Ceritasilat Novel Online

Bu Kek Siansu 3

Eps 3 Bu Kek Siansu - Kho Ping Hoo

Baca online Bu Kek Siansu - Kho Ping Hoo

Cersil Bu Kek Siansu - Kho Ping Hoo.

"Kau tidak tahu kecerdikan Kong-kong, Sin Liong. Kalau diguna-kan kekerasan, agaknya kau akan melawan dan sudah melihat kau tadi sudah lihai. Akan tetapi, mereka akan mengerahkan binatang-binatang berbisa untuk mengeroyokmu dan membunuhmu di kamar sempit ini! Kalau segala macam ular, kalajengking, kelabang, lebah dan lain binatang berbisa itu datang memenuhi tempat ini dan mengeroyokmu, apa yang akan dapat kau lakukan untuk menyelamatkan diri?"

"Hemm, aku akan berusaha membela diri, kalau aku gagal, aku akan mati dan habis perkara. tidak ada hal yang menggelisahkan hatiku."

"Kau sombong! Kau tidak minta tolong kepadaku?"

"Andaikata aku minta tolong juga, kalau kau tidak mau menolong, apa artinya? Tanpa kuminta sekalipun, kalau kau mau menolong, bagaimana caranya? Sudahlah, kau hanya akan menyusahkan dirimu sendiri saja, Soan Cu. Betapapun juga terima kasih atas kedatanganmu dan kebaikan hatimu. Kau seorang dara yang cantik dan baik budi, sayang kau berada diantara orang-orang liar itu. Pergilah, jangan sampai kakekmu melihat engkau berada disini."

Soan Cu mengeluarkan sebuah bungkusan.

"Inilah yang akan menyelamatkanmu. Kau pergunakan obat bubuk ini untuk menggosok semua kulit tubuhmu yang tampak, dan sebarkan sebagian di sekelilingmu. Tidak akan ada seekorpun binatang berbisa yang berani datang mendekat, apalagi menggigitmu. Nah, sebetulnya kedatanganku hanya untuk menyerahkan ini, akan tetapi kita terlanjur ngobrol panjang lebar. Selamat tinggal, Sin Liong."

Sin Liong menerima bungkusan itu, mengulurkan tangan dari antara ruji jendela dan memegang lengan dara itu.

"Nanti dulu, Soan Cu."

"Ada apa lagi?"

Gadis itu membalikan tubuh dan mereka saling berpegangan tangan.

Hal ini dilakukan oleh Sin Liong karena dia merasa ter-haru juga oleh pertolongan yang sama sekali tidak disangka-sangka itu.

"Soan Cu, tahukah engkau apa yang akan terjadi padamu kalau sampai Kong-kongmu mengetahui akan perbuatanmu ini?"

"Menolong engkau? Ah, paling-paling dia akan membunuhku!"

"Hemm, begitu ringan kau memandang akibat itu? Soan Cu, mengapa kau melakukan ini untukku? Mengapa kau menolongku dengan mempertaruhkan nyawa?"

"Sudah kukatakan tadi. Kau lain dari pada semua orang yang kulihat di pulau ini. Aku suka padamu dan aku tidak ingin mendengar apalagi melihat engkau mati. Sudahlah, hati-hati menjaga dirimu, Sin Liong!"

Gadis itu meloncat dan berlari keluar.

Sin Liong berdiri temenung sejenak, kemudian kembali ke tengah kamar tahanan dan duduk bersila menenangkan hatinya.

Andaikata tidak ada Soan Cu yang datang memberikan obat penawar dan pengusir binatang berbisa, dia pun tidak kan gentar dan belum tentu dia akan celaka oleh binatang-binatang itu, sungguhpun dia sendiri belum mau memba-yangkan apa yang akan dilakukanya kalau serangan itu tiba.

Apalagi sekarang ada obat bubuk itu.

Dia teringat betapa penghuni Pulau Neraka dapat menjelajahi hutan yang penuh binatang berbisa dengan enaknya karena tubuh mereka sudah memakai obat penawar.

Agaknya inilah obat penawar itu.

Dia membuka bungkusan dan melihat obat bubuk berwarna kuning muda yang tidak akan kentara kalau dioleskan di kulit tubuhnya.

Sin Liong bersila dan mengatur pernapasan, melakukan siulian (samadhi) lagi.

Pendengarannya menjadi amat terang dan tajam sehingga dia dapat menangkap suara mendesis dan suara yang dikenalnya sebagai suara lebah yang datang dari jauh, makin lama makin mendekat itu.

Tahulah dia bahwa apa yang diceritakan oleh Soan Cu memang tidak bohong.

Sekali ini agaknya anak itu tidak membohong!

Maka dia lalu membuka bungkusan, menggosok kulit tubuhnya yang tidak tertutup pakaian dengan obat itu.

Mukanya sampai ke leher, tangan dan kakinya, digosoknya sampai rata.

Kemudian sambil membawa bungkusan yang terisi sisa obat itu, dia menanti.

Tak lama kemudian, suara itu menjadi makin dekat dan tiba-tiba saja munculah mereka!

Diam-diam Sin Liong bergidik juga.

Tentu dia akan melompat kalau saja dia tidak mempunyai obat penolak itu.

Dari bawah pintu, puluhan ekor ular kecil dan kelabang besar, kalajengking yang besarnya sebesar ibu jari, merayap dengan cepat memasuki kamar, berlomba dengan lebah-lebah putih yang beterbangan masuk melalui jendela.

Sin Liong cepat menyebarkan bubuk obat ke sekeliling di atas lantai, dan menaburkan sebagian ke atas, ke arah lebah-lebah yang berterbangan.

Dia tersenyum kagum melihat akibatnya.

Semua binatang berbisa itu, dari yang paling kecil sampai yang paling besar, tiba-tiba serentak membalik saling terjang dan saling timpa, lari cerai berai meninggalkan kamar.

Lebah-lebah putih juga terbang dengan kacau, menabarak dinding dan banyak yang jatuh mati, yang sempat terbang keluar jendela saling tabrak seperti mabok, dan sebentar saja suara binatang-binatang itu sudah menjauh.

Akan tetapi mendadak Sin Liong meloncat berdiri ketika medengar suara lain yang membuat jantungnya berdebar.

Suara seorang wanita memaki-maki.

"Iblis kalian semua! Manusia-manusia gila! Kalau tidak dapat membasmi kalian, jangan sebut aku Han Swat Hong!"

Sin Liong meloncat ke arah jendela, kedua tangannya bergerak dan terdengar suara keras ketika ruji-ruji jendela jebol semua.

Dia meloncat dan keluar dari kamarnya, terus berlari keluar melalui lorong.

Setibanya di luar, tampaklah olehnya Swat Hong berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang, dua orang anggota Pulau Neraka roboh dan mengaduh-aduh di bawah sedangkan belasan orang lain mengurung gadis itu.

Sin Liong menggeleng-geleng kepala.

Sumoinya memang galak dan pemberani.

Bukan main gagahnya.

Dikurung oleh orang-orang Pulau Neraka itu masih enak-enak saja, bahkan tidak mencabut pedang, padahal semua yang mengurungnya memegang senjata.

"Heiii! Mundur kalian, jangan ganggu dia!!"

Sin Liong sudah meloncat ke depan.

"Kau yang mundur! Mengapa ikut-ikut keluar?"

Swat Hong membentak dan memandang Sin Liong dengan mata mendelik.

"Ehh? Sumoi...? Aku hanya ingin menolongmu."

"Siapa membutuhkan pertolonganmu? kembalilah ke kamar tahananmu itu dengan... dengan..."

Akan tetapi Swat Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini orang-orang Pulau Neraka telah mengeroyoknya.

"Wuuuttt... siuuuuttt!"

Tubuh Swat Hong sudah menyambar ke sana-sini, selain mengelak dari serbuan banyak senjata itu, juga untuk mengirim serangan serangan balasan dengan tangan dan kakinya yang bergerak cepat sekali.

Bukan main hebatnya Swat Hong yang bergerak cepat dan yang didorong oleh perasaan marah itu.

Dia memang marah, bukan marah kepada orang-orang Pulau Neraka, melainkan marah kepada...

Sin Liong!

Kiranya tanpa diketahui oleh Sin Liong sendiri, sudah sejak tadi Swat Hong tiba di tempat itu, menggunakan kepandaiannya menyelundup sehingga tidak diketahui para penjaga dan dia telah dapat mendengarkan percakapan antara suhengnya dan Soan Cu.

Hatinya menjadi panas!

Dia sendiri tidak tahu akan hal ini, tidak sadar mengapa dia menjadi tidak senang mendengar betapa suhengnya bercakap-cakap dengan ramah bersama seorang gadis!

karena itu, niatnya untuk menolong suhengnya menjadi buyar dan dia hanya menonton saja ketika suhengnya diserbu binatang berbisa dan dapat menolong diri dengan obat penolak yang diberikan oleh Soan Cu.

Ketika Swat Hong yang marah menyaksikan ibunya dijatuhi hukuman buang melarikan diri dari Pulau Es, dara ini segera berlayar menggunakan sebuah perahu Pulau Es.

Tujuannya memang hendak membuang diri ke Pulau Neraka menggantikan ibunya, dan terutama hal ini dilakukannya sebagai protes kepada ayahnya.

Akan tetapi karena dia belum pernah pergi ke pulau tempat buangan itu, dan pula karena sudah jauh meninggalkan Pulau Es dia mulai merasa gelisah dan ngeri memikirkan keadaan Pulau Neraka yang kabarnya amat berbahaya itu, maka dia tersesat jalan, mendarat di pulau-pulau kosong sekitar Pulau Neraka.

Akhirnya dia melihat dari jauh perahu Sin Liong meluncur di antara gumpalan-gumpalan es yang menggunung.

Dia merasa heran sekali melihat suhengnya dan merasa khawatir kalau-kalau suhengnya itu mengejarnya atas suruhan raja untuk memaksanya kembali ke Pulau Es.

Maka diam-diam ia lalu mengikuti dari jauh sampai akhirnya dia melihat suhengnya mendarat di Pulau Neraka.

Dengan menggu-nakan kepandaianya.

Swat Hong berhasil pula mendarat di Pulau Neraka.

Dia tidak khawatir akan serangan binatang-binatang berbisa, karena sebelum berangkat Swat Hong membawa batu mustika hijau yang dia dapat dahulu dari ayahnya.

Di bagian tertentu di dasar laut dekat Pulau Es terdapat batu mustika hijau ini yang amat sukar didapat dan hanya beberapa orang penghuni Pulau Es saja yang berhasil mendapatkannya.

Batu mustika hijau ini mengandung khasiat yang mujijat terhadap ular berbisa dan semua binatang berbisa, selalu ditakuti binatang-binatang itu, juga dapat dipergunakan untuk mengobati luka terkena gigitan binatang berbisa.

Maka, dengan batu mustika ditangannya, dengan mudah Swat Hong dapat memasuki Pulau Neraka tanpa mendapat gangguan sedikit pun dari binatang berbisa yang hidup di pulau itu.

Ketika Swat Hong tiba di tengah pulau, dia sempat melihat sinar, maka dia menanti sampai larut malam dan menyelundup ke dalam tempat tahanan, dengan maksud menolong suhengnya, akan tetapi tanpa disengaja dia dapat mendengarkan percakapan antara suhengnya dengan Soan Cu.

Inilah yang membuat hatinya menjadi panas sehingga ketika dia ketahuan para penjaga dan dikroyok, dia menolak keras bantuan Sin Liong!

Tentu saja Sin Liong menjadi terheran-heran melihat sikap sumoinya dan memandang dengan alis berkerut dan hati khawatir.

Sudah ada enam orang pengeroyok terguling roboh oleh gerakan kaki tangan Swat Hong yang marah itu, padahal dara itu belum mencabut pedangnya.

Dapat dibayangkan betapa akan hebatnya kalau dara itu sudah menggunakan senjata!

"Sumoi, tahan...!"

Dia meloncat maju.

"Singgg...! Mundur kau!"

Sin Liong terkejut melihat sumoinya mencabut pedang! Dan pada saat itu, terdengar bentakan keras.

"Siapakah gadis cilik itu berani mengacau disini? Ahhh, Kwa Sin Liong, engkau berani lolos dari tempat tahanan?"

Yang datang adalah Ouw Kong Ek, ketua Pulau Neraka!

Tentu saja ketua ini tidak mengenal Swat Hong, sebaliknya, dara itupun tidak mengenal kakek berkepala besar ini, maka dia memandang rendah dan membentak.

"Siapa kau? Kalau sudah bosan hidup, majulah!"

Dara itu dengan gerakan gagah melintangkan pedangnya di depan dada.

Sin Liong cepat melangkah maju.

Dia tahu betapa lihainya kakek ini, maka untuk mencegah pertempuran, dia cepat berkata.

"Tocu, jangan salah sangka. Dia adalah sumoiku, dia adalah puteri Suhu, Raja dari Pulau Es!"

Semua orang terkejut mendengar ini dan para pengurung melangkah mundur dengan mata terbelalak.

Betapapun juga, nama Raja Pulau Es masih merupakan nama ampuh dan selain dibenci, juga amat ditakuti oleh mereka.

Tentu saja sebagai puteri Raja Pulau Es, dara itu merupakan musuh yang dibenci dan juga ditakuti.

Pantas saja dara itu demikian lihai, pikir mereka.

Hati mereka gentar.

Tidak demikian dengan Ouw Kong Ek.

Dia memandang Swat Hong dan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, jadi dia inikah puteri Raja Pulau Es? Puteri Han Ti Ong? Bagus, hayo tangkap dia hidup-hidup!"

Perintahnya kepada para pembantunya yang segera melompat ke depan.

"Tahan dulu!"

Sin Liong sudah mengangkat tangan kanannya ke atas.

Semua orang, termasuk Ouw Kong Ek sendiri, memandang pemuda ini.

Betapapun juga mereka maklum bahwa pemuda ini lihai sekali, buktinya penyerbuan binatang-binatang berbisa untuk membunuhnya di dalam kamar tahanan telah gagal, bahkan binatang-binatang itu lari cerai berai dan kini pemuda itu sudah lolos dari dalam penjara.

"Ouw-tocu, seperti sudah kuceritakan kepadamu, biarpun sumoi adalah puteri Raja Han Ti Ong, akan tetapi ia menentang Ayahnya dan mewakili Ibunya dihukum ke Pulau Neraka. Dia tidak memusuhi Pulau Neraka...."

"Ha-ha-ha, apa pun yang kau katakan, dia tetap adalah puteri Han Ti Ong, musuh besar kami. Mana kami dapat percaya kepada kalian, puteri dan murid Han Ti Ong? Tangkap mereka!"

"Nanti dulu, Tocu! Mengapa engkau melanggar janji? Aku sudah mengatakan bahwa kedatanganku ke pulau ini hanya untuk mencari Sumoi dan ternyata sekarang Sumoi telah tiba di sini, maka harap Tocu bersikap bijaksana dan membiarkan kami pergi dari tempat ini."

"Hai, Kakek berkepala besar yang tolol! Kau mudah saja dibohongi Suheng! Kami memang datang untuk membasmi iblis-iblis di Pulau Neraka. Nah, kau mau apa?"

"Sumoi!"

Sin Liong membentak kaget dan cepat berkata kepada ketua Pulau Neraka.

"Tocu, jangan dengarkan dia. Agaknya dia telah mengalami tekanan batin yang hebat sehingga mengeluarkan kata-kata kacau balau tidak karuan."

Swat Hong mengangkat dada, menegakan kepalanya dan menghadapi Sin Liong dengan mata mendelik dan berkata lantang.

"Apa? Kau mau bilang bahwa aku telah menjadi gila?"

"Sumoi, kalau kau bicara seperti tadi, membohong tidak karuan, memang agaknya kau telah gila?"

"Kau yang gila! Kau yang tidak waras dan berotak miring! Kalau aku membohongi iblis-iblis ini, apa hubungannya dengan kau?"

Sin Liong benar-benar menjadi bingung.

Biasanya Swat Hong bersikap manis kepadanya dan biarpun dia tahu bahwa dara ini berhati keras, akan tetapi belum pernah bersikap sekeras itu kepadanya.

Tiba-tiba muncul Soan Cu yang berkata kepada kakeknya, suaranya nyaring sehingga terdengar oleh semua orang.

"Kong-kong, apa yang dikatakan Sin Liong memang benar! Dia beriktikad baik terhadap kita, Kong-kong. Malam tadi aku datang kepadanya untuk mengejeknya, akan tetapi dia sebaliknya malah menunjukkan bahaya maut yang mengancam diriku."

Kakek itu terkejut.

"Bahaya maut? Apa maksudmu?"

"Sin Liong ternyata memiliki ilmu pengobatan yang lihai sekali. begitu melihat aku, dia mengatakan bahwa aku terserang hawa beracun dari sebelah dalam dan jika tidak diobati dengan tepat, dalam waktu kurang dari setahun aku tentu akan mati."

"Hahh...??"

Kakek itu dan semua pembantunya terbelalak kaget memandang dara itu yang bersikap sungguh-sungguh.

"Dan dia memang benar. Dia mengantakan bahwa setiap tengah malam aku tentu merasa pening dan dibagian punggung seperti ditusuk-tusuk jarum, kalau pagi kedua kaki pegal-pegal dan sehabis makan tentu merasa mual hendak muntah. Semua yang dikatakanya itu ternyata tepat sekali, Kong-kong."

Berubah wajah kakek itu.

Soan Cu adalah seorang yang amat disayangnya, bahkan disayang oleh pembantunya karena dara inilah yang akan mewarisi seluruh ilmu kepandaiannya dan yang akan menggantikannya menjadi Ketua Pulau Neraka.

Tentu saja mendengar bahwa usia Soan Cu hanya tinggal setahun, dia terkejut bukan main dan cepat memandang kepada Sin Liong.

Sin Liong sendiri bengong dan terheran-heran.

Akan tetapi ketika dia memandang Soan Cu ketika kakek itu membalik dan menghadapinya, dia melihat dara itu secara lucu telah mengejapkan mata kirinya, maka mengertilah dia bahwa dara itu kembali membohong!

Membohong dengan cerdik bukan main dalam usahanya untuk menolongnya!

"Kwa Sin Liong, benarkah cucuku diancam hawa beracun?

Benarkah??"

Melihat sikap Sin Liong meragu, agaknya sukar bagi pemuda itu untuk membohong maka Soan Cu cepat berkata lagi.

"Kong-kong, dia mengatakan bahwa dia dapat memberikan obatnya, akan tetapi dia hanya mau memberi obat kalau dia dan sumoinya dibebaskan dari sini. Terserah kepada Kong-kong berat aku atau berat mereka itu."

Swat Hong sudah hampir membuka mulutnya memaki dara itu yang dia tahu telah membohong.

Dia sendiri mendengar percakapan mereka dan dara itu sama sekali tidak sakit, bahkan telah memberi obat penolak binatang beracun kepada Sin Liong, dan menyatakan betapa dara tak tahu malu itu amat suka dan kagum kepada Sin Liong, maka datang menolongnya.

Sekarang dara itu mengatakan hal yang bukan-bukan!

Akan tetapi, ketika mendengar ucapan terakhir dari Soan Cu, tahulah dia bahwa dara itu kini membohong untuk menolong Sin Liong dan dia terbebas dari Pulau Neraka!

Kenyataan ini membuat dia bungkam kembali.

Betapa baiknya dara itu dan betapa akan buruknya dia kalau dia membongkar rahasia gadis itu.

Tentu Sin Liong akan makin kagum kepada Soan Cu dan makin benci kepadanya.

Pikiran inilah yang membuat dia membungkam dan tidak melanjutkan niatnya untuk membantah Soan Cu.

Hati kakek itu makin bingung.

Lenyaplah semua nafsunya untuk menawan Sin Liong dan Swat Hong.

Dia memandang Sin Liong dan bertanya.

"Orang muda, benarkah engkau dapat menyelamatkan cucuku?"

Kini Sin Liong yang menjadi bingung.

Pemuda ini sama sekali tidak pernah membohong dan hatinya tidak akan dapat membohong, namun dia tahu bahwa kalau dia menyangkal kata-kata Soan Cu, sama saja mencelakakan gadis yang berniat baik kepadanya itu.

Maka dia lalu menjawab dengan suara ragu-ragu dan perlahan.

"Aku dapat memberi obat pembersih darah dan penguat tulang kepadanya, Tocu."

"Dan kau menjamin bahwa cucuku tentu akan sembuh dan terhindar dari ancaman maut hawa beracun di tubuhnya itu?"

Kakek itu mendesak.

"Kong-kong mengapa tidak percaya kepadanya? lekas minta obatnya dan engkau yang harus menjamin bahwa dia dan sumoinya tidak akan diganggu,"

Kata Soan Cu. Kakek berkepala besar itu meraba-raba jenggotnya.

"Hemmm, harus ada buktinya dulu. Kwat Sin Liong, mulai saat ini engkau dan Sumoimu puteri Han Ti Ong harus tinggal di pulau ini sebagai tamu sambil menanti hasil pengobatanmu kepada cucuku. Kalau kau gagal mengobatinya, hemmm, aku tidak akan mengampuni kalian berdua. Kalau cucuku sembuh, barulah kita bicara lagi."

Sin Liong mengerutkan alisnya hendak membantah peraturan yang berat sebelah ini, akan tetapi dia melihat Soan Cu mengedipkan mata kirinya maka dia menarik napas panjang dan mengangguk lalu berkata.

"Harap sediakan alat tulis, biar kulukiskan bentuk daun yang harus dicari."

Sin Liong lalu melukiskan beberapa macam daun yang mudah dicari dan yang mempunyai khasiat biasa saja, yaitu sekedar penambah kekuatan tubuh.

Ouw Kong Ek lalu menyuruh seorang pembantunya untuk mencari daun-daun yang dilukis itu di pulau sebelah Pulau Neraka di mana terdapat banyak tetumbuhan.

Adapun Sin Liong dan Swat Hong lalu diperlakukan sebagai tamu terhormat, bahkan disediakan dua kamar yang bersih untuk mereka, dilayani baik-baik dan tentu saja di samping pelayanan ini, para pelayan yang terdiri dari pembantu-pembantu ketua, bertugas pula sebagai penjaga!

"Kuperingatkan kepada kalian agar menanti sampai cucuku sembuh.

Lari pun tidak akan ada gunanya bagi kalian karena perahu-perahu kalian telah kami simpan dan di sekeliling Pulau Neraka tidak akan ada perahu sebuahpun.

Tanpa perahu, bagaimana kalian akan dapat meninggalkan pulau ini?"

Demikian pesan Ouw Kong Ek sebelum dia meninggalkan dua orang itu sehingga Swat Hong menjadi mendongkol sekali dan hampir saja dia memaki-maki ketua itu kalau tidak ditahan oleh Sin Liong yang memegang lengannya.

Setelah ketua itu meninggalkan mereka berdua di dalam pondok di mana mereka untuk sementara tinggal, Sin Liong menegur sumoinya .

"Sumoi, mengapa kau bersikap seperti itu?"

"Suheng, aku tidak nyangka sama sekali akan menyaksikan engkau yang terkenal alim kini bermain gila dengan gadis puteri ketua Pulau Neraka. Huhh!"

Sin Liong mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada sumoinya, hatinya bertanya mengapa sumoinya memperhatikan soal begitu, padahal sama sekali tidak ada sangkut paut dengan sumoinya.

"Sumoi, engkau tahu betul bahwa Nona Ouw Soan Cu melakukan hal itu demi menolong kita. Siapakah yang main-main dengan dia?"

"Hemm, apa kau kira aku tidak tahu betapa dia suka kepadamu dan sengaja mendatangi kamar tahananmu untuk merayumu?"

"Sumoi! jadi sudah selama ini kau berada di sini? Dan aku diam saja? Sumoi, mengapa kau menyangka yang bukan-bukan? Kalau kau sudah tahu akan kunjungannya itu, tentu kau tahu juga bahwa dia datang untuk memberi obat penolak binatang-binatang berbisa. Sumoi, kita semestinya berterima kasih kepadanya, dia bermaksud baik bahkan tidak segan-segan membohong kepada Kong-kongnya demi keselamatan kita."

"Ya, ya, memang dia baik sekali dan cantik sekali. Siapa yang tidak tahu?"

"Sumoi..., harap jangan marah. Dia adalah seorang gadis yang bernasib buruk sekali, ibunya meninggal ketika melahirkan dia, ayahnya pergi entah kemana dan sampai kini belum kembali..."

"Memang, dia seorang gadis bernasib buruk yang patut dikasihani, tidak seperti aku..."

Dan Swat Hong lalu menelungkupkan muka di atas meja dan menangis!

Sin Liong terkejut, beberapa kali hendak memegang lengan sumoinya akan tetapi ditahannya tangannya.

"Aihh... Sumoi, engkau pun bernasib buruk, dan aku merasa kasihan sekali kepadamu. Karena aku merasa kasihan aku menyusulmu. Sumoi, diamlah jangan menangis. Apakah Sumoi telah bertemu dengan Ibumu?"

Swat Hong seketika berhenti menangis, mengangkat mukanya yang basah air mata dan memandang kepada Sin Liong.

Pemuda itu merasa kasihan sekali, lalu mengeluarkan saputangannya dan mengapus air mata yang membasahi muka gadis itu.

"Suheng... apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan dia? Bukankah ibu berada di Pulau Es dan aku sudah mewakilinya?"

Mendengar tentang ibunya, seketika lupalah Swat Hong akan kemarahan dan kedukaan hatinya sendiri.

"Ibumu juga telah pergi meninggalkan Pulau Es..."

Dengan singkat Sin Liong lalu menceritakan apa yang terjadi setelah gadis itu lari pergi dari Pulau Es, betapa ibunya juga pergi, tidak mau disuruh tinggal di Pulau Es setelah puterinya membuang diri ke Pulau Neraka.

"Aku tadinya mengharapkan engkau dapat bertemu dengan ibu maka aku tidak melihatmu di sini, Sumoi. Jadi engkau belum bertemu dengan ibumu?"

Gadis itu mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala, kelihatan muram wajahnya mendengar akan kepergian ibunya.

"Ah, kalau begitu ke manakah perginya ibumu?"

Sin Liong termenung dan diam-diam dia pun merasa prihatin sekali akan nasib wanita itu.

Tiba-tiba Swat Hong berdiri dan mengepal tinju, mukanya agak pucat ketika dia berkata.

"Aku mau pergi dari sini sekarang juga! Aku harus mencari ibu sampai ketemu, dan aku tidak akan kembali ke Pulau Es! Aku tidak akan sudi menggantikan ibu di Pulau Neraka ini pula. Bukan-kah ibu sudah meninggalkan Pulau Es sehingga percuma saja aku mewakilinya?"

"Nanti dulu, Sumoi, kau tidak bisa pergi begitu saja. Tentu mereka akan menghalangimu!"

"Aku tidak takut! Yang menghalangi aku akan kubunuh!"

"Sabarlah, Sumoi. Perlu apa kita mencari permusuhan dengan mereka yang berjumlah banyak? Bukan soal takut atau tidak takut, akan tetapi mereka adalah manusia-manusia yang bernasib buruk sekali, dipaksa tinggal di tempat seperti neraka ini. Bahkan mereka boleh dibilang senasib dengan ibumu dan denganmu sendiri. Selain itu ke manakah kita harus mencari ibumu? Kalau kita berbaik dengan mereka, bukankah kemudian mereka dapat membantu kita mencari? Dengan tenaga banyak orang kukira akan lebih mudah mencari Ibumu yang tidak jelas ke mana perginya itu."

Swat Hong dapat dibujuk dan akhirnya dia duduk di atas bangku sambil mengerutkan alisnya dengan wajah muram.

Betapapun juga, setelah dia sadar bahwa cemburunya terhadap suhengnya dan Soan Cu tidak berdasar, kini terasalah olehnya betapa hatinya sesungguhnya merasa lega dan senang karena dapat bertemu dan berkumpul dengan suhengnya, apalagi di tempat yang berbahaya ini.

Beberapa hari telah lewat dan Soan Cu setiap hari minum "Obat"

Yang terbuat dari daun-daun seperti yang dilukiskan oleh Sin Liong.

Setiap hari kakeknya bertanya dan dia menjawab bahwa penyakitnya yang dideritanya, rasa nyeri seperti yang dinyatakan Sin Liong itu berangsur-angsur sembuh!

Girang bukan main hati kakek itu, akan tetapi hati Swat Hong yang mendongkol melihat betapa Soan Cu seolah-olah mengulur waktu "penyembuhannya"!

Pada hari ke tujuh, Ouw Kong Ek dan Soan Cu menda-tangi pondok tempat tinggal Sin Liong dan Swat Hong.

Dua orang muda dari Pulau Es ini memang sudah menunggu di depan pondok dengan hati tidak sabar, menanti berita kesembuhan total Soan Cu.

Maka mereka menyambut ketua Pulau Neraka dan cucunya itu dengan penuh harapan itu, melihat betapa wajah kedua orang pendatang itu berseri.

Setelah tiba di depan mereka, Soan Cu segera berkata.

"Sin Liong, Kakek merasa berterima kasih sekali kepadamu dan menyetujui kau melanjutkan pengobatan dengan menggunakan sinkang!"

"Apa...?"

Akan tetapi kata-kata Sin Liong yang bingung dan tidak mengerti itu segera diputus oleh Soan Cu.

"Bukankah dulu kau katakan setelah beberapa hari minum obat penawar racun, kau akan melenyapkan sama sekali hawa beracun itu dengan menggunakan sinkang menyedot keluar hawa itu dari punggungku?"

Ouw Kong Ek tertawa.

"Orang muda she Kwa. Kalau bukan engkau yang sudah kupercaya penuh, tentu aku tidak mengijinkan pengobatan ini. Akan tetapi aku sudah percaya kepadamu, maka silahkan. Mudah-mudahan saja dalam waktu singkat cucuku akan sembuh sama sekali."

Setelah berkata demikian, kakek itu membungkuk ke arah Sin liong dan Swat Hong, lalu meninggalkan cucunya.

"Soan Cu, apa maksudmu?"

Sin Liong segera berbisik menegur.

"Huh, tentu ingin berduaan denganmu di dalam kamar, apa lagi?"

Swat Hong mengejek.

"Husshhh, harap kalian jangan ribut-ribut,"

Bisik Soan Cu.

"Mari kita masuk ke kamar dan bicara."

Dia menggandeng tangan Sin Liong dan diajaknya masuk. Melihat Swat Hong cemberut, Sin Liong berkata.

"Sumoi, mari-lah."

"Aku tidak sudi menggangu kalian!"

"Aih Enci Hong, mengapa begitu? Yang hendak kubicarakan adalah kepentingan kalian berdua. Marilah."

Soan Cu berkata dan agaknya memang dara Pulau Neraka ini tidak pernah mengerti apa yang diejekan oleh Swat Hong.

Agaknya cara hidup di Pulau Neraka membuat dia kurang mengerti akan tata susila sehingga tak pernah merasa melanggar sesuatu biarpun dia memasuki kamar berdua dengan seorang pemuda.

Sambil bersungut-sunggut menyembunyikan rasa malunya bahwa dia telah menduga yang bukan-bukan, Swat Hong ikut masuk.

"Aku memang berpura-pura, mengulur panjang waktu penyembuhan. Semua ini karena aku mendengar bahwa Kong-kong dan para pembantunya tidak membebaskan kalian setelah aku sembuh."

"Keparat! Kong-kongmu memang bukan manusia baik-baik! pantas menjadi ketua di Pulau Neraka! Aku akan menemuinya!"

"Hushhh, Sumoi, Bersabarlah, dan mari kita dengar kata-kata Soan Cu."

Dengan muka muram Swat Hong duduk lagi dan memandang wajah Soan Cu.

Wajah yang manis sekali, pikirnya, manis dan polos.

Pantaslah kalau andaikata Sin Liong jatuh cinta kepada gadis ini, pikirnya lagi dan hatinya merasa berdebar penuh khawatir.

"Kong-kong telah berjaga-jaga dan mempersiapkan anak buahnya, menjaga kalau-kalau kalian melarikan diri. Berbahaya sekali."

"Habis bagaimana baiknya, Soan Cu?"

"Ada jalan,"

Kata dara yang lincah dan cerdik itu.

"Menurut pendengaranku ketika Kong-kong merundingkan di kamar rahasia bersama para pembantunya yang paling dipercaya, Kong-kong tidak berniat buruk kepada kalian. Setelah kau dapat menyembuhkan aku, maka Kong-kong membutuhkan engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Dia hendak menahanmu agar kau dapat mengobati setiap penghuni yang terserang penyakit. Adapun Enci Hong ditahan di sini sebagai sandera, untuk menahan kekuasaan Pulau Es."

"Keparat....!"

"Jangan marah, Enci Hong. kurasa kita harus menghadapi Kong-kong yang berwatak kasar dengan sikap dan akal halus. Kalau aku sudah sembuh, yaitu kalau kunyatakan bahwa aku sudah sembuh sama sekali, sedikit banyak Kong-kong tentu akan berterima kasih. Kemudian Liong-ko... heh, Sin Liong mengajarkan Kong-kong mengenal daun obat-obatan dengan janji akan membebaskan kalian. Kurasa Kong-kong akan mau menerimanya karena sebenarnya yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang ilmu pengobatan itu. Dengan demikian, kalau kalian meninggalkan pulau ini, kalian akan dianggap sebagai sahabat dan penolong. Bagaimana?"

"Kurasa baik juga akal ini,"

Kata Sin Liong.

"Hemm, terserahlah. Akan tetapi jangan ada akal bulus di balik semua ini!"

Swat Hong mengancam. Soan Cu menarik napas panjang.

"Enci Hong, harap jangan mencurigai aku. Aku sudah menyesal sekali menjadi seorang yang terlahir di tempat ini, dan aku ingin melanjutkan cita-cita Ayah bundaku yang kabarnya dahulu juga selalu berusaha agar penghuni Pulau Neraka tidak menjadi orang liar yang tidak mengenal perikemanusiaan."

Setelah berkata demikian, Soan Cu pergi meninggalkan pondok itu dengan muka tunduk.

"Seorang anak yang baik...."

Sin Liong memuji sambil memandang tubuh dara itu yang melangkah pergi meninggalkan pondok.

"Maksudmu, seorang dara yang cantik dan berbudi!"

Tanpa menoleh Sin Liong mengangguk.

"Memang, dia cantik dan berbudi."

"Huh! Sudah kusangka demikian!"

Sin Liong menoleh kaget dan memandang wajah sumoinya.

"Sumoi, apa maksudmu?"

Swat Hong membuang muka.

"Hemm, tidak apa-apa. Begitulah!"

Lalu dia lari memasuki kamarnya, membanting daun pintu keras-keras.

Sin Liong menggeleng kepalanya, makin tidak mengerti dia akan sikap wanita pada umumnya dan saat itu, sikap Swat Hong khususnya, juga sikap Soan Cu yang amat aneh kalau diingat bahwa dia adalah cucu ketua Pulau Neraka yang berwatak aneh dan kejam.

Semua terjadi seperti direncanakan oleh Soan Cu.

Setelah dara itu mengaku sembuh sama sekali dan Sin Liong bersama Swat Hong menghadap ketua untuk minta pembebasan, Ouw Kong Ek menggeleng kepalanya dan berkata.

"Kwa Sin Liong, kami berterima kasih sekali atas penyembuhan penyakit cucuku, dan untuk jasamu itu, kami tidak akan menggangu kalian, bahkan menganggap kalian sebagai orang-orang berjasa. Akan tetapi, terpaksa kami tidak dapat membebaskan kalian karena kami amat membutuhkan engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Maka, harap kalian suka mengerti akan kebutuhan kami ini. Tinggallah di sini dan menjadi orang-orang terhormat menjadi pembantuku yang paling baik."

"Tocu, aku mengerti akan kebutuhan Tocu dan para penghuni Pulau Neraka. Akan tetapi sungguh tidak adil kalau menyuruh kami tinggal di sini selamanya, apa lagi amat tidak adil bagi Sumoi. Betapapun juga, karena aku mengerti akan kebutuhan kalian semua, biarlah sekarang diatur begini saja. Aku akan sementara waktu tinggal di sini mengajarkan ilmu pengobatan kepada Tocu, akan tetapi kuminta agar Sumoi sekarang juga dibebaskan, diberi sebuah perahu agar sumoi dapat pergi lebih dahulu meninggalkan Pulau Neraka. Adapun aku sendiri, kalau Tocu sudah mengenal semua daun dan bahan pengobatan, baru aku akan pergi dari sini. Bagaimana?"

Ketua Pulau Neraka itu mengerutkan alisnya, lalu melirik kearah cucunya yang duduk di sebelahnya dan menundukan kepala saja.

"Hemmm, boleh juga sumoimu pergi. Biarpun dia puteri Han Ti Ong, akan tetapi mengingat akan jasamu, biarlah dia kami bebaskan. Akan tetapi kau.... ah, aku sangat mengharapkan agar engkau menjadi.... keluarga kami, orang muda."

Kembali dia mengerling ke arah Soan Cu dan gadis itu makin menundukan mukanya yang menjadi merah sekali.

"Benar sekali, dia amat cocok menjadi jodoh Nona Ouw!"

Beberapa orang membantu berkata sambil tertawa-tawa, sikap mereka bebas terbuka.

"Aku tidak mau pergi!"

Tiba-tiba Swat Hong berkata lantang.

"Kalau Suheng tinggal di sini mengajarkan ilmu pengobatan, aku akan tinggal di sini juga sampai pelajaran itu selesai. Dan kalau... kalau ada pengantian di sini, kalau suheng diambil mantu, aku pun harus menjadi saksinya!"

Ucapan itu sebetulnya dikeluarkan dengan gejolak kemarahan dan kepanasan hatinya, akan tetapi para pembantu Ouw Kong Ek menyambutnya dengan suara ketawa.

Tentu saja Sin Liong kaget sekali mendengar ucapan Sumoinya itu.

Ada kesempatan yang amat baik terbuka bagi Swat Hong untuk membebaskan diri dari pulau berbahaya itu, dan kesempatan itu dibuang begitu saja oleh Swat Hong!

Dia telah mengenal watak Swat Hong.

Sekali bilang tidak mau, dipaksa pun sampai mati tidak akan mau tunduk!

Maka dia menjadi bingung sekali.

"Tocu, karena Sumoi tidak mau pergi sendiri lebih dulu, maka biarlah perjanjian kita diubah. Aku akan memberi pelajaran ilmu pengebatan kepada Tocu, setelah Tocu mengenal bahan obat untuk melindungi penghuni pulau ini, aku dan Sumoi boleh pergi dengan bebas."

Ketua Pulau Neraka itu mengelus-elus dagunya dan alisnya berkerut, berkali-kali dia melirik ke arah cucunya.

Dia adalah seorang yang sudah tua, biarpun tidak pernah terjun ke dunia ramai, namun dia tahu bahwa cucunya jatuh hati kepada pemuda yang hebat ini.

Dan dia tidak melihat seorang pemuda lain di Pulau Neraka yang kiranya patut menjadi suami cucunya!

Tentu saja hatinya tidak rela kalau pemuda itu pergi meninggalkan pulau karena dia tahu bahwa hal itu tentu akan mengecewakan hati cucunya.

Maka dia hanya menggeleng-geleng kepala, tanpa dapat menjawab.

Melihat keraguan ketuanya, seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih melaju maju.

Orang ini kepalanya gundul botak akan tetapi mukanya penuh brewok, tubuhnya kurus kecil dan di lehernya ada seekor ular merah melingkar.

Dia adalah pembantu utama dari Ouw Kong Ek, seorang yang lihai ilmu kepandaiannya dan bernama Lo Thong.

Berbeda dengan Majikan Pulau Neraka itu yang merupakan keturunan orang buangan, maka Lo Thong sendiri adalah seorang buangan dari Pulau Es, tiga puluh tahun yang lalu dia dibuang dariPulau Es karena sebagai seorang pemuda dia banyak melakukan kejahatan.

Setelah berada di Pulau Neraka dia memperdalam ilmi-ilmunya dan menjadi orang ke dua yang terkuat setelah Ouw Kong Ek, yaitu sesudah putera Ouw Kong Ek yang bernama Ouw Sian Kok, ayah Soan Cu menjadi gila dan meninggalkan pulau.

Maka dia diangkat sebagai pembantu utama oleh Ouw Kong Ek.

"Twako (Kakak),"

Lo Thong berkata dan tidak seperti lain penghuni Pulau Neraka yang menyebut ketua mereka tocu (majikan pulau), dia menyebutnya kakak.

"Mengapa Twako bingung menghadapi urusan dua orang anak-anak ini? Betapapun juga, mereka berada di pulau ini dan seharusnya mereka tunduk kepada semua perintah Twako yang menjadi hukum di sini. Kalau mereka hendak mengambil keputusan sendiri, boleh saja akan tetapi mereka harus lebih dulu dapat mengalahkan kita!"

Ouw Kong Ek memandang pembantunya dengan muka berseri, seolah-olah dia terlepas dari keadaan yang ruwet.

"Kalau begitu, bagaimana baiknya, Lo-tee?"

"Menurut saya, lebih baik diadakan pertandingan antara orang pemuda She Kwa ini dan Twako. Kalau dalam pertandingan itu dia kalah, maka dia dan Sumoinya harus selamanya tinggal di sini dan menjadi penghuni pulau ini seperti kita semua."

"He, Botak! Enak saja kau bicara! Siapa bilang Suhengku kalah oleh ketua kalian? Habis, kalau kemudian ketua kalian yang kalah, bagaimana?"

Swat Hong berteriak nyaring.

"Twako kalah? Ha-ha, mana mungkin?"

Lo Thong menjawab.

"Akan tetapi kalau Twako kalah, biarlah pemuda She Kwa ini mengajarkan ilmu pengobatan sampai Twako pandai, baru kalian berdua boleh pergi meninggalkan pulau ini dengan bebas."

"Usul yang bagus sekali!"

Ouw Kong Ek berseru gembira.

"Kwa Sin Liong, aku mendengar bahwa di dunia ramai, di daratan sana, orang-orang gagah menggunakan kepandaian untuk memutuskan sebuah perkara yang ruwet. Aku percaya bahwa engkau tentu seorang gagah pula, maka biarlah kita membereskan urusan ini dengan mengukur kepandaian masing-masing seperti yang diusulkan oleh pembantuku Lo Thong."

Sin Liong menggeleng kepalanya.

"Tocu, aku tidak suka menggunakan ilmu yang kupelajari untuk kekerasan. Mengapa Tocu hendak menggunakan cara kekerasan untuk menahan kami berdua selamanya di pulau ini? Aku sudah besedia mengajarkan ilmu pengobatan, maka sudah sepatutnya kalau Tocu membalasnya dengan membebaskan kami.

"Tidak kita harus saling mengukur kepandaian dulu!"

Ketua itu berkeras. Tiba-tiba Swat Hong melompat ketengah lapangan dan membusungkan dada menegakkan kepalanya.

"Hayolah! Kalau Suheng tidak mau, biarlah aku yang melayanimu! Siapa sih takut kepada orang Pulau Neraka? Aku yang memasuki pertandingan itu, dan kalau kalah, boleh kalian berbuat apa saja sesuka kalian!"

"Sumoi...!!"

Sin Liong menegur.

"Suheng, aku tidak takut!"

Swat Hong membantah. Ouw Kong Ek mengerutkan alisnya.

"Soan Cu, kau layani bocah liar yang sombong ini!"

Katanya.

"Baik Kong-kong."

Soan Cu bangkit berdiri dan melangkah maju, akan tetapi segera berhenti ketika mendengar suara Sin Liong.

"Soan Cu harap jangan bertanding. Di antara kita tidak ada permusuhan, bukan?"

Soan Cu meragu, memandang kepada Kong-kongnya, kemudian kepada Sin Liong, dan akhirnya dia kembali duduk di tempatnya yang tadi.

"Soan Cu...."

Kakeknya menegur.

"Kong-kong, aku tidak mau bertanding. Mereka bukan musuhku."

Mata kakek itu terbelalak, akan tetapi dia tidak marah bahkan lalu tertawa bergelak.

"Kau...kau lebih taat kepadanya? Ha-ha-ha-ha!"

Dia tertawa karena sikap cucunya itu jelas membuktikan betapa cucunya benar-benar telah jatuh cinta kepada Sin Liong!

Sampai-sampai berani membangkang terhadap perin-tahnya hanya karena Sin Liong menghendaki demikian.

Makin panaslah hati Swat Hong.

Tadinya dia sudah siap-siap untuk menjatuhkan cucu ketua Pulau Neraka itu, selain agar menang pertandingan juga hendak memperlihatkan kepada Suhengnya bahwa dia lebih pandai dari pada Soan Cu.

Akan tetapi, ternyata Suhengnya melarang Soan Cu dan dan putri Pulau Neraka itu begitu taat!

"Ouw Kong Ek, kalau cucumu tidak berani maju, biarlah kau sendiri yang maju!

Hayo tandingilah aku, puteri Raja Pulau Es!"

Dia menantang-nantang dengan suara penuh kemarahan.

Sin Liong hanya menggeleng kepalanya dan bingung sekali bagaimana harus mencegah sumoinya.

Kembali kakek itu menjadi marah.

Tantangan yang keluar dari mulut Swat Hong membuat mukanya merah dan telinganya panas.

Akan tetapi betapa memalukan kalau dia harus menandingi seorang bocah perempuan yang usianya sebaya dengan cucunya sendiri!

"Twako, perkenankanlah saya menghajar bocah bermulut lancang ini"

Lo Thong berkata dan Ouw Kong Ek mengangguk, akan tetapi masih ingat dan memesan.

"Akan tetapi cukup beri hajaran saja, jangan sampai dia terbunuh."

"Baik saya mengerti, Twako."

Lo Thong menjawab lalu sekali kakinya bergerak, tubuhnya sudah mencelat ke depan Swat Hong.

Menyaksikan ginkang yang hebat ini diam-diam Sin Liong khawatir sekali, akan tetapi dia pun tidak dapat mencegahnya karena maklum kalau dia melarang, Sumoinya tentu akan menjadi makin nekat saja.

Maka dia hanya bangkit berdiri dan memandang dengan jantung berdebar tegang.

Swat Hong memandang kakek botak yang berdiri di depannya, lalu berkata, suaranya mengejek.

"Apakah pertandingan ini akan memutuskan perjanjian tadi, bahwa kalau aku menang kami berdua boleh pergi dari sini?"

"Tidak", jawab Lo Thong.

"Pertandingan ini hanya mengenai dirimu, kalau kau menang kau boleh pergi, kalau kau kalah, kau harus tinggal di sini selamanya dan menjadi muridku."

"Setan alas! Siapa takut padamu?"

Swat Hong yang sudah kena dibakar hatinya itu membentak.

"Sumoi, tanpa pertandingan pun kau boleh pergi sekarang juga!"

Sin Liong berteriak.

"Tidak, Suheng. Aku merasa kurang terhormat kalau pergi begitu saja. Aku tidak sudi menerima kebaikan orang-orang Pulau Neraka. Kalau aku pergi berarti aku pergi mengandalkan kepandaian aku sendiri, bukan karena kebaikan hati mereka. Hayo, kakek botak, boleh kau keluarkan segala ilmumu!"

"Bocah sombong, sambutlah ini!"

Lo Thong merasa panas juga perutnya melihat sikap dara remaja yang memandang rendah kepadanya itu.

Akan tetapi dia pun maklum bahwa dara ini tentu memiliki kepandaian tinggi sebagai puteri Raja Pulau Es, maka sekali menyerang, dia telah mengeluarkan kepandaiannya, mengeluarkan jurus yang ampuh dan mengerahkan tenaga sinkangnya.

"Wuuuuuttt... sirrr...desss!"

Mula-mula Lo Thong menggerakan tubuhnya rendah kebawah, seolah-olah lengan kirinya yang bergerak itu hendak menangkap kaki Swat Hong, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya meninggi, tangan kanannya meluncur dan mencengkram ke arah pinggang dara itu.

Namun Swat Hong yang usianya masih muda sekali itu belum lima belas tahun, telah mewarisi inti kepandaian dari ilmu-ilmu kesaktian Pulau Es.

Dengan tenang dia melihat bahwa bukan tangan kiri lawan yang berbahaya melainkan tangan kanannya, maka dia cepat menarik kaki kiri dan menangkis dengan sabetan tangan miring dari samping yang mengenai lengan lawan.

LoThong mencelat ke belakang dan inilah kehebatan ginkangnya.

Gerakannya bukanlah langkah kaki, melainkan loncatan yang membuat tubuhnya mencelat ke sana-sini dengan amat cepatnya dan sama sekali tidak terduga-duga lawan.

"Sumoi awasilah gerakannya. Ginkangnya lihai!"

Sin Liong berseru dan diam-diam Lo Thong mendongkol juga.

Ternyata pemuda itu lihai sekali, baru segebrakan saja sudah mengenal dimana letak keampuhannya.

Maka dia lalu menggereng dan menubruk maju, menghujani Swat Hong dengan serangan bertubi-tubi.

Swat Hong diam-diam terkejut juga.

Ternyata bahwa pembantu utama dari ketua Pulau Neraka ini hebat bukan main.

Setiap gerakan tangannya mendatangkan angin keras menyambar dan kecepatannya membuat dia pening karena harus menggerakan kekuatan matanya untuk mengikuti terus gerakan lawan.

Namun, tentu saja dia tidak menjadi gentar.

Sejak kecil dara remaja ini tidak pernah mengenal artinya takut, dan dia pun mengeluarkan kepandaiannya untuk membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya.

Semua mata memandang pertandingan itu dengan penuh perhatian.

Diam-diam Soan Cu merasa kagum sekali kepada Swat Hong dan dia harus mengaku dalam hatinya bahwa andaikata tadi dia yang maju, dia akan kalah menghadapi kelihaian dara Pulau Es itu, maka dia merasa makin bersyukur kepada Sin Liong yang tadi mencegahnya maju melawan Swat Hong.

Apakah pemuda itu sudah tahu bahwa dia akan kalah kalau melawan Swat Hong?

Soan Cu melirik ke arah Sin Liong dan melihat betapa wajah pemuda yang tampan itu diliputi kekhawatiran, maka dia kembali menyaksikan pertandingan yang hebat itu.

Tubuh mereka berdua yang bertanding itu sudah tidak dapat kelihatan jelas, yang tampak hanya dua bayangan berkelebatan ke kanan kiri dengan cepat sekali.

Ginkang yang dikuasai oleh Lo Thong memang hebat sekali, akan tetapi sekarang dia berhadapan dengan puteri Raja Han Ti Ong dari Pulau Es!

Biarpun masih kalah sedikit namun Swat Hong dapat mengimbangi kecepatan lawan, bahkan dapat mendesak dengan ilmu silatnya yang luar biasa dan tenaga sinkangnya yang berdasarkan hawa murni dari im-kang (Lanjut ke

Jilid 07) Bu Kek Siansu (Seri ke 01 Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 yang dingin.

Ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong adalah ilmu silat tangan kosong Jit-cap-jiseng (Tujuh Puluh Dua Bintang) yang mempunyai tujuh puluh dua jurus-jurus ampuh.

Sebagai bekas penghuni Pulau Es sebelum Swat Hong terlahir, tentu Lo Thong mengenal ilmu ini, bahkan ilmu silatnya sediri pun bersumber pada ilmu silat Pulau Es.

Akan tetapi setelah dua puluh tahun lebih berada di Pulau Neraka dan mempelajari ilmu-ilmu dari Pulau Neraka, maka ilmu silatnya menjadi campur aduk dan tentu saja kalah murni oleh ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong.

Pula, Lo Thong dahulu belum mempelajari Jit-cap-ji-seng sampai habis, hal yang jarang dilakukan penghuni Pulau Es kecuali keluarga raja.

Mulailah Lo Thong terdesak oleh serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Swat Hong.

Ingin sekali Lo Thong menggunakan senjatanya, yaitu ular hidup yang melingkar di lehernya, namun dia takut akan pesan ketuanya tadi.

Kalau dia menggunakan senjata itu dan sekali lawan tergigit mati tentu dia akan mendapat marah besar.

Maka dia lalu berteriak keras dan mengerahkan seluruh ilmunya meringankan tubuh.

"Aihhh...!"

Swat Hong terkejut ketika melihat betapa tubuh lawan dapat bergerak lebih cepat lagi dan dalam serangkaian serangan yang tak terduga saking cepatnya, hampir saja pundaknya kena dicengkeram.

Dia berseru sambil meloncat keatas, tinggi sekali kemudian bagaikan seekor burung walet, tubuh-nya sudah membalik di udara, menukik kebawah dan dia sudah melancarkan serangan dengan jurus Kak-seng-jip-hai (Bintang Terompet Memasuki Laut), jurus terakhir yang paling ampuh dan yang dulu dilatihnya dengan ibu dan ayahnya sehingga dia mahir sekali mainkan jurus ini.

Hebat bukan main daya serang jurus ini karena selagi tubuh meluncur turun dengan menukik kebawah, kedua tangannya sudah bergerak mencengkram kearah ubun-ubun kepala lawan yang botak itu!

"Hayaaa...!"

Kini Lo Thong yang kaget ketika merasa ada hawa dingin menyentuh ubun-ubun kepalanya dari atas.

Maklum bahwa serangan itu merupakan ancaman maut bagi dirinya, dia tidak berani lengah, cepat membuang diri kebelakang sehingga dia terjengkang, kemudian menggunakan ginkangnya untuk berguling di atas lantai.

Dengan gerakan ini, biarpun pakainnya kotor terkena debu, namun dia selamat dan dapat menghindar-kan diri dari serangan jurus Kak-seng-jip-hai tadi.

Akan tetapi, betapa terkejutnya melihat dara itu sudah meloncat ke depan dan baru saja dia bangkit berdiri, Swat Hong sudah menghantamnya dengan kedua tangan didorongkan ke depan.

"Haiiiiiiittt!!"

Swat Hong berseru nyaring dan mengerahkan tenaga sin-kangnya.

"Sumoi, jangan....!"

Sin Hong berteriak, kaget ketika melihat betapa sumoinya itu mengguna-kan tenaga Swat-im-sin-ciang (Tenaga Pukulan Inti Salju) yang merupakan sinkang paling ampuh dari Pulau Es!

Untuk melatih diri agar bisa menguasai tenaga im-kang yang amat kuat ini, orang harus bersamadhi di atas salju, tanpa pakaian, dan melewati malam-malam yang dinginya menyusup tulang!

Dan sebagai puteri Raja Han Ti Ong, tentu saja Swat Hong telah menguasai sinkang itu yang kini dipergunakan untuk menyerang selagi lawan terdesak.

"Ciaaaattt...!!"

Lo Thong juga berteriak keras dan cepat dia menolak hawa serangan itu dengan dorongan kedua tangannya.

Dua tenaga sinkang bertemu tanpa kedua pasang telapak tangan itu bersentuhan dan akibatnya, Lo Thong terhuyung kebelakang dan dari ujung bibirnya mengucur darah!

Sambil menggereng keras, Lo Thong yang merasa penasaran itu melompat ke depan menerkam, akan tetapi Swat Hong yang sudah siap menyambutnya dengan sebuah tendangan dari samping yang tepat mengenai pantat Lo Thong dan membuat tubuhnya terlempar jauh ke arah tempat duduk Ouw Kong Ek!

Ketua Pulau Neraka ini marah sekali, tangannya bergerak menyambut tubuh itu dan tahu-tahu tubuh Lo Thong sudah melayang lagi ke arah Swat Hong.

Akan tetapi ternyata bahwa ketika menyambut tadi, Ouw Kong Ek yang lihai telah menotok dua jalan darah di pungung pembantunya yang seketika merasa dadanya lega kembali, begitu dia dilontarkan ke arah Swat Hong, dengan nekat dia sudah menyerang dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan hendak mencengkram tubuh gadis itu.

Swat Hong terkejut sekali, tidak nyangka bahwa tubuh lawan akan secepat itu melayang kembali ke arahnya, maka dia berteriak dan maklum akan bahaya yang mengancam karena dia tidak sempat mengelak lagi!

Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Sin Liong telah berada di dekat sumoinya.

Dengan tangan kiri dia menarik tubuh sumoinya dan dengan tangan kanan dia menyampok ke atas dan kedua tangan Lo Thong tertangkis, bahkan tubuh orang botak ini terdorong miring dan cepat dia meloncat ke atas lantai dengan mata terbelalak heran dan kagum akan kehebatan tenaga pemuda itu.

Maklum bahwa dia tak mampu menang, dia lalu mengundurkan diri di dekat ketuanya dengan muka penuh keringat.

"Bagus! Puteri Han Ti Ong lumayan juga kepandaiannya, boleh coba-coba dengan aku sendiri!"

Ouw Kong Ek turun dari kursinya dan melangkah ke tengah lapangan.

"Baik, majulah! Aku tidak takut menghadapimu!"

Swat Hong menantang.

"Sumoi, mundurlah! Biar aku menghadapi Ouw Tocu."

Sin Liong mencegah sumoinya.

"Tidak, aku akan menghadapi sendiri!"

Sin Liong melangkah menghampiri Ouw Kong Ek dan berkata.

"Ouw-tocu, benarkah Tocu menantang sumoiku ini? Harap Tocu suka melihat baik-baik. Sumoiku adalah seorang anak perempuan yang usianya sebaya dengan cucumu, sehingga kalau Tocu menantangnya sama artinya dengan Tocu menantang seorang cucu! Kalau Tocu tidak malu bertanding dengan seorang anak perempuan yang sepatutnya menjadi cucumu, silahkan. Kalau Tocu, cukup gagah biarlah aku menerima tantanganmu tadi. mari kita bertanding mengukur kepandaian. Kalau aku kalah, terserah kepada Tocu. kalau aku menang, setelah aku mengajarkan ilmu pengobatan, Tocu akan membiarkan kami berdua pergi dari pulau ini dengan aman. Bagaimana?"

"Aku tidak takut! Suheng, biar aku melawan dia, aku tidak takut!"

Swat Hong berteriak-teriak.

Ouw Kong Ek memandang kepada dara muda dan mukanya berubah merah.

Memang tidak keliru omongan Sin Liong tadi.

Bocah itu masih amat muda, masih kanak-kanak sebaya Soan Cu.

Seorang anak-anak dan perempuan lagi!

Tentu saja akan amat merendahkan dirinya kalau sampai dia menantang seorang anak perempuan kecil!

"Baiklah, mari kita mengadu kepandaian Kwa Sin Liong,"

Katanya. Sin Liong menoleh kepada sumoinya.

"Nah, kau dengar. Yang ditantang adalah aku, bukan kau, Sumoi. Mundurlah."

Swat Hong membanting-banting kaki, terpaksa dia mundur akan tetapi lebih dulu dia berkata kepada Ouw Kong Ek.

"Aku selalu masih siap untuk melayani jago Pulau Neraka yang manapun juga."

Ouw Kong Ek dan Sin Liong sudah saling berhadapan dan keduanya saling pandang tanpa bergerak, seolah-olah hendak mengukur dan menilai keadaan lawan dengan pandangan matanya.

Melihat sikap pemuda yang amat tenang itu, juga pancaran sinar matanya lembut dan bebas dari rasa takut maupun kebencian dan kemarahan, hati Ouw Kong Ek menjadi makin suka.

Melihat sikap pemuda ini, sukar untuk dipercaya bahwa pemuda ini adalah murid Han Ti Ong, Raja Pulau Es yang sakti.

Kelihatannya hanya seperti seorang pemuda yang lemah, pantasnya seorang sastrawan yang biasanya hanya membaca sajak dan menulis huruf indah atau meniup suling.

"Orang muda, mulailah!"

Ouw Kong Ek berkata ragu-ragu untuk menggunakan kepandaiannya menyerang orang yang kelihatannya lemah ini.

"Ouw-tocu, bukan aku yang menghendaki adu kepandaian ini, maka biarlah aku hanya menjaga diri saja."

Jawaban yang keluar dengan suara lembut dan sejujurnya itu setidaknya memanaskan hati Ouw Kong Ek karena kedengarannya seolah-olah pemuda itu memandang rendah kepadanya.

Pemuda ini sama sekali tidak gentar menghadapinya, hal itu sama saja memandang rendah!

"Kwa Sin Liong, sambutlah seranganku!"

Bentaknya dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, gerakannya perlahan saja namun didahului sambaran angin pukulan dari kedua telapak tangannya.

"Wuuuuuttt... wuuuuttt!!"

Hawa pukulan yang dahsyat dua kali menyambar ke arah leher dan pusar Sin Liong ketika kakek itu mengge-rakan kedua tangannya memukul.

Dengan tubuh ringan sekali Sin Liong menggeser kaki dan berhasil mengelah sampai berturut-turut enam kali karena ternyata bahwa pukulan kakek itu begitu luput dari sasaran terus dilanjutkan dengan serangan berikutnya tanpa berhenti sedikit pun, sehingga enam kali berturut-turut kedua tangannya menyambar dahsyat dari segala jurusan!

barulah Sin Liong dapat membebaskan diri dari kepungan kedua tangan itu ketika dia meloncat jauh ke belakang, dan siap lagi menghadapi serangan berikutnya.

"Bagus!"

Ouw Kong Ek berseru kagum melihat betapa pemuda itu dengan enak saja sudah berhasil menghindarkan diri dari serangan pukulan yang dinamakan Jurus Pukulan Badai Mengamuk.

Kemudian dia menerjang lagi, kini dia tidak bergerak lambat lagi, melainkan cepat sekali.

Kaki tangannya bergerak dengan cepatnya, gerakan yang aneh namun setiap gerakan mengandung daya serang yang amat berbahaya.

Kembali Sin Liong menyambut serangan-serangannya itu dengan tenang dan hati-hati, mengelak ke sanansini dan hanya kalau terpaksa dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkis atau menyampok.

Perlahan saja pemuda itu menangkis, namun selalu tangkisannya yang membawa hawa pukulan Im-kang itu berhasil menghalau tangan lawan!

Sampai tiga puluh jurus lebih Sin Liong selalu mengelak dan menangkis tanpa satu kalipun membalas serangan lawan!

Tentu saja hal ini membuat Ouw Kong Ek kagum sekali.

Pemuda ini sudah diserangnya dengan hebat, didesaknya sampai keadaannya berbahaya, namun tetap tidak mau membalas.

"Eh, Suheng, kau tidak membalas, apa kau merasa phai-seng-gi (sungkan) kepada orang yang hendak memungut mantu kepadamu?"

Swat Hong berteriak-teriak penuh penasaran ketika melihat suhengnya bertempur seperti orang mengalah saja.

Merah muka Sin Liong.

Memang dia tidak mau membalas karena dia selamanya belum pernah memukul orang!

Dia memang mempelajari silat yang tinggi sekali tingkatannya, bahkan dari kitab-kitab lama yang rahasia dan tak pernah dibaca orang di dalam perpustakaan Pulau Es, dia menemukan ilmu-ilmu mujijat, di antaranya ilmu mengenal inti gerakan semua ilmu silat.

Akan tetapi dia merasa sungkan dan ngeri kalau harus memukul orang lain, apalagi kepada kakek yang sama sekali tidak ada permusuhan apa-apa dengannya itu.

Kini mendengar ejekan Swat Hong, dia merasa tidak enak dan hatinya terguncang.

Guncangan ini memperlambat gerakan tangannya, maka ketika dia menangkis sebuah pukulan, tangkisannya meleset dan pukulan tangan kiri Ouw Kong Ek menyerempet pundaknya.

Tubuhnya tergetar hebat dan dia terhuyung ke belakang.

Ouw Kong Ek yang merasa penasaran sekali kini maklum bahwa kalau pemuda itu membalas serangannya, mungkin dia akan kalah!

maka melihat hasil pukulannya yang membuat Sin Liong terhuyung dia cepat mendesak maju.

Dia harus mengalahkan pemuda ini karena dia ingin sekali pemuda ini menjadi penghuni Pulau Neraka, dan kalau mungkin menjadi suami Soan Cu.

Dan untuk itu, dia harus lebih dulu merobohkannya.

Maka dia cepat mendesak selagi tubuh Sin Liong terhuyung ke belakang itu.

"Wuuut-plak-plak! Wuuu-plak-plak!!"

Pukulan-pukulan tangan Ouw Kong Ek hebat sekali dan setiap kali Sin Liong yang masih terhuyung itu mengelak, pukulan itu berubah menjadi cengkraman yang amat lihai namun selalu tangan Sin Liong masih dapat menyapoknya!

Bahkan pemuda itu berseru keras, tubuhnya melayang keatas, berjungkir balik dua kali dan sudah turun lagi ke atas lantai dengan tubuh tegak dan sudah siap lagi!

Ouw Kong Ek makin penasaran.

Cepat dia menerjang maju, kedua kakinya bergerak cepat dengan tendangan berantai yang cepat dan kuat sekali.

Kedua kaki itu seperti kitiran saja sehingga kelihatannya kakek ini berkaki lebih dari dua yang bergerak susul menyusul melakukan tendangan ke arah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Sin Liong.

"Siuut-siutt...dess!!"

Setelah berhasil mengelak ke kanan kiri, Sin Liong terdesak ke sudut dan terpaksa dia menggunakan kedua lengannya menangkis sambil mengerah-kan tenaga inti salju.

Tubuh Ouw Kong Ek menggigil, terasa dingin sekali tubuhnya, rasa dingin yang menjalar melalui kaki yang tertangkis.

Dia menggoyang tubuhnya beberapa kali dan rasa dingin sudah terusir.

Dia memandang lawannya dengan mata terbelalak lebar, kemudian kakek ini mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke atas kemudian menukik kearah Sin Liong.

Sin Liong terkejut sekali, dia maklum bahwa serangan terakhir ini bukan main hebatnya, maka dia pun lalu berteriak keras dan tubuhnya juga mencelat ke atas menyambut tubuh lawannya, kedua lengannya digerakkan di depan tubuhnya.

"Plak-plak... bruukkk!!"

Tubuh Ouw Kong Ek terbanting ke atas lantai, dan hanya setelah dia bergulingan beberapa kali saja dia dapat bangun dengan agak pening.

Bukan main, pikirnya.

Dia tadi melakukan serangan dahsyat, serangan maut yang akan sukar disambut oleh lawan yang sakti, akan tetapi pemuda itu menyambutnya di udara, memapaki pukulan dengan pukulan sehingga kedua telapak tangan mereka bertemu di udara dan akibatnya dia sendiri yang terbanting keras!

"Belum cukupkah, Tocu?"

Sin Liong bertanya dengan suara penuh penyesalan karena dia dipaksa untuk bertempur , hal yang sama sekali tidak disukainya.

"Hmm, aku belum mengaku kalah, orang muda!"

Dan kini kakek itu menyerang lagi dengan ilmu silat yang gerakannya cepat sekali, akan tetapi juga aneh.

Swat Hong yang menonton di pinggir, memandang penuh perhatian dengan alis berkerut.

Dia merasa heran sekali.

Ilmu silat yang dimainkan oleh kakek itu seperti pernah dilihatnya, seperti bukan gerakan asing, namun mengapa begitu aneh dan sama sekali tidak dikenalnya?

Memang tidak mengherankan hal ini terjadi pada Swat Hong karena ilmu silat yang dimainkan kakek itu memang bersumber pada ilmu silat Pulau Es, hanya sudah diubah banyak sekali menjadi ilmu silat ciptaan nenek moyang Pulau Neraka!

Bahkan kini dari kedua telapak tangan kakek itu mengepul uap hitam, dari mulutnya juga menyembur uap hitam yang kadang-kadang menyambar ke arah muka Sin Liong.

Sebagai seorang hali pengobatan Sin Liong segera mengenal hawa beracun keluar dari uap hitam itu, maka dia bersikap hati-hati, setiap kali ada uap hitam menyambar.

Sementara itu, sambil mengelak dan menang-kis dia mencurahkan seluruh perhatiannya dan dengan ilmu mujijat yang didapatnya dari kitab, yaitu mengenal rahasia inti gerakan ilmu silat, dia sudah dapat mencatat dan hafal akan jurus-jurus yang dimainkan oleh lawannya.

"Suheng, balaslah lawanmu! Apa kau takut?"

Swat Hong berteriak lagi. Ouw Kong Ek yang sudah merah mukanya saking penasaran dan malu karena merasa dipandang rendah dan dipermainkan, membentak.

"Orang muda, berani engkau memandang rendah kepadaku sehingga tidak mau balas menyerang?"

Sin Liong terkejut bukan main.

Sama sekali tidak mengira bahwa sikapnya yang mengalah dan tidak mau balas menyerang itu malah dianggap memandang rendah oleh kakek itu dan dianggap takut oleh Swat Hong!

Tadinya dia hanya mengharapkan kakek itu akan tahu diri dan mundur sendiri.

Siapa kira, kakek itu keras kepala dan tidak akan mengaku kalah kalau tidak dirobohkan!

Dalam keadaan seperti itu, tidak ada pilihan lain bagi Sin Liong.

Dia menggigit bibirnya menguatkan hati karena menyerang orang merupakan hal yang berlawanan dengan hatinya, lalu kaki tangannya bergerak cepat sekali.

Terdengarlah seruan-seruan kaget dari mulut para pembantu Ouw Kong Ek, bahkan belasan jurus kemudian, setelah dengan susah payah Ouw Kong Ek mengelak dan menangis, kakek ini berseru keras dan tubuhnya terguling.

"Heiiii... dari mana engkau mendapatkan ilmuku ini?"

Kakek yang sudah terguling karena kedua lututnya tercium ujung sepatu Sin Liong itu meloncat bangun lagi sambil bertanya dengan mata terbelalak dan penuh keheranan.

Selama belasan jurus tadi, dia telah diserang oleh Sin Liong dengan ilmu silatnya sendiri dan pada jurus ke lima belas, dia tidak mampu menghindar sehingga kedua lututnya tertendang membuat dia terguling.

Dan kalau pemuda itu menghendaki, ketika ia terguling tadi tentu pemuda itu dapat menyusulkan serangan maut yang dapat menewaskannya!

Sin Liong menjura dan melangkah mundur.

"Aku hanya meniru-niru dari Tocu sendiri...."

Ouw Kong Ek makin terheran dan sejenak dia melongo, kemudian dia melangkah maju dan memegang kedua tangan pemuda itu.

"Kwa Sin Liong... engkau hebat sekali! Aku mengaku kalah terhadap Kwa-taihiap (Pendekar Besar Kwa)! Aku telah dirobohkan secara mutlak, bahkan dengan jurus-jurus ilmu silatku sendiri! Dia ini adalah seorang pendekar besar yang memiliki kesaktian seperti dewa!"

Semua penghuni Pulau Neraka membungkuk dan memberi hormat kepada Sin Liong!

Tentu saja pemuda itu cepat membalas penghormatan mereka dengan memutar-mutar tubuhnya sambil berkata tersipu-sipu.

"Aahhh, harap Cuwi (Anda sekalian) jangan berlebihan..."

"Kwa-taihiap, aku Ouw Kong Ek sudah mengaku kalah. Harap Taihiap suka mengajarkan ilmu pengobatan itu agar kami dapat terbebas dari hawa beracun yang banyak terdapat di pulau ini. Setelah aku paham, kami akan mempersilahkan Taihiap dan Han-lihiap (Pendekar Wanita Han) meninggalkan pulau ini dengan aman."

"Baik, Ouw-tocu. Aku akan melakukan penyelidikan tentang racun-racun di pulau ini dan berusaha mencarikan obat penawanya."

Soan Cu berlari menghampiri Sin Liong dan berkata.

"Sin Liong, kau hebat sekali! Aku sungguh kagum kepadamu."

Sambil berkata demikian, Soan Cu memegang kedua tangan Sin Liong dan mengangkat muka memandang wajah Sin Liong penuh kekaguman.

"Ahhh, engkau terlalu memuji, Soan Cu. Sebetulnya adalah Kong-kongmu yang sengaja mengalah kepadaku,"

Kata Sin Liong, dan mukanya menjadi merah.

Dia maklum bahwa Soan Cu seorang dara remaja yang berhati polos dan wajar, maka di depan semua orang tanpa segan-segan menyatakan kekagumannya dan memegang kedua tangannya begitu saja.

Akan tetapi hal ini tentu saja menimbulkan anggapan salah dan dia sudah melihat betapa Swat Hong membuang muka dengan wajah diselubungi kemarahan, bahkan akhirnya dara itu lalu membalikan tubuh dan berlari pergi!

Sampai tiga bulan lamanya Sin Liong dan Swat Hong di Pulau Neraka.

Dengan teliti dan hati-hati Sin Liong melakukan penyelidikan tentang segala macam racun yang terdapat di pulau itu, kemudian dia mencarikan obat penawarnya dan menulis serta melukiskan nama dan bentuk daun, akar, bunga, atau buah yang berkhasiat sebagai penawar racun-racun itu.

Sibuklah ketua Pulau Neraka, dan para pembantunya mencarikan bahan-bahan obat itu dan setelah tiga bulan, barulah lengkap catatan Sin Liong.

Ouw Kong Ek dan semua penghuni Pulau Neraka merasa berterima kasih sekali kepada Sin Liong, apalagi setelah terbukti banyak penghuni yang sembuh dari penderitaan penyakit akibat keracunan setelah menggunakan obat-obat seperti yang ditunjuk oleh pemuda itu.

Dia dianggap sebagai seorang dewa penolong mereka dan diperlakukan dengan sikap penuh hormat.

Setelah "terpaksa"

Tinggal di Pulau Neraka selama tiga bulan, akhirnya Swat Hong mendapatkan kenyataan bahwa Soan Cu adalah seorang remaja yang benar-benar tulus, jujur dan wajar sehingga mudah saja di antara mereka terjalin persahabatan yang akrab.

bahkan karena dara Pulau Neraka itu dengan terang-terangan tanpa dibuat-buat dan tanpa usaha menarik hati Sin Liong menyata-kan suka dan cintanya kepada Sin Liong, Swat Hong menyambut pernyataan itu dengan hati terharu.

Diam-diam menaruh hati kasihan kepada dara Pulau Neraka ini karena dia tahu bahwa hati suhengnya itu jauh daripada cinta!

Suhengnya belum pernah mengacuhkan tentang hubungan di antara mereka, juga suhengnya sama sekali tidak kelihatan menaruh hati kepada Soan Cu.

Dianggapnya suhengnya itu terlalu "dingin"

Dan sudah seringkali dia sendiri merasa kecewa melihat suhengnya sebagai seorang pemuda yang tidak ada semangat!

Padahal dia sendiri belum yakin apakah dia mencintai suhengnya, sungguhpun dia merasa suka sekali kepada pemuda itu namun sebagai seorang dara remaja, tentu saja dia merasa tidak puas menyaksikan sikap pemuda yang "dingin"

Saja terhadapnya.

Sebagai seorang wanita muda yang sehat dan normal, tentu saja Swat Hong juga ingin agar semua orang, terutama kaum pria, memandangnya dengan kagum dan suka, bahkan dia pun seperti semua wanita di dunia ini agaknya, akan merasa bangga kalau semua orang laki-laki jatuh cinta kepadanya!

Hari keberangkatan mereka meninggalkan Pulau Neraka pun tibalah.

Sin Liong dan Swat Hong diantar oleh semua penghuni Pulau Neraka sampai ke pantai, dimana telah tersedia sebuah perahu yang lengkap dengan layar, dayung,dan bekal makanan.

Soan Cu mengantar dengan mata berlinang air mata.

Semenjak tadi dara ini menangis, bahkan rewel kepada kakeknya hendak ikut pergi bersama Sin Liong dan Swat Hong.

"Hushhh, apakah kau gila?"

Demikian kakeknya menjawab.

"Kau hendak ikut ke Pulau Es? tidak tahukah kau bahwa semua penghuni Pulau Neraka dilarang meng-injakan kaki ke Pulau Es? Begitu kau tiba di sana, kau akan dijatuhi hukuman sebagai seorang pelanggar hukum!"

Juga Sin Liong dan Swat Hong melarang dengan alasan bahwa Swat Hong sendiri sedang menghadapi malapetaka, bahkan dia bersama suhengnya sedang berusaha mencari ibunya.

Selama tiga bulan ini, Ouw Kong Ek sudah mengerahkan pembantunya untuk mencari Liu Bwee, bekas istri Raja Han Ti Ong, ke pulau-pulau kosong di sekitar Pulau Neraka, namun hasilnya sia-sia belaka.

Tentu saja para penghuni Pulau Neraka yang mencari itu tidak berani terlalu mendekat Pulau Es.

Setelah perahu yang ditumpanginya Sin Liong dan Swat Hong pergi Jauh, Soan Cu menjatuhkan dirinya menangis.

"Kong-kong, akupun mau pergi dari sini. Aku tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka tanpa adanya mereka berdua! Aku harus pergi, aku harus pergi mencari ayahku, seperti Swat Hong yang pergi mencari ibunya!"

Kong-kongnya hanya menggeleng kepala, menghela napas dan menggandeng cucunya yang tercinta itu kembali ke tengah pulau.

Hati orang tua ini khawatir sekali karena dia tahu bahwa cucunya telah mulai dewasa dan telah tergoda oleh cinta sehingga merasa tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka.

Dia maklum bahwa agaknya takan lama lagi cucunya itu tentu akan nekat meninggalkan pulau dan kalau hal yang dikhawatirkan itu terjadi, apalagi artinya hidup baginya di pulau itu?

Puteranya telah lenyap dan satu-satunya orang yang selamanya ini membuat hidupnya berarti hanyalah Soan Cu.

Ketika perahu mereka mendarat di Pulau Es, Sin Liong dan Swat Hong saling pandang dengan hati yang berdebar.

Mereka sudah menjelajahi seluruh pulau di sekitar Pulau Es untuk mencari ibu Swat Hong, namun sia-sia belaka.

Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk kembali ke Pulau Es, dengan harapan mudah-mudahan ibu dara itu sudah kembali ke Pulau Es.

"Bagaimana kalau ibu tidak berada di sana? Bukankah berarti bahwa aku telah melanggar janjiku untuk mewakili ibu yang dibuang ke Pulau Neraka?"

Swat Hong bertanya ketika perahu mereka tadi sudah mendekati Pulau Es.

"Jangan khawatir, Sumoi. Suhu adalah ayahmu sendiri, dan betapapun marahnya, aku percaya bahwa suhu akan dapat memaafkanmu. Aku percaya akan kebijaksanan Suhu, dia bukanlah seorang yang berbudi rendah...."

"Tapi dia telah terkena racun yang hebat, racun yang seratus kali lebih kejam daripada racun yang paling jahat di pulau Neraka! Dia telah terkena hasutan mulut wanita jahat itu..."

"Ssttt, Sumoi, jangan mempersulit keadaan dengan menyangka yang bukan-bukan. Sudalah, kekhawatiranmu itu hanyalah permainan pikiran yang membayangkan hal yang belum terjadi. Singkirkan saja kekhawatiran kosong itu dan mari kita hadapi kenyataan. Percayalah, apa pun yang akan terjadi, aku tidak akan membiarkan engkau terancam bencana. Mari kita hadapi apa saja yang menimpa kita berdua."

"Suheng... betulkah? Betulkah kau akan membela dan melindungi aku?"

"Tentu saja, Sumoi."

"Menghadapi Ayah sekalipun?"

"Menghadapi siapa saja karena aku yakin bahwa engkau tidak mempunyai kesalahan apa pun."

"Kalau begitu, aku menjadi besar hati, Suheng. mari kita mendarat."

Makin tegang hatinya dan juga terheran-heran ketika dia melihat betapa beberapa orang penghuni Pulau Es kebetulan berada di situ, segera berlari pergi menuju ke tengah pulau, bahkan tidak berhenti ketika dia dan suhengnya memanggil mereka.

Makin tidak enak mereka, namun dengan tenang Sin Liong mengajak sumoinya untuk menuju ke Istana Pulau Es di tengah pulau itu, menemui Raja Han Ti Ong dan bertanya tentang Liu Bwee.

Tak lama kemudian, keduanya berhenti tiba-tiba ketika melihat raja itu sendiri berlari-lari datang bersama permaisuri dan pembantu-pembantu yang terpercaya.

Tadinya Swat Hong merasa girang, wajahnya berseri karena dia mengira bahwa ayahnya datang menyambutnya dengan girang melihat di pulang.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika ayahnya sudah tiba di depan mereka, langsung raja Han Ti Ong menudingkan telujuknya ke arah mereka sambil membentak.

"Manusia-manusia rendah! kalian masih berani menginjakan kaki di Pulau Es? Membikin kotor pulau ini? keparat!"

"Ayah...!!"

"Suhu...!!"

"Plak! Plak!!"

Tubuh Sin Liong dan Swat Hong terguling ketika tangan Raja itu dengan kecepatan kilat telah menampar mereka.

Dengan alis berdiri Raja Han Ti Ong menudingkan telunjuknya bergantian ke arah muka dua orang muda yang menjadi kaget setengah mati dan merangkak bangun itu.

"Jangan sebut aku Ayah dan Suhu! Kalian berdua telah minggat dengan diam-diam, perbuatan yang tak tahu malu dan mengotorkan nama keluarga Han! Masih berani datang dan menyebut Ayah dan Suhu kepadaku? Huh!!"

"Ayahhhh.... apa... apa yang terjadi....? Mana Ibuku...?"

"Ibumu seorang yang hina, dan engkau anaknya pun tidak berbeda banyak!"

"Ayah...!"

"Diam! Dan minggat engkau dari sini sebelum kubunuh!"

"Ayah, kalau begitu bunuh saja aku! Aku tidak berdosa...!"

Swat Hong yang berlutut itu menangis sesungguhnya.

"Bagus! Kau minta mati?"

"Suhu...!"

Suara Sin Liong ini mengandung wibawa sedemikian hebatnya sehingga Han Ti Ong sendiri sampai terkejut menghentikan langkahnya yang hendak menghampiri puterinya.

Sepasang mata Sin Liong mengeluarkan sinar yang luar biasa dan sejenak Ha Ti Ong ragu-ragu.

Teringatlah dia akan keadaan dahulu ketika anak ajaib ini menyuruhnya menolong The Kwat lin, menyuruhnya berhenti untuk mengu-burkan mayat-mayat.

Seperti itu pula kekuatan mujijat yang keluar dari sepasang mata itu.

Sepasang mata yang sedikitpun tidak membayangkan takut, atau marah, atau kekerasan, hanya membayangkan kelembutan yang mengharukan.

"Suhu, harap suhu bersabar dulu. Menjatuhkan hukuman tanpa memberitahu kesalahan orang, sungguh tidak adil sekali, sungguhpun Sumoi adalah puteri Suhu sendiri."

Bangkit kembali marah Han Ti Ong.

"Sin Liong, bagus perbuatanmu, ya? Kau masih berpura-pura lagi? Dia pergi tanpa pamit, hal itu masih belum apa-apa, akan tetapi dia pergi lalu kau susul, bersamamu pergi sampai berbulan-bulan, pantaskah itu? Kalian tidak tahu malu, dan menodakan nama baik keluarga Kerajaan Han!"

Diam-diam Sin Liong terheran.

mengapa suhunya berubah seperti ini?

Tentu saja dia tidak tahu betapa para keluarga yang membenci Liu Bwee telah menggunakan kesempatan selagi terjadi peristiwa penghukuman atas diri Liu Bwee itu untuk membakar hati raja ini, terutama sekali melalui mulut permaisuri!

"Ayah, jangan menuduh yang bukan-bukan.

Aku memang pergi dan bertemu dengan suheng, akan tetapi apakah salahnya dengan itu?"

"Hemm, apa, salahnya, ya? Tidak salahkah kalau seorang pemuda dan seorang dara berdua saja sampai hampir setengah tahun lamanya? Mungkinkah tidak akan terjadi apa-apa antara kalian, di tempat sunyi, hanya berdua saja! Hem... hemmm... siapa percaya tidak akan terjadi apa-apa yang kotor?"

Ucapan ini keluar dari mulut permaisuri, The Kwat Lin yang tersenyum mengejek.

"Ibu, kalau Enci Hong dan Suheng melakukan hubungan gelap, kawinkan saja mereka, mengapa ribut-ribut?"

Tiba-tiba Bu Ong, putera raja yang baru berusia kurang lebih delapan tahun itu, berkata dengan suara nyaring.

"Hussshhh! Tutup mulutmu!"

Kwat Lin membentak puteranya yang segera cemberut, tapi memandang kepada Swat Hong dan Sin Liong dengan pandang mata mengejek.

Hampir saja Swat Hong tak dapat percaya akan apa yang didengarnya.

Ayah dan ibu tirinya menuduh dia berjinah dengan Sin Liong!

Dengan dada sesak dan kemarahan yang meluap-luap, Swat Hong lupa diri dan meloncat bangun, menjerit dengan kata-kata yang seperti dilontarkan kepada ayahnya.

"Ayah! Mengapa ada fitnah sekeji ini? Ayah, insyaflah, Ayah telah dikelabui, Ayah telah mabuk oleh rayuan..."

"Plak! Desss!!"

Tubuh Swat Hong terlempar dan terguling-guling ketika terkena tamparan dan pukulan tangan ayahnya sendiri.

"Suhu, ini tidak adil sama sekali!"

"Plak! Desss!!!"

Tubuh Sin Liong juga terjungkal, Akan tetapi pemuda ini sudah meloncat bangun kembali.

Sedikit pun tidak merasa takut, bahkan kini dia memandang tajam kepada Han Ti Ong.

"Suhu, andaikata Suhu memukul tee-cu sampai mati sekalipun, sudah sepatutnya karena karena tee-cu hanyalah seorang murid yang telah menerima banyak kebaikan dari Suhu dan tee-cu rela membalasnya dengan nyawa. Akan tetapi, Sumoi adalah puteri Suhu sendiri, darah daging suhu sendiri! Mengapa Suhu begitu tega? Di manakah rasa kasih di hati Suhu?"

"Keparat!"

Han Ti Ong memaki dengan suara gemetar saking marahnya.

Melihat betapa Sin Liong berani menantangnya untuk membela Swat Hong makin besar kepercayaannya akan desas-desus bahwa puterinya main gila dengan muridnya ini.

"Kau mau memberi kuliah kepadaku? Kalau dia orang lain, aku tidak akan perduli apa yang dilakukannya. Justru karena dia anaku dan aku cinta kepada anakku, maka aku perlu mengajarnya!"

"Hemmm, begitulah cinta di hati Suhu? Cinta suhu siap untuk berubah menjadi kemarahan, kebencian yang meluap karena Suhu merasa bahwa puteri Suhu tidak menyenangkan hati suhu? itu bukan cinta, Suhu! Suhu hanya mementingkan diri sendiri, kalau disenangkan hati Suhu, biar orang lain sekalipun akan Suhu perlakukan dengan baik, akan tetapi kalau hati Suhu dikecewakan, biar anak sendiri akan dibunuh!"

"Plak-plak! Dess...!"

Kembali tubuh Sin Liong terjungkal dan kini darah mengucur dari mulut dan hidungnya.

"Suheng...! Ahhh, Ayah... Jangan...!"

Swat Hong sudah meloncat ke depan dan menubruk suhengnya.

"Anak durhaka, murid murtad! Dess!"

Kini Swat Hong yang mengeluh dan terjungkal terkena tendangan ayahnya yang sedang marah itu.

Masih untung bagi mereka berdua bahwa Han Ti Ong hanya berniat mengajar dan menghukum, kalau berniat membunuh, tentu mereka sudah tak benyawa lagi.

Saking marahnya, biarpun melihat murid dan puterinya sudah beberapa kali dihantam dan ditendangnya sampai mulut dan hidung mengeluarkan darah dan muka mereka bengkak-bengkak, Han Ti Ong masih saja menghajar mereka.

"Ongya, harap ampunkan mereka..."

Tiba-tiba beberapa orang pembantu utama berlutut di depan Raja yang marah ini dan menyabarkan hatinya.

Han Ti Ong berdiri dengan napas terengah-engah, mata terbelalak dan muka merah sekali.

dia menjadi hampir putus napasnya saking marahnya.

"Hemmm, mereka ini bocah-bocah kurang ajar yang layak dibunuh!"

Katanya.

"Ongya, sejak dahulu belum pernah ada hukuman dilaksanakan tanpa diadili lebih dulu, harap Ongya ingat akan keadilan Kerajaan Pulau Es yang sudah terkenal semenjak ratusan tahun,"

Kata seorang pembantu yang sudah berusia lanjut.

Han Ti Ong menghela napas panjang dan dia teringat.

Sebetulnya, dia sedang ber-ada dalam keadaan duka dan kecewa.

duka mengingat akan istrinya, Liu Bwee, yang kini menimbulkan penyesalan di dalam hatinya karena dia pun mulai meragukan kesalahan istrinya itu.

Kecewa karena serangkaian peristiwa yang tidak menyenangkan hatinya, mengganggu ketentraman hidupnya di Pulau Es.

"Anak durhaka, untung engkau belum kubunuh! Kau boleh membela diri, kalau memang masih ada yang akan kau katakan!"

Dengan tubuh sakit-sakit dan hampir pingsan, Sin Liong masih dapat membantu Sumoinya, bangkit duduk, bahkan tidak memperdulikan keadaan dirinya sendiri, dia menyusuti peluh, air mata dan darah dari muka sumoinya, kemudian menarik sumoinya untuk berlutut di depan raja yang sedang marah itu.

"Sumoi, laporkanlah semuanya kepada Suhu..."

Bisiknya.

"Apa gunanya? Biarlah aku dibunuh! Biarlah, Ibu lenyap tak berbekas dan akan dibunuhnya... tentu akan puas hatinya... hu-hi-huuuuukkk...."

Swat Hong menangis terisak-isak. Melihat keadaan puterinya ini, tersentuh juga rasa hati Raja Han Ti Ong.

"Sin Liong, hayo ceritakan apa yang terjadi! kami semua menuduh kalian berdua selama berbulan-bulan dan tentu kalian telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Mengakulah! Awas, kalau kau membohonng, akan kubunuh kau sekarang juga!"

"Suhu boleh membunuh teecu kalau teecu berbohong. Bahkan kalau teecu tidak membohong sekalipun, teecu menyerahkan nyawa teecu kepada suhu. Sebetulnya, ketika melihat sumoi pergi membuang diri ke Pulau Neraka dan melihat Subo juga pergi, teecu merasa kasihan dan berkhawatir sekali. Maka teecu diam-diam lalu mengejar dan menyusul ke Pulau Neraka."

Kemudian dengan panjang lebar dan jelas Sin Liong menceritakan semua pengalaman mereka di Pulau Neraka dan mengapa mereka sampai berbulan-bulan berada di pulau itu.

Berkerut Raja Han Ti Ong.

Di lubuk hatinya, dia percaya kepada muridnya ini.

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membo-hong dengan sikap seperti yang diperlihatkan muridnya.

Tidak, tentu muridnya tidak berbohong.

Akan tetapi hatinya masih marah dan ia makin marah ketika mendengar betapa Pulau Neraka telah berani menahan puterinya sebagai sandera!

"Swat Hong!

Benarkah cerita Sin Liong?"

Bentaknya kepada dara yang masih menangis sesenggukan itu.

"Apa gunanya Ayah bertanya kepadaku? Lebih baik Ayah menyelidiki sendiri ke Pulau Neraka. Kalau aku dan suheng berbohong, boleh bunuh seribu kali juga tidak apa."

Memang sejak dahulu Swat Hong bersikap manja kepada ayah bundanya, pula dia memiliki watak keras, tidak takut mati, maka dalam keadaan seperti itu pun dia bersikap berani dan menantang!

"Siapkan pasukan, tiga puluh orang untuk ikut bersamaku ke Pulau Neraka!"

Raja itu memerintah kepada pembantunya dengan suara marah dan pada hari itu juga dia berangkat bersama tiga puluh orang pasukan menuju ke Pulau Neraka!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya para penghuni Pulau Neraka ketika diserbu oleh pasukan Pulau Es yang dipimpin Oleh Raja Han Ti Ong sendiri!

Ouw Kong Ek sendiri yang maju dan berusaha melawan, dalam belasan jurus saja telah dirobohkan dan dipaksa menceritakan apa yang terjadi ketika puteri Raja Pulau Es itu berada di Pulau Neraka.

Dengan kebencian dan dendam yang makin mendalam, Ouw Kong Ek menceritakaan keadaan sebenarnya, tepat seperti yang telah didengar oleh Han Ti Ong dari mulut Sin Liong.

Maka mulailah raja ini merasa menyesal mengapa dia telah terburu nafsu menghajar, bahkan hampir saja membunuh Sin Liong dan Swat Hong yang sebetulnya tidak berdosa.

Mulailah dia teringat bahwa kemarahanya itu timbul karena bujukan dan kata-kata yang membakar dari permaisurinya.

Dia menjadi marah sekali dan kemarahannya itu dilampi-askannya di Pulau Neraka.

Pulau itu diobrak-abrik, sebagai hukuman telah berani menahan puterinya.

Bahkan kitab catatan Sin Liong tentang racun dan pengobatanya, dihancurkan dan dibakarnya!

Setelah puas melampiaskan kemarahanya, Han Ti Ong memimpin pasukannya meninggalkan Pulau Neraka, meninggalkan para penghuni yang banyak menderita luka lahir batin itu dan Raja ini telah menanamkan dendam yang makin menghebat di dalam hati para penghuni Pulau Neraka.

Sepekan kemudian, barulah rombongan Han Ti Ong tiba kembali di Pulau Es dan wajah Raja ini seketika pucat setelah dia mendengar berita yang lebih hebat dan mengejutkan lagi, yaitu bahwa sehari setelah dia dan pasukanya berangkat, permaisuri dan pangeran telah pergi meninggalkan Pulau Es!

Dan belum pulang.

Makin terpukul lagi bathin Raja Han Ti Ong ketika dia mendapat kenyataan bahwa kitab-kitab pusaka Pulau Es telah lenyap, berikut banyak harta benda berupa mas dan permata yang disimpan didalam kamarnya!

Hampir saja dia roboh pingsan mendapat kenyataan bahwa permaisurinya, The Kwat Lin, gadis yang ditolongnya itu, ternyata telah berkhianat!

"Mengapa tidak kalian larang mereka pergi?

Mengapa?

Sin Liong, engkau muridku, mengapa engkau mendiamkan saja pergi membawa pusaka-pusaka kita?"

Dalam bingung dan marahnya dia menegur Sin Liong.

"Suhu, Subo pergi hanya memberi tahu bahwa Subo bersama Sute hendak menyusul ke Pulau Neraka. Siapa yang berani menghalangi Subo? Kami semua tidak ada yang mengira bahwa Subo tak akan kembali, dan tidak ada yang tahu bahwa Subo membawa sesuatu, harap maafkan teecu."

Han Ti Ong membanting-banting kakinya, lalu berlari memasuki kembali istana setelah tadi dia memeriksa dan melihat kehilangan pusaka Pulau Es.

Ketika dia memanggil dua orang muda menghadap, Sin Liong dan Swat Hong melihat perubahan hebat terjadi pada diri raja sakti ini.

wajahnya menjadi suram dan gelap, sepasang mata yang biasanya bersinar dan berpengaruh itu, menjadi redup seperti lampu kekurangan minyak.

Dan rambut yang tadinya hanya sedikit putihnya, mendadak berubah hampir seluruhnya, dan suaranya tidak bersemangat ketika berkata.

"Sin Long..., Swat Hong..., kalian ampunkan aku..."

"Suhu...!"

Sin Liong berlutut dan menundukan muka.

"Ayah... jangan berkata begitu Ayah...!"

Swat Hong meloncat menubruknya.

Ayah dan anak itu saling rangkulan dan Sin Liong makin menundukan mukanya ketika mendengar suhunya menangis mengguguk seperti anak kecil!

Setelah Han Ti Ong dapat menguasai kembali hatinya dia mencium dahi puterinya dan menyuruhnya duduk kembali.

Swat Hong menyusuti air matanya dan berlutut di dekat Sin Liong.

"Aku telah bedosa. Sekarang baru aku tahu... aku telah berdosa. Mungkin sekali... tidak, aku yakin sekarang, bahwa ibu Swat Hong tidak bersalah apa-apa, hanya terkena fitnah... aih, apa yang telah kulakukan? Dan aku hampir saja membunuhmu, Sin Liong, dan kau Swat Hong anakku. Orang macam apa aku ini? Dan aku mengaku cinta kepada anakku? Huh, huh, engkau benar, Sin Liong. Tidak ada cinta di dalam hatiku yang kotor, yang ada hanya nafsu berahi sehingga mudah saja aku dipermainkan oleh wanita itu. Aihhhh....kalian maafkan aku. Swat Hong, hanya satu pesanku kepadamu, anakku. Kau... kau menjadilah jodoh Sin Liong. Jadilah kalian suami istri, baru akan terobati hatiku..."

"Suhu...!"

"Ayah...!"

"Muridku... anakku..., maukah kalian melegakan hatiku? Aku ingin menebus kesalahanku... aku ingin melihat kalian menjadi suami istri, kalian anak-anak malang..."

"Suhu, teecu mohon ampun. Teecu...tidak ada dalam hati teecu untuk memikirkan soal jodoh..."

"Ayah, mengenai jodoh tidak dapat ditentukan begitu saja. Biarkan kami menentukannya sendiri..."

Han Ti Ong menarik napas panjang, memejamkan mata sebentar, kemudian bangkit berdiri, membalikan tubuh dan berjalan memasuki kamarnya meninggalkan dua orang muda yang masih berlutut itu.

Semenjak saat itu, sampai berhari-hari lamanya, Raja itu tidak pernah keluar dari kamarnya sehingga membuat gelisah semua pembantunya.

Keadaan di Pulau Es tidak seperti biasa, semua penghuni dapat merasakan ini.

Semenjak terjadinya peristiwa yang memalukan dan menyedihkan menimpa keluarga Raja Han Ti Ong, keadaan Pulau Es sunyi dan semua wajah para penghuni kelihatan muram.

bahkan cuaca juga seolah-olah berubah suram, seringkali malah menjadi gelap oleh mendung tebal.

Hati semua orang merasa gelisah tanpa mereka ketahui sebabnya, seolah-olah merupakan tanda rahasia bahwa akan terjadi hal-hal lebih hebat lagi.

Peristiwa yang menyedihkan yang menimpa Han Ti Ong bisa menimpa diri setiap orang, dan memang kita sebagai manusia hidup selalu terlupa bahwa mengejar kesenangan sama artinya dengan memanggil kesengsaraan!

Kita hidup dibuai khayal akan keadaan yang lebih baik, lebih menyenangkan dari pada keadaan seperti apa adanya.

Kita tidak pernah membuka mata, tidak pernah menghayati keadaan saat ini, tidak dapat melihat bahwa saat ini mencakup segala keindahan.

Dengan membandingkan keadaan kita dengan keadaan lain, kita selalu menganggap bahwa keadaan buruk tidak menyenangkan, dan kita selalu memandang jauh kedepan, mencari-cari dan menghayalkan yang tidak ada, keadaan yang kita anggap lebih menyenangkan.

Karena kebodohan kita inilah maka kita hidup dikejar-kejar oleh kebutuhan setiap saat, detik demi detik kita mengejar kebutuhan.

Kebutuhan adalah keinginan akan sesuatu yang belum tercapai, yang kita kejar-kejar.

Lupa bahwa kalau yang satu itu dapat tercapai, didepan masih menanti serbu yang lain yang akan menjadi keinginan dan kebutuhan kita selanjutnya.

Maka, berbahagialah dia yang tidak membutuhkan apa-apa!

Bukan berarti menolak segala kesenangan, melainkan tidak mengejar apa-apa sehingga kalau ada sesuatu yang datang menimpa diri, bukan lagi merupakan kesenangan atau kesusahan, melainkan dihadapi sebagai suatu yang sudah wajar dan semestinya sehingga tampaklah keindahan yang murni!

Demikian pula keadaan Raja Han Ti Ong.

Dia seorang yang sakti dan bijaksana namun tiba saatnya dia lengah dan menganggap bahwa dia menemukan kebahagiaan dalan diri The Kwat Lin.

Padahal yang dia temukan hanyalah kesenangan yang timbul dari kenikmatan badani, dari terpuaskannya nafsu.

Dia seolah-olah hidup dialam khayal, di alam mimpi.

Setelah dia sadar dari mimpi, terasa bahwa yang manis menjati pahit bukan main, baru sadar bahwa perubahan dari senang ke susah sama mudahnya dengan membalikan telapak tangan!

Dan mengalah, suka dan duka hanyalah dwi muka (kedua muka) dari sebuah tangan yang sama!

Perahu kecil itu terayun-ayun kekanan kiri seperti menari-nari karena tidak dikuasai oleh layar maupun dayung, melainkan sepenuhnya dikuasai oleh air laut yang tenang.

Dua orang yang duduk diperahu itu seperti dua buah arca, diam dan pandang mata mereka melayang jauh ke kaki langit, melayang-layang di permukaan laut seperti mencari-cari sesuatu yang hilang.

Dan memang fikiran Sin Liong dan Swat Hong, dua orang di perahu itu, sedang mencari-cari jawaban pertanyaan hati mereka sendiri.

Pulau Es hanya kelihatan sebagai sebuah garis mendatar putih dekat kaki langit.

mereka berangkat pagi-pagi meninggalkan Pulau Es, setelah tiba di tempat jauh yang sunyi ini, mereka menggu-lung layar dan membiarkan perahu mereka dibuai gelombang kecil.

Mereka sudah lama berdiam diri seperti itu, dibuai oleh lamunan masingmasing, lamunan yang timbul karena keadaan di Pulau Es yang menyedihkan.

"Suheng..."

Suara panggilan Swat Hong ini lirih saja, namun karena sejak tadi mereka tidak mendengar suara apa-apa, maka suara panggilan ini seolah-olah mengandung getaran hebat yang memenuhi seluruh ruang kesunyian.

Sin Liong menoleh dan dia pun seolah-olah baru sadar dari alam mimpi.

"Hemmmm...?"

Jawabannya masih ragu-ragu.

"Suheng mengajakku meninggalkan pulau dan setelah tiba disini, mengapa suheng tidak lekas bicara melainkan melamun saja?"

"Aku terpesona akan keindahan alam yang sunyi ini, Sumoi...."

"Aku pun tadi terseret, Suheng. Akan tetapi melihat batu karang menonjol di depan itu, aku tersadar. Apakah aku akan menjadi setua batu karang itu yang kerjanya hanya termenung di tempat sunyi! Suheng, kau tadi bilang bahwa untuk membicarakan urusan kita, engkau mengajakku ketengah laut. Mengapa?"

"Engkau sudah mengerti sendiri. Fitnah yang dilontarkan kepada kita, bahwa ada terjadi sesuatu yang rendah di antara kita, membuat aku merasa tidak enak kalau mengajak kau bicara berdua saja di tempat sunyi di atas pulau itu. Dapat menimbulkan prasangka yang bukan-bukan. Karena itulah maka kuajak kesini, agar kita dapat bicara dengan tenang dari hati ke hati tanpa ada yang mendengar dan melihat. Pula, kuharap ditempat yang sunyi ini, yang membuat kita seolah-olah berada di dalam alam lain, kita akan menemukan ilham..."

Swat Hong tertawa. Timbul kembali kegembiraan dara ini setelah dia tidak berada di Pulau Es yang membuat dia selama ini ikut muram dan berduka.

"Wah, Suheng! Kadang-kadang kau bicara seperti seorang pendeta saja! Apa sih yang akan dibicarakan sampai-sampai kau membutuhkan ilham segala?"

"Mari kita bicara tentang cinta, Sumoi."

Wajah dara muda jelita itu terheran, matanya memandang terbelalak dan perlahan-lahan kedua pipinya menjadi agak kemerahan.

"Aihh... apa maksudmu, Suheng?"

Sin Liong menarik napas panjang, dan menyentuh tangan sumoinya.

"Perlukah aku menjelaskan lagi? Suhu, Ayahmu sedang dilanda duka dan kedukaannya yang terakhir sekali ini adalah menyangkut hubungan antara kita. Suhu menghendaki agar kita berjodoh, dan kita secara jujur telah menyatakan tidak setuju akan kehendaknya itu. Dan memang kita benar, Sumoi. Perjodohan tidak bisa ditentukan begitu saja, karena perjodohan merupakan hal gawat bagi seseorang, akan melekat selama hidupnya. Akan tetapi bagaimana kita tahu kalau hal ini tidak kita bicarakan secara terus terang? Maka, agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat tentang kehendak Suhu ini, marilah kita bicara tentang cinta!"

"Hemm, bicaralah. Aku tidak tahu apa-apa,"

Kata Swat Hong yang tentu saja merasa malu untuk bicara tentang hal yang asing baginya itu.

"Swat Hong, apakah kau cinta kepadaku?"

Dara itu makin merah mukanya.

Tak disangkanya bahwa suhengnya akan bertanya secara langsung seperti itu sehingga dia merasa seperti diserang dengan tusukan pedang yang amat dhasyat!

Dia mengangkat muka memandang suhengnya dengan bingung.

"Aku... aku... ah, aku tidak tahu..."

Dan dia menundukan mukanya.

"Sumoi, sudah sering aku melihat sikapmu yang aneh. Engkau marah-marah ketika kita berada di Pulau Neraka. Engkau cemburu melihat Soan Cu berbuat baik kepadaku, dan kau tidak senang melihat Kongkongnya hendak menjodohkan Soan Cu dengan aku. Sumoi, aku tidak tahu apa cemburu itu tandanya cinta? Akan tetapi, jawablah demi pemecahan persoalan yang kita hadapi ini. Cintakah kau kepadaku?"

Disinggung-singgung tentang sikapnya di Pulau Neraka yang jelas menadakan rasa cemburunya, Swat Hong menjadi makin malu.

Dicobanya untuk menjawab, akan tetapi begitu dia bertemu pandang dengan suhengnya, dia menjadi makin malu dan ditutupinya mukanya dengan kedua tangan, kepalanya digeleng-gelengkan dan dia ber-kata.

"Aku tidak tahu.. aku tidak tahu... kau saja yang bicara, Suheng. Kau saja yang menjawab apakah kau cinta padaku atau tidak!"

Dan kini dia menurunkan kedua tangannya, sepasang matanya yang bening itu kini dengan penuh selidik menatap wajah Sin Liong!

Sin Liong menarik napas panjang.

"Itulah yang membingungkan hatiku selama ini, Sumoi. Mau bilang tidak mencintaimu, buktinya aku suka kepadamu. Akan tetapi untuk menyatakan bahwa aku cinta padamu, sulit pula karena aku sendiri tidak tahu bagaimana sesungguhnya cinta itu. Apakah seperti cintanya suhu terhadap ibumu yang berakhir dengan peristiwa menyedihkan itu? ataukah seperti cintanya Ibumu kepada Suhu? Ataukah seperti cintanya The Kwat Lin dan suhu? Hemm, mengapa semua cinta itu demikian palsu dan mengakibatkan hal yang amat menyedihkan? Aku menjadi ngeri melihat cinta macam itu, Sumoi."

Swat Hong memandang heran.

"Ahhh, aku tidak pernah memikirkan cinta seperti yang kau kemukakan ini, suheng."

"Mudah saja. Lihat saja apa yang terjadi antara Suhu, Ibumu, dan The Kwat Lin. Seperti itukah cinta? Hanya mendatangkan cemburu, kemarahan, kebencian, dan permusuhan hebat. Apakah itu cinta? Kalau seperti itu, aku ngeri dan aku tidak berani berlancang mulut menyatakan cinta kepada siapapun, Sumoi. Karena, kalau hanya seperti itu akibatnya, maka cinta yang kunyatakan hanyalah merupakan kembang bibir elaka, hanya cinta palsu belaka. Bayangkan saja, Sumoi. Di antara kita berdua, sejak kecil sampai sekarang menjelang dewasa, tidak pernah ada pertentangan dan tidak pernah ada urusan apa-apa. Akan tetapi, setelah kita berdua mengaku cinta, lalu timbul soal-soal ceburu, kecewa dan lain-lain. Apalagi setelah menjadi suami istri... hemm, betapa mengerikan kalau melihat contoh yang kita saksikan di Pulau Es ini."

Swat Hong menunduk dan tak mampu menjawab.

Persoalan yang diajukan oleh Sin Liong itu terlampau berat baginya, sulit untuk dimengerti.

Baginya, sebagai seorang wanita, dia haus akan cinta kasih, akan perhatian, akan pemanjaan dari seorang pria yang menyenangkan hatinya, seperti suhengnya ini.

Akan tetapi, setelah mendengar uraian Sin Liong tentang cinta yang diambilnya peristiwa di Pulau Es sebagai contoh, dia pun ngeri dan tidak berani menyatakan perasaanya itu.

"Aku tidak tahu, Suheng.., aku tidak mengerti. Terserah kepadamu sajalah..."

Sin Liong kembali menarik napas panjang.

Dia memang sudah mengambil keputusan di dalam hatinya bahwa dia harus membalas budi kebaikan suhunya yang sudah berlimpah-limpah diberikan kepadanya.

Satu-satunya jalan untuk membalas budi hanya dengan menyenangkan hati suhunya yang sedang berduka itu.

Dia harus menerima keputusan suhunya, yaitu menerima menjadi jodoh Swat Hong!

Akan tetapi dia tidak boleh membuat dara itu menderita dengan keputusannya ini, maka dia harus tahu terlebih dahulu bagaimana pendirian Swat Hong.

Dan sekarang, dara itu sama sekali tidak berani menga-ku tentang cinta.

"Sumoi, sekarang begini saja. Andai kata aku memenuhi permintaan suhu, yaitu mau menerima ikatan jodoh denganmu, menjadi calon suamimu, bagaimana dengan pendapatmu?"

Swat Hong menunduk dan menggigit bibirnya. Akhirnya dia dapat berbisik.

"Aku tidak tahu, terserah kepadamu dan kepada ayah..."

"Maksudku, apakah engkau merasa terpaksa? Apakah hal ini menyenangkan hatimu? Sumoi, harap kau suka berterus terang. Kalau kau, seperti aku, tidak bisa mengaku cinta begitu saja, setidaknya kukatakan apakah ikatan jodoh ini tidak menimbulkan penyesalan bagimu?"

Swat Hong tidak menjawab, hanya menggeleng kepala.

"Kalau begitu, andaikata aku menerima, engkau pun akan menerimanya dengan senang hati?"

Swat Hong mengangguk!

"Kalau begitu, mari kita pergi menghadap Ayahmu.

Aku akan menerima permintaannya, karena betapapun juga, kita harus menghiburnya, menyenangkan hatinya.

Aku telah berhutang banyak budi dari suhu, maka kalau dengan penerimaan ini aku dapat sekedar membalas budinya, aku akan merasa senang."

Sin Liong mengambil dayung perahu itu dan menggerakan dayung.

"Suheng, kau menerima karena kasihan kepada Ayah? jadi kau...kau tidak cinta kepadaku?"

"Sumoi aku tidak berani berlancang mulut mengaku cinta. Aku telah banyak menyaksi-kan cinta kasih yang kuragukan kemurniannya. Aku khawatir bahwa sekali cinta diucapkan dengan mulut, maka itu bukanlah cinta lagi. Aku tidak tahu, apakah cinta itu sesungguhnya, maka aku tidak berani lancang mengaku, Sumoi..."

"Ahhh...!!"

Jeritan Swat Hong ini adalah campuran dari rasa kecewa dan juga kekagetan hebat, matanya terbelalak memandang kedepan.

Melihat wajah Sumoinya, Sin Liong cepat menengok dan pada saat itu terdengar ledakan dahsyat dibarengi dengan cahaya kilat yang seolah-olah membakar dunia.

Tampak oleh Sin Liong yang terbelalak memandang itu air muncrat tinggi sekali disusul asap dan api, muncul dari permukaan laut antara perahunya dan Pulau Es.

Kedua orang muda yang terbelalak dengan muka pucat itu tidak berkesempatan untuk terheran lebih lama lagi karena tiba-tiba karena perahu mereka dilontarkan keatas, dalam saat lain perahu itu telah dipermainkan oleh gelombang yang mendahsyat dan menggunung.

Suara mengguruh memenuhi telinga mereka dan keheningan yang baru saja mencekam lautan itu kini terisi dengan kebisingan yang sukar dilukiskan.

Sin Liong berteriak.

"Sumoi, bantu aku! Jangan sampai perahu terguling!"

Keduanya menge-rahkan tenaga, menggunakan dayungnya untuk mengatur keseimbangan perahu.

Namun, kekuatan gelombang air laut yang amat dahsyat itu mana dapat ditahan oleh tenaga manusia, (Lanjut ke

Jilid 08) Bu Kek Siansu (Seri ke 01 Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 biarpun kedua orang pemuda itu adalah tokoh-tokoh Pulau Es sekalipun?

Perahu mereka menjadi permainan gelom-bang, dilontarkan tinggi ke atas, disambut dan diseret kebawah, seolah-olah tangan malaikat maut atau ekor naga laut yang menyeret perahu ke dasar laut, akan tetapi tiba-tiba dihayun lagi keatas, ditarik ke kanan, didorong kekiri sehingga kedua orang murid Raja Han Ti Ong itu menjadi pening dan setengah pingsan!

Mereka tidak ingat akan waktu lagi, tidak tahu berapa lama mereka diombang-ambingkan air laut, tidak tahu lagi berapa jauh mereka terbawa ombak, dan mereka tidak sempat menggunakan pikiran lagi.

Yang ada hanya naluri untuk menyelamatkan diri, menjaga sekuat tenaga agar perahu mereka tidak sampai terguling dan tangan mereka tidak sampai terlepas memegangi pinggiran perahu.

Dengan tangan kanan memegang pinggiran perahu, tangan kiri Sin Liong memegang lengan kanan sumoinya.

Betapapun juga, dia tidak akan melepaskan sumoinya!

Swat Hong yang biasanya tabah dan tidak mengenal takut itu, sekali ini menangis dengan muka pucat dan mata terbelalak.

Terlampau hebat keganasan air laut baginya, terlampau mengerikan melihat gelombang setinggi gunung yang seolah-olah setiap saat hendak mencengkram dan menelannya itu!

Tiba-tiba Swat Hong menjerit.

Segulung ombak besar datang dan menelan perahu itu.

Mereka gelagapan karena ditelan air, kemudian mereka merasa betapa perahu mereka dilambungkan ke atas.

"Brukkk...!"

Keduanya terpental keluar, akan tetapi masih saling bergandeng tangan.

Cepat Sin Liong menyapu mukanya agar kedua matanya dapat memandang.

Ternyata perahu mereka telah dilontarkan ke sebuah pulau kecil yang penuh batu karang, sebuah pulau yang menjulang tinggi akan tetapi hanya kecil sekali, merupakan sebuah batu karang besar yang menonjol tinggi.

"Sumoi, lekas..., kita naik ke sana...!!"

Sin Liong tidak mempedulikan tubuhnya yang terasa sakit semua, membantu sumoinya merangkak bangun.

Pipi kanan dan lengan kiri Swat Hong berdarah, akan tetapi gadis itu pun agaknya tidak merasakan semua ini, tersaruk-saruk dia dibantu suhengnya merangkak dan menyeret perahu ke atas, kemudian mereka melanjutkan pendakian ke atas puncak batu karang itu dengan susah payah.

Akhirnya mereka tiba di puncak batu karang dan apa yang tampak oleh mereka dari tempat tinggi ini benar-benar menggetarkan jantung.

Air di sekeliling mereka.

Air yang menggila, bergerak berputaran, gelombang yang dahsyat menggunung, suara yang gemuruh seolah-olah semua iblis dari neraka bangkit.

Batu karang besar, atau lebih tepat disebut pulau kecil dari batu itu tergetar-getar, seolah-olah menggigil ketakutan menghadapi kedahsyatan badai yang mengamuk.

Tidak tampak apa-apa pula selain air, air dan kegelapan, kadang-kadang diseling cahaya menyambar dari atas, seperti lidah api seekor naga yang bernyala-nyala.

"Ouhhhh..!"

Swat Hong menangis dan cepat dipeluk oleh suhengnya. Tubuh dara itu menggigil, pakaiannya robek-robek.

"Tenanglah... tenanglah, Sumoi...."

Sin Liong berbisik dan pemuda ini mengerti bahwa bukan hanya sumoinya yang disuruhnya tenang, melain-kan hatinya sendiri juga!

Pengalaman ini sungguh dahsyat dan tidak mungkin dapat terlupa selama hidupnya.

Kebesaran dan kekuasan alam nampak nyata.

membuat dia merasa kecil tak berarti, kosong dan remeh sekali!

Sin Liong dan Swat Hong yang dipeluknya tidak tahu lagi berapa lamanya mereka berada di tempat itu.

Siang malam tiada bedanya, yang tampak hanya kegelapan, air dan kadang-kadang kilatan cahaya halilintar.

Yang terdengar hanyalah gemuruh air, angin menderu dan kadang-kadang ledakan halilintar.

Tidak memikirkan dan merasakan apa-apa, yang ada hanya takjub dan ngeri!

Di luar tahunya dua orang itu, mereka telah berada di pulau batu karang selama sehari semalam!

Akhirnya badai mereda, badai yang ditimbulkan oleh ledakan gunung berapi di bawah laut!

Kegelapan mulai menipis, akhirnya tampak kabut putih bergerak perlahan meninggalkan tempat itu, air mulai tenang dan menurun, akhirnya tampaklah sinar matahari disusul oleh bola api itu sendiri setelah kabut terusir pergi.

Tampaklah lautan luas terbentang di bawah dan baru sekarang ternyata oleh dua orang muda itu bahwa mereka duduk dipuncak batu karang yang amat tinggi!

Swat Hong mengeluh, baru terasa betapa penat tubuhnya, betapa luka-luka kecil dari kulitnya yang lecet-lecet, dan betapa haus dan lapar leher dan perut!

"Sumoi, badai sudah mereda.

Mari kita turun.

Aihh, itu perahu kita.

Untung tidak pecah,"

Kata Sin Liong dan dia menggandeng tangan sumoinya, menuruni batu karang.

Perahu mereka tidak pecah, akan tetapi layar dan dayungnya lenyap.

Sin Liong mengangkat perahu itu, membawanya turun kebawah.

"Mari kita lekas pulang, Sumoi. Biar kudayung dengan kedua tangan."

Swat Hong duduk didalam perahu, mengeluh lagi dan berkata penuh kegelisahan.

"Bagaimana dengan Pulau Es? Badai mengamuk demikian hebatnya, Suheng."

"Aku tidak tahu, mudah-mudahan mereka selamat. Maka, kita harus cepat pulang."

Dia lalu menggunakan kedua tangannya yang kuat sebagai dayung.

Perahu bergerak, meluncur di atas air yang tenang dan licin seperti kaca, sama sekali tidak ada tanda-tanda di permukaan air bahwa air itu telah mengamuk sedemikian hebatnya baru-baru ini.

Tak lama kemudian Sin Liong medapatkan dayung yang dipatahkan dari batang pohon yang hanyut di air.

Agaknya pulau-pulau kecil disekitar tempat itu telah diamuk badai sedemikian hebatnya sehingga pohon-pohon tumbang dan terbawa air.

Setelah keadaan cuaca terang kembali, Sin Liong dapat menentukan arah perahu dan tak lama kemudian tampaklah Pulau Es dari jauh.

Kelihatannya masih seperti biasa, sebuah pulau keputihan memanjang di kaki langit, berkilauan tertimpa sinar matahari.

Hati mereka lega.

Dari jauh kelihatannya tidak terjadi perubahan di pulau itu.

Setelah agak dekat, mereka melihat pula puncak atap istana di Pulau Es, maka legalah hati mereka.

Hati Sin Liong mulai berdebar tegang ketika perahunya sudah menempel di Pulau Es.

Keadaan-nya begitu sunyi.

Sunyi dan mati!

Tidak kelihatan seorang pun di pantai, bahkan tidak tampak sebuah perahu pun.

Dan bukit-bukit es tidak seperti biasanya, kacau balau tidak karuan dan berubah bentuknya!

Dengan hati tidak enak kedua orang muda itu belari-lari ketengah pulau.

Makin ke tengah, makin pucat wajah mereka.

Tidak ada seorang pun kelihatan, dan juga pondok-pondok yang biasanya terdapat di sana-sini, sekarang habis sama sekali.

Tidak ada sebuah pun pondok yang tampak!

Seolah-olah semua telah disapu bersih, tersapu bersih dari pulau itu.

"Auhhhh...!"

Swat Hong berdiri dengan muka pucat, kedua kakinya menggigil.

"Mari kita ke istana, Sumoi!"

Sin Liong yang berkata dengan suara bergetar lalu menyambar lengan sumoinya dan diajaknya dara itu lari ke dalam istana.

Beberapa kali terdengar Swat Hong mengeluarkan seruan tertahan, dan Sin Liong juga kaget bukan main.

Mereka seperti memasuki sebuah kuburan!

Sunyi, kosong, dan tidak ada bekas-bekasnya tempat itu didiami manusia!

Habis sama sekali, baik prabot-prabotan istana maupun manusia-manusianya!

Tidak tertinggal sepotong pun benda atau seorang pun manusia.

Habis semua!

Ke mana pun mereka lari dan berteriak-teriak memanggil, yang terdengar hanya gema suara mereka sendiri!

"Oughhh...!!"

Swat Hong tidak menahan himpitan perasaan yang ngeri dan berduka, tubuhnya tergelimpang dan tentu akan terbanting kalau tidak cepat disambar oleh Sin Liong.

"Sumoi...!"

Akan tetapi suara ini kandas dikerongkongannya dan tanpa disadari pula, kedua pipi Sin Liong basah oleh air matanya yang mengalir deras menuruni kanan kiri hidungnya ketika dia memondong tubuh sumoinya yang pingsan itu ke dalam kamar.

Akan tetapi dia termangu-mangu ketika tiba di ambang pintu kamar yang terbuka, karena kamar itu pun kosong dan bersih, tidak ada sebuah atau sepotong pun prabotannya.

terpaksa dia merebahkan tubuh sumoinya di atas lantai, dan dia sendiri merebahkan kepala diatas kedua lututnya sambil menangis.

terlampau hebat peristiwa yang dihadapinya.

Pulau Es telah disapu bersih oleh badai!

Bersih sama sekali sehingga agaknya tidak ada seorang pun manusia yang tertolong, tidak ada sepotong pun barangnya yang tinggal, kecuali bangunan istana yang memang amat kuat itu.

Setelah siuman, Swat Hong menangis.

"Aih, mengapa..? Mengapa...? ayah, kasihan sekali Ayah...!"

Akhirnya Sin Liong dapat menghibur dan membujuknya.

Mereka berdua lalu mengadakan pemeriksaan dan mendapat kenyataan bahwa benar-benar Pulau Es telah diamuk badai.

Agaknya air laut telah naik sedemikian tinggi sehingga pulau itu teredam air.

Mereka menemukan beberapa potong pakaian yang tersangkut di batu-batu dan dengan hati terharu penuh kedukaan mereka mengumpulkan pakaian itu, entah punya siapa, sebagai barang peninggalan yang amat berharga.

Kemudian mereka memeriksa istana.

Memang ada beberapa benda yang masih tertinggal di dalam kamar di bawah tanah, akan tetapi yang berada di atas, semua habis dan lenyap.

"Suheng, lihat ini...!"

Tiba-tiba Swat Hong berkata sambil menunjuk ke dinding.

Sin Liong cepat menghampiri dan keduanya mengenal goresan tangan Han Ti Ong yang agaknya menggunakan jari tangan yang penuh tenaga sinkang untuk menulis di dinding batu itu!

"Sin Liong dan Swat Hong, maafkan aku.

Thian telah menghukum aku dan membasmi Pulau Es.

Pergilah kalian mencari wanita jahat itu, rampas kembali semua pusaka.

Dan Bu Ong bukanlah puteraku, dia keturunan Kai-ong."

Pendek saja "surat dinding"

Itu, namun cukup jelas isinya. Sin Liong menarik napas panjang. Kasihan dia kepada suhunya yang mati meninggalkan dendam itu! "Suheng lihat ini..."

Tak jauh dari tulisan itu terdapat bekas jari-jari tangan mencengkram dinding.

Mudah saja mereka menggambarkan keadaan Han Ti Ong dan keduanya tak dapat menahan tangis mereka.

Agaknya, dalam menghadapi amukan badai, Han Ti Ong berhasil menggunakan tenaganya untuk mempertahankan diri beberapa lamanya dengan mencengkram dinding dan sempat pula membuat tulisan itu sebelum kekuatan yang jauh lebih besar dari pada kekuatanya menyeret keluar dari istana dan bahkan dari pulau itu!

"Kasihan sekali suhu..."

Sin Liong menghapus air matanya. Swat Hong mengepal tinjunya.

"Aku akan mencari perempuan iblis itu, selain merampas kembali pusaka Pulau Es, juga menghukumnya! Dialah yang mencelakakan ibuku, yang mencelakakan Ayahku!"

Sin Liong menarik napas panjang.

Sudah diduganya ini.

Tentu akan terjadi balas-membalas.

Dendam tak kunjung habis!

"Sumoi, Suhu hanya meninggalkan pesan agar kita mencari kembali pusaka-pusaka itu...."

"Kau yang mencari pusaka, aku yang membunuh iblis betina itu!"

Swat Hong berseru penuh semangat.

"Dan Bu Ong... hemm, apa pula artinya ini? Bukan putera ayah?"

"Sumoi, tenanglah dan dengarlah penuturanku. Mungkin hanya aku dan ayahmu saja yang tahu akan nasib wanita itu, nasib yang amat buruk dan mengerikan. Tahukah kau apa yang telah dialami oleh The Kwat Lin sebelum ditolong ayahmu?"

Sin Liong lalu menceritakan keadaan The Kwat Lin yang menjadi gila karena dua belas orang suhengnya dibunuh orang dan agaknya, melihat keadaannya, gadis yang tadinya seorang pendekar wanita perkasa itu telah diperkosa di antara mayat para suhengnya.

"Kurasa demikianlah kejadiannya. Setelah suhu menyatakan bahwa Bu Ong adalah keturunan Kai-ong, teringatlah aku. Jelas bahwa The Kwat Lin diperkosa oleh pembunuh dua belas orang anak murid Bu-tong-pai itu, sehingga anak yang dilahirkan-nya itu, Han Bu Ong, adalah keturunan Kai-ong yang memperkosanya dan membunuh para suhengnya."

Mendengar penuturan tentang nasib mengerikan yang dialami ibu tirinya, Swat Hong bergidik. Akan tetapi dia mengomel.

"Yang berbuat jahat kepadanya adalah Raja Pengemis itu, mengapa dia membalasnya kepada ibu? Dan dia telah menghancurkan penghidupan Ayah. Betapapun juga, aku harus mencarinya dan membalaskan sakit hati ibu dan Ayah."

Sin Liong maklum bahwa membantah kehendak sumoinya ini percuma, hanya akan menimbulkan pertentangan saja.

Maka diam-diam dia mengambil keputusan untuk selalu mendamping sumoinya, selain menjaga keselamatan dara ini, juga kalau perlu mencegah sepak terjangnya yang terdorong oleh nafsu dan dendam.

Betapapun juga, setelah Pulau Es dibasmi oleh badai, dara ini kehilangan ayah bunda, tiada sanak kandang, tiada handai taulan dan dialah satu-satunya orang yang patut melindunginya, sebagai suhengnya.

Ataukah sebagai calon suami?

Sin Liong tidak mengerti dan tidak berani memutuskan.

Biarlah hal perjodohan itu diserahkan kepada keadaan kelak.

Dia tidak membantah ketika sumoinya mengajaknya meninggalkan Pulau Es yang telah kosong itu, untuk mencari ibunya, dan kalalu masih juga tidak ber-hasil, untuk pergi ke daratan besar mencari The Kwat Lin.

Beberapa hari kemudian, setelah yakin benar bahwa tidak ada seorang pun di antara penghuni Pulau Es yang selamat dan kembali ke pulau itu, Sin Liong dan Swat Hong berangkat meninggalkan Pulau Es.

Ketika perahu kecil yang mereka dayung itu meluncur meninggalkan pulau, Swat Hong memandang kearah pulau dengan air mata bercucuran.

Juga Sin Liong merasa terharu dan berduka mengingat akan nasib para penghuni Pulau Es yang mengerikan itu.

Mereka berdua mendayung perahu menuju ke selatan dan di sepanjang perjalanan ini mereka menemukan bukti-bukti kedahsyatan badai dan keanehan alam yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi di bawah laut itu.

Ada pulau yang lenyap sama sekali, dan ada pula pulau yang baru muncul begitu saja, pulau yang amat aneh, pulau batu karang yang masih jelas kelihatan bahwa pulau ini tadinya merupakan dasar laut dengan segala keindahannya, dengan mahluk hidup dan tetumbuhannya yang kini semua mengeras menjadi batu karang dengan bermacam bentuk.

Banyak pulau yang mengalami nasib serupa dengan pulau Es, yaitu menjadi gundul, habis sama sekali tetumbuhan atasnya.

diam-diam ter-bayang dalam pikiran Sin Liong betapa dahsyat kekuasan alam.

Andaikata semua lautan yang mengamuk seperti beberapa hari yang lalu itu, agaknya dunia akan menjadi kiamat!

Melihat keadaan pulau-pulau itu, timbul rasa khawatir dalam hati Sin Liong tentang keadaan Pulau Neraka.

Tentu pulau itu pun tidak terluput dari amukan badai, pikirnya.

Padahal baru saja pulau itu mengalami penyerbuan Han Ti Ong dan pasukannya!

Sin Liong merasa kasihan sekali terhadap nasib para penghuni Pulau Neraka.

Apakah pulau itu seperti juga Pulau Es, disapu bersih dan seluruh penghuninya terbasmi habis?

"Agaknya ibumu tidak berada diantara pulau-pulau ini,"

Beberapa hari kemudian setelah merasa men-cari dengan sia-sia, Sin Liong mengemukakan pendapat.

"Bagaimana kalau kita mencari ke utara lagi. Siapa tahu kali ini kita berhasil, dan kita dapat juga bertanya ke Pulau Neraka kalau-kalau ibumu ke sana."

"Hemm, agaknya engkau sudah rindu kepada Soan Cu, suheng."

Sian Liong mengerutkan alisnya.

"sumoi, kau... cemburu lagi?"

Wajah dara itu menjadi merah.

"Aku hanya berkata sewajarnya."

"Sudah-lah. Kalau kau cemburu, kita tidak usah singgah di Pulau Neraka,"

Kata Sin Liong menarik napas panjang.

Hening sejenak dan mereka telah menghentikan gerakan dayung karena mereka masih belum mendapat keputusan akan mencari ke mana.

"Kita ke Pulau Neraka!"

Tiba-tiba Swat Hong berkata.

"Ehhh...??"

"Aku harus ke sana. Aku akan menegur kakek berkepala besar itu! Pulau Neraka yang menjadi biang keladi sehingga Ayah marah-marah kepada kita, hampir saja kita dibunuhnya. Karena Pulau Neraka telah berani menawanku."

"Hemm, Sumoi. Mengapa kejadian yang telah lewat dipersoalkan lagi? Bukankah Ayamu telah menyerbu ke sana kurasa Ayahmu telah menghukum mereka menurut cerita anak buah pasukan? Kalau begitu, kita tidak perlu pergi ke sana, sumoi."

"Aku harus pergi ke sana!"

Dara itu berkeras. Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sukar benar melayani sumoinya ini yang memiliki watak aneh dan hati yang keras sepeti baja.

"Aku hanya mau pergi ke Pulau Neraka kalau untuk mencari ibu, akan tetapi kalau kita pergi ke sana hanya untuk mencari perkara, aku tidak mau. Kau harus berjanji tidak akan membuat kekacauan di sana, sumoi."

"Hemmm, agaknya kau berkeinginan keras untuk menjadi sahabat baik Pulau Neraka, ya? Karena ada...."

"Sumoi, harap jangan bicara yang tidak-tidak. Memang kita sahabat baik mereka! Lupakah kau ketika mereka mengantar kita ketika meninggalkan pulau itu? Karena itu, aku hanya mau pergi ke sana kalau untuk mencari ibumu dan menjenguk mereka sebagai sahabat, melihat keadaan mereka setelah ada badai mengamuk."

Swat Hong cemberut, akan tetapi menjawab juga.

"Baiklah, kita lihat saja nanti."

Dan mereka lalu mendayung perahu dengan cepat menuju ke Pulau Neraka.

Akan tetapi, setelah mereka tiba di daerah Pulau Neraka, mereka menjadi bingung dan pangling karena di daerah itu telah terjadi perubahan hebat sekali.

Mungkin karena akibat badai yang mengamuk, yang ternyata mengambil daerah yang amat luas itu, di sekitar situ telah muncul gunung-gunung es yang anat besar sehingga Pulau Neraka yang biasanya tampak dari jauh sebagai raksasa yang tidur itu kini tidak kelihatan lagi.

Karena semua jurusan terhalang pandangannya oleh gunung-gunung es.

Mereka mendayung perahu berputar namun tidak dapat keluar dari kurungan gunung-gunung es itu.

"Ahhh, dahulu tidak ada gunung-gunung es besar seperti ini,"

Kata Swat Hong.

"Ini tentu diakibatkan oleh badai itu, Sumoi. Biar-lah kita mengaso dulu dan aku akan mencoba melihat keadaan dari puncak sebuah gunung. Kau tunggu saja di sini."

Perahu itu menempel pada sebuah bukit es yang tinggi dan Sin Liong meloncat ke daratan es.

Kemudian dia menggunakan ilmunya berlari cepat, mendaki gunung es itu untuk melihat dan mengenali daerah itu dari atas puncaknya yang tinggi.

Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras sekali yang mengguncangkan seluruh gunung es itu.

Sin Liong terkejut dan dengan cepat dia menoleh untuk melihat apa yang mengeluarkan suara seperti itu.

Dari jauh tampak olehnya seekor beruang besar sedang menggerakkan kedua kaki depanya ke arah burung-burung yang menyambar-nyambar di atasnya.

Burung-burung nazar (burung botak pemakan bangkai) yang besar-besar beterbangan di atas beruang itu dan menyerangnya dari atas sambil mengeluarkan suara pekik mengerikan.

Melihat ini, Sin Liong cepat berlari mendekati.

Ternyata beruang itu terluka parah juga di beberapa bagian anggauta badannya, sedangkan di bawah kakinya tampak bangkai seekor ular laut yang besar.

Jelaslah bahwa beruang itu tadi berkelahi dengan ular laut itu dan dia menang, akan tetapi dia menderita luka-luka dan burung-burung nazar yang kelaparan itu kini hedak mengeroyoknya dan tentu saja ingin makan bangkai ular besar.

Sin Liong segera menggunakan salju yang digenggam untuk menyambiti burung-burung itu.

Terdengar suara plak-plok-plak-plok disusul suara burung-burung nazar berkaok-kaok kesakitan dan mereka terbang ketakutan menjauhi tempat itu karena setiap kali terkena sambitan salju, terasa nyeri sekali.

Dengan beberapa loncatan saja Sin Liong sudah tiba di depan beruang itu.

Beruang yang berkulit hitam dan amat besar itu menyeringai dan mengerang, memperlihatkan gigi bertaring yang amat runcing kuat dan lidah yang merah.

Matanya terbelalak penuh kecurigaan dan kemarahan kepada Sin Liong.

"Tenanglah, aku datang untuk menolongmu,"

Kata Sin Liong sambil maju lebih dekat.

"Auughh..!"

Beruang itu menggerang dan kaki depan yang kiri menyambar kearah dada Sin Liong.

Melihat betapa telapak kaki itu berdarah, Sin Liong mengelak dan cepat menangkap pergelangan kaki depan itu.

Kiranya telapak kaki itu tertusuk tulang dan masuk amat dalam.

Agaknya dalam perkelahian melawan ular laut, beruang itu mencengkram tubuh ular dan sedemikian kuatnya dia mencengkeram sampai tulang punggung ular patah dan menusuk ke dalam daging di telapak kaki depan itu, Sin Liong segera mencabut tulang itu.

Darah mengucur deras dan dia segera membalut dengan saputangannya.

Beruang itu kini tidak marah lagi.

Agaknya dia cerdik dan dapat mengerti bahwa orang yang datang ini bukan musuh, bahkan menolongnya.

Kaki depan yang terluka itu kini tidak nyeri lagi dan tentu saja, karena yang membuat dia tersiksa rasa nyeri tadi adalah karena tulang yang menancap itu.

"Coba kuperiksa, apa lagi yang perlu kuobati,"

Sin Liong berkata dan dia memeriksa luka-luka di tubuh beruang itu.

Ada sebuah luka di tengkuk yang membengkak.

Tahulah Sin Liong bahwa luka ini cukup berbahaya, kalau tidak lekas diberi obat yang cocok akan dapat membahayakan nyawa beruang itu.

"Hemmm, aku harus mencarikan daun obat untuk luka-lukamu,"

Katanya, lupa bahwa beruang itu tentu saja tidak mengerti apa yang dia katakan.

"Hai, Suheng, ada apakah?"

Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas.

Sin Liong menoleh dan melihat Sumoinya turun berlari-lari cepat sekali.

Setelah dekat, beruang itu menggerang dan memandang Swat Hong dengan marah.

"Huh, binatang buruk!"

Swat Hong memaki.

"Dia terluka cukup berat, akan tetapi dia menang berkelahi melawan ular laut itu. Lihat, betapa besarnya ular itu, Sumoi. Beruang itu kuat sekali. Aku harus mengobatinya sampai sembuh."

Swat Hong mengerutkan alisnya.

"Perlu apa menolong binatang buas seperti itu, Suheng? Membuang-buang waktu saja."

"Dia tidak buas lagi, sumoi. lihat betapa jinaknya. Dia pun mahluk hidup yang perlu kita tolong. Aku merasa kasihan kepadanya,sumoi."

"Wah, kau lebih mementingkan dia..."

"Hei..., ada apa engkau...?"

Tiba-tiba Sin Liong berteriak melihat beruang itu menggereng-gereng dan menarik-narik tangannya, seolah-olah hendak mengajak Sin Liong pergi dari situ!

Beruang itu makin keras menggereng dan makin kuat menariknya.

Diam-diam Sin Liong kagum bukan main.

Tenaga beruang ini luar biasa besarnya, dan kiranya dia hanya akan dapat menandingi tenaga raksasa ini kalau dia menggerakan sinkang sekuatnya!

Akan tetapi tiba-tiba dia mendapat firasat tidak baik melihat sikap beruang itu, maka disambarnya tangan sumoinya dan dia berteriak.

"Awas, sumoi. Mari pergi, dia menghendaki demikian, entah mengapa?"

Sin Liong memegang erat-erat lengan sumoinya dan membiarkan dirinya diseret oleh beruang itu.

Binatang itu mengajaknya setengah paksa berlompatan dan berlarian ke gunung es yang lain yang berdekatan.

Baru saja mereka melompat ke atas gunung es lain itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan gunung es dimana mereka berada tadi telah pecah berantakan menjadi keping-keping kecil.

Kiranya gunung es itu ditabrak oleh gunung es yang lain dan hal ini agaknya telah diketahui oleh si Beruang tanpa melihat datangnya gunung es yang tak tampak dari situ.

Ternyata binatang itu hanya diperingatkan oleh nalurinya yang tidak ada pada manusia!

Sin Liong berdiri dengan muka pucat, kemudian dia merangkul beruang itu.

"Terima kasih, kakak beruang. Kiranya engkau malah menyelamatkan kami berdua."

Akan tetapi Swat Hong merasa tidak senang.

"Suheng, mari kita segera pergi dari sini. Tempat ini amat berbahaya. Lihat, gunung es tadi hancur dan itu kelihatan dari sini perahu kita. Untung tidak hilang. Marilah, suheng."

"Nanti dulu, sumoi. Aku harus mencarikan daun obat untuk mengobati luka-luka di tubuh beruang ini."

"Ah, perlu apa? Kita bisa celaka di sini..."

"Sumoi, dia telah menyelamatkan nyawa kita!"

"Hemm, begitukah? Engkau pun tadi telah menyelamatkan nyawanya ketika kau mengusir burung-burung nazar itu, bukan? Aku melihat dari jauh. Berarti sudah terbalas semua budi, bukan Marilah, Suheng."

"Tidak, sumoi. Kita tinggal di sini dulu sampai aku selesai mengobatinya."

Swat Hong menjadi marah.

"Agaknya kau lebih sayang beruang betina ini dari pada aku!"

"Sumoi...!"

Akan tetapi Swat Hong sudah berlari pergi, berloncatan di atas pecahan es dan menuju ke perahu mereka, meloncat ke dalam perahu dan mendayung perahu itu pergi dari situ!

Sin Liong menjadi bingung dan hampir membuka mulut menegur, akan tetapi karena maklum bahwa hal itu percuma saja, dia membatalkan niatnya.

"Ngukkk... nguuuuukkk...."

Beruang itu mendengus-dengus dan menciumi kepalanya.

"Ahhh, Enci (Kakak Perempuan) beruang, betapa sukarnya menyelami watak wanita. Aku telah membuat hatinya kecewa dan marah, akan tetapi bagaimana hatiku dapat tega meninggalkan engkau yang terancam bahaya maut oleh lukamu?"

Sin Liong lalu mengajak beruang itu mencari daun.

Karena perahu sudah dibawa pergi Swat Hong, Maka terpaksa dia mencari pulau yang masih ada tetumbuhannya dengan jalan berloncatan dari batu es lainnya, dan kalau jaraknya terlalu jauh, beruang itu menggendongnya dan membawanya berenang ke batu es lainya atau kadang-kadang Sin Liong menggunakan sebongkah es yang mengambang sebagai perahu, didayung dengan tangannya yang kuat.

Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang amat sukar, dapat juga dia menemukan pulau yang masih ada tetumbuhannya dan di pulau kecil itu, mulailah dia mengobati luka-luka beruang itu sampai sembuh.

Pada suatu hari dia melihat sebuah perahu kosong terbalik mengambang tidak jauh dari pulau.

Dia merasa girang sekali.

Cepat menyuruh beruang mengambilnya dan hatinya terharu ketika mengenal perahu itu sebagai sebuah di antara perahu pulau es.

Tentu penumpangnya telah lenyap ditelan badai, pikirnya.

Dia lalu membuat dayung dari cabang pohon dan setelah beruang hitam itu sembuh benar, dia lalu melompat ke perahu dan mendayungnya meninggalkan pulau.

Akan tetapi tiba-tiba beruang itu terjun ke air dan berenang mengejar perahunya.

"Heii, kakak beruang, kembalilah. Engkau sudah sembuh, dan aku harus pergi mencari sumoi!"

"Nguuuk...nguukk...!"

Beruang hitam itu mengeluarkan suara mengeluh dan mukanya seperti orang menangis! Sin Liong tersenyum.

"Hmm, kau hendak ikut, ya? Nah, loncatlah ke atas!"

Seolah-olah mengerti arti kata-kata Sin Liong, beruang itu lalu meloncat ke dalam perahu kini mukanya kelihatan berseri, matanya bersinar-sinar dan lidahnya terjulur keluar seperti sikap seekor anjing yang kegirangan.

"Kau boleh ikut sampai aku dapat menemukan kembali sumoi!"

Kata Sin Liong.

"Kalau sumoi tidak menghendaki kau ikut, kau harus kutinggalkan karena kau telah sembuh."

Demikianlah, Sin Liong kini melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka.

Dari puncak sebuah gunung es, dia dapat melihat dari jauh dan kini dia tahu di mana letaknya Pulau Neraka.

Beruang yang kini menggantikan tempat Swat Hong, menjadi temannya berlayar itu kelihatan girang sekali ketika perahu meluncur dan binatang ini telah jinak benar-benar.

Setelah kini dia mengenal kembali keadaan dan tahu di mana letaknya Pulau Neraka, perjalanan dapat dilakukan dengan cepat.

Setelah dekat dengan Pulau Neraka, dia menyaksikan suatu yang membuatnya terheran dan merasa tegang.

Sebuah perahu besar kelihatan mendarat di Pulau Neraka.

Jelas bukan perahu Pulau Neraka yang kecil-kecil.

Perahu itu besar sekali, perahu layar yang hanya dipergunakan untuk pelayaran jauh.

Dan perahu itu pun dalam keadaan payah, jelas kelihatan bekas diamuk badai.

Tiang layarnya patah, layarnya cabik-cabik dan perahu itu tidak ada orangnya sama sekali, berdiri miring di pantai Pulau Neraka.

Apakah yang telah terjadi di Pulau Neraka?

Ternyata bahwa seperti juga pulau lain.

Pulau Neraka tidak luput dari amukan badai.

Hanya karena letaknya agak jauh dari pusat amukan badai, maka penderitaannya tidak sehebat pulau lain, terutama Pulau Es.

Air juga naik tinggi dan menenggelamkan setengah bagian pulau ini, banyak pula penghuninya yang tidak keburu lari ke tempat tinggi, diseret dan ditelan badai.

Perahu-perahu lenyap, pohon-pohon yang berada di tepi pantai bobol semua.

Dan setelah badai mereda, sebuah perahu besar terdampar di tepi pantai.

Perahu itu adalah perahu bajak laut!

Setelah air menyu-rut, para bajak laut yang terdiri dari dua puluh lima orang itu segera mendarat.

Mereka itu kelelahan dan kelaparan, bahkan ada lima orang di antara mereka tewas ketika badai mengamuk sehingga jumlah mereka hanya tinggal dua puluh lima orang itulah.

Mereka mendarat di kepalai oleh raja bajak yang memimpin mereka, raja yang amat terkenal di sepanjang pantai muara-muara sungai Huangho dan Yangce.

Kepala bajak ini adalah seorang laki-laki tinggi besar yang buta sebelah matanya.

Mata kiri yang buta karena tusukan pedang lawan dalam pertandingan, kini ditutupi oleh sebuah kain hitam sehingga ia kelihatan lebih menyeramkan lagi.

Tubuhnya tinggi besar dan di antara para nelayan dan pedagang yang suka berperahu, dia dikenal sebagai Tok-gan-hai-liong (Naga Laut Mata Satu) dan namanya adalah Koan Sek.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perahu mereka yang diamuk oleh badai dahsyat itu telah mendarat di Pulau Neraka!

Andaikata mereka tahu juga, mereka tentu tidak merasa takut karena pada waktu itu, nama Pulau Neraka hanya dikenal oleh Orang-orang Pulau Es.

Untuk dunia ramai, yang dikenal hanyalah Pulau Es, yang dikenal sebagai tempat yang hanya terdapat dalam sebuah dongeng.

Betapapun juga, Pulau Es merupakan nama yang ditakuti oleh semua orang termasuk para bajak.

Akan tetapi karena pulau dimana perahu mereka mendarat bukanlah Pulau Es, melainkan pulau yang hitam penuh tetumbuhan, mereka menjadi berani dan setelah badai mereda dan air menyurut, mereka lalu menyerbu ke tengah pulau.

Untung bagi mereka bahwa badai yang amat dahsyat itu membuat air laut naik dan mengamuk di daratan pulau sehingga binatang-binatang berbisa pun menjadi panik dan ketakutan, lari bersembuyi dan belum berani keluar.

Andaikata mereka itu berani menyerbu pulau dalam keadaan biasa tentu mereka akan menjadi korban binatang-binatang itu dan sukarlah dibayangkan apa akan jadinya.

Mungkin sekali tidak ada diantara mereka yang akan dapat lolos betapapun liar, ganas dan lihai mereka itu.

Dapat dibayangkan betapa heran dan girangnya hati para bajak itu ketika mendapat kenyataan bahwa di tengah pulau itu terdapat pondok-pondok yang dibuat oleh manusia!

Akan tetapi keheranan mereka segera berubah menjadi kekagetan hebat ketika para penghuni pulau itu menyambut mereka dengan serangan dahsyat tanpa peringatan apa-apa.

Karena mereka adalah bajak-bajak yang sudah biasa berkelahi dan mengadu nyawa, maka serbuan para penghuni Pulau Neraka itu mereka sambut dengan gembira.

mereka mengira bahwa penghuni pulau itu adalah orang-orang biasa saja.

Maka besar sekali kekagetan mereka ketika mendapat kenyataan betapa kurang lebih dua puluh orang, yaitu sisa penghuni Pulau Neraka yang tidak dibasmi oleh badai, yang berani menyambut mereka dengan serangan itu rata-rata memiliki kepandaian hebat!

Terjadilah perang tanding yang seru dan matimatian.

Bajak laut pimpi-nan Tok-gan-hai-liong itu pun bukan orang-orang biasa melainkan penjahatpenjahat pilihan yang selain kuat dan ganas, juga rata-rata pandai ilmu silat.

Apalagi Tok-gan-hai-liong sendiri bersama seorang pembantu yang sebetulnya adalah sutenya (adik seperguruan) sendiri yang bernama Coa Liok Gu, seorang ahli pedang yang lihai sekali.

Sedangkan Tok-gan-hai-liong Koan Sek sendiri adalah seorang ahli bermain senjata ruyung yang ujungnya merupakan sebuah bola baja yang berat dan keras.

Para penghuni Pulau Neraka masih terguncang oleh amukan badai, bahkan ketua mereka, Ouw Kong Ek, sedang menderita sakit hebat.

Semenjak penyerbuan pasukan Pulau Es yang dipimpin oleh Han Ti Ong, Ouw Kong Ek jatuh sakit.

Mungkin karena dia merasa terlalu marah, dan mungkin juga karena usianya yang sudah tua.

Pernyerbuan dari Pulau Es itu merupakan hal yang amat menyakitkan hatinya, dan juga hati para penghuni Pulau Neraka, mendatangkan rasa dendam yang lebih mendalam.

Apalagi melihat betapa catatan pengobatan dari Kwa Sin Liong telah dihancurkan oleh Han Ti Ong, hati Ouw Kong Ek merasa sakit sekali.

Untung masih ada beberapa macam obat yang hafal olehnya, akan tetapi sebagian besar telah dibasmi oleh Raja Pulau Es yang marah itu.

Pada saat bajak laut menyerbu, Ouw Kong Ek tidak dapat bangun dari tempat tidurnya.

Dia dijaga dan dirawat oleh cucunya, Ouw Soan Cu.

Maka dapat dibayangkan betapa kaget hati kakek ini ketika ada anak buahnya yang datang melapor bahwa pulau yang baru saja diamuk badai itu kini disebu oleh sepasukan bajak laut yang ganas dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi!

"Keparat...!"

Kakek itu meloncat bangun akan tetapi terguling kembali dan Soan Cu segera memegang lengan kakeknya, membantunya untuk rebah kembali.

"Tenanglah, Kong-kong! Biarlah aku yang keluar untuk membantu teman-teman membasmi bajak laut yang tidak tahu diri itu."

Ouw Kong Ek terpaksa hanya mengangguk karena dia sendiri masih tidak kuat untuk bangun, apalagi bertempur.

"Hati-hatilah, Soan Cu..."

Dia percaya akan kepandaian cucunya yang tentu akan dapat mengusir bajak-bajak laut yang biasanya hanya terdiri orang-orang kasar itu.

Dengan pedang di tangan Soan Cu lalu berlari keluar.

Melihat anak buahnya sudah bertanding mati-matian melawan bajak-bajak yang ganas, apalagi melihat seorang wanita Pulau Neraka digeluti oleh dua orang laki-laki kasar sampai wanita itu menjerit-jerit namun dua orang laki-laki itu malah tertawa-tawa dan merobek-robek pakaian wanita itu, Soan Cu menjadi marah sekali.

Dia mengeluarkan teriakan marah, tubuhnya yang ramping mencelat ke depan, pedangnya menyambar dan dua orang bajak yang sedang memperkosa wanita itu roboh dengan leher terkuak lebar dan hampir putus!

Wanita itu cepat membereskan pakaiannya, menyambar goloknya dan seperti seekor harimau kelaparan dia membacoki tubuh dua orang bajak tadi.

Melihat sepak terjang Soan Cu yang kembali sudah merobohkan dua orang bajak, Tok-gan-hailiong Koan Sek dan Coa Liok Gu, dibantu oleh beberapa orang bajak lain cepat mengepung dan mengeroyoknya.

Namun Soan Cu mengamuk hebat dan pedangnya berubah segulung sinar terang yang menyambar Dahsyat, membuat dua orang pimpinan bajak itu terkejut dan harus memainkan senjata dengan hati-hati sekali agar jangan sampai mereka menjadi korban kedahsyatan sinar pedang yang dimainkan oleh dara itu.

"Lepas tulang ikan!!"

Tiba-tiba kepala bajak itu memberi aba-aba kepada sutenya dan mereka berdua telah meloncat mundur, membiarkan anak buah mereka yang empat orang banyaknya melanjutkan pengeroyokan, sedangkan mereka berdua lalu mengayun tangan berkali-kali ke arah Soan Cu.

Sinar lembut bertubi-tubi menyambar ke arah Soan Cu dari depan dan belakang.

Dara ini memandang rendah senjata rahasia mereka.

Dia adalah Seorang dara Pulau Neraka sudah terlalu banyak racun dikenalnya bahkan dia telah menggunakan obat anti racun maka dia tidak terlalu khawatir ketika sebuah di antara senjata rahasia lawan yang lembut itu mengenai pahanya.

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia merasa kakinya itu setengah lumpuh dan begitu dia menggerakan pedang, tubuhnya terhuyung, kepalanya pening.

"Aihhh...!"

Dia berseru nyaring, lebih merasa heran daripada khawatir.

Dara ini tidak tahu bahwa lawannya menggunakan am-gi (senjata gelap) berupa tulang berbentuk duri dari sirip semacam ikan laut yang berbisa.

Bisa dari ikan laut ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan bisa dari binatang darat, maka bisa yang asing ini tidak dapat ditolak oleh obat anti racun yang dipakainya.

"Sute, tangkap nona manis ini...!"

Teriak Koan Sek dengan girang.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara gerengan yang dahsyat dan yang membuat mereka kaget bukan main.

Dua orang bajak yang mendengar suara itu dekat sekali dibelakang mereka menengok dan...

mereka itu terjengkang dan merangkak untuk melarikan diri dengan ketakutan.

Kiranya yang menggerang itu adalah seekor binatang raksasa hitam yang menakutkan.

Seekor beruang yang lebar moncongnya cukup untuk mencaplok kepala mereka sekaligus!

Sin Liong yang datang bersama beruang itu cepat meloncat mendekati Soan Cu merampas pedang dari tangan dara itu dan memondongnya dengan tangan kiri, kemudian sekali meloncat dia telah berada di punggung beruang, lengan kiri memeluk dan menjaga tubuh Soan Cu yang dipangkunya karena dara itu telah menjadi pingsan sedangkan tangan kanan menggerakan pedang dara itu sambil beseru "Kakak beruang, lawan mereka yang berani mendekat!"

Beruang itu menggereng-gereng dan ketika melihat dari kiri ada sinar menyambar, yaitu sinar pedang yang digerakan oleh Coa Liok Gu sute dari kepala bajak, tiba-tiba kaki depan kiri yang kini dipergunakan seperti tangan itu bergerak menangkis, bukan menangkis pedang melainkan mencengkram kepala Coa Liok Gu.

Tentu saja orang ini kaget dan sekali merendahkan tubuh, membalikan pedang dan siap untuk menyerang lagi.

Begitu lengan beruang itu menyambar lawan, dia meloncat ke atas dan menusukan pedangnya mengarah bagian antara kedua mata beruang itu.

"Cringgg...!!"

Pedangnya terpental dan dia harus cepat melempar tubuh ke belakang kalau tidak ingin dadanya robek oleh cakar beruang setelah pedangnya ditangkis oleh Sin Liong tadi.

"Siuuuut...!!"

Senjata ruyung berujung baja di tangan Koan Sek sudah bergerak menyambar dengan ganas, menghantam punggung beruang hitam dengan kecepatan kilat dan dengan tenaga dahsyat.

"Cringgg...! Tranggg...!!"

Dua kali senjata berat itu ditangkis oleh Sin Liong dan dua kali pula kepala bajak itu berseru kaget karena telapak tangannya hampir terkupas kulitnya dan terasa panas dan perih.

Pada saat dia terbelalak dan terheran, beruang itu sudah membalikan tubuh dan sekali kaki depannya yang kanan menampar, kepala bajak itu mencoba menangkis, namun senjatanya terlepas dari pegangannya dan beruang itu sudah menubruknya dan mencengkram ke arah lehernya.

"Kakak beruang, jangan...!"

Sin Liong membentak.

Beruang itu terkejut dan ragu-ragu sehingga kesempatan itu dapat dipergunakan oleh Koan Sek untuk meloncat jauh kebelakang.

Dia dan pembantu utamanya, Coa Liok Gu berdiri dengan muka pucat memandang pemuda yang menunggang beruang itu membawa pergi tubuh dara jelita yang pingsan.

Biarpun pedang masih berada di tangannya, Coa Liok Gu tidak lagi berani menyerang karena dia maklum bahwa selain beruang raksasa itu amat kuat, juga pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.

Sin Liong merasa bingung dan gelisah menyaksikan pertempuran hebat itu.

"Hentikan pertempuran...!"

Dia berseru berkali-kali namun percuma saja, para bajak laut dan penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang kasar yang pada saat itu sedang marah, maka sukar untuk dibujuk.

Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan panjang dan suara itu segera disusul suara berdengung-dengung dan berdesis-desis.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin Liong ketika dia melihat datangnya binatang-binatang kecil yang berbisa.

Ular, kelabang, kalajengking dan sebangsanya berdatangan dari semua penjuru, merayap cepat seolah-olah digerakan oleh suara melengking itu, dan yang lebih mengerikan lagi, lebah-lebah putih datang pula beterbangan!

Saking kagetnya Sin Liong melompat turun dari punggung beruang dan kini beruang itu pun terkejut dan ketakutan, seolah-olah binatang raksasa ini sudah mengerti bahwa bahaya maut datang mengancamnya.

"Uhhh... apa yang terjadi...?"

Soan Cu mengeluh dan siuman dari pingsannya. Melihat dara itu sudah siuman. Sin Liong agak lega.

"Bagaimana lukamu?"

"Nyeri sekali, panas... eh, siapa yang memimpin binatang-binatang berbisa itu?"

Soan Cu turun dari pondongan Sin Liong.

"Cepat pergunakan obat penolak ini..."

Dia mengeluarkan sebungkus obat penolak dari ikat pinggangnya.

Setelah menaburkan obat bubuk di sekeliling mereka bertiga, yaitu Soan Cu, Sin Liong dan beruang betina, Soan Cu berkata lagi.

"Sin Liong tolong... kau tangkap Si Mata Satu itu... aku membutuhkan obat penawar racun am-gi-nya (senjata gelapnya)...."

Melihat betapa wajah dara itu pucat sekali tanda menderita kenyerian hebat, Sin Liong maklum bahwa tentu dara itu terkena senjata rahasia yang mengandung racun luar biasa sekali.

Maka tanpa menjawab tubuhnya mencelat kearah Koan Sek yang masih bengong memandang ke depan, matanya terbelalak ketika melihat betapa anak buahnya mulai menjadi korban pengeroyokan binatang-binatang berbisa.

Maka ketika tubuh Sin Liong menyambar, dia terkejut sekali, mengira bahwa pemuda itu akan menyerangnya.

Dia tadi sudah mengambil kembali senjatanya, maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah mengayun senjatanya menghantam ke arah Sin Liong.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert