Ceritasilat Novel Online

Pedang Wucisan 4

Eps 4 Pedang Wucisan - Chin Yung

Baca online Pedang Wucisan - Chin Yung

Cersil Pedang Wucisan - Chin Yung.

"Dengan amat menyesal, harus kuberitahu kepadamu."

Berkata Su-to Yan.

"Bahwa kitab ilmu pedang Maya Nada bukan milikku, Karena itu belum dapat kuserahkan kepadamu."

"Kau tidak takut kurebut dengan cara kekerasan ?"

Pek Leng Soat naik darah. Su-to Yan tidak melayani terus, dia membalikkan tubuh, mengangkat kaki dan berkata.

"Maaf, aku masih ada urusan, Selamat tinggal."

Pek Leng Soat mengikuti gerakan pemuda itu, dia menyusul, tangannya bergoyang-goyang, memukul sehingga delapan kali.

"Su-to Yan."

Dia berteriak keras.

"Kau mau melarikan diri? Tidak mudah, kawan."

Su-to Yan dipaksa melayani datangnya senangan itu, mengegos kekanan dan kekiri, dia membiarkan serangan tadi lolos dari kedua sisinya.

Ujung kaki menutul tanah, siuttt....melejit lagi, sangat tinggi dari sana, dia meneruskan usahanya hendak menjauhi si gadis berbaju putih.

Pek Leng Soat terbang menyusul.

Hal ini sudah berada didalam perhitungan Su-to Yan.

Gadis itu berani menghadang dirinya, tentu mempunyai ilmu kepandaian tinggi, dengan ilmu Cek-khie Leng-in.

Su-to Yan berjumpalitan jauh, melepaskan dirinya dari kekuatan Pek Leng Soat, kemudian, Su-to Yan meneruskan peluncurannya.

Bagaikan awan yang terapung terbang, dia melayang pergi.

Itulah ilmu kepandaian Cek-khie Leng-in yang luar biasa !

Didalam sekejap mata, tubuh Su-to Yan telah melayang tiga puluh tombak tingginya, atau kepandaian sendiri ini tak mungkin dapat dipadu oleh Pek Leng Soat.

Sigadis memandang lenyapnya bayangan pemuda itu, hatinya mendongkol tapi tidak berdaya, dia membanting-banting kaki.

Su-to Yan berhasil meloloskan diri dari pengejaran Pek Leng Soat, melewati dua puncak gunung lagi, dia akan segera tiba di lembah Hui-in.

Tempat bersemayamnya si Bidadari dari gunung Busan.

Dari arah depan sipemuda, melayang datang satu bayangan, cepat sekali, inilah Cia Ciu Nio, jago wanita dari Kun lun-pay, orang yang menjadi guru Cin Bwee.

Cia Ciu Nio menghampiri Su-to Yan dan menegur sipemuda.

"Dimana Cin Bwee?"

Hubungan Su-to Yan dan Cin Bwee begitu intim sekali, adanya sipemuda ditempat ini seorang diri menandakan bahwa si gadis menemukan suatu kesukaran yang berada diluar dugaan, karena itu Cia Ciu Nio wajib memberi teguran.

Su-to Yan menjawab pertanyaan itu.

"Dia jatuh kedalam tangan Jie Ceng Peng."

"Huh,"

Cia Ciu Nio kaget, tentu saja dia gemes.

"Mengapa kau tidak berusaha untuk menolong? Apa maksudmu datang ketempat ini seorang diri?"

"Sedang melakukan perjalanan kearah lembah Hui-in,"

Su-to Yan memberi jawabannya dengan hormat.

"Mengapa seorang diri?"

Tegur lagi Cia Ciu Nio.

"Boanpwee harus membikin penyelesaian dengan Ie Han Eng. Dengan menyerahkan catatan ilmu pedang Maya Nada. Dan urusan dapat diselesaikan maka boanpwee segera akan menemui Jie Ceng Peng, meminta Cin Bwee dari tangannya."

Cia Ciu Nio tertawa tawar, katanya.

"Hendak mengembalikan kitab ? Betul-betulkah kau hendak mengembalikan kitab? Bila kau ada niat untuk menolak perjodohan itu, mengapa menerima pertunangan?"

Su-to Yan menundukkan kepalanya, Apa yang dapat dikatakan? Pertunangan dengan Ie Han Eng ditetapkan oleh kakeknya, hal itu berada diluar dugaan sama sekali. Dia tidak tahu-menahu tentang hal itu.

"Sebelumnya, akupun tidak mengetahui sama sekali."

Dia mengadakan pembelaan.

"Dan bagaimana kau hendak menyelesaikan urusan kalian ini?"

"Ie Han Eng sudah memberi keputusan tentang ini."

Berkata Suto Yan.

"Bagaimana putusannya?"

Cia Ciu Nio mendesak terus.

"Dia memulangkan pedang In-liong."

Jawab Su-to Yan sedih. Cia Ciu Nio berpikir lama, setelah itu dia berkata lagi.

"Ilmu pedang Maya Nada benda yang membawa malapetaka, Aku tidak mengharapkan Cin Bwee terlibat oleh persengketaanpersengketaan yang ditimbulkan karenanya, Mengerti akan maksud tujuanku?"

Su-to Yan menganggukkan kepalanya, memaklumi bahwa Cia Ciu Nio mengadakan teguran atas terlibatnya Cin Bwee pada urusan kitab pusaka.

"Nah kau boleh pergi."

Berkata Cia Ciu Nio.

"Urusan Cin Bwee boleh kau serahkan kepadaku, Biar aku yang membikin penyelesaian dengan Jie Ceng Peng."

Sekali lagi Su-to Yan menganggukkan kepala.

Cia Ciu Nio memperhatikan pemuda itu, kesannya tidak begitu buruk, yang disayangkan adalah tersangkutnya Cin Bwee yang menyintai Su-to Yan sedikit banyak, murid itu kerembet juga, inilah yang dipusingkan olehnya.

"Kuanjurkan agar kau tidak usah pergi kelembah Hui-in lagi."

Dia berkata.

"Dan ilmu Pedang Maya Nada?"

Su-to Yan salah paham. Tidak mengembalikan kitab catatan silat itu berarti menerima perjodohan yang telah ditetapkan oleh kedua orang tua Ie Han Eng dan orang tuanya. Cia Ciu Nio memberi keterangan.

"Catatan ilmu pedang adalah bibit penyakit. Buang saja kepada orang yang memintanya. Ketahuilah, karena adanya kitab itu, perjalanan yang menuju lembah Hui-in sudah ditutup beberapa lapis, mereka terdiri dari jago-jago ternama. Tidak mudah kau mengalahkan mereka semua."

Su-to Yan tertawa tawar, dia mengemukakan pendapatnya.

"Catatan ilmu Pedang Maya Nada kudapat dari tangan Ie Han Eng. Dan sudah selayaknya, bila aku mengembalikan kedalam tangan gadis itu lagi. Penjegalan-penjegalan para manusia tamak yang menghendaki ilmu pedang ini tidak kutakuti. Betapa bahayapun akan kuterjang mereka."

Cia Ciu Nio menarik napas.

"Kau terlalu kukuh."

Dia berkata.

"Baiklah, Aku pergi lebih dahulu."

Meninggalkan Su-to Yan, jago wanita itu pergi kearah markas Thian-lam Lo-sat.

disana dia harus menolong Cin Bwee.

Su to Yan tidak menahan, memandang bayangan punggung belakang orang, dia menghembuskan keluhan napas.

Apa yang dikatakan oleh Cian Ciu Nio bukan berupa gertakan sambal.

Di hadapannya sudah menunggu banyak jago-jago dari berbagai golongan, maksud tujuan mereka tentu mengingini kitab ilmu Pedang Maya Nada.

Sebagai seorang kesatria, dia wajib menerjang rintangan itu, satu persatu harus dijatuhkan lebih dulu.

Su-to Yan meneruskan perjalanan.

Tidak ada sesuatu pekerjaan yang tidak mengandung unsur kebahayaan.

Termasuk juga perjalanan Su-to Yan kearah lembah Hui-in.

Lebih berbahaya dari segala sesuatu yang berbahaya.

Baru saja masuk di tikungan gunung, ditengah jalan sudah berdiri seorang hwesio.

Bukannya hwesio biasa, inilah hwesio istimewa, pada tangannya terpancung pacul, inilah hwesio Tukang Pacul Bwee Goat, Manakala orang menggunakan pacul yang tajam untuk menggarap tanah, tetapi hwesio ini menggunakannya terbalik.

Dia memegang alat penggarap itu pada bagian yang tajam.

Su-to Yan terkejut, ilmu kepandaian Kui-hie Sin-kang dari hwesio Tukang Pacul Bwee-goat luar biasa, Tidak mudah dihadapi.

Bwee-Goat memperhatikan makin dekatnya sipemuda.

Su-to Yan sudah sesumbar, bahaya apapun yang melintang dihadapannya akan diterjang, nah, kini dia harus menerjang Hwesio Tukang Pacul Bwee Goat, jarak mereka semakin dekat.

Dengan dingin Bwee Goat membuka suaranya.

"Dimana kawanmu yang membawa-bawa srigala itu ?"

Dia menanyakan Si Anak Srigala Lee Pin. Adanya pasukan srigala dari pendekar muda itu sangat menyegankan dirinya, Su-to Yan tertawa.

"Aku niat bertemu dengan Ie Han Eng, dia tidak mau turut serta."

Demikian pemuda ini memberikan jawaban. Hwesio Tukang Pacul Bwee Goat tertawa, dia berkata.

"Luar biasa.. Aku memuji keberanianmu."

"Tanpa bantuan orang, kau kira dapat mengalahkan orang? sampai dimanakah taraf kepandaianmu, sehingga begitu berani? Aku adalah orang yang tiada guna, tapi belum tentu dapat dikalahkan."

Su-to Yan mengerutkan kedua alisnya yang kereng, dengan tertawa dia membalas tanggapan-tadi.

"Dengan ilmu yang kau miliki, mungkinkah dapat mengganggu perjalananku ?"

"Ha... ha ha ..."

Bwee Goat harus memuji kepintaran lawannya.

"Jalan ini sudah ku-tutup. Bila kau dapat mengalahkan aku, baru dapat meneruskan perjalananmu."

Su-to Yan mendekati hwesio Tukang Pacul itu.

"Kukira, kau juga menghendaki kitab ilmu pedang Maya Nada ?"

"Ada dua jawaban, Betul dan bukan,"

Bwee Goat menutup katakatanya dengan satu serangan buntut pacul.

Sret, sret, sret, tiga jalur angin serangan meluncur kearah Su-to Yan.

Su-to Yan menyedot peredaran jalan napasnya, tubuh itu melejit keatas, berputar sehingga tiga kali, menghindari serangan angin ujung pacul Bwee Goat.

"Ha, ha... Hanya seperti ini?"

Su-to Yan meletakan ujung kaki ditempat lain, Dimana mengeluarkan suara mengejek.

"Crut, crut, crut..."

Tiga kali serangan lain yang menyerang Su-to Yan. Dengan bangga Bwee Goat berkata.

"Nah, boleh rasakan serangan berikutnya, inilah ilmu Kit-hian-cie."

Dengan tipu Hun-hoa Hut-liu atau Menyingkap Bunga Menyingkirkan Rumput, Su-to-Yan mengenyampingkan serangan lawannya.

"Sampai disini saja ilmu Kit-hian cie?"

Su-to Yan memandang rendah.

"Hm...."

Bwee Goat mengeluarkan suara dari hidung.

"Bila ilmu Kit-hian-cie hanya seperti ini, tentu dia tidak dipanggil salah satu dari 10 ilmu silat dari jaman purbakala."

Lagi-lagi dia memainkan paculnya, begitu aneh, dari sana meluncur desiran angin yang amat kuat, datangnya begitu cepat, amat banyak, seolah-olah jaring yang tidak terlihat, semua serangan terarah kepada Su-to Yan.

Su-to Yan terkejut, tangan kanannya dikebutkan dengan menyedot napas yang sangat dalam, dia mempertahankan diri Jurus Hun-song Cian-lie, Han-in dan Ciok-goat saling menyusul, menyentil balik semua serangan-Serangan si Tukang Pacul.

Tiga jurus yang kita sebut diatas adalah jurus perubahan dari ilmu Pie pa cap sa chiu, ilmu utama dari sepuluh macam tipu silat dari jaman purbakala.

Datangnya serangan begitu hebat, pertahanannya pun tidak lemah, mereka seimbang sama kuat.

Suatu saat, badan kedua orang itu terpisah.

Bwee-goat mundurkan diri.

Su-to Yan melewati kepala hwesio itu itu dan langsung maju kedepan.

Bwee Goat tidak mengejar.

Dengan suara keras dia berkoar.

"ilmu kepandaianmu memang sulit mendapat tandingan. Didepan masih ada beberapa percobaan. Baik-baiklah kau menghadapinya."

Su-to Yan belum mengerti akan maksud tujuan Bwee Goat.

Dia lebih penting mengutamakan perjalanannya dengan langkah yang keras, dia tetap maju kearah lembah Hui-in.

Menikung lagi satu jalan, seseorang tosu melintang ditengah jalan, tosu ini bersenjata pecut panjang, mengenakan pakaian baju biru.

Menunggu sampai Su-to Yan datang dekat, dia membentak.

"Su-to Yan!"

Su-to Yan menghentikan langkahnya.

"Bagaimana sebutan dan gelar totiang yang mulia? Mengapa menghadang di tengah jalan?"

Dia bertanya sabar.

"Aku Giok Hie."

ToSu itu memperkenalkan diri.

"Sudah lama menunggu kedatanganmu."

"Totiang menghendaki ilmu pedang Maya Nada?"

Bertanya Su-to Yan blak-blakan.

"Boleh juga."

Berkata tosu pembawa pecut itu. Dia tersenyumsenyum.

"Boleh Totiang menggeser sedikit badan, agar aku dapat melanjutkan perjalanan?"

Su-to Yan masih bersikap sabar.

"Boleh saja, bila kau dapat memaksa aku menggeser badan,"

Berkata si Tosu tukang Sado Giok Hie. Sepasang alis Su-to Yan terjengkat.

"Nah, sebelumnya aku meminta maaf."

Dia berkata.

Tangannya bergerak menyodok kedepan.

Terarah ke pundak tosu itu.

Giok Hie memeramkan kedua matanya, seolah-olah dianggap enteng.

Puk, tangan Su-to Yan berhasil mengenai pundak suto tukang Sado itu.

Tidak berhasil menjatuhkan lawannya, begitu kuat dan kekar, Giok Hie tidak bergeming dari tempat yang semula.

Su-to Yan tertegun, inilah ilmu Bambu Bung Hay-tiok-kang, juga salah satu dari sepuluh macam ilmu silat dari jaman purbakala.

Pikiran dan gerakan Su-to Yan bekerja pada saat dan waktu yang sama, mengikuti dan meneruskan gerakan tadi, dia meneruskan serangannya kearah jalan darah ditangan tosu itu.

Giok Hie mementang sepasang mata, begitu besar, penuh kemarahan, pecut ditangan terayun mengincar batok kepala Su-to Yan.

Su-to Yan membungkukkan diri, meluncur kedepan, demikianlah masing-masing menerima kegagalan, Kaki Giok Hie bergerak, dari arah yang tidak terduga sama sekali, menyepak bagian bawah Su-to Yan.

Lagi-lagi sipemuda dikejutkan, itulah ilmu Kaki Kepiting Mo-liongtui !

"Aha, tosu ini memiliki dua macam ilmu silat dari jaman purbakala."

Satu demi satu, ilmu-ilmu jaman purbakala itu bertampilan kembali.

Pinggang Su-to Yan terancam, hampir dia diremukkan, Beruntung dia cepat, gesit laksana-kucing, mengegos ke samping, uap hijau mengepul sedikit-sedikit, inipun termasuk salah satu dari sepuluh macam ilmu silat dari jaman purbakala, ilmu Kabut Hijau Itbok Cia khie.

Ilmu purbakala kontra ilmu purbakala!

"Awas!"

Su-to Yan berteriak, dia memberi peringatan Dia pun memiliki beberapa macam ilmu purbakala, mungkinkah dia kalah dengan musuhnya?

Sepuluh jari Su-to Yan direntangkan itulah Tiga Belas jari Sakti Pie-pa-cap-sa-San-chiu, Tujuannya mengincar beberapa jalan darah lawan.

Giok Hie menggentak pecut, datangnya dari bawah keatas, mengancam jari jari Su-to Yan.

Tangan Su-to Yan dibalikkan, menelungkup dan meraup pecut musuh.

Giok Hie menarik diri ke samping sedikit dan dari sana naik kembali, langsung kearah leher Su-to Yan.

"Su-to Yan memutar kepala, bayangan itu terlalu cepat, tahutahu sudah berada dibelakang musuhnya. Sepasang tangan didorong ke depan.

"Bek bek..."

Dia berhasil menggeser kedudukan posisi Giok Hie.

Giok Hie bergeser dari membelakangi Su-to Yan, dia sudah membalikkan diri berhadap-hadapan.

Tapi tidak menyerang lagi, dia diam.

Su-to Yan membungkukkan setengah badan, inilah tanda penghormatan kepada orang yang berada didepannya.

Setelah itu, dia melayang pergi, meneruskan perjalanan.

Sesudah tahu, Su-to Yan menoleh kebelakang, si Tosu Tukang sado Giok Hie masih berdiri ditempatnya.

Tidak bereaksi sama sekali.

Dengan hati yang penuh tanda pertanyaan pertanyaan, Su-to Yan meluncur kearah lembah Hui-in.

Dia belum mengerti, mengapa Giok Hie itu memiliki dua macam ilmu kepandaian silat dari jaman purbakala ?

Kepercayaan kepada ilmu kepandaiannya semakin tebal, dia percaya, bahwa masih banyak gangguan-gangguan yang menunggu didepan, perjalanan lembah Hui-in-sudah begitu dekat.

Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki, mungkinkah tidak dapat mengatasi kesulitan-kesulitan lain ?

Dia berjalan dengan langkah ringan.

Dua tikungan lagi dilewatkan, kini dia melewati jalan lurus, Didepannya ada dua orang yang sedang mengadu catur ditengahtengah jalan, inilah cara-cara si Hwesio tukang Pacul Bwee Goat dan Tosu Tukang Sado Giok Hie, cara mereka untuk menunggu kedatangan Su-to Yan ditengah jalan.

Kecuali meja batu yang terpasang ditengah jalan, dua bangku batu menghias dikanan dan kirinya, pada kedua bangku batu duduk dua orang, yang membelakangi Su-to Yan adalah seorang tua berpakaian sastrawan, dan seorang lagi adalah laki-laki setengah umur.

Kedua orang ini sedang asyik bercatur di tengah jalan.

Jarak ini sudah dekat dengan lembah Hui-in, dikala Su-to Yan enak-enakan meluncur, dua orang yang main catur ditengah jalan itu tiba-tiba mengejutkan dirinya.

Untuk meneruskan usahanya menemui Ie Han Eng di lembah Hui-in.

Su-to Yan berjalan maju.

Laki laki setengah umur dapat melihat kedatangan pemuda itu, dia menahan gerakan lang kah permainan catur, itu hanya isyarat.

Orang tua yang membelakangi Su-to Yan mendongakkan kepala.

"Suhu."

Dia memanggil "Su-to Yan kah yang datang?"

Sastrawan tua itu memanggil laki-laki setengah umur dengan panggilan suhu yang berarti guru, hal ini tentu mengherankan orang yang tahu.

Hanya beberapa jago silat golongan tua yang dapat memahaminya, Ternyata, sastrawan tua adalah murid laki-laki setengah umur itu, namanya Kong-yat Chiu-jit dengan gelar pendekar jago pelajar Tua.

Sedangkan laki-laki setengah umur adalah seorang jago silat dari tiga aliran zaman.

namanya Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

Su-to Yan tidak kenal kepada dua orang itu, dia memberi hormat dan berkata.

"Maaf, boanpwee meminta jalan."

Jago tiga jaman Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu memandang dan menatap pemuda itu, disertai juga dengan pertanyaan.

"Kau yang bernama Su-to Yan? Bagaimana perlakuan kedua muridku ? Adakah mereka membikin banyak kerewelan?"

Su-to Yan terkejut, Dia memperhatikan kedua orang ini, ternyata Hwesio Tukang Pacul Bwee Goat dan Tosu Tukang sado Giok Hie adalah murid orang ini.

Dia telah menyaksikan ilmu kepandaian Bwee Goat dan Giok Hie, cukup tinggi, memiliki beberapa macam ilmu silat dari jaman purbakala, mungkinkah laki-laki setengah umur ini mempunyai kepandaian itu ?

Perasaan gentar menjalani Su-to Yan, jelaslah sudah bahwa Giok Hie dan Bwee Goat mendapat tugas dari orang ini.

Memikirkan kejadian-kejadian itu, sehingga Su-to Yan lupa menjawab pertanyaan orang.

"Aku bernama Pek-ie Kauw-cu Bong-Bong-Cu."

Berkata lelaki setengah umur itu.

"Tentu-nya kau pernah dengar?"

Dan dia bangun berdiri.

Su-to Yan semakin kaget, Ternyata orang yang pernah menghilang dari kalangan rimba persilatan pada satu abad yang lalu muncul kembali ?

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu adalah tokoh silat kenamaan, umurnya sudah genap se-abad, mengapa lebih muda dari muridmuridnya?

Ternyata Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu pernah memakan sekepal buah Noho merah, buah ini sangat mujarab, dapat menyembuhkan aneka macam luka dan derita, juga memelihara kulit-kulitnya.

Orang yang tidak tahu seluk-beluk ini akan mengatakan sebagai Pek-ie Kauw-cu Bong BOng Cu yang palsu.

Kepada jago yang masih hidup sampai tiga jaman ini.

Su-to Yan wajib memberi hormat, dia mengulang kata salamnya.

"Maafkan boanwee yang tidak kenal kepada cianpwee, dengan ini Su-to Yan menerima salah."

"Ha, ha...."Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu tertawa.

"Kudengar kau memiliki beberapa macam ilmu silat dari jaman Purbakala, Dia juga memiliki kitab catatan ilmu pedang Maya Nada, Betulkah hal yang aku katakan itu?"

"Hal itu betul."

Berkata Su-to Yan tanpa menyangkal. Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu tertawa lagi.

"Kau memang seorang pemuda jujur."

Dia memberikan pujiannya.

"Tidak seharusnya aku mengganggu perjalananmu Tapi aku tertarik kepada ilmu kepandaianmu. Disini aku hendak menguji, betulkah ilmu-ilmu pelajaran ilmu silat dari jaman purbakala? Betulkah ilmu kepandaian yang asli? Ketahuilah, bahwa sepuluh ilmu silat dari jaman purbakala tersebar dari tangan Thian Kho Cu, tidak mudah untuk meyakinkannya. Aku hanya mendapat beberapa bagian, dan alangkah indahnya, bila dapat memiliki semua pelajaran-pelajaran itu, Dan tentang ilmu pedang Maya Nada, ilmu itu dapat membahayakan jiwamu sendiri. Akupun hendak meminjamnya. Maukah kau memberikan kitab itu ?"

"Sangat menyesal."

Berkata Su-to Yan lantang.

"Boanpwee belum dapat mengabulkan permintaan itu."

"Jawaban yang sudah kuduga."

Berkata Pek ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

"Dan kata-kataku yang berikutnya adalah menyediakan dua jalan.. Mau tidak mau, kau harus memilih salah satu dari jalan ini."

"Dipersilahkan cianpwee menyebut jalan-jalan itu?"

Berkata Su-to Yan hormat.

"Jalan pertama, yaitu menerima kau menjadi muridku. Dengan jaminan bahwa ilmu pedang Maya Nada dan pelajaran dari jaman purbakala tetap berada padamu."

Berkata sijago Tiga Jaman Pek-ie Kauw-Cu-Bong Bong Cu.

"Dan jalan yang kedua?"

Bertanya Su-to Yan cepat. sikapnya tenang.

"Jalan yang kedua lebih mudah lagi."

Berkata Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

"Dengan ilmu kepandaian yang kumiliki, tentu tidak sulit untuk mengambil ilmu kepandaianmu tentu saja berikut ilmu pedang Maya Nada."

"Boanpwee menolak kedua jalan yang cianpwe ajukan itu."

Berkata Su-to Yan gagah.

"Tentu saja kau menolak."

Berkata Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

"Karena kau belum belajar kenal dengan siapa dan bagaimana adanya Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu. Tapi bagi mereka yang sudah hidup diatas 70 tahunan, tidak satupun yang berani menolak permintaanku. Aku akan melumpuhkan semua ilmu kepandaianmu Bila tidak mendapat persetujuanmu Bagaimana ?"

"Tidak seorangpun yang akan setuju membiarkan kepandaiannya dipunahkan orang."

Berkata Su-to Yan. ilmu "Kulihat kau begitu tenang."

Berkata Pek-Ie Kouw-Ce Bong Bong Ce "Karena kau menganggap tidak mempunyai tandingan? Ha-ha, ha... biar murid pertamaku yang berhadapan denganmu."

Pek Ie Kauw-Cu Bong Bong cu menoleh ke arah sastrawan yang sudah ubanan itu. dan berkata padanya.

"Kau boleh menerima pelajaran Saudara Su-to Yan."

"Tecu menerima perintah!"

Berkata sipelajar Tua Kang yat ChiuJit. Pek-Ie Kauw Cu Bang Bong Cu memandang Su-to Yan lagi, dia berkata.

"Inilah muridku yang pertama, namanya-Kong-yat Chiu Jit. Dengan gelar julukan si pelajar Tua. Diantara ketiga muridku, hanya dia seorang yang mewarisi ilmu kepandaian terbaik."

Su-to Yan kaget, Dia pernah menyaksikan ilmu kepandaian Hwesio Tukang pacul Bwee Goat, juga menggebraki si Tosu Tukang Sado Giok Hie, kedua-duanya memiliki ilmu pelajaran dari jaman purbakala, cukup hebat dan luar biasa.

Dikatakan lagi bahwa Kong-yat Chiu-jit memiliki ilmu kepandaian yang berada diatas adik-adik seperguruannya, Bukan-lah lebih hebat lagi?

Si Pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit menghampiri Su-to Yan.

Berdiri didepan anak muda itu, lalu mengeluarkan senjatanya.

Serta, itulah sebilah pedang, dengan sikapnya yang angkuh, dia melempar kerangka senjata.

Dengan pedang di tangan, dia terlihat galak memang cukup keren, sayang dia terlalu tua, betapa kerenpun seorang yang sudah tua keangkerannya tersisihkan sebagian.

Demikian juga keadaan Kong-yat Chiu-jit, umurnya sepertiga dari Sang guru, tapi keadaan yang seperti itu, bagi mereka yang tak tahu, tentu menganggap kakek atau orang tuanya Pek-ie Kauw-Cu Bong Bong Cu.

"Dipersilahkan saudara Su-to Yan bersiap sedia."

Su-to Yan memperhatikan jago tua ini dan berpaling kearah Pekie Kauw-cu Bong Bong Cu, seolah-olah sedang membandingkan kedua murid dan guru itu. Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu berkata.

"Kau harus berhati-hati kepada ilmu pedang nya. Muridku ini mempunyai kecepatan yang luar biasa."

Su-to Yan mengeluarkan pedang, memandang Kong-yat Chiu-jit tanpa mata berkedip.

"Silahkan."

Dia menerima tantangan.

Si Pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit meluruskan pedang, langsung disodorkan kedepan, gerakannya perlahan sekali, Dengan tujuan ulu hati Suto Yan, ujung pedang itu maju bergerak jalan.

Tentu saja, Su-to Yan belum dapat memahami maksud tujuan gerakan lawan yang begitu lambat, dia manyontek pedang itu, dan membalas dengan satu serangan yang mengincar pergelangan tangan lawan.

Pedang Kong-yat Chiu-jit tersentak keatas, gerakannya masih begitu lambat, sangat ayal-ayalan, tanpa menghiraukan ancaman yang mengarah pergelangan tangannya, dia menurunkan pedang, menusuk kearah pundak.

Su-to Yan terkejut, apa-apaan nih?

Dia hendak diajak mengadu jiwa?

Betul-betul luar biasa!

Dia dapat memapas pergelangan tangan lawan, tapi karena itu, juga dia menderita luka.

Untuk menghindari diri dari tusukan pedang itu, dia menarik pulang senjatanya.

Kong-yat Chiu-jit mengambil alih pimpinan penyerangan dia berhasil memaksa lawan menarik diri, dan karena itu, dia meneruskan tusukannya.

Pedang Su-to Yan terangkat menangkis tusukan itu.

Kong-yat Chiu-jit menjatuhkan pedang, begitu aneh sekali, cepat sekali, dia menyusul larinya pedang itu, maka dengan cara seperti ini arah pedang berganti, dari bawah menusuk keatas, mengancam ketiak Su-to Yan.

Hampir Su-to Yan berteriak, belum pernah dia menemukan ilmu silat yang seaneh apa yang Kong-yat Chiu-jit perlihatkan Kedua tangannya repot, lenyaplah semua kesempatannya untuk menyingkirkan serangan aneh itu.

Su-to Yan tidak kehilangan akal, sepasang kaki bergerak, menendang sampai beberapa kali, Dan dengan kekuatan tendangan itu, dia menjauhkan serangan.

Bagaikan seekor bayangan, pedang Kong-yat Chiu-jit menyusul datang.

Terlalu cepat untuk ditangkis, lagi-lagi Su-to Yan yang dipaksa melarikan diri.

Nah, disinilah letak kecepatan ilmu pedang Kong-yat Chiu-jit, terus menerus dia membayangi gerakan sipemuda.

Kemanapun Suto Yan menggeser badan, selalu diikuti oleh serangan-serangan, tidak lepas dari beberapa dim sejarak dari kulit dagingnya.

Su-to Yan sudah dapat menduga bahwa ilmu kepandaian Kongyat Chiu-jit berada di atas Bwee Goat dan Giok Hie.

Karena itu dia melayani dengan hati-hati, tokh masih repot.

Didalam keadaan terpaksa, Su-to Yan menggunakan gagang pedang menotok ujung serangan Kong-yat Chiu-jit.

Kong-yat Chiu-jit mengembangkan variasi permainan pedangnya, sret, dia berhasil menyobek baju sipemuda.

Disaat yang sama, Su-to Yan sudah lari kebelakang, Potongan bajunya terbang terbawa angin lalu.

Kong-yat Chiu-jit belum puas dengan kesudahan seperti itu, maksudnya melukai daging atau kulit Su-to Yan.

Lawan itu gesit sekali, ia hanya berhasil menyobek sedikit kain bajunya.

Tentu saja belum dianggap selesai, meneruskan serangan tadi, ujung pedang diluruskan lagi.

Su-to Yan belum berhasil menemukan cara yang baik untuk menghadapi ilmu permainan pedang Kong-yat Chiu-jit, lagi-lagi dia terpaksa mengundurkan diri.

Bergeser jauh kebelakang.

Pertempuran ini berjalan tidak seimbang terus menerus Kong-yat Chiu-jit memaksa Su-to Yan terdesak, sehingga sampai ke tebing gunung.

Mundur empat langkah lagi, Su-to Yan tentu akan terjun ke dalam jurang dalam.

Inilah yang menjadi tujuan si pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit.

Su-to Yan juga maklum akan keadaan dirinya, jarak mereka terlalu dekat dia kehilangan daya gerak, hanya menggunakan gagang pedang melayani tusukan-tusukan Kong yat Chiu-jit, tentu saja sangat berbahaya.

Sekali lagi si Pelajar Tua menyerang dengan tajam, Su-to Yan mengegos kekanan, tidak berhasil, darah merah muncrat dari pundak si pemuda.

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu sangat puas, disaat ini dia berkata girang.

"Kong-yat Chiu-jit, jangan terlalu kejam."

Si Pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit menjawab peringatan gurunya.

"Suhu, legakan hatimu, Tidak akan kubunuh mati orang ini."

"Su-to Yan,"

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong cu meneriaki pemuda itu "Menyerahlah."

Mata Su-to Yan berkilat-kilat, dia sedang mencari daya upaya untuk mengelakkan diri dari kekalahan itu.

Disaat ini, pedang Kongyat Chiu-jit berkelebat lagi, menyontek kearah mukanya.

Su-to Yan bingung untuk mengelakkan serangan ini.

Menangkis, tidak mungkin.

Lompat kebelakang, dia akan jatuh kedasar jurang.

Pada saat kritis itulah, tiba-tiba terdengar suara alunan tabuh khim yang mengalun diudara.

Hati Su-to Yan tergerak, dengan gagang pedang, ia membentur datangnya senjata lawan, dan sepasang kakinya tidak tinggal diam, yang akan terangkat sedikit, disusul oleh gerakan kaki kiri, menendang lagi.

Dari atas dan bawah dia menutup serangan Kongyat Chiu-jit.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 10 DATANGNYA suara tabuh khim itu mengejutkan si jago tiga jaman Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu, dan kejadian berikutnya sudah dapat diduga, pertahanan Su-to Yan adalah kematian bagi tipu silat dari sang murid pertama.

Khim adalah nama dari semacam alat musik yang berbentuk seperti tabuh, hanya seorang yang pandai memainkan alat itu, si Tabuh Maut Wie Biauw, juga seorang jago silat dari jaman purbakala.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, kita kemukakan empat tokoh dari jaman purbakala yang memegang peranan penting di dalam cerita ini.

Tokoh pertama dari jaman purbakala adalah Pendekar Rajawali Mas Kie Eng.

Tokoh kedua dari jaman purbakala adalah akhli waris Guha Kematian Pek Tong Hie.

Tokoh ketiga dari jaman purbakala adalah si Tabuh maut Wie Biauw, orang ini yang ditakuti oleh Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

Dan tokoh keempat dari para jago purbakala itu adalah Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

Dari keempat orang yang kita uraikan di atas, Pendekar Rajawali Mas Kie Eng menduduki urutan pertama, dia memiliki kepintaran dan kecerdasan otak yang tiada taranya.

Dan untuk ilmu kepandaian Pek-ie Kauw-Cu Bong Bong Cu berkuasa penuh.

Disusul oleh si Tabuh Maut Wie Biauw yang dapat merendenginya.

Kita kembali pada pertempuran yang sedang terjadi.

Mendapat gemblengan semangat suara tabuh khim Wie Biauw, tenaga Su-to Yan bertambah cepat, dengan hanya genggaman gagang pedang, dia membentur tajamnya serangan Kong-yat Chiujit.

Kakinya tidak nganggur, membarengi gerakan tangan, menjebak dari bawah, inilah pelajaran yang didapat dari Sam-kie Ju-su In Hong.

Serangan Kong-yat Chiu-jit tertahan sebentar, dia tertegun.

Mundur sebentar dan mengirim serangan lainnya, kali ini mengincar iga Su-to Yan.

Adanya irama tabuh khim itu telah membantu Su-to Yan untuk mengimbangi kekuatan dirinya, kini dia dapat bernapas, peredaran darah yang lancar menjadikan suatu tata pertahanan yang lebih menyenangkan.

Dia menangkis setiap serangan yang datang.

Kong-yat Chiu-jit mempergencar serangannya, kali ini dia tidak berdaya, beberapa banyakpun serangan-serangan yang dilontarkan kepada Su-to Yan, semua itu dapat ditangkis dengan baik.

Semakin lama, pertempuran itu semakin cepat, ilmu kepandaian pulau Tong-hay memang luar biasa, memainkan tipu-tipu pemberian ayah angkatnya, Su-to Yan dapat melayani dengan lebih sempurna.

Giliran Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu yang mengerutkan alisnya, memperhatikan lagi beberapa waktu dia berteriak.

"Kong-yat Chiu-jit, hentikan pertempuran ini."

Si pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit mentaati perintah sang guru, tubuhnya mencelat ke belakang, keluar dari arena pertempuran. Dan Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu menghadapi Su-to Yan.

"Tidak kusangka, kau masih ada hubungan dengan pulau Tong hay."

Dia mengangukkan kepala.

Su-to Yan menyedot napasnya dalam-dalam, dia telah melakukan pertempuran yang cukup lama.

Sebelum dapat menjawab pertanyaan itu, suara tabuh khim itu berdering lagi, sangat tinggi, kemudian lenyap mendadak, Itu adalah peringatan dari orang yang membantunya, Su-to Yan belum tahu bahwa si Tabuh maut Wie Biauwlah yang menolong diri nya dari kehancuran.

"Siapakah orang ini?"

Ia bergumam seorang diri. Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu tertawa.

"Dia mengacaukan usahaku."

Dan menghadapi Su-to Yan lagi.

"Baik kuatur seperti ini,"

Katanya.

"Aku tidak mau merebut kitab pusakamu, Tapi aku pun tidak rela membiarkan kau pergi begitu saja, Lemparlah ke atas, dan kau boleh merebut lagi. Aku bertepuk tangan sehingga seratus kali, setelah itu. Siapa yang dapat, itulah orang yang harus memilikinya. Cara memperebutkan kitab ilmu pedang seperti usulku ini tidak akan mengganggu, bukan?"

Su-to Yan tertegun, Tidak disangka bahwa Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mengajukan tawaran yang sangat menguntungkan dirinya, Berani dia bertepuk sehingga seratus kali?

Bukankah kitab ini sudah pulang kandang lagi?

Melihat keragu-raguan pemuda itu, Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu tertawa.

"Kau jangan tidak percaya,"

Dia berkata.

"Seratus gebrakan tangan itu hanya berlangsung didalam sekejap mata, bila aku tidak berhasil merebut kitab ilmu pedang Maya Nada, untuk selanjutnya, aku tidak mau berurusan denganmu lagi."

"Baik."

Su-to Yan menerima tantangan. Dia mengeluarkan kitab ilmu pedang Maya Nada. Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mengangguk kan kepala.

"Nah, boleh kau mulai."

Dia berkata.

Su-to Yan menimbangnimbang berat kitab yang dijadikan rebutan semua orang itu, lalu dia melempar keatas.

Secepat kilat, Pek-ie Kauwcu Bong-Bong Cu bertepuk tangan sehingga belasan kali.

Su-to Yan mempunyai banyak kesempatan dia tidak segera menutulkan dirinya membiarkan kitab itu sampai puncak tinggi, dan dikala hendak menukik turun, baru dia membentang ke dua belah tangannya, menutulkan kedua kaki, meluncur tinggi.

Disaat yang sama, Pek ie Kauwcu Bong-Bong Cu sudah melesat bertepuk tangan sehingga seratus kali, Tubuh jago purbakala inipun meluncur keatas.

Hanya terpaut beberapa meter saja dari Su-to Yan.

Dua tubuh itu meluncur cepat, Dikala tangan diri Su-to Yan dan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu hampir memperebutkan kitab itu.

Tiba-tiba meluncur benda merah yang sangat kecil, inilah seekor burung berbulu merah, bercahaya terang sekali, sangat gesit, mendahului gerakan kedua orang yang memperebutkan kitab pusaka, dia sudah mematuknya.

Dia terbang pergi.

Su-to Yan menubruk tempat kosong, Demikianpun, raihan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu, jago purbakala inipun tidak berhasil mendapat catatan ilmu pedang Maya Nada.

Burung berbulu merah itu sudah meluncur jauh, Paruhnya menjepit kitab Maya Nada kencang-kencang.

Tubuh Su-to Yan melayang turun, dan akhirnya menginjak tanah.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mempunyai gerakan yang lebih gesit, tanpa membiarkan dirinya melayang jatuh, mengempos beberapa tenaga, diapun meluncur kearah burung yang mencuri kitab ilmu pedang Maya Nada.

Dia mengadakan pengejaran.

Su-to Yan sadar akan kekalahannya, mengikuti gerakan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu..

sebentar kemudian jarak mereka semakin jauh dan akhirnya lenyap tidak terlihat.

Dia kehilangan jejak lawannya.

Kehilangan jejak burung kecil berwarna merah itu, juga kehilangan kitab ilmu pedang Maya Nada, Su-to Yan menghentikan pengejarannya, diam-diam tidak bisa berbuat apa-apa.

Apa yang harus dilakukan?

perjalanan kearah lembah Hui in bertujuan untuk mengembalikan ilmu catatan pedang Maya Nada, kitab itu masih menjadi hak milik Ie Han Eng.

Tetapi kini kitab itu sekarang sudah lenyap dibawa lari oleh seekor burung merah, Bagaimana dia dapat memberi pertanggungan jawabnya?

Malampun tiba, Su-to Yan memandang ke arah lembah Hui in, pikirannya kosong melompong, Apa yang dapat dikerjakan olehnya?

Selama menerjunkan diri kedalam rimba persilatan, orang-orang yang dijumpai bertambah banyak, satu-persatu lebih lihay dari lainnya.

Dia menganggap dirinya sendiri masih kurang pandai, dia wajib menekunkan diri lagi.

Su-to Yan melanjutkan perjalanan dimalam hari.

Demikian sehingga dia lelah, memilih satu pohon yang agak besar dia nangkring dan tidur diatas pohon itu.

Terkenang kepada Cin Bwee, gadis itu berada didalam tangan Jie Ceng Peng, tentu saja tidak dapat memberi usul lain.

Si Pendekar Bayangan Sie An tidak ada kabar berita dan entah bagaimana dengan keadaannya.

Seorang lagi yang dapat membantu adalah si Anak Srigala Lee Pin, adanya pasukan itu dapat membantu banyak, saat ini, Lee Pin juga tidak berada disampingnya.

Su-to Yan penat memikirkan kejadian itu, akhirnya ia jatuh pulas.

Badan yang penat lebih cepat pulas, melakukan perjalanan dan pertempuran-pertempuran yang terus-menerus, menjadikan sipemuda tidak mengenal lelah, dan adanya waktu untuk istirahat begitu penting, Dia tidur lama sekali.

Matahari pagi menembus sela-sela daun menyinari pemuda itu, Masih juga Su-to Yan belum bangun.

Satu bayangan menghampiri Su-to Yan, tidak bersuara sama sekali, orang ini adalah bayangan seorang tua, pada tangannya menjinjing alat khim, dia membaringkan diri disamping sipemuda, Mengikuti suara ngorok Su-to Yan.

orang tua inipun mengeluarkan suara ngorok yang keras.

Su-to Yan mencelat bangun, Kaget sekali, menengok kiri, dan dia lebih-lebih terkejut lagi.

"Aaaaa..."

Adanya orang tua yang terhalang tidur disamping sisinya itu mengagetkan dirinya. Orang tua itu membuka kedua matanya, tertawa kearah Su-to Yan.

"Kau sudah bangun?"

Dia bertanya.

Su-to Yan menganggukkan kepala, dia masih berpikir-pikir, siapakah orang tua ini?

Apa maksud tujuannya tidur disamping dirinya?

Mengapa tidak disadari sama sekali ?

Tentunya tokoh silat yang berkepandaian tinggi.

"Su-to Yan,"

Panggil orang tua itu.

"Urusan ilmu pedang Maya Nada bukanlah urusan anak muda, itulah urusan orang-orang yang sudah tua, Tidak perlu kau menyusahkan diri. Biarkan saja diambil orang."

"Aaa ... ."

Su-to Yan kaget, Orang tua ini juga mengikuti perkembangan ilmu Pedang Maya Nada ? "Bagaimana ?"

Orang tua itu melirikkan matanya.

"Kitab catatan ilmu pedang Maya Nada bukan hak milik boanpwee,"

Su-to Yan memberi keterangan.

"Itulah milik orang lain, boanpwee wajib mengembalikan kepadanya."

"Kau hendak mengetahui jejak burung yang melarikan kitab itu?"

Bertanya siorang tua itu.

"Boanpwee sangat berterima kasih kepada petunjuk cianpwee."

Berkata Su-to Yan.

"Pergilah kearah utara sejarak lima lie, disana kau akan mengetahui, siapa yang melarikan kitab pusakamu."

Berkata orang tua itu, menenteng tubuhnya, dia meluncur pergi.

"Cianpwee ..."

Su-to Yan memanggil.

Si Tabuh Maut tidak menghiraukan panggilan Su-to Yan.

Untuk mengejar, tentu saja tidak mungkin, dan tiada guna sama sekali, Su-to Yan mengambil putusan untuk mengikuti petunjuk menuju kearah utara.

Lima lie kemudian, Su-to Yan dapat menyaksikan api merah yang mencorong keluar dari semak-semak rimba.

Secara berindap-indap, Su-to Yan menyelinap kearah rimba itu.

Pada tumpukan kayu yang membara, bergelimpangan suatu benda, Dikala Su-to Yan memasang mata betul-betul, dia mengenali burung merah yang menyambar kitab ilmu pedangnya.

Burung merah itu sedang bermain di atas api, aneh, tidak selembar bulupun yang hangus terbakar.

Belum pernah Su-to Yan menyaksikan pemandangan yang seperti baru dilihatnya, yaitu adanya seekor burung yang bermandi api, ini adalah suatu kejadian yang sangat janggal sekali.

Teringat kepada kitab catatan ilmu pedangnya, burung ini bukan burung biasa?

maka dapat menyambar kitab catatan itu, kini dia sedang bermandi api, gerak-geriknya sangat gesit, begitu lincah, menandakan kepuasan hatinya.

Su-to Yan memperhatikan gerak-gerik burung merah itu, Untuk menemukan kitab catatan ilmu silatnya, dia harus menangkap burung ini sehingga dapat menemukan jejak kitab ilmu Pedang Maya Nada.

Perlahan-lahan, Su-to Yan mendekati.

Burung merah masih bermain diatas bara api, sehingga api itu mengecil.

Sebentar lagi, api pembakaran menjadi padam, Su-to Yan mengambil keputusan, cepat2 menyedot pernapasan dalam-dalam, dia harus segera bergerak, bila tidak, manakala menunggu sampai burung aneh itu puas mandi api dan terbang pergi, kemana lagi harus melakukan pengejaran.

Su-to Yan meluncar cepat, tujuannya adalah burung kecil yang berwarna merah.

Sang burung menoleh, begitu tenang, seolah-olah sudah biasa berhadapan dengan manusia, dia tidak segera terbang pergi, dan menunggu serangan Su-to Yan.

Sepasang sayapnya masih bergibrik-gibrik diatas lidah api.

Su-to Yan merentangkan kelima jarinya, dengan harapan satu kali sergapan dia dapat menangkap burung aneh itu.

Menunggu sampai jarak dekat, secara tiba-tiba saja, burung aneh berwarna merah mengibaskan sayap, mementalkan percikan api ke arah Su-to Yan.

Si pemuda mengepulkan alisnya, dia marah atas kelicikan sang burung, tangannya dibalikkan, menghindari percikan api merah, berganti arah, dia menyergap kembali.

Sang burung bercicit-cicit, tidak henti-hentinya melempari Su-to Yan dengan percikan api.

Kemarahan Su-to Yan semakin menjadi-jadi, dia begitu sengit sekali, tenaga dalamnya disalurkan kearah telapak tangan "Hut.."

Memukul burung merah itu.

Maksudnya memukul jatuh burung merah yang gesit, kemudian, dia tidak takut kehilangan kitab ilmu silat.

Cara Su-to Yan adalah cara yang paling tepat, tidak mungkin burung merah itu dapat mengelakkan diri.

Tiba-tiba, punggung Su-to Yan menerima serangan.

Telapak tangan si pemuda ditarik pulang dan memukul serangan gelap itu.

Berganti posisi, dia menyingkir kesamping, segera membalikkan badan, hendak dilihat, siapa gerangan yang menyerang secara gelap itu?

Seorang gadis berpakaian putih memandang Su-to Yan dengan mata bersinar, inilah Pek Leng Soat.

"Hei, mengapa kau memukul si Merah?"

Sigadis menegur lebih dahulu. Su to Yan berkerut alis.

"Burung aneh ini yang kau artikan dengan Si Merah?"

Dia tidak mengerti.

"Siapa lagi?"

Pek Leng Soat adalah seorang gadis yang manja. Kejadian ini membingungkan Su-to Yan, jelaslah sudah bahwa orang yang mencuri kitab catatan ilmu pedangnya adalah sigadis berbaju putih.

"Tidak kusangka."

Dia berkata.

"Jangan kau mengganggunya lagi.!"

Berkata Pek Leng Soat, dia sangat sayang kepada si Merah.

"Aku tidak ada maksud untuk mengganggu si Merah."

Berkata Su-to Yan.

"Kembalikanlah kitab catatan ilmu pedangku."

"Kitab itu berada ditangan ayahku."

Pek Leng Soat memberikan keterangan. Suto Yan mengerutkan alis lagi, Dia berkata.

"Dapatkah kau menolong memintanya kembali ?"

"Adat ayahku tidak bisa diselami."

Berkata Pek Leng Soat.

"Aku tidak berani."

"Tolong kau ajak aku menemuinya."

Su-to Yan meminta.

"Lebih baik jangan, Dia akan marah kepadamu."

Pek Leng Soat mengirim satu senyuman.

"Kitab itu bukan milikku."

Berkata lagi Su-to Yan.

"Kitab catatan ilmu pedang Maya Nada adalah kitab Ie Han Eng, aku harus mengembalikan kepadanya, Kuharap kau dapat mengembalikannya."

Pek Leng Soat tidak memberi jawaban, dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Biar bagaimana aku harus menjumpai ayah mu."

Berkata Su-to Yan marah. Pek Leng Soat meremehkan permintaan itu, masih saja sigadis menggoyang kepala. Disaat ini, satu bayangan melesat datang, menyambung katakata Su-to Yan.

"Kau hendak bertemu denganku ?"

Disana bertambah seorang tua berbaju kuning, inipun termasuk salah satu dari empat jago silat golongan tua dari jaman purbakala, dia menduduki urutan kedua, namanya Pek Tong Hie, orang yang menjadi ahli waris dari Gua kematian.

Su-to Yan berbalik cepat.

"Ayah."

Berteriak si gadis kolokan, dia menubruk orang tua berbaju kuning itu dan tenggelam didalam pelukannya.

Orang toa berbaju kuning Pak Tong Hie mengelus-elus rambut sang putri, kemudian dia mendorong tubuhnya, memandang Su-to Yan dan berkata.

"Si Telor Busukkah yang memberi tahu kepadamu, bahwa aku berada ditempat ini?"

Su-to Yan tidak dapat menjawab pertanyaan itu, dia tidak tahu, siapa yang diartikan dengan sebutan "Telor Busuk"

Itu. Mungkinkah orang tua yang membawa tabuh khim? "Aku tidak tahu nama julukannya."

Bertanya si pemuda.

"Huh,"

Pek Tong Hie mengeluarkan suara dari hidung.

"Dengan kedudukanmu tentu tidak mengetahui namanya."

"Entah bagaimana sebutan cianpwee yang mulia?"

Bertanya Suto Yan.

"Hendak mengetahui namaku?"

Orang tua berbaju kuning itu tertawa."

"Maksud boanpwee..."

"Maksudmu?"

"Meminta kembali Catatan ilmu pedang Maya Nada."

"Bagus. Akupun hendak membikin perhitungan kepadamu."

"Perhitungan?"

Suto Yan tidak mengerti..

"Ng, dengan maksud tujuan apa kau membuat kitab Maya Nada yang palsu?"

Su-to Yan lebih tidak mengerti lagi, apa yang dimaksudkan dengan kitab Maya Nada yang palsu?"

Disaat itu, orang tua berbaju kuning sudah mengeluarkan kitab, dilempar kearah Su-to Yan.

"Nah, ambillah kitab pusaka palsumu."

Dia berkata marah. Su-to Yan menyanggah datangnya kitab itu, inilah kitab yang menjadi rebutan banyak orang, dia menyimpannya kedalam saku baju, memberi hormat dan hendak berjalan pergi.

"Boanpwee meminta diri."

Dia berkata.

"Tunggu dulu!"

Bentak orang tua berbaju kuning itu.

"Ada apa?"

Su-to Yan batal berangkat.

"Dimana kau sembunyikan catatan ilmu pedang Maya Nada?"

Orang tua Berbaju kuning menatapnya dengan wajah merah.

"Catatan ilmu pedang Maya Nada?"

Su-to Yan bingung sekali.

"Betul."

Orang tua baju kuning Pek Tong Hie menganggukkan kepalanya "Dimana kau simpan ?"

Su-to Yan memegang saku bajunya.

"Bukan itu yang kumaksudkan."

Berkata Pek Tong Hie lagi. Su-to Yan mengeluarkan kitab ilmu pedang Maya Nada. Pada kulit muka kitab tersebut ada tertulis. ilmu pedang Maya Nada.

"Bukalah lembaran isinya."

Pek Tong Hie memberi perintah.

Su-to Yan menerima catatan ilmu pedang Maya Nada dari tangan Ie Han Eng, setelah itu, dia belum pernah memeriksa.

Mendapat perintah tadi, dia memeriksa lembaran-lembaran kitab.

"Aaaa..."

Su-to Yan berteriak, kitab yang berada ditangannya adalah lembaran-lembaran yang putih, tidak ada isi sama sekali.

Kitab putih ?

Su-to Yan memeriksa dengan teliti, tidak ada bekas-bekas sobekan atau sesuatu yang mencurigakan, inilah kitab yang didapat dari tangan Ie Han Eng, yang menjadi rebutan banyak orang.

"Mengapa tanpa kata-kata atau keterangan keterangan lainnya ?"

"Dimana kau sembunyikan kitab yang asli?"

Pek Tong Hie membentak lagi.

Mungkinkah dipalsu orang ?

Su-to Yan bingung.

Dia mematung ditempat.

Pada tangannya masih terpegang kitab ilmu pedang Maya Nada yang tiada isi itu.

Tiba-tiba, dari jauh terdengar satu suara tertawa besar.

"Ha, ha, ha... Pek Tong Hie, sudah lama kita tidak bertemu."

Disana melayang masuk satu orang, dia adalah lelaki setengah umur, jago keempat dari tokoh-tokoh silat jaman purbakala, Pek-ie Kauw cu Bong Bong Cu.

Ahli waris Gua Kematian Pek Tong Hie menghadapi Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

Baru sekarang Su-to Yan tahu, bahwa orang tua berbaju kuning itupun sudah berumur diatas satu abad.

Pek Tong Hie berhadapan dengan jago sederajat, dia membuka suara.

"Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu, kemana larinya ketiga murid pusakamu itu ?"

"Mereka segera datang."

Jawab Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

"Ha, ha, ha...."

Pek Tong Hie tertawa.

"Apa maksudmu ?"

"Apa lagi, bila bukan karena catatan ilmu pedang Maya Nada? Aku hanya memiliki sebagian dari sepuluh ilmu silat jaman purbakala yang ditinggalkan Thian Kho Cu, maukah kau membantu urusan untuk mengumpulkan semua ilmu-ilmu itu ?"

Pek Tong Hie tertawa tawar.

"Belum pernah aku ketarik dengan usul yang kau kemukakan."

Dia menolak ajakan itu.

"Puluhan tahun kita tidak berjumpa."

Berkata Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

"Sikapmu masih seperti sediakala. Kau belum mau membuang rasa sentimen itu ?"

"Kau hendak memperebutkan se

Jilid kitab kosong?"

Pek Tong Hie memberi peringatan.

"Aku tidak percaya."

Menggoyangkan kepala. Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu "Terserah."

Berkata Pek Tong Hie.

"Aku tidak memaksa kau percaya. Kau kira dapat mengalahkan aku dengan ilmu Kut-hie Sinkang yang kau pelajari ?"

"Ha ha ... ilmu Thiat-tan Kie-kang memang lihay, tapi aku tidak takut kepadamu."

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu memandang rendah.

"Bagus, sudah lama aku hendak menjajal ilmu kepandaian Kuihie Sin kang."

Berkata Pek Tong Hie, dia tidak mau kalah.

Kedua jago purbakala itu berhadap-hadapan.

Mereka segera akan mengadu ilmu itu.

Su-to Yan berdiri disamping, adanya kesempatan itu tidak mudah didapat, dia segera dapat menyaksikan bagaimana dua jago dan jaman purbakala mengeluarkan ilmu simpanan masing-masing.

Ahli Waris Gua Kematian Pek Tong Hie memasang kuda-kuda, dia mengerah tenaga dalamnya.

Tubuh kakek ini segera berselubung kabut putih yang tipis.

Sikap Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu juga menjadi tegang, dia siap mengalahkan tandingan itu.

Pek Tong Hie bergerak lebih dahulu, tubuhnya melompat tinggi, kemudian menyerang kearah lawan.

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu menggoyangkan tangan, perlahan sekali, didorong ke-depan.

Su-to Yan segera mengenali cara-cara si pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit menghadapi dirinya, hampir-hampir dia dikalahkan oleh murid Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu itu.

Pek Tong Hie mengenal baik kepada ciri-ciri khas lawannya, dia tidak berani melibatkan diri kedalam pertempuran berjarak dekat, tubuhnya bergeser ke samping, jauh sekali.

Pek-ie Kauw cu Bong Bong Cu menyeret serangannya kearah posisi baru lawan itu.

Kabut putih yang menyelubungi tubuh Pek Tong Hie semakin tebal, dia membikin penjagaan yang kuat.

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu menyerang sampai beberapa kali semakin lama semakin cepat, akhirnya tubuh itu berubah menjadi seekor bianglala biru, berputar disekitar tubuh Pek Tong Hie.

Akhli Waris Gua Kematian Pek Tong Hie membikin perlawanan yang semakin hebat.

Dua ekor bianglala jelmaan mereka bergerak begitu cepat, hampir tidak dapat dilihat dengan mata.

Suatu saat Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu mengipaskan tangan, sepuluh jalur serangan jari berdesir keras.

Setelah itu, tubuhnya mundur kebelakang, Bayangannyapun terpeta kembali.

Dia tertawa puas.

Pek Tong Hie juga mundur ke belakang, memperpanjang jarak perpisahan mereka.

Kabut putih itu menipis lagi, dan akhirnya lenyap sama sekali.

Wajahnya menunjukkan rasa kemarahan yang tidak terhingga.

Menyaksikan akhir babak pertama dari pertandingan itu, Su-to Yan mengetahui bahwa Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu telah mendapat kemenangan diatas angin.

Dengan ilmu Kit thian cie jaman-purbakala berhasil mendesak lawannya.

Dua jago tua dari jaman purbakala ini masih berhadap-hadapan berjarak aman mereka masih hendak meneruskan pertandingannya.

Tiba-tiba, terdengar suara alat tabuh khim yang didendang perlahan.

Semakin lama semakin keras, datangnya kearah tempat itu.

Wajah Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu berubah.

"Wie Biauw juga hendak mengikuti keramaian ini."

Dia berkata.

"Berani kau meneruskan pertandingan dilain tempat ?"

Dia menantang Pek Tong Hie.

Setelah itu, tanpa menunggu jawaban sang akhli waris dari Gua Kematian, Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu bergerak meluncur jauh.

Gerakan ini tidak dibiarkan oleh Pek Tong Hie, baja kuningnya berkibar-kibar, dia juga lari menyusul.

Dua jago dari jaman purbakala pergi meninggalkan tempat itu.

Pek Leng Soat menoleh kearah Su-to Yan mengkhawatirkan keselamatan ayahnya diapun dibelakang.

sebentar, mengintil Diatas udara, turut terbang burung ajaib yang aneh api Si merah.

Bayangan abu-abu, kuning, putih dan merah kecil itu meluncur jauh.

Meninggalkan Su-to Yan seorang diri.

Su-to Yan mengalami kegagalan.

Dia berhasil meminta pulang kitab ilmu pedang Maya Nada.

Ternyata hanya kitab kosong dengan lembaran kertas putih.

Apa yang harus dilakukan olehnya?

Satu bayangan meluncur datang, berpakaian tosu, inilah murid Pek ie Kauwcu Bong-Bong Cu yang nomor dua, si tosu Tukang sado Giok Hie.

Su-to Yan siap menyambut kedatangan tosu itu.

Giok Hie memperhatikan Su-to Yan beberapa saat kemudian berkata.

"Lagi-lagi kita berjumpa kembali."

Su-to Yan melentikkan sepasang alisnya yang hitam.

"Ada apa?"

Dia bertanya dengan suara yang membawakan sikap adem.

"Guruku pernah berkata, untuk mendapatkan kitab Maya Nada, hanya boleh menuju ke arah dua jalan, Kemungkinan pertama jatuh ke dalam tangan Pek Tong Hie, dan kemungkinan berikutnya masih berada didalam tanganmu, Guruku masih bersitegang dengan Pek Tong Hie, apa boleh buat, aku harus meminta dari tangan mu."

"Kitab Maya Nada memang berada pada-ku,"

Berkata Su-to Yan terus terang, Dia tidak menyebut bahwa kitab itu adalah se

Jilid kitab yang kosong.

"Bagus."

Kepadaku."

Berteriak Giok Hie girang.

"Serahkan kitab itu "Begitu enak meminta benda kepunyaan orang lain?"

Su-to Yan menjebikan bibirnya yang tipis.

"Mau hendak mempersulit kedudukanku?"

Berkata Giok Hie memainkan istilah tata bahasa halus.

"Bagaimana aku dapat memberikan pertanggung jawabku, bila guruku menegur tentang kitab Maya Nada itu?"

Su-to Yan menyedot napasnya dalam-dalam, dia maklum bahwa Giok Hie memiliki dua macam ilmu silat dari jaman purbakala, ilmu Bambu Bung Han-tiok kang dan ilmu Kaki kepiting Mo-liong-ti-tidak boleh dipandang ringan.

Menyaksikan cara cara Su-to Yan menghadapi dirinya, Giok Hie tidak buka suara lagi, langsung memainkan tangan, menyodok kedepan.

Untuk menghindari desakan Giok Hie yang bertubi tubi, Su-to Yan harus memelihara jarak jauh, karena itu, tanpa menunggu datangnya serangan, dia terbang keatas.

Giok Hie menubruk tempat kosong, Su-to Yan menjatuhkan dirinya dibelakang lawan itu, dengan kedua tangan direntangkan, dia menyergap murid Pek-ie Kauw Cu Bong-Bong Cu.

inilah tipu gerakan iblis Sakti Menampilkan Diri.

Giok Hie sudah membalikan badan, datangnya kedua tangan Suto Yan begitu cepat, untuk mengimbangi daya perputaran Giok-Hie mengirim dua tendangan.

Su-to Yan mengayun badan, tipu iblis Sakti Menampilkan Diri berubah menjadi iblis Sakti Menenteng Gendongan, begitu tepat manis sekali.

Sepasang tangannya berhasil menangkap kedua kaki Giok Hie.

Kedua-duanya terayun ke atas udara.

Giok Hie tidak menjadi takut, tubuhnya dijungkir balikkan, dia memiliki ilmu Bambu Bung Han tiok kang, karena itu melengkung panjang, dengan sepasang tangan yang masih ada bebas, dia menyerang punggung Su-to Yan.

Serangan ini datangnya dari bawah keatas, tanpa menghiraukan sepasang kakinya yang masih terpegang, dia menyerang hebat.

Su-to Yan melemparkan kedua kaki lawan nya, lagi-lagi dia menjauhkan diri.

Giok Hie mendapat kebebasan kembali.

Babak berikutnya diteruskan dengan pertempuran benturan-benturan tenaga tidak dapat dielakan lagi.

cepat, Giok Hie menendang sampai beberapa kali, Su-to Yan mengendekkan badan, menerjang maju, dan mengancam jalan darah Yauw-hu-hiat si tosu Tukang Sado.

Wajah Giok Hie menunjukkan senyuman, inilah akibat totokan Su-to Yan, jalan darah Yauw-hu-hiat mengandung perasaan geli, karena itu dia tertawa.

Pada detik-detik yang bersamaan, tendangan Giok Hie mengenai dada Su-to Yan, inilah ilmu Kaki Kepiting Mo-liong-tui.

Darah Su-to Yan dirasakan bergolak, tubuhnya terhuyung kebelakang, begitu hebat ilmu dari jaman purbakala itu, sebelah badan sipemuda dirasakan panas, dan lain bagian menjadi dingin, inilah siksaan luar biasa, dia mendapat gencetan hawa dingin dan hawa panas berbareng.

Giok Hie bersorak girang, dia menyusuli dengan serangan berikutnya.

Su-to Yan mendorongkan kedua telapak tangan, hawa panas dan hawa dingin bergulung, mempelintir tubuh si tosu Tukang Sado.

Giok Hie hanyut dibawah pusaran tenaga gaib itu.

Su-to Yan pernah diberi makan obat perekat Tong-hay Sin-ciauw, dan secara kebetulan, dia menyedot hawa dingin ketua lembah Cuigoat-kok Kiu-han Sinkun Kho Cio dan hawa panas Hoan-hian Mokun Thiat Kiam Seng.

Tendangan Kaki Kepiting si Tosu Tukang Sado Giok Hie memecahkan tempat penampungan kedua tenaga luar biasa itu maka Su-to Yan kehilangan kekuatan tempur.

Begitu berhasil mendorong lawannya, Su-to Yan membalikkan badan, dia melarikan diri.

Giok Hiok melawan kedua kekuatan hawa panas dan dingin, walaupun sudah payah, diapun berhasil menekannya.

Su-to Yan sudah lari sejauh puluhan tombak.

Giok Hie tidak mengenal lelah dia mengejar Terjadi kejar mengejar terus menerus, Giok Hie masih gesit, dia berhasil memperpendek jarak pengejaran.

Semakin lama semakin dekat.

Su-to Yan menyeruduk ke depan, tanpa memilih jalan yang lebih baik untuknya, Kini dia memasuki sebuah lembah.

Giok Hie juga tiba dimulut lembah itu, dia mendongakkan kepala, wajahnya berobah disana, didepannya ada tanda pedang kecil pada pohon yang agak tinggi juga terlihat tergantung sebatang pedang mungil.

Giok Hie tidak berani memasuki lembah itu, membalikkan diri, pergi ngeloyor.

Apa boleh buat, dia belum berani membangkitkan kemarahan orang yang memasang tanda kecil dimulut lembah.

Su-to Yan tidak memperhatikan adanya tanda-tanda itu, dia memasuki lembah semakin jauh.

Pohon-pohon bambu yang berwarna kuning memenuhi seluruh tempat, Su-to Yan masuk ke-dalam rimba bambu kuning.

Didalam daerah pohon bambu berwarna kuning itu Su-to Yan sesat jalan, Kemanapun dia pergi, tidak berhasil menemukan jalan keluar, semua adalah jalan mati, jalan buntu.

Dia melongok kebelakang, tidak ada tanda-tanda yang memberi tahu, bahwa Giok Hie mengejar sampai ditempat itu.

Hati Su-to Yan agak lega, Dia duduk bersila, mengatur peredaran jalan darahnya.

Kekuatan Kiu-han Sin-kun Kho Chio bersifat dingin, kekuatan Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng bersifat panas, dikala kedua jago ini mengadu kekuatan dilembah Cui-goat-kok, Su-to Yan menyelak masuk, tepat dibawah gencetan kedua orang itu.

Tanpa disengaja, obat perekat Tong hay Sin-ciauw telah menyedot kekuatan kedua orang.

Kini kekuatan itu dipecahkan oleh tendangan Giok Hie.

Su-to Yan harus mengatur kembali, Memberi wadah yang wajar kepada mereka.

Penyaluran yang seperti itu memakan waktu setengah hari.

Berkat latihan tenaga dalamnya yang tekun, Su-to Yan berhasil memisahkan kekuatan panas dan dingin.

Dia membuka kedua mata yang dirapatkan Kanan, kiri, depan dan belakang ada tumbuh pohon bambu, semua bentuk dan ukuran pohon itu sejenis.

Tidak dapat membedakan mereka.

Mungkinkah memasuki daerah seseorang tokoh silat yang pandai soal tim barisan?

Su-to Yan memilih satu arah, dia bangkit dan menuju lurus kedepan.

Betapa jauh-pun dia melewati pohon-pohon bambu itu, masih belum juga berhasil keluar darinya.

Su-to Yan balik kembali, menuju kearah utara, dia hendak meninggalkan rimba bambu kuning, Adanya bambu-bambu kuning yang ditanam di lembah ini adalah khusus ditanam oleh seorang tokoh silat dari jaman purbakala, dia sudah buta, karena itu membutuhkan sesuatu yang dapat menjamin jiwanya.

Dia mengatur bambu-bambu ini sedemikian rupa, sehingga tidak mudah untuk mencelakainya.

Untuk memberi tanda kepada orang-orang yang tidak sengaja, pada mulut lembah diberi tanda pedang kecil.

To-su Tukang Sado Giok Hie melihat adanya tanda itu, dia tidak berani lancang masuk kedalam lembah Bambu Kuning.

Demikianlah Su to Yan buntu meninggalkan rimba bambu kuning.

jalan, dia tidak berhasil Setengah harian Su-to Yan terputar-putar didalam lembah itu.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh adanya sebatang pedang kecil yang tergantung disuatu pohon bambu.

"Aaaa.,."

Su-to Yan berteriak kaget, inilah tanda khas dari Pendekar Rajawali Mas Kie Eng.

Dia telah memasuki daerah terlarang jago dari jaman purbakala itu.

Su-to Yan bingung, pendekar Rajawali Mas Kie Eng adalah orang pertama dari empat jago tua dari jaman purbakala, umurnya sudah seratus delapan tahun, kecerdikannya tidak ada yang dapat memadai.

Untuk ilmu kepandaian, dia hanya kalah oleh Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu, Si Tabuh Maut Wie Biauw dan Akhli waris dari Gua Kematian Pek Hong Hie tiga orang.

Mengetahui dirinya berada dibawah kekuasaan seorang jago tua dari jaman purbakala, Su-to Yan menyerahkan diri.

Dia mengeluarkan helahan napas panjang.

Disaat inilah tiba-tiba terdengar suara yang serak bertanya.

"Su-to Yan kah yang datang?"

Sipemuda terkejut, untuk tidak mengganggu usahanya, dia berkata hormat.

"Betul, Boanpwee Su-to Yan."

"Sudah kuduga."

Berkata suara yang serak itu.

"Datanglah kedekatku."

"Boanpwee tak dapat menemukan jalan."

Berkata Su-to Yan.

"Kau melihat tanda pedang kecil?"

Bertanya orang ini, wajahnya belum terlihat.

"Ada."

Berkata Su-to Yan.

"Nah, majulah kearahnya, Melewati pohon bambu yang ada tanda pedang kecil, kau ke kiri 15 langkah, Maka kau dapat melihat wajahku."

Mengikuti petunjuk orang itu, Su-to Yan menggeser langkah kakinya, Tiba-tiba pemandangan dihadapannya bersinar terang, Dia membelakangi rumpun pohon bambu, disana duduk seorang tua berambut panjang.

Duduk disebuah batu besar, kedua matanya lurus memandang kedepan, hanya berupa layar putih, tidak terlihat hitamnya, orang tua ini sudah buta.

"Su-to Yan, mataku tidak dapat melihat, jangan kau menjadi kaget."

Su-to Yan memperhatikan orang tua berambut panjang, begitu panjang sehingga menutupi seluruh tubuhnya.

"Kau adalah orang pertama yang memasuki barisan tin pohon bambu kuningku ini."

Berkata lagi orang tua itu. Su-to Yan membungkukkan setengah badan, dia bertanya.

"Cianpwee tentunya Pendekar Rajawali Mas Kie Eng."

"Aku memang Kie Eng."

Berkata orang tua itu, terlihat senyumnya yang serius sekali.

"Sudah ku perhitungkan, kau bakal datang ketempatku, sengaja kubangun barisan tin bambu kuning, khusus menunggu kedatanganmu dan betul-betul kau datang."

Su-to Yan lebih terkejut, ternyata kedatangannya diperhitungkan oleh orang tua berambut panjang. sudah "Aku adalah kawan baik kakekmu,"

Berkata orang tua berambut panjang Kie Eng.

"Aaaa...!"

Cepat-cepat Su-to Yan memberi hormat dalam.

"Ha, ha ..."

Si pendekar Rajawali Mas Kie Eng tertawa.

"Jangan banyak peradatan bangun !"

Dia tidak dapat melihat, tapi telinganya cukup tajam, pendengarannya luar biasa sekali, segala gerak-gerik Su-to Yan tidak lepas dari penilaiannya.

Betul-betul Su-to Yan takluk.

Membelalakkan mata putihnya, Kie Eng menatap kearah sipemuda, dan dia mengajukan pertanyaan "Kudengar, ayahmu telah menyerahkan kau kepada Ciok Pek Jiak, apakah benar berita itu?"

Su-to Yan sangat girang, inilah untuk pertama kalinya ada orang yang menyebut tentang diri sang ayah, cepat-cepat dia berkata.

"Betul, Boanpwee mendapat didikan langsung dari Suhu."

"Sudah kuduga... Sudah kuduga."

Berkata Kie Eng.

"Tentang ayah boanpwe,"

Berkata Su-to Yan.

"Dimanakah cianpwe bertemu dengan beliau? Dapatkah memberi sedikit keterangan."

Kie Eng mengoyang-goyangkan kepalanya maka rambutnya yang panjang itu terurai kekanan dan kekiri.

"Ayah dan kakek tuamu sudah mati semua."

Su-to Yan tertegun.

"Dan ibu boanpwee?"

Dia bertanya tentang ibunya.

"Juga turut mengorbankan dirinya."

Berkata Kie Eng.

Su-to Yan berdiri seperti patung, matanya lurus memandang depan.

Terkenang kepada orang tuanya, teringat bagaimana sang ayah dan ibu membawa dia ke tempat kakek tuanya, kemudian menyerahkannya kepada Ciok Pek Jiak, hanya itu yang masih dapat diingat, kemudian, lenyaplah ayah bunda itu.

Sang kakek tuapun tidak terkecuali.

Lenyap tanpa bekas, Tidak seorangpun yang tahu, kemana perginya ketiga orang itu.

Disini, dia mendapat keterangan dari jejak orang tua dan kakeknya.

Dan berita yang didapat adalah berita kesedihan, ketiga orang itu sudah berada dialam baka.

Orang tua berambut panjang Kie Eng turut mengheningkan cipta, beberapa saat kemudian, dia berkata lagi.

"Kudengar gurumu telah mencucikan diri, tentunya belum menceritakan duduk perkara keluargamu, bukan ?"

"Suhu tidak mau membuka rahasia."

Berkata Su-to Yan.

"Nah, kulihat sudah waktunya kau mengetahui kejadian ini."

Orang tua meluruskan pandangan mata putihnya, seolah-olah hendak menembus jaman yang lalu.

Dia mengenang kejadian lama.

Su-to Yan menunggu cerita si Pendekar Rajawali Mas Kie Eng, Membiarkan orang tua itu melamun lama, dia menantikan dengan penuh kesabaran.

Dengan suara tandas, mengajukan pertanyaan.

sepatah demi sepatah, Kie Eng "Kau telah mendapatkan kitab Maya Nada ?"

"Sudah."

"Tahukah bahwa kitab itu hanya berupa kitab samaran, kitab kosong yang hendak memalsukan catatan ilmu pedang Maya Nada?"

Su-to Yan terkejut Lagi-lagi orang tua ini dapat memperhitungkan adanya kitab kosong itu.

"Baru saja boanpwe ketahui."

Dia berkata. Kie Eng menghela napas.

"ilmu pedang Maya Nada adalah ilmu pedang kelas satu, belum ada yang dapat menandingi ilmu pedang ini, didalam kecepatan dan juga didalam soal perubahan-perubahannya. Tanah bisa merekah, sungaipun dapat pecah, mana kala dia bergemuruh gunungpun dapat dihancurkan. Selama ratusan tahun terakhir, turun menurun tersebar didalam rimba persilatan. Karena adanya keampuhan ilmu pedang itu, banyak yang memperebutkannya, terutama para jagojago kepalang tanggung, agar menjadikan dirinya sebagai manusia Super Tanpa Tandingan, dengan segala jerih payah, mereka mengorbankan tetesan darah yang berharga, tidak sedikit jiwa yang dikorbankan untuknya."

Pendekar Rajawali Kie Eng kenal banyak tentang ilmu pedang Maya Nada, Su-to Yan mendengar keterangan itu dengan hati patuh. Kie Eng menghela napas lagi, dia meneruskan ceritanya.

"Murid bontot Thian Kho Cu yang bernama Kong-su Put-hay mengantongi ilmu pedang Maya-Nada masuk kedaerah Tionggoan, dia pribadi mati bersama-sama dengan sembilan saudara-saudara seperguruannya, maka ilmu pedang Maya Nada turut lenyap sementara, Kong-sun Put-hay mati disuatu tempat yang tidak diketahui orang."

Su-to Yan berguru kepada Ciok Pek Jiak dan jago ini sudah bosan kepada keramaian dunia, dia menyucikan diri, menutup semua sumber berita yang mempunyai hubungan dengan ilmu pedang Maya Nada yang membawa malapetaka itu.

Dengan maksud agar Su-to Yan tidak melibatkan diri dalam persengketaan berdarah.

Apa mau, takdir sulit dielakkan, Su-to Yan tidak berhasil lari dari kenyataan ilmu Pedang Maya Nada itu selalu membayangi dirinya, sehingga terjadi tragedi-tragedi yang sudah kita tuturkan diatas.

Orang tua itu berambut panjang Kie Eng melanjutkan ceritanya.

"Kakek tuamu Su-to Pek Eng berhasil menemukan ilmu pedang Maya Nada, kitab itu didapat dari seorang asing yang berpakaian belang2, kemudian terjadi persengketaan. Kakek tuamu menyerahkan kitab Maya Nada kepada keluarga dilembah Hui-in digunung Bu-san. Demikian urusan ilmu pedang Maya Nada dapat diredakan."

Su-to Yan mengangguk-anggukkan kepalanya, dia mendapat gambaran jelas dari asal mula ilmu pedang Maya Nada.

Orang tua berambut panjang Kie Eng mengatup-ngatupkan sepasang matanya yang buta, dan dia meneruskan cerita yang terputus tadi.

"Orang asing berpakaian belang adalah jago istana Khong-kiokkiong yang melarikan dirinya dari tekanan dan kejaran bangsanya, Hal ini diketahui juga, setelah terjadi pengambilan ahli kitab Maya Nada oleh keluaga Ie. Jago-jago istana Khong-kiok-kiong membikin penyelidikan mereka mengintimidasi kakek dan kedua orang tuamu, pertempuran-pertempuran tidak dapat dielakkan, untuk memberi pertanggung jawabannya, kakek tuamu pergi ke istana Khong kiokkiong. Disusul oleh kepergian kedua orang tuamu, akhirnya mereka mati didalam istana belang itu."

Su-to Yan mendongakkan kepala, dia mendamba-dambakan kehadiran sepasang orang tua-nya, kini harapan itu lenyap sama sekali, buyar terbawa angin lalu, dan kakek tuamu pun sudah tiada, mereka itu mati dibawah tangan Istana Khong-kiok-kiong.

Airmata membasahi pipi sipemuda.

Pendekar Rajawali Mas Kie Eng menarik napas, dia berkata lagi.

"Dikala kakek tuamu membikin perjalanan ke istana Khong-kiokkiong, dia pernah meminta diri dariku, Dan manakala kedua orang tuamu menyusul, juga bertemu denganku, generasi ketiga dari keluarga Su-to, kau juga menjumpaiku janganlah kau menyusul jejak keluargamu itu."

Su-to Yan mengadukan kepala, kakek tua nya Kiay-hay Kiamkhek Su-to Pek eng begitu lihay, tokh tidak dapat mengalahkan jago istana Khong-kiok-kiong, maka Kie Eng memberi bujukan halus, agar dia tidak menuju ke-istana belang itu.

Dengan suara yang serak, Kie Eng meneruskan keterangannya.

"Kukira, ilmu pedang Maya Nada sudah jatuh kedalam tangan istana Khong kiok-kiong, maka kakek tuamu tidak dapat mengalahkan mereka. Bila betul ada kejadian yang seperti ini, urusan lebih tidak mudah diselesaikan."

"Boanpwee kira belum tentu."

Su-to Yan mengemukakan pendapatnya.

"Sehingga saat ini. belum pernah terdengar cerita tentang orang-orang dari istana Khong-kiok-kiong."

"Mendapat serangan kakek dan kedua orang tuamu, tentu istana belang menderita banyak kerugian, besar kemungkinan para jago kelas satunya telah binasa, maka istirahat untuk sementara, menunggu sampai kekuatan mereka pulih kembali. Segera mengadakan gerakan serentak perhatikan betul-betul tentang kejadian ini."

"Begitu lihaykah jago-jago dari istana Khong-kiok-kiong?"

Su-to Yan mengajukan pertanyaan.

"Bayangkan sendiri, bila mereka tidak mempunyai kekuatan yang cukup hebat. Mungkinkah kakek dan kedua orang tuamu dapat dikalahkan."

"Kau juga tidak dapat menandingi mereka?"

Su-to Yan menatap orang tua berambut panjang itu.

"Ha, ha..."

Pendekar Rajawali Mas tertawa.

"Aku sudah tua, tiada guna."

"Suatu hari, boanpwee akan menjajal kepandaian istana Khongkiok-kiong."

Berkata Su-to Yan gagah. Kie Eng, menunjukkan wajahnya yang girang, dia berkata.

"Aku tahu, kau memiliki aneka macam ilmu kepandaian silat yang hebat, sayang kau masih terlalu muda, belum dapat menyatukan semua ilmu itu. Berusahalah untuk membikin ilmu gabungan yang sehat, dan itu waktu, kukira tidak ada orang yang dapat mengalahkan mu."

Pikiran Su-to Yan terbuka lebar, apa yang dikemukakan oleh orang tua ini adalah tujuan yang menjadikan harapannya, bila saja dia dapat menyatukan semua ilmu kepandaian dan tenaga orang yang berada didalamnya, siapakah yang dapat mengalahkan Su-to Yan?

Kie Eng berkata.

"Aku tidak melarang kau menggulungkan diri didalam persengketaan ilmu pedang Maya Nada, Aku turut bergembira, bila melihat kau menjadi orang, tapi bukan sekarang, Tekunkan-lah semua ilmu-ilmu itu."

Su-to Yan sedang mengurung kembali semua ilmu kepandaian yang ada padanya, dia sedang mencari jalan bagaimana harus menyatukan ilmu-ilmu kepandaian yang acak-acakan itu.

Kata-kata Kie Eng hampir tidak masuk kedalam telinganya.

Sebagai seorang yang berpengalaman menggunakan pendengaran telinganya, Kie Eng dapat mengetahui, bahwa pemuda itu sedang menekunkan ilmu-ilmunya.

Dengan perlahan-lahan, Sijago purbakala berkata.

"Alam semesta tercipta olehnya, hanya satu yang berkuasa, lima yang bertaburan diseluruh angkasa, menyelinap diantara yang ada dan yang tiada. Setiap gerakan berpangkal di pusat, menyusun jalur-jalur naluri terjadilah suatu kebahagian. Hancurlah semua kekotoran-kekotoran duniawi yang berani menggangu kelancaran kerja insan didunia."

Hati Suto Yan tergerak, inilah kunci yang sulit didapat, Sam kie Ju-Su In Hong memberi pelajaran "Hui Eng cap-pat-San dan koatkong-cit-hian.

Ayah angkat itu tidak memberi kunci-kunci pemecahannya, dan dari orang tua berambut panjang Kie Eng, Suto Yan menemukan kunci-kunci temuan baru.

Si pemuda berlompat girang, Dia menari-nari membawakan ilmu silat yang ada.

Pendekar Rajawali Mas Kie Eng menganggukkan kepala dia girang, Membiarkan pemuda itu bersilat beberapa saat, dia berkata.

"Aku ada urusan, dan hendak meninggalkan rimba bambu kuning ini, baik-baiklah kau melatih diri. Bila kau hendak keluar, perhatikan tanda pedang kecil itu, kau harus belok kekiri sebanyak lima belas langkah, Maka barisan bambu kuning tidak banyak mengganggumu."

Tubuh melesat, dan lenyap dari pandangan.

Su-to Yan mendapat kemajuan maju selangkah ditempat itu.

Petunjuk Kie Eng masuk tepat kedalam lembahnya.

Didalam lembah Bambu Kuning, Su-to Yan mendapat setengah hari.

Kemudian mengikuti petunjuk Kie Eng, dia melanjutkan perjalanannya.

Hari mulai gelap...

Telinga Su-to Yan yang tajam dapat menangkap datangnya suara pertempuran.

Mengikuti datangnya suara-suara itu, dia meluncurkan kakinya.

Belasan orang berbaju hitam sedang mengurung seorang anak muda yang berambut kusut, anak muda itu membikin perlawanan yang hebat, dia main terkam dan seruduk, main sesak dan menerjang hebat, inilah si Anak Srigala Lee Pin.

Dikala Su-to Yan memasang mata betul-betul, dia mendapat suatu kepastian, bahwa orang berbaju hitam adalah anak buah golongan Thian-lam Lo-sat.

Dibawah kurungannya para jago Thianlam Lo-sat, Lee Pin tidak dapat menembus pertahanan musuh.

Su-to Yan sedang berpikir-pikir, mengapa Lee Pin tidak minta bantuan pasukan srigalanya ?

Disaat itu, Lee Pin mengamuk semakin hebat, dia mengeluarkan suara jeritan, srek, menerkam salah satu pengurungnya, perut orang itu berhasil disodok pecah berdarah, ususnya berceceran panjang, tubuh orang itu terhuyung sebentar dan jatuh, jiwanya mengucapkan selamat tinggal.

Orang-orang berbaju hitam mengurung semakin rapat, mereka berhati-hati sekali, tidak satupun yang berani lengah, Karena itulah keadaan Lee Pin semakin terjepit.

Su-to Yan menyedot napas, tubuhnya melesat tinggi terjun kedalam kalangan pertempuran itu.

"Saudara Lee Pin, jangan takut."

Dia berteriak-"Aku datang membantu."

Orang-orang berbaju hitam mengenali si Pedang Baru Suto Yan, serentak mereka membubarkan diri.

Menggunakan kelengahan mereka, Lee Pin membunuh seorang lagi.

Kurungan itu pecah segera, Mengajak Lee Pin, Su-to Yan berkata.

"Mari kita meninggalkan tempat ini."

Si Anak Srigala Lee Pin setuju saja, dia menganggukkan kepala.

"Mari."

Mereka siap meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba....Terdengar satu suara, besar berkata.

"Ha, ha.... Mau pergi... Ha. ha... sudah terlambat."

Su-to Yan memandang kawan itu. Dan Lee Pin memberi keterangan.

"Mereka menabur bisa jahat disekitar tempat ini."

Su-to Yan mengerti, mengapa Lee Pin tidak memanggil pasukan srigalanya, dia sayang kepada binatang-binatang itu, karena adanya racun2 jahat disekitar tempat itu, agar para srigala tidak mati konyol, Lee Pin membiarkan dirinya dikurung oleh orang-orang Thian lam-Lo-sat.

"Bagaimana ?"

Terdengar lagi suara tadi.

"Masih hendak melarikan diri?"

Disana sudah bertambah seorang, inilah ketua golongan Thianlam Loo-sat yang bernama Lam Kiong It. Su-to Yan menghadapi ketua golongan berbaju hitam itu, Dia berkata.

"Lam Kiong It, berani kau bertanding satu lawan satu?"

"Ha, ha... Mengapa harus satu lawan satu ? Rombongan srigala dari kawanmu itu dapat menakutkan anak buahku,"

"Kau masih ingat akan kitab Maya Nada, bukan?"

Bertanya lagi Su-to Yan.

"Ng, bagaimana?"

Lam Kiong It melirikkan mata.

"Kau dapat memenangkan hadiah kitab, bila memenangkan aku,"

Su-to Yan mengeluarkan tantangan. dapat "Baik."

Lam Kiong It maju seorang diri.

"Bubarkan orang-orangmu itu,"

Su-to Yan mengajukan syarat.

"Jangan banyak omong !"

Bentak Lam Kiong It keras, Tubuhnya mumbul tinggi, dan dia segera menerkam Su-to Yan.

Si pemuda bergeser kesamping.

Lam Kiong It menubruk tempat kosong.

Sret, tangannya menyebarkan sesuatu, itulah lima utas tali berwarna merah, putih, hijau, kuning dan biru.

Dengan tali-tali itulah, dia meneruskan serangannya.

Senjata yang lain daripada yang lain, senjata khas ketua golongan Thian-lam Lo-sat.

Su-to Yan bermain diantara sela-sela lima utas tali lima warna, Lawannya gesit, diapun sangat lincah, terjadi pertarungan cepat.

Lam Kiong It sangat terkejut menyaksikan kemajuan ilmu kepandaian pemuda itu, dia harus memberi penilaian lain, inilah ilmu kepandaian Hui-eng-cap-pat-san dari pulau Tong hay.

Tentu saja Lam Kiong It tidak tahu, bahwa Sam-kie Ju-Su In Hong telah menurunkan ilmu itu kepada anak angkatnya.

Su-to Yan sudah menyatukan ilmu kepandaian praktek yang didapat dari Sam-kie Ju-Su In Hong dan teori sang pendekar Rajawali Mas Kie Eng.

Lee Pin dan anak buah Thian-lam Lo-sat dapat menyaksikan suatu pertandingan itu, sehingga mereka melupakan maksud tujuannya.

Sebagai seorang ketua golongan, Lam Kiong It memang mempunyai ilmu keistimewaannya, dengan menggunakan lima utas tali berwarna-warni, dia hendak mengaburkan sinar pandangan lawannya.

Su-to Yan tidak dapat disengkelit begitu mudah, dia dapat membedakan warna mana yang berbahaya, dan warna mana yang berupa warna ancaman, dengan mudah, dia dapat memilih warna yang agak lemah, dan menerobos kian kemari.

Pertempuran itu berjalan lagi belasan jurus, Lam Kiong It meletakkan lima tali Thian lam Lo-sat pada tangan kanan, dengan menggunakan tangan kiri, dia menyodok ke depan.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 11 SUTO YAN mempunyai kegesitan yang luar biasa, tanpa menunggu perubahan yang berikutnya, dia sudah berhasil menangkap tangan itu.

Lam Kiong It menyeret lima tali Thian-lam Lo-sat, dia hendak melepaskan diri dari keadaan buruk itu.

Tangan Su-to Yun seperti memegang seekor belut, sangat licin sekali.

Dia terkejut, cepat-cepat melepaskan pegangan itu, tubuhnya melejit kebelakang.

Thian-lam Lo-sat adalah ahli bisa dan racun, sangat berbahaya sekali, bila membiarkan persentuhan kulit terjadi, yang akan dirugikan tentu diri sendiri.

Lam Kiong It juga menarik diri dari pertempuran itu, dia segan kepada ilmu kepandaian pemuda tangguh itu.

Harapannya yang hendak memiliki ilmu pedang Maya Nada kandas begitu saja.

Untuk mengalahkan lawannya, apa boleh buat, dia harus meminta bantuan banyak orang.

Mulutnya dikecilkan, memekik panjang, inilah tanda gerakan serentak.

Su-to Yan dan Lee Pin menggabungkan diri, mereka harus menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Lam Kiong It berdiri diatas sebuah batu besar, dia menunggu reaksi dari instruksi penyerangan.

Lama sekali tidak ada tanda-tanda adanya gerakan pihak Thianlam Lo-sat.

Lam Kiong It mengerutkan keningnya, Su-to Yan dan Lee Pin menunggu dengan perasaan tidak sabar.

Tiba-tiba, terdengar suara orang yang menyebut Budha, Disaat yang bersamaan disana bermunculan para hwesio Siauw-lim-sie.

Datangnya dari seluruh penjuru.

Mengurung beberapa orang yang ada ditempat itu.

Lam Kiong It mengalami kegagalan, barisannya telah dikucarkacirkan oleh hwesio ini.

Tiga puluh hwesio berbaju merah mengurung datang, Su-to Yan terkejut, inilah 36 hu-hoat dari gereja Siauw-lim-sie, tugasnya menjaga keamanan gereja, Untuk urusan bagian luar, biasa nya 18 Lohanpun sudah cukup.

Hari ini terkecuali 36 hwesio berbaju merah keluar gereja serentak, tentu ada sesuatu urusan besar.

Seorang hwesio tua menampilkan diri, inilah ketua partay Siauwlim-pay, In-ie Taysu.

In-ie Taysu menghampiri Lam Kiong It dan berkata kepada ketua golongan Thian Lam Lo-sat itu.

"Maafkan kepada kami yang telah merusak barisan Bisa Racunmu."

"Bagus,"

Lam Kiong It berdengus.

"Budi Siauw lim-pay tidak akan kulupakan, jangan lupa kejadian dihari ini. Aku Lam Kiong It bersumpah untuk menuntut balas."

Mengajak sisa anak buahnya, ketua golongan Thian-lam Lo-sat itu meninggalkan mereka.

MakSud tujuan Siauw-lim-pay ketempat itu bukan mau membasmi Thian-lam Lo-sat, pokok tujuan adalah ilmu pedang Maya Nada yang berada ditangan Su-to Yan.

Bentrokan dengan Thian lam Lo-sat adalah jalan untuk meratakan ke tempat tujuan, Kini mereka menyingkirkan diri dari persengketaan, In-ie Taysu tidak mencegah.

Bayangan Lam Kiong It beserta anak buahnya sudah lenyap tidak terlihat.

In-ie Taysu menghadapi Su-to Yan dan Lee Pin.

"Sicu yang bernama Su-to Yan?"

In-ie Taysu bertanya kepada pemuda kita.

"Betul."

Su-to Yan menganggukan kepala.

"Dan bagaimana sebutan sicu ini?"

In-ie Taysu memandang Lee Pin.

"Anak Srigala Lee Pin,"

Su-to Yan memperkenalkan nama dan gelar kawannya.

"Aaaa...."

In-ie Taysu mengeluarkan suara kaget. Nama Anak Srigala pernah menggemparkan rimba persilatan, sedikit banyak, dia pernah dengar nama ini.

"Ada apa?"

Lee Pin mengeluarkan suara tantangan.

Kepada Thian-lam Lo-sat, dia boleh takut memanggil pasukan binatang srigalanya, karena orang-orang itu pandai menggunakan racun, tapi rombongan kepala gundul ini, tidak dianggap mata sama sekali.

"Tidak ada urusan dengan Lee sicu."

Berkata In-ie Taysu tenang "Urusan hanya menyangkut diri Su-to Sicu."

"Hm ..."

Lee Pin mengeluarkan suara dari hidung.

"Dia belum ada waktu pergi kegerejamu, sudah begitu terburu2 kau menyusul datang? Begitu tidak sabar ?"

In-ie Taysu tidak mau melibatkan dirinya dengan kerewelan Lee Pin, dia langsung berurusan dengan Su-to Yan, katanya.

"Sicu berguru kepada Ciok Pek Jiak ?"

"Betul."

Jawab Su-to Yan segera. In-ie Taysu menyedot napasnya dalam-dalam, dan berkata lagi.

"Sedikit banyak, tentu Sicu pernah dengar tentang sepak terjang orang yang menjadi guru sicu itu, bukan? Seorang saudara kami yang bernama In-khong Taysu mati dibawah tangan Ciok Pek Jiak dan kami datang untuk urusan ini."

Sebelum Su-to Yan memberikan reaksinya, tiba-tiba terdengar suara Lee Pin yang melolong panjang.

Wajah Su-to Yan berubah, itulah suara isyarat untuk panggilan kepada pasukan srigala.

Didalam sekejap mata, ribuan binatang itu akan menerjang datang, tentu dari seluruh penjuru.

Demikian juga keadaan In-ie Taysu, dia tahu, apa kode dari lolongan panjang si Anak Srigala.

secara spontan, diapun menyebut nama Budha, Suara ini disambung saling susul oleh 36 hwesio baju merah Siauw-lim-sie.

Persiapannya begitu rapi sekali disaat yang sama, ratusan hwesio berkepala gundul menampilkan diri, mereka datang dari semua penjuru Lebih cepat dari gerakan rombongan srigala.

Su-to Yan dan Lee Pin kaget sekali.

In-ie Taysu membawakan suara yang dingin, dia berkata.

"Lebih baik kau tarik pulang pemanggilan para srigalamu itu, Adanya bentrokan secara besar-besaran akan tidak menguntungkan semua orang."

Melihat adanya persiapan Siauw-lim-pay yang begitu rapi.

Lee Pin mengetahui, pasukan srigala akan menderita kerugian besar.

Masih suara-Suara hweesio yang menyebut nama Budha itu mengalun diseluruh lembah.

Su-to Yan membikin perhitungan yang masak, segera dia berkata kepada sang kawan.

"Saudara Lee Pin, tolong kau tarik mundur pasukan srigalamu itu."

Lee Pin sedang berada didalam polisi kejepit, mendengar bujukan Su-to Yan, segera dia berlolong kembali, panjang dan pendek dua kali.

Suara lolongan dari pasukan Srigala menyambung suara lolongan Lee Pin, tapi mereka tidak menyuruduk masuk.

Adanya anjinganjing hutan diluar kurungan Siauw-lim-pay adalah jaminan kuat.

Su-to Yan berhadapan dengan In-ie Taysu lagi.

"Segala urusan boleh taysu selesaikan dengan aku."

"Sicu dapat memberikan jaminan yang pasti?"

Bertanya In-ie Taysu.

"Ketahuilah."

Berkata lagi In-ie Taysu.

"Gurumu itu mendapat ilmu pelajaran Siauw-lim-pay dari seorang murid murtad kami, maka dia begitu lihay, tujuan Siauw-lim-pay tidak membenarkan adanya seorang diluar partay yang memahami ilmu silat kami. dengan ini, atas nama ketua partay Siauw-lim-pay, aku meminta kembali ilmu silat yang bernama Cui-pie-chiu dan Taygin-nu-chiu itu."

"Kukira urusan ini sebagai tameng alasan saja."

Berkata Su-to Yan.

"Mengapa taysu tidak menyebut ilmu pedang Maya Nada?"

In-ie Taysu membudekkan kuping tentang soal itu, dia berkata lagi.

"Ciok Pek Jiak telah membunuh seorang anak murid Siauw limpay. dengan ini kami menuntut ganti jiwa."

Su-to Yan membikin pembelaan.

"Guruku itu telah menyucikan diri, mungkinkah taysu tidak dapat memberi pengampunan kepada seorang yang sudah bertobat?"

"Ha, ha... Enak saja kau menggoyang lidah."

Berkata In-ie Taysu.

"Bila semua orang yang sudah melakukan kejahatan boleh bertobat dan dihari pengampunan, bila mana dia dibebaskan dari segala dosa yang sudah dilakukan olehnya, kemana pula larinya keadilan dan kebenaran? Boleh saja kita melakukan kejahatan-kejahatan, dan setelah itu ramai-ramai ku bertobat dan menyucikan diri, meminta pengampunan yang berkuasa. Setelah itu impaslah dosa kita, Ha,ha ha..."

"Maksud taysu?"

Su-to Yan makin naik darah.

"Kau adalah muridnya, segala tanggung jawab seorang guru wajib jatuh kepada orang yang dididik olehnya. Tanggung jawab ini harus jatuh keatas kedua pundakmu."

In-ie Taysu menudingkan jarinya kearah Su-to Yan.

"Baik."

Sipemuda menerima tuduhan itu.

"Bagaimana Siauw-limPay hendak meminta tanggung jawab?"

"Hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa."

Berkata In-ie Taysu.

"Mungkinkah sicu tidak mengerti?"

"Tentu saja mengerti,"

Berkata Su-to Yan.

"Segala sesuatu diselesaikan dengan kekerasan, Aku siap menerima tantangan kalian."

Dua hwesio berbaju merah menampilkan diri.

"Ciang-bun jin,"

Serentak mereka meminta tugas.

"Serahkan orang ini kepada kami, biar kami berdua yang menangkapnya."

In-ie Taysu menganggukkan kepalanya, permintaan kedua hwesio baju merah itu.

"Berhati-hatilah kepada memberi peringatan. ilmu dia kepandaian mengabulkan tangannya,"

Dia Dua huhoat baju merah dari gereja Siauw lim-sie menghampiri Su-to Yan. Lee Pin tertawa, mendahului gebrakan sang kawan, dia berkata.

"Biar aku yang mengusir mereka."

"Mereka adalah huhoat Siauw-lim-sie."

Su-to Yan memberi peringatan.

"Aku tahu."

Lee Pin sudah meluncurkan dirinya.

Tugas kedua huhoat itu adalah menangkap orang-orang persilatan Su-to Yan.

tetapi yang muncul di hadapan mereka adalah si Anak Srigala.

Karena itu, mereka menoleh kebelakang memandang In ie Taysu, meminta putusan ketua partay itu.

"Terimalah beberapa jurus pelajaran Lee-Pin sicu."

In-ie Taysu tidak melarang mereka menggempur si Anak Srigala.

Lee Pin tertawa nyengir-nyengir, dihadapan kedua hwesio berjubah merah itu, tidak sedikitpun rasa gentar menguasainya Sebentar-bentar menengok kesalah satu dari orang-orang itu, sikapnya selalu memandang enteng.

Kedudukan kedua hwesio berjubah merah sangat tinggi, tujuan mereka meringkus Su-to Yan, maka mereka maju berbareng, kini dipermainkan seperti itu, tentu saja marah besar, sret, sret, mengeluarkan golok, membacok kearah si Anak Srigala yang dianggap terlalu kurang ajar.

Lee Pin sengaja memanaskan kedua lawan-lawannya, dengan demikian, dia lebih mudah mendesak mereka.

Datangnya dua bacokan itu begitu cepat, gerakan Lee Pin lebih cepat lagi, duk, duk.

membenturkan kedua tangannya sendiri, gerakan ini membingungkan orang yang menyaksikannya.

Secepat itu pula, tubuh si Anak Srigala melejit, tangannya terentang kekanan dan kekiri.

"Sret.. Sret"

Sebagian jubah dari kedua hwesio merah itu sobek.

Dua hwesio Siauw lim-sie menarik golok mereka, dengan wajah malu, menghentikan pertempuran.

Dengan golok ditangan, dengan kekuatan dua orang, mereka tidak dapat menundukkan lawan, lebih2 dari pada itu, hampir saja jiwa mereka melayang.

Tentu saja harus menyerah kalah.

In-ie Taysu mengeluarkan suara pujian.

"Hebat! ilmu kepandaian yang hebat."

Anak Srigala Lee Pin tertawa berkakakan, dengan jumawa dia berkata.

"Mengapa tidak menampilkan beberapa orang lain lagi?"

Sebelum In-ie Taysu memberi putusan untuk mengajukan calon tandingan yang lain, terdengar suara beradunya senjata, kurungan Siauw lim pay bobol disatu tempat.

disana muncul seorang berbaju kelabu, inilah Jie Han Liu, ayah si Pedang Emas Jie Ceng Peng.

"Ha, ha, ha."

Jie Han Liu tertawa riang. In-ie Taysu kenal kepada jago silat itu, menghadapi Jie Han Liu, Sang ketua partay mengajukan pertanyaan.

"Jie sicu ada urusan apa? Dapatkah menunggu selesainya perkara ditempat ini?"

Jie Han Liu tertawa lagi.

"Ada keramaian apakah ditempat ini? Mengapa begitu banyak hweesio yang menghadang kedatanganku?"

Dia mengajukan pertanyaan.

"Siauw lim pay sedang berurusan dengan ahli waris Ciok Pek Jiak."

In-ie Taysu memberi keterangan.

"Tahukah Taysu, siapa yang menjadi ahli waris Ciok Pek Jiak itu ?"

Bertanya Jie-Han Liu.

"Nah, itulah orangnya."

Menunjuk kearah Su-to Yan, sang ketua partay berkata "Namanya Su-to Yan."

"Tahukah Taysu, bagaimana hubunganku dengan Su-to Yan ini?"

Bertanya lagi Jie Han-Liu. In-ie Tay su, mengerutkan sepasang alisnya, tahulah dia, bahwa kedatangan Jie Han Liu hendak menolong Su-to Yan.

"Bagaimana hubungan Jie Sicu dengan Su-to Yan?"

Dia bertanya.

"Seharusnya taysu tahu, bahwa Su-to Yan adalah cucu dari Kiathay Kiam khek Su-to Pek Eng, Dan hubunganku dengan Su-to Pek baik sekali."

Berkata Jie Han Liu yang membeberkan kedudukan dirinya.

"Su-to Yan bersedia memberi pertanggungan jawabnya, kuharap Jie sicu tidak menyampurkan diri didalam urusan ini."

Berkata In-ieTaysu.

"Mana boleh?"

Berkata Jie Han Liu menantang.

"Kakek tuanya bukan orang asing bagi Siauw lim-pay, mengapa begitu cepat melupakan budi orang."

"Dia bertanggung jawab atas tindakan Ciok Pek Jiak, Bukan kakek tuanya."

Berkata In ie Taysu.

"Baik."

Berkata Jie Han Liu."

Kalau Siauw lim Pay berani mengusir orang, tentu tahu cara-cara bagaimana harus mengusir aku, siapa yang hendak mengantar aku meninggalkan tempat ini?"

Alis In ie Taysu berkerut tajam, Jie Han Liu bukan jago biasa, tidak mudah untuk mengusirnya.

Kecuali dia turun tangan sendiri, hal ini dapat menurunkan martabatnya sebagai seorang ketua partay agung.

Menunggu beberapa waktu, Jie Han Liu berkata lagi.

"Ha, ha, ha....Tidak ada orang yang mengantar aku keluar dari tempat ini?"

Empat hwesio berjubah merah menampil kan diri, memberi hormat kepada In-ie Taysu dan berkata.

"Kami meminta perkenan Ciang-bun jin untuk mengantar Jiesicu."

In-ie Taysu memperhatikan keempat orang itu, apa boleh buat, dia menganggukkan kepalanya.

"Kalian harus berhati-hati."

Dia memberi pesan. Keempat hwesio itu mengurung Jie Han Liu. Disaat yang sama, terdengar satu suara yang sangat dingin.

"Mengapa harus menggunakan begitu banyak orang mengantar dia?"

Disana bertambah seseorang, berpakaian tosu, dengan kebut ditangan, dia menghampiri Jie Han Liu.

"Biar aku yang mengantar kau."

Dia berkata.

Inilah murid si jago purbakala Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu, namanya Giok Hie, dengan gelar si Tosu Tukang Sado.

In-ie Taysu, Su-to Yan dan Lee Pin terkejut.

Mereka bingung akan kehadiran Giok Hie.

In-ie Taysu bingung, dia tidak mengerti dengan cara apa, dan bagaimana Giok Hie dapat menembus pertahanan kurungannya para hwesio Siauw-lim-pay.

Su-to Yan dan Lee Pin bingung, bagaimana si Tosu Tukang Sado dapat menembus pertahanannya pasukan srigala?

Jie Han Liu belum pernah bertemu muka dengan tosu pembawa pecut ini, segera dia mengajukan pertanyaan.

"Bagaimana sebutan totiang yang mulia?"

Disaat itu empat hwesio Siauw-lim-pay mengundurkan diri lagi. Giok Hie berhadapan dengan Jie Han Liu, dengan suaranya yang dingin dia berkata.

"Aku Giok Hie mendapat perintah Suhu, agar kau mau menyingkirkan diri dari persengketaan ini."

Giok Hie tidak menyebut nama dan gelar gurunya, Karena itu Jie Han Liu salah paham dia menduga bahwa orang yang dihadapannya itu tidak berkepandaian hal ini terbukti karena kehadirannya hanyalah tugas dari Sang guru, Tentu saja Jie Han Liu tidak tahu, bahwa orang yang menjadi guru si Tosu tukang Sado adalah seorang akhli silat dari jaman purbakala Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu yang ternama..In-ie taysu juga tidak kenal kepada Giok Hie, Dia mempunyai penilaian yang sama dengan apa yang dipikirkan oleh Jie Han Liu.

Hanya seorang yang terkejut, orang ini adalah jago kita Su-to Yan.

Menurut pengakuan Giok Hie, dia mendapat tugas dari gurunya, suatu bukti bahwa Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu masih berada didaerah sekitar tempat itu.

Ini sangat berbahaya !

Di samping mereka masih ada seorang jago tua dari jaman purbakala, dengan sepasang matanya yang tajam, mengincar kitab Maya Nada.

Inilah yang Su-to Yan khawatirkan.

Giok Hie memandang Jie Han Liu dan berkata kepada jago tua itu.

"Boleh aku yang mengantar kau pergi dari tempat ini?"

"Boleh saja."

Berkata Jie Han Liu tersenyum ewah.

"Wuttt..."

Giok Hie mengayun kebutnya, serangan itu berupa serangan pembukaan, hanya variasi permainan tipu silat, tidak hanya mengandung unsur berbahaya.

Creettt, jari tangan lain turut menyertai pembukaan acara perang, serangan dengan tenaga dalam Kabut Hijau It Bok Cin-khie.

Jie Han Liu mengegos kekiri, dia memandang ringan lawannya, didalam hati dia berpikir, Huh, hanya inikah ilmu kepandaianmu?

Hanya sekali pukul, aku dapat mengalahkanmu.

Dengan sepasang jari yang diluncurkan keras, Jie Han Liu mengincar sepasang mata lawan itu.

Giok Hie menutulkan kakinya, dia mengancam perut Jie Han Liu.

Jie Han Liu bukan jago biasa, dia memotong serangan itu, Demikian dua jago mengadu jiwa.

Semakin lama, mata In-ie Taysu terpentang semakin lebar, tidak disangka seorang tosu tidak ternama dapat mengimbangi kekuatan Jie Han Liu.

Suatu saat, Jie Han Liu berada didalam posisi samping, tangannya menyeret angin memasuki pertahanan perut orang.

Giok Hie mementilkan sepasang kakinya, inilah ilmu Kaki Kepiting Mo-liong-tui, salah satu ilmu silat dari jaman purbakala yang dapat dibanggakan olehnya.

"Hek"

Pukulan Jie Han Liu mengenai sasaran, bagaikan karet, tempat yang dipukul mementilkan tangannya.

Dia terkejut, inilah ilmu Bambu Bung Han-tiok-kang.

Disaat yang sama, kaki kepiting Giok Hie menyepak pantat, kontan Jie Han Liu diterbangkan, menggunakan adanya daya lemparan itu, Jie Han Liu terbang melayang meninggalkan tempat kejadian.

Dia menderita kekalahan.

In-ie Taysu semakin bingung, siapakah tosu ini, mengapa begitu lihay ?

Dapat memainkan ilmu silat dari jaman purbakala ?

Giok Hie telah mengalahkan Jie Han Liu, kini dia menghadapi ketua partay Siauw-lim pay.

In-ie Taysu mendahului orang, dia membuka mulut.

"Siapakah yang menjadi guru totiang?"

Giok Hie memberikan jawaban.

"Suhu kami adalah Pek-ie-kauw-cu Bong-Bong Cu."

In-ie Taysu terkejut. Ternyata dia sedang berhadapan dengan murid seorang jago silat dari jaman purbakala ? Pantas saja Jie Han Liu dapat dikalahkan olehnya.

"Apakah maksud tujuan totiang ke tempat ini?"

Bertanya lagi In ie Taysu.

"Kedatanganku atas perintah guruku,"

Berkata Giok Hie "Apakah yang dikatakan olah guru sicu?"

Berkata lagi In-ie Taysu.

"Dikatakan olehnya, bawa aku harus membawa Su-to Yan."

Berkata Giok Hie.

"Su-to Yan?"

In-ie Taysu bingung sekali.

"Perintah guruku adalah meminta orang,"

Berkata Giok Hie cepat.

"Berani kau membantah perintah ini?"

Wajah In-ie Taysu berubah.

"Kurang ajar."

Dia membentak "jangan kau terlalu menghina Siauw-lim-pay."

"Mengapa tidak?"

Giok Hie pantang menyerah "Berani kau menghina suhu kami."

In-ie Taysu serba salah, Menyerahkan Su-to Yan berarti kekalahan baginya.

Tidak menyerahkan pemuda itu akan membawa buntut panjang.

Apa boleh buat, ia harus berani menantang, Dia mundur kebelakang dan menganggukan kepalanya.

"Wut, wut, wut."

Empat hwesio telah mengurung Giok Hie ditengah. Memandang kearah sang ketua partay, ke empat orang itu berkata.

"Kami berempat tersedia menerima pelajaran dari murid Pek ie kauw-cu Bong Bong Cu yang ternama."

"Jangan membikin malu Siauw-lim pay."

Berkata In-ie Taysu, Tapi dia tidak mencegah gerakan keempat orang itu. Giok Hie memperhatikan keempat pengurungnya.

"Kalian hanya berempat?"

Dia memandang rendah. In-ie Taysu dipaksa membikin perlawanan, tapi dia masih mempunyai banyak anak buah, karena itu dia berkata.

"Merekapun sudah cukup untuk menghadapimu."

Giok Hie tertawa berkakakan.

"Ha, ha ... ."

Tangan dan kakinya bergerak, menyerang keempat hwesio dari Siauw-lim pay itu.

Keempat hwesio itu mengurung lawannya.

berpencar, secara teratur, mereka Kekanan dan kekiri, ke timur dan kebarat Giok Hie menerjang keempat lawannya.

Tetapi ternyata tidak berhasil menjatuhkan salah satu dari keempat hwesio itu.

Pihak Siauw-lim-pay tidak dapat menarik napas lega, keempat jago merekapun tidak dapat menundukkan lawannya.

Pertempuran seperti itu berjalan sangat lama, Giok Hie hilang sabarnya, tetapi semakin dia berhati panas, semakin sulit pula menjatuhkan lawan-lawannya.

Tiba-tiba, satu bayangan putih meluncur datang, langsung memasuki arena pertempuran itu.

Keempat hwesio Siauw-lim-pay meninggalkan pertempuran, mereka berdiri diempat sudut jalan.

Ternyata seorang tua berpakaian pelajar sudah berada disana, inilah murid pertama dari Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

Namanya Kong yat Ciu-jit, dengan gelar si Pelajar Tua.

"Toa-suheng."

Giok Hie memanggil girang, Kong-yat Ciu-jit menganggukkan kepalanya, Dia berkata.

"Kau satu orang, sedangkan mereka berjumlah empat kali dirimu, Dapatkah kau memenangkan pertandingan ini?"

"Untuk memenangkan pertandingan harus menunggu kelengahan mereka."

Berkata Giok Kie. Kong yat Ciu jit tertawa lagi katanya.

"Diantara kita bertiga saudara, kau khusus menekunkan diri didalam pertahanan. Daya tahanmu memang hebat, tapi kau kurang penyerangan, Lebih cocok untuk dikerubuti orang, Maka merekapun tidak dapat mengganggu selembar rambutmu, begitu bukan?"

"Betul."

Jawab Giok Hie.

"Dan Bwee Goat adalah orang terlemah, maka suhu tidak memberi tugas keras kepadanya."

"Suhu kita memang sudah dapat memperhitungkan semua kejadian."

Berkata Giok Hie menimpali suara toa Suhengnya.

Tiba-tiba masuk lagi seseorang diapun seorang hwesio berkepala gundul, tapi bukan hwesio Siauw-lim-sie.

Dia adalah si Hwesio Tukang Pacul Bwee Goat.

Kong yat Cia-jit menggapaikan tangannya.

"Bwee Goat, kemari kau."

Dia berkata, Bwee Goat menggabungkan diri, jumlah mereka menjadi tiga orang.

In-ie Taysu memberi kerlingan mata kepada keempat orangnya, maka hwesio-hwesio itu mengundurkan diri.

Kong-yat Chiu-Jit berkata kepada Giok Hie dan Bwee Goat.

"Kalian berdua membawa Su-to Yan. Biar aku yang menghadapi para jago Siauw-lim-pay."

Tiga orang memecahkan diri.

"Tunggu dulu."

In-ie Taysu berteriak keras. Si Pelajar Tua Kong-yat Chin Jit, Hwesio tukang pacul Bwee Goat dan Tosu tukang Sado Giok Hie menahan langkah langkah mereka.

"Seratus perintah. delapan Lohan bergerak."

In-ie Taysu memberi Rombongan kepala gundul saling bantu, mengurung ketiga murid Pek-ie Kauw-cu Bong-Bong Cu. Secepat kilat, Kong-yat Chiu Jit sudah mengeluarkan pedangnya "sret sret, sret, sret !"

Beberapa kali, dua hwesio Siauw lim Sie kehilangan tangan dan kaki.

Wajah In-ie Taysu berubah, Srat srat, srat lagi empat kali, tiga hwesio Siauw lim-pay kehilangan kepala mereka.

In ie Taysu melayangkan badan, dia turut serta menerjunkan dirinya kedalam arena pertarungan.

Kong yat Chiu-Jit hendak menghadapi sang ketua partay tapi Bwe Goat lebih cepat, dia memapaki kedatangan In-ie Taysu.

"Toa-suheng, serahkan hwesio ini kepadaku."

Dia meminta persetujuan suhengnya. Dari jauh Kong yat Chiu-Jit berkata.

"Bwee Goat, kau jangan berkepala batu."

"Aku tahu."

Sahut Bwe Goat.

"Tidak mungkin kita kalah."

Menyerahkan In ie Taysu kepada Bwee Goat, Si pelajar Tua Kong-yat Chiu Jit dan Tosu Tukang Sado Giok Hie lari kearah Su-to Yan.

Lawan lama, Su to Yan mengeluarkan berhadapan dengan Kong yat Chiu Jit.

pedangnya, dia Anak Srigala Lee Pin berhadapan dengan Tosu Tukang Sado Giok Hie.

Keadaan menjadi begitu tegang sekali, Tiba-tiba ...

Terdengar suara tabuh khim yang dipukul berderum, semakin lama semakin keras, sehingga menghentikan pertempuran pertempuran ditempat itu.

Seorang tua dengan langkah lenggang memasuki gelanggang pertempuran, pada tangan orang tua ini menenteng alat tabuh khim yang ditendang keras, siapa lagi, bila bukan si Tabuh Maut Wie Biauw.

Seperti apa yang kita telah ketahui dari keempat jago tua dijaman purbakala yang masih hidup sehingga saat itu, Pendekar Rajawali Mas Kie Eng menduduki urutan pertama disusul oleh Ahli waris Gua Kematian Pek-Tong Hie.

Si Tabuh Maut Wie Biauw dan Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu, dari sekian banyak orang yang kita sebut diatas, ilmu kepandaian Wie Biauw adalah yang terendah, bisanya hanya menabuh alat Khim, berdendang membawakan lagu lagu kuno.

Wie Biauw bentrok keras dengan Pek ie Kauw Cu Bong Bong Cu, langsung dia menghadapi Kong-yat Chiu Jit, Giok Hie dan BweeGoat, Berkatalah dia kepada mereka.

"Dimana guru kalian?"

Ketua partay Siauw lim-pay In-ie Taysu belum kenal kepada Wie Biauw, menyaksikan sikapnya yang menegurkan tiga murid dari jaman purbakala dia terkejut, hatinya sedang berpikir-pikir.

"siapakah orang tua ini?"

Kong-yat Chiu Jit tidak berani berlaku kurang hormat, segera dia menjawab pertanyaan.

"Sebentar lagi suhupun datang."

Wie Biauw menganggukan kepalanya, Dia berpaling kearah Lee Pin dan membentak.

"Siapa yang membawa bawa pasukan anjing hutan itu?"

Lee Pin juga tidak kenal kepada si Tabuh Maut jago tua dari jaman purbakala, sikapnya Kong-yat Chiu Jit yang merendah diri itu akan dinilai rendah oleh semua orang, Dia tidak mau mengikutinya, dengan membanggakan diri, dia berkata.

"Aku, Mengapa?"

Wie Biauw mengerutkan alis, segera dia membentak.

"Lekas bawa semua binatang itu pergi diri sini!"

Kata-kata tadi mengandung perintah, menyinggung perasaan si Anak Srigala Lee Pin.

"Hm ...."

Dia berdengus.

"Sehingga saat ini, belum pernah ada orang yang memberi perintah kepadaku."

Wie Biauw memancarkan sinar matanya yang tajam.

"Akulah yang memberi perintah kepada mu."

Dia berkata.

"Aku menolak perintahmu."

Lee Pin menantang.

"Bagus, Segera kubikin kau mematuhi perintahku."

Wie Biauw begitu marah. Disaat itu Su to Yan menampilkan dirinya.

"Tunggu dulu."

Dia berteriak.

"Ada apa?"

Wie Biauw menoleh kearah sipemuda.

"Sebelumnya, aku menghaturkan terima kasih."

Berkata Su-to Yan memberi hormat.

"Di dalam soal ini, Lee Pin adalah kawanku."

Dia memberi keterangan.

"Bolehkah aku mewakili dirinya?"

"Su-to Yan, ini urusanku."

Lee Pin tidak mau ditalangi orang.

Su-to Yan menarik napas, dia mengundurkan diri.

Lee Pin berhadapan dengan si Tabuh Maut Wie Biauw.

Wie Biauw bergerak begitu cepat sekali, dia hendak menangkap tangan si Anak Srigala.

Lee Pin membikin perlawanan, kemanapun dia menyerang selalu dihadang oleh tabuh Khim lawan "Wing,"

Tangan Wie Biauw berhasil mencekal pergelangan tangan Lee Pin.

Si Anak Srigala mati kutu, dia kena di cengkeram, lalu tidak berdaya lagi, Begitu aneh dan begitu gesit, tanpa dapat ditolak, Wie Biauw sudah menahan si jendral pasukan Srigala.

"Hayo."

Berseru Wie Biauw.

"Segera bubarkan anjing liarmu itu."

Lee Pin memeramkan matanya, dia penasaran sekali.

Wie Biauw mengangkat tinggi tangannya, dia mau memberi hajaran kepada anak muda liar ini, Su-to Yan masih memegang pedang, tanpa disadari, dia menusuk kearah tokoh purbakala itu.

"Jangan."

Dia menduga kepada sesuatu yang buruk, sangkanya, Wie Biauw hendak membunuh kawan itu. Menenteng tubuh Lee Pin, Wie Biauw menghindari serangan Su-to Yan dan berteriak. lompat ke atas.

"Bagus."

Itulah ilmu pedang Cian-san Kiam-hoat yang di dapat dari ketua partay Cian-san-poy Su In Seng.

Su-to Yan menyerang lagi sehingga dua kali.

Wie Biauw menggunakan tubuhnya menangkis serangan itu.

Dan menginjakkan kakinya, tangannya masih menjinjing tubuh si Anak Srigala Lee Pin.

"Jangan celakakan kawanku."

Su-to Yan berteriak. Wie Biauw menganggukkan kepalanya.

"Ah, kupulangkan kawanmu."

Dia berkata, melempar Lee Pin kearah Su-to Yan.

"Segera bawa anjing-anjing liar itu meninggalkan tempat ini."

Dia memberi perintah. Si Tabuh Maut menghadapi In-ie Taysu dan para hwesio Siauwlim-pay.

"Mengapa kalian mengganggu Su-to Yan?"

Dia membikin teguran.

"Apa maksud sicu mengungkit urusan ini?"

Bertanya In-ie Taysu.

"Apa alasanmu mengganggu Su-to Yan?"

"Sicu tidak tahu urusan Ciok Pek Jiak dengan Siauw-lim-pay?"

Berkata In-ie Taysu.

"Ini urusan intern kami."

Si Tabuh Maut Wie Biauw memandang ketua partay Siauw-limpay dengan sinar mata dingin, kemudian menoleh ke arah Su-to Yan.

"Kau boleh pergi, urusan disini dapat diserahkan kepadaku."

Su-to Yan mengajak Lee Pin meninggalkan daerah itu.

In-ie Taysu mengulapkan tangannya, maka rombongan hwesio bergerak, mereka mengurung dan menghadang dua orang itu.

Wie Biauw memukul tabuh khimnya, dia berdendang dengan membawakan lagu-lagu lama, Para hwesio memegang ulu hati mereka, terasa sekali getaran sukma yang hendak di copot rontok oleh suara tabuh maut itu.

Satu persatu mempertahankan diri dari siksaan itu, lupalah mereka untuk mengurung Su-to Yan.

Kong-yat Chiu-jit, Bwee Goat dan Giok Hie menghadapi Wie Biauw.

"Atas perintah suhu kami, dilarang melepaskan Su-to Yan."

Mereka berkata kepada si jago tua dari jaman purbakala.

"He, he... Dimanakah guru kalian? Mengapa tidak menampilkan diri?"

Wie Biauw mengejek ketiga orang itu. Kong-yat Chiu-jit berkata.

"Suhu segera tiba."

"He, he... ."

Wie Biauw bergerak, tabuh khim meluncur kearah Kong-yat Chiu-jit.

Si Pelajar Tua Kong-yat Chui-jit melarikan diri dari serangan itu.

Tabuh tua itu bergerak cepat, trang, dia berhasil mengejar larinya Kong-yat Ciu-jit, membentur pedang si Pelajar Tua.

Hampir pedang Kong-yat Chui-jit diterbangkan jauh, Pek, terdengar lagi suara benturan, kali ini tabuh khim Wie Biauw membentur pacul Giok Hie.

Cepat sekali, manis sekali, indah sekali, setiap serangan Wie Biauw begitu lincah, datang tanpa diketahui lebih dahulu.

Terakhir, dia membentur pacul Bwee Goat.

Ketiga murid Pek Ie Kauwcu Bong Bong Cu dapat dikalahkan!

"Ha, ha, ha..."

Wie Biauw tertawa besar "Hanya seperti inikah ilmu kepandaian Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu ?"

Satu bayangan suaranya. putih meluncur masuk, segera membuka "Saudara Wie sedang uring-uringan dengan siapa ?"

Kong yat Chiu-jit, Bwee Goat dan Giok Hie bersorak girang, mereka memberi hormat kepada orang itu.

Itulah jago keempat dari ahli-ahli silat di jaman purbakala, Pek Ie Kauw cu Bong Bong Cu.

Menurut aturan, Pek Ie Kauwcu Bong Bong Cu disebut sebagai jago keempat.

Sebetulnya, dinilai dari ilmu kepandaian tidak satupun dari ketiga jago silat lainnya yang dapat menandingi dia.

Si Tabuh Maut Wie Biauw menghadang jago tandingannya.

"Kau baru tiba?"

Dia menyapa.

"Bagaimana saudara Wie Biauw bisa berada ditempat ini? mencampurkan diri didalam persengketaan orang lain ?"

Wie Biauw tertawa tawar, dia berkata.

"Kulihat kau masih mempunyai omongan besar juga, Hendak mengikuti jejak Manusia Super Tanpa Tandingan Thian Kho Cu ?"

"He. he, ha..."

Pek Ie Kauwcu Bong Bong Cu tidak menyangkal "Dari sepuluh ilmu kepandaiannya, aku telah mendapatkan empat macam, ada harapan bertambah menjadi enam. Maukah kau membantu usahaku ?"

"Huh... tua-tua tidak tahu diri. Berapakah umur kita?"

Wie Biauw menolak tawaran itu.

Tiba-tiba....

Diudara bekas terdengar suara seruling ditiup tujuh kali berturutturut, membawakan tujuh kali berturut-turut, membawakan tujuh suara nada irama.

Wajah Wie Biauw dan Pek Ie Kauwcu Bong Bong Cu berdesis.

Puluhan tahun yang lalu, rimba persilatan digemparkan oleh munculnya seorang tokoh silat yang bernama Cit-su Mo kun, dengan bersenjata sebuah seruling, dia sering melakukan pembunuhan pembunuhan, maka orang menyebutnya sebagai Seruling Yang Menggemparkan Rimba Persilatan.

Wie Biauw dan Pek Ie Kauwcu Bong Bong Cu mempunyai urutan dan kedudukan yang lebih tinggi dari Ciu-su Mo kun, tapi belum ada satupun dari mereka yang dapat menandinginya.

Karena itu, munculnya tokoh silat itu membawa perubahan bagi mereka.

Wie Biauw memandang Su-to Yan dan Lee Pin.

"Lekas kalian melarikan diri."

Dia berkata kepada mereka.

Sudah terlambat karena disana bertambah seorang tua gemuk pendek, berpakaian warna merah, inilah Seruling Yang Menggemparkan Rimba persilatan Cit-su Mo-kun.

Ratusan hwesio Siauw lim-pay dan tokoh silat yang berada ditempat itu diam2 tersirap.

Keadaan menjadi hening sekali.

Cit su Mo kun memperhatikan orang-orang ditempat itu, hadirnya Wie Biauw dan Pek-ie-Kauw-cu Bong Bong Cu ditempat yang sama tidak mengejutkan dirinya.

Sebagai seorang yang mempunyai kesenangan untuk membunuh, dia tidak langsung menerjang kearah jago-jago lie-hay itu.

Tubuhnya melejit, memasuki rombongan para hwesio Siauw-limpay, Serulingnya digoyang diseret, ditarik dan diulurkan ke depan, dia mengadakan pembunuhan.

Terdengar korbannya.

jeritan-jeritan para hwesio yang menjadi para Darah membanjiri tempat itu, seruling Cit Su Mo-kun bermain begitu rupa, menadah percikan-percikan darah merah yang bercipratan, hup, dia menyedot sampai beberapa kali.

Jeritan-jeritan para hwesio sangat pilu terdengarnya dari tempat itu, Siauw-lim-pay mengalami hari naas, jauh-jauh mereka datang ke sana, hanya untuk mengorbankan jiwa-jiwa anak muridnya.

Inilah akibat dari salahnya pucuk pimpinan tidak seharusnya In-ie Taysu haus akan ilmu silat orang, Ratusan hwesio diajak perang, tanpa membikin perhitungan yang masak, berapa banyak korban jiwa yang akan diderita oleh partaynya.

Kejadian itu terjadi begitu cepat, dikala Wie Biauw sadar akan kesalahannya, darah hwesio suci itu telah ditenggak oleh Cit-Su Mokun.

Demi kemanusian Wie Biauw menampikkan diri, dia menuju kearah Cit-su Mo-kun.

Disaat yang sama, In-tie TaySu mengajak anak buahnya, membikin perlawanan nekad, di sini menyangkut hidup mati mereka, semua orang wajib membela diri secara mati-matian.

Percikan darah masih ditenggak oleh Cit-su Mo-kun, bagaikan minum madu saja, iblis ini masih mengamuk kalang-kabut, Tabuh khim Wie Biauw memukul punggung iblis tukang menyedot darah itu.

Cit -SU Mo -kun membalikan Seruling,, trang, mematahkan serangan Wie Biauw.

Sekali lagi Wie Biauw menyerang, inipun ditangkis kembali.

Trang, lengket tidak terpisah.

In-ie Taysu menyerang dari bagian depan.

Disaat yang sama, Pek-ie Kauw-Cu Bong Bong Cu bergerak, dia tidak menyerang Cit-siu Mo-kun.

Begitu benci rasanya kepada Wie Biauw, menggunakan kesempatan bagus, dia menyerang si Tabuh Maut.

Su-to Yan berteriak kaget, pedang diluncurkan, berikut juga tubuh pemuda itu, mengancam belakang Pek-Ie Kauwcu Bong Bong Cu.

Kong-yat Chiu-jit, Bwee Goat dan Giok Hie tidak tinggal diam.

Mereka meluruk kearah Su-to Yan.

Kejadian-kejadian yang seperti kita uraikan diatas berlangsung disaat-saat yang bersamaan, sangat ricuh sekali.

Orang pertama yang ditenangkan oleh kekuatan musuh, adalah ketua partay Siauw-lim-pay, In-ie Taysu tidak sanggup bertahan, dia melayang kebelakang.

Kejadian berikutnya, adalah tubuh Wie Biauw yang melejit keatas, hek, dia menderita luka dalam.

Disusul oleh benturan pedang Su-to Yan dengan kekuatan tenaga dalam Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

Baru terdengar teriakan-teriakan Kong-yat Chiu-jit, Bwee Goat dan Giok Hie.

In-ie Taysu, Cit-su Mo-kun, Wie Biauw, Su-to Yan dan Bwee Goat menderita luka.

Luka yang terberat adalah luka Su-to Yan, luka Wie Biauw juga tidak ringan.

Orang-orang lainnya hanya menderita luka sepele saja.

Lee Pin mementang mulut, dia melolong panjang, bantuan pasukan srigala sangat dibutuhkan panggilan ini mendapat sambutan yang meriah, segera terdengar lolongan-lolongan para anjing liar itu bergema dari seluruh penjuru.

Beberapa ekor yang berukuran besar sudah lompat membela majikannya.

Dengan bantuan anjing-anjing liar ini.

Lee Pin dapat menolong Su-to Yan dan Wie-Biauw, Mereka mengundurkan diri didalam lingkungan pertahanan Srigala.

Ratusan ekor Srigala menerjang kian kemari tidak peduli siapa.

bila ada orang asing, mereka menyergapnya.

In-ie Taysu membikin putusan cepat, mengajak sisa anak buahnya mengundurkan diri.

Dikejar oleh Cit-su Mokun yang senang kepada darah.

Pasukan Srigala menyerang orang yang berada ditempat itu.

Didalam hal ini adalah Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu dan ketiga muridnya mengetahui bahwa Wie Biauw dan Su-to Yan sudah terluka, mereka merangsek hebat, banyak srigala dibunuh mati, puluhan ekor terluka.

Lee Pin memberi komando langsung, memberi perintah kepada binatang-binatang, membela mereka bertiga.

Su to Yan dan Wie Biauw duduk bersila, mereka harus menyembuhkan luka luka yang mereka derita.

Su to Yan mengeluarkan seruling pemberian Sam-Kie Ju Su In Hong, perlahan-lahan meniupnya, dia membawakan lagu Han-San Lok Bwee.

Lagu itu dapat mempercepat peredaran darahnya, sangat bermanfaat bagi mereka yang menderita luka, perlahan lahan, Su-to Yan menyatukan luka luka yang ada.

Wie Biauw pernah dengar tentang semacam ilmu seruling yang dapat menyembuhkan luka dalam, inilah ilmu kepandaian dari pulau Tong-pay yang khas, mengikuti irama yang Su-to Yan bawakan, dia turut ambil bagian.

Lagu Han San Lok-Bwee selesai ditiup, Su-to Yan menyimpan serulingnya, Dia membuka mata, keadaannya agak lumayan, Wie Biauw juga selesai melancarkan perputaran darahnya, dia mempunyai latihan yang lebih hebat, betul menderita luka berat, dengan bantuan tenaga dalamnya dengan adanya lagu Han-sin-Lokbwee.

Di saat Su-to Yan menyimpan serulingnya, dia sudah bangkit berdiri.

Dengan di bantu oleh tiga muridnya, Pek-ie-Kauw-cu Bong-Bong cu berhasil memecahkan sergapan para srigala, mereka menghampiri Lee Pin, Wie Biauw dan Su to Yan.

Lee Pin memandang Su-To Yan dan berkata.

"Pasukan serigalaku tidak berhasil membendung mereka."

Dia bersedih atas derita kerugian pasukan istimewanya, tidak mudah untuk menernakkan Srigala-srigala yang gesit dan tangkap seperti apa yang kini dia miliki. Wie-Biauw membuka mulut.

"Biarkan keempat orang itu maju."

Lee Pin memperhatikan keadaan Wie-Biauw dan Su-to Yan. Dia ragu-ragu, bagaimana bila membiarkan Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu dan kawan-kawan menyerang datang? Su-to Yan tertawa.

"Jangan khawatir."

Dia berkata.

"Kita masih mempunyai kekuatan untuk menggempur mereka."

Lee Pin mengeluarkan perintah mundur dua kali lolongan panjang dan dua kali lolongan pendek.

Induk srigala membawa anaknya mengundurkan diri.

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu beserta tiga muridnya lompat ke hadapan Su-to Yan.

Wie Biauw mendampingi anak muda kita, memperhatikan keadaan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu sekalian, ke empat orang itu bermandikan darah, entah darah siapa, mungkin juga darah Serigala-serigala yang di bunuh oleh mereka, mungkin juga darah orang yang bersangkutan, adanya serigala-serigala Lee Pin itu sangat galak dan tangkas, bukan mustahil bila beberapa diantaranya dapat melukai orang-orang itu.

"Wie Biauw, kita harus bertempur lagi."

Berkata Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu mengejek. Wie Biauw bertepuk dada.

"Pek-ie Kauw-cu Bong-Bong Cu."

Dia memanggil.

"Keadaan kondisi badan kalian sudah begitu lemah, masih ada minat untuk mengulang pertempuran?"

Wie Biauw menaruh dendam kepada jago purbakala itu, sudah saatnya dia menuntut balas.

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu terkejut, dapat begitu cepatkah orang menyembuhkan luka-luka dalamnya?

Menoleh kearah Su-to Yan, dia lebih terkejut lagi, anak muda itupun masih segar bugar, tidak ada tanda-tanda yang menyatakan dia menderita luka dalam.

Pasukan srigala Lee Pin menderita kerugian besar, sepertiga dari anjing-anjing hutan itu binasa dan terluka, sisanya masih mengurung di sepanjang jalan.

Pek Ie Kauw cu Bong Bong Cu harus membikin perhitungan baru, dapatkah dia mengatasi keadaan ini?

Tiba-tiba...

Diudara terdengar suara jeritan suara burung..

Kik...

kik...kik...

Seekor rajawali kuning terbang datang dan berhenti diantara sekian banyak orang itu.

Dari punggung burung bertempat seorang laki-laki setengah umur, inilah jago daerah Tong-hay Sam-kie Ju-Su In-Hiong.

Su-to Yan maju memapaki ayah angkatnya, dia memberi hormat.

"Jangan banyak membangunkannya. peradatan."

Sam-kie Ju-su In Hong Berpaling kearah si Tabuh Maut Wie Biauw, jago Tong-hay itu berkata.

"Baru saja aku bertemu dengan Kie Eng, dia memberi tahu kejadian kalian, Saudara Wie Biauw, atas bantuanmu aku mengucapkan banyak terima kasih."

Suatu tenaga baru bagi pihak Su to Yan. Berarti keadaan lebih tidak menguntungkan Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu.

"Masih ingin melanjutkan pertempuran?"

Sam-kie Ju-su In Hong menantang mereka.

"Sampai berjumpa dilain hari?"

Berkata Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mengajak ketiga muridnya, mereka siap menerjang pasukan srigala lagi. Sam-Kie Ju-Su In-Hong memandang ke-arah Lee Pin.

"Tolong kau beri kesempatan hidup bagi kelima orang ini."

Lee Pin sedang membayangkan bagaimana dia dapat mengumpulkan srigala srigala baru, hampir dia menangis, menyaksikan bangkai binatang itu yang berserakan diseluruh tempat.

permintaan Sam-Kie Ju-Su segera dikabulkan Dia memekik panjang.

Tanpa adanya gangguan, Pek ie Kauw cu Bong Bong Cu, Si pelajar Tua Kong-yat Chiu-Jit, Hwesio Tukang pacul Bwee Goat dan Tosu Tukang Sado meninggalkan tempat itu.

Keadaan sepi kembali Lee Pin memberi hormat kepada tiga orang dan berkata.

"Saudara Su-to, aku meminta diri."

Mengajak sisa-sisa binatang hutannya, Lee Pin dengan hati sedih.

Disana tinggal tiga orang, Su-to Yan, Wie Biauw dan Sam-kie Jusu In Hong.

Memandang anak angkatnya, mengajukan pertanyaan.

Sam-kie Ju-su In Hong "Bagaimana maksud tujuanmu?"

Su-to Yan memberi jawaban.

"Memulangkan kitab Maya Nada kepada Ie Han Eng."

"Kemudian?"

Bertanya lagi Sam-kie Ju-su In Hong.

"Membikin perhitungan dengan istana Khong kiok kong,"

Berkata Su-to Yan dengan suara tandas. Sam kie Ju-su ln Hong menghela napas dan berkata.

"Su-to Yan, sudahkah kau dengar tentang gerakan istana Belang Khong-kiok-kiong? Mereka sedang menuju kearah Tionggoan mencari dirimu."

"Bagus, Aku tidak perlu menyusahkan diri lagi,"

Berkata Su-to Yan.

Dia tidak tahu, apa orang-orang dari istana Khong-kiok-kiong mencari dirinya.

Dia juga tidak perlu tahu, karena bentrokan dengan mereka tak mungkin dapat dielakkan.

Sam-kie Ju-su In Hong berkata.

"Untuk jaman ini, kekuatan yang dapat menandingi istana Khongkiok-kiong adalah kekuatan Tong-hay. Tapi kami tidak dapat bentrok dengan mereka, Aku menyesal, tidak dapat membantu dirimu."

Su-to Yan memandang ayah angkatnya, dia tidak mengerti, mengapa pulau Tong-hay tidak dapat bentrok dengan istana Khongkiok-kiong? Sam-kie Ju su In Hong berkata lagi.

"Kecuali pulau Tong-hay, masih ada seorang yang dapat menandingi istana Khong-kiok-kiong. Pernah dengar nama Thian-lie Koay-siu? Nah, inilah murid Manusia Super Tanpa Tandingan Thian Kho Cu yang ke sebelas."

Su-to Yan lebih bingung lagi, hanya diceritakan bahwa Thian Kho Ciu menerima sepuluh murid, belum pernah ada disebut nama dari murid yang kesebelas, Kini sang ayah angkat membuka rahasia, tentunya bukan cerita bohong.

"Thian-tie Koay-siu tinggal dipuncak gunung Kun-lun. Carilah orang ini."

Berkata lagi ayah angkat itu.

"Terima kasih."

Su-to Yan sangat bersyukur "Nah, sedapat mungkin, aku akan membantu urusanmu, Selamat jalan."

Sesudah meminta diri pada Wie Biauw, Sam-kie Ju-Su In Hong menggapaikan tangan, burung rajawali kuning tebang menurun, mencemplak diatas punggung tunggangannya si jago Tong-hay terbang pergi.

Kemudian Su-to Yan dan si Tabuh Maut Wie Biauw berpisahan, kedua orang ini pun meneruskan usaha masing-masing.

Tanpa menceritakan perjalanan Si Tabuh Maut Wie Biauw, kita langsung menceritakan langkah kaki Su-to Yan yang menuju ke arah lembah Hui-in.

Dengan adanya kitab Maya Nada, maka walaupun kitab kosong tiada isinya, tetapi mengingat benda inilah yang di dapat dari Ie Han Eng, dia wajib mengembalikan kepada gadis yang bersangkutan.

Mo Pak, demikian orang tua yang menjaga lembah itu berdiri di depan Su-to Yan.

"Tolong beri tahu kepada nona Ie Han Eng, bahwa aku Su-to Yan datang untuk menyambanginya."

Demikian Su-to Yan berkata kepada orang tua itu.

Mo Pak memperhatikan mata putihnya, dia tidak menjawab sapaan itu, membalikkan badan, masuk kedalam lembah dan meningggalkan si pemuda begitu saja.

Su-to Yan lari menyusul.

"Hei."

Dia berteriak "Aku mempunyai urusan penting dengan nona majikanmu."

Su-to Yan menghadang dihadapan Mo Pak. Dengan marah, orang tua itu membentak, suaranya sangat ketus.

"Masih berani kau memperlihatkan diri di lembah Hui in? Huh, tidak kusangka, anak dari keluarga Su-to dapat melahirkan seorang bergajul sepertimu. Aku tidak kenal kepadamu."

Dan Mo Pak menyingkirkan diri lagi. Su-to Yan bingung.

"Bergajul?!"

Betul-betul membuat dia tidak mengerti.

"Apakah yang sudah terjadi?"

Untuk membikin jelas perkara itu, lagi-lagi dia menyusul Mo Pak.

"Hei, mengapa kau berlaku kurang ajar!"

Su-to Yan juga marah.

"Siapa yang kurang ajar?"

Mo Pak mendelikkan matanya.

"Kau sudah dijodohkan dengan nonaku, mengapa masih mengudek-udek gadis lainnya?" -ooo0dw0ooo-

Jilid 12 LAGI-LAGI MO Pak menyingkirkan diri dari depan Su To Yan.

Tentu saja Su-to Yan tidak mau menyerah, ilmu kepandaiannya jauh diatas Mo Pak, dengan mudah, dia dapat menyusul orang tua ini.

Tiba-tiba...

Satu bayangan hijau meluncur datang, Dia membentak.

"Su To Yan, berani kau kurang ajar?"

Disana bertambah seorang laki-laki setengah umur, inilah laki-laki yang memberi obat Tong-hay Sin-ciauw.

Jago-jago yang bernama In Hay Hong.

Su-to Yan memandang In Hay Hong dengan penuh cemburu, diketahui bahwa laki-laki ini ada menaruh hati kepada Ie Han Eng, maka dia rela menjadi pengawal lembah Hui-in tanpa bayaran.

"Kau masih berani masuk kedalam lembah Hui-in?"

In Hay Hong siap menempur serunya, Perjodohan keluarga Ie dan keluarga Su-to ditetapkan oleh orang-orang tua mereka, Su-to Yan menemukan Cin Bwee lebih dahulu, karena itu dia terpaksa menolak cinta Ie Han Eng, dari dalam saku bajunya, dia mengeluarkan kitab maya nada, inilah tanda pertunangannya, dilempar kearah In Hay Hong dan berkata.

"Nah, tolong kau serahkan kitab ini pada Ie Han Eng."

Selesai memberi putusan itu, Su-to Yan membalikkan badan, pertunangannya dengan Ie Han Eng boleh dikatakan mendapat penyelesaiannya yang wajar, dia harus pergi meninggalkan tempat itu.

Jago Tong-hay In Hay Hong sedang menunggu alasan yang tepat untuk menempur Su-to Yan, dia hendak mengalahkan pemuda itu, maka didepan Ie Han Hong dapat cahaya terang, siapa tahu, dia dapat merebut hati gadis itu ?

Yang berada diluar dugaan adalah sikapnya Su-to Yan yang bermasa bodoh, melempar kitab maya nada dan berjalan pergi, inilah pengelakan.

In Hay Hong menyambut kitab maya nada, ia tertegun sebentar dan melempar kembali kitab itu, sambil membentak keras.

"Su-to Yan, kau kembali."

Kitab yang dilempar itu membawa angin desiran yang keras, sehingga Su-to Yan menduga bahwa dia dilempari senjata rahasia, maka dia hanya mengulurkan tangan menangkap benda itu, Hut, ternyata kitab maya nada !

Su-to Yan membalikkan badan, Berhadap-hadapan dengan In Hay Hong.

"Apa maksudmu?"

Dia juga marah.

"Su-to Yan,"

Berkata In Hay Hong.

"Ie Han Eng meninggalkan lembah sudah beberapa waktu yang lalu, hingga saat ini dia masih belum kembali, Kitab maya nada bukan milikku, Kau harus langsung mengembalikan kepadanya."

In Hay Hong menyadari apa akibatnya bila pemulangan kitab maya nada lewat dirinya, hal ini akan menimbulkan salah paham, Tentu Ie Han Eng marah besar, mengatakan dia yang mengojokngojok perceraian itu.

Sehingga lebih sulitlah untuk dirinya mengambil alih cinta kasih sang bidadari.

Berita itu sangat mengejutkan Su-to Yan.

Kemana perginya Ie Han Eng?

Gadis itu tidak berkepandaian sama sekali, Meninggalkan lembah Hui-in berarti menerjunkan diri kedalam lembah yang sangat berbahaya.

Su-to Yan melamun ditempat itu.

Kemanakah perginya Ie Han Eng?

Tiba-tiba si jago Tong-hay In Hay Hong sudah membentak lagi.

"Lekas pergi! Mengapa kau harus lama-lama menginjak lembah Hui-in, aku In Hay Hong akan meremukkan batok kepalamu."

Su-to Yan membalikkan badan meninggalkan lembah Hui-in.

Terbayang sikapnya Mo Pak yang dingin, terbayang kegalakan In Hay Hong, dia segan untuk menginjakkan kaki ditempat ini.

Betulkah Su-to Yan tidak mau balik kelembah Hui-in?

Bayangan sibidadari dari lembah Hui in Ie Han Eng begitu menarik, Kemanakah perginya gadis itu?

Sepasang mata Ie Han Eng yang jernih membayangi pikirannya, Aneka macam perasaan merangsang Su-to Yan.

Lembah Hui-in di Gunung Bu-san ditinggalkan, Su-to Yan melakukan perjalanan dengan menundukkan kepala.

Berapa lama perjalanan itu telah dilaluinya, Su to Yan tidak ingat lagi.

Keadaannya sudah seperti manusia linglung, keseimbangan otaknya sudah susut sebagian.

Kini Su-to Yan mengayun langkah kaki-nya, memasuki sebuah kelenteng tua.

Dia tahu, bahwa dirinya memasuki tempat itu, tapi dia tidak tahu, mengapa harus masuk ketempat itu.

Pikirannya diputar balikkan kepada kejadian-kejadian lama, dimana dia pertama kali menerjunkan dirinya ke dalam rimba persilatan, dia istirahat di sebuah kelenteng juga, diserang oleh empat anak buah golongan Thian-lam Lo-sat, muncul Cin Bwee dan kejadian-kejadian berikutnya, Wajah Cin Bwee terbayang-bayang, tetapi akhirnya mengalahkan wajah Ie Han Eng.

Tiba-tiba muncul lain wajah, inilah wajah seorang gadis yang keren dan gigih, wajah si Pedang Emas Jie-Ceng Peng.

Wajah Cin Bwee dan wajah Ie Han Eng diputar balikan, hanya wajah Jie Ceng Peng yang berkuasa.

Tiba-tiba....

Terdengar satu suara yang sangat halus memanggil-manggilnya.

"Su-to Yan...Su-to Yan..."

Wajah Cin Bwee terbayang kembali, menyamarkan wajah Jie Ceng Peng. Su-to Yan mengucek-ngucek matanya, apakah yang sedang dilihat? Mungkinkah dia sedang pusing kepala ? "Su-to Yan.,.,"

Panggil suara itu.

Dia membuka mata, sangat lebar, dan itulah wajah Cin Bwee.

Kemana larinya wajah kenangan Jie Ceng Peng?

Kemana pula kenangannya kepada Ie Han Eng?

Dan wajah Cin Bwee pun turut lenyap satu bayangan melesat keluar, meninggalkan kelenteng itu.

Su-to Yan tersentak bangun dari lamunannya, itulah bayangan orang.

Dia tahu betul, Tidak akan salah lagi.

Tubuhnya melesat, menyusul bayangan tadi.

Kecepatan Su-to Yan tidak mudah ditandingi dia berhasil menyusul orang itu, dihadapannya berdiri seorang gadis yang berpakaian pria, siapa lagi bila bukan sigadis manja Cin Bwee?

Su-to Yan terbelalak..

Keadaan ini begitu cocok dengan kenangannya.

Seperti pertemuannya pertama kali, Cin Bwee mengenakan pakaian lakilaki.

Berbeda dengan kejadian dahulu, sekarang Cin Bwee lebih kurus, lebih pucat dan lebih tidak bersemangat.

Cin Bwee memanggil-manggil beberapa lama, karena Su-to Yan sedang melamun, dia tidak mendapat jawaban yang selayaknya, karena itu dia marah, rasa sedihnya kambuh segera, melesat keluar dan meninggalkan kelenteng.

Gerakan ini disusul oleh gerakan Su-to Yan.

Mereka berhadap-hadapan.

Lama sekali, kejadian itu berlangsung tanpa kata-kata.

Tiba-tiba Cin Bwee membalikan badan, dia melarikan diri lagi.

Su-to Yan kaget, tubuhnya mencelat menyusul si gadis, dia berhasil menghadang lagi.

"Cin Bwee...."

Dia memanggil Cin Bwee mengayunkan tangan, dia memukul Su-to Yan.

"Pergi!"

Disertai oleh bentakannya. Su-to Yan mengegos, dia menghindar dari pukulan tadi.

"Cin Bwee..."

Dia memanggil lagi.

"Pergi! Aku tidak kenal denganmu."

Cin Bwee menutup wajahnya dia menangis. Su-to Yan menangkap tangan Cin Bwee mengelus-elusnya dan berkata perlahan.

"Mengapa ?"

"Huh, kukira kau sudah lupa kepadaku."

Berkata Cin Bwee menangis lebih sedih.

"Mengapa kau mengucapkan kata-kata seperti itu ?"

"Kau sudah mempunyai seorang bidadari hidup, siapa tidak kenal kepada bidadari dari lembah Hui-in Ie Han Eng? Secara resmi kau adalah calon suaminya. Karena itu kau bersifat angkuh, hendak meremehkan semua gadis yang ada ?"

"Cin Bwee, ketahuilah bahwa pertunangan itu ditetapkan oleh kedua orang tua kami."

"Kau boleh menjadi puas, bukan?"

"Jangan kau terlalu cepat memberi putusan. Pertunanganku dengan Ie Han Eng sudah dibatalkan."

"Dibatalkan?"

Cin Bwee mendongakkan kepalanya.

"Ng ... ."

"Suhu mengatakan kepadaku, bahwa kau telah mengikat tali perjodohan dengannya."

Berkata lagi Cin Bwee.

"Dimanakah suhumu itu?"

Bertanya Su-to Yan.

"Suhu mengajak aku pulang kegunung, tentu saja aku tidak mau, aku lari lagi, akhirnya aku berhasil menemukanmu."

Berkata Cin Bwee sedih.

"Suhumu tahu, bahwa banyak bahaya yang membayangi aku, Demi kepentinganmu, dia melarang pergaulan kita, Kau harus maklum kepada maksud baik gurumu itu."

Berkata Su-to Yan memberi perkiraan.

"Huh, kau juga menghendaki aku pergi jauh?"

Cin Bwee merah. Su-to Yan menyerah, Dia tidak membuka mulut lagi.

"Kau tidak melarang aku menyertaimu, bukan?"

Cin Bwee memandang sipemuda.

Su-to Yan menganggukan kepala, Sigadis terlompat girang, dia menubruk dan berlompat lompatan, akhirnya menangis didalam rangkulannya Su-to Yan.

Su-to Yan mengajak Cin Bwee melakukan perjalanan kearah barat.

Disepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya mulut Cin Bwee nyerocos tentang kejadian-kejadian yang dialami olehnya, Sedari diculik oleh Cut-kat Hong, mendapat pertolongan Jie-Ceng Peng, ditahan didalam markas Thian-lam Lo sat, datangnya Cia Ciu Nio, dibawa pulang oleh suhunya itu dan terakhir dia melarikan diri, terlunta-lunta seorang diri, tetapi akhirnya dia berhasil menemukan Su-to Yan.

Cin Bwee begitu lincah, penuh kekuatan hidup, dia dapat menyegarkan siapa yang kurang kesenangan.

Menjatuhkan diri dengan Cin Bwee, banyak menambah pengalaman hidup, tapi bersatu dengan Ie Han Eng, seperti merendengi seorang dewi yang agung, tidak mudah tercapai.

Perjalanan itu begitu memuaskan.

Tiba disebuah kota, mereka memasuki sebuah rumah makan, Diantara pengunjungnya restoran terdapat seorang yang ukuran bentuk tubuhnya pendek dan gemuk, dia adalah si Pendekar Bayangan Sie An.

"Aha. ."

Sie An melompat dari tempat duduknya.

"Lagi-lagi kita bertemu muka."

Su-to Yan sangat gembira, akhirnya dia dapat menemukan kawan lama itu, dia menyapa.

"Sie toako kemana saja?"

Sie An melirik kearah Cin Bwee, dengan kerlingan mata penuh arti, dia tertawa-tawa, tidak menjawab pertanyaan yang diajukan kepada dirinya.

Cin Bwee mendelikkan mata, Sifat-sifatnya sering bertentangan dengan Sie An akan membawa buntut panjang..Mereka duduk menghadapi satu meja.

"Su-to Yan."

Berkata Sie An.

"Kau memang lihay, Nama tiga ahli pedang hanya nama kosong belaka, Tidak satupun yang dapat menandingimu."

Pedang Utara Auwyang Ie, pendekar selatan Kong-sung Giok dan Si Pedang Bayangan Sie An adalah tiga ahli pedang ternama dimasa itu, tapi tidak satupun dari ketiga orang ini yang dapat menandingi Su-to Yan.

"Sie toako,"

Berkata Su-to Yan.

"Jangan kau mengumpak orang."

"Ha, ha,.,Eh, mengapa kau tidak turut bicara?"

Sie An menggoda Cin Bwee. Gadis itu memonyongkan mulutnya, adu mulut Sie An selalu tidak menguntungkan dirinya. Karena itu, lebih baik dia tutup mulut.

"Sie toako dari mana?"

Bertanya Su-to Yan.

"Sejak berpisah dengan Jie Ceng Peng, aku berkelana tanpa tujuan."

Jawaban Pendekar pedang Bayangan.

"Jie Ceng Peng ?"

Cin Bwee mendongakkan kepalanya.

"Betul."

Berkata Sie An.

"Eh, dia berterima kasih kepadamu."

Kata-kata yang terakhir itu ditujukan kepada Su-to Yan. Cin Bwee menoleh kearah Sang kekasih, timbul lagi rasa cemburunya.

"Jangan salah paham."

Su-to Yan memberi keterangan "Itu waktu, Cukat Hong menculikmu, dia mengatakan hendak membawamu ke lembah Cui-goat-kok.

Karena itu, aku melakukan perjalanan jauh, dengan maksud menolong kau dari tangannya, Jie Ceng Peng juga berada didalam lembah itu."

"Betul."

Berkata Sie An.

"Susah payah kita menanggung resiko besar, terakhir berhasil menerjang lembah Cui-goat-kok, tetapi ternyata kau tidak berada didalam lembah itu."

Mereka menceritakan pengalaman-pengalamannya berpisah dari lembah Cui-goat-kok. sesudah "Jie Ceng Peng berterima kasih kepadamu."

Berkata lagi Sie An.

Lagi-lagi kata-kata yang menyinggung perasaan Cin Bwee, Si gadis hampir menangis, memang bukan impian ideal, bila mempunyai seorang kekasih gagah perkasa yang berwajah tampan.

Terlalu banyak saingan.

Sie An menghela napas, dia berkata.

"Su-to toako, betapapun tinggi ilmu kepandaianmu! banyak orang yang mengiri. Kau harus berhati-hati."

Su-to Yan merasa heran.

"Aku tidak mengerti."

Dia berkata terus terang.

"Segera kau mengerti."

Berkata Sie An.

"Mengerti apa?"

Cin Bwee turut bicara.

"Lihat."

Si Pendekar pedang Bayangan Sie An menunjuk kemeja disebelahnya.

Su-to Yan menengok kesamping, wajahnya berubah, Disana, diatas meja tertancap sebatang tongkat tajam, pada ujung tongkat itu terdapat permata merah, bercahaya terang.

"Apa artinya permainan ini.?"

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 6

Baca Juga: Bu Kek Siansu 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert