Ceritasilat Novel Online

Legenda Bunga Persik 1

Eps 1 Legenda Bunga Persik - Gu Long

Baca online Legenda Bunga Persik - Gu Long

Cersil Legenda Bunga Persik - Gu Long.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com ~Seri 6 Pendekar Harum~ Legenda Bunga Persik Judul Asli . Tao Hua Zhuan Qi Karya Gu Long 01. Taman "Wanfu Wanshou"

Chu Liuxiang suka wanita.

Semua wanita suka Chu Liuxiang.

Maka di mana ada Chu Liuxiang, di sana pasti ada wanita.

Ada orang tanya dia.

Kiat rahasia apa dari dia yang bisa menaklukkan hati begitu banyak wanita?

Ia selalu tersenyum.

Ia hanya bisa tersenyum, sebab ia sendiri pun merasa heran.

Ia sering kali dalam keadaan-keadaan yang mengherankan, mengenal sejumlah wanita yang luar biasa.

Ketika ia mengenal Shen Shangu, Shen Shangu barusan melompat turun dari atas kamar, tangannya memegang pisau tajam dan mau membunuh dia.

Ketika ia mengenal Qiu Yusu, wanita itu sedang bersiap bunuh diri.

Di padang pasir yang tidak berair ia mengenal Shi Guanyin, tapi di dalam air ia mengenal Yinji.

Ketika ia mengenal Gong Nanyan, gadis itu sedang duduk di kursinya dan minum araknya.

Ketika ia mengenal Shi Suyin, gadis itu sedang berbaring di dalam pelukan orang lain.

Di tempat yang teramat gelap ia mengenal Dong Sanniang, tetapi mengenal Hua Zhenzhen di pinggir mayat!

Ketika ia mengenal Pipa Gongzhu, putri raja itu sedang mandi!

Tapi ketika mengenal Jin Lingzi, ia sendiri yang sedang mandi!

Kadang-kadang ketika ia mengenang kembali hal-hal itu, ia pun tidak bisa menahan geli!

Namun bagaimanapun juga, yang paling mengherankan dan paling menggelikan, adalah ketika ia mengenal Ai Qing.

Ia bisa mengenal Ai Qing, karena gadis itu berkentut!

Banyak orang mengira bahwa hanyalah laki-laki yang berkentut, mungkin disebabkan mereka tidak pernah melihat perempuan berkentut.

Sebenarnya perempuan juga dapat berkentut.

Anatomi tubuh perempuan banyak samanya dengan laki-laki, ketika mau kentut, belum tentu bisa menahannya, disebabkan ada sejumlah kentut itu mirip dengan pedang cepatnya Xue Yiren.

Ketika datang, tidak ada bayangannya, sehingga sulit sekali untuk berjagajaga!

Tetapi di dalam dunia amat banyak hal yang tidak adil, pria di tempat apa pun dan kentut berapa banyak pun, umumnya tidak menimbulkan persoalan yang terlalu besar.

Tapi jika seorang wanita berkentut di depan orang banyak, itu adalah perkara yang teramat besar!

Kata orang.

Dahulu ada seorang wanita, hanya karena berkentut di depan banyak orang, pulang ke rumah langsung gantung diri!

Meskipun hal semacam ini tidak sering ada, anda toh mesti percaya.

*** Musim semi Taman "Wanfu Wanshou" (Dalam bahasa Tionghoa, Wanfu artinya.

banyak rejeki; Wanshou artinya.

panjang usia) Musim semi di Taman "

Wanfu Wanshou"

Mungkin jauh lebih indah dari musim semi di tempat manapun!

Dikarenakan meskipun tempat lain juga ada taman yang demikian luas dan besar, tak kan ada bunga-bunga berwarna-warni yang demikian banyaknya!

Sekalipun di tempat lain ada banyak bunga, tapi tak kan ada orang sebanyak ini.

Sekalipun ada banyak orang, juga tak kan dapat demikian luar biasanya!

Apalagi pada tanggal 7 bulan 3.

Hari itu adalah hari ulang tahun ke-80 dari Nyonya Besar Jin.

Nyonya Besar Jin barangkali adalah seorang nenek tua yang paling beruntung di dunia!

Walaupun orang lain bisa berusia tinggi seperti dia, tidak akan sekaya dan setinggi kedudukannya!

Walaupun bisa kaya dan tinggi kedudukannya, juga tak kan sedemikian banyak anak-cucunya.

Walaupun bisa banyak anak-cucunya, juga tak kan bisa sama dengan dia.

Semua anak-cucunya menjadi orang-orang yang berhasil!

Yang paling penting ialah.

Bukan saja Nyonya Besar Jin orang yang beruntung, tapi dia juga tahu bagaimana menikmati keberuntungannya!

Ia memiliki 10 anak laki-laki, 9 anak perempuan, 8 menantu lakilaki, 39 cucu dalam dan 28 cucu luar.

Anak-anak dan menantu-menantunya, ada yang menjadi pemimpin perusahaan ekspedisi, ada yang menjadi kepala polisi, ada yang menjadi ketua partai persilatan...Boleh dikata tiada seorang pun yang bukan pesilat kelas wahid!

Bahkan di antaranya ada 2 orang yang jadi pejabat tinggi.

Yang satunya adalah menteri, yang satunya adalah panglima!

Ia punya 9 anak perempuan, tapi cuma punya 8 menantu lakilaki, dikarenakan seorang anak perempuannya telah menjadi bhiksuni, masuk ke Partai Emei, dan kemudian hari menjadi ketua partai.

Cucu-cucu dalam dan cucu-cucu luarnya, kebanyakan juga telah menjadi orang-orang yang ternama!

Jin Lingzi adalah cucu perempuannya yang bungsu.

Jin Lingzi mengenal Chu Liuxiang dan Hu Tiehua pada waktu yang bersamaan ketika mereka sedang mandi di tempat mandi umum, dengan tiba-tiba ia menerjang masuk!

Siapa pun juga mesti mengakui bahwa ini adalah sebuah permulaan yang aneh dan mendebarkan, namun hal-hal yang mereka alami bersama setelah perkenalan itu, malahan lebih aneh dan lebih mendebarkan!

Mereka pernah terkatung-katung di laut dengan berbaring di dalam peti mati, pernah menunggu mati di tempat yang teramat gelap dan mengerikan bagai di neraka!

Mereka pernah bertemu dengan "ikan duyung"

Yang tersauk dengan jala di laut, juga pernah bertemu dengan "manusia kelelawar"

Yang seumur hidup tidak melihat terang!

Pokoknya mereka adalah kawan yang bersama-sama menghadapi kesulitan bahkan bahaya yang mengancam nyawa, karena itu mereka menjadi sahabat karib.

Terlebih lagi Hu Tiehua mempunyai hubungan yang khusus dengan Jin Lingzi.

Perayaan hari ulang tahun yang ke-80 dari Nyonya Besar Jin, tentu saja mereka mesti hadir, apalagi hidung Hu Tiehua, sudah sejak awal mencium harumnya arak bagus yang disimpan 20 tahun oleh Taman "Wanfu Wanshou"

Dengan kukuh Jin Lingzi meminta mereka tidak usah memberi kado, cuma meminta mereka satu hal.

"Tidak minum arak sampai puas, tidak boleh pergi."

Chu Liuxiang pun meminta dia menyanggupi satu hal.

"Tidak boleh memberitahukan nama mereka kepada orang lain."

Hu Tiehua sangat menepati janjinya.

Ia sudah mabuk tiga kali,tapi masih belum pergi.

Mereka tanggal 3 sudah datang, sekarang tanggal 7, tamu yang datang makin banyak, tapi hampir tidak ada seorang pun yang mengenali wajah yang sebenarnya dari Chu Liuxiang.

Ternyata Jin Lingzi juga sangat menepati janjinya.

Ia tidak membocorkan identitas Chu Liuxiang kepada siapa pun.

Sebab itu Chu Liuxiang masih bisa berkeliling ke mana-mana dengan nyaman, bahkan ia sudah mulai merasa sedikit pening, disebabkan tempat ini terlalu besar dan orangnya terlalu banyak.

Tanggal 7 tengah hari, semua orang akan pergi ke balairung untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Nyonya Besar Jin, kemudian makan "mie panjang umur."

Sekalipun Taman "

Wanfu Wanshou"

Begitu besar, tapi juga tidak bisa menampung tamu yang begitu banyak!

Maka terpaksa para tamu dibagi jadi tiga rombongan, dan masih begitu banyak orang di setiap rombongan.

Chu Liuxiang masuk rombongan ketiga.

Sebenarnya ia berjalan bersama Hu Tiehua dari taman belakang, berjalan setengah perjalanan, mendadak Hu Tiehua tidak kelihatan.

Orang demikian banyak, mau cari juga susah.

Terpaksa Chu Liuxiang berjalan sendirian, ketika masuk ke balairung, tampaknya sudah berkurang orangnya, ada orang yang sudah mulai makan "mie panjang umur" , dan ada beberapa gadis yang mengerling dia secara sembunyi-sembunyi dari antara sumpit.

Sekalipun ia bukan Chu Liuxiang yang berwajah asli, ia tetap seorang pria yang punya daya tarik besar!

Ia terpaksa merundukkan kepala, mata melihat ke hidungnya, dengan sikap sopan berjalan ke depan untuk mengucapkan selamat ulang tahun.

Ia bukan orang yang terlalu sopan, tapi Nyonya Besar Jin sedang memandang dia dengan wajah penuh senyuman -Jin Lingzi tidak pernah berani berdusta di depan neneknya.

Karena Nyonya Besar Jin sudah tahu dia siapa, maka di depan seorang nenek yang begini luar biasa ini, terpaksa Chu Liuxiang berusaha sebisa-bisanya untuk bersikap sopan.

Sebetulnya ia merasa agak risih dipandang terus oleh Nyonya Besar Jin -Ia memandang Chu Liuxiang seperti memandang cucu menantu yang akan datang!

Chu Liuxiang cuma berharap nenek itu jangan salah mengenal orang.

Ketika ia berjalan terus dengan agak risih, sepertinya ada seseorang yang berjalan di pinggirnya, dan ia seorang wanita, lalu hidungnya mencium bau harum.

Pas pada ketika ia mau menolehkan kepala untuk melihat, ia mendadak mendengar bunyi "bruut."

Selain Chu Liuxiang, paling sedikit ada 70-80 orang yang juga mendengar bunyi "bruut"

Itu!

Pertama sebab di depan Nyonya Besar Jin, semua orang tidak berani kurang ajar, maka walaupun banyak orang ada di dalam balairung, namun tidak begitu bising.

Kedua.

sebab bunyi ini luar biasa nyaringnya.

Asal yang pernah kentut pasti tahu ini adalah bunyi kentut.

Semua orang pernah kentut.

Kentut ini kecuali bunyinya yang amat keras, sebenarnya tidak ada apa-apa yang istimewa.

Hanya, kentut ini dilepaskan pada waktu dan tempat yang tidak seharusnya, lebih-lebih tidak seharusnya dilepaskan di pinggir badan Chu Liuxiang.

Chu Liuxiang tak kuasa menahan dirinya, lalu melirik ke samping, yang berdiri di sampingnya memang seorang wanita.

Wanita ini bukan saja amat harum, tapi juga amat cantik dan muda!

Chu Liuxiang mengeluh dalam hatinya, sebab saat ini ada 70-80 pasang mata yang melihat ke arah dia, dalam pandanganpandangan itu terkandung rasa heran, rasa ingin tahu dan rasa menertawakan!

Tentu saja Chu Liuxiang tahu ia tidak berkentut, tapi jika demikan, pastilah yang berkentut adalah gadis yang amat harum dan cantik ini.

Bagaimana bisa seorang laki-laki satria membiarkan seorang gadis yang demikian cantik ini menanggung "dosa berkentut?"

Apalagi ketika si gadis memandang dia dengan mimik wajah minta dikasihani dan minta dia menolong, walaupun bukan satria, juga tentu akan maju dan menolong.

Sekalipun ia tidak mengucapkan kalimat ini di depan banyak orang.

"Yang kentut ialah aku" , namun ekspresi wajahnya menunjukkan ia yang berkentut, dan dibuatnya orang banyak itu punya pengertian demikian. Lalu ketika si gadis memandang lagi kepada dia, ia memandang dia sebagai seorang pahlawan yang menyelamatkan dia dari ribuan serdadu musuh atau dari lautan api! Asal bisa dipandang demikian oleh gadis rupawan, apa artinya pengorbanan kecil ini? Demi seorang gadis yang demikian cantik, sebelum ini sudah tidak terhitung banyaknya Chu Liuxiang melakukan hal-hal yang bahkan menuntut pengorbanan yang kian berat! Demi menyelamatkan seorang gadis yang secantik ini, sekalipun anda menyuruh Chu Liuxiang seorang diri melawan tiga harimau dan dua singa, ia juga berani melakukannya! Lawan-lawan yang pernah dihadapinya bahkan lebih mengerikan sepuluh kali lipat dari harimau dan singa! Namun saat ini ia betul-betul tidak punya keberanian untuk duduk dan makan "mie panjang umur" , dikarenakan paling sedikit ada 40-50 pasang mata yang masih memandang dia, dan di antaranya paling sedikit ada 20 pasang mata gadis-gadis! Setelah mengucapkan selamat ulang tahun, ia buru-buru pergi keluar. Di dalam halaman pun ada banyak orang,yang menjadi kelompok-kelompok kecil, lalu ngobrol dan tertawa dengan riuhnya. Kebanyakan dari mereka adalah pesilat-pesilat yang ternama, di antaranya ada beberapa orang yang dikenal Chu Liuxiang. Tetapi mereka semuanya tidak kenal dia, tentu saja juga tidak tahu peristiwa tadi, tetap saja ia merasa was-was Bagaimanapun juga, berkentut di depan orang banyak bukanlah hal yang terhormat. Karena itu begitu ada orang yang memandang dia, dia lalu ingin cepat-cepat pergi. Dari halaman depan ia pergi ke taman bunga depan, kemudian pergi ke taman bunga belakang. Mendadak ia merasa bahwa sejak tadi ada seseorang yang terus membuntutinya. Ia berjalan sampai di mana, orang itu ikut sampai di mana. Ia berhenti, orang itu ikut berhenti. Meskipun ia tidak melihat orang itu, namun dapat merasakannya. Di dunia ini tak ada seorang pun yang dapat membuntuti Chu Liuxiang secara diam-diam, yang tidak ketahuan oleh dia! Chu Liuxiang sengaja bertingkah seolah-olah tidak menyadari sedikit pun, dengan santai berjalan melewati sebuah jembatan kecil. Jembatan kecil itu berada di atas sebuah empang teratai, di pinggir empang teratai itu ada sebuah gunung-gunungan. Ia berjalan sampai di belakang gunung-gunungan itu, tempat ini sepi orang, namun orang itu masih berani ikut ke sana. Derap langkahnya amat ringan ---Orang yang tidak mengerti ilmu ringan tubuh, tidak mungkin punya derap kaki yang sedemikian ringannya! Mendadak Chu Liuxiang menolehkan kepala, dan terlihatlah gadis itu. Gadis itu memakai pakaian musim semi yang berwarna hijau muda, lengan bajunya sempit, modenya baru, bajunya bermotifkan bunga-bunga yang berwarna biru diserasikan dengan rok panjang berlepitan banyak yang juga berwarna biru nilam. Kesan pertama Chu Liuxiang pada dia adalah.

"Gadis ini mengerti sekali dalam hal memakai baju serta menyerasikan warna."

Dengan gaya lemah gemulai ia berdiri di sisi gunung-gunungan itu, kepalanya ditundukkan, sambil menggigit bibir, sepasang tangan yang seputih batu giok itu sedang menyisir rambut di pinggir pelipis yang agak awut-awutan karena tertiup angin.

Kesan kedua Chu Liuxiang pada dia adalah.

"Gadis ini memiliki gigi dan tangan yang sedap dipandang."

Wajah gadis itu memerah, sepasang biji mata yang amat bening itu sedang melirik Chu Liuxiang dengan curi-curi. Kesan ketiga Chu Liuxiang pada dia adalah.

"Gadis ini dari atas sampai ke bawah semuanya sedap dipandang!"

Sebenarnya ia bukan pertama kali melihat gadis itu.

Gadis itulah yang ketika berada di balairung berdiri di sisinya, cuma tadi ia tidak melihatnya dengan jelas.

Di depan orang yang begitu banyak, ia sungguh risih melihat seorang gadis cantik lama-lama!

Namun sekarang ia dapat melihat lama-lama!

Bisa memandang dan menikmati kecantikan yang luar biasa ini, sungguh-sungguh merupakan semacam kenikmatan yang luar biasa!

Wajah gadis itu kian memerah, tapi tiba-tiba berkata sambil tersenyum manis.

"Saya bernama Ai Qing."

Pada kalimat pertama ia sudah menyebutkan namanya.

Chu Liuxiang pun tidak mengira, namun ia mengerti.

Seorang gadis jika mau memberitahukan namanya pada seorang yang belum dikenal, paling sedikit itu berarti ia tidak merasa sebal padanya.

Ai Qing berkata sambil menundukkan kepala.

"Tadi kalau bukan karena anda, maka saya...saya terpaksa akan mati"

Chu Liuxiang tersenyum saja. Hanya karena kentut lalu mau mati, hal ini betul-betul tidak dapat dipahami. Ia cuma bisa tersenyum. Ai Qing berkata lagi.

"Saya tidak berani melupakan budi anda yang telah menyelamatkan nyawa saya, tapi tidak tahu mesti dengan cara apa untuk membalas budi anda."

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum "Itu cuma urusan kecil, bagaimana bisa dikatakan `budi yang menyelamatkan nyawamu'?"

Ai Qing berkata.

"Bagi anda itu urusan kecil, tapi bagi saya itu urusan yang luar biasa besar! jika anda tidak mengizinkan saya balas budi, saya saya...."

Mendadak ia mengangkat kepalanya, dan berkata dengan sikap tegas.

"Terpaksa saya akan mati di depan anda."

Chu Liuxiang menjadi terkesiap. Mimpi pun ia tidak mengira Ai Qing bisa menganggap hal ini sebagai sesuatu yang amat serius! Seolah-olah takut ia tidak percaya, Ai Qing memberi penjelasan.

"Walaupun saya seorang wanita, tapi juga tahu bahwa jika seseorang ingin berdiri teguh dalam dunia persilatan, maka ia harus bisa menangani budi dan dendam dengan sebaik-baiknya! Saya tidak suka orang lain berhutang budi pada saya, juga tidak pernah saya berhutang budi pada orang lain. Maka jika anda tidak ijinkan saya balas budi, berarti memandang hina pada saya! Seseorang kalau dipandang hina oleh orang, masih adakah arti untuk hidup?"

Pada mulanya ia terkesan sebagai orang yang malu-malu dan tidak pandai bicara, namun kata-kata ini diucapkan dengan keras dan cepat, dan nada bicaranya seperti seorang "preman!"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum masam.

"Kamu ingin balas budi dengan cara apa?"

Ai Qing berkata dengan wajah serius.

"Terserah anda mau saya balas budi dengan cara apa pun, semuanya saya setuju."

Rona wajahnya timbul lagi, tetapi matanya memandang lurus ke Chu Liuxiang, di dalam suaranya tersirat semacam godaan yang tiada terkatakan!

Kebanyakan pria kalau mendengar kata-kata semacam ini, dan melihat ekspresi semacam ini, pasti akan menduga gadis ini sedang merayu dan menggoda dia, karena pria umumnya amat sensitif dalam hal ini!

Pria yang tidak mengerti maksud gadis ini, kalau bukan cerdiknya luar biasa, pasti tololnya minta ampun!

Tidak tahu Chu Liuxiang betul-betul tidak paham atau pura-pura tidak paham, ia berkata tiba-tiba setelah mengelus-elus hidungnya.

"Jikalau kamu pasti mau balas budi, berilah aku 500 tael uang perak saja."

Ai Qing terkejut dan berkata.

"Anda mau apa?"

"Limaratus tael uang perak. Kalau tidak punya, separuh pun boleh."

Ai Qing melototkan matanya dan berkata "Anda tidak mau yang lain?"

Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas.

"Aku adalah orang miskin, apapun tidak kekurangan, hanya kekurangan uang saja. Apalagi, kalau seseorang mau balas budi, selain memberi uang, apakah masih ada cara lain yang lebih baik?"

Ai Qing melotot ke dia, pada awalnya tampak amat terkejut, tapi lama kelamaan berubah jadi kecewa sekali, wajah yang tadi memerah juga kian memudar, kemudian berkata seraya menghela nafas panjang.

"Tidak disangka bahwa anda adalah orang yang pandir!"

Chu Liuxiang berkata seraya mengedipkan matanya.

"Apakah aku mintanya terlalu sedikit? Apakah bisa minta lebih banyak?"

Ai Qing berkata sambil menggigit bibirnya.

"Seorang wanita kalau mau balas budi pada seorang pria, sebenarnya masih ada semacam cara yang lebih baik, masa' anda tidak paham?"

Chu Liuxiang berkata sambil menggelengkan kepala.

"Aku tidak paham."

Ai Qing berkata sambil menjejakkan kaki.

"Baik, saya akan memberi anda 500 tael."

Chu Liuxiang berkata sambil tersenyum.

"Terima kasih banyak."

Kata Ai Qing "Saat ini saya tidak membawa uang, tengah malam ini saya akan datang ke sini untuk memberikannya pada anda."

Selesai bicara ia putar badannya dan pergi, setelah beberapa langkah ia menoleh lagi, dan berkata dengan gemas.

"Betul-betul adalah si pandir!"

Chu Liuxiang memandangi dia pergi menjauh, akhirnya tidak kuasa menahan tertawanya, dan makin dipikir makin geli.

Tapi ternyata selain dia, masih ada orang lain yang tertawa, suara tertawa yang nyaring dan empuk itu sepertinya berasal dari dalam gunung-gunungan itu.

Chu Liuxiang betul-betul terkesiap, ia betul-betul tidak mengira bahwa gunung-gunungan itu dalamnya kosong, dan ada orang yang bersembunyi di dalamnya.

Seseorang sudah menjulurkan kepalanya dari dalam gununggunungan itu, dan masih tertawa terus.

Chu Liuxiang sama dengan pria-pria lain Suka menggolonggolongkan para wanita, hanya caranya agak berbeda dengan orang lain.

Ia membagi para wanita menjadi 2 golongan.

1 golongan yang suka menangis dan 1 golongan yang suka tertawa.

Golongan wanita yang suka tertawa biasanya cantik, dan punya tertawa yang manis, jika tidak ia mungkin akan memilih menangis.

Chu Liuxiang pernah melihat banyak sekali wanita yang suka tertawa, tetapi ia mesti mengakui bahwa wanita yang menjulurkan kepalanya dari gunung-gunungan itu, tertawanya jauh lebih manis dari kebanyakan wanita, serta amat merdu!

Matanya tidak besar, dan menjadi sipit ketika tertawa, dan bentuknya mirip dengan bulan sabit yang melengkung.

Asalnya Chu Liuxiang lebih menyukai gadis yang bermata besar, namun sekarang mesti mengakui bahwa gadis yang bermata kecil pun punya daya pesonanya!

Kenyataannya, ia memang belum pernah melihat sepasang mata yang demikian mempesonakan, ia memandang sampai melongo!

Gadis itu berkata seraya tertawa cekikikan.

"Ternyata apa yang ia katakan itu sedikit pun tidak keliru, kamu memang si Pandir!"

Chu Liuxiang mengedipkan matanya dan berkata "Jadi si Pandir juga tidak ada jeleknya, paling sedikit ia tidak akan mencuri dengar pembicaraan orang lain."

Si gadis mendelikkan matanya dan berkata "Siapa yang curi dengar pembicaraan kalian? Sejak tadi aku sudah ada di sini, siapa yang suruh kalian ke sini?"

"Untuk apa kau bersembunyi di dalam gua itu?"

"Aku suka!"

Kebenaran logika yang sebesar langit pun akan kalah, dengar kata "Suka"

Ini, dan Chu Liuxiang tahu bahwa ia ketemu lagi dengan seorang gadis yang mau menang sendiri!

Ia sering mengingatkan diri sendiri.

Jangan cari gara-gara pada wanita mana pun, dan lebih-lebih jangan berdebat dengan mereka!

Anda bahkan boleh pukul dia, tapi sekali-kali jangan berdebat!

Ia mengelus-elus hidung, tersenyum sedikit, lalu ingin pergi menjauh ---Aku tidak mau cari gara-gara dengan kamu, lebih baik menghindar saja.

Tiba-tiba si gadis melompat keluar dari dalam, dan berkata.

"Hei! Tadi gadis kecil itu sepertinya sedang merayu dan menggodamu, apakah kau tahu?"

"Tidak tahu."

"Kata-kata yang diucapkannya itu, masa' kamu betul-betul sedikit pun tidak paham?"

"Pura-pura saja."

Si gadis tersenyum lagi dan berkata "Ternyata kamu bukanlah si Pandir!"

Chu Liuxiang berkata.

"Aku cuma tidak senang dirayu dan digoda wanita, aku senang merayu dan menggoda wanita."

Si gadis mengerlingkan matanya dan berkata.

"Kalau begitu, kenapa kamu tidak merayu dan menggoda aku?"

Chu Liuxiang tidak kuasa menahan ketawanya dan berkata.

"Bagaimana kau tahu aku tidak ingin merayu dan menggodamu?"

"Jika begitu, setidaknya kamu mesti tanya dulu namaku yang harum."

"Boleh tahu namamu yang harum?"

Si gadis berkata seraya tersenyum "Aku bernama Zhang Jiejie."

"Zhang Jiejie."

Zhang Jiejie berkata sambil tertawa "Wah! Aku tidak berani terima nih! Kok begitu ketemu langsung panggil aku.

"Kakak Zhang?" (Dalam bahasa Mandarin, Zhang Jiejie (nama wanita) dan Kakak Zhang, bunyinya hampir sama) Sungguh seorang anak yang manis!"

Kata-katanya belum selesai diucapkan, pinggangnya hampir membungkuk karena gelak tawanya.

Tapi Chu Liuxiang tidak bisa tertawa.

Sebab inilah pertama kalinya ia dipermainkan seorang wanita!

Sebelum ia menjawab, Zhang Jiejie berkata-lagi seraya tertawa.

"Adik kecil, kamu panggil kakak ada perlu apa?"

Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas.

"Ternyata kau masih seorang anak kecil, sebab hanya anak kecillah yang suka mencari keuntungan di atas diri orang lain."

Zhang Jiejie berkata sambil memutar-mutarkan biji matanya.

"Menurutmu aku mirip anak kecil?"

Tidak mirip.

Bagian tubuhnya yang paling mempesonakan bukanlah mata.

Chu Liuxiang batuk kering dua kali, dengan sekuat tenaganya barulah dapat mengalihkan pandangan matanya dari bagian tubuhnya yang paling mempesonakan itu!

Zhang Jiejie berkata seraya tertawa cekikikan.

"Kenapa kamu diam saja?"

"Ketika aku diam saja, sebaiknya kau hati-hati."

"Mengapa?"

"Sebab ketika aku tidak pakai mulut, itu artinya aku akan pakai tangan."

Matanya memelototi lagi bagian tubuh si gadis yang paling mempesonakan itu, dan kelihatannya segera akan "memakai tangannya!"

Tanpa terasa Zhang Jiejie mengulurkan tangannya untuk melindungi dirinya, dan berteriak "Kau berani!"

Chu Liuxiang berkata sambil "memperagakan"

Wajah yang menyeramkan.

"Aku tidak berani?"

Tangannya sudah mulai "bergerak!"

Zhang Jiejie menjerit, berputar badan lalu lari menjauh, sambil berteriak.

"Ternyata kau bukan si Pandir, tapi si Hidung Belang!"

Chu Liuxiang memandangi dia lari menjauh, baru saja merasa lega, tidak terduga tiba-tiba ia datang mendekat lagi, lalu berkata seraya memelototkan matanya "Si Hidung Belang, dengarkan.

Karena kamu sudah merayu dan menggodaku, jikalau masih berani main gila dengan nona kecil yang bermarga Ai itu, hati-hati aku akan memukulmu!"

Yang sungguh menggerakkan tangan bukan Chu Liuxiang, tapi dia -Mendadak ia mengangkat tangannya, mengetuk sekali dengan keras ke kepala Chu Liuxiang, lalu pergi dengan cepat!

Chu Liuxiang satu tangan mengelus-elus kepala, satu tangan mengelus-elus hidung, merasa gemas sekaligus lucu!

Tapi entah kenapa, ada sedikit rasa manis di dalam hatinya!

Ia bukan orang yang kampungan, tapi ia pun tidak pernah menjumpai gadis semacam ini.

Orang yang pernah menjumpai gadis semacam ini mungkin sedikit sekali.

Mendadak terdengar seseorang berkata sambil tertawa.

"Aku dengar ada orang yang memaki si Hidung Belang, langsung tahu itu ialah kau, dan kau memang ada di sini."

Tanpa menoleh pun ia tahu yang datang adalah Hu Tiehua, maka ia bergumam.

"Sayang, seribu sayang! Sungguh-sungguh sayang!"

Hu Tiehua berkata dengan heran.

"Sayang apa?"

"Sayang kau kehilangan kesempatan!"

"Aku kehilangan kesempatan?"

"Tadi di sini banyak gadis cantik! Siapa suruh kau pergi?"

Hu Tiehua menyindir.

"Oh ya? Begitu aku pergi, kau segera "

Mendapat rejeki bunga persik? "("

Mendapat rejeki bunga persik ", dalam bahasa Tionghoa, artinya. Berkenalan lalu punya hubungan mendalam dengan gadis atau perempuan yang cantik!) "

Kelihatannya ya."

Hu Tiehua berkata seraya menghela nafas.

"Yang aku kagum padamu bukan yang lain, tapi kepandaian membualmu itu lho! Tentu saja, kau masih ada...Kepandaian berkentut. Ia melanjutkan sambil tertawa keras.

"Dengarnya tadi kau melepaskan kentut yang ternyaring di dunia!"

Chu Liuxiang berkata dengan santai.

"Tiap-tiap orang bisa melepaskan kentut nyaring, tapi jarang ada yang luar biasar "Luar biasa apa?"

"Kalau kau tahu hasil kentutku, setiap hari kau paling sedikit kentut sepuluh kali!"

"Selain bau busuk, apa lagi sih hasil kentutmu?"

"Aku tahu kau tidak percaya, tapi tunggulah sampai besok pagi, kau akan percaya."

Tiba-tiba Hu Tiehua berkata dengan serius.

"Tidak bisa tunggu."

"Kenapa?"

"Sebab kita harus pergi."

"Siapa yang harus pergi?"

"Kita Artinya kau dan aku."

"Kita kenapa harus pergi?"

"Sebab jika tidak segera pergi, akan ada masalah."

"Maksudmu ada orang yang mau cari masalah dengan kita?"

"Betul."

"Siapa?"

Hu Tiehua berkata seraya menghela nafas panjang.

"Jin Lingzi."

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum "Jika ia mau cari masalah, pasti dengan kau, bukan dengan aku."

Hu Tiehua berkata seraya mendelik.

"Masa' kau bukan sahabatku?"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum "Ia mau cari masalah apa dengan kau? Masa' ingin menikah dengan kau?"

Hu Tiehua segera menjadi muram durja, lalu berkata seraya menghela nafas.

"Sedit pun tidak salah."

"Kalau begitu kan kebetulan?! Nikah saja, bukankah kamu amat suka padanya?"

Hu Tiehua berkata sambil mengerutkan alisnya "Iya sih, tapi sekarang...."

"Apakah karena ia sudah suka padamu, maka kau tidak menyukainya lagi?"

Tiba-tiba Hu Tiehua menepuk telapak tangannya dan berkata.

"Dari tadi aku tidak paham mengapa, tapi kata-katamu ini telah membuatku paham."

Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas panjang "Ini memang penyakit lamamu! Tidak tahu sampai kapan penyakit lamamu ini baru bisa sembuh?"

Hu Tiehua terbengong-bengong cukup lama, lalu berkata seraya tersenyum masam.

"Sekalipun aku masih suka padanya, tapi coba pikir. Bagaimana aku bisa tahan terhadap bibi-bibi dan pamanpamannya? Tidak usah yang bersujud saja sudah mana tahan!?"

"Bersujud?"

"Jika aku menikah dengan Jin Lingzi, bukankah aku akan berubah menjadi orang generasi muda dari mereka? Setiap ada perayaan tahun baru atau hari-hari besar, bukankah mesti bersujud pada mereka semua? Bukankah aku akan berubah jadi "

Kumbang Bersujud? "("

Kumbang Bersujud ", adalah sejenis kumbang yang sering mengangguk-anggukkan kepalanya, mirip dengan orangorang Tiongkok zaman dulu, ketika bersujud pada pejabat/ orang generasi tua, juga mesti berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala ke bawah/ tanah.) Ia menggaruk-garuk kepalanya dengan keras, lalu berkata "

Yang lain boleh, tapi sekali-kali tidak boleh menjadi `Kumbang Bersujud'!"

Chu Liuxiang tidak kuasa menahan ketawanya dan berkata "Kau selalu saja bisa mencari-cari alasan untuk membela dirimu!"

Hu Tiehua mendelik lagi dan berkata.

"Aku cuma tanya. Kau mau pergi atau tidak?"

"Bolehkah aku tidak pergi?"

"Tidak boleh"!" *** Di sebuah kedai arak yang kecil sekali. Chu Liuxiang bukan seorang yang hemat sekali, juga tidak menyukai kedai arak sekecil ini, tapi melulu karena kengototan Hu Tiehua -Yang mengangggap tempat ini aman, sekalipun Jin Lingzi mau mengejar atau mencari mereka, tidak akan datang kemari, sebab tidak menyangka mereka akan minum arak di tempat semacam ini. Kedai arak kecil ini juga punya sesuatu yang bagus. tempatnya amat hening, apalagi pada malam yang larut, bukan saja tidak ada tamu yang lain, bahkan pegawainya pun sedang terkantuk-kantuk. Chu Liuxiang tidak suka ada orang lain di pinggir yang mendengarkan percakapan mereka, lebih-lebih tidak suka orang lain menyaksikan rupa Hu Tiehua yang sedang mabuk. Saat ini Hu Tiehua sudah hampir mabuk. Ia menelungkupkan badannya di meja, satu tangan memegang guci arak, satu tangan mencengkeram Chu Liuxiang, sambil bergumam.

"Walaupun kau sahabatku, namun kau tidak memahamiku, sama sekali tidak paham, kau tidak tahu sedikit pun tentang penderitaanku."

"Kau menderita?"

"Ya, bahkan luar biasa sakitnya."

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum sekilas.

"Aku tidak dapat melihat apa penderitaanmu?"

"Meskipun Jin Lingzi agak sedikit mau menang sendiri, namun siapa pun mesti mengakui bahwa dia seorang gadis yang baik, orangnya cantik lagi! Apakah kau tidak sependapat?"

"Aku sependapat"

Hu Tiehua membanting guci arak itu dengan keras ke meja dan berkata.

"Gadis cantik yang sebaik itu aku tidak mau, arak yang enak pun aku tidak mau, malahan datang ke tempat brengsek ini untuk minum arak yang bermutu rendah, jika aku tidak menderita, siapa lagi yang menderita?"

"Siapa yang menyuruh kau datang ke sini?"

Hu Tiehua mengelus-elus hidungnya, terbengong-bengong lama sekali, baru bergumam.

"Siapa yang suruh ya?...Sepertinya aku sendiri...."

"Kau sendiri yang cari penyakit, itu urusanmu, tapi aku..."

Chu Liuxiang melanjutkan kata-katanya setelah menghela nafas.

"Kau tidak tahu betapa besarnya kerugianku karena ikut kau pergi!"

Hu Tiehua menepuk bahu Chu Liuxiang dengan keras dan berkata "Ini juga salahmu sendiri, siapa suruh kau bersahabat denganku?"

"Aku sendiri."

Hu Tiehua bertepuk tangan, lalu berkata seraya tertawa.

"Nah! Kau sendiri yang cari penyakit, kau bisa salahkan siapa? Chu Liuxiang tidak kuasa menahan tertawanya, ia pun menepuk bahu Hu Tiehua dengan keras, dan berkata seraya tertawa.

"Masuk akal! Kenapa ya kata-katamu kok senantiasa masuk akal?"

Tiba-tiba Hu Tiehua melorot turun dari bangku, duduk di lantai bengong, lalu bergumam.

"Sialan! Bangku ini kok hanya berkaki tiga? Apa karena mau merampok dan membunuh aku?"

Chu Liuxiang berkata dengan geli.

"Bisa jadi tempat ini adalah 'toko hitam' (Di Tiongkok jaman dulu, ada sejumlah losmen dan rumah makan, yang sengaja memasukkan obat tidur ke dalam makanan atau minuman para tamu, lalu merampok dan membunuh mereka! Tempat-tempat yang melakukan tindakan-tindakan kejam ini di sebut.

"toko hitam"), dan sejak tadi sudah mengincar kau -Seorang hartawan besar yang pura-pura miskin!"

Hu Tiehua berpikir sejenak, lalu berkata sambil menganggukkan kepala.

"Masuk akal, tetapi kali ini mereka salah melihat, aku tidak punya apa-apa, kecuali beberapa tanda terima penggadaian."

Mendadak ia merasa dirinya amat humoris, lalu kagum pada diri sendiri, setelah tertawa terbahak-bahak, ia berdiri dengan sempoyongan mendelikkan mata pada Chu Liuxiang, dan berkata sambil mengerutkan alis mata "Kenapa kamu berubah jadi dua orang?"

"Sebab aku bisa 'Ilmu memisahkan tubuh'."

Hu Tiehua berpikir lagi, lalu berkata seraya menggoyangkan kepala.

"Mungkin dikarenakan kamu bukan orang, tapi setan, setan hidung belang!"

Ia melanjutkan setelah tertawa keras.

"Dengarnya begitu aku pergi, kau segera 'mendapat rejeki bunga persik'! Benarkah?"

"Sepertinya ya."

"Baik, aku beri kau kesempatan."

Tangannya mau menepuk bahu Chu Liuxiang lagi, namun Chu Liuxiang segera menghindar karena sudah berjaga-jaga. Hu Tiehua memandangi tangannya, lalu bergumam.

"Kenapa aku kelebihan satu tangan, masa' aku punya tiga tangan?" (Dalam bahasa Tionghoa,"Punya tiga tangan"

Artinya adalah seorang pencuri/ pencopet") ----Masa' aku ketularan penyakitmu?"

Kata-kata ini terlalu humoris, ia makin kagum pada dirinya, sehingga tidak mampu menahan ketawanya. Ketika tertawa, tiba-tiba dari kerongkongannya terdengar bunyi.

"eeeh" , ia mengerutkan alisnya, lalu memandang ke bawah dengan menundukkan kepala, seolah-olah sedang mencari sesuatu, lama sekali memandang, tiba-tiba ia membaringkan dirinya di lantai. Chu Liuxiang menjadi cemas, lalu berkata dengan nyaring.

"Tidak boleh! Kau tidak boleh tidur di sini."

Hu Tiehua menjawab dengan tertawa.

"Siapa bilang tidak boleh? Walaupun ranjang ini agak keras, tapi besar sekali."

Ia membalikkan badan dan menggelinding masuk ke bawah meja, dan segera terdengar bunyi dengkur.

Pegawai yang tertidur itu terbangun, tapi belum berkata-kata apaapa, Chu Liuxiang sudah melemparkan sebuah uang perak pada dia, yang menyebabkan ia duduk dan tertidur lagi.

Chu Liuxiang sungguh merasa malas jika mesti berjalan sambil memanggul seorang pemabuk berat, dan telah menentukan untuk bermalam di sini -Ia tidak kuatir Hu Tiehua bisa masuk angin, sebab bagi Hu Tiehua tidur di lantai adalah satu hal yang biasa.

Ia tidak memberi penjelasan pada pegawai itu.

Yang memberi penjelasan adalah uang perak itu Dengan jelas dan'efektif!' Dari jauh terdengar bunyi kentongan jam 12 malam.

Chu Liuxiang menghela nafas panjang -Saat ini mestinya ia telah berhadapan dengan seorang gadis cantik!

Namun tiba-tiba ia melihat ada seorang gadis cantik berjalan masuk!

*** Pintu kedai arak ini sudah tertutup 7/8 bagian ---Artinya tempat usaha ini sudah tutup, mestinya tidak ada lagi orang yang masuk.

Sekalipun ada yang masuk, pasti seorang pemabuk, tidak mungkin adalah seorang gadis.

Namun sekarang yang masuk justru seorang gadis berusia 16-17 tahun!

Sekalipun kedai ini kecil, juga tersedia 7-8 meja, dan semuanya kosong, sekalipun gadis ini mau minum arak, harusnya tidak duduk di depan tempat duduk Chu Liuxiang.

Tetapi ia tidak duduk di tempat lain, malahan justru duduk di depannya Chu Liuxiang Seperti sudah janjian dulu!

Meskipun ia amat muda dan cantik, namun bukan Ai Qing atau Zhang Jiejie atau Jin Lingzi, juga bukan gadis lain yang pernah dikenal Chu Liuxiang.

Seumur hidupnya ia tidak pernah melihat gadis dan saat ini mau tidak mau ia melihatnya.

Gadis ini memelototkan matanya, wajahnya sedikit merah padam.

Sepertinya sedang dongkol pada seseorang.

Tiba-tiba ia mengulurkan tangan untuk mengangkat guci.

Tentu saja guci itu kosong.

Bagaimana bisa guci yang ada di depan Hu Tiehua tidak kosong?

Ia mengerutkan alisnya, lalu berkata dengan suara keras.

"Pelayan! Antarkan arak lagi, 10 kati arak!"

Pegawai itu telah terbangun, dan sejak tadi melihat dengan curicuri, namun tangannya masih menggenggam uang peraknya Chu Liuxiang.

Maka ia segera mengantarkan 10 kati arak.

Di meja ada sebuah mangkok besar Hu Tiehua selalu minum arak dengan mangkok besar.

Gadis remaja ini juga memakai mangkok ini untuk isi arak sampai penuh, kemudian mengangkat lehernya.

"Glek-glek-glek, semangkok arak diminum habis hanya dalam satu tegukan!"

Chu Liuxiang melihat terus dengan tenang dan tidak bersuara.

Ia memang senantiasa memiliki pikiran yang tenang.

Namun ketika si gadis remaja ini mulai minum arak mangkok kedua, ia terpaksa membuka mulutnya.

Sebelum berbicara kepada seorang gadis, ia selalu akan tersenyum lebih dulu.

Maka ia berkata seraya tersenyum.

"Minum arak dengan cara begini, segera akan jadi mabuk lho!"

Si gadis berkata sambil mendelik.

"Mabuk ya mabuk! Siapa yang tidak pernah mabuk? Apakah kau tidak pernah mabuk?"

"Apakah kau melihat orang yang berada di bawah meja itu?"

"Aku bukan orang buta!"

"Apakah kau tidak takut menjadi serupa dengan dia? Tidak sedap dipandang lho!"

"Aku tidak takut! Aku memang bermaksud mabuk, makin mabuk makin baik."

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum "Apakah kau tidak takut aku akan bertindak 'macam-macam padamu?"

"Memang aku datang untuk diperlakukan macam-macam olehmu! Kau boleh melakukan apa saja!"

Saat ini Chu Liuxiang benar-benar terkesiap! Dengan tidak sabar ia mengelus-elus hidungnya dan bergumam.

"Kau kenal aku?"

"Tidak kenal."

"Sepertinya aku pun tidak pernah melihatmu"

"Memang tidak pernah."

Chu Liuxiang berkata dengan suara lembut.

"Lalu kenapa kau mau membiarkan orang lain bertindak macam-macam padamu?"

"Sebab aku bukan orang!"

Chu Liuxiang tidak kuasa menahan ketawanya dan berkata "

Bukan orang? Lalu apa?"

"Aku adalah 500 tael uang perak!"

Akhirnya Chu Liuxiang jadi paham, lalu berkata sambil menghembuskan nafasnya panjang-panjang.

"Ternyata Ai Qing yang suruh kau kemari!"

"Ia adalah kakakku. Aku bernama Ai Hong."

"Kakakmu di mana?"

Ai Hong minum lagi semangkok arak, kemudian bertanya sambil tersenyum.

"Cantikkah aku?"

Senyumnya lebih manis dari senyum kakaknya! Mau tidak mau Chu Liuxiang menganggukkan kepala dan berkata.

"Amat cantik."

Ai Hong berkata sambil mengerlingkan mata "Aku tahun ini baru berusia 16 tahun, masih belum terlalu tua kan?"

Seperti bunyinya syair Tionghoa.

"Gadis rupawan yang berusia 16-18 tahun itu bagaikan sekuntum bunga."

Ia tepat pada "usia bunga!"

Chu Liuxiang menggelengkan kepala dan berkata.

"Tidak tua."

Ai Hong berkata sambil membusungkan dadanya.

"Tentu saja kamu bisa melihat bahwa aku sudah bukan anak kecil lagi kan?"

Chu Liuxiang tidak ingin melihat, namun tidak kuasa menahan dirinya untuk tidak melihat, lalu berkata seraya tersenyum.

"Aku pun bukan orang buta."

Ai Hong menggigit bibirnya, tiba-tiba minum semangkok arak lagi. Wajahnya merona, dan berkata. Apakah kamu percaya bahwa aku masih perawan?"

Sebenarnya Chu Liuxiang sudah tidak mau minum arak lagi, namun sekarang segera menuang semangkok arak dan diminum dengan cepat, hampir saja arak menyembur dari hidungnya!

Ai Hong berkata seraya memelototkan matanya.

"Kalau tidak percaya, boleh periksa!"

Chu Liuxiang cepat-cepat berkata.

"Aku percaya, amat percaya!"

"Pantaskah aku bernilai 500 tael uang perak?"

"Pantas! Amat pantas!"

"Jika begitu buat apa kamu mencari kakakku? Bukankah ia telah membayar 500 tael uang perak?"

"Ia tidak berhutang padaku."

"Dikarenakan sudah ia sanggupi, maka harus dilunasi ia tidak punya 500 tael uang perak, makanya suruh aku melunasi hutang. Walaupun kami kakak beradik adalah orang miskin, namun tidak pernah berhutang pada orang!"

Lingkaran matanya Ai Hong mulai memerah---Tidak tahu karena sedih atau karena lima mangkok arak, sebab ia telah minum habis arak mangkok kelima. Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas.

"Bolehkah aku minta kamu menyanggupi satu hal?"

"Tentu, apa pun juga boleh!"

"Kamu pulang dan beritahukan kakakmu...."

Ai Hong memotong kata-katanya.

"Kamu suruh aku pulang?"

Chu Liuxiang menganggukkan kepalanya. Ai Hong berkata dengan air muka yang berubah.

"Kamu tidak mau aku?"

Kata Chu Liuxiang sambil tersenyum masam.

"Kamu bukan 500 tael uang perak."

"Baik!"

Ai Hong mendadak berdiri, mengeluarkan sebilah pisau, lalu menikam ke ulu hatinya sendiri!

-Ia menikam sungguhan!

Jikalau Chu LiuXiang adalah orang lain, maka ia pasti mati, untung Chu Liuxiang bukan orang lain, begitu tangan si gadis bergerak, ia telah berada di sisinya dan mencengkeram tangan Ai Hong.

Tubuh Ai Hong mendadak jadi lemas, lalu berbaring dengan lemas di pangkuan Chu Liuxiang, satu tangannya yang lain merangkul leher Chu Liuxiang, sambil berkata dengan suara tergetar.

"Bagian manaku yang tidak baik? Mengapa kamu tidak mau aku?"

Hati Chu Liuxiang jadi sedikit "lunak"

Lalu berkata.

"Mungkin disebabkan kamu datang bukan karena kerelaan mu sendiri."

"Siapa bilang aku datang bukan kerelaanku sendiri? Jika bukan karena aku pernah melihatmu dan jatuh hati padamu, bagaimana aku mau datang?"

Tubuhnya harum dan empuk, nafasnya hangat dan wangi!

Di dalam pelukan seorang pria ada seorang wanita semacam ini, jikalau hatinya tidak bisa tergerak, maka ia pasti bukan pria yang sejati!

Chu Liuxiang adalah pria -Pria tulen.

Ai Hong berkata dengan agak terengah-engah.

"Bawalah aku pergi, aku tahu di sekitar sini ada suatu tempat yang tidak ada orang lain..."

Badannya menggeliat-geliat di dalam pelukan Chu Liuxiang, tibatiba kakinya menekuk, lalu menendang ke arah kaki Chu Liuxiang.

Tendangannya ringan sekali ---Kebanyakan gadis, ketika lagi bermanja-manjaan, bukan saja dapat mencubit dan memukul, bahkan juga dapat menendang.

Pria yang tertendang bukan saja tidak merasa sakit, bahkan bisa amat gembira, namun kali ini Chu Liuxiang tidak merasa gembira sama sekali!

Sebab ketika Ai Hong menendang, dari dasar sepatunya tiba-tiba melenting keluar sebagian ujung pisau!

Sepatu yang dikenakannya berwarna merah muda, tapi ujung pisau itu berwarna hijau pucat mirip dengan warna gigi ular derik!

Ujung pisau itu amat kecil, jika mengenai tubuh manusia, rasanya seperti ditusuk jarum dan tak akan sakit.

Jikalau anda tergigit ular derik, anda pun tak akan merasa sakit -Anda bahkan selama-lamanya tak akan punya rasa apa-apa lagi, sebab anda sebentar lagi akan mati!

*** Chu Liuxiang tidak mati.

Ketika Ai Hong menendang, tiba-tiba ada sebuah tangan yang terjulur dari bawah meja dan menangkap kakinya!

Tubuh Ai Hong yang harum dan empuk itu segera mengeras.

Sepertinya Chu Liuxiang tidak terasa apa-apa, di kakinya kan tidak bertumbuh mata.

Namun tiba-tiba ia tersenyum, dan berkata sambil menatap wajahnya Ai Hong.

"Mengapa kita mesti ke tempat lain? Di sini kan ada sebuah ranjang? " -Wajah Ai Hong sudah jadi pucat, tapi berkata sambil tersenyum paksa.

"Mana ranjangnya? Kok aku tidak melihatnya?"

"Kau sekarang berdiri di ranjang itu."

Sambung Chu Liuxiang dengan tersenyum "Makanya lain kali ketika kamu mau menendang orang, lebih baik lihat dulu dengan jelas, apakah kau sedang berdiri di ranjang orang lain?"

Ai Hong berkata seraya menghela nafas.

"Kalau tahu ada sebuah ranjang, barangkali sejak tadi aku sudah berbaring."

Mendadak ada seorang yang berkata sambil tertawa dari bawah meja.

"Kamu sekarang mau berbaring masih sempat kok!"

Ai Hong berkata seraya mengedipkan matanya.

"Kawanmu ini tidak sopan, bukan saja menggoda aku, bahkan mengelus-elus kakiku!"

Kata Chu Liuxiang sambil tersenyum "Tidak apa-apa, aku telah menyerahkan kakimu padanya, yang aku urus cuma tanganmu."

Ai Hong berkata sambil tertawa cekikikan.

"Kau ini pandai mengambil keuntungan! Kau pilih dulu yang wangi, yang berbau kau berikan pada orang lain...."

Badannya tiba-tiba melompat ke belakang, lalu bersalto di udara dan dengan cepat sekali telah melesat keluar pintu, terakhir yang terlihat Chu Liuxiang ialah sebuah kaki yang tidak bersepatu.

Terdengar bunyi tertawa dan kata-katanya.

"Karena kamu suka sepatuku, aku tinggalkan padamu sebagai kenang-kenangan!"

Secara pelan-pelan Hu. Tiehua merangkak keluar dari bawah meja, tangannya memegang sebuah sepatu yang berwarna merah muda. Chu Liuxiang bertanya sambil tersenyum.

"Bau tidak?"

Hu Tiehua menyodorkan sepatu itu ke depan hidung Chu Liuxiang dan berkata.

"Kenapa kau tidak menciumnya sendiri?"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum "Ini kan merupakan pemberian dia padamu, seharusnya kau sendiri yang menikmatinya, kenapa kau sungkan-sungkan?"

Hu Tiehua berkata dengan dongkol.

"Kenapa tadi aku tidak biarkan saja ia menendangmu? Orang semacam kamu mati satu kurang satu!"

Namun ia menyambung kata-katanya sambil mengerutkan alis.

"Kadang-kadang aku sungguh tidak paham, kenapa kau tidak matimati juga? Apakah karena nasibmu luar biasa baik?"

"Mungkin disebabkan aku amat memahamimu, tahu kamu suka mengelus kaki wanita."

Hu Tiehua berkata seraya mendelik.

"Apakah kau betul-betul tahu bahwa sejak tadi aku telah bangun?"

"Barangkali nasibku betul-betul lebih baik dari orang lain"

Hu Tiehua mendelikkan mata, lama sekali baru berkata seraya menghela nafas.

"Kelihatannya kau memang sedang "bernasib bunga persik", dan itu semacam "bernasib bunga persik"

Yang luar biasa!"

"Semacam apa?"

"Semacam yang dapat merenggut nyawa Seseorang kalau sudah kena, tidak sampai setengah bulan, nyawanya akan melayang!"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum masam.

"Betulkah ada 'nasib bunga persik' yang merenggut nyawa?"

Hu Tiehua berkata dengan wajah serius.

"Tentu saja ada, bahkan ketika itu datang, kau tidak berdaya menghindatinya!" *** Chu Liuxiang punya satu prinsip. Jika telah tahu ada satu masalah yang tak dapat dihindari,maka ia tak kan menghindarinya. Ketika anda mau mencari dia, seringkali malahan dia yang mencari anda duluan. Di dalam taman bunga itu lengang sekali. Betapa ramainya suatu pesta, toh juga ada saat bubarnya. Tamu-tamu yang mengucapkan selamat sudah bubar semua, di perjalanan pulang mereka pasti sedang mengagumi rejeki dan kebahagiaan Nyonya Besar Jin, bahkan mungkin banyak yang iri. Tapi bagaimana dengan Nyonya Besar Jin sendiri? Ia telah berusia 80 tahun, boleh dikata sudah masuk babak akhir kehidupannya, kemuliaan dan kekayaan yang luar biasa besarnya itu, dalam waktu singkat akan berlalu! Sekalipun ia masih bisa hidup 20 tahun lagi, namun waktu-waktu yang terindah dari hidupnya telah berlalu, selain kenang-kenangan masa lampau, apa yang masih bisa benar-benar ia nikmati? Chu Liuxiang memandang ke taman besar namun sepi lengang itu, perasaan hatinya tiba-tiba jadi suram. Jikalau semuanya sampai pada akhirnya akan sirna bagaikan mimpi, lalu untuk apa semua jerih payah perjuangan? Tetapi Chu Liuxiang bukanlah orang yang pesimis dan pasif, ia memahami lebih banyak. Arti hidup memang terdapat di dalam perjuangan! Ia tidak mesti menunggu untuk menikmati hasil perjuangan Perjuangan sendiri itulah kesukacitaan dan semacam kenikmatan! Ini sudah cukup untuk mengganti semua yang dikeluarkan bahkan yang dikorbankan! Maka sewaktu anda meluku sawah dan menyiangi rumput, tidak usah menanti hasilnya, asalkan anda melihat tanah yang sudah terluku, dan batu-batu serta rumput-rumput liar yang sudah tersiangi, maka anda akan merasa bahwa peluh yang dikeluarkan itu tidak sia-sia. Anda akan bisa merasakan adanya semacam kepuasan yang tak terucapkan! Asalkan anda dapat membuktikan bahwa anda bukanlah orang yang tidak berguna, berapa pun peluh yang anda kucurkan, semuanya adalah berharga. Inilah arti hidup -Hanyalah orang yang memahami ini yang dapat sungguh-sungguh menikmati hidup dan berbahagia! Selama ini Chu Liuxiang memang menikmati hidup dan berbahagia. Ia mengangkat kepala dan menghembuskan nafas panjang-panjang. Berapa lama pun hidup seseorang, asalkan ia benar-benar punya sejumlah hal yang pantas dikenang, boleh dibilang tidak sia-sia hidupnya! Ia seharusnya sudah bisa puas. Gunung-gunungan lebih gelap dari tempat lain. Dari jauh Chu Liuxiang telah melihat ada seorang yang berdiri tenang di sana. Ia berjalan menuju ke sana, orang ini membelakanginya, mengenakan mantel yang panjangnya sampai ke tanah, rambut yang lembut dan halus terurai dari pundak, hitamnya bagaikan sutera. Kelihatannya ia sama sekali tidak merasa ada orang yang mendekatinya. Chu Liuxiang berbatuk ringan dan berkata.

"Nona Ai Qing?"

Ia tidak menoleh, cuma berkata dengan dingin.

"Ternyata kau menepati janji juga."

"Aku datang terlambat, tapi aku tahu kau masih menungguku."

Ia tetap tidak menoleh, dan berkata dengan tertawa dingin.

"Kamu punya keyakinan yang amat besar pada dirimu sendiri ya!"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum sekilas.

"Seseorang kalau diri sendiri saja tak dapat dipercayai, lalu masih dapat mempercayai siapa?"

Tiba-tiba ia tertawa dan menolehkan kepalanya pelan-pelan. Chu Liuxiang menjadi tercengang Senyuman gadis ini bagaikan bunga musim semi yang lagi mekar, tapi ia bukan Ai Qing. Tanpa sadar ia berkata.

"Zhang Jiejie."

Zhang Jiejie mengedipkan matanya, dan semua bintang di langit seolah-olah berada di dalam matanya! Zhang Jiejie berkata sambil tersenyum menawan.

"Kenapa kamu mesti memanggil aku kakak? Sekali-sekali panggil aku adik dong! Aku tak'akan marah kok!"

Chu Liuxiang mengelus-elus hidung, lalu berkata Apakah kamu sedang menunggu aku?"

"Masa' cuma Ai Qing saja yang boleh menunggumu? Lalu aku tidak boleh?"

Ia menyambung kata-katanya dengan senyuman menawannya.

"Orang yang panjang sabar baru bisa memperoleh hasilnya.

"Pernahkah kau mendengarnya?"

"Pernah."

"Aku lebih panjang sabar dari dia."

Ia menatap Chu Liuxiang, sinar matanya remang-remang, seremang cahaya bintang-bintang yang terpantul dari dalam air laut! "Apakah kau sudah menunggu lama?"

Zhang Jiejie mengerlingkan matanya dan berkata.

"Apakah kau ingin bertanya padaku, apakah tadi aku melihat dia?"

"Aku tidak bertanya, tapi jika kau mau mengatakannya, akan aku dengar."

"Aku tadi memang telah melihat dia, juga tahu ia sekarang ada di mana, tapi...."

Ia mengedipkan mata, lalu berkata.

"Aku tidak mau memberitahumu."

"Mengapa?"

Sebenarnya ia tak perlu bertanya, namun seorang pria kadangkadang terpaksa berpura-pura bloon di depan wanita. Tetapi jawaban Zhang Jiejie di luar dugaannya, bahkan mengejutkannya.

"Aku tidak mau memberitahumu, sebab aku tidak mau melihat kau mati!"

"Menurutmu ia mau membunuh aku?"

"Apakah kau tidak merasa bahwa dalam dua hari ini tiba-tiba kau mengenal banyak gadis?"

"Oh ya?"

"Tahukah kau bahwa orang yang 'bernasib bunga persik' adalah orang yang bernasib sial?"

Chu Liuxiang berkata sambil tertawa.

"Aku yakin banyak sekali pria yang mau dan berharap dapat sial semacam ini!"

"Kau juga?"

"Aku kan pria."' Zhang Jiejie berkata seraya menghela nafas.

"Jadi kau pasti mau mencari Ai Qing?"

"Aku telah berjanji dengan dia."

Zhang Jiejie menatap dia, lalu berjalan mendekat, mendadak membuka mantelnya, lalu memeluk dia dengan mantelnya!

Chu Liuxiang tidak bergerak, namun bisa merasakan tubuh yang hangat dan mulus itu sedang gemetar!

Ternyata di balik mantel itu dia tidak mengenakan apa-apa!

Ia menggesekkan dirinya dengan pelan di dada Chu Liuxiang dan berkata.

"Kau menginginkan aku atau Ai Qing?"

Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas.

"Wanita yang cerdas tidak seharusnya bertanya demikian."

"Aku tidak cerdas, semua wanita yang tergila-gila karena cinta itu tidak cerdas!"

"Tetapi aku amat menepati janji."

"Tidak takut ia membunuhmu?"

Chu Liuxiang berdiam diri, dan diam itu biasanya ialah jawabannya.

Zhang Jiejie tiba-tiba mendorong tubuh Chu Liuxiang dengan kuat agar menjauh, lalu membalut tubuhnya dengan mantel.

Bahkan Chu Liuxiang pun mau tidak mau terasa agak kecewa!

Zhang Jiejie mendelik ke arah dia, lama sekali, lalu berkata dengan suara keras.

"Baik, matilah kau!"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.

"Pergi ke mana untuk mati?"

Ia menggigit bibirnya dan berkata.

"Terserah kau mau pergi kemana untuk mati! Aku tidak tahu, tahu pun tidak memberitahumu!"

Mendadak ia memutar badannya dan berlari pergi, menyisakan Chu Liuxiang seorang diri yang hanya bisa tersenyum masam di dalam kegelapan.

Gadis belia yang berusia 17-18 tahun!

Siapa yang dapat mengerti hati mereka?

Ia mendengar bunyi angin, mengangkat kepalanya dan terlihat bahwa tiba-tiba Zhang Jiejie telah berdiri tidak jauh dari dia, wajahnya tersungging senyuman bagaikan bunga musim semi yang lagi mekar!

Seolah-olah barusan tidak terjadi apa-apa.

Ia berkata seraya tersenyum menawan.

"Aku suka pria yang tepat janji, cuma berharap kau jangan merasa terlalu cerdas!"

Ia menatap dengan perasaan cinta yang dalam, kemudian mengangkat tangannya dan menunjuk ke kejauhan dan berkata.

"Ia ada di sana."

Tempat yang ia tunjuk ternyata ada sinar lampunya.

Sepertinya ia mengetahui dengan jelas sekali tentang gerak-gerik Ai Qing.

Walaupun Chu Liuxiang merasa heran, tapi tidak bertanya, sebab amat jarang ia menanyakan rahasia orang lain.

Apalagi itu rahasia seorang wanita.

Zhang Jiejie bertanya.

"Apakah kau suka wanita yang pakai anting-anting?"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.

"Tergantung itu siapa, ada wanita yang pakai atau tidak pakai anting-anting sama saja menariknya!"

"Ia memakai anting-anting."

"Oh."

Zhang Jiejie berkata pelan-pelan.

"Ada sejumlah wanita berubah menjadi amat mengerikan begitu pakai anting-anting! Lebih baik kau ekstra hati-hati!" *** Di dalam taman sangat gelap, sebab sinar lampu yang tersisa sudah tidak banyak. Sinar lampu ini berada di luar taman. Di atas lereng bukit yang berada di luar taman itu, terdapat 3-5 buah rumah kecil, dan sinar lampu itu muncul dari jendela salah satu rumah.

"Ada sejumlah wanita berubah menjadi amat mengerikan begitu pakai anting-anting!"

Apakah di dalam kalimat ini terkandung arti mendalam yang lain?

Chu Liuxiang mendaki lereng bukit itu, lalu melompat ke dalam pagar.

Biasanya ia seorang yang mengerti sopan santun, sebelum masuk rumah orang, mesti mengetuk pintu dulu.

Tapi kali ini sopan santunnya mendadak lenyap.

Ia langsung mendorong pintu dan masuk, ia segera melihat ada sepasang anting-anting yang berwarna hijau zamrud.

Ai Qing memang berada di dalam rumah kecil itu.

Ada lampu berada di atas sebuah meja, ia duduk di sisi meja itu, anting-anting zamrud yang ada di telinganya itu berkerlap-kerlip terkena sinar lampu.

Ketika ia melihat Chu Liuxiang berjalan masuk, di wajahnya tidak nampak rasa terkejut, hanya berkata dengan sikap dingin.

"Ternyata kau menepati janji juga."

"Aku datang terlambat, tapi aku tahu kau masih menungguku."

Ai Qing berkata seraya tertawa dingin.

"Kamu punya keyakinan yang amat besar pada dirimu sendiri ya!"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.

"Seseorang kalau diri sendiri saja tak dapat dipercayai, lalu masih dapat mempercayai siapa?"

Ia tersenyum, sebab ini betul-betul sebuah hal yang amat lucu!

Di dalam dunia ada bermacam-macam wanita yang tidak sama, namun ada sejumlah reaksi yang hampir persis sama sewaktu menghadapi orang pria, oleh sebab itu kadang-kadang mereka bisa mengucapkan kata-kata yang sama.

Maka kaum pria cuma bisa menjawab dengan kata-kata yang sama.

Ai Qing mendelik ke arahnya, lama sekali baru berkata seraya tersenyum "Aku juga tahu bahwa kau pasti datang."

"Oh ya?"

"Sebab aku tahu bahwa pria macam kau ini selalu tidak mau melepaskan peluang apa pun!"

"Kau amat memahamiku ya?"

Ai Qing berkata sambil mengedipkan matanya.

"Aku juga tahu bahwa yang kamu maui sebenarnya bukan 500 tael uang perak itu, kamu sengaja berkata begitu, hanya karena tak punya keyakinan padaku, lalu sengaja mau mengujiku."

Ia menatap Chu Liuxiang, lalu melanjutkan kata-katanya dengan perlahan-lahan.

"Sekarang kamu tak perlu lagi menguji, ya kan?"

Ia duduk dengan sopan, sikapnya pun amat serius -Persis seperti seorang murid kecil yang sedang duduk di depan guru.

Iapun merias dirinya dengan rapi, rambutnya pun tersisir rapi, bedak di wajahnya tidak tebal tidak tipis, bahkan anting-antingnya pun terpasang dengan rapi.

Namun satu-satunya benda yang terpakai di tubuhnya cuma sepasang anting-anting itu!

Selain sepasang anting-anting itu, ia tidak memakai apa-apa!

Seorang wanita kalau berdiri di depan anda dengan telanjang bulat bagaikan bayi yang baru lahir, tentu saja maksudnya sudah sangat jelas!

Ai Qing berkata lagi.

"Kamu tidak perlu menguji lagi, sebab seharusnya kamu sudah mengerti maksudku!"

Yang tidak mengerti maksud ini hanyalah orang idiot! Sepertinya Chu Liuxiang betul-betul telah berubah jadi idiot, mengelus-elus hidung lalu bertanya.

"Apakah kamu merasa panas sekali?"

Ai Qing masih dapat bersabar, lalu menjawab.

"Aku merasa dingin."

"Ya kan? Siapa pun tak akan merasa panas dalam cuaca semacam ini."

"Bahkan babi pun tak akan terasa panas."

"Betul! Kamu pasti ingin mandi ya?"

"Aku sudah mandi."

"Jika begitu, apakah kamu mengantarkan semua pakaianmu pada binatu, sehingga tidak ada pakaian lagi untuk dipakai?"

Ai Qing mendelik pada dia, rasa-rasanya ingin sekali meninju dan mematahkan seluruh giginya! Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas.

"Jika kau memang betul-betul tidak punya baju, aku dapat pergi mencari dan meminjamkan sebuah celana untukmu, paling tidak celana adik perempuanmu pasti bisa kau pakai kan?"

Tampaknya Ai Qing heran dan terkejut, lalu berkata.

"Adik perempuanku?"

"Kamu tidak menyangka kan bahwa aku telah bertemu dengan dia?"

"Kapan kau bertemu dengan dia?"

"Tadi."

"Kalau begitu tadi kau telah bertemu setan, setan kepala besar!"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum "Kepala dia tidak besar lho, walaupun dia adalah setan, juga bukan setan kepala besar, tapi setan arak!"

Mendadak Ai Qing berteriak.

"Tidak peduli kau ketemu setan apa, itu pasti bukan adikku!"

"Mengapa?"

"Aku tidak punya adik."

Chu Liuxiang bertanya sambil mengerutkan alis.

"Seorang adik pun tidak punya?"

"Setengah pun tidak punya!"

Chu Liuxiang memandang dia lama sekali, lalu bergumam.

"Tampaknya kau tidak seperti sedang berbohong."

"Mengapa aku mesti berbohong dalam hal ini?"

"Mungkin disebabkan kau suka berbohong, ada sebagian orang kalau lagi berbohong itu tidak kelihatan!"

Tiba-tiba Ai Qing meloncat dan melayangkan tamparan ke wajah Chu Liuxiang.

Tentu saja ia tidak berhasil, sebab Chu Liuxiang telah menangkap tangannya.

Mata Chu Liuxiang mulai memandang secara liar.

Dari wajah sampai ke kaki, lalu dari kaki sampai ke wajah lagi.

Ini adalah pandangan seorang seks-maniak tulen!

Tidak ada seorang wanitapun yang tahan dipandangi demikian oleh pria, sekalipun ia memakai 17-18 potong pakaian pun tidak bisa tahan!

Badan Ai Qing mulai mengkeret ke belakang, serta mulai menggigil.

Satu tangan yang tidak tertangkap itu pun tidak bisa dipakai untuk memukul, dikarenakan tangan ini terpaksa menutupi sebagian tubuh yang tidak terlalu "sedap dipandang"!

Namun mata Chu Liuxiang dengan sengaja memandang ke bagian itu!

Ai Qing bertanya sambil mengertakkan gigi.

"Kau...kau mau apa?"

Sebenarnya kalimat ini tidak usah ditanyakan, tapi seorang wanita kadang-kadang terpaksa pura-pura bodoh jika berhadapan dengan pria! Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.

"Aku hanya mau kau memahami dua hal."

"Ka katakan"

"Pertama. Aku bukan babi, tapi orang, laki-laki."

Ai Qing bertanya sambil mengedipkan mata.

"Yang kedua?"

Badannya kelihatan takut, wajahnya kelihatan takut, tapi matanya tidak kelihatan takut.

Bahkan tidak ada rasa takut sedikit pun di dalam matanya!

Chu Liuxiang menatap matanya, lalu berkata seraya tersenyum "Yang kedua.

Aku bukan pria sopan, kebetulan kau pun bukan wanita baik-baik."

Di wajah Ai Qing terlihat rasa amarah, tapi matanya mulai tersenyum, lalu berkata sambil menggigit bibir.

"Aku masih tahu satu hal."

"Oh ya?"

"Aku tahu kau artilah penakut!"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.

"Segera kau akan menyadari bahwa dirimu keliru, bahkan kelirunya luar biasa!"

Ai Qing berkata seraya mengerlingkan mata.

"Masa' kau berani berbuat sesuatu padaku?"

"Aku tidak berani."

Ketika mulutnya berkata.

"Tidak berani,"

Tangannya telah merangitul Ai Qin! Mendadak Ai Qing merasa badannya lemas semua, lalu berkata sambil menutup mata.

"Aku memang keliru, kau betul-betul berani...."

Kata-katanya belum habis, tiba-tiba ia merasa jantungnya seperti mau copot, dan merasa kakinya tidak menginjak apa-apa, seperti ia jatuh dari tempat yang amat tinggi dalam sebuah mirnpi buruk!

Segera ia sadar ini bukan lagi mimpi, karena badannya memang terjatuh dari angsa ke lantai, sampai mau pingsan!

Ketika matanya tidak lagi berkunang-kunang, ia melihat Chu Liuxiang tersenyum dan mendengar kata-katanya.

"Kau tidak keliru, aku betul-betul tidak berani."

Ai Qing tiba-tiba melompat berdiri, setiap barang yang ada di dekatnya Seperti bangku, cangkir teh dan lain-lain, semuanya dipakai untuk menimpuk Chu Liuxiang.

Semua barang yang ditimpuk telah terpegang oleh Chu Liuxiang.

Setelah tidak ada lagi barang yang bisa ditimpuk, ia menimpukkan dirinya sendiri!

Dan ini pun terpegang oleh Chu Liuxiang.

Ia bukan babi, juga bukan malaikat."

Ia pun, sama dengan pria yang lain kadang-kadang juga tidak tahan godaan dan hatinya juga bisa tergerak!

Kali ini ia benar-benar memeluknya!

Tiba-tiba ia merasa bahwa---Bagaimanapun juga--Ai Qing layak dianggap sebagai seorang gadis yang sangat menarik!

Nafas Ai Qing sedikit terengah-engah, lalu berkata seraya menghela nafas.

"Aku sekarang baru paham kenapa ada banyak orang yang mau membunuhmu."

"Banyak orang? Siapa saja?"

"Orang lain aku tidak tahu, aku cuma tahu satu orang."

"Siapa?"

"Aku."

"Kau? Kau mau bunuh aku?"

"Jika tidak kenapa aku menggodamu dengan cara ini? Masa' aku mengidap penyakit gila lelaki?"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.

"Kelihatannya memang sedikit mirip."

"Huuh!"

Ai Qing mendengus, meronta-ronta, mau mendorong dan memukul Chu Liuxiang.

Dorongannya tidak berhasil, pukulannya pun tidak kena.

Chu Liuxiang sangat memahami caranya agar wanita yang dipeluk tidak bisa melepaskan diri!

Bahkan segala cara pun ia paham!

Nafas Ai Qing kian memburu, tiba-tiba berkata "Hati-hati pada anting-antingku!"

"Anting-antingmu?"

"Kau tidak boleh menyentuhnya!"

"Mengapa?"

"Di dalam anting-anting terpasang jarum-jarum berbisa, jika kau menanggalkan anting-antingku, jarum-jarum berbisa itu akan melesat dan menusuk jari tanganmu!"

Ai Qing melanjutkan kata-katanya sambil menggigit bibirnya.

"Ketika pria mau bermain cinta dengan wanita, semuanya pasti mau menanggalkan benda apa saja yang melekat di tubuh wanita, betul tidak?"

Betul, pada saat semacam ini, semua pria berharap tidak ada satu benda pun yang melekat di tubuh wanita!

Sebab pada saat ini, benda apa pun juga berlebihan, bahkan menjengkelkan!

Chu Liuxiang memandang anting-anting itu dan berkata.

"Apakah bisanya amat ganas?"

"Bisa dari satu jarum saja sudah dapat membunuh seekor gajah besar!"

Chu Liuxiang menghela nafas, lalu berkata seraya tersenyum masam.

"Tidak heran jika ada orang memberitahukanku, bahwa ada wanita begitu pakai anting-anting langsung berubah menjadi sangat menakutkan!"

Ia tidak menunggu jawaban Ai Qing, lalu bertanya "Kamu kan datang mau bunuh aku, mengapa malah memberitahukanku hal ini padaku?"

Ai Qing menutup lagi matanya, menghela nafas yang amat panjang,baru berkata.

"Karena...karena apa aku sendiri juga tidak mengerti, barangkali, karena aku betul-betul mengidap penyakit gila lelaki!"

Wajahnya memerah lagi, tapi ini malah menambah kecantikannya!

Wajahnya merah dan panas, tetapi ujung hidungnya dingin bagaikan es!

Ketika bibir seorang pria menyentuh ujung hidung wanita, jikalau hatinya masih tidak tergerak, maka ia lebih dungu dari idiot!

Lebih tepat lagi ia adalah sebongkah kayu -kayu yang mati!

Chu Liuxiang bukan kayu yang mati.

*** Di ujung hidung yang dingin bagaikan es itu ada butiran-butiran keringat yang kecil-kecil, mirip sekali dengan butiran-butiran embun yang berada di kuntum bunga.

Butiran-butiran embun itu manis rasanya, juga harum.

Sinar lampu hampir redup, sinar fajar telah masuk melalui jendela, dan di ambang jendela ada sepasang anting-anting yang berwarna hijau zamrud.

Ai Qing berbaring dengan tenang, sambil terus memandangi Chu Liuxiang.

Tubuh Chu Liuxiang tegak dan kencang Seperti terpahat dari sebongkah batu giok yang utuh.

Matanya bening bagai mata seorang bayi yang polos, dari sudut mulutnya tercermin bahwa ia adalah orang optimis yang penuh rasa percaya diri!

Ia benar-benar seorang pria yang amat menarik!

Yang pantas disenangi banyak wanita!

Saat ini di wajahnya ada semacam ekspresi merenungkan, memandang sepasang anting-anting itu dengan konsentrasi.

Ketika Ai Qing menanggalkan anting-anting itu, tangan Ai Qing sendiri juga bergemetaran tak henti-hentinya!

Mendadak Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas.

"Aku mengetahui banyak cara membunuh orang, namun membunuh orang dengan anting-anting, betul-betul luar biasa!"

Ia melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum sejenak.

"Seandainya aku benar-benar mati, pasti akan sangat menarik!"

"Mengapa menarik?"

"Sebab aku pasti adalah orangpertama di dunia yang mati terbunuh oleh anting-anting!"

Ai Qing mengedipkan matanya dan berkata.

"Jika tidak ada orang yang memberitahukanmu, barangkali sekarang kamu sudah mati!"

"Apakah kau kira dengan cara ini pasti bisa membunuhku?"

"Menurutmu bagaimana?"

Chu Liuxiang tersenyum sebentar, lalu menjawab.

"Dari dahulu ada banyak orang yang ingin membunuhku, dan mereka semuanya memakai cara-cara yang menurut anggapan mereka pasti bisa membunuhku!"

"Akhirnya?"

"Paling tidak saat ini aku belum mati kan?"

Ai Qing memandang lekat padanya, tiba-tiba wajahnya memerah lagi, lalu berkata seraya menggigit bibirnya.

"Kau memang belum mati, akulah yang hampir mati!"

Ini adalah kata-kata yang dapat membuat pria mana pun menjadi bangga dan sombong setelah mendengarnya! Tampaknya Chu Liuxiang tidak dengar, tiba-tiba bertanya.

"Siapakah yang memasangkan anting-anting ini untukmu?"

"Mengapa bertanya demikian?"

"Sebab orang yang memasangkan anting-anting untukmu itu adalah orang yang betul-betul mau membunuhku!"

"Kau ingin mencari dia?"

"Tidak."

"Betul-betul tidak?"

"Sebab aku tidak perlu mencari dia, ia pasti akan mencariku."

Ai Qing berdiam diri cukup lama, lalu menganggukkan kepala dan berkata.

"Ia juga tahu bahwa belum tentu aku sanggup membunuhmu, karena itu selain aku, pasti ada banyak orang lagi."

"Siapa saja?"

"Kaum wanita."

Chu Liuxiang berkata sambil tersenyum.

"Apakah ia amat mempercayai kaum wanita? Apakah ia mengira bahwa kaum wanita lebih mengerti dalam urusan membunuh orang dibanding kaum pria?"

"Barangkali disebabkan ia mengetahui titik lemahmu!"

"Titik lemahku?"

Sudut mulut Ai Qing tersungging senyum, dan berkata "Setiap orang di dunia persilatan mengetahui titik lemahmu! Satu-satunya titik lemah pendekar harum Chu adalah wanita! Apalagi wanita cantik!"

Chu Liuxiang menghela nafas yang amat panjang dan berkata. 'Ternyata kau sejak dini sudah tahu siapa aku."

"Orang yang tahu kamu bukan cuma aku seorang saja!"

"Tetapi aku masih belum tahu siapakah dia? Dan mengapa mau membunuhku?"

Ai Qing mengerling dan berkata.

"Apakah kamu ingin tahu?"

"Ingin sekali!"

Ai Qing tersenyum sejenak, lalu berkata sambil menghela nafas.

"Aku seharusnya tidak boleh memberitahukanmu, tapi...."

Kalimatnya belum selesai, tiba-tiba Chu Liuxiang memeluknya dan berguling menjauh.

Sebuah tangan tiba-tiba terjulur masuk dari luar jendela, antinganting yang berada di ambang jendela itu dijentikkan ke arah mereka!

Sepertinya Chu Liuxiang terus menatap Ai Qing, dan tidak melihat ke tempat lain.

Namun ia bisa melihat tangan itu.

Sebuah tangan yang mulus dan indah, di kuku jari tangan itu tampaknya dipolesi cairan bunga inai air yang mencolok warnanya!

Kuku jari tangan yang berwarna merah menyala, anting-anting yang berwarna hijau zamrud.

Cahaya matahari pagi menyinari ambang jendela itu.

Pada detik jari tangan itu dijentikkan, maka pemandangan yang mestinya amat indah itu berubah jadi pemandangan membunuh yang amat mengerikan!

Chu Liuxiang berguling sampai sudut rumah, baru berani menoleh.

Tangan itu masih berada di ambang jendela, dan sedang melambai ke arahnya!

Tiba-tiba Ai Qing bergemetaran, dan berkata dengan suara tergetar.

"Dia! Itu pasti dia!"

Badan Chu Liuxiang bergerak dengan cepat, sambil melemparkan lampu dian yang ada di meja itu keluar jendela, badannya juga ikut melesat keluar jendela.

Ternyata di luar pintu tidak ada orang, di luar jendela juga tidak ada orang.

Angin sedang berhembus ke daun pohon willow yang baru tumbuh, kabut pagi yang tipis melayang-layang di antara daun pohon willow, sebuah lampu dian tergeletak di bawah jendela---Ternyata lampu dian yang baru saja dilempar Chu Liuxiang.

Lalu orangnya ada di mana?

Chu Liuxiang mendesah panjang, tahu bahwa pada kali ini ia ketemu lagi dengan lawan yang amat menakutkan!

Tepat di saat ini, tiba-tiba dari sudut rumah depan muncul lagi sebuah tangan yang melambai-lambai dengan ringan ke arahnya, masih tetap tangan yang tadi itu, jari-jari tangan yang lentik dan indah, dan ujung jari-jari tangan yang merah menyala!

Dengan kecepatan yang tercepat Chu Liuxiang melesat ke sana ---Ia pernah meragukan banyak hal, bahkan pernah meragukan Tuhan, tetapi tidak pernah meragukan ilmu meringankan tubuhnya!

Bahkan belum pernah ada orang yang meragukan ilmu meringankan tubuh Chu Liuxiang!

Ilmu meringankan tubuh Chu Liuxiang tiada tanding di dunia, itu sudah tak perlu diragukan lagi, tetapi begitu ia sampai di sana.

"Orang itu"

Sudah tidak ada!

Di belakang rumah tidak ada pohon, hanya ada angin, yang berhembus dari lereng bukit.

Mendadak saja ia merasa bahwa anginnya amat dingin!

"Bukan aku yang mau dibunuh oleh tangan itu --Tapi Ai Qing!"

Dengan gerakan secepat anak panah yang baru dilepaskan ia kembali lagi, pintu masih terbuka, dengan cepat ia masuk ke dalam.

Di meja ada sebuah lampu dian.

Ternyata itu adalah lampu dian yang baru saja ia lemparkan keluar jendela!

Cuma ada lampu dian, tidak ada orang.

Cahaya matahari bersinar sampai ke sudut rumah, tapi Ai Qing telah lenyap!

Angin masuk dari luar pintu, dan terasa kian dingin.

Tangan Chu Liuxiang mulai basah oleh keringat, tapi tiba-tiba dari sudut matanya ia melihat ada sebuah tangan yang sama!

Tangan itu ada di ambang jendela, ujung jari tangan yang lentik, kuku jari tangan yang merah menyala.

Dengan gerakan secepat anak panah yang baru dilepaskan, ia melesat ke sana dan mencengkeram tangan itu.

Kali ini ia berhasil, tapi itu sebuah tangan yang amat dingin, bahkan rasa dingin itu dengan cepat menjalar dari ujung jari menuju ke jantung Chu Liuxiang.

Ia menarik dengan pelan, tangan itu segera saja terpegang olehnya.

Tapi hanya ada tangan, tidak ada orang.

Itu adalah sebuah tangan yang putus!

Yang dibacok putus oleh orang dari pergelangan tangan, dan masih mengeluarkan darah.

Tetapi begitu darahnya habis dan kering, tangan itu lambat-laun menjadi pucat dan kisut, persis seperti setangkai bunga segar tibatiba menjadi layu dan kering..Tangan Giok Pencabut Nyawa Andaikata anda melihat ada setangkai bunga segar menjadi layu di dalam telapak tangan anda, mau tidak mau di dalam hati akan ada perasaan menyayangkannya, bahkan bisa muncul semacam perasaan murung dan sedih yang tak kuasa terucapkan!

Sekalipun anda bukan tipe orang yang sentimentil, tetap saja anda akan merasa sayang pada bunga itu.

Mengapa kehidupan yang indah selalu saja begitu singkat waktunya?

Tetapi kalau yang anda lihat itu adalah sebuah tangan yang putus, melihat tangan yang semestinya amat indah itu tiba-tiba menjadi kisut dan kering, maka di dalam hati anda tidak hanya ada perasaan sayang dan murung, anda juga akan bisa memikirkan banyak hal.

Tangan ini milik siapa?

Dan siapakah yang telah membacoknya?

*** Tiba-tiba Chu Liuxiang menyadari bahwa tangan ini bukan tangan yang tadi melambai padanya, di punggung tangan ini terlihat satu bagian yang berwarna hitam kehijauan -bekas luka dipelintir orang.

Ia yakin bahwa pada tangan yang tadi itu tidak ada bekas luka ini.

Apakah tangan ini milik Ai Qing?

Tadi ia kurang memperhatikan tangan Ai Qing, sebab ada banyak sekali bagian tubuh si gadis yang lebih berharga diperhatikan!

Barangkali ini adalah tangan yang barusan meraba-raba dengan ringan di tubuhnya?

Tiba-tiba ia merasa tangan ini seolah-olah telah mencekik lehernya!

Ia memutar badan dan lari keluar, di luar sinar matahari telah menerangi semuanya.

Matahari pagi telah terbit di timur.

Sinar matahari adalah sesuatu yang amat ajaib, kadang-kadang bisa membuat orang sakit panas, tapi kadang-kadang bisa membuat orang menjadi dingin dan tenang.

Sejak dulu Chu Liuxiang memang menyukai sinar matahari, maka ia berdiri lama sekali di bawah sinar matahari pagi, berusaha sekuat tenaga agar di dalam otaknya tidak memikirkan apa-apa, sampai otaknya sudah menjadi tenang sama sekali, barulah urusan ini direnungkan sekali lagi dari permulaan.

Ia merenungkannya dengan amat teliti, setiap detail yang kecil pun tidak dilewatinya.

Urusan ini sebenarnya dimulai oleh Ai Qing, namun anehnya, yang paling banyak terpikirkan olehnya bukanlah Ai Qing, tapi Zhang Jiejie!

Ketika ia sedang memikirkan Zhang Jiejie, maka muncullah Zhang Jiejie!

Sepertinya gadis itu dapat kapan saja muncul di hadapannya!

*** Zhang Jiejie sedang berjalan turun dari lereng bukit itu.

Mulutnya sedang bersenandung sebuah lagu yang dan ceria, tangannya sedang memegang setangkai bunga kuning yang kecil, bunga kuning itu bergoyang-goyang ditiup angin pagi, baju kuning muda yang dikenakannya juga bergoyang-goyang ditiup angin.

Gadis-gadis lain yang sebaya dengannya, suka membuat baju yang pas di badan, bahkan kalau bisa, membuatnya lebih baik lagi dari sekedar pas, yaitu membuat dirinya kelihatan lebih langsing.

Tetapi ia berbeda.

Baju yang dikenakannya terlihat longgar dan kebesaran sedikit, namun ini malah membuat dia tampak anggun dan lemah-gemulai.

Kombinasi warna bajunya mungkin tidak sebaik Ai Qing, tapi kelihatan lebih bebas dan lepas, dan lebih terlihat kesan alami dan tidak dibuat-buat.

Gadis ini sama seperti lagu yang sedang disenandungkannya --riang ria dan menyenangkan!

Apalagi di pagi nan cerah di bulan Maret yang bersih tapi berhawa kering itu, dan di bawah sinar matahari pagi yang sejuk itu, siapa pun yang melihatnya, pasti menimbulkan perasaan nikmat dan gembira di hatinya!

Chu Liuxiang menatapnya.

Ia juga menatap Chu Liuxiang, di wajahnya tersungging senyum yang ceria, dan langkahnya ringan bagaikan angin musim semi.

Ia berjalan sampai di depan Chu Liuxiang, tiba-tiba berkata sambil tertawa "Selamat ya!

Selamat ya!"

Jawab Chu Liuxiang.

"Selamat? Ada urusan apa yang perlu diberi ucapan selamat?"

Kata Zhang Jiejie sambil terus tertawa "Masa' ketika kamu melihat seorang mempelai pria, tidak pernah mengucapkan selamat padanya?"

Sebelum Chu Liuxiang menjawab, ia sudah berkata lagi.

"Kau kelihatannya letih sekali, apakah baru saja mengerjakan pekerjaan yang berat?"

Ia melanjutkan sambil tertawa cekikikan.

"Pertanyaanku ini bodoh sekali ya! Mempelai pria tentu akan letih sekali! Mempelai pria mana pun ketika berada di dalam kamar pengantin pada malam pertama, pasti punya banyak pekerjaan yang mesti dikerjakan!"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.

"Namun itu bukanlah mengerjakan pekerjaan yang berat!"

"Tentu saja bukan."

Zhang Jiejie menggigit bibirnya, lalu berkata seraya tertawa "Yang merasa berat tentu saja bukan si pengantin pria, tapi si pengantin wanita."

Chu Liuxiang terpaksa hanya bisa tersenyum saja. Ketemu gadis yang amat "berani"

Ini, ia masih bisa berkata apa lagi? Zhang Jiejie mengedip-ngedipkan matanya, lalu bertanya.

"Di manakah si pengantin wanita? Masa' tidak mampu turun dari ranjang?"

"Aku sedang ingin bertanya padamu."

"Bertanya padaku? Bertanya apa?"

"Di manakah dia sekarang?"

Mata Zhang Jiejie menunjukkan rasa heran dan terkejut, lalu bertanya.

"Masa' dia sudah pergi?"

Chu Liuxiang menganggukkan kepalanya. Zhang Jiejie bertanya lagi.

"Kau tidak tahu dia pergi ke mana?"

Chu Liuxiang menggelengkan kepalanya. Kata Zhang Jiejie.

"Jikalau kau tidak tahu, bagaimana aku bisa tahu!"

"Sebab kau sepertinya tahu banyak hal tentang dia."

Kali ini tiba-tiba Zhang Jiejie berdiam diri. Chu Liuxiang menatapnya dan berkata dengan perlahan.

"Kau tahu dia mau membunuhku, dan tahu dia mengenakan sepasang anting-anting yang dapat membunuh orang."

Akhirnya Zhang Jiejie menganggukkan kepalanya. Tanya Chu Liuxiang.

"Selain itu, kau masih mengetahui apa lagi?"

"Apakah kamu beranggapan bahwa aku masih mengetahui hal yang lain?"

"Misalnya. Siapakah yang menyuruh dia datang untuk membunuhku? Dan mengapa mau membunuhku?"

Biji mata Zang Jiejie berputaran dan berkata.

"Bagaimana aku bisa mengetahui hal-hal tersebut?"

"Pertanyaan ini aku pun ingin bertanya padamu, apakah kau...."

Zhang Jiejie memotong kata-katanya "Masa' kau menduga bahwa aku sekomplotan dengannya?"

Chu Liuxiang tidak berkata ya, tapi juga tidak menyangkal, sikap ini umumnya sama dengan mengaku ya. Kata Zhang Jiejie.

"Jikalau betul, mengapa aku mau memberitahukanmu rahasia dia?"

"Jikalau tidak betul, bagaimana kau dapat mengetahui rahasianya?"

Zhang Jiejie terdiam lama sekali, tiba-tiba berjalan melewati Chu Liuxiang, dan masuk ke dalam rumah itu.

Di dalam rumah itu masih berantakan.

Benda-benda yang dipakai Ai Qing untuk menimpuki Chu liuxiang, masih berserakan di lantai, belum diberesi.

Mereka tidak punya waktu untuk memberesi.

Zhang Jiejie tertawa lagi dan berkata.

"Tempat ini kelihatannya persis sama dengan medan perang, mengapa kamar pengantin selalu...."

Suaranya mendadak berhenti, wajah senyumnya pun berubah.

Ia pun melihat tangan itu.

Chu Liuxiang terus menatapnya, dan memerhatikan ekspresi wajahnya, lalu segera bertanya "Apakah kau tahu tangan ini milik siapa?"

Nafas Zhang Jiejie seolah-olah telah berhenti, lama sekali baru berkata seraya mendesah.

"Ini bukan tanganku."

"Masa' ini tangan hantu?"

Zhang Jiejie berkata seraya menghela nafas.

"Ada apa yang perlu ditakutkan dari hantu? Kapankah kaupernah dengar bahwa hantu benar-benar telah membunuh orang? Tetapi ini adalah 'Tangan pencabut nyawa'!"

Chu Liuxiang berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Tangan pencabut nyawa?"

"Siapa pun kalau sudah melihat "tangan pencabut nyawa"

Ini, cepat atau lambat nyawanya akan tercabut!"

Ia melanjutkan lagi.

"Dengar kata orang bahwa "tangan pencabut nyawa"

Ini terdiri dari beberapa jenis, jenis yang terjelek saja dapat mencabut nyawa orang tidak lebih dari setengah bulan!"

"Kalau yang ini jenis apa?"

Zhang Jiejie berkata sambil menghela nafas lagi.

"Ini jenis yang terbaik!"

"Menurutmu, apakah tangan yang kelihatannya makin indah, ketika mencabut nyawa juga makin. cepat?"

"Sedikit pun tidak salah."

Chu Liuxiang menjadi tertawa. Zhang Jiejie berkata seraya mendelik.

"Apakah kau kira aku sedang menakut-nakutimu? Apa kau kira ini lucu? Nanti setelah nyawamu tercabut, mau tertawa pun sudah tidak bisa."

"Aku cuma ingin tahu dengan cara apa ia mencabut nyawa? Cara itu pasti amat menarik."

"Aku tidak tahu, tiada seorang pun yang tahu, karena yang tahu sudah masuk peti mati!"

"Tetapi kau tahu."

"Aku cuma tahu ini adalah "tangan pencabut nyawa."

"Apakah dulu kamu pernah melihatnya?"

"Aku hanya dengar kata orang."

"Siapa yang mengatakannya?"

"Seorang...seorang teman."

"Apakah temanmu itu tahu banyak hal?"

"Hal-hal yang aku beritahukan padamu, semuanya aku dengar dari dia."

"Sekarang dia ada di mana?"

"Apakah kau tahu sekarang waktu apa?"

"Waktu pagi."

"Pada waktu pagi, teman-temanmu biasanya ada di mana?"

Chu Liuxiang tertawa, sebab tiba-tiba is teringat pada Hu Tiehua, lalu berkata.

"Mereka ada kalanya sedang berbaring di dalam pelukan orang lain, ada kalanya berbaring di bawah meja di sebuah kedai arak kecil."

Zhang Jiejie pun tertawa, tapi segera menyeriuskan wajahnya dan berkata.

"Teman-temanku bukan si pemabuk, juga bukan si gila, mereka semuanya normal sekali, dan orang normal pada saat seperti ini tentu saja masih berada di rumah."

Kata Chu Liuxiang.

"Baiklah, kalau begitu marilah kita berangkat"

"Berangkat? Mau ke mana?"

"Tentu saja ke rumah dia."

Zhang Jiejie berkata seraya memelototkan matanya.

"Mengapa aku mesti membawa kamu pergi ke sana?"

Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum "Sebab jika kamu selalu tidak mau membawa aku pergi ke sana, aku bisa sedih sekali, disebabkan kamu adalah teman baikku, tentu saja tidak akan membuat aku sedih kan!"

Zhang Jiejie menggigit bibirnya, lalu berkata dengan geram.

"Aka sengaja tidak mau membawa kau pergi ke sana! Justru mau membuat kau sedih! Lebih baik kau mati karena mendongkol!" *** Tetapi dia pergi juga. Sewaktu seorang gadis berkata bahwa lebih baik anda mati karena mendongkol, seringkali maksudnya ialah ia suka anda! Tiada seorang pun yang lebih dapat memahami kebenaran ini dari pada Chu Liuxiang! Langit biru, awan putih, matahari baru terbit dan menyinari bunga-bunga merah dan daun-daun hijau, di atas daun-daun hijau masih terlihat embun-embun segar yang bening. Angin pun terasa segar dan harum, bak nafas gadis yang penuh kelembutan. Di pagi hari semacam ini, ada seorang gadis muda dan cantik yang menemani berjalan, berjalan di bawah langit biru dan awan putih, berjalan di antara bunga-bunga merah dan daun-daun hijau, tentu saja ini adalah hal yang amat menggembirakan! Tetapi hari ini Chu Liuxiang tidak terlalu merasa gembira, sebab punya perasaan sepertinya ada satu bayangan yang selalu mengikutinya. Bayangan sepasang tangan. Seolah-olah sepasang tangan itu dapat muncul kapan saja dan di mana saja dari dalam kegelapan, menjulur dan mencekik lehernya sampai mati! Sebaliknya Zhang Jiejie kelihatannya jauh lebih gembira dari dia. Tangan si gadis sedang memegang setangkai bunga liar yang berembun yang baru dipetiknya, dan mulutnya sedang bersenandung sebuah lagu daerah pegunungan. Ia muda dan cantik --Gadis yang semacam dia ini, mestinya tidak memiliki kerisauan. Barangkali ia sama sekali belum belajar untuk menjadi risau dan gundah-gulana. Sebuah gerobak yang ditarik bagal muncul dari belakang bukit, setengah gerobak itu terisi dengan selada yang warnanya sehijau zamrud. Yang menjalankan gerobak itu adalah seorang kakek yang sedang menghisap pipa rokok, rambut putihnya bergemerlapan bak perak di bawah sinar matahari. Dengan berlompatan Zhang Jiejie berjalan mendekati gerobak itu, lalu bertanya sambil tersenyum "Apakah paman tua mau pergi ke kota?"

Pada awalnya kakek itu menyipitkan matanya, tapi begitu melihat dia, tiba-tiba matanya bersinar, lalu berkata dengan lantang.

"Betul! Mau pergi ke kota untuk menjual selada."

Tanya Zhang Jiejie.

"Bolehkah kami ikut numpang di gerobak paman untuk pergi ke kota?"

Tetapi sebelum jawaban tiba ia sudah loncat ke gerobak itu.

Jikalau ada gadis secantik ini yang naik ke gerobak, maka setiap pria dari usia 18-80 tahun tidak akan memaksanya turun!

Si kakek berkata seraya tertawa nyaring.

"Gerobak kan masih kosong, kalian suami istri naiklah bersama-sama."

Chu Liuxiang mengelus -elus hidungnya, lalu dengan terpaksa naik ke gerobak itu. Zhang Jiejie memandang dia sambil tertawa cekikikan, lalu bertanya dengan diam-diam.

"Kata dia kita adalah suami istri, mengapa kau tidak menyangkalnya?"

Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum.

"Kau sendiri tidak menyangkal, kenapa aku mesti menyangkal?"

Zhang Jiejie berkata seraya mengedip-ngedipkan mata "Apakah kita kelihatannya mirip pasangan suami istri yang benaran?"

Chu Liuxiang memandang dia dari atas sampai ke bawah beberapa kali, baru berkata sambil tersenyum.

"Seandainya dulu aku kawin muda, maka anak perempuanku sudah hampir sebaya denganmu."

Mata Zhang Jiejie mendelik, lalu berkata dengan dongkol.

"Sekalipun kau ingin jadi anakku, ibu tuamu ini masih keberatan karena kau agak kemudaan."

Kata-katanya belum selesai, ia sudah tidak bisa tahan lagi dan tertawa cekikikan lagi, sebab ia merasa bahwa istilah ini "Ibu tuamu ini"

Benar-benar sesuatu yang baru dan amat menarik!

Tampaknya ia amat mengagumi dirinya sendiri.

Kok bisa ya memikirkan serta mengucapkan istilah ini!

Chu Liuxiang terus menatapnya, dengan tak tertahankan, perasaannya menjadi lebih gembira.

Ada sejumlah orang sepertinya punya bakat untuk menggembirakan orang, dan Zhang Jiejie salah satunya.

Baik ia melakukan tindakan apa pun pada anda, tetap saja anda tidak mampu marah padanya!

Si kakek menoleh dan memandang mereka, lalu berkata seraya tersenyum.

"Melihat kalian tertawanya begitu mesra, pasti baru nikah!"

Zhang Jiejie mengedipkan mata dan berkata.

"Paman kok bisa tahu?"

Si kakek menghela nafas panjang, lalu berkata.

"Jika suami istri sudah menikah lama dan telah berusia lanjut, maka sudah tidak bisa tertawa lagi, misalnya seperti aku itu, begitu melihat istriku yang tua itu, bahkan mau menangis pun aku tidak bisa."

Zhang Jiejie tertawa renyah, lalu tiba-tiba mencubit hidung Chu Liuxiang dengan keras. Chu Liuxiang cuma bisa mendelik saja, mengaku dirinya lagi naas. Tetapi si kakek yang membelanya dengan berkata.

"Kenapa tanpa sebab kau mencubitnya?"

Biasanya seorang pria akan membantu omong untuk pria lain. Zhang Jiejie berkata dengan senyum dikulum.

"Kemudian hari aku pun juga akan menjadi istri yang tua, kalau sekarang aku tidak menggencet dia, maka sampai saat itu tiba, aku terpaksa digencet oleh dia."

Si kakek tertawa terbahak-bahak, lalu berkata seraya menganggukkan kepala.

"Benar! Omonganmu memang masuk akal. Bukankah ketika istriku masih muda dan cantik, ia pun tiap hari menjadikan aku sebagai bulan-bulanan pelampiasan amarahnya!"

Kemudian ia mengetukkan pipa rokoknya dengan keras pada gerobak, memandang Chu Liuxiang sambil berkata dengan tersenyum.

"Tampaknya jika seorang pria mau mendapatkan istri yang rupawan, ia mesti belajar menahan dongkol lebih dulu selama beberapa tahun."

Tanya Zhang Jiejie.

"Sekarang bagaimana? Apakah sekarang anda yang menjadikan dia sebagai bulan-bulanan?"

Tiba-tiba si kakek menghela nafas panjang, lalu berkata seraya tersenyum masam.

"Sekarang yang menjadi bulan-bulanan tetap adalah aku."

Zhang Jiejie berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Hal apa pun kalau sudah jadi kebiasaan, tidak jadi soal kan?"

Si kakek menyipitkan mata dan berkata seraya tertawa "Betul juga, lambat laun aku sekarang malah merasa jadi bulan-bulanan kok ya enak juga, seandainya istri tuaku itu tidak membuat aku marah selama tiga hari saja, aku malah merasa sedih."

Chu Liuxiang pun tidak bisa menahan senyumnya. Si kakek berkata seraya menghela nafas panjang lagi.

"Sekarang aku hanya ada satu hal yang masih tidak terlalu paham."

Tanya Chu Liuxiang.

"Apa itu?"

Ia pun mulai ikut nimbrung, sebab tiba-tiba ia merasa bahwa kakek ini menarik juga.

Si kakek bertanya "Kata banyak orang bahwa orang yang takut istri itu bisa jadi kaya, tetapi sampai saat ini aku tetap miskinnya luar biasa, ini kenapa ya?"

Kata Chu Liuxiang seraya tersenyum.

"Mungkin takutnya belum terlalu hebat"

"Harus takutnya bagaimana baru bisa jadi kaya? Ingin sekali aku mempelajarinya" , kata si kakek. Chu Liuxiang berkata sambil tersenyum.

"Kalau begitu, anda belajarnya harus mulai dari prinsip '3M dan 4 Harus'."

"Orang -orang pria yang lain juga mempelajari prinsip ini?"

Tanya si kakek.

"Sekarang sudah mulai mempelajarinya, dan kelak pasti akan dipelajari sampai lebih mendalam lagi" , jawab Chu Liuxiang.

"Jika begitu, cepat terangkan padaku", pinta si kakek. Chu Liuxiang berkata seraya senyum terus.

"'Prinsip 3M'. Mematuhi perintah dan istri; Menuruti secara membabi-buta apa yang dikatakan istri; Mengikuti istri ke mana pun ia pergi."

"Ternyata ini disebut Prinsip 3M', lalu apa itu 'prinsip 4 Harus'?"

Tanya si kakek. Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum simpul.

"'Prinsip 4 Harus'. Harus merelakan istri keluar uang seberapa banyak pun; Harus memahami apa yang dimaui istri; Harus bisa menahan dongkol yang diberikan oleh istri; Harus bisa bersembunyi ketika istri mau memukul anda, dan bersembunyinya makin jauh makin baik."

Si kakek menepuk pahanya sendiri, kemudian berkata seraya tertawa "Luar biasa! Kau anak muda yang hebat! Aku kira kelak kau pasti jadi jutawan!"

Ia melanjutkan sambil tertawa keras.

"Sekarang aku baru mengerti para jutawan itu telah memakai cara apa!"

Tiba-tiba Chu Liuxiang berkata lagi seraya tersenyum.

"Tetapi orang pria tidak selalu harus takut istri baru bisa jadi kaya!"

"Masa' ada cara lain?"

Tanya si kakek_ "Masih ada satu cara", jawab Chu Liuxiang.

"Apa itu?"

Tanya si kakek.

"Jangan punya istri" , jawab Chu Liuxiang. Ketika mereka terus berbicara dan tertawa, rasanya cepat sekali sudah mau masuk kota. Seseorang kalau masih bisa tertawa, pasti akan melewati harihari dengan lebih mudah.

"Kalian suami istri ini hendak pergi ke mana dalam kota ini?"

Tanya si kakek.

"Kalau paman mau ke mana?"

Zhang Jiejie balik bertanya. Si kakek menjawab.

"Aku sudah hampir tiba, yaitu pasar yang di depan itu...."

Mendadak is menutup mulutnya, dan wajahnya jadi pucat.

Chu Liuxiang mengikuti pandangan mata si kakek, terlihat ada seorang perempuan tua yang tinggi dan gemuk sedang berjalan keluar dari pasar, dengan tangan menenteng sebuah galah timbangan.

Si kakek begitu melihat dia, ekspresi wajahnya persis seperti anak ayam ketika ketemu burung elang, sebelum si kakek berbicara, nenek itu telah menarik turun si kakek dengan paksa dari gerobak, lalu memukulkan galah timbangan itu ke badan si kakek dengan membabi-buta, sambil memaki-maki.

"Si tua bangka yang tidak mati-mati! Kau yang pantas disayat-sayat pisau ini! Aku sedang heran, kau mati di mana kok belum sampai-sampai? Ternyata kau di tengah jalan kecantol seorang perempuan liar!"

Si kakek sambil menghindar sambil memohon ampun.

"Kau jangan omong sembarangan, itu istrinya orang lain."

Si nenek menjadi lebih galak, memukul tambah keras dan berkata.

"Omongan kentut! Ia istrinya siapa? Dari modelnya "

Rubah kecil " ("

Rubah kecil ", suatu istilah dalam bahasa Tionghoa, ditujukan pada seorang wanita muda (biasanya cantik) yang merusak rumah tangga orang lain.) dari kepala sampai kaki, mana ada bagian yang mirip dengan perempuan baik-baik?"

Sampai saat ini Zhang Jiejie baru sadar kalau yang dimaksud si nenek itu adalah dia, dan menjadi tertegun karena makian-makian nenek itu.

Namun ketika melihat si kakek dipukul sampai mau merangkakrangkak di tanah, ia menjadi tidak tega, lalu tangannya mendorong Chu Liuxiang dengan diam-diam dan berkata.

"Ia dipukuli habishabisan karena kita, mengapa kita tidak melerainya?"

Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas panjang.

"Jikalau seorang istri sedang memukuli suaminya, bahkan kaisar pun tidak sanggup melerainya."

Zhang Jiejie berkata dengan cemas.

"Paling sedikit kau kan bisa memberi penjelasan bagi dia? Masa' kalian sesama pria tidak dapat saling bersimpati?"

Chu Liuxiang mengelus-elus hidung, dengan sangat terpaksa maju, baru berkata.

"Ibu tua...."

Si nenek sudah berjalan ke arahnya dan berkata seraya memelototkan mata.

"Ibu tua itu siapa? Ibumulah ibu yang tua!"

Si kakek amat geram, lalu berkata seraya menjejak-jejakkan kaki.

"Kau lihat sendiri kan bahwa perempuan ini mau menang sendiri dan tidak mau menuruti akal sehat! Sudah jelas ia adalah istrimu, tapi perempuan ini sengaja tidak mau percaya."

Mata si nenek melotot kian besar dan berkata.

"Benarkah 'rubah kecil' itu istrimu?"

Chu Liuxiang mengangguk dengan senyum masam yang dipaksakan.

Selama ini yang paling ditakuti dia ialah ketemu perempuan yang mau menang sendiri dan tidak mau menuruti akal sehat!

Dan nenek ini termasuk yang paling menyakitkan kepala dari type perempuan ini!

"Betul dia istrimu?

Jika begitu aku tanya Siapa nama istrimu?"

Tanya nenek itu.

Pertanyaannya memang masuk akal.

Tentu saja si suami harus mengetahui nama si istri.

Sewaktu mengadakan razia penggerebekan pelacur-pelacur liar, para petugas juga mengajukan pertanyaan ini kepada pria-pria hidung belang yang terjaring razia!

Chu Liuxiang menjawab dengan tersenyum masam.

"Ia bernama Zhang Jiejie...."

Ia sedang merasa beruntung bahwa ia tahu namanya Zhang Jiejie. Siapa tahu bahwa kalimatnya belum selesai diucapkan, tiba-tiba si nenek mencaci maki lagi.

"Kau si anak haram jadah! Jelas -jelas ia kakak perempuanmu, tapi sengaja bilang ia istrimu! Kau anak haram dari siapa? Apakah kau anak haram dari si tua bangka ini? Atau kau menerima uang sogok berapa banyak dari dia? Ia makin memaki, amarahnya kian menjadi-jadi, galah timbangan yang ada di tangannya itu dipukulkan secara membabi-buta ke badan Chu Liuxiang. Ini betul-betul keterlaluan, si kakek dengan cemas datang menarik si nenek, sambil berteriak.

"Ia kan bukan suamimu, mengapa kamu memukuli dia?"

Mendengar kata-katanya, seorang perempuan memukuli suaminya kayaknya adalah sebuah azas kebenaran! Si nenek berteriak-teriak.

"Aku justru mau memukuli si anak haram jadah ini sampai mati...."

Si kakek menarik si nenek dengan gelisah, tapi si nenek tetap mau memukul dengan kalap.

Chu Liuxiang menjadi bingung, tidak tahu mau tetap diam di tempat, atau sebaiknya melarikan diri.

Tiba-tiba, kakek yang menarik dan nenek yang memukul itu sama-sama mau jatuh, dan jatuhnya mereka menuju ke arah Chu Liuxiang.

Dengan terpaksa dan gerakan yang otomatis, Chu Liuxiang mengulurkan tangan untuk menahan tubuh mereka agar mereka tidak terjatuh.

Tiba-tiba, si kakek merangkul pinggang Chu Liuxiang erat-erat dari bawah, dan gerakan si nenek cepat bagaikan angin, galah timbangan yang ada di tangannya, dalam waktu sekejap mata, telah menotok 7-8 jalan darah di tubuh Chu Liuxiang!

**** "Tiada seorang pun yang bisa mengelabui Chu Liuxiang!"

Tampaknya kalimat ini sudah seharusnya direvisi, setidaknya mesti ada tambahan kata di depannya, sehingga menjadi.

"Kecuali wanita, tiada seorang pun yang bisa mengelabui Chu Liuxiang!"

Chu Liuxiang mendadak juga menyadari satu hal.

"Perempuan tua juga adalah wanita, dan wanita dari usia 18-80 tahun tidak ada yang dapat dipercayai!"

Ia sudah lama bersumpah akan ekstra hati-hati terhadap kaum wanita, cuma sayangnya ia telah melupakan hal ini!

Tampaknya sudah suratan takdir bahwa ia mesti terpelanting oleh kaum wanita!

**** Gerobak yang ditarik bagal itu menuju keluar kota lagi.

Si kakek sambil menghisap pipa rokok, menjalankan gerobak dengan perasaan puas dan gembira.

Chu Liuxiang berbaring di setumpukan besar selada, persis seperti selada yang berukuran ekstra besar --Ia biasanya amat jarang memakai pakaian hijau, kecuali hari ini.

Pakaian hijau ini dibuat khusus oleh Su Rongrong bagi dia, sebab salah satu sahabat wanita terdekatnya ini berkata pada dia.

"Kalau pergi ke rumah orang untuk mengucapkan selamat panjang umur, maka seharusnyalah memakai pakaian yang berwarna terang dan sedikit menyolok, agar tidak dianggap sial oleh keluarga itu."

Chu Liuxiang berfikir seraya menghela nafas.

"Mengapa tidak memilih pakaian yang berwarna merah atau kuning, tapi justru memilih pakaian hijau?"

Ia tidak menyukai selada.

Selama ini ia beranggapan bahwa selada, wortel dan sejenisnya ini adalah makanan untuk kelinci.

Nenek itu sedang duduk di sampingnya, dan memandangi dia dari atas ke bawah dan sebaliknya, sepertinya menaruh minat besar padanya.

Asalkan ia adalah wanita, pasti akan menaruh minat pada Chu Liuxiang, dari usia 18-80 tahun adalah sama saja.

Lalu Zhang Jiejie?

Sejak tadi ia telah menghilang.

Tiba-tiba si nenek tersenyum dan berkata kepada Chu Liuxiang.

"Hal ini pasti telah memberi pelajaran untukmu kan?"

"Pelajaran apa?"

Tanya Chu Liuxiang.

"Mengajarimu bahwa lain kali jangan mencampuri urusan suami istri orang lain. Sekalipun si suami dipukuli sampai mati oleh si istri, itu nasibnya si suami! Memang tiada seorang pun yang mampu menangani urusan ini" , kata si nenek. Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas.

"Pelajaran yang aku dapatkan dari hal ini bukan cuma itu saja."

"Oh? Masih ada pelajaran apa lagi?"

Tanya si nenek.

"Yang pertama. Mengajariku dengan amat mendalam bahwa lain kali jangan sembarangan mengaku diriku adalah suaminya orang lain" , kata Chu Liuxiang.

"Kemudian?"

Tanya si nenek.

"Yang kedua. Mengajariku dengan amat mendalam bahwa lain kali jangan lupa bahwa nenek yang tua pun juga adalah wanita" , kata Chu Liuxiang. Raut muka si nenek menjadi dingin dan berkata.

"Apakah kau merasa sedikit tidak rela bahwa kau jatuh di tanganku?"

Chu Liuxiang menjawab seraya menghela nafas panjang.

"Sekarang aku hanya menyesal kenapa kemarin aku kok tidak jatuh di tubuhnya nona-nona yang muda dan cantik itu!"

Si nenek berkata seraya tersenyum dingin.

"Yang disayangkan adalah. Sekarang kau menginginkannya tapi sudah terlambat!"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum kecut.

"Makanya sekarang aku cuma berharap satu hal."

"Apa itu?"

Tanya si nenek.

"Berharap berubah menjadi seekor kelinci", jawab Chu Liuxiang. Si nenek berkata dengan terkejut.

"Kelinci?"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum "Jika anda melemparkan seekor kelinci ke tumpukan selada, kelinci itu akan merasa senang sekali, namun andalah yang akan menyesal."

Mendadak si kakek menolehkan kepalanya dan berkata sambil senyum.

"Istriku yang tua, apakah kau tidak merasa bahwa orang ini ada sesuatu yang luar biasa?"

"Apanya yang luar biasa?"

Tanya si nenek.

"Sudah sampai pada situasi ini pun, ternyata ia masih bisa bergurau, bahkan kata-katanya banyak sekali." *** Ini memang betul adalah keluarbiasaan Chu Liuxiang! Pada saat-saat makin sial dan paling berbahaya, ia makin suka berbicara. Ini tidak saja disebabkan ia selalu beranggapan bahwa berbicara dapat menenangkan perasaan hatinya, juga disebabkan ia seringkali dapat menemukan kelemahan lawan! Jikalau lawan ada kelemahan, ia baru punya kesempatan. Jikalau tidak ada kelemahan, ia juga bisa menciptakannya. *** Gerobak itu berbelok masuk ke sebuah jalan yang sepi dan terpencil. Biji mata Chu Liuxiang berputar-putar, lalu berkata.

"Jalan ini menuju ke mana? Aku kok belum pernah lewat?"

Si nenek berkata dengan dingin.

"Jalan yang belum pernah kamu lewati masih amat banyak, lain kali lewatilah dengan pelan-pelan."

"Lain kali aku masih ada kesempatan?"

Tanya Chu Liuxiang.

"Itu tergantung", jawab si nenek.

"Tergantung apa?"

Tanya Chu Liuxiang.

"Tergantung kami senang atau tidak", jawab si nenek.

"Kalau tidak senang? Masa' mau membunuhku?"

"Hmm!"

Si nenek mendengus.

"Aku dengan kalian kan tidak pernah bermusuhan atau punya dendam, seandainya mau membunuhku, ini pasti bukan ide kalian kan?"

Tanya Chu Liuxiang. Tiba-tiba si nenek jadi bungkam.

"Aku tahu ada seorang yang mau membunuhku, tapi sampai sekarang masih tidak terfikirkan dia itu siapa?"

Chu Liuxiang melanjutkan kata-kata seraya memutar-mutar biji matanya.

"Apakah orang itu adalah Zhang Jiejie? Apakah kalian sudah saling mengenal? Apakah ini adalah sandiwara yang sudah kalian rancang sejak semula?"

Si nenek tetap mengatupkan mulutnya, kelihatannya telah memutuskan untuk tidak ngobrol lagi dengan Chu Liuxiang.

Tiba-tiba Chu Liuxiang berkata sambil senyum "Aku sekarang baru menyadari bahwa anda pun memiliki sesuatu yang luar biasa ---Yang juga merupakan keunggulan terbesar anda."

Sewaktu orang lain menyinggung tentang keunggulan diri sendiri, sedikit sekali orang yang bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Dan memang si nenek akhirnya bertanya juga.

"Apa yang kamu maksud?"

"Keunggulan terbesar anda ialah. tidak panjang mulut seperti perempuan lain", jawab Chu Liuxiang.

"Hmm!"

Si nenek mendengus. Walaupun is mendengus, namun ekspresi wajahnya sudah lebih "enak dipandang."

Chu Liuxiang tersenyum lagi, lalu berkata.

"Orang bilang perempuan tua paling panjang mulut, dikarenakan anda tidak panjang mulut, anda pasti belum terlalu tua."

Ia melanjutkan sambil menghela nafas.

"Hanya sayang bahwa anda terlalu tidak memerhatikan periasan diri, sehingga anda kelihatannya agak tua. Anda mesti memahami pepatah ini yang berbunyi 30% wajah, 70% merias diri. Setiap wanita melakukan hal demikian."

Tanpa terasa si nenek membetulkan belahan bajunya, dan mengelus-elus wajahnya.

"Umpamanya Zhang Jiejie sama sekali tidak merias diri seperti anda, pasti kelihatannya tidak lebih muda banyak dari anda" , kata Chu Liuxiang. Tanpa terasa si nenek berkata seraya menghela nafas.

"Ia masih gadis muda, bagaimana aku bisa dibandingkan dengan dia?"

"Anda tahun ini berusia berapa? Ada 38 tahun?"

Tanya Chu Liuxiang. Si nenek berkata seraya "mendinginkan"

Ekspresi wajahnya "Kamu jangan pandai menjilat ya!"

Walaupun demikian, ia sudah hampir mau tertawa dengan senang.

Gadis muda mengharapkan orang lain mengatakan bahwa ia sudah besar dan dewasa, sebaliknya perempuan tua mengharapkan orang lain mengatakan bahwa ia masih muda!

Azas kebenaran ini dari dahulu kala sampai sekarang pun tetap berlaku!

Si kakek menoleh lagi, lalu berkata sambil tertawa.

"Istriku yang tua, dengar kata orang bahwa orang ini memiliki mulut manis yang telah menipu banya kwanita! Kau harus hati-hati agar tidak terjebak olehnya."

"Saya mengatakan yang sebenarnya", kata Chu Liuxiang. Si kakek berkata seraya tersenyum.

"Masa' kamu betul-betul menganggap dia masih berumur 38 tahun? Bukan berumur 83 tahun?"

Tiba-tiba si nenek lompat berdiri, menampar si kakek dan memaki.

"Omongan kentut! Kalau aku benar-benar berumur 83 tahun, bukankah kau adalah cucuku?"

Si kakek mengerutkan kepala dan tidak berani berbicara lagi. Chu Liuxiang tersenyum lagi, lalu berkata dengan santai.

"Sebenarnya tidak bisa menyalahkan dia, karena setiap suami akan merasa istrinya lebih tua dalam pandangan orang lain."

Si nenek saking marahnya sampai nafasnya agak terengahengah, lalu berkata dengan marah.

"Makanya wanita seharusnya tidak boleh menikah!"

Chu Liuxiang berkata sambil menghela nafas.

"Ngomong secara jujur ya, di dunia ini posisi wanita terjepit. Jika tidak menikah, orang akan mengejek dan berkata dia tidak laku; Jika menikah, harus berjagajaga agar si suami tidak berubah hatinya!"

Ekspresi wajahnya penuh dengan rasa simpati, lalu melanjutkan.

"Orang semuanya sepertinya melupakan satu hal. Yaitu din mereka juga dilahirkan oleh perempuan."

Di bawah kolong langit ini, sepertinya sudah tidak ada perkataan lain lagi yang sanggup membuat wanita jadi terharu dari kalimat ini!

Tanpa dapat menahan diri lagi, si nenek pun berkata seraya menghela nafas.

"Andaikata semua pria di dunia ini penuh pengertian seperti kamu ini, pastilah kehidupan kaum wanita menjadi lebih mudah!"

Chu Liuxiang berkata sambil tersenyum masam "Namun apa manfaatnya menjadi orang semacam aku ini?

Sebab malahan ada orang yang menginginkan nyawaku!

Bahkan justru ada wanita yang menginginkan nyawaku!?"

Si nenek menatap dia, ekspresi mukanya tampak ada rasa simpati serta sedikit rasa bersalah, lalu berkata dengan suara lembut.

"Barangkali ia tidak sungguh-sunguh mau menginginkan nyawamu, mungkin hanya sekedar mau bertemu denganmu"

Chu Liuxiang menggelengkan kepala dan berkata.

"Jika ia hanya sekedar mau bertemu denganku, mengapa tidak langsung menemuiku? Mengapa mesti memeras otak membikin jebakanjebakan? Mengapa mesti bersusah-payah demikian?" . Ia melanjutkan dengan wajah murung.

"Seandainya aku berbuat salah pada dia, maka mati pun aku tidak menyesal, tapi yang membuat aku menyesal ialah. Bukan saja aku tidak pernah melihat wajahnya, bahkan aku tidak tahu dia itu siapa!"

Si nenek berkata dengan suara yang makin pelan.

"Sebenarnya kami tidak punya dendam denganmu, juga bukan sungguh-sungguh mau mencelakaimu, cuma...cuma...."

"Aku pun tahu bahwa kalian pasti punya kesulitan yang sulit diutarakan, maka aku juga tidak ingin kalian melepaskanku, aku cuma ingin...cuma ingin...." , kata Chu Liuxiang. Si nenek berkata dengan tegas.

"Jangan segan-segan untuk mengatakan apa yang kamu inginkan, asal itu dalam batas kemampuanku, aku pasti mau membantumu."

"Sebenarnya juga tidak ada apa-apa, cuma dikarenakan selama ini aku tidak makan selada, juga amat takut pada baunya, maka sekarang perutku terasa mulas dan mau muntah" , kata Chu Liuxiang. Si nenek berkata dengan sikap bersimpati.

"Memang benar selada ada semacam bau yang aneh, aku pun tahu ada banyak orang yang tidak berani memakannya"

"Seandainya sekarang beri aku minum beberapa teguk arak, aku akan merasa jauh lebih enakan" , kata Chu Liuxiang. Si nenek berkata sambil senyum.

"Hal ini mudah."

Ini memang tidak termasuk permintaan yang kelewat batas, sekalipun ia seorang narapidana terhukum mati, sebelum hukuman mati dijalankan, juga akan diberikan semangkok arak.

Si nenek berdiri, lalu berkata dengan suara keras.

"Kakek tua, aku tahu kau pasti menyimpan arak, cepat keluarkan!"

Si kakek berkata sambil menghela nafas.

"Tidak masalah jika minum beberapa teguk arak, namun beberapa jalan darah di dadanya telah kau totok, lalu bagaimana ia bisa menelan arak?"

"Kalau aku bisa menotoknya, apa aku tidak bisa melepaskan totokannya?"

Kata si nenek. Si kakek berkata dengan terkesiap.

"Kau ingin melepaskan totokannya? Kalau dia lari, siapa yang bertanggung-jawab?"

Si nenek berkata dengan tersenyum dingin.

"Tenang! Ia tak akan bisa lari."

Chu Liuxiang berkata dengan tersenyum kecut.

"Tidak salah, kalau seluruh jalan darah di kedua kakiku ditotok, bagaimana aku bisa melarikan diri?"

Dengan gerakan yang amat lambat, si kakek mengeluarkan satu botol arak dari bawah alas gerobak, dan mau minum arak seteguk dulu.

Dengan sigap si nenek merampas botol arak itu, lalu menggoyang-goyangkan botol itu di depan muka Chu Liuxiang dan berkata.

"Anak muda, dengarlah! Hanya disebabkan aku merasa kau orangnya lumayan juga, maka aku izinkan kau minum arak, tapi kamu sekali-kali jangan macam-macam, jika tidak jangan salahkan aku kalau aku berlaku tidak sungkan lagi padamu!"

Si kakek berguman. ia betul-betul berlaku tidak sungkan, aku boleh jamin bahwa tiada seorang pun yang sanggup bertahan."

Si nenek mendelik pada si kakek, namun tangannya telah menotok 6 jalan darah di kedua kaki Chu Liuxiang.

"Masih ada tangannya yang belum kau totok -Jika kau begitu menyukai dia, sekalian saja kau bantu dia dengan menyuapkan arak pan dia" , kata si kakek. Si nenek berkata seraya tersenyum dingin.

"Suap ya suap, siapa takut? Menurut umurku kan sudah pantas jadi...kakak perempuan terbesarnya, masa' ada orang yang mau curiga padaku?"

Si kakek bergumam lagi.

"Ternyata kau bisa jadi kakak perempuan terbesarnya, padahal aku kira kau sudah boleh jadi ibunya."

Mulut si nenek memaki-maki lagi, namun tangannya telah menotok seluruh jalan darah di kedua tangan Chu Liuxiang.

Walaupun ia telah tua, tetapi kedua tangannya masih mantap sekali, totokannya cepat dan tepat Tidak kalah dengan ahli-ahli totok terkenal mana pun!

Sejak tadi Chu Liuxiang telah bisa mengetahui bahwa pasangan suami istri ini pasti adilah tokoh persilatan yang amat termasyhur, namun sampai saat ini ia masih belum terpikirkan bahwa mereka itu siapa.

Setelah si nenek melepaskan totokan di dada Chu Liuxiang, lalu memapah bangunkan dia, menutup mulut Chu Liuxiang dengan botol arak, dan berkata.

"Kamu minumlah dengan pelan-pelan. Bukannya aku tidak dapat mempercayaimu, hanya dikarenakan banyak orang berkata bahwa dalam situasi sebahaya apa pun, kamu tetap bisa menemukan kesempatan untuk melarikan diri!"

Chu Liuxiang minum dua teguk arak, bernafas panjang sebentar, lalu berkata seraya tersenyum pahit.

"Ilmu menotok yang anda miliki ini, di dalam dunia ini paling-paling cuma ada 2-3 orang yang dapat menandingi! Jika masih ada orang yang dapat lolos dan anda, ini baru disebut peristiwa aneh!"

Si nenek berkata sambil senyum.

"Kamu termasuk orang yang pengamatannya jeli sekali ya! Sebenarnya aku pun tidak percaya kamu bisa lobs dari tanganku, namun berhati-hati sedikit kan tetap baik!"

Chu Liuxiang minum arak sambil menganggukkan kepala. Si nenek berkata lagi sambil senyum.

"Kamu tidak perlu minum begitu tergesa-gesa, arak dalam botol ini kan milikmu."

Ia agak menjauhkan mulut botol itu agar Chu Liuxiang bisa bernafas lebih lega.

Chu Liuxiang memang sedang bernafas, sampai nafasnya memburu dan wajahnya memerah.

Si nenek meninggikan kepalanya dan bergumam.

"Mengapa kaum pria sepertinya semua adalah "setan mabuk?"

Aku sendiri sampai sekarang kok tidak habis pikir. Apa manfaatnya minum arak?"

Ia segera akan mengerti.

Sekalipun boleh dikatakan bahwa minum arak tidak ada manfaatnya, tapi toh tetap saja ada satu macam manfaatnya, yaitu kadang-kadang dapat menyelamatkan nyawa seseorang!

Tiba-tiba sebuah semburan arak keluar dari mulut Chu Liuxiang, menyembur ke muka si nenek laksana anak panah!

Dengan terkejut si nenek melompat ke belakang dan turun dari tumpukan selada itu, namun dengan tiba-tiba semburan arak itu berubah arah dan mengenai kaki Chu Liuxiang!

Si kakek pun amat terkejut, dengan sigap berkelebat dari muka gerobak, serta menimpukkan cambuk ke leher Chu Liuxiang.

Reaksi si nenek lebih cepat, badannya melesat bagaikan ada pegasnya, sepuluh jari tangannya mencengkeram ke mata kaki Chu Liuxiang laksana cengkeraman rajawali!

Hanya sayang bahwa mereka terlambat satu langkah saja!

Sewaktu Chu Liuxiang mau melarikan diri, selamanya tiada seorang pun yang bisa menerka cara apa yang akan dipakainya!

Dan ketika orang sudah tahu cara apa yang dipakainya, seringkali sudah terlambat satu langkah!

Ketika semburan arak itu mengenai kakinya, telah melepaskan seluruh jalan darah di kakinya yang tertotok!

Chu Liuxiang melingkarkan kedua kakinya, badannya segera melesat pergi laksana anak panah yang baru lepas dari busur!

Begitu badannya melesat, maka tiada seorang pun di kolong langit ini yang dapat menangkapnya lagi!

"Ilmu meringankan tubuh Pendekar Harum nomor satu di dunia!"

Kalimat ini memang bukan isapan jempol!

Badannya melesat lalu bersalto di udara, setengah teguk arak yang tersisa di mulutnya disemburkan untuk melepaskan totokan di jalan darah lengan kanannya.

Badannya bersalto lagi di udara, tangan kanannya telah melepaskan totokan di jalan darah lengan kirinya.

Begitu seluruh jalan darah di kedua lengannya sudah terbebaskan, maka sepertinya ia ketambahan sepasang sayap, dan terlihatlah kedua lengannya diayunkan, lalu badannya berputaran dengan cepat di udara, segera saja badannya telah hinggap di ranting-ranting pohon yang jauhnya kira-kira 20-30 meter, dan ranting-ranting itu hampir tidak bergoyang sama sekali!

Ketika ia berada di ranting-ranting pohon, tampaknya ia berdiri lebih teguh dari orang lain yang berdiri di tanah datar!

Si kakek dan si nenek hanya melihat dengan melongo saja.

Mereka tidak mengejar, sebab mereka sudah mengerti Sekalipun dikejar, juga tidak bisa menyusul Chu Liuxiang.

Dan lagi, sekalipun mereka bisa menyusul Chu Liuxiang, mereka bisa berbuat apa pada dia?

Mereka pun tidak melarikan diri, sebab mereka pun tahu itu tiada gunanya.

Mendadak Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum "Hal ini barangkali juga telah memberikan pelajaran bagi kalian."

Si nenek menghela nafas panjang, lalu berkata.

"Betul! Aku sekarang baru tahu omongan pria sama sekali tidak boleh didengar! Jikalau seorang pria bermulut manis dan menjilat-jilat, maka satu kata pun tidak boleh dipercayai!"

"Kau baru tahu azas kebenaran ini?"

Kata si kakek.

"Sebab aku sudah hidup 60 tahun lebih, baru pertama kali ketemu pria semacam kau ini" , kata si nenek. Si kakek berkata seraya mengedipkan mata.

"Kau sudah berumur 60 tahun lebih, padahal aku kira kau masih berumur 38 tahun."

Si nenek segera melayangkan sebuah tamparan. Si kakek berlari sambil menutupi kepalanya, dan berteriak.

"Ketika istri yang tua memukul kamu, haruslah kamu bersembunyi kian jauh kian baik!"

Mereka yang satu memukul, yang satu berlari untuk menghindar, dalam waktu sekejap mata, mereka telah lenyap entah ke mana.

Chu Liuxiang masih sedang tersenyum, sama sekali tidak punya niat mengejar.

Kebaikan terbesarnya barangkali ialah.

Pada saat-saat yang paling kritis ia seringkali dapat melepaskan lawan-lawannya.

Ketika dengan ringan badannya baru turun dan pohon, tiba-tiba mendengar ada semacam bunyi --Semacam bunyi yang amat aneh, dan berasal dari suatu tempat yang amat aneh!

Bahkan ia tidak pernah menduga bahwa bunyi ini bisa keluar dan tempat ini!

Chu Liuxiang bukanlah seorang yang mudah kaget, tapi pada saat ini ia betul-betul merasa kaget!

Bunyi tepuk tangan bukanlah semacam bunyi yang aneh, meskipun Chu Liuxiang bukan artis panggung, namun masih sering mendengarkan bunyi tepuk tangan orang lain karena kehebatan dia.

Bagian bawah gerobak pun bukanlah semacam tempat yang aneh, baik gerobak itu besar atau kecil, punya bentuk atau model apa pun, pasti punya bagian bawahnya.

Tetapi pada saat ini dan di tempat ini, dari bagian bawah gerobak bagal ini terdengar bunyi tepuk tangan, ini bukan saja amat aneh, bahkan luar biasa anehnya!

Hanya orang yang bisa bertepuk tangan --Jika ada bunyi tepuk tangan dari bagian bawah gerobak, itu pasti ada orangnya, dan karena gerobak itu di sepanjang jalan tidak pernah berhenti, berarti orang itu sejak awal sudah bersembunyi di bagian bawah gerobak itu!

Pada mulanya Chu Liuxiang merasa kaget, tapi wajahnya segera tersenyum lagi.

la telah dapat menebak siapa orang itu 03.

Seberkas Sinar Fajar Bunyi tepuk tangan belum selesai, sudah terdengar bunyi tertawa.

Bunyi tepuk tangan itu renyah, tapi bunyi tertawa itu lebih renyah.

Bersamaan dengan bunyi tertawa itu, ada seorang yang merangkak keluar dari bagian bawah gerobak itu, dengan wajah senyum dan mata yang amat cerah.

Seorang gadis yang cerah, cantik dan menyenangkan!

Walaupun badan dan wajahnya belepotan tanah, tetap saja tidak menimbulkan kesan bahwa ia berpenampilan jorok!

Ada semacam wanita, baik dipandang dalam keadaan apa pun, tetap saja mirip dengan buah arbei segar yang baru dipetik!

Zhang Jiejie masuk dalam macam wanita ini.

Ia bertepuk tangan dan berkata seraya tertawa.

"Pendekar Harum Chu memang bukan nama yang kosong, betul-betul memiliki kemampuan menipu orang yang luar biasa!"

Chu Liuxiang tersenyum dan memberi hormat dengan membungkukkan badan. Zhang Jiejie melanjutkan sambil tertawa.

"Karena itu, setiap wanita berumur berapa pun, sekali-kali tidak boleh mendengarkan kata-kata Pendekar Harum Chu, dari umur 8-80 tahun, tidak ada perkecualian!"

"Hanya ada satu orang yang masuk perkecualian."

"Siapa?"

"Kau!"

"Aku? Kenapa aku masuk perkecualian?"

Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum.

"Sebab jika kau tidak menipuku, aku sudah amat berterima kasih, bagaimana aku berani menipumu?"

Zhang Jiejie berkata seraya membulatkan bentuk bibirnya "Masa' aku pernah menipumu? Menipu apa? Cepat katakan!"

"Aku tidak bisa mengatakannya"

"Hmm! Aku memang tahu kau tidak bisa mengatakannya."

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.

"Setelah menipu si korban, tapi si korban berkata tidak tertipu Ini baru disebut hebat!"

Zhang Jiejie mendelik pada dia, tiba-tiba matanya menjadi merah, lalu air matanya menetes dengan perlahan. Chu Liuxiang merasa sedikit aneh, lalu bertanya "Kau sedang menangis?"

Zhang Jiejie mengertakkan giginya dan berkata dengan geram.

"Aku menangis ketika aku sedih, apakah ini melanggar hukum?"

"Kau sedih? Sedih untuk hal apa?"

Zhang Jiejie menyeka air matanya, lalu berkata dengan suara keras.

"Aku melihat kau masuk perangkap orang lain, lalu segera bersembunyi di bagian bawah gerobak, demi menunggu kesempatan menyelamatkanmu, sepanjang jalan aku menahan banyak derita, dan tidak tahu berapa banyak tanah yang aku telan, lalu pada akhirnya apa yang aku dapat?"

Air matanya menetes lagi, dan melanjutkan sambil terisak-isak.

"Bukan saja kau sama sekali tidak punya rasa berterima kasih padaku, sebaliknya bahkan menyindirku dengan kata-kata yang menyakitkan, bagaimana aku...aku tidak sedih?"

Ia makin ngomong makin sedih, akhirnya menangislah ia dengan tersedu-sedu.

Chu Liuxiang menjadi melongo.

Ia hanya tahu gadis ini amat suka tertawa, tak pernah menduga bahwa dia pun suka menangis.

Di dalam pandangan Chu Liuxiang, air mata dari seorang wanita cantik, betul-betul lebih mengerikan dari senjata rahasia yang dilepaskan oleh Tuan Muda Kelelawar!(Tuan Muda Kelelawar adalah salah satu lawan terberat Chu Liuxiang yang nyaris merenggut nyawanya!) Senjata rahasia sehebat apa pun, ia masih dapat menghindarinya, namun ia sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari air mata seorang wanita cantik!

Senjata rahasia seberapa hebat pun, paling-paling cuma menciptakan beberapa lubang pada badannya, namun air mata seorang wanita cantik dapat meremukkan hatinya!

Chu Liuxiang menghela nafas yang panjang, lalu berkata dengan suara lembut.

"Siapa bilang aku tidak berterima kasih padamu? Sebaliknya aku sangat-sangat berterima kasih padamu."

"Kalau begitu...kenapa kau tidak mengatakannya?"

"Perasaan berterima kasih yang sejati mesti disimpan di dalam hati, kalau dikatakan sudah tidak ada artinya lagi."

Zhang Jiejie tidak bisa menahan dirinya, dari menangis menjadi tersenyum, lalu berkata seraya menuding hidung Chu Liuxiang.

"Apa yang dikatakan oleh kakek itu memang tidak salah, kau memang memiliki mulut manis yang bisa menipu kaum wanita!"

"Jangan lupa kakek itu pun seorang pria, dan omongan pria semuanya tidak bisa dipegang."

"Ia memang licik bagaikan rubah tua, dan ilmu silatnya pun tidak lemah."

"Tapi tetap saja ia tidak dapat menandingi nenek itu, karena itu tidak heran ia amat takut kepada istrinya."

"Apakah kau pun merasa bahwa ilmu menotok nenek itu amat lihai?"

"Kelihaian ilmu menotoknya layak menempatkan nenek itu ke dalam lima besar di dunia persilatan!"

"Jika demikian, seharusnya ia adalah jago silat yang amat terkenal."

"Seharusnya demikian."

"Banyak orang mengatakan bahwa Pendekar Harum memiliki pengetahuan dan wawasan yang amat luas, apakah kau sudah mengetahui asal-usulnya?"

"Belum."

"Sedikit petunjuk pun belum kau dapat? Coba kau pikirkan dengan lebih seksama lagi."

"Tidak perlu. Siapa pun suami istri itu sudah tidak penting lagi."

"Mengapa?"

"Sebab mereka sudah tidak akan datang lagi untuk cari gara-gara denganku."

"Jadi yang penting itu apa?' "

Yang penting adalah. Siapa yang menyuruh mereka? Di manakah orang itu?"

"Kenapa tadi kau tidak menanyai mereka? Kenapa dengan sembarangan kau melepaskan mereka?"

"Kalau aku menanyai mereka, apakah dengan sembarangan mereka akan memberitahukanku?' "Tidak."

Zhang Jiejie berpikir sejenak, lalu menyambung kata-katanmya.

"Seandainya mereka adalah orang yang mudah sekali membocorkan rahasia, pasti tidak akan disuruh 'orang itu' untuk menghadapimu."

Chu Liuxiang berkata sambil senyum.

"Kau betul-betul berbeda dengan gadis lain, kau memiliki otak yang 'encer'."

Zhang Jiejie berkata seraya membuat ekspresi wajahnya tampak dingin.

"Apakah kau lagi berusaha 'menjilat-jilat ku? Aku tidak mudah terjebak seperti orang lain lho!"

Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas.

"Masa' kau mesti menginginkan aku memakimu, baru menganggap apa yang aku katakan itu benar?"

Zhang Jiejie berkata seraya memelototkan mata.

"Sekalipun mereka menutup mulut rapat-rapat, seharusnya kau juga punya cara agar mereka buka mulut kan?"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum kecut.

"Suami istri itu kalau digabungkan usianya paling sedikit ada 130-140 tahun, masa' aku mesti menggantung dn memukuli mereka supaya mengaku?' Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum manis.

"Sekalipun kau bukan orang yang baik, tapi kau bukan orang yang macamnya begini."

Ia tiba-tiba berkata seraya menghela nafas.

"Dikarenakan mereka sudah pergi, tampaknya aku terpaksa sekali lagi menemanimu kembali untuk mencari temanku itu."

"Itu tidak perlu."

Zhang Jiejie berkata dengan makin memelototkan mata.

"Tidak perlu? Masa' kau sudah ada cara untuk menemukan orang itu?"

Chu Liuxiang berkata sambil senyum "Walaupun aku tidak bisa menemukan dia, tetapi ada yang bisa!"

Mata Zhang Jiejie kian membesar, lalu bertanya.

"Siapa?"

Tangan Chu Liuxiang menunjuk ke depan dan berkata.

"Dia."

Zhang Jiejie memandang, ternyata itu adalah bagal yang menarik gerobak itu, yang sekarang sedang menundukkan kepala untuk makan rumput yang tumbuh di sisi jalan.

Zhang Jiejie berkata seraya tertawa renyah.

"Ternyata dia juga temanmu."

"Bagal itu paling sedikit punya satu macam kebaikan, yaitu ia tidak bisa berkata bohong."

"Tetapi ia juga sama dengan kau, 'tidak bisa berbahasa manusia" ( "Tidak bisa berbahasa manusia" , suatu istilah dalam bahasa Tionghoa, yang berarti. Orang yang kata-katanya tajam dan "menusuk"

Hati orang yang mendengarnya) "Ia tidak usah berbicara"

Chu Liuxiang tiba-tiba bertanya.

"Kalau aku tiba-tiba pergi dan meninggalkan kau sendirian di tempat ini, kau akan pergi ke mana?"

Zhang Jiejie menjawab dengan sedikit terkejut.

"Aku bisa pergi ke mana saja! Paling sedikit ada seribu tempat yang bisa aku datangi!"

"Jikalau tidak ada tempat yang bisa kau datangi?"

"Jika begitu aku akan pulang ke rumahku."

"Betul, tentu saja kau akan pulang ke rumahmu, dan kau pasti mengenal jalan untuk pulang ke rumah."

Chu Liuxiang menyambung seraya tersenyum.

"Selain manusia, ada satu macam binatang yang juga mengenal jalan untuk pulang ke rumah."

"Kuda?"

"Betul, apalagi kuda yang tua; Kau bisa meninggalkan kuda di mana saja, is pasti punya cara untuk menemukan jalan untuk pulang ke rumah."

Zhang Jiejie berkata sambil senyum.

"Barangkali masih perlu dilihat, apakah ia kuda jantan atau kuda betina?"

Chu Liuxiang juga berkata sambil senyum.

"Jika begitu kuda jantan itu terpaksa pulang ke rumah, sebab ia tidak punya tempat yang bisa didatangi, sebab sampai saat ini di dunia ini masih belum ada tempat pelacuran dan kedai arak bagi kuda!"

Sinar mata Zhang Jiejie menjadi kian terang, lalu berkata. Maksudmu...bagal ini pun bisa menemukan jalan pulang ke rumah?"

Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum.

"Jangan lupa bahwa bagal merupakan keturunan separuh' dari kuda, dan bagal lebih cerdas dari kuda."

Zhang Jiejie berkata seraya mengedipkan mata.

"Kau mengikuti bagal(Bagal adalah hasil perkawinan campur antara kuda betina dengan keledai jantan, atau antara kuda jantan dengan keledai betina.) itu pulang ke rumah, memangnya mau berkunjung untuk menemui ayah keledai dan ibu kuda dari bagal itu?" *** Bagal itu berjalan di depan, Chu Liuxiang dan Zhang Jiejie berjalan di belakang. Selagi berjalan, mendadak Zhang Jiejie tertawa terus sampai tidak bisa menegakkan pinggangnya. Chu Liuxiang tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Kau lagi menertawai apa? "Menertawai aku sendiri."

"Aku tidak bisa menemukan ada bagian-bagian di dirimu yang pantas ditertawai."

"Aku menertawai diriku sendiri adalah seorang yang tolol."

Chu Liuxiang berkata seraya tertawa juga "Kenapa kau tiba-tiba berubah menjadi orang yang rendah hati?"

"Jika aku bukan orangyang tolol, mengapa mau berjalan di belakang pantat bagal dan mengikutinya?"

"Itu karena aku ingin mencari serta menemukan si pemilik bagal itu."

"Kenapa kau bisa tahu bahwa si pemilik bagal adalah orang yang mau mencelakaimu?"

"Aku tidak tahu, makanya aku mau mencoba keberuntunganku."

Zhang Jiejie menatapnya, lalu berkata seraya menggelengkan kepala secara perlahan.

"Dengarnya kalau seseorang yang lagi 'bernasib bunga persik', pasti akan bernasib sial, lalu kenapa aku mesti menemani kau pergi untuk mengalami kesialan?"

Ia menyambung seraya mengedip-ngedipkan mata.

"Bagaimanapun juga, paling tidak aku kan belum pernah mencelakaimu?"

Chu Liuxiang berkata seraya mengelus-elus hidung.

"Memang belum pernah."

"Aku adalah wanita, kau adalah pria, ajaran agama yang berbunyi 'Pria dan wanita yang bukan suami istri, tidak boleh terlalu berdekatan. Kau pasti pernah mendengar ajaran ini kan?"

"Pernah."

"Oleh karena itu, tentu kau tidak boleh menarik dan menahanku agar selalu menemanimu kan?"

Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas.

"Memang tidak boleh."

Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum manis.

"Jika begitu, aku mau berpamitan, karena aku tidak mau menemani seorang tolol dan seekor bagal untuk berkeliaran ke mana-mana."

Ia menepuk-nepuk bahu Chu Liuxiang dan berkata sambil senyum.

"Tunggu sampai ketika kau hampir mati karena benarbenar dicelakai orang, jangan lupa beritahu aku, aku pasti bergegas datang untuk membakar dupa untuk mengantarmu berpulang."

Begitu kata terakhir diucapkan, orangnya sudah berada di jarak kirakira 70-80 kaki jauhnya, menoleh dan melambai-lambaikan tangan pada Chu Liuxiang, lalu sebentar saja telah lenyap dari pandangan mata!

Mendadak Chu Liuxiang menyadari bahwa gadis itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi!

Di dunia ini jika ada sepuluh ribu orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi, barangkali ia masih lebih hebat dari 9.998 orang yang lain!

Hanya 9.998 orang, sebab yang satunya adalah Chu Liuxiang!

Namun Chu Liuxiang sekarang pun juga tidak dapat menyusul dia!

Chu Liuxiang menghela nafas dan bergumam.

"Jikalau aku benarbenar mati dicelakai orang, bagaimana aku bisa pergi memberitahukanmu?"

Ia berasa bahwa hampir semua perkataan yang diucapkan gadis ini adalah demikian.

Separuh benar separuh palsu, tampaknya saja benar tapi sebenarnya tidak, sehingga orang lain sama sekali tidak bisa menebak maksud dia yang sebenarnya!

"Sebetulnya ia adalah orang yang bagaimana?

Dan apa artinya bagiku?"

Seandainya mengatakan ia punya niat jahat, namun ia betul-betul belum pernah mencelakai Chu Liuxiang, malahan sedikit banyak pernah membocorkan rahasia pada Chu Liuxiang.

Ia bersembunyi di bawah gerobak, kelihatannya memang benar sedang menanti kesempatan untuk menyelamatkan Chu Liuxiang.

Tapi seandainya bukan dia, bagaimana mungkin Chu Liuxiang mau naik ke gerobak yang penuh dengan selada itu?

Jika demikian, bagaimana mungkin bisa masuk perangkap yang dipasang oleh suami istri tua tapi licik itu?

Chu Liuxiang menghela nafas panjang lagi, dan berharap ia jangan betul-betul mengalami kesialan seperti yang dikatakan gadis itu, dan berharap bagal itu dapat membantu dia, pulang ke rumahnya dengan patuh dan membawa dia untuk menemui "orang itu."

Ia benar-benar amat ingin bertanya pada "orang itu".

"Mengapa ingin sekali membunuh dia?"

Bagal itu memang pulang ke rumah asalnya "Peternakan Yuanji."

Itu adalah sebuah peternakan yang amat besar, di dalamnya ada.

keledai, bagal dan kuda dari berbagai jenis.

Dengan susah payah Chu Liuxiang mengikuti bagal itu menempuh perjalanan setengah hari lamanya, hasilnya persis seperti mau mengunjungi dan menemui ayah keledai dan ibu kuda dari bagal itu!

Masa' Zhang Jiejie sudah bisa menebak hasil ini sejak dini?

-Terlihat bahwa jika seseorang berjalan mengikuti bagal, memang tidak akan peroleh hasil apa-apa.

Bagal itu mengibas-ngibaskan ekornya, dengan gembira sekali pergi mencari para "kerabat"

Nya.

Tinggal Chu Liuxiang seorang diri, berdiri ditempat itu sambil terbengong-bengong.

Lama sekali ia baru bisa tersenyum getir dan berguman "Bagal ini pasti betina." **** Di seberang depan ada sebuah kedai arak yang bertingkat, kedai itu bernama "Loteng Lima Rejeki."

Chu Liuxiang duduk di tempat duduk yang dekat jendela di loteng kedai itu dan minum arak.

Ketika minum arak sampai cawan kelima, mendadak ia menyadari bahwa dirinya adalah orang yang tolol --Si Tolol seratus persen.

Memang benar ada orang yang mau membunuh dia, namun pada saat ini ia toh masih hidup.

akan peroleh hasil apa-apa.

"Jika dia mau membunuhku, kenapa aku tidak menunggu dia datang membunuhku? Kenapa aku mesti mencari dia dengan susah payah?"

Arak di cawan keenam diminumnya dengan cepat, karena arak di kedai ini bukanlah arak yang bagus --Jauh lebih jelek mutunya dari arak simpanannya.

"Bahkan bagal pun mengerti mau pulang ke rumah, mengapa aku mesti berkeluyuran di luar?"

Ia memutuskan akan berhenti sewaktu minum sampai cawan ke duabelas.

"Pertama cari Hu Tiehua dulu, kemudian pulang ke rumah."

Di rumahnya bukan saja ada arak bagus yang menunggu dia, juga ada banyak gadis-gadis yang lemah lembut dan menarik yang sedang menunggu dia!

Ia memutuskan bahwa kali ini ia akan tinggal lebih lama di rumah, beristirahat dengan cukup, dan bernikmat-nikmat!

Ia benar-benar membutuhkan istirahat dan kenikmatan ini!

Dewi Kwan-Im Batu, Tiada bunga.

"Ibu air"

Yinji, Burung Huabi, Nangong Yang, Xue Yiren, Xue Baobao, Guru Besar Kumei, Tuan Muda Kelelawar...

Semua nama tersebut di atas merupakan lawan-lawan tangguh yang pernah dihadapi Chu Liuxiang.

Jikalau tidak dibantu oleh nasib baik, mungkin ia telah mati 7-8 kali!

Begitu ia memikirkan peristiwa-peristiwa yang lampau, tidak tertahan lagi ada satu pikiran yang masuk.

"Aku boleh saja tidak mengurusi hal-hal yang lain, tapi kan tidak bisa melihat saja dia mati karena aku!"

Tiba-tiba di dalam hatinya muncul sebuah bayangan gelap.

Masih bayangan gelap dari tangan itu.

Tiba-tiba, ada sebuah tangan terjulur dari samping badannya, dan menuju ke depan mukanya.

*** Sebuah tangan yang amat indah, lima jari yang lentik, telapak tangan yang amat lembut bagai tanpa tulang, dengan pelan-pelan mengangkat teko arak yang berada di meja Chu Liuxiang.

Dalam cawan telah kosong araknya.

Chu Liuxiangtidak mengangkat kepalanya, hanya memandangi saja arak yang keluar pelan-pelan dari teko itu dan memenuhi cawan itu.

Cawan itu kosong lagi araknya.

Chu Liuxiang tetap saja tidak mengangkat kepalanya.

Ia telah melihat ada sepotong baju atas dan rok yang berwarna merah muda, dan mencium bau harum yang tidak asing lagi.

Ini semua sudah cukup membuat dia tahu yang datang itu siapa.

Ai Hong.

Chu Liuxiang betul-betul tidak menyangka bahwa ia bisa muncul kembali, tiba-tiba berkata sambil senyum.

"Kau telah ganti sepatu."

Tangan itu turun dan menyingkap ujung rok dengan pelan, terlihatlah sepasang sepatu berwarna hijau yang buatannya bagus, sol sepatunya tipis dan halus.

Sol-sepatu setipis ini, di dalamnya tidak bisa menyimpan senjata rahasia.

Chu Liuxiang menganggukkan kepala dan berkata sambil senyum.

"Indah sekali, inilah sepatu yang seharusnya dipakai oleh anak perempuan."

Pelayan kedai yang bermata jeli itu segera membawakan sumpit dan cawan yang baru.

"Kau kan sudah datang, kok tidak duduk untuk minum beberapa cawan arak?"

Kata Chu Liuxiang.

Ai Hong duduk.

Chu Liuxiang baru melihat bahwa sekarang warna muka gadis itu jauh lebih pucat dari sebelumnya, ekspresi wajahnya juga amat muram, senyum manis dan nakal yang berada di ujung mulutnya juga sudah lenyap, ujung alisnya selalu berkerut, sepertinya menanggung beban pikiran yang amat berat.

Gadis-gadis muda kebanyakan bersifat sentimentil, dan gadisgadis manakah yang tidak punya beban pikiran yang berat?

Namun tampaknya Ai Hong bukan gadis yang bersifat sentimentil.

Chu Liuxiang menuangkan arak ke cawan Ai Hong, lalu berkata seraya tersenyum.

"Apakah kau masih memikirkan sepatumu yang dulu itu? Sepatu itu berada pada temanku yang berbaring di bawah meja, aku setiap saat dapat memintanya dan mengembalikan padamu."

Ai Hong menundukkan kepala, kelihatannya amat gelisah. Chu Liuxiang berkata lagi sambil senyum.

"Tenang! Walaupun temanku itu amat menyukai sepatumu, tapi kali ini ia tidak bersembunyi di bawah meja."

Ai Hong menggigit bibirnya, akhirnya cawan arak yang berada di depannya diteguk habis.

Baca Juga: Pedang Wucisan 4

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert