Eps 7 Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.
Benteng istana dijaga ketat oleh pasukan pembela kaisar.
Ronda berjalan sepanjang malam dan para penjaga itu bergiliran.
Akan tetapi di malam yang gelap dan dingin itu, tampak dua bayangan berkelebat cepat sekali.
Ilmu meringankan tubuh mereka sungguh amat hebat karena saking cepatnya mereka bergerak, tidak ada penjaga dalam benteng yang sempat melihat mereka.
Tubuh kedua bayangan itu melayang ke atas tembok benteng lalu meluncur turun ke sebelah dalam.
Mereka menyelinap di antara kegelapan yang pekat dan tak lama kemudian tubuh mereka sudah melayang naik ke atas wuwungan istana!
Dua orang itu adalah Cia Song dan Panglima Kiat Kon sendiri!
Mereka berdua menerima tugas istimewa dari Pangeran Hiu Kit Bong.
Melihat betapa pasukan pembela kaisar melawan mati matian, Pangeran Hiu Kit Bong menjadi tidak sabar.
Dia memanggil Cia Song dan mengingatkan pemuda ini akan kegagalannya menangkap Puteri Moguhai.
"Aku mempunyai tugas penting dan kuharap sekali ini engkau akan melaksanakan dengan baik dan berhasil, Cia-sicu, untuk menebus kegagalanmu menangkap Puteri Moguhai,"
Kata Pangeran itu.
Diam-diam Cia Song mendongkol.
Siang tadi dia sudah memperlihatkan jasanya dengan merobohkan banyak perajurit pembela kaisar, namun tetap saja pangeran ini masih penasaran karena kegagalannya menangkap Puteri Moguhai.
"Tugas apa yang harus saya lakukan, pangeran?"
"Malam ini mereka tentu sedang beristirahat dan lengah. Karena itu, aku perintahkan engkau dan Panglima Kiat Kon untuk menggunakan kepandaian kalian, menyusup masuk istana dan menawan Sri Baginda dan membawanya ke sini. Kalau kalian berhasil, berarti kita tidak perlu bertempur lagi besok. Juga kalau pasukan Pangeran Kuang datang mereka juga tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak berani menyerang kita yang sudah menyandera Sri Baginda Kaisar."
"Saya siap melaksanakan perintah itu, pangeran!"
Kata Panglima Kiat Kon dengan tegas.
"Kalau Cia-sicu menemani saya, tugas itu pasti akan dapat kami lakukan dengan berhasil baik!"
"Bagaimana dengan engkau, Cia-sicu?"
Tanya Pangeran Hiu Kit Bong sambil menatap wajah pemuda itu dengan tajam. Biarpun di dalam hatinya dia mendongkol sekali, akan tetapi Cia Song tidak dapat menolak. Dia mengangguk dan menjawab.
"Saya sanggup, hanya tidak berani memastikan hasilnya karena di istana tentu diadakan penjagaan kuat."
Demikianlah, malam gelap dingin itu ditempuh Cia Song dan Panglima Kiat Kon.
Dengan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) mereka yang tinggi, mereka berhasil melompati benteng tanpa diketahui perajurit pembela kaisar dan mereka berdua berhasil tiba di wuwungan istana!
Akan tetapi selagi mereka berdua, dengan petunjuk Panglima Kiat Kon yang mengenal daerah itu, meneliti di mana kiranya kamar kaisar berada, tiba-tiba begitu mereka melangkah, kaki mereka terpeleset genteng wuwungan istana yang agaknya bergerak sendiri!
Mereka terkejut dan merasa aneh.
Akan tetapi ketika mereka memandang ke sekeliling yang gelap, mereka tidak mendengar apapun.
Mereka melangkah lagi.
Akan tetapi baru beberapa langkah, kembali genteng yang mereka injak bergerak dan mereka terpeleset, hampir jatuh.
Mereka masih mampu bertahan agar tidak terjatuh.
"Eh, apa ini, sicu?"
Cia Song merasa bulu tengkuknya meremang.
"Entahlah, ciang-kun, mungkin kebetulan saja"..."
Akan tetapi mereka berdua merasa betapa ada benda kecil menyambar ke arah mereka.
Mereka cepat mengelak, akan tetapi sungguh luar biasa, benda kecil itu tetap saja mengenai pundak mereka seolah benda hidup yang terbang mengejar ketika mereka mengelak.
Mereka menahan seruan kaget karena pundak yang terkena benda itu terasa nyeri dan lengan di pundak itu untuk beberapa detik lamanya menjadi kesemutan dan lumpuh.
Ketika dua buah benda kecil itu terjatuh ke atas genteng, terdengar suara berketikan seperti batu kerikil yang jatuh ke atas genteng.
Mereka terkejut bukan main.
Penyambit batu kerikil itu pasti memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga mereka tidak mampu mengelak.
Maklumlah keduanya bahwa ada orang sakti yang sengaja mengganggu mereka dan kalau tadi dua kali kaki mereka terpeleset, tentu juga akibat ulah orang yang mengganggu mereka itu.
"Ciang-kun, kita pergi. Cepat!"
Kata Cia Song yang menjadi ketakutan.
Kalau sampai orang sakti itu muncul dan mereka berdua ketahuan lalu dikepung ribuan orang perajurit, akan celakalah mereka!
Keduanya lalu cepat meninggalkan wuwungan istana dan dengan gin-kang mereka yang tinggi, mereka berlompatan dan keluar dari benteng istana itu.
Akan tetapi setibanya di luar benteng, dalam kegelapan malam itu Panglima Kiat kon tidak dapat menemukan Cia Song.
Dia memanggil-manggil, akan tetapi Cia Song tidak menjawab.
Tahulah panglima itu bahwa Cia Song diam-diam telah meninggalkannya.
Dia merasa dongkol sekali.
Tentu Cia Song takut bertemu Pangeran Hiu Kit Bong karena lagi-lagi gagal melaksanakan tugasnya malam ini.
Kiat Kon kembali kepada Pangeran Hiu Kit Bong, menceritakan tentang kegagalannya.
"Entah siapa yang mengganggu kami berdua, akan tetapi jelas bahwa dia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Terpaksa kami tidak dapat melanjutkan rencana itu, Pangeran, karena dengan adanya orang yang demikian saktinya, tentu usaha kami akan gagal, bahkan tidak mustahil kalau kami akan tertangkap atau terbunuh. Maka kami segera meninggalkan wuwungan istana."
Pangeran Hiu Kit Bong mengepal tinju.
"Sialan, gagal lagi! Mana orang she Cia itu?"
"Ketika saya melompat keluar dari benteng istana, Cia-sicu tidak ada, Pangeran. Saya kira dia sengaja pergi meninggalkan kota raja karena tidak berani bertemu dengan paduka."
Pangeran Hiu Kit Bong marah sekali, lalu memerintahkan sekutunya untuk mempersiapkan pasukan dan besok pagi pagi melakukan penyerangan besar-besaran.
Dia berpendapat bahwa besok benteng istana harus dapat dibobolkan dan kaisar harus dapat ditangkap.
Kalau tidak, dia khawatir pasukan Pangeran Kuang keburu datang dan menyerang mereka.
Akan tetapi Pangeran Hiu Kit Bong masih punya rencana jahat lain yang belum dilaksanakan, akan tetapi yang besar sekali harapannya akan lebih berhasil daripada tugas yang gagal dilaksanakan oleh Cia Song dan Kiat Kon tadi.
Diam-diam pangeran yang licik ini telah berhasil memperalat dua orang pengawal pribadi kaisar.
Dengan menyandera keluarga dua orang pengawal pribadi kaisar dan mengancam akan membunuh isteri dan anak-anak mereka, pangeran itu memerintahkan mereka untuk membunuh kaisar malam itu.
Kalau hal ini tidak dilakukan, seluruh keluarga mereka yang disandera akan dibunuh!
Malam itu, Kaisar kerajaan Kin berkumpul dengan semua isteri dan anak anaknya di ruangan dalam.
Mereka tidak berani tidur di kamar sendiri-sendiri seperti biasa.
Mereka semua duduk di dalam ruangan itu dengan wajah membayangkan ketakutan, bahkan di antara para isteri dan puteri istana ada yang terisak perlahan.
Mereka semua maklum bahwa kalau pasukan yang melindungi mereka kalah, mereka akan terjatuh ke tangan pemberontak.
Kaisar sendiri berdiri dengan tegar dan sama sekali tidak tampak ketakutan.
Hanya penasaran dan kemarahan yang tampak membayang di wajahnya yang gagah dan keren.
Dia merasa penasaran sekali mendengar bahwa Pangeran Hiu Kit Bong, kakak tirinya, orang yang telah diberikan kedudukan tinggi, memimpin pemberontakan itu.
Sama sekali tidak pernah disangkanya.
Dia kini merasa menyesal mengapa dia tidak mendengarkan peringatan Moguhai, puterinya yang kini tidak berada di istana.
Puteri Moguhai pernah memperingatkan agar dia berhati-hati terhadap kakak tirinya itu dan jangan terlalu percaya kepadanya.
Akan tetapi dia malah menertawakan puterinya itu yang dia anggap terlalu berprasangka buruk.
Sekarang, peringatan puterinya itu menjadi kenyataan!
Dia menghela napas panjang dan ketika dia melayangkan pandang matanya kepada belasan orang selir-selirnya, dia melihat Tan Siang Lin, ibu kandung Moguhai, duduk tak jauh darinya dan hanya selir keturunan pribumi Han ini sajalah yang kelihatan tabah dan tidak membayangkan ketakutan.
Ia tetap tenang dan anggun sehingga kaisar teringat kembali kepada puteri mereka.
"Dinda Siang Lin, sayang sekali Moguhai tidak berada di sini. Tahukah engkau ke mana ia pergi?"
Tanya kaisar dengan suara lembut kepada selirnya tercinta ini.
Tan Siang Lin memandang kepada kaisar.
Sejak tadi wanita ini seringkali menengok dan memandang kepada suaminya.
Dalam hati ia merasa kagum dan juga bangga melihat pria yang menjadi suaminya itu sama sekali tidak tampak khawatir atau takut menghadapi keadaan yang amat gawat dan berbahaya itu.
"Hamba tidak tahu, Sri Baginda. Paduka mengetahui sendiri betapa puteri kita itu suka sekali berkelana."
Kaisar mengangguk-angguk.
"Aku percaya bahwa Moguhai pasti mendengar akan peristiwa di kota raja ini dan ia pasti akan datang untuk menyelamatkan kita semua."
"Semoga saja demikian, Sri Baginda,"
Kata Tan Siang Lin.
Dalam ruangan yang luas itu terdapat belasan orang perajurit pengawal pribadi kaisar yang melindungi keluarga istana itu.
Mereka berdiri dengan pedang di tangan, menjaga di pintu dan jendela jendela yang terbuka.
Wajah mereka ini rata-rata tegang, karena mereka maklum bahwa kalau pertahanan pasukan pembela kaisar bobol, mereka harus melindungi keluarga kaisar dengan taruhan nyawa.
Tiba-tiba, dua orang perajurit pengawal pribadi itu, yang berdiri menjaga di sebelah belakang kaisar, dalam jarak lima meter, bergerak maju sambil mengangkat pedang menyerbu ke arah Kaisar!
"Ampunkan hamba, Sri Baginda!"
Seru yang seorang.
"Ampunkan hamba, hamba...... terpaksa membunuh paduka!"
Seru orang kedua.
Semua orang terkejut dan tertegun.
Para perajurit pengawal lainnya juga terpukau, tidak sempat mencegah karena dua orang itu sudah menyerang kaisar.
Seorang membacokkan pedang dari atas, orang kedua menusukkan pedangnya.
Akan tetapi, tiba-tiba dua sinar hijau kecil meluncur dari arah jendela dan dua sinar hijau ini menyambar ke arah tangan dua orang perajurit pengawal yang memegang pedang.
Mereka berdua berteriak mengaduh dan pedang mereka terlepas dari pegangan, jatuh berdenting ke atas lantai dan dengan tangan kiri mereka memegangi lengan kanan masing masing di mana menancap sehelai daun hijau!
Para perajurit segera berlompatan dan meringkus dua orang perajurit pengawal yang tiba-tiba menyerang kaisar itu.
Tan Siang Lin bangkit berdiri dari kursinya, memandang ke arah jendela dari mana sinar hijau tadi meluncur masuk.
Wajahnya berseri, kedua matanya bersinar dan ia berseru girang.
"Sie-ko (kanda Sie)......!"
Akan tetapi ia sadar dan menahan seruannya sehingga tidak terdengar jelas.
"Jangan bunuh. Seret mereka ke depanku!"
Kata kaisar dengan tegas, sama sekali tidak menjadi panik oleh peristiwa itu.
Dua orang itu lalu didorong berlutut di depan kaisar di mana mereka menyembah-nyembah dan menangis!
"Ampun, Yang Mulia"..!
Ampunkan hamba berdua yang terpaksa......"
Mereka mengeluh dalam tangisan mereka.
"Hemm, siapa yang memaksa kalian melakukan pengkhianatan hendak membunuh kami?"
Bentak kaisar. Seorang dari mereka menyembah dan berkata ketakutan.
"Hamba berdua terpaksa melaksanakan perintah Pangeran Hiu Kit Bong untuk membunuh paduka karena kalau hamba tidak mau, seluruh keluarga hamba berdua yang sudah disandera akan dibunuh."
Kaisar dan semua orang melihat jelas betapa sehelai daun menancap di pergelangan kedua orang itu dan lengan mereka berdarah.
Semua orang merasa takjub.
Bagaimana mungkin sehelai daun dapat menancap pada lengan tangan dua orang itu sehingga mereka gagal membunuh kaisar?
Pada hal daun hijau basah itu lunak dan lentur!
"Jebloskan mereka dalam tahanan, jangan bunuh,"
Kata kaisar kepada para pengawalnya.
Dua orang itu membentur-benturkan dahi di lantai menghaturkan terima kasih kepada kaisar.
Akan tetapi dua orang perajurit memegang lengan mereka dan menarik mereka keluar dari ruangan itu.
Kaisar menoleh kepada Tan Siang Lin.
"Dinda Siang Lin, tadi engkau memandang ke arah jendela dan memanggil seseorang. Siapakah yang kau panggil itu? Apakah engkau melihat seseorang?"
Wajah Siang Lin berubah kemerahan.
"Hamba tidak melihat seseorang, Sri Baginda, akan tetapi hamba dapat menduga siapa yang telah menyelamatkan paduka. Dia pasti guru puteri kita Moguhai, karena hanya dialah kiranya yang mampu melukai dua orang tadi hanya dengan menggunakan sehelai daun."
"Luar biasa! Siapakah nama guru Moguhai itu?"
Tanya kaisar dan sedikit banyak kehadiran seorang manusia sesakti itu membesarkan hatinya dan dia merasa terlindung oleh suatu kekuatan yang hebat.
Jantung dalam dada Siang Lin berdebar.
Ia merasa serba salah, akan tetapi harus menjawab pertanyaan kaisar yang menjadi suaminya itu.
"Hamba hanya mendengar bahwa guru Moguhai itu bermarga Sie, Sri baginda."
"Hemm, mengapa dia melindungiku secara diam-diam? Kalau saja dia mau muncul, mungkin dia dapat memberi tahu kami di mana adanya Moguhai sekarang ini."
Tiba-tiba tampak benda putih melayang masuk dari jendela. Seorang perajurit pengawal cepat menangkapnya dan ternyata benda itu sehelai kertas putih.
"Apa itu?"
Tanya kaisar.
"Sehelai kertas putih tertulis, Yang Mulia,"
Kata pengawal itu.
"Cepat bawa ke sini!"
Perintah Sri Baginda dan perajurit itu segera menyerahkan kertas itu kepada kaisar. Kaisar membacanya dan seketika wajahnya berseri. Dia menengok ke arah jendela dan berkata dengan suara lantang.
"Siapapun adanya engkau, orang gagah, kami berterima kasih sekali padamu!"
Dengan wajah berseri Kaisar lalu menyerahkan surat itu kepada Siang Lin yang segera membacanya.
Sepasang mata selir kaisar ini menjadi basah saking bahagia dan terharunya membaca isi kertas bertulis itu.
"Moguhai dan Pangeran Kuang sedang menuju ke kota raja dengan pasukannya. Pertahankan istana sampai mereka datang."
Surat itu lalu berpindah-pindah tangan, mula-mula Siang Lin memberikannya kepada permaisuri yang setelah membacanya menyerahkan kepada para selir.
Mereka bergantian membaca dan semua wajah menjadi berseri gembira.
Timbul harapan dalam hati mereka.
Pasukan penolong yang dipimpin pangeran Kuang dan Pureri Moguhai akan menolong mereka!
"Biar aku sendiri yang memimpin pertahanan istana!"
Kaisar timbul semangatnya dan diapun keluar dari ruangan itu menemui para perwira yang setia kepadanya untuk mengawasi sendiri pasukan yang mempertahankan istana.
Dengan munculnya kaisar sendiri ke tengah-tengah mereka, para perajurit yang membela kaisar bersorak gembira dan semangat mereka berkobar, apalagi ketika mereka mendengar bahwa bala bantuan segera datang!
Pada keesokan harinya, diiringi sorak yang gegap gempita dan bunyi terompet, tambur dan canang, pasukan pemberontak menyerbu dan berusaha mendobrak pintu gerbang tebal yang terbuat dari baja itu.
Ada pula yang mempergunakan tangga untuk naik ke atas tembok benteng istana.
Pasukan pembela kaisar menyambut dari dalam dan terjadilah pertempuran yang seru dan mati-matian.
Anak panah meluncur dari luar dan dari dalam seperti hujan.
Bunyi denting beradunya senjata bercampur sorak-sorai dan teriakan-teriakan marah, jerit-jerit kesakitan membubung bersama debu yang mengepul tebal.
Darah mulai berceceran membasahi bumi.
Perang!
Puncak ulah nafsu yang menguasai hati dan pikiran manusia, membuat manusia bahkan lebih ganas daripada binatang.
Karena jumlah pasukan pemberontak hampir tiga kali lebih banyak dibandingkan pasukan pembela kaisar, maka tentu saja pihak pembela kaisar mulai kewalahan dan terdesak hebat.
Bahkan pihak penyerang sudah banyak yang dapat naik ke atas tembok benteng dan di sana sudah terjadi pertempuran seru.
Pintu gerbang mulai didekati pasukan pemberontak dan mereka mempergunakan kayu balok besar yang digotong beramai-ramai untuk mendobrak pintu gerbang baja.
Suaranya nyaring menggelegar setiap kali ujung balok itu menghantam pintu gerbang.
Para perajurit pembela kaisar menggunakan segala daya untuk mempertahankan pintu gerbang itu dengan mengandalkan benda-benda berat.
Namun, mereka kalah kuat karena kalah banyak dan akhirnya, pintu gerbang yang tebal dan besar itu jebol dan roboh ke dalam mengeluarkan suara hiruk-pikuk dan belasan orang perajurit di sebelah dalam yang tadi mempertahankan pintu itu, tertimpa pintu besi yang amat berat itu sehingga tewas terhimpit.
Para perajurit pemberontak menyerbu melalui pintu gerbang yang sudah terbuka itu bagaikan air bah mengamuk.
Perajurit pembela kaisar yang berada di sebelah dalam menyambut dan terjadilah pertempuran seru.
Karena lubang pintu itu tidak terlalu besar, hanya sekitar tiga tombak lebarnya, maka para penyerbu itu tidak dapat masuk terlalu banyak dan hal ini membuat pertahanan sebelah dalam masih kuat.
Puluhan orang perajurit penyerbu yang berhasil masuk disambut oleh ratusan orang perajurit pembela kaisar dan yang di luar terhalang oleh yang berada di depan.
Karena itu untuk sementara pertahanan masih kuat.
Betapapun juga keadaan sudah sangat gawat karena dapat diramalkan bahwa tidak lama lagi pasti pasukan pemberontak akan dapat menyerbu ke dalam bangunan istana.
Kaisar memimpin sendiri para perajurit yang setia kepadanya.
Dia memberi komando.
Ada yang menyambut serbuan lewat pintu gapura atau gerbang yang sudah roboh daun pintunya, ada yang diperintahkan tetap menjaga di atas tembok benteng untuk menghalau musuh yang memasuki benteng lewat tembok.
Pada saat yang amat gawat itu, tiba tiba terdengar sorak-sorai bercampur suara terompet, genderang dan canang.
Para perajurit pemberontak terkejut sekali dan tiba-tiba mereka menjadi kacau-balau ketika diserang oleh pasukan yang baru datang, pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Kuang dan Puteri Moguhai bersama Thian Liong!
Puteri Moguhai didampingi Thian Liong mengamuk, membuka jalan berdarah memasuki kerumunan perajurit-perajurit pemberontak, merobohkan siapa saja yang menghalangi mereka.
Melihat betapa pintu gerbang yang sudah terbuka itu penuh orang, mereka berdua lalu melompat ke atas tembok benteng.
Para perajurit pembela kaisar yang bertempur di atas tembok benteng melihat datangnya pasukan penolong itu.
Ketika mereka melihat dua orang melompat ke atas benteng dan mengenal seorang di antara mereka adalah Puteri Moguhai, mereka bersorak dan semangat mereka berkobar.
Apalagi ketika Puteri Moguhai dan Thian Liong mengamuk, merobohkan banyak perajurit pemberontak yang berhasil naik ke atas benteng, mereka pun bersorak sambil mengamuk.
Puteri Moguhai dan Thian Liong segera melompat ke dalam dan Thian Liong mengikuti Pek Hong Nio-cu atau Moguhai itu memasuki istana.
Para perajurit pengawal kaisar yang melihat sang puteri, juga bersorak gembira.
Mereka semua telah mendengar bahwa pasukan Pangeran Kuang sudah berada di luar dan sedang menyerang pasukan pemberontak.
Moguhai dan Thian Liong memasuki ruangan di mana keluarga istana berkumpul.
Melihat puterinya, Tan Siang Lin lari menyambut.
"Moguhai""!"
"Ibu......!"
Mereka berangkulan.
"Semua keluarga selamat, bukan?"
Tan Siang Lin mengangguk dan tersenyum, gembira sekali melihat puterinya datang bersama pasukan Pangeran Kuang.
Ternyata isi surat yang melayang masuk tadi benar.
Dan ia tahu siapa yang menulis surat itu.
Siapa lagi kalau bukan dia yang tadi merobohkan dua orang penyerang suaminya dengan sambitan daun?
"Di mana Sri Baginda?"
Tanya Moguhai ketika tidak melihat ayahnya, di antara mereka. Permaisuri yang juga menghampiri dan merangkul Moguhai karena lega dan gembira hatinya, berkata.
"Moguhai, ayahmu sedang memimpin sendiri pasukan melawan serbuan pemberontak."
"Ah, mari ikut aku keluar, Thian Liong!"
Kata Puteri Moguhai kepada pemuda itu.
Mereka berdua lalu cepat keluar dan benar saja, gadis itu melihat kaisar sendiri sedang memberi perintah kepada para perwira pasukan yang mempertahankan benteng.
Serbuan Pasukan yang datang membuat kaum pemberontak panik dan yang sedang menyerbu ke dalam juga sudah mendengar akan datangnya pasukan Pangeran Kuang itu.
Hal ini melemahkan semangat mereka dan mereka didesak keluar oleh pasukan yang berada di dalam benteng istana.
"Sri Baginda......!"
Seru Puteri Moguhai dengan hati bangga melihat betapa ayahnya sendiri maju memberi dorongan semangat kepada para perajurit. Kaisar menengok dan wajahnya yang berkeringat itu berseri melihat puterinya.
"Ah, Moguhai! Kedatanganmu bersama Pangeran Kuang membawa pasukan sungguh tepat pada waktunya! Kami semua merasa gembira sekali!"
"Biarlah pasukan Paman Pangeran Kuang menghancurkan pasukan pemberontak, tidak. perlu paduka sendiri bersusah payah. Harap paduka mengaso dan saya bersama sahabat saya Souw Thian Liong ini yang akan membantu pasukan menyerbu keluar!"
Kaisar mengangguk-angguk ketika Thian Liong memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada dan membungkuk sampai dalam.
"Baiklah, kukira kini bahaya sudah lewat,"
Kata Kaisar dan dia lalu kembali ke dalam istana, diikuti lima orang pengawal pribadi yang sejak tadi tidak pernah meninggalkannya dan selalu mengikuti dari jarak dekat ke manapun kaisar pergi.
Puteri Moguhai dan Thian Liong lalu membantu pasukan dan dengan mudah mereka mendesak para pemberontak keluar dari benteng.
Kini para pemberontak dihimpit dari dalam dan luar.
Mereka menjadi panik dan banyak di antara mereka terluka atau tewas.
Panglima Kiat Kon yang tinggi besar, gagah dan mukanya penuh brewok itu mengamuk seperti seekor harimau terluka.
Dia sudah merasa kepalang tanggung.
Ambisinya adalah umntuk menjadi panglima besar kalau Pangeran Hiu Kit Bong berhasil menduduki singgasana.
Tadi penyerbuan mereka sudah hampir berhasil.
Akan tetapi tiba-tiba muncul pasukan yang dipimpin Pangeran Kuang sehingga kini pasukannya terjepit antara pasukan dari luar dan dalam.
Dia sendiri mengamuk di tengah-tengah pertempuran dekat benteng istana, tidak mungkin keluar dari pertempuran.
Juga dia tidak ingin melarikan diri.
Sudah kepalang karena andaikata dia dapat melarikan diri, keluarganya tentu tidak luput dari hukuman.
Maka dia mengamuk dengan pedangnya yang besar dan berat dan sudah banyak perajurit pembela kaisar yang roboh dan tewas terkena babatan pedangnya.
Tiba-tiba pedangnya tertangkis ketika dia membabatkan ke arah seorang perajurit musuh berikutnya.
"Trangggg......!"
Bunga api berpijar dan Kiat Kon merasa betapa tangan kanannya tergetar hebat.
Telapak tangannya yang memegang pedang terasa panas sekali sehingga hampir dia melepaskan pedangnya.
Akan tetapi dia masih sempat mempertahankan pedangnya dan cepat memandang ke kanan untuk melihat siapa yang menangkis pedangnya itu.
Ketika dia melihat siapa orang yang memegang pedang bengkok menangkis serangannya, mukanya berubah pucat.
Kiranya Puteri Moguhai yang berdiri di depannya dengan mata bersinar penuh kemarahan.
"Puteri...... Moguhai"..!"
Dia berseru gagap.
"Panglima Kiat Kon, pengkhianat tak mengenal budi!"
Bentak Pek Hong Nio-cu atau puteri Moguhai.
"Sri Baginda telah memberi kedudukan tinggi kepadamu, akan tetapi apa balasanmu? Engkau malah menjadi pengkhianat dan pembantu pemberontak! Aku tidak dapat mengampunimu lagi?"
Setelah berkata demikian, Pek Hong Nio-cu lalu menerjang dengan dahsyat.
Panglima Kiat Kon sudah tahu akan kelihaian puteri ini, maka dia menjadi gugup dan gentar.
Akan tetapi tidak ada jalan keluar lagi baginya.
Pasukan pembela kaisar sudah berada di mana-mana dan kiranya tidak mungkin melarikan diri dari Puteri Moguhai.
Puteri itu memang pernah belajar ilmu silat dari dia sendiri.
Akan tetapi itu dulu ketika Puteri Moguhai masih remaja.
Sekarang ia telah memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaiannya sendiri.
Maka Kiat Kon lalu melawan mati-matian.
Sementara itu, Thian Liong melihat betapa tak jauh dari situ, seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun yang bertubuh tinggi kurus, berjenggot panjang dan berkumis pendek, pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan tinggi, sedang berdiri dengan pedang di tangan.
Lima orang pengawal melindunginya, melawan para perajurit istana yang mengepung bangsawan tinggi itu.
ternyata lima orang pengawal itu cukup lihai dan banyak perajurit istana yang roboh oleh amukan lima orang yang memegang golok besar itu.
Ketika melihat bangsawan itu, Thian Liong teringat akan Pangeran Hiu Kit Bong seperti yang pernah digambarkan oleh Pek Hong Nio-cu.
Tinggi kurus berjenggot panjang berkumis pendek.
Tentu inilah pangeran yang menjadi biang keladi pemberontakan itu.
Dia cepat melompat ke arah orang itu.
Dua orang pengawal menyambutnya dengan golok mereka.
Akan tetapi dua kali tangan Thian Liong menampar dan dua orang itu terpelanting roboh.
Kemudian Thian Liong menerjang ke depan.
Pangeran Hiu Kit Bong mencoba untuk membacoknya dengan pedangnya.
Akan tetapi sekali menampar dengan tangan kirinya, pedang itu terlepas dari pegangan sang pangeran dan secepat kitat Thian Liong menotoknya sehingga Pangeran Hiu Kit Bong tidak mampu bergerak lagi.
Thian Liong lalu membawa tubuh Pangeran itu melompat ke atas tembok benteng dan dari tempat tinggi itu dia berseru sambil mengerahkan khi-kangnya sehingga suaranya terdengar lantang sampai jauh.
"Haiii! Para perajurit pemberontak! Lihatlah ke sini! Pemimpin kalian sudah ditawan, kalian yang tidak ingin mati cepat lempar senjata dan menyerah!!"
Suara itu lantang sekali dan terdengar oleh semua orang.
Akan tetapi karena semua perajurit pemberontak tidak mengenal pemuda di atas tembok benteng yang menawan Pangeran Hiu Kit Bong, maka mereka menjadi ragu.
Pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat, melompat ke atas tembok benteng dan ternyata ia adalah Pek Hong Nio-cu.
Puteri ini telah berhasil merobohkan Panglima Kiat Kon dengan sebuah tusukan yang menewaskan panglima pemberontak itu.
Setelah berdiri di dekat Thian Liong, yang merangkul Pangeran Hiu Kit Bong yang sudah tidak mampu bergerak, puteri itu berteriak melengking.
"Semua perajurit pengikut Pangeran Hiu Kit Bong, lepaskan senjata kalian dan menyerahlah. Kalau tidak, kalian akan dibasmi habis! Lihat pemimpin pemberontak telah kami tawan dan Panglima Kiat Kon juga sudah tewas!"
Semua perajurit pemberontak tentu saja mengenal Puteri Moguhai dan melihat betapa Pangeran Hiu Kit Bong benar-benar telah ditawan, mereka menjadi putus asa.
Tanpa ragu lagi mereka membuang senjata mereka dan menjatuhkan diri berlutut tanda menyerah.
Melalui para perwira pembantunya, Pangeran Kuang lalu menyerukan agar para perajurit pemberontak tidak dibunuh.
Mereka lalu ditawan dan digiring ke benteng pasukan yang tadi membela kaisar.
Pertempuran berhenti.
Para tawanan dibawa ke dalam benteng.
Para perajurit melakukan penangkapan-penangkapan teradap mereka yang menjadi kaki tangan Pangeran Hiu Kit Bong, di bawah pimpinan para panglima yang setia kepada kaisar.
Ada pula yang bertugas membersihkan benteng istana, merawat yang terluka dan mengurus penguburan mereka yang tewas.
Pangeran Hiu Kit Bong dan beberapa orang pembesar yang menjadi anak buah dan sekutunya, dengan kedua tangan diborgol, dihadapkan kepada kaisar, diikuti oleh Pangeran Kuang, Puteri Moguhai dan Thian Liong.
Semula Thian Liong tidak ingin menghadap kaisar karena dia tidak mengharapkan imbalan jasa untuk bantuannya.
Akan tetapi Pek Hong Nio-cu memaksanya.
Sambil menarik tangan Thian Liong Puteri Moguhai berkata.
"Hayolah, Thian Liong. Kau ikut denganku menghadap ayahku. Engkau telah membantu kami, sudah sepantasnya kalau ayah bertemu dan mengenalmu. Pula, sekali ini engkau yang membantu aku, nanti aku akan membantumu mencari gadis berpakaian merah yang telah mencuri kitab itu. Marilah!"
Thian Liong merasa tidak enak kalau menolak, maka diapun ikut Puteri Moguhai dan Pangeran Kuang menggiring tawanan yang jumlahnya tujuh orang itu menghadap kaisar kerajaan Kin.
Dia merasa janggal.
Dia memasuki istana Kaisar Kin yang merupakan kerajaan yang telah mengusir Kerajaan Sung, menjajah tanah air bangsanya.
Akan tetapi Thian Liong tidak merasa bersalah.
Dia pasti tidak akan membantu Kerajaan Kin sekiranya kerajaan ini berperang melawan kerajaan Sung.
Kalau sekarang dia membantu kerajaan Kin adalah karena dia memihak yang benar dan menentang para pemberontak yang tentu saja merupakan pihak yang tidak benar karena memberontak.
Apalagi kalau diingat bahwa, Pangeran Hiu Kit Bong, pengkhianat dan pemberontak itu bersekongkol dengan Perdana Menteri Chin Kui yang harus ditentangnya karena pembesar itu hendak menguasai dan menanamkan pengaruh buruk kepada Kaisar kerajaan Sung.
Ketika mereka semua memasuki ruangan di mana Kaisar menerima mereka, Puteri Moguhai lalu berlari menghampiri ibunya dan duduk di dekat ibunya.
Pangeran Kuang memberi hormat kepada kakak tirinya dengan sikap gagah sebagai seorang panglima.
Para tawanan segera didorong dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaisar.
Thian Liong meragu.
Kalau berhadapan dengan kaisar bangsanya sendiri, kaisar kerajaan Sung, dia tidak akan ragu-ragu untuk menjatuhkan diri berlutut sebagai penghorrmatan.
Akan tetapi dia berhadapan dengan kaisar kerajaan Kin, kerajaan bangsa Nuchen yang menjajah.
Maka dia hanya mengangkat kedua tangan depan dada sambil membungkuk sebagai penghormatan.
Moguhai sudah mendekati kaisar dan berkata lirih.
"Sri Baginda, pemuda itu adalah Souw Thian Liong yang membantu kita dan dia pula yang menangkap Pangeran Hiu Kit Bong sehingga perlawanan pasukan pemberontak dapat dihentikan."
Kaisar telah mendengar akan bantuan seorang pendekar bangsa Han itu. Dia tersenyum dan memandang kepada Thian Liong lalu mengangguk-angguk.
"Souw sicu, silakan duduk di kursi itu. Engkau juga, Pangeran Kuang!"
Kemudian Kaisar menjatuhkan hukuman kepada para pimpinan pemberontak.
Kaisar kerajaan Kin ini setelah mengambil Tan Siang Lin sebagai selir terkasih banyak mengalami perubahan.
Kalau dahulu dia terkenal keras, kini dia berubah menjadi lebih lunak.
Banyak nasihat dia terima dari Tan Siang Lin sehingga dia menjadi seorang penguasa yang bijaksana tidak lalim.
Semua orang tentu mengira bahwa kaisar akan menghukum mati pimpinan pemberontak itu Akan tetapi kenyataannya tidak.
Seperti yang diharapkan Siang Lin, Pangeran Hiu Kit Bong dan para sekutunya tidak dijatuhi hukuman mati, melainkan dihukum buang bersama keluarga mereka di daerah utara, hidup dalam pengasingan dengan suku-suku yang masih terbelakang di sana sehingga tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak baik.
Setelah tawanan itu dibawa pergi, Pangeran Kuang melaporkan gerakannya menumpas pemberontak, dimulai dari kunjungan Puteri Moguhai dan Souw Thian Liong yang membawa tawanan, yaitu Ngo-heng Kiam-tin dan belasan orang perajurit yang diutus Pangeran Hiu Kit Bong untuk membunuh Moguhai, sampai pengerahan pasukan yang dia pimpin ke kota raja dan berhasil membasmi para pemberontak pada saat yang tepat.
Setelah Pangeran Kuang selesai bercerita, tiba giliran Puteri Moguhai untuk menceritakan pengalamannya bersama Souw Thian Liong.
Cerita Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai menarik perhatian semua keluarga istana yang hadir di situ.
Mereka merasa kagum sekali.
Setelah mendengar betapa Souw Thian Liong, seorang pemuda pribumi Han menolong kerajaan Kin dan berjasa besar, Kaisar segera berkata sambil memandang kepada Thian Liong dengan senyum ramah.
"Souw-sicu, jasamu besar sekali dan kami mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Katakan, apa yang kau inginkan dari kami? Permintaanmu pasti akan kami penuhi demi membalas budi dan jasamu."
Thian Liong cepat memberi hormat.
"Maafkan hamba, Sri Baginda. Harap Paduka tidak salah paham. Hamba sama sekali tidak menginginkan sesuatu. Apa yang hamba lakukan itu sama sekali bukan perbuatan jasa atau pelepasan budi, apalagi berpamrih mendapatkan imbalan, melainkan sudah menjadi kewajiban hamba untuk melakukannya. Bukan sekali-kali hamba menolak anugerah dari Paduka, hanya hamba tidak mengharapkan imbalan apa pun."
"Sri Baginda harap jangan menghadiahkan apa-apa kepada Souw Thian Liong. Dia seorang pendekar sejati, dan memberi hadiah kepadanya sama saja dengan merendahkan, bahkan menghinanya. Hamba mempunyai cara yang terbaik untuk membalas budinya. Dia sedang mencari seorang gadis berpakaian merah yang telah mencuri sebuah kitab darinya, dan dia juga bertugas untuk menentang Perdana Menteri Chin Kui di kerajaan Sung. Untuk kedua hal itu, hamba akan membantunya, dengan demikian hamba dapat membalas budi kebaikannya,"
Kata Puteri Moguhai kepada kaisar.
Kaisar mengerutkan alisnya mendengar nama Perdana Menteri Chin Kui dlisebut.
Bagaimanapun juga, Chin Kui dahulu merupakan orang yang berjasa bagi kerajaan Kin.
Chin Kui yang mencegah balatentara Sung yang dipimpin Jenderal Gak Hui, jenderal yang amat pandai dan ditakuti kerajaan Kin, melanjutkan gerakannya menyerang ke utara untuk menghalau kerajaan Kin yang menguasai setengah dari daratan Cina bagian utara.
Chin Kui yang berhasil membujuk Kaisar Sung untuk berdamai dengan kerajaan Kin, bahkan kerajaan Sung mengirim upeti tahunan kepada kerajaan Kin.
Akan tetapi akhir-akhir ini dia melihat kecurangan Perdana Menteri Chin Kui yang mengurangi sebagian dari upeti kerajaan Sung itu untuk dirinya sendiri.
Hal ini membuat hubungan mereka merenggang.
"Kenapa Perdana Menteri Chin Kui dari kerajaan Sung hendak ditentang?"
Tanyanya sambil memandang kepada puterinya. Puteri Moguhai mengerti jalan pikiran ayahnya.
"Sri Baginda, Souw Thian Liong hendak menentangnya karena Chin Kui terkenal sebagai seorang pembesar yang korup dan khianat terhadap kerajaan Sung. Selain itu, ternyata dia juga menjadi sekutu Paman Pangeran Hiu Kit Bong yang memberontak kepada paduka."
Kaisar mengerutkan alisnya.
"Bersekutu dengan pemberontak?"
Dia memandang puterinya dengan sinar mata penuh keheranan.
"Apa buktinya kalau dia bersekutu dengan pemberontak?"
"Buktinya sudah jelas, Sri Baginda,"
Kata Puteri Moguhai.
"Cin Kui memang diam-diam menjalin persekutuan dengan Pangeran Hiu Kit Bong dan yang paling jelas buktinya, dia mengirim seorang utusan yang bernama Cia Song untuk menangkap hamba. Hamba hendak ditangkap dan dijadikan sandera untuk memaksa paduka menyerahkan kekuasaan kepada Pangeran Hiu Kit Bong."
Kaisar mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya.
"Hemm, aku memang sudah tahu bahwa Chin Kui adalah seorang yang licik dan curang, sama sekali tidak boleh dipercaya. Pernah dia minta kepada kami agar kami mengirim pasukan untuk membantu dan merebut tahta kerajaan Sung dari tangan Kaisar Kao Tsu, akan tetapi aku tidak mau mengkhianati perdamaian yang sudah diadakan antara kerajaan Kin dan kerajaan Sung."
"Kakanda Kaisar, bagaimana kalau hamba membawa pasukan untuk menghukum Chin Kui yang bersekongkol dengan pemberontak itu?"
Tiba-tiba Pangeran Kuang mengusulkan. Kaisar menggeleng kepala.
"Tidak boleh, adinda pangeran. Kalau engkau membawa pasukan ke selatan, hal itu akan dapat menimbulkan salah paham dengan kerajaan Sung. Kalau di sana Chin Kui hendak mengadakan pemberontakan, biarlah Kaisar Sung Kao Tsu sendiri menghadapinya. Itu adalah urusan dalam negeri kerajaan Sung dan kita tidak berhak mencampurinya."
"Benar sekali, Sri Baginda. Akan tetapi kalau hamba seorang diri yang pergi membantu Souw Thian Liong, hamba tidak mewakili kerajaan kita, melainkan sebagai tindakan pribadi hamba. Hamba ingin membalas budi kebaikan Souw Thian Liong dan harap paduka tidak melarang hamba."
"Ha-ha-ha, siapakah yang dapat melarangmu, Moguhai? Apakah ayahmu ini pernah melarangmu selama ini? Engkau merantau ke sana sini sehingga mendapat julukan Pek Hong Nio-cu, dan aku tidak pernah melarangnya. Baiklah, engkau pergilah membantu Souw-sicu, akan tetapi jangan lupa untuk segera pulang. Engkau harus ingat bahwa engkau kini sudah dewasa, usiamu sudah hampir duapuluh tahun dan sudah tiba masanya bagimu untuk menikah!"
"Aihh""
Paduka"..! Hamba".. belum ingin menikah,"
Kata Pek Hong Nio-cu tersipu dan tergagap sehingga ditertawakan semua anggauta keluarga istana.
Atas permintaan Pek Hong Nio-cu, Souw Thian Liong terpaksa tinggal di istana selama beberapa hari karena gadis itu ingin melepaskan kerinduannya kepada keluarganya lebih dulu sebelum meninggalkan mereka untuk melakukan perjalanan dengan Souw Thian Liong menuju ke selatan.
Pada malam hari itu, Puteri Moguhai bercakap-cakap dengan ibunya di dalam kamarnya.
Ibunya, Tan Siang Lin, merasa berat dan khawatir mendengar puterinya akan pergi ke selatan membantu Thian Liong menentang Perdana Menteri Chin Kui.
"Moguhai, anakku, aku benar-benar merasa gelisah sekali mendengar engkau akan pergi ke selatan. Kalau orang-orang kerajaan Sung mendengar bahwa engkau adalah puteri Kaisar Kin, tentu engkau akan dimusuhi dan amatlah berbahaya bagimu."
Moguhai merangkul ibunya.
"Jangan khawatir, ibu. Di dalam istana ini, aku adalah Puteri Moguhai. Akan tetapi di luar sana, aku dikenal sebagai Pek Hong Nio-cu. Di selatan nanti orang-orang akan mengenal aku sebagai Pek Hong Nio-cu dan tak seorangpun akan mengetahui bahwa aku adalah Puteri Moguhai."
"Akan tetapi pemuda she Souw itu mengetahuinya. Bagaimana kalau dia memberitahukan kepada orang-orang lain?"
"Tidak mungkin, ibu. Dia seorang sahabat yang baik dan setia. Kalau tidak ada dia, mungkin aku sudah tertimpa malapetaka. Dia boleh dipercaya, ibu."
Tan Siang Lin menghela napas panjang.
"Bagaimana pun juga, aku tetap merasa khawatir. Biarpun engkau telah memiliki ilmu silat yang tinggi dan tangguh, namun di selatan sana banyak terdapat penjahat yang sakti."
Moguhai tersenyum.
"Ibu tidak perlu khawatir. Selain aku sendiri mampu membela dan menjaga diri, juga ada Souw Thian Liong yang memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dariku. Dia lihai sekali, ibu. Lihai dan bijaksana. Dan tahukah ibu siapa gurunya? Gurunya adalah seorang sakti yang amat terkenal, yaitu bukan lain adalah Tiong Lee Cin-jin!"
Wajah Tan Siang Lin berubah. Matanya terbelalak dan mulutnya mengeluarkan seruan.
"Ahh......!"
Ketika ia mendengar disebutnya nama itu. Akan tetapi ia lalu menundukkan mukanya dan diam saja. Moguhai memperhatikan sikap ibunya.
"Ibu, ada satu hal yang merupakan kejutan besar."
"Hemm, apakah itu, anakku?"
"Aku telah bertemu dengan paman Sie!"
"Eh? Benarkah? Bagaimana engkau mengetahui bahwa yang kautemukan itu Paman Sie?"
"Aku tidak lupa akan wajahnya, ibu. Aku pernah melihat dia ketika dia datang menemui ibu di taman beberapa tahun yang lalu itu. Dia benar-benar paman Sie yang telah memberi kitab-kitab dan perhiasan rambut ini kepadaku melalui ibu. Dan dialah yang menyelamatkan kami ketika aku dan Thian Liong tertawan kaki tangan pemberontak."
"Ah......!"
Selir kaisar itu memandang wajah puterinya.
"Dan dia menemuimu, bicara denganmu?"
"Sayang sekali tidak, ibu. Aku hanya melihat dia di kejahuan, lalu dia menghilang setelah menolong aku dan Thian Liong."
Kini gadis itu memandang wajah ibunya dengan tajam.
"Dan ada satu lagi kejutan besar, ibu."
Tan Siang Lin agaknya telah dapat menguasai perasaannya. Ia memandang puterinya sambil tersenyum dan berkata.
"Ah, engkau ini penuh dengan kejutan. Apa lagi yang hendak kauceritakan, Moguhai?"
"Paman Sie itu ternyata adalah Tiong Lee Cin-jin, guru Souw Thian Liong!"
Moguhai melihat betapa kini tidak ada perubahan pada wajah ibunya.
Ia tahu bahwa hal ini jelas menunjukkan bahwa ibunya pasti telah tahu bahwa paman Sie adalah Tiong Lee Cin-jin.
Dan Tan Siang Lin masih tersenyum ketika bertanya kepada puterinya.
"Bagaimana engkau dapat memastikan bahwa paman Sie itu Tiong Lee Cin-jin?"
"Ketika dia muncul setelah menyelamatkan Thian Liong dan aku, Thian Liong berseru memanggilnya dengan sebutan suhu. Suhunya adalah Tiong Lee Cin-jin, maka jelaslah bahwa paman Sie adalah Tiong Lee Cin-jin. Benarkah itu, ibu? Ibu tentu lebih mengenal dan mengetahui, bukan?"
Tan Siang Lin menghela napas dan diam saja tidak menjawab dan hanya menundukkan mukanya, kemudian malah melamun dan kedua matanya menjadi basah!
Puteri Moguhai merangkul ibunya.
Ia biasanya manja kepada ibunya, akan tetapi melihat ibunya seperti orang yang berduka, ia merasa gelisah dan ingin sekali menghiburnya.
Ia amat menyayang ibunya.
"Ibu, ada apakah, ibu? Ibu agaknya menyimpan rahasia! Ceritakanlah kepadaku, ibu."
Tan Siang Lin menggeleng kepalanya.
"Tidak, tidak ada apa-apa, anakku. Hanya aku merasa terharu mendengar sahabat baikku itu, Paman Sie itu, telah menyelamatkan engkau. Diapun sudah menyelamatkan ayahmu ketika ayahmu terancam oleh dua orang pengawal yang agaknya menjadi kaki tangan Pangeran Hiu Kit Bong."
"Ah, benarkah ibu? Kenapa Sri Baginda tidak bercerita tentang hal itu!"
Kata Moguhai, ikut gembira karena bagaimanapun juga, ia merasa dekat dengan "Paman Sie"
Yang telah memberi tiga kitab pelajaran ilmu silat tinggi dan perhiasan rambut, dan menganggap dia sebagai gurunya walaupun ia belum pernah bertemu dan bercakap-cakap.
"Mungkin ayahmu belum sempat bercerita karena masih banyak persoalan yang harus diurus ayahmu berhubung dengan pemberontakan itu."
"Ibu saja yang bercerita! Bagaimana terjadinya peristiwa itu, Ibu?"
"Malam kemarin, ketika kami berkumpul di ruangan dalam, dalam keadaan tegang karena pada siang harinya terjadi pertempuran dan pasukan kita terdesak mundur sehingga hanya menjaga di dalam benteng istana dan pintu gerbang ditutup rapat. Malam itu tidak terjadi pertempuran akan tetapi kami semua dapat menduga bahwa besok paginya para pemberontak tentu akan menyerang lagi. Tiba-tiba dua orang pengawal pribadi ayahmu, dengan golok di tangan, menyerang ayahmu. Mereka telah menjadi antek Pangeran Hiu Kit Bong. Karena serangan itu dilakukan tiba-tiba maka agaknya tidak ada yang akan dapat menyelamatkan ayahmu, akan tetapi tiba tiba dari luar jendela ada dua sinar hijau meluncur masuk dan mengenai dua orang penyerang itu yang senjata mereka terlepas dan mereka sendiri lalu terpelanting. Mereka ditangkap para pengawal lainnya dan ternyata yang menancap di tangan mereka hanyalah dua helai daun hijau!"
Moguhai memandang ibunya dengan sinar mata kagum.
"Hebat! Bukan main! Daun basah dapat dipergunakan sebagai senjata rahasia! Alangkah saktinya!"
"Aku tahu bahwa hanya paman Sie saja yang mampu melakukan hal itu. Aku memandang keluar jendela dan aku yakin melihat bayangannya berkelebat di luar jendela. Kemudian, selagi ayahmu bertanya-tanya di mana adanya engkau, tiba-tiba dari luar jendela melayang sehelai kertas bersurat."
Tan Siang Lin lalu mengambil sebuah lipatan kertas dari ikat pinggangnya dan menyerahkannya kepada Moguhai.
"Inilah suratnya, masih kusimpan."
Moguhai yang sudah merasa kagum sekali cepat menerima surat itu dan membuka lipatan lalu membacanya.
"Moguhai dan Pangeran Kuang sedang menuju ke kota raja dengan pasukannya. Pertahankan istana sampai mereka datang."
"Ibu yakin bahwa surat inipun dilayangkan oleh Paman Sie?"
Tanya puteri itu. Ibunya mengangguk.
"Aku yakin sekaIi. Aku mengenal tulisannya yang indah itu."
Diam-diam Moguhai menduga bahwa tentu hubungan antara ibunya dan Paman Sie amat akrab, kalau tidak begitu tentu ibunya tidak akan dapat mengenal tulisan Paman Sie!
Apakah mereka itu pernah saling bersurat-suratan?
Moguhai tidak berani menanyakan ini karena takut menyinggung perasaan ibunya dengan dugaan yang terlalu jauh itu.
"Ibu menurut cerita Thian Liong, Tiong Lee Cin-jin itu melakukan perantauan jauh ke barat sampai belasan tahun dan ketika dia kembali, dia membawa banyak kitab milik aliran-aliran persilatan yang dulunya hilang. Dia mengembaIikan kitab-kitab itu kepada pemilik aselinya. Paman Sie juga telah memberi tiga
Jilid kitab pelajaran ilmu silat yang tinggi kepadaku.
Juga ilmu kepandaian mereka berdua itu amat tinggi.
Aku kira mereka berdua itu hanya satu orang saja.
Benarkah bahwa paman Sie itu adalah Tiong Lee Cin-jin?"
Tan Siang Lin menghela napas.
"Mungkin sekali demikian, Moguhai. Dia tidak pernah mengatakan kepadaku bahwa dia juga disebut Tiong Lee Cin-jin walaupun""
Eh, dia juga telah pergi selama belasan tahun lamanya dan kami tidak pernah saling berjumpa."
"Hemm, dan ibu baru berjumpa padanya di taman itu setelah belasan tahun saling berpisah?"
Tan Siang Lin mengangguk dan kembali menghela napas.
"Sudahlah, Moguhai. Jangan banyak membicarakan dia, tidak enak kalau didengar orang lain, disangkanya nanti ada apa-apa"..."
"Jangan khawatir, ibu. Aku selalu merahasiakan Paman Sie seperti yang ibu pesan dulu."
"Baik sekali kalau begitu, anakku. Ingat saja bahwa Paman Sie itu adalah gurumu dan dulu, dulu sekali dia adalah sahabat baik ibumu."
Moguhai amat menyayang ibunya.
Setelah ibunya berkata demikian iapun membelokkan percakapan tentang hal lain dan tidak menyinggung nama Paman Sie lagi.
Setelah melepaskan kerinduannya kepada keluarga istana selama tiga hari, Moguhai lalu ikut Thian Liong melakukan perjalanan ke Selatan.
Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu, lebih tepat kita sebut Pek Hong Nio-cu karena selama melakukan perjalanan bersama Thian Liong ia tidak pernah mengaku sebagai Puteri Moguhai, menunggang kuda di sebelah Thian Liong.
Mereka telah melakukan perjalanan jauh dan kini sudah mulai memasuki wilayah kerajaan Sung setelah kemarin mereka menyeberangi Sungat Yang-ce.
Selama perjalanan mereka di wilayah kerajaan Kin, yaitu di seberang utara Sungai Yang-ce, mereka tidak menemui banyak kesulitan.
Pek Hong Nio-cu selalu disambut dengan penuh kehormatan setelah para pembesar setempat mengetahui, dari pedang kekuasaannya, bahwa ia adalah puteri kaisar.
Dan perjalanan itu dipergunakan pula oleh Pek Hong Nio-cu menyelidiki para pembesar.
Kalau menemukan pembesar yang sewenang-wenang terhadap rakyat, jahat dan korup, seperti raja kecil yang lalim, ia segera turun tangan memberi hajaran dan memperingatkan mereka dengan keras.
Pada suatu pagi mereka memasuki Kota Ciu-siang, kota pertama wilayah kerajaan Sung yang berada di daerah barat.
Mereka tidak langsung memasuki wilayah Kerajaan Sung dari timur yang sebetulnya lebih dekat dan mereka dapat langsung tiba di Lin-an (Hang-chouw) yaitu kota raja Sung karena daerah timur itu merupakan tempat yang gawat, perbatasan dijaga kedua pihak sehingga melakukan perjalanan lewat daerah itu akan mengalami banyak gangguan dan bahaya.
Karena malam tadi mereka berdua melakukan perjalanan setengah malam di bawah sinar bulan purnama, mereka dan juga kuda mereka telah lelah.
Pek Hong Nio-cu mengajak Thian Liong yang kini menjadi penunjuk jalan di daerah Sung yang lebih dikenalnya, untuk mencari rumah penginapan agar mereka dapat beristirahat.
Sebelum memasuki daerah kerajaan Sung, atas nasihat Thian Liong, Pek Hong Nio-cu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa dipakai para gadis pribumi Han.
Hal ini amat penting karena kalau ia mengenakan pakaian gadis bangsawan bangsa Nu chen (Yuchen), hal itu akan menimbulkan banyak masalah dan mungkin saja ia akan dimusuhi oleh rakyat pribumi.
Pek Hong Nio-cu yang memang sudah mempersiapkan pakaian pengganti, memakai pakaian gadis Han, akan tetapi tetap saja pakaian itu dari sutera putih dan perhiasan burung Hong di kepalanya masih dipakainya, hanya gelung rambutnya disesuaikan dengan bentuk gelung rambut gadis pribumi Han.
Penampilannya tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali karena wajah puteri itu memang lebih mirip gadis pribumi Han daripada bangsa Nuchen.
Hanya saja, karena ia memang amat cantik jelita, maka di mana saja, orang-orang, terutama para pria, yang melihatnya akan memandang dengan kagum.
Mereka berdua turun dari atas punggung kuda mereka di pelataran sebuah rumah penginapan.
Seorang pelayan segera menyambut dan mengurus kuda mereka.
Mereka lalu berjalan memasuki ruangan depan rumah penginapan itu dan minta kamar kepada pengurus penginapan yang duduk di belakang meja penerima tamu.
Agaknya memang menjadi peraturan di kota dekat perbatasan itu bahwa para tamu harus memperkenalkan namanya.
Ketika ditanya, Thian Liong menjawab tenang.
"Namaku Souw Thian Liong dan nona ini adalah adikku, Souw-siocia (Nona Souw). Kami hendak pergi ke kota raja. Mereka menyewa dua buah kamar yang berdampingan. Mereka lalu memasuki kamar masing-masing untuk tidur karena merasa lelah dan mengantuk. Setelah matahari naik tinggi, keduanya terbangun dengan tubuh terasa segar kembali. Setelah mandi dan menukar pakaian, mereka berdua pergi ke rumah makan yang berada di samping rumah penginapan dan memesan makanan. Se!agi mereka minum air teh sehabis makan, tiba-tiba mereka dan semua orang yang sedang makan dalam rumah makan itu dikejutkan oleh masuknya serombongan orang yang ternyata adalah perajurit-perajurit berpakaian seragam dan jumlah mereka ada belasan orang, dipimpin oleh seorang perwira yang bertubuh tinggi besar. Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu bersikap tenang dan memandang kepada perwira yang memimpin pasukan kecil itu. Mereka melihat pula pengurus rumah penginapan yang juga tampak memasuki rumah makan dan orang ini mendekati sang perwira dan menudingkan telunjuknya ke arah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu. Mengikuti petunjuk pengurus rumah penginapan, perwira itu segera melangkah lebar menghampiri Thian Liong, diikuti belasan orang anak buahnya. Para tamu rumah makan menjadi ketakutan dan mereka bergegas meninggalkan rumah makan itu setelah cepat-oepat menghentikan makan mereka dan membayar harga makanan di meja pengurus rumah makan. Berdasarkan pengalaman, kalau pasukan datang, tentu terjadi keributan dan mereka tidak ingin tersangkut. Tak lama kemudian, hanya tinggal Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu yang masih tinggal di rumah makan itu. Para pelayan rumah makan juga sudah keluar dan berkumpul di pelataran, menonton dari kejauhan. Biarpun maklum bahwa perwira yang diikuti serombongan perajurit itu menghampiri meja mereka, Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu masih tenang saja. Bahkan Pek Hong Nio-cu dengan sikap acuh mengangkat cangkir air tehnya dan minum. Setelah tiba dekat meja, Thian Liong, perwira yang berusia kurang lebih empatpuluh tahun, tinggi besar dan mukanya brewok, matanya lebar itu memandang kepada Thian Liong lalu bertanya dengan suara parau dan sikapnya kasar.
"Hei, apakah kamu yang bernama Souw Thian Liong?"
Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnys dan merasa tak senang, akan tetapi Thian Liong memberi isyarat kepadanya agar diam, lalu dia sendiri dengan sikap tenang menjawab.
"Benar, aku bernama Souw Thian Liong. Ada apakah, ciang-kun (perwira)?"
"Bagus!"
Perwira itu mencabut pedangnya, diikuti belasan orang anak buahnya yang juga mencabut golok mereka.
"Souw Thian Liong, menyerahlah, kami harus menangkapmu. Jangan melawan agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan!"
Thian Liong masih tetap duduk tenang.
Pek Hong Nio-cu bahkan lebih tenang lagi.
Tanpa memperdulikan pasukan kecil itu yang mengepung dan semua mata ditujukan kepadanya dengan mata penuh marah dan mulut menyeringai kurang ajar, ia menuangkan air teh dari poci memenuhi cangkirnya.
"Aku tidak mempunyai kesalahan apapun, ciangkun. Kenapa engkau hendak menangkap aku? Katakan dulu apa kesalahanku, kalau aku memang bersalah, tentu aku menyerah dengan senang hati untuk kautangkap,"
Kata Thian Liong, tidak menunjukkan rasa penasaran di hatinya dalam ucapan atau sikapnya. Perwira tinggi besar itu tertawa.
"Ha-ha-ha, engkau masih pura-pura bertanya? Engkau adalah seorang buruan pemerintah. Engkau seorang pengkhianat yang menjadi antek kerajaan Kin, tentu engkau hendak memata-matai daerah ini, bukan? Nah, menyerahlah kutangkap dan kuhadapkan kepada jaksa! Dan Nona inipun akan kami tangkap karena ia berada bersamamu, apalagi engkau mengaku bahwa ia adikmu, tentu tersangkut dengan pengkhianatan dan kejahatanmu!"
Perwira itu lalu menoleh kepada anak buahnya.
"Belenggu kedua tangan pengkhianat ini!"
Akan tetapi pada saat itu, Pek Hong Nio-cu sudah menggerakkan cangkir tehnya dan air . teh dari cangkir itu menyiram muka si perwira dengan cepat sekali.
"Ah...... aduh......!"
Perwira itu meraba mukanya yang terasa perih seperti ditusuki jarum dan matanya pedas tersiram air teh yang masih panas! "Serang mereka!"
Bentaknya sambil menggosok-gosok matanya yang belum dapat dibuka.
Belasan orang perajurit itu lalu menerjang maju dan menggerakkan golok mereka menyerang Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu!
"Nio-cu, jangan bunuh orang!"
Thian Liong berseru kepada gadis itu.
Pek Hong Nio-cu menendang meja di depannya.
Meja melayang dan menimpa para perajurit sehingga empat orang kena hantam meja dan roboh.
Dua orang muda itu lalu melompat dan kaki tangan mereka bergerak cepat.
Terdengar teriakan teriakan mengaduh disusul golok beterbangan lepas dari tangan para perajurit dan tubuh mereka berpelantingan menabrak meja kursi dalam ruangan rumah makan itu!
Si perwira yang belum sempat dapat membuka matanya, disambar sebuah kaki mungil Pek Hong Nio-cu.
Tendangan itu mengenai perutnya, terdengar suara berdebuk dan tubuh perwira itu terjengkang dan terbanting ke atas lantai.
Dia mengaduh dan memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa mulas melilit-lilit.
Mungkin usus buntunya kena tendang Pek Hong Nio-cu.
Dua orang muda itu mengamuk dan dengan tamparan dan tendangan, dalam waktu pendek saja belasan orang perajurit itupun sudah dapat mereka robohkan.
"Kita pergi!"
Kata Thian Liong dan mereka berdua cepat meninggalkan rumah makan, kembali ke rumah penginapan, bermaksud mengambil buntalan pakaian mereka.
Akan tetapi ternyata buntalan pakaian itu sudah tidak ada lagi!
Mereka cepat keluar dan Thian Liong sudah menangkap leher baju pengurus rumah penginapan dan membentak.
"Katakan di mana buntalan pakaian kami!"
Dia mengguncang orang itu yang menjadi ketakutan.
"Maaf...... kami...... kami tidak berdaya...... buntalan-buntalan itu telah disita perajurit......!"
"Keparat!"
Pek Hong Nio-cu berseru marah.
"Sudahlah, kita pergi, ambil kuda!"
Mereka berlari ke kandang kuda.
Untung bahwa pedang dan bekal perhiasan Pek Hong Nio-cu tadi dibawa ketika makan sehingga yang tersita hanya pakaian saja.
Setelah tiba di kandang kuda, mereka melihat empat orang perajurit seclang menuntun kuda mereka.
Mereka menjadi marah dan melompat ke depan, merobohkan empat orang perajurit itu dengan mudah lalu keduanya melompat ke atas punggung kuda dan membalapkan kuda mereka keluar dari kota Ciu-siang.
Setelah jauh meninggalkan kota Ciu-siang ke arah timur, menyusuri sungai Yang-ce tiba di kota Ki-bun.
Mereka berhenti di tempat yang sepi di luar kota yang sudah tampak tak jauh di depan, lalu melompat turun dari kuda dan duduk di atas batu di tepi jalan.
Mereka tadi telah membalapkan kuda selama beberapa jam.
Matahari mulai condong ke barat.
Pek Hong Nio-cu menghapus keringat dari dahi dan lehernya, menggunakan sehelai saputangan.
"Ah, aku merasa tidak enak kepadamu, Thian Liong. Agaknya pemerintah Kerajaan Sung telah menganggap engkau menjadi pengkhianat dan menjadi mata mata Kerajaan Kin. Ini tentu akibat engkau membantu kami di sana."
"Tidak perlu merasa begitu, Nio-cu. Aku membantu kerajaan ayahmu untuk menentang pemberontakan di sana, bukan untuk memusuhi kerajaan Sung. Ini tentu fitnah belaka. Akan tetapi sungguh heran, bagaimana mereka bisa tahu?"
Pek Hong Nio-cu tersenyum.
"Aku tahu, Thian Liong. Pasti suhengmu yang jahat itu yang menyebarkan fitnah ini sehingga engkau dicap sebagai buronan pemerintah kerajaan Sung."
"Hemm, kalau benar-benar demikian, sungguh jahat sekali Cia Song. Dia memutar-balikkan kenyataan. Dialah sesungguhnya pengkhianat yang sangat jahat, antek Perdana Menteri Chin Kui. Akan tetapi, aku masih sangsi. Jangan-jangan hanya pembesar di kota Ciu-siang saja yang entah bagaimana memang membenciku."
"Mari kita mencoba lagi. Kita memasuki kota di depan itu, sekalian kita membeli pakaian pengganti karena pakaian kita telah habis disita di kota Ciu-siang."
"Baik, mari kita memasuki kota di depan itu. Kalau tidak salah, itu adalah kota Ki-bun."
"Akan tetapi sebaiknya kalau kuda kita ditinggal di luar kota, Thian Liong. Kalau benar dugaanku bahwa namamu sudah dicap sebagai buronan pemerintah sehingga di kota Ki-bun engkau juga akan dikejar-kejar, kita lebih mudah untuk melarikan diri,"
Kata Pek Hong Nio-cu.
Thian Liong menyetujui usul ini dan mereka menemukan sebuah rumah petani di luar kota.
Mereka lalu menitipkan kuda dan pedang mereka kepada nenek petani pemilik rumah itu, kemudian mereka berdua berjalan memasuki kota Ki bun.
Mereka meninggalkan pedang agar tidak menarik perhatian orang.
Benar saja, mereka memasuki kota Ki-bun dengan aman dan Pek Hong Nio cu mengajak Thian Liong berbelanja pakaian di toko.
Setelah membungkus pakaian mereka dalam buntalan dan mereka gendong di punggung, Thian Liong mengajak Pek Hong Nio-cu pergi ke sebuah rumah penginapan dan dengan sengaja Thian Liong memperkenalkan nama lengkapnya kepada pengurus rumah penginapan.
Mereka lalu makan di rumah makan dan kembali ke rumah penginapan untuk melewatkan malam dalam dua buah kamar yang mereka sewa.
Malam itu, mereka tidur dalam keadaan siap siaga.
Buntalan pakaian sudah dipersiapkan di atas meja dan mereka merebahkan diri dengan pakaian lengkap berikut sepatu agar kalau ada apa-apa mereka dapat cepat melarikan diri membawa buntalan pakaian yang baru mereka beli sore itu.
Mereka menunggu dengan tenang-tenang saja dan dapat tidur pulas walaupun mereka tetap waspada sehingga biarpun tertidur, mereka peka sekali.
Ternyata mereka tidak perlu menunggu terlalu lama.
Seperti yang mereka duga, umpan pancingan Thian Liong berhasil.
Pengurus rumah penginapan itu memang sudah mencatat nama Souw Thian Liong sebagai buronan pemerintah, seperti juga para pengurus semua penginapan.
Begitu mengetahui bahwa tamunya bernama Souw Thian Liong, pengurus penginapan segera melaporkan kepada komandan pasukan keamanan setempat.
Komandan itu segera membawa tigapuluh orang anak buahnya dan pasukan ini mengepung dua kamar di mana Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu berada.
Komandan pasukan lalu menggedor daun pintu kamar Thian Liong.
"Tok-tok-tok! Souw Thian Liong, keluar dan menyerahlah!"
Mendengar gedoran pintu dan teriakan ini, Thian Liong segera menyambar buntalan pakaian dan digendongnya.
Demikian pula yang dilakukan Pek Hong Nio-cu.
Mereka berdua, hampir bersamaan membuka daun pintu dan menerjang keluar.
"Tangkap! Serang mereka!"
Komandan pasukan itu memberi aba-aba.
Tigapuluh orang anak buahnya bergerak dengan golok di tangan.
Akan tetapi, seperti sudah mereka sepakati, Pek Hong Nio-cu dan Thian Liong tidak melayani mereka berkelahi.
Dua orang itu menerjang keluar, merobohkan siapa saja yang menghadang dengan tamparan atau tendangan.
Mereka yang berani menghadang roboh terpelanting dan dua orang muda itu bagaikan dua ekor burung saja lalu melompat jauh ke depan, keluar dari rumah penginapan itu.
Komandan pasukan berteriak-teriak, memberi aba-aba pengejaran dan mereka semua mengejar keluar.
Akan tetapi Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu mempergunakan ilmu berlari cepat dan sebentar saja mereka sudah menghilang dalam kegelapan malam karena bulan belum muncul.
Para pengejar kehilangan jejak dan arah.
Dengan ngawur mereka menggeledahi rumah-rumah sehingga penduduk kota Ki-bun menjadi geger.
Yang dikejar dan dicari sudah berada di luar kota.
Pek Hong Nio-cu memberi hadiah dua potong perak kepada nenek petani itu yang menerimanya dengan gembira sekali.
Dua potong itu baginya merupakan jumlah yang amat banyak.
Nenek janda ini berulang-ulang mengucapkan terima kasih dan merasa heran akan tetapi tidak berani bertanya ketika dua orang tamunya itu malam-malam begitu melanjutkan perjalanan mereka.
Sekarang yakinlah mereka berdua bahwa nama Souw Thian Liong memang sudah disiarkan di semua kota sebagai buruan pemerintah, sebagai pengkhianat yang jahat dan berbahaya!
"Heran sekali!
Kalau benar Cia Song yang melakukan fitnah ini, bagaimana dia dapat menyiarkan fitnah itu ke semua kota, dan bagaimana pula para pembesar setempat percaya akan keterangan palsunya itu?"
Kata Thian Liong ketika mereka berdua melanjutkan perjalanan setelah meninggalkan kota Ki-bun.
"Kenapa heran, Thian Liong? Tentu saja Cia Song tidak menyiarkan fitnah itu oleh dia sendiri. Lupakah bahwa dia adalah antek dari Perdana Menteri Chin Kui yang berkuasa? Tentu dia melaporkan segala hal yang terjadi di kerajaan kami itu kepada Chin Kui dan Chin Kui yang menyebarluaskan fitnah itu melalui para pembesar. Dengan kekuasaan dan pengaruhnya yang besar, tentu saja dia dapat memerintahkan para pembesar untuk menangkapmu. Mungkin juga dia sudah membujuk Kaisar Sung Kao Tsu dengan meyakinkan hati kaisar itu bahwa engkau benar-benar seorang pengkhianat sehingga kaisar sendiri yang mengeluarkan perintah penangkapan atas dirimu."
Thian Liong mengerutkan alisnya dan mengepal tinjunya.
"Ah, alangkah jahatnya Cia Song dan Perdana Menteri Chin Kui!"
"Karena itu, kita harus berhati-hati, Thian Liong. Menurut pendapatku, sebaiknya engkau jangan ke kota raja lebih dulu karena kalau sampai engkau ketahuan memasuki kota raja dan pasukan bergerak untuk menangkapmu, tentu akan berbahaya sekali bagimu. Bagaimana engkau, dibantu olehku sekalipun, akan dapat melawan pasukan besar kota raja, apalagi di sana terdapat banyak jagoan jagoan yang tinggi ilmunya?"
"Hemm, agaknya pendapatmu itu ada benarnya, Nio-cu. Akan tetapi kalau aku tidak pergi ke kota raja, lalu bagaimana aku dapat melakukan tugasku menentang Perdana Menteri Chin Kui? Dan akupun harus mencari Cia Song. Orang itu ternyata jahat dan palsu. Dia adalah seorang pengkhianat Siauw-lim-pai dengan menjadi murid Ali Ahmed datuk sesat itu dan juga telah mengkhianati kerajaan Sung. Malah dia juga membantu pemberontakan di kerajaan Kin. Aku harus menangkapnya dan membawanya ke Siauw-lim-pai agar dia mendapatkan keputusan peradilan di Siauw-lim-pai."
"Akan tetapi, ketika dahulu kita akan ditangkap itu, Cia Song mengatakan bahwa engkau akan ditawan dan dibawa ke Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai untuk menerima hukuman. Apa artinya kata-kata itu?"
"Hemm, aku sendiri juga tidak tahu apa yang dia maksudkan. Aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun terhadap Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai. Akan tetapi aku masih bingung, karena sekarang aku dinyatakan buronan oleh pembesar Kerajaan Sung, lalu bagaimana aku dapat pergi ke kota raja?"
"Kita mencari jalan nanti, Thian Liong. Yang penting, sekarang kita harus menghindari kota-kota besar. Tidak mungkin pejabat kecil di desa sudah mendengar bahwa engkau dinyatakan buron oleh pemerintah. Kita melewati desa-desa saja, dan kita mencoba untuk mencari gadis baju merah yang telah mencuri kitabmu. Nanti kita mencari jalan untuk melakukan penyelidikan di kota raja tentang Chin Kui dan Cia Song. Kurasa untuk menentang Perdana Menteri itu tidak mungkin kaulakukan seorang diri saja. Dia tentu mempunyai banyak pendukung dan pasukan."
Thian Liong mengangguk-angguk.
Diam-diam dia kagum kepada puteri ini.
Ternyata selain lihai ilmu silatnya dan baik budinya, Pek Hong Nio-cu juga berpandangan luas dan agaknya dapat membuat perhitungan dengan teliti.
Masih begitu muda namun agaknya pengertiannya tentang seluk beluk pemerintahan dan lawan-lawannya cukup luas.
"Ah, Nio-cu. Kalau tidak ada engkau yang membantuku, entah apa yang akan kulakukan. Aku sendiri menjadi bingung melihat pemerintah menganggap aku seorang pengkhianat yang harus ditangkap."
"Tenanglah, Thian Liong. Bukankah engkau sendiri yang pernah menasihatiku bahwa orang yang benar dilindungi Tuhan? Setidaknya kita berdua tahu benar bahwa engkau bukan pengkhianat, bukan mata-mata kerajaan Kin, engkau tidak bersalah. Ini semua hanya fitnah yang dilakukan seorang yang jahat, yaitu Cia Song yang dibantu oleh seorang pembesar lalim seperti Chin Kui. Kita akan lawan mereka dan kita harus yakin bahwa akhirnya kita akan dapat mengalahkan mereka."
Bagaimanapun juga keadaan dirinya yang menjadi orang buruan pemerintah tanpa melakukan kesalahan apapun itu membuat Thian Liong menjadi murung.
Dia berhutang budi kepada gurunya dan dia selalu menaati perintah gurunya.
Tiong Lee Cin-jin menyuruh dia menyerahkan kitab-kitab kepada mereka yang berhak.
Perintah pertama ini belum dilaksanakan semua, bahkan mengalami kegagalan karena sebuah kitab milik Kun lun-pai dicuri gadis baju merah dan sampai sekarang dia belum dapat menemukannya kembali untuk diserahkan kepada Kun-lun-pai.
Kemudian, perintah kedua agar dia membela kerajaan dan menentang Perdana Menteri Chin Kui, belum dia laksanakan malah sekarang dia dianggap pengkhianat oleh kerajaan Sung dan menjadi orang buruan yang dikejar-kejar dan hendak ditangkap pemerintah.
Hal ini membuat dia murung dan kecewa kepada diri sendiri.
Dia merasa malu kepada gurunya yang demikian baiknya.
Bahkan ketika dia dan Pek Hong Nio-cu terancam bahaya dan tertawan oleh pemberontak kerajaan Kin, gurunya itu muncul dan menyelamatkannya!
Dia yakin bahwa gurunya yang berilmu tinggi itu pasti sudah tahu akan semua kegagalannya dan hal ini membuat dia merasa malu sekali.
Melihat wajah Thian Liong yang muram dan tidak bahagia, Pek Hong Nio-cu merasa iba.
"Thian Liong, sudah lama sekali, ketika masih kanak-kanak, ibuku bercerita kepadaku tentang keindahan sebuah telaga yang disebutnya See-ouw (Telaga Barat). Aku ingin sekali melihat keindahan telaga itu. Maukah engkau mengajak aku ke sana?"
Ucapan itu dikeluarkan dengan nada suara yang manis dan membujuk sehingga Thian Liong merasa tidak tega untuk menolak.
Maka, mereka mengurungkan perjalanan mereka menuju Lin-an, kota raja Kerajaan Sung Selatan, melainkan membalik, menuju ke arah Telaga Barat.
Sepasang suami isteri yang menunggang kuda, menjalankan kudanya perlahan-lahan menyusuri sepanjang tepi See ouw (Telaga Barat) yang cukup luas itu.
Pagi itu matahari yang baru muncul dari balik bukit, tampak berseri dan cahaya yang masih lembut itu menghangatkan tubuh dan hati kedua orang suami isteri yang menunggang kuda dengan santai itu.
Mereka menikmati keindahan alam pagi hari itu, tidak pernah merasa bosan walaupun sudah bertahun-tahun mereka seringkali melakukan perjalanan seperti itu.
Yang pria berusia sekitar empatpuluh lima tahun, akan tetapi dia tampak lebih tua daripada umurnya.
Rambut di atas kedua telinganya sudah memutih dan ada garis-garis duka pada wajahnya.
Wajahnya biasa saja, tidak terlalu tampan namun tidak pula jelek, akan tetapi pada mata dan mulut itu, juga pada sikap tubuh dan penampilannya, membayangkan kejantanan dan kegagahan.
Sebatang pedang yang berada di pungungnya menambah kegagahannya.
Dia memang seorang yang gagah perkasa, bahkan pernah menjadi komandan Pasukan Halilintar, sebuah pasukan dalam barisan yang dipimpin mendiang Jenderal Gak Hui yang amat terkenal itu.
Pria ini bukan lain adalah Han Si Tiong yang sudah kita kenal dalam bagian awal kisah ini.
Adapun isterinya, yang menunggang kuda di sampingnya, adalah Liang Hong Yi, berusia sekitar tigapuluh delapan tahun.
Wajahnya cantik manis, berbentuk bulat telur, terutama sekali bibirnya yang membuat ia tampak menarik sekali, apa lagi ada tahi lalat di dagu yang menambah kemanisannya.
Juga wanita ini membawa pedang di punggungnya.
Pada awal kisah ini diceritakan betapa Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, duabelas tahun yang lalu, ikut berjuang sebagai bawahan mendiang Jenderal Gak Hui, melawan pasukan-pasukan Kin di perbatasan.
Suami isteri ini dengan Pasukan Halilintarnya membuat kemenangan dan jasa, akan tetapi tiba-tiba saja mendiang Jenderal Gak Hui menerima perintah dari kaisar untuk menarik mundur pasukannya.
Ini adalah akibat dari bujukan Perdana Menteri Chin Kui kepada Kaisar yang menghentikan perang terhadap kerajaan penjajah Kin.
Bahkan kemudian Perdana Menteri Chin Kui berhasil membujuk Kaisar dan menjatuhkan fitnah kepada Jenderal Gak Hui sehingga panglima yang gagah perkasa dan setia ini dihukum mati.
Han Si Tiong dan Liang Hong Yi dalam sebuah pertempuran berhasil menewaskan Pangeran Cu Si, pangeran Kerajaan Kin.
Mereka mengambil pedang bengkok pangeran Kin ini untuk oleh-oleh puterinya, Han Bi Lan, yang ketika itu berusia kurang lebih tujuh tahun dan yang memang memesan kepada ayahnya agar dioleh-olehi pedang bengkok itu.
Akan tetapi ketika mereka berdua pulang ke Lin-an, mereka mendapatkan bahwa Lu-ma, pengasuh Bi Lan, tewas terbunuh orang dan puteri mereka itu lenyap diculik pembunuh itu!
Han Si Tiong dan Liang Hong Yi merantau untuk mencari puteri mereka yang hilang.
Namun semua usaha bertahun-tahun mereka sia-sia.
Dan mereka mendengar betapa Jenderal Gak Hui telah dijatuhi hukuman mati.
Hal ini membuat mereka berduka sekali dan mereka tidak mau kembali ke kota raja, tidak mau mengabdi kepada Kaisar.
Setelah bertahun-tahun mencari puterinya dengan sia-sia, akhirnya mereka tinggal di sebuah dusun Kian-cung dekat Telaga Barat.
Mereka membeli tanah, mendirikan rumah sederhana dan menjadi petani.
Seringkali suami isteri ini menunggang kuda berjalan-jalan di waktu pagi menyusuri tepi telaga.
Tidak ada seorangpun penduduk daerah telaga itu yang mengetahui bahwa Han Si Tiong, yang mereka sebut Han-sicu dan Liang Hong Yi yang mereka sebut Han-toanio adalah suami isteri yang dulu pernah memimpm Pasukan Halilintar yang terkenal.
Para penduduk hanya mengenal mereka sebagai seorang gagah yang memberantas kejahatan di telaga sehingga daerah itu menjadi aman dan tidak ada lagi perampok yang suka mengganggu penduduk pedusunan.
Mereka dihormati semua orang yang tinggal sekitar Telaga Barat.
Pagi itu, seperti biasa, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi berjalan-jalan menunggang kuda di tepi telaga.
Ketika mereka tiba di bagian yang sepi karena daerah itu berhutan yang panjangnya sekitar dua lie (mil) di tepi telaga dan melewati sebuah pohon besar, tiba-tiba kedua ekor kuda tunggangan mereka meringkik dan mengangkat kedua kaki depan ke atas dengan ketakutan.
Han Si Tiong dan Liang Hong Yi cepat melompat turun agar tidak sampai terjatuh dan mereka memegang kendali kuda, berusaha menenangkan kuda mereka.
Akan tetapi pada saat itu, seekor ular kobra melompat dari depan dan dengan cepat sekali, seperti anak panah menyambar, ular itu menggigit kaki kedua ekor kuda itu.
Kuda-kuda itu meringkik keras, meronta sehingga kendali yang dipegang Han Si Tiong dan Liang Hong Yi putus.
Dua ekor kuda itu melompat, akan tetapi baru beberapa tombak jauhnya mereka Iari, mereka lalu roboh terguling dan tewas seketika!
Han Si Tiong dan Liang Hong Yi marah sekali melihat kuda mereka tewas digigit ular kobra.
Mereka mencabut pedang dan bermaksud membunuh ular kobra itu.
Akan tetapi tiba-tiba ular kobra itu melayang ke bawah pohon besar.
Suami isteri itu memandang dan mereka terbelalak kaget dan heran melihat betapa ular kobra itu ditangkap seorang kakek dan setelah berada di tangan kakek itu ular kobra yang tadi menggigit mati dua ekor kuda mereka, kini berubah menjadi sebatang tongkat ular kobra kering!
Suami isteri itu, dengan pedang masih di tangan, memandang kepada kakek itu dengan penuh perhatian.
Kakek itu sudah tua, tentu sudah lebih dari tujuhpuluh tahun usianya.
Rambut, kumis dan jenggotnya yang lebat sudah putih semua.
Kepalanya yang berambut putih itu ditutupi sebuah topi yang biasa dipakai oleh suku bangsa Uigur.
Tubuhnya sedang, agak kurus namun masih membayangkan ketegapan dan kekuatan.
Wajah yang berkumis dan berjenggot lebat itu tampak menyeramkan, terutama karena sepasang matanya liar, bergerak gerak ke kanan kiri dan bersinar tajam dan mengandung kekuatan dan wibawa.
Kakek yang tadinya duduk bersandar batang pohon besar itu kini terkekeh aneh dan bangkit berdiri, bertopang pada tongkatnya yang ternyata merupakan seekor ular kobra kering yang tentu saja sudah mati dan kaku keras.
Sepasang suami isteri itu menatap ke arah tongkat itu dan hati mereka merasa ngeri.
Bagaimana mungkin seekor ular kobra yang sudah mati, kaku dan kering, tiba tiba dapat hidup kembali dan menggigit dua ekor kuda mereka sampai mati keracunan?
Mereka berdua adalah ahli-ahli silat yang pandai, akan tetapi menghadapi peristiwa tadi, mereka maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang ahli sihir yang berbahaya.
Hanya dengan kekuatan sihir saja ular yang mati dapat menyerang seperti ular hidup!
Han Si Tiong maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, maka diapun mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan, diturut oleh isterinya.
"Lo-cianpwe, kami suami isteri merasa heran dan tidak mengerti mengapa lo-cianpwe membunuh dua ekor kuda kami? Apakah kesalahan kami?"
Tanya Han Si Tiong, menahan kemarahannya. Kakek itu terkekeh dan menudingkan tongkatnya ke arah Han Si Tiong lalu memukul-mukulkan tongkat itu ke atas tanah.
"He-he-he! Dia bertanya apa kesalahannya? Kalian adalah Han Si Tiong dan Liang Hong Yi yang duabelas tahun lalu memimpin Pasukan Halilintar di bawah mendiang Jenderal Gak Hui, bukan?"
Karena kakek itu sudah mengetahui hal itu, Han Si Tiong tidak menyangkal lagi.
"Benar, kalau begitu, kenapa?"
Wajah yang tadinya tertawa itu tiba tiba berubah cemberut dan tambah menyeramkan. Sepasang mata itu semakin lebar melotot dan sinarnya berapi-api.
"Han Si Tiong! Engkau dan isterimu membuat hidupku merana selama belasan tahun ini. Engkau mempermalukan aku, membuat aku tampak rendah di mata dunia kang-ouw dan terutama di dalam pandangan Kaisar Kerajaan Kin sehingga aku tidak berani menemuinya. Selama belasan tahun ini kerjaku hanya merantau untuk mencari kalian berdua dan membalas dendam! Hari ini aku dapat bertemu kalian dan memang aku sengaja menghadangmu di tempat sepi ini. Sekarang tiba saatnya bagiku untuk membalas dendam. Kalian harus mati di tanganku!"
Han Si Tiong dan Liang Hong Yi adalah suami isteri gagah perkasa yang pernah maju perang, bahkan menjadi pemimpin dari Pasukan Halilintar, pasukan yang terkenal gagah berani sebagai bagian dari bala tentara yang dulu dipimpin Jenderal Gak Hui.
Mereka berdua sering terancam maut dalam perang melawan pasukan Kin.
Tentu saja mendengar ancaman itu mereka sama sekali tidak merasa gentar.
Bagi bekas pejuang seperti mereka, mati dalam pertempuran bukan hal aneh yang perlu ditakuti.
Akan tetapi mereka merasa penasaran sekali karena mereka sama sekali tidak tahu mengapa kakek ini mendendam kepada mereka, dan mengancam akan membunuh mereka.
Padahal, mereka sama sekali tidak pernah mengenalnya!
"Nanti dulu, lo-cianpwe.
Sebetulnya siapakah lo-cianpwe ini dan apa sebabnya maka lo-cianpwe mendendam kepada kami suami isteri, padahal kami sama sekali tidak kenal dengan lo-cianpwe?
Apa artinya ketika lo-cianpwe mengatakan bahwa kami membuat hidup lo-cianpwe merana selama belasan tahun?
Kami sungguh tidak mengerti dan tidak pernah merasa bermusuhan dengan lo-cianpwe,"
Kata Han Si Tiong dengan suara dan sikap masih menghormat.
"Ha-ha-ha, baik! Kalian memang berhak mengetahui agar jangan mati menjadi setan-setan penasaran. Aku adalah Ouw Kan datuk dari Uigur yang lebih dikenal dengan julukan Toat-beng Coa ong (Raja Ular Pencabut Nyawa)! Aku adalah orang yang dekat dengan Kaisar Kerajaan Kin dan dihormati olehnya. Belasan tahun yang lalu, ketika kalian memimpin Pasukan Halilintar dalam perang di perbatasan, dalam sebuah pertempuran kalian telah membunuh Pangeran Cu Si, putera Kaisar Kerajaan Kin. Nah, Kaisar Kin minta kepadaku untuk mencari kalian yang sudah kembali ke selatan dan membunuh kalian untuk membalas dendam atas kematian Pangeran Cu Si yang kalian bunuh dalam pertempuran."
"Akan tetapi peristiwa itu terjadi dalam perang. Kami tidak membunuh orang karena urusan pribadi. Dalam perang, semua orang hanya melaksanakan tugasnya sebagai perajurit dan pertempuran dalam perang berarti membunuh atau dibunuh. Bagaimana kematian dalam perang bisa mendatangkan dendam pribadi?"
Bantah Han Si Tiong.
"Hemm, yang kalian bunuh itu bukan perajurit biasa, melainkan pangeran, putera Kaisar Kin! Kaisar Kin lalu memanggil aku dan minta kepadaku agar aku membunuh kalian. Akan tetapi ketika aku tiba di rumah kalian, di Lin-an (Hang chouw) kota raja Kerajaan Sung, kalian tidak berada di rumah dan belum kembali dari perbatasan. Yang ada hanyalah puteri kalian, maka aku lalu menculik puteri kalian itu."
"Kakek jahat! Kiranya engkau yang menculik anak kami dan membunuh Lu-ma! Hayo katakan, di mana sekarang Bi Lan anakku!"
Liang Hong Yi berseru marah sekali.
"Aku menculiknya untuk menyerahkan anak itu kepada Kaisar Kin agar dia puas dan boleh melakukan apa saja terhadap anak dari suami isteri yang telah membunuh puteranya. Akan tetapi di tengah perjalanan, anak itu lolos dari tanganku. Hal ini membuat aku merasa malu sekali kepada Kaisar Kin. Aku cepat kembali ke Lin-an, akan tetapi kalian sudah pergi. Peristiwa itu membuat aku merasa malu untuk bertemu Kaisar Kin. Aku selama bertahun-tahun ini merantau ke mana-mana, hanya untuk dapat menemukan kalian dan membunuh kalian agar aku ada muka untuk bertemu dengan Kaisar Kin yang sudah mempercayaiku dan baru hari ini dapat menemukan kalian. Karena itu, bersiaplah kalian umtuk mampus di tanganku!"
"Nanti dulu, Toat-beng Coa-ong!"
Kata Han Si Tiong.
"Sebelum engkau menyerang kami, katakan dulu di mana adanya anak kami itu sekarang!"
Tentu saja datuk itu merasa malu untuk menceritakan bahwa Jit Kong Lhama telah merampas anak itu dari tangannya setelah dia kalah melawan pendeta Lhama dari Tibet yang lihai itu.
"Sudah kukatakan bahwa ia lolos dari tanganku dan aku tidak tahu di mana ia berada. Sambutlah ini! Hyaaaattt......!!"
Toat-beng Coa-ong sudah menyerang dengan tongkat ular kobra kering.
Gerakannya cepat dan kuat bukan main sehingga tongkat itu mengeluarkan suara bersuitan ketika menyambar ke arah Han Si Tiong.
Pendekar ini melompat ke belakang dan mencabut pedangnya.
Liang Hong Yi juga sudah mencabut pedangnya.
Melihat suaminya diserang, ia lalu menggerakkan pedangnya dan menyerang datuk Uigur itu dari samping.
Pedangnya berkelebat membacok ke arah kepala Ouw Kan.
Datuk ini menggerakkan tongkat ularnya dari bawah untuk menangkis sambil mengerahkan senjatanya.
"Singg...... tranggg......!!"
Pedang itu terpental dan Liang Hong Yi melompat ke belakang dengan kaget sekali.
Hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan karena ketika pedangnya tertangkis tongkat ular, telapak tangannya terasa panas dan pedih sekali.
Tahulah ia bahwa kakek itu merupakan lawan yang amat lihai.
Melihat isterinya melompat ke belakang dengan wajah menunjukkan kekagetan, Han Si Tiong cepat melompat ke depan dan menusukkan pedangnya ke arah lambung Ouw Kan.
Namun, datuk itu memutar tubuh ke kanan menghadapi Han Si Tiong.
Tongkat ular kobra itu diputar cepat membentuk gulungan sinar hitam yang menangkis pedang Han Si Tiong yang menyerangnya.
"Cringgg......!"
Kembali terdengar dentingan nyaring ketika dua senjata bertemu dan Han Si Tiong juga merasa betapa tangan kanannya tergetar hebat.
Diapun maklum bahwa kakek itu sungguh lihai dan dalam adu senjata tadi dia mendapat kenyataan bahwa dia kalah kuat dalam hal tenaga sakti.
Maklum bahwa kepandaiannya kalah jauh dibandingkan Ouw Kan, Liang Hong Yi terpaksa tidak berani mendekat, hanya membantu saja suaminya dengan sekali-kali menyerang lawan dari belakang atau samping.
Yang menghadapi Ouw Kan dari depan adalah Han Si Tiong.
Suami isteri itu maklum bahwa mereka berdua tidak akan mampu mengalahkan lawan, akan tetapi mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali melawan dan membela diri mati-matian.
Tidak mungkin melarikan diri dari lawan yang amat tangguh itu.
Han Si Tiong mengeluarkan segala kemampuannya, dibantu oleh Liang Hong Yi, namun setelah lewat limapuluh jurus, perlahan-lahan suami isteri itu terdesak hebat dan agaknya kematian mereka hanya menunggu beberapa saat lagi saja.
Mereka sudah kewalahan dan hanya dapat melindungi diri dengan memutar pedang, sama sekali tidak mampu menyerang lagi.
Keadaan mereka gawat sekali.
Melihat suaminya terdesak hebat, Liang Hong Yi menjadi nekat dan ia menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah lambung Ouw Kan sambil membentak nyaring.
"Haiiiittt......!"
Pedangnya meluncur seperti anak panah terlepas dari busurnya.
Ouw Kan miringkan tubuhnya, tongkatnya menangkis dengan gerakan memutar sehingga pedang itu terpental dan terlepas dari tangan Liang Hong Yi.
Tiba-tiba kaki kiri Ouw Kan mencuat dan menendang ke arah perut wanita itu.
Liang Hong Yi miringkan tubuh mengelak, akan tetapi ujung tongkat Toat-beng Coa-ong Ouw Kan menyerempet pahanya dan wanita itu terpelanting jatuh.
Ouw Kan maju menghantamkan tongkat ularnya.
"Trang......!!"
Pedang di tangan Han Si Tiong menangkis untuk menyelamatkan nyawa isterinya.
Akan tetapi pertemuan dua senjata itu membuat Han Si Tiong terpaksa melepaskan pula pedangnya karena tangannya terasa panas sekali.
Kembali tongkat itu berkelebat untuk membunuh Liang Hong Yi yang masih duduk di atas tanah karena pahanya yang terkena tongkat ular itu terasa panas dan nyeri bukan main.
Melihat berkelebatnya sinar hitam ke arah dadanya, wanita itu tak dapat mengelak lagi dan sudah siap menerima datangnya maut.
"Singgg...... tranggg......!"
Toat-beng Coa ong Ouw Kan terkejut bukan main.
Tangkisan pada tongkatnya itu membuat tongkatnya terpental dan dia melompat jauh ke belakang.
Ketika dia memandang, di sana telah berdiri seorang pemuda yang memegang sebatang pedang dan agaknya pemuda itu yang tadi menangkis tongkatnya dengan pedang yang dipegangnya.
Di samping pemuda itu berdiri seorang gadis yang cantik jelita, yang memandang kepadanya dengan penuh perhatian.
Juga gadis itu membawa sebatang pedang di punggungnya.
Puteri Moguhai memang sengaja menyamar sebagai seorang gadis Han dan karena pedang bengkok sebagai tanda kekuasaan pemberian kaisar itu tidak akan ada gunanya bagi orang-orang di Negeri Sung, maka ia tidak membawanya dan sebagai gantinya ia membawa sebatang pedang biasa untuk melengkapi penyamarannya.
Melihat kakek itu, Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu segera mengenalnya.
Walaupun sudah sepuluh tahun lebih tidak pernah berjumpa, akan tetapi ia masih ingat.
Ketika itu ia baru berusia kurang lebih delapan tahun dan ia sering melihat kakek itu datang berkunjung menghadap ayahnya.
Iapun masih ingat bahwa kakek bangsa Hui itu adalah seorang datuk persilatan yang lihai dan bernama Ouw Kan.
Akan tetapi tentu saja ia tidak mau memperkenalkan diri karena ia sedang menyamar sebagai seorang gadis Han dan pula urusan datuk itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Ketika tadi ia dan Thian Liong datang ke tempat itu dan melihat seorang wanita terancam bahaya maut, Thian Liong segera melompat dan menyelamatkannya dengan menangkis tongkat ular maut itu.
Toat Beng Coa-ong Ouw Kan marah bukan main.
Dengan tongkat ular kobranya, dia menuding ke arah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu lalu membentak marah.
"Hemm, bocah-bocah lancang! Berani betul kalian hendak menentang aku, Toat-beng Coa-ong?"
Kakek itu hendak menggertak dengan nama julukannya yang terdengar menyeramkan dan sudah amat terkenal di dunia kang-ouw itu. Thian Liong menjawab dengan sikap tenang.
"Lo-cianpwe, kami sama sehali tidak menentangmu."
"Tidak menentang? Engkau sudah mencampuri urusanku dan berani menangkis tongkatku dan kaubilang tidak menentang?"
"Maaf, lo-cianpwe. Maksudku bukan menentang, hanya karena melihat ada seorang wanita hendak dibunuh dengan kejam, maka kami tidak mungkin membiarkan saja hal itu terjadi tanpa turun tangan mencegahnya."
"Heh! Berarti kalian berani mencampuri urusanku, menghalangi tindakanku dan itu sama saja dengan menentangku. Karena itu, kalian juga akan mampus bersama mereka berdua, akan tetapi sebelum mati, beritahukan dulu nama kalian agar jangan mati tanpa meninggalkan nama!"
Ouw Kan membentak dengan sikap galak!
Pek Hong Nio-cu tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
Ia hanya tahu bahwa Ouw Kan suka menjadi tamu ayahnya dan hubungan mereka tampak akrab, akan tetapi ketika itu ia masih kecil dan tidak tahu orang macam apa adanya Ouw Kan.
Akan tetapi melihat sikapnya sekarang, ia dapat menduga bahwa Ouw Kan seorang yang berwatak kejam dan sombong.
Maka ia lalu maju dan berkata dengan nyaring.
"Hei, tua bangka sombong! Kamu sudah tua hampir mati tidak mencari jalan yang terang, malah kejam dan sombongnya setengah mati. Apa kaukira nama Raja Ular Pencabut Nyawa itu membikin kami merasa takut ? Bukalah mata dan telingamu lebar-lebar dan dengarkan. Aku bernama Sie Pek Hong dan dia ini bernama Souw Thian Liong. Lebih baik kamu cepat pergi dari sini dan jangan ganggu paman dan bibi ini kalau kamu tidak ingin lebih cepat mampus!"
Thian l.iong sendiri terkejut mendengar kata-kata Pek Hong Nio-cu yang demikian pedas dan menusuk perasaan.
Dia mengenal gadis itu sebagai seorang yang keras hati dan tak mengenal takut, akan tetapi sekali ini, ucapannya sungguh membuat orang menjadi marah sekali dan dia tahu bahwa kakek ini bukan lawan sembarangan melainkan seorang yang sakti.
Akan tetapi karena ucapan itu sudah dikeluarkan, dia diam saja dan hanya dapat menunggu dan melihat reaksi kakek itu.
Juga dia merasa heran mengapa tiba-tiba Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai itu menggunakan nama Sie Pek Hong.
Ouw Kan kini memandang kepada Pek Hong Nio-cu dan bertanya dengan pandang mata penuh selidik.
"Kamu bukan orang selatan. Kamu tentu dari kerajaan Kin di utara! Siapa kamu sebenarnya?"
Pek Hong Nio-cu tersenyum mengejek.
"Tidak perduli aku datang dari mana, dari utara, selatan, barat maupun timur, yang jelas aku benci kepada orang kejam dan sombong macam kamu!"
Ouw Kan yang sudah marah itu kini menjadi semakin geram.
Kemarahannya memuncak karena dia dihina oleh gadis muda itu.
Maka dia cepat mengerahkan kekuatan sihirnya, menudingkan tongkat ular itu ke arah Pek Hong Nio-cu dan terdengar suaranya membentak nyaring penuh wibawa.
"Pek Hong! Aku adalah Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, junjunganmu! Hayo cepat berlutut dan menyembah kepadaku!"
Dalam suara itu terkandung kekuatan sihir yang amat kuat dan Pek Hong Nio-cu tidak mampu bertahan lagi.
Semua perlawanan dalam batinnya seperti lumpuh dan kedua kakinya seperti dipaksa untuk berlutut.
Akan tetapi sebelum ia berlutut di atas tanah, baru bergetar dan bergoyang tubuhnya, terdengar suara Thian Liong memasuki telinganya dan menembus ke dalam batinnya bagaikan secercah sinar memasuki ruangan batinnya yang mendadak gelap tadi.
"Nio-cu, bangkit dan mundurlah!"
Pek Hong Nio-cu sadar kembali dan ia cepat melangkah mundur karena menyadari betapa berbahayanya lawan yang selain tinggi ilmu silatnya, juga memiliki ilmu sihir yang amat kuat itu.
Thian Liong melangkah maju menghadapi Ouw Kan dan mereka berdua saling pandang.
Biarpun mereka berdua hanya berdiri saling berhadapan dan saling berpandangan, namun sesungguhnya terjadi adu kekuatan batin antara kedua orang ini.
Ouw Kan mencoba untuk mempengaruhi pemuda itu melalui pandang matanya, dan Thian Liong melawannya dengar kekuatan batinnya.
Akhirnya Ouw Kan merasa pemuda itu tidak dapat dikuasainya dengan ilmu sihirnya, bahkan tadi pemuda itu telah berhasil melumpuhkan serangan sihirnya yang ditujukan kepada gadis itu.
Karena itu, dia lalu mengerahkan lagi kekuatan batinnya, lalu melemparkan tongkatnya ke atas dan dia berseru kepada Thian Liong.
"Sambut seranganku!"
Tongkat itu melayang ke atas, lalu menukik dan seolah ular kobra itu hidup kembali, meluncur ke arah Thian Liong. Tadi, dengan ilmu ini tongkat itu telah membunuh dua ekor kuda sebelum "terbang"
Kembali ke tangan Ouw Kan.
Serangannya yang masih menggunakan ilmu sihir ini memang berbahaya sekali.
Tadi Ouw Kan tidak mempergunakan ilmu ini menghadapi Han Si Tiong dan Liang Hong Yi karena dia merasa yakin bahwa dua orang itu bukan lawannya dan lebih memuaskan baginya kalau dia membunuh mereka dengan tangannya sendiri, tidak melalui sihir.
Akan tetapi lawannya sekarang, pemuda itu adalah lawan yang tangguh sekali, maka dia hendak mencoba menyerangnya dengan keampuhan tongkat ularnya didorong kekuatan sihirnya.
Thian Liong maklum bahwa serangan tongkat ular itu bukan serangan yang wajar, melainkan mengandung kekuatan sihir.
Oleh karena itu dia maklum bahwa kalau mempergunakan kekerasan dia akan terancam bahaya.
Maka dia lalu mengerahkan tenaga saktinya, dikumpulkan di kedua tangannya lalu dia mendorong ke depan, menyambut luncuran tongkat ular itu sambil berseru nyaring.
"Hyaaaatt...... blarrr......!!"
Tongkat yang berubah menjadi ular hidup itu diterjang gelombang hawa pukulan dahsyat dan terpental ke atas, lalu terjatuh kembali ke tangan Ouw Kan dalam bentuk semula, yaitu seekor ular kobra kering yang menjadi tongkat!
"Keparat busuk, mampuslah!"
Ouw Kan kini yang sudah marah sekali melompat dan menerjang ke arah Thian Liong dengan serangan tongkatnya.
"Tranggg......!"
Kini pedang Pek Hong Nio-cu yang menangkis tongkat itu dan Ouw Kan juga mendapat kenyataan bahwa gadis muda itupun memiliki tenaga yang amat kuat, bahkan dapat mengimbangi tenaganya sendiri!
Begitu menangkis tongkat, pedang di tangan Pek Hong Nio-cu sudah membalik ke bawah menusuk ke arah perut lawan.
Ouw Kan terkejut dan cepat memutar tongkat ularnya ke bawah sehingga kembali pedang dan tongkat beradu sehingga mengeluarkan suara berdencing nyaring.
Ouw Kan kini menyerang dengan tongkatnya, menyambar ke arah kepala gadis itu, dan tangan kirinya juga memukul dengan dorongan ke arah Thian Liong.
Thian Liong menyambut pukulan jarak jauh itu dengan dorongan tangannya sendiri, sedangkan Pek Hong Nio-cu kembali menangkis dengan pedangnya.
"Tranggg......!"
Tubuh Ouw Kan terhuyung oleh dorongan tangan Thian Liong yang menyambut serangannya tadi.
Tentu saja dia kalah kuat, apalagi karena pada saat itu, dia membagi tenaganya, yang kanan memegang tongkat menyerang Pek Hong Nio-cu sedangkan yang kiri menyerang Thian Liong dengan pukulan jarak jauh.
Toat-beng Coa-ong Ouw Kan kini maklum benar bahwa kalau dia nekat melawan dua orang muda remaja ini, dia akan kalah, belum lagi diperhitungkan kalau Han Si T'iong dan Liang Hong Yi membantu dan mengeroyoknya.
Maka, begitu terhuyung, dia sengaja menjatuhkan diri dan bergulingan.
Tangan kirinya mencengkeram tanah dan pasir lalu dia menyambitkan pasir itu ke arah dua orang lawannya.
Thian Liong berseru kepada Pek Hong Nio-cu.
"Nio-cu, awas......!"
Gadis itupun cepat mengelak ketika ada sinar lembut hitam menyambar.
Thian Liong menduga bahwa kakek yang julukannya Raja Ular itu tentu ahli racun dan bukan mustahil kalau pasir yang disambitkannya itu mengandung racun pula.
Ketika dua orang muda yang lihai itu mengelak dengan meloncat ke samping, Ouw Kan lalu meloncat berdiri dan lari secepatya meninggalkan tempat itu.
Pek Hong Nio-cu yang marah kepada kakek itu hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu terdengar suara wanita mengaduh dan Thian Liong tidak jadi mengejar.
"Nio-cu, tidak perlu dikejar, orang itu curang dan licik sekali, berbahaya kalau engkau mengejar seorang diri."
Pek Hong Nio-cu tidak jadi mengejar dan ketika dara ini menengok ia melihat Thian Liong sudah berjongkok di dekat laki laki setengah tua yang merangkul wanita yang mengaduh-aduh itu.
Ternyata sedikit luka di paha Liang Hong Yi itu kini membuat pahanya menghitam dan membengkak dan terasa nyeri dan panas bukan main.
Melihat ini, Thian Liong segera berkata kepada laki-laki itu.
"Paman, biarkan aku mencoba untuk mengobatinya. Luka ini mengandung racun ular yang berbahaya!"
Han Si Tiong mengangguk dan Thian Liong sudah mencabut lagi Thian-liong-kiam lalu berkata kepada Han Si Tiong.
"Harap paman robek saja celana itu di bagian yang terluka."
Dalam keadaan seperti itu, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi tidak memperdulikan tentang kesopanan lagi.
Keadaan yang membahayakan nyawa Liang Hong Yi itu merupakan keadaan darurat, maka Han Si Tiong lalu merobek celana di bagian paha yang terluka.
Lukanya sebetulnya tidak besar, bahkan hanya tergores dan pecah kulitnya sehingga berdarah.
Akan tetapi racun pada tongkat ular kobra itu membuat kulit pahanya berubah menghitam dan membengkak.
Souw Thian Liong lalu mempergunakan pedang Thian-liong-kiam seperti yang diajarkan gurunya.
Dia menggores luka kecil itu sehingga melebar dan mengeluarkan darah menghitam.
Lalu pedang itu ditempelkan pada luka yang berdarah.
Pedang itu memang merupakan benda pusaka yang mengandung daya sedot terhadap racun.
Perlahan-lahan, pedang yang putih bersih itu mulai berubah hitam dan paha itupun perlahan-lahan berubah putih mulus seperti semula.
Ini berarti bahwa hawa beracun itu telah dihisap oleh Thian-liong-kiam (Pedang Naga Langit) yang kini berubah hitam.
Setelah paha yang terluka itu tidak ada tanda hitam lagi, Thian Liong menghentikan pengobatannya.
Han Si Tiong dan Liang Hong Yi merasa girang sekali.
"Ini aku mempunyai obat luka yang manjur sekali. Pakailah ini, bibi,"
Kata Pek Hong Nio-cu sambil membuka sebuah bungkusan obat bubuk putih.
Ketika bubuk putih itu ditaburkan di atas kulit paha yang robek oleh ujung Thian-liong-kiam tadi, Liang Hong Yi merasa betapa luka itu kini sejuk dan rasa nyerinya lenyap sama sekali.
Setelah pengobatan selesai, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi mengucapkan terima kasih kepada Souw Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu.
"Kalau kalian berdua orang-orang muda yang berkepandaian tinggi tidak muncul, tentu sekarang kami berdua sudah menjadi mayat, terbunuh oleh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan itu. Kami berterima kasih sekali kepada kalian yang sudah menyelamatkan nyawa kami."
Kata Han Si Tiong.
"Perkenalkan, Souw-sicu dan Pek-siocia, aku bernama Han Si Tiong dan ini adalah isteriku bernama Liang Hong Yi. Kami tinggal di dusun Kian cung, tak jauh dari telaga ini. Mari, kami mengundang kalian berdua untuk singgah di rumah kami. Di sana kita dapat bicara dengan leluasa."
Thian Liong saling pandang dengan Pek Hong Nio-cu dan pemuda itu melihat kawannya mengangguk.
"Baiklah, paman Han. Kamipun ingin sekali mengetahui akan peristiwa tadi,"
Kata Thian Liong dan dia bersama Pek Hong Nio-cu lalu mengikuti kedua orang suami isteri itu.
Pondok tempat tinggal suami isteri itu berada di tengah dusun Kian-cung dan merupakan pondok yang cukup mungil, dengan taman bunga di sebelah kiri rumah yang terpelihara baik.
Han Si Tiong memberi tahu seorang pembantunya, laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun, agar mengajak beberapa orang tetangga untuk mengubur dua ekor kuda mereka yang mati di dekat telaga.
Kemudian dia dan isterinya mempersilakan dua orang tamu muda itu memasuki ruangan dalam dan mereka duduk mengelilingi meja bundar dari marmer.
Liang Hong Yi lalu menghidangkan arak, akan tetapi karena Thian Liong tidak biasa minum arak, nyonya rumah itu atas permintaan Thian Liong lalu menghidangkan air teh.
"Nah, paman dan bibi, sekarang ceritakanlah tentang penyerangan yang dilakukan Toat-beng Coa-ong Ouw Kan tadi. Mengapa dia hendak membunuh paman dan bibi? Kami ingin sekali mengetahui sebabnya,"
Kata Pek Hong Nio-cu setelah minum secawan arak. Han Si Tiong menghela napas panjang sebelum menjawab.
"Kami sendiri tadinya juga merasa heran. Ketika kami berdua menunggang kuda, berjalan-jalan di sekeliling telaga, tiba-tiba dua ekor kuda kami diserang ular dan roboh mati. Ular itu kembali ke tangan kakek itu dan berubah menjadi tongkat. Kami baru tahu setelah dia memperkenalkan dirinya dan menceritakan mengapa dia hendak membunuh kami. Sebelumnya kami sama sekali tidak pernah mengenalnya dan belum pernah berjumpa dengannya."
"Toat-beng Coa-ong itu adalah seorang datuk suku bangsa Hui yang tinggal jauh di utara, bagaimana dia dapat mendendam kepada paman dan bibi?"
Tanya Pek Hong Nio-cu.
"Peristiwa itu sebenarnya terjadi kurang lebih sebelas tahun lebih yang lalu, Ketika itu kami berdua ikut berjuang memimpin Pasukan Halilintar di bawah mendiang Jenderal Gak Hui. Pasukan kami bertempur melawan pasukan Kin di perbatasan dan dalam sebuah pertempuran, kami berhasil menewaskan seorang pangeran Kin yang bernama Pangeran Cu Si."
"Hemm, begitukah?"
Kata Pek Hong Nio-cu.
Ia masih ingat.
Ketika itu ia berusia kurang lebih delapan tahun.
Pada suatu hari, pasukan membawa pulang jenazah Pangeran Cu Si, kakak tirinya yang tewas dalam perang melawan pasukan Sung.
Seluruh keluarga istana berkabung.
Thian Liong merasa tidak enak mendengar cerita itu karena dia dapat menduga bahwa Pangeran Cu Si itu pasti masih ada hubungan keluarga dengan Pek Hong Nio-cu!
Akan tetapi karena perasaan kedua orang muda itu tidak mengubah sikap dan air muka mereka, Han Si Tiong melanjutkan ceritanya.
"Kami sama sekati tidak mengira bahwa kematian pangeran itu dalam perang telah membuat Raja Kin mendendam kepada kami. Dia menyuruh Ouw Kan tadi untuk mencari kami di Lin-an dan membunuh kami. Akan tetapi ketika dia mendatangi rumah kami, kami masih belum kembali dari perbatasan. Dia lalu menculik anak tunggal kami yang bernama Han Bi Lan, ketika itu ia berusia tujuh tahun, dan membunuh pengasuhnya. Ketika kami pulang, kami terkejut dan sejak itu kami lalu meninggalkan Lin-an, meninggalkan pekerjaan kami sebagai perwira dan kami pergi merantau untuk mencari anak kami yang diculik. Akan tetapi semua usaha kami sia-sia dan akhirnya kami menetap di sini untuk hidup dengan tenang di tempat sunyi ini."
Kembali Han Si Tiong menghentikan ceritanya, karena terkenang kepada puterinya, dia merasa berduka. Melihat suaminya menundukkan muka dengan sedih, Liang Hong Yi lalu melanjutkan cerita suaminya itu.
"Tadi ketika kami berjalan-jalan, kuda kami dibunuh Ouw Kan dan dia memperkenalkan dirinya. Dia bercerita bahwa setelah menculik anak kami itu, di dalam perjalanan anak kami itu lolos dari tangannya. Dia tidak mau menceritakan bagaimana lolosnya dan di mana anak kami sekarang. Dia hanya bilang bahwa karena gagal membunuh kami dan gagal pula membawa anak kami, dia merasa malu kepada Raja Kin dan selama sebelas tahun ini dia mencari-cari kami tanpa hasil. Akhirnya dia menemukan juga tempat ini dan sengaja datang untuk membunuh kami. Begitulah ceritanya."
Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu mendengarkan penuh perhatian.
Setelah suami isteri itu selesai bercerita, Thian Liong diam saja karena dia masih merasa tidak enak terhadap Pek Hong Nio cu.
Gadis itupun sejenak diam saja, lalu berkata, suaranya wajar dan lantang.
"Gugurnya seseorang dalam perang tidak semestinya mendatangkan dendam pribadi! Paman dan bibi hanya menjalankan tugas sebagai perwira dalam perang dan kematian Pangeran Cu Si itu adalah hal yang wajar dan dapat terjadi kepada siapa saja yang maju perang. Tidak perlu disesalkan, apalagi dijadikan dendam pribadi. Dalam hal ini, Raja Kin tidak benar kalau merasa sakit hati dan hendak membalas dendam. Apalagi Ouw Kan itu, dia yang telah menculik puteri paman dan bibi malah kini hendak membunuh, sungguh jahat dan kejam dia!"
Thian Liong merasa lega dan senang sekali hatinya mendengar ucapan Pek Hong Nio-cu.
Sungguh seorang gadis yang berwatak adil dan membela kebenaran dan keadilan!
Setelah mendengar pendapat gadis itu, baru dia berani bicara.
"Paman Han Si Tiong berdua, karena sekarang Toat-beng Coa-ong Ouw Kan sudah mengetahui bahwa paman tinggal di sini, maka keselamatan paman berdua tentu terancam. Bagaimana kalau dia sewaktu-waktu datang lagi dan menyerang paman berdua? Lebih baik paman berdua meninggalkan tempat ini dan pindah ke tempat lain."
Han Si Tiong menghela napas panjang.
"Berpindah-pindah dan selalu bersembunyi ketakutan? Tidak, Souw-sicu. Kami bukan pengecut yang melarikan diri ketakutan dikejar-kejar orang jahat. Kalau dia datang lagi dan menyerang, akan kami hadapi dan lawan mati-matian! Kami sudah menderita sebelas tahun lebih karena kehilangan anak tunggal kami. Kami tidak takut mati!"
"Benar sekali ucapan suamiku. Bi Lan anak kami sudah hilang belasan tahun lamanya, entah masih hidup ataukah sudah mati. Kematian bukan hal menakutkan bagi kami. Akupun tidak mau menjadi pelarian, bersembunyi ketakutan dikejar-kejar iblis itu,"
Kata Liang Hong Yi dengan sikap gagah.
Pek Hong Nio-cu merasa kagum bukan main.
Jelaslah bahwa suami isteri ini benar-benar orang gagah perkasa, pendekar sejati.
Ia lalu pinjam alat tulis dan kain putih kepada Liang Hong Yi, kemudian ia membuat tulisan corat-coret di atas kain putih dan melipat kain itu, menyerahkannya kepada Liang Hong Yi.
"Bibi dan paman memang orang-orang gagah perkasa, membuat aku merasa kagum sekali. Kain bertulis ini harap diperlihatkan kepada Toat-beng Coa-ong kalau dia berani mengganggu lagi. Mudah mudahan melihat kain putih ini, dia takkan berani mengganggu lagi kepada paman berdua."
Suami isteri itu tentu saja merasa heran dan tidak mengerti, akan tetapi mereka merasa tidak enak kalau menolak pemberian penolong mereka.
Mereka berdua hanya memandang saja kepada Pek Hong Nio-cu dengan sinar mata penuh pertanyaan yang tidak berani mereka keluarkan dengan ucapan.
Melihat ini, Thian Liong berkata kepada mereka.
"Paman Han Si Tiong berdua, harap paman terima saja dan simpan pemberian Pek Hong itu. Percayalah kain putih bersurat itu kelak akan berguna sekali dan besar kemungkinannya akan menyelamatkan paman berdua dari ancaman Toat-beng Coa-ong."
Mendengar ucapan pemuda yang amat lihai itu, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi tidak ragu lagi.
"Nona Pek Hong, banyak terima kasih atas segala kebaikanmu."
Pek Hong Nio-cu tersenyum manis.
"Tidak perlu berterima kasih, bibi. Sudah sewajarnya, bukan, kalau kita saling tolong menolong?"
Liang Hong Yi mengamati wajah gadis itu dan menghela napas panjang lalu berkata.
"Aahhh...... kalau saja kami dapat menemukan Bi Lan anak kami, tentu sudah sebesar engkau inilah"""
"Bibi, kami akan membantu mendengar-dengar dalam perjalanan kami, siapa tahu kami akan bertemu dengan puteri bibi dan akan kami beritahukan kepadanya bahwa bibi dan paman tinggal di dusun Kian-cung ini,"
Kata Thian Liong yang merasa iba kepada wanita itu.
Han Si Tiong adalah seorang yang berwatak jujur dan kejujurannya ini menyebabkan dia terkadang bersikap begitu terbuka sehingga dapat mendatangkan kesan kasar.
Sejak kemunculan dua orang muda penolongnya itu, dia merasa heran sekali terhadap gadis itu.
Biarpun wajahnya memang wajah gadis Han yang amat cantik, akan tetapi nada bicaranya asing, jelas menunjukkan bahwa gadis itu datang dari utara.
Selain sikapnya juga begitu pemberani dan berwibawa, juga apa yang diberikannya tadi, sehelai kain bersurat yang katanya dapat mencegah Ouw Kan mengganggu mereka, benar-benar mendatangkan kecurigaan kepadanya.
Bukan merupakan prasangka buruk karena sudah jelas gadis itu menolongnya, akan tetapi kejanggalan itulah yang membuat dia penasaran.
"Terima kasih atas kebaikan sicu (tuan muda gagah) Souw Thian Liong dan siocia (nona) Sie Pek Hong. Setelah kami menceritakan semua riwayat kami, maka kami harap kalian, terutama Nona Sie Pek Hong, suka menceritakan siapa sebetulnya nona ini. Nona Sie, siapakah sebenarnya nona?"
Pek Hong Nio-cu tersenyum.
"Aku adalah Sie Pek Hong, lalu engkau kira aku ini siapa, Paman Han Si Tiong?"
Gadis ini memang suka bergurau dan menggoda orang.
"Han-koko, kenapa engkau mendesak Nona Sie? Apakah engkau mencurigainya? Itu tidak pantas sekali!"
Liang Hong Yi mencela suaminya.
"Aku tidak berprasangka buruk,"
Bantah Han Si Tiong, lalu dia memandang wajah Pek Hong Nio-cu.
"Aku curiga melihat penampilanmu, bicaramu, dan lebih-lebih setelah engkau memberi kain bersurat itu kepada kami untuk diperlihatkan kepada Toat-beng Coa-ong."
"Hemm, lalu menurut paman, siapakah aku ini? Katakan saja, paman, aku juga suka kejujuran dan keterbukaan dan aku tidak akan marah."
"Logat bicaramu jelas menunjukkan bahwa engkau datang dari utara, nona. Penampilanmu, gerak gerik dan cara bicaramu menunjukkan bahwa nona adalah seorang bangsawan. Dan Ouw Kan menurut pengakuannya adalah seorang kepercayaan Kaisar Kin yang tentu saja memiliki kekuasaan besar di kerajaan Kin. Kini, nona meninggalkan tulisan yang akan dapat mencegah Ouw Kan mengganggu kami. Itu berarti bahwa dari tulisan itu Ouw Kan akan mengenal nona dan kalau dia menaati surat nona, berarti nona memiliki kekuasaan yang lebih tinggi daripada dia. Semua kenyataan ini membuat aku mengambil kesimpulan bahwa nona tentu seorang puteri bangsawan tinggi sekali, bahkan aku tidak akan heran kalau nona ini seorang puteri kaisar......"
Liang Hong Yi terkejut dan berseru.
"Ia puteri Kaisar Kin? Kalau begitu...... ia...... ia saudara dari Pangeran Cu Si? Kalau begitu celaka......"
Pek Hong Nio-cu tertawa.
"Hi-hik, jangan khawatir, bibi. Aku tahu siapa yang bersalah dan siapa yang benar. Thian Liong, Paman Han Si Tiong ini hebat sekali. Kupikir tidak perlu merahasiakan diriku di depan mereka. Paman Han Si Tiong dan Bibi Liang Hong Yi, biarlah aku mengaku terus terang sebagai pernyataan kagumku terhadap kecerdikan Paman Han Si Tiong. Semua dugaan paman tadi memang benar. Aku adalah Puteri Moguhai, puteri Kaisar Kerajaan Kin di utara, akan tetapi di luar istana aku terkenal dengan sebutan Pek Hong Nio-cu."
"Ah, kalau begitu maafkan kami. Kami bersikap kurang hormat terhadap Tuan Puteri......"
Liang Hong Yi berseru sambil memberi hormat dengan membungkuk dalam sekali. Han Si Tiong juga memberi hormat, lalu berkata ragu.
"Kalau begitu, paduka adalah saudara dari mendiang Pangeran Cu Si!"
"Akan tetapi aku tidak berpikir sepicik orang lain. Biar ayahku sendiri, aku menganggap beliau itu keliru. Pangeran Cu Si memang kakakku, berlainan ibu. Aku menganggap dia gugur dalam perang membela negara. Dia tewas sebagai seorang patriot. Aku tidak perduli siapa yang membuatnya tewas dalam perang. Tidak ada alasan untuk mempunyai dendam pribadi. Adapun tentang Ouw Kan, aku memang sudah tahu bahwa dia orang yang licik dan kejam. Karena itu, dalam urusannya dengan paman dan bibi, tentu saja aku berpihak kepada paman berdua. Nah, aku sudah bicara secara jujur. Harap paman dan bibi sekarang menganggap aku sebagai Sie Pek Hong sahabat Souw Thian Liong dan tidak menyebut nyebut lagi tentang Puteri Kerajaan Kin."
Han Si Tiong mengangguk-angguk.
"Baiklah, nona Sie, kami akan memenuhi permintaanmu."
Dia lalu menoleh kepada Thian Liong.
"Akan tetapi, Souw-sicu, bagaimana engkau mengajak...... nona Sie ini ke daerah ini? Hal itu tentu saja berbahaya sekali baginya."
"Hemm, bahaya tidak mengancamnya, paman. Bahkan sebaliknya, aku yang terancam bahaya di mana-mana. Aku sekarang menjadi orang buruan pemerintah kita."
"Eh, kenapa begitu sicu?"
Tanya Liang Hong Yi heran.
"Semua ini tentu akal muslihat si jahanam Chin Kui, perdana menteri busuk itu!"
Kata Pek Hong Nio-cu gemas.
"Wah, agaknya kalian dimusuhi oleh Chin Kui? Kalau begitu kita berada di pihak yang sama. Kami juga tidak suka kepada perdana menteri jahat yang telah menyebabkan kematian Jenderal Gak Hui. Kami juga menentang Chin Kui. Akan tetapi bagaimana engkau juga bermusuhan dengan dia, nona?"
"Panjang ceritanya, paman,"
Kata Thian Liong.
Kemudian dia menceritakan tentang pemberontakan Pangeran Hiu Kit Bong di Kerajaan Kin.
Dia sedang berada di sana dan terlibat dalam pembelaan Kerajaan Kin dari usaha pemberontakan Pangeran Hiu Kit Bong.
Pangeran pemberontak itu bersekutu dengan Perdana Menteri Chin Kui yang diwakili oleh Cia Song.
Akhirnya pemberontakan itu dapat dihancurkan.
"Akan tetapi Cia Song dapat melarikan diri dan dia tentu melaporkan kepada Perdana Menteri Chin Kui bahwa saya telah berkhianat kepada Kerajaan Sung dan menjadi kaki tangan Kerajaan Kin. Melihat betapa para pejabat dan perajurit berusaha menangkap saya, maka mudah diduga bahwa Perdana Menteri Chin Kui tentu berhasil membujuk Kaisar untuk mengeluarkan perintah agar saya dijadikan orang buruan dan ditangkap, mati atau hidup. Padahal, saya membantu Kerajaan Kin hanya dalam menghadapi pemberontak yang bersekutu dengan Chin Kui. Demikianlah ceritanya. Kaisar Kerajaan Kin menganggap saya berjasa, maka ketika saya meninggalkan utara untuk menentang Chin Kui, dan Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu menyatakan hendak membantu saya, Raja Kin menyetujui. Nah, itulah sebabnya puteri...... eh, Pek Hong Nio-cu ini sekarang berada di sini. Kami tidak jadi memasuki kota raja setelah beberapa kali kami diserang pasukan kerajaan yang hendak menangkap kami."
"Aih"..! Penasaran sekali! Ini semua tentu gara-gara fitnah yang disebarkan si jahanam Chin Kui, pengkhianat itu! Jangan khawatir, Souw-sicu. Aku akan membantumu. Aku mempunyai banyak kawan seperjuangan di kota raja dan kami semua menentang Chin Kui. Akan kami beberkan semua rahasia jahatnya, bersekongkol dengan pemberontak di Kerajaan Kin dan sekiranya pemberontakan itu berhasil, tentu dia akan mempunyai rencana jahat lainnya.
"Terima kasih, paman. Akan tetapi kami harap paman tidak merepotkan diri karena berarti paman juga terjun ke dalam bahaya,"
Kata Thian Liong.
"Kita sama lihat saja nanti. Yang jelas, kita bersatu hati menyelamatkan Kerajaan Sung dari pengaruh Chin Kui yang amat jahat!"
Kata pula Han Si Tiong.
Setelah menginap satu malam di rumah bekas pemimpin pasukan Halilintar itu, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu meninggalkan dusun Kian-cung.
Setelah matahari naik tinggi, mereka sudah jauh meninggalkan Telaga Barat dan mereka berhenti di bawah pohon tepi jalan yang sepi itu.
Mereka melepaskan lelah, juga memberi kesempatan kepada dua ekor kuda mereka untuk mengaso dan makan rumput.
Ketika berada di rumah Han Si Tiong, pendekar yang memelihara belasan ekor kuda itu memberi mereka dua ekor kuda yang baik sekali sebagai pengganti dua ekor kuda mereka yang sudah kelelahan karena melakukan perjalanan jauh.
"Thian Liong, sekarang kita akan ke mana?"
Tanya Pek Hong Nio-cu sambil menatap wajah Thian Liong yang agak suram.
"Aku sedang memikirkan hal itu baik-baik, Nio-cu. Tugasku sekarang adalah mencari gadis pencuri kitab milik Kun-lun-pai dan membantu Kerajaan Sung agar terlepas dari cengkeraman si jahat Chin Kui. Kiranya akan sukar sekali mencari gadis pakaian merah itu karena kita tidak tahu di mana tempat tinggalnya dan ke mana ia pergi. Maka, tinggal tugas kedua yang paling penting itu, ialah menentang Chin Kui. Untuk itu, aku harus pergi ke kota raja!"
"Akan tetapi engkau menjadi buruan pemerintah, Thian Liong dan kalau engkau ke kota raja, bukankah hal itu sama saja dengan mencari penyakit?"
"Ucapanmu itu memang benar, Nio-cu......"
"Thian Liong, jangan sebut aku Nio-cu di sini. Orang akan menjadi curiga. Sebut saja Pek Hong. Namaku Sie Pek Hong, kau ingat?"
Thian Liong tersenyum.
"Hemm, aku heran bagaimana engkau tiba-tiba memakai she Sie!"
"Ketika memperkenalkan diri kepada Paman Han, aku teringat bahwa aku harus mempunyai she (marga), aku lalu ingat Paman Sie yang amat baik dan yang kuanggap sebagai guruku, maka aku lalu menggunakan nama marganya. Dan aku menggunakan nama julukanku sebagai nama, menjadi Sie Pek Hong. Bagus, bukan?"
"Hemm, bagus sekali nama itu, Nio-cu......"
"Heitt! Lupa, lagi!"
"O ya, biar kusebut kau Hong-moi (adik Hong) saja, bagaimana?"
"Ah, aku senang sekali. Dan aku menyebut engkau Liong-ko, bukankah kita menjadi seperti kakak dan adik?"
"Kakak dan adik seperguruan? Ah, aku masih heran dan bingung memikirkan, Nio...... eh, Hong-moi. Ketika suhu muncul menolong kita, engkau menyebutnya Paman Sie. Siapakah yang salah lihat? Engkau atau aku? Menurut penglihatanku, itu suhu. Jelas sekali. Aku tidak mungkin salah lihat!"
"Dan akupun tidak mungkin salah lihat, Liong-ko. Dia itu jelas Paman Sie yang pernah kulihat di taman istana ketika bertemu dengan ibuku. Dia jelas Paman Sie yang memberi tiga buah kitab dan hiasan rambut ini kepadaku!"
Gadis itu berkata kukuh.
"Hemm, apakah mungkin Paman Sie itu adalah guruku, Tiong Lee Cin-jin yang dijuluki Yok-sian (Tabib Dewa)? Akan tetapi kalau memang keduanya itu satu orang, kenapa ilmu silatmu berbeda dengan ilmu silatku?"
"Liong-ko, engkau sendiri bercerita padaku bahwa gurumu itu menyuruh engkau membagi-bagikan kitab pelajaran ilmu silat kepada partai-partai persilatan......"
"Bukan membagi-bagi, Hong-moi, melainkan kitab-kitab itu yang memang menjadi hak milik partai-partai itu yang kehilangan kitab mereka puluhan tahun yang lalu."
"Itu berarti bahwa gurumu memiliki banyak kitab pelajaran ilmu silat, maka apa anehnya kalau dia juga memberi aku tiga kitab pelajaran ilmu silat yang lain daripada yang diajarkan padamu? Aku hampir yakin bahwa Paman Sie itu juga Tiong Lee Cin-jin gurumu itu!"
"Kemungkinan itu ada saja, Hong-moi, atau ada dua orang yang mirip satu sama lain. Sekarang kita bicara tentang perjalanan kita, Hong-moi. Seperti kukatakan tadi, aku harus pergi ke kota raja. Kalau tidak, bagaimana aku dapat membantu kerajaan agar terbebas dari pengaruh kekuasaan Chin Kui?"
"Akan tetapi engkau sedang dikejar-kejar, Liong-ko! Tentu sebelum engkau dapat memasuki kota raja, engkau sudah dikepung dan ditangkap pasukan pemerintah!"
"Aku dapat menyamar, Hong-moi. Dengan memasang jenggot dan kumis palsu, aku dapat memasuki kota raja. Bagaimanapun juga, hanya namaku yang menjadi buruan pemerintah. Wajahku tidak ada yang mengenal, kecuali tentu saja Cia Song. Mungkin para perwira pasukan hanya mendengar gambaran tentang diriku, maka kalau aku mengubah sedikit wajahku, tentu tidak ada yang mengenalku."
"Hei, kebetulan sekali, Liong-ko. Aku dulu pernah mempelajari merias wajah para pemain panggung. Aku dapat memasang jenggot dan kumis palsu pada wajahmu dan ditanggung tidak dapat dilepas kecuali memakai obatku karena rambut-rambut itu menempel kuat di wajahmu! Akan tetapi kalau kita sudah dapat memasuki kota raja, lalu apa yang akan kaulakukan?"
"Hal itu bagaimana nanti saja kalau kita sudah berhasil memasuki kota raja, Hong-moi."
Mereka lalu memasuki hutan di depan dan di tempat tersembunyi itu Pek Hong merias wajah Thian Liong dengan kumis dan jenggot palsu yang diambil dari ram-but pemuda itu sendiri.
Tak lama kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan kini Thian Liong telah berubah menjadi seorang yang berkumis dan berjenggot, membuat dia tampak lebih tua daripada biasanya.
Mereka menunggang kuda menuju ke arah kota raja Lin-an.
"Engkau harus mengganti namamu, Liong-ko."
"Benar sekali, Hong-moi. Mulai sekarang aku bernama San Lam dengan nama marga Mou."
Pek Hong tersenyum.
"Mou San Lam berarti Putera Gunung Mou? Kenapa memakai nama begitu, Liong-ko?"
"Eh, jangan sebut Liong-ko lagi. Sebut Lam-ko agar tidak terbuka rahasiaku. Ketahuilah, di waktu kecil aku tinggal di lereng Mao-mao-san (Gunung Mao-mao), jadi tepat kalau aku memakai nama Putera Gunung Mou, bukan?"
Pek-Hong tertawa.
"Heh-heh, engkau pandai mencari nama yang tepat, Liong""
Eh, Lam-ko. Mari kita cepat melanjutkan perjalanan."
Mereka lalu membalapkan kuda mereka dan benar saja, setelah Thian Liong mengubah mukanya dan menggunakan nama Mou San Lam, tidak ada yang men-curigainya sampai akhirnya mereka tiba juga di Lin-an, kota raja Kerajaan Sung.
Dua hari setelah Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu pergi meninggalkan rumah mereka, Han Si Tiong dan isterinya, Liang Hong Yi, segera berkemas, membawa bekal pakaian dan uang, lalu keduanya menunggang kuda berangkat menuju ke Lin-an.
Telah hampir duabelas tahun mereka meninggalkan kota raja, maka perjalanan menuju ke Lin-an merupakan perjalanan yang membangkitkan kenangan masa lalu.
Mereka masih, mengenal jalan raya menuju kota raja dengan baik dan diam-diam merasa sedih melihat betapa dusun-dusun bukan saja tidak ada kemajuan.
Rumah-rumah rakyat sama sekali tidak tampak mendapat perbaikan, bahkan di mana-mana mereka mendengar rakyat berkeluh kesah, wajah-wajah para petani yang muram dan hampir setiap orang yang mereka tanyai mengeluh tentang beratnya pajak yang harus mereka bayar.
Hampir setiap kepala dusun menekan dan memeras penduduknya dan kalau Han Si Tiong dan isterinya menyelidiki kepala dusun itu, mereka mendapat kenyataan bahwa kepala dusun itupun ditekan dan diperas oleh atasannya dengan ancaman dicopot kedudukannya kalau mereka itu tidak dapat menyetorkan hasil yang sudah ditentukan banyaknya.
Han Si Tiong maklum bahwa semua ini akibat pemerasan yang dilakukan Perdana Menteri Chin Kui dan para pembesar yang menjadi kaki tangannya.
Dia merasa sedih sekali karena agaknya Kaisar sudah tidak mempunyai wibawa lagi, sehingga semua rakyat membenci Kaisar yang dianggap menindas rakyat dengan peraturan-peraturan yang menekan itu.
Padahal, Han Si Tiong dan isterinya tahu betul bahwa semua peraturan yang menindas rakyat ini adalah buatan Perdana Menteri Chin Kui dan kaki tangannya.
Pajak yang ditentukan oleh Kaisar, yang cukup adil bagi rakyat yang berpenghasilan besar, ditambah sedemiklan rupa oleh Chin Kui, bahkan mereka yang berpenghasilan kurang sekalipun tetap saja dikenakan pajak, dan semua kelebihan yang ditambahkan itu tentu saja masuk kantong Chin Kui dan para pembesar yang menjadi kaki tangannya.
Setelah memasuki kota raja, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi bermalam di sebuah rumah penginapan.
Mereka tidak mencari bekas rumah mereka karena mereka tahu bahwa bekas rumah pemberian pemerintah itu kini tentu ditinggali perwira lain.
Juga mereka belum berkunjung kepada sahabat baik mereka, Kwee-ciangkun (Panglima Kwee) yang menjadi komandan penjaga keamanan kota raja.
Mereka hendak melihat keadaan dulu, baru akan berkunjung ke rumah sahabat baik mereka itu.
Han Si Tiong dan Liang Hong Yi merasa aman.
Sebetulnya mereka berdua sama sekali tidak mempunyai musuh, kecuali tentu saja Chin Kui.
Mereka mendengar bahwa perdana menteri itu amat membenci mendiang Jenderal Gak Hui dan kabarnya malah selalu berusaha untuk membasmi semua pengikut setia jenderal besar itu.
Han Si Tiong merasa sudah berjasa terhadap Kerajaan Sung, maka tidak semestinya kalau dia dan isterinya takut berada di kota raja.
Apa lagi mereka sudah hampir duabelas tahun meninggalkan kota raja.
Dahulu ketika mereka masih memimpin Pasukan Halilintar, maka mereka terkenal dan hampir semua perajurit kerajaan mengenal mereka.
Akan tetapi sekarang siapa yang mengenal mereka?
Wajah mereka telah menjadi lebih tua.
Kalau dulu, duabelas tahun yang lalu wajah Han Si Tiong bersih tanpa kumis atau jenggot, sekarang dia berkumis dan berjenggot.
Juga Liang Hong Yi lebih tua dan sekarang wanita itu agak kurus karena selama bertahun-tahun prihatin memikirkan puterinya yang hilang.
Selama dua hari Han Si Tiong dan Liang Hong Yi mencari keterangan dan mereka mendengar bahwa sahabat baik mereka, Panglima Kwee Gi masih menduduki jabatannya yang lama, yaitu komandan pasukan penjaga keamanan kota raja.
Biarpun di dalam hatinya Kwee-ciangkun ini tidak suka, bahkan membenci Chin Kui seperti banyak pejabat tinggi yang setia kepada Kaisar lainnya, namun dia tidak memperlihatkan sikap tidak suka ini secara berterang sehingga Chin Kui tidak menyangka bahwa Kwee-ciangkun membencinya.
Chin Kui tidak mengganggunya, apa lagi Kwee-ciangkun merupakan panglima yang dipercaya Kaisar karena jasanya sudah banyak sekali.
Setelah mendengar keterangan tentang sahabatnya itu, Han Si Tiong lalu mengajak isterinya untuk pergi mengunjungi sahabatnya itu.
Pada hari ketiga, pagi-pagi mereka keluar dari rumah penginapan dengan jalan kaki, hendak mengunjungi Kwee-ciangkun.
Han Si Tiong dan isterinya sama sekali tidak menyangka bahwa semenjak mereka memasuki kota raja, beberapa pasang mata telah memperhatikan mereka dan beberapa orang telah membayangi dan mengawasi setiap gerak-gerik mereka.
Empat orang ini adalah kaki tangan Perdana Menteri Chin Kui yang memang disebar di seluruh kota raja untuk menyelidiki setiap orang yang memasuki kota raja!
Maka, tidak mengherankan apa bila dalam waktu satu hari saja, Chin Kui sudah mengetahui Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, bekas pimpinan Pasukan Halilintar yang terkenal setia kepada mendiang Jenderal Gak Hui itu kini telah kembali ke kota raja.
Tentu saja dia tidak tinggal diam dan cepat memerintahkan tiga orang jagoannya yang dapat diandalkan, yaitu Hwa Hwa Cin-jin, bekas jagoan guru mendiang Ciang Bun putera mendiang Ciang Sun Bo atau Jenderal Ciang.
Seperti kita ketahui, Jenderal Ciang dan puteranya itu tewas di tangan Han Bi Lan dan Hwa Hwa Cin-jin berhasil lolos.
Lalu tosu sesat ini ditampung oleh Chin Kui.
Selain Hwa Hwa Cin-jin, ada lagi orang kakak adik seperguruan yang menjadi jagoan andalan Perdana Menteri Chin Kui.
Mereka adalah Bu-tek Mo-ko (Iblis Jantan Tanpa Tanding) Teng Sui yang bertubuh tinggi kurus berusia sekitar limapuluh tahun, dan Bu-eng Mo-ko (Iblis jantan Tanpa Bayangan) Gui Kong yang bertubuh pendek gendut.
Mereka bertiga itu mendapat tugas untuk membunuh Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.
Karena Chin Kui juga sudah tahu akan kemampuan ilmu silat suami isteri itu, maka dia merasa yakin bahwa tiga orang jagoannya itu pasti akan dapat membina-sakan mereka.
Dia tidak mau mengirim banyak pasukan, karena hal itu akan me-nimbulkan kegemparan.
Suami isteri itu telah dikenal rakyat dan dahulu nama mereka banyak dipuji-puji, bahkan Kaisar sendiri pernah menyatakan kekaguman-nya kepada suami isteri pimpinan Pasukan Halilintar itu.
Kalau mereka berdua itu dikeroyok pasukan, tentu akan menimbulkan kegemparan.
Suami isteri itu berjalan santai menuju ke rumah gedung tempat tinggal Panglima Kwee Gi.
Ketika mereka tiba di bagian jalan yang sunyi, tiba-tiba mereka melihat tiga orang berdiri menghadang di tengah jalan.
Suami isteri itu memperhatikan dan merasa belum pernah mengenal mereka.
Yang seorang berpakaian seperti seorang tosu.
Jenggotnya panjang dan tubuhnya agak pendek dengan perut gendut.
Mukanya berwarna kekuningan dan mulutnya tersenyum mengejek.
Di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Orang kedua bertubuh jangkung kurus, mukanya seperti tengkorak dan diapun mempunyai sebatang pedang yang digantung di pinggang.
Orang ketiga bertubuh pendek gendut dan membawa golok yang digantung di punggung.
Kakek pertama itu berusia sekitar enampuluh lima tahun sedangkan orang terakhir berusia antara limapuluh dan empatpuluh delapan tahun.
Mereka itu adalah Hwa Hwa Cin-jin, Bu-tek Mo-ko, dan Bu-eng Mo-ko yang sengaja menghadang di jalan sepi itu.
Setelah suami isteri itu melangkah dan tiba di depan mereka, Hwa Hwa Cin-jin menegur sambil tersenyum mengejek dan memandang rendah.
"Bukankah kalian berdua ini suami isteri Han Si Tiong dan Liang Hong Yi?"
Karena tidak menduga buruk, dan memang dia seorang yang jujur, Han Si Tiong menjawab.
"Benar sekali. Totiang (bapak pendeta) siapakah dan ada keperluan apakah sam-wi (anda bertiga) menghadang perjalanan kami?"
Begitu mendengar jawaban itu, tiga orang yang ditugaskan membunuh suami isteri itu segera mencabut senjata mereka dan Hwa Hwa Cin-jin berseru.
"Kalian harus mati di tangan kami!"
Tiga orang itu sudah menyerang dengan cepat dan ganas sekali.
Suami isteri itupun cepat mencabut pedang mereka dan sambil melompat ke belakang mereka menangkis serangan itu.
Liang Hong Yi menangkis pedang Hwa Hwa Cin-jin yang menyambar ke arah lehernya sedangkan Han Si Tiong memutar pedangnya untuk menangkis sambaran pedang dan golok dua orang jagoan yang di dunia kang-ouw dikenal sebagai Siang Mo-ko (Sepasang lblis Jantan).
"Tranggg......! Trangggg!!"
Bunga api berpijar dan suami isteri itu terhuyung ke belakang.
Terutama sekali Liang Hong Yi.
Pertemuan pedang itu hampir saja membuat pedangnya terlepas dan ia merasa betapa telapak tangannya menjadi panas dan pedih sekali.
Hampir saja wanita itu terjengkang, akan tetapi Han Si Tiong yang juga kalah kuat dan terhuyung dan menyambar tangannya dan mencegah isterinya terjatuh.
Tiga orang jagoan itu tertawa senang.
Tadinya mereka khawatir kalau-kalau suami isteri itu memiliki kepandaian yang terlalu kuat bagi mereka sehingga sukar dibunuh.
Akan tetapi ternyata dalam segebrakan saja, suami isteri itu telah terhuyung dan hampir roboh!
Mereka bertiga tertawa dan mendesak lagi.
Suami isteri itu repot sekali berloncatan ke sana-sini menghindarkan diri dan terkadang mereka terpaksa menggunakan pedang menangkis.
Liang Hong Yi jelas bukan lawan Hwa Hwa Cin-jin.
Tingkatnya kalah jauh sehingga ia repot sekali harus menghindarkan diri dari desakan pedang Hwa Hwa Cin-jin yang seolah hendak mempermainkan calon korbannya.
Sementara itu, kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian Han Si Tiong seimbang dengan Bu-tek Mo-ko atau Bu-eng Mo-ko.
Kalau bertanding melawan seorang dari mereka tentu akan ramai sekali dan belum tentu dia kalah.
Akan tetapi dikeroyok dua, dia menjadi kerepotan dan seperti isterinya, diapun hanya mampu mengelak dan menangkis.
"Cringgg...... trak......! Trakk......!"
Suami isteri itu melompat ke belakang dengan wajah berubah pucat. Tiga orang itu tertawa-tawa melihat betapa pedang suami isteri itu telah patah. Mereka siap untuk mengirim serangan maut.
"Tahan!"
Bentak Han Si Tiong.
"Kami bukan orang-orang yang takut mati. Akan tetapi katakan dulu, siapa kalian dan mengapa kalian hendak membunuh kami?"
Tiga orang pembunuh itu saling pandang lalu tertawa bergelak.
Mereka memang dipesan agar jangan memberitahukan hal itu, khawatir kalau didengar orang lain dan mereka yang kagum terhadap suami isteri itu tentu akan merasa tidak senang kalau mendengar bahwa suami isteri itu dibunuh atas perintah Perdana Menteri Chin Kui.
Maka, tiga orang itu hanya tertawa lalu mereka menerjang ke depan untuk mengirim serangan maut dengan senjata mereka kepada suami isteri yang sudah tidak berdaya itu.
Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan nyawa suami isteri itu, tiba tiba tampak dua sosok bayangan berkelebat bagaikan dua ekor burung garuda menyambar.
"Tranggg......! Cringgg"" !!"
Hwa Hwa Cin-jin terkejut bukan main ketika pedangnya terpental karena ditangkis sebatang pedang lain yang gerakannya amat cepat dan kuat sekali.
Dia cepat memandang dan ternyata yang menangkisnya adalah seorang gadis yang cantik jelita dan kini gadis itu berdiri di depannya dengan pedang di tangan kanan.
Sementara itu, Siang Mo-ko juga terkejut bukan main karena senjata mereka bertemu dengan pedang yang demikian kuat dan tajam sehingga ketika mereka melihat, ujung pedang Bu-tek Mo ko dan ujung golok Bu-eng Mo-ko telah rompal!
Sementara itu, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi girang bukan main ketika pada saat kematian sudah di depan mata, ada dua orang penolong muncul dan menangkis serangan maut tiga orang lawan mereka itu.
Mereka berdua segera mengenal gadis yang mengaku bernama Sie Pek Hong namun sesungguhnya puteri Kaisar Kin itu, yang muncul bersama seorang laki-laki berkumis dan berjenggot tebal.
Akan tetapi ketika mereka melihat dengan penuh perhatian, mereka segera mengenal bahwa orang berkumis dan berjenggot itu bukan lain adalah Thian Liong.
Tentu saja mereka menjadi girang sekali, akan tetapi melihat betapa pemuda itu menyamar, mereka tidak mau memanggil namanya.
Sementara itu, Pek Hong Nio-cu yang sudah marah sekali, tanpa banyak cakap lagi sudah bergerak ke depan, menerjang Hwa Hwa Cin-jin dengan serangan pedangnya.
Juga Thian Liong sudah memutar pedangnya menyerang dua orang Siang Mo-ko.
Serangan Thian Liong demikian hebatnya sehingga terdengar suara berdencing nyaring ketika dua orang itu menangkis pedang Thian-liong-kiam.
"Cringggg......!"
Dua orang itu terhuyung dan kini pedang dan golok mereka patah di bagian tengahnya.
Dua kali Thian Liong menendang dan dua orang kakak beradik seperguruan itu tak mampu menghindarkan diri lagi sehingga mereka terguling roboh.
Mereka merangkak bangun dan melihat betapa Hwa Hwa Cin jin juga repot menghadapi serangan gadis cantik itu, mereka berdua segera berseru.
"Cin-jin, lari! Kita mencari bantuan!"
Mendengar ini.
Hwa Hwa Cin-jin maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali, maka diapun melarikan diri bersama dua orang Siang Mo-ko untuk mencari bantuan.
Melihat tiga orang itu melarikan diri dan berteriak bahwa mereka akan mencari bala bantuan, Han Si Tiong berbisik kepada isterinya.
"Cepat ajak mereka lari ke rumah Kwee-ciangkun!"
Liang Hong Yi maklum akan maksud suaminya.
Mereka lari menghampiri dua orang muda itu dan Han Si Tiong memegang tangan Tian Liong sedangkan Liang Hong Yi memegang tangan Pek Hong, lalu menarik mereka untuk cepat berlari memasuki lorong kecil.
"Cepat lari bersama kami sebelum mereka kembali membawa pasukan!"
Thian Liong dan Pek Hong maklum akan maksud mereka dan menurut saja.
Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah pintu kecil yang merupakan pintu belakang gedung tempat tinggal Panglima Kwee Gi.
Pintu kecil ini merupakan pintu untuk para pelayan kalau hendak bepergian ke luar gedung untuk suatu keperluan.
Han Si Tiong dan isterinya masih hapal akan keadaan rumah ini, maka tanpa ragu-ragu mereka memasuki pintu kecil itu dan menutupkannya kembali.
Dua orang pelayan wanita yang berada di bagian belakang rumah itu terkejut sekali melihat masuknya empat orang dari pintu itu.
Mereka hendak menjerit, akan tetapi cepat sekali Pek Hong dan Liang Hong Yi menangkap dan menutup mulut mereka dengan tangan.
"Jangan berteriak! Kami bukan orang jahat. Kami adalah sahabat Kwee-ciangkun yang membutuhkan perlindungan karena dikejar orang-orangnya Perdana Menteri Chin Kui. Cepat bawa kami ke dalam bertemu dengan Kwee-ciangkun atau Kwee-hujin (Nyonya Kwee}!"
Kata Liang Hong Yi. Dua orang pembantu itu masih ketakutan. Pada saat itu dari dalam muncul seorang pemuda yang tinggi besar dan tampan, berusia sekitar duapuluh tahun.
"He, ada apa ini? Siapa kalian berempat?"
Pemuda yang bukan lain adalah Kwee Cun Ki itu membentak dan meraba gagang pedangnya.
"Kwee-kongcu...... mereka ini menerobos masuk...... mengaku sahabat Thai-ciangkun (panglima besar)......"
Seorang di antara dua pelayan itu berkata gagap. Mendengar ini Han Si Tiong cepat berkata.
"Ah, Kwee-kongcu? Engkau ini tentu Kwee Cun Ki, bukan?"
Liang Hong Yi juga berseru girang.
"Benar, dia pasti Cun Ki! Cun Ki, lupakah engkau kepada kami? Ini adalah pamanmu Han Si Tiong dan aku"""
"Ah, engkau bibi Liang Hong Yi! Paman Han, bagaimana saya dapat mengenal paman kalau sekarang berjenggot dan berkumis seperti ini?"
Cun Ki berseru girang, lalu memandang kepada Thian Liong dan Pek Hong.
"Dan mereka ini siapa, paman?"
"Cun Ki, nanti saja kita bicara dan kuperkenalkan. Sekarang cepat ajak kami menemui ayah ibumu. Kami dikejar-kejar kaki tangan Chin Kui!"
"Ah, marilah, paman!"
Kata pemuda itu dan dia mendahului mereka memasuki gedung meninggalkan para pembantu rumah tangga yang merasa lega bahwa tuan muda mereka mengenal baik para pendatang itu.
Kebetulan sekali Panglima Kwee Gi dan isterinya berada di rumah.
Mereka sedang duduk di ruangan dalam ketika tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan putera mereka, Kwee Cun Ki menerobos masuk diikuti empat orang asing.
Kwee-ciangkun bangkit berdiri dengan terkejut dan heran.
Dia tidak segera mengenal sahabat baiknya itu.
"Ayah, ibu, lihat siapa yang datang berkunjung! Paman Han Si Tiong dan bibi Liang Hong Yi!"
Barulah suami isteri itu mengenali suami isteri yang menjadi sahabat baik mereka dan yang sudah belasan tahun tidak pernah mereka temui dan tidak mereka ketahui di mana tempat tinggalnya itu.
"Han-siauwte (adik Han)......!"
"Kwee-twako (kakak Kwee)......!"
Dua orang sahabat itu saling menghampiri dan mereka segera berangkulan.
Juga Liang Hong Yi berangkulan dengan nyonya Kwee.
Setelah menumpahkan rasa rindu dan girang hati mereka, empat orang tamu itu dipersilakan duduk.
"Han-siauwte, siapakah orang muda dan nona ini?"
Tanya Kwee-ciangkun sambil memandang kepada Thian Liong dan Pek Hong.
"Nanti dulu, Kwee-twako. Sebelumnya ketahuilah bahwa kami berempat tadi diserang oleh orang-orangnya Chin Kui. Mereka lari memanggil bala bantuan dan kami cepat melarikan diri ke sini! Mungkin mereka akan mengejar dan mencari sampai ke sini!"
Kwee-ciangkun mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk.
"Jangan khawatir, Han-siauwte. Kalian bersembunyilah dalam ruangan rahasia, biar diantar oleh isteriku. Aku akan keluar untuk menemui mereka!"
Kwee-hujin (Nyonya Kwee) lalu mengajak empat orang itu ke ruangan belakang.
Di dekat dapur, nyonya itu menggerakkan sebuah patung yang berada di atas meja dan dinding ruangan itu tiba-tiba terangkat naik dan mereka lalu memasuki pintu rahasia itu.
Setelah tiba di dalam, dinding itu menutup kembali.
Ternyata ruangan di balik dinding ini cukup luas dan Kwee-hujin mempersilakan empat orang itu duduk mengelilingi sebuah meja besar dan iapun bercakap-cakap dengan Liang Hong Yi.
Sementara itu Kwee-ciangkun keluar dari gedung dan dia bertemu dengan pasukan yang dipimpin Hwa Hwa Cin-jin dan Siang Mo-ko.
Dia mengenal tiga orang ini sebagai jagoan-jagoan Perdana Menteri Chin Kui.
"Eh, Totiang hendak ke manakah membawa pasukan ini?"
Tanya Kwee-ciangkun.
Para jagoan Perdana Menteri Chin Kui itu mempunyai tugas rahasia dan tentu saja mereka tidak ingin tugas itu diketahui oleh orang lain, apalagi diketahui seorang panglima kerajaan.
"Kami diutus Chin-taijin (Pembesar Chin) untuk mencari penjahat-penjahat. Mereka merupakan dua pasang lelaki perempuan yang masih muda dan setengah tua. Kalau anak buah Kwee-ciangkun ada yang melihatnya, harap cepat memberitahukan kami,"
Jawab Hwa Hwa Cin-jin.
"Ah, begitukah? Baik totiang, akan kupesan kepada anak buahku!"
Mereka berpisah.
Pasukan itu melanjutkan pencarian mereka dan Kwee-ciangkun kembali ke rumahnya.
Setelah tiba di rumah, cepat dia memasuki ruangan rahasia itu di mana isteri dan empat orang tamunya telah menunggu.
"Benar saja, Han-siauwte. Tiga orang jagoan kaki tangan Chin Kui itu membawa tiga losin orang perajurit mencari kalian berempat. Sebaiknya kalian berdiam di sini dan jangan keluar sampai keadaan di luar aman."
Setelah Kwee-ciangkun duduk menghadapi meja, Han Si Tiong memperkenalkan.
"Twako perkenalkan. Pemuda ini bernama Souw Thian Liong dan nona ini bernama...... Sie Pek Hong. Mereka berdua sehaluan dengan kita, menentang kelaliman Chin Kui. Tadi kami berdua diserang oleh tiga orang jagoan kaki tangan Chin Kui itu. Kami nyaris celaka. Untung muncul mereka berdua ini sehingga para penyerang itu melarikan diri. Sebelum mereka kembali membawa pasukan, aku mengajak mereka lari ke sini."
Setelah berkata demikian, Han Si Tiong menoleh kepada Thian Liong dan Pek Hong.
"Souw-sicu dan Sie-siocia, perkenalkan. Tuan rumah kita ini adalah Panglima Kwee Gi dan Nyonya Kwee, dan pemuda gagah ini adalah putera mereka, Kwee Cun Ki."
Thian Liong mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat, diikuti oleh Pek Hong.
"Maafkan kalau kami berdua mengganggu ketenteraman keluarga ciang-kun,"
Kata Thian Liong dengan sikap hormat.
"Ah, sama sekali tidak mengganggu, Souw-sicu,"
Kata Kwee-ciangkun yang lalu memandang kepada Han Si Tiong.
"Han-siauwte, bagaimana asal mulanya maka engkau dan isterimu, setelah menghilang selama belasan tahun, tiba-tiba muncul di kota raja dan diserang oleh kaki tangan Perdana Menteri Chin Kui?"
"Ceritanya panjang, twako,"
Han Si Tiong mulai bercerita.
"Twako berdua tentu tahu bahwa semenjak pulang dari perbatasan dan mendapat kenyataan betapa bibi Lu-ma terbunuh dan anak kami diculik orang, kami meletakkan jabatan dan meninggalkan kota raja. Selama bertahun-tahun kami mencoba untuk mencari anak kami, namun semua usaha kami sia-sia sehingga akhirnya kami tinggal di tempat sunyi, di sebuah dusun dekat See-ouw (Telaga Barat). Kami sudah putus asa untuk dapat menemukan Bi Lan, anak kami yang hilang itu"""
"Kami tidak tahu apakah anak kami itu masih hidup ataukah......"
Sambung Liang Hong Yi dengan suara gemetar karena sedihnya.
"Paman dan bibi! Adik Han Bi Lan masih hidup!"
Tiba-tiba Cun Ki berseru, nada suaranya gembira.
Dua pasang mata itu terbelalak.
Han Si Tiong dan Liang Hong Yi bangkit berdiri dengan wajah berubah merah.
Air mata bercucuran dari kedua mata Liang Hong Yi dan sepasang mata Han Si Tiong juga menjadi basah.
"Cun Ki, apa...... apa...... maksudmu......?"
Tanya Han Si Tiong gagap, seolah tidak percaya akan apa yang didengarnya tadi.
"Cun Ki berkata benar, siauw-te. Bi Lan masih hidup, sehat bahkan kini ia menjadi seorang gadis yang lihai sekali!"
Kata Kwee-ciangkun.
Han Si Tiong melompat dan memegang kedua lengan sahabatnya dengan erat, sedangkan Liang Hong Yi sudah menubruk dan merangkul Nyonya Kwee sambil menangis sesenggukan.
Rasa bahagia yang terlalu besar memukul perasaan mereka, mendatangkan keharuan yang mendalam.
"Ceritakan, twako, ceritakan tentang Bi Lan!"
"Tolong, Kwee-twako...... cepat katakan ...... di mana anakku Bi Lan sekarang......?"
Kata pula Liang Hong Yi di antara tangisnya. Pek Hong bangkit dan menghampiri Liang Hong Yi yang masih merangkul nyonya Kwee sambil menangis. Dengan lembut ia menarik pundak wanita yang menangis itu.
"Tenangkanlah hatimu, bibi."
"Benar, paman Han dan bibi, harap tenang dan duduklah. Tentu Kwee-ciangkun akan segera menceritakan tentang puteri paman dan bibi itu,"
Kata pula Thian Liong. Suami isteri itu menyadari keadaan mereka. Mereka duduk kembali dan Han Si Tiong berkata.
"Twako dan so-so (isteri kakak), maafkanlah kelemahan kami."
Kwee Gi tersenyum.
"Tidak mengapa, siauw-te, kami dapat memaklumi perasaan kalian yang dilanda kegirangan dan keharuan. Kurang lebih dua bulan yang lalu, puteri kalian Han Bi Lan memang datang di kota raja ini dan ia sempat membikin geger kota raja."
"Apa yang telah dilakukan anakku, Kwee-twako?"
Tanya Liang Hong Yi.
"Ia datang ke kota raja untuk mencari kalian di rumah kalian yang dulu. Akan tetapi rumah itu kini telah menjadi tempat kediaman Jenderal Ciang Sun Bo dan ketika Bi Lan datang berkunjung, Jenderal Ciang mengaku sebagai sahabat kalian dan menerima Bi Lan dengan ramah."
"Huh, mana mungkin Jenderal Ciang yang jahat itu menjadi sahabat kami? Dia bohong!"
Kata Liang Hong Yi gemas.
"Memang dia berbohong, akan tetapi tentu saja Bi Lan tidak tahu akan hal itu, maka dia menerima dengan senang hati ketika keluarga Ciang itu menjamunya dengan pesta makan. Ketika makan minum, mereka menaruh racun ke dalam anggurnya untuk membuat Bi Lan terbius dan pingsan......"
"Jahanam! Kubunuh itu Jenderal Ciang keparat!"
Liang Hong Yi membentak dan mengepal tinju. Pek Hong tersenyum geli. Nyonya itu wataknya seperti ia, paling benci melihat kelicikan orang.
"Harap bibi tenang karena melihat wajah Kwee-ciangkun, kukira akhir ceritanya tidak begitu mengkhawatirkan."
Kwee Gi tersenyum.
"Penglihatan Nona Sie tajam sekali. Memang benar, harap Han-siauwte berdua tidak menjadi gelisah dulu. Bi Lan tidak akan dapat bertemu dengan kami kalau dia sampai celaka di tangan mereka. Ia memang jatuh pingsan dan ia sempat dipondong oleh Ciang Ban ke dalam kamarnya. Akan tetapi Bi Lan ternyata cerdik bukan main. Ia telah merasa curiga, maka ia hanya pura-pura saja pingsan. Ia murid seorang ahli racun, maka ia tentu saja tidak mudah diracuni orang. Setelah tiba di kamar, melihat Ciang Ban bermaksud keji kepadanya, ia lalu membunuh Ciang Ban. Jenderal Ciang Sun Bo dan Lui-ciangkun, pembantunya yang mengeroyok Bi Lan, dibunuh pula oleh puteri kalian itu, dan Hwa Hwa Cin-jin berhasil lolos."
"Hebat! Bagus sekali. Ah, Bi Lan anakku......!"
Liang Hong Yi berseru dan ia menangis lagi, penuh kegembiraan dan kebanggaan!
Juga Han Si Tiong meneteskan air mata karena girang dan bangga.
Sama sekali tak pernah dibayangkan bahwa puteri mereka, anak tunggal mereka yang hilang itu, kini masih hidup dan menjadi seorang pendekar wanita yang amat lihai!
"Bi Lan lalu dikepung banyak perajurit.
Ia mengamuk dan merobohkan banyak perajurit dan lolos dari rumah Jenderal Ciang.
Ia dikejar banyak perajurit dan sebentar saja pasukan dikerahkan untuk mengejarnya.
Aku mendengar dari para penyelidikku bahwa yang membunuh Jenderal Ciang dan puteranya, juga membunuh Perwira Lui To dan banyak perajurit, adalah Han Bi Lan, puteri kalian.
Mendengar ini, aku terkejut dan cepat aku keluar.
Beruntung sekali aku bertemu dengan Bi Lan di lorong sepi dan aku segera memperkenalkan diri dan mengajaknya sembunyi di rumah kami ini."
"Ah, lagi-lagi engkau yang telah menolong, twako. Pertama engkau menyelamatkan Bi Lan dan hari ini engkau menyelamatkan kami!"
Kata Han Si Tiong terharu.
"Hemm, itulah gunanya persahabatan, siauwte. Kalau bukan sahabat yang saling menolong, lalu siapa? Biar kulanjutkan ceritaku tentang Bi Lan. Ia bersembunyi di sini selama seminggu dan selama itu ia menceritakan semua pengalamannya sejak ia diculik oleh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan. Ouw Kan datang ke rumah kalian di sini lalu membunuh Lu-ma dan menculik Bi Lan. Di tengah perjalanannya melarikan Bi Lan, Ouw Kan bertemu dengan Jit Kong Lhama, datuk persilatan dari Tibet dan pendeta Lhama ini merampas Bi Lan setelah mengalahkan Ouw Kan. Sejak saat itu, Bi Lan menjadi murid Jit Kong Lhama sampai sebelas tahun lamanya. Ia mempelajari ilmu-ilmu silat, sihir dan juga tentang racun dari Jit Kong Lhama sehingga menjadi lihai sekali. Ia tinggal selama itu di sebuah puncak dari pegunungan Kun-lun-san dan katanya akhir-akhir ini iapun menjadi murid Kun-lun-pai."
"Ahh, anak kita menjadi seorang yang lihai! Terima kasih kepada Thian (Tuhan) ......!"
Kata Liang Hong Yi.
"Akan tetapi ke manakah Bi Lan pergi setelah meninggalkan rumahmu ini, twako?"
Tanya Han Si Tiong. Kwee Gi menghela napas panjang.
"Kami tidak tahu, siauw-te. Kami menyelundupkan ia keluar kota raja setelah tinggal di sini selama satu minggu. Ia tidak mengatakan ke mana akan pergi. Sebetulnya kami bermaksud menahannya di sini karena kami mempunyai niat untuk...... menjodohkan Bi Lan dengan putera kami Cun Ki ini."
"Ohhh...... kami akan senang sekali dan setuju sekali!"
Seru Liang Hong Yi.
"Ya, tentu saja kalau Bi Lan juga menyetujui,"
Sambung Han Si Tiong sambil memandang kepada Kwee Cun Ki.
Pemuda ini tampan dan tampak gagah perkasa, cukup membanggakan kalau dapat menjadi mantu.
Mendengar percakapan tentang perjodohannya dengan Bi Lan, gadis yang dikaguminya dan yang membangkitkan rasa cintanya itu, Cun Ki hanya tersenyum, dalam hatinya merasa girang mendengar betapa ayah ibu Bi Lan tidak keberatan kalau dia berjodoh dengan Bi Lan.
Bahkan ibu gadis itu menyetujui.
"Nah, sekarang ceritakan kepada kami tentang perjalananmu sampai ke sini, Han-siauwte,"
Tanya Kwee Gi. Han Si Tiong memandang kepada Thian Liong dan Pek Hong, lalu menjawab.
"Kwee-twako, sebetulnya kedetangan kami berdua di kota raja ini erat hubungannya dengan dua orang muda, Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong ini. Belum lama ini, tempat tinggal kami diketahui oleh Toat-beng Coa-ong Ouw Kan, datuk yang membunuh Bibi Lu-ma dan menculik Bi Lan itu. Karena dia gagal membunuh kami, bahkan gagal pula menculik Bi Lan, dia malu bertemu dengan Kaisar Kin yang mengutusnya membunuh kami. Kaisar Kin merasa sakit hati mendengar betapa puteranya, Pangeran Cu Si, tewas oleh kami dalam pertempuran di perbatasan dahulu. Maka, Ouw Kan selama ini terus mencari kami dan akhirnya dia menemukan kami di dekat Telaga Barat. Kami nyaris tewas oleh datuk yang amat sakti itu, akan tetapi kebetulan Souw-sicu dan Sie-siocia ini muncul dan menolong kami, mengusir Ouw Kan yang melarikan diri. Kemudian kami saling bercerita dan kami berdua mendengar bahwa Souw-sicu sedang dikejar-kejar pasukan kerajaan yang harus menangkap atau membunuhnya karena dia dituduh sebagai seorang pengkhianat yang menjadi kaki tangan Kerajaan Kin. Padahal dia sama sekali tidak berkhianat, bahkan dia hendak menentang Perdana Menteri Chin Kui. Tentu Chin Kui yang melempar fitnah dan membujuk Sri Baginda agar mengeluarkan perintah menangkap Souw-sicu dengan tuduhan pengkhianat. Nah, karena kami yakin bahwa dia bukan pengkhianat, maka kami sengaja datang ke sini untuk minta bantuan twako mencari jalan untuk menyakinkan Sri Baginda bahwa Souw Thian Liong bukan pengkhianat dan tidak menjadi kaki tangan Kerajaan Kin seperti yang dituduhkan."
Panglima Kwee Gi kini memandang kepada Souw Thian Liong dan Sie Pek Hong bergantian dengan sinar mata penuh selidik.
"Souw-sicu dan Sie-siocia, kami tidak mengenal kalian, akan tetapi setelah mendengar cerita Han-siauwte kami percaya sepenuhnya kepada kalian berdua. Kalau sekiranya kami dapat membantumu agar terlepas dari tuduhan itu, kami akan senang sekali membantu. Akan tetapi tentu saja kami harus mendengar penjelasan darimu apa yang sebenarnya telah terjadi sehingga kalian dituduh sebagai pengkhianat dan kaki tangan Kerajaan Kin."
Thian Liong mengerutkan alisnya.
Diapun belum mengenal orang macam apa adanya Kwee Gi ini, maka dia menoleh dan memandang kepada Han Si Tiong dengan sinar mata bertanya.
Han Si Tiong dapat memaklumi perasaan pemuda itu, maka diapun berkata.
"Souw-sicu, engkau dan nona Sie telah mempercayai kami suami isteri dan kalau kalian kini mempercayai Panglima Kwee Gi, kami yang menanggung bahwa kepercayaanmu itu tidak keliru."
Mendengar ucapan Han Si Tiong itu, Thian Liong kini memandang kepada Sie Pek Hong. Gadis ini tersenyum dan berkata.
"Liong-ko, aku juga dapat melihat dan merasa bahwa Paman Kwee Gi adalah seorang yang baik dan bijaksana, aku tidak keberatan kalau engkau menceritakan segalanya kepadanya."
Lega hati Thian Liong mendengar ini. Dia lalu memandang kepada Panglima Kwee dan berkata.
"Kwee-ciangkun......"
"Nanti dulu, tadi nona ini sudah memberi contoh baik, menyebut Paman Kwee kepadaku. Sebaiknya engkaupun menyebut kami paman dan bibi saja, Souw Thian Liong."
Senang hati Thian Liong melihat sikap dan mendengar ucapan yang ramah itu.
"Baiklah, Paman Kwee. Saya akan berterus terang kepada paman dan bibi, seperti kami juga telah berterus terang kepada Paman dan Bibi Han. Semula, saya melakukan perjalanan ke utara untuk ......"
Dia berhenti karena dia tidak tahu atau belum ingin menceritakan bahwa dia mencari gadis pencuri kitab yang kini dia ketahui adalah Han Bi Lan, puteri Han Si Tiong.
Tidak enak rasanya terhadap suami isteri Han itu kalau dia menceritakan bahwa anak gadis mereka adalah seorang pencuri!
"Maksud saya......
saya melakukan perjalanan merantau ke utara untuk meluaskan pengalaman dan dalam perjalanan itu saya berkenalan dengan ia ini yang menghajar para pembesar Kerajaan Kin yang menindas rakyat.
Saya mengenalnya sebagai Pek Hong Nio-cu, yaitu nama julukannya sebagai seorang pendekar wanita pembela kebenaran dan keadilan.
Kemudian saya baru mengetahui bahwa Pek Hong Nio-cu yang sekarang menggunakan nama Han yaitu Sie Pek Hong ini bukan lain adalah Puteri Moguhai, puteri Kaisar Kerajaan Kin."
"Ahh......!"
Panglima Kwee dan isterinya berseru kaget.
Siapa orangnya yang tidak akan kaget mendengar bahwa gadis yang kini berada di rumah mereka itu ternyata adalah puteri Kaisar Kin?
Mereka berdua kini memandang kepada "puteri"
Itu dengan heran bercampur kagum.
Akan tetapi Pek Hong Nio-cu yang menjadi perhatian hanya tersenyum manis!
Melihat betapa pandang mata, suami isteri itu kini agak berbeda, pandang mata yang menghormat, ia lalu berkata ramah.
"Paman dan Bibi Kwee. Keadaan diriku ini harap paman berdua rahasiakan. Anggap saja aku ini gadis Han bernama Sie Pek Hong dan sebut saja namaku Pek Hong. Dengan demikian paman berdua telah membantu penyamaranku dan aku berterima kasih sekali kepadamu."
Suami isteri itu saling pandang lalu pecah ketawa Panglima Kwee.
"Ha-ha-ha, luar biasa sekali! Seperti dongeng saja! Hebat, engkau hebat sekali dan kami sungguh merasa kagum sekali padamu, Pek Hong!"
"Dan kepadamu juga aku minta hal yang sama, koko Kwee Cun Ki,"
Kata Pek Hong kepada pemuda tinggi besar itu. Cun Ki tersipu dan diapun mengangguk.
"Baik, percayalah kepadaku. Aku bukan seseorang yang suka panjang mulut, Hong-moi."
Thian Liong tersenyum.
"Nah, Hong-moi, agaknya kita berada di antara keluarga yang bijaksana dan patut dihormati."
Pek Hong mengangguk dan Han Si Tiong tertawa pula.
"Ha-ha-ha! Kepercayaan kalian berdua tidak sia-sia. Aku jamin bahwa kalian akan aman berada di dalam rumah Kwee-toako."
Kwee Gi tersenyum.
"Sudahlah, cukup semua pujian itu. Sekarang, lanjutkan ceritamu, Thian Liong!"
"Setelah kami berdua berkenalan, kami sempat tertawan oleh orang-orang yang sedang hendak memberontak kepada Kerajaan Kin. Untung kami dapat lolos."
Dia tidak menceritakan tentang pertotongan yang dilakukan suhunya yang menurut Pek Hong adalah Paman Sie.
"Kami mengetahui rahasia pemberontakan itu yang diatur oleh Pangeran Hiu Kit Bong yang bersekongkol dengan Perdana Menteri Chin Kui yang diwakili oleh seorang pemuda bernama Cia Song. Kami berdua menentang pemberontakan itu dan berhasil mengundang pasukan yang berjaga di barat sehingga akhirnya pemberontakan itu dapat ditumpas. Sayang bahwa Cia Song, utusan Perdana Menteri Chin Kui itu dapat lolos dan agaknya dia yang melapor kepada Chin Kui dan mereka melempar fitnah kepada diriku sehingga aku dijadikan orang buronan pemerintah Sung. Aku memang membantu pemerintah Kerajaan Kin, akan tetapi membantu dari ancaman pemberontak yang bersekutu dengan Perdana Menteri Chin Kui."
"Hemm, aku mulai mengerti duduknya perkara. Dan Pek Hong, kenapa engkau meninggalkan...... istana dan ikut Thian Liong ke sini, padahal di sini bahaya mengancammu?"
Pek Hong tersenyum.
"Liong-ko telah membantuku menyelamatkan kerajaan ayah, karena itu, aku ingin membalas budinya dan ingin membantu dia menyelamatkan Kerajaan Sung dari tangan Chin Kui yang kotor. Mengingat bahwa Chin Kui bersekutu dengan pemberontak di Kerajaan Kin, berarti dia juga musuhku, bukan? Dan ayahku, Raja Kin, juga menyetujui kepergianku ikut Liong-ko ke selatan."
"Kalau begitu kita harus berbuat sesuatu untuk membersihkan namamu, Thian Liong. Kalau tidak, engkau akan menjadi buronan pemerintah dan hidupmu tidak akan aman lagi."
"Akan tetapi bagaimana caranya, Kwee-toako? Kalau hanya Chin Kui yang mengerahkan orang-orangnya untuk menangkap atau membunuh Thian Liong, hal itu tidak terlalu berbahaya dan juga tentu saja dapat dilawan. Akan tetapi kalau pengejaran itu atas perintah Sri Baginda, tentu seluruh negeri akan mengawasi Thian Liong dan kalau dia melawan pasukan pemerintah, tentu dia akan dituduh sebagai pemberontak,"
Kata Han Si Tiong.
"Tidak ada jalan lain kiranya kecuali satu, ialah membunuh si jahat Chin Kui!"
Kata Pek Hong. Liang Hong Yi berseru.
"Tepat! Memang jahanam itu harus dibunuh karena dialah biang keladi semua kekacauan ini!"
Panglima Kwee Gi menggeleng kepala sambil tersenyum melihat dua orang wanita yang bersikap galak seperti harimau betina itu.
"Tidak begitu mudah membunuh perdana menteri itu. Selain dia selalu dikawal oleh banyak jagoan yang tangguh, juga dia mempunyai pasukan pengawal khusus yang jumlahnya sampai seratus orang dan ke manapun dia pergi selalu terlindung. Selain itu, aku mendengar bahhwa di dalam gedungnya yang seperti istana itu dipasangi banyak alat rahasia sehingga tidak mudah mencari tempat persembunyiannya."
"Kalau begitu kita tunggu sampai dia keluar dari gedungnya dan kita menyergapnya!"
Kata pula Pek Hong.
"Kalau dia dilindungi seratus orang pengawal, kukira Paman Kwee tentu dapat mengerahkan pasukan yang lebih besar, mengingat paman menjadi komandan pasukan keamanan kota raja!"
Kembali Panglima Kwee tersenyum dan menggeleng kepala walaupun dia kagum akan semangat yang demikian hebat dari puteri Raja Kin itu.
"Hal itu tidak mungkin dilakukan, Pek Hong. Waktu ini, pengaruh Chin Kui terhadap Kaisar amat besar dan dia dipercaya penuh sehingga kalau kita mengerahkan pasukan dan membunuhnya, jelas kita akan dianggap sebagai pemberontak terhadap kerajaan. Hal ini bahkan akan membuat keadaan menjadi semakin buruk dan merugikan bagi kita."
Kwee Cun Ki yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, kini ikut merasa penasaran dan bertanya.
"Wah, kalau begitu, apa yang dapat kita lakukan, ayah?"
"Ya, apa yang harus kami lakukan sekarang, Kwee-twako?"
Tanya pula Han Si Tiong.
Semua orang memandang kepada Kwee Gi, menanti jawabannya karena semua orang bingung dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, kalau jalan jang diusulkan Pek Hong tadi sama sekali tidak boleh dilakukan.
Panglima Kwee mengerutkan alisnya yang tebal, kemudian setelah berpikir sejenak, dia berkata.
"Kupikir sekaranglah saatnya yang tepat untuk bertindak. Aku sudah mengumpulkan semua rekan pejabat yang sehaluan untuk menentang Chin Kui, dan semua panglima yang sehaluan sudah pula mempersiapkan pasukan masing-masing untuk melawan kalau kalau Chin Kui mempergunakan kekerasan dan mengerahkan pasukan yang mendukungnya."
"Dan apa yang dapat kami berempat lakukan untuk membantu?"
Tanya pula Thian Liong.
"Dua hari lagi akan ada persidangan dan pada waktu mana para pejabat tinggi dan panglima datang menghadap Kaisar. Selama dua hari ini, aku akan dapat mematangkan persiapan kami, akan kuajak semua rekan untuk berunding. Kemudian, setelah saatnya menghadap Kaisar tiba, kalian berempat, Han-siauwte dan isterimu, Thian Liong, dan Pek Hong ikut bersamaku menghadap Kaisar."
"Heh?? Ini sama saja dengan menyerahkan diri! Liong-ko sedang diburu pemerintah, kalau dia ikut menghadap Kaisar, bukankah itu berarti dia menyerahkan diri dan akan ditangkap?"
Seru Pek Hong terkejut.
"Memang, dan menyerahkan diri itu menunjukkan bahwa Thian Liong bukan pengkhianat yang hendak memberontak. Di depan Kaisar nanti aku yang akan menjelaskan persoalannya ketika dia membantu Kaisar Kin menghadapi pemberontakan yang bersekutu dengan Chin Kui. Justru fitnah terhadap Thian Liong itu akan kupergunakan untuk membongkar persekutuan Chin Kui dengan Pangeran Hiu Kit Bong yang memberontak kepada Kaisar Kin. Dan semua rekan sehaluan yang hadir akan mendukung laporanku kepada Kaisar."
"Akan tetapi Perdana Menteri Chin Kui akan membantah dan memutar-balikkan fakta, dan di antara para pejabat yang menghadap tentu banyak pula kaki tangannya yang akan mendukung semua laporannya,"
Kata Liang Hong Yi.
"Benar sekali, hal itu sudah kami perhitungkan."
"Akan tetapi kalau Kaisar lebih mempercayai Chin Kui yang sudah menguasainya, tentu Kaisar akan membenarkan perdana menteri itu dan Liong-ko akan ditangkap dan dihukum!"
Protes Pek Hong.
"Kami sudah memperhitungkan demikian. Kalau benar seperti yang kaukhawatirkan, Pek Hong, mungkin Thian Liong dan engkau hanya akan ditahan dulu di penjara istana. Aku mengenal watak Kaisar. Sesungguhnya beliau seorang bijaksana, hanya dipengaruhi Chin Kui. Kalau terjadi pertentangan pendapat di antara para pejabat tinggi tentu dia tidak akan tergesa-gesa menghukum kalian, melainkan menahan dulu untuk dipertimbangkan lagi dan diselidiki oleh Kaisar. Dan untuk sementara, tidak ada tempat yang lebih aman bagi kalian berdua, atau mungkin berempat dengan Han-siauwte dan isterinya kalau omongan Chin Kui herhasil dipercaya Kaisar. Setidaknya di sana kalian tidak akan dikejar-kejar lagi."
"Akan tetapi, kalau kami dipenjara, tentu mudah bagi Chin Kui untuk membinasakan kami!"
Lagi-lagi Pek Hong memprotes.
"Jangan khawatir, Pek Hong. Kami sudah memperhitungkan segala kemungkinan itu. Ketahuilah bahwa kepala penjara istana adalah orang kita sendiri, sehaluan dengan kita, menentang Chin Kui. Maka kalau kalian ditahan di dalam penjara istana, aku yakin kalian akan diperlakukan dengan baik dan keselamatan kalian terjamin."
"Lalu, kalau hal itu terjadi dan kami berempat ditahan dalam penjara, kemudian selanjutnya bagaimana, Kwee-twako?"
Tanya Han Si Tiong.
"Aku berpendapat bahwa engkau dan isterimu tidak akan dapat difitnah Chin Kui, Hian-te. Kalian hanya dimusuhi Chin Kui karena sebagai bekas bawahan mendiang Jenderal Gak Hui kalian dianggap berbahaya. Akan tetapi kalian tidak dipersalahkan pemerintah, bahkan kalian sudah berjasa ketika balatentara Sung melawan pasukan Kin di perbatasan. Kalian ikut kuhadirkan di depan Kaisar hanya untuk menjadi saksi betapa Chin Kui berniat jahat, hendak membunuh kalian yang telah berjasa kepada negara. Setelah, andaikata, benar-benar Thian Liong ditahan, tidak usah khawatir. Selain kepala penjara istana merupakan orang kita sendiri, juga kami akan berusaha menyadarkan Kaisar dan siap bertindak kalau Chin Kui mempergunakan kekerasan. Pendeknya, sekarang saatnya bagi kita untuk melakukan perlawanan habis-habisan terhadap Perdana Menteri Chin Kui."
"Baiklah, Paman Kwee. Saya siap paman bawa menghadap Kaisar!"
Kata Thian Liong penuh semangat. Dia teringat akan pesan gurunya agar dia membela Kerajaan Sung dari pengaruh dan kekuasaan Perdana Menteri Chin Kui.
"Akupun siap!"
Kata Pek Hong penuh semangat.
Empat orang yang dicari dam diburu kaki tangan Perdana Menteri Chin Kui itu tinggal di ruangan rahasia gedung Panglima Kwee sampai dua hari.
Selama itu Kwee-ciangkun mengadakan persiapan yang matang dengan para rekannya.
Mereka semua mempersiapkan laporan dalam usaha mereka menjatuhkan Perdana Menteri Chin Kui di depan Kaisar.
Ruangan persidangan dalam istana Kaisar Sung Kao Tsung itu luas sekali.
Biarpun puluhan orang yang menduduki jabatan tinggi dan merupakan orang-orang penting di Kerajaan Sung pada pagi hari itu berdiri menanti munculnya Kaisar Sung Kao Tsung, namun ruangan itu masih tampak lega karena ruangan itu akan mampu menampung ratusan orang!
Para pejabat militer dan sipil sudah berdiri menanti dan mereka tidak berani berisik, berdiri diam menanti dengan sabar.
Di sekeliling ruangan itu tampak para perajurit pengawal istana berjaga, ada dua losin pasukan tombak dan dua losin pasukan golok.
Sebagian besar berjaga di luar ruangan.
Panglima Kwee berdiri di depan dan di samping kirinya berdiri Han Si Tiong, Liang Hong Yi, Souw Thian Liong, dan Sie Pek Hong.
Pek Hong memandang ke kanan kiri, memperhatikan ruangan sidang itu, agaknya membandingkan dengan ruangan sidang di istana ayahnya.
Para pejabat tinggi yang menjadi rekan Panglima Kwee, tidak merasa heran melihat kehadiran empat orang pengikut Panglima Kwee ini.
Akan tetapi mereka yang menjadi sekutu Perdana Menteri Chin Kui, memandang dengan curiga dan mereka itu saling berbisik-bisik lirih.
Tak lama kemudian suara pelapor terdengar lantang memenuhi ruangan itu.
"Yang Mulia Kaisar telah tiba......!!"
Suara itu seolah merupakan komando karena semua orang yang berdiri di ruangan itu, menghadap singasana, segera menjatuhkan diri berlutut dengan khidmat.
Pek Kong juga ikut berlutut karena ia sudah biasa dengan adegan macam ini.
Hanya biasanya, ia berdiri di samping ayahnya, tidak ikut menghadap dan berlutut seperti ini.
Rombongan kecil itupun melangkah perlahan, masuk ke ruangan dari pintu besar di samping singasana.
Kaisar Sung Kao Tsung berjalan perlahan dengan pakaian gemerlapan, sikapnya anggun dan dia tersenyum melihat para pejabat berlutut.
Di belakangnya berjalan seorang laki-laki berusia sekitar enampuluh dua tahun, akan tetapi tampak jauh lebih tua daripada usianya.
Wajahnya penuh keriput dan rambutnya sudah putih semua.
Aan tetapi pakaiannya mewah sekali, tidak kalah oleh pakaian yang dikenakan kaisar dan dan pandang mata maupun senyum di wajahnya yang kurus itu tampak jelas keangkuhannya dan kelicikannya.
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 9
Baca Juga: Si Bangau Merah 4