Eps 2 Bu Kek Siansu - Kho Ping Hoo
Baca online Bu Kek Siansu - Kho Ping Hoo
Cersil Bu Kek Siansu - Kho Ping Hoo.
"Locianpwe mengalahkan mereka, berarti Locianpwe sakti sekali, Locian-pwe mengampuni dan membiarkan mereka lolos, berarti Locianpwe budiman, dan Locianpwe tadi mencatat gerakan-gerakan mereka dan kemudian mengalahkan mereka dengan ilmu mereka sendiri yang sudah Locianpwe catat berarti Locianpwe cerdik sekali."
Wajah yang gagah itu berubah, mata yang tajam itu memandang heran dan kagum, kemudian dia berkata.
"Wah, dalam kecerdikan, belum tentu kelak aku dapat melawanmu! Akal dan kecerdikan memang amat perlu untuk mempertahankan hidup di dunia yang penuh bahaya ini. Tahukah engkau bahwa tanpa menggunakan akal budi, memanaskan hati mereka dengan mengalahkan mereka dengan ilmu mereka sendiri, kalau mereka maju bersama mengeroyokku, belum tentu aku dapat menang! Sekarang kau sudah bebas dari bahaya, nah, aku pergi...!"
Melihat orang itu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari situ, Sin Liong memandang ke arah mayat sebelas orang dusun yang masih menggeletak di situ maka dia berseru.
"Locianpwe....". Pangeran Han Ti Ong berhenti melangkah dan menoleh. Dia merasa heran sendiri. Tidak biasa baginya untuk mentaati perintah orang kecuali suara ayahnya, raja ketiga dari Pulau Es. Akan tetapi, ada sesuatu dalam suara bocah itu yang membuat dia mau tidak mau menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan ber-tanya.
"Ada apa lagi?"
Dengan masih berlutut Sin lIong berkata.
"Locianpwe, sudilah kiranya Locianpwe menerima teecu sebagai murid."
Han Ti Ong kini memutar tubuh dan menghampiri anak yang masih berlutut itu.
"Bocah, siapa namamu?"
"Teecu She Kwa, bernama Sin Liong. Dengan ringkas Sin Liong lalu menuturkan tentang kematian ayah bundanya dan mengapa dia melarikan diri dan bersembunyi di hutan itu karena dia ngeri dan muak menyaksikan kekejaman manusia dan merasa mendapatkan tempat yang tentram dan damai di tempat itu.
"Hemm, kau ingin menjadi muridku hendak mempelajari apakah?"
"Mempelajari kebijaksanaan yang dimiliki Locianpwe dan tentu saja mempelajari ilmu kesak-tian."
"Kalau kau hanya ingin belajar silat mengapa tadi kau menolak ketika para tokoh menawarkan kepadamu agar menjadi murid mereka? Mereka itu adalah tokoh-tokoh yang memiliki kesaktian hebat."
"Namun teecu masih melihat kekerasan di balik kepandaian mereka. Teecu kagum kepada Locianpwe bukan hanya karena ilmu kesaktian, terutama sekali karena sifat welas asih pada diri Locianpwe."
"Tapi kau hendak belajar silat, mau kau pakai untuk apa? Bukankah kau lebih dibutuhkan dan berguna berada disini bagi penduduk sekitar Jeng-hoa-san?"
"Maaf Locianpwe. Tidak ada seujung rambut pun hati teecu untuk mempergunakan ilmu kesaktian dalam tindakan kekerasan. Dan tidak tepat pula kalau kepandaian teecu disini berguna bagi para penduduk. Buktinya, teecu hanya bisa mengobati orang sakit, itu pun kalau kebetulan jodoh, sedangkan sebelas orang ini, tertimpa bahaya maut sampai mati tanpa teecu dapat mencegahnya sama sekali. Andaikata teecu memiliki kepandaian seperti Locianpwe, apakah sebelas orang ini akan tewas secara demikian menyedihkan? Teecu kini melihat bahwa menolong orang tidak hanya mengandalkan ilmu pengobatan, juga untuk menyelamatkan sesama manusia dari tindasan orang kuat yang jahat, diperlukan kepandaian. Mohon Locianpwe sudi memenuhi permintaan teecu."
"Aku adalah seorang penghuni Pulau Es. Hidup disana tidaklah mudah dan enak, tidak seperti disini. Kau akan mengalami kesukaran, bahkan menderita ditempat yang dingin itu."
"Kesukaran apa pun akan teecu terima dengan hati rela, karena tiada hasil dapat dicapai tanpa jerih payah, Locianpwe."
Han Ti Ong tersenyum.
Memang dia sudah tertarik sekali melihat bocah yang dijuluki Sin-tong ini.
Bocah ini sama sekali tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan untuk keselamatan orang lain yang lemah.
Selain itu, pandang matanya yang tajam dapat melihat bahwa bocah ini memang benar-benar bocah ajaib, memiliki ketajaman otak dan pandangan yang luar biasa, juga memiliki darah dan tulang bersih, bakatnya malah jauh lebih besar daripada dia sendiri!
Kalau tadinya dia tidak mau menerima bocah ini sebagai murid adalah karena dia merasa malu terhadap diri sendiri, karena kalau dia mengambil anak ini sebagai murid lalu apa bedanya antara dia dengan tujuh orang yang dihalaunya pergi tadi.
Akan tetapi, memang ada bedanya sekarang setelah Sin Liong sendiri yang mengajukan permohonan agar diterima menjadi muridnya.
"Kalau memang sudah bulat kehendakmu menjadi muridku, baiklah, Sin-Liong. Mari kauikut bersamaku, akan tetapi jangan menyesal kelak. Hayo!"
Han Ti Ong kembali membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi.
"Suhu, nanti dulu...!"
Pangeran itu mengerutkan alisnya.
Lagi-lagi dia mendengar pengaruh yang luar biasa di balik suara anak itu yang memaksanya menoleh!
Dengan suara kesal dia berkata.
"Mau apa lagi?"
"Maaf, Suhu. Teecu mana bisa meninggalkan sebelas buah mayat itu disini begini saja?"
"Habis, apa maumu?"
"Teecu harus mengubur mereka lebih dulu sebelum pergi."
"Kalau aku melarangmu?"
"Teecu tidak percaya bahwa Suhu akan sekejam itu, teecu yakin akan kebaikan budi Suhu. Akan tetapi andaikata Suhu benar melarang teecu, terpaksa teecu akan membangkang dan tetap akan mengubur mayat-mayat ini."
Sepasang mata pangeran itu terbelalak penuh keheranan. Anak berusia tujuh tahun sudah berani memiliki pendirian seperti batu karang kokohnya.
"Murid macam apa kau ini? Belum apa-apa sudah siap membangkang terhadap Guru!"
"Teecu menjadi murid bukan membuta, dan teecu ingin mempelajari ilmu yang baik. Kalau teecu mentaati saja perintah Suhu yang tidak benar, sama saja dengan teecu menyeret Suhu ke dalam kesesatan."
Mata Han Ti Ong makin terbelalak.
Hampir dia marah, akan tetapi dia dapat melihat apa yang tersembunyi di balik ucapan yang kelihatan kurang ajar ini dan dia mengangguk-angguk.
"Lakukanlah kehendakmu, aku menunggu."
"Terima kasih! Teecu memang tahu bahwa Suhu seorang sakti yang budiman!"
Dengan wajah berseri Sin LIong lalu menggali lubang.
Akan tetapi karena dia hanya seorang anak kecil dan yang dipergunakan menggali hanyalah sebatang cangkul biasa yang kecil pemberian orang-orang dusun dan yang biasa dia pergunakan untuk menggali dan mencari akar obat, maka tentu saja menggali sebuah lubang untuk mengubur sebelas buah mayat bukan merupakan pekerjaan ringan dan mudah!
Mula-mula Han Ti Ong duduk di bawah pohon dan melirik ke arah muridnya itu yang bekerja keras.
Disangkanya bahwa tentu bocah itu akan kelelahan dan akan beristirahat.
Akan tetapi dia kecele.
Sin Liong bekerja terus biarpun kaki tangannya sudah pegal-pegal semua, dan keringat membasahi seluruh tubuh, menetes dari dahinya dan kadang-kadang diusapnya dengan lengan baju.
Akan tetapi dia tidak pernah berhenti bekerja.
Sudah setengah hari mencangkul, baru dapat membuat lubang yang hanya cukup untuk dua buah mayat saja.
Kalau dilanjutkan, agaknya untuk dapat menggali lubang yang cukup untuk semua mayat, ia harus bekerja selama dua hari dua malam atau lebih!
"Hemm, hatinya lembut tapi kemauannya keras.
Benar-benar bocah ajaib."
Han Ti Ong mengomel sendiri dan dia lalu bangkit, dirampasnya cangkul dari tangan muridnya dan tanpa berkata apa-apa lagi dia lalu mencangkul.
Gerakannya amat cepat sekali sehingga Sin Liong yang mundur dan menonton menjadi kabur pandangan matanya karena seolah-olah tubuh gurunya berubah menjadi banyak, semuanya mencangkul dan sebentar saja telah terbuat sebuah lobang yang amat besar dan yang cukup untuk megubur sebelas buah mayat itu.
Tentu saja hati Sin lIong girang bukan main dan satu demi satu diangkat, atau lebih tepat diseretnya mayat-mayat itu, dimasukkan ke dalam lubang dan air matanya bercucuran!
Han Ti ong membantu muridnya menguruk atau menutup lubang itu sehingga di tempat itu, di depan gua tempat tinggal Sin Liong, terdapat sebuah kuburan yang besar sekali.
"Sudahlah, sudah mati ditangisipun tidak ada gunanya. Mari kita pergi!"
Sin Liong merasa lengannya dipegang oleh gurunya dan di lain saat dia harus memejamkan matanya karena tubuhnya telah "terbang"
Dengan amat cepatnya meninggalkan Gunung Jeng-hoa-san, entah kemana!
Akan tetapi setelah merasa terbiasa, Sin Liong berani juga membuka matanya dan dengan penuh kagum dia melihat bahwa dia dikempit oleh suhunya yang berlari cepat seperti angin saja.
Dia mengenal pula tempat dimana suhunya melarikan diri yaitu ke sebelah timur Pegunungan Jeng-hoa-san.
Tiba-tiba dia melihat sesuatu, juga hidungnya mencium sesuatu, maka dia cepat berseru.
"Suhu, harap berhenti dulu!"
Han Ti Ong berhenti.
"Ada apa?"
"Suhu, disana itu..."
Suara Sin Liong tergetar dan ketika Han Ti Ong menoleh, dia pun merasa jijik sekali.
Yang ditunjuk oleh muridnya itu adalah sekumpulan mayat orang yang sudah menjadi mayat rusak dan bekasnya menun-jukkan bahwa mayat-mayat itu tentu diganggu oleh binatang-binatang buas sehingga berserakan kesana-sini.
"Mau apa kau?"
Han Ti Ong membentak.
"Suhu apakah kita harus mendiamkan saja mayat-mayat itu? Mereka adalah bekas-bekas manusia seperti kita juga. Kasihan kalau tidak diurus..."
"Wah, kau memang gatal-gatal tangan ! Nah, hendak kulihat apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?"
Han Ti Ong menurunkan Sin Liong dan dia sendiri lalu duduk diatas sebuah batu dari tempat agak jauh.
Dia sungguh ingin tahu apa yang akan dilakukan muridnya itu terhadap mayat-mayat yang sudah demikian membusuk, bahkan dari tempat dia duduk pun tercium baunya yang hampir membuatnya muntah.
Dengan langkah lebar Sin Liong menghampiri mayat-mayat itu, sedikit pun tidak kelihatan jijik atau segan.
Kemudian, diikuti pandang mata Han Ti Ong yang terheran-heran bocah itu mulai menggali tanah dengan hanya menggunakan sebatang pisau kecil, pisau yang biasanya dipergunakan untuk memotong-motong daun dan akar dan yang agaknya tak pernah terpisah dari saku bajunya.
Anak itu hendak menggali lubang untuk mengubur dua belas buah mayat busuk itu hanya dengan menggunakan sebatang pisau kecil!
Hampir saja Han Ti Ong tertawa tergelak saking geli hatinya, juga saking girangnya mendapat kenyataan bahwa muridnya ini benar-benar seorang bocah ajaib yang mempunyai pribadi luhur dan wajar tanpa dibuat-buat!
Dengan kagum dia meloncat bangun, lari menghampiri yang telah menggali lubang beberapa sentimeter dalamnya.
"Cukup Sin Liong. Lubang itu sudah lebih dari cukup untuk mengubur mereka."
"Ehhh...? Mana mungkin, Suhu...?"
"Ha, kau masih meragukan kelihaian suhumu? Lihat baik-baik!"
Han Ti Ong lalu mengeluarkan sebuah botol dari saku jubahnya, menggunakan ujung sepatunya mencongkel mayat-mayat itu menjadi setumpukan barang busuk, dan dia menuangkan benda cair berwarna kuning dari dalam botol ke atas tumpukan mayat.
Tampak uap mengepul dan tumpukan mayat itu mencair, dalam sekejap mata saja lenyaplah tumpukan mayat itu karena semua, berikut tulang-tulangnya, telah mencair dan cairan itu mengalir ke dalam lubang yang tadi digali Sin Liong.
Benar saja, cairan itu memasuki lubang dan meresap ke tanah, tentu saja lubang itu sudah lebih dari cukup untuk menampung cairan itu.
Dengan mata terbelalak penuh kagum, Sin Liong lalu menguruk lagi lubang itu dan berlutut di depan kaki suhunya.
"Suhu, terima kasih atas bantuan Suhu. Suhu sungguh sakti dan budiman."
"Aahhh....!"
Muka Han Ti Ong menjadi merah dan dia mengeluarkan seruan itu untuk menutupi rasa malunya.
Mana bisa dia disebut budiman kalau mengubur mayat-mayat itu bukan terjadi atas kehendaknya, melainkan dia "terpaksa"
Oleh muridnya?
"Kalau aku tidak salah lihat, mereka ini adalah pendekar-pendekar gagah.
Sungguh kematian yang menyedihkan dan entah siapa yang dapat membunuh mereka.
Mereka kelihatan bukan orang-orang sembarangan yang mudah dibunuh.
Mari kita pergi, Sin Liong!"
Kembali murid itu dikempitnya dan Pangeran Sakti itu menggunakan ilmu berlari cepat seperti tadi, melanjutkan perjalanan ke timur menuruni Pegunungan Jeng-hoa-san.
Tak lama kemudian, kembali Sin Liong yang dikempit(dijepit di bawah lengan) berseru.
"Haiii Suhu, harap berhenti dulu...!"
Han Ti Ong menjadi gemas. Akan tetapi dia berhenti juga menurunkan bocah itu dari kempitan di bawah ketiaknya.
"Mau apa lagi kau? Awas, kalau tidak penting sekali, aku akan marah!"
"Lihat disana itu, Suhu. Tidak patutkah kita menolong orang yang sengsara itu? Siapa tahu dia juga sudah mati disana..."
Tanpa menanti jawaban suhunya, Sin Liong sudah lari menghampiri sesosok tubuh yang menggeletak di bawah pohon tak jauh dari situ.
Tubuh itu tidak bergerak-gerak, akan tetapi dari tempat ia berdiri, Han Ti Ong mengerti bahwa orang itu belum tewas, agaknya pingsan atau tertidur saja.
Dia tersenyum dan melihat muridnya sudah menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu.
Betapa kagetnya ketika dia mendengar teriakan muridnya.
"Eihh, Suhu! Dia seeorang wanita!"
Han Ti Ong terheran.
Dia lalu meloncat ke arah muridnya dan melihat betapa tiba-tiba orang yang disangkanya pingsan itu sudah meloncat bangun dan langsung memukul kepala Sin Liong dengan kekuatan dahsyat.
"Wuuttt... plakkk! Augghhh...!!"
Wanita yang mukanya kotor matanya merah dan rambutnya awut-awutan itu menjerit ketika pukulannya tertangkis oleh lengan Han Ti Ong yang amat kuat.
Dia terhuyung ke belakang, sejenak memandang Han Ti Ong dan Sin Liong, kemudian menangis tersedu-sedu dan bergulingan diatas tanah menangis seperti seorang anak kecil.
"Jangan... aughhh, jangan... lepaskan aku... lepaskan...! Jangan bunuh mereka...!"
Sin Liong tertegun dan memandang penuh kasihan.
Juga Han Ti Ong memandang penuh kasihan.
Juga Han Ti Ong memandang dengan terharu, maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang berotak miring!
"Toanio(Nyonya), kau kenapakah...?
Sin Liong melangkah ke depan.
Tiba-tiba wanita itu meloncat bangun dan Han Ti Ong sudah siap melindungi muridnya yang sama sekali tidak kelihatan takut itu.
Akan tetapi wanita itu lalu tiba-tiba tertawa terkekeh.
"Hi-hi-hi-hikk!"
Aneh sekali, ketika wanita itu tertawa, Han Ti Ong melihat wajah yang amat cantik manis!
Wanita itu adalah seorang gadis muda yang amat cantik, akan tetapi yang entah mengapa telah menjadi gila.
Pakaian yang dipakainya adalah pakaian pria yang terlalu besar, rambutnya yang hitam panjang itu riap-riapan tidak diurus, mukanya kotor terkena debu dan air mata, matanya merah dan membengkak.
"Hi-hi-hik, kubunuh engkau, Pat-jiu Kai-ong, aku bersumpah akan membunuhmu untuk membalas kematian dua belas orang Suhengku!"
Kemudian dia menangis lagi.
"Hu-hu-huuuuuh.... Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai habis terbasmi...."
Han Ti Ong terkejut dan teringatlah dia akan nama Tiga Belas Orang Pendekar Bu-tong-pai yang amat terkenal sebagai tiga belas orang pendekar gagah perkasa pembela keadilan dan kebenaran, teringat pula bahwa mereka terdiri dari dua belas pria dan seorang wanita, kalau tidak salah, saudara termuda.
"Nona, apakah engkau orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai?"
Tanyanya sambil melangkah maju menghampiri wanita gila itu.
"Jangan sentuh aku! Manusia terkutuk, jangan sentuh aku lagi!"
Dan tiba-tiba wanita itu menyerang dengan hebatnya.
Han Ti Ong menangkis dan menotok.
Robohlah wanita itu, roboh dalam keadaan lemas tak dapat bergerak lagi.
"Suhu, mengapa....?"
Sin Liong bertanya penasaran.
"Bodoh, kalau tidak kutotok, tentu dia akan mengamuk terus. Coba kau periksa dia, apakah kau bisa mengobatinya?"
Sin Liong berlutut dan melihat wanita itu hanya melotot tanpa mampu bergerak. Setelah memerikasa sebentar, dia menarik napas panjang.
"Suhu, dia terkena pukulan batin yang amat berat, membuat dia menjadi begini, berubah ingatannya. Kalau kita berada di Jeng-hoa-san, kiranya dapat teecu mencarikan daun penenang untuk mengobatinya."
"Hemm, kau lihatlah Gurumu mencoba untuk mengobatinya."
Han Ti Ong megeluarkan sebatang jarum emas dari sakunya, setelah membersihkan ujungnya dia lalu menghampiri wanita itu dan menusukkan jarum emasnya di tiga tempat, di tengkuk kanan kiri dan ubun-ubun!
Sin Liong memandang dengan mata terbelalak.
Dia sudah mendengar dari ayahnya tentang kepandaian orang mengobati dengan tusukan jarum, akan tetapi sekarang dia menyaksikannya.
Dan wanita itu baru mengeluh lalu tertidur dengan pernapasan yang panjang dan tenang.
Ketika gurunya mencabut jarum dan menyimpannya, gurunya berkata.
"Coba kau periksa lagi matanya, apakah sudah ada perubahan?"
Sin Liong membuka pelupuk mata dan meihat bahwa mata wanita itu yang tadinya mengeluarkan sinar aneh yang liar, kini telah normal kembali.
Dia cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan Suhunya.
"Suhu, teecu seperti buta, tidak tahu bahwa Suhu adalah seorang ahli pengobatan pula."
"Hemm, dalam hal mengenal tetumbuhan obat, mana aku mampu menandingimu? Akan tetapi aku mempunyai kepandaian menusuk jarum, kepandaian turunan yang tentu kelak akan kuajarkan kepadamu."
"Suhu, teecu mengajukan sebuah permohonan, harap Suhu tidak keberatan."
"Hemm, apa lagi?"
"Harap Suhu suka menolong wanita malang ini, dan membiarkan dia ikut dengan kita."
"Kau.... kau gila...?"
"Suhu, dia belum sembuh benar. Kalau dia dibiarkan disini, lalu datang orang jahat, bagaimana?"
"Ha, kau tidak usah khawatir. Dia adalah orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap, ilmu kepandaiannya tinggi. Siapa berani mengganggunya?"
"Buktinya, dua belas orang suhengnya tewas dan tentu mereka itu adalah mayat-mayat yang tadi kita kubur. Agaknya yang membunuh adalah Pat-jiu Kai-ong. Selain itu, kalau dia teringat akan peristiwa itu sebelum sembuh benar, tentu dia akan kumat gilanya dan apakah Suhu tega membiarkan dia seperti itu?"
Han Ti ong memandang wajah wanita yang bukan lain adalah The Kwat Lin itu.
Dia terheran sendiri mengapa wajah yang kotor dan rambut yang kusut itu mendatangkan rasa iba yang luar biasa di hatinya?
Mengapa dia merasa tertarik dan ingin sekali menolong wanita muda ini?
Apakah dia sudah "Ketularan"
Watak muridnya, ataukah...
ataukah...?
Dia tidak berani membayangkan.
Selama ini hanya isterinya seoranglah wanita yang menarik hatinya, yang membangkitkan gairahnya, akan tetapi perempuan gila ini.
entah mengapa, telah membuat dia tertarik dan kasihan sekali.
"Sudahlah, kau memang cerewet, dan kalau tidak kuturuti, tentu kau rewel terus. Biar kita membawa bersama ke Pulau Es, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangannya."
Ucapan terakhir ini seperti ditujukan kepada hatinya sendiri! "Teecu tahu, Suhu adalah seorang yang budiman."
Dengan hati mengkel karena ucapan muridnya itu seperti ejekan kepadanya karena dia mau menolong dara ini sama sekali bukan karena dia budiman, melainkan karena dia kasihan dan terutama sekali...
tertarik hatinya, dengan kasar dia lalu mengempit tubuh wanita itu di bawah ketiak kanannya, dan menyambar tubuh Sin Liong di bawah ketiak kirinya dan larinya Pangeran yang sakti ini secepat terbang menuju ke pantai lautan.
Siapakah sebetulnya manusia sakti yang ditakuti oleh tujuh orang tokoh kang-ouw itu?
Siapakah Pangeran Han Ti Ong yang pada bagiaan dada bajunya terdapat lukisan burung Hong dan seekor Naga emas itu?
Dia adalah pangeran dari Pulau Es.
Pulau ini merupakan pulau rahasia yang hanya dikenal orang kang-ouw seperti dalam dongeng karena tidak pernah ada orang yang berhasil menemukan pulau itu kecuali beberapa orang nelayan yang perahunya diserang badai dan mereka ini ditolong oleh manusia-manusia sakti, manusia yang menjadi penghuni Pulau Es, sebuah pulau dari es dimana terdapat istana indah dan merupakan sebuah kerajaan kecil penuh dengan orang sakti.
Setelah ditolong dan diselamatkan, dan berhasil kembali ke daratan, para nelayan inilah yang membuat cerita seperti dongeng itu sehingga nama sebutan Pulau Es terkenal di dunia kang-ouw.
Kerajaan di Pulau Es itu dibangun oleh seorang pangeran, ratusan tahun yang lalu.
Seorang pangeran yang amat sakti, seorang pangeran yang dianggap pem-berontak karena berani menentang kehendak kaisar, dan pangeran ini bersama keluarganya menjadi pelarian.
Dengan kesaktiannya, dia berhasil melarikan keluarganya ke pantai timur dan menggunakan sebuah perahu untuk mencari tempat baru.
Tujuannya adalah ke pulau di timur di mana dahulu sudah banyak orang-orang pandai dari daratan yang melarikan diri dan menjadi buronan karena berani menentang pemerintah, yaitu Kepulauan Jepang!
Akan tetapi dia tersesat jalan, perahunya dilanda badai hebat dan perahunya dibawa jauh ke utara sampai kemudian perahu itu mendarat di sebuah pulau.
Pulau Es!
Melihat pulau itu tersembunyi, baik sekali dijadikan tempat persembunyiannya, dan di sekitar situ terdapat pulau-pulau lain yang tanahnya cukup subur, maka pangeran pelarian ini mengambi keputusan untuk menjadikan Pulau Es sebagai tempat tinggalnya.
Dia lalu mengumpulkan orang-orang yang setia kepadanya, membawa mereka ke Pulau Es menjadi pengikut-pengikutnya.
Dibangunnya sebuah istana yang kecil namun indah di Pulau itu dan berdirilah sebuah kerajaan kecil di tempat terasing ini!
Berkat kebijaksanaan Raja Pulau Es ini, para pengikutnya dan keluarga raja hidup aman tentram dan penuh kebahagiaan di Pulau Es.
Para keluarganya hidup rukun dan para pengikutnya membentuk keluarga-keluarga sehingga penghuni pulau itu berkembang biak.
Karena kesaktian rajanya, dan karena letak pulau itu yang sukar dikunjungi orang luar, maka kerajaan kecil ini tidak pernah terganggu.
Raja itu mewariskan kepandaiannya kepada keturunannya, merupakan ilmu-ilmu warisan yang hebat, dan tentu saja para pengikut mereka mendapat pula pelajaran ilmu yang tinggi.
Pangeran Han Ti Ong adalah keturunan ke empat dari raja pertama di Pulau Es.
Pangeran ini berbeda dengan keturunan raja yang sudah-sudah.
Kalau semua keturunan raja hidup di Pulau Es dan hanya meninggalkan pulau kalau mereka ada keperluan di pulau-pulau kosong sekitar daerah itu untuk mengambil daun obat, sayur-sayuran atau berburu binatang, maka Pangeran Han Ti Ong tidak betah tinggal di tempat sunyi itu.
Dia sering kali pergi dari pulau dan diam-diam dia melakukan perantauan di daratan!
Dia adalah orang yang paling banyak mewarisi ilmu nenek moyangnya sehingga dia adalah orang terpandai diantara para keluarga raja di Pulau Es.
Apalagi karena dengan kesukaannya merantau di daratan, dia dapat mengambil banyak ilmu-ilmu silat tinggi yang lain dari daratan sehingga kepandaiannya bertambah.
Dan gara-gara perantauan Pangeran inilah maka Pulau Es menjadi makin terkenal dan nama Pangeran Han Ti Ong sendiri juga menggemparkan dunia kang-ouw sungguhpun dia jarang sekali memperkenalkan diri.
Melihat bajunya yang terhias gambaran naga dan burung Hong itu saja sudah cukup bagi para tokoh kang-ouw untuk mengenal manusia sakti dari Pulau Es ini, seperti peristiwa yang terjadi di Hutan Seribu Bunga ketika Pangeran ini menghadapi tujuh orang tokoh besar dunia kang-ouw.
Para Pangeran yang sudah-sudah, selalu mengambil isteri dari keluarga kerajaan sendiri, yaitu saudara-saudara misan mereka sendiri.
Hal ini adalah untuk menjaga agar "darah"
Kerajaan tetap "asli".
Akan tetapi, berbeda dengan semua kebiasaan para pangeran, Han Ti Ong yang jatuh cinta kepada seorang dara puteri penghuni Pulau Es biasa, berkeras mengambil dara itu sebagai isterinya!
Padahal biasanya, dara-dara yang berdarah "biasa"
Ini hanya diambil sebagai selir-selir oleh para pangeran dan raja.
Akan tetapi, Pangeran Han Ti Ong tidak mau mengambil selir dan hanya mempunyai seorang isteri, yaitu anak nelayan yang menjadi pengikut keluarga raja, seorang dara biasa saja, namun yang sesungguhnya memiliki kecantikan yang mengatasi kecantikan para puteri raja!
Dari isteri tercinta ini, Pangeran Han Ti Ong mempunyai seorang puteri yang pada waktu itu berusia enam tahun, seorang anak perempuan yang mungil, cantik, keras hati seperti ayahnya dan gembira seperti ibunya.
Anak ini diberi nama Han Swat Hong (Angin Salju) ini diambil oleh Pangeran Han Ti Ong untuk menamakan puterinya karena ketika puterinya terlahir, Pulau Es dilanda angin dan salju yang amat kuat!
Pada pagi hari itu Swat Hong, nak perempuan berusia enam tahun lebih itu, duduk bengong di tepi (Lanjut ke
Jilid 04) Bu Kek Siansu (Seri ke 01 Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 pantai Pulau Es.
Dia sengaja memilih tempat sunyi yang agak tinggi ini untuk melihat jauh ke selatan, dan hatinya penuh rindu terhadap ayahnya yang sudah pergi selama tiga bulan itu.
"Hong-ji (Anak Hong)..."
Swat Hong menoleh dan melihat bahwa yang memanggil tadi adalah ibunya, dia lalu meloncat bangun, lari menghampiri ibunya, meloncat dan merangkul leher ibunya dan menangis.
Ibunya tertawa.
"Aih-aihhh... anakku yang biasanya periang tertawa mengapa menangis? Mengapa bulan yang berseri gembira menjadi suram? Awan hitam apakah yang menghalanginya?"
"Ibu, kau...kau kejam!"
"Ihh! Ibumu kejam? Mungkin kalau sedang menyembelih ikan atau ayam. Akan tetapi ibumu tidak kejam terhadap manusia."
Memang watak Liu Bwee, ibu anak itu, atau isteri Pangeran Han Ti Ong adalah lincah gembira yang menurun pula kepada Swat Hong.
"Ibu kejam, mengapa Ibu tidak berduka? Apakah Ibu tidak rindu kepada Ayah?"
Tiba-tiba muka wanita itu menjadi merah sekali dan terasa lagi dua titik air mata meloncat turun ke atas pipinya.
Melihat ini, Swat Hong melorot turun dan bertepuk-tepuk tangan.
"Hi-hi, Ibu menangis! Ibu juga rindu kepada Ayah? Hayoh, Ibu sangkal kalau berani!"
Memang watak anak-anak, begitu melihat orang lain berduka, dia sendiri lupa akan kedukaanya dan merasa terhibur!
Ibunya berlutut, memeluk dan menciuminya, akan tetapi masih bercucuran air mata.
Swat Hong yang tadinya berbalik menggoda ibunya yang dianggapnya rindu kepada ayahnya seperti juga dia tadi, kini menjadi terheran dan berkhawatir.
"Ibu, mengapa ibu berduka? Apa yang terjadi? Apakah diam-diam ibu begitu merindukan Ayah dan menyembunyikannya saja?"
Liu Bwee memaksa diri tersenyum dan menghapus air matanya, mengangguk-angguk sebagai jawaban karena masih sukar baginya untuk mengeluarkan suara tanpa terisak menangis.
Akan tetapi puterinya itu adalah seorang anak yang amat cerdik, maka tentu saja tidak dapat dibohonginya semudah itu.
"Ibu ada apakah? Harap Ibu beritahu kepadaku, siapa yang menyusah-kan hati Ibu? Akan kuhajar dia!"
Swat Hong mengepal kedua tinjunya yang kecil seolah-olah orang yang menyusahkan hati ibunya sudah berada disitu dan akan dihantamnya.
Melihat sikap anaknya ini, hati Liu Bwee terharu sekali dan ingin dia menangis lagi, akan tetapi ditekannya perasaan harunya dan dia tertawa.
"Aih, Hong-ji, kalau ada yang kurang ajar kepada ibumu, apakah Ibumu tidak dapat menghajarnya sendiri?"
Swat Hong tertawa.
"Memang aku tahu bahwa kepandaian Ibu juga hebat, biarpun tidak sehebat Ayah, akan tetapi tidak puas kalau aku tidak menghajar dengan kedua tanganku sendiri kepada orang yang menyusahkan hati Ibu."
"Anakku yang baik...!"
Untuk menekan harunya, LIu Bwee mengangkat tubuh anaknya, dipeluk, diciuminya kemudian dia membentak.
"Terbanglah!"
Dan melempar tubuh anak itu ke atas.
Swat Hong bersorak gembira.
Itulah sebuah diantara permainan mereka.
Dia senang sekali kalau dilempar ke udara oleh Ibunya, terutama kalau ayahnya yang melakukannya karena lemparan ayahnya membuat tubuhnya "terbang"
Tinggi sekali.
Namun kini lemparan ibunya cukup menggembirakan hatinya karena biarpun Ibunya tidak sekuat ayahnya, lemparannya cukup membuat tubuhnya melambung tinggi melewati puncak pohon!
Ketika tubuhnya melayang turun, ibunya sudah siap menyambutnya, akan tetapi dasar anak nakal, dia menggunakan kesempatan ini untuk berlatih!
Dia cepat membalikkan tubuh sehingga kedua kakinya diatas dan cepat dia menggunakan kedua tangannya untuk menyerang ibunya, mencengkram ke arah ubun-ubun.
Itulah jurus terakhir yang dilatihnya dari ayahnya yang seharusnya dilakukan dengan loncatan ke atas dan menyerang ubun-ubun kepala lawan, akan tetapi kini dilakukannya ketika dia melayang turun!
"Haaiiiit...!!"
Untuk memperingatkan ibunya, Swat Hong menjerit sebelum menyerang.
Tentu saja Liu Bwee tidak perlu diperingatkannya lagi.
Semenjak menjadi isteri Pangeran Han Ti Ong, wanita puteri nelayan yang tentu saja seperti semua penghuni Pulau Es telah memiliki dasar ilmu silat tinggi, telah digembleng oleh suaminya dengan ilmu-ilmu simpanan yang tinggi sehingga dia menjadi seorang yang sakti seperti semua keluarga kerajaan itu.
Melihat kegembiraan puterinya, dia pun cepat mengelak, dari samping dia menyambar kedua lengan anaknya dan dengan bentakan nyaring kembali tubuh anaknya dilemparkan ke atas!
Tubuh itu melayang tinggi dan tiba-tiba dari atas Swat Hong berteriak girang.
"Heiii, Ibu... itu Ayah datang....!!"
Mendengar ini, Liu Bwee cepat lari kepinggir tebing tinggi dan memandang ke laut.
Wajahnya berseri-seri, jantungnya berdebar karena penuh rindu kepada suaminya.
Benar saja.
Tampak sebuah perahu dan dia mudah mengenal suaminya yang mendayung perahu itu dengan kekuatan dahsyat sehingga perahu kecil meluncur seperti seekor ikan hiu yang marah.
Akan tetapi alis wanita ini berkerut ketika dia melihat dua orang lain di dalam perahu.
Seorang wanita muda yang cantik!
Hatinya terasa tidak enak.
Dia tidak akan mengikat suaminya, dan sebagai seorang isteri pangeran calon raja tentu saja dia maklum bahwa suaminya berhak mengambil selir-selir sebanyaknya.
Akan tetapi entah mengapa, kedatangan suaminya dengan dua orang itu, terutama seorang wanita cantik, mendatangkan rasa gelisah yang aneh didalam hatinya.
"Ibuuuu... tolong dulu aku... !"
Teriakan Swat Hong ini mengejutkan hatinya.
Dia menengok dan melihat tubuh anaknya meluncur turun.
Dia kaget dan baru sadar bahwa ketegangan mendengar suaminya pulang membuat dia lupa kepada puterinya.
Sungguhpun Swat Hong telah memiliki ginkang yang cukup baik akan tetapi meluncur turun dari tempat tinggi seperti itu ada bahayanya patah atau setidaknya salah urat.
Untuk meloncat sudah tidak ada waktu lagi, maka cepat dia menyambar sebuah ranting kayu di dekat kakinya, melontarkan kayu itu dengan tepat melayang di bawah kaki Swat Hong dan anak ini juga idak menyia-nyiakan pertolongan ibunya.
Dia menginjak kayu itu dan tenaga luncuran kayu itu dapat menahan dan mengurangi tenaga luncuran tubuhnya sendiri dari atas sehingga dia dapat meloncat kebawah dengan aman.
Seperti tidak pernah mengalami bahaya apa-apa, anak itu lalu lari ke arah ibunya dan berteriak girang.
"Ayah datang, Ibu?"
Ibunya hanya mengangguk tanpa menoleh, tetapi memandang ke arah perahu yang makin mendekat pantai.
"Heii, Ayah bukan datang sendiri! Ada seorang wanita dan anak laki-laki bersama ayah di dalam perahu!"
Liu Bwe tetap tidak menjawab akan tetapi memandang tajam penuh selidiki ke arah perahu.
"Wah, jangan-jangan itu selir dan putera... ayah!"
Swat Hong yang memang berwatak terbuka itu berkata mengomel.
Dia pun sudah tahu akan kebiasaan para pangeran untuk mengambil selir, maka dia tidak akan merasa heran pula kalau ayahnya juga mempunyai selir di luar pulau Es, biar pun hatinya merasa tidak senang dan penuh iri memandang kepada anak laki-laki di dalam perahu itu.
Mendengar ucapan yang tanpa disengaja oleh Swat Hong merupakan benda tajam menusuk hatinya itu, Liu Bwee menjawab.
"Perempuan itu masih terlalu muda untuk menjadi ibu anak laki-laki itu, Sungguhpun bukan tidak mungkin dia adalah selir Ayahmu karena dia memang cantik."
Jawaban ini keluar dari lubuk hati Liu Bwee sehingga keluar melalui mulutnya seperti tidak disadarinya.
Barulah dia kaget ketika kalimat itu telah terucapkan.
Cepat dia menoleh ke arah puterinya dan merasa menyesal telah mengeluarkan katakata yang penuh cemburu tadi.
Segera digandengnya tangan anaknya dan untuk mengapus kata-katanya dari hati anaknya dia berkata riang.
"Ehh, kenapa kita disini saja? Hayo kita sambut Ayahmu!"
Berlari-larianlah mereka menuruni tebing untuk menyambut kedatangan Pangeran Han Ti Ong di pantai pasir.
Sikap wanita yang penuh kegembiraan ini menyembunyikan semua perasaanya sehingga Swat Hong sudah lupa lagi akan kedukaan ibunya tadi.
Sebenarnya, memang amat giranglah hati Liu Bwee melihat kembalinya suaminya sungguhpun kegembiraanya itu akan lebih besar andai kata suaminya pulang sendirian saja.
Semenjak suaminya pergi beberapa bulan yang lalu dia mengalami penderitaan batin yang hebat.
Memang dia maklum bahwa dirinya tidak disukai oleh keluarga kerajaan, karena dianggap seorang wanita berdarah rendah.
Kebencian keluarga itu menjadi-jadi ketika mendapat kenyataan betapa Han Ti Ong tidak mau mengambil selir.Hal ini dianggap oleh mereka Bahwa Liu Bwee menggunakan daya upaya untuk mengikat suaminya!.
Apalagi karena Liu Bwee tidak mempunya anak laki-laki, maka kebencian mereka makin bertambah.
Sudah tentu saja, yang merasa paling benci adalah mereka yang mengharap agar Han Tiong pangeran calon raja itu memperistrikan puteri mereka!
Pada waktu itu, raja yang sudah tua menderita sakit dan sudah menjadi dugaan umum bahwa usianya takan bertahan lama lagi.
Agaknya raja itu hanya menantikan kembalinya puteranya yang menjadi putera mahkota, yaitu pangeran Han Ti Ong untuk mewariskan singasana kepada puteranya ini.
Akan tetapi, karena keadaan Han Ti Ong yang lain daripada para pangeran lain, suka merantau, isterinya orang rendah dan hanya satu, tidak punya selir, tidak punya putera, maka Liu Bwee maklum bahwa di antara keluarga raja terdapat persekutuan yang menentang diangkatnya suaminya menjadi calon raja!
Hal inilah yang mendukakan hatinya.
Dia menganggap bahwa dirinya menjadi penghalang Bagi suaminya dan hal inilah yang paling merusak hatinya.
Maka dapat dibayangkan betapa gembira hatinya melihat suaminya pulang!
Ketika ibu dan anak ini tiba dipantai, ternyata pasukan kehormatan telah berbaris dan siap menyambut pulangnya pangeran yang dihormati itu.
Tentu saja Liu Bwee dan Swat Hong mendapat tempat kehormatan paling depan dan ketika akhirnya perahu itu menempel dipantai dan Han Ti Ong melompat keluar sambil tersenyum lebar, Swat Hong menjadi orang pertama yang berlari menyambut.
"Ayah...!!"
"Ha-ha, Hong-ji, kau makin cantik saja!"
Han Ti Ong menerima puterinya itu dan mengangkat-nya tinggi-tinggi, lalu melemparkan tubuh anaknya keudara.
Sambil tertawa-tawa Swat Hong melayang turun dan langsung menyerang ayahnya dengan jurus Kek-seng-jip-hai (Bintang Terompet Meluncur ke Laut) seperti yang dilakukanya kepada ibuya tadi.
"Ha-ha-ha, bagus juga!"
Ayahnya tertawa, menyambar kedua lengan yang mencengkram ubun-ubunnya, lalu memondong puterinya, dan mencium dahinya.
Sambil memondong puterinya Han Ti Ong menghampiri istrinya yang sudah maju menyambutnya, memandang penuh kemesraan dan berkata halus, Harap kau baik-baik saja selama aku pergi."
Liu Bwee memandang suaminya, tersenyum akan tetapi di balik senyum itu tampak oleh Han Ti Ong ada sesuatu yang menggelisahkan hati istrinya, apalagi ketika mendengar suara istrinya lirih.
"Ayahanda raja sedang menderita sakit parah."
Han Ti Ong mengangguk.
Ucapan yang pendek itu sudah mencakup semua isi hati istrinya.
Dia sudah mengenal hati istrinya yang tercinta itu dan tahu dia bahwa menjelang kematian ayahnya, ada hal-hal yang menggelisahkan istrinya.
Tentu saja tentang warisan tahta kerajaan dan istrinya yang datang dari keluarga berdarah "rendah"
Itu tentu saja mengkhawatirkan bahwa keturunan istrinya itu akan menjadikan persoalan bagi pengangkatan raja!
Maka dia memandang isterinya dengan sinar mata menghibur, kemudian seperti teringat dia berkata.
"Ahh, hampir aku lupa. Aku datang bersama seorang muridku, namanya Sing Liong akan tetapi di daratan besar sana dia dikenal sebagai Sin-tong."
"Hai, seorang sin-tong (anak ajaib)? Hemm, ingin aku tahu sampai di mana keajaibannya!"
"Hong-ji, jangan!"
Ibunya menegur, akan tetapi anak itu meloncat ke depan dan pada saat itu, Sin Liong sudah turun dari atas perahu.
Baru saja dia berjalan menghampiri gurunya, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang gadis cilik dengan gerakan seperti seekor burung garuda menyambar telah menyerangnya dari depan, sebuah kaki kecil telah menghantam dadanya.
"Bukk!!"
Tanpa dapat ditanyakan lagi, Sin Liong roboh terjengkang, dadanya terasa nyeri dan napasnya sesak.
Akan tetapi dia bangkit berdiri, mengebutkan pakaianya yang menjadi kotor, meman-dang anak perempuan yang lebih muda daripada dia itu, menggeleng kepala dan berkata tenang.
"Sungguh sayang sekali, seorang anak-anak yang masih bersih dikotori kebiasaan buruk mempergunakan kekerasan untuk memukul orang tanpa sebab."
"Aihhh..."
Swat Hong tertegun, lalu menoleh kepada ayahnya yang terdengar tertawa keras.
"Ayah, dia tidak bisa apa-apa, mengapa disebut Sin-tong? Serangan biasa saja membuatnya roboh terjengkang!"
"Ha-ha-ha, kaulihat dia roboh, akan tetapi apakah kau tidak lihat sesuatu yang ajaib? Dia tidak marah malah menyayangkan dirimu, bukankah itu ajaib?"
"Anak yang luar biasa dia..."
Terdengar Liu Bwee berkata lirih dan kini Swan Hong juga memandang Sin Liong. Akan tetapi dia masih merasa tidak puas dan berkata.
"Dia tidak marah karena takut dan pengecut, Ayah!"
"He, Sin Liong, apakah engkau takut kepada Swat Hong ini?"
Han Ti Ong berteriak kepada Sin Liong. Anak ini menggeleng kepala.
"Suhu mengerti bahwa teecu tidak takut terhadap apa pun dan siapa pun."
Swat Hong membusungkan dadanya yang masih gepeng itu, menegakan kepalanya dan menantang.
"Bocah sombong ,kalau kau tidak takut, hayo kaulawan aku!"
Dia sudah siap memasang kuda-kuda. Sin Liong menggeleng kepalanya.
"Adik yang baik, aku tidak akan menggunakan kepandaian apapun juga untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain, apalagi terhadap seorang anak-anak seperti engkau."
Gadis cilik itu sudah menerjang maju, dipandang oleh Sin Liong dengan sikap tenang saja, berkedip pun tidak menghadapi serangan anak perempuan itu.
Tiba-tiba tubuh Swat Hong terhuyung ke belakang dan ternyata lengannya sudah ditangkap oleh ibunya dan ditarik ke belakang.
"Swat Hong, kau terlalu sekali! Seharusnya kau minta maaf kepada Suhengmu itu!"
Swat Hong menoleh, melihat ayahnya tersenyum, melihat pandang mata semua orang dari prajurit sampai perwira penuh kagum terhadap Sin Liong.
Barulah dia ingat bahwa dia telah melanggar pelajaran pertama dari ayahnya, bahkan dari semua penghuni pulau bahwa ilmu silat pulau Es tidak boleh semba-rangan dikeluarkan untuk menyerang orang tanpa alasan!
Dan dia telah menyerang Sin Liong tanpa sebab apa-apa, padahal Sin Lion adalah murid ayahnya atau suhengnya (kakak seperguruan).
Biarpun dia berwatak keras dan tidak mengenal takut, akan tetapi sifatnya yang gembira dan mudah berubah membuat Swat Hong dapat mengusir semua rasa penasaran dan sambil tersenyum dan muka ramah dia menjura ke arah Sin Liong sambil berkata.
"Suheng, harap maafkan aku yang kurang ajar tehadap murid Ayah."
Sin Liong terkejut. Kiranya bocah ini puteri suhunya! Dia pun menjura dan berkata.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sumoi. Kepandaianmu memang hebat, tentu saja aku bukan tandinganmu."
"Hi-hik, wah, dia baik sekali, Ayah!"
Swat Hong lalu meloncat menghampiri Sin Liong, menggandeng tangan-nya dan diajak lari ke pinggir di mana dia menghujani Sin Liong dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Siapakah nama lengkapmu, Suheng? Dari mana kau datang? Bagaimana kau dapat menjadi murid Ayah? Apa saja yang sudah diajarkannya kepadamu? Mengapa pula kau disebut Sin-tong?"
Payah juga Sin Liong menghadapi hujan pertanyaan dari anak perempuan yang baru saja menyerangnya seperti seekor burung garuda akan tetapi yang kini sudah bersikap demikian ramah dan baik terhadapnya ini.
Akan tetapi baru saja dia memperkenalkan namanya, yaitu Kwan Sin Liong dan belum sempat menjawab pertanyaan yang lain, perhatiannya, juga Swat Hong dan semua orang yang berada disitu tertarik oleh keributan yang terjadi ketika Kwat Lin turun dari atas perahu.
Begitu Kwat Lin turun dari perahu, wanita yang masih belum sadar betul dari gangguan ingatannya karena malapetaka hebat yang menimpa dirinya, menjadi perhatian semua orang.
Wanita ini memang berwajah manis dan gagah, apalagi ketika turun dari perahu itu rambutnya yang awut-awutan berkibar tertuip angin, pakaiannya yang terlalu longgar itu membuat dia kelihatan makin aneh dan penuh rahasia.
Kwat Lin turun dengan sikap tenang, akan tetapi matanya bergerak liar menyapu semua orang yang memandangnya, kemudian mata itu berhenti memandang kepada Liu Bwee yang telah melangkah menghampirinya.
"Dia ini siapakah?"
Liu Bwee bertanya tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah pucat itu sambil didalam hatinya menduga-duga dan menanti jawaban yang diharapkan dari suaminya karena pertanya-an itu sesungguhnya diajukan kepada suaminya.
Akan tetapi sebelum Han Ti Ong menjawab, tiba-tiba Kwat Lin, wanita itu membentak.
"Manusia-manusia busuk! Kubunuh engkau!"
Dan dia sudah meloncat ke depan dan menyerang Liu Bwee dengan pukulan yang dahsyat.
"He, Twanio! jangan begitu...!!"
Sin Liong berteriak mencegah, namun terlambat karena Kwat Lin sudah menyerang dengan cepatnya.
Sedangkan para penghuni Pulau Es, termasuk Swat Hong dan Pangeran Han Ti Ong sendiri, hanya memandang dengan tenang-tenang saja!
"Wuuuutttt...
plak-plak...!"
Tubuh Kwat Lin terpelanting ketika pukulannya tertangkis oleh Liu Bwee dan wanita ini sudah menampar pundaknya sebagai serangan balasan.
Hal ini membuat Kwat Lin yang memang belum sadar benar itu makin marah.
Dengan nekat dia melompat bangun dan menerjang lagi, Pangeran Han Ti Ong sudah mendahuluinya menotok pundaknya sambil berkata.
"Tenanglah, Nona,"
Kwat Lin kembali roboh, akan tetapi tubuhnya disambar oleh Han Ti Ong.
Ternyata dia telah ditotok lemas.
Dengan lambaian tangan, Pangeran itu memanggil empat orang wanita pelayan yang kelihatan tangkas-tangkas.
"Dia sedang sakit ingatannya tidak sewajarnya."
Ucapan ini ditujukan kepada istrinya yang memandang marah. mendengar ini, Liu Bwee mengangguk-angguk dan kemarahannya di wajahnya berubah menjadi iba.
"Bawa dia ke kamar tamu dan rawat dia baik-baik,"
Kata Liu Bwee kepada empat orang pelayan itu yang segera menggotong tubuh Kwat Lin pergi dari situ.
Barulah Pangeran Han Ti Ong kini mempedulikan sambutan resmi dari para pangeran dan pasukan penghormatan.
Tadi dia seolah-olah menganggap mereka semua itu seperti patung belaka.
Dengan megah Pangeran itu lalu langsung diantar ke kamar ayahnya Sang Raja yang sedang sakit dan yang telah lama menanti kedatangan puteranya ini sedangkan Sin Liong langsung diajak oleh Swat Hong ke bagian istana di mana dia dan ibunya tinggal, yaitu di bagian kiri istana besar.
Tepat seperti telah diduga oleh semua penghuni Pulau Es, tiga hari kemudian setelah pulangnya Pangeran Han Ti Ong, raja tua meninggal dunia setelah sempat menyaksikan Han Ti Ong dinobatkan menjadi penggantinya, merajai Pulau Es dalam upacara yang amat sederhana.
Dapat dibayangkan betapa tidak puas dan penasaran rasa hati para pangeran yang membenci Han Ti Ong karena usaha mereka memanaskan hati mendiang ayah mereka tentang keadaan Han Ti Ong tidak dipedulikan oleh raja tua itu.
Dan untuk memberontak secara terang-terangan, tentu saja mereka tidak berani karena di dalam pulau itu, pada waktu itu Han Ti Ong merupakan orang yang paling sakti.
Maka, mereka itu hanya diam saja biarpun tidak pernah lengah barang seharipun untuk mencari peluang dan kesempatan yang baik untuk menjatuhkan Han Ti Ong, atau lebih tepat lagi, menjatuhkan Lui Bwee yang mereka anggap sebagai biang keladi dari "penyelewengan"
Han Ti Ong dari kebiasaan keluarga raja di Pulau Es!
Setengah bulan kemudian, berkat perawatan yang baik dari Liu Bwee dan para pelayan, juga dengan pengobatan tusuk jarum oleh Raja Han Ti Ong sendiri, ditambah obat-obatan berupa daun-daun yang dicari para anak buah Pulau Es atas petunjuk Sin Liong.
Gangguan ingatan yang diderita oleh The Kwat Lin menjadi sembuh.
Pada suatu pagi, wanita yang bernasib malang ini duduk seorang diri di dalam taman istana, taman yang bukan berisi bunga bungan hidup, melainkan terisi ukir-ukiran bunga dari batu-batu beraneka warna, dihias salju dan patung patung kayu.
Sudah berhari-hari, dia duduk di taman ini dan didiamkan saja karena menurut Raja Han Ti Ong, wanita malang ini harus dibiarkan pulih kembali ingatannya dan tidak boleh diganggu.
Namun, diam-diam dia sendiri melakukan pengawasan karena entah bagaimana, makin lama dia menjadi tertarik dan tahu bahwa dia jatuh hati kepada gadis ini!
Tiba-tiba Kwat Lin melompat bangun karena mendengar gerakan di belakangnya.
Sebagai seorang hali silat kelas tinggi, sedikit suara saja cukup membuat dia siap waspada.
Ketika dia membalik, dia melihat Han Ti Ong yang berdiri di situ sambil memandangnya dengan senyum ramah.
The Kwat Lin yang kini sudah sembuh sama sekali, memandang penuh keheranan lalu menegur.
"Siapakah engkau? Dan mengapa aku bisa berada di tempat aneh ini?"
Melihat sikap gadis ini dan mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, legalah hati Raja Han Ti Ong.
Sikap dan kata-kata itu sudah cukup membuktikan bahwa Kwat Lin telah sembuh sama sekali, telah kembali kepada keadaan sebelum mengalami tekanan batin hebat, maka tentu saja tidak mengenalnya dan tidak mengerti mengapa dan bagaimana bisa berada di pulau itu.
"Nona, girang hatiku mendapat kenyataan bahwa Nona telah sembuh dari lupa ingatan yang Nona derita belasan hari ini."
"Lupa ingatan? Sekaranglah aku kehilangan ingatan karena aku tidak mengenal engkau dan tidak tahu mengapa dan bagaimana aku bisa berada di tempat ini."
"Memang begitulah. Tadinya Nona lupa ingat-an, dan baru sekarang Nona sadar sehingga Nona lupa lagi apa yang Nona telah alami selama belasan hari ini. Sungguh aku ikut merasa berduka dan terharu akan nasib Ca-sha Sin-siap yang amat malang..."
Tba-tiba wajah itu menjadi merah sekali dan kemudian berubah pucat.
"Kau... kau tahu apa yang terjadi kepada kami...?"
Raja Han Ti Ong tersenyum dan memandang wajah yang mengguncangkan hatinya itu dengan senyum mesra.
"Tentu saja, Nona. Aku dan muridkulah yang mengubur jenazah dua belas orang suhengmu, dan aku dan muridku pula yang menolongmu membawa kesini kemudian mengobatimu sehingga sembuh hari ini. Aku adalah Raja Han Ti Ong, raja pulau ini dan kau berada di Pulau Es."
Mata yang indah ini terbelalak.
"Apa...? Di... di Pulau Es... dan aku telah mendengar nama besar Pangeran Han Ti Ong..."
"Sekarang telah menjadi Raja Han Ti Ong, raja sebuah pulau kecil tak berarti, Nona, dan aku belum mengetahui namamu karena selama ini kau tidak menyebut namamu."
Kwat Lin menjatuhkan diri berlutut dan menahan isaknya.
"Saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Paduka, dan maafkan kalau saya tidak mengenal penolong saya. Saya bernama The Kwat Lin, orang termuda Cap-sha Sin-hiap, dan... kalau paduka menaruh kasihan kepada saya, saya ingin segera pergi dari sini... sekarang juga...."
"Nona The, aku adalah seorang yang tidak bisa menyimpan rahasia hati. ketahuilah, semenjak pertama kali melihatmu dan melihat penderitaanmu, timbul rasa iba dan sayang di dalam hatiku. Karena itu, kalau kiranya engkau suka aku akan merasa berbahagia sekali kalau Nona mau tinggal didalam istanaku ini, sebagai seorang istriku, istri ke dua."
Kwat Lin terkejut sekali.
Dia telah berhutang budi kepada raja ini, dan sekarang raja ini secara demikian terus terang menyatakan cintanya dan ingin mengambil dia sebagai isteri!
Dia menjadi isteri raja?
Dia yang telah dinodai oleh Pat-jiu Kai-ong?
"Tidak!
Maaf...
saya...
saya harus pergi sekarang juga.
Hanya satu tujuan hidup saya, dan Paduka tentu tahu...
yaitu untuk membunuh iblis Pat-jiu Kai-ong."
Han Ti Ong mengangguk-angguk.
"Aku mengerti dan aku sudah menduga bahwa seorang dara perkasa seperti engkau tentu saja tidak akan mau menerima tawaranku dan tidak mungkin aku mengharapkan seorang dara seperti Nona akan jatuh cinta begitu saja kepadaku. Akan tetapi aku pun tidak terlalu mengharapkan yang ajaib. Aku jatuh cinta kepadamu, Nona, dan adanya aku berani meminangnya secara terang-terangan, karena aku yakin Nona akan menerimanya berdasarkan cita-cita tunggal Nona itulah. Bagaimana mungkin Nona akan membalas dendam kepada Pat-jiu Kai-ong, sedangkan Cap-sha Sin-hiap saja tidak mampu mengalahkannya. Akan tetapi kalau engkau menjadi istriku, hemmm... soal membalas dendam kepada Pat-jiu Kai-ong sama mudahnya dengan membalikan telapak tangan."
Ucapan ini berkesan mendalam, memang buat Kwat Lin termangu-mangu.
Dia bukan gadis lagi dan tidak mungkin dia menjadi istri orang, dan baginya setelah berhasil membalas dendam, hanya kematianlah yang akan mengakhiri noda yang dideritanya.
Akan tetapi, menjadi istri kedua Raja Han Ti Ong yang sakti, lain lagi halnya, apa pula kalau orang sakti itu sendiri sudah tahu akan keadaanya.
"Apakah... apakah Paduka akan mengajarkan ilmu kesaktian kepada saya? tanyanya dan kini dia mengangkat muka, memandang raja itu, diam-diam harus mengakui bahwa laki-laki ini gagah dan tampan, sungguhpun usianya tentu tidak kurang dari empat puluh tahun.
"Terserah kepadamu. kalau engkau suka memenuhi hasrat hatiku yang ingin memperistrimu. Kalau kau menghendaki, dalam waktu pendek saja aku dapat menangkap musuhmu itu dan menyeretnya kedepan kakimu. Atau, engkau boleh mempelajari ilmu dan aku berani tanggung bahwa selama setahun saja engkau akan mengalahkan musuhmu itu."
"Be... benarkah itu?"
"Nona The Kwat Lin. Han Ti Ong bukan orang biasa membohong, pula aku tidak ingin mendapatkan dirimu dengan jalan membohong. Aku telah bicara terus terang dan andaikata engkau menolak sekalipun, aku tidak akan memaksamu. Sekarang juga, kalau engkau menolak, akan kusediakan perahu untukmu. Nah, engkau yang memutuskan."
Tentu saja timbul keraguan hebat didalam hati Kwat Lin.
Dia mengerti betapa lihainya Pat-jiu Kai-ong.
Tentu saja dapat pergi ke Bu-tong-pai dan melaporkan malapetaka yang menimpa Cap-sha Sinhiap itu kepada gurunya, ketua Bu-tong-pai, Kui Bhok Sianjin.
Akan tetapi, gurunya sudah tua sekali, dan belum tentu gurunya mau mencampuri urusan dunia, biarpun murid-muridnya terbunuh.
Mengandalkan para saudara seperguruan, agaknya akan sukar mengalahkan Pat-jiu Kai-ong, dan terutama sekali yang memperberat hatinya, kalau dia pergi ke Bu-tong-pai, tentu semua orang akan tahu tentang malapetaka yang menimpa dirinya, bahwa dia telah diperkosa oleh Pat-jiu Kai-ong.
Ke mana dia akan menaruh mukanya kalau semua orang mengetahuinya akan hal itu?
Sebaliknya, kalau dia berada di Pulau Es, selain tak seorang pun akan tahu tentang hal yang memalukan itu, juga dia akan mempunyai kesempatan besar untuk melakukan balas dendam itu!
Akan tetapi, benarkah pria di depannya ini akan mampu mengajarnya sehingga dalam waktu setahun dia akan lebih pandai dari Pat-jiu Kai-ong?
Dia tidak akan puas kalau tidak dapat membunuh jembel iblis itu dengan tangannya sediri.
Biarpun dia sudah banyak mendengar nama besar Pangeran dari Pulau Es yang kini menjadi raja itu, namun bagaimana dia dapat membuktikan kesaktianya?
Apakah orang ini lebih lihai dari gurunya dan terutama sekali, lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?
Perlahan-lahan Kwat Lin bangkit berdiri dan sejenak memandang kepada Han Ti Ong yang juga sedang memandangnya.
Keduanya berpandangan dan akhirnya Kwat Lin berkata.
"Saya ingin sekali dapat membalas dendam dengan tangan saya sendiri. Akan tetapi, bagaimanakah saya dapat yakin bahwa dalam setahun saya dapat belajar di sini dan menangkan iblis itu?"
Han Ti Ong tersenyum dan mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya.
"Inilah pedang yang kutemukan ketika aku dan muridku menolongmu."
Kwat Lin menerima pedang itu dan air matanya turun bertitik akan tetapi segera dihapusnya.
Itulah Angbwe-kiam pedang dari twa-suhengnya!
"Engkau meragu, baiklah.
Kaupergunakan pedangmu dan kauserang aku untuk menguji apakah aku dapat melatihmu selama setahun sehingga kau lebih lihai daripada Pat-jiu Kai-ong."
Kwat Lin menimang-nimang pedang Ang-bwe-kiam di tangannya.
Pat-jiu Kai-ong telah dikeroyok oleh dia dan dua belas orang suhengnya.
Mereka telah mainkan Ngo-heng-kiam, bahkan telah membentuk barisan Sin-kiam-tin ketika mengeroyok kakek iblis itu namun akhirnya mereka semua kalah, sungguhpun sejenak kakek itu terdesak.
kini, kalau hanya dia seorang diri menyerang raja ini, mana bisa dipakai ukuran apakah dia lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?
"Nona, jangan ragu-ragu.
Percayalah, kalau engkau benar rajin belajar, dalam waktu setahun engkau pasti akan dapat mengalahkan dia.
Hiat-ciang Hoat-sut dan Pat-mo-tung-hoat dari kakek itu sebetulnya kosong saja,"
Kata raja itu, seolah-olah dapat membaca isi hati Kwat-lin.
Dara itu terkejut, kemudian mengambil keputusan untuk menguji orang ini sebelum dia menyerahkan dirinya yang sudah ternoda itu menjadi istrinya sebagai penebus latihan ilmu untuk membalas dendam.
"Baiklah, saya akan menguji kepandaian Paduka, harap Paduka bersiap dan mengeluarkan senjata."
"Ha-ha-ha, Pat-jiu Kai-ong membutuhkan tongkatnya dan pukulan beracunya untuk mengalahkan Cap-sha Sin-hiap, akan tetapi aku cukup menggunakan ini."
Dia meraih kebawah dan tanganya sudah memben-tuk batu karang sedemikian rupa sehingga batu karang itu berbentuk panjang seperti pedang!
"Harap Paduka siap!"
Kwan Lin berseru dan tiba-tiba pedangnya menyambar dengan cepat, melakukan tusukan ke arah leher sedang tangan kirinya sudah memukul ke arah dada.
Serangan berganda dengan pedang dan pukulan tangan kiri ini merupakan jurus hampuh dari Ngo-heng-kiam-sut.
Tiba-tiba tubuh raja itu bergerak, serangan Kwat Lin telah dapat dielakkan dan pada detik berikutnya, leher dara itu tersentuh ujung batu karang dan dadanya juga tersentuh kepalan tangan kiri Han Ti Ong.
Kwat Lin menjerit lirih karena maklum bahwa kalau tusukan batu dan pukulan tadi dilanjutkan oleh Han Ti Ong tentu dia telah roboh dan tewas seketika.
Akan tetapi yang lebih mengejutkan hatinya adalah gerakan raja itu.
"Paduka... Paduka mengunakan jurus Hui-po-liu-hong (Air Tumpah Muncrat Pelangi Melengkung) dari Ngo-heng-kiam-sut Bu-tong-pai!"
Han Ti Ong tersenyum.
"Persis sekali dengan seranganmu tadi, akan tetapi jauh lebih lihai karena sekali serang berhasil, bukan? Nah, kalau engkau memiliki kesempurnaan dalam jurus ini tadi, bukankah mudah kau mengalahkan musuhmu? Kwat Lin tertegun, akan tetapi dia masih belum puas.
"Saya ingin mencoba lagi!"
"Boleh, boleh. kauseranglah aku sepuluh jurus yang paling lihai dan aku tanggung bahwa engkau akan kukalahkan dengan jurusmu yang sama."
Dengan pengera-han tenaga dan memilih jurus-jurus terampuh, Kwat Lin menyerang lagi, akan tetapi setiap kali menyerang satu jurus, dia menjerit lirih karena benar saja, dia selalu dikalahkan oleh jurusnya sendiri.
Jurus itu digerakan oleh Han Ti Ong sedemikian aneh dan sempurnanya, demikian cepat dan mengandung tenaga mujijat sehingga biarpun dia mengenal jurusnya sendiri, dia tidak sempat lagi mengelak atau menangis!
Setelah sepuluh kali dia terkena sentuhan ujung batu atau usapan tangan kiri lawan yang lihai ini dia menjadi yakin, lalu menjatuhkan diri berlutut.
"Saya menerima penawaran Paduka!"
Ha Ti Ong memegang kedua pundaknya dan mengangkatnya bangun berdiri.
Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan wajah raja itu berseri melihat betapa wajah Kwat Lin menjadi merah sekali dan ada kedukaan hebat tersembunyi dibalik kemerahan wajah karena malu itu.
Dengan mesra Han Ti Ong mengusap pipi halus kemerahan itu dan berkata lirih.
"Aku tahu, Kwat Lin. Peristiwa terkutuk menimpa dirimu membuat kau jijik terhadap pria dan muak terhadap hubungan antara pria dan wanita. Akan tetapi, aku bukanlah pria yang mengutamakan hubungan badani saja, Kwat Lin. Aku akan menghapus kejijikan dan kemuakan itu. Percayalah, aku cinta dan iba kepadamu. Keputus-an yang kau ambil ini tepat sekali dan tidak akan mendatangkan sesal di kemudian hari. Mari, mari kita mengumumkan pernikahan kita. Semoga engkau berbahagia."
Han Ti Ong mencium dan mengecup mesra dan halus pinggir mata Kwat Lin, kemudian menggandeng tangannya dan mengajaknya berjalan memasuki istana dari pintu belakang yang menembus ke "Taman"
Itu.
Tentu saja tidak ada kehebohan terjadi ketika Han Ti Ong mengumumkan keputusanya mengambil The Kwat Lin, sebagai istri ke dua, sunguhpun hal ini mendatangkan bermacam-macam tanggapan dalam hati para penghuni Pulau Es.
Pesta diadakan, pesta yang sederhana saja tetapi cukup meriah.
Sebagian besar penghuni Pulau Es bersuka cita dan mengharapkan bahwa dari pernikahan ini, raja akan dikurniai seorang putera.
Juga terjadi bermacam tanggapan di kalangan keluarga raja.
Ada kekecewaan akan tetapi ada pula harapan.
Kecewa karena sekali lagi Raja Han Ti Ong mengambil "orang luar"
Sebagai selir, akan tetapi timbul harapan karena mungkin melalui istri ke dua ini mereka dapat "memukul"
Liu Bwee yang mereka benci.
Ternyata kemudian oleh Kwat Lin Bahwa semua ucapan yang dikeluarkan oleh Raja Pulau Es itu ketika meminangnya bukan hanya bujukan kosong belaka.
Raja itu benar-benar jatuh cinta kepadanya dan hal ini terasa olehnya setelah dia menyerahkan dirinya menjadi selir Raja Han Ti Ong.
Dengan sepenuh jiwa raganya, Han Ti Ong mencurahkan kasih sayang kepadanya sedemikian besarnya sehingga lambat laun dia pun jatuh cinta kepada suaminya ini.
Dan dia yang tadinya hendak belajar ilmu silat sebagai dorongan terutama dengan mengorbankan dan menyerahkan diri sebagai selir, setelah menerima pencurahan cinta kasih yang amat mesra dan mendalam, mulailah berbalik pikir.
Apalagi setelah sembilan bulan kemudian semenjak dia menjadi selir, dia melahirkan seorang anak laki-laki.
Kwat Lin merasa betapa hidupnya berubah sama sekali, kalau dulu dia hanya seorang pendekar wanita yang seringkali mengha-dapi banyak kesengsaraan hidup, kini menjadi seorang yang mulia dan terhormat, bahkan dia mendapat kenyataan bahwa suaminya benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya!
Timbullah keinginan hatinya untuk mengangkat diri menjadi permaisuri, dan dia merasa berhak karena bukankah dia yang mempunyai keturunan laki-laki, dan selain menjadi permaisuri, juga menjadi pewaris semua ilmu kesaktian dari Pulau Es.
Kalau sudah demikian, baru dia akan mencari dan membunuh Pat-jiu Kai-ong.
Kebenciannya terhadap kakek iblis jembel itu kini menjadi tipis sekali.
Memang kalau dipikir betapa selama tiga hari tiga malam kakek itu mempermainkanya, merengut kehormatan dengan memperkosa secara amat menghina akan tetapi ada segi lain yang membuat dia diam-diam berterima kasih kepada kakek itu.
Kalau tidak ada peristiwa hebat itu, agaknya selama hidupnya dia tidak akan dapat bertemu dengan Han Ti Ong, apalagi menjadi istrinya dan sekaligus pewaris ilmu-ilmunya!
Sin Liong belajar ilmu silat dengan tekun bersama suhengnya, Swat Hong yang lincah jenaka.Dan mulai tampaklah bakatnya yang luar biasa.
Tidak mengherankan kalau para tokoh kang-ouw ingin memiliki bocah ini dan menjadikan Sin Liong sebagai bahan perebutan, karena dia pantas disebut Sin-tong.
Han Ti Ong sendiri yang merupakan manusia luar biasa dan memiliki kecerdasan yang disebut Kwee-bak-put-bong (sekali melihat tidak bisa lupa lagi), diam-daim menjadi kagum sekali karena dia harus akui bahwa dalam hal kecerdasan dan kekuatan pikiran, dia masih kalah oleh muridnya ini!
Yang amat mengagumkan hatinya adalah betapa di balik semua bakat yang luar biasa ini terpendam watak yang amat luar biasa, watak yang penuh kehalusan, kelembutan dan kasih sayang dan iba terhadap orang lain yang amat mendalam, di samping watak yang wajar seadanya.
Benar-benar seorang bocah yang ajaib!
Diam-diam Sin Liong mengerti bahwa diangkatnya Kwat Lin menjadi istri Han Ti Ong, biarpun hal ini merupakan hal yang lumrah bagi seorang raja, namun akan mendatangkan banyak ketidak baikan, terutama di pihak ibu sumoinya.
Apalagi ketika dia melihat sikap dan perubahan pada diri bekas pendekar wanita Bu-tong-pai itu Akan tetapi karena dia hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan yang sama sekali tidak berhak mencampuri "Urusan dalam"
Suhunya, maka tentu saja dia hanya berdiam diri, hanya mengikuti perkembangan keadaan dengan hati tidak enak.
Yang dikhawatirkan oleh anak yang belum tahu apa-apa memang sungguh terjadi.
Semenjak mengambil Kwat Lin sebagai isteri kedua, Liu Bwee menderita tekanan batin yang amat hebat.
Mula-mula tidak terasa olehnya ketika suaminya makin jarang bermalam di dalam kamarnya karena hal ini dianggapnya limrah setelah suaminya memiliki isteri lain yang baru.
Akan tetapi perasaan kewanitaannya yang halus segera dapat menangkap kehambaran cinta kasih yang dicurahkan suaminya kepadanya.
Dan terutama sekali setelah The Kwat Lin mengandung, suaminya tidak pernah datang lagi menginap dikamarnya, dan kalau sekali-sekali datang, tidak ada cumbu rayu dan kemesraan sama sekali, hanya untuk menanyakan kesehatan dan agaknya suaminya datang hanya demi kesopanan belaka!
Hati seorang wanita amatlah halusnya, mudah tersinggung, mudah gembira, mudah marah, mudah berduka, mudah jatuh cinta dan mudah pula membenci!
Setelah Kwat Lin melahirkan seorang anak lakilaki, mulailah hati Liu Bwee digerogoti iri dan hal ini mendatangkan kebencian hebat.
Dia mulai merasa tersiksa batinya, merasa kesepian, rasa rindu yang makin menghimpit terhadap belaian kasih sayang suaminya membuat Liu Bwee makin tersiksa, menambah kebenciannya terhadap Kwan Lin yang makin dipuja suaminya itu.
Liu Bwee bukan seorang wanita yang gila akan kedudukan.
Dia tidak mengejar kedudukan dan dia sama sekali tidak khawatir akan menurunya derajatnya apabila madunya itu diangkat menjadi permaisuri karena mempunyai seorang putera.
Akan tetapi Liu Bwee adalah seorang wanita yang haus akan kasih sayang, maka dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan batinnya setelah cintanya disiasiakan oleh suaminya yang telah jatuh di bawah telapak kaki Kwat Lin.
Melihat penderitaan batin yang dialami oleh Liu Bwee ini, diam-diam bersoraklah para keluarga raja.
Bagi mereka, biarpun putera raja bukan keturunan dari seorang ibu yang masih berdarah "agung"
Seperti mereka, namun masih lebih baik dari pada kalau dilahirkan oleh seorang iu seperti Liu Bwee, hanya anak seorang nelayan Pulau Es rendah!
Pula kebencian mereka yang terdorong oleh iri hati terhadap Liu Bwee membuat mereka condong kepada Kwan Lin sehingga kelahiran Han Bu Ong, nama putera itu, disambut dengan penuh kegembiraan oleh keluarga raja dan juga oleh semua penghuni Pulau Es sebagai penyambutan terhadap lahirnya seorang putera raja yang akan menjadi pangeran mahkota!
Tujuh tahun telah lewat semenjak Sin Liong berada di Pulau Es.
Dipandang begitu saja, agaknya keadaan Pulau Es dan kerajaan kecilnya selam tujuh tahun itu tidak terjadi perubahan sesuatu, para penghuninya masih hidup dengan tenang dan tentram penuh kedamaian seperti puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu.
Raja Han Ti Ong tidak kalah bijaksana dalam mengendalikan pemerintahan kecilnya sehingga para penghuni Pulau Es hidup bahagia, sedangkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi hanya sedikit sekali.
Namun sesungguhnya terjadi perubahan yang amat besar dan banyak!
The Kwat Lin yang kini menjadi permaisuri, diangkat secara resmi oleh Han Ti Ong sehingga kedudukan Liu Bwee tergeser menjadi istri selir, bukan hanya menjadi wanita pertama yang paling tinggi tingkat kedudukanya, namun juga telah menjadi seorang wanita yang memiliki kesaktian hebat, hanya kalah oleh suaminya dan beberapa tokoh lain di Pulau Es.
Namun, hasratnya untuk membalas dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong agaknya telah lenyap sama sekali!
Dia kelihatan hidup bahagia tenggelam dalam belaian penuh kasih sayang dari suaminya dan melihat puteranya yang kini telah berusia enam tahun dan menjadi seorang anak laki-laki yang tampan dan sehat biarpun tubuhnya agak kecil, sebagai pangeran, tentu saja Bu Ong digembleng oleh ayahnya sendiri sejak kanak-kanak.
Sin Liong telah memperoleh kemajuan yang mentakjubkan dan mengagumkan Han Ti Ong sendiri.
Semua ilmu yang diajarkan oleh raja itu, sekali dilatih dapat dilakukan dengan hampir sempurna!
Tentu saja dalam waktu beberapa tahun dia telah jauh melampaui tingkat kepandaian sumoinya, dan setelah dia berusia empat belas tahun, Sin Liong telah jauh meninggalkan tingkat sumoinya.
Bukan hanya dalam hal ilmu silat, akan tetapi juga dalam ilmu sinkang dia maju pesat karena tanpa diperintah oleh suhunya, dengan tekun Sin Liong berlatih seorang diri di bawah hujan salju yang amat dingin sehingga dia dapat menampung inti sari tenaga im-kang yang amat hebat.
Selain tekun mempelajari ilmu silat yang diturunkan oleh suhunya tanpa ada yang disembunyikan itu, Sin Liong juga rajin sekali membaca kitab-kitab yang banyak terdapat didalam kamar perpustakaan istana.
Dia dikenal oleh semua ahli sastra di Pulau Es dan mereka ini amat kagum dan suka kepada Sin Liong melihat ketekunan bocah ajaib ini.
Tidak ada bosannya Sin Liong membaca kitab-kitab kuno dan setiap bertemu hurup baru yang tidak dikenalnya, dia mencatatnya untuk kemudian ditanyakan kepada para ahli itu.
Dengan cara demikian, biarpun tidak dibimbing langsung, namun Sin Liong telah dapat memperkaya perbendaharaan kata-kata sehingga dia mampu membaca kitab-kitab yang paling kuno di dalam perpustakaan itu.
Kitab kuno tidaklah seperti kitab biasa, karena selain huruf-hurufnya kuno, juga huruf-huruf itu mengandung arti yang amat mendalam.
Karena inilah, maka kitab-kitab yang amat kuno di pulau itu jarang atau hampir tidak pernah dibaca orang.
Han Ti Ong sendiri segan membaca kitab-kitab itu, karena selain sukar, juga isinya hanyalah sajak-sajak kuno yang dianggapnya tidak ada gunanya dan melelahkan otaknya.
Namun semua kitab itu "dilalap"
Semua oleh Sin Liong!
Bukan ini saja, namun anak ajaib ini dapat menemukan sesuatu yang tersembunyi didalam sajak-sajak itu!
Dia menemukan rangkaian ilmu silat sakti yang masih merupakan "rangka"
Terselubung di dalam huruf-huruf kuno yang sukar dimengerti itu, bahkan menemukan pula ilmu yang masih dirahasiakan oleh Han Ti Ong, ilmu yang selama ratusan tahun mengangkat nama Pulau Es, yaitu ilmu inti sari dasar gerakan semua ilmu silat.
Dengan ilmu ini yang sudah dikuasainya, maka Han Ti Ong dapat mengalahkan tujuh orang tokoh sakti dengan jurus-jurus, jurus ilmu silat mereka sendiri ketika Han Ti Ong menolong Sin Long di jeng-hoa-sian.
Kini, secara tidak disengaja, bahkan di luar kesadaran Sin Liong sendiri, bocah ajaib ini telah menemukan ilmu itu "terselip"
Dan terselubung di antara sajak-sajak kuno yang kelihatanya tidak ada gunanya itu.
Selain memperoleh kemajuan hebat dalam ilmu silat, juga selama berada di Pulau Es, Sin Liong memperoleh kesempatan memperdalam ilmunya mengenal daun dan tumbuhan obat dengan jalan menyelidikinya di pulau-pulau kosong di sekitar Pulau Es.
Dia memang mendapat tugas untuk mencari bahan-bahan obat di pulau-pulau itu untuk kepentingan para penghuni Pulau Es, Dan dalam kesempatan melaksanakan tugasnya ini, Sin Liong tidak menyia-nyiakan waktu untuk menyelidiki lebih banyak lagi tetumbuhan dan khasiatnya untuk kesehatan tubuh manusia.
Dengan adanya Sin Liong di Pulau Es, banyaklah sudah penghuni yang terhidar dari bahaya penyakit, dan untuk ini, Han Ti Ong merasa berterima kasih sekali sehingga dia tidak segan-segan menurunkan ilmu pengobatan tusuk jarum kepada muridnya itu.
Selain Sin Liong, tentu saja Swat Hong sebagai puteri raja, juga memperoleh kemajuan pesat dan dalam usia tiga belas tahun itu dia telah memilik ilmu kepandaian yang sukar dicari tandinganya.
Dengan demikian, hampir semua orang di Pulau Es memperoleh kemajuan masing-masing.
Raja Han Ti Ong memperoleh kebahagiaan cinta kasih dalam diri Kwat Lin yang telah menjadi permaisurinya.
The Kwat Lin sendiri yang tadinya mengalami malapetaka yang dianggapnya lebih hebat daripada kematian sendiri, telah memperoleh banyak keuntungan, memperoleh cinta kasih yang mesra, kedudukan tinggi sekali, dan ilmu kepandaian yang amat hebat pula.
Hanya seorang saja yang sama sekali tidak memperoleh kemajuan lahir maupun batin yaitu Liu Bwee!
Dia menderita makin hebat, terutama batinnya karena semenjak beberapa tahun ini, suaminya sama sekali tidak pernah lagi mendekatinya!
Lenyaplah wataknya yang periang dan kini Liu Bwee lebih banyak mengurung dirinya di dalam kamar, menyulam atau membaca kitab.
Dia seolah-olah menjadi seorang pertapa dan biarpun wajahnya tidak membayangkan sesuatu, masih tetap cantik manis dan pakaiannya selalu bersih, namun sesungguhnya hatinya terluka dan selalu meneteskan darah, batinnya terhimpit dan terbakar oleh rindu yang tak kunjung henti, kehausan akan belaian kasih sayang seorang pria yang tak pernah terpuaskan.
Keadaan di dalam istana dengan adanya penderitaan Liu Bwee, dengan adanya para anggauta keluarga istana yang masih menaruh benci kepadanya dan tidak melihat kesempatan untuk menjatuhkan wanita ini karena Liu Bwee selalu bersikap diam dan tidak memperlihatkan sesuatu, merupakan api dalam sekam yang setiap saat tentu akan berkobar atau meledak.
Hal ini tidak saja dirasakan oleh semua anggauta keluarga raja, bahkan dirasakan pula oleh Sin Liong dan Swat Hong.
Sering kali Sin Liong kehilangan kejenakaan Swan Hong yang merupakan ciri khas dara ini.
Kalau dia melihat dara itu termenung seorang diri, dia menarik nafas panjang dan sekali waktu dia menegus.
"Eh, Sumoi. Kenapa kau termenung dan wajahmu suram? lihat, hari tidak sesuram wajahmu, sinar matahari mencairkan salju dengan cahaya yang keemasan!"
Swat Hong memandang pemuda itu dan menarik nafas panjang.
"Betapa aku tidak tidak akan muram menyaksikan keadaan yang begini dingin di dalam istana, Su-heng? Ayah memang masih biasa dan baik kepadaku, juga ibu baik kepadaku. Akan tetapi antara Ayah dan Ibu seolah-olah terdapat jurang pemisah yang amat dalam. Tidak pernah lagi aku menyaksikan keduanya beramah tamah dan bersendau gurau seperti dahulu lagi. Apakah karena Ibu Permaisuri...?"
"Ssst, Sumoi. Kita tidak mempunyai hak untuk bicara mengenai orang-orang tua itu. Hal itu adalah urusan mereka sendiri."
"Aku mengerti, Suheng. Akan tetapi aku melihat kedukaan hebat bersembunyi di balik senyum Ibu kepadaku. Aku tahu betapa dia rindu kepada Ayah, rindu yang membuatnya seperti gila...."
"Hushh...."
"Aku tidak membohong, Suheng. Seringkali aku mendengar Ibuku mengigau memanggil nama Ayah dan menangis dalam tidur. Ibu selalu gelisah kalau tidur dan biarpun dia hendak menyembunyikannya dariku, namun aku tahu betapa Ibu menderita sengsara batin yang hebat, menderita rindu yang menghancurkan batinnya...."
Dara itu kelihatan berduka sekali, kemudian berkata lagi.
"Suheng, apa sih perlunya orang saling men-cinta kalau akibatnya hanya mendatangkan rindu dan kecewa?"
"Itu bukan cinta, Sumoi, Ahh, kau takan mengerti dan semua orang takan mengerti karena sudah lajim menganggap hawa nafsu sama dengan cinta. Hawa nafsu menuntut pemuasan, menuntuk kesenangan dan ingin memilikinya untuk diri sendiri. Dan semua inilah yang menimbulkan kecewa dan duka, Sumoi."
Sumoinya terbelalak.
"Aihh, kau bicara seperti kakek-kakek saja! Dari mana memperoleh filsafat macam itu, Suheng?"
Karena tertarik, dara yang mudah ini sudah melupakan kedukaanya dan menjadi riang gembira lagi, matanya memandang suhengnya dengan berseri penuh godaan.
"Dari... hemm, kukira dari kesadaran, Sumoi. Bukan filsafat. Aku sudah kenyang membaca filsafat, dan apa artinya filsafat kalau hanya untuk dihafal? Tidak ada bedanya dengan benda mati yang hanya diulang-ulang, dipakai perhiasan, dijadikan alat untuk terbang melayang diawang-awang yang kosong. Terlalu banyak kitab kubaca sudah, dan mungkin juga karena memperhatikan keadaan mendatangkan kesadaran."
Dia menarik napas panjang.
"Suheng, kau tadi mencela aku yang kau katakan murung. Akan tetapi aku juga seringkali melihat engkau seperti orang berduka. Apakah kau tidak senang tinggal di Pulau Es?"
"Aku suka sekali tinggal di sini, Sumoi. Kurasa jarang terdapat tempat seindah ini, masyarakat setenteram ini. Akan tetapi, kalau aku melihat hukuman-hukuman yang dibuang ke Pulau Neraka..."
"Aih, hal itu bukan urusan kita, Suheng. Bukankah kau tadi juga mengatakan bahwa urusan antara Ayah dan Ibu bukan urusanku? Maka urusan hukuman itu pun sama sekali bukan urusan kita."
"Kau keliru, Sumoi. Urusan Ayah Bundamu memang merupakan urusan pribadi mereka. Akan tetapi urusan orang-orang terhukum adalah urusan umum, urusan kita juga. Aku merasa tidak senang sekali dengan adanya peraturan itu. Aku akan berusaha untuk mengingatkan Suhu...."
"Tapi Ayah seorang Raja, Suheng!"
"Raja pun manusia juga."
"Tapi Raja hanyalah menjalan-kan hukum yang berlaku, Suheng."
"Hukum pun buatan manusia. Benda Mati!"
Tiba-tiba terdengar suara tambur dipukul. Sejenak dua orang muda-mudi itu memperhatikan dan wajah Sin Liong menjadi muram.
"Nah, ada lagi sidang pengadilan yang akan menjatuhkan hukuman. Entah siapa lagi sekarang yang melakukan pelanggaran. Mari kita lihat, Suheng!"
Sin Liong digandeng tangannya oleh Swat Hong yang menariknya ke arah bangunan di samping istana, bangunan yang dijadikan ruang sidang pengadilan di mana dijatuhkan hukuman terhadap mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran.
Ketika mereka tiba di situ, banyak sudah penghuni Pulau Es yang menonton diluar ruangan, dan tentu saja dua orang muda-mudi itu mudah untuk memasuki ruang sidang dan duduk di atas kursi yang berderet di pinggiran.
Ruangan itu luas sekali, lantainya halus dan bersih.
Isi ruang hanyalah sebuah meja panjang dan di belakang meja panjang ini terdapat lima buah kursi dan di kanan kiri, di pinggir juga terdapat kursi-kursi, sedangkan di depan meja, di bagian tengah tetap kosong.
Pada saat Sin Liong dan Swat Hong tiba di ruangan itu, di belakang meja telah duduk hakim, yaitu seorang kakek tua keluarga kerajaan yang biasa bertugas sebagai hakim, sedangkan di sebelah kanannya, di kursi kebesaran, tampak duduk Han Ti Ong sendiri bersama permaisurinya.
Hal ini merupakan keanehan karena biasanya raja hanya datang tanpa permaisurinya dan duduk bersama dengan para pangeran lain.
Agaknya permaisuri Raja Han Ti Ong sekarang ini ingin pula melihat pengadilan dilakukan di Pulau Es.
Para pesakitan yang sudah berlutut di depan meja, di atas lantai, hanya tiga orang.
Seorang laki-laki tinggi besar penuh brewok yang matanya lebar dan gerak-geriknya kasar, seorang laki-laki muda yang tampan dan seorang wanita yang usianya empat puluhan, namun masih cantik dan wanita ini berlutut di samping laki-laki muda yang kelihatan ketakutan, tidak seperti laki-laki tinggi besar dan Si Wanita yang kelihatan tenang-tenang saja.
Dengan suara lantang jaksa penuntut membacakan tuntutan kepada laki-laki tinggi besar yang sudah berlutut ke depan setelah namanya dipanggil, yaitu Bouw Tang Kui.
"Bouw Tang Kui telah berkali-kali diperingatkan karena sikapnya yang kasar, suka menggunakan kepandaian menghina yang lemah dan suka mencuri. Terakhir ditangkap karena melakukan pencurian, mengambil batu hijau mustika penyedot racun ular milik orang lain. Karena kejahatanya membahayakan Pulau Es, dapat menimbulkan kekacauan dan permusuhan, maka hukuman yang paling berat patut dijatuhkan atas dirinya, selain untuk memberantas kejahatan dari permukaan pulau juga sebagai contoh kepada semua penghuni pulau."
Hening sejenak, kemudian terdengar suara hakim tua yang lemah dan agak gemetar.
"Bouw Tang Kui, kau sudah mendengar tuduhan atas dirimu. Kau diperkenankan membela diri."
Bouw Tang Kui yang berlutut itu memberi hormat kepada raja, kemudian dengan suaranya yang kasar dan nyaring berkata.
"Hamba mengaku telah melakukan perbuatan itu karena hamba ingin memiliki mustika batu hijau. Hamba telah menerima banyak budi dari Sri baginda, kalau sekarang dianggap berdosa, hamba siap menerima segala macam hukuman yang dijatuhkan kepada hamba."
Hakim berfikir sejenak, kemudian sambil mengetok meja dia berkata.
"Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Bouw Tang Kui."
Suasana menjadi hening.
Keputusan hukuman ini merupakan yang lebih hebat dari pada penggal kepala.
Banyak di antara mereka yang mendengarkan, menahan nafas dengan muka pucat, ada yang menaruh hati kasihan kepada Bouw Tang Kui.
Akan tetapi pesakitan itu sendiri setelah memandang kepada raja, lalu berkata, suaranya penuh pahit getir.
"Hukuman apa pun bagi hamba tidak terasa berat, yang terasa berat adalah bahwa hamba dipaksa untuk memusuhi Pulau Es yang hamba cintai!"
"Jadi engkau menerima keputusan hukuman?"
Hakim bertanya.
"Hamba mene...."
"Nanti dulu!!"
Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan Han Ti Ong sendiri mengangkat muka memandang tajam ketika melihat Sin Liong telah berdiri dari kursinya dan mengeluarkan seruan itu.
"Harap Suhu dan para Cu-wi sekalian maafkan saya. Akan tetapi pesakitan berhak untuk dibela dan saya hendak membelanya. Saudara Bouw Tang Kui ini dianggap berdosa dan memang dia telah melakukan pelanggaran. Akan tetapi patutkah kalau kesalahannya itu lalu dijadikan tanda bahwa dia seorang jahat yang tidak bisa diampuni lagi? Saya hendak bertanya, siapakah di antara Cu-wi sekalian yang tidak pernah melakukan kesalahan?"
"Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan karena kita semua manusia, maka kita pun tentu pernah melakukan kesalahan. Siapakah yang mau kalau kesalahan yang dilakukannya itu lalu dijadikan tanda bahwa selamanya dia akan bersalah atau berdosa, dan patut dihukum tanpa ampun lagi? Kesalahan yang dilakukan oleh Bouw Tang Kui adalah sebuah penyelewengan biasa yang dilakukan oleh manusia yang berbatin lemah. Manusia yang berbatin lemah dan melakukan penyelewengan sama saja dengan seorang yang sedang menderita semacam penyakit, hanya bedanya, yang sakit bukan tubuhnya melainkan hatinya. Akan tetapi, setiap orang sakit bisa sembuh! Maka, menghukumnya dengan hukuman keji itu sama dengan membunuhnya!"
Hening sekali keadaan di situ setelah pemuda (Lanjut ke
Jilid 05) Bu Kek Siansu (Seri ke 01 Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 tanggung ini mengeluarkan pembelaanya.
"Akan tetapi di sini sudah diadakan hukum sejak ratusan tahun dan kita semua harus tunduk kepada hukum!"
Kata Han Ti Ong ketika melihat betapa hakim ragu-ragu untuk menjawab.
Dia maklum bahwa Sin Liong disuka banyak orang di situ, dan selain ini, agaknya para pejabat itu juga sungkan mendebat karena pemuda itu adalah murid raja.
Karena inilah maka Han Ti Ong sendiri yang mengeluarkan suara membantah.
"Harap Suhu memaafkan teecu kalau teecu terpaksa mendebat. Saudara Bouw melanggar hukum yang dianggap berdosa, lalu menurut hukum harus dibuang ke Pulau Neraka. Dari manakah timbulnya pelanggaran yang disebut dosa? Kalau tidak ada hukum, mana mung-kin ada dosa? Kalau tidak ada larangan, mana mungkin ada pelanggaran? Hukumlah yang menciptakan dosa dan pelanggaran, hukum adalah keji karena hukuman yang dijatuhkan sebetulnya lebih kotor daripada dosa itu sendiri! Kalau dia dianggap bersalah lalu dibuang ke Pulau Neraka, bukankah hal itu membuat dia menjadi makin jahat dan mendendam? Andaikata seorang penderita sakit, penyakitnya menjadi makin parah! Apakah hukuman pembuangan ke Pulau Neraka itu akan menginsafkannya? Suhu, sudah berkali-kali teecu menyatakan bahwa hukuman seperti ini tidak patut dilakukan akan Lebih baik menuntut mereka yang tersesat agar kembali ke jalan benar dari pada menghukum mereka dengan kekerasan yang akan membuat meraka menjadi lebih jahat lagi."
"Kwat Sin Liong, kau tak berhak untuk mencela hukum yang sudah menjadi tradisi kami! Hakim, lanjutkan persidangan dan pembelaan yang dilakukan atas diri Bouw Tang Kui tidak dapat diterima!"
Bentak Han Ti Ong yang merasa tersinggung juga mendengar betapa peraturan yang dijunjung tinggi selama ratusan tahun oleh nenek moyangnya itu kini disangkal dan dicela oleh seorang bocah yang menjadi muridnya!
Sin Liong menghela nafas dan terpaksa dia duduk kembali.
"Ssttt, kau terlampau berani...."
Swat Hong berbisik.
"Hemmm... tiada gunanya...."
Sin Liong balas berbisik.
Suara jaksa yang lantang sudah memanggil nama dua orang pesakitan yang lain, laki-laki tampan dan wanita cantik itu.
Mereka maju dan berlutut di depan pengadilan.
"Sia Gin Hwa dan Lu Kiat telah ditangkap karena melakukan perjinaan. Karena Sin Gin Hwa telah menjadi istri syah dari Ji Hoat, maka perbuatan itu merupakan perbuatan hina yang amat berdosa, melanggar larangan keras yang telah disyahkan hukum. Karena itu, tidak ada pengampunan baginya dan mohon pengadilan menjatuhkan hukuman terberat kepadanya. Adapun Lu Kiat, biarpun masih muda dan belum beristri, namun dia telah berjinah dengan istri orang, maka dia pun harus dijatuhi hukuman yang layak. Kemudian terserah kepada hakim."
Wanita itu menundukan mukanya yang menjadi merah sekali ketika mendengar suara mengejek dari mereka yang menonton di luar ruangan sidang, akan tetapi sikapnya masih tenang-tenang saja.
Adapun Lu Kiat, pemuda itu menjadi pucat wajahnya, akan tetapi dia juga menundukan mukanya, kelihatan gelisah sekali.
"Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Sia Gin Hwa dan hukuman rangket seratus kali kepada Lu Kiat!"
"Hamba tidak menerima!"
Tiba-tiba Sia Gin Hwa berteriak.
"Yang melakukan perjinaan adalah hamba berdua, maka kalau dibuang pun harus hamba berdua!"
"Tidak, hamba menerima hukuman rangket seratus kali!"
Teriak pula Lu kiat.
"Laki-laki apa kau ini? Ketika merayuku, kau berjanji akan bersama-sama menderita andaikata dibuang ke Pulau Neraka!"
Sia Gin Hwa memaki dan terjadilah ribut mulut antara mereka.
"Diam!!"
Teriakan menggetarkan dari Han Ti Ong membuat mereka berdiri menjatuhkan diri mohon pengampunan.
"Karena kalian melakukan perbuatan yang memalukan sekali, menodakan nama baik Pulau Es, maka sepatutnya kalian berdua sama-sama dibuang ke Pulau Neraka!"
Kata Raja itu dengan suara tenang namun penuh wibawa.
Sia Gin Hwa memegang tangan kekasihnya dan menangis sambil menciumi tangan itu, akan tetapi wajah Lu Kiat menjadi makin pucat.
Kembali Sin Liong bangkit berdiri.
"Maaf, Suhu. Teecu terpaksa membantah lagi! Mereka memang telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum yang ada, akan tetapi apakah perbuatan mereka itu sudah demikian jahatnya maka sampai mereka dihukum buang? Teecu kira di balik perbuatan mereka itu tentu ada sebab dan alasannya. Mereka menjadi korban nafsu, akan tetapi kalau seoarang istri sampai melakukan penyelewengan, tentu pihak suami juga ada kesalahannya. Tidak perlukah diselidiki mengapa wanita ini yang telah bersuami sampai berjina dengan pria lain? Mengapa dia sampai tidak dapat menahan dorongan nafsu berahi? Tentu ada sebab-sebabnya."
"Sin Liong, engkau seorang bocah belum dewasa, tahu apa tentang nafsu berahi?"
Bentak gurunya, agak tertegun juga karena dia mendapatkan kebenaran tersembunyi di balik bantahan muridnya itu.
Terdengar suara ketawa ditahan di sana-sini, bahkan permaisuri sendiri menahan senyumnya.
"Teecu... teecu... mengerti dari kitab...."
"Pembelaan seorang anak yang belum dewasa terhadap perjinaan yang dilakukan orang dewasa tidak dapat diterima. Laksanakan hukumannya dan buang mereka bertiga sekarang juga ke Pulau Neraka!"
Kata Han Ti Ong.
Persidangan dibubarkan dan tiga orang pesakitan itu lalu digiring keluar untuk dilaksanakan hukuman atas diri mereka, yaitu dibuang ke Pulau Neraka, hukuman yang paling mengerikan dan paling di takuti oleh semua penghuni Pulau Es karena mereka semua tahu bahwa di buang ke Pulau Neraka berarti hidup tersiksa dan sengsara, lebih hebat dari kematian!
Peristiwa seperti inilah yang membuat hati Sin Liong memberontak.
Dia amat cinta dan kagum kepada suhunya, akan tetapi peraturan hukum di Pulau Es ini dianggapnya terlalu kejam.
Sebaliknya, Han Ti Ong yang maklum akan kekecewaan hati muridnya yang dia kagumi dan cinta, berusaha menyenangkan hati muridnya itu dengan menurunkan ilmu-ilmu simpanannya sehingga dalam waktu setahun lagi saja ilmu kepandaian pemuda yang berusia lima belas tahun itu menjadi makin hebat.
Boleh dibilang dialah orang satu-satunya yang menjadi pewaris ilmu-ilmu Pulau Es.
Biarpun Permaisuri juga mewarisi banyak ilmu dahsyat namun dibandingkan dengan Sin Liong dia kalah bakat sehingga kalah sempurna gerakannya, apa lagi dalam hal tenaga sinkang dia kalah jauh.
Hal ini adalah karena Sin Liong adalah seorang yang pada dasarnya memiliki batin kuat dan tidak pernah terseret oleh nafsu, sebaliknya The Kwat Lin adalah seorang wanita yang dibangkitkan nafsunya semenjak dia diperkosa oleh Pat-jiu Kai-ong.
Dan pada suatu hari terjadilah suatu hal yang sudah lama diduga-duga akan terjadi hal yang menjadi akibat daripada keadaan yang ditekan-tekan di dalam istana yang dimulai dengan masuknya The Kwat Lin yang kini telah menjadi permaisuri itu ke Pulau Es.
Pagi hari itu, Sin Liong tengah duduk seorang diri di tempat yang menjadi tempat kesukaannya bersama Swat Hong, yaitu di tepi pantai yang paling sunyi, pantai yang tak pernah tertutup salju karena pasir berwana putih yang terjadi dari pecahan batu karang dan segala macam kulit kerang dan kepompong itu seolah-olah selalu mengeluarkan hawa hangat.
Selagi dia duduk termenung itu terdengarlah olehnya suara tambur dipukul gencar, tanda bahwa pagi hari itu diadakan persidangan pengadilan yang amat penting, sidang yang diadakan kurang lebih tiga bulan semenjak tiga orang pesakitan terakhir itu di buang ke Pulau Neraka.
Suara tambur itu seolah-olah menghantami isi dada Sin Liong, karena suara itu suara yang paling tidak disukainya, suara yang menandakan bahwa akan ada orang lagi yang dihukum!
Maka dia tidak bergerak, mengambil keputusan tidak akan menonton karena menonton berarti hanya akan menghadapi hal yang menyakitkan hatinya.
Akan tetapi dia meloncat bangun ketika mendengar suara panggilan Swat Hong, suara panggilan yang lain dari biasanya karena suara dara itu mengandung isak tangis yang mengejutkan.
"Kwa-suheng...!!"
Sin liong terkejut melihat dara itu berlari-lari kepadanya sambil menangis dan dengan wajah yang pucat sekali.
"Ada apakah, Sumoi?"
Tegurnya sebelum dara itu tiba di depannya.
"Suheng... celaka... Ibuku..."
Biarpun hatinya berdebar penuh kaget dan kejut, Sin Liong bersikap tenang ketika di memegang kedua pundak Sumoinya dan bertanya.
"Ada apakah dengan Ibumu? Tenanglah, Sumoi."
Swat Hong menahan isaknya.
"Mereka... mereka menangkap Ibuku dan membawanya ke sidang pengadilan..."
Sin Liong mengerutkan alisnya.
Sudah keterlaluan ini, pikirnya.
Rasa penasaran membuat dia berlaku agak kasar.
Digandengnya tangan Sumoinya, ditariknya dara itu dan dia berkata.
"Mari kita lihat!"
Ketika dua orang itu tiba di ruangan pengadilan, mereka mendapat kenyataan bahwa keadaan berlainan sekali dengan sidang pengadilan yang sudah-sudah karena suasana amat sunyi.
Tidak ada seorang pun diper-bolehkan mendekati ruangan pengadilan, bahkan ketika Sin liong dan Swat Hong tiba disitu, mereka dihadang oleh beberapa orang penjaga.
"Maaf, atas perintah Sribaginda, tidak ada yang boleh memasuki ruang sidang pengadilan hari ini."
Kata mereka. Dengan kedua tangan di kepal, Swat Hong melompat maju, matanya melotot dan mukanya merah sekali.
"Apa kalian bilang? Kalian berani melarang aku memasuki ruangan? Apakah kalian sudah bosan hidup?"
Sin Liong cepat memegang lengan sumoinya karena dia maklum bahwa kalau sumoinya ini sudah marah, tentu akan hebat akibatnya.
Juga para penjaga itu mundur ketakutan karena mereka mengerti betapa lihainya Sang Puteri ini.
"Harap Saudara sekalian melaporkan kepada atasan Saudara bahwa kami akan memasuki ruang sidang,"
Kata Sin Liong dengan tenang kepada para penjaga.
"Akan tetapi kami hanya mentaati perintah. Bagaimana kami berani melanggar?"
Jawab kepala penjaga dengan muka bingung.
"Aku tahu. Ibuku yang diadili, Bukan? Nah, dengar kalian! Apa pun yang akan terjadi dengan ibuku, aku harus hadir, kalau perlu aku akan bunuh kalian semua agar dapat masuk!"
Kembali Swat Hong membentak.
"Saudara sekalian harap mundur dan biarkan kami masuk. Akibatnya biarkan kami berdua yang menanggungnya,"
Kembali Sin Liong berkata dan keduanya memaksa masuk.
Para penjaga tidak ada yang berani melarang akan tetapi mereka cepat-cepat lari untuk melapor kedalam.
Han Ti Ong mengerutkan alisnya ketika melihat Sin Liong dan Swat Hong memasuki ruang sidang, akan tetapi dia hanya mengangguk kepada para penjaga yang kebingungan.
Hal ini melegakan hati para penjaga dan mereka cepat-cepat meninggalkan ruangan itu untuk menjaga di luar, karena mereka pun tidak boleh mendengarkan sidang yang sedang mengadili isteri raja!
Dapat dibayangkan betapa hancur hati Swat Hong melihat ibunya dengan tenang berlutut di depan meja pengadilan bersama seorang laki-laki muda yang berpakaian sebagai pelayan dalam istana.
Hatinya menduga dan dia merasa ngeri karena melihat ibunya dan pemuda itu berlutut di situ, dia seolah-olah melihat Sia Gin Hwa dan Lu Kiat, dua orang pesakitan yang saling berjinah itu!
Akan tetapi dia tidak percaya!
Tak mungkin ibunya...!
Akan tetapi dia menjadi lemas dan menurut saja ketika Sin Liong menariknya dan mengajaknya duduk dideretan kursi pinggiran yang sekali ini sama sekali kosong.
Di belakang meja panjang hanya duduk jaksa, hakim, Raja Han Ti Ong, permaisurinya, dan Han Bu Ong, bocah berusia delapan tahun yang mengenakan pakaian indah dan duduk dengan agungnya di dekat ibunya, matanya memandang kearah Sin Liong dan Swat Hong dengan angkuh.
Kemudian terdengarlah suara nyaring Sang Jaksa, suara yang bagi telinga Swat Hong terdengar seperti sambaran pedang yang menusuk-nusuk hatinya dan bagi Sin Liong seperti guntur di tengah hari!
"Liu Bwee, sebagai bekas istri Sribaginda, dari seorang anak nelayan biasa menjadi seorang mulia terhormat, ternyata membalas budi Sribaginda dengan aib dan noda yang hina, telah ditangkap karena melakukan perjinahan dengan seorang pelayan muda.
Dosa ini amat besar karena selain menimbulkan aib dan malu kepada Sribaginda, juga kalau diketahui dunia luar akan mencemarkan nama Kerajaan Pulau Es.
Oleh karena itu, sepatutnya dia dijatuhi hukuman yang seberat mungkin."
"Bohong...! Ibu tidak mungkin...."
Swat Hong menjerit dan hendak melompat maju menye-rang jaksa yang berani mengeluarkan ucapan menuduh ibunya seperti itu akan tetapi Sin Liong menangkap lengannya untuk mencegah sumoinya bergerak.
"Swat Hong! Berani engkau kurang ajar di depan Ayah?"
Terdengar Han Ti Ong membentak dengan penuh wibawa.
"Ayah, tuduhan itu fitnah belaka! Tidak mungkin ibu melakukan hal yang kotor itu. Mana buktinya? Siapa saksinya?"
Kembali Swat Hong menjerit-jerit.
"Hong-ji, jangan begitu. Ibumu tidak berdosa, akan tetapi kita harus. tunduk kepada peraturan dan hukum, anakku. Tenanglah."
Ucapan ini keluar dari mulut Liu Bwee yang menoleh kearah Swat Hong, suaranya lirih dan jelas, namun mengandung kedukaan yang merobek hati.
"Liu Bwee, engkau telah mendengar tuduhan atas dirimu. Apakah pembelaanmu?"
Terdengar suara hakim tua itu dengan halus dan lirih seperti biasanya, namun penuh wibawa karena dalam sidang ini, dialah orang yang paling kuasa.
"Saya tidak akan membela diri, hanya seperti dikatakan anakku tadi, agar tidak mendatangkan penasaran, harap suka disebutkan siapa saksinya dan apa buktinya yang memperkuat tuduhan terhadap diriku,"
Kata Liu Bwee dengan tenang dan suara halus.
Jaksa yang termasuk orang di antara anggauta keluarga raja yang tidak senang kepada Liu Bwee karena dia dahulupun mengharapkan agar Han Ti Ong memilih anak perempuannya, segera berkata lantang.
"Buktinya? Engkau ditangkap ketika berada di dalam kamar dengan A Kiu, padahal dia bukanlah pelayanmu. Apalagi yang kalian kerjakan kalau bukan berjinah? Seorang wanita dan seorang laki-laki yang tidak ada hubungan apa-apa berada di dalam kamar berdua saja! selain itu, perjinahan kalian juga telah ada yang menyaksikan."
Wajah Swat Hong sebentar pucat dan sebentar merah.
Tak dapat dia menahan kemarahanya.
Ibunya dituduh berjinah dengan seorang pelayan!
"Bohong!
itu bukan bukti!!
Kalau memang ada yang menyaksikan, hayo siapa yang menyaksikan?"
Teriaknya, tidak memperdulikan cegahan Sin Liong yang masih memegang lengannya karena khawatir kalau-kalau dara ini mengamuk.
"Akulah saksinya!"
Tiba-tiba terdengar suara kecil merdu dan Han Bu Hong telah bangkit berdiri dengan sikap menantang.
Mulut anak ini tersenyum mengejek dan matanya bersinar-sinar.
"Enci Hong, akulah yang telah melihat ibumu dan pelayan itu di atas ranjang...."
"Ssssttt, diam...!"
Permaisuri menarik puteranya. Akan tetapi hakim telah berkata lagi.
"Sudah terbukti kesalahan besar yang dilakukan Liu Bwee. Kesalahan paling besar yang dapat dilakukan oleh seorang wanita..."
"Nanti dulu!"
Dengan muka pucat sekali Swat Hong memotong kata-kata hakim.
"Tidak adil kalau begini! kita belum mendengar keterangan A Kiu. Hai, A Kiu, aku percaya bahwa engkau seorang manusia yang menjujur kegagahan, tidak mungkin seorang pria penghuni Pulau Es Seperti engkau menjatuhkan fitnah sebagai seorang pengecut hina dina. Hayo ceritakan sesungguhnya apa yang terjadi!"
Suara Swat Hong ini nyaring sekali dan muka A Kiu menjadi pucat, kepalanya makin menunduk.
Suasana menjadi hening dan akhirnya terpecah oleh suara Raja.
"A Kiu, kau diperkenankan untuk bicara!"
Tubuh itu menggigil, muka yang tampan itu pucat sekali ketika diangkat memandang Raja, kemudian melirik ke arah Liu Bwee yang masih bersikap tenang dan agung berlutut di sebelahnya.
Ketika dia melirik ke arah Swat Hong yang berdiri dengan sikap angkuh memandang kepadanya, A Kiu menge-luh lirih, kemudian menelungkup dan berkata dengan suara mengandung isak.
"Hamba tidak berdaya... hamba memang berada di kamar itu... tapi... tidak seperti kesaksian Pangeran kecil... hamba terpaksa karena..."
"Berani kau mengatakan puteraku bohong?"
Jeritan ini keluar dari mulut permaisuri dan hawa pukulan yang dahsyat sekali menyambar ketika permaisuri menggerakan tangan kirinya ke arah A Kiu.
"Dess...! Aungghh...!"
Tubuh A Kiu terlempar bergulingan dan rebah tak bernyawa lagi, dari mulut, hidung dan telinganya mengalir darah.
Hebat sekali pukulan jarak jauh yang di lakukan permaisuri itu, mengenai kepala A Kiu yang tentu saja tidak kuat menahannya.
Hakim dan jaksa saling pandang, sedangkan Raja menegur Permaisurinya.
"Kau terlalu lancang...."
"Apakah aku harus diam saja kalau seorang rendah macam dia menghina putera kita?"
Permaisuri membantah dengan suara agak ketus.
Raja diam saja dan menarik nafas panjang.
Dia merasa bingung dan berduka sekali harus menghadapi perkara ini, lalu memberi isyarat kepada hakim sambil berkata.
"Lanjutkan."
Hakim menelan ludah beberapa kali, kemudian berkata lantang.
"Saksi utama yang menjadi pelaku perjinahan telah terbunuh karena berani menghina Pangeran. Akan tetapi dia mengaku telah berada di kamar itu, maka sudah jelas dosa yang dilakukan oleh Liu Bwee. Karena itu sudah adil kalau dia harus dijatuhi hukuman berat. Liu Bwee, pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepadamu!"
"Ibuuuu..!!"
Swat Hong meronta dan melepaskan diri dari Sin Liong, meloncat dan menubruk ibunya.
"Sssst, tenanglah, Hong-ji...."
Ibunya terbisik dengan sikap masih tenang saja, sungguhpun wajahnya kelihatan makin berduka.
"Tenang? Tidak! ibu tidak boleh dihina sampai begini!"
Swat Hong lalu bangkit berdiri, menghadapi ayahnya dan berkata lantang.
"ibuku telah dijatuhi hukuman tanpa bukti dan saksi yang jelas. Akan tetapi keputusan telah dijatuhkan dan saya tidak rela melihat ibu dibuang ke Pulau Neraka. Saya sebagai anak tunggalnya, yang takkan mampu membalas budinya dengan nyawa, saya yang akan mewakilinya, memikul hukuman itu. Saya yang akan mejadi penggantinya ke Pulau Neraka, maka harap Sribaginda bersikap bijaksana, mem-biarkan ibu yang sudah mulai tua ini menghabiskan usianya di Pulau Es. Ibu, selamat tinggal!"
"Hong-ji...!"
Ibunya memekik, akan tetapi Swat Hong sudah meloncat dan lari keluar dari tempat itu dengan cepat.
Sin Liong memandang dengan alis berkerut.
Tak disangkanya hal yang sudak dikhawatirkannya akan terjadi, sesuatu yang tidak menyenangkan, suatu yang akan meledak, ternyata sehebat ini.
"Hong-ji... ah, Hong-ji, Anakku...!"
Liu Bwee tak dapat menahan lagi tangisnya.
Dia maklum bahwa untuk mengejar anaknya dia tidak mungkin dapat karena kepandaian puterinya itu sudah tinggi sekali, juga dia sebagai seorang pesakitan, tentu saja tidak berani melanggar hukum dan lari dari tempat itu.
"Aduh, anakku... Swat Hong... Swat Hong... apa yang mereka lakukan atas dirimu...?"
Ibu yang hancur hati ini meratap.
Hakim menjadi bingung dan beberapa kali menoleh kearah Raja seolah-olah hedak minta keputusan Han Ti Ong.
Raja ini menggigit bibir, jengkel dan marah karena tak disangkanya bahwa urusan akan berlarut-larut seperti ini.
Ketika dia menerima laporan tentang istri pertamanya, Liu Bwee, yang berjinah dengan seorang pelayan muda, hatinya panas dan marah sekali.
Akan tetapi dia masih hendak membawa perkara ini kepengadilan agar diambil keputusan yang seadil-adilnya.
Siapa mengira terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya.
Permaisurinya membunuh pelayan muda, kemudian kini Swat Hong membela ibunya, bahkan menggantikan ibunya "membuang diri"
Ke Pulau Neraka. maka kini, melihat betapa hakim menjadi bingung dan minta keputusannya, dia memukulkan kepalan kanan ke telapak kiri sambil berkata.
"Sudahlah, sudahlah! Biar kupenuhi permintaan Swat Hong. Anak yang keras kepala itu sudah menggantikan ibunya ke Pulau Neraka. Sudah saja! Aku perkenankan Liu Bwe tinggal terus disini!"
Setelah berkata demikian, dia menggandeng tanggan Bu Ong dan permaisurinya, bangkit berdiri dan hendak meninggalkan tempat yang tidak menyenangkan itu.
Akan tetapi Liu Bwee juga bangkit berdiri dan wanita ini berkata lantang, sambil menatap wajah suaminya dengan mata tajam.
"Biarpun anakku telah menebus dosa yang tidak kulakukan, dan aku telah diperbolehkan tinggal di sini, akan tetapi apa artinya hidup disini bagiku setelah anakku pergi ke Pulau Neraka? Tidak, aku tidak akan sudi tinggal di sini lagi. Aku mulai saat ini tidak menganggap diriku sebagai penghuni Pulau Es. Aku juga mau pergi dari sini!"
Setelah berkata demikian, Liu Bwee lalu meloncat dan pergi.
Setelah dia bukan pesakitan lagi, setelah dia bukan terhukum, dia berani pergi, bahkan dengan sikap tidak menghormat lagi kepada Raja yang pernah menjadi suami dan pujaan hatinya selama bertahun-tahun itu.
"Hmm, sesukamulah!' kata Han Ti Ong perlahan dan dengan wajah muram raja ini memasuki istana bersama permaisuri dan Pangeran Bu Ong.
Sampai ruangan persidangan itu kosong dan mayat A Kiu dibawa pergi, Sin Liong masih duduk di situ.
Di dalam hatinya, dia merasa menyesal melihat sikap Raja Han Ti Ong, gurunya yang di cintainya itu.
Tahulah dia bahwa perubahan pada diri gurunya itu terutama sekali terjadi karena hadirnya The Kwat Lin yang kini telah menjadi permaisurinya.
Diam-diam dia merasa menyesal sekali.
Bukankah dia sendiri yang dahulu minta kepada gurunya membawa pendekar wanita Bu-tong-pai itu ke Pulau Es?
Kini, wanita itu menjadi selir gurunya, dan setelah The Kwat Lin menjadi permaisuri, kebahagiaan ibu Swat Hong menjadi musnah!
Bahkan kini berekor seperti ini, dengan larinya Swat Hong menggantikan ibunya ke Pulau Neraka sedang ibu dara itu sendiri pergi entah ke mana!
Dialah, langsung atau tidak bertanggung jawab.
Akan tetapi, tidak mungkin dia menegur gurunya, Juga permaisuri tidak dapat dipersalahkan.
Betapapun juga, dia harus memperlihatkan tanggung jawabnya atas kerusakan hidup Swat Hong dan ibunya.
Kalau dia mendiamkan saja, seolah-olah dia ikut pula persekutuan untuk merusak hidup ibu dan anak itu.
"Pulau Neraka kabarnya merupakan tempat berbahaya sekali. Aku harus menyusul Swat Hong dan melindunginya."
Demikian dia mangambil keputusan dalam hatinya dan dia tidak lagi berpamit kepada gurunya karena maklum gurunya sedang berada dalam kedukaan dan kepusingan.
Pula, Sin Liong sudah biasa meninggalkan pulau itu mencari tetumbuhan obat, maka kepergiannya dengan sebuah perahu meninggalkan Pulau Es tidak ada yang menaruh curiga.
Dengan tenaganya yang amat kuat Sin Liong mendayung perahunya sehingga perahu meluncur amat cepatnya menuju ke Pulau Neraka.
Dia sudah tahu dimana letaknya pulau itu, dari keterangan yang diperolehnya ketika dia bertanya-tanya kepada para penghuni Pulau Es Bahkan diam-diam pernah pula seorang diri mendayung perahu mendekati Pulau Neraka ini akan tetapi hanya melihat dari jauh dan dia merasa ngeri sekali.
Pulau itu dari jauh tampak kehitaman seperti pulau yang pantas di huni oleh setan dan iblis.
Pantainya penuh dengan batu-batu karang yang runcing dan tajam, amat berbahaya apalagi kalau ombak sedang besar.
Sama sekali tidak tampak ada penghuninya sehingga ketika itu Sin Liong menduga-duga bahwa orang-orang buangan yang dibuang dari Pulau Es tentu telah tewas di jalan, tentu tewas di atas pulau itu.
Maka dia menentang keras dalam hatinya kalau melihat di Pulau Es diadakan pengadilan dan diputusakan hukuman buang ke Pulau Neraka, karena baginya, dibuang ke Pulau Neraka sama dengan menghadapi kematian yang mengerikan, baik di dalam perjalanan menuju ke pulau itu atau setelah berasil mendarat.
Dan kini Swat Hong telah pergi ke Pulau Neraka mewakili ibunya!
Dia kagum dan khwatir.
Kagum akan keberaniannya dan kebaktian sumoinya terhadap ibunya, akan tetapi khawatir sekali akan keselamatan sumoinya yang belum dewasa benar itu.
Sumoinya baru berusia empat belas tahun!
Biarpun dia tahu bahwa ilmu kepandaian sumoinya sudah hebat dan cukup untuk dipakai untuk menjaga diri, namaun betapapun juga sumoinya itu masih kanak-kanak!
Sin Liong sama sekali tidak ingat bahwa usianya sendiri hanya satu tahun lebih tua dari pada usia Swat Hong!
Perjalanan dari Pulau Es ke Pulau Neraka melalui lautan yang penuh dengan gumpalan-gumpalan es yang mengapung di permukaan laut, gumpalan es yang kadang-kadang sebesar gunung dan celakalah kalau sampai perahu tertumpuk oleh gumpalan es menggunung itu yang kadang-kadang bergerak, digerakkan oleh angin.
Celaka pula kalau sampai terjepit di antara dua gumpalan es yang begitu saling menempel tentu akan melekat dan membuat perahu terjepit di tengah-tengah.
Akan tetapi, Sin Liong sudah banyak mendengar tentang ini maka dia tahu pula caranya menghindarkan perahunya dan tidak mendekat gumpalan-gumpalan es yang berbahaya, melainkan mencari jalan di celahcelah yang agak lebar.
Kemudian dia tiba di daerah lautan yang penuh dengan ikan hiu.
Ratusan ikan hiu yang hanya tampak siripnya itu berenang di kanan kiri dan belakang perahunya.
Betapapun juga tinggi ilmunya, ngeri juga hati Sin Liong karena dia tahu bahwa sekali perahunya terguling, kepandaianya tidak akan berguna banyak dalam melawan ratusan ikan buas itu di dalam air!
Cepat ia mengeluarkan bungkusan yang sudah dibawanya sebagai bekal, membuka bungkusan dan menaburkan sedikit bubuk hitam di kanan kiri, depan belakang perahunya.
Tak lama kemudian, ikan-ikan hiu itu pergi berenang pergi dengan cepat seperti ketakutan setelah mencium bau bubukan hitam yang disebarkan oleh Sin Liong.
Pemuda ini sudah mendengar akan bahaya ikan-ikan buas, maka dia telah membawa bekal racun bubukan hitam yang sering kali dipergunakan oleh para penghuni Pulau Es untuk mengusir ikan-ikan buas di waktu mereka mencari ikan.
Beberapa jam kemudian, kembali dia menghadapi ancaman ikan-ikan kecil yang banyak sekali jumlahnya, mungkin laksaan.
Ikan-ikan besar ibu jari kaki, akan tetapi keganasannya melebihi ikan hiu.
Ikan-ikan ini bahkan berani menyerang orang di atas perahu dengan jalan meloncat dan menggigit.
Sekali mulut yang penuh gigi runcing seperti gergaji itu mengenai tubuh, tentu sebagian daging dan kulit terobek dan terbawa moncongnya!
Apalagi kalau sampai orang jatuh ke dalam air.
Dalam waktu beberapa menit saja tentu sudah habis tinggal tulangnya dikeroyok laksaan ikan buas ini.
Kembali Sin Liong dengan cepat menyebar obat bubuk hitam beracun itu dan ikan-ikan kecil itupun lari cerai berai tidak berani lagi mendekati sampai perahu meluncur meninggalkan daerah berbahaya itu.
Setelah melalui perjalanan yang amat sulit akhirnya menjelang senja, sampai juga perahu Sin Liong di pantai Pulau Neraka.
Tetapi seperti dugaannya, pulau itu memang mengerikan sekali.
Hutan yang terdapat di pulau itu amat besar dan liar, pohon-pohon aneh dan menghitam warnanya memenuhi hutan yang kelihatannya sunyi dan mati.
Namun, dibalik kesunyian itu Sin Liong merasakan seolah-olah banyak mata mengamatinya dan maut tersembunyi disana-sini, siap untuk mencengkram siapa pun yang berani mendarat!
Melihat keadaan pulau ini makin berdebar hati Sin Liong, penuh kekhawatiran terhadap keselamatan Swat Hong.
Apakah dara itu sudah berasil mendarat?
Tentu Swat Hong dapat mencapai pulau ini, karena dara itupun tahu jalan ke situ, dan mengerti pula tempat-tempat berbahaya yang dilaluinya tadi sehingga seperti juga dia, tentu Swat Hong telah membawa bekal obat pengusir ikan-ikan buas tadi dengan cukup.
Akan tetapi dia tidak melihat sebuah pun perahu di pantai Pulau Neraka.
Apakah ada penghuninya?
Atau semua orang buangan telah mati terkena racun yang kabarnya memenuhi pulau ini?
Karena khawatir kemalaman sebelum dapat menemukan Swat Hong, Sin Liong lalu meloncat ke darat dan menarik perahunya ke atas.
Kemudian dia membalik dan memasuki hutan.
Baru saja dia berjalan beberapa langkah, terdengar suara berdengung-dengung dan entah dari mana datangnya, tampak ratusan ekor lebah berwarna putih menyambar-nyambar dan mengeroyoknya!
Dari bau yang tercium olehnya, tahulah Sin Liong bahwa lebah-lebah itu mengandung racun yang amat jahat maka tentu saja dia terkejut sekali!
Cepat dia lari dari tempat itu, namun lebah-lebah itu mengejar terus, beterbangan sambil mengeluarkan suara berdengung-dengung yang mengerikan.
Sin Liong cepat menanggalkan jubah luarnya dan memutar jubah itu di sekeliling tubuhnya.
Dari putaran jubah ini menyambar angin dahsyat dan lebah-lebah itu terdorong jauh oleh hawa yang menyambar dari putaran jubah.
Sin Liong tidak tega untuk membunuh lebah-lebah itu maka dia hanya menggunakan hawa putaran jubahnya untuk mengusir.
Namun, binatang-binatang kecil itu hanya tidak mampu mendekati dan menyerang tubuh Sin Liong, akan tetapi sama sekali tidak terusir, bahkan kini makin banyak dan terbang mengelilingi Sin Liong dari jarak jauh sehingga tidak terjangkau oleh hawa pukulan jubah.
Melihat ini, Sin Liong kaget.
betapapun kuatnya tidak mungkin baginya untuk berdiri di situ sambil memutar jubahnya semalam suntuk, bahkan selamanya sampai lebah-lebah itu terbang pergi!
Lalu teringatlah dia akan senjata yang paling ampuh.
Api!
Dengan tangan kiri terus memutar jubah melindungi tubuhnya, Sin Liong lalu mengumpulkan daun kering dan mencari batu yang keras.
Dengan pengerahan tenaganya, dia menggosok dua batu itu sehingga timbul percikan bunga api yang membakar daun kering.
Diambilnya sebatang ranting kering dan dibakarnya ranting ini.
Benar saja.
Dengan ranting yang ujungnya menyala ini dipegang tinggi di atas kepala, tidak ada lebah yang berani mendekatinya.
Dia melanjutkan perjalanan, dan terus menerus menyalakan api diujung ranting yang dikumpulkan dan dibawanya.
Dapat dibayangkan betapa ngeri hatinya ketika melihat banyak sekali binatang berbisa di sepanjang jalan.
Ular-ular kecil, kalajengking, lebah-lebah dan sebangsanya merayap-rayap lari ketika dia datang dengan obor di tangan.
Untung dia membawa ranting bernyala.
Semua binatang berbisa itu takut terhadap api.
Andaikata dia tidak membawa api tentu dia telah dikeroyok oleh binatang-binatang kecil yang semuanya berbisa itu, dari atas dan bawah!
lebah-lebah itu terus mengikutinya, akan tetapi dari jarak jauh, terbukti dari suara yang berdengung-dengung itu masih terus berada di belakangnya.
Tiba-tiba terdengar suara bersuit panjang dan lebah-lebah itu beterbangan makin dekat, kembali mengurungnya dan kelihatan seperti marah.
Bahkan ada beberapa yang ekor yang meluncur dekat sekali, akan tetapi menjauh lagi ketika Sin Liong menggunakan api di ujung ranting untuk mengusirnya.
Suitan terdengar berkali-kali dan lebah-lebah itu makin marah dan mengamuk, juga tampak oleh Sin Liong betapa binatang kecil lainya yang banyak terdapat di hutan itu mulai mendekatinya, namun masih takut-takut oleh api di ujung ranting.
"Siuuuttt..."
Tiba-tiba tampak benda hitam menyambar kearah ujung rantingnya.
Maklumlah Sin Liong bawa sambitan yang amat kuat itu bermaksud memadamkan api di ujung ranting.
Tentu saja dia tidak mau terjadi hal ini, maka cepat ia menarik kebawah ranting ter-bakar itu dan menggunakan tangan kirinya menyambar benda yang dilontarkan.
Kiranya segumpal tanah hitam!
Mengertilah dia bahwa ada orang yang membokonginya dan orang itu agaknya yang besuit-suit tadi.
Suitan yang agaknya merupakan perintah kepada binatang-binatang itu untuk mengeroyoknya!
"Haiiii, Saudara penghuni Pulau Neraka!
Harap jangan menyerang.
Aku Kwa Sin Liong datang dengan maksud baik!
Aku hanya mau mencaru Sumoiku di sini!"
Hening sejenak.
Suitan-suitan tidak terdengar lagi dan lebah-lebah itu kembali menjauh, demikian ular, kelabang dan lain binatang kecil.
Terdengar bunyi tampak kaki menginjak daun-daun kering dan tak lama kemudian muncullah belasan orang yang bertelanjang kaki, berpakaian tidak karuan, bermuka menyeramkan itu kotor tidak terawat, mata mereka merah dan bergerak liar seperti mata orang-orang gila.
Dengan gerakan perlahan, pandang mata penuh juriga, belasan orang itu menghampiri dan mengurung Sin Liong.
Pemuda itu tersenyum ramah, bersikap tenang dan mengangkat ranting menyala tinggi-tinggi untuk memperhatikan wajah mereka.
"Harap Cuwi (Anda Sekalian) sudi memaafkan kedatanganku yang tiba-tiba ini. Akan tetapi sungguhnya aku, Kwa Sin Liong, tidak berniat buruk terhadap Pulau Neraka apalagi terhadap penghuninya. Aku datang untuk mencari sumoiku yang bernama Han Swat Hong, yang mungkin sudah mendarat di pulau ini."
Seorang di antara mereka, yang mukanya penuh brewok sehingga yang tampak hanya matanya dan sedikit hidungnya, melangkah maju dan menegur, suaranya parau dan kasar.
"kau dari mana?"
"Dari Pulau Es...."
Belasan orang itu mendengus dan kelihatan marah sekali. Si Brewok mengangkat tinggi senjata golok besarnya dan membentak.
"kalau begitu kau harus mampus!"
"Nanti dulu, harap Cuwi bersabar."
Sin Liong cepat berseru dan mengangkat tangan kirinya ke atas.
"Aku bukan musuh dari Cuwi, sudah kukatakan bahwa aku datang bukan untuk bermusuh, mengapa Cuwi hendak membunuhku?"
Pada saat itu, muncul pula lima orang, dan terdengar seruan heran dari seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar.
"Ehh, bukankah ini Kwa-kongcu dari Pulau Es?"
Sin Liong memandang dan merasa girang sekali ketika mengenal orang itu yang bukan lain adalah Bouw Tang Kui, penghuni Pulau Es yang dihukum buang ke Pulau Neraka karena telah mencuri batu mustika hijau!
"Bouw-lopek!"
Serunya girang.
"Aku datang untuk mencari Swat Hong yang juga sudah dibuang ke sini!"
"Apa??"
Bouw Tang Kui berteriak, lalu berkata kepada Si Brewok yang agaknya menjadi pemimpin rombongan itu.
"Dia adalah seorang yang telah membelaku, membela Lu Kiat dan Sia Gin Hwa ketika dijatuhi hukuman buang. Dia seorang pemuda yang tak setuju dengan hukum di Pulau Es, biarpun dia adalah murid Raja Han Ti Ong sendiri."
"Apa...??"
Mereka kelihatan terkejut mendengar ini.
"Muridnya...?"
"Benar,"
Jawab Bouw Tang Kui.
"Dan kita bukanlah lawannya."
Si Brewok meragu.
"Kalau begitu, kita bawa dia kepada To-cu (Maji-kan Pulau)!"
Bouw Tang Kui melangkah maju.
"Harap Kongcu menurut saja kami hadapkan kepada To-cu sehingga Kongcu dapat bicara sendiri dengannya."
Sin Liong mengangguk.
Memang menghadapi orang-orang kasar ini akan berbahaya sekali karena mereka sukar diajak bicara.
Kalau dia dapat bicara dengan Majikan Pulau yang tentu merupakan tokoh yang paling pandai, dia akan dapat minta keterangan apakah Swat Hong telah berada di pulau itu.
Dia mengangguk dan beberapa orang penghuni Pulau Neraka lalu menyalakan obor.
Sin Liong sendiri membuang rantingnya, mengenakan lagi jubahnya dan mengikuti rombongan belasan orang itu memasuki hutan.
Di sepanjang jalan dia melihat tempat-tempat berbahaya, lumpur-lumpur yang tertutup rumput tinggi, pasir-pasir berpusing yang dapat menyedot apa saja yang menginjaknya, pohon-pohon yang aneh dengan buah-buah yang kelihatan lezat namun dari baunya dia tahu bahwa buah itu mengandung racun jahat, dan lain-lain.
Benar-benar pulau yang amat aneh dan berbahaya, fikirnya.
Pantas kalau disebut Pualu Neraka, dan diam-diam dia mencela kekejaman Kerajaan Pulau Es yang membuang orang-orang bersalah ke tempat seperti ini.
Dari keadaan orang-orang yang menangkapnya ini, hanya Bouw Tang Kui seorang yang kelihatan masih normal.
Hal ini mungkin karena raksaksa ini baru beberapa bulan saja dibuang ke sini, sedangkan yang lain-lain, biarpun dapat mempertahankan hidupnya, namun telah berubah menjadi orang-orang liar yang agaknya telah berubah pula watak dan ingatannya!
Dan selain menjadi orang-orang yang tidak normal agaknya mereka telah menguasai ilmu yang dahsyat dan mengerikan, yaitu ilmu menguasai binatang-binatang berbisa di pulau itu.
Buktinya, biarpun mereka berjalan di hutan penuh binatang berbisa itu tanpa sepatu tidak ada seekor pun yang berani menyerang mereka.
Akhirnya dengan menggunakan ketajaman pandang mata dan penciuman hidungnya Sin Liong maklum bahwa orang-orang ini telah menggunakan semacam obat yang agaknya digosok-gosokan ke seluruh kaki mereka sehingga binatang itu menyingkir begitu mereka mendekat.
Tak disangkanya sama sekali, ketika mereka tiba di tengah jalan, di situ terdapat tanah lapang yang luas dan tampak sebuah rumah besar, dikelilingi pondok-pondok kayu sederhana.
lampu-lampu dinyalakan terang dan Sin Liong dibawa ke sebuah ruangan yang luas di mana telah menanti ketua pulau itu yang disebut To-cu (Majikan Pulau).
Ruangan itu luasanya lebih dari sepuluh meter persegi, dikelilingi banyak orang yang memegang bermacam senjata dan yang sikapnya semua penuh curiga dan permusuhan, kecuali Bouw Tang Kui, Sia Gin Hwa, Lu Kiat dan belasan orang lagi yang belum lama dibuang kesitu sehingga mereka ini mengenal Sin Liong sebagai murid Han Ti Ong yang selalu baik kepada mereka, bahkan banyak di antara mereka yang pernah diobati oleh pemuda ini.
"Hayo berlutut di depan tocu!"
Kata Si Brewok sambil mendorong Sin Liong ke depan.
Akan tetapi Sin Liong dengan tenang berdiri di depan To-cu itu dan memandang penuh perhatian.
Orang ini sudah tua, sedikitnya tentu ada enam puluh tahun usianya.
Kepalanya besar sekali, tubuhnya kurus kecil sehingga kelihatan lucu, seperti seekor singa jantan yang duduk di kursi!
Sepasang matanya bersinar-sinar, mulutnya menyeringai.
Sebetulnya wajahnya tampan, akan tetapi karena sikapnya yang ganas itu membuat wajahnya kelihatan menyeramkan dan menakutkan.
Pakaiannya tidak seperti pakaian sebagian besar penghuni Pulau Neraka yang butut, melainkan pakaian dari kain yang baru dan bersih.
Kursinya terbuat dari tulang-tulang berukir, dan di kedua lengan kursinya dihiasi dengan rangka ular dengan moncongnya ternganga lebar memperlihatkan gigi yang runcing melengkung.
Di sebelah kanan ketua Pulau Neraka ini duduk seorang anak perempuan yang tadinya hampir membuat Sin Liong salah kira.
Anak itu usianya sebaya dengan Swat Hong, seorang anak perempuan yang cantik dan tersenyum-senyum, sikapnya kelihatannya gembira dan mungkin karena sebaya maka kelihatanya mirip dengan Swat Hong.
Hampir saja Sin Liong tadi memanggilnya ketika mula-mula memasuki ruangan.
Ketika melihat betapa pemuda tawanan itu memandangnnya penuh perhatian, anak perempuan itu tersenyum-senyum.
Melihat Sin Liong tidak mau berlutut di depannya, kakek itu memandang tajam, kemudia berkata berlahan, suaranya rendah.
"Hemmm, kau tidak mau berlutut, ya? Hendak kulihat kalau kedua lututmu patah, kau berlutut atau tidak?"
Berkata demikian, tiba-tiba tangan kakek itu menyambar sebatang toya dari tangan seorang penjaga, menekuk toya itu sehingga patah tengahnya dan sekali dia menggerakan tangan, sepasang potong toya itu menyambar ke arah kedua kaki Sin Liong!
Pemuda itu terkejut, akan tetapi bersikap tenang.
Dia maklum bahwa ketua Pulau Neraka itu bermaksud menggunakan lemparan tongkat untuk membikin sambungan lututnya terlepas.
Maka dia cepat menggerakan kedua kakinya, meloncat ke atas, kemudian setelah melihat kedua toya berkelebat ke bawah kaki dia menggunakan kedua kakinya menginjak.
Sepasang tongkat pendek itu menancap di atas lantai dan pemuda itu berdiri di atas kedua ujung tongkat dengan tubuh tegak dan bersikap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu!
"Waduhhh, dia hebat sekali, kong-kong (Kakek)!"
Anak perempuan yang tadi tersenyum-senyum itu besorak penuh kagum, padahal anak buah Pulau Neraka memandang marah karena menganggap bahwa pemuda itu mengejek ketua mereka.
"Hebat apa! Permainan kanak-kanak seperti itu!"
Kakek berkepala besar itu mendengus marah.
"Kong-kong juga bisa? Ajarkan aku kalau begitu!"
Anak perempuan itu berkata dengan sikap dan suara manja.
"Hushh! Diamlah kau!"
Kakek itu membentak dan sejak tadi matanya tidak pernah berpindah dari Sin Liong.
Dibentak seperti itu, anak perempuan itu cemberut dan mukanya merah, menahan tangis.
Sin Liong merasa kasihan lalu meloncat turun dan berkata menghibur.
"Adik yang manis, jangan berduka. Biarlah kalau ada kesempatan aku akan mengajarkannya kepadamu."
Anak perempuan itu memandang Sin Liong dengan mata terbelalak, kemudian lenyaplah kemuraman wajahnya yang manja menjadi berseri-seri kembali.
"Orang muda yang bersikap dan bermulut lancang! Siapa engkau yang mengandalkan sedikit kepandaian untuk mengacau Pulau Neraka?"
Kakek itu membentak, menahan kemarahannya karena dia merasa direndahkan sekali ketika serangan sepasang tongkatnya tadi gagal dan dihadapi oleh pemuda itu secara luar biasa.
Sin Liong cepat memberi hormat dengan menjura dalam-dalam, kemudian dia berkata dengan suara tenang.
"Harap To-cu suka memaaf-kan kedatanganku ke Pulau Neraka ini. Seperti telah kukatakan kepada semua penghuni Pulau Neraka kedatanganku sama sekali tidak mengandung niat buruk atau hendak bermusuhan. Aku bernama Kwa Sin Liong dan ...."
"Dia murid Han Ti Ong!"
Tiba-tiba Si Brewok berkata lantang.
Ucapan ini disambut dengan suara berisik dari semua orang yang berada di situ karena mereka sudah menjadi marah sekali.
Semua orang yang berada disitu adalah orang-orang buangan dari Pulau Es, semenjak raja pertama sehingga sudah tinggal disitu selama tiga keturunan, ada orang buangan baru dan ada pula yang merupakan turunan dari orang-orang buangan lama, akan tetapi kesemuanya mempunyai rasa benci dan dendam pada satu nama, yaitu Pulau Es!
Maka begitu mendengar pemuda tampan dan tenang ini adalah murid Han Ti Ong, raja terakhir dari Pulau Es, dapat dibayangkan kemarahan hati mereka.
Dengan pandang mata mereka yang liar mereka hendak mencabik-cabik dan membunuh pemuda itu yang dianggapnya seorang musuh besar, dan andaikata mereka itu tidak takut kepada ketua mereka, tentu mereka telah menyerbu untuk melaksana-kan niat yang terbayang dalam pandang mata mereka itu.
"Akan tetapi dia selalu menentang Han Ti Ong, menentang pembuangan ke Pulau Neraka!"
Terdengar suara beberapa orang membela, yaitu suara Bouw Tang Kui, Lu Kiat, Sia Gin Hwa dan beberapa orang buangan baru yang lain.
"Bunuh saja dia!"
"Seret murid Han Ti Ong!"
"Jadikan dia mangsa ular!"
Kakek bekepala besar itu mengangkat kedua lengannya ke atas dan membentak.
"Diam...!!"
Sin Liong kembali terkejut.
Ketika mengeluarkan suara bentakan tadi ketua Pulau Neraka agaknya telah mengerahkan khikangnya sehingga dia sendiri yang berdiri di depan kakek itu merasa betapa kedua kakinya tergetar!
Mengertilah dia bahwa ketua Pulau Neraka ini benar-benar memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tahulah dia bahwa dia telah memasuki sarang naga dan berada dalam keadaan terancam.
Namun Sin Liong tidak merasa takut sedikitpun juga karena dia merasa bahwa dia tidak melakukan suatu kesalahan terhadap mereka ini.
Maka kembali dia menjura kepada ketua Pulau Neraka sambil berkata.
"To-cu, sekali lagi kujelaskan bahwa kedatanganku ini sama sekali tidak mengandung niat buruk dan kalau tidak ada perlu sekali pasti aku tidak akan berani menginjakan kaki ke pulau ini. Aku datang untuk mencari Sumoiku yang bernama Han Swat Hong puteri Suhu....."
Sin Liong menghentikan kata-katanya karena teringat bahwa dia telah kelepasan bicara, akan tetapi karena sudah terlanjur maka tak mungkin kata-kata itu ditariknya kembali.
"Puteri Han Ti Ong...??"
Ketua Pulau Neraka berseru keras sekali sampai mengagetkan semua orang.
"Kau mencari puteri Han Ti Ong di sini?"
Sin Liong berkata.
"Benar, To-cu. Karena aku menduga bahwa dia berada di sini maka aku menyusul ke sini."
"Tangkap puteri Han Ti Ong!"
"Bunuh dia!"
"Gantung puterinya!"
Kini Sin Liong mengangkat kedua lengannya dan sambil menggerakan khikangnya dia ber-seru.
"Harap Cuwi diam!"
Dan diamlah semua orang.
Di antara mereka yang memiliki kepandaian tinggi, termasuk ketua Pulau Neraka, kagum sekali karena orang muda yang belum dewasa benar ini ternyata memiliki kekuatan khikang yang amat hebat!
"Harap Tocu tidak salah sangka.
Puteri Han Ti Ong itu juga menjadi orang buangan."
Ucapan Sin Liong ini tentu saja mengejutkan dan mengherankan hati semua orang sehingga mereka tidak dapat mengeluarkan kata-kata melainkan hanya memandang kepada Sin Liong dengan mata terbelalak.
"Kau bohong!"
Kakek berkepala besar itu menghardik.
"Mana mungkin Han Ti Ong membuang puterinya sendiri ke Pulau Neraka?"
"Agaknya Tocu telah mengerti akan kerasnya peraturan hukum di Pulau Es, dan sebetulnya yang dianggap melanggar hukum adalah istri suhu sendiri, istri tua, yang aku yakin hanyalah karena fitnah belaka. Suhu telah menjatuhkan hukuman kepa-da Subo, dan Sumoi lalu mewakili ibunya untuk membuang diri ke Pulau Neraka, maka aku menyusul ke sini untuk mengajaknya pulang ke Pulau Es."
Tiba-tiba ketua Pulau Neraka tertawa bergelak, tertawa penuh kegembiraan sampai kedua matanya mengeluarkan air mata!
"Huah-ha-ha-ha!
Ha-ha-ha, betapa lucunya!
Rasakan kau sekarang Han Ti Ong, Raja keparat!
Rasakan kau betapa perihnya orang tertimpa kesengsaraan karena keluarga berantakan.
Haha-ha!"
Semua orang yang melihat dan mendengar kata-kata ketua Pulau Neraka ini, kontan tertawa-tawa semua, mentertawakan Raja Pulau Es!
Biarpun mereka belum sempat membalas dendam kepada Raja Pulau Es, mendengar nasib buruk Raja itu sudah merupakan hiburan besar yang amat menyenangkan hati mereka.
Hanya anak perempuan itu saja yang tidak ikut tertawa karena dia agaknya tidak mengerti apa-apa, dan pada saat itu dia hanya saling pandang dengan Sin Liong yang juga terheran-heran.
"Hei, Kwa Sin Liong! Betapa baiknya ceritamu, akan tetapi aku masih belum percaya kalau tidak melihat sendiri puteri Han Ti Ong datang ke pulau ini. kita tunggu dan lihat saja. Setelah aku melihat puteri Han Ti Ong berada di pulau ini, barulah kita akan bicara lagi. Tangkap dia dan masukan dalam kamar tahanan sambil menanti munculnya puteri Han Ti Ong!"
Si Bre-wok dan beberapa orang yang agaknya menjadi pembantu utama ketua Pulau Neraka sudah melangkah menghampiri Sin Liong dengan sikap mengancam.
Pemuda ini maklum bahwa tidak ada jalan lain kecuali menyerah sambil menanti munculnya Sumoinya karena sebelum dia bertemu dengan Sumoinya, melawan hanya akan menimbulkan permusuhan yang tidak ada artinya saja.
Maka dia mengangkat kedua tangannya dan berkata.
"Aku tidak akan melawan, kecuali kalau kalian menggunakan kekerasan. Aku menyerah dan mau menanti di kamar tahanan sampai Sumoiku muncul."
Melihat sikap tenang dan ucapan yang berwibawa ini, belasan orang yang mengurung Sin Liong dengan sikap mengancam tadi kelihatan ragu-ragu.
Akan tetapi Sin Long lalu melangkah ke depan dan berkata.
"Marilah bawa aku ke kamar tahanan."
"Jangan ganggu dia, biar dia mengaso di kamar tahanan dan layani baik-baik sampai puteri Han Ti Ong mucul. kalau dia membohong, hemm, baru kita akan berpesta membunuhnya!"
Ketua Pulau Neraka berkata sambil terkekeh-kekeh karena hatinya senang sekali mendengar betapa Han Ti Ong sampai membuang istrinya sendiri ke Pulau Neraka, kemudian puterinya malah membuang diri ke Pulau Neraka.
Biarpun dia belum percaya benar akan cerita ini sebelum dia menyaksikan buktinya, namun berita itu saja sudah mendatangkan rasa senang di dalam hatinya.
Dengan sikap gagah dan tenang sekali Sin Liong digiring ke dalam kamar tahanan, diikuti oleh pandang mata penuh khawatir dari anak perempuan tadi.
Setelah rombongan itu lenyap, anak perempuan itu mencela ketua Pulau Neraka.
"Kong-kong kenapa dia ditahan? Dia luar biasa, berani dan pandai sekali!"
"Hushh! Dia orang Pulau Es, dia murid Han Ti Ong, karena itu dia adalah musuh kita. Mengerti?"
Anak perempuan itu cemberut, lalu meninggalkan kakek itu sambil bersungut-sungut sedangkan kakeknya tertawa bergelak dengan hati senang.
Dia lalu memberi isyarat memanggil seorang kepercayaannya, lalu berbisik-bisik sambil tersenyum-senyum.
Pembantunya juga tertawa, mengangguk-angguk lalu pergi.
Kakek ini, ketua Pualu Neraka yang memiliki kepandaian tinggi, sama sekali tidak curiga kepada cucunya sendiri, tidak tahu bahwa cucunya itu tadi menyelinap dan mendengarkan perintah yang dia berikan kepada orang kepercayaannya.
Sin Liong adalah seorang pemuda yang tidak pernah mempunyai prasangka buruk terhadap orang lain.
Dia belum banyak mengenal kepalsuan watak manusia dan biarpun terhadap orang-orang Pulau Neraka, dia tetap menaruh kepercayaan.
Maka diapun percaya penuh akan kata-kata ketua Pulau Neraka dan dengan suka rela dia menyerahkan diri, tidak melawan ketika digiring memasuki kamar tahanan!
Setelah berada di dalam kamar di bawah tanah yang sempit itu, dengan jendela dan besi dari baja, dan ruji baja yang kuat memenuhi jendela sebagai jalan hawa, dia segera duduk bersila.
Dia tak menaruh khawatir akan keadaan dirinya, akan tetapi dia merasa gelisah mengapa sumoinya belum tiba di Pulau Neraka?
Dia percaya bahwa ketua Pulau Neraka tidak membohonginya.
Kalau benar bahwa Swat Hong telah berada di Pulau Neraka, tentu tidak seperti ini sikap mereka terhadap dirinya.
Kalau begitu, jelas bahwa Sumoinya belum tiba di Pulau Neraka, padahal telah berangkat lebih dahulu.
Ke manakah perginya sumoinya itu?
Tengah malam telah lewat dan keadaan sunyi sekali dalam kamar tahanan itu.
Tidak ada penjaga di luar pintu atau jendela, akan tetapi dia tahu bahwa di pintu masuk lorong tahanan itu terdapat beberapa orang penjaga yang selalu siap dengan senjata di tangan.
Tiba-tiba dia mendengar suara wanita yang marah-marah di sebe-lah luar dan suara para penjaga ketakutan.
"Kalian berani melarangku masuk?"
Terdengar suara wanita itu.
"Nona, tahanan ini adalah orang penting! dan..."
"Dan kau anggap aku bukan orang penting? Kau kira aku mau apa? Aku mau mengejeknya dan memakinya, dia adalah musuh besarku. Apakah kau berani melarangku? Coba kau melarang dan aku akan mengatakan kepada Kong-kong bahwa kalian berani kurang ajar kepadaku hendak menggodaku, aku mau melihat apakah kepala kalian masih akan menempel di leher!"
"Ah, tidak... bukan begitu..."
"Maafkan, Nona..."
"Silahkan masuk, silahkan "
"Awas kalau ada yang mengikuti aku dan mengintai, berarti dia mau kurang ajar dan akan kuberitahukan kepada Kong-kong!"
Sin Liong sudah menduga siapa wanita yang bicara di luar dan ribut-ribut dengan para penjaga itu, akantetapi begitu dara itu muncul di bawah sinar lampu di luar ruji jendelanya, hampir saja dia berteriak memanggil karena mengira bahwa Swat Hong yang muncul itu.
Di bawah sinar lampu yang tidak begitu terang memang gadis cucu ketua Pulau Neraka ini hampir sama dengan Swat Hong.
Setelah melihat jelas bahwa yang datang adalah cucu ketua Pulau Neraka dan mengingat akan kata-kata gadis ini di luar tadi bahwa kedatangannya dengan niat mengejek dan memakinya, Sin Liong tetap duduk bersila dan bahkan memejamkan matanya, pura-pura tidur.
"Ssssttt..."
Sin Liong tidak menjawab, bergerak sedikitpun tidak.
Perlu apa melayani seorang bocah yang hanya datang hendak mengejek dan memakinya?
Demikian pikirnya sungguhpun hatinya terasa tidak enak juga harus mendiamkan saja orang yang susah payah datang sampai ribut mulut dengan para penjaga.
Tentu akan kecewa hatinya, pikir Sin Liong dan diam-diam dia mengintai dari balik bulu matanya yang direnggangkanya sedikit.
"Pssstttt... kau tidak tidur, bulu matamu bergerak-gerak, jangan kau tipu aku..."
Anak perempuan itu berkata lagi dengan suara bisik-bisik dan meruncingkan bibirnya di antara ruji-ruji jendela.
Sin Liong menarik napas panjang dan membuka matanya.
(Lanjut ke
Jilid 06) Bu Kek Siansu (Seri ke 01 Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06
"Hah, kau boleh mengejek dan memaki sesukamu, kemudian pergilah agar aku dapat mengaso benar-benar,"
Katanya.
"Hi-hik!"
Gadis itu menahan ketawanya, menutupi mulutnya yang kecil.
"Kiranya engkau sama bodohnya dengan para penjaga itu, percaya saja apa yang kukatakan di luar tadi!"
Sin Liong bangkit berdiri dan menghampiri jendela kamar tahanan. Mereka saling berhada-pan dan saling pandang melalui ruji-ruji jendela.
"Apa yang kau maksudkan, Nona?"
Mulut yang tersenyum itu kini cemberut dan terdengar suaranya manja.
"Kau tadi menyebutkan Adik yang manis. Mengapa sekarang menjadi Nona? kau benar pandai mengecewakan hati orang!"
Mau tidak mau Sin Liong tersenyum.
Bocah ini manja dan lincah, mengingatkan dia kepada Han Swat Hong.
Banyak persamaan antara kedua orang perempuan itu.
"Baiklah, Adik yang manis. sebenarnya, mau apa kau datang ke sini kalau bukan untuk mengejek dan memaki aku yang dianggap musuh oleh kakekmu?"
"Aku datang untuk bercakap-cakap."
"Hemm, waktu dan tempatnya tidak tepat untuk bercakap-cakap. Aku adalah seorang tahanan dan engkau adalah cucu To-cu di sini, tempat ini di kamar tahanan yang kotor dan sempit dan sekarang sudah lewat tengah malam. Harap engkau kembali ke kamarmu dan tidur yang nyenyak. jangan-jangan kau akan dimarahi Kong-kongmu."
"Aku tidak takut! Aku sengaja datang ke sini untuk bercakap-cakap denganmu. Siapa berani melarangku?"
Sikapnya menjadi galak, matanya bersinar-sinar dan Sin Liong menarik napas panjang.
Sejak lama dia memperoleh kenyataan betapa ganjilnya watak wanita.
Dia melihat watak-watak yang aneh dan sukar dimengerti yang dilihatnya pada diri Sia Gin Hwa yang menyeleweng dari suaminya, berjinah dengan Lu Kiat, pada diri Liu Bwee ibu Swat Hong yang tadinya periang lalu berubah pemurung dan berhati begitu sabar dan mengalah terhadap suaminya yang menyakitkan hatinya, pada diri The Kwat Lin yang juga amat berubah setelah menjadi istri raja, pada diri Swat Hong yang telah nekad membuang diri ke Pualu Neraka.
Dan kini dia berhadapan dengan seorang gadis yang juga berwatak aneh sekali.
"Baiklah, jangan marah karena tidak ada yang melarangmu di sini. Kalau kau ingin bercakap-cakap, nah, bercakaplah dan aku akan mendengarkan."
Gadis itu melongo.
"Bercakap apa?"
Diam-diam Sin Liong merasa geli.
Benar-benar seorang gadis yang masih seperti kanak-kanak dan mungkin semua sikapnya tadi, ketika ber-gembira dan ketika marah, tidaklah setulusnya hati maka demikian mudah berubah.
"Bercakap apa saja sesukamu, misalnya siapa namamu, siapa pula nama Kong-kongmu dan keadaan di pulau ini dan lain-lain."
Wajah itu berseri kembali, gembira setelah ingat bahwa sesungguhnya banyak sekali bahan untuk dibicarakan.
"Namaku Soan Cu, Ouw Soan Cu...."
"Namamu indah."
Sin Liong memuji untuk menyenang-kan hatinya. Dan memang hati Soan Cu senang sekali mendengar pujian ini.
"Benarkah? Benarkah namaku indah?"
Dengan penuh gairah dia lalu menceritakan riwayatnya secara singkat.
Ketua atau Majikan Pulau Neraka itu bernama Ouw Kong Ek bukanlah seorang buangan dari Pulau Es, melainkan keturunan orang buangan yang semenjak ratusan tahun menjadi ketua di situ karena memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Kakek dari Ouw Kong Ek, seorang buangan dari Pulau Es yang berilmu tinggi, adalah seorang pertama yang menjadi "Ketua"
Di Pulau Neraka, kemudian menurunkan kedudukan ini kepada anaknya sampai kepada Ouw Kong Ek.
Ouw Kong Ek sendiri mengambil seorang buangan dari Pulau Es, seorang bekas pelayan permaisuri Raja Pulau Es yang dijatuhi hukuman buang karena fitnah dan sesungguhnya dia tidak mau melayani seorang pangeran yang tergila-gila kepadanya, menjadi istrinya mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Ouw Sian Kok.
Akan tetapi istrinya meninggal dunia ketika Ouw Sian Kok menikah dengan seorang gadis Pulau Neraka dan Ketua Pulau Neraka ini tinggal menduda.
Dia mencurahkan pengharapannya kepada putera tunggalnya yang mewarisi semua ilmunya dan yang diharapkan kelak akan menggantikan kedudukanya kalau dia sudah mengundurkan diri.
Namun nasib buruk menimpa keluarga Ouw.
Ketika istri Ouw Sian Kok melahirkan seorang anak, yaitu Soan Cu, ibu muda ini meninggal dunia.
Ouw Sian Kok demikian berduka sehingga ingatannya terganggu, menjadi gila dan melarikan diri dari Pulau Neraka, tak seorangpun tahu kemana perginya orang gila itu.
"Demikianlah riwayatku yang tidak mengembirakan,"
Soan Cu mengakhiri ceritanya.
Sejak kecil aku tidak pernah melihat wajah ibu dan ayahku.
Ayah sampai sekarang tidak pulang dan tidak ada yang tahu berada di mana.
Aku dipelihara dan dididik oleh Kong-kong yang mengharapkan kelak aku menggantikan kedudukan ketua di sini.
Akan tetapi aku tidak sudi!"
"Mengapa tidak suka, Soan Cu?"
"Siapa sudi mengurusi orang-orang gila itu! Mereka semua gila dan jahat, karena itu aku suka kepadamu Sin Liong. Engkau lain dari pada mereka, engkau berani dan baik. Maka aku datang untuk menolongmu. Ketahuilah, sebentar lagi, kalau kau dikira sudah tidur, engkau akan dibunuh!"
Sin Liong terkejut akan tetapi tetap bersikap tenang.
"Benarkah? Mengapa aku dibunuh? Bukankah Kongkongmu berjanji bahwa kita akan menunggu sampai Sumoiku tiba di Pulau Neraka?"
"Uhh, kau percaya kepada Kong-kong! Hmm, dia hanya membohong."
"Ah, mengapa begitu? Sebagai seorang ketua tidak sepatutnya kalau dia menipu."
"Membohong dan menipu merupakan perbuatan yang menguntungkan dan bahkan dianggap baik dan layak di sini! itu adalah tanda dari kecerdikan seseorang!"
"Pantas kau tadi pun membohongi penjaga."
Sin Liong mencela.
"Memang, kalau tidak membohong, mana bisa masuk dengan mudah? Dan kau tentu akan celaka kalau akau tidak membohong."
"Hmm..., alasan dicari-cari dan ngawur. Jadi mereka hendak membunuhku? Mudah saja, apa dikira aku begitu mudah dibunuh?"