Ceritasilat Novel Online

Si Bangau Merah 6

Eps 6 Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo

Baca online Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo

Cersil Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo.

Si Bongkok itu lihai sekali dan berlaku sewenang-wenang terhadap para pengemis lainnya.

Bahkan Phoa-pangcu, ketua para pengemis di kota Heng-tai, pernah dipukul babak-belur ketika menegur pengemis bongkok yang bersikap sewenang-wenang itu.

"Kau tahu siapa dia?"

Sin Hong bertanya.

"Dia mengaku berjuluk Hek-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Hitam),"

Jawab pengemis itu.

"Dan engkau melihat dia bersama seorang anak perempuan berusia dua belas tahun yang berpakaian serba merah?"

Sin Hong mendesak.

Pengemis itu tidak melihatnya.

Sin Hong menjadi putus asa, apalagi ketika bertemu kembali dengan isterinya dan dengan Suma Ciang Bun bersama Gangga Dewi, tiga orang itu pun sama sekali tidak menemukan jejak Sian Li.

"Sebaiknya kalian lanjutkan perjalanan ke Cin-an dan ceritakan peristiwa kehilangan anak itu kepada Adik Suma Ceng Liong,"

Kata Suma Ciang Bun.

"Dengan demikian maka dia pun akan dapat membantu kalian mencari jejak. Kami sendiri akan melanjutkan usaha kami mencari jejak Sian Li."

Karena tidak melihat jalan lain yang lebih baik, Sin Hong dan Hong Li setuju dan dua pasangan itu saling berpisah.

Sin Hong dan isterinya pergi ke Cin-an untuk mengunjungi Suma Ceng Liong, sedangkan Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi akan melanjutkan usaha mereka mencari jejak Sian Li.

Juga diam-diam mereka hendak menyelidiki Thian-li-pang karena menurut pengakuan Ang I Moli, Yo Han kini berada di perkumpulan pemberontak itu.

Ke manakah perginya Sian Li?

Ketika anak ini ditinggal pergi ayah ibunya, diam-diam ia merasa kesal untuk berdiam diri di kamarnya saja.

Maka, setelah menanti dua jam di kamarnya dan tidak melihat ayah ibunya pulang, Sian Li keluar dari dalam kamarnya dengan maksud untuk berjalan-jalan menghilangkan kekesalannya.

Gadis kecil ini tidak tahu bahwa sejak ia keluar dari dalam kamarnya, sepasang mata telah mengikutinya, sepasang mata yang nampak kemerahan dan kejam.

Pemilik mata ini bukan lain adalah Hek-bin-houw (Harimau Muka Hitam), pria empat puluh tahunan yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan yang pernah mengganggu Sian Li di taman.

Dia adalah seorang di antara anak buah Ang I Moli yang bertugas jaga di luar ruangan rapat.

Sejak tadi, dia mendendam kepada ibu gadis cilik berpakaian merah itu karena selain dia terpaksa harus melepaskan gadis cilik yang manis itu, Juga dia merasa malu karena dikalahkan ibu gadis itu.

Hanya karena takut kepada Ang I Moli saja dia meninggal-kan mereka ibu dan anak.

Kini, selagi dia bertugas jaga, dia melihat anak perempuan berpakaian merah yang manis itu keluar dari dalam kamarnya, seorang diri pula.

Hek-bin-houw mengikuti Sian Li dan dia berpikir bahwa penjagaan di situ sudah cukup kuat.

Kalau dia tinggalkan sebentar tidak akan ada yang tahu dan tidak mengurangi kekuatan penjagaan.

Dia harus dapat membalas penasaran dan dendamnya tadi, sekaligus bersenang-senang.

Setelah mendapat pikiran kotor ini, Hek-bin-houw yang memang selamanya menjadi seorang yang berwatak buruk dan jahat sekali, segera meloncat keluar ketika Sian Li tiba di tempat gelap dan sunyi, di samping bangunan rumah penginapan.

Sian Li terkejut ketika ada orang meloncat ke depannya, Apalagi ketika dia mengenal orang itu sebagai Si Muka Hitam tinggi besar yang pernah bersikap kurang ajar di taman terhadap dirinya dan mendapat hajaran dari ibunya.

Akan tetapi sebelum ia sempat lari atau berteriak, Hek-bin-houw sudah menubruk dan menyergapnya seperti seekor harimau menubruk kambing, dan sebelum Sian Li mengeluarkan suara, Si Tinggi Besar muka hitam itu telah menotok jalan darah di pundak dan tengkuknya, membuat gadis cilik itu terkulai lemas dan tidak mampu mengeluarkan suara lagi.

Sambil terkekeh girang Hek-bin-houw lalu memanggul tubuh anak perempuan yang sudah tidak mampu meronta itu dan membawanya loncat ke dalam taman, untuk dibawa keluar dari taman itu.

Dia tahu bahwa tak jauh dari situ terdapat sebuah kuil tua yang kosong.

Tempat itu merupakan tempat yang baik sekali dan tersembunyi.

Ke sanalah dia lari sambil memanggul tubuh Sian Li yang tak mampu bergerak.

"Heh-heh, tadi engkau dan ibumu menghinaku. Sekarang aku akan membalas dendam kepadamu, dan kelak kepada ibumu!"

Kata Hek-bin-houw ketika dia sudah menyelinap masuk ke dalam kuil kosong itu dan dengan kasar dia melemparkan tubuh Sian Li ke atas lantai kuil yang tak terpelihara dan kotor.

Tempat itu biasanya hanya menjadi tempat bermalam para gelandangan yang tidak mempunyai rumah tinggal.

Tiba-tiba nampak sinar yang biarpun hanya kecil akan tetapi karena munculnya tiba-tiba dan di tempat yang amat gelap itu, maka sinar ini menerangi seluruh ruangan dan mengejutkan, juga menyilau-kan mata, Hek-bin-houw terkejut dan menoleh.

Kiranya sinar itu adalah nyala api sebatang lilin yang dinyalakan seorang kakek jembel dan kini lilin itu diletakkan di sudut, di dekat kakek jembel yang duduk bersila sambil memandang kepada Hek-bin-houw dan Sian Li dengan sinar mata penuh selidik.

"Ha-ha, kiranya seekor anjing yang datang menggangguku,"

Kata kakek jembel itu.

Tentu saja Hek-bin-houw marah bukan main.

Pertama, dia merasa terganggu, ke dua, dia dimaki anjing!

"Keparat!

Engkau tidak tahu siapa aku?

Aku adalah Hek-bin-houw, mengerti.

Hayo cepat menggelinding pergi dari sini, atau akan kubunuh kau!"

Hek-bin-houw mencabut goloknya dengan sikap mengancam.

Kakek jembel itu terkekeh lalu dia bangkit berdiri.

Ternyata tubuhnya kurus jangkung, akan tetapi punggungnya bongkok dan dia memegang sebatang tongkat hitam.

"Ha-ha-ha, engkau berjuluk Hek-bin-kauw (Anjing Bermuka Hitam), ya? Ha-ha, memang tepat, engkau memang persis anjing bermuka hitam. Dan aku berjuluk Hek-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Hitam), tongkat hitamku ini tepat sekali untuk memukul anjing muka hitam."

Tentu saja Hek-bin-houw marah bukan main. Sudah jelas julukannya harimau, sengaja diubah menjadi anjing oleh Si Cebol ini.

"Jahanam busuk, engkau sudah bosan hidup!"

Bentaknya dan goloknya sudah menyambar dahsyat ke arah leher pengemis bongkok itu.

Namun, dengan gerakan tenang sekali, Si Bongkok itu menggerakkan tongkat bututnya berwarna hitam untuk menangkis.

"Trakkkk....!"

Harimau Muka Hitam itu terhuyung ke belakang dan dia terkejut sekali karena golok di tangannya hampir saja terlepas.

Bukan main besarnya tenaga yang terkandung dalam tongkat hitam itu ketika menangkisnya tadi.

Akan tetapi, dasar orang yang selalu mengandalkan tenaga dan kepandaian sendiri untuk memak-sakan kehendaknya, yang selalu memandang rendah orang lain Hek-bin-houw masih belum mau menyadari bahwa dia berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dia bahkan menjadi semakin marah dan penasaran.

Dia tidak percaya bahwa seorang kakek jembel yang bongkok dapat menandinginya.

"Mampuslah!"

Bentaknya dan kini dia menyerang lebih hebat lagi, goloknya berubah menjadi sinar yang menyambar ke arah kepala pengemis itu.

"Manusia tak tahu diri!"

Pengemis itu terkekeh dan kini tongkatnya berubah menjadi gulungan sinar hitam yang bukan saja menangkis golok, akan tetapi tangkisan itu membuat tongkatnya membalik dan menotok ke arah pergelangan tangan.

Hek-bin-houw berteriak dan goloknya terlepas karena lengan kanannya tiba-tiba menjadi lumpuh dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, ujung tongkat hitam telah menotok dua kali ke arah ulu hati dan tenggorokannya.

Hek-bin-houw terkulai roboh dan tidak dapat bangun kembali!

"Heh-heh-heh, ada saja jalannya orang yang sudah bosan hidup!"

Kata pengemis bongkok itu dan dia pun menghampiri Sian Li yang masih telentang tak mampu bergerak.

Gadis kecil itu memandang kepada pengemis yang berdiri mengamatinya dengan mata terbelalak, akan tetapi sama sekali tidak kelihatan takut.

"Heh-heh, engkau memang anak yang manis sekali. Pantas anjing hitam itu menculikmu. Akan tetapi engkau terlalu manis untuk anjing macam dia. Engkau ikut saja denganku, anak manis!"

Sekali tongkatnya bergerak, kakek jembel itu telah membebaskan totokan dari tubuh Sian Li.

Anak ini meloncat berdiri, agak terhuyung karena tubuhnya masih terasa kaku setelah beberapa lamanya dalam keadaan tertotok.

Akan tetapi, ia segera dapat berdiri tegak dan dengan sikap tegas ia berkata.

"Aku tidak mau ikut denganmu atau dengan siapa pun."

"Ehh? Baru saja engkau kubebaskan dari tangan anjing hitam ini! Apa engkau lebih suka ikut dengan dia?"

Tongkat hitamnya menuding ke arah muka Hek-bin-houw yang sudah tak bernyawa lagi.

"Aku tidak sudi ikut dengan dia, juga tidak mau ikut denganmu. Aku hanya ikut Ayah Ibuku!"

"Tapi, engkau telah kutolong!"

"Aku tidak pernah minta pertolonganmu."

"Huh, engkau manis tapi tak kenal budi. Pantas ditawan anjing hitam ini, dan sekarang engkau harus ikut dengan aku, mau atau tidak!"

"Aku tidak mau!"

Kata Sian Li dan ia pun sudah siap untuk melawan.

Melihat gadis cilik ini memasang kuda-kuda dengan sikap yang indah sekali, diam-diam pengemis itu terkejut.

Dia mengenal dasar silat yang amat hebat, akan tetapi tahu bahwa anak itu belum memiliki tenaga sin-kang yang kuat, maka ilmu yang hebat pun tidak ada artinya tanpa didukung tenaga sin-kang yang mendatangkan kecepatan dan kekuatan.

"Hayo ikut!"

Katanya dan tangan kirinya menyambar.

Sian Li tidak dapat mengelak lagi dan ia pun membuat gerakan menangkis.

Akan tetapi, karena tenaganya memang belum kuat, maka tangkisan itu membuat tangannya bahkan ditangkap Si Pengemis yang terkekeh dan di lain saat, Sian Li telah tertotok kembali dan sekali tarik, tubuhnya melayang naik dan hinggap di pundak pengemis bongkok itu yang segera meloncat keluar dari kuil dan berlari cepat di dalam kegelapan malam.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali kakek pengemis itu telah keluar dari kota Heng-tai sambil memanggul tubuh Sian Li di pundak kiri, dan dia berjalan perlahan-lahan di luar kota yang masih sunyi itu.

Hawa udara pagi itu sejuk sekali.

Siapakah pengemis bongkok yang amat lihai itu?

Dia adalah seorang tokoh persilatan yang terkenal, namun dia termasuk tokoh sesat yang suka mengandalkan kepandaian untuk memaksa-kan keinginannya dan tidak pantang melakukan tindakan yang jahat.

Oleh karena itu, Hek-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Hitam) termasuk seorang tokoh sesat walaupun di selatan dia mempunyai perkumpulan yang terkenal, yaitu Hek-pang Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam) dan dia menjadi ketuanya.

Karena dia seorang petualang yang suka berkelana, maka perkumpulan itu sering ditinggalkannya dan dia serahkan kepada para wakilnya untuk mengurusnya.

Ketika Hek-pang Sin-kai menolong Sian Li dari tangan Hek-bin-houw, perbuatan itu dia lakukan bukan karena dia memang suka menolong orang.

Dia turun tangan membunuh Hek-bin-houw hanya karena Si Muka Hitam itu berani menentangnya dan menyerangnya.

Akan tetapi, ketika melihat Sian Li yang manis dan mungil, timbul rasa suka di hati kakek jembel itu dan dia ingin mengambil anak itu sebagai seorang muridnya.

Saking lelahnya, ketika dibawa lari dari kuil, Sian Li tertidur atau tak ingat diri di panggulan pundak kakek itu.

Akan tetapi udara pagi yang dingin itu menyadarkannya dan kini, biarpun tubuhnya tidak tampak bergerak, ia depat bersuara dan berulang-ulang ia minta agar kakek itu melepaskan dirinya.

Akan tetapi, Hek-pang Sin-kai hanya terkekeh dan tidak mempedulikannya.

Pagi itu amat sunyi dan Sian Li sudah hampir putus asa.

Suaranya sudah parau karena sejak tadi ia berseru minta dilepaskan dan kini ia berdiam diri.

Percuma saja bicara, pikirnya.

Saat itu masih pagi sekali dan di sepanjang jalan tidak pernah bertemu orang.

Nanti saja kalau ada orang, ia akan menjerit minta tolong.

Tiba-tiba ia melihat seorang nenek datang dari arah kiri di sebuah jalan persimpangan.

Melihat ada orang, Sian Li lalu bicara lagi, kini ia bahkan mengerahkan tenaga agar suaranya terdengar lantang.

"Kakek jahat, lepaskan aku!"

Teriaknya dan karena kepalanya tergantung di belakang pundak kakek itu, Sian Li dapat melihat betapa nenek yang datang dari jalan simpangan itu menengok, kemudian nenek itu pun membelok dan mengikuti penculiknya dari belakang.

Melihat ini, Sian Li berkata lagi.

"Kakek jahat, lepaskan aku. Engkau sungguh berani mati menculikku. Kalau Ayah Ibuku mengetahui, engkau tentu akan mereka bunuh!"

"Heh-heh-heh, aku tidak takut ayah ibumu, anak manis!"

Kata Hek-pang Sin-kai, terkekeh mendengar bahwa ayah ibu anak itu akan membunuhnya.

"Engkau tertawa karena tidak mengetahui siapa Ayah Ibuku. Kalau engkau tahu, engkau akan mati berdiri!"

Kata pula Sian Li dan ia melihat betapa nenek yang berjalan di belakang itu mempercepat langkahnya sehingga jaraknya semakin dekat, hanya sepuluh meter saja di belakangnya.

Kembaii kakek jembel itu tertawa bergelak mendengar ancaman Sian Li yang dianggapnya hanya gertak belaka.

"Ayahku adalah Tan Sin Hong yang berjuluk Si Bangu Putih! Dan ibuku adalah keturunan Istana Gurun Pasir dan Istana Pulau Es!"

Kata pula Sian Li dan sekali ini, benar saja ia merasa betapa tubuh yang memanggulnya itu menegang.

"Hemm, engkau hanya membual!"

Kata kakek jembel itu, akan tetapi kini tawanya hilang karena dia benar-benar amat terkejut mendengar ucapan Sian Li.

"Siapa membual? Ibuku bernama Kao Hong Li. Kakekku Kao Cin Liong adalah putera Naga Sakti Istana Gurun Pasir, sedangkan nenekku Suma Hui adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Istana Pulau Es!"

Kini Hek-pang Sin-kai tidak dapat berpura-pura lagi.

Dia memang kaget bukan main mendengar ucapan itu.

Dia tahu bahwa anak ini tidak mungkin membual karena dari mana anak ini dapat mengenal nama-nama besar itu?

Akan tetapi, di samping kekagetannya, dia bahkan menjadi semakin gembira.

"Bagus! Kalau begitu, engkau keturunan para pendekar sakti. Engkau pantas menjadi muridku!"

Katanya gembira dan bangga karena kalau dia dapat mengambil murid keturunan Istana Gurun Pasir dan Istana Pulau Es, namanya tentu akan terangkat tinggi sekali!

Tiba-tiba kakek jembel itu terkejut sekali ketika ada angin dahsyat menyambar ke arah kepala dan dadanya yang datang dari sebelah kanan.

Dia mengenal serangan ampuh, maka cepat dia membalik ke kanan dan menggerakkan tongkat dan tangan kirinya untuk menangkis dan balas menyerang.

Akan tetapi, tiba-tiba bayangan berkelebat dan tahu-tahu tubuh Sian Li yang dipanggul di atas pundak kanannya, telah dirampas orang!

Ketika dia membalik, dia melihat seorang wanita tua sudah menurunkan Sian Li dan bahkan telah membebaskan totokan atas diri gadis cilik itu.

"Anak baik, engkau minggirlah, biar kubereskan jembel busuk ini!"

Kata nenek tadi sambil mendorong Sian Li dengan lembut ke samping.

Sian Li menurut dan anak itu pun menjauh, berdiri di tepi jalan yang masih sunyi itu sambil memandang kepada dua orang tua yang sudah saling berhadapan itu dengan hati tegang.

Ia masih belum tahu siapa nenek itu dan orang macam apa.

Kalau nenek itu seorang penjahat pula seperti kakek jembel, ia pun tidak akan sudi ditolong dan ikut dengannya.

Dengan muka merah karena marah.

Hek-pang Sin-kai menudingkan tongkat hitamnya ke arah muka nenek itu.

"Nenek tua bangka, apakah engkau sudah bosan hidup maka berani menentang Hek-pang Sin-kai?"

Nenek itu tersenyum dan sungguh mengagumkan.

Nenek yang usianya sedikitnya enam puluh tujuh tahun itu, yang rambutnya sudah hampir putih semua, Begitu tersenyum, nampak jauh lebih muda karena giginya masih berderet rapi!

Mudah diduga bahwa nenek ini di waktu mudanya tentu cantik manis.

Bahkan dalam usia sekian tuanya, tubuhnya masih ramping padat.

Memang ia bukan wanita sembarangan.

Ia adalah nenek Bu Ci Sian, isteri dari pendekar Kam Hong yang terkenal sebagai Pendekar Suling Emas!

Nenek ini, disamping sebagai isteri pendekar itu, juga terhitung sumoinya (adik seperguru-an) dan telah neenguasai ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas) dan Kim-kong Sinim (Tiupan Suling Sakti Sinar Emas).

Disamping ilmu-ilmu yang khas sebagai pewaris Suling Emas, juga nenek ini seorang pawang ular yang ahli.

Bahkan ia pernah menerima pelajaran sin-kang gabungan Im dan Yang dari mendiang Suma Kian Bu yang berjuluk Siluman Kecil, putera dari mendiang Pendekar Super Sakti!

"Bagus!

Kiranya engkau yang berjuluk Hek-pang Sin-kai?

Sudah lama aku mendengar akan nama busukmu.

Kebetulan sekali, tidak perlu aku pergi jauh-jauh mencarimu untuk menghajarmu sampai engkau bertaubat dan tidak melakukan kejahatan lagi!"

"Nenek sombong! Katakanlah siapa engkau sebelum tongkatku menamatkan riwayat hidupmu."

Senyum itu masih belum menghilang dari wajah nenek yang pakaiannya serba putih seperti orang berkabung namun yang rapi dan bersih itu.

"Pengemis jahat, orang macam engkau tidak pantas mengenal siapa namaku."

"Bagus! Kalau begitu, mampuslah tanpa nama!"

Bentak Hek-pang Sin-kai dan dia pun sudah menerjang dengan tongkatnya.

Dari cara nenek itu tadi merampas Sian Li dari pundaknya saja dia sudah dapat menduga bahwa nenek ini merupakan seorang lawan yang tak boleh dipandang ringan, maka begitu menyerang, dia sudah mempergunakan tongkatnya tanpa peduli bahwa nenek itu bertangan kosong, dan dia pun menyerang dengan jurus-jurus maut dari ilmu tongkatnya.

Tongkat hitam itu bagaikan seekor ular hidup, meluncur ke depan dan membuat gerakan memutar seperti hendak melingkari leher lawan.

Ketika nenek itu melangkah mundur untuk menghindarkan diri dari serangan ke arah leher itu, ujung tongkat terus meluncur ke depan karena pengemis itu pun sudah melangkah maju dan kini ujung tongkat membuat gerakan serangan menotok bertubi-tubi ke arah jalan-jalain darah terpenting di bagian depan tubuh!

Serangan itu sungguh dahsyat dan merupakan serangan maut.

"Hemm, kejam sungguh!"

Nenek Bu Ci Sian berseru lirih.

Pengemis itu tidak pernah bermusuhan dengannya, akan tetapi kini agaknya berusaha sungguh-sungguh untuk membunuhnya!

Ia menggunakan kelincahan gerakannya yang masih gesit untuk mengelak dengan loncatan-loncatan.

Namun, totokan berikutnya terus mengancam sehingga terpaksa nenek itu mencabut sebatang suling dari ikat pinggangnya.

Nampak sinar keemasan dibarengi suara meraung nyaring dan tinggi sehingga mengejutkan hati Hek-pong Sin-kai.

Suara melengking yang keluar dari suling yang digerakkan itu seperti menusuk telinganya dan menyerang jantungnya!

Dia terkejut dan cepat mengerahkan tenaga sin-kang untuk melindungi diri dari suara itu, akan tetapi serangannya menjadi gagal.

Dengan penasaran dan marah, dia pun mengatur serangkaian serangan berikutnya.

Akan tetapi, kini dia mengalami hari naas bertemu dengan nenek yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi darinya!

Begitu nenek Bu Ci Sian memainkan sulingnya, nampak sinar emas bergulung-gulung menyilauhan mata dan pengemis itu menjadi terkejut dan bingung karena selain gerakan tongkatnya selalu menemui tembok sinar keemasan yang menahan gerak serangannya, Juga dia merasa terkurung oleh sinar emas itu yang selain menyambar-nyambar dengan ancaman dahsyat, juga selalu mengeluar-kan bunyi yang menusuk-nusuk telinganya!

Tentu saja kakek jembel itu kewalahan karena nenek Bu Ci Sian telah memainkan ilmu Kim-siauw Kiam-sut yang pernah menggetarkan dunia persilatan.

Nenek Bu Ci Sian bukanlah seorang yang kejam, walaupun dahulu di waktu mudanya ia terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang galak dan tak mengenal ampun terhadap para penjahat.

Setelah ia menjadi isteri suhengnya sendiri, yaitu pewaris Suling Emas, ia menjadi lembut dan tidak kejam untuk melakukan pembunuhan.

Walaupun ia tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang jahat, namun ia tidak tega untuk membunuhnya.

Kalau ia menghendaki, dalam waktu dua puluh jurus saja ia akan mampu merobohkan dan menewaskan Hek-pang Sin-kai.

Akan tetapi, kini ia hanya menggunakan sulingnya untuk mengepung dengan sinar yang bergulung-gulung, dan kadang-kadang memukul tidak terlalu keras ke arah pundak, punggung, lengan sehingga kakek jembel itu seperti anak nakal yang digebuki ibunya!

Maklum bahwa dia tidak akan mampu menandingi nenek itu.

Hek-pang Sin-kai lalu meloncat jauh ke belakang dan tiba-tiba dia melontarkan tongkatnya.

Itulah ilmunya yang terakhir, yang diandalkan dan dilakukan di waktu dia telah tersudut dan kalah.

Selain untuk dapat menyerang dan membunuh lawan secara tiba-tiba, juga lontaran tongkat itu dipergunakan untuk melarikan diri, agar lawan tidak dapat melakukan pengejaran.

Tongkat meluncur dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya, menuju ke dada nenek Bu Ci Sian.

"Hemm....!"

Nenek itu menggerakkan suling emas di tangannya menyambut tongkat dan begitu tongkat yang meluncur itu bertemu suling, suling diputar dan tongkat itu berputaran menempel pada suling.

"Hyaaattt....!"

Nenek Bu Ci Sian menggerakkan sulingnya dan tongkat yang sudah terputar-putar melekat pada suling itu tiba-tiba meluncur balik ke arah pemiliknya yang sudah melarikan diri!

Akan tetapi, nenek itu mencari sasaran yang tidak mematikan dan tongkat itu dengan tepat menancap dan menembus paha kiri Hek-pang Sin-kai dari belakang!

Kakek jembel itu mengeluarkan teriakan kesakitan.

Akan tetapi saking takut kalau dikejar dan dibunuh, dia tetap berloncatan lari sambil terpincang-pincang, membawa lari tongkat yang menembus paha kirinya.

Sejak tadi, Sian Li mengikuti pertandingan itu dan diam-diam ia merasa girang bahwa nenek itu dapat mengalahkan kakek jembel yang jahat.

Akan tetapi, ia merasa kecewa melihat nenek itu membiarkan Si Bongkok jahat itu pergi.

"Nek, kenapa tidak kau bunuh saja kakek jembel jahat itu?"

Mendengar ucapan ini, nenek Bu Ci Sian menghampiri Sian Li dan alisnya berkerut.

"Kenapa dibunuh?"

Tanyanya.

"Dia jahat. Kalau engkau membunuhnya, berarti engkau membebaskan mereka yang akan menjadi korbannya di kemudian hari. Sekarang engkau malah membiarkan dia pergi. Tentu dia akan mencelakai banyak orang lagi dan kalau hal itu terjadi, berarti engkau pun ikut bersalah, Nek."

Nenek Bu Ci Sian terbelalak.

Anak ini sungguh cerdik, akan tetapi juga galak dan tak kenal ampun terhadap orang jahat.

Ia tersenyum, teringat akan wataknya sendiri di waktu muda.

"Anak baik, benarkah engkau cucu Kao Cin Liong dan Suma Hui? Sian Li memandang tajam.

"Apakah kau kira aku ini seorang yang suka berbohong?"

"Kalau benar, berarti kita ini bukan orang lain, anak yang baik. Engkau mengenal Suma Ceng Liong?"

"Tentu saja!"

Kata anak itu.

"Dia masih keluarga nenekku, adik nenekku, bahkan dia calon guruku."

"Ehh?"

Tentu saja nenek Bu Ci Sian menjadi heran mendengar pengakan itu.

"Engkau menjadi muridnya? Bagaimana pula ini?"

"Sebelum aku menceritakan hal itu, aku ingin tanya lebih dulu. Siapakah engkau, Nek?"

Nenek Bu Ci Sian kembali tersenyum. Anak ini memang cerdik dan berhati-hati.

"Engkau sudah mengenal Suma Ceng Liong, tentu mengenal pula isterinya."

"Tentu saja. Nenek Kam Bi Eng amat baik kepadaku ketika berkunjung ke rumah Kakek Kao Cin Liong dan kami bertemu disana.

"Nah, aku adalah nenek buyutmu, aku adalah ibu dari nenekmu Kam Bi Eng itulah."

"Aih, kiranya Nenek Buyut Bu Ci Sian!"

Kata Sian Li sambil cepat memberi hormat sambil berlutut. Nenek itu girang sekali, mengangkat bangun anak itu, dan memeluknya.

"Engkau bahkan sudah mengenalku?"

"Tentu saja. Sejak kecil Ayah dan Ibu sudah mendongeng kepadaku tentang Kakek Buyut Kam Hong yang berjuluk Pendekar Suling Emas, juga tentang Nenek Buyut. Sekarang baru aku melihat sendiri bahwa Nenek Buyut memang lihai bukan main, dengan mudah mengalahkan Hek-pang Sin-kai yang lihai dan jahat tadi."

"Sekarang ceritakan bagaimana kau dapat terculik pengemis itu, dan di mana adanya ayah ibumu."

Sian Li menceritakan tentang pengalaman ia dan ayah ibunya di kota Heng-tai, tentang persekutuan Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw yang mengadakan persekutuan jahat.

Karena Sian Li memang cerdik dan ia sudah mendengar dari ayah ibunya, ia dapat bercerita dengan jelas dan mendengar itu, wajah nenek Bu Ci Sian berubah tegang.

"Aihh, kalau begitu, ayah ibumu menghadapi urusan besar yang menyangkut keselamatan keluarga Kaisar. Pantas saja engkau diculik orang dan tidak kebetulan, yang menolongmu juga seorang tokoh sesat macam Hek-pang Sin-kai. Untung sekali agaknya Tuhan yang menuntunku pagi-pagi ini lewat di sini sehingga dapat melihat engkau dalam tawanan penjahat itu. Akan tetapi, apa artinya engkau tadi mengatakan bahwa Suma Ceng Liong akan menjadi calon gurumu?"

"Sebetulnya, aku bersama Ayah Ibu meninggalkan rumah sedang menuju ke Cin-an karena sudah tiba saatnya aku harus belajar ilmu dari Kakek Suma Ceng Liong seperti yang telah dijanjikan antara dia dan Ayah. Sebelum ke sana, Ayah dan Ibu mengajak aku berpesiar ke kota raja. Akan tetapi ketika tiba di kota Heng-tai, terjadi peristiwa itu."

"Aih, begitukah? Bagus sekali kalau begitu. Aku sendiri sedang dalam perjalanan menuju ke rumah anak dan mantuku itu."

"Akan tetapi, Ayah dan Ibu akan mencari-cariku, Nek. Mereka akan menjadi bingung. Sebaiknya kalau kita kembali dulu ke Heng-tai dan...."

"Berbahaya sekali, cucuku. Seperti ceritamu tadi, di sana penuh dengan orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw. Kalau sampai mereka melihatmu dan mereka mengeroyokku, bagaimana aku akan mampu melindungimu?"

"Aku tidak takut, Nek."

"Bukan soal takut atau tidak takut, cucuku. Akan tetapi, setelah kini engkau terbebas dari bahaya, apakah kita harus mendatangi bahaya lagi dan membiarkan engkau tertawan musuh? Kalau begitu, ayah dan ibumu tentu akan gelisah sekali. Sebaiknya, mari kuantar engkau ke Cin-an. Aku yakin ayah dan ibumu akan pergi ke sana pula. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mencari mereka ke Heng-tai, kemudian ke kota raja, dan kalau perlu aku akan berkunjung ke Ta-tung untuk memberitahu mereka bahwa engkau telah berada di Cin-an."

Akhirnya Sian Li menurut karena bagaimanapun juga, oleh ayah dan ibunya ia memang akan diantarkan ke Cin-an.

Berangkatlah mereka ke Cin-an dan mereka diterima dengan penuh kegembiraan oleh Suma Ceng Liong dan Isterinya, Kam Bi Eng.

"Ibu, kenapa Ayah tidak ikut?"

Kam Bi Eng bertanya.

Ditanya demikian, tiba-tiba wajah nenek itu menjadi murung.

Inilah yang dikhawatirkannya, namun sejak tadi ditahan-tahannya.

Ia seorang wanita yang tabah, akan tetapi ia khawatir bahwa anaknya yang akan menderita duka.

"Ibu, apa yang terjadi?"

Kam Bi Eng merangkul ibunya begitu melihat wajah ibunya menjadi murung setelah ia bertanya tentang ayahnya. Nenek itu menghela napas panjang.

"Engkau ingat berapa usia ayahmu tahun ini?"

"Sudah lebih dari delapan puluh tahun, Ibu. Bukankah dua tahun yang lalu kita memperingati ulang tahunnya yang ke delapan puluh?"

Kata Kam Bi Eng, masih mengamati wajah ibunya dengan khawatir.

"Engkau benar. Usianya sudah delapan puluh dua dan dia telah meninggalkan kita dengan tenang sebulan yang lalu...."

"Ibuuuu....!"

Kam Bi Eng menjerit sambil merangkul ibunya dan pecahlah tangisnya.

"Ibu, kenapa....? Kenapa Ibu diam saja? Kenapa aku tidak diberitahu?"

Ia bertanya di antara ratap tangisnya.

Nenek itu tidak ikut menangis, melainkan tersenyum lembut sehingga anaknya merasa heran memandangnya.

Juga Suma Ceng Liong memandang kepada ibu mertuanya, lalu bertanya dengan hati-hati.

"Akan tetapi, Ibu, kenapa kami tidak diberitahu tentang kematian Ayah?"

Nenek Bu Ci Sian mengusap kepala puterinya.

"Tenangkan hatimu, hentikan tangismu. Ini semua kehendak ayahmu. Dia sudah memesan agar begitu dia menghembuskan napas terakhir, aku segera mengurus jenazahnya yang harus dikebumikan pada hari kematiannya. Ini pesan ayahmu, dan juga dia berpesan agar perlahan-lahan aku memberitakan kematiannya kepadamu setelah lewat satu bulan."

"Tapi.... tapi mengapa....?"

Kam Bi Eng mencoba untuk menahan tangisnya.

"Engkau mengenal ayahmu. Kadang aku sendiri sukar mengikuti jalan pikirannya. Dia tidak ingin jenazahnya dibiarkan berminggu atau berhari-hari, membusuk sebelum dikubur. Dia juga tidak ingin ditangisi, diratapi karena menurut pendapatnya, orang yang meratapi yang mati sebenarnya hanya menangisi diri sendiri. Dapat dibayangkan betapa sedihku ketika terpaksa memenuhi permintaan terakhirnya itu, menguburkan jenazahnya tanpa dihadiri kalian dan kerabat dekat, hanya dihadiri para tetangga saja. Sampai matinya, ayahmu ingin sederhana, memperlihatkan kerendahan hatinya dengan tidak mau menonjolkan diri."

Mendengar suara yang mengandung kebanggaan itu, Kam Bi Eng merasa tidak tega untuk menangis lagi. Ia merangkul Ibunya.

"Baiklah, Ibu. Kalau begitu, kami akan pergi ke makam Ayah untuk bersembahyang."

Kemudian ia merangkul Sian Li dan bertanya kepada ibunya.

"Bagaimana tahu-tahu Sian Li dapat datang bersama Ibu? Apakah Ibu yang singgah di rumah Sin Hong dan Hong Li, dan mengajak anak ini ke sini?"

"Panjang ceritanya,"

Kata nenek itu.

"Secara kebetulan saja aku bertemu dengan Sian Li dan mendengar bahwa ia memang sedang diantar oleh ayah ibunya ke sini, maka aku lalu mengajaknya."

Nenek itu lalu menceritakan apa yang terjadi. Mendengar cerita itu, Suma Ceng Liong berseru.

"Aih, sungguh berbahaya sekali kalau Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw sampai berhasil menyusup ke dalam istana! Sin Hong dan Hong Li tentu menghadapi bahaya karena orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw banyak yang lihai."

"Hemm, apakah engkau ingin kita pergi ke kota raja dan menentang mereka?"

Tanya Bi Eng sambil memandang suaminya dengan penuh selidik.

Ceng Liong mengenal sinar mata isterinya dan dia pun menggeleng sambil menghela napas panjang.

"Kita tidak berkewajiban untuk melindungi Kaisar penjajah Mancu, akan tetapi bagaimana kita dapat tinggal diam saja kalau Sin Hong dan Hong Li terancam bahaya?"

"Tentu saja tidak. Mari kita berangkat sekarang juga untuk mencari mereka,"

Kata isterinya penuh semangat.

"Tidak usah kalian sibuk,"

Kata nenek Bu Ci Sian.

"Aku yang akan mencari mereka. Aku memang sengaja mengantar Sian Li ke sini, kemudian aku akan kembali ke kota raja dan mencari mereka."

"Aih, Ibu sudah tua dan baru saja datang setelah melakukan perjalanan jauh. Biar Ibu beristirahat di sini ditemani Sian Li dan Sian Lun. Kami yang akan mencari mereka."

"Sian Lun? O ya, cucu muridku itu, di mana dia?"

Nenek itu bertanya dan memandang ke kanan kiri.

Hampir ia lupa bahwa puteri dan mantunya mempunyai seorang murid, dan ia sendiri sayang kepada murid yang sudah dianggap sebagai anak angkat oleh Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng itu.

Suami Isteri itu agaknya baru teringat dan Bi Eng lalu menoleh ke arah dalam lalu berteriak.

"Sian Lun....! Di mana engkau? Kesinilah, nenekmu datang!"

Dari arah belakang terdengar jawaban "Teecu datang, Subo!"

Dan tak lama kemudian muncullah seorang pemuda remaja yang gagah perkasa.

Pemuda ini biarpun baru berusia lima belas tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi besar seperti seorang dewasa.

Wajahnya yang tampan itu cerah, sepasang matanya bersinar-sinar dan mulutnya membayangkan senyum, akan tetapi dia pendiam dan sopan.

Begitu tiba di situ, dia memberi hormat sambil berlutut ke arah nenek Bu Ci Sian.

"Nenek, selamat datang dan terimalah hormat saya."

Nenek itu memandang dengan wajah berseri, lalu menyentuh pundak anak muda itu dan menyuruhnya bangun berdiri.

"Cukup, Sian Lun. Wah, engkau kini sudah kelihatan dewasa!"

"Terima kasih, Nek."

Pemuda itu lalu memberi hormat kepada suhu dan subonya.

"Harap Suhu dan Subo maafkan teecu. Karena melihat nenek datang bersama tamu, meka teecu tidak berani ke luar, takut mengganggu pembicaraan penting."

"Ah, tamu ini bukan orang lain, Sian Lun,"

Kata Kam Bi Eng.

"Ia bernama Tan Sian Li. Puteri keponakan kami Tan Sin Hong dan Kao Hong Li di Ta-tung. Sian Li, perkenalkan, ini murid kami bernama Liem Sian Lun."

Dua orang remaja itu berdiri dan saling pandang.

Sian Lun mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan, dibalas oleh Sian Li dan gadis cilik ini memandang kepada Suma Ceng Liong lalu berkata dengan suaranya yang nyaring.

"Ku-kong (Paman Kakek), aku harus menyebut dia bagaimana? Mengingat dia murid Kakek den Nenek, sepatutnya aku menyebutnya Su-siok (Paman Guru)...."

Suma Ceng Liong tertawa.

"Memang seharusnya engkau menyebut dia paman, mengingat bahwa dia murid kami dan engkau cucu kami. Akan tetapi, karena engkau juga akan belajar ilmu dari kami, berarti engkau menjadi murid kami pula dan kalian adalah saudara seperguruan."

Wajah Sian Li berseri.

"Aih, kalau begitu aku boleh menyebutnya Suheng (Kakak Seperguruan)! Memang aku lebih senang menyebutnya Suheng, karena dia hanya sedikit lebih tua dariku. Kami lebih pantas menjadi saudara seperguruan daripada menjadi paman dan keponakan murid. Suheng, terimalah hormatku!"

Katanya sambil menghadapi Sian Lun. Semua orang tersenyum dan Sian Lun dengan sikap tersipu membalas penghormatan itu.

"Sumoi...."

Katanya lirih.

Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng lalu menekankan lagi keinginan mereka kepada nenek Bu Ci Sian, dan akhirnya nenek ini menyetujui bahwa suami isteri itu yang akan mencari Tan Sin Hong dan Kao Hong Li ke kota raja dan membantu mereka menghadapi para penjahat kalau diperlukan, Sedangkan nenek itu tinggal di rumah bersama Sian Li dan Sian Lun.

Karena Sian Li selalu mengkhawatirkan keselamatan ayah ibunya, maka hari itu juga Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng berangkat meninggalkan rumah mereka, menuju ke kota raja, melakukan perjalanan secepatnya.

Akan tetapi, tiga hari kemudian, mereka telah kembali bersama Sin Hong dan Hong Li!

Tentu saja Sian Li gembira bukan main melihat ayah ibunya datang.

Juga suami isteri itu gembira melihat Sian Li yang tadinya mereka khawatirkan karena anak itu lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Kiranya, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li setelah selesai urusan di istana, juga sedang melakukan perjalanan menuju ke Cin-an karena tidak berhasil menemukan jejak anak mereka.

Di dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng.

Tentu saja kedua pihak merasa gembira, terutama sekali Sin Hong dan Hong Li yang mendengar bahwa anak mereka dalam keadaan selamat dan kini berada di rumah paman mereka itu.

Pertemuan yang membahagiakan itu mereka rayakan dengan pesta keluarga, walaupun berita tentang meninggalnya kakek Kam Hong sempat membuat mereka termenung dan berduka.

Demikianlah, setelah beberapa hari tinggal di rumah Suma Ceng Liong, pada suatu hari mereka semua, termasuk Sian Li dan Sian Lun, pergi ke puncak Bukit Nelayan di mana berdiri Istana Kuno Khong-sim Kai-pang untuk bersembahyang di depan makam mendiang pendekar sakti Kam Hong yang dikubur di taman belakang istana kuno itu.

Kam Bi Eng membujuk ibunya yang sudah berusia enam puluh tujuh tahun untuk ikut dengannya tinggal di Cin-an.

Akan tetapi nenek itu menolak sambil tersenyum.

"Bi Eng, tidak tahukah engkau betapa ibumu ini tidak mungkin berpisah dari mendiang ayahmu? Kini ayahmu hanya tinggal menjadi segunduk tanah di taman belakang. Biarlah aku tinggal di sini menghabiskan sisa hidupku dan kalau aku mati, aku ingin dikubur di sebelah makam ayahmu."

Biarpun hatinya merasa berat, terpaksa Kam Bi Eng meninggalkan ibunya seorang diri di istana kuno itu, hanya ditemani oleh seorang pelayan wanita.

Ia kembali ke Cin-an bersama suaminya, Suma Ceng Liong, dan kedua orang anak remaja itu, Sian Lun dan Sian Li.

Adapun Tan Sin Hong dan Kao Hong Li juga berpamit dan berpisah dari anak mereka setelah menitipkan anak itu kepada paman dan bibi mereka untuk dididik ilmu.

Mereka kembali ke Ta-tung setelah mereka berjanji kepada anak mereka bahwa selama lima tahun anak itu belajar ilmu di Cin-an, setiap tahun baru mereka akan datang berkunjung.

"Suhu, bagaimana keadaan Suhu?"

Pemuda itu bersila di dekat tubuh yang tergolek di atas lantai tanah keras dan dia meletakkan telapak tangan kirinya di atas dada itu.

Kakek itu menghela napas panjang.

"Saat terbebas dari segala penderitaan hidup bagiku telah tiba. Tidak ada obat di seluruh dunia ini yang akan dapat memperpanjang usia manusia yang sudah tiba di garis akhirnya."

"Tapi, Suhu....!"

"Hushhh! Tidak senangkah hatimu melihat gurumu, satu-satunya orang di dunia ini yang mencintamu, terbebas dari hukuman yang membuat hidupnya amat sengsara ini? Inginkah engkau melihat hukuman dan siksaan terhadap gurumu diperpanjang lebih lama lagi?"

Pemuda itu menunduk.

Dia seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang bertubuh sedang dan tegap.

Wajahnya lonjong dengan dagu meruncing dan berlekuk, alisnya tebal berbentuk golok, dahinya lebar, hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan keramahan dan kelembutan walaupun dagu yang berlekuk itu membayangkan ketabahan tanpa batas, Pakaiannya sederhana seperti pakaian petani namun bersih, dan ikat pinggang yang diikatkan kuat-kuat itu memperlihatkan bentuk pinggang yang ramping.

Tubuhnya padat walau tidak memperlihatkan kekuatan otot.

Rambutnya hitam dan panjang, diikat secara sederhana saja dan dibiarkan tergantung di belakang punggung.

Dilihat sepintas lalu, dia seorang pemuda biasa saja, seperti seorang di antara ribuan pemuda seperti dia di perkampungan, pemuda petani atau pemuda yang bekerja kasar.

Bukan seorang pemuda hartawan atau pemuda bangsawan, apalagi terpelajar.

Akan tetapi kalau orang melihat dengan perhatian, akan nampak bahwa sinar matanya mencorong namun lembut, dan dalam setiap gerak-geriknya terdapat ketenangan dan kemantapan yang mengagumkan.

Kalau pemuda itu nampak seperti pemuda dusun biasa, kakek yang rebah telentang itu sama sekali tidak dapat dibilang seperti kakek biasa, bahkan juga tidak seperti manusia biasa pada umumnya.

Kakek itu hanya terdiri dari kepala, leher dan badan saja.

Tanpa kaki tanpa tangan!

Rambut putih panjang itu lebih panjang dari badannya dan kini menyelimutinya seperti sehelai selimut kapas.

Mereka berdua pun bukan berada di sebuah pondok atau rumah, melainkan berada di dasar sumur!

Pemuda itu bukan lain adalah Yo Han, sedangkan kakek buntung kaki dan lengannya itu adalah kakek Ciu Lam Hok, kakek sakti dalam sumur yang menjadi guru terakhir Yo Han.

Ketika pertama kali memasuki sumur di dalam guha sebelah belakang sarang Thian-li-pang di mana Thian-te Tok-ong, tokoh besar Thian-li-pang bertapa, Yo Han berusia lima belas tahun.

Kini dia telah berusia dua puluh tahun.

Ini berarti bahwa dia telah tinggal di dalam sumur itu selama lima tahun.

Setiap hari dia digembleng ilmu yang aneh-aneh oleh kakek yang buntung kaki dan lengannya itu sehingga tanpa disadarinya sendiri, Yo Han telah menguasai ilmu yang amat hebat.

Dia kini sudah menyadari bahwa dia dilatih ilmu silat yang amat hebat.

Karena dia mulai dapat melihat bahwa baik buruknya ilmu tergantung dari manusia yang menggunakannya, Maka dia tidak lagi menolak dan bahkan mempelajari ilmu-ilmu yang diajarkan gurunya dengan tekun dan penuh semangat.

Dia hanya akan mempergunakan ilmu-ilmu itu demi kebaikan, bukan untuk mencelakai orang.

Dalam waktu empat tahun, Yo Han telah menguasai ilmu-ilmu yang menjadi dasar, bahkan kini dia dapat melihat betapa apa yang tadinya dianggap ilmu "tari"

Dan "senam"

Yang dipelajarinya dari Thian-te Tok-ong, sesungguhnya merupakan ilmu silat yang hebat.

Dan di bawah bimbingan kakek buntung, semua ilmu itu telah dapat dilatihnya dan di perdalam sehingga matang.

Kemudian, setahun yang lalu, selama setahun penuh kakek aneh itu menurunkan ilmunya yang dikatakan sebagai ilmu segala ilmu silat tinggi, diberi nama Bu-kek-hoat-keng yang pernah diperebutkan oleh seluruh tokoh dunia persilatan.

"Bahkan karena ilmu inilah aku disiksa oleh dua orang Suhengku. Mereka begitu menginginkan ilmu Bu-kek-hoat-keng ini sehingga mereka tega untuk membuntungi kaki tanganku, dan menyiksaku di dalam sumur. Kini, ilmu itu telah kuwariskan kepadamu Yo Han. Hatiku lega sudah dan kuharap, dengan ilmu ini engkau akan memulih-kan nama baik Thian-li-pang, dapat mencuci bersih Thian-li-pang dari unsur-unsur jahat, menjadikan perkumpulan itu sebagai perkumpulan para pahlawan yang berjuang demi tanah air dan bangsa."

Demikianlah katanya setelah dia mengajarkan seluruh ilmu itu kepada Yo Han.

Selama setahun barulah Yo Han dapat menguasai ilmu itu dengan baik, hanya tinggal mematangkannya melalui latihan saja.

Dan semenjak menurunkan ilmu itu kesehatan kakek Ciu Lam Hok mundur sekali.

Dia jatuh sakit dan biarpun Yo Han sudah membantunya dengan penggunaan ilmu Bu-kek-hoat-keng yang dapat pula dipergunakan untuk melancarkan jalan darah dengan menyalurkan tenaga sakti dari ilmu itu yang amat dahsyat, Namun karena usia tua ditambah penderitaan dari siksaan yang luar biasa, kakek itu tetap saja menjadi lemah dan sakit-sakitan.

Penderitaan yang ditanggung kakek Ciu Lam Hok memang luar biasa.

Kalau bukan dia yang telah menguasai ilmu Bu-kek-hoat-keng, kiranya tidak mungkin dapat bertahan sampai sepuluh tahun lebih di dalam sumur itu!

Demikianlah, pada hari itu, Yo Han merasa bersedih melihat keadaan gurunya semakin payah.

Ketika dia menempelkan telapak tangannya pada dada gurunya, tahulah dia bahwa jantung gurunya bekerja lemah sekali.

Sungguh amat mengherankan.

Ketika gurunya melatih Bukak-hoet-keng, gurunya demiklan penuh semangat dan tidak mengenal lelah.

Kini, seolah-olah tenaganya habis setelah setahun penuh melatih ilmu itu.

Ketika dia mendengar ucapan gurunya yang terakhir dia pun menunduk.

"Suhu memang berkata benar. Akan tetapi, Suhu, hidup kita sudah dicengkeram dan dipengaruhi oleh peradaban dan tatasusila yang sudah diterima oleh semua orang. Bagaimana mungkin teecu mengemukakan kata hati melalui mulut, mengatakan bahwa teecu akan lebih senang melihat Suhu terbebas dari siksaan melalui kematian? Seluruh dunia akan mengutuk teecu kalau teecu berani mengatakan hal seperti itu."

Mendengar ini, kakek itu masih dapat tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha, aku sejak dulu tahu bahwa engkau hebat, muridku. Matamu yang ke tiga selalu terbuka sehingga engkau lebih awas, lebih waspada daripada orang biasa. Engkau melihat segalanya seolah menembus dan engkau dapat melihat intinya. Engkau melihat segala kepalsuan yang dilakukan manusia! Ha-ha-ha, dibandingkan engkau, aku ini bukan apa-apa. Kalau engkau sudah tahu, aku akan mati dengan mata terpejam dan tidak ada rasa penasaran apa pun. Ya, Tuhan, hamba telah siap!"

Kata kakek itu dan kembali dia tertawa bergelak.

Akan tetapi, suara ketawanya itu makin lama semakin surut dan akhirnya berhenti sama sekali.

Kedua matanya terpejam.

Yo Han cepat meraba dada gurunya kembali dan tahulah dia bahwa tubuh itu telah menjadi mayat.

Dia menunduk dengan sikap hormat untuk menghormati jenazah suhunya.

Dia tidak menangis, tidak perlu berpura-pura karena di situ tidak ada orang lain, juga karena suhunya ini, biarpun kaki tangannya buntung, Namun kewaspadaannya tidak buntung dan suhunya tahu bahwa andaikata dia menangisi kematian suhunya, maka tangisnya itu palsu.

Tangisnya itu bukan bersedih untuk suhunya, melainkan bersedih karena dirinya sendiri, karena ditinggal, karena kehilangan.

Bahkan mungkin tangisnya terdorong perasaan agar tidak menganggap diri sendiri keterlaluan, tidak mengenal budi!

Dia tidak menangis, karena memang tidak ada hal yang perlu ditangisi, tidak ada hal yang perlu disedihkan.

Bahkan kalau dia mau jujur, ada perasaan lega dalam hatinya bahwa gurunya, yang diam-diam amat dikasihinya itu, kini bebas dari penderitaan.

Selain itu, dengan meninggalnya kakek itu, berarti dia bebas pula untuk meninggalkan sumur itu!

Gurunya pernah berpesan agar kalau dia mati, jenazahnya diletak-kan di lantai kamar yang kecil dan yang terlindung atasnya, merupakan guha batu dalam sumur itu.

"Engkau tahu, tempat itu amat kusukai. Setiap kali melakukan siu-lian (samadhi) aku selalu menggunakan kamar itu. Biarlah aku beristirahat di kamar itu selamanya, maksudku, badanku,"

Demikian pesannya.

Dengan hati dipenuhi rasa iba terhadap kakek yang meninggal di tempat terasing itu, tanpa ada yang berkabung, tanpa disembahyangi, tanpa di jenguk keluarga maupun kawan, Yo Han memondong tubuh tanpa kaki tanpa lengan itu dan membawanya ke dalam guha, merebahkannya di dalam guha itu.

Kemudian dia mengumpulkan semua bahan yang masih ada, roti dan daging kering, beberapa potong pakaian, dan dia tidak lupa mengambil beberapa potong batu emas dari dinding sumur dan memasuk-kan semua itu dalam buntalan.

Kemudian, dia pun mengikatkan buntalan di punggungnya, dan memasu-ki guha, berlutut di depan jenazah gurunya.

"Suhu, sesuai dengan pesan terakhir Suhu, teecu mem-baringkan jenazah Suhu di sini, dan sesuai pula dengan perintah Suhu, teecu segera meninggalkan tempat ini untuk melaksanakan pesan Suhu. Suhu untuk terakhir kalinya, teecu menghaturkan terima kasih melalui ucapan yang keluar dari sanubari teecu."

Dia memberi hormat delapan kali di dekat jenazah gurunya, kemudian dia keluar dari dalam guha kecil.

Sekali lagi dia meneliti di sepanjang dinding sumur dan terowongan.

Setelah yakin bahwa tidak ada sisa coretan dan lukisan yang dibuat suhunya dengan sepotong besi yang digigitnya, untuk menggambarkan pelajaran Bu-kek-hoat-keng yang amat sulit, baru Yo Han menuju ke dasar sumur dan merayap naik.

Dengan tingkat kepandaiannya yang sekarang, mudah saja dia merayap naik, seperti orang mendaki tangga saja.

Dengan cepat tibalah dia di dalam guha di atas tanah, guha yang menjadi jalan masuk ke sumur itu.

Dia mendengar suara orang lapat-lapat dari dalam guha yang tertutup semak-semak yang rimbun dan penuh duri.

Maka, dia pun menanti di guha itu, duduk dengan santai sambil melamun.

Dia mengingat kembali pesan terakhir dari gurunya.

Pertama-tama, dia dipesan untuk pergi mencari keluarga gurunya.

Menurut kakek Ciu Lam Hok, dia berasal dari keluarga kerajaan!

Ayahnya seorang panglima yang membantu perkembangan kerajaan baru Mancu.

Karena dia gagah perkasa dan berjasa besar, maka dia menerima hadiah yang besar, diangkat menjadi panglima, bahkan dinikahkan dengan seorang puteri adik Kaisar Kang Hsi.

Akan tetapi karena melihat bangsa Mancu yang tadinya berjanji akan memperbaiki nasib rakyat melanggar janji, banyak di antara pejabatnya yang bahkan menindas rakyat dan menghina rakyat Han, maka Ciu Wan-gwe, Jenderal Ciu Kwan menjadi marah dan membera-nikan diri untuk mengajukan protes keras.

Melihat ini, Kaisar marah dan dia pun ditangkap, dituduh memberontak dan dihukum mati.

Ciu Kwan yang beristeri seorang puteri Mancu itu mempunyai dua orang anak.

Yang pertama adalah Ciu Lam Hok, sedangkan yang ke dua seorang wanita bersama Ciu Ceng.

Sejak muda, Ciu Lam Hok mewarisi watak ayahnya, yaitu berdarah pendekar dan pembela rakyat.

Biarpun ibunya dan dia bersama adik perempuannya diampuni Kaisar dan tidak ikut dihukum, namun diam-diam Ciu Lam Hok mendendam kepada Kerajaan Mancu.

Dia pun meninggalkan ibunya yang masih tinggal di istana, karena puteri adik Kaisar itu diampuni dan masih dianggap keluarga istana.

Ciu Lam Hok amat mencinta adiknya, akan tetapi terpaksa dia meninggalkan ibu dan adiknya karena dia tidak sudi tinggal di dalam istana, bahkan dia menaruh dendam atas kematian ayahnya yang dianggapnya sebagai seorang pahlawan besar.

Demikianlah, setelah puluhan tahun lamanya mempelajari ilmu silat dengan amat tekun, bersama dua orang suhengnya Ciu Lam Hok mendirikan Thian-li-pang yang maksudnya untuk menentang kekuasaan pemerintah penjajah Mancu.

Akan tetapi, seperti pernah diceritakan kakek sakti itu kepada muridnya, dua orang suhengnya setelah bergaul dengan orang-orang Pek-lian-kauw yang menamakan diri mereka pejuang pula, mulai menyeleweng kejalan sesat.

Dia menentang mereka dan akhirnya dia disiksa dan menderita selama bertahun-tahun di dalam sumur.

Seringkali kakek buntung itu mengenang keluarganya dan dia merasa rindu sekali kepada ibunya, terutama sekali adik perempuannya karena dia dapat menduga bahwa ibunya tentu telah amat tua dan telah meninggal dunia.

Karena rindunya maka dia membebankan tugas di pundak muridnya agar setelah muridnya keluar dari dalam sumur, pertama-tama Yo Han harus mencari adiknya yang bernama Ciu Ceng, seorang puteri, di istana dan mengenal keluarga adiknya itu.

Bahkan dia meninggalkan pesan bahwa Yo Han harus melakukan sesuatu yang baik bagi keluarga Ciu Ceng sebagai tanda kasih sayang kakek Ciu kepada adiknya.

Kalau perlu, Yo Han harus melindungi keluarga Ciu Ceng dengan taruhan nyawa!

"Pesanku ini merupakan tanda kasih sayangku yang terakhir untuk adikku, saudara kandungku yang tunggal itu, maka aku sungguh mengharapkan engkau akan melaksanakannya dengan baik, Yo Han,"

Demikian kakek itu menutup pesannya yang pertama.

Pesan ke dua gurunya adalah bahwa setelah dia menyelesaikan tugas pertama, dia harus pergi mencari Mutiara Hitam, Yaitu sebuah pusaka berupa mutiara yang berwarna hitam dan yang mempunyai khasiat yang amat hebat.

Mutiara itu pernah dimiliki kakek Ciu, akan tetapi dalam perebutan dengan tokoh-tokoh dunia persilatan, benda mustika itu lenyap dan kabarnya dikuasai oleh seorang kepala suku Miao di selatan.

Yo Han mendapat tugas untuk mencari dan merampas kembali benda itu yang bukan saja amat penting karena khasiatnya, juga hal ini untuk mengangkat kembali nama besar Ciu Lam Hok sebagai seorang tokoh besar dunia persilatan.

Adapun pesan ke tiga dari gurunya adalah agar dia membersihkan Thian-li-pang dari tangan-tangan kotor dan mengembalikan kedudukan Thian-li-pang sebagai perkumpulan orang-orang gagah yang hendak membebaskan rakyat dari tangan penjajah Mancu berdasarkan kebenaran dan keadilan, tidak dibawa menyeleweng seperti sekarang ini.

"Aku tahu, kedua suhengku itu menyeleweng setelah mereka bergaul dengan orang-orang Pek-lian-kauw. Karena itu, Thian-li-pang harus dibersihkan dari pengaruh Pek-lian-kauw dan menjadi perkumpulan para pahlawan, para patriot kembali. Di antara para murid Thian-li-pang masih banyak yang bersih, hanya mereka takut kepada pimpinan mereka yang sudah dicengkeram pengaruh Pek-lian-kauw. Bersihkan Thian-li-pang, muridku. Sesungguhnya untuk Thian-li-pang maka aku menderita seperti ini. Kalau engkau berhasil membersihkan Thian-li-pang, berarti bahwa semua penderitaanku ini tidak sia-sia."

Yo Han mengepal tinjunya.

Dia harus melaksanakan pesan ini lebih dahulu.

Apa pun resikonya, dia harus dapat dan mampu membersihkan Thian-li-pang.

Apalagi, dia memang berada di daerah Thian-li-pang, maka untuk sementara dia harus melupakan dua tugas yang lain, dan berusaha untuk melaksanakan tugas membersihkan Thian-li-pang dari pengaruh jahat.

Setelah orang-orang Thian-li-pang yang lewat di depan guha itu menjauh, dia pun menyelinap keluar dari guha dan dari balik semak-semak dia melihat betapa Thian-li-pang agaknya sedang melakukan suatu kegiatan karena berbondong-bondong para anggautanya menuju ke pekarangan rumah induk.

Dia sudah mengenal baik tempat itu dan tahu bahwa tentu ada pertemuan besar di pekarangan.

Hanya kalau ada rapat besar yang melibatkan seluruh anggauta, Maka pertemuan itu diadakan di pekarangan yang luas di depan rumah induk.

Dia pun menyusup mendekat dan mengintai.

Memang benar dugaan Yo Han.

Pada hari itu diadakan pertemuan penting di Thian-li-pang.

Semua anggauta yang berada di pusat, yang jumlahnya tidak kurang dari dua ratus orang, berkumpul di pekarangan yang luas itu.

Anggauta Thian-li-pang tersebar di banyak tempat, puluhan ribu orang jumlahnya, terbagi dalam cabang-cabang dan ranting-ranting.

Kini yang hadir dalam rapat adalah ketua-ketua cabang, kepala-kepala ranting, dan para anggauta di pusat.

Pertemuan itu amat penting karena selain dihadiri ketuanya, yaitu Ouw Ban dan wakilnya, yaitu Lauw Kang Hui, juga dihadiri pula oleh dua orang kakek yang selama ini jarang muncul dan mereka menjadi penasehat dan pujaan para pimpinan Thian-li-pang, Yaitu Ban-tok Mo-ko guru ketua dan wakil ketua, dan suhengnya, yaitu Thian-te Tok-ong yang selama bertahun-tahun bersembu-nyi dan bertapa di dalam guha.

Kalau dua orang ini sampai muncul di dalam rapat itu, tentu rapat itu istimewa sekali.

Dan hadir pula di situ dua orang tokoh Pek-lian-kauw sebagai tamu undangan, yaitu Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu, dua orang yang sudah lama bekerja sama dengan Thian-li-pang bersama Ang I Moli.

Setelah semua orang hadir lengkap, Ouw Ban sebagai Ketua Thian-li-pang menceritakan dengan singkat akan kegagalan usaha mereka untuk membunuh para pengeran di Istana.

Bahkan dalam usaha itu, puteranya, Ouw Cun Ki, dan juga Ang I Moli tokoh Pek-lian-kauw, ditangkap dan dihukum mati, bersama banyak anggauta Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw yang menyusup sebagai anak buah Ouw Cun Ki.

"Kita tidak boleh membiarkan saja kejadian itu!"

Ouw Ban berseru dengan suara keras karena hatinya diliputi kemarahan dan kedukaan atas kematian puteranya.

"Kita akan mengumpulkan kekuatan dan kita serbu istana, kita bunuh Kaisar dan seluruh keluarganya!"

Ucapan penuh semangat itu disambut sorakan gegap gempita oleh para anggauta Thian-li-pang.

Juga dua orang tosu Pek-lian-kauw bertepuk tangan gembira dan setelah sorakan itu mereda, Kwan Thian-cu yang bertubuh gendut itu tertawa.

"Ha-ha-ha, sungguh gagah sekali Pangcu dari Thian-li-pang! Memang pendapatnya itu tepat sekali. (Lanjut ke

Jilid 14) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 Perjuangan kita takkan berhasil sebelum kita membunuh Kaisar Kian Liong dan para pangeran.

Kalau mereka terbunuh, tentu pemerintahan mereka akan kacau dan kita pergunakan kesempatan itu untuk mengerahkan pasukan menghancurkan mereka!"

Kembali ucapan ini disambut sorakan.

"Hancurkan penjajah Mancu!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Diam....!"

Semua orang terdiam memandang orang yang mengeluarkan bentakan nyaring itu.

Yang membentak adalah Ban-tok Mo-ko.

Biarpun kakek yang usianya sudah delapan puluh tiga tahun ini biasanya halus dan ramah, namun bentakannya mengandung getaran kuat sehingga semua orang terdiam dan suasana menjadi hening sehingga suaranya terdengar cukup jelas walaupun suara itu lembut.

"Ouw Ban,"

Kata Ban-tok Mo-ko dengan suara yang berpengaruh.

"Sebelum engkau mengemukakan usul baru, sebaiknya kalau kita membicarakan tentang kedudukanmu sebagai ketua. Tahukah engkau mengapa sekali ini aku sampai ikut menghadiri pertemuan ini, bahkan Suheng Thian-te Tok-ong juga keluar dari guhanya?"

Ouw Ban memandang wajah gurunya dengan alis berkerut dan sinar mata penuh pertanyaan.

"Teecu tidak mengerti apa yang Suhu maksudkan."

"Ouw Ban, apakah engkau masih belum menyadari kesalahanmu? Sebagai ketua engkau tidak becus! Semua langkah yang kau ambil telah gagal, bahkan merugikan Thian-li-pang yang kehilangan banyak murid. Dan sekarang engkau malah hendak membunuh lebih banyak murid Thian-li-pang lagi dengan menyuruh mereka menyerbu istana?"

Ouw Ban nampak penasaran sekali.

"Akan tetapi, Suhu. Semua ini teecu lakukan demi perjuangan!"

"Hemm, perjuangan bukan sekedar menuruti dendam dan kemarahan. Harus dengan perhitungan. Akan tetapi sepak terjangmu ngawur. Sejak engkau menyelundupkan Ciang Sun ke istana, menghubungi Siang Hong-houw, engkau banyak melakukan kesalahan yang merugikan perjuangan kita. Dan sekarang engkau akan menyuruh banyak murid buhuh diri dengan menyerbu istana yang terjaga kuat sekali? Ouw Ban, karena engkau muridku, aku menjadi malu. Engkau tidak patut menjadi Ketua Thian-li-pang!"

Wajah Ouw Ban menjadi merah.

Dia sedang berduka karena kematian putera tunggalnya, karena kegagalan usahanya membunuh para pangeran, dan kini gurunya bahkan mamarahinya di depan semua ketua cabang dan kepala ranting, bahkan di depan dua orang tokoh Pek-lian-kauw!

Dia teringat bahwa dialah Ketua Thian-li-pang sehingga di dalam perkumpulan itu, dia orang pertama yang paling tinggi kedudukannya, bahkan lebih tinggi dari kedudukan gurunya dan supeknya yang hanya merupakan penasihat!

"Suhu lupa bahwa akulah Ketua Thian-li-pang!"

Katanya. Suaranya kini kasar dan penuh kemarahan.

"Aku berhak memutuskan apa yang harus dilakukan oleh Thian-li-pang, dan aku sudah mengambil keputusan untuk menyerbu istana, membunuh Kaisar Kian Liong! Tidak ada seorang pun yang boleh menghalangi rencanaku ini!"

Semua orang terkejut dan memandang dengan hati tegang melihat timbulnya pertentangan antara guru dan murid ini.

Ouw Ban memandang kepada gurunya dengan mata bersinar-sinar.

"Ouw Ban, engkau hanya menuruti perasaan hatimu yang penuh dendam sakit hati karena kematian anakmu! Engkau sudah bertindak demi kepentingan diri pribadi, bukan lagi untuk kepentingan Thian-li-pang!"

"Ha-ha-ha-ha, Sute Ban-tok Mo-ko, muridmu ini memang sudah tidak patut lagi menjadi Ketua Thian-li-pang. Singkirkan saja dia dan ganti dengan murid lain!"

Kata Thian-te Tok-ong.

Mendengar ini, Ouw Ban menjadi semakin marah.

Biarpun dia menghormati suhu dan supeknya, akan tetapi sekarang dia adalah seorang ayah yang mendendam karena kematian puteranya.

Dia memang maklum akan kelihaian suhu dan supeknya, dan takut kepada mereka.

Akan tetapi sekarang, melihat keinginannya membalas dendam kematian puteranya dihalangi, bahkan kedudukannya sebagai Ketua Thian-li-pang, akan digeser, dia tidak mengenal takut lagi.

Apa pula suhu dan supeknya adalah dua orang kakek yang sudah tua renta, betapa pun lihainya, tentu sekarang sudah lemah, pikirnya.

Bangkitlah dia dari tempat duduknya dan dia menghadapi suhu dan supeknya.

"Aku diangkat menjadi Ketua Thian-li-pang oleh semua ketua cabang dan kepala ranting, juga oleh semua anggauta setelah aku menunjukkan bahwa akulah yang paling kuat dan paling tepat menjadi ketua. Kalau sekarang ada yang ingin mencopot aku dari kedudukan ketua siapapun juga dia, harus dapat mengalahkan dan merobohkan aku!"

"Heh-heh-heh-heh, muridmu ini memang bejat, Sute! Biar aku yang menghajarnya!"

Wajah Ban-tok Mo-ko menjadi pucat, lalu merah sekali.

Dia adalah seorang datuk yang biasanya bersikap halus dan ramah, akan tetapi saat ini dia benar amat marah.

Dia melangkah maju menghadapi muridnya dan berkata kepada suhengnya.

"Suheng, dia muridku, maka akulah yang bertanggung jawab atas penyelewengannya. Aku yang harus menghajarnya. Ouw Ban, engkau murid murtad, cepat berlutut dan menerima hukuman!"

Akan tetapi Ouw Ban yang sudah marah sekali tidak mau berlutut, bahkan menatap wajah suhunya dengan berani.

Suhunya sudah berusia delapan puluh tiga tubuhnya sudah nampak kurus dan lemah sehingga dia sama sekali tidak merasa gentar.

Apalagi dia tahu bahwa hampir seluruh ilmu yang dikuasai suhunya sudah dipelajarinya.

"Memang, aku adalah murid Suhu, akan tetapi di Thian-li-pang, bahkan Suhu harus tunduk terhadap perintah Ketua Thian-li-pang!"

"Ouw Ban, berani engkau menentang dan melawan gurumu?"

Sekali lagi Ban-tok Mo-ko membentak.

"Kalau terpaksa, siapa pun akan kulawan. Aku harus memperta-hankan kedudukanku sebagai ketua dengan taruhan nyawa!"

"Kalau begitu, engkau akan mati di tanganku sendiri, Ouw Ban!"

Kata kakek itu dan tiba-tiba dia menyerang dengan tamparan tangan kirinya.

Ouw Ban memang sudah siap siaga, maka dia pun menangkis dan balas menyerang!

Semua orang memandang dengan hati tegang.

Tak ada seorang pun berani mencampuri atau melerai karena kedua orang itu adalah guru dan murid, bahkan Ketua Thian-li-pang dan seorang tokoh tua perkumpulan itu.

Namun, jelas nampak bahwa usia tua membuat Ban-tok Mo-ko kewalahan menghadapi muridnya.

Muridnya itu pun sudah tua, usia Ouw Ban sudah tujuh puluh tiga, Akan tetapi gurunya sepuluh tahun lebih tua dan kalau Ouw Ban masih giat bergerak dan berlatih silat, Ban-tok Mo-ko, lebih banyak bersamadhi dan tidak pernah berlatih.

Oleh karena itu, walaupun dalam hal tenaga sin-kang Ban-tok Mo-ko masih kuat, namun dia kehilangan kegesitannya dan kalah cepat oleh muridnya sehingga tak lama kemudian dia terdesak oleh muridnya itu!

Ketika untuk kesekian kalinya Ban-tok Mo-ko meloncat ke belakang menghindar dari desakan muridnya, Ouw Ban mengeluarkan bentakan nyaring, kedua tangannya berubah merah den dia pun memukul ke depan dengan dorongan kedua tangan terbuka.

Itulah ilmu pukulan Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) yang amat dahsyat!

Melihat ini, Ban-tok Mo-ko juga mengerahkan sin-kangnya dan menggunakan ilmu pukulan yang sama, menyambut dorongan, kedua tangan itu.

"Plakkk!"

Dua pasang tangan itu saling bertemu dan telapak tangan mereka saling melekat.

Keduanya mengerahkan tenaga sin-kang, saling dorong dan sebentar saja nampak uap mengepul dari kepala mereka, tanda bahwa mereka telah mengerahkan seluruh tenaga sin-kang mereka.

Suasana menjadi semakin tegang karena semua orang tahu bahwa guru dan murid ini sedang mati-matian mengadu sin-kang yang berarti mereka mengadu nyawa.

Yang kalah kuat akan roboh den tewas!

Akan tetapi tiba-tiba Thian-te Tok-ong bergerak ke depan dan tangan kirinya menepuk punggung sutenya.

"Murid macam itu tidak perlu diampuni lagi!"

Begitu punggung Ban-tok Mo-ko kena ditepuk tangan kiri Thian-te Tok-ong, serangkum tenaga dahsyat membantu kedua telapak tangan Ban-tok Mo-ko dan tiba-tiba saja tubuh Ouw Ban terlempar ke belakang dibarengi gerengannya dan dia pun roboh terbanting dan muntah darah, matanya mendelik dan nyawanya putus seketika!

Ban-tok Mo-ko memejamkan kedua matanya, lalu duduk bersila dan menarik napas panjang beberapa kali untuk memulihkan tenaganya.

Sementara itu, Thian-te Tok-ong tertawa dan berkata kepada para murid Thian-li-pang.

"Singkirkan mayat murid murtad itu agar kita dapat bicara dengan tenang."

Beberapa orang murid maju dan mengangkat mayat Ouw Ban dibawa ke belakang.

Jenazahnya akan dikubur tanpa banyak upacara lagi karena dia dianggap sebagai seorang murid murtad.

Ban-tok Moko lalu berkata kepada semua orang dengan suaranya yang lembut.

"Para anggauta Thian-li-pang, murid-murid yang setia. Karena Ouw Ban telah murtad dan disingkirkan, maka sekarang yang memimpin pertemuan ini adalah wakil ketua, yaitu Lauw Kang Hui. Kang Hui, kau pimpin pertemuan ini dan sebaiknya kalau diadakan pemilihan ketua baru lebih dulu, baru kita akan mengambil langkah-langkah selanjutnya."

Lauw Kang Hui memberi hormat kepada suhunya dan supeknya, kemudian menghadapi semua orang.

"Saya merasa menyesal sekali dengan sikap terakhir yang diambil mendiang Suheng Ouw Ban. Hendaknya peristiwa ini dijadikan contoh bagi semua murid Thian-li-pang agar jangan ada yang mementingkan urusan pribadi di atas urusan perkumpulan. Sekarang, saya persilakan saudara sekalian untuk mengajukan usul-usul bagaimana sebaiknya untuk memilih seorang ketua baru."

Ramailah sambutan para ketua cabang dan kepala ranting.

Banyak yang mengusulkan agar masing-masing kelompok besar mengajukan seorang calon ketua baru, kemudian diadakan pemilihan di antara para calon itu.

Akan tetapi, Lauw Kang Hui merasa tidak setuju.

Dia mengangkat kedua tangan ke atas dan menggeleng kepalanya.

"Saudara sekalian, kurasa perkumpulan kita Thian-li-pang membutuhkan bimbingan orang yang berpengalaman dan berilmu tinggi. Kalau diserahkan kepada yang muda-muda, aku khawatir akan terjadi penyelewengan yang akan melemahkan perkumpulan kita. Maka, aku mengusulkan agar pimpinan Thian-li-pang kita persembahkan saja kepada tokoh-tokoh utama yang kita junjung tinggi, yaitu Supek Thian-te Tok-ong atau Suhu Ban-tok Mo-ko!"

Semua orang yang berada di situ menyambut usul ini dengan sorak-sorai gembira.

Memang, mereka akan merasa lega kalau yang memimpin langsung adalah dua orang kakek yang sakti itu.

Hal itu akan membuat mereka berbesar hati.

Dua orang kakek itu saling pandang dan mereka menggeleng kepala.

Ban-tok Mo-ko dapat membaca isi hati suhengnya maka dia pun bangkit dan berkata.

"Kami berdua adalah orang-orang tua renta yang sudah tidak ada semangat lagi untuk merepotkan diri mengurus hal-hal yang memusingkan. Tugas kami hanya mengawasi agar semua murid melakukan tugasnya dengan baik. Kami berdua tidak dapat menerima kedudukan ketua karena kami merasa sudah terlalu tua. Oleh karena itu, kami mempunyai usul agar jabatan ketua dipegang oleh murid kami Lauw Kang Hui. Dia boleh memilih wakilnya dan para pembantunya. Apakah semua setuju?"

Tepuk tangan dan sorakan menyambut usul ini sebagai tanda bahwa sebagian besar dari para anggauta Thian-li-pang menyetujui pengangkatan Lauw Kang Hui sebagai ketua itu.

Selama ini, sebagai wakil ketua, Lauw Kang Hui telah menunjukkan jasa-jasanya, bahkan untuk urusan luar yang mengandung bahaya, dia lebih aktip dibandingkan suhengnya Ouw Ban yang telah tewas itu.

Akan tetapi, tiba-tiba semua orang merasa heran melihat Lauw Kang Hui mengangkat kedua tangan ke atas, memberi isarat kepada semua orang untuk tenang.

Setelah semua orang menjadi tenang kembali, Lauw Kang Hui lalu berkata dengan suara lantang, sambil memberi hormat lalu berdiri menghadap ke arah suhu dan supeknya.

"Harap Suhu dan Supek suka memaafkan teecu. Apa yang akan teecu katakan ini bukan berarti bahwa teecu tidak mentaati perintah Jiwi (Anda Berdua), melainkan untuk mengeluar-kan semua perasaan penasaran yang telah lama menekan hati teecu."

"Lauw Kang Hui, dalam pertemuan besar seperti ini, memang sebaiknya kalau kita bicara secara jujur, mengeluarkan semua isi hati kita. Bicaralah!"

Kata Ban-tok Mo-ko. Lauw Kang Hui lalu menghadapi semua anggauta yang mencurahkan perhatian kepadanya.

"Saudara-saudara sekalian. Terima kasih bahwa Cuwi (Anda Sekalian) telah menerima saya sebagai ketua baru. Akan tetapi untuk menerima kedudukan itu, saya mempunyai satu syarat, yaitu agar semua sepak terjang Thian-li-pang kita tentukan sendiri. Selama ini, sepak terjang Thian-li-pang seolah-olah dikendalikan oleh Pek-lian-kauw, dan ternyata banyak kegagalan kita alami. Oleh karena itu, saya mau memimpin Thian-li-pang sebagai ketua kalau mulai saat ini, kerja sama dengan Pek-lian-kauw ditiadakan. Biarlah Thian-li-pang mengenal Pek-lian-kauw sebagai rekan seperjua-ngan melawan penjajah Mancu, akan tetapi kita mengambil jalan dan cara masing-masing, tidak saling mencampuri."

Kini terjadi perpecahan di antara para murid Thian-li-pang.

Ada sebagian yang setuju dengan pendapat Lauw Kang Hui, ada pula yang tidak setuju.

Mereka yang tidak setuju itu tentu saja para murid yang sudah menikmati keuntungan dari kerja sama mereka dengan Pek-lian-kauw.

Ada yang menganggap bahwa kerja sama dengan Pek-lian-kauw itu baik, ada pula yang sebaliknya.

Tentu saja pendapat baik atau buruk ini timbul karena adanya penilaian, dan penilaian selalu berdasarkan kepentingan diri sendiri.

Apa saja yang menguntungkan diri sendiri akan dinilai baik, dan yang merugikan dinilai buruk.

Karena itulah maka timbul pertentangan, yang diuntungkan menganggap baik dan yang tidak diuntungkan menganggap buruk.

Dua orang tokoh Pek-lian-kauw yang hadir sebagai tamu tentu saja saling pandang dengan alis berkerut mendengar ucapan calon ketua baru itu.

Kwan Thian-cu yang gendut dan pandai bicara segera bangkit berdiri dan suaranya terdengar lantang.

"Siancai....! Pendapat dari Lauw-pangcu (Ketua Lauw) sungguh membuat kami merasa penasaran sekali! Bukankah selama ini Pek-lian-kauw merupakan kawan seperjuangan yang setia? Kami pun sudah mengorbankan banyak anak buah dalam membantu Thian-li-pang. Bahkan kami sekarang siap membantu apabila Thian-li-pang hendak menyerbu istana dan membunuh Kaisar Mancu! Kenapa tiba-tiba saja Lauw-pangcu mengatakan bahwa pihak kami hanya menggagalkan sepak terjang Thian-li-pang? Sungguh penasaran sekali dan kami tidak dapat menerimanya."

"Hemm, Kwan Thian-cu Totiang (Pendeta) harap tenang dan suka mempertimbangkan ucapan kami. Selama ini, mendiang Suheng Ouw Ban selalu mendengarkan nasihat Pek-lian-kauw, bahkan kegagalan yang baru saja kami alami juga atas prakarsa Pek-lian-kauw. Kami hanya minta agar Pek-lian-kauw tidak mencampuri urusan kami dan mengenai perjuangan, biarlah kita mengambil jalan dan cara masing-masing tanpa saling mencampuri. Oleh karena itu, mengingat bahwa pertemuan ini adalah pertemuan pribadi perkumpulan kami, maka dengan hormat kami harap agar jiwi Totiang (Anda Berdua Pendeta) suka meninggalkan pertemuan ini."

Dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu menjadi marah bukan main.

Mereka baru saja kehilangan Ang I Moli yang merupakan andalan mereka.

Wanita itu dihukum mati sebagai akibat kegagalan kerja sama mereka untuk membunuh para pangeran.

Dan sekarang, mereka diusir begitu saja oleh ketua baru Thian-li-pang.

"Sungguh keterlaluan! Thian-li-pang tidak mengenal budi,"

Teriak Kui Thian-cu yang bertubuh kecil kurus dan pendek.

Mukanya yang keriputan itu nampak semakin tua.

Banyak anggauta Thian-li-pang yang mendukung kerja sama dengan Pek-lian-kauw juga nampak gelisah dan penasaran sehingga nampak sikap permusuhan antara dua kelompok yang mendukung sikap Lauw Kang Hui dengan mereka yang menentang.

"Hemm, agaknya ketua yang baru hendak membawa Thian-li-pang menjadi pengkhianat, membantu pemerintah penjajah untuk memusuhi Pek-lian-kauw yang selamanya anti penjajah?"

Teriak pula Kwan Thian-cu, sikapnya sudah menantang sekali.

"Jiwi Totiang! Kalian adalah tamu, apakah hendak menan-tang tuan rumah?"

Bentak Lauw Kang Hui yang sudah marah.

Agaknya, perkelahian takkan dapat dihindarkan lagi, sedangkan dua orang kakek sakti dari Thian-li-pang yang masih duduk, hanya menonton saja dengan sikap tenang.

Pada saat yang gawat itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di antara mereka berdiri seorang pemuda yang bermata tajam mencorong dan sikapnya tenang namun lembut.

Tubuhnya yang sedang namun tegap itu mengenakan pakaian yang bersih namun sederhana.

Pemuda ini bukan lain adalah Yo Han!

Agaknya, Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong masih mengenal pemuda itu, demikian pula Lauw Kang Hui.

Thian-te Tok-ong terbelalak dan berseru.

"Heii, bukankah engkau Yo Han....?"

Yo Han menghampiri Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong, memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada dan membungkuk sambil berkata.

"Jiwi Supek (Kedua Uwa Guru), saya Yo Han memberi hormat, dan harap maafkan karena melihat keadaan, terpaksa saya ingin ikut bicara sedikit."

Tanpa menanti jawaban dua orang kakek yang memandang bengong itu, Yo Han segera menghadapi semua orang Thian-li-pang.

Dua orang kakek itu bengong karena merasa terheran-heran.

Bukankah Yo Han telah tewas di dalam sumur bersama Ciu Lam Hok?

Bagaimana mungkin anak itu kini muncul kembali sebagai seorang pemuda yang tampan dan gagah, dengan pakaian yang pantas pula?

Suara Yo Han terdengar lantang ketika dia bicara.

"Saudara-saudara sekalian, para murid dan anggauta Thian-li-pang, dengarkan baik-baik. Seluruh dunia kang-ouw tahu belaka bahwa dahulu Thian-li-pang adalah perkumpulan orang-orang gagah yang selain menentang kejahatan dan menentang penjajahan, juga menegakkan kebenaran dan keadilan. Akan tetapi, akhir-akhir ini, semua orang tahu belaka bahwa telah terjadi penyelewengan-penyelewengan dan penyimpangan dari jalan benar yang dilakukan Thian-li-pang. Nama baik Thian-li-pang tercemar dan terkenal sebagai perkumpulan yang menentang pemerintah penjajah akan tetapi juga yang suka berbuat jahat! Langkah yang diambil Thian-li-pang mengikuti jejak langkah Pek-lian-kauw yang sejak dahulu terkenal menyeleweng daripada kebenaran dan banyak orang Pek-lian-kauw melakukan kejahatan dengan dalih perjuangan. Betapa pun mulia cita-citanya, namun kalau pelaksanaan atau cara mengejar cita-cita itu kotor, maka hasilnya akan menjadi kotor pula. Yang penting sekali adalah pelaksanaannya. Kalau pelaksanaannya bersih, maka yang dicapai juga bersih. Pelaksanaan adalah benihnya, dan tidak ada benih buruk mendatangkan buah yang baik. Saya menghormati dan setuju sekali pendapat Suheng Lauw Kang Hui tadi, yang bertekat untuk menegakkan kembali Thian-li-pang sebagai perkumpulan orang-orang gagah, perkumpulan pendekar pahlawan!"

Mereka yang tadi mendukung Lauw Kang Hui, bersorak menyambut ucapan ini, Walaupun mereka kini juga terheran-heran mengenal Yo Han, yang lima tahun yang lalu pernah mereka melihat sebagai seorang anak yang diambil murid oleh Thian-te Tok-ong.

Lauw Kang Hui sendiri pun terheran, akan tetapi karena ucapan Yo Han sejalan dengan pendapatnya, dia pun diam saja dan hendak melhat perkembangan selanjutnya.

Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu, dua orang tosu Pek-lian-kauw itu, segera mengenal Yo Han sebagai anak laki-laki yang pernah mereka tawan ketika mereka membantu Ang I Moli.

Melihat sikap dan mendengar ucapan Yo Han, dua orang tosu ini marah bukan main.

Keduanya sudah melangkah maju dan memandang kepada Yo Han dengan mata melotot.

Mereka ingat bahwa anak ini dahulu kebal terhadap sihir, maka mereka pun tidak mau mempergunakan ilmu sihir.

"Pemuda sombong! Berani engkau menjelek-jelekkan Pek-lian-kauw seperti itu? Siapa pun yang berani menghina Pek-lian-kauw, tak berhak hidup dan kami akan membunuhmu sekarang juga!"

Dua orang tosu itu sudah siap untuk menyerang Yo Han. Pemuda itu bersikap tenang saja dan dia menatap kedua orag tosu itu secara bergantian.

"Jiwi Totiang (Kalian Berdua Pendeta) mengaku sebagai pendeta-pendeta, berpakaian sebagai pendeta. Namun, baik buruknya seseorang bukan tergantung dari pakaian atau sikapnya, melainkan dari perbuatannya. Jiwi Totiang sudah banyak melakukan kejahatan, maka jubah dan sikap Jiwi sebagai pendeta itu hanya kedok belaka. Apa yang saya katakan tadi hanya kebenaran, bukan bermaksud menjelek-jelekkan atau menghina siapapun."

"Keparat, kau makin kurang ajar! Rasakan pukulanku!"

Bentak Kwan Thian-cu yang marah sekali dan tiba-tiba tokoh Pek-lian-kauw yang gendut ini menerjang dengan pukulan maut dari kedua telapak tangannya.

"Desss....!"

Pukulan kedua tangan tosu Pek-lian-kauw yang gendut itu disambut oleh kedua tangan Lauw Kang Hui yang meloncat ke depan melindungi Yo Han.

Dua pasang tangan itu bertemu dengan tenaga sin-kang sepenuhnya, dan akibatnya, Kwan Thian-cu yang kalah kuat terdorong, terjengkang dan tubuh yang gendut itu terguling-guling sampai beberapa meter jauhnya.

Kui Thian-cu cepat menghampiri saudaranya dan membantunya bangkit.

Masih untung bagi Kwan Thian-cu bahwa Lauw Kang Hui tidak berniat membunuhnya, maka tadi ketika menangkis, tidak menggunakan serangan balasan.

Namun karena tosu, Pek-lian-kauw itu memang kalah kuat, begitu kedua tangannya bertemu dengan calon ketua baru Thian-li-pang, tubuhnya seperti diterjang gajah dan terjengkang ke belakang.

"Totiang, kalau kami tidak memandang Pek-lian-kauw sebagai rekan seperjuangan, tentu saat ini engkau sudah tak bernyawa lagi. Kami hanya menghendaki agar Pek-lian-kauw tidak mencampuri urusan rumah tangga kami. Silakan meninggalkan tempat ini,"

Kata Lauw Kang Hui dengan tegas.

Dua orang tosu itu bangkit, memberi hormat dan pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Mereka merasa malu akan tetapi juga maklum bahwa melawan tidak ada gunanya.

Dan mereka tahu pula bahwa para pimpinan Pek-lian-kauw pasti tidak menghendaki mereka mencari permusuhan dengan Thian-li-pang yang jelas menentang pemerintah penjajah.

Setelah dua orang tosu itu pergi tak kelihatan lagi bayangannya, Thian-te Tok-ong berkata dengan nada suara yang penuh kemarahan.

"Yo Han, engkau ini anak masih ingusan sudah berani berlagak di Thian-li-pang! Di sini ada aku, ada sute, ada pula Lauw Kang Hui, dan angkau membikin malu kami dengan sepak terjangmu seolah-olah engkau yang paling hebat di sini!"

"Maaf, sebelumnya teecu sudah minta maaf kepada Jiwi Susiok (Uwa Guru Berdua),"

Kata Yo Han sambil menghadapi dua orang kakek itu dan memberi hormat.

"Bocah lancang, engkau berani memandang rendah kepada kami, ya?"

Ban-tok Mo-ko juga membentak.

"Tanpa perintah kami, engkau telah berani mencari gara-gara dengan Pek-lian-kauw atas nama Thian-li-pang. Engkau tidak berhak bertindak atas nama Thian-li-pang. Kelancanganmu ini meremehkan kami dan harus kuhukum kau!"

Setelah berkata demikian Ban-tok Mo-ko menerjang maju menyerang Yo Han.

Melihat serangan gurunya itu, Lauw Kang Hui terkejut.

Gurunya telah melancarkan serangan pukulan maut kepada Yo Han.

Biarpun dia membenarkan tindakan Yo Han tadi, namun karena Yo Han bukan apa-apa baginya, dia tidak berani lancang melindunginya dari serangan gurunya yang hebat.

Dia hanya memandang dengan mata terbelalak, juga semua anggauta Thian-li-pang memandang dan mereka semua merasa yakin bahwa Yo Han pasti akan roboh tewas karena mereka semua mengenal kesaktian Ban-tok Mo-ko yang merupakan seorang sesepuh atau locianpwe dari Thian-li-pang.

"Maaf, Supek!"

Kata Yo Han ketika melihat serangan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat itu menyambar dirinya dan dia pun menggerakkan kedua tangannya yang mula-mula menyembah ke atas, terus turun ke bawah melalui depan dahi, hidung, mulut terus ke ulu hati, lalu kedua lengan dikembangkan dan tangan ke kanan kiri, terus ke bawah membentuk lingkaran, bertemu di bawah dalam keadaan menyembah lagi dan kedua tangan ini dengan kedua telapak tangan terbuka lalu menghadap ke depan dan lengannya diluruskan.

Tidak ada hawa pukulan keluar dari kedua tangan Yo Han ini, akan tetapi tiba-tiba Ban-tok Mo-ko mengeluarkan seruan kaget karena dia merasa betapa hawa pukulan kedua tangan membalik dan biarpun dia sudah bertahan, tetap saja dia terpelanting oleh kuatnya hawa pukulannya sendiri yang membalik!

"Ho-ho, anak ini memang perlu dihajar!"

Kata Thian-te Tok-ong, kaget dan juga tertarik sekali melihat betapa sutenya yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian yang hanya di bawah tingkatnya, sampai terpelanting jatuh.

Dia pun mengebutkan lengan baju kanannya.

Dia memukul dari jauh, menggunakan hawa pukulan yang amat dahsyat, kemudian tongkat di tangan kirinya menyusul, menotok ke arah pusar Yo Han.

"Maaf, Supek!"

Kata pula Yo Han.

Dia tahu betapa dahsyatnya serangan ini, maka kembali dia menggerakkan kedua tangannya sesuai dengan ilmu yang baru saja dilatih di bawah petunjuk kakek Ciu Lam Hok, yaitu ilmu yang disebut Bu-kek-hoat-keng.

Begitu kedua tangannya membuat gerakan memutar dan menyambut tamparan dan totokan tongkat, seperti yang terjadi pada Ban-tok Mo-ko tadi, tiba-tiba Thian-te Tok-ong juga berseru kaget dan biarpun dia tidak terpelanting seperti sutenya, namun dia terhuyung ke belakang dan dua serangannya tadi membalik, tangan kanan menampar kepada sendiri dan tongkatnya membalik ke arah pusarnya sendiri!

"Hemm, Bu-kek-hoat-keng....!"

Seru kakek bertubuh pendek kecil ini setelah mampu mengembalikan keseimbangannya, mukanya agak pucat karena dia tadi merasa kaget bukan main ketika kedua serangannya membalik secara aneh sekali.

"Yo Han!"

Bentak Ban-tok Mo-ko.

"Berani engkau mencampuri urusan pribadi Thian-li-pang?"

Yo Han memberi hormat kepada dua orang kakek itu.

"Jiwi Supek (Uwa Guru Berdua), harap maafkan saya. Sebagai murid Suhu Ciu Lam Hok, maka saya pun berhak mencampuri urusan Thian-li-pang dan apa yang saya lakukan ini adalah untuk memenuhi pesan dari Suhu. Thian-li-pang sejak dahulu adalah perkumpulan para pendekar yang berjiwa patriot. Akan tetapi semenjak Thian-li-pang dibawa bersekutu dan bersahabat dengan Pek-lian-kauw, apa jadinya? Thian-li-pang melupakan sumbernya, dan anak buahnya banyak yang mengikuti jejak Pek-lian-kauw, tidak segan melakukan kejahatan dengan berkedok perjuangan. Suhu pesan kepada saya untuk mengembalikan Thian-li-pang ke jalan benar."

"Ciu Lam Hok itu.... di mana dia sekarang? Engkau dapat keluar, tentu dia pun dapat. Katakan, di mana Ciu Lam Hok?"

Thian-te Tok-ong bertanya.

Yo Han menarik napas panjang, teringat betapa suhunya itu hidup menderita karena perbuatan dua orang kakek yang menjadi supeknya ini.

"Suhu telah meninggal dunia dalam keadaan tubuh menderita namun batinnya bahagia."

"Ahhhh....!"

Thian-te Tok-ong berseru, juga Ban-tok Mo-ko mengeluarkan seruan kaget.

"Jiwi Supek yang membuat Suhu hidup tersiksa!"

Kata pula Yo Han dengan suara mengandung teguran dan memandang tajam kepada dua orang kakek itu.

Dua orang kakek itu menundukkan muka.

Agaknya baru mereka kini melihat betapa kejam mereka terhadap sute sendiri.

Mereka telah menyiksa sute mereka dan berlaku curang hanya karena iri hati dan ingin menguasai ilmu sute mereka yang lebih tinggi daripada ilmu mereka.

Entah bagaimana, ketika Ciu Lam Hok masih hidup dan merana di dalam sumur, dua orang kakek ini sama sekali tidak pernah menyesali perbuatan mereka bahkan raungan dan teriakan Ciu Lam Hok yang mereka dengar, membuat mereka semakin penasaran dan membenci karena sute itu tidak mau membagi ilmu-ilmunya kepada mereka.

Akan tetapi kini mendengar bahwa sute itu sudah meninggal dunia, mendadak mereka kehilangan, dan merasa menyesal.

Karena tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan ilmu-ilmu dari orang yang sudah mati, maka kini seolah-olah yang teringat hanya perbuatan mereka terhadap sute itu, dan betapa mereka bertiga merupakan pendiri Thian-li-pang yang dahulu hidup rukun dan saling setia.

"Aih, Sute, kami telah berdosa kepadamu...."

Tiba-tiba saja Thian-te Tok-ong berseru dan kakek ini menangis!

Dan Ban-tok Mo-ko juga menangis.

Melihat dua orang kakek yang menjadi sesepuh Thian-li-pang itu menangis seperti anak kecil, semua anggauta Thian-li-pang terheran-heran, dan Lauw Kang Hui menundukkan kepalanya.

Wakil ketua ini pun menyadari betapa Thian-li-pang memang telah menyeleweng, anak buahnya banyak yang tidak segan melakukan perbuatan jahat bersama anak buah Pek-lian-kauw yang menjadi guru mereka dalam hal penyelewengan.

Tiba-tiba Ban-tok Mo-ko menghampiri suhengnya dan menudingkan telunjuknya ke arah muka suhengnya.

"Suheng, semua ini gara-gara engkau! Engkau telah membuntungi kaki tangannya, engkau telah berlaku kejam kepada Sute! Sekarang Sute telah meninggal, tentu arwahnya akan menuntut kepada kita! Suheng, engkaulah penyebab semua ini. Aihhhh, Sute.... maafkan aku, Sute. Semua ini Suheng kita yang menjadi biang keladinya!"

Thian-te Tok-ong menghentikan tangisnya dan dia pun menghadapi sutenya dengan mata berkilat dan alis berkerut.

"Apa kau bilang? Sute, jangan seenaknya saja kau bicara. Engkaulah yang memberi siasat itu kepadaku! Engkau yang menganjurkan aku untuk turun tangan terhadap Sute Ciu Lam Hok! Dan aku menyesal telah menuruti kemauanmu. Sute Ciu Lam Hok, inilah orangnya yang menjadi penyebab kematianmu, bukan aku!"

"Suheng, Jangan menyangkal! Engkau melakukan kekejaman terhadap Ciu Sute karena engkau murka, karena engkau menghendaki ilmunya, terutama Bu-kek-hoat-keng. Engkaulah yang menanggung dosa terbesar, Suheng!"

"Keparat, engkau pun berdosa besar, bahkan aku tertarik oleh bujukanmu!"

"Bohong."

"Engkau pengecut, tidak berani bertanggung jawab. Aku memang berdosa terhadap Sute Ciu Lam Hok, akan tetapi engkau pun lebih berdosa lagi!"

"Engkau biang keladinya!"

Dua orang kakek, yang satu gendut yang satu kurus itu, saling maki dan akhirnya, tanpa dapat dicegah lagi, saling serang dengan penuh kemarahan!

Suheng dan sute ini sama-sama merasa menyesal, merasa berdosa terhadap sute mereka yang kini telah meninggal dunia.

Karena saling menyalahkan, duka dan menyesal, mereka lupa diri dan akhirnya saling serang dengan hebatnya.

Karena keduanya merupakan orang-orang sakti, maka tidak ada anggauta Thian-li-pang yang berani melerai.

Maju melerai berarti membahayakan nyawa sendiri.

Di seputar dua orang itu, angin pukulan menyambar-nyambar dengan dahsyatnya sehingga Lauw Kang Hui sendiri terpaksa mundur menjauh agar tidak sampai terkena serangan hawa pukulan.

Pertandingan antara dua orang tokoh yang sakti dan yang usianya sudah amat tua, tidak lagi mengandalkan kecepatan gerakan, tidak mau membuang waktu dan mereka segera mengeluarkan ilmu simpanan masing-masing, Dan mengerahkan sin-kang untuk mengalahkan lawan.

Di lain saat, setelah lewat belasan jurus saja, keduanya sudah berdiri dengan kedua kaki terpentang, kedua tangan saling tempel dan saling dorong dengan pengerahan tenaga sin-kang.

Uap mengepul dari kepala mereka dan semua orang tahu bahwa pertandingan ini merupakan pergulatan mati hidup.

Lauw Kang Hui mengerti pula dan dia meajadi amat khawatir.

Dia pun tahu bahwa gurunya, Ban-tok Mo-ko, masih kalah kuat dibandingkan supeknya, dan bahwa gurunya terancam maut.

Akan tetapi, tentu saja dia tidak berani mencampuri, tidak berani melerai.

Dia tadi teringat akan Yo Han yang telah mampu merobohkan suhunya dan supeknya, maka timbul harapannya.

Cepat dia menghampiri Yo Han dan dengan suara sungguh-sungguh dia berkata.

"Sute Yo Han, tolonglah mereka. Cepat pisahkan mereka agar jangan sampai saling bunuh."

Yo Han yang sejak tadi menonton, menoleh kepadanya dan menggeleng kepalanya.

"Kurasa tidak ada gunanya lagi, Suheng. Mereka sudah saling serang mati-matian dan andaikata aku dapat memisahkan mereka pun, tentu mereka telah terluka dalam...."

Lauw Kang Hui memandang kepada dua orang kakek itu dan dia merasa gelisah melihat betapa dari ujung bibir gurunya telah mengalir darah dari dalam mulut, tanda bahwa gurunya telah menderita luka dalam.

Dan biarpun di bibir Thian-te Tok-ong belum nampak darah, akan tetapi wajah kakek yang kecil pendek itu pucat sekali.

"Mereka sudah terluka, akan tetapi setidaknya, jangan mereka itu tewas selagi mengadu tenaga. Sute, tolonglah, pisahkan mereka, biarpun mereka sudah terluka."

Yo Han menarik napas panjang.

Dia sudah melihat betapa keadaan dua orang kakek itu payah sekali, dan kalau dia memisahkan mereka, dia harus menggunakan sin-kang untuk mematahkan dua tenaga yang sudah saling lekat itu.

Bukan pekerjaan mudah, bahkan berbahaya baginya, akan tetapi dia pun tidak dapat menolak karena dia tidak dapat membiarkan mereka itu mengadu tenaga sampai seorang di antara mereka mati di tempat.

"Jiwi Supek, maafkan saya!"

Katanya dan dia pun meloncat mendekati dua orang kakek itu, kedua tangannya bergerak-gerak membentuk lingkaran dan tiba-tiba, dengan bentakan nyaring sehingga terdengar suara melengking, dia mendorongkan kedua tangannya ke tengah-tengah antara dua pasang tangan yang sedang melekat itu.

Dua orang kakek itu mengeluarkan suara keras dan tubuh mereka terdorong ke belakang.

Ban-tok Mo-ko roboh terguling dan Thian-te Tok-ong terhuyung-huyung, kemudian cepat dia duduk bersila dan memejamkan mata.

Ban-tok Mo-ko juga bangkit duduk dengan susah payah, lalu bersila pula.

Wajah keduanya pucat dan napas mereka terengah-engah.

Yo Han memeriksa dengan menempelkan tangan di punggung mereka, dan diam-diam dia pun terkejut.

Kiranya, kedua orang kakek itu menderita luka dalam yang jauh lebih parah daripada yang disangkanya.

Ban-tok Mo-ko yang kalah kuat oleh suhengnya, telah menderita parah sekali dan sukar diselamatkan.

Akan tetapi ketika Yo Han memeriksa keadaan Thian-te Tok-ong, dia pun terkejut.

Kakek ini memang memiliki tenaga yang lebih kuat, akan tetapi agaknya usianya yang sudah delapan puluh delapan tahun itu membuat tubuhnya lemah dan karena itu, dia pun menderita luka hebat!

Ban-tok Mo-ko yang membuka mata lebih dulu, mata yang sayu dan dia pun memandang kepada Thian-te Tok-ong yang masih duduk bersila dan terdengar suaranya yang lemah gemetar.

"Suheng, aku girang dapat mati di tanganmu...."

Lalu dia memandang ke angkasa, terbatuk dan gumpalan darah keluar lebih banyak lagi dari dalam mulutnya.

"Sute, aku telah siap menerima pembalasanmu...."

Kakek itu memejamkan kembali kedua matanya dan kepalanya menunduk. Thian-te Tok-ong membuka matanya dan dari kedua matanya itu mengalir air mata.

"Aku telah membunuh Sute Ciu Lam Hok, dan aku pula yang membunuh Sute Ban-tok Mo-ko. Kedua adikku, tunggulah aku....!"

Dan dia pun memejamkan kedua matanya dan menundukkan kepala. Dua orang kakek itu tak bergerak lagi. Yo Han berbisik kepada Lauw Kang Hui.

"Lauw-suheng, kedua orang Supek telah tewas....!"

"Haaa....?"

Lauw Kang Hui cepat menghampiri gurunya dan menyentuh pundak gurunya.

Disentuh sedikit saja, tubuh yang tadinya duduk bersila itu terguling roboh.

Demikian pula tubuh kakek Thian-te Tok-ong.

Lauw Kang Hui menangis di depan makam gurunya dan supeknya, juga para murid tingkat tinggi Thian-li-pang menangisi kematian dua orang tua yang menjadi sesepuh Thian-li-pang itu.

Yo Han ikut pula dalam upacara sembahyangan dan dalam kesempatan itu dia berkata kepada Lauw Kang Hui dan para murid lain.

"Karena saya telah menjadi murid mendiang Suhu Ciu Lam Hok, bahkan juga pernah berguru kepada Supek Thian-te Tok-ong, maka sedikit banyak saya mengenal hubungan dekat dengan Thian-li-pang. Saya harap peristiwa ini dapat menjadi cermin bagi kita semua. Tiga orang sesepuh Thian-li-pang itu dahulu yang mendirikan Thian-li-pang, dan sejak berdiri, Thian-li-pang terkenal sebagai perkumpulan para pendekar yang berjiwa patriot. Namun, sayang sekali, agaknya mendiang Supek Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong terseret oleh arus duniawi yang membuat mereka melakukan penyelewengan. Apalagi ketika Thian-li-pang dipimpin mendiang Suheng Ouw Ban, hubungan baik dengan Pek-lian-kauw membuat banyak murid yang ikut melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan jiwa perkumpulan kita. Hendaknya kita semua selalu ingat bahwa musuh yang paling besar, paling berbahaya dan paling tangguh adalah dirinya sendiri. Sekali kita mampu menundukkan napsu sendiri, maka batin kita menjadi kokoh kuat dan tidak mudah terseret ke dalam kesesatan. Bagaikan berlayar di tengah samudera, yang terpenting adalah memiliki perahu yang kokoh kuat sehingga tidak khawatir lagi menghadapi badai dan taufan. Kepandaian tinggi bahkan depat mencelakakan kalau tidak disertai batin yang kuat dan bersih, karena kepandaian itu bahkan kita pergunakan untuk melakukan kejahatan."

Lauw Kang Hui meman-dang kepada pemuda itu.

"Yo Sute, terima kasih atas nasihatmu itu. Kami sudah mengalami cukup banyak kepahitan sebagai akibat daripada penyelewengan yang kami lakukan. Aku berjanji akan mengembalikan Thian-li-pang ke jalan benar, akan bertindak disiplin dan tegas sehingga Thian-li-pang akan kembali menjadi perkumpulan pendekar yang bukan saja memusuhi penjajah tanah air, akan tetapi juga memusuhi perbuatan jahat yang mencelakai orang lain demi kesenangan diri dan pemuasan nafsu sendiri."

"Bagus, aku girang sekali mendengar ini, Lauw-suheng. Aku hanya akan menjadi saksi bahwa pesan terakhir Suhu Ciu Lam Hok akan terlaksana dengan baik."

Yo Han lalu berpamit dari semua murid Thian-li-pang, meninggalkan tempat itu dengan hati lapang.

Satu di antara pesan suhunya telah dapat dia laksanakan dengan baik, kini dia akan melaksanakan tugas kedua yaitu mencari keluarga mendiang suhunya, yaitu adik suhunya yang bernama Ciu Ceng atau keluarganya karena tentu adik suhunya itu sudah menjadi seorang nenek yang sudah tua sekali.

Dia pun meninggalkan Thian-li-pang menuju ke kota raja.

Mendiang kakek Ciu Lam Hok memang mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Ciu Ceng.

Ketika dia sendiri pergi meninggalkan kota raja, adiknya itu masih seorang gadis yang cantik dan tinggal bersama ibunya di lingkungan istana.

Kemudian, Ciu Ceng menikah dengan seorang panglima muda she Gan.

Pernikahan ini membuahi seorang anak laki-laki yang diberi nama Gan Seng.

Panglima Gan sendiri gugur ketika memimpin pasukan membasmi gerombolan pemberontak.

Gan Seng yang mendapatkan pendidikan tinggi, telah mendapat pangkat yang lumayan, yaitu sebagai pejabat yang mengelola gedung pusaka istana.

Jabatan ini penting sekali karena hanya orang yang dipercaya sepenuhnya oleh Kaisar saja yang dapat menduduki pangkat ini.

Gan Seng, putera Ciu Ceng itu, kini telah berusia lima puluh tahun dan dia hidup serba kecukupan dengan isterinya dan puteri tunggalnya yang bernama Gan Bi Kim dan yang pada waktu itu berusia tujuh belas tahun.

Juga nenek Ciu Ceng yang sudah tua tinggal bersama puteranya dan keluarga ini hidup cukup berbahagia.

Tidak begitu sukar bagi Yo Han untuk menyelidiki dan mendengar tentang nenek Ciu Ceng ini.

Girang hatinya ketika dia mendapat keterangan bahwa nenek itu tinggal bersama puteranya yang menjadi kepada gedung pusaka istana, dan keluarga Gan itu tinggal di luar istana, Walaupun Gan Seng bertugas di lingkungan istana, yaitu di gedung pusaka.

Maka, pada hari itu, pagi-pagi dia meninggalkan rumah penginapan dan mendatangi rumah gedung tempat tinggal Gan Seng.

Untuk memenuhi pesan mendiang suhunya, dia harus berkunjung dan menceritakan tentang meninggalnya kakek Ciu Lam Hok kepada nenek Ciu Ceng dan melihat bahwa keluarga itu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.

Baru kemudian dia akan melaksanakan tugas ke tiga, tugas yang paling sukar, yaitu mencari dan merampas kembali mestika mutiara hitam di daerah barat.

Akan tetapi, alangkah herannya ketika dia tiba di rumah gedung itu, dia melihat suasana yang amat sunyi dan ketika seorang pelayan keluar untuk menyapanya pelayan tua itu nampak seperti orang yang berduka sekali.

"Saya kira Kongcu datang berkunjung pada saat yang kurang tepat,"

Kata pelayan itu.

"Gan-taijin sekeluarga sedang prihatin dan tidak suka menerima tamu, bahkan memesan kepada saya untuk menolak setiap orang tamu yan datang berkunjung."

Tentu saja Yo Han merasa heran bukan main.

Gurunya berpesan agar dia mengunjungi nenek Ciu Ceng dan membela nenek itu sekeluargaya kalau perlu dengan taruhan nyawa, karena dirinya ingin membuk-tikan rasa sayangnya kepada adiknya itu melalui muridnya.

"Paman yang baik, tolong sampaikan bahwa aku datang mohon menghadap Nyonya Besar Ciu Ceng, ibu dari Gan-taijin. Katakan bahwa aku membawa kabar yang penting sekali dari kakak nyonya besar yang bernama Ciu Lam Hok. Kalau laporanmu itu tidak mendapat tanggapan, aku tidak akan mendesak lagi."

"Tapi.... tapi.... Nyonya Besar Tua sedang menderita sakit...."

"Ahh....!"

Yo Han terkejut.

"Kalau begitu, lebih penting lagi berita itu. Mungkin laporanmu tentang kakaknya akan dapat menyembuhkan sakitnya dan engkau akan berjasa besar, Paman."

"Benarkah?"

Pelayan itu meragu, kemudian berkata.

"Baik, kau tunggulah sebentar, Kongcu (Tuan Muda), aku akan melapor ke dalam."

Yo Han menanti dengen sabar, akan tetapi hatinya gelisah juga mendengar bahwa orang yang dicarinya itu, adik mendiang gurunya yang bernama Ciu Ceng, sedang menderita sakit.

Karena panyakitnya itukah maka keluarga Gan dalam keadaan prihatin seperti yang dikatakan pelayan tadi?

Tentu saja akan mudah baginya untuk melakukan penyelidikan sendiri pada malam hari, namun dia menghormati adik mendiang suhunya dan tidak mau menggunakan cara seperti pencuri untuk menyelidiki keadaan nenek itu, kecuali kalau dia tidak dapat menghadap secara berterang.

Tak lama kemudian, pelayan itu sudah datang lagi dan sekali ini wajahnya berseri.

"Kongcu, dugaanmu tadi benar! Aku memberanikan diri untuk menghadap Nyonya Besar Tua dan begitu mendengar bahwa kongcu datang membawa berita tentang kakaknya, ia seketika bangkit dan wajahnya gembira, bahkan ia minta kepada Kongcu untuk segera menghadap ke dalam kamarnya!"

Bukan main girangnya hati Yo Han mendengar ini.

Dia pun segera mengikuti pelayan itu memasuki rumah, gedung yang besar.

Setelah melalui beberapa ruangan besar dan lorong berliku-liku, pelayan itu mengantarnya masuk ke dalam sebuah kamar yang besar.

Dua orang pelayan wanita muda segera mundur ketika melihat ada tamu pria masuk.

Ketika memasuki kamar itu, Yo Han memandang ke arah pembaringan di mana rebah seorang nenek yang sudah tua.

Nenek itu rebah telentang dan nampak kurus dan pucat.

Ketika Yo Han masuk, ia menoleh dan memandang kepada pemuda itu, lalu terdengar suaranya lemah.

"Orang muda, siapakah engkau dan berita apa yang kau bawa mengenai kakakku Ciu Lam Hok?"

Yo Han menjatuhkan dirinya berlutut menghadap ke arah nenek yang masih rebah di atas pembaringan itu.

"Saya bernama Yo Han dan saya muridnya."

Nenek itu mengeluarkan seruan girang dan ia pun bangkit duduk.

Dua orang pelayan wanita cepat menghampiri dan membantunya duduk.

Setelah duduk, nenek itu memandang kepada pemuda yang masih berlutut.

"Bangkitlah dan duduklah, Yo Han. Ambilkan kursi untuk pemuda itu, perintahnya kepada pelayan yang segera mengambilkan sebuah kursi dan Yo Han lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan nenek Ciu Ceng yang wajahnya nampak berseri.

"Engkau muridnya? Ah, bagaimana dengan kakakku? Dan mengapa engkau yang datang ke sini, bukan dia sendiri? Betapa rinduku kepada kakakku itu!"

Yo Han melihat bahwa nenek yang sudah tua itu dalam keadaan sakit dan lemah, maka dia pun tidak berani mengabarkan tentang kematian gurunya.

"Saya datang untuk memenuhi pesan Suhu Ciu Lam Hok. Saya disuruh mencari adiknya yang bernama Ciu Ceng, dan saya disuruh menyelidiki keadaan keluarganya dan diharuskan membantu kalau keluarga itu membutuhkan bantuan."

"Aih, kalau saja kakakku sendiri berada di sini, tentu dia akan dapat menolong kami. Akan tetapi engkau muridnya, engkau hanya seorang yang masih muda begini, bagaimana akan mampu menolong kami? Kami sedang dilanda malapetaka."

"Harap suka memberitahukan kepada saya, dan saya akan membantu sekuat tenaga, dengan taruhan nyawa, demi memenuhi perintah Suhu!"

Kata Yo Han dengan sikap tenang dan suara bersungguh-sungguh.

"Benarkah itu?"

Nenek itu berseru dan suaranya mengandung harapan, akan tetapi pada saat itu, beberapa orang memasuki kamarnya.

Mereka itu ternyata adalah puteranya, Gan Seng, mantunya, dan cucu perempuannya, Gan Bi Kim yang cantik.

Melihat betapa ibunya yang sedang sakit itu duduk di atas pembaringan dan bercakap-cakap dengan seorang pemuda asing, tentu saja Gan Seng menjadi heran sekali.

Tadi dia menerima laporan dari seorang pelayan bahwa ibunya kedatangan seorang tamu, maka dia bersama isteri dan puterinya yang merasa khawatir akan kesehatan ibunya, segera pergi ke kamar ibunya.

Kini tahu-tahu ibunya sudah duduk bercakap-cakap dengan seorang pemuda.

"Siapakah pemuda ini?"

Tanya Gan Seng dengan alis berkerut karena dia menganggap pemuda itu mengganggu ibunya yang perlu beristirahat.

Akan tetapi, melihat keluarganya memasuki kamarnya, nenek itu lalu memperkenalkan dengan wajah berseri.

"Anakku, pemuda ini adalah Yo Han, dia murid pamanmu Ciu Lam Hok yang sering kuceritakan kepada kalian."

"Ah, begitukah?"

Gan Seng tertegun dan merasa heran mengapa pamannya yang tentu sudah tua sekali, mempunyai murid yang masih begini muda.

Yo Han sendiri cepat bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Gan Seng, isterinya, dan juga kepada gadis cantik itu.

Nenek Ciu Ceng segera memperkenalkan mereka kepadanya.

"Yo Han, ini adalah puteraku Gan Seng, ini mantuku, dan itu cucuku Gan Bi Kim!"

Sambil memberi hormat, Yo Han berkata kepada Gan Seng.

"Mohon maaf sebanyaknya kepada Taijin bahwa saya telah berani lancang mengganggu, karena saya hanya memenuhi perintah Suhu, untuk mencari adik Suhu...."

Gan Seng menggeleng kepala.

"Tidak mengapa, tidak mengapa, hanya...."

Dia mengerutkan alisnya karena memang pada waktu itu dia sedang menghadapi hal yang amat memusing-kan, bahkan ibunya sampai jatuh sakit karena malapetaka yang menimpa dirinya itu.

"Seng-ji (Anak Seng), Yo Han ini diutus gurunya untuk datang berkunjung dan dia mewakili gurunya untuk menolong kita dari kesukaran! Siapa tahu, dia akan mampu mengangkat kita keluar dari kesulitan ini!"

"Ibu, mana mungkin....?"

Kata Gan Seng meragu. Melihat sikap mereka, Yo Han kembali memberi hormat.

"Harap Taijin suka memberi tahu kepada saya, kesulitan apa yang dihadapi keluarga Taijin. Saya telah berjanji kepada Suhu untuk membantu keluarga adik Suhu kalau menghadapi kesulitan, dan saya akan mentaati perintah Suhu, membantu keluarga Taijin kalau perlu dengan taruhan nyawa."

"Ceritakanlah kepadanya, Seng Ji. Siapa tahu pemuda ini yang akan mampu membebaskan kita dari kesulitan ini,"

Bujuk nenek tua itu.

"Baiklah, Ibu. Sekarang Ibu beristirahatlah, dan mari Yo Han, kita bicara di ruangan dalam,"

Kata Gan Seng. Yo Han menoleh kepada nenek Ciu Ceng.

"Harap Paduka beristirahat dan saya menyampaikan pesan Guru saya bahwa Suhu mengutus saya membantu keluarga Paduka untuk membuktikan bahwa Suhu sayang kepada Paduka."

Mendengar ini, nenek Ciu Ceng menangis dan merebahkan dirinya. Akan tetapi suaranya terdengar gembira bercampur haru ketika ia berkata.

"Ah, Hok-koko (Kakak Hok), ternyata engkau masih teringat kepada adikmu ini! Kakakku yang baik, aku pun selalu terkenang kepadamu dan aku sayang kepadamu.."

Ia menangis dan tertawa sekaligus dan berita yang diucapkan Yo Han ini merupakan obat yang mujarab bagi nenek itu.

Dengan hati lega Gan Seng lalu menggandeng tangan Yo Han, diajaknya keluar dari kamar itu, diikuti oleh isterinya dan oleh Gan Bi Kim.

Setelah mereka semua duduk mengelilingi sebuah meja besar, Gan Seng yang masih meragu dan belum yakin benar bahwa pemuda yang usianya paling banyak dua puluh tahun, bersikap sederhana itu akan mampu menolong keluarganya dari malapetaka yang menimpa, segera mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya.

"Sebelum kami menceritakan persoalan yang menyulitkan keluarga kami, lebih dulu kami ingin mendengar keteranganmu mengenai Paman Tuaku itu dan bagaimana engkau yang masih muda ini akan mampu menolong kami. Nah, ceritakan dimana adanya Paman Tuaku itu."

Kalau terhadap nenek Ciu Ceng yang sedang sakit Yo Han belum berani berterus terang tentang kematian suhunya, terhadap keluarga ini dia merasa lebih baik untuk berterus terang.

"Taijin...."

"Nanti dulu, Yo Han. Kalau engkau benar murid pamanku, tidak semestinya engkau menyebut aku taijin (orang besar). Usiamu masih amat muda. Kau pantas menjadi keponakanku, maka sebut saja paman kepadaku, agar lebih enak kita bicara. Namaku Gan Seng dan engkau boleh menyebut aku paman, dan menyebut isteriku bibi. Nah, lanjutkan ceritamu."

Wajah Yo Han berubah merah.

Tentu saja dia merasa canggung sekali.

Yang dia hadapi adalah seorang yang berkedudukan tinggi, bagaimana dia dapat menyebut mereka demikian akrab?

Akan tetapi, dia pun tidak berani membantah.

"Terima kasih atas keramahan Paman dan Bibi. Sesungguhnya di depan Nyonya Besar Gan...."

"Ah, kalau engkau menyebut aku paman, maka engkau sebut saja nenek kepada Ibuku."

Pembesar itu memotong. Diam-diam Yo Han kagum. Keluarga suhunya ini memang orang-orang bijaksana. Biarpun berkedudukan tinggi namun tidak angkuh.

"Begini, Paman. Di depan Nenek, saya tidak berani berterus terang karena melihat beliau sedang sakit. Sebetulnya, Suhu Ciu Lam Hok telah meninggal dunia...."

"Hemm, bagaimana meninggalnya?"

Gan Seng bertanya.

Yo Han merasa tidak ada perlunya menceritakan apa adanya.

Kalau dia menceritakan bagaimana suhunya disiksa oleh dua orang suheng dari suhunya yang juga sudah tewas, maka ceritanya yang terus terang itu hanya akan mendatangkan penyesalan dan sakit hati.

Tidak ada perlu dan gunanya.

"Suhu meninggal dunia dengan baik, karena sudah tua. Dan sebelum meninggal, Suhu meninggalkan pesan kepada saya agar saya mencari adik Suhu yang bernama Ciu Ceng, dan agar saya membantu keluarga adik Suhu itu dengan segala kemampuan saya. Karena itulah maka saya datang menghadap dan menawarkan bantuan. Apalagi kalau Paman sedang menghadapi kesulitan. Katakan apa kesulitan itu, Paman, dan saya, demi pesan Suhu, akan membantu sekuat tenagaku."

"Akan tetapi, kesulitan kami ini amat hebat dan sukar diatasi. Bagaimana seorang muda seperti engkau akan mampu menolong kami? Bahkan pasukan penyelidik yang sudah kami kerahkan tidak berhasil menolong kami, apalagi engkau? Apa yang telah kau pelajari dari mendiang Paman Tua?"

"Mendiang Suhu telah mewariskan ilmu-ilmu silatnya kepada saya, Paman, dan saya akan mengerahkan segala kemampuan saya untuk membantu Paman, tentu saja kalau Paman percaya kepada saya dan suka menceritakan kesulitan yang Paman hadapi itu kepada saya."

"Sebaiknya ceritakan saja kepada Yo Han,"

Desak isteri pembesar itu kepada suaminya.

"Biarpun para komandan yang bersahabat telah mengerahkan pasukan mereka untuk melakukan penyelidikan, tidak ada salahnya kalau Yo Han mencoba untuk menyelidiki pula. Makin banyak yang menyelidiki dan mencari-cari pusaka yang hilang, semakin baik."

Gan Seng menarik napas panjang, lalu mengangguk-angguk.

"Dengarkan baik-baik, Yo Han, siapa tahu, Tuhan mengutusmu datang ke sini untuk mengangkat kami dari malapetaka ini."

Pembesar itu lalu bercerita.

Dia menjadi pembesar yang bertanggung jawab akan semua pusaka milik istana, dan dia diserahi mengurus gudang pusaka.

Selama bertahun-tahun dia bertugas, dibantu pasukan penjaga yang kuat, tidak pernah terjadi sesuatu.

Akan tetapi, dua minggu yang lalu, dua buah pusaka lenyap dari dalam gudang pusaka itu.

Dua buah pusaka yang amat penting, yaitu sebuah cap kebesaran Kaisar Kang Hsi, kakek dari Kaisar Kian Liong yang sekarang, dan sebuah bendera lambang kekuasaan Kaisar pertama Kerajaan Mancu, telah hilang!

Gegerlah istana karena kedua benda itu merupakan pusaka yang amat penting sekali, sebagai tanda kebesaran Kerajaan Ceng-tiauw.

Dan tentu saja Gan Seng sebagai penanggung jawab, segera dihadapkan Kaisar untuk memper-tanggungjawabkan kehilangan itu.

Gan Seng menjadi sibuk sekali karena Kaisar memberi waktu sebulan kepadanya untuk menemukan kembali dua buah pusaka yang hilang.

Gan Seng sudah memerintahkan para komandan jaga untuk melakukan penyelidikan dan pemeriksaan, namun setelah lewat dua minggu, hasilnya tetap sia-sia belaka.

Pencuri itu memasuki gudang tanpa merusak kunci atau jendela, bahkan tidak ada genteng yang pecah.

Dua buah pusaka itu lenyap secara aneh sekali, tidak meninggalkan bekas!

Gan Seng tahu bahwa malapetaka akan menimpa keluarganya kalau dua buah benda itu tidak diketemukan.

Dia akan dihukum berat, bahkan keluarganya mungkin akan tersangkut.

"Demikianlah malapetaka yang menimpa kami, Yo Han. Semua usaha telah kami lakukan, namun sampai hari ini tidak ada hasilnya. Padahal, waktu yang diberikan Kaisar tinggal dua minggu lagi! Ibuku jatuh sakit karena memikirkan keadaan kami. Nah, bagaimana engkau akan dapat menolong kami, Yo Han? Pasukan keamanan sudah dikerahkan tanpa hasil,"

Kata pembesar itu dengan nada kesal dan putus asa menutup ceritanya.

Yo Han mengerutkan alisnya.

Memang tidak mudah mencari pusaka yang hilang dari dalam gudang pusaka, tanpa diketahui siapa yang mengambilnya!

Kalau para komandan pasukan, yang lebih hafal akan keadaan di kota raja tidak mampu menemukan dua buah pusaka itu, apalagi dia yang sama sekali asing dengan keadaan di situ!

Akan tetapi, dia akan mencoba, dia tidak putus asa.

Dia yakin bahwa Tuhan pasti akan menolongnya, seperti yang sudah-sudah.

Dia akan menyerahkan segalanya kepada Tuhan, dan dengan penyerahan total, maka semua tindakannya tentu akan dibimbing oleh kekuasaanNya.

Kalau Tuhan menghendaki, apa sih sukarnya menemukan kembali dua buah benda yang hilang?

Akan tetapi, kalau tidak dikehendaki Tuhan, apa pun yang dilakukan benda-benda itu takkan dapat ditemukan kembali, Tuhan Kuasa.

Segala kehendak Tuhan pun jadilah!

Demikian bisik hatinya.

"Maaf, Paman dan Bibi, apakah sama sekali tidak ada ditemukan jejak ke mana lenyapnya dua buah benda pusaka itu?"

Gan Taijin menghela napas panjang dan menggeleng kepala.

"Apakah tidak ada orang yang dapat dicurigai? Misalnya, adakah selama ini orang-orang yang memusuhi Paman? Siapa tahu, perbuatan itu merupakan perbuatan yang disengaja untuk menghancurkan keluarga Paman."

Suami isteri itu saling pandang, dan tiba-tiba isteri pejabat itu berkata.

"Sebaiknya kuceritakan saja kepadanya!"

Suaminya mengangguk dan wanita itu berkata kepada Yo Han.

"Memang ada orang yang merasa tidak senang kepada kami dan bukan tidak mungkin dia melakukan perbuatan itu untuk mencelakakan kami. Akan tetapi karena tidak ada bukti-bukti, bagaimana kami dapat menuduh dia?"

"Maaf, Bibi. Sedikit keterangan saja amat berarti dan penting bagi saya untuk melakukan penyelidikan. Saya pun tidak akan sembarangan saja menuduh orang, akan tetapi setidaknya, saya dapat melakukan penyelidikan."

Gan Seng menarik napas panjang.

"Memang ada yang kami curigai, akan tetapi tidak ada bukti, dan dia seorang yang berkedudukan tinggi sehingga tidak ada orang yang akan berani menyelidikinya."

Yo Han memandang dengan wajah berseri.

"Ah, siapakah dia orangnya, Paman? Dan mengapa Paman mencurigai dia?"

"Dia seorang panglima yang dipercaya Kaisar, seorang jagoan istana she Coan. Coan Ciangkun terkenal lihai dan berkedudukan tinggi. Bagaimana kita akan dapat membuktikan bahwa dia yang melakukan perbuatan itu? Tidak ada yang berani menyelidik ke sana. Rumahnya saja dijaga oleh pasukan keamanan yang kuat!"

"Hemm, kenapa Paman mencurigai dia? Apakah alasan Paman dan Bibi mencurigai panglima itu?"

"Coan Ciangkun pernah melamar puteri kami, Bi Kim,"

Kata ibu gadis itu.

Yo Han memandang kepada Bi Kim dan gadis itu menundukkan mukanya yang berubah merah, akan tetapi bibir gadis itu bergerak dan berkata lirih.

"Manusia tak tahu malu itu!"

"Tentu saja kami menolak pinangan yang merendahkan kami itu,"

Kata pula Gan Seng.

"Bayangkan saja, panglima yang usianya sudah empat puluh tahun lebih itu telah mempunyai (Lanjut ke

Jilid 15) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 sedikitnya lima selir, dan dia masih menghendaki anak kami untuk dijadikan selir! Menghina sekali!"

Yo Han mengangguk-angguk.

Alasan itu memang cukup kuat.

Mungkin saja karena sakit hati lamarannya ditolak, panglima itu lalu melakukan pencurian pusaka untuk mencelakakan keluarga Gan.

Akan tetapi, alasan ini pun tidak begitu meyakinkan.

Kalau hanya ditolak lamarannya, bagaimana panglima itu sampai melakukan perbuatan yang juga amat berbahaya bagi dirinya sendiri itu?

Dan apa manfaat dan keuntungannya bagi dia?

"Maaf, Paman dan Bibi.

Apakah tidak ada alasan yang lebih kuat dari itu sehingga Paman dan Bibi mencurigai Coan Ciangkun?"

"Ada.... ada...."

Kata Gan Seng.

"Semenjak dua buah pusaka itu lenyap, beberapa kali sudah dia menghubungi aku dan mengatakan bahwa kalau aku suka menerima lamarannya, dia akan membantu sampai dua buah benda pusaka itu ditemukan kembali. Nah, aku hampir yakin bahwa setidaknya dia tahu siapa yang mencuri benda pusaka itu."

"Ah, terima kasih, Paman. Sekarang, tolong beritahukan di mana tempat tinggal Panglima Coan itu, saya akan melakukan penyelidikan ke sana."

"Akan tetapi, itu berbahaya sekali, Yo Han!"

Kata Gan Seng. Yo Han tersenyum.

"Harap Paman dan Bibi jangan khawatir. Mendiang Suhu telah mengajarkan banyak ilmu kepada saya, dan dengan bimbingan Tuhan Yang Maha Sakti, saya kira saya akan berhasil menyelidiki dan mendapat tahu apakah panglima itu benar yang melakukan pencurian itu ataukah bukan. Mudah-mudahan kecurigaan Paman dan Bibi benar sehingga tidak akan sukar lagi untuk mengatasi urusan ini."

"Akan tetapi, para panglima saja yang dimintai bantuan Ayah tidak sanggup menyelidiki orang itu, apakah kau tidak hanya akan mengantar nyawa ke sana?"

Tiba-tiba Bi Kim berkata dengan nada suara khawatir. Yo Han memandang gadis itu dan tersenyum.

"Harap engkau tidak merasa khawatir, Nona. Saya akan menjaga diri baik-baik."

Setelah mendapatkan keterangan jelas dari Gan Seng tentang tempat tinggal Coan Ciangkun, Yo Han lalu berpamit.

Tuan rumah sekeluarga mencoba untuk menahannya dan menghidangkan makan minum, akan tetapi Yo Han menolak dengan halus.

"Masih banyak waktu bagi kita untuk bercakap-cakap dan makan bersama, yaitu setelah tugas ini selesai dengan baik. Nah, selamat tinggal, Paman, Bibi dan.... Nona "Adik, bukan nona!"

Bi Kim memotong.

"Baiklah, Adik Bi Kim. Saya pergi dulu dan mudah-mudahan kalau saya datang lagi akan membawa kabar baik untuk Paman sekeluarga."

Untuk meyakinkan hati mereka, Yo Han sengaja berkelebat dan lenyap dari depan mereka.

Tentu saja ayah, ibu dan anak itu terkejut dan sejenak tertegun.

Pemuda itu dapat menghilang begitu saja dari depan mata mereka!

Setelah Yo Han pergi, Tiada hentinya mereka bertiga membicarakan pemuda itu dan timbul harapan di hati mereka bahwa pemuda yang luar biasa itu akan berhasil menolong mereka.

Memang benar sekali apa yang dikemukakan Gan Seng, isterinya dan puterinya.

Sungguh tidak mudah, bahkan berbahaya sekali untuk melakukan penyelidikan ke dalam gedung tempat tinggal Panglima Coan itu.

Gedung itu besar dan dikelilingi pagar tembok yang tebal dan tinggi seperti sebuah benteng kecil.

Memang pantas menjadi tempat tinggal seorang panglima tinggi yang memimpin pasukan besar.

Di pintu gerbang terdapat sebuah gubuk penjagaan di mana berkumpul belasan orang perajurit penjaga, dan masih ada pengawal yang selalu meronda di sekaliling pagar tembok itu.

Yo Han maklum bahwa di waktu siang hari, tidak mungkin menyelundup masuk ke dalam gedung itu.

Andaikata dia dapat menge-labui para penjaga di luar dan dapat masuk ke dalam, masih ada bahaya ketahuan di bagian dalam gedung yang tentu dijaga ketat.

Siang hari itu dia tidak berani masuk, hanya mengelilingi bangunan itu di luar pagar tembok dan melihat-lihat keadaan.

Ketika dia melihat sebuah pohon yang tumbuh di bagian belakang, agak jauh dari bangunan, dia dapat menduga, bahwa pohon itu tentu tumbuh di kebun belakang, dekat dengan pagar tembok dan dia pun memilih tempat ini untuk menyelinap masuk malam nanti kalau sudah gelap.

Siang hari itu dia kembali ke rumah penginapan, menanti datangnya malam.

Setelah malam tiba, dia menanti sampai gelap benar barulah dia meninggalkan rumah penginapan secara sembunyi, melalui jendela dan meloncat ke atas genteng agar kepergiannya dari situ tidak ketahuan orang lain.

Tak lama kemudian, dia sudah tiba di luar pagar tembok sebelah belakang di mana siang tadi dia melihat pohon di sebelah dalam pagar.

Dia menanti sampai peronda lewat, lalu melompat-lah dia ke atas pagar tembok.

Benar dugaannya, pohon itu tumbuh di kebun belakang dan dia pun melompat ke pohon itu, menanti sambil meneliti keadaan.

Dari pohon dia dapat melihat beberapa orang penjaga di kanan kiri rumah, dan di sebelah belakang rumah, di luar pintu belakang, terdapat pula dua orang penjaga tengah bercakap-cakap.

Di atas mereka terdapat sebuah lampu minyak gantung yang cukup terang.

Bukan main, pikir Yo Han.

Agaknya panglima itu telah melakukan penjagaan diri dengan ketat.

Hal ini saja sudah mencurigakan.

Hanya orang yang menjaga diri terhadap penyerbuan dari luar saja yang menyuruh pasukan pengawal menjaga rumah sedemikian ketatnya.

Tentu ada sesuatu yang perlu dijaga!

Makin tebal dugaannya bahwa Panglima Coan inilah yang sengaja mencurl pusaka itu untuk memaksa Gan Seng menyerahkan gadisnya!

Bagi seorang panglima yang mengepalai pasukan, kiranya tidak begitu sukar untuk melakukan pencurian itu.

Seorang dua orang penjaga keamanan gudang pusaka itu tentu telah dapat dipengaruhinya, untuk mencuri pusaka itu untuknya!

Pusaka yang amat penting bagi istana, yang kehilangannya akan mendatangkan dosa besar bagi Gan Taijin akan tetapi yang tidak ada gunanya bagi Si Pencuri!

Setelah melihat suasana semakin sunyi dan yang menghalanginya masuk ke gedung besar itu hanya dua orang penjaga di luar pintu belakang, Yo Han meloncat turun dari atas pohon dan berindap-indap mendekati dua orang penjaga yang masih duduk berhadapan di bangku, Kini tidak lagi bercakap-cakap melainkan sedang bermain catur.

Yo Han mengambil dua buah kerikil dan setelah membidik dengan hati-hati, dua kali tangannya bergerak.

Dua buah batu kerikil melayang dan dengan beruntun, dua orang pemain catur itu terpelanting dari tempat duduk mereka dalam keadaan lemas tak mampu bergerak karena jalan darah mereka sudah tertotok oleh kerikil yang disambitkan tadi.

Dengan cepat Yo Han meloncat mendekati mereka, menotok pangkal leher mereka sehingga kini mereka tidak mampu bersuara.

Dia menyeret tubuh mereka dan menyembunyikan tubuh mereka di bagian yang gelap, kemudian, dengan hati-hati dia membuka daun pintu belakang.

Dia tiba di taman bunga belakang gedung yang amat indah.

Tak lama kemudian, Yo Han sudah mengintai sebuah ruangan di tengah gedung itu.

Ada kesibukan di sana dan ketika dia mengintai, dia melihat seorang panglima, hal ini dapat diketahui dari pakaiannya, dihadap oleh tiga orang kakek berusia antara lima puluh sampai enam puluh tahun yang berpakaian preman, akan tetapi yang nampaknya kuat.

Dia menduga bahwa tiga orang itu tentulah jagoan-jagoan dan mungkin sekali panglima itu yang bernama Coan.

Usianya kurang lebih empat puluh tahun, tinggi besar bermuka hitam dengan bopeng bekas cacar.

Seorang pria yang wajahnya kasar dan buruk sekali.

Tidak mengherankan kalau Bi Kim dan ayah ibunya menolak pinangannya.

Sudah mempunyai banyak selir mukanya buruk pula!

Padahal Bi Kim demikian cantik jelita dan masih amat muda.

Empat orang itu bercakap-cakap dan Yo Han mengerahkan kepekaan telinganya untuk menangkap percakapan mereka.

"Akan tetapi, bagaimana kalau dia menolak, Ciangkun?"

Tanya seorang di antara tiga jagoan yang mukanya kuning dan matanya sipit.

"Hemm, kalau dia menolak, dia akan dijatuhi hukuman berat, juga keluarganya. Dia pasti tidak akan menolak uluran tanganku untuk menyelamatkan keluarganya,"

Kata pembesar itu sambil menyeringai dan nampaklah giginya yang besar-besar. Makin buruk orang itu kalau menyeringai, pikir Yo Han.

"Kalau begitu, semua jerih payah kita tidak akan ada gunanya, Ciangkun!"

Kata orang ke dua yang perutnya gendut sehingga kancing bajunya bagian bawah terlepas semua dan nampak kulit perut yang buncit itu.

"Benar, kalau begitu, apa artinya semua jerih payah ini? Terbasminya keluarga itu sama sekali tidak menguntungkan Ciangkun,"

Kata orang ke tiga yang tinggi kurus dan hidungnya seperti hidung burung kakatua, melengkung panjang ke bawah sehingga matanya nampak juling.

Panglima itu terbahak.

"Ha-ha-ha, apa kalian kira aku begitu bodoh untuk membuang tenaga sia-sia belaka? Kalau mereka itu berkeras tidak mau menerimaku, aku akan menghadap Sri Baginda. Aku akan mencarikan pusaka itu sampai dapat, dengan imbalan anugerah, yaitu agar gadis jelita itu diserahkan kepadaku. Kalau Kaisar yang memerintahkan, mustahil orang she Gan itu berani membantah lagi. Ha-ha-ha!"

Tiga orang itu pun tertawa gembira dan memuji kecerdikan majikan mereka.

Yo Han yang mengintai tidak ragu-ragu lagi.

Sudah pasti panglima inilah yang bernama Coan Ciangkun dan tiga orang itu tentu anak buahnya, atau jagoan-jagoannya.

Inilah kesempatan terbaik, pikirnya.

Kalau dia harus mencari pusaka pusaka itu, tentu akan sukar sekali karena panglima itu tentu menyembunyikannya dan amat sukar mencari pusaka yang disembunyikan di gedung sebesar itu, apalagi yang dipenuhi penjagaan ketat.

Sekali dorong saja, jendela yang terkunci dari dalam itu terbuka dan kuncinya jebol.

Sebelum empat orang itu hilang kaget mereka, tiba-tiba mereka melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pemuda.

"Engkaukah yang disebut Coan Ciangkun?"

Tanya Yo Han dengan suara tenang sambil memandang panglima itu.

Setelah hilang kagetnya dan melihat bahwa yang masuk secara lancang itu hanyalah seorang pemuda yang tidak memegang senjata dan berpakaian sederhana saja, bangkitlah kemarahan Coon Ciangkun.

"Sudah tahu aku Coan Ciangkun dan engkau berani masuk seperti maling? Apakah nyawamu sudah rangkap lima? Tangkap dia!"

Bentak panglima itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Yo Han Mendengar ini, Si Perut Gendut tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha, cacing tanah berani sekali engkau lancang masuk ke sini! Hendak mencuri apakah? Hayo cepat berlutut, atau akan kupatah-patahkan tulang kedua kakimu agar engkau berlutut dan minta ampun kepada Coan Ciangkun!"

Yo Han bersikap tenang dan matanya masih terus memandang kepada panglima itu.

"Aku tidak ingin mencuri apa-apa, bahkan hendak menangkap pencuri dua buah benda pusaka dari gedung pusaka istana!"

Tentu saja ucapannya ini mengejutkan empat orang itu.

"Tong Gu, cepat tangkap dia!"

Bentak panglima itu kepada Si Gendut yang bernama Tong Gu.

"Haiiiittt....!"

Tong Gu menerjang ke depan, gerakannya seperti sebuah bola menggelundung menuju ke arah Yo Han dan agaknya dia benar-benar hendak mematahkan kedua tulang kaki Yo Han karena begitu menerjang, dia sudah membuat gerakan menyapu dengan kaki kanannya yang pendek namun besar.

Gerakannya, biarpun berperut gendut, gesit sekali dan kaki kanannya sudah menyambar ke arah kedua kaki Yo Han.

Namun, Yo Han sama sekali tidak mengelak, juga tidak menangkis, melainkan berdiri tegak dan masih memandang kepada Coan Ciangkun.

Karena itu, tanpa dapat dicegah lagi, kaki kanan Tong Gu, menyambar kedua kakinya dengan amat kuatnya.

"Bresss....!"

Bukan tulang kedua kaki Yo Han yang patah-patah, melainkan Si Gendut yang berteriak-teriak kesakitan, meloncat-loncat dengan kaki kiri dan mencoba untuk memegangi kaki kanan dengan kedua tangannya.

Akan tetapi karena kedua lengannya pendek, sedangkan kaki kanan itu pun pendek, Maka sukar baginya untuk dapat memegang kaki itu dan dia pun berjingkrak menari-nari dengan sebelah kaki, matanya terbelalak mulutnya ngos-ngosan seperti orang makan mrica saking nyerinya, karena kakinya terasa kiut-miut seperti pecah-pecah tulangnya.

Akan tetapi, dua orang kawannya menjadi marah dan mereka pun siap untuk menerjang.

Yo Han tidak mempedulikan mereka.

Dia melihat panglima itu pun terkejut dan bangkit dari tempat duduknya, siap hendak melarikan diri.

Sekali tubuhnya berkelebat, dia sudah meloncat ke dekat panglima itu dan jari tangannya menotok.

Tubuh panglima itu menjadi lemas dan dia pun jatuh terduduk kembali ke atas kursinya, hanya dapat memandang dengan mata terbelalak karena Yo Han sudah menghampiri tiga orang tukang pukul itu dengan sikap tenang.

Kini Tong Gu Si Gendut sudah mencabut golok besarnya.

Tulang kakinya tidak patah, akan tetapi membengkak dan kebiruan, nyeri sekali.

Si Muka Kuning bermata sipit yang bernama Cong Kak juga mencabut sepasang pedangnya, sedangkan Si Hidung Kakatua mencabut rantai baja.

Mereka bertiga mengepung Yo Han, namun pemuda ini bersikap tenang.

Dia tidak suka berkelahi, tidak suka menggunakan kekerasan, akan tetapi sekarang dia melihat kebenaran pendapat mendiang gurunya.

Kepandaian silat memang amat penting, untuk menghadapi orang-orang yang sewenang-wenang seperti ini!

Bukan untuk berkelahi, bukan untuk menggunakan kekerasan, melainkan untuk menundukkan yang jahat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan!

"Lebih baik kalian membujuk majikan kalian untuk menyerahkan dua benda curian itu kepadaku.

Kalau kalian menggunakan kekerasan, maka kalian sendiri yang akan menjadi korban kekerasan kalian itu!"

Yo Han masih menasihati, karena kalau dapat, dia hendak menyelesaikan masalah itu tanpa harus melawan tiga orang ini.

Tentu saja nasihatnya itu menggelikan bagi orang-orang yang biasa menggunakan kekerasan itu.

Mereka sudah marah sekali dan tanpa dikomando lagi, ketiganya sudah memutar-mutar senjata dan menggerakkan senjata mereka dengan kuat dan cepat, menerjang ke arah Yo Han.

Pemuda ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat tinggi, namun belum pernah dia mempergunakannya dalam perkelahian.

Biarpun demikian, melihat gerakan tiga orang yang bagi orang lain nampak cepat itu, baginya kelihatan lamban sekali dan dia dapat melihat jelas ke arah mana senjata mereka itu menyambar.

Dengan kelincahan tubuhnya yang sudah mempelajari segala macam ilmu tari dari Thian-te Tok-ong yang sebenarnya merupakan ilmu-ilmu silat tinggi, dengan amat mudah dia mengelak ke sana sini dan semua serangan senjata itu sama sekali tidak mampu menyentuhnya.

Yo Han tidak ingin membunuh orang, bahkan melukainya pun dia tidak tega, walaupun dia tahu bahwa tiga orang ini biasanya mempergunakan kekerasan untuk menindas orang lain.

Dia harus bekerja cepat agar urusan itu segera dapat diselesaikannya dengan baik.

Maka, begitu tangan kakinya bergerak dengan kecepatan yang tak dapat diikuti pandang mata tiga orang pengeroyoknya, tiba-tiba tiga orang itu berturut-turut, jatuh terpelanting dalam keadaan lemas tertotok.

Senjata mereka terlepas dari pegangan dan mengeluarkan suara berisik ketika terjatuh ke atas lantai.

Akan tetapi, agaknya suara ribut-ribut itu telah terdengar oleh para pengawal panglima itu.

Sebelas orang perajurit pengawal berserabutan memasuki ruangan yang luas itu dengan senjata di tangan dan begitu masuk, mereka sudah dapat menduga apa yang terjadi, melihat majikan mereka duduk tak bergerak dan tiga orang jagoan itu roboh dan tak mampu bergerak pula.

Maka, serentak mereka mengepung Yo Han dan menyerangnya dengan senjata mereka.

Yo Han maklum bahwa kalau dia tidak bertindak cepat, akan makin sukarlah keadaannya.

Dia pun mengeluarkan kepandaiannya dan bagaikan seekor burung walet beterbangan, tubuhnya menyambar-nyambar dan kembali para pengeroyoknya roboh tertotok seorang demi seorang.

Tubuh mereka berserakan, ada yang bertumpuk dan dalam waktu yang singkat, sebelas orang itu pun sudah roboh semua tanpa mengalami luka, hanya tertotok dan lemas tak mampu bergerak.

Sebelum datang lagi pengeroyok, sekali loncat Yo Han telah mendekat!

Coan Ciangkun yang marah duduk tertotok dan tak mampu bergerak.

Yo Han membebaskan totokannya terhadap pembesar itu dan Coan Ciangkun dapat pula bergerak.

Akan tetapi dia tidak berani bengkit berdiri karena pemuda yang lihai itu telah mengancamnya dengan jari tangan di leher!

"Mau apa engkau?

Engkau akan dihukum mati untuk ini!"

Kata Coan Ciangkun dengan nada marah.

"Pasukanku akan menangkapmu!"

"Sebelum aku di tangkap, aku akan dapat membunuhmu lebih dulu, Ciangkun!"

Yo Han mengancam.

Wajah yang marah itu seketika menjadi pucat karena Sang Panglima maklum bahwa pemuda yang dengan mudahnya merobohkan empat belas orang pengawalnya, tentu tidak hanya menggertak, akan tetapi benar-benar akan dapat membunuhnya dengan mudah.

"Apa yang kau inginkan?"

Katanya dan biarpun nadanya masih membentak, namun suara itu gemetar.

Yo Han mendengar suara ribut-ribut di luar ruangan, suara banyak orang dan dia tahu bahwa tentu pasukan penjaga sudah datang mengepung ruangan itu.

"Pertama, kau perintahkan agar pasukanmu mundur dan jangan mengganggu percakapan kita di ruangan ini. Hayo cepat lakukan!"

Sengaja dia menyentuh leher panglima itu dengan jari-jari tangannya. Panglima itu bergidik dan dia pun berseru dengan suara nyaring.

"Pasukan jaga, semua mundur dan jangan ganggu aku Kami sedang bicara dan tidak boleh siapa pun mengganggu kami!"

Suaranya dikenal oleh para penjaga dan biarpun merasa heran, mereka semua mendengar dan tidak berani mendekati ruangan itu walaupun di sebelah sana mereka tetap mengatur pengepungan karena mereka tahu bahwa, ada seorang asing bersama majikan mereka, dan bahwa belasan orang pengawal telah dirobohkan orang asing itu.

"Bagus, Ciangkun. Kalau engkau memenuhi semua permintaanku, aku akan membebaskanmu dan tidak akan mengganggumu lagi. Sekarang, keluarkan dua buah benda mustika yang kau curi dari dalam gedung pusaka istana itu!"

Wajah itu semakin pucat.

"Apa.... apa maksudmu? Pusaka.... yang mana....?"

"Tidak usah berpura-pura lagi, Ciangkun. Aku sudah tahu semuanya. Engkau mendendam kepada keluarga Gan karena lamaranmu ditolak, dan untuk membalas sakit hati itu, engkau sengaja menyuruh orang mencuri dua buah benda pusaka dari dalam gedung pusaka istana agar Gan Taijin menerima hukuman. Dan engkau menjanjikan kepada Gan Taijin untuk mendapatkan kembali pusaka-pusaka yang hilang itu asal dia mau menyerahkan puterinya kepadamu!"

Sepasang mata itu terbelalak.

"Tidak! Tidak! Mana buktinya bahwa aku melakukan semua itu?"

Yo Han memandang ke arah meja di depan panglima itu.

Sabuah meja terbuat dari papan yang tebal.

Dia menggerakkan tangan kirinya mencengkeram ke arah ujung meja.

"Krekk-krekk....!"

Dan ujung meja itu hancur menjadi bubuk dalam cengkeramannya. Wajah panglima itu menjadi pucat sekali dan matanya terbelalak ketakutan.

"Ciangkun, apakah lehermu lebih keras daripada papan meja ini?"

"Jangan.... jangan bunuh aku.... apa yang kau kehendaki?"

Pembesar itu berkata, suaranya kehilangan keangkuhannya, bernada menyerah.

"Coan Ciangkun, engkau seorang laki-laki, dan memegang jabatan tinggi sebagai panglima. Semestinya engkau seorang yang gagah perkasa. Akan tetapi perbuatanmu ini sungguh memalukan sebagai seorang laki-laki. Kalau pinanganmu ditolak, itu berarti bahwa nona Gan Bi Kim bukan jodohmu. Kenapa engkau hendak memaksanya dengan cara yang begini curang dan pengecut? Kedudukanmu tinggi, akan tetapi watakmu sungguh rendah. Sekarang, aku hanya ingin engkau memperbaiki kesalahanmu, mengembalikan dua buah benda pusaka itu kepadaku. Cepat, atau aku akan kehilangan kesabaranku dan tanganku yang gatal-gatal ini akan mencengkeram lehermu atau kepalamu!"

Sengaja Yo Han meraba-raba leher itu dan Coan Ciangkun bergidik.

"Jangan bunuh.... baik, akan kukembalikan....! Tapi.... dua buah benda itu disimpan oleh Tong Gu itu...."

Dia menunjuk ke arah tubuh gendut Tong Gu, seorang di antara tiga jagoannya tadi, dengan telunjuk yang menggigil.

Yo Han dapat menduga bahwa panglima itu tidak main-main atau hendak menipunya.

Bagaimanapun juga, panglima itu telah berada di dalam kekuasaannya dan tidak akan mampu berbuat apa pun.

"Akan kusadarkan dia dan cepat perintahkan dia mengambil dua buah pusaka itu!"

Katanya dan sekali tangannya bergerak, dia telah membebaskan totokan Tong Gu.

Si Gendut itu dapat bergerak dan meloncat dengan sikap hendak menyerang.

Akan tetapi Coan Ciangkun menghardik-nya.

"Tolol, apa yang akan kau lakukan?"

Dia memang mendongkol sekali melihat ketidakbecusan para jagoannya.

Malawan seorang pemuda saja, mereka bertiga roboh, bahkan belasan orang pengawalnya juga roboh.

Dan sekarang, masih berlagak hendak melawan!

Tong Gu terkejut dan membungkuk di depan pembesar itu.

"Maafkan hamba.... hamba kira...."

"Tidak usah banyak cakap. Cepat kau ambil dua buah pusaka itu dan bawa ke sini!"

Perintah Coan Ciangkun.

"Baik, Ciangkun!"

Kata Tong Gu. Sebelum dia pergi Yo Han berkata.

"Tong Gu, jangan coba untuk main gila. Ingat, nyawa majikanmu berada di dalam tanganku. Dia akan mati sebelum engkau dapat melakukan sesuatu terhadap diriku!"

"Kalau engkau main gila, akan kusuruh hukum siksa sampai mati!"

Bentak Coan Ciangkun yang agaknya ingin cepat-cepat bebas dari tangan pemuda yang lihai itu.

"Cepat pergi dan ambil benda-benda itu!"

Tong Gu keluar dari ruangan itu dan tentu saja dia disambut oleh hujan pertanyaan dari para rekannya di luar ruangan.

Akan tetapi, dia memberi isarat dengan telunjuk di depan mulut.

"Gawat Ciangkun telah dikuasai iblis itu. Kalau kita bergerak, tentu Coan Ciangkun akan dibunuhnya. Kita tidak boleh bergerak sebelum Ciangkun dibebaskan. Kepung saja dari luar, jangan sampai ada yang lolos. Aku harus mengambilkan pusaka itu sekarang juga,"

Bisiknya kepada para pimpinan pasukan.

Kini setelah penghuni gedung itu telah terbangun dan suasananya menjadi panik.

Namun, pasukan itu hanya mengepung di luar gedung, dan keluarga Coan Ciangkun berkumpul di sebelah dalam, dijaga oleh pasukan pengawal dengan ketat.

Tong Gu tidak berani mengabaikan perintah Coan Ciangkun karena dia maklum sepenuhnya bahwa nyawa majikannya dalam ancaman bahaya maut.

Dia tahu betapa lihainya pemuda yang menawan majikannya itu.

Bukan saja dia dan dua orang rekannya yang terkenal jagoan roboh di tangan pemuda itu, juga belasan orang pengawal roboh dalam waktu singkat.

Kepandaian pemuda itu tidak wajar, tidak seperti manusia biasa!

Tong Gu muncul kembali ke dalam ruangan itu.

Keadaan di situ masih seperti tadi.

Coan Ciangkun masih duduk menghadapi meja yang patah ujungnya, dan pemuda itu masih berdiri di belakang panglima dengan sikap tenang sekali.

Justru ketenangan sikap pemuda itu yang membuat Tong Gu merasa seram.

Dia meletakan bungkusan dua buah banda itu di atas meja depan Coan Ciangkun.

Yo Han lalu membuka bungkusan itu dan melihat bahwa memang itulah dua benda pusaka yang hilang.

Dia sudah mendapat keterangan jelas dari Gan Seng bagaimana bentuk dan rupa dua buah benda pusaka itu.

Tanpa ragu lagi, dia mengambil benda-benda itu dan menyimpannya ke dalam saku jubahnya.

"Kami telah menyerahkan dua buah benda pusaka itu, sekarang bebaskan kami dan pergilah, jangan ganggu kami lagi!"

Kata Coan Ciangkun menuntut.

"Nanti dulu, Ciangkun,"

Kata Yo Han dan dia memandang kepada Tong Gu lalu berkata.

"Tong Gu, cepat kau sediakan kertas dan alat tulis untuk Coan Ciangkun!"

Tong Gu tidak berani membantah dan di dalam ruangan itu memang tersedia alat tulis dan kertasnya.

Setelah perlengkapan itu berada di atas meja, Yo Han lalu berkata.

"Ciangkun, sekarang tulislah surat pengakuanmu bahwa engkau yang melakukan pencurian itu!"

Sepasang mata itu terbelalak.

"Akan tetapi.... engkau ingin melaporkan aku dan mence-lakakan aku....?"

Yo Han tersenyum.

"Kami bukanlah orang-orang macam engkau yang suka bertindak curang, Ciangkun. Surat itu perlu untuk pegangan Gan Taijin, agar engkau tidak lagi mengganggunya. Kalau engkau berani mengganggunya, maka tentu surat pengakuan itu akan diserahkannya kepada Sri Baginda Kaisar."

Panglima Coan itu menjadi lemas.

Kalau tadinya dia masih mengandung harapan kelak akan membalas semua ini kepada Gan Seng, kini harapannya itu membuyar seperti asap tertiup angin.

Dia telah kalah mutlak dan sebagai seorang ahli perang, dia pun tahu bahwa ada waktu menang dan ada pula waktu kalah.

Dan sekali ini, dia benar-benar kalah dan tidak berdaya.

Maka, tanpa banyak cakap lagi dia segera mengambil pena bulu dan menuliskan surat pengakuan seperti yang dikehendaki Yo Han.

Yo Han mendikte dan diturut oleh panglima itu.

Setelah selesai, Yo Han mengambil surat itu dan membacanya sekali lagi..Saya yang bertanda tangan di bawah ini mengaku telah mencuri dua benda pusaka, yaitu cap kebesaran dan bendera lambang kekuasaan, dari dalam gudang pusaka istana.

Perbuatan itu saya lakukan untuk membalas dendam dan mencelakakan keluarga Gan Seng, karena lamaran saya terhadap puterinya telah ditolaknya.

Kemudian, karena menginsafi perbuatan saya yang jahat, saya mengembalikan dua buah benda pusaka itu dan berjanji tidak akan mengganggu keluarga Gan lagi.

Tertanda saya, PANGLIMA COAN.

Yo Han menggulung surat pengakuan itu dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya pula.

Diam-diam Coan Ciangkun mengepal tinju.

Masih ada harapan untuk menebus kesalahannya, yaitu dengan menghadang pemuda ini, mengerahkan pasukan dan menangkapnya sebelum pemuda itu menyerahkan dua benda pusaka dan surat pengakuannya kepada Gan Seng.

Kalau pemuda ini dapat ditangkapnya, semua itu dapat dirampasnya kembali, dan dia dapat menebus kekalahannya saat itu.

Akan tetapi, harapan terakhir ini membuyar seperti gantungan terakhir pada sehelai rambut yang putus ketika pemuda itu memegang lengan kanannya dan berkata dengan lembut tapi nadanya memerintah.

"Mari, Ciangkun. Kau antar aku keluar dari gedung ini!"

Tentu saja hatinya protes karena perintah itu merupakan tanda kekalahan terakhir baginya, akan tetapi dia tidak berani membantah dan dengan kepala menunduk, dia melangkah keluar dari ruangan itu, pergelangan tangan kanannya digandeng Yo Han, seperti dua orang sahabat baik jalan bersama, seolah-olah panglima itu mengantar seorang tamu yang akrab keluar meninggalkan rumahnya!

Para prajurit dan pengawal yang tadinya sudah mengepung gedung itu, kini hanya melongo saja tidak berani bertindak apa-apa karena komandan mereka pun diam dalam seribu bahasa, tidak berani mengeluarkan komando untuk melakukan penyergapan!

Setelah tiba di pintu gerbang depan, Yo Han berkata kepada panglima itu.

"Coan Ciangkun, terima kasih atas segala kebaikanmu. Mudah-mudahan saja engkau tidak melakukan kekeliruan-kekeliruan selanjutnya. Selamat tinggal!"

Sekali berkelebat, pemuda itu lenyap ditelan kegelapan malam.

Beberapa orang perwiranya berloncatan keluar dengan pedang di tangan, hendak melakukan pengejaran.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 7

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert