Ceritasilat Novel Online

Bentrok Rimba Persilatan 6

Eps 6 Bentrok Rimba Persilatan - Khu Lung

Baca online Bentrok Rimba Persilatan - Khu Lung

Cersil Bentrok Rimba Persilatan - Khu Lung.

Seh Tu Hoa pada saat ini mempunyai niat untuk bertempur mati-matian melawan Toan Bok Cie Jien mana mau dia membiarkan Toan Bok Cie Jien demikian meninggalkan tempat ini, tubuhnya yang masih ditengah udara itu dengan sedikit bergeser kaki kanannya dengan perlahan menginjak pada tepi gentong arak dari Toan Bok Cie Jien sedang pedangnya dari jurus "Hui Kiam Seh Jiet"

Segera berubah menjadi "Han Thiat

Cie Sin"

Atau besi dingin menotok hati, pedangnya ditusukan kearah pelipis Toan Bok Cie Jien.

Toan Bok Cie Jien diantara empat iblis sakti menduduki sebagai pimpinan dari mereka.

nama ini juga tidak didapatkan dengan seenaknya, pada saat melancarkan serangan dengan gentong araknya itu, ia telah menduga kalau Seh Tu Hoa dapat menggunakan jurus ini, tubuhnya segera direndahkan sedang tangannya melontarkan gentong arak itu kearah udara.

Seh Tu Hoa tidak menyangka kalau Toan Bok Cie Jien dapat melemparkan gentongnya, sekali lagi ia menarik napas panjang2, tahu-tahu tubuhnya telah terlontar bersama-sama dengan gentong arak itu sejauh tiga kaki lebih, begitu tubuhnya meninggalkan gentong arak itu kaki kirinya segera mencongkel, maksudnya hendak menendang gentong arak ke dalam telaga.

Tetapi Toan Bok Cie Jien pun sejak tadi telah menduga dengan keadaan yang gusar, Seh Tu Hoa dapat berbuat demikian, waktu dia melontarkan gentong araknya bersamaan waktu telah melayang maju, tangan kanannya segera menyambar gentong araknya itu, sedang tangan kirinya dengan cepat dipukulkan kearah Seh Tu Hoa.

Ia yang diserang lagi oleh Toan Bok Cie Jien itu, pedang ditangan kanannya segera menekan ketepi gentong arak itu sedang tubuhnya dengan cepat melayang kesamping.

Baru saja tubuh Toan Bok Cie Jien menginjak tanah, pedang Seh Tu Hoa yang menempel pada gentong arak itu telah melancarkan serangan gencar lagi kearah Toan Bok Cie Jien, nampak hal itu Toan Bok Cie Jien dengan gusar mendengus, gentong araknya sedikit digerakkan, seketika itu juga mengisap pedang di tangan Seh Tu Hoa itu.

Seh Tu Hoa nampak Toan Bok Cie Jien ternyata dia dengan keras ia hendak mengadu tenaga dalamnya dengannya, sudah tentu ia tidak mau mengalah, tubuhnya segera turun keatas tanah, dengan demikian kedua orang itu dengan dibatasi oleh

gentong arak dan pedang telah melakukan pertempuran dengan mengadu tenaga dalam.

Pedang ditangan Seh Tu Hoa sedikit gemetar sedang arak didalam gentong arak Toan Bok Cie Jien juga tak henti2nya memperdengarkan suara arak yang sedang mendidih.

Setelah lewat berapa lama, kedua orang itu masih tetap tegak kaku tak bergerak, Sekonyong-konyong Toan Bok Cie Jien dengan dingin mendengus, kedua matanya memancarkan sinar yang sangat tajam, sedang wajah Seh Tu Hoa segera berubah, dengan pusatkan pikirannya ia tak bergerak sedikitpun.

Dengan perlahan dari dalam gentong arak itu mengepul uap yang sangat panas, sedang pada jidat Seh Tu Hoa penuh dengan air keringat yang telah mengalir keluar.

Nampak hal ini Boen Ching nenjadi terkejut, hal ini dapat membuktikan kalau Toan Bok Cie Jien telah mengubah tenaga dalam Seh Tu Hoa yang dilancarkan kearahnya menjadi uap yang sangat panas sedang Seh Tu Hoa tak dapat berbuat apa-apa lagi, sekalipun dia mempunyai tenaga "Koen Yuen Ciang"

Tetapi karena digunakan bertahan diri keluar batas, sehingga dapat menjadi sedemikian rupa,jika hal ini diteruskan tidak dapat diragukan lagi Seh Tu Hoa tentuakan mengalami kekalahan secara total.

Uap dari arak itu makin lama makin tebal sedang pada wajah paras Toan Bok Cie Jien mulai timbul senyuman yang sangat dingin dan mengejek, kaki kanannya sedikit bergerak memaksa Seh Tu Hoa mundur selangkah kebelakang.

Toan Bok Cie Jien selangkah demi selangkah mendesak Seh Tu Hoa mundur ketepi jurang, sedang tenaga dalam yang dilancarkan Seh Tu Hoa telah dipunahkan oleh Toan Bok Cie Jien sedang meminjam tenaga dalam pada arak didalam gentongnya padahal tenaga yang dilancarkan oleh Toan Bok Cie Jien sedikitpun tak mengalami gangguan apapun juga.

Shie Chiau Nio yang berdiri disamping tak berani maju menolong, dia tahu bahwa lweekang dari kedua orang yang

sedang melakukan pertempuran ditengah kalangan itu jauh lebih tinggi dari lweekangnya sendiri.Jika ia memaksa untuk maju, mungkin malah Toan Bok Cie Jien dapat menggunakan tenaga dua orang yang digabungkan untuk menyerang dirinya.

Pada saat ini Toan Bok Cie Jien masih merupakan orang yang menyerang terus sehingga sekali dia yang menghentikan pertempuran, kalau tidak siapapun tak mungkinakan berhasil untuk melarikannya.

Yuen Fu yang nampak hal itu dalam hatinya diam-diam merasa cemas, jika Seh Tu Hoa benar didesak Toan Bok Cie Jien hingga jatuh ke dalam Telaga Naga Dingin, dengan keadaan lelah dan kehabisan tenaga pastilah ia tak dapat menghindarkan diri dari kematian, kalau demikian halnya, maka keadaannya akan segera berubah dan kedudukannyapun dalam keadaan yang berbahaya.

Dengan cemas teriaknya.

"Tahan aku ada ucapan hendak kukatakan."

Toan Bok Cie tidak memperdulikan padanya, dia tahu pada saat ini segera ia dapat memaksa Seh Tu Hoa jatuh kedalam Telaga Naga Dingin.

sedang orang lain yang hadir ditempat itu tak seorangpun yang dipandang sebelah matapun olehnya.

Seh Tu Hoa yang didesak eedemikian rupa, selangkah demi selangkah ia mundur kebelakang, ditangan kanannya tak hentinya gemetar.

Dapat dilihat dia hampir saja terdesak masuk kedalam telaga, sekonyong-konyong uap dari arak itu menjadi lenyap, Sedang Seh Tu Hoa pun mendapatkan tempat untuk mempertahankan dirinya, dengan keras dia membentak, disaat pedangnya menggetar dengan keras ia mendesak mundur Toan Bok Cie Jien sebanyak dua langkah.

Toan bok Cie Jien tak menyangka kalau arak didalam gentongnya telah habis, tetapi ketika ia menjadi tertegun, segera ia mengerahkan seluruh tenaganya, dalam hatinya dia

berpikir "kalau Seh Tu Hoa tadi telah menggunakan banyak tenaga dalamnya apakah sekarang masih sanggup untuk melawan dirinya ???"

Tetapi "Koen Yuen Ciang"

Nya Seh Tu Hoa bukan saja sangat hebat, bahkan dapat bertahan lama, walaupun dia merasakan sangat ngotot, tetapi tetap bertahan.

Dalam hati Yuen Fu menjadi girang, tetapi diapun juga dapat melihat bahwa Seh Tu Hoa hampir kehabisan tenaga, dengan keras ujarnya kepada Toan Bok Cie Jien.

"Toan Bok cianpwae,jika kau tak menghentikan pertempuran ini lagi,jangan kau salahkan kepadaku kalau kita berdua bersatu padu untuk memaksa kau nyebur ke dalam telaga."

Toan Bok Cie Jien mendongakkan kepalanya tertawa besar, ia menarik kembali gentong araknya, berkali-kali kedua orang itu memangnya mempunyai niat uutuk menghentikan pertempuran itu, diantara suara getaran yang nyaring dua orang itu segera memisahkan diri.

Toan Bok Cie Jien memutarkan kepalanya memandang kearah Yuen Fu, dengan dingin ujarnya.

"Apa kau juga ingin mendesak aku kedalam telaga ?"

Yuen Fu melirik sekejap pada Seh Tu Hoa, dia tahu tentunya Seh Tu Hoa akan memberi bantuan kepadanya, dengan tertawa besar ujarnya.

"Cianpwee mengapa harus berbuat demikian? hioloo itu hingga kini belum muncul,jika ada musuh tangguh datang kemari lagi, dan kita sedang mengadu otot sendiri. bukankah terlalu banyak keenakan bagi mereka datang hanya untuk memungut hasil."

Toan Bok Cie Jien mendengus, ia tak mengucapkan apa-apa lagi, sedang Seh Tu Hoa pada saat ini sedang bersemedi nntuk memulihkan tenaganya, dia sebenarnya mengira kalau

dia tak mungkin kalah ditangan Toan Bok Cie Jien, berani dengan keras mengadu tenaga dalam dengannya, tetapitak disangka ternyata Toan Bok Cie Jien menggunakan sisa araknya untuk mengembalikan setiap pukulannya, sehingga membuatnya kurang sedikit saja terkubur didasar telaga ini, kalau bukannya ada Yuen Fu, walaupun Toan Bok Cie Jien melancarkan serangan gencar sekali lagi, kiranya dia juga tak mempunyai tenaga lagi untuk bertahan.

Toan Bok Cie Jien karena tahu Yuen Fu itu, orangnya sangat licik, sekarang sebaliknya malah dia menguasai keadaan, dengan dingin tanyanya pada Yuen Fu.

"Jika menurut kau harus berbuat bagaimana ?"

Yuen Fu sambil tertawa sahutnya.

"Suruh Boen Ching menuruni telaga ini untuk mengambil hioloo kuno itu"

Dalam hati Boen Ching menjadi tergetar, sedang Toan Bok Cie Jien berpikir demikianpun merupakan cara yang bagus,Boen Ching adalah murid Ie Bok Tocu dilautan timur, kepandaiannya didalam air tentunya sangat mahir sekali, apa lagi tempat untuk menyembunyikan hioloo kuno itu, sungguh merupakan satu hal yang sangat tepat sekali.

Boen Ching nampak seluruh sinar mata ditujukan ketubuhnya ia tak menantikan hingga orang lain membuka mulut, dengan tersenyum ujarnya.

"Demikianpun baik, tapi siapa yang mau menanggung jika aku meloloskan diri dari jalan lain?"

Toan Bok Cie Jien tahu maksud dari Boen Ching, kepada Yuen Fu ujarnya dengan nyaring.

"Dia yang pergi memang merupakan pendapat yang bagus,"

Setelah agak lama sahutnya.

"Itu sih tak usah, masih ada orang yang datang bersamanya, kita buat barang tanggungan saja beres, bukankah tak usah mengkhawatirkan lagi ? ?.."

Sepasang alis Bwe Giok menjadi berdiri, dengan dingin ujarnya.

"Yuen Fu, tahukah kau suhuku Lam Hay Coei Hong telah muncul kembali kedaerah Tionggoan ?

kau haruslah timbang2 dulu kepandaianmu"

Yuen Fu telah mengetahui sejak tadi kalau Bwee Giok adalah murid dari Lam Hay Coei Hong, sekarang mendengar berita itu lagi meskipun dalam hatinya agak terkejut tetapi dengan tertawa besar sahutnya.

"Suhumu datang lagi kedaerah Tionggoan, urusan ini memang sangat menyenangkan hatiku"

Boen Ching tertawa tawar pada Yuen Fu ujarnya.

"Julukan si Kera terbang berwajah riang telah lama aku mendengarnya, aku saat ini turun ke dasar telaga belum tentu dapat naik kembali, disaat sebelum aku masuk kedasar telaga mohon pengajaran barang satu dua jurus darimu"

Sepasang mata Yuen Fu memancarkan sinar yang tajam, dengan tertawa besar ujarnya.

"Engkau pasti ingin aku yang melempar kanmu kedalam telaga, kalau begitu janganlah kau menyalahkan aku lagi."

Boen Ching tertawa2, kepada Toan Bok Cin Jien dan yang lain2 ia memandang sekejap sudah tentu tentang urusan ini Toan Bok Cie Jien tak mau menyinggungnya, Yuen Fu menghendaki dia turun telaga, sudah tentu Boen Ching mempunyai hak untuk bertempur dengannya.

Yuen Fu disebut orang sebagai Si kera terbang berwajah riang, sudah tentu sesuai dengan kepandaian yang dimilikinya, tubuhnya segera bergerak bagaikan terbang menubruk kearah Boen Ching, didalam hatinya ia menganggap tak lebih hanya murid Ie Bok Tocu, sedang kepandaian Ie Bok Tocu dalam urusan murid2 dari Tan Coe Coen adalah yang memiliki kepandaian yang paling rendah, sudah jelas Boen Ching takkan kuat menahan sekali pukulannya.

Boen Ching tertawa dingin, kaki kanannya sedikit mundur kebelakang, dengan sebelah telapaknya memukul mental pukulan yang dilancarkan oleh Yuen Fu.

Dalam hati diam2 Yuen Fu merasa terkejut, kemahiran dan kehebatan lweekang Boen Ching jauh lebih hebat dari yang dipikirkan semula.

Sebenarnya dia mengira dia hanya perlu mengangkat tangan dan kakinya saja dapat dengan mudah melontarkan tubuh Boen Ching kedalam telaga itu.

Tetapi julukannya sebagai si kera terbang berwajah riang, bukanlah didapatkan dengan mudah, berturut-turut dia melancarkan serangkaian serangan sebanyak sepuluh jurus lebih, tetapi Boen Ching pada saat ini bukanlah musuh yang dapat dipermainkan dengan seenaknya.

kedua belah pihak sating serang menyerang hingga saat ini tak dapat diketahui siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Hati Toan Bok Chi Jien diam2 merasa sangat terkejut, kepandaian Boen Ching kalau dibandingkan dengan apa yang diketahui sangat jauh berbeda sekali.

Yuen Fu yang dihadapan banyak orang secara ngotot dapat mengalahkan Boen Ching, membuatnya menjadi sedikit gusar, disaat dia mengerutkan alisnya, seluruh tulang ditubuhnya mengeluarkan suara keras, sedang tubuhnya menjadi lebih pendek setengah depa.

Melihat hal ini dalam hati Boen Ching menjadi terkejut, Yuen Fu terkenal didalam Bulim, semuanya tergantung dalam ilmu Hui Yuen Kang-nya, waktu menggunakan ilmu Hui Kang ini dapat dilakukan secepat kilat, dalam kolong langit kiranya pada saat ini tak ada yang dapat menandinginya.

begitu Yuen Fu memendekkan tubuhnya, bagaikan terbang ia menubruk kearah Boen Ching, ia menjadi terkejut segera menggunakan ilmu "Sie Liu Eng Hong"

Memunahkan musuh. Tetapi Yuen Fu yang dalam satu jurus tak berhasil mencapai sasaran, kedua tangannya mendayung ditengah udara, bagaikan kilat cepatnya memutar kebelakang tubuh Boen Ching,

sedang dirinya menotok kejalan darah "Ling Tay To"

Dipunggung Boen Ching.

Boen Ching dengan membelakangi tubuh melancarkan tendangan dengan sebelah kakinya menendang kearah Yuen Fu.

Tubuh Yuen Fu bagaikan bayangan setan berkelebat menubruk kearah Boen Ching dengan hebatnya.

Kedua kaki Boen Ching itu berturut-turut melancarkan serangan tendangan, tetapi tetap terdesak oleh Yuen Fu sehingga berulang ulang mundur kebelakang dan dalam hatinya diam2 merasa terkejut.

Nama si kera terbang berwajah riang sungguh bukanlah merupakan nama yang kosong, kecepatan tubuh dalam bertempur jarak dekat sungguh diluar dugaan orang.

Yuen Fu mendesak Boen Ching hingga berada ditepi telaga Naga Dingin, sedang pada mulutnya tak henti2-nya memperdengarkan suara tertawa dingin.

Sepasang kaki Boen Ching tak bergerak lagi, sedang kedua telapaknya berturut-turut melancarkan serangan, dia tahu jika dia mundur selangkah lagi, pastilah teejatuh kedalam telaga.

Yuen Fu mengulurkan tangannya mencekal tangan kanan Boen Ching.

Boen Ching menjadi terkejut, segera ia balikkan tangannya mencekal tangan Yuen Fu.

Yuen Fu tak menduga kalau gerakan Boen Ching ini dilakukan demikian cepatnya, tangan kanannya segera dikencangkan dan mendahului selangkah dari Boen Ching, mencekal urat nadi.

Urat nadi tangan kanan Boen Ching dicekal tangan kirinya segera dipukulkan kedada Yuen Fu.

Yuen Fu tertawa dingin, tangan kanannya didorong, maksudnya hendak mendorong Boen Ching jatuh kedalam telaga.

Tetapi Boen Ching telah rajin melatih ilmu "Thay Thien Kioe Sih"

Nya, sedang jurus-jurus dari ilmu Thay Thien Kioe Sih itu kebanyakan digunakan untuk menolong diri dari serangan musuh, dan menyerang musuh dalam keadaan yang kritis, Yuen Fu mendorong ia menerka pasti dapat mendorong

jatuh Boen Ching kedalam telaga tetapi Boen Ching dalam keadaan yang bahaya itu tidak menjadi kacau, disaaat tubuhnya menjatuhkan diri kebelakang, kaki kanannya disontekkan keluar, sedang tangan kanannya dibalikkan melemparkan tubuh Yuen Fu ketengah telaga.

Yuen Fu tidak mengira kalau Boen Ching dalam keadaan yang kritis itu masih dapat menolong dirinya sambil menyerang pada musuh, ia yang disontek dan dilempar ini telah terlempar sejauh puluhan kaki dan jatuh ketengah telaga.

Tetapi Boen Ching sendiripun terpeleset jatuh kedalam telaga, tangan kirinya secepat kilat memegang sebuah batu besar sedang tubuhnya menyelonong ketepi pantai.

Tubuh Yuen Fu yang jatuh ketengah telaga hanya terdengar suara yang sangat perlahan, kemudian tenang tak ada suara lagi.

Orang-orang yang ada ditepi telaga itu menjadi terkejut, kepandaian Yuen Fu juga tidak dapat dihitung rendah, dia yang jatuh kedalam telaga seharusnya muncul kembali di atas air, tetapi kini setelah masuk kedalam air, ternyata tak dapat tanda-tanda apapun juga.

Toan Bok Cie Jien dan Seh Tu Hoa dengan termangu-mangu memandang ketengah telaga.

Hati Boen Ching pun merasa sedikit berat, dia tak mengetahui, Yuen Fu sebenarnya bagaimana sekarang ini.

Hay Gwat Thaysu memberitahukan kepada nya bahwa hioloo itu telah tenggelam kedasar telaga sudah tentu takkan muncul kembali.

ini membuktikan kalau telaga Naga Dingin ini tidak seperti telaga yang biasa nya, sudah terang Yuen Fu yang jatuh kedalam telah menemui bahaya.

Setelah lewat entah berapa waktu, dari tengah telaga tetap tak ada gerak gerik atau tanda tanda apapun juga.

Toan Bok Cie Jien tertawa dingin, kepada Boen Ching ujarnya.

"Kemajuan yang kau capai dalam melatih kepandaianmu sungguh cepat sekali"

Boen Ching dengan tawar sahutnya.

"Itu sih tak berarti apa-apa"

Toan Bok Cie Jien mendengus, ujarnya lagi.

"Dia telah turun kedasar telaga, sekarang seharusnya adalah giliranmulah yang turun"

Dalam hati Bwee Giok menjadi tergetar, ujarnya.

"Dia yang turun?? mengapa kau sendiri tak turun ?"

Toan Bok Cie Jien dengan dingin tertawa besar, sesaat kemudian kepada Boen Ching ujarnya.

"Engkau menyetujui dengan sendirinya turun ataukah harus aku yang melemparkan kau turun?"

Boen Ching tertawa tawar, dia menyapu kepada Toan Bok Cie Jien dan Seh Tu Hoa sekejap, dengan perlahan sahutnya.

"Kau yang melemparkan turun aku saja "

Toan Bok Cie Jien dengan dingin mendengus, Bwee Giok segera mencabut pedang nya dan berkelabat berdiri disamping Boen Ching.

Hati Boen Ching menjadi cemas, kepandaian Bwee Giok meskipun tinggi, tetapi dua orang bersatu padu sekalipun juga tidak tentu merupakan lawan dari Toan Bok Cie Jien, Bwee Giok sekalipun mempunyai niat untuk membantu dirinya tetapi kiranya juga hanya mengantarkan nyawanya dengan sia-sia.

Toan Bok Cie Jien tertawa dingin ujarnya.

"Kau dua orang apa mau turun tangan bersama-sama."

Kepada Bwee Giok ujar Boen Ching.

"Nona Bwee, aku seorang diri menghadapi dia sudahlah lebih dari cukup"

Sambil tertawa sahut Bwee Giok.

"Boen Toako, mengapa menampik kehendak orang? apa lagi keadaan yang sesungguhnya dari Telaga Naga Dingin inipun masih belum jelas, mengapa harus pergi menempuh bahaya, jika suhumu berada disinipun tak akan mengijinkan kau berbuat demikian."

Boen Ching mendengar Bwee Giok menegurnya, dia hanya dapat berdiam diri saja. Terdengar dengan dingin Toan Bok Cie Jien bertanya.

"Kamu dua orang apa sudah selesai berunding"

Bwee Giok sambil tertawa berkata pada Toan Bok Cie Jien.

"Toan Bok cianpwe, sekalipun melemparkan aku berdua ke dalam telaga lalu apa gunanya? Masih ada orang yang berada disampingnya. Toan Bok Cie Jien menjadi tertegun dia melemparkan Boen Ching dan Bwee Giok kedalam telaga Naga Dingin, Seh Tu Hoa dan Shie Chiau Nio kalau bergabung diri kiranya dirinyapun akan dilemparkan kedalam telaga itu. Dia segera menghitung enteng beratnya, sambil mendengus ujarnya.

"Tetapi jika aku tidak melemparkan kau berdua ke dalam telaga, adalah baik atau buruk, aku juga tidak dapat dipastikan."

Bwee Giok tahu Toan Bok Cie Jien takut dirinya berdua merepotkan dirinya, dengan tertawa ujarnya.

"Tetapi jika Seh Tu Hoa mendapatkan keuntungan dia terhadap kami berduapun juga tak akan melepaskan". Pada mulutnya dia berkata demikian, sebenarnya adalan memberi tahu pada Toan Bok Cie Jien supaya jangan takut mereka membantu Seh Tu Hoa juga tidak akan mendapatkan kebaikan terpaksa hanya membantu pada dia. Toan Bok Cie Jien mendengus, ia tak berkata apa-apa lagi. SI HE CI HAU NIO yang berada disamping dengan keras ujarnya.

"Bagaimana ini ? Apakah dapat dibilang kita tak jadi mengambil hioloo kuno itu itukah?"

Bwee Giok yang mendengar perkataan itu sambil tersenyum ujarnya.

"Bagaimanapun juga tak mungkin kami mengambilnya untuk diberikan kepadamu, kalau kau mau mengambil mengapa tak mengerjakannya sendiri ? Telaga Naga Dingin kau sudah berada dihadapan matamu."

Dalam hati Shie Chiau Nio merasa sangat gusar, dengan geram ia menyabut pedang nya, kepada Bwee Giok ujarnya.

"Kita berdua lebih baik coba2 bertempur, siapa yang kalah dia lah yang turun mengambil hioloo itu."

Bwee Giok meskipun merupakan murid dari Lam Hay Coei Hong, tapi nama si Kelabang Merah bukanlah dia tak mengetahui nya, kepandaian Shie Chiau Nio tidak saja sangat tinggi, bahkan sangat beracun-Sekali, diapun-mengetehui kalau dirinya bukanlah tandingannya, mendengar perkataan ini, Sambil tertawa ujarnya.

"Apakan bertempur ini dilakukan secara seimbang ?"

Perkataan Bwee Giok ini terang-terangan memberitanukan kepada Shie Chiau Nio yang mengatakan dia dengan yang besar menyakiti yang muda. Shie Chiau Nio dengan dingin mendengus, dengan dingin ujarnya.

"Tiga puluh jurus sebagai patokan,jika dalam tiga puluh jurus aku tak dapat mengalahkan dirimu, boleh dibilang akulah yang mengalami kekalahan."

Bwee Giok tertawa, dia menyapu kekanan dan kekiri sekejap dengan tersenyum ujarnya.

"Engkau takkan menyesaikah? Tiga puluh jurus? tak tahukah kau bahwa aku adalah murid dari Lam Hay Coei Hong?"

Shie Chiau Nio setelah mengatakan tiga puluh jurus sebagai patokan, dalam hatinya juga sedikit merasa menyesal, dalam hati Lam Hay Coei Hong menggunakan pedang dapat menyalurkan tenaga untuk menyerang pihak musuh, didunia ini tiada duanya dia mengetahui bahwa dirinya tak mempunyai pegangan yang teguh, tapi Bwee Giok sekali lagi menanyakan, terpaksa dengan mengeraskan kepalanya dengan dingin sahutnya.

"Kau jangan menganggap dirimu tiada tandingannya, tiga puluh jurus yah tiga puluh jurus, mengapa harus menyesal segala?"

Boen Ching tahu tingginya lweekang yang dimiliki Bwee Giok, ia masih sanggup untuk menerima sebanyak ratusan jurus lebih, Shie Chiau Nio kini hanya memutuskan sebanyak tiga puluh jurus sudah tentu sukar baginya untuk mendapatkan kemenangan.

Shie Chiau Nio dengan gusar mencabut pedang nya, pedang ditangan Bwee Giok segera diluruskan dan mulailah memainkan ilmu "Hong Liong Kiam Hoat"

Atau ilmu pedang pekikan naga yang terkenal itu.

dimana pedang itu berada ditubuh pedang itu membawa suara yang sangat halus bagaikan pekikan dari naga.

Shie Chian Nio berturut-turut melancarkan serangan.

Tapi Bwee Giok bagaikan tak terjadi apa-apa dengan tenang berdiri disana hanyapada tubuh pedangnya mengeluarkan suara sebentar keras sebentar lemah bagaikan suara pekikan naga.

Boen Ching yang menonton disamping menjadi termangu-mangu, kepandaian yang dimiliki Bwe Giok ternyata demikian anehnya, terhadap ilmu "Hon Liong Kiam hoat"

Ini ia hanya pernah mendengar namanya saja, tapi kini dapat melihatnya sendiri, ternyata Lam Hay Kiam hoat amat berbeda sekali dengan ilmu pedang yang berasal dari daerah Tionggoan.

Shie Chiau Nio dengan gusar mendengus dengan sekuat tenaga ia maju menyerang lagi.

Seh Tu Hoa dengan suara yang sangat dalam mendadak membentak Chiau Nio kembali.

Shie Chiau Nio tahu kalau dirinya nekad terus menyerangnya, pada tiga puluh jurus paling banyak hanya dapat mendesak Bwee Giok untuk menggeserkan tubuhnya.

Kini Seh Tu Hoa membentak memanggilnya kembali, lebih baik urusan ini dia yang memberes kan, maka begitu mendengar perkataannya segera ia mundur kebelakang.

Bwee Giok pun menarik kembali pedangnya, ia juga tak berkata apa-apa hanya dengan tertawa memasukkan kembali pedangnya kedalam sarung.

Boen Ching yang nampak hal ini dalam hatinya diam2 memujinya, pikirnya dalam hati.

"Jika aku menjadi dia, tak mungkin kalau tak mengejek beberapa kata terlebih dahulu kepadanya."

Seh Tu Hoa nampak Bwee Giok tidak mengeluarkan perkataan mengejek diapun merasa sedikit diluar dugaan, setelah mendengus ujarnya.

"Ilmu Hou Liong Kiam hoat"

Dari Lam Hay sungguh sangat hebat, aku Seh Tu Hoa ingin mendapatkan barang satu dua jurus darimu bagaimana--???"

Toan Bok Cie Jien yang berada disamping dengan dingin ujarnya.

"Kamu semua sedang melakukan apa?"

"Nama Seh Tu Hoa pada waktu itu didalamn dunia kangouw selalu saja dikatakan sebagai pendekar yang membela keadilan, cuma juga tak lebih hanya begitu saja."

Seh Tu Hoa nampak Toan Bok Cie Jien baru membuka mulut telah mengejek kepadanya, dengan dingin ia mendengus kemudian ujarnya.

"Urusan hioloo kuno itu mau tak mau harus dengan cepat diselesaikan,jika me-nunggu hingga ia medapatkan keuntungannya, kita seharus nya sangat bodoh sekali."

Toan Bok Cie Jien mendengus, tak mengucapkan sepatah katapun.

Sepasang matanya memandang keempat penjuru, disekitar Telaga Naga dingin itu tak nampak bayangan seorangpun juga, tetapi dia yang telah berkelana didunia kangow juga bukanlah dalam satu hari atau satu tahun saja, makin dingin dan makin tenang saja suasananya, makin nampak hawa pembunuhnya disekitar tempat itu.

Sekonyong-konyong dari tempat yang tertinggi disamping telaga Naga Dingin melayang sesosok bayangan manusia.

Enam orang bersama-sama menjadi terkejut, dihadapan tokoh-tokoh yang berkepandaiannya tinggi ini, orang itu ternyata muncul dengan demikian saja, entah siapakah orang itu."

Toan Bok Cie Jien setelah menenangkan pikirannya, dialah yang pertama kali mengeluarkan suara tertawa dingin. Boen

Ching mendongakkan kepalanya memandang orang itu, nampak pada punggungnya menyoren sebilah pedang, tubuhnya memakai jubah hijau, kepalanya didongakkan memandang awan yang bergerak diangkasa, sedang jubahnya tertiup angin, sungguh orang yang sangat jumawa sekali.

Seh Tu Hoa memperhatikan orang itu sekejap, ia telah dapat menebak siapakah orang itu sebenarnya, dalam hatinya diam-diam merasa sangat terkejut, tetapi diluarnya segera ia mendongakkan kepalanya sambil tertawa tergelak, Suara dua orang itu yang satu dingin dan yang satunya lagi seperti orang kalap, dengan keras menggema dilembah tersebut.

Orang-orang berbaju hitam itu dengan serentak pula bersiul nyaring, begitu suara siulannya menggema, segera suara tertawa dari dua orang itu tertekan lenyap, pohon-pohon dan tumbuh2an disekitar tempat itu mengeluarkan suara bagaikan ranting-ranting yang patah, sedang burung-burung dengan terkejut berterbangan diangkasa.

Pada saat suara siulan itu berhenti, orang berbaju hijau itu telah bergerak dan berada dihadapan enam orang itu.

Dengan dingin ujarnya.

"Hm ... sudah tiga puluh tahun"

Sahut Toan Bok Cie Jien.

"Selama tiga puluh tahun ini kepandaian Ku heng mengalami kemajuan yang demikian pesatnya membuat aku Toan Bok Cie Jien sangat mengaguminya". Dalam hati Boen Ching sangat terkejut, orang yang baru datang itu tak lain dan tak bukan ternyata adalah salah satu dari Tiga bersaudara Chie Lan Kong sejak tiga puluh tahun yang lalu telah dianggap oleh orang-orang didunia kangouw sebagai tempat yang terlarang, setelah Thian Jan Shu naik ke istana Chie Lan Kong, orang-2 dari Chie Lan Kong tidak lagi berkelana didalam dunia kangow tetapi istana Chie Lan Kong tetap jarang yang berani pergi. Kong Ku dengan dingin mendengus, ujarnya.

"Tak kusangka masih ada orang yang ingat padaku, tetapi peraturan dari istana Chie Lan kong tetap tak dapat dihilangkan, aku pertama kali dengan resmi muncul ditempat ini, perintahkan semuanya harus mundur"

Toan Bok Cie Jien mendengar Kong Ku ternyata memindahkan peraturan yang tak dapat di bangkang oleh setiap orang dari istana Chie lan Kongnya, dengan dingin ia tertawa panjang, sahutnya.

"Kong ku heng apa menganggap dibawah kolong langit ini selain Thian Jan Shu telah tiada orang lainkah???"

Sahut Kong ku dengan dingin.

"Kau jangan menyesal..."

Seh Tu Hoa dengan dingin tertawa panjang, ujarnya.

"Istana Chie Lan Kong pada waktu itu telah diobrak abrik oleh Thian Jan Shu seorang, pada saat ini telah tak ada nama lagi dari istana Chie Lan Kong. mengapa harus mengungkapnya kembali?"

Wajah Kong ku segera berubah, dengan dingin ujarnya.

"Siapakah kau, sungguh besar perkataanmu"

"Han Ing Coen, Seh Tu Hoa"

Jawab Seh Tu Hoa dengan dingin. Kong ku tertawa dingin, sahutnya.

"Han Ing Coen, Seh Tu Hoa ?.? sayang sekali aku belum pernah mendengarnya."

Sebenarnya Kong ku mengandung maksud hendak membangun kembali nama istana Chie Lan Kong, Terhadap nama Seh Tu Hoa mana dia tidak pernah mendengarnya, tetapi Seh Tu Hoa demikian memandang rendah nama istana Chie Lan Kong, diapun dengan meminjam kesempatan ini membuat malu Seh Tu Hoa.

Dengan dingin jawab Seh Tu Hoa.

"Kau belum pernah mendengarnya itu menandakan pengetahuanmu terlalu rendah"

Pada wajah Kong Ku terlintas suatu senyuman yang sangat dingin, ujarnya kemudian.

"Seh Tu Hoa coba sambutlah satu kali serangan ku ini."

Selesai berkata tubuh nya bergerak dengan sebelah tangannya ia menepuk Seh Tu Hoa. Seh Tu Hoa dengan keras berteriak.

"Mengapa tidak boleh?"

Tubuhnya bergeser kekiri dengan telapak tangan kanannya ia menyerang kearah Kong Ku.

Kedua telapak tangan dari masing-masing saling bertemu, Seh Tu Hoa hanya merasakan dari telapak tangan Kong Ku merembes masuk suatu hawa yang sangat dingin, hatinya menjadi kaget setengah mati, segera ia mengerahkan tenaga "Koen Yuen Ciang"

Nya hingga dua belas bagian, dan tubuhnya mulai bergeser kesamping.

Dua orang itu saling beradu satu kali, dalam hati Kong Ku diam-diam juga merasa sangat terkejut, Seh Tu Hoa disebut jago nomor wahid dari angkatan muda, bukanlah tidak ada sebabnya, kekuatan tenaga pukulannya cukup untuk menggempurkan kuda-kudanya.

Dengan dingin ujar Kong Ku.

"Kamu enam orang jika tidak lekas meninggalkan tempat ini maka akan kubunuh semuanya ditempat ini pula."

Dalam hati Boen Ching diam-diam merasa heran bercampur terkejut, diantara orang itu hanya Seh Tu Hoa dan Toan Bok Cie Jien yang membuka mulut, Kong Ku ternyata dapat menutup mata dengan hanya mendengarkan suara pernapasan dari enam orang itu sudah dapat mengetahuijumlah orang yang hadir di tempat itu.

Sungguh bukanlah merupakan suatu pekeejaan yang mudah.

Toan Bok Cie Jien nampak pukulan yang dilancarkan Kong Ku itu, dan mendengar dari suara siulannya, perkataan Kong Ku ini bukanlah merupakan omongan yang besar,jika diantara tiga bersaudara Chie Lan Kong datang lagi seseorang sudahlah cukup untuk menundukkan orang itu.

Enam orang itu berdian

diri dengan termenung, sedang Kong Ku menghadap kearah air Telaga, dengan jumawa berdiri disana.

Mendadak Kong Ku menoleh kebelakang terhadap Boen Ching ujarnya.

"Kau adalah anak murid dari siapa?"

Boen Ching menjadi tertegun, kemudian sambil tertawa ujarnya.

"Suhuku adalah Ie Bok Tocu". Kong Ku dengan dingin mendengus, ujarnya.

"Ie Bok Tocu tak mungkin dapat melatih seorang murid yang memiliki ilmu silat setinggi kau, telah mengangkat siapa lagi sebagai suhumu"

Dalam hati Boen Ching diam2 merasa terperanjat, Kong Ku ini ternyata hanya begitu saja telah mengetahui tinggi rendahnya kepandaian yang dimilikinya, dengan tawar sahutnya .

"Aku hanya pernah mengangkat seorang sebagai suhuku, tak ada lagi orang yang kedua". Kong Ku tertawa dingin, ujarnya.

"Kalau demikian, aku hanya dapat menghantarkan kau masuk kedalam telaga ini saja". Hati Boen Ching menjadi tergetar, entah mengapa Kong Ku ini berbuat demikian, tanyanya.

"Mengapa.....? . Kong Ku tertawa dingin, sahutnya.

"Memangnya aku akan menghantarkan kau masuk kedalam telaga tak ada halangan untuk memberitahukan kepadamu, karena engkau telah melatih ilmu Hiat Mo Kang"

Boen Ching menjadi tertegun, dia tak pernah mengetahui kapan dirinya pernah melatih ilmu "Hiat Mo Kang"

Itu pikirannya segera bergerak pikirnya pastilah karena dia pernah menjalankan ilmu untuk membalikkan jalannya hawa murni didalam tubuhnya, mungkin Kong Ku lalu mengatakan dia pernah melatih ilmu "Hiat Mo Kang".

Kong Ku dengan perlahan berjalan mendekati Boen Ching, Boen Ching segera memusatkan pikirannya menanti kedatangan musuh, ketinggian dari ilmu yang dimiliki Kong Ku ini jauh melebihi Toan Bok Cie Jien maupun Seh Tu Hoa satu tingkat, ini hari rupanya sukar baginya untuk lolos dari kematian.

Bwee Giok yang berada disamping nampak hal ini dengan keras membentak.

"Tahan.-"

Kong Ku dengan dingin tertawa terkekeh, ujarnya.

"Ternyata ada orang yang datang menghalanginya"

Sehabis mengucapkaa itu ia tertawa dingin lagi. Kepada Bwee Giok ujar Boen Ching.

"Nona Bwee tak boleh berbuat demikian, turun ketelaga ini belum tentu mati, apalagi belum tentu aku mau menurutinya, kau mau menemani aku datang kemari aku sudah sangat berterima kasih, engkau sebagai Siauw TOuwcu dari perkumpulan Elang Sakti haruslah dapat menjaga dirimu baik2."

Bwee Giok dengan perlahan menundukkan kepalanya, tak berkata sepatah katapun. Sambil tersenyum ujar Boen Ching lagi.

"Nona Bwee tahukah kau aku selamanya sangat menghormati dan memuji kau, semangatmu sikapmu, semuanya tak dapat dilampui oleh orang lain."

Bwee Giok menundukkan kepalanya, sejenak kemudian ujarnya.

"Aku dapat membalaskan dendam bagimu"

Selesai berkata ia mendongakkan kepalanya memandang tajam kearah Boen Ching.

Boen Ching yang nampak sepasang matanya, hatinya tak urung menjadi berdebar, sepasang mata Bwee Giok penuh dengan air mata, setelah memandang tajam sejenak kearah Boen Ching, ia balikkan tubuhnya dan lari turun gunung.

Boen Ching memandang terpesona pada bayangan Bwee Giok, hatinya terasa sangat terharu, Bwee Giok demikian teguhnya,

dirinya akan segera jatuh kedalam telaga seperti halnya Yuen Fu.

oooXcoo BAYANGAN dari Bwee Giok mulai lenyap ditengah pepohonan, tetapi pada mata Boen Ching tetap terbayang wajahnya, sekonyong-konyong ia merasa lirikan dan senyuman Bwee Giok sangat mendalam sekali tertera didalam hati nya, sedang gadis pada cermin itu sekalipun mempunyai kesempatan hanya dua kali saja untuk bertemu tetapi itu semuanya lamunan saja di dalam benaknya, seolah-olah dalam waktu yang sekejap itu dia telah merasakan itu semuanya hanya terombang-ambing tak menentu jaraknya dengan dia demikian jauhnya, sedangkan Bwee Giok adalah yang sesungguhnya.

-ooo0dw0ooo-SEPASANG mata Boen Ching memandang terpesona kearah dimana bayangan Bwee Giok tadi lenyap, dengan tertawa dingin ujar Kong Ku.

"Orang sudah pergi jauh, masih ada apanya yang baik untuk dilihat, aku akan melihat gadis cilik itu mempunyai daya apa untuk membalaskan dendammu."

Boen Ching pun tertawa dingin, sahutnya.

"Tetapi aku kira ini hari yang akan jatuh ke dalam telaga bukannya aku melainkan kau sendiri, akupun akan melihat murid-murid dan cucu muridmu itu dengan cara apa untuk membalaskan dendam bagimu."

Kong Ku mendongakkan kepalanya, tertawa panjang, sejenak kemudian kepada Seh Tu Hoa dan Toan Bok Cie Jien ujarnya dengan dingin.

"Kau berdua apakah masih berani tinggal disini ? Apakah harus aku yang menghantarkan ?"

Toan Bok Cie Jien tertawa dingin, ujarnya.

"Apakah kami harus dengan demikian saja meninggalkan tempat ini ?"

Kong Ku dengan dingin tertawa tergelak, tubuhnya bagaikan kilat mendesak mendekati Toan Bok Cie Jien, tangan kanan Toan Bok Cie Jien segera mendorong, dengan menggunakan gentong arak ditangannya ia mendorong kearah Kong Ku.

Ia menjadi mendengus melihat hal ini, kedua jarinya ditegakkan, dengan menggunakan kekuatan dari jarinya itu dengan keras menerima tenaga dorongan dari gentong arak Toan Bok Cie Jien itu.

Suatu bunyi yang sangat nyaring terdengar, Toan Bok Cie Jien segera terdesak mundur sebanyak dua langkah oleh tenaga jari yang dilancarkan Kong Ku ini, wajahnya berubah menjadi pucat pasi, sejenak kemudian ujarnya.

"Karena dua jarimu ini, aku Toan Bok Cie Jien terpaksa tak dapat berbuat apa-apa lagi, tetapi lain waktu kalau kita ketemu lagi, sampai waktu itu pulalah kita harus membuat perhitungan lagi."

Sesudah berkata tubuhnya berkelebat turun ke bawah gunung.

Kong Ku dengan dingin membalikkan tubuhnya, wajahnya berhenti tepat dihadapan Seh Tu-Hoa.

Seh Tu Hoa tahu dirinyapun bukanlah tandingannya, dengan perlahan ia menghela napas, segera ia memberi tanda kepada Shie Chiau Nio dan Seh Tu Hong, puteranya, tiga orang ber-sama2 mundur turun kebawah gunung.

Kong Ku terakhir memutar kearah Boen Ching, ujarnya.

"Aku masih akan memberikan waktu sejenak bagimu untuk hidup, kau boleh lihat bagaimana aku akan mengambil hioloo itu."

Seusai berkata ia balikkan tubuhnya dan bertepuk dua kali kedalam rimba.

Sepuluh orang yang berpakaian hijau muncul dari rimba itu dengan menggotong seutas tali.

Boen Ching nampak tali itu dibuat dari serabut yang sangat keras, pada ujung tali itu terdapat sebuah bola besi yang berwarna hitam, belum saja ia berjalan mendekat ia sudah merasa getaran yang hebat dari pedangnya itu, bagaikan mau terlepas dari sarungnya.

Dalam hati Boen Ching menjadi sangat terkejut, ia tahu besi itu tentulah adalah sebuah besi semberani, Kiranya Kong-Ku hendak menggunakan bola besi semberani itu untuk menghisap hioloo kuno yang berada didasar telaga itu, sehingga dirinya tak usah menempuh jalan yang lebih bahaya lagi.

Kong Ku menerima ujung tali yang ada bola besinya itu dari orang-orang itu, dia mendengus, berpuluh-puluh kaki tali dari serabut itu hanya sedikit digetarkan telah menjadi kencang bagaikan panah, kemudian besi semberani itu di lemparkan ketengah telaga.

Boen Ching memperhatikan air dari telaga itu nampak pada telaga itu timbul gelombang-gelombang kecil, pada wajah Kong Ku timbul suatu senyuman yang seolah-olah bangga akan pekerjaan itu.

Tak lama kemudian tangan kanan Kong Ku di sontekkan keatas, besi semberani tersebut segera melayang meninggalkan air.

Boen Ching nampak pada sekitar besi semberani itu penuh dengan bermacam-macam senjata, Kong Ku menunggu hingga besi semberani itu meninggalkan dari atas air, ia tak perlu memandang, hanya dengan mendengar dari suara benda itu meninggalkan air, serta tenaga ditangannya telah mengetahui bahwa ia tak berhasil menghisap hioloo itu keluar dari telaga.

tangan kanannya segera dibalik, besi semberani itu sekali lagi masuk kertalam telaga, kali ini Kong Ku telah mengarahkan seluruh tenaganya keatas tali itu, tampak tali itu lurus bagaikan toya, dan disabetkan keatas permukaan air telaga itu.

Sekonyong-konyong dari dalam telaga itu muncul suatu tiang air yang menerjang keluar dari dalam telaga, air

telaga mengembang naik dengan cepatnya, sedang pada wajah Kong Ku nampak perasaan yang sangat terkejut.

Air telaga itu terus mengembang naik hingga setinggi sepuluh kaki lebih, terdengar suara gemuruh, sebuah kepala naga yang berwarna putih salju muncul kepermukaan air.

Boen Ching menjadi sangat terkejut, telaga itu ternyata bernama sebagai telaga Naga Dingin, binatang aneh itu sudah tentu tak dapat diragukan lagi adalah Naga Dingin yang diceritakan bersembunyi didasar telaga itu, tak disangka ini hari ternyata terpancing keluar oleh besi semberani yang dilemparkan oleh Kong Ku.

pada tigapuluh tahun yang lalu, sepasang mata Kong Ku dikorek keluar oleh Thian Jan Shu, tetapi sekarang sekalipun ia tak dapat melihat, tetapi ketajaman dari perasaannya ini lebih dari sepasang mata orang biasa.

Dia hanya mengetahui kalau Naga Dingin dari telaga itu telah terpancing keluar oleh besi semberani yang dilemparkan oleh dia, ini hari kalau mau dengan lancar mendapatkan hioloo kuno itu, kiranya tak mungkinakan teejadi.

Naga dingin itu munculkan kepalanya kepermukaan tetapi bagaikan ekornya dirantai tak dapat munculkan lagi tubuhnya, sepasang matanya yang memancarkan sinar bagaikan dua buah gulungan api yang memandang kearah tepi telaga.

Kong Ku mendengus dengan dinginnya, dia agaknyapun telah mengetahui kalau naga dingin itu tak dapat munculkan tubuhnya lagi, tangan kanannya ditarik dengan keras, untuk menarik kembali besi semberaninya itu, tetapi tarikannya kali ini tetap tak berhasil, besi semberani itu bagaikan terkait sesuatu benda yang tak dapat bergerak, sehingga tak dapat di tarik keluar.

Naga dingin itu mendongakkan kepalanya sambil mementangkan mulutnya, suatu percikan air yang berwarna putih memancar kearah dua orang itu.

Kong Ku mundur selangkah kebelakang, Boen Ching juga tak berani menentang datangnya air itu, dia juga mundur

kebelakang selangkah. Kong Ku mendengus, kepada Boen Ching ujarnya.

"Naga dingin telah muncul, ini hari akan mengambil hioloo sudah tentu tak mungkin akan dapat dilakukan, sekarang apa kau mau bergebrak deagan aku ? ."

Boen Ching tahu orang2 dari golongan sesat itu tak ada seorangpun yang mempunyai aturan, dengan tawar sahutnya.

"Aku memang mempunyai niat untuk berbuat demikian."

Mendengar perkataan Boen Ching itu dengan dingin sahut Kong Ku.

"Bagus kiranya juga mempunyai semangat, kalau begitu cabutlah pedangmu keluar."

Boen Ching dengan tertawa berkata.

"Mengapa harus menggunakan pedang, apa boleh dibilang dengan menggunakan sepasang tanganku itu tak mempunyai harga untuk bertempur denganmu?"

Kong Ku dengan dingin tertawa terkekeh, ujarnya.

"Kalau memang nya demikian aku juga tak akan sungkan-sungkan lagi"

Boen Ching melirik memandamg ketengah telaga, pada saat ini naga dingin telah menyelam lagi kedalam air, sedang airpun mulai menjadi surut kembali sedang tali serat dari Kong Kupun telah dibuang pada permukaan air kembali menjadi tenang, bagaikan tidak pernah terjadi sesuatupun.

Kong Ku nampak Boen Ching demikian besar nyalinya, malah mengira mungkin dia mempuyai jurus-jurus ilmu silat yang lihai, tangan kanannya dengan perlahan dipukulkan keluar dengan menggunakan jurus "Yu Ling Tang Cau"

Atau mencakar sisik mega, ditepukkan ketubuh Boen Ching.

Boen Ching mengangkat tangan kanannya, dan mencekal tangan pada urat nadi tangan Kong Ku.

Kong ku dengan perlahan mendengus, tangan kanannya dibalik dan balik mencekal tangan kanan Boen Ching, ia segera mengeraskan tangan kanannya, ternyata dia tak

menghindar atau berkelit sedikitpun juga dan dengan perlahan dia membiarkan tangannya dicekal oleh Kong Ku.

Kong ku dalam satu jurus berhasil mencekal tangan kanan Boen Ching.

dia pun merasa amat terkejut.

jurus "Yun Ling Tang Cau"

Ini sebetulntya sebagian besar adalah merupakan gerakan pancingan, dan digunakan untuk memancing musuh untuk turun tangan, sedang Boen Ching ternyata mengajukan diri untuk ditawan, entah dia mempunyai tujuan apa.

Dia yang mencekal tangan Boen Ching, dalam hatinya malah balik merasa curiga, untuk sesaat tak dapat mengambil keputusan untuk apa pun.

Boen Ching tak bergerak sedikitpun juga, ia menanti Kong Ku untuk turun tangan untuk ke dua kalinya.

Kong Ku dengan perlahan mendengus pikirnya.

"Tak perduli kau akan berbuat apa, pokoknya akan kulemparkan kau kedalam telaga terlebih dahulu baru berkata lagi". Tangan kanannya digetarkan dan melemparkan tubuh Boen Ching ketengah telaga dingin itu. Boen Ching sejak tadi telah bersikap menanti gerakannya, Kong Ko kini ternyata melemparkan tubuhnya, ia segera mengembalikan tangannya untuk balas mencekal pergelangan tangan Kong Ku dan mengerahkan jurus "Thian tee Ie weh"

Dari ilmu "Thian Thien Kioe Sih".

Pergelangan tangan Kong Ku yang dicekal oleh Boen Ching segera mengeluarkan suara tertahan, ternyata jurus Boen Ching ini tidak berhasil menggerakan tubuh Kong Ku sedikitpun juga dalam hatinya sedikitpun juga, dalam hatinya sedikit merasa sangat terkejut, kemudian melancarkan lagi jurus "Shie Thian Song Gwat"

Tubuhnya berputar diudara, semula Kong Ku oleh jurus "Thian tee Ieweh"

Dari Boen Ching ini telah membuat kuda-kudanya menjadi tergempur, pada saat ini dibuat berputar lagi oleh tenaga dalam jurus Boen Ching ini, mau tak mau membuatnya terjungkir balik, untung dia segera memutarkan tubuhnya, kalau tidak maka tubuhnya akan terlempar ke tengah telaga oleh jurus Boen Ching ini.

wajah Kong ku segera berubah, dengan dingin ujarnya.

"Tak dapat disalahkan lagi kau berani bicara besar, kiranya kau masih sangat hafal dari ilmu sakti dunia kangouw yakni ilmu "Thian Thien Kioe Sih."

Boen Ching nampak dirinya harus berputar berpuluh2 kali baru dapat membuat Kong ku terjungkir sekali bahkan tidak terjatuh pada arah yang dituju olehnya, hatinya menjadi sangat terkejut, tetapi ia tidak tahu kalau dalam hati Kong kujauh lebih terkejut jika dibandingkan dengan dirinya, kehebatan dari ilmu Thay Thien Kioe Sih tak ada bandingan nya, kalau saja lweekang yang dimiliki Boen Ching lebih tinggi dari dirinya, bukankah dirinya akan terlempar jatuh ke tengah telaga, Boen Ching ini tak dapat dibiarkan hidup lebih lama lagi.

kalau tidak jika bertambah beberapa tahun lagi, dirinya mana dapat menandingi dia lagi.

Kong Ku pertama kali karena memandang rendah pada pihak musuh sehingga terkena pancingan, setelah berdiri tegak ditanah tak henti-hentinya ia tertawa dingin sedang tubuhnya mendekat pada Boen Ching lagi.

Boen Ching dengan tawar berkata.

"Thay Thien Kioe Sih tidaklah hanya sebagian itu saja, engkau mau melemparkan aku ke dalam telaga untuk bertempur mati-matian dengan naga dingin itu, aku kira tidaklah demikian mudahnya untuk melakukannya."

Kong Ku tertawa dingin, ujarnya.

"Aku harap kau jangan terlalu meninggikan dirimu sendiri, ilmu Thay Thien Kioe Sih mungkin sungguh dapat disebut sebagai ilmu sakti didalam Bu-lim, tetapi kalau kau yang menggunakan, aku kira masih sangat terlalu jauh untuk dikatakan. Sewaktu mengucapkan perkataan itu,"

Tubuhnya bagaikan kilat cepatnya mendesak mendekat ketubuh Boen Ching. Boen Ching sambil mengundurkan diri melancarkan serangan dengan menggunakan gerakan tubuh

"Sie Liu Eng Hong"

Ia berusaha untuk memunahkan serangan musuh itu.

Kong Ku dengan dingin mendengus,jari tengah dan telunjuk dari tangan kanannya dengan perlahan disentilkan, segulung angin yang amattajam mengikuti arah yang ditunjuk menyerang kearah tubuh Boen Ching.

Dalam hati Boen Ching merasa sangat terkejut, sungguh tak disangka olehnya kalau Kong Ku ternyata dapat melatih ilmu sakti semacam ini, dengan demikian gerakan tubuh "Sie Liu Eng Hong"

Nya jadi kehilangan kehebatannya.

Dengan tergesa-gesa ia menghindar kesamping untuk menghindari serangan yang menyerang dirinya Itu dengan hebatnya Itu.

Kong Ku dengan dingin mendengus, pada saat tubuhnya berkelebat tangannya telah menyambar mencengkram punggung Boen Ching, sedang tangan kanannya bergerak menotok jalan darah pada punggung Boen Ching, kemudian ujarnya.

"Kau sendiri dapat membebaskan totokan ini, setelah sampai pada dasar telaga bebaskanlah sendiri, Ilmu Thay Thien Kioe Sih terhadapku juga telah tak ada gunanya, hanyalah tinggal menanti budak kecil itu membalas dendam bagimu."

Setelah berkata dengan perlahan tangan kanannya mendorong, melemparkan tubuh Boen Ching ketengah telaga.

Jalan darah pada punggung Boen Ching tertotok, dia sadar bahwa satu satunya jalan kehidupan baginya adalah jika ia dapat membebaskan totokan tepat pada waktunya, kalau tidak kiranya dirinya juga akan terkubur didasar telaga itu.

untuk membebaskan totokan bukanlah suatu pekerjaan yang sangat mudah dan tak mungklin dalam waktu yang

singkat dengan menggunakan hawa murninya untuk membebaskan totokan tersebut.

Begitu Kong Ku melepaskan tangannya, dia mulai dengan mengerahkan hawa murninya untuk membebaskan totokan itu.

Tubuh Boen ching yang dilemparkan ketengah telaga ditengah udara berturut-turut ia bersalto beberapa kali, dan kemudian jatuh ditengah telaga naga dingin itu.

Begitu tubuhnya bertemu dengan air telaga, tanpa terasa seluruh tubuhnya menjadi berkerut, rasa dingin dari air telaga naga dingin ini jauh lebih hebat dair penderitaannya jika dibandingkan dengan rasa dingin daripada Han Siong Leng Uh.

Seluruh tubuhnya terasa diserangoleh rasa dingin yang hebat dari air telaga tersebut, tapi pada dadanya terasa hangat sekali.

Dalam hati Boen Ching diam2 merasa heran dan bercampur terkejut.

Cermin "Thian Tuen"

Yang biasanya ditempatkan pada dadanya itu mengeluarkan suatu hawa yang dingin dan nyaman, pada saat ini bagaimana dapat berbalik mengeluarkan hawa yang hangat?

Dia yang dibesarkan dilautan Timur, sudah tentu menyelam diantara ombak bagi dia tidaklah merupakan suatu urusan yang berat baginya untuk bertahan napas didalam air dapat mancapai tiga jam lamanya tapi jika jalan darahnya tak dapat dibebaskan, dengan sendirinya tangan dan kakinya menjadi tak dapat bergerak.

Tubuhnya yang masuk jadi tak dapat bergerak, tubuhnya yang masuk ke dalam air segera tenggelam ke dasar telaga.

Boen Ching menutup matanya dan mulai menjalankan pernapasan, dia tahu pada tubuhnya ada cermin pusaka yang melindungi tubuhnya dna tak usah lagi takut akan hawa dingin dari air telaga itu, dia hanya dengan memusatkan seluruh

perhatiannya untuk menjalankan pernapasan guna membebaskan totokannya.

Setelah menjalankan tiga kali putaran tiga tempat jalan darah yang tertotok dalam tubuhnya telah dapat dibebaskan seluruhnya, baru tubuhnya akan digerakan untuk naik keatas sebuah arus berputar yang sangat santar telah menerjang ketubuhnya.

Dalam hati Boen Ching diam2 merasa sangat terkejut, ketika ia membuka matanya untuk melihat, ternyata naga dingin penghuni telaga naga dingin itu sedang datang mendekati tubuhnya dan menerjang kearahnya dengan cepat dan ter-gesa2 ia menghindar kesamping.

matanya memperhatikan keadaan sekitarnya, sebenarnya memangnya telah melatih untuk memandang di tempat yang gelap, di tempat yang gelap gulita itu dengan samar-samar ia telah dapat melihat dasar telaga yang letaknya tak jauh dari dirinya.

Didasar Telaga naga dingin tersebut, terlentang berpuluh2 sosok tengkorak manusia, ada yang dalam sikap duduk ada pula yang dalam keadaan telentang, sedang tengkorak2 itu banyak juga yang telah hancur berantakan, diatas tubuh tengkorak-tengkorak itu penuh dengan lumpur, ketika air mengalir melalui tengkorak itu dan menghilangkan Lumpur yang ada diatasnya, barulah dapat dilihat wajah sesungguhnya dari tengkorak itu.

Naga dingin itu ditengah remang2nya air telaga tampak yang sangat putih sekali-bagaikan salju, panjangnya kira-kira empat lima kaki, sepasang matanya berwarna merah darah, didalam air sekalipun gerakannya sangat lincah, tetapi ekornya terdapat seutas rantai besi yang sangat besar sekali.

Boen Ching setelah menghidari terjangan naga dingin itu, menurut pengalamannya yang ia dapatkan,jika menemui binatang buas didalam air sekali kali tidak dapat melarikan dirinya, sebagai manusia kegesitan waktu bergerak tidak mungkin dapat melawan kelincahan dan gerakan binatang penghuni air.

Dia

membalikkan tubuhnya sambil mencabut keluar pedang panjangnya, matanya dengan tajam memperhatikan naga dingin itu.

Naga dingin itupun memperhatikan Boen Ching kedua belah pihak menantikan saat yang baik untuk bergerak.

Boen Ching tahu bahwa sebangsa ular atau naga jika dalam air kekuatan ekor naga dingin itu, meskipun dia mempunyai cermin pusaka yang melindungi jantungnya tetapi bagaimanapun juga tak dapat menghindarkan diri dari serangan hawa dingin dari telaga itu, kakinya dan tangannya mulai menjadi kaku.

Naga dingin itu setelah memperhatikan Boen Ching sejenak, mulutnya yang besar itu membuka dan menutup, sekumpulan air yang sangat santar kembali menyerang kearah Boen Ching dengan hebat.

Boen Ching menjadi sangat terkejut tubuhnya bergerak menghindar kesamping, tetapi sekumpulan air yang santar itu setelah melewati pergi, terasa lagi suatu hawa yang sangat dingin sekali menyerang kearah nya, saking dinginnya, membuat dia hampir2 gemetar.

Naga dingin itu nampak serangannya tidak mengenai sasaran, tubuhnya maju mendesak kearah Boen Ching lebih dekat lagi.

Pedang panjang ditangan kanan Boen Ching dengan cepat menusuk keluar tetapi naga dingin itu tetap meneejang kedepan sekalipun pedang Boen Ching dengan cepat mengenai tubuh naga dingin itu, tetapi naga dingin itu sedikitpun tidak menderita luka apapun, sambil mementangkan mulutnya lebar-lebar, tubuhnya mendesak lebih dekat lagi ke tubuh Boen Ching, dalam jarak tidak lebih dari tiga kaki saja.

Boen Ching dengan tergesa-gesa menyingkir ke samping.

Naga dingin itu dengan gusar melototkan matanya, tubuhnya bergerak dengan kerasnya, membuat pada dasar telaga itu

timbul suatu ombak yang keras, pasir dan lumpur bergolak, segulung demi segulung ombak besar itu menerjang ketubuhnya dengan keras.

Boen Ching yang terpukul oleh ombak yang sangat besar itu dipaksa mundur terus kebelakang.

Naga dingin itu disamping menggerakkan tubuhnya hingga menimbulkan ombak yang besar, tubuhnya bagaikan kilat cepatnya mendesak kearah Boen Ching.

Boen Ching berturut-turut menghindar kesamping, mendadak dia merasakan suatu arus yang sangat cepat dan santer menerjang dari belakang tubuhnya.

Dia menjadi terkejut, tidak sempat lagi untuk menoleh kebelakang, tahu-tahu telah dihisap oleh arus keras yang menyerang dirinya itu dan membawanya kedalam suatu gua yang sangat gelap sekali.

Boen Ching dengan cepat menutup seluruh pernapasannya, mengikuti arus keras itu tubuhnya mengalir terus, dia dengan seluruh perhatiannya memperhatikan keadaan sekelilingnya, nampak didalam gua itu empat penjurunya penuh dengan batu2 aneh yang sangat runcing sekaU.

Dalam hatinya diam-diam dia merasa sangat terkejut, ditengah teejangan arus telaga yang demikian derasnya itu ternyata terdapat batu-batu aneh yang demikian runcing nya, jikalau bukan dirinya telah berhasil melatih ilmu memandang didalam kegelapan, kiranya sejak tadi telah mengalami kematian.

Arus deras itu menerjang terus dengan santer nya, tak lama kemudian telah sampai ditengah suatu telaga yang sangat gelap sekali.

Boen Ching yang telah sangat lama menutup seluruh pernapasannya, pada saat ini merasa arus air itu mulai menjadi perlahan, dengan cepat tubuhuya digerakkan, untuk timbul keatas permukaan air dan mengirup udara segar.

Setelah ia menghirup udara panjang2, dengan perlahan ia membuka kedua matanya kembali tetapi terasa didalam gua itu sangat terang sekali oleh suatu sinar yang berkilauan, sinar itu menusuk kedalam matanya, membuat dia

hampir2 tak dapat mementangkan matanya, dalam hatinya diam2 merasa heran dan terkejut, Boen Ching dengan cermat memandang kekanan dan kekirinya, nampak disebelah kiri dari goa itu terdapat sebuah batu gunung yang panjangnya beberapa kali dan muncul dari permukaan atas, sinar yang menyilaukan mata itu timbul dari atas batu gunung yang besar itu.

Boen Ching yang tidak dapat melihat dengan jelas, dalam hatinya mendadak timbul rasa ingin tahunya, tak disangka di belakang dimana terdapat arus yang demikian santarnya itu ternyata terdapat suatu tempat seperti ini, entah barang apakah yang terlihat memancarkan sinar yang berkilauan itu.

Dia menarik napas panjang2, tubuhnya melompat melayang keatas dan hinggap diatas batu besar itu.

Sesampai diatas batu itu, nampak disekeliling dari batu itu ternyata ada beberapa kaki luasnya, diatas batu itu terdapat tulang belulang dari seekor naga yang membujur panjang, sepasang matanya memancarkan sinar merah yang berkilauan, sedang didalam mulutnya terdapat sebuah benda bulat yang menyerupai sebutir pil yang berwarna emas.

Sinar berkilauan yang tadi terlihat itu kiranya berasal dari pil berwarna emas tersebut.

Disamping tulang belulang dari naga itu masih terdapat sebuah mayat dari seorang hweesio yang dalam sikap sedang bersila, sekalipun hweeesio itu telah wafat lama sekali, tetapi wajahnya masih tetap utuh seperti orang yang masih hidup, pada wajahnya terlihat senyuman yang sangat ramah sekali.

Boen Ching menarik napas panjang-panjang, dalam hati pikirnya.

"Entah hweesio ini berasal dari angkatan yang keberapa, ternyata dapat wafat ditempat ini."

Dia memandang keadaan sekelilingnya, nampak arus itu mengalir kesuatu gua yang gelap, sedang tulang dari naga itupun menerobos masuk lagi kedalam gua yang tingginya satu setengah kaki.

"Untung baginya pedang panjang dan buntalannya terbawa pada tubuhnya, dia sambil menghela napas lega, menurunkan pedang dan buntalannya keatas tanah, dapat sampai ditempat ini juga dapat dihitung sangat beruntung sekali, kalau tidak banyak waktu lebih lama sedikit lagi berdiam di dalam telaga naga dingin itu, juga bukannya mati kedinginan juga mungkin mati tertelan oleh Naga dingin itu.

Dia bertindak dua langkah kedepan, nampak diatas dinding batu didepan gua itu agaknya terukir beberapa tulisan, dia bertindak ke depan memandang, diatas batu itu ternyata terukirkan kata.

"Thay Tong tahun kedua, Pendeta Thian Tok Wang Huo wafat ditempat ini, bersama-sama dengan naga emas melawat kebarat, merantai Naga dingin didasar telaga Naga dingin. pendatang yang berjodoh dapat menelan pil berwarna emas yang ditinggalkan oleh naga emas itu, ilmu sakti dari Tinggoan yang telah lenyap empat abad yang lalu "Hong Loei Chiet Kiam"

Dapat menundukkan naga, ilmu "Hong Loei Chiet Kiam ini sebenarnya adalah ilmu sakti dari daerah Tionggoan, tetapi karena merasa akibatnya terlalu hebat dan kelihayannya tak ada bandingannya, bukanlah orang persilatan yang dapat mempelajarinya, hingga tak berani menerima murid, ilmu yang berasal dari Tionggoan sudah tentu harus dikembali kan kedaerah Tionggoan, kini diwariskan pada orang yang mendatang, gua ini, karena menurut anggapan orang yang dapat memasuki gua ini tentu orang yang mempunyai rejeki besar, dan jangan menggunakannya untuk melakukan kejahatan.

Tulisan itu sampai disitu telah berhenti, Boen Ching setelah nampak hal ini menjadi menghela napas, kira nya pil yang berwarna emas itu adalah pil sakti naga emas itu.

Dia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke depan Wang Huo Thaysu, dapat diduga hwesio sakti dari ribuan tahun yang lalu ini pasti adalah seorang manusia aneh yang sakti, segera ia berlutut dan bersujut memberi hormat, seluruh tubuh dari Wang Huo Thaysu itu.

Kemudian dengan perlahau-lahan ia bangkit berdiri dan mengambil pil berwarna emas itu yang diletakkan keatas tanganya setelah memandangnya sejenak barulah memasukkan kedalam mulut dan ditelan.

Segera ia duduk bersila untuk mengatur jalan pernapasannya, begitu pil berwarna emas itu masuk kedalam mulutnya, segera pula ia merasa sebuah arus yang panas mengalir masuk kedalam tubuhnya, sedang tulangnya mengeluarkan serentetan suara yang perlahan, hawa dingin yang tadi menyerang dirinya kini dengan cepat telah tersapu hilang.

Setelah mengatur pernapasannya hingga hawa murninya berputar tiga kali keseluruh tubuh nya dia baru menghela napas lega dan bangkit berdiri terasa tubuhnya menjadi sangat segar sekali, hawa murninya terus menembus keseluruh urat nadi dan jalan darahnya.

Pada saat bernapas, tenaga tubuh dan hawa murninya bergerak dengan sangat perlahan sekali, bagaikan akan menerobos terus keseluruh tubuhnya.

Dalam hati diam-diam merasa sangat girang, tak disangka pada saat menghadapi keadaan yang bahaya malah balik berganti dengan mendapat keuntungan dan menemui kejadian yang aneh.

Boen Ching setelah menelanpil berwarna emas itu dan nampak empat penjuru dari tempat itu memancarkan sinar yang sangat menyilaukan mata itu, dalam hatinya mulai timbul rasa curiga, dengan memusatkan seluruh perhatiannya ia memandang, nampak tulang belulang dari naga emas itu menjulur masuk kedalam gua itu bahkan memancarkan sinar yang sangat menyilaukan mata.

Dia teringat akan pesan yang ditinggalkan oleh Wang Huo Thaysu yang mengatakan bahwa terdapat ilmu sakti dari dunia persilatan yaitu "Hong Loei Chiet Kiam"

Atau tujuh pedang

angin petir, dalam hati diam-diam pikirnya "Aku kini ternyata telah menelanpil berwarna emas dari naga emas itu, mengapa tidak sekalian mempelajari ilmu "Hong Loei Chiet Kiam", apa lagi aku kini tidak mempunyai urusan, mau keluar dari gua inipun tak mungkin dapat keluar."

Berpikir sampai disini, ia memungut pedang panjang nya kembali samhil mengambil buntalannya ia berjalan masuk ke dalam gua tersebut.

Baru ia masuk kedalam gua itu, pandangan dihadapannya menjadi terang, dalam gua itu dari tingginya yang hanya setengah kaki itu kini telan berubah menjadi beberapa kaki tingginya empat penjuru dari gua batu itu penuh dengan intan permata, sedang ubinnya terbuat dari batu giok, di tengah gua itu terdapat sebuah kolam air dan ditengah kolam itu terdapat seekor naga emas yang memancarkan airnya.

Boen Ching yang nampak hal itu menjadi tertegun, pemandangan semacam ini sekaiipun di dalam istana kaisarpun juga tak dapat menemuinya.

Disamping dari kolam itu terdapat tujuh buah patung manusia yang terbuat dari emas, dengan mencekal sebilah pedang panjang masing-masing berdiri dengan gayanya yang berbeda satu dengan yang lainnya, setiap patung dari emas itu sungguh sangat hidup dan indah pembuatannya, bagaikan orang sungguh-sungguh.

Boen Ching setelah menurunkan buntalannya ke atas tanah, dengan perlahan ia berjalan mendekati, dengan sinar yang terkejut bercampur heran ia memandang ketujuh patung yang terbuat dari emas itu, dengan hasil pembuatannya yang demikian indahnya itu, kiranya pada saat ini tak seorangpun yang dapat menandingi hasil pembuatannya yang demikian hidupnya itu.

Dengan perlahan dia mencabut keluar pedangnya satu gerakan demi satu gerakan, satu jurus demi satu jurus ia

mulai mempelajarinya, diam-diam dia merasakan bahwa ilmu "Hong Loie chiet Kiam"

Ini bukan saja sangat hebat sekali, bahkan keanehan dan akibat yang timbul dari jurus-jurus itu sukar sekali untuk ditandingi, seluruh jurus itu terdiri jurus-jurus serangan semuanya.

Boen ching setelah mencoba menirukan ilmu "Hong Loei chiet Kiam"

Itu satu kali, merasakan bahwa untuk mempelajari ilmu itu ia menemukan kesukaran-kesukaran.

mulailah dia memandang dengan Cermat satu jurus demi satu jurus, seluruh patung yang terbuat dari emas itu terlihat bentuk-bentuk dari otot-otot dan urat-urat nadinya.

Boen ching sambil menirukan Cara dan bentuk dari tiap jurus, ia mulai menggerak-gerakkan pedangnya, terasa baginya sangat berat sekali.

Didalam gua itu tumbuh pula berbagai macam buah-buahan liar, Boen ching pun mulai melatih ilmu "Hong Loei chiet Kiam"

Itu didalam gua tersebut, setelah merasa lelah ia baru beristirahat didalam gua itu tak nampak matahari, hal ini membuatnya tak mengetahui kalau waktu itu adalah siang atau malam.

Entah telah lewat berapa lama Boen ching masih selalu memusatkan perhatiannya pada pertemuan yang bakal diadakan diloteng oei Hok lo pada jam 8 malam Tiong chiu, ia tinggal lebih lama lagi didalam gua itu, begitu ia selesai melatih ilmu "Hong Loei chiet Kiam"

Itu segera pula mulai bersiap untuk meninggalkan gua tersebut.

Setelah keluar dari dalam gua, ia berlutut dan memberi hormat pada mayat Wang Huo Thaysu kemudian mengencangkan pedang dan buntalannya pada tubuhnya dan balikkan tubuhnya loncat masuk kedalam air, mengikuti mengalirnya air ia bergerak maju.

Setelah lewat beberapa saat sampailah dia pada arus yang deras itu, sekali lagi ia menutup seluruh pernapasannya, tetapi

kali ini arus itu mengalirnya terlalu panjang, belum saja sampai diluar gua dia telah didesak untuk mulai minum air telaga itu, baru kemasukan air dua tegukan, tak tahan diri dan jatuh tak sadarkan diri.

lewat beberapa waktu, ketika ia siuman kembali, dirinya telah terlentang di suatu sungai kecil.

Boen ching mengelengkan kepala, terdengar dari samping tubuhnya ada orang yang sedang bertanya pada dirinya.

"Siangkong, akhirnya kau sadar kembali."

Boen ching miringkan mukanya memandang kesamping tubuhnya tampak seorang tukang kayu berusia pertengahan berdiri disamping tubuhnya, Boen ching merasakan tubuhnya sangat lelah sekali, kepada tukang pencari kayu itu sambil tertawa, ujarnya.

"Tempat ini tolong tanya apa namanya "

Tukang pencari kayu itu sambil tersenyum balas menyahut.

"Tempat ini adalah dikaki gunung Tlong Thiau, tadi aku sedang pergi mencari kayu nampak siangkong terombang ambing oleh air dan lewat ditempat ini, untung aku sempat dengan Cepat menolong dirimu."

Boen ching dengan seenaknya menganggukkan kepalanya, sedang dalam hatinya diam-diam ia berpikir.

"Bukankah aku sedang berada digunung Hong San? "

Mendadak hatinya menjadi tergetar, dengan Cemas tanyanya.

"Benarkah tempat ini adalah gunung Tlong Thiau ?"

Tukang pencari kayu berusia pertengahan itu dengan tersenyum menganggukkan kepala.

dalam hati Boen ching merasa sangat terkejut, dia berdiam didalam gua dimana terdapat kolam nagaemas itu entah telah berapa lamanya, sedang jarak antara Gunung siong San sampai disini ratusan li jauhnya, dengan cemas tanyanya pula.

"Tolong tanya apakah malam Tiong chiu telah lewat atau belum?"

Tukang pencari kayu berusia pertengahan itu nampak wajah Boen ching demikian tegangnya, dia menjadi tertegun, kemudian sambil tersenyum ujarnya .

"Siangkong, kini sedang bulan tujuh tanggal lima belas, jarak sampai malam Tiong chiu masih sangat jauh sekali "

"oh..."

Setelah mendengar perkataan itu Boen ching baru dapat menjadi agak tenang, walaupun demikian dia berdiam didalam gua itu juga kurang lebih satu bulan lamanya, setelah termenung sejenak dari dalam sakunya ia mengambil sepotong perak dan diberikan kepada tukang pencari kayu berusia pertengahan itu sambil ujarnya.

"Terima kasih sekali kepadamu, ini sedikit pemberian dariku, harap kau mau menerimanya "

Sehabis berkata ia berjalan kearah depan.

Tukang pencari kayu yang berusia pertengahan itu menjadi tertegun, dengan termangu-mangu ia memandang kearah Boen ching.

dalam hati Boen ching menjadi sedikit merasa bingung, kejadian yang dialami pada beberapa hari ini semuanya bagaikan impian saja, dengan perlahan dia berjalan maju kedepan setelah mencari suatu tempat yang sunyi dan bersih ia mulai menjalankan pernapasan untuk kemudian melanjutkan perjalanannya lagi.

Dia teringat akan Kong Ku kemudian teringat pula Bwee Giok, saat Bwee Giok sebelum meninggalkan dirinya, sinar matanya juga perkataan yang diucapkannya, hatinya makia lama makin merasa menjadi berat sekali, dia tidak menginginkan Bwee Giok naik keatas istana chie Lan Kong, tentu dia telah menganggap dirinya telah binasa, sekarang bagaimana baiknya.

Boen ching berpikir terus, entah Bwee Giok kini berada dimana, ingin sekali dia untuk menemui seseorang untuk

ditanyai bagaimana keadaan dunia kangouwpada waktu baru-baru ini..Sambil berpikir tak karuan, dia menarik napas panjang-panjang dan berlari kearah gunung siong San.

Setelah melewati sebuah pa dang rumput, sampailah disuatu bukit kecil.

Mendadak Boen ching mendengar suatu suara yang sangat aneh sekali menggema dari belakang bukit itu, dengan Cepat tubuhnya berkelebat melayang keatas puncak kecil itu, tanpa terasa hatinya menjadi sangat terkejut.

Dibawah bukit kecil itu tampak berpuluh-puluh orang berbaju hijau sedang mengepung beberapa orang.

orang itu ternyata adalah Kong Sun Seh, Pek HOuw serta Pek Hian Ling tiga orang.

Ditinjau dari dandanan serta pakaian yang dipakai orang-orang itu, sekali pandang saja telah mengetahui kalau orang-orang itu adalah anak buah dari pihak chie Lan Kong, dalam hati Boen ching diam-diam merasa sangat terkejut, tak disangka entah karena urusan apa ternyata orang-orang dari chie Lan Kong telah bergebrak dengan orang-orang dari pihak Thian San Pay.

Jlka dilihat dari situasi serta keadaannya dapat dilihat Kong sun Seh bertiga telah didesak dibawah angin, sedang Kong Sun Sekpun telah mulai melancarkan ilmu "Thay Bong cap Pwee san"

Yang sangat terkenal itu.

Lawan orang-orang berbaju hijau itu nampak tubuh Kong Sun Seh melayang ketengah udara segera pula berpencar membentuk suatu barisan pedang.

Kong Sun Sek dengan sekuat tenaga menyerang kebawah, tetapi seluruh jurus serangannya berhasil dipunahkan oleh pihak lawan-Begitu jurus serangan dari ilmu "Thay Kong cap pwee san"

Itu telah habis digunakan tubuhnya melayang turun lagi keatas

tanah.

Selain dari orang berbaju hijau itu bagaikan angin puyuh mendesak mendekat, diantara berkelebatnya sinar pedang yang berkilauan, dari bentuk menyerang yang tak karuan kedudukannya tadi, kini telah berubah menjadi suatu jaringan pedang yang sangat tepat sekali, dalam waktu sekejap mata saja Kong Sun Sek, Pek Hian Ling telah terjerumus dalam suatu pertempuran yang sangat payah sekali.

Boen ching menjadi mengerutkan slisnya, dalam hatinya dan sadar bahwa jika hal ini diteruskan demikian, tiga orang itu pasti akan mengalami kekalahan seCara total, terhadap tiga orang itu dia sedikitpun tidak mempunyai permusuhan apapun, bahkan sebaliknya terhadap pihak chie Lan Kong dia mempunyai sedikit ganjalan.

Sebenarnya didalam hatinya memang sudah mempunyai niat untuk mencari orang untuk menanyakan berita-berita dari dunia kangouw baru2 ini, kini dia tak dapat lagi untuk bertindak terlambat.

sambil bersiul nyaring, ia menarik napas panjang-panjang sedang tubuhnya meloncat ke tengah udara dandari atas puncak bukit kecil itu melayang turun dan menubruk kearah belasan orang berbaju hijau itu.

Begitu siulan nyaring Boen ching itu keluar dari mulutnya, sekelompok orang-orang itu telah mengetahui kalau telah kedatangan musuh yang tangguh, pada saat miringkan mukanya untuk memandang, Boen ching dari tempat setinggi puluhan kaki itu telah melayang turun.

Kong Sun Sek bertiga dalam hatinya menjadi sangat girang, sedang puluhan orang berbaju hijau itu sebaliknya merasa sangat terkejut, didalam Bu lim orang yang dapat melayangkan tubuhnya ditempat datar sejauh puluhan kaki saja sudah sangat sukar untuk menemuinya, Boen ching kini dapat meloncat naik keatas sejauh puluhan kaki untuk kemudian melayang turun kembali keatas tanah, sungguh

merupakan suatu berita yang dapat mengejutkan orang yang mendengarnya.

Nampak keadaan demikian itu mereka telah mengetahui kalau Boen ching adalah musuh bukan kawan.

kini musuh tangguh telah tiba, mana sempat untuk mengusir Kong Sun Sek bertiga.

Puluhan orang berbaju hijau itu bersama-sama bergerak mundur, dengan sendirinya telah membentuk suatu barisan pedang yang sangat kuat sekali.

Tubuh Boen ching yang baru berada ditengah udara mencabut keluar pedangnya, pada saat tubuhnya hendak turun keatas tanah, dengan Cepat ia menarik napas panjang-panjang, dengan keras ia meloncat kan tubuhnya naik lagi setinggi dua kaki lebih, kemudian bersalto dan mengubah kedudukannya dengan kepala diatas dan kakinya berada dibawah.

Ie Bok Kiamnya ditengah udara membuat suatu guratan panjang, menyapu kearah puluhan orang berbaju hijau itu.

Jurus serangan yang dilakukan Boen ching ini dilancarkan dengan sangat hebat sekali, dengan mendatar menyapu kearah puluhan orang berbaju hijau itu, pedang panjang dari orang-orang berbaju hijau itu bersama-sama ditusukkan keluar membentuk suatu bayangan pedang dan balas menyapu kearah Boen ching.

Ketika pertama kali Boen ching tiba di tempat itu telah mengandung niat untuk menekan orang-orang itu dibawah pedangnya, dia dengan dingin mendengus, tenaga murninya dikerahkan ketubuh pedang Ie Bok Kiamnya bukannya menghindar malah sebaliknya menyambut kemuka.

Kong Sun Sek yang nampak dengan tiba-tiba Boen ching muncul ditempat itu, sebenarnya dalam hatinya merasa sangat girang.

tetapi kini ternyata Boen ching berani dengan keras melawan "Yun cang Tin Hoat"

Atau ilmu barisan

kelambu mega dari pihak chie Lan Kong, bukankah dengan akan menjerumuskan diri kedalam maut??

Yun cang Tin Hoat dari pihak chie Lan Kong adalah sakti yang paling diandalkan oleh chie Lan Kong didalam menjagoi dunia kangouw, begitu barisan itu di gerakkan barisan ini dapat menyerupai ilmu Pek pay, bahkan jika dibandingkan dengan ilmu Pat Sian Tian Hoat itu jauh lebih hebat lagi, jika barisan ini dibentuk keCuali bagi mereka yang memiliki ilmu tenaga dalam yang tinggi, kalau tidak sekali terjerumus didalamnya sukar sekali untuk meloloskan diri dari kematian.

TETAPI dia hanya mengkhawatirkau keselamatan dari Boen ching dengan sia2 saja, Boen ching setelah menelanpil berwarna emas dari Naga emas itu, kemajuan yang dicapai didalam tenaga dalamnya adalah diluar dugaan dirinya dimana tempat yang disabet oleh pedang panjang dari puluhan orang berbaju hijau itu, diantara suara yang sangat aneh telah patah menjadi dua semuanya.

Boen ching dengan wajah yang seperti tak pernah terjadi hal apa-apa turun keatas tanah, sedang puluhan orang berbaju hijau itu dengan termangu2 berdiri mematung disana.

Kong Sun sek pun saking terkejutnya berdiri tertegun disana, untuk sesaat tak dapat mengucapkan sepatah katapun juga .

Boen ching berjalan mendekati ketiga orang itu, kepada Pek HOuw dan Pek Hian Ling ia tersenyum, kemudian ujarnya kepada Kong Sun Sek.

"Kong Sun Cianpwe, telah lama tak bertemu apa baik-baik saja ?"

Kong sun Sek setelah tertegun sejenak. kemudian sambil tersenyum sahutnya.

"Didalam dunia kangouw telah mengabar kan bahwa kau telah dilemparkan kedalam telaga naga dingin hingga menemui ajalnya oleh pimpinan Tiga bersaudara chie Lan Kong, Kong Ku."

Boen ching nampak Kong Sun Sek meskipun tertawa, tetapi pada wajahnya tertutup oleh kedukaan, diapun memandang sejenak pada Pek HOuw serta Pek Hian Ling pada waktu biasanya tak mungkin dapat demikian tenangnya, tetapi sebaliknya pada wajah dua orang itu pun terlihat sikapnya yang aCuh tak aCuh, agaknya ada suatu urusan yang sangat berat yang menimpa diri mereka.

Sambil tertawa tawar ujarnya.

"Berita yang disiarkan memang benar, tetapi sekalipun aku dilemparkan oleh Keng Ku ke dalam telaga, tetapi untung tidak sampai mengalami kematian, ini hari baru saja lolos dari kesukaran, ternyata telah bertemu dengan Cianpwe."

Kong Sun sek setelah menyapu sejenak pada puluhan orang berbaju hijau itu, kemudian ujarnya.

"Mereka itu semuanya adalah orang-orang dari pihak chie Lan Kong, sedang chie Lan Kong telah mendapatkan hioloo peninggalan dari Hay Gwat Thaysu, bahkan kini telah bergabung dengan enam partai besar lainnya."

Dengan nada yang terkejut Boen ching mengeluarkan suara tertahan, hioloo kuno itu ternyata akhirnya juga didapat oleh Kong Ku, tetapi entah oleh karena sebab mengapa dia dapat bergabung dengan keenam partai besar lainnya, menurut pendapatnya hal ini sebetulnya tak penting untuk terjadi.

Kong sun Sek sambil tersenyum tawar ujarnya.

"ciangbunjin dari Thian San Pay, Pek Hong Siang dengan membawa senjata pusaka Thian Liong Suo telah pergi kegunung Khongtong, tetapi ternyata telah menemui ajalnya ditangan Bu Kie cie". Hati Boen ching menjadi tergetar, ciangbunjin dari Thian San Pay ternyata telah mengalami kematian ditangan Bu Kie cie, kalau begitu tak salah lagi kalau sikap dari Pek HOuw dan Pek Hian Ling demikian anehnya. Tetapi .... dengan

kepandaian Bu Kie cie apakah dapat menahan kehebatan dan kelihayan senjata pusaka Thian Liong Suo ?-?

Kong Sun Sek tidak menanti Boen ching membuka mulut untuk bertanya, dengan mendengus ujarnya lagi.

"Senjata Thian Liong Suo yang berada ditangan Pek Hong Siang kiranya-kiranya adalah yang palsu, yang asli sejak sepuluh tahun yang lalu telah diganti oleh Bu Kie chie, tak dapat disalahkan lagi kalau sepuluh tahun kemudian pihak Kong-tong-pay demikian rapat hubungannya dengan pihak Thian San Pay, dia adalah karena takut terbongkar rahasianya, dan sekarang telah mendapatkan tiga buah senjata pusaka Thian Liong Suo bahkan bersekongkol dengan pihak chie Lan Kong."

Dalam hati Boen ching segera sadar, Bu Kie chie ternyata demikian kejamnya, pada sepuluh tahun yang lalu telah merencanakan suatu rencana busuk untuk membunuh mati Thian San chiet Kiam.

"Malahan menukar senjata pusaka "Thian Liong Suo"

Yang asli dengan yang palsu dan kini membunuh pula Pek Hong siang.

Sedang mereka bercakap-cakap.

dari atas gundukan atas punoak gunung kecil itu melayang turun seorang lelaki berpakaian berwarna hijau.

Setelah lelaki berbaju hijau itu muncul, bagaikan kilat cepatnya berkelekat dihadapan empat orang itu, sedang matanya dengan sinar yang sangat dingin memandang pedang ditangan berpuluh orang berbaju hijau yang telah patah semuanya itu.

Sejenak kemudian dengan nada yang dingin ujarnya kepada Boen ching.

"Suatu kepandain yang sangat tinggi "

Boen ching dengan dingin mendengus, sambil balikkan tubuhnya, sahutnya.

"Suatu gerakan Cakar ayam saja, tak berguna sedikitpun jua, hanya masih belum memandang sebelah matapun pada ilmu silat dari chie Lan Kong."

Kong Sun Sek yang nampak munculnya orang itu, tanpa terasa dalam hatinya timbul rasa yang sangat terkejut, kiranya yang baru datang ini adilah anak murid dari Kong Ku yakni Yuen cong Hong.

Yuen cong Hong adalah anak murid kebanggaan dari Tiga bersaudara chie Lan, sedang sebelum chie Lan menginjakkan kakinya didunia kangouw, dia telah mempunyai nama yang sangat Cemerlang, dan kini sekali lagi munculkan dirinya, Ketinggian kepandaian yang dimilikinya dapat diterka bagaimana tingginya.

Dengan munculnya dia ini, kiranya keempat orang itu sukar sekali untuk meloloskan diri.

Terdengar Yuen cong Hong dengan dingin tertawa panjang kemudian ujarnya.

"Siapakah kau? Istana chie Lan selamanya tak ada seora ngpun yang berani demikian memandang rendahnya, ternyata engkau berani tidak memandang sebelah matapun juga sungguh besar sekali omonganmu itu"

Dengan dingin sahut Boen ching.

"Aku adalah Boen ching"

Yuan cong Hong menjadi tertegun tegasnya.

"Kau adalah Boen ching.?"

Boen ching dengan dingin tertawa panjang sejenak kemnudian ujarnya lagi.

"Aku memang benar adalah Boen ching, orang yang telah dilempar kedalam Telaga naga Dingin oleh seorang yang berasal dari istana chie Lan Kong Ku."

Sepasang alis Yuen cong Hong menjadi berkerut dengan dingin katanya.

"Sekalipun kau adaloh Boen ching lalu bagaimana?

kau baru saja lolos dari kematian ternyata kini telah menghantarkan nyawa lagi."

Sehabis berkata ia tertawa dingin.

Sepasang mata Boen ching dengan tajam memperhatikan Yuen cong Hong, tak henti-hentinya ia mengeluarkan tertawa dinginnya.

Dengan nada yang dingin ujar Yuen cong Hong "Engkau ternyata dapat sekaligus mematahkan lima belah pedang panjang, tentunya mempunyai selikit andalan, berharga juga bagiku untuk mempergunakan pedang."

Sambil berkata dengan perlahan lahan ia mencabut keluar pedang panjangnya.

Boen ching masih tetap tertawa dingin tak mengucapkan sepatah katapun juga .

Dalam hati Yuen cong Hong makin menjadi gusar ujarnya "Kali ini sejak ketiga orang suhunya menginjakkan kakinya kembali didalam dunia kangouw belum pernah aku menggunakan pedang selama tiga puluh tahun didalam dunia kangouw belum pernah orang melihat ilmu pedang yang sakti dari istana chie Lan dan kini kau bolehlah mencoba kelihaiannya."

Sehabis berkata, pedang panjangnya sedikit digetarkan, disaat memancarnya sinar pedang yang berkilauan pedang tersebut telah ditusukkan ke tubuh Boen ching.

Kong Sun Sek yang nampak Boen ching demikian memandang ringan pada pihak musuh, dalam hatinya diam-diam merasa sangat cemas, perpisahannya yang demikian lama dengannya, entah dia telah menemukan peristiwa aneh apa lagi, dan mend apatkan jurus2 aneh apa.

Golongan istana chie Lan Kong ku adalah mengandalkan ilmu Pedang "Mei Huan Kiam Hoat"

Atau ilmu pedang pencabut sukmanya untuk menggetarkan seluruh dunia kangouw.

Sekali serangan yang dilancarkan Yuen cong Hong ini telah membuat Boen ching mengetahui tinggi rendah dari kepandaian yang dimilikinya, dia mundur kebelakang selangkah, pedang panjang ditangan kanannya dicukilkan keatas, menangkis tusukan pedang yang dilancarkan oleh Yuen cong Hong.

Terdengar Yuen cong Hong dengan dingin mendengus, pedang panjangnya ditekan kebawah ternyata telah menggunakan arah yang berlawanan menusuk masuk lagi.

Dalam hati Boen ching sedikit merasa terkejut, ilmu pedang "Mie Huan Kiam Hoat"

Dari golongan istana chie Lan ternyata benar2 sangar aneh sekali, mau tak mau dia harus menunggu saat yang baik baru bergebrak, kakinya menginjak dengan kedudukan Pat Kwa, dengan gerakan tubuh "Sie Liu Eng hong"

Menahan serangan musuh.

Pedang panjang Yuen cong Hong dengan datar menyabet kedalam, tetapi ketinggian tenaga dalam yang dimiliki Boen ching saat ini bukanlah dia dapat melawannya, Boen ching hanya karena masih belum dapat meraba jelas keanehan dan kelihayan dari ilmu pedangnya ia baru mengubah kedudukannya menjadi pihak bertahan, membuat Yuen cong Hong yang melancarkan serangannya ber-turut2 tak mendapatkan hasilnya.

Boen ching sekaligus bertahan hingga berpuluh kali serangan, sedang dalam hatinya berpikir, dirinya telah menelan pil berwarna emas dari naga emas itu apakah hanya dapat bertahan saja ???

Sejak dia menginjak kakinya didaerah Tlonggoan, belum pernah dia memainkan ilmu pedang "Ie Bok Kiam Hoat"nya dengan sungguh2, kini semangatnya telah timbul, pedang panjang digetarkan.

Ie Bok Kiam segera menyerang dengan hebatnya dengan menggunakan jurus "Kiam Hwie Thian coan menerjang kearah Yuen cong Hong.

Ie Bok Kiamnya dengan meminjam tenaga yang digerakkan dari jari telunjuk dan jari tengahnya berputar setengah

lingkaran ditengah udara, dengan disertai suatu desiran pedang yang sangat tajam menusuk kejalan darah ching Boen Hoat dibawah dada Yuen cong Hong.

Yuen cong Hong selamanya tidak menyangka kalau Boen ching dapat melancarkan serangannya dari tempat itu, saking terkejutnya berturut2 dia terdesak mundur sebanyak dua langkah.

Boen ching yang nampak dalam satu jurus dia telah mendapatkan hasil, tubuhnya segera mental kedepan pada saat tangan kanannya ditekuk dan diluruskan lagi, ilmu pedang "Ie Bok Kiam Hoat"nya telah dikerahkan seluruhnya.

Tan coe coen dengan mengandalkan ilmu pedang Ngo Heng Kiam Hoatnya telah menjagoi daerah Sie Pak.

dan Shie Yuh Ku adalah puteri kesayangannya, sedang ilmu "Ie Bok Kiam Hoat"

Pun telah menghisap hampir separuh bagian dari intisari ilmu "Ngo Heng Kiam Hoat^ Boen ching yang dengan rajin melatih ilmu "ie bok Kiam Hoat"

Terhadap ilmu "Ngo Heng Kiam Hoat"

Tidaklah hafal, kini begitu ilmu "Ie Bok Kiam Hoatnya dikerahkan, segera pula telah memaksa Yuen cong Hong berada dibawah angin-Golongan istana chie Lan dengan ilmu "Mie Huan Kiam Hoat"nya telah menjagoi Bulim, tetapi keistimewaan dari ilmu Mie Huang Kiam Hoat ini pada saat menyerang musuh membuat pihak musuh sukar sekali untuk membedakan tempat kedudukan tetapi kini begitu pihak musuh bertahan dengan rapatnya, keistimewaannya dari ilmu pedang itu menjadi punah sama sekali.

Begitu Boen ching mengerahkan ilmu "Ie Bok Kiam Hoat"

Pada saat itu pula ia berhasil menduduki diatas angin, dimana ujung pedangnya menunjuk ternyata semuanya memaksa Yuen cong Hong untuk tetap berada dibawah angin-Pada saat ini kesadaran dari Boen ching telah hilang sama sekali, sejak dia datang kedaerah Tiong goan baru pertama

kali ini dengan sungguh-sungguh dia melancarkan ilmu "ie Bok Kiam Hoat"

Saking gembiranya dia menyerang membuatnya lupa segala-galanya segera ia bersiul nyaring, ilmu "Huan Ie Bok Kiam Hoat"

Telah dikerahkan pula seluruh jurus yang digunakan adalah kebalikan dari jurus pedang biasa, keanehan dan kelihayannya jauh melebihi dari ilmu "Mie Huan Kiam Hoat"

Sepuluh jurus belum sampai Yuen cong Hong telah dipaksa untuk melepas pedang panjangnya dimana pedang di tangan Boen ching berkelebat membuat pedang yang berada ditangan Yuen cong Hong terpental terbang.

Boen ching sambil memasukkan pedangnya kembali kedalam sarung ia memandang wajah Yuen cong Hong yang pucat pasi itu, dengan dingin ujarnya.

"Tidak perduli golongan istana chie Lan akan bergabung dengan beberapa golongan partai besar, tujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu pasti akan kurebut kembali, kau Cepat merat dari sini dan beritahu pada Kong Ku". Wajah Yuen cong Hong sangat pucat sekali, setelah termangu-mangu sejenak sambil memungut kembali pedang panjangnya, ujarnya pada Boen ching.

"ini hari aku Yuen cong Hong kalah ditanganmu, aku mengakui bahwa kepandaianku masih sangat Cetek. tetapi kau ternyata berani memusuhi pihak istana chie Lan, kecuali kau miliki ilmu silat yang tinggi seperti kepandaian Thian Jan Shu itu, kalau tidak kau jangan harap dapat hidup lebih lama lagi."

Sehabis berkata ia memandang tajam pada Boen ching sejenak, kemudian memberi tanda pada berpuluh orang berbaju hijau itu, dan putar tubuh meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Terdengar Boen ching dengan nada yang dingin ujarnya.

"Pertemuan yang diadakan diloteng oei Hok-Lopada bulan delapan malam Tiong chiu apakah pihak istana chie Lan mengambil bagian?"

Yuen cong Hong dengan membelakangi Boen ching, dengan dingin ujarnya.

"Golongan istana chie Lin memiliki sebuah hioloo kuno sudah tentu harus mengambil bagian pula, tentang soal ini harap kau legakan hati saja". Sehabis berkata menolehpun tidak dia, lari ke depan. Boen ching memandang bayangan dari Yuen cong hong dan berpuluh orang berbaju hijau itu sedang dalam hatinya dia termenung. Senjata pusaka "Thian Liong Suo ternyata telah jatuh ketanganBu Kie cie bahkan golongan istana chie Lan pun telah melibatkan diri dalam persoalan ini, pada saat yang diadakannya pertemuan diloteng oei Hok Lopada bulan delapan malam Tiong chiu entahakan muncul beberapa banyak lagi tokoh-tokoh Bulim yang telah lama mengasingkan diri dari keramaian. Kong Sun Sek nampak Boen ching ternyata dengan demikian mudahnya telah dapat mengalahkan Yuen cong Hong, mau tak mau membuatnya sedikit merasa terkejut, kemajuan yang dicapai oleh Boen ching dalam kepaadaian ilmu silat, sukar baginya untuk memperCayainya . Tetapi kejadian ini telah terasa dihadapan matanya membuat dia mau tak mau harus memperCayainya Boen ching sambil membalikan tubuhnya tanyanya pada Kong Sun Sek.

"Kong Sun Cianpwee aku mempunyai suatu urusan yang hendak ditanyakan entah Cianpwe mengetahuinya tidak?"

Sambil tersenyum sahut Kong Sun Sek.

"Selama pisah dengan Boen Siauwhiap dalam beberapa bulan saja, kini ketinggian dari tenaga dalam yang kau miliki

membuat aku orang tua untuk memikirkannyapun tidak berani kalau sekiranya kau mempunyai urusan hendak ditanyakan, tanyakanlah padaku, asal aku mengetahuinya tentu akan memberitahukan padamu".

Boen ching setelah termenung sejenak dengan perlahan-lahan tanyanya.

"Bagaimana dengan keadaan dari Siauw Tou weu perkumpulan Elang Sakti dari daerah TiangKang ini?"

"ooo ---"

Sahut Kong Sun sek.

kemudian diapun termenung tak mengucapkan sepatah katapun.

Dalam hati Boen ching terasa menjadi agak berat, ia tahu tentunya tidak ada beritanya entah Bwee Giok ini bagaimana.

Kong Sun Sek setelah termenung sejenak ia memandang sekejap pada Boen ching kemudian ujarnya.

"Pada masadekat ini orang-orang didalam dunia kangow semuanya telah mengetahui kalau engkau telah terkubur kedasar telaga naga dingin, bahkan Bwee Giok dengan kau hubungannya sangat baik sekali dan setelah kembali ke telaga thay Ouw lalu meminta ayahnya siauw siang Kiam Khek, Bwee Hong untuk tampil ke depan membalaskan dendam untuk kematianmu, bahkan suhunya Lam Hay coei Hong pun telah terjun pula kedaerah Tionggoan, golongan istana chie Lan telah bersatu padu dengan enam partai besar sudah tentu perkumpulan Elang sakti tak berani bergerak seCara gegabah".

"oooh---"

Sahut Boen ching, kemudian tanyanya.

"Bagaimana dengan Nona Bwee ?"

Kong Sun sek dengan terpaksa tersenyum kemudian sahutnya.

"Dia telah lenyap tanpa bekas-"

Dalam hati Boen ching terasa seperti dipukul dengan martil yang sangat berat, Bwee Glok telah lenyap tanpa bekas?

Dan tentu telah pergi ke istana chie Lan Kong dengan kepandaian yang dimilikinya itu sudah tentu hanya pergi menghantarkan nyawanya saja dan berbuat demikian tentunya karena ingin

memancing ayahnya dan suhunya untuk ikut serta naik keistana chie Lan Kong.

Mendadak pikiran yang serentetan menakutkan berkelebat didalam benaknya.

Terdengar Kong Sun Sek berkata lagi.

"Boen Siauwhiap apa tahu keadaan suhunya sicu.?"

Diam hati Boen ching sekali lagi merasa terkejut, didalam dunia kangouw dia dikabarkan telah meninggal dunia, sudah tentunya suhunya Ie Bok Tocu tidak akan menerimanya, entah sekarang bagaimana keadaanya, dengan tergesa-gesa tanyanya.

"Bagaimana dengan suhuku sekarang?"

Sahut Keng Sun sek.

"Suhumu dengan putrinya thian Jan shu pernah sekali naik keistana chie Lan banyak sekali jago-jago yang lihay dan jebakan maut terpaksa tanpa mendapatkan hasil ia balik kembali, dan kini berada di telaga thay Ouw"

Boen ching menjadi lega hatinya, selamanya dia mengetahui bahwa ilmu ginkang dari suhunya Ie Bok Tocu pada saat ini tidak ada bandingannya, sekalipun tidak dapat memenangkannya, tetapi juga tidak sampai mengalami kekalahan, Han ching Yu adalah putri dari Thian Jan Shu, kepandaian yang dimilikinya sudah tentu sangat tinggi sekali, sehingga tidak usah menguatirkan keselamatan mereka berdua tetapi masih ada seseorang Shie Siauw In, entah bagaimana nasibnya.

Pada saat ini mau tak mau juga harus memikirkan keselamatan dari Shie Siauw In-Sambil menghela napas kata Kong Sun Sek pula.

"Sedang sumoaymu itu pun juga ikut lenyap pula."

Boen ching tak mengucapkan sepatah katapun dan menundukkan kepalanya rendah2, diapun tidak mengetahui bagai mana sebaiknya, Bwee Giok telah lenyap tanpa bekas,

Shie Siauw In pun ikut lenyap pula, bagaimana ia dapat tidak menjadi sedih.

Setelah termenung sejenak Boen ching bertanya lagi kepada Kong Sun Sek.

"Kong Sun Cianpwe sekarang akan pergi kemana?"

Kong Sun sek dengan perlahan menghela napas sahutnya.

"Kini aku akan membawa kedua kakak beradik ini pergi ke gunung Thian San"

Boen ching berdiam diri tak mengucapkan sepatah katapun, Kong Sun Sek menghela napas lagi ujarnya.

"Tetapi aku kira tidak mudah untuk pulang kembali, apa lagi sekalipun setelah tiba digunung Thian san lalu apa gunanya? Tiba-tiba dalam hati Boen ching segera sadar kembali Kong Sun sek sudah tentu sedang pergi mengundang Thian San Hwie Eng atau elang sakti dari gunung Thian San suami isteri turun gunung tetapi kedua orang itu sejak dahulu telah bersumpah untuk tidak berkecimpung didunia kangouw lagi, sekalipun telah sampai di gunung Thian San Hwee Eng belum tentu akan menyetujui muncul kembali. setelah berpikir sejenak. kemudian ujarnya.

"Kong Sun cianpwee harap berlega hati, sekalipun golongan chie Lan Kong serta empat iblis sakti telah muncul, mungkin juga Toasupek, Jie supek dan Sam supek ku tidak akan berdiam diri untuk menonton, sampai pada saat ini aku telah menemui Toa supek serta Sam supek ku, jika Jie Supek ku muncul pula, maka Ngo Heng Tin bukanlah sudah hampir menjadi genap?"

Kong Sun Sek menjadi termenung Tan coe coen sejak dulu memangnya telah mempunyai tujuan hendak mengalahkan Thian Jan Shu dengan menggunakan Ngo Heng Tin ini, sekalipun Ngo Heng Tin selamanya belum pernah muncul

didalam Bulim, tetapi Thian Jan Shu beserta Tan coe coen dua orang yang satu di Timur dan yang lain diBarat semuanya adalah orang2 aneh yang bersama-sama mengangkat nama, sekalipun perkataannya yang diucapkan melebihi dari pada kenyataanya, tetapi kekuatan dari istana chie Lan Kong tentu tidak akan memandang sebelah matapun juga .

Kong sun sek setelah termenung sejenak.

kemudian ujarnya.

"Terima kasih atas bantuan yang diberikan Boen ching Siauwhiap hari ini, pada hari-hari mendatang apabila ada kesempatan tentu akan kubalas budimu ini"

Boen ching sambil tertawa ujarnya.

"Tak usah sungkan-sungkan lagi"

Kong Sun Sek dan Pek How kakak beradik setelah berpisah dengan Boen ching lalu berangkatlah menuju kegunung Thian San, Boen ching memandang bayangan ketiga orang itu hingga lenyap dari pandangan, sedang didalam hatinya diam-diam menghela napas, kini Seh Tu Hoa telah masuk dalam golongan hitam, kalau tidak kekuatan dari Ngo Heng Kiam Tin bukanlah dapat menakuti golongan istana chie Lan Kong.

Dia menjadi termenung.

"entah ini bagaimana baiknya, pergi ketelaga Thay ow kah? ataukah langsung menuju keistana chie Lan Kong"

Setelah berpikir sedang ia mengangkat mata keempat penjuru, mendadak dia mend engar suara tertawa yang sangat kalap.

hatinya terasa sangat terkejut, dengan tergesa-gesa ia menoleh memandang seora ng tua yang rambutnya terurai panjang, kakinya telanjang dan pada tangannya, mencekal sebatang pedang berlari dengan Cepatnya dari atas bukit kecil itu.

Boen ching tidak mengetahui siapakah orang itu, tampak orang tua itu begitu lari sampai dihadapan Boen ching segera mengangkat pedangnya dan disabetkan ketubuhnya, Boen

ching dengan cepat menyingkir ke samping, dalam hatinya terasa sangat terkejut, tenaga dalam yang dimiliki orang tua itu tidaklah berada dibawah Seh TU Hoa, entah kerena apa dia telah mengangkat pedangnya dan menyerang kearah nya, padahal dirinya tidak mengenalnya sama sekali dengan dia.

orang tua itu nampak tusukkan pedangnya tidak mencapai pada sasarannya, sambil tertawa kalap sekali lagi ia menusuk kearah Boen ching, sedang pada mulutnya teriaknya.

"Kalian semuanya selalu mengatakan kepandaian yang dimiliki oleh Thian Jan Shu nomor wahid didalam dunia kangouw, tetapi kalian semua seorangpun tidak mengetahui bahwa kepandaian yang dimilikinya itu seluruhnya berasal dari aku orang tua yang mewarisinya."

Boen cning menjadi sangat terkejut dengan tergera-gesa dia menyingkir kesamping, dia tidak mengetahui siapakah orang itu sebenarnya, kepandaian yang dimiliki Thian Jan Shu selamanya dikatakan orang sebagai ilmu sakti yang tanpa tandingan, tetapi juga tidak seorangpun yang mengetahui siapakah sebenarnya suhunya yang mewarisi ilmu silat yang demikian tingginya itu.

orang tua itu berturut-turut melancarkan beberapa kali serangan, Boen ching yang nampak orang itu agak kegila-gilaan, sedangkan jurus-jurus pedang tidak karuan sama sekali, tetapi jika dipandang olehnya agaknya sangat dikenal sekali.

Mendadak hatinya menjadi tergetar, didalam ilmu "Ngo Heng Kiam Hoat"

Dia pernah melihat jurus-jurus ilmu pedang tersebut, apakah dapat dikata dia adalah Jie Supeknya Lie Hwee Yu She, Lam Kong Hun? Tubuhnya dengan cepat mUndur ke belakang dan teriaknya.

"Tahan? Apa kau adalah Lam Kong supek?"

Orang tua yang gila itu agaknya merasa terkejut, mendadak menjadi tenang kembali, sedang pada mulutnya kemak kemik.

"Lam Kong supek? Siapa yang memanggil Lam Kong supek??."

Boen ching yang nampak orang tua gila itu berbuat demikian, hatinya terasa berdesir, dalam hati pikirnya.

"kiranya tidak salah lagi, orang ini tentunya adalah Lie Hwee Yu she, Lam Kong Hun, tetapi entah karena apa ia menjadi gila, suhunya dan para supeknya telah berpisah hampir mendekati dua puluh tahun lamanya, sedang Seh TU Hoa pun telah menjadi sesat, Lam Kong Hun pun menjadi gila, dalam hatinya tanpa terasa menjadi merasa sedikit keCewa. Setelah termenung sejenak kemudian ujarnya.

"Benar engkau bernama Lam Kong Hun"

Lam Kong Hun ..."

Lam Kong Hun dengan termangu-mangu berdiri mematung disana, sedang pada mulutnya tetap berkemak kemik, ujarnya.

"Lam Kong IHun? Lam Kong IHun???"

Sehabis berkata ia tertawa terbahak-bahak dan lanjutnya.

"Aku adalah suhengnya Thian Jan Shu, Seluruh kepandaian yang dimilikinya itu adalah aku yang mewariskan kepadanya, jika kau ingin belajar ilmu silat yang seperti kepandaian dari Thian Jan Shu, haruslah kau mengangkat aku sebagai suhu terlebih dahulu."

Boen ching dengan keCewa menundukkan kepalanya rendah-rendah, untuk sesaat tidak mengucapkan sepatah katapunjua. Terdengar Lam Kong Hun mendengus, dengan gusar ujarnya.

"Bagaimana?, kau ternyata demikian beraninya tidak mengangkat aku sebagai suhumu?, apakah dapat dikata kau tidak takut kepadaku??"

Sambil berkata tangannya yang mencekal pedang itu digerak-gerakkan-Boen ching mengangkat kepalanya, sedang diam-diam dia berpikir.

"Lam Kong IHun adalah supekku sendiri, dia dapat gila hingga menjadi demikian, itu pasti ada sebabnya, aku tidaklah tidak mengurusi urusan ini, bahkah Ngo Heng Kiam Tin yang telah menggetarkan seluruh dunia kangouw itu pasti harus dapat dikerahkan pula". Setelah termenung sejenak kemudian ujarnya.

"Baiklah aku akan meugangkat kau sebagai suhuku"

Lam Kong Hun memandang kearah Boen ching dengan tajam, bagaikan baginya terasa diluar dugaan, sejenak kemudian dengan tertawa mengejek ujarnya.

"Kiranya tidak mempunyai semangat sedikitpun jua"

Sepasang alis Boen ching menjadi berkerut, sedang dalam hati pikirnya.

"Bagaimanakah sebenarnya, tadi dia masih memaksa dirinya untuk diangkat sebagai anak murid nya. bagaimana dalam waktu sekejap telah berubah menjadi sedemikian rupa"

Hatinya segera bergerak pikirnya mungkin hal ini bukanlah hasil pemikirannya, dirinya jika ingin mendapatkan kabar berita mengenai sebab-sebab hingga Lam Kong IHun menjadi gila, pastilah harus menuruti segala pemikiran diingininya.

Setelah berpikir demikian, ia dengan suara dingin mendengus, dan ujarnya.

"Jangan dikata aku telah memiliki ilmu kepandaian silat sedikitpun juga tidak mungkin aku mau mengangkat kau sebagai suhuku"

Wajah Lam Kong Hun berubah menjadi dinugin, setelah tertawa dingin sahutnya.

"Sungguhkah?? Engkau mengira kalau tidak mau mendengar perkataan yang aku ucapkan lalu dapat enak-enakankah? Tahukah Thian Jan Shu itu seluruhnya adalah aku

yang mengajarkan, asalkan kau dapat mempelajari kepandaian sedikit saja telah dapat menjagoi seluruh Bu lim."

Boen Ching setelah berpikir sejenak kemudian sahutnya.

"sekalipun demikian engkau mengapa harus memaksa untuk mewariskan kepadaku?, jika kau memiliki kepandaian silat yang demikian tingginya mengapa tidak kau pergunakan sendiri???"

Lam Kong Hun yang mendengar perkataan ini menjadi termenung, sedang mulutnya berkemak kemik entah mengatakan apa, suaranya sangat kacau sekali, sekalipun Boen ching telah memusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan apa yang sedang diucapkan oleh Lam Kong Hun itu.

Lam Kong Hun setelah mengucapkan beberapa kata itu, kemudian menggelengkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, pedang panjang yang berada ditangannya itu disabetkan dua kali ditengah udara kemudian balikkan tubuhnya dan lari pergi.

Boen ching menjadi tertegun, ia tahu bahwa pasti karena jawaban yang diberikan olehnya itu tidak sesuai, dengan tergesa-gesa ia lari mengejar, sedang mulutnya berteriak.

"Kau mempunyai kepandaian silat apa??"

Lam Kong Hun hanya tertawa terbahak-bahak tak menjawab, dan tetap lari kearah depan.

Boen ching tidak mau melepaskan begitu saja, tubuhnya segera bergerak mengejar, Ginkang dari Ie Bok Tocu adalah menjagoi seluruh bulim, sedang tenaga dalam yang dimiliki Boen ching sekarang ini sangat tinggi sekali bahkan melebihi Ie Bok Tocu sendiri.

Pada saat ini begitu ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan, sedang Lam Kong Hun pun dalam keadaan tidak

beres ingatannya, sehingga Boen ching dapat mengejar disamping orang tua itu.

Terhadap Boen ching yang mengejar hingga disampingnya itu, Lam Kong hun bagaikan tidak merasakan sama sekali, dia sambil mengobat-abitkan pedangnya sambil lari kearah depan, setelah berputar dijalanan yang sempit itu, tak lama kemudian sampailah dibawah suatu pohon yang sangat besar.

Lam Kong Hun tertawa besar, tubuhnya berkelebat dan menubruk kearah pohon besar itu, pedang panjangnya berturut-turut menusuk beberapa kali, membuat tubuh pohon yang besar itu tertusuk hingga berpuluh-puluh lubang besar.

Boen ching yang nampak pada tubuh pohon besar itu terdapat berpuluh-puluh lubang tusukan yang besar, pula beberapa bekas sabetan pedang, dalam hatinya terasa agak terkejut, pada waktu itu kekuatan tenaga dalam yang dimiliki oleh Seh TU Hoa, sedang jika dilihat sekarang ini didalam hal kegesitan dan kehebatan dalam permainan ilmu pedang Lam Kong Hun jauh melebihi Seh Tu Hoa, sedang kepandaian Seh Tu Hoa dapat demikian lihaynya adalah berkat ilmu Thay Thien Kloe Sih yang sangat aneh gerakannya dan ilmu pukulan Koen Yuen ciang Hoat nya.

Lam Kong Hun tertawa besar, tubuhnya bagaikan terbang Cepatnya mengitari pohon besar itu sambil melancarkan serangan, sedang pada mulutnya teriaknya .

"Siapa yang mau belajar dari kau, jika kepandaian yang kau miliki itu sangat tinggi mengapa dapat dirantai oleh orang lain dengan besi yang demikian besarnya?"

Dalam hati Boen ching merasa terkejut, mendadak dari sebelah kiri dari pohon tersebut terdengar suara tertawa yang sangat aneh sekali, Boen ching tak mengetahui siapakah orang yang tertawa itu tapi dalam hatinya dia menduga bahwa pastilah orang inilah yang membuat Lam Kong IHun menjadi

tidak beres ingatannya, dengan cepat ia bersembunyi dibelakang sebuah pohon besar didekatnya.

Seorang kakektua yang sangat kurus dan berambut panjang berjalan mendatang, Boen ching nampak pada punggung kakektua itu membawa seutas rantai yang sangat besar, dia tahu orang yang disebut Lam Kong Hun tadi.

Lam Kong Hun terhadap orang yang sangat aneh ini bagaikan tak melihatnya sama sekali, dia masih tetap tertawa ter-bahak2 sedang tubuhnya bagaikan terbang cepatnya menyerang ketubuh pohon yang besar itu.

Terdengar orang aneh itu tertawa dingin, dengan perlahan ucapnya.

"Bagaimana? engkau masih tak mau menyerah,?"

Sekalipun waktu dia bicara sangat perlahan sekali, tapi setiap kata dan setiap kalimat yang di ucapkan itu mengandung tenaga dalam yang dapat dilihat jauh melebihi orang biasa, Boen ching pernah melihat Kong Ku waktu ketawa besar telah membuat gentar batang pohon hingga berbunyi gemerisik, tapi orang aneh yang berada dihadapannya itu telah dapat membuat daun dan bunga2 menjadi bergetar tak henti2nya.

Tubuh Lam Kong Hun segera berhenti bergerak.

setelah menghembus napas dengan keras teriaknya.

"Siapa yang mau menyerah padamu, sedang rantai besar yang ada ditubuhmupun itu tak sanggup untuk melepaskannya masih ingin menerima aku sebagai muridmu?"

Orang aneh itu dengan dingin tertawa panjang, untuk sejenak ia menutup sepasang matanya, sedang pada mututnya berkata.

"Thian Boen Thay cing Siauw Hu..."

Pada wajah Lam Kong Hun tampak rasa yang sangat terkejut dan ngeri, setelah lewat beberapa waktu ia baru menghembus napas lega dan ujarnya.

"Aku tak takut padamu yang tetap tak takut padamu, lalu kau dapat berbuat bagaimana"

Sehabis berkata ia menggerakkan pedang panjang yang ada ditangannya itu. Pada wajah orang aneh itu menampakkan perasaan yang sangat kecewa sekali sahutnya.

"Selama sepuluh tahun ini aku hanya pernah berjumpa dengan kau seorang yang memiliki tenaga dalam yang demikian tingginya, hanya kaulah seorang yang dapat membantu aku melepaskan diri dari belenggu,jika kau membantu aku membebaskan diri pastilah terhadapmu mempunyai kebaikan"

Lam Kong Hun tertawa besar, tubuhnya melayang dan menyabetkan pedangnya kesebuah pohon besar itu.

orang aneh itu dengan dingin mendengus, terdengar suara yang sangat perlahan sekali tubuhnya bersama ramai yang besar, itu telah menubruk ketubuh Lam Kong Hun, Boen ching yang nampak hal ini dalam hatinya merasa sangat terkejut sedang Lam Kong Hun diantara suara tertawa besarnya ia balikkan tubuhnya menusuk ketubuh lawannya.

orang aneh itu setelah berhasil menghindar tusukan pedang itu, ujarnya dengan nada yang keras.

"Kau ternyata berani melawan aku, jurus-jurus silatmu itu seluruhnya aku telah mengetahuinya dengan jelas, aku menasehatkan padamu lebih baik kau melepaskan pedangmu saja "

Lam Kong Hun tidak memperdulikan padanya, pedang panjangnya sekali lagi menusuk kearah orang aneh itu sekalipun pada tulang iga orang aneh tersebut telah dirantai, tetapi kegesitan dan kecepatan bergeraknya sangat mengejutkan sekali, tampak dia mendatarkan tubuhnya sambil melancarkan tusukan dengan jari tangannya, maka pedang

panjang ditangan Lam Kong Hun menjadi miring kesamping, sedang tangannya meneruskan serangan mencekal jalan darah dibelakang punggung Lam Kong Hun.

Jalan darah Lam Kong Hun yang kena dicekal membuat seluruh tubuhnya menjadi menggigil, dia menjadi kendor dan terjatuh keatas tanah.

orang aneh itu meletakkan tubuh Lam Kong Hun keatas tanah, dengan dingin ia tertawa serta ujarnya.

"Kau mau tidak membantu aku untuk melepaskan diriku ?"

Begitu jalan darah Lam Kong Hun dibebaskan ia tertawa besar lagi tak henti-hentinya. orang aneh itu dengan dingin mendengus, ia telah termenung sesaat kemudian ujarnya.

"Sudah hampir satu bulan lamanya engkau masih tetap demikian, mungkin memangnya telah menjadi gila benar-benar. Sehabis berkata dia dengan dingin mendengus lagi, Boen ching yang bersembunyi dibelakang pohon nampak waktu orang aneh itu mendengus pada sepasang matanya menampilkan napsu untuk membunuh tanpa terasa membuat dia menjadi terperanjat, entah, orang aneh itu akan berbuat apa. Terdengar orang aneh itu berkata padalam Kong Hun-"Kau janganlah berpura-pura menjadi gila, kau harus mengetahui, jikalau kau memangnya benar-benar telah menjadi orang gila aku juga tidak mungkinakan melepaskan dirimu, terpaksa aku harus membunuh mati kau."

Lam Kong Hun masih tetap tertawa besar tiada henti-hentinya.

orang aneh itu sekali lagi mendengus, Boen ching menjadi terperanjat, ia tahu bahwa orang aneh itu segera akan menurunkan tangan jahat terhadap Lam Kong Hun.

pada saat

ini kalau tidak munculkan diripun tidak mungkin bisa terjadi, dengan Cepat dia gerakkan tubuhnya dan berdiri didepan pohon besar itu.

orang aneh itu nampak munculnya Boen ching ditempat itu menjadi sangat terkejut, dengan tangan sebelah dia mencengkeram tubuh Lam Kong Hun, sedang tubuhnya dengan tergesa-gesa mundur satu kaki lebih kebelakang.

Dalam hati Boen ching menjadi bergerak ia tertawa tawar, dengan perlahan mencabut keluar pedang Ie Bok Kiamnya, ketika tangan kanannya digetarkan, Ie Bok Kiam telah lepas dari cekalan tangan kanannya dengan menggunakan jurus yang sangat lihay dari ilmu "ie Bok Kiam Hoat"

Ie Bok Kiamnya berputar setengah lingkaran ditengah udara membuat pohon yang besar patah menjadi dua bagian, sedang pedangnya dengan disertai suara yang sangat pertahan melayang kembali ketangan Boen ching.

jurus ini adalah jurus "Kiam Hwee Thian con"

Dari ilmu pedang "Ie Bok Kiam Hoat, Kiam Hwe Thian con"

Ini jika tidak dilepaskan dari tangan merupakan jurus serangan untuk menolong diri sendiri, sedang apabila pedang itu dilepaskan dari tangan kehebatannya jauh lebih lihay.

orang aneh itu nampak Boen ching memperlihatkan kepandaian yang sangat aneh dan lihay ini, menjadi berdiri termangu2 disana.

Boen ching sambil tertawa memasukkan pedangnya kedalam sarung, kepada orang aneh itu ujarnya.

"coba kau lihat tenaga dalamku ini apakah dapat menolongmu untuk melepaskan diri dari bahaya ?"

Setelah berkata dengan tanpa terasa dia menyapu Lam Kong Hun sekejap. orang aneh itu dengan dingin memandang Boen ching dia tidak mengetahui Boen ching karena urusan apa datang

ketempat ini, setelah termenung gejenak kemudian tanyanya.

"Engkau menginginkan apa?"

Boen ching tertawa tawar sahutnya.

"Aku tidak menginginkan segala sesuatu"

Orang aneh itu dengan dingin mendengus dia nampak Boen ching munculkan diri dihadapannya tentu sangat menguntungkan tetapi Boen ching mengatakan tidak menghendaki segala sesuatu, dia tidak berani memperCayainya, sebaliknya malah menaruh perasaan Curiganya terhadap Boen ching.

Dia bertindak maju delapan langkah, Boen ching sambil tersenyum, ujarnya.

"Tunggu kaujangan berjalan mendekat, jika aku berhasil kau Cekal, halakan tindakan terlalu baik "

Orang aneh itu dengan dingin mendengus, ujarnya.

Kau kalau memangnya tlah menyetujui menolong aku keluar dari kesusahan dengan tanpa syarat apapun, tetapi mengapa demikian takut kepadaku??

Engkau sebenarnya disebabkan karena apa?-?

Boen ching dengan tindak sewajarnya tertawa setelah memandang kekanan dan kekiri sejenak kemudian ujarnya.

"Aku hanya merasa sangat heran, aku dengar kepandaian silat yang dimiliki Thian Jan shu, itu adalah semuanya yang kau ajarkan kalau memang begitu siapakah yang dapat merantai kau disini?"

Orang aneh itu mendengus, dengan nada yang gusar, ujarnya.

"Jika kau menghendaki cepatlah menolong ku lolos dari kesukaran tak usah banyak bicara lagi!"

Boen ching tertawa tawar sahutnya.

"Kalau memangnya begitu selamat tinggal "

Sehabis berkata dia lalu membalikan tubuhnya dan berjalan pergi.

orang aneh itu nampak Boen ching hendak pergi, dengan keras teriaknya.

Boen ching balikkan tubuhnya sambil tersenyum, dengan seenaknya tanyanya..

"Masih ada urusan apakah? ?"

Orang aneh itu mendengus, setelah termenung sejenak baru ujarnya..

"Engkau apa pasti ingin menanyakan soal itu kepadaku ?-? ?"

Boen ching melirik sejenak ke arah Lam Kong Hun, sambil tertawa ujarnya.

"Aku memangnya ingin membantu kau meloloskan diri, sudah seharusnya aku tahu siapakah kau sebenarnya, dan karena urusan apakah hingga terkurung ditempat ini?"

Orang itu menjadi termenung, sedang sepasang matanya memandang tajam kearah Boen ching, sejenak kemudian ujarnya.

"Kau anak murid siapa ?"

Sambil tertawa sahut Boen ching.

"Sekarang ini adalah aku datang untuk menolong kau, sudah seharusnya kau tak usah banyak bertanya."

Orang aneh itu tertawa dingin, ujarnya.

"Baik kau sungguh sangat lihay sekali. tetapi telah aku mengatakan siapakah aku sebenarnya, aku kira kau tak berani datang menolong diriku ?"

Boen ching mengerutkan alisnya, sahutnya.

"Perkataanmu sungguh keterlaluan, aku kira walaupun kau telah menyebutkan namamu aku juga belum pernah mendengarnya."

Orang aneh itu tertawa dingin, ujarnya.

"Kalau memangnya demikian, memberi-tahukan kepadamu tak ada halangannya, aku bersama San Kwan Yu "

Boen ching menjadi termangu-mangu, sungguh tak disangka iblis dari daerah Selatan yang telah lama dilupakan oleh orang-orang Bulim ternyata telah muncul kembali ditempat ini, sekalipun nama San Kwan Yu tak terlalu terkenal, tetapi waktu itu untuk pertama kalinya berkelana didaerah Tionggoan sekaligus membinasakan ratusan jago-jago Bulim telah menggetarkan seluruh dunia kangouw, sedang sejak itu pula jejaknya menjadi tak jelas, walaupun keturunan dari jago-jago Bulim yang telah dibinasakan itu selalu mencarinya tetapi tetap tak dapat mencari jejaknya.

Dia menjadi termangu-mangu kemudian sambil tertawa tawar ujarnya.

"Kukira pada saat ini didalam Bulim sudah jarang sekali orang yang masih ingat akan nama Sang Kwan Yu lagi? "

Sang Kwan Yu tertawa dingin, ujarnya.

"Jika didengar dari perkataanmu, aku kira kau juga tak mengenal akan aku Sang KwanYu"

Sahut Boen ching dengan tawar. Sang Kwan Yu berturut-turut membunuh mati ratusan jago-jago Bulim, mengenai urusan ini sih aku pernah mendengarnya."

Sang Kwan Yu dengan dingin tertawa panjang, sejenak kemudian ujarnya.

"Kiranya kau hanya mengetahui tentang urusan itu, tetapi jika orang-orang yang benar2 mengetahui tentang diriku seharusnyalah mengetahui tentang peristiwa aku membasmi cing Jen dan chiong Lay dua partai". Sepasang alis Boen ching menjadi berkerut,pada waktu itu pengaruh dari partai cing Jen dan chiong Lay tidaklah di bawah pengaruh dari tujuh partai besar, setiap partai mempunyai anak murid sampai ribuan jumlahnya, sekali pun

dia belum pernah mendengar tentang peristiwa ini tetapi cukup dengan mendengar perkataan yang diucapkan oleh Sang Kwan Yu sendiri, bahkan waktu berbicara seperti tidak pernah terjadi hal tersebut, sudah cukup membuat hatinya terasa berdesir dan ngeri.

Sang Kwan Yu tertawa dingin, tubuhnya berkelebat bagaikan kilat Cepatnya menubruk kearah Boen ching.

Boen ching menjadi sangat terperanjat, tubuhnya dipaksa mundur dua kaki lebih, Sang Kwan Yu dengan dingin mendengus, ia mundur kembali ketempat asal, kepada Boen ching ujarnya.

"Kau beranikah menolong aku ??". Boen ching tidak menyangka kalau Sang-Kwan Yu datang melanjutkan serangan mendadak, jika bukannya dia selalu waspada, bukankah pada saat ini telah terjatuh di tangan Sang Kwan Yu ?? berpikir sampai dismi, tanpa terasa tubuhnya telah penuh dengan keringat dingin-Setelah lewat beberapa waktu dia baru menyambut dengan nada yang berat. Sang Kwan Yu tertawa dingin. ujarnya.

"Aku juga tidak perCaya kalau engkau mau menolong aku dengan tanpa meminta apa-apa, bagaimana kalau aku menurunkan serangkaian ilmu silat kepadamu sebagai balas jasa kau menolong aku?-? ". Tujuan dari Boen ching yang sebenarnya adalah ingin menolong Lam Kong Hun saja, tetapi pada saat Boen ching munculkan diri, Sang Kwan Yu telah berhasil menotok jalan darah dari Lam Kong Hun, sehingga memaksa Boen ching tidak dapat turun tangan untuk menolong. Sambil tertawa kemudian ujarnya "Boleh sih boleh, tetapi kau masih belum mengatakan siapakah yang merantai dirimu"

Sang Kwan Yu dengan dingin mendengus, setelah memperhatikan sejenak seluruh tubuh Boen ching, dia dapat merasakan bahwa Boen ching agaknya terhadap urusan dia akan mewariskan serangkaian ilmu silat kepadanya itu tidaklah terlalu memperhatikan, dia mulai mencurigai kalau Boen ching mempunyai lain tujuan-Dengan tawar ujarnya.

"Adalah Thian Jan Shu yang merantai aku". Dalam hati Boen ching terasa bergetar, kemudian dengan tertawa ujarnya.

"Itulah sangat aneh sekali, Thian Jan Shu mengapa mau merantai dirimu, jika menurut adatnya, dia tidaklah mungkin mau membuang demikian banyak waktu hanya untuk merantai kau"

Sang Kwan Yu memandang tajam kearah Boen ching dan ujarnya.

"Aku mempunyai serangkai ilmu silat untuk ditukarkan dengan bantuanmu menolong aku lolos dari bahaya, menurut kau bagaimana ?-?"

Boen ching menganggukkan kepalanya. Mendadak dia sadar bahwa Sang Kwan Yu telah mencurigai dirinya, dengan tawar ujarnya.

"Baik sih baik saja, tetapi aku harus mengetahui terlebih dahulu ilmu silat apakah yang akan kau wariskan kepadaku ". Dengan dingin sahut Sang Kwan Yu.

"Setelah kau melepaskan diriku sudah tentu aku akan memberitahukannya kepadamu "

Boen ching setelah termenung sejenak. baru ujarnya.

"Harus berbuat bagaimana, untuk melepaskan dirimu?-? " . Ujar Sang Kwan Yu kemudian-Sehabis berkata dia balikkan tubuhnya dan berjalan, tetapi ketika dia melirik kesamping, nampak Lam Kong Hun masih

terlentang disampingnya, dengan perlahan dia mendengus, sekarang ini Lam Kong Hun terhadapnya sudah tidak berguna sama sekali, dia berpikirpun tidak, tangan kanannya diangkat, dan akan memukul binasa Lam Kong Hun.

Boen ching yang nampak hal ini menjadi terkejut, dengan cemas ujarnya dengan nada yang keras .

"Tahan --"

Sang Kwan YuBegeta menarik kembali hawa pukulannya, setelah termenung sejenak, kemudian balikkan tubuhnya memperhatikan Boen ching dengan tajam, tak henti-hentinya dia tertawa dingin, sedang dalam hatinya berpikir, kiranya dia datang kemari adalah karena Lam Kong Hun ini.

Boen ching nampak sikap Sang Kwan yu yang demikian itu, dalam hatinya diam-diam merasa terkejut, sambil berpura-pura bagaikan tak ada urusan sedikitpun ujarnya .

"Bagaimana aku dapat mengikuti kau pergi??"

Sang Kwan Yu setelah ragu-ragu sejenak, pikirnya "Kiranya dia adalah takut setelah mengikuti aku lalu ditangkap oleh aku ". Setelah memandang sejenak kearah Lam Kong Hun, kemudian ujarnya .

"Kau legakanlah hatimu, kalaupun aku telah menyetujuinya sudah tentu tidak akan menyesal lagi "

Boen ching nampak kecurigaan dari Sang-Kwan Yu telah hilang, dia baru merasa berlega hati, sambil tertawa ujarnya.

"Kalau kau memangnya berkata demikian tapi bagaimana aku dapat mempercayai omongan mu itu??"

Sepasang mata Sang Kwan Yu memancarkan sinar yang berkilat-kilat, kemudian ujarnya. Sambil tersenyum sahut Boen ching.

"Hal ini adalah urusanmu sendiri, kau ingin aku membantumu, sudah tentu urusan ini kau harus memikirkan

sesuatu cara untuk menyelesaikan hal ini."

Sambil berkata tanpa sadar matanya, melirik sejenak kearah Lam Kong Hun.

Lirikannya ini sekalipun secara tak sengaja, tapi sejak tadi Sang Kwan Yu memangnya telah menaruh rasa curiga.

tapi ketika dia memandang sekali lagi terlihat Boen ching bagaikan tak tertarik akan urusan ini dalam hatinya timbul lagi perasaan curiga terhadap Boen ching mungkinkah dia datang kemari adalah karena urusan Lam Kong Hun.

Pikirannya segera berputar, teringat olehnya ketika saat Boen ching munculkan dirinya adalah pada saat dia akan membereskan Lam Kong Hun, didunia ini urusan yang demikian tepatnya adalah tak mungkin demikian banyaknya.

Berpikir sampai disitu, dia tertawa dingin.

"Aku mempunyai suatu cara yang sangat bagus,"

Sambil berkata dia memandang sekejap kearah Lam Kong Hung dan terusnya.

"orang ini aku berikan kepadamu, kau bolehkah berlega hati."

Dalam hati Boen ching menjadi bergerak. dengan nada yang Cepat ujarnya.

"Janganlah bergurau, aku meminta dia apa gunanya, bukankah tadi kau masih ingin membinasakan dia dibawah tanganmu ???"

Dengan dingin Sang Kwan Yu.

"Tapi kau telah mencegahnya, bahkan sebanyak dua kali kau mencegahku untuk membunuhnya..,"

Boen ching tertawa tawar, ujarnya.

"Mungkin karena kau terlalu bercuriga terhadap aku."

Sang Kwan Yu dengan dingin tertawa panjang ujarnya.

"Apa boleh dikata kau datang kemari bukannya karena dia ????"

Sambil berkata dia tertawa dingin dia memandang tajam kearah Boen ching, pada saat ini dia sudah dapat memastikan maksud kedatangan Boen ching ke tempat itu.

Boen ching menjadi tertegun, ujarnya.

"Kau tak usah ber-pura2 lagi, jika kau berpura-pura sekali lagi segera aku akan membunuh mati dia, aku mau melihat kau bersiap akan berbuat bagaimana."

Boen ching diam tak menjawab, sasaat kemudian katanya.

"Untuk mengatakan yang sebenarnya juga tidaklah mengapa, dia adalah Supekku, aku datang kemari memangnya bertujuan untuk menolong dia."

Sahut Seng Kwan Yu dengan nada yang dingin-"Bagus kalau memangnya demikian, supekmu kini telah berada ditanganku, seharusnyalah kau turun tangan untuk menolongnya, kalau tidak nyawa dari supekmu ini aku takkan tanggung lagi."

Boen ching sambil membalikkan tubuhnya, ujarnya.

"supekku itu kutitipkan padamu untuk menjaganya, kini aku berangkat terlebih dahulu."

Seusai berkata ia bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Sang Kwan Yu dengan nada keras, bentaknya.

"Jangan pergi,jika kau berani bertindak selangkah lagi, aku segera akan membunuh mati supekmu Lam Kong Hun ini dibawah telapakku."

Pada saat dia mengucapkan kata-kata itu suaranya sangat keras dan sungguh2, Boen ching terpaksa menghentikan langkahnya, ketika dia memandang sejenak nampak tangan kanan Sang Kwan Yu telah diangkat keatas, jika seumpamanya tangan itu diturunkan dengan mudah telah dapat membinasakan Lam Kong Hun.

Boen ching yang membalikkan tubuhnya nampak keadaan yang demikian itu, dalam hatinya sekalipun merasa terkejut,

tetapi tetap pada wajahnya bersikap tenang, sambil tertawa ujarnya.

"Apa kau ingin menggunakan tindakan demikian untuk memaksaku ??"

Sang Kwan Yu tertawa dingin, sahutnya.

"Sejak aku dikurung selama puluhan tahun baru ini hari mendapatkan kesempatan yang benar-benar untuk meloloskan diri, tidak mungkin aku akan melepaskan dirimu dengan mudah."

Dengan tawar ujar Boen ching lagi.

"Kau menghendaki akupun terjatuh ketanganmu, aku kira kau tak mungkin dapat melaksanakannya "

Sang Kwan Yu tertawa dingin, sahutnya.

"Pada waktu kau datang tadi kau ber-pura2 sungguh sangat mirip sekali, hampir saja aku dapat kau kelabui, engkau tidak menginginan terjatuh ketanganku, tetapi engkau pergi dari sini, kau haruslah tahu bahwa saat ini Supekmu Lam Kong Hun telah terjatuh ketanganku."

OooXooo BOEN CHING termenung dan berpikir keras dia tahu sekarang ini untuk meloloskan diri sangat sukar sekali.

Nyawa dari Lam Kong Hun semuanya tergantung ditangannya, dia tidaklah mungkin untuk meninggalkan hal tersebut dengan seenaknya, berpikir begitu tanpa terasa ia menghela napas dengan perlahan-Sekarang sinar mata dari Sang Kwan Yu terus berputar dan tertawa dingin tak henti2 -ooo0dw0ooo-BOEN CHING nampak Sang Kwan Yu demikian mendesak dirinya, dengan perlahan-lahan dia tertawa, ujarnya.

"Tetapi diantara kita berdua harus mempunyai suatu penyelesaian, bukankah begitu?"

Sang Kwan Yu dengan dingin tertawa panjang, ujarnya^ "Hanya engkau harus melepaskan diriku, selain itu tak ada cara-cara lainnya lagi."

Boen ching tertawa tawar, dengan perlahan dia mencabut pedang panjangnya dan dikebutkan kesebelah kanannya sambil katanya.

"Tetapi aku kira jika kita selesaikan dengan cara mengadu kepandaian, bukankah itu sangat cocok sekali ?."

Pada sinar mata Sang Kwan Yu terlihat menampilkan sinar yang ragu-ragu, dengan sinar yang tidak percaya dia memandang kearah Boen ching.

Boen ching dengan seenaknya menyapu sejenak keempat penjuru dari tempat itu, dengan perlahan dia berjalan mendekat kearah Sang-Kwan Yu.

Didalam hati sakalipun Sang Kwan Yu telah mengetahui bahwa Boen ching bukanlah lawannya, tetapi diapun mengetahui bahwa kepandaian yang dimiliki pemuda ini tidaklah dapat dihadapi dengan mudah, dengan perlahan dia meletakkan tubuh Lam Kong Hun diatas tanah dan tertawa dingin tak henti-hentinya.

Dalam hati Boen ching diam2 membatin, pada tubuh Sang Kwan Yu terdapat rantai yang sangat besar sekali, sudah pasti gerakannya tidaklah lincah, dirinya sekalipun tidak berhasil menolong dia juga tidak usah dikuatirkan tak dapat meloloskan diri.

Dia maju mendesak satu langkah lagi, Sang Kwan-Yu tertawa dingin, tubuhnya diantara suara bergeseknya rantai besi, secepat kilat menubruk kearah Boen ching, sedang kedua telapak tangannya menghantam kedada Boen ching.

BOEN CHING sambil miringkan tubuhnya melancarkan serangan, pedangnya menyerang ke jantung Sang Kwan Yu.

Sang Kwan Yu dengan dingin mendengus, ia disebut orang sebagai iblis sakti dari daerah selatan, sudah tentu ada sebabnya, tubuhnya berputar dan tahu2 telah berada dibelakang tubuh Boen ching, dengan sikutnya dia menerjang punggung Boen ching.

Boen ching yang diserang secara demikian itu hatinya menjadi berdesir, dia tidak menyangka kalau gerakan tubuh dari Sang Kwan Yu dapat demikian cepatnya, dengan cepat ia dengan membelakangi musuh melancarkan serangan tendangan kilat.

Sang Kwan Yu juga merasa sedikit diluar dugaan, dia tidak menyangka kalau Boen ching dapat balas melancarkan serangan dengan demikian cepatnya.

Tubuhnya segera bergerak mundur, sedang lima jari tangan kanannya bergerak secepat kilat mencekal kaki kanan Boen ching.

Boen ching menjadi sangat terkejut, tetapi pengalaman dan kesusahan yang dialami beberapa bulan ini telah membuat ia tidak menjadi kalut waktu menghadapi bahaya, kaki kanannya ditekuk kebawah menginjak pergelangan tangan Sang Kwan Yu, salah satu jurus dari ilmu "Thay Thien Kioe Sih"

Yakni jurus "Shia Then Sang Gwat"

Telah dilancarkan pada saat tubuhnya berputar ditengah udara dia telah berhasil melempar pergi tubuh sang Kwan Yu, dengan demikian tubuh kedua orang itu menjadi agak terpisah.

Sang Kwan Yu setelah berhasil berdiri tegak tanpa terasa menjadi tertegun disana.

Tubuh Boen ching pun berhasil mencapai di atas tanah dengan selamat sedang hatinyapun merasa sangat berat sekali, kaki kanannya segera terasa sangat sakit, kali ini jika bukannya gerakannya sangat cepat, sehingga pada saat Sang Kwan Yu belum sempat mengerahkan tenaganya dia telah

berhasil menghidarkan diri, kalau tidak sekitarnya lima jari Sang Kwan Yu dirapatkan kaki kanannya bukankah telah menjadi hancur berantakan, entah pada saat ini telah menjadi bagaimana.

Sepasang mata Sang Kwan Yu berkilat, keanehan dari kepandaian silat yang dimiliki pemuda dihadapannya ini belum pernah dia menemuinya, tadi dia mengira bahwa pasti dia dapat berhasil menangkapnya, tetapi sungguh tak disangka pada saat yang sangat tepat sekali Boen ching dapat meloloskan diri, bahkan melemparkan dirinya hingga sejanh dua kaki lebih, tanpa terasa dia mulai memperhatikan kepandaian dari Boen ching ini dan lebih berwaspada lagL Boen ching setelah termenung sejenak pedang panjangnya menyabet setengah lingkaran ditengah udara, kemudian berjalan mendekati kearah Sang Kwan Yu, dia telah mempunyai niat untuk menggunakan ilmu "Hong Loei Chiet Kiam utuk mengalahkan Sang Kwan Yu.

Hati Sang Kwan Yu pun terasa sangat berat.

Sekalipun pedang panjang yang berada ditangan kanan Boen ching hanya dengan seenaknya menyabet setengah lingkaran ditengah udara, tetapi sekali pandang saja ia telah mengetahui kalau Boen ching hendak menggunakan ilmu pedang yang disertai dengan tenaga dalam yang lihay untuk bertempur melawan dia.

ilmu pedang sebenarnya juga merupakan suatu ilmu dari limu silat, dia dengan tangan kosong ingin bertempur melawan ilmu pedang yang disertai ilmu tenaga dalam yang lihay sudah tentu tidak mungkin akan dapat mendapatkan kemenangan, tetapi jika dikatakan akan melarikan diri ??

dia tidak mungkin akan mau melaksanakan niat itu.

Disaat pikirannya masih bergolak.

tubuhnya telah menubruk maju, bagaikan seekor burung rajawali raksasa menyerang kearah Boen ching.

Pedang panjang Boen ching segera direndahkan kemudian dipantulkan keatas jurus pertama dari ilmu "Hong Loei Chiet Kiam"

Yakni jurus "Hong Tong Loei Tong"

Atau angin santar petir menyambar telah dilancarkan.

Ie Bok Kiamnya dengan disertai sinar yang berkilauan dan disertai pula suara angin dan petir menyerang ketubuh Sang Kwan Yu dengan dahsyatnya.

Ketika Sang Kwan Yu mendengar suara angin dan petir yaug dahsyat, hawa dari pedang Ie Bok Kiam itu telah menyerang ke tubuhnya, dia merasa sangat terkejut sekali, tubuhnya dengan cepat mundur kebelakang.

jurus pedang yang dikerahkan oleh Boen ching telah dilancarkan, mana dia mau melepaskan Sang Kwan Yu dengan demikian, bahwa pedangnya menyebar keseluruh penjuru, sedang sinar pedang berkilauan sehingga menyilaukan mata, mennerjang kearah Sang Kwan Yu.

Sang Kwan Yu merasa sangat terkejut bercampur gusar, sungguh sangat tak disangka olehnya bahwa dirinya ternyata berhasil didesak oleh seorang pemuda yang tidak dipandang sebelah matapun olehnya itu, pikirannya segera bergerak tubuhnya dengan keras berputar sedang rantai besi yang berat itu melayang ketengah udara dan menyambut datangnya serangannya pedang yang dilancarkan oleh Boen ching.

Gaya serangan Boen ching segera berubah suara pedangnya yang bagaikan angin kencang danpetir menyambar itu segera berubah menjadi angin keras yang keluar dari lembah, melambung menyapu kearah Sang Kwan Yu.

Tangan kanan Sang Kwan Yu mencekal rantai besi yang berat, nampak pedang Boen ching sekali lagi menyerang kearahnya dengan dingin dia mendengus, tangan kanannya sedikit digetarkan, rantai besi yang berat itu bagaikan ular yang cerdik melibat ketubuh Ie Bok Kiam ditangan kanan Boen ching..

Boen ching tahu bahwa jika dia tidak cepat menarik serangannya, pedangnya pasti tak dapat melawan rantai besi yang berat itu, tetapi Sang Kwan Yupun akan terluka dibawah pedangnya.

Jago2 yang berkepandaian tinggi waktu bertanding hanya terlambat setengah detik, pun mungkin akan mengalami kekalahan-Begitu dia agak ragu2, rantai besi Sang Kwan Yu yang berat itu telah makin mendekat.

tidak menanti dia berpikir panjang lagi, Sang Kwan Yu yang nampak pedang Boen ching tidak mungkin dapat menghindarkan diri dari libatan raatai besinya itu, tak hentinya dia tertawa dingin.

Dia tidak mengetahui bahwa ilmu pedang Boen ching yang disertai oleh tenaga dalam yang lihay itu sangat besar sekali perubahannya dan sangat lihay akibatnya, sekalipun Boen ching belum medapatkan inti sarinya tapi jika digabung kan dengan tenaga dalam didalam tubuhnya sudahlah cukup untuk mematahkan rantai besi"-"Miauw Thian Han Lien"

Itu.

Bahkan dengan ilmu pedang Boen ching ini, hanya dapat menolong dia untuk mematahkan rantai besi itu, dan sampai melukai dia.

Tapi mendadak sepasang mata Boen ching berkilat, gerakan pedangnya darisebelah kanan telah beputar kesebelah kiri dan Ie Bok Kiamnya pun dari tangan kanan Boen ching berputar ke tangan kirinya, dalam sekejap mata saja suara angin dan petir menyambar lagi sedang gerakan pedangnya menusuk keluar dari arah yong tidak pernah diduga oleh Sang Kwan Yu, dengan menempel pada rantai besi yang berat itu menusuk ke dada kiri Sang Kwan Yu.

Sang Kwan Yu merasa sangat terrkejut dia hanya merasakan empat penjurunya diliputi oleh angin yang sangat tajam membuat dia hampir2 tidak dapat bernapas dia mengancangkan gigi dengan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya itu mengangkat rantai "Miauw Thian Han Lien-nya

dan dipukulkan kearah kiri, sedang tubuhnya menghindar kesebelan kanan.

Pedang Ie Bok Kiam yang berada ditangan Boen ching segera bertemu dengan rantai "Miauw Thian Han Lim"

Terlihat percikan bunga api berterbangan, diantara suara dengusan gusar, pundak kiri Sang Kwan Yu telah berhasil tertusuk oleh serangan pedang Boen ching.

Sang Kwan Yu mundur dua langkah kebelakang, dengan menahan rasa sakit yang bukan buatan dengan sekuat tenaga menarik putus rantai besi yang berada ditubuhuya sedang menderita luka dalam yang parah, dia tak berani bertempur lebih lama lagi sambil membalikkan tubuhnya ia lari kearah hutan yang ada didepannya.

Boen ching yang dengan sekuat tenaga melancarkan serangan, juga merasakan bergolaknya tenaga murni didalam tubuhnya, sekalipun dia mempunyai niat untuk mengejar Sang Kwan Yu dan menyerang dia lebih parah lagi, tetapi keadaannya tak mengijinkan, apalagi Lam Kong Hun masih tergeletak disamping, tidak mungkin dia pergi meninggalkan dia seorang, terpaksa dengan melotot dia memandang Sang Kwan Yu sambil mematahkan rantai besi yang ada ditubuhnya dan lari pergi.

Setelah Sang Kwan Yu meninggalkan tempat itu Boen ching baru dapat menghembus napas lega, Sang Kwan Yu juga merupakan orang dari golongan sesat, dengan lolosnya dia hari ini, kiranya didalam Bu Lim akan bertambah lagi seorang iblis yang sangat manakutkan?.

Boen ching balikkan tubuhnya dan berjalan ke arah Lam Kong Hun, Lam Kong Hun yang telah ditotok jalan darahnya oleh Sang Kwan Yu telah digeletakkan diatas tanah, segera Boen ching datang mendekat dan membantunya untuk membebaskan diri dari totokan-

Lam Kong Hun dengan perlahan mementangkan sepasang mata dengan tajam dia melotot ke arah Boen ching di ikuti dengan tertawa kalap dia bangkit berdiri, Boen ching menjadi sangat terkejut pikirnya.

Kali ini tidak boleh membiarkan Lam Kong Hun pergi lagi.

"dia telah dipaksa oleh Sang Kwan Yu hingga menjadi tidak beres ingatannya, aku harus mencari suatu tempat yang bagus untuk berusaha memulihkan kembali ingatannya". Ingatan ini berkelebat didalam benaknya, dengan segera ia bangkit berdiri, sepasang matanya memandang tajam kearah Lam Kong Hun, dengan suara yang dalam bentaknya.

"Pungut kembali pedangmu "

Lam Kong Hun segera bangkitkan tubuhnya, dengan termangu-mangu memandang terpesona ke arah Boen ching, setelah lewat beberapa waktu dengan perlahan menggeserkan tubuhnya dan memungut kembali pedangnya.

Pedang Ie Bok Kiam ditangan Boen ching sedikit digetarkan ujarnya.

"Hati hatilah kau "

Sehabis berkata tidak menunggu sampai ingatan kedua berkelebat didalam benak Lam Kong Hun pedangnya telah melancarkan serangan, jurus dari ilmu "Ngo-Heng Kiam Hoat"

Yaitu jurus "Hong Juan Cie Tie"

Atau air deras menerjang daratan. Lam Kong Hun terdesak. segera dia mengangkat pedangnya menyambut, tetapi jurus ini merupakan kedudukan "swie"

Dan tepat merupakan lawan dari gerakan pedang yang dimainkan Lam Kong Hun-Lam Kong Hun menjadi sangat terkejut, dengan cepat dia mundur setindak ke belakang dengan jurus "Chie Hwee Lian Thian"

Atau membawa api memusnakan langit, balas menyerang kearah Boen ching.

Boen ching tertawa tawar, dia dengan cepat menarik pedangnya dan melancarkan jurus "Kiem lien Tang-Tie"

Atau Kota emas memusnahkan kolam, jurus ini merupakan suatu jurus untuk mempertahankan diri, tetapi termasuk dalam kedudukan "Sie Kiem"

Terlihat Lam Kong Hun balas menyabet dan menusuk ke arahnya.

Boen ching berturut-turut mundur kebelakang, Lam Kong Hun bagaikan orang yang kemasukan roh jahat, pedangnya dibalik, ilmu "Lie Hwee Kiam Hoat"

Segera dilancarkan bagaikan angin taupan dan ombak yang menggulung di samudra menyerang ke arah Boen ching.

Boen ching sambil mengangkat pedangnya berturut-turut dia mundur kebelakang sebanyak sepuluh langkah lebih, bersamaan dengan bentakan nyaring, Ie Bok Kiam Hoat segera dilancarkan, kedua belah pihak saling balas menyerang, bukan saja untuk sementara tidak dapat ditentukan siapa yang menang dan siapa yang mengalami kekalahan, bahkan gerakan pedangnya bagaikan saling melekat satu dengan yang lainnya.

Sinar mata Lam Kong Hun mulai menampilkan rasa sangat terkejut, dengan cepat dia memusatkan seluruh perhatiannya pada gerakan pedang dari kedua belah pihak, sedang matanya dengan tajam memperhatikan jurus pedang yang dilancarkan oleh Boen ching, tak henti-hentinya sinar matanya berkelebat.

Terhadap gerakan dari ilmu Ie Bok Kiam Hoat, Boen ching telah lama mengenalnya, pada saat ini sewaktu melancarkan telah sangat hafal sekali.

Pada waktu itu ketika Tan Coe Coen menciptakan ilmu "Ngo Heng Kiam Hoat", untuk mengimbangi atas jerih payah hasil ciptaannya itu, jurus-jurus pedang itu telah diwariskan kepada Ie Bok Tocu serta keempat anak muridnya.

Sekali pun jurus pedangnya satu sama lain berlawanan, tetapi tetap ssluruhnya merupakan serangkaian ilmu pedang, sehingga jika antara jurus pedang yang satu

dengan yang lain bertemu akan menampilkan suatu bentuk yang saling menempel.

Boen ching dengan nyaring membentak ilmu pedang "Ngo Heng Kiam Hoat"

Dari kedudukan "Swie"

Segera dilancarkan, berturut-turut dia mengerahkan jurus "Hoa Cing Cay Yen-atau "sungai aman laut tenang.

"Ciang Huan Lang Yong"

Atau Telaga terbalik ombak mengganas dan "Swie Yun Pih Jiet"

Atau air mega memutari matahari, sehingga memaksa Lam Kong Hun berturut-turut mundur kebelakang.

Lam Kong Hun dengan ilmu "Lie Hwee Kiam Hoat"nya berusah keras menahan serangan musuh, tetapi tetap tak dapat melawan, terpaksa dia berturut-turut mundur ke belakang, sejenak kemudian punggungnya menempel pada pohon besar.

Serangan Boen ching makin lama makin kencang, juga bertambah cepat, cahaya pedang beterbangan keempat penjuru, nampaknya dia ingin membinasakan Lam Kong Hun dibawah pedangnya Sepasang mata Lam Kong Hun memancarkan sinar yang sangat terkejut, pedang panjangn berturut-turut melancarkan serangan menahan datangnya serangan dari Boen ching.

Tetapi setiap jurus yang dilancarkan oleh Boen ching itu merupakan lawan dari ilmu "Lie Hwee Hoat"nya membuat dia tak berdaya untuk balas menyerang.

Begitu Boen ching mengerahkan ilmu "Ie Bok Kiam Hoat"nya, bagaikan air bah yang melanda, setitik lubangpun tak terdapat, Lam Kong Hun tak berdaya untuk menghindar, sedang dia menutupi matanya menanti saat kematian, pedang Boen ching tahu2 telah mendesir dan menancap dipinggir telinganya.

Lam Kong Hun menjadi sangat terkejut, seluruh tubuhnya basah oleh kiringat dingin yang mengalir turun.

Boen ching berdiri tegak tak bergerak sedikitpun juga, sedang Lam Kong Hun pun berdiri termangu-mangu disana sejenak kemudian kepada Boen ching tanya nya.

"Siapa kau ?"

Sehabis berkata dia mendongakkan kepalanya, memandang keangkasa, agaknya dia sedang memikirkan sesuatu haL Boen ching yang nampak Lam Kong Hun demikian agaknya telah menjadi sadar kembali, diam-diam dia menghembuskan napas lega, dengan perlahan dia membungkukkan badannya dan ujarnya.

"Keponakan murid Boen ching memberi hormat kepada Jie Supek, suhuku Ie Bok Tocu menanyakan keselamatan dari Supek ?"

Lam Kong Hun setelah termangu-mangu sejemak dengan perlahan ujarnya.

"Ie Bok Tocu, kau adalah muridnya sumoay "

Dalam hati Boen ching merasa sangat girang ujarnya.

"Benar, aku adalah muridnya Ie Bok Tocu"

Lam Kong Hun yang telah dibikin sadar oleh permainan "Ngo Heng Kiam Hoat"

Dengan perlahan-lahan dia tersenyum tanyanya.

"Dimana Sang Kwan Yu ?"

Boen ching yang nampak Lam Kong Hun masih ingat pada Sang Kwan Yu, mengetahui kalau dia kini telah sadar benar2, lalu ujarnya.

"Sang Kwan Yu telah berhasil meloloskan diri"

Lam Kong Hun memperhatikan tajam kearah Boen ching, kemudian dengan perlahan ia menghela napas, ujarnya.

"Sumoay ternyata berhasil memungut seorang murid yang demikian bagusnya, tak disangka ini hari malah sebaliknya muridnya telah menolong aku .."

Ia berhenti sejenak, kemudian lanjutnya.

"Hanya sayang Sang Kwan Yu berhasil meloloskan diri dari belenggu..Hari-hari yang akan datang didalam Bulim sekali lagi akan terjadi hujan badai.

Tetapi kalau dihitung juga masih Untung, karena engkau masih dapat mengalahkan dia."

Boen ching mencabut kembali pedangnya yang menancap diatas pohon, kemudian pada Lam Kong Hun dia menceritakan yang baru saja terjadi.

Pada waktu Lam Kong Hun menanyakan riwayatnya, maka berceritalah Boen ching tentang kejadian yang menimpa dirinya, pun kejadian yang terjadi didunia kangouw baru-baru ini.

Sebab Lam Kong Hun telah amat lelah, maka dia beristirahatlah, kepada Boen ching ujarnya.

"kalau memangnya demikian, maka sekarang ini kau bersiap hendak berbuat bagaimana ?."

Boen ching setelah termenung sejenak kepada Lam Kong Hun ujarnya.

"Aku kira sekarang ini harus pergi keistana Chie Lan Kong untuk melihat-lihat"

Lam Kong Hun setelah termenung sejenak. ujarnya.

"Menurut apa yang kuketahui, diantara ketiga saudara Chie Lan, selain Kong ku, sisanya dua orang karena telah menderita luka yang sangat parah telah binasa, dengan kepandaian yang kau miliki sekarang ini, pergi kesana juga tak akan mengalami kerugian yang sangat besar, pertemuan pada tanggal delapan malam Tiong chiu sangatlah penting sekali, aku akan pergi dahulu. keTelaga Thay-Ouw untuk menemui suhumu, mungkin juga Toa supek dan Sam Supekmu akan datang pula, sehingga pada saat itu dapat dirundingkan "perjanjian pada malam Tiong Chiu."

Boen ching pun mengetahui pada saat ini banyak sekali orang2 aneh, yang telah lama mengasingkan diri telah muncul kembali sekalipun dirinya telah menelan pil berwarna emas

dari Naga emas itu, tetapi juga kiranya tidak cukup tenaga untuk mengalahkan demikian banyak jago-jago yang berkepandaian tinggi, berpikir sampai disini lalu ujarnya dengan perlahan-"Jie Supek, waktu mengatur ilmu barisan Ngo Heng Tin, dapatkah kedudukan Sie Kiem aku mewakili?"

Sambil tertawa sahut Lam Kong Hun.

"Ngo Heng Kiam Hoat adalah hasil ciptaan kakek gurumu waktu itu, sedang Ngo Heng Tin itu hasil ciptaan dia orang tua ketika hari tuanya, didalam masih banyak sekali perubahan2, jika seorang diri menggunakan ilmu tersebut masih dapat, tetapi jika harus mengatur barisan tersebut aku kira malah sangat kurang sekali, apa lagi keistimewaan dari Ngo Heng Tin ini bukanlah sehari atau setahun saja sudah dapat menyatupadukan, aku lihat lebih baik engkau seorang diri pergilah terlebih dahulu ke istana Chie Lan, carilah sumoaymu dan Bwee Siauw TOuwcu. tetapi janganlah sekali-kali terburu-napsu"

Boen ching terpaksa menganggukkan kepala tanda menyetujuinya.

"Kau haruslah berhati-hati, janganlah sampai melukai diri sendiri, kalau hal ini terjadi bukankah tidak enak kepada suhumu, pun terhadap ayah dan ibumu."

Boen ching menundukan kepalanya tidak menjawab, Lam Kong Hun sambil tersenyum, ujarnya.

"Aku pergi dahulu "

Sehabis berkata dia bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu.

Boen ching memandang bayangan punggung Lam Kong Hun hingga lenyap dari pandangan, dia tidak mengetahui bagaimana kah perasaannya waktu ini.

Gunung Hua San puncak Sin Tok Hong, nampak kabur dengan perlahan naik keatas, Boen ching setelah memandang

sejenak kearah puncak gunung itu tubuhnya berkelebat lari kearah sana.

Baru saja dia berjalan setengah jalanan, mendadak didepan matanya nampak bayangan berkelebat, dia nampak sesosok tubuh yang dikenal berkelebat dari arah kiri, dia menjadi termangu-mangu, dengan cepat dia menghentikan gerakan tubuhnya dan menengok kesamping.

Empat penjuru dari tempat itu tak nampak sesosok bayanganpun dalam hatinya berkelebat perasaan ragu-ragu siapakah orang itu ?

dia terus berpikir, matanya tidak mungkin melamur tetapi tetap tidak dapat mengingat siapakah sebenarnya bayangan yang dikenal itu.

Dia setelah termangu-mangu sejenak mulai bergerak menuju keatas puncak gunung itu.

Mendadak ketika mendongakkan kepalanya dia menjadi berdiri mematung disana bayangan yang sangat dikenal itu ternyata telah muncul dihadapanmya, dengan termangu-mangu diapun berdiri mematung di sana kiranya orang yang berada dihadapannya itu adalah Sek Giok Siang.

Boen ching tidak menyangka kalau Sek Giok Siang dapat muncul ditempat tersebut pada saat itu, dia menjadi termangu-mangu entah dia munculkan diri pada saat itu ditempat tersebut mempunyai tujuan apa.

sek Giok siang memandang terpesona kearah Boen ching, baru tanyanya.

"Engkau akan pergi keistana Chie Lan??"

Boen ching dengan perlahan menganggukkan kepalanya, sahutnya.

"Nona Sek mempunyai urusan apa?"

Sek Giok Siang tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Boen ching itu ia hanya mengangkat kepalanya memandang terpesona ketempat kejauhan beberapa saat kemudian baru ujarnya.

"Istana chie Lan sangat bahaya sekali, lebih baik kau jangan pergi ketempat itu "

Boen ching tersenyum, dia merasa heran mengapa Sek Giok Siang dapat mengatakan demikian, sambil tertawa sahutnya.

"Terima kasih atas perhatian nona Sek "

"Aku tahu kau pasti akan pergi kesana, tapi kau haruslah banyak berhati-hati."

Boen ching menjadi tertegun dalam hati dia merasa sangat heran, ini hari Sek Giok Siang mengapa dapat demikian memperhatikan dirinya, dengan terpesona dia memandang kearah Sek Giok Siang.

Tiba2 dia nampak sinar matanya dari Sek Giok Siang menampilkan suatu sinar sesat yang belum pernah dia menemuinya, hatinya terasa terdesir, gadis yang demikian Cantiknya itu dimana dalam hatinya dia pernah mengaguminya.

bahkan terhadapnya pernah menolong nyawanya, ini hari mengapa dirinya mendadak dapat demikian takutnya terhadap dia?

dirinya sendiripun tak dapat mengetahui mengapa.

Sambil tersenyum ujar sek Giok Siang.

"Engkau pergilah, aku akan menantinya dibawah gunung."

Boen ching berdiri tertegun tak berbicara, tubuh Sek Giok Siang bagaikan seekor burung walet dengan sangat ringan melayang turun kebawah kaki gunung, Boen ching tertegun entah saat ini dalam hatinya dia sedang memikirkan apa.

Dia sendiripun merasa sangat heran dirinya mengapa dapat mempunyai pemikiran semaCam itu, Sek Giok Siang belum pernah melakukan sesuatu hal apapun jua.

Boen ching setelah tertegun beberapa waktu, mulailah dia mendaki puncak gunung itu lagi, baru saja dia berjalan setengah jalanan terdengar suara yang sangat ringan, sebuah bayangan manusia telah berdiri didepannya.

Ketika dia memandang seoraag yang baru saja datang itu kiranya adalah murid dari Kong Ku, Yuen cong Hong, setelah munculkan diri, kepada Boen ching sambil tertawa ujarnya.

"Istana chie Lan selamanya tiada orang berani datang, ini hari ternyata kau berani untuk mendaki kesini."

Dengan tawar sahut Boen ching.

"Istana cie Lan bukanlah merupakan suatu tempat yang terlarang, mengapa tak berani mendatanginya? "

Seberarnya dia ingin dengan diam2 menaiki istana chie Lan untuk melihat apakah Bwee Glok serta Shie Siauw In berada ditempat itu, tapijika dilihat keadaan sekarang ini, terpaksa harus menerjang dengan menggunakan kekerasan.

Yuen cong Hong menolongak keatas sambil tertawa ter-bahak2 dia dengan dingin ujarnya.

"Istana chie Lan meskipun bukanlah merupakan suatu tempat yang istimewa, sekurang2nya juga tanyalah Thian Jan Shu seorang pada waktu itu yang dapat pergi tapi justru dia seorang saja."

Sepasang alis Boen ching dikerutkan, Yuen cong Hong terang2an mengatakan bahwa selain dia mempunyai kepandaian silat seperti Thian Jan Shu, kalau tidak janganlah harap dapat pulang kembali lagi setelah memasuki istana chie Lan-Dia memandang keempat penjuru, sejenak kemudian baru ujarnya.

"Ini hari aku telah datang, tujuannya yang utama ialah ingin melihat keanehan apa yang terdapat didalam istana chie Lan"

Yuen cong Hong mengatakan bahwa selain Thian Jan Shu tiada orang lain yang berhasil keluar dari istana tersebut, kemungkinan juga Bwee Giok Shie Siauw In dengan diam2 telah naik keistana chie Lan dan kini terkurung disana.

Terdengar Yuen cong Hong sambi tertawa dingin ujarnya..

"Sekalipun suhumu datang kemari sendiri, juga belum tentu dapat memasuki istana chie Lan Kong dengan kepandaian yang kau miliki sekarang ini, kau ingin memasuki istana, kukira belum tentu berhasil memasukinya."

Boen ching mundur selangkah kebelakang sedang tangan kirinya memegang gagang pedangnya sambil tertawa ujarnya.

"Kalau memangnya demikian, terpaksa aku harus menerjang dengan menggunakan kekerasan, benarkah?"

Agak lama Yuen cong Hong memandang tajam kearah Boen ching, dia tahu kepandaian silat yang dimiliki Boen ching sekarang ini sangat tinggi sekali, dia tak berani dengan seorang diri turun tangan mencegah, sambil tertawa dingin ujarnya.

"Kalau begitu silahkan"

Boen ching dengan dingin mendengus, tubuhnya segera bergerak menubruk keatas puncak gunung didalam hatinya pikirnya.

"Aku ingin belajar kenal dengan istana chie Lan Kong ini yang didalam bu lim dipandang sebagai suatu tempat yang terlarang itu bagaimana maCamnya."

Dia terus lari menuju keatas punCak gunung tersebut, mendadak dia jadi tertegun, diatas puncak gunung itu ternyata tak nampak apa yang di kabar kabarkan didalam bulim sebagai istana chie Lan-Ketika ia memusatkan seluruh perhatiannya untuk memandang, terlihat sebuah istana yang tinggi besar dan sangat megah sekali berdiri disebelah sebuah bukit gunung, sedang sebuah rantai baja yang mengeluarkan sinar berkilauan menghubungkan dua buah bukit dihadapannya itu.

Boen ching segera memperCepat langkahnya dan menerjang kearah puncak gunung itu, sedang sepasang matanya dengan tajam memperhatikan istana chie Lan Kong yang ada pada punCak satunya itu.

Angin gunung bertiup santar membuat ujung bajunya berkibar, tapi rantai baja yang ratusan kaki panjangnya itu dan menghubungkan dua buah puncak tapi tak bergerak sedikitpun juga rantai baja yang berwarna keperak-perakan itu dibawah sorotan sinar matahari memantulkan Cahaya yang menyilaukan mata.

Boen ching, dengan tenang berdiri diatas puncak gunung itu dengan jarak yang demikian panjangnya itu apabila baru berjalan sampai ditengah jalan pihak musuh dengan tiba-tiba memutuskan rantai baja tersebut sekalipun orang yang memiliki ilmu silat yang bagaimana tingginyapun juga sukar untuk mempertahankan kehidupannya Tetapi jika tidak melalui rantai baja yang menghubungkan dua puncak itu, sudah tentu tidak mempunyai cara lainnya lagi untuk menyeberang ketempat itu..Setelah termenung agak lama, terpaksa dia harus menempuh bahaya melewati rantai itu, dirinya ternyata telah sampai disini, ingin memasuki istana chie Lan Kong tetapi tidak berani melewati rantai baja itu, hal ini bukankah tidak masuk diakal.

Dengan diam-diam dia menjalankan pernapasannya satu kali, sambil menarik napas panjang-panjang tubuhnya melonoat dan berdiri di atas rantai baja itu.

Rantai baja itu entah siapa yang memasangnya, ternyata sangat kuat sekali, ketika dia berdiri diatas rantai tersebut, bergerak sedikitpun tidak, diam-diam pikirnya sekalipun ginkangnya lebih baikpun jika Kong Ku memerintahkan orang untuk memutuskan rantai besi dirinya juga tidak dapat menyembunyikan diri, lebih baik dengan perlahan berjalan kesana.

Tetapi sekalipun dia telah berjalan sampai di ujung seberang tetap tak terdapat dapat gerak gerik sedikitpun jua.

Seorang anak keCil berpakaian warna hitam berjalan mendekat, sambil bungkukkan diri memberi hormat ujarnya.

"orang yang baru datang kalau memandangnya, mempunyai nyali yang demikian besarnya sehingga berani melewati jembatan Thian Hong. silahkan memasuki kedalam istana". Boen ching nampak anak lelaki kecil yang memakai baju berwarna hitam itu sangat tampan sekali, bahkan berbicara dengan dirinya sangat sopan sekali, sambil tertawa ujarnya.

"Majikanmu Kong Ku apakah berada didalam istana ?-? ?-"

"Benar, tetapi harus dapat menerobos lima buah istana baru dapat menemul dia".Jawab anak lelaki kecil berbaju hitam itu. Boen ching tertawa tawar, tangan kirinya memegang gagang pedangnya, dengan langkah yang lebar dia berjalan menuju dalam istana chie Lan, istana chie Lan yang dianggap oleh orang-orang Bu lim sebagai tempat yang terlarang kini telah muncul dihadapan matanya. Waktu itu Thian Jan Shu sambil menjepit pedangnya naik keatas puncak gunung Sin To-Hong itu, bukansaja berhasil menerobos masuk istana chie Lan Kong, bahkan berhasil pula melukai Tiga bersaudara hingga luka parah, hal ini membuat nama chie Lan Kong didalam Bu lim menjadi ternoda. Ini hari dirinya juga akan menerjang kedalam Istana chie Lan Kong, moga-2 saja juga dia mengobrak abrik stana chie Lan Kong. Berpikir sampai disini dengan langkah yang lebar dia meneruskan langkahnya memasuki istana chie Lan Kong tersebut. Disamping pintu masuk istana chie Lan Kong itu berkelebat keluar dua orang anak lelaki yang berbaju hitam, satu dikiri dan satu dikanan kedua bilah pedang itu bersama-sama menusuk ke tubuh Boen ching.

Boen ching menjadi terkejut, dia dipaksa mundur selangkah kebelakang.

Kedua anak lelaki berbaju hitam itu miringkan tubuhnya sambii mengganti langkah, sepasang pedang itu tetap menjepit menyerang kearah Boen ching.

Boen ching menjadi mengerutkan alisnya, pikirnya.

"Jika aku sekali lagi didesak mundur oleh kedua anak lelaki ini, bukankah itu sangat lucu sekali?, IHanya dua orang anak lelaki yang menjaga istana saja tidak dapat menerobos, bagai mana masih memikirkan hendak menerjang ke dalam istana chie Lan Kong."

Dengan gusar dia mendengus, tangan kirinya diluruskan keluar, membuat serangan pedang yang dilancarkan oleh anak lelaki kecil yang berdiri disebelah kiri didorong kepintu luar, sedang pada saat itu serangan pedang dari arah kanan telah menerjang datang, tubuhnya segera miring kearah kiri, sedang kaki kanannya secepat kilat melancarkan tendangan-jurus yang baru-2 ini dilakukan dengan sangat cepat sekali, tidak menunggu anak lelaki itu merubah jurus, pedang yang berada ditangan anak lelaki itu telah tertendang lepas oleh kaki kanannya.

Tidak menanti tubuhnya berdiri tegak.

diantara berputarnya tubuh, pedang panjang yang berada ditangan lelaki kecil disebelah kiri itupun telah pula disapu terbang.

Ke dua anak lelaki itu nampak pedangnya telah terlepas, bersama-sama segera mundur ke belakang, dan bersembunyi dibalik pintu istana.

Boen ching juga mengejar lebih jauh lagi, dia mendongak memandang pintu istana tersebut, pintu istana itu panjangnya kurang lebih dua kaki, seluruhnya berwarna hijau tua, dikanan kiri pintu tersebut terdapat sebuah gelang yang sangat besar dan memanwarkan sinar yang sangat terang sekali, sedang ditengah pintu itu terdapat gambar dari sebuah mulut iblis.

Boen ching setelah menenangkan diri sejenak.

tubuhnya bergerak lagi, sepasang telapak tangannya menepuk keatas pintu istana itu, terdengar suara yang memekikkan telinga, dua buah pintu istana itu membuka kesamping.

Didalam iatana yang gelap gulita itu terdengar suara pantulan yang sangat keras sekali, Boen ching dengan perlahan maju masuk kedalam istana tersebut.

Baru dia berjalan masuk sepuluh kaki, terdengar suaru yang keras dibelakang tubuhnya, ternyata pintu istana itu telah menutup kembali.

Boen ching tertawa dingin, dia tahu hal ini tentu adalah orang-orang istana chie Lan Kong itu yang sedang main gila.

Dia pernah melatih ilmu untuk melihat diwaktu malam, sehingga tak mengurusi segala urusan kecil.

setelah dia memandang kekiri dan ke kanan sejenak.

mulailah berjalan lagi menuju kedalam.

Dihadapannya terdapat sebuah lorong yang sangat lebar, diujung lorong itupun terdapat sebuah pintu batu yang tertutup rapat, sedang diatas pintu itu memancarkan sinar yang berkelap kelip.

dibawah sinar tersebut terdapat beberapa buah tulisan.

"Ingin menemui Pemilik istana, harus menerjang istana dewa sakti ini terlebih dahulu."

Boen ching tertawa tawar, ujarnya.

"Mengapa harus demikian misteriusnya, sehingga suasana menjadi demikian mengerikan"

Sehabis berkata kedua telapak tangannya dipukulkan keluar, membuat sinar yang berkelip-kelip diatas pintu itu menjadi berterbangan keempat penjuru.

Pintu batu tersebut dengan perlahan terbuka, Boen ching setelah mengerutkan alisnya sambil mengangkat kepala, dengan langkah lebar masuk kedalam ruangan itu.

Baru saja dia memasuki pintu gua itu, mendadak diarah kirinya terdengar suara yang sangat nyaring, Segulung angin kencang yang sangat hebat telah menyerang dirinya dari arah sebelah kiri.

Boen ching sejak terjun dalam dunia kangow telah menemui jago-jago berkepandaian tinggi entah berapa jumlahnya, tetapi kini diserang oleh angin yang demikian hebatnya itu membuat dia menjadi terkejut, dia menduga orang yang datang pastilah seorang jago berkepandaian tinggi dari Bulim.

Dia balikan tubuhnya melancarkan serangan dengan menggunakan delapan bagian tenaga dalamnya dia balas menyerang kearah musuh.

Angin pukulan dari dua belah pihak segera bertemu, Boen ching terasa sangat terkejut, ternyata itu bukanlah seorang manusia, dia telah dapat melihat bahwa yang baru saja menyerang dirinya adalah sebuah tangan yang dibuat dari emas dan panjangnya beberapa kaki.

Ketika sinar matanya berputar nampak dia dalam ruangan itu empat penjurunya penuh dengan tangan-tangan raksasa yang panjangnya beberapa kaki bahkan mencapai dua tiga kaki panjangnya, serangan balas yang dilancarkannya itu segera membuat bergetar seluruh alat rahasia yang ada didalam ruangan itu menjadi bergetar, sedang tangan-tangan raksasa itu menjadi menyerang dirinya dengan sangat kaCau sekali.

Boen ching menjadi sangat terkejut, dia yang melihat keadaan itu segera sadar, bahwa Jika dia ingin melawan dengan kekerasan, tidak mungkin dia dapat beradu dengan masing-masing alat rahasia itu, apalagi melawan dengan

tangannya yang terdiri dari darah dan daging, sudah tentu dia bukanlah tandingannya.

Terlihat angin kencang menyerang tubuhnya dari empat penjuru, semua menggetarkan ruangan tersebut dan berbunyi tak henti-hentinya.

Didalam keadaan yang sangat kaget dan ribut itu, dengan cepat ia mengerahkan ilmu ginkangnya "Hui Sie Yu She"

Untuk menghindar.

Tubuhnya berkelebat dan melayang di tengah udara, sedang beberapa tangan raksasa itu telah melancarkan serangan lagi dan menimbulkan angin yang sangat kencang sekali membuat tubuhnya terdampar pada ujung ruangan itu.

Dalam sekejap mata saja angin kencang itu menjadi sirep kembali, tetapi pada saat itu pula berpuluh-puluh panah beracun menyambar keujung ruangan tersebut, sedang beberapa tangan raksasa itupun mulai melancarkan serangan lagi, keadaan didalam ruangan dari batu itu sangat tegang sekali bahkan lebih tegang dari suasana tadi.

Boen ching dengan cepat mencabut keluar pedang Ie Bok Kiamnya dan dicekal ditangan, tubuhnya segera bergerak dan melancarkan jurus dari ilmu pedang "Hong Loei chiet Kiam"

Yakni jurus "Hong Loei cu lie"

Atau angin petir bekerja sama.

Dalam sekejap mata didalam ruangan batu itu penuh dengan sambaran pedang yang mengeluarkan angin bagaikan sambaran petir dan melandanya angin taupan, dengan segera panah-panah beracun itu tersapu jatuh oleh sinar pedang, dimana Ie Bok Kiam menyabet, dengan cepat pula tiga buah tangan raksasa lainnya.

Boen ching sendiri juga selamanya tidak menduga kalau ilmu "Hong Loei chiet Kiam"

Itu ternyata mempunyai kehebatan yang demikian besarnya, tidak salah lagi kalau dapat dikatakan mempunyai daya untuk menundukkan naga dan harimau.

Semangatnya segera berkobar-kobar di antara suara sultan nyaring, ilmu"

Hong Loei chiet-Kiam"

Segera dikerahkan, Ie Bok Kiamnya dari tangan kanan berputarpindah ketangan kiri.

Pada saat itu pula tangan-tangan raksasa yang terdapat didalam ruangan itu runtuh seluruhnya keatas tanah.

Boen ching sambil turun keatas tanah menyimpan kembali pedangnya, setelah menghela napas lega, matanya dengan perlahan menyapu sekejap keseluruh penjuru ruangan tersebut.

Tangan-tangan raksasa itu diantara sepuluh buah, delapan sembilan buah telah berhasil dibabat putus oleh pedangnya, sehingga waktu itu ruangan tersebut tak ada sebuah bendapun yang masih utuh.

Dia berjalan maju kedepan, sambil mengerahkan tenaga dalamnya memukul keatas sebuah pintu batu yang lain-Kali ini dia tidak berani lagi masuk kedalam ruangan tersebut seCara gegabah, barulah dengan perlahan-lahan berjalan menuju kedepan pintu batu itu.

Setelah masuk kedalam ruangan itu sejauh dua langkah, dia memandang keempat penjuru, tampak seluruh dinding batu tersebut tidak nampak lagi benda-benda yang lain, malahan terdapat banyak sekali lumut melekat diatas dinding.

Boen ching mengerutkan alisnya, sedang berpikir hendak berjalan maju kedepan lagi.

Mendadak terdengar suara hempasan pintu yang sangat keras sekali, kiranya pintu batu dibelakang tubuhnya telah menutup kembali.

Mendadak Boen ching teringat mengapa pada seluruh dinding dalam ruangan tersebut penuh dengan lumut-lumut yang masih segar.

Tetapi pada saat ini telah terlambat, pada ujung dinding dalam ruangan itu terbuka sebuah lubang yang tidak begitu besar, segulung air yang sangat keras sekali menerjang masuk kedalam ruangan batu itu.

Boen ching merasa sangat terkejut, dia tidak pernah menyangka kalau Kong Ku ternyata telah mengatur siasat

untuk membenamkan dengan air didalam istana chie Lan Kong ini sekalipun ilmu menyelam yang dimilikinya itu bagaimana baiknyapun, tetapi juga tidak mungkin kalau dia tidak dapat binasa didalam air.

Sambil balikkan tubuhnya dia melancarkan sebuah serangan hebat kearah pintu batu itu, tetapi hanya terdengar suara yang sangat perlahan sekali dan kemudian tidak nampak gerakan apa-apa lagi.

Air yang mengalir masuk itu sangat deras sekali dan sangat cepat, dalam sekejap mata saja telah mencapai setinggi lutut.

dalam hati Boen ching merasa agak terperanjat, berturut-turut dia melancarkan dua kali serangan hebat kearah pintu batu tersebut, tetapi tetap tak nampak perubahan apapun juga.

Tak sampai beberapa waktu, air yang mengalir masuk itu telah mencapai setinggi paha, pada saat ini Boen ching sebaliknya malah sedikit menjadi lebih tenang, hatinya tiba-tiba bergerak.

pikirnya.

"Pada waktu itu Thian Jan Shu pernah menaiki istana chie Lan Kong ini, sudah tentu dia pasti juga melewati tempat ini, dan pada waktu itu Thian Jan Shu pun harus melewati ruangan air ini terlebih dahulu baru dapat menemui tiga bersaudara chie Lan, dia dapat meloloskan dari ruangan ini, akupun harus dapat mencari suatu Cara untuk keluar dari ruangan ini."

Dia mendongakkan kepalanya memandang empat penjuru dari dinding ruangan itu, sedang pada saat ini air telah mencapai setinggi lubangnya.

Boen ching segera menarik napas panjang2, tubuhnya meloncat ketengah udara, sedang Ie Bok Kiamnya dia Cabut keluar dari sarungnya, sinar pedang beterbangan memancarkan Cahaya yang menyilaukan mata, lumut-lumut yang terdapat pada dinding ruangan itu segera rontok beterbangan jatuh kebawah.

Ketika Boen ching sekali lagi turun kebawah air, dalamnya air dalam ruangan itu telah mencapai setinggi dada.

Lumut-lumut yang rontok dari dinding ruangan mengotori seluruh permukaan air, sedang empat penjuru dari dinding itu pun telah berubah menjadi keadaan yang semula.

Boen ching segera memusatkan seluruh perhatiannya memandang pada dinding-dinding itu, tetapi tetap dia tak dapat menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Air yang mengalir masuk makin lama makin meninggi, setelah menarik napas panjang2, sekali lagi dengan memusatkan seluruh perhatiannya ia memeriksa dinding batu itu kalau mungkin terdapat hal-2 yang mencurigakan, sinar matanya tiba2 berhenti disalah satu sudut.

Dimana terdapat sebuah garis yang menyerupai sebuah retakan dan pada dinding tersebut terbentuk suatu gambar yang sangat-sangat rapat sekali.

Mana dia mengetehui kalau retakan itu adalah pada waktu itu Thian Jan Shu dengan mengerahkan ilmu Khiekangnya yang lihay yakni ilmu "ciet Keng Khie baru dapat menggetarkan dinding ruangan itu sehingga bobol, walaupun Kong Ku telah berusaha untuk membangunnya dengan menutupi tempat bekas retakan itu dengan batu yang besar tetapi setelah Boen ching berhasil memapas hilang lumut-lumut yang merekat pada dinding itu terlihat kembali bekas retakan tersebut.

Air telah makin meninggi hingga mencapai leher Boen ching, sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, tubuhnya meloncat dari dalam air, sepasang tangannya melancarkan serangan kearah dinding batu tersebut, tetapi hanya terdengar suara yang nyaring, dinding batu itu tetap tak mengalami kerusakan sedikitpun.

Haruslah diketahui bahwa ilmu Khiekang "chiet Kong Kang Khie"

Yang dimiliki Thian Jan Shu selamanya sejak dahulu tak ada yang dapat melawannya, dan Thian Jan Shu dengan

mengandalkan ilmu inilah menjadi kan dirinya manusia tanpa tandingan, dia yang dengan ilmu Khiekang "Thlet Keng Kang Khie"nya berhasil membobolkan dinding itu.

Keng Ku yang telah banyak membuang waktu untuk memperbaikinya, walaupun perbaikannya itu tak sempurna juga bukanlah hanya satu dua kali serangan yang dilancarkan Boen ching itu dapat membobolkannya.

Boen ching tak menunggu tubuhnya jatuh kembali kedalam air, sepasang kakinya melancarkan tendangan kilat, tetapi dinding batu itu sedikitpun tak mengalami perubahan.

Tubuhnya sekali lagi jatuh ke dalam air, pada saat ini air yang terdapat dalam ruangan itu telah mencapai setinggi mulutnya.

hampir2 saja mencapai pada hidungnya, baru saja Boen ching mengerahkan tenaganya bersiap-siap sekali lagi meloncatkan diri ketengah udara, dari lubang air itu menerobos masuk seekor ular raksasa kedalam ruangan itu.

Boen ching yang nampak munculnya ular raksasa itu, dalam hatinya merasa sangat terkejut, dia tak mengijinkan ular tersebut masuk lebih jauh kedalam ruangan itu, tangan kanannya digerakkan, Ie Bok Kiamnya telah lepas dari tangannya dan meluncur ketubuh ular raksasa tersebut.

Ular raksasa itu mengikuti mengalirnya air menerobos masuk terus kedalam ruangan itu, Boen ching yang melemparkan pedangnya kearah tubuh ular raksasa tersebut, nampak ular itu mendongakkan kepalanya, melihat Ie bok Kiam telah melayang dekat pada tubuhnya badannya dengan cepat merendah.

Ie Bok Kiam tersebut meluncur terus dan menatap pada dinding ruangan-Boen ching yang nampak serangannya tidak mencapai pada sasaran, tubuhnya secepat kilat meloncat keatas, sepasang kakinya melancarkan tendangan kilat mengarah sepasang mata ular raksasa itu.

Tampak ular raksasa telah menyelam kedalam air lagi, terhadap serangan tendangan yang dilancarkan Boen ching ini sedikitpun tak menggubrisnya.

Boen ching nampak seluruh tubuh dari ular raksasa itu kini telah masuk kedalam ruangan itu dengan cepat ia mencabut pedangnya, sedang tubuhnya menubruk ke dinding ruangan yang lain, sepasang telapak tangannya melancarkan serangan hebat kearah dinding ruangan-Ular raksasa itu begitu menyelam kedalam air dengan perlahan-lahan menyusup terus, tiba2 tubuhnya meloncat keatas membuat air memancar dengan hebatnya kearah Boen ching.

Pada saat ini Boen ching baru saja habis-melancarkan serangan kearah dinding ruangan, tampak air itu dengan hebatnya memancar kearahnya, dalam hatinya merasa agak terkejut, entah Keng Ku memperoleh binatang aneh ini berasal dari mana, ular raksasa yang demikian besarnya jarang sekali nampak.

Ie Bok Kiamnya yang dicekal ditangannya itu adalah barang pemberian dari suhunya Ie Bok Tocu, dia tidak ingin dengan demikian lalu dibuang, sebenarnya dia dapat menggunakan pedang Ie Bok Kiam itu untuk menusuk ke arah mulut ular tersebut sehingga membuat ular itu menderita luka yang parah, tetapi dia ternyata tidak berbuat demikian-Tubuhnya dari dinding ruangan sebelah meloncat kearah dinding yang lain-Tubuh dari ular raksasa itu sekalipun sangat besar, tetapi gerakannya ternyata sangat lincah dan gesit sekali, begitu serangannya tidak mencapai pada sasaran, ekornya yang sangat besar itu melingkar menyapu kearah Boen ching.

Ketika itu, air telah makin meninggi hingga tiga empat kaki dari atas ruagan itu..Boen ching tak dapat berbuat apa-apa lagi, terpaksa dia terjun kembali kedalam air, dia sadar bahwa

begitu tubuhnya terjun kembali kedalam air maka ratusan kali lipat lebih bahaya jika tubuhnya masih berada ditengah udara.

Baca Juga: Legenda Bunga Persik 5

Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert