Ceritasilat Novel Online

Pedang Wucisan 3

Eps 3 Pedang Wucisan - Chin Yung

Baca online Pedang Wucisan - Chin Yung

Cersil Pedang Wucisan - Chin Yung.

"Bila tidak, dengan kepandaian kepandaian tersebut, kau dapat merajai rimba persilatan Aku percaya, Ciok Pek Jiak telah memindahkan semua kekuatan dan tenaganya, tapi dia mempunyai kekuatan yang berada diatas orang, kukira tidak akan mati, Dengan alasan apa kau mengatakan sudah tiada? Katakan terus terang, aku adalah kawan dari gurumu, bukan musuh, Kukira dia mendapat budi dari keluarga kakekmu, maka mengerahkan semua tenaga, dan kekuatannya untuk menciptakan seorang pemuda mandraguna karena itulah, tentunya dia kehabisan tenaga, tidak mempunyai kekuatan lagi, kukira dia tidak mau menampilkan diri lagi, mungkin mengganti nama, mungkin pula mengasingkan diri didalam hutan belantara, atau di suatu pegunungan yang tersembunyi dia tidak mau diganggu, maka memberi perintah kepadamu untuk tidak menyebut dirinya, bukan?"

"Orang yang tidak mempunyai ilmu kepandaian tidak bedanya dengan orang mati, tidak salah untuk menyebutnya tiada."

Berkata Su-to Yan tertawa. Su In Sieng menganggukkan kepala.

"Dugaanku tidak salah."

Dia berkata.

"Di kemudian hari, bila menjumpai gurumu, katakan kepadanya, bahwa aku Su In Seng tidak melupakan budimu, setiap saat dan setiap waktu aku bersedia menyumbangkan tenaga."

"Atas nama suhu, sebelumnya boanpwee mengucapkan banyak terima kasih."

"Aku belum dapat menduga,"

Berkata lagi Su In Seng.

"Siapakah orang lainnya yang memberikan ilmu-ilmu pelajaran tadi kepadamu?"

Su-to Yan ragu-ragu untuk memberi keterangan, dia tertawa beberapa saat, dan apa boleh buat, akhirnya ia membuka mulutnya juga.

"Guru kedua bukan tokoh rimba persilatan, secara tidak terduga, beliau menemukan pelajaran-pelajaran ilmu silat dari jaman purbakala. Setelah menurunkan ilmu-ilmu itu, beliaupun meninggal dunia."

Mengetahui bahwa pemuda itu tidak ada maksud untuk menyebut nama guru lainnya, Su In Seng tidak memaksa.

"Aku tidak mempunyai kesempatan untuk membalas budi gurumu, hari ini aku bertemu denganmu, kukira sangat berguna untuk mengajarimu ilmu Cian-San Kiam-hoat, ilmu pedang Cian-sanpay yang bernama Cian-San Kiam-hoat, Bersediakah kau menerima pelajaran ini?"

Su-to Yan tertawa, dengan halus dia menolak.

"Boanpwee belum pernah melakukan sesuatu untuk kepentingan Cian-san-pay, boan pwee kira tidak berhak untuk menerima pemberian yang maha besar itu. Terima kasih"

Su In Seng tertawa berkakakan, katanya.

"Seorang pemuda yang mempunyai ambekan besar. Bagus... Bagus... Tapi kau belum.tahu, betapa pentingnya ilmu pedang ini bagimu, Aku tidak akan mengikat kau dengan suatu perjanjian, juga tidak memaksa kau menjadi muridku, jangan kuartikan dengan pemberian, hanyalah semacam demontrasi ilmu silat, baik-baik kau perhatikan gerakanku, aku mainkan tiga kali, berapa banyak kau dapat tangkap dari permainan ini, terserah dari kepintaran otakmu. Nah, perhatikanlah baik-baik."

Tanpa ambil peduli dengan orang yang hendak diberi ilmu pelajaran, sang ketua partay Ciansan pay Su In Seng bersilat dengan pedang, itulah ilmu pedang Cian San pay Kiam-hoat yang ternama.

Su-to Yan adalah cucu dari Su-to Pek Eng yang sangat mahir didalam ilmu pedang, sangat disayangkan akhli-akhli pedang itu tidak mempunyai kesempatan untuk menurunkan keakhliannya kepada sang cucu, maka Su-to Yan jarang menggunakan pedang.

Dia lebih mahir-menggunakan sepasang telapak tangan, pelajaranpelajaran yang didapat dari Ciok Pek Jiak, dan pelajaran-pelajaran dari beberapa macam ilmu silat jaman purbakala yang mengutamakan kelincahan jari-jari dan telapak tangan.

Bilamana Su-to Yan menghadapi seorang penantang dengan tangan kosong, itu bukan berarti dia memandang rendah kepada lawan, melainkan menggunakan kemahirannya didalam telapak tangan, untuk mengalahkan musuh.

Sampai disini, kita maklum, mengapa Su-to Yan mengalahkan Pendekar Pedang kidal Tong hong Cie Bun dan Pendekar Pedang Selatan Kong-sun Giok tanpa menggunakan pedang.

Dia lebih mahir menggunakan sepasang tangannya !

Ilmu pedang sangat penting, mengingat di masa itu, semua orang mengutamakan gerakan-gerakan silat dibilang senjata tajam yang enteng dan ringan itu.

Ketua partay Cian-San-pay Su In Seng telah bersilat khas dimasa itu, maksudnya agar Su-to Yan memperhatikan ilmu pedang CianSan Kiam-hoat.

Selesai satu serie, Su In Seng mengulang kembali.

Lebih lambat dan lebih perlahan.

Su-to Yan memperhatikan ilmu pedang Cian-san Kiam-hoat yang dimainkan oleh ketua partay Cian san-pay.

Su In Seng memainkan ilmu pedang partaynya untuk ketiga kali, Dengan kepintaran yang Su-to Yan miliki, cukup panjang waktu waktu untuk memperhatikan ilmu pedang yang didemontrasikan didepannya, Selesai bersilat Su In Seng tertawa berkakakan, tubuhnya melayang keluar gua, menyelipkan pedang, dan meninggalkan pemuda itu.

Masih terdengar suara yang ditinggalkan oleh ketua partay itu, demikian bunyinya.

"Kau bukan anak murid Cian-san-pay, kau bebas bekerja untuk siapapun juga. Selamat bertemu dilain waktu."

Tubuhnya lenyap tanpa bekas.

Su-to Yan termenung memikirkan kejadian aneh yang dialami olehnya, Bayangan-bayangan ilmu pedang Cian-san-pay, yang mempunyai ciri ciri tertentu masih mengarungi benak pikirannya.

Dia mengeluarkan pedang Lay-hong.

mengikuti bayanganbayangan ilmu pedang tersebut pemuda kita bersilat.

Hebat !

Permainan Su-to Yan tidak kalah dengan apa yang telah dipertontonkan oleh Su In Seng.

Hanya kecepatan yang belum dapat memadai kecepatan ketua partay itu.

Su-to Yan menutup akhir pelajaran Cian-san Kiam-hoat, dia teringat kepada Sie An yang masih menunggu dirinya, mereka wajib segera kelembah Cui-goat-kok, disana Cin Bwee masih menderita.

Meninggalkan gua Su In Seng, haripun telah menjadi pagi, Su-to Yan tidak berhasil menemukan jejak Sie An, entah kemana perginya manusia pendek itu.

Dia melakukan perjalanan seorang diri.

Tugasnya untuk menyerahkan pedang kepada Ie Han Eng telah selesai, sebagai hadiah dia mendapatkan pedang Lay-hong.

Su-to Yan belum dapat menerka, apakah maksud kombinasi didalam pertukaran kedua pedang ini.

Dia boleh puas, karena dapat menyerahkan pedang ke tempat tujuan.

Su-to Yan sudah kecantol asmara, adanya Cin Bwee yang besar cemburu itu akan mengikat dirinya, Cin Bwee telah dibawa oleh Cukat Hong, kini dia menuju kearah lembah Cui goat-kok.

Satu bayangan kuning melesat, itulah Padri Mangkuk Mas dari gunung Ngo tay san Kim Pun Ceng.

Apa maksud tujuan Kim pun Ceng berlari seperti itu?

Seolah-olah sedang melakukan suatu tugas penting, dia tidak melihat akan kehadirannya Su-to Yan.

Su-to Yan bukanlah seorang pemuda yang gemar bertempur musuh tidak mengganggu diri nya, diapun tidak pernah mengganggu orang, Dibiarkan saja Kim Pun Ceng berlalu.

Hweesio dari Ngo tay san telah berangkat pergi.

Su-to Yan melanjutkan perjalanan, menuju kearah lembah Cui goat kok.

Kadangkala nasib suka mengganggu usaha manusia, Su-to Yan tidak mempunyai maksud untuk mencari urusan, tapi urusan yang selalu mendatangi dirinya, lagi-lagi ada dua hweesio yang melintangi jalan, setelah menyebut nama Budha, kedua hweesio itu berkata.

"Su-to sicukah yang datang?"

Su-to Yan menghentikan langkahnya, menatap kedua hwesio itu, mereka mengenakan pakaian warna kelabu, pelipisnya cekung ke dalam, suatu tanda berkepandaian ilmu silat.

"Betul."

Dia membenakan pertanyaan mereka. Hwesio yang dikanan memperkenalkan diri.

"Pinceng Hian-hoat dari Siau-lim-Sie."

Dan menunjuk kawannya, dia berkata.

"Suheng pinceng yang bernama Hian-goan, Kami berdua mendapat tugas untuk mengundang Su-to Sicu."

Hwesio Siauw limpay yang mengadakan gangguan.

Su-to Yan maklum akan permusuhan gurunya dengan partay tersebut, pernah juga sang guru bercerita, suatu ketika guru itu menerjang gereja Siauw-lim-sie dan membunuh beberapa jago dari partai yang bersangkutan.

Bibit permusuhan Ciok Pek Jiak dengan pihak Siauw-lim-pay jatuh keatas dua pundak Su-to Yan.

Su-to Yan berkata.

"Siauw-lim-pay mengundang? Suatu keberuntungan bagi Su-to Yan. Sayang jika menolak undangan ini, apa mau urusan sangat penting, bolehkah kalian memberi tahu, bahwa aku ingin meninggalkan kunjungan itu?"

Hian-hoat dan Hian-goan berkata.

"Ketua partay telah memberi tugas kepada kami berdua untuk mengundang Su-to sicu, kami kira tanggung jawab ini terlalu berat."

"Maksud kedua taysu?"

Su-to Yan memandang kedua hwesio itu.

"Kami harapkan kedatangan sicu diatas gunung,"

Berkata Hiangoan.

"Bukan hari ini?"

Berkata Su-to Yan.

"Tung... tung..."

Dua hwesio itu mementingkan kedua tongkat mereka, itulah suara tanda bahwa pertempuran tidak dapat dihindari. Sret... Su-to Yan mengeluarkan pedang Lay-hong.

"Sicu tidak mau ikut, bagaimana kami harus memberikan pertanggung jawaban kami?"

Bertanya Hian-hoat. Su-to Yan berkata beringas.

"Aku akan ikut ke gereja Siauw-lim-Sie, manakala kalian dapat mengalahkan aku."

"Baik, terpaksa kami harus menggunakan kekerasan."

Berkata Hiat-goan yang mulai mengayun tongkatnya.

Gerakan mana diikuti oleh Hian-hoat.

Dari kiri dan kanan, kedua hweshio ini memberikan suatu tekanan kekuatan atas diri Su-to Yan.

Sebab musahab dari bentroknya Ciok Pek Jiak dan Siauw-lim-pay dikarenakan adanya persamaan ilmu silat, sedikit banyak Su-to Yan mempunyai penilaian tertentu atas gerakan Siauw lim-pay.

Cara penyerangan Hian-hoat dan Hiat-goan adalah cara-cara yang biasa digunakan oleh anak murid Siauw-lim pay.

Su-to Yan menunggu sampai kedua gerakan hwesio itu bekerja sampai setengah jalan, dan dengan suatu kecepatan kilat, dengan tipu Gim liong Nu-hauw atau Menangkap Naga Mencekal Harimau, menggunakan tangan dan pedang, mendahului gerakan lawan.

Tipu Gim-liong Nu"hauw juga termasuk salah satu tipu pelajaran Siauw lim-pay, sengaja Su-to Yan menggunakan ilmu tadi, maksudnya memberi tahu kepada kedua hwesio itu, bahwa diapun telah mewarisi kepandaian Ciok Pek Jiak, masih mahir menggunakan tipu-tipu silat Siauw-lim-pay.

Ada baiknya tidak meneruskan pertempuran itu.

Hian-hoat dan Hian-goan mendapat tugas khusus untuk mengundang Su-to Yan, perintah Siauw-lim-pay ini harus ditaati, mereka telah berhasil menemukan orang yang bersangkutan tentu saja harus membujuknya untuk turut serta.

Yang mengganggu usaha adalah kebandelan pemuda itu, Su-to Yan menolak undangan, maka terjadi pertempuran.

Su-to Yan memainkan tipu silat Gim-liong Nu-hauw.

Cara yang terbaik untuk menghadapi gerakan ini adalah permainan Cap-pat Lo-han-kun atau 18 jurus pukulan, Hian-goan dua saudara menggunakan tipu itu untuk menghadapi Su-to Yan.

Hian-hoat dan Hian-goan menggencet Su-to Yan ditengah tengah, dari kiri dan kanan, mereka menyerang bergantian.

Su-to Yan memutar badan, bayangannya menerjang kearah Hian-hoat, maka pedang mengikuti musuh itu.

Walau demikian, pukulan tangannya tidak meninggalkan Hian-goan, berbareng menyerang dua orang.

Hian-hoat lari menghindari tusukan pedang tajam, celaka lagi Hian-goan, ia mendapat tekan yang lebih erat, Menyingkirnya Hianhoat dari serangan Su-to Yan berarti menambah beban baginya.

Su-to Yan lebih mahir menggunakan sepasang telapak tangannya, dia berhasil menjauhkan Hian-hoat, tangannya mengibrik, dengan jurus Kui-ong Hui-san, dia mencengkeram pundak hwesio itu, disentil sedikit, melemparkan tubuhnya.

Hian-hoat merasa ditipu mentah-mentah, tongkatnya diayun datang, mengepruk kearah kepala Su-to Yan.

Su-to Yan sudah berhasil menyingkirkan Hian-goan, datangnya serangan tongkat sudah berada didalam perhitungan, dia kembalikan tangan, dengan tipu Sin mo da kie atau iblis Sakti Menarik Kereta, dia menangkap tongkat, membiarkan Senjata dan tubuh sipemiliknya melewati diatas kepala, terbang kedepan.

Dua hwesio Siauw-lim-pay telah di jatuh kan oleh jago kita.

"Masih ada minat untuk meneruskan pertandingan?"

Su-to Yan menantang kedua pecundangnya.

Hian-hoat dan Hian-goan tidak mengalami cedera, hanya di dalam beberapa gebrakan saja, mereka telah di sisihkan oleh anak muda itu, tentu tidak berani memaksanya lagi.

"Kami berdua tidak mempunyai kekuatan untuk memaksa sicu turut kepada kami. Sampai disini saja pertemuan kita, jangan lupa, bila ada waktu, kedatangan sicu di gereja Siauw-lim pay masih sangat di harapkan."

Demikian kedua hweesio itu berkata.

"Aku tahu."

Berkata Su-to Yan.

Hian-hoat dan Hian goan merangkapkan kedua tangannya, mereka memberi hormat dan meninggalkan Su-to Yan.

Su-to Yan mengeluarkan napas lega, bukan satu dua orang saja yang mengganggu perjalanan itu, Hian hoat dan Hian-goan hanya dua diantaranya, kecuali mereka, entah masih berapa banyak lagi orang-orang yang ingin menempur dirinya?

Mengingat keadaan itu, dia khawatir atas keselamatan Cin Bwee, gadis itu masih berada didalam lembah Cui-goat-kok.

Su-to Yan meneruskan usahanya.

Kini dia berada di bawah kaki sebuah puncak gunung, maksudnya hendak melintasi puncak itu, jauh diatas, terlihat satu bayangan orang berdiri tegak tidak bergerak.

Su-to Yan memperlambat langkahnya, cara-cara orang itu adalah cara Cu-kat Hong beserta orang-orangnya, hendak menipu dan memancing dia masuk perangkap?

tidak, Orang di atas puncak pun telah melihat datangnya pemuda kita, bayangan itu bergerak, melayang turun, menghampirinya.

Kini terlihat semakin jelas, itulah bayangan seorang gadis cantik, tubuhnya sangat langsing, siapa lagi bila bukan pendekar pedang Emas Jie Ceng Peng?

Jie Ceng Peng menghampiri Su-to Yan.

Hati sipemuda bergoncang keras, memberi hormat kepada gadis tersebut, dia berkata.

"Nona Jie, baik-baik sajalah kesehatanmu?"

"Terima kasih."

Berkata sigadis.

"Kesehatanku cukup baik, kesehatanmulah yang mungkin akan terganggu. Mari kau ikut aku."

"Eh, apa artinya kata-katamu tadi?"

Su-to Yan tidak mengerti.

"Lekas kau turut aku."

Berkata Jie Ceng Peng.

"Kau telah berada didalam kurungan orang-orang ayahku."

"Ayah nona?"

Su-to Yan membelalakkan mata.

"Bagaimanakah gelar sebutan ayah nona yang mulia ?"

"Pernah dengar nama Ie Han Liu ?"

"Aaa...."

Su-to Yan terkejut Ie Han Liu adalah musuh nomor satu dari Ciok Pek Jiak, Disini dia telah berhadapan dengan puteri musuh guru itu.

"tidak percaya?"

Berkata lagi Jie Ceng Peng.

Timbul sipat kejantanan Su-to Yan, maksud baik Jie Ceng peng tidak bisa dikabulkan, Dan mungkinkah dia takut kepada keroyokan orang-orang itu?

Tentu tidak, Dengan sikapnya yang kaku, dia berkata.

"Atas kebaikan hati nona, dengan mengucapkan beribu-ribu terima kasih."

Ini, aku Su-to Yan Alis lentik Jie Ceng Peng terungkit kemudian menurun kembali, dia sangat sedih.

"Kau...."

Suaranya terputus.

"Aku hendak melanjutkan perjalanan,"

Berkata Su-to Yan.

"Selamat tinggal."

Tubuh sipemuda melesat ke puncak gunung, Jie Ceng Peng berteriak.

"Tunggu dulu..."

Su-to Yan menghentikan gerakannya, menoleh kebelakang, menunggu kata-kata penjelasan sigadis dari golongan Thian-lam Losat. Jie Ceng Peng berkata.

"Kemana kau hendak pergi?"

"Lembah Cui-goat-kok."

Berkata menyertai keterangan lainnya. Su-to Yan singkat, tidak "Hendak menolong Cin Bwee?"

"Kau....Kau bagaimana tahu?"

Su-to Yan terkejut.

"Mengapa tidak tahu?"

Jie Ceng Peng tertawa tawar.

"Cin Bwee telah dibawa oleh Cu-kat Hong. Kau telah mendapat kemajuan di biang ilmu pedang, Anggapanmu sudah bisa menguasai dunia? Hendak menjadi seorang raja Silat? Kau belum kenal keadaan lembah Cui-goat-kok, hendak mengantarkan jiwa ketempat itu."

Semakin lama, mata Su-to Yan semakin besar, ternyata gadis dari golongan Thian-lam Lo-sat ini telah mengikuti geraknya, seolaholah bayangan saja.

tidak satupun kejadian yang luput dari pemeriksaannya.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 7

"BAGAIMANA kau tahu?"

Dia bertanya.

"Kau hendak menolong Cin Bwee, bukan?"

Jie Ceng Peng tidak menjawab pertanyaan orang.

"Betul."

Su-to Yan menganggukkan kepalanya.

"Mari ikut aku."

Su-to Yan batal meninggalkan gadis itu, diketahui bahwa Jie Ceng Peng mempunyai banyak jalan pikiran, tentu mempunyai caracara yang terbagus untuk menolong Cin Bwee dari lubang kesusahan, maka dia harus taat kepada gadis tersebut.

Jie Ceng Peng berjalan didepan, memasuki sebuah rumpun bambu, berliku-liku didalam pohon-pohon itu, dia membawa Su-to Yan ke suatu tempat.

"Sungguh membuat aku tidak mengerti."

Suatu ketika Jie Ceng Peng mengucapkan kata-kata itu.

"Bagaimana kau dapat tertarik kepada Cin Bwee yang nakal berandalan."

Su-to Yan tidak menjawab pertanyaan itu.

"Hei, kau tidak dengar kata-kataku?"

Bertanya Jie Ceng Peng menoleh ke belakang.

"Ng..."

"Hubunganmu dengan Cin Bwee hanya terjadi didalam hari-hari belakangan ini, bukan?"

"Ng..."

Su-to Yan menganggukan kepala.

"Baikkah dia kepadamu?"

"Nggg..."

"Kalian telah saling cinta?"

"Kukira demikian."

Berkata Su-to Yan menundukkan kepala.

"Aku tidak mengerti."

Berkata Jie Ceng Peng.

"Dimanakah letak kecantikan Cin Bwee?"

"Setiap wanita mempunyai kecantikan-kecantikan yang tersendiri. Katakan dia cantik, tapi belum tentu orang lain dapat menyetujui kesan pendapatku itu."

"Betul."

"Kau menyetujui pandanganku?"

Bertanya Su-to Yan.

"Pandangan tentang apa?"

Bertanya Jie Ceng Peng.

"Tentang Cin Bwee."

Su-to Yan membanggakan gadisnya.

"Huh..."

Jie Ceng Peng menghentikan langkahnya, memandang Su-to Yun.

"Bagaimana kesanmu kepadaku?"

Su-to Yan tertegun, Dua pasang mata saling pandang.

"Bagaimana?"

Desak gadis itu.

"Cantikkah aku?"

Su-to Yan menganggukkan kepalanya.

"Kau pun termasuk salah seorang gadis yang sangat cantik,"

Dengan terus terang, pemuda itu mengucapkan kata-kata hatinya.

"Bagaimana kecantikanku, bila dibandingkan dengan Cin Bwee?"

Bertanya lagi Jie Cin Peng.

"Aku tidak tahu,"

Su-to Yan mengalihkan pandangan.

Si Pedang Emas Jie Ceng Peng menarik napas, jawaban pemuda itu sangat mengecewakan dirinya.

Akhirnya Su-to Yan mendongakkan kepala, masih menantang sinar mata Jie Ceng Peng yang sangat menantikan sesuatu.

"Sungguh."

Su-to Yan memberi ketegasan.

"Aku tidak tahu !"

Jie Ceng Peng tidak mendesak lagi, dia mengangkat kaki melanjutkan perjalanan mereka.

Su-to Yan mengikuti dibelakang bayangan gadis itu.

Mereka telah tiba disebuah rumah kayu, memasuki rumah itu, Jie-Ceng Peng berkata.

"Duduklah sebentar."

Dan memanggil kedalam. Seorang gadis pelayan muncul didepan mereka, itulah dayang Jie Ceng Peng yang setia.

"Aaaa ..."

Siauw In berteriak girang.

"Telah kembali? Ekh, Suto kongcu juga turut serta?"

"Bawakan air minum untuk Su-to kong-cu."

Jie Ceng Peng memberi perintah kepada sang pembantu. Cepat-cepat Siauw In membawakan air.

"Su-to kongcu, silahkan minum."

Gadis ini sangat ramah sekali, Su-to Yan memandang Jie Ceng Peng.

"Mengapa kau bawa aku ketempat ini?"

Dia menaruh curiga.

"Jangan khawatir."

Berkata sipedang Emas.

"Duduklah sebentar, aku hendak melihat keadaan mereka."

Tanpa menunggu reaksi sang tamu yang hendak mengajukan protes, Jie Ceng Peng meninggalkan ruangan itu.

Su-to Yan memperhatikan keadaan didalam rumah kayu, semacam bau wangi-wangian menusuk hidung, tentunya rempahrempah yang sering digunakan oleh kaum wanita, Jie Ceng Peng pandai ilmu silat, tapi sifat kewanitaannya tidak lepas, dia masih mempunyai kesenangan untuk hidup didalam alam kebenaran.

Dari bayangan Jie Ceng Peng, kenangan Su-to Yan lari kembali kerumah kayu Ie Han Eng.

Kecantikan Jie Ceng Peng tidak kalah dengan Sang bidadari dari lembah Hui-in, mengapa tidak ada yang memberi gelar bidadari kepada-Jie Ceng peng?

Tiba-tiba satu suara tertawa memecahkan lamunan Su-to Yan.

"Kongcu,"

Inilah suara Siauw In.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Su-to Yan menganggukan kepala, dia berkata.

"Siapakah yang menggunakan tempat ini"

"Nona Jie,"

Jawab Siauw In "Dan aku hanya menyediakan segala kebutuhannya.

Kecuali ayahnya, dia melarang setiap orang masuk ketempatnya.

Aku heran, mengapa ia mengundang kau datang?

Dan membiarkan kau memasuki tempatnya?"

Su-to Yan merasakan sesuatu yang terselip dari kata-kata Siauw In tadi, dia tidak berani membayangkan kejadian-kejadian yang akan menimpa dirinya. Siauw In berkata lagi.

"Begitu baik nona Jie Ceng Peng memperlakukan dirimu, bagaimana kau membalas kebaikan itu?"

"Maksudmu?"

Su-to Yan semakin tidak enak. Sebelum Siauw In memberikan jawaban Jie Ceng Peng melayang masuk, maka pelayan tersebut menutup mulut. Jie Ceng Peng berkata.

"Mereka tidak berhasil menemukan jejakmu, kukira segera membubarkan diri. Sebentar lagi kau boleh pergi."

Su-to Yan tertawa nyengir, dia sedang berhadapan dengan musuh gurunya yang nomor satu, bukan memberi pelayanan yang selayaknya tapi bersembunyi ditempat putri musuh itu. Jie Ceng Peng berkata lagi.

"Eh. Kau berhasil menemukan Ie Han Eng?"

"Ng...."

Su-to Yan menganggukkan kepala.

"Cantikkah orang yang mendapat julukan bidadari itu?"

Bertanya lagi sipedang Emas. Lagi-lagi Su-to Yan menganggukan kepala.

"Bagaimana kecantikan Ie Han Eng, bila dibandingkan dengan diriku?"

Jie Ceng Peng tertawa.

"Kalian mempunyai ciri-ciri yang tersendiri dia lemah darimu, mempunyai tipe yang pendiam, Kau berkepandaian silat tinggi mempunyai tipe yang agak agung, wajib dijunjung orang. Kedua macam tipe yang tidak bersamaan ini tidak dapat dinilai dengan angka pertandingan.

"Dan tipe mana yang kau lebih suka ? Yang pendiam atau yang agung?"

Mata Jie Ceng Peng berkilat-kilat.

Su-to Yan tertegun, dia mendapat ujian berat, pertanyaan Jie Ceng Peng berarti memberi dua jalan untuk dirinya, Mana yang disukai olehnya?

Jie Peng Ceng atau sibidadari dari lembah Hui-in Ie Han Eng ?

"Aku tidak tahu."

Su-to Yan tidak mau membiarkan otaknya dikalutkan oleh pikiran-pikiran itu. Jie Ceng Peng tertawa, dia berkata lagi.

"Eh, bagaimana bila aku menyertaimu pergi kelembah Cui-goatkok?"

Nona itu menawarkan jasa baiknya, ilmu silat Jie Ceng Peng lihay, otaknya juga lihay, Bila mendapat bantuan dirinya, tentu lebih mudah untuk menundukkan lembah Cui-goat-kok.

Tujuan Su-to Yan yang hendak pergi ke lembah Cui-goat-kok untuk menolong Cin Bwee, sedang gadis itu mempunyai ambekan yang besar cemburu, bila dia tahu sang kekasih melakukan perjalanan dengan seorang gadis yang dicemburui olehnya, Tentu berakibat lain.

Su-to Yan terpaksa menolak, katanya perlahan.

"Dia akan menjadi tidak senang."

Tidak perlu menyebut nama itu, Jie Ceng Peng juga sudah dapat menduga, tentunya Cin Bwee yang diartikan oleh si pemuda.

"Aku tahu."

Dia berkata.

"tidak mungkinkan mau melakukan perjalanan dengan diriku, seorang gadis dari golongan Thian-lam Lo-sat yang ditakuti. Akupun tahu, cintamu kepada Cin Bwee tidak mungkin dipadamkan. Anggap saja aku yang tidak tahu malu, tidak tahu diri. Kata-kataku tadi hanya bersifat menjelajahi hatimu, bukan sungguh-sungguh."

Su-to Yan tidak pandai bicara. Lebih baik bungkam seribu bahasa.

"Mari kuantar kau dari daerah ini."

Berkata Jie Ceng Peng.

"Kuberi petunjuk, kemana Cu kat Hong melarikan kekasihnya itu."

Jie Ceng Peng mengantarkan Su-to Yan keluar dari tempatnya.

Mereka menuju kearah utara.

Sigadis hanya mengantar Su-to Yan sampai disuatu tempat yang aman, setelah itu, dia kembali kedalam lembah yang semula.

Su-to Yan menuju kearah lembah Cui-goat-kok.

Cepat sekali, dia telah keluar dari daerah Bu-san, tentunya sudah tidak ada orang yang hendak meminta ilmu pedang Maya Nada dan dia belum pernah melihat kitab ini.

Betulkah tidak ada orang yang mengganggu perjalanan Su-to Yan ?

Kenyataan sering berlawanan dengan apa yang kita harapharapkan.

Satu bayangan putih memantul dari arah tebing gunung, langsung menuju kearah jalan yang hendak ditempuh oleh Su-to Yan.

"Ha, ha, ha, ha..."

Orang berbaju putih itu tertawa puas.

Didepan si pemuda telah muncul seorang berbaju putih, caracara dia mengenakan pakaian seperti kaum sastrawan, tapi sudah terlalu tua untuk menggunakan pakaian itu.

Su-to Yan tidak dapat menduga, siapa sastrawan tua yang melintangkan diri dihadapannya.

Orang itu memantek sepasang sinar matanya, seolah-olah hendak menembus isi badan Su-to Yan.

"Kau inikah yang bernama Su-to Yan?"

Akhirnya dia mengajukan pertanyaan.

"Betul."

Pemuda kita membenakan dugaan itu.

"Bagaimana dengan sebutan cianpwee yang mulia?"

Orang itu mengacungkan tangan kanannya, dia memegang kipas sastrawan dan dibukanya kipas tersebut.

"Kenalkah dengan kipas ini?"

Demikian dia bertanya. Diatas kipas terdapat tulisan yang berbunyi seperti ini.

"Berjibakulah untukku"

"Aaaaa..."

Su-to Yan hampir berteriak.

"Ha, ha..."

Orang itu tertawa.

"Untuk mengenal diriku memang tidak mudah, tapi siapakah yang tidak kenal kepada kipas ini?"

Siapakah yang tidak kenal kepada sepasang Manusia Jibaku?

Yang mendapat julukan sebagai Sepasang Manusia Jibaku adalah dua tokoh rimba persilatan, mereka bukan dua saudara juga bukan dua sahabat baik, tapi mereka mempunyai ciri-ciri yang sama, mereka mempunyai pengorbanan.

Arti dari pengorbanan adalah berkorban untuk menolong orang, boleh juga diartikan dengan orang lain harus berkorban untuk kejayaan diriku.

Dua macam pengertian yang tidak sama.

Sepasang Manusia Jibaku adalah dua orang yang tidak meninggikan pengorbanan, Seng-mo Leng Kho Tiok menggunakan kipas "Berjibakulah"

Untukku.

Dia mementingkan diri sendiri, demi kepentingan dan kejayaannya, semua orang diwajibkan memberi pengorbanannya.

Dan seorang lagi yang menggunakan motto pengorbanan adalah Su-mo Min Kho-Siong, dia menggunakan kipas, Aku Wajib Berjibaku, demi kepentingan umat manusia, dia wajib menyumbangkan tenaganya.

Karena itulah, pada suatu hari, dia kehilangan kipas itu, pengorbanannya telah banyak, Hampir-hampir kehilangan jiwa, betul-betul hendak berjibaku.

Bercerita Seng-mo Leng Kho Tiok pada Su-to Yan.

Su-to Yan agak gentar menghadapi tokoh silat yang satu ini Sepasang Manusia Berjibaku belum pernah menemukan tandingan, tentu saja mereka berani memaksakan orang berjibaku atau berjibaku untuk orang.

Seng-mo Leng Kho Tiok berkata.

"Bagaimana?"

"Ternyata Seng-Mo Leng Khio Tiok Cianpwee."

Su-to Yan memberi hormat.

"Ha, ha ha, ha... Belum melupakan namaku, bukan?"

Seng-mo Leng Kho Tiok sangat puas.

"Tentu belum melupakan peraturanperaturan yang kutetapkan juga?"

Su-to Yan berkata.

"Kedudukan cianpwee berada diatas generasi tertinggi, mungkinkah bersedia menurunkan martabat, menempur seorang anak muda yang baru menampilkan diri seperti aku?"

"Ha, ha..."

Seng-mo Leng Kho Tiok tertawa.

"Aku manusia, kau juga manusia, derajad manusia tidak ada perbedaan, bukan?"

Mengetahui bahwa Seng-mo Leng Kho Tiok tidak mementingkan urutan generasi tua dan muda, tidak sungkan-sungkan untuk menggempur siapa saja, lenyaplah harapan Su-to Yan untuk mencegah pertempuran.

"Apa yang kau ingini?"

Bertanya Su-to Yan secara blak-blakan.

"Kau memiliki sebuah kitab ilmu yang bernama ilmu pedang Maya Nada, Aku tahu. jangan mencoba untuk menyangkal."

Sengmo Leng Kho Tiok sangat rakus kepada kekayaan dan kepusakaan, Dan masih menghendaki catatan ilmu silat itu.

"Dan aku menghendaki kitab itu."

Su-to Yan menggeleng-gelengkan kepala, lagi-lagi persoalan ilmu pedang Maya Nada, ilmu pedang yang tak diketahui sama sekali.

"Aku tidak mengerti."

Dia menyangkal. Seng-lo Leng Kho Tiok tidak marah, dia tertawa berkakakan.

"Ha, ha... jawaban yang sudah berada didalam perhitunganku Tentunya kau tidak mau nyerah, sebelum dikalahkan olehku, bukan ?". Memang demikian sifat-sifat manusia, maunya dipaksa saja, seperti seekor kuda, harus mendapat cambukan-cambukan, baru dia mau berlari kencang, setelah itu, dia lambat-lambatan lagi. Akan kupaksa kau mengeluarkan kitab tersebut, dan waktu itu, kau akan kehilangan kedua tangan dan kedua kaki."

Su-to Yan mengajukan protes.

"Kau kejam, Kau belum pernah merasakan, bagaimana sengsaranya seorang yang telah tiada berkepandaian, ingin sekali aku dapat memuaskan semua ilmu kepandaianmu, maka kau baru tahu, betapa sakitnya orang persakitan yang menjadi korban kejahatanmu."

"Ha, ha, ha .."

Seng mo Leng Kho Tiok tertawa.

"Sudah lama aku tidak menampakkan diri, hari ini dapat menjumpai Setelah kau kukalahkan maka kedua tangan dan kakimu tidak akan terhindar dari kerusakan."

Seng-mo Leng Kho Tiok hendak memapas putus kaki dan tangan Su-to Yan.

Berbareng kata-katanya yang terakhir, tubuh manusia yang senang mengorbankan kepentingan orang itu terbang keatas, dan begitu cepat gerakannya, dengan sepasang jari, dia mengancam jalan darah Leng-tay.

Su-to Yan bertepuk tangan, memecah kekanan dan kekiri, kemudian mendorong semua sisa tenaga kearah datangnya jari tangan Seng-mo Leng Kho Tiok.

Serangan Seng mo Leng Kho Tiok tertahan di luar benteng pertahanan Su-to Yan, tubuhnya mumbul tinggi, dengan kecepatan yang sangat luar biasa, dia menggunakan kipas menepuk kepala si pemuda.

Su-to gerakan datang, Pertama Yan menyedot napas, tubuhnya mumbul keatas, dengan yang tidak kalah cepat, dia lari, sebelum serangan musuh ini tipu yang bernama Sin-mo ju sian atau iblis Sakti Kali Menampilkan diri.

Seng-mo-Leng Kho Tiok mengeluarkan pujian.

"Luar biasa, tidak percuma kau menjadi murid Ciok Pek Jiak yang ternama."

Tanpa mengurangi kecepatannya, Seng-mo Leng-kho Tiok mengancam jalan darah kie-bun hiat lagi.

Menyaksikan kecepatan tubuh lawannya yang dapat bicara sambil menyerang tanpa mengurangi kecekatannya, Su-to Yan goyang kepala, dia mengerahkan ilmu It-bok Cin-khie atau ilmu Kabut Hijau untuk melindungi diri.

Seng mo Leng Kho Tiok menggunakan kipas dan jari, bergantian mencari lolongan dari penjagaan seluruh bagian tubuh Su-to Yan yang terlindung kuat, bermain seperti ular kecil.

Seolah-olah hendak melilit tubuh sang korban, Su-to Yan dikurung oleh bayanganbayangannya.

Perkutetan yang seperti itu memakan waktu yang cukup lama, siapa lengah, orang-orang itu lah yang akan kalah.

Seng mo Leng Kho-Tiok lebih berpengalaman, suatu saat, dia memberi kelonggaran-maksudnya memancing datang serangan balasan sipemuda, dan itulah waktu-waktu untuk menemukan kekosongan penjagaannya.

Su-to Yan mempunyai mata yang tajam, sayang belum dapat menembus tipu muslihat musuh, dia mengetahui suatu keuntungan, ketika kipas Seng-mo Leng Kho Tiok hampir tidak terjaga, dengan satu jurus tipu Thian-mo-nie hun-ciauw, melepaskan penjagaan dirisendiri, Su-to Yan menarik diri dari lingkaran Kabut Hijau, tangannya dipanjangkan, merebut kipas musuh.

Tepat!

Kipas berhasil dicengkram, Seng mo Leng Kho Tiok tidak dapat disamakan dengan pendekar-pendekar muda yang kurang pengalaman, didalam hati tukang gasak harta benda milik orang ini tertawa, begitu kekuatan Su-to Yan menempel dikipas, Seng -mo Leng Kho Tiok menggentak keras, dengan satu geraman yang memekikkan telinga dia membentak.

"Lepas!"

Menyalurkan tenaga dalamnya yang menembus kipas, Seng-mo Leng Kho Tiok hendak menerbangkan tubuh lawannya.

Su-to Yan telah mewarisi semua kekuatan tenaga dalam Ciok Pek Jiak, walau belum dapat menguasai semua kekuatan-kekuatan itu, dia masih cukup tangguh.

Dirinya telah masuk kedalam jaring lawan yang terpasang bagus, jari-jarinya dikerahkan, masih berusaha merebut senjata kipas Sengmo Leng Kho Tiok.

Terjadi pergumulan tenaga dalam, Seng-mo Leng Kho Tiok berdengus.

"Tenagamu cukup hebat, hee?"

Secara bertahap, dia menambah tenaga dalamnya jalur-jalur ini saling susul diantara gagang kipas, menerjang Su-to Yan, Terasa betul selisih perbedaan tenaga kekuatan mereka.

Seng mo Leng Kho Tiok dapat memperhatikan turunnya butiran keringat diatas jiat lawan.

Su-to Yan menggeretek gigi, dia masih hendak mempertahankan kedudukannya, melepas tangan berarti mendatangkan maut tenaga dalam Seng-mo Leng Kho Tiok beserta tarikan tenaganya akan menghancur luluhkan isi badan, Maka dia wajib bertahan diatas kipas.

Seng-mo Leng Kho Tiok memperlihatkan senyum iblisnya.

Su-to Yan menyengir bukan waktunya dia mengadu tenaga, berapa lamapun dia bertahan pasti tidak sanggup menguasai diri sendiri, sedikit demi sedikit, Seng-mo Leng Kho Tiok mendesak dirinya.

Dari harus menyerahkan diri begitu saja, timbul niatan untuk mengadu jiwa.

Tangan kirinyapun turut maju, dia memecah kekuatan dikedua tangan, dan secara mendadak sekali, menarik semua kekuatan yang ada, tangan kanan memainkan tipu Kui-ong Hui-san, memukul Seng-mo Leng Kho Tiok, inilah cara mengadu jiwa, jika dia berhasil memukul musuh itu, karena semua kekuatan berpindah kekiri, dirinyapun tidak luput dari kematian.

Seng-mo Leng Kho Tiok tidak mau mati bersama, dia tidak meneruskan pukulannya dan menarik sebagian untuk mempertahankan diri.

Terdengar suara benturan, masing-masing menerima hadiah bagian lawan.

Tubuh Su-to Yan terpukul jatuh kebelakang, setelah berhasil memukul pundak lawannya.

Pukulan Kui-Ong Hui-san memaksa Seng-mo Leng Kho Tiok memuntahkan darah segar.

Su-to Yan hanya menerima setengah dari pukulan Seng-mo Leng Kho Tiok, inipun sudah cukup untuk dirasakan, lukanya lebih parah dari musuhnya, dia hampir jatuh tertelungkup, sedapat mungkin dia mempertahankan diri, dan dia berhasil, dia mempertahankan dirinya di hadapan musuh itu.

Mereka saling pandang.

Su-to Yan menelan semua luka-lukanya, dia berdiri dengan gagah.

Hampir Seng-mo Leng Kho Tiok berteriak, belum pernah ada orang yang dapat menerima seperempat bagian tenaga pukulannya, dan pemuda ini telah menerima sebagian besar dari pukulan dahsyat itu, yang aneh, dia belum mati, bahkan masih sangat sehat.

Kini musuh itu maju lagi, tentunya hendak menamatkan jiwanya yang sudah menderita luka.

Dia tidak tahu, bahwa Su-to Yan juga menderita luka parah.

Inilah cara cara Su-to Yan untuk menundukkan musuh, langkah kakinya digeser lagi kedepan.

Seng-mo Leng Kho Tiok adalah seorang kejam, dia sering melakukan pembunuhan-pembunuhan, belum pernah dia mengenal kasihan, dan kali ini dia mendapat giliran untuk menghadapi tangan elmaut, untuk mengadu kekuatan lagi, dia sudah kehilangan pegangan, demi memperpanjang hidup tuanya, dia membalikkan badan melarikan diri!

Su-to Yan nyaris dari kematian, Bila meneruskan pertarungan seperti tadi, tentu dia akan mati lebih dahulu.

Seng-mo Leng Kho Tiok telah melarikan diri, iman sipemuda yang terpegang kuat jatuh runtuh, tubuhnya menggelesot, dan dia jatuh.

Dia masih berada didalam daerah berbahaya, bukan mustahil bila Seng-mo Leng Kho Tiok menerka kekosongan tenaganya, dan itu waktu, bila dia tidak cepat cepat lari dari tempat itu, pasti celaka.

Su-to Yan bangun dan melanjutkan perjalanannya.

Hanya belasan langkah, dia tidak kuat.

sekali lagi jatuh ditanah.

"Celaka."

Sipemuda mengeluh.

"Mungkinkah aku ditakdirkan untuk mati ditempat ini?"

Dia memiliki ilmu It-bok Cin khie, dengan ilmu ini, dia berusaha mengembalikan tenaganya.

Dia duduk bersila, menerangkan matanya dan mengatur jalan peredaran darahnya.

Berapa lama kemudian, Su-to Yan berhasil memutarkan jalan peredaran darah sehingga beberapa kali, pukulan Seng-mo Leng Kho Tiok terlalu kuat, tidak berhasil menghancurkan semua kekuatannya.

Perlahan-lahan, Su-to Yan membuka kedua matanya.

Tiba-tiba ...."Aaaa...."

Dia berteriak kaget.

Dihadapannya telah berdiri seorang tua berbaju hitam, entah kapan datangnya orang ini, tiada tanda tanda dan tiada terdengar suara geseran angin yang ditimbulkan boleh langkah langkah kakinya, Orang tua berbaju hitam sedang memperhatikan perubahan perubahan wajah Su-to Yan, mengetahui bahwa pemuda itu telah melek mata, dia berkata.

"Kau masih menderita luka."

Sikapnya cukup ramah. Su-to Yan menganggukan kepala, dia mempunyai kesan yang agak baik kepada orang tua berbaju hitam yang berdiri dihadapannya. Orang tua itu berkata lagi.

"Luka yang kau derita cukup parah, paling cepat, kau harus menggunakan waktu selama tiga bulan, baru dapat memulihkan semua kekuatan dan tenagamu."

Tiga bulan ?

Su-to Yan mengerutkan alis, siapakah orang tua ini?

Matanya cukup tajam, hati nya sepintas lalu, luka didalam tubuhnya telah dapat disebut tepat, Tiga bulan untuk memulihkan semua tenaganya lagi?

Sungguh suatu jangka waktu yang cukup lama.

Bagaimana usahanya untuk menolong Cin Bwee dilembah Cui goatkok?

Akh, sungguh kejadian yang memusingkan kepala.

Orang tua berbaju hitam itu masih mengoceh terus, katanya.

"Seng-mo Leng Kho tidak telah melarikan diri, Tapi dia mempunyai otak yang tidak cukup lihay, seharusnya dia tahu, bahwa kau juga menderita luka, luka yang kau derita lebih berat dari dirinya, Mana kala dia sadar dari kelengahan ini, pasti dia akan kembali lagi."

Su-to Yan membuka mulut.

"Bagaimana kah sebutan cianpwee yang mulia?"

"Aku?"

Orang tua berbaju hitam tertawa.

"Pernah dengar nama Su-mo Min Kho Siong?"

Ternyata salah satu dari pasangan dua Manusia Jibaku, orang tua berbaju hitam adalah Su-mo Min Kho Siong. Su-to Yan terbelalak.

"Cianpwee..,. Cianpwee yang bernama Su-mo-Min Kho Siong?"

Dia agak gugup.

Mungkinkah ada kejadian yang begitu kebetulan?

Belum lama Seng-mo Leng Kho Tiok munculkan diri, dan kini dia berhadapan dengan Su mo Min Kho Siong, sepasang Manusia Jibaku yang telah lama mengasingkan diri, manusia-manusia yang sudah lama tiada khabar cerita bermunculan didalam rimba persilatan kembali.

Su-mo Min Kho Siong menganggukkan kepala, dia berkata.

"Semua pokok persoalan ditimbulkan karena ilmu pedang Maya Nada."

"Ilmu pedang Maya Nada?"

Su-to Yan tidak mengerti, lagi-lagi ilmu pedang itu yang menjadi buah bibir orang, Bagaimanakah kehebatan dari ilmu pedang Maya Nada? Su-mo Min Kho Siong memberi keterangan.

"Kau cucu Su-to Pek Eng, bukan?"

"Betul."

"ltulah, Su-to Pek Eng menyerahkan ilmu pedang kedalam lembah Hui-sin, maka tidak seorangpun yang berani membuktikannya, Setelah kau meminta kembali ilmu pedang itu, seharusnya menekunkan didalam lembah Hui-sin, disana tidak terganggu Mengapa kau meninggalkan tempat tersebut?"

"ilmu pedang tidak berada didalam tanganku."

Su-to Yan berteriak.

"tidak seorangpun yang akan percaya keteranganmu."

Berkata Su-mo Min Kho Siong.

"Betul."

Timbrung satu suara lain.

"tidak seorangpun yang akan percaya kepada keterangannya, termasuk aku."

Disana bertambah seorang tua berwajah putih, mempunyai potongan badan tinggi besar, orang inilah yang mengganggu percakapan Su-to Yan dan Su-mo Min kho Siong.

Kemudian, orang tua berwajah putih itu menatap Su-mo Min kho Siong dan berkata kepadanya.

"Sahabat lama, belum melupakan diriku bukan?"

Su-mo Min kho Siong menganggukkan kepala, Dengan tenang ia berkata.

"Kukira siapa yang datang. Ternyata kawan lamaku, siapakah yang tidak kenal kepada Jie Han Liu yang ternama."

Hati Su-to Yan terkejut, dia sedang berhadapan dengan ayah Jie Ceng Peng, orang tua berwajah putih inikah yang bernama Jie Han Liu?

Sungguh tidak disangka sama sekali.

Dengan senyum riang, Jie Han Liu berkata.

"Su-mo Min kho Siong, tahukah akan maksud kedatanganku ke tempat ini ?"

"Masih belum tahu,"

Berkata orang yang ditanya.

"Tapi kukira ada hubungan dengan ilmu Pedang Maya Nada, bukan ?"

"Salah besar!"

Berkata Jie Han Liu "Ketahuilah, bahwa Su-to Yan ini adalah cucu dari Su-to Pek Eng, seorang sahabat baikku juga, bagaimana aku dapat membiarkan sengsara dan terlantar didalam dunia persilatan?

Aku ada maksud untuk mengajaknya pulang.

Aku wajib menjaga cucu sahabat lama."

"Ha, ha, ha..."

Su-mo Min kho Siong tertawa.

"Kau memang pandai menggunakan istilah kata kata Sastra, bagaimana cara-cara kau menjaganya keamanan orang-orang? Mengurungnya didalam suatu kamar. Istilah "Diamankan", ini sudah terlalu umum. tidak guna kau menggunakan kata-kata diplomatik lama."

Jie Han Liu naik darah, ia membentak.

"Su-mo Min Kho Siong, kau kira aku takut kepadamu?"

"Ha, ha, ha . ."

Su-mo Min Kho Siong tertawa. Jie Han Liu mendekati Su-to Yan, dan mulut orang tua berwajah putih itu mengaco.

"Aku wajib memeriksa keadaan luka yang diderita oleh cucu dari seorang kawan lama."

Su-mo Min Kho Siong menghadang perjalanan Jie Han Siu.

"Tunggu dulu!"

Dia membentak.

Jie Han Liu meremehkan ancaman itu, dia membelakanginya dan masih mendekati Su -to Yan.

Su-mo Min Kong Siong membalikkan tangan cepat sekali, pukulannya sudah menempel digeger orang.

Jie Han Liu merendengi nama Ciok Pek Jiak, tentu saja mempunyai ilmu kepandaian yang ada isinya, sengaja menjajal kecepatan Su-mo Min Kho Siong, dia berputar, tangan kirinya termiring-miring membacok orang itu.

Su-mo Min Kho Siong tidak berani menerima bacokan tangan, dengan sepasang kaki, dia menendang, maksudnya menyingkirkan serangan.

Jie Han Liu menyusul dengan enam pukulan tangan kosong.

Su-mo Min Kho Siong dipaksa mundur ke belakang.

Tangannya telah menarik keluar sebuah panji hitam, inilah senjata yang menggantikan kipasnya, ternyata kipas aku Wajib Jibaku telah dihancurkan oleh beberapa musuh kuatnya, itu akibat dari suka ikut campur urusan orang lain.

Dikala masa mudanya, Su-mo Min Kho Siong sering melakukan perbuatan-perbuatan mulia, menolong siapa yang membutuhkan pertolongan, karena itu dia menanam banyak bibit permusuhan dan kekuatan musuh Su-mo Min Kho Siong bergabung menjadi satu, mereka mengeroyoknya.

Tentu saja Su-Min Kho Siong tidak sanggup melayani seranganserangan ribuan tangan, akhirnya dia melarikan diri, kipas hancur, demikian kisah cerita lenyapnya semula dari Manusia Jibaku ini.

Sedari saat itu, dia bersumpah, tidak mau usil perkara lagi, dan senjatanya digantikan oleh panji hitam, semacam senjata yang mempunyai banyak persamaan dengan kipas.

Bercerita Jie Han Liu yang melayani serangan-serangan panji hitam Su-mo Min Kho-Siong.

Mereka menemukan tandingan, Bilamana Su-mo Min Kho Siong dapat menyerang dengan gencar suatu saat, Jie Han Liu pun mempunyai kekuatan untuk mengadakan serangan balasan.

Dia mendesak orang berbaju hitam itu.

Su-mo Min Kho Siong mengebut panji hitam, terdengar suara benturan yang keras, untuk sementara mereka terpisah.

Su-to Yan menyaksikan suatu pertandingan seru dari kedua jago itu.

Dikala mereka hendak meneruskan pertarungan itu, lain bayangan melesat maju, bayangan itu berteriak.

"Hai, aku hendak turut serta didalam keramaian ini."

"ltulah Seng-mo Leng Kho tidak yang balik kembali, Dia menghentikan pertempuran yang terjadi diantara Su-mo Min Kho Siong dan Jie Han Liu. Terdengar lagi suara Seng-mo Leng Kho-Tiok.

"Kalian tidak menduga kepadaku, bukan?"

Su-mo Min Kho Siong berdengus.

"Kedatanganmu untuk kedua kakinya sudah berada didalam perhitunganku."

Jie Han Liu tertawa, dia menyapa orang itu.

"Ah, bagaimana keadaanmu selama belasan tahun belakangan ini?"

"Atas perhatianmu, aku mengucapkan terima kasih."

Berkata Seng-mo Leng Kho Tiok"

Mengapa kalian mengadu urat? Ada yang sedang dicekcokkan?"

Jie Han Liu berkata.

"Ha, ha... Kedatanganmu juga bermaksud memiliki ilmu pedang Maya Nada? Bagus kita boleh mengadu kekuatan."

"Dugaanmu tidak benar."

Berkata Seng-mo Leng Kho Tiok.

"Aku tidak ada maksud untuk mengangkangi ilmu pedang Maya Nada."

"Huh,"

Su-mo Min Kho Siong berdengus.

"Siapa yang percaya kepada keterangan ini?"

Seng mo Leng Kho Tiok mendelikkan matanya dia berkata.

"Orang menyebut kita sebagai Sepasang Manusia Jibaku, seharusnya kita bekerja sama gandeng-bergandeng menjelajahi rimba persilatan. Tapi kau tidak, kau berdiri ditempat yang bertentangan dengan diriku, selalu bersitegang, Ketahuilah, bahwa ilmu pedang Maya Nada belum tentu berada didalam tangannya, Tapi dia lihay, dibiarkan hidup didalam dunia rimba persilatan bagaimana kita dapat mempertahankan gengsi kita! Dia akan menggantikan kedudukan semua tokoh-tokoh silat termasuk kita berdua, untuk melenyapkan bahaya latent, lebih baik kita menyingkirkan Su-to Yan. Su-mo Min Kho Siong menggoyangkan kepalanya.

"Aku tidak sependapat dengan pendirianmu."

Dia berkata. Jie Han Liu juga mengemukakan pendapatnya, menyelak pembicaraan.

"Mungkin saudara Seng-mo Leng Kho Tiok tidak tahu, bahwa aku mempunyai hubungan baik dengan kakek pemuda ini, tidak dapat kubiarkan dia jatuh kedalam tangan orang, Aku melarang kau membunuhnya."

Seng-mo Leng Kho Tiok mendelikan mata, Su-mo Min Kho Siong tertawa gelak-gelak.

"Ha., ha, ha ... Betul ... Betul ..."

Dia memberi tanggapan atas keterangan Jie Han Liu.

"Saudara Jie Han Lui ini melarang kau membunuh Su-to Yan, dia akan melarang setiap orang mendekati Su-to Yan. Hanya dia seorang yang boleh mendekatinya, Maka dikemudian hari, tentu saja ilmu pedang Maya Nada akan jatuh ke dalam tangannya."

Jie Han Liu bergeram! "Kurang ajar."

Dan tangannya memukul kearah orang tua berbaju hitam itu, dia meneruskan pertandingan yang terlantar.

Su-mo Min Kho Siong melayaninya dengan senang hati, Mereka berkutet lagi.

Suata ketika, Seng-mo Leng Kho Tiok menyelak ditengah, dia berkata.

"Kalian jangan melupakan kehadiranku."

Su-mo Min Kho Siong tertawa semakin riang.

"Bagus, mari kita mengadakan pertandingan segi tiga."

Dan dia menyerang kepada dua orang.

Jie Han Lui menerima saran ini, sehingga terjadi saling gebrakan, bilamana Seng-mo Min Kho Siong memukul Su-mo Leng Kho Tiok.

dia menyerang si kakek baju hitam Dan bila mana Su-mo Leng Kho Tiok yang menyerang Seng-mo Min Kho Siong, dia menerjang orang tua baju putih itu.

Sepasang Manusia Jibaku dan Jie Han Liu adalah tokoh-tokoh silat golongan tua, mereka telah gatal tangan, adanya kesempatan untuk melatih diri tidak akan dibuang percuma, hal itu sangat menggirangkan mereka.

Dan kejadian berikutnya ketiga orang itu saling serang.

Su-to Yan berada dalam keadaan kondisi badan terluka, angin angin pukulan dari ketiga jago tua bukan ditujukan kepada dirinya, tapi itupun cukup untuk menyesakkan peredaran jalan napas, dia tidak sanggup mengikuti jalannya pertandingan suatu saat, dia jatuh pingsan.

Pikiran Su-to Yan kosong melompong, apapun tidak teringat lagi.

Berapa lama Su-to Yan jatuh pingsan, dia sendiri tidak tahu, dikala sipemuda sadar dari ingatannya, suasana ditempat sekitar itu sudah menjadi sangat sunyi, sepi sekali, tidak terdengar deru angin dari pertempuran tiga jago yang mengadu tenaga.

Dia membelalakan sepasang mata.

Sebelum Su-to Yan dapat mengetahui apa yang telah terjadi, sebelum dia dapat memeriksa keadaan disekeliling dirinya, terdengar satu suara yang gagah menegur.

"Kau sudah ingat orang?"

Seorang laki laki setengah umur berdiri didepan pemuda itu, dia mengenakan pakaian warna hijau, dengan sikapnya yang tenang memperhatikan perubahan wajah Su-to Yan.

Su-to Yan melesetkan diri, dia mundur jauh, Haaa....

tenaganya telah pulih kembali.

Aneh, bukan?

Siapa yang menyembuhkan dirinya dari luka-luka yang diderita karena pukulan Seng-mo Leng Kho Tiok?

Dan kemana pula Su-mo Min Kho Siong?

Dimana Jie Han Yiu?

Dari mana munculnya laki laki berbaju hijau?

Siapa yang menyembuhkan luka dalamnya?

Pertanyaan ini mengejang alam pikiran Suto Yan.

Lelaki berbaju hijau itu membuka suara.

"Obat Tong-hay Sinkauw telah berhasil merapatkan semua luka-lukamu. Kau bebas untuk bergerak."

"Cianpwee yang memberi obat Tong-hay-Sin-kauw?"

Su-to Yan bertanya.

Lelaki itu menganggukkan kepala.

Su-to Yan terkejut, obat Tong-hay Sin-kauw adalah obat pusaka dari daerah Tong-hay, sifatnya mujarab, dapat merapatkan segala luka-luka parah, mungkinkah sedang berhadapan dengan salah satu dari tiga tokoh silat dari daerah itu?

Cepat-cepat dia mengucapkan terima-kasihnya.

Lelaki berbaju hijau membawakan sikapnya yang congkak, dia berkata.

"Tahukah kau, mengapa aku menolong diri mu? itulah atas permintaan Ie Han Eng."

"le Han Eng?!"

Su-to Yan tidak mengerti, ada hubungan apa tokoh silat dari golongan Tong-hay datang kemari?

Bagaimana Ie Han Eng dapat berkenalan dengan tokoh-tokoh silat seperti ini ?

Lelaki berbaju hijau memberi keterangan yang lebih jelas.

"Sepuluh tahun yang lalu, aku pernah berjanji dihadapan Ie Ceng Hauw untuk menjaga keselamatannya, dan melarang semua orang memasuki Lembah Hui-in, kecuali orang yang bersangkutan langsung dengan dirinya, dan orang itu tidak mempunyai maksudmaksud jahat. Dan hari ini, Ie Han Eng meminta pertolonganku untuk menarik dirimu dari kalangan orang."

Ie Cang Bauw adalah nama dari ayah-Ie Han Eng.

Su-to Yan, mengerti mengapa tidak seorangpun yang berani mengganggu ketenangan Ie Han Eng, ternyata ada beberapa tokoh kuat yang melindungi keselamatan gadis itu.

Lelaki berbaju hijau seperti dapat menduga isi hati Su-to Yan, dia berkata lagi.

"Jangan terlalu cepat gembira, tugasku bukan untuk mengawal Ie Han Eng seumur hidup, aku berjanji didepan ayahnya, Ie Han Eng hanya boleh mengajukan tiga permintaan. Dan lewat dari permintaan-permintaan itu, aku wajib memperistrikan dirinya."

Su to Yan meludah.

"Cih, kau ingin mendapatkan Ie Han Eng?"

Orang itu tidak marah. sikapnya masih tenang, seolah-olah tidak ada sesuatu yang dapat mengganggu usaha kerjanya.

"Aku tahu,"

Dia berkata.

"Kau telah ditunangkan kepadanya, Tapi aku tidak takut kepadamu."

"Aku?"

Su-to-Yan berteriak.

"Aku ditunangkan kepada Ie Han Eng?"

Laki-laki berbaju hijau tidak menjawab pertanyaan Su-to Yan, tubuhnya melesat, meninggalkan tempat itu.

Su-to Yan telah memakan obat Tong-hay Sin-kauw, obat mujarab yang mempunyai khasiat melengketkan luka-luka yang meletak, tenaganya telah pulih, dia melejitkan diri dan menghadang didepan laki-laki berbaju hijau.

"Jangan pergi."

Dia menahan orang.

"Eh, ingin mengadu silat ?"

Orang itu membalikkan tangan, maksudnya hendak menyingkirkan tubuh Su-to Yan.

Su-to Yan berusaha mengelakkan serangan tadi.

Tapi, lagi-lagi orang itu membalikkan tangannya, menelungkup kearah pergelangan tangan Su-to Yan.

"Kenalilah ilmu kepandaian khas dari daerah Tong-hay."

Berkata orang itu sangat sombong.

"lnilah ilmu yang bernama Siauw-hithian-hoan-chin."

Su-to Yan mendapat tandingan, dengan ilmu cengkeraman maut Thian-mo-nie-hun-cauw, dia melayani cengkraman-cengkraman lawannya.

"Kenalilah ilmu kepandaian dari Tionggoan."

Dia tidak mau kalah suara.

"lnilah ilmu Thian-mo-nie-hun-cauw."

Laki-laki berbaju hijau bergebrak sampai lima jurus, dan dia mengeluarkan suara pujian.

"Hebat, ilmu peninggalan jaman purbakala memang luar biasa. Aku lebih kenal dengan cengkraman maut Thian-mo-nie-hun cauw, sayangkan hanya pandai sebagian dari ilmu ini."

Su-to Yan terdesak. Laki-laki itu adalah jago ternama dari daerah Tong-hay, mendesak lagi beberapa gebrakan, dia menarik diri dari gelanggang pertempuran.

"Bagaimana ? Masih tidak mau mengakui akan keunggulan pihak Tong-hay?"

Tubuhnya mumbul, melesat tinggi dan meninggalkan Su-to Yan.

Sipemuda bengong kesima.

Dia menyesalkan diri sendiri yang kurang tekun mempelajari ilmu silat, sehingga tidak dapat menundukkan jago dari luar daerah itu.

Seorang gadis berjalan perlahan, mendekati Su-to Yan.

Cepat Su-to Yan berpaling kearah gadis itu.

hampir dia berteriak, itulah sang bidadari dari lembah Hui-in Ie Han Eng.

"Kau?"

Su-to Yan mulai mengerti akan permainan pertukaran pedang In-liong, itulah suatu tanda dari pertunangannya dengan gadis le Han Eng, Dan dia sedang berhadapan dengan tunangan itu.

Ie Han Eng mendekati Su-to Yan, dekat sekali, setelah itu, dengan suara yang datar, suara yang tidak membawakan kesan hidup manusia, dia berkata.

"Bagaimana dengan keadaan lukamu? Sudah sembuh?"

"Terima kasih."

Berkata Su-to Yan.

"Obat Tong-hay Sin-ciauw sungguh mujijat, aku telah sembuh."

Mereka saling pandang, lama sekali.

Ie Han Eng mendapat julukan bidadari dari lembah Hui-in, suatu bukti betapa cantik gadis ini.

Bila dibandingkan dengan Jie Ceng Peng atau Cin Bwee, tentu saja dia keluar sebagai juara.

Perbedaan dari ketiga gadis adalah ciri-ciri mereka yang berbedabeda, bila Ie Han Eng sangat halus dan lemah gemulai, Jie Ceng Peng gagah perkasa, Cin Bwee manja.

Tiga macam Tipe yang tidak sama.

Su to Yan sedang membandingkan ciri-ciri dari kecantikan ketiga gadis itu.

Ie Han Eng mengeluarkan se

Jilid kitab, diserahkan kepada Su-to yan dan berkata.

"Aku datang untuk menyerahkan ini kepadamu."

"Kitab?"

Su-to Yan terkejut.

"Betul, Kitab ilmu pedang Maya Nada."

"ilmu pedang Maya Nada?"

Su-to Yan terkejut, Dia mendapat ilmu pedang yang sedang diidam-idamkan orang?

Catatan yang sedang di dambakan oleh setiap tokoh rimba persilatan?

itulah suatu kenyataan, le Han Eng menyerahkan kitab catatan ilmu pedang tersebut kepada pemuda yang bersangkutan, Su-to Yan menolak cepat.

"Jangan."

Le Han Eng berkata.

"Kitab catatan ilmu pedang maya nada adalah benda yang menjadi hak milikmu. Berhubung adanya pertunangan kita yang telah di tetapkan oleh orang tua masing-masing, maka kitab catatan ilmu Pedang ini berada didalam tanganku. Aku tidak tahu bahwa kau tidak setuju dengan janji-janji itu, maka tidak menyerahkan kitab pusaka milikmu. Kini aku tahu, kau tidak membutuhkan aku, maka kitab ini harus kukembalikan kepadamu, Terimalah."

Melempar kitab catatan ilmu pedang Maya Nada kedalam pangkuan Su-to Yan, le Han Eng membalikkan badan dan pergi lagi. Su-to Yan berteriak.

"Tunggu! jangan kau pergi!"

Le Han Eng tidak menghentikan langkahnya, juga tidak menengok kebelakang, tanpa membalik, dia berkata.

"Bila kau ada maksud untuk memperbaiki hubungan kita, bagaimana kau menempatkan kedudukan Cin Bwee?"

"Aaa..."

Su-to Yan terkejut, Dia melamun ditempat.

Lupa mengejar le Han Eng.

Suatu kejadian yang membingungkan dirinya, bagaimana le Han Eng tahu, bahwa dia mempunyai hubungan baik dengan seorang gadis yang bernama Cin Bwee?

siapakah yang memberitahu kejadian itu kepada Ie Han Eng?

Dan Ie Han Eng menyekap diri didalam lembah Hui-in, dengan alasan apa, sigadis tersebut menyusul dirinya?

Mengapa mengembalikan kitab catatan ilmu pedang Maya Nada?

Mengapa cepat-cepat naik darah, tanpa menunggu keterangannya?

Dia bingung memikirkan hubungan mereka, mana diketahui, bahwa dia telah ditunangkan kepada Ie Han Eng?

Hubungan baiknya dengan Cin Bwee telah berekor panjang, karena urusannyalah, gadis itu tersangkut didalam lembah Cui-goatkok, maka dia wajib menolongnya.

Teringat akan lembah Cui-goat-kok, Su-to Yan harus segera menolong Cin Bwee.

Adanya sigadis didalam tangan Cu-kat Hong adalah suatu kejadian yang tidak menguntungkan dirinya.

Segera Su-to Yan melanjutkan perjalanan.

Singkatnya cerita, dia sudah ada diperbatasan lembah cui-goatkok.

Menjelang malam hari, keadaan disekitar lembah cui goat kok sangat gelap, racun-racun bertebaran disekitar tempat itu, sungguh berbahaya bagi mereka yang tidak paham seluk beluk tempat tersebut.

Su-to Yan memperhatikan disekitar lembah itu, untuk menghindari racun-racun yang terpasang disepanjang jalan masuk, dia mengitar ke-lain bagian, tempat ini sangat tinggi, adalah tebing curam, Memandang tinggi tebing, Su-to Yan bergumam.

"Aku harus berusaha mendaki tebing ini."

Dengan ilmu cek-khoe Leng in, dia merayap naik keatas tebing, Dari sana, memperhatikan letak yang tepat, Su-to Yan merayap turun kembali.

Dengan cara itu, dia berhasil memasuki lembah Cui goat-kok tanpa gangguan.

Betulkah tidak ada gangguan?

Terlalu cepat untuk bergirang, dikala hampir mendekati dasar lembab beberapa sinar perak meluncur kearah pemuda itu.

Su-to Yan terkejut, adanya serangan gelap sangat menyulitkan dirinya, dia belum mendapat cara baik untuk menyingkirkan serangan serangan itu, menangkis berani melepaskan pegangan dan dia akan jatuh kedasar jurang.

Sungguh hebat!

Terlihat Su-to Yan melepaskan pegangannya, maka tubuh itu jatuh terlentang dengan demikian dia berhasil melepaskan diri dari ancaman senjata senjata gelap.

Dan badan itu masih jatuh terus.

Beberapa detik kemudian, dengan satu jurus Sin-mo Hui tauw atau iblis Sakti membalikkan Badan, Su-to Yan berhasil membenarkan keseimbangan tubuhnya, memilih satu tempat yang agak menonjol, dia menutulkan kakinya, berjumpalitan beberapa kali, dia tiba didasar lembah dengan selamat.

Tiga orang, berbaju hitam lompat keluar dari tempat persembunyian mereka.

Seorang tua langsung menghampiri Su-to Yan.

Su-to Yan mengeluarkan suara dari hidung.

"Seperti inikah cara menyambut lembah Cui goat kok kepada seorang tamu?"

"Huh...!"

Orang tua berbaju hitam tidak mau kalah.

"Seperti inikah cara-caranya seorang tamu yang hendak memasuki lembah Cui-goat-kok?"

"Aku datang untuk memenuhi tantangan Cu kat Hong."

Berkata Su-to Yan. Orang tua itu berkata.

"Cu kat Hong adalah Sutee kami, dia telah mengundang orang luar masuk kedalam lembah Cui goat kok, undangan itu belum dapat ijin kami, karena itu dia wajib menerima hukuman. Dengan ini, kami menolak kedatanganmu."

"Baik."

Su-to Yan tidak menarik urusan.

"Aku segera meninggalkan tempat ini, setelah kalian melepaskan seorang kawanku yang dilarikan oleh Cu kat Hong."

"Seorang kawanmu telah dilarikan oleh Cu kat Hong?"

Orang itu mengkerutkan alis.

"Betul, Namanya Cin Bwee."

Berkata Su-to Yan.

"Kami tidak kenal kepada seorang yang bernama Cin Bwee."

Berkata orang itu.

"Cu-kat Hong pulang ke lembah tanpa membawa orang luar, jangan kau mencoba untuk mencari onar."

"Huh? Siapa yang mencari onar."

Debat Su-to Yan."

Aku tidak meninggalkan tempat ini, sebelum berhasil menemukan jejak Cin Bwee."

Orang tua berbaju hitam itu marah besar.

"Dengan alasan apa kau mengatakan bahwa kawanmu yang bernama Cin Bwee itu berada didalam lembah cui goat kok?"

Dia mendelikan mata.

"Panggil keluar Cu-kat Hong, maka kau dapat mengajukan pertanyaan ini kepadanya."

Berkata Su-to Yan.

"Cu-kat Hong tidak berani membawa orang luar memasuki lembah cui-goat-kok."

Orang tua itu berkata keras.

"Kukira dia berani."

Berkata Su-to Yan.

"Ha, ha....Kau kira namaku dapat menakutkan orang?"

Berkata orang tua itu.

"Bagus... Aku akan menempur dirimu."

Su-to Yan siap menghadapi datangnya serangan. Dua laki-laki berbaju hitam dikanan dan kiri orang tua itu menyelak keluar, mereka berkata di saat yang sama.

"Suheng, serahkan orang ini kepadaku."

"Suheng, jangan kau menurunkan derajat diri sendiri, Akupun dapat mengusir pergi anjing ini."

Orang tua berbaju hitam memandang kedua suteenya, dia sedang menimbang-nimbang, dapatkah sang sutee menandingi Suto Yan?

Disaat itu, dari atas tebing melayang satu bayangan, dengan tertawa dia menyelak perdebatan orang-orang yang ada disana.

"Saudara Su-to, aku datang untuk membantu usahamu."

Demikian orang yang datang berteriak, inilah Pendekar pedang Bayangan Sie An.

Su-to Yan hampir bertepuk tangan, adanya Sie An ditempat itu penting bagi dirinya, dia mendapat tenaga bantuan yang luar biasa.

Dua laki-laki berbaju hitam membalikkan tangan mereka, mendorong kekuatannya kearah si Pedang Bayangan.

Su-to Yan berteriak.

"Awas, Sie toako, mereka menggunakan pukulan Hek-sat ciang."

Hek-sat-ciang berarti Pukulan iblis hitam, sangat jahat, dan mengandung tujuan yang jahat maka Su-to Yan memberi peringatan.

Sie An mengeluarkan sepasang pedang, dengan kedua pedang ini, dia melayani dua orang berbaju hitam dari lembah Ciu goat-kok.

Pukulan Hek-san ciang adalah ciri-ciri yang khas dari anak buah lembah Cui-goat-kok, dengan sepasang pedang ditangan, Sie An harus memberikan pelayanan yang hati-hati.

Orang tua berbaju hitam membiarkan kedua kawannya bertanding dengan Pendekar Bayangan.

Kini dia menghadapi Su-to Yan.

"Mari... mari... kepandaianmu?"

Akan kulihat, berapa hebatkah ilmu Su-to Yan menganggukkan kepalanya, untuk memberi suatu kesaksian, bahwa dia mempunyai kekuatan untuk menolong CinBwee, maka penting sekali mengalahkan orang tua berbaju hitam.

Orang tua ini mengaku dirinya sebagai suheng Cu kat Hong?

Dia kurang percaya.

Mereka telah siap bertanding, Dari arah tebing melayang seorang lain, dia mempunyai potongan badan langsing, siapa lagi bila pendekar pedang Emas Jie Ceng Peng dari Thian lam Lo-Sat.

Jie Ceng Peng menyelak ditengah mereka-dan gadis itu berteriak.

"Su-to kongcu, serahkan orang ini kepada ku."

Jie Ceng Peng maklum bahwa orang-orang dari lembah Cui goatkok mempunyai banyak macam permainan yang mengandung racun, kelengahan Su-to Yan dapat membawa akibat besar maka dia menalangi si pemuda.

Orang tua berbaju hitam tertegun, memperhatikan musuhmusuhnya, kekuatan mereka tidak kuat untuk menandingi ketiga akhli pedang itu.

Memandang Sie An, Jie Ceng Peng dan akhirnya Su-to Yan.

"Tidak kusangka, kau membawa banyak tenaga bantuan, he?"

Demikian dia mengeluarkan cemoohan. Jie Ceng Peng mengeluarkan pedang emasnya, dia membentak.

"Jangan banyak mulut."

Menghindari tusukan pedang Jie Ceng Peng, orang tua itu mengeluarkan suara pekikan, tubuhnya melesat, meninggalkan ketiga tamunya.

Gerakan mana diikuti oleh kedua kawannya, mereka melarikan diri, masuk kedalam lembah.

Sie An tidak segera mengejar, dia belum bicara dengan kawannya, segera menghampiri Su-to Yan.

"Aku tahu."

Dia berkata.

"Kau pasti berkunjung ketempat ini, maka mendahului kau. aku menunggu lama. Dan betul saja akhirnya kau tiba."

Su-to Yan mesem geli, pengalaman-pengalaman pahitnya selama diperjalanan telah mengganggu usahanya yang hendak cepat-cepat menolong Cin Bwee dari kekuasaan Cu-kat Hong adanya hadanganhadangan dari tokoh-tokoh rimba persilatan memperlambat perjalanannya, keadaan sangat mendesak, belum waktunya menceriterakan kejadian-kejadian tadi, menjabat tangan Sie An, dia berkata.

"Bagaimana keadaanmu selama belakangan ini?" -oo0dw0oo-

Jilid 8

"CUKUP baik."

Berkata Sie An.

"Kudengar ketua partai Siauw-lim-pay, Im-ie Taysu telah mengeluarkan perintah, mencari dan mengundang dirimu, Di hari Tiongyang, kau harus membawa kitab pusaka dan bertandingnya."

"Aku tahu."

Berkata Su-to Yan.

"Hei,"

Jie Ceng Peng nimbrung bicara.

"Apa maksud kalian datang ditempat ini, bercerita tentang pengalaman masing-masing?"

Su-to Yan memandang gadis itu.

"Bagaimana kau tiba ditempat ini?"

Dia balik mengajukan pertanyaan yang sama.

"Tidak boleh ?"

Debat Jie Ceng Peng.

"Hanya memperbolehkan kalian yang datang ? Melarang orang lain turut serta ? Hendak melarang aku datang?"

"Bukan tidak boleh,"

Su-to Yan memberi penjelasan "Kau tahu, pikiran Cin Bwee terlalu sempit, bila dia tahu, bahwa kau telah mengeluarkan sebagian tenaga untuk menolong dirinya, tentu akan terjadi kejadian yang berekor panjang."

"Ha, ha..."

Jie Ceng Peng tertawa.

Demikian ketiga ahli pedang melanjutkan penyelidikan mereka, Keadaan batu gunung di dalam lembah Cui-goat-kok, sangat hitam pekat, berkilat-kilat, menyaksikan pemandangan seperti itu disaat malam, tentu saja lebih menyeramkan.

Mereka tiba didepannya sebuah patung raksasa, juga terbuat dari batu gunung yang hitam, patung itu berbentuk orang duduk, seluruhnya terbuat dari batu, dibagian kakinya terdapat pintu dengan tulisan LEMBAH CUI GOAT KOK..

Su-to Yan, Jie Ceng Peng dan Sie An memperhatikan patung raksasa.

"Seperti inikah tempat yang diberi nama Cui-goat-kok?"

Mereka berpikir didalam hati masing-masing.

Tiada ada pilihan lain, kecuali memasuki patung itu.

Su-to Yan masuk kedalam pintu yang terdapat di bawah kaki gunung raksasa, diikuti oleh Sie An dan Jie Ceng Peng.

Tangga batu melonjor naik keatas, tinggi sekali, berliku-liku, seolah-olah berada disuatu tempat yang merupakan jalan menuju ke neraka.

Patung batu yang terbuat dari ciptaan alam dibuat atas dasardasar yang sudah ada, patung itu bukan patung pujaan, isi patung kosong, dan disertai dengan aneka macam alat rahasia.

Masuknya Su-to Yan bertiga menggirangkan orang berbaju hitam, hanya menekan sebilah tombol, dia berhasil menutup mati semua pintu pintu dari patung itu.

Su-to Yan sudah berada ditengah perut patung batu, tiba-tiba dia sadar akan tipu perangkap musuh, dikala turun kembali kebawah, dia dapat menyaksikan Sie An dan Jie Ceng Peng yang saling geleng kepala, mereka telah berusaha untuk mencari jalan keluar, tapi tidak berhasil, tangga-tangga yang berliku liku itu terlalu banyak, beberapa diantaranya adalah jalan buntu, diatur menurut ajaranajaran tertentu, tidak mudah untuk memecahkan problem itu.

Melihat Su-to Yan menghampiri mereka, Jie Ceng Peng berkata.

"Rahasia-rahasia didalam lembah ini terlalu banyak, kita harus berhati-hati."

Sie An dapat menyetujui pendapat itu, dia berkata.

"Ada lebih baik kita keatas."

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh satu suara, datangnya dari atas patung raksasa.

"Su-to Yan, kalian bertiga boleh tinggal terus ditempat ini, Kecuali Kokcu kami mengeluarkan perintah untuk membebaskanmu."

Su-to Yan, Jie Ceng Peng dan Sie An mengejar kearah datangnya suara, tangga batu di dalam perut patung raksasa menuju keatas, mereka naik semakin tinggi, mereka tidak berhasil menemukan suara orang yang memberi ancaman.

Mereka terkurung didalam perut patung raksasa itu.

"Toako."

Tiba tiba Su-to Yan memandang kearah Sie An.

"Garagara urusanku, kalian turut terkurung didalam perut patung terkutuk ini."

"Jangan kau mengucapkan kata-kata seperti itu."

Berkata Sie An.

"Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong kawan, Apa lagi belum tentu kita mati ditempat ini, belum apa-apa mengapa putus harapan?"

"Su-to Kongcu,"

Si pedang Emas juga berkata.

"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, Kau bukan seorang pemuda yang cepat menyerah kepada kenyataan. Kami bersedia mendampingi dirimu, itu berarti tidak takut mati."

Su-to Yan berterima kasih kepada kedua orang itu.

Sie An memperhatikan Su-to Yan dan Jie Ceng Peng, sikap dia agak aneh sekali, diam-diam mengiri kepada kebahagian Su-to Yan.

Bukan seperti dirinya yang mempunyai ukuran badan pendek dan gemuk, walau berkepandaian tinggi, belum ada satu gadispun yang menaruh simpati kepada dirinya.

Mereka masih berada didalam perut patung raksasa, itu berarti belum lepas dari bahaya, Jie Ceng Peng berkata.

"Masih belum ada gerakan, tentunya ada sesuatu yang menyebabkan terjadi hal ini. Besar kemungkinan lembah Cui-goatkok tidak menginginkan kematian kita."

"Betul,"

Berkata Sie An.

"Giliranku yang-maju didepan."

Dengan susah payah, akhirnya ketiga orang itu berhasil tiba dileher patung raksasa. Tidak ada rahasia-rahasia yang mengganggu di tempat itu.

"Apa maksud mereka, mengurung kita di dalam perut patung sialan ini?"

Tiba-tiba Sie-An ngedumel.

"Dimana larinya Cu-kat Hong?"

Su-to Yan turut mengeluarkan keluh kesah. Jie Ceng Peng berkata.

"Tentunya telah mendapat hukuman!"

"Mengapa?"

Bertanya lagi Su-to Yan.

"Cu-kat Hong menantang dirimu masuk kedalam lembah Ciu goat kok, ini melanggar larangan."

"Melanggar larangan?"

Sie An juga tidak paham. Jie Ceng Peng mengerti banyak tentang keadaan lembah Cui goat kok, dia memberi keterangan.

"Kokcu Cui-goat kok bernama Kim-han Sia mo Ko cio, dia mempunyai seorang musuh lihay yang bernama Hauw thian Mo-kun Thiat Kiam Seng, selama sepuluh tahun terus menerus mereka mengadu silat, tanpa ada yang menang dan kalah. Karena itulah semua anak murid dilarang mengajak orang luar memasuki lembah Cui-goat-kok. Maksudnya agar tidak mengganggu pertandingan silat mereka, Cu-kat Hong melanggar peraturan ini, tentu saja wajib menerima hukuman."

Kokcu berarti ketua lembah.

"Kudengar lembah Cui-goat-kok banyak mengandung racun, Sedari pertama kali aku masuk ke daerah ini, belum ada tandatanda dari racun-racun jahat itu, mengapa?"

Lagi-lagi Jie Ceng Peng memberi keterangan.

"Barisan racun Cui-goat-kok terkenal dengan nama Cian-tok Taytin atau berarti barisan Tin Juta Racun, sangat jahat sekali, bila bukan untuk menghadapi musuh kuat, mereka tidak sembarang melepas racun-racun ini, mengingat situasi tempat yang sudah cukup menguntungkan tidak ada orang luar yang dapat masuk kemari, apalagi Kiu-han Sin-mo Ko Cio sedang bertanding, siapakah yang berani bertanggung jawab atas terjadinya sesuatu keonaran didalam lembah ?"

"Kau pernah menyaksikan barisan Cian-tok Tay-tin ?"

Bertanya Su-to Yan.

"Belum."

Berkata Jie Ceng.

"Karena itulah aku hendak menyaksikan dengan mata sendiri. Sengaja aku menggabungkan diri denganmu, Terus terang kukatakan, bahwa Cin Bwee sudah tidak berada didalam lembah ini."

"Apa ?"

Su-to Yan terbelalak.

"Cin Bwee sudah tidak berada didalam lembah Cui-goat-kok ? Dimanakah dia disimpan ?"

"Dengar aku,"

Berkata Jie Ceng Peng.

"Cin Bwee telah dibawa lari oleh Cu-kat Hong, Aku tahu akan kejadian itu. Segera aku memberi perintah kepada anak buahku, mencegat mereka, Dan Cin Bwee telah berhasil kutolong."

Su-to Yan memandang gadis itu, matanya memancarkan ketidak percayaan.

"Cin Bwee sudah tidak berada didalam lembah,"

Dia berkata.

"Mengapa, kau turut masuk kemari ?"

Dengan wajah tidak berubah, Jie Ceng Peng berkata.

"Belum pernah aku bertemu dengan pemuda congkak seperti kau, apakah perbedaanku dengan Cin Bwee? Dimanakah letak kelebihannya ?"

Sie An memandang sepasang muda-mudi itu.

"didalam perut patung raksasa yang mengandung banyak pesawat rahasia, mereka masih mempunyai kelebihan waktu itu untuk merundingkan soal asmara dan kecantikan, sungguh kelewatan!"

Su-to Yan tidak menjawab pertanyaan Jie Ceng Peng. Dan si gadis berkata lagi.

"Hayo jawab pertanyaanku ! Mengapa kau bungkam didalam seribu bahasa ?"

Su-to Yan menarik napas, Matanya menatap wajah Jie Ceng Peng, Pikirnya, kalau tadi dia memberi tahu kepadaku bahwa Cin Bwee sudah tidak berada didalam lembah Cui-Goat-kok.

Tentu tidak sampai terjadi kejadian ini.

Melihat pemuda itu termenung-menung, Jie Ceng Peng berkata.

"Marahkah kau kepadaku ?"

"Tidak."

Su-to Yan menggelengkan kepala.

"Mengapa kau tidak mau bicara ?"

Bertanya lagi Jie Ceng Peng.

"Dimana kau menyimpan Cin Bwee ?"

Bertanya Su-to Yan kepada sigadis.

"Legakan hatimu, dia berada disuatu tempat yang sangat aman,"

Berkata si pedang Emas.

Su-to Yan tidak mendesak, seperti apa telah diduga, si Pedang Emas Jie Ceng Peng jatuh cinta padanya, terbukti dari pertolonganpertolongan gadis tersebut kepada dirinya, diatas Sungai Tiangkang, Jie Ceng Peng pernah menyelamatkan dia, di kota Hin-yang, gadis itu menyerahkan pedang In-liong, sehingga pedang dapat disampaikan kepada le Han Eng.

Tiba-tiba...

Lamunan Su-to Yan dibangunkan oleh datangnya satu suara Bannggg...

yang keras.

Sie An berhasil menjebolkan suatu pertahanan.

Mengikuti jalan baru itu, mereka tiba dilain ruangan dari isi patung raksasa.

Su-to Yan, Jie Ceng Peng dan Sie An baik lagi, mereka sampai di bagian kepala dan patung batu raksasa, bagian ini agak kecil, lebih mudah untuk mencari jalan keluar.

Dari bagian tenggorokan mereka naik kebagian lidah, bagian telinga dan bagian mata.

Hawa dirasakan menjadi sangat besar, dari bagian-bagian yang terbuka itu, angin sejuk memasuki bagian tubuh patung raksasa.

Mereka berdiri dibagian lidah patung batu, Memandang kebawah, keadaan masih gelap, sebagai manusia-manusia yang berkepandaian tinggi, Su-to Yan bertiga merayap keluar, maksudnya hendak meninggalkan patung batu aneh itu.

Mereka berteriak girang, tingginya si patung raksasa tidak akan mengganggu sebagai tiga akhli pedang yang berkepandaian tinggi, mereka merayap keluar, melewati mulut sipatung, mereka hendak turun kebawah.

Tiba-tiba....

Aaaa...

Aaaa...

Aaa...

Su-to Yan, Jie Ceng Peng dan Sie An jatuh tergelincir batu hitam itu sangat licin, tidak dapat disamakan dengan batu-batu gunung biasa, tidak ada tempat untuk meletakkan tangan, karena itulah mereka jatuh.

Su-to Yan jatuh lebih cepat, tiba-tiba dia mendapat akal, diatas Suto Yan adalah Sie An dan Jie Ceng Peng.

memusatkan perhatiannya kepada kedua orang itu dia berteriak.

"Awas, kalian lompat naik ke atas lagi."

Dengan satu tangan satu, Su-to Yan memegang kaki Sie An dan Jie Peng Ceng, didorongnya keras, maka kedua tubuh kawan itu naik kembali, menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka Sie An dan Jie Ceng Peng berhasil tiba dimata kanan dan kiri patung dari raksasa batu itu.

Su-to Yan berhasil menolong kedua kawannya, tapi karena adanya benturan tenaga tadi, tubuh sipemuda menurun semakin cepat, dia jatuh kebawah.

Diatas mata patung batu, Sie An dan Jie Ceng Peng mendengarkan suara jeritan, mereka sedih atas nasib Su-to Yan.

Badan Su-to Yan jatuh ke bawah patung batu raksasa, semakin lama semakin cepat, dia telah berusaha untuk menolong diri sendiri, tapi tidak berhasil, batu-batu ditempat itu sangat licin, tidak terpegang sama sekali.

Dikala hampir mengenai dasar lembah ada dua tenaga yang menyanggah tubuh Su-to Yan, Dua tenaga itu datang dari arah yang berlainan yang satu mengandung hawa kekuatan panas dan lainnya mengandung hawa kekuatan dingin, menggencet sipemuda dan demikianlah, tubuh-Su-to Yan turun mengenai tanah.

Su-to Yan nyaris dari bahaya kematian.

Tapi tidak luput dari bahaya lain, dia jatuh dan tidak sadarkan diri.

Beberapa lama kemudian...

Kuping Su-to Yan dapat menangkap suara orang yang bicara.

"Hei, bocah ini mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi sekali."

Satu suara lain berkata.

"Dia berani mengganggu pertandingan kita, hayo, gencet bikin mati saja."

"Jangan."

Suara yang menggunakan dirinya."

Pertama mencegah "Kita dapat "Maksudmu?"

"Kita telah bertanding sepuluh tahun dengan tanpa hasil sama sekali, Kukira sudah waktunya untuk mendapat kepastian."

Su-to Yan telah membuka mata, dia terlena diantara kedua orang yang bercakap-cakap itu, yang berada dikanannya adalah seorang tua, berbaju merah dan seorang lagi mengenakan pakaian putih juga.

Dua orang tua berbaju merah dan putih adalah ketua lembah Cui-goat-kok Kiu-han Sin kun Ko Cio, orang ini yang berada disebelah kiri Su-to Yan, orang tua yang mengenakan pakaian putih.

Dan orang tua berbaju merah adalah lawan tandingannya yang bernama Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam seng.

Kiu han Siu kun Ko Cio dan Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng telah meletakkan kedua tangan mereka pada tubuh Su-to Yan, Memiringkannya, dan segera didudukan, Kiu-han Sin-kun Ko Cio berada didepan Su-to Yan, maka menempelkan kedua tangan pada dadanya, Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng berada dibelakang Su-to Yan, dia menempelkan kedua tangan digeger sipemuda.

Mengikuti percakapan kedua tokoh silat tua itu, Su-to Yan menduga kepada ketua lembah Cui-goat kok, dia mengeluarkan keringat dingin digencet oleh dua tangan raksasa, mungkinkah dia tidak menjadi gepeng ?

Hauw-thian Mo kua Thiat Kiam Seng berkata.

"Kukira, dia bukan anak muridmu."

"Memang bukan."

Berkata Kiu-han Sin kun Ko Cin.

"Tenaganya terlalu kuat, dimasa kecilku tatkala berumur sebaya dengan dirinya, belum pernah memiliki tenaga dalam setinggi ini."

Berkata lagi Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng.

"Tidak dapat kuduga, siapakah yang mendidiknya?"! Berkata Kiuhan Sin-kun Ko Cio. Dia mulai menyalurkan tenaganya. Sangat dingin. Disaat yang sama, Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng menggerakan tenaga pukulan yang bernama Hauw-thian-sin-hweeciang, sifatnya panas. Hek.... Dada Su-to Yan hampir muntah , dada bagian depan yang ditempel sepasang telapak tangan ketua lembah Cui-goat-kok mengepul asap, bukan asap panas, inilah kabut dingin, semua peredaran darahnya dirasakan mau membeku. Bukan siksaan dingin saja yang menekan kondisi badan si pemuda, di punggungnya menempel sepasang telapak tangan berapi panas sekali, lebih panas dari gunung berapi, menggolakkan peredaran darahnya, Dua macam siksaan yang tidak sama, dua macam akibat dari kejadian itu memaksa Su-to Yan untuk mengerahkan tenaga, membuat perlawanan. Lapisan es membekukan bagian dada Su-to Yan. Dibagian belakang, keringat-keringat sebesar kacang kedele meluncur deras membasahi semua bagian punggungnya. Hampirhampir dia terbakar. Masih saja Su-to Yan bertahan dari dua macam kekuatan panas dan dingin, Dia berhasil mempertahankan diri dari gencetan dua kekuatan luar biasa, hawa dingin yang datang dari depan mengalir kearah kanan sedangkan kekuatan panas yang bersalur dari belakang bergeser kearah kiri. Gulungan-gulungan dua kekuatan itu tidak saling bentur, menyusur jalan-jalan darah tertentu, masing-masing melanjutkan usahanya. Dan suatu ketika, dua gumpalan tenaga itu berhenti. Su-to Yan heran, dia membuka matanya. Ketua lembah Cui-goat-kok, si Kiu han Sin kun Ko Cio mendelikkan matanya, seolah-olah hendak meletus keluar dari tempatnya yang ada. Su-to Yan tidak tahu, bahwa dia telah memakan dua kekuatan dari dua tokoh terkemuka dari jaman yang sudah silam. Seperti keadaan Kiu-han-sin kun Ko Cio, keadaan Hauw thian Mokun Thian-kiam Seng tidak lebih dari lawan tandingan itu. Maksudnya hendak menyalurkan kekuatan panas, melalui Su-to Yan membawa kekuatan si pemuda, memukul ketua lembah Cui-goat kok. Tapi dia tidak berhasil, kekuatan itu tersedot masuk ke-dalam tubuh Su-to Yan, tentu saja mengejutkan dirinya. Dia hendak menarik kekuatan yang sudah dilepas, tidak berhasil. Maka siasatnya berganti, bukan bersifat menyerang lagi, sedapat mungkin, dia menarik kembali kekuatan-kekuatan tenaga yang hampir ambles kedalam tubuh sipemuda. Terdengar suara geraman yang maha dahsyat, disaat yang sama, Kiu-han Sin kun Ko Cio dan Hauw-thian Mo-kun Thian Kiam seng menarik diri, tubuh mereka terbang melesat, meninggalkan su-to Yan, meninggalkan sebagian tenaga-tenaga kekuatan mereka kedalam tubuh sipemuda. Su-to Yan membuka mulut, maksudnya memanggil kedua orang tua itu, dia tidak berhasil, Kiu-han Sin Ko Cio dan Hauw-thian Yo kun Thiat kiam Seng telah melenyapkan diri, Su-to Yan menjadi heran. Tenaga dingin dari ketua lembah Cui-giok kok dan kekuatan panas dari Hauw-ghian Mo kun Thiat kiam Seng masih tertinggal pada dirinya. bagaimana dia tidak terluka? Su-to Yan berpikir beberapa saat untuk memecahkan persoalan ini, tiba-tiba teringat kepada obat Tong-hay Sin-ciauw yang merekatkan kekuatan dirinya, merekatkan kekuatan dingin Kiu ban Sin-kun Ko Cio dan juga mengambil alih kekuatan panas Hauw thian Mo kun Thiat Kiam Seng. Su-to Yan duduk bersila mengatur peredaran jalan darah nya. tidak berhasil, kekuatan pribadi tergencet diantara dua kekuatan raksasa panas dingin, sebagian kanan masih sangat dingin, seolaholah dapat membekukan, dan bagian kanan panas sekali, mungkin dapat menggolakkan air sehingga diatas seratus derajat. Su-to Yan menggeleng-gelengkan kepalan dia bangun sendiri, masih untung baginya jika kekuatan-kekuatan itu tidak merangsang kekuatan kepribadiannya. Seekor burung raksasa terbang diatas pemuda itu, menukik turun dengan pesat, dari atas burung, lompat satu bayangan seseorang berdiri didepan Su-to-Yan dan berkata kepada-pemuda itu.

"Kau yang bernama Su-to Yan?"

Su-to Yan sedang dirundung rasa heran, bagaimana seorang dapat menunggang burung? memperhatikan orang tersebut dan menganggukan kepalanya.

"Aku telah bertemu dengan kedua kawanmu,"

Berkata lagi orang yang lompat dari atas burung."

Katakan oleh mereka, jangan kau khawatir atas keselamatan kedua kawan itu, mereka telah bebas dari bahaya."

Su-to Yan menjadi heran, Bagaimana orang ini tahu, bahwa dia mempunyai dua orang kawan yang turut datang didalam lembah cui Goat-kok?

Dan dengan alasan apa orang ini mengatakan bahwa Sie An dan Jie Ceng Peng telah berada di suatu tempat yang aman?

Sebelum Su-to Yan mengajukan pertanyaan akan keraguraguannya, orang itu sudah berkata lagi.

"Jangan kau tidak percaya kepada keteranganku, Aku bernama Sam kie Ju su datang dari kepulauan Tong-hay."

"Oh... ."

Su-to Yan lebih kaget tadi.

Tentu saja dia tahu, bahwa seorang yang bernama Sam kie TuSu dari daerah Tong hay mempunyai ilmu kepandaian silat yang sangat tinggi, ternyata laki-laki yang pandai menaklukkan burung yang besar ini.

Menduga kepada jago silat yang menghendaki kitab catatan ilmu pedang Maya Nada, segera Su-to Yan bertanya.

"Ternyata Sam kie Ju-su dari Tong-hay yang ternama, kau datang dengan kepentingan ilmu pedang Maya Nada?"

"Ha, ha, ha, ha...!!"

Sam kie Ju su tertawa besar.

"Kau keliru! ilmu Pedang Maya Nada memang semacam pelajaran yang hebat dan dahsyat. Tapi bagi aku, Sam kie Ju su tidak memandang dengan sebelah mata. jangan kau meremehkan ilmu kepandaian dari daerah Tong-hay."

"Apa maksud kedatangan Cian Pwee."

Sam kie Ju su tidak menjawab pertanyaan Su-to Yan, sebaliknya dia mengajukan pertanyaan lain.

"Aku ingin mengetahui jawabanmu, bersediakah kau menjadi muridku?"

Mendapat pertanyaan yang seperti itu, Su-to Yan sangat tercengang. Suatu kejadian yang berada diluar dugaannya.

"Aku sudah mempunyai guru."

Dia memberi keterangan.

"Bagaimana dapat berguru lagi? Sangat menyesal, aku harus menolak tawaran jasa baik cianpwee."

Sam kie Ju Su tertawa.

"Aku pernah bertemu dengan gurumu dan menurut katanya, kepandaian masih banyak kekurangan, apa lagi kau bertanding dengan menggunakan senjata pedang, pasti kau mengalami kekalahan, mengingat kekuranganmu dibagian kepandaian pedang, orang tua itu minta agar aku menurunkan beberapa jurus ilmu pedang yang akan menambah keangkeran dirimu. Terus terang kukatakan, jika bukan memandang wajah terang gurumu, mana mungkin aku mau menurunkan ilmu kepandaian?"

Demikian dia memberi keterangan panjang. Su-to Yan membisu, dia tidak mengira bahwa tokoh dari daerah Tong hay ini pernah menemui gurunya. Dapatkah dia mempercayai keterangan tadi? "Aku tahu,"

Berkata lagi Sam kie Ju su.

"Kau meragu-ragukan ilmu kepandaianku? Nah keluarkanlah pedangmu, mari kita bertanding jangan sungkan-sungkan, aku akan memberi kepuasan kepadamu, Ketahuilah, tidak sedikit dari anak-anak muda yang menghendaki ilmu pedangku, mengingat bakat-bakat mereka yang terbatas, tidak satupun yang kukabulkan."

Su-to Yan mengeluarkan pedang Lay-hong.

Sam Kie Ju-su menggunakan sebatang seruling sebagai senjata, mengingat bentuk dan ukuran saling yang mempunyai banyak persamaan dengan pedang, dia dapat menggunakan seruling itu dengan tipu-tipu jurus permainan pedang.

Sebelum bergerak, Sim-kie Ju-su memberi isyarat kepada Su-to Yan, agar sipemuda tidak menyimpan ilmu kepandaian yang ada.

Dan betul-betul Su-to Yan menyerang secara ganas, gesit dan tangkas, itulah ilmu pedang Cian-San Kiam-hoat yang didapat dari ketua partay Cian San-pay Su In Seng.

"Nah! Kau juga berguru kepada Su In Seng?"

Bertanya Sam-kie Ju-su.

Su-to Yan diam.

Sam-kie Ju-su bersilat lambat seolah-olah sedang melakukan suatu demontrasi gerakan ilmu pedang, Maksudnya hendak menundukkan si pemuda itu dan menerimanya sebagai murid.

Su-to Yan mengirim satu tusukan, itulah sejurus Seng-liat Samcay yang tajam, salah satu dari permainan ilmu pedang Cian-San Kiam hoat.

"Bagaimana kau menghindari tusukan pedang ini?"

Demikian Suto Yan berteriak didalam hati.

Sam-kie Ju-su mengangkat sebelah kakinya, sangat tinggi, menunggu sampai ujung pedang hampir mengenai sasaran, baru dia memutarkan lain kaki, tidak bergerak dari tempat kedudukan yang semula hanya mengegoskan diri, dia berhasil menghindari serangan pedang Su-to Yan.

"Ternyata kau dapat memainkan ilmu pedang Cian-san-pay dengan baik."

Berkata sijago dari Tang-hay.

"Masih kurang matang, Kau telah mencampurkan ilmu pedang ini dengan tenaga kekuatanmu yang ada, Belum sempurna betul. Suatu hari, bila kau dapat menggabungkan semua ilmu-ilmu dan kekuatan yang ada pada dirimu, tentu kau dapat menduduki urutan tertinggi didalam rimba persilatan, tidak seorang pun yang dapat mengalahkanmu."

Su-to Yan memainkan semua tipu permainan pedang yang didapatnya, menyerang Sam-kie Ju-su.

Jago Tong-hay itu bergoyang kekanan dan kekiri, sangat indah sekali, setiap waktu, dia dapat meloloskan diri dari ancaman Su-to Yan, hanya menggunakan kegesitan tubuhnya, menggunakan kecepatan matanya.

Belum pernah dia menangkis atau menggunakan seruling mengadakan serangan balasan.

Hati Su-to Yan sangat terkejut seseorang yang dapat bermain silat seperti Sam-Kie Ju-su adalah jago silat tanpa tandingan, gerakannya begitu indah, begitu cepat, tidak mudah untuk mencari kekosongan lawan itu.

Sam-kie Ju-Su selesai mendemonstrasikan ilmu kepandaian kelincahan badan, dan kini dia mulai menggunakan seruling, menyerang setiap kekosongan lawan, perlahan sekali, sehingga memberi kesempatan agar Su-to Yan dapat menghindari diri dari serangan-serangan itu.

Semakin lama semakin cepat, dan akhirnya Su-to Yan mandi keringat.

Suatu saat, Sam-kie Ju-su berkata.

"Perhatikan betul-betul tiga jurus ini."

Dia mengulang pelajarannya yang telah dimainkan tadi, Diikuti oleh Su-to Yan dengan penuh perhatian.

Suatu saat, Sam-kie Ju-su menarik diri.

Tamatlah pelajaran yang hendak diberikan kepada Su-to Yan.

Su-to Yan sangat berterima kasih, dia menjatuhkan dirinya, berlutut sehingga empat kali.

Sam-kie Ju-Su membangunkan pemuda itu.

"Aku tahu,"

Dia berkata.

"Kau masih berat untuk mengucapkan panggilan guru, Baiklah, Aku tidak mempunyai anak, mau kau menjadi anak angkatku?"

"Ayah,"

Sekali lagi Su to Yan menunjukkan hormatnya. Sam-kie Ju-su menerima penghormatan dari seorang yang telah diangkat menjadi putra pungut. Dia menyerahkan serulingnya.

"Ambilah hadiah ini, seruling Han-khek-cek giok-tiok."

Kemudian jago Tong-hay itu memekik panjang, seekor burung besar melayang turun, dengan melompatkan diri, dia telah berada diatas punggung burung.

"Aku masih ada urusan."

Katanya.

"Baik-baik kau menjaga diri."

Su-to Yan mengucapkan selamat jalan kepada sang ayah angkat.

Dia meninggalkan lembah Cui goat-kok.

Perjalanan Su-to Yan kedalam lembah Cui goat kok dengan maksud tujuan menolong Cin Bwee dari tangan Cu kat Hong, Ternyata Cin Bwee telah ditolong oleh orang-orang Jie Ceng Peng, setelah mengalami banyak gangguan akhirnya Su-to Yan tiba ditempat yang dituju, dia kembali dengan tangan kosong.

Dia meninggalkan lembah Cui-goat-kok.

Matahari telah menyingsing dari arah Timur, cahaya terang menyinari bumi, Disaat itu Su-to Yan telah berada disebuah desa, dia memilih rumah makan untuk mengisi perut.

Sambil menunggu pesanan makanan Su-to Yan melamun apa yang harus dilakukan oleh dirinya?

Dia telah menyerahkan pedang In-liong dan mendapat pedang Lay Hong.

Ternyata diantara orang tuanya dan orang tua le Han Eng telah terjadi persepakatan untuk menjodohkan anak-anak mereka, le Han Eng adalah tunangan yang telah ditetepkan sedari kecil.

Bagaimana yang harus diperbuatnya pada Cin Bwee ?

Pikiran Su-to Yan sangat kalut sekali.

Disaat itu pelayan rumah makan telah membawa santapan yang dipesan olehnya, Suto Yan menyampingkan semua pikiran-pikiran yang memusingkan kepala, dia melahap makanan yang di meja.

Tengah makan, tiba-tiba dia dihampiri oleh seorang hweesio.

"Numpang tanya."

Hweesio itu membuka suara.

"Sicu inikah yang bernama Su-to Yan?"

Hweesio itu mempunyai potongan tubuh tinggi besar, berdiri didepan Su-to Yan, dia seperti seorang raksasa yang sedang memandang kebawah. Su-to Yan mendongakkan kepalanya.

"Betul, Aku Su-to Yan."

Berkata sipemuda.

"Pinceng bernama U-hoat,"

Berkata hwesio tinggi besar itu.

"Mendapat tugas untuk mengundang sicu."

"Taysu dari Siauw-lim-pay?"

Bertanya Su-to Yan.

"Tidak salah."

Berkata U-hoat Hweesio.

"Pinceng menunggu sicu diluar untuk bicara lebih leluasa, Sicu boleh makan perlahan-lahan."

U-hoat Hwesio meninggalkan Su-to Yan.

Su to Yan mengerti, kedatangan hwesio tinggi besar yang bernama U-hoat itu tentu mempunyai hubungan dengan kitab ilmu pedang Maya Nada.

Dia tidak mau memusingkan urusan itu.

Maka dengan tenang, setelah kenyang, baru dia memanggil pelayan, membayar dan berjalan keluar meninggalkan rumah makan.

Su-to Yan berjalan kejurusan Timur, disana telah berdiri belasan hwesio, mereka menantikan kedatangan pemuda kita.

Seorang hwesio yang beralis putih adalah pemimpin rombongan itu, segera ia menampilkan diri, menyambut kedatangan Su-to Yan.

"Pinceng bernama In-tie."

Demikian hwesio beralis putih ini memperkenalkan diri.

"Atas perintah ketua partai kami, berunding dengan sicu."

Su-to Yan memandang kearah belasan hwesio itu, dia berkata.

"Katakanlah urusan itu."

In-tie hwesio berkata.

"Pada hari Tiongyang, Siauw-lim-pay mengadakan pesta keramaian, mengundang semua tokoh-tokoh partay kenamaan berkumpul ditempat kami, Sudahkah Sicu dengar tentang berita ini?"

"Aku tahu dari seseorang."

Berkata Su-to Yan.

"Masih ada urusan lain,"

Berkata In-tie Hwesio.

"Tahukah sicu, bahwa ketua lembah Cui-goat-kok Kiu-han Sin-kun Ko Cio sedang mengajak anak buahnya membikin pengejaran? Dan tahukah sicu, bahwa sianak Srigala Lee Im sudah memasuki daerah Tionggoan, tentu saja beserta dengan pasukan srigalanya yang terkenal ganas dan telengas itu."

"Aku belum tahu,"

Berkata Su-to Yan In-tie Hwesio meneruskan keterangannya.

"Rombongan dari lembah Ciu-goat kok bertujuan untuk menuntaskan pertikaiannya dengan dirimu, Tapi belum jelas, apa tujuan dari pasukan srigala yang langsung berada dibawah pimpinan si Anak Srigala Lee Pin itu? Besar kemungkinan untuk mengadu gerakkan rimba persilatan didaerah Tionggoan."

Su-to Yan berkata.

"Banyak terima kasih kepada peringatan taysu, aku akan memperhatikan kejadian ini."

In-cie Hwe-sio mengagumi nyali sianak muda yang sikapnya masih tenang-tenang saja. Dengan menarik napas, Hwe-sio beralis panjang ini berkata.

"Ya, dimisalkan kitab ilmu pedang Maya Nada jatuh kedalam tangan lembah Cui goat kok kami tidak begitu sedih, mengingat letak lembah Cui-goat kok berada dibawah kekuasaan Tionggoan, tapi bila sampai terjatuh kedalam tangan si Anak srigala Lee Pin, kejadian itu . ."

Lagi-lagi soal ilmu pedang Maya Nada, Su-to Yan diam.

"Kami bersedia untuk menjamin keselamatan ilmu pedang tersebut."

Dan In-tie Hwesio mengakhiri kata-kata diplomatiknya. Su-to Yan bersenyum.

"Maaf, taysu,"

Berkata pemuda itu.

"ilmu Pedang Maya Nada bukan menjadi milik Siauw lim-sie. Aku tidak berhak menyerahkan catatan ilmu pedang ini kepada seorang yang bukan menjadi miliknya."

Wajah In-tie Hwe-sio berubah.

"Su-to Yan."

Dia membentak.

"Catatan ilmu pedang Maya Nada adalah milik le Han Eng. Dengan alasan apa kau mengangkangi hak milik orang ?"

"Ha, ha. .."

Si pemuda tertawa.

"Betul, ilmu Pedang Maya Nada adalah hak milik le Han Eng. Karena itulah, aku harus menyerah kepada orang yang bersangkutan, bukan kepada anak murid Siauwlim.-pay."

"Demi menjaga keamanan dunia persilatan Siauw lim pay berhak untuk menyimpan catatan ilmu pedang tersebut."

In-tie Hwesio masih bertarik urat.

"Aku kira, aku berhak untuk memulangkan kitab ilmu Pedang Maya Nada kepada orang yang bersangkutan,"

Berkata Su-to Yan sengit.

"Kau hendak memaki kami menggunakan Pertengkaran mulut mencapai klimaksnya. kekerasan?"

"Ha, ha..."

Su-to Yan tertawa tergelak-gelak.

"Silahkan, Aku girang, bila mendapat pelajaran dari Siauw lim pay yang sangat istimewa."

In-tie Hwesio sudah kehilangan sifat sabarnya, dia marah sekali karena kata-kata sombong Su-to Yan, maka dia berkata.

"Baiklah...!"

Perlahan-lahan In-tie Hwesio menghampiri Su-to Yan.

Dua belas hwesio mengikuti gerakan In tie Hwesio, mereka mengurung sipemuda.

Su-to Yan berada dalam kurungan ke tiga belas hwesio dari Siauw lim pay, Lingkaran para hwesio mulai mengecil.

Diluar mereka, lain rombongan bergerak cepat, mereka terdiri dari orang-orang yang mengenakan pakaian yang berwarna hitam, itulah anak buah lembah Cui goat kok.

Lingkaran dari anak buah Cui goat kok jauh lebih besar dari kekuatan Siauw lim Sie, mereka mengurung belasan orang di pusat.

Dikala In-tie Hwesio hendak mengeluarkan aba-aba penyerangan, dia juga merasakan adanya kurungan pihak ketiga, memandang kearah kelilingnya, dimana terdapat banyak pohon lebat.

Dari balik pohon-pohon itulah, bermunculan orang-orang berbaju hitam, mereka berada dibawah pimpinan seorang tua, orang yang pernah ditemui Su-to Yan didalam lembah Cui goat-kok, inilah anak murid tertua dari Kiu-han Sin-kun Ko Cio.

In-tie Hwesio dan dua belas hwesio lainnya telah berada didalam kurungan anak buah lembah Cui goat kok.

Su-to Yan berada didalam dua lapis kurungan itu.

Orang tua berbaju hitam itu membuka suaranya yang lantang.

"Anak murid ketua lembah Cui-goat-kok Ciok Pan Tan mendapat tugas untuk menangkap Su-to Yan, diharapkan para hwesio Siauw lim pay mengundurkan diri dari pertikaian ini."

In-tie Hwesio mengerutkan kedua alisnya yang putih. sikap Ciok Pan Tan yang terlalu meremehkan kekuatan Siauw lim pay membawa akibat lain.

"Orang luar dilarang turut campur."

Dia berkata lantang.

"Siauw lim pay sedang ada urusan, dan untuk ini kami persilahkan golongan lain menyingkir."

Ciok Pan Tan mengeluarkan suara dingin.

"Sebelum Su-to Yan memberikan tanggung jawabnya kepada lembah Cui-goat-kok, tidak dibenarkan untuk partay lain mendahului gerakan kami."

In-tie Hwesio tidak mau kalah suara, dengan keras dia mengeluarkan suara tantangan.

"Siauw-lim"pay sedang ada urusan, golongan lain dilarang turut serta."

Ciok Pan Tan berdengus.

"Bagus, Mari kita menentukan dengan kekuatan, siapa yang harus bergerak lebih dahulu, Siauw-lim-pay atau lembah Cui goat kok?"

Dia mengulapkan tangan, maka puluhan orang berbaju hitam mulai bergerak.

In-tie Hwesio memecah kekuatannya men jadi dua kelompok, atau untuk menghadapi Su-to Yan dan lain kekuatan untuk menandingi kekuatan lembah Cui-goat-kok.

In-tie Taysu sudah berhadapan dengan Ciok Pan Tan.

Tanpa suara, Ciok Pan Tan menggerakkan tangan, memukul hwesio itu.

Intie Hwesio adalah jago dari urutan In, tentu saja tidak mudah di "makan"

Seperti itu.

kakinya bergerak, dengan tangannya ditekuk kedalam, dia menangkis datangnya serangan.

Ciok Pan Tan adalah anak murid tertua dari ketua lembah Cuigoat-kok Kiu-han Sin-kun Ko Cio, dia mengegos kekiri, menjotos dua kali.

In-tie Hwesio menggunakan ilmu Tay-im Nu-chiu, sepasang tangannya direntangkan, hendak menyambar musuh.

Masingmasing menyerang dan bertahan, selanjutnya kedua orang ini menyerang dengan hebat, keduanya telah mengeluarkan ilmu kepandaian yang ada, demi dapat mengalahkan musuh mereka.

Su-to Yan yang menyaksikan pertandingan dari kedua jago itu, diam-diam dia menjadi kagum, banyak tipu-tipu silat yang belum di lihat, pertempuran itu mengandung pelajaran-pelajaran tertentu.

Tiga puluh jurus telah dilewatkan, belum ada tanda-tanda siapa yang akan memenangkan pertandingan itu.

Tujuh puluh jurus lagi dilewatkan, dan kini mulai tampak perbedaan dari kedua jago tersebut, menggunakan kelengahan Ciok Pan Tan, In-tie Hwesio meluruskan jari-jarinya, dan dia berhasil mengenai pundak lawan.

Ciok Pan Tan lompat mundur, dia merasakan sebelah tangannya kesemutan.

Disaat yang sama terdengar jeritan-jeritan dari orang-orang berbaju hitam, perhatian berpindah ke arah datangnya kegaduhan, Disana-terlihat seorang anak muda bermuka panjang, maksudnya hendak memasuki gelanggang keramaian.

Orang-orang Ciok Pan Tan menghadang maka pemuda tersebut menjadi marah, dengan satu tangan, dia mencengkeram orang-orang berbaju hitam itu, dilemparkannya kesamping, tidak seorangpun dari mereka yang dapat mengelakkan diri dari cengkeraman sianak muda, di dalam sekejap mata, terbukalah jalan.

In-tie Hwesio mengeluarkan seruan kaget.

"Anak Srigala Lee Pin."

Pemuda yang datang adalah anak yang dibesarkan oleh Srigala, namanya Lee Pin, datang dari daerah luar Tionggoan, karena dia ada membawa pasukan srigala, semua orang menakutinya.

Didalam sekejap mata, si Anak Srigala Lee Pin telah memasuki gelanggang keramaian itu, tidak satupun dari anak buah lembah Cui-goat-kok yang dapat mengganggu usahanya menjebolkan kurungan itu.

"Saudara manakah yang ternama Su-to Yan?"

Demikian Lee Pin berteriak ke arah banyak orang. Su-to Yan menampilkan diri.

"Ada apa?"

Dia tidak kenal kepada pemuda yang dibesarkan oleh binatang srigala itu, juga belum dapat menduga akan maksud tujuannya.

Lee Pin hendak menghampiri Su-to Yan.

Disaat ini, Ciok Pan Tan telah menghadang di tengah jalan.

"Eh, apa artinya ini?"

Lee Pin melototkan mata. Ciok Pan Tan membentak.

"Berani kau melukai anak buah lembah Cui-goat-kok? Sudah bosan hidup ?"

"Ha, ha..."

Anak Srigala Lee Pin tertawa.

"Siapa kau ?"

"Ciok Pan Tan, murid pertama dari ketua lembah Cui-goat-kok."

Ciok Pan Tan memperkenalkan dirinya.

"Maksudmu?"

Lee Pin merasa terganggu "Kau telah melukai beberapa anak buah kami, kau harus membikin suatu pertanggungan."

Ciok Pan Tan berkukuh.

"Nah, terimalah tanggung jawabku."

Berkata Lee Pin yang segera meloncat, cepat sekali, bret, terdengar suara sobekan baju, serangan tadi ditujukan kepada Ciak Pan Tan, dan betul-betul orang yang dijadikan sasaran tidak berdaya, sebagian baju depannya pecah2 masih terlihat goresan kuku si Anak srigala dikulit dadanya.

Ciok Pan Tau mundur dengan wajah pucat, Lee Pin berteriak sombong.

"Hayo, siapa lagi yang berani menentang aku."

In-tie Hwesio menampilkan dirinya.

"Biar aku yang mengusir kau,"

Dia berkata, Lee Pin memperhatikan hwesio tersebut, tiba-tiba dia tertawa.

"Ha ha, ha ... Kau ?"

"Mengapa ?"

In-tie Hwesio tidak puas.

"Sampai dimanakah ilmu kepandaianmu? Sudahkah terpikir olehmu, siapa yang sedang berada didepannya?"

Berkata Si Anak srigala.

"Aku tahu."

Berkata In-tie Hwesio.

"Kau adalah Anak Srigala Lee Pin yang ganas dan telengas. Aku melarang kau memasuki daerah Tionggoan. Daerah ini bukan tanah kekuasaanmu pergilah pulang ketempat asalmu."

"Bagus, Aku memang ganas. Aku cukup telengas, Tapi aku ganas kepada mereka yang tidak menggunakan aturan, aku telengas kepada mereka yang bersifat kejam. Kau melarang aku memasuki daerah Tionggoan, apa alasanmu ? Hendak berkuasa sendiri, takut pada campur tanganku? Ha ha, ha..."

"Tutup mulut."

In-tie Hwesio membentak, disertai dengan satu terjangan kuat, Dia memukul kearah batok kepala si Anak Srigala.

Lee Pin menunjukan senyumnya, dia diserang mendadak, tapi gerakannya lebih cepat dari In-tie Hwesio sebelum terjangan itu sampai didepan dirinya, dia sudah berpencak silat aneh luar biasa, dia sering kali menerkam, dan mengurung si hwesio dengan bayangannya.

In-Tie Hwesio harus mempertahankan diri dari gencaran serangan Lee Pin, dia menyelubungkan dirinya didalam pertahanan kuat, Dan lenyaplah harapannya untuk menandingi Anak Srigala itu.

Didalam sekejap mata, keadaan In-tie Hwe-sio semakin terjepit.

Tiba-tiba Su-to Yan berteriak.

"Hentikan pertempuran ini !"

Siuuut, tubuh Lee Pin melayang tinggi, tiba-tiba dia sudah berada didepan Su-to Yan. Meninggalkan In-tie Hwe-sio yang masih bengong kesima.

"Mengapa pertanyaan. kau menghentikannya?"

Lee Pin mengajukan "Kau mencari aku, bukan?"

Balik bertanya Su-to Yan kepada pemuda yang dibesarkan dalam asuhannya binatang srigala itu.

"Betul."

Lee Pin menganggukkan kepala.

"Apa maksud tujuanmu?" . Bertanya Su to Yan.

"Kau ada membawa kitab catatan ilmu pedang Maya Nada, bukan?"

Bertanya Lee Pin memancar sinar matanya yang tajam. Lagi lagi kitab catatan ilmu Pedang Maya Nada ! Su to Yan menganggukkan kepala.

"Betul, Kau juga ingin merebut kitab ini?"

Dia sudah bersiap-siap untuk menandingi jago muda yang kuat itu.

"Ha, ha, ha, ha..."

Lee Pin tertawa.

"Dugaanmu meleset."

"Meleset?"

Su-to Yan belum dapat percaya kepada keterangan si Anak Srigala, Apa maksud tujuan jago itu, bila bukan merebut catatan ilmu Pedang Maya Nada ? Lee Pin berkata.

"Aku datang didaerah Tionggoan untuk menyaksikan dengan lebih dekat, perkembangan ilmu silat didaerah ini. Kudengar tradisi umum didaerah ini sangat buruk sekali, sudah lazim dan kejadian yang jamak, bila seseorang yang berkepandaian tinggi menghina yang lemah, merebut barang silemah, menindas di bawah kekuasaannya, suatu tradisi nasional yang sangat buruk didalam dunia persilatan. Dan desas-desus itu telah kusaksikan sendiri, Kau adalah satu korban ketamakan mereka itu. Aku suka kepadamu, aku ingin bersahabat denganmu."

Si Anak Srigala mengulurkan tangannya Su-to Yan menarik diri. Dia belum sepaham dengan apa yang apa Lee Pin katakan.

"Ha, ha..."

Lee Pin tertawa lagi.

"Takut kepadaku ? Seorang anak yang dibesarkan oleh srigala? Ketahuilah, Srigala itu galak, tamak, tapi manusia lebih galak dan lebih tamak dari srigala."

"Hm,"

Su-to Yan berdengus.

"Mengapa harus takut?"

"Bagus. Kudengar kau berkepandaian tinggi, ingin sekali aku mendapat bukti itu,"

Berkata Lee Pin.

"Aku selalu siap menerima tantanganmu."

Berkata Su-to Yan.

Disaat itu, kekuatan lembah Cui goat kok dan kekuatan Siauw lim pay telah bersatu padu untuk menghadapi Su-to Yan dan Lee Pin, mereka menggabungkan diri, mengurung kedua orang, para hwesio dan orang-orang berbaju hitam mengurung semakin ketat.

Mereka berada dibawah pimpinan In-tie Hwesio dan Ciok Pan Tan.

Kejadian tersebut tidak lepas dari sudut mata Lee Pin, tiba-tiba saja anak srigala ini mengeluarkan suara pekikan panjang.

Wajah In-tie Hwesio berubah.

"Awas.,"

Dia peringatan.

"Lee Pin memanggil pasukan srigalanya."

Memberikan Betul saja, sayup-sayup terdengar suara lolongan srigala, semakin lama semakin dekat, binatang-binatang ini saling sahut, menerima panggilan Lee Pin.

Wajah In tie Hwesio semakin pucat, pasukan srigala itulah yang paling ditakuti, dan betul saja Lee Pin membawa anak buah ganas itu, Ratusan ekor Srigala mendatangi tempat itu, sebentar kemudian, sudah terjadi perkelahian diantara manusia, Korban saling berjatuhan.

Srigala-srigala diajak memasuki daerah Tionggoan adalah srigala-srigala pilihan Lee Pin besar dan ganas, cukup terlatih.

Beberapa orang berbaju hitam sudah mendapat gigitan mereka Su-to Yan turut menyaksikan terjadinya drama tersebut, dia mengajukan protes.

"Hei, mengapa kau tidak melarang binatang peliharaan-mu mengganggu orang?"

Anak Srigala Lee Pin mengeluarkan lain pekikan, maka pasukan Srigala mundur keluar rimba, belum mau pergi, disana mereka mengurung semua orang. Su-to Yan masih belum puas.

"Mengapa kau tidak memberi perintah untuk melepaskan kurungan?"

Dia menegur Lee Pin.

"Prakarsamu patut mendapat pujian. Tapi kau tidak tabu, hati manusia itu lebih kejam dari hati srigala, Kau hendak menolong mereka, tapi mereka hendak mencelakakan dirimu, seekor srigala yang sudah kenyang makan tidak mengganggu mangsanya, tapi seorang manusia yang sudah lebih dari cukup masih menghendaki sesuatu yang melebihinya. Bila tidak memandang dirimu, aku akan membiarkan kawan-kawanku itu mendapat kepuasan."

Su-to Yan berkata.

"Kukira, kita harus mempunyai rasa kasih. Sedapat mungkin menghindari pertumpahan darah."

"Ha, ha... Dimisalkan tidak ada bantuan kawan-kawan ini. mungkinkah kita dapat menghindari pertumpahan darah?"

Apalagi srigala Lee Pin, tidak dapat menyetujui filsafat hidap Su-to Yan.

Si pemuda bungkam.

Berkat bantuan pasukan Srigala Lee Pin, Su-to Yan berdua bebas dari gangguan anak buah Siauw-lim-pay dan lembah Cui-goat kok.

"Saudara Su-to, kemana kau hendak pergi?"

Lee Pin mengajukan pertanyaan.

"Aku harus kembali kedalam lembah Hui ln."

Berkata Su-to Yan.

"Eh, kau tidak ada maksud untuk menghadiri pesta Tiongyang, di Siauw-lim-sie?"

Lee Pin pernah menerima kabar tentang adanya pesta Tiongyang digereja Siauw-lim-Sie, dan tujuan utama dari pesta itu adalah hendak mendapatkan kitab pelajaran ilmu pedang Maya Nada yang berada didalam tangan Su-to Yan, Maka dia mengajukan pertanyaan seperti tadi.

Su-to Yan menggelengkan kepalanya, dia sedang berpikir, kitab catatan ilmu pedang Maya Nada harus dikembalikan kepada Ie Han Eng, bagaimana menyerahkan kepada si Bidadari, dari lembah Huiin itu?

Dia telah mengetahui bahwa orang tua mereka telah mengikatkan perjodohan, dan inilah yang membingungkan dirinya.

Terdengar suara Lee Pin.

"Aku agak tertarik juga kepada kepribadimu, aku bersedia menemanimu ke gereja Siauw-lim-sie, jangan takut kepada mereka, kawan-kawanku selalu siap sedia."

Yang diartikan dengan kawan-kawan sianak srigala adalah pasukan anjing srigalanya binatang-binatang itu berjumlah besar, mengikuti mereka jauh dibelakang.

Su-to Yan segera menduga bahwa si Anak Srigala ingin membesarkan hatinya, agar tidak takut kepada para hwesio Siauwlim-pay, tujuan nya yang hendak mengembalikan kitab catatan ilmu Pedang Maya Nada kepada Ie Han Eng dianggap melarikan diri dari kenyataan, menghindari pertemuan.

"Aku bukan takut kepada mereka."

Su-to Yan memberi penjelasan "Belum pernah ada orang yang kutakuti, Aku harus mengembalikan catatan ilmu pedang Maya Nada dilembah Hui-in. inilah maksud tujuanku."

"Bagus, Aku menemani kau pergi ke lembah Hui-in."

Demikian Lee Pin menawarkan jasa baiknya.

Su-to Yan tidak menolak, mereka segera menuju kearah lembah Hui-in digunung Bu-san.

Mereka melakukan perjalanan dengan kecepatan luar biasa, ternyata Lee Pin ada niatan untuk mengadu ilmu meringankan badan, langkahnya menderu-deru, hendak meninggalkan Su-to Yan.

Dan tentu saja, Su-to Yan mengikuti kemauan kawan baru itu, tanpa memperhitungkan jarak perjalanan, mereka mengadu lari.

Singkatnya cerita, Su-to Yan dan Lee Pin telah tiba di gunung Busan.

Lee Pin harus mengakui, ilmu meringankan tubuh Su-to Yan tidak berada dibawah dirinya, mereka tiba di waktu yang hampir bersamaan.

Menghitung jumlah hari, mereka masih mempunyai waktu untuk menghadiri pesta Tiongyang digereja Siauw limsie, Dengan tertawa Lee Pin berkata kepada kawannya.

"Saudara Suto, sekarang baru awal bulan sembilan, setelah menyelesaikan urusanmu, masih cukup waktu untuk pergi kegunung Siong-san. Maukah kau mengunjungi pesta keramaian itu?"

Gunung Siong-san adalah letak tempat gereja Siauw limsie. Su-to Yang tidak keberatan. Dia berkata.

"Betul. Setelah menyerahkan kitab, kita boleh pergi kesana."

Dikala mereka tiba di puncak Leng-heng, didepan mereka telah melintang seorang tua berbaju putih, inilah salah satu dari Sepasang Manusia Jibaku, si Seng-mo Leng Kho Tiok.

Dengan tertawa tergelak-gelak, Seng-mo Leng Kho Tiok berkata.

"Ha ha ha... Bocah Su-to Yan, tidak kusangka, kau masih mempunyai hubungan erat dengan pihak Tong-hay."

Su-to Yan ingat akan kejadian lama, bagaimana dia dipukul rusak oleh tokoh jahat ini, beruntung ada laki-laki berbaju hijau dari daerah Tong-hay yang memberi obat Tong-hay Sin-kiauw, maka luka-luka itu dapat direkatkan kembali.

Dendam sakit hari itu belum diselesaikan, ternyata Seng-mo Leng Kho Tiok telah mendahului dirinya, menghadang ditengah jalan, Lee Pin belum kenal kepada orang tua berbaju putih yang berani menghadang perjalanan mereka, dia mengajukan pertanyaan .

"Saudara Su-to, siapakah orang ini?"

"Dia adalah Seng-mo Leng Kho Tiok,"

Su-to Yan memberi keterangan.

Lee Pin terkejut, nama Sepasang Manusia Jibaku itu pernah mendengung ditelinga setiap jago rimba persilatan, termasuk juga si Anak Srigala, dan disini dia dapat menemukan salah satu dari mereka.

Mendapat sorotan mata Lee Pin yang bercahaya agak liar, Sengmo Leng Kho Tiok terkejut.

Melirik kearah Su-to Yan sebentar, dia bergeram.

"Hei ditangan siapa kitab ilmu pedang Maya Nada itu."

Lee Pin maju dua langkah, dia membentak.

"Hei, kau juga menghendaki ilmu Pedang Maya Nada?"

"Kau siapa ?"

Seng-mo Leng Kho Tiok belum kenal kepada si Anak Srigala.

"Orang yang menghendaki jiwamu."

Berkata Lee Pin yang segera lompat menerkam, ceker-cekernya yang tajam berhasil menarik sobek baju orang itu.

Seng-mo Leng Kho Tiok terkejut, dia sangat tidak memandang mata kepala si anak muda yang berwajah muka panjang karena itu dia tidak membikin persiapan.

Kecepatan Lee Pin memang luar biasa, karena itu, dia berhasil menyobekkan bajunya, Karena ini, dia sangat marah.

"sret"

Kipas jibaku telah keluar dari tempatnya, menotok pergelangan tangan Lee Pin.

Lee Pin berlompat-lompatan, menyobek dan menerkam, gesit sekali.

Karena Seng-mo Leng Kho Tiok telah menyiapkan diri, maka serangan berikutnya tidak berhasil lagi.

Seng-mo Leng Kho Tiok tidak memandang mata kepada lawannya yang masih muda, hanya dua kali lompatan, dia berhasil keluar dari kurungan dan incaran jari si anak Srigala.

"Pantas kau berani datang lagi kegunung Bu-san, kiranya sudah mendapat bala bantuan? Kekuatan tukang pukulmu ini agak lumayan."

Dia melirik kearah Su-to Yan. Lee Pin bergeram marah.

"Hai, masih hendak merasakan tajamnya kuku jariku lagi ?"

Dia sudah siap menubruk itu waktu rombongan srigala telah dipisahkan jauh, dengan maksud agar tidak mengganggu perjalanan mereka.

Tanpa panggilan Lee Pin, para srigala tak akan menampilkan diri, hal itu penting, mengingat munculnya ratusan ekor binatang yang seperti itu akan mengejutkan semua orang.

Mendengar berdengus.

cemohan Lee Pin, Seng-mo Leng Kho Tiok "Huh, dengan ilmu kepandaian yang kalian punyai, berani menentang Seng-mo Leng Kho Tiok ?

"Bagaimana bila aku meminta bantuan pasukan srigalaku?"

Lee Pin teringat kepada kawan-kawannya. Seng mo Leng Kho Tiok terkejut "Aaaa...."

Dia membuka mulut.

"Kau si Anak Srigala Lee Pin?"

"Kau memang lihay."

Lee Pin memberi pujian.

"segala tebakanmu tepat!"

Mengetahui bahwa dugaannya tidak salah, bulu tengkuknya Seng-mo Leng Kho Tiok bangun berdiri, pasukan Srigala adalah kekuatan yang terganas, siapakah yang dapat meloloskan diri dari kepungannya binatang haus darah itu?

Belum pernah ada orang yang dapat meloloskan diri dari keroyokan srigala, apa lagi Srigala Lee Pin yang terlatih baik.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 9 DENGAN adanya bantuan Lee Pin beserta pasukan srigalanya, tentu tidak mungkin menangkap Su-to Yan. Tapi Seng-mo Leng Kho Tiok tidak mau menyerah begitu saja, maka dia mengadakan gertakan.

"Kau dengan binatang liarmu itu memang ditakuti orang, Tapi bukan berarti tanpa tandingan Bila kau tidak berhati-hati, semua induk pasukanmu itu menjadi korban lain kekuatan, tahu ?"

"Siapakah yang dapat memusnahkan pasukan Srigalaku?"

Lee Pin tidak percaya.

"Pernah dengar nama Thian-lam Lo-sat?"

Bertanya Seng-mo Leng Tiok.

Giliran wajah Lee Pin yang berubah.

Racun Thian-lam Lo-sat sangat terkenal, bila anak murid golongan itu yang menghadapi pasukan srigalanya, bila mereka menggunakan racun jahat untuk menghadapi binatang-binatangnya, tentu sulit untuk mendapat kemenangan.

"Ketua partay dari golongan Thian-lam Lo-Sat telah berada di daerah ini, hanya satu pekikan panjang, aku dapat memangginya datang, Seng-mo Lee Kho Tiok meneruskan gertakannya.

"Lee Pin, baik-baiklah kau diam disini, jangan turut campur dengan urusanku."

Kemudian, dihadapinya Su-to Yan dan membentak.

"Bagaimana dengan kitab ilmu Bersediakah kau menyerahkannya ?"

Pedang Maya Nada itu? Sret, Su-to Yan telah menarik keluar pedang Lay-hong.

"Ha, ha ha ... ."

Seng-mo Leng Kho Tiok tertawa.

"Masih belum kapok? Sudahkah kau lupa, bahwa jiwamu hampir mati di tanganku, tahu? Bila tidak ada sibrengsek dari Tong-hay itu, mana mungkin kau dapat mempertahankan diri sampai hari ini?"

Su-to Yan membentak.

"Jangan banyak kepadamu."

Komentar.

Kitab tidak akan kuserahkan Mata Seng-mo Leng Kho Tiok mendelik, srek, dia mengeluarkan kipas jibaku, dibuka dan ditutupkan, kemudian menusuk jalan darah leng-tay lawannya, Gerakan tadi sangat cepat sekali.

Sedari merekatkan kekuatan dingin Kiu-han Sin-kun Ko Cio dan kekuatan panas Hauw thian Mo kun Thiat Kiam-Seng kedalam tubuh dirinya, Su-to Yan belum menggunakan kekuatan istimewa itu menempur orang tangan kanan yang memegang pedang mendapat tambahan hawa dingin, menangkis kipas Seng-mo Leng Kho Tiok.

Trannggg ...

Tangan Seng-mo Leng Kho Tiok yang memegang kipas hampir beku karenanya, sangat dingin sekali.

Didalam hati tokoh tua ini berkata, oh, bukankah itu kekuatan Kiu-han-ciang dari ketua lembah Cui-goat-kok, bagaimana dapat berada didalam tubuh bocah ini ?

Rasa bingung Seng-mo Leng Kho Tiok belum dapat tempat pemecahan, tiba-tiba datang lain pukulan, itulah tangan kiri Su-to Yan yang membawa kekuatan panas Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng.

Seng mo Leng Kho Tiok mengeluarkan jeritan panjang, dia tidak sanggup menahan rasa hawa dingin, lebih-lebih lagi tidak sanggup menerima hawa panas yang menyusul datang, memukul dua kali dan dengan membawa suara lengkingannya yang panjang, dia melarikan diri.

Tentu saja didalam keadaan terluka.

Siapakah yang sanggup menahan kekuatan yang terdingin dan terpanas?

Manakala kita mengisi air panas dan air es di suatu gelas secara bergantian, pasti gelas itu pecah segera.

Masih untung bagi Seng-mo Leng Kho Tiok yang mempunyai latihan sangat dalam, tubuhnya tidak hancur pecah, Mulai saat itu, dia harus mencari daya upaya untuk mengatasi dua macam kekuatan Su-to Yan yang luar biasa.

Sebentar kemudian, bayangan Seng-mo Leng Kho Tiok sudah lenyap tidak terlihat.

Lee Pin terbelalak matanya lebar-lebar, mana mungkin seorang memiliki dua macam ilmu yang bertentangan?

Tapi itulah kenyataan, Su-to Yan mempunyai kekuatan dingin, juga memiliki kekuatan panas, Sungguhlah suatu ke jadian yang tidak masuk diakal.

Su-to Yan mengeluarkan keluhan napas lega.

Diapun tidak tahu, bahwa dirinya mempunyai kedua kekuatan maha hebat hu, Berkat adanya perekat obat Tong-hay Sin-ciauw, dia dapat menyedot kekuatan si Dewa Panas Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng dan Si ketua lembah Cui-goat-kok Kiu-han sin-kun Ko Cio yang memiliki sifat dingin.

Dia masih merasakan hawa dingin dibagian kanan dan hawa panas di bagian kiri tubuhnya.

Lee Pin maju, menghampiri kawan itu.

"Saudara Su-to,"

Dia berkata.

"Tidak kusangka, kau memiliki ilmu yang sehebat tadi,"

Su-to Yan menyengir.

"Aku sendiripun tidak tahu,"

Dia berkata terus terang.

"inilah kejadian untuk pertama kalinya, aku menggunakan ilmu-ilmu tadi."

Gangguan Seng-mo Leng Kho Tiok telah mereka sisihkan, dan kedua pemuda, itu melanjutkan perjalanan.

Ie Han Eng adalah cucu dari keluarga Yang Mulia Ie Siauw Hu yang dijunjung tinggi oleh setiap tokoh rimba persilatan, betul dia tidak berkepandaian silat, tidak seorangpun berani memasuki atau mengganggu lembah Hui-in.

Mereka tidak berani mengacau lembah Hui-in, ini melepaskan kesempatan untuk merebut kitab Maya Nada, berkumpul di luar lembah tersebut, ada juga yang menutup tersebut, seperti si pedang Utara Auw-yang le dan Pedang Kong-Sun Giok, mereka akan mengganggu orang yang memasuki lembah Hui-in.

berarti mereka lembah Selatan hendak Orang yang memata-matai lembah Hui-in bukan Kong-Sun Giok dan Auw-yang Ie dua orang saja, Golongan Thian-lam Lo-sat juga tidak melepaskan kesempatan ini.

Bercerita Su-to Yan dan Lee Pin yang mendekati lembah Hui-in, tiba-tiba mereka dihadang oleh delapan orang berbaju hitam, itulah orang-orang dari golongan Thian-lam Loo-sat.

"Berhenti!"

Bentakan. Kedelapan orang berbaju hitam mengeluarkan Su-to Yan dan Lee Pin memperhatikan kedelapan orang yang berani menghadang perjalanan mereka.

"Siapa kalian?"

Si Anak Srigala membentak.

"Atas perintah ketua kami, kalian dilarang meneruskan perjalanan."

Berkata salah satu dari orang-orang berbaju hitam itu.

"Siapa ketua kalian?"

Bertanya Su-to Yan.

"Siapakah yang tidak kenal kepada ketua Thian-lam Loo-sat Lam Kiong It?"

"Aha, kalian dari golongan Thian-lam Loo-soat?"

"Tidak salah."

"Lekas minggir !"

Lee Pin membentak.

"Agar tidak menjadi korban penasaran. Kalian bukanlah tandingan kami orang."

Delapan orang itu mendapat tugas untuk menghadang Su-to Yan, tentu saja harus mentaati perintah ketuanya.

Tidak seorangpun dari mereka yang mengundurkan diri, Bukan saja tidak mau mengundurkan diri, malah mereka mengurung lebih dekat lagi, Masing-masing mengeluarkan senjata.

Su-to Yan dan Lee Pin saling pandang, mereka menganggukkan kepala, itulah suatu tanda, bergebrak untuk menyingkirkan halangan mengganggu jalan "Ciaaaatttt..."

Terdengar suara Lee Pin yang melengking, dia telah menerjang orang berbaju hitam itu.

Su-to Yan tidak mau ketinggalan dia mendorong sebelah tangannya, tangan kanan yang dingin dapat membekukan jalan peredaran darah lawan.

Terdengar suara jeritan-jeritan yang riuh, hanya satu gebrakan, delapan orang berbaju hitam telah gugur berjatuhan, dua orang mati dibawah cengkraman Lee Pin, dan sisanya mendapat luka parah.

Su-to Yan dan Lee Pin mengeluarkan senyum mengejek, mereka tidak memperdulikan orang itu, mereka mulai perjalanan lagi.

Tidak lama, hanya tiga tikungan, lagi-lagi dihadang oleh 8 orang baju hitam.

Adanya pengalaman dibagian depan, Su-to Yan maklum, tentunya orang dari Thian-lam Lo-sat lagi.

Timbul rasa muak kepada orang-orang itu, mereka terlalu tamak dan serakah, dengan ilmu kepandaian seperti ketua Thian-lam Losat Lam Kiong It, mengapa masih menghendaki ilmu pedang Maya Nada ?

Bukan saja Lam Kiong It yang mempunyai sipat serakah, Tokohtokoh lainnyapun demikian seperti Seng-mo Leng Kho Tiok, siapakah yang dapat mengalahkan iblis ini?

Mengapa masih tidak puas kepada ilmu kepandaian sendiri?

Dengan alasan apa menghendaki ilmu pedang Maya Nada ?

Delapan orang berbaju hijau yang menghadang didepan kedua orang adalah jago-jago biasa, mana mungkin mereka menandingi Su-to Yan yang gagah perkasa?

Apalagi didampingi oleh si Anak Srigala Lee Pin.

Hanya setengah gebrakan, merekapun sudah dikucar-kacirkan.

Demikianlah Su-to Yan menyingkirkan regu-regu delapan orang itu, setiap muncul delapan orang berbaju hitam, mereka tidak banyak bicara, bila bukan jatuh dibawah cengkeraman Lee Pin, tentu terpental oleh kekuatan Su-to Yan.

Dan yang terakhir, dikala mendapat rintangan delapan orang lagi, Seorang tua dengan pakaian warna-warni sudah melesat turun, langsung menghadapi Su-to Yan.

Delapan orang berbaju hitam berdiri di belakang orang tua berpakaian warna-warni itu.

Orang tua itu memandang Su-to Yan seraya membentak.

"Bocah, tentunya belum kenal kepadaku Lam Kiong It, bukan ?"

Inilah ketua Thian-lam Lo-sat yang bernama Lam-kiong It, namanya pernah menggemparkan rimba persilatan, Mengingat tidak ada jaringan yang sedang mengganggu perjalanan Su-to Yan, dia menampilkan diri.

Su-to Yan dan Lee Pin telah siap siaga, mereka mempunyai sifat pantang mundur, betapa tinggipun ilmu kepandaian Lam Kiong It, mereka tidak segan-segan untuk menempurnya.

Lam Kiong It membuka mulut.

"Siapa diantara kalian yang bernama Su-to Yan ?"

"Aku."

Su-to Yan memajukan diri, Memperhatikan sipemuda beberapa saat, Lam Kiong It berkata.

"Tinggalkan ilmu Pedang Maya Nada, maka kau bebas dari kematian."

"Bila tidak?"

Su-to Yan masih menantang.

"Kau belum pernah merasakan racun Thian lam Lo-sat? Ha, ha ..."

Lam Kiong It tertawa.

"Bila aku mau, dengan menggerakan racun Cian-tok Tay-tin, mungkinkah kalian dapat meloloskan diri dari racun-racun itu ?"

Lee Pin telah kehilangan sabar, dengan satu terkaman liar, dia menerjang ketua Thian-lam Lo-sat.

Lam Kiong It pandai menggunakan racun didalam hal ini bukan berarti tiada berkepandaian silat, tampak dia berlompat gesit, menghindari diri dari terjangan-terjangan sianak srigala.

Hanya bergebrak beberapa jurus Lee Pin sudah tidak berdaya..

Su-to Yan tidak berpeluk tangan, pedang Lay-hong keluar dari kerangkanya, segera dia menerjunkan diri kedalam arena pertempuran.

"Awas pedang!"

Sebelum menyerang, dia memberi peringatan.

Di saat itu, orang-orang berbaju hitam telah berkumpul.

Menyaksikan ketua mereka dikeroyok oleh dua jago kelas satu tanpa perintah, mereka turut mencampurkan diri, terjadi pertempuran yang sangat kalut.

Lee Pin memekik panjang, itulah tanda untuk memanggil pasukan srigala.

Dengan bantuan binatang-binatang itu, dia mengharapkan kemenangan.

Betul saja.

Pekikan panjang si Anak Srigala mendapat penyambutan cepat, terdengar lolongan-lolongan yang melengking tinggi, saling susul, suara itu sangat gemuruh, mendatangi tempat pertempuran.

Didalam waktu yang amat singkat, ratusan ekor srigala telah berada ditempat itu, terjadi pertempuran diantara manusia dan binatang.

Berkat bantuan srigala itu, Su-to Yan dan Lee Pin menarik diri dari kepungan Lam Kiong It dan anak buahnya.

Thian-lam Lo-sat mengalami kegagalan.

Dari gerakan-gerakan Su-to Yan yang memiliki kekuatan panas dan dingin, Lam Kiong It tidak berani mengadakan pengejaran, kekuatan panas Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng tidak asing baginya, karena orang ini adalah kawan baiknya, kekuatan dingin Kiu-han Sin kun Ko Cio juga dikenal baik, itulah ilmu kepandaian musuh utama, telah berulang kali dia mengadu kekuatan dengan Kiu-han Sin-kun Ko Cio, sampai dimana keistimewaan ketua lembah Cui-goat kok itu, dia sangat paham.

Karena keragu-raguan itulah, Lam Kiong It tidak tahu, bagaimana hubungan Su-to Yan dengan dua tokoh silat hebat, Lebih baik menunggu kesempatan lain.

Menceritakan perjalanan Su to Yan dan Lee Pin.

mereka berhasil meloloskan diri dari kepungan golongan Thian-lam Lo-sat, membiarkan pasukan srigala memelihara keamanan pion belakang, Mereka meneruskan perjalanan.

Lee Pin tertawa, dia sangat bangga kepada pasukan srigala yang sangat banyak membantu itu.

"Mereka tidak berani membikin pengejaran."

Demikian dia berkata, Yang diartikan dengan mereka adalah anak buah Thian lam-lo-sat.

"Dengan adanya kawan-kawan berkaki empat itu siapakah yang ingin mencari mati?"

Su-to Yan juga tertawa.

"Mulai saat ini, tidak ada orang lagi yang berani menghadang perjalananmu."

Berkata Lee Pin.

"Akan kuhajar mereka akan kucarkacir."

"Siapakah yang hendak menghadang perjalananku lagi?"

Su-to Yan menganggap sudah berada ditempat yang aman, Lembah Huiin sudah tidak jauh. Tiba-tiba... Satu suara menyertai kata-kata Su-to Yan.

"Aku yang hendak menghadang perjalananmu."

Tidak ada orang yang menghadang perjalanan.

Su to Yan bermata dan bertelinga tajam, menangkap arah datangnya suara, dia mendongak keatas, disana, diatas sebuah tangkai pohon yang berdaun rindang, diatas cabang ranting pohon yang cukup besar, dia menggendong pacul.

Suatu pemandangan yang jarang terlihat.

Hwesio itulah yang mengatakan hendak menghadang perjalanan Su-to Yan.

Mengetahui dirinya telah dapat dilihat orang, hwesio tinggi besar itu lompat turun dari atas pohon, gerakannya ringan sekali, dia masih membawa paculnya, itulah senjata yang paling khas bagi hwesio gemuk itu.

"Kau juga hendak mengadakan penghadangan?"

Bertanya Su-to Yan dengan suara lantang. Hwesio itu menganggukkan kepalanya.

"Hendak meminta kitab ilmu Pedang Maya Nada?"

Bertanya lagi Su-to Yan.

"Guruku menghendaki catatan ilmu pedang itu, maka beliau mengutus aku menemuimu."

Berkata hwesio tinggi besar itu.

"Siapakah orang yang menjadi gurumu itu?"

Bertanya Lee Pin. Hwesio itu melirik kearah si Anak Srigala.

"Aku bernama Bwee-goat."

Dia memperkenalkan diri.

"Dengan julukan Hwesio Tukang Pacul, Pernah dengar nama ini? Tentunya kau tahu, siapa orang yang menjadi guruku."

Su-to Yan dan Lee Pin saling pandang. Hwesio itu memikul paculnya, kemudian mementil cepat, ting, ting, ting, dan dia tersenyum-senyum kepada kedua anak muda dihadapannya.

"Kit-hian-cie."

Su-to Yan berteriak kaget.

"ilmu jari Kit hian-cie."

"Betul."

Hwesio pembawa pacul itu berkata.

"Salah satu dari sepuluh macam ilmu silat dari jaman purbakala."

"Ah,"

Su-to Yan berteriak.

"Kau adalah murid dari Tokoh Silat Tiga jaman Bong Bong Cu"

"Kau memang liehay."

Hwesio Tukang Pacul Bwee-goat menganggukkan kepala.

"Guru ku mengatakan bahwa kau telah berhasil meyakinkan Uap Hijau It-bok Cin-khie, cengkeraman Maut Thian tau nie hun ciauw dan ilmu Pie pa cap Sa san chiu. Dengan adanya tiga macam ilmu silat peninggalan jaman purbakala itu, kau menjadi seorang yang sangat berbahaya. Apalagi memiliki ilmu pedang Maya Nada, bahaya itu semakin besar."

"Maksudmu?"

"Guruku menghendaki ilmu pedang Maya Nada itu."

Berkata Hwesio Tukang Pacul Bwee goat.

Lagi-lagi ada orang yang mengincar catatan ilmu Pedang Maya Nada.

Lee Pin mengeluarkan jeritan2 panjang, jeritan mana disambung oleh lolongan pasukan srigalanya, susul-menyusul tiada hentihentinya.

Wajah hwesio Tukang Pacul berubah.

Segera dia sadar, suara lolongan-lolongan apa yang mendekati mereka.

"Hei."

Dia berteriak "Kau yang membawa binatang-binatang liar itu?"

"He, he..."

Lee Pin sangat puas.

"Kau takut?"

"Huh ! Siapa yang takut kepadamu?"

Mengincar beberapa srigala yang terdekat, Bwee goat mengayun paculnya, terlalu cepat untuk di ceritakan.

"Nah, Lihatlah."

Kata-kata tadi disertai dengan ayunan cangkul. Aingggggg... Aaingggg..."

Dua ekor srigala Lee Pin telah mati dengan otak kepala hancur berceceran, Kecepatan dan kekuatan si Hwesio Tukang Pacul Bweegoat memang luar biasa.

Wajah Lee Pin berobah, srigala-srigala yang dibawa memasuki daerah Tionggoan adalah srigala pilihan, mendapat didikan dirinya, mereka dapat menyingkirkan diri dari setiap serangan tokoh rimba persilatan.

Kini dua ekor diantaranya dibunuh mati dengan mudah, tanpa ada perlawanan sekali, itulah suatu kejadian yang belum pernah dialami.

Su-to Yan mengeluarkan suara pujian.

"Tenaga dalam yang hebat."

Belasan ekor srigala menerjang orang yang telah membunuh kawan mereka, gerakan itu gesit sekali.

Bwee-goat mengayun pacul, satu demi satu, dia membunuh atau melukai srigala-srigala itu.

tubuhnya tinggi besar, tapi mempunyai gerakan dan lincah, tenaganya besar, arah bidikannya tepat, belasan ekor srigala itu telah menjadi korban ketajaman cangkulnya.

Belasan ekor srigala lainnya menerkam Bwee-goat, jumlah pasukan binatang ganas itu kian membesar.

Bwee goat mengetahui akan datangnya gelagat yang kurang baik, untuk mengalahkan belasan ekor atau puluhan ekor tidak menjadi soal, tapi dilihat dari suasana seperti itu, jumlah srigala yang dibawa oleh Lee Pin berjumlah diatas ratusan, untuk meloloskan diri dari kepungan-kepungan binatang tersebut, tentu saja tidak mudah.

Si Hwesio Tukang pacul Bwee-goat menerjang kearah timur, membunuh dan melukai belasan ekor lagi, cepat sekali, tubuh orang itu telah lenyap.

Lee Pin membanting banting kaki, pasukan srigalanya dikucar kacirkan oleh orang tadi, Memeriksa luka-luka para srigala, dia menggeleng-geleng kepala.

Su-to Yan menghampiri kawan kita, Dengan sedih, Lee pin berkata.

"Maksud hendak menemani kau masuk kedalam lembah Hui-in, kukira maksud ini tidak dapat kesampaian. Aku harus mengadakan pertolongan kepada mereka, Waktu yang diperlukan terlalu lama, ada baiknya kau pergi dahulu, aku akan menyusul kemudian."

"Baiklah."

Su-to Yan dapat menerima usul itu, Lembah Hui-in sudah berada diambang mata, tentang Lee Pin dan srigala-srigala itu diapun harus menempuh perjalanan.

Melewati dua puncak lagi, Su-to Yan segera dapat memasuki lembah Hui-in, tiba-tiba ada bayangan putih yang melayang datang, itulah bayangan seorang gadis, langsing yang mengenakan pakaian warna putih, menghampiri Su-to Yan.

Su-to Yan mengendurkan langkah kecepatannya, dia menantikan gadis baja putih itu, tentunya orang yang hendak meminta kitab ilmu Pedang Maya Nada.

Gadis berbaju putih menatap Su-to Yan beberapa saat, dia berkata.

"Ternyata kau yang bernama Su-to Yan,.bukan?"

"Aku Su-to Yan."

Berkata sipemuda.

"Ada urusan apakah nona mencari seorang yang tidak terkenal ?"

"Ha. ha, ha.. Su-to Yan, Su-to Yan, kau tidak terkenal? Siapa yang terkenal? Bila bukan si pedang Bara yang gagah perkasa, haha."

Gadis tersebut tertawa terpingkal-pingkal.

"Nona ada urusan dengan diriku?"

Bertanya Su-to Yan.

"Tentu, Bila tidak ada urusan, tentu tidak mencari dirimu, bukan?"

Berkata gadis itu.

Su-to Yan menunggu keterangan tentang maksud kedatangan gadis tersebut, dia memperhatikan gadis tersebut, sangat putih, berbaju putih juga berkulit putih, sangat menarik, rambutnya hitam panjang, terurai kebelakang, agak mirip dengan tipe Jie Ceng Peng, tapi lebih menarik, seolah-olah seorang dara yang baru menginjak dewasa.

Diantara ketiga gadis yang baik dengan Su to Yan, Ie Han Eng mempunyai perangai yang halus, tipe wanita ideal untuk menjadi seorang istri yang lunut, dan jinak, Jie Ceng Peng mempunyai sifatsifat yang gagah perkasa, cukup agung untuk menjadi seorang pemimpin, tapi gadis yang seperti ini bukan calon bagus untuk dijadikan seorang istri, dia akan nangkring di atas kepala sang suami, membentak bentak dan hendak berkuasa seorang diri.

Cin Bwee nakal berandalan, sifatnya suka cemburu, Gadis yang seperti inipun tidak mudah untuk didamping seumur hidup.

Gadis berbaju putih menyampurkan dua macam tipe Cin Bwee dan Jie Ceng Peng.

"Hei."

Tiba-tiba gadis itu membentak.

"Mengapa kau diam bungkam ?"

Su-to Yan disadarkan dari lamunannya.

"Kau belum mengutarakan maksud kedatanganmu, bukan?"

Dia balik bertanya akan maksud kunjungan orang.

"Aku tahu namamu Su-to Yan."

Berkata sigadis baju putih.

"Mengapa kau tidak menanyakan namaku ?"

Seorang gadis yang masih bersifat kanak-kanak. Dengan sungguh-sungguh, Su-to Yan bertanya.

"Boleh aku mengetahui nama dan julukan nona yang mulia?"

Bertanya Su-to Yan dengan nada yang penuh rasa hormat.

"Hi, hi, hi,.,"

Gadis itu tertawa cekikikan "Aku bukan yang mulia, Aku seorang gadis biasa, Namaku Pek Leng Soat.

Pek Leng Soat, berarti Keluarga Pek Yang Suka Kepada Salju, Mengertikah kau akan makna arti kata-kata tadi"

Su-to Yan tersenyum-senyum.

"Suatu nama yang bagus."

Dia memberikan pujiannya.

"Sangat cocok dengan arti yang terkandung didalam nama itu. Begitu cocok dengan wajah dan potongan seorang gadis cantik yang sepertimu."

"Tentu saja."

Berkata gadis yang bernama Pek Leng Soat itu.

"Kau memang sedang berhadapan dengan aku."

"Eh, bagaimana maksud mengulang pertanyaannya. kedatangan nona?"

Su-to Yan "Kedatanganku?"

Bertanya Pek Leng Soat menunjuk hidungnya yang kecil dan mungil. Hal ini sangat menarik sekali.

"Kedatanganku ada hubungannya dengan kau!"

Gadis itu hampir menyentuh hidung si pemuda. Dia menudingkan telunjuk jarinya lurus kedepan.

"Aku?"

Su-to Yan mundur dua langkah.

"Kau belum tahu, bahwa kedudukan dirimu berada didalam posisi yang sangat berbahaya?"

Berkata lagi Pek Leng Soat.

"Atas perhatian nona, dengan ini, aku Su-to Yan mengucap banyak terima kasih."

Si-pemuda memberi hormat.

"Huuh..."

Pek Leng Soat mengeluarkan suara dari hidung.

"Catatan ilmu pedang Maya Nada itulah yang menjadi bibit bencana, Telah di rencanakan masak-masak. Bila kau bersedia menyerahkan kitab catatan ilmu silat itu, jiwanya bebas dari segala macam gangguan dan ancaman."

Lagi-lagi soal ilmu pedang Maya Nada. Su-to Yan tertawa tawar, dia berkata.

"Dimisalkan catatan ilmu pedang Maya Nada tidak diserahkan, mungkinkah nona akan memberikan tekanan yang berat?"

"Tentu saja."

Pek Leng Soat memberi senyuman manis.

"Nona begitu baik kepadaku?"

Bertanya Su-to Yan.

"Apakah yang menjadikan tujuan utama dari maksud nona itu ?"

"ilmu Pedang Maya Nada."

Berkata Pek Leng Soat.

"Aku menolak."

Su-to Yan segera berkata.

"Kau jangan tidak tahu diri!"

Pek Leng Soat membentak "Maksudku baik.

tahu?

Aku datang dengan tujuan membebaskan kau dari aneka macam gangguan yang datangnya dari luar, Mengapa kau begitu bandel?

Di manakah catatan ilmu pedang itu ?"

Su-to Yan memperhatikan keadaan gadis berbaju putih, begitu agung, begitu manis dan ramah, mengapa mempunyai hati yang sama dengan manusia tamak lainnya?

inilah yang membuat dia tidak mengerti sama sekali.

"Siapakah yang memberi mengajukan pertanyaan. perintah kepada nona?"

Dia "Kau tidak mau mengeluarkan kitab pelajaran ilmu silat itu?"

Pek Leng Soat membentak.

Baca Juga: Rajawali Emas 10

Baca Juga: Mutiara Hitam 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert