Ceritasilat Novel Online

Pedang Wucisan 2

Eps 2 Pedang Wucisan - Chin Yung

Baca online Pedang Wucisan - Chin Yung

Cersil Pedang Wucisan - Chin Yung.

"Kau harus lebih berhati-hati, mereka itu paling senang dengan gadis-gadis cantik, bila kau mengendus semacam bau-bauan, berhati-hatilah."

Cin Bwee menjebikan bibirnya.

"Bagaimana kau tahu?"

Ia menentangnya.

"Mungkinkah kau pernah melakukan perbuatan itu ?"

"Maksudku baik, Tapi kau salah terima."

Berkata Sie An mempapakkan tangan, bohoat kepada gadis yang seperti Cin Bwee.

"Huh, manusia pendek memang banyak pikirannya."

Si gadis menjebikan bibir.

Entah mengapa, sifat Cin Bwee itu senang mendebat Demikian kepada Su-to Yan, demikian juga kepada Sie An.

Sie An maklum akan sifat-sifat gadis yang berandalan itu, ia tidak mau melibatkan dirinya dengan perdebatan yang tiada habisnya, itu lah pepesan kosong, mengapa harus diributkan?

Su-to Yan sedang memikirkan pedang In-liong, mengocehlah pemuda ini.

"Entah dimana Jie Ceng Peng itu berada?"

Cin Bwee menoleh kearah pemuda itu, mempelototkan mata sebentar, tanpa memberi reaksi lainnya, ia mengeluarkan suara dari hidung.

"Huh Hm...."

Sie An memperhatikan gerakan-gerakan dari kedua kawan itu, dengan tertawa, ia berkata.

"Saudara Su-to, jangan sekali-kali lagi kau menyebut nama si Pedang Emas Jie Ceng Peng, apalagi didepan nona kita, Baik-baiklah melayaninya bicara, kalau tidak, Huh....hm "

Si pedang Bayangan mengikuti logat Cin Bwee. Gadis itu mendelikkan matanya.

"Manusia pendek."

Lagi-lagi ia memaki orang. Sie An tertawa puas, Kini gilirannya menggoda gadis itu, katanya.

"Nona galak, agaknya kau lebih senang melakukan perjalanan berdua saja. Katakanlah terus terang, aku segera berjalan pergi."

"Manusia pendek,"

Bentak Cin Bwee memelototkan mata.

"Ha, ha, ha, ha..."

Su-to Yan sedang memperhatikan tiga penunggang kuda lainnya, ketiga orang itu mengikuti mereka jauh-jauh, kini masih dibelakang mereka, tidak berani maju terlalu dekat, tidak terlihat jelas wajahwajah mereka, Yang pasti, orang yang ditengah itu bertubuh pendek, Sie An segera mengetahui gerakan sang kawan, ia bertanya.

"Ada apa, saudara Su-to ?"

"Lihatlah tiga penunggang kuda dibelakang kita itu."

Sie An melirik kearah belakangnya, dengan kerlingan mata yang tajam, ia dapat mengetahui maksud orang yang tidak baik.

"Huh, biar aku yang menghajar mereka."

Tubuhnya melejit, lompat kebelakang, sangat gesit sekali.

Julukan Sie An adalah pedang Bayangan, hal itu menunjukkan betapa hebatnya ilmu yang dimainkan oleh si pendek, seolah-olah bayangan yang berkelebat sangat cepat, Lain sebab dari adanya julukan tersebut ialah gerakan Sie An yang sangat enteng, bila ia melayang, seolah-olah bayangan berkelebat sangat cepat sekali.

Kini ia sudah berada didekat ketiga orang penguntitnya, dengan satu tangan, ia menarik orang yang terdekat, ditotoknya jalan darah orang itu, kemudian melemparkan tubuh tersebut kearah Su-to Yan.

"Saudara Su-to, terimalah hadiah yang pertama."

Su-to Yan menyambuti tubuh orang itu, ia mengucapkan pujian.

"Pedang Bayangan tidak percuma, hebat!"

Dikala Sie An bergerak, ketiga musuhnya telah sadar, mereka menggebrak kuda, melarikan diri, Satu diantaranya kalah cepat, maka berhasil ditangkap, Dan dua lainnya telah berpisahan, mengambil arah jurusan yang tidak sama, dengan demikian, mereka memecahkan perhatian Sie An.

Bayangan Sie An bergerak, dan kini ia sudah berada di belakang seorang lagi, tangannya menjulur, entah bagaimana, tubuh orang itu tersedot jatuh dengan mudah.

Sie An menangkapnya, dengan cara yang sama, ia melemparkan tubuh itu kearah Su-to Yan.

"lnilah yang kedua,"

Ia berkata puas.

Kini hanya tinggal seorang lagi, maksud Sie An hendak menangkapnya juga, Apa mau orang itu lihay, dikala Sie An mencengkeram, diapun membalas dengan satu pukulan, memaksa Sie An menarik tangan.

Dia adalah seorang tua pendek, larinya bukan karena takut kepada Sie An.

Melihat ke dua anak buahnya sudah berada ditangan lawan, ia berdengus.

"Huh, hanya pandai menghina anak buah orang."

"Mengapa kau tidak mau turun dari kudamu?"

Tantang Sie An.

"Baik."

Orang tua pendek itu telah lompat turun dari kudanya.

"Mari kita bertanding di luar kota."

Kakinya bergerak, meninggalkan tempat itu.

Disana banyak orang, ia segan memperlihatkan diri kepada orang-orang itu, maka lari dan menantikan kedatangan Sie An diluar kota, ditempat yang sepi.

Sie An membuntuti dibelakang orang itu, Dikala lewat disamping sisi Cin Bwee, Sigadis mentertawakannya.

"Hai, kakek pendek itulah pasanganmu, Lekas kejar !"

Orang tua pendek itu telah berada diluar pintu kota, dan Sie An masih mengejar.

Su-to Yan dan Cin Bwee membedal kuda, merekapun hendak menyaksikan keramaian, siapakah kakek pendek tadi?

Dilihat dari tenaga dalamnya yang dapat memadai Sie An, tentu bukan tokoh biasa.

Kecepatan bayangan Sie An tidak kalah dengan kuda tunggangan.

gerakkan kakek pendek itupun sangat gesit, tidak berhasil Sie An mengejar.

Sikakek pendek, Sie An, Su-to Yan dan Cin Bwee menuju kearah luar.

Disuatu lapangan yang agak luas, kakek pendek itu menghentikan larinya.

Sebentar kemudian, Sie An pun menyusul tiba.

dibelakang mereka, baru datang Su to Yan dan Cin Bwee.

Sie An telah mengeluarkan pedang, inilah pedang Bayangan, bila bukan menghadapi musuh kuat, tidak mau ia menggunakan pedang, kini ia tidak mau bertangan kosong.

Kakek pendek itu bukanlah manusia biasa, terbukti dari benturan tadi, tenaga mereka sama kuat.

Kakek pendek itupun telah mengeluarkan senjata, besi pentungan yang berbentuk pedang, juga dapat digunakan sebagai golok, dia menamakan senjata itu sebagai pedang Dwi guna.

Bayangan Sie An bergerak, menusuk kearah kakek pendek itu.

Diserang dengan pedang, kakek pendek itu tidak menjadi gugup, pedang Dwi guna dimainkan menangkis dan langsung menyerang kearah tiga tempat, sangat berbahaya.

Sie An sangat gesit, hanya terlihat gulungan-gulungan bayangannya bergerak-gerak, ia berhasil menyingkirkan ketiga serangan tadi.

Orang itu menyerang lagi tiga kali.

Sie An lompat tinggi, kemudian menerjunkan dirinya, Dengan tiada berpijak tanah, ia menangkisnya, kini kedudukannya agak baik, tanpa menurunkan kaki, ia mengancam jalan darah Keng-hiat sikakek pendek.

Orang itu menangkis tiga kali, baru berhasil menahan serangan Sie An.

Su-to Yan dan Cin Bwee telah lompat turun dari kuda tunggangan mereka.

Sie An dan orang itu telah bergebrak kembali, potongan dan bentuk tubuh mereka seimbang, sama gemuk dan sama pendeknya, perbedaan hanya terletak pada umur kedua orang itu.

Bila sipedang bayangan masih muda, lawan nya adalah seorang kakek yang sudah ubanan.

-oo0dw0oo-

Jilid 4 PEDANG Bayangan berkilat-kilat, melingkari tubuh orang itu.

Sikakek pendek menggunakan senjata Dwi guna dengan baik, senjata itu memainkan tipu-tipu ilmu pedang.

Menonton lagi beberapa waktu, tiba-tiba Su-to Yan teringat kepada seseorang, hatinya berpikir.

"Mungkinkah si pedang Dwi guna Go Kit?"

Hanya Go Kit yang memainkan ilmu pedang dengan senjata yang bukan pedang, walau pun demikian bentuk senjata itu agak mirip dengan pedang, maka dinamakan pedang Dwi Guna.

Su-to Yan belum melihat bagaimana bentuk pedang Dwi guna, tapi dari cara-cara permainan kakek pendek yang tua itu, ia menduga kepada Go Kit.

Sipedang Dwi guna Go Kit adalah ex bekas kepala jagoan, menguasai sesuatu daerah kekuasaan, ilmu silatnya tinggi, khusus ilmu pedangnya sangat luar biasa.

Setelah Kong-sun Giok menguasai rimba persilatan, Go Kit ditantang, hasil dari pertandingan itu adalah kekalahan untuk si Pedang Dwi guna, umurnya sudah tua, terpaksa harus mengundurkan diri.

Semakin diperhatikan Su-to dugaannya, segera ia berteriak.

Yan semakin yakin kepada "Hei, bagaimana hubunganmu dengan si pedang Dwi guna Go Kit?"

Kakek pendek itu adalah si pedang Dwi guna Go Kit, mendengar teriakan Su-to Yan, perhatiannya terpisah, ia menjadi lengah, hampir hampir dilukai oleh Sie An.

Karena itu ia mengamuk, memutar pedang Dwi guna, menghujam sang lawan dengan serangan yang bertubi-tubi.

Sie An juga sadar, orang yang dihadapi adalah sipedang Dwi guna, Bukan manusia biasa, ia melawannya dengan hati-hati.

Sie An ada tujuan untuk mengalahkan si Pedang Selatan Kongsun Giok, juga ingin menekan kekuasaan si pedang Utara Auw-yang Ie.

Diketahui bahwa dirinya sedang berhadapan dengan pedang Dwi guna Go Kit, orang bekas pecundang Kong-sun Giok.

Sebelum mengalahkan si Pedang Selatan, ia harus mengalahkan orang ini dahulu.

Go Kit pernah dikalahkan Kong-sun Giok, karena itu ia menaruh dendam, menyembunyikan dirinya, melatih ilmu silat dengan rajin, maksud tujuannya sangat jelas, ia harus menuntut dendam itu.

Kini telah berhasil, ia menerjunkan dirinya kedalam rimba persilatan lagi,tujuannya yalah mencari Kong-sun Giok, menuntut balas, Bila tidak dapat mengalahkan Sie An, bagaimana ia menempur Kong-sun Giok?

Karena itu, semakin lama, serangannya semakin gencar.

Wut..,.

Wut Sie An dihujani serangan.

Sie An juga jago silat mandraguna, kedudukannya tidak kalah dibawah Kong-sun Giok dan Auw-yang Ie, walaupun nama si pedang Dwi guna sangat besar, iapun tidak takut.

"Trang... trangggg..."

Beberapa kali ia menangkis serangan itu.

-ooo0dw0oooPedang Dwi guna kontra pedang Bayangan !

Luar biasa, sangat seru sekali!

Terdengar Go Kit tertawa dingin, ia mengubah cara penyerangannya, kali ini dengan tangan kiri, dimana jari-jari orang itu terpasang kuku-kuku palsu, sangat beracun, maksudnya menambah keangkeran dirinya.

Sie An bermata tajam, ia tahu akan jahat nya kuku beracun, hanya sepintas lalu, ia dapat menduga kepada tipu muslihat musuh, Tipu harus dilawan dengan tipu, sengaja ia maju dua tapak, membuka lebar-lebar bagian dada, itulah kekosongan!

Go Kit girang, kiranya kesempatan bagus untuk mengalahkan lawan, cepat sekali, kini ia menyerang, tapi bukan dengan kuku jari, hanya dengan pedang, ia masih sangat berhati-hati.

Perangkap Sie An tidak membawa hasil yang baik, tapi cukup untuk mengambil alih kedudukan bagus, kini ia menggencet lawan itu dengan bayangan-bayangan pedang.

Go Kit mulai gelisah, ia telah tua, hampir mencapai enam puluh tahun, tenaganya banyak berkurang, setelah bertempur lama, hal itu dirasakan sekali.

Bila pertempuran diteruskan.

Sie An akan keluar sebagai pemenang, Semakin lama si Pedang Bayangan semakin galak, semakin gagah juga ia menyerang.

Berbeda dengan keadaan Sie An, keadaan Go Kit kian memburuk, kini terdesak mundur.

Sie An siap mengakhiri pertempuran itu, beberapa jurus lagi, pasti ia dapat menjatuhkan lawannya.

Disaat ini, pertempuran.

terdengar satu suara memecahkan suasana "Ha, ha...

tidak kusangka, pedang Bayangan Sie An dari daerah Tiang-pek turut memasuki daerah Tiong goan."

Disana telah ditambah seorang lelaki berbaju kuning, dia tidak asing bagi semua orang, Si Pedang Utara Auw-yang le.

Pertempuran terganggu, dua orang itu telah memisahkan diri.

Cin Bwee dan Su-to Yan memandang ke-arah datangnya Auwyang Ie.

didalam hati mereka berpikir.

"Apa maksud tujuan si Pedang Utara ?"

Auw-yang le itu sangat angkuh, memandang kepada semua orang, dengan sikapnya petantang-petenteng, ia berjalan menghampiri. Cin Bwee tidak senang, segera ia berkata.

"Biar kuusir cecunguk ini."

Gadis itu membuktikan kata-katanya, tubuhnya sudah memapaki Auw-yang Ie. Su-to Yan kaget, cepat-cepat ia menarik tangan sang kawan, katanya perlahan.

"Adik Bwee, kau diam-diam saja menonton. Aku hendak mencoba, sudah pulihkah tenagaku semua? Biar aku yang menghadapinya."

Cin Bwee monyongkan mulut sikapnya sangat manja, betul-betul ia jatuh cinta, maka tidak menantang lagi, ia diam.

Menurutlah kepada kekasihmu!

demikian petuah percintaan Dilain pihak Su-to Yan telah berhadapan dengan Auw-yang le.

"Bagus!"

Ia berkata.

"Keluarkanlah pedangmu."

"Sayang sekali."

Berkata Su-to Yan.

"Aku tidak dapat menggunakan pedangku, Walaupun demikian, tidak mengapalah, aku akan menggunakan tangan kosong menghadapimu."

Mata Auw-yang Ie mendelik.

Kata-kata Su-to Yan itu terlalu sombong, Masakan dirinya hendak dilawan dengan tangan kosong?

Sungguh keterlaluan Dia adalah jago pedang kelas satu, lawan baru saja menerjunkan dirinya kedalam rimba persilatan walaupun telah mendapat nama Pedang Baru, nama itu baru saja dikenal orang, Keliwatan !

"Bagus."

Si Pedang Utara bergeram.

"Didalam waktu 20 jurus, darahmu akan membanjiri tanah ini."

Sie An menunjukan rasa khawatirnya, ia memberi peringatan.

"Saudara Su-to, berhati-hatilah."

"Aku tahu,"

Berkata Su-to Yan yang sudah siap, sebagai murid Jiok Pek Jiak kepandaian pukulan tangannya tidak kalah dari ilmu pedang yang dimiliki, maka ia tidak gentar sama sekali.

Pedang Auw-yang Ie berujung lengkung termiring-miring, jago itu memajukan pedangnya.

"Awas serangan pedang!"

Ia memberi peringatan. Melihat cara pembukaan serangan Auw-yang Ie si Pedang Bayangan. Sie An terkejut, didalam hati jago ini memuji.

"Hebat! Nama Pedang utara memang bukan nama kosong."

Tujuan Sie An memasuki daerah Tionggoan berpokok pangkal mengalahkan pedang Utara dan Selatan dengan cara demikian, dia akan menonjolkan diri, menjadikan dirinya menjadi kepala dari tiga ahli pedang dimasa itu.

Kini menyaksikan ilmu pedang Auw-yang Ie yang hebat dan luar biasa, kepercayaannya kepada ilmu kepandaian diri sendiri merosot banyak, ia harus berpikir masak-masak, sebelum menantang orang mengadakan pertempuran impiannya menjadi sirna.

Kecuali menghawatirkan keselamatannya sang kawan, mungkinkah Su-to Yan dapat menyelesaikan pertempuran tanpa luka?

Mengingat lawan itu terlalu kuat, diatas Su-to Yan.

Tahu sedang berhadapan dengan musuh kuat, Su-to Yan menggunakan ilmu cengkeraman Tangan Langit Thian -mo-nie-hun cauw, Mencengkeram kearah gagang pedang.

Auw yang Ie sangat marah, didalam hati jago itu berkata.

"kurang ajar, kau sangat menghina orang, berani memandang rendah diriku. he? Hanya menggunakan sepasang tangan kosong, hanya dengan satu cengkeraman, ingin merebut pedangku? Bukankah sudah bosan hidup sama sekali?"

Sengaja disodorkan pedang kearah Su-to Yan, dengan maksud tujuan, setelah datang dekat, ia memapas jari yang sangat kurang ajar itu.

Tangan Su-to Yan merangsang semakin dekat.

Auw yang Ie siap melaksanakan rencananya, tiba-tiba matanya terbelalak secepat itu dia melihat akan adanya satu kabut hijau yang mengelilingi tubuh lawannya, itulah tenaga Ie bok Cin-khie.

"Aaaa..."

Cepat-cepat Auw-yang Ie menjauhkan diri dari uap itu, Hatinya menjadi ciut, itulah ilmu It-bok cin-khie, ilmu kabut hijau, juga merupakan salah satu ilmu mujijat dijaman purbakala.

Auw-yang le harus bertemu dengan kenyataan, jelas dan gamblang bahwa Su-to Yan memiliki ilmu tiga belas jari menguasai alat Pie-pa, Pie-pa-cap-Sa-san-chiu dan cengkeraman Tangan Langit Thian-mo-me-hun-cauw, dua macam ilmu mujizat dari jaman purbakala.

Hal itu sudah cukup menggetarkan, kini dilihat lagi salah Satu dari delapan tipu mujizat lainnya, berapa banyakkah si pemuda dapat meyakinkan ilmu-ilmu mujizat dari jaman purbakala?

Mungkinkah pandai keseluruhannya?

Luar biasa ternyata lawan itu memiliki ilmu-ilmu mukjijat dari jaman purbakala, pasti dia akan merajai dunia persilatan.

Su to Yan menggunakan tipu Kui-Ong Hui San yang berarti Raja Setan Mengipas-ngipas mendesak lawannya.

Auw-yang Ie harus menarik mundur pedang yang telah dikedepankan, ditekan ke bawah dan menjauhi diri.

Meskipun bertangan kosong, dengan disertainya ilmu Kabut Hijau Ie-bak Chin-khie, serangan-serangan Su-to Yan lebih berbahaya dari serangan pedang Auw-yang Ie, ia berhasil mendesak akhli pedang itu.

Kalau bukan Auw-yang Ie yang ditempur si pemuda, musuh itu sudah lama dijatuhkan olehnya.

Harus diketahui, si pedang Utara Auw-yang Ie adalah salah satu dari tiga akhli pedang yang ternama, mudah dibayangkan betapa banyak pengalaman perangnya, menghadapi Su-to Yan yang baru menerjunkan diri didalam rimba persilatan, walaupun memiliki ilmu-ilmu mujizat dari tiga jaman, ia masih sanggup bertahan.

Cin Bwee dan Sie An yang turut menyaksikan pertandingan itu menjadi lega, kemenangan berada di pihak mereka, tanpa mengkhawatirkan keselamatan Su-to Yan, mereka dapat melihat perubahan-perubahan ilmu silat kedua orang itu, dengan pandangan-pandangan yang lebih tajam dan lebih jelas.

100 jurus telah dilewatkan.

Dibawah rangsakannya Su-to Yan, Auw-yang le masih sanggup mempertahankan diri, pedang bengkung dimainkan begitu rupa, sehingga melarang lawannya mendesak meliwati batas.

Su-to Yan melompat ke samping, lagi-lagi mengancam gagang pedang, maksudnya merebut senjata itu dari tangan orang.

Auw-yang le menggeram, ia tidak mundur juga tidak menjauhkan diri, hal itu akan mengakibatkan terdesaknya kebelakang, pedang dimiringkan, menyerang cepat.

Mata Su-to Yan bersinar, itupun suatu kesempatan, cengkeraman tangan menurun ke bawah, dengan suatu gerakan yang aneh luar biasa, menyusul larinya gagang pedang orang.

Auw-yang le semakin gentar, ia mengeluarkan napas dingin, itulah ilmu iblis Sakti Bermain Silat, ilmu khas dari si jago sesat nomor satu Ciok Pok Jiak.

Bagaimana si pemuda dapat mewarisinya?

Tentu saja si Pedang Utara tidak tahu bahwa Su-to Yan adalah murid dari jago sesat luar biasa itu.

Ilmu Iblis sakti bermain silat telah menjatuhkan banyak jago-jago ternama, dimainkan oleh Su-to Yan untuk menyerang Pedang Utara kemanapun musuh pergi, ke kanan dan ke kiri, ke belakang atau ke depan, tubuhnya masih mempunyai waktu untuk membayanginya, pasti ia dapat merebut pedang orang.

Auwyang Ie bingung.

Auwyang Ie tidak habis mengerti, bagaimana Kongsun Giok dapat mengalahkan pemuda kosen ini, sedangkan dirinya tidak sanggup mengalahkannya.

Ia telah menggeretek gigi, dengan besar, Auwyang Ie melepas pedangnya, pemuda.

Dengan demikian, kedua mengerahkan sepasang tangannya, ia kekuatan tenaga kearah pemuda kita.

menempuh suatu bahaya membiarkan direbut oleh si tangannya telah bebas, mendorong nya melempar Su-to Yan terang girang, gagang pedang orang telah menempel pada tangannya, tiba-tiba melihat perubahan, suatu hal yang sungguh diluar dugaan, mengapa Auw-yang Ie melepaskan pedangnya?

Walaupun demikian, ia tidak takut, arah jari tetap mengikuti bayangan gagang pedang, dilain pihak, diapun sudah bersedia mengundurkan diri.

Dua serangan telapak tangan Auw-yang Ie menyusul tiba !

Su-to Yan baru tahu, sampai dimana lihaynya si Pedang Utara, bila diteruskan usaha merebut pedang lawan, setelah berhasil mendapatkannya, ia akan menderita luka, dipukul oleh Pedang Utara yang sudah tiada berpedang itu.

Hal itu tidak diinginkannya, terpaksa dia menarik pulang tangan tadi, meninggalkan senjata yang baru didapat dan memapaki datangnya serangan sepasang telapak tangan Auw -yang le.

Auw-yang Ie berhasil, ia membalikkan telapaknya, menarik pulang serangan, pedangnyapun melayang turun, cepat menyanggahnya lagi, senjata kembali kepada sipemilik.

Setelah itu, angin pukulan Su-to Yan datang, cepat-cepat ia berjumpalitan mundur jauh kebelakang.

Pertempuran telah selesai !

Su-to Yan tidak berhasil merebut pedang orang, ia hanya dapat memaksa si akhli pedang melepaskan senjatanya, hanya beberapa saat, itu pun cukup membuktikan, bahwa ilmu kepandaiannya tidak berada dibawah si Pedang Utara Auw-yang le.

Auw-yang Ie telah meletakkan kedua memandang Su-to Yan dan berkata kepadanya.

kakinya ditanah.

"Ingat baik-baik kejadian hari ini aku akan menuntut balas."

Cepat sekali, si Pedang Utara membalikkan diri, tubuhnya melejit meluncur jauh, meninggalkan Su-to Yan sekalian.

Su-to Yan memenangkan pertandingan itu, ia tidak mengadakan pengejaran Sie An menghampiri kawannya, dengan bangga ia berkata.

"Saudara Su-to, menyaksikan pertempuran tadi, betul-betul aku harus tunduk kepadamu. ilmu kepandaian kita orang hanya dapat menduduki urutan-urutan nama, setelah dibawahmu."

Su-to Yan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia berkata.

"Saudara Sie jangan cepat-cepat memberi pujian, bila bukan karena kesombongan Auwyang Ie yang terlalu memandang rendah, bagaimana aku dapat mengalahkan dirinya?"

Cin Bwee juga turut maju, gadis ini berkata.

"Kulihat, jurus terakhir yang kau gunakan agak mirip dengan ilmu iblis sakti bermain Silat, Mungkinkah salah satu perubahan dari tipu silat ilmu itu?"

"tidak salah, itulah yang dinamakan tipu Mengendalikan manusia dari ilmu silat iblis sakti bersilat."

"Hai... Bila cepat-cepat kau menggunakan ilmu itu, mana mungkin Auw-yang Ie sanggup bertahan sampai ratusan jurus?"

Su-to Yan berpikir sebentar, dan ia menganggukkan kepala, apa yang gadis itu kemukakan memang masuk diakal, sayang ia belum berhasil meyakinkan semua ilmu iblis Sakti bermain silat, bila bukan berada didalam keadaan terpaksa, ia tidak mau sembarang menggunakannya.

"ilmu itu tidak mudah dipelajari."

Ia memberikan keterangan.

"Ada beberapa jurus diantaranya belum dapat ku mainkan baik2, mana berani aku sembarang menggunakannya."

Sie An celingukan, tiba tiba ia berteriak "Eh, kemanakah larinya Go Kit tadi?"

Cin Bwee dan Su-to Yan teringat akan si pedang Dwi guna Go Kit, menggunakan lengahnya semua orang, ia telah melarikan diri.

"Biarlah."

Berkata Su-to Yan.

"Belum diketahui bagaimana maksud tujuan dirinya, mungkinkah ia bernaung dibawah panji kebesaran orang?"

"Huh, tidak perduli demi kepentingan siapa ia bekerja, bila lain kali bersua lagi, biar aku yang menghadapinya."

Berkata Sie An.

"Betul, seharusnya kau yang menimpali nya."

Berkata Cin Bwee.

"Kalian adalah sepasang, sama pendek dan sama gemuknya, Aku heran, mengapa menyerahkan kedudukan bengcu kepada Kong sun Giok, seharusnya dia mengajak kau bekerja sama. Lagi-lagi dia mencemoohkan Sie An yang gemuk pendek. Sie An mendelikan matanya, ia berkata.

"Entah kapan, kau melahirkan seorang anak yang bopengan, itu waktu, kau tidak akan mentertawakan orang lagi?"

"Cis..."

Cin Bwee meludah.

"tidak tahu malu."

Gadis itu membuang muka, Sie An tertawa.

"Ha, ha, ha... Marah lagi? .., Ha, ha ... jangan khawatir, saudaraku ini tidak akan membiarkan kau melahirkan seorang anak yang bopengan, pasti cakap tampan seperti bapaknya."

Sie An menepuk-nepuk pundak Su-to Yan, selembar wajah Cin Bwee semakin merah, Su-to Yan bukan seorang ahli debat, bila meneruskan percakapan itu, pasti dia yang menderita kerugian, lompat naik keatas kuda tunggangannya, ia berkata.

"Mari kita melanjutkan perjalanan."

Mereka kembali ke arah kota.

Berjalan beberapa waktu, di depan mereka terlihat sebuah kereta yang ditarik oleh empat kuda berbulu putih, kusir kereta menutup wajah mereka dengan kerudung kain, sangat menegangkan bulu roma.

Di belakang kereta mewah itu juga terdapat dua pengiring, kuda merekapun berbulu putih, mereka juga mengenakan tutup kerudung muka, tidak mau memperlihatkan wajah aslinya.

Itu waktu, Sie An sedang bercakap-cakap dengan Su-to Yan.

"Tentang ilmu pedang Maya Nada, karena munculnya ilmu pedang itu, tidak sedikit jago-jago rimba persilatan yang menjadi korban. Hasil dari perebutan ilmu pedang, ia jatuh ke dalam tangan Yang Mulia Ie Siauw Hu, itulah kakek tua Ie Han Eng. Yang Mulia Ie Siau Hu banyak menanam budi kepada tokoh-tokoh rimba persilatan, tangannya licin, ilmu kepandaiannya tinggi, budinya luhur, maka semua orang tunduk kepadanya. Setelah mendapatkan ilmu pedang Maya Nada, ia berkata kepada semua orang, bahwa dia tidak akan mempelajari ilmu itu, juga tidak menerima murid, tidak menurunkan ilmu pedang mukjijat, termasuk anak keturunannya dan cucu keturunannya, ia melarang mereka mengutip ilmu itu. Rimba persilatan tenang untuk puluhan tahun. Kini kau muncul di antara persengketaan itu, kukira dunia akan bergolak lagi."

Hati Su-to Yan seperti jatuh tenggelam ke suatu tempat yang dalam, mungkinkah hal itu dapat terjadi?

Mengapa dunia bergolak?

Begitu pentingkah ilmu pedang Maya Nada sehingga dapat memerahkan mata semua orang ?

Cin Bwee lebih memperhatikan keadaan ia melihat kedatangannya dua penunggang kuda berkerudung arah tujuannya semakin mendekati nya.

"Awas!"

Ia memberi peringatan "Ada orang yang menuju kemari."

Su-to Yan bersikap sangat tenang, beberapa banyakpun orang yang datang, hal itu tidak akan mengganggu dirinya.

Sie An tertawa, dia gemar kepada keramaian, datangnya orangorang yang dapat dijadikan lawan latihan mengadu kekuatan memang sedang diharapkan, dengan tertawa riang, si gemuk pendek berkata.

"Masing-masing seorang, bagaimana ?"

Tiga lawan tiga !

ia meminta pendapat Su-to Yan.

Maksud nya mendemontrasikan ilmu kepandaian mereka, masing-masing mereka harus menangkap seorang siapa yang lebih cepat, orang itu akan keluar sebagai juara pemenang, Sie An mengadakan tantangan.

Su-to Yan tertawa.

"Tunggu sebentar lagi, Betulkah mereka bermaksud tujuan kepada kita bertiga?"

Ia memberi usul.

"la tidak mau diganggu, juga tidak mau usil mengganggu orang, Bila dugaan itu betul, itu waktu kita bergerak."

"Baik,"

Sie An setuju.

Dua penunggang kuda bulu putih itu sudah mendekati mereka, wajahnya tertutup oleh selaput kain, tidak terlihat jelas, bagaimana wajah dibalik tutup kerudung itu, hanya terlihat mata-mata mereka yang bersinar terang, kain kerudung dibagian mata dilubangi, memudahkan untuk melihat orang.

tidak dapat disangsikan lagi, mereka bertujuan kepada Su-to Yan.

Beberapa tapak dari jarak yang mereka tentukan Sie An berteriak.

"Hayo, mari kita serbu, seorang satu."

Membarengi kata-katanya, Sie An telah mengenjot tubuhnya, menerkam kearah seorang aneh yang berada disebelah kiri.

Su-to Yan tidak tinggal diam ia menyerbu kearah orang yang berada disebelah kanan.

Cin Bwee mendapat sisa mereka.

Gerakan Su-to Yan hanya terlambat satu detik dari kawannya, tapi ia tiba lebih dahulu, tangannya terjulur, mengkait leher baju si penunggang kuda berkerudung.

Dikala jarinya hampir mengenai sasaran, hidung Su-to Yan yang lihay dapat mengendus sesuatu yang aneh, kepalanya agak pusing.

"Celaka!"

Ia mengeluh. Cepat-cepat membatalkan serangan, menarik diri jauh-jauh. Su-to Yan melirik kearah Sie An, terlihat kawan itu sudah jatuh menggeletak, lawan mereka menggunakan racun. Dia berteriak.

"Awas! Musuh menggunakan gas racun!"

Cin Bwee yang hendak menggusur kusir kereta menarik diri, dia lebih tahu bahaya, maka sangat berhati-hati.

Tubuh Sie An sudah jatuh menggeletak Su-to Yan juga mengendus semacam bau harum, cepat cepat ia menutup jalan pernapasannya.

Dua penunggang berkerudung berpisah, mereka mengancam Suto Yan, maksudnya hendak menangkap pemuda itu.

Su-to Yan telah menutup jalan pernapasan, obat bius tidak mengganggu ketenangan pikirannya, dengan menggunakan ilmu cengkraman Maut Thian-mo-nie-hu-cauw, dengan satu tangan satu, ia menyengkelit kedua orang itu.

Cin Bwee turut memburu datang, orang-orang berkerudung tidak berhasil membius Su-to Yan, untuk melawan si jago pedang Baru, tentu tidak mungkin.

Mereka bersuit, melarikan diri !

Karena iapun menggelinding cepat, Su-to Yan dan Cin Bwee memeriksa keadaan Sie An, sipendek merapatkan kedua matanya, telah diusahakan untuk menyadarkan kawan itu, mereka tidak berhasil.

Su-to Yan menengok kearah kereta.

Sudah jauh, memasuki kota.

Terdengarlah teriakan Cin Bwee.

"Celaka, Sie toako keracunan, Lekas kau kejar mereka, meminta obat pemunahnya."

Su-to Yan ragu-ragu, memandang Cin Bwee sebentar, dan berkata kepada gadis itu.

"Baik-baik kau menjaga Sie toako, aku hendak mengejar mereka."

Su-to Yan mengejar orang-orang berkerudung, dia tidak takut kehilangan jejak mereka, waktu itu sudah agak gelap, orang-orang yang berjalan sangat sedikit, masih terlihat bayangannya kereta aneh itu, dia meluncur diantara jalan-jalan kecil.

Menikung disuatu persimpangan jalan, Su-to Yan kehilangan jejak kereta yang dikejar!

Hatinya sangat gelisah, bila tidak cepatcepat mendapatkan obat penawar racun, keadaan Sie An sangat membahayakan jiwa jago itu.

Dia membikin pemeriksaan yang lebih teliti, kini sudah berdiri didepan sebuah pintu besar yang dicat merah, itulah pekarangan suatu bangunan yang agak besar.

Keadaan bangunan itu sangat sepi dan sunyi, diduga keras bahwa kereta misterius yang dikejar telah berada didalam bangunan megah ini.

Su-to Yan berpikir.

"Mungkinkah kereta itu masuk kedalam rumah ?"

Mengingat waktu yang sangat mendesak, memikir keadaan luka Sie An yang harus cepat-cepat mendapat pengobatan, tanpa memberi tahu atau mengetuk pintu lagi, Su-to Yan lompat ke atas tembok dari bangunan rumah itu.

"Hut ...Hut..."

Dua bayangan saling susul menyusul datangnya pemuda itu.

Kecepatannya tidak dapat dilukiskan dengan pena.

Su-to Yan telah siap, dengan tipu Cui-pie-chiu, dia menolak dua serangan tadi.

Terdengar gedebruknya benda keras, dua tubuh orang yang menyerang dirinya telah dibanting jatuh.

Matanya memandang keadaan pekarangan depan dari bangunan itu, kereta yang sedang dikejar telah berhenti dipojok, tidak, salah masuk, Hatinya menjadi lega.

Empat orang berbaju hitam telah mengurung Su-to Yan.

Si pemuda meletakan.

kakinya ditanah, memberi hormat kepada mereka dan berkata.

"Majikan kalian ada dirumah ?"

Empat orang berbaju hitam menyerang semakin gencar, dua kawan mereka telah dilukai inilah sakit hati, mereka hendak menuntut ganti rugi, dan langkah pertama harus menjatuhkan lawannya.

Su-to Yan menangkis beberapa kali, dia harus lebih berhati-hati.

Karena yang hendak ditemukan berada dalam pekarangan rumah itu, hal ini bukan berarti ia harus bermusuhan dengan tuan rumah, besar kemungkinan salah seorang tamu dan penghuni rumah itu.

Agar tidak menanam banyak permusuhan, ia berteriak lagi.

"Dimanakah tuan rumah ?"

Orang berbaju hitam tidak memberi jawaban, muncul lagi enam orang, jumlah mereka tepat angka sepuluh dan semua mengurung sipemuda.

Su-to Yan tidak gentar, bila ia mau, dengan beberapa jurus, ia dapat membunuh atau melukai orang-orang itu.

Tapi ia cukup sabar.

Bukanlah suatu langkah bijaksana untuk mengembangkan pembunuhan-pembunuhan atau menjalankan ilmu silat sendiri.

"Hei, siapakah yang menjadi tuan rumah?"

Ia mengulang pertanyaannya.

Jumlah orang-orang berbaju hitam semakin besar, satu persatu bermunculan di pekarangan yang memang cukup luas untuk di gunakan sebagai medan pertempuran, satu persatu mencampurkan diri mereka kedalam gelanggang!

Su-to Yan melayani keroyokan orang berbaju hitam.

Merangsek mereka, setapak demi setapak, ia melangkahkan kaki ke tanah bagian dalam.

tidak seorang pun yang dapat menghadang perjalanannya.

Tangannya di rentangkan, dengan tipu silat dari jaman purbakala yang sudah hampir di lupakan orang, dengan Tiga Belas jari Mengkuasai Alat Pie-pa, Pie-pa-cap sa-san-chiu, dia mengirim beberapa kaitan, di dalam sekejap mata sembilan orang berbaju hitam telah di terbangkan.

"Hut....Hut...!"

Dua kali pukul lagi, dia bisa mengusir semua orang.

Kakinya di ayun, hendak masak ke dalam ruang tengah rumah itu.

Terdengar satu suara yang tertawa gelak-gelak, di susul oleh munculnya satu bayangan tinggi besar, meluncur dan memapaki kehadiran nya Su-to Yan.

Mereka mengadu tangan.

Hasil dari perpaduan itu sangat mengejutkan Su-to Yan, juga mengherankan orang tua yang bersangkutan, dia adalah orang tinggi besar itu.

Untuk pertama kalinya dia menjumpai jago muda yang mempunyai kekuatan tidak muda.

Su-to Yan menduga kepada tuan rumah ia berteriak.

"Cianpwee yang menguasai rumah ini?"

Orang tua tinggi besar itu tertawa bergelak-gelak.

"Ha...ha...!"

Ia membuka suara.

"Ingin berjumpa dengan orang yang berkuasa di dalam rumah ini?"

"Betul !"

"Untuk berjumpa dengannya, kau harus menjatuhkan aku lebih dahulu,"

Berkata orang tua itu. Dia mengenakan pakaian warna hijau.

"Siapa kau?"

Bertanya Su-to Yan.

"Aku adalah Cang-leng Bangsat,"

Berkata orang itu.

"Kepala keamanan dari tuan rumah ini."

Su-to Yan menjadi gentar, seorang penjaga pintu mempunyai tenaga latihan yang seperti Cang-leng Bang-Sat?

Sampai dimanakah ilmu kepandaian tuan rumah?

siapakah jago silat itu?

Dia memperhatikan wajah orang tua itu.

tidak ada keistimewaannya, wajah itu penuh jembros, hidungnya bengkung, matanya besar, pelipisnya cekung kedalam, menandakan betapa tinggi tenaganya.

"Cang-leng Bang-Sat berkata.

"Bagaimana? Kau hendak bertemu dengan majikanku?"

Su-to Yan menganggukkan kepala.

"Tolong beritahu kedatanganku,"

Ia berkata.

"Ha, ha,.,."

Cang-leng Bangsat berkata.

"Sudah kukatakan, hendak bertemu dengannya, Kau diwajibkan mengalahkan aku. Orang dusun yang tidak berkepandaian dilarang mengganggu ketenangannya."

Su-to Yan marah besar, dia dicemohkan sebagai orang dusun yang tidak berkepandaian?

Hmm!

Siburuk ini belum tahu ilmu kepandaiannya.

Bila ia mau, begitu pedang baru keluar dari sarungnya, mana mungkin sicongkak mengelakkan kematian?

Dia tersenyum-senyum.

"Baik, Aku segera menyerangmu. Sudah bersediakah menerima serangan?"

Su-to Yan hendak memberi hajaran kepada orang ini.

"Selalu."

Cang-leng Bangsat menantang, Tanpa banyak rewel, Su-to Yan membuka serangannya dengan satu lompatan kesamping,tangannya menyodok perut.

Cang-leng Bangsat bukan manusia lemah, dia juga menangkis sambil menotok jalan darah Ki-bun-hiat.

Su-to Yan menggunakan cengkeraman maut Thian-mo-nie-huncauw, yang mana ditangkis oleh satu lompatan jauh oleh orang itu.

Maksud si pemuda hendak mengejar, dan terkilas bayangan Sie An yang terluka, ia harus memburu waktu, menggunakan kesempatan ini, dia menerjang masuk kedalam ruang tengah dari rumah besar itu.

Cang-leng Bang-Sat kaget, dengan mengeluarkan suara teriakan, ia memukul punggung Su-to Yan.

Su-to Yan sudah siap siaga, tanpa menengok lagi, sepasang tangan dikibaskan kebelakang, menangkis serangan itu, Dengan cara ini ia menambah kelajuan dirinya.

Dia sudah berada diruangan tamu, disana berkumpul banyak orang, semua mata ditujukan dan diarahkan kepadanya.

Orang yang msngepalai orang-orang ini adalah seorang gadis cantik, berpakaian hijau, dia sedang mengadakan rapat, munculnya Su-to Yan juga mengejutkannya.

Siapakah gadis itu?

Dia adalah sipedang Emas Jie Ceng Peng!

Pertemuan dengan Jie Ceng Peng sangat mengejutkan Su-to Yan.

Ternyata orang yang memiliki gedung besar adalah sinona Thian-lam Lo sat?

inilah salah satu markas dari golongan mereka.

Jie Ceng Peng pernah menanam budi kepada dirinya, bagaimana ia dapat menempurnya?

Dikala Su-to Yan memandang Jie Ceng Peng gadis yang bersangkutanpun memandang pemuda itu, dengan memberikan suatu kerlingan mata yang menarik, dia berkata.

"Ooo. Su-to kongcu yang datang? Ada urusan apa?"

Su-to Yan sedang mengenangkan kejadian diatas sungai Tiangkang, bila tidak ada pertolongan sigadis ini, dia telah menjadi mayat terapung diatas permukaan sungai.

Mendapat teguran tadi, cepat cepat ia berkata.

"Maaf, nona Jie, bila kedatanganku mengganggu rapat kalian."

"tidak mengapa."

Berkata Jie Ceng Peng.

"Ada urusan apa? Katakanlah saja."

"Terus terang, aku hendak meminta obat pemunah racun."

"Untuk siapa, kongcu?"

"Untuk seorang Sahabat, dia mendapat serangan racun anak buahmu."

"Ada kejadian itu?"

"Bertanyalah kepada mereka yang ada didepan."

Berkata Su-to Yan, Jie Ceng Peng memanggil seorang berbaju hitam, mereka berkasak kusuk sekian lama, dan Sinona memberi perintah kepada orang itu untuk mengadakan penyelidikan.

tidak lama, orang itu balik kembali, dia memberi laporan kepada sang majikan.

Jie Ceng Peng menganggukkan kepala, Dia memandang Su-to Yan.

"Maaf, Su-to kongcu."

Berkata si gadis yang menunjukkan sikapnya yang sangat ramah wajahnya semakin manis.

"Mereka telah berani berlaku kurang ajar, akan kuberikan hukuman yang setimpal, Obat penawar racun akan kuberikan kepadamu."

Su-to Yan cepat mengucapkan terima kasihnya.

"Tunggu dulu."

Berkata Jie Ceng Peng.

"Aku bersedia memberikan obat itu. Disini masih banyak cianpwee-cianpwee yang mempunyai tingkat derajat diatasku, mungkin mereka tidak puas, Beginilah kuatur, akan kulayangkan obat itu kepadamu, bagi mereka yang tidak puas diperbolehkan merebutnya, bila kau berkelit menghindari rebutan itu, obat boleh kau bahwa pergi. Sebaliknya, bila kau tidak berhasil menyanggah obat, sehingga direbut oleh orang, Akupun tidak berdaya."

Su-to Yan menganggukkan kepala, dia menyetujui usul itu.

Jie Ceng Peng telah mengeluarkan obat yang diminta oleh Su-to Yan.

Dia sudah bersiap-siap untuk melontarkannya.

Tiba-tiba masuk seseorang, dia adalah Cin Bwee, diatas punggungnya tergembol seorang, itulah si pendekar pedang Bayangan Sie An.

Sie An masih belum sadarkan diri, keadaannya tidak mengalami perubahan.

Jie Ceng Peng mengkerutkan alis, dia marah kepada penjagaanpenjagaan anak buahnya yang dianggap kurang ketat.

membiarkan lawan memasuki ruang siang.

Su-to Yan memandang Cin Bwee.

"Eh, bagaimana kau berhasil menyusul aku sampai di tempat ini?"

Ia heran. Cin Bwee melihat Situasi ditempat itu, hadirnya Jie Ceng Peng sangat menjengkelkan dirinya, ditegur oleh sang kawan, ia semakin bersungut-sungut.

"Bagaimana kau berhasil menyusulnya sampai ditempat ini?"

Ia menggunakan kata-kata orang mengulang pertanyaannya, Sangkanya, Su-to Yan mengintil dibelakang Jie Ceng Peng, Melupakan pengambilan obat penawar racun.

Su-to Yan tersengit.

Cin Bwee telah salah mengerti.

Dia wajib memberi penjelasan.

"Aku hendak meminta obat penawar racun, jangan kau memikir yang bukan-bukan."

Ia berkata.

"Huh! Siapa yang memikir yang bukan-bukan?"

Cin Bwee menjebikan bibirnya. Kemudian, dia menyodorkan tangan kearah Jie Ceng Peng.

"Hei,kita orang datang untuk meminta obat penawar racun,"

Ia berkata tanpa tedeng laing-laing lagi. Jis Ceng peng berkata.

"Bertanyalah kepada dia, adakah aku menolak permintaannya ?"

Dia menunjuk kearah Su-to Yan. Sipemuda semakin canggung, Untuk menghindari diri dari ketidak serasian itu, cepat-cepat Su-to Yan berkata.

"Serahkanlah obat itu."

Jie Ceng Peng mengacungkan obatnya, suatu tanda bahwa dia tidak mempunyai hati untuk mempersulit Su-to Yan.

"Nah, bersiap-siaplah."

Su-to Yan telah bersiap-siap.

Seorang hweshio yang duduk dipojok ruangan bangkit berdiri, dia hendak menguji kecepatan tangan Su-to Yan.

Dikala obat itu dilemparkan, dia hendak merebutnya.

Jie Ceng Peng melemparkan obat, sangat perlahan sekali.

Su-to Yan sudah menyedot napas dalam-dalam dia menyerobot obat tersebut.

Hweeshio berjubah kuning itu turut bergerak.

Mereka bertemu ditengah jalan, Su-to Yan tidak berani lengah, adanya gangguan telah di perhitungkan lebih dulu, ilmu Kabut Hijau It-bok-cin-khie menjaga diri dan dengan cengkeraman Maut Thianmo-nie-hun-caw, dia hendak mencakar tangan hweeshio itu.

Hweeshio berjubah kuning bernama Kim Pun Ceng, dia bermukim di gunung Thian-tay-san namanya pernah menggemparkan rimba persilatan itulah kejadian yang telah berselang dua-puluh tahun, Kini dia menampilkan dirinya kembali.

Kim Pun Ceng tidak puas kepada sikap Jie Ceng Peng yang dianggap terlalu merendahkan gengsi Thian-lam Lo-sat, maka dia menampilkan diri.

Maksudnya hendak merebut mengangkat naik derajatnya.

obat itu, maka dia dapat Kabut hijau Su-to Yan sangat mengejutkan, lebih-lebih serangan cengkeraman Maut Thian-mo-nie-hun-cauw, dari dua ilmu yang di perlihatkan oleh lawannya, dia tidak boleh mendekati tempattempat disekitar obat itu, cepat-cepat Kim Pun Ceng menarik diri.

Su-to Yan meraih obat.

Kim Pun Ceng gagal dengan rencana pertama, disusul dengan rencananya yang kedua, dia menyedot hawa, dan menghembuskannya keras, kedua tangan didorong kedepan, membawa angin-angin itu, memukul ke arah obat, maksudnya membuyarkan harapan Su-to Yan untuk memiliki obat, dengan pukulan angin kosong, dia hendak memberantakannya.

Mata Su-to Yan berkilat-kilat, dia tidak akan membiarkan obat dipukul hancur oleh kekuatan Kim Pun Ceng, tangan kirinya dijulurkan kesamping, cepat dan gesit, seolah belut bermain dilumpur,, badannya merendah ke bawah dan dari situ mumbul cepat, memotong tangan Kim Pun Ceng.

Wajah Kim Pun Ceng berubah, itulah ilmu tipu Pendekar Silat Raja Sesat Ciok Pek Jiak, Bagaimana berpindah kepada anak muda yang berada dihadapannya?

Bila ia tidak menarik ke dua tangan, pasti akan menderita cacad.

Cepat-cepat Kim Pun Ceng membatalkan serangan, tubuhnya mundur jauh.

Su-to Yan berhasil mendapatkan obat penawar racun, ia mengundurkan diri, takut diserang oleh orang lainnya.

Kim Pun Ceng mendelikkan mata, dia membentak.

"Hei, bagaimana hubunganmu dengan Ciok Pek Jiak?"

Su to Yan telah berhasil mendapatkan obat penawar racun, dia tidak menghiraukan bentakan Kim Pun Ceng, tugasnya menolong Sie An, dan tangan membawa obat itu, dia menerima Sie An dari tangan Cin Bwee.

Kemudian memandang Jie Ceng Peng dan bertanya.

"Bagaimana cara-cara penggunaan obat ini?"

"Pasang didepan hidungnya, dia segera sembuh."

Berkata gadis itu.

Mengikuti petunjuk si pedang Emas Jie Ceng Peng, Su-to Yan berhasil menyadarkan Sie An.

Setelah itu, dia bangkit kembali.

Kim Pun Ceng belum mendapatkan jawaban, untuk menghilangkan keragu-raguannya, sekali lagi ia membentak.

"Hei, bagaimana hubunganmu dengan Ciok Pek Jiak?"

Su-to Yan belum sempat menjawab Jie Ceng Peng sudah memberi perintah.

"Antar rombongan Su-to kongcu keluar."

Su-to Yan memberi hormat.

"Budi nona Jie tidak akan kami lupakan."

Sie An baru siuman dari nyenyak tidurnya, mendengar disebutnya nama nona Jie itu, dia segera teringat kepada si Pedang Emas Jie Ceng dari golongan Thian lam Lo-sat, ternyata dirinya hampir jatuh kedalam tangan orang-orang dari golongan itu, dia sangat marah sekali.

Su-to Yan mengajak Cin Bwee dan Sie An untuk meninggalkan ruangan itu.

Cin Bwee sudah siap meninggalkan ruangan, semakin cepat, semakin aman baginya untuk menjaga Su-to Yan dari rebutan Jie Ceng Peng.

Tiba-tiba Sie An berteriak.

"Tunggu dulu."

Su-to Yan memandang sang kawan, kemudian menoleh kearah Cin Bwee.

Cin Bwee berakal panjang, segera dapat menduga, keonaran apa yang hendak dilakukan oleh si gemuk pendek, dia lebih senang keramaian pada ketentraman apa lagi keonaran yang hendak dilakukan oleh Sie An kepada Jie Cie Peng, pertanyaan mata Su-to Yan dijawab dengan satu senyuman.

Su-to Yan memandang kearah Sie An.

"Ada apa?"

Dia bertanya. Sie An memberikan penyahutan yang berada diluar dugaan Su-to Yan. Katanya.

"Aku Sie An belum mengucapkan terima kasih kepada nona Jie, bagaimana harus pergi begitu saja ?"

Jie Ceng Peng sedang berpikir-pikir, siapakah manusia gemuk ini?

Mendengar Sie An menyebut nama sendiri, gadis itupun terkejut.

Seperti inilah si Pedang Bayangan Sie An?

Dia menunjukkan sikapnya yang agung, dia adalah pemimpin dari jago-jago yang berada ditempat itu, sudah wajib mempertahankan keagungannya.

"Ada sesuatu yang membingungkan Sie tayhiap?"

Ia bertanya. Sis An menganggukkan kepalanya.

"Kecuali mengucapkan terima kasih, ada sesuatu yang hendak kutanyakan kepadamu."

Dia berkata.

"Apakah persoalan yang Sie tayhiap hendak ajukan ?"

"Persoalan yang menyangkut dengan pedang In-liong."

"Pedang In-liong ?"

"Ng ..,Pedang In-liong yang kau ambil dari tangan saudara Suto Yan."

Alis mata Jie Ceng Peng berjengkit, dia berkata.

"Urusan padang In-liong adalah urusan Su-to kongcu dengan urusanku, ada hubungan apa dengan urusanmu ?"

Sungguh aneh dengan alasan apa si Pedang Bayangan Sie An mengadakan gugatan soal pedang In-liong ? Jie Ceng Peng tidak puas. Sie An berdengus, dia berkata.

"Hm, apa kau kira pedangku tidak cukup tajam untuk bertanding ?"

Sie An mulai menantang blak-blakan.

"Bagus."

Berkata Jie Ceng Peng.

"Berani kau memandang rendah golongan kami, kau kira Thian-lam Lo-sat sudah kehabisan orang? tidak ada yang dapat menandingimu ?"

Sie An tertawa terbahak-bahak, Dia mengeluarkan pedangnya.

"Aku Sie An sedang bersiap-siap untuk menerima tantangan para jago dari golongan Thian-lam Lo-sat."

Sie An penasaran, masakan dia ditaburkan racun, hanya satu gebrak, dia dikalahkan orang, bila bukan Su-to Yan yang meminta obat anti racun itu, bagaimana ia meneruskan usahanya yang hendak menampilkan diri?

Kemarahan itu dijatuhkan kepada Jie Ceng Peng.

Jie Ceng Peng pernah dengar nama si Pedang Bayangan Sie An dari daerah Tiang-pek, itulah jago pedang yang tidak boleh dipandang ringan.

Didalam ruangan itu, kecuali dirinya mungkin tidak ada orang kedua yang sanggup menundukkan si manusia pendek.

Haruskah dia turun tangan sendiri?

inilah yang meragu-ragukan dirinya.

Kim Pun Ceng menampilkan diri.

"Nona Jie. biar aku yang menghadapinya."

Dia meminta ijin.

Jie Ceng Pang menjatuhkan pilihannya kepada Kim Pun Ceng, dia sedang berpikir-pikir, bagaimana meminta hweshio itu mewakili dirinya, memberi hajaran kepada Sie An.

Disaat itu juga Kim Pun Ceng meminta tanda tempur, Jie Ceng Peng menganggukkan kepala.

"Berhati-hatilah menghadapinya,"

Ia memberi peringatan Kim Pun Ceng menghadapi Sie An.

"Biar kedua telapak tanganku yang melayani kau bermain-main untuk beberapa jurus."

Dia berkata. Sie An mengeluarkan suara bentakan.

"Sebutkan namamu."

"Kim Pun Ceng dari Ngo-tay-san."

Wajah Sie An berubah, nama Kim Pun Ceng pernah menggemparkan rimba persilatan walau telah berselang sampai dua puluh tahun, nama itu masih disebut oleh beberapa orang.

Kalau ia harus berhadapan muka dengan orang tersebut, bagaimana tidak terkejut.

Kim Pun Ceng tertawa terkekeh-kekeh.

"Bagaimana?"

Ia menantang.

"Masih hendak bertanding ?"

Kemarahan Sie An mengalahkan tekanan nama seram hweesio itu, matanya liar kembali, diapun bukan manusia tanpa nama, siapakah yang tidak tahu kepada pedang Bayangan Sie An? "Ha, ha, ha,.,"

Sie An tertawa.

"Nama Kim pun Ceng pernah menciutkan hati orang. Kejadian itu telah terjadi dua puluh tahun yang lalu, bukan hari ini. Generasi muda telah menggantikan semua kedudukan generasi tua, sudah waktunya kau mendapat apel pensiunan, hari ini sudah bukan jamanmu lagi, berlakulah tahu diri, Ha ha, ha..."

Cin Bwee turut berteriak.

"Lawan Sie toako, kami berdua tidak akan tinggal diam, dua Kim Pun Ceng lagi boleh mereka tampilkan."

Su-to Yan mendelikkan mata, dia menatap sang kawan yang sering usil.

Seolah-olah tidak melihat larangan itu, Cin Bwee memandang kelain tempat.

Kim Pun Ceng tidak dapat menahan kemarahannya, tanpa bicara dan mengayun tangan, mengirim delapan kali pukulan.

Sie An melompat kesamping, dia masih mengejek.

"He, he he... Kemanakah senjata mangkuk emas ?"

Delapan kali ia menghindari pukulan-pukulan Kim Pun Ceng.

Nama Kim Pun Ceng berarti padri mangkuk Emas, hal itu disebabkan oleh Senjata si-hweesio yang tidak lepas dari sebuah mangkuk Emas, mangkuk tersebut sering digunakan sebagai tempat untuk sedekah, juga dapat digunakan sebagai senjata, demikianlah asal mulanya nama Kim Pun Ceng.

Sie An mendapat gelaran Pendekar Pedang Bayangan, mudah diduga, betapa lihaynya ilmu meringankan tubuhnya, bila ia tidak dapat mengelakkan serangan tangan kosong, apa guna ia menampilkan diri didaerah Tionggoan?

Kim Pun Ceng terlalu percaya kepada kepandaian diri sendiri.

inilah kecongkakkan, kecongkakkan seseorang akan mengakibatkan kegagalan demikian juga keadaan Kim Pun Ceng, namanya pernah menggemparkan rimba persilatan anggapnya dunia ini tidak berputar, tetap seperti sedia kala, dia mendapat nama, tidak ada orang yang baru menggantikan kedudukannya, kekalahannya dibawah Su-to Yan belum memelekkan matanya, dia belum sadar akan kesalahan itu, masih membawakan sikapnya yang sok agung, melawan Sie An dengan tangan kosong.

Menyusul delapan kali pukulan-pukulannya, dia maju lagi, mengirim sembilan jotosan-jotosan, lebih cepat dan lebih keras, lebih banyak mengandung parubahan-perubahan tipu silat luar biasa.

Sie An hendak mempermainkan orang, sengaja memperolokolok, maka keseimbangan kondisi Kim Pun Ceng terganggu, bila pikiran seseorang yang terganggu, dia lebih mudah terkalahkan.

Pedang Sie An dilayangkan, melayani sembilan jotosan.

Kim Pun Ceng sadar dari kesalahannya, setelah hawa dingin pedang Sie An melayang-layang dikanan dan kirinya, diatas dan dibawah kakinya.

Didalam sekejap mata, sembilan jotosannyapun telah dilontarkan semua, kini dia berada dipihak yang terdesak, Tangan merogoh saku, hendak mengeluarkan mangkuk Emas.

Karena itu, Sie An mendapat kesempatan, pedang kekelewangan, mengirim empat tebasan.

Kim Pun Ceng tidak mempunyai kelebihan tangan, terpaksa lari jauh kebelakang, melesat mundur.

Sie An tidak mengejar, dia tertawa tergelak-gelak.

"Ha, ha, ha, ha..."

Disaat yang sama, Kim Pun Ceng telah mengeluarkan senjatanya, itulah mangkuk emas, dengan membawa desiran suara yang mengaum-ngaum, dia menerjang datang.

Sie An menangkis burung pedang.

Traannggg...

Dua macam senjata beradu, mereka saling melotot.

Lagi-lagi Kim pun Ceng menggeram, dikedepankan menelungkup kepala lawan.

mangkuk emas Sie An meninggikan pedang.

Trangg...

Lagi-lagi mereka mengadu kekuatan, tidak seorangpun dari mereka yang mundur kebelakang, sama kuat!

Tangan Sie An agak kesemutan, tiga kali lagi mangkuk emas memukul kearahnya, pasti dia tidak sanggup bertahan.

Kim Pun Ceng mempunyai perasaan yang sama, tenaganya telah dikerahkan penuh.

sangat lelah, tidak sanggup untuk mengirim tiga pukulan mangkok Emas lagi.

Mereka saling menunggu reaksi lawan.

Sie An dapat menduga kekuatan lawan itu, dia menantang.

"Masih ingin mengadakan adu pukulan?"

Kim Pun Ceng berdengus.

"Mangapa tidak ?"

Dia sudah bersiap-siap. Jie Peng Ceng pertempuran. mengulapkan tangan, dia menghentikan "Tahan!"

Suara sigadis bergema sehingga seluruh ruangan, sangat agung sekali. Kemudian memandang Sie An, mengeluarkan pedang In-liong, dimainkannya sebentar dan menantang si pendekar pedang Bayangan.

"Sie tayhiap, dengan kekuatanmu disaat ini, masih sanggupkah merebut pedang dari tanganku?"

Sie An berusaha untuk menggerakkan bibirnya, bagaimana ia dapat membuka mulut, sedangkan kekuatannya sudah tiada?

Si Pendekar pedang Emas Jie Ceng Peng adalah jago Thian-lam Lo-Sat, ilmu kepandaiannya berada diatas Kim Pun Ceng, dapatkah dia memenangkannya?

Gugatan pedang In-liong segera berakhir sampai di disitu.

Jie Ceng Peng tersenyum, dia berkata.

"Kukira Su-to kongcu berat kepada pedangnya, maka dia mengutus kau mengadakan gugatan? Baiklah !"

Dan dia berpaling kearah Su-to Yan.

"Su-to kongcu."

Suara Jie Ceng sangat merdu.

"Aku Jie Ceng Peng tidak ada niatan untuk mengangkangi milik orang, apa lagi benda-benda kesayanganmu ambillah."

Pedang In-liong disodorkan kedepan.

Su-to Yan sedang memikir-mikir, apa yang terkandung didalam arti kata-kata Jie Ceng Peng tadi?

Dia belum dapat menebaknya, Bingung di tempat, dan tidak menyambut pedang itu.

Jie Ceng Peng berkata lagi.

"Terimalah. Kuharap Su-to kongcu tidak melupakan, bahwa padang In-liong didapat kembali atas kebijaksanaan Jie Ceng Peng."

Su-to Yan menyambuti pedang itu.

"Terima kasih."

Sahutnya hampir tidak terdengar. Cin Bwee menjebikan bibir, Sie An membelalakan mata. Jie Ceng Peng berkata lagi.

"Berhati-hatilah menjaga pedang In-liong, dia menyangkut erat dengan ilmu pedang Maya Nada, Banyak orang yang mengintil di belakangnya."

Sekali lagi Su-to Yan mengucapkan terima kasih.

Mengajak Cin Bwee dan Sie An, mereka meninggalkan gedung Thian-lam Lo-Sat.

Jie Ceng Peng telah memberi perintah kepada orangnya, agar tidak mengganggu ketiga tamu itu.

Su-to Yan keluar tanpa gangguan.

Pedang In-liong telah didapatkan kembali, itulah jasa Sie An yang berani mengadakan gugatan, itulah budi Jie Ceng Peng yang ingin menarik simpatik Su-to Yan.

Su-to Yan, Cin Bwee dan Sie An melakukan perjalanan.

Masingmasing memikirkan kejadian yang belum lama mereka alami.

Su-to Yan berterima kasih kepada Jie Ceng Peng, pedang In-liong telah dikembalikan kepada dirinya, suatu kejadian yang tidak pernah diimpikan sama sekali.

Bila menggunakan kecerdikan otak dan menggunakan ilmu kepandaian silat, tidak mungkin dia dapat merebut pedang, barang yang sudah berada ditangan si gadis yang lihay.

Sie An tidak mengerti kepada sikap yang dibawakan Jie Ceng Peng, dengan alasan apa, jago Thian-lam Lo-Sat itu mengabulkan gugatannya?

Mungkinkah takut kepada nama pendekar pedang Bayangan?

Hal ini tidak mungkin terjadi.

Cin Bwee cemburu dan benci kepada Jie Ceng Peng, didalam biang apapun, dia tidak dapat menandingi saingan itu, bagaimana harus merebut hati Su-to Yan?

Suatu ketika, Su-to Yan menengok ke arah kawan itu, melihat wajah Cin Bwee yang tidak bercahaya, dan maklum akan kemurungan hati si gadis.

Untuk memberi hiburan, Su-to Yan berkata.

"Seharusnya kau bergembira, karena aku berhasil mendapatkan pedang In-liong kembali, mengapa membawakan sikap seperti itu?"

"Hmm, tentu saja kau gembira."

Berkata Cin Bwee. Su-to Yan seperti disiram oleh air dingin.

"lnilah kegembiraan kita bersama."

Ia berkata.

"Siapa yang kau maksudkan dengan kita itu? Kau, Jie Ceng Peng dan Ie Han Eng?" -ooo0dw0ooo-

Jilid 5 CIN BWEE mengucek-ngucek matanya, Dia menangis, melarikan diri kedepan, meninggalkan Su-to Yan dan Sie An.

Gadis itu sedih mengenangkan nasib dirinya, ilmu kepandaian-nya berada dibawah Jie Ceng Peng, kecantikannya berada dibawah Jie Ceng Peng, kepintaran dan kecerdasan otaknyapun berada dibawah Jie Ceng Peng, mana mungkin Su-to Yan cinta kepadanya?

Cin Bwee lari masuk kedalam rimba, meninggalkan dua kawannya.

Su-to Yan dan Sie An saling pandang.

"Hei..."

Su-to Yan berteriak.

Tapi bayangan Cin Bwee sudah lenyap dari pandangan mata.

Sie An menyengir-nyengir.

Berunding sebentar, Su-to Yan dan Sie An mengejar gadis itu.

Kecepatan Cin Bwee sangat luar biasa, dia bergerak lebih dahulu.

tentu saja dapat meninggalkan kedua orang itu.

Apalagi memasuki daerah rimba, Su-to Yan tidak berhasil mengejarnya.

Su-to Yan terpekur dibawah pohon besar.

Sie An menepuk pundak kawan itu.

"Saudara Su-to,"

Ia berkata.

"Mengapa bengong seperti orang sakit ingatan ? Ha-ha-ha... sebagai laki-laki, kita tidak perlu takut kehilangan kawan wanita, Mengapa memikirkan yang bukan-bukan ? Hilang Satu, dua kita dapatkan, hilang dua, tiga kita cari kembali hilang tiga, kita pilih lagi empat gadis yang..."

Kata-kata Sie An terputus oleh munculnya seorang wanita yang setengah umur, wanita itu segera membentak.

"Orang she Sie, mengapa kau mengucapkan kata-kata yang melantur kemana-mana."

Ditegur secara blak-blakan, Sie An melengak. Wajahnya jadi merah karena jengah.

"Kau siapa?"

Tanya Sie An, dia mendahului Su-to Yan yang sudah bersedia membuka mulutnya, untuk menanyakan asal-usul wanita setengah umur itu.

"Aku Cu Ciu Nio dari Kun-lun-pay."

Wanita setengah umur memperkenalkan diri sikapnya sangat tawar.

Sie An dan Su-to Yan terkejut.

Si seruling Kumala Cia Ciu Nio berkepandaian tinggi, dialah guru Cin Bwee.

Cepat-cepat Su-to Yan mengunjuk hormatnya.

Cia Ciu Nio membalas hormat itu.

"Saudara Su-to, ada suatu yang hendak ku ketahui."

Berkata Cia Cin Nio.

"Betulkah bahwa gurumu itu bernama Ciok Pek Jiak ?"

Su-to Yan menganggukkan kepala.

"tidak salah."

"Ada sesuatu yang tidak cocok."

Berkata Cia Cin Nio.

"Dimanakah letak ketidak cocokkan itu?"

"Pendekar Raja Sesat Ciok Pek Jiak mengembangkan ilmu silat dikedua telapak tangan, sedangkan kau lebih mahir menggunakan pedang, dua macam ilmu yang tidak bersamaan bukan?"

"ilmu pedang bukan kudapat darinya."

Su-to Yan memberi keterangan.

"Ng.... Berhati-hatilah. Gurumu itu menanam banyak bibit permusuhan, kukira mereka tidak mau mengerti, kau harus berhatihati melakukan perjalanan."

"Terima kasih, Cianpwee telah bertemu dengan Cin Bwee?"

"Ng. Dia menantikanmu ditempat itu."

Seruling Kumala Cia Ciu Nio menunjukan kesuatu tempat.

Su-to Yan minta permisi dan meluncur ke arah Cin Bwee.

Su-to Yan memasuki rimba, tidak jauh dari mana dia berada, terlihat dari bayangan seorang yang langsing, rambutnya terurai panjang, dia adalah itu kawan yang melarikan diri Cin Bwee, Dengan hati berdebaran, Su-to Yan menghampiri tubuh itu.

"Cin Bwee, masih marahkah kepadaku?"

Dia menegur perlahan Cin Bwee berpaling kearah si pemuda, menatap wajah kekasih itu dalam-dalam, tanpa bicara, matanya memancakan kerinduannya.

"Cin Bwee...."

Su-to Yan memanggil lagi.

"Ng..."

"Marahkah kepadaku ?"

"Aku mana berani."

Cin Bwee mengirim satu kerlingan mata.

"Beruntung ada petunjuk gurumu, mengapa kau tidak menyahut panggilanku ?"

Berkata Su-to Yan.

"Mana kau ingat kepadaku ?"

Berkata Cin Bwee.

"Bila aku tidak ingat, tentu aku tidak mengejarmu sampai disini."

"Huh, dikala aku pergi, kau diam mematung ditempat, Tentunya sedang menimbang-nimbang, yang mana lebih penting. si genit Jie Ceng Peng, atau aku yang tolol, bukan ?"

"Ha, ha...Kau bukan seorang tolol."

"Jie Ceng Peng yang bukan seorang tolol."

"Eh, mengapa menyebut-nyebut namanya?"

Berkata Su-to Yan.

"Mengapa? Kau suka kepadanya, didalam hati, selalu menyebutnyebut nama itu. Untuk menutupi kesalahanmu, seolah-olah kau benci kepada nama itu, Melarang orang lain!"

"Siapa yang mengatakan ?"

"Masih tidak mengaku ?"

"Apa yang harus diakui? Yang jelas aku cinta padamu !"

"Huh..."

Ucapan inilah yang telah dinanti-nantikan lama, Cin Bwee menjadi berbunga2.

"Keadaanmu seperti ini semakin menarik hati."

Berkata Su-to Yan.

"Semakin cantik."

"Betul ?"

"Mengapa tidak ?"

"Katakan sejujurmu, siapakah yang lebih cantik, aku atau Jie Ceng Peng itu ?"

"Aku melarang kau menyebut nama Jie Ceng Peng lagi."

Berkata Su-to Yan.

"Hanya kau yang boleh menyebut namanya ?"

Cin Bwee menantang.

"Baiklah, Aku sungguh tidak berdaya kepadamu."

"Hayo, katakan, siapa yang lebih cantik diantara kami berdua ?"

"Aku belum pernah membandingkan kecantikan kalian. Aku sudah cukup puas, bila selalu dapat mendampingimu."

Su-to Yan memegang tangan halus gadis itu. Cin Bwee tidak meloloskan diri dari elusannya.

"Bersediakah kau menerima nasehatku?"

Berkata Cin Bwee.

"Katakanlah."

"Cintakah kau padaku ?"

"Mengapa tidak? jangan kau sangsikan cintaku."

"Mulai saat ini, aku melarang kau bergaul dengan gadis lain."

Berkata Cin Bwee tegas, cemburunya sangat besar sekali.

Su-to Yan tertegun.

Maksudnya turun gunung untuk menyerahkan pedang In-liong kepada seorang gadis yang bernama Ie Han Eng.

Tugas itu belum selesai, kini ia kesandung asmara, bahkan asmara yang banyak api cemburunya, melarang dia bergaul dengan gadis lain?

Termasuk Ie Han Eng dan Jie Ceng Peng.

Larangan bergaul dengan Jie Ceng Peng masih dapat dimengerti masuklah diakal bila Cin Bwee jatuh cemburu, mengingat Jie Ceng Peng ada menaruh hati kepada pemudanya.

Dengan dalih dan alasan apa Cin Bwee melarang dia menyerahkan pedang In-liong kepada Ie Han Eng?

Su-to Yan harus memikir lama, demi memberikan jawaban yang sangat hati-hati.

"Bagaimana ?"

Cin Bwee menegur lagi.

"Ya, kalau tidak ada urusan, aku melarang kau bergaul dengan gadis lain."

Berkata Cin Bwee dengan besar cemburunya.

"Baik."

Berkata Su-to Yan.

"Bila tidak ada urusan, aku tidak mau bergaul dengan gadis lain."

Cin Bwee puas, janji itu akan mengikat ke dua hati mereka, tidak mungkin si pemuda mengingkari janji, dia akan marah dan mengganggunya.

Mereka keluar dari rimba itu.

Mereka tidak berhasil menemukan letak si seruling Kumala Cia Ciu Nio, juga tidak berhasil menemukan pendekar pedang Bayangan Sie An, jejak kedua orang itu telah lenyap tanpa bekas.

Su-to Yan mengajak Cin Bwee meneruskan perjalanan, mereka menuju kearah gunung Bu-san.

Singkatnya, sepasang muda-mudi itu telah memasuki daerah yang dituju.

Bu-san adalah nama dari suatu tempat yang cukup luas, terdiri dari bukit-bukit, lembah-lembah dan gunung-gunung, pegunungan Bu-san.

Puncak Bu-San adalah puncak yang tertinggi.

Su-to Yan dan Cin Bwee telah berada dibawah kaki gunung.

Tiba-tiba melesat satu bayangan meluncur ke arah mereka.

"Ha, ha, Sudah lama kutunggu kalian berdua."

Demikian orang itu berkata, Dia adalah si Pendekar Bayangan Sie An. Su-to Yan sangat girang. Cin Bwee tertawa. Gadis itu berkata.

"Sie Toako mengapa pergi tanpa pamit?"

Sie An berkata.

"Aku tidak mau mengganggu ketenangan orang, Apalagi kepada pasangan yang sedang asyik-asyikan."

Cin Bwee mendelikkan mata.

"Manusia pendek."

Ia memaki.

"Ha. ha.,,."

Sie An tertawa.

Mereka melanjutkan perjalanan, lembah Hui-in berada dibagian timur dari gunung Bu-san, mereka datang dari daerah Barat, harus melewati lembah boh-hoat.

Kabut putih mengelilingi pemandangan di sekitar tempat itu, samar-samar seperti ada bayangan yang merintangan dijalan.

Su-to Yan maju tanpa gentar.

Bayangan itu membentak.

"Berhenti !"

Su-to Yan mementang mata lebar-lebar, didepannya telah berdiri seorang lelaki, diduga umurnya berkisar diantara empat puluhan. Sie An lebih tidak sabar, ia membentak.

"Siapa kau ?"

"Ha, ha, ha...."

Orang itu tertawa. Dia mengeluarkan pedangnya, diacungkan tinggi, tanpa memberi sahutan yang diminta orang. Sie An, Cin Bwee dan Su-to Yan saling pandang.

"tidak ada yang kenal denganku ?"

Bertanya lagi orang itu.

Hati Su-to Yan tergerak, caranya memegang pedang orang itu sangat berlainan, bila orang menggunakan pedang dengan tangan kanan orang ini mengacungkan pedangnya dengan tangan kiri, itulah ciri-ciri yang paling khas dari si Pendekar Pedang kidal Tonghong Cie Bun.

Hanya Tong-hong Cie Bun seorang yang menggunakan pedang dengan tangan kiri, dahulu dia pernah ditekan oleh pendekar Raja Sesat Ciok Pok Jiak, dipaksa mengundurkan diri, dilarang menginjakan kaki didalam rimba persilatan.

Sangat jelas, maksud tujuan Tong-hong Cie Ban adalah untuk menuntut balas, Hati Su-to Yan tercekat.

Orang yang menghadang perjalanan mereka adalah Pendekar pedang kidal Tong-hong Cie Bun, umurnya telah mencapai 60 tahun, dia pandai merawat diri, pernah memakan obat anti tua yang sangat mujijat.

maka sepintas lalu, orang menganggap dirinya sebagai jago muda, jago yang belum berumur 50 tahun, Tong-hong Cie Bun memperhatikan ketiga anak muda yang berdiri dihadapannya, kemudian melepaskan sinar pandangan matanya kearah Su-to Yan.

"Tentu kau yang menjadi murid Ciok Pek Jiak, bukan?"

Ia mengajukan pertanyaan. Su-to Yan tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya.

"tidak salah."

Dia membenakan pertanyaan itu "Cianpwee tentunya Pendekar Pedang kidal Tong-hong Cie Bun, bukan ?"

Sie An dan Cin Bwee terkejut, mereka sedang berhadapan dengan pendekar pedang kidal Tong-hong Cie Bun?

Orang yang telah lenyap tanpa kabar pada 40 tahun yang lalu?

Sinar mata Tong-hong Cie Bun memancakan pujian.

Dia bangga, masih ada orang yang menyebut namanya, itulah suatu tanda bahwa betapa besar pengaruh kekuasaan pendekar pedang kidal Tong-hong Cie Bun.

"tidak mudah untuk mencari orang yang masih kenal kepadaku."

Ia berkata. Tanpa memberi kesempatan orang bicara, dia meneruskan kata katanya.

"Tentunya, kau dengar cerita dari gurumu bukan? Seharusnya, gurumu itu memberi pesan, agar kau berhati-hati kepadaku, bukan? Aku adalah musuhnya. tidak akan kulupakan, bagaimana ia mematahkan pedangku, itulah ilmu Iblis Sakti bersilat Sin-mo-cappat-Sek. Kau adalah muridnya, aku mempunyai kesempatan untuk mengenal lebih mendalam ilmu itu."

"Kukira, cianpwee akan dikecewakan olehku."

Berkata Su-to Yan.

"Mengapa?"

Tong-hong Cie Bun membelalakkan mata.

"Ilmu iblis sakti bersilat Sin-mo-cap-pat-sek belum kupelajari sempurna."

Berkata Su-to Yan.

"Huh! ingin memyembunyikan kepandaian gurumu? Ha, ha,,,., Hanya tiga jurus serangan pedang, aku akan memaksa kau menggunakan ilmu itu."

Sebelum Su to Yan sempat memberikan jawaban, pendekar pedang Bayangan Sie An menampilkan dirinya kedepan, seraya ia berkata.

"Saudara Su-to, berilah kesempatan padaku untuk melawan dirinya."

Jago dari daerah Tiang-pek Sie An telah berhadapan dengan si pendekar pedang Tong-hong Cie Bun. Tong-hong Cie Bun membentak.

"Sebutkan namamu."

"Sie An dari daerah Tiang-pek."

"Ha, ha, ha..."

Tong-hong Cie Bun tertawa.

"Aku dengar kabar bahwa belakangan ini ada muncul tiga jagoan berengsek, tapi aku tidak nyana bahwa disini aku dapat menjumpai salah satu diantaranya. Kau, manusia pendek ini yang menjadi tiga jago pedang dimasa ini? Ha, ha..."

Sie An naik pitam.

"Berani kau menghina orang?"

Dia lompat menerkam.

Tong-hong Cie Bun menggeser kaki ke samping, dia memutarkan pedang dari tangan, kemudian, hekk,., gagang pedang berada didalam genggaman tangan yang semula, dengan tangan kiri, inilah ciri yang paling khas dari si pendekar Pedang kidal.

didalam rimba persilatan, hanya dia seorang yang memainkan ilmu pedang tanpa menggunakan tangan kanan.

"Didalam sepuluh gebrakan, aku akan mengalahkanmu."

Ia sesumbar.

Sie An tidak berani memandang ringan, lawannya adalah jago yang pernah menggemparkan rimba persilatan kecuali kalah dibawah tangan si pendekar Raja Sesat Ciok Pek Jiak, belum pernah ada orang yang mengalahkannya.

Menimbang kekuatan diri sendiri, mengingat lawan itupun telah mengeluarkan pedang, dia tidak lengah, sret, pedang telah keluar dari serangkanya.

Tong-hong Cie Bun menggunakan tangan kiri, segala tipu menyimpang dari tokoh tokoh silat lainnya, melengkungkan pedang, dia mengincar jalan darah Kie-hun hiat.

Serangan Sie An terbawa kesamping, dan dia merasakan ancaman pedang lawan, hatinya menjadi dingin, menarik kembali senjata, melintangkannya, menutup pedang Tong-hong Cie Bun.

"Tranggg..."

Akhir pertarungan senjata mengejutkan si pendekar pedang kidal, didalam anggapannya Kong-sun Giok, Auw-yang Ie dan Sie An tidak mempunyai kepandaian yang berarti, hal itu dapat masuk diakal, mengingat umur mereka yang masih muda, sehingga dia berarti menyebutnya sebagai tiga jago pedang brengsek, dan kini ia dapat melihat bagaimana hasil dari akhir pertarungan pedang itu, sehingga tidak bisa menyebutnya sebagai jago brengsek.

Kekagetan Tong-hong Cie Bun tidak mengganggu jalannya permainan pedang, jurus pertama telah gagal, dan dia sudah melontarkan jurus yang kedua, pedangnya digetarkan dan bergoyang-goyang cepat, seolah-olah ratusan pedang menyerang posisi pertahanan belakang Sie An.

Sie An mendapat gelar pendekar pedang Bayangan, diapun pandai menggoyang-goyangkan pedang, yang belum berhasil dipelajari olehnya adalah kecepatan untuk menperlipat gandakan bayangan-bayangan itu, seperti apa yang Tong-hong Cie Bun perlihatkan kepada dirinya, itulah perbedaan mereka.

Bila memaksakan diri, mengikuti permainan pedang yang sama, dia hanya dapat mengubah puluhan bayangan saja, kurang cocok untuk mengadakan pembelaan cepat.

Dia menggenjot tubuhnya, dengan kedua kaki yang dilekukkan keras, tubuhnya melesat jauh keatas, melewati kepala lawan, cepat-cepat menikungkan diri, dan kini berada dibelakang Tong-hong Cie Bun, mengirim satu tusukan kearah leher orang.

serangan Sie An adalah serangan yang ganas dan kejam, rupanya tidak ada jalan kedua untuk menghindari ribuan bayangan pedang si pendekar pedang kidal, tidak tanggung-tanggung mengadakan serangan nekad, agar dirinya-tidak terdesak lagi.

Pikiran Sie An sangatlah beralasan, disaat yang sama, mengetahui musuhnya terbang tinggi, Tong-hong Cie Bun telah membalikkan badan dengan pedang yang diputar jauh, dari sana, Siuuutt....

menarik kembali, seolah-olah orang yang menyabit diladang.

Inilah serangan Tong-hong Cie Bun yang ketiga!

Pedang Sie An yang menurun berhasil di tempel olehnya.

Ditarik kedekat tubuh pendekar pedang kidal itu.

Sangat berbahaya.

Tubuhnya akan menubruk pedang tajam.

Sie An melepas tenaga, sangat mendadak tubuhnya jatuh cepat, dan tiba-tiba saja ia menggentaknya, pedang terlepas, membacok berulang kali.

Trang....

trang...

trang...

Tubuh Sie An melayang, sangat jauh sekali.

tidak berani ia menyerang kembali, bergulingan ditanah, dan memperpanjang jarak perpisahan itu.

Tong-hong Cie Bun tertawa berkakakan.

Nyali Sie An berhasil dimengkeretkan, nama pendekar pedang kidal memang luar-biasa, dia harus mengakui keunggulan itu, dia dikalahkan, hanya memakan waku tiga gebrakan saja.

Tong-hong Cie Bun menghadapi Su-to Yan kembali.

"Nah, katakanlah."

Dia berbicara.

"Katakanlah dengan terus terang, dimana suhumu sekarang?"

Itu waktu, Cin Bwee sudah menghampiri Sie An, sipendek tidak menderita luka, hal itu menggirangkan mereka. Su-to Yan berhadapan dengan Tong-Hong Cie Bun, Dia memberikan jawaban.

"Cian pwee, bukankah sudah boanpwee katakan, bahwa suhu telah meninggal dunia?"

Tong-hong Cie Bun berdengus.

"Bagus, Kau masih mau merahasiakan suhumu ada dimana ? Akan kulihat, setelah kulukai muridnya, setelah kau terluka, mungkinkah dia tidak menampilkan dirinya?"

Agaknya, si Pendekar Pedang kidal Tong-hong Cie Bun masih tidak mau percaya, bahwa pendekar Raja Sesat Ciok Pek Ciak sudah tiada.

Maka dia mengajukan dan mengulang pertanyaannya.

Memanglah masuk diakal, mengingat dia yang sudah berumur 60 tahun belum mati di panggil tuhan, sedangkan Ciok Pek Ciak yang mempunyai latihan tenaga dalam lebih mahir, mempunyai kondisi badan yang lebih kuat, bukanlah suatu keadilan, bila sampai terjadi orang seperti Ciok Pek Jiak sudah mati lebih dahulu.

Tong-hong Cie Bun menatap Su-to Yan tanpa mata terkedip.

Su-to Yan tidak gentar, dengan sikapnya sangat gagah dia berkata.

"Boanpwee bersedia menerima pelajaran Cianpwee."

Cin Bwee sangat terkejut, telah disaksikan bagaimana Tong-hong Cie Bun mengalahkan Sie An, hanya tiga gebrakan, bagaimana kekasih itu boleh menghadapi jago golongan tua yang ternama?

Kegagahan Su-to Yan menimbulkan kecurigaan Tong-hong Cie Bun.

Dia berpikir.

"Tentunya kau telah mewarisi seluruh ilmu kepandaian gurumu, maka berani menantang aku, he?"

Dia mengeluarkan kata-kata pujian.

"Bagus, ..Bagus! ... tidak kusangka, jago-jago muda pemberani masih cukup banyak."

Tidak lagi dia menggunakan istilah jago brengsek, tapi menyebut lawan-lawannya menjadi jago muda. Memainkan pedangnya, Tong-hong Cie Bun berkata.

"Keluarkanlah pedang! Lima-puluh jurus untukmu."

Si pendekar pedang kidal Tong-hong Cie Bun memperlipat gandakan kekuatan Sie An sampai lima kali. Suatu bukti, penilaiannya kepada Su-to Yang lebih tinggi. Su-to Yan tertawa.

"Lupakah Cianpwee, bahwa suhu boanpwee terkenal dengan tipu-tipu pukulan tangannya?"

Si pemuda memberi peringatan kepada jago tua itu, bahwa pendekar Raja sesat Ciok Pek Jiak tidak menggunakan senjata pedang.

Tong-hong Cie Bun mengkerutkan alis, Su-to Yan adalah murid Ciok Pek Jiak, Ciok Pek Jiak tidak menggunakan pedang, bagaimana muridnya menggendong-gendong pedang?

"Baiklah."

Dia mengalah.

"Karena kau tidak menggunakan pedang, tiga-puluh jurus saja pun cukup untuk pertahananmu."

Dia mengurangi angka gebrakan sampai dua puluh jurus banyaknya.

Tong-hong Cie Bun terkenal karena permainan pedang kirinya, Ciok Pek Jiak terkenal karena iblis Sakti bersilat, tipu tipu telapak tangan kosong yang luar biasa.

Su-to Yan-adalah murid Ciok Pek Jiak, dengan pedang melawan tangan kosong, bukan berarti mau menang sendiri.

Walaupun demikian, dia mengurangi jumlah-jumlah batas jurus serangannya menjadi tiga puluh gebrakan.

Su-to Yan wajib menerima semua tantangan-tantangan yang hendak menuntut balas kepada gurunya, Betapa tinggipun ilmu kepandaian lawan itu, dia wajib berambekan pantang mundur.

Tong-hong Cie Bun berdengus, pedangnya dicongkelkan kedepan, itulah ciri-ciri khas dari pembukaan serangan partay Cengshia-pay.

Su-to Yan telah menyaksikan bagaimana Sie An jatuh ditangan jago ini, dia lebih berhati hati, tubuhnya bergeser kesamping, dengan jurus Hun-hoa-hut-liu atau mengelus bunga menyampingkan badan, memperlunak datangnya serangan.

Tong-hong Cie Bun meneruskan dengan serangan yang kedua.

Su-to Yan maklum bahwa Hun-hoa-hut-liu tidak dapat menekan serangan lawannya, sebelum serangan lainnya datang, dia telah bersiap-siap, dengan tipu Hui-song-cian lie atau Mengantar tuan sehingga ribuan lie, dan menyisihkan pedang Tong-hong Cie Ban menjauhi dirinya.

Dua jurus yang diperlihatkan oleh Su-to Yan mengejutkan Tonghong Cie Bun.

Betul-betul berhadapan dengan musuh lihay!

jurus itu juruS-jurus tipu Ciok Pek Jiak!

Lebih hebat dari Ciok Pek Jiak, itulah perubahan dari tipu silat dijaman purbakala Kabut Hijau It-bok-cin khie, digunakan dengan ilmu campuran iblis Sakti Bersilat Sin-mocap-pat-sek.

Gerakan Tong-hong Cie Bun terlalu cepat dipisahkan, disaat yang sama, dengan jurus "Jie-it-kay-hap"

Atau sepasang tipu perangkap, tanpa desiran angin, pedangnya menyelusup kearah pinggang Su-to Yan.

Sipemuda sadar akan bahaya, setelah pedang Tong-hong Cie Bun berada beberapa senti lagi dari tubuhnya, Su-to Yan kaget, cepat-cepat mempertebal kekuatan Kabut Hijau li-bok-cin khie, tubuhnyapun menyingkir pergi.

Dia berhasil meloloskan diri dari tusukan pedang Tong-hong Cie Bun!

Hanya bajunya yang terobek sebagian.

Tong-hong Cie Bun menarik pedangnya, dengan dingin dia membentak.

"Lekas katakan, kau murid siapa ?"

Serangan-serangan yang digunakan tadi pernah digunakan menghadapi Ciok Pek Jiak, bila pemuda yang berada dihadapannya ini betul murid dari si Pendekar Raja Sesat, tentunya dengan mudah dapat menghindari serangan, tapi kenyataannya tidaklah demikian, Su-to Yan belum mahir betul, maka hampir dia ditusuk tembus.

Karena kecurigaan itulah, Tong-hong Cie Bun membentaknya.

"Siapa gurumu ?"

Si Pendekar pertanyaannya. Pedang kidal mengulang "Guru boanpwee bernama Ciok Pek Jiak,"

Berkata Su-to Yan dengan sikap patuh, Dia masih tertawa.

"Aku tidak percaya."

Tong-hong Cie Bun membentak.

Dia membacok tiga kali, kedepan, kekanan dan kekiri, setelah itu, tubuhnya melesat, menggunakan tangan kanan memukul si pemuda, Su-to Yan sudah mundur, tangannya bergerak, dengan Kim-kapso-mo atau Batok Emas Menolak ibis, salah satu perubahan dari tipu iblis Sakti Bersilat, menahan serangan sijago tua.

Tong-hong Cie Bun mengeluarkan suara dengusan.

"Hm ... Kukira kau bukan murid Ciok Pek Jiak, tetapi setelah menyaksikan kepandaianmu ini, aku harus percaya kepada keteranganmu."

"Aku tidak memaksa orang mau percaya atau tidak."

Berkata Suto Yan.

"Bagus! Gurumu telah mematahkan pedangku, hari ini, aku hendak menuntut balas, seharusnya memutuskan sebelah lenganmu."

Berkata Tong-hong Cie Bun.

Su-to Yan semakin berhati-hati.

Dia siap menerima lanjutan penyerangan musuh.

Sie An dan Cin Bwee terkejut, masing-masing mengeluarkan pedang, berdiri dikanan dan kiri Su-to Yan.

Maksud mereka, dengan kekuatan mereka bertiga, mereka akan melawan si jago tua.

Tong-hong Cie Bun tertawa berkakakan.

"Ha, ha, ha... Telah kukatakan hendak menguntungi sebelah tangannya, perkataanku itu pasti benar, ditambah sepuluh orang yang sebangsa kalian lagipula tiada guna."

Sie An berteriak.

"Baik. Kami hanya bertiga."

Berbareng suara tawanya, Tong-hong Cie Bun telah mengirim lima tusukan pedang, dua untuk Su-to Yan, dan tiga lainnya menolak kekanan dan kiri, dimana ada Sie An dan Cin Bwee.

Tiga anak muda itu telah mengeluarkan pedang masing-masing menangkis serangan pedang Tong-hong Cie Bun.

Hasil dari perpaduan senjata dari ketiga jago muda itu ternyata terdesak mundur.

Tubuh Tong-hong Cie Bun melesat diudara, dia mencari posisi bagus, untuk meneruskan usahanya, menyerang tiga jago muda itu.

Pendekar Pedang Bayangan Sie An turut mumbul tinggi, ditengah udara, dia memapaki musuh.

Menyaksikan keberanian Sie An, Tong-hong Cie Bun mengeluarkan tawa dingin, pedangnya menunjuk-nunjuk, bergerak kearah lima jalan darah si pendek.

MakSud Sie An dengan mencelat keudara adalah hendak mendahului musuhnya, menggunakan kedudukan yang lebih menguntungkan dia hendak menggencet ahli pedang tangan kiri itu.

Tapi diluar dugaannya, gerakan Tong-hong Cie Bun melebihi kecepatannya, dan disaat yang sama, Tong-hong Cie Bun telah mengirim lima tikaman.

Sie An menjadi sangat gugup.

Beruntung ada bantuan dari bawah, Cin Bwee dan Su-to Yan memapas sepasang kaki Tonghong Cie Bun.

Tong-hong Cite Bun meninggikan tubuhnya.

Sie An menangkis dengan pedang.

Berhasil mengelakkan diri dari elmaut.

Tiga lawan satu !

Pertempuran masih berlangsung terus.

Tong-hong Cie Bun menyerang tiga anak muda itu dengan bergantian, tetapi lebih dititik beratkan kepada Su-to Yan.

Kekalahannya ditangan Ciok Pek Jiak sangat didendamnya, sakit hati itu harus mendapat tempat pelampiasan dan inilah Su-to Yan, dia akan mengutungi sebelah tangan jago muda itu.

Mendapat bantuan kedua kawannya, Su-to Yan dapat bersilat lebih bebas, lebih leluasa.

Bertahan belasan jurus, Su-to Yan dapat melihat akan adanya kekosongan-kekosongan musuh, perlahan tapi pasti, dia memperkuat kedudukan posisinya, tahap demi tahap, dia dapat mengimbangi serangan si pendekar pedang kidal, membuat sesuatu fondamen prima, mereka menjepitnya.

Lebih dari satu kali, Su-to Yan mengalami benturan senjata, kepercayaannya kepada diri-sendiri semakin tebal, dia terdesak karena tidak berani memforsir tenaganya, kini tenaga Tong-hong Cie Bun dapat diselami, kemungkinan besar mereka dapat mengalihkannya, sipemuda tidak segan-segan mengirim tusukan, membentur dan menangkis pedang lawan.

Cin Bwee dan Sie An membantu memperkokoh kedudukan kawannya.

Inti kekuatan dipegang oleh Su-to Yan, dia mulai membikin penyerangan-penyerangan.

Tong-hong Cie Bun menghembuskan napas dingin, tidak disangka, tiga anak muda yang tidak dipandang mata dapat mengimbangi kekuatannya, bahkan lebih daripada itu, giliran dia yang mendapat tekanan.

Su-to Yan mengeluarkan suara pekikan, kedua tangannya direntangkan tangan kanan yang memegang padang yang menusuk kedepan, dan dengan tangan kiri, dia melakukan sikap seperti orang yang hendak mengempo anak.

itulah yang bernama Sin mo ju-sian atau iblis Sakti Menampilkan diri.

Jurus tipu yang tidak asing bagi Tong-hong Cie Bun, dari pertempuran-pertempurannya dengan Ciok Pek Jiak sering kali harus berurusan dengan tipu ini.

Tangan kirinya yang memegang pedang agak gemetar.

Secepat itu juga, serangan Su-to Yan ter kunjung datang.

Tong-hong Cie Bun tidak diberi kesempatan untuk banyak berpikir, pedang ditangan kiri menyolok ke bawah, dengan maksud memapas putus sepasang kaki Su-to Yan.

Dan tangan kanannya menahan datangnya Si-mo ju sian.

Suara pekikan Su-to Yan masih berkumandang, belum lenyap dari permukaan udara, tipu gerakannya telah berganti, tangan kanan di keataskan, itulah tipu Kiu-thian-hoat-jit atau Sorga ketujuh menggantikan langit Cepat sekali!

Sebelum Tong-hong Cie Bun sadar dari kesalahannya, tangan Su-to Yan sudah berhasil meremas hancur pedang itu !

Sungguh luar biasa !

Dengan gagang pedang ditangan, si pendekar pedang kidal Tong-hong Cie Bun mengundurkan diri.

Wajahnya sangat pucat sekali.

Maksud tujuan Su-to Yan ingin merebut pedang lawan, ternyata tidak berhasil.

Genggaman Tong-hong Cie Bun terlalu kuat, hasil dari perebutan senjata secara kilat itu adalah kerugian bagi sang pedang, yang patah menjadi dua !

Timbul perasaan menyesal yang merangsang Su-to Yan.

Wajah Tong-hong Cie Bun yang sudah menjadi pucat seperti mayat memandang sangat menyeramkan, dia memandang pedangnya yang putus, tentu saja tidak percaya, bahwa kejadian itu betul-betul telah terjadi.

Dia sudah kalah ditangan Ciok Pek Jiak, kini kalah lagi ditangan muridnya, Lebih mengenaskan, lebih memalukan.

Tubuhnya melesat, meninggalkan tempat itu.

Dari jauh, dia memberikan ancamannya.

"Ingat kejadian dihari ini, aku akan menuntut balas."

Dikala kata-kata yang terakhir selesai diucapkan, bayangan Tong hong Cie Bun sudah tiada tampak lagi.

Cin Bwee dan Sie An memandang sang kawan dengan sinar mata takjub.

Su to Yan sedang memikirkan kejadian yang belum lama dialami, bila dikenang kembali, bulu tengkuknya bangun berdiri.

Sungguh berbahaya !

Lengah sedikit, jari-jarinya akan terpapas putus oleh tajam pedang Tonghong Cie Bun.

Dan dia berhasil inilah kejadian yang belum pernah dibayangkan.

Sie An menghampiri kawan itu, dia berkata.

"Saudara Su-to, belum pernah aku tunduk kepada orang, Menyaksikan ilmu kepandaianmu, betul-betul aku harus bertekuk lutut. Sungguh ajaib. Dunia adalah kepunyaanmu, siapakah yang menandingi ilmu silat seperti itu?"

Cin Bwee segera berteriak.

"Kau telah berhasil meyakinkan ilmu Hin ciok-kang !"

Ilmu Bambu-bung Han-ciok-kang adalah semacam ilmu yang dapat menerima latihan tenaga orang lain, inipun termasuk salah satu dari sepuluh ilmu silat peninggalannya jaman purba-kala.

Su-to Yan menganggukkan kepalanya.

Ternyata, sebelum si pendekar Silat Raja Sesat Ciok Pek Jiak menghembuskan napasnya yang terakhir, dia telah menyerahkan semua tenaga dalamnya, dengan menggunakan ilmu Han-ciok-kang, Su-to Yan berhasil mengambil oper semua tenaga sang guru, maka dia dapat mematahkan pedang Tong Cie Bun.

Tanpa bantuan Cin Bwee dan Sie An, bila Sute Yan mempunyai keberanian untuk menandingi Tong-hong Cie Bun, bukanlah mustahil, bila si Pendekar pedang kidal dapat dikalahkan olehnya, karena dia telah mewarisi tenaga gurunya, berarti mempunyai gabungan tenaga dua orang.

"Su-to toako,"

Berkata Cin Bwee.

"Bersediakah kau memberi pelajaran ilmu itu ? ingin sekali aku dapat meyakinkannya."

"Bila mempunyai kesempatan, kepadamu."

Su-to Yan memberi janji. tentu akan kuturunkan Sie An berteriak.

"Kau ingin menurunkan ilmu itu kepadanya? Celaka ! Siapakah yang dapat menandinginya? Akulah yang paling celaka, tidak berani menggoda kalian lagi."

Cin Bwee mendelikkan mata.

"Tentu."

Ia berkata puas.

"Berani kau menggoda aku, akan kuhajar sampai terkuing-kuing ditanah."

"Memangnya anjing ?"

Sie An mendebat.

"Manusia pendek memang banyak akalnya!"

Berkata Cin Bwee.

Sambil bergurau, mereka meneruskan perjalanan mereka yang telah terganggu.

Untuk tiba ditempat lembah Hui-in, mereka harus menjelajahi sepuluh puncak-puncak didaerah pegunungan Bu-san.

itulah bukan perjalanan mudah.

Mereka telah mengarungi dua puncak lagi, Dikala hendak meninggalkan puncak gunung yang ketiga, dikala melewati suatu lembah mereka menemukan sesuatu yang aneh.

Keadaan ditempat itu sangat sepi dan sunyi, tidak terdengar suara kicau burung, tidak terdengar suara blnatang-binatang hutan, seolah-olah melangkahkan kaki kedalam suatu dunia yang kosong.

Kabut putih agak lebat.

Semacam bau harum bercampuran diantaranya.

Su-to Yan, Cin Bwee dan Sie An menghentikan langkah mereka, memandang sekelilingnya, tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Sie An tertawa.

"Kukira kabut racun, tahu-tahunya bukan."

Dia belum jatuh pingsan.

"Berhati-hatilah dengan racun Thian-lam lo-sat."

Su-to Yan memberikan peringatan.

"Huh!"

Cin Bwee menyebirkan bibir.

"Berani dia mengganggu ?"

Sie An mengemukakan pendapat.

"Racun orang lain tidak kutakuti, tapi racun yang manis dari Thian-lam Lo-sat itu sangat menyeramkan."

Dikala mengalami keadaan itu, Su-to Yan menduga Jie Ceng Peng menyebarkan racun Thian-lam Lo-Sat.

Dan ia berpikir, keadaan ini seperti tidak mungkin, Jie Ceng Peng berkesan baik kepadanya, tentunya tidak mengganggu lagi, dengan alasan apa gadis itu menyerahkan pedang In-liong?

Tentu bukan bermaksud jahat, Mereka telah bernapas sekian lama, tidak ada tanda tanda dari bisa racun, tentunya keadaan lembah itu yang memang sepi.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati kebat~kebit.

Sie An mengemukakan pendapat.

"Mungkinkah orang-orang dari Thian-lam Lo-Sat?"

"Kukira bukan."

Berkata Su to Yan.

"Huh!"

Cin Bwee mengatakan bukan?"

Bersungut-sungut.

"Dengan alasan apa "Bila hendak melakukan sesuatu yang merugikanku, tentunya tidak menyerahkan pedang In-liong."

Berkata Su-to Yan.

"Betul."

Berteriak Sie An.

Mereka telah mendaki puncak yang keempat.

Tiba-tiba ...

Jauh di atas mereka, terlihat satu bayangan, berdiri di tengah jalan, diam tidak bergerak, seolah-olah patung batu, tapi bukan patung batu, bajunya berkibar-kibar, itulah seorang manusia.

Siapakah orang itu.

Su-to Yan, Cin Bwee dan Sie An saling pandang.

Orang didepan mereka masih tidak bergerak, dia mengenakan pakaian berwarna hitam, memandang ke arah bawah lembah.

Su-to Yan dan dua kawan bukanlah manusia-manusia pengecut, mereka melangkahkan terus, naik keatas, menghampiri orang itu.

Semakin jelas, orang yang mengenakan pakaian hitam itu mengenakan tutup kerudung muka, juga berwarna hitam, serba hitam, sangat menyeramkan.

Su-to Yan bertiga telah berhadap-hadapan.

Orang yang berpakaian dan berkerudung hitam melintang ditengah jalan, jalan itu tidak besar, untuk meneruskan perjalanan Su-to Yan harus melewatinya.

Sangat bahaya!

Mengingat mereka telah berada di puncak itu.

Di kanan kiri dan dibelakang mereka adalah lembah.

Si Pendekar Pedang Bayangan Sie An segera membentak.

"Heii siapa yang menyuruh kau datang di tempat ini?"

Orang berkerudung itu membuka suara.

"Lucu! Adakah suatu larangan untuk datang di tempat ini?"

"Apa maksud kehadiranmu?"

Bertanya Sie An lagi.

"Apa pula maksud kalian datang di tempat ini?"

Balik bertanya orang berkerudung hitam itu.

"Kami akan..."

Sie An tidak dapat meneruskan kata-katanya, dia sudah jatuh ngeloso.

Su-to Yan terkejut.

Disaat yang sama, Cin Bwee juga turut jatuh.

Orang berkerudung itu, tertawa berkakakan "Roboh...

Roboh...

Kau juga roboh."

Dia menunjuk ke arah Su-to Yan.

Dengan tenaga dalam yang luar biasa.

Su-to Yan berhasil mempertahankan diri.

Orang berkerudung itu terkejut, ia tidak percaya kepada kenyataan itu, mengapa lawan yang satu ini tidak dapat dibius, mungkinkah kebal kepada racun ?

Su-to Yan melesat, tangannya dijulurkan, maksudnya hendak meringkus orang ini, hal itu penting, mengingat keadaan Cin Bwee dan Sie An yang belum sadakan diri, dia wajib meminta obat antinya.

Orang berbaju hitam tidak tinggal diam, membalikkan badan, melarikan diri!

Disaat yang sama, dari semak-semak pohon muncul belasan orang-orang berbaju hitam, semua mengenakan kerudung, mereka mengurung Su-to Yan.

"Ssreeet..."

Su-to Yan mengeluarkan pedang, Dia siap untuk menghadapi keroyokan orang-orang itu.

Tiba-tiba kepalanya menjadi berat, pandangan matanya menjadi suram, dunia dirasakan berputar, dan tanpa berdaya Su-to Yan jatuh, Racun yang disedot tidak sedikit, akhirnya pemuda kitapun jatuh juga.

Orang-orang berbaju hitam itu membawa ketiga tawanannya, mereka menuju kesalah satu gua, Dimana terdapat sedang duduk se orang pemuda berbaju hitam, dia tentu adalah pemimpin dari orang-orang tadi.

Beberapa saat, Su-to Yan tidak sadakan diri, Dikala ia membuka kedua matanya, keadaannya telah berada dalam ringkusan orang, dia adalah tawanan orang-orang berbaju hitam tadi.

Jalan darah Cian-hui, Ca-bun dan Bo-Sok Su-to Yan ditotok orang, tidak dapat berkutik.

Seorang pemuda berbaju hitam menantikannya dengan sabar, pemuda inilah yang menjadi pemimpin rombongan.

Siapakah orang-orang berbaju hitam ini ?

Su-to Yan sedang berpikir-pikir.

Mungkinkah golongan Thian-lam Lo Sat ?

Menengok kekanan dan kekiri, tidak terlihat kedua kawannya, Entah dimana Sie An dan Cin Bwee ?

Su-to Yan tidak tahu.

Pemuda berbaju hitam membuka mulut.

"Hei, murid Ciok Pek Jiak, siapa namamu?"

"Su-to Yan."

Berkata pemuda kita dengan gagah.

"Kau tahu, mengapa kami menangkap dirimu?"

Bertanya lagi pemuda itu. Su-to Yan menggeleng-geleng kepalanya.

"tidak tahu."

Ia menjawab terus terang.

Dengan tenaga dalam Su-to Yan, melepaskan totokan jalan darah yang terkekang agak mudah.

Yang penting, orang didepannya tidak boleh tahu.

Menyaksikan ketenangan lawannya, pemuda itu berkata.

"Hei, begitu tenang sekali kau ? Ketahuilah, jiwamu telah berada ditanganku, mengapa kau tidak memikir kedepan?"

Su-to Yan tertawa.

"Apa guna memimikirkan keadaan, bila jiwaku telah berada ditanganmu?"

Dia tidak menjadi gentar. Pemuda itu menganggukkan kepalanya.

"Kau memang jantan sejati,"

Dia memuji.

"tidak tahukah, bahwa aku hendak membunuh mu !"

"Alasanmu ?"

"Ha, ha ... tidak perlu alasan, Kau sudah jatuh kedalam tanganku, Dan aku hendak membunuh, seharusnya kau meminta pengampunan."

"Bila tidak ?"

"Ha, ha.,., membunuhmu,"

Kau nanti lihat bagaimana caranya aku Su-to Yan mementang sepasang matanya lebar-lebar, dia belum tahu, cara bagaimana pemuda itu hendak membunuh dirinya.

Orang itu sudah berteriak "Bawa tempat perapian."

Dua orang berbaju dan berkerudung hitam menggotong sebuah anglo yang merah membara, api panas memerahkan seluruh anglo itu, tiga batang besi didalam anglo panas juga telah membara.

Orang itu membulak balikan besi panas.

Kemudian mengulapkan tangan, Dua orang berkerudung hitam yang membawa anglo meninggalkannya.

Disana hanya dua orang, Su-to Yan dan orang itu.

"Akan kurusak kedua matamu"

Berkata pemuda berbaju hitam.

"Kemudian melumerkan kedua kupingnya, setelah itu, sepasang tangan dan sepasang kakimu, Demikian sehingga kau meminta ampun."

Mata Su-to Yan membara, seolah-olah hendak mengeluarkan api. Apa dendam orang ini kepada dirinya, mengapa berbuat sekejam itu? "Hei."

Dia memanggil "Apakah permusuhan diantara kita berdua? Dengan alasan apa kau hendak menyiksa orang?"

"Ha, ha... Siapa yang menyuruh kau menjadi murid Ciok Pek Jiak?"

Berkata orang itu. Lagi lagi berhadapan dengan musuh-musuhnya.

"Kau bermusuhan dengan guruku?"

Bertanya Su-to Yan.

"Ng..."

"Kukira kau anak buah golongan Thian-lam Lo-sat, ternyata bukan."

Berkata Su-to Yan.

"Thian-lam Lo-sat? Aku tidak kenal."

"Anak buah Thian-lam Lo-sat adalah golongan yang pandai menggunakan racun, dan kalian mahir didalam bidang ini, bagaimana tidak mempunyai hubungan dengan mereka?"

"Ha, ha, ha ... Apakah hanya Thian-lam Lo-sat yang pandai menggunakan racun? Ha. ha, ha ... ."

"Mengapa kau tertawa"

Bertanya Su-to Yan.

"Belum dengar nama lembah Cui-goat-kok dari gunung Insan?"

"Aaaaa...,"

Su-to Yan berteriak.

Ternyata lawan dari lembah Cutgoat-kok.

Lembah Cui goat-hoat-kok mempunyai hubungan baik dengan lebah Maha Bisa.

Setelah lembah Maha Bisa hilang kekuasaan, lembah Cui goat-kok telah mewarisi semua ilmu racun-racunnya, kekuatannya tidak berada dibawah Thian-lam Lo-sat.

Perbedaan lembah Cui-goat-kok adalah tidak mencampurkan dirinya kedalam rimba persilatan, maka jarang orang yang mengenal tindak tanduk mereka.

Pernah juga Thian lam Lo-sat bentrok dengan kekuatan itu, tetapi dengan hasil kekuatan seimbang.

Dan hari ini, Su-to Yan berhadapan dengan orang-orang dari lembah Cui-goat-kok.

Su-to Yan menarik napas dalam-dalam, dia berkata.

"Setahu ingatanku, belum pernah aku bentrok dengan anak buah Cui-goat-kok."

"Ha, ha ... pernah dengar nama Cu-kat Sian, tentunya kau tidak lupa kepada nama ayahku itu, bukan? Beliau adalah ayahku!"

Berkata sipemuda berbaju hitam.

Su-to Yan terkejut Nama Cu-kat Sian adalah nama dari salah seorang musuh gurunya yang terhebat.

Setelah mengalami kekalahan dibawah tangan Ciok Pek Jiak, orang yang bernama Cukat Sian itu telah mengasingkan diri.

Diduga telah meninggal dunia.

Ternyata Cu-kat Sian lari kedalam lembah Cui-goat-kok, dan yang berada dihadapan Su-to Yan sekarang adalah putera Cukat Sian itu.

Dia hendak menuntut balas, Pemuda berbaju hitam itu berkata lagi.

"Namaku Cu-kat Hong,"

Dia memperkenalkan diri.

"Ada sesuatu yang belum kau ketahui,"

Berkata pemuda berbaju hitam Cu-kat Hong.

"Ayahku telah kalah dibawah tangan gurumu, karena itu, dia menaruh rasa sakit hati, dendamnya tidak dapat terbalas, semakin lama, sakitnya sakitnya semakin keras, akhirnya beliau meninggal dunia."

Su-to Yan tertawa.

"didalam rimba persilatan setelah mengalami beberapa pertempuran, soal menang dan kalah itu sudah menjadi biasa."

Dia berkata.

"Seandainya semua orang mempunyai perangai dan ambekan setelah kalah masih menaruh dendam, dan bahkan sampai merongrong jiwanya, wah dunia ini bisa tak habis-habisnya dengan dendam. Setiap orang pasti pernah dikalahkan lawan yang berkepandaian tinggi, diandaikan semua orang mati jengkel, satu persatu membawa dendam kedalam dunia akherat, Apakah ada pendekar-pendekar silat lainnya?"

Cu-kat Hong membentak.

"Kau telah jatuh ke dalam tanganku, jangan banyak ribut, tidak ada kasihan bagimu, tahu?"

Di mulut Su-to Yan mendebat. Diam-diam, dia berusaha melepaskan diri dari kekangan-kekangan totokan lawannya. Kini dia berhasil membebaskan disatu tempat, masih dua tempat lagi. Dia berkata.

"Memang.. Aku tidak membutuhkan kasihanmu, yang hendak kuketahui, di manakah kedua kawanku tadi?"

Cu-kat Hong berkata.

"Mereka tidak mempunyai dendam permusuhan denganku, telah kuperintahkan kepada orang-orangku untuk melepaskannya. Di saat ini, tentunya telah pergi ke lain tempat."

Hati Su-to Yan agak terhibur, dia tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan kedua kawan itu, Mereka telah bebas diri kekangan musuh.

Su-to Yan masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari kekangan-kekangan yang ditotokan kepada dua tempat jalan darah lainnya.

Dia mendapat tiga totokan, satu sudah bebas, masih ada dua lagi, Dia harus membebaskan kekangan-kekangan ini, sebelum besi yang dipanaskan membara.

Cu-kat Hong berkata.

"Memohonlah ampun padaku. Mengingat kau sebagai murid Ciok Pek Jiak, setelah meminta ampun, besar kemungkinannya aku membebaskanmu."

Su-to Yan tertawa.

"Aku jatuh ketangan kalian, karena siasat licik."

Dia berkata.

"Sudahkah terpikir olehmu, apa akibatnya dari perbuatan tadi? Seluruh rimba persilatan akan menertawakan Cui-goat-kok, huh, menangkap orang dengan menggunakan racun."

"Ha ha....ha..., Orang yang menangkap kalian bukan aku."

Berkata Cu-kat Hong.

Su-to Yan gagal meminta kebebasan.

Cu-kat Hong menghampiri tempat perapian disana, besi yang bersetempel Lembah Cui-goat kok telah menjadi panas sekali, merah membara seperti matahari.

Cu-kat Hong mengambil besi itu.

Sukma Su-to Yan hampir mencelos keluar dari tempatnya, bila sampai terjadi besi berstempel lembah Cui goat-kok mampir di salah satu bagian dari tubuhnya, untuk seumur hidup dia tidak dapat menemui orang seperti itu, pengalaman itu tentu akan tetap terkenang.

"Hei, beri kesempatan aku untuk bicara."

Su-to Yun berteriak. Cu-kat Hong menurunkan besi panas, dengan tertawa dia berkata.

"Bagaimana?.... Bersediakah kau meminta ampun?"

"Kau tidak mempunyai perikemanusian."Su-to Yan berteriak.

"Ha....ha..."

Cukat Hong tertawa.

Su-to Yan mempercepat usahanya dan dia berhasil menerobos lain jalan darah yang tersumbat.

Dua dari tiga jalan darah yang di sumbat orang telah dibebaskan dari segala macam kekangan dan gangguan.

Hanya satu lagi !

Cu-kat Hong mengayun besi panas, dia membentak.

"Hayo katakan, segera kau minta ampun!"

Su-to Yan belum membuka mulut.

Disaat itu tiba-tiba mulut goa, ada berkelebat satu bayangan, mata Su to Yan yang tajam dapat menangkap bentuk tubuh bayangan itu, sangat pendek, sangat gemuk, tentu si Pendekar Pedang Bayangan Sie An, Dia sangat girang.

Cu-kat Hong waktu itu sedang membelakangi mulut goa, sehingga dia tidak melihat datangnya bayangan itu.

Sie An memasuki goa.

Gerakan tubuh Sie An membawa geseran angin, telinga Cu-kat Hong yang tajam dapat menangkap suara itu, dia lantas membalikkan badan.

"Hei.,.Kau?"

Cu-kat Hong berteriak, Sie An sudah berhadapan dengan Cu-kat Hong.

Su to Yan mendapat pertolongan, hatinya menjadi girang, bila Sie An dapat mempertahankan diri dari serangan-serangan Cu-kat Hong, belasan jurus saja, tentu dia sudah dapat membebaskan kekangan totokan orang.

Terdengar suara Cu-kat Hong, yang membentak.

"Hei, siapa yang menyuruh kau balik kembali ?"

Sie An juga tidak kalah suara, dia mengeluarkan suara geraman.

"Bebaskan kawanku !"

Sie An telah menyerang dengan pedangnya. Cu-kat Hong menggunakan besi panas menangkis datangnya ayunan pedang Sie An.

"Traaaannngggg ... ."

Pedang Sie An patah ditengah, terbang keluar gua.

Wajah si pendekar Pedang Bayangan menjadi pucat.

Su-to Yan turut terkejut, hanya satu gebrakan, Sie An kehilangan senjata, kekuatan Cu-kat Hong sungguh luar biasa, Untuk menolong kawan itu.

dia berteriak.

"Cu-kat Hong, hentikan gerakanmu."

Cu-kat Hong hendak meneruskan usahanya, mau membunuh Sie An yang menjadi penghalang dirinya, Mendengar teriakan Su-to Yan, dia membalikkan kepala, dengan kedua alis yang dikerutkan tinggitinggi, ia berkata.

"Eh, kau dapat menggunakan cara-cara tertentu memecahkan totokanku ?"

Suatu kejadian yang berada diluar perhitungannya.

Meninggalkan Sie An yang masih bengong Cu-kat Hong membalikkan badan mendapati Su-to Yan kembali.

Besi panas diacung kan kearah pemuda kita.

Su-to Yan menunggu datangnya maut.

Setapak demi setapak, Cu-kat Hong mendekati pemuda itu.

Sie An tertegun untuk sekian saat, dikala ia sadar dari lamunannya, keadaan Su-to Yan sudah sangat bahaya sekali, tanpa pikir panjang gagang pedang dilempar ke arah Cu-kat Hong.

Cu-kat Hong liehay, desiran suara itu tidak lepas darinya, dia mengelak, membiarkan benda itu lewat disamping kiri.

Cu-kat Hong sangat jengkel, dia mengelaki serangannya.

Serangan Sie An tidak mengenai sasaran, tubuhnya yang gemuk bergelinding pergi, mengingat bentuk badannya yang pendek, gerakan tadi sangat mudah dilakukan.

Su-to Yan membentak keras, dengan semua tenaga, akhirnya ia bebas dari kekangan totokan orang.

Diganggu oleh Sie An, Cu-kat Hong tidak dapat meneruskan usaha.

Dari keadaan Su-to Yan yang sudah bersiap-siap bangun, tentu saja tidak akan menguntungkan dirinya, dengan tangan kiri, dia ingin menotok jalan darah murid musuh ayahnya.

Su-to Yan masih terlalu lemah, maka dia membuang diri ke arah samping.

Cu-kat Hong mengejar maju.

Disaat yang sama, karena kelengahan musuhnya, Sie An berhasil memukul tangan pemuda baju hitam itu, besi di tangan Cu-kat Hong diterbang pergikan.

Dengan jurus Sin-mo Ju-sian atau iblis Sakti menampilkan diri, Su-to Yan berputar di udara, kemudian merentangkan kedua tangannya, satu diantaranya berhasil menjangkau tangan Cu-kat Hong.

Cu-kat Hong rupanya agak lengah, sehingga Su-to Yan berhasil melempar tubuh orang itu.

Dikala berdiri lagi, Cu-kat Hong merasa pergelangan tangannya sakit sekali, itulah hasil cengkeraman Su-to Yan, Dia telah dikepung dua jago kelas satu.

Tentu tidak ada harapan untuk memenangkan pertandingan itu.

Su-to Yan berdiri dengan sikap yang sangat tenang.

"Kau telah melepas kedua kawanku, mengingat budi ini, aku tidak mencelakaimu."

Berkata Su-to Yan.

"Huh,"

Cu-kat Hong tidak puas.

"Tahukah akibat dari kejadian hari ini ? Aku tidak akan melepaskanmu tahu?"

"Aku diharuskan membunuhmu?"

Berkata Su-to Yan membentak, -ooo0dw0ooo-

Jilid 6 MATA CU KAT HONG berkilat-kilat.

"Baiklah."

Berkata jago ini.

"Kau sebagai murid Ciok Pek Jiak tentu mempunyai keberanian untuk berkunjung kelembah Cui-goatkok. Aku menunggu kedatanganmu."

Tubuh Cu Kat Hong melesat, meninggalkan tempat itu. Su-to Yan menghampiri Sie An.

"Saudara Sie."

Katanya.

"untung kau datang, kalau tidak, niscaya aku menderita siksaan-siksaannya."

Dia menghaturkan rasa terima kasihnya.

Sie An sangat menyayangi pedangnya dikala bertempur Cu-kat Hong, pedang itu telah dipatahkan maka ia harus mencari pedang lain, hal itu sangat melesukan hatinya, Su-to Yan dan Sie An meninggalkan gua yang telah digunakan oleh Cu-kat Hong.

Dikala Su-to Yan akan mengajukan pertanyaan kepada Sie An, kemanakah perginya Cin Bwee, didepan mereka telah terbentang secarik sapu putih.

Kain putih itu bertulisan demikian bunyinya.

"Kawan wanitamu telah kubawa kelembah Cui Goat-kok. Berani kau datang untuk mengambil pulang dirinya ?"

Tertanda tangan.

Cu kat Hong.

Su-to Yan mengerutkan keningnya, bukanlah suatu tugas yang mudah, mengingat kehebatan lembah Cui-goat-kok yang disertai barisan yang bernama Cian-tok Toa-tin, dimana tersebar racunracun terkenal jahatnya, siapa lengah, dia akan terkena racunracun itu.

Sie An turut berduka atas kejadian itu, Tugas untuk menyerahkan pedang In-liong tentu kalah penting, bila dibandingkan menolong jiwa Cin Bwee.

Yang menjadi pengecualian adalah perbedaan tempat, mengingat dia sudah berada didaerah gunung Bu-san.

Su-to Yan mengambil keputusan untuk menemukan le Han Eng, menyerahkan pedang Inliong, setelah itu dia akan menuju lembah Cui-goan-kok, menolong Cin Bwee.

Perjalanan dilanjutkan, menuju kearah kelembah Hui-in.

Pada saat itu, haripun sudah menjadi malam, gelap mengusir mata hari yang menerjunkan diri dibagian barat.

Rembulan timbul remang-remang diantara gumpalan awan-awan, seolah-olah berusaha menyatukan diri diatas permukaan awan-awan itu.

Su-to Yan dan Sie An meneruskan perjalanan mereka.

Bagaikan dua ekor kera cekatan mereka mendekati sebuah tebing, akhirnya tiba ditempat bekas persemayaman Ie Siauw Hu.

tempat yang bernama lembah Hui-in itu.

Dikala Ie Siauw Hu masih ada, tokoh-tokoh silat dari golongan sesat maupun dari golongan benar, ada yang menaruh perhatian besar, tidak seorangpun yang berani sembarangan mendatangi tempat ini.

Dan bila ingin masuk kedalamnya harus dengan jalan mundur.

Su-to Yan dan Sie An tidak berani melupakan peraturan itu, mereka mengendurkan langkah kakinya.

Tiba dimulut lembah Hui in, seorang tua telah menghadang kedua pemuda kita.

Su-to Yan dan Sie, An menunduk hormat.

"Lo-tiang,"

Berkata Su-to Yan.

"dapatkah memberi sedikit petunjuk, bagaimana harus dapat menemui nona le Han Eng?"

Orang tua itu menatap kedua tamunya, dengan singkat memberikan jawaban.

"Menyesal sekali, nona kami sedang tidak menerima tamu."

Su-to Yan tidak cepat putus harapan, dia berkata lagi.

"Kami datang dari tempat jauh, dapatkah memberi tahu kepadanya, bahwa Su-to Yan cucu Su to Pek Eng hendak melunasi janji yang dicetuskan pada 40 tahun berselang."

Orang tua itu terkejut.

"Kau anak dari keluarga Su to tayhiap?"

Dia ragu-ragu.

Bukan saja orang tua itu yang kaget, Sie An turut terkejut, ternyata kawan yang didampingi olehnya selama beberapa hari itu adalah anak dari keluarga Su to Pek Eng, seorang tokoh akhli pedang yang pernah menguasai rimba persilatan pada 40 tahun yang lalu ?

Orang tua itu memandang tamunya untuk sekian lama, kemudian dia berkata .

"tidak kusangka, hari ini dapat menjumpai keluarga dari turunan Su-to tayhiap, silahkan masuk, Nona Ie Han Eng berada diatas tebing Ciat-seng-gay."

Su to Yan menganggukkan kepala, langkahnya diayun lagi, menuju ke dalam lembah. Sie An tidak leluasa untuk mengikuti jejak kawan itu, ia berkata.

"Saudara Su-to, aku menunggu ditempat ini."

Su-to Yan memandang kawan itu, dia berpikir sebentar dan akhirnya menyetujui putusan kawan itu.

"Baiklah, Setelah menyerahkan pedang-In-liong, segera aku keluar lagi."

Dan Su-to Yan meneruskan perjalanan seorang diri.

Untuk tiba diatas tebing Ciat-Seng-gay tidak terlalu sulit, memasuki daerah lembah Hui-in, terdapat papan-papan petunjuk jalan yang menyebut nama-nama tempat disekitar tempat itu, Su to Yan mengambil jalan yang menuju kearah tebing Ciat seng gay, bila ada persimpangan jalan, selalu terpasang papan yang bertulisan Ciat seng gay.

Seorang gadis berbaju hitam sedang membelakangi jalan naik kearah tempat ini, dia memandang belasan pohon Siong yang menjulang tinggi, dibawah pohon pohon itu terdapat beberapa meja dan bangku yang terbuat dari pada batu, tersorot sinar rembulan, pemandangan diatas tebing agak menjernihkan pikiran.

Dikala Su-to Yan tiba diatas tebing itu, sang gadis membalikkan badannya, mereka saling pandang.

Su-to Yan maklum bahwa dirinya berhadapan dengan Ie Han Eng, cepat-cepat ia memberi hormat.

"Su-to Yan menyampaikan salam kepada nona."

Dia berkata. Gadis berbaju hitam adalah Ie Han Eng, dia menatap pemuda di hadapannya.

"Saudara bernama Su-to Yan? Bermaksud apakah datang ke tempat ini?"

"Su-to Yan datang untuk menempati janji pada 40 tahun yang lalu, menyerahkan pedang In-liong kepada nona."

Berkata Su to Yan, dia melepaskan pedang In liong dan diserahkan kepada gadis yang berhak menerimanya.

Ie Han Eng tidak segera menyambut pedang itu, dia menatap pemuda dihadapannya, Dengan sinar matanya yang tajam, dibawah sinar rembulan semakin menonjolkan kecantikannya, wajahnya bercahaya, membuat Su-to Yan sangat kesima.

Betul-betul membuktikan bahwa Su-to Yan tidak mempunyai maksud jahat, dia berkata.

"Bagaimana kau dapat membuktikan, bahwa pedang In-liong betul-betul menjadi hak milikmu?"

Su-to Yan tertawa, tubuhnya mundur dua tapak, dengan tangan kiri, dia memegang sarung pedang, tangan kanannya yang merekam gagang menarik keluar pedang Pusaka, Cepat sekali dia memainkan dua gerakan tipu pedang, itulah jurus yang terdapat dari tipu Hauw-tong Pat-kiam atau berarti menyapu delapan penjuru, tipu lihay dari ilmu pedang kakeknya.

Su-to Yan terkenal sebagai raja pedang, dan jurus itu dapat membuktikan bahwa pedang bukan didapat dari lain orang, Dia telah mewarisi pedang, juga mewarisi ilmu pedang, Dia telah membuktikan bahwa dirinya ada turunan keluarga Su-to.

Memperhatikan permainan pedang sipemuda, Ie Han Eng mengasah otak, akhirnya dia menganggukkan kepala.

Su-to Yan sudah menyarungkan pedang In-liong, diserahkan kepada sigadis.

le Han Eng menerima pedang itu.

Dengan suaranya yang sangat merdu, dia berkata .

"Terima kasih."

Su-to Yan telah selesai menunaikan tugasnya, dia sedang berhadapan dengan seorang gadis yang terlalu cantik, siapakah yang tidak kenal kepada bidadari dari lembah Hui-in?

Kecantikan dan keluwesan le Han Eng telah menimbulkan rasa cemburu semua orang, termasuk Jie Ceng Peng dan Cin Bwee.

Terlalu lama di tempat itu berarti mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk memelihara benih kasih sayang, besar kemungkinan berakhir dengan suatu kisah cinta.

Segera Su-to Yan meminta diri.

"Pedang In-liong telah kuserahkan. Mengingat banyak orang yang menghendaki pedang tersebut, kuanjurkan nona berhati-hati menjaganya."

Berkata Su-to Yan.

"sampai disini pertemuan kita, aku hendak kembali."

Kata-kata Su-to Yan yang berada diluar dugaan le Han Eng, dia mengajukan pertanyaan.

"Mengapa kau terburu-buru ?"

Sinar mata le Han Eng memancakan cahaya bening, Su-to Yan tidak berani menantang sinar cahaya mata itu, dengan menundukkan kepala, sipemuda memberikan jawaban.

"Ada seorang kawan telah diculik oleh orang-orang lembah Cuigoat-kok, aku harus segera memberikan pertolongan kepadanya."

Su-to Yan tidak menyebut nama Cin Bwee, le Han Eng berkata.

"Ada sesuatu yang hendak kuberikan sebagai tanda mata, bersediakah kau turut untuk mengambilnya ?"

Su-to Yan berkerut kening sebentar, dan tidak menolak tawaran seorang gadis cantik yang seperti le Han Eng, dia menganggukkan kepalanya.

Sang gurupun pernah meninggalkan pesan, dia diwajibkan menerima sesuatu yang akan diserahkan oleh gadis itu.

Mendapat kesedian sipemuda yang tidak keberatan untuk menerima hadiahnya, Ie Han Eng meninggalkan tebing Ciat-senggay.

Su-to Yan mengikuti dibelakang gadis itu.

Disepanjang jalan, mereka tidak mengadakan percakapan lagi.

Dibawah sinar bulan purnama, pemandangan lembah Hui-in ada sangat indah, pohon pohon siong yang tinggi berbaris dikedua sisi, cukup menarik dan menawan hati.

Langkah le Han Eng yang lemah gemulai menuruni tanggatangga batu, tubuhnya begitu langsing, cukup padat dan berisi, menambah keserasian pemandangan malam itu.

Pikiran Su-to Yan jauh terbang kemasa-masa yang akan mendatang, dia senang kepada keindahan ditempat itu, timbul suatu niatannya untuk mencari suatu tempat melewatkan hari tua, seperti keadaan Ie Han Eng, bila dia mendapatkan suatu tempat yang bagus, suatu tempat yang aman, alangkah senangnya hidup tanpa gangguan orang?

Hidup tentram disuatu daerah pegunungan yang indah ?

Apa lagi didampingi oleh seorang gadis yang lemah gemulai seperti ...

Su-to Yan menutup lamunannya itu, dia tidak berani berpikir lebih jauh.

Mereka telah tiba dirumah kayu, le Han Eng menyilahkan si pemuda memasuki rumah itu.

Su-to Yan menduga rumah itu tempat kediaman sigadis, ternyata dugaannya salah, perabot didalam rumah sangat sederhana, hanya sebuah tempat tidur dan sebuah kursi meja kayu.

Ie Han Eng meletakkan pedang In-liong diatas meja, kemudian menuju ketempat pembaringan, dari balik kain penutup tempat tidur itu, dia mengeluarkan sebilah pedang, bentuk dan ukurannya sama dengan pedang In-liong, pedang ini diserahkan pada Su-to Yan dan berkata.

"Ayahku memberi pesan untuk menyerahkan pedang ini kepada Su-to kongcu, terimalah sebagai hadiah."

Su-to Yan tertegun sebentar, walaupun demikian, dia menerima juga hadiah pemberian itu.

"Terima kasih."

Dan sipemuda memeriksa pedang yang dihadiahkan kepada dirinya.

Kecuali bentuk dan ukuran pedang yang sangat mirip dengan pedang In liong, ukiran kata di gagang pedang dengan huruf-huruf yang indah juga diciptakan oleh satu tangan, ukiran tersebut berbunyi Lay-Hong.

Ie Han Eng menghadiahkan pedang Lay-Hong kepada pemuda itu.

Su-to Yan sudah selesai memeriksa pedang, yang dihadiahkan kepada dirinya, itulah pedang kembar untuk pedang In-liong.

Pasangan pedang In-liong dan Lay-hong tercipta sebagai pedang kembar, tentunya ada sesuatu rahasia yang tersembunyi di balik kembaran sepasang pedang ini, apakah rahasia dari pedang tersebut?

Su-to Yan menyorenkan pedang Lay-hong di pinggangnya, dia sedang berpikir.

Dengan maksud dan tujuan apa Sang guru memberi tugas kepada dirinya untuk menyerahkan pedang In-liong kepada Ie Han Eng?

Tugas telah selesai dan hadiah si gadis juga telah di terima, sekali lagi Su-to Yan mengucapkan selamat berpisah.

"Aku meminta diri."

Ie Han Eng menganggukkan kepala.

"Tentunya kau masih menguatirkan keselamatan kawanmu yang tertahan di dalam lembah Cui-go.it-kok bukan?"

Dia berkata. Su-to Yan memberi keterangan.

"Dia terseret ke dalam pertikaian ini karena urusanku, sudah menjadi suatu kewajiban untuk menolong kawan dari kesusahan, apalagi mengingat kawan tersebut menderita karena urusan kita, Patutlah rasanya untuk mendapat perhatian khusus."

"Berhati-hatilah kepada racun jahat lembah Cui-goat-kok."

Le Han Eng berpesan.

"Bila ada waktu luang, boleh sering-sering datang lagi kesini."

Su-to Yan memberikan janjinya dan lalu berpisah.

tidak menceritakan le Han Eng di dalam lembah Hui-In, marilah kita menceritakan perjalanan Su-to Yan.

Pemuda itu telah berada di mulut lembah Hui-In, dimana masih menunggu orang tua penjaga lembah dan Sie An.

Mereka menyambut munculnya Su-to Yan.

"Su-to kongcu tidak hendak bermalam di tempat ini?"

"Terima kasih, Aku hendak mengurus perkara lain."

Su-to Yan mengerutkan alisnya, mana mungkin bermalam di tempat bersemayam nya seorang gadis.

"Bila Su-to kongcu kembali lagi?"

Orang tua itu bertanya lagi.

Su-to Yan tertegun, Ucapan le Han Eng yang memperbolehkan dirinya datang ke lembah Hui-in di anggap sebagai ucapan biasa dan kini orang tua inipun mengucapkan kata-kata yang sama, entah apa yang diharapkan oleh mereka.

"Bila ada waktu, aku akan datang lagi."

Berkata Suto Yan.

"Kami harapkan kongcu cepat kembali,"

Berkata orang tua itu. Su-to Yan mengajak Sie An meninggalkan lembah Hui-in, Di tengah jalan, Sie An menarik tangan pemuda itu dan berkata padanya.

"tidak kusangka bahwa kau adalah akhli waris seorang raja pedang, pantas berkepandaian sangat tinggi, Kalian keluarga Su-to Yan dan keluarga le adalah turunan pendekar besar, mengapa tidak pernah bercerita?"

Su-to Yan tidak menjawab pujian kawan tersebut.

"Hei,"

Sie An berkata lagi.

"Bagaimana kecantikan le Han Eng? siapakah yang lebih cantik, bila dibandingkan dengan Cin Bwei atau Jie Ceng Peng?"

Su-to Yan berkata.

"Belum pernah aku melihat ada gadis secantik le Han Eng."

"Ha, ha, ha..."

Sie An tertawa.

"Jangan-jangan kau terpikat oleh kecantikannya He,.... Bagaimana dengan Cin Bwee? Kau harus maklum kepada sifat tabiat kawan wanitamu itu, dia besar cemburu, bila tidak baik-baik mengenal dirinya, besar kemungkinan timbul perang piring mangkuk."

"Jangan kau pikir yang bukan-bukan, kau kira aku Su-to Yan orang apa?"

Mereka telah meninggalkan lembah Hui-in, mengarungi puncak puncak di pegunungan Bu-san. Tiba-tiba terlihat pedang yang tergembol di pinggang Su-to Yan, dengan heran Sie An mengajukan pertanyaan.

"Eh, kau bilang menyerahkan pedang In-liong?"

Su-to Yan tertawa, dia memberi keterangan.

"Jangan salah paham, yang ini bukan pedang In-liong."

Mereka sedang melalui suatu jalan yang menanjak, sebelum Suto Yan memberi keterangan yang lebih jelas, tiba tiba delapan bilah kampak tipis telah beterbangan, mengancam Su-to Yan dan Sie An.

Kampak-kampak itu adalah ciri ciri dari 12 anak buah Auw-yang le yang paling diagulkan, adanya senjata kampak kampak tipis itu adalah hasil buah tangan dari para Setan Kampak.

Dengan tangan bergantian, Su-to Yan berhasil menyampaikan 6 kampak kampak tipis, dan Sie An menjatuhkan dua dari sisanya.

Serangan-serangan kampak terbang digagalkan!

Didepan Su-to Yan telah muncul beberapa orang, dikanan KongSun Giok dan dikiri Auw-yang le, di belakang mereka berbaris beberapa orang anak buahnya.

Untuk menghadapi Su-to Yan, kedua akhli pedang itu menggabung kan diri.

Kehadiran mereka sudah berada di dalam perhitungan Su-to Yan dan Sie An, mereka telah siap-siap untuk menghadapi musuh, tentu saja tidak begitu kaget.

Pendekar pedang Utara Auw-yang le mengeluarkan suaranya yang tidak sedap.

"Ha, ha, semua akhli pedang telah berkumpul menjadi satu."

Kong-sun Giok mempunyai perangai yang lebih tajam dari Auwyang le, dia berhadapan dengan Su-to Yan.

"Bagaimana saudara Su-to, kau sudah berhasil menjumpai le Han Eng?"

Demikian ia mengajukan pertanyaan.

Matanya masih berkilat-kilat memandang pedang Lay-hong yang tergantung dipinggang Su-to Yan.

Bentuk dan ukuran pedang sepasang pedang kembar In-liong dan Lay-hong tidak mempunyai perbedaan, Kong-sun Giok menyangka bahwa itu adalah pedang Inliong, maka dia telah mengajukan pertanyaan seperti tersebut.

Su-to Yan meninggalkan kerlingan matanya, dia berkata.

"Pentingkah kejadian itu bagimu? Ada hubungan apa dengan saudara Kong-sun ?"

"Penting sekali."

Berkata Kong-sun Giok "Sebagai bengcu untuk daerah Kang-lam, aku wajib mengetahui semua kejadian yang terjadi didaerah kekuasaanku, bukan ?"

"Suatu hal yang mungkin menjengkelkan kalian."

Berkata Su-to Yan.

"Pedang In-liong telah kuserahkan kepada yang berkepentingan."

"Pedang itu?"

Tunjuk Kong-sun Giok pada pedang Su-to Yan.

"Ini yang nona Ie Han Eng hadiahkan kepadaku."

"He, betul-betul telah kau serahkan pedang In-liong kepada Ie Han Eng?"

Auw-yang le turut berteriak.

"tidak salah."

"Bagus."

Berkata Kong-sun Giok.

"Ie Siauw Hu pernah berjanji, tidak akan mengajarkan pada siapapun ilmu pedang Maya Nada, juga tidak menurunkan ilmu pedang tersebut kepada semua anak turunannya. Tentunya, ilmu pedang tersebut telah jatuh kedalam tanganmu, bukan ?"

"Aku tidak tahu menahu dengan ilmu pedang Maya Nada,"

Berkata Su-to Yan.

"Jangan memutar balikkan takta."

Berkata Kong-sun Giok.

"Apa tugasmu menjelajahi lembah Hui-in, bila bukan untuk mendapatkan ilmu pedang Maya Nada?"

"Aku mendapat tugas dari guruku untuk menyerahkan pedang In-liong kepada nona le Han Eng didalam lembah Hui-in, kecuali itu, tidak ada pesan lain. Belum pernah guruku menyebut nama ilmu pedang Maya Nada, jangan kau memaksakan orang."

"Ha, ha... Kau takut kami mengeroyokmu?"

Su-to Yan mendelikkan mata.

"Siapa yang takut kepada kalian?"

Dia membentak. Kong-sun Giok berkata lagi.

"Takut kehilangan ilmu pedang itu? Berani kau menyangkal ?"

Su-to Yan menepuk dada, dia berkata.

"Aku Su-to Yan bersedia menerima tantangan setiap orang yang hendak mencari gara-gara, termasuk juga kalian berdua, jangan membuat cerita burung. Siapa yang lebih dahulu hendak memberi pelajaran kepadaku ?"

Kong-sun Giok tertawa berkakakan.

"Su-to Yan,"

Dia menudingkan tangan.

"Lupakah akan kejadian disungai Tiang-kang? masih berani menantang !"

Su-to Yan tidak menjadi marah, dengan tenang dia berkata.

"Kejadian itu telah berlangsung lebih dari satu bulan, mungkinkah tidak ada perubahan?"

Kongsun Giok sangat marah.

"Bagus."

Dia menggeram.

"Tentunya kau telah mendapat kemajuan, hendak mengulangi tantangan?"

"Mengapa tidak boleh?"

"Bagus, Hari ini kau boleh mengulang ketajaman pedangku, kau, Su-to Yan, tidak akan keluar dari daerah Bu-san."

Pendekar pedang Bayangan Sie An mendenguskan suaranya yang sangat memandang rendah, dengan suara dingin dia berkata.

"Kau mempunyai kepandaian itu?"

"Ha, ha, kau kira Kong-sun Giok tidak dapat membunuhnya?"

Si Pedang Selatan sudah sesumbar.

Su-to Yan masih berada dalam situasi tenang, tidak marah atas cemoohan itu.

Sie An telah menyaksikan ilmu kepandaian sang kawan, bila Kong-sun Giok berani mengulangi pertandingan, jago pedang itu akan menderita kerugian dibawah tangan Su-to Yan, penyakit yang dicari sendiri, seolah-olah ular yang mengikuti penggebuk, mana mungkin Kong-sun Giok dapat menandingi Su-to Yan yang gagah perkasa ?

"Boleh dicoba dahulu, bukan?"

Kemarahan Kongsun Giok tidak tertahan.

"Sreeet..."

Dia mengeluarkan pedangnya. Pendekar Pedang Selatan Kong Sun Giok jarang menemukan tandingan, apalagi tandingan yang dapat mengalahkan dirinya. Kong sun Giok berkata.

"Su to Yan cabut keluar pedangmu."

Su-to Yan mengeluarkan suara dari hidung.

"Kong-sun Giok, jangan terkebur, Kau kira harus mempergunakan pedang, baru dapat mengalahkan dirimu?"

"Bagus."

Berkata Kong-sun Giok.

"Terimalah seranganku."

Kata tadi disertai dengan serangannya, dia menusuk kearah pundak kanan Su-to Yan.

Sangat cepat dan tajam.

Su-to Yan harus segera tiba dilembah Cui goat-kok, tidak mau terlalu lama melibatkan diri didalam pertempuran itu, tangannya terangkat naik, dengan kelima jarinya, dia mementil pergi datangnya ujung pedang lawan.

Melihat keberanian musuh itu, Kong-sun Giok semakin marah, pedang dimainkan demikian rupa sehingga sekaligus mengancam semua jari-jari yang hendak menyentil pedang itu.

Su to Yan menarik diri, tentu saja, dia mundur tanpa membelakangi musuhnya.

Kong-sun Giok Menyusul larinya musuh itu, pedang masih digerakkan, dengan tipu Ceng hong Kwa-cay atau Biang lalat hijau melintang dilangit, membuntuti setiap gerakan Su-to Yan, Tujuan utama adalah memapas belah pundak lawannya.

Su-to Yan tertawa, yang ditakuti adalah ujung pedang tajam, kini Kong-sun Giok menyerang cepat, Menekuk sedikit perutnya, Su-to Yan melepaskan diri dari ancaman pedang itu, kemudian dia berjungkir balik, dan tubuhnya sudah berada diatas udara, bebas dari kekuasaan pedang lawannya, bagai seekor alap-alap yang menerkam mangsanya, dia menukik kebawah.

Pundak Kong-sun Giok terluka, baju di bagian itu pecah beterbangan.

Dikala Su-to Yan melepaskan diri dari kurungan pedang KongSun Giok, Auw-yang Ie mengeluarkan pedang, maksudnya hendak menolong Kong-Sun Giok, pedang itu ditusukkan ke arah Su-to Yan.

Su-to Yan dapat membunuh mati Kong Sun Giok, tapi dia tak mau, hanya melukai pundaknya, dan berjumpalitan sekali lagi, dia menghindari diri dari serangannya Auw-yang Ie.

Sie An turut maju, memukul Auwyang Ie.

Hanya dua gebrakan, merekapun terpisah kembali.

Su-to Yan menyapu kearah semua orang, sinar mata itu sangat tajam.

Kong-sun Giok harus menerima kekalahan, dia dikalahkan oleh Su-to Yan, dengan wajah muram dia berkata.

"Selama belasan tahun aku berkelana di dalam rimba persilatan,belum pernah menderita kekalahan seperti apa yang hari ini kuderita, Dan mungkin, bila aku kalah dibawah tangan jago ternama, kau tidak akan menyesal, Yang disayangkan aku jatuh dibawah tanganmu."

"Pletak..."

Dengan mematahkan pedang. menggunakan tenaga dalamnya, dia Memandang Su-to Yan yang sangat dibenci, dia berkata lagi.

"Su-to Yan, walau kau melupakan kejadian ini, Aku Kong-sun Giok tidak akan melupakannya, pada suatu hari, aku akan datang kembali menuntut balas atas kekalahan yang telah kuderita."

Demikian Kong-sun Giok menutup perkataannya, kemudian dia memutar badan dan pergi meninggalkan tempat itu, tanpa mengucapkan selamat berpisah dengan Auw-yang Ie.

Su-to Yan tidak melarang kepergian orang, mengingat dia ada maksud untuk meredakan situasi panas dengan segala golongan, termasuk anak buah si Pedang Selatan Kong-sun Giok.

Bukan maksud Su-to Yan untuk menanam bibit permusuhan, dia menempur orang untuk memberi bukti kepada orang bersangkutan tidak boleh menghina setiap insan hidup, walau tidak mempunyai ilmu kepandaian silat.

Auw-yang te tidak mempunyai ilmu silat yang lebih tinggi dari Kong-sun Giok, setelah Kong-Sun Giok kalah, dia harus mengikuti jejak akhli pedang itu, memberi hormat kepada Su-to Yan seraya berkata.

"Kulihat ilmu kepandaianmu terlalu tinggi, akupun bukan tandinganmu. Selamat tinggal sampai berjumpa dilain hari."

Mengajak orang-orangnya, Auw-yang Ie-melenyapkan diri. Su-to Yan bengong menyaksikan kepergian orang-orang itu.

"Hei,"

Sie An menegur kawannya.

"Apa yang sedang kau pikiranku? Mengapa melamun seperti seorang yang kehilangan sukma?"

"Aku sedang memikirkan mereka."

Berkata Su-to Yan memberi jawaban.

"Biar saja mereka pergi, Mari kita meneruskan perjalanan!"

Berkata Sie An.

Mereka meninggalkan lembah Hui-in, keluar dari daerah Bu san.

Suatu ketika, mata Sie An terbelalak, dia mengawasi puncak gunung ketiga, dibawah cahaya sinar bulan purnama, disana terlihat asap mengepul tinggi, entah apa yang telah terjadi ditempat itu.

"Saudara Su-to,"

Dia memberi tahu kejadian itu kepada kawannya.

"Lihat, kenalkah kepada asap itu ?"

Su-to Yan berpaling kearah yang ditunjuk oleh kawannya.

"Entahlah."

Dia menggelengkan kepala.

"Pernah dengar nama Debu Merah Cian-cang-ang-tin ?"

Sie An memberi keterangan.

"Kukira inilah yang diartikan dengan debu merah itu."

Debu Merah Thian-cang-ang-tin adalah tanda-tanda dari partay Thian-san-pay.

Kepada musuh mereka diberi keputusan untuk menyingkirkan diri, sebelum bergebrak, bila musuh dapat menjauhkan diri sampai sepuluh lie, maka semua dendam dibebaskan.

Su-to Yan sedang berpikir-pikir, apa maksud kunjungan partay Thian-san-pay?

Mungkinkah berjuang merebut kitab ilmu pedang Maya Nada ?

Suatu kejadian yang sangat lucu, dia tak tahu menahu akan adanya ilmu pedang itu, tapi semua orang mengatakan bahwa ilmu pedang tersebut berada pada dirinya, mereka ingin merebut ilmu pedang yang maha dahsyat tersebut.

Yang pasti, ilmu pedang Maya Nada berada didalam tangan si Bidadari dari lembah Hui-in Ie Han Eng.

Dan ilmu pedang itu tidak diberikan kepada dirinya.

Dia tidak mempunyai hak untuk meminta ilmu tersebut, juga tidak ada niatan untuk mengangkanginya.

Mengikuti datangnya gumpalan asap merah, disana telah berlari datang dua bayangan, mereka terdiri dari lelaki yang mempunyai ukuran badan sangat tegap dan kekar, berpakaian serba merah, memandang Su-to Yan dan Sie An, mereka berkata.

"Yang mana bernama Su-to Yan ?"

Pemuda kita melambungkan dadanya.

"Ada apa?"

Dia tidak menyangkal dari kenyataan.

"Saudara Su-to Yan?"

Bertanya lagi kedua orang berbaju merah meminta kepastian.

"Betul."

Berkata Su-to Yan menganggukkan kepalanya.

"Ketua partay kami mengundang saudara ketempat kami."

Berkata kedua orang itu.

"Dimanakah ketua partay kalian ?"

"Mari ikut kami."

Kedua orang berbaju merah membalikkan badan mereka meninggalkan tamu yang diundang begitu saja.

Su-to Yan dan Sie An saling pandang, Sie An menganggukkan kepala, suatu tanda bersedia untuk menerima undangan itu, dan Su-to Yan berkata.

"Mereka mengundang aku, kukira ada baiknya kau menunggu disini."

"Boleh juga."

Sie An tidak keberatan. Su-to Yan mengikuti kedua bayangan merah itu. Didalam sekejap mata, mereka telah tiba didepan sebuah gua, kedua orang berbaju merah berkata dengan hormat.

"Ketua kami berada didalam, silahkan saudara Su-to masuk."

Su-to Yan tidak gentar untuk menempuh bahaya itu, apa yang hendak dikatakan oleh ketua Thian-san-pay.

Dia harus mendapat penjelasan.

Su-to Yan masuk kedalam gua itu.

Seorang tua berbaju merah menyambut kedatangannya, sikapnya sangat dingin, adem tidak bersemangat, jenggotnya orang itu cukup panjang, umurnya diduga diatas enam puluhan.

Menatap wajah Su to Yan sekian lama, orang tua itu berkata.

"Kau yang bernama Su-to Yan?"

Pemuda kita memberikan jawaban.

"tidak Salah."

"Murid Ciok Pek Jiak?"

Bertanya lagi orang tua berbaju merah itu.

"Betul."

"Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?"

Orang tua itu menunjuk hidung sendiri.

"Boanpwee belum tahu. Bagaimanakah sebutan cianpwee yang mulia ?"

Orang tua itu mengeluarkan suara dari hidung.

"Huh! Ciok Pek Jiak belum pernah menyebut namaku?"

Ciok Pek Jiak termasuk orang biasa.

Sebagai seorang manusia tentu mempunyai kealpaan atau sesuatu yang dilupakan, tidak menyebutnya nama orang tua ini bukan berarti memandang rendah, terlalu banyak orang yang terkenal, tidak mungkin menceritakan ciri-ciri semua orang itu.

Su to Yan menganggukkan kepalanya.

Orang tua berbaju merah itu berkata lagi.

"Aku adalah ketua partay Cian san pay? pedang Berapi Su In Seng."

"Ternyata Su In Seng cianpwee, boanpwe Su-to Yan menyatakan hormat."

Su-to Yan merangkapkan kedua tangannya, Orang yang berada didepan dirinya adalah seorang akhli pedang golongan tua, dia wajib menaruh hormat.

"Dimana kini gurumu itu?"

Ketua partay Cian San-pay Su In-seng mengajukan pertanyaan.

"Beliau sudah tiada."

Berkata Su-to Yan.

"Hee... Ciok Pek Jiak dikeroyok orang?"

Su In Seng terkejut.

"tidak."

"Mana mungkin dia mati?"

Su In Seng tidak percaya.

"Bila orang yang seperti gurumu itu sudah mati lebih dahulu, orang-orang yang sebangsaku ini sudah menjadi tulang berulang, hanya kerangkakerangka tengkorak saja."

Su-to Yan memberi penjelasan.

"Suhu telah melakukan suatu Pemindahan Tenaga, menyalurkan semua tenaga dan kekuatannya yang ada ke dalam tubuhku."

Ketua Cian-san-pay Su In Seng tertawa, tiba-tiba ia berjumpalitan memukul ke kanan dan ke kiri, beruntun sampai 18 kali, Dia bersilat seorang diri.

Keadaan di dalam gua itu menjadi panas semakin panas, sehingga menyesak jalan pernapasan orang, Su-to Yan terdorong mundur, begitu keras kekuatan yang tidak terlihat itu, hampirhampir dia jatuh jungkir balik.

Su-to Yan mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan hawa panas didalam gua, dia sedang mendapat ujian dari orang tua itu.

Su In Siang selesai bersilat dengan tangan kosong, dia menarik diri dan berkata.

"Bagus."

Dari pinggangnya, dia mengeluarkan pedang.

"Kini giliran pedang."

Dia berkata, segera mengirim satu tusukan, Untuk menghindari diri dari tusukan pedang itu, Su-to Yan mundur ke belakang, sepasang tangannya di miringkan ke samping, inilah tipu terbaik dari Sin mo Cap-pat-sek atau iblis Sakti Bersilat yang bernama Sin-mo Ciok-po atau berati iblis Sakti Mengejar Gelumbang"

Keistimewaan dari tipu Sin-mo Ciok-poo atau iblis Sakti Mengejar Gelumbang adalah telapak tangan yang bergetar, terjadi bayanganbayangan yang tidak menetap, seolah-olah ilmu biasa, tapi mengandung perubahan istimewa, di misalkan musuh tidak tahu diri dan masih berani menyerang masuk kedalam posisi pertahanannya, tipu Sin mo Ciok-po dapat diubah menjadi tipu Sin-mo-lay kut atau iblis Sakti Membanting Tulang.

Ketua partay Cian-San-pay Su In seng dapat mengenal keistimewaan Sin-mo Ciok po, dia belum mempunyai cara-cara yang terbagus untuk memusnahkannya, jalan satu-satunya adalah menarik pulang pedang yang diangsurkan kedepan.

Dengan demikian seolah-olah dia menarik diri dari inisiatif penyerangan.

Su-to Yan membuang ilmu pelajaran gurunya, tangan yang di rentangkan berkepal cepat dan menegakkan jari-jarinya, itulah tipu Tiga Belas Jari Menguasai Alat Pie-pa, salah satu dari 10 macam ilmu silat dari jaman purbakala.

Su In Seng terkejut, tidak diduga sama sekali, bahwa dia dapat menyaksikan ilmu kepandaian yang sudah lenyap dari permukaan bumi, pedangnya mengancam jari-jari lihay Su-to Yan.

Su-to Yan tidak membiarkan jarinya dipapas pedang, diapun menarik pulang serangan tadi, berganti siasat, kali ini dia menggunakan tipu Thian-mo-nie-hun cauw yang berarti cengkeraman iblis dari Langit, juga salah satu dari 10 macam ilmu silat terpendam di jaman purba kala.

Su In Seng telah memutar pedang, seolah-olah blaing-blaing cepatnya, membuat suatu payung bayangan, tanpa takut mendapat serangan, dia maju merangsak Su-to Yan.

Si pemuda betul betul menemukan tandingan, beberapa macam ilmu silat telah dikeluarkan belum berhasil menekan kakek tua itu, dengan ilmu It-bok Cin-khie yang melindungi diri, dia bersilat cepat, sebentar mengeluarkan tipu Thian-mo-nie-hun-cauw, sebentar dengan ilmu Sin-mo Kiu-sek, sebentar dengan ilmu Pie-pi-sa-chiu.

Aneka macam ilmu gabungan itu memberikan pelayanan yang hebat dan dahsyat.

Masing-masing mempunyai gerakan yang cepat, masing-masing hendak mengalahkan lawannya, didalam sekejap mata, mereka telah bergerak hampir lima ratus jurus.

Su In Seng tidak ada hasrat untuk menghabiskan jiwa Su-to Yan, manakala sipemuda terdesak, dia mengundurkan serangannya, memberi kesempatan untuk Su-to Yan memperbaiki posisinya, maka pertempuran itu berlangsung lama.

Tentu saja, untuk mengalahkan Su-to Yan yang kurang pengalaman, Su In Seng dapat menggunakan tipu.

Tapi dia tidak mau.

maksud tujuannya hanya menguji pemuda itu.

Kini, dia sudah puas mengadakan ujian, tiba-tiba mengundurkan diri, menarik pulang semua serangan dan berkata keras.

"He, kau tidak hanya berguru kepada Ciok Pek Jiak seorang, bukan?"

Su-to Yan memuji kepintaran dan ketajaman mata orang tua ini, apa yang harus dikatakan olehnya? Terdengar suara Su In Seng yang mengoceh panjang.

"Ciok Pek Jiak pernah menanam sedikit budi, sedikit banyak, aku kenal kepada tipu pelajaran silatnya, Aku hendak membuktikan dugaan-dugaanku, dan kau benar murid tuan penolongku itu. Sekian lama aku menyelidiki gurumu lainnya, aku gagal, tidak berhasil menyelami gerakan-gerakan silat yang sangat lihay, kau sangat beruntung mendapat didikan luar biasa, sayang terlalu acakacakan, kurang sempurna, belum dapat menggabungkan semua pelajaran-pelajaran yang ada pada dirimu.

Baca Juga: Kisah Si Naga Langit 6

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert