.
Dia segera memberi hormat kepadanya.
"Terimakasih atas kebaikan to cianpwee telah menyelamatkan nyawaku!"
Ucapnya. Orang tua itu menatapnya dengan penuh perhatian.
"Bocah, siapa namamu?"
"Ciok Giok Yin."
"Kau telah makan buah Ginseng Daging?"
"Ya."
"Pernahkah kau belajar kungfu?"
"Tidak pernah."
Orang tua itu manggut-manggut.
"Sungguh merupakan sebuah mustika yang belum digosok!"
Gumamnya. Ciok Giok Yin tidak mengerti apa yang dikatakan orang tua itu.
"Lo cianpwee bilang apa?"
Orang tua itu tidak menyahut, melainkan malah balik bertanya.
"Bocah, berapa usiamu sekarang?"
"Enam belas."
Mendadak terlintas suatu pikiran dalam benak Ciok Giok Yin, orang tua itu berkepandaian tinggi, mengapa aku tidak berguru padanya untuk belajar kungfu tinggi?
Setelah aku berhasil menguasai kungfu tinggi, bukankah aku bisa balas dendam kelak?
Karena berpikir begitu, Ciok Giok Yin segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan orang tua itu.
"Lo cianpwee, mohon lo cianpwee sudi menerimaku..."
Katanya. Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, orang tua itu sudah tertawa terbahak-bahak dan menyergahnya.
"Aku Phing Phiaw Khek, seumur hidup bagaikan daun yang terapung kesana kemari, tiada tempat tinggal yang tetap. Lagipula kini aku menderita luka parah, nyawa pun tidak akan panjang. Bukan aku tidak mau menjadi suhumu, melainkan tidak pantas. Ayo, bangunlah! Aku akan menyempurnakanmu."
Ciok Giok Yin segera bangkit berdiri.
Phing Phiauw Khek terbatuk-batuk beberapa kali, kemudian memuntah darah segar, dan badannya pun menjadi sempoyongan seakan mau roboh.
Ciok Giok Yin segera menahannya agar tidak roboh.
"Lo cianpwee terluka parah ya?"
Mendadak sepasang mata Phing Phiauw Khek menyorot dingin.
"Tidak salah. Aku dilukai oleh para iblis Sang Yen Hwee."
"Sang Yen Hwee?"
"Eh? Bagaimana kau tahu?"
Ciok Giok Yin segera menceritakan tentang pengemis tua, kemudian menambahkan.
"Paman pengemis itu pergi mencari seseorang untuk mengobati lukanya."
Phing Phiauw Khek duduk, menatap Ciok Giok Yin seraya berkata.
"Lukamu juga tidak ringan, duduklah!"
Ciok Giok Yin duduk di hadapannya.
"Bocah. Sungguhkah kau ingin belajar kungfu?"
"Ya!"
"Aku pasti mengabulkannya, namun setelah kau berhasil menguasai semua ilmu silatku, kau harus membasmi perkumpulan Sang Yen Hwee, dan juga harus mencari sebuah Gin Tie (Seruling Perak) untukku!"
"Seruling Perak?"
"Ng!"
"Setelah berhasil mencari Seruling Perak, lalu bagaimana?"
"Setelah kau berhasil mencari Seruling Perak itu, kau pun masih harus mencari keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan. Serahkan Seruling Perak itu padanya!"
"Siapa keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan itu?"
"Tentang itu, kau boleh selidiki sendiri, sebab aku pun tidak begitu jelas."
"Lo cianpwee, di mana tempat tinggalnya?"
"Itu pun harus kau yang menyelidikinya."
Mencari seseorang yang tiada nama dan tiada alamat jelas, sungguh merupakan suatu urusan yang amat sulit.
Tapi orang tua itu bilang, mengenai Seruling Perak, tentunya amat penting terhadap keluarga Ciok itu.
Sedangkan Ciok Giok Yin memang ingin sekali belajar kungfu, maka dia langsung menyanggupinya.
"Aku pasti melaksanakan tugas itu dengan baik."
Phing Phiauw Khek manggut-manggut.
"Baik. Dalam waktu tiga hari, kau harus tiba di tebing Tong Eng Kang. Di sana terdapat goa Toan Teng Tong. Carilah seorang wanita bernama Ho Hong Hoa di sana, dia pasti akan mewariskan kungfu yang amat tinggi padamu!"
Mendengar itu, Ciok Giok Yin mengerutkan kening.
"Jarak dari sini ke gunung Tong Pek San ribuan mil, mungkin dalam waktu sepuluh hari pun sulit untuk tiba di sana. Itu bagaimana?"
"Biar bagaimanapun, dalam waktu tiga hari kau harus sampai di sana. Kalau terlambat, bukan cuma akan mempengaruhi rimba persilatan, bahkan juga akan menimbulkan hal lain."
"Apakah wanita itu amat penting bagi rimba persilatan?"
"Sesungguhnya bukan orangnya, melainkan dia memiliki suatu benda pusaka."
Ciok Giok Yin tertegun.
"Apakah ada orang ingin merebut benda pusakanya "Berdasarkan. informasi yang kuterima, Bu Lim Sam Siu (Tiga Manusia Aneh Rimba Persilatan) telah berangkat ke sana."
Tiba-tiba, Phing Phiauw Khek membentak keras bagaikan suara geledek menggelegar, memekakkan telinga Ciok Giok Yin dan badannya pun gemetar.
Di saat bersamaan, orang tua itu menotok jalan darah Ciok Giok Yin agar anak itu pingsan, setelah itu, menotok lagi jalan darah Pek Hwee Hiatnya.
Entah berapa lama kemudian.
Satu jam, dua jam....
Satu hari, dua hari....
Ciok Giok Yin mulai siuman.
Dia membuka matanya, melihat bintang-bintang bertaburan di langit.
Dia mendapatkan dirinya berada di malam yang amat dingin, sedangkan di sisinya tergeletak Phing Phiauw Khek, tak bergerak dan tak bernafas.
Hati Ciok Giok Yin tersentak.
Dia masih ingat ketika Phing Phiauw Khek membentak, lalu dia pun pingsan tak tahu apaapa lagi.
Ciok Giok Yin segera memeriksa pernafasan Phing Phiauw Khek, ternyata nafas orang tua itu telah putus.
Dia tidak habis pikir, sebenarnya apa gerangan yang telah terjadi?
Melihat mayat orang tua itu, hati Ciok Giok Yin amat berduka.
Kini di tempat itu hanya Ciok Giok Yin seorang diri, maka dia mencari suatu tempat untuk mengubur mayat Phing Phiauw Khek.
Di saat mengubur mayat orang tua itu, dia merasa heran, mengapa tenaganya begitu kuat?
Dia mudah mengangkat mayat itu, dan juga mudah mengangkat batu-batu.
Mayat orang tua dan batu-batu itu amat berat, namun dengan mudah dia mengangkatnya.
Dia tidak mengerti sama sekali, kemudian tidak mau memikirkannya.
Seusai mengubur mayat orang tua itu, barulah Ciok Giok Yin teringat akan pesannya, bahwa dalam waktu tiga hari, dia harus tiba di Goa Toan Teng Tong, di gunung Tong Pek San.
Bagaimana mungkin?
Kalaupun melakukan perjalanan siang malam tanpa beristirahat, juga tidak akan tiba di sana dalam waktu tiga hari.
Namun dalam tubuhnya terdapat suatu kekuatan, terus mendorongnya, agar bisa tiba di sana tepat pada waktunya, sehingga tidak mengecewakan apa yang dipesankan orang tua itu.
Oleh karena itu, mulailah dia melakukan perjalanan dengan langkah lebar.
Justru sungguh di luar dugaannya, begitu dia melangkah, badannya terasa amat ringan.
Satu kali melangkah dapat mencapai satu depa lebih.
Itu membuatnya segera berlari.
Bukan main!
Dia berlari bagaikan terbang.
Anehnya dia tidak meninggalkan bekas kaki di permukaan salju.
Kini barulah Ciok Giok Yin tersadar, bahwa Phing Phiauw Khek telah menyalurkan hawa murninya ke dalarn tubuhnya, tapi membuat orang tua itu kehilangan nyawanya sendiri.
Budi kebaikan yang begitu tinggi, harus bagaimana membalasnya?
Ciok Giok Yin bersumpah dalam hati, harus berhasil memenuhi harapan orang tua tersebut.
Saking terharunya, tanpa sadar air matanya berderai-derai membasahi pipinya.
Pada hari ketiga, Ciok Giok Yin sudah tiba di Gunung Tong Pek San.
Akan tetapi, Gunung Tong Pek San begitu luas, harus ke mana mencari Goa Toan Teng Tong?
Dia menyesal karena tidak bertanya pada Phing Phiauw Khek.
Dan kalau terus mencari, bukankah akan menyita waktunya?
Sejak Ciok Giok Yin makan buah Ginseng Daging, kecerdasannya pun bertambah.
Dia berpikir sejenak, kemudian mengambil keputusan untuk naik ke puncak gunung itu.
Oleh karena itu dia langsung melesat ke puncak gunung tersebut.
Namun ketika sedang melesat ke atas, mendadak terdengar suara pembicaraan di belakangnya.
Ciok Giok Yin langsung berhenti.
Di saat bersamaan, dia merasa pandangannya kabur, ternyata ada tiga sosok bayangan berkelebat di depannya.
Walau cuma sekelebatan, namun Ciok Giok Yin dapat melihat jelas ketiga orang itu.
Mereka bertiga berdandan seperti sastrawan, berusia sekitar lima puluhan.
Mereka bertiga melesat ke depan bagaikan terbang, membuktikan ginkang mereka bertiga amat tinggi.
Ketika melewati Ciok Giok Yin, ketiga orang itu masih sempat melirik ke arahnya, namun tetap melesat ke depan.
Begitu melihat ketiga orang tua itu, hati Ciok Giok Yin tergerak, kemudian melesati mengikuti mereka.
Berselang sesaat, Ciok Giok Yin bertanya dalam hati.
"Apakah mereka bertiga itu Bu Lim Sam Siu?"
Ciok Giok Yin mulai mengerahkan tenaganya untuk mengejar mereka bertiga.
Dia tidak boleh membiarkan ketiga orang itu tiba lebih dulu di Goa Toan Teng Tong.
Maka dia harus berusaha mendahului mereka tiba di sana, lalu memberitahukan pada Ho Hong Hoa agar bersiap-siap terhadap datangnya tiga orang itu.
Bu Lim Sam Siu amat terkenal di dunia persilatan, bagaimana mungkin mereka bertiga membiarkan Ciok Giok Yin mendahului mereka?
Meskipun Ciok Giok Yin telah berusaha sekuat tenaga, tapi tetap berada jauh di belakang mereka.
Sementara nafas Ciok Giok Yin mulai tersengal-sengal, tapi demi pesan Phing Phiauw Khek, dia tetap terus mengejar Bu Lim Sam Siu.
Berselang beberapa saat kemudian, mendadak Bu Lim Sam Siu berhenti, dan salah satu di antara mereka menoleh ke belakang.
"Bocah! Ada urusan apa kau terus mengejar kami?"
Katanya dengan dingin. Ciok Giok Yin juga berhenti, lalu menarik nafas dalam-dalam agar nafasnya tidak tersengal-sengal.
"Apakah hanya kalian yang boleh lewat di gunung ini?"
Sahut seorang. Orang tua yang bertanya itu tertegun.
"Kalau begitu, kau mau ke mana?"
"Toan Teng Tong."
"Toan Teng Tong?"
"Tidak salah!"
"Mau apa kau ke sana?"
"Tidak dapat kukatakan!"
Orang tua itu terbelalak.
"Aku lihat usiamu masih muda, lebih baik kau pulang saja. Toan Teng Tong bukan merupakan tempat pesiar. Tempat itu amat bahaya, jangan dibuat main nyawamu,"
Katanya lembut.
"Terimakasih atas maksud baik Paman, tapi ini adalah urusanku, harap Paman tidak usah mencemaskan diriku!"
Sahut Ciok Giok Yin. Bu Lim Sam Siu sating memandang, kemudian tertawa gelak.
"Bocah! Kau tahu di mana Goa Toan Teng Tong?"
Tanya salah seorang dari mereka. Ciok Giok Yin tertegun ditanya demikian.
"Di tebing Toan Teng,"
Sahutnya hambar.
"Di mana tebing Toan Teng?"
"Aku akan mencari perlahan-lahan."
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata kau belum tahu letak tebing Toan Teng."
Dia menunjuk ke depan.
"Tempat itulah yang disebut tebing Toan Teng."
Ciok Giok Yin memandang ke arah yang ditunjuk orang tua itu.
Di sana tampak sebuah pelataran batu, namun di sekitar pelataran batu itu terdapat batu-batu terjal yang amat dalam.
Orang tua itu tertawa sinis, tidak menghiraukan Ciok Giok Yin.
Mereka bertiga melesat ke arah pelataran batu itu, Ciok Giok Yin tidak mau ketinggalan, dia pun ikut melesat ke sana.
Tak seberapa lama, mereka berempat sudah tiba di pelataran batu tersebut.
Bu Lim Sam Siu sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Ciok Giok Yin.
Mereka bertiga berjalan mendekati dinding tebing.
Ternyata pada dinding tebing itu terdapat sebuah goa.
Ciok Giok Yin juga telah melihat goa tersebut.
Di atas goa itu terukir beberapa huruf 'Goa Toan Teng Tong' Bu Lim Sam Siu segera melangkah ke dalam.
Ciok Giok Yin amat gugup.
"Berhenti!"
Bentaknya. Bu Lim Sam Siu berhenti, lalu serentak menoleh ke belakang.
"Bocah! Kau tidak usah main gelap-gelapan lagi, sebetulnya mau apa kau kemari? Kalau kedatanganmu beralasan, aku tidak akan menyulitkanmu, dan membiarkanmu masuk ke dalam,"
Kata salah seorang dari mereka.
"Kalau begitu, untuk apa kalian kemari?"
"Berdasarkan nadamu, kedengarannya kita sehaluan."
"Tidak salah."
"Baik, apabila kau punya kepandaian, silakan masuk!"
Orang tua itu segera menyingkir ke samping, seakan mempersiapkan Ciok Giok Yin masuk Ciok Giok Yin memang pemberani.
Tampak badannya bergerak, dia sudah melesat ke dalam goa itu.
Di dalam goa itu terdapat lorong yang amat panjang.
Ciok Giok Yin berjalan ke dalam dengan bergegas-gegas.
Dia berharap segera bertemu Ho Hong Hoa untuk memberitahukan semua itu, agar wanita itu berjaga-jaga terhadap Bu Lim Sam Siu yang ingin merebut benda pusaka.
Setelah melewati beberapa tikungan, Ciok Giok Yin berhenti termangu-mangu.
Ternyata tiada seorang pun berada di dalam goa itu.
Lagi pula di sana banyak sarang laba-laba, kelihatannya sudah lama tiada penghuninya.
Di saat bersamaan, Bu Lim Sam Siu juga sudah sampai di dalam.
"Bocah! Kalau kau merasa tertarik, ikutlah kami ke dalam!"
Kata mereka serentak.
Salah seorang dari mereka mendorong sebuah kursi, dan setelah kursi itu tergeser, tampaklah sebuah lubang.
Bu Lim Sam Siu langsung meloncat ke dalam lobang itu.
Ciok Giok Yin tertegun, tidak menyangka akan mengetahui rahasia itu.
Sudah barang tentu pengalaman anak itu menjadi bertambah.
Kemudian dia ikut meloncat ke dalam lubang tersebut.
Sungguh di luar dugaan, ternyata di dalam lubang itu terdapat undakan tangga.
Berselang beberapa saat kemudian, di depan mata tampak sebuah ruang batu yang cukup besar.
Namun ruang batu itu kosong melompong, tidak terdapat satu barangpun di sana.
Hanya di dekat dinding ruangan, terdapat sebuah peti mati berwarna merah.
Hati Ciok Giok Yin, tersentak, kemudian dia berkata dalam hati.
'Apakah wanita itu....' Sebelum usai Ciok Giok Yin berkata dalam hati, mendadak peti mati itu berputar tak henti-hentinya.
Seketika sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding.
Sedangkan Bu Lim Sam Siu malah tertawa nyaring.
"Berlakulah sebagaimana mestinya, tidak usah berbuat yang macam-macam! Kami adalah Bu Lim Sam Siu, Cu Cing Khuang, Siangkoan Yun San dan Kwee Sih Cun! Selama ini tidak pernah dipermainkan orang!"
Kata salah seorang dari mereka.
Mata Bu Lim Sam Siu menyorot dingin, terus menatap peti mati merah.
Salah seorang dari mereka bertiga yang paling tidak sabaran adalah Siangkoan Yu San.
Dia langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah peti mati tersebut.
Bum!
Peti mati itu langsung berhenti berputar.
Di saat bersamaan, terdengar pula suara yang amat dingin dari dalam peti mati itu.
"Kalian tidak usah menyebutkan julukan kalian, nona sudah tahu kalian bertiga adalah Bu Lim Sam Siu! Kini aku beri kalian waktu, cepat enyah dari sini!"
Siangkoan Yun San tertawa gelak.
"Gampang sekali kami enyah dari sini, namun kau harus menyerahkan peta Si Kauw Hap Liok Touw pada kami, maka kami akan segera meninggalkan goa ini!"
Ketika Ciok Giok Yin mendengar ada suara di dalam peti mati itu, bahkan suara seorang nona, hatinya menjadi lega, dan keberaniannya pun bertambah.
Dia langsung maju beberapa langkah mendekati peti mati itu.
Di saat bersamaan terdengar sahutan dari dalam peti merah.
"Nona tidak akan menyerahkan pada kalian!"
"Kalau begitu, kau tidak boleh dibiarkan!"
"Mau bagaimana?"
"Aku akan menghabisimu!"
Sahut Siangkoan Yun San dingin.
Dia maju beberapa langkah, sepasang matanya menyorot dingin, siap melancarkan pukulannya ke arah peti merah.
Cu Cing Khuang adalah saudara tertua Bu Lim Sam Siu, tentunya jauh lebih berwibawa dari yang lain.
Cepat-cepat dia mencegah Siangkoan Yu San sambil memberi isyarat.
"Lo Ji (Saudara Kedua), jangan terburu-buru!"
Sepasang matanya langsung diarahkan pada peti mati merah.
"Ho Hong Hoa, kau harus mengerti. Berdasarkan sedikit kepandaianmu itu, apakah kau ingin...."
Belum juga selesai dia berkata, tibatiba terdengar suara tawa cekikikan di dalam peti mati merah, kemudian berkata.
"Nona bilang kalian bertiga tak ubahnya seperti tiga ekor anjing, hidung kalian masih kurang tajam. Kalian tidak tahu siapa nona, tapi masih berani membicarakan peta Si Kauw Hap Liok Touw!"
Dapat dibayangkan, betapa gusarnya Cu Cing Khuang! Sepasang matanya tampak berapi-api, lalu membentak keras.
"Siapa kau?"
"Siapa aku, perduli amat kau siapa aku?"
"Cepat katakan! Ada hubungan apa kau dengan Ho Hong Hoa?"
Tiada sahutan dari dalam peti mati merah, sepertinya sedang mempertimbangkan, apakah harus menjawab atau tidak!
Beberapa saat kemudian barulah terdengar suara yang amat dingin dari dalam peti mati tersebut.
"Ho Hong Hoa adalah ibuku, nona adalah putrinya bernama Ho Siu Kouw! Anjing tua, kalian mau apa, cepat lakukan!"
Bersamaan itu, peti mati merah mulai berputar lagi.
Kali ini peti mati itu berputar jauh lebih cepat, sehingga menimbulkan angin yang menderu-deru.
Sementara itu walaupun Ciok Giok Yin berdiri dua tiga depa dari peti mati merah, namun angin yang menderu-deru itu membuatnya merasa tak tahan.
Maka, dia terpaksa harus mundur beberapa langkah dengan hati berdebar-debar tegang.
"Bocah cepat mundur! Apakah kau sudah tidak mau nyawamu lagi?"
Seru Cu Cing Kuang.
Ciok Giok Yin tidak memperdulikan peringatannya, karena Phing Phiauw Khek telah berpesan padanya, harus menemui wanita ini, maka dia tidak mau mendengar perkataan orang tua itu.
Siangkoan Yun San paling tidak sabaran.
Dia langsung menerjang ke arah peti mati merah sambil melancarkan sebuah pukulan.
Dia memiliki lwee kang yang tinggi, maka tidak heran kalau pukulannya itu amat dahsyat!
Jangankan cuma sebuah peti mati, kalaupun sebuah batu juga akan hancur terkena pukulannya.
Bum!
Terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga, tampak badan Siangkoan Yun San terdorong ke belakang dengan wajah pucat pias, pertanda dia telah terluka dalam.
Di saat orang itu terdorong ke belakang, terlihat pula asap tipis mengepul menutupi peti mati merah, yang makin lama makin tebal.
Terdengar pula suara tawa cekikikan dari dalam kepulan asap itu, yang kemudian disusul oleh suara bentakan yang amat nyaring.
"Anjing tua Siangkoan! Bagaimana rasanya? Enak sekali kan?"
Sepasang mata Siangkoan Yun San melotot, dan dia menggeram.
"Aku akan menghabisimu!"
Mendadak dia menjulurkan kelima jari tangannya, menyerang ke arah kepulan asap.
Seketika terdengar suara jeritan di dalam kepulan asap tebal itu.
Pada waktu bersamaan, Siangkoan Yun San juga mengeluarkan suara jeritan, dan terhuyung-huyung tiga langkah ke belakang.
Pada waktu bersamaan pula, dia menggunakan tangan kirinya untuk memutuskan tangan kanannya, maka, darah segarnya pun langsung mengucur menodai pakaiannya.
Ciok Giok Yin yang berdiri tak jauh, ketika menyaksikan kejadian tersebut, wajahnya langsung berubah menjadi pucat pias, matanya terbeliak dan mulutnya juga ternganga lebar.
Sedangkan Kwee Sih Cun yang diam dari tadi, kini tampak marah besar.
Dia menggeram, lalu menerjang ke arah kepulan asap sambil melancarkan pukulan.
Angin pukulannya menderu-deru, membuat kepulan asap itu agak buyar.
Kebetulan Ciok Giok Yin memandang ke sana, maka dia melihat seorang gadis yang amat cantik duduk di dalam peti mati merah.
Ternyata tutup peti mati itu telah dihancurkan oleh Siangkoan Yun San tadi.
Gadis cantik itu, pasti Ho Siu Kouw.
Ketika melihat Bu Lim Sam Siu yang berusia lima puluhan menyerang seorang anak gadis, Ciok Giok Yin menjadi gusar sekali.
Dia mendekati Kwee Sih Cun sambil mengepalkan tinjunya.
"Kalian orang tua menghina yang muda, apakah masih terhitung orang gagah dalam rimba persilatan'?"
Bentaknya keras.
Jangan dilihat Ciok Giok Yin tidak mengerti kungfu.
Karena dia telah makan buah Ginseng Daging, dan ditambah Phing Phiauw Khek menyalurkan lwee kangnya yang telah dilatih puluhan tahun ke dalam tubuhnya, maka Ciok Giok Yin telah memiliki lweekang yang amat tinggi.
Tidak heran kalau pukulannya yang di arahkan pada Kwee Sih Cun itu kelihatan amat dahsyat.
Akan tetapi, dia tidak pernah belajar kungfu, maka dia melancarkan pukulannya tidak karuan.
Meskipun begitu, pukulannya cukup mengejutkan Kwee Sih Cun.
Bagaimana pukulan anak muda itu begitu kuat bertenaga?
Hanya saja cara memukulkannya tampak tidak karuan, jelas anak muda itu tidak pernah belajar kungfu.
Kwee Sih Cun mendengus dingin.
"Hmm! Masih berbau susu, sudah sok ingin membela orang lain!"
Dia mengibaskan tangannya ke arah Ciok Giok Yin, maka terasa serangkum angin yang amat kuat menerjang ke arah anak muda itu.
Ciok Giok Yin yang tersambar angin kibasan itu, seketika terhuyung-huyung ke belakang delapan langkah.
Kebetulan dia terhuyung-huyung ke arah peti mati merah.
Kalau tidak tertahan oleh peti mati itu, mungkin dia akan roboh.
Mendadak telinga Ciok Giok Yin menangkap suara yang amat lirih.
"Adik kecil, kau bukan lawan mereka, tetaplah kau berdiri di sampingku, jangan menimbulkan sifat liar mereka, sebab kita berdua dalam bahaya!"
Sejak makan buah Ginseng Daging, pikiran Ciok Giok Yin bertambah cerdas, bahkan badannya pun bertambah agak tinggi dan besar.
Ketika mendengar suara lirih itu, dia tahu suara tersebut berasal dari nona yang duduk di dalam peti mati merah.
Jarak mereka hampir setengah depa, tapi suara yang amat lirih itu dapat didengarnya dengan jelas.
Sungguh aneh sekali!
Berdasarkan itu, dapat dipastikan bahwa nona itu berkepandaian amat tinggi.
Namun wanita yang harus dicari oleh Ciok Giok Yin, apakah gadis ini?
Dia berharap Bu Lim Sam Siu cepat-cepat meninggalkan tempat itu, agar dia dapat bertanya pada gadis tersebut.
Ho Siu Kouw melirik Ciok Giok Yin sejenak.
Seketika wajahnya berubah menjadi kemerahmerahan.
Kemudian dia memandang Bu Lim Sam Siu seraya membentak.
"Kalian bertiga harus segera enyah! Kalau tidak, nona...."
Ucapan Ho Siu Kouw terputus karena Cu Cing Khuang telah memotongnya.
"Kami bertiga memang gampang enyah dari sini! Asal kau menyerahkan peta Si Kauw Hap Liok Touw, kami bertiga pasti meninggalkan tempat ini, tidak akan menyusahkanmu!"
Kemudian, Bu Lim Sam Siu mengepung peti mati merah, kelihatannya akan menyerang Ho Siu Kouw dengan serentak.
Saat ini Siangkoan Yu San telah menotok jalan datang di lengannya, maka lengannya yang putus itu tidak mengucurkan darah lagi.
Dia menatap Ho Siu Kouw dengan bengis, lalu berkata dengan dingin sekali.
"Walau aku sudah terkena Hong Bwe Tok Mang (Racun Ekor Tawon)mu, tapi tidak apa-apa! Sedangkan kau sulit untuk hidup tiga bulan lagi!"
Ho Siu Kouw tertawa cekikikan.
"Kau tidak usah mencemaskan diriku! Mati atau hidup tiada masalah sama sekali! Namun, sejak ini kau akan menjadi orang cacat!"
Cu Cing Khuang melotot, dan sepasang matanya menyorot tajam.
"Cepat serahkan! Kalau tidak, jangan bilang aku berhati keji!"
"Kalian ingin merebut?"
Tanya Ho Siu Kouw.
"Apabila kau tetap membangkang, kami bertiga terpaksa harus mengantarmu ke alam baka!"
Sahut Cu Cing Khuang.
"Kalau begitu, kalian Bu Lim Sam Siu selama berada di dunia persilatan cuma berpura-pura jadi orang baik? Kaum golongan hitam sama sekali tidak pernah datang di Goa Toan Teng Tong ini, tapi justru tidak diduga kalian dari golongan putih, dan juga termasuk pendekar besar berhati bajik, malah lebih dulu kemari!"
"Justru karena khawatir, peta itu jatuh ke tangan para penjahat, maka kami bertiga kemari!"
Kata Cu Cing Khuang.
"Untuk apa kalian menginginkan peta pusaka itu?"
"Melindungi kedamaian rimba persilatan!"
"Apakah aku tidak dapat melindungi itu?"
"Bocah perempuan! Kau jangan banyak bicara, cepat serahkan!"
"Aku tidak mau serahkan!"
"Cari mati !"
"Tidak percaya boleh kalian coba!"
Cu Cing Khuang dan Kwee Sih Cun menggeserkan badannya, kemudian menerjang ke depan.
"Kalian cari mati!"
Bentak Ho Siu Kouw sambil menatap mereka dengan tajam.
Di saat bersamaan, tampak cahaya gemerlapan meluncur laksana kilat ke arah mereka berdua.
Bu Lim Sam Siu tahu akan kelihayan jarum beracun Hong Bwe Tok Mang, maka mereka cepat-cepat meloncat ke belakang.
Bahkan Siangkoan Yun San yang telah terluka malah mencelat ke belakang lebih jauh.
Setelah mencelat ke belakang, Cu Cing Khuang dan Kwee Sih Cun kembali mencelat ke depan lagi sambil melancarkan pukulan serentak ke arah Ho Siu Kouw.
Mereka berdua amat mendendam pada gadis itu, maka serangan mereka tampak sengit sekali.
Akan tetapi, mereka berdua cuma dapat melancarkan pukulan jarak jauh, karena tidak berani terlampau dekat, lantaran takut akan jarum beracun Hong Bwe Tok Mang.
Oleh karena itu, Ho Siu Kouw terus menyerang mereka dengan jarum beracunnya, namun gadis itu masih belum bangkit berdiri.
Ciok Giok Yin yang berdiri di sampingnya, menyaksikan dengan hati berdebar debar tegang, namun tidak bisa membantu apa-apa.
Bahkan kini dia harus mundur beberapa langkah, sebab merasa tertekan oleh angin pukulan yangdilancarkan Cu Cing Khuang dan Kwee Sih Cun.
Mendadak telinga Ciok Giok Yin menangkap suara yang amat lirih.
"Adik kecil, cepat tiarap!"
Ciok Giok Yin tahu bahwa itu suara Ho Siu Kouw, tapi dia tidak tahu apa sebabnya gadis itu menyuruhnya tiarap.
Walau dalam keadaan tiarap, Ciok Giok Yin tetap mendongakkan kepala.
Ternyata di tempat dia berdiri tadi, tampak cahaya kebiru-biruan berkelebatan.
Kini, barulah dia paham mengapa tadi gadis itu menyuruhnya tiarap.
Apabila dia tidak tiarap, mungkin saat ini telah mati terserang oleh jarum-jarum beracun itu.
Di saat bersamaan, terdengar suara menderu-deru bagaikan badai mengamuk.
Cu Cing Khuang tertawa gelak.
"Jarum beracun Hong Bwe Tok Mangmu telah habis kan? Kini sudah saatnya kau menyerahkan peta pusaka itu!"
Sepasang mata Ho Siu Kouw yang bening menyorotkan sinar kebencian. Dia berkertak gigi seraya berkata.
"Kalau aku masih bisa hidup, kelak pasti akan membeset kulit kalian bertiga!"
Cu Cing Khuang tertawa terbahak-bahak.
"Mungkin kau sudah tiada kesempatan untuk itu! Cepat serahkan! Kami akan berbelas kasihan padamu, mengampuni nyawamu, agar kau bisa hidup beberapa hari lagi!"
Justru di saat ini, mendadak terdengar suara "Uaaakh...!"
Ternyata Ho Siu Kouw memuntahkan darah segar, dan badannya pun bergoyang-goyang seakan mau roboh.
Begitu melihat situasi di depan matanya, dia berkertak gigi lalu tangannya merogoh ke dalam bajunya.
Ternyata dia mengeluarkan selembar kulit kambing kumal.
Namun ketika dia baru mau melempar kulit kambing itu, Ciok Giok Yin yang tiarap itu, langsung meloncat bangun seraya berteriak sekeraskerasnya.
"Nona, jangan!"
Ciok Giok Yin memang cerdas.
Dia tahu bahwa kulit kambing yang ada di tangan gadis itu justru peta Si Kauw Hap Liok Touw.
Apabila peta itu diserahkan kepada Bu Lim Sam Siu, berarti sia-sia dia kemari.
Bahkan Phing Phiauw Khek yang telah mati pun pasti tidak akan tenang di alam baka.
Usai berteriak, Ciok Giok Yin melesat ke arah Ho Siu Kouw.
Akan tetapi, bagaimana mungkin Bu Lim Sam Siu membiarkannya?
Cu Cing Khuang langsung mengibaskan tangannya ke arah Ciok Giok Yin, membuatnya terhuyunghuyung ke belakang beberapa langkah.
"Bocah! Lebih baik kau diam di tempat!"
Kata Cu Cing Khuang dengan suara dalam.
Namun, bagaimana Ciok Giok Yin akan membiarkan peta pusaka itu terjatuh ke tangan Bu Lim Sam Siu?
Maka dia segera maju lagi.
Namun sebelum dia sampai di hadapan Ho Siu Kouw, gadis itu sudah melotot sambil mengibaskan tangannya, mendorong Ciok Giok Yin ke samping.
"Kau kemari, tentunya juga demi peta Si Kauw Hap Liok Touw! Kalau kau berkepandaian, boleh berebut dengan mereka!"
Bentaknya keras.
Mendadak Ho Siu Kouw mengibaskan tangannya ke atas, maka peta kulit kambing itu langsung terbang ke atas pula.
Bu Lim Sam Siu tidak membiarkan Ciok Giok Yin mendekat.
Maka salah seorang Bu Lim Sam Siu yang bernama Kwee Sin Cun langsung melancarkan beberapa pukulan untuk mendesak mundur Ciok Giok Yin.
Sedangkan Cu Cing Khuang cepat-cepat mencelat ke atas menangkap peta pusaka kulit kambing itu.
Dia berhasil menangkap peta pusaka tersebut, lalu melayang turun dengan ringan.
Kemudian peta pusaka itu dibukanya, dan dilihatnya dengan penuh perhatian.
"Ha... ha... haaa! Nona memang tahu diri!"
Katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Cu Cing Khuang memandang Siangkoan Yun San dan Kwee Sih Cun.
"Mari kita pergi!"
Mereka bertiga langsung melesat keluar, dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan lagi.
Tiba-tiba Ciok Giok Yin menggeram, kelihatannya ingin mengejar Bu Lim Sam Siu.
Ciok Giok Yin telah menyaksikan tingkah laku mereka, yang membuktikan mereka bertiga bukan orang baik.
Kalau mereka itu orang balk, tentunya tidak akan menghina seorang gadis.
Ketika dia baru mau melesat keluar, tiba-tiba terdengar suara bentakan Ho Siu Kouw.
"Berhenti!"
Ciok Giok Yin langsung berhenti, lalu menoleh ke belakang.
"Apakah Nona tidak ingin merebut kembali peta pusaka itu?"
"Kau mampu melawan mereka?"
Ciok Giok Yin tertegun, dan berkata dalam hati.
'Bu Lim Sam Siu rata-rata berkepandaian amat tinggi, sedangkan aku sama sekali tidak mengerti ilmu silat.
Berdasarkan kebisaan apa aku ingin merebut kembali peta pusaka itu?' Akhirnya Ciok Giok Yin menundukkan kepalanya.
"Kemari!"
Seru Ho Siu Kouw.
Singkat sekali seruan itu, tapi mengandung suatu kekuatan, sehingga membuat Ciok Giok Yin tidak berani membantah.
Ciok Giok Yin berdiri di samping peti mati merah, matanya menatap Ho Siu Kouw.
"Nona ada pesan?"
Ho Siu Kouw menatapnya sejenak, lalu balik bertanya.
"Apa tujuanmu kemari?"
"Aku mendapat petunjuk dari seorang cianpwee untuk kemari,"
Sahut Ciok Giok Yin dengan jujur.
"Siapa?"
"Phing Phiauw Khek."
"Phing Phiauw Khek?"
"Ng!"
"Apa maksudnya dia memberi petunjuk agar kau kemari?"
"Orang tua itu bilang, di dalam goa ini tinggal seorang wanita bernama Ho Hong Hoa. Wanita itu akan mengajarku ilmu silat tingkat tinggi, maka aku bisa membalas dendam."
Ho Siu Kouw mengerutkan kening.
"Kau punya dendam apa?"
"Banyak orang menghinaku, mereka semua ingin membunuhku."
Ho Siu Kouw tertawa cekikikan.
"Ohya! Siapa namamu?"
"Ciok Giok Yin."
"Kau datang dari mana?"
Pertanyaan tersebut membuat Ciok Giok Yin tertegun, tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
Dia diam, sebab dia memang tidak tahu di mana tempat kelahirannya, juga tidak tahu siapa kedua orang tuanya.
Mengenai asal usulnya, dia sama sekali tidak jelas, sehingga membuatnya menjadi salah tingkah.
Ho Siu Kouw manggut-manggut.
Ternyata gadis itu tahu akan kesulitan Ciok Giok Yin.
"Kau tidak jelas akan asal usulmu?"
Ciok Giok Yin mengangguk. Ho Siu Kouw menatapnya dalamdalam.
"Lalu siapa yang membesarkanmu?"
Ciok Giok Yin memberitahukan dengan jujur tentang kakek tua berjenggot putih.
Mendengar penuturan Ciok Giok Yin itu, Ho Siu Kouw berkesimpulan, bahwa kakek tua berjenggot putih itu adalah seorang tokoh dunia persilatan.
Namun gadis itu sama sekali tidak mengerti, mengapa kakek tua berjenggot putih itu tidak mau mengajarnya kungfu?
Berselang sesaat, Ho Siu Kouw mengalihkan pembicaraan.
"Kau tahu siapa aku?"
"Bukankah tadi Nona sudah beritahukan, bernama Ho Siu Kouw?"
Sahut Ciok Giok Yin. Ho Siu Kouw manggut-manggut. Ciok Giok Yin segera melanjutkan.
"Mohon tanya pada Nona, ibumu pergi ke mana?"
Tiba-tiba wajah Ho Siu Kouw berubah menjadi murung.
"Sudah setengah tahun lebih ibuku pergi, mungkin telah mengalami kecelakaan,"
Katanya perlahan-lahan.
Usai berkata, gadis itu tampak berduka sekali.
Sesungguhnya Ciok Giok Yin amat heran, karena Ho Siu Kouw terus duduk di dalam peti mati itu.
Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Mengapa Nona tidak pergi mencarinya?"
Ho Siu Kouw mulai mengucurkan air mata, lalu mengangkat sepasang kakinya.
Terdengar hiruk pikuk suara rantai besi.
Ternyata sepasang kaki Ho Siu Kouw terikat rantai besi, pantas dia tidak bisa meninggalkan peti mati itu.
Ho Siu Kouw menghela nafas panjang.
"Ibu takut aku akan pergi menimbulkan gara-gara, maka merantai aku di dalam peti mati ini."
"Apakah Nona tidak dapat memutuskan rantai itu?"
"Ini rantai besi murni. Kalau bukan pedang atau golok pusaka, tidak akan mampu memotong rantai ini."
Ciok Giok Yin termangu-mangu.
"Kalau begitu bagaimana baiknya? Perlukah aku mencari sebilah pedang pusaka?"
Ho Siu Kouw menggelengkan kepala, sambil menghela nafas panjang.
"Kau tidak akan berhasil mencari pedang pusaka. Kalaupun berhasil dan dapat memotong rantai ini, aku tetap tidak terluput dari kematian."
Ciok Giok Yin tercengang.
"Maksudmu kau akan mati?"
Katanya dengan mata terbelalak. Ho Siu Kouw mengangguk.
"Ya."
Ciok Giok Yin menatap Ho Siu Kouw dengan mata tak berkedip.
"Nona tampak baik-baik saja. Bagaimana mungkin akan mati?"
Wajah Ho Siu Kouw tampak muram.
"Tadi Siangkoan Yun San berhasil menotok jalan darahku dengan ilmu Sam Im Coat Hoat, maka aku sulit hidup sampai tiga bulan."
Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin! Gadis yang sedemikian cantik, namun cuma akan hidup tiga bulan lagi. Sungguh tragis sekali! "Nona! Aku bersumpah pasti membalas dendam Nona!"
Katanya dengan lantang.
Mendadak Ciok Giok Yin membalikkan badannya, ingin pergi menyusul Bu Lim Sam Siu, bertarung mengadu nyawa dengan mereka bertiga.
Menyaksikan sikap Ciok Giok Yin, Ho Siu Kouw terharu sekali, dan matanya tampak bersimbah air.
"Cepat kemarilah!"
Panggilnya lembut. Ciok Giok Yin berhenti, lalu membalikkan badannya.
"Nona masih ada pesan lain?"
"Kau mau kemana?"
"Mau pergi mencari Siangkoan Yun San untuk membalas dendammu."
"Kau yakin dapat melawan mereka bertiga?"
"Aku akan berusaha sekuat tenaga, karena aku tidak tega melihat Nona mati penasaran."
Ciok Giok Yin tampan begitu berani dan gagah, membuat Ho Siu Kouw amat kagum dan terharu, sehingga tak terasa air matanya langsung meleleh.
"Ketahuilah, Bu Lim Sam Siu sudah berusia setengah abad lebih, lagipula mereka bertiga amat terkenal di dunia persilatan. Kalau ibuku seorang diri melawan mereka bertiga, mungkin amat sulit memperoleh kemenangan. Sedangkan kau sama sekali tidak mengerti ilmu silat, pergi cari mereka bertiga sama juga pergi cari mati."
"Kalau begitu, apakah harus menyudahi saja?"
"Seandainya kelak kau berhasil menguasai kungfu tingkat tinggi, tidak akan terlambat menuntut balas dendamku ini. Aku di alam baka, pasti amat berterimakasih padamu."
Badan Ho Siu Kouw tampak menggigil.
"Kau kemarilah!"
Ciok Giok Yin segera mendekatinya.
Mengenai apa yang menimpa diri Ho Siu Kouw, Ciok Giok Yin merasa iba dan amat simpati padanya.
Di saat bersamaan, dia teringat akan penderitaannya beberapa hari yang lalu, maka wajahnya tampak diliputi selapis hawa dingin.
Ho Siu Kouw terus menatapnya.
Sudah barang tentu bayangan Ciok Giok Yin telah terukir dalam benaknya.
Akan tetapi, teringat akan nyawanya tinggal tiga bulan, lalu masih ada harapan apa?
Saking berdukanya membuat air matanya terus berderaiderai.
Beberapa saat kemudian, gadis itu mengeluarkan sesuatu yang dibungkus dengan sapu tangan.
"Ini adalah Si Kauw Hap Liok Touw, simpanlah baik-baik!"
Katanya sambil menjulurkan tangannya memberikan bungkusan itu kepada Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin terbelalak. Dia menatap Ho Siu Kouw dengan tidak mengerti dan tertegun.
"Bukankah Nona telah menyerahkan pada mereka?"
Ho Siu Kouw menghapus air matanya.
"Itu palsu."
"Palsu?"
"Ya. Cepat ambillah dan simpanlah baik-baik!"
"Mereka...."
Ho Siu Kouw segera memotongnya.
"Cuma dapat mengelabui mereka beberapa waktu saja. Tidak bisa mengelabui mereka selama-lamanya. Mungkin mereka bertiga akan segera kembali."
Ciok Giok Yin belum juga menjulurkan tangannya untuk menerima bungkusan tersebut.
"Nona, tiada gunanya aku memiliki barang ini, lebih baik Nona simpan."
Ho Siu Kouw mengerutkan kening.
"Terimalah dulu, aku masih ingin bicara padamu!"
Apa boleh buat, Ciok Giok Yin terpaksa menerimanya, lalu disimpan ke dalam bajunya. Justru hatinya terus berdebardebar tidak karuan.
"Peta itu menunjukkan suatu tempat rahasia. Di tempat itu tersimpan semacam ilmu yang tiada taranya di kolong langit. Akan tetapi, ilmu itu tidak cocok untuk dipelajari oleh kaum wanita, maka ibu dan aku, tidak pernah ke tempat rahasia itu untuk mengambilnya. Kalau kau berhasil memperolehnya, tidak sulit bagimu untuk menjagoi dunia persilatan. Saat itu, kau boleh pergi mencari orang-orang yang pernah menghinamu."
"Ini... ini..."
Kata Ciok Giok Yin tersendat-sendat.
"Ada satu urusan, aku ingin bermohon padamu. Kelak kalau kau berkecimpung di dunia persilatan, tolong cari informasi tentang ibuku! Kalau ibuku dibunuh oleh penjahat, maka dendam kami berdua, kaulah yang harus membalasnya."
Ciok Giok Yin mengangguk. Ho Siu Kouw mengibaskan tangannya.
"Kau harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini, sebab aku khawatir Bu Lim Sam Siu akan kemari."
Namun, Ciok Giok Yin malah tidak bergeming.
Sepasang matanya telah basah, teringat nyawa gadis cantik itu cuma tinggal tiga bulan.
Mendadak dia menggenggam tangan Ho Siu Kouw, dan menangis tersedu-sedu.
"Kakak Siu, aku... aku tidak mau pergi. Aku tidak mau pergi."
Bukan main harunya Ho Siu Kouw! Gadis cantik itu pun terisak-isak. Akan tetapi, mendadak Ho Siu Kouw membentak sengit.
"Ciok Giok Yin! Apakah kau tidak tahu lelaki wanita tidak boleh demikian dekat? Kau harus segera meninggalkan tempat ini!"
Wajahnya tampak bengis sekali.
Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, sehingga tanpa sadar dia menyurut mundur tiga langkah.
Wajahnya yang tampan itu tampak kemerahmerahan.
Ciok Giok Yin merasa bersalah, sebab tidak pantas baginya menggenggam tangan Ho Siu Kouw.
"Harap.... Nona.... Nona sudi... memaafkanku..."
Katanya gagap.
Sesungguhnya hati Ho Siu Kouw amat sedih.
Gadis cantik itu berbuat demikian, tidak lain hanya menghendaki Ciok Giok Yin cepat-cepat meninggalkan tempat itu, agar tidak bertemu Bu Lim Sam Siu.
"Aku tidak akan menyalahkanmu, pergilah!"
Katanya perlahan-lahan sambil memejamkan matanya.
Gadis cantik itu lalu diam, kelihatannya seperti tidak menghiraukan Ciok Giok Yin lagi.
Sedangkan Ciok Giok Yin berdiri tertegun, berselang sesaat barulah berkata.
"Nona, aku mohon pamit! Harap jaga dirimu baik-baik!"
Ciok Giok Yin membalikkan badannya, lalu berjalan pergi dengan langkah yang amat berat.
Di saat bersamaan air mata Ho Siu Kouw terus mengucur membasahi pipinya.
Dia membuka matanya sedikit, mencuri memandang punggung Ciok Giok Yin.
Bibirnya bergerak, tapi tidak mampu mengeluarkan suara.
Ciok Giok Yin terus berjalan.
Namun ketika hampir menikung, mendadak dia membalikkan badannya, lalu berlari laksana terbang mendekati peti mati merah.
"Kakak Siu! Kakak Siu! Kau pasti tertolong!"
Serunya dengan wajah berseri-seri dan penuh harapan. Ho Siu Kouw cepat-cepat memejamkan matanya, sejenak.
"Bagaimana kau katakan aku pasti tertolong?"
Ciok Giok Yin menyahut memberitahukan dengan wajah berseri-seri.
"Kakek tua berjenggot putih menghadiahkan padaku sekotak pil Ciak Kim Tan. Aku pikir pil itu dapat menyembuhkan luka kakak,"
Sahut Ciok Giok Yin dengan wajah berseri. Dia mengeluarkan kotak kecil, kemudian mengambil beberapa butir pil Ciak Kim Tan. Akan tetapi, Ho Siu Kouw malah menggelenggelengkan kepala.
"Aku pernah dengar tentang Ciak Kim Tan ini, yang membuat obat ini adalah Tiong Ciu Sin Te. Walau amat berkhasiat, namun tetap tidak bisa menyembuhkan lukaku yang terkena ilmu Sam Im Coat Hoat. Lebih baik simpanlah!"
Seketika hati Ciok Giok Yin menjadi dingin. Suasana di dalam goa itu, berubah menjadi hening. Mendadak Ciok Giok Yin memecahkan keheningan itu.
"Kakak, silakan coba makan sebutir!"
Usai berkata, Ciok Giok Yin membuka kotak kecil itu.
Begitu kotak kecil itu terbuka, seketika tercium aroma yang amat harum menerobos ke dalam hidung.
Ho Siu Kouw terbelalak dengan hati tergetar, sehingga tanpa sadar dia berseru.
"Adik Yin, bawa kemari coba kulihat!"
Ciok Giok Yin cepat-cepat menyodorkan kotak kecil itu ke hadapan Ho Siu Kouw.
Gadis cantik itu menatap ke dalam kotak kecil itu, namun bukan menatap obat Ciak Kim Tan, melainkan menatap buah Ginseng Daging yang bergemerlapan.
"Aku tertolong! Aku tertolong!"
Serunya dengan suara gemetar.
Dia menjulurkan tangannya.
Namun belum sampai dia mengambil ginseng itu, tangannya ditarik kembali, lalu dia memandang Ciok Giok Yin yang berdiri di hadapannya.
Ciok Giok Yin mengira bahwa Ho Siu Kouw merasa tidak enak mengambil obat itu, maka segera berkata.
"Kakak Siu, asal dapat menyembuhkan lukamu, kau boleh ambil obat itu. Kelak kalau aku bertemu kakek tua berjenggot putih, akan minta padanya lagi."
Ciok Giok Yin menyodorkan lagi kotak kecil itu ke hadapan Ho Siu Kouw. Akan tetapi, Ho Siu Kouw tidak mengambil obat tersebut.
"Adik Yin, dari mana kau memperoleh buah ini?"
Katanya dengan suara gemetar. Begitu Ho Siu Kouw mengatakan itu, tersadarlah Ciok Giok Yin, lalu membanting kaki.
"Sungguh mati! Bagaimana aku melupakan buah Ginseng Daging ini? Kakak, cepatlah kau makan! Nanti akan kuberitahukan padamu."
Padahal cukup lama Ciok Giok Yin ikut kakek tua berjenggot putih belajar ilmu pengobatan.
Seharusnya dia tahu akan khasiat buah Ginseng Daging itu.
Namun gara-gara perbuatan Bu Lim Sam Siu yang amat keji itu, kemudian ditambah Ho Siu Kouw menutur masa lalunya, maka dia telah melupakan buah Ginseng Daging tersebut!
Ho Siu Kouw menjulurkan tangannya yang masih gemetar mengambil buah Ginseng Daging itu.
"Adik Yin, dengan adanya buah Ginseng Daging ini, lukaku pasti segera sembuh. Dari mana kau peroleh buah Ginseng Daging ini? Maukah kau memberitahukan padaku?"
Ciok Giok Yin menyimpan kotak kecil itu ke dalam bajunya, lalu menutur tentang kejadian itu.
"Kalau aku tidak memperoleh buah Ginseng Daging ini, mungkin aku sudah mati kelaparan,"
Tambahnya. Mendadak air muka Ho Siu Kouw tampak berubah menjadi hebat.
"Adik Yin, kau harus segera meninggalkan tempat ini."
Ciok Giok Yin tertegun.
"Kakak Siu, apa ada yang tak beres?"
"Mungkin Bu Lim Sam Siu telah kembali."
"Apakah mereka bertiga sudah tahu akan kepalsuan peta pusaka itu?"
"Itu memang mungkin. Aku tidak menyangka mereka bertiga akan begitu cepat kembali. Kau harus segera pergi, jangan sampai peta itu jatuh ke tangan mereka. Kakak tidak mampu melindungimu."
"Lalu bagaimana dengan Kakak?"
Wajah Ho Siu Kouw berubah menjadi bengis.
"Kau tidak usah perdulikan aku, cepat pergi! Apabila kita berjodoh, kelak pasti berjumpa kembali!"
Bentaknya.
Ho Siu Kouw langsung mengibaskan tangannya, mendorong Ciok Giok Yin hingga terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.
Setelah itu, Ho Siu Kouw cepat-cepat makan buah Ginseng Daging itu.
Kemudian peti mati tanpa tutup itu mulai berputarputar seperti gangsingan.
Itu membuat Ciok Giok Yin termundur-mundur lagi.
Walau dia masih kecil, tapi pikirannya telah dewasa.
"Kakak, aku tidak bisa meninggalkanmu!"
Serunya. Tiba-tiba dia mendengar suara yang amat lirih.
"Adik Yin, dengarlah kata-kataku, cepatlah kau pergi!"
Akan tetapi, Ciok Giok Yin memang berhati keras. Dia tidak mau membiarkan Ho Siu Kouw mati di tangan Bu Lim Sam Siu. Oleh karena itu, dia tetap tidak mau pergi.
"Pokoknya aku tidak mau pergi!"
Katanya dengan tegas. Peti mati itu berhenti berputar, Ciok Giok Yin mendekatinya seraya berkata.
"Aku mau tetap di sini menemani kakak. Kalau Bu Lim Sam Siu kembali, aku akan menghadapi salah satu di antara mereka, yang dua biar kakak yang hadapi."
Ho Siu Kouw menatapnya, sambil menghela nafas panjang.
"Kalau kau tidak mau dengar kata-kata kakak, selanjutnya kita tidak usah berjumpa lagi!"
Katanya perlahan. Hati Ciok Giok Yin tersentak.
"Kakak, aku... aku pasti dengar kata-katamu!"
"Kalau begitu, cepatlah tinggalkan tempat ini!"
"Tidak. Aku harus membantumu menghadapi Bu Lim Sam Siu."
Tiba-tiba wajah Ho Siu Kouw berubah menjadi dingin sekali.
"Apakah kau telah melupakan tata krama lelaki dengan wanita?"
Katanya sengit.
"Kita sudah menjadi kakak adik,"
Sahut Ciok Giok Yin.
"Tapi Bu Lim Sam Siu tidak akan mengatakan demikian, lagi pula kita bukan kakak adik kandung. Kalau tersiar kedunia persilatan, bagaimana kakak jadi orang kelak?"
Ciok Giok Yin tertegun dan langsung membungkam. Ho Siu Kouw segera melanjutkan ucapannya.
"Kau kira setelah makan buah Ginseng Daging dan memperoleh hawa murni dari Phing Phiauw Khek, lalu bisa melawan pesilat tinggi rimba persilatan? Kau telah keliru, sebab kau belum mengerti ilmu silat, juga tidak tahu harus bagaimana mengerahkan lwee kang. Karena itu, meskipun kau memiliki lwee kang tinggi itu, boleh dikatakan tetap tiada gunanya."
Ciok Giok Yin tetap diam.
"Kalau kau berkeras ingin tetap berada di sini, aku sama sekali tidak bisa melindungimu, maka akan merepotkanku. Apabila kau tertangkap oleh mereka, bukankah kau akan kehilangan peta pusaka itu?"
Apa yang dikatakan Ho Siu Kouw memang masuk akal, juga demi kepentingan Ciok Giok Yin.
Akan tetapi, Ho Siu Kouw justru terbentur Ciok Giok Yin yang berhati amat keras, sama sekali tidak berniat pergi.
Ho Siu Kouw mengerutkan kening, kemudian berkata sepatah demi sepatah.
"Baiklah! Kalau kau tidak mau pergi, aku yang pergi."
Bersamaan itu, peti mati tersebut mulai berputar lagi.
Berselang sesaat, terdengar suara yang memekakkan telinga.
Bum!
Bum!
Setelah suara itu hilang, peti mati dan Ho Siu Kouw pun sudah tidak kelihatan lagi.
Ciok Giok Yin terperangah.
Dia mengucek matanya.
Setelah itu, dia melihat dinding goa di hadapannya telah merosot ke bawah.
Dia cepat-cepat berlari ke sana seraya berseru-seru.
"Kakak! Kakak...!"
Namun dinding goa itu tidak bergerak lagi, dan meskipun Ciok Giok Yin terus berteriak, tetap tiada sahutan.
"Kakak! Kakak! Kakak...!"
Ciok Giok Yin berdiri termangumangu.
Berselang beberapa saat, barulah dia meninggalkan goa itu.
Sampai di luar, tampak bintang-bintang bergemerlapan di langit, ternyata hari sudah tengah malam.
Angin dingin terus berhembus.
Salju tak henti-hentinya beterbangan.
Tempat itu gelap gulita kelihatan amat menyeramkan.
Suasana yang begitu, sungguh membuat orang merasa merinding.
Selama ini, Ciok Giok Yin belum pernah mengalami suasana seperti itu, maka bulu kuduknya menjadi bangun.
Ciok Giok Yin berpikir, apabila di saat ini muncul binatang buas, mungkin dirinya....
Dia tidak berani memikirkan itu, dan segera mengambil langkah seribu tanpa arah tujuan.
Walau sedang berlari kencang, tapi Ciok Giok Yin juga berpikir, Ho Siu Kouw mengatakan bahwa Bu Lim Sam Siu akan segera kembali, tapi kenapa tidak melihat jejak mereka bertiga?
Tentunya Ho Siu Kouw punya tujuan lain.
Itu membuat Ciok Giok Yin merasa malu hati, karena dia bersungguh-sungguh ingin membela gadis cantik itu, namun sebaliknya gadis cantik itu malah tidak mengubrisnya.
Apakah peta pusaka yang diberikannya juga palsu?
Ciok Giok Yin terus berpikir, Ho Siu Kouw sengaja mendesaknya pergi, lalu menyimpan peta pusaka yang asli.
Ini memang mungkin!
Sebab kakek tua berjenggot putih pernah mengatakan padanya, bahwa 'Hati Wanita Merupakan Jarum Didasar Laut' sulit sekali diraba maupun dirasakan.
Hari ini berjumpa Ho Siu Kouw, membuktikan memang benar apa yang pernah dikatakan kakek tua berjenggot putih.
Berpikir sampai di situ, Ciok Giok Yin merasa amat gusar.
Ketika dia baru mau merogoh ke dalam bajunya mengambil bungkusan pemberian Ho Siu Kouw untuk dibuang, mendadak terdengar suara bentakan dingin di belakangnya.
"Berhenti!"
Ciok Giok Yin langsung berhenti sekaligus membalikkan badannya, dan seketika juga hatinya tersentak.
Ternyata Bu Lim Sam Siu telah berdiri di belakangnya.
Lengan Singkoan Yun San telah dibalut, sepasang matanya menyorot bengis, terus menatap Ciok Giok Yin dengan tajam.
Begitu pula Kwee Sih Cun, kelihatan berjaga-jaga agar Ciok Giok Yin tidak melarikan diri.
Cu Cing Khuang berdiri agak mendekati Ciok Giok Yin, wajahnya tampak dingin sekali.
"Bocah, siapa namamu?"
"Ciok Giok Yin."
"Ciok Giok Yin?"
"Tidak salah! Apakah ada yang palsu?"
Tiba-tiba Cu Cing Khuang berkata dengan lembut.
"Aku lihat kau bertulang bagus dan berbakat, maka aku ingin menerimamu jadi muridku."
"Terimakasih atas maksud baikmu."
"Apakah kau tidak bersedia?"
"Betul."
Cu Cing Khuang tidak gusar atau tersinggung oleh sahutan Ciok Giok Yin yang amat ketus itu.
"Kalau kau berguru padaku, dalam waktu tiga lima tahun, kau pasti menjadi seorang pendekar muda yang terkenal,"
Katanya lembut.
Ciok Giok Yin telah menyaksikan perbuatan Bu Lim Sam Siu di dalam Goa Toan Teng Tong, sehingga timbul kesan buruk terhadap mereka bertiga.
Seandainya Ciok Giok Yin tidak menyaksikan itu, pasti dia akan mengangkat Bu Lim Sam Siu sebagai suhunya.
Akan tetapi, lantaran kejadian di dalam Goa itu, maka Ciok Giok Yin menganggap mereka bertiga sebagai penjahat, maka tidak heran kalau Ciok Giok Yin amat membenci mereka.
"Terus terang, aku sama sekali tidak tertarik pada kalian bertiga,"
Sahutnya. Air mukaa Cu Cing Khuang langsung berubah.
"Hmm! Dasar tak tahu diri!"
"Buat apa banyak bicara padanya?"
Selak Siang-koan Yun.
Cu Cing Khuang menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian maju dua langkah.
Saat ini Ciok Giok Yin berdiri tak jauh dari pinggir mulut jurang yang amat dalam.
Jurang itu tidak tampak dasarnya, karena tertutup kabut tebal, dan Ciok Giok Yin tidak tahu tentang itu.
Apa sebabnya Bu Lim Sam Siu ingin mengangkatnya sebagai murid?
Apa tujuan mereka bertiga?
Hanya itu yang dipikirkannya.
Dia ingin melarikan diri, namun situasi di depan matanya tidak memungkinkannya untuk melarikan diri, maka membuatnya menjadi gugup dan agak panik.
Apabila dia tidak dapat melarikan diri, tentu akan celaka di tangan Bu Lim Sam Siu.
Di saat Ciok Giok Yin sedang berpikir, justru Cu Cing Khuang membuka mulut.
"Bocah! Kau datang dari Goa Toan Teng Tong?"
"Tidak salah."
"Kau sudah memperoleh peta Si Kauw Hap Liok Touw?"
Hati Ciok Giok Yin tersentak.
Kini dia baru tersadar apa sebabnya Bu Lim Sam Siu ingin mengangkatnya sebagai murid, ternyata karena peta pusaka tersebut.
Sungguh licik sikap mereka!
Wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi dingin.
"Bagaimana kalau aku sudah memperoleh, dan bagaimana kalau belum?"
Sahutnya seperti bertanya. Wajah Cu Cing Khuang tampak berseri-seri.
"Bocah! Kami bertiga tidak berniat jahat terhadapmu. Kalaupun kau memperoleh peta itu juga percuma. Lebih baik kau serahkan padaku. Peta itu akan kusimpan, kelak setelah kau berkepandaian tinggi, barulah kami kembalikan padamu."
Mendengar ucapan itu Ciok Giok Yin langsung tertawa gelak.
"Bu Lim Sam Siu, kalian bertiga terhitung Bu Lim Cianpwee. Tapi kalian telah menganiaya seorang gadis demi mendapatkan peta itu. Kini kalian malah memfitnahku memperoleh peta tersebut, sebetulnya apa tujuan kalian?"
Cu Cing Khuang tertawa licik.
"Bocah! Yang kudapatkan adalah peta palsu, sedangkan kau memperoleh aslinya. Maka kalau kau ingin menjaga peta itu, terlebih dahulu harus belajar kungfu yang tinggi. Kalau tidak, kemungkinan besar nyawamu juga akan melayang."
"Bocah! Kau sudah peroleh peta itu?"
Sambung Kwee Sih Cun.
"Kentut! Siapa bocah?"
Kwee Sih Cun mengerutkan kening, lalu menjulurkan kelima jarinya, kelihatannya dia ingin.... Akan tetapi, Cu Cing Khuang segera membentak mencegahnya.
"Tunggu, Lo Sam!"
Kemudian dia memandang Ciok Giok Yin.
"Bocah, lebih baik serahkan peta itu!"
Katanya.
"Tidak bisa!"
"Tentunya kau tahu, dirimu tidak bisa melarikan diri!"
"Kalian mau apa?"
Siangkoan Yun San mendengus.
"Hmm! Apabila perlu, kami pasti membunuhmu!"
Mendengar itu, Ciok Giok Yin bukannya gemetar atau takut, tapi sebaliknya malah menjadi lebih berani.
"Kalau kelak aku tidak membunuh kalian bertiga, aku bersumpah tidak mau jadi orang!"
Bentaknya sengit sambil melotot. Ciok Giok Yin mengepalkan tinjunya, siap untuk berkelahi. Menyaksikan sikapnya, Cu Cing Khuang tertawa gelak.
"Sayang sekali, kau sudah tidak punya kesempatan lagi!"
"Hari masih panjang, kesempatanpun masih banyak!"
"Tapi hari ini kau tidak dapat lolos dari tangan kami, maka hari amat pendek bagimu."
"Kalaupun aku jadi hantu, tidak akan mengampuni kalian bertiga!"
Ciok Giok Yin berkata dengan gusar sekali, tampaknya ingin sekali membunuh Bu Lim Sam Siu. Akan tetapi, dia tahu jelas bahwa dirinya tidak mengerti ilmu silat, maka tidak berani melancarkan serangan.
"Itu urusan lain, sekarang kau serahkan tidak?"
Kata Cu Cing Khuang.
"Tidak!"
"Kau jangan menyesal!"
"Apa yang harus kusesalkan?"
"Kau masih muda, kenapa harus menyia-nyiakan nyawamu? Kau masih punya masa depan, mengapa harus berkorban demi peta itu?"
"Kalau begitu, mengapa kalian menginginkan peta itu?"
"Karena kami memiliki kepandaian tinggi, tentunya dapat melindungi peta tersebut!"
Berdasarkan apa yang dikatakan Bu Lim Sam Siu, tentunya yakin peta pusaka itu berada pada Ciok Giok Yin.
Karena itu, mereka bertiga terns mendesaknya.
Peta pusaka itu memang menjadi impian setiap kaum rimba persilatan.
Kini peta pusaka tersebut berada di depan mata mereka, bagaimana mungkin mereka melepaskannya?
"Apakah kalian yakin aku tidak mampu menjaga peta itu?"
Kata Ciok Giok Yin dengan gusar.
"Tentu yakin! Sebab kami telah menyaksikan kepandaianmu!"
Sahut Cu Cing Khuang. Ciok Giok Yin mendengus dingin.
"Hmmm! Aku dapat menjaga atau tidak, itu urusanku! Tidak perlu kalian berbaik hati men-cemaskannya!"
"Kau sungguh keras hati dan keras kepala!"
"Kalian ingin rebut, sungguh tebal muka kalian bertiga!"
Kata Ciok Giok Yin menyindir.
Apa yang dikatakan Ciok Giok Yin, sungguh menyinggung perasaan Bu Lim Sam Siu.
Mendadak Kwee Sih Cun menjulurkan kelima jarinya, sepasang matanya menyorotkan sinar kebengisan sambil mencengkeram lengan Ciok Giok Yin.
Namun di saat kelima jari itu hampir berhasil mencengkeram lengan Ciok Giok Yin, sekonyong-konyong terdengar suara siulan yang amat nyaring, yang disusul oleh serangkum angin yang amat kuat menerjang ke jalan darah Siauw Yauw Hiat Kwee Sih Cun.
Bukan main terkejutnya Kwee Sih Cun!
Kalau pun seandainya dia berhasil mencengkeram lengan Ciok Giok Yin, namun nyawanya juga akan melayang.
Kwee Sih Cun pasti lebih mementingkan nyawanya, maka dia bergerak cepat meloncat ke belakang, justru tepat berada di pinggir mulut jurang, menyebabkannya mengucurkan keringat dingin.
Kwee Sih Cun memandang ke depan, ternyata seorang wanita buruk rupa berpakaian merah berdiri di sana, menatap bengis pada Bu Lim Sam Siu.
Begitu melihat wanita itu, Bu Lim Sam Siu berseru kaget serentak.
"Heng Thian Ceng (Wanita Pendendam Langit)!"
Mereka menyurut mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pias, kelihatannya takut pada wanita itu. Heng Thian Ceng tertawa dingin, kemudian membentak sengit.
"Mata kalian masih belum buta, cepat enyah kalian!"
"Bocah ini... aku... ingin mengangkatnya menjadi murid...,"
Kata Cu Cing Khuang gagap. Heng Thian Ceng langsung membentak keras, memutuskan perkataan Cu Cing Khuang.
"Kalian masih tidak pantas, cepat enyah!"
Mendadak Hang Thian Ceng mengibaskan tangannya, dan seketika tampak salju meluncur secepat kilat ke arah Bu Lim Sam Siu.
Bukan main terkejutnya Bu Lim Sam Siu.
Mereka bertiga cepat-cepat berkelit, lalu kabur terbirit-birit.
Ciok Giok Yin yang menyaksikan itu, juga amat terkejut.
Entah siapa wanita buruk rupa ini, hingga Bu Lim Sam Siu yang amat terkenal itu kelihatan amat takut padanya.
Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam, dia ingin meninggalkan tempat itu, tapi ketika dia baru mau melangkah, mendadak terdengar suara bentakan yang amat dingin di belakangnya.
"Berhenti!"
Ciok Giok Yin langsung membalikkan badannya perlahanlahan, kemudian memandang wanita buruk muka itu dengan rasa takut.
"Siapa namamu?"
Tanya Hong Thian Ceng sambil menatapnya dengan tajam sekali.
"Ciok Giok Yin."
"Mengapa Bu Lim Sam Siu berada di sini menyusahkanmu?"
"Lo cianpwee, aku dan mereka bertiga sama-sama memasuki Goa Toan Teng Tong. Mereka bertiga melukai seorang nona di dalam goa itu, lalu mencari suatu barang yaitu sebuah peta. Mereka bertiga cepat-cepat pergi, namun kemudian kembali lagi, ingin menerimaku jadi murid."
Heng Thian Ceng mengerutkan kening.
"Benarkah urusan itu? Kau melihat mereka mengambil peta pusaka itu?"
"Aku melihat dengan mata kepala sendiri."
"Baik. Kau tunggu aku di sini, tidak boleh pergi!"
Heng Thian Ceng langsung melesat pergi, dan sekejap sudah tidak tampak bayangannya.
Ternyata Ciok Giok Yin menggunakan siasat harimau menelan srigala, agar Heng Thian Ceng membunuh Bu Lim Sam Siu.
Siasatnya itu berhasil, namun dia justru tidak memikirkan akibatnya.
Ketika dia baru mau meninggalkan tempat itu, mendadak di hadapannya muncul tiga orang, yang tidak lain adalah Bu Lim Sam Siu.
"Bocah! Tak disangka kau pandai menggunakan siasat! Tapi malam ini kau tidak bisa hidup lagi!"
Kata Cu Cing Khuan dingin sambil menatapnya dengan bengis.
Mendadak Bu Lim Sam Siu melangkah maju, lalu menjulurkan jari tangan mencengkeramnya.
Ciok Giok Yin tahu bahwa dirinya dalam keadaan bahaya.
Maka, dia cepat-cepat mencelat ke belakang.
Tetapi tiba-tiba badannya merosot ke bawah, ternyata kakinya menginjak tempat yang kosong, yaitu jurang yang amat dalam.
Betapa terkejutnya Ciok Giok Yin.
"Haaah...?"
Teriaknya. Suara teriakannya mengandung ketakutan, sedih dan putus asa. Cu Cing Khuang menghempas kaki seraya bergerutu.
"Peta pusaka itu, akan lenyap selama-lamanya."
Kwee Sih Cun dan Siangkoan Yun San menggeleng-gelengkan kepala.
Mereka bertiga melongok ke dalam jurang, setelah itu barulah melesat pergi.
Suasana di tempat itu kembali menjadi hening, sedangkan Ciok Giok Yin yang terjatuh ke dalam jurang pun sama sekali tiada suaranya....
Jilid 03 Bu Lim Sam Siu melesat pergi dengan wajah muram.
Ternyata mereka bertiga tahu bahwa di dasar jurang itu adalah Tok Coa Kok (Lembah Ular Beracun).
Burung apa pun yang terbang melewati lembah itu, pasti mati terkena hawa beracun.
Sedangkan Ciok Giok Yin terjatuh ke dasar jurang itu, bagaimana mungkin masih bisa hidup?
Lembah itu penuh berbagai macam ular beracun.
Orang yang berkepandaian amat tinggi pun, kalau terjatuh ke dasar jurang itu, tidak akan bisa hidup.
Bu Lim Sam Siu tidak menaruh dalam hati mengenai mati hidupnya Ciok Giok Yin.
Mereka bertiga hanya merasa sayang, peta pusaka itu akan lenyap selama-lamanya di dasar jurang tersebut.
Bagaimana keadaan Ciok Giok Yin?
Apakah dia akan mati di dasar jurang itu?
Ketika badannya merosot ke bawah, dia masih sempat berteriak.
Tak lama dia sudah ditelan kabut tebal, namun kesadarannya belum kabur.
Dia melihat sekelilingnya amat gelap, akhirnya dia berkeluh.
"Habislah!"
Usai berkeluh, diapun pingsan.
Entah berapa lama kemudian, perlahan-lahan dia mulai siuman.
Tetapi dia tidak membuka matanya.
Hatinya terasa hampa, tidak memikirkan apa-apa dan tidak merasa apa-apa pula.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah kesadarannya mulai pulih.
Dia berpikir, saat ini dia tidur dimana?
Mendadak terlintas sesuatu dalam benaknya, ternyata dia sudah ingat apa yang telah terjadi.
Dirinya diserang Bu Lim Sam Siu hingga terjatuh ke dalam jurang, mungkin kini sudah berada di alam baka.
Dia ingat akan apa yang pernah dikatakan kakek tua berjenggot putih, bahwa orang mati tidak akan merasa sakit.
Kalau begitu, saat ini dia pasti tidak merasa sakit.
Mendadak hatinya tergerak, dan berkata.
"Mengapa aku tidak menggigit jariku untuk mencobanya?' Ciok Giok Yin segera menggigit jari tangannya, ternyata masih merasa sakit sekali.
"Apa gerangan yang telah terjadi? Aku... aku belum mati?"
Gumamnya. Dia menengok kesana kemari, tiba-tiba terdengar suara yang amat dingin.
"Bocah! Kalau bukan lohu (Aku Orang Tua), tulangmu pasti telah remuk semua."
Ciok Giok Yin mendengar dengan jelas suara itu.
Dia cepatcepat bangun, tapi sekujur badannya terasa sakit sekali.
Ternyata di sisinya duduk seorang tua rambut dan jenggot amat panjang serta putih awut-awutan.
Orang tua itu mengenakan pakaian kasar yang amat kumal dan lusuh, sepasang matanya merah membara, mirip raja iblis.
Setelah mendengar ucapannya, Ciok Giok Yin tahu bahwa orangtua itu yang telah menyelamatkan nyawanya.
Maka dia segera berlutut di hadapannya.
"Terimakasih lo cianpwee telah menyelamatkan nyawa...,"
Ucapnya. Belum juga Ciok Giok Yin usai berkata, orang tua aneh itu sudah membentak keras.
"Orang masih kecil tapi tahu kesopanan!"
Orang tua aneh itu mengangkat sebelah tangannya.
Bukan main!
Dia seperti main sulap.
Ternyata badan Ciok Giok Yin telah terangkat ke atas.
Apa boleh buat Ciok Giok Yin terpaksa berdiri, namun dengan sikap yang hormat.
Orang tua aneh itu menatapnya.
"Bocah, bagaimana kau terjatuh ke dalam lembah Tok Coa Kok ini?"
"Tok Coa Kok?"
"Kau tidak tahu?"
Sekujur badan Ciok Giok Yin merinding. Dia menggeleng kepala. Orang tua aneh itu menunjuk ke suatu tempat seraya berkata.
"Kau lihat!"
Ciok Giok Yin segera memandang ke tempat yang ditunjuk oleh orangtua aneh. Ternyata di sana tampak begitu banyak tulang-belulang ular. Walau cuma merupakan tulang belulang, tapi tetap amat mengerikan.
"Bagaimana ular-ular beracun itu mati di sini?"
Tanya Ciok Giok Yin.
"Itu karena perbuatanku,"
Sahut orang tua aneh.
"Lo cianpwee yang membunuh ular-ular beracun itu?"
"Kau tidak percaya?"
"Bukan tidak percaya. Melainkan... begitu banyak ular beracun, bagaimana cara membunuhnya?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku,"
Kata orang tua aneh dengan dingin.
Ciok Giok Yin segera menutur tentang kejadian yang dialaminya, namun tidak menyinggung tentang Ho Hong Hoa dan peta pusaka Si Kauw Hap Liok Touw.
Setelah mendengar penuturan Ciok Giok Yin, orang tua aneh itu menggelenggelengkan kepala, lalu bergumam tapi sepertinya ditujukan pada Ciok Giok Yin.
"Bu Lim Sam Siu turun tangan jahat terhadapmu, itu merupakan kejadian yang amat aneh sekali!"
Mendadak sepasang matanya menyorot dingin.
"Dusta!"
Bentaknya. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, sehingga tanpa sadar kakinya menyurut mundur selangkah.
"Aku menutur sejujurnya. Karena aku memandang rendah mereka, tidak sudi menjadi murid mereka, maka mereka amat gusar dan ingin menangkapku. Karena itu aku meloncat mundur, akhirnya terjatuh ke dalam jurang ini."
Orang tua aneh itu manggut-manggut.
"Ini masih masuk akal."
Dia menunjuk tanah di hadapannya.
"Bocah duduklah di sini!"
Ciok Giok Yin tidak tahu apa maksudnya, namun menurut dan duduk di hadapan orang tua aneh itu.
Akan tetapi, walau Ciok Giok Yin sudah lama duduk di situ, orang tua aneh itu sama sekali tidak bersuara.
Itu membuat Ciok Giok Yin tidak sabaran.
"Lo cianpwee, mengapa lo cianpwee tinggal di sini?"
Katanya. Orang tua aneh itu mengerutkan kening, kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.
"Pernahkah kau dengar, di dunia persilatan terdapat orang yang dijuluki Sang Ting It Koay (Satu Siluman Di Jagat)?"
Ciok Giok Yin belum pernah berkecimpung di dunia persilatan, tentunya tidak tahu tokoh-tokoh besar dunia persilatan.
Lagi pula kakek tua berjenggot putih tidak pernah menceritakannya.
Maka ketika orang tua aneh bertanya demikian padanya, dia cuma menggeleng-gelengkan kepala.
"Lo cianpwee, aku tidak pernah mendengarnya."
Orang tua aneh itu tampak tertegun.
"Berapa usiamu sekarang?"
"Enam belas."
"Kau berdusta lagi."
"Aku tidak berdusta, aku berkata sesungguhnya. Usiaku memang baru enam belas."
Orang tua aneh itu menatapnya dengan penuh perhatian.
"Melihat mukamu, kini kau harus berusia sembilan belas, tidak mungkin akan salah."
Ciok Giok Yin tersenyum.
"Usiaku memang baru enam betas, tapi... aku pernah makan buah Ginseng daging...."
Mendengar itu, orang tua aneh tersebut tampak tersentak.
"Apa? Ginseng Daging?"
Ciok Giok Yin mengangguk.
"Tidak salah. Setelah makan Ginseng Daging, di tantian terasa ada hawa panas, akhirnya aku pingsan. Setelah siuman, barulah aku tahu diriku bertambah besar dan tinggi."
"Bocah, kau sungguh beruntung! Sebab mulai sekarang kau akan awet muda."
Orang tua aneh itu terus menatapnya dengan mata tak berkedip, kemudian manggut-manggut.
"Pantas kau tidak pernah dengar nama itu! Lohu adalah Sang Ting It Koay."
"Bagaimana lo cianpwee bisa tinggal di sini?"
"Empat belas tahun yang lampau, aku dikeroyok oleh Kang Ouw Pat Kiat (Delapan Pendekar Sejati Dunia Persilatan) dan para pesilat tinggi dari berbagai partai besar rimba persilatan, dan aku nyaris mati di tangan mereka. Untung aku menggunakan ilmu Ku Sip Tay Hoat (Nafas Kura-Kura), maka mereka mengira aku sudah mati."
"Di mana lo cianpwee dikeroyok?"
"Di puncak Gunung Muh San."
"Tapi... kenapa lo cianpwee tinggal di sini?"
"Sesungguhnya lohu ingin ke sebuah goa, namun ketika di tengah jalan, lukaku yang beracun mulai kambuh, membuatku sulit melakukan perjalanan. Aku terus memaksakan diri, akhirnya malah sampai di lembah Tok Coa Kok ini."
Orang tua aneh itu menghela nafas, kemudian melanjutkan.
"Lohu amat kesal, melihat banyak ular beracun di lembah ini, maka lohu menggunakan ilmu Sam Yang Hui Kang (Tenaga Sakti Tiga Matahari) membunuh semua ular beracun itu, dan terlampiaslah rasa kekesalanku."
Berkata sampai di sini, orang tua aneh itu mengatur pernafasannya.
Sedangkan Ciok Giok Yin berkata dalam hati.
'Kelihatannya orang tua ini berkepandaian amat tinggi, tapi mengapa aku tidak....' Mendadak Sang Ting It Koay melanjutkan penuturannya.
"Setelah lohu membunuh semua ular beracun itu, diri lohu keracunan. Lohu beristirahat beberapa hari, akhirnya sepasang kaki lohu membusuk. Lohu ingin meninggalkan tempat ini, tapi sudah tidak mungkin, maka lohu tinggal di sini. Tak terasa sudah empat belas tahun, tak terduga kau malah terjatuh kemari."
Ciok Giok Yin tertegun, sehingga tanpa sadar dia bertanya.
"Empat belas tahun?"
"Kau tidak percaya?"
"Percaya."
Sesungguhnya dalam hati Ciok Giok Yin ada rasa kurang percaya.
Bagaimana mungkin orang tak punya sepasang kaki, bisa hidup di dalam lembah seperti ini hingga empat betas tahun lamanya?
Oleh karena itu, Ciok Giok Yin menengok kesana kemari.
Ciok Giok Yin pernah belajar ilmu pengobatan, maka dia tahu bahwa di dalam hutan belantara, pasti terdapat rumput obat yang dapat membuat orang tahan lapar.
Namun di tempat itu tidak terdapat rumput obat tersebut.
Sang Ting It Koay terus memperhatikan gerak-gerik Ciok Giok Yin.
"Bocah, kau melihat apa?"
Wajah Ciok Giok Yin agak kemerah-merahan, dan dia tak dapat menyahut.
"Bocah, kau sedang mencari apa yang kumakan bukan?"
Wajah Ciok Giok Yin bertambah merah, akhirnya dia manggut-manggut.
"Lo cianpwee, tempat ini...."
Mendadak Sang Ting It Koay menyambar Ciok Giok Yin.
"Jalan!"
Serunya.
Sang Ting It Koa masih dalam posisi duduk, namun sebelah tangannya menepuk tanah.
Seketika badannya melambung ke atas, sedangkan sebelah tangannya masih memegang bahu Ciok Giok Yin, maka Ciok Giok Yin ikut melambung ke atas.
Tidak seberapa lama, mereka berdua melayang ke dalam sebuah goa.
Tampak kabut tebal menyelimuti goa tersebut.
Akan tetapi, setelah memasuki goa itu, justru terasa hangat sekali, membuat Ciok Giok Yin terheran-heran.
Sang Ting It Koay duduk di atas batu besar, di hadapannya terdapat sebuah sumur, dan tampak kabut putih mengepul ke luar dari sumur itu.
"Bocah, itu adalah makanan lohu,"
Katanya sambil menunjuk sumur itu. Kemudian dia menatap Ciok Giok Yin.
"Itu adalah susu bumi, khasiatnya melebihi makanan apapun."
Tiba-tiba Ciok Giok Yin menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sang Ting It Koay.
"Mohon lo cianpwee sudi...,"
Ucapnya. Akan tetapi Sang Ting It Koay mengibaskan tangannya.
"Kalau kau ingin menjadi muridku, harus mencoba dulu bagaimana rasanya susu bumi itu."
Kibasan tangan Sang Ting It Koay membuat Ciok Giok Yin terpental ke dalam sumur.
Anak muda itu ingin menjerit, tetapi mulutnya tak dapat dibuka.
Ternyata badannya sudah tenggelam ke dalam sumur itu, cuma tampak kepalanya.
Ciok Giok Yin ingin meloncat ke atas.
Namun jangankan meloncat ke atas, ingin bergerak pun tiada tenaga sama sekali.
Selain badannya tidak bisa bergerak, mulutnya juga tidak dapat bersuara.
Hanya sepasang matanya yang masih bisa bergerak kesana kemari.
Oleh karena itu, Ciok Giok Yin menatap Sang Ting It Koay dengan penuh kebencian.
Akan tetapi, saat ini sepasang mata Sang Ting It Koay sudah terpejam.
Dia duduk di atas batu, kelihatannya seperti telah melupakan urusan di depan matanya.
Bukan main mendongkolnya hati Ciok Giok Yin!
Dia berkertak gigi hingga berbunyi gemeretukan.
Kini dirinya seperti berada di dalam kuali berisi air mendidih.
Apa yang dideritanya saat ini, sulit diuraikan dengan kata-kata.
Di depan matanya, justru muncul bayangan-bayangan masa lalunya.
Di keluarga Tong Keh Cuang, dia dihina dan dipukuli oleh Tong Eng Kang, membuatnya nyaris kehilangan nyawanya.
Terakhir dia bertemu Bu Lim Sam Siu, justru menyebabkannya terjatuh ke dalam jurang.
Kini malah terjatuh ke tangan orang tua aneh, kelihatannya dia akan mati di tempat ini.
Tiba-tiba dia teringat pada Kakak Ping.
Gadis itu entah berada di mana sekarang?
Apakah dia baik-baik saja?
Atau mungkinkah telah dihina oleh Tong Eng Kang?
Bayangan tersebut, sirna perlahan-lahan.
Setelah itu, muncul pula bayangan Ho Siu Kouw, gadis cantik yang tinggal di dalam Goa Toan Teng Tong.
Dia telah makan buah Ginseng Daging, mungkin luka dalamnya telah sembuh.
Namun sepasang kakinya masih dirantai, tentunya dia tidak bisa meninggalkan peti mati itu.
Padahal Ciok Giok Yin berniat mencari sebilah pedang pusaka untuk memutuskan rantai itu, tapi kini cuma merupakan impian belaka.
Sementara rasa panas itu terasa hingga ke dalam tulang, namun dia tetap terendam di dalam sumur tersebut.
Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 6
Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan 6