Ceritasilat Novel Online

Legenda Bunga Persik 5

Eps 5 Legenda Bunga Persik - Gu Long

Baca online Legenda Bunga Persik - Gu Long

Cersil Legenda Bunga Persik - Gu Long.

"Tetapi dunia ini setiap hari kan berubah terus, pikiran manusia setiap hari juga berubah terus; pikiran dari orang-¬orang generasi sebelumnya, selalu punya kesenjangan yang besar sekali dengan orang-orang generasi selanjutnya!"

Chu Liuxiang masih terus mendengar. Zhang Jiejie berkata pula.

"Sekarang orang-orang generasi sebelumnya banyak yang sudah meninggal dunia, jika orang-orang generasi selanjutnya masih tinggal di sini, cuma dikarenakan mereka memiliki semacam ketakutan pada dunia luar, takut kalau sudah berada di luar, tidak dapat menyesuaikan diri di dalam lingkungan itu, sehingga tidak dapat bertahan hidup."

Tentu saja Chu Liuxiang tidak biaa setuju dalam hal ini, maka segera berkata.

"Mereka keliru! Seseorang asal mau berusaha, pasti punya cara untuk bertahan hidup!"

Zhang Jiejie mengangguk dan berkata.

"Tentu saja mereka keliru, tetapi anggapan mereka ini, pasti akan berubah pelan-pelan. Sampai suatu saat ketika pikiran mereka sudah terbuka, maka sudah tidak ada lagi kitab suci dan peraturan apa pun yang terdapat di dunia ini yang masih dapat membelenggu mereka, dan tidak terdapat hal apa lagi yang dapat membuat mereka tetap tinggal di tempat yang seperti penjara ini!"

Ia tersenyum sejenak, lalu meneruskannya.

"Jika telah tiba hari itu, bukankah tempat ini sudah tidak ada lagi?"

"Tetapi, harus tunggu sampai kapan hari itu baru bisa tiba?"

"Tak akan terlalu lama, aku jamin, kau pasti bisa melihat hari itu!"

"Kau jamin?"

Zhang Jiejie mengangguk dan menjawab.

"Sebab aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memberitahu mereka, bahwa dunia luar tidaklah begitu kejam dan menakutkan seperti yang dibayangkan mereka. Aku akan berusaha agar mereka mengerti. Seseorang jika ingin hidup senang, haruslah memiliki keberanian!"

Matanya berbinar-binar lagi, lalu melanjutkan kata-katanya dengan perlahan.

"Ini bukan saja adalah kewajibanku, juga adalah tanggung jawabku! Karena mereka pun adalah saudara dan saudariku!"

"Oleh karena itu.... Kau harus tetap tinggal di sini?"

Zhang Jiejie berkata dengan suara halus.

"Setiap orang harus hidup bertujuan dan berarti kan! Sekalipun aku dapat pergi bersamamu, toh belum tentu aku bisa berbahagia, dikarenakan aku tidak menunaikan kewajiban dan tanggung jawabku, maka seluruh hidupku akan menjadi tidak bermakna dan tidak bernilai sama sekali!"

"Tapi sepengetahuanku, banyak sekali wanita yang hidup demi suami dan anak-anak mereka, bahkan hidup dengan penuh arti!"

Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum "Aku tahu, juga amat iri pada mereka, cuma amat disayangkan bahwa takdir telah menetapkan aku bukanlah wanita macam mereka, juga tidak seberuntung mereka!"

"Mengapa?"

"Masa' kau tidak paham? Benar tidak paham?"

Chu Liuxiang tidak mampu berkata-kata lagi. Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum.

"Justru dikarenakan kau sama dengan aku, kau pun tak dapat melupakan kewajiban dan tanggung¬jawabmu yang harus dilaksanakan, sehingga kau mau pergi dari sini ---Bahkan ini adalah suatu keharusan! Dikarenakan sekalipun kau dapat memaksakan diri untuk tetap tinggal, tapi lambat-laun akan menjadi barang rongsokan, bahkan akhirnya akan menjadi `mayat hidup'!"

Perkataannya memang tidak salah seseorang jika hidup di suatu tempat yang sama sekali tidak dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya, lambat laun ia akan begitu depresinya, sehingga walaupun masih hidup, tapi hampir sama dengan sudah mati!

Tentu saja Chu Liuxiang juga memahami hal ini.

Dengan ringan Zhang Jiejie mengelus-elus dia seraya berkata dengan suara halus.

"Yang kucintai adalah kau, bukan `mayat hidup', oleh karena itu aku sekali-kali tidak berharap kau berubah; Makanya demi aku, kau pun harus pergi!"

Akhirnya Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas yang amat panjang.

"Sampai sekarang aku baru menyadari, bahwa aku selama belum pernah betul-betul mengertimu!"

"Di dalam dunia ini memang tidak ada orang yang mampu memahami seseorang dengan sempurna, entah itu suami-istri, atau antara saudara dan sahabat pun sama! Apalagi, wanita memang telah ditakdirkan bukan untuk dimengerti, tapi untuk dicintai kan!?"

"Tapi sekarang aku telah merasa pasti pada satu hal."

"Apa itu?"

Chu Liuxiang menatapnya lekat-lekat, dari sinar matanya terpancar rasa hormat yang amat dalam, berkata setelah menghela nafas panjang lagi.

"Dahulu aku tidak pernah berjumpa dengan wanita semacam kau ini, kelak mungkin selama-lamanya tidak akan berjumpa lagi!"

"Tetapi kau selama-lamanya akan memikirkan dan mengenangku kan?"

"Tentu!"

"Ini saja sudah cukup."

Sinar main Zhang Jiejie kian lembut, lalu menyenandungkan sebuah puisi cinta, yang artinya demikian.

"Jikalau kedua orang yang saling mencintai itu sama-sama memiliki cinta sejati yang tahan uji, maka jarak dan waktu tak akan jadi halangan bagi mereka!"

Tak kuat menahan dirinya, Chu Liuxiang menggenggam erat-erat tangan Zhang Jiejie seraya berkata.

"Aku berharap kau menyanggupi satu hal dariku!"

"K atakanlah."

"Hiduplah dengan sebaik-baiknya agar kelak aku masih dapat bertemu lagi!"

"Pasti!"

Nada suaranya tegas tapi ceria, namun tubuhnya dengan lemah lembut telah masuk ke pelukan Chu Liuxiang.

Malam kian hening.

Desahan nafas pun sudah berhenti.

Zhang Jiejie mengangkat tangan untuk membetulkan rambut di atas jidatnya yang awut-awutan, mendadak berkata.

"Aku mau pergi."

"Pergi? Sekarang?"

Zhang Jiejie mengangguk.

"Mau pergi ke mana?"

Tanya Chu Liuxiang. Pada mulanya Zhang Jiejie ragu-ragu, tapi akhirnya telah mengambil keputusan, lalu berkata.

"Siapa pun juga dari anggota keluarga besar ini, jika ingin putus hubungan dan mau keluar dari tempat ini, cuma ada satu jalan yang harus ditempuh!"

"Maksudmu Tangga Surga?"

"Tidak salah. Tangga Surga!"

"Tangga Surga itu sebenarnya adalah sebuah jalan yang bagaimana?"

Ekspresi wajah Zhang Jiejie menjadi amat serius, seraya berkata dengan perlahan.

"Barangkali itu adalah sebuah jalan yang paling berbahaya di dalam dunia ini! Orang yang tak memiliki keberanian, sekali¬kali takkan berani menempuhnya! Ibu menyuruhmu menempuh jalan itu, tujuannya adalah mengujimu apakah memiliki keberanian semacam ini?"

"Keberanian yang macam bagaimana?"

"Keberanian yang mengambil keputusan sendiri yang menentukan hidup-mati dan nasib sendiri!"

"Wah ini memang sulit sekali! Orang yang tak memiliki keberanian besar, sekali-kali tak akan berani mengambil keputusan semacam ini!"

"Betul! Seseorang ketika darahnya mendidih dan emosinya bergejolak, umumnya memang bisa tidak peduli apa pun, bahkan biaa rela mati! Namun jikalau ia diharuskan dengan kepala dingin untuk menentukan sendiri hidup dan matinya, ini merupakan dua persoalan yang sama sekali berbeda! Maka...."

Zhang Jiejie menghela nafas panjang sebelum meneruskannya.

"Aku tahu ada beberapa orang yang sudah bertekad untuk meninggalkan tempat ini, tapi ketika sudah naik ke Tangga Surga itu, semuanya berubah pikiran dan memutuskan untuk mundur dan batal! Sekalipun resikonya adalah dipandang rendah oleh orang lain."

"Sebenarnya ada apa di Tangga Surga itu?"

"Ada dua pintu. Pintu yang satunya menuju ke dunia luar Jalan yang hidup."

"Pintu yang satunya adalah jalan kematian?"

Wajah Zhang Jiejie memucat ketika menjawab.

"Bukan jalan kematian, sama sekali tidak ada jalan -Di luar pintu itu adalah jurang teramat dalam yang tak kelihatan dasarnya, sekali jatuh terperosok tubuh akan hancur berkeping-keping!"

Ia meneruskan kata-katanya setelah menghembuskan nafas panjang.

"Tiada seorang pun yang tahu di luar pintu yang mana adalah jalan yang hidup! Kau harus pilih salah satunya dan membuka pintu itu, tapi begitu pintu terbuka, kau harus keluar dari pintu itu!"

Wajah Chu Liuxiang pun sedikit memucat, lalu berkata seraya tersenyum masam.

"Tampaknya itu bukan hanya mesti memiliki keberanian, juga mesti memiliki kemujuran!"

Zhang Jiejie berkata dengan senyum yang dipaksakan.

"Aku sebenarnya tidak ingin kau menempuh bahaya itu, tapi....tempat ini pun mirip dengan jurang dalam yang tak kelihatan dasarnya, jika kau tetap tinggal di sini, juga sama-sama akan tenggelam, cuma tenggelamnya agak pelan sedikit."

"Aku paham."

Zhang Jiejie menatapnya lekat-lekat seraya berkata.

"Kau suamiku, orang yang paling dekat denganku, tentu saja aku tidak mengharapkan kau adalah pengecut yang mundur sebelum bertempur, lebih-lebih tidak mau ada orang yang memandang rendah padamu, tapi aku pun tidak mau melihat kau pergi untuk mati, maka...."

"Maka sekarang kau mau pergi demiku untuk mencari tahu di luar pintu manakah yang adalah jalan yang hidup?"

Zhang jiejie mengangguk dan berkata.

"Tangga Surga itu terletak di dekat altar suci, dari sekarang sampai fajar menyingsing masih ada dua sampai tiga jam lagi...."

"Tapi aku lebih ingin kau tetap di sini, menemaniku lebih banyak satu jam pun bolehlah!"

Zhang Jiejie tersenyum manis dan berkata dengan suara halus.

"Aku pun berharap dapat menemanimu di sini, tapi lebih berharap kelak dapat bertemu lagi denganmu!"

Ia membungkukkan badan untuk mencium sejenak di wajah Chu Liuxiang, kemudian berkata dengan suara yang lebih halus.

"Aku segera akan kembali."

Ini merupakan kata-kata terakhirnya yang terdengar Chu Liuxiang Kata-kata ini persis sama dengan yang diucapkannya ketika ia dulu meninggalkan Chu Liuxiang.

"Aku segera akan kembali."

Mengapa ketika ia mau meninggalkan Chu Liuxiang untuk waktu yang lama, malahan selalu berkata bahwa ia akan segera kembali ?

*** Zhang Jiejie tidak kembali.

Ketika Chu Liuxiang melihat dia, sudah berada di bawah Tangga Surga.

Wajah Zhang Jiejie pucat pasi, dan bekas air mata di wajahnya belum kering.

Dari dalam matanya seolah-olah terdapat ribuan kata yang mau diucapkan, tapi satu kata pun tak mampu diucapkannya!

Ketika Chu Liuxiang mau menerjang ke sana, ia telah pergi dipaksa pergi oleh orang lain.

Tampaknya ia telah kehilangan sama sekali kekuatan untuk melawan, tetapi sebelum pergi ia tiba-tiba mengedipkan sebuah mata pada Chu Liuxiang.

Mata kiri!

Bukankah mata juga merupakan sejenia alat komunikasi antar manusia?

Dengan sekuat tenaga Chu Liuxiang berusaha untuk mengendalikan dirinya, ia tidak mau karena marah besar lalu lepas kontrol di depan siapa pun.

Namun disebabkan hatinya memang dipenuhi amarah yang besar, maka ia berkata tanpa bisa ditahan lagi.

"Mengapa kalian mesti memaksanya pergi?"

Perempuan tua yang berpakaian hitam itu berkata dengan sikap dingin.

"Tidak ada orang yang memaksa dia pergi, sama seperti tidak ada orang yang memaksamu pergi."

"Paling tidak ibu kan seharusnya membiarkan kami berbincang bincang beberapa kalimat lagi."

"Dikarenakan kamu sudah mau pergi, masih mau omong apa lagi?"

"Tapi...."

Perempuan tua itu memotong kata-katanya.

"Tapi jikalau kamu sungguh-sungguh mau omong sesuatu, sekarang masih boleh tinggal di sini."

"Tinggal di sini untuk selama-lamanya?"

"Betul! Tinggal di sini untuk selama-lamanya!"

Chu Liuxiang menghembuskan nafas panjang dan berkata.

"Ibu jelas tahu bahwa aku tidak bisa tinggal kan!"

"Mengapa tidak bisa? Jikalau kau sungguh-sungguh mencintainya, mengapa tidak bisa berkorban?"

"Sebab ia pun tidak mau aku berbuat demikian!"

"Apakah kau kira ia benar-benar menginginkanmu pergi?"

"Masa' bukan?"

Perempuan tua itu berkata seraya tersenyum dingin.

"Apakah kamu sungguh mempercayai kata-kata seorang wanita?"

Ia meneruskan kata-katanya seraya tersenyum dingin terus.

"Aku adalah ibunya, aku pun adalah wanita, tentu saja aku lebih memahami dia darimu kan? Ia membiarkanmu pergi, Cuma dikarenakan hatinya sudah terluka begitu parahnya, sehingga ia tak mau lagi bertemu kamu untuk selama-lamanya!"

Dengan perlahan Chu Liuxiang mengangguk dan berkata "Aku sudah paham maksud ibu."

"Baguslah kalau kau paham."

Ekspresi Chu Liuxiang malahan jadi tenang kembali, lalu berkata dengan nada hambar.

"Ibu bukan saja berharap dia membenciku, juga berharap aku membencinya kan? Juga berharap yang kami alami itu persis sama dengan yang kalian alami kan?"

Ekspresi wajah perempuan tua itu berubah. Tentu saja ia tahu bahwa "kalian"

Dalam kata-kata Chu Liuxiang itu adalah menunjuk dia dan suaminya. Dan bukankah mereka berdua saling membenci? Suara Chu Liuxiang makin tenang dan tegas.

"Tetapi aku sanggup memberi jaminan pada ibu, bahwa yang dialami putri ibu takkan sama dengan ibu, sebab aku pasti akan hidup sebaik-baiknya demi dia, sama halnya ia pun akan hidup sebaik-baiknya demiku. Apa pun yang ibu pikirkan, kami sekali-kali tak akan berubah!"

Perempuan tua itu bertanya dengan sinar matanya berbinarbinar.

"Apakah kau sungguh mempercayai kata-kata yang kau ucapkan sendiri ini?"

"Yap"

Perempuan tua itu mendadak tersenyum dan berkata.

"Jikalau kau sungguh mempercayai, apa perlunya untuk dikatakannya? Dan apa perlunya untuk memberitahukanku?"

Senyumannya seperti sebuah jarum runcing, yang seolah-olah mau ditusukkan ke jantung Chu Liuxiang!

Tangga Surga itu tingginya empatratus kaki.

Ketika seseorang berada di atas tangga itu, sama saja sudah berada di atas langit!

Kedua pintu itu bentuknya nyaris sama, sehingga tidak ada orang yang dapat melihat perbedaannya Perbedaan antara hidup dan mati!

Chu Liuxiang berdiri di depan kedua pintu itu, tanpa terasa keringat dinginnya sudah mengucur keluar.

Ia pernah banyak sekali mengalami bahaya maut yang amat genting, pernah lebih dekat ke kematian dibanding dengan siapa pun, bahkan ada kalanya sudah hampir putus asa!

Tetapi ia tidak pernah sengeri sekarang!

Dikarenakan pada kali ini, hidup atau mati ditentukan oleh ia sendiri, namun ia sendiri sama sekali tidak memiliki keyakinan dan kepastian!

Di dalam dunia ini, memang tidak terdapat suatu hal yang lebih menakutkan lagi dari dipaksa orang untuk mengambil keputusan, yang ia sendiri pun tidak yakin!

Seseorang jika tidak mengalami sendiri, sulit membayangkan bahwa betapa mengerikannya hal itu!

Mata kiri!

Ya, mata kiri!

Apakah Zhang Jiejie ingin memberitahu dia, bahwa jalan yang hidup itu terdapat di luar dari pintu yang berada di sebelah kiri?

Chu Liuxiang sudah hampir mau berjalan menuju ke pintu ini, tapi sepasang kakinya seolah-olah dibelenggu oleh rantai besi yang tak terlihat!

"Apakah kau kira ia benar-benar menginginkanmu pergi?"

"Ia mau kau pergi hanyalah karena hatinya sudah terluka begitu parahnya, sehingga tidak mau lagi melihatmu!"

Tidak bisa tidak Chu Liuxiang mesti bertanya pada diri sendiri.

"Apakah aku memang telah melukai hatinya? Haruskah aku pergi?"

Ia tidak pernah merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan ---Tempat ini memang adalah penjara, orang semacam dia ini, tentu saja tak dapat tinggal terus di sini!

Tetapi mau tidak mau ia mesti bertanya pada diri sendiri.

"Jika aku sungguh-sungguh mencintainya, haruskah aku berkorban demi dia dan tetap tinggal di sini?"

"Apakah aku terlalu egois? Terlalu tanpa perasaan?"

"Seandainya aku adalah Zhang Jiejie, jika tahu Chu Liuxiang mau meninggalkanku, apakah aku juga akan sedih sekali?"

"Jikalau kamu benar-benar melukai hati seorang wanita, maka bukan saja selama-lamanya ia tidak mau melihatmu lagi, bahkan saking bencinya ia mengharapkan kamu mati saja!"

Tentu saja ia memahami azas kebenaran ini.

"Ia sengaja mengedipkan matanya, apakah berharap aku jatuh terperosok ke dalam jurang maut itu?"

Hampir tak kuasa menahan dirinya, ia sudah mau melangkah menuju pintu yang berada di sebelah kanan itu, tetapi di pinggir telinganya seolah-olah terngiang-ngiang lagi suara Zhang Jiejie yang lemah-lembut itu!

"Yang kucintai adalah kau, bukan `mayat hidup', maka demi aku, kau pun harus pergi!"

"Asal kau bahagia, aku pun sama-sama bahagia! Kau harus hidup sebaik-baiknya demi aku!"

Teringat akan kelemah-lembutannya dan cintanya yang amat mendalam, maka ia merasa adalah berdosa kalau dirinya bisa dan sempat mencurigainya!

"Aku harusnya mempercayai dia, sekali-kali dia tak akan menipuku!"

"Tapi petunjuk yang dia berikan dengan mengedipkan mata kirinya, sebenarnya mau memberitahukan hal apa kepadaku?"

"Apakah mau memberitahukanku, bahwa pintu yang di sebelah kiri itulah jalan yang hidup? Atau mau memberitahukanku, bahwa pintu yang di sebelah kiri itu tidak boleh dibuka?" *** Seluruh pertanyaan-pertanyaan ini, harus menunggu sampai pintu terbuka baru bisa dapat jawabannya! Harus buka pintu yang mana? Keputusan ini memang terlalu sulk dan terlalu menyengsarakan! Chu Liuxiang merasakan bahwa semua pakaian yang dikenakan badannya telah basah kuyup oleh keringat dingin. Perempuan tua yang berpakaian hitam itu berdiri di dekatnya, dengan sikap dingin memandangi pakaian dia yang basah kuyup oleh keringat itu, mendadak bertanya seraya tersenyum dingin.

"Apakah sekarang kamu sudah menyesal?"

"Menyesal karena apa?"

Tanya Chu Liuxiang.

"Menyesal karena kau sebetulnya tidak perlu sampai berada di sini. Tidak ada orang yang memaksamu datang ke sini, juga tidak ada orang yang memaksamu pergi dari sini."

Chu Liuxiang menjawab dengan tegas.

"Oleh karena itu aku sekali¬kali tidak menyesal! Apa pun akibatnya sekali-kali tidak menyesal, dikarenakan aku sudah pernah datang kemari!" *** Ia sudah pernah datang, sudah pernah hidup dan sudah pernah mencintai"

Ia sudah melakukan semua hal yang ia rasa wajib dilakukan -Apakah ini tidak cukup? Sinar mata perempuan tua itu berkedip-kedip, lalu berkata.

"Tampaknya pikiranmu sudah terbuka ya!"

Chu Liuxiang menganggukkan kepala.

"Jika begitu kau masih tunggu apa lagi?"

Tanya perempuan tua itu.

Tiba-tiba Chu Liuxiang tersenyum, lalu membuka salah satu pintu.

Tangannya tiba-tiba berubah lagi jadi begitu mantap dan pasti!

Hanya dalam waktu sekejap mata, ia telah kembali lagi menjadi Chu Liuxiang yang seperti dulu lagi!

Dengan langkah kaki yang lebar, ia melangkah ke luar dari pintu itu.

Pintu yang manakah yang ia buka?

Tiada orang yang tahu.

Tapi ini sudah tidak penting, sebab ia sudah pernah datang, sudah pernah hidup dan sudah pernah mencintai Terhadap siapa pun juga, ini sudah cukup.

TAMAT

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Medali Wasiat 11

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Chin

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert