Ceritasilat Novel Online

Legenda Bunga Persik 4

Eps 4 Legenda Bunga Persik - Gu Long

Baca online Legenda Bunga Persik - Gu Long

Cersil Legenda Bunga Persik - Gu Long.

"Tetapi demi menemukan dia, mati pun kamu tidak takut?"

"Ya."

Perempuan tua itu tiba-tiba berkata seraya menghela nafas pelan.

"Aku memang tidak keliru menilaimu, kamu betul-betul adalah orang yang pantas kubantu."

"Anda..."

Perempuan tua itu tiba-tiba menyela dengan berkata.

"Tujuanku bertanya hanyalah supaya kamu paham. Hanyalah orang yang tidak takut menderita serta tidak takut mati, yang dapat menemukan dia."

"Saya...saya sudah paham."

Kelihatannya perempuan tua itu menganggukkan kepala pelan¬-pelan, dan berkata pelan-pelan setelah berdiam lama sekali.

"Di dunia ini ada sebuah keluarga yang amat misterius, ada yang mengatakan bahwa mereka datang dari sisi langit, ada yang mengatakan bahwa mereka dari ujung laut, ada yang mengatakan bahwa mereka dari padang salju yang semua tetesan air telah menjadi es, ada yang mengatakan bahwa mereka dari padang belantara yang seekor burung pun tidak kelihatan, sebenarnya...."

Suaranya kian rendah.

"Sebenarnya di dalam dunia ini sama sekali tidak ada orang yang tahu mereka datang dari mana?"

"Apakah yang anda maksud itu adalah keluarga yang bermarga Ma itu?"

"Ada yang berkata bahwa mereka bermarga Ma, ada yang berkata bahwa mereka tidak bermarga Ma, sebenarnya...."

"Sebenarnya di dalam dunia ini sama sekali tidak ada orang yang tahu sesungguhnya mereka bermarga apa?" ! "Betul."

"Masa' mereka punya sesuatu hubungan dengan Zhang Jiejie?"

Perempuan tua itu tidak menjawab pertanyaan ini, melainkan membisu lama sekali, baru berkata pelan.

"Dikarenakan kamu sudah tahu tentang keluarga ini, barangkali tahu juga merekatinggal di mana?"

Chu Liuxiang mengangguk dan berkata.

"Menurut legenda kuno, mereka tinggal di atas gunung besar nun jauh di sana, dalam sebuah gua yang misterius, tetapi belum pernah ada orang yang ketemu mereka, juga belum pernah ada orang yang berani pergi ke sana untuk mencarinya."

Perempuan tua itu berkata dengan dingin.

"Ada orang yang pernah mencari, tetapi tidak pernah ada yang kembali!"

Chu Liuxiang berkata setelah menghembus nafas yang panjang.

"Apakah anda mau aku sekarang pergi untuk mencari mereka?"

"Kamu tidak berani pergi?"

"Asal bisa menemukan dia, tempat apa saja akan aku datangi!."

"Jikalau kamu tidak bisa kembali, apakah tidak menyesal?"

"Pada saat itu apa gunanya lagi untuk menyesal?"

"Yang kutanyakan bukan ada gunanya atau tidak, melainkan adalah. kamu menyesal atau tidak?"

Chu Liuxianginenghela nafas dan menjawab.

"Sekali-kali takkan menyesal!"

"Jika tak akan menyesal, kenapa mesti menghela nafas?"

Chu Liuxiang tidak mampu menjawabnya.

Tentu saja tidak bisa memberitahukan dia, bahwa ia menghela nafas, hanya disebabkan ia merasa perempuan tua itu terlalu bawel dalam bertanya ----Ada yang tidak usah ditanyakan, malahan ditanyakan, bahkan sekali masih belum cukup, masih mau tanya lagi!

Sebenarnya ia tidak bisa memastikan bayangan orang di air itu apa benar sudah tua sekali, tapi sekarang sedikit pun ia tidak meragukannya.

Yang paling bawel di antara manusia, pasti adalah perempuan; Dan yang paling bawel di antara perempuan, pasti adalah perempuan yang tua sekali.

Azas kebenaran ini juga tidak perlu diragukan lagi.

Baik dia orang macam apa saja, baik dia punya status yang amat tinggi, baik dia betapa misterius dan amat mengerikan!

Tetapi perempuan tua ya tetap perempuan tua!

Ketidak-beruntungan terbesar seorang pria adalah.

Ketika jelas¬jelas ia sudah berada di dalam kegelisahan yang amat sangat, malahan ketemu seorang perempuan tua, yang berulang-ulang menanyakan kat a-¬kata yang lucu dan mengherankan, dan memaksa dia harus menjawab!

Dalam situasi demikian, selain menghela nafas, ia bisa berkata apa lagi?

Namun kali ini perempuan tua itu ternyata tidak memaksanya menjawab.

Sepertinya ia pun menghela nafas dengan pelan, dan berkata pelan.

"Mungkin saat ini kau merasa aku bertanya terlalu banyak, namun kelak kau akan paham bahwa pertanyaanku ini tidaklah berlebihan."

Chu Liuxiang hanya mendengarkan saja. Perempuan ma itu berkata.

"Sekarang aku bertanya terakhir kalinya. Jikalau kau sudah tahu bahwa setelah pergi tidak akan kembali untuk selama-lamanya, apakah kau masih mau pergi?"

"Tetap pergi."

"Baik! Kalau begitu pergilah mencari keluarga Ma."

Chu Liuxiang berkata tanpa bisa menahan dirinya "Tetapi yang saya mau cari itu bukanlah mereka, yang saya mau can itu adalah Zhang Jiejie."

"Aku tahu."

"Namun sampai saat ini pun pernahkah anda beritahukanku, ada hubungan apa Zhang Jiejie dengan mereka?"

"Tidak pernah."

"Pernahkan anda beritahukanku, di manakah ia berada?"

"Tidak pernah juga."

Chu Liuxiang bertanya seraya tersenyum masam.

"Jika begitu, apa sebenarnya yang anda beritahukanku?"

Bayangan perempuan tua itu bergoyang-goyang di dalam air, dan berkata pelan-pelan.

"Aku tidak memberitahukan apa-apa padamu, cuma ingin kau pergi ke tempat mereka, dan menemukan altar suci mereka."

"Altar suci?"

"Altar suci itu berada di dalam gua gunung yang kau tahu itu."

"Itu tempat apa?"

"Tiada seorang pun yang tahu; selain mereka, belum pernah ada yang pergi ke sana."

Suara perempuan tua itu terdengar makin jauh dan sayup-sayup.

"Mereka mempercayai semacam agama yang amat misterius, dewa mereka berada di dalam altar suci itu, bagi mereka, itu bukan saja adalah tempat suci, juga adalah tempat terlarang, yang tidak mengijinkan orang luar masuk walau satu langkah saja!"

"Tapi sekarang anda malahan menyuruhku pergi ke sana?"

"Kamu harus pergi ke sana, disebabkan hanyalah dewa mereka, yang dapat memberitahukanmu kabar Zhang Jiejie!"

"Dewa mereka?"

"Kau tidak percaya dewa mereka?"

"Saya mau percaya, tapi saya kan manusia fana, bagaimana bisa dewa berkomunikasi dengan manusia fana?"

"Sebab dewa mereka berbeda dengan dewa-dewa yang lain."

"Apa bedanya?"

"Dewa mereka bukan patung, juga bukan dukun sakti, tapi adalah dewa yang hidup. Bukan saja kau dapat melihat rupanya, juga dapat mendengar suaranya!"

"Dapatkah aku mencari dan menemukan dewa itu?"

"Itu tergantung kepadamu, apakah dapat sampai di altar suci mereka?"

"Dengan cara bagaimana baru dapat sampai di altar suci itu?"

"Harus pakai hikmatmu serta keberanianmu, tapiyang terpenting adalah tekad yang bersedia mengorbankan apa saja! Sebelum kau pergi, kau harus bersiap-siap untuk mencampakkan semua yang kau miliki di dunia fana ini, kemudian...."

Suaranya dingin bagaikan salju dan es yang berada di ujung langit, dinginnya dapat membuat darah orang jadi membeku! Chu Liuxiang bertanya seraya mengertakkan gigi.

"Kemudian bagaimana?"

"Kemudian kamu boleh tidak peduli apa pun, bahkan boleh Tujuan menghalalkan segala cara'...."

Suaranya tiba-tiba berubah jadi panas bagaikan lidah api neraka.

"Kau boleh menggunakan segala cara, bahkan dengan cara terkeji dan terhina sekalipun, asal kau dapat sampai di altar suci mereka, dan dapat melihat dewa mereka, mereka pasti tidak bisa lagi mencelakaimu!"

"Tapi...."

Tiba-tiba perempuan tua itu memotong perkataannya dan berkata.

"Tapi masih ada satu hal yang harus benar-benar diingat"

"Apa itu?"

"Kau boleh pakai akal untuk memperdayai mereka, pakai pentung untuk merobohkan mereka, bahkan mau pakai senjata rahasia atau obat bius pun tidak apa-apa, tapi sekali-kali jangan menyebabkan siapa pun dari mereka mengucurkan darah!"

Ia meneruskan dengan kata demi kata.

"Asalkan badanmu terkena setetes darah mereka, kau pasti akan menyesal seumur hidup...sekarang kau sudah tahu semuanya, jika tidak pergi ke sana, juga pasti akan menyesal seumur hidup!"

Angin tidaklah terlalu dingin, air pun tidaklah terlalu dingin.

Tetapi tanpa bisa menguasai dirinya, Chu Liuxiang bergemetaran sejenak!

Jarang sekali ia takut, tetapi dari dalam suara perempuan tua yang berpakaian hitam itu, seolah-olah disertai semacam kekuatan sihir dan misterius, seolah-olah hanyalah satu kalimat kutukan dia saja sudah dapat merubah nasib seseorang!

Nasib Chu Liuxiang, apakah sudah berubah mulai saat ini?

Ia tidak tahu.

K arena tidak tahu itulah ia jadi takut.

K ata-kata yang diucapkan perempuan tua itu, benar atau salah?

Ia pun tidak tahu.

Namun tampaknya ia tidak bisa tidak percaya, juga tidak berani tidak percayai Hikmat dan pikirannya seolah-olah sudah dikendalikan oleh semacam kekuatan nan misterius, itu bukan kekuatan manusia, juga bukan kekuatan dewa.

Tapi semacam kekuatan sihir yang aneh dan menakutkan!

*** "Itu bukan kekuatan sihir!"

Hu Tiehua duduk dengan lurus dan tegak, memandangi Chu Liuxiang yang duduk di hadapannya, dari dalam matanya sama sekali tidak ada tanda orang mabuk.

Sudah lama sekali pikirannya tidak pernah sejernih ini.

Jika seorang sahabat anda, pakai waktu dua hari untuk mencari anda, dengan keletihan dan ekspresi wajah yang tidak pernah anda lihat....

Jika begitu, sekalipun anda adalah pernabuk kelas kakap, juga akan berusaha mempertahankan kejernihan pikiran anda.

Pandangan mata Hu Tiehua tidak saja "jernih", juga amat "tegas", dan ia berkata perlahan-lahan.

"Sekali-kali itu bukan kekuatan sihir!"

"Kenapa bukan?"

"Sebab di bawah kolong langit ini, tidak ada satu setan atau iblis pun yang sanggup membuat kau takluk!"

"Oh?"

"Kau berubah jadi orang yang tergila-gila dan penurut ini, Cuma karena satu hal!"

"Ap a?"

"Yaitu kau kunyuk ini benar-benar jatuh cinta pada siluman kecil itu!"

Chu Liuxiang menundukkan kepalanya.

Ia benar-benar keletihan, dalam dua hari ini, harnpir tidak tidur Siapa pun yang mau menernukan Hu Tiehua pasti bukanlah hal yang mudah.

Ia tidak bisa menyanggah perkataan Hu Tiehua.

Di dalam dunia ini ada kekuatan apa lagi,yang bisa lebih mengerikan dari kekuatan cinta?

"Altar suci yang tidak pernah didatangi orang, dewa yang dapat berbicara....

Apakah kau betul-betul percaya omong kosong ini?"

Chu Liuxiang menjawab seraya menggenggam eratkedua tangannya sendiri.

"Sekali-kali ini bukan omong kosong."

Hu Tiehua bertanya dengan dingin.

"Apakah perempuan tua itu adalah setan yang hidup?"

"Bukan."

"Bagaimana kau bisa tahu dia itu manusia atau setan? Kau kan sama sekali tidak melihat dia!"

Memang benar.

Yang terlihat oleh Chu Liuxiang, hanyalah bayangan dia di dalam Kabut tebal makin menutupi aliran air itu.

Bayangan orang yang berada di dalam air itu, mirip sekali dengan roh hantu yang berada di tengah angin.

Tiba-tiba, entah dari mana datangnya sekelebatan angin kencang, yang membuat permukaan air itu beriak-riak.

Dan bayangan orang itu lenyap dalam riak-riak itu.

Sewaktu permukaan air jadi teduh kembali, bayangan orang itu sudah tidak kelihatan lagi....

*** "Dengan cara demikiankah siluman tua itu tidak kelihatan?"

Tanya Hu Tiehua.

"Ya", jawab Chu Liuxiang.

"Masa' kau dari awal sampai akhir, tidak menoleh untuk melihat?"

"Benar."

"Semula kau tidak berani menoleh, sebab takut dia tidak mau mengatakan kabar Zhang Jiejie?"

"Ya."

"Tetapiketika ia sudah mengatakannya, kenapa tidak menoleh untuk melihatnya?"

"Aku.... Aku pun tidak tahu kenapa?"

Ketika Chu Liuxiang menoleh, di belakang sudah tidak ada orang.

Ketika bayangan orang di dalam air itu lenyap, perempuan tua yang berpakaian hitam itu pun lenyap, entah lenyap di dalam air, atau lenyap di dalam angin!

Juga tidak tahu apakah betul-betul ada seseorang yang telah datang, atau hanyalah suatu bayangan orang yang mirip hantu itu!

Tetapi jika tidak ada orang, bagaimana bisa ada bayangan?

Lama sekali Hu Tiehua mendeliki Chu Liuxiang, baru berkata setelah menghela nafas panjang.

"Kau benar-benar telah berubah!"

"Oh ya?"

"Bukan saja berubah, bahkan berubah drastis sekali! Kalau dulu sekalipun kau memukulku sampai mati, aku juga tak akan percaya kau bisa berubah sampai begini!"

Chu Liuxiangbertanya seraya tersenyum kecut.

"Sekarang aku telah berubah jadi apa?"

"Letih-lesu-lunglai, sama sekali tidak punya gairah, dan rupamu ini membuat aku marah besar begitu melihatnya!"

Tiba-tiba ia menggebrak meja dan berkata.

"Barangkali perempuan tua itu bukan siluman tua, tetapi Zhang jiejie 100% adalah siluman kecil!"

"Ia bukan...."

Hu Tiehua memotong dengan suarakeras.

"Ia bukan siluman? Jika bukan dikarenakan dia, bagaimana kau bisa berubah sampai begini?"

"Tapi.... Kau pun tidak dapat menyalahkan dia."

"Tidak menyalahkan dia? Lalu menyalahkan siapa?"

"Sampai saat ini pun tiada orang yang tahu duduk perkara yang sebenarnya dan hal ini, bagaimana kau dapat menyalahkan dia?"

"Oleh sebab itu kau masih mau pergi untuk mencari dia?"

Chu Liuxiang berdiam diri, dan arti dari berdiam din biasanya adalah mengakuinya.

"Demi mau mencari dia, benar-benarkah kau rela rneninggalkan bahkan mengorbankan segala-galanya?"

Tanya Hu Tiehua.

Apakah kau benar-benar bisa mencampakkan kapalmu itu?

Arak anggur Persia yang berumur tua yang cukup banyak itu?

Masih ada sedikit nama tenar yang kau dapat melalui perjuangan taruhan nyawa belasan tahun?...."

Suaranya kian lama kian keras, tiba-tiba ia melompat berdiri dan berkata keras.

"Anggaplah bahwa semua ini kau tidak mau, masa' sampai sahabat pun kau tidak mau?"

Chu Liuxiang berdiarn diri.

Dan arti berdiam diri, belum tentu pasti adalah mengakuinya.

Lama sekali Hu Tiehua mendelikinya, tiba-tiba tubuhnya terjatuh kembali ke kursi, berkata seraya menghela nafas panjang.

"Sebenarnya aku tentu saja tahu, kau masih mau sahabat, jika tidak kau takkan mencariku dengan susah payah!"

Chu Liuxiang masih terus berdiam diri, sebab ia sudah tidak perlu mengatakanya.

Asal seseorang betul-betul bisa memahami keberadaan dari persahabatan itu, maka semuanya sudah tidak perlu dikatakannya.

Berdiam diri lama sekali, kemudian Hu Tiehua berkata lagi pelanpelan.

"Tetapi kau sekali-kali jangan lupa, bahwa selain aku, kau masih punya banyak sekali sahabat wanita!"

Tentu saja Chu Liuxiang tidak bisa melupakan mereka! Bagaimana mungkin ia bisa melupakan Su Rongrong? Song Tianer? Li Hongxiu? Kata Hu Tiehua lagi.

"Setiap hari mereka selalu menunggumu, bahkan memperhatikanmu lebih mendalam dariku, masa' kau tidak mengerti?"

"Aku mengerti."

"Aku pun tahu bahwa kau tidak mungkin tidak menginginkan sahabat-sahabatmu ini, tapi kali ini, begitu pergi mungkin benarbenar tak akan kembali untuk selama-lamanya!"

"Aku pasti akan kembali."

"Kau tidak usah membohongiku! Aku pun pernah mendengar orang membicarakan mereka. Sepengetahuanku di dunia ini barangkali tidak ada orang yang lebih menakutkan dari mereka!"

"Oh ya?"

"Sebab Shi Guanyin-Shuimu-Xueyiren, walaupun ilmu silat mereka begitu hebat, tapi kau hanya seorang diri saja, namun mereka adalah satu keluarga, dan menurut kata orang, ilmu silat mereka masing-masing telah sampai ke taraf yang paling tinggi!"

"Itu kan hanya omongan orang, sebenarnya.... Tiada seorang pun yang benar-benar telah melihatnya."

Hu Tiehua berkata dengan suara dalam "Justru karena tiada orang yang pernah melihatnya, itu lebih menakutkan lagi!"

Ia tidak membiarkan Chu Liuxiang berkata, langsung menyambung.

"Yang paling menakutkan bukan mereka, tapi adalah gua gunung yang mereka tinggal itu!"

"Mengapa?"

"Dikarenakan siapa pun tidak tahu di gua gunung itu, perangkap dan jebakan macam apa yang sudah terpasang?"

Chu Liuxiang memaksa diri tersenyum, lalu berkata.

"Gua gunung yang amat menakutkan seperti pulau kelelawar itu pun aku pernah pergi, lalu ada tempat apa lagi yang aku talc dapat pergi?"

"Jangan lupa waktu itu kau pergi dengan berapa orang? Jikalau tidak ada Hua Zhenzhen, waktu itu pun mungkin kau tak akan bisa kembali!"

Ia melanjutkan dengan suara keras.

"Apakah kali ini kau masih dapat menemukan orang macam Hua Zhenzhen untuk menemanimu pergi ke sana? Aku...."

Chu Liuxiang memotongnya dengan berkata.

"Sekalipun dapat menemukannya, aku pun tidak dapat meminta dia menemaniku."

"Mengapa?"

"Dikarenakan urusan ini hanya aku seorang diri yang dapat melakukannya, jika tidak...."

Hu Tiehua berebut untuk berkata.

"Jika tidak, maka kau selamalarnanya jangan berpikir lagi untuk bertemu Zhang Jiejie!"

Chu Liuxiang mengangguk seraya menghela nafas panjang.

"Apakah kalimat ini juga dikatakan oleh perempuan tua itu?"

"Betul."

"Makanya kau sudah siap-siap untuk pergi seorang diri untuk berhadapan dengan mereka sekeluarga, bahkan aku pun tidak dapat menemanimu?"

"Betul."

Hu Tiehua bertanya seraya tersenyum dingin.

"Kau kira kau ini siapa? Apakah kau adalah dewa hidup yang berkepala tiga dan berlengan enam?"

"Aku bukan."

"Tapi kau masih saja mau pergi?"

"ya."

"Apakah ia betul-betul pantas bagimu untuk berbuat demikian?"

Wajah Chu Liuxiang menunjukkan ekspresi penderitaan, dan berkata dengan murung-.

"Baik dia pantas atau tidak, aku hams berbuat demikian."

"Mengapa?"

"Sebab aku harus bisa menemukan seluk-beluk hal ini, harus bisa menemukan siapakah orang itu?! Jika kau adalah aku, aku pun percaya kau pasti berbuat demikian."

Hu Tiehua tiba-tiba tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Chu Liuxiang pun tidak berkata apa-apa lagi, setelah berdiam diri agak lama, lalu berdiri pelan-pelan, berjalan mendekat dan menggenggam tangan Hu Tiehua erat-erat sejenak, kemudian tibatiba membalikkan badan dan berjalan pergi dengan langkah lebar.

Langkah kakinya masih tegap dan mantap, tapi juga terasa berat sekali.

Hu Tiehua tidak berdiri untuk mengantar kepergiannya, bahkan sedikit pun tidak melihatnya.

Di luar gelap gulita.

Tiada bintang tiada bulan, sebentar saja Chu Liuxiang sudah lenyap dalam kegelapan.

Kemudian Hu Tiehua baru menoleh dan menatap kegelapan itu, di sisi telinganya seolah-olah juga berbunyi kata-kata mantra dari perempuan tua itu.

"Jika kamu pergi ke sana, maka harus bertekad mencampakkan semua yang kamu miliki di dunia ini.

"Jika kamu tidak pergi ke sana, akan menyesal seumur hidup...."

"Sekalipun tidak bisa kembali lagi untuk selama-lamanya, kamu pun tidak boleh menyesal...." *** Sekarang Chu Liuxiang akhirnya pergi juga ke sana. Jalan macam apakah yang sebenarnya ia tempuh? Apakah jalan ini adalah "jalan ada pergi tiada kembali?"

Hu Tiehua tidak tahu....

Tiada seorang pun yang tahu.

Saat ini Hu Tiehua merasakan keringat dingin sedang mengalir setetes demi setetes dari ujung jidatnya, dan mengalir dengan pelan ke bawah menyusuri misi hidupnya.

Ia cuma tahu bahwa kepergian Chu Liuxiang kali ini, baik bisa kembali lagi atau tidak, pasti akan mengalami banyak sekali hambatan serta penderitaan!

Di dalam pandangan mereka, bahaya bukanlah sesuatu yang luar biasa, namun ada sejumlah hambatan dan penderitaan yang tak tertahankan!

Hu Tiehua tiba-tiba loncat berdiri dan berteriak keras.

Kau adalah Hu Tiehua, apakah kau bisa melihat saja ketika Chu Liuxiang berjalan di jalan maut macam ini?"

Bab 11.

Gunung di Dalam Kekaburan Sebuah puncak gunung.

Sebuah puncak gunung yang berada di antara gunung-gunung, di antara awan-awan yang putih.

Awan-awan itu tampak begitu jauh dan samar-samar, kabut juga tampak begitu jauh dan samar-samar, gunung-gunung itu berada di tengah-tengah awan dan kabut, sepertinya nyata, tapi sepertinya khayal Hanyalah aliran air gunung yang jernih itu, yang kelihatannya nyata, sebab Chu Liuxiang berada di samping aliran air itu.

Ia menyusuri aliran air itu dan berjalan terus ke atas, sekarang sudah sampai di hulunya.

Sebuah air terjun yang bergemuruh, mengalir ke bawah dari puncak gunung bagaikan naga giok yang bergantung terbalik, dan cipratan¬-cipratan airnya bagaikan batu giok dan mutiara!

Ini adalah karya Tuhan yang besar, jika tidak siapakah yang sanggup rnelukis lukisan nan indah dan dahsyat Menurut legenda kuno, di hulu aliran air gunung ini, terdapat sebuah tempat berpemandangan indah serta nyaman dan ideal untuk ditempati, berdiamlah sebuah keluarga yang paling misterius dalam dunia persilatan!

Tiada seorang pun yang tahu gerak-gerik mereka, lebih-lebih lagi tiada seorang pun yang tahu asal-usul mereka!

Sekarang, di sinilah hulu aliran air itu, lalu di manakah tempat ideal nan misterius itu yang terdapat di legenda?

Chu Liuxiang masih belum menemukannya.

"Masa' air terjun ini, adalah `korden mutiara' yang sengaja digantungkan di depan pintu gua mereka oleh Tuhan?"

Chu Liuxiang sudah melangkah ke sana, tapi tiba-tiba berhenti.

Sekalipun di belakang air terjun ini adalah pintu gua mereka, ia pun tak akan bisa memasukinya.

Sebab jika tidak memiliki semacam kata-kata mantra nan misterius, bagaimana bisa membuka pintu misterius ini?

Ada sebuah batu berwarna hijau yang penuh bertumbuh lumut, dan ia duduk di batu ini.

Wajahnya agaknya sudah lenyap daya pesona yang dulu dimilikinya, sekarang terlihat begitu pucat dan begitu letih!

Seandainya Zhang Jiejie melihat rupanya sekarang ini, akan sedihkah dia?

Dan menangis untuknya?

Chu Liuxiang menghela nafas dengan ringan, lalu mendongak dan memandangi awan-awan putih yang ada di atas puncak gunung itu.

Seolah-olah ia mau bertanya kepada awan putih, tetapi awan putih diam seribu bahasa.

Di dalam dunia ini ada siapa lagikah yang bisa membawa kabar bagi dia?

Tiba-tiba ada seberkas sinar emas,yang menerobos dari awan putih dan bersinar di pinggir aliran air itu.

Ia tiba-tiba merasakan bahwa di pinggir.

aliran dari air itu muncul sebuah bayangan orang.

Rambutnya hitam, sanggulnya tinggi, berpakaian hijau; sepasang matanya, dilihat di tengah-tengah kabut tipis, terang bagaikan bintang.

Orang ini persis seperti dewi yang baru saja terbang turun dari antara awan-awan putih!

Kedua tangannya sedang memegang buli-buli giok putih, lengan bajunya tergulung sehingga menampakkan sepasang lengan yang indah dan mulus, dan ia sedang mengisi buli-buli itu dengan air gunung.

Cahaya matahari yang berwarna emas itu, sedang menyinari wajahnya yang bagaikan terbuat dari giok putih itu!

Ketika Chu Liuxiang melihat dia, nafasnya tiba-tiba seperti terhenti!

Akhirnya dari awan putih datang juga kabar!

Apakah gadis ini memang diutus awan putih untuk membawakan kabar bagi dia?

Chu Liuxiang hampir tidak kuasa menahan dirinya, meloncat berdiri dan berteriak.

"Ai Qing!"

Gadis ini memang Ai Qing.

Daya pesonanya masih tetap, masih secantik dan semenarik seperti ketika Chu Liuxiang melihatnya untuk pertama kalinya Pakaian yang dipakainya, juga mungkin adalah pakaian yang sama ketika pada hari itu ia mengucapkan selamat panjang umur di Taman Wanshou; dan di telinganya juga pakai sepasang antinganting zamrud.

Sewaktu melihat anting-anting ini, tanpa kuasa menahan dirinya, Chu Liuxiang teringat akan saat-saat romantis.

yang terjadi di dalam rumah kecil di bawah gunung pada malam itu!

Kelemah-lembutannya, kerornantisannya, cukup membuat para pria di dunia ini sulk melupakan untuk selama-lamanya!

Tetapi pada hari-hari belakangan ini, agaknya Chu Liuxiang telah sama sekali melupakannya.

Ia betul-betul merasa malu dan punya perasaan bersalah, hampir tidak "punya muka"

Untuk bertemunya lagi! Tetapi tidak bisa tidak ia mesti menemuinya, dikarenakan ia punya beratus-ratus pertanyaan yang mau diajukan! "Pada pagi itu, kenapa kau tiba-tiba lenyap?"

"Sepasang tangan putus pengambil nyawa itu, sebenarnya melambangkan hal apa?"

"Sekarang kenapa kau bisa berada di sini?"

Apakah kau juga bersama dengan keluarga ini terus, tinggal di tempat nan misterius itu?"

Tiada kuasa menahan dirinya, sekali lagi ia berteriak keras.

"Ai Qing!"

Air gunung berkilau-kilau, buli-buli giok putih itu pun berkilau kilau.

Ai Qing mengambil sebuli buli penuh air gunung, berdiri serta membalikkan badan, sepertinya mau segera kembali ke pedal aman awan awan putih!

Sepertinya ia sama sekali tidak mendengar teriakan Chu Liuxiang.

Teriakan Chu Liuxiang makin keras.

"Ai Qing, tunggu!"

Ia masih tidak dengar, tapi saat ini Chu Liuxiang seperti burung terbang melewati aliran air gunung itu, bagaikan segumpal awan putih, tiba-tiba turun di depan dia.

Ai Qing berhenti dan memandang dia, di wajahnya tidak menunjukkan ekspresi terkejut maupun senang.

Sepertinya ia sedang memandang seorang yang tak dikenal!

Chu Liuxiang memaksa dirinya tersenyum sekilas, lalu berkata "Sudah lama tidak ketemu!

Tak disangka bisa bertemu di sini."

Wajah Ai Qing masih tanpa ekspresi, bahkan memandangnya dengan sikap dingin, lalu berkata.

"Siapa kau? Mengapa merintangi jalanku?"

Suaranya masih amat merdu seperti dulu, namun saat ini sudah berubah jadi dingin dan tanpa perasaan! Chu Liuxiang bertanya"

Bagaimana bisa kau tidak mengenaliku?"

Ai Qing menjawab dengan dingin.

"Aku sama sekali tidak pernah melihatmu!"

Chu Liuxiang menghela nafas panjang, tersenyum masam dan berkata.

"Aku tahu aku telah bersalah padamu, tapi...aku punya kesulitan yang sukar diungkapkan.... Aku pun pernah mencarimu dengan segala cara dan jerih payah."

Ai Qing berkata seraya mengerutkan alisnya.

"Kau sedang ngomong apa sih? Aku sama sekali tidak paham!"

Tanpa terasa Chu Liuxiang mengelus-elus hidungnya, lalu bertanya.

"Masa' kau benar-benar telah melupakanku?"

"Aku memang tidak mengenalmu kok!"

"Tapi aku mengenalmu, kau bernama Ai Qing kan?"

"Aku pun tidak kenal Ai Qing. Minggir!"

Tangannya tiba-tiba menampar ke arah muka Chu Liuxiang.

Chu Liuxiang terpaksa berkelit dan menyingkir.

Tentu saja ia masih punya cara lain untuk menghadapinya, tapi dalam situasi macam ini, hanya bisa menyingkir.

Seorang gadis, jika sudah mengertakkan giginya serta berkata tidak kenal anda, selain membiarkan dia pergi, anda masih bisa berbuat apa lagi?

Tetapi, mengapa ia berbuat demikian?

Mengapa tiba-tiba bisa berubah jadi demikian tanpa perasaan?

Apakah ia pun punya kesulitan yang sukar diungkapkan?

Masa' cintanya telah berubah jadi kebencian?

Chu Liuxiang tak kuasa memahaminya.

Ai Qing sudah berjalan pergi dari sampingnya, dan meninggalkan bau wangi yang samar-samar.

Bahkan bau wangi ini pun, Chu Liuxiang sangat mengenalinya.

Sarnpai mati pun ia tidak dapat percaya bahwa gadis ini bukan Ai Qing!

Awan putih sudah terlihat samar-samar.

Bayangan badan Ai Qing sudah hampir lenyap di antara awanawan.

Chu Liuxiang tiba-tiba putar badan dan mengikuti dia.

Ai Qing berjalan tidak begitu cepat, dari jauh terlihat pinggangnya yang ramping dan indah, bagaikan bunga di tengah kabut, atau pohon willow di tengah angin.

Gaya berjalan para gadis, umumnya memang amat menarik!

Tetapi saat ini Chu Liuxiang tidak punya suasana hati untuk menikmatinya, ia hanya berjalan terus mengikuti gadis itu.

Jalan gunung itu sempit dan sukar, entah berasal dari mana dan mau menuju ke mana?

Di penghujung jalan gunung itu hanya terdapat awan putih, tidak kelihatan "tempat ideal berpemandangan indah", juga tidak kelihatan"bangunan indah laksana istana dewa-dewi"

Yang hanya terdapat di legenda!

Kelihatannya Ai Qing sudah mau "pergi dengan mengendarai angin", tapi mau pergi ke mana?

Chu Liuxiang mempercepat langkah kakinya, agar bisa mengikuti lebih dekat, agar tidak kehilangan jejak gadis itu.

Ai Qing mendadak menolehkan kepala, pandangan matanya lebih dingin dan lebih tajam menusuk dari angin di puncak gunung, mendelik dan berkata dengan sikap dingin.

"Untuk apa kau mengikutiku?"

"Aku.....masih mau tanya beberapa kalimat lagi padamu."

"Baik! Tanyalah!"

"Sungguhkah kau bukan Ai Qing?"

"Bahkan nama ini pun aku belum pernah dengar!"

"Bagaimana kalau Taman Wanfu Wanshou?"

"Tempat apakah itu?"

"Belum pernahkah kau pergi ke sana?"

"Selama sepuluh tahun ini, aku belum pernah turun dari gunung ini walau hanya selangkah!"

Chu Liuxiang memandangi dia, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi....

Semua hal ini, gara-garanya adalah gadis itu telah berkentut di Taman Wanfu Wanshou!

Sekarang ia malah berkata tidak pernah ke Taman Wanfu Wanshou, dan tidak pernah melihat Chu Liuxiang!

Chu Liuxiang menghela nafas panjang, lalu bergumam.

"Barangkali aku salah mengenali orang, barangkali aku seharusnya tidak bertemu kau lagi."

"Tidak salah! Seharusnya kau tidak datang ke mari, hari itu seharusnya kau tidak pergi ke Taman Wanfu Wanshou."

Chu Liuxiang mendadak mengangkat kepala dan bertanya.

"Jika kau tidak kenal aku, kenapa bisa tahu aku pernah ke Taman Wanfu Wanshou?"

Air muka Ai Qing segera berubah, badannya tiba-tiba terbang dan berkelebat masuk ke awan-awan putih yang samar-samar.

Ketika Chu Liuxiang mau mengejar, tepat di saat ini, dari antara awan tiba-tiba muncul dua orang.

Dua orang paruh baya yang memakai pakaian rami, dan memakai topi yang tinggi.

Pakaian dan topi mereka, persis sama dengan kakek berpakaian rami yang hari itu pernah bertemu dengan Chu Liuxiang, bahkan gaya dan ekspresi wajah pun nyaris sama!

Wajah mereka pucat pasi dan tidak kelihatan warna darah!

Ekspresi wajah mereka jelas-jelas menunjukkan betapa dingin dan betapa angkuhnya mereka!

Mungkin mereka berasal dari langit, mungkin mereka berasal dari bumi, baik mereka berasal dari mana saja, jelas terlihat bahwa mereka merasa terhina kalau bergaul dengan orang biasa di bumi .

Tiba-tiba Chu Liuxiang jadi paham!

Pasangan suami istri tua yang memakai pakaian rami itu, kemungkinan besar adalah sesepuh dari keluarga yang bermarga Ma itu!

Antara Zhang Jiejie dengan keluarga ini, kemungkinan besar ada semacam hubungan misterius yang tidak biasa!

Hari itu Zhang Jiejie tiba-tiba menghilang, barangkali juga karena paksaan dari pasangan suami istri tua itu!

Jika tidak, bagaimana ia bisa tega pergi tanpa pamit, bahkan sampai sekarang pun tidak memberi kabar?

Berpikir.

sampai di sini, hati Chu Liuxiang sepertinya dibakar api yang besar!

Ia bersumpah.

Bagaimanapun juga, harus bisa menyelamatkan Zhang Jiejie dari tangan keluarga ini!

Untuk mencapai tujuan ini, berapa besar pun pengorbanannya ia juga rela, bahkan mati pun sudah tidak jadi masalah!

*** Angin gunung yang kencang telah membuyarkan gumpalan awan putih, tapi sebentar saja awan putih telah menggumpal lagi.

Kedua orang paruh baya yang memakai pakaian rami dan memakai topi yang tinggi itu, masih berdiri di antara awan putih, dan memandang Chu Liuxiang dengan sikap yang amat dingin.

Yang satu badannya agak kate, tetapi tampaknya lebih berwibawa, mendadak berkata.

"Lebih baik kamu cepat-cepat kembali ke tempat dari mana kau datang!"

Suaranya dan gayanya sama-sama dingin dan angkuh, lagaknya persis dewa yang sedang menurunkan titah pada kaum umat kepercayaannya! Sebaliknya Chu Liuxiang menjadi tenang, lalu berkata pelanpelan.

"Mengapa saya mesti kembali?"

"Sebab tempat ini tidak boleh didatangi manusia bumi yang biasa."

Chu Liuxiang berkata setelah tersenyum sekilas.

"Tempat ini tidak boleh didatangi manusia bumi yang biasa? Masa' anda bukan manusia bumi?"

"Betul."

Gayanya masih tetap dingin dan angkuh, lagaknya ia betul-betul menganggap dirinya adalah dewa. Chu Liuxiang bertanya seraya tersenyum.

"Jikalau anda bukan manusia bumi, lalu apa?"

Orang yang memakai pakaian rami itu menjawab dengan sikap dingin.

"Kamu tidak boleh datang ke sini, juga tidak boleh bertanya!"

"Tapi saya sudah datang, dan juga sudah bertanya"

Orang yang lainnya tiba-tiba berkata.'Dikarenakan kamu sudah datang, jadi tak usah kembali lagi!"

"Saya memang telah bermaksud tidak kembali lagi kok!"

Kedua orang paruh baya itu sating pandang sekilas, lalu tiba-tiba badan mereka mulai berputaran pada waktu yang sama.

Setiap orang pasti bisa memutarkan badannya, tapi gaya dan cara berputar mereka, betul-betul berbeda dengan siapa pun!

Badan mereka tiba-tiba berputar ke kiri, tiba-tiba berputar ice kanan, tidak saja berputar dengan begitu lincah dan gesit, bahkan berputar tanpa henti!

Bahkan Chu Liuxiang pun tidak dapat menebak apa maksud mereka berbuat demikian?

"Masa' mereka mau membikin diri mereka sendiri jadi pening?"

Tepat pada saat itu, kedua orang itu tiba-tiba berputar ke arah dia dalam waktu yang bersamaan, lalu berputar terus mengitari badannya, makin lama makin cepat!

Tentu saja Chu Liuxiang pernah menyaksikan ada sejenis silatyang hernama.

Ba gua_you then hang Kehebatan yang terbesar dari silat ini adalah.

Berputar mengitari badan anda sampai anda menjadi "puling tujuh keliling", lalu menyerang ketika ada kesempatan!

Anda sama sekali tidak tahu kapan lawan menyerang, lebih-lebih tidak tahu dan mana lawan menyerang, maka mau berjaga-jaga pun akan sulit sekali!

Namun modelnya Ba gun you Shen Shang sekali-kali bukanlah demikian.

Orang yang menggunakan silat ini berputar mengitari lawan, tapi badan orang itu tidak berputar.

Namun kedua orang ini berputar-putar bagaikan dua buah gasing besar!

Chu Liuxiang berkata setelah tersenyum sekilas.

"Saya sekarang baru tahu kalian adalah apa, kalian memang bukan orang, tapi...."

Kata-katanya belum selesai, kedua orang itu tiba-tiba menyerang dalam waktu yang sama.

Tangan mereka jumlahnya empat, tapi bayangan tangan mereka sepertinya ada 20 sampai 30, yang menyerang Chu Liuxiang dari segala arah!

Siapa pun tidak dapat membedakan.

tangan mereka yang mana adalah sungguhan, yang mana adalah bayangan!

Kelihatannya Chu Liuxiang pun tidak dapat membedakannya.

Terdengar bunyi "Plak!

Plak!

Plak!

Plak!"

Empat kali bunyi yang bersamaan, dan robohlah Chu Liuxiang!

Kenapa ia dapat dirobohkan lawan dengan begitu mudah?

Apakah disebabkan ia belum pernah melihat ilmu silat semacam ilmu silat semacam ini memang betul-betul terlalu aneh dan ajaib!

"Bawa dia pulang!"

"Mengapa bawa dia pulang?"

"Orang ini pastilah bukan datang kemari karena tidak sengaja."

"Sebab itu kau mau bawa dia pulang dan menanyainya?"

"Betul."

Tentu saja ini adalah dialog di antara kedua orang yang memakai pakaian rami itu.

Suara mereka masih tetap dingin, walaupun begitu menyerang langsung merobohkan lawan, tapi mereka tidak merasa senang dan puas, juga tidak merasa aneh.

Sebab anggapan mereka adalah.

Begitu ilmu silat macam ini dipergunakan, memang tidak ada orang yang sanggup menghindarinya!

Sekalipun mereka tahu yang dirobohkan itu adalah Chu Liuxiang, juga tak akan merasa aneh.

Pada kenyataarmya, siapakah Chu Liuxiang?

Mereka sama sekali tidak mengetahuinya.

Oleh karena itu, apakah Chu Liuxiang benar-benar dirobohkan mereka, dan saat ini sedang pingsan?

Mereka pun tidak tahu.

*** Chu Liuxiang membuka sedikit matanya dengan perlahan.

Sekarang ia Baru membuka sedikit matanya.

Ketika dua orang yang memakai pakaian rami itu menggotong dia sampai di tempat ini, ia terus menutup matanya, walaupun hatinya ingin sekali mengintip jalan mereka masuk ke dalam gunung ini, tapi ia terpaksa berusaha keras menahan keinginan itu.

Sebab ia tahu bahwa meskipun pengalaman tempur kedua orang ini dangkal sekali, sehingga agak mudah dikelabui, namun reaksi mata dan telinga mereka, pastilah jauh lebih peka dari pesilatpesilatyang biasa!

Mungkin mereka tidak dapat melihat dan menyadari bahwa apakah ia benar-benar pingsan atau tidak, tapi jika ia ada sedikit gerakan apa saja, jangan harap itu dapat mengelabui mereka!

Baik terhadap orang maupun persoalan, daya mempertimbangkan dan memutuskan dan Chu Liuxiang, selama ini jarang sekali ada yang keliru!

Bahkan boleh dibilang hampir tidak ada!

*** Ini adalah sebuah ruangan yang terbuat dari batu, bersahaja dan terkesan kuno, tapi seperti orang-orang yang memakai pakaian rami itu, selalu menimbulkan semacam kesan pongah dan anggun yang sukar dilukiskan, yang membuat orang tidak berani memandang ringan!

Siapa pun dia, ketika sudah sampai di tempat ini, tiba-tiba akan merasa bahwa betapa kecilnya dia dan betapa pendek dan singkatnya hidup manusia!

Di dalam ruangan batu ini, saking besihnya sampai tak terlihat debu sedikit pun, bahkan mengkilap bagaikan cermin.

Atap ruangan ini luar biasa tingginya, di ruangan ini selain sebuah ranjang batu yang amat besar, nyaris tidak ada pajangan yang lain.

Saat ini Chu Liuxiang berbaring di ranjang batu ini, dan pandangan matanya dari atap ruangan berpindah ke dinding batu, lalu berpindah ke pintu.

Pintu itu tertutup.

Di luar pintu adalah tempat apa?

Adakah terpasang perangkap?

Adakah orang yang berjaga?

Ia sama sekali tidak tahu.

Ia cuma dapat merasakan bahwa kedua orang itu setelah melewati banyak belokan, dan setelah menaiki beberapa kali tangga, barulah ia digotong sampai di sini.

Kemudian tidak terdengar lagi bunyi mereka.

Mereka pergi ke mana?

Mau ambil tindakan apa terhadap dia?

Ini pun sama sekali tidak diketahuinya.

Saat ini ia hanya ingin tahu satu hal.

Di manakah altar suci itu?

Dan dengan cara bagaimanakah bisa masuk ke dalamnya?

Saat ini ia hanya bisa menunggu saja di sini, tunggu sampai ada orangyang masuk sendirian, lalu dengan gerakan yang paling cepat untuk merobohkan dia, menukar pakaiannya dan merubah wajahnya dengan ilmu merubah wajah, lalu pergi ke luar.

Bagian luar altar suci itu pastilah punya sejumlah tan da-tanda khusus.

Jikalau nasibnya sedikit lebih baik, mungkin saja bisa menyelundup sampai di sana, asal ia bisa menyelundup masuk ke sana, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang demikian tinggi, pastilah sedikit sekali or¬ang yang bisa menghalanginya!

Inilah cara yang terpikirkan oleh dia, namun ia sendki pun tahu bahwa cara ini sungguh-sungguh tidak terlalu bagus.

Bukan saja tidak bagus, bahkan banyak kelemahannya.

Pertama, seandainya tidak ada orang yang masuk sendirian, maka cara ini sama sekali tak akan "jalan."

Kedua.

Ilmu merubah wajah itu tak dapat 100% disandarkan.

Ia bisa merubah wajahnya sampai mirip dengan wajahnya si A atau si B, tapi itu untuk mengelabui orang yang tidak kenal, tapi yang tinggal di sini adalah sebuah keluarga besar, yang anggotaanggota keluarganya pastilah saling mengenal dengan baik sekali, oleh sebab itu pasti segera "terbongkar"

Identitasnya!

Ketiga.

Mungkin saja bagian luar altar suci itu sama sekali tidak ada tanda khususnya, sehingga walaupun ia bisa mencari ke sana pun bisa saja ia melewatinya karena tidak tahu!

Atau bahkan mungkin saja tidak bisa menemukan tempat itu!

Cara ini bukan saja beresiko tinggi, bahkan boleh dibilang sedikit tolol!

Tetapi inilah satu-sarunya carayang dapat terpikir.

kan oleh dia ---Apalagi selama ini nasibnya selalu mujur!

Oleh karena itu ia hanya bisa menunggu saja.

Ranjang batu itu kerasnya dan dinginnya minta ampun!

Seseorang jika tidur di ranjang ini, akan berasa bahwa seluruh tulangnya mengeras, dan seluruh sumsumnya mau membeku jadi es!

Ia ingin sekali turun dari ranjang itu, untuk jalan-jalan sedikit dan menggerak-gerakkan tulang-tulang dan otot-ototnya Mungkin selanjutnya ia akan menghadapi banyak pertempuran yang alot!

Padahal beberapa hari ini, semangat dan kekuatan fisiknya dalam kondisi yang jelek sekali!

Tetapi seandainyaketika ia sedang menggerak-gerakkan tulang dan ototnya, lalu ada orang masuk, kan bisa buyar semua rencananya!

Maka dengan amat terpaksa ia terus berbaring di ranjang batu yang dingin dan keras itu, sambil tersenyum kecut pada diri sendiri.

Seumur-umur ini, kapankah ia pernah melakukan semacam hal yang berulang kali dipertimbangkan dengan cemas dan gentar, serta terkesan takut-takut iru "?

Apakah nyalinya telah berubah jadi sekecil ini?

Dan telah berubah jadi begitu takut mati?

Diam-diam ia menghela nafas panjang -Hanya ia sendiri yang tahu bahwa kenapa ia bisa berubah jadi begini.

*** Sudah terbentuk semacam cerita legenda di dunia persilatan, bahwa Chu Liuxiang sama sekali bukan manusia, tapi adalah hantu, bahkan dewa!

Andaikata ia dahulu benar-benar adalah dewa, sekarang ia sudah berubah jadi manusia biasa.

Di atas langit dan di bawah bumi ini, cuma ada semacam kekuatan, yang dapat merubah manusia biasa jadi dewa, dan merubah dewa jadi manusia biasa!

Yaitu.

Cinta kasih!

*** Akhirnya dari luar pinto terdengar bunyi langkah kaki.

Bunyi langkah kaki dari dua orang.

Hati Chu Liuxiang mulai ketar-ketir -semenjak ia memperoleh "nasib bunga persik", nasibnya sudah tidak sebaik dulu lagi!

Ada dua orang yang berjalan masuk ke ruangan batu ini, dan ada satu orang yang bunyi langkah kakinya agak ringan.

Orang yang bunyi langkah kakinya lebih berat, berjalan di belakang.

Dalam hati Chu Liuxiang sudah mulai menghitung-hitung.

Ia punya keyakinan bahwa hanya dalam waktu sekejap, bisa merobohkan orang yang berada di belakang itu, sekaligus menghalangi jalan keluar!

Maka orang yang berada di depan itu, mau lari pun tidak akan bisa.

Tentu saja ini pun beresiko tinggi, tapi ia benar-benar sudah tidak bisa menunggu lagi, apalagi, barangkali orang yang datang belakangan akan lebih banyak lagi!

Pikirannya bergerak cepat sekali, tapi gerakannya lebih cepat lagi, begitu terpikir sampai di sini, tubuhnya sudah mulai "terbang"!

Orang yang tak pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, samasekali tak akan bisa membayangkan.

Bagaimanakah rupanya ketika Chu Liuxiang bergerak dengan tiba-tiba?!

Seperti elang terbang, tapi lebih tangkas dari elang!

Seperti kelinci lari, tapi lebih gesit dari kelinci!

Ia bergerak secepat angin, dan menyerang secepat kilat!

Ia tidak buka mata untuk melihat orang yang berjalan di belakang itu, tapi dengan gerakan secepat kilat ia sudah menyerang orang itu.

Namun sayang perhitungannya sedikit keliru!

Meskipun langkah kakinya agak berat, tapi orang itu memiliki reaksi cepat yang mencengangkan!

Tubuhnya tiba-tiba berputar cepat, sekejap saja sudah menjauh kira-kira tujuh kaki jauhnya.

Chu Liuxiang bersalto di udara, memutar badannya dengan cepat, lalu menghantam belakang leher orang itu dengan cepat!

Badan orang itu berputar lagi, ujung jarinya dengan cepat menyerang ke bagian vital Chu Liuxiang!

Jurusnya lincah dan berubah dengan cepat, dapat menyerang sekaligus ke beberapa arah!

Dan ia menerapkan prinsip "serangan adalah pertahanan terbaik."

Hanya berdasarkan beberapa jurus ini saja, orang itu sudah termasuk pesilat kelas tinggi!

Namun bermimpi pun ia tidak menduga bahwa serangan Chu Liuxiang ini adalah serangan pura-pura, lebih-lebih tidak menduga bahwa sewaktu badan Chu Liuxiang masih berada di udara, jurusnya masih bisa berubah, bahkan berubah dengan begitu menakjubkan!

Ia melihat bahwa badan Chu Liuxiang tiba-tiba berbalik seperti ikan di udara, ujung kakinya sudah menendang ke titik jalan darah yang berada di bawah rusuk dia!

Ia sudah melihatnya, juga tahu cara menghindarinya, tapi ketika ia mau menghindar, sudah tak keburu lagi!

Pikirannya masih mempersiapkan gerakan berikutnya, tapi tubuhnyn sudah roboh!

*** Walaupun berhasil dalam waktu singkat, tapi lekuk tapak tangan Chu Liuxiang telah merembes keringat dingin!

Sekalipun ia telah merobohkan satu orang, tapi telah menjauhi pintu kira-kira tujuh kaki jauhnya, sehingga tidak menghalangi jalan keluar orang yang berada di depan pintu itu!

Mungkin saja orang itu sejak tadi sudah melarikan diri, jika demikian, ini pasti merupakan marabahaya bagi Chu Liuxiang!

Tetapi ia salah menduga lagi.

Selama-lamanya pun ia tak pernah menduga, bahwa orang itu masih berdiam-diam di tempatnya sambil memandang dia.

Sampai sekarang, ia baru melihat dengan jelas siapa orang ini.

Ai Hong!

Chu Liuxiangterkejut bercampur girang, hampir saja lepas kontrol dan berteriak keras!

Tapi di wajah Ai Hong tak menunjukkan ekspresi apa-apa, yang terpakai di badannya pun bukan pakaian merah yang menggoda.

Ia pun memakai pakaian rami yang lebar dan besar, yang sama sekali meniadakan keindahan bentuk tubuh yang langsing serta mempesonakan.

Di wajahnya sepertinya telah memakai sebuah topeng, dan semua perasaannya telah disembunyikan di balik topeng ini.

Tetapi kenapa tadi ia tidak pergunakan kesempatan untuk melarikan diri dan berteriak minta bala bantuan?

Hati Chu Liuxiang penuh dengan rasa terima kasih, tak kuasa menahan dirinya, ia berjalan maju dan mau menggenggam tangan gadis itu.

Tangan Ai Hong masih berada di dalam lengan baju, tapi kakinya mundur dua langkah.

Ia pun telah berubah, bukan lagi gadis yang dulunya cantikmanja dan lemah-lembut itu!

Ketika memandang Chu Liuxiang, sepertinya ia memandang pada orang yang tak dikenal saja.

Chu Liuxiang hanya bisa menghentikan langkahnya, dan berkata dengan senyum yang dipaksakan.

"Terima kasih ya"

Tiada jawaban. Chu Liuxiang masih terus bertanya.

"Kenapa kau bisa berada di sini? -Masa' kau juga anggota keluarga ini? Kau kenal Zhang Jiejie? Apakah ia pun berada di sini?"

Pertanyaan-pertanyaannya, persis seperti batu yang tenggelam ke dalam air, sama sekali tidak memperoleh jawaban sedikit pun. Chu Liuxiang menghela nafas panjang, lalu berkata seraya tersenyum masam.

"Aku tahu bahwa ada banyak rahasia yang kau tak dapat mengatakannya, aku cuma mohon kau beritahukanku. Altar suci di tempat ini berada di mana?"

Ai Hong memandangnya dengan sikap dingin, tapi mendadak ia mengangkat tangannya dan menotok titik jalan darahnya sendiri!

Maka robohlah dia Pada mulanya Chu Liuxiang terkejut dan heran tapi tidak terlalu lama.

Ia telah pahami maksud Ai Hong.

Ia tidak tega melukai Chu Liuxiang, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa bagi Chu Liuxiang.

Ini adalah usaha maksimal yang dapat ia lakukan!

Chu Liuxiang cuma bisa berterima kasih saja --Ai Hong telah berbuat apa yang dia bisa, apa lagi yang dapat ia mohonkan pada gadis itu?

*** Di luar ternyata adalah sebuah koridor batu yang amat panjang, di kedua sisinya masih ada pintu-pintu yang lain, dan setiap pintu kelihatannya persis sama.

Siapa pun tidak tahu, setelah membuka pintu, akan menemukan apa?

Dan akan mengalami hal apa?

Di belakang setiap pintu mana pun, mungkin saja adalah altar suci yang mau dicari Chu Liuxiang.

Namun di belakang setiap pintu mana pun, juga mungkin bersembunyi bahaya yang mematikan!

Untung di luar tidak ada orang yang berjaga.

Tempat ini sama saja seperti hang harimau -siapa pun yang masuk, jangan harap dapat keluar dalam keadaan hidup-hidup, lalu mengapa mesti takut pada orang yang berjaga?

"Yang namanya altar suci, pastilah ada bagian-bagian yang tidak biasa"

Kata Chu Liuxiang membulatkan tekatnya, merundukkan kepala dan menurunkan tangannya, dan berusaha membuat langkah kakinya tenang dan mantap.

Ia masih ingat gaya berjalan orang tua yang memakai topi rami itu Barangkali orang-orang yang ting gal di sini gaya berjalannya memang begitu.

Ada sinar lampu yang terpancar dari lampu tembaga yang tertancap di dinding batu, sinar itu lembut walaupun tidak terlalu terang.

Walaupun ia telah memakai topi rami dan pakaian rami, tapi bagian wajahnya pasti tampak "jelek"

Sekali. Tiada cermin"

Kekurangan alat perkakas, lebih lebiln tak punya waktu yang cukup, dalam situasi demikian mau menyamar dan merubah wajah, itu sama saja seperti seorang perempuan tua yang berusia 60 tahun, mau merias diri untuk menjadi mirip dengan remaja putri yang berusia 16 tahun!

Setelah berjalan melewati koridor batu ini, baju yang dikenakan pada badannya sudah hampir basah kuyup oleh keringat.

Setelah membelok di tikungan itu, tempat apakah itu?

Ia menjulurkan kepala dan melihat ke sekeliling dengan tanpa berbunyi, masih tidak terlihat adanya orang.

Bahkan tak terdengar suara orang.

Baru saja ia merasa lega, tiba-tiba pernafasannya serasa mau berhenti!

*X* Di depan memang tidak kelihatan orang, juga tidak kedengaran suara.

Tapi di belakang?

Chu Liuxiang tidak berani menoleh, tapi terpaksa menoleh juga ia sudah merasakan ada bunyi nafas orang di belakang!

Yang di belakang bukan hanya satu orang, tapi ada tujuh sampai delapan orang.

Mereka bagaikan roh-rohyang bergentayangan yang mengikuti dia dari belakang, juga seperti arwah-arwah setan yang mendadak muncul dari bawah bumi!

Chu Liuxiang menolehkan kepalanya, dan tiba-tiba merasa bahwa lehernya mendadak keras dan kaku bagaikan batu!

Ada sebuah wajah tanpa ekspresi dan sepasang mata yang "dingin"

Bagaikan es, yang sedang menatap dia.

Chu Liuxiang mendadak merasa bahwa cahaya lampu di sini terlalu terang!

Orang itu masih menatap dia dengan sikap dingin, tapi tanpa tindakan, dan tanpa bicara.

Chu Liuxiang menganggukkan kepala padanya, ternyata dia balas menganggukkan kepalanya.

Chu Liuxiang menyapa.

"Hai?"

Orang itu pun menjawab.

"Hai!"

"Apakah anda sudah makan?"

"Baru saja makan."

"Anda makan apa?"

"Daging."

"Daging apa? Daging babi atau daging sapi?"

"Bukan, tapi daging orang, daging dari orang yang hendak menyelundup masuk ke sini!"

Chu Liuxiang tersenyum dan berkata "Rasanya pasti tidak enak kan?"

Kalimatnya belum selesai, badannya telah meluncur menempel di dinding batu, dengan cepat membelok di tikungan itu, dengan cepat telah menjauh 30 sampai 40 kaki jauhnya.

Badannya terus melayang ke depan bagaikan anak panah yang baru lepas dari busur cepatnyal Ia tak berani menoleh, sebab menoleh akan mengurangi kecepatannya.

Ia pun tak perlu menoleh untuk melihat, sebab orang¬orang di belakang itu pasti akan mengejar dia.

Penghujung koridor panjang itu ternyata ada koridor panjang lagi, dan punya dinding batu yang sama, pintu yang sama.

Entahlah ada berapa banyak koridor batu, dan berapa banyak pintu di tempat sialan ini!

Tiba-tiba di dalam hati Chu Liuxiang muncul semacam rasa ketakutan yang sulit dilukiskan!

Ia berputar ke kiri dan berputar ke kanan, berputar terusmenerus, dan amat mungkin masih saja berputar-putar di tempat yang sama!

Orang lain sama sekali tak perlu mengejar dia, cukuplah menunggu dia di sesuatu tempat, atau menunggu sampai dia jatuh karena kelelahan!

Sekalipun sudah tahu jelas begini, tapi mau berlari sampai kapan?

Sampai jatuh karena kelelahan?

Tempat ini kelihatannya amat biasa dan sederhana, tidak tampak ada bahaya dan perangkap yang luar biasa menakutkan!

Sampai sekarang ia baru tahu, bahwa tempat ini hanya ada satu tikungan yang boleh belok, dan hanya ada satu jalan yang boleh dilewati.

Berarti ia sama sekali tak punya pilihan!

Anak-anak nakal sering menyekat sebuah kotak kosong dengan banyak sekat, lalu memasukkan tikus ke dalamnya, dan menyaksikan tikus itu lari kian kemari dengan panik.

Ia tiba-tiba merasa bahwa keadaannya pada saat ini, sudah tidak berbeda jauh dengan tikus yang berada di dalam sekat-sekat itu, mungkin juga di atas ada orang yang sedang menyaksikannya!

Begitu terpikir sampai di sini, ia segera berhenti.

Baik untuk siapa pun, atau untuk alasan apa pun, ia tidak mau menganggap diri sendiri seperti tikus!

Walaupun orang lain tidaklah berpikir demikian, tapi paling tidak ia telah punya perasaan demikian.

Dan perasaan ini betul-betul tidak enak rasanya!

Orang-orang yang ada di belakang itu ternyata belum mengejar sampai di sini Apa ini dikarenakan ilmu meringankan tubuh Chu Liuxiang terlalu tinggi?

Atau dikarenakan mereka tahu jelas bahwa ia sudah tidak punya jalan keluar lagi?

Bagaimanapun juga lambat atau cepat mereka pasti akan mengejar sampai di sini!

Ia menghela nafas yang panjang sekali, lalu memutuskan untuk coba-¬coba mendorong buka pintu yang terdekat darinya.

Namun tepat pada saat ini juga, pintu yang terdekat itu tiba-tiba terbuka, dari dalam pintu itu ada seseorang yang melambaikan tangan padanya.

Ia tidak dapat melihat siapakah orang itu, yang terlihat hanya sebuah tangan.

Sebuah tangan yang indah dan halus bagaikan batu giok Tapi mungkin juga itulah tangan maut yang dapat merenggut nyawa!

Tapi badan Chu Liuxiang sudah melayang menuju ke sana.

Dalam situasi dan kondisi semacam ini, ia sudah tidak bisa mempertimbangkan terlalu banyak, dan ia segera memutuskan untuk "berjudi"

Dengan nasib!

Menerjang resiko maupun bahaya, bukankah memang sudah menjadi bagian hidup Chu Liuxiang Bahkan adalah bagian yang paling penting!

Begitu ia masuk ke pintu itu, pintu segera tertutup, bahkan tertutup rapat sekali.

Di dalam kamar itu ternyata tidak ada lampu, sehingga tangan itu tidak terlihat lagi oleh dia.

Sebenarnya ini adalah tangan siapa?

Gelap gulita, bahkan jari-jari tangan sendiri pun tak kelihatan.

Tidak bisa mendengar apa-apa, tidak bisa melihat apa-apa, yang bisa hanya tercium sekelebatan bau wangi yang samar-samar.

Sepertinya ia tidak asing dengan bau wangi i!

Ketika ia ingin berbicara, ada sebuah tangan yang menutup mulut dia.

Sebuah tangan yang halus dan lembut, tapi dingin seperti es!

Tiada seorang pun yang dapat menutup mulut Chu Liuxiang -Baik ketika ada sinar lampu atau pun dalam kegelapan!

Kecuali ia mengenal serta mempercayai orang ini, dan tahu bahwa orang ini sekali-kali tak akan mencelakainya!

Siapakah orang ini?

Di pinggir telinganya terdengar suara bisikan yang lemah lembut tapi bernada menyalahkan.

"Alangkah besarnya nyalimu sehingga berani datang ke tempat ini? Apakah kau sudah tidak ingin lagi pulang dalam keadaan hidup?"

Suara ini lebih-lebih tidak asing lagi. Suara Ai Qing.

"Tadi aku pura-pura tidak mengenalmu, semestinya kau sudah bisa memahami maksudku dan pergi meninggalkan tempat ini. Sungguh-sungguh tak terpikirkan olehku bahwa ada kalanya kau bodohnya seperti keledai!"

Chu Liuxiang menggenggam tangan Ai Qing dan menurunkan tangan itu dari mulutnya dengan ringan, dan berkata setelah menghela nafas dengan ringan.

"Aku paham maksudmu, tapi aku harus datang ke tempat ini"

"Mengapa? Masa'.... Masa' kau datang untuk mencariku?"

Chu Liuxiang tak mampu menjawabnya. Ai Qing mendadak juga menghela nafas dengan ringan, lalu berkata dengan nada sedih.

"Aku pun tahu, kau sekali-kali takkan menerjang bahaya semacam ini demi aku kan! Aku...aku hanyalah salah satu dari sekian banyak wanitamu! Jika kau bisa melupakan orang lain, tentu saja kau pun bisa melupakanku!"

Suaranya terdengar amat memilukan -Agaknya ia telah sungguh-sungguh mencintai Chu Liuxiang!

Di dalam hati Chu Liuxiang penuh dengan rasa bersalah dan rasa kasihan, tiba-tiba merasa bahwa ia telah benar-benar melukai hati gadis ini, tanpa terasa ia menggenggam tangan Ai Qinglebih erat, lalu berkata den gan lemah lembut.

"Aku tidak pernah melupakanmu! Aku pun pernah mencarimu dengan berbagai cara dan dengan berbagai jerih payah, tapi...tapi "

"Tapi kali ini kau datang bukan mencariku, sebab kau sarna sekali tidak tahu kalau aku tinggal di sini kan!"

Chu Liuxiang terpaksa mengakuinya. Suara Ai Qing mendadak berubah jadi dingin sekali.

"Sebenarnya kau pun tak perlu merasa bersalah padaku, sebab aku dulu pergi mencarimu, pada mulanya memang benar-benar ingin membunuhmu"

"Tapi kemudian?"

"Tapi kemudian aku toh telah membohongimu ----Waktu itu aku tiba-tiba menghilang, bukan dipaksa seseorang, itu kemauanku sendiri"

Chu Liuxiang melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Ai Qing, tanpa terasa ia mengelus-elus hidungnya sendiri, dan berasa bahwa hidungnya seolah-olah penuh dengan air yang kecut dan pahit!

Kata Ai Qing lagi.

"Masa' kau mengira bahwa wanita seluruh dunia, semuanya mesti tergila-gila padamu? Masa' kau mengira dirimu memang benar-benar luar biasa?"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum masam.

"Bagaimanapun juga, hari ini kau toh telah menempuh bahaya demi menyelamatkanku kan?"

Ai Qing berkata dengan sikap hambar.

"Aku menyelamatkanmu, cuma karena aku merasa kau pandir sekali, dan kepandiranmu itu menyedihkan Sudah ditipu orang mentah-mentah, masih menganggap dirimu bijak sekali!"

"Sebenarnya aku telah ditipu siapa? Sebenarnya siapakah yang telah diam-diam menyuruhmu untuk membunuhku?"

"Aku kira lebih baik kau tidak tahu saja, apalagi kau tak bakalan bisa tahu!"

"Tapi aku harus tahu!"

Ai Qing berkata seraya tersenyum dingin.

"Kau kira siapakah yang akan memberitahukanmu? Kau kira kau sendiri sanggup menyelidikinya?"

"Asal kau memberitahukanku di manakah altar suci itu, aku sanggup menyelidikinya sampai tuntas!"

"Altar suci? Kau ingin pergi ke altar suci?"

Suara Ai Qingtiba-tiba jadi serak, dan sepertinya ia amatketakutan! Chu Liuxiang berkata "Aku datang ke tempat ini, tujuannya adalah mau pergi ke altar suci untuk mencari seseorang."

"Mencari siapa?"

"Mencari Perawan Suci kalian."

Ai Qing berdiam diri lama sekali, kemudian baru bertanya dengan sikap dingin.

"Tahukah kau. Orang yang bagaimanakah yang dapat melihat Perawan Suci?"

"Tidak tahu."

Ai Qing berkata dengan sekata demi sekata "Orang yang hampir mati! Sekarang mungkin kau masih punya kesempatan untuk melarikan tapi jikalau kau ingin menemui dia, kau pasti akan mati!"

"Namun aku harus menemui dia!"

"Kau ingin mati?"

Chu Liuxiang menghela nafas panjang sekali -Biasanya ini adalah tanda mengaku! Ai Qing berdiam diri lagi lama sekali, lalu mendadak berkata.

"Baiklah! Aku akan membawamu ke sana."

Chu Liuxiang berkata dengan amat girang.

"Terima ka...."

Perkataannya belum selesai, tiba-tiba terasa ada sebuah jarum yang menusuk titik jalan darah di pinggangnya! Kali ini ia roboh beneran! Nada suara Ai Qing makin dingin.

"Semula aku masih mau berdaya ¬upaya untuk menyelamatkan nyawamu, tapi dikarenakan kau ingin mati, lebih baik kuturuti saja keinginanmu ini!"

Chu Liuxiang hanya mampu mendengarkan saja!

Andaikata ia bisa buka mulut untuk berkata-kata pun, ia sudah merasa tidak ada apa-apa lagi yang perlu diucapkan!

Selama-lamanya ia tak pernah menduga, bahwa Ai Qing bisa berbuat demikian padanya!

Mendadak ia menyadari bahwa pengenalan dan pengertiannya kepada kaum wanita, tidaklah lebih banyak dari seekor keledai!

Bab 12 Keajaiban Pintu sudah dibuka, dan cahaya lampu masuk dari luar.

Ai Qing berjalan melangkahi Chu Liuxiang yang roboh terbaring di lantai, dan berjalan keluar dari kamar.

Kepalanya tidak pernah menoleh, bahkan sekali pun tidak melihat ke Chu Liuxiang lagi.

Siapa bilang bahwa hanya kaum pria yang sering tidak setia?

Siapa bilang hanya kaum pria yang hatinya keras dan kejam?

Jikalau hati seorang wanita sudah jadi keras, dipaku dengan paku pun tak akan bisa masuk ke hati itu!

Chu Liuxiang menutup matanya, dan memutuskan.

Tidak melihat apa-apa, dan tidak memikirkan apa-apa.

Tetapi yang betul-betul tidak memikirkan apa-apa, cuma ada semacam orang.

Orang mati!

*** Chu Liuxiang tidak pernah merasa dirinya adalah orang mati, juga tidak pernah merasa dirinya adalah orang yang hampir mati!

Baik di dalam situasi dan kondisi yang begitu sulit dan bahaya, didalam hatinya masih penuh harapan!

Seseorang jika masih berpengharapan, pasti punya keberanian untuk berjuang!

Jika punya keberanian untuk berjuang, maka masih punya kemungkinan untuk hidup!

Ada seseorang bahkan pernah berkata.

Bahwa sekalipun golok sudah didekatkan ke leher Chu Liuxiang, ia pun masih dapat meluputkan dirinya dari golok itu!

Tetapi pada saat ini mendadak ia merasa bahwa dirinya benarbenar adalah orang mati!

Semua hal ini mulainya dari Ai Qing, dan semula rencana ini, tampaknya juga adalah ia yang mengatur "di belakang layar"!

Andaikata tidak ada Ai Qing, semua hal ini tidaklah mungkin terjadi!

Asalkan masih punya otak sedikit, pastilah dapat menduga bahwa.

Ai Qing adalah orang yang benar-benar mau membunuh Chu Liuxiang itu!

Justru Chu Liuxiang sendirilah yang tidak pernah menduga, bahkan tidak pernah mencurigai Ai Qing!

Ini sama saja seperti ada seseorang, yang mencari kunci pembuka pintu di berbagai tempat, kunci tersebut jelas-jelas berada di depan dia, tapi dia justru tak bisa melihatnya!

Ia malahan mencari-cari di got-got dan celah-celah tanah, sehingga seluruh badan terkena debu dan lumpur sampai akhirnya matanya tertutup oleh debu dan lumpur, terang saja tambah tidak bisa melihat kunci itu berada di mana!

Bukankah orang semacam ini persis seperti orang mati?!

Chu Liuxiang menghela nafas panjang sekali, dan terasa mulutnya amat pahit bagaikan baru saja menelan 70 kati huanglian (Huanglian adalah sejenis obat tradisional Tionghoa yang terkenal karena pahitnya) Pada malam itu, perempuan tua yang berpakaian hitam yang muncul di aliran air gunung itu, nyata sekali ia terlebih dahulu sudah bersekongkol dengan Ai Qing!

Bahkan mungkin saja perempuan tua itu adalah penyamaran dari Ai Qing!

Ia sengaja memberitahu Chu Liuxiang kata-kata itu, tujuannya cuma agar Chu Liuxiang masuk sendiri ke perangkap!

Bukankah Bu Ajuan juga punya tujuan yang sama?

Saat itu benar-benar merupakan prestasi mengagumkan bagi Chu Liuxiang Begitu banyak tipu daya yang dirancang dengan begitu lihainya toh dapat ia gagalkan semuanya!

Namun kali ini, jika diganti orang lain, kemungkinan besar tak akan terperangkap, tapi justru Chu Liuxiang yang terperangkap!

Ini membuktikan bahwa asal caranya tepat, di bawah kolong langit ini tidak terdapat orang yang selama-lamannya tidak bisa tertipu, bahkan Chu Liuxiang pun tak terkecuali!

Bahkan sikap orang pun tak terkecuali sekalipun itu adalah or¬angyang paling cerdas, di depan seseorang ia akan berubah jadi si Pandir!

Barangkali di tempat ini sama sekali tidak terdapat altar suci maupun dewa yang dapat berbicara langsung kepada manusia!

Hal-hal ini sebenarnya merupakan kisah-kisah talc masuk akal dan termasuk kisah-kisah gila-gilaan -Barangkali orang yang betulbetul pandir pun tak akan mempercayainya.

Tetapi orang cerdas semacam Chu Liuxiang ini malahan mempercayainya!

Sekarang ia sudah tersadar, tapi sudah terlambat!

Dari luar pintu terdengar lagi bunyi langkah kaki -bunyi langkah kaki dari beberapa orang.

Chu Liuxiang menutup matanya.

Ia benar-benar tidak ingin lagi melihat ekspresi wajah kepuasan dari Ai Qing, serta senyuman yang penuh sindiran dan ejekan dan gadis itu.

Ia tidak bisa tahan -Bukan pada orang lain, tapi pada diri sendiri!

*** Ai Qing menunjukkan ekspresi wajah kepuasan tidak tersenyum.

Kenyataannya, di wajahnya sedikit ekspresi pun tak tertampak.

Sinar lampu sudah menerangi kamar itu.

Terlihat Ai Qing berdiam diri di sana dan memandangi Chu Liuxiang dengan sikap sedingin es!

Masih ada lima orang yang masuk bersama Ai Qing, dan orang yang terakhir adalah Ai Hong.

Ai Hong berdiri paling jauh dan Chu Liuxiang, tampaknya tidak mau melihat Chu Liuxiang Orang yang telah ia bantu dengan mempertaruhkan nyawa, tapi malahan masuk sendiri ke perangkap lagi, bagaikan belut yang bodoh!

Di antara empat orang yang lain itu, salah satunya berbadan paling kate, ternyata dia adalah salah satu orang yang memakai pakaian rami yang telah 'menangkap' Chu Liuxiang.

Begitu melihat Chu Liuxiang, ia terkejut dan marah, lalu berkata dengan nada suara rendah.

"Jelas-jelas aku sudah menotok titik jalan darahnya, dan memasukkan dia ke Ruangan Seribu Tahun', kenapa ia bisa melarikan diri sampai di sini?"

Ai Qing berkata dengan sikap dingin.

"Kau tidak seharusnya menanyaiku."

Si Kate bertanya "Tidak menanyaimu lalu menanyai siapa?"

Ai Qing tidak menjawab, tapi matanya mendelik ke Ai Hong. Si Kate segera memalingkan kepala, mendelik juga ke Ai Hong dan bertanya dengan suara keras.

"Apakah tadi kau yang bersama saudara ke-13 pergi ke Ruangan Seribu Tahun'?"

Ai Hong menundukkan kepala dan memandangi ujung kakinya sendiri, tapi tidak menjawab apa-apa. Ai Qing membantu dia menjawab.

"Betul, dan sampai sekarang saudara ke-13 masih belum siuman."

Si Kate berkata.

"Dengan ilmu silat yang dimiliki orang ini, tak mungkin ia dapat merobohkan saudarake-13, apa lagi titik jalan darahnya sudah ku totok!"

Ai Qing berkata.

"Mungkin totokannya sudah terlebih dahulu dibebaskan oleh seseorang, lalu kedua orang itu bekerja sama untuk merobohklan saudara ke-13."

Si Kate bertanya.

"Maksudmu menunjuk ke siapa?"

Ai Qing menjawab dengan sikap dingin.

"Alai tidak menunjuk ke siapa-siapa, maksudku hanyalah bahwa terdapat suatu kemungkinan di dalam hal ini."

Si kate bertanya.

"Masa' kau menduga bahwa Ai Hong bisa rriernbantu orang ini untuk melarikan diri?"

Ai Qing menjawab.

"Sebenarnya kau talc usah bertanya, seharusnya kau bisa menduga sendiri kan?"

Si Kate bertanya.

"Mengapa Ai Hong dapat berbuat demikian?"

Ai Qing menjawab.

"Siapa yang tahu! Yang tahu hanyalah. baru baru ini Ai Hong pernah pergi ke luar untuk berbelanja makanan, dan orang ini adalah pemuda yang amat tampan, walaupun bukan orang baik baik."

Si Kate berkata.

"Maksudmu adalah. Mereka berdua ini sudah menjalin hubungan cinta yang gelap? Dia datang kemari, tujuannya ialah untuk mencari Ai Hong, makanya Ai Hong mau menyelamatkan dia dengan menempuh bahaya?"

Ai Qing berkata dengan nada hambar.

"Akutidak mengatakan apa apa."

Ai Hong mendadak berkata seraya tertawa dingin.

"Sekalipun kamu mengatakannya, toh tidak mampu membuktikannya!"

Si Kate berkata dengan suarakeras.

"Kamu masih tidak mengaku?"

"Kau mau aku mengaku apa?"

Tanya Ai Hong. Si Kate tiba-tiba menyerang, lima jari tangannya seperti cakar elang itu mencengkeram ke Ai Hong. Ai Hong tetap bersikap tenang, dan berkata dengan sikap dingin.

"Masa' kau telah lupa bahwa aku adalah orang bagian apa? Sehingga berani menyerangku?"

Walaupun wajah si Kate penuh ekspresi kemarahan, tapi toh dengan pelan-pelan menurunkan tangannya.

"Sekalipun memang benar terjadi hal yang dernikian, kalian pun tidak dapat menghukumku, apalagi kau" , kata Ai Hong. Ia telah mengangkat kepalanya dan mendelik ke Ai Qing., lalu berkata seraya tersenyum dingin.

"Sejak dulu, aku sudah tahu bahwa kamu terus cemburu dan benci padaku kan! Di luar kamu boleh pakai satu alasan untuk membacok putus sebuah tanganku, tapi sekarang aku adalah orang bagian dalam, kamu masih berani berbuat apa lagi kepadaku!"

Ai Qing pun tetap bersikap tenang, dan berkata seraya tersenyum dingin juga.

"Meskipun aku tak berkuasa menghadapimu, tapi toh tetap ada seseorang yang berkuasa menghadapimu!"

"Kamu berani ikut pergi ke dalam untuk mengadu kesaksian?"

Kata Ai Hong. Ai Qing berkata dengan suarakeras.

"Pergi ya pergi! Dengan bukti-bukti yang jelas ini, kamu mau menyangkal dengan licik pun tak akan berhasil! *** Walaupun Chu Liuxiang tidak bisa buka mulut untuk berbicara, rnatanya juga tertututp, tapi telinganya masih bisa mendengar. Apa yang telah didengarnya lebih-lebih membuktikan dugaannya tidak salah. Ai Qing ternyata adalah "

Dalang di balik layar ", yang menyuruh orang-orang untuk membunuh Chu Liuxiang!

Bahkan tangan Ai Hong, telah dibacok putus oleh Ai Qing!

Malam itu, jika tidak diberi petunjuk gelap oleh Zhang Jiejie, mungkin saja sepasang anting-antingnya telah merenggut nyawa Chu Liuxiang!

Dikarenakan cara ini tidak berhasil, makanya ia mempergunakan tangan Ai Hong untuk bersandiwara, agar Chu Liuxiang menduga Ai Qing pun ternyata salah satu orang yang mau dicelakai!

Ketika ia tahu Ai Hong pergi mencari Chu Liuxiang, ia segera mengutus orang untuk menangkap Ai Hong, sebab ia takut Ai Hong dapat membocorkan rahasianya!

Sekarang ia sedang menjalankan muslihat "

Sekali tepuk dapat dua lalat"

Bukan saja dapat melenyapkan Chu Liuxiang, sekaligus juga dapat melenyapkan Ai Hong pada kesempatan ini!

Pada saat itu ia tidak membunuh Ai Hong, barangkali itu dikarenakan Ai Hong adalah orang bagian dalam, sehingga ia tidak berani bertindak gegabah.

Meskipun Chu Liuxiang memahami lebih banyak hal lagi, tapi ada beberapa hal yang makin tak bisa dipahami.

"Bagian dalam itu sebenarnya adalah tempat apa?"

Mereka kan sama-sama anggota dari suatu keluarga besar, kenapa dibagi jadi "bagian dalam"

Dan "bagian luar"?

Masa' Zhang Jiejie pun salah satu anggota dari keluarga besar ini?

Ataukah ia hanya diperalat oleh Ai Qing?

Apakah Ai Qing pun tahu bahwa Zhang Jiejie telah jatuh cinta pada Chu Liuxiang?

Apakah ia telah mencelakai Zhang Jiejie?

Bagaimanapun juga, satu hal yang dipahami Chu Liuxiang adalah.

Harapan untuk bertemu lagi dengan Zhang Jiejie sudah sangat kecil!

Kesempatan dia untuk keluar dari tempat ini -dalam keadaan hidup tentu saja lebih kecil!

"Setiap orang suatu saat pasti akan dibodohi dan dipermainkan orang, dan setiap orang suatu saat pasti akan mati!"

Tiba-tiba ia merasa amat lelah dan amat letih....

Kematian, bukankah justru merupakan istirahat yang terbaik?

Seseorang jika sudah merasa hidup ini sudah tidak menarik lagi, maka ia tak akan lagi memiliki keberanian untuk berjuang agar hidup!

Saat itulah ia akan merasa begitu lelah dan letih, sampai-sampai ia rela melepaskan apa saja, untuk ditukar dengan istrirahat walau sesaat saja!

Chu Liuxiaiig juga tiba-tiba mempunyai perasaan demikian.

Tidak peduli siapa pun juga, suatu saat di sepanjang hidupnya, sekali-¬kali pasti akan muncul perasaan ini!

*** Ada seseorangyang menutup mata Chu Liuxiang dengan kain hitam, lalu tubuhnya digotong.

Chu Liuxiang tahu bahwa mereka akan rnenggotongnya ke "bagian dalam"

Sebenarnya itu adalah tempat apa?

Kok demikian misteriusnya?

Setelah berkelok-kelok di beberapa belokan, dan naik turun beberapa puluh undak-undakan batu, barulah mereka berhenti.

Sekonyong-konyong terdengar bunyi genta yang nyaring renyah, dan bunyinya berlangsung cukup lama.

Setelah bunyi genta itu sirna, terdengar oleh Chu Liuxiang ada bunyi pintu batu bergeser, setelah itu barulah mereka berjalan masuk.

Langkah kaki mereka makin ringan dan makin pelan, bahkan bernafas pun terkesan begitu berhati-hati!

Walaupun tidak bisa melihat apa-apa, tapi Chu Liuxiang mendadak timbul semacam perasaan aneh yang tidak dapat dilukiskan!

Itu mirip dengan seseorang yang tiba-tiba kesasar di padang belantara yang tak berujung pangkal, juga mirip dengan seseorang yang tiba-tiba masuk ke sebuah bait suci yang besar agung dan misterius!

Perasaan itu ada beberapa puluh persen mirip dengan hormat dan takzim, ada beberapa puluh persen lagi mirip dengan rasa gentar, namun bisa juga semuanya bukan, hanyalah semacam rasa kebingungan yang sulit dilukiskan!

Sehingga ketika ada orang yang membukakan kain hitam penutup mati baginya, ia membuka mata tanpa dapat menguasai dirinya lagi.

Tempat ini memang adalah sebuah bait suci, yang lebih agung dan megah dari tempat pemujaan agama mana pun di dunia ini!

Mulai dari tempat mereka berlutut, ada undak-undakan batu yang berlapis-lapis, yang memanjang sampai beberapa ratus kaki jauhnya.

Di sekeliling penuh dengan asap dupa yang bergulung-gulung, persis kabut di padang belantara.

Dari antara asap itu, terlihat ada sebuah kursi yang amat lebar dan besar terletak di tempat yang paling depan.

Kursi itu kosong, tapi dinding sekelilingnya penuh dengan guratan-¬guratan mantra yang bentuknya aneh-aneh.

Sekonyong-konyong terdengar lagi bunyi genta berdentang.

Semua orang segera bersembah sujud sampai kedua tangan, kedua lutut dan kepala menempel di lantai.

Bahkan tubuh Chu Liuxiang pun ditekan beberapa orang agar ikut bersembah sujud.

Kemudian muncullah seorangyang keanehannya serta kemisteriusannya sulit diutarakan!

Badannya memakai gaun panjang tujuh warna yang besar dan lebar, berwarna dan bersinar keemasan, dan terangnya bagaikan sinar matahari.

Mukanya memakai sebuah topeng aneh yang menyeramkan, topeng yang sepertinya terbuat dari emas.

Dilihat dari jauh, seluruh badannya seolah-olah diselubungi scmacam sinar emas tujuh warna yang aneh dan gaib!

Maka dia kelihatannya persis seperti lidah api yang menyambarnyambar, atau persis seperti matahari yang teramat terik, yang membuat orang sama sekali tidak mampu menatap langsung padanya!

Di belakangnya tampaknya masih berdiri sebuah bayangan orang.

Namun bayangan itu menjadi samar-samar, seperti ada seperti tiada, dikarenakan penerangan sinar emas tujuh warna itu.

Chu Liuxiang angkat kepala dan memandang sekilas, dan seluruh otot dan daging tubuhnya mengeras karena rangsangan rasa kegembiraan yang meluap-luap!

Disebabkan ia segera teringat kepada malam berbulan yang misterius itu, dan perempuan tua yang seperti iblis yang muncul di antara kabut itu!

Suara kata-kata yang seperti mantra gaib itu, seperti telah berbunyi lagi di pinggir telinganya.

"Yang mereka percayai, adalah semacam agama yang amat misterius. Dewa mereka, berada di dalam altar suci mereka"

"Dewa mereka bukan patung, juga bukan dukun sakti, dewa mereka adalah dewa yang hidup; kamu bukan saja dapat melihat rupanya, bahkan dapat mendengar suaranya!"

"Asal kamu dapat tiba di altar suci dan melihat dewa mereka, maka tiada seorang pun yang bisa mencelakaimu lagi!"

"Semua rahasia, dewa itu akan menjelaskannya bagimu!"

Perkataan-perkataan dari perempuan tua yang seperti iblis itu, ternyata tidak membohonginya!

Di tempat ini ternyata betul-betul ada sebuah altar suci, dan ternyata betul-betul ada dewa yang hidup di dalam altar suci itu!

Namun apakah benar bahwa dewa itu dapat menjelaskan semua rahasia bagi Chu Liuxiang?

Saat ini ia bahkan talc memilki kesempatan untuk buka mulut, tapi di dalam hatinya muncul lagi pengharapan.

Kemudian ia betul-betul mendengar suara dewa ini suaranya terdengar lapat-lapat, tapi mengandung kekuatan gaib yang sulit dilukiskan!

"Siapakah yang telah membawa masuk orang asing ini?"

Si Kate dan Ai Qing sama-sama bersujud dengan menyentuh tanah.

"Ada apa?"

Dewa itu bertanya lagi.

Si Kate lalu menjelaskan semua yang berhubungan dengan hal ini.

Suaranya yang tadinya penuh kuasa dan wibawa, sekarang telah berubah semuanya, bahkan kadang-kadang berkesan terbata-bata.

Dewa itu mendengarkan, terdiam lama sekali, lalu berkata dengan pelan.

"Kamu adalah gadis Juru Bunga yang berada di depan dewa, bagaimana boleh punya hubungan cinta dengan manusia bumi?"

Perkataan ini ditujukan pada Ai Hong.

Ai Hong terus bersujud di tanah, tidak berbantah, juga tidak berkata-kata untuk membela diri.

Sepertinya ia telah benar-benar mengakui pelanggarannya ----Apakah dikarenakan hal ini memang sulit dijelaskan?

Ini jelas adalah pelanggaran besar yang tak dapat diampuni!

"Kamu telah melanggar hukum yang utama, harus menerima hukuman apa?"

Dewa itu berdiam diri cukup lama, sepertinya ia sedang memper¬timbangkannya akhirnya dua kata yang diucapkannya.

"Hukurnan darah!"

Hukuman darah itu apa?

Dan wajah ketakutan Ai Hong, sudah dapat diduga bahwa itu tentulah sejenis hukuman yang amat mengerikan!

Hati Chu Liuxiang pun jadi kebat-kebit.

Sekarang ia telah tiba di altar suci dan melihat dewa mereka.

Tapi rahasia misteri-misteri itu, masih belum ada seseorang yang memberi penjelasan baginya.

Ia tetap saja tidak tahu kabarnya Zhang Jiejie.

Tetapi sampai saat ini sudah jelas satu hal lagi bagi dia.

Ai Qing berbuat demikian, tujuannya ternyata adalah.

Meminjam tangan dewa mereka untuk melenyapkan Chu Liuxiang untukselarnalamanya, bahkan sama sekali tak memberi kesempatan balas dendam bagi siapa pun!

Tetapi, sebenarnya ia punya dendam kesumat apa pada Chu Liuxiang?

Sehingga harus membunuhnya?

Ini adalah poin yang paling penting, Chu Liuxiang sudah hampir mati pun masih belum bisa mengerti!

*** Perkakas pelaksana hukuman sudah dibawa masuk oleh beberapa orang.

Ternyata bait suci ini juga merupakan tempat eksekusi!

Saking ketakutan sampai-sampai seluruh tubuh Ai Hong jadi lunglai dan lumpuh!

Hukuman darah itu ternyata sejenis hukuman yang membuat terhukum itu mengalirkan darah sampai mati!

Akhirnya yang terhukum itu harus memakai darahnya sendiri, untuk membersihkan dosa atau pelanggarannya!

Saat ini sama saja seperti sebilah golok baja sudah dilintangkan ke atas leher Chu Liuxiang -Apakah ia masih mampu berdaya melepaskan diri dari bawah golok itu?

Ai Qing memandang Chu Liuxiang dengan sikapyang amat dingin.

Di wajahnya tidak menampakkan ekspresi sedikit pun, persis seperti ketika ia sedang memandang pada seorang yang tak dikenal.

Ada siapakah yang bisa rnenduga bahwa.

akal liciknya begitu dalam, dan cara yang dipergunakannya begitu kejam!

Mungkin mimpi pun tiada seorang pun yang bisa menduganya!

*** Hukuman darah!

Ini adalah sejenis hukuman yang teramat mengerikan serta tidak berprikemanusiaan!

Kelihatannya dewa itu pun tidak tega untuk menonton seterusnya, maka tiba-tiba ia berdiri.

Bunyi genta mulai berbunyi lagi.

Wajah Chu Liuxiang mendadak menampakkan ekspresi yang aneh sekali.

Kelihatannya dewa itu sudah mau mundur ke dalam.

Mendadak Chu Liuxiang berseru dengan suara nyaring.

"Tunggu!"

Seruan ini bagaikan bunyi geledek di siang hari bolong, yang mengejutkan semua orang.

Berbarengan dengan seruan itu, badan Chu Liuxiang sudah melayang di udara bagaikan sedang terbang!

Bukankah jelas-jelas titik jalan darahnya telah tertotok?

Tiada seorang pun yang tahu.

Dikarenakan apa sehingga kekuatan supernya telah pulih kembali?

Tiada seorang pun yang bisa membayangkan betapa hebatnya ilmu meringankan tubuh Chu Liuxiang yang dipertunjukkan ini!

Dalam waktu sekejap ini sepertinya ia bukan manusia lagi, tapi sudah berubah jadi rajawali yang sanggup melewati padang pasir besar dengan cepat, atau sudah berubah jadi naga sakti dalam dongeng yang sanggup beterbangan di langit tinggi dengan kecepatan yang luar biasa!

Pada waktu yang sekejap mata ini, sepertinya kekuatan supernya telah melampaui kekuatan para dewa yang berada di atas langit dan di bawah bumi!

Ternyata ia "terbang"

Menerjang ke dewa yang hidup dan misteriusitu!

Kelihatannya dewa itu pun terkejut karena kekuatan dahsyat Chu Liuxiang ini, sehingga ia terbengong-bengong saja di tempat.

Orangorang yang memakai pakaian rami yang berada di bawah bait suci itu, berseru dengan suara yang tidak keras, berdiri dari sembah sujud lalu mengejar Chu Liuxiang.

Hanya Ai Qing yang masih tetap berdiri tenang di tempat, sambil menonton, dari dalam matanya pun muncul sebuah ekspresi yang aneh sekali.

Itu bukan terkejut, juga bukan dendarn, tetapi lebih menyerupai semacam perasaan sedih yang samar-samar sama seperti seseorang, ketika melihat walet kesayangannya telah terbang lepas dari sisi badannyal Ada siapakah yang betul-betul dapat mengerti hatinya?

*** Ini betul-betul adalah keluarga besar yang menakutkan.

seluruh anggotanya memiliki ilmu silat yang bertaraf wahid, dan semuanya memiliki gerakan yang jitu dan tangkas!

Namun ketika badan mereka baru bergerak, dengan kecepatan luar biasa Chu Liuxiang telah terbang melampaui undak-undakan batu yang tingginya beratus-ratus kaki itu!

Dewa itu masih terselubung dalam sinar emas itu, tapi nampaknya kekuatan gaib nan misteriusnya telah sirna.

Chu Liuxiang "terbang"

Mendekati dewa itu, dan tiba-tiba mencengkeram bagai kilat menyambar!

Dewa itu tidak menghindar.

Atau saking cepatnya cengkeraman Chu Liuxiang, sehingga dewapun tak berdaya menghindarinya?

Chu Liuxiang telah mencopot topeng emas yang terpakai di wajah dewa itu!

Ini adalah waktu sekejap mata yang benar-benar menggetarkan hati dan menggoncang sukma!

Ini barulah waktu sekejap mata yang sungguh-sungguh paling penting!

Pada waktu sekejap mata ini, dewa itu mendadak telah berubah jadi manusia biasa!

Pada waktu sekejap main ini, semua orang yang memakai pakaian rami itu, yang sudah berdiri dan mengejar Chu Liuxiang, semuanya mendadak bersembah sujud lagi sampai lutut-sikut dan kepala menyentuh ke tanah!

Tetapi yang paling terkejut bukan mereka, juga bukan dewa mereka, tapi Chu Liuxiang!

Tiada seorang pun yang mampu melukiskan ekspresi wajah Chu Liuxiang saat ini.

Sama juga tiada seorang pun yang mampu melukiskan ekspresi wajah "dewa"

Itu. Chu Liuxiang terus memandangi dia, sampai terasa detak jantungnya sepertinya sudah berhenti, dan nafasnya sepertinya sudah tiada! "Dewa"

Itu pun terus memandangi Chu Liuxiang -sepasang matanya penuh dengan air mata..

Sepasang mata menawan yang berbentuk bulan sabit!

Bab 13.

Kekasih Akhirnya Menjadi anggota keluarga Apakah dewa pun bisa mengucurkan air mata?

Ya!

Anda boleh berkata, bahwa di dalam dunia ini tidak ada dewa, tapi anda tidak boleh berkata, bahwa dewa tidak bisa mengucurkan air mata!

Dikarenakan dewa pun punya perasaan.

Yang tidak punya perasaan, bukan saja tidak bisa jadi dewa, bahkan tidak bisa dianggap sebagai manusia *** Tentu saja saat ini yang mengucurkan air main bukan dewa, tapi manusia.

Topeng dewa itu telah tercopot, sehingga terlihatlah sebuah wajah cantik tapi pucat, dan sepasang mata indah berbentuk bulan sabit.

Dulu, wajah ini selalu riang ria; dulu, mata ini selalu penuh dengan senyuman yang menawan.

Tapi sekarang,wajah itu pucat dan kuyu, matanya pun penuh dengan kontradiksi dan penderitaan.

Ini bukanlah ia tidak mau lagi berjumpa dengan Chu Liuxiang, tapi kontradiksi dan penderitaannya, sumbernya berasal dari Chu Liuxiang.

Namun Chu Liuxiang tidak pernah berpikir bahwa pada saat ini dan di tempat ini, dapat berjurnpa lagi dengan dia Zhang Jiejie!

Bermimpi pun ia tak pernah menduga bahwa.

Dewa mereka ternyata adalah Zhang Jiejie!

*** Topeng yang dipegang tangannya itu, seolah-olah beratnya ada seribu kati!

Seluruh tangannya penuh dengan keringat dingin.

Mendadak ada sebuah tangan terjulur dari samping mengambil alih topeng itu Ini adalah sebuah tangan yang tua-kurus dan kering.

Chu Liuxiang menoleh, dan terlihatlah seorang perempuan tua yang berpakaian hitam dan wajahnya tertutup oleh kerudung hitam.

Masa' dia adalah perempuan seperti iblis yang muncul di antara kabut, di tengah-tengah air pada malam berbulan itu?

Sekarang Chu Liuxiang masih tidak bisa melihat wajahnya, yang terlihat cuma sepasang matayang berbinar-binar di balik kerudung hitam itu.

Ia menatap Chu Liuxiang dan berkata pelan-pelan.

"Bukankah aku telah memberitahukanmu bahwa. Asal kamu dapat tiba di sini, bukan saja semua rahasia dapat dijelaskan, bahkan pasti dapat menemukan dia?"

Suaranya begitu lemah lembut dan penuh welas asih. Berbeda sama sekali dengan malam itu! Kemudian ia melanjutkan kata-katanya dengan pelan.

"Aku tidak menipumu kan?"

Chu Liuxiang mengangguk dengan bingung -Pada kenyataannya ia masih belum paham, bahkan makin bingung.

Kesimpulan-kesimpulan yang tadi ia ambil, sekarang ternyata keliru semua!

Tidak saja Ai Qing bukan orang yang mau membunuh dia bahkan terus-terusan membantu dia secara gelap.

Tadi Ai Qing sengaja menotok titik jalan darah dia, tujuannya hanyalah demi membantu dia bisa masuk ke altar suci ini.

Barangkali inilah satu-satunya jalan agar ia dapat tiba di sini!

Tenaga totokannya sudah diatur begitu rupa, perhitungan waktunya pun akurat sekali, sehingga kekuatan totokan itu, pas pada waktu sekejap mata yang paling penting itu bisa hilang dengan sendirinya!

Jika tidak, bagairnana mungkin Chu Liuxiang dapat "terbang"

Dengan kekuatan supernya? Jelas sekali bahwa Ai Hong pun sejak awal sudah bersekongkol dengan Ai Qing, untuk bersama-sama memainkan "sandiwara"

Ini.

Oleh karena itu, terhadap tuduhan apa pun ia tidak menyangkalnya.

Orang yang mau membunuh Chu Liuxiang itu, jika bukan mereka, lalu siapa?

Masa' adalah Zhang Jiejie?

Itu juga tidak mungkin -kalau ia mau membunuh Chu Liuxiang, kesempatannya terlalu banyak.

Semua rahasia, yang masih belum dapat dijelaskan!

Tetapi bagaimanapun juga, ia toh sudah bertemu lagi dengan Zhang Jiejie Bagi dia, inilah yang terpenting!

Baik tempat ini adalah altar suci atau liang harimau, baik Zhang Jiejie adalah dewa atau manusia biasa, ini semua tidak penting.

Yang penting adalah.

ia masih amat mencintai Zhang Jiejie, dan saat ini sudah bertemu kembali!

Ia menatap dia dan membuka kedua lengannya.

Zhang Jiejie pun masuk ke dalam pelukannya Pada waktu ini, mereka telah melupakan segalanya.

Bukan saja telah melupakan mereka berada di mana, juga telah melupakan semua orang yang berada di tempat ini!

*** Air mata terasa asin, tapi terasa juga rasa manis dan bau harum yang lapat-lapat.

Dengan ringan Chu Liuxiang menciumi bekas air mata yang terdapat di wajah Zhang Jiejie, seraya bergumam.

"Kau setan kecil dan siluman kecil ini! Coba lihat kali ini kau masih mau lari ke mana?"

Zhang Jiejie pun dengan ringan menggigiti lehernya dan bergumam.

"Kau setan tua dan kutu busuk tua ini! Bagaimana bisa mencari sampai ke sini?"

"Jelas-jelas kau tahu aku bisa mencari sampai ke sini kan? Sekalipun kau terbang ke langit atau masuk ke perut bumi, tetap saja aku bisa menemukanmu!"

Zhang Jiejie bertanya seraya mendelikkan mata.

"Untuk apa kau mencariku? Menginginkan aku menggigitmu sampai matikah?"

Gigitannya makin lama makin keras, bukan saja menggigit leher, juga menggigit mulut Chu Liuxiang -Cintanyayang panas seperti api itu sudah cukup untuk membuat keduanya "terbakar"!

Tetapi mengapa tadi dia bersikap begitu dingin?

Chu Liuxiang mendadak teringat kepada orang -orang serta peristiwa yang barusan terjadi -Di tempat ini kan bukan cuma mereka berdua saja!

Tak dapat menguasai dirinya, ia mengintip sekilas ke bawah undak¬-undakan itu, dan menemukan bahwa setiap orang masih dalam posisi bersembah sujud yang lutut-sikut dan kepala sampai menyentuh ke tanah, dan tiada seorang pun yang berani mengangkat kepalanya untuk melihat mereka walau hanya sejenak!

Masa' Zhang Jiejie benar-benar adalah dewa?

Jika tidak, kenapa orang-orang ini demikian hormat dan takzim padanya?

Tiba-tiba Zhang Jiejie bertanya.

"Kapan kau telah berubah jadi orang-orangan yang terbuat dari kayu?"

Chu Liuxiang pun tersenyum dan menjawab.

"Tadi."

"Tadi?"

"Tadi ketika kau melihatku, tapi pura-pura tidak kenal aku, pada saat itu bukankah kau juga adalah orang-orangan kayu?"

"Bukan orang-orangan kayu, tapi dewa!"

"Dewa?"

"Kau tidak percaya?"

Chu Liuxiang menghela nafas dan menjawab.

"Sungguh aku tidak dapat melihat di bagian manakah kau mirip dewa?"

Wajah Zhang Jiejie jadi merah, lalu berkata seraya menggigit bibirnya sendiri.

"Itu hanya dikarenakan aku sekarang sudah bukan dewa lagi."

"Mulai kapan kau telah berubah lagi jadi manusia?"

"Tadi."

"Tadi?"

"Tadi ketika kau mencopot topengku, aku telah berubah lagi jadi manusia."

Ia lagi menggigiti leher Chu Liuxiang, seraya bergumam.

"Bukan saja telah berubah lagi jadi manusia, bahkan adalah wanita yang hidup, wanita yang bisa menggigit serta bisa bermanja-manjaan!"

Tiada orang yang dapat menyangkal kalimat ini -Dalam hal menggigit orang serta bermanja-manjaan ini, boleh dibilang ia adalah pakarnya!

Chu Liuxiang menghela nafas panjang lagi, lalu berkata seraya tersenyum masam.

"Aku masih belum paham, bukan saja tidak paham, bahkan makin lama makin bingung!"

Sekonyong-konyong terdengar seorang berkata.

"Pelan-pelan kamu akan paham kok!"

Ternyata perempuan tua yang berpakaian hitam itu telah muncul kembali, berdiri di samping mereka, dan memandang mereka seraya tersenyum. Wajah Chu Liuxiang jadi agak "panas"

Karena jengah, ingin melepaskan pelukan pada Zhang Jiejie, namun merasa agak berat hati -Dapat memeluknyakembali, sungguh-sungguh bukan suatu hal yang mudah!

Apalagi Zhang Jiejie pun memeluknya dengan erat sekali.

Perempuan tua itu berkata seraya tersenyum.

"Tak usah malumalu. Dia sudah jadi milikmu, kapan pun dan di mana pun kamu memeluk dia, tiada seorang pun yang berani melarangmu."

Ia tiba-tiba mengangkat tinggi kedua tangannya, dan dengan suara keras mengucapkan beberapa kalimat kata-kata, ucapannya terdengar aneh dan rumit, satu kata pun Chu Liuxiang tak dapat memahami artinya.

Di bawah altar suci itu segera terdengar seruan-seruan yang penuh kegembiraan.

Ketika Chu Liuxiang sedang bingung apa yang terjadi, altar suci itu tiba-tiba turun dengan cepat!

Dengan cepat mereka telah tiba di sebuah ruang bawah tanah yang berbentuk segi enam, di tengahnya ada meja yang berbentuk segi enam, yang di atasnya penuh dengan arak dan masakan.

Perempuan tua itu berkata seraya tersenyum "Itu adalah arak buah anggur yang datang dari Persia, serta beberapa jenis masakan kesukaanmu!"

Zhang Jiejie bertepuk tangan dan berkata sambil tertawa.

"Sepertinya masih ada sirip ikan yang jadi kesukaanku!"

Ia tertawa persis seperti anak kecil saja. Tapi Chu Liuxiang tak sanggup ikut tertawa, kemudian bertanya tanpa bisa menahan diri lagi.

"Jadi kalian sejak awal sudah mem¬perhitungkan bahwa aku pasti akan datang kemari?"

Ternyata perempuan tua itu mengedipkan mata dua sampai tiga kali, baru berkata seraya tersenyum.

"Saya cuma tahu bahwa asal Pendekar Harum Chu mau pergi, selama ini tidak ada orang maupun tempat yang dapat menghalanginya!" *** Rahasia apa pun juga, akhirnya toh pasti akan ada penjelasannya. Akhirnya perempuan tua itu menjelaskan semua rahasia ini. Di antaranya terdapat dua hal yang membuat Chu Liuxiang paling terkejut. Kesatu. ternyata Zhang Jiejie adalah anak perempuan dari perempuan tua ini; Kedua. Orang yang mau membunuh Chu Liuxiang, ternyata juga adalah perempuan tua ini! Jikalau ia mau membunuh Chu Liuxiang, lalu kenapa ia memberikan petunjuk yang cukup jelas kepada Chu Liuxiang? Segala sebab-musabab yang terdapat di dalam ini, memang betul¬ betul aneh dan rumit! Seandainya Chu Liuxiang bukan mengalami sendiri, mungkin ia sendiri pun tak dapat mempercayainya! Kami memang adalah sebuah keluarga besar yang misterius, tiada seorang pun yang pernah tahu kami datang dari mana, bahkan kami sendiri pun juga sudah tidak mampu lagi menemukan kampung halaman kami yang dulu itu! Yang kami anut dan percayai, juga adalah semacam agama yang aneh nan misterius, agama ini berasal dari tempat nun jauh di sana, dan ada sedikit kemiripan dengan Agama Penyembah Api yang berasal dari Persia, dan Agama Budha yang dibawa masuk ke Tiongkok dari luar negeri. Dewa atau dewi yang kami hormati adalah Perawan Suci. Perawan Suci itu terpilih dari antara perawan-perawan dari keluarga besar kami itu. Perawan Suci kami yang sebelumnya itu telah menentukan penerusnya, yaitu dia anak perempuanku. Siapa pun juga, asal terpilih menjadi Perawan Suci, maka seumur hidupnya harus berkorban untuk agama dan keluarga besar kami, selain tidak boleh punya lagi kehidupan orang biasa, juga tidak boleh punya lagi perasaan dan urusan cinta dan dicintai! Siapa pun juga, asal terpilih menjadi Perawan Suci, maka tiada seorang pun yang dapat merubah lagi fakta ini, lebih-lebih tiada seorang pun yang berani menentangnya! Kecuali ada orang asing yang berasal dari luar tempat ini, dapat menerobos masuk ke altar suci ini, serta mencopot topeng yang melambangkan kedewian dan kekuatan gaib, yang selalu terpakai di wajah dewi itu! Namun tempat ini bukan saja amat dirahasiakan, selama ini juga tidak pernah mengijinkan orang luar masuk, siapa pun yang mau masuk ke tempat ini, sulitnya bahkan melebihi jika seseorang mau terbang ke langit! Oleh sebab itu, peraturan ini sama seperti tidak ada, dan selama belasan generasi ini, tiada satu Perawan Suci pun yang dapat meloloskan dirinya dari nasib malangnya Yaitu seumur hidupnya dilewati dalam kesendirian dan kesepian! Dalam pandangan orang lain , ini adalah semacam kebanggaan, tapi aku tahu bahwa setelah seorang perawan menjadi Perawan Suci, hari¬harinya penuh dengan sengsaral Sebab semenjak aku melahh-kan Zhang Jiejie, aku telah menjabat sebagai Pelindung Agama, sehingga tiada seorang pun yang lebih berdekatan dengan Perawan Suci yang sebelumnya daripada aku, juga hanyalah aku yang pernah melihat, ketika dia terbangun di tengah malam, lalu menunjukkan rupanya yang hampir gila karena menderita kesepian yang amat sangat! Bahkan pada saat-saat dia paling menderita, dia sering menyuruhku untuk menusuki badannya dengan jarum runcing, sampai darahnya mengucur terus! Sudah tentu aku tidak tega melihat anak perempuanku menanggung lagi kesengsaraan semacam ini, aku harus memikirkan sebuah cara pelepasan bagi dia. Tetapi meskipun aku adalah Pelindung Agama, aku pun tak berdaya merubah nasibnya, kecuali Tuhan yang sejati bisa memberiku seorang asing, yang melalui dia mencopot topeng yang mengerikan itu untuk anak perempuanku. Oleh karena itu aku teringat padamu. Asap dupa berkepul-kepul, perempuan man itu duduk bersila di tengah-tengah asap, sambil menuturkan kisah yang cukup panjang ini. Persis seperti ketika mendengarkan cerita mitos, Chu Liuxiang sampai menjadi termangu-mangu. Ketika mendengar sampai bagian ini, tanpa kuasa menahan diri ia memotong dengan berkata.

"Oleh karena itu anda menyuruh dia pergi mencariku?"

"Betul."

Tanpa terasa Chu Liuxiang mengelus-elus hidung, lalu bertanya seraya tersenyum kecut.

"Tapi kenapa anda menyuruh lagi dia pergi untuk membunuhku?"

"Ada dua sebab...."

"Aku sedang mendengar."

"Aku tahu kamu adalah seorang yang punya rasa ingin tahu yang amat besar, dan orang yang gemar menerjang bahaya, tapi jika dengan alasan ini menyuruhmu datang, kamu pasti tidak mau, karena kamu dengan dia belum saling mencintai."

Chu Liuxiang mengakuinya. Perempuan tua itu berkata.

"Oleh sebab itu aku lebih dahulu menggunakan berbagai cara, untuk menimbulkan rasa ingin tahumu serta rasa tak mau kalahmu, kemudian menciptakan kesempatan bertemu bagi kalian, supaya kalian dapat saling mencintai secara alami."

Chu Liuxiang tak tahan lalu bertanya "Bagaimana anda bisa tahu bahwa kami pasti akan saling mencintai?"

Perempuan ma itu membuka matanya yang sejak tadi dipejamkan, memandang sebentar pada dia, lalu memandang sebentar pada anaknya, baru bertanya seraya tersenyum.

"Gadis yang seperti anak perempuanku ini, adakah pria yang dapat tidak menyukainya?"

Chu Liuxiang menjawab seraya menghela nafas.

"Pria semacam ini memang sulit ditemukan!"

Zhang Jiejie tertawa manis dan berkata.

"Pria yang seperti kau ini, gadis dan perempuan yang tidak menyukaimu, juga sama-sama sulit ditemukan!"

Dengan sumpit Chu Liuxiang menjepit sepotong sirip ikan, dijejalkan ke mulut Zhang Jiejie seraya berkata "Sanjunganmu bagus sekali! Ini, hadiahmu adalah sepotong sirip ikan."

Perempuan tua itu berkata seraya tersenyurn.

"Omongannya benar, seandainya aku lebih muda 30 tahun, barangkali aku juga akan menyukainu!"

Zhang Jiejie berkata seraya tertawa cekikikan.

"Bukankah sekarang pun Ibu masih menyukainya? Seperti sebuah peribahasa yang berbunyi `Ibu mertua melihat menantu laki-laki -Makin dilihat makin menarik'."

Di antara ibu dan anak ini, betul-betul memiliki semacam rasa keakraban yang berbeda dengan orang lain, ini mungkin dikarenakan mereka tinggal dan hidup di sebuah lingkungan yang amat berbeda.( Di Tiongkok zaman dulu, antara orangtua dengan anak, tidak umum bahkan di banyak daerah, tidak dibolehkan -menunjukkan rasa keakraban maupun rasa sayang dan disayangi di depan orang lain, disebabkan pendidikan dan tradisi kolot yang berlaku pada masa itu.) Mendengar percakapan mereka, wajah Chu Liuxiang memerah karena jengah.

Perempuan tua itu memandang mereka dan berkata seraya tersenyum.

"Ada orang-orang tertentu, jika sudah bertemu sulit dipisahkan, seperti batu sembrani dan besi Barangkali inilah yang disebut `berjodoh' oleh kebanyakan orang."

"Tadi anda mengatakan ada dua sebab?"

Tanya Chu Liuxiang. Perempuan itu menganggukkan kepala dan menjawab.

"Tadi aku juga berkata kan bahwa siapa pun yang mau datang ke tempat ini, sulitnya bagaikan mau terbang ke langit? Meskipun aku pernah dengar nama besarmu, tapi aku kan belum pernah bertemu denganmu."

"Oleh sebab itu anda mau mangujiku?"

Perempuan tua itu tersenyum sekilas, baru menjawab.

"Aku memang mau mengujimu, untuk melihat apakah ilmu silatmu serta hikmatmu itu memang setinggi seperti kata orang, dan untuk mengetahui apakah kamu layak jadi menantuku atau tidak!?"

Chu Liuxiang bertanya seraya tersenyum kecut.

"Bagaimana jika aku mati karena pengujian anda?"

Perempuan ma itu menjawab dengan suara datar.

"Setiap orang, pada suatu saat pasti akan mati, ya tidak?"

Ia berkata dengan begitu ringan dan santai -Dalam pandangan hidupnya, nyawa orang lain sepertinya tidak berharga sepeser pun!

Ini mungkin dikarenakan ia hidup dalam suatu lingkungan yang dingin dan kejam, yang dianut pun adalah agama yang aneh, sehingga semua orang acuh tak acuh kepada orang lain, dan ia sama sekali tak pernah benar-benar berhubungan dengan orang normal yang berperasaan, oleh sebab itu kecuali naluri alamiah antara ibu dan anak, terhadap orang lain ia tidak ada perhatian, juga tidak menghargai.

Namun Chu Liuxiang mendengarnya sampai punggungnya terus mengucurkan peluh dingin.

Sebenarnya ia masih mau bertanya, kenapa dia mengerat tangan Ai Hong?

Tapi sekarang ia tahu bahwa pertanyaan ini merupakan sesuatu yang berlebihan.

Jikalau seseorang, nyawa orang lain pun tidak dihargai, bagaimana mungkin dapat menghargai atau mempedulikan sebuah tangan orang lain " ?

Perempuan tua itu terus melanjutkan kata-katanya.

"Semua peristiwa yang kalian alami itu, semuanya diatur oleh aku sendiri, dan kamu memang tidak membuatku kecewa, makanya pada malam itu aku pergi menemuimu, kemudian menyuruh Ai Qing dan Ai Hong menjemputmu di luar, oleh sebab itu aku memperhitungkan dan yakin bahwa kamu akan sanggup sampai di sini."

Chu Liuxiang menghembuskan nafas yang panjang, lalu bertanya.

"Saat inii aku masih punya satu hal yang tidak paham, boleh tanya?"

"Boleh."

"Kenapa anda tidak cari orang lain, dan hanya memilih aku saja?' Perempuan tua itu menjawab setelah tersenyum sekilas.

"Aku tahu kau adalah pria yang amat tampan, mudah sekali disukai kaum perempuan, juga tahu bahwa ilmu silat dan hikmatmu itu, dalam dunia persilatan jarang ada orang yang dapat menandingimu, lagi pula sampai saat ini kau masih bujangan. Aku percaya ada banyak sekali ibu-ibu, ketika mau memilih menantu, pasti akan memilihmu!"

Tidak tahan Chu Liuxiang lalu mengelus-elus lagi hidungnya. Perempuan ma itu berkata lagi.

"Tetapi ini masih bukanlah sebab yang paling penting."

"Oh ya?"

"Aku memilihmu, sebab yang paling penting adalah kau telah berbuat satu hal yang paling menggembirakanku, maka sejak dulu aku selalu mernikirkan sesuatu cara untuk membalas budi padamu."

Chu Liuxiang bertanya dengan heran.

"Aku telah berbuat apa?"

Perempuan tua itu menjawab.

"Kau telah membunuh Shi Guanyin untukku."

"Apakah anda punya dendam dengan dia?"

Dan mata perempuan tua itu inuncul ekspresi kebencian yang amat sangat, dan berkata dengan nada benci.

"Ia betul-betul bukan manusia! Tapi siluman pemakan orang! Siluman yang khusus memakan orang laki¬-laki!"

Chu Liuxiang sudah tidak perlu bertanya lagi karena sudah dapat membayangkannya Kegembiraan terbesar Shi Guanyin memang adalah merebut kekasih atmu suami orang lain!

Maka setelah ia membunuh Shi Guanyin, ada banyak orang wanita yang mau membalas budi pada dia, untuk menyatakan rasa terima kasih mereka.

Namun Chu Liuxiang berharap ia adalah yang terakhir kalinya, dikarenakan ia betul-betul tidak bisa tahan untuk menerima cara berbalas budi semacam ini!

Meskipun "Ibu mertua memandang menantu laki-laki -makin dipandang makin menarik" , namun "Menantu laki-laki memandang ibu mertua makin dipandang makin jengkel."

Untunglah ibu mertua ini termasuk orang yang "tahu diri", maka ia pergi setelah berpamitan.

"Kalian kan sudah lama tidak bertemu, pasti ada banyak hal yang mau dibicarakan, aku kira aku mesti tahu diri!"

Ketika Chu Liuxiang mengantar perempuan tua itu keluar, baru pertarna kali merasa bahwa dia sedikit banyak juga memiliki perasaan insani.

Dari belakang Zhang Jiejie memeluk pinggang Chu Liuxiang, dengan ringan menggigit lagi leher dia.

Chu Liuxiang menghela nafas panjang, lalu berkata seraya tersenyurn masam.

"Apakah kau tahu. selain menggigit orang dan menyantap sirip ikan, mulut masih memiliki kegunaan yang lain?"

Zhang Jiejie bertanya seraya mengedip-ngedipkan mata.

"Oh ya? Masih memiliki kegunaan apa yang lain?"

"Berbicara. Bukankah ibumu tadi menyuruh kita ngobrol sepuas-¬puasnya?"

"Aku tidak mau ngobrol, aku mau...."

Ia menggigit leher Chu Liuxiang sekali lagi, baru berkata seraya tertawa cekikikan.

"Aku mau apa, masa' kau tidak tahu?"

Chu Liuxiang menunjukkan ekspresi terkejut, bertanya tanpa terasa.

"Masa' di tempat ini?"

"Kalau tidak di sini, mau di mana lagi?"

"Di sini tidak bisa."

"Kenapa tidak bisa?"

"Aku akan membawamu pulang ke rumah milik kita sendiri -Bahkan makin cepat makin baik."

"Tidak bisa!"

"Kenapa tidak bisa?"

"Tidak bisa ya tidak bisa!"

Chu Liuxiang bertanya seraya tersenyum "Apakah kau masih kuatir, takut aku digoda wanita lain?"

Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum dingin.

"Apakah kau beranggapan bahwa kau benar-benar. setiap wanita yang melihatmu pasti akan jatuh cinta padamu? Apakah kau beranggapan bahwa orang lain sungguh-sungguh tidak dapat kehilanganmu?"

Matanya tiba-tiba mendelik, air mukanya berubah, dan berkata dengan suara keras.

"Jika kau sungguh-sungguh mau pergi, pergilah seorang diri! Lihatlah apakah aku dapat kehilanganmu atau tidak? Kau sekarang mau pergi masih sempat kok!"

Ia persis seperti seekor kucing yang telah dibuat marah besar,yang setiap saat siap-siap menjulurkan cakarnya untuk menyerang!

Chu Liuxiang memandang dia seraya tersenyum, dan berkata dengan suara lemah lembut.

"Kau dapat kehilanganku, tapi aku sudah tidak dapat kehilanganmu! Jika pergi, ya kita pergi bersama, jika tidak, ya kita tinggal bersama di tempat ini."

"Sungguh? Kau sungguh-sungguh mau menemaniku tinggal bersama di sini?"

Chu Liuxiang membentangkan kedua lengannya, merangkul dia seraya berkata.

"Tentu saja benar! Masa' kau kira aku masih sanggup meninggalkanmu?"

Sekonyong-konyong terdengar suara isak Zhang Jiejie di pelukan Chu Liuxiang.

Chu Liuxiang mengangkat wajah Zhang Jiejie dengan ringan, melihat bahwa di wajahnya yang cantik namun pucat itu penuh lagi dengan air mata, lalu bertanya dengan tanpa terasa.

"Kau sedang menangis? Mengapa menangis? Masa' kau masih belum mempercayaiku?"

Zhang Jiejie menjawab seraya menggigit bibir.

"Aku mempercayai¬mu, dan aku pun tahu seperti pepatah yang berbunyi. 'Menikah dengan ayam ya ikut dengan ayam', sekarang aku sudah adalah istrimu, jadi ke mana pun kau pergi, seharusnya aku mengikutimu barulah benar."

Air matanya mengucur makin deras, lalu melanjutkan katakatanya seraya menundukkan kepala.

"Tapi justru karena aku adalah istrimu, maka telah menjerumuskanmu, bahkan telah mencelakaimu!"

"Kok bisa?"

"Apakah tadi kau sudah mendengar seruan-seruan kegembiraan mereka untukmu?"

Chu Liuxiang mengangguk "Tahukah kau apa artinya itu?"

Tanya Zhang Jiejie. Chu Liuxiang menggeleng. Zhang Jiejie berkata pelan-pelan.

"Arti dari seruan-seruan kegembiraan itu adalah. Mereka telah mengakui kita adalah suami istri, dan telah menerimamu sebagai salah satu anggota keluarga besar kami, maka...."

"Maka kenapa?"

"Asal sudah menjadi salah satu anggota keluarga besar ini, maka selama-lamanya tidak bisa lepas lagi!"

"Apakah maksudmu adalah. Selama-lamanya kita sudah tidak bisa meninggalkan tempat ini?"

"Selama-lamanya tidak bisa!"

Tanpa bisa menguasai diri, air muka Chu Liuxiang telah berubah.

Bagi dia, sungguh-sungguh satu hal yang tak dapat dibayangkan, jika mau tinggal seumur hidup di tempat tertutup yang tak kelihatan matahari dan langit!

Zhang Jiejie menatap lekat-lekat padanya, lalu berkata perlahan.

"Aku pun tahu bahwa sekali-kali kau tak akan mau tinggal di sini selama-¬lamanya, jika kau sungguh-sungguh ingin pergi dari sini, juga bukan berarti sudah tidak ada lagi cara yang dapat dipikirkan."

Chu Liuxiang segera bertanya "Masih ada cara apa lagi?"

Zhang Jiejie memutar badan pelan-pelan untuk membelakangi Chu Liuxiang, lalu berkata sekata demi sekata.

"Disebabkan kau adalah suamiku, baru bisa jadi orangnya keluarga besar ini, maka menurutku...."

Chu Liuxiang tiba-tiba memegang erat-erat pundak Zhang Jiejie, memutar balik tubuhnya dan merangkulnya dengan kuat, seraya berkata "Kau tak usah berkata lagi, aku telah paham maksudmu!"

"Aku.... Aku...."

Chu Liuxiang memotong lagi perkataannya "Jikalau kau mati, maka aku bukan lagi orangnya keluarga besar ini, karena itu mereka terpaksa melepaskan aku pergi, benarkah demikian?"

Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum sedih.

"Asal kau hidup bahagia, aku rela mati!"

Maya Chu Liuxiang pun agak basah karena air mata, merangkul dia erat-erat seraya berkata dengan suara lembut.

"Sekarang aku hanya berharap kau dapat memahami satu hal!"

"Katakanlah."

"Masa-masa aku bahagia, hanyalah ketika aku bersamamu! Oleh sebab itu, jika kau sungguh-sungguh ingin aku hidup bahagia, selama¬-lamanya janganlah meninggalkan aku!"

Zhang Jiejie tersenyum.

Senyumannya itu,seperti meteor pertama di malam gelap, atau berkas sinar surya pertama di pagi yang mendung!

Ia pun merangkul Chu Liuxiang erat-erat seraya berkata dengan suara lembut.

"Bagaimana mungkin aku tega meninggalkanmu? Sampai mati pun aku takkan meninggalkanmu lagi!"

Di dalam dunia ini memang tidak hal yang mutlak, tapi apakah "waktu"

Termasuk pengecualian?

Di dalam perasaan sebagian orang, waktu dalam sehari, kayaknya berlalu dengan cepat sekali, dikarenakan mereka hidupnya bahagia, rajin bekerja dan mengerti untuk menikmati kesukacitaan dalam bekerja, juga tahu bagaimana mempergunakan waktu luang, sehingga mereka tidak pernah merasa waktu-waktu itu berlalu begitu lambat dan menyengsara¬kan.

Tapi di dalam perasaan sebagian orang yang lain, waktu dalam sehari, kayaknya begitu lambat seperti merangkak saja!

Itu dikarenakan hidup mereka penuh dengan kesedihan, dan sering nganggur, makanya baru bisa merasa bahwa satu hari lamanya seperti satu tahun saja!

Namun apa pun perasaan orang, satu hari ya satu hari, satu bulan ya satu bulan.

Di dalam dunia ini, hanyalah waktu yang tidak berubah karena siapa pun atau apa pun!

Tetapi waktu dapat merubah banyak hal, bahkan dapat dikatakan dapat merubah segala-galanya!

*** Satu bulan sudah berlalu, apakah Chu Liuxiang sudah berubah?

Zhang Jiejie menatapnya lekat-lekat, kemudian dengan ringan mengelus-elus wajah dia yang telah jadi kurus, seraya berkata dengan suara halus.

"Sepertinya kau agak kurusan ya!"

Chu Liuxiang menjawab setelah tersenyum sekilas.

"Agak kurusan kan bagus! Aku memang terus kuatir bisa jadi gemuk!"

"Sepertinya perkataanmu juga lebih sedikit dari waktu yang lalu?"

"Masa' kau suka aku berubah jadi orang bawel yang banyak mulut?"

"Kau datang kemari sudah satu bulan."

"Hm?"

"Apakah kau merasa bahwa bulan ini luar biasa lama?"

Chu Liuxiang tidak segera menjawab, menggenggam tangan Zhang Jiejie dulu, baru bertanya batik.

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakana padaku?"

Zhang Jiejie menundukkan kepala dan berdiam diri lama sekali, baru berkata seraya perlahan.

"Aku tahu kau tidak betah melewati kehidupan semacam ini, rnakanya bisa berubah! Tapi jika demikian terus, suatu hari kau pasti tidak tahan lagi!"

"Siapa yang bilang?"

Zhang Jiejie menjawab setelah tersenyum sejenak.

"Di dalam dunia ini, siapa lagi yang lebih dekat denganmu? Dan siapa lagi yang lebih mengertimu dariku? Bagaimana mungkin aku tidak melihat serta memahaminya?"

Senyumannya begitu memilukan, lalu meneruskan kata-katanya.

"Tentu saja aku pun menyadari bahwa kau amat mencintaiku, sama seperti aku pun amat mencintaimu, oleh sebab itu aku berharap dapat menahan¬mu di sini, dan berharap ketika kau berada di sini juga dapat berbahagia seperti waktu-waktu yang lalu."

"Pikiranmu ini kan tidak keliru?"

Zhang Jiejie menggelengkan kepala dan berkata seraya tersenyum pilu.

"Mulanya aku pun mengira bahwa pikiran ini tidak keliru, sekarang baru tahu ini keliru, bahkan kelirunya amat sangat!"

"Mengapa?"

"Karena kau...kau memang bukan milik siapa-siapa, dan tiada seorang pun yang dapat memilikimu!"

"Aku tidak mengerti."

"Kau seharusnya mengerti."

Zhang Jiejie menyambung kata-katanya setelah menghela nafas panjang.

"Dikarenakan selain aku, di dalam dunia ini masih terdapat banyak orang membutuhkanmu sama seperti aku! Meskipun aku tidak rela meninggalkanmu, sama halnya mereka pun tidak dapat meninggalkanmu!"

"Maksudmu adalah sahabat-sahabatku itu?"

"Bukan hanya sahabat-sahabatmu itu, masih ada banyak sekali orang lain."

"Siapa saja?"

"Orang-orang yang membutuhkan pertolonganmu, yang membutuhkan kau pergi untuk menyelesaikan kesulitan dan penderitaan mereka."

"Apakah kau beranggapan aku seharusnya hidup untuk orang lain?"

"Maksudku bukan itu."

Zhang Jiejie menyambung kata-katanya setelah merenung sebentar.

"Siapa pun yang hidup di dalam dunia ini, seharusnya hidup dengan bersuka-cita serta bermakna, betul?"

"Betul!"

"Terdapat sejenis orang, hanyalah ketika ia mau membantu orang lain, ia baru bisa bersukacita dan merasa hidupnya bermakna, jika tidak maka hidupnya akan berubah jadi tidak berharga sama sekali!"

"Kau kira aku adalah orang sejenis itu?"

"Masa' kau bukan?"

Chu Liuxiang tidak dapat berkata apa-apa lagi. Zhang Jiejie berkata dengan sedih.

"Kaum wanita semuanya egois, tadinya aku pun berharap dapat seorang diri memilikimu secara utuh! Tapi jika kau terus murung begini, lambat laun akan berubah jadi seorang yang lain...akan berubah jadi bukan lagi Chu Liuxiang! Sampai saat itu, barangkali aku tak akan mencintaimu lagi."

Ia berkata lagi seraya tersenyum sedih.

"Jika demikian, kenapa kita mesti menunggu sampai hari itu tiba?"

"Maka.... Maka maksudmu?"

"Maka aku merasa seharusnya aku membiarkanmu pergi dari sini, sebab kau punya kehidupanmu sendiri. Aku tidak boleh terlalu egois, tidak boleh memakai penderitaan seumur hidupmu, untuk ditukar jadi kebahagiaanku!"

Dengan ringan ia mengelus-elus wajah Chu Liuxiang, seraya berkata dengan suara lembut.

"Barangkali ini dikarenakan aku sekarang sudah dewasa, yang sudah mengerti bahwa cinta sejati tidak boleh terlalu egois!"

Chu Liuxiang menatapnya erat-erat, perasaan di dalam hatinya bercampur-aduk tidak tahu itu perasaan pilu, penderitaan ataukah perasaan terima kasih?

Mendadak ia menyadari bahwa Zhang Jiejie telah tumbuh jadi jauh lebih dewasa dan jauh lebih matang, juga seolah-olah telah sama sekali berubah menjadi orang lain!

Apakah yang telah menyebabkan ia berubah?

"Bagaimanapun juga, aku tidak dapat meninggalkanmu seorang diri berada di sini", kata Chu Liuxiang.

"Kenapa tidak dapat? Bukankah banyak sekali istri yang tinggal di rumah seorang diri? Seandainya mereka sama egoisnya seperti aku, di dalam dunia ini bagaimana bisa terdapat begitu banyak pahlawan dan jenderal ternama?"

"Tapi kau berbeda."

"Apa bedanya? Mengapa aku tidak bisa meneladani istri-istri yang agung itu? Mengapa aku tidak bisa membiarkan suamiku pergi ke luar untuk membantu orang lain?"

"Tapi kau akan terlalu kesepian dan menderital Jika aku pergi...."

Mendadak Zhang Jiejie memotong kata-katanya.

"Tahukah kau kenapa sekarang aku tiba-tiba mengijinkanmu pergi dari sini?"

"Mengapa?"

"Sebab aku tahu di kemudian hari aku takkan merasa kesepian lagi! Setelah kau pergi, aku tahu bahwa masih ada seseorang yang akan menemaniku!"

Sinar matanya mendadak berubah lagi jadi begitu lemah lembut, juga begitu terang. Tak kuasa menahan dirinya, Chu Litudang bertanya.

"Siapakah dia?"

Zhang Jiejie menunduk dan menjawab dengan lirih.

"Anakmu."

Hampir saja Chu Liuxiang berdiri sambil melompat, seraya berseru.

"Kau telah mengandung anakku?"

Zhang Jiejie mengangguk dengan perlahan. Chu Liuxiang menggenggam, tangan Zhang Jiejie dengan kuat, seraya berkata dengan suara keras.

"Kau telah mengandung anakku, masih mau aku pergi dan sini?"

Zhang Jiejie berkata dengan suara halus.

"Justru dikarenakan aku telah mengandung anakmu, rnakanya baru mengijinkan kau pergi. Juga dikarenakan aku telah mengandung anakmu, kau baru dapat pergi dengan tenang.... Seharusnya kau dapat memahami maksudku ini kan?"

"Mengapa kita tidak bisa melarikan diri bersama-sama untuk keluar dari tempat ini?"

"Beberapa hari ini kau terus menyelidiki secara diam-diam, untuk menemukan apakah ada sebuah jalan untuk keluar, betul kan?"

Chu Liuxiang terpaksa mengakuinya.

"Apakah kau sudah menemukannya?"

Tanya Zhang Jiejie.

"Belum."

Zhang Jiejie berkata setelah menghela nafas.

"Tentu saja kau tak dapat menemukannya, sebab di tempat ini cuma terdapat dua jalan keluar saja!"

"Di mana?"

"Yang satu berada di dalam ruang rapat, jalan ini semua orang tahu, tapi tidak ada orang yang boleh keluar masuk dengan sembarangan, sebab di sana ada sepuluh orang penatua dari keluarga besar ini yang menjaganya siang malam. Sekalipun kau memiliki kemampuan setinggi langit, juga jangan berharap bisa melarikan diri dari orang-orang tua yang semuanya amat perkasa itu!"

Chu Liuxiang pun terpaksa mengakuinya, tapi bertanya lagi karena tidak tahan.

"Jalan kedua bagaimana?"

"Cuma ada satu orang yang tahu jalan kedua itu!"

"Siapa?"

"Pelindung agama ini."

Mata Chu Liuxiang berbinar-binar dan bertanya.

"Ibumu?"

Zhang Jiejie mengangguk seraya berkata.

"Oleh sebab itu jika aku yang memohon agar dia melepaskanmu pergi, barangkali ia mau mengijinkannya."

Sinar mata Chu Liuxiang penuh dengan harapan, lalu berkata.

"Barangkali ia dapat mengijinkan kita pergi bersama."

Zhang Jiejie berkata seraya menghela nafas.

"Tentu saja aku pun berharap demikian, tapi...."

"Bagaimanapun juga, seharusnya kita tanyakan dulu padan-ya. Jangan lupa ia kan ibu kandungmu Tiada seorang ibu pun yang tidak mengharapkan anak perempuannya bisa hidup bahagia kan?" *** Setiap ibu tentu saja mengharapkan anak perempuannya bisa hidup bahagia, tapi masalahnya ialah. Apayang dapat dianggap sebagai bahagia yang sejati? Bahagia juga bukanlah sesuatuyang mutlak! Bahagiayang menurut pandangan anda, dalam pandangan orang lain mungkin suatu kemalangan! *** Di tempat ini, setiap rumah gelap dan seram, tidak kelihatan sinar matahari, juga tidak terasa ada angin. Rumah ini sepertinya ada angin, namun lebih gelap dan lebih seram, sehingga tidak dapat tahu angin itu berasal dari mana. Perempuan tua yang berpakaian hitam itu sedang duduk diam di sebuah alas duduk asiwung yang berada di depan ceruk tempat berhala, badannya tidak bergerak sama sekali, seolah-olah sudah duduk sejak jaman purbakala, sehingga sepertinya sudah mati rasa sama sekali. Sehinggga ketika Zhang Jiejie berjalan masuk lalu berlutut di depannya, ia tetap tidak bergerak, dan tidak membuka matanya. Zhang Jiejie berlutut dengan tenang dan diam, tampaknya tibatiba juga tertelan oleh keheningan yang seolah-olah sudah ada sejak jaman purbakala itu! Dengan kedua tangan diturunkan di sisi badan, Chu Liuxiang berdiri di belakang badan Zhang Jiejie. Ia tahu inilah saat-saat untuk menentukan kebahagian seumur hidup mereka berdua, oleh karena itu ia terpaksa bersabar dan menahan diri. Entah sudah lewat berapa lama, perempuan tua itu baru tiba-tiba membuka matanya. Di dalam matanya seolah-olah terdapat semacam kekuatan yang menakutkan, yang dapat menembus ke hati mereka berdua! Ia menatap mereka lekat-lekat, lama sekali baru berkata sehuruf demi sehuruf.

"Apakah kalian mau pegi dari sini?"

Zhang Jiejie makin menundukkan kepalanya, bahkan nafasnya seolah-olah sudah berhenti.

K arena tidak tahan Chu Liuxiang lalu berkata "Ya, kami mau pergi dari sini, mohon ibu dapat memberikan sebuah jalan hidup bagi kami!"

Seumur hidup ia tidak pernah memohon sesuatu dari siapapun, tidak pernah mengucapkan kata-kata permohonan dengan sikap dan nada yang begitu merendahkan diri semacam ini!

Tetapi demi si dia, dan demi anak mereka, ia rela mengorbankan apa saja!

Perempuan tua itu menatapnya lekat-lekat, lalu bertanya perlahan.

"Apakah kamu sudah tidak bisa tinggal terus lagi di tempat ini?"

Perempuan tua itu berkata dengan sikap dingin.

"Ya katakan ya, tidak katakan tidak, jika berbicara di depanku, tak usah ragu-ragu atau tidak terus terang!"

Chu Liuxiang berkata setelah menghela nafas yang amat panjang.

"Betul, aku sudah tidak mau lagi tinggal terus di tempat ini"

"Demi dia, kamu pun tidak mau lagi tinggal terus?"

"Aku ingin membawa dia pergi bersama."

"Apakah kamu sudah menetapkan hati keputusan ini?"

"Ya"

Lama sekali perempuan tua itu menatap dia, mendadak berkata.

"Baik, aku ijinkan kamu pergi."

Tapi ia segera menyambungnya.

"Hanya dengan satu syarat!"

"Syarat apa?"

"Bunuh aku terlebih dahulu!"

Chu Liuxiang menjadi tertegun. Perempuan tua itu berkata lagi.

"Jika kau tidak membunuhku, aku tetap akan membunuhmu; setelah membunuhmu, baru mengijinkanmu keluar dari tempat ini!"

Ia berdiri pelan-pelan, lalu menyambungkata-katanya dengan sikap dingin.

"Masa' istrimu tidak memberitahukanmu? Dikarenakan kau telah menjadi suami dari Perawan Suci keluarga besar ini, jika mau pergi dari tempat ini, maka harus mati!"

Dengan terkejut Chu Liuxiang memandang Zhang Jiejie dan bertanya.

"Apakah ini pun peraturan kalian?"

Zhang Jiejie mengangguk, tapi air mukanya tetap tenang.

"Kau...kenapa kau tidak memberitahukanku?"

Tanya Chu Liuxiang. Zhang Jiejie menjawab perlahan.

"Disebabkan sekarang sudah tidak ada orang yang boleh membunuhmu!"

Perempuan tua itu berebutan bertanya.

"Mengapa?"

"Dikarenakan aku telah mengandung anaknya, dan aku telah memutuskan agar anak ini kelak menjadi Perawan Suci kita, oleh karena itu ia sekarang telah menjadi ayah dari Perawan Suci!"

Jawab Zhang Jiejie. Mata Zhang Jiejie bersinar di dalam kegelapan, lalu menyambungnya sekata demi sekata.

"Si apa pun juga tidak boleh membunuh ayah dari Perawan Suci!"

Perempuan tua itu seolah-olah mendadak ditinju keras oleh seseorang, sampai hampir tidak kuat berdiri lagi. Terdiam lama sekali baru kemudian berkata seraya tersenyum dingin.

"Apakah kamu tahu yang berada di dalam perutmu itu anak laki-laki atau perempuan?"

"Aku tidak tahu -sekarang siapa pun tidak tahu, maka...."

Jawab Zhang Jiejie. Perempuan tua itu memotong dengan suara keras.

"Maka masih boleh bunuh dia, sebab anakmu belum tentu adalah anak perempuan!"

"Seandainya adalah anak perempuan, bagaimana?"

Tanya Zhang Jiejie.

Bab 14.

Pernah Datang, pernah hidup pernah Cinta Siapakah yang tahu di manakah surga?

Siapakah yang tahu tempat yang bagaimanakah surga itu?

Siapakah yang tahu bagaimana baru biaa berjalan di jalan yang menuju ke surga?

Tiada seorang pun!!

Tapi asalkan hati anda damai dan sukacita, di dalam dunia ini pun terdapat juga surga, bahkan surga itu berada di depan mata anda dan juga berada di dalam hati anda.

Tentu saja tempat ini bukan surga.

Orang yang hatinya penuh dendam, selama-lamanya tak akan dapat melihat surga!

Mata perempuan tua itu penuh dendam dan amarah, sarnpai nafasnya mulai memburu.

Air muka Zhang Jiejie kian tenang, lalu meneruskan kata-katanya dengan perlahan.

"Aku sudah tidak suci lagi, juga sudah bukan Perawan Suci lagi, tapi tetap punya hak untuk memilih dan menetapkan siapa yang akan menggantikanku, betul?"

Perempuan tua itu membisu cukup lama, tapi akhirnya mengangguk dengan terpaksa. Zhang Jiejie bertanya lagi.

"Peraturan-peraturan dan ketetapan ketetapan dari agama kita ini, hanya ibu seorang yang berhak menafsir dan menjelaskan, betul?"

"Betul."

"Maka begitu anakku dilahirkan, ia sudah adalah Perawan Suci dari agama ini, betul?"

"Betul."

"Oleh sebab itu Chu Liuxiang juga segera menjadi ayah Perawan Suci, betul?"

"Betul."

"Ayah Perawan Suci juga memiliki hak keilahian yang sama, yang juga tidak boleh dilanggar oleh siapa pun kan? Siapa saja yang telah melukainya, akan dihukum mati oleh Tuhan dan rohnya akan dijebloskan ke dalam neraka! Ini adalah ketetapan yang tercatat di kitab suci agama ini, betul?"

"Betul."

Zhang Jiejie menghembus nafas panjang, lalu berkata seraya tersenyum "Ibu lihat kan? Betapa mengerti dan hafalnya aku kepada peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan ciari agama kita ini kan?"

Perempuan tua itu menatapnya erat-erat, lalu berkata perlahan.

"Makanya kamu baru biaa menemukan kelemahan-kelemahan yang tersirat di dalamnya, kemudian memanfaatkan kelemahankelemahan itu untuk kepentinganmu!"

Zhang Jiejie berkata setelah menghela nafas panjang.

"Aku sebenarnya tidak ingin berbuat demikian, cuma sayangnya aku betul-¬betul tidak sanggup menemukan cara yang lain."

Perempuan tua itu berkata dengan sikap dingin.

"Cara ini memang betul-betul hebat, tapi orang yang pertama kalinya menemukan cara ini bukanlah kamu!"

Zhang Jiejie terkejut, lalu bertanya "Bukan aku? Lalu siapa?"

Perempuan tua itu berkata dengan keras.

"Aku!"

Dendam dan amarah dalam matanya makin membara, lalu menyambungnya sekata demi sekata.

"Justru dikarenakan aku yang menemukan cara ini, makanya ayahmu baru bisa pergi dari sini."

Berdiam sejenak lalu meneruskan kata-katanya.

"Pada saat itu yang menjadi Perawan Suci, adalah seorang saudari yang memiliki hubungan paling baik denganku, aku memohon dia agar memilihmu jadi penerusnya, justru dikarenakan ayahmu mau pergi dari sini!"

K arena tidak tahan Zhang Jiejie bertanya lagi.

"Mengapa dia mau pergi?"

Perempuan tua itu menjawab seraya menggenggam erateratkedua tangannya sendiri.

"Sebab ia merasa bahwa tempat ini seperti penjara, dan mau pergi ke luar untuk mencari kehidupan yang lebih baik."

"Ibu telah menyanggupi permintaannya?"

Tanya Zhang Jiejie. Perempuan tua itu menjawab serentak mengertak gigi.

"Disebabkan ia telah berjanji padaku, bahwa asalkan ia menemukan kehidupan yang lumayan di luar, pasti akan berusaha pulang untuk menjemputku!"

"Tapi dia...."

Perempuan tua itu berseru dengan suara serak.

"Tapi dia tidak pulang -Tidak pulang untuk selama-lamanya!"

Mendadak wajahnya berubah jadi begitu seram dan menakutkan -hanyalah dendam yang dapat membuat wajah seseorang berubah jadi begitu menakutkan!

..Lama sekali baru ia meneruskan kata-katanya dengan suara parau.

"Aku terus menunggunya dengan susah dan derita, dan terus menguatir¬kannya, tapi kemudian aku baru tahu. Begitu keluar dari tempat ini ia langsung ketemu seorang wanita yang bagaikan seekor ular berbisa, sehingga melupakanku!"

K arena tidak tahan Chu Liuxiang pun bertanya.

"Wanita yang ibu sebut itu, apakah adalah Shi Guanyin?"

Perempuan tua itu mengangguk perlahan, lalu berkata seraya tersenyum dingin.

"Meskipun ia telah mencampakkanku, tapi akhirnya ia pun mati di tangan wanita itu!"

"Apakah ibu tidak pergi membalaskan dendam baginya?"

Tanya Zhang Jiejie.

"Aku tidak ingin juga tidak boleh pergi", jawab perempuan tua itu.

"Mengapa tidak boleh pergi?"

Tanya Zhang Jiejie.

"Sebab begitu ia keluar, berarti telah keluar dari keluarga besar ini, sehingga apa pun yang terjadi, sudah tidak punya sangkut-paut apa-apa lagi dengan keluarga besar ini, sehingga sekalipun ia mati di tengah¬-tengah jalan, kita pun tidak boleh mengurusi mayatnya!"

Jawab perempuan tua itu.

Nada suaranya yang penuh dendam itu terdengar menakutkan, bahkan Chu Liuxiang pun merasa bulu kuduknya sudah mau berdiri!

Sesudah lewat waktu yang amat lama, Zhang Jiejie baru berkata tergagap-gagap.

"Bagaimanapun juga, ayah toh telah pergi dari tempat ini"

"Oleh sebab itu kamu memintaku juga melepaskan Chu Liuxiang pergi?"

Tanya perempuan tua itu. Zhang Jiejie menundukkan kepala dan menjawab.

"Aku mohon bu!"

Perempuan tua itu berkata dengan suara keras.

"Masa' kamu pun mau hidup menderita seperti aku ini? Apakah kamu tahu bagaimanakah aku melewati hari-hari dalam waktu puluhan tahun itu?"

Zhang Jiejie tidak berani menjawab. Perempuan tua itu tanya lagi.

"Apakah kamu tahu sekarang aku berusia berapa?"

Pertanyaan tiba-tiba ini tidak mampu dijawab oleh Zhang Jiejie dan Chu Liuxiang.

Sekonyong-konyong wajahnya menampak semacam ekspresi yang amat aneh.

Entah itu semacam penyindiran?

Atau kepiluan yang teramat dalam?

Kemudian ia berkata dengan amat lambat, sekata demi sekata.

"Tabun ini aku baru berusia 41 tahun!"

Tangan Chu Liuxiang mendadak terasa amat dingin bagaikan es!

Ia melihat ke wajah tua yang kering kisut dan penuh keriput dari perempuan tua itu, lalu melihat ke tubuhnya yang kurus kering dan telah bungkuk ke depan, lalu melihatke rambutnyayang sudah ubanan semua....

Ia sungguh-sungguh tidak bisa percaya, bahwa perempuan tua yang kering kisut dan badan sudah bungkuk ini, ternyata baru berusia 41 tahun!

"Bagaimana aku melewati hari-hari dalam waktu puluhan tahun itu!"

Sudah tidak perlu lagi bertanya pada dia! Siapa pun yang telah melihat saat ini, segera dapat bayangkan."

Penderitaan-penderitaan dan rasa kesepian yang ia derita selama tahun tahun itu adalah begitu mengerikan!

Rasa kesepian-marah-dendam dan iri hati Salah satu dari rasarasa tersebut ini, sudah cukup membuat penderitanya menderita amat sangat!

Zhang Jiejie tetap menundukkan kepala, air matanya telah turun menetes.

Perempuan tua itu berdiam diri lama sekali, baru berkata perlahan.

"Aku tidak tahu mengapa kamu membiarkan dia pergi dari sini? Tapi aku tahu bahwa, setelah dia pergi, suatu hari kamu pasti akan menyesal."

Zhang Jiejie tiba-tiba mengangkat kepala dan berkata dengan suara keras.

"Tidak akan! Pasti tidak akan"

Perempuan tua itu tersenyum dingin saja. Zhang Jiejie memandang dia, ekspresi wajahnya begitu ceria tapi tegas, dan berkata.

"Sebab aku membiarkan dia pergi dari sini, bukan karena dia mau pergi, tapi aku yang berkehendak untuk membiarkan dia pergi!"

"Mengapa?"

Tanya perempuan tua itu.

"Sebab aku tahu di luaran ada banyak sekali orang yang membutuhkan dia! Aku juga tahu bahwa di luaran ia akan lebih berbahagia daripada tetap di sini" , jawab Zhang Jiejie.

"Tapi kamu sendiri...", kata perempuan tua itu.

"Jikalau aku menahan dia tetap di sini, barangkali aku lebih berbahagia, namun jika aku membiarkan dia pergi, barangkali akan ada seribu orang, atau bahkan sepuluh ribu orang yang akan berbahagia"

Kata Zhang Jiejie. Matanya bercahaya, semacam cahaya nan suci dan agung, lalu meneruskan kata-katanya;

"Lebih baik seribu atau sepuluh ribu orang yang berbahagia, dari pada satu orang yang berbahagia! Setujukah ibu?"

"Tapi kamu.... Masa' kamu tidak pernah mau berfikir untuk diri sendiri?"

Kata perempuan tua itu.

"Pernah bu!"

Seolah-olah ada cinta yang sedalam laut terdapat di dalam mata Zhang Jiejie, ketika ia menatap Chu Liuxiang seraya berkata "Hanyalah ketika ia berbahagia, aku baru bisa berbahagia!

Jika tidak, meskipun aku dapat menahan dia tetap berada di sisiku, aku pun akan sama-sama menderita!

" *** "

Cinta sejati rela berkorban, bukan memilikir Wanita yang memahami azas kebenaran ini, barulah layak disebut sebagai wanita yang sejati!

Dikarenakan ini memang adalah bagian yang paling lemah lembut sekaligus yang paling agung dari sifat kewanitaan!

Justru dikarenakan di dunia ini terdapat wanita-wanita semacam ini, umat manusia baru bisa mempunyai kemajuan yang terusmenerus, dan bisa eksis selama-lamanya!

Sinar mata Zhang Jiejie kian lembut ketika ia meneruskan kata¬katanya.

"Apo lagi aku telah mengandung anaknya, aku akan memelihara dan membesarkannya dengan segenap hati dan kekuatanku, dengan demikian aku takkan merasa kesepian!"

Ujung-ujung jari tangan perempuan tua itu mulai bergemetaran, lalu bertanya.

"Apakah maksudmu adalah. Aku tidak memelihara dan membesarkanmu dengan sebaik-baiknya?"

Zhang Jiejie menunduk dan menjawab.

"Ibu.... Ibu sebenarnya dapat berbuat lebih baik lagi, cuma sayang...."

Perempuan tua itu bertanya dengan suarakeras.

"Cuma sayang apa?"

Zhang Jiejie menjawab setelah menghela nafas panjang.

"Cuma sayang bahwa derita dan dendam di dalam hati ibu terlalu dalam! Seandainya ibu benar-benar mengharapkan aku bahagia, ijinkanlah dia pergi dari sini! Dia kan bukan ayahku, dia adalah seorang yang lain, ibu.... Mengapa ibu mesti membenci dia?"

Perempuan tua itu menggenggam erat-erat kedua tangannya sendiri, badannya masih bergemetaran terus, lama sekali barn mendadak berkata dengan suara keras.

"Baik! Aku ijinkan dia pergi!"

Zhang Jiejie luar biasa suka-citanya! Tapi ketika wajah senyumnya baru muncul, perempuan tua itu segera menyambung kata-katanya.

"Tetapi ia pun mesti menempuh jalan yang dulu ditempuh oleh ayahmu itu, tidak ada pilihan lain!"

"Jalan apa?"

"Tangga Surga!"

"Tangga Surga!"

Apa itu? Apakah itu sebuah jalan menuju ke surga? Begitu mendengar dua kata ini, air muka Zhang Jiejie menjadi pucat pasi, lalu berseru tanpa terasa.

"Mengapa mesti menempuh jalan ini?"

"Sebab ini pun peraturan yang tercatat di kitab suci, yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun!"

Kata perempuan tua itu.

"Tapi dia...."

Dengan suara keras perempuan tua itu memotong perkataan Zhang Jiejie.

"Masa' kamu tidak tahu. orang dari keluarga besar ini, siapa pun juga jika ingin meninggalkan tempat ini selama-lamanya, mesti menempuh jalan satu-satunya itu!? Bukankah sekarang ia sudah menjadi bagian keluarga besar ini?"

Zhang Jiejie menunduk dan berkata lirih.

"Ya aku tahu."

Perempuan ma itu berkata dengan suarayang tidak keras.

"Baiklah! Sekarang kalian boleh pergi. Besok pagi, aku sendiri yang akan melepas kepergiannya."

Malam yang amat tenang dan hening.

Walaupun di tempat ini tidak bisa melihat sinar bintang, juga tidak biaa melihat kegelapan malam, namun seolah-olah malam memiliki bermacam-macam perasaan misterius nan aneh, sehingga seseorang bisa merasakan kehadirannya.

Chu Liuxiang berbaring dengan telentang, tapi matanya ditutup -Apakah karena takut airmatanya mengalir keluar?

Dengan ringan Zhang Jiejie mengelus-elus wajah dia, entah sudah berapa banyak kelemah-lembutan dan cinta mendalam yang telah terpancar dari sinar matanya!?

Tapi apakah Chu Liuxiang mau buka mata untuk memandangnya?

Akhirnya Zhang Jiejie berkata setelah menghela nafas yang amat panjang.

"Kenapa kau tidak melihatku? Masa' tidak ingin melihatku lebih lama lagi?"

Urat dan daging sisi mulut Chu Liuxiang bergetar-getar, lama sekali baru berkata tiba-tiba.

"Betul."

"Mengapa?"

"Karena pada dasarnya kau pun tak ingin aku melihatmu lebih lama."

"Siapa yang bilang?"

"Kau sendiri."

Zhang Jiejie bertanya dengan senyum yang dipaksakan.

"Apa yang telah aku bilang?"

Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum dingin.

"Benar, kau tidak bilang apa-apa! Tapi aku tanya Mengapa tidak berkata pada ibumu, bahwa kau juga mau pergi bersamaku?"

Zhang Jiejie menjawab seraya menundukkan kepala.

"Sebab aku tahu dikatakan juga tidak ada gunanya."

Chu Liuxiang bertanya dengan suara keras.

"Mengapa?"

Zhang Jiejie menjawab seraya tersenyum sedih.

"Perawan Suci generasi berikutnya masih berada dalam kandunganku, bagaimana aku dapat pergi?"

"Makanya.... Makanya kau menyuruhku pergi dari sini seorang diri!"

"Betul."

Sekonyong-konyong Chu Liuxiang meloncat lalu berdiri, dan bertanya dengan suara keras.

"Apakah kau kira aku biaa bahagia jika aku pergi seorang din? Apakah kau kira aku biaa membiarkan kau dan anak kita, tinggal seumur hidup di tempat sialan ini?"

"Kau keliru!"

"Aku keliru dalam hal apa?"

"Dalam banyak hal."

Ia terlebih dulu menutup mulut Chu Liuxiang dengan tangan, agar dia tidak berteriak lagi, kemudian baru berkata dengan suara halus.

"Kami tidak akan tinggal di tempat ini untuk selama-lamanya, lewat suatu jangka waktu tertentu lagi, meskipun kami masih ingin tinggal di sini, barangkali tempat ini sudah tidak ada lagi."

"Mengapa?"

"Nenek moyang kami biaa tinggal di tempat ini, cuma dikarenakan mengalami terlalu banyak kesengsaraan dan kekecewaan, sehingga mereka berubah jadi orang-orang sinis dan orang-orang yang aneh serta suka menyendiri. Mereka tahu masyarakat umum tidak dapat mentolerir mereka, demikian juga mereka pun tidak dapat mentolerir masyarakat umum, maka mereka lebih rela hidup terisolasi dengan dunia ini, seumur hidup tidak mau bergaul dengan dunia ini."

Chu Liuxiang terus mendengar. Zhang Jiejie berkata lagi,.

Baca Juga: Pedang Hati Suci 8

Baca Juga: Pendekar Bego Can Id

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert