Eps 3 Legenda Bunga Persik - Gu Long
Baca online Legenda Bunga Persik - Gu Long
Cersil Legenda Bunga Persik - Gu Long.
*** Di dalam dunia ini ada banyak hal yang mengherankan.
Di badan manusia, yang bisa berbicara, sebenarnya adalah mulut.
Tetapi setiap laki-laki yang berpengalaman tahu bahwa.
Sewaktu seorang wanita berbicara dengan mata atau hidung atau tangan atau kaki, itu lebih menyenangkan hati dari berbicara dengan mulut!
Mulut sebenarnya dipakai untuk berbicara.
Tetapi juga ada banyak pria yang beranggapan bahwa Sewaktu seorang wanita memakai mulutnya untuk menggigit seorang pria, ini juga lebih menyenangkan hati daripada ia memakai mulutnya untuk berbicara!
Banyak pria yang lebih suka digigit wanita, daripada mendengar seorang wanita bawd berbicara!
Oleh karena itu wanita yang bijak seharusnya memahami satu hal.
Di depan pria lebih baik sedikit buka mulut untuk berbicara.
*** Gigitan Zhang Jiejie tidak mengena.
Ketika ia membuka mulutnya, Chu Liuxiang telah menjauh dari depan badannya.
Ketika ia membuka matanya, Chu Liuxiang telah melayang masuk ke dalam jendela itu.
Agaknya ia masih belum melupakan istri pedagang gadungan itu dan masih ingin melihatnya.
Tetapi perempuan itu sudah tidak bisa melihat dia lagi.
Perempuan yang putih mulus itu, saat ini seluruh tub uhnya berubah jadi berwarna hitam keungu-unguan, matanya tertutup rapat, giginya terkatup kencang, dan mulutnya masih mengulum sebuah benda.
*** "Mengapa aku bisa berbuat demikian?
Seberapa banyakkah aku mengerti dia?"
Chu Liuxiang menatap Zhang Jiejie, juga menatap ke matanya.
Sepasang mata gadis ini, ketika sedang tersenyum memang menyenangkan hati, tapi ketika bersedih malahan lebih menggerakkan hati!
Itu mirip sekali dengan bulan sabit yang melengkung itu, tiba-tiba tertutup oleh segumpal awan dan kabut yang samar-samar.
Namun kecuali hal ini, boleh dibilang ia hampir seluruhnya tidak tahu apa-apa tentang Zhang Jiejie!
"Aku bahkan tidak tahu apakah kakinya indah atau tidak?"
Ia mengelus-elus hidungnya seraya tersenyum masam.
Ia pernah melihat Zhang Jiejie menangis.
Tapi pada kali itu berbeda.
Pada kali itu Zhang Jiejie menangis, masih tercampur sedikit emosi dan sedikit manja.
Tapi pada kali ini ia bisa melihat bahwa Zhang Jiejie benar-benar sedih dan benar-benar terharu hatinya Tiba-tiba ia menemukan bahwa gadis yang seperti kuda liar ini, ternyata juga punya nisi yang lemah lembut dan baik hati!
Sampai pada saat ini, barangkali ia mengenal Zhang Jiejie cuma sampai hal ini saja.
Tetapi hal ini saja sudahlah cukup.
*** Pantaiyang banyak ditumbuhi pohon willow Cahaya rembulan nan lembut.
Zhang Jiejie menggandeng tangan Chu Liuxiang, keduanya berjalan santai di tanggul yang panjang dan lures itu.
Deburan ombak menghantam tanggul itu dengan ringan, seringan rambut Zhang Jiejie.
Ia melepaskan pita sutera yang mengikat rambutnya, membiarkan angin malam menghembusi rambutnya sampai teruraiurai dan mengenai pipi dan leher Chu Liuxiang.
Rambutnya lembut dan ringan, seringan deburan ombak yang berada di bawah tanggul itu!
Malam yang amat cerah, selain rembulan yang terang, tidak ada yang lain.
Di dalam hati Chu Liuxiang juga tidak ada yang lain, yang ada hanyalah, sedikit perasaan murung yang manis.
Seseorang hanyalah pada ketika dia merasa paling bahagia, barulah ada perasaan murung yang aneh semacam ini.
Tetapi ini karena apa?
Tiba-tiba Zhang Jiejie bertanya.
"Apakah kau tahu sebuah sajak yang paling kusukai?"
"Tidak tahu'.
"Coba terka."
Chu Liuxiang mengangkat kepalanya, lalu terlihatlah biji-biji willow yang menyerupai kapas itu sedang melayang-layang di tengah angin, Cahaya bulan yang pucat, dan tanggul panjang yang agak remang.
Deburan ombak yang ringan itu bagaikan musik yang mengalun.
Chu Liuxiang tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu bersenandung dengan suara yang tidak keras.
"Bilakah dan di manakah bangun dari mabuk arak di malam ini?"
Pantai pohon willow Angin subuh dan rembulan yang sudah hampir terbenam."
Tangan Zhang Jiejie tiba-tiba menggenggam erat tangan Chu Liuxiang, dan tubuhnya bersandar di bahu Chu Liuxiang.
Ia tidak berkata apa-apa.
Apa pun sudah tidak perlu dikatakan lagi.
Dua orang jikalau hati dan pikirannya telah menyatu, memang sudah tidak perlu untuk berkata-kata lagi!
"Bilakah dan di manakah bangun dari mabuk arak di malam ini?
Pantai pohon willow.
Angin subuh dan rembulan yang sudah hampir terbenam."
Sajak Tiongkok yang kuno ini memiliki konsepsi artistik yang.
Amat bebas lepas, amat memilukan, dan amat kesepian!
Chu Liuxiang pernah mengenal banyak gadis, ia pernah mencintai dan mengerti mereka.
Tetapi tidak tahu mengapa, hanyalah ketika ia berada bersama Zhang Jiejie, baru bisa betul-betul menghayati konsepsi artistik ini!
Seseorang ketika berada bersama dengan orang yang paling mengerti hatinya, seringkali merasakan ada semacam rasa kesepian yang memilukan!
Namun itu bukanlah kepiluan yang sejati, atau kesepian yang sejati.
Itu hanyalah semacam perasaan ajaib terhadap kehidupan manusia.
Seseorang hanyalah kalau sudah mencapai serta merasakan taraf kehidupan yang terindah ini, barulah puny-a perasaan demikian.
Ini sama dengan konsepsi artistik dari sebuah sajak Tiongkok kuno yang lain, yang berbunyi.
"Memikirkan langit dan bumi yang luasnya tak terhingga, lalumnengucurkan air mata karen sadar dirinya hanyaa seorang diri saja."
Itu bukan kepiluan, bukan kesepian.
Itu adalah keindahan.
Keindahan yang dapat menggetarkan sukma!
Keindahan yang dapat juga mematahkan semangat!
Seseorang kalau belum pernah merasai konsepsi artistik semacam maka yang dia miliki benar-benar adalah kehidupan yang sepi!
*** Mereka sudah sampai di ujung tanggul.
Seberapa panjang sebuah jalan pun, suatu ketika pasti selesai menjalaninya.
Jikalau sudah selesai, apakah sudah tiba saatnya untuk berpisah?
Chu Liuxiang menghela nafas dengan lirih, lalu berkata lirih seperti berbisik.
"Apakah kau mau pergi lagi?"
Zhang Jiejie merundukkui kepala, dan berkata seraya menggigit bibirnya.
"Kau bagaimana?"
"Kau tentu punya tempat yang mesti dituju kan?"
"Ya, dan semua orang juga punya,"
"Tetapi kau belum pernah menanyaiku. Kau datang dari mana? Dan mau pergi ke mana?"
"Benar, aku tak pernah menanyai."
Selama ini ia jarang menanyai orang.
Dikarenakan ia selalu berasa bahwa.
Jikalau orang itu rela mengatakannya, maka sama sekali tidak ada perlunya untuk menanyai.
Jikalau tidak, maka menanyai pun tidak ada gunanya.
Zhang Jiejie berkata.
"Kau cuma pernah menanyaiku. Siapakah pemilik sepasang tangan itu? Dan dia berada di mana?"
Chu Liuxiang mengangguk.
"Tapi.... Tapikenapa hari ini kau tidak bertanya?"
Tanya Zhang Jiejie.
"Dikarenakan aku pernah tanya, lalu buat apa tanya lagi?"
"Kau kira aku tidak akan mengatakannya?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum masam.
"Jika kau rela mengatakannya, buat apa aku bertanya kan?"
"Itu mungkin karena dulu aku sendiri pun tidak tahu."
Chu Liuxiang berkata setelah tersenyum sejenak.
"Bagaimanapun juga, aku sudah tidak ingin tanya lagi."
Zhang Jiejie bertanya seraya mengedipkan matanya.
"Mengapa?"
"Dulu ketika secara kebetulan aku bertemu denganmu, memang benar aku mau mengorek sedikit informasi dari dirimu, makanya aku bertanya, tapi sekarang...."
"Sekarang bagaimana?"
"Sekarang.... Sekarang aku berjumpa denganmu, hanyalah ingin bersama-sama denganmu, tidak ada lagi yang lain."
Zhang Jiejie menengadahkan kepalanya dan menatap dia lekatlekat.
Pandangan matanya bagaikan orang yang mabuk arak.
Badannya gemetar dengan pelan.
Apakah karena angin malam yang dingin?
Atau karena rasa cinta yang membara dalam hatinya?
Tiba-tiba ia jatuh ke dalam pelukan Chu Liuxiang.
*** Pantai pohon willow Malam hampir berakhir, rembulan hampir terbenam.
Zhang Jiejie bangun dan duduk, lalu membelai rambut di pelipis yang awut-awutan.
Dada Chu Liuxiang lebar sekali.
Di dalam rongga dada ini sebenarnya dapat menampung berapa banyak cinta dan benci?
Zhang Jiejie rebah di dadanya lama sekali, kemudian tiba-tiba berkata.
"Bangunlah, aku mau bawa kau ke suatu tempat"
"Kemana?"
"Sebuah tempat bagus."
"Untuk apa?"
"Mencari seseorang."
"Mencari siapa?"
Mata Zhang Jiejie berkerlingan, lalu berkataperlahan, satu kata demi satu kata.
"Pemilik tangan itu." *** Kaum gadis umumnya aneh dan benar-benar aneh. Jika anda memaksanya untuk menjawab satu kalimat saja, ia akan berkeras Bahkan mungkin sampai mati pun ----tak mau mengatakannya. Tapi jika anda tidak tanya, barangkali ia malahan ngotot mau memberitahukan anda! Tembok yang amat tinggi. Tembok yang saking tingginya sampai bunga badam merah pun tak kuasa menjulurkan ujung bunganya! Seolah-olah bulan yang terang itu tepat berada di ujung tembok itu! "Inikah tempat yang kau mau bawa aku kemari?"
Tanya Chu Liuxiang.
"Ini tempat apa?"
Zhang Jiejie tidak menjawab, malahan balas tanya "Apakah kau sanggup naik ke ujung tembok itu?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum sekilas.
"Di bawah kolong langit ini masih belum ada tembok yang aku tak sanggup naik ke atasnya"
"Jika begitu naiklah."
"Kemudian?"
"Kemudian lompatlah ke bawah."
"Kemudian?"
"Di bawah tembok itu ada sebuah jalan kecil, yang dialasi batu¬batu warna-warni yang didatangkan dari Yuhuatai (= nama tempat)."
"Jalan yang amat mewah!"
"Jika kau tidak berani berjalan dengan kaki, pakailah tangan atau dengan cara apa pun, setelah sampai di ujungnya, akan terlihat sebuah hutan bunga Mungkim bunga persik, di dalam hutan bunga itu ada beberapa rumah."
"Kemudian?"
"Masukilah rumah itu, kau akan bertemu dengan orang yang ingin kau cari itu."
"Sedemikian sederhana?"
"Sedemikian sederhana."
Zhang Jiejie tersenyum mans, lalu berkata lagi.
"Urusan-urusan di dunia ini memang demikian. Urusan yang tampaknya amat ruwet, pada kenyataannya seringkali amatlah sederhana!"
"Paling tidak kau seharusnya memberitahukanku. Sebenarnya ini tempat apa? Dan orang macam bagaimanakah yang berada di dalam rumah itu?"
"Dikarenakan kau segera akan mengetahuinya tidak perlu kan aku mengatakannya?"
"Tetapi kenapa kau bisa mengetahuinya? Dan kenapa bisa tahu bahwa orang itu pasti berada di dalam rumah itu?"
Zhang Jiejie tidak menjawab. Chu Liuxiang menghela nafas, lalu berkata seraya tersenyum kecut.
"Sejak awal aku sudah tahu. Jika aku bertanya, kau pasti tidak mau mengatakannya."
Zhang Jiejie mengangkat kepala dan berkata seraya mendelik.
"Apakah sejak awal kau juga sudah tahu. Jika kau sengaja tidak bertanya, aku malahan akan memberitahukanmu?"
Chu Liuxiang mendadak terbatuk-batuk.
Zhang Jiejie terus mendelikinya, tiba-tiba menarik tangan Chu Liuxiang dan menggigitnya keras-keras, kemudian badannya melayang dan berjumpalitan di udara, segera raja sudah berada di jarak kira-kira 40-50 kaki jauhnya.
"Kamu sungguh-sungguh bukan manusia! Tapi adalah babi! Babi yang mati! Babi besar hidup yang tak tahu malu!"
Suara caci-makinya masih berada di dalam telinga Chu Liuxiang, narnun orangnya sudah tidak kelihatan!
*** Sebuah tembok yang luar biasa tingginya.
Tetapi di dalam dunia ini mana ada tembok yang Chu Liuxiang tidak sanggup melompatinya?
Chu Liuxiang berdiri di ujung tembok, dan setelah dihembusi angin malam, kesadarannya baru agak pulih, narnun perasaan hatinya masih kacau balau, dan tak tahu perasaan itu apa rasanya!
Ia betul-betul tidak bisa memahami.
Sebenarnya Zhang Jiejie adalah macam gadis yang bagaimana?
Namun sekarang bukanlah saatnya untuk memikirkan hal ini, maka is memaksa diri agar bisa jadi tenang.
Ia tahu jika sekarang dirinya tidak bisa tenang, barangkali selamanya tidak bisa tenang lagi!
Pekarangan itu amat dalam, walaupun ada beberapa titik sinar lampu yang menghiasi di antaranya, tetap terlihat gelap gulita.
"Setelah naik ke ujung tembok, loncat turunlah."
"Namun macam tempat yang bagaimanakah yang ada di bawah itu?"
Ada hal atau benda apakah yang sedang menunggunya di dalam kegelapan itu?
Ia tidak tahu, namun ia sudah memutuskan untuk mencobanya dengan menerjang bahaya.
Maka ia melompat ke bawah!
*** Bab 6.
Malam yang Sedih, Orang yang sedih Seseorang jika mau mendaki ke atas, mesti mau mengucurkan peluh dan menanggung kesulitan.
Tetapi setelah ia berhasil mendaki ke atas, akan merasa bahwa berapa banyak pun peluh yang dikucurkan, atau berapa banyak pun kesulitan yang ditanggung, semuanya berharga untuk dilakukan!
Tetapi jika melompat ke bawah?
Wah!
Ini jauh lebih mudah!
Bukan saja melompat dari mana pun adalah perkara mudah, bahkan perasaan ketika badan meluncur ke bawah, seringkali itu adalah semacam rasa gembira yang berbaur dengan dosa!
Namun ketika sudah sampai di bawah, ia baru akan menyesal, sebab di bawah mungkin saja adalah.
Rawa-rawa, perangkap atau liang api!
Pada saat itu tidak saja ia akan menanggung kesulitan yang lebih besar, mengucurkan peluh yang lebih banyak, kadang-kadang bisa mengucurkan darah!
Sewaktu Chu Liuxiang meloncat ke bawah dari tembok tinggi itu, ia tidak mengucurkan darah, tapi mulai menyesal!
Tadi ketika ia berada di ujung tembok tinggi itu, situasi dan lingkungan dari tempat ini, sebenarnya ia sudah melihatnya sampai jelas sekali.
Namun sekarang ia baru menyadari bahwa dirinya telah berada di suatu tempat yang sama sekali asing baginya!
Tadi ia bisa melihat jauh sekali, setiap bunga dan setiap pohon dari taman ini, semua dalam penglihatannya.
Namun saat ini ia tiba-tiba menyadari bahwa.
Bunga dan pohon yang tadinya kelihatan kecil itu, sebenarnya lebih tinggi sedikit darinya.
Seandainya ada seseorang berdiri di belakang pohon bunga yang ada di depannya itu, belum tentu ia bisa melihatnya!
Seseorang jika berada di tempat tinggi, pada umumnya bisa melihat lebih jauh dan lebih jelas.
Namun ketika ia mulai jatuh di bawah, seringkali berubah menjadi hampir semuanya tidak bisa dilihat dengan jelas!
Barangkali inilah sebabnya mengapa ia jatuh ke bawah.
"Rumah kecil yang berada di tengah hutan bunga, dan orang itu ada di sana."
Untung Chu Liuxiang masih ingat akan arah itu, dikarenakari saat ini ia sudah tiba di sini, mau tidak mau mesti berjalan ke arah itu.
Saat ini yang bisa dilakukan hanyalah.
Ekstra hati-hati dalam tiap-tiap langkahnya!
Dikarenakan ia sama sekali tidak dapat memprediksi akhir dari hal ini.
Terhadap perkembangan dan perubahan yang mungkin terjadi, ia pun tak mampu menguasainya!
"Tempat ini sebenarnya adalah tempat apa?"
"Siapakah orang itu sebenarnya?"
Bahkan sedikit pun ia tak dapat menebaknya!
Angin malam membawa datang harum bunga yang ringan dan anggun.
Chu Liuxiang mengelus-elus hidungnya, tiba-tiba merasa dirinya pantas ditertawai!
Ia memang bukan orang yang gegabah dan ceroboh, tapi kenapa bisa berbuat demikian?
Apakah karena ia terlalu mempercayai Zhang Jiejie?
Tapi kenapa ia demikian mempercayai gadis ini?
Ia pun tidak tahu mengapa?
Padahal Zhang Jiejie belum pernah melakukan satu hal yang pantas dia percayai secara mutlak!
Pekarangan itu amat luas dan dalam.
Daun-daun pohon berdesau-desau karena ditiup angin, menyebab¬kan tempat ini berkesan kian hening clan kian misterius!
Meskipun Chu Liuxiang merasa lucu ketika berbuat demikian, namun pada waktu yang sama di hatinya timbul semacam perasaan rangsangan yang penuh rasa misterius dan ketegangan!
Itu persis dengan seorang yang tiba-tiba menerima sebuah kado yang misterius, ketika mau membuka dan melihatnya, ia selain tidak tahu siapa yang memberinya, juga tidak tahu apa isinya.
Oleh sebab itu ia harus membuka dan melihatnya.
Di dalamnya mungkin adalah pedang berbisa yang mematikan, tapi mungkin juga adalah barang yang paling ingin dia peroleh!
Walaupun hal ini penuh resiko, tapi juga adalah semacam pengalaman mendebarkan hati yang asyik!
Chu Liuxiang memang orang yang suka menerjang bahaya.
Apakah karena Zhang Jiejie telah memahami dia secara amat mendalam, makanya sengaja menggunakan cara ini agar dia masuk perangkap?
*** Di tengah-tengah hutan bunga itu memang ada beberapa rumah kecil yang mungil dan indah.
Ada sebuah rumah kecil berada di sebuah jembatan yang berbelok sembilan kali.
Jembatan yang terbuat dari batu hijau itu, berkilauan bagaikan batu giok sewaktu dilihat pada malam hari.
Di dalam jendela rumah itu ada lampu yang sinarnya merah ke ungu-unguan.
Apakah orang yang berada di dalam rumah itu sudah menduga dan yakin Chu Liuxiang akan datang, makanya ia menanti meskipun malam telah selarut ini?
Yang sedang menanti ini, masa adalah seorang wanita lagi?
Chu Liuxiang masih belum dapat memastikan hal Mi.
Sekarang ia hanya dapat memastikan bahwa di jembatan ini tidak berperangkap, juga tidak ada penghadang.
Oleh sebab itu ia berjalan dan naik ke jembatan itu.
Sampai di depan pintu rumah itu, ia baru berhenti.
Sebetulnya ia tak perlu berhenti.
Dikarenakan sudah sampai di sini, dan sudah sampai pada situasi ini, sebenarnya bisa menendang pintu ini sampai terbuka, lalu menerjang masuk.
Atau satu kaki menendang pintu sampai terbuka, satu kaki lainnya menendang jendela sampai terbuka dan menerjang masuk.
Atau terlebih dahulu membasahi kuku jari tangan dengan air ludah, untuk membuat lubang kecil di kertas jendela itu, untuk mengintai keadaan di dalam rumah itu.
Orang lain jika sudah sampai pada situasi ini, tentu akan memakai cara-cara yang tersebut di atas itu.
Tetapi Chu Liuxiang bukanlah orang lain.
Jika melakukan sesuatu, ia selalu punya cara-cara yang unik.
Sekalipun ia pun mencuri, mencuri bermacam-macam barang, kadang-kadang mencuri wanita cantik juga, namun ia selalu memakai cara-cara yang paling jujur dan satria!
Oleh sebab itu, ketika ia mencuri barang seseorang, seringkali bahkan hati orang itu pun berhasil dicurinya!
*** Pintu itu tertutup.
Chu Liuxiangmengetuk pintu itu dengan perlahan, layaknya seorang satria ketika berkunjung ke rumah kawannya.
Tidak ada orang menyahut.
Sewaktu ia mau mengetuk lagi, pintu itu tiba-tiba terbuka.
Ia segera saja melihat sebuah wajah yang luar biasa cantiknya!
Kecantikan wanita juga bermacam-macam banyaknya.
Kecantikan Zhang Jiejie dari jenis yang ceria dan dinamis, kecantikan Ai Qing dari jenis yang matang dan seksi.
Namun gadis ini berbeda.
Barangkali ia tidak semenarik seperti Zhang Jiejie, juga tidak memiliki pesona seksi seperti Ai Qing, namun ia memiliki kecantikan yang lebih halus dan lebih anggun!
Seandainya kecantikan Zhang Jiejie dan Ai Qing adalah bersifat panas, maka kecantikan dia adalah bersifat dingin!
Dinginnya bagaikan bulan pada malam musim salju, atau bagaikan bunga nusa indah di bawah sinar bulan yang dingin!
Bahkan sinar matanya pun terasa dingin dan apatis, sehingga menimbulkan kesan bahwa.
Baik menghadapi hal apa pun, tidak akan membuatnya terkejut.
Oleh sebab itu, ketika melihat Chu Liuxiang ia pun tidak merasa terkejut, cuma menatap dia sejenak dengan sikap yang dingin.
Pandangan ini ternyata membuat Chu Liuxiang merasa tidak enak hati, bahkan merasa wajahnya sudah agak merah.
Bagaimanapun juga, pada waktu tengah malam begini datang dan mengetuk pintu kamar seorang gadis yang belum dikenalnya, tentu saja ini adalah hal yang cukup menjengahkan!
Ketika ia sedang memikirkan kata-kata cerdik apa yang akan diucapkan, agar dirinya tidak merasa terlalu jengah.
Tetapi gadis itu telah membalikkan badannya dan berjalan masuk.
*** Di dalam kamar.
Gadis itu duduk pelan-pelan di sebuah kursi, lalu berkata seraya agak melambai-lambaikan tangan ke sebuah kursi yang lain.
"Silahkan duduk."
Ajakan ini bukan saja bersifat mendadak, juga terasa aneh.
Seorang gadis semacam dia ini, kenapa bisa sembarangan dan mudah sekali mengajak seorang pria yang talc dikenalnya ----Yang pada waktu tengah malam datang mengetuk pintu rumahnya masuk dan duduk di dalam kamarnya?
Masa' sejak awal ia sudah tabu siapa yang datang?
*** Walaupun Chu Liuxiang sudah duduk, tetap merasa tidak enak hati dan agak kikuk.
Ia betul-betul tidak punya alasan untuk menerobos masuk begini saja ke dalam kamar seorang gadis yang belum dikenalnya!
Lalu seandainya gadis ini bukanlah orangyang mau dicari, dan tidak punya kaitan apa-apa dengan urusan ini, maka sekalipun orang lain tidak mengatainya, ia pun akan merasa amat malu!
Tanpa terasa ia mengelus-elus hidungnya lagi.
Ketika ia merasa tidak enak hati, selain mengelus-elus hidung, sepertinya tidak ada hal lain yang dapat dilakukan, bahkan tidak tahu mau meletakkan sepasang tangannya di mana!
Kemudian ia melihat tangan gadis itu terjulur ke arahnya dengan memegang secangkir teh.
Cangkir itu terbuat dari zamrud yang berwarna hijau cerah, teh yang ada di dalamnya juga berwarna hijau cerah, dengan kontras ini tangannya tampak lebih putih cerah, bagaikan batu giok yang tembus pandang!
Tiba-tiba gadis itu bertanya dengan senyum samar-samar.
"Teh di dalam cangkir ini baru saja aku minum sedikit, apakah kau merasa kotor?"
Tiada seorang pun yang bisa merasa kotor pada dia!
Ia bersihnya bagaikan bunga teratai putih yang baru keluar dari air!
Namun ajakan ini lebih mendadak dan lebih aneh.
Seorang gadis semacam dia ini, kenapa bisa sembarangan meminta seorang laki-laki yang belum dikenalnya untuk minum teh bekas minumnya?
Chu Liuxiang menatapnya sejenak, lalu menjawab seraya tersenyum.
"Terima kasih."
Ia menerima cawan itu.
Tiba-tiba ia menemukan bahwa gadis itu tidak saja memiliki kecantikan yang bersifat halus dan anggun, bahkan punya semacam kepribadian misterius yang sulit diungkapkan oleh kata-kata, sepertinya memiliki pandangan yang sembarangan dan hambar terhadap semua hal!
Ia minta Chu Liuxiang minum teh dari cangkir ini, bukanlah semacam tindakan keakraban, hanyalah dikarenakan ia menganggap hal ini tidak bermaksud apa-apa, dan menganggap hal ini sesuatuyang remeh.
Bahkan tampaknya ia tidak mernandang sebelah mata pada Chu Liuxiang!
Chu Liuxiang pernah dicintai banyak wanita, pernah juga dibenci beberapa wanita, tapi belum pernah dipandang begitu dingin oleh wanita!
Dinginnya bahkan sudah mendekati taraf memandang rendah!
Meskipun perasaan ini membuat dia jengkel, tapi juga sekaligus sejenis pengalaman yang baru bagi dia!
Sesuatu yang baru seringkali juga adalah sensasi yang baru!
Tidak tahu mengapa, tiba-tiba timbul semacam hasrat mesti menaklukkan wanita ini!
Barangkali setiap laki-laki yang bertemu dan melihat wanita semacam ini, bisa timbul hasrat semacam ini Tanpa bisa ditahan lagi!
Chu Liuxiang meminum habis teh dari cangkir ini sebab ia pun mesti menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak mengacuhkan hal ini.
Bahkan juga tidak mengacuhkan semua hal yang lain.
Apalagi sejak awal ia sudah memperkirakan bahwa teh itu tidak beracun.
Terhadap segala jenis racun, ia memiliki semacam reaksi misterius yang amat peka Bagaikan seekor anjing pemburu yang sudah digembleng lama, yang selalu bisa mencium dan mengetahui rubah itu bersembunyi di mana!
Gadis itu menatap dia dengan dingin, lalu tiba-tiba berkata.
"Di sini cuma ada satu cangkir teh, karena belum pernah ada tame kemari."
Jawaban Chu Liuxiang juga amat dingin.
"Aku pun tidak bisa dianggap sebagai tamumu."
"Tetapi kau datang untuk mencariku kan?"
"Mungkin."
"Mungkin?"
Chu Liuxiang berkata dengan senyuman yang dingin juga.
"Saat ini aku hanya bisa berkata demikian, sebab aku belum tahu apakah kau adalah orang yang aku mau cari itu?"
"Siapakah yang kau mau cari?"
"Seseorang yang agaknya menginginkan aku harus mati."
"Oleh karena itu kau pun menginginkan dia mati?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum sekilas.
"Orang yang dirinya sendiri tidak ingin mati, biasanya juga tidak menginginkan orang lain mati."
Sisi lain dari kata-kata ini juga sama tepatnya.
"Jika kamu mau membunuh, maka bersiap-siaplah untuk dibunuh!"
Ia masih menatap Chu Liuxiang, dari dalam mata yang indah tapi dingin itu, tiba-tiba menampakkan ekspresi yang mengherankan' "Apakah yang kau inginkan?"
Tanya gadis itu.
"Aku hanya ingin tahu satu hal."
"Apa itu?"
"Siapakah dia? Mengapa mau membunuhku?"
Tiba-tiba gadis itu berciiri, lalu berjalan ke depan jendela dan membukanya, membiarkan hembusan angin malam mengacaukan rambutnya.
Lama sekali, tampaknya ia baru saja membuat keputusan, lalu tiba¬tiba berkata.
"Orang yang kau mau cari itu ialah aku!" *** Di luar luar jendela, malam tampak terang tapi suasananya amat hening, di dalam jendela, pakaian putih gadis itu seperti salju tampaknya. Ia membelakangi Chu Liuxiang, lama tidak membalikkan kepalanya, yang terlihat hanya pinggang langsing yang dibalut pakaian ringan. Orang semacam ini, ternyata adalah seorang pembunuh yang licik dan kejam? Chu Liuxiang tidak bisa percaya, tapi juga tidak bisa tidak percaya! Tiada seorang pun yang mau mengaku dirinya adalah pembunuh, kecuali dia benar-benar adalah pembunuh, dan sudah tiba saatnya terpaksa mengaku. Chu Liuxiang memandangi terus belakang punggungnya, kemudian bertanya karena sudah tidak tahan lagi.
"Betulkah kau yang mau membunuhku?"
"Hmmh"
"Apakah orang-orang itu adalah utusanmu untuk membunuhku?"
"Kau mengenalku?"
"Tidak."
"Tidak kenal mengapa mau membunuhku?"
Tidak ada jawaban.
"Apakah Ai Qing dan adiknya diculik orang-orangmu? Sekarang mereka berada di mana?"
Tetap tidak ada jawaban. Chu Liuxiang menghela nafas, lalu bertanya dengan nada dingin.
"Masa' aku mesti memaksa, baru kau mau buka mulut?"
Ia tiba-tiba membalikkan badannya dan menatap Chu Liuxiang.
Ekspresi matanya makin menjadi aneh, sepertinya sedang menatapi Chu Liuxiang, juga sepertinya tidak melihat apa-apa.
Lewat waktu yang amat lama, ia baru berkata perlahan, kata demi kata.
"Apa saja yang kau mau tanyakan, semuanya aku bisa beritahukan."
"Lalu kenapa kau tidak beritahukanku?"
Suara gadis itu makin lirih.
"Di sini aku tidak bisa memberitahu¬kanmu."
"Lalu di manakah kau bisa memberitahukanku?"
Suara gadis itu lirih bagai bisikan, dan cuma dua kata.
"Di ranjang." *** Di sudut kamar itu ada sebuah pintu. Ketika gorden ringan itu tersingkap sedikit oleh hembusan angin, bisa terlihat di dalam pintu ada sebuah ranjang. Di depan ranjang itu terjuntai kelambu kasa sutera yang bertatahkan mutiara. Gadis itu telah masuk ke pintu itu, dan masuk ke dalam kelambu kasa sutera itu! Seolah-olah ia telah berada di dalam kabut! "Jikalau kau mau tidur, ikutlah aku naik ke ranjang itu."
Bermimpi pun Chu Liuxiang tidak pernah menduga, bahwa dari mulut gadis semacam dia ini, bisa terdengar kata-kata semacam ini!
Kata-kata ini betul-betul tidak bisa dianggap sebagai kata-kata yang halus, apalagi anggun!
Gadis dari macam dan rupa apa saja, ketika mengucapkan kata kata ini di depan anda, sekalipun anda akan merasa senang, namun pada waktu yang sama anda pun akan menilai dia sebagai orang yang hina dina !
Tetapi gadis ini beda.
Ketika ia mengucapkan kata-kata ini di depan Chu Liuxiang, bukan saja Chu Liuxiang tidak merasa senang, juga tidak menilai dia sebagai orang yang hina-dina!
Sebab ia berkata demikian, bukanlah berarti ia menyukai anda, juga bukanlah berarti ia menginginkan anda!
Ia hanyalah ingin anda berbuat demikian saja!
Sebab ia amat memandang remeh pada hal semacam ini, juga sama sekali tidak anggap peduli!
Barangkali ia tidak benar-benar bermaksud demikian, tapi bagaimanapun juga, ia telah menyebabkan Chu Liuxiang punya perasaan demikian.
Perasaan semacam ini umumnya dapat membuat orang merasa tidak enak hati.
Pakaian yang seputih salju itu ditanggalkannya, dan tubuhnya kelihatan makin putih, mulus dan bercahaya!
Itu bukanlah keindahan manusiawiyang biasa!
Itu adalah keindahan yang sudah mendekati kesucian dewi!
Barangkali anda siang malam mengkhayalkan seorang wanita semacam ini, tapi saya berani menjarnin' , bahwa meskipun hanya dalam khayalan, juga tidak akan berani berharap untuk mendapatkan dia!
Dikarenakan dia bukanlah yang bisa didekati atau diperoleh insan biasa!
Dikarenakan anda bisa mengkhayali dia, atau memuja-muja dia, tetapi anda tak akan berani berbuat yang tidak patut padanya!
Namun andaikata sekarang ada seorang wanita semacam ini, yang justru sedang menunggu anda, anda juga pasti bisa mendapatkannya!
-Bahkan amat mudah mendapatkannya!
Apa yang akan anda pikirkan?
Tampaknya Chu Liuxiang tidak berpikir apa-apa.
Memang pada saat-saat demikian, satu tael tindakan itu jauh lebih berharga dari satu ton pikiran!
Ia berjalan pelan-pelan ke sana, lalu menyingkap kelambu itu.
Di sini pun terdapat lampu.
Ketika sinar lampu menyinari tubuh gadis itu, maka tubuhnya bercahaya bagaikan sutera satin!
Matanya pun bersinar, tapi ia tidak melihat ke Chu Liuxiang.
Kelihatannya sinar matanya masih berhenti di sesuatu tempat nun jauh.
Sebaliknya Chu Liuxiang terus melihatnya, sebab mau tidak mau mesti demikian.
Tentu saja ia tahu Chu Liuxiang terus melihatnya, tapi tetap berdiri diam di sana, tidak bergerak dan tidak berkata-kata.
Ia tetap saja bersikap tidak peduli.
Ia menginginkan anda berbuat demikian, namun ia tidak peduli Ia tidak merayu anda, bahkan juga tidak menggoda anda, hanya ingin anda berbuat demikian saja!
Boleh dibilang bahwa "dinginnya"
Gadis ini sudah mencapai taraf yang mengerikan!
Tetapi es yang paling dingin pun sama dengan lidah api!
Ketika anda menjamahnya, pada waktu yang bersamaan akan punya perasaan dibakar oleh lidah api!
Di dalam hati Chu Liuxiang pun sepertinya ada lidah api yang mulai menyala!
Jika itu pria lain, saat ini pasti sudah merenggut rambut gadis itu dengan kuat, dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya, agar gadis itu tahu dia adalah pria tulen!
Serta membuktikan bahwa hanyalah dia adalah pria yang kuat!
Namun Chu Liuxiang hanya memegang tangan gadis itu dengan ringan.
Tangan gadis itu indah sekali, jari-jari tangannya lentik sekali, telapak tangannya lembut bagaikan muka bayi!
Umumnya muka bayi berwarna seperti apel, dan telapak tangan gadis itu berwarna seperti ini.
Bahkan Chu Liuxiang pun tidak pernah melihat tangan yang demikian indahnya ini!
Sebab wanita-wanitayang pernah dia lihat, setelah belajar ilmu silat, sedikit banyak pasti menimbulkan bekas pada tangan mereka.
Tetapi sepasang tangan ini indah dan tidak berbekas.
Chu Liuxiang merundukkan kepalanya, pandangan matanya turun dari garis lekuk tubuh yang lembut itu, dan berhenti di mata kaki gadis itu.
Mata kaki dan pergelangan kaki gadis itu pun indah sekali.
Sekalipun seorang wanita yang paling hati-hati, setelah berlatih ilmu silat, mau tidak mau pergelangan kakinya akan menjadi sedikit besar.
Jelas bahwa ia bukanlah wanita yang pernah berlatih ilmu silat.
Chu Liuxiang menghembuskan nafas dengan ringan, lalu mengangkat kepalanya pelan-pelan, dan terlihat gadis itu sedang menatapnya.
Di dalam mata gadis itu seolah-olah terpancar senyuman dingin yang mengejek, dan ia berkata dengan nada hambar.
"Sepertinya kau pandai sekali melihat wanita ya!"
Memang Chu Liuxiang pandai sekali melihat wanita.
Seorang laki-laki berpengalaman ketika melihat wanita, biasanya dimulai dan melihat tangan dan kaki wanita itu Tetapi ini bukanlah cara pandang seorang satria!
Gadis itu berkata lagi dengan senyum sekilas.
"Apakah sekarang kau sudah merasa puas?"
Sekalipun seorang laki-laki yang paling pemilih pun, pasti tidak akan tidak merasa puas pada dia!
Oleh sebab itu Chu Liuxiang sama sekali tidak perlu menjawab.
Gadis itu masih tersenyum hambar, dan pandangan matanya sepertinya kembali lagi ke tempat jauh.
Lama sekali, ia baru berkata lirih.
"Gendonglah aku ke ranjang."
Chu Liuxiang menggendongnya.
Ranjang itu tidak terlalu besar, tapi empuk sekali.
Sprei yang berwarna putih salju itu pun agaknya baru saja diganti, sampai sedikit kerut pun tidak ada.
Orang laki-laki dari segala jenis pun, pasti akan merasa puas dan tidak dapat mencela sedikit pun pada ranjang ini!
Wanita yang ideal!
Ranjang yang ideal!
Pada situasi dan kondisi seperti ini, masih adakah alasan menolak dari orang laki-laki?
Chu Liuxiang menggendong gadis itu dan meletakkannya di ranjang dengan ringan.
Gadis itu sedang menunggu, dan bersiap-sedia untuk menerimanya.
Yang perlu dilakukan Chu Liuxiang hanyalah menghampiri dan "mendapatkannya"
Sama sekali tidak ada apa-apa yang patut dirisaukan atau dikuatirkan!
K arena dalam hal ini sama sekali tidak ada pemaksaan!
Di dalam rumah ini tidak ada orang lain, gadis itu tidak bisa ilmu silat, dan di ranjang itu pun tidak ada jebakannya.
Di manakah mau cari keberuntungan semacam ini?
Apayang masih ditunggu Chu Liuxiang?
Mengapa ia masih berdiri saja di sana?
Dan tampaknya ia malahan lebih berkepala "dingin"
Daripada tadi? Masa' ia menemukan lagi sesuatu yang tidak terlihat orang lain? Gadis itu telah menunggu lama, lalu membalikkan wajahnya dan menatapnya, dan bertanya dengan nada hambar.
"Apakah kau tidak ingin tahu hal-hal itu?"
"Ingin."
"Apakah kau tidak menginginkanku?"
"Ingin."
Akhirnya dari dalam mata gadis itu terlihat senyuman, dan bertanya lagi.
"Jika begitu, kenapa masih tidak menghampiriku?"
Chu Liuxiang menghela nafas yang amat panjang, lalu bertanya dengan sekata demi sekata.
"Siapakah yang suruh kau berbuat demikian? Kau mengapa mau...."
Pertanyaan ini belum habis diucapkan, tiba-tiba terdengar bunyi "Doooang!", kayaknya ada sebuah gong tembaga yang dijatuhkan orang dari tempat tinggi.
Menyusul terdengar suara teriakan dari seorang wanita.
"Ada maling! Cepat datang tangkap coaling! Di sini ada seorang maling cabul!"
Teriakan itu berhenti setelah diulang satu kali lagi.
Namun sekelilingnya tetap sunyi senyap.
Sepertinya tidak ada orang yang mendengar teriakan itu.
Di wajah gadis itu sama sekali tidak ada ekspresi heran atau terkejut, bahkan tidak ada ekspresi apa pun.
Di dalam dunia ini agaknya tiada satu hal pun yang dapat menggerakkan hatinya!
Setelah waktu berlalu lama sekali, tiba-tiba ia menanyakan pertanyaan yang aneh.
"Kamu seorang satria atau seorang cerdik?"
"Dua-duanya bukan."
"Kamu adalah apa?"
Jawab Chu Liuxiang dengan senyum sekilas.
"Mungkin aku hanyalah seorang yang bodoh!"
Tiba-tiba gadis itu pun tersenyum sekilas dan berkata.
"Mungkin kau sama sekali bukan manusia!"
Barulah saat ini dari dalam matanya sungguh-sungguh terlihat senyumannya, namun itu pun cuma semacam senyuman yang "menerawang"
Dan sulit dimengerti.
Bahkan ketika tersenyum pun, dapat terlihat ada semacam kepiluan hati yang tak dapat diungkap dengan kata-kata!
Chu Liuxiang balas menatapnya, tiba-tiba juga menanyakan pertanyaan yang aneh.
"Apakah kau tahu? Bahwa tadinya aku menduga kau pasti akan kecewa?"
Setelah berdiam lama, ia baru menganggukkan kepalanya pelan¬pelan, dan berkatadengan masygul.
"Aku tahu. Tadinya aku pun menduga aku pasti akan kecewa."
"Tetapi saat ini sepertinya kau tidak merasa kecewa?"
Ia berfikir sejenak, baru menjawab dengan nada hambar.
"Itu mungkin hanya dikarenakan selama ini aku belum pernah benarbenar amat mengharapkan sesuatu."
"Kau pernah mengharapkan apa?"
Ia tersenyum sekilas lagi, lalu menjawab dengan sekata demi sekata.
"Tidak ada. Sekarang aku sudah amat puas kok."
Apakah ia betul-betul sudah puas?
Chu Liuxiangmau tanya lagi, tapi begitu melihat sepasang matanya yang penuh dengan rasa kesepian dan kesedihan, tiba-tiba hatinya pun merasakan semacam kesedihan yang sulit diungkapkan!
Ia tidak tega bertanya lagi, maka ia diam-diam membalikkan badannya dan pergi keluar.
Sebenarnya apa yang mau ditanyakan Chu Liuxiang?
Rahasia apa dari gadis itu yang tidak bisa ditanyakan?
Atau.
Hal memilukan apa dari gadis itu yang tidak tega ditanyakan?
Dalarn dugaan Chu Liuxiang.
Gadis itu mengharapkan apa?
Dan kecewa pada hal apa?
Apakah betul ia adalah "otak"
Dari serentetan peristiwa ini?
Siapakah yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?
*** Ketika Chu Liuxiang pergi dengan diam-diam, gadis itu cuma melihat saja.
Entah kapan sinar lampu yang ada di luar itu telah padam.
Ia melihat sampai bayangan badan Chu Liuxiang pelan-pelan menjadi lenyap.
Kemudian yang bisa terlihat hanya kegelapan!
Kegelapan yang tanpa harapan!
Tiba-tiba dari matanya mengucurkan air mata yang mirip dengan untaian mutiara, yang membasahi bantal kepala itu....
*** Bab 7 .
Jembatan yang Berkelok Sembilan Kali Walaupun jendela itu terbuka, tapi tidak bisa melihat sinar bintang dan bulan yang berada di luar jendela.
Chu Liuxiang berdiri bagaikan patung di dalam kegelapan.
Ia datang dengan diam-diam, sekarang pergi pun dengan diam¬-diam.
Tidak meninggalkan apa-apa, juga tidak membawa pergi apaapa.
Tapi kenapa ekspresi wajahnya demikian menderita?
Ia menderita untuk hal apa?
Ia menderita untuk siapa?
Sewaktu datang ia hanya mengetuk pintu sejenak, lalu masuk dengan begitu saja.
Sewaktu pergi ia tidak mengucapkan.
"Jagalah dirimu" , lalu pergi dengan begitu saja. Di sini meskipun tidak memperoleh apa-apa, tapi juga tidak kehilangan apa-apa. Di dalam sepanjang hidupnyayang penuh dengan bahaya legendaris itu, hal ini tampaknya cuma sebuah selingan yang biasabiasa saja, selain tidak berharga untuk diingat, juga tidak berharga untuk diceritakan pada orang lain. Namun' ia sendiri tahu, bahwa selama hidupnya ia akan sulit sekali melupakan hal ini! Dikarenakan selama ini belum pernah la demikian dekatnya dengan kematian! "Yang paling mengerikan adalah bahaya yang tidak kelihatan!"
Apakah ia benar-benar telah menemukan bahaya itu berada di manea?
Sesungguhnya apa yang telah ia temukan?
Hal-hal ini cuma ia sendiri yang tahu, namun sayangnya mungkin selamanya ia tidak mau mengatakannya.
*** Malam kian hening.
Tadi bunyi gong jatuh, serta teriakan-teriakan wanita itu, sepertinya tidak mengagetkan siapa-siapa.
Masa' di tempat ini tidak ada lagi orang yang lain?
Paling sedikit seharusnya ada satu orang Wanita yang berteriak itu.
Mengapa ia cuma berteriak dua kali?
Dari mama datangnya?
Dan mengapa tiba-tiba pergi lagi?
Siapa dia?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin Chu Liuxiang sendiri pun sukar menjawabnya!
Ketika angin berhembus, sayup-sayup ia mendengar bunyi tangisan lirih yang berasal dari rumah itu.
Ia ingin kembali lagi, tapi ditahannya.
Sebab ia tahu.
selain tidak bisa menghiburnya, juga tidak bisa membantu menanggung kesedihan dan penderitaan gadis itu Selain merasa simpati, apa pun ia tak bisa berbuat.
la terpaksa menegakan hatinya, inginnya cepat pergi dan cepat menamatkan hal ini.
Seumur hidup hatinya tidak pernah setega kali ini.
Tadi ketika datang, ia merasa dirinya layak ditertawai, sekarang ia merasa dirinya jahat sekali.
Ketika ada angin berhembus lagi, ia mendorong pintu dan melangkah keluar.
Tiba-tiba ia tertegun.
Di dalam tarnan bunga amat hening, sedikit bunyi pun tidak ada, tetapi ada orang!
Sebaris panjang orang, persis seperti sebaris panjang pohon, tanpa suara menunggu di dalam kegelapan, dan tidak bergerak sama sekali.
Chu Liuxiang tidak bisa melihat wajah mereka, juga tidak bisa mengetahui jumlah mereka, yang terlihat hanyalah busur dan golok mereka!
Golok sudah keluar dari sarungnya, busur telab dipentang talinya.
Rumah itu berada di jembatan, dan jembatan itu berada di tengah empang teratai.
Empang teratai yang berada di tengah hutan bunga itu, sudah terkepung seluruhriya oleh orang-orang itu!
Namun sewaktu mereka datang, tidak menimbulkan bunyi sedikit pun!
Dan bunyi langkah kaki sekian banyak orang, ternyata bisa mengelabui Chu Liuxiang!
Sehingga saat ini ia cuma bisa tersenyurn kecut.
Memang tadi pikirannya terlalu kalut, sebab yang dipikirkannya terlalu banyak.
Namun bunyi langkah kaki orang-orang ini benar-benar terlalu ringan H anya orang-orang yangsudah pernah rnengalarni gemblengan keraslah, yang bisa punya bunyi langkah kaki demikian!
Dan bisa dalam keadaan tanpa bunyi sedikit pun menghunus golok dan mementang busur!
Tetapi yang benar-benar menakutkan bukanlah mereka.
Yang benar-benar menakutkan adalah orang yang menggembleng mereka!
Tepat pada saat ini, di jembatan yang berkelok-kelok sembilan kali itu, tiba-tiba terangkat tinggi dua buah obor api yang menyala.
Sinar api yang tiba-tiba menyala di dalam kegelapan, pasti membuat mata jadi silau.
Sinar api yang menyilaukan mata itu menerangi wajah seorang.
Akhirnya Chu Liuxiang bisa melihat serta mengenali siapa orang ini.
Orang yang paling tidak ingin dia lihat pada saat ini, justru adalah orang ini!
*** Orang yang paling berkuasa di Taman Wanfu Wanshou sudah hampir pasti dia adalah orang yang paling berkuasa di dunia persilatan Jiangnan!
(jiangnan, daerah di sepanjang bagian selatan Bari sungai Yangzi.) Orang ini bukanlah Nyonya Besar Jin, dia cuma menjadi semacam lambang dan orang yang sekaligus memiliki keberuntungan dan umur panjang, dan semacam idola bagi banyak orang saja.
Orang yang betul-betul rnemegang tampuk kekuasaan adalah Jin Siye!
(Tuan Besar Jin Keempat).
Boleh dibilang sebelah tangannya menggenggam kekayaan yang berlimpah ruah, sebelah tangannya menggenggam hidup-mati dan nasib dari kebanyakan orang di dunia persilatan Jiangnan!
Sinar api yang menyilaukan itu menerangi wajah dari seorang yang luar biasa ini.
Sebuah wajah yang penuh dengan keberanian, tekad dan rasa percaya diri yang teguh, seorang paruh-baya yang walaupun wajahnya amat berwibawa narnun berpakaian biasa dan sederhana.
Di ujung jembatan ada sebuah kursi besar dan nyaman yang biasa diduduki para menteri.
Rambut kepala Jin Siye dibalut kain sutera hitam dan dibuat jadi sanggul dengan sembarangan, kakinya juga mengenakan sepasang kasut rami dengan sembarangan, dan duduk di kursi itu dengan sembarangan.
Namun tidak ada seorangpun yang berani memandang dia dengan sembarangan, lebih-lebih tiada seorang pun yang berani berkata satu kalimat dengan sembarangan di depan dia!
Ada semacam orang"
Baik dia berdiri, duduk maupun berbaring"
Selalu menimbulkan kesan kewibawaan yang tidak terkatakan!
Jin Siye adalah orang demikian!
Hal ini pun disadari oleh Chu Liuxiang.
Sebaliknya, apakah Jin Siye juga menyadari bahwa Chu Liuxiang pun adalah orang yang luar biasa?
Chu Liuxiang menghela nafas panjang, lalu berjalan menuju sana, dan ketika sudah sampai di depan Jin Siye, air mukanya telah menjadi tenang sekali.
Tidak banyak orang yang dapat melihat wajah paniknya Chu Liuxiang.
Sepasang mata Jin Siye yang tajam bagaikan mata elang itu menatap wajah Chu Liuxiangcukup lama, tiba-tiba berkata.
"Ternyata adalah kau."
"Ya, ini saya" , jawab Chu Liuxiang. Jin Siye berkata dengan sikap sengit "Kami benar-benar tidak menyangka adalah kau."
Chu Liuxiang tersenyum sekilas dan berkata.
"Saya juga tidak menyangka bahwa Jin Siye ternyata masih bisa ingat saya."
Jin Siye berkata dengan wajah serius yang dikerutkan.
"Orang semacam kau ini, asal aku melihat sekali saja, tidak akan pernah lupa."
"Oh ya?"
"Kau punya wajah yang istimewa."
"Benarkah?"
"Siapa pun orangnya, jika punya wajah semacam kau ini, akan sulit sekali menjadi orang yang baik-baik."
Chu Liuxiang tersenyum lagi, lalu mengelus-elus hidungnya.
Sebenarnya ia ingin mengelus-elus wajahnya, namun tidak bisa menahan diri untuk mengelus-elus hidungnya.
Dengan sikap dingin Jin Siye meneruskan kata-katanya.
"Maka begitu melihat kau, aku segera tahu bahwa kau bukanlah orang baik-¬baik"
"Makanya anda tidak melupakan saya."
"Hmmml"
"Tetapi saya pun tidak melupakan anda."
Chu Liuxiangmeneruskan kata-katanya seraya tersenyum "Orang semacam Jin Siye ini, siapa pun yang melihat anda pasti sulit melupakan anda."
Airmuka Jin Siye berubah, lalu berkata dengan suarakeras.
"Jikalau kau bisa mengenaliku, kau tidak seharusnya datang kemari!"
Chu Liuxiang menjawab seraya menghela nafas panjang.
"Cuma sayangnya saya telah datang."
"Apakah kau tahu tempat ini adalah tempat apa?"
"Tidak tahu."
Memang betul ia tidak tahu, namun sekalipun ia tahu sejak awal, ia toh tetap akan datang.
"Apakah kau tahu bahwa selama tigapuluh tahun ini, belum ada seorang pun yang berani menerobos masuk ke tempat ini sesuka hatinya?"
"Tidak tahu."
"Bagaimana kau bisa datang kemari?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum rnasam.
"Datang dengan cara blo'on dan menggelikan."
Lama sekali Jin Siye mendeliki dia, lalu bertanya.
"Bahkan kau juga tidak tahu siapa yang tadi kau jumpai itu?"
"Betul, tapi saya ingin sekali mengetahuinya."
Jin Siye berkata dengan sekata demi sekata 'ia adalah anakku."
Kali ini Chu Liuxiang betul-betul terkesiap!
Ekspresi wajah Jin Siye berubah jadi aneh sekali, lalu bertanya dengan suara berat "jika kau melihat ada orang pada tengah malam berjalan keluar dari kamar anak perempuanmu, kau akan berbuat apa untuk menghadapi dia?"
Pertanyaaan ini sepertinya juga rada aneh. Tetapi Chu Liuxiang tetap menggelengkan kepala dan menjawab.
"Tidak tahu."
Kali ini ia tidak berkata dengan sebenarnya.
Sebetulnya tentu saja ia tabu, bahwa dalam situasi ini, yang menjadi sulit umumnya cuma ada dua pilihan, yang satunya membunuh orang itu, yang sarunya memaksa orang itu menikahi anaknya.
Wajah jin Siye menunjukkan kegusarannya, lalu bertanya dengan suara keras.
"Betulkah kau tidak tahu?"
"Sebab saya tidak punya anak perempuan."
"Kau tahu apa?"
"Sampai pada saat ini, saya hanya tahu satu hal."
"Apa itu?"
"Saya hanya tahu bahwa sepertinya saya telah jatuh ke dalam sebuah jebakan. Dijebak dengan tiba-tiba dan tanpa tahu apa-apa!"
Memang betul ia tidak tahu apa-apa, dan sewaktu ia sadar bahwa ini rnerupakan jebakan, lehernya telah terjerat "tali"! Air muka Jin Siye berubah lagi, dengan suara keras bertanya.
"Jebakan! Jebakan apa?"
"Tidak tahu."
Chu Liuxiang melanjutkan kata-katanya seraya tersenyum kecut.
"Seandainya saya tahu itu adalah jebakan macam apa, pasti tak akan jatuh ke dalamnya kan?"
Jin Siye bertanya dengan sikap dingin.
"Apakah kau masih mau keluar?"
"Tapi amat sulit kan?"
"Apakah kau tahu dengan cara bagaimana baru bisa keluar?"
"Tidak tahu."
Sinar mata Jin Siye tiba-tiba berubah lagi menjadi aneh sekali, lalu berkata.
"Jika begitu cuma ada satu cara."
"Mohon beri petunjuk."
Jin Siye berkata dengan suara berat "Asal kau melupakan bahwa ini adalah jebakan, maka kau sudah tidak lagi berada di dalam jebakan ini."
Chu Liuxiang berkata setelah berfikir sejenak.
"Saya tidak terlalu mengerti kalimat ini."
"Jika kau melupakan bahwa ini adalah jebakan, mana ada jebakan lagi?"
Chu Liuxiang berfikir sejenak lagi, lalu berkata.
"Saya masih tidak mengerti."
Jin Siye bertanya dengan wajah gusar.
"Mau bagaimana kau baru dapat mengerti?"
"Tidak tahu"
Jin Siye berkata dengan suara keras.
"Baik! Aku beritahukan!"
Dengan gerakan cepat ia tiba-tiba sudah berdiri di depan Chu Liuxiang, telapak tangan kirinya melayang di depan mata Chu Liuxiang, tangan kanannya secepat kilat mencengkeramke arah pergelangan tangan Chu Liuxiang.
Sebenarnya ini tidak bisa dianggap sebagai jurus yang amat istirnewa.
Sewaktu Chu Liuxiang masih berusia 7-8 tahun, sudah belajar serta menguasai cara untuk menghadapi jurus ini.
Sekalipun ia menutup kedua matanya, satu tangan dan satu kaki diikat, tetap saja dapat mengelak jurus ini.
Tetapi jurus Jin Siye sudah berubah.
Berubah secara mendadak dan tidak diketahui cara berubahnya!
Chu Liuxiang tiba-tiba menyadari bahwa tangan kanan Jin Siye sudah berada di dekat matanya, dan tangan kiri yang tadi berada di depan matanya itu, ternyata telah mencengkeram pergelangan tangannya!
Kali ini ia baru benar-benar menjadi kaget!
Dalam waktu satu sampai dua tahun ini, jago-jago silat nomor wahid yang pernah dihadapinya, jumlahnya jauh lebih banyak dari yang diceritakan orang seumur hidup!
Ilmu meringankan tubuh dari Shi Guanyin, tenaga pukulan telapak tangan Bari Shuimu Yu, senjata rahasia dari Tuan Muda Kelelawar, pedang dari Xue.
Boleh dibilang semuanya adalah ilmusilatyang sudah mencapai taraf teramat tinggi!
Setiap jurus yang dilancarkan, pasti memiliki perubahan-perubahan yang membuat orang terkagum-kagum, dan kekuatan dahsyat yang mengerikan!
Tetapi Chu Liuxiang belum pernah melihat ada semacam jurus yang dilancarkan oleh Jin Siye ini, yang walaupun begitu sederhana, tapi begitu efektif !
Jurus ini seolah-olah disediakan khusus untuk menghadapi Chu Liuxiang!
Jin Siye berseru dengan tidak begitu nyaring, otot jidatnya menonjol semua, tangan dan lengannya diputar balik, lalu seluruh tubuh Chu Liuxiang dibanting jauh jauh!
Ia menepuk-nepuk tangannya dan menghembuskan nafas, tanpa terasa air mukanya menunjukkan kegembiraannya, dan merasa amat puas akan ilmu silatnya.
Siapa pun yang mampu membanting Chu Liuxiang hanya dalam satu jurus, pasti akan merasa amat puas terhadap dirinya!
Ketika melihat kepala Chu Liuxiang sudah hampir menabrak tiang batu yang berada di sisi jembatan itu, Jin Siye membalikkan badan dengan perlahan, melambaikan tangan satu sampai dua kali, artinya adalah menyuruh para anak buahnya untuk menggotong pergi mayat Chu Liuxiang.
Ia sudah tidak mau lagi melihat Chu Liuxiang -Kepala seseorang jika sudah tertabrak pecah, tentu bukanlah sebuah hal yang enak ditonton.
Tetapi ketika ia baru saja membalikkan badannya, lalu terlihat ada seorang berdiri di depannya sambil memandang dia dengan wajah penuh senyuman.
Orang ini adalah orang yang tidak mau lagi dilihatnya untuk selama-lamanya!
Wajah Jin Siye mendadak jadi mengeras.
Chu Liuxiang sedang berdiri di depannya, sedang memandang dia dengan wajah penuh senyuman, seluruh badannya utuh bagaikan benda porselin yang baru saja diambil keluar dari peti, sedikit bekas` rusak tabrakan pun tak ada!
Jin Siye memandang dia dari kepala sampai kaki, lalu dari kaki sampai ke kepala, memandang sampai dua kali, kemudian berkata seraya tersenyum dingin.
"Bagus! Kungfu yang bagus!"
Chu Liuxiang pun berkata seraya tersenyum.
"Kungfu anda pun hebat sekali!"
"Kau coba lagi dengan jurus ini!"
Sambil berkata jurusnya telah dilancarkan.
Setiap kata diucapkan dengan perlahan, jurusnya lebih perlahan, bahkan teramat perlahan.
Chu Liuxiang memandang terus tangan Jin Siye.
Tangannya agak besar dan pendek, tapi terawat baik sekali, kuku-¬kuku tangannya pun tergunting rapi dan bersih, dan tidak seperti tuan-¬tuan besar yang lain yang hidup dalam kemewahan dan kenyamanan, tidak memelihara kuku jari kelingking sampai amat panjang, untuk menunjukkan bahwa semua hal tidak perlu dikerjakan oleh dia!
Sepasang tangan ini sama sekali tidak menimbulkan kesan menjijikkan, namun sekali-kali dapat mencabut nyawa orang!
Jari-jari tangan kirinya tampaknya lebih besar, lebih pendek, tapi lebih kuat.
Walaupun tangan kirinya sekarang sudah terangkat, tapi tidak bergerak, yang bergerak adalah tangan kanannya, yang bergerak perlahan ke Chu Liuxiang, sepertinya mau menggenggam tangan Chu Liuxiang dan bersalaman dengannya.
Saat ini kelihatannya tangan ini sama sekali tidak berbahaya.
Namun hanyalah bahaya yang tak kelihatan, adalah bahaya yang sesungguhnya!
Apakah Chu Liuxiang mengerti atas kebenaran ini?
Tampaknya ia tidak mengerti.
Maka ketika ia sudah menyadari bahayanya tangan ini, sudahlah terlambat!
Tiba-tiba ia menyadari bahwa kedua tangannya sudah di bawah kekuasaan tangan ini!
Baik tangannya mau cligerakkan dengan cara apa pun, kemungkinan besar pergelangan tangannya akan segera tercekal oleh sepasang tangan Jin Siye!
Chu Liuxiang menghela nafas panjang.
Tepat pada saat ini, pergelangan tangannya telah tercekal tangan Jin Siye -Bukan tangan kanan, tapi tangan kiri!
Ternyata tangan kanan Jilt Siye yang berhenti, tangan kirinya tiba¬-tiba dijulurkan dengan kecepatan bagai kilat, jurus ini sebenarnya tidak terlalu aneh, bahkan boleh dikatakan jurus ini sudah tua dan usang.
Namun di tangan Jin Siye, jurus ini terlalu cepat dan terlalu efektif!
Agaknya seluruh perhatian Chu Liuxiang dipusatkan pada tangan kanan dia, dan sama sekali tidak berjaga-jaga terhadap tangan kiri dia.
Tangan kiri yang maut!
Sekali lagi Jin Siye berseru dengan tidak begitu nyaring, badan Chu Liuxiang segera dibanting dan dilempar!
Segera saja badan Chu Liuxiang sudah hampir menabrak tiang batu yang berada di sisi jembatan itu!
Kali ini Jin Siye tidak membalikkan badannya, tetapi dengan mata yang tidak berkedip terus menatap badan Chu Liuxiang.
Ada beberapa puluh orang yang berdiri di tempat ini, tapi suasananya amat hening bagaikan tidak ada orang sama sekali!
Tidak ada orang yang berseru karena gembira, juga tidak ada orang yang bersorak-sorak.
Orang-orang ini sudah digembleng sampai memiliki ketenangan seperti batu atau besi, ketika Jin Siye berhasil hanya dalam satu jurus saja, tali busur yang sudah dipentang penuh di tangan mereka itu, sekalipun tidak pernah bergetar!
Tetapi mata mereka, mau tak mau, mesti memandang badan Chu Liuxiang yang terlempar itu.
Ketika semua orang menyangka bahwakepala Chu Liuxiang sudah akan menabrak tiang batu itu, badan dia tiba-tiba berputar balik di udara ---Persis seperti ikan berputar balik di dalam air!
Perputaran balik ini sama sekali tidak menimbulkan kesan kaku, bahkan indah dan anggunnya bagaikan tarian saja!
Menonton ilmu meringankan tubuh Chu Liuxiang, sama seperti menonton seorang penari yang sudah lama digembleng, yang sedang menari bersamaan dengan bunyi musik!
Dengan waktu yang nyaris bersamaan dengan berputar balik ini, badan Chu Liuxiang telah kembali lagi ke depan Jin Siye!
Pandangan mata Jin Siye tidak pernah lepas dari badan Chu Liuxiang, tepat pada waktu sekejap ini, tiba-tiba melancarkan serangan lagi.
Tiada seorang pun yang dapat melihat jelas gerakannya, yang terlihat cuma badan Chu Liuxiang sekali lagi terbanting, terlempar seperti ikan mati, tetapi kali ini posisi badannya tidak sama.
Tetapi cara yang dipergunakan Chu Liuxiang tetap sama seperti tadi.
Ketika ia sudah nyaris menabrak tiang batu itu, badannya tibatiba berputar balik di udara, dan segera kembali lagi ke depan Jin Siye.
Terdengar seruan yang keras bagaikan bunyi geledek.
Badan Jin Siye sepertinya memanjang setengah kaki, sepertinya seluruh tenaganya dicurahkan pada bantingan dan lemparan ini!
Badan Chu Liuxiang terlempar ke belakang dengan kecepatan bagaikan anak panah yang baru lepas dan busurnya!
Ini adalah keempat kalinya ia terlempar.
Kekuatan lemparan kali ini sudah melampaui seribu kati, dan agaknya kali ini Chu Liuxiang sudah tidak mampu lagi mengendalikan badannya!
Dengan kekuatan yang maha dahsyat ini, memang tidak mungkin ada orang yang sanggup mengendalikan dirinyal Kelihatannya pada kali ini ia pasti akan menabrak tiang batu itu, tapi tiba-tiba ia menerobos di antara langkan tiang batu itu.
Terlihat ujung kakinya mengait tiang batu itu, dengan satu jejakan yang kuat, tiba-tiba badannya berputar balik di antara langkan itu, dengan kecepatan yang lebih kencang, ia telah kembali lagi di depan Jin Siye!
Gerakan badannya amat ringan bagaikan ikan yang berputar ringan di dalam air, lalu dengan amat ringan pula badannya telah berada di depan Jin Siye, di wajahnya masih tersungging senyuman santai -Persis seperti sejak tadi telah berdiri terus di sana, dan sama sekali tidak pernah bergerak!
Tidak ada orang yang bergerak, dan tidak ada orang yang bersuara.
Tetapi di dalam pandangan mata mereka, tanpa terasa telah menunjukkan kekagumannya Meskipun pertarungan ini disaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, tapi sampai pada saat ini pun, agaknya mereka masih tidak bisa mempercayai mata mereka sendiri!
*** Manusia mempunyai banyak macam atau jenis.
Tetapi kebanyakan orang masuk dalam jenis ini.
Setiap hal yang dilakukan, agaknya semuanya di dalam dugaan -Di dalam dugaan orang lain, juga di dalam dugaan diri sendiri.
Mereka bekerja ketika matahari terbit, dan beristirahat ketika matahari terbenam.
Setelah bekerja, mereka akan menunggu hasilnya.
Pada umumnya mereka tidak punya sukacita yang terlalu besar, juga tidak punya dukacita yang terlalu besar.
Mereka melewati kehidupan ini dengan biasa-biasa saja, jarang yang dapat menimbulkan kckaguman orang lain, juga jarang diiri orang banyak karena prestasi yang amat menonjol.
Tetapi rnereka adalah orang-orang yang tidak boleh kekurangan di dunia ini.
Tetapi Chu Liuxiang bukanlah orang jenis ini!
Setiap hal yang dilakukannya, agaknya semuanya di luar dugaan orang lain, dan semuanya sulit dipercayai, sebab ia adalah tokoh legendaris dari "sono"
Nya!
*** Sinar api dari obor-obor itu bergoyang terus, dan menerangi wajah Jin Siye.
Di wajahnya tidak tampak ekspresi apa-apa, tapi di jidatnya ada butiran-butiran peluh yang bergoyang-goyang.
Ia sedang menatap Chu Liuxiang, lama sekali masih belum mengalihkan tatapannya.
la tiba-tiba berkata "Bagus!
Kungfu yang bagus!"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.
"Kungfu anda juga hebat sekali!"
Dua kalimat yang sama seperti tadi, tapi ketika saat ini mendengarnya, perasaannya sudah berbeda.
Jin Siye tiba-tiba membalikkan badannya, dan berjalan perlahan ke kursi itu, lain duduk di kursi yang besar dan nyaman itu.
Tetapi Chu Liuxiang hanya berdiri saja.
Ketika Jin Siye melihat dia berdiri saja, air mukanya masih tidak menampakkan ekspresi apa-apa, tetapi peluhnya sudah kering.
Chu Liuxiang tiba-tiba rnemutar badannya dan berjalan kembali ke rumah kecil itu.
Jin Siye hanya memandangi dia saja, tidak menghalangi, juga tidak bersuara.
Tak lama kemudian, terlihat Chu Liuxiang keluar lagi sambil membawa sebuah kursi.
Ia meletakkan kursi itu di hadapan Jin Siye, lalu mendudukinya.
Kursi ini pun lebar, besar dan nyaman.
Demikianlah kedua orang ini duduk saling berhadapan dan saling memandang, siapa pun tidak bersuara.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Jin Siye tiba-tiba menggoyang-goyangkan tangannya.
Hanya dalam waktu sekejap mata saja, semua tali busur telah dikendurkan, semua golok telah disarungkan, dan beberapa puluh orang itu secara bersarnaan mundur ke dalam kegelapan, dengan tidak menimbulkan suara atau bunyi derap kaki sedikit pun!
Yang tersisa hanya dua orang yang terus mengangkat obor api tinggi-tinggi itu, yang terus berdiri bagaikan arca batu di ujung jembatan itu.
Dalam penerangan api yang terus bergoyang-goyang itu, Jin Siye tiba-tiba menggoyang-goyangkan tangan lagi dan berkata.
"Bawa arak"
Perkataannya persis seperti sejenis sihir yang gaib.
Tiba-tiba muncul sebuah meja yang sudah tersaji arak beserta makanan kecilnya, dan meja itu segera diletakkan di depan mereka.
Makanan kecil terdiri dari delapan macam masakan, yang selain lezat juga indah bagi pandangan mata.
Arak itu berwarna ambar, dan dituangkan sampai penuh di dalam dua buah cangkir yang terbuat dari emas.
Jin Siye mengangkat sebuah cangkir emas pelan-pelan dan berkata.
"Mari."
Chu Liuxiang mengangkat cangkir emas yang lain itu dan meneguk arak sampai habis, lalu berkata "Arak bagus!"
"Pahlawan semestinya minum arak bagus."
"Saya tidak berani menerima pujian ini."
Jin Siye berkata dengan nada suara yang berat "Pada zaman dahulu, Cao Cao dan Liu Bei, sambil minum arak sambil memperbincangkan para pahlawan pada jaman itu, kisah indah ini dibicarakan terus turun temurun.
Tak tahulah apakah kita berdua ini bisa disejajarkan dengan kedua pahlawan itu?"
Chu Liuxiang tak kuasa menahan dirinya untuk tersenyum clan berkata.
"Tidak bisa disejajarkan. Paling tidak saya tidak pantas."
"Kok tahu?"
"Seorang pahlawan tidak mungkin duduk di dalam jebakan dan tidak dapat keluar."
Jin Siye mengerutkan wajahnya dan terdiam, lama sekali baru berkata pelan-pelan.
"Seseorang jika masih berada di dalam jebakan, masa' masih dapat duduk dengan amat nyaman?"
Umumnya orang yang berada di dalam jebakan adalah terbaring. Sinar mata Chu Liuxiang "berkerlap-kerlip", lalu berkata seraya tersenyum.
"Jika demikian, berarti saya telah dapat keluar kan!"
"Itu masih tergantung kau."
"Oh ya?"
Jin Siye terdiam lagi, lama sekali baru bertanya setelah menghela nafas panjang.
"Apakah kau pernah menjadi ayah?"
"Belum pernah."
"Tetapi sebagai anak orang, seharusnya mengerti kan bahwa tidaklah mudah untuk menjadi ayah?"
"Memang tidaklah mudah."
Tiba-tiba ekspresi wajah Jin Siye menjadi muram durja, lalu menuang arak sampai penuh di cangkir emasnya dan meminumnya sampai habis, menghela nafas panjang dan berkata.
"Apalagi menjadi ayah dari seorang anak perempuan yang sudah hampir sekarat, lebih tidak mudah lagi."
Chu Liuxiang pun berkata seraya menghela nafas.
"Saya paham."
Jin Siye mengangkat kepala lagi, menatap dia dengan tatapan setajam pisau, kemudian bertanya den gan suara keras.
"Kau masih paham apalagi?"
"Yang saya pahami sebetulnya banyak sekali, namun sayangnya sudah banyak yang lupa."
"Apa yang kau lupakan?"
"Apa yang saya lupakan ialah hal-hal yang tidak seharusnya diingat."
Jin Siye menurunkan tatapan mata dan menatap tangannya sendiri, lama sekata baru berkata pelan.
"Apakah kau juga dapat melupakan hal ini?"
Chu Liuxiang menjawab setelah tersenyum sekilas.
"Barangkali sekarang saja sudah lupa."
"Selanjutnya tidak akan diingat lagi?"
"Tentu."
"Siapa yang mengucapkan kata-kata ini?"
"Chu Liuxiang yang mengucapkannya"
Tiba-tiba Jin Siye mengangkat kepala lagi dan menatap dia, lalu mengangkat cangkir emas pelan-pelan dan berkata.
"Mari."
Chu Liuxiang meneguk arak sampai habis dan berkata.
"Arak bagus!"
"Pahlawan semestinya minurn arak bagus."
"Terima kasih."
Jin Siye mendongakkan kepala dan tertawa keras sampai tiga kali, berdiri tiba-tiba lalu berjalan dengan langkah panjang clan masuk ke dalam kegelapan.
Obor-obor api pun segera padam, dan sekeliling menjadi gelap gulita, dua orang yang berdiri di ujung jembatan bagaikan arca batu pun lenyap dalam kegelapan.
Tiada bunyi langkah kaki, tiada bunyi apa pun!
Chu Liuxiang seorang diri duduk diam di dalam kegelapan, sambil memandangi cangkir emas yang ada pada tangannya.
Cangkir emas itu berkilauan di bawah cahaya bintang.
Ia ingin sekali memikirkan ulang hal ini dari awal sampai akhir, tetapi pikirannya amat kalut, sama sekali tidak bisa berkonsentrasi untuk memikirkan semua hal.
Karena hal ini sepertinya bukan hal yang benaran, sepertinya bukan yang benaran pernah terjadi.
Bagaimana mungkin di dalam dunia ini terjadi hal yang aneh dan tak masuk akal semacam ini?
Sampai-sampai ia sendiri pun sulit untuk miempercayainya!
Tetapi cangkir emas itu tetap berkilau-kilau.
Dan cangkir emas itu sesuatu yang benar.
Chu Liuxiang menghela nafas yang panjang, lalu mengangkat kepala, di depan adalah kegelapan yang tidak berujung-pangkal, dan ketika menoleh ke belakang, ternyata lampu di rumah kecil itu juga sudah dipadamkan.
Bagaimana dengan gadis yang berada di rumah itu?
Tiba-tiba ia menemukan bahwa gadis itu sudah berada di tengah jembatan itu, sedang bersandar di langkan dan menatap dia dengan tidak bersuara.
Pakaiannya putih seperti saiju, matanya indah bagaikan bintang -tapi saat ini sudah redup sinarnya, di dalam matanya terlihat menyimpan duka yang teramat dalam, yang tiada seorang pun dapat memahaminya!
Orang lain cuma dapat melihat ada semacam kekosongan dan keputus-asaan dari dalam matanya!
"Menjadi ayah dari seorang anak perempuan yang sudah hampir sekarat, betul-betul suatu hal yang teramat sulit!"
Tiada seorang ayah pun yang sanggup rnelihat anak perempuannya yang akan mati.
Mati, mati secara pelan-pelan....
Chu Liuxiangtiba-tiba menyadari bahwa Jin Siye adalah orang yang betul-betul patut dikasihani, sebab derita yang ditanggungnya mungkin lebih banyak dari anaknya!
Gadis itu terus menatapi Chu Liuxiang, matanya sudah berkacakaca, tiba-tiba bertanya.
"Apakah sekarang kau sudah paham sernuanya?"
Chu Liuxiang menganggukkan kepalanya. Tetapi ia ingin selama-lamamya tidak pernah paham -Di dunia ini ada sejumlah faktayang benar-benar amat jelek dan amat menakutkan! Gadis itu bertanya lagi.
"Kau sudah mau pergi?"
Chu Liuxiang tidak menjawab, hanya tersenyum getir. Gadis itu menundukkan kepala dan berkata dengan suara lirih.
"Kau tentu amat menyesal kan? Seharusnya benar-benar tidak usah datang."
"Tetapi aku toh telah datang."
Gadis itu menatapi air yang mengalir di bawah jembatan itu, lalu bertanya.
"Kenapa kau bisa datang? Kau sendiri tahu atau tidak? Chu Liuxiang menjawab seraya menghela nafas.
"Tidak tahu juga baik"
Gadis ini tiba-tiba mengangkat kepala, rnemandang Chu Liuxiang seraya bertanya.
"Apakah kau tahu bahwa aku dulu pernah melihatmu?"
Chu Liuxiang menggelengkan kepalanya. Gadis itu meneruskan kata-katanya dengan perlahan.
"Justru karena aku pernah rnelihatmu, makanya aku menginginkan kau datang."
"Apakah kau yang berdaya upaya agar aku datang?"
Ia menganggukkan kepalanya, suaranya selirih bisikan.
"Semua orang berkata bahwa penyakit yang aku derita semacam ini, cuma ada semacam cara untuk menyembuhkannya.... Hanya setelah bersamaan dengan laki-laki, baru dapat sembuh, tetapi sejak dulu aku belum pernah mencobanya"
"Mengapa?"
"Aku tidak percaya, juga tidak mau."
"Tidak mau mencelakai orang lain?"
"Aku bukanlah seorang wanita yang hatinya begitu baik, tapi aku..."
"Kau kenapa?"
"Aku jemu terhadap kaum pria, begitu berdekatan dengan mereka, segera timbul perasaan mual!"
Dari dalam matanya yang kosong tiba-tiba muncul lagi semacam perasaan yang samar-samar dan terkesan seperti ilusi.
Oleh sebab itu ia segera menghindari tatapan mata Chu Liuxiang, dan berkata dengan amat "Aku menginginkan kau datang, hanya karena aku tidak jemu kepadamu...."
Chu Liuxiang hanya bisa berdiam diri saja.
Ia betulbetul tidak tahu dirinya mesti berkata apa?
Bagaimanapun juga, jika ada seorang gadis jelita yang memberitahukan anda, bahwa dia tidak jemu kepada anda, tentulah ini sebuah hal yang layak digembirai!
Namun di dalam situasi sernacam ini, ia betul-betel tidak mampu membuat dirinya merasa gembira.
Gadis itu pun berdiam diri lama sekali, baru berkata lagi.
"Seharusnya aku tidak mengatakan kata-kata ini."
"Mengapa kau mau mengatakannya?"
Tangan gadis itu memegang langkan itu erat-erat, seolah-olah dinginnya langkan itu dapat menernbus ke hatinya.
"Aku mengatakannya, hanya karena aku mau memohonmu satu hal"
"Apa itu?"
"Jangan menyalahkan ayahku atau orang lain, sebab dalam hal ini akulah yang salah, kau cuma bisa menyalahkan aku saja."
Chu Liuxiang bertanya setelah merenung sejenak.
"Kau duga aku bisa menyalahkan siapa?"
"Orang yang menginginkan kau datang itu."
"Apakah kau tahu dia itu siapa?"
Gadis itu menggelengkan kepala dan berkata dengan nada hambar.
"Aku cuma tahu ada sejumlah orang, demi memperoleh uang 100.000 tad perak, saudara sendiri pun bisa dijual!"
Chu Liuxiang segera memburu dengan pertanyaan.
"Apakah kau tidak kenal Zhang Jiejie?"
"Siapa itu Zhang Jiejie?"
"Lalu Ai Qing? Atau Bu Ajuan? Apakah kau pun talc kenal mereka?"
"Nama-nama ini aku sama sekali tidak pernah mendengarnya."
Chu Liuxiang terdiam lama sekali, lalu berkata seraya menghela nafas.
"Sebenarnya engkau pun mesti menyalahkan dirimu sendiri"
"Mengapa?"
"Sebab engkau pun dimanfaatkan oleh seseorang....dimanfaaatican sebagai alat untuk membunuhku!"
Ia mementang matanya Iebar-lebar, tampaknya amat terkejut.
"Siapakah yang telah memanfaatkanku? Dan siapakah yang mau membunuhmu?"
Chu Liuxiang menjawab setelah tersenyum sekilas.
"Sekarang aku masih belum tahu, tapi pada suatu hari aku pasti bisa menemukan dia!" *** Di atas tembok tinggi itu angin lebih dingin. Chu Liuxiangberdiri di ujung tembok itu, secara samar-samar masih bisa melihat gadis yang berpakaian seputih salju itu. Ia masih bersandar di langkan itu -Langkan yang amat dingin, namun di dunia ini masih ada apa lagi yang lebih dingin dari hatinya? "Aku hanya memohonmu satu hal, hanya memohon kau jangan membenci ayahku."
Chu Liuxiang sekali-kali tidak membenci ayah dan anak perempuannya itu, bahkan menaruh rasa iba kepada mereka, serta menganggap mereka sebagai orang-orang yang layak dikasihani!
Mereka dan Chu Liuxiang adalah sama-sama dimanfaatkan oleh orang lain, dan sama-sama adalah korban.
Lalu siapakah sebenarnya yang layak dibenci oleh Chu Liuxiang?
"Kau pasti amat menyesal, semestinya tidak usah datang."
La memang amat menyesal, menyesal kenapa terlalu mempercayai Zhang Jiejie.
la hanya berharap bisa bertemu lagi dengan Zhang Jiejie, pada saat itu ia rnungkin akan menjambak rambut gadis itu dan menanyai sampai jelas, kenapa gadis itu demikian mencelakai orang!
Tetapi ia pun sadar bahwa mungkin seumur hidup ia tak akan bertemu lagi dengan dia.
Tentu saja gadis itu tak akan berani lagi menemuinya, dan ia pun tak berdaya untuk mencari gadis itu.
Selain hanya tahu namanya adalah Zhang Jiejie, yang lain tentang gadis itu boleh dibilang ia sama sekali tidak tahu apa-apa!
Bahkan ia juga tidak tahu.
nama ini benar atau tidak?
"Sebetulnya jika seumur hidup aku tak ketemu lagi dengan dia pun baik kok!
Malahan aku tidak dibikin pusing!"
Gadis semacam ini selain hanya membikin dia pusing dan sakit kepala, apakah masih ada faedah yang lain bagi dia?
Namun entah mengapa, asal memikirkan bahwa kelak mungkin tidak ketemu lagi untuk selama-lamanya, di dalam hatinya terasa ada semacam rasa nelangsa yang tak terucapkan, semacam rasa tiba-tiba kehilangan sesuatu!
Angin di atas tembok tinggi itu makin dingin saja.
Chu Liuxiang menghela nafas dengan lirih, lalu melompat ke bawah dari ujung tembok itu.
Pada lompatan kali ini ia tidak merasa bimbang, sebab ia merasa amat pasti.
Ia tahu ia akan sampai di tempat apa -Di sana bukan tempat berapi atau yang ada perangkapnya, di sana hanyalah sebuah gang kecil yang sepi dan terpencil.
Ia bisa melegakan hatinya-Tetapi kali ini ia terlalu melegakan hatinya.
Ketika ia sudah hampir mendarat, baru sadar bahwa meskipun dibawah tidak ada tempat berapi, tapi ada sebuah bak air yang besar.
Secara amat pas ia jatuh dan masuk ke dalam bak air yang besar itu.
Kemudian ia segera mendengar bunyi tertawa seseorang.
Bab 8 .
Air di bawah Rembulan, Rembulan ditengah Air Chu Liuxiang sutra tertawa.
la tidak saja suka dirinya sendiri yang tertawa, juga suka melihat orang lain yang tertawa dan suka mendengarkan oranglain yang tertawa.
Sebab ia selalu beranggapan bahwa tertawa itu bukan saja dapat merangsang semangat diri sendiri, juga dapat membuat orang lain gembira dan bersuka-cita!
Sekalipun orang yang terjelek parasnya, jika di wajahnya rnuncul senyum dan tawa yang keluar dari sanubarinya, rnaka wajahnya akan berseri-seri dan terlihat lebih menarik!
Sekalipun musik yang termerdu di dunia, juga tak bisa menyaingi bunyi tertawa yang halus dalam hal memotivasi dan membangkitkan semangat!
Bunyi tertawa yang saat ini terdengar oleh Chu Liuxiang, sebenarnya lebih merdu serta lebih menarik dari musik!
Tetapi sekarang ketika ia mendengar bunyi tertawa ini, rasanya seperti tiba-tiba dipecut orang!
Sebab ia dapat mengenali bahwa ini benar-benar adalah bunyi tertawanya Zhang Jiejie!
**** Chu Liuxiang sekali-kali tak akan bisa terjatuh ke dalam sebuah bak air yang besar, kecuali pada walau mandi.
Hal itu sekali-kali talc akan terjadi, baik ia melompat turun dari posisi apa saja.
Sekalipun melompat turun dari tempat yang tinggi, sekalipun tidak tahu bahwa di bawah ada sebuah bak air yang menunggu¬nya, ia juga tak mungkin terjatuh ke dalamnya.
"Ilmu meringankan tubuh Pendekar Harum adalah nomor satu di dunia."
Perkataan ini bukanlah isapan jempol!
Tetapi sekarang, dengan menimbullcan bunyi "Byurr yang cukup keras, ia betul-betul telah tercebur ke dalam air dari bak besar itu!
Itu disebabkan ketika ia akan mengganti nafas untuk mengangkat tubuhnya naik lagi, tiba-tiba mendengar bunyi ketawanya Zhang Jiejie, dan begitu terdengar, nafas yang mau diganti itu sepertinya tiba-tiba dipompa habis oleh orang!
*** Air di bak besar itu dingin sekali, bahkan tercium ada bau wangi dari bunga kaca piring.
Namun api amarah Chu Liuxiang berkobar-kobar, dan panasnya seolah-olah sudah cukup membuat air dari bak itu jadi mendidih!
Ia bukanlah seorang yang tak tahan akan gurauan atau ledekan, jika pada saat-saat biasa mengalami hal semacam ini, ia pasti akan tertawa lebih lepas dari siapa pun.
Tetapi suasana hatinya saat ini betul-betul tidak bisa tahan akan gurauan atau ledekan ini.
Siapa pun kalau baru saja hampir menjadi setan penasaran karena diperdayai seseorang dengan cara menggelikan, kemudian gara-gara orang yang sama tercebur ke dalam sebuah bak air yang amat dingin, jikalau dia masih tidak naik pitam, itu baru aneh!
Zhang Jiejie tertawa dengan amat bersuka-cita.
Mau tidak mau Chu Liuxiang duduk di dalam air yang dingin itu.
Setelah duduk, ia baru menolehkan kepalanya untuk melihat Zhang Jiejie, seolah-olah takut dirinya akan "meledak"
Saking rnarahnya ketika melihat gadis itu. Namun ketika melihat gadis itu, ia tidak "meledak."
Mendadak ia pun tertawa dengan amat kerasnya.
*** Di mana saja dan kapan saja, ketika ia bertemu dengan Zhang Jiejie, gadis itu selalu berpakaian amat rapi dan bersih, layaknya seperti sebutir buah berkulit keras yang baru dikupas kulitnya.
Tetapi saat ini ia seperti seekor ayam yang baru saja tercebur ke air!
Dari kepala sampai kaki, seluruh badannya basah kuyup, sebab ia pun duduk di dalam sebuah bak air yang lain.
Ia sambil menciduk air dengan tangannya untuk menyirami kepalanya, sambil berkata seraya tertawa cekikikan.
"Segar sekali! Segar sekali! Jikalau kau sanggup di radius sekitar 400 km ini, menemukan sebuah tempat yang lebih segar dari tempat ini, aku akan benar-benar kagum padamu."
Chu Liuxiang berkata seraya tertawa nyaring.
"Aku tak sanggup menemukan tempat demikian."
Sebetulnya ia tidak ingin tertawa, bahkan sedikit niat untuk tertawa pun tidak ada. Tetapi saat ini tarnpaknya iatertawalebih gembira dan Zhangjiejie. Zhang Jiejie berkata lagi seraya tertawa.
"Jikalau kau dapat menebak dengan cara bagairnana kedua bak air ini bisa berada di sini, aku pun akan kagum padarnu."
"Aku tak bisa menebaknya."
Ia sama sekali tak ada niat untuk menebaknya.
Hal-hal yang dilakukan Zhang Jiejie, memang siapa pun tak akan sanggup menebaknya sampai kepala menjadi botak pun tak akan sanggup menebaknya!
Zhangjiejie membelalakkan matanya, dan tertawa terus sampai air rnatanya hampir mau keluar, sehingga kedua mata kecil yang berbentuk seperti bulan sabit itu, makin terlihat kian menarik!
Chu Liuxiang memandangi terus mata Zhang Jiejie, lalu tiba-tiba melompat keluar dan baknya sendiri, dan melompat masuk ke baknya gadis itu!
Gadis itu mendorong-dorong tubuh Chu Liuxiang seraya tertawa manja, dan berkata dengan nafas tersengal-sengal.
"Tidak boleh! Kau tidak boleh ke sini! Kita satu orang satu bak, siapa pun tidak boleh merebut milik orang lain!"
Chu Liuxiang berkata seraya tertawa.
"Aku sengaja mau ke sini! Sebab bakku tidak sebagus bakmu."
"Kata siapa?"
"Kataku, Air di bakmu ini lebih wangi dari bakku."
Zhang Jiejie berkata seraya tertawa cekikikan. Aku baru saja cuci kaki di sini, apakah kau suka menggunakan air bekas cuci kakiku?"
Ia terus mendorong tubuh Chu Liuxiang dengan kuat Namun Chu Liuxiang ngotot tidak mau pergi, dan ia tak kuat mendorongnya.
Tiba-tiba tangannya beserta seluruh tubuhnya menjadi lemas dan lunglai!
Ia harum sekali, bahkan lebih harum dari bunga kacapiring!
Chu Liuxiang tak kuasa menahan dirinya, memeluk gadis itu dan "menusuk"
Muka gadis itu dengan kumisnyayang baru tumbuh keluar! Seluruh tubuh Zhangjiejie mengerut, dan bertanya seraya menggigit bibir.
"Sejak kapan kumismu menjadi sekasar ini?"
"Barusan."
"Barusan?"
"Ketika seseorang sedang naik pitam, maka kumisnya bisa bertumbuh luar biasa cepatnya."
Zhang Jiejie bertanya dengan memelototkan mata.
"Kau sedang marah kepada siapa?"
"Sedang marah kepadamu."
"Jika marah kepadaku, kenapa tidak memukulku? Sebaliknya malah memelukku erat-erat?"
Ia memandangi Chu Liuxiang, pandangan matanya lemah lembut bagaikan rembulan yang berada di tengah air, air di bawah rembulan!
Mendadak Chu Liuxiang membalikkan badan Zhang Jiejie, dan menekannya ke badannya sendiri, kemudian memukuli pantat gadis itu dengan keras!
Sebenarnya ia tidak terlalu keras memukulnya, tapi Zhang Jiejie justru berteriak keras sekali.
Ia samba tertawa sambil teriak, sambil menendang dengan kakinya, menendangi Chu Liuxiang, air dan bak itu.
Ujung celana panjangnya yang lebar itu menjadi tergulung, sehingga memperlihatkan pergelangan kaki yang berbentuk indah, betis mulus yang seputih salju, dan telapak kakinya.
*** Akhirnya Chu Liuxiang bisa melihat kaki gadis itu.
Kaki itu telanjang, tidak memakai kaos kaki, dan kelihatannya memang baru saja mencuci kakinya, sehingga terlihat bersih, mulus dan indah!
Chu Liuxiang pernah melihat kaki dari banyak wanita, tetapi saat ini lagaknya seperti baru pertama kali melihat kaki wanita.
Entah kapan tangan dia telah berhenti bergerak.
Nafas Zhang jiejie agak tersengal, lalu menoleh dan menatap mata Chu Liuxiang, dan bertanya seraya menggigit bibir sendiri.
"Kau sedang melihat apa?"
Agaknya Chu Liuxiang tidak mendengar. Lama sekali, baru bergumam setelah menghela nafas panjang.
"Sekarang aku boleh dibilang sudah memahami satu hal."
"Apa itu?"
"Wanita yang matanya indah, pasti kakinya pun tak akan terlalu jelek."
Zhang jiejie segera mengerutkan kakinya, dan berkata dengan muka memerah.
"Sepasang mata malingmu ini, kenapa selalu tidak melihat kebagian yang baik?"
Chu Liuxiang sengaja berkata dengan wajah cemberut "Siapa bilang aku selalu tidak melihat ke bagian yang baik?
Jikalau kau bisa dalam radius 400 km ini, menemukan bagian yang lebih baik dipandang ini, maka aku akan kagum padamu."
Dengan wajah merah Zhang Jiejie mendeliki dia, dengan tiba-tiba ia menggigit hidung Chu Liuxiang.
Gigitannya mengena, tapi tidak terdengar bunyi, bahkan bunyi tertawa pun tidak terdengar.
Kedua orang itu bersembunyi di dalam bak air itu, seolah-olah takut bintang-bintang di langit akan datang mengintip!
Airnya dingin sekali, tetapi dalam perasaan mereka, telah menjadi hangat bagaikan cahaya surya di musim semi!
Padahal sekarang bukan musim semi, juga tidak ada cahaya surya.
Musim semi berada di dalam hati mereka.
Cahaya surya berada di dalam mata mereka.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Zhang Jiejie baru berdesah ringan dan berkata lirih.
"Kau jahat! Pukulanmu mernbuatku terasa sakit sekali."
"Seharusnya aku tak memukul lebih keras lagi."
"Mengapa? Masa' kau duga aku sengaja menipumu dan bermaksud mencelakaimu?"
"Masa' bukan?"
Zhang jiejie menjawab seraya menggigit bibirnya sendiri lagi.
"Jika aku benar-benar ingin mencelakaimu, kenapa mesti sengaja mengagetkanmu dengan gong besar itu? Kenapa mesti menunggumu di sini bagaikan orang yang dungu?"
Lingkaran matanya memerah, suaranya sudah tercampur bunyi tangis yang tertahan, tampaknya ia merasa telah dipersalahkan dengan sernena-mena, lalu tiba-tiba dengan kuat mendorong tubuh Chu Liuxiang, dan mau meloncat untuk berdiri.
Tentu saja Chu Liuxiang tak akan membiarkan dia berdiri.
Zhang jiejie mendelik dan berkata dengan nada gusar.
"Kalau aku adalah wanita yang begitu jahat dan keji, lalu untuk apa kau terus menarikku?"
"Jika aku tidak menarikmu, lalu mau menarik siapa?"
"Terserah kau mau menarik siapa! Tak ada sangkut paut dengan aku kok!"
"Jika tak ada sangkut paut denganmu, lalu bagaimana bisa guci cukamu itu tertumpah?"
Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum dingin.
"Siapa yang telah menumpahkan guci cukanya? Jangan ngaco belo ah!"
Chu Liuxiang berkata dengan santai.
"Sekalipun cukanya tidak sebanyak satu guci, tapi pastilah cuka yang ada di dalam gong sebesar itu, tak akan terlalu sedikit!"
Zhang Jiejie berkata dengan gusar.
"Aku lihat bahwa saat itu kepalamu sudah pening, jika bukan dengan gong yang sebesar itu, bagaimana mungkin arwahmu dapat dipanggil kembali?"
La ngomong, tapi akhirnya tak kuasa menahan dirinya dan mulai tertawa lagi, jari tangannya menotol hidung Chu Liuxiang cukup keras, menggigit bibirnya sendiri dan berkata seraya tersenyum.
"Kau lihatlah dirimu sendiri, tampaknya sampai sekarang arwahmu masih belum kembali!"
Chu Liuxiang menatapi dia, lama sekali baru bergumam setelah menghela nafas.
"Aku kira kepalaku seharusnya dibenamkan dalam air yang dingin."
Zhang Jiejie mendeliki dia, lalu bertanya seraya tertawa.
"Apakah kau betul-betul mau minum air bekas cuci kakiku?"
La tertawa hingga seluruh tubuhnya menjadi lemas, dan bersandar lemas dalam pelukan Chu Liuxiang. Chu Liuxiang memeluknya dengan dua tangan, dan berkata seraya menghela nafas.
"Beberapa hari ini, agaknya otakku selalu dalam keadaan pening, bahkan kian lama kian pening, jika tidak mencari sebuah cara untuk menghilangkannya, mungkin tak lama lagi akan jatuh pingsan dan mati!"
"Mati karena pening juga baik kan? Orang macam kau ini, mati satu ya kurang satu."
Chu Liuxiang bertanya seraya memandangnya lekat-lekat "Kau benar-benar menginginkan aku mati?"
Zhang Jiejie pun memandangnya lekat-lekat, tiba-tiba kedua tangannya pun memeluk erat-erat leher Chu Liuxiang, seraya berkata dengan suara lembut.
"Aku tidak menginginkan kau, Aku lebih rela aku sendiri yang mati, tak mau kau yang mati!"
"Sungguh?"
Zhang Jiejie tidak berkata apa-apa lagi, hanya makiin mengeratkan pelukannya.
Tidak peduli kata-katanya itu benar atau palsu, tapi pelukan semacam ini pasti bukanlah yang palsu!
Chu Liuxiang memahaminya.
Ia pun punya saat-saat di mana ia tak dapat menguasai dirinya sendiri, ketika menampakkan perasaan yang sebenarnya!
Waktu berlalu lama sekali, Zhang Jiejie baru menghela nafas panjang dengan pedih, dan bergumam.
"Aku tidak tahu, betul-betul tidak tahu! Aku pun sudah pening."
"Apakah kau tidak tahu bahwa Nona Jin itu adalah....orang yang berpenyakitan?"
"Jika aku tahu, bagaimana bisa membiarkan kau pergi?"
"Tapi sekarang kau sudah tahu kan?"
Hmm...."
"Kapan tahunya? Bagaimana tahunya?"
"Setelah kau masuk, hatiku tak bisa tenang, makanya aku ikut masuk."
"Apa saja yang kau lihat dan dengar?"
"Aku dengar dari seseorang, bahwa nona keluarga mereka itu adalah...seorang pasien yang amat menakutkan, yang penyakitnya sudah tidak ada harapan lagi, tapi untunglah sekarang sudah mendapatkan seorang yang akan menggantikan nona itu untuk mati."
Tiada seorang pun yang mengatakan penyakit apa yang diderita oleh Nona Jin itu.
Disebabkan penyakit ini memang betul-betul menakutkan!
Sebab siapa pun tahu bahwa di dalam dunia ini, (pada jaman dahulu), tidak ada sejenis penyakit yang lebih menakutkan dari penyakit kusta!
Pada jaman itu, kusta sudah tidak dianggap lagi sebagai semacam penyakit, tapi dianggap sebagai semacam bencanadan semacam kutukan!
Sehingga orang-orang tidak berani, juga tidak tega hati untuk menyebutnya!
Zhang Jiejie berkata dengan murung.
"Pada awalnya Jin Siye pun tidak setuju untuk berbuat demikian, tapi mau tidak mau harus berbuat demikian, makanya hatinya tidak tenteram dan amat menderita, makanya ia mau membunuhmu untuk membungkam mulutmu."
Seseorang jika hatinya tidak tenteram dan merasa malu kepada diri sendiri, pada umumnya ingin melukai atau mencelakai orang lain. Chu Liuxiang berkata setelah menghela nafas.
"Aku sekali-kali tidak menyalahkan dia. Seorang ayah, demi anak perempuannya sendiri, sekalipun berbuat hal yang keliru pun masih pantas dimaafkan, apalagi aku pun tahu bahwa ini bukanlah gagasannya."
"Apakah kau tahu ini gagasan siapa?"
"Tentu saja adalah orangyang begitu getol mau mencabut nyawaku itu"
"Tidak salah. Aku pun tertipu olehnya sehingga menyuruh kau pergi ke sana. Pada awalnya aku menduga dia yang berada di sana, sebab dia memberitahuku bahwa dia akan menunggumu di sana."
"Ia sendiri yang memberitahumu?"
Zhang Jiejie mengangguk.
"Kau kenal dia?"
Zhang Jiejie mengangguk lagi.
"Jikalau kau tahu dia itu siapa, kenapa tidak mau beritahukanku?"
Zhang Jiejie menatap ke kejauhan yang gelap pekat itu, dan dalam matanya tiba-tiba muncul semacam rasa ketakutan yang sulit terlukiskan, tiba-tiba memeluk lagi tubuh Chu Liuxiang erat-erat dan berkata.
"Saat ini aku hanya berpikir untuk melarikan diri saja! Kau.... Kau mau menemaniku untuk melarikan diri bersama-sama?"
"Melarikan diri ke mana?"
Zhang Jiejie bergumam bagaikan sedang mengigau.
"Terserah tempatnya, asal di tempat itu tiada orang lain, hanya ada aku dan kau, di sana selain tidak ada orang yang dapat menemukanku, juga tidak ada orang yang dapat menemukanmu."
Ia menutup matanya, bulu matanyayang indah itu telah bergantung air matayang mirip dengan mutiarayang bening, dan melanjutkan kata-¬katanya bagaikan igauan.
"Saat ini apa pun tidak aku inginkan, aku hanya inginkan dapat berdua denganmu, dengan tenteram melewati hidup bersama!"
Chu Liuxiang tidak berkata apa-apa, lama sekali ia berdiam Dan dalam matanya terlihat semacam ekspresi yang aneh, entah ia sedang berpikir, atau sedang bermimpi?
Zhang Jiejie tiba-tiba membuka mata, menatap dia seraya bertanya.
"Kau tidak percaya omonganku?"
Chu Liuxiang menganggukkan kepala perlahan dan menjawab.
"Aku percaya."
"Kau...kau tidak mau?"
Wajah Zhang Jiejie memucat, tubuhnya sepertinya mulai ber¬gemetaran. Chu Liuxiang berkata setelah menghela nafas yang panjang.
"Aku percaya, aku pun mau, cuma sayang...."
"Cuma sayang apa?"
Dengan kedua tangannya Chu Liuxiang memegang kepala dan muka gadis yang pucat itu, dan berkata dengan suara nan lembut.
"Cuma sayang bahwa di dunia ini sekali-kali tidak ada tempat semacam itu!"
"Sekali-kali tidak ada tempat apa?"
Chu Liuxiang berkata dengan murung.
"Sekali-kali tidak ada tempat di mana orang tidak bisa menemukan kita -Baik kita melarikan diri dan bersembunyi di mana saja, cepat atau larnbat, pasti akan ditemukan orang."
Wajah Zhang Jiejie menjadi makin pucat.
Ia sebenarnya adalah gadis periang, namun saat ini tampaknya ia tiba-tiba mempunyai banyak masalah yang memberatkan hati, dan banyak ketakutan!
Apakah sebabnya?
Apakah karena cinta?
Cinta memang adalah sesuatu yang paling tidak dapat dipegang!
Cinta kadang-kadang membuat orang menderita, kadang-kadang membuat orang bersukacita, kadang-kadang membuat orang berdukacita, tapi kadang-kadang membuat orang berbahagia!
Orang yang paling menderita, mungkin akan menjadi berbahagia setelah memiliki cinta!
Sebaliknya, orang yang paling bahagia pun mungkin akan menderita amat sangat setelah memiliki cintal Justru inilah misteri cinta!
Tetapi hanyalah cinta sejati yang selalu bertahan, dan selalu mendatangkan kebahagiaan!
*** Zhang Jiejie menundukkan kepala dan terdiam lama sekali, air matanya bercucuran dan jatuh ke dalam air dingin tapi bersih itu.
Di dalam air terpantul cahaya bintang.
Cahaya bintang yang remang-¬remang.
Kemudian ia mengangkat kepalanya, dan cahaya bintang gemintang nan remang-remang itu, sepertinya telah disembunyikan ke dalam biji matanya!
Ia menatap lekat-lekat Chu Liuxiang serta berkata dengan penuh perasaan-"Aku pun tahu bahwa di dalam dunia ini sekali-kali tidak ada tempat yang selama-lamanya tak akan ditemukan orang, tapi...asal kita di sana dapat berdua selama satu tahun, satu bulan, atau bahkan satu hari pun aku sudah amat berbahagia, amat puas." **.* Chu Liuxiang tidak berkata apa-apa lagi.
Seandainya anda adalah dia, pada suatu malam nan dingin yang cahaya bintangnya remang-remang, ada seorang gadis yang anda sukai itu berbaring di dalam pelukan anda, menyatakan cinta pada anda dan minta anda membawanya pergi.
Anda masih bisa berkata apa lagi?
Setiap orang pasti punya saat-saat di mana perasaannya bergelora dan tak mampu menguasai diri, pada saat itu, kecuali "jantung hati"-nya, semua hal ia dapat mengesampingkannya dan bahkan melupakannya!
Setiap orang dalam hidupnya, pasti paling sedikit melakukan sekali atau dua kali hal yang bodoh tapi manis ini!
Barangkali hal semacam ini tidak memberi faedah apa-apa bagi dia, namun paling tidak bisa meninggalkan sebuah kenangan nan indah, yang bisa dikenang terus ketika ia telah memasuki masa tua yang penuh kesepian itu.
Seseorang jika pada masa tuanya, di malam-malam musim salju yang teramat dingin itu, jikalau tidak punya satu atau dua kenangan manis semacam ini yang terus diingat, bagaimana bisa bertahan untuk melewati musim dingin yang begitu lama itu?
Mungkin pada saat itulah ia akan menyadari dan merasakan, bahwa ia telah melawati sepanjang hidupnya dengan sia-sia!
*** Matahari baru terbit, dan sinar matahari yang menembusi daun¬daun pohon, menebarkan bayang-bayang sinar yang berberkas-berkas, persis seperti intan-intan.
Zhang Jiejie menggandeng tangan Chu Liuxiang, berjalan tanpa suara di sebuah jalan kecil nan hening.
Hati pun penuh dengan rasa bahagia nan hening, dan merasa bahwa hatinya belum pernah sebahagia sekarang !
Lalu Chu Liuxiang?
Walaupun kelihatannya ia pun merasa bahagia, tetapi juga kelihatannya sedikit bingung.
Disebabkan ia tidak tahu.
Apakah berbuat demikian adalah benar?
Ada banyak hal, ia betul-betul sulit mengesampingkannya Ada banyak orang, ia betul-betul sulit melupakannya!
"Setiap orang tentu punya saat-saat perasaan bergejolak."
Chu Liuxiang juga adalah orang, sehingga ia pun tidak terkecuali.
Angin sepoi-sepoi berhembus dari penghujung jalan, dan di pedalaman daun-daun pohon nan hijau ada sepasang burung pipit yang sedang berkicau dengan mesra.
Zhang Jiejie tiba-tiba mengangkat kepala dan bertanya seraya tersenyum manis.
"Tahukah kau apa yang sedang mereka bicarakan?"
Chu Liuxiang menggelengkan kepala. Dari dalam mata Zhang Jiejie muncul kepolosan bocah kecil, lalu berkata dengan suara lembut.
"Kau dengar, Nona Pipit itu sedang meminta pada kekasihnya untuk membawa dia terbang ke timur dan terbang ke lautan, tetapi Tuan Pipit itu tidak mengabulkan permintaannya."
"Mengapa tidak mengabulkannya?' Zhang Jiejie menjawab seraya mendelikkan mata.
"Disebabkan ia amat bodoh, yang mengira bahwa kehidupan yang tenteram itu lebih penting dari mencari kebahagiaan! Selain takut kepada angin dan salju di perjalanan, juga takut kepada kelaparan dan kedinginan. Namun ia lupa bahwa seseorang yang tidak rela menderita pada awal-awalnya, selama¬-lamanya tak akan bisa memperoleh kebahagiaan sejati!"
Chu Liuxiang berkata dengan lamban.
"Dalam pandangan sejumlah orang, kehidupan yang tenteram juga adalah semacam kebahagiaan!"
"Tapi, ia begini bersembunyi di pohon rumah orang lain, setiap hari mesti berjaga-jaga terharlap bidikan batu dari anak-anak nakal, apakah ini pun bisa termasuk kehidupan yang tenteram?"
Ia menghela nafas dengan pelan, lalu melanjutkan kata-katanya dengan murung.
"Makanya aku beranggapan bahwa ia seharusmya membawa Nona Pipit itu pergi, jika tidak kelak akan menyesal! Jikalau tidak melalui ujian dan perbandingan, bagaimana dapat memahami apa itu kebahagiaan yang sejati?"
Ketika mereka berjalan lewat di bawah pohon itu, sepasang burung pipit yang berada di pohon itu, tiba-tiba terbang dan menuju ke timur. Zhang Jiejie bertepuk tangan, berkata seraya tertawa manis.
"Kau lihat mereka toh akhirnya pergi juga kan? Tampaknya Tuan Pipit ini boleh dibilang masih tidak terlalu bodoh."
Chu Liuxiang pun berkata seraya tertawa.
"Apakah aku pun boleh dibilang tidak terlalu bodoh?"
Zhang Jiejie berjinjit, lalu mencium sekilas di pipi Chu Liuxiang, seraya berkata dengan suara halus.
"Sebaliknya, kau betul-betul cerdas sekali"
"Kau ingin ke mana?"
"Terserah kau."
"Kau tidak capek?"
"Tidak."
"Kalau begitu kita berjalan terus saja bagaimana? Tidak peduli sampai ke mana."
"Baik."
"Asal kau mau, sekalipun berjalan sampai ke ujung laut dan tepi langit, aku akan mengikutimu selama-lamanya." *** Senja hari. Di sebuah kota kecil, senja hari di sana tampaknya begitu damai dan tenteram! Ada sepasang suami istri yang berusia "senja" , sedang berjalan bersama di bawah cahaya senja nan indah itu. Si suami yang tua itu memakai sebuah topi rami kuning di kepalanya, topi itu tinggi dan kelihatan lucu, namun pria tua itu malah kelihatan serius dan berwibawa. Istrinya berjalan tanpa suara di sisinya, kelihatannya begitu penurut dan puas, dikarenakan ia telah menyerahkan seumur hidupnya kepada sang suami, dan memperoleh ketenterarnan dan kebahagiaan seumur hidup! Mereka berjalan dan lewat dengan begitu tenang dan tenteram, tidak mau diganggu orang, juga tidak mau mengganggu orang lain. Chu Liuxiang menghela nafas panjang dengan ringan. Setiap kali ketika ia melihat pasangan suami istri tua semacam ini, di dalam hatinya selalu muncul semacam perasaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata! Disebabkan ia tidak pernah tahu bahwa ketika ia sendiri sudah memasuki usia senja, apakah akan ada seorang pasangan hidup yang dapat berdampingan seumur hidup dengan dia! Tetapi pada kali inilah, di dalam hatinya, perasaan bahagianya lebih baik dari perasaan murungnya, sebab Zhang Jiejie sedang menemani di sisinya! Tanpa kuasa menahan dirinya, ia menggenggam erat tangan Zhang Jiejie. Namun tangan Zhang Jiejie dinginnya seperti es. Zhang Jiejie menundukkan kepala dan menatap ujung kakinya sendiri, lama sekali baru mengangkat kepala dan berkata seraya tersenyum manis "Aku tidak begitu kedinginan, cuma kelaparan, bahkan sudah hampir gila karena kelaparan!"
Chu Liuxiang bertanya.
"Kau mau makan apa?"
Biji mata Zhang Jiejie berputar-putar sejenak, lalu menjawab.
"Aku mau makan sirip ikan."
"Bagaimana mungkin tempat semacam ini ada sirip ikan?"
"Berjalan lagi kira-kira 1 km, akan sampai di sebuah kota yang cukup besar, dan aku tahu di sana ada sirip ikan."
"Katanya sekarang kau sudah hampir gila karena kelaparan, apakah masih bisa bertahan sampai ke sana?"
Zhang Jiejie menjawab seraya tersenyum.
"Ketika aku makin lapar, makin kepingin makan yang enak-enak!"
Chu Liuxiang menimpalinya seraya tersenyum juga.
"Ternyata kamu dan aku adalah sama, sama-sama rakus makan."
Zhang Jiejie terus tersenyum manis dan berkata.
"Makanya kita adalah pasangan sejati sejak dari `sono' nya!"
"Baiklah, mari kita buruan pergi."
Zhang Jiejie membulatkan bentuk bibirnya dan berkata.
"Saking laparnya aku sudah tidak bisa berjalan, apakah kau masih punya uang untuk menyewa kereta?"
Lalu mereka menyewa sebuah kereta.
*** Kereta itu melaju dengan amat kencang, sebab didesak terus¬ menerus oleh Zhang Jiejie.
Saat ini ketika memandang kereta itu, sudah kelihatan sinar lampu dari kota kecil yang berada di depan itu.
Chu Liuxiang sedang termangu-mangu memandang ke kejauhan.
Tiba-tiba Zhang Jiejie bertanya.
"Apakah kau sekarang ini masih memikirkan orang itu?"
"Siapa?"
"Orang yang terus-menerus mau mencelakaimu itu."
Chu Liuxiang tersenyum sejenak, lalu berkata.
"Kadang-kadang mau tak mau masih bisa memikirkan dia."
"Tahukah kau kenapa sejak dulu aku tidak mau memberitahukanmu siapa dia?"
"Tidak tahu."
Zhang Jiejie berkata dengan suara halus.
"Sebab aku tidak ingin kau pergi menyelidikinya, karena itu aku mau memohon kau satu hal."
"Apa itu?"
Zhang Jiejie menatapnya lekat-lekat, lalu berkata sehuruf demi sehuruf.
"Aku mau kau menyanggupiku, bahwa lain kali tidak akan memikirkan dia, juga tidak akan mencari dia lagi."
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum sekilas.
"Kapan aku pernah mencari dia? Selalu dia yang mencariku."
"Jikalau lain kali dia tidak mencarimu lagi?"
"Tentu saja aku pun tak akan mencarinya"
"Sungguh?"
Chu Liuxiang menjawab dengan suara halus.
"Asal kau di sisiku, siapa pun aku sudah tidak mau mencarinya lagi. Aku sudah pernah menyanggupimu kan?"
Zhang Jiejie tersenyum dengan luar biasa lemah-lembutnya dan berkata.
"Aku pasti akan selama-lamanya menemani di sisimu!"
Pada saat inilah terdengar ringkikan panjang dari kuda yang menghela kereta itu, dan kereta itu berhenti di depan sebuah rumah makan bertingkat yang sinar lampunya terang benderang.
Zhang Jiejie menggandeng tangan Chu Liuxiang dan berkata.
"Mari kita turun dan pergi mencari sirip ikan, asal uang cukup, aku sanggup melahap habis semua sirip ikan yang ada di tempat ini!" *** Sirip ikan sudah terletak di meja -Sepiring besar penuh, panas dan harum. Tetapi Zhang Jiejie belum kembali. Tadi sewaktu dia barusan duduk, tiba-tiba berdiri lagi dan berkata.
"Aku mau keluar sebentar."
Chu Liuxiang bertanya tanpa bisa menahan dirinya.
"Mau ke mana?"
Zhang Jiejie membungkukkan pinggang, wajahnya menenipel ke wajah Chu Liuxiang, dan berkata lirih di telinga Chu Liuxiang.
"Aku pergi untuk membersihkan `stok barang' yang ada di dalam perutku, agar nanti bisa mengisi lebih banyak sirip ikan."
Di dalam rumah makan itu ada banyak orang, wajah dia menempel begini dekat, sampai-sampai Chu Liuxiang pun terasa agak jengah.
Sampai sekarang pun, ia masih merasa sepertinya semua orang sedang memandangi dia.
Tetapi ia merasa hatinya sedang berbunga-bunga!
Seorang gadis, jika bukan sudah mencintai anda dengan segenap hati, bagaimana mungkin bisa berasyik-masyuk dengan anda di depan begitu banyak orang?
Kecuali Chu Liuxiang, mata Zhang Jiejie sepertinya sudah tidak bisa melihat pria kedua lagi!
Chu Liuxiang pun sudah tidak pernah lagi memerhatikan gadis lain!
Tetapi saat ini sirip ikan sudah hampir dingin, kenapa ia masih belum kembali?
Mengapa kaum gadis kalau melakukan sesuatu, selalu lebih pelandari kaum laki-laki?
Chu Liuxiang menghela nafas, mengangkat kepala, dan tiba-tiba terlihat ada dua orang yang sedang masuk dan luar pintu.
Dua orang tua.
satu kakek, satu nenek.
Si kakek memakai sebuah topi rami kuning di kepalanya, topi itu berbentuk tinggi dan kelihatan lucu, namun ekspresi wajahnya amat berwibawa.
Chu Liuxiang tiba-tiba menyadari bahwa kedua orang ini adalah pasangan swami istri yang tadi terlihat di kota kecil itu.
Tadi mereka masih berjalan-jalan santai di kota kecil itu, tapi sekarang tiba-tiba juga sudah tiba di sini.
Mereka datang naik apa?
Dan datang untuk apa?
Semula Chu Liuxiang merasa heran, tapi segera terpikirkan.
"Kereta kuda di kota kecil itu kan bukan cuma sebuah saja? Jika kami bisa datang dengan kereta kemari untuk makan sirip ikan, orang lain kan juga bisa?"
Ia tersenyum pada diri sendiri, serta memutuskan untuk tidak iseng mengurusi urusan orang lain.
Tetapi siapa sangka bahwa pasangan suami istri itu sepertinya telah memutuskan untuk mencari dia, ternyata langsung berjalan ke depan dia, dan duduk di kursi yang berada di depan dia.
Chu Liuxiang menjadi terkesiap.
Tiba-tiba ia menyadari bahwa si kakek terus menatap dia, bukan saja ekspresi wajahnya amat serius, tatapan matanya pun amat dingin, bahkan seperti menatap seorang musuh besar saja!
Chu Liuxiang memaksa diri untuk tersenyum, dan bertanya.
"Apakah anda berdua mencari seseorang?"
"Hmm"
"Anda mencari siapa?"
"Hmm."
"Sepertinya saya belum pernah melihat anda berdua?"
"Hmm."
Chu Liuxiang tidak bertanya lagi, sebab sudah paham apa yang sedang dicari kedua orang itu. Mereka datang untuk mencari gara-gara! Chu Liuxiang berpikir seraya menghela nafas.
"Sekalipun aku tidak pergi mencari orang lain, tapi larnbat atau cepat orang lain juga akan mencariku."
Sebenarnya sejak awal ia sudah dapat menduga hal ini, hanya tidak menduga bahwa datangnya secepat ini!
Saat ini ia cuma berharap Zhang Jiejie bisa cepat kembali, agar Zhang Jiejie bisa melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa bukanlah dia yang yang mau pergi mencari orang lain, tapi orang lainlah yang mau datang mencari dia.
Dulu sepertinya ia tidak demikian.
Dulu sewaktu melakukan sesuatu, ia hanya bertanya apakah hal itu layak dan sanggup dikerjakan?
Selalu tidak ingin terlihat orang lain, juga tidak ingin diketahui orang lain.
Kedudukan Zhang Jiejie di dalam hatinya, sejak kapan sudah menjadi demikian pentingnya?
--Pada saat ini hatinya terasa kalut sekali.
Sejak dulu sampai sekarang, ia selalu melewati hari-harinya secara bebas dan tidak terikat, tapi sekarang hatinya sudah ada "beban", yang tidak mampu dilepaskannya sekalipun mampu, juga amat berat hati untuk melepaskannya!
Si kakek terus menatapinya dengan dingin, tiba-tiba berkata.
"Kamu tidak perlu menunggu lagi."
"Tidak perlu menunggu apa?"
"Tidak perlu menunggu orang itu kembali."
"Apakah anda tahu siapa yang saya tunggu?"
"Baik kamu sedang menunggu siapa pun, ia sudah tak akan kembali lagi!"
Jantung Chu Liuxiang sepertinya "dipelintir", lalu bertanya.` "Anda tahu bahwa ia tak akan kembali lagi?"
"Aku tahu."
Chu Liuxiang menuang secangkir arak meminumnya pelan-pelan, tiba-tiba tersenyum dan berkata.
"Hal yang anda ketahui agaknya tidak sedikit."
"Hal yang aku tidak ketahui memang sedikit sekali."
"Paling sedikit ada satu hal yang anda belum tahu."
"Apa itu?"
"Perangaiku"
"Oh ya?"
Chu Liuxiang minum secangkir arak lagi, kemudian berkata dengan suara hambar.
"Perangaiku agak luar biasa, jika ada orang yang menyuruhku tidak melakukan suatu hal, aku justru rnaumelakukannya."
Air muka si kakek menjadi dingin dia berkata.
"Kamu pasti akan menunggunya?"
"Pasti."
"Jika ia tidak kembali, kamu akan pergi mencarinya?"
"Pasti."
Si kakek mendadak berdiri dan berkata dengan nada dingin.
"Keluar!"
Chu Liuxiang berkata dengan sikap hambar.
"Saya duduk manis di sini untuk menunggu orang, kenapa mesti keluar?"
"Sebab aku menyuruhmu keluar."
Chu Liuxiang tersenyum lagi dan berkata.
"Jika begitu aku justru tidak mau keluar."
Bola mata si kakek seolah-olah mengerut, menganggukkan kepala pelan-pelan, lalu berkata seraya tersenyum "Bagus! Kamu bagus sekali!"
"Memang aku lumayan kok"
"Tapi kali ini kamu keliru besar!"
Mendadak si kakek menjulurkan tangannya, Tangan ini kurus kering dan berwarna kuning gelap, persis seperti tangannya orang mati yang sudah lama dikuburkan!
Dilihat dari arah mana pun, tangan ini tidak mirip tangan orang hidup!
Kemudian air mukanya timbul semacam warna abu-abu gelap.
Bahkan Chu Liuxiang pun tidak pernah melihat ada seorang yang hidup yang air mukanya berwarna demikian!
Sampai-sampai topi rami kuning yang terpakai di kepalanya itu pun, jika dilihat sekarang, sedikit pun sudah tidak kelihatan lucu lagi.
Si nenek masih duduk dengan diam, kelihatannya amat sabar dan penurut, tapi jika dilihat dengan teliti, akan tahu bahwa sepasang matanya ternyata berwarna hijau pucat, persis seperti jerambangyang bermunculan di antara makam-makam pada malam yang dingin!
Sampai saat inilah Chu Liuxiang baru benar-benar melihat dengan jelas kedua orang ini.
Seharusnya ia lebih dini melihat dengan jelas, dikarenakan matanya memang tidak kalah dengan siapa pun yang ada di dunia ini!
Namun kali ini adalah pengecualian.
Paling sedikit ada tujuh sampai delapan orangyang lehih dini melihat jelas dari Chu Liuxiang tentang kemisteriusan dan "kelainan"
Dari pasangan suami istri itu!
Sehingga begitu kedua orang ini masuk ke rumah makan ini, ketujuh sampai kedelapan orang ini segera berdiri, bayar uang makan dengan diam-diam, lalu pergi dengan diam-diam juga, lagaknya seperti kedua orang tua itu dapat mendatangkan musibah yang mengerikan, atau penyakit menular yang mematikan bagi ban yak orang!
Walaupun tiada seorang pun yang tahu.
Siapa mereka?
Dan datang dari mana?
Barangkali kedua orang itu bukan berasal ciari tempat mana pun di dunia ini!
Apakah anda pernah mendengar cerita orang mati yang bangkit dan hidup lagi dari dalam kuburan?
Tangan kering yang kekuning-kuningan itu keluar pelan-pelan dari lengan baju, lalu menjulur pelan-pelan ke Chu Liuxiang.
Barangkali ini bukan tangan, tapi cakar setan!
Ternyata Chu Liuxiang masih tersenyum seraya bertanya "Anda ingin minum arak?"
Cangkir arak yang berada di tangannya itu tiba-tiba disodorkan ke depan.
Dengan berusaha keras, ia telah berhasil membuat dirinya tenang, maka gerakan ini dilihat dan diperhitungkan dengan amat tepat.
Maka cangkir itu dengan amat tepat telah berada di tangan si kakek.
Cangkir itu kosong --Cangkir arak di tangan Chu Liuxiang, umumnya adalah kosong.
Tangan si kakek tiba-tiba ada sebuah cangkir, mau tidak mau hal ini cukup mengejutkan dia!
Pada saat inilahterdengar bunyi "Praaak!", dan cangkir itu -Bukan pecah berkeping-keping --pecah menjadi bedak!
Cangkir yang terbuat dari porselen putih itu segera menjadi setumpukan bedak, yang jatuh berguguran dari celah telapak tangan si kakek, dan jatuh ke dalam piring yang berisi sirip ikan angsio yang merah dan terang itu.
Tangan si kakek ternyata penuh dengan tenaga dalam yang teramat menakutkan!
Tulang seseorang jika tercengkeram tangan ini, bukankah juga akan sama menjadi bedak?Tangan itu tidak berhenti, dan dijulurkan terus untuk mencengkeram tulang Chu Liuxiang -Tulang mana pun juga boleh.
Namun tulang mana pun juga tidak boleh tercengkeram!
Chu Liuxiang mendadak angkat sumpitnya dan disodorkan ke depan, dan berhasil menyumpit dua jari tangan si kakek.
Gerakan mereka betul-betul cepat sekali, tapi patahnya sumpit itu juga tidak lambat "Taaak!
Taaak!
Taaak!"
Sumpit ini telah patah tiga bagian. Benda apa pun, asal kena tangan ini, semuanya akan segera patah! Si kakek memandang dia dengan dingin dan berkata.
"Berdiri! Keluar!"
Tetapi Chu Liuxiang justru tidak mau berdiri dan keluar.
Jika begitu tulangnya akan segera patah!
Tangan itu sudah berada di depannya, dengan tulang dia hanya berjarak beberapa inci saja!
Ia sebenarnya dapat berkelit atau bahkan lari.
Baik si kakek itu setan atau manusia, jangan berharap dapat menyusulnya!
Tapi tidak tahu kenapa, ia justru tidak mau pergi, seolah-olah ia takut Zhang Jiejie dapat melihat kepengecutannya!
Ia sudah bersiap-siap untuk mengadu tenaga dalam dengan si kakek.
Tenaga badan orang muda tentu saja lebih kuat dari orang tua, tapi tenaga dalam bukanlah tenaga badan, tenaga dalam itu, mesti melatihnya makin lama baru bisa makin kuat.
Untuk hal ini ia betul-betul tidak punya keyakinan, dan biasanya ia tak akan melakukan sesuatu jika tidak punya keyakinan.
Namun pada kali ini tiba-tiba sifat membandelnya muncul.
Dalam hitungan detik, dua pasang tangan telah saling menempel.
Chu Liuxiang segera merasa tangannya seolah-olah sedang memegang besi soderan!
Kemudian kursi yang didudukinya itu berbunyi terus.
"Kretaaak! Kretaaak!"
Si nenek tiba-tiba menggelengkan kepala, menghela nafas dan bergumam.
"Kursi ini kelihatannya paling sedikit berharga dua tael uang perak, sayang sekali!"
Samba bergumam, dia mengeluarkan sebuah dompet bersulam yang sudah luntur warnanya, mengambil keluar dua tael uang perak, menoleh dan melambaikan tangan pada si pelayan, serta berkata.
"Ini uang untuk ganti rugi kursi kalian, ambillah."
Menyaksikan kejadian itu, air muka pelayan itu telah pucat pasi, dan ia tidak tahu apakah mesti pergi menerima uang itu atau tidak.
Tepat pada saat ini, terdengar bunyi "Braaak!", dan kursi yang diduduki Chu Liuxiang itu telah pecah berkeping-keping.
Meskipun ia memaksakan diri untuk duduk "di udara" , namun kekuatan tekanan di tangannya itu makin lama makin besar, sehinga ia sudah menjadi kewalahan, dan ia pun sudah tidak mampu berdiri.
Kekuatan tekanan tangan kakek ini, ternyata lebih menakutkan dari yang dibayangkan!
Ketika badannya tertekan makin lama menjadi kian rendah, tiba-¬tiba tenaga tangan si kakek lenyap sama sekali, sehingga tak dapat menguasai dirinya Chu Liuxiang menjadi terduduk, bukan duduk di lantai, tapi duduk di sebuah kursi.
Seolah-olah kursi ini muncul tiba-tiba dari dalam lantai!
Ia menoleh dan terlihatlah Zhang Jiejie.
Akhirnya gadis itu telah kembali, berdiri di belakang Chu Liuxiang, dan berkata seraya tersenyum.
"Bapak tua ini kenapa tidak mau duduk? Masa' takut bahwa kursi di tempat ini kurang kuat?"
Air muka si kakek menjadi makin tidak enak dipandang, tapi toh duduk dengan lambat-lambat. Tangan Zhang Jiejie memegangi bahu Chu Liuxiang, lalu berkata seraya tersenyum.
"Aku tidak tahu kalau di tempat ini ada teman yang kau kenal."
Chu Liuxiang sedang berusaha keras agar air mukanya menjadi sedikit lebih enak dipandang, sebab ia sungguh-sungguh tidak ingin or¬ang lain juga menganggap dia adalah setan hidup yang baru merangkak keluar dari dalam peti mati.
Kemudian ia baru menggelengkan kepalanya.
"Apakah artinya kau menggelengkan kepalamu?"
Tanya Zhang Jiejie. Chu Liuxiang tersenyum sekilas dan menjawab.
"Artinya adalah. Dahulu aku belum pernah bertemu mereka, kelak tidak mau bertemu mereka lagi."
Zhang Jiejie menunjukkan ekspresi wajah terkejut, dan bertanya "Kau tidak kenal mereka?"
"Tidak kenal."
Sebetulnya ia ingin mengucapkan kata-kata sejenis.
"Sialan! Persetan!" , tapi akltirnya ditahan kuat-kuat. Zhang Jiejie mendelikkan mata, dan bertanya kepada kedua orang itu.
"Jika begitu kalian datang untuk apa? Masa' datang untuk mencariku?"
Si kakek menatap dia, akhirnya menggelengkan kepalanya pelan-¬pelan dan menjawab.
"Bukan, aku datang bukan untuk mencarimu."
Kemudian ia memutar badannya pelan-pelan, dan berjalan pergi dengan pelan-pelan. Ketika si nenek mau menyusul pergi, Zhang Jiejie tiba-tiba berkata.
"Tunggu."
Kakek dan nenek itu segera berhenti. Zhang Jiejie berkata.
"Siapakah yang telah menabur begitu banyak garam di sirip ikanku? Pasti asinnya minta ampun! Cepat ganti rugi untukku!"
Si kakek tidak berkata apa-apa, tapi si nenek mengambil keluar lagi dua tael uang perak dari dalam dompetnya, meletakkannya di meja, menggandeng tangan si kakek, dan berjalan keluar pelanpelan.
Hanya sekejap mata saja, mereka telah lenyap dalam arus orang di luar pintu rumah makan, persis seperti tidak pernah muncul saja.
Zhang Jiejie tertawa dan berkata dengan nyaring.
"Minta lagi sepiring sirip ikan angsio, minta sirip rusuk yang terbaik ya! Aku sudah hampir gila karena kelaparan!" *** Dilihat dari mana pun, tak akan terlihat bahwa Zhang Jiejie mirip seperti orang yang sudah hampir gila karena kelaparan. Bukan saja ia tertawa dengan gembira sekali, bahkan wajahnya pun berseri-seri, persis seperti buah segar yang baru dikupas kulitnya. Ini mungkin karena ia telah mengganti pakaiannya .Pakaian yang halus dan lembut, dan berwarna putih salju. Chu Liuxiang menatap dia, dan menatap pakaian putihnya, lagaknya persis orang yang belum pernah melihat seorang gadis yang berpakaian putih. Zhang Jiejie bertanya seraya tersenyum manis lagi.
"Kau tidak menyangka kan bahwa aku pergi untuk berganti pakaian?"
Mulut Chu Liuxiang bergumam, namun siapa pun tidak mengerti apa yang digumamkannya. Zhang Jiejie tersenyum manis terus, dan bertanya lagi dengan suara lembut.
"Sebuah pepatah berbunyi.'wanita berias untuk yang menyukai dirinya', kau paham kan?"
Chu Liuxiang mengelus-elus hidung sendiri. Zhang Jiejie bertanya lagi.
"Pakaian ini bagus tidak? Kau suka?"
Chu Liuxiang tiba-tiba berkata.
"Aku sungguh-sungguh sukanya minta ampun!"
Zhang Jiejie membelalakkan mata, nampaknya terkejut, lalu berkata.
"Kau lagi marah? Marah kepada siapa?"
Chu Liuxiang mulai cari cangkir mau minum arak Zhang Jiejie tiba-tiba tersenyum manis lagi dan berkata.
"Oh aku ngerti, kau pasti mengira aku kabur lagi, takut aku tidak kembali, maka kau jadi ngambek kan? Tetapi sekarang aku kan sudah kembali, buat apa ngambek lagi?"
"Hmmm"
Zhang Jiejie berkata seraya menundukkankepala.
"Jika kau sungguh tidak menyukai pakaianku ini, aku akan menanggalkannya, menanggalkannya dengan segera."
Chu Liuxiang tiba-tiba meletakkan cangkir araknya, kemudian memeluk gadis itu dan mengangkatnya! Zhang Jiejie terkejut bercampur girang, dan berkata.
"Kau...kau sudah gila ya? Cepat turunkan aku, masa' kau tidak takut dilihat dan ditertawai banyak orang?"
Chu Liuxiang sama sekali tidak menggubris, menggendong dia dan berjalan keluar. Zhang Jiejie berkata seraya tertawa cekikikan.
"Sirip ikanku...sirip ikanku telah tiba nih!"
Sirip ikan memang sedang diantar kemari.
Pelayan yang mengantar sirip ikan itu, ketika melihat macamnya mereka ini, matanya mendelik, mulutnya ternganga, bahkan dagunya sepertinya mau lepas!
Tentu saja dagunya tidak bisa lepas, tetapi piring yang berisi sirip ikan itu benar-benar lepas dari tangannya.
"Praaang!" , pining itu terjatuh dan pecah berkeping-keping. Zhang Jiejie menghela nafas, menutup mata seraya bergumam.
"Tampaknya hari ini aku telah ditakdirkan tidak bisa menyantap sirip ikan ya!"
Ia memutar-mutar biji matanya, lalu berkata seraya tersenyum.
"Meskipun tidak berhasil menyantap sirip ikan, tapi untung ada sebuah telinga babi yang sudah tersedia, yang dapat dimakan sebagai makanan ringan."
La menggigit dengan ringan, ringan sekali....
Chu Liuxiang sering mengelus-elus hidung, tapi jarang mengelus¬-elus telinga.
Pada kenyataannya, kecuali barusan telinganya digigit, ia talc akan mengelus-elus telinganya.
Sekarang ia sedang mengelus-elus telinganya.
Di telinganya ada dua tangan ----Yang satu tentu saja adalah tangan Zhang Jiejie.
Ia pun mengelus-elus telinga Chu Liuxiang dengan ringan, dan bertanya dengan suara lembut.
"Tadi gigitanku membuat kau sakit tidak?"
"Tidak sakit, tapi ditambah dua kata lagi."
"Tambah dua kata?"
"Tidak sakit ---Baru aneh."
Zhang Jiejie tertawa nyaring, sambil tertawa manja tubuhnya menekan tubuh Chu Liuxiang, dan meniup-niup di telinga Chu Liuxiang.
Pada mulanya Chu Liuxiang pura-pura masih bisa bertahan, tapi akhirnya tidak tahan lagi dan tertawa terbahak-bahak, sampaisampai seluruh tubuhnya mengkeret dan melengkung, sehingga nyaris terguling dan terjatuh dari bangku.
Nafas Zhang Jiejie tersengal-sengal, lalu berkata seraya tertawa cekikikan.
"Jika kau berani sengaja membuatku marah, maka aku benar¬benar akan memotong-motong telingamu jadi abon babi, setelah ditaburi sedikit merica dan minyak wijen, aku akan menyantapnya"
Chu Liuxinag tertawa keras seraya pegang perut, tiba-tiba menjulurkan tangan dan menarik Zhang Jiejie turun dari bangku.
Keduanya bergulingan bersama di tanah, dan tertawa cekikikan bersama.
Tetapi tiba-tiba, keduanya sama-sama tidak tertawa lagi.
Itu dikarenakan mulut mereka telah "tersumpal"!
Tetapi suasana di dalam kamar itu lama sekali tidak "tenang", dan ketika suasananya betul-betul "tenang", tubuh mereka telah kembali ke bangku itu.
*** Angin musim panas sepoi-sepoi meniupi pintu dan jendela kamar itu, cahaya bintang melewati kertas jendela dan menyinari pinggang Zhang Jiejie yang bagaikan terbuat dari giok pintu itu!
Di pinggang ini kenapa bisa ada butiran-butiran keringatyang bening bagaikan mutiara?
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Zhang Jiejie menghela nafas panjang dengan ringan dan berkata.
"Jikalau aku beritahukanmu, bahwa kau adalah pria pertamaku sekaligus pria terakhirku, kau percaya tidak?"
"Aku percaya."
"Jika begitu kenapa tadi kau masih mencurigaiku, dan mengira aku tak akan kembali lagi?"
"Aku tidak mencurigaimu. Tapi itu kata mereka."
"Mereka?"
"Yaitu pasangan suami istri yang mengerikan bagaikan titisan setan hidup itu!"
"Mengapa kau mau percaya omongan kosong mereka?"
Chu Liuxiang menjawab setelah menghela nafas.
"Aku tidak percaya omongan mereka.... Cuma sedikit tegang."
"Kenapa tegang?"
"Sekalipun aku tahu pasti kau akan kembali, tapi masih juga takut kau tidak kembali, karena...."
Tiba-tiha ia memeluk lagi Zhang Jiejie erat-erat dan berkata pelan¬-pelan.
"K arena jika kau benar-benar tidak kembali lagi, aku betul-betui tidak tahu mesti ke mana untuk mencarirnu!"
Zhang Jiejie menatapnya dengan tatapan yang lemah-lembut bagaikan aliran air di musim semi, lalu bertanya.
"Benarkah kau menganggapku begitu penting?"
"Benar, benar!Benar! "
Zhang Jiejie tiba-tiba membenamkan kepala di dalam pelukan Chu Liuxiang, menggigiti dan memaki-maki dia.
"Kau si Tolol! Kau si Pandir! Kebodohanmu sudah tidak tertolong lagi! Masa' tidak dapat merasakan betapa baiknya aku kepadamu? Sekarang sekalipun kau mengusirku dengan pentung, juga tak akan berhasil!"
Kata-kata makiannya "berat", tapi gigitannya ringan sekali.
Ia tertawa-tawa dan memaki-maki, sehingga tak jelas ini cinta atau benci?
Tertawa atau menangis?
Hati Chu Liuxiang telah "mencair" , dan berubah jadi "air yang mengalir", berubah jadi "asap yang ringan", berubah jadi "angin musim semi"!
Kemudian Zhang Jiejie berkata pelan.
"Sebenarnya yang takut mestinya adalah aku, bukan kau."
"Kau takut apa?"
"Takut kau berubah hati! Takut kau menyesal!"
Zhang Jiejie tiba-tiba berdiri dan berkata seraya menggigit bibir sendiri.
"Aku tahu kau bukan saja punya banyak wanita, juga punya banyalc sahabat, mereka semuanya merupakan orang-orang yang tak bisa kau tinggalkan begitu saja kan? Walaupun sekarang kau pergi denganku, suatu saat pasti akan menyesal!"
Chu Liuxiang tidak berkata apa-apa lagi, hanya memandangnya dengan termangu-mangu.
Yang dipandang bukan matanya yang indah, juga bukan hidung dan mulutnya yang menawan itu.
Bagian tubuh manakah yang ia pandang?
Wajah Zhang Jiejie tiba-tiba memerah, tubuhnya mengkeret lagi, lalu berkata seraya mendorong tubuh dia dengan kuat.
"Kau keluarlah, aku mau...aku mau...."
Chu Liuxiang bertanya seraya mendelikkan mata.
"Kau mau apa?"
Zhang Jiejie menjawab dengan air muka kian memerah.
"Kau setan nakal ini! Jelas-jelas kau tahu kan? Cepat-cepatlah pergi dengan membawa serta mata keranjangmu itu!"
"Malam selarut ini, kau mau menyuruhku pergi ke mana?"
Bola mata Zhang Jiejie berputar-putar sejenak, lalu berkata seraya tersenyum manis.
"Tolong belikan sirip ikan untkku, sekarang aku betul¬betul nyaris gila karena kelaparan!"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum masam.
"Malam selarut ini, kau suruh aku pergi ke mana untuk beli sirip ikan?"
Zhang Jiejie sengaja mencemberutkan wajah dan berkata.
"Aku tidak peduli! Asal kau berani pulang tanpa membawa sirip ikan, hatihatilah telingamu akan berubah jadi abon telinga campur minyak wijen!" *** Ini adalah perkataan terakhirnya yang didengar Chu Liuxiang. Ia selamanya tak pernah menduga setelah mendengar perkataan ini, harus berapa lama lagi baru bisa mendengar suaranya lagi! *** Bab 9 . Dimanakah Jantung Hatiku? Ketika Chu Liuxiang pulang dengan membawa sirip ikan, Zhang Jiejie sudah tidak ada. Meskipun orangnya telah pergi, tapi keanggunannya -perasaannya dan wanginya, seolah-olah masih tertinggal di bantal, tertinggal di celah baju, dan tertinggal di setiap sudut dari rumah ini. Di dal am hati -mata dan pikiran Chu Liuxiang, tetap masih bisa merasakan keberadaannya! "Ia segera akan kembali! Pasti tidak lama!"
Duga Chu Liuxiang.
Ia membalikkan badan di ranjang, seluruh badan dirilekskan, serta menikmati sisa-sisa wangi yang ada di bantal kepala.
Hatinya penuh dengan suka cita dan kepuasan.
Karena ia masih bisa "menghirup dan merasakan"
Gadis itu.
Karena ia mengira Zhang Jiejie segera akan kembali.
Makapenantian yang penuh dengan kesepian ini berubah menjadi kenikmatan yang terasa manis.
Di bantal kepala itu ada sehelai rambut.
Rambutnya Zhang Jiejie panjang-halus dan terang, persis seperti "benang cinta"
Nya gadis itu. Ia menggulung erat-erat rambut itu di jari tangannya Sama seperti ia telah menggulung erat-erat "benang cinta"
Itu di hatinya!
Namun Zhang Jiejie tidak kembali.
Bantal kepala dan baju telah jadi dingin, ia masih belum kembali.
Malam yang panjang sudah hampir berlalu, fajar pun sudah menyingsing, ia masih belum kembali.
Chu Liuxiang telah tertidur, lalu bangun, dan menggeliat dengan resah di ranjang, tetapi ia belum kembali.
"Ia pergi ke mana? Kenapa masih belum kembali?"
"Mengapa? Mengapa?...."
Chu Liuxiang tidak bisa menjelaskan, juga tidak bisa membayangkannya! "Masa' sejak saat itu ia telah lenyap dari dunia ini? Masa' selama lamanya aku sudah tidak bisa bertemu lagi dengannya?"
Ia tidak bisa percaya, tidak berani percaya, juga menolak untuk percaya! "Aku pasti bisa menunggu sampai dia kembali, pasti bisa!"
Tetapi ia telah menunggu dengan sia-sia.
Waktu berjalan begitu lambat, dan lambatnya dapat membuat or¬ang jadi gila!
Setiap kali angin menghembusi jendela dan pintu, ia selalu mengira gadis itu sudah kembali.
Tetapi sampai kegelapan malam tiba sekali lagi, tetap saja tidak nampak bayangan gadis itu.
"Masa' ia benar-benar telah pergi tanpa pamit?"
"Masa' kata-kata manisnya dan janji setianya itu, hanyalah mau meninggalkan penderitaan yang sulit terlupakan selama-lamanya untukku?"
"Mengapa ia mau berbuat demilu.an?Mengapa ia mau menipuku?"
Sebenarnya ia bukanlah orang yang sentimentil, dan biasanya ia selalu tidak memasukkan dalam hati untuk hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya.
Baik itu berkumpul maupun berpisah dengan seseorang, biasanya ia tidak terlalu menganggap serius.
Dikarenakan hidup manusia begitu pendek, berapa lama sih bisa berkumpul maupun berpisah?
Dikarenakan seseorang atau sesuatu itu datangnya buru-buru, perginya pun buru-buru, Jalu mengapa mesti terlalu menganggap serius?
Tetapi sekarang ia tahu dirinya salah.
Ada sejumlah hubungan yang sama seperti meteor, yang sekalipun pertemuannya cuma sekejap mata, tapi dapat menimbulkan percikan "bunga"
Api yang begitu menyilaukan mata! Meskipun percikan "bunga"
Api itu bisa padam, tapi dampak dan goncangan yang terjadi dalam waktu sekejap mata itu, sulit terlupakan untuk selama-lamanya, bahkan kadang-kadang itu menimbulkan penderitaan seumur hidup!
Bahkan kadang-kadang itu dapat menghancurkan seseorang!
Meskipun Chu Liuxiang tidak memasukkan hal-hal yang tidak menyenangkan hati ke dalam hatinya, tetapi ia bukanlah orang yang tanpa perasaan.
Justru mungkin dikarenakan perasaannya terlalu banyak dan terlalu dalam, sedikit lepas kendali akan meluber!
Oleh karena itu biasanya ia selalu berlagak layaknya ia adalah orang tanpa perasaan.
Tetapi di dunia ini, siapakah yang benar-benar tanpa perasaan?
Chu Liuxiangberdiri pelan-pelan, dan berjalan pelan-pelan ke depan jendela.
Mendorong jendela dan melihat ke luar, dan terlihatlah awan yang bercahaya, yang memenuhi langit senja.
Seolah-olah semua itu tiba-tiba masuk dan memenuhi hatinya, seluruh badannya terguncang hebat karena emosi yang bergelora!
"Biar pun kau berada di mana saja, aku pasti mencari dan menemukanmu!"
Ia bersumpah akan mencari dan menemukan gadis itu untuk bertanya sampai jelas!
*** Tetapi mau pergi ke mana untuk mencari Zhang Jiejie?
Apakah ia berada di sisi langit?
Atau di ujung laut?
Atau berada di puncak gunung yang senantiasa tertutup awan?
Tiada seorang pun yang tahu ia datang dari mana?
Juga tiada seorang pun yang tahu ia telah pergi ke mana?
Barangkali ia memang bukan penduduk bumi ini!
Chu Liuxiang mencari dia dengan amat bersusah payah.
Setiap tempat yang dia pernah muncul, Chu Liuxiang sudah pergi mencarinya.
Ada kalanya Zhang Jiejie muncul di sebuah bukit, ada kalanya ia muncul di antara pohon-pohon, bahkan ada kalanya muncul di sebuah bak mandi!
Boleh dibilang Chu Liuxiang sudah kehabisan akal dan daya!
Ia telah jadi kurus, juga telah kecapekan, di wajahnya telah kehilangan daya pesona yang cukup membuat para gadis tergilagila, serta membuat para musuhnya menjadi gentar itu!
Namun ia tidak peduli.
K arena penderitaan yang sebenarnya ada di dalam hatinya!
Sebelumnya ia tidak benar-benar memahami bahwa di dunia ini, ternyata ada penderitaan yang demikian dalam!
"Masa' di dalam dunia ini benar-benar tiada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.
Mendadak ia teringat pada Jin Siye.
Ia segera pergi mencarinya, dan pada senja berikutnya, ia tiba lagi di depan tembok tinggi itu.
Suasana malamnya sama, cahaya bulannya sama, tetapi suasana hatinya berbeda sekali.
Ketika mengenang pada malam itu, Zhang Jiejie menggandeng tangannya dan berjalan kemari, tiba-tiba hatinya seolah-olah berubah menjadi kosong melompong, keseluruhan dirinya juga seolah-olah berubah menjadi kosong dan melayang-layang tanpa ada pijakan!
Ia tidak melayang ke ujung tembok itu, tapi berjalan pelan-pelan menyusuri sudut tembok itu.
Setelah melewati sudut tembok itu, terlihatlah pintu depan keluarga Jin.
Juga terlihat ada serombongan bhiksu berpakaian abu-abu dan berlengan baju putih, yang menundukkan kepala dan berjalan pelan-¬pelan masuk ke pintu depan keluarga Jin.
Ada tujuh sampai delapan orang calon bhiksu yang membawa peralatan-peralatan untuk upacara perkabungan, juga menundukkan kepala dan berjalan di belakang rombongan bhiksu itu.
Yang menyambut di pinggir pintu depan itu adalah seorang tua yang ekspresi wajahnya penuh dengan kedukaan yang mendalam, dan rambutnya telah beruban semua.
Orang tua itu ternyata adalah Jin Siye.
Hanya berselang beberapa hari, mengapa ia telah menua begitu banyak?
Semangatnya yang dulu menggebu-gebu, dan kepongahannya itu, sekarang telah sirna ke mana?
Sebenarnya di tempat ini telah terjadi peristiwa apa yang mengerikan?
Chu Liuxiang berdiri dan memandang dari jauh, tiba-tiba mengerti.
Yang meninggal itu pasti adalah Nona Jin, yaitu si gadis yang cantiknya bagaikan dewi, tapi yang hidupnya bagaikan berada di neraka itu!
Akhirnya ia menemukan pelepasan untuk dirinya.
Hanya kematianlah yang merupakan pelepasan bagi dirinya.
Barangkali setelah mati ia akan lebih bersukacita dibanding ketika masih hidup.
Namun, bagaimana dengan ayahnya?
Pemirnpin .
dunia persilatan daerah Jiangnan, pahlawan yang memiliki kekuasaan dan kepongahan yang luar biasa ini, walaupun tangannya menggenggam kekayaan dan kuasa yang sanggup merubah nasib orang banyak, tapi tetap saja tidak berdaya merubah nasib anaknya!
Sekalipun ia menghabiskan semua kekayaan dan kuasanya, tetap saja tidak sanggup membuat anak perempuan tunggalnya untuk terus hidup!
Ini bukan saja merupakan tragedi bagi Jin Siye, juga merupakan tragedi bagi seluruh umat manusia!
Hai Chu Liuxiang jadi "tenggelam", bahkan "tenggelamnya"
Makin dalam.
Semula ia bermaksud datang untuk mencari Jin Siye.
Tetapi sekarang ketika sudah melihat Jin Siye, dengan diam-diam ia memutar badannya dan pergi.
Ia berjalan terus.
Tiba-tiba ia sadar bahwa di depan ada sebuah aliran air yang jernih menghalangi jalan majunya.
Di atas langit ada bulan, di dalam air juga ada bulan Chu Liuxiangberdiri ter mangu-mangu di sana, merundukkan kepala dan memandang ke bayangan bulan terang yang berada di dalam air itu.
Tiba-tiba ia merasa bahwa di dunia ini ada sebuah hal, yang mirip sekali dengan bayangan bulan di dalam air!
Di dalam air seolah-olah ada bulan, dan anda telah melihat dengan jelas, tapi ketika anda ingin menangkapnya, bukan saja anda pasti sia-sia, bahkan ada kemungkinan terjatuh ke dalam air.
Bahkan ada kemungkinan mati tenggelam!
Chu Liuxiang tidak mau menangkap lagi bulan yang berada di dalam air, karena ia pernah melakukannya, dan memperoleh suatu pelajaran yang amat mengenaskan!
Tetapi sekarang di dalam air tetap ada bulan, dan ia masih dapat melihatnya.
Bagaimana dengan Zhang Jiejie?
Apakah selama-lamanya sudah tidak bisa bertemu lagi dengan dia?
Masa' ia persis seperti bulan yang berada di dalam air, yang keberadaannya tidak pernah benar-benar terjadi?
Bab 10.
Perempuan tua nan misterius Malam kian dingin, air pun kian dingin.
Chu Liuxiang menengkurap di tanah, dan membenamkan kepala ke dalam air yang dingin itu.
Ia mau membuat dirinya sedikit berkepala dingin Ia betul-betul mernbutuhkannya!
Ketika air mengalir melewati wajah dan rambutnya, mendadak ia teringat pada sebuah kalimat yang pernah diucapkan Hu Tiehua.
"Satu-satunya kelebihan arak dibanding air ialah. selama-lamanya arak tak akan membuat orang jadi terlalu sadar."
Perkataan-perkataan Hu Tiehua, selamanya adalah demikian.
Sepertinya tidak logis, tapi sepertinya juga masuk akal Yang aneh ialah, pada saat seperti itu yang teringat oleh dia bukan gadis yang baru meninggal itu, bukan juga Zhang Jiejie, tapi adalah Hu Tiehua.
Dikarenakan hanyalah di depan Hu Tiehua, ia dapat menceritakan semua penderitaan dirinya!
Dikarenakan hanyalah Hu Tiehua yang sanggup memahami penderitaannya!
Dikarenakan Hu Tiehua adalah sahabatnya.
"Kenapa aku tidak pergi mencari dia?"
Sewaktu ia mengangkat kepala, tiba-tiba menyadari bahwa bulan di dalam air itu sudah tidak kelihatan.
Di atas aliran air yang jernih itu, entah kapan sudah muncul kabut tipis yang mirip asap.
Air sedang mengalir, kabut juga sedang mengalir.
Tiba-tiba ia menyadari bahwa di antara air dan kabut yang sedang mengalir itu, entah kapan sudah muncul sebuah bayangan gelap.
Bayangan itu seolah-olah munculnya berbarengan dengan kabut misterius itu.
Ketika ia mau menoleh tiba-tiba dari belakang badannyaterdengar suara seorang.
Suara itu serak-rendah dan terdengar tua, tapi memiliki semacam kekuatan sihir,yang berkata sekata demi sekata.
"Dilarang menoleh! Kalau tidak selama-lamanya tidak bisa menemukan dia!"
Kata-kata ini benar-benar lebih ampuh dari semua ilmu sihir yang terdapat di dunia ini!
Jika Chu Liuxiang mau menoleh, tiada seorang pun yang dapat melarangnya, namun saat ini, seluruh kekuatan di dunia ini digabung pun takkan dapat menolehkan kepalanya!
Bayangan di dalam air itu sedikit menjadi jelas, samar-samar terlihat itu adalah seorang perempuan tua yang semua rambutnya telah putih, dan tangannya memegang sebuah tongkat panjang.
Chu Liuxiang bertanya tanpa bisa menahan diri.
"Apakah anda tahu siapa yang sedang saya cari?"
Perempuan tua yang berpakaian hitam itu menjawab.
"Yang kamu cari itu sebenarnya adalah orang yang selama-lamanya tidak bisa kamu temukan!"
"Anda...siapa anda?"
"Aku adalah satu-satunya orang yang dapat membantumu untuk menemukannya!"
Seluruh tubuh Chu Liuxiang dingin bagaikan es, namun di dalam hatinya seperti ada api yang mulai menyala lalu bertanya.
"Apakah anda tahu dia ada di mana?"
"Hanya aku yang tahu."
"Apakah anda bisa memberitahukanku?"
"Tidak bisa, aku cuma bisa membantumu untuk mencari dia, tetapi itu pun bukan suatu hal yang mudah."
Chu Liuxiang menggenggam erat-erat kedua kepalan tangannya, sampai nyaris saja tidak bisa mengeluarkan suara. Perempuan tua yang berpakaian hitam itu bertanya "Apakah kamu takut menderita?"
"Tidak takut."
"Apakah kamu takut mati?"
"Kadang-kadang takut...."
Baca Juga: Ilmu Golok Keramat 8
Baca Juga: Golok Sakti 7