Ceritasilat Novel Online

Bu Kek Siansu 4

Eps 4 Bu Kek Siansu - Kho Ping Hoo

Baca online Bu Kek Siansu - Kho Ping Hoo

Cersil Bu Kek Siansu - Kho Ping Hoo.

Pemuda ini tadi melepaskan pedangnya, melihat betapa dia disambut serangan dahsyat, cepat dia miringkan tubuhnya, membiarkan senjata berat itu lewat dan secepat kilat kedua tangannya menyambar dan sebelumnya Koan Sek tahu apa yang terjadi, senjatanya telah terampas dan dibuang oleh pemuda itu sedangkan tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul seperti seorang anak kecil saja.

Percuma dia meronta, karena pemuda itu sudah meloncat seperti terbang, kembali ke dalam lingkaran obat penolak yang ditaburkan Soan Cu.

Koan Sek menggigil.

Selain dia maklum betapa lihainya pemuda ini, juga dia merasa ngeri sekali menyaksikan apa yang terjadi di luar lingkaran obat bubuk itu.

Terdengar jerit dan pekik mengerikan.

Orang-orang Pulau Neraka telah mundur dan menonton sambil sambil tertawa-tawa.

Akan tetapi anak buah bajak laut itu menghadapi penyerangan binatang-binatang berbisa dan sama sekali mereka tak berdaya.

Apalagi penyerangan lebah-lebah putih membuat mereka panik.

Mengerikan sekali melihat mereka berkelojotan merintih-rintih dan menangis mengerung-ngerung karena tidak tahan menderita rasa nyeri yang menyengati sekujur tubuh.

"Cepat bertindak, halau mereka, Soan Cu!"

Sin Liong berkata dengan alis berkerut.

Biarpun yang dikeroyok binatang-binatang itu adalah kaum bajak, namun dia tidak dapat menyaksikan peristiwa mengerikan itu.

Soan Cu menggeleng kepala.

"Tak mungkin. Mereka digerakan oleh suara melengking itu..."

"Suara apa itu? Siapa yang membunyikan?"

Soan Cu tersenyum dan menggigit bibirnya menahan rasa nyeri. Pahanya seperti dibakar dan rasa nyeri menusuk-nusuk jantung.

"Siapa lagi? Satu-satunya orang yang dapat melakukannya hanyalah Kong-kong... augghh..."

Dara itu roboh pingsan lagi dalam rangkulan Sin Liong.

"Aduh celaka.., binatang-binatang itu..."

Tok-gan-hai-liong Koan Sek menggigil dan dia hendak lari dari tempat itu ketika melihat bagaimana pembantunya, Coa Liok Gu, sudah sibuk memutar pedang untuk berusaha mengusir lebah-lebah putih yang mengeroyokanya.

"Kalau kau keluar dari sini, engkau pun akan mengalami nasib yang sama,"

Kata Sin Liong, menunjuk ke arah lingkaran putih dari obat penolak.

"Binatang-binatang itu tidak berani memasuki lingkaran ini."

Koan Sek memandang dan matanya terbelalak ngeri melihat betapa ular-ular beracun yang bermacammacam warnanya itu benar saja membalik lagi ketika mendekati garis lingkaran.

Bahkan lebah-lebah putih yang terbang dekat, agaknya mencium bau penolak itu dan mereka itu pun terbang membalik, mengamuk dan menyerang para bajak yang berada di luar lingkaran.

Saking ngerinya melihat betapa Coa Liok Gu menjerit dan roboh karena kakinya tergigit seekor ular, kemudian betapa pembantu-nya yang juga merupakan sutenya melolong-lolong dan bergulingan, dikeroyok banyak sekali binatang yang mengerikan, kepala bajak ini tak dapat lagi menahan dirinya dan dia menjatuhkan diri berlutut!

Sin Liong sendiri merasa ngeri menyaksikan peristiwa yang terjadi disekelilingnya.

Kalau saja dia dapat melihat Ouw Kong Ek, tentu dia akan meloncat dan memaksa kakek itu menghentikan pekerjaanya yang kejam, membunuh para bajak seperti itu.

Akat tetapi celakanya, suara itu melengking tinggi dan sukar diketahui dari mana datangnya, bahkan kakek itu pun tidak tampak.

Pula, mana mungkin dia berani meninggalkan Soan Cu yang pingsan itu bersama kepala bajak?

Maka pemuda ini merasa seperti disayat-sayat jantungnya menyaksikan pembunuhan yang amat kejam itu, melihat betapa dua puluh empat orang bajak menemui kematian secara mengerikan, berkelojotan dan melolong-lolong, akhirnya suara jeritan mereka makin lemah dan berubah seperti suara binatang disembelih, kemudian tubuhnya tidak berkelojotan lagi dan binatang-binatang kecil berbisa yang kelaparan itu masih menggerogoti kulit dan daging mereka!

Kemudian tampaklah Ouw Kong Ek, Tocu Pulau Neraka.

Kakek ini datang ke tempat itu sambil merangkak dengan susah payah, tubuhnya kelihatan lemah dan kurus, mukanya pucat dan sambil merangkak itu dia meniup sebatang alat tiup terbuat daripada batang alang-alang, menyerupai suling kecil.

Pantas saja suaranya melengking tinggi dan aneh.

Beberapa orang anggauta Pulau Neraka segera maju dan mengangkat ketua mereka, memapahnya datang dan kini binatang-binatang itu berangsur-angsur merayap pergi setelah Ouw Kong Ek merobah merobah suara tiupan sulingnya.

Akhirya yang tinggal hanya mayat-mayat dua puluh empat orang bajak dalam keadaan mengerikan, dan mayat tujuh orang penghuni Pulau Neraka yang tewas dalam pertempuran.

"Ahhh, engkau pula yang menolong cucuku, Taihiap?"

Ouw Kong Ek dituntun anak buahnya datang mendekat. Sin Liong mengerutkan alisnya.

"To-cu, engkau sungguh kejam, membunuh mereka seperti itu."

Kakek itu terbelalak.

"Aku? kejam? Dan mereka ini...?"

Dia menuding ke arah mayat-mayat para bajak laut.

"Dan... hei, siapa dia ini? Ah, bukan-kah dia ini pemimpin mereka?"

Ouw Kong Ek sudah melangkah maju menghampiri Koan Sek yang berdiri dengan muka pucat.

"Tahan dulu, Tocu! Memang dia pemimpin bajak, akan tetapi nyawa cucumu berada didalam tangannya!"

"Soan Cu...!"

Ouw Kong Ek memandang tubuh dara yang dipondong oleh Sin Liong dan berada dalam keadaan pingsan itu.

"Mengapa dia?"

"Terkena senjata beracun."

Kemudian dia memandang Koan Sek dan membentak.

"hayo kau berikan obat penawar senjata gelapmu!"

Tok-gan-hai-liong Koan Sek adalah seorang yang sudah berpengalaman, seorang yang menjelajah di dunia kang-ouw, maka dia tentu saja cerdik sekali.

Tadi ketika menyaksikan betapa semua anak buahnya, juga sutenya, tewas secara mengerikan, dia ketakutan setengah mati dan kehilangan akalnya.

Akan tetapi sekarang setelah dia melihat kesempatan untuk menolong diri, timbul kembali keberaniannya dan dia tersenyum.

"Agaknya kita telah salah masuk. Tidak tahu pulau apakah ini dan siapa kalian ini?"

Tanyanya kepada Sin Liong karena dia merasa jerih sekali menghadapi pemuda yang dia tahu amat lihai dan sama sekali bukan tandingannya itu.

"Kau belum tahu? Ini adalah Pulau Neraka dan dia itu adalah ketuanya."

Dia menuding kepada Ouw Kong Ek.

"Sedangkan Nona ini adalah cucunya. Maka kau harus cepat memberikan obat penawarnya."

"Ha-ha, mudah saja! Mudah saja memberi obat penawarnya. Aihh, kiranya kami telah memasuki sebuah pulau iblis dengan penghuni-penghuninya seperti iblis pula! Benar-benar kami telah membuat kesalahan besar! Orang muda, mudah saja mengobati luka Nona ini, akan tetapi bagaimana dengan aku sendiri? Anak buahku telah tewas semua dan aku dalam cengkraman kalian!"

"Engkau... engkau akan kusiksa, kucincang sampai hancur!"

Ouw Kong Ek membentak.

"Ha-ha-ha, boleh! Lakukan sekarang, karena aku tidak takut mati setelah aku melihat bahwa aku mempunyai banyak teman terutama sekali cucumu. Kalau orang tidak lagi menyayangkan kematian seorang dara jelita muda remaja seperti dia ini, apalagi kematian seorang tua bangka seperti aku. Ha-ha-ha! biarlah aku mati ditemani oleh dara remaja ini!"

Ouw Kong Ek sudah marah sekali, kedua tangannya dikepal sehingga suling batang alang-alang itu hancur di tangannya.

Melihat kemarahan ketua Pulau Neraka itu, Sin Liong Berkata.

"Ouw-tocu apa yang dikatakan benar. Sudah kuperiksa luka cucumu dan ternyata dia terkena racun yang aneh sekali yang belum pernah aku melihatnya. Maka, biarlah kita menukar keselamatannya dengan keselamatan Soan Cu. Betapapun juga , nyawa Soan Cu jauh lebih berharga dari pada kehidupan seorang sesat seperti dia."

"Ha-ha-ha , itu baru omongan yang tepat!"

Tok-gan-hai-liong Koan Sek yang merasa "mendapat angin"

Berkata dengan dada dibusungkan.

Dia tidak takut lagi sekarang.

Nyawa cucu ketua Pulau Neraka berada di tangannya.

Apalagi yang ditakutinya?

"Iblis keparat!

Hayo kau berikan obat untuk cucuku dan kau boleh minggat dari sini!"Ouw Kong Ek membentak.

"Ha-ha-ha, aku Tok-gan-hai-liong Koan Sek bukan seorang tolol."

Dia lalu menoleh kepada Sin Liong.

"Orang muda apakah kedudukanmu di Pulau Neraka ini?"

Dia memang tidak dapat menduga karena tadi dia mendengar ketua Pulau Neraka menyebut taihiap (pendekar besar) kepada pemuda ini.

Dan kalau ada yang dipercaya di situ.

Maka satu-satunya orang adalah pemuda ini.

"Aku bukan penghuni Pulau Neraka aku adalah seorang dari Pulau Es...."

"heeeehhh...??"

Mata Tok-gan-hai-liong yang tinggal satu itu terbelalak dan mukanya pucat.

Dia merasa seolah-olah dalam mimpi.

Setelah bertemu dengan Pulau Neraka yang aneh dan mengerikan di mana semua anak buahnya tewas, dia bertemu pula dengan seorang pemuda sakti yang mengaku datang dari Pulau Es, sebuah sebutan yang tadinya dikiranya hanya terdapat dalam dongeng tahyul belaka.

Mimpikah dia?

Ataukah dia sudah mati ditelan badai dan sekarang ini adalah pengalaman dari rohnya?

"Pulau...

Pulau...

Es...?"

Dia berkata lirih.

Sin Liong mengangguk tak sabar.

Dia tadi mengaku sebenarnya, siapa mengira malah membuat kepala bajak ini menjadi termangu-mangu seperti orang sinting.

"Kalau begitu, aku hanya mau memberikan obat penawar jika engkau yang mengantarku sampai ke sebuah perahu di pantai Pulau Neraka ini."

"Jahanam, kau tidak percaya kepadaku?"

Ouw Kong Ek membentak dan para pembantunya sudah mengangkat senjata mengancam.

"Terserah, bunuhlah. Aku toh akan mati bersama dia ini."

Sin Liong menyerahkan tubuh Soan Cu yang masih pingsan kepada kakeknya, kemudian berkata.

"Ouw-tocu, biarlah kita memenuhi permintaannya. Harap sediakan perahu untuknya."

Terpaksa Ouw Kong Ek menggerakan kapalanya memberi isyarat kepada anak buahnya, kemudian memandang kepada kepala bajak itu dengan mata mendelik.

Koan Sek lalu berjalan bersama Sin Liong dan dua anak buah Pulau Neraka menuju ke tepi laut.

Setelah sebuah perahu dipersiapkan, kepala bajak itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya.

Benda itu ternyata adalah seekor kuda laut sebesar ibu jari tangan yang sudah kering.

"Nona itu terkena racun yang terkandung dalam duri ikan yang tidak dapat diobati kecuali dengan ini. Bubuklah dan masak, lalu minumkan airnya. Tentu dia akan sembuh."

Sin Liong mengerutkan alisnya.

Sudah banyak pengetahuannya tentang pengobatan akan tetapi tentu saja belum pernah dia mengenal rahasia racun yang keluar dari dalam lautan.

Dia menyerahkan bangkai kuda laut kering itu kepada dua orang penghuni Pulau Neraka sambil berkata.

"Berikan ini kepada Ouw-tocu, suruh menumbuk halus dan masak dengan air, kemudian minumkan kepada Nona. Bagaimana hasilnya supaya cepat melapor ke sini. Aku menunggu di sini."

Dua orang itu menerima kuda laut mati dan berlari memasuki pulau, sedangkan Sin Liong lalu duduk di tepi pantai dengan sikap tenang.

"Kau tidak mau membiarkan aku pergi?"

Koan Sek bertanya penuh khawatir.

"Jangan tergesa-gesa,"

Jawab Sin Liong.

"Aku harus yakin dulu bahwa obatmu benar-benar manjur, baru aku akan membolehkan engkau pergi. (Lanjut ke

Jilid 09) Bu Kek Siansu (Seri ke 01 Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 Bukankah itu adil namanya?"

Koan Sek menghela napas dan menjatuhkan diri duduk di dalam perahu. Dia maklum bahwa kalau melawan, dia tidak akan menang.

"Dia pasti akan sembuh. Dalam keadaan seperti ini, mana aku berani main-main?"

Sin Liong diam saja. Kepala bajak itu menggunakan mata tunggalnya untuk memandangi pemuda itu penuh selidik, kemudian bertanya.

"Orang muda, benarkah engkau dari Pulau Es?"

Sin Liong mengangguk.

"Dan siapa namamu?"

"Kwa Sin Liong. Mengapa engkau bertanya-tanya?"

"Tadinya aku mengira bahwa Pulau Es hanyalah sebuah dongeng..."

"Hemm.., memang sekarang hanya tinggal dongeng..."

Sin Liong berkata sambil merenung jauh membayangkan keadaan Pualu Es yang telah terbasmi oleh badai dan kini tinggal menjadi sebuah pulau kosong yang menyedihkan.

"Nguuk... nguuukkk..."

Sin Liong menoleh dan tersenyum "Eh, Enci beruang. Kau menyusulku?"

Beruang itu menghampiri, dan memperlihatkan taringnya ketika dia melihat Koan Sek di atas perahu di depan pemuda itu.

"Binatang yang hebat!"

Koan Sek berkata dan bulu tengkuknya berdiri.

Pemuda ini seperti bukan manusia biasa!

dan mempunyai binatang peliharaan seperti itu!

"Kau bilang tadi...

tinggal dongeng apa maksudmu?"

"Tidak apa-apa, lupakanlah,"

Kata Sin Liong sambil mengelus beruang yang sudah bertiarap di depannya.

"Orang muda she kwa... eh, Tai-hiap... kenapa kau mau membebaskan aku?"

Sin Liong mengangkat mukanya memandang dan kepala bajak itu menjadi lebih heran lagi melihat betapa pandang mata pemuda itu sama sekali tidak membayangkan kebencian atau permusuhan dengannya?

"Mengapa tidak?

engkau pun membebaskan Soan Cu."

Sin Liong menengok dan tampaklah dua orang tadi datang berlari-lari.

"Kwa-taihiap, Nona sudah sembuh!"

Sin Liong mengangguk kepada Koan Sek.

"Pergilah, cepat! Lebih cepat lebih baik dan harap kau jangan sekali-kali mendekati pulau ini."

Koan Sek menjawab.

"Terima kasih. Satu kalipun sudah cukuplah!"

Dia mengkirik.

"Pulau Iblis seperti ini siapa yang ingin melihatnya lagi?"

Dia lalu menggerakan dayungnya dan perahu meluncur cepat meninggalkan Pulau Neraka.

Ketika Sin Liong bersama beruangnya tiba kembali ke tengah pulau benar saja bahwa Soan Cu telah sembuh sama sekali dari pengaruh racun.

Hanya luka di pahanya yang tinggal dan luka itu sudah diobati oleh Kong-kongnya.

Para penghuni Pulau Neraka sedang sibuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan mengerikan itu dan Sin Liong lalu diajak masuk ke pondoknya oleh Ouw Kong Ek dan Soan Cu.

"Taihiap, lagi-lagi engkau yang datang menolong kami,"

Kata Ouw Kong Ek.

"Kalau engkau tidak segera datang entah bagaimana dengan aku. Mungkin sudah mati, Sin Liong,"

Kata Soan Cu dengan mata bersinar-sinar penuh kagum dan terima kasih.

"Ahh, mengapa Tocu dan kau masih bersikap sungkan terhadap aku? Bukankah kita ini sahabat? Kedatanganku bukan hanya kebetulan saja. Aku datang dengan maksud yang sama seperti setahun yang lalu, yaitu mencari Sumoi. Apakah dia tidak datang ke sini?"

Soan Cu dan kakeknya memandang kaget dan juga heran, dan di dalam pandang mata Ouw Kong Ek terkandung rasa hati tidak senang.

Sin Liong maklum akan ketidaksenangan hati kakek itu, maka dia menarik napas panjang dan berkata.

"Harap saja Tocu tidak menyangka yang bukan-bukan terhadap Sumoi. Apa yang dilakukan oleh Suhu di sini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Sumoi."

"Jadi Taihiap sudah tahu apa yang diperbuat oleh Han Ti Ong di sini?"

Sin Liong mengangguk.

"Aku dapat menduganya. Tentu dia marah-marah karena puterinya pernah ditahan di sini."

"Bukan hanya marah-marah!"

Kata Soan Cu mengepal tinju.

"Orang itu sombong sekali! Dia menghina kakek, biar pun tidak melakukan pembunuhan tapi dia memukul semua orang!"

"Kau juga dipukulnya?"

Sin Liong bertanya.

"Tadinya, melihat aku seorang wanita dan masih muda, dia tidak mau memukulku, akan tetapi karena melihat kakek dipukul, aku menyerangnya dan aku roboh oleh tamparan. Dia memang sakti, akan tetapi ganas dan kejam, bahkan semua catatanmu dihancurkan! Sekali waktu kami akan menuntut balas, kami akan menyerang Pulau Es!"

Sin Liong menarik napas panjang.

"Lupakan saja niat itu, selain tidak baik juga tidak ada gunanya. Kerajaan Pulau Es tidak ada lagi sekarang, telah musnah."

"Hei...? Apa maksudmu, Taihiap...?"

Kakek itu bertanya, terbelalak.

"Apa yang telah terjadi?"

Soan Cu juga bertanya.

"Dilanda badai... habis seluruhnya, semua penghuninya termasuk suhu dan seluruh benda di sana habis terbasmi kecuali bangunan istana yang telah kosong sama sekali..."

Sin Liong lalu menuturkan dengan singkat malapetaka yang menimpa Pulau Es, dan betapa secara aneh dan kebetulan saja dia dan Sumoinya terluput dari bencana.

Kakek dan cucu itu mendengarkan dengan melongo kemudian kakek itu bertepuk tangan dan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Ha-ha-ha-ha! Dendam ratusan tahun lenyap dalam sekejap mata! kami orang-orang buangan yang dianggap berdosa, dianggap dikutuk tuhan, malah masih dapat hidup melanjutkan riwayat, sedangkan penghuni Pulau Es yang suci dan agung, kaum bangsawan yang tinggi, sekali sapu saja musnah! Ha-ha-ha, siapa yang lebih dilindungi tuhan? Han Ti Ong, tanpa kami bergerak, engkau dan kerajaanmu lenyap sudah!"

Kakek itu tertawa-tawa sampai air matanya keluar sehingga sukar dikatakan apakah dia itu tertawa, ataukah menangis.

"Mengapa Taihiap sekarang mencari Nona Swat Hong ke sini? Apa yang terjadi dengan dia?"

Sin Liong lalu menceritakan niat perjalanannya bersama Swat Hong, yaitu untuk mencari ibu Swat Hong yang sampai kini tidak diketahui berada di mana.

Dan betapa di jalan mereka menjadi bingung dan tersesat karena badai telah menciptakan pemanda-ngan yang berbeda di permukaan laut sehingga sehingga mereka mendarat di gunung es dan betapa dia menemukan beruang hitam.

"Sumoi berangkat melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka karena disangkanya ibunya berada di sini, sedangkan aku mengobati beruang."

Sin Liong menutup ceritanya, tentu saja dia tidak menceritakan kemarahan Swat Hong kepadanya.

"Apakah dalam beberapa hari ini dia tidak datang ke sini?"

Soan Cu menjawab.

"Untung saja dia tidak datang, Sin... eh, Taihiap."

"Soan Cu mengapa engkau meniru kakekmu, bersungkan kepadaku dan menyebut Taihiap segala?"

"Biarlah, Taihiap,"

Kata Ouw Kong Ek.

"Tidak pantas kalau dia menyebut namamu begitu saja. Dan engkau memang penolong kami dan pantas disebut Taihiap karena kepandaianmu tinggi sekali."

"Kau katakan tadi untung Sumoi tidak datang ke sini, mengapa?"

"Andaikata dia datang, tentu akan terjadi apa-apa yang tidak baik antara dia dan Kong-kong. Ketahuilah, semenjak Raja Pulau Es datang mengacau di sini, Kong-kong jatuh sakit, dan kebencian kami semua terhadap Pulau Es makin mendalam. Maka kalau Sumoimu, Swat Hong datang, tentu akan terjadi hal yang tidak baik."

Sin Liong mengangguk-angguk, merasa lega bahwa sumoinya tidak mendahului datang ke Pulau Neraka, akan tetapi juga menimbulkan kegelisahannya karena dia jadi tidak tahu ke mana sumoinya yang pemarah itu kini berada!

"Bajak-bajak laut itu, dari mana datangnya dan mengapa mengacau ke sini?"

Tanyanya.

"Entah. Tahu-tahu mereka muncul dan perahu besar mereka terdampar di tepi pulau."

"Agaknya mereka juga diamuk badai."

"Mungkin."

Soan Cu melanjutkan.

"Kami diserang selagi kong-kong sakit. Kong-kong tidak dapat turun dari pembaringan, maka aku yang menggantikannya, aku keluar menyambut mereka, akan tetapi karena kurang hati-hati, karena memandang rendah am-gi mereka, aku hampir celaka kalau tidak ada engkau yang datang di waktu yang tepat, Taihiap."

"Akan tetapi akhirnya, biarpun sakit, Kong-kongmu dapat membunuh semua bajak laut itu."

Sin Liong bergidik ngeri mengenangkan kematian para bajak itu.

"Ugh-ugh....!"

Kakek itu terbatuk-batuk.

"Bajak-bajak macam itu saja kalau aku tidak sakit, kalau Soan Cu tidak memandang rendah dan kalau para penghuni tidak baru saja diamuk badai, tidak ada artinya bagi kami. Kalau binatang-binatang Pulau Neraka tidak bersembunyi ketakutan diamuk badai, mana mereka mampu masuk? Sudahlah, sekarang saya hendak menyampaikan permohonan yang amat penting bagi Taihiap."

"Ah, Tocu, Di antara kita yang sudah menjadi sahabat, perlu apa banyak sungkan lagi? Kalau ada sesuatu, katakanlah saja, mana perlu menggunakan permohonan lagi?"

Jawab Sin Liong.

Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu turun dari bangkunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Liong!

Tentu saja pemuda ini menjadi sibuk sekali, cepat membangunkan kakek itu dan berkata.

"Tocu, harap jangan begini. Aku yang muda mana berani menerimanya? Ada keperluan apakah? katakan saja, aku tentu akan membantumu sedapat mungkin."

Sin Liong berkata dengan hati tidak enak, mengira akan menghadapi hal yang sulit.

Setelah duduk kembali dan mengatur napasnya yang terengah-engah karena kesehatannya belum pulih kembali dan tubuhnya terasa amat lelah, kakek itu berkata.

"Kwa-taihiap, aku sudah tua dan tidak mempunyai keturunan lain kecuali Soan Cu. Taihiap sudah melihat sendiri keadaan di Pulau Neraka yang merupakan tempat tidak baik untuk seorang dara seperti Soan Cu. Oleh karena itu, setelah kini kerajaan Pulau Es tidak ada, berarti bahwa Pulau Neraka telah bebas dan kami bukanlah orang-orang buangan lagi. Soan Cu juga bukan keturunan orang buangan lagi dan sewaktu-waktu kami boleh meninggalkan pulau ini. Karena itu, aku mohon dengan sepenuh hatiku, sudilah Taihiap membawa Soan Cu bersama Taihiap untuk mengenal dunia ramai, dan syukur kalau Taihiap dapat mengatur agar cucuku ini tidak usah lagi kembali dan tinggal di Pulau Neraka ini. Kuharap permohonan ini tidak akan ditolak oleh Taihiap."

Sin Liong mengerutkan alisnya.

Permintaan yang sama sekali tidak pernah disangkanya!

"Akan tetapi, Ouw-tocu, hendaknya diingat bahwa aku sendiri adalah seorang sebatangkara yang tidak mempunyai apa-apa, tidak mempunyai tempat tinggal dan masih belum kuketahui apa akan jadinya dengan diriku ini."

"Kalau Taihiap merantau, bawalah dia merantau, ke mana saja aku sudah pasrah sepenuhnya. Baik dia akan Taihiap anggap sebagai sahabat, sebagai saudara, atau kalau mungkin.... dari lubuk hatiku kuharap sebagai calon jodoh, aku sudah merasa lega dan senang, asal dia tidak tersiksa tinggal di neraka ini."

Sin Liong merasa sukar untuk menolak, akan tetapi juga berat untuk menerima, maka dia menoleh kepada Soan Cu dan berkata.

"Soal ini sebaiknya kita serahkan kepada Soan Cu sendiri. Kalau memang dia suka merantau meninggalkan pulau ini, tentu saja aku tidak keberatan mengadakan perjalanan bersama. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa aku menerima usul perjodohan Tocu, dan sewaktu-waktu dia boleh pergi ke mana saja, jadi aku tidak terikat oleh perjanjian apapun juga."

"Taihiap, jangan khawatir. Memang aku sejak dulu tidak kerasan tinggal di sini, hanya karena kedudukanku sebagai seorang keluarga buangan saja yang mencegah aku meninggalkan Pulau Neraka. Sekarang aku telah bebas, dan betapapun juga, aku akan pergi dari sini. Hanya kalau bersama Taihiap, tentu hati Kong-kong akan merasa lebih aman, dan juga untukku sendiri yang tidak ada pengalaman, melakukan perjalanan bersamamu merupakan hal yang menyenangkan sekali. Aku hendak pergi mencari ayahku, Taihiap."

"Dan aku hendak mencari Swat Hong dan ibunya."

"Kalau begitu, mari kita mencari berdua, siapa tahu dalam mencari Sumoimu itu, aku dapat bertemu dengan ayahku."

Setelah mendapat banyak pesan dan melihat Kong-kongnya, membawa pula bekal berupa pakaian dan sekantung emas simpanan Kong-kongnya, berangkatlah Soan Cu bersama Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka dengan sebuah perahu.

Selama hidupnya yang lima belas tahun itu, belum pernah Soan Cu meninggalkan pulau, maka setelah perahu meluncur jauh dan dia hampir tidak dapat melihat lagi Kongkongnya bersama semua sisa peng-huni Pulau Neraka yang mengantarkanya sampai ke pantai, Soan Cu tak dapat menahan bercucurannya air matanya.

"Soan Cu, mengapa kau menangis? Kalau kau tidak tega meninggalkan kakekmu, masih belum terlambat untuk kembali,"

Kata Sin Liong yang sebetulnya merasa tidak enak sekali memikul kewajiban ini.

Biarpun dia tidak terikat sesuatu, namun sedikit banyak dia dibebani keselamatan dara ini, dan kalau dara ini wataknya seaneh Swat Hong, dia tentu akan menjadi lebih pusing lagi!

"Ah, tidak, Taihiap.

Aku hanya merasa perih hatiku meninggalkan tempat yang sejak kulahir menjadi tempat tinggalku itu.

Orang sedunia boleh menyebutnya Pulau Neraka, akan tetapi setelah aku berangkat meninggakan pulau itu, terasa olehku bahwa disitu adalah surga."

Sin Loing tersenyum dan mendayung perahunya lebih cepat lagi.

Pernyataan yang keluar dari mulut dara ini merupakan pelajaran yang amat penting baginya, membuka matanya melihat kenyataan bahwa sorga maupun neraka itu berada dalam hati manusia itu sendiri!

Betapapun indahnya suatu tempat kalau tidak berkenan di hatinya, akan merupakan neraka, sebaliknya betapapun buruknya suatu tempat kalau berkenan di hatinya akan menjadi sorga!

Jadi, baik buruk, senang, susah, puas kecewa, semua ini bukan ditentukan oleh keadaan di luar, melainkan ditentukan oleh keadaan hati dan pikiran sendiri.

keadaan di luar merupakaan kenyataan yang wajar, dan hanya pikiranlah yang menentukan dengan menilai, membandingkan, maka lahirlah puas, kecewa, senang, susah, baik, buruk, dan lain-lain hal yang saling bertentangan itu.

Bahagialah orang yang dapat menghadapi segala sesuatu dengan mata terbuka, memandang segala sesuatu seperti apa adanya, tanpa penilaian.

tanpa perbandingan.

Orang bahagia tidak mengenal susah senang, karena bahagia bukan susah bukan pula senang, bukan puas bukan pula kecewa, melainkan suatu keadaan di atas itu semua, sama sekali tidak terganggu oleh pertentanganpertentangan itu.

Perahu yang ditumpangi Sin Liong dan Soan Cu meluncur terus, ujung depannya yang meruncing membelah air yang tenang seperti sebuah pisau membelah agar-agar biru.

Soan Cu sudah melupakan kesedihan hatinya dan kini dara itu memandang ke depan dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar penuh harapan akan masa depan yang berlainan sama sekali dengan keadaan di Pulau Neraka.

Banyak sudah dia mendengar dongeng kakeknya yang juga hanya mendengar dari nenek moyangnya tentang keadaan di dunia ramai, dan sekarang dia sedang menuju kepada kenyataan yang akan dilihatnya dengan mata sendiri!

Pusat perkumpulan Pat-jiu-kaipang (Perkumpulan pengemis Tangan Delapan) berada di lereng Pegunu-ngan Hen-san.

Dari luar, tempat itu memang pantas disebut pusat perkumpulan pengemis karena hanya merupakan tempat di dataran tinggi yang dikelilingi pagar bambu yang tingginya hampir dua kali tinggi orang, pagar yang butut dan bambu-bambu itu mengingatkan orang akan tongkat bambu yang biasa dibawa oleh para pengemis.

Akan tetapi kalau orang sempat menjenguk di dalamnya, dia akan terheran-heran menyaksikan sebuah rumah gedung yang pantas juga disebut sebuah istana kecil berdiri megah dan mewah sekali!

Inilah tempat tinggal Pat-jiu Kai-ong, Si Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kaipang di lereng Hengsan!

Pat-jiu kai-ong sudah berusia kurang lebih tujuh puluh tahun, akan tetapi dia masih kelihatan tangkas dan belum begitu tua, sungguhpun pakaianya selalu butut, sebutut tongkatnya, sama sekali tidak sesuai dengan keadaan gedungnya.

Hanya kalau hari sudah menjadi gelap saja maka berubahlah raja pengemis ini, pakaiannya diganti dengan pakaian tidur yang layaknya dipakai seorang pangeran!

Dan mulailah kehidupan yang berlawanan dengan keadaan hidupnya di waktu siang, berbeda jauh seperti bumi dan langit.

Di waktu siang, dia lebih patut disebut seorang pengemis kelaparan yang berkeliaran di sekitar rumah gedung itu.

Akan tetapi di waktu malam, dengan pakaian indah dan tubuh bersih, dia bersenang-senang makan minum dengan hidangan serba lezat dan mahal, dilayani oleh lima orang selirnya yang muda-muda, cantik dan genit.

Pat-jiu Kai-ong tinggal didalam istananya yang mewah akan tetapi yang dikelilingi pagar bambu tinggi sehingga tidak tampak dari luar itu bersama lima orang selirnya, lima orang pelayan dan selosin orang anak buahnya yang merupakan pengawal-pengawalnya.

Selosin orang ini tentu saja merupakan tokoh-tokoh dalam pat-jiu Kai-pang, karena mereka adalah pembantu yang boleh diandalkan, atau juga murid-murid tingkat satu dari raja pengemis itu.

para pengawal itu melakukan penjagaan siang malam secara bergilir dan mereka tinggal di dalam rumah samping di kanan kiri istana ketua mereka.

Adapun Pat-jiu Kai-pang mempunyai anggota yang banyak dan yang tersebar luas di kota-kota.

Dengan mengandalkan nama besar perkumpulan itu, terutama sekali nama besar Kai-ong, para anggauta itu dapat mengumpulkan sumbangan-sumbangan yang besar dan sebagian dari pada hasil sumbangan ini mereka setorkan kepada Pat-jiu kai-ong.

Inilah yang membuat raja pengemis menjadi kaya raya dan dapat hidup mewah sekali.

Selosin orang pembantunya, selain pengawal dan penjaga istananya, juga bertugas untuk turun tangan mewakili ketua mereka apabila ada cabang yang kurang dalam memberi setoran!

Pat-jiu Kai-ong sendiri yang sudah hidup makmur jarang meninggalkan istananya di Heng-san.

Hanya urusan besar saja yang dapat menariknya pergi meninggalkan tempat yang amat menyenangkan hatinya itu.

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dia ikut pula memperebutkan Sin-tong Si Anak Ajaib karena dia pada waktu itu ingin cepat-cepat menyempurnakan ilmu yang sedang diciptakan dan dilatihnya, yaitu ilmu Hiat-ciang-hoatsut (Ilmu Sihir Tangan Darah).

Jika pada waktu itu dia berhasil merebut Sin-tong, tentu dalam waktu satu tahun saja ilmunya akan sempurna.

Akan tetapi karena seperti diceritakan di bagian depan, dia gagal dan Sin-tong dibawa pergi oleh pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, maka dia harus mengorbankan puluhan orang bocah untuk dimakan otaknya dan disedot darah dan sumsumnya.

Kini dia telah mahir dengan ilmu hitam yang mengerikan itu, akan tetapi sayangnya, setiap tahun dia harus mengisi tenaga itu dengan pengorbanan seorang bocah!

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, selagi Pat-jiu Kai-ong seperti biasa meninggalkan kehidupan malamnya yang mewah, berpakaian sebagai seorang pengemis berjalan-jalan di dalam taman bunga di belakang istananya, membawa tongkat butut dan berlatih silat di waktu embun pagi masih tebal, tiba-tiba seorang pengawalnya datang menghadap dan melaporkan bahwa ada tiga orang tamu datang ingin bertemu dengan Si Raja Pengemis.

"Hemm, siapakah pagi-pagi begini sudah datang menggangguku?"

Pat-jiu Kai-ong berkata dengan alis berkerut.

Akan tetapi karena merasa penasaran, dia tidak memerintahkan pengawalnya mengusir orang itu dan terutama sekali ketika mendengar pelaporan itu bahwa yang datang adalah seorang kakek bersama dua orang muda, seorang dara jelita dan seorang muda tampan.

Hatinya tertarik sekali ketika mendengar bahwa kakek itu mengaku sebagai seorang "sahabat lama."

Ketika dia keluar membawa tongkat bututnya dan bertemu dengan tiga orang itu, Pat-jiu Kai-ong memandang tajam.

Dia kagum melihat pemuda yang amat tampan dan pemudi yang amat cantik jelita itu.

Wajah mereka yang mirip satu sama lain menunjukan bahwa mereka adalah kakak beradik, pemudanya berusia kurang lebih enam belas tahun, pemudinya lima belas atau empat belas tahun.

Sampai lama pandang mata Pat-jiu Kai-ong melekat kepada dua orang muda itu, keduanya membuat hatinya terguncang penuh kagum dan andaikata dia tidak menahan perasaannya, tentu mulutnya akan mengeluarkan air liur!

Barulah dia terkejut ketika mendengar kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Pat-jiu Kai-ong kurasa engkau belum begitu pikun untuk melupakan dua orang anakku ini. Mereka adalah Swi Liang dan Swi Nio, ha-ha-ha! Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong mengerutkan alisnya, sama sekali tidak mengenal kedua nama ini. Dia memandang dengan mata terheran kepada laki-laki yang berdiri di depannya, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sederhana berwarna kuning, dengan kepala yang beruban itu terlindung kain pembungkus rambut yang berwarna kuning pula. Kakek itu tertawa lagi.

"Wah, Pat-jiu Kai-ong, benar-benar engkau telah lupa kepada kami? Lupa kepada sahabatmu di Lusan ini?"

"Ahhhh...!"

Pat-jiu Kai-ong tertawa, mukanya berseri dan dia cepat membungkuk untuk memberi hormat.

"Kiranya sahabat Bu yang datang? Maaf, maaf, mataku sudah lamur saking tuanya sehingga tidak mengenal sahabat baik yang kurang lebih sepuluh tahun tak pernah kujumpi. Jadi ini kedua anakmu itu? Dahulu mereka baru berusia lima enam tahun, kecil dan lucu serta berani, bahkan kalau tidak salah, anak perempuanmu ini yang dahulu menantang pibu kepadaku. Ha-ha-ha!"

Dara berusia lima belas tahun yang cantik jelita itu menunduk dan kedua pipinya berubah merah.

"Harap Pangcu sudi memaafkan saya."

"Aih-aih...! Ini tentu orang tua lusan ini yang mengajarnya. Menyebutku Pangcu segala!"

"Ha-ha-ha, Pangcu. Bukankah engkau memang Ketua dari Pat-jiu Kai-pang? Mengapa tidak mau disebut Pangcu oleh puteriku?"

Kakek itu berkata.

"Wah, jangan berkelabar. Anak-anak yang baik, sebut saja aku paman. marilah masuk, kita bicara di dalam."

Pat-jiu-kai-ong lalu bertepuk tangan dan para pengawalnya muncul.

"lekas beritahukan para pelayan agar mempersiapkan hidangan makan pagi yang baik untuk tamuku yang terhormat, Lu-san Lojin (Orang Tua Dari Lusan) dan dua orang putera-puteri-nya!"

Para pengawal itu mundur dan Pat-jiu-kai-ong menggandeng tangan kakeknya itu, sambil tertawa-tawa mereka memasuki istana dan duduk di ruangan dalam menghadapi meja dan duduk di kursi-kursi yang berukir indah.

Sambil memandang ke kanan kiri mengagumi keindahan ruangan itu, Lu-san Lojin berkata memuji.

"Sungguh hebat! Lama sudah aku mendengar bahwa Pat-jiu-kai-ong tinggal disebuah istana yang megah, kiranya keadaan di sini melampau segalanya yang telah kudengar. Hebat sekali!"

Sejak tadi Pat-jiu-kai-ong merayapi tubuh pemuda dan pemudi itu dengan pandangan matanya.

Dia kagum bukan main melihat dara cantik jelita dan pemuda yang tampan dan gagah itu.

"Ha-ha, kau terlalu memuji, sahabat. Aku tidak mengira bahwa hari ini tempatku yang buruk akan meneriama kehormatan kedataangan seorang tamu agung, seorang penolongku yang budiman bersama putra dan puterinya yang begini elok."

Kedua orang tua ini lalu bercakap-cakap dengan gembira membicarakan masa lampau.

Siapakah kakek ini?

Dia adalah Lu-san Lojin, seorang ahli silat dan ahli pengobatan yang semenjak istrinya meninggal dunia, meninggalkan dua orang anak, lalu mengajak dua orang anaknya itu mengasingkan diri ke puncak Lu-san, dan di sana dia bertapa sambil mendidik dan menggembleng putera puterinya.

Sepuluh tahun yang lalu, setelah gagal merebut Sin-tong, dalam kekecewaannya Pat-jiu Kai-ong lalu mengamuk di sepanjang jalanan, menculik dan membunuhi bocah-bocah yang dianggapnya cukup sehat.

Ketika dia tiba di kaki Pegunungan Lu-san, dia berada dalam keadaan keracunan hebat.

Hal ini terjadi karena dia terlampau banyak membunuh anak laki-laki, makan otak mereka dan menghisap darah serta sumsum mereka untuk menyempurnakan ilmunya, terlampau banyak melatih diri dengan ilmu hitam Hiat-ciang Hoat-sut.

Karena hatinya yang penasaran mengapa dia tidak dapat mengalahkan Han Ti Ong dan merebut Sin-tong, maka dia lupa akan ukuran tenaga sendiri dan melatih diri dengan ilmu hitam itu, Dia terlampau terburu-buru dan akibatnya, hawa mujijat dari ilmu itu membalik dan membuat dia terluka dalam, keracunan hebat sehingga dia terhuyung-huyung dan hampir pingsan ketika tiba di kaki Pegunungan Lu-san.

Dia maklum akan keadaan dirinya, tahu bahwa dia terancam bahaya maut maka hatinya menjadi khawatir sekali.

Kebetulan baginya, pada saat itu keadaannya terlihat oleh Lu-san Lojin yang sedang turun gunung bersama putera-puterinya yang pada waktu itu baru berusia enam dan lima tahun, sebagai seorang gagah dan berilmu tinggi, Lu-san Lojin cepat menolong Pat-jiu Kai-ong.

Setelah memeriksa keadaan raja pengemis itu, dia maklum bahwa Pat-jiu Kai-ong memerlukan perawatan khusus, maka diajaknya orang ini naik ke puncak Lu-san.

Di situ Pat-jiu Kai-ong diobati Lu-san Lojin sampai sembuh.

Selama satu bulan berada di Lu-san, raja pengemis ini menerima perawatan yang amat baik dari Lu-san Lojin, maka dia merasa berterima kasih sekali dan menganggap pertapa itu sebagai penolong dan sahabat baiknya.

Juga dia mengenal dua orang bocah yang mungil itu.

Karena kebaikan hati Lu-san Lojin, biarpun dia melihat Swi Liang sebagai seorang anak yang mempunyai darah bersih dan tulang kuat, dia tidak tega untuk mengganggu anak laki-laki itu.

Di lain pihak, ketika mendengar bahwa yang ditolongnya adalah Pat-jiu kai-ong ketua Pat-jiu kai-pang, Lusan Lojin terkejut sekali.

Akan tetapi dia menjadi bangga bahwa raja pengemis yang namanya terkenal itu menganggapnya sebagai sahabat baik.

Maka setelah sembuh, mereka berpisah sebagai sahabat yang berjanji untuk saling mengunjungi dan saling membantu.

"Sungguh aku tidak tahu diri dan tidak mengenal budi,"

Setelah makan minum Pat-jiu Kai-ong berkata kepada tamunya.

"Sepatutnya akulah yang datang mengunjungi kalian di Lu-san, bukan kalian yang jauhjauh datang mengunjungi aku."

"Ahhh, mengapa kau menjadi sungkan begini? Kita bersama telah mempunyai kewajiban masing-masing sehing-ga tentu saja telah sibuk dengan pekerjaan. Kamu pun hanya kebetulan saja lewat di kaki Pegunungan Heng-san, maka aku teringat kepadamu dan mengajak kedua anakku untuk mendekati Pegunungan Hengsan mencarimu."

"Terima kasih, engkau baik sekali, Lu-san Lojin. Akan tetapi, kalau boleh aku mengetahui, kalian datang dari manakah?"

Lu-san Lojin menarik napas panjang dan menoleh kepada puteranya, memandang puterinya seolah-olah minta ijinnya, Swi Liang menganggukan kepalanya kepada ayahnya, dan menunduk.

Dianggap oleh pemuda ini bahwa Pat-jiu Kai-ong adalah seorang sahabat baik ayahnya, bahkan seperti saudara sendiri, maka tidak ada salahnya kalau raja pengemis itu mengetahui urusannya.

Siapa tahu raja pengemis itu dapat membantunya.

"Kami baru saja datang dari Lokyang, melakukan perjalanan sejauh itu dan ternyata sia-sia belaka perjalanan kami untuk mencari Tee-tok Siangkoan Houw."

"Tee-tok Siangkoan Houw? Ah, ada urusan apakah engkau mencari racun bumi itu, Lu-san Lojin?"

"Sebetulnya urusan lama, urusan perjodohan, semenjak kecil, antara Tee-tok dan aku telah terdapat persetujuan untuk menjodohkan puteraku Bu Swi Liang ini dengan puterinya yang bernama Siangkoan Hui. Akan tetapi, setelah keduanya menjadi dewasa, tidak ada berita dari Tee-tok sehingga hatiku merasa khawatir sekali. Aku sudah berusaha mencarinya, namun selalu sia-sia. Akhir-akhir ini aku mendengar bahwa dia berada di Lokyang, akan tetapi setelah jauh-jauh kami bertiga mencarinya di sana, ternyata dia tidak berada di sana pula. Hemm, sikap orang tua itu masih selalu aneh dan penuh rahasia."

"Ha-ha-ha, ala salahmu sendiri! mengapa mengikat perjanjian dengan seorang iblis seperti Tee-tok?"

"Pat-jiu Kai-ong, jangan bergurau. Ini urusan yang penting bagi kami, karena itu, kami mengharap bantuanmu yang mempunyai banyak anak buah, agar suka menyelidiki di mana kami dapat bertemu dengan Tee-tok Siangkoan Houw."

"Baik, baik... jangan khawatir. Akan kusuruh anak buahku menyelidikinya, dan kalian bermalamlah di sini, jangan tergesa-gesa pulang."

Lu-san Lojin menggeleng kepala.

"Sudah terlalu lama kami meninggalkan pondok, kami hanya dapat bermalam untuk satu malam saja. Besok pagi-pagi kami harus melanjutkan perjalanan."

"Semalaman cukuplah, Biar kupergunakan untuk menjamu kalian sepuas hatiku."

Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk di luar istana raja pengemis itu.

Tak lama kemudian dua orang pengawal pribadi Kai-ong masuk dengan muka pucat dan kelihatan takut.

"Ada apa? mau apa kalian meng-ganggu kami?"

Kai-ong membentak marah dan menurunkan cawan araknya keras-keras ke atas meja sehingga meja itu tergetar.

"Pangcu... ampunkan kami berdua... terpaksa kami mengganggu karena ada peristiwa yang amat aneh dan mengkhawatirkan kami semua."

"Apa yang terjadi? Hayo cepat ceritakan."

Dengan wajah ketakutan, seorang di antara dua orang pengawal itu lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi di luar istana.

Karena Pangcu sedang menjamu tamu, para pengawal menjaga di luar dan mereka sedang mengagumi seekor ayam jago kesayangan Pat-jiu Kai-ong.

Raja pengemis itu memang suka sekali memelihara ayam jago dan kadang-kadang mengadunya.

Pagi hari itu seperti biasa, seorang pelayan memandikan dan memberi makan ayam jago itu, dan memuji-mujinya sebagai jago peranakan tanah selatan yang amat baik.

Tiba-tiba ayam jago itu menggelepar di dalam kedua tangannya, darah muncrat dan ayam itu mati, dadanya ditembusi sehelai benda lembut yang kemudian ternyata adalah sebatang daun!

Di tangkai daun itu terdapat sehelai kain yang ada tulisannya.

"Kami telah meloncat dan mencari di sekeliling, akan tetapi tidak ada bayangan seorang pun manusia, Pangcu. Agaknya hanya iblis saja yang dapat menggunakan sehelai daun untuk menyambit dan membunuh ayam jago dan...."

"Cukup!"

Raja pengemis itu marah sekali mendengar jagonya dibunuh orang.

"Kalian tolol semua! Mana kain yang ada tulisan itu!"

Kepala pengawal yang mukanya penuh bewok itu dengan kedua tangan gemetar, menyerahkan sehelai kain putih kepada ketuanya.

kain itu ada tulisannya dengan huruf-huruf kecil berwarna hitam, akan tetapi ada noda-noda darah, darah ayam jago tadi.

Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong yang menerima kain itu, sejenak menjadi bingung dan baru ia teringat bahwa dia tidak mampu membaca.

Dia buta huruf!

Dengan jengkel dan agak malu dia lalu melemparkan kain itu kepada Lu-san Lojin sambil berkata.

"Harap kau bacakan ini untukku!"

Lu-san Lojin menyambar kain yang melayang ke arahnya itu, lalu matanya memandang tulisan. Mukanya berubah, matanya terbelalak.

"Wah... apa artinya ini?"

"Lojin! bagaimana bunyinya?"

Pat-jiu Kai-ong bertanya, suaranya membentak. Lu-san Lojin lalu membaca huruf-huruf itu.

"Malam ini, semua mahluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!"

Ratu Pulau Es.

"Ratu Pulau Es...?"

Pat-jiu Kai-ong tertawa.

"Siapakah dia? Aku tidak mengenalnya. Hai pelawak dari manakah yang main-main seperti ini? Ha-ha-ha, biar dia datang hendak kulihat bagaimana macamnya!"

"Kai-ong, harap jangan main-main. Biarpun hanya seperti dalam dongeng, nama Pulau Es amat terkenal, katanya penghuninya memiliki kepandaian seperti dewa, apalagi dahulu yang terkenal dengan sebutan Pangeran Han Ti Ong...."

"Ha-ha-ha, siapa perduli? Aku tidak ada permusuhan dengan Han Ti Ong, bahkan dia yang pernah mengganggu aku. Mengapa sekarang ada ratu dari sana hendak membunuhku dengan ancaman sesombong itu? Aku tidak percaya. He, pengawal apakah kalian tahu akan isi surat?"

Dua orang pengawal itu mengangguk.

"Sudah Pangcu."

"Apa kalian takut?"

"Ti... tidak, Pangcu, Hanya... hanya amat aneh itu..."

"Sudahlah. Setelah kalian tahu isinya, hayo kalian dua belas orang melakukan penjagaan yang ketat terutama malam ini. Kita jangan mudah digertak lawan yang membadut! Biarkan dia datang, kita tangkap dia dan kita permainkan dia, ha-ha-ha!"

"Kai-ong harap hati-hati...."

Kata Lu-san Lojin setelah para pengawal itu keluar dari ruangan itu.

"Ha-ha-ha, mengapa khawatir? Apalagi baru seorang badut, biar Han Ti Ong sendiri yang datang, setelah kini Hiat-ciang Hoat-sut kulatih sempurna, aku takut apa?"

Kakek dari Lu-san itu kelihatan ragu-ragu, akan tetapi untuk menyatakan bahwa dia takut, tentu saja dia tidak mau dengan hati berat dia bersama dua orang anaknya menemani tuan rumah makan minum dan bercakap-cakap sampai lewat tengah hari.

Kemudian mereka dipersilahkan mengaso sejenak dalam kamar tamu, akan tetapi menjelang senja, mereka sudah dipersilahkan makan minum lagi.

Sekali ini mereka benar-benar takjub.

Melihat Pat-jiu Kai-ong kini bertukar pakaian, pakaian malam yang indah dan mewah!

Mengingat betapa siang tadi Kai-ong merupakan seorang pengemis yang berpakaian butut, dan kini seperti seorang raja, benar-benar membuat Lu-san Loji hampir tertawa, seperti melihat seorang badut pemain lenong!

Dan hidangan yang dikeluarkan di meja juga istimewa, jauh lebih lengkap daripada siang tadi!

"Ha-ha, ayo makan minum.

Kita berpesta sampai kenyang!"

Kata tuan rumah itu mempersilahkan tamu-tamunya.

Setelah hidangan tinggal sedikit dan perut mereka kenyang sekali, Pat-jiu Kai-ong mengusap-ngusap bibirnya yang berminyak dan perutnya yang gendut, matanya memandang ke arah Bu Swi Liang dan Bu Swi Nio penuh gairah, lalu dia berkata, kata-kata yang sama sekali tidak pernah disangka oleh para tamunya dan yang membuat mereka terkejut setengah mati.

"Lu-san Loji, sekarang kau tidurlah dalam kamarmu dan jangan hiraukan badut yang hendak mengganggu. Adapun dua orang anakmu ini, yang cantik jelita dan tampan gagah, biarlah mereka berdua bersenang-senang dengan aku dalam kamarku, ha-ha-ha!"

"Kai-ong!"

Lu-san Lojin membentak.

"Apa... maksud kata-katamu ini?"

Pat-jiu Kai-ong memandang tamunya sambil tersenyum lebar.

"Apa maksudnya? Swi Liang begini tampan gagah dan Swi Nio cantik jelita dan segar, sungguh aku suka sekali kepada mereka. Kalau mereka bedua bersama dengan aku dalam kamarku, tentu mereka akan terlindung dan....hemmm, aku ingin sekali bersenang dengan mereka, tidur-tiduran dengan mereka sejenak."

"Kai-ong, apa kau gila??"

Lu-san Lojin hampir tidak dapat percaya akan pendengaranya sendiri.

"Eh, mengapa? Apa salahnya aku tidur dengan dua orang keponakanku ini? Heh-heh, tak tahan aku melihat puterimu yang muda dan cantik segar, dan puteramu yang tampan dan ganteng ini. Anak-anak baik, marilah kalian layani pamanmu..."

"Keparat!"

Lu-san Lojin melompat ke depan dan dua orang anaknya yang berada di belakangnya pun sudah siap dengan pedang di tangan.

"Pat-jiu Kai-ong! Harap kau jangan main gila dan jelaskan apa sebabnya perubahan sikapmu ini. Mau apa engkau dengan anak-anakku?"

"Ha-ha-ha! Siapa main gila? Sebelum kalian muncul, tidak pernah ada terjadi apa-apa di sini. Akan tetapi begitu kalian muncul, muncul pula orang aneh yang membunuh ayamku dan mengeluarkan ancaman. Siapa lagi kalau bukan teman dan kaki tanganmu? Dan kau tentu sudah mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong tidak pernah menyia-nyiakan kecantikan seorang dara remaja seperti putermu ini dan puteramu yang tampan ini tentu memiliki otak yang bersih, darah yang segar dan sumsum yang kuat. Perlu sekali untuk menambah keampuhan Hiat-ciang Hoat-sut agar makin kuat menghadapi lawan kalau malam ini ada yang berani datang!"

"Iblis jahanam! Kiranya engkau seorang manusia iblis yang busuk!"

Lu-san Lojin sudah menerjang maju dengan kepalan tangannya.

Kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sebagai bekas murid Hoa-sanpai yang sudah memperdalam ilmunya dengan ciptaanya sendiri, hasil renungannya di waktu bertapa.

Kepalan tangnnya menyambar dahsyat, mengandung tenaga sinkang yang amat kuat.

Akan tetapi kiranya hanya dalam ilmu pengobatan saja dia menang jauh dibandingkan dengan Pat-jiu Kai-ong.

Dalam ilmu berkelahi, dia tidak mampu menandingi Kai-ong yang amat lihai.

Sambil tertawa, Kai-ong mengebutkan ujung lengan bajunya yang lebar dua kali dan kakek Lu-san itu terpaksa harus menarik kembali kedua tanganya karena dari kedudukan menyerang, dia malah menjadi yang diserang karena pergelangan kedua tangannya terancam totokan ujung lengan baju itu!

dua orang naknya yang sudah marah sekali karena merasa dihina, sudah menerjang maju pula dengan pedang mereka.

Swi Liang menusuk dari samping kiri ke arah lambung kakek pengemis itu, sedangkan dari kanan Swi Nio membabatkan pedangnya ke arah leher.

"Ha-ha, bagus! Kalian benar-benar menggairahkan!"

Kata kakek itu dan dia bersikap seolah-olah tidak tahu bahwa dirinya diserang.

Akan tetapi setelah kedua pedang itu menyambar dekat, tiba-tiba kedua tangannya menyambar dan....

dua batang pedang itu telah dicengkramnya dengan telapak tangan!

Swi Liang dan Swi Nio terkejut bukan main, akan tetapi melihat betapa kedua batang pedang mereka itu dipegang oleh tangan kakek itu, mereka cepat menggerakan tenaga menarik pedang dengan maksud melukai telapak tangan Pat-jiu Kai-ong.

Namun usaha mereka ini sia-sia belaka, pedang mereka tak dapat dicabut, seolah-olah dicengkeram jepitan baja yang amat kuat.

"Manusia tak kenal budi!"

"wirrrr... tar-tar!"

Pat-jiu Kai-ong merasa terkejut melihat menyambar-nya sinar kuning dan ternyata bahwa Lu-san Lojin melolos sabuknya yang berwarna kuning dan kini menggunakan sabuk itu sebagai senjata.

Kakek ini memang memiliki tenaga sinkang yang kuat, dan memainkan sabuk sebagai senjata sudah merupakan kehaliannya.

Sabuk lemas di tangannya itu dapat bergerak seperti pecut, dapat pula menjadi sebatang senjata yang kaku dengan pengerahkan sinkangnya.

"Krekk-krekkk!"

Dua batang pedang itu patah-patah dalam cengkraman Pat-jiu Kai-ong dan sambil melompat mundur menghindarkan sambaran ujung sabuk, raja pengemis ini menyambitkan dua ujung pedang yang dipatahkanya ke arah Lu-san Lojin.

"Trang-tranggg!"

Dua batang ujung pedang itu terlempar ke lantai ketika ditangkis oleh ujung sabuk (ikat pinggang) dan kini Lu-san Lojin mendesak ke depan dengan putaran senjatanya yang istimewa.

Sedangkan kedua orang anaknya telah mundur dan hanya menonton di pinggir karena mereka terkejut menyaksikan pedang mereka dipatahkan begitu saja oleh kedua tangan lawan dan mereka sama sekali tidak berdaya dan tidak berguna membantu ayah mereka.

Pada saat itu, muncullah empat orang pengawal yang mendengar suara ribut-ribut.

Melihat mereka, Pat-jiu Kai-ong berkata.

"Tangkap dua orang muda ini, akan tetapi awas, jangan lukai mereka!"

Empat orang pengawal itu segera menubruk maju hendak menangkap Swi Liang dan Swi Nio.

Tentu saja kakak beradik ini melawan sekuat tenaga, akan tetapi biarpun keduanya memiliki ilmu silat tinggi, namun empat orang pengawal itu pun merupakan murid-murid terpandai dari Pat-jiu Kai-ong, maka ketika dua orang di antara mereka menggunakan tongkat, dalam belasan jurus saja Swi Liang dan Swi Nio dapat ditotok dan roboh dan lumpuh.

"Ha-ha-ha, belenggu kaki tangan mereka baik-baik... kemudian lempar mereka ke atas tempat tidurku... haha-ha!"

Pat-jiu Kai-ong tertawa sambil menyambar tongkatnya.

Setelah dia bertongkat, maka kini dia menghadapi Lu-san Lojin dengan lebih leluasa.

Kakek dari Lu-san itu marah bukan main melihat putera dan puterinya digotong pergi dari ruang itu.

Dia mengejar dan menggerakan ikat pinggangnya, namun Pat-jiu Kai-ong menghadangnya sambil tertawa-tawa dan menyerangnya dengan tongkatnya sehingga terpaksa kakek Lu-san itu melayaninya bertanding.

Pertandingan yang amat seru dan diam-diam Pat-jiu Kai-ong harus mengaku bahwa ilmu kepandaian kakek yang pernah menolongnya ini memang hebat.

"Pat-jiu Kai-ong, benar-benarkah kau lupa akan budi orang? Aku pernah menyelamatkan nyawamu, apakah sekarang engkau mencelakakan kami bertiga?"

Lu-san Lojin berkata membujuk karena khawatir melihat nasib puterinya.

"Ha-ha-ha, dahulu memang engkau pernah menolongku, akan tetapi sekarang kalian datang dengan niat buruk!"

"Tidak! Kau salah duga! Kami tidak ada sangkut pautnya dengan si pembunuh ayam!"

"Ha-ha-ha, Lu-san Lojin! Kalian menyelundup ke dalam dan bergerak dari dalam, sedangkan setan itu bergerak dari luar. Begitukah?"

Tongkat di tangan Pat-jiu Kai-ong menyambar ganas.

"Plak-plakk!"

Ujung sabuk kakek Lu-san menangkis dua kali akan tetapi dia merasa betapa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga Si Raja Pengemis itu benar-benar amat kuat.

"Pat-jiu Kai-ong, kau salah menduga, kami tidak ada hubungan dengan musuh yang datang. Lepaskan kedua anakku dan kau berjanji akan membantumu menghadapi musuh gelap itu."

"Wah, berat kalau disuruh melepaskan. Lu-san Lojin, dengan baik-baik. Aku tergila-gila melihat anak-anakmu. Pinjamkan mereka kepadaku untuk satu dua malam, dan kau bantu aku menghadapi musuh, baru aku akan membebaskan kalian."

"Iblis busuk!"

Lu-san Lojin marah sekali dan dengan nekat dia lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan raja pengemis ini karena dia maklum bahwa betapapun juga hati yang kotor dari raja pengemis itu tidak mudah dibujuk.

Satu-satunya jalan untuk menolong anak-anaknya adalah melawan mati-matian.

"Plakkk!"

Tiba-tiba ujung sabuk melibat tongkat, keduanya saling betot untuk merampas senjata.

Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berhasil merampas senjata lawan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Pat-jiu Kai-ong untuk menggerakan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah lawan.

Lu-san Lojin terkejut melihat telapak tangan yang menjadi merah seperti tangan berlumuran darah itu.

Dia belum pernah mengenal limu Hiat-ciang Hoat-sut dari raja pengemis itu, namun dia pernah mendengar akan hal ini, tahu pula betapa keji dan berbahayanya ilmu itu.

Akan tetapi untuk mengelak dia harus melepaskan sabuknya dan hal ini pun amat berbahaya.

Dengan senjata itu saja dia masih kewalahan melawan Pat-jiu Kai-ong, apalagi tanpa senjata, maka dengan nekat dia lalu menggerakan tangan pula menyambut pukulan itu.

"Dessss...! Aduhhh...!!"

Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya tubuh Lu-san Lojin terjengkang dan terbanting ke atas lantai, mulutnya mengeluarkan darah segar dan matanya mendelik.

Kakek ini pingsan dan menderita luka dalam yang amat parah!

"Lempar dia di kamar tahanan!"

Pat-jiu Kai-ong berkata sambil tertawa.

Setelah tubuh kakek yang pingsan itu digusur pergi oleh para pengawalnya.

Pat-jiu Kai-ong menghampiri meja di mana dia tadi menjamu para tamunya, menyambar guci arak dan menenggaknya habis, kemudian sambil tertawa-tawa dia memasuki kamarnya.

Pemuda dan pemudi She Bu itu sudah rebah terlentang di atas pembaringan Pat-jiu Kai-ong yang lebar.

Dalam keadaan terbelenggu kaki tanganya.

Lima orang selirnya menjaga di situ.

Ketika dia masuk sambil tertawa gembira, Bu Swi Liang memandang dengan mata melotot penuh kebencian, akan tetapi Bu Swi Nio memandang dengan mata terbelalak ketakutan dan mencucurkan air mata.

Pat-jiu Kai-ong menghampiri pembaringan, menggunakan tangannya untuk membelai dan menghusap pipi Swi Nio dan Swi Liang sambil berkata.

"Manis, jangan menangis dan kau jangan marah. Aku akan menemani kalian dan bersenang-senang sepuas hati setelah kami menangkan musuh gelap yang mengancam."

Dia menengok ke arah lima orang selirnya dan berkata garang.

"Temani mereka, jaga baik-baik jangan sampai ada yang lolos, dan kalau ada apa-apa, cepat berteriak memanggil para pengawal. Mengerti?"

Lima orang selir itu mengangguk dan kakek itu meninggalkan kamar lagi.

Sebelum orang yang membunuh ayam jagonya dan yang mengirim surat ancaman itu dapat ditangkap atau dibunuh, tentu saja dia tidak bernafsu untuk bersenang-senang dengan dua orang muda yang tertawan itu.

Dia percaya penuh bahwa menghadapi seorang pengacau saja, para pengawalnya akan dapat mengatasinya, akan tetapi dia harus berhati-hati dan ikut melakukan penjagaan sendiri.

Setelah keadaan benar-benar aman barulah dia boleh bersenag-senang.

Dia belum yakin benar apakah musuh gelap itu ada hubu-ngannya dengan Lu-san Lojin dan kedua orang anaknya, akan tetapi ada hubungan atau tidak, setelah tiga orang itu dibuat tidak berdaya, berarti mengurangi bahaya.

Dia harus berhati-hati, maklum bahwa dia mempunyai banyak musuh.

Siapa tahu kalau Lu-san Lojin yang termasuk golongan putih itu juga memusuhi.

Andaikata tidak sekalipun, mana bisa dia melepaskan dua orang muda yang cantik jelita dan tampan itu?

Pat-jiu Kai-ong duduk lagi di ruangan tadi sambil melanjutkan minum arak.

Dia maklum bahwa malam ini dua belas orang pengawalnya menjaga dengan tertib dan penuh kewaspadaan.

Ingin dia tertawa keras-keras mengusir kesunyian malam yang mendatangkan perasaan tidak enak.

Hemmm, Ratu Pulau Es?

Hanya dongeng!

Pembunuh ayam itu tidak perlu ditakuti.

Andaikata dia mampu mengalahkan dua belas orang pengawalnya, hal yang sukar dipercaya, masih ada dia sendiri.

Hiat-ciang Hoat-sut, ilmu yang dilatihnya belasan tahun kini telah dapat diandalkan.

Tadipun, hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya saja, ilmu itu telah merobohkan Lu-san Lojin.

Dia tidak takut!

"Aku tidak takut!"

Serunya kuat-kuat.

"Datanglah kamu, hai Ratu Pulau Es keparat! Ha-ha-ha!"

Para pelayan sudah menyalakan lampu-lampu penerangan dan atas perintah para pengawal, pelayanpelayan ini menambah jumlah lampu sehingga keadaan di seluruh gedung itu menjadi terang.

Setelah menyuruh para pelayan membersihkan meja di ruangan itu, dan sekali lagi memanggil kepala pengawal dan menekankan agar penjagaan diperketat dan selalu diadakan perondaan bergilir, Pat-jiu Kai-ong lalu duduk bersila di dalam ruangan itu untuk mengumpulkan tenaga dan mempertajam pendengarannya sehingga biarpun dia berada di dalam istana, namun dia ikut pula menjaga dan meronda mempergunakan ketajaman pendengarannya untuk menangkap semua suara yang tidak wajar di luar istana.

Malam makin larut dan keadaan sunyi sekali di istana itu dan sekitarnya.

Para pelayan yang mendengar dari para pengawal, dengan muka pucat tinggal berkelompok di kamar seseorang di antara mereka, tidak berani membuka suara dan hanya saling pandang dengan mata penuh rasa takut.

Para selir juga berkelompok di dalam kamar Pat-jiu Kai-ong, agar terhibur dengan adanya Swi Liang pemuda yang tampan itu.

Bahkan ada di antara mereka yang tanpa-malu-malu membelai pemuda itu, memegang tangannya, mengusap dagunya, membereskan rambutnya.

Akan tetapi mereka tidak berani berbuat lebih dari itu, dan tidak berani mengeluarkan suara.

Juga para pengawal agaknya melakukan penjagaan dengan teliti dan hati-hati, tidak bersuara seperti biasanya kalau mereka melakukan penjagaan tentu diisi dengan sendau gurau dan mengobrol.

Kesunyian yang mengerikan itu tidak menyenangkan hati Pat-jiu Kai-ong.

Akan tetapi dia amat memerlukan kesunyian ini agar penjagaan dilakukan lebih tertib dan rapi pula.

dia merasa tersiksa dan diam-diam dia memaki musuh gelap itu.

Kalau sampai tertawan, tentu akan dihukum dan disiksanya seberat mungkin!

Tiba-tiba terdengar suara jeritan susul-menyusul yang datangnya dari dalam kamarnya!

Pat-jiu Kai-ong cepat melompat dan hanya dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah menerjang masuk ke dalam kamarnya.

Dilihatnya kelima orang selirnya menangis dan kelihatan gugup dan ketakutan, akan tetapi dua orang muda yang tadi terbelenggu di atas pembaringannya, seperti dua tusuk daging panggang yang dihidangkan di atas meja makan dan siap untuk diganyangnya, kini telah lenyap tanpa bekas!

"Apa yang terjadi?

Keparat, diam semua!

Jangan menangis, apa yang terjadi?"

Lima orang selir itu menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka bercerita dengan suara gagap.

"Ada... ada... setan...., hanya tampak bayangan berkelebat ke atas ranjang dan... dan mereka berdua... tahu-tahu telah lenyap..."

"Tolol!!"

Pat-jiu Kai-ong berkelebat keluar melalui jendela kamar yang terbuka, terus berloncatan memeriksa sampai dia bertemu dengan para pengawal di luar istana, namun dia tidak melihat jejek dua orang tawanan yang lenyap itu.

"Kalian tidak melihat orang masuk?"

Bentaknya kepada para pengawal.

"Tidak ada, Pangcu."

"Bodoh! Kalau tidak ada, bagaimana dua orang tawanan itu lenyap?"

Kagetlah para pengawal itu dan Pat-jiu Kai-ong, dibantu oleh para pengawalnya lalu mengadakan pemeriksaan di dalam istana.

Mula-mula timbul dugaannya bahwa tentu Lu-san Lojin dan dua orang anaknya itu benar-benar mempunyai kawan-kawan di luar, buktinya kedua orang muda itu ditolong mereka.

Akan tetapi ketika dia menjenguk kedalam kamar tahanan, Lu-san Lojin masih mengeletak pingsan di atas lantai!

"Cepat lakukan penjagaan tadi.

Tutup semua jalan masuk!

Bagi-bagi tenaga!"

Pat-jiu Kai-ong memerintah dengan suara yang agak parau karena harus diakuinya bahwa jantungnya tergetar juga oleh rasa gentar menyaksikan sepak terjang musuh gelap yang aneh dan amat luar biasa itu.

Setelah sekali lagi memeriksa sendiri dengan memepersiapkan tongkat ditangan, sampai tidak ada lubang yang tidak dijenguknya di dalam dan di sekitar gedungnya dan mendapatkan keyakinan bahwa tidak ada orang bersembunyi di dalam gedung, Pat-jiu Kai-ong kembali ke dalam ruangan besar dan menanti dengan jantung berdebar.

Malam telah makin larut dan musuh yang aneh itu telah mulai memperlihatkan bahwa musuh itu memang ada dengan menculik dua orang tawannan itu secara aneh.

Biarpun lima orang selirnya bukan ahli-ahli silat tinggi, namun lima pasang mata tidak dapat melihat orang yang menculik pemudapemudi itu di depan hidung mereka, sungguh merupakan hal yang amat aneh!

Pat-jiu Kai-ong bergidik dan membalik-balik gudang ingatan di dalam otaknya.

Siapakah Ratu Pulau Es?

Apalagi dengan ratunya, dengan penghuni Pulau Es dia tidak pernah bertemu, kecuali satu kali dengan Han Ti Ong ketika memperebutkan Sin-tong.

Dan di mana adanya pulau dongeng itu dia pun tidak tahu.

Pertemuannya dengan Han Ti Ong tidak boleh dianggap permusuhan, dan adaikata ada yang sakit hati, kiranya sakit hati itu seharusnya datang dari dia, bukan dari pihak Pulau Es atau Han Ti Ong yang telah berhasil menangkan perebutan atas diri Sin-tong!

Mengapa kini muncul tokoh rahasia yang mengaku bernama Ratu Pulau Es?

Siapakah yang bermain-main dengan dia?

Melihat sepak terjang orang rahasia ini, caranya membunuh ayam, dapat dipastikan bahwa orang itu kejam dan aneh, ciri seorang tokoh golongan hitam, bukan golongan putih yang selalu datang secara berterang.

Siapakah tokoh golongan hitam yang memusuhinya?

Tentu saja banyak, dan di antara mereka, yang paling menonjol adalah Kiam-mo Cai-li Liok Si!

Wanita itukah yang kini datang mengganggunya?

"Ha-ha-ha!"

Dia tertawa keras-keras, hatinya menjadi besar.

Mengapa dia takut?

Andaikata Kia-mo Cai-li sendiri yang datang, diapun tidak takut!

Dan siapakah lain wanita di dunia Kang-ouw yang lebih mengerikan daripada Kiam-mo Cai-li?

"Iblis atau manusia, jantan atau betina, keluarlah dari tempat persembunyian!

Hayo serbulah, aku Pat-jiu Kai-ong tidak takut kepada siapa pun juga!

Kalau kau diam saja, berarti kau pengecut hina dan penakut, ha-ha-ha-ha!"

Karena merasa tersiksa oleh keadaan sunyi yang mengerikan itu, Pat-jiu Kai-ong (Lanjut ke

Jilid 10) Bu Kek Siansu (Seri ke 01 Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 berusaha mengusir rasa takutnya dengan teriakan keras ini yang tentu saja didengar oleh semua penghuni gedung itu.

Dan agaknya, sebagai sambutan atas tantangannya, tiba-tiba terdengar suara ayam jagonya yang berada di belakang, di kandang ayam, berkeruyuk keras sekali!

"Ha-ha-ha!"

Pat-jiu Kai-ong tertawa mendengar ayamnya sendiri yang menjawab, akan tetapi tiba-tiba dia terkejut dan mukanya berubah.

Keruyuk ayamnya itu berhenti setengah jalan dan terputus oleh suara "kok!"

Suara ayam kesakitan!

Suara ini disusul suara berkotek riuh dari ayam-ayam betina di dalam kandang, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu mereka akan tetapi suara berkotek ini pun berhenti setengah jalan dan bekali-kali terdengar suara "kok"

Suara ayam dicekik atau dihentikan suara dan hidupnya! "Keparat...!!"

Pat-jiu Kai-ong yang bermuka merah saking marah-nya itu sudah meloncat keluar dan langsung lari ke kandang.

Hampir dia bertubrukan dengan dua orang pengawal yang juga mendengar keanehan di kandang itu.

Kini dengan sebuah obor yang dipegang oleh pengawal, mereka bertiga memeriksa kandang dan di bawah sinar obor tampaklah oleh mereka bahwa dua puluh ayam yang berada di kandang itu, jantan, betina, semua telah tewas dengan leher putus!

Darah merah muncrat ke mana-mana, membuat lantai dan dinding kandang itu menjadi merah mengerikan.

"Jahanam...!"

Pat-jiu Kai-ong memaki dan mereka bertiga sejenak menjadi seperti arca memandang ke dalam kandang.

Sunyi di situ, bahkan tidak ada angin berkelisik, membuat suasana menjadi menyeramkan.

"Ngeooonggg...!"

Suara kucing yang tiba-tiba terdengar ini yang membuat mereka tersentak kaget dan memandang ke atas genting.

Si Putih satu-satunya kucing peliharan di gedung itu, berkelebat melompat sambil menggereng, seolah-olah menghadapi musuh dan marah.

Akan tetapi gerengannya terhenti tiba-tiba dan Pat-jiu Kai-ong cepat melompat ke kiri ketika ada benda jatuh dari atas genteng menimpanya.

"Bukkk!"

Ketika pengawal yang membawa obor mendekat, ternyata yang terjatuh itu adalah bangkai kucing Si Putih yang baru saja mengeong tadi! "Jahanam...!"

Pat-jiu Kai-ong memaki untuk kedua kalinya dan tubuhnya sudah melayang ke atas genting, diikuti oleh dua orang pengawalnya.

Melihat betapa obor yang dipegang pengawal itu tidak padam ketika dia meloncat ke atas genting membuktikan bahwa pengawal itu sudah memiliki ginkang yang hebat.

Akan tetapi kembali ketiganya termangu-mangu di atas genting karena tidak tampak bayangan seorang manusian pun.

Keadaan sunyi.

Sunyi ekali, terlampau sunyi seolah-olah gedung itu telah berubah menja-di tanah kuburan!

"Hung-hung!

Huk-huk-huk...!!"

Riuhlah suara tiga ekor anjing peliharaan gedung itu menggonggong dan menyalak-nyalak di sebelah kanan gedung.

Suara ini mengejutkan mereka, apalagi suaran gonggongan mereka yang riuh rendah itu tiba-tiba ditutup dengan suara "kaing...!

nguik...

nguikkk...

nguikkkkk!"

Dan suasana menjadi sunyi kembali, lebih sunyi dari tadi sebelum terdengar gonggongan anjing-anjing itu.

"Bedebah...!"

Pat-jiu Kai-ong melompat dari atas genting, tidak dapat disusul oleh dua orang pengawalnya itu saking cepatnya dan sebentar saja dia sudah tiba di sebelah kanan gedungnya, di kandang anjing.

Seperti sudah dikhawatirkannya, tiga ekor anjing itu sudah menggeletak mati dengan leher hampir putus dan darah mengalir di bawah bangkai mereka.

Tiga orang pengawal yang terdekat sudah tiba pula dan mereka saling pandang dengan muka berubah pucat!

Seperti terngiang di telinga Pat-jiu Kai-ong suara Lu-san Lojin ketika membacakan isi surat.

"Malam ini, semua mahluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong, dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!"

Semua binatang peliharaannya, ayam, kucing, dan anjing, sudah mati semua dan sekarang tentu tiba gilirannya manusianya!

Teringat akan ini, Pat-jiu Kai-ong cepat berkata, suaranya sudah mulai gemetar "Cepat, semua berkumpul denganku di dalam gedung...!"

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh jeritan-jeritan di sebelah luar dan di depan gedung itu.

Mereka cepat berlari menuju ke depan gedung dan tampaklah oleh mereka dua orang pengawal yang berjaga di luar sudah menggeletak tak bergerak di atas tanah.

Ketika seorang pengawal yang membawa obor mendekat, Pat-jiu Kai-ong melihat bahwa dua orang pengawalnya yang terlentang itu telah tewas dengan mata melotot dan dari mata, hidung, telinga, dan mulut keluar darah hitam sedangkan di dahi mereka itu tampak jelas cap jari tangan yang kecil panjang, tiga buah banyaknya dan mudah dilihat bahwa itu adalah tanda jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis.

Begitu dalam gambar jari itu sampai garis-garisnya tampak!

"Kurang ajar!

Mari kita berkumpul semua...!"

Akan tetapi kembali terdengar pekik mengerikan dari sebelah kiri gedung.

Mereka kembali berlari-lari ke tempat itu dan melihat tiga orang pengawal lain sudah menjadi mayat dalam keadaan yang sama seperti dua orang korban pertama.

Segera tersusul pula pekik-pekik mengerikan itu dari belakang gedung.

Pat-jiu Kai-ong dan tiga orang pengawalnya ini, termasuk pengawal kepala Si brewok, mengejar ke belakang dan empat orang pengawal sudah menggeletak tewas dalam keadaan mengerikan, presis seperti yang lain.

Dalam sekejap mata saja sembilan orang pengawal telah tewas.

Mereka itu berada di depan, di sebelah kiri, di belakang gedung, akan tetapi kematian mereka susul menyusul begitu cepatnya, seolah-olah banyak musuh yang datang dari berbagai jurusan.

Namun, biarpun mulutnya tidak menyataakan sesuatu, Pat-jiu Kai-ong maklum bahwa tanda dari jari tangan itu dibuat oleh jari tangan yang sama, dan bahwa pembunuhnya itu hanya satu orang saja, seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa sehingga para pengawal itu agaknya sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan.

Tiga orang pengawal saling pandang dengan muka pucat.

Melihat muka mereka, Pat-jiu Kai-ong menjadi penasaran dan merah sehingga timbul kembali keberaniannya yang tadi agak berkurang karena jerih.

Dia berteriak memaki.

"jahanan pengecut! Hayo keluarlah dan lawan aku Pat-jiu Kai ong!"

Setelah dia mengeluarkan kata-kata ini dengan suara nyaring, keadaan menjadi sunyi sekali, sunyi yang amat menggelisahkan dan menyeramkan, seolah-olah dalam kegelapan dan kesunyian malam itu tampak mulut iblis menyeringai dan menanti saat untuk menerkam dan mencabut nyawa!

Pat-jiu Kai-ong makin penasaran.

Dia sendiri adalah seorang manusia yang dikenal sebagai iblis, jarang menemui tandingan dan ditakuti banyak orang dari semua golongan.

Akan tetapi malam ini dia, Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kai-pang yang terkenal, memiliki anggauta ratusan orang banyaknya, seorang di antara datuk kaum sesat atau golongan hitam yang ditakuti orang, dia dipermainkan orang!

Dan orang itu, kalau melihat namanya sebagai ratu tentulah seorang wanita!

Apa lagi dia melihat bahwa bekas jari tangan di dahi para korban itu pun jari tangan wanita yang kecil meruncing!

"Hem, pengecut benar dia.

"katanya kepada tiga orang pengawalnya yang diam-diam telah kehilangan separuh dari nyali mereka.

"Kita harus menggunakan pancingan. Biar aku mengintai dari atas, kalian berjalan-jalan di sini. kalau dia muncul menyerang, aku tentu dapat melihatnya dan aku akan meloncat turun. Bersiaplah kalian!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakan ringan seperti seekor kelelawar, Pat-jiu Kaiong melompat ke atas genteng dan mendekam di wuwungan sambil mengintai.

Dia melihat tiga orang pengawalnya itu masing-masing telah mencabut senjata mereka.

Si Brewok menggunakan sebatang tombak panjang yang ujungnya berkait, orang ke dua mengeluarkan golok besar dan orang ketiga sebatang pedang.

Mereka berdiri saling membelakangi dan mata mereka memandang tajam ke depan, telinga mereka memperhatikan setiap suara.

Akan tetapi sunyi saja sekeliling tempat itu.

Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong melihat sesosok bayangan melayang turun dari atas pohon!

Celaka pikirnya.

Kiranya si laknat itu bersembunyi di dalam pohon yang tumbuh di depan gedung.

Bayangan itu sukar di lihat bentuknya karena cepat sekali gerakannya, tahu-tahu telah berada di depan Si Brewok.

Tiga orang pengawal itu menggerakan senjata, akan tetapi anehnya, tampak oleh Pat-jiu Kai-ong betapa tiga buah senjata mereka itu telah berpindah tangan!

entah bagaimana caranya karena dari atas genteng itu dia tidak dapat melihat jelas.

Yang dia ketahuinya hanyalah betapa tiga orang pengawalnya itu kini lari ketakutan!

"Hik-hik-hik!"

Suara ketawa ini membuat bulu tengkuk Pat-jiu Kai-ong berdiri dan dia melihat sinar-sinar menyambar ke arah tiga orang pengawal yang lari, melihat mereka roboh dan memekik, terjungkal tak bergerak lagi karena punggung mereka ditembus oleh senjata mereka masing-masing!

"Keparat jangan lari kau!"

Pat-jiu Kai-ong sudah melayang turun dan tongkatnya sudah diputar-putar.

Akat tetapi bayangan itu melesat dan lenyap dari tempat itu!

Pat-jiu Kai-ong menoleh ke kanan kiri, akan tetapi tidak tampak gerakan sesuatu.

Dia makin penasaran.

Dihampirinya tiga orang pengawalnya.

Mereka telah tewas dan hanya mereka bertiga yang tidak dicap dahinya dengan tiga buah jari tangan hitam akan tetapi kematian mereka cukup mengerikan.

Tombak golok dan pedang itu menembus pung-gung pemilik masing-masing sampai ujungnya keluar dari hulu hati!

Dan sambitan tiga buah senjata yang berlainan bentuknya itu dilakukan secara berbareng dari jarak yang cukup jauh, tepat mengenai tiga sasarannya yang sedang berlari.

Hal ini saja membuktikan pula betapa hebatnya kepandaian orang aneh itu Mendadak Pat-jiu Kai-ong tersentak kaget.

Di dalam gedung!

Betapa tololnya dia!

Semua pengawalnya yang berjumlah dua belas orang telah tewas semua.

Tentu sekarang musuh itu masuk ke dalam gedung untuk membunuh orang-orang di dalam gedung.

Secepat kilat dia meloncat dan lari memasuki gedung.

Benar saja, terdengar pekik susul-menyusul dan begitu melewati pintu depan, dia sudah melihat para pelayannya telah menjadi mayat dan berserakan di sana-sini.

Cepat dia lari ke dalam kamarnya dan dengan mata terbelalak dia melihat lima orang selirnya telah mati semua, dahi mereka juga ada bekas tanda tapak tiga jari tangan dan semua lubang di muka mereka mengalirkan darah hitam!

Sunyi sekali di dalam gedung itu, kesunyian yang penuh rahasia.

Lu-san Lo-jin!

Pat-jiu Kai-ong teringat dan dia cepat lari ke dalam tempat tahanan, hanya untuk melihat bahwa kakek itu pun telah tewas dan di dahinya terdapat pula tanda tapak tiga jari tangan dan semua lubang di muka mereka mengalirkan darah hitam!

Kini dia benar-benar bingung.

Jelas bahwa musuh ini bukanlah kawan Lu-san Lojin seperti yang disangkanya semula!

Makin bingunglah dia dan dia lari pula ke dalam ruangan besar di mana dia tadi makan minum dengan Lu-san Lojin dan dua anaknya, di mana dia tadi menanti datangnya musuh rahasia.

Dan begitu memasuki ruangan itu, dia tertegun!

Ruangan itu kini terang sekali, agaknya ada yang menambah lampu penerangan.

Ketika dia melihat, benar saja bahwa di situ terdapat banyak lampu, banyak sekali karena agaknya semua lampu penerangan dibawa dan dikumpulkan di ruangan itu.

Dan di atas kursinya yang tadinya ditinggalkan kosong, kini tampak duduk seorang wanita!

Di depan wanita itu, juga duduk di atas kursi, tampak seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang memandangnya dengan mata penuh selidik.

Wanita itu cantik, pakaiannya mewah dan indah, anak itu pun tampan dan bersih serta mewah pakaiannya.

Wanita itukah yang membunuh semua orang di gedungnya?

Tak mungkin agaknya.

wanita itu usianya paling banyak tiga puluh lima tahun, cantik dan kelihatan halus gerak-geriknya, hanya sepasang matanya mengeluarkan sinar yang aneh dan dingin sekali.

"Ibu, dia inikah orangnya?"

Tiba-tiba anak kecil itu bertanya, suaranya nyaring, memecahkan kesunyian yang sejak tadi mencekam.

"Benar, dialah Si Bedebah Pat-jiu Kai-ong."

Wanita itu berkata, suaranya halus akan tetapi dingin menyeramkan.

"Kalau begitu, mengapa ibu tidak lekas membunuhnya?"

Wanita itu tersenyum dan wajah yang cantik itu makin cantik, akan tetapi juga makin dingin menyeramkan, kemudian bangkit berdiri perlahan-lahan.

"Kau lihat sajalah ibumu menundukan Si jembel busuk ini."

Wanita itu ternyata bertubuh tinggi ramping dan ketika melangkah maju, tampak gerakan kedua kakinya lemah lembut.

Pat-jiu Kai-ong sudah dapat menguasai hatinya dan timbul keberaniannya setelah melihat bahwa orang itu hanyalah seorang manusia biasa, wanita yang kelihatan lemah pula, bukan seorang iblis yang menyeramkan sama sekali.

"Siapakah engkau? Siapa pembunuh orang-orangku dan apa hubunganmu dengan Ratu Pulau Es yang mengancamku?"

Wanita itu kini tiba di depan Pat-jiu Kai-ong sehingga raja pengemis ini dapat mencium bau harum semerbak yang keluar dari rambut dan pakaian wanita itu.

"Akulah Ratu Pulau Es, aku pula yang telah membunuh semua mahluk hidup di dalam gedungmu, semua telah kubunuh kecuali engkau, Pat-jiu Kai-ong. Aku harus membunuhmu berlahan-lahan, menyiksamu sampai puas hatiku."

Mendengar ancaman ini, Raja Pengemis yang biasanya berhati kejam dan keras itu, menjadi berdebar juga.

Akan tetapi kemarahannya melenyapkan semua rasa jerih dan dia membentak.

"Perempuan sombong! Siapakah engkau dan mengapa engkau memusuhi Pat-jiu Kai-ong?"

Pat-jiu Kai-ong, agaknya kejahatanmu sudah begitu bertumpuk-tumpuk sehingga engkau tidak dapat mengenal korban-korbanmu lagi.

Pandanglah aku baik-baik dan kumpulkan ingatanmu!

Lupakah kau apa yang terjadi di kaki pegunungan Jeng-hoa-san sepuluh tahun yang lalu?"

Pat-jiu Kai-ong memandang dan terbayanglah peristiwa di Jeng-hoa-san sebelum dia naik ke puncak gunung itu untuk mencari Sin-tong.

Kini dia dapat mengenal wajah ini, wajah cantik yang pernah merintih-rintih dan memohon pembebasan, namun yang dia permainkan secara kejam.

"Kau... kau... Cap-she Sin-hiap...?"

Tanyanya ragu-ragu.

"Benar. Aku adalah anggauta paling muda dari Cap-sha Sin-hiap. Dua belas orang suhengku telah kau bunuh. Ingatkah sekarang kau?"

Pat-jiu Kai-ong tertawa.

Hatinya lega.

Kalau hanya wanita muda itu, yang telah diperkosanya dan yang hanya menjadi orang ke tiga belas dari Cap-sha Sin-hiap, perlu apa dia takut?

Biar perempuan ini agaknya telah memperdalam ilmunya selama sepuluh tahun ini, akan tetapi perlu apa dia takut?

"Ha-ha-ha, kiranya engkaukah ini, manis?

Tentu saja aku masih ingat kepadamu, siapa bisa melupakan kenang-kenangan manis selama tiga hari itu?

Ha-ha-ha, betapa mesranya!"

"Jahanam! Kematian sudah di depan mata dan kau masih berlagak? Pat-jiu Kai-ong, aku telah datang dan rasakanlah pembalasanku, aku akan membuat kau menyesal mengapa kau pernah dilahirkan ibumu!"

"Perempuan sombong, mampuslah!"

Pat-jiu Kai-ong sudah menerjang dengan tongkatnya melakukan penyerangan dengan dahsyat, menusukan tongkatnya yang tentu akan menembus dada wanita itu kalau tidak depat wanita itu mengebutkan ujung lengan bajunya menangkis.

"Trakk!"

Tongkat itu menyeleweng dan terkejutlah Pat-jiu Kai-ong.

Ternyata lawannya ini benar-benar telah memperoleh kemajuan hebat dan telah memiliki sinkang yang tak boleh dipandang ringan.

Tentu saja!

Wanita itu bukan lain adalah The Kwat Lin yang selama sepuluh tahun ini menjadi istri atau permaisuri Raja Pulau Es, Han Ti Ong yang sakti!

Wanita ini selama sepuluh tahun telah menggembleng diri, di bawah petunjuk suaminya yang amat mencintainya.

Bahkan suami-nya telah menurunkan ilmu-ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu tongkat Pat-jiu Kai-ong dan ilmu mujijat Hiat-ciang Hoat-sut dari Raja Pengemis ini atas permintaan The Kwat Lin.

Karena itu, biarpun ada sebatang pedang menepel di punggungnya, The Kwat Lin tidak menggunakan senjata melainkan ujung lengan bajunya untuk menghadapi tongkat dan memang kedua ujung lengan baju ini yang merupakan sepasang senjata yang dilatihnya khusus untuk mengatasi tongkat Raja Pengemis itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, The Kwat Lin menggunakan kesempatan selagi Han Ti Ong pergi menyerbu Pulau Neraka, untuk meninggalkan Pulau Es.

Hal ini sudah bertahun-tahun dia citacitakan.

Dia menjadi istri Han Ti Ong hanya karena ingin mewarisi ilmu kepandaiannya, akan tetapi setelah menjadi permaisuri, dia pun ingin memiliki pusaka Pulau Es dan benda-benda berharga lainya.

Maka dia menanti kesempatan baik untuk meninggalkan pulau, tentu saja meninggalkan untuk selamanya karena pada hakekatnya dia tidak suka tinggal di pulau itu.

Siapa suka tinggal di Pulau Es yang membosankan itu, jauh dari dunia ramai?

Pergilah dia mengajak puteranya, Han Bu Hong, meninggalkan Pulau Es sewaktu suaminya tidak ada, membawa pusaka Pulau Es.

Dengan alasan akan menyusul suaminya yang menyerbu Pulau Neraka, tidak ada seorang pun berani menghalangi kepergiannya dan akhirnya, dengan kepandaiannya yang sudah tinggi, dia berhasil mendarat.

Berbulan-bulan dia menyelidiki dan akhirnya dia dapat menemukan tempat tinggal musuh besarnya di lereng Heng-san.

Dia mengajak puteranya dan setelah menyembunyikan puteranya, dia menyelidiki istana Raja Pengemis itu.

Melihat Swi Liang dan Swi Nio, dia tertarik sekali, maka dia menculik mereka dan membawa mereka ke dalam hutan di mana Bu Hong menanti ibunya.

"Kalian kuselamatkan dengan maksud untuk mengangkat kalian berdua menjadi muridku,"

Dia berkata tanpa banyak cerita lagi.

"Tinggal kalian pilih, mati atau hidup. Kalau ingin mati, kalian semestinya mati karena kalian berada di gedung Pat-jiu Kai-ong. karena sekarang belum malam, maka kalian belum mestinya dibunuh dan karenanya boleh pula kukeluarkan dari sana. Kalau kalian ingin hidup harus suka menjadi muridku. Bagaimana?"

Tentu saja dua orang muda itu ingin hidup dan segera berlutut di depan calon Subo (ibu guru) mereka.

"Harap subo sudi menolong Ayah kami...."

Kata Swi Liang.

"Kalian tinggal saja di sini menemani sute kalian ini. Tentang Ayahmu, kita lihat saja nanti."

The Kwat Lin meninggalkan dua orang murid itu bersama puternya, kemudian mulailah dia turun tangan membunuh-bunuhi semua binatang peliharaan gedung raja Pengemis itu lalu membunuhi semua pengawal, pelayan, selir dan juga Lusan Lojin dibunuhnya karena dia sudah berjanji akan membunuh semua orang di dalam gedung itu, apalagi dia tahu bahwa kalau tidak dibunuh, kakek itu tentu akan menjadi penghalang baginya mengambil murid Swi Liang dan Swi Nio yang menarik hatinya.

Akhirnya dia keluar dari gedung, menyuruh kedua orang muridnya menanti di hutan.

Akhirnya bersama puteranya, dia dapat berhadapan dengan musuh besarnya itu setelah membunuh semua orang di dalam gedung.

Han Bu Ong anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun itu, duduk di kursi dan menonton pertandingan dengan mata terbelalak dan jarang berkedip.

Dia sama sekali tidak merasa takut atau kha-watir.

Dia percaya penuh kepada kelihaian ibunya dan memang sejak kecil anak ini memiliki keberanian luar biasa dan kekerasan hati yang amat aneh bagi seorang anak sebesar itu.

Melihat kekejaman-kekejaman yang terjadi, dia tidak pernah merasa ngeri, bahkan merasa gembira!

Barulah hati Pat-jiu kai-ong terkejut sekali setelah selama lima puluh jurus dia mainkan tongkatnya dia tidak mampu menembus pertahanan sepasang ujung lengan baju lawannya.

Bahkan lawannya terkekeh-kekeh mengejeknya dan biarpun lawannya hanya mainkan ujung lengan baju, namun ternyata tongkat yang biasanya dia andalkan itu sama sekali tidak berdaya!

"Keparat, mampuslah!"

Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong berseru keras, disusul dengan gerengan dahsyat yang menggetarkan seluruh ruangan itu.

Han Bu Ong terplanting jatuh dari kursinya, akan tetapi bocah ini sudah duduk bersila dan mengatur pernapasan, menutup pendengaran.

Ternyata sekecil itu, Bu Ong telah digembleng hebat oleh ayahnya sehingga dengan dasar latihan sinkang Inti Salju, dia kini mampu menulikan telinga dan menghadapi auman Sai-cu Ho-kang dari Pat-jiu Kai-ong!

Padahal lawan yang tidak begitu kuat sinkangnya, mendengar auman Sai-cu Ho-kang yang berdasarkan Khi-kang yang amat kuat ini, sudah akan roboh.

Sementara itu, The Kwat Lin yang melihat puteranya dapat menyelamatkan diri, sudah mengeluarkan suara terkekeh-kekeh dan lawannya terkejut bukan main karena dari suara ini keluar getaran yang menghancurkan ilmunya bahkan menyerangnya dengan hebat.

Terpaksa dia menghentikan auman Sai-cu Ho-kang dan mempercepat gerakan tongkatnya dengan ilmu Tongkat Pat-mo-tung-hoat (Ilmu Tongkat Delapan Iblis) yang dahsyat.

The Kwat Lin memang hendak mempermainkan lawannya, maka dia hanya menangkis dan mengelak.

Hal ini sengaja dilakukannya untuk memamerkan kepandaiannya dan untuk meyakinkan lawan bahwa akhirnya lawan akan roboh olehnya sehingga lawannya yang amat dibencinya itu akan ketakutan setengah mati!

Dan memang usahanya ini berhasil.

Keringat dingin membasahi muka pat-jiu Kai-ong dan tahulah kake ini bahwa mengandalkan ilmu silat saja, dia tidak akan menang melawan wanita yang pernah dipermainkannya dan diperkosanya selama tiga hari tiga malam itu.

Maka dia lalu mengerahkan tenaganya, menggerakan sinkang dan tiba-tiba dia memekik dan menghantamkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka.

The Kwat Lin sudah menduga bahwa lawannya tentu akhirnya akan menggunakan ilmu Hiat-ciang Hoatsut ini.

Dan dia sudah mendengar dari suaminya akan ilmu mujijat ini, maka dia bersikap hati-hati dan tidak berani memandang rendah.

Bahkan ketika menyaksikan cahaya merah menyambar keluar, merasakan getaran mujijat dan mencium bau amis darah yang memuakan, dia terkejut sekali dan cepat dia menekuk kedua lututnya sedikit, kemudian mendorongkan telapak tangan kanannya dengan tiga buah jari tangan diluruskan.

Hawa dingin meluncur keluar dari telapak tangannya menyambut hawa pukulan Hiat-ciang Hoat-sut.

"Dess!"dua benturan tenaga mujijat bertemu dan tubuh kedua orang itu tergetar hebat!

Kiranya tenaga Hiatciang Hoat-sut sudah sedemikian ampuhnya sehingga dalam benturan tenaga ini, Pat-jiu Kai-ong dapat mengimbangi tenaga The Kwat Lin.

Kalau kakek itu merasa betapa tubuhnya mendadak menjadi dingin sekali, sebaliknya The Kwat Lin merasa tubuhnya panas!

Namun keduanya dapat melawan hawa ini dan berkali-kali mereka mengadu tenaga sinkang lewat telapak tangan mereka.

Tiba-tiba ujung lengan baju kiri The Kwat Lin menyambar kearah ubun-ubun kepala kakek itu yang menjadi terkejut sekali dan menangkis dengan tongkatnya.

Ujung lengan baju melihat dan tangan The Kwat Lin menyambar ke depan dari dalam lengan baju itu, menangkap tongkat.

Pat-jiu Kai-ong cepat menghantamkan tangan kirinya lagi dengan tenaga Hiat-ciang Hoat-sut sekuatnya, mengarah kepala lawan.

Namun hal ini sudah diperhitungkan oleh wanita itu yang cepat sekali menarik tongkat yang dicengkramnya menangkis.

"Krekkkk!"

Tongkat raja pengemis itu hancur terkena pukulannya sendiri dan selagi dia terkejut bukan main, tahu-tahu ujung lengan baju kanan wanita itu sudah menyambar ke arah matanya!

Dia berteriak kaget, miringkan kepala, akan tetapi ternyata ujung lengan baju itu tidak menyerang mata, melainkan menyeleweng ke bawah dan menotok lehernya.

"Auggghh...!"

Kalau orang lain yang terkena totokan yang tepat mengenai jalan darah, tentu akan roboh dan tewas.

Akan tetapi tubuh Pat-jiu Kai-ong sudah kebal, maka totokan yang kuat itu hanya membuat ia terhuyung ke belakang.

Melihat ini, The Kwat Lin tertawa terkekeh, kedua tangannya bergerak dengan cepat sekali dan biarpun raja pengemis itu sudah berusaha mati-matian membela diri, namun karena totokan pertama membuat pandangan matanya berkunang sehingga gerakannya menjadi kurang cepat, dua kali totokan lagi dan sebuah tamparan dengan tiga jari tangan yang tepat mengenai punggungnya membuat dia roboh pingsan!

Ketika dia siuman.

Pat-jiu Kai-ong mendapatkan dirinya sudah rebah terlentang di atas lantai dan dia tidak mampu menggerakan kaki tangannya, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara karena selain tertotok jalan darah yang membuatnya menjadi lumpuh, juga urat ganggu di lehernya telah ditotok.

Tahulah dia bahwa dia tak berdaya lagi dan nyawanya berada di tangan lawan, dan dia pun maklum bahwa wanita ini tidak akan mungkin mengampuni kesalahannya.

Maka dia memejamkan mata menanti datangnya kematian.

"Bret-bret-brettt..., hi-hik! lihatlah, Bu Ong, lihat binatang ini!"

Pat-jiu Kai-ong memaki dalam hatinya.

Apa maunya perempuan ini?

Seluruh pakaiannya direnggut lepas semua sehingga dia terlentang dalam keadaan telanjang bulat sama sekali!

Karena ingin tahu, bukan karena jerih sebab seorang datuk macam Pat-jiu Kai-ong juga tidak mengenal takut, dia menggerakan pelupuk mata dan mengintai dari balik bulu matanya.

Dia melihat anak laki-laki turun dari kursinya, memandanginya dan tertawa.

"Heh-heh, ibu, dia lucu sekali! Lucu dan amat buruk... eh, menjijikkan!"

The Kwat Lin tertawa-tawa, kemudian sekali ujung lengan bajunya bergerak menyambar ke arah leher Patjiu Kai-ong, kakek ini terbebas dari totokan urat ganggunya dan dapat mengeluarkan suara.

"Perempuan hina, mau bunuh lekas bunuh! Aku tidak takut mati!"

Teriaknya marah.

"Hi-hik, enak saja! Ingatkah kau betapa aku dahulupun minta-minta mati kepadamu? Tidak, engkau harus mengalami siksaan, mati sekarat demi sekarat! Bu Ong, dia inilah yang membunuh dua belas orang Supekmu secara kejam. Maukah kau membalaskan sakit hati dan kematian para Supekmu?"

"Tentu saja! Akan kubunuh anjing tua ini!"

Bu Ong sudah melangkah maju dan anak ini memandang dengan muka bengis.

"Nanti dulu, Bu Ong. Terlampau enak baginya kalau dibunuh begitu saja. Tidak, untuk setiap orang dari suheng-ku, dia harus menderita satu macam siksaan. Jari tangannya. Hi-hik, jari-jari tangannya berjumlah sepuluh, itu untuk sepuluh orang suheng! Dan dua buah daun telinganya itu untuk kedua suheng yang lain,"

The Kwat Lin mencabut pedangnya, menyerahkan kepada puteranya sambil tertawa-tawa, kemudian dia menggerakan khikangnya.

"mengirim suara"

Dengan ilmunya yang tinggi ini sehingga suaranya hanya terdengar oleh Pat-jiu Kai-ong, akan tetapi sama sekali tidak terdengar oleh anaknya.

"Pat-jiu Kai-ong , tahukah kau siapa bocah ini? Dia ini adalah puteramu! Keturunanmu! hasil kotor dari perkosaanmu atas diriku. Nah, sekarang kau lihatlah anakmu, darah dagingmu sendiri yang akan menyiksa dirimu!"

Sepasang mata Pat-jiu Kai-ong terbelalak lebar, mukanya pucat sekali.

Puluhan tahun dia ingin sekali memperoleh keturunan, terutama seorang putera, akan tetapi biarpun dia sudah berganti-ganti selir sampai ratusan kali, tetap saja para selir itu tidak pernah memperoleh keturunannya.

sekarang, secara tidak sengaja dia telah memperoleh seorang putera!

dan puteranya itu dengan pedang di tangan menghampirinya, siap untuk menyiksanya!

Tadi dia terheran melihat betapa bekas anggauta Cap-sa Sin-hiap, murid Bu-tong-pai yang terkenal gagah itu menjadi begitu keji, mengajar putera sendiri melakukan kekejaman.

Kira-kira wanita itu memang sengaja hendak menyiksanya dengan menggunakan tangan keturunanya sendiri!

Kiranya wanita itu juga membenci anak itu seperti juga membencinya, maka sengaja membiarkan anak itu menyiksa dan membunuh ayah sendiri!

"Anak...

jangan...

dengarkan-lah..."

"Pratttt...!"

Pat-jiu Kai-ong tidak dapat melanjutkan kata-katanya yang tadinya hendak memperingatkan anak laki-laki itu karena urat gaggunya dileher telah ditotok oleh lengan baju The Kwat Lin yang terkekeh menyeringai.

"Pat-jiu Kai-ong, begini pengecutkah engkau? Haiii... di mana kegagahanmu sebagai seorang datuk? Lihatlah baik-baik dan nikmatilah siksaan anak ini! "

"Bu Ong, pergunakan pedang itu. Pertama buntungi kedua daun telinganya untuk Twa-supek dan Ji-supekmu!"

"Baik, Ibu!"Bu Ong lalu melangkah maju dan dua kali pedang itu berkelebat karena anak itu ternyata sudah pandai menggunakan pedang itu dan buntunglah kedua daun telinga Pat-jiu Kai-ong! Dapat dibayangkan betapa nyeri, perih dan pedih rasa badan dan hati kakek itu. Air matanya meloncat keluar membasahi pipinya! "Ha-ha, ibu! Lihat, dia menangis !"

Anak itu bersorak dan mengambil dua buah daun telinga itu.

"He-he, seperti telinga babi!"

Memang Pat-jiu Kai-ong menangis!

Akan tetapi bukan menangis karena rasa nyaeri dan pedih karena kedua daun telinganya buntung, melainkan nyeri di hati yang lebih hebat lagi melihat betapa anaknya sendiri yang sejak puluhan tahun yang lalu dirindukannya, kini bersorak girang melihat penderitaannya!

Dia tidak takut mati, tidak takut sakit, akan tetapi melihat betapa dia menghadapi siksaan dan kematian di tangan anaknya sendiri, benar-benar merupakan tekanan batin yang hampir tak kuat dia menanggungnya.

"Teruskan,Bu Ong.Masih ada sepuluh orang Supekmu yang belum dibalaskan sakit hatinya.Jari-jari tangannya yang sepuluh itu! Perlahan-lahan saja, satu demi satu buntungkan!"

Mulailah penyiksaan yang amat mengerikan itu dilakukan oleh Bu-ong.

Anak ini seolah-olah telah menjadi gila, dengan tertawa-tawa dia membuntungi semua jari tangan kakek itu satu demi satu dan setiap buntung sebuah jari, dia bersorak kegirangan.

Memang sejak dapat mengerti omongan, anak ini dijejali dendam oleh ibunya, dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong dan diceritakan betapa Pat-jiu Kai-ong telah membunuh dua belas orang suhengnya dan betapa raja pengemis itu menyiksanya dan Bu Ong kelak harus membalas dendam itu.

Maka kini anak itu samasekali tidak menaruh rasa kasihan, bahkan hatinya puas sekali dapat menyiksa kakek itu.

Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan Pat-jiu Kai-ong.

Namun dia tidak menyesali nasibnya karena dia maklum bahwa dia pun telah melakukan perbuatan sewenang-wenang atas diri The Kwat Lin sehingga pembalasan ini sudah jamak.

Hanya satu hal yang membuat air matanya bercucuran adalah melihat betapa dia disiksa dan akan dibunuh oleh darah dagingnya sendiri.

Dia menangis melihat darah dagingnya sendiri itu, yang baru berusia sepuluh tahun, telah menjadi seorang iblis cilik yang demikian kejam!

Kini The Kwat Lin membebaskan totokan yang membuat kaki tangannya lumpuh.

Begitu kaki tangannya dapat bergerak, Pat-jiu Kai-ong meloncat dan menerkam ke arah Bu Ong dengan ke dua tangan yang sudah tak berjari lagi itu, yang berlumuran darah.

Niat hatinya untuk membunuh saja anaknya itu agar kelak tidak dijadikan iblis cilik oleh ibu yang membencinya.

Akan tetapi sebuah tendangan dari samping yang dilakukan oleh The Kwat Lin membuat dia terguling lagi.

Rasa nyeri pada kedua ujung tangannya membuat kakek itu menggeliat-geliat.

"Mundurlah, Bu-ong. lihat sekarang ibumu yang akan turun tangan. Aku akan membalas sendiri perbuatannya kepadaku terdahulu!"

The Kwat Lin menghampiri musuhnya dengan pedang di tangan.

"Pat-jiu Kai-ong, ingatlah engkau akan peristiwa dahulu itu? Bayangkanlah, hi-hik, bayangkanlah betapa nikmatnya bagimu dan betapa menyiksa dan sengsaranya bagiku. Sekarang aku yang menikmati dan kau yang menderita. Sudah adil bukan? Nah, terimalah ini... ini... ini...!"

Bertubi-tubi pedang di tangan The Kwat Lin bergerak dan tubuh kakek itu bergulingan, berkelojotan karena rasa nyeri yang amat hebat ketika ujung pedang itu membabat keseluruh tubuhnya, dengan tepat sekali membabat ujung semua jari kakinya, hidungnya, dagunya.

Babatan itu hanya mengenai ujung sedikit, tidak membahayakan keselamatan nyawa namun menimbulkan rasa nyeri yang hebat.

Seluruh tubuh kakek itu kini berlepotan darah, mukanya dipenuhi oleh kerut-merut menahan nyeri.

"Hi-hik, bagaimana? Masih kurang? Nah, rasakanlah ini!"

Kembali pedang itu digerakan, kini menusuknusuk dan seluruh tubuhnya ditusuki ujung pedang bertubi-tubi.

Ujung pedang hanya menusuk dua senti saja sehingga menembus kulit daging akan tetapi tidak membunuh dan darah keluar makin banyak lagi, rasa nyeri makin menghebat sehingga tubuh kakek itu berkelojotan seperti dalam sekarat.

"Ini yang terakhir!"

The Kwat Lin berkata dan ujung pedangnya membabat ke bawah pusar.

Wanita itu tertawa bergelak, tertawa puas, wajahnya yang cantik itu pucat sekali dan dia tertawa sambil berdongak ke atas.

"suheng sekalian, terutama Twa-suheng, lihatlah musuhmu. Sudah puaskah kalian?"

Dan dia terisak, lalu menghampiri tubuh yang berkelojotan itu.

"akan tetapi aku belum puas! kau harus tidur dalam keadaan tersiksa di antara mayat-mayat yang membusuk, selama tiga hari tiga malam!"

The Kwat Lin menengok kepada anaknya dan berkata.

"Bu Ong, kau tunggu di sini sebentar!"

Tubuhnya berkelebat meninggalkan ruangan itu dan dengan cepat dia telah datang menyeret mayat-mayat para pengawal, selir dan pelayan sampai ruangan itu penuh dengan mayat-mayat yang dia lemparkan ke sekeliling tubuh Pat-jiu Kai-ong yang mandi darah.

"Nah, nikmatilah sekaratmu selama tiga hari!"

The Kwat Lin lalu menggandeng tangan anaknya dan mengajak pergi meninggalkan gedung itu.

Ketika mereka berdua tiba di dalam hutan di depan gedung, Swi Liang dan Swi Nio menyambut mereka dengan mata penuh harapan.

"Mana Ayah, Subo?"

Swi Liang bertanya.

"Bagaimana dengan dia?"

Swi Nio juga bertanya.

"Ayah kalian telah tewas...."

Dua orang muda itu mengeluh dan menangis. Swi Liang mengepal tinjunya dan berkata.

"Si jahanam Patjiu Kai-ong! aku harus membalas kematian Ayah!"

"Subo, bantulah kami..."

Kata pula Swi Nio.

"kami harus menuntut balas!"

"Heh-heh, Suheng dan Suci, tenangkanlah hati kalian. Pat-jiu Kai-ong telah di balas dan sekarang sedang sekarat di antara tumpukan mayat, he-he-heh! Wah, aku mendapat bagian pesta tadi. Akulah yang membuntungi kedua telinganya dan sepuluh jari tangannya. Menyenangkan sekali!"

Swi Liang dan Swi Nio terbelalak memandang "sute"

Ini.

Ucapan anak itu benar-benar membuat mereka merasa serem.

Memang, mendengar kematian ayah mereka yang tanpa keraguan lagi mereka yakin tentu dilakukan oleh Pat-jiu Kai-ong, mereka pun merasa sakit hati dan ingin membalas dendam.

Akan tetapi apa yang dilakukan oleh sute mereka menurut pengakuan anak itu, sungguh luar biasa sekali.

Membun-tungi kedua daun telinga dan sepuluh jari tangannya, dan perbuatan itu dianggap menyenangkan sekali dan berpesta, benar-benar membuat mereka bergidik!

"Musuhmu sedang menanti saat kematian, harap kalian tenang dan tidak memikirkannya lagi.

Ayahmu telah tewas, dan kalian akan kuajak bersamaku sebagai muridku.

Akulah pengganti ayah kalian."

Swi Liang dan Swi Nio menjatuhkan diri dan berlutut di depan subo mereka sambil bercucuran air mata.

"Terima kasih subo..."

Kata mereka di antara tangis mereka.

"Perkenankan kami mengubur jenasah Ayah,"

Kata pula Swi Liang.

"Tidak perlu. Kita menanti di sini sampai tiga hari, setelah itu aku akan membakar gedung itu."

Biarpun merasa heran dan kasihan kepada mayat ayah mereka, kedua orang yang sudah merasa ditolong dan dibalaskan sakit hati itu tidak membantah.

Mereka tentu saja tidak tahu betapa mayat ayah mereka itu ikut pula di lempar oleh The kwat Lin di dekat tubuh Pat-jiu Kai-ong untuk ikut menyiksa musuh besar ini!

Memang Pat-jiu Kai-ong tersiksa hebat bukan main.

Ketika tadi anaknya membuntungi jari-jari tangannya, dia melihat muka anaknya itu berubah-ubah menjadi muka banyak anak laki-laki yang menjadi korbanya.

Puluhan, bahkan ratusan anak laki-laki yang menjadi korbannya itu seolah-olah mengeroyoknya, mema-ki dan mengejeknya, dan kini, setelah tubuhnya mandi darah dan rasa nyeri sampai menusuk-nusuk tulang, dia ditinggalkan di antara mayat-mayat itu.

Celaka baginya, tubuhnya yang terlatih memiliki daya tahan yang amat kuat sehingga dia tidak menjadi pingsan oleh rasa nyeri itu.

Kalau saja dia dapat ping-san atau mati sekali, tentu dia tidak akan menderita sehebat itu.

Mayat-mayat itu mulai mengeluarkan bau yang memuakan pada hari ke dua.

Bau darah yang mengering dan membusuk, ditambah rasa nyeri di sekujur tubuhnya, masih diganggu lagi oleh bayangan anak-anak yang dahulu menjadi korbanya, membuat Pat-jiu Kai-ong menangis di dalam hatinya, menyesali perbuatannya yang mengakibatkan dia mati dalam keadaan tersiksa seperti itu.

Tiga hari kemudian, The Kwat Lin muncul dan perempuan ini tertawa bergelak melihat musuh besarnya masih belum mati.

Senang sekali hatinya.

Dahulu, dia diperkosa dan dipermainkan di antara mayat-mayat suhengnya selama tiga hari tiga malam, dan kini dia dapat membalas secara memuaskan sekali.

"Hi-hik, kau sudah puas sekarang?"

Ejeknya.

"Nah, mampus-lah kau. Pat-jiu Kai-ong!"

Pedangnya berkelebatan dan seluruh bagian tubuh di bawah pusar kakek itu dicincang hancur oleh pedang di tangan The Kwat Lin.

Setelah merasa puas melihat mayat musuh besarnya, barulah dia membuat api dan membakar gedung itu, lalu berlari keluar.

Dengan air mata bercucuran, Swi Liang dan Swi Nio memandang nyala api yang membakar gedung, maklum bahwa mayat ayah mereka ikut terbakar.

"Ayahmu telah sempurna,"

Kata The Kwat Lin.

"Tak perlu menangis lagi, hayo kalian ikut bersamaku. Kalau kalian rajin mempelajari ilmu, kelak kalian tidak akan mengalami penghina-an orang lagi."

Dengan hati berat namun karena tidak ada orang lain yang mereka pandang setelah ayah mereka meninggal, dua orang muda itu terpaksa mengikuti The Kwat Lin bersama Han Bu Ong pergi meninggalkan Hen-san.

Bu-tong-pai adalah sebuah perkumpulan silat yang besar, merupakan sebuah di antara "partai-partai"

Persilatan yang terkenal.

Akan tetapi pada saat itu, Bu-tong-pai sedang berkabung.

Di markas perkumpulan itu yang letaknya di lereng pegunungan Bu-tong-san, dari pintu gerbang sampai rumah-rumah para tokoh dan murid kepala, tampak kibaran kain-kain putih menghias pintu, tanda bahwa Bu-tong-pai sedang berkabung.

Siapakah yang meninggal dunia?

Bukan lain adalah ketua Bu-tong-pai yang sudah berusia lanjut, yaitu Kiu Bhok San-jin yang meninggal dunia dalam usia delapan puluh tahun.

Baru saja upacara penguburan selesai dilakukan oleh para anak murid Bu-tong-pai, para tamu telah meninggalkan Pegunungan Bu-tong-san, akan tetapi semua anak buah murid Bu-tong-pai masih berkum-pul di sekitar kuburan baru itu.

Suasana penuh pergabungan dan masih tampak beberapa orang murid yang mengusap air mata.

Kui Bhok San-jin terkenal sebagai seorang ketua dan guru yang baik dan yang dicintai oleh para anak murid Bu-tong-pai.

"Suhu...!"

Seruan ini membuat semua orang menengok dan tampaklah seoang wanita cantik berlari mendatangi, diikuti oleh seorang muda-mudi remaja dan seorang anak laki-laki.

Wanita itu tidak menoleh ke kanan kiri, melainkan langsung berlari menghampiri kuburan baru dan menjatuhkan diri berlutut di depan batu nisan sambil menangis.

"Ahh, bukankah dia Sumoi The Kwat Lin....?"

Seorang murid Kui Bhok San-jin yang usianya lima puluhan berseru.

Semua orang memandang dan kini mereka pun mengenal wanita yang berpakaian indah seperti seorang nyonya bangsawan itu.

The Kwat Lin!

Tentu saja mereka semua kini teringat.

Bukankah The Kwat Lin merupakan seorang anak murid Bu-tong-pai yang amat terkenal, sebagai orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap yang sudah bertahun-tahun lenyap tanpa meninggalkan jejak?

"Benar, dia orang termuda dari Cap-Sha Sin-hiap!"

Terdengar seruan-seruan setelah mereka mengenal wanita cantik itu.

Mendengar suara-suara itu, wanita ini lalu bangkit berdiri, menyusuti air matanya, kemudian memandang kepada mereka sambil berkata.

"Benar, aku adalah The Kwat Lin, orang termuda dari Cap-Sha Sin-hiap. Masih baik kalian mengenalku! Sekarang suhu telah meninggal dunia, siapakah yang akan menggantikannya sebagai ketua Bu-tong-pai?"

Para tokoh Bu-tong-pai terkejut menyaksikan sikap angkuh ini.

Di antara mereka, terdapat delapan orang yang terhitung suheng-suheng dari The Kwat Lin, dan orang tertua di antara mereka adalah seorang kakek berpakaian seperti pendeta tosu.

Sejak tadi kakek tosu ini mengerutkan alisnya setelah mendengar bahwa wanita itu adalah seorang muda dari Cap-sha Sin-hiap, maka kini mendengar pertanyaan Kwat Lin, dia melangkah maju dan berkata.

"Sian-cai..., tak pernah pinto sangka bahwa anggauta termuda dari Cap-sha Sin-hiap akan muncul hari ini. Berarti engkau adalah murid termuda dari mendiang suheng, dan kalau engkau ingin mengetahui, pinto yang dipilih oleh anak murid Bu-tong-pai, juga telah ditunjuk oleh mendiang suheng menjadi ketua di Bu-tong-pai."

Kwat Lin mengangkat mukanya memandang.

Tosu itu bertubuh kecil sedang, dan biarpun mukanya penuh keriput, namun matanya bersinar terang dan jenggotnya yang terpelihara baik mengitari mulutnya itu masih hitam semua, demikian pula rambutnya yang diikat dan diberi tusuk konde dari perak.

Pakaiannya sederhana saja, pakaian seorang pendeta To yang longgar.

"Siapakah Totiang?"

"Ha-ha-ha-ha, sungguh lucu kalau seorang murid kepo-nakan tidak mengenal susioknya sendiri. Ketahuilah bahwa pinto adalah Kui Tek Tojin, satu-satunya saudara seperguruan dari mendiang Kui Bhok San-jin."

Kwat Lin sudah pernah mendengar nama susioknya (paman gurunya) ini, seorang tosu perantau, sute termuda dan satu-satunya yang masih hidup dari mendiang suhunya.

Dia mencibirkan bibirnya yang merah dengan gaya mengejek, kemudian berkata dengan suara lantang.

"Ah, kiranya Susiok Kui Tek Tojin yang menggantikan Suhu menjadi ketua Bu-tong-pai? Sungguh keputusan yang sama sekali tidak tepat! Aku tidak setuju sama sekali kalau Susiok yang menjadi ketua!"

Tosu itu membelalakan matanya dan memandang kaget, heran dan penasaran.

Akan tetapi sebelum dia mengeluarkan kata-kata, seorang tosu lain yang bernama Souw Cin Cu, murid tertua dari Kui Bhok San-jin, melangkah maju dan berkata.

"Sumoi, apa yang kau katakan ini? Betapa beraninya engkau mengatakan demikian! Keputusan ini tidak saja sesuai dengan petunjuk suhu, juga telah menjadi keputusan kami semua. Pula, Susiok merupakan satu-satunya saudara seperguruan mendiang Suhu, sehingga kedudukannya paling tinggi dan usianya paling tua di antara kita. Siapa lagi kalau bukan Beliau yang menggantikan Suhu menjadi ketua kita?"

"Siancai, kedatangan yang mendadak dan tak tersangka-sangka, juga pendapat yang mengejutkan. Betapapun juga, sebagai murid mendiang Suheng, dia berhak berbicara untuk kepentingan dan kebaikan Bu-tong-pai. The Kwat Lin, bukankah demikian namamu tadi? Kalau menurut pendapatmu, siapa gerangan yang patut dijadikan ketua Bu-tong-pai menggantikan Suheng yang telah tidak ada?"

"Harap maafkan aku, Susiok. Bukan sekali-kali aku memandang rendah kepada Susiok, akan tetapi penolakanku itu berdasarkan perhitungan yang matang."

Kwat Lin berkata kepada calon ketua Bu-tong-pai itu, mengejutkan dan mengherankan semua orang yang mendengar dan melihat sikap tidak menghormat dari wanita itu.

"Pertama-tama sejak dahulu Susiok selalu merantau, tidak pernah memperdulikan keadaan Bu-tong-pai. Apalagi Susiok adalah seorang tosu sehingga kalau Susiok yang menjadi ketua Bu-tong-pai, ada bahaya-nya Bu-tong-pai akan berubah menjadi perkumpulan Agama To! Berbeda sekali dengan pendirian mendiang Suhu yang bebas sehingga murid suhu pun terdiri dari bermacam-macam golongan. Selain itu, selama ini Bu-tong-pai makin kehilangan sinarnya, menjadi bahan ejekan dan bahan penghinaan orang lain."

"Ahhhh...!"

Terdengar suara memprotes dari sana-sini dan Souw Cin Cu kembali berkata penasaran.

"Sumoi aku benar-benar merasa heran mendengar kata-katamu dan melihat sikapmu. Sepuluh tahun engkau dan para suhengmu menghilang dan kini engkau muncul seperti seorang yang lain. Seperti langit dengan bumi bedanya antara engkau dahulu dan engkau sekarang! Sumoi, kau mengatakan bahwa Bu-tong-pai menjadi lemah dan menjadi bahan ejekan dan penghinaan orang lain. Apa artinya ini?"

"Souw Cin Cu Suheng, selama bertahun-tahun ini Cap-sha Sin-hiap telah lenyap, tahukah engkau apa yang terjadi dengan mereka?"

"Kami telah berusaha menyelidiki namun tidak dapat menemukan kalian."

"Hemm, itulah tandanya bahwa Bu-tong-pai amat lemah, sehingga semua suhengku, tokoh-tokoh Cap-sha Sin-hiap, dibunuh orang tanpa diketahui oleh Bu-tong-pai!"

Semua orang terkejut sekali mendengar bahwa dua belas orang dari Cap-sha Sin-hiap telah dibunuh orang! "Siapa yang membunuh mereka?"

Souw Cin Cu bertanya dengan suara marah sekali.

Hati siapa yang takkan menjadi panas dan marah mendengar bahwa dua belas orang saudara seperguruannya dibunuh orang?

"Hemm, terlambat sudah!

Dua belas orang Suheng dibunuh oleh Pat-jiu Kai-ong ketua Pat-jiu Kai-pang di Heng-san."

"Ohhh...!"

Kini Kui Tek Tojin berseru kaget.

"Pat-jiu Kai-ong...?? Mengapa...??"

Kwat Lin tersenyum mengejek.

"Ahhh, tentu Susiok pernah mendengar nama besarnya dan menjadi gentar, bukan? Memang dialah datuk sesat yang terkenal itu, yang telah membunuh dua belas orang Suhengnya. dan peristiwa itu berlalu begitu saja! Tiga belas orang tokoh Bu-tong-pai mengalami penghinaan, dan Butong-pai sendiri diam saja. Apalagi berusaha membalas dendam, bahkan tahupun tidak akan peristiwa itu! Ini tandanya bahwa Bu-tong-pai lemah! Kini Bu-tong-pai hendak diketuai oleh Susiok, apakah akan dijadikan markas kaum pendeta Tosu dan menjadi makin lemah lagi? Aku sendirilah yang harus turun tangan membunuh musuh-musuh besar kami, membunuh Pat-jiu Kai-ong dan membasmi Pat-jiu Kai-pang di Heng-san. Melihat kelemahan Bu-tong-pai, aku tidak setuju kalau mendiang Suhu digantikan kedudukannya oleh Susiok Kui Tek To-jin harus diganti oleh orang yang memiliki kepandaian tinggi dan dapat memajukan dan memperkuat Bu-tong-pai, barulah tepat!"

Kwat Lin bicara penuh semangat, mukanya yang cantik dan berkulit halus itu kemerahan, sepasang matanya bersinar-sinar dan dengan tajamnya menyapu wajah semua anak murid Bu-tong-pai yang hadir di situ.

Pandang mata bekas orang termuda Cap-sha Sin-hiap ini membuat banyak anak murid Butong-pai merasa gentar dan mereka hanya menunduk untuk menghindarkan pandang mata Kwat Lin.

Akan tetapi, delapan orang suheng dari Kwat Lin meman-dang dengan marah dan penasaran.

Adapun Kui Tek Tojin hanya tersenyum dan mengelus jenggotnya sambil mengangguk-angguk, matanya memandang wajah wanita itu penuh selidik.

"The Kwat Lin, omonganmu penuh semangat terhadap kedudukan Bu-tong-pai. Andaikata benar semua kata-katamu itu, habis siapakah yang kaupandang tepat untuk menjadi ketua Bu-tong-pai?"

Kui Tek Tojin berkata lagi dengan sikap tenang.

"Untuk waktu ini, kiranya tidak ada orang lain lagi dari Bu-tong-pai kecuali aku sendiri!"

Kini benar-benar terkejut dan terheran-heranlah semua anak murid Bu-tong-pai yang berada di situ.

Begitu beraninya wanita ini.

Biarpun tak dapat disangkal lagi bahwa The Kwat Lin merupakan murid utama pula dari mendiang Bhok Sanjin dan orang termuda Cap-sha Sin-hiap, akan tetapi pada waktu itu dia bukanlah orang yang memiliki tingkat tertinggi di Bu-tong-pai.

Sama sekali bukan!

Di atas dia masih ada delapan orang suhengnya, murid-murid Kui Bhok San-jin yang lebih tua, dan lebih lagi di situ masih ada Kui Tek Tojin yang tentu saja memiliki tingkat jauh lebih tinggi karena tosu ini adalah paman gurunya!

"Murid Murtad!!"

Tiba-tiba Souw Cin Cu membentak garang dan meloncat maju, diikuti pula oleh sutesutenya. Telunjuk kirinya menuding ke arah muka The Kwat Lin.

"The Kwat Lin, engkau sungguh tidak patut menjadi murid Bu-tong-pai! Kiranya engkau menghilang sepuluh tahun hanya untuk pulang sebagai iblis wanita yang murtad terhadap perguruanya sendiri. Dan kami berkewajiban untuk mengajar seorang murid murtad!"

Sambil berkata demikian, Souw Cin Cu menerjang ke depan dengan dahsyat.

Souw Cin Cu merupakan murid pertama atau paling tua dari Kui Bhok San-jin.

Sungguhpun tidak dapat dikatakan bahwa dia memiliki tingkat ilmu silat paling tinggi, akan tetapi setidaknya tingkatnya sejajar dengan orang-orang tertua dari Cap-sha Sin-hiap.

Dan sebenarnya masih lebih tinggi setingkat jika dibandingkan dengan ilmu kepandaian The Kwat Lin ketika masih menjadi orang termuda Cap-sha Sin-hiap dahulu.

Akan tetapi, Kwat Lin sekarang sama sekali tidak bisa disamakan dengan Kwat Lin sepuluh tahun yang lalu.

Dia telah mewarisi ilmu, silat ilmu silat tinggi dan mujijat dari Pulau Es!

Tingkatnya sudah tinggi sekali dan dengan tenang saja dia meman-dang ketika suhengnya itu menerjangnya.

Apalagi karena dia mengenal benar jurus yang dipergunakan oleh suhengnya, jurus dari ilmu silat Ngo-heng-kun.

Ketika tangan kiri Souw Cin Cu mencengkeram ke arah lehernya dan tangan kanan tosu itu menampar pelipis, dia diam saja seolah-olah dia hendak menerima dua serangan ini tanpa melawan.

Akan tetapi setelah hawa sambaran pukulan itu sudah terasa olehnya, tiba-tiba tangan kirinya bergerak dari bawah ke atas.

"Plak-plak-plak!!"

Kedua lengan Souw Cin Cu telah terpental, bahkan tubuh tosu ini terpelanting ketika tangan Kwat Lin yang tadi sekaligus menangkis kedua lengan itu melanjutkan gerakannya dengan tamparan pada pundaknya.

Tamparan yang perlahan saja, akan tetapi sudah cukup murid pertama mendiang Kui Bhok San-jin terpelanting!

Diam-diam Kui Tek Tojin terkejut heran menyaksikan gerakan tangan wanita itu, gerakan yang amat cepat dan aneh, gerakan yang sama sekali tidak dikenalnya dan tentu saja bukan jurus ilmu silat Butong-pai!

Akan tetapi tujuh orang sute dari Suow Cin Cu sudah menjadi marah dan tanpa dikomando lagi mereka menerjang maju.

Akan tetapi The Kwat Lin tertawa, tubuhnya bergerak sedemikian cepatnya dan berturut-turut tujuh orang ini pun terguling roboh di dekat Suow Cin Cu!

Mereka sendiri tidak tahu bagaimana mereka dirobohkan, akan tetapi tahu-tahu terpelanting dan bagian yang tertampar tangan Kwat Lin, biarpun tidak sampai patah tulang, akan tetapi amat nyeri.

Padahal tamparan itu perlahan saja.

Bagaimana andaikata wanita itu menampar dengan pengerahan tenaga sekuatnya, sukar dibayangkan akibatnya.

Betapapun juga, delapan orang murid utama dari Bu-tong-pai ini tentu saja tidak sudi menyerah begitu mudah dan mereka sudah meloncat bangun dan mencabut senjata masing-masing!

"Ibu, mengapa tidak dibunuh saja tikus-tikus menjemukan ini?"

Tiba-tiba Bu Ong berteriak.

Anak ini sudah bertolak pinggang dan memandang marah kepada para pengero-yok ibunya.

Kalau saja tangannya tidak dipegang erat-erat oleh Swi Liang dan Swi Nio, suheng dan sucinya, tentu dia sudah menerjang maju membantu ibunya.

Akan tetapi memang sebelumnya, Swi Liang dan Swi Nio sudah dipesan oleh subo mereka untuk menjaga Bu Ong, dan terutama sekali mencegah bocah ini mencampuri urusannya dengan orang-orang Bu-tong-pai.

Kwat Lin tersenyum mengejek melihat delapan orang suhengnya itu mengeluarkan senjata.

"Hemmm, apakah kalian ini sudah buta? Apakah para suheng tidak melihat bahwa tingkat kepandaianku jauh melebihi kalian, dan bahkan andaikata Suhu masih hidup, beliau sendiri tidak akan mampu menan-dingi aku."

"Keparat...!"

Souw Cin Cu dan tujuh orang sutenya menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba Kui Tek Tojin berseru.

"Tahan senjata! Mundur kalian!"

Mendengar teriakan ini, delapan orang ini serentak mundur mentaati perintah calon ketua mereka.

Kui Tek Tojin melangkah maju menghampiri wanita yang tersenyum-senyum itu.

"Siancai... kiranya engkau telah memiliki kepandaian tinggi maka berani menen-tang Bu-tong-pai! The kwat Lin, selama ini engkau telah mempelajari ilmu silat dari luar Bu-tong-pai, tidak tahu dari perguruan manakah?"

"Memang benar dugaanmu, Susiok, akan tetapi tidak perlu aku menceritakan kepada siapapun juga."

"Hei, tosu bau! Ibu adalah Ratu dari Pulau Es, tahukah engkau?"

"Bu Ong...!"

Kwat Lin membentak puteranya, akan tetapi anak itu sudah terlanjur bicara dan bukan main kagetnya Kui Tek Tojin dan para anak murid Bu-tong-pai mendengar ini.

Pulau Es hanya disebut-sebut dalam dongeng saja, dan memang nama besar tokoh Pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es amat terkenal di dunia kang-ouw.

Timbul keraguan di dalam hati Kui Tek Tojin, akan tetapi karena wanita di hadapannya itu juga merupakan anak murid Bu-tong-pai, maka dia menekan perasaannya dan berkata.

"The Kwat Lin, kalau engkau masih mengaku sebagai murid Bu-tong-pai, betapapun tinggi ilmu kepandaianmu, engkau harus tunduk kepada pimpinan Bu-tong-pai. Sebaliknya, kalau engkau sudah mempelajari ilmu silat dari golongan lain dan tidak lagi merasa sebagai orang Bu-tong-pai, engkau tidak berhak mencam-puri urusan dalam dari Bu-tong-pai."

Kwat Lin tersenyum mengejek.

"Susiok, tidak perlu kupungkiri lagi bahwa aku telah membelajari ilmu silat dari golongan lain dan tingkat kepandaianku menjadi jauh lebih tinggi daripada semua tokoh Butong-pai. Akan tetapi aku bukan saja masih mengaku orang Bu-tong-pai, bahkan ingin memimpin Bu-tongpai menjadi perkumpulan terkuat di dunia. Akan kuperbaiki dan kuper-tinggi mutu ilmu silat Bu-tong-pai agar tidak ada lagi golongan lain yang berani memandang rendah Bu-tong-pai. Apalagi menghina anak murid Bu-tong-pai seperti yang terjadi kepada Cap-sha Sin-hiap sepuluh tahun yang lalu."

"Hemm, kalau begitu, pinto sebagai calon ketua Bu-tong-pai, terpaksa melarang dan menentang kehendakmu, The Kwat Lin."

"Dengan cara bagaimana kau hendak menentangku, Susiok?"

"Dengan mempertaruhkan nyawaku. Kehormatan Bu-tong-pai lebih penting dari pada nyawa seorang ketuanya. Majulah dan mari kita putuskan persoalan ini dengan kepandaian kita."

The Kwat Lin terse-nyum.

"Susiok, betapapun mudahnya bagiku membunuhmu, membunuh para suheng dan membunuh semua orang yang menentangku. Akan tetapi, aku bahkan ingin menolong kalian, ingin mengangkat nama Bu-tong-pai, maka biarlah aku hanya akan mengalahkan Susiok tanpa membunuhmu."

Ucapan ini malah merupakan penghinaan yang luar biasa sekali, karena mengalahkan lawan tanpa membunuhnya merupakan hal yang amat sukar dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari lawannya!

Merah muka tosu tua itu.

Dia dipandang rendah oleh murid keponakannya sendiri!

Bukan hanya itu saja.

Dia sebagai orang tertua dari Bu-tong-pai, sebagai calon ketua Bu-tong-pai, dihina oleh seorang anggauta muda Bu-tong-pai!

Oleh karena itu, tosu tua ini mengambil keputusan untuk mengadu nyawa dengan wanita yang kini dipandangnya bukan sebagai anggauta Bu-tong-pai lagi, melainkan sebagai seorang musuh yang hendak mengacau Bu-tong-pai.

(Lanjut ke

Jilid 11) Bu Kek Siansu (Seri ke 01 Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11

"The Kwat Lin sebagai seorang ketua Bu-tong-pai, pinto menyediakan nyawa untuk mempertahankan kehormatan Bu-tong-pai terhadap siapapun juga , dan saat ini pinto akan mempertahankannya terhadap engkau! Majulah!"

Sambil berkata demikian tosu tua berjenggot lebat ini meloncat ke depan, tongkatnya di tangan kanan dan ujung lengan bajunya melambai panjang.

Kwat Lin mengenal tongkat itu.

Tongkat kayu cendana yang harum dan menghitam saking tuanya, tongkat yang menjadi tongkat pusaka para ketua Bu-tong-pai sejak dahulu.

Dia maklum pula bahwa tongkat itu hanya sebagai lambang kedudukan ketua belaka, namun dalam hal ilmu silat bersenjata, ujung lengan baju kakek itu jauh lebih barbahaya dari pada tongkatnya.

Dia dapat menduga bahwa tentu kakek ini sudah memiliki tingkat tertinggi dari Bu-tong-pai, dan telah memiliki sinkang yang amat kuat sehingga kedua ujung lengan bajunya dapat dipergunakan sebagai senjata ampuh yang dapat menghadapi senjata apapun juga dari lawan, dapat dibikin kaku keras seperti besi dan lemas seperti ujung cambuk yang dapat melakukan totokan-totokan maut keseluruh jalan darah di tubuh lawan!

Karena itu, dia tidak berani memandang rendah, cepat dia mengeluarkan pekik melengking, dan tubuhnya sudah bergerak maju, tangan kananya melakukan pukulan dorongan dengan telapak tangan sambil mengerahkan tenaga sinkang Swat-im Sin-jiu.

Hawa yang amat dingin menghembus ke depan menyerang kakek itu.

Swat-im Sin-jiu adalah tenaga dalam inti salju yang dilatihnya di Pulau Es, kekuatannya dahsyat bukan main karena hawa yang menyambar ini mengandung tenaga sakti yang mendatangkan rasa dingin.

"Siancai...!!"

Tosu itu berseru kaget ketika merasa betapa hawa yang menyambar dari depan amat dinginnya, membuat tangannya ketika mendorong kembali terasa membeku.

Maka dia lalu mengerakan tongkat di tangan kanannya, mengambil keuntungan dari ukuran tongkat yang panjang, menghantam ke arah kepala wanita itu dari samping.

"Wuuuuttt... plakkkk!"

Dengan berani sekali Swat Lin menggunakan tangan kiri yang dibuka untuk memapaki sambaran tongkat dari samping, terus mencengkram tongkat itu dan mengerahkan sinkang, menyalurkannya lewat getaran tongkat dan kembali tosu itu berseru kaget ketika merasa betapa lengan kanannya yang memegang tongkat terasa dingin dan lumpuh!

Kesempatan baik ini, dalam satu detik pada saat lawan masih terkejut dan belum sempat mengerahkan sinkang, dipergunakan oleh Kwat Lin dengan jalan menarik ke bawah, bergulingan ke depan dan menghantam ke arah lawan dengan tangan kananya, kini menggerak-an tenaga sinkang yang berhawa panas!

"Ouhhh...!"

Kui Tek Tojin berteriak, cepat meloncat ke belakang dan tentu saja tongkatnya dapat dirampas.

Dia tadi sudah mengerahkan sinkang melawan getaran melalui tongkat, dengan niat merampasnya kembali, akan tetapi pukulan lawannya dari bawah yang ditangkis dengan tangan kanan, ternyata luar biasa kuat dan panasnya, mengejutkannya karena perubahan sinkang yang berlawanan itu tidak disangka-sangkanya, maka untuk menyelamatkan diri, terpaksa dia meloncat ke belakang dan mengorbankan tongkatnya.

Kwat Lin sudah melompat kebelakang pula, memegang tongkat itu dengan kedua tangan di atas kepala sambil tertawa dan berkata.

"Hi-hik, tongkat pusaka telah berada di tanganku, berarti akulah ketua Bu-tong-pai! "Kembalikan tongkat!"

Kui Tek Tojin berteriak marah dan kedua lengannya bergerak ketika tubuhnya menerjang maju.

Dengan amat cepatnya kedua ujung lengan bajunya bergerak seperti kilat menyambar-nyambar dan dalam segebrakan itu, Kwat Lin telah dihujani sembilan kali totokan yang amat berbahaya!

Sukarlah membebaskan diri dari ancaman totokan yang hebat ini dan andaikata Kwat lin bukan seorang pewaris ilmu-ilmu dari Pulau Es, tidak mungkin dia dapat menghindarkan diri lagi.

Dia menggunakan ginkangnya berloncatan menghindar, akan tetapi sebuah totokan yang meleset masih mengenai per-gelangan tangannya, membuat tongkat pusaka itu terlepas dari peganganya!

Kwat Lin menjerit marah, pedangnya sudah dicabutnya, yaitu pedang Ang-bwe-kiam dan tampak sinar merah berkeredepan dan menyambar-nyambar dahsyat.

"Bret-brettttt...!!"

Kui Tek Tojin berteriak kaget, meloncat mundur dan ternyata bahwa ujung lengan bajunya telah terbabat buntung oleh pedang di tangan Kwat Lin, dan sekarang wanita itu telah mengambil lagi tongkat pusaka yang tadi terpaksa dilepaskan oleh tangannya yang tertotok.

"Susiok! Dan kalian para suheng semua! Kalau kalian mendesak, terpaksa aku akan mematahkan tongkat pusaka ini kemudian membunuh kalian dan merampas Bu-tong-pai dengan kekerasan!"

Dia mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi.

"Aku hanya menuntut hak seorang murid Bu-tong-pai yang memiliki tingkat tinggi dan memegang tongkat wasiat itu, hak menjadi ketua dengan niat untuk mempertinggi tingkat Butong-pai!"

Delapan orang suheng itu masih penasaran dan mereka hendak menyerbu ke depan, akan tetapi Kui Tek Tojin mengangkat tangan ke atas dan berkata.

"Mundurlah kalian. Dia benar, kita tidak boleh melawan pemegang tongkat pusaka!"

Kemudian dia berkata kepada Kwat Lin.

"Baiklah, melihat tongkat pusaka di tanganmu, kami tidak akan melawan. Akan tetapi, betapapun juga kami tidak dapat menerima engkau menjadi ketua kami dan kami harap engkau tidak memaksa anak murid Bu-tong-pai yang tidak mau tunduk kepadamu dan meninggalkan tempat ini."

Kwat Lin tersenyum.

Memang bukan kehendaknya untuk memusuhi anak murid Bu-tong-pai.

Dia tidak membenci Bu-tong-pai, melainkan hendak mencarikan kemuliaan bagi puteranya dengan perantaraan sebuah perkumpulan besar dan dia akan mengusahakan agar Bu-tong-pai menjadi sebuah perkumpulan yang paling kuat dan paling besar.

"Terserah kepadamu, Susiok."

Dia lalu memandang ke sekeliling, kepada para anak murid Bu-tong-pai.

"Haiii, semua anggauta dan murid Bu-tong-pai, dengar lah baik-baik! Betapapun juga aku adalah murid Bu-tong-pai sejak kecil, dan di dalam sepak terjang Cap-sha Sin-hiap. Kalian juga sudah tahu betapa aku dan para suheng telah menjunjung tinggi nama Bu-tong-pai dan aku ingin menyebarkan ilmuku kepada kalian semua agar kalian menjadi orang-orang yang lihai dan Bu-tong-pai menjadi perkumpulan yang paling kuat di dunia ini. Terserah kepada kalian apakah hendak bersetia kepada nama Bu-tong-pai dan menjadi murid-muridku, ataukah hendak bersetia kepada tosu Kui Tek Tojin dan delapan orang suhengku ini yang hendak membelakangi Bu-tong-pai!"

Berisiklah keadaan di situ setelah Kwat Lin mengeluarkan kata-kata ini.

Para anak murid Bu-tong-pai saling bicara sendiri, saling berbantahan dan akhirnya hanya ada dua puluh orang termasuk Kui Tek Tojin yang meninggalkan tempat itu, menuruni bukit dan memasuki sebuah hutan di kaki bukit yang dipilih oleh Kui Tek Tojin untuk menjadi tempat tinggal mereka sementara waktu sambil menanti perkembangan selanjutnya.

Sisanya semua suka mengangkat Kwat Lin menjadi ketua mereka setelah mereka tadi menyaksikan betapa lihainya Kwat Lin dan mereka semua ingin memperoleh bagian pelajaran ilmu silat yang tinggi.

Demikianlah, mulai hari itu, The Kwat Lin menjadi ketua yang baru dari Bu-tong-pai yang dipimpinnya dengan gaya dan bentuk yang baru pula.

Dengan harta benda berupa emas permata yang amat mahal, yang didapatkan dan dilarikannya dari Pulau Es, dia membangun markas Bu-tong-pai menjadi bangunan yang megah, mewah dan kuat.

Bahkan dalam keinginan hatinya untuk lekas-lekas melihat Butong-pai menjadi perkumpulan yang kuat dan banyak anggautanya, dia menerima anggauta-anggauta baru.

Anggauta baru diterima dari golongan apapun juga, syaratnya hanya satu bahwa mereka itu haruslah memiliki kepandaian yang sampai pada tingkat tertentu, dan bersumpah setia sampai mati kepada Bu-tongpai.

Karena mendengar bahwa ketua Bu-tong-pai yang baru adalah seorang wanita yang cantik yang memiliki kesaktian hebat, juga amat kaya raya, maka banyaklah orang-orang kang-ouw dan golongan kaum sesat yang tadinya hidup sebagai perampok dan bajak-bajak yang tidak tertentu penghasilanya, berdatanganlah dan masuk menjadi anggauta Bu-tong-pai!

Mulai pulalah The Kwat Lin mengatur dan merencanakan cita-citanya untuk puteranya.

Dengan kerja sama antara dia dan para anggauta baru yang berpengalaman mulailah dia diam-diam mengadakan kontak dan mencari kesempatan untuk menghubungi para pembesar tinggi yang merupakan kekuatan rahasia untuk memberontak terhadap kaisar.

Inilah cita-cita The Kwat Lin.

Dia pernah menjadi ratu, menjadi istri seorang raja, biarpun hanya raja kecil yang menguasai Kerajaan Pulau Es, karena itu, dia menganggap bahwa puteranya, Han Bu-ong, adalah seorang pangeran!

Seorang pangeran haruslah bercita-cita menjadi raja.

Bukan raja kecil yang hanya menguasai sebuah pulau, melainkan raja besar!

Dan satu-satunya jalan untuk dapat mencapai ini, hanyalah menggulingkan kaisar sehingga kelak ada kesempatan bagi puteranya untuk menjadi kaisar!

Tentu saja untuk membrontak sendiri dengan mengandalkan kekuatan Bu-tong-pai merupakan hal yang tak masuk diakal dan hanya merupakan bunuh diri, maka dia mencari kesempatan mengadakan kontak dengan para pembesar tinggi yang berambisi seperti dia sehingga mungkin bagi mereka untuk menggunakan bala tentara yang dapat dikuasai untuk mencapai cita-cita mereka itu.

Memang sesungguhnyalah bahwa kemuliaan duniawai atau alam benda merupakan keadaan yang amat berbahaya.

Tak dapat disangkal pula bahwa hidup memang memerlukan kebendaan sebagai pelengkap dan pelangsung hidup, dan amat baiklah kalau orang dapat menggunakan keduniawian itu pada tempat sebenarnya.

Akan tetapi, akan celakalah dan hanya akan menimbulkan malapetaka bagi diri sendiri dan bagi orang lain kalau manusia sudah dikuasai oleh duniawi yang merupakan harta benda, kedudukan, nama besar, kepandaian dan lain-lain sebagainya.

Alam kebendaan ini mempunyai sifat seperti arak.

Diminum dengan kesadaran dan pengertian akan menjadi obat, tapi di lain saat dalam keadaan lalai akan menjadi minuman yang memabokan.

Dan sekali orang mabok oleh duniawi, akan timbullah perbuatan sombong, sewenang-wenang, dan lupa segala.

yang ada hanyalah keinginan memenuhi segala kehendaknya dengan cara apapun juga tanpa mengharamkan dengan segala cara.

Demikian pula terjadi dengan The Kwat lin.

Dahulu, belasan tahun yang lalu, The Kwat Lin merupaka seorang pendekar wanita yang gagah perkasa menentang kejahatan yang gigih sehingga namanya bersama dua belas orang suhengnya sebagai Cap-sha Sin-hiap amatlah terkenal.

Akan tetapi setelah malapetaka menimpa Cap-sha Sin-hiap, dendam menaburkan bibit yang merobah seluruh pandangan hidupnya.

Setelah dia berhasil membalas dendam secara keji dan kejam sekali, bibit itu masih berkembang biak dan merobah sifat, dari dendam kepada pengejaran kemuliaan yang tanpa batas.

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Han Swat Hong.

Puteri dari Raja Han Ti Ong dan sebaiknya kita mengikuti pengalamanya agar tidak tertinggal terlampau jauh.

Seperti kita ketahui, Swat Hong yang berwatak keras itu marah-marah ketika melihat betapa Sin Liong menolong seekor beruang dan tidak mempedulikan dia.Dianggapnya Sin Liong sengaja mencari-cari alasan untuk menghambat perjalanan, padahal dia ingin sekali segera mencari dan menemukan ibunya yang tidak ia diketahui kemana perginya dan bagaimana nasibnya setelah badai yang amat dahsyat mengamuk disekitar lautan itu.

Akan tetapi tentu saja bukan dengan hati yang sesungguhnya dia hendak meninggalkan Sin Liong di pulau kosong itu, melainkan hanya untuk sekedar menunjukan kemarahan hatinya saja.

Karena itu setelah perahunya jauh meninggalkan pulau itu sehingga pulau dimana Sin Liong mengobati beruang itu tidak nampak lagi, dara itu memutar lagi perahunya dan hendak kembali kepada Sin Liong.

Sudah dibayangkannya betapa Sin Liong yang selalu sabar dan selalu mengalah kepadanya itu akan minta maaf dan menyatakan penyesalan hatinya, dan dia yang akan memaafkannya!

Saat-saat seperti itu mendatangkan keharuan, kebanggan dan kemenangan di dalam hatinya.

Betapa bingung dan kagetnya ketika kemudian dia mendapat kenyataan bahwa dia tersesat jalan dan tidak tahu lagi dimana dia meninggalkan Sin Liong tadi!

Demikian banyaknya pulau yang sama bentuknya di lautan itu, banyak sekali bongkahan es yang datang dan pergi seperti hidup saja!

Setelah berputar putar tanpa hasil dan yakin bahwa dia berada makin jauh dari tempat dimana Sin Liong berada, setelah berteriak-teriak memanggil dengan pengerahan khikang tanpa ada jawabannya dan memutar perahu keluardari daerah penuh pulau kecil yang membi-ngungkan itu.

Biarlah, dia akan pergi saja melanjutkan perjalanan seorang diri mencari ibunya.

Dia merasa yakin bahwa suhengnya itu tentu akan dapat menyelamatkan diri.

Suhengnya memiliki ilmu kepandaian yg amat tinggi.

Swat Hong tidak tahu bahwa perahunya menuju ke selatan, bukan menuju ke daerah Pulau Es lagi.

Namun karena maksudnya untuk mencari ibunya, dara ini seolah-olah berlayar tanpa tujuan dan membiarkan saja kemana perahu yang terdorong angin itu membawa-nya.

Pada suatu hari, tampaklah olehnya garis hitam di sebelah kanan, masih jauh sekali, akan tetapi dengan girang dia dapat mengenal bahwa garis hitam yang amat panjang membujur dari kanan kiri itu adalah sebuah daratan yang agaknya tiada bertepi.

Itulah daratan besar, pikirnya dengan girang dan dia segera membe-lokan perahunya menuju ke garis hitam itu.

Ketika perahunya sudah tiba di dekat pantai yang sunyi, dia melihat ada sebuah perahu lain yang meluncur cepat dari sebelah kirinya.

Perahu kecil dan yang berada di perahu itu seorang laki-laki muda yang kelihatannya gagah dan tampan.

Pemuda itu pun memandang kepadanya sehingga dua pasang mata saling pandang sejenak.

Akan tetapi Swat Hong membuang muka dan tidak mempedulikan orang yang tidak dikenalnya itu, terus saja mendayung perahunya ke tepi.

Begitu perahunya mendekati daratan, dia lalu meloncat ke daratan, tidak menghiraukan perahunya lagi.

Memang dia tidak berpikir untuk kembali ke tempat itu dan berperahu lagi.

Untuk apa berlayar?

Pulau Es sudah kosong.

Dia akan mencari ibunya di daratan besar, karena kalau ibunya berada di suatu pulau, agaknya tentu tidak akan dapat terlepas dari amukan badai yang dahsyat itu.

Kalau ibu berada di daratan besar, dan ini mungkin saja terjadi, barulah ada harapan bahwa ibunya masih hidup dapat bertemu dengannya.

Andaikata tidak, dia pun akan merantau di daratan besar, tidak kembali kelaut.

Dan dia tahu bahwa demikian pula agaknya pendapat suhengnya karena sebelum berpisah mereka sudah membicarakan hal ini berkali-kali.

Nenek moyangnya yang selama ini menjadi raja di Pulau Es juga berhasal dari daratan besar!

Setelah kini Kerajaan Pulau Es terbasmi badai dan tidak ada lagi, sepatutnya kalau dia sebagai ahli waris satu-satunya kembali pula ke daratan besar!

"Heiii...

Nona!

Tunggu...!!"

Swat Hong mengerutkan alisnya dan berhenti melangkahkan kakinya, membalik dan melihat betapa pemuda yang berada di dalam perahu tadi sudah menambatkan perahunya dan juga perahu yang ditinggalkanya meloncat tadi, di pantai.

Kini pemuda itu berlari mengejarnya.

"Mau apa engkau mengejar dan memanggil aku?"

Swat Hong bertanya, matanya memandang penuh selidik.

Pemuda itu usianya tentu hanya lebih tua dua tiga tahun darinya, seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah, yang perawakanya tinggi besar dan matanya menyorotkan kejujuran dan membayangkan kekerasan dan keberanian.

Kedua lengan yang tampak tersembul keluar dari lengan baju pendek itu kekar berotot membayangkan tenaga yang hebat, juga bajunya yang terbuat dari kain tipis membayangkan dada yang bidang, terhias sedikit rambut, berotot dan kuat sekali.

Melihat bahan pakaiannya dapat di duga bahwa pemuda ini seorang yang beruang, namun melihat dari keadaan tubuhnya dan kaki tangannya, agaknya dia biasa dengan pekerjaan berat.

Seorang petani atau seorang nelayan, pikir Swat Hong, kagum juga memandang tubuh yang kokoh kuat itu.

Pemuda itu tersenyum.

Senyumnya lebar memperlihatkan deretan gigi yang kokoh kuat pula, senyum terbuka seorang yang berwatak jujur dan bersahaja.

Akan tetapi sikapnya ketika mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan, membuktikan bahwa dia pernah "makan sekolahan"

Alias terpelajar, terbukti pula dari kata-katanya yang biarpun ringkas dan singkat akan tetapi tetap sopan.

"Maafkanlah, Nona meninggalkan perahu begitu saja, aku merasa sayang dan membantu meminggirkan-nya. Melihat gerakan Nona ketika meloncat, jelas bahwa Nona berkepandaian tinggi. Aku ingin sekali belajar kenal."

Swat Hong mengerutkan alisnya.

Hatinya sedang tidak senang, karena selain kegagalan-nya mencari ibu, juga perpisahanya dengan Sin Liong setidaknya mendatangkan rasa gelisah di hatinya.

Kini ada pemuda yang amat lancang ingin "belajar kenal", sungguh menggemaskan.

"Aku tidak membu-tuhkan perahu itu lagi, dan aku tidak peduli apakah kau meminggirkannya atau hendak memilikinya, aku tidak minta bantuanmu. Tentang belajar kenal biasanya hanya pedang, kepalan tangan dan tendangan kaki saja yang mau belajar kenal dengan orang asing lancang!"

Sepasang mata lebar itu terbelalak seolah-olah memandang sesuatu yang amat aneh, namun membayangkan kekaguman yang luar biasa.

Dan memang, di luar dugaan Swat Hong sendiri, sikap dan kata-katanya tadi mendatangkan rasa kagum yang amat besar di dalam hati pemuda ini.

Telah menjadi ciri khas pemuda ini yang mengagumi sikap orang yang terbuka, jujur, kasar dan tanpa pura-pura seperti sikap Swat Hong yang baru saja diperlihatkan.

"Ha-ha-ha-ha!"

Pemuda itu tertawa bergelak dan kedua matanya menjadi basah oleh air mata.

Ini pun ciri khasnya.

Kalau dia tertawa, air matanya keluar seperti orang menangis.

Dengan punggung tangannya yang besar dan berotot dia menghapus air matanya.

"Nona hebat sekali! Ha-ha-ha, aku Kwee Lun selama hidupku baru sekarang ini bertemu dengan seorang nona yang begini hebat! Diantara seribu orang gadis, belum tentu ada satu! Nona, kalau sudi, perkenalkanlah aku Swee Lin, biarpun jelek dan kasar bukanlah tidak terkenal. Ayahku adalah seorang pelaut biasa dan sudah meninggal, demikian pula Ibuku. Aku anak pelaut akan tetapi sejak kecil aku sudah ikut kepada guruku. Guruku inilah yang terkenal. Guruku adalah Lam Hai Sen-jin, pertapa yang amat terkenal di dunia kang-ouw, dan kami berdua tinggal di Pulau Kura-kura di laut selatan."

Melihat sikap terbuka ini, geli juga hati Swat Hong.

Kini dia melihat jelas bahwa pemuda ini sama sekali tidak kurang ajar.

Kasar memang, akan tetapi kekasaran yang memang menjadi wataknya yang terbuka.

Orang macam ini baik dijadikan sahabat, pikirnya.

Akan tetapi harus dibuktikan dulu apakah pemuda ini pantas menjadi sahabatnya, sungguhpun menurut pengakuannya dia murid seorang pertapa yang namanya terkenal di dunia kang-ouw!

Swat Hong tersenyum.

"Aihh, engkau lebih pantas menjadi seorang penjual jamu! Setelah engkau memperkenalkan semua nenek moyangmu kepadaku, dengan maksud apakah engkau seorang pria minta perkenalan dengan seorang wanita?"

Kwee Lun mengerutkan alisnya yang sangat lebat seperti dua buah sikat ditaruh melintang di dahinya itu, dan dia menggeleng-geleng kepalanya.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert