Eps 2 Legenda Bunga Persik - Gu Long
Baca online Legenda Bunga Persik - Gu Long
Cersil Legenda Bunga Persik - Gu Long.
Chu Liuxiang menyumpit sepotong burung dara goreng dengan sumpit Ai Hong, lalu meletakkan ke piring yang ada di depan Ai Hong, seraya berkata.
"Minum arak dalam keadaan perut yang kosong itu paling memabukkan, masakan bikinan tempat ini masih lumayan, coba dulu ya!"
Ai Hong tiba-tiba mengangkat kepala dan memandang dia lekatlekat, di dalam sepasang mata yang indah itu penuh dengan kesedihan dan penderitaan.
Gadis secantik dia ini seharusnya tidak menderita seberat ini!
Chu Liuxiang menaruh sumpit ke tangan Ai Hong, sambil berkata dengan suara lembut.
"Kau makanlah sedikit dulu, lalu aku menemanimu minum arak, bagaimana?"
Ai Hong berkata seraya menghela nafas dengan pelan.
"Apakah kau selalu lemah lembut begini ketika berbicara dengan wanita?"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum sejenak.
"Itu tergantung ia adalah wanita yang bagaimana?"
"Aku adalah wanita yang bagaimana?"
Tanya Ai Hong.
Chu Liuxiang tidak menjawab, namun memandang dia dengan pandangan yang penuh pengertian.
Pandangan semacam ini sering kali lebih bisa menyenangkan hati gadis daripada seratus kalimat pujian!
Tetapi mata Ai Hong kian memerah, terlihat ia makin sedih, lalu berkata seraya menundukkan kepala.
"Aku bukan adiknya Ai Qing."
"Aku tahu."
"Aku telah berbohong dan mau membunuhmu, aku sebenarnya adalah gadis yang amat jahat, kau sebenarnya tidak usah berlaku demikian ramah padaku."
Chu Liuxiang berkata sambil senyum.
"Hal yang dulu itu aku sudah lupa, sebab aku tahu itu pasti bukan kemauanmu sendiri."
Tiba-tiba ia menyadari satu hal yang aneh. Tangan kiri Ai Hong selalu bersembunyi di dalam lengan baju, dan tidak pernah diangkat.
"Jika itu adalah kemauanku sendiri?"
Tanya Ai Hong. Chu Liuxiang menjawab dengan suara lembut.
"Sekalipun itu adalah kemauanmu sendiri, aku tidak akan menyalahkanmu, gadis cantik dan polos seperti kau ini, baik melakukan apa saja, orang lain pasti bisa memaafkannya!"
Dengan tiba-tiba ia menarik tangan kiri Ai Hong.
Air muka Ai Hong segera berubah, menjadi tambah pucat.
Air muka Chu Liuxiang pun ikut berubah.
Lengan baju itu kosong ----Ai Hong telah kehilangan sebelah tangannya!
*** Sekarang Chu Liuxiang sudah tahu bahwa tangan yang berada di ambang jendela itu milik siapa.
Gadis yang muda seringkali menganggap penampilan dan wajahnya sendiri jauh lebih berharga dari nyawa, sekalipun ada sebuah bekas luka di tangannya, ini sudah bisa membuat dia menderita, apalagi kehilangan satu tangan?
Chu Liuxiang tidak saja merasa kasihan, bahkan merasa sedih untuk Ai Hong.
Ia memang betul-betul telah memaafkan Ai Hong sejak dulu.
Andaikata Ai Hong menyembunyikan diri, tapi akhirnya dia temukan; Atau ketika gadis itu bertemu dia, masih bersikap "semua pria adalah si Pandir", maka keadaannya mungkin berbeda.
Namun ini adalah seorang gadis yang menderita dan yang mendatangkan rasa iba, berinisiatif mencari dia, dan menuangkan arak bagi dia, maka apa pun yang telah dilakukannya, dia betul-betul tidak akan memasukkan ke hati!
Sekalipun Ai Hong adalah pria, Chu Liuxiang juga akan berlaku sama.
Chu Liuxiang selalu dengan cepat melupakan kesalahan orang lain, tetapi tak bisa melupakan kebaikan orang lain, makanya bukan saja ia pasti hidup lebih bahagia, juga pasti hidup lebih panjang!
Seseorang kalau di dalam hatinya tidak ada dendam, pasti hariharinya dilewati dengan lebih bahagia!
Waktu berlalu lama sekali, Chu Liuxiang baru berkata dengan perasaan sedih.
"Hanya dikarenakan kau tidak berhasil membunuhku, maka mereka membuat demikian kepadamu?"
Ai Hong menundukkan kepala, tidak berkata apa-apa, namun air makanya setetes demi setetes berjatuhan ke dalam cawan arak yang ada di depannya.
"Siapakah yang telah melakukan hal ini?"
Tanya Chu Liuxiang. Ai Hong menggigit bibirnya kuat-kuat, kelihatannya ia takut kalau membocorkan rahasia. Chu Liuxiang bertanya lagi.
"Sampai sekarang kau masih tidak berani mengatakannya? Kenapa kau demikian takut kepada dia?"
Ai Hong memang benar-benar takut.
Ia terlihat tidak saja sangat menderita, bahkan saking takutnya seluruh badannya bergemetaran terus.
Orang itu bukan saja telah memotong satu tangannya, bahkan mungkin setiap saat bisa merenggut nyawanya.
Chu Liuxiang betul-betul tidak bisa memikirkan bahwa ternyata ada orang yang bisa berbuat begitu kejam kepada seorang gadis cantik!
Tapi kalau bukan karena dia, Ai Hong tidak akan mengalami kemalangan ini.
Mendadak ia merasa marah sekali.
Selama ini ia jarang sekali marah, sebab hawa amarah mudah sekali mempengaruhi kemampuan pertimbangan seseorang, dan orang yang marah paling mudah berbuat kesalahan!
Tetapi ia toh seorang manusia juga, ada saat-saat di mana ia tidak bisa mengendalikan diri sendiri, apalagi sekarang pas ketika suasana hatinya tidak begitu baik, dan emosinya sedang labil.
Ia telah melupakan keputusannya untuk pulang ke rumah dan bernikmat-nikmat, tiba-tiba berdiri dan berkata.
"Kamu duduklah di sini sebentar, tunggulah aku, segera aku akan kembali."
Ai Hong menganggukkan kepala, dan memandang dia dengan lemah lembut, kelihatannya sudah menganggap dia sebagai satusatunya orang yang bisa diandalkan.
Kedatangan dia kali ini, selain ingin minta pengertian dari Chu Liuxiang, barangkali juga disebabkan ia sudah menyadari kesendirian dan ketakberdayaannya.
Chu Liuxiang bisa memahami maksud Ai Hong ini, maka ada satu hal yang mesti ia kerjakan.
*** Pelayan yang bekerja di peternakan itu, sepertinya sedikit banyak "ketularan"
Sifat-sifat bagal, sehingga tampaknya tidak seramah orang yang bekerja di usaha yang lain.
Chu Liuxiang baru saja berjalan mendekati peternakan itu, ada seorang pelayan yang sikapnya tidak begitu ramah menyambut dia dan berkata "Tuan mau memilih kuda atau membeli bagal?
Apa yang dijual di sini kami jamin semuanya adalah hewan yang bagus kualitasnya"
Kata-katanya diucapkan dengan cukup sopan.
"Kedatanganku cuma ingin menanyakan sedikit informasi" , kata Chu Liuxiang. Begitu didengar kedatangannya bukan urusan dagang, pelayan itu merasa tidak perlu menjaga sopan santun, lalu berkata dengan sikap dingin.
"Di tempat kami ini hanya ada informasi tentang hewan, tidak ada informasi tentang manusia."
Chu Liuxiang tersenyum sejenak, lalu berkata.
"Aku datang justru mau menanyakan informasi tentang seekor bagal."
Si pelayan memandang dia dengan dingin, tapi toh bisa menahan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata yang tidak enak didengar.
"Tadi ada seekor bagal yang tak terurus orang berlari masuk kemari, apakah kau melihatnya?"
Tanya Chu Liuxiang.
"Kenapa? Apakah bagal itu milik anda?"
"Bukan milikku, tapi milikmu."
Air muka si pelayan menjadi agak enak dipandang, lalu berkata.
"Jika itu milik kami, kenapa anda masih tanya?"
"Tetapi bagal itu tentu saja sudah pernah kalian jual satu kali, aku hanya mau tanya. Siapa yang membelinya?"
Tangan si pelayan tiba-tiba menunjuk ke depan seraya berkata.
"Apakah anda sudah melihat. Di sini ada berapa banyak bagal?"
Chu Liuxiang sudah melihatnya. Di dalam kandang yang berada di bagian belakang, jumlahnya bagal memang banyak sekali. Si pelayan berkata dengan sikap dingin.
"Bagal tidak sama dengan orang, orang ada yang tampan, ada yang jelek, namun rupanya bagal mirip semuanya. Kami pun tidak tahu tiap harinya berapa banyak bagal yang terjual, bagaimana bisa tahu bagal itu dijual kepada siapa!"
Si pelayan menunjukkan sikap bahwa is hampir hilang kesabarannya, dan bersiap-siap untuk memberhentikan percakapan.
Chu Liuxiang terpaksa mengeluarkan senjata terakhir--Juga terampuh!
Sekalipun anda memakai "senjata"
Itu untuk memukul kepala seseorang sampai berlubang kepalanya, barangkali orang itu masih mengucapkan terima kasih dengan wajah penuh senyum!
Selain uang perak, masih adakah benda lain yang memiliki "kekuatan magis"
Demikian besar?
Sikap si pelayan segera berubah menjadi jauh lebih ramah, dan berkata seraya tersenyum "Aku akan pergi memeriksanya untuk tuan, seandainya di badan bagal itu ada tanda selar, kemungkinan besar bisa menelusuri dan menemukan siapa pembelinya."
Tidak terdapat tanda selar di badan bagal itu, bahkan seluruh badannya bersih dan mulus, sampai tidak terlihat ada sebuah bulu yang berwarna lain.
Chu Liuxiang menghela nafas panjang, dan bersiap-siap untuk meninggalkan "petunjuk"
Ini. Namun ia tidak bisa menahan dirinya dan bertanya.
"Benarkah bagal ina yang tadi berlari dari luar masuk kemari?"
Si pelayan berkata seraya tersenyum.
"Walaupun aku tidak bisa membedakan bagal itu tampan atau jelek? Tapi kalau bagal itu baik atau buruk kualitasnya, aku bisa mengetahuinya. Kalau seperti bagal ini, dari jarak beberapa ratus kaki pun aku masih bisa mengetahuinya!"
"Apakah bagal ini bagus?"
"Luar biasa bagusnya. Di antara seribu ekor bagal, belum tentu bisa menemukan yang sebagus bagal ini, maka...."
Ia tidak melanjutkan kata-katanya, dan matanya melihat ke tangan Chu Liuxiang.
Dan tangan Chu Liuxiang selama ini jarang mengecewakan orang!
Karena itu si pelayan melanjutkan kata-katanya seraya tersenyurn terus.
"Hewan yang bagus kualitasnya, biasanya kami hanya menjual kepada langganan yang lama."
Mata Chu Liuxiang menjadi terang, segera bertanya.
"Apakah kalian memiliki banyak langganan yang lama?"
Si pelayan menjawab seraya tersenyum.
"Tempat peternakan sebesar ini jika tidak punya belasan pelanggan yang lama, mana bisa bertahan?"
Ia segera melanjutkan.
"Beberapa kantor ekspedisi yang besar, seperti.'Wansheng','Feilong' dan 'Zhenyuan', semua adalah langganan tetap kami, tetapi kalau langganan terbesar masih keluarga Jin dari Taman Wanfu Wanshou"
"Apakah keluarga Jin selalu membeli hewan ternak tunggangan dari tempat ini?"
"Setiap tahun ketika kami mendatangkan hewan ternak tunggangan dari daerah perbatasan negara, selalu meminta tuantuan muda dan nona-nona dari keluarga Jin datang untuk memilih yang terbaik."
Chu Liuxiang berkata dengan emosi yang mulai bergejolak.
"Benarkah bagal ini dibeli oleh keluarga Jin? Apakah kau yakin benar?"
Si pelayan berkata seraya menganggukkan kepala.
"Di badan hewan yang lain pasti ada tanda selarnya, karena takut hewan itu hilang, tetapi keluarga Jin punya kekayaan dan kekuasaan yang amat besar, sehingga tidak ada seorang pun yang berani mengusik milik mereka yang terkecil pun, bahkan seandainya betul-betul kehilangan beberapa ekor hewan pun tak akan masuk dalam perhitungan mereka."
"Karena itu hanya hewan milik mereka yang tidak ada tanda selarnya, betul?"
"Makanya aku menduga bahwa. Kemungkinan besar bagal ini adalah milik mereka yang hilang."
Chu Liuxiang menjadi termangu-mangu.
Ada sejumlah hal yang tidak pernah dipikirkan dia sekalipun itu di dalam mimpi, namun pada saat ini tiba-tiba telah terpikirkan olehnya!
Kali ini ketika ia datang ke tempat ini, bukankah hanya orang dari keluarga Jin yang tahu?
Bukankah permulaan dari hal ini terjadinya di keluarga Jin?
Apalagi kecuali keluarga Jin, di sekitar daerah ini sama sekali tidak terdapat orang lain yang sanggup menggunakan kekuatan yang demikian besar, bisa memimpin dan memerintahkan jago-jago silat tangguh yang demikian banyak dan memasang jebakan-jebakan yang demikian banyak!
Paling tidak ia belum pernah mendengar ada tokoh yang punya kekuatan sebesar ini di sekitar daerah ini.
Tetapi mengapa keluarga Jin mau membunuh dia?
Ia tidak saja adalah sahabat Jin Lingzhi, bahkan pernah membantu serta menyelamatkan nyawa gadis itu.
Namun jumlah orang dalam keluarga Jin memang terlalu banyak dan ruwet, di antaranya mungkin saja ada musuh bebuyutan dia yang Jin Lingzhi sendiri pun tidak tahu.
Namun berdasarkan omongan Jin Lingzhi, ia hanya memberitahukan kepada Nyonya Besar Jin seorang saja tentang kedatangan Chu Liuxiang, bahkan saudara-saudara dan pamanpamannya tidak tahu kalau Chu Liuxiang mau datang untuk pengucapan selamat panjang umur.
Masa' Jin Lingzhi sedang berbohong?
Masa' "otak"
Dari semua peristiwa ini adalah Nyonya Besar Jin?
Hati Chu Liuxiang menjadi amat kalut, bahkan makin dipikir makin kalut, lama sekali masih tidak bisa menenangkan dirinya.
Jika menghadapi tipuan dan jebakan dari musuh, selamanya ia paling bisa menenangkan diri!
Namun kalau ditipu dan dijebak sahabat sendiri, itu lain persoalan!
Si pelayan mendadak menghela nafas dan bergumam.
"Tidak disangka bahwa pada siang hari bolong, ternyata ada orang yang berani melakukan hal yang melecehkan hukum."
Kata-kata keluhan itu seperti ditujukan pada diri sendiri, juga seperti ditujukan pada Chu Liuxiang. Dikarenakan di tempat ini tidak ada orang lain, mau tidak mau Chu Liuxiang bertanya.
"Ada hal apa?"
"Penculikan."
Chu Liuxiang bertanya seraya mengerutkan alis.
"Penculikan? Siapa yang menculik? Siapa yang diculik?"
"Ada beberapa laki-laki kekar menculik seorang gadis kecil, pada siang hari bolong begini gadis itu diikat tali dan dikeluarkan dari kedai arak yang ada di depan itu, kemudian dinaikkan ke sebuah kereta kuda. Di jalanan ada banyak orang, tapi tidak satupun yang berani tampil untuk menanyakan hal itu."
Chu Liuxiang bertanya dengan terkesiap.
"Gadis kecil yang seperti apa?"
"Seorang gadis kecil yang rupawan, pakaiannya sepertinya berwarna merah...."
Ia masih mau melanjutkan kata-katanya, namun yang diajak berbicara itu sayangnya tiba-tiba telah lenyap!
*** Dengan sangat cepat Chu Liuxiang kembali ke kedai arak itu.
Walaupun ia amat cepat, masih terlambat juga, selain tidak melihat beberapa laki-laki kekar itu, juga tidak melihat kereta kuda itu, yang terlihat cuma seorang penjual buah-buahan yang memunguti buah-buah yang jatuh berserakan di jalan sambil mulutnya terus memaki-maki, dan seorang anak kecil yang menangis tersedu-sedu sambil memandangi barang dagangannya (botol minyak dan telur ayam) yang pecah berantakan di tanah.
Di kejauhan terlihat debu yang melayang tinggi, dan terdengar sayup-sayup bunyi kereta dan dengusan kuda.
Buah-buahan dan telur-telur itu pasti tertabrak kereta kuda itu sehingga jatuh berserakan di jalan.
Kebetulan pada saat ini ada seorang yang menuntun seekor kuda keluar dari tempat peternakan itu.
Chu Liuxiang mengeluarkan sekeping uang emas, berjalan cepat ke depan orang itu, menjejalkan uang emas ke tangan orang itu, badannya segera melayang ke punggung kuda itu.
Sebelum orang itu mengerti duduk persoalannya, Chu Liuxiang dan kuda itu telah melesat jauh.
Kalau bekerja ia selalu mengutamakan efektifitas, tak akan mengucapkan kata-kata yang tak berguna, dan tak akan melakukan hal-hal yang tak berfaedah.
Sehingga jikalau ia betul-betul menginginkan sesuatu dari seseorang, selain memberikan pada Chu Liuxiang, orang itu betulbetul tidak berdaya menolaknya!
*** Orang-orang dari dunia persilatan, hampir semuanya mengerti cara memilih kuda yang tepat, sebab mereka tahu bahwa seekor kuda yang bagus, bukan saja pada saat biasa bisa menjadi teman yang baik, bahkan seringkali pada saat yang berbahaya dapat menyelamatkan pemiliknya.
Seandainya kuda bisa memilih orang yang jadi penunggangnya, pasti memilih Chu Liuxiang.
Dalam hal ilmu menunggang kuda, ia bukan orang yang paling jagoan, selain itu, waktunya untuk menunggang kuda juga tidak banyak .
Tetapi tubuh dia amat ringan, saking ringannya sehingga si kuda hampir tidak terasa di punggungnya sedang dinaiki.
Bahkan ia amat jarang menggunakan cambuk.
Baik terhadap manusia maupun hewan, ia sama-sama tidak mau memakai cara-cara kekerasan.
Tiada seorang pun yang bisa menandingi dia dalam-hal membenci pemakaian cara-cara kekerasan.
Karena itu, meskipun kuda ini bukan yang sangat bagus, namun larinya cukup kencang juga.
Dengan amat ringan Chu Liuxiang menempel di kuda itu, badannya seolah-olah telah menjadi sebagian dari kuda itu.
Sehinggaa kuda itu berlari dengan kecepatan yang hampir sama dengan ketika ia tidak ditunggangi orang.
Mestinya, dengan kecepatan ini, tidak lama kemudian sudah bisa menyusul kereta kuda yang ada di depan itu.
Sebab kereta itu hanya ditarik seekor kuda, dan di kereta itu ada beberapa orang, sehingga seberapa cepatnya kuda itu pun, pasti kecepatannya akan berkurang banyak Namun sayangnya di dalam dunia ini ada banyak hal yang tampaknya tidak masuk di akal!
Chu Liuxiang sudah mengejar lama sekali, namun akhirnya bukan saja tidak dapat menyusul kereta kuda itu, bahkan debu-debu yang diterbang-layangkan oleh kereta itu pun tidak kelihatan lagi.
Matahari sudah berada di ufuk barat.
Pada saat ini jalan raya itu bercabang, yang satu belok ke kiri, yang satu belok ke kanan.
Chu Liuxiang berhenti di persimpangan jalan ini.
Di pinggir jalan ada beberapa batang pohon, di bawah sebatang pohon yang terbesar, ada tempat penjualan arak yang kecil.
Pada saat itu hanya ada satu orang yang beristirahat dan minum arak di tempat itu.
Yang menjual arak adalah suami istri dua orang.
Tangan si suami menggandeng satu anak, dan di punggungnya memanggul satu anak lagi.
Usia si suami kira-kira 40-50 tahun, tapi usia si istri jauh lebih muda.
Kelihatannya suami itu termasuk tipe "takut makanya yang memanggul anak adalah si suami, si istri hanya duduk-duduk saja di samping.
Chu Liuxiang baru saja turun dan kuda, si istri sudah berdiri dan berkata sambil senyum.
"Tuan mau minum arak? Ini adalah arak Ouyeqing yang kualitasnya paling baik!"
Senyumannya cukup manis dan wajahnya juga lumayan.
Barangkali inilah sebab terbesar suaminya takut kepadanya.
Namun Chu Liuxiang hanya melihat sekilas dan tidak berani melihat dia lagi!
Pertama, ia tidak punya kebiasaan untuk memandangi istri orang lain.
Kedua, dalam waktu dua hari ini, ia hampir kehilangan nyawa karena sedang "bernasib bunga persik" , sehingga saat ini, asal ketemu dan melihat wanita, ia pasti merasa sedikit takut.
Ia sengaja melihat ke si suami dan berkata.
"Baik, satu mangkok arak"
Namun si istri berkata lagi.
"Mau daging sapi yang direbus dengan kecap? Baru dibuat tadi pagi lho."
"Baiklah."
"Setengah kati? Atau satu kati?"
"Terserah."
Ia punya kebiasaan yang amat baik.
Tidak pernah berdebat dan hitung-hitungan dengan kaum wanita!
Karena itu si istri tersenyum makin manis, lalu sibuk menyiapkan daging sapi dan arak.
Yang disajikan memang arak zhuyeqing, tetapi yang berkualitas rendah.
Daging sapi yang direbus dengan kecap ----Paling tidak sudah lewat tiga hari.
Chu Liuxiang diam saja dan tidak memprotes.
Memang tujuannya bukan untuk minum arak.
Ia tetap melihat ke si suami dan bertanya "Tadi ada sebuah kereta kuda yang lewat di tempat ini, apakah kalian melihatnya?"
Si suami tetap tidak menjawab, sebab ia tahu istrinya suka berbicara, apalagi dengan pelanggan yang muda dan royal.
Sebab ia tahu.
Makin banyak bicara, makin banyak uang tip yang didapat.
Si istri yang menjawab.
"Setiap hari ada banyak sekali kereta kuda yang melewati tempat ini, bisa tahu kereta kuda yang tuan cari itu bagaimana modelnya?"
Pertanyaan ini tidak dapat dijawab Chu Liuxiang, sebab bahkan bayangan dari kereta itu pun tidak terlihat olehnya. Si istri mengedip-ngedipkan mata, lalu berkata.
"Tadi memang ada sebuah kereta kuda yang berlari dengan tergesa-gesa, layaknya seperti ada anggota keluarga mereka yang baru meninggal, saking tergesa-gesanya sehingga tidak berhenti sebentar untuk minum arak."
Mata Chu Liuxiang menjadi terang dan cepat-cepat berkata.
"Betul, memang itu yang kumaksudkan, kereta itu menuju ke jalan mana?"
Si istri berkata dengan sikap ragu-ragu.
"Sepertinya itu adalah kereta berwarna hitam yang ditarik dua kuda, kalau tidak salah menuju ke jalan kiri...."
Ia tersenyum manis seraya berkata.
"Kenapa tuan tidak duduk dulu dan minum arak, sementara saya akan berpikir lebih seksama?"
Terlihat bahwa cara dia menarik para pelanggan bukanlah arak dan daging sapi, tapi senyumannya.
Cara ini biasanya cukup berhasil.
Namun sayang kali ini tidak berhasil, sebab ketika ia tersenyum paling manis, Chu Liuxiang dan kudanya telah berada di kejauhan, setelah meninggalkan sekeping uang perak saat ini ia tidak ingin wanita siapa pun punya kesan terlalu baik padanya!
Si istri menggigit bibirnya, lalu berkata dengan dongkol.
"Ternyata anggota keluarganya ada yang meninggal juga, sehingga ia mesti buru-buru pergi!" *** Waktu telah senja. Jalan yang ditempuh makin lama makin sulit, dan sepertinya telah masuk ke daerah pegunungan. Warna langit tiba-tiba jadi gelap. Pohon-pohon makin lama makin lebat, saking lebatnya sampaisampai tidak bisa melihat cahaya bintang maupun bulan. Chu Liuxiang tiba-tiba menyadari bahwa ia telah tersesat, selain tidak tahu ia saat ini berada di mana? Juga tidak tahu jalan ini menuju ke mana? Yang lebih celaka ialah. Makanan yang dimakan pada pagi hari itu telah tercerna habis, sehingga sekarang perutnya kosong. Sekosong kantong bajunya Hu Tiehua! Ia bukanlah orang yang tidak tahan lapar, sekalipun dalam dua sampai tiga hari tidak makan apa-apa, juga tak akan ambruk karenanya. Ia hanyalah amat tidak suka menahan lapar, ia selalu merasa ada dua hal yang paling menakutkan di dunia iniyaitu kelaparan dan kesepian! Sekarang sekalipun mau kembali lagi juga sudah tidak keburu lagi --Satu-satunya tempat yang ada jual makanan pada jalan ini, yaitu tempat jual arak yang berada di persimpangan jalan itu. Dari sini berjalan kembali ke sana paling sedikit membutuhkan waktu tiga jam! Ia menghela nafas panjang, dan mulai merasa "kangen"
Kepada daging sapi yang direbus kecap dan kerasnya seperti batu itu.
Melihat bayangan-bayangan pohon yang gelap dan batu-batu gunung yang bentuknya mengerikan yang berada di sekelilingnya, serta mendengar bunyi air mengalir yang ada di kejauhan, dan merasakan hembusan angin yang dingin menusuk....
Ia merasa saat ini nasibnya betul-betul sial.
Tentu saja orang yang paling sial bukanlah dia ---Ai Hong jauh lebih sial dari dia.
Ia telah kehilangan sebelah tangan, sekarang diculik lagi.
Tidak tahu siapa yang menculik dia dan mau dibawa ke mana?
Masih ada Ai Qing.
Mungkin nasibnya lebih tragis lagi.
Chu Liuxiang mengelus-elus hidungnya, lalu tersenyum getir pada dirinya.
Tiba-tiba ia menyadari bahwa dirinya pun adalah "sumber malapetaka"
Gadis-gadis yang baik kepada dia, jarang ada yang tidak bernasib sial!
Bunyi air yang mengalir di kejauhan itu, jika didengar dalam bunyi angin, amat mirip dengan bunyi tangisan pilu dari gadis-gadis itu!
Chu Liuxiang mengelus-elus surai kuda itu seraya bergumam.
"Kelihatannya kamu juga sudah lelah, kalau begitu minumlah air dulu."
Ketika ia sampai di tepi air yang mengalir itu, terlihatlah ada sebuah rumah kecil berada di pinggir jembatan kecil.
"Jembatan kecil, air mengalir dan rumah kecil"
Merupakan tema lukisan tiongkok yang sering dipergunakan, yang sering membuahkan lukisan-lukisan puitis yang amat indah.
Cuma sayang bahwa saat ini ia tidak memiliki sedikit rasa puitis pun, sebab menurut dia pada saat ini -lukisan yang paling indah di dunia pun akan kalah daya tariknya dengan semangkok daging babi angsio!
Di pagar bambu yang rendah itu berambatan bunga-bunga wistaria, dari kertas jendela yang berwarna kuning gelap itu terlihat ada sinar lampu.
Di atas atap rumah terlihat asap membubung dari cerobong dapur.
Yang dibawa datang oleh angin, selain bau bunga yang harum, juga bau sedap dari telur angsa yang digoreng bersama bawang.
Selain bunyi air yang mengalir, bertambah semacam bunyi lain.
Bunyi perut Chu Liuxiang.
Ia turun dari kuda, dengan amat terpaksa mengetuk pintu rumah itu.
Yang buka pintu adalah seorang tua yang kurus katai, ia tidak membuka seluruhnya pintu, lalu dari belakang pintu mengamati Chu Liuxiang dari atas ke bawah, dengan sikap layaknya seekor kelinci yang ketakutan.
Chu Liuxiang membungkukkan badan memberi hormat, lalu berkata seraya tersenyum.
"Aku kelewatan tempat penginapan, bolehkah menumpang nginap semalam saja di tempat bapak? Besok begitu pagi aku segera berangkat. Kalau dibolehkan, aku akan memberi imbalan yang besar."
Kata-kata itu pernah didengar dari mulut seorang guru sekolah ketika ia masih kecil, namun pada saat ini ia bisa mengucapkannya dengan lancar sekali Ia merasa daya ingatnya betul-betul lumayan.
Kata-kata itu mendatangkan hasil, dan pintu itu terbuka seluruhnya.
*** Orang yang membukakan pintu itu sebenarnya belum tua, berumur 40-an, tetapi rambutnya telah rontok semua.
Ia mengaku bernama Bu Danfu, berprofesi sebagai penebang kayu, namun kadang-kadang berburu ayam hutan dan kelinci, yang dijual untuk dapat uang buat beli arak.
Hari ini kebetulan berburu dan dapat beberapa kelinci, maka pada malam itu ia mengajak Chu Liuxiang minum arak bersama.
Ia minum arak dengan pelan, tapi makan masakan dengan cepat, maka ia minta istrinya memasak lagi.
Ia berkata seraya tersenyum.
"Barangkali karena sudah minum arak, maka aku baru berani buka pintu, jika tidak, bagaimana aku berani sembarangan memasukkan orang yang tak dikenal pada tengah malam ini?"
Chu Liuxiang mendengar saja dan sekali-kali menganggukkan kepala. Bu Danfu berkata lagi seraya tersenyum.
"Ditempatku ini tidak ada barang berharga buat dirampok, tetapi aku punya seorang anak perempuan yang cantik!"
Chu Liuxiang mulai tidak bisa tersenyum lagi.
Sekarang ia masih tidak takut kepada apa pun dan siapa pun, kecuali takut kepada wanita yang cantik!
Jika ada yang menemani, maka kecepatan minum arak akan meningkat.
Jika arak yang diminum sudah banyak, keberanian juga akan meningkat.
Warna muka Bu Danfu sudah merah sekali, tiba-tiba berkata dengan suara keras.
"Juan'er, cepat bawa kemari setengah ekor kelinci itu untuk dijadikan lauk minum arak."
Dari dalam rumah terdengar suara yang mengandung nada protes.
"Bukankah ayah mau menunggu sampai makan malam besok baru memakan setengah ekor kelinci itu?"
Bu Danfu menegur sambil tertawa "Setan pelit! Apakah kamu tidak takut ditertawai tamu ini? Cepat keluarkan, tidak usah diiris, kami akan makan sambil mencabik-cabiknya."
Ia berkata lagi seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Anak perempuanku ini bernama Ajuan, anak yang baik, cuma masih mentah sekali dalam pengalaman hidup, aku betul-betul kuatir kelak tidak ada orang yang mau menikahinya"
Kepala Chu Liuxiang pun tidak berani dianggukkan lagi.
Begitu mendengar urusan nikah dari anak perempuan orang lain, ia tidak berani menjawab apa-apa.
Seorang gadis yang berpakaian kasar dan sederhana, wajahnya tidak berbedak, keluar dari dalam rumah dengan membawa sebuah mangkok masakan, kepalanya ditundukkan dan bentuk mulutnya dicibirkan, lalu meletakkan mangkok dengan kasar ke meja, membalikkan badan dan masuk ke dalam lagi.
Pada mulanya tidak berani, tapi karena tidak bisa menahan dirinya, akhirnya Chu Liuxiang melirik juga.
Bu Danfu tidak membual --Anaknya memang benar-benar cantik, rambutnya panjang, matanya besar, namun warna mukanya kayaknya pucat sekali.
Gadis yang pemalu umumnya demikian.
Dikarenakan mereka jarang keluar rumah untuk menjumpai orang, tentu saja jarang terjemur sinar matahari.
Ketika Chu Liuxiang menoleh, ia melihat bahwa Bu Danfu sedang memandangi dia dengan pandangan yang tajam, disertai dengan semacam senyuman yang mengandung maksud-maksud tertentu, lalu bertanya seraya tersenyum.
"Bagaimana anggapan anda terhadap anakku ini?"
Disebabkan dia sudah bertanya demikian, mau tidak dijawab pun sudah tidak bisa, maka Chu Liuxiang mengelus-elus hidung dan menjawab seraya tersenyum.
"Harap tenangkan hati, anak bapak pasti bisa laku menikah."
"Kalau tak laku menikah, apakah anda mau menikahinya?"
Chu Liuxiang tidak berani menjawab lagi, dan menyesal tadi kok dirinya banyak bicara. Bu Danfu berkata seraya tertawa nyaring.
"Kelihatannya anda adalah orang jujur, tidak sama seperti pemuda-pemuda yang lain, yang bermulut manis dan suka menggombal. Mari! Aku bersulang untuk anda, sebab di jaman ini, pemuda yang sejujur anda ini sudah tidak banyak!" *** Bu Danfu telah mabuk. Seseorang kalau berani mengajak Chu Liuxiang untuk beradu minum arak, pasti akan mabuk "Kelihatannya anda adalah orang jujur...sebab di jaman ini, pemuda yang sejujur anda ini sudah tidak banyak!"
Mengingat ini, hampir saja Chu Liuxiang tertawa keras.
Kadang-kadang ia dipanggil orang sebagai pendekar besar, kadang-kadang dipanggil orang sebagai perampok, kadang-kadang dianggap orang sebagai satria, kadang-kadang dianggap orang sebagai pemuda preman....
Tetapi dianggap orang sebagai orang jujur, ini adalah pertama kali sepanjang hidupnya!
"Seandainya ia tahu betapa "jujur"
Nya aku, pasti akan membuat dia melompat 30 kaki karena saking terkejutnya!"
Sambil tersenyum ia membaringkan dirinya -Di tumpukan rumput-rumput padi.
Tentu saja keluarga semacam ini tidak punya kamar tamu, maka dengan memaksakan diri ia tidur di tempat penumpukan kayu bakar.
Bagaimanapun juga, tempat ini kan ada atap rumah --Ini kan lebih baik daripada tidur di tempat terbuka yang beratapkan langit.
Tetapi seandainya ia tahu apa yang terjadi di tempat ini, maka ia akan memilih tidur di selokan daripada tidur di tempat ini!
Malam sudah larut sekali, dan sekelilingnya amat hening.
Suasana hening yang berbaur dengan sedikit suasana hati yang sedih, yang ada pada daerah pegunungan ini, tak akan bisa terbayangkan oleh orang kota.
Yang terdengar hanyalah bunyi angin, dan bunyi gemerisik daundaun pohon yang tertiup angin -Ini pasti mendatangkan sedikit banyak rasa kesepian dalam keheningan semacam ini.
Siang harinya mengalami begitu banyak hal, lalu pada malam yang demikian hening dan sepi ini, tidur di tumpukan rumput di tempat penumpukan kayu bakar dari sebuah keluarga yang tak dikenalnya.
Bagaimana Chu Liuxiang dapat tertidur?
Mendadak ia teringat pada sebuah cerita yang diceritakan oleh seorang guru sekolah ketika ia masih kecil.
"Dahulu kala ada seorang pelajar yang muda, menempuh perjalanan yang jauh ke ibukota untuk ikut ujian negara, lalu pada suatu malam, karena kelewatan tempat penginapan, lalu menumpang nginap semalam pada sebuah keluarga yang tinggal di daerah pegunungan. Kepala keluarga itu adalah seorang tua yang ramah dan senang menyambut tamu, ia memiliki seorang anak perempuan yang amat cantik. Karena menganggap pelajar itu kelak memiliki masa depan yang cerah, makanya si ayah menjodohkan anaknya kepada si pelajar. Si pelajar tidak menolak, maka pada malam itu juga upacara pernikahan dilangsungkan. Baru pada pagi esok harinya ia menemukan dirinya tidur dikelilingi beberapa kuburan! Sedangkan mempelai wanita yang tadi malam tidur di sisinya itu, sekarang telah berubah menjadi setumpukan tulang yang kering! Namun di pergelangan tangannya masih memakai gelang batu giok pemberian si pelajar sebagai pengganti emas kawin! *** Sejak dulu Chu Liuxiang menganggap ini adalah sebuah cerita yang amat menarik, namun sekarang tiba-tiba merasa cerita itu tidak menarik lagi. Angin masih menderu-deru, daun-daun pohon masih berbunyi gemerisik. Di daerah pegunungan nan sepi ini, mengapa ada sebuah keluarga semacam ini yang tinggal di sini? "
Besok pagi ketika aku bangun, apakah juga menemukan diriku tidur dikelilingi beberapa kuburan?"
Tentu saja tidak, sebab itu kan hanya sebuah cerita khayalan yang tidak masuk akal.
Berpikir sampai di sini, ia tersenyum sendiri, namun tidak tahu mengapa, ia tetap merasa punggungnya sedikit dingin.
Untung Bu Danfu tidak memaksa untuk menikahkan anaknya pada Chu Liuxiang, jika tidak, saat ini ia pasti sudah lari tunggang langgang.
Angin bertambah kencang, sampai membuat pintu berbunyi terus.
Cahaya rembulan yang pucat masuk dari jendela, sepucat wajahnya nona Ajuan itu.
Ia bangun dengan ringan, membuka pintu dengan ringan, tujuannya mau jalan-jalan di halaman, menghirup udara segar untuk melapangkan dada.
Namun begitu membuka pintu, ia melihat sebuah pemandangan yang tak akan dilupakan sepanjang hidupnya!
Ia berharap selamanya tidak pernah membuka pintu ini!
*** Cahaya rembulan yang pucat, dan suasana yang remang-remang.
Gadis yang bernama Ajuan itu sedang menyisir rambutnya di bawah sinar bulan.
Ini sebenarnya tidak termasuk aneh, lebih-lebih tidak bisa dikatakan ini hal yang mengerikan.
Cara Ajuan menyisir rambut itulah yang luar biasa!
Ia melepaskan kepalanya, lalu meletakkan kepala itu ke sebuah meja yang berada di depannya, baru menyisirnya.
Cahaya bulan menyinari wajahnya yang pucat, tangan yang pucat dan tubuh yang tidak berkepala!
Seluruh badan Chu Liuxiang dingin bagaikan es, bahkan dinginnya dari jari-jari tangan sampai ke jari-jari kaki!
Seumur hidupnya belum pernah melihat hal yang selain amat aneh, juga teramat mengerikan ini!
Hal ini semestinya cuma terdapat di dalam cerita khayal yang paling tidak masuk akal!
Bahkan di dalam mimpi pun ia tidak pernah menduga bahwa ia akan melihat pemandangan itu dengan mata kepala sendiri!
Kepala Ajuan tiba-tiba berbalik Diputar oleh tangannya dan menghadap ke Chu Liuxiang, memandang dia dengan sinar mata yang amat dingin!
"Kamu berani mengintip!"
Di sekeliling tidak ada orang lain, suara ini memang di ucapkan oleh mulut dan kepala yang berada di atas meja itu!
Selama ini Chu Liuxiang memiliki nyali yang amat besar, dan tidak pernah percaya takhayul, menghadapi hal yang seberapa ngerinya pun ia tidak pernah merasakan kakinya bisa jadi lemas.
Tapi sekarang kakinya mulai sedikit lemas!
Ia ingin mundur, baru mundur satu langkah, tiba-tiba dari kegelapan melompat keluar sebuah bayangan!
Ternyata itu adalah seekor anjing hitam.
Anjing itu melompat ke meja, menggigit dan menggondol pergi kepala yang ditaruh di atas meja itu.
Walaupun kepala itu berada dalam mulut anjing itu, tapi masih bisa berteriak.
"Tolong! Tolong!"
Badan Bu Ajuan yang tidak berkepala itu, ternyata bisa menjerit dengan sedih.
"Kembalikan kepalaku!"
"Kembalikan kepalaku! . Mimpi Indah Yang Sulit Jadi Kenyataan Cahaya bulan yang pucat, suasana yang remang-remang. Anjing itu telah berlari masuk ke kegelapan, kepala itu masih berteriak-teriak dengan sedih.
"Tolong! Tolong!"
Badan yang tidak berkepala itu pun masih menjerit-jerit dengan sedih.
"Kembalikan kepalaku! Kembalikan kepalaku...."
Bunyi jeritan itu, sebentar lenyap sebentar terdengar lagi.
Bunyi angin yang menderu-deru, dibaurkan dengan jeritan-jeritan itu, kedengarannya persis dengan setan-setan yang sedang melolong!
Siapa pun yang melihat pemandangan ini dan mendengar suarasuara itu, kalau tidak mati ketakutan, pasti akan pingsan seketika!
Tetapi Chu Liuxiang tidak.
Tiba-tiba badannya melesat bagai anak panah, mengejar anjing itu.
"Baik kau adalah manusia atau anjing, asal kau memberi makan ketika aku lapar, dan memberi tumpangan tidur ketika aku lelah, maka aku tidak bisa membiarkan kepalamu dibawa pergi oleh anjing!"
Inilah prinsip dia. Selama ini dia adalah orang yang memegang prinsip dengan teguh. Anjing itu larinya cepat sekali, dalam waktu sekejap mata sudah lenyap lagi dalam kegelapan.
"Baik kau adalah manusia atau anjing, asal Chu Liuxiang mau mengejar, pasti akan tersusul!"
Bahkan ada sejumlah orang percaya bahwa ilmu meringankan tubuh Pendekar Harum Chu itu, memang belajar dari neraka!
Sewaktu melewati pagar bambu itu, dengan cepat tangannya telah mencabut keluar sebatang bambu.
Hanya dengan 3-5 kelebatan, maka jarak dia dengan anjing itu sudah tidak sampai enam meter.
Batang bambu di tangannya itu ditimpuk dan tepat mengenai badan anjing.
Anjing itu terkaing-kaing, dan jatuhlah kepala orang itu dari mulutnya.
Dengan cepat Chu Liuxiang berkelebat dan memungut kepala itu.
Kepala itu dingin bagaikan es, juga basah, tampaknya sedang mengeluarkan keringat dingin.
Tiba-tiba is merasa ada ketidak-beresan!
Tiba-tiba kepala itu berbunyi "Poooh"
Lalu meletus, menyemburlah asap tebal dari kepala itu, dengan bau busuk yang amat menyengat!
Lalu jatuhlah Chu Liuxiang.
Siapa pun yang mencium bau busuk ini, pasti akan jatuh!
**** Malam itu berembun banyak, bumi dingin dan basah.
Chu Liuxiang rebah di tanah.
Dari jauh sayup-sayup terdengar bunyi mengerikan yang terbawa angin, entah itu lolongan anjing?
Atau tangisan hantu?
Tiba-tiba ada sebuah bayangan orang muncul dari kegelapan, berjalan dengan gerakan yang amat ringan.
Sebuah bayangan orang yang tidak berkepala!
Orang yang tidak berkepala itu ternyata bisa tertawa, dan ia tertawa ngakak di depan Chu Liuxiang!
Chu Liuxiang yang tadinya terbius dan rebah di tanah itu, tibatiba melompat bangun, dengan gerakan secepat kilat tangannya telah mencengkeram kerah bajunya orang yang tak berkepala itu!
Dengan berbunyi "srett", kerah baju itu robek, lalu terlihatlah sebuah kepala orang.
Ternyata dia ialah Bu Danfu.
Ternyata dia punya kepala, namun disembunyikan ke dalam baju.
Ternyata baju itu disangga para-para Jika bukan karena ia kurus dan kate, maka penampakannya tidak akan begitu persis.
Kalau kepala yang digondol anjing itu?
Ternyata kepala itu terbuat dari malam, di dalamnya tersembunyi mesiu dan sumbunya; sumbu itu telah dinyalakan.
Asal pengukuran waktunya tepat, panjang sumbu itu bisa disesuaikan.
Ia mengukur waktu dengan tepat sekali.
Maka "kepala"
Itu meletus tepat waktu di tangan Chu Liuxiang, obat bius yang tersim pan di dalamnya bertebaran karena letusan itu!
Semuanya telah diukur dan diperhitungkan dengan sangat tepat, yang belum diperhitungkan hanyalah Chu Liuxiang masih dapat melompat bangun dari tanah!
Pada saat ini, mata-alis-hidung dan mulut Bu Danfu tampaknya telah mengerut jadi satu bagian, persis seperti telah diberi bogem mentah oleh orang lain.
Tetapi Chu Liuxiang tersenyum, lalu berkata.
"Ternyata kemampuan minum arakmu lumayan juga, mungkin minum lagi beberapa cawan pun tidak akan jadi mabuk"
Pada saat dan di tempat seperti ini, ternyata ia mengucapkan kata-kata ini, menurut anda aneh atau tidak?
Bu Danfu memaksakan dirinya untuk tersenyum, namun tiba-tiba badannya mengkerut dan keluar dari pakaiannya, kemudian badannya begelundungan dengan cepat, sekejap saja sudah belasan meter jauhnya.
Lalu badannya melompat bangun dan melesat, sebentar saja telah berada di jarak 20 meteran.
Tanpa terasa Chu Liuxiang berseru.
"Ilmu meringankan tubuh yang bagus!"
Begitu kalimat ini selesai diucapkan, badannya juga telah melesat 20 meteran!
Bu Danfu berlari kencang tanpa berani menoleh, ilmu meringankan tubuhnya memang cukup bagus, jikalau bukan bertemu Chu Liuxiang, ia tentu bisa lobos.
Tidak beruntungnya ia bertemu Chu Liuxiang.
Hampir saja ia tersusul oleh Chu Liuxiang.
Tetapi tiba-tiba Chu Liuxiang berhenti, sebab ia melihat lagi ada seorang yang sedang menyisir rambut di halaman rumah.
**** Cahaya bulan yang pucat, cahaya bintang yang remang-remang.
Bu Ajuan sedang menyisir rambut di bawah cahaya bulan, dengan gerakan yang pelan sekali.
Tentu saja pada kali ini ia tidak melepaskan kepalanya.
Rambutnya hitam berkilat, tangannya halus dan indah, wajahnya pucat seperti cahaya bulan.
Ia memakai pakaian sutra ungu yang ringan dan tipis, saking tipisnya sehingga begitu ditiup angin, dapat terlihat dada yang montok, pinggang yang ramping dan kaki panjang yang lurus dari dia!
Pakaian sutra ungu yang ringan dan berada di dalam angin itu, persis seperti gumpalan kabut yang amat tipis.
Tubuh mulus dan berkilauan yang berada di balik pakaian sutra ungu itu lapat-lapat terlihat!
Tidak tahu yang berada di dalam kabut itu.
Gadis atau bunga?
Chu Liuxiang bukan orang yang alim, juga bukan orang buta.
Mendadak Bu Ajuan menoleh, bertanya seraya tersenyum manis.
"Kau belum mati?"
Chu Liuxiang menjawab dengan tersenyum juga.
"Aku masih manusia, bukan setan."
"Apakah obat bius itu bermasalah?"
"Obat bius itu tidak bermasalah, yang bermasalah ialah hidungku."
"Aku tahu kehebatan obat bius itu, yang bahkan dapat membius orang yang tidak punya hidung sekalipun!"
Chu Liuxiang senyum lagi dan berkata.
"Sekalipun tidak punya hidung, kepala itu juga tidak akan begitu ringan."
Bu Ajuan berkata seraya mengedipkan mata.
"Apakah begitu merasakan kepala itu terlalu ringan, kau segera menutup pernafasanmu?"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.
"Barangkali aku tidak merasakan apa-apa, hanyalah nasibku luar biasa baik."
Bu Ajuan berkata dengan tersenyum "Aku tahu baru-baru in nasibmu tidaklah baik."
"Oh ya?"
Bu Ajuan berkata seraya tersenyum manis.
"Orang yang 'bernasib bunga persik', biasanya punya nasib yang tidak begitu baik."
Tanpa terasa Chu Liuxiang mengelus-elus hidungnya, lalu berkata.
"Bagaimana kau bisa tahu aku sedang 'bernasib bunga persik'?"
Bu Ajuan menjawab seraya tersenyum.
"Sebab kau tidak saja memiliki sepasang 'mata bunga persik', juga memiliki sebuah 'hidung bunga persik'!"
Chu Liuxiang menimpali sambil senyum "Untung tanganku bukan 'tangan bunga persik'(Dalam bahasa Tionghoa.
"Mata bunga persik"
Berarti. matakeranjang;
"Hidung bunga persik"
Berarti. hidung belang;
"Tangan bunga persik"
Berarti. tangan yang suka gerayangan), makanya kau masih bisa duduk dengan baik di sana!"
Bu Ajuan bertanya seraya memutar-mutarkan biji makanya.
"Apakah tanganmu 'alim' sekali?"
"Apakah kau berharap tanganku tidak 'alim?"
Bu Ajuan berkata seraya menggigit bibir.
"Jika tanganmu benarbenar 'alim datanglah kemari dan sisirkanlah rambutku."
Chu Liuxiang tidak menjawab, badannya juga tidak bergerak. Bu Ajuan melirik dia dengan ujung mata, lalu bertanya.
"Apakah kau tidak bisa menyisir rambut?"
"Walaupun tanganku 'alim' tapi tidak bodoh."
"Apakah kau tidak suka menyisirkan rambut orang?"
"Itu tergantung, kadang suka, kadang tidak suka."
"Tergantung apa?"
"Tergantung apakah kepala orang itu bisakah dilepas dari lehernya!" **** Rambut gadis itu halus, lembut dan indah, dipandang di bawah sinar bulan persis dengan sutra! Tiba-tiba Chu Liuxiang merasa bahwa. Membantu menyisirkan rambut seorang gadis itu adalah semacam kenikmatan! Barangkali gadis yang rambutnya disisirkan oleh dia pun merasa adalah semacam kenikmatan! Chu Liuxiang menyisir dengan gerakan tangan yang amat ringan. Sinar mata Bu Ajuan redup seperti sinar bintang, lalu berkata dengan suara lembut.
"Sejak dulu aku sudah pernah dengar kata orang, bahwa Pendekar Harum Chu tidak pernah mengecewakan wanita! Tapi sejak dulu aku tidak percaya."
"Kalau sekarang?"
Bu Ajuan menjawab sambil senyum.
"Sekarang aku percaya"
"Kamu masih dengar orang ngomongin aku tentang apa?"
Bu Ajuan mengedip-ngedipkan mata dan berkata dengan perlahan.
"Mengatakan bahwa kau amat cerdik seperti rubah tua, di dalam dunia ini tidak ada hal yang kau tidak ngerti, juga tidak ada seorang pun yang dapat menipumu...Semua ini aku sekarang juga percaya"
Mendadak Chu Liuxiang menghela nafas panjang, lalu berkata seraya tersenyum masam.
"Tetapi sekarang aku agak mencurigai diriku sendiri."
"Oh ya?"
"Hari ini juga aku telah melihat satu hal yang aku tidak ngerti."
"Apa itu?"
"Kenapa kepala itu bisa berbicara?"
Bu Ajuan menjawab seraya tersenyum lagi.
"Yang berbicara bukan kepala itu, tapi Bu Danfu."
"Namun aku jelas-jelas melihat bahwa yang berbicara adalah kepala itu."
"Sebetulnya kau tidak benar-benar melihat, itu cuma semacam perasaan saja."
"Kok bisa ada perasaan itu?"
"Waktu kecil Bu Danfu pernah pergi ke Tianzhu (Tianzhu adalah sebutan kuno untuk India.), dan berhasil mempelajari semacam ilmu aneh dari bhiksu-bhiksu Tianzhu."
"Ilmu apa itu?"
"Orang Tianzhu menyebut ilmu ini 'bahasa perut', artinya dia dapat berkata-kata dari dalam perutnya, sehingga kau tidak bisa tahu suara itu dari mana datangnya!"
Chu Liuxiang menghela nafas panjang lagi, lalu berkata.
"Wah! Tampaknya di dalam dunia ini sungguh amat banyak ilmu yang aneh-aneh! Yang tidak mungkin bisa dipelajari semuanya oleh siapa pun sepanjang hidupnya!"
Bu Ajuan berkata seraya tersenyum mamis.
"Saat ini pun kau sudah cukup membuat banyak orang sakit kepala, kalau kau bisa mempelajari semua ilmu, mana ada lagi jalan hidup bagi orang lain?"
Chu Liuxiang juga tersenyum, tiba-tiba bertanya "Kelihatannya Bu Danfu bukanlah ayahmu?"
"Tentu saja bukan, jika tidak kenapa aku bisa langsung menyebut namanya?"
"Dia itu apamu?"
"Dia itu lakiku."
Tangan Chu Liuxiang yang pegang sisir itu tiba-tiba berhenti, dan dia menjadi termangu-mangu. Bu Ajuan menoleh dan melirik dia sejenak, lalu berkata seraya tersenyum mamis' .
"Lakiku artinya suamiku, apa kau tidak ngerti?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum masam.
"Aku ngerti."
Bu Ajuan bertanya seraya melirik ke tangan Chu Liuxiang.
"Mengapa begitu mendengar dia adalah suamiku, tanganmu lantas tidak bergerak lagi?"
"Itu karena aku belum ada kebiasaan membantu menyisirkan rambut istri orang lain."
Bu Ajuan berkata seraya tersenyum.
"Lambat laun kau akan jadi biasa."
Chu Liuxiang berkata sambil tersenyum masam.
"Aku kira sebaiknya jangan punya kebiasaan semacam ini"
Bu Ajuan mulai tertawa cekikikan, lalu bertanya "Apakah kau takut dia cemburu?"
"Ya." 'Dia tidak mampu mengejar serta mengalahkanmu, kau takut apa?"
"Aku tidak senang melihat rupa pria yang cemburu."
Bu Ajuan berkata seraya memutar-mutar biji matanya.
"Kalau dia tidak cemburu?"
"Di dalam dunia ini tidak ada pria yang tidak cemburuan ---Kecuali orang mati."
"Apakah kau ingin dia mati?"
"Perkataan ini Bukan aku tapi kau yang mengatakannya."
"Mulut mengatakannya atau tidak, itu satu hal; namun hati menginginkannya atau tidak, itu satu hal yang lain."
Ia menatap Chu Liuxiang sambil tersenyum samar-samar, lalu melanjutkan kata-katanya dengan pelan.
"Sebenarnya asal kau mau, setiap saat ia mungkin bisa jadi orang mati."
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum hambar.
"Cuma sayangnya aku belum punya kebiasaan membunuh suami orang lain!"
"Apakah demi aku pun kau tidak mau melakukannya?"
Chu Liuxiang tidak menjawab. Ia tak akan pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan dan mengecewakan kaum wanita! "Jangan lupa tadi sebenarnya dia mau membunuhmu."
Chu Liuxiang mengedip-ngedipkan mata sambil berkata.
"Benarkah dia adalah orang yang mau membunuhku?"
Tiba-tiba Bu Ajuan menghela nafas panjang, berdiri dengan perlahan, lalu mengambil sisir yang berada di tangan Chu Liuxiang. Chu Liuxiang bertanya "Kenapa kau menghela nafas?"
"Seseorang kalau hatinya sedih, ia akan menghela nafas."
"Jadi kau amat sedih?"
"Ya"
"Mengapa?"
"Karena sebenarnya aku tidak ingin kau mati, namun jika dia tidak mati, kamulah yang harus mati!"
"Oh ya?"
"Kau tidak percaya?"
"Sebab aku selalu merasa, menginginkan kematianku bukanlah suatu hal yang amat mudah!"
Bu Ajuan berkata dengan perlahan.
"Tapi juga tidak sesulit seperti yang kau pikirkan!"
Tiba-tiba ia mengangkat sisir itu dan bertanya.
"Apakah kau tahu sisir ini terbuat dari apa?"
"Dari kayu."
"Jenisnya kayu banyak sekali -Setahuku kira-kira ada 100 jenis."
Chu Liuxiang mendengarkan.
"Di antara 100 jenis kayu ini, ada 90 lebih jenis yang termasuk biasa."
Ia tersenyum sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya.
"Yang dimaksud biasa itu artinya tidak berbisa -Jika kau menggunakan sisir yang terbuat dan kayu biasa itu untuk menyisir rambut orang lain, kalau menginginkan kematian dia barulah tidak mudah."
"Jadi sisirmu ini?"
"Sisirku ini terbuat dari 'kayu pria cemburu' Sejenis kayu yang termasuk yang luar biasa!"
"Apanya yang luar biasa?"
Bu Ajuan tidak menjawab, tapi mengelus-elus rambutnya yang panjang dan halus itu, lalu tiba-tiba bertanya.
"Menurut kau rambutku wangi tidak?"
"Wangi sekali."
"Itu karena rambutku telah diolesi minyak wangi."
Sinar mata Chu Liuxiang "berkelap-kelip", lalu bertanya "Apakah jenisnya minyak wangi juga amat banyak?"
"Betul. Setahuku kira-kira ada 100 jenis juga"
"Apakah 90 lebih jenis di antaranya juga termasuk yang biasa --Yang tidak berbisa?"
Bu Ajuan tersenyum manis seraya berkata.
"Kamu kok tambah lama tambah cerdas ya."
Chu Liuxiang tersenyum seraya berkata.
"Minyak wangi yang dioleskan di rambutmu itu, tentu saja yang termasuk jenis yang luar biasa itu!"
"Tepat sekali."
Chu Liuxiang menghela nafas panjang, lalu bertanya.
"Kenapa aku tidak bisa melihat keluar-biasaannya?"
"Minyak wangi jenis ini bernama 'minyak pacar', ketika 'kayu pria cemburu' bertemu 'minyak pacar', akan mengeluarkan semacam gas racun yang luar biasa! Ketika kau menyisirkan rambutku, tanpa kau bisa merasa, gas racun ini telah masuk ke dalam pori-pori tanganmu, maka...."
Ia menghela nafas panjang lagi, lalu meneruskan kata-katanya dengan pelan.
"Paling lama setengah jam lagi, maka sepasang tanganmu akan mulai membusuk, lalu tulang tanganmu akan ikut membusuk, bahkan seluruh daging dan tulang tubuhmu akan rusak dan membusuk!"
Chu Liuxiang terkesiap sambil terbengong-bengong! Bu Ajuan bertanya seraya tersenyum.
"Menurutmu cara membunuhku ini hebat tidak? Barangkali sampai-sampai Pendekar Harum yang tahu segala hal pun tidak akan pernah menduganya kan!?"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum masam.
"Tampaknya di dalam dunia ini, cara pembunuhan yang aneh-aneh memang betulbetul banyak sekali!"
"Hari ini kau telah menyaksikan dua macam di antaranya"
"Dua hari yang lalu aku telah menyaksikan beberapa macam."
"Apakah kau merasakan bahwa semua macam cara itu hebat sekali?"
"Betul-betul hebat sekali!"
Mendadak ia melanjutkan kata-katanya seraya tersenyum.
"Walaupun semua cara itu hebat sekali, namun sampai saat ini aku masih hidup sehat wal'afiat kan!?"
"Hanya sampai saat ini kan? "Selanjutnya?"
"Siapa yang bisa tahu hal yang selanjutnya!"
"Aku bisa!"
"Oh ya?"
"Aku dapat memberi jaminan padamu, bahwa cara yang aku pergunakan ini bukan saja paling hebat, bahkan paling efektif!"
Ia meneruskan kata-katanya seraya tersenyum.
"Sekalipun kau bisa setiap saat menutup pernafasanmu, tapi masa' kau bisa menutup seluruh pori-porimu?"
Chu Liuxiang menganggukkan kepala dan berkata seraya menghela nafas panjang.
"Jika demikian, kelihatannya aku mesti mati ya!?"
"Karena itu hatiku amat sedih."
"Jikalau kau begini sedih, mengapa tidak membiarkan aku hidup saja?"
Bu Ajuan memutar-mutar biji matanya, lalu berkata.
"Jika kau ingin tidak mati, hanya ada satu cara!"
"Cara apa?"
"Pergi dan bunuhlah Bu Danfu demi aku."
"Mengapa tidak kau sendiri yang membunuh dia?"
Bu Ajuan berkata seraya menghela nafas dalam-dalam.
"Meskipun aku bukanlah wanita baik-baik, namun membunuh suami sendiri? Aku masih tidak mampu melakukannya"
"Apakah kau mengira aku mampu melakukannya?"
"Dia kan bukan temanmu, juga bukan suamimu, jika mau membunuhnya, mudahnya seperti kau membalikkan tanganmu! Kecuali kau menganggap nyawa dia lebih penting dari nyawamu."
Chu Liuxiang mulai lagi mengelus-elus hidungnya. Bu Ajuan berkata dengan santai.
"Lebih baik kau cepatan ambil keputusan, sebab jika racun itu mulai bereaksi, menyesal sudah terlambat lho!"
Sikapnya makin santai, malahan menunjukkan situasinya makin gawat. Tampaknya Chu Liuxiang pun amat mengerti hal ini, maka buruburu bertanya.
"Apakah bila sekarang aku pergi mencari dia, itu tidak terlambat?"
Bu Ajuan menjawab seraya tersenyum sejenak.
"Ilmu meringankan tubuh Pendekar Harum nomor satu di dunia Aku pun tahu hal ini."
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum getir.
"Cuma sayang bahwa saat ini tidak tahu dia sudah lari ke mana, bagaimana aku bisa menemukan dia?"
Bu Ajuan berkata sambil senyum "Apakah kau mengerti peribahasa 'Yang memahami anak, tiada yang yang bisa menandingi ayahnya; Yang memahami suami, tiada yang bisa menandingi istrinya'?"
"Apakah kau tahu dia ada di mana?"
"Seorang perempuan kalau tidak tahu di mana suaminya berada, lebih balk mati saja!"
Dengan cepat ia meneruskan kata-katanya.
"Sewaktu tadi datang, kau pasti telah melihat ada sebuah kaki gunung kan?"
Chu Liuxiang menganggukkan kepalanya.
"Asal kau menyusuri kaki gunung itu dan berjalan ke hulunya, kau akan melihat sebuah air terjun, di belakang air terjun itu ada sebuah gua gunung yang tersembunyi. Ia pasti bersembunyi di sana."
Chu Liuxiang bertanya dengan sikap ragu.
"Jikalau aku bunuh dia, apakah benar kau mau memberikan obat penawar racun itu kepadaku?"
"Betul! Dengan kepala dia ditukar dengan obat penawar, dengan nyawa dia ditukar dengan nyawamu. Ini bisnis pertukaran yang yang adil, tiada yang dirugikan."
"Tetapi kenapa kau mesti menginginkan kematiannya?"
Bu Ajuan berkata dengan sikap dingin.
"Cerita ini tunggu kau kembali saja, barangkali aku mau memberitahukanmu, sekarang jika mau masih banyak bertanya, takutnya kau akan terlambat!"
Chu Liuxiang bertanya seraya menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku mengajukan pertanyaan yang terakhir. Apakah kau pasti akan menunggu aku di sini?"
"Tentu."
Ternyata Chu Liuxiang memang tidak berkata apa-apa lagi, memutar badannya lalu pergi.
Terlihat bayangan dia sekali berkelebat, sudah 20-30 meter jauhnya, sekali berkelebat lagi, bayangannya telah lenyap dalam kegelapan.
Tampaknya Bu Ajuan sedikit terkejut dan tidak menduga bahwa Chu Liuxiang akan menyanggupi permintaannya dengan begitu mudah.
"Bukankah selama ini Chu Liuxiang tidak mau membunuh orang?"
"Tetapi di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar tidak takut mati, dia kan manusia juga, tentu saja mengerti bahwa nyawa sendiri jauh lebih berharga dari nyawa orang lain."
Berfikir sampai sini, ia tersenyum amat gembira dan puas.
Selama ini ia selalu menganggap orang-orang pria di bawah kolong langit ini semuanya orang-orang tolol.
Menipu mereka itu lebih gampang dari mengiris tahu!
Sampai pada hari ini, ia berkesimpulan bahwa ternyata Chu Liuxiang pun tidak terkecuali!
Chu Liuxiang bukan saja tertipu, bahkan tertipu secara berentetan.
Pertama Bu Danfu sama sekali bukan suaminya.
Kedua.
Bu Danfu saat ini tidak berada di gua gunung yang berada di belakang air terjun itu, dan sekarang entah berlari ke mana?
Ketiga.
sisir itu hanya terbuat dari kayu biasa, yang dioleskan di kepalanya pun cuma semacam minyak wangi bunga melati yang biasa-biasa saja!
Keempat Di dalam dunia ini sama sekali tidak ada yang namanya "kayu pria cemburu"
Dan "minyak pacar"!
Kedua macam benda berbisa yang aneh-aneh ini, barangkali hanya terdapat di dalam cerita hantu saja!
Kelima Ia menyuruh Chu Liuxiang pergi ke gua yang berada di belakang air terjun itu, tujuannya hanya agar Chu Liuxiang mengantar nyawa!
Sebab siapapun yang masuk sendirian ke sana, jangan harap bisa keluar lagi dengan bernyawa!
"Tampaknya para pria itu terlahir untuk ditipu oleh orang-orang wanita!
Jika wanita tidak menipu pria, barangkali pria itu malahan akan merasa sekujur badannya tidak nyaman."
Bu Ajuan sangat gembira, juga sangat puas.
Ia merasa bahwa tidak saja teknik beraktingnya luar biasa, bahkan amat menjiwai perannya!
Pria mana pun kalau ketemu wanita semacam ini, betul-betul cuma bisa mengantar nyawa saja!
Bu Ajuan menambah memakai sebuah pakaian yang tidak begitu "tembus pandang" , lalu dan belakang rumah menuntun keluar kuda yang tadinya di tunggangi oleh Chu Liuxiang itu, naik ke kuda itu, dan pergi dengan kuda itu.
Mendadak ia merasa bahwa naik kuda di bawah sinar bulan itu ternyata amat puitis!
**** Malam kian larut, bintang kian jarang.
Bagaimanapun juga, seorang perempuan berjalan sendirian di jalan gunung yang demikian hening dan sepi ini, pasti bukanlah suatu hal yang menggembirakan, dan juga tidak puitis sama sekali.
Rasa puitis dalam hati Bu Ajuan sudah lenyap entah ke mana, dan merasa angin yang berhembus ke badannya itu dingin sekali.
"Mengapa angin bulan Maret bisa begini dingin?"
Sambil kedua tangannya mengetatkan baju yang dipakainya, mulutnya menyanyikan lagu.
Sebenarnya ia memiliki suara nyanyian yang cukup bagus, namun pada saat ini ia sendiri pun merasa suara nyanyiannya tidak begitu enak didengar.
"Di bulan Maret ratusan bunga mekar dan menebar harum, bunga azalea bermekaran di lereng gunung...."
Pada kenyataannya, di lereng gunung itu bukan saja tidak ada bunga azalea, bahkan setangkai bunga trompet pun tidak ada.
Ketika menikung di sebuah celah gunung, karena sinar bulan terhalang oleh celah gunung itu, maka deretan pohon-pohon yang gelap itu, bergoyang-goyang karena angin, persis seperti bayangan hantu-hantu yang sedang menari-nari!
Angin berhembus ke daun-daun pohon, dan bunyi kuku-kuku kuda berjalan di jalan yang berbatu.
Detak-detak-detak...persis seperti ada seekor kuda lagi yang mengikuti dari belakang.
Hampir saja ia lupa bahwa ini mestinya adalah bunyi derap kudanya sendiri, namun lama kelamaan ia merasa ada yang mengikuti dari belakang.
Ia ingin menoleh ke belakang, tetapi takut kalau betul melihat hantu!
Tapi kalau tidak menoleh, ia tidak bisa menenangkan hatinya.
Lama sekali baru berhasil memberanikan diri, lalu menoleh dan melihat.
Angin sedang berhembus, bayangan-bayangan pohon sedang bergerak-gerak, tapi tidak ada orang.
Namun sepertinya ia melihat sebuah bayangan orang menyelinap ke belakang pohon -tepat pada saat ia menoleh.
Gerakannya amat cepat seperti gerakan hantu saja!
"Di dunia ini mana ada orang yang gerakannya secepat ini?
Kecuali Chu Liuxiang!"
Kalau dihitung waktunya, saat ini seharusnya Chu Liuxiang telah masuk ke gua itu, dan kemungkinan besar kepalanya telah dipenggal oleh orang-orang aneh yang ada di dalam gua itu.
"Sekarang mungkin ia telah menjadi setan yang tidak berkepala, sekaligus menjadi setan yang pandir karena tidak mengerti dirinya mati untuk apa!"
Bu Ajuan kepingin tertawa lagi, tapi entah apa sebabnya, ia tak mampu tertawa.
Pada waktu Chu Liuxiang masih hidup saja sudah merupakan lawan yang sulit dihadapi, apalagi jika benar-benar menjadi setan---Mana tahan!
Bu Ajuan mencambuki kuda itu sekuat tenaga, agar kuda itu lari kian kencang dan segera keluar dari jalan gunung itu.
Ia juga berharap fajar segera menyingsing.
Namun tiba-tiba ia secara lapat-lapat mendengar bunyi jeritan sedih yang terbawa oleh angin, bunyi itu susul-menyusul!
"Kembalikan kepalaku!
Kembalikan kepalaku...."
Sehembusan angin bertiup, lalu samar-samar terlihat ada sebuah bayangan yang berdiri dan bergoyang-goyang di atas sebuah pohon, ada tangan dan kaki, badannya juga utuh, tapi tidak ada kepalanya!
Seluruh rambut dan bulu di badan Bu Ajuan berdiri semua!
Ia berusaha memberanikan diri dan mementang matanya lebarlebar agar bisa melihat lebih jelas.
Tetapi begitu matanya berkedip, bayangan yang tidak berkepala itu segera lenyap!
"Kembalikan kepalaku!
Kembalikan kepalaku...."
Bunyi jeritan sedih itu masih terbawa datang oleh angin.
Sebentar ada sebentar lenyap, sebentar dekat sebentar jauh!
Bunyi jeritan ini tadinya dipakai oleh Bu Danfu untuk menakutnakuti Chu Liuxiang, tadinya ia merasa bahwa ini amat menyenangkan.
Namun sekarang ia baru tahu bahwa ini sama sekali tidak menyenangkan!
Pakaiannya telah basah kuyup oleh keringat dingin.
Tiba-tiba ada sebuah bayangan berkelebat dan melewati kepala kuda.
Masih bayangan yang tak berkepala itu!
Mendadak kuda itu meringkik panjang, lalu berdiri dengan mengangkat kedua kaki depannya!
Sebenarnya Bu Ajuan bisa dengan kedua kakinya menjepit kedua kuda itu.
Keterampilan menunggang kudanya sebenarnya tidak jelek juga.
Tapi sekarang ia merasa kedua kakinya tiba-tiba terasa lemas, sehingga ia terjatuh dari punggung kuda, dan terbanting di tanah dengan keras, sampai matanya berkunang-kunang.
Lalu ia melihat bayangan itu telah melayang ke sebuah pohon yang lain.
Pohon-pohon itu bergoyang-goyang karena ditiup angin, bayangan au pun ikut bergoyang-goyang.
Kecuali Chu Liuxiang, siapa yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang demikian hebat?
Bu Ajuan mengumpulkan seluruh sisa tenaganya, lalu berteriak dengan keras.
"Aku tabu kamu adalah Chu Liuxiang, namun kamu sebenarnya manusia atau setan?"
Bayangan yang berada di atas pohon itu tertawa ngakak, lalu berkata dengan suara tertawa yang menyeramkan.
"Tentu saja aku adalah setan! Kalau manusia, kenapa bisa tidak berkepala?"
Bu Ajuan berkata seraya menggigit bibirnya.
"Kau...kepalamu disembunyikan di balik bajumu."
Bayangan itu mendadak berkata seraya tertawa nyaring.
"Kali ini omonganmu betul."
Beserta dengan suara tertawa itu, kepala Chu Liuxiang muncul dari balik bajunya.
**** Ini membuktikan satu azas kebenaran.
Ada sejumlah hal, jika terjadi pada orang lain, akan merupakan semacam lelucon atau lawakan; Tapi jika terjadi pada diri sendiri, akan berobah menjadi semacam tragedi.
Tiba-tiba Bu Ajuan merasa kedua kakinya tidak lemas lagi, dengan cepat melompat bangun, menepuk dan mengebuti tanah yang menempel di badannya, lalu berkata seraya tersenyum dingin.
"Kau kira kau bisa menipuku? Sejak tadi aku sudah tahu itu adalah kau!"
"Oh ya? Jika sejak tadi kau sudah tahu, lalu kenapa ketakutan?"
Bu Ajuan menjawab dengan dongkol.
"Siapa yang ketakutan? Baik kau manusia atau setan, aku tidak takut!"
Chu Liuxiang mengedipkan mata, lalu bertanya seraya tersenyum.
"Kalau begitu, tadi yang barusan jatuh dan punggung kuda itu siapa ya?"
Bu Ajuan berkata dengan suara keras.
"Itu pun tidak termasuk yang aneh, sebab pepatah berbunyi. 'sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu terjatuh juga' ."
"Hal apakah yang termasuk aneh?"
Bu Ajuan menjawab seraya tersenyum dingin.
"Pendekar Harum Chu yang amat kondang itu ternyata bisa menyamar sebagai setan untuk menakut-nakuti wanita di jalan, ini baru termasuk yang aneh! Kelak kalau aku katakan pada orang, yang malu bukan aku, tapi kau!"
"Aku coma melihat ada orang yang menaiki kudaku, sangkaku itu adalah maling kecil yang mencuri kuda, siapa tahu itu adalah kau."
Tiba-tiba Chu Liuxiang tersenyum, lalu berkata lagi.
"Bukankah seharusnya saat ini kamu menungguku di rumah?"
Bu Ajuan menjawab dengan suara keras.
"Lalu kau? Bukankah saat ini kau seharusnya ada di gua gunung itu? Kenapa kau tidak pergi?"
Chu Liuxiang menjawab seraya menghela nafas.
"Kalau diceritakan maka sebab-sebab ini akan menjadi amat rumit, apakah kau ingin mendengarnya?"
"Ceritakan."
"Yang pertama. Bu Danfu bukanlah suamimu, dia pun tidak bernama Bu Danfu."
"Siapa yang bilang?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum misterius.
"Aku yang bilang, karena tiba-tiba aku teringat dia itu siapa!"
"Dia itu siapa?"
"Ia bermarga Sun dan bernama Bukong, orang-orang menjuluki dia 'Bisa Berubah 71 Macam' artinya ia luar biasa liciknya! Dulu ia adalah jago nomor satu dan aliran silat yang sesat, namun dalam waktu sepuluh tahunan ini -entah apa sebabnya --ia tiba-tiba lenyap dan tidak diketahui kabar beritanya lagi. Tahun ini usianya kira-kira 63-64 tahun, tapi karena ia telah berlatih semacam ilmu yang bernama 'ilmu kanak-kanak', maka kelihatannya masih muda."
Ia bercerita dengan amat lancar, sepertinya ia bercerita tentang keluarganya.
Namun Bu Ajuan mendengar sampai jadi terbengong-bengong.
Chu Liuxiang melanjutkan ceritanya "Dikarenakan berlatih 'Ilmu anak-kanak' maka seumur hidupnya ia tidak pernah melanggar larangan bersanggama dengan wanita, barulah ia dapat hidup sampai sekarang.
Seorang yang berlatih 'ilmu kanak-kanak', tentu saja tidak akan punya istri."
Bu Ajuan mendelik dengan dongkol, lalu berkata sambil tertawa dingin.
"Tak disangka bahwa kisah orang semacam itu kau pun tahu demikian jelasnya, kemungkinan besar kau dan dia adalah satu jalan!"
Chu Liuxiang berkata sambil senyum.
"Jangan lupa bahwa orangorang menjuluki aku 'Panglima Besar di Antara Maling dan Perampok', seorang panglima besar, kalau asal-usul anak buah sendiri saja tidak jelas, becuskah dia? Bukankah lebih baik mati saja?"
Bola mata Bu Ajuan berputar-putar, lalu berkata dengan dingin.
"Hanya sayangnya bahwa panglima besar ini segera akan masuk peti mati!"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum sekilas.
"Hanya sayangnya bahwa yang baru aku ceritakan itu nomor satu, tentu saja masih ada yang nomor dua."
"Yang nomor dua?"
"Yang nomor dua Sisirmu itu tidak terbuat dan 'kayu pria cemburu', yang dioleskan di kepalamu pun bukan 'minyak pacar'."
Sesaat ekspresi wajah Bu Ajuan berubah, lalu berkata seraya mendelik.
"Siapa yang bilang?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum sekilas.
"Aku yang bilang, sebab aku tahu yang dioleskan di rambutmu itu adalah minyak bunga melati dan Toko 'Yuan Huaqi' di ibukota. Minyak itu hasil buatan dan ramuan rahasia dari toko yang sudah terkenal lama sekali itu, punya bau harum yang amat anggun; Harga minyak itu selain amat mahal, belinya pun hanya di toko itu, di lain tempat tidak ada!"
Mata Bu Ajuan mendelik kian besar, lalu bertanya.
"Kenapa kau bisa tahu?"
"Aku bisa menciumnya."
"Bukankah hidungmu tumpul rasa?"
Chu Liuxiang menjawab sambil senyum.
"Hidungku memang kadang-kadang tumpul rasa, tapi kadang-kadang juga tajam rasa, itu tergantung keadaan."
"Tergantung keadaan apa?"
"Tergantung apa yang aku cium, kalau mencium bau tahi anjing atau obat bius, tentu saja hidungku tumpul rasa; Tetapi kalau mencium bau wangi-wangian yang berasal dari tubuh wanita cantik, hidungku barangkali jauh lebih tajam dari siapa pun!"
Bu Ajuan menggigit gigi keras-keras, lalu berkata dengan amat mendongkol.
"Tidak keliru kalau banyak orang mengatakan bahwa kau adalah 'setan maksiat', ternyata memang benar sekali!"
"Ah tidak! Kamu terlalu memuji saja!"
"Kamu sudah menceritakan yang nomor dua, apakah masih ada yang nomor tiga?"
"Ya, ada."
Chu Liuxiang melanjutkan kata-katanya seraya tersenyum.
"Yang nomor tiga. Tiba-tiba aku teringat siapa yang tinggal di dalam gua itu."
Bu Ajuan bertanya seraya mengedip-ngedipkan matanya "Siapa ya?"
"Sekeluarga orang yang bermarga Ma. Siapa pun yang cari garagara dengan mereka, berarti mencari keberabean."
Bu Ajuan berkata seraya tertawa dingin.
"Sungguh tidak disangka ya, bahwa bagi Chu Liuxiang juga ada orang yang ditakuti!"
"Aku semuanya tidak takut, cuma takut berabe saja."
Bu Ajuan berkata dengan sikap dingin.
"Hanya sayang bahwa saat ini sudah ada keberabean yang hinggap di atas dirimu!"
Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas panjang.
"Makanya saat ini aku hanya ingin menemukan keberabean itu berasal dari mana."
"Masa' kau ingin aku memberitahukanmu?"
"Masa' kau masih bisa tidak memberitahukanku?"
"Masa' tidak boleh jika tidak memberitahukanmu!"
"Tidak boleh."
Bu Ajuan berkata seraya memutar-mutar bola matanya.
"Jika aku tidak mau memberitahukanmu, lalu kau mau apa?"
Chu Liuxiang tidak menjawab, namun tiba-tiba menyambar pinggang Bu Ajuan dan memeluknya! Bu Ajuan berkata dengan suara tertahan.
"Kau...kau berani melakukan pelecehan seksual?"
Chu Liuxiang tersenyum seraya memperlihatkan giginya dan berkata.
"Jangan lupa ya bahwa aku kan 'setan maksiat'!"
Bu Ajuan mendelik sejenak, tiba-tiba menghela nafas, lalu berkata seraya menutup matanya.
"Baiklah! Sekali ini aku biarkan kau melakukan pelecehan seksual!"
Chu Liuxiang malahan menjadi terkesiap, lalu bertanya "Kau tidak takut?"
Bu Ajuan berkata dengan suara lirih.
"Aku kan tidak berdaya? Mau berkelahi tidak bisa menang darimu, mau berlari tidak bisa lari darimu!"
"Masa' kau tidak bisa berteriak?"
Bu Ajuan berkata seraya menghela nafas.
"Seorang wanita teriakteriak begini, ke mana wajahku mau 'ditaruh'? Apalagi saat ini tengah malam, tempat ini pun amat sepi, sekalipun aku teriak-teriak, juga tidak akan ada orang yang mendengarnya"
Ia mendadak merangkul leher Chu Liuxiang, lalu berkata dengan suara lirih di pinggir telinga Chu Liuxiang.
"Jikalau kamu mau memperkosaku, sekaranglah saat yang baik! Nanti kalau langit sudah terang, suasana romantisnya akan hilang!" **** Tengah malam, di tempatyang amat sepi, cahaya bulan yang lemah-lembut. Seandainya ada seorang perempuan secantik Bu Ajuan, saat ini berada dalam pelukan anda, dan ia mengucapkan kata-kata tersebut diatas di pinggir telinga anda, lalu anda akan berbuat apa? Saat ini Chu Liuxiang sungguh-sungguh tidak tahu mesti berbuat apa! Melihat ekspresi wajahnya, seolah-olah yang dia peluk itu bukan perempuan cantik, tapi adalah ubi jalar gunung yang amat panas! Sepasang tangan Bu Ajuan merangkul kian kencang, sambil terus menutup matanya, nafasnya yang mulai memburu itu berhembus pelan ke pinggir telinga Chu Liuxiang! Ia sedang menunggu! Tampaknya tidak mudah bagi Chu Liuxiang untuk melepaskan diri dari ubi jalar gunung yang amat panas ini! Namun ubi panas ini memang amat harum Bahkan harumnya amat mempesona! Harumnya ini Sekalipun anda baru menikmati makanan yang paling lezat, dan perut masih terasa penuh sekali tetap membuat anda tidak bisa menahan diri untuk tidak "menggigitnya" ! Chu Liuxiang mulai berasa jantungnya berdetak kencang sekali! Mata Bu Ajuan disipitkan, lalu berkata dengan suara lembut.
"Tunggu apa lagi? Apakah kau cuma bisa pakai mulut saja?"
Chu Liuxiang berkata seraya berbatuk kering.
"Seperti pepatah yang berbunyi 'Satria hanya pakai mulut, tidak pakai tangan'."
Bu Ajuan berkata dengan senyuman jangak "Tapi kamu kan bukan satria!"
Chu Liuxiang mengaku seraya menghela nafas.
"Memang bukan."
Ketika ia sudah siap-siap melepaskan haknya untuk menjadi satria, tiba-tiba dari belakang pohon-pohon gelap yang ada di sisi jalan itu, terdengar suara ketawa yang merdu dan renyah!
Seorang gadis yang berpakaian kuning, bersandar di sebuah pohon, dan tertawanya tidak berhenti-henti.
Suara tertawanya enak didengar, orangnya sedap dipandang!
Tanpa terasa Chu Liuxiang berseru.
"Zhang Jiejie."
Gadis itu betul-betul terlalu misterius, selamanya Chu Liuxiangtidak akan bisa menebak kapan saatnya ia akan muncul di hadapannya, dan kapan saatnya ia akan lenyap lagi!
Bu Ajuan bertanya dengan suara keras.
"Siapakah kamu?"
Zhang Jiejie menjawab seraya tersenyum.
"Aku bukan 'siapa', hanya seorang yang kebetulan lewat di sini saja."
Bu Ajuan bertanya seraya mendelik.
"Kamu mau berbuat apa?"
"Aku tidak mau berbuat apa-apa, baik dia memperkosamu, atau kamu diperkosa dia, semuanya tidak ada hubungan apa-apa denganku."
"Kalau begitu cepatlah kamu pergi!"
"Aku juga tidak ingin pergi."
Zhang Jiejie meneruskan kata-katanya seraya tertawa "Teruskan perbuatan kalian, masa' aku tidak boleh menonton dari sini?"
"Dengan hak apa kamu mau menonton?"
"Karena aku suka!"
Argumentasi yang terhebat pun tak akan bisa melawan kata "Suka"
Bu Ajuan sudah termasuk orang yang mau menang sendiri, tidak tahunya malahan justru ketemu orang yang lebih mau menang sendiri!
Chu Liuxiang sudah hampir mau ketawa.
Bu Ajuan melepaskan pelukannya, badannya tiba-tiba melesat dari pelukan Chu Liuxiang, lalu bersalto di udara, dengan kecepatan bagai anak panah ia "menerkam"
Ke Zhang Jiejie!
Sepuluh jari tangannya yang lentik itu, berkilauan di bawah cahaya rembulan!
Kelihatannya bahwa ia ingin sekali mencabik-cabik wajah Zhang Jiejie!
Baik ia seorang pesilat atau bukan, ketika seorang perempuan berkelahi, sepertinya suka sekali mencakar-cakar wajah lawannya.
Malahan Chu Liuxiang merasa sedikit khawatir untuk Zhang Jiejie.
Mendadak ia menemukan bahwa tidak saja Bu Ajuan memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi, bahkan serangannya amat cepat dan amat sadis!
Sebelumnya ia tidak pernah menduga bahwa wanita yang cantik seperti Bu Ajuan ini, sanggup melancarkan serangan yang begitu sadis!
"Barangkali ketika perempuan melawan perempuan, mereka akan berobah jadi lebih kejam dan sadis!?"
Zhang Jiejie masih tertawa cekikikan.
Ketika kuku-kuku jari tangan Bu Ajuan sudah hampir mengenai wajahnya, barulah dengan tiba-tiba badannya meluncur ke atas dengan menyusuri batang pohon, persis seperti seekor kucing, sekejap saja sudah tiba di ujung pohon.
Dengan menjejakkan ujung kakinya, badan Bu Ajuan juga ikut meluncur ke ujung pohon.
Zhang Jiejie berkata seraya tertawa manja.
"Galak amat wanita ini! Kakak Xiang, kenapa tidak bergegas datang untuk membantuku?"
Ia sengaja mengucapkan kata "Kakak Xiang"
Ini dengan nada yang mesra dan genit!
Chu Liuxiang yang mendengar kata-kata itu, tiba-tiba merasa badannya merinding semua.
Bu Ajuan yang mendengar kata-kata itu, api amarahnya kian berkobar-kobar, lalu berkata seraya tersenyum "Wanita ini benarbenar tidak tahu malu!
Ia tidak sadar kalau kata-katanya bisa membuat orang yang mendengarnya merasa muak dan mau muntah!"
Kata-katanya masih belum selesai diucapkan, ia telah melancarkan 7 jurus serangan! Zhang Jiejie sambil menghindar, sambil berkata seraya tertawa terus.
"Yang tidak tahu malu itu aku atau kamu? Kenapa kamu mesti menginginkan kakak Xiangku untuk memperkosamu?"
Saking marahnya sampai tidak bisa berkata-kata lagi, dengan air muka yang merah padam, Bu Ajuan melancarkan serangan-serangan yang makin aneh dan makin sadis! Zhang Jiejie terus berceloteh.
"Sebenarnya kamu mesti meniru aku, jika kamu memanggil dia kakak Xiang', mungkin ia akan segera memperkosamu!"
"Kentut!"
Zhang Jiejie menimpali seraya tertawa.
"Bau sekali ya!"
Ia terus berkelit dan menghindar, kelihatannya seperti tidak punya tenaga untuk menangkis, tiba-tiba berseru dengan terkejut, lalu memutar badannya dan berlari pergi, sambil mulutnya berseru
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com seru "Cakar wanita ini benar-benar mengerikan! Jikalau wajahku benar-benar tersobek oleh cakarnya, bagaimana di kemudian hari aku masih 'laku' menikah?"
Ia berlari di depan, Bu Ajuan mengejar di belakang.
Ilmu meringankan tubuh dua orang ini sama-sama hebat, apalagi Zhang Jiejie.
Chu Liuxiang hampir tidak pernah melihat ada wanita yang ilmu meringankan tubuhnya lebih tinggi dari Zhang Jiejie -Bahkan yang pria pun jarang ada yang lebih tinggi dari dia!
Sebenarnya ia ingin menyusul untuk melerai mereka, tapi setelah dipikir-pikir, ia menghentikan langkahnya.
Ketika dua wanita berkelahi, satu-satunya hal yang bisa dikerjakan si pria adalah.
berdiri saja dan tidak bergerak.
Jika dapat tiba-tiba berubah menjadi tuli dan buta, itu adalah tindakan yang lebih bijaksana.
Angin terns berhembus ke daun-daun pohon, tetapi suara dua wanita itu sudah tidak terdengar lagi.
Masa' mereka berdua sudah melarikan diri?
Namun, tiba-tiba terdengar ada seorang menyanyi dengan suara lembut di dalam kegelapan.
"Dua wanita berkelahi, cuma ada satu yang bisa kembali...coba tebak, yang kembali itu siapa?"
Chu Liuxiang menjawab tanpa berfikir lagi.
"Zhang Jiejie."
Memang benar itu adalah Zhang Jiejie Dengan satu kali kelebatan, ia telah berada di depan Chu Liuxiang, lalu berkata seraya tersenyum manis.
"Adik yang manis! Ada perlu apa kau panggil kakak lagi?"
Chu Liuxiang berkata sambil menghela nafas panjang.
"Omonganmu kok itu-itu saja, apakah kau tidak bosan mengatakannya?"
Zhang Jiejie berkata sambil tersenyum.
"Bukan saja tidak bosan mengatakannya, bahkan aku juga tidak bosan mendengarkannya, sekalipun dalam sehari kau panggil aku kakak 800 kali, tetap saja aku merasa senang."
Ia mengedip-ngedipkan mata dan bertanya.
"Apakah kau merasa senang?"
"Ada hal apa yang perlu aku senang? "
Ada dua wanita yang demikian cantik ini yang berkelahi demi kau!"
"Masa' kau tidak merasa senang?"
Chu Liuxiang bertanya seraya mengedip-ngedipkan mata juga "Apakah kau telah membunuhnya?"
"Tenangkanlah hatimu! Wanita yang secantik dia itu, aku pun tidak tega membunuhnya."
"Jika tidak terbunuh, lalu sekarang dia ada di mana?"
Zhang Jiejie mendadak berkata dengan air muka yang tidak senang.
"Untuk apa kau menanyakan hal ini? Apakah kau masih memikirkan dia? Ingin memperkosanya?"
"Apakah kau kira aku betul-betul adalah orang yang demikian?"
Zhang Jiejie berkata sambil tersenyum dingin.
"Masa' sih kau adalah orang yang alim? Jika bukan aku keburu datang, kalian berdua, yang satu mau memperkosa, yang satu malahan minta diperkosa! Maka tempat ini pasti sudah menjadi 'medan tarung' bagi kalian kan!"
Chu Liuxiang menghela nafas lagi, lalu berkata seraya tersenyum masam.
"Aku sungguh kagum padamu, ternyata kau juga sanggup mengucapkan kata-kata demikian!"
"Ketika seorang wanita merasa cemburu, maka kata-kata yang lebih tidak sedap pun sanggup diucapkannya!"
"Kau cemburu?"
Zhang Jiejie berkata seraya mendelik.
"Kalau cemburu terus bagaimana? Masa' cemburu itu melanggar hukum?"
Tiba-tiba ia tidak bisa menahan dirinya, dan berkata seraya tertawa.
"Sebenarnya, sekalipun kau punya keinginan memperkosa, juga tidak usah mencari dia."
Chu Liuxiang mengelus-elus hidung dan bertanya "Aku masih bisa mencari siapa?"
Bola mata Zhang Jiejie berputar-putar, lalu berkata dengan suara halus.
"Paling sedikit ada satu orang yang bisa kau cari."
"Orang itu ada di mana?"
Zhang Jiejie menjawab seraya menggigit bibir.
"Jauh di mata, dekat di hati."
Chu Liuxiang mendadak berobah menjadi seorang pandir kelas berat, kedua matanya menatap kosong, lama sekali celingukan, baru seraya mengerutkan alis.
"Aneh ya! Kenapa aku kok tidak menemukannya...."
Zhang Jiejie mendelik penuh kedongkolan, dengan tiba-tiba ia melayangkan sebuah tamparan!
Tamparan itu cepat sekali, kalau orang lain pasti tidak bisa menghindarinya!
Namun kali ini beda--Tangannya terpegang oleh Chu Liuxiang.
Chu Liuxiang berkata sambil senyum.
"Jika kau sungguh ingin menamparku, maka gerakanmu seharusnya lebih cepat sedikit."
Zhang Jiejie melirik dia dengan ujung mata, lalu berkata dengan senyum samar-samar.
"Apa kau kira aku benar-benar tidak bisa menamparmu? Apa kau kira benar-benar bisa memegang tanganku?"
"Masa' sih ini bukan tanganmu?"
Zhang Jiejie tiba-tiba menghela nafas dan berkata.
"Hai si Pandir! Masa' kau tidak menyadari bahwa aku sengaja membiarkan kau menangkap tanganku?"
"Sengaja? Mengapa?"
Zhang Jiejie menundukkan kepala dan berkata dengan lirih.
"Sebab aku suka kau pegang tanganku."
Suaranya lembut dan manis ---Pada malam yang hening ini, keluar dari mulut seorang gadis secantik dia ini, betul-betul mirip dengan lagu yang termerdu di dunia ini!
Hati Chu Liuxiang mulai "mencair", bagai es dan salju yang mencair karena hembusan angin musim semi!
Tepat pada ketika ini, tangan Zhang Jiejie tiba-tiba berbalik dan mencengkeram pergelangan tangan Chu Liuxiang, sebelah tangannya bergerak cepat bagaikan kilat, melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi kanan Chu Liuxiang!
Sambil berkata dengan tertawa manis.
"Kali ini kau pasti tidak dapat menghindarkan...."
Namun kalimat ini tidak bisa selesai diucapkannya.
Hati Chu Liuxiang memang sudah "mencair", tetapi Tangannya belum.
Tahu-tahu tangan Zhang Jiejie sudah terpegang lagi, dan tangan Zhang Jiejie yang mencengkeram pergelangan tangan Chu Liuxiang, malahan sebaliknya tercengkeram oleh Chu Liuxiang!
Yang dirasakan Zhang Jiejie adalah.
Seolah-olah bahkan setengah buah tulang pun tidak ada pada sepasang tangan Chu Liuxiang!
Kata Chu Liuxiang seraya tersenyum.
"Kali ini kau tetap saja tidak berhasil menamparku."
Zhang Jiejie mendeliki dia dengan penuh kedongkolan, lama sekali baru muncul senyuman dari matanya, kemudian berkata seraya tersenyum manis.
"Sebenarnya aku sama sekali tidak tega menamparmu, kenapa kau mesti tegang?"
Ini membuktikan suatu hal.
Wanita yang jujur belum tentu menyenangkan, wanita yang menyenangkan belum tentu jujur!
Asal anda merasa dia menyenangkan, maka anda mesti mempercayai apa yang dia katakan, baik itu benar atau tidak!
Jika tidak, maka anda bukanlah pria yang bijak, juga bukan pria yang hidup dengan bahagia!
**** Namun saat ini Chu Liuxiang tidak bisa merasa bahagia.
Sebab walaupun ia ingin sekali mempercayainya, tapi betul-betul sulit sekali mempercayainya.
Zhang Jiejie terus menatapnya, tiba-tiba berkata "Sepertinya kau tidak terlalu mempercayaiku ya"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum sekilas.
"Bisakah aku mempercayai mu?"
"Pernahkah aku mencelakaimu?"
"Tidak pernah."
"Baikkah perlakuanku kepadamu?"
"Baik sekali."
"Aku tidak pernah mencelakaimu, perlakuanku pun baik sekali kepadamu, lalu kenapa kau tidak mempercayaiku?"
Chu Liuxiang tidak dapat menjawab pertanyaan ini, maka ia cuma dapat menjawab.
"Aku tidak tahu."
Argumentasi yang terhebat pun tidak dapat melawan kalimat ini "Aku tidak tahu"!
Sekalipun anda dapat mengajukan 10.000 macam argumentasi, tapi kalau dia masih "tidak tahu", lalu anda bisa berbuat apa?
Zhang Jiejie menghela nafas panjang, lalu berkata seraya tersenyum kecut.
"Ternyata kau juga seorang yang hanya mau menang sendiri."
"Di dalam dunia ini memang banyak sekali orang yang hanya mau menang sendiri, bukan cuma aku saja" , kata Chu Liuxiang seraya tersenyum. Biji mata Zhang jiejie berputar-putar sejenak dan berkata.
"Apakah kau merasa kedatanganku kebetulan sekali?"
"Memang betul."
"Apakah kau tidak dapat mengira kenapa aku dapat menemukanmu?"
"Memang tidak dapat"
"Baiklah, aku beritahu! Itu dikarenakan aku terus-menerus menguntitmu secara diam-diam."
"Oh ya?"
"Tentu saja aku pun tidak tahu kau memilih jalan mana, untung ada seorang yang memberitahuku."
"Siapa?"
"Yaitu istri pedagang yang putih dan gemuk itu, yang berada di sisi persimpangan jalan itu lho!"
Ia melirik Chu Liuxiang lagi dengan ujung mata, lalu berkata seraya tersenyum samar-samar.
"Kau pasti merasa heran lagi kan kenapa dia bisa ingat padamu? Itu disebabkan ia pun amat menaruh hati padamu! Kata dia. Kau tampan, menyenangkan dan berwibawa, satu-satunya kekuranganmu hanyalah kau kurang royal, hanya memberi dia dua ketip uang saja."
Chu Liuxiang pun menghela nafas lagi, lalu berkata seraya tersenyum kecut.
"Sekarang ini saja ia sudah begitu 'menaruh hati', jika aku memberi dia lebih banyak lagi, mana tahan!"
Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum dingin.
"Kenapa mana tahan? Dia kan putih dan gemuk, punya wajah hoki , pintar berdagang, pintar melahirkan anak, menurutmu, mana lagi yang kurang baik dari dia?"
Chu Liuxiang berkata dengan wajah serius.
"Sebenarnya ia masih punya suatu keunggulan yang terbesar, apakah kau tidak tahu?"
"Oh! Apa itu?"
"Ia hanya jual arak, tidak jual cuka."
"Masa' ini juga terbilang keunggulannya?"
"Seandainya ia menjual cuka, maka tempayan cukanya pasti dirobohkan olehmu, dengan demikian modal dia pun akan Ludes!" (Dalam kesusastraan bahasa Tionghoa.
"Makan cuka"
Adalah suatu kata kiasan yang berarti. Cemburu (karena urusan cinta).
"Merobohkan tempayan cuka seseorang"
Berarti.
Melabrak seseorang yang dianggap sebagai lawan/saingannya dalam urusan cinta.) **** Bintang kian jarang, malam hampir berakhir.
Entah dari mana Zhang Jiejie telah memetik setangkai bunga kecil, yang sebentar digigit di mulutnya, sebentar dipakai di telinganya, sebentar dimainkan di tangannya, kelihatannya sibuk sekali.
Gadis ini sepertinya tidak bisa berhenti bergerak, tidak saja tangan dan mulut, bahkan seluruh tubuhnya bergerak tanpa henti.
Di dalam keadaan nganggur pun ia tetap saja bisa menemukan satu atau beberapa hal untuk dikerjakan.
Jika menginginkan dia tutup mulut, dan duduk manis hanya untuk sesaat saja, itu sama dengan menginginkan nyawanya!
Chu Liuxiang makin lama makin tidak bisa memahami dia.
Terkadang ia kelihatannya seperti seorang anak perempuan kecil yang tidak tahu apa-apa, namun terkadang ia kelihatannya lebih cerdik dari rubah tua yang paling licik!
Chu Liuxiang bertanya seraya menghela nafas.
"Sekarang aku sudah tahu dengan cara bagaimana kau datang, tapi apa maksud kedatanganmu mencariku?"
Zhang Jiejie menjawab seraya mendelik.
"Orang lain bisa datang mencarimu, kenapa aku tidak bisa?"
"Orang lain datang mencariku kan untuk mencabut nyawaku, kau bagaimana?"
"Aku tidak ingin mencabut nyawamu, malahan ingin kau hidup untuk beradu mulut denganku."
Chu Liuxiang bertanya seraya tersenyum masam.
"Kau datang mencariku, apakah cuma untuk beradu mulut denganku?"
Zhang Jiejie menjawab seraya tersenyum manis.
"Aku masih belum punya kelemahan sebesar ini."
Mendadak air mukanya berubah jadi amat serius, lalu berkata.
"Aku datang mencarimu, hanya untuk memberitahumu dua hal yang teramat penting."
"Apa itu?"
"Aku sudah menyelidiki dan tahu siapakah sepasang suami istri yang tua itu."
"Oh ya?"
"Apakah kau masih ingat tangan nenek itu selalu menenteng apa?"
"Batang timbangan!"
Nenek itu memakai batang timbangan itu untuk memukul suaminya. Sinar mata Chu Liuxiang menjadi terang, lalu berkata dengan terkesiap.
"Aku teringat! 'Kakek Sial dan Nenek Gendut, timbangan tak pernah meninggalkan anak timbangan'."
Zhang Jiejie menjawab seraya tersenyum "Memang beteu, kakek itu adalah 'timbangan', nenek itu adalah 'anak timbangan', dua orang itu memang sesuai sekali dengan julukannya!
Kau betul-betul tak akan bisa menemukan seorang yang lebih mirip anak timbangan dari nenek itu!"
Tetapi Chu Liuxiang tidak ikut tersenyum.
Dikarenakan ia tahu bahwa meskipun kakek dan nenek itu memiliki nama dan julukan yang lucu, tampang mereka pun amat menggelikan, tapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menakutkan!
Zhang Jiejie melanjutkan kata-katanya.
"Kata orang mereka sebenarnya adalah pesilat kelas wahid dari daerah Lingnan, bahkan mereka memimpin sebuah kekuasaan jahat yang amat besar! Tetapi pada belasan tahun yang lalu, mereka tiba-tiba mengundurkan diri dan hilang dari pandangan orang, sejak saat itu tidak ada lagi orangyang mengetahui berita mereka. Entahlah kenapa kali ini mereka tiba-tiba muncul lagi?"
"Mungkin ada seseorang yang mengundang mereka secara khusus untuk membunuhku."
"Kau pikir siapa yang mengundang mereka? Dapat mengundang pesilat-pesilat tangguh yang telah lama mengundurkan diri ini, orang itu sungguh-sungguh punya sesuatu yang disegani orang!"
Biji mata Zhang Jiejie berputar-putar, lalu melanjutkan lagi.
"Siapa pemilik bagal itu, aku pun telah mengetahuinya."
"Siapa?"
"Tuan Keempat Jin."
"Siapakah dia?"
"Ia adalah paman keempat Jin Lingzhi, sekaligus orang yang paling berkuasa di Taman Wanfu Wanshou! Karena kau pernah pergi ke tempat itu untuk pengucapan selamat ulang tahun, pasti pernah melihat orang itu."
Chu Liuxiang mengiakannya.
Bukan saja ia pernah melihat orang itu, bahkan punya kesan yang amat dalam.
Tuan Keempat Jin memang seorang yang mudah meninggalkan kesan yang amat dalam bagi setiap orang yang pernah berjumpa dengannya!
Perawakannya tidak terlalu tinggi besar, tapi punya badan yang sehat dan kuat.
Jika berdiri kelihatannya seperti sebuah bukit, yang tidak sanggup direbahkan oleh siapa pun.
Chu Liuxiang bahkan masih ingat akan raut mukanya sepasang alis yang tebal, sepasang mata yang bersinar, kumis yang rapi....
Sekalipun ia tersenyum, masih tertampak kewibawaannya!
Dilihat dari segi mana pun, tidaklah menimbulkan kesan bahwa ia adalah seorang yang jahat.
Chu Liuxiang berkata dengan sikap ragu-ragu.
"Apakah maksudmu adalah. Suami istri itu diundang oleh dia? Dan orang yang mau membunuhku juga adalah dia?"
Zhang Jiejie berkata dengan sikap yang tawar.
"Aku tidak berkata apa-apa, cuma berkata bahwa bagal itu adalah miliknya."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Zhang Jiejie menjawab seraya tersenyum.
"Tentu saja aku punya caranya."
"Cara apa?"
Zhang Jiejie menjawab seraya mengedipkan matz "Hal itu aku tidak dapat memberitahukanmu."
"Kenapa tidak dapat?"
"Sebab aku tidak suka." **** Fajar telah menyingsing. Akhirnya mereka telah keluar dari daerah perbukitan itu, dan kuda itu tetap mengikuti dari belakang. Ada orang berkata, bahwa anjing dan kuda adalah sahabat manusia yang paling setia, sebenarnya itu hanyalah karena mereka telah membentuk suatu sifat ketergantungan pada manusia, sehingga lebih rela jadi budak manusia, tapi tidak berani berdikari. Biji mata Zhang Jiejie berputar-putar, lalu bertanya seraya tersenyum.
"Dengan bersusah-payah aku datang kemari untuk memberitahukanmu hal-hal itu, lalu kau akan berterima-kasih padaku dengan cara apa?"
"Aku tidak tahu."
Sebab ia menyadari bahwa kalimat ini merupakan cara terbaik untuk menghadapi Zhang Jiejie. Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum.
"Kau tidak tahu, tapi aku tahu."
"Kau tahu apa?"
"Aku tahu kau orang yang kikir, jika benar-benar menginginkan kau mentraktirku, sekalipun kau dibunuh pun tak akan mau! Tapi seandainya aku minta kau mentraktirku minum arak, tak akan menolak kan?"
Chu Liuxiang pun berkata seraya tersenyum "Itu pun tergantung keadaannya, tergantung kau minumnya banyak atau tidak, dan tergantung arak di tempat itu mahal atau tidak?"
Zhang Jiejie berkata seraya menghela nafas panjang.
"Untung aku tahu ada satu tempat, bukan saja araknya tidak mahal, bahkan di sana ada seorang istri pedagang yang putih dan gemuk! Ia terus menerus merindukanmu lho! Tampaknya kau tidak membayar pun tidak masalah deh!"
Tanpa terasa Chu Liuxiang mengelus-elus hidungnya, lalu berkata seraya tersenyum masam.
"Apakah kau benar-benar mau ke tempat itu?"
"Harus dong! Sebab aku telah memutuskannya" **** Walaupun masih pagi, tapi tempat penjualan arak yang berada di persimpangan jalan itu telah mulai usahanya. Sebab orang-orang yang bepergian di waktu pagi memang lebih banyak. Si pedagang yang senantiasa bermuram durja itu sedang menyalakan kompornya, mukanya kotor dan berminyak karena terkena asap. Si istri pedagang yang putih dan gemuk itu sedang mengawasi suaminya dari samping dengan wajah cemberut, tampaknya ia lagi kesal, sampai-sampai anak kecil yang sedang ia gendong pun tidak berani menangis. Tapi begitu melihat Chu Liuxiang, rasa kesalnya segera sirna, wajah pun penuh senyuman. Anak kecil yang tadinya baru kena pukul karena merengek mau makan telur rebus kecap, sekarang ia malahan menjejalkan telur ke mulut anak itu, untuk menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang lemah lembut dan ibu yang penuh welas asih. Zhang Jiejie tertawa cekikikan seraya melirik Chu Liuxiang dengan ujung matanya. Chu Liuxiang terpaksa pura-pura tidak melihat. Ketika istri pedagang itu agak menjauh untuk mengiris daging dan menuangkan arak, Zhang Jiejie tiba-tiba berbisik di sisi telinga Chu Liuxiang.
"Aku telah salah omong ya! Sekalipun ia putih sekali, tapi sedikit pun tidak gemuk"
Chu Liuxiang masih pura-pura tidak mendengarnya "Coba lihat kulitnya Putih-mulus dan amat empuk!
Seandainya aku adalah laki-laki, baik dia punya suami atau tidak, aku akan berikhtiar agar mendapatkan dia!"
Zhang Jiejie makin berkata makin bersemangat, dan sewaktu is mau meneruskan celotehannya, untunglah daging dan arak sudah mulai disajikan. Istri pedagang itu berkata seraya tersenyum manis .
"Daging sapi hari ini betul-betul baru saja direbus dengan kecap, tuan muda akan mengetahuinya setelah mencoba."
Zhang Jiejie menyela tiba-tiba.
"Anda kok hanya menyilahkan tuan muda untuk mencoba? Bagaimana dengan saya si nona ini?"
Istri pedagang itu mendelik sejenak ke dia, lalu berkata dengan senyum yang dipaksakan.
"Setelah tuan muda mencobanya, tidaklah terlambat bagi nona untuk mencobanya"
Kalimat ini belum selesai diucapkan, kepalanya sudah diputar ke arah lain; sebelum kepalanya selesai diputar, di wajahnya sudah tertampak kemarahannya.
Zhang Jiejie menjulurkan lidah sejenak, lalu berkata dengan suara kecil sambil menyeringai.
"Ternyata dia melihat aku saja sudah tidak senang! Agaknya lebih baik aku pergi saja, agar tidak disebali orang."
Ia ambil secangkir arak dan meneguk habis, lalu membalikkan badan mau pergi. Tanpa terasa Chu Liuxiang berseru.
"Kau betul-betul mau pergi?"
Zhang Jiejie menjawab.
"Aku kan pernah bilang hanya minum secangkir arak traktiranmu, jika minum lebih banyak lagi nanti kau akan merasa sayang dan menyesal!"
Badannya melompat dan duduk di kudanya Chu Liuxiang, lalu menjalankan kuda sambil berkata seraya tertawa cekikikan.
"Kudamu ini aku pinjam dulu ya, lain kali saat kita ketemu lagi akan kukembalikan. Kau pasti tidak sedemikian kikirnya sampai seekor kuda pun tidak mau dipinjam orang kan?"
Begitu kata-katanya selesai diucapkan, kuda dan orangnya telah pergi amat jauh.
Sebenarnya Chu Liuxiang mau mengejarnya, namun kemudian mengurungkan niatnya.
Ia betul-betul tidak dapat menemukan sesuatu alasan untuk mengejar gadis itu.
"Aku kan tidak pernah mencelakaimu, juga tidak pernah berhutang padamu, lalu dengan dalih apa kau mau mengejarku?"
Sekalipun ia dapat mengejar gadis itu, namun dengan sekalimat kata seperti itu saja sudah bisa membuat dia mati kutu!
Oleh sebab itu ia hanya bisa memandangi si gadis yang pergi jauh, yang bisa dilakukan hanyalah termangu-mangu dan tersenyum masam saja.
Lalu terdengar istri pedagang itu berkata "Apakah ada sesuatu yang tidak beres pada diri nona itu?
Kok kata-katanya ngelantur tidak karuan?"
Chu Liuxiang menghela nafas, lalu berkata seraya tersenyum masam.
"Yang tidak beres itu bukan dia, tapi aku."
Istri pedagang itu sambil menggoyang-goyangkan anak yang digendongnya itu, dengan wajah sumringah, matanya terus melirik Chu Liuxiang, lalu berkata lirih sambil menggigit bibir pelan-pelanbegitu kau ketemu aku adalah nasibmu yang sedang baik, karena aku spesialis menyembuhkan ketidakberesan laki-laki semacam kamu ini!"
Chu Liuxiang mengelus-elus hidungnya, lalu tiba-tiba berdiri.
Ia pernah bersumpah pada dirinya.Jika melihat ada seorang wanita yang tersenyum padanya, ia segera akan pergi sejauhjauhnya.
Nampaknya istri pedagang itu terkejut, lalu berkata seraya membelalakkan mata "Seteguk arak pun belum diminum, tuan muda kok sudah mau pergi?"
Chu Liuxiang menjawab dengan wajah cemberut.
"Arak ini kecut."
Ketika ia mau membalikkan badan, terdengar istri pedagang itu berkata dengan suara keras.
"Tunggu sebentar! Aku masih punya sesuatu yang mau kuberikan padamu."
Tiba-tiba anak kecil yang digendongnya itu dilemparkan ke Chu Liuxiang! "Uuwaaah!"
Anak itu mulai menangis, dan tanpa terasa Chu Liuxiang mengulurkan tangan untuk menerima anak itu.
Tepat pada saat ini, pedagang yang sejak tadi jongkok di tanah untuk menyalakan api bagi panci itu, tiba-tiba menerjang ke Chu Liuxiang bagai anak panah yang baru dilepaskan dari busur!
Hampir bersamaan, badan istri pedagang itu pun melayang dan menyerang Chu Liuxiang!
Badannya betul-betul tidak gemuk sedikit pun, dari gerakannya ringan dan lincah bagaikan burung terbang!
Tangan Chu Liuxiang menggendong anak orang lain, di bawah ada sebuah bangku yang menghalangi kakinya; Anak kecil itu sedang menangis dengan amat sedih, dan bagaimana mungkin ia tega melepaskan anak yang sedang menangis itu?
Tentu saja ia bukanlah orang type demikian, maka itu kesialan menimpa padanya!
**** Chu Liuxiang sedang berbaring di sebuah ranjang, kelihatannya ia merasa nikmat sekali.
Ranjang itu amat empuk, bantal kepalanya tidak tinggi juga tidak rendah, di sisi dia ada seorang wanita, yang dengan wajah sumringah sedang menyuapi.
Orang lain melihat keadaan dia pada saat ini, pastilah hatinya iri dan kepingin sekali.
Cuma Chu Liuxiang sedikit pun tidak berpendapat demikian, sebab selain sisi mulutnya bisa bergerak, dan hidungnya bisa bernafas, seluruh tubuhnya kaku bagaikan seonggok kayu layu, dan tidak bisa merasakan apa-apa.
Tangan istri pedagang itu sedang memegang sebuah cangkir arak, yang dituangkan pelan-pelan ke mulut Chu Liuxiang, dan berkata seraya tersenyum menggoda.
"Arak ini kecut tidak?"
"Tidak kecut."
Wanita itu mengerling, lalu berkata dengan senyum yang kian manis.
"Aku cantik tidak?"
"Amat cantik."
Istri pedagang itu berkata seraya menggigit bibir.
"Seberapa cantiknya?"
"Lebih cantik dari dewi kayangan."
"Kalau dibandingkan dengan gadis bau kencur yang ugal-ugalan itu?"
"Paling sedikit lebih cantik 38.657 kali lipat"
"Bisa makan daging sapi dan arak yang sedemikian enaknya, serta ditemani wanita yang sedemikian cantiknya, lalu kenapa kau masih bermuram durja?"
Chu Liuxiang menjawab setelah menghela nafas.
"Sebab aku takut, jika suamimu yang selalu bermuram durja itu kembali, aku akan dimasukkan ke dalam panci daging sapi kecap."
Istri pedagang itu berkata seraya tersenyum mans.
"Tenanglah! Ia tidak akan kembali."
"Mengapa?"
"Sebab suamiku itu sebenarnya cuma hasil pinjaman, sekarang sudah terpakai, makanya dikembalikan kepada pemiliknya"
"Masa' anak kecil itu pun hasil pinjaman?"
"Tentu saja."
Mendadak is membuka baju atasnya, sehingga menyembul keluar sepasang buah dada yang montok dan membusung! Lalu bertanya.
"Kamu lihat apakah aku mirip seperti wanita yang pernah melahirkan anak!"
Chu Liuxiang mau menutup matanya tapi tidak bisa, sehingga terpaksa menjawab seraya tersenyum kecut.
"Sedikit pun tidak mirip."
Perempuan itu berkata sambil senyum.
"Pandanganmu sungguh jeli, tidak heran ada begitu banyak wanita menyukaimu!"
Ia mengelus-elus wajah Chu Liuxiang yang kurus, seraya berkata dengan suara lembut.
"Kau semuanya baik, cuma sedikit terlalu kurus, jikalau ikut aku, aku pasti akan membuatmu jadi gemuk"
Chu Liuxiang menatap buah dadanya, benar-benar tidak berani memikirkan dengan apa perempuan itu akan membuat dia jadi gemuk! Perempuan itu mengerling lagi dan tiba-tiba bertanya.
"Apakah kau tahu sekarang aku akan berbuat apa padamu?"
"Tidak tahu."
Perempuan itu menyipitkan matanya yang menggoda, lalu berkata.
"Aku mau menjadikanmu sebagai anakku."
Chu Liuxiang tersenyum.
Anda bisa mengatakan dia sedang tersenyum, juga bisa mengatakan dia sedang menangis.
Memang ada sejenis senyuman yang hampir mirip dengan tangisan!
Seandainya tangannya bisa digerakkan, pasti tidak dapat menahan dirinya untuk mengelus-elus hidung lagi.
Ketika ekspresi wajah Chu Liuxiang terlihat oleh perempuan itu, maka ia berkata seraya tersenyum makin senang.
"Apakah kau tabu bahwa hal yang paling menggembirakan di bawah kolong langit ini, adalah menjadi anak orang lain?"
"Tapi aku ada seorang kawan yang tidak berkata demikian."
"Apa yang dia katakan?"
"Ia senantiasa berkata, bahwa hal yang paling menggembirakan di bawah kolong langit ini adalah minum arak."
"Kawanmu itu pasti lebih bodoh dari babi bodoh, ketahuilah bahwa walaupun minum arak itu menggembirakan, akan, tapi hari pertama minumnya makin menggembirakan, akan, hari kedua akan makin menyengsarakan!"
"Setelah sengsara bisa minum lagi kan."
"Makin minum makin sengsara."
"Makin sengsara makin minum."
"Bagaimana bisa ada sedemikian banyak arak untuk kau minum?"
"Beli."
"Beli dengan apa?"
"Beli dengan uang."
"Dari mana dapat uang?"
"Banyak sekali cara mendapatkan uang."
"Sekalipun banyak sekali cara mendapat uang, tapi semuanya kan mesti berusaha dan memutar otak! Sekalipun kau mencuri atau merampok, juga bukan hal yang mudah kan!"
Chu Liuxiang mau tidak mau mengaku bahwa. Cara mendapat uang tapi tanpa berusaha, sampai sekarang masih belum ditemukan! Perempuan itu berkata lagi.
"Tetapi jika kau jadi anak orang lain dulu, maka segala hal tidak usah kau cemas lagi, uang datang tinggal mengulurkan tangan, nasi datang tinggal membuka mulut, mau minta barang apa saja dapat diperoleh dari ayah dan ibumu yang berusaha mati-matian, yang takut anaknya tidak bisa puas dan senang.... Menurut kau. Di bawah kolong langit ini, masih adakah hal lain yang lebih menggembirakan dari hal ini?"
Chu Liuxiang menjawab setelah menghela nafas.
"Memang tidak ada."
Perempuan itu berkata sambil tersenyum manis.
"Jikalau kau sudah mengerti, lalu mengapa wajahmu bermuram durja? Masa' selama ini tidak ada orang yang menginginkan kau jadi anaknya?"
Kata Chu Liuxiang seraya tersenyum kecut.
"Ini memang pertama kali dalam hidupku."
Ia memang berkata jujur.
Ada orang yang ingin jadi kawannya, ada orang yang ingin jadi kekasihnya, tapi juga ada orang yang menganggap dia sebagai musuh yang tidak bisa hidup bersamaan!
Namun orang yang menginginkan dia sebagai anaknya, memang betul belum ada.
Bermimpipun ia tidak pernah berpikir bahwa di dunia ini ada orang semacam ini!
Perempuan itu bertanya seraya matanya berkerlingan.
"Tahukah kau kenapa aku ingin kau jadi anakku?"
"Tidak tahu."
Ia menundukkan kepala, lalu berbisik di sisi telinga Chu Liuxiang.
"Aku ingin menyusuimu."
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum masam.
"Jikalau kau tidak memberitahukan sebab ini, maka seumur hidup pun aku tidak sanggup menebaknya"
Perempuan itu berkata seraya menggigit "Bagaimana kau tidak sanggup menebaknya? Setiap orang kalau sampai usia semacam aku ini, pasti ingin punya anak."
Chu Liuxiang bertanya seraya memelototkan mata.
"Kau mengeluarkan tenaga dan usaha sebesar ini apakah tujuannya cuma ingin aku jadi anakmu?"
"Pada mulanya bukan"
"Pada mulanya apa tujuanmu?"
"Menginginkan nyawamu."
"Yang menginginkan nyawaku itu kau atau orang lain?"
"Tentu saja orang lain, aku dan kau kan tidak bermusuhan, juga tidak punya dendam, untuk apa menginginkan nyawamu?"
Chu Liuxiang berkata sambil menghela nafas.
"Ternyata tidak saja kau bukan istri majikan yang benar, tapi juga adalah pelayan kecilnya orang lain."
Perempuan itu bertanya seraya mendelik.
"Siapa bilang aku adalah pelayan kecilnya orang lain?"
"Jika kau bukan pelayan kecilnya orang lain, kenapa bekerja untuk orang lain?"
"Aku hanya membantu dia saja."
"Membantu siapa?"
Perempuan itu menjawab seraya memutar-mutarkan biji matanya.
"Seorang kawan."
"Kau rela membunuh demi seorang kawan? Membunuh seorang yang tidak bermusuhan denganmu dan seorang yang tidak punya dendam denganmu?"
Ia menghela nafas lagi, lalu bergumam.
"Aku kira dia pasti bukan kawanmu, tapi dia ayahmu kan? Memang lumayan juga punya anak perempuan secerdas kamu ini, bahkan aku pun ingin. jadi ayahmu"
Perempuan itu berkata dengan wajah marah.
"Apakah kau tidak percaya omonganku?"
"Aku sulit percaya"
"Mengapa?"
"Tiada seorang pun yang membantu kawannya dengan cara ini. Membunuh orang bukan hal yang main-main."
"Ia tidak suruh aku membunuhmu."
"Ia suruh kau berbuat apa?"
"Ia suruh aku menangkapmu, lalu antarkan ke tempatnya -Dalam keadaan hidup."
Mata Chu Liuxiang berkerlingan seraya bertanya.
"Mengapa kau tidak antarkan aku ke tempatnya?"
Rasa marah perempuan itu telah sirna, lalu menjawab dengan suara lembut.
"Bagaimana aku tidak merasa sayang kalau kau diberikan kepada orang lain?"
"Namun kau telah menyanggupi orang lain kan?"
"Itu hanya dikarenakan aku belum pernah melihatmu, belum tahu kau demikian tampan dan menyenangkan sekali!"
Ia mengulurkan tangan untuk mengusap-usap wajah Chu Liuxiang dengan ringan, seraya berkata dengan suara lembut.
"Seorang wanita demi pria yang disukainya, bahkan orang tua kandungnya saja dapat ditinggalkan, apalagi cuma kawan!"
Tangannya putih mulus, wajahnya pun termasuk tidak jelek.
Tetapi Chu Liuxiang teringat akan rupanya ketika mengiris daging sapi, dan sepertinya mencium bau daging sapi lagi, sehingga ia merasa kalau bisa mau cepat-cepat pergi mandi saja.
Sekalipun daging sapi berbau harum dan lezat sekali, namun jika di tangan seorang wanita ada bau daging sapi Wah!
Mana tahan!
Chu Liuxiang bertanya seraya menghela nafas.
"Apakah sekarang kau sudah siap menahanku di sini?"
"Aku mau menahanmu seumur hidup."
"Apakah kau tidak takut kawanmu itu datang mencarimu untuk buat perhitungan?"
"Ia tidak akan bisa mencari sampai ke sini."
"Mengapa?"
Perempuan itu menjawab dengan senyuman yang menggoda.
"Ini adalah tempat rahasiaku untuk menyimpan pacar gelap, siapa pun tidak tahu aku punya tempat demikian!"
"Tetapi kita kan tidak bisa seumur hidup berbaring saja di rumah ini kan?"
"siapa bilang tidak bisa? Aku justru ingin kau seumur hidup tingal di rumah ini, agar tidak terlihat oleh wanita lain."
"Kalau aku mau keluar untuk jalan-jalan?"
"Kau tidak bisa keluar."
"Kau...kau tak akan membiarkan aku seumur hidup berbaring di ranjang kan?"
"Kenapa tidak? Seorang wanita demi pria yang disukainya, hal apa pun bisa dibuatnya!"
Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas yang panjang.
"Tampaknya kau sudah bertekad untuk tidak mengantarkan aku ke sana."
Perempuan itu menjawab seraya tersenyum manis.
"Pada pandangan pertama aku melihatmu, maka tekad ini sudah ditetapkan."
Ia menggigit hidung Chu Liuxiang dengan ringan, lalu berkata dengan suara lembut.
"Asal kau berbaring di sini dengan patuh, aku jamin kau ada makan ada minum, dan lebih nyaman dari menjadi anaknya siapa saja!"
Chu Liuxiang termangu-mangu sebentar, tiba-tiba bertanya "Dari sini ke tempat tinggal kawanmu itu jauh tidak?"
"Kenapa kau tanya?"
"Aku cuma khawatir ia akan mencari sampai ke sini."
Perempuan itu berkata seraya gigit bibir.
"Seandainya ia bisa mencari sampai ke sini, maka aku akan membunuhmu terlebih dahulu."
"Membunuhku? Kenapa?"
"Aku lebih rela membunuhmu, daripada membiarkanmu jatuh ke tangan wanita lain!"
"Jadi kawanmu itu seorang wanita?"
"Wanita yang bagaimana? Bagaimana rupanya?"
Perempuan itu berkata seraya mendelik.
"Lebih baik kau jangan tanya sampai terlalu jelas, agar aku tidak cemburu."
"Tetapi ia mau membunuhku dengan berbagai usahanya, paling tidak aku kan mesti tahu dia itu siapa?"
"Kau tidak perlu tahu, sebab sudah tahu pun tidak berfaedah bagimu."
"Apakah kau pasti tidak mau beritahukanku?"
Perempuan itu menjawab setelah memutar-mutarkan biji matanya "Lewat suatu jangka waktu tertentu, barangkali aku akan beritahu."
"Sampai kapan?"
"Sampai aku senang ---Mungkin tiga sampai lima hari, mungkin setengah sampai satu tahun."
Ia melanjutkan kata-katanya seraya tersenyum manja "Kamu kan bersiap-siap akan berbaring di sini seumur hidup, buat apa tergesagesa?"
Chu Liuxiang termangu-mangu lagi sebentar, kemudian bergumam.
"Tampaknya aku tetap tinggal di sini pun sudah tidak ada gunanya."
"Kau bilang apa?"
"Aku bilang sudah saatnya aku pergi."
Perempuan itu bertanya seraya tersenyum.
"Apakah kau sanggup pergi?"
"Akan kucoba."
Tiba-tiba ia bangun dri ranjang itu! Persis seperti tiba-tiba melihat orang mati bisa bangkit, saking kagetnya perempuan itu sampai termangu-mangu. Chu Liuxiang berkata sambil tersenyum.
"Tampaknya aku masih bisa jalan ya."
Mata perempuan itu membelalak, mulutnya pun terbuka lebar, lalu berkata dengan terbata-bata.
"Kau.... Bukankah jelas-jelas telah kutotok jalan darahmu?"
Chu Liuxiang menjawab dengan santai.
"Ini mungkin dikarenakan ilmu menotokmu masih kurang mahir, mungkin juga karena kau tidak tega menotok dengan terlalu keras sih!"
"Ternyata....Kau tadi cuma bersandiwara saja ya?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum.
"Kau bisa bersandiwara, kenapa aku tidak bisa?"
"Tapi.... Jika tidak tertotok jalan darahmu, kenapa masih ikut aku?"
"Sebab aku suka kamu."
Kali ini ia tidak berkata jujur.
Ia berbuat demikian, tujuannya adalah untuk bisa bertemu dengan orang yang mengutus banyak orang untuk membunuh dia.
Sebab dugannya semula adalah perempuan itu akan mengantarkan dia ke tempat orang itu.
Perempuan itu berkata seraya menggigit bibirnya "Jika kau suka aku, kenapa sekarang mau pergi?"
Chu Liuxiang berkata dengan suara hambar;
"Sebab kau tidak cuci tangan setelah mengiris daging sapi, dan aku tidak menyukai wanita yang tangannya ada bau daging sapi."
Perempuan itu merah padam wajahnya, saking marahnya sampai tak mampu berkata-kata. Chu Liuxiang berkata lagi.
"Aku tidak suka berjalan dengan kaki telanjang, di manakah sepatuku? Ambilkanlah untukku."
Mata perempuan itu mendelik, saking marahnya sampai warna mukanya berubah-ubah, namun akhirnya toh mengambilkan sepasang sepatu untuk Chu Liuxiang. Chu Liuxiang berkata seraya menepuk-nepuk kakinya.
"Tolong pakaikan."
Perempuan itu mengertakkan giginya, lalu memakaikan sepatu untuk Chu Liuxiang.
Ada pepatah bahasa Tionghoa yang berbunyi "Seorang laki-laki yang cerdik tidak akan menelan kerugian yang diakibatkan oleh kebodohannya!."
Pepatah ini hanya betul separuh, sebab tidak hanya laki-laki yang cerdas, wanita yang cerdas atau cerdik pun tidak mau menelan kerugian yang diakibatkan oleh kebodohannya!
Bahkan dalam hal ini, wanita umumnya jauh lebih cerdik dari lakilaki!
Chu Liuxiang turun pelan-pelan dari ranjang, memakai pakaian luarnya, dan merapikannya dengan gerakan perlahan.
Perempuan itu tidak bisa menahan dirinya dan bertanya.
"Katanya kamu mau pergi, kok tidak cepat pergi?"
Chu Liuxiang bertanya balik seraya tersenyum.
"Kenapa sekarang kau malahan mau mengusirku? Kau takut apa?"
Perempuan itu menggigit bibirnya dan tidak menjawab. Chu Liuxiang bertanya lagi.
"Apakah kau takut aku memaksamu untuk menyebutkan nama kawanmu itu?"
Wajah perempuan yang putih dan mulus itu, sekarang sudah mulai jadi agak pucat. Chu Liuxiang tersenyum, lalu berkata.
"Tenangkanlah hatimu! Hanyalah seorang laki-laki yang amat bengis, yang akan mempergunakan cara kekerasan kepada wanita yang bantu memakaikan sepatu baginya ----Paling tidak aku masih bukan lakilaki tipe demikian!"
Perempuan itu tercenung sejenak, lalu berkata seraya tersenyum manis.
"Tak kusangka bahwa kau adalah seorang laki-laki yang demikian baiknya!"
"Memang aku adalah pilihan dari orang-orang yang baik."
Perempuan itu tersenyum kian manis dan berkata.
"Sekarang jika kau mau jadi anakku, aku masih mau menerima."
Kali ini giliran Chu Liuxiang yang jadi tercenung.
Sebab tiba-tiba ia merasa tidak boleh jadi orang baik, apalagi di depan wanita!
Sebab sejumlah wanita punya kepandaian yang paling dikuasai, yaitu menindas orang-orang yang baik dan jujur!
Ada sejumlah wanita, yang jika anda berlaku makin baik padanya, malahan ia makin ingin menindas anda!
Tapi jika anda berlaku agak garang, malahan ia akan menjadi "jinak"!
Perempuan itu berdiri dengan gerakan lemah gemulai, lalu berbuat sepertinya mau mengelus-elus wajah Chu Liuxiang lagi.
Kali ini Chu Liuxiang telah memutuskan untuk memberi "pelajaran"
Bagi dia.
Namun tepat pada saat itu juga, dari luar jendela tiba-tiba terdengar suara jeritan --Suara jeritan kaget dari tujuh sampai delapan orang laki-laki!
Lalu menyusul bunyi jatuhnya tujuh sampai delapan senjata ke tanah.
Dengan gerakan secepat anak panah yang baru lepas dari busur, Chu Liuxiang telah melesat ke luar jendela.
**** Pekarangan yang ada di luar itu amat indah dan amat hening.
Tapi pekarangan yang seberapa indahnya pun, jika di dalamnya terbaring tujuh sampai delapan laki-laki kekar yang seluruh wajahnya berlumuran darah, akan sirna keindahannya.
Yang jatuh berserakan di tanah itu ternyata bukan senjata biasa, tapi adalah kotak busur lintang yang garapannya amat halus.
Anak panah yang dilepaskan dari kotak busur lintang sejenis ini, kekuatannya terkadang bahkan lebih dahsyat dari senjata rahasia yang dilepaskan oleh pesilat kelas wahid!
Laki-laki kekar itu datang dari mana?
Mau menggunakan senjata itu untuk melawan siapa?
Dengan cara bagaimana orang-orang itu dirobohkan?
Siapa yang melakukannya?
Chu Liuxiang jongkok, mendirikan seorang laki-laki lalu menelitinya.
Laki-laki ini memiliki wajah yang bengis, sehingga semua orang bisa menduga bahwa dia pasti bukan orang baik.
Sekalipun dia berwajah tampan, tapi jika seluruh wajahnya berlumuran darah, juga tak akan menarik lagi.
Darah mengalir dari jalan darah "chengqi"
Yang berada di bawah mata orang itu.
Sehingga orang itu bukan saja mengalirkan darah, juga mengalirkan air mata.
Di antara darah dan air mata terlihat ada sinar perak yang berkilauan, benda itu seperti jarum, tapi lebih tipis dan lebih kecil dari jarum.
Ketika Chu Liuxiang meneliti bekas luka dari orang-orang yang lain, ternyata sama semuanya.
Jeritan kaget dan memilukan dari orang-orang itu, ternyata juga bersamaan waktunya.
Terlihat jelas bahwa.
Hanya dalam waktu sekejap mata saja, orang-orang itu telah dirobohkan dalam waktu yang sama!
Hanya dalam waktu sekejap mata saja, seseorang telah sanggup merobohkan tujuh sampai delapan orang pada waktu yang sama, hanya dengan senjata rahasia yang sedemikian kecilnya!
Bahkan dengan kejituan luar bisa mengenai jalan darah yang mematikan, sampai tidak meleset sedikit pun!
Chu Liuxiang berdiri, lalu menghembuskan nafas yang panjang.
Orang yang memiliki ilmu menimpukkan senjata rahasia yang demikian mahirnya -Mungkin yang termahir di dunia Orang ini siapa ya?
Ia berpikir keras tapi tak bisa mendapat jawabannya.
Sewaktu ia sudah tak ingin lagi memikirkannya, mendadak ia melihat ada sebuah benda jatuh dari kerindangan pohon besar yang berada di depan itu.
Yang jatuh itu ternyata adalah kulit buah leci.
Ia mengangkat kepala dan terlihat ada seorang gadis yang memakai baju ringan yang berwarna kuning, sedang duduk di sebuah ranting pohon yang ternaung dari sinar matahari, dan di tangannya ada segugus buah leci.
Chu Liuxiang tidak usah melihat wajahnya pun sudah tahu siapa gadis itu.
Zhang Jiejie.
Mengapa gadis ini sepertinya setiap saat dan di mana pun bisa muncul di hadapannya?
**** Apakah di atas pohon ada burung kepodang yang sedang berkicau riang?
Bukan burung kepodang, tapi itu adalah suara tertawa Zhang Jiejie.
Suara tertawanya renyah dan merdu bagaikan kicauan burung kepodang yang keluar dari lembah.
Sepasang matanya yang mirip dengan bulan sabit itu, ketika mulai tertawa, seolah-olah ada gumpalan awan yang tipis sekali dan gumpalan kabut yang juga tipis sekali.
Dengan tiba-tiba is muncul lagi di tempat ini.
Chu Liuxiang seharusnya merasa aneh, merasa di luar dugaannya.
Namun anehnya, saat ini hatinya hanya merasa gembira sekali.
Di mana pun dan kapan pun, ketika melihat Zhang Jiejie, hatinya selalu gembira, walaupun sering merasa aneh dan terkejut juga.
Zhang Jiejie mengeluarkan sebutir biji buah leci dari mulutnya, lalu berkata seraya tersenyum manis.
"Mau makan buah leci? Aku minta seseorang untuk mengantar kemari dengan kuda yang dipacu dengan cepat lho! Dan buah-buah leci ini didatangkan dari kota Jinan yang cukup jauh lho!"
Chu Liuxiang berkata setelah menghela nafas.
"Kenapa kau tidak bermarga Yang?"
Zhang Jiejie membulatkan bentuk bibirnya, lalu berkata dengan marah yang dibuat-buat.
"Masa' cuma Yang Guifei (Yang Guifei, dalam sejarah Tiongkok kuno, adalah seorang selir kesayangan dari seorang kaisar Dinasti Tang. Selir ini sangat terkenal karena kecantikannya, walaupun badannya sedikit gemuk la gemar makan buah leci.) yang boleh makan buah leci, aku tidak boleh? Di dalam hal apa aku kalah dari dia?"
Chu Liuxiang tertawa tanpa bisa ditahan, lalu berkata "Paling tidak kau sedikit lebih langsing dari dia."
"Juga jauh lebih muda dari dia!"
Ia melayangkan tangannya, lalu ada sebuah benda kecil yang 'berkilauan' terbang menuju ke Chu Liuxiang.
Ternyata itu adalah buah leci yang kulitnya telah dikupas.
Chu Liuxiang tidak menjulurkan tangan, hanya membuka mulutnya.
Buah leci itu masuk dengan tepat ke dalam mulutnya.
Zhang Jiejie bertanya seraya tertawa cekikikan.
"Enak tidak?"
Chu Liuxiang bergumam seraya mulutnya mengunyah leci.
"Ada tangan halus yang mengupaskan leci, tidak enak pun jadi enak."
Zhang Jiejie bertanya lagi seraya membelalakkan matanya "Apakah kau tidak takut leci ini beracun?"
"Tidak takut."
Ia mengeluarkan biji leci dari mulut, lalu meneruskan katakatanya seraya tersenyum.
"Sekalipun benar-benar beracun, sekarang pun tidak keburu lagi, sebab aku telah memakannya dan tidak bisa dimuntahkan lagi kan!"
"Apakah kau betul-betul tidak takut?"
"Betul."
"Apakah kau mau aku memberitahukanmu satu hal?"
"Mau."
"Baik, jika begitu aku memberitahukanmu. Bukan saja leci ini beracun, bahkan adalah racun yang amat ganas!"
Senyuman Zhang Jiejie kian manis dan kian indah, sepasang kaki mungilnya yang memakai sepatu bersulam itu bergoyang-goyang di atas pohon, persis seperti seekor burung flamingo yang berada di tengah-tengah dahan dan ranting-ranting yang hijau.
Ia melanjutkan kata-katanya seraya tersenyum manis.
"Jangan lupa bahwa aku pun seorang wanita, lebih-lebih tidak seharusnya kau melupakan 'nasib bunga persik yang dapat merenggut nyawa', yang saat ini masih berjalan di atas dirimu itu!"
Bab 5.
Bunga Bukan Bunga, Kabut Bukan Kabut Seseorang jika mendengar dirinya telah kena racun, reaksi bagaimanakah yang akan muncul?
Orang yang berbeda akan timbul reaksi yang berbeda pula.
Ada orang yang saking takutnya sampai seluruh badannya bergemetaran, wajahnya pucat pasi, sampai berteriak minta tolong pun tidak sanggup.
Ada orang yang segera berlutut minta ampun, serta berteriakteriak minta tolong.
Ada orang yang saking tegangnya sampai muntah-muntah, bahkan makanan tadi malam pun mungkin bisa dimuntahkan.
Ada orang yang sedikit pun tidak tegang, hanya tersenyum dingin dengan rasa curiga, lalu memancing dengan sejumlah kata.
Ada orang yang satu kalimat bahkan satu kata pun malas mengatakannya, tidak peduli dia benar-benar kena racun atau hanya tipuan, segera melabrak lawannya habis-habisan baru ngomong hal yang lain.
Namun juga ada orang yang sama sekali tidak bereaksi, bahkan sedikit reaksi pun tidak ada.
Oleh karena itu orang lain tidak dapat mengerti.
Apakah sebenarnya dia percaya?
Atau tidak percaya?
Takut atau marah?
Orang semacam ini tentu saja adalah orang yang paling sulit dihadapi!
Tentu saja Chu Liuxiang adalah semacam orang yang paling sulit dihadapi itu.
Oleh karena itu ia sama sekali tidak bereaksi, cuma jadi tercenung.
Tercenung seraya memandangi sepasang kaki ZhangJiejie yang terus bergoyang-goyang itu.
Di antara wanita, Zhang Jiejie Tanpa diragukan lagi adalah wanita yang pandai sekali mengendalikan dirinya.
Ia telah menunggu lama sekali untuk menantikan reaksi Chu Liuxiang, namun sekarang ia toh tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Tanpa bisa ditahan, ia bertanya.
"Apakah kau telah mendengar kata-¬kataku?"
Chu Liuxiang menganggukkan kepalanya, tapi tampak jelas ia kurang berkonsentrasi. Zhang Jiejie bertanya lagi.
"Jika sudah dengar, lalu kau mau apa?"
"Aku sedang berfikir...."
"Sedang memikirkan apa?"
"Sedang memikirkan Jika sekarang kau bertelanjang kaki, pasti akan lebih menarik."
Kaki Zhang Jiejie tidak bergoyang lagi.
Tiba-tiba ia bangkit dan berdiri di ranting pohon, lalu loncat ke bawah dan berdiri tepat di depan Chu Liuxiang, seraya matanya mendelik.
Sekalipun ia mendelik, namun sepasang matanya tetap kecil dan bengkok, bagaikan bulan sabit.
Sekalipun sedang marah, di dalam matanya masih terbayang senyurnanyang seolah-olah dibungkus dengan kabut dan bunga, sehingga orang lain tidak dapat takut atau marah kepadanya!
Sekarang Chu Liuxiang tidak memandangi kakinya.
Sekarang Chu Liuxiang sedang memandangi matanya Memandang dengan tercenung.
Zhang Jiejie menggigit bibirnya, lalu berkata dengan suara keras.
"Aku memberitahukanmu bahwa kau telah kena racun, bahkan itu sejenis racun yang teramat ganas, kau malahan memikirkan kakiku! Kau.... Kau sebenarnya manusia atau babi?"
"Manusia."
Ia menjawab dengan cepat, lalu melanjutkan.
"Oleh karena itu aku masih memikirkan satu hal yang lain." *** Perempuan yang menyamar jadi istri pedagang itu, jelas terlihat ia mati karena diracuni orang. Kena racun apa? Chu Liuxiang berusaha membuka mulut perempuan itu, lalu ada sebuah benda jatuh dan mulutnya. Sebuah biji leci. Dari belakang badannya terdengar bunyi lengan baju dan angin. Ia memutar badannya, dan mendelikkan mata pada Zhang Jiejie yang baru saja melayang masuk dari jendela. Di wajah Zhang Jiejie pun timbal ekspresi terkejut, lalu bertanya.
"Untuk apa kau mendelik padaku? Masa kau mengira aku yang bunuh dia?"
Chu Liuxiang tetap saja mendelik padanya. Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum dingin.
"Wanita macarn ini yang lebih mementingkan pacar gelapnya daripada kawannya, walaupun mati satu kurang satu, tapi bukan aku yang membunuhnya Ia sama sekali belum layak bagiku untuk membunuhnya!"
Chu Liuxiang tiba-tiba berkata seraya menghela nafas.
"Aku tahu kau tidak membunuhnya Ketika dia mati, kau masih bercakap-cakap denganku di luar."
Zhang Jiejie berkata dengan sikap dingin.
"Kau mengertiya paling baik, tidak mengerti ya tidak apa-apa, toh aku sama sekali tidak peduli! Sedikit pun tidak peduli!"
Tentu saja ini adalah ucapan emosional.
Seorang gadis selesai mengucapkan ucapan emosional, biasanya cuma ada satu satu tindakan Memutar badannya dan pergi.
Namun sejak awal Chu Liuxiang sudah bersiap-siap.
Baru saja Zhang Jiejie memutar badannya, ia sudah melihat Chu Liuxiang masih berdiri di depannya.
Berdirinya pas di depan matanya.
Namun Zhang Jiejie sengaja tidak melihat matanya, dan berkata seraya tersenyum dingin.
"Peribahasa berbunyi. 'Anjing yang baik tidak merintangi jalan'. Untuk apa kau merintangi jalanku?"
"Sebab kau tidak peduli, aku yang peduli."
"Kau mempedulikan apa?"
"Mempedulikanmu!"
Biji mata Zhang Jiejie berputar-putar, tapi "es"
Di dalam matanya telah mulai mencair. Chu Liuxiang berkata lagi.
"Sebab aku tahu kau datang demi aku, tapi kenapa kau bisa tahu aku ada di sini? Kau...."
Zhang Jiejie tiba-tiba menyela dengan suara keras.
"Ternyata kau bukan benar-benar mempedulikanku, tapi hanyalah mencurigaiku, mencurigai apakah aku telah bersekongkol dengan mereka! Jika demikian, sekalipun aku mati kau pun tak akan peduli!"
Ini pun adalah ucapan emosional.
Maka selesai mengucapkannya, ia segera memutar badannya dan pergi.
Kali ini ia pergi dengan lebih cepat.
Ketika ia betul-betul mau pergi, bahkan Chu Liuxiang pun tak sanggup menghalanginya!
Ketika Chu Liuxiang mengejar sampai di luar, sudah tidak kelihatan lagi orangnya!
Yang kelihatan hanyalah tujuh sampai delapan orangyang berbaring di tanah itu.
Tadi mereka walaupun seluruh wajahnya berlumuran darah, tapi masih hidup.
Tetapi sekarang di wajah mereka sepertinya sudah tidak ada darah lagi, dan semuanya pun telah mati.
Saat ini wajah mereka telah berobah jadi warna ungu, sampaisampai warna darah pun tidak bisa dibedakan lagi!
Chu Liuxiang menggenggam sepasang kepalannya erat-erat, air mukanya pun berobah jadi warna ungu.
Ini menunjukkan bahwa kemarahannya sudah sampai puncaknya!
Ia amat benci pada kekerasan, dan amat benci pada pembunuhan!
Saat ini ia amat benci pula pada kelalaian diri sendiri, sebab tadi seharusnya ia membukakan jalan darah mereka yang tertotok, dengan demikian mungkin saja saat ini mereka tidak mati.
Saat ini ia bahkan merasa bahwa orang-orang ini seolah-olah adalah mati di tangannya sendiri.
Bahkan tangannya mulai bergemetaran.
Tiba-tiba sebuah tangan terjulur dari belakang badannya, lalu di pinggir telinganya terdengar suara yang lemah lembut bagaikan kabut.
"Tanganmu dingin sekali."
Tangan Chu Liuxiang betul-betul dingin sekali, dan berkeringat.
Saat ini, pas lagi membutuhkan tangan seorang wanita yang menggenggam tangannya dengan ringan.
Namun ia justru melepaskan tangan gadis itu dengan cara menghempaskannya!
Barangkali inilah pertama kalinya ia menghempaskan tangan seorang wanita!
Zhang Jiejie menundukkan kepalanya, ternyata ia tidak marah dan tidak pergi, suaranya malahan jadi kian lemah lembut.
"Orang-orang ini hanyalah tukang pukul dari kelas terendah, yang demi sedikit bayaran uang saja sudah mau membunuh orang. Mengapa kau begitu sedih atas kematian mereka?"
Chu Liuxiang mendadak membalikkan kepalanya dan mendelik padanya, lalu berkata dengan sekata demi sekata.
"Memang benar, mereka semuanya hina dina, tapi paling baik kau jangan lupa. Mereka pun adalah manusia!"
"Tapi.... Tapi manusia pun ada bermacam-macam, dan macam mereka Mi...."
"Macam mereka ini, kematiannya tentu saja tidak pantas dikasihani, namun mereka pun punya istri atau orang-orang yang mengasihi mereka kan? Lalu apakah orang-orang itu juga bersalah?"
Zhang Jiejie jadi terdiam.
"Makanya lain kali ketika kau mau membunuh orang, sekalipun mereka memang layak dibunuh, tapi cobalah direnungkan sejenak, dan pikirkanlah orang-orangyang tidak bersalah, dan yang menggantungkan hidupnya pada mereka itu! Setelah mereka mati, maka yang masih hidup itu pasti akan merasakan kesedihan yang amat dalam."
Zhang Jiejie menundukkan kepalanya.
Meskipun ia menundukkan kepalanya, tetapi Chu Liuxiang masih bisa melihat matanya.
Sepasang matayang seolah-olah bisa selalu tersenyumitu, sekarang sudah berkaca-kaca.
Tidak ada air matayang menetes, karena air matanyayang berkilau¬-kilau bagaikan sinar mutiara itu tertahan di dalam matanya.
*** Chu Liuxiang adalah orangyang berprinsip, dan ia pun menghormati orang yang berprinsip.
Ia menghormati prinsip orang lain, sama seperti menghormati prinsipnya sendiri.
Terhadap kaum wanita, tentu saja ia punya prinsipnya.
Ia tidak akan berdebat dengan wanita mana pun, dan tidak akan melukai harga diri wanita mana pun.
Ia tidak suka memberi wejangan pada orang lain dengan wajah yang serius, lebih-lebih ketika menghadapi gadis-gadis, ia tak akan menunjukkan wajah yang cemberut.
Dikarenakan ia merasa bahwa nasihat yang disertai senyuman itu, jauh lebih efektif dari teguran yang disertai wajah yang cemberut!
Namun pada hari ini ia tiba-tiba menyadari bahwa ia sudah melanggar prinsip diri sendiri.
Bagi dia, ini betul-betul sebuah hal yang sulit dibayangkan!
Apakah ini disebabkan ia sudah tidak menganggapnya sebagai gadis biasa, serta menganggapnya sebagai seorang sahabat atau orang yang amat dekat?
Hanyalah di depan seorang sahabat yang paling dekat, seseorang paling mudah membuat kekeliruan.
Karena hanya pada saat itulah, perasaannya baru bisa rileks seluruhnya, bukan saja lupa untuk waspada pada orang lain, bahkan juga lupa untuk waspada pada diri sendiri.
Apalagi di depan kekasihnya sendiri, setiap pria bisa dengan mudah sekali melupakan segalanya, bahkan bisa berubah menjadi seperti kanak kanak!
"Masa' aku betul-betul sudah menganggap dia sebagai sahabatku?
Atau kekasihku?
Mengapa di depan dia, aku selalu mudah sekali berkata salah?
Berbuat salah?
Bahkan bisa menilai salah?"
Zhang Jiejie bertanya "Sedang memikirkan apa?"
"Sedang memikirkan. Apakah kakimu juga seindah matamu?"
Ia menatap mata Zhang Jiejie, lalu melanjutkan kata-katanya dengan wajah serius.
"Kau tahu kan? Wanita yang matanya indah, belum tentu kakinya juga indah."
Muka Zhang Jiejie tidak menjadi merah. Ia memang bukan tipe gadis yang mudah sekali jadi merah mukanya. Ia pun menatap mata Chu Liuxiang, berkata perlahan dengan wajah serius.
"Lain kali aku tak akan bertanya lagi.'Apakah kau manusia atau babi?' "
"Oh ya?"
"Karena aku menemukan bahwa kau bukan manusia! Baik kau adalah makhluk apa saja, tetapi pasti bukan manusia!"
"Oh ya?"
Zhang Jiejie berkata dengan nada dongkol.
"Di bawah kolong langit ini pasti tidak ada manusia semacam kamu ini! Setelah mendengar diri sendirinya kena racun, malahan masih berani menggoda orang lain!"
Chu Liuxiang tiba-tiba tersenyum dan bertanya "Apakah kau tahu sebabnya?"
"Tidak tahu."
"Karena aku tahu di buah leci itu pasti tidak ada racunnya!"
"Yang kau tahu cuma kentut!"
Ia tersenyum dingin, lalu melanjutkan kata-katanya "Apakah kau mengira dirimu sangat ahli dalam hal racun, sehingga racun apa saja, begitu sampai ke mulutmu kau segera dapat merasakannya?"
"Bukan."
Jika demikian berdasarkan apa kau berani bilang bahwa di leci itu pasti tidak ada racunnya?"
"Berdasarkan satu hal."
"Apa itu?"
Chu Liuxiang memandanginya seraya berkata sambil tersenyum.
"Barangkali apa pun aku tidak paham dan tidak tahu, tetapi seseorang berbuat baik atau buruk padaku, aku selalu bisa tahu."
Matanya seolah-olah juga muncul segumpal awan, senyumannya samar-samar seperti kabut, dan suaranya lebih lemah lembut dari awan dan kabut. Ia melanjutkan kata-katanya dengan lambat.
"Cuma berdasarkan hal inilah aku tahu di leci itu tidak ada racunnya, sebab kau pasti tidak akan membubuhi racun untuk mencelakaiku kan!"
Zhang Jiejie ingin mencemberutkan wajahnya.
Namun matanya mulai menyipit, dan hidungnya berkerut dengan ringan.
Dalam dunia ini jarang ada orang yang bisa mengerti.
Alangkah mempesonakannya ketika seorang gadis cantik tersenyum seraya mengerutkan hidungnya!
Andaikata anda pun tidak mengerti, maka kami beri saran.
Buruanlah pergi mencari dan menemukan seorang gadis cantik yang bisa tersenyum dengan cara ini, lalu mintalah dia senyum pada anda!
*** Buah-buah leci itu jatuh ke tanah.
Zhang Jiejie merasakan hatinya dan tangannya amat ringan dan mau melayang-layang rasanya, sampai-sampai tak kuasa memegang buah¬buah leci itu!
Ia menundukkan kepalanya pelan-pelan dan berkata dengan suara lembut.
"Aku sungguh tidak mengira...."
"Tidak mengira?"
Zhang Jiejie mengangkat kepalanya, menatapnya seraya berkata.
"Aku tidak mengira kamu ternyata masih dapat mengerti siapa yang baik dan siapa yang jahat!"
Saat ini matanya tidak seperti bunga, juga tidak seperti kabut, lebih¬lebih tidak seperti bulan sabit.
Sebab di dunia ini tak akan ada.
bunga yang begitu cantik, kabut yang begitu indah, dan sinar bulan yang begitu mempesonakan!
Chu Liuxiang berjalan menghampirinya, sampai dekat sekali.
Dekatnya sudah hampir bisa membaui nafasnya yang harum!
Seandainya ada seorang gadis semacam ini, yang menatap anda dengan pandangan semacam ini, jikalau anda masih saja tidak berjalan menghampirinya, tentulah kedua kaki anda sudah putus, bahkan tentulah anda adalah seorang pandir dan buta yang kedua kakinya sudah putus!
Sebab jika anda tidak buta dan tidak pandir, sekalipun kaki putus, anda pun akan menghampirinya dengan cara merangkak!
*** Chu Liuxiang berjalan kian mendekat, lalu mengangkat dagu Zhang Jiejie dengan ringan, seraya berkata dengan nada mesra.
"Tentu saja aku tahu bahwa kau kemari, justru adalah membantuku untuk merobohkan orang-orang ini kan? Tujuannya adalah menyelamatkan aku kan? Jikalau ini pun tidak tahu, bukankah aku betul-betul adalah babi?"
Zhang Jiejie menutup matanya pelan-pelan.
Ia tidak berbicara .Karena sudah tidak perlu lagi.
Seandainya anda mengangkat dagu seorang gadis, dan is telah menutup matanya, anda seharusnya sudah mengerti artinya!
Chu Liuxiang menundukkan kepalanya, demikian pula bibirnya!
Namun bibirnya tidak mencari bibir Zhang Jiejie, tapi bibirnya menempel di kuping Zhang Jiejie , lalu berkata lirih.
"Apalagi aku juga tahu satu hal yang lain!"
"Hmm..."
Kali ini Zhang Jiejie berbicara bukan dengan mata, tapi juga bukan dengan mulut.
Ia memakai hidungnya.
Ketika seorang gadis cantik berbicara dengan hidungnya, ini seringkali lebih mempesonakan daripada berbicara dengan mulut atau mata!
"Aku tahu bahwa gadis semacam kau ini, sekalipun ingin membunuhku, pasti akan memilih satu cara yang agak aneh dan yang agak istimewa!
Betul kan?"
Kata Chu Liuxiang.
Zhang Jiejie membuka mulutnya.
Bukan untuk berbicara, tapi untuk menggigit.
Ia menggigit kuping Chu Liuxiang!
Baca Juga: Legenda Pendekar Ulat Sutera 2
Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 7