Ceritasilat Novel Online

Si Bangau Merah 5

Eps 5 Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo

Baca online Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo

Cersil Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo.

"Apa maksudmu, Locianpwe?"

"Engkau duduklah, biar agak kotor tempat ini, akan tetapi aku akan bercerita, dan agaknya Tuhan sengaja mengirimkan engkau ke sini untuk mendengarkan ceritaku."

"Aku pun yakin bahwa tentu kekuasaan Tuhan yang mendorongku untuk menuruni sumur ini dan bertemu denganmu. Ceritakanlah, Locianpwe."

Kakek yang kakinya buntung mulai dari pangkal pahanya, dan lengannya buntung sampai hanya tinggal kedua pundaknya saja itu berdiri di atas pinggulnya sambil bersandarkan dinding sumur, dan dengan suara lembut dan lirih dia pun mulai bercerita, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Yo Han yang merasa amat tertarik.

Delapan tahun lebih yang lalu, kakek itu masih belum berada di dasar sumur itu, Juga kaki dan tangannya masih lengkap dan utuh.

Dia ber-nama Ciu Lam Hok dan merupakan tiga serangkai kakak beradik seperguruan dengan Thian-te Tok-ong dan Ban-tok Mo-ko, Ciu Lam Hok adalah yang termuda.

Akan tetapi, dalam hal ilmu silat, tingkat kepandaian Ciu Lam Hok lebih tinggi daripada tingkat kedua orang suhengnya itu.

Hal ini adalah karena dia memang suka merantau dan bertualang, menjelajah di seluruh daratan Tiongkok dan selalu mempe-lajari ilmu-ilmu silat baru sehingga dia semakin maju dalam ilmu silat.

Ketika Thian-li-pang didirikan, pendirinya adalah tiga serangkai bersaudara itu, dan Thian-li-pang didirikan untuk menghimpun orang-orang gagah, menjadi sebuah perkumpulan yang kuat.

Kemudian, Ciu Lam Hok meninggalkan Thian-li-pang.

untuk bertualang.

Kurang lebih sembilan tahun yang lalu ketika dia mendengar akan sepak terjang Thian-li-pang yang mengarah kepada kesesatan, Dia terkejut dan lebih lagi ketika mendengar betapa dua orang suhengnya telah memperdalam ilmu mereka dengan ilmu tentang racun sehingga mereka dijuluki Ban-tok Mo-ko (Iblis Selaksa Racun) dan Thian-te Tok-ong (Raja Racun Langit Bumi), hatinya merasa khawatir sekali dan dia pun cepat pulang untuk membuktikan kebenaran berita itu.

Betapa kagetnya ketika dia tiba di Thian-li-pang melihat bahwa berita yang didengarnya memang benar!

Thian-li-pang memang masih merupakan perkumpulan yang menentang penjajah Mancu, akan tetapi di samping itu, Thian-li-pang bergaul dengan golongan sesat, bahkan bekerja sama dengan Pek-lian-kauw dan tidak segan melakukan berbagai kejahatan dan kekejaman.

Demi perjuangan, mereka sanggup melakukan apapun juga, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan!

Ciu Lam Hok dengan berani menemui dua orang suhengnya, lalu menegur mereka yang dia anggap menyeleweng.

Dua orang suhengnya menjadi marah.Terjadi pertengkaran yang berakhir dengan perkelahian.

Akan tetapi bukan hanya Ban-tok Mo-ko yang kalah, bahkan Thian-te Tok-ong juga kalah oleh Ciu Lam Hok!

Dua orang kakek yang kini sudah condong ke arah kesesatan dan tidak pantang melakukan kecurangan itu, berpura-pura menyesal dan bertaubat, dan tentu saja Ciu Lam Hok mau memaafkan kedua orang suhengnya asal mereka itu mengubah haluan Thian-li-pang yang menyeleweng, kembali ke jalan benar yang biasa ditempuh perkumpulan para pendekar.

Setelah akur kembali, Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong membujuk sute mereka itu untuk menceritakan, ilmu aneh dan hebat apa yang membuat sute mereka itu demikian lihai sekarang.

"Aku terbujuk oleh mereka,"

Kakek buntung itu melanjutkan ceritanya yang amat menarik hati Yo Han.

"Kuceritakan bahwa aku telah menemukan kitab ilmu Bu-kek-hoat-keng yang pernah diperebutkan para datuk. Itulah kesalahanku. Aku lupa bahwa amat sukar bagi seorang yang telah menjadi hamba nafsunya untuk kembali ke jalan benar. Mereka dapat berpura-pura, akan tetapi sukarlah bagi seseorang untuk benar-benar bertaubat. Biasanya, pernyataan bertaubat itu hanya terjadi karena mereka menderita sebagai akibat perbuatan mereka. Kalau penderitaan itu telah lewat, maka mereka lupa lagi akan pernyataan mereka untuk bertaubat, bahkan melakukan kejahatan lebih besar lagi untuk menebus kekalahan mereka."

Yo Han mengangguk-angguk.

"Kalau saja mereka itu memiliki iman kepada Tuhan sampai ke tulang sumsum mereka, tentu mereka akan menyerah kepada Tuhan dan kalau sudah begitu, maka kekuasaan Tuhan yang akan mampu menuntun mereka kembali ke jalan benar. Hanya kekuasaan Tuhan yang mampu mengendalikan nafsu yang selalu ingin meliar."

"Heh-heh, engkau memang anak aneh!"

Kata kakek itu.

"Nah, karena kelengahanku, pada suatu hari, aku menjadi korban perangkap mereka. Aku keracunan dan tidak mampu lagi menandingi mereka. Dalam keadaan terluka dan keracunan itu, mereka mendesakku untuk menyerahkan kitab ilmu Bu-kek-hoat-keng. Akan tetapi, kitab itu telah kubakar, hanya isinya telah kupindahkan ke dalam kepalaku, tercatat dalam ingatan. Karena aku berkeras tidak mau membuka rahasia Bu-kek-hoat-keng, mereka menjadi marah. Mereka menyiksaku, bahkan membuntungi kaki tanganku dan melemparku ke dalam sumur ini, delapan tahun lebih yang lalu. Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa ilmu Bu-kek-hoat-keng dapat kupergunakan untuk menyelamatkan nyawaku, bahkan membersihkan tubuhku dari pengaruh luka dan racun mereka, ha-ha-ha!"

Yo Han mendengarkan dengan hati ngeri.

"Betapa kejam mereka!"

Katanya penasaran.

"Ah, tentu Locianpwe telah mengalami penderitaan hebat selama delapan tahun di dalam sumur ini. Akan tetapi, Locianpwe berilmu tinggi, mengapa tidak berusaha keluar dari sini?"

Kakek itu menghela napas panjang.

"Betapapun hebatnya ilmu Bu-kek-hoat-keng, akan tetapi tentu saja tanpa kaki dan tangan, bagaimana aku dapat merayap naik? Loncatanku pun tidak akan mencapai tinggi sumur ini yang sekitar dua puluh meter. Dan andaikata aku berhasil naik, kalau di sana aku diserang oleh dua orang suhengku, dalam keadaan tak bertangan tak berkaki ini, aku pun pasti kalah."

"Sungguh mereka itu kejam sekali, tega melakukan perbuatan yang begini keji terhadap adik seperguruan sendiri. Akan tetapi, Locianpwe, kalau mereka sudah melempar Locianpwe ke sini, berarti mereka, menghendaki kematianmu. Kenapa mereka tidak langsung saja membunuhmu, bahkan setelah melempar Locianpwe ke sini, setiap hari mereka masih mengirim makanan untukmu?"

"Yo Han, apakah engkau tidak dapat menduganya?"

Pemuda remaja itu mengerutkan alisnya, kemudian mengangguk.

"Aku mengerti sekarang. Bukankah mereka itu sengaja tidak membunuh Locianpwe, hanya membuat Locianpwe tidak berdaya, dengan maksud agar Locianpwe akhirnya menyerah dan memberikan rahasia-rahasia Bu-kek-hoat-keng kepada mereka?"

"Engkau benar, Yo Han. Akan tetapi, aku tak pernah mau menyerah. Biarpun siksaan ini kadang membuat aku menjadi hampir gila, membuat aku meraung dan menangis. Akan tetapi aku tidak mau menyerahkan ilmu itu, sampai mati pun aku tidak mau. Aku hanya menanti sampai Tuhan mengirim seseorang untuk mewarisi ilmuku, bukan untuk menolongku. Setelah ilmuku ada yang mewarisinya aku lebih suka mati. Apa artinya hidup bagiku dalam keadaan seperti ini? Kalau selama ini aku bertahan hidup, hanya agar ilmu-ilmuku jangan sampai lenyap dengan sia-sia. Dan terima kasih kepada Tuhan! Engkau dikirim Tuhan ke sini, Yo Han! Engkaulah yang akan menjadi muridku, menjadi ahli warisku!"

"Tapi, Locianpwe, aku.... aku tidak mau belajar silat. Aku tidak mau menggunakan kekerasan, tidak mau berkelahi...."

"Heh-heh-heh, anak tolol. Siapa bilang aku hendak mengajarkan silat kepadamu?"

"Tapi, ilmu apakah Bu-kek-hoat-keng itu?"

"Ya, semacam ilmu menyehatkan badan, tidak bedanya dengan ilmu tari dan senam yang kau pelajari dari Thian-te Tok-ong, hanya jauh lebih tinggi tingkatnya. Yo Han, engkau mau menjadi murid seorang yang jahat dan kejam seperti Thian-te Tok-ong, dan engkau menolak menjadi muridku? Engkau memilih menjadi muridnya?"

"Bukan begitu, Locianpwe. Akan tetapi, mengajak Locianpwe naik, tentu akan diserang oleh dua orang suheng Locianpwe itu. Kalau di sini, bagaimana mungkin aku tinggal di sini bersamamu?"

"Heh-heh, soal itu mudah dibicarakan nanti. Yang terpenting, Yo Han, katakanlah. Maukah engkau menjadi muridku? Ingat, sisa hidupku hanya kupertahankan untuk menanti saat seperti ini! Kalau engkau tidak mau menjadi muridku, sudahlah, aku tidak mau hidup lebih lama lagi, biar untuk semenit pun. Sekali meng-hempaskan diri ke dinding, kepalaku akan pecah dan nyawaku akan melayang!"

Yo Han terkejut.

Dia tahu bahwa kakek ini selain amat lihai, juga memiliki watak yang aneh, maka tentu ancaman itu bukan gertak sambal belaka.

Mengingat akan pengalaman kakek ini, maka dia tentu tidak berbohong.

Bagaimanapun juga, dia tidak boleh membiarkan kakek ini membunuh diri.

Kalau dia menolak dan kakek ini benar-benar membunuh diri, berarti bahwa dialah penanggung jawabnya, dialah yang, membunuh atau menyebabkan kematian kakek itu!

Dia pun lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

"Suhu, teecu akan mentaati petunjuk Suhu."

Tiba-tiba rambut kepala yang panjang itu menyambar, melibat-libat tubuh Yo Han seperti pengganti kedua lengan, merangkul dan mendekap, dan kakek itu tertawa-tawa bergelak.

Akan tetapi, tak lama kemudian, rambut itu terlepas dan kakek itu pun menangis sesenggukan!

"Ah, engkau kenapakah, Suhu?"

Yo Han bertanya, kaget dan khawatir. Kakek itu tertawa kembali.

"Ha-ha-ha, tidak apa, muridku. Aku hanya merasa girang dan terharu. Tuhan sungguh Maha Adil, akhirnya permohonanku dikabulkan! Mari, Yo Han, kita harus cepat menyingkir. Kalau terlambat, jangan-jangan kegembiraan hatiku akan berakhir dengan kematian kita berdua."

"Eh, kenapa begitu, Suhu?"

"Sudah, tidak ada waktu untuk bicara sekarang. Kita harus bertindak. Lihat di sudut itu."

Yo Han menoleh dan dia melihat bahwa di sudut, dindingnya merupakan sebuah batu sebesar gajah yang menutupi dinding batu padas.

Dia melihat kakek ia meloncat-lancat mendekati batu dari dia pun mengikuti.

"Batu ini kutarik lepas dari tanah, menggunakan rambut dan hidungku saja. Pekerjaan itu berhasil setelah aku berusaha selama satu tahun! Dan tahun-tahun berikutnya kupergunakan untuk membuat terowonan yang menembus ke sumur lain, sumur alam. Batu ini menjadi pintunya. Sekarang, sebelum bahaya menimpa kita, kita harus pindah ke sumur ke dua itu melalui terowongan. Mari bantu aku menggeser batu ini ke samping, Yo Han."

Sebelum Yo Han mentaati perintah itu, tiba-tiba terdengar suara dari atas lubang sumur.

Suara itu nyaring dan memasuki sumur dengan kuatnya seperti akan membikin pecah anak telinga, dan mendatangkan gema sehingga suara itu terdengar aneh dan menyeramkan, bukan seperti suara manusia lagi.

"Ciu Sute....!"

Panggilan ini terdengar berulang sampai tiga kali.

"Yo Han....!"

Kini suara itu, suara Thian-te Tok-ong, memanggil muridnya. Sebelum Yo Han menjawab, kakek Ciu Lam Hok mendahului.

"Ha-ha-ha, Thian-te Tok-ong iblis busuk! Engkau mencari muridmu?"

"Sute Ciu Lam Hok! Engkau hendak murtad kepada suhengmu sendiri?"

"Ha-ha-ha, sejak kau lempar aku ke sini, sudah tidak ada hubungan persaudaraan lagi antara kita, Tok-ong! Engkau hendak mencari muridmu yang kau suruh turun membunuhku itu? Ha-ha-ha, engkau sungguh tolol. Jangankan anak ingusan itu, biar engkau sendiri yang turun, engkau akan mampus olehku. Anak itu sudah kubunuh!"

Mendengar suara ini, di atas sana menjadi sunyi. Lalu terdengar percakapan yang dapat terdengar dari bawah. Suara Ban-tok Mo-ko terdengar jelas.

"Suheng, muridmu tentu telah dibunuhnya. Biar aku masuk ke sana. Dia tentu hanya menggertak saja! Akan kusiksa dia supaya mengaku dan membuka rahasia Bu-kek-hoat-keng!"

"Jangan, Sute. Dia bukan pembual, kalau dia mengancam demikian, berarti dia sudah siap siaga. Siapa tahu dia memasang perangkap."

"Tapi, dia sudah tidak mempunyai kaki tangan, Suheng! Takut apa?"

"Hemm, jangan pandang rendah, Sute. Dia memiliki ilmu yang amat tinggi. Dan di bawah sana gelap, kita tidak mengenal tempat itu. Kita menggunakan cara lain untuk membunuhnya."

Selagi mereka bercakap-cakap tadi, Yo Han diam saja karena kini dia tahu, bahwa gurunya yang baru tidak berbohong dan memang Thian-te Tok-ong dan Ban-tok Mo-ko amat keji dan jahat.

Maka, dia pun hendak membela Ciu Lam Hok, dan dia tidak mengeluarkan suara.

Ciu Lam Hok memberi isarat dengan anggukan kepala agar dia membantu mendorong batu itu, dia pun mengerahkan tenaga mendorong batu sebesar gajah itu ke kiri.

Dia tentu tidak akan kuat mendorongnya kalau tidak ada Ciu Lam Hok yang mendorongnya pula dengan pundak yang tidak berlengan.

Batu itu perlahan-lahan bergeser dan nampaklah lubang sebesar tubuh orang.

Ciu Lam Hok memberi isarat berhenti, kemudian dia tertawa.

"Ha-ha-ha, Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong! Kalau takut, mengapa tidak kalian berdua saja turun ke sini agar kalian dapat menemani nyawa murid kalian?"

Dalam suaranya terkandung ejekan dan tantangan.

Ban-tok Mo-ko sudah marah sekali.

Kalau tidak ditahan oleh suhengnya, tentu dia sudah merayap turun untuk membunuh bekas sutenya itu.

Dahulu memang dia harus mengaku kalah terhadap sutenya itu, bahkan dia dan suhengnya ketika mengeroyok pun tidak akan menang.

Akan tetapi, sutenya itu telah menjadi manusia tapa-daksa, sudah kehilangan kedua kaki tangannya.

Perlu apa ditakuti lagi?

"Tenang-lah, Sute,"

Kata Thian-te Tok-ong.

"Daripada membahayakan diri sendiri lebih baik kita bunuh saja Si Buntung itu dengan racun."

"Tapi, bagaimana dengan muridmu, Suheng?"

"Yo Han? Ah, tentu dia telah dibunuh Ciu Lam Hok yang mengira bahwa Yo Han kusuruh turun untuk membunuhnya. Dan pula, setelah tiga tahun menjadi muridku, aku semakin putus asa melihat Yo Han. Dia memang dapat kuakali dan mempelajari ilmu dengan tekun, akan tetapi apa artinya semua itu kalau kelak tidak dia pergunakan untuk kepentingan Thian-li-pang? Biarlah dia mampus bersama Si Buntung."

Tak lama kemudian dua orang tokoh besar Thian-li-pang itu sudah menghujankan jarum-jarum beracun ke dalam sumur, kemudian melemparkan banyak ular dan kalajengking dan segala macam binatang beracun.

Bahkan yang terakhir mereka menyiramkan air yang kehitaman, air yang beracun ke dalam sumur!

Yo Han dan Ciu Lam Hok sudah cepat menyelinap ke dalam lubang.

Kemudian mereka kembali menggeser kembali batu sebesar gajah menutupi lubang sehingga semua benda dan binatang beracun itu tidak mampu mengganggu mereka.

Ketika Thian-te Tok-ong dan Ban-tok Mo-ko berteriak-teriak dari atas, memanggil dan memaki-maki, tidak ada jawaban lagi dari bawah.

Tentu saja demikian karena dua orang yang berada di dalam sumur itu sudah pergi, dan mereka pun tidak lagi dapat mendengar suara setelah lubang itu tertutup batu besar rapat sekali.

Karena tidak lagi terdengar Ciu Lam Hok menjawab, dua orang manusia iblis itu mengira bahwa bekas sute mereka tentu sudah tewas, maka mereka berdua tertawa gembira.

"Sute, cepat perintahkan Ouw Ban untuk menyuruh anak buahnya menutup sumur itu dengan batu-batu besar!"

"Tapi, Suheng. Bukankah mereka sudah tewas?"

Thian-te Tok-ong menghela napas panjang.

"Mereka berdua adalah manusia-manusia aneh, Sute. Engkau tahu betapa lihainya Ciu Lam Hok. Biarpun kaki tangannya buntung, akan tetapi dengan Bu-kek-hoat-keng, kita tidak tahu apa saja yang dapat dia lakukan. Dan anak itu pun seorang anak yang luar biasa. Siapa tahu dia belum mati dan dapat keluar. Kalau sumur itu ditutup dengan batu-batu besar, biar bagaimanapun juga mereka tidak akan mungkin dapat hidup lagi."

Ban-tok Mo-ko mengangguk.

Diam-diam dia pun seperti suhengnya ini, merasa ngeri dan takut terhadap bekas sute mereka, dan dia pun akan merasa tenang kalau sumur itu sudah ditutup batu-batu besar.

Maka dia pun keluar untuk memberi perintah itu kepada Ouw Ban, Ketua Thian-li-pang.

Dan puluhan orang anggauta Thian-li-pang, sekali ini mendapat perkenan untuk memasuki guha sambil membawa batu-batu besar.

Mereka melemparkan batu-batu besar ke dalam sumur itu.

Jatuhnya batu-batu besar itu mendatangkan suara hiruk-pikuk.

Mereka, puluhan orang banyaknya dan kesemuanya adalah murid-murid Thian-li-pang yang bertenaga kuat, harus bekerja sehari penuh, baru sumur itu dapat ditutup seluruhnya.

Biar orang memiliki kepandaian seperti dewa sekalipun, kalau berada di dalam sumur kemudian sumur yang dalamnya dua puluh lima meter itu ditimbun batu-batu besar sampai penuh, pasti tidak akan mampu lolos lagi.

Yo Han mengikuti kakek buntung merangkak melalui terowongan kecil dan ternyata terowongan itu hanya sepanjang belasan meter saja.

Yo Han merasa kagum bukan main dan tidak mampu membayangkan bagaimana caranya seorang yang tidak mempunyai kaki tangan dapat membuat terowongan sepanjang itu dalam waktu bertahun-tahun!

Akhir terowongan itu merupakan sebuah ruangan yang cukup luas, menjadi dasar dari sebuah sumur yang mirip sumur pertama.

Sumur ini dilihat dari bawah, atasnya tertutup oleh batu-batu dan untungnya, di antara batu besar yang menutup permukaan sumur, ada yang retak-retak yang lebarnya sejengkal sehingga dari retakan-retakan batu inilah sinar matahari dapat masuk walaupun tidak banyak dan tidak lama hanya untuk tiga empat jam saja setiap harinya.

Keadaan dalam ruangan dasar sumur ini bahkan lebih baik daripada dasar sumur pertama, karena dasar sumur ini lebih kering.

Ketika tiba-tiba tempat itu tergetar seperti ada gempa dan terdengar suara hiruk-pikuk, Yo Han sempat terkejut sekali.

"Ah, apakah itu, Suhu?"

"Ha-ha-ha, mereka menutup sumur kita yang tadi, Yo Han. Dengan batu-batu besar tentu saja. Sungguh berbahaya sekali! Kalau aku tidak membuat terowongan dan tidak mempunyai sumur ini, tentu kita berdua sudah tergencet dan terkubur hidup-hidup di sana."

Yo Han bergidik.

Bagaimana ada orang yang sedemikian kejamnya terhadap adik seperguruan sendiri, bahkan juga terhadap murid sendiri?

Tadinya dia mengira bahwa Ang I Moli merupakan satu-satunya orang yang paling jahat dan kejam di dunia ini.

Siapa kira, orang yang pernah menjadi gurunya selama tiga tahun, yang dapat bersikap ramah dan lembut kepadanya, ternyata lebih kejam lagi!

"Nah, sekarang kita harus mengatur tempat tinggal kita ini, Yo Han.

Ingat, mulai sekarang kita tidak akan ada yang memberi makan lagi dan kalau kita tinggal di sini tanpa makan, dalam waktu beberapa minggu saja kita akan mati kelaparan.

Sekarang, pergilah engkau merayap naik dan lakukan dengan hati-hati jangan sampai engkau ketahuan orang Thian-li-pang.

Engkau carilah bahan makanan untuk kita makan, sedapat mungkin makanan kering untuk ransum kita selama beberapa hari agar tidak perlu engkau setiap hari pergi mencari makan.

Untuk minum mudah saja.

Kalau kita gali sedikit saja, tentu akan bisa mendapatkan air di sini.

Kita tidak boleh masak, karena asapnya akan ketahuan orang di atas."

"Suhu, kenapa susah-susah amat? Biar kubantu Suhu merayap naik, dan di sana kita bisa mencari tempat tinggal yang baik sehingga lebih enak dan lebih mudah mencari makan."

"Yo Han, sebelum berhasil mengajarkan ilmu-ilmuku kepadamu, aku tidak akan mau keluar dari sini. Tidak ada tempat yang lebih aman daripada di sini. Ketahuilah bahwa sekali aku keluar, seluruh (Lanjut ke

Jilid 11) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 datuk dunia kang-ouw akan mencariku dan kita akan menghadapi bahaya yang tiada hentinya!

Akan tetapi di sini, siapa yang akan mengetahui tempat ini?

Baru sumur yang pertama saja, yang mengetahuinya hanya Thian-te Tok-ong dan Ban-tok Mo-ko.

Apalagi di sini, tak seorang pun tahu kecuali kita berdua.

Nah, kau pergilah, Yo Han."

Pemuda remaja itu nampak ragu-ragu.

"Akan tetapi, ke mana aku harus mencari makanan itu, Suhu?"

"Aiiihh! Tentu saja ke atas sana, ke rumah-rumah orang yang memilikinya!"

"Tapi.... mana mereka mau memberi banyak makanan kepadaku?"

"Hushh! Siapa suruh engkau minta makanan? Kalau engkau minta makanan tentu semua orang mengenalmu. Engkau tidak boleh memperlihatkan diri kepada siapapun juga. Mengerti? Sekali engkau memperlihatkan diri, celakalah. Tempat ini tentu dapat diketahui, atau engkau akan ditangkap lebih dulu."

"Habis, bagaimana kalau tidak boleh minta, Suhu? Andaikata membeli pun, mereka akan melihatku. Apalagi aku tidak mempunyai uang sama sekali, bagaimana dapat membeli makanan?"

"Hemm, mengapa engkau tidak bisa mencari akal, Yo Han? Dengan kepandaianmu itu, engkau dapat mencuri makanan dengan amat mudahnya dan membawanya ke sini tanpa diketahui orang."

Sepasang mata Yo Han terbelalak.

"Mencuri? Wahhh.... aku tidak sanggup, Suhu. Aku tidak mau mencuri! Itu bahkan lebih jahat daripada minta-minta. Heran, mengapa Suhu dapat menyuruh aku untuk melakukan pencurian? Kita bukan maling, Suhu...."

Kalau saja kakek itu masih mempunyai tangan kaki, tentu tangannya akan menampar kepala sendiri dan kakinya akan dibanting ke tanah saking jengkelnya.

"Waduhhh! Engkau ini sungguh aneh. Apa engkau ingin menjadi dewa? Dewa pun masih suka mencuri kalau terpaksa. Nah, baiklah kalau begitu. Engkau mengambil makanan, pakaian dan apa saja yang kau perlukan dari sebuah toko dan rumah makan, dan kau tinggal-kan uang di tempat engkau mengambil barang-barang itu. Ini bukan mencuri namanya! Coba kau dekati dinding sebelah kiri itu. Dengan hidungnya, kakek itu menunjuk ke dinding kiri. Yo Han menghampiri dinding itu.

"Kau lihat bagian yang mengkilat itu? Nah, cokel keluar dua buah batu, pilih yang kecil saja, yang sebesar ibu jari tanganmu!"

Sinar matahari yang mendatangkan penerangan dalam guha itu memang terpantul oleh beberapa buah batu di dinding itu.

Yo Han memilih yang kecil-kecil dan mencokel lepas dua buah batu sebesar ibu jari tangannya.

"Apakah ini, Suhu?"

"Emas."

"Emas? Benarkah?"

Yo Han terbelelak memandang kepada gurunya, lalu kepada dua buah batu yang mengkilap di tangannya, lalu menoleh ke arah dinding.

"Benar. Aku tidak sudi menipu orang, apalagi engkau. Dinding itu mengandung batu-batu emas, dan dua buah di tanganmu itu sudah cukup untuk memborong barang apa saja yang kau kehendaki. Jangan khawatir, apa pun yang dapat kau bawa dari sebuah toko, tidak cukup berharga untuk ditukar sebuah batu emas itu. Kau tinggalkan saja sebuah di tempat engkau mengambil barang dan pemiliknya akan bersorak kegirangan karena dia mendapat keuntungan besar. Berarti engkau tidak mencuri, kan?"

Yo Han mengangguk-angguk.

Senang hatinya.

Dia tidak sudi kalau harus mencuri, maka dengan adanya dua buah batu emas ini, dia boleh mengambil milik orang tanpa diketahui dan meninggalkan batu itu di tempat barang yang diambilnya.

"Kalau begitu, biar aku berangkat sekarang, Suhu."

"Baik, pergilah. Akan tetapi hati-hati, jangan sampai engkau dilihat siapa pun pergunakan kelincahan gerakanmu. Dan ingat baik-baik, Yo Han. Aku akan selalu menunggumu di sini sampai engkau kembali, menunggumu dengan lapar dan haus, menunggumu sampai aku mati kalau engkau tidak kembali. Nah, pergilah."

Yo Han memberi hormat, mengantungi dua potong batu itu, lalu menggunakan gerakan cecak merayap, dia menanggalkan sepatu yang dia selipkan di ikat pinggang belakang, lalu mulailah dia merayap naik, menggunakan telapak tangan dan kaki.

Tenaga sin-kang di tubuhnya dapat dia atur sehingga telapak tangan dan kakinya dapat menyedot ke permukaan dinding sumur dan melekat di situ!

Perlahan-lahan dan dengan hati-hati dia merayap naik.

Sekali saja keliru mengatur tenaga pada telapak tangan dan kakinya, tentu dia akan terjatuh kembali ke bawah!

Akan tetapi, Yo Han telah melatih ilmu yang oleh Thian-te Tok-ong dinamakan "tari cecak"

Ini dengan baik sehingga dia dapat terus merayap ke atas, dilihat dari bawah oleh kakek Ciu Lam Hok yang mengangguk-angguk senang.

Anak muda itu seorang yang memiliki bakat luar biasa, pikirnya.

Bahkan di tubuh anak itu terdapat tenaga sakti yang mujijat.

Dia tidak merasa khawatir kalau anak itu tidak akan kembali.

Anak itu bersih, polos dan jujur, tidak mungkin meninggalkannya begitu saja, apalagi sudah dia bekali pesan bahwa dia akan menanti setiap saat sampai ia mati kelaparan.

Itu saja pasti akan membuat hati anak itu tidak tega meninggalkannya.

Ketika tiba di permukaan sumur, ternyata mulut sumur itu tidak tertutup batu-batu retak.

Batu-batu itu masih di atas mulut sumur, ada tiga meter tingginya dan ternyata mulut sumur berada di dalam sebuah guha yang kecil.

Mulut guha nampak di depan sana, akan tetapi melalui terowongan yang hanya dapat dilalui dengan merangkak oleh orang yang tidak terlalu besar tubuhnya.

Melihat ini, Yo Han merasa girang.

Sungguh amat baik tempat sembunyi gurunya di dalam sumur itu.

Tak mungkin ada orang memasuki terowongan guha yang demikian sempitnya, dan andaikata ada juga yang mencoba merangkak memasukinya, orang itu tentu akan kembali keluar setelah melihat bahwa guha terowongan itu berakhir pada mulut sebuah sumur yang amat dalam dan gelap menghitam!

Lebih baik lagi, mulut guha kecil itu tertutup semak belukar dan alang-alang.

Dia mengintai dari mulut guha, di balik semak belukar dan ternyata dia berada di lereng sebuah bukit.

Tentu masih termasuk daerah Thian-li-pang, pikirnya.

Dia harus berhati-hati.

Tempat itu sunyi sekali, tidak nampak seorang pun manusia.

Dia mengamati tempat itu agar tidak lupa kalau akan kembali ke sumur.

Kemudian, berindap-indap dia keluar dari balik semak belukar, lalu berlari cepat sambil menyusup-nyusup di antara pohon dan semak, menuruni lereng itu, menuju ke sebuah dusun yang telah dapat dilihatnya dari atas, nampak genteng banyak rumah.

Setelah kini mendapatkan kesempatan, baru Yo Han menyadari bahwa semua latihan yang diberikan Thian-te Tok-ong kepadanya, yang dikatakannya latihan ilmu menari dan bersenam, sungguh amat berguna baginya.

Kini dia dapat bergerak dengan lincah dan ringan sekali sehingga dia dapat bergerak menuju ke dusun di bawah itu tanpa dilihat orang.

Dan giranglah dia ketika dia melihat sebuah rumah makan di dusun itu.

Dia menyelinap ke belakang, menuju dapur ketika dalam intaiannya dia melihat pekerja restoran itu mengambil guci-guci arak dan bahan-bahan masakan dari dalam gudang dekat dapur, dia pun menyelinap dan setelah orang itu keluar, dia masuk ke dalam gudang.

Ternyata apa yang dibutuhkannya berada di dalam gudang itu.

Cepat dia mengambil karung dan menyambar guci berisi kecap, asinan, daging kering, roti kering, telur asin dan bermacam makanan kering sampai guci terisi penuh.

Dia mengambil pula mangkok piring dan panci.

Setelah merasa cukup, dia meninggalkan sepotong batu emas di atas meja, dan pergilah dia dengan cepat.

Di sebuah toko kecil yang menjual pakaian, dia pun masuk dari belakang dan berhasil mengambil pakaian, gunting, jarum dan benang, sepatu, kaos kaki, dan segala macam perkakas seperti catut, kapak, martil dan sebagainya.

Dia kembali ke dalam guha kecil membawa dua buah karung.

Dia membayangkan betapa akan senangnya pemilik rumah makan dan pemilik toko yang akan menemukan potongan batu emas.

Seperti juga di rumah makan, dia meninggalkan potongan batu emas, di meja di mana dia mengambil pakaian.

Kini dia merangkak di dalam terowongan sempit sambil menyeret dua karung itu, kemudian setelah tiba di mulut sumur, dia merayap turun.

Sempat pula dia terlongong sejenak di mulut sumur.

Apakah dia harus kembali ke tempat yang seperti neraka itu?

Akan tetapi, bagaimana dia dapat tega meninggalkan kakek yang tak berdaya itu, yang buntung kaki tangannya dan yang menantinya setiap saat di dasar sumur dengan perut lapar dan yang pasti akan mati kelaparan kalau dia tidak kembali?

Tidak, dia tidak boleh sekejam itu.

Apalagi kakek itu telah dia angkat sebagai guru.

"Ha-ha-ha, sudah yakin hatiku bahwa engkau memang seorang anak yang dikirim Tuhan kepadaku, Yo Han. Sedikit pun tidak ada keraguan di hatiku bahwa engkau pasti akan kembali ke sini!"

Kakek itu tertawa gembira dan menyuruh muridnya mengeluarkan semua isi dua buah karung itu agar dia dapat melihat apa saja yang dibawa turun oleh muridnya.

Ketika dia melihat guci arak, dia menggerakkan kepalanya.

Rambutnya menyambar ke arah sebuah guci dan seperti hidup saja, rambut itu melibat sebuah guci arak, mencabut penutupnya, membawa ke depan mulut dan dia pun minum dengan lahap.

Yo Han memandang kagum.

Gurunya itu memang seorang manusia hebat.

Biarpun kaki tangannya sudah tidak ada, namun dia dapat melayani semua kebutuhan hidupnya dengan rambutnya, mulut, bahkan hidungnya sebagai pengganti tangan, dan tubuh yang tak berkaki itu agaknya sama sekali tidak canggung untuk bergerak ke sana sini dengan cara berloncatan seperti katak yang lincah.

"Tentu saja aku kembali, Suhu. Bagaimana mungkin aku meninggalkan Suhu seorang diri di sini? Kalau Suhu mau keluar bersamaku, baru aku akan meninggalkan sumur ini."

"Hemm, terlalu berbahaya, Yo Han. Dalam keadaanmu sekarang, kalau kita keluar dari bertemu lawan, tentu kau akan celaka. Aku sendiri tidak sudi menjadi tontonan orang. Tidak, engkau harus mewarisi semua ilmuku lebih dulu, terutama Bu-kek Hoat-keng, baru engkau boleh meninggalkan sumur ini."

"Sekali lagi kutekankan, Suhu, bahwa aku tidak mau mempelajari ilmu silat, tidak mau mempelajari ilmu berkelahi dan ilmu memukul dan membunuh orang!"

Yo Han berkata dan suaranya terdengar tegas dan mantap.

Kakek itu menghentikan minumnya, meletakkan kembali guci arak ke atas tanah setelah menutup gucinya, dan dia memandang muridnya dengan mata penuh selidik.

"Muridku yang baik, apakah yang kau ucapkan itu sudah keluar dari hati nuranimu? Sudah kau pikirkan masak-masak dan engkau tidak akan keliru lagi?"

"Tentu saja, Suhu. Sejak kecil, mendiang kedua orang tuaku selalu menasihatiku agar aku hidup melewati jalan yang benar, menjauhi segala macam bentuk kekerasan, terutama sekali jangan mempelajari ilmu silat karena kehidupan seorang ahli silat penuh dengan pertentangan, permusuhan, perkelahian dan saling bunuh, saling dendam. Orang tuaku sendiri tewas karena ibuku seorang ahli silat. Andaikata ibuku tidak pandai silat seperti ayahku sejak kecil, tentu mereka kini masih hidup sebagai petani-petani yang bahagia dan aku tidak menjadi yatim piatu. Tidak, Suhu, aku tidak suka ilmu silat, aku benci ilmu silat!"

"Ha-ha-ha-ha! Sebaliknya, muridku. Kalau ibu dan ayahmu memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi, tidak mungkin mereka akan terbunuh. Kalau mereka tewas, itu adalah karena ilmu silat mereka kurang tinggi, sehingga mereka tidak mampu membela diri dengan baik. Kalau mereka tidak pandai ilmu silat, lalu siapa yang melindungi mereka? Kalau engkau membenci ilmu silat, siapa yang akan melindungimu?"

Pemuda remaja itu menentang pandang mata gurunya dengan berani dan sungguh-sungguh.

"Mengapa takut, Suhu? Kita hidup ada yang menghidupkan, mati ada yang mematikan, kita ada karena diciptakan Tuhan. Tuhan merupakan pelindung utama dan kalau Tuhan melindungi kita, siapa yang akan mampu mengganggu kita?"

"Bagus! Benar sekali itu, Yo Han. Kalau Tuhan tidak menghendaki kita mati, tentu Tuhan akan melindungi kita dan tak seorang pun di dunia ini akan mampu membunuh kita. Akan tetapi bagaimana kalau Tuhan sudah menghendaki kita mati? Punya ilmu silat atau tidak, bisa saja kita mati dibunuh orang kalau memang Tuhan sudah menghendaki kita mati. Bahkan tidak ada yang mengganggu ia pun akan mati sendiri, ha-ha-ha!"

Yo Han tertegun mendengar ucapan kakek itu.

Di dalam hatinya dia tidak mampu membantah kebenaran itu.

Ayah ibumu memang tewas dalam perkelahian, akan tetapi tentu mereka itu tewas hanya karena Tuhan sudah menghendaki mereka mati.

Andaikata Tuhan tidak menghendaki, mereka tentu tidak akan mati.

Hanya Tuhan yang menentukan mati hidupnya seseorang, Tuhan Maha Kuasa!

Akan tetapi hanya sebentar dia termangu, lalu dia menggeleng kepala.

"Bagaimanapun juga, aku tidak suka belajar ilmu silat, Suhu. Ilmu silat adalah jahat!"

"Jahat? Ha-ha, Yo Han, kau tahu apa tentang jahat dan baik? Lihat, barang-barang yang kau bawa turun itu! Lihat barang-barang itu, kapak, gunting, jarum, pisau, catut dan martil. Apakah semua itu tidak jahat sekali?"

Yo Han memandang gurunya dengan heran dan menjawab cepat.

"Tentu saja tidak jahat, Suhu! Barang-barang itu baik dan berguna sekali. Kapak itu dapat kita pergunakan untuk memotong kayu atau menggali tanah padas ini, gunting itu untuk menggunting kain, jarum dan benang untuk menjahit, pisau itu untuk menyayat roti dan daging, catut dan martil untuk membuat prabot dari kayu dan sebagainya."

Kembali kakek itu tertawa.

"Dan bagaimana dengan kedua tanganmu itu? Baik atau jahatkah kedua tanganmu itu?"

Yo Han memandang kedua tangannya dan kembali menatap wajah gurunya.

"Tentu saja baik, Suhu, karena dengan kedua tangan ini teecu (murid) dapat melakukan semua pekerjaan yang bermanfaat itu."

"Sekarang dengar baik-baik! Bagaimana kalau kapak itu dipergunakan untuk mengapak kepala orang, gunting itu untuk menusuk perut orang, jarum untuk disambitkan menyerang lawan, pisau untuk menyayat leher orang, juga catut dan martil itu untuk menyerang orang lain. Apakah semua itu masih dapat dinamakan barang yang baik dan berguna?"

Yo Han terbelalak. Tak pernah tergambar dalam benaknya bahwa benda-benda itu akan ada yang menggunakan untuk kejahatan seperti itu.

"Tapi.... tapi...."

"Dan bagaimana pula dengan kedua tanganmu itu, Yo Han? Kalau kedua tanganmu itu kau pergunakan untuk mencekik leher orang lain, untuk memukul dan menyiksa, apakah kedua tangan itu masih kau katakan baik dan tidak jahat?"

"Wah, wah, itu tidak mungkin, Suhu!"

Kata Yo Han kaget.

"Nah, itulah! Yang mengatakan tidak mungkin itulah yang menentukan, Yo Han. Kalau engkau mengatakan tidak mungkin, maka kejahatan itu pun takkan terjadi. Kalau engkau mengatakan mungkin saja, maka kejahatan itu akan terjadi. Jadi yang menentukan bukanlah benda-benda itu, melainkan batin orangnya! Seseorang dapat menggunakan api untuk memasak dan membuat lampu penerangan, akan tetapi dapat pula orang menggunakan api untuk membakar rumah orang lain! Jadi, Si Api itu sendiri tidak baik dan tidak jahat, baru dinamakan jahat atau baik kalau sudah dipergunakan. Yang jahat dan baik itu adalah apa yang tersembunyi di balik perbuatan itu, Yo Han, yaitu pamrih yang mendorong dilakukannya perbuatan itu. Seperti juga tanganmu. Dapat dipergunakan untuk menolong orang dan itu dikatakan baik, dapat dipergunakan untuk membunuh orang, dan itu dinamakan jahat. Tidak benarkah ini?"

Yo Han mengangguk, tak dapat berbuat lain. Memang demikianlah kenyataannya.

"Aku mengerti, Suhu. Jadi yang mendatangkan kejahatan atau kebaikan adalah apa yang berada dalam diri manusia, dalam batin manusia itu yang menentukan. Adapun ini hanyalah alat, bukankah demikian, Suhu?"

"Benar sekali! Karena itu, yang perlu dibersihkan adalah batinnya! Kalau batinnya bersih dan baik, maka alat apa pun yang dipergunakan, tentu demi kebenaran dan kebajikan. Sebaliknya kalau batinnya kotor dan jahat, alat apa pun yang dipergunakan dalam perbuatan, condong ke arah kejahatan."

"Teecu (murid) mengerti! Dan memang apa yang Suhu katakan itu benar sekali!"

"Nah, sekarang kita kembali kepada ilmu silat. Baik atau jahatkah ilmu silat? Sama seperti semua benda itu tadi, Yo Han. Tidak baik dan tidak jahat. Kalau ilmu silat tidak dipergunakan, maka tidak ada jahat atau baik yang ditimbulkan oleh ilmu itu. Akan tetapi setelah dipergunakan, barulah timbul baik atau jahat, sesuai dengan cara orang itu mempergunakannya. Kalau ilmu silat dipergunakan untuk melakukan kejahatan, merampok, membunuh, memaksakan kehendak sendiri untuk menang, jelas ilmu itu menjadi alat berbuat kejahatan. Akan tetapi kalau Si Orang mempergunakannya seperti yang dilakukan para pendekar, untuk menentang mereka yang jahat, untuk melindungi mereka yang lemah tertindas, untuk membela diri terhadap ancaman bahaya dari luar, apakah kita dapat menamakan ilmu itu jahat? Ingat, muridku. Kau tahu harimau? Mengapa Tuhan menciptakan harimau dengan diberi kuku dan taring? Dan mengapa lembu bertanduk? Ular berbisa? Ulat berbulu gatal? Semua itu merupakan alat bagi mereka untuk bertahan hidup, untuk melindungi diri sendiri. Manusia merupakan makhluk paling lemah, tanpa kuku, tanpa taring, tanpa tanduk untuk menjaga diri. Akan tetapi manusia memiliki kelebihan, yaitu akal budi. Dengan akal budi inilah manusia mengadakan segala macam alat untuk bertahan hidup, untuk melindungi dirinya dari bahaya. Dan ilmu silat termasuk hasil garapan akal budi manusia untuk melindungi diri terhadap ancaman dari luar tubuh, selain untuk menjaga kesehatan dan melepaskan naluri kesenian melalui gerakan silat. Silat merupakan gerakan manusia yang mengandung unsur kesenian kesehatan, dan bela diri, juga untuk membela mereka yang lemah tertindas. Nah, betapa luhur dan indahnya ilmu silat, kalau dikuasai oleh orang yang memiliki batin bersih!"

Mendengar semua itu, Yo Han termenung sampai lama sekali.

Teringat ia akan nasihat ayah ibunya yang melarangnya belajar silat.

Terbayang kembali semua peristiwa dan pengalamannya dimana ilmu silat dipergunakan orang jahat untuk melakukan kejahatan.

Akan tetapi juga ilmu silat dipergunakan oleh para pendekar seperti suhu dan subonya yang pertama kali, yaitu pendekar Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li.

Dan teringat pula dia akan Tan Sian Li, puteri suhu dan subonya itu.

Suhu dan subonya berkeras hendak mengajarkan ilmu silat kepada Sian Li, dan takut kalau Sian Li sampai terbawa olehnya, membenci ilmu silat.

Dia membayangkan Sian Li sebagai seorang gadis lemah yang tentu akan menghadapi banyak ancaman gangguan, lalu membayangkan Sian Li sebagai seorang gadis yang pandai ilmu silat, gagah perkasa, bukan hanya pandai dan kuat membela diri sendiri, akan tetapi juga dapat membela orang lain yang tertindas dan menjadi korban kejahatan, menentang para penjahat dan menjadi seorang pendekar wanita.

Tiba-tiba Yo Han menyadari itu semua dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan kakek buntung itu.

"Suhu benar, teecu sekarang mengerti bahwa baik buruknya bukan terletak pada ilmu silat, melainkan dalam batin orang yang menguasainya."

"Bagus sekali, Yo Han. Jadi, mulai sekarang engkau mau belajar ilmu silat dariku, bukan? Terutama sekali Bu-kek-hoat-keng?"

Yo Han mengangguk.

"Mudah-mudahan teecu kelak akan mendapatkan bimbingan Tuhan sehingga semua ilmu itu hanya akan teecu pergunakan untuk membela kebenaran dan bukan untuk mencari permusuhan dan membunuh orang."

"Aku yakin akan hal itu, Yo Han. Engkau bukan seorang calon penjahat. Engkau telah dikaruniai bakat yang amat luar biasa. Tuhan amat mengasihimu, Yo Han."

Demikianlah, mulai saat itu, Yo Han menerima pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi dari kakek Ciu Lam Hok.

Tentu saja kakek itu tidak dapat memberi contoh gerakan.

Dia hanya menerangkan dan minta Yo Han melakukan gerakannya, dan kalau keliru, dia menjelaskan.

Untuk melatihnya, dia mengajak Yo Han untuk bertanding dan biarpun dia hanya menggunakan pundak, rambut dan tabrakan tubuhnya, sukar sekali bagi Yo Han untuk dapat bertahan.

Namun dia belajar terus dengan penuh semangat di dalam sumur itu sehingga dia memperoleh kemajuan pesat.

Apalagi sebelumnya dia telah menguasai ilmu-ilmu "tari"

Dan "senam"

Yang sebetulnya mengandung dasar-dasar ilmu silat tinggi dari Thian-te Tok-ong.

Juga sebelum itu, dia telah hafal akan dasar-dasar ilmu silat dari suhu dan subonya, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, walaupun pengetahuannya hanya sampai batas teori dan hafalan saja.

Kita tinggalkan dulu Yo Han yang dengan tekun berlatih ilmu digembleng kakek Ciu Lam Hok dalam sumur dan kita tengok keadaan di luar sumur.

Biarpun lenyapnya Yo Han yang mereka sangka tentu sudah mati bersama kakek Ciu Lam Hok di dalam sumur membuat para tokoh Thian-li-pang merasa agak kecewa karena mereka tadinya mengharapkan anak luar biasa itu kelak akan memperkuat Thian-li-pang, namun mereka mempunyai urusan yang lebih penting dan segera melupakan anak dan kakek itu yang mereka anggap sudah mati.

Pada saat Yo Han memasuki sumur pertama, para pimpinan Thian-li-pang mengadakan pertemuan penting, bahkan Thian-te Tok-ong dan Ban-tok Mo-ko juga hadir dalam pertemuan puncak itu.

Terdapat pula wakil dari Pek-lian-kauw, bukan saja Ang I Moli dan dua orang tosu Pek-lian-kauw yang selama ini memang sudah bekerja sama dengannya, yaitu Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu, bahkan ada seorang tosu tingkat tinggi dari Pek-lian-kauw datang pula, yaitu Pek Hong Siansu, seorang tokoh kelas dua dari Pek-lian-kauw yang mewakili pimpinan perkumpulan itu.

Mereka membicarakan tentang surat yang mereka terima dari kaki tangan Thian-li-pang yang mereka sebar sebagai mata-mata untuk melihat perkembangan permusuhan antara partai-partai persilatan besar yang sudah mereka adu domba.

Bahkan pembunuhan atas diri Thian Kwan Hwesio di kuil Poteng adalah perbuatan para tokoh Thian-li-pang untuk memperuncing permusuhan akibat adu domba itu.

Dan surat yang mereka terima adalah surat laporan dari mata-mata mereka.

Isinya amat mengecewakan hati para pimpinan Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw.

Laporan itu menyatakan bahwa kini permusuhan antara partai-partai persilatan itu mereda, dan tidak pernah terjadi bentrokan lagi.

Semua itu akibat usaha bekas panglima Kao Cin Liong dan keluarga keturunan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan keturunan Pendekar Super Sakti Pulau Es.

Kao Cin Liong mengadakan perayaan ulang tahun yang ke enam puluh empat, dan keluarga para pendekar itu mengundang tamu-tamu dari dunia persilatan, termasuk empat partai besar, yaitu Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai dan Go-bi-pai.

Dalam pertemuan itu, di mana suasananya ramah karena semua tamu menghormati tuan rumah, Kao Cin Liong dan keluarganya, mengajak empat partai besar yang mengirim wakil-wakitnya untuk bicara secara terbuka dan dari hati ke hati.

Kao Cin Liong menceritakan tentang pembunuhan yang dilakukan terhadap Thian Kwan Hwesio, bahkan dia sendiri dan isterinya sempat terluka ketika membela hwesio itu.

Biarpun sebelum meninggal Thian Kwan Hwesio mengatakan bahwa yang menyerangnya adalah orang-orang Bu-tong-pai, namun dia merasa curiga dan tidak percaya.

Apalagi ketika para pimpinan Bu-tong-pai menyangkal.

Kao Cin Liong menceritakan tentang luka beracun akibat racun ular hitam yang biasanya hanya dipergunakan tokoh-tokoh sesat.

Keterangan Kao Cin Liong yang dihormati semua utusan partai persilatan besar itu mendatangkan kesan, apalagi ketika Suma Ceng Liong yang namanya sudah amat terkenal dan amat disegani semua orang menyatakan pendapatnya, semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Cu-wi adalah orang-orang yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan bersikap gagah dan bijaksana. Oleh karena itu, mengingat bahwa empat partai persilatan Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Bu-tong-pai dan Go-bi-pai adalah partai-partai besar yang namanya selalu harum, memiliki murid-murid pendekar, maka tidak semestinya kalau para pimpinan empat partai itu hanya menuruti dendam dan kemarahan belaka. Saya sudah mendengar tentang peristiwa aneh di Gunung Naga. Tentu Cuwi (Anda Sekalian) sudah sependapat dengan saya bahwa peristiwa itu patut dicurigai. Mudah sekali dimengerti bahwa tentu ada pihak ke tiga yang agaknya sengaja hendak mengadu domba! Saya condong berpendapat bahwa pelaku-pelaku kejahatan itu, baik para pembunuh yang beraksi di Gunung Naga, maupun pembunuh Losuhu Thian Kwan Hwesio, sudah pasti pihak ke tiga yang hendak mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai! Oleh karena itu, apabila Cuwi tidak menghentikan permusuhan antara saudara sendiri, berarti Cuwi dengan mudah dapat dipermainkan dan pihak ke tiga yang mengadu domba."

Semua orang mengangguk dan menyatakan setuju dengan pendapat dari pendekar yang amat mereka hormati itu, dan diam-diam mereka pun menduga-duga siapa kiranya yang berani melakukan pem-bunuhan-pembunuhan untuk mengadu domba antara partai-partai persilatan.

Ada di antara mereka yang menduga bahwa pihak ketiga itu mungkin saja perintah Kerajaan Mancu yang tentu saja ingin melihat partai-partai persilatan itu saling bermusuhan dan menjadi hancur atau lemah sendiri agar tidak membahayakan pemerintah lagi.

Akan tetapi Kao Cin Liong menggeleng kepala.

"Bukan karena saya pernah menjadi panglima Kerajaan Mancu maka saya terpaksa tidak menyetujui dugaan itu. Kita semua tahu bahwa Kaisar Kian Liong, biarpun dia seorang Mancu dan sebagai manusia biasa tentu saja mempunyai kelemahan-kelemahannya, sejak muda dia sudah bergaul akrab dengan para pendekar. Dia seorang yang selalu bersikap bijaksana dan ingin bersahabat dengan partai-partai persilatan besar. Dia pun amat cerdik, maka saya tidak percaya bahwa dia akan melakukan suatu kebodohan dengan memusuhi para partai persilatan besar dan menjadikan mereka sebagai musuh. Hal itu hanya akan membuat kedudukannya lemah. Tidak, saya yakin bahwa bukan pemerintah yang menjadi pihak ke tiga itu. Perbuatan itu bukan menolong pemerintah, melainkan membahayakannya."

Semua orang setuju dengan pendapat bekas panglima itu.

Akan tetapi mereka menjadi semakin bingung.

Lalu siapa lagi yang patut dicurigai dan dituduh menjadi pihak ke tiga yang mengadudombakan mereka?

Akhirnya Kao Cin Liong yang memberi usul.

"Yang terpenting lebih dulu adalah persatuan di antara kita semua. Setelah kita yakin bahwa ada pihak ke tiga yang mengadu domba, maka para pimpinan masing-masing harus menjaga sekuatnya agar tidak ada anak buah atau murid yang saling bermusuhan lagi. Semua murid harus diberi tahu bahwa permusuhan itu timbul karena adu domba, dan semua bentrokan yang pernah ada agar dianggap selesai saja. Tidak ada dendam, tidak ada permusuhan sehingga dengan sikap demikian kita mendapatkan dua keuntungan. Pertama, kita menggagalkan niat busuk pihak ke tiga itu. Ke dua suasana menjadi tenteram dan dalam keadaan tenteram itu, kita semua bekerja sama untuk melakukan penyelidikan agar pihak ke tiga itu dapat kita ketahui siapa dan kelak kita bersama mengambil tindakan terhadap mereka."

Kembali semua orang setuju dan pertemuan itu benar-benar menjadi sebuah pesta yang menggembirakan di mana para wakil empat partai persilatan itu dapat berbincang-bincang dengan hati lega karena semua perasaan dendam telah dihapus dengan penuh pengertian bahwa mereka semua menjadi korban fitnah dan adu domba.

Demikianlah, para mata-mata Thian-li-pang melaporkan semua peristiwa itu kepada pimpinan Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw.

Tentu saja para pimpinan itu menjadi kecewa bukan main.

"Ini kesalahan Si Keparat Thian Kwan Hwesio itu!"

Kata Ouw Ban, Ketua Thian-li-pang sambil mengepal tinju.

"Dia dapat melarikan diri ke atas rumah keluarga Kao Cin Liong sehingga melibatkan keluarga itu. Dan sekarang, keluarga itu pula yang menggagalkan siasat yang telah kita atur sebaiknya."

"Memang. itu suatu kesialan,"

Kata gurunya, yaitu Ban-tok Mo-ko.

"Kita atur semua itu dengan tujuan agar empat partai persilatan saling bermusuhan. Akan tetapi kini mereka tidak saling bermusuhan lagi bahkan menyadari bahwa ada pihak ke tiga yang mengadu domba. Semua ini adalah akibat ikut campurnya keluarga Kao Cin Liong"

"Kita sikat saja mereka! Kita basmi Kao Cin Liong dan keluarganya!"

Kata pula Lauw Kang Hui, wakil ketua Thian-li-pang dengan muka merah.

"Hemm, usul yang bodoh sekali itu!"

Tiba-tiba Thian-te Tok-ong yang sejak tadi diam saja, kini berkata dan semua orang memandang kakek itu.

Semua orang di situ takut dan menghormati kakek yang hampir tidak pernah keluar dari dalam guha tempat pertapaannya itu.

Hanya untuk urusan yang amat penting saja dia mau bertemu dengan pimpinan Thian-li-pang seperti sekarang ini.

"Apakah kalian tidak tahu siapa Kao Cin Liong itu? Dia keturunan Naga Sakti Gurun Pasir, dan isterinya adalah keturunan Pendekar Super Sakti Pulau Es. Kalau kita memusuhi mereka, kedua keluarga itu dapat mendatangkan kegagalan kepada kita, bahkan mungkin Kehancuran. Kita akan membentur batu karang kalau memusuhi mereka. Dan pula, apa untungnya memusuhi mereka? Tujuan kita hanya satu, menghancurkan pemerintah Kerajaan Mancu!"

Semua orang saling pandang dan berdiam diri. Apa yang dikatakan datuk dari Thian-li-pang itu memang tepat.

"Siancai....!"

Pek Hong Siansu, tokoh Pek-lian-kauw itu tiba-tiba berseru.

"Agaknya jalan satu-satunya haruslah menyalakan api pertentangan antara empat partai itu dengan kerajaan! Sekarang kita harus berusaha membujuk Kaisar Mancu untuk memusuhi mereka."

Semua orang mengangguk-angguk menyatakan persetujuan mereka.

"Sayang sekali hubungan baik yang sudah kita rintis dengan Siang Hong-houw kini telah putus,"

Kata Ouw Ban Ketua Thian-li-pang.

"Bahkan kita kehilangan murid kita terbaik, Ciang Sun yang gagal membunuh Kaisar Kian Liong dan dia tewas."

"Muridmu itu tergesa-gesa,"

Kata pula Thian-te Tok-ong.

"Membunuh Kaisar dan para pangeran yang dapat menggantikannya harus dilakukan dengan cara halus. Kita dapat menggunakan racun. Akan tetapi harus mencari kesempatan yang baik dan untuk itu kita harus bersabar dan menggunakan waktu. Juga hubungan dengan Pangeran Kian Ban Kok harus dipererat agar kalau sudah tiba masanya, dia tidak akan menolak. Sebaiknya kita dekati lagi Siang Hong-houw dan kita menyelundupkan orang ke istana. Walau harus menunggu bertahun-tahun, akan tetapi kita harus bersabar dan sekali bergerak harus berhasil."

"Bagus sekali! Apa yang dikatakan oleh Locianpwe Thiata-te Tok-ong memang tepat. Kami dari Pek-lian-kauw amat menyetujuinya. Kami juga akan menyusun kekuatan dan siap bergerak apabila sudah mendapat kesempatan baik. Untuk sementara ini, sebaiknya kita dari Pek-lian-kauw maupun Thian-li-pang menahan kesabaran agar jangan melakukan gerakan yang kasar dulu, agar tidak mengejutkan pihak lawan sehingga mereka dapat siap siaga,"

Kata Pek Hok Siansu dari Pek-lian-kauw.

Demikianlah, para pemberontak ini akhirnya bersepakat untuk sementara tidak melakukan gerakan keluar, tidak menggunakan kekerasan, melainkan menggunakan siasat halus untuk menyusup ke dalam istana, menghubungi kembali Siang Hong-houw dan Pangeran Kian Ban Kok, dan menyusun kekuatan.

Anak perempuan berusia dua belas tahun itu mungil dan cantik manis sekali.

Ia bersilat dengan gaya yang indah namun gagah.

Rambutnya yang hitam panjang dikuncir menjadi dua dan bergantungan di kanan kiri, diikat dengan pita kuning.

Ketika ia bersilat, sepasang kuncir itu bergerak-gerak seperti dua ekor ular hitam, kadang di depan dada, kadang di belakang punggung.

Kalau kepala itu digerakkan dengan cepat, dua helai kuncir itu pun ikut bergerak meluncur seperti sepasang senjata.

Kalau tubuh itu tiba-tiba merendah, sepasang kuncir itu seperti terbang ke atas kepala.

Gerakan kaki tangannya mantap dan indah, seperti gerakan seekor burung bangau merah.

Ia adalah Tan Sian Li yang sedang berlatih di kebun belakang rumah, diamati ayahnya, Tan Sin Hong yang berdiri menonton sambil bertolak pinggang.

Sian Li kini telah menjadi seorang anak berusia dua belas tahun yang cantik jelita, manis, dan lincah sekali.

Wajahnya yang berkulit putih itu berbentuk bulat telur dengan sepasang mata yang lebar dan jeli, hidung mancung dan mulutnya yang manis itu selalu mengandung senyum mengejek sehingga sepasang lesung di pipinya selalu nampak.

Ia sedang memainkan ilmu silat Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Burung Bangau Putih), ilmu silat ayahnya yang amat lihai.

Akan tetapi, karena usianya baru dua belas tahun, maka Tan Sin Hong hanya mengajarkan gerakannya saja, belum "mengisi"

Tubuh anaknya dengan tenaga sakti ilmu itu.

Anaknya masih terlalu muda sehingga akan membahayakan kalau tubuhnya menerima kekuatan yang dahsyat itu.

Kini, anaknya hanya mempelajari dan menguasai gerakannya saja, kelak kalau sudah dewasa, baru akan diisi dengan tenaga sakti sehingga ilmunya itu akan menjadi lengkap.

Selain ilmu silat yang merupakan ilmu simpanan itu, juga Sin Hong mengajarkan semua gerakan dasar ilmu tinggi yang menjadi dasar ilmu silat Sin-liong-ciang-hoat, ilmu dari Naga Sakti Gurun Pasir yang menjadi seorang di antara guru-gurunya.

Juga dia mengajarkan dasar-dasar dari ilmu yang pernah dipelajarinya dari dua orang gurunya yang lain, yaitu mendiang nenek Wan Ceng dan kakek Tiong Khi Hwesio atau Wan Tek Hoat, Si Jari Maut.

Biarpun usianya baru dua belas tahun, namun Sian Li telah menjadi seorang anak yang luar biasa.

Ilmu silatnya sudah hebat.

Jarang ada orang dewasa yang akan mampu menandinginya.

Ketika ia menyelesai-kan gerakan terakhir dari Pek-ho Sin-kun, tiba-tiba muncul ibunya, Kao Hong Li.

"Ada tamu datang, kalian hentikan dulu latihan itu, dan mari keluar menyambut tamu!"

Sian Li menghentikan latihannya dan Sin Hong menghampiri isterinya.

"Siapakah yang datang berkunjung?"

"Seorang utusan dari Paman Suma Ceng Liong."

Mereka segera memasuki rumah dan menuju ke ruangan depan di mana tamu itu dipersilakan duduk.

Ketika mereka tiba di ruangan depan, Tan Sin Hong melihat seorang laki-laki yang usianya empat puluh tahun dan berjenggot panjang bangkit berdiri dari kursinya.

Dia tidak mengenal orang itu, akan tetapi melihat sikapnya dapat diketahui bahwa orang itu memiliki kegagahan.

Orang itu sudah mengangkat kedua tangan depan dada untuk menghormati tuan dan nyonya rumah.

Sin Hong dan Kao Hong Li cepat membalas penghormatan itu dan mempersilakan tamunya duduk.

"Sian Li, engkau masuklah dulu, mandi dan tukar pakaian. Jangan lupa, suruh pelayan mengeluarkan minuman untuk tamu kita."

Tamu itu cepat menggerakkan tangannya.

"Saya kira Siocia tidak perlu masuk, karena urusan ini justeru menyangkut diri Siocia (Nona)."

Sin Hong memandang tamu, itu dan dia pun mengerti.

Kalau tamu ini utusan pamannya, Suma Ceng Liong, dan mengatakan urusan itu menyangkut diri Sian Li, maka tidak salah lagi.

Tentu pamannya itu menyuruh utusan ini untuk menjemput puterinya karena dulu mereka pernah berjanji bahwa kalau sudah tiba waktunya, Sian Li akan digembleng ilmu oleh paman dan bibinya itu.

Walaupun dia sendiri dan isterinya sudah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, namun tentu saja paman dan bibinya itu mempunyai ilmu-ilmu yang khas dan amat menguntungkan kalau Sian Li mendapat bimbingan mereka.

Melihat tuan rumah memandang kepadanya, tamu itu lalu mengeluarkan sesampul surat dan menyerahkan surat itu kepada Sin Hong yang segera menerima dan mengambil suratnya lalu dibaca bersama isterinya yang berdiri di belakangnya.

Mereka membaca surat dari Suma Ceng Liong dan tepat seperti yang diduga oleh Sin Hong, di dalam surat itu pamannya minta agar Sian Li diperkenankan ikut utusan itu ke Hong-cun.

Dia dan isterinya ingin memenuhi janji mereka dan mulai mengajarkan ilmu mereka kepada Sian Li.

Membaca surat itu, Hong Li mengerutkan alisnya dan menyentuh pundak suaminya.

"Ah, bagaimana kita dapat melepaskan anak kita begini tiba-tiba?"

Sin Hong lalu memandang kepada tamu itu dan berkata.

"Terima kasih atas jerih payah Toa-ko yang sudah mengantarkan surat Paman Suma Ceng Liong kepada kami,"

Katanya dengan ramah.

"Harap sampaikan saja kepada Paman Suma Ceng Liong dan Bibi, bahwa anak kami Tan Sian Li akan kami antarkan sendiri ke Hong-cun. Akan tetapi sebelum ke sana, kami akan mengunjungi dulu kota raja."

Tamu itu dijamu oleh Sin Hong sekeluarga, kemudian tamu itu meninggalkan mereka untuk kembali ke Hong-cun dan menyampaikan pesan mereka.

Hong Li merasa puas, karena kalau Sian Li dibawa begitu saja oleh utusan yang tidak mereka kenal, tentu saja ia tidak akan merasa tenteram hatinya.

Sian Li sendiri tadinya hampir menolak ketika diberitahu bahwa ia akan diberi pelajaran silat oleh paman dan bibi orang tuanya.

Akan tetapi setelah diberi penjelasan oleh ayah ibunya, apalagi ketika mendengar bahwa ia akan diantar sendiri oleh mereka dan sebelum ke Hong-cun akan diajak pesiar ke kota raja ia pun merasa terhibur dan tidak membantah lagi.

Tiga hari kemudian, ayah ibu dan anak ini berangkat meninggalkan rumah mereka di kota Ta-tung menuju ke kota raja Peking yang berada di sebelah timur.

Untuk pergi ke dusun Hong-cun akan makan waktu yang lama sekali karena dusun itu terletak di dekat kota Cin-an di Propinsi Shantung, di lembah Sungai Huang-ho.

Peking merupakan kota yang memang akan mereka lewati kalau mereka pergi ke Shantung, jadi perjalanan itu tidak memutar.

Pada suatu senja, tibalah mereka di sebuah kota yang letaknya dekat dengan Peking, di sebelah barat selatan kota raja itu.

Kota ini disebut kota Heng-tai dan merupakan kota yang cukup ramai karena banyak pengunjung kota raja yang kemalaman tentu bermalam di kota ini.

Karena banyaknya tamu dari luar daerah yang hendak berkunjung ke kota raja berhenti dan bermalam di kota Heng-tai, maka kota ini tentu saja berkembang menjadi ramai dan di situ banyak orang mendirikan rumah penginapan, rumah makan dan toko-toko.

Tanpa adanya tiga perusahaan ini, sebuah kota tidak akan menjadi ramai karena ketiganya memenuhi kebutuhan pokok manusia, yaitu tempat tinggal, makan, dan pakaian berikut segala keperluan hidup sehari-hari.

Ketika pada senja hari itu Tan Sin Hong, Kao Hong Li dan Tan Sian Li memasuki Heng-tai, kota itu sedang ramai-ramainya dan semua rumah penginapan telah penuh tamu!

Sin Hong dan anak isterinya mencari kamar dari satu ke lain penginapan tanpa hasil.

"Ah, kita sudah penat sekali. Apa kita harus bermalam di kuil kosong?"

Sian Li mengomel setelah belasan kali keluar masuk rumah penginapan tanpa hasil.

Semua pengurus rumah penginapan terpaksa menolak mereka karena semua kamar telah penuh.

"Tidak perlu kita harus bermalam di kuil kosong kalau semua rumah penginapan telah penuh,"

Kata Kao Hong Li.

"Kalau perlu kita dapat menumpang di rumah seorang penduduk dengan membayar sewa kamar."

"Mari kita coba hotel yang di sana itu. Nampaknya besar dan paling mewah, mungkin masih ada kamar di sana,"

Kata Sin Hong.

Mereka lalu menuju ke hotel yang nampak besar dan mewah itu dan membaca papan nama hotel yang tergantung di depan.

Nama hotel itu Thai Li-koan (Hotel Besar).

Nampak kesibukan di hotel itu, seolah ada suatu peristiwa penting terjadi di sana.

Ketika mereka hendak menaiki anak tangga di depan hotel, seorang pelayan menghampiri mereka dan sebelum mereka bicara, pelayan itu sudah mendahului mereka.

"Maaf, semua kamar sudah penuh. Malam ini, semua kamar diborong oleh Ouw-ciangkun dari kota raja."

"Bukankah hotel ini besar sekali dan kamarnya tentu amat banyak? Untuk apa panglima Ouw itu memborong semua kamar? Begitu banyakkah rombongannya?"

Tanya Hong Li, penasaran. Pelayan itu mengangguk.

"Rombongannya tidak banyak sekali, akan tetapi dia hendak menerima tamu, dan dia tidak mau diganggu, maka semua kamar di bagian dalam, kamar-kamar besar telah diborongnya bahkan tidak ada orang diperbolehkan masuk ruangan dalam kalau tidak diberi ijin. Semua pintu depan dan belakang dijaga perajurit pengawal."

"Tapi, yang disewakan hanya kamar besar dan kamar-kamar bagian dalam?"

Tiba-tiba Sian Li berkata.

"Kan masih banyak kamar-kamar yang lebih kecil di kanan kiri dan belakang?"

Pelayan itu memandang kepada Sian Li dan wajahnya tersenyum. Anak perempuan yang berpakaian serba merah ini memang manis sekali.

"Memang ada, Nona, tapi.... ah, banyak yang sudah pesan lebih dulu...."

Hong Li yang cerdik dapat melihat sikap pelayan itu, maka ia pun segera berkata.

"Berilah kami sebuah kamar samping atau belakang, dan kami akan memberi imbalan secukupnya!"

Ia mengeluarkan sepotong perak yang cukup besar.

Melihat mengkilapnya perak itu sikap Si Pelayan berubah amat ramah.

Dia melirik ke kanan kiri, kemudian menyambar perak itu dari tangan Hong Li dan membungkuk-bungkuk, menyembunyikan perak itu ke dalam saku bajunya.

"Marilah, Sam-wi masih beruntung tidak terlambat. Biarpun sudah banyak pemesan, akan tetapi melihat Nona kecil ini, aku merasa kasihan dan biarlah kuberikan kepada kalian."

Mereka memasuki rumah penginapan besar itu melalui pintu samping, dan Si Pelayan mengantar mereka ke sebuah kamar di belakang yang cukup besar untuk mereka bertiga.

Dia menerima uang sewanya untuk semalam dan memesan agar mereka itu jangan sekali-kali keluar masuk melalui pintu depan, jangan memasuki ruangan dalam dan selalu menggunakan pintu samping saja, untuk keluar masuk.

Ketika mereka masuk, mereka melihat banyaknya perajurit pengawal yang berjaga-jaga di sekitar hotel itu, dan bahkan ada perajurit yang menahan Si Pelayan dan baru membolehkan mereka lewat setelah pelayan mengatakan bahwa tiga orang itu adalah tamu-tamu yang sudah mendapatkan kamar di belakang.

"Ingat, selama di sini malam ini, kalian tidak boleh menerima tamu, tidak boleh memasukkan orang asing ke sini,"

Kata Si Perajurit pengawal kepada mereka.

Setelah memperoleh kamar, Sin Hong, Hong Li dan Sian Li lalu membersihkan diri dengan air hangat yang disediakan pelayan untuk mereka.

Hotel itu memang hotel besar, sewa kamarnya mahal, akan tetapi pelayannya juga baik, tidak seperti di rumah-rumah penginapan biasa.

Setelah berganti pakaian, Hong Li yang sudah selesai lebih dahulu, keluar dari kamar bersama Sian Li.

Mereka hendak berjalan-jalan di taman sebelah belakang hotel itu sambil menanti selesainya Sin Hong yang mandi paling akhir.

Biarpun malam telah tiba, namun taman bunga itu masih tetap indah dan dapat dinikmati karena di sana-sini dipasangi lampu beraneka warna dan saat itu, kembang-kembang di taman sedang mekar semerbak.

Sian Li gembira sekali melihat keindahan taman bunga itu, dan ia pun berlari-lari di dalam taman.

"Sian Li, jangan berlari-lari....!"

Kata ibunya sambil mengejar. Tiba-tiba Hong Li mendengar teriakan puterinya.

"Ibu, tolong....!"

Hong Li terkejut sekali, dan dengan beberapa lompatan ia sudah tiba di balik pohon itu.

Ia melihat puterinya didekap seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka hitam.

Puterinya meronta-ronta, akan tetapi agaknya laki-laki itu amat kuat sehingga Sian Li tidak mampu melepaskan diri.

Hong Li maklum bahwa laki-laki itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi, kalau tidak, bagaimana puterinya yang sudah memiliki kelihcahan dan ilmu yang lumayan itu demikian mudah ditangkap?

"Lepaskan anakku!"

Bentak Hong Li dan tubuhnya melayang ke depan laki-laki tinggi besar muka hitam.

Laki-laki itu memandang wajah Hong Li dan kalau tadi dia menyeringai, kini dia tertawa.

"Ha-ha-ha, kiranya ibunya malah lebih cantik lagi! Aku baru menyayangkan bahwa gadis ini masih terlalu kecil, dan sekarang muncul yang sudah dewasa dan matang. Marilah, manis, kulepaskan anakmu, akan tetapi engkau harus menjadi penggantinya."

"Jahanam busuk....!"

Hong Li membentak marah.

Begitu orang itu melepaskan Sian Li dan mendorong gadis remaja itu ke samping, Hong Li sudah menerjang ke depan dan ia pun menyerang dengan pukulan kedua tangan secara bertubi.

Karena ia tidak ingin mencari keributan, dan tidak ingin membunuh orang, hanya untuk menghajarnya saja, maka nyonya muda ini tidak menggunakan pukulan maut seperti Ban-tok-ciang, melainkan menggunakan jurus dari Sin-liong-ciang-hoat.

Bahkan ia tidak mengerahkan seluruh tenaga saktinya.

Melihat nyonya muda yang cantik itu menyerangnya, Si Tinggi Besar bermuka hitam menyambut dengan tangkisan sambil menyeringai, bahkan mencoba untuk menangkap lengan Hong Li.

"Plak-plak-dukk....!"

Tangkisan terakhir membuat keduanya mengadu tenaga melalui telapak tangan yang didorongkan dan akibatnya, tubuh tinggi besar itu terhuyung ke belakang.

Si Muka Hitam itu terkejut karena dia merasa betapa telapak tangannya nyeri dan tadi ketika telapak tangannya bertemu dengan lengan lawan, seluruh tubuhnya tergetar dan dia sampai terdorong ke belakang.

Marahlah dia.

Dicabutnya golok dari pinggangnya.

"Berani engkau menyerangku?"

Bentaknya dan dia sudah memutar golok di atas kepalanya.

Kao Hong Li sudah siap siaga menghadapinya.

Pada saat itu, nampak seorang wanita muncul di pintu belakang.

"Hek-bin (Muka Hitam), jangan bikin ribut di situ. Masuklah!"

Teriak wanita itu, suaranya lembut namun penuh wibawa.

Aneh sekali.

Mendengar teriakan lembut ini, Si Muka Hitam yang tinggi besar segera menyimpan kembali goloknya, lalu memutar tubuh dan menjawab, suaranya penuh kepatuhan.

"Baik...., baik.... maafkan saya."

Dan dia pun melangkah lebar menuju ke pintu belakang itu dan menghilang ke dalam bersama wanita yang tadi memanggilnya.

Kao Hong Li terbelalak.

Wanita tadi kebetulan sekali berdiri di bawah lampu gantung di atas pintu dan wajahnya nampak jelas olehnya.

Ang I Moli!

Ia masih mengenal wanita yang pakaiannya serba merah itu!

Ang I Moli di situ.

Mau apa iblis betina itu?

Dan di mana Yo Han?

Apakah masih bersama iblis betina itu?

Hong Li merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Ia sudah melupakan laki-laki kurang ajar bermuka hitam tadi dan yang memenuhi pikirannya hanyalah Ang I Moli.

"Ibu, perempuan itu adalah Ang I Moli!"

Tiba-tiba suara puterinya menyadarkannya dari lamunan.

"Mari kita kejar Ibu!"

Anak itu sudah berlari menuju ke pintu, akan tetapi ibunya menyambar pundaknya.

"Sstt, jangan, Sian Li."

"Ehh? Kenapa, Ibu? Pertama, laki-laki tadi harus Ibu beri hajaran, agar dia bertaubat. Dan Ang I Moli juga tidak boleh dilepaskan. Bukankah ia yang membawa pergi Suheng Yo Han? Ibu harus merebut Yo Suheng kembali dari tangan iblis betina itu!"

"Ssttt, ini urusan gawat, Sian Li. Mari kita beritahu ayah, engkau jangan membuat ribut. Ingat, mereka itu mempunyai banyak kawan bahkan ada seorang panglima yang mempunyai banyak perajurit."

Hong Li lalu menggandeng tangan anaknya dan mereka pun kembali ke kamar mereka.

Sin Hong memandang heran ketika melihat wajah dan sikap isteri dan puterinya demikian tegang.

"Ada terjadi apakah?"

Tanyanya.

"Ayah, Ang I Moli berada di hotel ini!"

Kata Sian Li dan tentu saja ayahnya terkejut mendengar pemberitahuan ini.

Akan tetapi Hong Li memberi isarat agar puterinya menutup mulut, kemudian dengan suara lirih ia pun menceritakan apa yang baru saja ia alami di dalam taman.

Betapa di taman muncul seorang laki-laki tinggi besar muka hitam yang bersikap kurang ajar dan ketika ia hendak menghajarnya, muncul Ang I Moli yang memanggil Si Muka Hitam itu.

Tan Sin Hong meraba-raba dagunya yang tak berjenggot, alisnya berkerut.

"Hemmm, kalau iblis betina itu muncul di sini, tentu ada sesuatu yang amat penting di sini. Dan aku heran apakah Yo Han juga berada di sini?"

"Kita harus menyelidikinya,"

Kata Hong Li.

"Bukankah malam ini menurut pelayan tadi, pembesar yang disebut Ouw-ciangkun (Komandan Ouw) hendak menjamu tamu-tamunya? Dan Ang I Moli berada di dalam hotel, berarti ia menjadi tamu pula."

"Atau mungkin juga ia anak buah panglima she Ouw itu,"

Kata Sin Hong.

"Yang penting apakah Yo Han, ikut dengannya di sini? Kita harus menyelidikinya. Aku selama ini merasa berdosa kepada mendiang ayah ibunya...."

"Malam ini kita menyelidiki mereka,"

Kata Hong Li dan suaminya mengangguk.

"Aku ikut!"

Kata Sian Li penuh semangat.

"Tidak boleh, Sian Li,"

Kata ibunya.

"Pekerjaan kami berbahaya sekali. Engkau lihat, baru Si Muka Hitam tadi saja sudah lihai, apalagi Ang I Moli dan kita belum tahu siapa lagi yang berada di sana. Kami hanya akan menyelidiki apa yang mereka lakukan."

"Dan menyelidiki apakah Yo Han berada pula di hotel ini,"

Sambung ayahnya.

Biarpun hatinya merasa kecewa, namun Sian Li adalah seorang gadis remaja yang cukup cerdik.

Ia maklum bahwa bahayanya memang besar sekali.

Laki-laki muka hitam yang ditemuinya di taman tadi saja sudah amat lihai sehingga dalam waktu singkat ia telah dapat ditangkap dan dibuat tidak berdaya.

Kalau ia nekat ikut dan ia membuat ayah dan ibunya gagal dalam penyelidikan mereka, ia sendiri akan merasa menyesal sekali.

Apalagi kalau suhengnya, Yo Han, berada di hotel itu.

Orang tuanya harus mampu membebaskan suhengnya!

Ia tidak boleh mengganggu pekerjaan mereka dan ia akan menungggu di kamar.

Dari depan kamar mereka yang berada di bagian belakang, Sin Hong dan anak isterinya dapat melihat kesibukan di ruangan dalam hotel itu.

Agaknya orang-orang itu mengadakan pesta.

"Sian Li, engkau tinggal saja di dalam kamar, ya? Jangan keluar, apalagi jangan meninggalkan bagian belakang ini. Kami hendak mulai melakukan penyelidikan."

"Baik, Ayah,"

Kata Sian Li.

"Hati-hati, Sian Li. Di sini engkau tidak boleh bertindak sembarangan. Bisa berbahaya sekali. Jangan sekali-kali engkau mendekati ruangan dalam hotel di mana terdapat penjagaan para perajurit pengawal,"

Pesan ibunya.

Sian.

Li mengangguk, dan di dalam dada anak ini terjadi ketegangan yang hebat.

Munculnya Ang I Moli mengingatkan ia akan semua peristiwa yang dialaminya ketika ia masih kecil, delapan tahun yang lalu.

Dan sekaligus mengingatkan ia kepada suhengnya, Yo Han yang pernah membuat ia menangis dan rewel ketika suhengnya itu pergi meninggalkan keluarga ayahnya, karena dibawa oleh wanita iblis itu.

Tentu saja kini ia hampir melupakan wajah suhengnya itu.

Sang waktu telah menelan segalanya, juga kedukaannya karena ditinggalkan suhengnya.

Akan tetapi, yang jelas masih teringat olehnya adalah bahwa suhengnya itu amat baik kepadanya, bagaikan seorang kakak kandungnya sendiri.

Sementara itu, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li sudah menyelinap keluar.

Dengan perlindungan kegelapan malam, mereka berhasil menyusup ke bagian yang gelap dari kebun samping rumah, kemudian dengan gerakan yang ringan bagaikan dua ekor burung walet, mereka melompat ke atas pohon dan setelah mengintai dari pohon dari tidak melihat adanya penjaga di bawahnya, mereka lalu melompat ke atas genteng.

Gerakan mereka begitu ringan sehingga tidak menimbulkan suara dan begitu tiba di atas wuwungan rumah penginapan itu, keduanya mendekam dan dengan hati-hati mereka memandang ke sekeliling.

Hati mereka lega melihat bahwa para perajurit pengawal hanya menjaga di sekitar rumah itu, di bawah.

Tentu saja tidak ada yang mengira bahwa akan ada orang berani mengganggu kehadiran seorang panglima kerajaan di hotel itu!

Ruangan tengah hotel itu dikepung perajurit pengawal dan keadaan di sana terang sekali.

Hal ini menarik perhatian suami isteri pendekar itu.

Berdebar rasa jantung mereka dan terdapat suatu kegembiraan yang sudah lama tidak mereka rasakan.

Jiwa petualang mereka bangkit.

Sudah terlalu lama mereka tidak mengalami hal-hal yang menegangkan seperti ini, dan pengalaman ini mengingatkan mereka akan masa lalu mereka, ketika mereka masih bertualang sebagai pendekar dan seringkali menghadapi lawan-lawan tangguh dan keadaan yang menegangkan seperti sekarang.

Dengan hati-hati mereka bergerak di atas genteng sampai mereka tiba di atas ruangan tengah itu.

Kemudian mereka menuruni wuwungan, merayap di atas genteng atas ruangan itu dan mengintai ke bawah.

Mereka terlindung oleh wuwungan di kanan kiri yang lebih tinggi sehingga dengan rebah menelungkup, mereka dapat mengintai ke dalam ruangan itu dengan leluasa.

Bukan saja mereka dapat melihat semua dengan jelas, juga mereka dapat mendengarkan percakapan mereka yang berada di bawah.

Ruangan itu cukup luas dan terang sekali karena diberi tambahan penerangan.

Terdapat beberapa buah meja yang diatur di tengah ruangan, berderet panjang.

Di kepala meja duduklah seorang berpakaian panglima.

Dia masih muda, tidak lebih dari dua puluh tiga tahun usianya, berwajah tampan dan gagah, pakaian panglimanya mentereng dan mewah.

Di kanan kiri meja duduk berderet banyak orang, akan tetapi sebagian besar di antara mereka berpakaian seperti tosu.

Tentu saja hal ini amat mengherankan hati Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, Apalagi ketika mereka mengenal adanya Ang I Moli di antara mereka, dan mengenal pula bahwa para pendeta itu sebagian besar adalah orang-orang Pek-lian-kauw dan orang-orang Thian-li-pang.

Suami isteri ini menduga bahwa tentu panglima muda itu yang bernama Ouw Ciangkun.

Mereka merasa heran bukan main.

Sepanjang pengetahuan mereka, Pek-lian-kauw adalah perkumpulan orang sesat yang selalu menentang dan memusuhi Kerajaan Mancu.

Juga Thian-li-pang, walaupun terkenal sebagai perkumpulan orang-orang gagah, namanya tidaklah terlalu bersih.

Akan tetapi Thian-li-pang juga terkenal sebagai kaum pemberontak terhadap Kerajaan Mancu.

Bagaimana mungkin sekarang para tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang berkumpul di situ dan agaknya menjadi tamu dari seorang panglima kerajaan?

"Aku tidak melihat adanya Yo Han di sana...."

Bisik Hong Li dan suaminya memberi isyarat agar isterinya tidak mengeluarkan suara.

Hong Li mengerti dan mengangguk.

Mereka tahu bahwa di bawah berkumpul orang-orang lihai.

Menghadapi belasan orang tokoh Peklian-kauw dan Thian-li-pang bukan hal yang dapat dipandang rendah.

Baru Ang I Moli seorang saja sudah merupakan lawan yang bukan ringan, apalagi para pendeta Pek-lian-kauw itu, dan orang-orang Thian-li-pang juga terkenal tangguh Sin Hong mengenal Lauw Kang Hui di situ.

Tokoh yang tinggi besar bermuka merah ini adalah wakil ketua Thian-li-pang.

Kalau wakil ketuanya sampai ikut hadir, berarti pertemuan itu tentu penting sekali, pikir Sin Hong.

Keingin tahunya untuk mencari Yo Han pun menipis, tertutup oleh perhatiannya untuk mengetahui apa maksudnya para tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang kini dijamu oleh seorang panglima muda Kerajaan Mancu!

Dia dan isterinya harus berhati-hati.

Kalau sampai terjadi bentrokan dengan mereka, sungguh berbahaya.

Apalagi di situ masih terdapat pasukan anak buah panglima itu.

Dan mereka berdua pun melakukan perjalanan bersama puteri mereka yang membutuhkan perlindungan.

"Ciangkun, sebelum kita mulai dengan percakapan kita, apakah engkau sudah yakin benar bahwa tempat ini terjaga dengan baik dan tidak ada orang luar yang dapat ikut mendengarkan?"

Kata Lauw Kang Hui, wakil ketua Thian-li-pang kepada panglima itu. Panglima itu tertawa.

"Aih, Su-siok (Paman Guru), kenapa masih meragukan ketatnya penjagaan kami? Harap Lauw-susiok jangan khawatir. Hotel ini sudah kami borong dan para tamu yang berada di pinggir dan belakang sudah didaftar semua dan diawasi, juga sekeliling ruangan ini, bahkan sekitar rumah penginapan sudah diblok dan dijaga oleh pasukanku. Tidak ada yang begitu gila untuk berani mendekati tempat ini!"

Tan Sin Hong dan Kao Hong Li saling pandang.

Kiranya panglima muda itu adalah murid keponakan dari adik ketua Thian-li-pang!

Suami isteri yang berpengalaman ini segera dapat menduga apa yang telah terjadi.

Kiranya Thian-li-pang telah berhasil menyelundupkan seorang anggautanya ke dalam kerajaan, bahkan ke dalam istana karena melihat pakaiannya, panglima dan pasukannya itu termasuk pasukan pengawal istana Kaisar!

Sungguh berbahaya sekali bagi keselamatan istana kalau begitu!

Memang dugaan mereka benar.

Yang menjadi panglima itu bukan lain adalah Ouw Cun Ki, putera Ketua Thian-li-pang, Ouw Ban.

Ouw Cun Ki yang berusia dua puluh tiga tahun itu adalah seorang pemuda yang telah mewarisi ilmu kepandaian ayahnya, seorang yang gagah dan berani, juga cerdik.

Ketika Thian-li-pang gagal mengadu domba empat partai persilatan besar karena campur tangan keluarga Kao Cin Liong yang mendamaikan dan menyadarkan para pimpinan empat partai besar, Thian-li-pang lalu berunding dengan Pek-lian-kauw dan mereka mencari jalan lain.

Kembali mereka menghubungi Siang Hong-houw (Permaisuri Harum) dan berhasil membujuk permaisuri itu untuk membantu mereka sehingga memungkinkan mereka menyelundupkan Ouw Cun Ki menjadi seorang panglima muda pasukan pengawal istana!

Siang Hong-houw yang masih mendendam kepada Kerajaan Mancu yang telah menghancurkan suku bangsanya, dengan senang hati membantu perjuangan Thian-li-pang, dengan janji bahwa Thian-li-pang tidak akan menggunakan kekerasan membunuh suaminya, Kaisar Kian Liong, seperti yang pernah terjadi ketika ada orang Thian-li-pang berusaha membunuh Kaisar itu namun dapat digagalkan.

Pihak Thian-li-pang menyanggupi, Hanya mengatakan bahwa penyelundupan orang-orang Thian-li-pang ke istana bukan untuk membunuh Kaisar, melainkan untuk memata-matai semua siasat dan pertahanan sehingga akan memudahkan gerakan mereka menumbangkan kekuasaan pemerintah Mancu.

Demikianlah, karena pandainya membawa diri, Ouw Cun Ki yang dikenal dengan sebutan Ouw Ciangkun itu sebentar saja (Lanjut ke

Jilid 12) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 memperoleh kepercayaan dari para panglima lainnya yang lebih tinggi kedudukannya.

Bahkan dengan siasat yang diatur oleh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang, beberapa kali Ouw Ciangkun telah "membuat jasa"

Dengan membasmi gerombolan penjahat yang seolah-olah diumpankan oleh dua perkumpulan pemberontak itu.

Karena jasa-jasanya, maka Kaisar Kian Liong sendiri, mendengar laporan Siang Hong-houw dan para, panglima, berkenan menaikkan kedudukan Ouw Ciangkun.

Karena mendapatkan kepercayaan sebagai seorang panglima muda yang setia, Ouw Can Ki mendapatkan kebebasan bergerak dan setelah demikian, mulailah dia berani mengadakan kontak dengan Thian-li-pang.

Demikianlah, pada malam hari itu, dengan dalih berpesiar ke kota Heng-tai, Ouw Cun Ki mengadakan pertemuan rahasia di hotel besar itu dengan orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw untuk mengatur siasat selunjutnya.

Biarpun yang hadir di ruangan dalam hotel itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang yang berilmu tinggi, namun karena mereka merasa yakin bahwa tidak mungkin ada orang, berani mengganggu pertemuan itu, mereka tidak tahu bahwa ada dua pasang mata dan dua pasang telinga ikut melihat dan mendengarkan apa yang terjadi di dalam ruangan itu!

"Saya mengumpulkan dan mengundang para Locianpwe ke sini untuk merundingkan kelanjutan siasat yang sudah kita rencanakan semula.

Saya hendak melaporkan bahwa segalanya berjalan dengan lancar dan sekarang telah terbuka kesempatan yang amat baik bagi kita untuk bertindak, untuk menyingkirkan semua pangeran yang menjadi saingan Pangeran Kian Ban Kok,"

Kata Ouw Ciangkun.

"Coba jelaskan, bagaimana kesempatan itu? Kita harus bertindak hati-hati dan sekali ini, begitu bertindak kita harus berhasil,"

Kata Ang I Moli yang bersama dua orang tosu, yaitu Kwan Thian-cu dan Kwi Thian-cu menjadi utusan Pek-lian-kauw.

Mendengar pertanyaan Ang I Moli ini, semua orang memandang kepada Ouw Ciangkun karena semua orang juga ingin sekali mendengarkan jawabannya.

"Kesempatan ini memang sudah saya tunggu-tunggu selama berbulan-bulan ini,"

Kata Ouw Ciangkun.

"Dan akhirnya tiba juga kesempatan yang amat baik. Pada nanti tanggal lima belas bulan ini, tepat pada bulan purnama. Siang Hong-houw hendak menjamu semua pangeran dalam sebuah pesta taman untuk merayakan hari ulang tahunnya dan menikmati musim bunga dalam bulan purnama. Nah, pada kesempatan itulah seluruh pangeran berkumpul di sana dan mereka akan berpesta pada saat yang sama."

"Bagus!"

Lauw Kang Hui berseru girang.

"Kalau semua lalat itu sudah berkumpul, sekali tepuk kita akan dapat membunuh mereka semua!"

"Lauw-pangcu, engkau hendak menggunakan kekerasan menyerang ke taman itu?"

Ang I Moli bertanya sambil mengerutkan alisnya. Lauw Kang Hui tertawa.

"Ha-ha, jangan salah sangka, Moli. Kami tidak begitu bodoh untuk mempergunakan jalan kekerasan. Kami sudah berjanji kepada Siang Hong-houw untuk tidak menggunakan kekerasan dan kami tentu harus menjaga benar tindakan kami agar jangan melanggar janji. Pula, biarpun Ouw Cun Ki telah berhasil menghimpun satu regu pasukan pengawal pribadinya yang terdiri dari orang-orang kita sendiri, akan tetapi apa artinya seregu pasukan dalam istana, menghadapi pasukan pengawal yang amat besar jumlahnya? Tidak, kami akan menggunakan jalan yang paling halus, dan untuk ini, tentu saja kami mengharapkan bantuan dari para saudara di Pek-lian-kauw."

"Hemm, Lauw Pangcu, apa yang dapat kami bantu?"

Kata Kwi Thian-cu.

"Bukankah Pangcu hendak menggunakan racun untuk meracuni para pangeran itu melalui hidangan? Nah, kalau tentang racun, siapa yang akan mampu menandingi para Locianpwe di Thian-li-pang seperti Ban-tok Mo-ko (Iblis Selaksa Racun) dan Thian-te Tok-ong (Raja Racun Langit Bumi)? Apa pula yang dapat kami lakukan untuk membantu kalian?"

"Totiang (Bapak Pendeta) harap jangan salah sangka. Memang kami sendiri sudah mempersiapkan racun yang amat kuat. Racun itu tidak ada rasanya bila dicampurkan arak. Akan tetapi, untuk melaksanakannya, kami membutuhkan bantuan seorang wanita yang cerdik dan lihai. Dan kami kira hanya Ang I Moli saja yang akan mampu melakukannya, yaitu menjadi kepala pelayan dari Siang Hong-houw, membantu dalam pesta itu bahkan bertugas menuangkan arak dalam cawan para pangeran. Nah, kesempatan menuangkan arak itulah dapat Moli pergunakan untuk mencampurkan racun kami. Siapa lagi yang akan mampu melakukannya kalau bukan Ang I Moli?"

"Aih, Lauw Pangcu. Bagaimana mungkin aku dapat melakukan tugas yang amat berbahaya itu? Baru saja memasuki istana, aku pasti akan diketahui dan ditangkap. Bagaimana aku akan mampu melawan para jagoan istana yang amat banyak?"

Lauw Kang Hui tertawa.

"Ha-ha, apakah Ang I Moli yang terkenal amat pandai dan lihai itu sekarang merasa takut?"

"Lauw Pangcu, harap jangan bicara sembarangan! Aku tidak pernah takut kepada siapapun juga! Akan tetapi, aku pun bukan seorang tolol yang tidak memakai perhitungan, dengan mata terpejam saja memasuki sarang singa dan mati konyol!"

Bantah Ang I Moli dengan muka menjadi merah. Ouw Cun Ki segera menengahi dan berkata.

"Harap Bibi Ang I Moli tidak menyalah-artikan maksud Lauw-susiok (Paman Guru Lauw)! Semua memang sudah kami atur dan rencanakan sebelumnya. Ketahuilah bahwa saya sendiri yang akan mengaturkan, agar Siang Hong-houw suka menerima Bibi menjadi kepala pelayan sehingga Bibi tidak akan dicurigai siapapun juga ketika melayani penuangan arak untuk para pangeran. Selain itu, juga saya akan mengerahkan pengawal untuk berjaga di taman itu, yang sebetulnya merupakan pengepungan untuk mencegah campur tangannya pihak luar. Rencana kita sudah masak dan tidak akan gagal, hanya membutuhkan bantuan kecekatan dan kelihaian Bibi untuk mencampurkan bubuk racun itu ke dalam cawan para pangeran, kecuali cawan Pangeran Kian Ban Kok. Selain bantuan Bibi, juga kami membutuhkan bantuan para Locianpwe dari Pek-lian-kauw untuk menyamar menjadi anak buah pasukan pengawal saya, dan ketika pesta itu terjadi, agar para Locianpwe dari Pek-lian-kauw mengarahkan kekuatan sihir mereka untuk mempengaruhi para pangeran sehingga mereka akan tunduk dan akan minum arak mereka tanpa banyak bercuriga."

Ang I Moli mengangguk-angguk.

"Nah, kalau begitu tentu saja kami suka bekerja sama. Sebaiknya diatur dari sekarang. Tanggal lima belas tinggal tiga hari lagi."

"Karena itulah maka saya mengundang Cuwi (Anda Sekalian) mengadakan perundingan di sini. Memang sebaiknya kalau besok pagi Bibi sudah dapat saya selundupkan ke istana dan diterima oleh Siang Hong-houw. Adapun para Locianpwe yang akan menyamar sebagai anggauta pengawal saya, lebih mudah dilakukan. Malam ini pun bisa saja."

Mendengar percakapan itu, tentu saja Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li menjadi terkejut bukan main.

Kiranya komplotan itu bermaksud membunuh para pangeran dalam sebuah pesta tiga hari lagi di taman istana!

Sin Hong memberi isarat kepada isterinya dan mereka pun meninggalkan tempat pengintaian itu dan kembali ke kamar mereka di belakang.

Ternyata Sian Li masih belum tidur dan masih menanti kembalinya ayah bundanya.

"Bagaimana, Ayah? Apakah Yo-suheng (Kakak Seperguruan Yo) berada di dalam sana?"

Sian Li bertanya kepada ayahnya dengan suara penuh harap.

Sin Hong meng-geleng kepalanya dan melihat sikap ibunya yang demikian serius, Sian Li segera bertanya.

"Ibu, ada terjadi apakah?"

Sin Hong dan Hong Li sudah sepakat untuk memberitahu puteri mereka.

Sian Li bukan anak kecil lagi.

Walau usianya baru dua belas tahun, namun anak ini cerdik dan sudah dapat mengetahui keadaan.

"Sian Li, telah terjadi hal yang amat penting."

Lalu dengan suara lirih Hong Li menceritakan tentang segala yang telah mereka lihat dan dengar tadi.

Mendengar cerita ibunya, Sian Li mengerutkan alisnya.

"Aih, kalau begitu, para pangeran itu terancam bahaya maut!"

Serunya khawatir.

"Lalu apa yang akan dilakukan Ayah dan Ibu?"

"Engkau tahu betapa gawatnya keadaan, Sian Li,"

Kata Sin Hong dengan sikap serius.

"Ibu dan ayahmu harus cepat melakukan usaha untuk mencegah terjadinya kejahatan di istana itu. Maka, sebaiknya kalau engkau tinggal di kamar ini lebih dulu, agar gerakan kami tidak terhalang dan leluasa. Engkau tahu, kami menghadapi lawan-lawan yang amat jahat dan berbahaya, juga lihai. Lebih aman bagimu kalau engkau bersembunyi dulu di sini sampai kami kembali."

Sian Li mengangguk-angguk.

Ia maklum bahwa kalau ia ikut, tentu ayah dan ibunya tidak akan leluasa bergerak.

Apalagi kalau sampai terjadi bentrokan, ia tidak akan dapat membantu bahkan menjadi beban perlindungan orang tuanya.

Pihak lawan amat lihai, merupakan datuk-datuk sesat.

Ilmu kepandaiannya masih jauh untuk dapat membantu orang tuanya.

"Akan tetapi, sebaiknya engkau bersembunyi saja di kamar, anakku. Kalau engkau membutuhkan makan minum, pesan saja kepada pelayan agar dibelikan dan dibawa ke sini. Jangan engkau bepergian keluar."

"Baiklah, Ibu. Akan tetapi, apakah Ibu dan Ayah akan pergi malam-malam begini?"

"Benar, kami harus pergi sekarang juga. Tanggal lima belas tinggal tiga hari lagi. Bagaimanapun juga, besok pagi-pagi kami tentu sudah pulang,"

Kata Sin Hong.

"Andaikata belum selesai urusan ini pun kami tentu akan kembali ke sini untuk menjengukmu, Sian Li,"

Kata Hong Li.

"Baiklah, Ayah dan Ibu. Aku akan menanti di sini sampai Ayah dan Ibu kembali."

Setelah sekali lagi memesan kepada anak mereka agar berhati-hati dan jangan keluar dari kamar, suami isteri pendekar itu lalu meninggalkan rumah penginapan, menggunakan kepandaian mereka sehingga tidak ada orang lain melihat mereka meninggalkan tempat itu.

Tentu saja para perajurit penjaga di gardu penjagaan depan rumah gedung tempat tinggal Panglima Liu merasa curiga ketika Sin Hong dan Hong Li minta agar melapor kepada panglima itu bahwa suami isteri itu minta menghadap Liu Tai-ciangkun, Malam telah larut.

Bagaimana mungkin mereka berani meng-ganggu atasan mereka yang sedang tidur?

Liu Tai-ciangkun adalah seorang panglima tua, berusia enam puluh tiga tahun, yang dikenal oleh hampir semua pendekar.

Panglima ini terkenal sebagai seorang panglima yang setia dan adil.

Juga dia dapat menghargai para pendekar, bahkan seringkali dia mengulurkan tangan mengajak kerja sama dengan para pendekar untuk mengamankan negara dari gangguan para penjahat.

Karena inilah maka Sin Hong mengajak isterinya untuk malam-malam menghadap panglima itu.

Kiranya hanya panglima itu yang dapat mereka harapkan untuk mengatasi kemelut di istana itu, untuk menghadapi Ouw Ciangkun, murid keponakan wakil ketua Thian-li-pang yang berhasil menyelundup menjadi perwira pasukan pengawal istana.

Akan tetapi, mereka kini berhadapan dengan lima orang perajurit penjaga yang berkeras tidak dapat menerima tamu pada malam-malam begitu.

"Kalau memang Jiwi (Kalian Berdua) mempunyai kepentingan dengan Liu Tai-ciangkun, sebaiknya Jiwi kembali besok saja. Malam-malam begini, bagaimana panglima dapat menerima tamu? Beliau tentu sudah tidur dan kami tidak berani lancang mengganggunya,"

Kata kepala jaga.

"Hemm, kalian tidak mengenal kami bentak Hong Li yang berwatak keras.

"Kalau Liu Tai-ciangkun mendengar bahwa kami yang datang, dia tentu akan cepat keluar menyambut!"

Para penjaga mengerutkan alisnya, dan Sin Hong yang selalu berwatak sabar dan lemah lembut, cepat maju memberi hormat kepada mereka.

"Harap saudara sekalian memaafkan isteriku. Akan tetapi sungguh, kami mempunyai urusan yang teramat penting yang harus kami sampaikan kepada Liu Tai-ciangkun sekarang juga."

Para penjaga itu sudah merasa tidak senang dengan sikap keras Kao Hong Li tadi, maka kepada jaga itu sambil memandanq kepada nyonya muda yang cantik dan galak itu, bertanya.

"Sebetulnya, siapakah Jiwi? Kami tidak mengenal Jiwi, dan apa keperluannya? Karena kami belum mengenal Jiwi, bagaimana kami dapat percaya kepada Jiwi?"

"Hemm, kalian ingin mengenal kami? Nah, jagalah baik-baik!"

Kata Hong Li dan sebelum suaminya mencegahnya, nyonya muda itu sudah bergerak cepat sekali menyerang dengan totokan-totokan.

Tangannya bergerak cepat bukan main dan tubuhnya berkelebatan di antara lima orang penjaga itu.

Para penjaga tentu saja berusaha untuk mengelak, menangkis bahkan memukul.

Namun, tanpa mereka ketahui bagaimana, tiba-tiba saja tubuh mereka menjadi lemas dan mereka terkulai roboh satu demi satu, tidak mampu bangkit kembali!

"Nah, kalian lihat.

Apa sukarnya bagi kami untuk langsung saja mencari sendiri Liu Tai-ciangkun ke dalam?

Akan tetapi kami tidak mau melakukan itu.

Kami menggunakan tatacara dan sopan santun, akan tetapi kalian malah menolak kami!

Kalian mau tahu siapa kami?

Katakan saja kepada Liu Tai-ciangkun bahwa yang datang adalah Pendekar Bangau Putih dan isterinya, puteri pendekar Kao Cin Liong!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakan cepat sekali, tangan Hong Li bergerak membebaskan totokannya kepada lima orang penjaga itu.

Kini lima orang itu yang tadi terkejut, tidak banyak tingkah lagi.

Mereka bukan saja berkenalan dengan kelihaian nyonya muda itu, akan tetapi juga mendengar nama Pendekar Bangau Putih dan puteri bekas Jenderal Kao Cin Liong, Mereka sudah menjadi tunduk dan tanpa banyak cakap lagi, kepala jaga cepat-cepat berlari masuk untuk melapor, walaupun untuk itu terpaksa dia harus mengetuk pintu kamar tidur Sang Panglima, suatu hal yang dalam keadaan biasa, biar bagaimanapun juga tidak akan berani dia melakukannya!

Tak lama kemudian, kepala jaga itu kembali dan dengan sikap hormat dia mempersilakan suami isteri pendekar itu untuk memasuki ruangan tamu yang berada di sebelah kiri bangunan.

Ketika Sin Hong dan Hong Li tiba di rumah yang lebar itu, mereka mendapatkan Liu Tai-ciangkun sudah duduk menanti.

Nampak panglima tua itu baru bangun tidur, bahkan agaknya dia mengenakan pakaian pengganti baju tidur secara tergesa-gesa, rambutnya juga nampak kusut.

Mereka saling memberi hormat dan panglima itu bangkit dengan wajah berseri.

"Tai-ciangkun, mohon maaf sebesarnya kalau kami telah mengganggu Ciangkun dari tidur,"

Kata Sin Hong dengan sikap hormat.

"Ahh, tidak apa-apa, Taihiap dan Lihiap. Silakan duduk!"

Kata panglima itu dengan ramah sambil mempersilakan mereka duduk di kursi-kursi yang sudah diatur berhadapan dengan dia, hanya terhalang meja besar.

"Kalau Jiwi malam-malam begini menemuiku, sudah pasti Jiwi membawa urusan yang teramat penting. Nah, para pengawal sengaja kularang mendekat Kita hanya bertiga saja. Katakanlah apa kepentingan itu!"

Sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang pembesar tinggi militer, Liu Ciangkun bersikap tegas.

Sin Hong lalu menceritakan dengan sejelasnya apa yang telah dialaminya dengan isterinya ketika mereka mengintai dan mendengarkan percakapan para tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang yang dijamu oleh Ouw Ciangkun, perwira pasukan pengawal istana.

Mendengar laporan yang jelas itu, muka Liu Tai-ciangkun berubah merah dan dia marah bukan main, di samping juga amat terkejut.

"Sudah kuragukan perwira muda itu! Dia terlalu cepat mendapat kenaikan pangkat, dan itu atas perintah Sri Baginda sendiri! Kiranya para pemberontak itu diam-diam mempergunakan pengaruh Siang Hong-houw. Sungguh berbahaya sekali. Sekarang juga aku harus mengerahkan pasukan untuk menangkap semua pengkhianat dan pemberontak itu!"

Panglima itu bangkit berdiri.

"Maaf, Tai-ciangkun. Kukira itu bukan tindakan yang tepat dan bijaksana!"

Kata Kao Hong Li. Panglima itu mengerutkan alisnya dan menghadapi wanita itu dengan sinar mata penasaran.

"Aku hendak mengerahkan pasukan menangkapi para pemberontak itu dan Lihiap mengatakan tidak tepat dan tidak bijaksana? Apa maksud Lihiap?"

"Tai-ciangkun, mereka berada di rumah penginapan umum di kota Heng-tai. Kalau Ciangkun mengerahkan pasukan ke sana, tentu makan waktu lama dan setelah malam lewat, tentu mereka sudah tidak lagi mengadakan rapat di sana. Ciangkun akan terlambat,"

Kata Hong Li.

"Pula, di tempat terbuka mereka akan dapat melakukan perlawanan dengan baik. Ingat, mereka memiliki banyak orang yang lihai!"

Kata pula Sin Hong.

"Andaikata Ciangkun tidak terlambat dan menangkap mereka, lalu apa alasan Ciangkun untuk menuntut mereka? Tidak ada bukti sama sekali. Ciangkun hanya mendengar laporan kami. Kalau Ouw-ciangkun itu menyangkal, apa yang akan dijadikan bukti? Ingat, Ouw-ciangkun dekat dengan Siang Hong-houw. Kalau terjadi perdebatan tanpa bukti, apakah Ciangkun mampu melawan pengaruh Siang Hong-houw yang tentu akan melindungi Ouw-ciangkun?"

Mendengarkan ucapan suami isteri itu, Liu Tai-ciangkun mengerutkan alisnya, meraba-raba jenggotnya dan dia mengangguk-angguk.

"Benar sekali apa yang Jiwi katakan. Untung Jiwi mengingatkan aku sehingga tidak bertindak tergesa dan gegabah. Akan tetapi, lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Maaf, Ciangkun,"

Kata Hong Li.

"Mereka bersiasat, sebaiknya kita hadapi dengan siasat pula. Ciangkun pura-pura tidak tahu akan rencana jahat mereka, agar mereka lengah. Akan tetapi diam-diam Ciangkun mengatur siasat pula untuk menghadapi rencana mereka itu, untuk menggagalkan rencana jahat mereka. Tanggal lima belas kurang tiga hari lagi, masih ada waktu bagi Ciangkun untuk bersiap-siap mengatur siasat."

"Kalau Ciangkun dapat menyergap mereka di taman istana, ada dua keuntungan. Pertama, Ciangkun dapat menangkap basah dengan bukti-bukti bahwa orang-orang Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang menyusup ke dalam pasukan pengawal yang dipimpin Ouw-ciangkun di samping menangkap Ang I Moli yang hendak meracuni cawan para pangeran. Dan ke dua, penyergapan itu pasti berhasil baik karena penjahat-penjahat itu telah terkurung di lingkungan istana, bagaimana mereka akan mampu lolos?"

Kata Sin Hong. Panglima itu mengangguk-angguk "Bagus! Jiwi sungguh berjasa besar. Usul Jiwi baik sekali!"

Panglima itu lalu berunding dengan mereka.

Dia akan mengerahkan pasukan yang kuat untuk diam-diam mengepung taman pada saat pesta ulang tahun Siang Hong-houw berlangsung sehingga seluruh pasukan pengawal bersama Ouw-ciangkun akan tertangkap semua.

"Akan tetapi, kami membutuhkan bantuan Jiwi. Permainan ini terlalu berbahaya. Keselamatan nyawa para pangeran terancam dan menurut keterangan Jiwi sendiri, Ang I Moli yang akan bertindak sebagai kepala pelayan itu yang akan meracuni cawan arak para pangeran. Oleh karena itu, sebaiknya kalau Jiwi yang membantu kami melindungi para pangeran dan mencegah perbuatan Ang I Moli itu. Demi kepentingan negara, kami mohon Jiwi tidak menolak dan jangan kepalang membantu kami menyelamat-kan para pangeran dan mencegah terjadinya perbuatan yang amat keji dan jahat."

Suami isteri itu saling pandang.

Memang tidak semestinya kalau mereka membantu setengah-setengah.

Apalagi, mereka tahu bahwa bantuan mereka bukan berarti mereka berpihak kepada Kerajaan Mancu semata, melainkan terutama sekali menentang golongan sesat yang hendak melakukan kejahatan besar.

"Baiklah, Tai-ciangkun,"

Kata Sin Hong dan isterinya juga mengangguk setuju.

"Kami akan membantumu, akan tetapi karena kami datang ke kota Heng-tai bersama puteri kami yang sekarang masih berada di kamar rumah penginapan itu, kami akan menjemputnya lebih dulu dan kalau kami membantu Ciangkun, kami ingin menitipkan anak kami di rumah Ciangkun agar keselamatannya terjamin."

"Ah, kenapa tidak Jiwi bawa sekalian tadi? Baiklah, saya tunggu kedatangan Jiwi bersama puteri Jiwi."

Sin Hong dan Hong Li segera berpamit untuk kembali ke Heng-tai yang belasan li jauhnya dari benteng pasukan di mana Liu Ciangkun tinggal di gedungnya itu.

Panglima itu mengantar mereka sampai di pintu gerbang dan melihat betapa panglima itu amat menghormati mereka, para perajurit penjaga juga memberi hormat secara militer seolah suami isteri itu merupakan dua orang yang berpangkat tinggi.

Malam telah berganti pagi ketika Sin Hong dan Hong Li tiba kembali ke kota Heng-tai.

Mereka langsung saja menuju ke rumah penginapan yang kini nampak sudah sunyi walaupun masih ada perajurit pengawal yang menjaga.

Agaknya, rapat itu sudah selesai dan kini para tokoh sesat itu entah bersembunyi di mana Sin Hong dan Hong Li segera menyelinap dan bersembunyi ketika tiba di belakang hotel itu dan melihat kesibukan di antara para perajurit pengawal.

Kiranya Ouw Ciangkun sudah bersiap-siap meninggalkan rumah penginapan itu.

Ketika Sin Hong dan Hong Li kembali ke kamar mereka, suami isteri ini mendapatkan pintu kamar tidak terkunci.

Mereka mendorong daun pintu kamar terbuka dan tidak melihat puteri mereka di dalam kamar!

Mereka mencari-cari di sekitar kamar, namun tidak nampak bayangan Sian Li!

Mulailah mereka merasa khawatir, apalagi ketika mereka meneliti tempat tidur anak itu dan mendapat kenyataan, bahwa tempat tidur itu masih rapi, tidak ada bekas ditiduri anak mereka.

Mereka cepat memanggil pelayan yang kemarin memberi kamar kepada mereka.

Dengan sinar mata penuh ancaman, Hong Li mendorong pelayan itu masuk kamar dan mencengkeram pundaknya.

"Hayo katakan di mana anak perempuan kami!"

Pelayan itu meringis kesakitan dan kedua lututnya menggigil.

"Saya.... saya tidak tahu...., apa.... apa yang telah terjadi maka Jiwi marah kepada saya?"

"Malam tadi kami meninggalkan anak kami seorang diri di kamar ini. Akan tetapi sekarang ia tidak ada. Apakah engkau melihatnya semalam? Hayo katakan, kalau engkau tidak mengaku dan berbohong, kami akan membunuhmu!"

Sin Hong yang biasanya tenang dan lembut itu, kini terpaksa menghardik dan mengancam karena dia pun mulai gelisah sekali.

"Sungguh mati, Taihiap, Lihiap sungguh mati saya tidak tahu. Semalam kami semua sibuk sekali melayani semua perintah Ouw Ciangkun sehingga kami tidak sempat mengurus hal-hal lain. Kami semua tidak pernah melihat puteri Jiwi.... tidak nampak Siocia keluar kamar, Sungguh mati saya tidak tahu...."

Suami isteri itu saling pandang.

"Sudahlah,"

Akhirnya Sin Hong berkata.

"Kalau engkau benar tidak tahu, tidak mengapa dan pergilah. Akan tetapi awas, kalau engkau berbohong, kelak masih belum terlambat bagi kami untuk menghukummu!"

"Terima kasih, Taihiap, terima kasih, Lihiap.... kalau saya melihat atau mendengar tentang Siocia, tentu akan segera saya laporkan kepada Jiwi...."

Hong Li mengangguk dan pelayan yang sudah menggigil ketakutan dengan muka pucat itu, kini bagaikan seekor tikus yang baru saja lolos dari cengkeraman kucing, dia berlari keluar.

"Heran, ke mana Sian Li pergi?"

Sin Hong berkata lirih.

"Tentu ada hal yang tidak beres! Akan kuserbu saja ke dalam dan akan paksa mereka mengaku di mana anak kita!"

Kata Hong Li. Akan tetapi Sin Hong memegang lengannya.

"Sssttt, perlahan dulu. Tidak ada gunanya menggunakan kekerasan. Kita berhadapan dengan perwira yang mempunyai pasukan! Tidak bisa kita menuduh mereka begitu saja tanpa bukti. Sebaiknya kita mengamati kepergian mereka. Kalau Sian Li berada dengan mereka, baru kita turun tangan menyelamatkan puteri kita. Kalau tidak ada, kita harus mencari jalan lain."

Hong Li menurut, akan tetapi ia nampak agak pucat dan gelisah.

"Kalau Ang I Moli yang melakukan penculikan terhadap Sian Li, sekali ini aku akan mengadu nyawa dengannya!"

"Yang penting, kita harus dapat menemukan dulu di mana adanya Sian Li, dan melihat anak kita itu dalam keadaan selamat,"

Kata Sin Hong.

"Tidak ada kemungkinan lain,"

Kata Hong Li.

"Lenyapnya anak kita itu pasti ada hubungannya dengan komplotan pemberontak yang semalam mengadakan rapat di sini. Tentu orang-orang Pek-lian-kauw, Thian-li-pang dan para pemberontak itu yang bertanggung jawab."

"Karena itu, kita amati saja mereka. Dan kita pun akan menghadapi mereka di istana. Di sana kita lebih banyak mendapat kesempatan untuk menangkap Ang I Moli dan memaksanya mengaku untuk mengembalikan anak kita."

Setelah mencari-cari tanpa hasil, kemudian mengintai keberangkatan Ouw Ciangkun dan pasukannya dan tidak melihat adanya Sian Li di sana bersama pasukan itu.

Juga mereka berdua tidak melihat adanya Ang I Moli dan para tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang, terpaksa, walaupun dengan hati berat, Sin Hong dan Hong Li segera berlari ke benteng Liu Tai-ciangkun.

Panglima itu terkejut bukan main mendengar bahwa puteri sepasang pendekar itu lenyap dari kamar rumah penginapan.

"Jangan khawatir, Taihiap dan Lihiap, kami akan menyebar penyelidik untuk mencari keterangan tentang puteri Jiwi (Kalian) itu."

Dan seketika panglima itu menyebar anak buahnya yang ahli untuk melakukan penyelidikan ke kota Heng-tai dan sekitarnya, mencari jejak nona Tan Sian Li, gadis cilik berusia dua belas tahun itu.

Adapun suami isteri itu sendiri oleh Liu Tai-ciangkun lalu diselundupkan ke dalam istana, menyamar sebagai pengawal-pengawal yang tergabung dalam pasukan pengawal istana bagian luar.

Dengan memegang tanda perintah khusus dari Liu Tai-ciangkun dan seorang perwira pasukan pengawal yang menjadi sahabatnya.

Sin Hong dan Hong Li dapat bergerak bebas dalam istana itu tanpa dicurigai orang.

Namun, keduanya menyembunyikan diri sambil menanti datangnya saat yang ditentukan, yaitu pada malam bulan purnama di taman besar, di mana Siang Hong-houw hendak mengadakan pesta ulang tahunnya, dihadiri oleh semua pangeran.

Penanggalan Im-lek dibuat menurut peredaran bulan mengelilingi bumi.

Oleh karena itu, setiap tanggal lima belas, dapat dipastikan bahwa bulan purnama sebulat-bulatnya dan seterang-terangnya.

Malam itu bulan purnama amat cerahnya karena di langit tidak ada awan menghalang.

Dan kemulusan bulan ini menambah meriahnya pesta di taman istana yang amat indah.

Lampu-lampu gantung beraneka bentuk dan warna menambah indahnya suasana, seolah menggantikan bintang-bintang yang tidak nampak di langit karena sinarnya ditelan cahaya bulan purnama.

Bunga-bunga di taman sedang mekar semerbak, menambah keindahan malam itu.

Siang Hong-houw sudah berusia empat puluh tahun lebih.

Akan tetapi permaisuri ini masih nampak anggun dan jauh lebih muda dari usia yang sesungguhnya.

Sanggulnya tinggi dan dihias emas permata, pakaiannya juga gemerlapan dan semua itu ditambah kecantikannya dan senyumnya yang tak pernah meninggalkan bibirnya, membuat ia nampak cantik jelita dan menarik sekali.

Para pangeran yang hadir adalah putera-putera tirinya, dan semua pangeran menyayang Siang Hong-houw yang selalu bersikap manis terhadap mereka.

Pesta berjalan dengan meriah.

Delapan orang pangeran dan enam belas orang puteri hadir.

Mereka semua adalah saudara-saudara seayah berlainan ibu.

Kaisar sendiri tidak hadir, juga tidak ada selir lain yang hadir.

Hal ini memang dikehendaki Siang Hong-houw yang ingin berpesta dengan anak-anak tirinya saja untuk menghibur hatinya.

Untuk membuat pesta bertambah meriah, serombongan besar pemusik, penyanyi dan penari menyajikan hiburan-hiburan yang bermutu.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Sin Hong dan Hong Li, tentu saja atas usaha Liu Tai-ciangkun, Untuk berbaur dengan rombongan seniman dan seniwati itu agar mereka hadir lebih dekat dengan para pangeran.

Kalau mereka menyamar menjadi pengawal, maka kehadiran mereka tentu dalam jarak yang jauh dan sukar bagi mereka untuk melindungi para pangeran.

Taman itu sendiri dijaga oleh tiga puluh tebih orang pengawal yang merupakan pasukan istimewa dan yang dipimpin oleh Ouw-ciangkun.

Biarpun mereka berada di antara para seniman, Sin Hong dan Hong Li selalu waspada mengamati keadaan sekeliling.

Terutama sekali mereka memperhatikan para perajurit yang berjaga di situ karena mereka tahu bahwa di antara para perajurit itu tentu terdapat para tokoh sesat yang menyelundup.

Mereka melihat betapa Ouw-ciangkun sendiri melakukan perondaan di dalam taman itu, Seolah hendak menjaga dan melindungi semua orang yang sedang berpesta di dalam taman.

Tempat pesta itu sendiri berada di tengah taman, di mana terdapat sebuah kolam ikan yang dikelilingi petak rumput yang luas.

Di atas petak rumput inilah dipasangi kursi-kursi dan meja yang mengelilingi kolam ikan.

Suasana sungguh meriah dan gembira, walaupun yang sedang berpesta tidak terlalu banyak.

Ketika Sin Hong dan Hong Li melayangkan pandang mata mereka ke arah mereka yang sedang berpesta, kedua orang suami isteri ini terkejut bukan main.

Terkejut, heran dan juga girang karena mereka melihat seorang kakek yang gagah, yang mereka kenal karena kakek itu bukan lain adalah Suma Ciang Bun!

Dan di dekat kakek itu duduk seorang wanita setengah tua yang nampak asing, namun wanita ini masih nampak cantik dan juga sikapnya gagah sekali.

Sin Hong dan Hong Li tidak mengenal wanita itu, akan tetapi kehadiran Suma Ciang Bun di tempat itu sungguh membuat mereka heran akan tetapi juga girang.

Bagaimana Suma Ciang Bun dapat berada di taman itu dan seorang di antara mereka yang ikut berpesta?

Seperti kita ketahui, Suma Ciang Bun dan nenek Gangga Dewi melakukan perjalanan bersama untuk mencari Yo Han yang diculik Ang I Moli.

Mereka terus membayangi Ang I Moli selama bertahun-tahun, akan tetapi akhirnya mereka kehilangan jejak iblis betina itu.

Setelah mencari dengan sia-sia, akhirnya mereka berdua terpaksa menghentikan usaha mereka mencari Yo Han.

Mereka telah bergaul dengan akrab dan mudah bagi mereka untuk menyadari bahwa api yang puluhan tahun lalu membakar hati mereka ternyata masih belum padam.

Mereka masih saling mencinta!

Dan pada suatu hari yang baik, Gangga Dewi yang lebih tegas dan berani dibandingkan Suma Ciang Bun, menyatakan perasaannya itu kepada Suma Ciang Bun.

Pendekar ini menyambutnya dengan terharu dan gembira sampai tak tertahan lagi Suma Ciang Bun menangis!

Dan akhirnya, Suma Ciang Bun mengajak Gangga Dewi untuk berkunjung ke sebuah kuil.

Kepala kuil itu adalah seorang sahabatnya, seorang pendeta Agama To.

Tosu itulah yang mengatur upacara pernikahan antara Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, tanpa dihadiri seorang pun tamu, hanya disaksikan oleh tujuh orang tosu lainnya.

Namun, secara hukum agama pernikahan itu sudah sah dan sejak saat itu, Suma Ciang Bun hidup bersama Gangga Dewi sebagai suami isteri!

Dalam perjalanan mereka melakukan perantauan, keduanya hidup dengan rukun saling mencinta, saling menghormati dan dalam banyak hal, Gangga Dewi bersikap kejantanan dan menjadi pemimpin, sedangkan Suma Ciang Bun lebih kewanitaan dan selalu menyetujui apa yang diputuskan oleh isterinya.

Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi mengunjungi keluarga pendekar itu.

Mereka sudah berkunjung ke rumah Kao Cin Liong dan Suma Hui kakak perempuannya juga mengunjungi rumah Suma Ceng Liong.

Dua orang saudaranya ini menerima mereka dengan gembira sekali.

Mereka itu semua menyatakan perasaan sukur bahwa akhirnya Suma Ciang Bun menemukan jodohnya, walaupun sudah agak terlambat.

Apalagi yang dipilihnya adalah bekas kekasihnya dahulu, dan puteri dari mendiang Wan Tek Hoat pula.

Masih ada hubungan yang tidak jauh!

Demikianlah, ketika mereka berdua merantau sampai ke kota raja, Gangga Dewi teringat kepada Siang Hong-houw yang sudah dikenalnya sebelum menjadi selir Kaisar, ketika masih tinggal di barat dahulu.

Karena pengawal istana melaporkan kepada Siang Hong-houw bahwa seorang wanita bernama Gangga Dewi dari Bhutan datang berkunjung bersama suaminya, permaisuri itu menjadi gembira bukan main.

Cepat ia menyambut dan ketika bertemu, kedua orang wanita itu saling rangkul dengan akrab sekali.

Demikian girangnya hati Siang Hong-houw bertemu dengan sahabat lamanya yang mendatangkan kenangan lama sebelum ia menjadi selir Kaisar, Sehingga ia menahan Gangga Dewi dan Suma Ciang Bun agar tinggal di istana sebagai tamunya, tamu kehormatan dan dapat ikut menghadiri pesta ulang tahunnya yang diadakan pada tanggal lima belas.

Gangga Dewi yang berpengalaman itu melihat betapa sesungguhnya sahabatnya itu menderita tekanan batin walau-pun hidup dalam gemerlapnya kemewahan dan kemuliaan.

Maka, ia merasa kasihan kepada sahabatnya itu.

Dibandingkan dengan sahabatnya yang hidup sebagai seorang permaisuri yang mulia, ia merasa berbahagia sekali dan merasa jauh lebih beruntung walaupun ia bersama suaminya hidup sederhana, bahkan selama ini hidup sebagai perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya.

Oleh karena itu, ia membujuk suaminya untuk memenuhi permintaan Siang Hong-houw dan tinggal di istana sampai tiba saatnya pesta ulang tahun itu.

Ketika akhirnya pesta pada malam hari itu tiba, diam-diam mereka pun merasa heran mengapa Siang Hong-houw merayakan ulang tahunnya secara demikian sederhana, tidak dihadiri Kaisar, tidak pula dihadiri para selir lain atau pejabat tinggi, melainkan dihadiri oleh semua pangeran dan puteri, anak-anak tiri Siang Hong-houw.

Suma Ciang Bun sama sekali tidak pernah menduga bahwa di antara para seniman dan seniwati yang menghibur di pesta itu, terdapat Tan Sin Hong dan Kao Hong Li!

Tentu saja Suma Ciang Bun tidak mengenal kedua orang itu karena Sin Hong dan Hong Li mengenakan bedak yang tebal dan mengubah corak wajah mereka.

Sementara itu Ang I Moli berpakaian sebagai pelayan kepala.

Ia pun memakai penyamaran agar jangan dikenal orang.

Ketika Ouw Ciangkun menyerahkan kepada Siang Hong-houw agar Ang I Moli diterima sebagai kepala pelayan, dengan alasan bahwa keamanan di situ harus dijaga ketat, Siang Hong-houw yang tidak menyangka buruk menerimanya begitu saja.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya rasa hati Ang I Moli ketika ia mengenal Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.

Sungguh tidak dinyana sama sekali bahwa dua orang yang amat lihai itu berada pula di situ sebagai tamu!

Tentu saja ia menjadi bingung.

Apa artinya itu?

Apakah Siang Hong-houw sudah menduga akan sesuatu dan sengaja mendatangkan dua orang lihai itu untuk menjamin keamanan di situ?

Beberapa kali Ang I Moli mencari-cari Ouw Ciangkun dengan pandang matanya.

Akan tetapi ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berunding dengan perwira itu.

Munculnya Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi demikian tiba-tiba dan tak tersangka-sangka sehingga ia tidak mempunyai waktu untuk berunding dengan sekutunya lagi.

Bagaimanapun juga, rencana semula harus dilanjutkan!

Ang I Moli sama sekali tidak tahu bahwa kejutan baginya bukan hanya munculnya Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.

Ia tidak tahu bahwa di antara para seniman itu terdapat pula dua orang yang ditakutinya, yaitu Tan Sin Hong dan Kao Hong Li.

Ia tidak mengenal mereka, akan tetapi suami isteri itu dapat segera mengenalnya.

Hal ini bukan karena penyamarannya kurang baik.

Sama sekali tidak.

Andaikata suami isteri itu belum tahu bahwa ia akan menyamar sebagai kepala pelayan dan bertugas memberi racun pada cawan arak para pangeran, agaknya belum tentu suami isteri pendekar itu akan mengenalnya.

Akan tetapi, di luar tahunya, Sin Hong dan Hong Li segera dapat mengenal kepala pelayan setengah tua yang cantik dan lembut itu, dan mereka sudah siap siaga dan mengamati gerak-gerik Ang I Moli dengan seksama.

Suami isteri pendekar ini maklum bahwa pada saat itu, Liu Tai-ciangkun tentu sudah mengerahkan pasukan untuk mengepung taman itu dan memblokir semua jalan keluar dari dalam istana.

Sejak tadi, nampak Ang I Moli mengatur para pelayan, gadis-gadis manis yang cekatan, untuk mengeluarkan hidangan dan keadaan berjalan lancar tanpa ada yang mencurigakan, Kemudian, tibalah saat menegangkan yang dinanti-nanti oleh Sin Hong dan Hong Li.

Permaisuri itu memberi isarat kepada pelayan pribadinya yang datang membawa sebuah guci arak yang bentuknya asing dan indah, terbuat dari emas murni.

Dengan sikap lembut dan ramah, Siang Hong-houw mengangkat guci itu ke atas, memperlihatkannya kepada anak-anak tirinya, juga kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, lalu berkata.

"Aku masih menyimpan seguci anggur buatan bangsaku Uighur yang amat baik, sudah puluhan tahun umurnya dan selain amat manis dan lezat, juga kasiatnya dapat membuat badan sehat dan semangat tinggi."

Para pangeran bersorak gembira dan para puteri tersenyum-senyum. Gangga Dewi menyentuh lengan suaminya.

"Anggur Uigur yang sudah puluhan tahun umurnya memang amat hebat."

Ang I Moli menghampiri Siang Hong-houw dan berkata dengan penuh hormat dan halus.

"Perkenankan hamba sendiri mewakili Paduka menuangkan anggur ke dalam cawan para tamu yang mulia."

Karena sejak pertama kali Ang I Moli bersikap halus, ramah dan sopan sehingga menyenangkan hati Siang Hong-houw, Ia pun mengangguk dan menyerahkan guci anggur itu kepada kepala pelayan baru yang cekatan itu.

Ang I Moli segera dengan sikapnya yang menarik dan lembut, menuangkan anggur dari guci itu ke dalam cawan di depan Siang Hong-houw, kemudian ke dalam cawan arak di depan Gangga Dewi dan Suma Ciang Bun yang sama sekali tidak mencurigai sesuatu.

Kemudian, dengan teliti dan tahu peraturan, kepala pelayan itu menuangkan anggur ke dalam cawan para pangeran, dari yang paling tua sampai yang paling muda, baru menuangkan anggur ke dalam cawan para puteri.

Semua itu dilakukan dengan tepat dan cermat, tidak ada setetes pun anggur yang menetes keluar sehingga semua orang merasa senang.

Juga tidak ada yang menduga bahwa ketika menuangkan anggur untuk para pangeran, kecuali untuk Pangeran Kian Ban Kok, Kuku jari telunjuk kiri wanita itu menjentik keluar bubuk racun yang sebelumnya sudah dipersiapkan, menempel di ujung lengan baju sehingga di setiap cawan arak itu terpecik bubuk racun halus yang tidak kelihatan orang lain.

Sin Hong dan Hong Li sendiri akan sukar dapat mengetahui gerakan ini, akan tetapi sebelumnya mereka sudah tahu, tentu saja perhatian mereka tercurah ke arah tangan wanita itu dan mereka tahu bahwa bubuk racun telah disebar dan dibagi.

Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi sendiri, yang lihai dan berpengalaman, tidak tahu akan hal itu karena mereka tidak menyangka buruk.

Ketika semua cawan telah terisi dan Siang Hong-houw mendahului mengangkat cawan dan mempersilakan semua orang minum, dan semua orang telah mengangkat cawan masing-masing dengan wajah gembira penuh senyum, tiba-tiba terdengar seruan nyaring.

"Tahan semua cawan! Harap Paduka sekalian jangan minum anggur itu!"

Tentu saja semua orang, termasuk Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, terkejut dan heran mendengar teriakan itu dan semua orang memandang ketika Kao Hong Li keluar dari rombongan seniman seniwati yang sejak tadi menghibur para tamu dengan musik, nyanyian dan tarian mereka.

Karena tidak ingin gagal, Hong Li cepat menyambung teriakannya tadi sambil memberi hormat kepada semua orang yang merupakan keluarga agung Kaisar.

"Harap Paduka semua jangan minum anggur itu karena semua cawan telah diracuni, kecuali cawan para puteri dan Pangeran Kian Ban Kok. Semua cawan pangeran lain telah diracuni dan siapa yang minum anggur itu akan tewas!"

Tentu saja semua orang terkejut bukan main mendengar ini dan, otomatis semua orang meletakkan cawah masing-masing di atas meja dan memandang cawan itu dengan hati ngeri.

Melihat ini, Pangeran Kian Ban Kok bangkit berdiri dengan muka merah karena marah.

Tadi wanita itu mengatakan bahwa semua pangeran diberi racun, kecuali dia.

Ini sama saja dengan menuduh bahwa kalau benar ada yang meracuni para pangeran, maka pelaku itu bersekongkol dengan dia karena dia sendiri tidak diracuni.

"Perempuan rendah! Engkau hanya seorang wanita penghibur! Sungguh lancang sekali mulutmu menuduh Ibu Permaisuri hendak meracuni para pangeran! Engkau bohong dan akan kubuktikan."

Pangeran Kian Ban Kok yang sungguh tidak tahu bahwa diam-diam dia dipilih oleh para pemberontak untuk menjadi pangeran tunggal karena ibunya adalah seorang wanita Han, cepat menyambar cawan anggur di depan pangeran yang duduk di sebelah kanannya, kemudian sekali tuang, isi cawan itu memasuki tenggorokannya.

"Nah, aku sudah minum dari cawan seorang pangeran lain! Masih berani engkau mengatakan bahwa cawan semua pangeran, kecuali aku, telah diracuni?"

Bentak Pangeran Kian Ban Kok, akan tetapi semua orang terbelalak memandang pangeran ini karena melihat betapa wajah pangeran ini berubah kehijauan, lalu menghitam dan tiba-tiba mengeluarkan teriakan melengking dan terjungkal roboh.

Dia tewas seketika!

Terdengar jeritan-jeritan para puteri dan teriakan para pangeran yang menjadi panik.

Melihat keadaan yang kacau ini, Ang I Moli terkejut bukan main.

Ia tahu bahwa rahasianya diketahui wanita anggauta rombongan pemusik itu dan akibatnya sungguh hebat.

Pangeran Kian Ban Kok yang seharusnya menjadi satu-satunya pangeran yang tidak terbunuh, kini malah keracunan dan tewas.

Maklum bahwa keadaannya di situ berbahaya, ia pun menjadi bingung.

Tiba-tiba terdengar bunyi suitan.

Itu merupakan tanda dan teringatlah Ang I Moli bahwa menurut rencana mereka, kalau sampai usaha mereka meracuni para pangeran itu gagal, maka jalan satu-satunya hanyalah menggunakan kekerasan membunuhi para pangeran!

Maka, tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan ia sudah memegang pedang yang tadi ia sembunyikan di balik bajunya.

Akan tetapi, tiba-tiba wanita anggauta pemusik yang tadi berteriak, sudah meloncat ke depannya dan wanita itu berseru.

"Ang I Moli, sekali ini engkau tidak akan lolos dari tanganku!"

Dan wanita itu sudah menggosok mukanya yang tertutup bedak tebal, kemudian menoleh ke arah Suma Ciang Bun dan berteriak.

"Paman Suma Ciang Bun, aku Kao Hong Li. Cepat lindungi para pangeran! Ada komplotan pombunuh!"

Pada saat itu, Ang I Moli yang terkejut ketika mendengar pengakuan Kao Hong Li, sudah menyerangnya dengan tusukan pedang.

Namun Kao Hong Li sudah cepat mengelak dan membalas dengan tamparan tangan kiri yang mengandung hawa beracun karena ia menggunakan ilmu pukulan Ban-tok-ciang.

Sementara itu, Sin Hong sudah pula meloncat dari rombongan pemusik dan pada saat itu, dua orang perajurit pengawal yang memegang pedang sudah berloncatan untuk menyerang para pangeran.

Dengan hantaman tangan dan tendangan kaki, dia membuat dua orang anggauta Thian-li-pang yang menyamar sebagai perajurit pengawal itu terjengkang dan terpelanting.

"Paman Suma Ciang Bun, cepat selamatkan para pangeran!"

Teriak pula Sin Hong.

Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi sudah berloncatan ke depan.

Mereka tadinya bingung, akan tetapi begitu tadi mendengar suara Kao Hong Li, Ciang Bun terkejut dan juga girang.

Apalagi ketika melihat munculnya Sin Hong.

Mendengar seruan Sin Hong, dia lalu menyambar lengan isterinya.

"Mari kita lindungi mereka!"

Suami isteri ini berloncatan melindungi para pangeran yang kelihat bingung dan ketakutan.

Ketika ada perajurit-perajurit pengawal dengan senjata di tangan menyerbu ke arah para pangeran.

Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi menggerakkan tangan kaki dan robohlah empat orang penyerbu.

Sementara itu, wajah Siang Hong-houw menjadi pucat sekali ketika tadi ia melihat betapa Pangeran Kian Ban Kok roboh dan tewas begitu minum arak dari cawan seorang pangeran lain.

Permaisuri Kaisar ini sama sekali tidak tahu tentang rencana pembunuhan keji terhadap para pangeran itu dan begitu kini jatuh korban, tentu saja ia menjadi terkejut dan gelisah.

Apalagi ketika para perajurit pengawal yang seharusnya bertugas melindungi keselamatan keluarga Kaisar, kini berbalik malah hendak membunuh para pangeran.

Dan ia telah melibatkan diri dengan pembunuh-pembunuh itu!

Kalau ia mau bekerja sama dengan Thian-li-pang, hal itu ia kerjakan karena ia melihat Thian-li-pang sebagai pejuang untuk mengusir penjajah Mancu.

Sama sekali tidak disangkanya bahwa sekutu itu akan bertindak sedemikian nekatnya, meracuni dan hendak membunuh para pangeran.

Padahal, sebelumnya ia sudah mendapatkan janji mereka bahwa mereka tidak akan menggunakan kekerasan di dalam istana.

Ia merasa telah ditipu dan dibohongi, dan tahu bahwa ia ikut bertanggungjawab karena ialah yang menerima masuknya orang-orang Thian-li-pang seperti Ouw Cun Ki yang dijadikan panglima pasukan pengawal, bahkan baru saja ia menerima pula wanita cantik sebagai kepala pelayan dalam pesta itu!

Melihat munculnya seorang wanita dan seorang pria dari rombongan pemusik yang menentang usaha pembunuhan para pangeran, bahkan ketika melihat dua orang tamu agungnya, yaitu Gangga Dewi dan suaminya juga berloncatan melindungi para pangeran, Siang Hong-houw cepat bertindak.

"Mari cepat menyingkir ke dalam!"

Katanya dan ia bersama para pangeran dan puteri meninggaikan tempat yang kini menjadi medan pertempuran itu, kembali ke istana, dikawal oleh Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.

Setelah semua pangeran dan puteri memasuki istana bersama Siang Hong-houw, dan jenazah Pangeran Kian Ban Kok diangkut masuk pula, barulah suami isteri itu kembali ke taman dan ikut membantu pasukan menghadapi anak buah gerombolan yang terdiri dari tokoh-tokoh Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw itu.

Pasukan pengawal yang dipimpin Ouw Ciangkun yang bukan lain adalah Ouw Cun Ki putera Ketua Thian-li-pang sendiri, yaitu Ouw Ban, tidak semua anggauta Thian-li-pang.

Hanya ada dua puluh orang lebih anggauta Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw yang diselundupkan Ouw Cun Ki menjadi perajurit pasukan pengawal.

Selebihnya adalah perajurit pengawal aseli.

Oleh karena itu, ketika para perajurit aseli melihat bahwa pasukan mereka dikepung oleh pasukan besar pimpinan Panglima Liu, mereka terkejut dan heran.

Akan tetapi, mereka melihat adegan di taman itu, dan mendengar betapa pemimpin mereka adalah seorang pemberontak yang hendak membunuh para pangeran, tentu saja mereka segera membalik dan menyerang orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw.

Terjadilah pertempuran yang berat sebelah karena orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw, biarpun rata-rata pandai ilmu silat, dikeroyok banyak sekali lawan.

Melihat betapa keadaan amat tidak menguntungkan, Ouw Cun Ki melompat hendak melarikan diri.

Akan tetapi, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pria gagah dengan pakaian serba putih telah berdiri di depannya.

Orang ini bukan lain adalah Tan Sin Hong yang sudah menanggalkan jubahnya sebagai pemain musik dan kini mengenakan pakaian putihnya yang ringkas.

"Ouw Cun Ki, engkau hendak lari ke mana? Engkau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"

Kata Sin Hong.

"Penjilat busuk, anjing penjajah Mancu!"

Teriak Ouw Cun Ki dan dia sudah menggunakan pedangnya untuk menusuk ke arah dada Sin Hong.

Muka Sin Hong berubah merah ketika menerima makian ini, akan tetapi karena dia tahu bahwa Thian-li-pang adalah perkumpulan orang jahat yang bersekongkol dengan Pek-lian-kauw yang berkedok perjuangan namun menyembunyikan pamrih yang mementingkan diri sendiri, maka dia tahu bahwa dia bukan berhadapan dengan para pahlawan pejuang, melainkan dengan para penjahat.

"Jahanam, orang macam engkau yang mengotorkan perjuangan!"

Bentaknya sambil mengelak dan membalas dengan tendangan yang biarpun dapat dihindarkan Ouw Cun Ki, namun tetap saja membuat putera Ketua Thian-li-pang itu terhuyung.

Ouw Cun Ki putera Ouw Ban Ketua Thian-li-pang ini baru berusia dua puluh tiga tahun, tampan gagah dan telah mewarisi ilmu kepandaian ayahnya.

Tentu saja dia lihai sekali dan termasuk seorang tokoh Thian-li-pang yang berkedudukan penting.

Akan tetapi, sekali ini dia berhadapan dengan Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong yang sudah mempergunakan ilmu andalannya, yaitu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih).

Maka, biarpun pemuda itu memegang pedang dan menyerang dengan nekat, dalam beberapa gebrakan saja dia sudah terdesak oleh pukulan, totokan dan tendangan Sin Hong yang membuat dia terus mundur dan kadang terhuyung.

Sementara itu, pertandingan antara Kao Hong Li melawan Ang I Moli berlangsung dengan seru.

Kepandaian dua orang wanita ini lebih seimbang dibandingkan kepandaian antara Sin Hong dan Ouw Cun Ki.

Ang I Moli telah menguasai ilmu barunya, yaitu Toat-beng-tok-hiat (Darah beracun Penca-but Nyawa) yang amat hebat.

Ilmu ini dilatih secara menyeramkan karena telah puluhan orang anak laki-laki dikorbankan untuk mematangkannya.

Dan kini Ang I Moli telah menguasai ilmu itu, bahkan telah dapat membuat obat penawar pukulan beracun itu yang dipelajarinya dari Thian-te Tok-ong.

Melihat betapa lihainya Kao Hong Li, Ang I Moli yang mempergunakan pedang di tangan kanan itu, menyelingi serangannya dengan dorongan tangan kiri yang mengandung pukulan beracun yang amat jahat itu.

Ketika pertama kali Ang I Moli menyerang dengan dorongan telapak tangan kiri yang mengeluarkan semacam uap putih dan yang juga membawa bau yang busuk seperti bau mayat, Hong Li maklum bahwa dia menghadapi pukulan beracun yang berbahaya.

Maka, ia pun cepat mengerahkan tenaga dari ilmu Ban-tok-ciang (Tangan Racun Selaksa) yang juga merupakan ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun.

Biarpun tidak sejahat Toat-beng-tok-hiat, akan tetapi juga tidak kalah ampuhnya.

"Plakkk!"

Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, kedua orang wanita itu terdorong ke belakang.

Keduanya terkejut, akan tetapi yang merasa lebih penasaran adalah Ang I Moli.

Setelah berhasil menguasai Toat-beng-tok-hiat, ia mengira bahwa di dunia ini tidak ada ilmu pukulan yang dapat menandingi ilmunya itu!

Sebelum kedua orang wanita ini saling terjang lagi, mendadak nampak bayangan berkelebat dan Gangga Dewi telah berhadapan dengan Ang I Moli.

"Iblis betina Ang I Moli, sekarang aku mengenalmu! Di mana kau sembunyikan Yo Han? Hayo cepat beritahu atau terpaksa aku akah menyiksamu untuk mengaku!"

Bentakan Gangga Dewi ini selain mengejutkan hati Ang I Moli, juga membuat Kao Hong Li memandang heran.

Ia tidak mengenal wanita cantik yang tadi ia lihat duduk di sebelah pamannya, Suma Ciang Bun.

Dan kini wanita ini mengenal Ang I Moli, bahkan menyebut-nyebut nama Yo Han!

Ang I Moli sudah pernah bertemu dan bertanding dengan Gangga Dewi dan ia tahu akan kelihaian wanita Bhutan itu.

Tak disangkanya bahwa wanita itu dapat mengenal ia yang sudah menyamar.

"Mampuslah!"

Bentaknya dan ia pun menggerakkan pedangnya menusuk.

Gangga Dewi memiliki gin-kang yang hebat dan ia mampu bergerak cepat bukan main.

Serangan pedang itu dapat dielakkannya dengan mudah dan begitu tangan kirinya bergerak, nampak gulungan sinar putih mengkilat yang panjang seperti seekor ular menyambar.

Kiranya Gangga Dewi telah membalas dengan serangan sabuk sutera putihnya.

Sab"k itu meluncur kaku bagaikan berubah menjadi tongkat menotok ke arah dada Ang I Moli.

Ang I Moli menangkis dengan pedangnya, dan tangan kirinya mendorong dengan ilmu yang diandalkannya, yaitu Toat-beng-tok-hiat.

Uap putih yang berbau busuk menyambar dan Gangga Dewi cepat meloncat ke belakang, maklum bahwa lawannya itu menggunakan pukulan beracun yang amat jahat.

"Bibi, biar aku yang menghalau iblis betina ini!"

Kao Hong Li membentak dan ia pun menerjang maju, sekali ini menggunakan jurus-jurus Sin-liong Ciang-hoat dari Istana Gurun Pasir.

Demikian hebatnya daya serang ilmu ini sehingga Ang I Moli yang memegang pedang itu tidak berani menyambut dan terhuyung ke belakang.

Gangga Dewi sudah mendapat bisikan dari suaminya siapa Kao Hong Li, keponakan suaminya, puteri dari Kao Cin Liong dan Suma Hui, maka ia pun memutar sabuk suteranya dan berseru.

"Kao Hong Li, aku adalah isteri pamanmu Suma Ciang Bun. Namaku Gangga Dewi dari Bhutan."

Mendengar ini, Hong Li merasa heran akan tetapi juga gembira.

Ia pernah mendengar akan keadaan pamannya, Suma Ciang Bun yang mempunyai kelainan, tidak menyukai wanita karenanya tidak mau menikah.

Dan kini tahu-tahu dia mempunyai seorang isteri yang cantik, seorang wanita Bhutan.

Dan ia pun teringat bahwa ayah dan ibunya pernah bercerita tentang seorang puteri Bhutan bernama Syanti Dewi yang menikah dengan pendekar Wan Tek hoat, saudara tiri dari neneknya, yaitu mendiang nenek, Wan Ceng!

"Apakah engkau puteri dari kakek Wan Tek Hoat, Bibi?"

Katanya sambil mengelak dari sambaran pedang Ang I Moli yang sudah membalas serangannya.

"Benar! Mari kita tundukkan iblis ini, Hong Li!"

Kao Hong Li semakin gembira dan kedua orang wanita ini mendesak Ang I Moli yang menjadi sibuk sekali.

Menghadapi seorang di antara mereka saja, amat sukar baginya untuk mendapatkan kemenangan.

Kini mereka maju bersama mengeroyoknya.

Tentu saja ia kewalahan dan terus mundur.

"Singg....!"

Dengan nekat Ang I Moli membacokkan pedangnya ke arah kepala Gangga Dewi.

Wanita Bhutan ini mengelebatkan sabuknya yang kini menjadi lemas dan sabuk itu menyambut pedang, terus melibatnya dengan kuat.

Ang I Moli terkejut dan berusaha menarik lepas pedangnya.

Namun sia-sia saja karena sabuk sutera putih itu sudah melibat pedang dengan amat kuatnya.

Ketika ia bersitegang dan menarik-narik pedangnya agar terlepas, Hong Li sudah meloncat ke depan dan sekali jari tangannya meluncur dan menotok, Ang I Moli roboh terkulai dengan lemas.

Hong Li menginjak perut Ang I Moli dan melihat ini, Gangga Dewi berseru.

"Jangan bunuh dulu!"

Hong Li memandang wanita Bhutan itu dan tersenyum.

"Bibi, aku tidak ingin membunuhnya. Akan kuserahkan kepada Liu Tai-ciangkun. Akan tetapi, ia harus lebih dulu mengatakan di mana ia menyembunyikan puteriku. Hayo, Moli, tiada gunanya engkau melawan lagi. Aku dapat membunuhmu, menyiksamu. Katakan dimana engkau menyembunyi-kan puteriku, dan aku tidak akan menyiksamu, melainkan menyerahkan engkau kepada Liu Ciangkun.

"Aku tidak tahu, aku tidak pernah melihat puterimu,"

Jawab Ang I Moli dengan sikap acuh.

Ia tahu bahwa ia telah kalah dan tertawan, akan tetapi wanita sesat yang lihai dan cerdik ini tidak merasa gentar.

Selama ia masih hidup, ia takkan pernah putus asa dan menyerah.

"Bohong! Puteriku yang kami tinggalkan di rumah penginapan itu hilang. Siapa lagi kalau bukan engkau dan kawan-kawanmu yang telah manculiknya? Hayo katakan, di mana ia!"

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu. Terserah engkau mau percaya atau tidak,"

Jawab Ang I Moli acuh.

"Iblis busuk, engkau patut dihajar!"

Hong Li yang amat mengkhawatirkan puterinya, mengangkat tangan hendak memukul. Akan tetapi Gangga Dewi menyentuh pundaknya.

"Nanti dulu, Hong Li. Ia harus memberitahu dulu di mana adanya Yo Han. Ang I Moli, engkau dan dua orang tosu itu melarikan Yo Han. Beberapa tahun yang lalu aku mengejarmu dan mencarimu, akan tetapi gagal. Nah, katakan di mana Yo Han sekarang?"

Ang I Moli tersenyum mengejek.

"Yo Han telah menjadi murid para pimpinan Thian-li-pang dan dia sudah menjadi orang Thian-li-pang. Kalau engkau hendak mencarinya, carilah Thian-li-pang."

Karena dapat menduga bahwa dalam keadaan seperti itu, Ang I Moli kiranya tidak ada perlunya lagi membohong.

Hong Li tidak mendesaknya lagi melainkan menyerahkan wanita itu kepada seorang perwira untuk dibelenggu dan dijadikan tawanan.

"Bibi, kita tangkap yang lain dan paksa mereka mengaku di mana anakku Sian Li dan di mana pula adanya Yo Han,"

Kata Hong Li dan kedua orang wanita ini lalu terjun lagi ke dalam pertempuran.

Sementara itu, Sin Hong yang juga sudah berhasil menundukkan dan merobohkan Ouw Cun Ki tanpa membunuhnya.

Bekas perwira pasukan pengawal hasil selundupan Thian-li-pang ini dibelenggu dan menjadi tawanan.

Melihat betapa isterinya dan wanita Bhutan itu mengamuk, membantu Suma Ciang Bun, Sin Hong juga membantu mereka dan keadaan para tokoh Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw semakin terdesak.

Akhirnya belasan orang dapat ditawan dan beberapa orang tewas.

Kaisar Kian Liong marah sekali mendengar bahwa Ouw Cun Ki yang dipercaya dan diberi anugerah pangkat tinggi itu ternyata adalah mata-mata pemberontak Thian-li-pang yang diselundupkan ke istana.

Dia memerintahkan para panglimanya untuk menghukum berat kepada para pemberontak itu, hukum buang dan hukum mati bagi para pemimpinnya.

Biarpun tidak ada bukti bahwa Siang Hong-houw terlibat langsung dengan para pemberontak, namun permaisuri itulah yang memberi angin dan yang memperkenalkan Ouw Cun Ki kepada Kaisar.

Akan tetapi ketika Kaisar yang merasa tidak enak hati dan tidak senang mengunjungi permaisurinya, dia mendapatkan bahwa Siang Hong-houw sedang rebah dan dalam keadaan sakit keras.

Melihat keadaan Siang Hong-houw, Kaisar tidak tega untuk menegur atau bertanya.

Dan memang penyakit permaisuri itu cukup payah, bahkan pertolongan para tabib tidak dapat mengurangi penderitaannya.

Permaisuri ini merasa amat berduka dan kecewa karena telah dibohongi untuk kedua kalinya oleh orang-orang Thian-li-pang.

Hampir saja semua pangeran tewas keracunan dan kalau hal itu sampai terjadi, Maka ialah yang bertanggung jawab.

Bahkan kematian Pangeran Kian Ban Kok juga membuat ia merasa bersalah besar, Ia merasa bahwa kematian itu tidak akan terjadi kalau saja ia tidak memasukkan Ouw Cun Ki ke dalam istana!

Hal itu berarti bahwa ialah pembunuh pangeran itu dan perasaan ini membuat ia berduka dan menyesal bukan main.

Ia memang mendendam terhadap pemecintah Mancu yang telah menghancur-kan kehidupan keluarganya.

Akan tetapi, harus diakuinya bahwa Kaisar Kian Liong amat menyayangnya dan bersikap amat baik kepadanya sehingga kalau ia sebagai seorang isteri yang dicinta sampai melaku-kan kejahatan terhadap Kaisar dan keluarganya, maka ialah yang berdosa besar.

Perasaan bersalah ini, mendatangkan penyesalan yang membuat Siang Hong-houw jatuh sakit parah.

Demikian parah sakitnya sehingga beberapa bulan kemudian, Permaisuri Harum ini meninggal dunia karena sakitnya.

Setelah merobohkan banyak orang tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang, Sin Hong, Hong Li, dibantu Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, mencoba untuk mencari keterangan tentang Sian Li dan Yo Han kepada mereka.

Akan tetapi, ternyata tidak ada seorang pun di antara mereka tahu tentang dua orang itu.

Akhirnya, setelah menyerahkan semua tawanan kepada Liu Ciangkun, empat orang itu meninggalkan istana tanpa mengharapkan balas jasa sama sekali.

Mereka berempat keluar dari istana dan saling menceritakan pengalaman masing-masing.

Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Yo Han yang diculik dan dilari-kan Ang I Moli dan dua orang tosu Pek-lian-kauw.

"Menurut pengakuan Ang I Moli tadi, Yo Han diserah-kan kepada para pimpinan Thian-li-pang dan (Lanjut ke

Jilid 13) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 menjadi murid mereka. Aku harus pergi mencarinya di sarang Thian-li-pang!"

Kata Gangga Dewi.

"Hemm, kukira tidak mudah untuk menentang Thian-li-pang. Perkumpulan pemberontak itu selain memiliki anak buah yang ribuan orang banyaknya, juga bersekutu dengan Pek-lian-kauw sehingga mereka itu kuat sekali. Kita harus berhati-hati melakukan penyelidikan."

"Benar sekali apa yang dikatakan Paman Suma Ciang Bun,"

Kata Tan Sin Hong.

"Pasukan pemerintah pun sukar membasmi perkumpulan Thian-li-pang yang selalu merahasiakan tempat yang menjadi sarang mereka. Di mana-mana mereka mempunyai cabang, bahkan banyak orang gagah membantu mereka karena mereka itu selalu melakukan gerakan menentang pemerintah Mancu."

"Bagi kami, yang terpenting adalah mencari anak kami. Sian Li lenyap dari rumah penginapan di mana orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw mengadakan rapat,"

Kata Hong Li dengan nada suara mengandung kegelisahan.

"Hemm, memang mencurigakan,"

Kata Suma Ciang Bun.

"Siapa lagi kalau bukan mereka yang menculik anakmu? Akan tetapi, tiada seorang pun di antara mereka yang kita robohkan mengakui melihat anak itu. Sebaiknya kalau kita mencari keterangan di rumah penginapan itu lagi."

Mereka berempat lalu pergi ke rumah penginapan itu dan melakukan penyelidikan.

Akhirnya, dari seorang tukang masak di rumah penginapan itu, mereka mendengar bahwa pada saat lenyapnya Sian Li, seperti biasa di depan dapur berkumpul banyak pengemis dan di antaranya terdapat seorang pengemis tua yang asing.

Ketika Sian Li melihat para pengemis minta makanan sisa, tukang masak itu melihat betapa pengemis asing itu menghampiri Sian Li dan minta sumbangan dari nona kecil itu.

Oleh Sian Li, pengemis itu diberi sepotong uang perak dan pengemis itu pun pergi, tidak jadi minta makanan sisa.

Keterangan itu tidak begitu berarti, namun cukup menjadi bahan pemikiran Sin Hong dan isterinya, juga Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.

"Dalam keadaan seperti itu, setiap kemungkinan dapat saja terjadi, dan setiap orang asing patut dicurigai,"

Kata Gangga Dewi. Mereka lalu minta kepada tukang masak untuk menggambarkan keadaan pengemis itu.

"Dia sudah berusia enam puluh tahun, tinggi kurus dengan punggung bongkok seperti udang. Memegang tongkat butut dan suaranya seperti orang dari daerah selatan. Matanya juling."

Demikian keterangan yang mereka peroleh.

Empat orang pendekar itu lalu berpencar, mencari pengemis-pengemis di kota Heng-tai.

Kepada setiap pengemis, mereka memberi hadiah dan bertanya tentang pengemis seperti yang digembarkan tukang masak tadi.

Sin Hong sendiri yang akhirnya mendapatkan keterangan, setelah para pengemis lain hanya mengaku bahwa mereka pun baru hari itu melihat pengemis bongkok itu, seorang di antara mereka menerangkan bahwa pengemis bongkok itu datang dari selatan dan merupakan seorang pengemis yang jahat.

Baca Juga: Bu Kek Siansu 4

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert