Ceritasilat Novel Online

Si Bangau Merah 4

Eps 4 Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo

Baca online Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo

Cersil Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo.

Kao Cin Liong adalah putera Kao Kok Cu, Naga Sakti Gurun Pasir.

Biarpun usianya telah lanjut, sudah enam puluh tiga tahun, namun dia telah mewarisi ilmu yang hebat dari Gurun Pasir.

Karena maklum bahwa dua orang lawannya itu lihai, dan kedua tangannya sudah melekat pada tangan lawan dan kedua kakinya hampir tertekuk, dia lalu mengerahkan tenaga Sin-liong-hok-te (Naga Sakti Mendekam di Bumi).

Ilmu ini merupakan satu di antara ilmu-ilmu yang ampuh dari Istana Gurun Pasir.

"Aaarghhhh....!"

Kakek itu mengeluarkan suara yang menyayat hati dan dua orang tosu itu pun terjengkang!

Akan tetapi pada saat ketika kakek yang sudah tua itu menghentikan pengerahan Sin-liong-hok-te, dari belakangnya ada dua orang tosu lain yang menghantamkan telapak tangan mereka ke punggungnya.

"Plakkk! Dukkk!"

Dua orang pemukul itu terjengkang dan menjadi terkejut bukan main karena mereka merasa betapa tangan mereka yang menampar itu menjadi nyeri.

Akan tetapi kakek Kao Cin Liong sendiri terpelanting dan mengeluh karena dua tamparan pada punggungnya selagi dia menyimpan kembali tenaga Sin-liong-hok-te tadi sedemikian hebatnya sehingga dia merasa seolah-olah seluruh isi dada dan perutnya dilanda badai hebat!

"Aiihhh....!"

Teriakan ini terdengar dari bawah, disusul teriakan seorang anak kecil.

"Kong-kong....!"

Suma Hui tadi keluar bersama cucunya karena terkejut mendengar teriakan suaminya.

Ia menjerit karena sempat melihat suaminya roboh terpukul dari belakang.

Tubuhnya cepat meluncur ke atas seperti seekor burung terbang saja.

Seorang di antara empat tosu itu, yang tubuhnya kurus jangkung, menyambut Suma Hui dengan serangan kilat, dan kini dia mempergunakan sebatang pedang.

Tubuh wanita itu masih melayang di udara ketika pedang itu menyambutnya dengan tusukan maut ke arah dada.

Namun, Suma Hui adalah seorang wanita yang lihai sekali.

Ia adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, maka serangan yang bagaimana dahsyat pun, kalau dilakukan berterang, tentu akan dapat diatasinya.

"Haiiittt....!"

Suaranya melengking dan tubuhnya berjungkir balik beberapa kali dan berhasil menghindarkan dari dari tusukan!

Gerakan ini sungguh lincah bukan main, membuat penyerangnya terkejut.

Akan tetapi Suma Hui juga kaget karena serangan tadi nyaris mengenai tubuhnya, Membuktikan bahwa penyerangnya adalah seorang yang lihai.

Begitu kakinya menyentuh genteng, ia membalik dan mengelak ketika pedang yang tadi sudah menyambar pula.

Kiranya tosu tinggi kurus itu sudah menghujankan serangan pedang kepadanya.

Suma Hui mempergunakan kegesitan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini, lalu membalas pula dengan tamparan-tamparan yang mengandung tenaga Swat-im Sin-kang yang dingin.

Karena maklum bahwa suaminya telah terluka dan lawan ini amat lihai, maka ia telah mengerahkan ilmu yang khas dari keluarga Istana Pulau Es itu.

Lawannya terkejut ketika merasa ada hawa yang amat dingin menyambar dari kedua tangan lawannya, maka dia bertindak hati-hati dan memutar pedang menjaga jarak, melindungi diri dengan sinar pedangnya yang bergulung-gulung.

Ketika tiga orang tosu yang lain hendak maju mengeroyok, tiba-tiba dua sosok bayangan berkelebat dari bawah, melayang ke atas genteng itu seperti dua ekor burung garuda.

Mereka ini bukan lain adalah Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li.

Melihat ini, dua orang tosu yang tadi memukul Kao Cin Liong secara curang dari belakang, menyambut mereka dengan pedang di tangan.

Dan mereka terkejut bukan main ketika mendapat kenyataan betapa dua orang pria dan wanita muda yang baru datang ini juga amat lihai, terutama sekali yang pria.

Begitu Sin Hong mengelak dan tangannya mendorong hawa pukulan tangannya membuat lawannya terhuyung ke belakang!

Seorang tosu lain cepat membantu kawannya, dan baru setelah dua orang tosu yang berpedang menghadapi Sin Hong, mereka mampu saling menjaga dan terjadi perkelahian yang agak seimbang.

"Ayah....!"

Kao Hong Li yang melihat ayahnya menggeletak di atas genteng, terkejut sekali dan cepat menghampiri ayahnya.

Dengan napas empas-empis Kao Cin Liong berkata.

"Hong Li.... cepat.... kau bantu.... ibumu...."

Hong Li menoleh dan melihat betapa ibunya memang nampak sibuk menghadapi permainan pedang seorang tosu.

Suaminya, biarpun dikeroyok dua, tidak nampak terdesak.

Ia pun cepat meloncat dan membantu ibunya.

Kini, tosu berpedang itu menjadi repot sekali ketika berhadapan dengan ibu dan anak itu.

Walaupun mereka berdua tidak sempat membawa senjata, namun mereka seperti dua ekor singa betina yang marah dan tosu itu terdesak hebat, hanya mampu memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari terkaman dua ekor singa betina itu!

Bahkan dia sempat berteriak.

"Sute, bantu....!"

Teriaknya ditujukan kepada tosu ke empat, karena dua orang tosu yang lain hanya dapat berimbang saja mengeroyok Sin Hong yang bertangan kosong.

Bahkan dua orang tosu ini pun sudah mulai terdesak ketika Sin Hong terpaksa memainkan ilmu andalannya, yaitu Pek-ho Sin-kun.

Ilmu ini adalah ilmu yang amat hebat, ilmu gabungan dari tiga orang sakti, yaitu mendiang kakek Kao Kok Cu dan Tiong Khi Hwesio, bersama nenek Wan Ceng.

Juga tenaga sin-kang yang terkandung dalam ilmu ini amat hebatnya.

Sin Hong sendiri mendapat pesan dari tiga orang gurunya itu bahwa kalau tidak terpaksa sekali dia tidak boleh mempergunakan ilmu itu.

Sekarang, melihat ayah mertuanya sudah roboh, dan betapa para tosu itu lihai, dia terpaksa mempergunakan ilmu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih).

Dan begitu dia mengeluarkan ilmu ini, baru beberapa jurus saja dua orang pengeroyoknya yang berpedang itu sudah terhuyung dan terdesak.

Tiba-tiba terdengar teriakan suara anak kecil.

"Ibuuu....! Ayaahhh....!"

Suara ini disusul suara yang parau dan tegas, penuh ancaman.

"Hentikan perkelahian, atau anak ini akan pinto (aku) bunuh!"

Mendengar teriakan anak itu saja, Sin Hong dan Hong Li Sudah terkejut, demikian pula nenek Suma Hui.

Mereka berloncatan ke belakang dan menengok ke bawah.

Di sana, di bawah sinar lampu gantung yang remang-remang, nampak seorang tosu memondong Sian Li dan pedang di tangan kanannya menempel di leher anak itu!

Seketika lemaslah tubuh tiga orang ini dan mereka tidak mampu bergerak, tidak berani bergerak dan terpaksa membiarkan tiga orang tosu yang tadi sudah mereka desak itu berloncatan dan menghilang ke dalam kegelapan malam.

"Jangan mengejar kami kalau menginginkan anak ini selamat!"

Kata pula tosu itu.

Sin Hong dan isterinya seperti terpukau dan tidak berani bergerak, akan tetapi, Hong Li melihat ibunya yang tadi berada di belakangnya telah tidak berada di situ pula, entah ke mana perginya.

"Uhhh....!"

Tubuh kakek Kao Cin Liong menggelundung dan tertahan talang, hampir jatuh ke bawah.

Melihat ini, Sin Hong cepat meloncat dan menyambar tubuh ayah mertuanya itu, lalu dipondongnya.

Sementara itu, melihat betapa tosu yang menawan puterinya itu meloncat pergi, Kao Hong Li meloncat turun dan berteriak.

"Jangan bawa anakku! Kembalikan!"

"Berhenti, atau kubunuh anakmu!"

Tosu itu berseru dan mendengar ini, Hong Li yang sudah tiba di atas tanah itu menjadi pucat dan kedua kakinya menjadi lemas.

Tak berani ia mengejar.

Tiba-tiba, dari balik tembok samping rumah itu, Suma Hui meloncat dan menubruk tosu itu dari belakang.

Gerakan Suma Hui cepat bukan main, dan tahu-tahu pundak kanan tosu itu telah dihantamnya sehingga terdengar tulang remuk dan pedang di tangan yang menjadi lumpuh itu terlepas dari pegangan.

Tosu itu terkejut dan begitu merasa betapa anak di pondongan tangan kiri dirampas oleh penyerangnya, dia membalik dan tangan kirinya berhasil menjambak rambut Suma Hui!

Wanita ini cepat melempar tubuh Sian Li ke arah Hong Li.

"Terima anakmu!"

Teriaknya dan tubuh anak itu melayang ke arah Hong Li yang cepat menangkapnya.

"Ibuuu....!"

"Sian Li, engkau tidak apa-apa, nak?"

Hong Li memeriksa anaknya dan mendekapnya, menciuminya dengan hati lega.

Akan tetapi, ia terkejut mendengar ibunya menjerit.

Ia terbelalak dan pada saat itu, Sin Hong sudah melayang, turun memandong tubuh ayah mertuanya.

Hong Li menurunkan Sian Li karena di situ sudah ada Sin Hong dan ia pun meloncat ke arah ibunya yang, terhuyung.

Empat orang tosu tadi sudah lenyap.

"Ibu....!"

Hong Li merangkul ibunya yang terhuyung.

"Aku.... berhasil menghajar penculik tadi.... tapi yang lain.... membokong dengan curang dari belakang.... ahhh.... bagaimana.... ayahmu....?"

Wanita itu terkulai dan tentu roboh kalau tidak cepat dipondong Hong Li.

"Cepat bawa masuk. Mari Sian Li, masuk ke dalam!"

Kata Sin Hong kepada isterinya.

Dia masih memondong tubuh ayah mertuanya, dan Hong Li memondong tubuh ibunya.

Mereka masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Sian Li.

Anak ini tidak menangis walaupun nampak bingung dan masih belum hilang kagetnya.

Tiga orang pembantu dari kakek Kao Cin Liong yang tinggal di bagian belakang rumah menjadi terkejut mendengar ribut-ribut tadi dan mereka sudah berlarian keluar.

Tentu saja mereka kaget bukan main melihat kedua majikan mereka dipondong masuk dalam keadaan luka dan pingsan.

"Kalian cepat undang tabib yang pandai di kota ini, kata Sin Hong setelah dia merebahkan tubuh ayah mertuanya ke atas pembaringan.

Juga Hong Li merebahkan tubuh ibunya di atas pembaringan yang lain.

Sin Hong lalu keluar lagi, melompat ke atas genteng dan menurunkan tubuh hwesio tua yang telah menjadi mayat.

Juga tubuh yang sudah tak bernyawa ini dibaringkan di atas sebuah dipan.

Sin Hong memeriksa luka pukulan di punggung ayah mertuanya.

Dia mengerutkan alisnya melihat dua telapak tangan membekas di punggung itu, menghitam.

Tahulah dia bahwa ayah mertuanya menderita luka dalam yang amat hebat.

Kakek itu masih pingsan, napasnya empas-empis, tinggal satu-satu.

Kemudian dia dan isterinya memeriksa luka yang di derita Suma Hui.

Keadaan nenek ini tidak lebih baik dari suaminya.

Sebuah luka tusukan pedang di lambung, dan di lehernya terdapat luka kecil-kecil yang menghitam, tanda bahwa ada dua buah benda kecil, mungkin senjata rahasia paku atau jarum, memasuki lehernya, dan jelas bahwa senjata rahasia itu beracun!

Melihat keadaan ayah ibunya, Kao Hong Li mencucurkan air mata tanpa bersuara.

Ia terlampau gagah untuk menangis keras.

Ia menahan gejolak hatinya yang penuh kekhawatiran dan kemarahan.

Dengan pandang matanya Sin Hong menghibur dan menenangkan hati isterinya, kemudian dengan lembut dia berkata.

"Lebih baik bawa Sian Li tidur lebih dulu. Biar aku yang berjaga di sini sampai tabib datang."

Hong Li maklum akan maksud suaminya.

Memang tidak baik membiarkan Sian Li di situ.

Anak ini nampak kebingungan memandang ke arah kakek dan neneknya yang rebah di atas dua buah pembaringan di dalam kamar itu, dengan napas empas empis dan wajah pucat, kadang terdengar suara seperti rintihan lirih.

"Mari, Sian Li, kita kembali ke kamar untuk tidur."

Sian Li digandeng ibunya memasuki kamar mereka. Ketika Hong. Li merebahkan puterinya di atas pembaringan, anak itu memandang ibunya dan bertanya.

"Ibu siapa yang melukai Kakek dan Nenek?"

"Mereka orang-orang jahat, Sian Li."

"Kenapa Ayah dan Ibu tidak menangkap mereka?"

"Mereka itu lihai dan sempat melarikan diri, bahkan hampir menawanmu, anakku."

"Tapi, Ibu. Tentu Ibu juga tahu siapa mereka?"

Kao Hong Li menggeleng kepalanya.

"Aku tidak mengenal siapa mereka akan tetapi sebelum tewas, Thian Kwan Suhu berseru bahwa mereka adalah orang-orang Bu-tong-pai. Tentu mereka itu tokoh-tokoh Bu-tong-pai tingkat tinggi."

"Kalau begitu, Kakek dan Nenekku dilukai orang-orang Bu-tong-pai?"

"Begitulah. Kenapa engkau menanyakan hal itu, Sian Li."

Kini Sian Li mengepal tinjunya dan bangkit berdiri di atas pembaringannya.

"Kalau begitu, kelak aku akan membasmi Bu-tong-pai!. Mereka orang-orang jahat!"

"Ssttt, sudahlah. Kau tidur dan jangan banyak memikirkan hal itu. Serahkan saja kepada ayah dan ibumu, Sian Li. Engkau masih terlalu kecil untuk memikirkan urusan itu. Ibunya menghibur dan satelah putarinya tidur, Kao Hong Li menemani suaminya yang menjaga ayah dan ibunya. Tabib yang diundang datang, akan tetapi seperti yang telah dikhawatirkan Sin Hong, tabib itu hanya menggeleng kepala dan menarik napas panjang. Luka-luka itu selain parah, juga mengandung racun yang amat berbahaya. Tentu saja Sin Hong dan Hong Li menjadi gelisah sekali ketika tabib itu angkat tangan menyatakan tidak sanggup mengobati luka karena racun itu. Setelah tabib pergi, Hong Li berkata kepada suaminya.

"Kiraku hanya ada seorang saja yang akan mampu menolong, yaitu Paman Suma Ceng Liong. Kita harus cepat memberi kabar dan mengundangnya ke sini, juga Paman Suma Ciang Bun yang biarpun tidak memiliki kesaktian seperti paman Suma Ceng Liong, namun memiliki pengalaman yang luas."

Sin Hong setuju dengan usul ini.

Karena dia dan isterinya harus menjaga dan merawat ayah dan ibu mertua yang luka berat, mereka tidak dapat pergi sendiri dan segera mengirim utusan yang melakukan perjalanan secepatnya dengan kuda pergi ke kota Cin-an untuk mengundang Suma Ceng Liong dan yang lain pergi ke Tapa-san untuk mengundang Suma Ciang Bun.

Sementara itu Tan Sin Hong, yang menjadi kenalan baik dari Ketua Bu-tong-pai, segera menulis surat protes kepada perkumpulan besar itu tentang terlukanya ayah dan ibu mertuanya oleh serangan orang-orang Bu-tong-pai.

Setelah tiga orang utusan itu berangkat, Sin Hong menjaga ayah dan ibu mertuanya, bersama isterinya.

Mereka merasa khawatir sekali dan biarpun Sin Hong dan isterinya sudah berusaha untuk membantu mereka yang terluka itu dengan penyaluran tenaga sin-kang, namun mereka berdua tidak berhasil menyembuh-kan, hanya mengurangi rasa nyeri dan memperlambat menjalarnya pengaruh pukulan beracun itu saja.

Melihat keadaan orang tuanya, Kao Hong Li mengerutkan alisnya dan ia berbisik kepada suaminya.

Mereka sengaja duduk agak menjauh agar percakapan mereka tidak mengganggu dua orang tua yang sedang menderita sakit itu.

"Para tosu Bu-tong-pai yang keparat!"

Desis Hong Li sambil mengepal tangannya "Kalau Ayah dan Ibu sudah sembuh, aku pasti akan pergi ke sana untuk meminta pertanggu-ngan jawab mereka.

Perbuatan mereka melukai Ayah dan Ibu ini sungguh tidak boleh didiamkan begitu saja!"

Tan Sin Hong mengerutkan alisnya.

"Kita harus bersabar dan tidak boleh menurutkan nafsu amarah saja. Kita sudah mengetahui bahwa memang akhir-akhir ini terdapat pertentangan antara Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai sehingga seringkali terjadi bentrokan antara murid-murid mereka. Kita belum mengetahui sebabnya dan memang bukan urusan kita. Kalau sekarang Ayah dan Ibu sampai terluka, hal itu terjadi dalam perkelahian karena mereka terlibat dalam perkelahian antara Thian Kwan Hwesio ketua kuil di Pao-teng yang menjadi tokoh Siauw-lim-pai dengan beberapa orang tosu Bu-tong-pai."

"Akan tetapi hwesio Siauw-lim-pai itu sahabat Ayah dan sudah lari ke sini minta bantuan Ayah, kenapa, mereka masih terus menyerang dan tidak memandang muka orang tuaku? Ayah dan Ibu tadinya tentu hanya ingin melerai saja, kenapa Ayah dan Ibu malah mereka serang?"

"Karena itu, aku sudah menulis surat teguran kepada Ketua Bu-tong-pai, dan aku yakin beliau akan memperhatikan teguranku itu dan akan menghukum murid mereka yang bersalah."

Akan tetapi isterinya menggeleng kepala.

"Aku masih penasaran. Bagaimana kalau Ketua Bu-tong-pai membela muridnya dan tidak akan menghukum mereka? Aku harus membalas perbuatan mereka itu. Ingat saja, mereka itu jahat! Mereka merobohkan Ayah dengan cara yang curang sekali, bahkan merobohkan Ibu juga dengan serangan gelap. Mereka itu patutnya gerombolan penjahat, bukan murid-murid sebuah partai persilatan besar seperti Bu-tong-pai! Atau sekarang Bu-tong-pai telah menyeleweng dan murid-muridnya menjadi pengecut-pengecut yang curang!"

Sin Hong mengangguk-angguk.

"Engkau benar. Aku sendiri memang ada perasaan curiga terhadap para tosu Bu-tong-pai itu. Cara mereka mengeroyok hwesio itu saja sudah bukan watak pendekar-pendekar Bu-tong. Kemudian, mereka menyerang Ayah dan Ibu secara menggelap dan lebih lagi, mereka menawan Sian Li sebagai sandera, ini pun bukan watak pendekar. Karena itu, aku lebih dulu mengirim surat kepada Ketua Bu-tong-pai. Kelak, kalau kita sudah selesai di sini, kalau Ayah dan Ibu sudah sehat kembali, tentu aku akan berkunjuhg ke Bu-tong pai untuk membikin terang perkara ini."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sian Li sudah memasuki ruangan kamar kakek dan neneknya.

"Ayah, Ibu, bagaimana dengan Kakek dan Nenek?"

Tanyanya sambil mendekati pembaringan kakeknya, kemudian neneknya.

"Sst, Sian Li. Kakek dan nenekmu masih tidur. Biarkan mereka beristirahat dan bermainlah di luar."

Sian Li memandang kepada kakek dan neneknya dan alisnya berkerut, mulutnya cemberut.

"Kakek dan Nenek tidak bisa lagi menemani aku bermain-main. Ini semua gara-gara gerombolan penjahat itu. Kelak aku akan membasmi mereka kalau aku sudah besar!"

Setelah berkata demikian, Sian Li berlari keluar.

Ayah dan ibunya saling pandang dan keduanya merasa lega.

Puteri mereka itu sudah pasti kelak akan menjadi seorang pendekar wanita yang hebat, seperti yang mereka harapkan.

Kalau dekat dengan Yo Han, tentu puteri mereka itu akan mengikuti jejak Yo Han, menjadi seorang wanita yang lemah.

Mereka lalu duduk di dekat pembaringan ayah ibu mereka dan dengan prihatin mereka melihat betapa keadaan mereka masih seperti malam tadi, Dan kembali mereka berusaha untuk menyalurkan tenaga sin-kang mereka dengan telapak tangan mereka ditempelkan di punggung si sakit.

Biarpun usaha ini belum dapat menyembuhkan, setidaknya dapat memperkuat hawa murni dalam tubuh ayah dan ibu mereka dan memperlambat kerusakan yang diakibatkan oleh pukulan beracun.

Dua orang yang terluka itu dalam keadaan tidur atau setengah pingsan.

Wajah mereka pucat dan pernapasan mereka lemah.

Sin Hong sudah memberi obat luka di lambung dan leher ibu mertuanya.

Luka-luka itu tidak berat, akan tetapi racun yang terkandung di luka bagian leher amat berbahaya.

Sedangkan pukulan kedua telapak tangan yang berbekas di punggung ayah mertuanya membuat keadaan ayah mertuanya itu lebih parah lagi.

"Hemm, keadaan mereka ini membuat aku menjadi sangsi,"

Katanya lirih kepada isterinya.

"Aku mengenal Bu-tong-pai sebagai partai persilatan bersih, perkumpulan orang-orang suci dengan para tosu menjadi pimpinan. Murid-murid mereka adalah pendekar-pendekar gagah. Biarpun mereka memiliki pukulan ampuh yang mengandung sin-kang amat kuat, namun belum pernah aku mendengar mereka mempelajari ilmu pukulan beracun. Juga, belum pernah aku mendengar mereka menggunakan racun atau paku beracun seperti yang melukai leher ibumu."

"Akan tetapi, mendiang Thian Kwan Hwesio dengan jelas menyerukan bahwa mereka adalah para tosu Bu-tong-pai,"

Kata isterinya dan Sin Hong menjadi bingung.

Memang sukar dimengerti kalau seorang pendeta seperti ketua kuil Pao-teng itu berbohong.

Apa manfaatnya berbohong.

Akan tetapi, Thian Kwan Hwesio sudah tewas sehingga tidak mungkin, dapat diperoleh keterangan yang lebih jelas darinya.

"Kita harus bersabar. Surat yang kukirim kepada Ketua Bu-tong-pai itu sedikit banyak tentu akan dapat menerangkan kegelapan peristiwa semalam."

Sementara itu, Sian Li berlari keluar rumah dengan hati kesal.

Ketika ia datang ke rumah kakek dan neneknya, hatinya gembira karena kedua orang tua itu amat sayang kepadanya dan mengajaknya bermain-main.

Sekarang, kakek dan neneknya hanya rebah dalam keadaan sakit.

Apalagi bermain-main dengannya, bicara pun mereka itu tidak dapat lagi.

Semua itu gara-gara perbuatan penjahat yang menyerbu malam tadi.

Hatinya kesal dan marah, dan ia pun keluar dari pekarangan rumah, bermaksud mencari teman bermain.

Ada beberapa orang pegawai yang biasanya membantu kedua orang tua itu berdagang rempah-rempah.

Mereka, empat orang itu, telah mendengar bahwa kedua majikan mereka menderita luka oleh serbuan penjahat.

Mereka membuka toko rempah-rempah mewakili majikan mereka dengan wajah khawatir.

Sian Li tidak mempedullkan mereka yang tidak dikenalnya, dan ia pun keluar dari pekarangan dan terus berjalan-jalan seorang diri di jalan raya.

Hatinya tertarik melihat seorang kakek berdiri di tepi jalan, memandang ke arah rumah kakek dan neneknya.

Ia pun menoleh dan ikut memandang.

Belasan orang hwesio memasuki pekarangan itu, dan mereka ini adalah para hwesio dari kuil di kota itu, para murid Thian Kwan Hwesio yang sudah diberi kabar tentang tewasnya guru dan ketua mereka di rumah keluarga Kao.

Tak lama kemudian mereka mengangkut peti mati untuk dibawa pulang ke kuil mereka.

Sian Li melihat pula ayah dan ibunya mengantar sampai di luar rumah dan belasan orang hwesio itu meninggalkan pekarangan itu sambil memikul peti mati.

Sian Li mengepal kedua tangannya, memandang dan mengikuti perjalanan para hwesio yang mengikuti peti mati sambil membaca doa sepanjang jalan.

Hatinya merasa kasihan dan juga penasaran kepada para penjahat yang bukan saja telah membunuh seorang hwesio, akan tetapi juga melukai kakek dan neneknya.

"Penjahat-penjahat kejam, tunggu saja kalian. Kalau kelak aku sudah besar, akan kubalaskan kematian hwesio itu dan lukanya Kakek dan Nenekku!"

Sian Li tidak tahu betapa kakek yang tadi berdiri memandang ke arah kesibukan para hwesio mengangkut peti mati, kini memandang kepadanya dengan sinar mata yang penuh selidik dan mulut tersenyum.

Kakek ini berpakaian seperti seorang sastrawan, akan tetapi jelas bahwa dia miskin melihat betapa pakaian itu sudah penuh jahitan dan ada beberapa tambalan, walaupun nampaknya bersih.

Dia mirip seorang sastrawan setengah jembel, dengan rambut yang bercampur dengan cambang, kumis dan jenggot yang sudah berwarna kelabu.

Namun wajah masih nampak sehat kemerahan belum dimakan keriput, matanya masih terang dan senyumnya cerah walaupun mulut itu tidak bergigi lagi.

Rambut itu dibiarkan awut-awutan, sampai ke pundak.

Tubuhnya jangkung kurus namun berdirinya tegak.

Sebuah caping lebar tergantung di punggung, tangan kanan memegang sebatang tongkat butut dan tangan kirinya membawa sebuah keranjang obat, terisi beberapa macam akar-akaran dan daun-daunan.

"Nona kecil yang baik, apakah kakek dan nenekmu luka-luka?"

Tiba-tiba kakek itu mendekat dan bertanya. Sian Li menoleh dan ia memandang kepada kakek itu penuh perhatian.

"Apakah engkau orang Bu-tong-pai?"

Tiba-tiba ia bertanya dan alisnya berkerut, matanya memandang penuh selidik.

"Kalau betul, kenapa?"

Kakek itu balas bertanya sambil tersenyum.

"Kalau engkau orang Bu-tong-pai, akan kupanggilkan Ayah dan Ibu. Jangan lari, mereka tentu akan menghajarmu!"

"Kalau aku bukan orang Bu-tong-pai?"

"Kalau bukan, jangan mencampuri urusan kami. Engkau tidak akan dapat menolong, Kek!"

"Ha-ha-ha, anak baik, mengapa engkau mengatakan bahwa aku tidak akan dapat menolong?"

Sian Li memandang kepada orang itu dengan sinar mata penuh selidik.

"Engkau seorang kakek tua, miskin, dan nampak lemah. Andaikata engkau memiliki ilmu kepandaian pun, bagaimana engkau mampu menan-dingi orang-orang Bu-tong-pai yang lihai, sedangkan Ayah Ibuku saja tidak mampu melindungi Kakek dan Nenekku?"

Kakek itu memandang dengan kagum.

Anak kecil ini baru berusia empat tahun, akan tetapi telah mampu mengolah pikiran seperti orang dewasa saja.

Ini menandakan bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang yang cerdik bukan main.

"Anak yang baik, engkau tadi bilang tentang kakek dan nenekmu yang luka-luka. Kebetulan sekali aku mempunyai sedikit ilmu pengobatan. Aku mendengar bahwa ini rumah dari Pendekar Kao Cin Liong, bekas panglima besar yang amat terkenal itu. Bagaimana kalau aku mencoba kepandaianku untuk menyembuhkan kakek dan nenekmu?"

Mendengar ini, Sian Li menjadi girang sekali.

Sejenak ia memandang ke arah keranjang obat di tangan kiri kakek itu, kemudian ia memegang tongkat kakek itu dan menariknya.

"Kalau begitu, mari cepat, Kek. Tolonglah Kakek dan Nenekku!"

Dan ia pun menarik kakek itu berlarian memasuki pekarangan, langsung masuk ke dalam rumah.

Empat orang pegawai toko rempah-rempah itu memandang heran, akan tetapi mereka tidak berani menegur.

Kakek itu yang merasa rikuh sendiri dan dia berhenti di ruangan depan.

"Anak baik, lebih dulu beritahukan orang tuamu bahwa aku datang, tidak sopan kalau aku terus masuk begitu saja."

"Kakek, memang tidak sopan kalau engkau masuk sendiri. Akan tetapi aku yang membawa-mu masuk, jadi engkau tidak bersalah. Marilah!"

Anak itu menariknya masuk dan Sian Li berteriak-teriak.

"Ayah! Ibu! Aku datang bersama Kakek yang hendak mengobati Kakek dan Nenek!"

Mendengar teriakan anak mereka.

Tan Sin Hong dan isterinya, Hong Li segera berlari keluar.

Mereka melihat Sian Li meng-gandeng tangan seorang kakek tua yang memegang tongkat dan keranjang obat.

Sebagai orang-orang yang berpengalaman, sekali pandang saja suami isteri ini mengenal orang luar biasa, akan tetapi mereka belum mengenal siapa dia maka keduanya memberi hormat dengan sopan dan Tan Sin Hong berkata dengan suara lembut.

"Selamat datang, Locianpwe. Kalau benar seperti yang dikatakan puteri kami maka kami berdua menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan Locianpwe yang hendak mengobati Ayah dan Ibu kami."

Kakek itu tertawa bergelak sehingga nampak rongga mulutnya yang sudah tidak punya gigi lagi.

"Siancai.... sungguh bukan nama besar kosong belaka bahwa Pendekar Bangau Putih adalah seorang pendekar perkasa yang amat pandai membawa diri, rendah hati, dan sopan, ha-ha-ha!"

Sin Hong dan isterinya saling pandang lalu keduanya menatap wajah kakek jangkung itu.

"Maafkan kami yang tidak ingat lagi siapa Locianpwe, sebaliknya Locianpwe telah mengenal kami."

"Ha-ha, tentu saja. Rumah ini adalah rumah Pendekar Kao Cin Liong, putera Si Naga Sakti Gurun Pasir, bekas panglima yang amat terkenal. Dan isterinya adalah seorang wanita sakti, she Suma masih cucu Pendekar Sakti Pulau Es! Begitu melihat nona cilik pakaian merah ini, aku sudah menduga bahwa tentu ia cucu Kao Cin Liong, dan karena kalian adalah ayah ibunya, siapa lagi kalian kalau bukan puteri dan mantu bekas panglima itu?"

"Wah, Kakek tidak adil!"

Tiba-tiba Sian Li berseru.

"Kakek sudah mengenal Ayah Ibu dan Kakek, akan tetapi belum memperkenalkan diri. Mana adil kalau perkenalan hanya sebelah pihak saja?"

"Sian Li, jangan kurang ajar!"

Bentak ibunya.

"Ho-ho, namamu Sian Li, anak merah, Bagus, engkau memang seperti seorang sian-li (dewi) cilik. Tan-taihiap dan Kao-lihiap, saya ini orang biasa saja, bahkan orang yang kedudukannya amat rendah, setengah tukang obat, setengah pengemis, ha-ha-ha!"

Kembali suami isteri itu saling pandang.

Biarpun suami isteri pendekar ini masih muda, namun mereka sudah mempu-nyai banyak pengalaman di dunia kang-ouw dan sudah mendengar akan nama besar banyak orang pandai walaupun belum pernah berjumpa dengan mereka.

Setengah tukang obat dan setengah pengemis?

"Kalau begitu, Locianpwe ini tentu Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat)!"

Seru Kao Hong Li. Kakek itu mengelus jenggotnya dan tersenyum.

"Nyonya muda sungguh berpemandangan luas!"

"Aih, maafkan kami berdua yang tidak tahu bahwa yang mulia Yok-sian (Dewa Obat) datang berkunjung!"

Kata Sin Hong kagum karena dia pun pernah mendengar akan nama besar tokoh ini yang jarang muncul di dunia kang-ouw.

"Ha-ha-ha, alangkah tidak enaknya mendengar nama sebutan Yok-sian (Dewa Obat). Aku lebih suka disebut Lo-kai (Pengemis Tua) saja. Aku mendengar akan keributan yang terjadi di rumah Taihiap Kao Cin Liong, maka sengaja hendak melihat apa yang terjadi. Kebetulan di luar tadi aku bertemu dengan anak ini! Sian Li menarik hatiku dan ternyata ia adalah cucu Taihiap Kao Cin Liong yang sudah kukenal baik. Nah, mari antar aku melihat dia dan isterinya yang kabarnya terluka."

Bukan main girangnya hati Hong Li dan Sin Hong.

Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu mengantar tamu itu memasuki kamar di mana Kao Cin Liong dan Suma Hui rebah.

Sian Li mengikuti dari belakang.

Kakek itu menurunkan keranjang obat dan tongkatnya yang cepat disimpan oleh Sian Li ke sudut ruangan, kemudian dia menghampiri Kao Cin Liong, memeriksa denyut nadinya sebentar, kemudian memeriksa keadaan Suma Hui.

Dia mengangguk-angguk.

"Kabarnya yang menyerang orang-orang Bu-tong-pai?"

Tanyanya kepada Sin Hong.

"Begitulah menurut pengakuan mendiang Thian Kwan Hwesio yang malam tadi dikejar oleh mereka sampai ke sini. Agaknya hwesio itu hendak minta bantuan Ayah dan Ibu yang sudah menjadi sahabat baik,"

Kata Sin Hong. Yok-sian Lo-kai mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

"Pukulan pada punggung Kao-taihiap ini adalah pukulan yang mengandung Hek-coa-tok (Racun Ular Hitam), agaknya tidak mungkin orang Bu-tong-pai, apalagi yang sudah tinggi tingkatnya, menggunakan pukulan keji macam itu. Juga jarum yang memasuki leher Suma Lihiap itu merupakan senjata rahasia yang biasa dipergunakan orang-orang golongan hitam. Sebaiknya kucoba mengeluarkan jarum-jarum itu lebih dulu, karena kalau dibiarkan terlalu lama, akan berbahaya. Tan Taihiap, engkau memiliki kekuatan sin-kang yang besar, marilah kau bantu aku. Kau tempelkan telapak tanganmu ke luka di tengkuk dan menggunakan sin-kang untuk menyedot, aku akan menggunakan totokan dan urutan untuk mendorong keluar jarum-jarum itu. Jangan terlampau kuat agar tidak merusak jalan darah. Kalau telapak tanganmu sudah merasakan gagang jarum tersembul, hentikan."

Lalu dia menoleh kepada Hong Li dan berkata.

"Lihiap, harap kau rebus sebutir telur, kalau sudah matang, bawa ke sini putihnya saja."

Hong Li meninggalkan kamar, itu untuk pergi ke dapur sedangkan Sin Hong lalu duduk bersila di atas pembaringan, lalu menempelkan tangan kanan ke tengkuk yang terluka jarum, mengerahkan sin-kang menyedot.

Kakek itu sendiri duduk di tepi pembaringan jari tangan menotok di sekitar pundak dan tengkuk, lalu mengurut tengkuk itu sambil mengerahkan sin-kang pula.

Sian Li yang duduk di atas kursi, diam saja dan memandang penuh perhatian.

Tak lama kemudian, Sin Hong merasakan dua batang jarum tersembul menyentuh telapak tangannya.

Dia memberi tanda dan Yok-sian Lo-kai menghentikan urutan jari tangannya.

Setelah Sin Hong melepaskan tangannya, nampak gagang dua batang jarum tersembul dan kakek itu lalu mencabutnya.

Bekas luka itu nampak hijau kehitaman dan pada saat itu, Kao Hong Li sudah datang membawa putih telur yang sudah dimasak.

Yok-sian Lokai lalu mencampuri putih telur itu dengan obat bubuk, memupuk-kan campuran ini di atas dua lubang kecil bekas jarum, lalu membalutnya.

"Dalam waktu satu jam, obat itu boleh diambil dan semua racun sudah akan dihisap keluar,"

Katanya dan kini dia mulai mengobati Kao Cin Liong yang masih pingsan.

Luka senjata tajam pada punggung Suma Hui tidak berbahaya dan sudah diobati oleh Sin Hong dengan obat luka.

Akan tetapi, pukulan tangan yang mengandung racun Hek-coa-tok memang berbahaya sekali.

Yok-sian Lo-kai yang memiliki ilmu pengobatan dengan totokan dan tusuk jarum, lalu mulai bekerja.

Dia menotok banyak jalan darah di seluruh tubuh Kao Cin Liong, terutama di seputar tempat luka di punggung.

Kemudian, dia mempergunakan tiga batang jarum emas untuk menusuk bagian-bagian tertentu, menggetarkan jarum-jarum itu dengan tenaga sin-kang melalui jari-jari tangannya.

Kurang lebih dua jam kakek ini melakukan pengobatan dan akhirnya, Kao Cin Liong muntah-muntah dan keluarlah darah menghitam dari mulutnya.

Tentu saja melihat lni, Sin Hong dan Hong Li terkejut dan memandang dengan hati khawatir.

Akan tetapi, Yok-sian tersenyum nampak lega dan pada saat itu terdengar suara rintihan lirih dari pembaringan di mana Suma Hui berbaring.

Mendengar suara ibunya, Hong Li cepat menghampiri dan ternyata ibunya baru saja siuman.

Melihat ibunya bergerak hendak duduk, Hong Li membantu ibunya bangkit duduk.

"Ibu, bagaimana rasanya badanmu?"

Hong Li bertanya, hatinya gembira karena wajah ibunya nampak kemerahan. Suma Hui agaknya baru teringat akan semua keadaan.

"Mana ayahmu?"

Ketika ia menengok ke arah kiri, dan mendengar suaminya muntah-muntah, ia hendak meloncat turun dan tentu akan terjatuh kalau saja tidak ditahan oleh puterinya.

"Perlahan, Ibu. Ayah juga terluka dan baru saja ditolong oleh Locianpwe itu."

Suma Hui kembali duduk dan kini ia memandang ke arah kakek yang mengurut tengkuk dan punggung suaminya yang masih muntah-muntah, akan tetapi tidak sehebat tadi.

"Dia.... Dia.... Yok-sian Lo-kai?"

Suma Hui mengenalnya. Pengemis tua ahli pengobatan itu sudah selesai menolong Kao Cin Liong dan dia pun kini menghadapi Suma Hui sambil tersenyum.

"Suma Lihiap, engkau masih mengenal aku? Bagus! Sudah ditakdirkan Tuhan bahwa kebetulan saja aku sedang hendak berkunjung ke sini ketika aku melihat engkau dan suamimu terluka."

"Ah, terima kasih Lo-kai. Bagaimana suamiku?"

"Aku juga sudah sembuh. Sungguh besar budi Lo-kai kepada kita!"

Kata Kao Cin Liong yang kini juga sudah bangkit duduk. Yok-sian Lo-kai tertawa gembira.

"Ha-ha-ha, kalian ini suami isteri pendekar sungguh lucu. Apa itu budi dan dendam? Menjadi biang penyakit saja. Kao Taihiap, sejak engkau menjadi panglima dahulu, entah sudah berapa puluh atau ratus ribu keluarga yang selamat karena sepak terjangmu. Apa artinya pengobatan yang kuberikan sekarang ini? Pula, kalau bukan Tuhan menghendaki kalian suami isteri budiman agar masih hidup, bagaimana mungkin aku dapat kebetulan berada di sini?"

Kao Cin Liong menghela napas panjang dan dia memandang kepada puterinya dan mantunya.

"Ketahuilah, dahulu, ketika aku memimpin pasukan ke barat, pernah aku menderita luka beracun yang nyaris membunuhku. Untung aku bertemu dengan Yok-sian Lo-kai ini dan dialah pula yang menyembuhkan aku."

"Ha-ha-ha, urusan sekecil itu masih teringat oleh Kao Tahiap sedangkan cara Taihiap menyelamatkan puluhan ribu orang di dusun-dusun yang dilanda gerombolan pemberontak sama sekali dilupakannyal"

"Kong-kong....! Bo-bo....!"

Sian Li datang menghampiri kakek dan neneknya. Mereka bergantian merangkul cucu mereka itu.

"Kelak aku yang akan membasmi para penjahat yang telah melukai Kong-kong dan Bo-bo!"

Kata Sian Li penuh semangat.

"Siancai....! Kalian mempunyai seorang cucu yang sehat!"

Yok-sian Lo-kai memuji.

"Sian Li, anak yang baik, kalau saja engkau mempelajari ilmu pengobatan seperti itu, tentu engkau akan mudah saja tadi menyembuhkan kakek dan nenekmu. Apakah engkau tidak ingin belajar ilmu pengobatan?"

"Aku suka sekali! Kakek yang baik, kau ajarkanlah aku ilmu mengobati seperti itu!"

"Siancai....! Tentu saja aku suka sekali dan engkau memang berbakat. Akan tetapi, tentu saja keputusannya tergantung kepada ayah ibumu, Sian Li."

Kao Cin Liong mengangguk-angguk dan berkata kepada puterinya.

"Hong Li, kalau anakmu bisa dididik Yok-sian Lo-kai, bukan saja ilmu pengobatan yang akan diwarisinya, akan tetapi juga ilmu totok Im-yang Sin-ci yang tidak ada duanya di seluruh dunia ini!"

Hong Li memandang kepada suaminya.

Ia dan suaminya adalah sepasang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Bagaimana mungkin mereka menyerahkan anak tunggal mereka kepada orang lain untuk di jadikan murid?

agaknya Sin Hong dapat mengerti akan isi hatinya, maka Sin Hong cepat memberi hormat kepada kakek itu.

"Locianpwe, kami sebagai orang tua Sian Li menghaturkan banyak terima kasih atas kemurahan hati Locianpwe yang hendak mendidik anak kami. Akan, tetapi karena ia masih amat kecil, biarlah kami akan mendidik dan memberi pelajaran dasar kepadanya lebih dulu. Kelak kalau sudah tiba waktunya, tentu kami akan membawanya menghadap Locianpwe untuk menerima pendidikan Locianpwe."

Kakek itu tersenyum.

"Ah, bagus sekali kalau begitu, Taihiap. Memang seorang tua bangka yang hidup sebatang kara seperti aku ini, bagaimana mungkin mendidik seorang anak kecil? Biarlah, kelak kalau usiaku masih panjang, setelah Sian Li menjadi seorang gadis dewasa, aku akan mewariskan kepandaianku kepadanya."

Keluarga yang kini merasa gembira karena kesembuhan Kao Cin Liong dan Suma Hui, menjamu tamu kehormatan itu dengan makan minum dan mereka mempergunakan kesempatan ini untuk bercakap-cakap.

"Engkau adalah seorang yang banyak melakukan perantauan, Lo-kai, tentu dapat menjelaskan apa artinya semua peristiwa yang menimpa kami ini,"

Kata Kao Cin Liong yang sudah mengenal baik dewa obat itu. Yok-sian Lo-kai menghela napas panjang.

"Seperti cerita kalian tadi, ketua kuil yang murid Siauw-lim-pai itu diserang dan dikejar-kejar beberapa orang tosu Bu-tong-pai dan dia lari ke sini sampai akhirnya tewas pula di sini. Bahkan kalian yang hendak melerai dan melindungi hwesio itu hampir menjadi korban. Memang aneh sekali. Kalian menderita pukulan beracun, padahal setahuku, Bu-tong-pai pantang mempergunakan ilmu pukulan yang keji, yang hanya pantas dimiliki para tokoh sesat. Bagaimanapun juga, permusuhan antara Bu-tong-pai dan Siauw-lim-pai memang semakin meruncing, seperti juga permusuhan antara empat perkumpulan besar, yaitu Bu-tong-pai, Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai dan Go-bi-pai. Aku sendiri merasa heran, bagaimana orang-orang yang mengaku pendekar dan bahkan para pemimpinnya terdiri dari pendeta-pendeta, kini bermusuhan, saling serang dan saling bunuh seperti binatang buas, penuh dendam kebencian. Hayaaaa, agaknya memang sudah jamannya begini. Jaman penjajahan yang mendatangkan segala macam bentuk kekeruhan."

"Akan tetapi, Lo-kai, apakah kita harus tinggal diam saja? Kalau didiamkan bukankah permusuhan itu semakin berlarut-larut dan hal ini amat melemahkan dunia persilatan terutama golongan putih atau kaum pendekar?"

Kata Sin Hong sambil mengerutkan alisnya.

"Bukan itu saja, bahkan golongan lain yang tidak ikut bermusuhan, dapat terlibat seperti halnya kami sekarang ini,"

Kata Hong Li.

"Kalau menurutkan hati panas, salahkah kalau kita mendatangi Bu-tong-pai dan menuntut balas atas apa yang mereka lakukan terhadap ayah dan ibuku yang sama sekali tidak bersalah terhadap mereka?"

"Dalam urusan ini, hati boleh panas akan tetapi kepala harus tetap dingin,"

Kata pula Sin Hong.

"Kita tidak boleh tergesa-gesa mengambil kesimpulan bahwa Bu-tong-pai telah mencelakai orang tua kita. Maka, aku telah mengirim surat teguran kepada Ketua Bu-tong-pai dan kita lihat saja bagaimana nanti jawaban dari sana."

"Siancai.... Ji-wi (Kalian berdua) adalah suami isteri pendekar yang tentu tidak kekurangan kebijaksanaan dan tidak akan bertindak sembarangan. Memang, di dalam jaman penjajahan ini, banyak terjadi bentrokan karena salah paham. Ada sebagian pendekar yang mendukung pemerintah karena menganggap pemerintah dapat bersikap baik terhadap rakyat jelata, ada sebaliknya yang membenci penjajah karena mereka itu orang asing. Aihhh, urusan negara adalah urusan yang ruwet, bagaimana aku dapat mencampurinya? Biarlah aku sekarang pergi dan kelak, kalau waktunya tiba, aku akan datang menagih janji untuk mewariskan kepandaian yang ada padaku kepada Sian Li."

Yok-sian Lo-kai pergi meninggalkan rumah keluarga Kao tanpa dapat ditahan lagi.

Karena Kao Cin Liong dan Suma Hui masih lemah biarpun sudah sembuh, maka Sin Hong dan Hong Li yang mewakili mereka melayat ke kuil untuk menghadiri upacara pembakaran atau perabuan jenazah Thian Kwan Hwesio.

Suma Ceng Liong adalah seorang pendekar sakti yang hidup bersama isterinya di dusun Hong-cun, di luar kota Cin-an Propinsi Shan-tung, di lembah Huang-ho yang subur dan indah.

Pendekar ini merupakan cucu Pendekar Sakti yang paling lihai, putera dari mendiang Suma Kian Bu yang berjuluk Siluman Kecil.

Memang Suma Ceng Liong selain lihai juga amat gagah perkasa.

Usianya sudah empat puluh enam tahun namun dia masih nampak gagah, tinggi besar dengan dagu lonjong dan wajahnya selalu cerah gembira.

Pendekar ini bukan saja mewarisi ilmuilmu dari keluarga Istana Pulau Es, akan tetapi juga dia pernah digembleng oleh Hek I Mo-ong, seorang datuk sesat yang amat lihai.

Juga disamping ilmu silat, dia pernah mempelajari ilmu sihir karena ibunya, Teng Siang In almarhum, adalah seorang ahli sihir yang ampuh.

Oleh karena itu, maka pada waktu itu, boleh dianggap bahwa di antara keturunan keluarga Istana Pulau Es, pendekar Suma Ceng Liong ini merupakan cucu yang paling lihai di antara tiga orang cucu dalam mendiang Pendekar Super Sakti, yaitu Suma Ciang Bun, Suma Hui, dan Suma Ceng Liong.

Pendekar Suma Ceng Liong ini menikah dengan seorang wanita yang sakti pula, bahkan dalam hal ilmu kepandaian silat tingkatnya seimbang dengan tingkat kepandaian suaminya.

Wanita ini bernama Kam Bi Eng, puteri dari Pendekar Sakti Kam Hong, pewaris dari ilmu-ilmu hebat dari Pendekar Suling Emas!

Suami isteri ini semenjak menikah hidup berbahagia, saling mencinta, saling menghormat dan saling setia.

Mereka hanya mempunyai seorang keturunan, yaitu seorang anak perempuan yang bernama Suma Lian.

Puterinya itu juga seorang pendekar yang lihai dan kini sudah menikah dengan seorang pendekar murid Suma Ciang Bun, bernama Gu Hong Beng yang kini tinggal di daerah Heng-san, sebelah selatan Po-teng.

Demikianlah sedikit riwayat pendekar sakti Suma Ceng Liong.

Kini setelah puterinya yang menjadi anak tunggal itu menikah enam tahun yang lalu, Suma Ceng Liong hidup berdua saja dengan isterinya dan kadang merasa kesepian.

Untuk melewatkan waktu menganggur, mereka membuka toko obat di dusun Hong-cun itu.

Mereka tadinya bertahan tidak mau menerima murid karena mereka merasa sayang kalau ilmu kepandaian yang mereka peroleh dari keluarga itu, yang merupakan ilmu silat keturunan, baik dari Suma Ceng Liong maupun dari isterinya, Kam Bi Eng.

Akan tetapi, setahun yang lalu, ketika di rumah keluarga Liem di dusun mereka terjadi kebakaran hebat yang menewaskan seluruh isi rumah, kecuali seorang anak laki-laki mereka yang selamat karena kebetulan berada di luar rumah, suami isteri pendekar itu merasa kasihan sekali kepada Liem Sian Lun.

Melihat betapa anak laki-laki berusia tujuh tahun itu demikian tabahnya menghadapi malapetaka yang menimpa keluarganya sehingga dia menjadi yatim piatu dan sama sekali tidak mempunyai anggauta keluarga lagi, melihat anak itu hanya berlutut di depan makam ayah ibunya seperti patung, tidak menangis, tergerak hati mereka.

Suami isteri ini lalu mengajak Sian Lun pulang.

Mula-mula mereka hanya ingin menolong saja, menjadikan Sian Lun sebagai pembantu rumah tangga dan pembantu toko rempah-rempah mereka.

Akan tetapi, melihat betapa anak itu amat pendiam, penurut dan berwatak baik sekali, juga setelah mendapat kenyataan bahwa anak itu berbakat dan bertulang baik, keduanya sepakat untuk mengambil Sian Lun sebagai murid, bahkan dianggap sebagai anak karena setelah Suma Lian pergi mengikuti suami, mereka berdua seringkali merasa kesepian.

Dan biarpun tahu bahwa dia disayang, digembleng ilmu silat bahkan dianggap sebagai anak angkat, Sian Lun tetap bersikap rendah hati, rajin bekerja sehingga suami isteri pendekar itu menjadi semakin sayang kepadanya.

Karena sikapnya yang rendah hati ini, walaupun para pegawai toko obat dan rempah-rempah itu tahu belaka bahwa Sian Lun diperlakukan seperti anak angkat oleh majikan mereka, namun tak seorang pun merasa iri.

Sian Lun membantu pekerjaan di toko, di rumah, tidak malas dan tidak segan untuk melakukan pekerjaan dan mengepel, bahkan membantu pekerjaan pelayan di dapur.

Pendeknya, di mana ada (Lanjut ke

Jilid 09) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 kesibukan, di situ tentu ada Sian Lun maka dia pun disayang oleh seisi rumah.

Diam-diam pendekar Suma Ceng Liong dan isterinya merasa sayang sekali kepada murid ini dan menaruh harapan besar kepada diri anak itu bahwa kelak akan dapat mewarisi kepandaian mereka dan menjunjung tinggi nama mereka sebagai seorang pendekar budiman.

Sejak berusia tujuh tahun saja sudah nampak bahwa Sian Lun selain berotak terang, mudah menghafal pelajaran baik sastra maupun silat, bertubuh tinggi tegap, pendiam dan tabah sekali, wajahnya cerah.

Ketika utusan dari Kao Cin Liong tiba, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng sedang duduk di ruangan depan.

Hari masih pagi dan toko obat mereka masih tutup, para pegawai sedang membersihkan toko dan bersiap-siap untuk membukanya.

Sian Lun sejak pagi tadi sudah bangun, sudah menyapu pekarangan dan kini sedang sibuk menyirami tanaman kembang kesukaan subo-nya (ibu gurunya).

Penunggang kuda yang memasukkan kudanya ke pekarangan itu, kemudian meloncat turun tergesa-gesa, amat menarik perhatian.

Melihat betapa pria berusia empat puluhan tahun itu nampak lelah, pakaiannya penuh debu dan jelas bahwa dia melakukan perjalanan jauh, Suma Ceng Liong dan isterinya memandang dengan hati tertarik.

Bahkan Sian Lun yang sedang menyiram kembang cepat menurunkan ember airnya dan lari menghampiri orang yang meloncat turun dari punggung kudanya.

"Paman mencari siapakah, dari mana Paman datang dan siapa nama Paman? Aku akan melaporkan kepada Suhu dan Subo,"

Kata Sian Lun dengan sikap hormat, akan tetapi sepasang matanya yang tajam mengamati wajah pendatang itu penuh selidik.

Mendengar anak itu menyebut suhu dan subo, utusan ini pun bersikap ramah.

"Anak yang baik, tolonglah beritahu kepada Locianpwe Suma Ceng Liong dan Nyonya bahwa saya datang sebagai utusan dari keluarga Kao di Pao-teng."

Dari suhu dan subonya, Sian Lun pernah mendengar akan nama para keluarga dan kenalan mereka yang terdiri dari para pendekar, maka mendengar bahwa orang ini utusan dari keluarga Kao di Pao-teng, dia cepat berlari menuju ke ruangan depan di mana suhu dan subonya sedang duduk minum teh pagi.

"Suhu dan Subo, maafkan kalau teecu mengganggu. Akan tetapi penunggang kuda itu mengaku utusan dari keluarga Kao di Pao-teng. Katanya membawa berita yang amat penting untuk Suhu dan Subo."

Tentu saja suami isteri pendekar itu terkejut mendengar bahwa penunggang kuda itu utusan keluarga Kao di Pao-teng.

Kalau tidak ada urusan penting sekali, tentu Kao Cin Liong tidak akan mengirim utusan.

Isteri Kao Cin Liong, yaitu Suma Hui, adalah kakak sepupu Suma Ceng Liong, maka dia pun cepat bangkit dan memandang ke arah penunggang kuda itu.

"Saudara utusan dari Pao-teng, harap lekas datang ke sini menyampaikan berita itu kepada kami!"

Lalu kepada murid mereka Suma Ceng Liong berkata.

"Sian Lun, cepat kau rawat kuda itu, beri makan dan minum di kandang kuda!"

Sian Lun mentaati perintah gurunya.

Dia menerima kendali kuda yang nampak kelelahan itu, membawanya ke kandang di bagian belakang, sedangkan tamu itu dengan sikap hormat lalu menghampiri tuan dan nyonya rumah yang menanti di serambi depan.

Setelah dipersilakan duduk, dan memperkenalkan diri, tamu itu lalu mengeluarkan sesampul surat yang ditulis oleh Tan Sin Hong, mantu keponakan mereka dan begitu membaca isinya, suami isteri itu mengerutkan alis dengan kaget.

Surat itu memberitahu bahwa kakak sepupu Suma Ceng Liong, yaitu Suma Hui dan suaminya, Kao Cin Liong, terluka parah karena pukulan-pukulan beracun dari para tosu Bu-tong-pai dan bahwa mereka berdua diminta untuk segera datang berkunjung ke Pao-teng untuk memberi pertolongan.

Suma Ceng Liong memandang utusan encinya itu dengan pandang mata penuh selidik dan minta kepadanya untuk menceritakan sejelasnya apa yang telah terjadi.

Pelayan toko itu tidak dapat bercerita banyak.

Dia hanya menceritakan apa yang telah didengarnya saja, yaitu bahwa pada beberapa hari yang lalu, malam-malam rumah majikannya diserbu beberapa orang tosu Bu-tong-pai yang berkelahi dengan ketua kuil, yaitu Thian Kwan Hwesio di atas rumah majikan mereka.

Majikan mereka suami isteri berusaha melerai akan tetapi mereka juga menjadi korban pemukulan para tosu Bu-tong-pai yang marah itu.

Akhirnya, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li yang kebetulan berada di sana, berhasil mengusir para tosu Bu-tong-pai dan kini keadaan kedua orang majikan mereka terluka parah, sedangkan hwesio Siauw-lim-pai itu tewas.

"Kami akan berangkat sekarang juga!"

Kata Ceng Liong dan kepada utusan itu dia sarankan untuk beristirahat dulu sebelum pulang, dan dia menyuruh seorang pembantunya untuk menyambut tamu itu.

Dia memanggil Sian Lun dan memesan kepada anak itu agar baik-baik menjaga rumah karena dia, dan isterinya akan pergi ke Pao-teng.

Sian Lun mematuhi perintah suhunya tanpa berani banyak bertanya.

Akan tetapi setelah suhu dan subonya pergi, Sian Lun mendapat banyak kesempatan untuk bicara dan bertanya-tanya kepada utusan dari Pao-teng itu.

Karena anak itu merupakan murid tuan rumah, utusan itu tidak menganggapnya orang luar dan dia pun menceritakan semua hal yang terjadi.

Diam-diam Sian Lun mencatat dalam ingatannya dan merasa heran sekali.

Menurut keterangan suhu dan subonya, di dalam dunia persilatan terdapat dua golongan, Yaitu golongan putih atau para pendekar, dan golongan hitam atau para penjahat.

Dan Bu-tong-pai termasuk golongan putih.

Kenapa sekarang.

Bu-tong-pai membunuh seorang hwesio Siauw-lim-pai, bahkan melukai suami isteri yang terkenal menjadi pendekar itu?

Dia mendengar dari suhunya, siapa adanya pendekar besar Kao Cin Liong dan siapa pula isterinya yang bernama Suma Hui.

Pendekar Kao Cin Liong adalah keturunan keluarga Istana Gurun Pasir, dan Suma Hui adalah kakak sepupu suhunya, keturunan keluarga Istana Pulau Es!

Kedatangan Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, disambut dengan gembira oleh Kao Cin Liong dan Suma Hui, juga oleh Tan Sin Hong dan Kao Hong Li yang masih berada di situ.

Sebaliknya, Suma Ceng Liong dan isterinya juga girang melihat bahwa kakaknya telah sembuh, demikian pula kakak iparnya.

"Kami masih dilindungi Thian dan bertemu dengan Yok-sian Lo-kai sehingga kami dapat disembuhkan dengan cepat,"

Kata Suma Hui kepada adiknya, Suma Ceng Liong, setelah dua orang tamu itu dipersilakan duduk di ruangan dalam.

"Yok-sian Lo-kai? Ah, sudah pernah kudengar nama besarnya, Enci Hui, akan tetapi aku belum pernah bertemu dengan dia. Sungguh kebetulan sekali dia dapat mengobati Enci dan juga Cihu. Akan tetapi, bagaimana mungkin kalian sampai terluka oleh penjahat, padahal di sini terdapat pula puteri kalian dan mantu kalian yang amat lihai ini?"

Suma Ceng Liong memandang kepada Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, seolah hendak menegur kenapa mereka itu tidak mampu melindungi orang tua mereka.

Kao Cin Liong menghela napas panjang.

"Semua terjadi di luar persangkaan. Begitu tiba-tiba. Lima orang tosu itu memang amat lihai, dan biarpun demikian, mereka pasti tidak akan mungkin dapat melukai kami kalau saja di samping kelihaian mereka, mereka itu amat licik dan curang. Mereka menggunakan kecurangan sehingga kami lengah dan terluka."

"Hemm, kalau lain kali aku bertemu dengan mereka, akan kuhancurkan kepala mereka itu satu demi satu!"

Kata Suma Hui yang wataknya keras.

"Tidak, Bo-bo, Bo-bo sudah tua, biarlah aku yang akan mencari mereka dan membasmi mereka yang jahat itu!"

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil dan Sian Li memasuki ruangan itu.

Semua orang menengok dan Suma Ceng Liong dan isterinya memandang kagum.

Anak berpakaian merah itu biar baru berusia empat tahun nampak begitu lincah dan gagah.

"Siapakah anak manis ini?"

Tanya Kam Bi Eng. Kao Hong Li segera berkata.

"Sian Li, hayo cepat memberi hormat kepada kakek dan nenekmu ini. Kakek Suma Ceng Liong ini adalah adik dari nenekmu dan nenek Kam Bi Eng ini isterinya."

Hong Li memperkenalkan paman dan bibinya. Sepasang mata yang lebar dan bening itu mengamati Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng dengan heran.

"Ibu, mereka itu masih muda dan gagah, bagaimana aku harus menyebut Kakek dan Nenek? Mereka belum pantas disebut Kakek dan Nenek, pantasnya Paman dan Bibi."

Semua orang tertawa mendengar ucapan yang jujur dan lucu itu.

Kam Bi Eng meraihnya dan merangkul Sian Li, menciumi pipinya.

Sian Li memandang wajah Bi Eng dan berkata.

"Bibi ini cantik dan gagah sekali, seperti Ibu!"

Kam Bi Eng tertawa.

"Ih, engkau ini perayu. Aku ini nenekmu, usiaku sudah tua, sudah dua kali ibumu. Ibumu adalah keponakanku."

Ia membelai tubuh anak itu dan berseru kagum.

"Aihhh, anakmu ini memiliki tulang dan bakat yang amat baik, Sin Hong"

Lalu kepada suaminya ia berkata.

"Coba kau periksa sendiri!"

Dan dengan lembut ia mendorong anak itu kepada Suma Ceng Liong yang juga merangkulnya. Suma Ceng Liong mengangguk-angguk.

"Kalian memang beruntung. Anak ini memiliki bakat yang amat baik. Hemm, kami akan merasa berbahagia sekali kalau kelak dapat memberi sedikit bimbingan kepadanya."

"Aih, kenapa tidak?"

Kata Suma Hui.

"Kalau adikku Ceng Liong yang memberikan bimbingan, aku yakin kelak Sian Li akan menjadi seorang gadis pendekar yang hebat, dan pantas dijuluki Si Bangau Merah Sakti! Sian Li, cepat kau memberi hormat dan terima kasih kepada kakek dan nenekmu itu!"

Sian Li memang seorang anak yang amat cerdik.

Ia sudah pernah mendengar bahwa ilmu kepandaian paman kakeknya ini amat hebat, maka mendengar seruan neneknya, ia pun cepat menjauhkan diri berlutut di depan Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng yang duduk bersanding.

"Kakek dan Nenek, aku menghaturkan terima kasih kepada Kakek dan Nenek!"

Kao Hong Li dan Tan Sin Hong saling pandang, lalu Sin Hong tertawa.

"Ha-ha-ha, anak kami itu masih kecil, baru berusia empat tahun akan tetapi sudah banyak yang menjanjikan akan mengambilnya sebagai murid. Ketika Yok-sian Lo-kai mengobati Ayah dan Ibu, dia pun minta agar kelak Sian Li boleh mewarisi ilmu-ilmunya, dan sekarang ini Paman dan Bibi juga menjanjikan demikian."

Kao Hong Li cepat memberi hormat kepada Suma Ceng Liong, dan Kam Bi Eng.

"Paman dan Bibi sungguh berbudi, dan atas nama anakku, aku menghaturkan banyak terima kasih."

Sin Hong juga bangkit memberi hormat dan suasana menjadi gembira sekali.

Hal ini tentu saja tidak akan mungkin terjadi kalau Kao Cin Liong dan Suma Hui masih terancam bahaya seperti tempo hari.

Mereka lalu membicarakan tentang permusuhan yang timbul antara para partai persilatan besar.

"Sungguh menyebalkan sekali kalau diingat,"

Kata Suma Ceng Liong.

"Bagaimana sih jalan pikiran para pimpinan partai persilatan besar itu? Bangsa kita dijajah orang Mancu, dan betapapun besar usaha pemerintah Mancu untuk memakmurkan rakyat jelata tetap saja bangsa kita dijajah, menjadi budak dan para pembesar semua adalah orang-orang Mancu, atau kalau ada orang Han juga mereka adalah anjing-anjing penjilat yang tidak segan menindas bangsa sendiri demi kesetiaan mereka kepada pemerintah Mancu. Akan tetapi, kini partai-partai besar bahkan ribut saling bermusuhan sendiri sehingga tentu saja rakyat jelata menjadi semakin menderita, golongan sesat merajalela tanpa ada yang menentangnya. Aihh, sungguh menyedihkan sekali!"

"Adik Liong, kenapa engkau bisa bilang begitu? Lupakah engkau bahwa darah kita ini pun merupakan darah campuran. Kakek kita Suma Han memang seorang Han tulen, akan tetapi bagaimana dengan Nenek kita? Puteri Nirahai, Nenekmu, dan puteri Lulu, Nenekku, bukan orang Han."

Suma Hui memperingatkan. Suma Ceng Liong mengerutkan alisnya,.

"Tidak kusangkal kebenaran hal itu, Enci. Memang kenyataan-nya demikian. Akan tetapi, Kakek kita, Ayah kita, sejak dahulu adalah orang-orang gagah yang menjadi pembela rakyat jelata walaupun tidak pernah mencampuri urusan kenegaraan. Bahkan suamimu, Cihu (Kakak Ipar Kao Cin Liong) juga mengundurkan diri dari jabatan panglima karena sungkan untuk meng-abdi kepada orang-orang Mancu. Kita tidak perlu menentang pemerintah Mancu, akan tetapi kita harus tetap menjadi pendekar yang membela kepentingan rakyat jelata yang tertindas, menentang semua penindas tidak peduli dari bangsa apapun! Kalau kini perkumpulan para pendekar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, dan Go-bi-pai saling serang sendiri, bukankah itu amat menyedihkan?"

"Sudahlah, hal itu tidak cukup hanya disesalkan saja. Melihat cara para tosu Bu-tong-pai itu melakukan kecurangan ketika menyerang kami, aku yakin bahwa ada suatu rahasia tersembunyi di balik ini semua. Aku bahkan mempunyai dugaan bahwa mereka itu bukan orang-orang Bu-tong-pai yang aseli!"

"Tapi, bukankah sudah lama kita mendengar bahwa memang terdapat permusuhan antara Siauw-lim-pai, dan Bu-tong-pai?"

Suma Hui mencela.

"Juga sebelum tewas, Thian Kwan Hwesio sendiri mengaku bahwa mereka adalah orang-orang Bu-tong-pai. Bagaimana dia bisa keliru sangka?"

"Keadaan itu memang aneh dan mencurigakan,"

Kata Sin Hong.

"Harap Ibu dan Ayah mertua suka menenangkan hati. Sudah menjadi kewajiban saya untuk melakukan penyelidikan. Siapa tahu ada oknum luar yang menyelundup ke dalam Bu-tong-pai. Saya mengenal baik para pimpinan Bu-tong-pai dan sudah saya surati ke sana untuk minta pertanggungan jawab mereka."

Dua utusan yang lain beberapa hari kemudian pulang.

Yang diutus mengundang Suma Ciang Bun tidak berhasil karena pendekar itu tidak berada di rumah dan tak seorang pun tahu ke mana perginya.

Seperti kita ketahui, Suma Ciang Bun bertemu dengan Gangga Dewi dan keduanya melakukan pengejaran dan pencarian untuk menolong Yo Han yang dilarikan Ang I Moli dan kawan-kawannya.

Akan tetapi utusan dari Bu-tong-pai datang membawa surat dari Ketua Bu-tong-pai.

Seperti telah diduga oleh Sin Hong, di dalam suratnya itu Ketua Butong-pai menyangkal telah menyerang keluarga Kao di Pao-teng!

Memamg terdapat sedikit pertentangan dan kesalahpahaman antara Bu-tong-pai dan Siauw-lim-pai, demikian antara lain surat itu mengatakan, akan tetapi itu hanya terbatas di kalangan murid-murid yang tinggal di luar pusat saja.

Para pimpinan kedua pihak sedang melakukan penyelidikan dan belum terdapat pertentangan resmi atau berterang.

Maka, Ketua Bu-tong-pai menyangsikan bahwa yang membunuh Thian Kwan Hwesio kepala kuil Pao-teng, bahkan melukai pendekar besar Kao Cin Liong dan isterinya adalah para murid Bu-tong-pai.

Keluarga pendekar itu kini mengadakan perundingan.

"Keadaannya sungguh gawat, dan perlu penyelidikan,"

Kata Suma Ceng Liong.

"Kalau dibiarkan berlarut-larut, tentu akan timbul pertentangan hebat dan akan rusak binasalah para pendekar dari partai-partai besar karena permusuhan yang tidak menentu ujung pangkalnya ini."

"Pendapat Paman itu memang tepat sekali. Saya sendiri sudah mendengar bahwa bukan hanya Bu-tong-pai dan Siauw-lim-pai saja yang dilanda pertentangan, bahkan juga Go-bi-pai dan Kun-lun-pai. Agaknya di antara empat partai besar ini timbul suatu kesalahpahaman besar yang membuat mereka saling curiga, dan di antara murid-murid mereka terdapat permusuhan. Saya kira, sudah sepantasnya kalau kita semua berusaha mendamaikan."

"Tepat sekali!"

Kao Cin Liong juga berseru.

"Memang kita harus berusaha menjernihkan segala kekeruh-an ini agar tidak berlarut-larut!"

Isterinya, Suma Hui cemberut.

"Terlalu enak kalau para pengecut itu didiamkan saja. Bu-tong-pai harus bertanggung jawab dan mencari para pengecut itu sampai dapat, baru aku mau menghabiskan urusan ini dengan Bu-tong-pai!"

Suaminya menghiburnya.

"Kita harus bersabar dan tidak semakin mengeruhkan suasana. Sudah jelas bahwa Bu-tong-pai dipalsukan orang, dan tentu saja kita tidak bisa menyalahkan Bu-tong-pai. Aku yakin bahwa Bu-tong-pai sendiri juga akan bertanggung jawab dan akan mencari pengacau itu sampai dapat. Sebaiknya kalau kita, keluarga kita, mengundang mereka semua ke sini."

"Bukankah beberapa bulan lagi hari ulang tahun Ayah yang ke enam puluh empat? Bagaimana kalau kita mengundang mereka untuk menghadiri ulang tahun itu? Dengan demikian tidak akan menyolok dan mereka tentu akan datang semua, mengingat akan hubungan baik antara Ayah dan para pendekar,"

Kata Kao Hong Li.

Semua orang setuju dan segera diatur undangan kepada para tokoh persilatan, terutama empat partai besar itu untuk menghadapi pesta perayaan ulang tahun Kao Cin Liong yang akan jatuh pada tiga bulan lagi.

Setelah bermalam di situ selama satu minggu, Suma Ceng Liong dan isterinya pulang ke dusun Hong-cun di kota Cin-an, sedangkan Tan Sin Hong, isteri dan anaknya kembali ke Ta-tung setelah mereka berjanji kepada Suma Ceng Liong bahkan kelak puteri mereka Sian Li, akan diantar ke Hong-cun untuk belajar silat dari pendekar sakti itu.

Yo Han menari-nari dengan gerakan yang indah namun aneh.

Yang mengiringi gerakan tarinya adalah suaranya suling yang melengking-lengking secara aneh pula.

Yo Han tidak tahu bahwa suara suling ini, kalau terdengar orang lain, akan dapat membuat orang yang mendengarnya menjadi tuli atau setidak-nya akan roboh pingsan karena suara itu melengking tinggi parau dan begitu lembut sehingga dapat menusuk dan menembus kendangan telinga, menggetarkan jantung dan dapat menguasai semangat orang!

Memang, Thian-te Tok-ong bukanlah seorang manusia biasa.

Tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi, bahkan bukan hanya ilmu silat, melainkan juga tenaga sin-kangnya yang amat kuat itu sukar dicari bandingannya.

Suara sulingnya itu saja cukup untuk membuat pendengarannya menjadi tuli atau mati karena jantungnya terguncang.

Namun, Yo Han memiliki suatu kelainan yang timbul secara mujijat.

Kepasrahannya yang mutlak kepada Tuhan membuat dia seolah menjadi kekasih Tuhan yang selalu melindunginya dengan kekuasaan Tuhan yang gaib.

Atau lebih tepat lagi, tenaga sakti yang memang sudah terkandung dalam diri setiap orang manusia sejak lahir, dan yang biasanya terpendam dan tak berdaya karena pengaruh nafsu-nafsu daya rendah yang menguasainya, pada diri Yo Han timbul dan berkembang sehingga seluruh bagian tubuhnya hidup dan bekerja sesuai dengan tugasnya ketika diciptakan.

Thian-te Tok-ong berusia kurang lebih delapan puluh tahun.

Wataknya sudah berubah kekanak-kanakan, kadang bahkan pikun, akan tetapi dia senang sekali bergurau, dan wataknya juga nakal suka menggoda orang, seperti kanak-kanak.

Tubuhnya pendek kecil seperti tubuh yang sudah mulai mengerut dan mengecil saking tuanya, namun gerakannya masih lincah.

Matanya kocak, jelas membayangkan kenakalan, Dan mulut yang tak ada giginya sebuah pun itu selalu menyeringai seperti seringai anak kecil.

Namun, dia ditakuti seluruh orang Thian-li-pang dan agaknya dia tahu benar akan hal ini.

Di pusat Thian-li-pang itu, Thian-te Tok-ong tinggal di bagian paling belakang, bukan merupakan bangunan lagi, melainkan merupakan sebuah guha besar di bukit.

Guha itu luas sekali dan dilapisi dinding buatan menjadi tempat yang amat kokoh, berikut lubang-lubang angin dan lubang-lubang untuk memasukkan sinar matahari dari atas.

Setiap hari yang keluar masuk hanyalah burung-burung walet kalau siang, dan kelelawar-kelelawar kalau malam.

Keadaannya menyeramkan dan tak seorang pun berani memasuki guha itu tanpa panggilan Thian-te Tok-ong yang jarang pula keluar dari dalam guha.

Makanan dan minuman untuknya dikirim setiap hari oleh seorang murid Thian-li-pang, Akan tetapi itu pun hanya diletakkan di atas batu dan di ujung depan guha.

Yo Han adalah seorang anak yang jujur dan tidak pernah berprasangka buruk terhadap siapapun juga, walaupun hal ini bukan menunjukkan bahwa dia bodoh.

Sama sekali tidak.

Dia peka rasa dan cerdik sekali, namun karena ada perasaan kasih terhadap semua orang, maka dia tidak pernah berprasangka.

Oleh karena itu, ketika Thian-te Tok-ong mengajarkan ilmu "tarian"

Dan "senam"

Kepadanya, dia pun mempelajarinya dengan tekun, sama sekali tidak mempunyai prasangka bahwa semua gerakan tari dan senam itu sesungguhnya merupakan dasar-dasar ilmu silat yang amat hebat!

Di lain pihak, Thian-te Tok-ong adalah seorang kakek tua renta yang di waktu mudanya merupakan seorang datuk sesat yang amat ditakuti orang.

Dia bukan saja ahli silat, akan tetapi juga ahli sihir dan ahli tentang racun sehingga mendapat julukan Tok-ong (Raja Racun).

Setelah merasa bosan merajalela seorang diri saja di dunia kang-ouw, terutama sekali setelah dua kali dia menelan pil pahit karena dikalahkan dua orang pendekar sakti, dia lalu mengundurkan diri dan untuk melindungi dirinya, dia bersembunyi di balik sebuah perkumpulan yang didirikannya, yaitu Thian-li-pang.

Perkumpulan itu maju pesat berkat kepandaiannya, akan tetapi setelah usianya semakin tua, dia menyerahkan kepengurusan Thian-li-pang kepada sutenya, yaitu Ban-tok Mo-ko yang dalam ilmu silat juga amat lihai, tentu saja masih jauh di bawah tingkat suhengnya, Thian-te Tok-ong yang mengundur-kan diri dan bertapa di dalam guha itu.

Setelah Yo Han berada setahun di dalam guha itu menjadi murid Thian-te Tok-ong, sedikit demi sedikit gurunya mulai mengungkapkan tabir rahasianya.

Kakek itu semakin percaya kepada Yo Han dan mulailah dia menceritakan tentang keadaan Thian-li-pang, bahkan mulai membuka rahasia diri pribadinya.

Dan Yo Han juga merasa sayang kepada gurunya ini karena dia menganggap kakek itu sebagai seorang tua renta yang hidupnya tidak berbahagia, yang, kesepian dan, agaknya kenangan-kenangan pahit menekan sisa hidupnya.

Dari Thian-te Tok-ong, Yo Han mendengar bahwa Thian-li-pang didirikan oleh Thian-te Tok-ong dengan cita-cita yang tinggi.

Bukan, saja untuk mendirikan sebuah perkumpulan silat yang ampuh dan memiliki banyak murid pandai yang akan menjunjung tinggi nama Thian-li-pang.

Dan satu ciri khas Thian-li-pang adalah bahwa perkumpulan ini anti pemerintah Mancu, anti penjajahan!

Hal ini sebetulnya bukan karena Thian-te Tok-ong berjiwa patriot, sama sekali bukan, melainkan karena dia pernah merasa sakit hati terhadap pemerintah Mancu.

Pernah dahulu perkumpulannya cerai berai dan hampir terbasmi ketika pasukan Mancu di bawah pimpinan Panglima Kao Cin Liong mengadakan pembersihan!

Sejak itu, dia pun bersumpah untuk memimpin perkumpulannya, menjadi perkumpulan anti pemerintah Mancu.

Tentu saja kepada Yo Han, kakek ini hanya mengemukakan bahwa perkumpulan Thian-li-pang adalah perkumpulan patriot yang gagah, yang cinta tanah air dan bangsa, yang bercita-cita membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah.

Dia mengharapkan anak, yang luar biasa ini akan dapat mewarisi ilmu-ilmunya dan kelak menjadi pemimpin Thian-li-pang untuk menghancurkan pemerintah Mancu.

Setelah dua tahun Yo Han menjadi murid Thian-te Tok-ong dan usianya sudah empat belas tahun, pada suatu pagi sehabis berlatih "menari", dia dipanggil menghadap gurunya.

Sambil berlutut Yo Han duduk di depan gurunya yang bersila di atas batu datar.

Kakek itu memandang kepada muridnya, mengangguk-angguk gembira sekali sambil mengelus jenggotnya yang putih panjang.

Muridnya itu kini bukan kanak-kanak lagi.

Usianya sudah menjelang dewasa dan tubuhnya yang sedang itu tegap dan agak tinggi.

Mukanya yang lonjong itu nampak gagah tampan dengan dagu meruncing dan berlekuk.

Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan tergantung di belakang punggung.

Alisnya tebal berbentuk golok, dahinya lebar, hidung mancung dan mulut itu membayangkan senyum yang ramah dan lembut.

"Yo Han, tahukah engkau sudah berapa lama engkau menjadi muridku dan berdiam di sini?"

"Teecu tidak dapat menghitung hari, Suhu. Akan tetapi tentu sudah ada dua tahun."

"Benar, dua tahun telah berlalu dengan cepatnya dan kukira engkau telah memperoleh kemajuan pesat, dalam ilmu tari, senam dan juga bertiup suling. Nah, sekarang aku ingin mengujimu, Yo Han. Engkau mulailah dengan gerakan senam seperti yang kau latih selama ini. Berdiri dan bersiaplah menanti apa yang kuperintahkan!"

Yo Han memang amat menyayang dan menghormati gurunya yang sejak dia berada di situ bersikap amat, baik kepada-nya.

Mendengar perintah ini, dia pun segera melepas baju atasnya bertelanjang dada dan berdiri tegak dengan, kedua lengan tergantung di kanan kiri, siap untuk melakukan senam seperti yang diajarkan oleh gurunya.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa gerakan senam itu oleh Thian-te Tok-ong diambil sebagian dari gerakan silat Thai-kek-koan dan Im-yang-kun.

Mulailah dia bergerak setelah mendengar aba-aba gurunya.

Mula-mula dia mengangkat lengan kanan ke atas, melingkar di bawah pusar, Lalu kedua lengan itu diputar perlahan saling bertemu seperti orang menangkap bola besar di depan dada sambil menarik dan menahan napas, kemudian dengan hembusan napas perlahan, kedua tangan itu digerakkan, yang satu ke atas dan yang satu ke bawah seperti menolak dengan pengerahan tenaga dalam perlahan-lahan.

Inilah gerakan dari Thai-kek-koan.

Kemudian gerakan itu disambung dengan menjulurkan kedua lengan kanan kiri, dengan telapak tangan agak ke atas, jari-jari menunjuk langit, lalu siku ditekuk ke atas dan kedua tangan ke pinggang, dilanjutkan dengan gerakan memutar tangan, telapak yang tadinya di bawah menjadi ke atas seperti orang menyodorkan atau menawarkan sesuatu.

Gerakan ini oleh gurunya dinamakan "Menghaturkan Anggur Kepada Dewata."

"Sekarang salurkan tenagamu ke arah pundak, perlahan-lahan sampai seluruh tenagamu berkumpul di kedua pundakmu!"

Terdengar Thian-te Tok-ong berkata.

Yo Han menurut.

Kedua tangan yang dilonjorkan itu ditarik kembali sampai ke bawah ketiak dan dia pun mengerahkan tenaga dari pusar dan dikumpulkan ke pundak.

Kedua pundaknya itu meng-gembung besar sekali, seperti punuk onta saja!

"Tarik tenaga itu ke punggungmu dan membuat gerakan menyembah Sang Buddha!"

Kata gurunya.

Yo Han merobah gerakannya, tubuhnya membungkuk dengan muka hampir menyentuh tanah, kedua tangan merangkap ke depan dan kini punuk di kedua pundak berpindah ke punggung, membuat dia menjadi seperti orang yang berpunuk dan bongkok!

Thian-te Tok-ong memberi aba-aba terus dan latihan "senam"

Ini sungguh amat mengagumkan bagi orang lain kalau ada yang melihatnya. Anak berusia empat belas tahun itu dapat memindahkan gumpalan "punuk"

Yang sesungguhnya merupakan saluran tenaga sakti itu ke mana saja, ke leher, ke dada, perut, lengan, kaki, bahkan ke tengkuk leher!

Yo Han sendiri sama sekali tidak menyadari bahwa gumpalan yang sebenarnya merupakan hawa sin-kang itu dapat membuat tubuh bagian itu menjadi kebal!

"Sekarang kau lihat di dinding itu.

Ada gumpalan batu menonjol, bukan?

Nah, batu, itu mengganggu, Yo Han.

Coba engkau kerahkan kemauanmu pada telapak tangan kirimu dan mendorongnya ke arah batu itu dengan pengerahan tekad untuk memecahkan gumpalan batu yang mengganggu dinding itu agar dinding menjadi rata!"

Yo Han tidak tahu apa artinya ini dan apa pula gunanya.

Akan tetapi karena yang harus diratakan itu hanya batu dinding, dia pun dengan senang hati melakukannya.

Dia menyalurkan tenaga yang menda-tangkan gumpalan pada semua bagian tubuh itu ke arah telapak tangan kirinya, dan dengan kemauan bulat dia mendorong ke arah gumpalan batu menonjol di dinding itu.

Jarak antara tangannya dan dinding itu ada dua meter.

Dia tidak menyadari bahwa dari telapak tangannya menyambar hawa pukulan dahsyat dan terdengar suara keras diikuti pecahnya gumpalan batu dinding menonjol itu!

"Brakkkk!"

Yo Han sendiri memandang bengong dan matanya terbelalak.

Tak disangkanya bahwa gumpalan batu itu dapat remuk terkena sambaran hawa pukulan tangannya dan hal ini sungguh mem-buat dia tidak mengerti.

Dia menoleh kepada gurunya ketika mendengar gurunya tertawa terkekeh-kekeh dengan senangnya.

"Suhu! Apa yang terjadi? Kenapa batu itu bisa pecah?"

Tanyanya.

"Heh-heh-heh, itulah berkat latihan senammu, Yo Han. Jangankan seorang manusia, bahkan batu pun akan hancur terkena sambatan angin pukulan tanganmu."

"Ihh! Aku tidak mau memukul orang, Suhu!"

Kata Yo Han marah.

"Hushh, siapa suruh kau memukul orang? Engkau hanya berlatih senam agar tubuhmu sehat, bukan untuk memukul orang. Tadi pun hanya untuk mengetahui sampai di mana kemajuan latihanmu. Apa kau kira aku ingin muridku menjadi tukang pukul! Heh-heh, Yo Han, jangan mengira yang bukan-bukan. Sekarang sudah kulihat kemajuan ilmu senammu, mari kulihat kemajuan ilmu tarianmu. Nah, kau pakai kembali baju atasmu."

Yo Han merasa girang dan dia pun membereskan kembali pakaiannya.

Dia tidak tahu bahwa dalam usia empat belas tahun itu, tubuhnya telah menjadi atletis dan indah sekali, seperti tubuh seorang dewasa yang kuat.

"Aku ingin melihat engkau mainkan tari kera dan akan kucoba engkau dengan sambitan-sambitan batu ini. Seekor kera yang sudah mahir menari, disambit bagaimana-pun sudah pasti akan mampu mengelak dan tidak akan dapat disambit. Nah, engkau mulailah."

Yo Han sudah mempelajari tarian ini dengan baik.

Tubuhnya lalu membuat gerakan-gerakan loncatan ke sana-sini, Kedua tangannya membentuk gerakan kedua tangan kera, siku ditekuk, pergelangan tangan ditekuk dan kedua kakinya agak merendah, meloncat ke sana-sini, bahkan mulutnya mengeluarkan bunyi seperti kera, dan bibirnya diruncingkan, Matanya melirik ke kanan kiri dengan lincahnya, kadang meloncat ke atas, kadang bergulingan, gerakannya gesit, lincah dan cepat sekali.

Dan kakek itu pun tidak tinggal diam.

Kedua tangannya mengambil batu-batu kecil yang sudah dipersiapkan bertumpuk di depannya dan dia pun mulai menyambit-nyambitkan batu-batu itu.

Sambitannya cepat dan kuat, namun sungguh mengagumkan.

Yo Han dapat mengelak dan seolah-olah pendengarannya menjadi sangat tajam dan dia sudah dapat menangkap arah luncuran batu-batu itu tanpa melihat dengan matanya.

Sampai puluhan batu kecil menyambar, dan tak sebutir pun mengenai tubuhnya!

"Bagus sekali!

Engkau seperti monyet tulen, muridku.

Nah, sekarang ilmu tari harimau!"

Yo Han mentaati dan tanpa dia sadari, Dia kini memainkan silat Harimau yang jarang didapatkan keduanya.

Bukan saja gerakannya tangkas, kedua tangan membentuk cakar harimau dan gerakannya amat hidup, akan tetapi juga dari mulutnya keluar auman seperti harimau dan andaikata dia mengenakan pakaian bulu harimau, tentu orang akan mengira dia seekor harimau sungguh!

Ada suatu keanehan luar biasa pada diri Yo Han.

Yang agaknya juga baru dikenal atau diduga-duga oleh orang aneh seperti Thian-te Tok-ong.

Kakek yang sudah penuh pengalaman hidup ini pun tidak tahu mengapa ada hal mujijat terdapat dalam diri anak itu.

Kalau dia mengajarkan suatu ilmu silat dengan dalih ilmu tari atau senam, dia mengajarkan gerakan silat tanpa mengatakan bahwa gerakan-gerakan itu selain untuk memperkuat tubuh, Juga mempunyai daya tahan dan daya serang yang ampuh.

Akan tetapi, dia melihat keanehan.

Kalau Yo Han sudah memainkan tari monyet misalnya, dia melihat anak itu seolah-olah bukan anak manusia lagi, seolah-olah memang dia seekor monyet!

Gerakannya demikian wajar, tidak dibuat, tidak tiruan, bahkan ada gerakan aneh yang tidak mungkin dilakukan manusia, kecuali dilakukan monyet aseli.

Demikian pula gerakan harimau.

Kalau anak itu sudah membuat gerakan tari harimau, suara aumannya presis harimau, bahkan gerakan mulutnya, bibirnya, tiada ubahnya seekor harimau tulen, bahkan sepasang matanya juga mencorong seperti mata harimau!

Ini sungguh ajaib dan kadang-kadang seorang datuk besar seperti Thian-te Tok-ong menjadi ngeri sendiri!

Anak macam apa yang dijadikan muridnya ini?

"Sekarang pelajaran yang paling akhir.

Gerakan binatang cecak merayap itu.

Yang paling sukar dan paling baru.

Jangan takut, kalau sampai engkau gagal pun aku tidak akan marah, akan tetapi kerahkan seluruh kekuatan pada telapak tanganmu, Yo Han."

"Teecu, biarpun tidak tahu apa maksudnya Suhu mengajarkan ilmu merayap seperti cecak, telah mempelajari dengan tekun dan memang amat sukar, Suhu. Akan tetapi, apa sesungguhnya manfaat ilmu senam meniru akan gerakan cecak seperti itu, Suhu?"

"He-he-he-heh, anak bodoh. Masa engkau yang begini cerdik tidak tahu gunanya. Selain dapat menyehatkan tubuhmu, juga amat penting. Bahkan penting sekali. Bayangkan saja. Suatu hari engkau tidak sengaja terjerumus ke dalam sumur yang amat dalam. Meloncat keluar tidak mungkin, lalu apa yang akan kau lakukan? Apakah engkau akan mati kelaparan di dalam lubang itu kalau tidak ada orang mendengar teriakanmu minta tolong? Nah kalau engkau pandai menirukan gaya cecak merayap, tentu engkau akan dapat keluar dari sumur itu dengan merayap melalui dindingnya. Nah, kau masih bilang tidak ada manfaatnya?"

Yo Han menjadi girang dan dia pun tentu saja dapat mengerti.

"Baik, Suhu. Teecu akan mencobanya sekarang."

Dan seperti yang telah diajarkan gurunya, dia duduk bersila, mengatur pernapasan, menggerak-gerakkan kedua lengannya sampai buku-buku jarinya mengeluarkan bunyi berkerotokan, kemudian dia pun bangkit, menghampiri dinding guha dan merayap naik menggunakan kedua tangan dan kedua kakinya yang tidak ber-sepatu.

Dan dia pun dapat merayap seperti seekor cecak ke atas dan turun ke seberang dinding yang sana!

Setelah turun, napasnya terengah dan keringatnya membasahi seluruh tubuh karena dia telah mengerahkan seluruh tenaganya.

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Engkau memang muridku yang amat hebat, Yo Han! Sekarang yang terakhir. Engkau pernah belajar tari lutung hitam yang menggunakan kaki tangannya untuk menangkapi semua benda yang dilemparkan kepadanya. Nah, aku ingin engkau menarikan itu dan melihat apakah engkau sudah mahir!"

Sebetulnya Yo Han sudah lelah sekali.

Akan tetapi dia memang mempunyai kekerasan hati yang mengagumkan dan pantang mundur.

Apalagi dia memang patuh kepada gurunya yang dianggapnya amat menyayangnya.

"Suhu, teecu sudah siap!"

Katanya sambil berdiri memasang kuda-kuda di tengah ruangan guha itu.

Dia tahu bahwa kalau tadi suhunya menghujankan sambitan batu-batu kecil, kini gurunya hendak menggunakan segala macam ranting untuk menyambitnya seperti hujan anak panah dan dia bukan saja harus menghindarkan semua luncuran ranting, akan tetapi juga sedapat mungkin harus bisa menangkap sebanyaknya.

"Awas serangan!"

Tiba-tiba Thian-te Tok-ong menggerak-kan kedua tangannya dan puluhan batang ranting meluncur seperti anak panah ke arah seluruh tubuh Yo Han.

Pemuda remaja ini bergerak seperti seekor lutung, kaki tangannya bergerak dan bukan hanya.

kedua tangannya saja yang mampu menangkis atau menangkap ranting, bahkan kedua kaki telanjang itu pun berhasil menjepit ranting dengan celah-celah jari kaki atau menyepaknya pergi.

Akan tetapi, ketika gurunya menghentikan serangan itu, dia mengeluh dan menjatuhkan diri bersila di atas lantai guha, menahan sakit sambil memegangi kaki tangannya yang berdarah dan bengkak-bengkak membiru!

"Suhu, kenapa kaki tangan teecu menjadi begini?"

Tanyanya, sekuat tenaga menahan agar mulutnya tidak mengeluarkan keluhan.

Kakek itu menghampiri, langkahnya sudah gontai karena memang dia sudah tua sekali.

Akan tetapi matanya mencorong aneh dan berulang kali dia menggeleng.

kepala.

"Luar biasa! Ajaib, seribu kali ajaib! Tahukah engkau, Yo Han, kalau orang lain yang menangkis dan menangkapi ranting-ranting tadi, tak peduli bagaimana tinggi ilmunya saat ini dia sudah akan menjadi kaku dan mampus?"

Yo Han terbelalak memandang wajah tua itu.

"Akan tetapi, kenapa, Suhu?"

"Ranting-ranting itu semua sudah kupasangi bubuk racun yang paling berbahaya di dunia ini, terdiri dari racun segala macam ular yang paling ampuh. Ular cobra, ular belang hitam, ular merah, ular emas, bahkan racun kalajengking hijau. Siapapun yang terkena, pasti mati seketika. Akan tetapi engkau.... engkau hanya luka-luka dan tangan kakimu membiru saja! Bukan main!"

"Tapi, kenapa, Suhu? Apakah Suhu bermaksud untuk mem-bunuh teecu?"

"Ha-ha-ha-ha, aku sayang padamu, aku kagum padamu, kepadamulah seluruh tumpuan harapanku kuberikan, bagaimana mungkin aku akan membunuhmu? Aku hanya akan mengujimu! Andaikata racun-racun itu mengancam nyawamu, aku sudah mempersiapkan obat penawarnya. Sekarang tidak perlu lagi. Racun itu hanya berhenti sampai dipergelangan tangan dan kakimu. Entah kemujijatan apa yang melindungi dirimu, Yo Han."

"Tidak ada kemujijatan apa-apa kecuali kekuasaan Tuhan yang teecu yakin akan selalu melindungi teecu, Suhu."

"Heh-heh-heh, sudah terlalu sering engkau mengatakan begitu. Akan tetapi, bagaimana ada kekuasaan Tuhan melindungimu, tidak melindungi orang lain?"

"Suhu, bagaimana teecu bisa tahu? Kehendak Tuhan, siapa yang tahu? Teecu hanya merasakan bahwa ada sesuatu diluar kehendak akal plkiran teecu, teecu hanya menyerahkan kepada Tuhan, menyerah dengan sepenuh jiwa raga teecu. Apa pun yang dikehendaki Tuhan atas diri teecu, akan teecu terima tanpa mengeluh."

"Engkau memang anak aneh sekali. Bagaimana rasanya jari-jari tangan dan kakimu?"

"Rasanya ngilu, nyeri kaku dan gatal-gatal."

"Heh-heh-heh, tidak percuma gurumu ini berjuluk Tok-ong (Raja Racun), akan tetapi sekali ini, Tok-ong sama sekali tidak berdaya menghadapi kekuasaan Tuhan yang ada pada dirimu. Buktinya, engkau tidak apa-apa. Kalau bukan engkau keadaanmu ini merupakan penghinaan besar bagiku dan sekali pukul engkau akan mampus. Akan tetapi engkau muridku, bahkan engkau akan kuajari bagaimana untuk mengobati pengaruh racun dariku."

"Akan tetapi, Suhu, teecu tidak akan menggunakan racun. Teecu tidak mau mencelakai orang, tidak mau meracuni orang."

"Ha-ha-ha, engkau tidak mau mencelakai orang, akan tetapi akan dicelakai orang, engkau tidak mau meracuni orang, akan tetapi engkau akan diracuni orang. Aih, Yo Han, engkau belum tahu apa artinya hidup ini. Kau kira dunia ini seperti sorga? Neraka pun tidak sebusuk dunia, kau tahu? Setan-setan pun tidak sejahat manusia, kau tahu?"

"Tidak, Suhu! Teecu tidak percaya. Semua manusia pada dasarnya baik. Hanya karena mempelajari ilmu kekerasan, maka dia menjadi jahat dan hendak mengandalkan kekerasan untuk mencari kemenangan. Dan teecu tidak sudi mempelajari kekerasan."

Thian-te Tok-ong tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan muridnya itu.

Bagaimana dia tidak akan merasa geli?

Selama dua tahun ini dia telah menggembleng Yo Han dengan ilmu-ilmu yang amat hebat, ilmu yang akan dapat membunuh puluhan orang lawan dan anak ini masih mengatakan tidak sudi mempelajari kekerasan!

Mereka berada di tengah guha itu, tidak nampak dari luar.

Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dari luar pintu guha, disusul kata-kata yang lembut seorang wanita, namun yang dapat terdengar sampai ke dalam guha.

"Thian-te Tok-ong, keluarlah engkau, aku Ang Moli ingin bicara denganmu!"

Mendengar suara yang melengking nyaring ini, diam-diam Yo Han terkejut.

Tentu saja dia mengenal siapa itu Ang I Moli, orang pertama yang memaksanya menjadi murid walaupun dia tidak pernah diajarkan apa pun.

Dia tahu bahwa wanita itu seperti iblis, selain amat lihai, juga amat jahat dan kejam, maka diam-diam dia mengkhawatirkan keselamatan kakek tua renta yang selama ini bersikap baik kepadanya.

Akan tetapi kakek itu terkekeh.

"Ang I Moli, suaramu sudah cukup nyaring dan dapat terdengar dari sini. Perlu apa aku harus keluar menemuimu? Kalau mau bicara, bicaralah, dari sini pun aku dapat mendengarmu dengan baik."

"Thian-te Tok-ong, tidak perlu kujelaskan lagi, tentu kunjunganku ini sudah kau ketahui maksudnya. Aku datang untuk menuntut janjimu untuk menukar Sin-tong dengan obat penawar racun ilmu yang telah kusempurnakan."

"Heh-heh-heh, engkau sudah menyempurnakan Toat-beng Tok-hiat (Darah Beracun Pencabut Nyawa)? Hebat! Ilmu semacam itu hanya ada seratus tahun yang lalu dan. kini engkau berhasil menguasainya? Perempuan iblis, engkau akan menjadi seorang tanpa tanding, heh-heh-heh! Mari, Yo Han, mari kita keluar melihat iblis betina itu!"

Kakek itu menjulurkan tongkatnya kepada Yo Han.

Anak itu memegang ujung tongkat dan menuntun gurunya keluar dari dalam guha.

Dia sendiri sudah sering keluar guha, akan tetapi kakek itu tidak pernah sehingga setelah kini dia keluar dari guha, matanya disipitkan, silau, dan mukanya nampak pucat seperti mayat hidup.

Diam-diam Ang I Moli sendiri bergidik.

Kakek ini seperti bukan manusia lagi dan ia pun sudah mendengar bahwa kakek tua renta ini merupakan tokoh nomor satu dari Thian-li-pang yang memiliki tingkat kepandaian tak dapat diukur tingginya.

Setelah Yo Han dan Thian-te Tok-ong tiba di luar guha, mereka melihat ada beberapa orang di situ.

Selain Ang I Moli yang kini nampak semakin cantik saja, juga di situ terdepat Lauw Kang Hui, wakil ketua Thian-li-pang yang berlutut, dan ada pula lima orang pria lain yang melihat pakaian mereka adalah petani-petani biasa dan nampaknya mereka itu ketakutan, berlutut pula tanpa berani mengangkat muka.

Hanya Ang I Moli seorang yang tidak berlutut.

Hal ini tidaklah aneh karena ia bukan anggauta Thian-li-pang, bahkan ia adalah pemimpin dari perkumpulan Ang I Mopang di luar kota Kun-ming.

Dua tahun yang lalu, ketika ia bersekutu dengan Thian-li-pang, kemudian menyerahkan Yo Han kepada Lauw Kang Hui wakil ketua Thian-li-pang untuk ditukar dengan dua belas orang pemuda remaja, Ia lalu membawa dua belas orang remaja itu pergi.

Diam-diam ia mulai melatih diri dengan ilmu kejinya itu, mengorbankan nyawa dua belas orang remaja yang dihisap darahnya, dan kini, dua tahun kemudian, ia telah berhasil dengan ilmunya itu dan datang menagih janji, yaitu untuk minta obat penawar bagi keampuhan ilmunya yang beracun.

Baginya sendiri, ilmu tanpa ada obat penawarnya amat berbahaya bagi diri sendiri, juga tidak dapat dipergunakan untuk memaksakan kehendaknya kepada lain orang.

Dan di dunia ini, yang mampu membuatkan obat penawar bagi segala macam ilmu pukulan beracun hanyalah Thian-te Tok-ong seorang!

Begitu kakek tua renta itu muncul, Ang I Moli membungkuk dengan sikap hormat.

Lauw Kang Hui yang berlutut juga memberi hormat dan berkata.

"Teecu mohon Supek sudi memaafkan kalau teecu mengganggu ketentraman Supek. Teecu mengantarkan Ang I Moli yang hendak menagih janji dua tahun yang lalu."

"Heh-heh-heh, Lauw Kang Hui, mulutmu bicara satu akan tetapi hatimu bicara dua. Katakan saja bahwa engkau pun datang untuk menagih janji minta diajari sebuah ilmu. Benar tidak?"

Wajah Lauw Kang Hui yang biasanya sudah memang merah itu menjadi semakin gelap, akan tetapi dia, menyembah lagi dengan segala kerendahan hati.

"Supek, teecu hanya menyerahkan kepada kebijaksanaan Supek, karena semua itu demi kemajuan Thian-li-pang kita."

"Baiklah, kau tunggu saja. Sekarang, Moli. Aku bukan orang yang suka melanggar janji. Yo Han memang menyenangkan dan sudah menjadi muridku. Untuk itu, aku tentu akan memenuhi janjimu. Akan tetapi, bagaimana aku akan dapat membuat obat pemunah dari ilmu kejimu itu kalau aku tidak melihat dulu buktinya."

Ang I Moli tertawa genit dan memang wanita ini masih manis sekali seperti orang muda saja walaupun usianya sudah empat puluh tahun.

"Locianpwe Thian-te Tok-ong, aku sudah mempersiapkan segalanya. Lihatlah lima orang dusun ini. Mereka yang akan kujadikan kelinci percobaan. Nah, harap kau lihat baik-baik!"

Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, yang nampak hanya berkelebatnya bayangan merah saja dan tahu-tahu tiga di antara lima orang itu roboh terpelanting.

Padahal, Ang I Moli hanya mendorongkan telapak tangannya dari jauh saja tanpa menyentuh orangnya, dan dari telapak tangan itu menyambar hawa yang kebiruan ke arah mereka.

"Keji sekali kau!"

Tlba-tiba Yo Han berseru dan dari tempat ia berdiri, Yo Han teringat akan ilmu senamnya dan dia pun mendorongkan kedua tangannya ke arah dua orang yang belum roboh.

Dua orang itu seperti kena disambar angin keras dan tubuh mereka, terguling-guling sampai jauh akan tetapi mereka terhindar dari, pukulan beracun Ang I Moli!

Melihat ini, Ang I Moli marah sekali dan ia pun mengerahkan pukulan kedua tangannya, didorongkan ke arah tubuh Yo Han.

Anak ini pun menyambut.

dengan gerakan senam yang dinamakan "mendorong bukit".

"Dess....!"

Yo Han terjengkang dan roboh pingsan.

Akan tetapi Ang I Moli terhuyung, berpusing lalu roboh dan muntah darah!

Wanita itu terbelalak, penuh kekagetan, Keheranan dan juga ketakutan karena ia merasa betapa ilmunya yang amat keji itu, yaitu yang ia beri nama Toat-beng Tok-hiat, tadi ketika bertemu dengan tenaga dari kedua tangan anak itu, telah membalik dan melukai dirinya sendiri!

Ia tahu bahwa ia telah menjadi korban pukulannya sendiri yang membalik dan ia sendiri tidak mempunyai obat penawarnya!

Keadaannya sama dengan tiga orang petani yang dijadikan kelinci percobaan.

Mereka pun roboh dan muntah darah.

Baik wajah tiga orang itu maupun wajah Ang I Moli berubah menjadi kebiruan!

Thian-te Tok-ong menghampiri Yo Han dan dia tertawa terkekeh-kekeh saking girangnya melihat betapa biarpun pingsan Yo Han sama sekali tidak terluka.

Dia menotokkan tongkatnya ke tengkuk anak itu dan Yo Han pun siuman kembali.

Dia meloncat bangun dan memandang ke arah Ang I Moli dengan mata terbelalak.

"Suhu.... apakah teecu.... membuat ia roboh....?"

Thian-te Tok-ong mengangguk.

"Kalau engkau tidak mempergunakan senam mendorong bukit, tentu engkau akan roboh keracunan atau mungkin sudah tewas. Ilmu iblis betina itu keji bukan main."

Ang I Moli terengah-engah dan bangkit duduk.

"Locianpwe, aku yakin bahwa seorang Locianpwe seperti engkau ini tidak akan menelan ludah sendiri dan akan memenuhi janjinya. Aku menuntut diberi obat penawar untuk ilmu pukulan ini."

"Ha-ha-ha, sudah lama kubuatkan. Aku mengenal pukulan keji semacam itu, Moli. Akan tetapi engkau masih untung. Kalau engkau tadi membuat Yo Han tewas, engkau pun tentu akan kubunuh! Nah, inilah obat penawarnya, berikut catatan cara membuatnya, terimalah dan buktikan kemanjurannya pada dirimu sendiri."

Kakek itu melemparkan sebuah bungkusan yang diterima oleh Ang I Moli.

Isi bungkusan itu ternyata belasan butir pel merah dan sehelai kertas catatan resep pembuatannya.

Menurutkan petunjuk catatan, Ang I Moli menelan sebutir pel merah dan setelah bersila sejenak, wajahnya berubah merah kembali dan ia merasa betapa pengaruh racun di tubuhnya lenyap.

Ia girang bukan main, meloncat berdiri lalu membungkuk terhadap Thian-te Tok-ong.

"Nama besar Thian-te Tok-ong ternyata bukan nama kosong dan bukan seorang pembohong. Aku menghaturkan banyak terima kasih."

Kemudian kepada Lauw Kang Hui ia pun berkata.

"Lauw Pangcu, kita telah saling membantu, harap sampaikan hormatku kepada Ouw Pangcu. Aku mohon diri untuk mengambil jalanku sendiri. Selamat tinggal!"

"Heiiii, nanti dulu!"

Tiba-tiba Yo Han berseru keras.

Moli terkejut karena sekali anak itu menggerakkan kaki, tubuhnya sudah melayang dan berdiri di depannya!

Anak ini, entah disadari atau pun tidak, telah memiliiki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat!

"Huh, mau apa engkau?"

Bentaknya, tidak berani memandang rendah karena tentu saja ia gentar terhadap guru anak itu.

Dengan telunjuk tangan kanannya, seperti seorang dewasa menegur seorang anak nakal, Yo Han berkata.

"Ang I Moli, sejak dahulu engkau sungguh tak berubah, bahkan menjadi semakin jahat dan keji. Engkau melukai tiga orang petani yang tidak berdosa itu sampai mereka keracunan dan engkau mau meninggalkan mereka begitu saja? Mana tanggung jawabmu? Engkau harus menyembuhkan dulu mereka, baru boleh pergi!"

Ang I Moli mengerutkan alisnya. Mana ia mau mentaati permintaan bocah itu? "Huh! Peduli apa aku dengan mereka?"

Serunya dan ia pun sudah meloncat pergi.

Akan tetapi Yo Han juga meloncat dan anak ini terkejut sendiri akan tubuhnya melayang dan dia dapat menghadang di depan wanita pakaian merah itu.

"Aih, kiranya Tok-ong sudah melatihmu, ya? Yo Han, engkau masih kanak-kanak, sama sekali bukan lawanku, jangan coba-coba menghalangiku. Kalau aku tidak melihat muka gurumu, sekali pukul engkau akan mampus. Pergilah!"

"Moli, aku tidak mau berkelahi, aku tidak mau melawanmu atau melawan siapa saja. Akan tetapi aku minta pertanggungan jawabmu. Tiga orang itu tidak berdosa. Tidak boleh engkau meninggalkan mereka terluka tanpa kau obati. Hayo cepat kau sembuhkan mereka!"

"Bocah setan kau!"

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Thian-te Tok-ong terkekeh-kekeh.

"Ang I Moli, jangan mengira bahwa aku mencampuri urusan percekcokahmu dengan Yo Han anak kecil. Akan tetapi, di dalam dunia kita, sudah terdapat peraturan bahwa siapa yang menang harus ditaati dan siapa kalah harus mentaati. Nah, sekarang begini saja. Engkau boleh menyerang Yo Han sampai dua puluh jurus, dengan ilmu pukulanmu yang mana pun, boleh semua kepandaianmu kau keluarkan, kecuali pukulan Toat-beng Tok-hiat itu. Kalau kau pergunakan pukulan itu dan sampai muridku mati, engkau akan kucabik-cabik. Akan tetapi semua pukulan lain boleh kau lakukan. Kalau sampai dua puluh jurus engkau tidak mampu merobohkannya, nah, engkau harus mentaati perintahnya mengobati tiga orang petani itu. Kalau sebelum dua puluh jurus dia jatuh, sudahlah, engkau boleh pergi dan aku yang akan menghajar kelancangan mulut muridku."

Mendengar ini, Lauw Kang Hui wakil ketua.

Thian-li-pang yang datang pula ke situ diam-diam terkejut bukan main.

Bagaimana sih supeknya itu?

Tingkat kepandaian Ang I Moli sudah tinggi sekali.

Apalagi setelah kini menguasai Toat-beng Tok-hiat, Bahkan dia sendiri pun harus berhati-hati kalau melawan wanita itu.

Dan kini supeknya menyuruh Moli menyerang Yo Han sampai dua puluh jurus.

Mana mungkin anak itu dapat bertahan?

Baru satu dua jurus saja kepala anak itu dapat hancur!

Akan tetapi tentu saja dia tidak berani mencampuri urusan supeknya yang amat ditakuti dan dihormatinya itu.

Ang I Moli adalah seorang wanita iblis yang licik.

Tadinya dengan senang sekali ia berhasil mendapatkan Yo Han, akan tetapi terpaksa ia melepaskan anak itu kepada Thian-te Tok-ong.

Kini, mendengar tantangan itu, tentu saja ia mendapatkan kesempatan, untuk melampiaskan kemarahannya.

Kalau ia membunuh anak itu, berarti anak itu tidak terjatuh ke tangan orang lain, dan ia pun dapat membalas penghinaan yang diterimanya ketika Yo Han menangkisnya tadi!

"Bagus sekali!

Locianpwe Thian-te Tok-ong, bukan aku yang menantang.

Syarat itu memang cukup adil.

Nah, Yo Han yang manis, majulah ke sini untuk menerima kematianmu.

Sayang masih begini muda terpaksa engkau harus mampus di tanganku."

"Suhu, teecu tidak sudi berkelahi, biarpun melawan iblis betina itu sekali pun,"

Kata Yo Han kepada gurunya sambil mengerutkan alisnya.

"Bocah tolol!. Siapa suruh engkau berkelahi? Akan tetapi ia hendak membunuh tiga orang petani itu, juga hendak membunuhmu. Engkau tidak perlu memukulnya engkau hanya menari saja seperti yang kau pelajari tadi. Gunakan tari monyet dan tari lutung, dan hendak kulihat apakah perempuan sombong ini mampu menyentuh selembar rambutmu. Hayo cepat engkau menari!"

Mendengar perintah ini, hati Yo Han tidak ragu lagi.

Dia memang tetap berpendirian bahwa ia tidak akan sudi berkelahi menggunakan kekerasan memukul orang.

Akan tetapi kalau hanya menari dan menghindarkan diri dari serangan orang, itu namanya bukan berkelahi dan bukan menggunakan kekerasan.

Apalagi dia harus menyelamatkan nyawa tiga orang petani yang tidak berdosa itu.

Maka, dia pun melangkah maju menghadapi wanita itu dengan hati tabah.

Bagaimanapun juga, karena ia segan dan takut kepada Thian-te Tok-ong, Ang I Moli sekali lagi berkata.

"Locianpwe Thian-te Tok-ong, benarkah aku boleh menyerangnya sampai dua puluh jurus?"

"Perempuan sombong, siapa yang menyangkal? Cepat serang!"

Ang I Moli memang seorang yang amat licik dan curang.

Biarpun yang dihadapinya itu seorang remaja berusia empat belas tahun, namun begitu mendengar ucapan Thian-te Tok-ong, tanpa memberi peringatan lagi tiba-tiba saja ia sudah menerjang dengan tamparan yang amat ganas, ke arah kepala Yo Han.

"Wuuut-wuut-wuuuttt....!"

Tiga kali ia menampar susul menyusul dan....

luput!

Bagaikan seekor kera yang amat lincah.

Yo Han sudah menari-nari dan semua tamparan itu sama sekali tidak mampu menyentuhnya.

Dia seperti telah melihat lebih dulu datangnya tamparan.

Tentu saja Ang I Moli terkejut, heran dan juga penasaran sekali.

Kini ia tidak main-main lagi, mengeluar-kan jurus-jurusnya yang paling ampuh, bukan sekedar untuk menampar atau memukul, melainkan mengirimkan jurus pukulan mautnya!

Bahkan, setelah lewat sepuluh jurus, berturut-turut ia memukul dengan pukulan ampuh Pek-lian Tok-ciang, yaitu pukulan beracun yang amat dahsyat, yang dikuasai oleh para murid Pek-lian-kauw.

tingkat tinggi saja.

Pukulan ini mengandung uap putih dan hawa beracun itu cukup untuk membuat orang yang menghisapnya roboh pingsan!

Namun, Yo Han dengan gerakannya yang lincah selalu dapat menghindarkan diri, bahkan asap yang menerjangnya dan tanpa disengaja tersedot olehnya sama sekali tidak mempengaruhinya, bahkan dia masih sempat berseru.

"Aih, baunya harum!"

Tentu saja ucapan yang jujur dari Yo Han ini oleh Ang I Moli merupakan tamparan dan ejekan.

Tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking nyaring.

Tinggal tiga jurus lagi karena ia sudah menyerang sampai tujuh belas jurus tanpa hasil dan yang tiga jurus ini akan dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, Bukan tenaga sembarangan, melainkan ilmu pukulannya yang baru, yaitu Toat-beng Tok-hiat!

Terdengar suara bercuitan seperti tikus-tikus terjepit ketika ia melancarkan pukulan ampuh Toat-beng Tok-hiat itu.

Pukulan ini baru saja dirampungkannya latihannya dan merupakan pukulan tingkat tinggi yang amat hebat.

Jangankan seorang anak remaja seperti Yo Han yang tidak pernah belajar ilmu silat, bahkan seorang wakil ketua Thian-li-pang seperti Lauw Kang Hui saja belum tentu akan mampu menahan pukulan maut itu!

Diam-diam Lauw Kang Hui terkejut.

Dia sendiri tidak sayang kepada Yo Han, akan tetapi dia tahu betapa sayangnya supeknya kepada anak itu sehingga kalau sampai Yo Han celaka, tentu nyawa Ang I Moli tidak akan dapat diselamatkan lagi!

Akan tetapi, Yo Han yang sama sekali belum menyadari bahwa semua latihan yang dilakukan secara rajin selama dua tahun ini adalah gerakan silat tinggi, telah memiliki ketajaman penglihatan yang luar biasa.

Hal ini adalah karena sebagian besar dari waktunya dia berada di dalam guha yang gelap dan remang-remang.

Maka, kini dia dapat melihat atau mengikuti gerakan tangan dan tubuh Moli dengan jelas sehingga memudahkan dia untuk berloncatan seperti seekor kera mengelak ke sana sini dan tiga kali hantaman berturut-turut yang mengeluarkan bunyi bercicit itu tidak ada yang, mengenai tubuhnya.

Ang I Moli penasaran bukan main sehingga ia lupa diri, lupa bahwa sudah dua puluh jurus ia menyerang dan kini ia menubruk ke depan untuk menerkam anak yang dianggapnya telah membuat ia kehilangan muka itu.

"Takkk!"

Tubuh Moli terjengkang dan terguling-guling sampai lima meter jauhnya karena disodok ujung tongkat oleh Thian-te Tok-ong!

Sungguh luar biasa sekali gerakan ini.

Kakek itu masih duduk bersila, dan jaraknya cukup jauh.

Akan tetapi, entah tongkatnya yang mulur atau lengannya yang memanjang, ujung tongkatnya dapat menyambut serangan Moli dan membuat wanita itu terjengkang.

"Moli, apa engkau ingin mampus? Sudah dua puluh jurus dan engkau masih ingin menyerang terus?"

Bentak kakek itu terkekeh. Ang I Moli cepat bangkit, dan memberi hormat.

"Maaf, Locianpwe, aku salah menghitung."

"Heh-heh-heh, engkau sudah kalah bertaruh. Hayo kau sembuhkan tiga orang itu kemudian cepat pergi dari sini, jangan sekali lagi sampai bertemu denganku, karena aku tidak akan sudi mengampunimu lagi!"

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Ang I Moli.

Ia memang tahu bahwa Thian-te Tok-ong adalah orang nomor satu dari Thian-li-pang, Bahkan merupakan seorang tokoh langka yang tidak pernah mencampuri urusan dunia.

Dikalahkan Thian-te Tok-ong masih belum merupakan hal yang memalukan.

Akan tetapi, ia, datuk besar yang baru saja selesai menguasai ilmu yang amat hebat, ilmu Toat-beng Tok-hiat yang dianggapnya akan dapat membuat ia menjadi seorang yang paling lihai di dunia, atau setidaknya seorang di antara yang paling lihai, kini tidak dapat merobohkan seorang bocah berusia empat belas tahun yang tidak pandai ilmu silat!

Maka, setelah ia memandang kepada Yo Han dengan sinar mata mengandung penuh kebencian, dan di dalam hatinya ia mencatat bahwa kelak pada suatu hari ia pasti akan membunuh anak ini dan menghisap darahnya sampai tidak tertinggal setetes-pun, ia lalu membalikkan tubuhnya dan sekali meloncat ia pun lenyap dari tempat itu.

"Heh-heh-heh-heh, Yo Han, kau ingat. Ialah mungkin wanita yang kelak harus kau bunuh, kalau tidak engkau yang akan dibunuhnya, heh-heh!"

Yo Han mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya.

"Suhu tahu, teecu tidak akan mau membunuh siapapun juga!"

"Heh-heh-heh, engkau memang anak yang aneh. Nah, Lauw Kang Hui, engkau tentu datang mengantar perempuan tadi bukan dengan percuma, tentu engkau pun akan menagih janji, bukan?"

Lauw Kang Hui, seperti juga semua murid Thian-Ii-pang, amat takut kepada kakek ini. Kakek ini (Lanjut ke

Jilid 10) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 bukan saja merupakan orang pertama yang dipuja-puja dan ditakuti, akan tetapi juga terkenal bengis dan entah sudah berapa puluh orang anak buah Thian-li-pang sejak dahulu dibunuhnya begitu saja dengan kesalahan yang amat sepele.

Maka, dia pun cepat menyembah sambil berlutut.

"Teecu memberanikan diri mengantar Ang I Moli karena ia desak-desak, Supek. Adapun tentang Supek hendak memberi anugerah kepada teecu atau tidak, teecu serahkan kepada kebijaksanaan Supek. Bagaimana teecu berani menuntut?"

"Ha-ha-ha, engkau memang seorang di antara para murid yang cerdik, Kang Hui, tidak seperti suhengmu Ouw Ban yang terlalu keras kepala walaupun kepandaiannya lebih tinggi. Aku mendengar tentang siasatmu mengadu domba antara empat partai persilatan besar dan berhasil baik. Ha-ha, sungguh, aku sendiri tidak akan memikirkan sejauh itu. Engkau memang pandai dan aku suka sekali menambahkan satu dua pukulan untukmu agar engkau lebih dapat memajukan Thian-li-pang lagi!"

"Terima kasih, Supek. Terima kasih!"

Akan tetapi dia lalu menambahkan dengan suara lirih.

"Hanya teecu mohon agar Supek sudi melembutkan hati Suhu kalau Suhu memarahi teecu karena ini."

"Gurumu? Ha-ha-ha, gurumu selalu berat sebelah, terlalu mudah dirayu oleh Ouw Ban. Jangan takut, kalau gurumu berani mengganggumu, akan kupukul pantatnya sampai bengkak-bengkak, heh-heh-heh! Nah, ke sinilah dan perhatikan baik-baik. Akan kuajarkan Tok-jiauw-kang (Ilmu Cakar Beracun) dan Kiam-ciang (Tangan Pedang) padamu. Hafalkan baik-baik dan kemudian latihlah, sedikitnya satu dua tahun baru engkau akan dapat mahir."

"Terima kasih, Supek!"

Lauw Kang Hui memasuki mulut guha dan Yo Han yang tidak suka melihat orang belajar silat, lalu masuk ke dalam guha untuk melakukan pekerjaan sehari-hari, membersihkan guha dan mengirimkan makanan dan minuman untuk orang hukuman yang berada di dalam sumur.

Sampai tiga hari lamanya Lauw Kang Hui menerima petunjuk kedua ilmu itu dari Thian-te Tok-ong tanpa ada yang berani mengganggu, bahkan mendekat pun tidak ada yang berani.

Setelah dia hafal benar, Lauw Kang Hui berlutut menghaturkan terima kasih kemudian meninggalkan guha yang menjadi sunyi kembali.

Dan dia pun mulai lagi setiap hari belajar ilmu menari dan senam, karena sampai hari itu pun Yo Han tetap berkukuh tidak sudi belajar ilmu memukul orang!

Ketika usianya sudah lima belas tahun dan tetap juga dia berkeras tidak mau belajar silat, hampir habis kesabaran Thian-te Tok-ong.

Dia memanggil muridnya menghadap.

Yo Han berlutut di depannya.

Waktu itu malam hampir tiba dan di dalam guha sudah mulai gelap.

Namun, berkat kebiasaan, mereka dapat saling melihat dengan tajam.

Yo Han memiliki ketajaman mata yang dapat melihat di dalam gelap seperti mata harimau atau mata kucing.

"Yo Han, apakah engkau sudah gila? Kau lihat sendiri, kalau engkau tidak pandai mengelak, tentu engkau sudah mampus diserang Ang I Moli. Kenapa engkau tetap tidak mau menerima pelajaran silat dariku? Aku akan membuat engkau orang yang paling pandai di kolong langit ini."

"Tidak Suhu. Teecu tetap tidak mau belajar memukul orang. Untuk apa? Teecu tidak akan pukul orang, apalagi membunuh orang. Hidup bukan berarti harus saling bermusuhan dan saling bunuh."

"Tolol! Kau kira ilmu silat itu hanya untuk membunuh orang?"

"Teecu tetap tidak mau! Sejak kecil teecu tidak suka ilmu silat. Ayah Ibu teecu juga tewas hanya karena mereka itu ahli-ahli silat. Kalau mereka tidak pandai silat, tidak mungkin mereka itu mati muda."

"Huh, hal itu karena ilmu silat mereka masih rendah, masih mentah! Sudahlah tidak perlu banyak berbantah lagi, mari kau keluar bersamaku, dan akan kuperlihatkan bukti-bukti kepadamu!"

Sebelum Yo Han menjawab, tiba-tiba saja punggung bajunya sudah dicengkeram gurunya dan dia merasa tubuhnya dibawa terbang atau lari dengan kecepatan yang luar biasa.

Diam-diam dia kagum.

Gurunya ini bukan manusia agaknya.

Hanya iblis yang dapat bergerak seperti itu!

Akan tetapi dia pun diam saja dan hanya melihat betapa mereka melalui lembah bukit, menuruni jurang, dan akhirnya mereka tiba di luar sebuah dusun.

Dari luar saja sudah terdengar suara ribut-ribut di dusun itu, suara sorak sorai disertai gelak tawa di antara suara tangis dan jerit mengerikan, juga nampak api berkobar.

"Suhu, apa yang terjadi?"

Yo Han bertanya dengan kaget sekali. Thian-te Tok-ong melepaskan muridnya, lalu membiarkan muridnya menuntun tongkatnya, diajaknya memasuki dusun itu.

"Tidak perlu banyak bertanya, kau lihatlah saja sendiri,"

Katanya dan setelah mereka memasuki dusun, tiba-tiba kakek itu memegang lengannya dan membawanya loncat naik ke atas pohon besar.

Dari tempat itu mereka dapat melihat apa yang sedang terjadi di bawah.

Yo Han terbelalak, mukanya sebentar pucat sebentar merah.

Dia melihat peristiwa yang mendirikan bulu romanya, perbuatan kejam yang membuat dia merasa ngeri bukan main.

Belasan orang laki-laki yang bengis dan kasar, dengan golok di tangan, membantai orang-orang dusun yang sama sekali tidak mampu mengadakan perlawanan.

Ada pula yang memperlakukan wanita dengan kasar dan tidak sopan, menelanjanginya, menciuminya dan memukulinya.

Ada pula yang mengusungi barang-barang berharga dari dalam rumah.

Tahulah dia bahwa mereka adalah perampok-perampok yang sedang menyerang dusun itu dengan kejam sekali.

Hampir saja Yo Han menjerit melihat itu semua dan tiba-tiba saja tubuhnya melayang turun dari atas pohon itu.

Dia sendiri terkejut karena dia dapat meloncat dari tempat setinggi itu tanpa cidera.

Gurunya hanya melihat sambil tersenyum saja.

Yo Han lari ke dusun itu.

"Manusia-manusia jahat, kalian ini manusia ataukah iblis?"

Bentaknya berkali-kali dan ke mana pun tubuhnya berkelebat, Dia telah merampas sebatang golok dan mendorong seorang perampok sampai terjengkang dan terguling-guling.

Melihat seorang anak remaja maju mendorong roboh beberapa orang anak buahnya, kepala perampok yang brewok menjadi marah dan dia melepaskan wanita muda yang tadi dipermainkannya, lalu dengan bertelanjang dada dan dengan golok besar diangkat, dia menyerang Yo Han dengan bacokan ke arah leher anak itu.

Yo Han yang telah mahir "menari"

Itu melihat dengan jelas datangnya golok, maka dengan gerakan tari monyet, amat mudah baginya untuk meloncat ke samping sehingga golok itu tidak mengenai sasaran.

Dia tidak bermaksud memukul orang, akan tetapi karena dia marah melihat orang itu tadi menggeluti seorang wanita, dan kini melihat orang itu hendak membunuhnya, dia pun mendorong sambil berseru nyaring.

"Engkau orang jahat, pergilah!"

Dan sungguh luar biasa sekali akibatnya.

Terkena dorongan tangan Yo Han, kepala perampok itu terlempar seperti daun kering ditiup angin dan tubuhnya menabrak dinding, dan dia pingsan seketika karena kepalanya terbanting pada dinding.

Para perampok menjadi marah dan kini beramai-ramai mereka menggerakkan golok mengepung dan menyerang Yo Han.

Akan tetapi Yo Han berloncatan menari-nari dan semua serangan itu pun luput.

Sayangnya, karena Yo Han memang tidak suka berkelahi, tidak suka memukul orang, tidak suka menggunakan kekerasan dan perasaan ini sudah mendarah-daging sejak kecil, maka dia pun hanya berloncatan mengelak ke sana sini saja tanpa membalas.

"Huh, orang-orang macam ini masih kau kasihani?"

Tiba-tiba terdengar seruan lembut dan Yo Han melihat betapa belasan orang itu terlempar ke kanan kiri, berkelojotan dan mati semua!

Gurunya sudah berdiri di situ dan kini Yo Han memandang kepada gurunya dengan terbelalak dan alis berkerut.

"Suhu membunuh mereka semua? Suhu kejam! Sungguh kejam!"

Thian-te Tok-ong yang usianya sudah delapan puluh dua tahun itu terkekeh-kekeh.

"Dan kau mau bilang bahwa belasan orang yang mem-bunuh, memperkosa dan merampok, membakari rumah penduduk itu tidak kejam?"

"Mereka juga kejam seperti setan, tapi kalau suhu membunuhi mereka, lalu apa bedanya antara mereka dengan kita? Mereka kejam, kita pun sama kejamnya!"

"Ho-ho-ho, kalau menurut engkau, kita harus mengusap-usap kepala dan punggung mereka dan memuji-muji perbuatan mereka?"

"Bukan begitu, Suhu. Akan tetapi teecu tetap tidak setuju Suhu membunuhi mereka! Teecu tidak sudi membunuh tidak suka mengguna-kan kekerasan!"

"Hemm, kau kira engkau ini pintar dan baik, ya? Bocah tolol. Kau lihat, mengapa penduduk dusun ini sampai dibunuh, diperkosa dan dirampok? Karena mereka lemah! Coba mereka itu kuat, coba mereka itu mempelajari ilmu silat, tentu para perampok itu tidak akan mampu mencelakai mereka. Jangan bilang kalau hidup tanpa kekerasan itu tidak akan menjadi korban kekerasan!"

Yo Han tertegun, akan tetapi alisnya masih berkerut ketika gurunya mengajaknya pergi.

Di sepanjang perjalanan pulang ke guha, anak itu termenung.

Hatinya tidak senang.

Gurunya membunuhi orang begitu saja walaupun orang-orang itu perampok kejam.

Mereka tiba di hutan dan tiba-tiba terdengar suara auman harimau.

Thian-te Tok-ong menarik muridnya dan meloncat ke arah suara, lalu bersembunyi di balik semak belukar.

Mereka melihat seekor harimau menubruk seekor kijang, menerkam leher kijang itu yang menjerit-jerit dan meronta-ronta.

Namun, kuku-kuku dan gigi-gigi runcing tajam itu menghunjam leher dan pundak, darah dihisap dan rontaan itu makin lemah.

Akhirnya, harimau itu menggondol korbannya memasuki semak belukar.

Thian-te Tok-ong memandang muridnya.

"Bagaimana pendapatmu, Yo Han? Apakah harimau itu kejam? Dan andaikata kijang itu mampu melawan dan menang, atau mampu melarikan diri, bukankah berarti ia tidak akan menjadi korban?"

"Harimau itu kejam sekali!"

Kata Yo Han.

"Aku benci padanya!"

"Ha-ha-ha! Anak baik. Kalau harimau itu tidak makan daging hewan lain, dia akan mati kelaparan! Untuk itu dia sudah ditakdirkan lahir dengan dibekali ketangkasan, kuku runcing dan gigi tajam. Dia tidak dapat hidup dengan makan rumput! Sebaliknya, kijang pun ditakdirkan hidup makan rumput dan daun. Hidup memang perjuangan, Yo Han. Siapa kuat dia bertahan!"

"Teecu tidak suka! Yang kuat selalu menang dan hendak berkuasa saja. Yang kuat selalu jahat dan ingin memaksakan kehendaknya kepada yang lemah. Karena itu, teecu tidak suka belajar silat, tidak suka menggunakan kekerasan karena hal itu akan membuat teecu menjadi jahat!"

"Yo Han, kau lihat apa ini?"

"Suhu memegang tongkat!"

"Apakah tongkat ini merupakan senjata untuk melakukan kekerasan?"

"Tentu. saja!"

"Jadi engkau tidak suka memegang tongkat?"

"Tidak."

"Kalau kebetulan ada seekor anjing gila yang menyerangmu, dan engkau tidak mampu melarikan diri, lalu engkau membawa tongkat, apakah tongkat itu pun masih merupakan senjata kekerasan yang jahat? Ataukah merupakan alat pelindung diri yang akan menyelamatkan dirimu dari gigitan anjing gila? Hayo jawab!"

Yo Han menjadi bingung. Akan tetapi dia seorang anak yang jujur dan cerdik.

"Kalau aku memegang tongkat itu, teecu hanya mempergunakan untuk membela diri dan mengusir anjing itu, bukan untuk memukul, melukai apalagi membunuhnya!"

"Nah, demikian pula dengan ilmu silat anak keras kepala! Apa kau kira kalau kita mempelajari ilmu silat lalu kita semua menjadi tukang-tukang pukul, menjadi perampok-perampok, menjadi penjahat dan tukang menyiksa dan membunuh orang? Kalau kita mempunyai ilmu silat, banyak kebaikan yang dapat kita lakukan. Pertama, kita dapat membela diri, melindungi keselamatan diri dari serangan orang jahat, ke dua, kita dapat membantu orang-orang yang ditindas dan disiksa orang lain, dan ke tiga, terutama sekali, kita dapat mengangkat martabat dan kedudukan kita, menjadi orang yang terpandang di dalam dunia!"

Yo Han mengerutkan alisnya. Ada sebagian yang dianggapnya tepat, akan tetapi yang terakhir itu dia sama sekali tidak setuju.

"Bagaimanapun juga, orangorang yang pandai silat selalu berkelahi dan bermusuhan saja, Suhu. Tidak seperti kaum petani yang tidak pandai silat."

"Ha-ha-ha, soalnya para petani bodoh itu tidak mampu membela diri sehingga mereka mudah saja dipukuli dan dibunuh tanpa melawan!"

"Sudahlah, Suhu. Teecu tidak suka bicara tentang ilmu silat dan teecu tidak pernah mau belajar silat!"

Kata pula Yo Han.

"Tentang keselamatan teecu, tentang nyawa teecu, berada di tangan Tuhan dan teecu yakin benar akan hal ini!"

"Huh, bocah aneh, tolol tapi.... benar juga...."

Kakek itu menggumam.

Sudah sering dia melihat Yo Han yang tidak pandai silat itu tidak mempan diserang racun, bahkan kebal terhadap sihir, dan selalu selamat!

Entah kekuasaan apa yang melindunginya.

Dia sendiri adalah seorang datuk sesat yang sejak muda tidak pernah mau mengakui adanya kekuasaan di luar dirinya.

Kekuasan Tuhan?

Dia tidak percaya karena tidak dapat melihatnya!

Dia tidak sadar bahwa perasaan sayang dan cintanya terhadap Yo Han merupakan dorongan kekuasaan yang tidak dipercayanya itu!

Waktu berjalan dengan cepatnya dan setahun telah lewat lagi.

Kini, sudah tiga tahun Yo Han berada di dalam guha itu dan usianya sudah lima belas tahun, ia menjadi seorang pemuda remaja yang bertubuh tegap dan kokoh kuat karena biasa bekerja keras.

Mukanya yang lonjong dengan dagu runcing berlekuk itu.

membayangkan kegagahan.

Rambutnya gemuk panjang dikuncir besar.

Pakaiannya sederhana dan kasar.

Alis matanya amat menyolok karena tebal menghitam berbentuk golok, dahinya lebar, hidungnya mancung dan mulutnya ramah walaupun dia pendiam.

Sepasang matanya membayangkan kejujuran dan kelembutan.

Dia sudah mulai jemu, tinggal di dalam guha itu, setiap hari selain melayani gurunya yang makin tua dan lemah, juga selalu mempelajari ilmu tari, senam dan juga siu-lian (samadhi) yang menurut gurunya berguna untuk kesehatan dan memanjangkan usia.

Akan tetapi, kalau timbul keinginannya meninggalkan tempat itu, dia merasa tidak tega kepada gurunya.

Kakek itu sudah tua sekali dan dia merasa kasihan kepada orang hukuman yang berada di dalam sumur, bahkan ia sering kali timbul keinginannya untuk menengok orang itu ke dalam sumur, akan tetapi dia selalu mengurungkan niatnya karena dilarang oleh suhunya.

Akan tetapi pada suatu pagi, ketua Thian-li-pang dan wakil ketua, yaitu Ouw Ban dan Lauw Kang Hu, datang berkunjung dan mereka itu diterima oleh Thian-te Tok-ong di ruangan depan guha, Yo Han disuruh ke dalam oleh suhunya dan tidak diperkenankan untuk menghadiri, bahkan mendengarkan percakapan, mereka pun tidak boleh.

Yo Han masuk ke bagian paling dalam dari guha itu agar tidak dapat mendengarkan percakapan mereka dan bagian paling dalam adalah di tepi sumur itu.

Selagi ia duduk termenung, matanya yang terlatih itu dapat melihat cuaca yang bagi orang lain tentu amat gelap pekat itu, dan hatinya terharu melihat keadaan sumur yang garis tengahnya hanya satu meter dan yang dalamnya tak dapat diukur itu.

Setiap kali memberi makanan dan minuman, dia hanya melemparkan saja ke bawah.

Hal ini saja sudah membuktikan bahwa siapa pun yang berada di bawah, tentu bukan orang sembarangan karena dalam keadaan yang gelap itu dapat menerima luncuran bungkusan makanan dan poci minuman dari atas.

Untuk menanti percakapan gurunya dengan dua orang ketua Thian-li-pang, Yo Han lalu duduk di bibir sumur sambil mencoba untuk menjenguk ke bawah.

Akan tetapi amat gelap di bawah sana, tidak nampak sedikit pun.

Juga tidak pernah terdengar apa-apa, kecuali kadang saja terdengar suara yang amat mengerikan, seperti suara melengking panjang, seperti jerit tangis, seperti tawa, pendeknya bukan seperti suara manusia!

Tiba-tiba Yo Han mendengar suara yang keluar dari dalam sumur.

Bukan pekik melengking mengerikan seperti biasanya, sama sekali bukan.

Bahkan kini yang terdengar adalah suara nyanyian merdu.

Suara seorang pria yang bernyanyi, nyanyiannya sederhana akan tetapi suara itu demikian merdu dan lembut.

"Jin Sin It Siauw Thian Te, It Im It Yang Wi Ci To!"

Yo Han mendengarkan dan karena dia memang merupakan seorang kutu buku yang suka sekali membaca, maka mendengar satu kali saja dia sudah hafal.

Akan tetapi, bagaimana seorang remaja berusia lima belas tahun akan mampu menangkap arti dari dua baris kata-kata itu?

Kalau diterjemahkan kata-katanya, maka berarti.

"Badan Manusia Adalah Alam Kecil, Satu Im (Positive) dan Satu Yang (Negative) itulah To (Sang Jalan atau Kekuasaan Tuhan)!"

Yo Han menggerak-gerakkan bibir menghafal dua baris kalimat itu dengan heran.

Dia lebih kagum mendengar kemerduan suara itu daripada isi kata-katanya yang tidak dimengerti benar.

Kalau biasanya dia tidak pernah tertarik untuk memeriksa ke dalam sumur, Karena selain dilarang suhunya, juga dia tidak pernah menganggur dan suara melengking yang mengerikan itu membuatnya ragu, kini mendengar nyanyian pendek yang bersuara merdu itu membuat hatinya tertarik bukan main.

Apakah si penyanyi itu orang yang suka menjerit-jerit itu?

Perasaan iba memenuhi hatinya.

Kenapa orang itu dihukum di sana?

Apakah dosanya?

Dan mengingat betapa orang-orang Thian-li-pang adalah orang-orang sakti yang aneh dan juga jahat dan curang, maka timbul niatnya untuk menyelidiki.

Kalau gurunya mengetahui dan marah, dia akan mempertanggung-jawabkan perbuatannya.

Bagaimanapun juga, dia harus tahu siapa salah siapa benar dan kalau orang di bawah sumur itu tidak bersalah, dia tidak sepatutnya dihukum dan di siksa seperti itu.

Dengan hati yang mantap Yo Han lalu menuruni tebing sumur itu.

Pekerjaan yang bagi orang lain tentu hampir tidak mungkin dilakukan ini bagi dia tidaklah begitu sukar.

Dia sudah lama digembleng oleh Thian-te Tok-ong untuk menirukan gerakan binatang cecak merayap di dinding guha!

Dengan latihan samadhi, dia dapat menggunakan tenaga dalam tubuh untuk menyedot hawa dan kedua tangan dan kakinya yang telanjang itu dapat melekat di dinding.

Dalamnya sumur itu tidak kurang dari dua puluh lima meter dan biarpun gelap pekat, namun pandang mata Yo Han maslh dapat menembus sehingga nampak remang-remang olehnya bahwa sumur itu agak menyerong.

Dan akhirnya, tibalah dia di dasar sumur yang cukup luas, ada empat meter persegi dan terdapat sedikit cahaya yang datang dari sebuah lubang sebesar lengan tangan yang datang dari jurusan lain.

Dasar sumur itu becek dan baunya pengap sekali, sungguh orang akan tersiksa hebat kalau harus tinggal di situ.

Ketika dia turun ke dasar sumur, dia tidak melihat ada orang di situ, hanya ada lima buah batu bundar sebesar guci besar berjajar di sudut.

Dia memandang ke sekeliling.

Tidak mungkin ada orang bersembunyi di ruangan persegi itu, atau entah kalau masih ada lorong rahasia lain.

Tiba-tiba saja tubuhnya seperti disedot oleh kekuatan yang amat kuat menuju ke salah sebuah guci yang berdiri di sudut kiri.

Dia mencoba untuk mempertahankan diri, namun sia-sia.

Tenaga sedotan itu seperti besi magnet menarik jarum, angin sedotannya terlalu kuat baginya dan dia pun terhuyung menuju ke guci besar itu.

Dan guci itu pun bergerak maju menabraknya.

"Desss....!"

Tubuh Yo Han terbentur benda lunak akan tetapi yang kuatnya bukan main sehingga tubuhnya terlempar jauh ke belakang sampai menghantam dinding sumur.

"Bress....!"

Yo Han terbanting roboh, akan tetapi dia bangkit lagi dan kini terbelalak memandang kepada "guci"

Itu.

Ternyata guci itu berbentuk manusia!

Hanya saja tidak mempunyai kaki dan tidak mempunyai tangan.

Tinggal badan dan kepala saja!

Sungguh mengerikan keadaan orang itu, seperti sebuah boneka besar mainan kanak-kanak yang dapat dijungkirbalikkan akan tetapi selalu dapat berdiri tanpa kaki.

Kini penglihatan Yo Han mulai terbiasa.

Cahaya kecil dari lubang kecil itu cukup mendatangkan penerangan dan dia memperhatikan mahluk itu.

Tubuh tanpa kaki atau lengan itu bulat dan cukup gemuk, agaknya telanjang akan tetapi kulitnya ditutup "pakaian"

Lumpur kering.

Hanya mukanya yang tidak berlumur lumpur.

Rambutnya terurai panjang sampai ke punggung, putih.

Alis, kumis dan jenggotnya juga putih.

Matanya mencorong hijau.

Sungguh merupakan mahluk yang mengerikan sekali.

Tentu iblis, pikir Yo Han.

Semacam iblis penghuni sumur yang aneh dan berbahaya.

Kini mahluk itu berloncatan, bukan menggelundung, berloncatan menghampiri Yo Han.

Anak ini memang merasa ngeri, akan tetapi tidak takut karena dia memang tidak mempunyai niat buruk, hanya memandang dengan penuh perhatian.

Wajah itu kini nampak nyata.

Wajah seorang kakek yang tentu sudah tua sekali, dan sinar mata kehijauan itu pun tidak kejam, Bahkan mulut yang sebagian tetutup kumis itu seperti menyeringai tersenyum.

"Kau tidak mati....? Kau.... kau tidak terluka dan tidak mati?"

Suara itu lembut, seperti suara orang yang terpelajar, namun agak aneh terdengar di tempat seperti itu, dan seolah bukan keluar dari mulutnya melainkan turun dari atas.

Yo Han tidak dapat bicara saking merasa seramnya.

Dia hanya berdiri mepet di dinding dan menggeleng kepalanya.

Akan tetapi karena kini dia merasa yakin bahwa yang dihadapinya adalah seorang manusia, walaupun aneh, bahkan mungkin seorang tapa-daksa yang patut dikasihani dia pun berkata.

"Locianpwe, harap suka ampunkan aku. Aku.... aku tidak bermaksud mengganggu, aku hanya ingin melihat karena tadi aku mendengar nyanyianmu yang indah itu."

Dia lalu menyanyi seperti tadi, menirukan suara yang didengarnya tadi.

"Jin Sin It Siauw Thian Te, It Im It Yang Wi Ci To....!"

"Siancai....! Engkau begini muda sudah pandai meniru bunyi kalimat rahasia itu? Eh, anak muda, tahukah engkau apa artinya kalimat itu?"

Yo Han sudah membaca banyak kitab, selain itu, memang dia memiliki kelebihan, bahkan keanehan dalam dirinya.

Kalau membaca kitab yang berat-berat, ketika dia masih kecil sekalipun, ada suatu pengertian di dalam batinnya, seolah-olah dia pernah mengenal semua kitab itu dan sudah paham benar akan maknanya.

Atau seolah ada yang membisikinya, memberi pengertian kepadanya.

Maka mendengar pertanyaan, itu, dia mengangguk.

"Kurasa aku mengerti, locianpwe, hanya mungkin saja keliru."

"Tidak, tidak. Engkau yang setiap hari mengirim makanan kepadaku, bukan? Sudah kudengar langkah-langkah kakimu dari sini kalau engkau menghampiri sumur dan aku tahu, engkau bukan anak sembarangan. Nah, cepat katakan apa makna yang terkandung dalam kalimat itu."

"Jin Sin It Siauw Thian Te, atau Badan Manusia Adalah Suatu Alam Kecil. Locianpwe, kita dapat melihat kenyataan bahwa di antara segala mahluk di dunia ini, manusia merupakan mahluk yang paling unggul dalam kesempurnaannya dibandingkan mahluk lain. Tuhan telah menciptakan manusia sebagai mahluk yang paling mulia. Dalam tubuh manusia terkandung unsur-unsur yang terdapat di alam besar, terkandung tanah, air, api, angin dan logam. Bahkan kalau air samudera terasa asin, demikian pula tubuh manusia mengandung rasa asin apabila mengeluarkan cairan seperti keringat. Kalau alam tidak pernah terpisah dari api, maka tubuh manusia pun selalu mengandung panas, api yang apabila padam berarti kematian. Seperti yang diketahui oleh para ahli pengobatan, hukum di alam besar berlaku pula di alam kecil. Bukankah, demikian, Locianpwe?"

"Siancai....! Benar, orang muda, Tubuh ini memang sempurna, suci, kalau tidak dirusak atau dikotori oleh manusia itu sendiri. Lanjutkan, lanjutkan!"

Kakek yang tanpa lengan tanpa kaki itu berkata dengan wajah berseri, suaranya lembut sekali.

"Lanjutannya adalah It Im It Yang Wi Ci To atau Satu Im (Positive) Satu Yang (Negative) itulah To. Locianpwe, sudah kehendak Tuhan bahwa yang menggerakkan segala sesuatu di dunia ini adalah dua keadaan yang saling berlawanan, saling bertentangan, namun saling dorong dan saling melengkapi, karena tanpa ada yang satu, yang lain menjadi tidak sempurna dan tidak lengkap. Im itu wanita, Yang itu pria. Atau Im itu gelap, Yang itu terang. Im dan Yang terkandung di dalam bawah dan atas, malam dan siang, lembut dan keras, bumi dan langit, dingin dan panas dan sebaginya. Tanpa ada Im, bagaimana ada Yang? Tanpa ada Yang, Im pun tidak ada. Bagaimana kita mengenal terang tanpa adanya kegelapan? Bagaimana kita tahu akan yang keras tanpa mengenal yang lembut? Kalau tidak ada bumi, langit pun tidak ada. Maka, Im dan Yang saling berlawanan, akan tetapi juga saling melengkapi, saling menyempur-nakan dan menjadi inti dari keadaan dan kesempurnaan alam. Kalau Im dan Yang dalam alam besar tidak seimbang, maka akan timbul kekacauan-kekacauan. Kalau dalam alam kecil, yaitu badan kita, Im dan Yang tidak seimbang, maka akan timbul gangguan penyakit dalam tubuh kita. Kalau Im dan Yang seimbang, maka To akan bekerja dengan sempurnanya."

Wajah kakek itu memandang kagum dan beberapa kali matanya terbelalak. Kemudian dia menghela napas panjang.

"Bagus, bagus! Tuhan Maha Sempurna, Maha Bijaksana, Maha Kasih Sayang sekali, manusia lebih sering menjadi hamba nafsu sehingga lupa akan adanya To, adanya Kekuasaan Tuhan yang menjadi Hukum Alam, sehingga ulah manusia membuat Im dan Yang menjadi tidak seimbang dan menimbulkan kekacauan-kekacauan di dunia ini. Eh, benarkah engkau ini seorang manusia yang masih muda? Ataukah seorang manusia ajaib yang kelihatannya saja masih muda akan tetapi usianya sudah seratus tahun?"

Yo Han tersenyum.

"Harap Locianpwe tidak terlalu memuji. Pengertian seperti itu dapat dimiliki siapapun juga asal dia mau belajar. Dan usiaku baru lima belas tahun."

"Lima belas tahun? Dan engkau sudah dapat menahan tubrukanku tadi? Padahal, seorang jago silat yang kenamaan di dunia kang-ouw saja belum tentu akan dapat hidup setelah menerima tabrakan tubuhku tadi. Dan engkau bahkan pandai mengurai tentang Im-yang dan To? Ha-ha-ha, agaknya Tuhan sengaja mengirimkan engkau ke sini untuk menjadi murid dan ahli warisku! Siapakah namamu, orang muda?"

Yo Han mengerutkan alisnya.

"Locianpwe, namaku Yo Han, akan tetapi aku tidak ingin menjadi murid dan ahli warismu."

"Ehhh? Apa katamu? Seluruh jagoan silat di permukaan bumi sana akan berlomba untuk menjadi muridku, dan engkau menolak menjadi murid dan ahli warisku? Wah, wah, aku Ciu Lam Hok bisa mati karena keheranan!"

Kepala dengan tubuh yang buntung itu kini berloncatan dan terdengar suara dak-duk-dak-duk seperti orang menumbuk sesuatu dengan amat kuatnya.

Yo Han dapat menduga bahwa kakek buntung kaki tangannya ini tentu menguasai ilmu silat karena tadi beberapa kali menyebut tentang ilmu silat dan jagoan di dunia kang-ouw.

"Ketahuilah, Locianpwe. Aku tidak ingin berguru kepada Locianpwe karena aku sudah mempunyai guru."

"Ehhh? Engkau kira gurumu akan mampu menandingi aku, ya? Coba katakan, siapa gurumu yang tidak becus, itu!"

"Guruku adalah Thian-te Tok-ong...."

"Uhhhh...!"

Tiba-tiba tubuh itu "terbang"

Ke atas dan berputar-putar dari dinding kanan ke dinding kiri.

Kiranya tubuh itu membentur dinding kiri, terpental ke dinding kanan dan bolak balik begitu seperti beterbangan saja, kurang lebih lima meter dari lantai.

Akhirnya tubuh itu turun kembali dan berdiri tanpa kaki di depan Yo Han.

"Kiranya engkau datang atas perintah Thian-te Tok-ong untuk membunuh aku, ya?"

"Ah, sama sekali tidak, Locianpwe! Aku tidak mau menyerang orang, apalagi membunuh. Aku benci ilmu silat, aku benci kekerasan. Maka aku tidak mau menjadi murid Locianpwe, tidak mau belajar ilmu silat dari Locianpwe!"

Sepasang mata itu terbelalak, mulutnya ternganga sehingga dalam cuaca yang remang-remang itu dapat kelihatan oleh Yo Han betapa rongga mulut itu tidak mempunyai sebuah pun gigi lagi.

"Engkau? Yang dapat menahan tabrakanku, tidak mau belajar silat? Membenci ilmu silat dan membenci kekerasan? Engkau yang mengaku murid Thian-te Tok-ong? Ha-ha-ha, engkau boleh membohongi orang lain akan tetapi jangan coba-coba untuk membohongi Ciu Lam Hok!"

"Aku tidak pernah berbohong dan tidak akan suka berbohong, Locianpwe."

"Orang muda, omongan apa yang kau keluarkan ini? Engkau mengaku murid Thian-te Tok-ong dan mengatakan tidak suka belajar silat? Lalu, apakah Thian-te Tok-ong mengajar engkau menari?"

"Ha-ha-ha...."

"Benar, Locianpwe. Suhu mengajar aku menari dan bersenam."

Kembali sepasang mata itu terbelalak, lalu pecahlah suara ketawanya tergelak-gelak dan tubuh itu pun bergulingan di atas lantai yang kotor.

Tubuh itu berhenti di ujung ruangan itu dan tiba-tiba mulutnya meniup-niup.

Ada benda kecil menyambar ke arah leher Yo Han.

Pemuda ini cepat menggerakkan tubuhnya karena kini banyak benda yang menyambar ke arahnya dan yang menjadi sasaran adalah jalan-jalan darah.

Dia segera menggerakkan tubuh, menari seperti monyet yang bergerak dengan cepat dan lincah sekali sehingga dia mampu mengelak dari sambaran benda-benda kecil yang ditiupkan oleh mulut kakek itu.

"Ha! Engkau pandai ilmu silat Monyet dan Lutung Hitam! Dan kau bilang tidak pernah belajar silat?"

Kakek itu berseru, suaranya mengandung kemarahan.

"Dan kau bilang tidak berbohong, tidak pernah berbohong? Hemm, engkau setan cilik, tentu curang dan licik seperti gurumu!"

"Locian-pwe, harap jangan menuduh sembarangan saja! Aku tidak bersilat, melainkan menari dan memang tarian ini disebut tarian monyet dan lutung hitam!"

Tiba-tiba sebuah benda kecil menyambar lagi dan sekali ini Yo Han kurang cepat mengelak sehingga lehernya terkena sambaran benda kecil itu.

Dia merasa bagian yang terkena benda itu perih dan agak nyeri, akan tetapi baginya tidak berapa mengganggu.

"Yang licik dan curang bukan aku, melainkan engkau, Locianpwe. Engkau menyerangku secara membokong sehingga leherku terkena tiupan benda rahasiamu,"

Tangan Yo Han memijat bagian leher yang terluka dan keluarlah sebatang jarum kecil.

Dia mencabut jarum itu dan melemparkannya ke lantai dengan sikap acuh.

Kini kakek itu melongo.

Dia kini tahu bahwa pemuda itu tidak main-main atau mencoba untuk membohonginya.

Agaknya pemuda itu memang mengira bahwa ilmu silat yang dikuasainya itu adalah ilmu menari!

Dan yang membuat dia terkesima adalah cara orang muda itu menyambut jarumnya yang telah melukai lehernya.

Orang lain, betapa pun lihainya, sekali terluka jarumnya, apalagi di leher, tentu sudah roboh dan tewas!

Akan tetapi orang muda itu dapat menarik keluar jarum itu dari lehernya, membuangnya ke tanah dan masih sempat menegurnya dan jangankan mati, roboh pun tidak, bahkan mengeluh pun tidak!

Hampir dia tidak mau percaya akan kenyataan yang dilihatnya.

Tiba-tiba, kakek itu mengeluarkan seruan aneh, melengking seperti lolong srigala, dan tubuhnya sudah bergulingan kini rambutnya yang panjang itu menyambar-nyambar ke arah tubuh Yo Han.

Pemuda ini terkejut dan kembali dia "menari", akan tetapi sekali ini, gerakan rambut kakek itu yang menyerangnya terlalu cepat dan aneh.

Dia hanya berhasil meloncat dan mengelak empat lima kali saja, lalu tiba-tiba kedua kakinya terkena totokan ujung rambut dan dia pun terpelanting jatuh!

Yo Han meloncat bangkit kembali dan kembali kakek itu menyerangnya dengan rambut.

Suara rambut itu yang menyambar-nyambar sampai mengeluarkan bunyi bercuitan aneh.

Yo Han kini menggunakan ilmu "senam", berdiri kokoh, mengerahkan tenaga yang dapat membuat tubuhnya keluar semacam tonjolan besar, kemudian dia menghadapi kakek itu dengan dorongan kedua tangannya dengan senam yang disebut mendorong bukit.

Pada saat itu, kakek tadi sedang menggelundung dan kembali rambut-nya menyambar.

Yo Han mendorong dan tenaganya bertemu dengan tenaga yang luar biasa kuatnya, keluar dari kepala atau rambut-rambut itu dan Yo Han merasa kepalanya seperti meledak, tubuhnya terpental ke belakang dan kembali dia roboh!

Kakek itu pun terguling-guling ke belakang dan ketika dia sudah bangkit lagi, dia berseru kagum.

"Siancai....! Engkau ini manusia ataukah setan? Heii, Yo Han, katakan sejujurnya, siapa engkau dan apa pula maksudmu menuruni sumur ini?"

Yo Han yang sudah bangkit berdiri, memandang kepada kakek itu penuh takjub.

Tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang manusia aneh, yang biarpun tak bertangan-kaki lagi, namun memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali.

Ang I Moli, Si Iblis Betina yang amat lihai itu saja tidak mampu merobohkannya sampai dua puluh jurus ketika dia mainkan tarian monyet dan lutung hitam, bahkan pukulan iblis betina itu dapat dia tahan dengan ilmu senam mendorong bukit.

Akan tetapi, dalam beberapa gebrakan saja dia roboh oleh kakek yang tidak mempunyai tangan dan kaki ini.

Tarian dan senam, yang dikuasainya tidak mampu menolongnya.

Jelas bahwa kakek ini jauh lebih lihai dibandingkan Ang I Moli!

"Locianpwe, sudah kukatakan bahwa namaku Yo Han dan aku adalah murid Suhu Thian-te Tok-ong, mempelajari ilmu menari dan bersenam dari Suhu.

Sudah tiga tahun aku menjadi muridnya.

Aku pula yang diberi tugas oleh Suhu untuk menurunkan makanan ke dalam sumur.

Sudah lama aku amat tertarik oleh suara tangisan dari dalam sumur maka hari ini aku tidak mampu lagi menahan keinginan tahuku, aku turun ke dalam sumur untuk melihat siapa yang menangis dan kalau perlu aku akan menolongnya.

Tahukah engkau, Locianpwe, siapa yang suka meraung-raung itu?"

"Ah.... aahhh.... sungguh aneh sekali. Memang sungguh ini pasti kehendak Tuhan.... yang mengirim engkau masuk ke sini. Dan bagaimana engkau dapat masuk ke sini?"

"Dengan merayap, Locianpwe. Di antara tarian-tarian yang diajarkan Suhu, terdapat tarian gerakan cecak merayap dan aku sudah mempelajarinya."

"Ah-ahhhh...., engkau ini anak tolol ataukah anak yang luar biasa? Yo Han, mendekatlah, nak. Aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi."

Yo Han maklum bahwa jauh atau dekat, bagi kakek sakti ini sama saja.

Kalau kakek ini hendak membunuhnya, biarpun dia menjauh pun tidak ada gunanya.

Maka dengan tabah dia pun melangkah dan menghampiri kakek itu.

"Diamlah, Yo Han, aku hendak memeriksa keadaan tubuhmu,"

Kata kakek itu dan tiba-tiba rambut kepalanya bergerak, seperti ular-ular kecil dan tahu-tahu rambut itu sudah melibat-libat seluruh tubuh Yo Han.

Pemuda remaja ini bergidik.

Dia dapat merasakan betapa rambut-rambut itu bukan hanya membelit akan tetapi juga memijit-mijit, menotok sana sini.

Rambut itu hidup!

Yo Han memejamkan matanya dan seluruh jiwa raganya memuji kebesaran Tuhan.

Bukan main!

Agaknya karena kakek ini kehilangan kaki dan tangan, maka rambutnya menjadi hidup dan dapat menggantikan tangan untuk meraba-raba memijit dan menekan-nekannya.

Berulang-ulang kakek itu mengeluarkan seruan kaget dan heran.

Kemudian, ketika dia menggerakkan kepala dan hidungnya yang menjadi keras itu menotok-notok ke arah pusar Yo Han, dia terlempar dan bergulingan.

"Locianpwe....! Engkau tidak apa-apa....? Yo Han cepat menghampiri. Kakek itu menarik napas panjang dan menggelengkan kepala, lalu menenga-dah.

"Ya Tuhan, inilah.... inilah...."

Dan tiba-tiba dia pun menangis! Tangis yang sering didengar Yo Han! Tentu saja Yo Han menjadi heran bukan main.

"Locianpwe, ada apakah? Maafkan kalau aku bersalah."

Yo Han memandang terharu.

"Jadi.... kiranya Locianpwe yang suka meraung dan menangis itu?"

Kakek itu menghentikan tangisnya dan sungguh mengharukan.

Rambut itu kini bergerak mengusap air mata dari mukanya!

Melihat ini, Yo Han merasa tidak tega, karena bagaimanapun juga, gerakan rambut itu canggung sekali.

"Yo Han, bocah ajaib. Setelah engkau tiba di sini dan melihat bahwa akulah orangnya yang suka meraung dan menangis, lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Locianpwe, entah siapa yang begitu kejam membuangmu ke sini. Aku akan mencoba untuk menolongmu dan membawamu keluar dari sumur ini,"

Dalam suara pemuda itu terkandung ketegasan. Kakek itu kini tertawa! Baru saja menangis, kini sudah tertawa. Memang luar biasa sekali kakek itu.

"Dan begitu keluar dari sini, engkau dan aku akan dibunuh oleh Thian-te Tok-ong? Tidak, Yo Han. Kalau engkau dibunuhnya, itu masih belum hebat. Akan tetapi kalau aku yang dibunuhnya, apakah pengorbananku ini akan menjadi sia-sia?"

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 12

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert