Eps 6 Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.
"Lihat, betapa galaknya nona ini! Wah, aku suka yang galak-galak begini, makin liar semakin menyenangkan. Ha-ha-ha! Biarlah engkau mendapat yang satunya itu, Koan-te (adik Koan)!"
"Ha-ha-ha!"
Yang brewokan juga tertawa senang.
"Aku lebih suka yang sikapnya halus ini!"
"Nona, jangan galak-galak. Marilah kalian ikut dengan kami, bersenang-senang daripada kesepian di sini!"
Setelah berkata demikian, perwira tinggi besar menjulurkan tangannya hendak mengusap pipi Kim Lan. Bukan main marahnya Kim Lan.
"Wwuutt...... plak!"
Tiba-tiba Kim Lan sudah maju menampar dengan tangannya, mengenai pipi si perwira tinggi besar sehingga orang itu terhuyung ke belakang.
Agaknya perwira itu memiliki tubuh yang kuat maka tamparan itu hanya membuatnya terhuyung.
"Jahanam, engkau bosan hidup!"
Kim Lan membentak dan sekali tangannya bergerak, ia sudah mencabut pedangnya.
Ai Yin juga sudah mencabut pedangnya dan kedua orang gadis itu sudah siap memasang kuda-kuda dengan gagahnya!
Dua orang perwira itu marah sekali.
Terutama si tinggi besar yang kena ditampar pipinya.
Dia juga mencabut golok yang tergantung di pinggangnya, diikuti perwira yang brewok.
"Berani kalian melawan kami! Kalian tentu mata-mata dari pemberontak di Kerajaan Sung Selatan!"
Kata si perwira tinggi besar.
"Kalau kami laporkan kepada Perdana Menteri Chin Kui, kalian tentu akan ditangkap dan dihukum berat!"
Kata pula perwira brewokan dan mereka berdua memberi isyarat kepada para anak buahnya. Dua losin perajurit itu sudah bergerak maju mengepung dengan senjata tajam di tangan.
"Hayo kalian dua orang gadis Han cepat membuang pedang kalian dan menyerah, atau kalian akan mati dengan tubuh hancur!"
Bentak pula perwira tinggi besar.
"Jahanam busuk, kalian semua yang akan mampus oleh pedang kami!"
Bentak Kim Lan dan iapun sudah menerjang maju dengan gerakan pedangnya, menyerang Perwira tinggi besar.
Ai Yin tidak tinggal diam, iapun menggunakan pedangnya Menyerang perwira brewokan.
Gerakan pedang dua orang gadis murid Kun-lun-pai ini hebat bukan main, cepat dan dahsyat karena mereka mainkan Tian-lui-kiamsut (ilmu Pedang Kilat Guntur).
Dua orang perwira itu cepat menggerakkan golok mereka menangkis sambil berlompatan ke belakang, terkejut menghadapi serangan kilat yang dahsyat itu.
Perajurit-perajurit lalu bergerak mengeroyok dan dua orang gadis itu menghadapi pengeroyokan duapuluh empat orang perajurit yang dipimpin dua orang perwira itu.
Dengan memainkan pedang mereka menggunakan ilmu pedang andalan mereka, yaitu Tian-lui-kiamsut, Kim Lan dan Ai Yin mengamuk bagaikan dua ekor singa betina yang haus darah.
Para murid wanita Kun-lun-pai yang langsung di bawah bimbingan Biauw In Su-thai memang sudah terbiasa dengan sifat galak dan keras guru mereka itu sehingga mereka sendiri rata-rata memiliki sifat yang keras.
Berbeda dengan para murid wanita yang langsung ditangani Hui In Sian-kouw yang berwatak lembut, merekapun rata-rata berwatak lembut.
Kim Lan dan Ai Yin sebagai murid-murid kesayangan Biauw In Su-thai berwatak keras walaupun Ai Yin lebih lembut dibandingkan Kim Lan yang galak.
Mereka berdua mengamuk dengan pedang mereka dan sebentar saja sudah ada empat orang perajurit terjungkal mandi darah dan pedang kedua orang gadis itu sudah mulai berlumuran darah.
Akan tetapi, dua orang perwira itu kiranya bukan orang-orang lemah.
Mereka berdua merupakan lawan yang lumayan tangguhnya dan dibantu oleh banyak perajurit cukup merepotkan Kim Lan dan Ai Yin yang mulai terdesak karena hujan serangan para pengeroyoknya yang jauh lebih banyak itu.
Biarpun mereka dapat merobohkan dua orang perajurit lagi, namun Kim Lan dan Ai Yin kini merasa lelah sekali.
Mereka terpaksa harus saling membelakangi agar tidak dapat diserang dari belakang dan mereka hanya dapat mempertahankan diri, memutar pedang untuk menghalau semua senjata yang datang menyerang seperti hujan itu.
Kim Lan dan Ai Yin mulai merasa lelah sekali Mereka kehabisan tenaga.
Untuk melarikan diri, mereka tidak mempunyai kesempatan lagi.
Pula, andaikata mereka dapat melarikan diri, pasukan itu dapat mengejar mereka dengan naik kuda.
Tidak ada jalan lain, mereka harus melawan terus mempertahankan diri sampai akhir.
Akan tetapi dua orang perwira itu agaknya tidak menghendaki mereka berdua mati begitu saja.
"Kepung terus, jangan bunuh mereka. Tangkap hidup-hidup!"
Teriak dua orang perwira itu.
Inilah yang ditakuti dua orang gadis murid Kun-lun-pai itu.
Membayangkan tertawan hidup-hidup oleh segerombolan orang ini, mereka berdua menjadi ngeri.
Lebih baik mati daripada tertawan hidup-hidup, pikir mereka sambil mengamuk terus.
Pada saat yang amat gawat bagi kedua orang gadis itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Ji-wi Li-hiap (Dua Nona Pendekar) jangan khawatir, mari kita basmi tikus-tikus busuk ini!"
Sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu beberapa orang perajurit Kin terpelanting, diterjang seorang pemuda yang gerakannya amat dahsyat.
Pemuda itu berusia sekitar duapuluh enam tahun, berkulit putih, wajahnya bundar dan tampan dengan alis tebal dan sepasang mata tajam, sikapnya gagah.
Tubuhnya sedang dan tegap dan pakaiannya bersih rapi.
Dia memegang sebatang pedang dengan ronce merah.
Begitu dia menerjang dengan pedangnya, empat orang perajurit berpelantingan.
Para pengeroyoknya terkejut sekali, apalagi ketika pemuda itu dengan gerakan pedangnya yang amat dahsyat kini menerjang kepada dua orang perwira dan dalam beberapa jurus saja dua orang perwira itu terjungkal mandi darah dan tewas!
Tentu saja para perajurit menjadi terkejut dan gentar.
Sebaliknya, Kim Lan dan Ai Yin menjadi girang dan bersemangat.
Mereka berdua mengamuk dan sudah merobohkan empat orang pengeroyok lagi.
Akhirnya, sisa pasukan itu ketakutan dan mereka lalu melarikan diri, berloncatan ke atas punggung kuda mereka dan membalapkan kuda meninggalkan tempat yang berbahaya itu, meninggalkan mayat-mayat dua orang perwira dan kawan-kawan mereka.
Kim Lan dan Ai Yin kini berhadapan dengan pemuda yang telah menyelamatkan mereka dari ancaman bahaya yang bagi mereka lebih mengerikan dari pada maut itu.
Kim Lan merangkap kedua tangan ke depan dada memberi hormat kepada pemuda itu, diturut oleh Ai Yin.
"Terima kasih atas bantuan tai-hiap (pendekar besar) yang telah menyelamatkan kami berdua dari pengeroyokan pasukan itu."
Pemuda itu membalas penghormatan mereka lalu dengan sikap halus dan senyum ramah dia menjawab.
"Harap ji-wi lihiap (pendekar wanita berdua) tidak bersikap sungkan. Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling bantu menentang kejahatan. Mari kita bicara di tempat lain. Tempat ini tidak nyaman untuk bicara, pula kalau sisa pasukan tadi datang membawa bala bantuan yang besar jumlahnya, kita bisa repot."
Setelah berkata demikian, pemuda itu dengan sikapnya yang hormat mengajak kedua orang gadis meninggalkan tempat itu dan memasuki hutan.
Kim Lan dan Ai Yin mengerti bahwa ucapan pemuda itu memang benar, maka merekapun mengikuti pemuda itu dan sebentar saja mereka bertiga yang mempergunakan ilmu berlari cepat sudah meninggalkan tempat di mana mayat-mayat para perajurit bergelimpangan itu.
Mereka berhenti di bagian terbuka dalam hutan itu.
"Nah, di sini kita dapat bicara dengan lebih nyaman,"
Kata pemuda itu.
"Perkenalkan, nona berdua, namaku Cia Song, seorang murid Siauw-lim-pai. Kalau aku tidak salah lihat, permainan pedang kalian tadi adalah dari Kun-lun-pai. Benarkah?"
"Tidak salah dugaanmu, Cia-taihiap (pendekar besar Cia)......"
"Aih, nona. Harap jangan sebut tai-hiap padaku. Kita murid-murid dua partai persilatan besar yang segolongan, jadi seperti saudara saja. Kalian seperti adik-adikku seperguruan sendiri."
"Ah, engkau baik sekali, Cia-twako (kakak Cia)!"
Kata Ai Yin kagum.
"Baiklah, Cia-twako. Perkenalkan, aku bernama Kim Lan dan ini su-moiku (adik seperguruanku) bernama Ai Yin, murid-murid Kun-lun-pai."
"Hemm, Lan-moi dan Yin-moi, senang sekali dapat bertemu dan berkenalan dengan kalian di sini. Akan tetapi, bagaimana sampai kalian berdua dikeroyok tikus-tikus tadi?"
Tanya Cia Song, murid Siauw-lim-pai yang pernah kita kenal.
Dia adalah murid Hui Sian Hwesio yang pernah bertemu dengan Thian Liong ketika Thian Liong berkunjung ke Siauw-lim-pai untuk menyerahkan kitab Sam-jong Cin-keng kepada Hui Sian Hwesio.
Cia Song inilah yang dulu menangkap kemudian membunuh Hui-houw-ong Giam Ti yang dituduh sebagai pemerkosa Kwee Bi Hwa, puteri Kwee Bun To.
"Kami berdua sedang melakukan perjalanan dan tiba di sini ketika rombongan pasukan itu muncul dan mereka hendak ganggu kami, maka kami melawan dan dikeroyok,"
Kata Ai Yin. Gadis ini diam-diam kagum kepada Cia Song yang tampan dan gagah, dan yang telah menyelamatkan ia dan sucinya itu.
"Akan tetapi, kalian berdua jauh-jauh datang ke sini, ada urusan apakah, kalau aku boleh bertanya? Siapa tahu, aku dapat membantu kalian,"
Kata Cia Song dengan sikapnya yang lemah lembut dan ramah.
Kim Lan dan Ai Yin saling berpandangan dan mereka setuju untuk berterus terang kepada pemuda yang menarik hati dan menyenangkan itu.
Siapa tahu dia dapat membantu dan menemukan orang yang mereka cari-cari.
"Cia-twako sesungguhnya aku sedang mencari seseorang dan su-moi ini ikut denganku. Susahnya, aku tidak tahu ke mana harus mencari seseorang itu,"
Kata Kim Lan.
"Hemm, siapakah orang yang kaucari itu, Lan-moi? Barangkali saja aku mengenalnya,"
Tanya Cia Song sambil lalu karena sesungguhnya dia tidak tertarik kepada orang yang dicari kedua orang gadis cantik ini.
Akan tetapi jawaban Kim Lan sungguh tak disangka-sangka dan amat mengejutkan hatinya.
"Cia-twako, engkau tentu tidak mengenalnya. Dia adalah seorang pemuda yang bernama Souw Thian Liong."
"Souw Thian Liong......?"
Tanya Cia Song, tertarik sekali.
"Apakah engkau mengenal dia, Cia-twako?"
Tanya Ai Yin.
"Hemm, bukankah yang kalian maksudkan itu, Souw Thian Liong murid dari Tiong Lee Cin-jin?"
"Benar sekali, twako!"
Seru Kim Lan girang.
"Apakah engkau tahu di mana dia?"
Cia Song mengerutkan alisnya.
Tentu saja dia tahu di mana Thian Liong berada!
Di Siauw-lim-si dia sudah bergaul akrab dengan Thian Liong dan ia mendengar bahwa sebuah di antara kitab-kitab pelajaran ilmu silat, yaitu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang merupakan kitab pusaka Kun-lun-pai, yang seharusnya oleh Thian Liong dikembalikan kepada Kun-lun-pai, telah dicuri seorang gadis berpakaian merah yang tidak diketahui siapa nama dan di mana tempat tinggalnya.
Dia tahu pula bahwa setelah pergi dari Siauw-lim-si, Thian Liong tentu akan mencari gadis pencuri kitab itu sampai dapat ditemukan untuk merampas kembali kitab pusaka Kun-lun-pai.
Diam-diam tanpa diketahui Thian Liong, Cia Song membayangi pemuda itu karena timbul keinginannya untuk menguasai kitab pusaka Kun-lun-pai itu!
Dia tahu bahwa Thian Liong berada di kota Kiang-cu, tak jauh dari tempat itu dan Thian Liong dilihatnya telah menyewa sebuah kamar di rumah penginapan.
Karena memang niatnya hendak mendahului Thian Liong menemukan gadis yang mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai, maka selagi Thian Liong berada di kota itu, dia sengaja keluar kota untuk menyelidiki kalau-kalau gadis berpakaian merah itu berada di sekitar daerah itu dan kebetulan dia melihat Kim Lan dan Ai Yin yang dikeroyok perajurit Kin.
"Mungkin aku dapat membantu kalian mendapatkan Souw Thian Liong. Akan tetapi aku juga ingin sekali mengetahui, mengapa kalian mencari dia?"
"Suci Kim Lan yang mencarinya, twako. Dia adalah calon suami suci!"
Kata Ai Yin. Cia Song terkejut dan memandang wajah Kim Lan yang berubah kemerahan.
"Ah, jadi engkau telah bertunangan dengan Souw Thian Liong, Lan-moi? Sungguh tidak kusangka! Kalau begitu, kiong-hi (selamat)!"
Cia Song memberi selamat dengan menjura.
"Akan tetapi, kenapa sekarang engkau mencari dia sampai ke sini? Apakah dia pergi tanpa pamit dan ada urusan yang amat penting? Katakanlah terus terang karena aku adalah kenalan baiknya dan aku pasti akan dapat menemukan untukmu."
Dengan muka masih kemerahan, Kim Lan berkata.
"Sebetulnya, dia...... memang melarikan diri dan aku ingin bertemu dengan dia untuk minta keputusannya apakah dia mau menjadi suamiku atau kalau tidak......"
"Hemm, kalau tidak bagaimana?"
Kejar Cia Song yang menjadi semakin heran.
"Kalau tidak aku...... aku harus membunuhnya!"
Cia Song terbelalak heran.
"Bagaimana pula ini?"
Tanyanya dengan heran.
"Apa yang terjadi, Lan-moi?"
"Pendeknya, bagiku hanya ada dua pilihan. Dia mau menjadi suamiku atau kalau dia menolak, aku harus membunuhnya!"
Kata pula Kim Lan. Cia Song mengerutkan alisnya, lalu dia mengangguk-angguk.
"Hemm, begitukah? Jadi dia dan engkau...... hemm, dia telah......"
"Tidak, tidak begitu, Cia-twako!"
Bantah Ai Yin yang tahu apa yang diduga pemuda itu.
"Tidak pernah ada hubungan apapun antara Souw Thian Liong dan suci. Akan tetapi suci harus melakukan itu untuk memenuhi sumpahnya, sumpah kami."
"Sumpah? Aku tidak mengerti......"
Kata Cia Song, semakin heran. Kim Lan menghela napas panjang lalu berkata.
"Begini, Cia-twako. Karena engkau bersikap baik kepada kami, biarlah kami anggap saudara sendiri dan engkau boleh mengetahui persoalannya. Kami, murid-murid subo, sudah disumpah oleh subo bahwa kami tidak boleh menikah dengan pria kecuali kalau ada pria yang mengalahkan kami dalam pertandingan dan kalau pria itu menolak, kami harus membunuhnya. Kebetulan Souw Thian Liong mengalahkan aku dalam pertandingan, akan tetapi dia menolak untuk menjadi suamiku, bahkan lalu melarikan diri. Karena itu aku harus mencarinya dan minta kepastian darinya."
Cia Song mengangguk-angguk, diam-diam dalam hatinya dia tertawa mendengar tentang sumpah yang aneh itu.
"Hemm, begitukah? Apakah semua murid wanita Kun-lun-pai harus bersumpah seperti itu?"
"Tidak, twako,"
Kata Ai Yin.
"Hanya subo Biauw In Su-thai yang mempunyai peraturan seperti itu dan kami sebagai murid-muridnya harus memenuhi sumpah kami."
"Hemm, aku pernah mendengar bahwa Souw Thian Liong datang ke Kun-lun-pai untuk menyerahkan sebuah kitab pusaka. Benarkah begitu?"
Tanya Cia Song.
"Ah, engkau tahu juga akan hal itu, Cia-twako?"
Kata Kim Lan.
"Memang benar, akan tetapi menurut pengakuannya, kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu telah dicuri orang."
"Hemm, itu menurut pengakuannya, ya? Aku sudah curiga kepadanya, aku sudah menduga bahwa Souw Thian Liong sebetulnya bukan orang baik-baik. Kitab pusaka Kun-lun-pai itu tentu ingin dia kuasai sendiri dan dia berbohong mengatakan bahwa kitab itu dicuri orang agar mendapat kesempatan untuk mempelajarinya sendiri. Dan kalau dia memang seorang gagah, tentu dia menghormati sumpahmu, Lan-moi. Bukankah mengalahkanmu lalu meninggalkan pergi, membiarkan engkau kebingungan dengan sumpahmu. Dan sementara ini, apa kalian tahu apa yang sedang ia lakukan? Hemm, aku melihat dia berhubungan dengan seorang puteri bangsawan Nuchen."
"Apa? maksudmu, seorang puteri bangsawan kerajaan Kin?"
Tanya Ai Yin penasaran.
"Ya, aku melihatnya sendiri. Dia sekarang berada di kota Kiang-cu, tak jauh dari sini dan dia telah menyewa kamar di sebuah penginapan bersama puteri bangsawan Kerajaan Kin itu."
"Tak tahu malu!"
Kata Ai Yin, hatinya ikut panas mendengar betapa pemuda yang telah mengalahkan sucinya dan menolak menikah dengan Kim Lan itu kini bergaul dengan seorang wanita Kin, bahkan bersama-sama menginap di sebuah rumah penginapan.
"Cia-twako, tolonglah tunjukkan tempatnya. Aku harus menemuinya untuk memenuhi sumpahku!"
Kata Kim Lan dengan muka berubah kemerahan karena hatinya juga mulai merasa panas.
Cia Song memang tidak berbohong.
Dia melihat betapa Thian Liong berkenalan dengan Pek Hong Nio-cu.
Biarpun dia sendiri tidak mengenal Pek Hong Nio-cu, akan tetapi dari pakaiannya dan dari keterangan orang di jalan yang dia tanyai, tahulah dia bahwa Pek Hong Nio-cu adalah seorang puteri bangsawan yang selain lihai silatnya, juga memiliki kekuasaan besar sehingga ditakuti dua orang pembesar di kota Leng-ciu itu.
Diam-diam dia membayangi dan melihat Thian Liong bergaul akrab dengan Pek Hong Nio-cu.
Diam-diam dia sendiri juga kagum kepada gadis cantik jelita yang lihai itu.
Pula, kedatangannya di daerah yang diduduki Kerajaan Kin juga bukan semata-mata hendak membayangi Thian Liong dan kalau mungkin dapat menguasai kitab pusaka Kun-lun-pai yang katanya dicuri seorang gadis baju merah itu.
Akan tetapi dia memiliki tugas pribadi yang teramat penting.
"Baiklah, aku akan mengantarkan kalian ke sana, akan tetapi kalian harus menaati petunjukku karena kalau tidak, keadaannya malah tidak menguntungkan, bahkan berbahaya sekali untuk kita semua. Ketahuilah, Souw Thian Liong seperti kalian sudah mengetahui, adalah seorang yang lihai sekali. Biarpun aku kiranya dapat dan mampu menandinginya, akan tetapi temannya itu, gadis bangsawan Kin itu, ia juga seorang yang lihai bukan main. Ia berjuluk Pek Hong Nio-cu dan memiliki ilmu kepandaian tinggi."
"Kami tidak takut!"
Kata Kim Lan.
"Biar kami hajar sekalian gadis kerajaan musuh itu!"
Kata pula Ai Yin.
"Wah, kalian ini agaknya sudah lupa berada di mana!"
Kata Cia Song sambil tersenyum.
"Kita berada di daerah yang dikuasai Kerajaan Kin, hal ini harus kalian ingat benar. Di mana-mana terdapat pasukan Kin. Kalau kita bentrok begitu saja melawan puteri bengsawan Kin itu, kemudian ia mendatangkan pasukan yang besar jumlahnya, celakalah kita!"
Dua orang gadis itu saling pandang dan baru menyadari kesalahan mereka.
"Habis, lalu apa yang harus kita lakukan, twako?"
Tanya Kim Lan, bingung.
"Nah, karena itu kukatakan tadi bahwa kalian harus menaati petunjukku. Kalian jangan tergesa-gesa turun tangan. Nanti kita memasuki kota Kiang-cu, kita menyewa kamar rumah penginapan, lalu aku akan menemui Thian Liong yang sudah kukenal baik. Aku akan membujuk dia agar dia mau menerimamu sebagai isterinya sehingga engkau tidak akan melanggar sumpahmu, Lan-moi. Kalau dia dapat kubujuk, maka segalanya menjadi beres. Kalau dia menolak, aku akan mencoba memancingnya keluar kota dan di tempat sunyi, tanpa ditemani Pek Hong Nio-cu, kita dapat memaksa dan menyerang dia."
"Kita?"
Kim Lan bertanya.
"Ya, aku akan membantumu, Lan-moi. Kalau tidak, bagaimana kalian akan mampu mengalahkannya?"
Diam-diam Kim Lan berterima kasih sekali kepada Cia Song dan Ai Yin menjadi semakin kagum kepadanya.
Mereka bertiga lalu meninggalkan hutan itu dan menuju kota Kiang-cu yang jaraknya hanya belasan lie (mil) dari situ.
"Souw-sute (adik seperguruan Souw)"..!"
Mendengar seruan itu, Thian Liong yang bersama Pek Hong Nio-cu berjalan keluar dari rumah penginapan itu terkejut dan menengok.
"Eh, suheng (kakak seperguruan) Cia Song......!"
Dia berseru heran sekali ketika mengenal Cia Song.
Sejak dia diberi pelajaran ilmu silat dari kitab Sam-jong Cin-keng oleh Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai, Thian Liong diakui sebagai murid Siauw-lim-pai dan karena itu Cia Song menyebutnya sute (adik seperguruan) dan dia menyebut suheng (kakak seperguruan) kepada Cia Song.
Cia Song melangkah cepat menghampiri Thian Liong yang berdiri di samping Pek Hong Nio-cu.
Gadis inipun memandang dengan sinar mata penuh selidik kepada pemuda tampan gagah yang menegur Thian Liong sebagai sutenya.
"Aih, Souw-sute, senang sekali kejutan ini bagiku, bertemu denganmu di tempat ini!"
Kata Cia Song, kemudian seolah baru melihat Pek Hong Nio-cu yang berdiri di samping Thian Liong, dia menyambung ragu.
"dan...... maaf, kalau boleh aku mengetahui, siapakah nona yang terhormat ini?"
Melihat di ruangan depan rumah penginapan itu terdapat tamu-tamu yang mulai memperhatikan mereka, Thian Liong segera berkata.
"Suheng, marilah kita bicara di dalam. Marilah Nio-cu."
Ajaknya kepada Pek Hong Nio-cu. Mereka bertiga lalu memasuki rumah penginapan dan tak lama kemudian mereka bertiga memasuki kamar Thian Liong dan duduk berhadapan terhalang meja.
"Cia-suheng, lebih dulu perkenalkan. Ini adalah Pek Hong Nio-cu, seorang pendekar wanita yang terkenal di daerah ini. Nio-cu, ini adalah suheng Cia Song, murid suhu Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai."
Dengan sikap lembut dan hormat Cia Song bangkit berdiri dan memberi hormat kepada gadis itu yang dibalas oleh Pek Hong Nio-cu dengan sikap anggun dan angkuh.
Melihat sikap wanita itu, makin yakinlah hati Cia Song bahwa Pek Hong Nio-cu tentulah puteri seorang pembesar tinggi kedudukannya.
"Souw-sute, tidak kusangka akan dapat bertemu denganmu di sini. Engkau...... eh, kalau boleh aku bertanya, engkau dan nona Pek Hong Nio-cu hendak pergi ke manakah?"
"Saudara Cia Song tidak usah sungkan, sebut saja aku Nio-cu,"
Kata gadis itu dengan sikap wajar. Kembali Cia Song mendapat kenyataan betapa dalam ucapannya itu gadis ini memiliki wibawa dan keanggunan yang amat kuat.
"Ah, terima kasih, Nio-cu,"
Katanya.
"Cia-suheng, tentu engkau masih ingat bahwa kitab pusaka milik Kun-lun-pai dicuri orang""."
"Ah, pencuri wanita baju merah yang tidak kaukenal siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya itu?"
Sambung Cia Song.
"Benar, suheng. Aku hanya ingat bahwa gerakan silatnya memiliki dasar ilmu silat Tibet. Karena itu, aku hendak mencari ke daerah barat dan kebetulan Pek Hong Nio-cu ini juga hendak melakukan perjalanan ke perbatasan Sin-kiang, maka kami melakukan perjalanan bersama. Dan engkau sendiri, hendak pergi ke manakah suheng?"
"Ah, aku...... aku hanya hendak melihat-lihat keadaan di utara ini saja. Akan tetapi tiba-tiba aku mendapatkan suatu urusan yang teramat penting, yang menyangkut pribadimu. Aku".. hem, agaknya urusan ini hanya dapat kaudengarkan sendiri saja, sute......"
Mendengar ucapan ini, tiba-tiba Pek Hong Nio-cu bangkit berdiri dan berkata kepada Thian Liong.
"Thian Liong, engkau bicarakanlah urusan pribadimu dengan saudara Cia Song. Aku hendak keluar sebentar. Nanti kita bertemu lagi!"
"Maafkan aku, Nio-cu,"
Kata Cia Song.
"Ah, tidak mengapa!"
Kata Pek Hong Nio-cu dan gadis ini segera melangkah keluar dari kamar itu.
Thian Liong mengerutkan alisnya, merasa tidak enak karena dia maklum bagaimana perasaan Pek Hong Nio-cu mendengar kata-kata Cia Song yang jelas hendak membicarakan sesuatu yang dirahasiakan bagi orang lain itu.
"Cia-suheng, sebetulnya ada apakah maka engkau bicara seperti ada rahasia besar?"
Tanya Thian Liong.
"Tentu saja Nio-cu menjadi tidak enak dan pergi meninggalkan kita."
"Maafkan aku, Souw-sute. Akan tetapi aku tidak mengada-ada. Memang ada hal yang harus kuberitahukan kepadamu seorang diri saja dan amat tidak enak kalau sampai terdengar orang lain, apa lagi oleh seorang gadis seperti Nio-cu tadi."
"Akan tetapi ada urusan apakah, suheng? Aku tidak merasa mempunyai urusan pribadi yang harus disembunyikan dari orang lain!"
Kata Thian Liong penasaran.
"Hemm, Souw-te, ingatkah engkau akan nama Kim Lan dan Ai Yin?"
"Kim Lan dan Ai Yin?"
Thian Liong mengingat-ingat.
Tentu saja mudah baginya mengingat dua nama gadis itu yang membuatnya penasaran setengah mati.
Kim Lan dan Ai Yin pernah mengeroyoknya, bahkan dibantu guru mereka, Biauw In Su-thai, dan hendak memaksanya untuk menikah dengan Kim Lan!
Sumpah aneh dan gila itu!
"Maksudmu......
dua orang murid wanita dari Biauw In Su-thai, tokoh Kun-lun-pai itu?"
"Hemm, ternyata engkau masih ingat dengan baik. Ya, mereka itu mencarimu dan ingin memaksamu menikah dengan Kim Lan dan kalau engkau tidak mau menjadi suaminya, mereka berdua hendak membunuhmu!"
"Hemm, sumpah gila itu? Aku sudah tahu, suheng, dan aku tidak perduli. Salah mereka sendiri kenapa mereka mau membuat sumpah gila itu? Aku tidak ingin menjadi suaminya Kim Lan atau suami siapapun juga. Biarkan saja mereka mengancam akan membunuhku. Bagaimanapun mereka berada jauh di Kun-lun-pai!"
Cia Song tersenyum.
"Siapa bilang mereka berada jauh di Kun-lun-pai? Mereka berada dekat sekali, sute. Mereka berada di sini, di kota ini!"
Thian Liong terkejut. Berita ini benar-benar mengejutkan, tidak pernah disangkanya.
"Di sini? Di mana mereka? Biar kutemui mereka dan akan kujelaskan, kusadarkan mereka bahwa sumpah mereka itu benar gila dan tidak ada artinya!"
"Sssttt, tenanglah, Souw-sute. Aku telah bertemu secara kebetulan dengan mereka. Mereka dikeroyok segerombolan penjahat dan aku kebetulan lewat dan membantu mereka. Mereka lalu menceritakan semuanya tentang urusan Kim Lan denganmu dan Kim Lan sudah mengambil keputusan nekad, yaitu mengajak engkau menikah dan kalau engkau tidak mau, ia dan Ai Yin akan mengeroyokmu dan membunuhmu!"
"Aku tidak takut, Cia-suheng. Engkau bantulah aku menyadarkan mereka dari sumpah gila itu. Kalau mereka hendak mengeroyokku, aku dapat mengatasi mereka."
"Hemm, mudah saja kau bicara. Dan apa yang dapat kaulakukan kalau mereka membunuh diri?"
Thian Ltong terbelalak.
"Membunuh diri""?"
"Nah, ini agaknya yang kau tidak ketahui, Souw-sute. Kim Lan mengatakan kepadaku bahwa kalau engkau menolak. Ia dan Ai Yin akan mengeroyokmu. Kalau mereka kalah, mereka akan membunuh diri di depanmu, karena kalau tidak, mereka juga akan dibunuh oleh guru mereka."
"Gila betul"..!!"
"Gila atau tidak, apa yang dapat kaulakukan kalau mereka membunuh diri? Berarti mereka mati karena engkau, sute. Sama saja dengan engkau yang membunuh mereka."
"Wah-wah, cialat (celaka) kalau begitu!"
Thian Liong bingung.
"Lalu apa yang harus kulakukan, suheng?"
"Apa lagi? Ya harus menjadi suami Kim Lan, itu jalan yang paling aman."
"Aih, mana bisa begitu, Cia-suheng. Kalau setiap ada gadis mengancam bunuh diri kalau tidak dinikahi, bisa repot! Tolonglah, suheng, berikan aku nasihat, bagaimana sebaiknya yang harus kulakukan. Apakah tidak baik kalau kutemui mereka dan kubujuk dan nasihati agar mereka tidak usah memenuhi sumpah mereka yang gila-gilaan itu?"
Tanya Thian Liong yang benar-benar merasa bingung sekali. Cia Song meraba-raba dagunya dan berpikir-pikir.
"Kukira itu tidak baik, sute. Engkaulah orang yang mereka cari. Kalau engkau yang menemui mereka dan menasihati, jelas mereka menganggap engkau terang-terangan menolak dan hal itu akan membuat mereka menjadi sakit hati dan lebih marah lagi. Soal membujuk dan menasihati mereka, kurasa aku akan lebih berhasil. Pertama, bukan aku orang yang mereka kejar, kedua kalinya, bagaimanapun juga mereka berhutang budi padaku."
"Dan aku? Bagaimana dengan aku? Apa yang harus kulakukan?"
"Hemm, tidak ada jalan lain, sute. Sebaiknya engkau cepat pergi meninggalkan kota ini. Jangan sampai mereka mengetahui bahwa engkau berada di sini. Jangan sampai mereka melihatmu! Lebih cepat engkau lari lebih baik, lebih jauh dari mereka lebih baik!"
"Begitukah, suheng? Hemm, agaknya memang sebaiknya begitu. Terima kasih, Cia-suheng, engkau telah menolongku!"
Kata Thian Liong dengan girang.
"Sudahlah, Souw-sute. Sekarang aku mau cepat menghampiri mereka dan akan kujaga agar mereka jangan meninggalkan rumah penginapan sehingga tidak akan bertemu denganmu. Akan tetapi, sore ini juga engkau harus meninggalkan kota ini."
"Baik, akan kuusahakan, suheng. Terima kasih!"
Cia Song segera meninggalkan rumah penginapan itu dan bergegas dia pergi ke rumah penginapan di mana dia dan kedua orang murid wanita Kun-lun-pai menyewa dua buah kamar, untuk dia dan untuk mereka berdua.
Rumah penginapan itu berada di sudut kota Kiang-cu, jauh dari rumah penginapan di mana Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu bermalam.
Tak lama setelah Cia Song pergi, muncullah Pek Hong Nio-cu.
Ternyata gadis itu tidak pergi jauh, hanya duduk di rumah makan yang berada di depan rumah penginapan itu.
Setelah ia melihat Cia Song pergi, cepat ia menemui Thian Liong.
"Thian Liong, biarpun Cia Song itu suhengmu, akan tetapi terus terang saja aku tidak suka padanya,"
Kata Pek Hong Nio-cu sejujurnya.
"Eh, Nio-cu. Kenapa begitu? Dia memang bukan suhengku secara langsung, hanya karena kebetulan Hui Sian Hwesio melatih sebuah ilmu kepadaku, maka aku lalu dianggap sebagai sutenya. Akan tetapi, dia orang baik, Nio-cu, bahkan baru saja dia telah menolong aku keluar dari keadaan yang amat menyulitkan diriku."
"Hemm, kalau engkau juga hendak merahasiakan urusan besar dan penting pribadimu itu, tidak perlu kaubicarakan denganku!"
Kata Pek Hong Nio-cu ketus.
"Pendeknya aku tidak suka padanya, mungkin kata-katanya yang terlalu manis, sikapnya yang terlalu manis, sikapnya yang terlalu sopan, dan pandang matanya yang terkadang aneh. Aku tidak percaya orang itu, Thian Liong."
"Maafkan dia kalau tadi dia merahasiakan urusan itu, Nio-cu. Akan tetapi aku tidak perlu merahasiakannya kepadamu karena urusan itu aneh dan lucu dan juga terpaksa aku harus mengajak engkau untuk meninggalkan kota ini sekarang juga."
"Hemm, kenapa begitu?"
Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnya.
"Nio-cu, mari kita bicara di dalam agar jangan terdengar orang lain."
Thian Liong mengajak dan Pek Hong Nio-cu tanpa rikuh-rikuh lagi lalu mengikuti Thian Liong masuk kamar pemuda itu dan membiarkan daun pintu kamar terbuka sehingga mereka akan dapat melihat kalau ada orang mendekati kamar itu.
Setelah mereka duduk, Thian Liong lalu menceritakan tentang sumpah Kim Lan pada subonya dan betapa sekarang Kim Lan, dibantu su-moinya yang bernama Ai Yin, mencarinya sampai ke kota Kiang-cu itu dan hendak memaksa dia mengawininya, kalau dia menolak, mereka akan mengeroyok dan membunuhnya!
"Hemm, dan engkau tidak mau menjadi suami Kim Lan itu?"
Tanya Nio-cu.
"Tentu saja aku tidak mau. Aku sama sekali belum mempunyai pikiran untuk mengikatkan diriku dengan sebuah perjodohan. Kalau aku mau tentu aku tidak akan melarikan diri dari mereka."
"Dan engkau takut menghadapi pengeroyokan dua orang gadis itu? Apakah mereka lihai sekali?"
"Tidak, aku tidak takut. Kurasa aku dapat mengatasi mereka, Nio-cu,"
Kata Thian Liong sejujurnya.
"Hemm, kalau begitu mengapa engkau harus cepat-cepat melarikan diri? Kalau mereka menyerangmu, lawan saja dan hajar perempuan-perempuan tidak tahu malu itu!"
"Ah, engkau tidak tahu, Nio-cu. Masalahnya tidak sesederhana itu. Tadi suheng Cia Song memberi tahu bahwa Kim Lan sudah mengatakan kepadanya bahwa kalau ia dan su-moinya tidak dapat membunuhku, mereka akan membunuh diri di depanku."
"Perempuan-perempuan gila!"
Desis Pek Hong Nio-cu.
"Mereka itu terpaksa, Nio-cu. Mereka sudah bersumpah kepada guru mereka dan andaikata mereka tidak membunuh diri, merekapun akan dibunuh guru mereka sendiri."
"Huh, orang-orang gila! Mengapa engkau perduli amat? Kalau mereka mau bunuh diri, biarkan saja, bukan urusanmu!"
"Ah, bagaimana aku dapat membiarkan hal itu terjadi, Nio-cu? Kalau mereka membunuh diri karena tidak dapat mengalahkan aku, berarti mereka mati karena aku. Sama saja dengan aku yang membunuh mereka."
"Huh, habis apakah selama hidupmu engkau akan terus berlari-larian menjadi buruan mereka? Gila!"
"Tidak, Nio-cu. Suheng Cia Song sudah berjanji bahwa dia akan membujuk mereka untuk tidak melanjutkan pelaksanaan sumpah mereka itu."
"Perempuan dari manakah mereka itu? Begitu tidak tahu malu!"
"Mereka bukan perempuan sembarangan, Nio-cu. Mereka adalah murid-murid Kun-lun-pai dan subo merekalah yang gila, menyuruh mereka bersumpah seperti itu."
"Tidak perduli mereka itu murid partai mana, kelakuan mereka itu memalukan! Jadi engkau tetap akan melarikan diri meninggalkan kota ini sekarang?"
"Benar, Nio-cu. Terpaksa, maafkan aku."
"Tidak, aku tidak mau pergi sekarang!"
Kata wanita itu dengan suara tegas.
"Nio-cu, sekali ini harap engkau suka mengalah,"
Pinta Thian Liong.
"Tidak, aku baru mau berangkat besok pagi-pagi. Kalau engkau takut bertemu mereka, malam ini tinggal saja di kamar, jangan keluar-keluar. Aku ingin sekali melihat orang-orang macam apa sih murid-murid Kun-lun-pai itu!"
"Aih, Nio-cu, harap jangan membuat gara-gara dengan mereka. Urusanku dengan mereka sudah cukup membuat aku pusing."
"Siapa mau cari gara-gara dengan mereka? Aku hanya ingin melihat macam apa mereka itu dan aku hanya mau pergi besok pagi-pagi. Terserah kalau engkau mau pergi sekarang!"
Setelah berkata demikian, dengan sikap marah Pek Hong Nio-cu meninggalkan kamar itu.
Thian Liong menghela napas dan menutup daun pintu kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas pembaringan.
Pikirannya pusing!
Para wanita itu, selalu membikin pusing saja!
Mula-mula gadis baju merah.
Lalu Ang Hwa Sian-li Thio Siang In.
Kemudian Kim Lan dan sekarang diapun pusing melihat sikap keras Pek Hong Nio-cu!
Mengapa mereka semua keras kepala?
Terpaksa dia mengalah kepada Pek Hong Nio-cu.
Malam ini dia tidak akan keluar kamar.
Dia akan bersembunyi saja di dalam kamarnya dan besok pagi-pagi berangkat meninggalkan kota Kiang-cu itu bersama Pek Hong Nio-cu.
Puteri itu telah membeli seekor kuda untuknya dan dua ekor kuda mereka berada di kandang rumah penginapan.
Terpaksa dia juga tidak keluar untuk makan malam.
Akan tetapi malam itu daun pintu kamarnya diketuk pelayan yang mengantarkan makanan dan minuman untuknya.
"Nio-cu yang memerintahkan untuk mengantar ini kepada sicu (tuan),"
Kata pelayan itu.
Thian Liong tersenyum dan kejengkelannya terhadap Pek Hong Nio-cu mereda.
Puteri itu ternyata memperhatikan kebutuhan makannya juga.
Akan tetapi malam itu dia tidak mau keluar kamar, khawatir kalau-kalau sampai ketahuan oleh Kim Lan dan Ai Yin.
Kembalinya Cia Song ke rumah penginapan disambut oleh dua orang gadis murid Kun-lun-pai dengan hati ingin tahu sekali.
Apa lagi Kim Lan, ia segera menyongsong kedatangan Cia Song dengan pertanyaan yang dilakukan dengan hati berdebar tegang.
"Bagaimana, Cia-twako? Apakah engkau berhasil bertemu dia?"
Cia Song tersenyum dan mengangguk.
"Beres! Aku sudah bertemu dengan Souw Thian Liong dan setelah aku membujuk dan berbantahan dengan dia, akhirnya dia menyatakan bersedia bertemu denganmu, Lan-moi."
"Ah, dia mau menikah dengan suci, twako?"
Tanya Ai Yin girang.
"Dia tidak mengatakan begitu, akan tetapi dia bersedia mengadakan pertemuan dengan kalian untuk membicarakan hal itu baik-baik. Aku yakin akhirnya dia akan mau menerimanya juga."
"Mana dia sekarang, Cia-twako? Kenapa tidak datang bersamamu?"
Tanya Kim Lan tidak sabar karena ia ingin segera mendapat keputusan akan masa depannya.
"Dia tidak dapat datang sekarang seperti kukatakan kepada kalian, dia bersama puteri bangsawan Kin itu. Akan tetapi dia bilang bahwa malam ini dia pasti datang mengunjungi kalian. Karena itu, kalian siap saja menerima kunjungannya malam ini. Setelah berkata demikian, Cia Song mengajak dua orang gadis yang sudah mandi dan berganti pakaian itu untuk makan malam.
"Mari kita makan minum untuk merayakan keberhasilanku membujuk Souw Thian Liong!"
Katanya dan mereka memasuki rumah makan.
Pemuda itu memesan bermacam masakan dan arak wangi.
Untuk menyenangkan hati Cia Song yang mereka anggap sudah menolongnya dengan sungguh-sungguh itu, Kim Lan dan Ai Yin memaksa diri ikut merayakan keberhasilan itu.
Bahkan mereka tidak dapat menolak ketika beberapa kali Cia Song mengajak mereka minum arak sehingga setelah perjamuan makan itu selesai, dua orang gadis itu merasa agak pening karena pengaruh arak yang cukup keras.
Wajah mereka menjadi kemerahan dan keadaan setengah mabok membuat mereka gembira dan mudah terkekeh senang.
Dengan langkah agak tidak tetap kedua orang gadis itu lalu diajak kembali ke rumah penginapan oleh Cia Song.
"Sekarang kalian tunggu saja dalam kamar. Nanti kalau keadaan sudah agak sepi, tentu dia akan datang berkunjung. Sebaiknya pintu kamar kalian ditutup saja, jangan dipalang dari dalam sehingga kalau dia datang, aku mudah memberitahu kalian tanpa harus menggedor daun pintu. Maklum, Souw Thian Liong menghendaki agar orang lain tidak ada yang tahu akan persoalan dia dan kalian."
Dua orang gadis itu mengangguk, kemudian mereka memasuki kamar dan menutupkan daun pintu kamar tanpa memalangnya dari dalam.
Pengaruh arak membuat mereka agak pening dan mengantuk.
Mereka lalu merebahkan diri di atas pembaringan tanpa mematikan lilin besar yang bernyala menerangi kamar itu, dan tanpa membuka sepatu.
Karena merasa yakin bahwa Cia Song tidak berbohong dan bahwa pemuda itu tentu menunggu kedatangan Souw Thian Liong dan akan memberitahu mereka, maka dua orang gadis itu berbaring dengan santai dan akhirnya tak kuasa menahan kantuk dan tertidur.
Cia Song memang tidak tidur.
Dia duduk di dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar dua orang gadis itu.
Dia menelan sebutir obat pulung berwarna merah.
Obat ini adalah obat penawar minuman keras sehingga minuman beberapa cawan arak di rumah makan tadi tidak mempengaruhinya dan dia tetap sadar.
Tiba-tiba pendengarannya yang terlatih dapat menangkap suara lembut yang datangnya dari atas genteng.
Dia terkejut dan menduga-duga.
Benar-benarkah Thian Liong datang berkunjung?
Kalau benar, gila orang itu.
Bukankah dia sudah memesan agar Thian Liong segera melarikan diri meninggalkan kota Kiang-cu?
Dia tetap waspada dan segera menyelinap keluar lalu melompat ke atas genteng melalui bagian belakang.
Dia akhirnya dapat melihat sesosok bayangan mendekam di atas kamar Kim Lan dan Ai Yin.
Jantung Cia Song berdebar tegang.
Benarkah Thian Liong datang berkunjung?
Dan kalau benar dia yang datang, kenapa caranya seperti itu, mengintai dari atas dan membuka genteng seperti kelakuan seorang pencuri?
Dia hendak menegur dengan bentakan, akan tetapi ditahannya karena setelah dapat melihat lebih jelas, dia mendapatkan bahwa orang itu berpakaian serba putih dan ketika berjongkok, pinggulnya berbentuk bulat indah dan pinggangnya ramping.
Seorang wanita!
Ah, dia teringat sekarang.
Bayangan itu tentulah Pek Hong Nio-cu, gadis bangsawan Kin itu!
Mau apa dara itu datang seperti pencuri?
Karena cuaca memang gelap, dia tidak melihat betapa Pek Hong Nio-cu melemparkan sesuatu ke dalam kamar dari lubang genteng yang dibuatnya.
Cia Song bergerak mendekati.
Gerakannya itu agaknya terdengar oleh Pek Hong Nio-cu.
Gadis ini cepat menutupkan kembali genteng yang dibukanya dan tubuhnya berkelebat cepat menghilang dari tempat itu.
Cia Song kagum melihat gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat dari gadis itu.
Akan tetapi dia tidak melakukan pengejaran.
Untuk apa?
Dia mempunyai rencananya sendiri dan kemunculan orang tadi bahkan membantu rencananya.
Tak lama kemudian, menjelang tengah malam setelah keadaan menjadi sunyi sekali dan dia yakin bahwa dua orang gadis murid Kun-lun-pai itu tertidur dalam penantian mereka, dia menghampiri kamar itu, mendorong daun pintu terbuka, menggunakan sin-kang (tenaga sakti) dari jauh meniup padam lilin di atas meja, menutupkan daun pintu, memalangnya dari dalam, lalu berjingkat menghampiri pembaringan.
Kim Lan dan Ai Yin terbangun dan terkejut.
Mereka hendak meronta, akan tetapi mereka hanya dapat menggerakkan kaki tangan dengan lemah sekali, tanpa tenaga.
Jalan darah mereka telah tertotok secara lihai sekali sehingga mereka tidak mampu mengerahkan tenaga dan tubuh mereka menjadi lemas!
Mereka hendak berteriak, akan tetapi dengan kaget mendapat kenyataan bahwa leher mereka telah tertotok sehingga mereka tidak mampu mengeluarkan suara!
Keadaan kamar dan sedikit cahaya yang menerobos melalui celah-celah di atas jendela, yang datangnya dari sinar lampu di luar, hanya membuat keadaan dalam kamar itu remang-remang, namun terlalu gelap untuk melihat jelas.
Kemudian, dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri rasa hati kedua orang gadis Kun-lun-pai itu ketika mereka berdua melihat bayangan seorang laki-laki dalam kamar mereka.
Biarpun mereka tidak dapat melihat jelas wajah dan bentuk tubuh orang itu, namun mereka dapat melihat garis bayangan seorang laki-laki.
Kemudian, bayangan itu mendekati mereka.
Mereka hendak melompat dan meronta, namun hanya mampu menggerakkan tangan dan kaki dengan lemah saja, tanpa tenaga.
Dan ketika laki-laki itu menyentuh mereka, dunia bagaikan kiamat bagi dua orang gadis itu!
Mereka tidak dapat melawan, tidak dapat menggunakan tenaga.
Mereka hanya mampu menangis tanpa dapat mengeluarkan suara, hanya air mata yang bercucuran dan akhirnya mereka jatuh pingsan.
Terlalu ngeri malapetaka yang menimpa diri mereka sehingga tak tertahankan lagi.
Sebelum ketidak-sadaran menyelimuti mereka, kedua orang gadis itu mendengar suara laki-laki itu berbisik sinis.
"Kalian ingin mengenal Souw Thian Liong?"
Suara itu disusul tawa lirih laki-laki itu dan selanjutnya mereka tidak mendengar apa-apa lagi karena keduanya jatuh pingsan.
Kalau keadaan sudah terbalik, yaitu kalau manusia yang sesungguhnya menjadi majikan dari nafsu-nafsunya sendiri yang menjadi hamba atau pelayannya itu malah menjadi hamba dari nafsu-nafsunya maka segala macam perbuatan keji dan terkutuk dapat saja dilakukan manusia itu!
Manusia terlahir di dunia memang sudah disertai nafsu-nafsunya sebagai pelayan, sebagai penggerak hidupnya, pendorong semangat dan memberi kemungkinan manusia menikmati kehidupannya di dunia.
Kita tidak mungkin dapat hidup wajar tanpa disertai nafsu-nafsu kita, alat-alat hidup atau hamba-hamba kita yang amat penting ini.
Akan tetapi, kita sama sekali tidak boleh lengah.
Iblis mengetahui bahwa kita tidak dapat hidup tanpa nafsu, karena itu iblis mempergunakan nafsu-nafsu ini untuk menyeret kita ke dalam lembah dosa.
Dengan umpan kesenangan-kesenangan duniawi, yang serba enak dan nikmat, maka nafsu-nafsu manusia berkobar dan dari keadaan sebagai hamba, nafsu berbalik menjadi majikan.
Manusia menjadi hamba, hidupnya sepenuhnya bergantung kepada ulah nafsu sehingga untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan seperti yang dipamerkan dan dibisikkan iblis melalui nafsu akal pikiran, manusia tidak segan-segan melakukan apa saja.
Rusaklah semua pertimbangan, patahlah semua ukuran manusiawi, dan manusia tiada ubahnya sebagai binatang yang hanya bergerak dalam hidup sebagai abdi nafsu-nafsunya sendiri.
Seperti juga nafsu lain, nafsu berahi merupakan nafsu alami yang murni, bahkan suci karena nafsu berahi selain menjadi puncak pernyataan rasa kasih sayang yang paling dalam, juga menjadi sarana perkembang-biakan segala mahluk hidup termasuk manusia.
Tidak ada yang buruk atau kotor dalam nafsu ini.
Akan tetapi ia akan menjadi buruk, kotor, busuk dan keji apabila ia telah menjadi alat iblis untuk menguasai manusia.
Yang tadinya bersih murni seperti malaikat berubah menjadi kotor dan jahat seperti iblis!
Kalau manusia yang diperhamba nafsu berahi, iblis menang dan si manusia melakukan segala hal yang amat keji seperti perjinahan, pelacuran, bahkan perkosaan!
Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali, begitu mereka dapat mempergunakan tenaga, kedua orang gadis murid Kun-lun-pai itu berloncatan turun dari pembaringan.
Air mata mereka sudah terkuras habis sepanjang malam setelah mereka siuman dari pingsan.
Tangis tanpa suara, bercucuran seperti hujan.
Setelah dapat menggunakan tenaga dan dapat bersuara lagi, keduanya sambil terisak cepat membereskan pakaian mereka, kemudian sambil menahan jerit mereka saling berangkulan.
Saling bertangisan dan menangisi nasib diri sendiri yang terkutuk!
"Jahanam Souw Thian Liong"..!"
Ai Yin menangis tersedu-sedu namun menjaga agar supaya tangisnya jangan sampai terdengar orang.
"Lebih baik aku mati saja......!"
Kim Lan tiba-tiba melompat ke dekat meja, mencabut pedangnya yang terletak di atas meja dan berniat menghabisi nyawanya sendiri.
Akan tetapi Ai Yin melompat dan merangkulnya, memegangi lengan yang memegang pedang.
"Tunggu suci. Kenapa engkau begitu bodoh? Kita harus membalas dendam ini! Kita harus membunuh iblis itu, baru boleh membunuh diri. Mari kita selidiki!"
Kim Lan teringat dan ia meletakkan pedangnya di atas meja. Wajahnya pucat sekali dan ia mengepal tinju.
"Engkau benar, su-moi. Aku bersumpah tidak akan berhenti sebelum membunuh iblis busuk Souw Thian Liong!"
Ai Yin sudah berdiri dekat jendela.
"Lihat, suci. Jendela ini dipaksa terbuka dari luar, kaitannya putus. Jahanam itu tentu masuk dan keluar dari jendela."
Ia membuka daun jendela sehingga cahaya lampu kini menyinar ke dalam.
"Lihat, ini ada surat!"
Kata Kim Lan.
Ai Yin menghampiri.
Kini setelah kamar agak terang oleh sinar lampu dari luar jendela, mereka melihat sehelai kertas bersurat di atas meja, tertancap sebilah pisau runcing.
Keduanya lalu membaca kertas itu.
"Murid-murid perempuan Kun-lun-pai tak tahu malu! Memaksa seorang menjadi suaminya. Begitukah pelajaran yang kalian dapatkan dari Kun-lun-pai?"
Demikian bunyi surat itu, tanpa tanda tangan. Kim Lan hendak meremas surat itu, akan tetapi Ai Yin berkata.
"Jangan merusak surat itu, suci. Itu dapat kita jadikan bukti dan kita perlihatkan kepada para suhu dan subo di Kun-lun-pai!"
Kim Lan lalu melipat dan menyimpan surat itu.
"Sekarang mari kita cari Cia-twako! Barangkali dia mengetahui sesuatu tentang jahanam itu!"
Kata Kim Lan.
"Benar juga,"
Kata Ai Yin.
"Kenapa Cia-twako tidak memberi tahu kita tentang kedatangan jahanam itu?"
"Mungkin dia tidak tahu. Bukankah jahanam itu datang masuk dan keluar melalui jendela? Mari kita tanya Cia-twako!"
Dua orang gadis itu setelah membereskan pakaian mereka lalu bergegas keluar dan mengetuk daun pintu kamar Cia Song.
Karena dua orang gadis itu mengetuk pintu dengan gencar, Cia Song terkejut dan ketika dia membuka pintu, dua orang gadis itu melihat wajah yang pucat dan rambut pemuda itupun kusut.
"Eh, Lan-moi dan Yin-moi, ada apakah......?"
Tanyanya dengan kaget.
"Cia-twako, apakah engkau melihat dia?"
Tanya Kim Lan yang matanya masih merah dan bengkak, seperti juga mata Ai Yin karena keduanya terlalu banyak menangis.
"Ah, maksudmu Souw Thian Liong? Hemm, keparat itu tidak memegang janji. Dia tidak jadi datang, bukan? Semalam aku sempat melihat dia."
"Di mana? Di mana engkau melihat dia, twako?"
Tanya Ai Yin.
"Semalam aku mendengar suara di atas genteng. Aku naik ke atas dan melihat sesosok bayangan di atas genteng, tepat di atas kamar kalian. Akan tetapi begitu melihatku, dia menutup kembali genteng lalu pergi menghilang dalam gelap. Dia tidak jadi berkunjung kepada kalian, bukan?"
Dua orang gadis itu saling pandang dan keduanya merasa yakin bahwa yang dilihat Cia Song itu pastilah Souw Thian Liong yang kemudian berhasil memasuki kamar mereka, menotok mereka sehingga mereka tidak berdaya lalu melakukan kekejian terkutuk terhadap mereka.
"Eh, kenapa kalian....... heran, kalian begini pucat dan....... mata kalian itu. Kalian habis menangis? Apakah yang telah terjadi, Lan-moi dan Yin-moi?"
Melihat dua orang gadis itu tampak kebingungan dan seperti hendak menangis lagi, Cia Song berkata.
"Mari, kita masuk saja dan bicara di dalam."
Dua orang gadis yang juga khawatir kalau ada orang lain melihat keadaan mereka itupun tidak membantah dan memasuki kamar Cia Song. Mereka duduk di sekeliling meja dan kembali Cia Song bertanya.
"Sebetulnya, apakah yang telah terjadi? Kalian tampak begitu pucat, bingung dan menangis. Ada apakah?"
Dua orang gadis itu kini tidak dapat menahan lagi tangis mereka.
Mereka menangis sesenggukan dan menahan agar tidak bersuara.
Kim Lan mengeluarkan lipatan kertas dan menyerahkannya kepada Cia Song tanpa berkata-kata.
Cia Song membaca tulisan di surat itu dan alisnya berkerut.
"Jahanam busuk! Berani dia menghina kalian dengan mengirimkan surat ini kepada kalian?"
Kata Cia Song dengan nada suara marah sekali.
"Bukan hanya itu, twako,"
Ai Yin berkata sambil menangis.
"Lebih celaka lagi......"
"Apa maksudmu, Yin-moi? Apa yang terjadi?"
Tanya Cia Song.
"Dia...... dia memasuki kamar kami dari jendela".. dan....... dan dia telah memperkosa kami......."
Cia Song melompat bangun.
"Apa?? Dan kalian tidak melawan?"
"Bagaimana kami dapat melawan? Dia telah lebih dulu menotok kami sehingga kami tidak mampu melawan, tidak mampu berteriak"""
Kata Kim Lan.
"Dan surat ini?"
Tanya Cia Song.
"Dia tinggalkan surat di atas meja, ditusuk dengan pisau ini,"
Kata Kim Lan, mengeluarkan pisau runcing yang disimpannya. Cia Song mengamati pisau itu.
"Hemm, kalian melihat dia?"
"Lilin dipadamkan, keadaan dalam kamar gelap, hanya remang-remang kami melihatnya."
Kata Ai Yin.
"Begaimana kalian dapat yakin bahwa dia adalah Souw Thian Liong?"
Desak Cia Song.
"Kami yakin dia itu jahanam Souw Thian Liong. Dia bahkan mengaku sendiri,"
Kata Kim Lan gemas.
"Mengaku? Bagaimana dia mengaku?"
Kejar Cia Song.
"Dia berbisik "Kalian ingin mengenal Souw Thian Liong?"
Begitulah bisiknya lalu dia tertawa. Iblis jahanam terkutuk itu. Aku harus membunuhnya!"
Kata pula Kim Lan penuh dendam.
"Keparat busuk! Betapa keji dan jahatnya dia! Ah, kalau saja aku tahu dia begitu jahat! Lalu, apa yang akan kalian lakukan sekarang?"
Tanya Cia Song.
"Kami akan laporkan penghinaan ini kepada suhu dan subo di Kun-lun-pai. Penghinaan ini bukan hanya urusan pribadi, melainkan sudah menghina pula Kun--lun-pai!"
Kata Ai Yin.
"Benar sekali itu! Aku juga akan melaporkan kejahatan Souw Thian Liong ini kepada suhu di Siauw-lim-pai. Bagaimanapun dia sudah diakui sebagai murid Siauw-lim-pai, maka berarti dia telah mencemarkan nama baik Siauw-lim-pai. Jangan khawatir, kelak aku yang akan menjadi saksi tentang kejahatannya itu, Lan-moi dan Yin-moi!"
Kata Cia Song penuh semangat.
"Terima kaslh, Cia-twako. Dengan bukti surat ini, kesaksian kami berdua dibantu kesaksianmu, semua orang tentu percaya. Jahanam busuk itu harus membayar kejahatannya!"
Kata Kim Lan.
"Kelau begitu, sekarang klta saling berpisah, Lan-moi dan Yin-moi. Aku akan pergi melaporkan kejahatan Souw Thian Liong ke Siauw-lim-pai, sedangkan kalian kembali ke Kun-lun-pai untuk melaporkan kepada para guru kalian,"
Kata Cia Song.
Dua orang gadis itu menerima baik usul ini dan pada pagi hari itu juga, mereka saling berpisah.
Kim Lan dan Ai Yin melakukan perjalanan ke Kun-lun-pai.
Mereka menanggung derita batin yang hebat, dan gairah hldup mereka hanya terdorong oleh keinginan membalas dendam kepada Souw Thian Liong.
Cia Song memasuki kota Ceng-goan yang merupakan kota besar kedua setelah kota raja Peking di sebelah utaranya.
Tanpa ragu-ragu dia memasuki halaman sebuah gedung besar yang berada di ujung barat kota.
Dua orang perajurit Kin keluar dari gardu penjagaan dan menghadangnya.
Cia Song tersenyum, mengeluarkan sebuah kartu merah dari saku bajunya dan memperlihatkan kepada mereka.
Dua orang perajurit itu memberi hormat dan mempersilakan Cia Song masuk ke ruangan depan gedung besar itu.
Seorang perajurit lain menyambutnya dan setelah melihat kartu merah yang diperlihatkan Cia Song, perajurit itu lalu mengantarkan Cia Song memasuki sebuah ruangan tamu di sebelah kanan depan gedung itu.
Kemudian perajurit itu melaporkan ke dalam.
Cia Song memasuki ruangan tamu yang luas dan mewah sekali.
Dia memandang kagum kepada hiasan dinding berupa lukisan-lukisan dan tulisan bersajak.
Tak lama kemudian dua orang muncul dari pintu sebelah dalam.
Cia Song cepat memutar tubuh dan setelah berhadapan dengan mereka, dia cepat memberi hormat dengan membungkuk dalam-dalam dan merangkap kedua tangan di depan dada kepada seorang di antara mereka yang mengenakan pakaian sebagai seorang bangsawan tinggi bangsa Kin.
"Hamba mohon beribu ampun kalau berani datang menghadap tanpa paduka panggil sehingga mengganggu waktu paduka yang amat berharga, Pangeran."
Laki-laki berpakaian bangsawan tinggi itu bertubuh tinggi kurus dan pakaiannya mewah, usianya sekitar limapuluh tahun, wajahnya tampan namun tampak licik dan cerdik pada pandang mata dan senyumnya yang khas.
Jenggotnya panjang dan kumisnya dicukur pendek.
Jari-jari tangannya berkuku panjang terpelihara.
Dia adalah Pangeran Hiu Kit Bong, kakak dari kaisar Kerajaan Kin yang berkedudukan tinggi karena sebagai kakak tiri kaisar yang terlahir dari ibu selir, dia diangkat menjadi Menteri Kebudayaan dan juga Penasihat kaisar.
Gedung di kota Ceng-goan merupakan rumah peristirahatannya dan sering kali Pangeran Hiu Kit Bong ini beristirahat di gedungnya itu, meninggalkan kota raja yang bising di mana dia sibuk dengan tugas-tugasnya.
Adapun orang kedua yang muncul bersamanya berpakaian sebagai seorang panglima perang, usianya sekitar empatpuluh lima tahun, bertubuh tinggi besar dan gagah, tampak bertubuh kuat.
"Ah, Cia-sicu (orang gagah Cia), selamat datang. Kami girang menerima kunjunganmu. Silakan duduk, sicu!"
Kata Pangeran Hiu Kit Bong dengan ramah. Mereka bertiga lalu duduk mengelilingi sebuah meja besar.
"Cia-sicu lebih dulu perkenalkan. Ini adalah panglima Kiat Kon seperti yang pernah kuceritakan kepadamu. Dan Kiat-ciangkun, inilah sicu Cia Song, orang kepercayaan yang menjadi utusan rahasia Perdana Menteri Chin Kui dari Kerajaan Sung Selatan."
Pangeran itu memperkenalkan. Cia Song cepat bangkit berdiri dan memberi hormat kepada panglima tinggi besar itu.
"Terimalah hormat saya, ciangkun. Sudah lama saya mendengar dan mengagumi nama besar ciangkun!"
Jenderal tinggi besar itu tersenyum, senang melihat sikap Cia Song yang demikian ramah.
"Ha-ha, terima kasih, Cia-sicu. Akupun sudah banyak mendengar tentang jasamu. Silakan duduk!"
Cia Song duduk kembali. Seorang pelayan masuk membawa minuman sehingga percakapan mereka terhenti. Setelah pelayan pergi, Pangeran Hiu Kit Bong bertanya kepada Cia Song.
"Cia-sicu, kabar apa yang kaubawa dari selatan? Kalau engkau datang barkunjung secara tiba-tiba begini, tentu engkau membawa berita penting sekali."
Cia Song yang menjadi murid yang disayang oleh Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai, yang dikenal sebagai seorang pendekar Siauw-lim-pai itu, ternyata memiliki peran ganda dalam hidupnya.
Di satu pihak, umum mengenalnya sebagai seorang pendekar Siauw-lim-pai yang suka membela kebenaran dan keadilan, sebagai murid Hui Sian Hwesio.
Akan tetapi di lain pihak, secara rahasia dan sama sekali tidak diketahui, bahkan tidak pernah disangka oleh para golongan bersih, diam-diam Cia Song telah berguru kepada Ali Ahmed, seorang datuk bangsa Hui yang berasal dari Mongolia Dalam.
Dengan ilmu-ilmu yang dlpelajarinya dari datuk bangsa Hui itu, yaitu ilmu silat dan sihir, Cia Song menjadi semakin lihai.
Akan tetapi dia amat cerdik dan tidak pernah dia menonjolkan atau memperlihatkan ilmu-ilmu asing itu.
Hanya dia pandai memasukkan tenaga-tenaga yang dahsyat dari ilmu barunya ke dalam ilmu silat Siauw-lim-pai yang dikuasainya, pandai menggabung ilmu-ilmu dari Ali Ahmed dengan ilmu silatnya sendiri sehingga tidak kentara bahwa dia mempergunakan ilmu yang asing.
Dan mulailah dia dikenalkan oleh Ali Ahmed kepada Pangeran Hiu Kit Bong.
Pergaulan dengan orang-orang yang menjadi hamba nafsu, orang-orang yang selalu hanya mengejar kenikmatan dan kesenangan daging dan dunia, menyeret Cia Song ke lembah hitam.
Dia sudah mengesampingkan pelajaran tentang ke-bajikan yang dulu dia pelajari dari Hui Sian Hwesio dan mulailah dia menjadi hamba nafsunya, sering melakukan perbuatan-perbuatan yang sesat.
Bahkan dia kemudian oleh pergaulan itu diperkenalkan kepada Perdana Menteri Chin Kui yang bersekutu dengan Kerajaan Kin, yang telah mempengaruhi Kaisar Sung agar berbaik dengan Kerajaan Kin, bahkan tidak segan-segan Kaisar Sung mengirim upeti sebagai tanda damai dengan Kerajaan penjajah itu!
Sebentar saja Cia Song telah menjadi orang kepercayaan Perdana Menteri Chin Kui dan menjadi utusan rahasia.
Tidak ada yang tahu kecuali para sekutunya bahwa Cia Song telah menjadi antek perdana menteri korup yang telah mempengaruhi dan menguasai kaisar Sung itu!
Mendapat pertanyaan dari Pangeran Hiu Kit Bong, Cia Song mengangguk-angguk.
Kini terjadi perubahan besar dalam hubungan gelap antara Perdana Menteri Chin Kui dan Kaisar Kerajaan Kin.
Karena Kaisar Kerajaan Kin mulai tidak percaya kepada Perdana Menteri Chin Kui, maka diam-diam timbul kerenggangan.
Dalam keadaan seperti itu, terjalinlah persekutuan antara Perdana Menteri Chin Kui dengan Pangeran Hiu Kit Bong.
Pangeran ini sudah lama merencanakan hendak menggulingkan Kaisar Kin, yaitu adik tirinya dan menduduki tahta kerajaan Kin sendiri!
Untuk itu, dia sudah menghimpun tenaga di kota raja Peking, bersekutu dengan beberapa orang perwira yang dipimpin oleh Jenderal Kiat Kon.
Jenderal ini hanya memperoleh kedudukan yang paling rendah di antara jajaran para panglima.
Karena inilah maka dia tergiur oleh bujukan Pangeran Hiu Kit Bong yang menjanjikan kedudukan Panglima tertinggi kepadanya kalau usaha mereka merebut tahta kerajaan berhasil.
Bahkan Pangeran Hiu Kit Bong mengadakan persekutuan gelap dengan Perdana Menteri Chin Kui dari kerajaan Sung Selatan melalui Cia Song yang lebih dulu mengenal Pangeran Hiu Kit Bong.
"Berita dari selatan yang hamba bawa kurang begitu menggembirakan, Pangeran. Saat ini banyak para pendekar mulai memperlihatkan sikap menentang Perdana Menteri Chin Kui secara berterang. Semua ini sesungguhnya disebabkan kekeliruan Perdana Menteri sendiri yang dulu tergesa-gesa mengusahakan pembunuhan terhadap Jenderal Gak Hui. Akibatnya, para pendekar dan juga banyak pejabat tinggi yang menghormati dan kagum kepada Jenderal Gak Hui, merasa sakit hati kepada Perdana Menteri Chin Kui. Hal ini bukan saja menyurutkan pengaruhnya, bahkan juga Sribaginda mulai berubah sikapnya terhadap Perdana Menteri."
Mendengar laporan ini, Panglima Kiat Kon berkata dengan suaranya yang besar parau.
"Ah, mudah saja itu! Kenapa pusing-pusing? Bukankah Perdana Menteri Chin Kui mempunyai banyak jagoan yang lihai? Suruh saja para jagoannya itu bertindak dan membunuhi mereka yang menentangnya. Habis perkara!"
"Hemm, tidak begitu mudah, ciangkun. Di antara para pendekar itu terdapat banyak orang yang lihai,"
Kata Cia Song.
"Ah, memang repot menghadapi ahli-ahli silat petualang itu!"
Kata Pangeran Hiu Kit Bong.
"Kami sendiri di sini pusing oleh seorang puteri yang pandai ilmu silat. Ilmu silatnya tinggi dan puteri itu benar-benar merupakan batu sandungan bagi kami. Kalau ia berada dekat dengan ayahnya, yaitu Sribaginda, akan sukarlah untuk mengganggu Sribaginda."
Diam-diam Cia Song menjadi heran.
Seorang puteri raja Kin memiliki ilmu silat tinggi?
"Siapakah puteri itu, Pangeran?
Hamba tertarik sekali mendengar bahwa ada puteri Sribaginda Raja Kin amat lihai ilmu silatnya."
"Namanya Puteri Moguhai. Akan tetapi kami kira nama itu tidak ada artinya dan tidak terkenal bagimu. Akan tetapi ada julukannya yang lain dan mungkin saja engkau pernah mendengar nama julukan itu. Puteri Moguhai adalah Pek Hong Nio-cu. Pernahkah engkau mendengar nama itu?"
"Ohhh""!"
Cia Song terkejut.
Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa Pek Hong Nio-cu yang pernah dilihatnya itu adalah Puteri Moguhai, puteri Raja Kin!
"Jadi Pek Hong Niocu itu Puteri Moguhai, puteri Sribaginda Kerajaan Kin?"
"Nah, engkau mengenalnya, Cia-sicu. Gadis itu sungguh membuat kami pusing. Ia bahkan pernah menghajar beberapa orang pejabat yang menjadi pembantu--pembantuku. Ia tidak takut siapapun dan ini tidak aneh karena ia memegang pe-dang emas dari Kaisar sebagai tanda kekuasaan. Tidak ada pejabat yang berani menentangnya karena sebagai pemilik pedang emas, ia mewakili kehadiran kaisar sendiri. Dan beberapa kali ia memperlihatkan sikap tidak suka dan menentangku. Kalau gadis itu tidak dibinasakan, kelak ia akan menjadi penghalang besar bagi gerakan kita bersama."
"Ah, hamba tahu di mana adanya Pek Hong Nio-cu, Pangeran! Belum lama ini hamba bertemu dengannya. Ia sedang melakukan perjalanan bersama seorang pemuda yang hamba kenal. Mereka sedang menuju ke barat, hamba bertemu dengan mereka di kota Kiang-cu."
"Hemm, menuju ke barat. Ah, tidak salah lagi. Puteri Moguhai tentu akan berkunjung ke perbatasan Sin-kiang di mana adik tiriku, Pangeran Kuang, menjadi komandan pasukan yang menjaga di tapal batas barat. Wah, harus dicegah! Moguhai tentu mempunyai maksud tertentu hendak menghubungi Pangeran Kuang dan ini berbahaya. Pangeran Kuang merupakan orang yang amat setia kepada Sribaginda. Cia-sicu, maukah engkau membantu kami?"
"Tentu saja, Pangeran. Bukankah selama ini hamba membantu paduka dan Perdana Menteri Chin Kui?"
"Ya, kami menghargai semua bantuanmu, Cia-sicu. Akan tetapi permintaan bantuan kami kali ini istimewa, penting dan juga berat. Yaitu maukah engkau mengejar dan membunuh Puteri Moguhai yang berarti akan melancarkan jalannya semua rencana kami?"
Cia Song terkejut bukan main.
Kalau dia disuruh membunuh orang lain, tentu akan segera dia sanggupi dan baginya merupakan pekerjaan yang tidak terlalu sukar dilaksanakan.
Akan tetapi Pek Hong Nio-cu?
Dia belum tahu sampai di mana kelihaian gadis yang kecantikannya pernah membuat dia tergila-gila begitu melihatnya itu.
Akan tetapi ketika Pek Hong Nio-cu berada di atas genteng penginapan, ketika gadis itu melemparkan surat dan pisau ke atas meja Kim Lan dan Ai Yin, dia melihat gerakan Pek Hong Nio-cu ketika melarikan diri begitu cepat dan ringan.
Harus diakui bahwa gadis bangsawan itu memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat dan mungkin saja ilmu silatnya juga lihai sekali.
"Bagaimana, Cia-sicu? Sanggupkah engkau?"
Pangeran Hiu Kit Bong mendesak. Cia Song menghela napas panjang lalu menjawab.
"Tugas itu berat sekali, pangeran."
"Hemm, engkau hendak mengatakan bahwa engkau merasa jerih kepada Puteri Moguhai?"
Tanya pangeran itu.
"Sama sekali tidak, Pangeran. Mungkin ilmu kepandaiannya tinggi, akan tetapi hamba tidak takut kepadanya. Akan tetapi, hamba melihat bahwa Pek Hong Nio-cu melakukan perjalanan bersama seorang pemuda, dan pemuda inilah yang merupakan lawan yang amat berat karena hamba sudah mengenalnya dan tahu betapa tangguhnya dia."
"Hemm, siapakah pemuda itu?"
Tanya Pangeran Hiu Kit Bong dengan alis dikerutkan.
"Namanya Souw Thian Liong, Pangeran. Dia adalah murid Tiong Lee Cin jin."
"Cia-sicu jangan takut. Kami tidak ingin engkau turun tangan seorang diri. Kami selalu ingin keyakinan bahwa kami pasti berhasil sebelum melakukan sesuatu. Kami akan mempersiapkan sebuah pasukan khusus, pasukan istimewa terdiri dari dua losin orang yang dipimpin oleh lima orang jagoan kami yang lihai dan boleh diandalkan kemampuannya. Mereka bukan saja pandai ilmu silat dan amat tangguh, akan tetapi juga merupakan ahli-ahli mengatur siasat pertempuran. Dengan bantuan mereka, engkau tidak perlu ragu dan khawatir. Pasti rencana kita berjalan dengan baik dan lancar."
Cia Song sudah tahu benar betapa tinggi ilmu kepandaian Thian Liong.
Bahkan pemuda itu masih menerima pelajaran ilmu dari kitab Sam-jong-cin-keng dari Hui Sian Hwesio, hal yang membuat dia merasa iri hati sekali.
Dan walaupun dia belum mengukur sampai di mana tingkat kepandaian Pek Hong Nio-cu, dia dapat menduga bahwa gadis itu pasti bukan lawan yang mudah dikalahkan.
Karena itu, untuk memperoleh keyakinan, dia harus menguji dulu sampai di mana kelihaian lima orang jagoan yang hendak diperbantukan padanya itu.
Sedikitnya lima orang pembantu itu harus mampu menandinginya, barulah bantuan mereka dan dua losin perajurit pilihan akan ada artinya.
"Maaf, pangeran. Akan tetapi siapakah lima orang jagoan yang akan diperbantukan kepada hamba itu? Hamba tetap merasa ragu sebelum menguji sampai di mana kemampuan mereka."
Pangeran Hiu Kit Bong tidak marah, malah tersenyum.
Kehati-hatian Cia Song itu menyenangkan dia karena ini berarti bahwa pemuda itu seorang yang teliti dan boleh diandalkan akan berhasil dalam melaksanakan tugasnya.
"Mereka adalah bekas pengawal-pengawal pribadi Sribaginda sendiri. Karena melakukan pelanggaran kesusilaan di istana, mereka diusir dari istana. Kami menampung mereka dan mereka memang mempunyai perasaan dendam kepada Sribaginda, maka dapat merupakan pembantu-pembantu yang setia. Mereka adalah jagoan-jagoan yang telah menguasai banyak ilmu, bukan saja ilmu silat aliran utara, akan tetapi juga menguasai ilmu gulat dari Mongolia dan ilmu silat dari Jepang. Dan mudah saja untuk menguji mereka karena dapat segera dipanggil ke sini."
Setelah berkata demikian, Pangeran Hiu Kit Bong mengutus seorang perajurit untuk memanggil lima orang jagoannya itu.
Sambil menanti datangnya lima orang jagoan itu, mereka bertiga bercakap-cakap dan mengatur siasat selanjutnya, bukan hanya untuk membunuh Pek Hong Nio-cu, melainkan juga untuk gerakan pemberontakan dan menggulingkan kedudukan Kaisar Kin.
Cia Song yang teringat akan kecantikan Pek Hong Nio-cu yang membuat dia tergila-gila dan bangkit gairahnya, mengajukan usul kepada Pangeran Hiu Kit Bong.
"Pangeran, menurut pendapat hamba, akan lebih baik apabila Puteri Moguhai itu tidak dibunuh, melainkan ditawan saja."
"Eh? Kenapa begitu? Ia akan menjadi batu sandungan bagiku, mengganggu kelancaran rencanaku. Tidak, ia harus dibunuh, Cia-sicu. Untuk membunuh puteri itulah kami minta bantuanmu!"
"Harap paduka pertimbangkan dulu usul hamba. Kalau puteri itu dibunuh paduka hanya mendapatkan satu keuntungan yang tidak begitu berharga. Akan tetapi kalau ia ditawan, berarti paduka memperoleh dua keuntungan, seperti sebatang pedang yang tajam kedua sisinya, satu kali bergerak mendapatkan dua yang amat baik."
"Hemm, apa maksudmu, sicu?"
"Begini, Pangeran. Hamba akan menawan Puteri Moguhai itu dan dengan tawanan yang amat penting itu, paduka dapat menjadikan ia sebagai sandera dan paduka dapat mengancam agar Sribaginda suka menyerahkan tahta kepada paduka untuk ditukar dengan nyawa puteri Sribaginda. Dengan demikian, paduka akan dapat mengambil alih singasana tanpa banyak kesukaran lagi."
Mendengar usul ini, Pangeran Hiu Kit Bong tertegun dan saling pandang dengan Panglima Kiat Kon yang menjadi sekutu utamanya dalam ambisinya merebut kekuasaan kerajaan Kin.
Keduanya saling pandang lalu mengangguk-angguk.
"Siasat itu sungguh hebat dan baik sekali, Pangeran!"
Kata Panglima Kiat Kon. Pangeran Hiu Kit Bong juga mengangguk-angguk dan tersenyum kepada Cia Song.
"Bagus, Cia-sicu, gagasanmu itu cemerlang sekali! Kenapa aku tidak berpikir sejauh itu? Ha-ha-ha, tidak percuma Perdana Menteri Chin Kui mengangkatmu menjadi penghubung antara kami! Baik, siasatmu itu baik dan harus dilaksanakan begitu. Puteri Moguhai, keponakan tiriku itu, si cantik yang liar itu, jangan dibunuh, melainkan ditangkap dan dijadikan sandera! Bagus sekali!"
"Akan tetapi, Pangeran. Biarpun gagasan itu bagus dan sudah sepatutnya dilaksanakan, akan tetapi tetap saja kita harus menyusun kekuatan pasukan yang besar. Siapa tahu Sribaginda akan nekat dan tidak mau menyerahkan mahkota sehingga kita terpaksa harus menggunakan kekerasan, menyerbu istana dan untuk itu kita memerlukan pasukan yang amat kuat,"
Kata Panglima Kiat Kon.
Pangeran Hiu Kit Bong mengangguk-angguk setuju.
Mereka lalu bercakap cakap dan berunding, mencari siasat-siasat terbaik.
Ada dua tujuan terpenting yang hendak dicapai oleh persekutuan antara Pangeran Hiu Kit Bong dan Perdana Menteri Chin Kui.
Pertama, mahkota kerajaan Kin harus terjatuh ke tangan Pangeran Hiu Kit Bong dan kedua, kedudukan Perdana Menteri Chin Kui harus diperkuat dengan disingkirkannya mereka yang menentang kekuasaannya sehingga dia dapat makin kuat mencengkeram Kaisar Sung dalam kekuasaannya.
Dengan demikian, maka Kerajaan Kin akan dapat tetap bersahabat dengan Kerajaan Sung Selatan.
Percakapan mereka terhenti ketika muncul lima orang memasuki ruangan itu.
Mereka segera memberi hormat kepada Pangeran Hiu Kit Bong dengan membungkuk dalam-dalam.
Pangeran Hiu Kit Bong tersenyum gembira menyambut mereka.
"Ah, kalian telah datang? Duduklah!"
Dia mempersilakan mereka duduk dan lima orang itu lalu duduk di atas kursi-kursi yang sudah tersedia di depan pangeran itu.
Cia Song memandang mereka dengan penuh perhatian.
Pangeran Hiu Kit Bong lalu memperkenalkan Cia Song kepada mereka.
"Nah, kalian berlima kenalkanlah. Ini adalah pendekar besar Cia Song yang menjadi orang kepercayaan Perdana Menteri Chin Kui dari Kerajaan Sung!"
Lima orang itu agaknya sudah pernah mendengar nama Cia Song, maka mereka lalu bangkit dan memberi hormat kepada Cia Song, juga dengan membungkuk dalam-dalam.
Cia Song membalas dengan merangkap kedua tangan depan dada.
Dia pernah melihat cara penghormatan membungkuk seperti itu, yakni kebiasaan orang-orang Jepang.
Agaknya lima orang ini pernah berguru kepada orang Jepang, pikirnya dan perkiraan ini agaknya tidak salah karena diapun melihat betapa di pinggang mereka berlima itu tergantung sebatang pedang samurai, yaitu pedang bangsa Jepang yang bentuknya agak melengkung, gagangnya agak panjang sehingga dapat dipegang kedua tangan dan hanya bermata sebelah seperti golok.
Pangeran Hiu Kit Bong memperkenalkan lima orang jagoannya kepada Cia Song.
Cia Song memperhatikan mereka.
Orang pertama bernama Con Gu, berusia empatpuluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus, mukanya panjang dan berwarna kuning sekali.
Orang kedua bernama Koi Cu, usianya empatpuluh tiga tahun, bertubuh pendek gendut dan kepalanya botak.
Orang ketiga bernama Jiu Hon, berusia empatpuluh tahun, bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok menyeramkan.
Orang keempat bernama Kian Su, usianya tigapuluh lima tahun, tubuhnya sedang dan wajahnya bersih tampan.
Adapun orang kelima bernama Hayasi, berusia tigapuluh tahun, tubuhnya pendek dengan kaki tangan pendek akan tetapi kokoh berotot.
Mereka berlima itu memiliki mata yang tampak cerdik, bersinar tajam dan dari sikap mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang tangguh.
Mereka berlima memiliki sebatang pedang samurai.
Koi Cu dan Hayasi yang bertubuh pendek membawa pedang samurai mereka di punggung, akan tetapi tiga orang yang lain menggantung pedang samurai mereka di pinggang.
"Paduka memanggil kami menghadap, ada tugas apakah yang harus kami laksanakan, Pangeran?"
Tanya Con Gu, orang tertua yang agaknya juga menjadi juru bicara mereka berlima.
"Ada tugas penting sekali untuk kalian berlima. Tugas itu sebetulnya sudah kami serahkan kepada Cia-sicu, akan tetapi karena tugas itu berbahaya dan akan menghadapi lawan yang amat kuat, maka kami membutuhkan bantuanmu yang akan memimpin dua losin perajurit pilihan untuk membantu tugas Cia-sicu,"
Kata Pangeran Hiu Kit Bong.
"Bolehkah kami mengetahui, tugas apa yang harus kami lakukan, Pangeran?"
Tanya Con Gu.
"Kalian berlima dan pasukan yang kalian pimpin harus membantu Cia-sicu untuk menangkap seseorang."
"Menangkap seorang saja mengapa harus memakai begitu banyak orang?"
Hayasi bertanya dan logat bicaranya jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang berbangsa Jepang.
"Yang harus ditangkap adalah Puteri Moguhai yang di luar istana terkenal sebagai Pek Hong Nio-cu!"
Kata Pangeran Hiu Kit Bong. Lima orang itu terkejut sekali.
"Oh......! Sang Puteri Moguhai.......?"
Kata Con Gu, lalu dia mengangguk-angguk.
"Pangeran, kami tahu bahwa Puteri Moguhai memang memiliki kepandaian tinggi dan lihai sekali. Memang harus hamba akui kalau kami berlima maju satu-satu, agaknya masih akan sukarlah menangkapnya. Akan tetapi kalau kami berlima maju, agaknya sudah pasti kami dapat menangkapnya. Mengapa harus menyusahkan Cia-sicu dan bahkan ditambah dua losin perajurit lagi?"
"Wah, tidak semudah itu, Con Gu!"
Kata Pangeran Hiu Kit Bong.
"Ketahuilah bahwa selain Puteri Moguhai sendiri seorang yang tangguh, ia ditemani oleh seorang pemuda yang namanya....... eh, siapa tadi namanya, Cia-sicu?"
"Namanya Souw Thian Liong, Pangeran."
"Ya, temannya itu bernama Souw Thian Liong dan menurut keterangan Cia-sicu, pemuda itu lihai sekali karena dia adalah murid Tiong Lee Cin-jin."
Lima orang jagoan itu saling pandang dan dari sinar mata mereka Cia Song tahu bahwa mereka terkejut dan gentar mendengar nama Tiong Lee Cin-jin yang dikenal sebagai seorang manusia setengah dewa itu!
"Kami akan membantu Cia-sicu sekuat tenaga kami!"
Kata Con Gu.
"Karena menghadapi pekerjaan penting, Cia-sicu masih ragu apakah bantuan kalian berlima berikut dua losin perajurit pilihan sudah cukup. Oleh karena itu, untuk menyakinkan hatinya, dia minta agar diperbolehkan menguji ketangguhan kalian berlima."
Mendengar ucapan pangeran itu, kelima orang jagoan mernandang kepada Cia Song dengan sinar mata tajam.
"Bagaimana, sobat-sobat? Apakah kalian tidak keberatan kalau aku hendak menguji ilmu silat kalian?"
Tanya Cia Song. Lima orang itu menggeleng kepala dan Con Gu berkata sambil tersenyum.
"Tentu saja tidak, Cia-sicu. Kami siap untuk diuji sewaktu-waktu."
Pangeran Hiu Kit Bong tertawa.
"Ha-ha, bagus. Waktunya sekarang saja dan ruangan ini kiranya cukup luas untuk dipakai sebagai tempat ujian bertanding. Bagaimana pendapatmu, Cia-sicu?"
Cia Song bangkit berdiri.
"Memang cukup luas, Pangeran. Marilah, sobat-sobat, kita mulai saja."
Dia lalu melangkah ke tengah ruangan yang luas. Con Gu juga bangkit dan setelah membungkuk di depan sang pangeran, diapun melangkah lebar menghampiri Cia Song, setelah berhadapan lalu berkata.
"Cia-sicu, kami telah siap. Biarlah saya yang maju pertama untuk menerima ujian."
"Bukan satu-satu, maksudku kalian berlima maju berbareng. Aku ingin melihat apakah kalau kalian maju berbareng cukup kuat untuk melawan musuh yang tangguh."
"Kami berlima maju berbareng? Mengeroyokmu, sicu? Ah, jangan bergurau!"
Kata Con Gu sambil tertawa dan empat orang rekannya juga tertawa lirih karena mereka berada di depan Pangeran.
"Aku sama sekali tidak bergurau. Ketahuilah bahwa lawan-lawan yang akan kita hadapi sungguh tangguh dan lihai sekali, maka aku harus yakin bahwa kalian cukup kuat untuk menandingi seorang di antara mereka. Nah, marilah, kalian berlima maju berbareng dan jangan sungkan mengeroyok aku, keluarkan semua kemampuan kalian agar aku dapat merasa yakin sehingga tugas kita akan dapat terlaksana dengan hasil baik."
"Hayolah, kalian berlima jangan ragu. Turuti perintah Cia-sicu. Dalam tugas dia adalah pemimpin kalian!"
Kata Pangeran Hiu Kit Bong.
Mendengar perintah pangeran, tentu saja lima orang itu tidak berani membantah lagi dan empat orang jagoan yang lain segera bangkit berdiri dan menghampiri Cia Song.
Mereka berlima berdiri berjajar menghadapi Cia Song dengan sikap masih ragu-ragu.
Mereka adalah jagoan-jagoan pilihan, bahkan pernah menjadi pengawal pribadi Raja Kin yang jarang menemui tanding.
Bagaimana sekarang mereka berlima disuruh mengeroyok seorang lawan saja?
Bagi mereka, hal ini memalukan sekali.
Andaikata mereka menang sekalipun, tidak dapat dibanggakan.
Akan tetapi karena pangeran yang memerintah dan Cia Song juga hanya bermaksud untuk menguji, maka mereka berlima siap.
Melihat mereka berdiri berjajar, bukan mengepung seperti lima orang yang hendak mengeroyok, Cia Song maklum bahwa mereka masih merasa sungkan.
Dan dia maklum akan perasaan mereka.
Mereka adalah jagoan-jagoan istana Kin dan usia mereka juga lebih tua daripada dia, maka tentu saja mereka sungkan untuk melakukan pengeroyokan.
"Sekarang begini saja,"
Katanya.
"agar kalian tidak merasa sungkan, biarlah kalau sampai robek sedikit pakaianku terkena ujung pedang kalian, kuanggap kalian sudah lulus ujian dan dapat mengalahkan aku. Nah, sekarang aku hendak bertanya dan kuharap kalian menjawab sejujurnya. Aku ingin agar kalian mengeluarkan ilmu kalian yang paling ampuh. Kalau kalian maju berlima, kalian hendak mempergunakan ilmu pedang apakah yang kalian anggap paling ampuh?"
"Sesungguhnya, Cia-sicu. Kami berlima malu untuk maju berbareng dan mengeroyokmu. Akan tetapi karena Pangeran telah memerintahkan dan sicu hanya ingin menguji, maka apa boleh buat, kami akan menaati perintah. Kami masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri, akan tetapi kalau kami maju bersama, kami telah menciptakan permainan pedang gabungan yang kami namakan Ngo heng Kiam-tin (Barisan Pedang Lima Unsur). Dengan memainkan Ngo-heng Kiam tin, kami berlima belum pernah terkalahkan."
"Bagus! Aku menghendaki agar kalian berlima mengeroyok aku dengan Ngo heng Kiam-tin itu dan jangan sungkan. Serang aku sekuat kalian dan kalahkan aku secepat mungkin. Aku percaya bahwa ahli-ahli pedang seperti kalian tentu tidak akan salah tangan, tidak akan melukai tubuhku, cukup dengan merobek pakaianku saja."
Cia Song bicara sambil tersenyum ramah, sama sekali tidak terkandung nada atau sikap mengejek.
"Baiklah, Cia-sicu. Maafkan kami."
Con Gu memandang kepada empat orang rekannya dan mereka berlima lalu menggerakkan tangan kanan.
Tampak kilatan lima sinar ketika mereka telah mencabut pedang samurai mereka masing masing.
Lima batang pedang panjang yang agak melengkung itu berkilauan dan ini menunjukkan bahwa pedang-pedang itu amat tajam.
Ketika dicabut dengan amat cepatnya, terdengar suara berdesing yang menandakan bahwa lima orang itu memiliki tenaga yang kuat.
Setelah mencabut pedang samurai masing-masing, lima orang itu lalu mulai melangkah dengan geseran-geseran kaki dan mereka telah mengepung Cia Song dari lima penjuru.
"Bersiaplah, Cia-sicu!"
Kata Con Gu yang memberi kesempatan kepada Cia Song untuk mengeluarkan senjatanya.
Dari gerakan mereka saja Cia Song maklum bahwa akan sukar menandingi mereka berlima kalau dia bertangan kosong.
Maka diapun segera mencabut pedang yang berada di punggungnya, sebatang pedang beronce merah.
Dia mencabutnya dengan perlahan lalu melintangkan pedangnya di depan dada.
Biarpun dia tidak memasang kuda-kuda secara khusus, namun Cia Song bersikap hati-hati dan waspada karena dia maklum bahwa lima orang lawannya ini benar-benar tangguh.
Dia harus menjaga agar dia jangan sampai kalah atau kalau dikalahkan juga dia harus dapat melakukan perlawanan yang cukup kuat dan seimbang.
Setelah melihat Cia Song mencabut pedang, Con Gu mewakili rekan-rekannya bertanya.
"Cia-sicu, apakah kami sudah boleh mulai menyerang?"
"Boleh, silakan, aku sudah siap!"
Kata Cia Song.
"Sambut serangan Unsur Swee (Air)!"
Bentak Con Gu dan dia menyerang dari depan Cia Song.
Pedang samurainya menyambar dan gerakannya bergelombang seperti ombak sehingga cocok sekali kalau Con Gu memperkenalkan dirinya sebagai pemain Unsur Air dalam Ngo-heng Kiam-tin (Barisan Pedang Lima Unsur) itu.
Cia Song sengaja menggunakan pedangnya menangkis dengan pengerahan tenaga karena dia hendak mengukur tenaga Con Gu melalui serangan pedang samurainya itu.
"Tranggg!!"
Pedang samurai itu tergetar dan Con Gu melangkah ke belakang lima kali.
Cia Song juga merasakan pedangnya tergetar dan tahulah dia bahwa tenaga Con Gu cukup kuat walaupun masih jauh kalau dibandingkan dengan sin kang (tenaga sakti) yang dikuasainya.
"Cia-sicu, sambut serangan Unsur Hwe (Api)!"
Teriak Koi Cu yang berkepala botak dan bertubuh pendek gendut dari sebelah kanan Cia Song.
Pedang Samurai yang terlalu panjang bagi tubuh yang pendek itu menyambar lurus, dari bawah ke atas seperti berkobarnya api dan gerakannya dahsyat sekali.
Cia Song sudah mengukur kekuatan Con Gu dan dia menduga bahwa tentu tenaga orang pertama itu yang paling kuat di antara mereka berlima.
Maka dia menghadapi serangan Unsur Api ini dengan mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya.
Dia mengelak sehingga pedang Koi Cu menyambar di samping tubuhnya.
"Sambut serangan Unsur Bhok (Kayu)!"
Teriak Jiu Hon yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok.
Orang ketiga ini menyerang dari belakang, maka Cia Song memutar tubuhnya, menggeser kakinya dan melihat pedang samurai Jiu Hon menusuk ke arah lambungnya.
Cia Song memiringkan tubuhnya dan menggunakan pedangnya untuk menangkis dari samping sehingga serangan Jiu Hon gagal, pedang samurainya terpental.
"Awas serangan Unsur Kim (Emas, logam)!"
Bentak Kian Su, orang keempat yang berwajah tampan.
Pedangnya meluncur dan menyerang dari sebelah kiri tubuh Cia Song.
Kembali Cia Song mengelak dengan mengandalkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi tingkatnya.
"Sambut serangan Unsur Tho (Tanah)!"
Bentak Hayasi.
Orang yang paling pendek ini menyerang dan pedangnya berputar menyerang ke arah kedua kaki Cia Song.
Serangannya tidak kalah dahsyat dibandingkan empat orang rekannya.
Cia Song dengan tenang namun cepat meloncat untuk menghindarkan serangan itu.
Setelah lima orang itu masing-masing mengeluarkan jurus serangannya secara bergiliran dan semua serangan itu dapat dihindarkan dengan mudah oleh Cia Song mereka berlima maklum bahwa Cia Song benar-benar lihai, maka mereka tidak merasa ragu lagi untuk mengeroyok.
Con Gu memberi isyarat kepada empat orang rekannya dan mulailah mereka berlima menyerang dari lima penjuru dengan berbareng!
Serangan mereka datang bergelombang dan bertubi-tubi, dan hebatnya serangan mereka itu saling menunjang, saling melengkapi sesuai dengan watak ngo-heng (lima unsur) sehingga serangan beruntun yang saling menunjang dan saling melengkapi akan tetapi yang sifatnya juga saling berlawanan itu menjadi membingungkan, aneh dan dahsyat sekali!
Diam-diam Cia Song terkejut.
Dia tahu bahwa kalau mereka itu maju satu demi satu, tidak begitu sukar baginya untuk mengalahkan mereka.
Akan tetapi, dengan maju bersama membentuk Barisan Pedang Lima Unsur, mereka sungguh merupakan lawan yang tangguh dan amat berbahaya.
Untuk dapat melakukan perlawanan yang kuat, Cia Song segera memainkan ilmu silat gabungan, yaitu pada dasarnya merupakan ilmu silat pedang aliran Siauw-lim-pai, akan tetapi dia memasukkan unsur ilmu yang dipelajarinya dari Ali Ahmed, datuk suku bangsa Hui itu.
Ilmu pedang menjadi aneh namun kuat sekali.
Tubuh Cia Song lenyap dibungkus sinar pedangnya yang bergulung-gulung dan berkelebatan, bukan hanya sinar pedang itu menangkis lima batang pedang samurai yang mengancamnya dari lima jurusan yang kadang berputaran, namun juga mengirim serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya!
Pangeran Hiu Kit Bong yang hanya menguasai ilmu silat yang rendah, tidak dapat mengikuti jalannya pertandingan.
Gerakan enam orang itu terlampau cepat baginya sehingga pandang matanya menjadi kabur.
Kilatan sinar pedang yang mencuat ke sana-sini, kadang bergulung gulung, diseling suara berdentangan nyaring membuat dia hanya dapat memandang kagum.
"Bagaimana pendapatmu, ciangkun?"
Dia bertanya kepada Panglima Kiat Kon yang juga menonton pertandingan itu dengan tertarik sekali.
Tingkat kepandaian silat panglima ini juga sudah cukup tinggi, seimbang dibandingkan tingkat masing-masing anggauta Ngo-heng Kiam-tin itu, maka dia dapat mengikuti pertandingan itu dan menjadi amat kagum melihat betapa Cia Song dapat mempertahankan diri bahkan mengimbangi serangan gabungan yang dahsyat itu.
Dia sendiri akan kalah dalam waktu pendek kalau harus menandingi pengeroyokan Ngo-heng Kiam-tin itu.
"Hebat, Pangeran. Ngo-heng Kiam-tin memang dahsyat sekali, akan tetapi kepandaian Cia-sicu juga luar biasa sehingga dia mampu mengimbangi pengeroyokan itu,"
Katanya sambil mengangguk angguk dengan hati kagum.
Pertandingan itu memang hebat bukan main.
Semua serangan dari barisan pedang lima orang itu dapat dihindarkan dengan baik oleh Cia Song, biarpun serangan itu datang bergelombang dan bertubi-tubi.
Akan tetapi serangan balasan dari Cia Song juga selalu dapat ditangkis.
Kalau Cia Song hendak mengandalkan kelebihan tenaganya, diapun gagal karena yang menangkis pedangnya tentu sedikitnya dua orang, bahkan kadang tiga-empat pedang samurai sekaligus menyambut pedangnya sehingga kelebihan tenaganya diimbangi tenaga gabungan para pengeroyok.
Sampai seratus jurus mereka bertanding dan belum tampak siapa yang akan keluar sebagai pemenang.
Cia Song merasa sudah cukup menguji jagoan itu dan dia merasa girang.
Ternyata Ngo-heng Kiam-tin memang tangguh dan boleh diandalkan.
Dibantu lima orang seperti ini, apalagi yang memimpin dua losin perajurit pilihan, dia akan merasa kuat menghadapi Pek Hong Nio-cu dan Souw Thian Liong.
Maka dia ingin menyudahi ujian itu.
Akan tetapi dasar dia memiliki watak yang sombong, walaupun disembunyikan di balik sikapnya yang halus dan sopan, maka dia tidak akan merasa puas kalau tidak lebih dulu mengalahkan mereka agar dia memperoleh kesan yang baik dan agar lima orang itu tunduk kepadanya sehingga dapat menjadi pembantu-pembantu yang taat kepadanya.
Diam-diam Cia Song mengerahkan tenaga saktinya dan mempergunakan ilmu pukulan jarak jauh bercampur kekuatan sihir yang dipelajarinya dari Ali Ahmed.
"Hyaaaattt....... ahhhh!"
Tangan kirinya mendorong ke depan dan tubuhnya berputar sehingga sasaran pukulan jarak jauh itu diarahkan kepada lima orang pengeroyok yang mengepungnya.
Dari telapak tangan kirinya keluar asap hitam yang menyambar ke arah lima orang itu.
Terdengar teriakan-teriakan kaget dan lima orang itu satu demi satu terhuyung ke belakang.
Cia Song bergerak cepat sekali.
Pedangnya menyambar-nyambar dan ketika dia melompat agak ke belakang menjauhi mereka, lima orang itu melihat betapa ujung baju mereka telah terbabat putus oleh sinar pedang Cia Song selagi mereka terhuyung tadi!
Lima orang itu membungkuk sampai dalam dan Con Gu mewakili para rekanrrya berkata.
"ilmu pedang Cia-sicu hebat bukan main! Kami mengaku kalah!"
Cia Song menyimpan kembali pedangnya dan berkata.
"Ngo-heng Kiam-tin amat tangguh. Aku girang sekali mendapatkan pembantu seperti kalian berlima!"
Mendengar ini, Pangeran Hiu Kit Bong dan Panglima Kiat Kon bertepuk tangan.
"Kami girang sekali bahwa mereka berlima lulus ujian, Cia-sicu. Bagaimana pendapat sicu? Apakah ditemani mereka yang akan memimpin dua losin perajurit pilihan dianggap cukup kuat?"
"Lebih dari cukup, Pangeran. Dengan bantuan mereka dan dua losin perajurit pilihan, hamba yakin kami dapat menangkap Puteri Moguhai dan Souw Thian Liong."
"Bagus! Duduklah kalian berenam!"
Kata Pangeran Hiu Kit Bong.
"Akan tetapi kalau Puteri Moguhai jangan dibunuh, sebaliknya pemuda lihai yang menjadi temannya itu harus dibunuh karena dia membahayakan kita."
"Tidak, Pangeran. Souw Thian Liong juga akan hamba tangkap karena dia harus memperhitungkan dosa-dosanya kepada Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai. Dia harus menerima hukumannya,"
Kata Cia Song.
"Hemm, apa sih yang dilakukannya? Ah, sudahlah, bukan urusan kami. Terserah kepadamu kalau engkau hendak menangkap pemuda itu, Cia-sicu. Yang terpenting bagi kami adalah menawan Puteri Moguhai untuk dijadikan sandera,"
Kata Pangeran Hiu Kit Bong.
Setelah mengadakan perundingan matang dan membuat persiapan, berangkatlah Cia Song bersama kelima Ngo-heng Kiam-tin, memimpin dua losin perajurit yang terlatih baik dan rata-rata pandai ilmu silat melakukan pengejaran kepada Puteri Moguhai dan Souw Thian Liong yang menuju ke barat.
Mereka menunggang kuda-kuda pilihan sehingga dapat melakukan perjalanan cepat.
Souw Thian Liong mendapat kenyataan yang amat menyenangkan hatinya.
Setelah melakukan perjalanan dengan Pek Hong Nio-cu selama hampir sebulan lamanya, dia mendapat kenyataan betapa amat menggembirakan perjalanan itu.
Pek Hong Nio-cu ternyata merupakan teman seperjalanan yang amat baik.
Wataknya gembira, pandai bicara dan di mana saja pendekar wanita yang sesungguhnya puteri raja ini memperlihatkan watak aselinya yang mengagumkan.
Ia ramah terhadap rakyat jelata, murah hati dan siap menolong rakyat yang hidup sengsara.
Ringan tangan menghajar orang orang yang mengandalkan kekerasan dan kekuasaan untuk menindas rakyat.
Terutama sekali ia amat keras terhadap para pembesar kecil yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat.
Dan di mana saja, para pembesar itu selalu mati kutu dan ketakutan setelah memperlihatkan pedang bengkok dari emas yang menjadi lambang kekuasaan Kaisar kerajaan Kin.
Puteri raja ini selain cantik jelita dan menarik hati, juga gagah perkasa dan memiliki watak yang budiman.
Di lain pihak, diam-diam Pek Hong Nio-cu juga kagum bukan main kepada Thian Liong.
Pemuda itu selalu sopan dan penuh perhatian.
Tidak pernah sedikitpun mernperlihatkan watak mata keranjang, tidak pernah mencoba untuk merayunya seperti yang banyak ditemui pada diri para pria kalau bertemu dengannya.
Sungguh seorang pemuda yang hebat, berjiwa pendekar dan juga pandai bicara dan suka berkelakar dengan sopan.
Seperti kita ketahui, ketika mereka berdua tiba di kota Kiang-cu dan bermalam di sebuah rumah penginapan, Cia Song menemui Thian Liong dan membujuk agar Thian Liong segera meninggalkan kota itu karena Kim Lan dan Ai Yin mencarinya untuk memaksa Thian Liong menikahi Kim Lan atau kalau tidak mau, dua orang gadis itu hendak membunuhnya.
Setelah Cia Song pergi, Pek Hong Nio-cu mendengar dari Thian Liong tentang gadis murid Kun-lun-pai yang hendak memaksa dia mengawini dengan alasan bahwa gadis itu sudah bersumpah akan berjodoh dengan pria yang dapat mengalahkannya.
Kalau dia tidak mau, Thian Liong akan dibunuhnya!
Mendengar ini, Pek Hong Nio-cu marah sekali.
Malam itu, tanpa setahu Thian Liong, Pek Hong Nio-cu pergi mengunjungi rumah penginapan di mana Kim Lan dan Ai Yin bermalam.
Ia melemparkan surat celaannya yang disambitkan ke atas meja dengan sebuah pisau lalu meninggalkan atap rumah penginapan itu karena ia melihat bayangan orang.
Dan pada keesokan harinya, Thian Liong mengajaknya segera pergi meninggalkan kota Kiang-cu.
Pemuda ini ingin menghindarkan diri dari kejaran dua orang gadis Kun-lun-pai itu.
Pek Hong Nio-cu juga tidak pernah bicara tentang dua orang gadis itu juga tidak pernah menceritakan tentang perbuatannya mengirim surat teguran yang isinya rnencela murid wanita Kun-lun-pai sebagai wanita yang tidak tahu malu hendak memaksa seorang pria menjadi suaminya!
Matahari telah naik tinggi dan udara lumayan panasnya.
Mereka berdua menjalankan kuda mereka perlahan-lahan, menyusuri sepanjang tepi Sungai Han, yaitu sungai yang menjadi cabang Sungai Yang-ce yang besar.
Pemandangan alamnya di lembah sungai itu amat indah.
Daerah ini termasuk daerah yang kecil jumlah penduduknya sehingga tempat yang mereka lalui itu sunyi.
Thian Liong menjalankan kudanya di sebelah kiri kuda yang ditunggangi Pek Hong Nio-cu.
Dua ekor kuda itu berjalan seenaknya karena dua orang penunggangnya tidak ingin memaksa binatang yang juga sudah tampak kelelahan itu.
Thian Liong melamun.
Dia melamun tentang keadaan dirinya.
Sungguh tak pernah disangkanya sama sekali bahwa dia akan melakukan perjalanan berdua saja dengan puteri Raja Kin!
Dan perjalanan bersama itu sudah dilakukan selama kurang lebih satu bulan!
Sungguh amat mengherankan dan tentu banyak yang tidak percaya kalau dia bercerita kepada orang lain.
Dia disambut oleh pejabat-pejabat pemerintah Kin di sepanjang jalan dengan sikap hormat sekali karena dia diperkenalkan oleh Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu sebagai sahabatnya.
Dan puteri itu begitu manis, begitu ramah dan akrab dengan dia.
Akan tetapi yang menunggang kuda di sisinya ini adalah seorang puteri bangsawan tinggi, Puteri Raja Kin sedangkan dia apa?
Seorang pemuda yatim piatu yang bodoh dan miskin, rumahpun tidak punya!
Akan tetapi Thian Liong tidak merasa rendah diri.
Mengapa rendah diri?
Dia tidak mempunyai pamrih apapun dalam persahabatannya dengan Pek Hong Nio-cu.
Memang harus dia akui bahwa dia amat tertarik, kagum dan suka sekali kepada gadis bangsawan ini.
Sungguh jauh bedanya gadis ini dibandingkan gadis-gadis yang pernah dia jumpai.
Berpikir sampai di sini, terbayang olehnya wajah seorang gadis yang manis.
Wajahnya bulat telur, rambutnya hitam panjang dengan anak rambut melingkar di dahi dan pelipis.
Dahinya halus dan putih sekali, dengan alis hitam kecil panjang dan tebal, matanya seperti sepasang bintang, bersinar tajam dan penuh gairah hidup, hidungnya mancung dan mulutnya amat menggairahkan, dengan bibir merah basah dan lesung pipit menghias kanan kiri mulut itu.
Dagunya runcing dan kulitnya putih mulus.
Tubuhnya padat ranum dengan pinggang ramping.
Gadis yang lincah dan liar, galak penuh semangat, berpakaian merah muda.
Gadis yang telah mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun hoat dari buntalan pakaiannya, kitab yang seharusnya dia serahkan kepada para ketua Kun-lun-pai seperti yang dipesan gurunya.
Gadis cantik jelita dan juga gagah perkasa.
Akan tetapi sayang, ia mencuri kitab, dan lebih sayang lagi, dia tidak tahu siapa nama gadis itu dan di mana tempat tinggalnya.
Perjalanannya ke barat inipun untuk mencari gadis pencuri itu.
Dia hanya menduga bahwa gadis itu tentu berada di daerah barat mengingat bahwa ilmu silatnya seperti ilmu silat aliran Tibet.
Kalau dibuat perbandingan antara gadis baju merah itu dengan Pek Hon g Nio-cu, alangkah jauh bedanya.
Memang mereka berdua sama sama cantik menarik, sama-sama gagah perkasa, bahkan sama-sama lincah, agak liar dan galak bersemangat.
Akan tetapi gadis baju merah yang liar itu adalah seorang gadis kang-ouw tulen dan seorang pencuri, sebaliknya Pek Hong Nio-cu adalah seorang puteri raja yang baik hati.
Akan tetapi aneh, dia sukar dapat melupakan gadis baju merah itu dan kalau teringat padanya, jantungnya berdebar dan wajahnya berseri.
Padahal, dia berjanji kalau dapat menemukan gadis baju merah itu, akan direbahkan gadis itu menelungkup di atas kedua pahanya lalu akan ditamparnya pinggul gadis itu seputuh kali seperti orang mengajar anaknya yang nakal!
Kemudian, bayangan wajah gadis baju merah yang mencuri kitab milik Kun-lun pai itu terganti wajah seorang gadis lain.
Wajah yang setelah kini terbayang olehnya, makin tampak betapa wajah itu tidak ada bedanya dengan wajah Pek Hong Nio-cu!
Dia mencoba untuk mencari perbedaan antara dua wajah itu.
Namun, seingatnya, tidak ada bedanya sama sekali!
Wajah Thio Siang In yang berjuluk Ang-hwa Sian-li, gadis yang suka memakai pakaian serba hijau itu.
Ada bunga mawar merah di rambutnya.
Cantik jelita dan cerdik sekali.
Juga amat lihai ilmu silatnya.
Hebatnya, seingatnya Thio Siang In juga mempunyai setitik tahi lalat di dekat mulutnya, di ujung bibir, sama dengan Puteri Moguhai!
Kedua wajah itu serupa benar.
Kalau ada perbedaan yang sangat mencolok adalah warna dan bentuk pakaian mereka.
Pek Hong Nio-cu berpakaian serba putih dan Ang-hwa Sian-li berpakalan serba hijau.
Akan tetapi, walaupun tidak sampai mencuri seperti yang dilakukan gadis baju merah, Thio Siang In itupun seorang gadis yang ugal-ugalan.
Hendak meminjam kitab Sam-jong-cin-keng milik Siauw-lim-pai dengan paksa!
Ketika dia tidak mau menyerahkan kitab itu, Ang-hwa Sian-li Thio Siang In marah dan mengajak bertanding!
Sayang sekali, padahal gadis itu gagah perkasa dan tadinya sudah menjadi teman akrab dengannya.
Seperti juga bayangan gadis baju merah, bayangan Ang-hwa Sian-li ini selalu muncul dalam ingatannya.
Kemudian teringat dia akan wajah Kim Lan, murid Kun-lun-pai itu, bersama su-moinya (adik seperguruannya) yang bernama Ai Yin.
Mereka juga gadis-gadis manis, cantik menarik, gagah perkasa dan sebagai murid-murid Kun-lun-pai, tentu saja kepandaian mereka tinggi dan watak mereka seperti pendekar.
Akan tetapi sayang, terutama sekali Kim Lan, gadis cantik itu diikat sumpah yang aneh sehingga ketika kalah bertanding melawannya, kini mengejarnya untuk memaksa dia mengawininya dan kalau dia menolak, dia akan dibunuhnya!
Thian Liong menghela napas panjang.
Aneh-aneh saja pengalamannya dengan gadis-gadis itu!
Dan biarpun mereka, yang tiga orang itu, gadis baju merah, Ang-hwa Sian-li, dan Kim Lan tidak dapat disamakan dengan Pek Hong Nio-cu yang anggun, bangsawan tinggi dan tidak ada kesalahan kepadanya, namun tetap saja ada rasa suka pula dalam hatinya terhadap mereka.
Dan wajah mereka selalu bermunculan dalam kenangannya.
"Souw Thian Liong, kenapa engkau menghela napas panjang setelah sejak tadi melamun seorang diri?"
Tiba-tiba suara Pek Hong Nio-cu menyadarkan dan seolah menyeret dia kembali ke alam sadar.
"Eh? Apa maksud paduka, Puteri?"
Tanya Thian Liong gagap, seperti orang baru bangun tidur.
"Hushh! Berapa kali aku memperingatkan agar engkau jangan menyebut aku paduka dan puteri, kecuali kalau berhadapan dengan para pembesar dan dalam suasana resmi!"
Tegur Pek Hong Nio-cu dengan alis berkerut.
"Dalam percakapan pribadi, aku ini bukan lain adalah Pek Hong Nio-cu, seorang sahabat yang sederajat denganmu."
"Ah, maafkan, Nio-cu. Aku memang pelupa, akan tetapi apa yang kau maksudkan dengan pertanyaanmu tadi?"
"Hemm, bagaimana sih pertanyaanku tadi, Thian Liong?"
Thian Liong menggeleng kepalanya.
"Aku tidak tahu, tidak ingat lagi."
"Nah, itu tandanya bahwa engkau tenggelam ke dalam lamunanmu,"
Kata Pek Hong Nio-cu sambil menahan dan menghentikan kudanya. Melihat ini, Thian Liong juga menghentikan kudanya.
"Thian Liong, sejak tadi aku melihat engkau melamun dengan pandang mata kosong, kadang tersenyum-senyum dan kemudian engkau menghela napas panjang. Nah, tadi aku bertanya mengapa engkau melamun terus dan menghela napas panjang?"
Ah, itukah yang kautanyakan? Nio-cu, marilah kita mengaso dan berteduh di bawah pohon itu,"
Kata Thian Liong.
"Baiklah, memang sinar matahari panas bukan main dan kuda kita juga sudah lelah,"
Kata Pek Hong Nio-cu. Mereka menuju ke sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi Sungai Han, turun dari kuda dan menambatkan kuda di batang pohon kecil tak jauh dari situ.
"Kota Yun-sian berada tidak jauh lagi di depan. Sebelum sore kita sudah dapat memasuki kota itu."
"Nio-cu, agaknya engkau mengenal betul daerah ini,"
Kata Thian Liong.
"Tentu saja, sudah beberapa kali aku mengunjungi Paman Kuang yang memimpin pasukan menjaga perbatasan. Tapi, engkau belum menjawab pertanyaan tadi, Thian Liong."
Pemuda itu duduk di atas batu di bawah pohon yang teduh itu dan Pek Hong Nio-cu juga duduk di atas batu di depannya.
Pemandangan di situ amat indah.
Di dekat mereka, hanya empat meter jauhnya, tampak Sungai Han mengalirkan airnya yang masih jernih dengan tenang.
Di tepi sungai, kanan kiri, tumbuh subur segala macam pohon dan semak.
Sebuah perahu terapung di tepi sungai tak jauh dari tempat mereka duduk.
Seorang pengail duduk di atas perahu itu, duduk seperti patung, memegangi tangkai pancingnya, bahkan menengokpun tidak ketika Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu berhenti di bawah pohon.
Dia tenggelam ke dalam keasyikan memancing ikan.
Pengail itu memakai caping lebar akan tetapi sedikit bagian mukanya kelihatan dan ternyata dia adalah seorang laki laki yang sudah tua.
Thian Liong, dan Pek Hong Nio-cu tidak memperdulikan kakek itu yang dari bentuk capingnya dapat diduga bahwa dia tentu seorang bersuku bangsa Hui.
"Aku harus menjawab bagaimana, Pek Hong Nio-cu? Aku tadi memang sedang melamun. Panasnya sinar matahari dan kuda kita yang berjalan perlahan membuat aku mengantuk lalu melamun."
"Hemm, melamun sambil cengar-cengir, tersenyum dan menghela napas. Apa saja sih yang kaulamunkan?"
Tentu saja Thian Liong merasa malu untuk menceritakan bahwa tadi dia melamun, membayangkan gadis-gadis yang pernah berurusan dengannya! "Ah, aku melamun tentang masa laluku sampai saat ini."
"Kenapa senyum-senyum dan menghela napas segala? Seperti orang bergembira kemudian bersedih!"
Desak puteri itu.
"Aku bergembira ketika teringat ketika aku masih kanak-kanak lalu bersedih kalau mengingat keadaanku sekarang, mengejar pencuri kitab yang tidak kuketahui namanya dan kuketahui tempat tinggalnya. Kitab itu harus kudapatkan kembali untuk kuserahkan kepada yang berhak di Kun-lun-pai, kalau tidak berarti aku gagal melaksanakan perintah suhu."
Pek Hong Nio-cu menatap wajah pemuda itu penuh perhatian. Agaknya hatinya tertarik sekali.
"Souw Thian Liong, maukah engkau menceritakan rlwayatmu ketika engkau masih kecil, tentang orang tuamu, tentang gurumu? Aku sudah lama mendengar tentang Tiong Lee Cin-jin yang sangat terkenal sebagai seorang yang sakti berilmu tinggi, juga yang dikenal sebagai Tabib Dewa, suka menolong siapa saja tanpa pilih bulu. Bahkan semua keluarga ayahku di istana mengenal nama itu dan merasa kagum."
"Tidak ada apa-apa yang menarik tentang diriku, Nio-cu. Aku seorang anak desa yang tlnggal di sebuah dusun kecil di lereng Mao-mao-san. Ketika berusia lima tahun, ayah ibuku meninggal dunia karena wabah penyakit perut yang mengamuk di dusun kami."
"Aduh, kasihan sekali engkau, Thian Liong. Dalam usia lima tahun sudah piatu, ditinggal mati ayah ibu,"
Kata Pek Hong Nio-cu sambil memandang wajah Thian Liong dengan iba.
"Aku hidup berdua dengan nenekku dan setelah berusia sepuluh tahun aku bekerja kepada Lurah Coa di dusun kami. Pekerjaanku menggembala kerbau."
Pek Hong Nio-cu tersenyum lebar.
"Ah, aku teringat akan dongeng Ibuku. Ketika aku masih kecil ibu mendongeng tentang seorang pemuda penggembala kerbau yang dengan tiupan sulingnya menarik perhatian seorang bidadari sehingga bidadari turun dari langit kemudian menjadi isteri si penggembala kerbau."
Thian Liong tertawa.
"Ha-ha, kalau meniup suling akupun bisa, akan tetapi mana mungkin ada bidadari memperhatikan aku?"
"Hemm, siapa tahu? Engkau juga seorang penggembala kerbau yang istimewa, Thian Liong. Lanjutkan ceritamu yang menarik sekali itu."
Thian.
Liong merasa heran.
Bagaimana kisah tentang seorang penggembala kerbau saja menarik hati gadis ini?
Akan tetapi segera dia teringat bahwa gadis ini adalah seorang puteri raja, tentu saja tertarik mendengar akan kehidupan seorang penggembala seperti juga seorang penggembala akan tertarik mendengar akan kehidupan seorang puteri raja.
Setiap orang selalu tertarik akan hal yang baru, akan hal yang tak pernah dialaminya atau keadaan yang berlawanan dengan keadaannya sendiri.
"Ketika aku berusia sepuluh tahun, pada suatu hari aku menggembala kerbau dan kebetulan aku bertemu dengan suhu Tiong Lee Cin-jin. Nenekku yang sudah berusia delapanpuluh tahun, meninggal dunia dan aku lalu ikut dan menjadi murid suhu. Selama sepuluh tahun aku mempelajari ilmu dari suhu. Kemudian, setahun lebih yang lalu, suhu menyuruh aku turun gunung dan aku diberi tugas untuk menyerahkan kitab-kitab kepada Bu-tong-pai, Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai. Sayang sekali, kitab untuk Kun-lun-pai itu dicuri gadis baju merah yang kini sedang kucari itu. Nah, itulah riwayatku, Nio-cu. Sekarang akupun ingin mendengar riwayat seorang puteri raja, kalau saja engkau tidak keberatan untuk menceritakan kepada seorang penggembala kerbau."
Pek Hong Nio-cu tertawa.
"Heh-heh, engkau membalas atau menagih? Riwayatku ketika masih kecil lebih tidak menarik lagi. Aku hidup di dalam istana, serba tertutup, tidak bebas seperti engkau. Ke mana-mana dikawal, sungguh menyebalkan. Akan tetapi untung bagiku, ayahku memberi kebebasan kepadaku setelah aku remaja, bahkan mengijinkan aku mempelajari segala macam ketangkasan. Menunggang kuda sudah bisa kulakukan sejak aku berusia lima tahun. Akan tetapi masih kalah olehmu. Engkau berani menunggang kerbau sejak kecil, sedangkan aku, sampai sekarangpun nanti dulu kalau disuruh menunggang kerbau!"
"Siapakah yang mengajarimu ilmu silat sehingga engkau kini memiliki kepandaian yang tinggi?"
"Guruku banyak sekali. Jagoan istana yang mana saja tentu akan mengajarkan ilmu silatnya kepadaku kalau aku memberitahu ayah. Ayah yang memerintahkan mereka untuk mengajariku dengan baik."
"Wah, agaknya engkau seorang anak yang manja dan nakal!"
Kata Thian Liong sambil tertawa.
Pek Hong Nio-cu juga tertawa dan bukan main manisnya kalau puteri ini tertawa.
Tawanya bebas sehingga tampak deretan giginya yang putih rapi seperti mutiara dan lidahnya yang kecil merah sehat.
"Memang aku dimanja olah ayahku akan tetapi aku tidak nakal!"
Katanya.
"Dan guruku yang terakhir malah belum pernah berhadapan muka dan belum pernah bicara dengan aku, sungguhpun aku pernah melihatnya satu kali."
"Lho, bagaimana mungkin? Lalu bagaimana dia kauanggap sebagai gurumu dan bagaimana pula caramu mempelajari ilmunya?"
Tanya Thian Liong heran.
"Begini ceritanya. Pada suatu waktu, aku melihat ibu....... bicara dengan seorang laki-laki dalam taman. Aku tidak berani mengganggu dan ketika aku bertanya kepada ibu, ibu hanya menceritakan bahwa laki-laki itu adalah seorang sahabat lama dan aku disuruh menyebutnya paman Sie. Paman Sie itu menurut ibuku, menjadi guruku juga karena dia telah memberikan tiga buah kitab pelajaran silat seperti yang pernah kuperlihatkan padamu dan sebuah perhiasan rambut yang kupakai ini."
Pek Hong Nio-cu meraba perhiasan rambut berbentuk burung Hong yang berada di kepalanya.
"Hemm, jadi karena engkau memakai perhiasan itu maka engkau mendapat julukan Pek Hong Nio-cu (Nona Burung Hong Putih?"
"Kira-kira begitulah, akan tetapi ibuku memesan agar aku merahasiakan dari siapa juga tentang kunjungan Paman Sie itu. Bahkan kepada ayahpun aku tidak menceritakannya."
"Akan tetapi kenapa kepadaku engkau menceritakan?"
"Ah, entahlah. Aku percaya padamu, Thian Liong. Dan pula, aku kira ibuku melarang aku bercerita karena ibuku adalah seorang wanita berbangsa Han dan agaknya Paman Sie itu juga berbangsa Han. Aku tidak menceritakan kepada seorangpun dari bangsa Nuchen (Kin) dan aku hanya bercerita kepadamu karena engkau adalah seorang pemuda Han juga dan aku percaya sepenuhnya kepadamu."
"Terima kasih, Nio-cu. Apakah semenjak itu engkau tidak pernah bertemu atau melihat Paman Sie itu?"
"Tidak pernah. Aku amat berterima kasih kepadanya karena setelah aku mempelajari ilmu-ilmu dari kitabnya, aku memperoleh kemajuan pesat. Aku ingin sekali bertemu dan menghaturkan terima kasih kepadanya, akan tetapi aku tidak tahu di mana dia. Bahkan ketika aku bertanya kepada ibu, Ibu juga tidak mengetahuinya dan hanya mengatakan bahwa Paman Sie adalah seorang perantau besar."
"Tiga buah kitab pelajaran ilmu silat itu memang mengandung pelajaran ilmu silat yang amat hebat, Nio-cu. Paman Sie itu tentu seorang yang berilmu tinggi. Oya, kalau Ibumu seorang wanita Han, siapakah namanya?"
"Namanya Tan Siang Lin. Nama yang bagus, bukan? Dan engkau nanti setelah berhasil menemukan gadis pencuri kitab dan merampasnya lalu mengembalikan kepada Kun-lun-pai, lalu apa selanjutnya yang akan kaulakukan, Thian Liong?"
"Suhuku masih memberi sebuah tugas lain yang tidak kalah pentingnya. Aku harus membantu para pendekar yang berusaha menyelamatkan Kerajaan Sung dari cengkeraman kekuasaan Perdana Menteri Chin Kui."
Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnya.
"Ah, aku tahu siapa itu Perdana Menteri Chin Kui. Dia banyak membantu Kerajaan Kin, akan tetapi ibuku seringkali bilang bahwa Perdana Menteri Chin Kui dari Kerajaan Sung itu adalah seorang pengkhianat besar dan seorang jahat. Bahkan akhir-akhir ini ayahku, Raja Kerajaan Kin, juga mengecamnya dan pernah bilang kepadaku bahwa Chin Kui adalah seekor ular kepala dua yang berbahaya dan tidak boleh dipercaya. Sebagai perantara hubungan Kerajaan Kin dan Kerajaan Sung, Chin Kui itu sering kali menjegal dan telah ketahuan bahwa dia juga mencuri sebagian dari hadiah-hadiah yang dikirimkan oleh Raja Sung untuk Raja Kin. Maka, sekarang ayahku mulai tidak percaya dan merenggangkan hubungannya dengan pembesar Chin Kui itu."
"Wah, agaknya engkau mengerti banyak tentang keadaan politik kerajaan Kin, Nio-cu!"
Kata Thian Liong sambil memandang kagum. Ternyata gadis ini memiliki banyak kemampuan dan pengetahuan yang mengejutkan. Biasanya wanita jarang ada yang mau tahu tentang pemerintahan.
"Tentu saja, Thian Liong. Akupun bertanggung jawab atas keselamatan pemerintahan Kerajaan Kin yang dipimpin ayah, bukan? Malah diam-diam akupun melakukan penyelidikan dan selalu menentang dan memberantas para pembesar Kin yang lalim, tidak jujur dan tidak setia. Aku tahu pula bahwa diam-diam ada persekutuan di kota raja dan aku mendengar bahwa persekutuan untuk memberontak itu dibantu pula oleh pembesar Chin Kui dari Kerajaan Sung."
"Ah, begitukah?"
"Karena itulah aku sekarang pergi ke barat untuk mengunjungi Paman Pangeran Kuang yang menjadi panglima yang memimpin bala tentara yang menjaga perbatasan. Aku akan menceritakan semua itu kepada Paman Pangeran Kuang karena dia adalah seorang ahli yang setia kepada ayah dan menjadi komandan pasukan besar dan kuat. Dia tentu akan datang ke kota raja membawa pasukannya untuk menghancurkan komplotan pemberontak itu."
"Siapakah yang memimpin persekutuan untuk memberontak, Nio-cu?"
Thian Liong merasa heran.
Ternyata Kerajaan Kin yang merupakan kerajaan bangsa Nu-chen yang menjajah dan terkenal kuat itupun keadaannya sama saja dengan kerajaan Sung yang karena penyerangan bangsa Nuchen terpaksa pindah ke sebelah selatan Sungai Yang-ce, yaitu ada saja orang-orang yang berkhianat.
"Atau, barangkali aku tidak boleh mengetahui?"
"Ah, aku percaya padamu, Thian Liong. Engkaupun tadi sudah bicara blak blakan tentang Perdana Menteri Chin Kui kepadaku. Penggerak persekutuan pemberontak itu adalah seorang pangeran juga, jadi masih pamanku sendiri, paman tiri. Dia bernama Pangeran Hiu Kit Bong. Akan tetapi karena belum mendapatkan bukti bahwa dia akan memberontak dan menyusun kekuatan secara diam-diam, bahkan mungkin sekali mengadakan persekutuan dengan Chin Kui, maka aku tidak dapat berbuat sesuatu. Melapor kepada ayahpun pasti tidak akan dipercaya kalau tidak ada buktinya. Karena itu, jalan satu-satunya adalah menceritakan kepada Paman Pangeran Kuang yang tentu akan dapat membasmi para pemberontak."
"Hemm, kalau ada kesempatan, aku siap untuk membantumu, Nio-cu,"
Kata Thian Liong. Pek Hong Nio-cu menatap wajah Thian Liong, seolah ingin menjenguk isi hati pemuda itu.
"Akan tetapi, Thian Liong, engkau seorang pemuda berbangsa Han!"
"Hemm, kalau begitu, kenapa Nio-cu?"
"Bagaimana engkau akan membela kepentingan kerajaan Kin? Bukankah kerajaan Kin telah menyebabkan kerajaan Sung mengungsi ke selatan? Apakah engkau tidak mendendam kepada bangsa Nuchen yang mendirikan kerajaan Kin yang menjajah tanah airmu?"
Thian Liong merasa heran. Bagaimana puteri raja Kin dapat berkata begitu ke-padanya? Ini tentu pengaruh ibu puteri itu, yang juga seorang wanita berbangsa pribumi Han.
"Suhu mengajarkan kepadaku agar aku tidak mencampuri urusan antara kerajaan Kin dan kerajaan Sung. Menurut suhu, yang terpenting adalah menyejahterakan kehidupan rakyat, melenyapkan kejahatan dan kebodohan. Karena kalau rakyat hidup sejahtera dan kejahatan dapat dlbasmi atau setidaknya dikurangi, maka negara akan menjadi kuat. Kalau para pejabat melakukan tugasnya dengan jujur dan setia, mementingkan kebutuhan rakyat jelata, maka rakyat pasti akan mendukung pemerintah dan pemerintah menjadi kuat. Kalau terjadi sebaliknya, yaitu kalau para pejabat saling berebutan kekuasaan dan harta benda, tanpa memperdulikan rakyat bahkan menindas rakyat, pasti pemerintah yang tidak didukung rakyat akan menjadi lemah dan mudah dikalahkan musuh, seperti halnya kerajaan Sung dahulu. Mengingat akan ajaran suhu itu, aku tidak mau mendendam kepada kerajaan Kin, bahkan aku siap membantu selama kerajaan Kin mempunyai pemeritahan yang baik dan yang memperhatikan kepentingan rakyat jelata."
"Bagus! Akupun berpendirian seperti engkau, Thian Liong. Apalagi aku mempunyai darah campuran, ayahku orang Nuchen dan ibuku orang Han. Kalau engkau mau membantu aku menentang pemberontak di kerajaan Kin, kelak aku pasti akan membantumu untuk menentang kekuasaan Chin Kui yang berkhianat terhadap kerajaan Sung."
Tiba-tiba terdengar suara derap kaki banyak kuda.
Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu duduk dengan tetap tenang dan memandang ke arah rombongan berkuda yang mengakibatkan debu mengepul itu.
Akan tetapi ketika rombongan itu tiba di dekat mereka, terdengar seruan nyaring.
"Berhenti......!!"
Pek Hong Nio-cu dan Thian Liong masih duduk dengan tenang walaupun kini mereka memandang kepada rombongan itu dengan penuh perhatian.
Mereka melihat bahwa mereka semua terdiri dari sekitar tigapuluh orang akan tetapi tidak dapat dilihat jelas wajah mereka karena debu mengepul dan banyak di antara mereka yang wajahnya tertutup debu seperti dibedaki.
Akan tetapi melihat pakaian seragam pasukan itu, Pek Hong Nio-cu mengenal mereka sebagai pasukan kerajaan Kin.
Maka ia cepat bangkit dan melangkah maju menghadapi mereka.
Kembali terdengar aba-aba dan semua perajurit berlompatan turun dari atas kuda mereka.
Beberapa orang di antara mereka yang bertugas mengatur kuda segera mengumpulkan kuda-kuda itu agak menjauh dan menambatkannya pada pohon pohon.
Lima orang jagoan yang memimpin pasukan itu cepat maju dan berhadapan dengan Pek Hong Nio-cu.
Tentu saja puteri ini segera mengenal mereka karena dahulu, ketika ia masih remaja dan lima orang itu masih menjadi pengawal-pengawal pribadi Raja Kin, ia pernah juga menerima pelajaran silat dari mereka.
Akan tetapi kemudian lima orang ini melakukan pelanggaran dan dikeluarkan dari istana.
Maka, tentu saja Pek Hong Nio-cu tidak lagi menganggap mereka sebagai guru, bahkan memandang mereka sebagai orang-orang yang jahat dan khianat.
Dengan alis berkerut Pek Hong Nio-cu memandang lima orang yang berdiri dengan sikap sungkan itu, lalu ia menegur mereka.
"Mau apa kalian datang ke sini? Hayo pergi dan jangan mengganggu aku!"
Bagaimanapun juga, Puteri Moguhai amat terkenal dan disegani segenap orang di kerajaan Kin.
Ia memiliki wibawa yang amat kuat sehingga ketika puteri itu membentak mereka, lima orang jagoan itu menjadi gentar dan mereka saling pandang, menjadi salah tingkah.
Con Gu mewakili rekan-rekannya berkata kepada Pek Hong Nio-cu setelah membungkuk dalam-dalam.
"Harap paduka maafkan kami kalau kami mengganggu. Kami melaksanakan perintah Sri baginda Kaisar untuk mengajak paduka pulang ke kotaraja."
Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnya.
"Kenapa aku harus pulang? Apa yang terjadi di istana?"
Terkandung kekhawatiran dalam suaranya.
"Kami tidak tahu, tugas kami hanya mengajak paduka segera kembali ke kota raja,"
Kata Con Gu.
Pek Hong Nio-cu adalah seorang gadis yang cerdik.
Ia berpikir, kalau ayahnya memanggilnya puIang, tidak mungkin ayahnya mengutus lima orang ini.
Apa lagi pasukan itu bukan pasukan pengawal istana karena ia tidak mengenal mereka.
Ada sesuatu yang ganjil di sini, sesuatu yang agaknya tidak beres.
"Kalau Sribaginda memanggil aku pulang dan memerintahkan kalian menjemputku, perlihatkan padaku surat perintahnya!"
Katanya sambil menatap tajam wajah Con Gu. Con Gu menjadi salah tingkah dan kembali dia saling pandang dengan empat orang rekannya dan tampak bingung.
"Akan tetapi......"
Dia berkata gagap.
"Tidak ada tapi, cepat keluarkan surat perintah Sribaginda Kaisar!"
Bentak Pek Hong Nio-cu sambil menghunus pedang bengkok dari emas yang menjadi tanda kekuasaannya sebagai wakil Kaisar itu.
Con Gu menjadi semakin bingung.
Akan tetapi tiba-tiba Koi Cu, orang kedua dari lima jagoan itu, yang lebih tabah, berkata.
"Surat perintahnya berada di tangan Pangeran Hiu Kit Bong dan kami menerima perintah dari beliau. Harap paduka menurut dan ikut saja dengan kami!"
Wajah Pek Hong Nio-cu yang putih itu kini berubah kemerahan, sinar matanya menyambar penuh kemarahan.
"Keparat! Kalian tidak melihat pedang kekuasaan ini? Aku tidak mau pulang bersama kalian, habis kalian mau apa?"
Melihat keberanian Koi Cu tadi, kini Con Gu pulih kembali ketabahannya dan dia berkata.
"Kalau paduka menolak, terpaksa kami menggunakan kekerasan."
"Berani kalian melawan aku yang membawa pedang kekuasaan ini? Berarti kalian berani melawan Sribaginda Kaisar, berarti kalian pengkhianat dan pemberontak!"
"Kami hanya melaksanakan perintah Pangeran Hiu Kit Bong!"
Kata Con Gu.
"Kalau begitu paman Pangeran Hiu Kit Bong itu yang hendak memberontak! Aku tetap tidak mau ikut kalian pulang. Hendak kulihat kalian dapat berbuat apa terhadapku!"
Pek Hong Nio-cu membentak marah.
"Kalau begitu, terpaksa kami akan menangkap paduka!"
Con Gu berkata dan dia memberi isyarat.
Dua losin perajurit itu lalu bergerak mengepung kanan kiri dan depan Pek Hong Nio-cu dan Thian Liong yang masih duduk.
Di belakang kedua orang muda ini adalah sungai sehingga mereka tidak mendapatkan jalan keluar, sudah terkepung rapat.
Thian Liong lalu melompat dan berdiri di sisi Pek Hong Nio-cu.
Tadi dia diam saja karena tidak ingin mencampuri Pek Hong Nio-cu yang bicara dengan pimpinan pasukan kerajaan Kin dan dia merupakan orang luar.
Akan tetapi melihat perkembangannya, mau tidak mau harus mencampurinya.
"Hei, apakah kalian berlima ini tidak malu? Yang hendak kalian lawan ini adalah puteri Sri Baginda Kaisar kerajaan Kin, junjungan kalian sendiri! Berarti kalian ini terang-terangan menjadi pengkhianat dan pemberontak!"
Kata Thian Liong sambil memandang tajam mereka berlima. Tiba-tiba dari belakang pasukan itu menerobos seorang pemuda yang pakaiannya menunjukkan bahwa dia bukan anggauta pasukan.
"Souw Thian Liong, engkau harus kutangkap untuk menerima pengadilan di depan para ketua Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai!"
Bentak pemuda itu yang bukan lain adalah Cia Song yang tadi memang bersembunyi di belakang pasukan. Melihat pemuda itu, Thian Liong terbelalak kaget dan heran bukan main.
"Cia-suheng (kakak seperguruan Cia)! Engkau di sini, bersama pasukan pengkhianat ini? Apa artinya ini, suheng?"
"Tak usah engkau mengurus hal itu. Menyerahlah engkau untuk kubawa menghadap para ketua Siauw-lim-pai dan Kun lun-pai untuk mempertanggung-jawabkan perbuatanmu!"
"Perbuatan apakah itu, Cia-suheng?"
Thian Liong bertanya, heran dan penasaran.
"Jangan pura-pura bertanya! Menyerah saja dan engkau akan diadili!"
Pek Hong Nio-cu berseru keras.
"Ah, sekarang aku tahu, Thian Liong. Orang yang kausebut suhengmu ini tentulah utusan Perdana Menteri Chin Kui untuk menghubungi pengkhianat Pangeran Hiu Kit Bong itu!"
Thian Liong terbelalak memandang kepada Cia Song.
"Ah! Benarkah engkau menjadi anak buah Perdana Menteri Chin Kui dan bersekutu dengan pangeran yang memberontak di kerajaan Kin? Cia-suheng, bagaimana engkau bisa......."
"Tangkap mereka! Keroyok pemuda itu, biar aku yang menangkap Pek Hong Nio-cu!"
Kata Cia Song dan dia sudah menerjang maju, menyerang Pek Hong Nio-cu dengan pedang beronce merah yang dia cabut dari punggungnya.
"Tranggg......!"
Pek Hong Nio-cu menangkis dan keduanya merasa betapa tangan mereka tergetar, menunjukkan bahwa mereka memiliki tenaga sin-kang yang tidak berselisih jauh kekuatannya.
Sementara itu, lima orang jagoan Kin itu sudah membentuk Ngo-heng Kiam-tin mengeroyok Thian Liong.
Melihat hebatnya barisan pedang itu, yang masing masing anggautanya menggerakkan pedang samurai dengan dahsyat sekali, Thian Liong juga mencabut Thian-liong-kiam dan memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan yang datangnya bertubi-tubi dari lima jurusan itu.
Thian Liong maklum bahwa dia menghadapi orang-orangnya para pengkhianat, baik pengkhianat kerajaan Sung maupun pengkhianat kerajaan Kin dan pasti mereka itu tidak mempunyai niat baik terhadap Pek Hong Nio-cu.
Akan tetapi dia merasa heran sekali mengapa Cia Song yang sama sekali tidak diduganya telah menjadi antek Chin Kui dan bersekongkol dangan pengkhianat kerajaan Kin kini hendak menangkapnya untuk dihadapkan kepada para pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai untuk diadili!
Apa yang terjadi?
Dia tidak melakukan sesuatu kesalahan terhadap dua perkumpulan besar itu!
Karena merasa penasaran, Thian Liong lalu mengamuk.
Thian-liong-kiam di tangannya berubah menjadi sinar bergulung-gulung sehingga Ngo-heng Kiam tin itupun tidak mampu mendesaknya dan serangan mereka selalu terpental apabila bertemu dengan sinar pedang itu.
Akan tetapi Thian Liong juga mendapat kenyataan bahwa barisan pedang yang terdiri dari lima orang itu tak boleh dipandang ringan.
Kerja sama mereka rapi sekali, saling melindungi dan saling memperkuat daya serang sehingga dia harus berhati-hati.
Sementara itu, Pek Hong Nio-cu menjadi marah sekali ketika Cia Song berkata dengan suara merayu.
"Ah, puteri jelita, sebaiknya engkau menyerah saja daripada kulitmu yang putih mulus itu menjadi lecet. Sayang kalau engkau sampai terluka, manis."
"Singgg......!"
Itulah jawaban Pek Hong Nio-cu. Pedangnya menyambar dahsyat sehingga Cia Song menjadi terkejut sekali dan dia harus cepat mengelak sambil menggerakkan pedangnya menangkis.
"Cringgg......!"
Akan tetapi begitu tertangkis, pedang di tangan Pek Hong Nio cu itu telah menyambar lagi, sekali ini dengan babatan seperti kilat menyambar ke arah leher lawan!
Cia Song kembali harus melompat ke belakang untuk menghindarkan diri, kemudian mau tidak mau dia membalas dengan serangannya karena tak mungkin melawan gadis ini hanya dengan bertahan saja.
Pek Hong Nio-cu terlalu tangguh untuk dilawan dengan seenaknya.
Dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya untuk dapat mengimbangi gadis bangsawan itu.
Bahkan ketika dia mencoba untuk mempergunakan ilmu sihirnya, mengeluarkan bentakan dengan suara yang mengandung sihir dan dayanya melumpuhkan, Pek Hong Nio-cu sama sekali tidak terpengaruh.
Hal ini adalah karena dara itu juga telah menghimpun tenaga sakti yang kuat sehingga dapat menolak pengaruh sihir lawan.
Melihat betapa tidak mudah baginya untuk mengalahkan Pek Hong Nio-cu, apalagi menangkapnya, dan melihat pula sekelebatan betapa keadaan Ngo-heng Kiam-tin juga tidak lebih baik karena mereka itu agaknya bahkan kewalahan menghadapi gulungan sinar pedang Thian Liong, Cia Song lalu berseru kepada pasukan yang terdiri dari dua losin perajurit itu.
"Pasukan bergerak, serbu......!!"
Dua losin perajurit itu bergerak, terpecah menjadi dua bagian.
Selosin perajurit mengeroyok Thian Liong dan yang selosin lagi mengeroyok Pek Hong Nio-cu.
Pek Hong Nio-cu yang mendapatkan lawan seimbang, bahkan merasa betapa Cia Song merupakan lawan yang amat tangguh, menjadi marah sekali ketika selosin orang perajurit itu membantu Cia Song mengeroyoknya.
Ia berseru melengking dan pedangnya yang membentuk sinar keemasan itu menyambar-nyambar.
Dua orang perajurit mengaduh dan terpelanting roboh.
Melihat ini, Cia Song memperhebat desakannya dan para perajurit yang mengeroyok mulai khawatir.
Mereka adalah perajurit pilihan, namun dalam beberapa jurus saja gadis itu telah mampu merobohkan dua orang!
Thian Liong juga mempercepat gerakan pedangnya setelah selosin orang perajurit ikut mengeroyok.
Menghadapi Ngo heng Kiam-tin dia masih dapat mengatasi mereka, akan tetapi sebelum dapat merobohkan lima orang samurai itu, kini maju selosin perajurit mengeroyoknya.
Maka dia segera menerjang dan tiga orang perajurit roboh oleh sambaran sinar pedangnya.
Tiba-tiba Cia Song mengeluarkan aba aba.
Memang dialah sebenarnya yang menjadi pemimpin pasukan itu dan Ngo heng Kiam-tin hanya menjadi pembantu-pembantunya.
Setelah dia mengeluarkan aba-aba, sisa perajurit yang masih sembilanbelas orang itu segera mengeluarkan jaring yang memang sudah dlpersiapkan dan mereka adalah perajurit-perajurit yang terlatih menggunakan senjata istimewa ini.
Begitu mereka menyerang maka jaring-jaring ditebarkan ke arah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu!
Dua orang muda itu mengelak ke sana-sini dan menggunakan pedang untuk menangkis dan merobek jaring yang menyambar.
Akan tetapi mereka terkejut karena ternyata jaring-jaring itu terbuat dari tali istimewa yang tidak mudah dirusak senjata tajam!
Akhirnya tubuh Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu tertangkap jaring!
Thian Liong mengerahkan tenaga saktinya, meronta dan menggerakkan pedangnya.
Dua orang yang berhasil menangkapnya dengan jaring dan memegangi tali jaring itu, disambar sinar pedangnya yang mencuat keluar dari jaring.
Dua orang ftu terpelanting roboh.
Thian Liong meronta keluar dari selimutan jaring-jaring itu.
Dia melihat betapa Pek Hong Nio-cu juga tertangkap oleh dua jaring dan dara itu meronta-ronta, mengamuk dengan pedangnya namun tidak dapat melepaskan dirinya.
Melihat ini, Thian Liong mengeluarkan pekik melengking dan getaran suara pekik yang amat lantang ini membuat pengeroyok mundur beberapa langkah.
Dia lalu melompat mendekati Pek Hong Nio-cu.
Pedangnya digerakkan menangkis sambaran pedang Cia Song.
'Tranggg......!"
Bunga api berpijar dan Cia Song terpental mundur beberapa langkah.
Biarpun tubuhnya sudah diselimuti jaring, namun Pek Hong Nio-cu masih dapat melindungi dirinya dengan pedangnya yang dapat keluar dari sela-sela tali jaring.
Thian Liong mendesak maju dan begitu pedangnya berkelebat, dua orang perejurit yang menangkap Pek Hong Nio-cu dengan jaring mereka terpelanting roboh.
Thian Liong cepat membuka tali jaring dan menyambar tangan Pek Hong Nio-cu.
Keadaannya terlalu berbahaya setelah para perajurit mempergunakan senjata jaring itu.
"Kita pergi!"
Katanya dan dia mengajak Pek Hong Niocu melompat ke tepi sungai lalu sekali menggerakkan kaki, mereka berdua melompat ke atas perahu di mana kakek tadi masih memegang tangkai pancingnya dengan tenang seolah tidak mendengar atau melihat adanya pertandingan di dekat sungai.
Dengan ginkangnya yang tinggi, Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu dapat hinggap di atas perahu pengail ikan itu tanpa mengakibatkan perahu itu oleng terlalu kuat.
"Maafkan, paman. Kami menumpang di perahumu......"
Kata Thian Liong.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pengail ikan yang tua itu tiba-tiba saja menggerakkan kedua tangannya mendorong ke depan, ke arah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu.
Dorongan itu mendatangkan angin yang dahsyat.
Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu berusaha menangkis, namun karena mereka berdiri di atas perahu yang kecil, maka tak dapat dihindarkan lagi tubuh mereka terdorong dan keduanya terjengkang dan terjatuh ke dalam air!
Mereka memang tidak sampai terluka oleh serangan pukulan jarak jauh, akan tetapi mereka terjatuh ke dalam air yang dalam.
Keduanya hanya dapat berenang sekadar tidak tenggelam saja.
Akan tetapi ketika mereka berusaha berenang, para perajurit berloncatan ke dalam air dan tak lama kemudian, Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu merasa betapa kaki mereka dipegang orang dari bawah dan tubuh mereka diseret ke dalam air!
Tentu saja mereka terkejut bukan main dan berusaha melepaskan kaki mereka yang dipegang orang.
Akan tetapi, kini yang memegangi kaki mereka bertambah banyak.
Di darat boleh jadi mereka merupakan orang-orang yang amat lihai.
Akan tetapi dalam air, mereka tak mampu berbuat banyak karena melawan air agar tidak tenggelam saja sudah membutuhkan sebagian besar tenaga mereka.
Karena itu, ketika kaki mereka dipegang banyak orang yang memang merupakan pakar dalam air, mereka tidak berdaya.
Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu berusaha untuk menahan napas, namun mereka menjadi lemas dan akhirnya tak dapat meronta lagi dan mereka berdua dibelit-belit tali yang kuat lalu dinaikkan ke darat dalam keadaan setengah pingsan!
Karena Cia Song tidak menghendaki mereka mati, maka dia lalu memerintahkan para perajurit yang ahli dalam menolong orang yang hanyut dalam air untuk menyelamatkan dua orang tawanan itu.
Tubuh Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu ditelungkupkan dan banyak air yang tertelan dapat dikeluarkan melalui mulut.
Akhirnya kedua orang tawanan itu sadar betul.
Thian Liong melihat bahwa dia dan Pek Hong Nio-cu sudah terbelenggu kaki tangan mereka, bahkan tubuh mereka tidak dapat digerakkan karena agaknya telah ditotok secara lihai sekali.
Dia menduga bahwa yang menotok jalan darah mereka tentulah Cia Song.
Dia tidak berkata apa-apa hanya memandang mereka yang berdiri menghadapinya.
Dia melihat lima orang yang membentuk Ngo-heng Kilam-tin yang tadi mengeroyoknya dan di samping mereka berdiri Cia Song yang memandang kepada Pek Hong Nio-cu dengan mulut menyeringai.
Dan di sebelah murid Siauw-lim-pai yang menjadi antek Chin Kui dan bersekongkol dengan para pengkhianat kerajaan Kin itu berdiri seorang kakek yang bukan lain adalah tukang pancing tadi!
Kiranya kakek tukang pancing itu merupakan seorang di antara mereka, bahkan yang mengejutkan hati Thian Liong adalah ketika Cia Song bicara kepada kakek itu dan menyebutnya suhu.
Jadi, di samping menjadi murid Siauw-lim-pai, diam-diam Cia Song telah berguru kepada kakek ini yang belum dia ketahui siapa orangnya.
"Suhu, sungguh kebetulan sekali suhu berada di sini. Teecu (murid) tadi sama sekali tidak mengenal suhu yang teecu kira seorang pemancing ikan biasa. Maafkan teecu dan terima kasih atas bantuan suhu sehingga mereka berdua ini dapat ditangkap,"
Kata Cia Song yang membuat Thian Liong keheranan dan kini dia mengamati kakek itu.
Kakek yang memakai caping lebar itu sudah tua, kurang lebih delapanpuluh tahun usianya.
Tubuhnya tinggi kurus dan sikapnya lemah lembut.
Dia memegang sebatang tongkat bambu.
Kakek itu tertawa lirih.
"Heh-heh, memang akhir-akhir ini aku sedang suka hidup di atas perahu dan setiap hari memancing ikan. Cia Song, aku dengar tadi semua pembicaraan. Jadi Pek Hong Nio-cu yang namanya terkenal itu adalah puteri Kaisar kerajaan Kin? Bukan main! Dan pemuda ini, ilmu silatnya hebat sekali. Murid siapakah dia?"
"Suhu, dia itu Souw Thian Liong murid Tiong Lee Cin-jin,"
Jawab Cia Song.
"Eh? Murid Tiong Lee Cin-jin? Kalau begitu mengapa tidak kau bunuh saja dia? Kalau dibiarkan hidup, kelak akan menjadi bahaya besar bagimu. Ilmu kepandaiannya lihai sekali, engkau tidak akan menang melawannya. Kalau tidak dibantu air sungai ini, mustahil engkau dapat menangkapnya."
Kakek itu menggunakan tangan kiri mengelus jenggotnya yang tebal dan sudah berwarna putih.
"Tidak, suhu. Teecu akan membawanya menghadap para pimpinan Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai yang akan mengadili dan menghukumnya."
"Lalu apa yang hendak kaulakukan dengan puteri ini?"
Tanya pula kakek itu.
"Ia akan kami bawa kepada Pangeran Hiu Kit Bong untuk dijadikan sandera. Suhu, kalau suhu tidak ada urusan sesuatu, marilah suhu ikut dengan teecu. Sebaiknya kalau suhu membantu Pangeran Hiu Kit Bong agar kelak di hari tua suhu akan mendapatkan kemuliaan dan kehormatan."
"Ha-ha, baiklah, Cia Song. Akupun sudah mulai bosan memancing ikan setiap hari. Aku ikut denganmu,"
Kata kakek itu lalu dia membuang pancing dan capingnya.
Ternyata di bawah capingnya itu dia memakai sebuah sorban berwarna putih.
Pada saat itu Pek Hong Nio-cu baru sadar betul dan begitu ia sadar, ia lalu mencaci maki.
"Jahanam keparat kalian para pengkhianat! Kalau Sribaginda mendengar, kalian tentu akan mendapatkan hukuman siksa sampai mati! Dan kamu, tua bangka keparat, aku tahu siapa kamu! Kamu adalah Ali Ahmed, datuk bangsa Hui yang sudah terkenal jahat dan kejam. Engkau manusia terkutuk, sudah tua bangka mau mati masih tidak mencari jalan terang. Matimu tentu akan tersiksa dan engkau akan masuk neraka jahanam!"
Cia Song memerintah anak buahnya.
"Bawa kereta itu ke sini!"
Ternyata rombongan itu sudah mempersiapkan sebuah kereta untuk mengangkut kedua tawanan mereka. Setelah kereta yang ditarik dua ekor kuda itu datang, Cia Song berkata kepada Con Gu.
"Paman Con Gu, kau angkat Thian Liong dan aku yang mengangkat sang puteri, kita masukkan mereka dalam kereta. Dan suhu, teecu harap suka duduk dalam kereta agar tidak lelah dalam perjalanan dan sekalian suhu menjaga dua orang tawanan ini agar tidak sampai lolos."
"Hu-hu-ha-ha, baik, baik. Aku senang naik kereta,"
Kata kakek itu yang bukan lain adalah Ali Ahmed yang sepuluh tahun lebih yang lalu pernah mencoba untuk merampok kitab-kitab dari Tiong Lee Cin-jin.
Dia memang menjadi guru dari Cia Song selama beberapa tahun.
Thian Liong diangkut oleh Con Gu, dibantu oleh Koi Cu, dan memasukkan pemuda itu ke dalam kereta.
Cia Song sendiri memondong tubuh Pek Hong Nio-cu dan dia sengaja mendekap tubuh yang lunak hangat itu kuat-kuat ke dadanya, membuat jantungnya berdebar keras dibakar gairah berahinya.
Pek Hong Nio-cu tidak dapat meronta karena seluruh tubuhnya, dari kaki sampai ke dada, dibelit tali dan kaki tangannya diborgol kuat-kuat.
Hanya matanya yang memandang kepada Cia Song dengan kebencian yang meluap-luap.
Melihat sinar mata ini, kuncup juga hati Cia Song dan dia mencoba mengambil hati.
"Pek Hong Nio-cu, kalau engkau bersikap manis kepadaku, aku jamin engkau akan diperlakukan dengan baik dan tidak akan ada yang berani mengganggumu."
"Siapa sudi mendengar ocehanmu!"
Kata sang puteri dengan marah.
Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu didudukan di dalam kereta, berdampingan menghadap ke belakang sedangkan Ali Ahmed duduk di bangku di depan mereka.
Begitu duduk dan bersandar, kakek tua renta itu segera tertidur sambil memegang tongkat bambunya.
Akan tetapi baik Thian Liong maupun Pek Hong Nio cu maklum bahwa kakek itu tidak kehilangan kewaspadaannya dan selalu memperhatikan gerak gerik mereka berdua.
"Nio-cu aku menyesal sekali bahwa engkau sampai menjadi tawanan seperti ini. Semua ini gara-gara orang yang selama ini kuanggap sebagai suhengku (kakak seperguruanku). Tidak tahunya dia seorang murid Siauw-lim-pai yang berkhianat, tidak saja terhadap Siauw-lim-pai, akan tetapi bahkan terhadap bangsa dan negara."
"Tidak usah menyesal, Thian Liong. Kalau ada yang menyesal, maka akulah orangnya. Kalau engkau tidak melakukan perjalanan bersama aku, engkau tentu tidak akan mengalami seperti sekarang ini."
"Hemm, aku masih tidak mengerti mengapa jahanam itu menangkap aku. Engkau...... tidak takut, Nio-cu?"
Dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya dan tidak berdaya seperti puteri yang gagah perkasa itu masih dapat tersenyum manis sekali.
"Takut? Bukankah engkau pernah rnengatakan bahwa hidup atau matinya seseorang itu berada di tangan Yang Maha Kuasa? Mengapa mesti takut? Kalau Yang Maha Kuasa menghendaki kita mati, siapa yang akan mampu mencegahnya, dan kalau Dia menghendaki kita hidup, siapa yang akan mampu membunuh kita?"
"Bagus! Engkau benar, Nio-cu. Akan tetapi, apakah engkau tidak putus harapan?"
"Mengapa putus harapan? Selama masih hidup, kita masih dapat berusaha untuk mengatasinya. Putus harapan berarti sudah menyerah sebelum berusaha. Aku tidak akan pernah putus harapan selagi masih hidup."
Thian Liong merasa kagum akan tetapi diam-diam dia merasa khawatir bukan main.
Bukan khawatir kalau puteri itu akan dibunuh, melainkan khawatir akan bahaya yang lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.
Cara Cia Song memandang sang puteri tadi, cara dia memondong dan mendekapnya yang sempat dilihatnya, membuat dia merasa khawatir sekali.
Dia dapat merasakan betapa pemuda sesat itu memandang Pek Hong Nio-cu seperti seekor serigala memandang seekor kelinci!
Setelah rombongan itu berjalan sekitar dua jam mereka memasuki sebuah hutan yang cukup lebat.
Akan tetapi terdapat sebuah jalan yang cukup lebar dalam hutan itu, jalan yang dibuat oleh pasukan kerajaan Kin untuk membuat hubungan dari daerah perbatasan sampai ke kota raja menjadi lancar.
Juga para pedagang yang suka melakukan perjalanan dalam rombongan besar, yaitu dalam kafilah, membawa barang-barang dagangan dari timur ke barat dan sebaliknya, amat memerlukan jalan raya ini sehingga merekapun turun tangan mengeluarkan biaya untuk memperbaiki jalan itu sehingga kini jalan itu merupakan jalan yang cukup lebar dan nyaman.
Akan tetapi, baru kurang lebih satu lie (mil) rombongan pasukan yang dipimpin Cia Song itu memasuki hutan, tiba tiba saja terdengar suara berisik di depan dan mereka segera menahan kuda masing-masing.
Kereta yang berada di tengah-tengah rombongan itupun dihentikan karena mereka semua melihat sebatang pohon besar tumbang menimbulkan suara berisik dan jatuh berdembum melintang dan menghalangi jalan!
Semua orang merasa heran dan mendekati pohon yang tumbang itu.
Pohon itu besar dan cabangnya malang melintang memenuhi jalan.
Bagi kuda-kuda tentu dapat mengambil jalan melalui pohon-pohon di tepi jalan, akan tetapi karena pohon-pohon itu berdekatan dan lebat sekali, juga banyak semak belukar, maka tidak mungkin bagi kereta untuk mendapatkan jalan lain kecuali jalan yang terhalang pohon roboh itu.
"Cepat singkirkan pohon itu!"
Cia Song memberi perintah.
Para perajurit segera turun tangan dan beramai-ramai mereka memotongi batang pohon dan menariknya ke tepi jalan.
Pekerjaan itu memakan waktu satu jam lebih, barulah kereta dapat lewat.
Akan tetapi, baru saja kereta bergerak, belum ada duapuluh tombak jauhnya, kembali sebatang pohon di depan mereka roboh melintang di jalan!
Cia Song dan lima orang Ngo-heng Kiam-tin mulai curiga.
Robohnya pohon pertama mereka anggap sebagai hal yang kebetulan saja karena mungkin batang pohon itu sudah keropos.
Akan tetapi robohnya pohon kedua ini tak mungkin hanya kebetulan saja.
Mereka berenam, juga para perajurit, memandang ke sekeliling.
Akan tetapi tidak tampak bayangan seorangpun manusia lain di sekitar tempat itu.
Karena tidak dapat ditemukan orang lain yang mungkin menjadi penyebab tumbangnya pohon itu, terpaksa Cia Song kembali memerintahkan para perajurit untuk menyingkirkan pohon kedua yang roboh itu.
Dia kini melihat hal yang membuat dia bergidik dan merasa seram.
Kalau pohon pertama itu tumbang dan patah batangnya, pohon kedua ini tumbang dan jebol berikut akar-akarnya!
Tenaga apa yang mampu merobohkan pohon sebesar itu sampai jebol berikut akarnya?
Seekor gajahpun belum tentu mampu melakukannya!
Kembali waktu lebih dari satu jam dipergunakan untuk menyingkirkan pohon kedua.
Akan tetapi baru saja pohon itu disingkirkan, terdengar lagi bunyi berisik dan pohon berikutnya di depan yang lebih besar lagi tumbang melintang di pinggir jalan!
Sekali ini Cia Song tidak merasa ragu lagi.
Pasti ada yang merobohkan pohon pohon itu!
Akan tetapi, kiranya tidak mungkin ada manusia yang sanggup merobohkannya.
Dia cepat menghampiri kereta di mana gurunya masih duduk dan agaknya Ali Ahmed tidak begitu perduli akan robohnya dua batang pohon tadi.
Sementara itu, Thian Liong saling pandang dengan Pek Hong Nio-cu dan pemuda itu tersenyum, juga sang puteri tersenyum karena mereka berdua merasa yakin bahwa robohnya pohon-pohon secara berturut-turut itu bukan hal kebetulan dan jelas merupakan halangan bagi pasukan itu.
Halangan bagi pasukan yang menawan mereka berarti harapan pertolongan bagi mereka.
"Suhu, pasti ada yang merobohkan pohon-pohon itu! Harap suhu suka keluar dan melakukan pemeriksaan,"
Katanya. Ali Ahmed yang tua lalu turun dan keluar dari kereta sambil ditopang oleh tongkat bambunya. Dia menggeleng kepalanya yang bersorban lalu berkata.
"Memang aneh. Kiranya sukar mencari orang yang kuat merobohkan pohon-pohon itu, dengan tenaga lahir maupun batin, kecuali......."
"Kecuali siapa, suhu?"
"Hemm, kecuali setan itu."
Mendengar ucapan datuk Hui ini, Cia Song dan lima orang Ngo-heng Kiam-tin merinding.
Mereka adalah orang-orang yang percaya sekali akan setan-setan dan ketahyulan semacam itu seperti hampir semua orang pada umumnya di jaman itu.
Mendengar ini, Cia Song segera menghadap ke arah depan, ke arah pohon yang tumbang lalu menjatuhkan diri berlutut.
"Paduka yang menjaga dan menguasai hutan, harap maafkan kami kalau melanggar wilayah paduka. Hamba berjanji akan mengirim orang untuk membakar dupa dan bersembahyang di sini kelak. Ijinkanlah kami melewati jalan ini!"
Lima orang Ngo-heng Kiam-tin, bahkan semua perajurit yang juga tahyul ikut pula berlutut di belakang Cia Song.
Juga kusir kereta sudah turun dan berlutut menghadap ke arah pohon ke tiga yang tumbang.
Hanya Ali Ahmed yang tidak berlutut.
Dia berdiri, bertopang pada tongkat bambunya dan sepasang matanya yang masih tajam itu mencari-cari ke depan, kanan dan kiri.
Ketika menyebut setan tadi, dia sama sekali tidak maksudkan hantu.
Akan tetapi dia membiarkan saja muridnya dan para perajurit itu keliru menafsirkannya dan menyangka bahwa yang menumbangkan pohon-pohon benar-benar setan atau mahluk halus.
Setelah berlutut dan mengucapkan kata-kata minta maaf dan berjanji akan mengirim orang untuk menghormati "penguasa hutan"
Itu, Cia Song kembali menyuruh orang-orangnya untuk menyingkirkan pohon ketiga itu. Akan tetapi tiba-tiba saja, mereka terkejut mendengar suara Pek Hong Nio-cu.
"Pengkhianat-pengkhianat jahanam!"
Cia Song dan teman-temannya memutar tubuh mereka dan alangkah kaget dan heran hati mereka melihat Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu sudah berdiri di atas tanah dan telah bebas dari semua belenggu.
Bahkan yang membuat Cia Song terkejut sekali adalah ketika melihat betapa dua orang tawanan itu sudah memegang pedang masing-masing!
Padahal, dia sudah merampas kedua pedang mereka itu dan menaruhnya di atas punggung kudanya, menyelipkan di sela kuda.
Otomatis dia menoleh ke arah kudanya yang ditambatkan di tepi jalan dan melihat betapa pedang-pedang itu sudah tidak berada di sela kudanya!
Bukan hanya Cia Song dan semua temannya yang merasa heran.
Bahkan Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu sendiri merasa terheran-heran.
Tadi, ketika Ali Ahmed turun dari kereta, tiba-tiba saja mereka melihat sinar berkelebat menyambar ke dalam kereta dan tahu-tahu ikatan tangan mereka telah putus dan pedang mereka dilempar ke atas pangkuan mereka!
Tentu saja dengan tangan bebas dan pedang di pangkuan mereka, dengan mudah mereka lalu membikin putus semua tali yang mengikat tubuh dan kaki mereka.
Kemudian mereka turun dari kereta dengan pedang masing-masing di tangan, lalu Pek Hong Nio-cu mengeluarkan bentakan marah itu.
Dapat dibayangkan kagetnya hati Cia Song melihat betapa dua orang tawanan itu telah lolos bahkan telah memegang pedang mereka kembali.
Dia segera berkata dengan gurunya.
"Suhu, harap suhu cepat robohkan mereka!"
Tadi ketika semua orang memutar tubuh, kakek itupun ikut memutar tubuh dan diapun merasa terkejut melihat dua orang tawanan itu sudah bebas dari belenggu.
Diam-diam dia merasa gentar juga karena sejak pohon pertama tadi dia sudah mempunyai dugaan yang membuat hatinya merasa jerih.
Kini, mendengar permintaan muridnya, dan juga untuk menyelamatkan diri sendiri mengandalkan bantuan banyak orang, dia lalu menudingkan tongkatnya ke arah dua orang muda itu.
Tongkatnya terbuat dari Bambu Sisik Naga, semacam bambu yang bentuk kulitnya mirip sisik ikan atau naga.
Mulutnya berkemak-kemik membaca mantra dan dia mengerahkan ilmu sihirnya.
"Bummm......!"
Tampak asap hitam mengepul dan tiba-tiba saja tongkat itu terlepas dari tangannya, dan dalam pandangan semua orang, tongkat itu telah berubah menjadi seekor naga yang terbang melayang ke arah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu.
Mengerikan sekali naga jadi-jadian itu.
Matanya mencorong dan moncongnya terbuka lebar, lidahnya terjulur keluar dan mahluk itu menyemburkan api!
Akan tetapi tiba-tiba dari arah kiri, meluncur sebuah bola api sebesar tangan.
Bola api itu tepat menghantam kepala naga jadi-jadian itu.
"Darrr""!"
Naga itu terpental dan asap hitam mengepul tebal.
Naga lenyap dan tongkat bambu sisik naga itu terlempar ke dekat Ali Ahmed.
Semua orang menengok ke kiri dan tampaklah seorang laki-laki berusia enampuluh tahun lebih, tubuhnya sedang, mengenakan pakaian yang hanya terdiri dari kain kuning dilibatkan di tubuhnya, memakai sepatu dari kain yang berlapis besi dan rambutnya diikat pita kuning.
Matanya tajam, hidung mancung dan mulut penuh kesabaran.
Wajah yang masih tampak tampan itu bulat telur dengan dagu agak runcing, bersih tanpa kumis atau jenggot.
Melihat laki-laki ini, Ali Ahmed marah sekali.
Dia lalu berkemak-kemik membaca mantra lalu kedua tangannya didorongkan ke depan.
Asap hitam bergulung-gulung menyambar ke arah laki laki itu, membawa angin pukulan yang dahsyat sekali dan berhawa panas.
"Siancai......!"
Laki-laki itu berkata lirih dan tangan kirinya didorongkan seperti hendak menahan serangan jarak jauh yang dahsyat dan berbahaya dari Ali Ahmed.
"Blarrrr......!"
Hawa pukulan berasap hitam yang dahsyat itu seolah bertemu perisai yang amat kuat dan membalik.
Tubuh Ali Ahmed terjengkang roboh dan dia tidak bergerak lagi.
Cia Song melompat, menghampiri gurunya dan alangkah kagetnya melihat gurunya telah tewas!
Agaknya kakek yang sudah delapanpuluh lebih usianya itu dan sudah lemah daya tahannya, tidak kuat menerima tenaganya sendiri yang membalik.
"Suhu......!"
Thian Long berseru ketika melihat laki-laki berpakaian kuning itu.
"Paman Sie......!"
Pek Hong Nio-cu juga berseru.
Laki-laki yang bukan lain adalah Tiong Lee Cin-jin itu memandang kepada Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu, lalu mengangguk dan tersenyum lebar, tampaknya bahagia sekali, kemudian sekali berkelebat dia sudah lenyap dari sana.
Melihat dua orang tawanan itu lolos, Ngo-heng Kiam-tin segera mengerahkan semua perajurit untuk menerjang dan mengeroyok.
Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu mengamuk dengan pedang mereka.
Lima orang jagoan dari Pangeran Hiu Kit Bong itu mencari-cari, akan tetapi Cia Song sudah tidak tampak batang hidungnya lagi.
Diam-diam pemuda ini sudah melarikan diri ketika melihat gurunya tewas dan Thian Liong menyebut "suhu"
Kepada laki-laki setengah tua yang tadi merobohkan gurunya.
Tahulah dia bahwa kakek yang amat lihai itu tentulah Tiong Lee Cin-jin dan dia menjadi ketakutan, diam-diam terus kabur dari situ!
Demikianlah memang watak seorang yang berbudi rendah.
Paling penting menyelamatkan diri sendiri dan tidak perduli kepada orang-orang yang menjadi sahabat, rekan dan sekutunya.
Bahkan dia tidak perduli kepada gurunya yang tewas!
Setelah tahu bahwa Cia Song yang mereka andalkan, bahkan yang menjadi pemimpin mereka itu tidak muncul dan jelas sudah melarikan diri, lima orang Ngo-heng Kiam-tin menjadi panik dan gentar.
Tentu saja mereka menjadi "makanan lunak"
Bagi Pek Hong Nio-cu dan Thian Liong, walaupun lima orang itu dibantu sembilanbelas orang perajurit berikut seorang perajurit yang tadi menjadi kusir kereta.
"Jangan bunuh mereka, Nio-cu. Kita tawan mereka hidup-hidup untuk dijadikan saksi akan pemberontakan Pangeran Hiu Kit Bong!"
Tentu saja Thian Liong berseru begini terutama sekali untuk mencegah puteri itu menyebar maut.
Pek Hong Nio-cu dapat memaklumi kebenaran ucapan Thian Liong, maka ketika ia mengamuk, pedangnya merobohkan para pengeroyok tanpa membunuhnya.
Thian Liong juga merobohkan banyak orang dan tak lama kemudian, Ngo-heng Kiam-tin dan duapuluh orang perajurit itu roboh semua oleh tamparan, tendangan, atau terluka oleh pedang.
Thian Liong mempergunakan tali-tali yang dibawa oleh pasukan itu untuk mengikat kedua tangan mereka semua di belakang tubuh.
Mereka menurut saja karena sudah terluka dan merasa sudah tidak mungkin dapat melawan dua orang muda sakti itu.
Terutama terhadap Pek Hong Nio-cu mereka merasa takut sekali.
Dari sikap puteri itu mereka maklum bahwa kalau tidak dicegah Thian Liong, mereka semua pasti akan dibunuh oleh Puteri Moguhai yang amat marah dan benci kepada mereka yang menjadi kaki tangan pemberontak.
Setelah tangan mereka semua diikat, Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu membawa mereka ke markas pasukan penjaga tapal batas yang dipimpin oleh Pangeran Kuang sebagai komandannya.
Benteng pasukan itu tidak berapa jauh lagi dari situ sehingga setelah melakukan perjalanan cepat, pada sore harinya mereka tiba di benteng itu.
"Thian Liong, benarkah penolong kita tadi itu suhumu?"
Tanya Pek Hong Nio-cu dalam perjalanan menggiring para tawanan itu menuju markas pasukan penjaga perbatasan.
"Tidak salah lagi, Nio-cu. Masa aku dapat lupa kepada guruku sendiri? Akan tetapi, mengapa engkau menyebutnya paman Sie? Benarkah itu Paman Sie seperti yang pernah keuceritakan kepadaku itu?"
"Benar, Thian Liong. Biarpun dulu ketika aku melihatnya dia berpakaian biasa, akan tetapi aku tidak melupakan wajahnya. Dialah orangnya yang oleh ibu diakui sebagai sahabat baik dan yang disebut Paman Sie. Dia yang memberi perhiasan kepala yang kupakai ini dan memberi tiga buah kitab pelajaran ilmu silat. Akan tetapi mengapa setelah menolong kita, dia pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan kepada kita untuk bertemu dan bicara dengannya?"
"Entahlah, Nio-cu. Akan tetapi, suhu adalah seorang yang arif bijaksana. Mungkin belum saatnya kita dapat berbicara dengan beliau. Kita tunggu saja, kalau sudah tiba saatnya, tentu aku dapat bertemu dengan guruku dan engkau dapat bertemu dengan pamanmu itu. Akan tetapi sungguh aku heran, bagaimana guruku itu menjadi sahabat ibumu dan dikenal sebagai Paman Sie? Sungguh aku tidak mengerti."
"Apakah engkau tidak mengetahui she (Marga) gurumu itu?"
Tanya Pek Hong Nio-cu. Thian Liong menggeleng kepalanya.
"Suhu tidak pernah memperkenalkan nama aselinya. Yang aku tahu, beliau disebut Tiong Lee Cin-jin dan berjuluk Yok-sian (Dewa Obat atau Tabib Dewa). Beliau juga tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya."
"Akan kutanyakan nanti kepada ibuku. Aku merasa heran sekali, bagaimana gurumu yang namanya juga sudah sering kudengar itu, Tong Lee Cin-jin, ternyata adalah seorang yang oleh ibuku diaku sebagai sahabatnya dan mengharuskan aku memanggilnya Paman Sie yang juga menjadi guruku."
"Sudahlah Nio-cu. Kalau tiba saatnya, Suhu pasti akan mau menceritakan tentang hal itu. Sekarang, engkau hendak membawa orang-orang ini ke mana?"
"Akan kuserahkan kepada Paman Kuang yang bentengnya tidak jauh lagi dari sini. Engkau benar, orang-orang ini dapat menjadi saksi penting bagi pengkhianatan Pangeran Hiu Kit Bong yang memberontak. Aku akan minta Paman Kuang secepatnya kembali ke kota raja membawa pasukannya untuk menumpas para pemberontak."
Setelah mereka tiba di benteng, Pangeran Kuang yang menjadi komandan pasukan penjaga tapal batas menyambut mereka dengan gembira akan tetapi juga heran.
"Moguhai. Lagi-lagi engkau, melakukan perjalanan begitu jauh! Dan sekarang engkau membawa tawanan begini banyak! Apa artinya ini dan siapa pula""
Pemuda ini?"
Pangeran Kuang yang berusia empatpuluh tahun lebih, berpakaian sebagai seorang panglima dan berwajah tampan, bertubuh tinggi besar. Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu tersenyum.
"Paman, apakah paman tidak menyuruh kami duduk dulu dan memerintahkan orang-orangmu menahan orang orang yang kutawan itu? Kami lelah sekali, paman."
Pangeran Kuang baru menyadari kelalaiannya.
"Ah, sampai lupa aku karena kunjunganmu yang tiba-tiba ini sungguh mengejutkan aku. Mari, silakan duduk di dalam dan engkau juga, orang muda."
Dia menyuruh para pengawal untuk mengurus tawanan. Mereka lalu memasuki ruangan dan duduk berhadapan. Pek Hong Nio-cu segera bercerita karena ia tahu bahwa waktunya mendesak sekali.
"Paman, orang yang kutawan itu...... oya, aku lupa, ini adalah Souw Thian Liong, sahabat baikku yang membantuku menghadapi para pengkhianat itu! Ketahuilah, paman. Orang-orang yang kami tawan itu adalah anak buah Paman Pangeran Hiu Kit Bong yang berkhianat dan merencanakan pemberontakan!"
Pangeran Kuang membelalakkan matanya.
"Apa? Kanda Pangeran Hiu Kit Bong memberontak?"
"Benar, paman. Hal ini memang sudah kucurigai dan kuduga. Akan tetapi sekarang sudah terbukti. Mereka ini diutus oleh Pangeran Hiu Kit Bong untuk menangkap aku, untuk dijadikan sandera dan memaksa sri baginda untuk menyerahkan tahta kepadanya. Orang-orang ini dapat dijadikan saksi. Kalau tidak ada bantuan Souw Thian Liong ini, tentu aku telah tertawan oleh mereka. Cepat, paman. Hanya Paman Kuang saja yang dapat menyelamatkan kerajaan dan membasmi para pemberontak. Cepat paman kerahkan pasukan dan kembali ke kota raja bersama kami. Aku khawatir kalau-kalau kita terlambat. Aku khawatir akan keselamatan ayah."
Mendengar ini, Pangeran Kuang terkejut dan marah bukan main.
Pangeran Hiu Kit Bong adalah kakak tirinya, seayah berlainan ibu.
Dia diangkat menjadi panglima oleh kaisar, juga kakak tirinya, sesuai dengan kepandaiannya, juga Pangeran Hiu Kit Bong sudah diberi kedudukan sebagai Menteri Kebudayaan merangkap penasihat kaisar.
Kalau sekarang Pangeran Hiu Kit Bong hendak memberontak, sungguh dia merupakan seorang yang tidak tahu diri, tidak mengenal budi, angkara murka dan pengkhianat!
"Hemm, sungguh tidak disangka Kanda Pangeran Hiu Kit Bong akan melakukan tindakan terkutuk seperti itu!"
Kata Pangeran Kuang.
"Baiklah, aku akan mempersiapkan pasukan dan kita berangkat sekarang juga!"
Demikianlah, Pangeran Kuang lalu mempersiapkan sebagian dari pasukannya berjumlah limaribu orang dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia memimpin pasukan itu berangkat menuju ke Kota raja.
Pek Hong Nio-cu dan Souw Thian Liong mendahului pasukan, membalapkan kuda pilihan yang diberikan Pangeran Kuang kepada mereka berdua.
Cia Song berhasil melarikan diri sebelum Thian Liong dan Pek Hong Niocu mengamuk.
Nyalinya sudah terbang begitu dia melihat munculnya kakek sakti yang membuat gurunya tewas terpukul tenaganya sendiri yang membalik.
Datuk Hui itu saja yang menjadi gurunya, sekali menyerang Tiong Lee Cin-jin roboh sendiri.
Apalagi dia.
Baru menghadapi Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu saja dia akan sukar mendapatkan kemenangan, apalagi di sana ada manusia setengah dewa yang sakti itu!
Cia Song berlari cepat menuju ke kota raja kerajaan Kin dan menghadap Pangeran Hiu Kit Bong.
Melihat malam-malam Cia Song datang menghadapnya dengan muka pucat dan basah keringat, Pengeran Hiu Kit Bong menjadi kaget dan heran.
Lalu dia menggebrak meja dengan marah sekali.
"Sialan! Ternyata kepercayaanku kepadamu salah tempat, Cia-sicu! Melakukan tugas begitu saja engkau gagal sama sekali, malah semua anak buahmu terancam bencana. Celaka!"
"Akan tetapi saya sama sekali tidak menduga bahwa di sana akan muncul Tiong Lee Cin-jin, Pangeran! Tadinya kami sudah berhasil menangkap Souw Thian Liong dun Puteri Moguhai, sudah kami belenggu dan hendak kami bawa pulang ke sini. Siapa kira di tengah jalan muncul Tiong Lee Cin-jin yang memiliki ilmu kepandaian seperti dewa. Bahkan Ali Ahmed, guru saya sendiri, tewas ketika menyerangnya! Pangeran Hiu Kit Bong berteriak memanggil pengawal dan memerintahkan pengawal mengundang para panglima sekutunya untuk malam itu juga datang berkumpul. Mereka itu datang satu demi satu. Setelah semua berkumpul lengkap, Pangeran Hiu Kit Bong berkata.
"Saudara-saudara semua, Puteri Moguhai telah pergi ke perbatasan barat mengunjungi Pangeran Kuang. Tentu ia bermaksud mengadu dan minta bantuan pasukan yang berjaga di perbatasan. Karena itu, kita tidak boleh tinggal diam. Malam ini juga kita mempersiapkan pasukan dan besok pagi-pagi kita serbu istana, kita tangkap Kaisar. Jangan sampai kita terlambat. Kalau kaisar sudah kita sandera, biarpun Pangeran Kuang datang bersama pasukannya, dia tidak akan dapat berbuat apa-apa demi keselamatan Kaisar."
Pangeran Hiu Kit Bong tidak menceritakan kegagalan orang-orangnya menangkap Puteri Moguhai karena hal itu akan membuat sekutunya gentar dan patah semangat.
Setelah berunding bagaimana caranya melakukan pengepungan terhadap istana, para Panglima yang dipimpin Panglima Kiat Kon itu lalu meninggalkan gedung Pangeran Hiu Kit Bong untuk mempersiapkan pasukan masing-masing.
Mereka terdiri dari empat orang perwira, dikepalai Panglima Kiat Kon.
Sementara itu, Cia Song sendiri bertugas sebagai pengawal pribadi Pangeran Hiu Kit Bong.
Sebetulnya Cia Song segan menjadi pengawal pribadi pangeran itu dan dia sudah ingin pulang saja ke selatan untuk melapor kepada Perdana Menteri Chin Kui.
Akan tetapi dia merasa sungkan juga karena dia telah gagal menangkap Puteri Moguhai, malah semua anak buahnya mungkin tertawan dan hal itu tentu saja membahayakan karena rahasia Pangeran Hiu Kit Bong akan terbongkar.
Karena itulah maka Pangeran Hiu Kit Bong hendak melakukan serangan mendadak sebelum terlambat.
Akan tetapi, ketika persekutuan pemberontak itu mengumpulkan pasukan mereka, ada perajurit yang diam-diam masih setia kepada Kaisar dan malam itu juga dia meloloskan diri dari kesatuannya dan pergi melaporkan persiapan pemberontakan Pangeran Hiu Kit Bong itu kepada Panglima Muda Ceng yang setia kepada Kaisar kerajaan Kin.
Panglima Muda Ceng terkejut sekali dan malam hari itu juga dia mengumpulkan teman-teman yang masih setia kepada Kaisar lalu mengerahkan pasukan seadanya untuk ditarik menjaga istana!
Juga diam-diam Panglima Muda Ceng melaporkan kepada kaisar yang tentu saja menjadi terkejut, khawatir dan marah sekali.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, rakyat yang tinggal di kota raja menjadi geger.
Banyak sekali tentara mengepung istana kaisar.
Akan tetapi, dari tembok istana muncul pasukan lain yang menghadang.
Terjadilah pertempuran hebat di sekeliling luar istana.
Pangeran Hiu Kit Bong terkejut dan marah sekali melihat betapa istana dijaga banyak perajurit.
Dia memerintahkan pasukannya bergerak dan menyerbu.
Pertempuran hebat terjadi dan rakyat yang menjadi penduduk kota raja berserabutan melarikan diri mengungsi keluar dari kota raja!
Karena merasa penasaran, Pangeran Hiu Kit Bong keluar dan memimpin sendiri pasukannya, yang dipimpin Panglima Kiat Kon dan para perwira sekutunya.
Cia Song yang ingin menebus kegagalannya memperlihatkan kepandaiannya.
Di depan mata Pangeran Hiu Kit Bong dia mengamuk dengan pedangnya dan banyak tentara pihak pasukan pembela kaisar roboh dan tewas di tangannya.
Biarpun jumlah pasukan pemberontak dua kali lebih banyak dibandingkan pasukan pembela kaisar, namun pasukan yang dipimpin Panglima Muda Ceng dan rekan-rekannya itu melakukan perlawanan mati-matian!
Maka, setelah pertempuran berlangsung sampai satu hari lamanya, pasukan pemberontak belum juga dapat menduduki istana.
Pasukan pembela kaisar menutup pintu benteng istana dan biarpun banyak perajurit mereka yang tewas, semangat mereka masih besar dan mereka memperkuat benteng istana dengan balok-balok yang kokoh.
Malam itu mereka melakukan penjagaan ketat dengan bergiliran, memberi kesempatan kepada pasukan untuk beristirahat dan merawat luka-luka mereka.
Kaisar dan keluarganya sudah merasa khawatir sekali.
Mereka tahu bahwa pasukan yang melindungi mereka kalah besar jumlahnya dibandingkan pasukan para pemberontak.
Mereka mendengar pula bahwa kalau siang tadi pertempuran masih terjadi di luar istana, maka sekarang semua perajurit pembela kaisar sudah mundur memasuki benteng istana dan pintu gerbang sudah ditutup.
Mereka hanya akan mempertahankan benteng istana.
Kalau sampai benteng istana bobol, berarti pasukan pembela kaisar kalah dan pasukan pemberontak tentu akan menyerbu istana!
Malam itu gelap sekali, bahkan bintang-bintang di langit juga tak tampak, tertutup mendung tebal.
Hawa udaranya dingin.
Pasukan kedua pihak mempergunakan kesempatan itu untuk melepas lelah setelah sehari tadi bertempur mati matian.
Baca Juga: Istana Pulau Es 5
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 9