Eps 12 Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo.
Dia tahu bahwa dia tidak boleh mempercayai seorang seperti Ang Tek Hoat yang telah menjadi kaki tangan pemberontak akan tetapi yang ternyata mengkhianati atasannya sendiri itu.
Akan tetapi, dia tahu pula bahwa sekali ini Ang Tek Hoat melakukan pengkhianatan dan melawan rekan-rekannya sendiri sampai mempertaruhkan nyawa karena hendak menolongnya!
Sungguhpun dia sendiri belum dapat memastikan apakah perbuatan pemuda itu terdorong oleh maksud menolongnya ataukah hendak memperebutkannya, akan tetapi harus dia akui bahwa kalau tidak ada Tek Hoat, tentu dia telah membunuh diri ketika hendak diperkosa oleh Pangeran Liong Khi Ong.
Perasaan berterima kasih ini ditambah lagi perasaan seolah-olah Tek Hoat bukan merupakan orang asing baginya, membuat puteri ini keluar dari tempat persembunyiannya dan berindap-indap menghampiri pemuda itu.
Dia bergidik ketika melewati tubuh Lam-thian Lo-mo.
Kakek yang hampir telanjang, yang hanya mengenakan cawat ini, rebah telentang, matanya melotot, mulutnya terbuka dan kepalanya pecah.
Hek-wan Kui-bo rebah menelungkup dan seluruh tubuhnya bermandi darahnya sendiri, sedangkan tubuh Pak-thian Lo-mo juga terlentang dengan dada masih tertusuk pedang.
Syanti Dewi bergidik ngeri, lalu memutari mayat-mayat itu dan menghampiri Tek Hoat yang menggeletak miring dan tidak bergerak lagi.
(Lanjut ke
Jilid 37) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 37
"Ohh...."
Syanti Dewi mengeluh dan merasa kasihan melihat pemuda itu.
Pakaiannya robek-robek dan penuh darah, tampak luka-luka bekas cambukan dari kaki sampai ke lehernya yang dibelit luka yang berdarah.
Ketika Syanti Dewi melihat muka pemuda itu, dia makin cemas.
Muka itu pucat sekali, seperti muka mayat.
Dengan hati berdebar dia menggerakkan tangannya, menyentuh dahi yang pucat itu.
Masih hangat!
Lalu dengan jari-jari tangan gemetar dia meraba dada.
Masih ada ketukan jantungnya.
Masih hidup!
Hatinya lega.
Pemuda ini belum mati.
Syanti Dewi pernah merawat Gak Bun Beng ketika pendekar itu menderita sakit, maka sedikit banyak dia telah mempunyai pengalaman.
Kini, menghadapi pemuda yang tubuhnya penuh dengan luka, mandi darah dan pingsan itu, dia cepat memberanikan diri berlari ke arah kereta.
Dia tahu bahwa Pangeran Liong Khi Ong membawa perbekalan-perbekalan dan dia membutuhkan arak untuk menolong Tek Hoat.
Dalam ketegangannya hendak menolong Tek Hoat, dia lupa akan Pangeran Liong Khi Ong dan begitu saja dia menyingkap tirai kereta dan naik ke dalam kereta.
"Aiihhh....!"
Syanti Dewi menjerit dan cepat meloncat turun lagi keluar kereta.
Dalam keadaan terkejut setengah mati itu, otomatis kepandaian silat yang pernah dipelajarinya keluar, bahkan kecepatan gerakannya bertambah!
Siapa yang tidak kaget setengah mati?
Ketika dia masuk kereta tadi, tanpa disengaja kakinya menyentuh kaki mayat Pangeran Liong Khi Ong yang mati sambil duduk di kereta dan ketika kakinya tersentuh, tubuhnya terguling sehingga bagi Syanti Dewi yang lupa akan pangeran ini dia melihat mayat itu hidup kembali dan menubruknya!
Dengan seluruh tubuh gemetar, Syanti Dewi memberanikan diri menyingkap tirai, memperingatkan diri sendiri bahwa Pangeran itu tadi telah mati!
Ketika dia menyingkap tirai, dia melihat Pangeran itu menelungkup di lantai kereta, sama sekali tidak bergerak.
Syanti Dewi ber-gidik, lalu dengan hati-hati dia naik ke dalam kereta, melangkahi mayat Pangeran itu dan cepat mulai mencari-cari di bagian belakang kereta itu.
Di dalam kereta itu tidak begitu gelap seperti di luar karena lentera kereta masih menyala.
Setelah dia menemukan guci arak, dia melompat turun dan cepat berlari menghampiri tubuh Tek Hoat yang kini sudah rebah terlentang akan tetapi agak-nya masih belum siuman dari pingsannya.
Syanti Dewi menggunakan saputangannya yang dibasahi dengan arak untuk menekan-nekan luka-luka di tubuh Tek Hoat, selain membersihkan luka juga agar darah yang keluar dapat berhenti.
Hatinya lega ketika melihat bahwa luka-luka itu tidak dalam, hanya kulit yang robek berikut sedikit daging di bawahnya.
Akan tetapi luka di sekeliling leher itu amat mengerikan, seolah-olah leher itu dikerat pisau hendak disembelih.
Luka ini terjadi ketika lehernya dijerat oleh cambuk besi tadi dan darah yang mengucur dari luka ini yang paling banyak sehingga sebentar saja saputangan Syanti Dewi menjadi merah oleh darah.
Setelah matahari mulai bersinar, Syanti Dewi bangkit berdiri, lalu pergi dari situ mencari-cari air.
Untung tak jauh dari situ dia menemukan sebatang anak sungai kecil yang airnya jernih sekali.
Cepat dia mengambil air, menggunakan guci arak yang sudah kosong dan kini dia dapat mencuci luka-luka di tubuh Tek Hoat dengan jelas.
Setelah dia membalut leher yang terluka itu dengan saputangan, dia lalu menggunakan air untuk membasahi muka dan kepala pemuda yang masih juga belum siuman itu.
Tek Hoat mengeluh lirih, lalu gelagapan.
"Hepp.... haeppp.... haeppp...!"
Dia gelagapan seperti orang tenggelam di air! "Eh, kenapa....? Kau kenapa....? Apanya yang sakit....?"
Syanti Dewi mengguncang pundak Tek Hoat ketika melihat pemuda itu gelagapan dengan mulut megap-megap.
Tanpa disengaja, Syanti Dewi mengguncang pundak yang terluka berat karena tadi ditimpa tongkat Hek-wan Kui-bo.
Tentu saja diguncang seperti itu menjadi nyeri bukan main, pemuda yang sudah siuman dan dapat merasakan itu berteriak mengaduh, kiut-miut rasa pundaknya.
"Add.... duuuhh-duh duhhh.... pundakku....!"
Karena masih setengah pingsan, maka Tek Hoat berteriak-teriak dan bersambat.
Kalau dia sudah sadar betul, tentu saja pemuda yang keras hati ini tidak akan sudi bersambat, apalagi di depan gadis itu.
"Ohhh....!"
Syanti Dewi cepat menarik kembali tangannya dan melihat pundak itu.
Baju di pundak juga robek dan baru sekarang dia melihat betapa pundak itu kulitnya biru menghitam.
"Maafkan aku....!"
"Maaf....? Sudah menghantam pundak masih minta maaf? Nenek keparat....!"
Tek Hoat memaki dan membuka matanya.
"Ouhhhh....!"
Syanti Dewi menutup mulutnya.
"Aahhh....!"
Tek Hoat membelalakkan matanya ketika melihat siapa yang berlutut di dekatnya.
Tek Hoat cepat teringat akan keadaannya.
Segera dia bangkit duduk dan menggigit bibir karena begitu dia bangkit, dunia di sekelilingnya seperti berpusingan dan seluruh tubuhnya sakit-sakit, berdenyut-denyut dan menusuk-nusuk.
Akan tetapi dia mempertahankan rasa nyeri itu, memandang ke sekeliling dan baru lega hatinya ketika dia melihat mayat Hek-wan Kui-bo, Pak-thian Lo-mo dan Lam-thian Lo-mo berserakan tidak jauh dari situ.
Barulah dia memperhatikan dirinya sendiri, meraba lehernya yang terasa panas dan mendapat kenyataan bahwa lehernya telah terbalut, mukanya basah kuyup dan air masih menetes-netes dari rambutnya ke atas muka.
Jantungnya berdebar penuh kebingungan dan hampir dia tidak percaya akan dugaannya sendiri.
Dengan gagap dia bertanya suaranya berbisik.
"Kau.... kau.... yang merawatku....?"
Syanti Dewi yang masih memandang kepadanya dengan terbelalak, takut kalau-kalau pemuda ini sudah berubah ingatannya.
Juga takut kalau pemuda ini menjadi liar dan ganas seperti yang pernah disangkanya, bergerak mundur menjauhi, tangan kanannya meraba gagang pisau yang terselip di pinggangnya dan dia mengangguk, tangan kirinya masih memegang kain basah yang tadi dipergunakan untuk membasahi muka dan kepala pemuda itu.
Dia hanya menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kepalanya.
Kenyataan ini merupakan pukulan hebat bagi Tek Hoat.
Gadis itu, Puteri Bhutan itu, yang membuat dia tergila-gila, yang ingin dirampasnya dan dipaksanya menjadi isterinya, ketika dia pingsan dan tidak berdaya, ternyata tidak membunuhnya.
Padahal, alangkah mudahnya bagi puteri itu untuk membunuhnya.
Sekali tikam saja dengan pisau di pinggang itu, dia akan tewas dan karena semua pengawal pangeran sudah tewas, hal itu berarti kebebasan sepenuhnya bagi Syanti Dewi.
Akan tetapi tidak!
Puteri itu, wanita bangsawan tinggi itu, malah merawat luka-lukanya!
Kenyataan ini membuat Tek Hoat tertawa sendiri, suara ketawa yang aneh.
Syanti Dewi mernandang dengan sinar mata tajam penuh selidik.
Wajah itu, suara ketawa itu.
Dia pernah rasanya mengenal pemuda ini!
Bukan, bukan sejak menawannya dan membawanya kepada Pangeran Liong Khi Ong, akan tetapi jauh sebelum itu, dan dalam keadaan yang lebih baik.
Akan tetapi dia lupa lagi kapan dan di mana.
Dipandang seperti itu, Tek Hoat menghentikan suara ketawanya yang tadi keluar di luar kehendak-nya, dengan gugup dia berkata.
"Aku.... aku.... bermimpi.... tenggelam ke dalam sungai.... kiranya engkau membasahi mukaku...."
"Aihh....!"
Syanti Dewi meloncat berdiri, ucapan itu mengingatkan dia.
"Engkau adalah tukang perahu itu! Ya, engkau tukang perahu dahulu itu!"
Dia mengingat-ingat, lalu berkata lagi.
"Aku me-ngerti sekarang! Engkau dahulu menyamar sebagai tukang perahu, pantas ada yang menyebutmu Si Jari Maut!"
Tek Hoat berusaha untuk tersenyum, akan tetapi mana bisa dia tersenyum kalau seluruh tubuhnya terasa sakit, dan lebih lagi dari itu, kalau seluruh hati dan pikirannya terasa sakit?
Dia begitu jahat, dan puteri itu begitu baik!
Seperti si binatang liar dan si Dewi Kahyangan!
Dia menghela napas dan memejamkan matanya.
"Puteri Syanti Dewi, kau pergilah....! Pergilah sebelum terlam-bat....!"
Syanti Dewi mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi engkau.... engkau terluka parah...."
"Biarkan aku mampus, dunia takkan rugi karenanya!"
Katanya dengan hati sebal dan dia melemparkan tubuh ke belakang.
"Dukkk!"
Kepalanya menimpa akar pohon dan dia mengerang lirih, menjadi setengah pingsan lagi karena benturan kepalanya dengan akar yang dalam keadaan biasa tentu tidak akan terasa olehnya itu, kini terasa seolah-olah kepalanya dihantam palu godam sebesar kerbau!
"Aihhh, kasihan engkau....
pemuda yang malang....!"
Syanti Dewi sudah berlutut lagi di dekatnya dan menggunakan kain basah itu untuk menghapus darah yang kembali mengalir di leher dan pipi, karena benturan tadi membuat kepala yang luka oleh lecutan cambuk berdarah lagi.
"Kasihan? Engkau.... kasihan kepadaku?"
Tek Hoat bangkit duduk, tidak peduli betapa pandang matanya sendiri berkunang dan kepalanya menjadi pening sekali.
"Puteri Syanti Dewi kasihan kepadaku? Ha-ha-ha! Semestinya engkau kasihan kepada dirimu sendiri yang sudah begitu percaya kepada orang lain, kepada tukang perahu jahanam itu!"
Syanti Dewi mengerutkan alisnya, memandang khawatir.
Tak salah lagi, pemuda ini menjadi miring otaknya karena pukulan-pukulan yang diterimanya ketika bertanding tadi!
"Mengapa?
Tukang perahu itu telah menolong aku dan Adik Candra Dewi,"
Bantahnya.
"Ha-ha-ha! Betapa bodohnya! Tukang perahu itu adalah mata-mata Pangeran Liong yang sengaja diutus untuk menyelidik dan untuk menawan Puteri Syanti Dewi! Dan puteri itu malah percaya kepada seorang pembantu dan tangan kanan pemberontak Liong Khi Ong!"
"Akan tetapi, engkau telah menyelamatkan aku dari mereka, engkau malah telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan tiga orang kaki tangannya!"
Tek Hoat memandang puteri itu dengan mata merah, tertawa dan menudingkan telunjuknya seperti orang gila.
"Ha-ha-ha, engkau puteri bodoh! Patut dikasihani! Engkau terlalu baik hati, engkau terlalu percaya orang. Aku membunuh mereka karena ingin memperebutkan engkau! Aku orang jahat, dan engkau.... engkau malah merawatku! Ha-ha, belum pernah aku melihat yang segila ini. Pergilah kau.... pergi....! Sebelum aku lupa diri....!"
Kembali Tek Hoat merebahkan dirinya dan memejamkan mata, menggunakan jari-jari tangannya menjambak rambutnya sendiri.
"Aku keracunan.... terluka parah, tentu akan mati.... kau pergilah, kau menjauhlah, jangan dekat-dekat.... aku kotor sekali, aku perampok, pembunuh, tukang perkosa.... aku tidak berharga.... ahh, Ibu....!"
Ucapan Tek Hoat sudah kacau tidak karuan.
Memang pemuda ini selain menderita luka-luka, juga telah terkena racun yang hebat, racun yang berada di cambuk Siang Lo-mo.
Seperti telah diketahui, sejak Siang Lo-mo merampas kitab cacatan tentang racun dari Ban-tok Mo-li, mereka telah menggunakan ilmu tentang racun itu untuk membuat cambuk mereka menjadi senjata yang mengandung racun amat berbahaya.
Kini, terluka berkali-kali oleh cambuk-cambuk beracun itu, tentu saja Tek Hoat terpengaruh dan luka-luka itu mulai membengkak dan membiru, bahkan lehernya telah menjadi matang biru dan mengerikan sekali.
"Ah, kasihan engkau, orang muda yang malang....!"
Syanti Dewi adalah seorang wanita yang berwatak lembut.
Melihat kesengsaraan dan penderitaan pemuda ini, hatinya menjadi tidak tega, penuh dengan perasaan iba, maka dia tidak mempedulikan sikap pemuda itu, Bahkan tanpa takut-takut lagi dia lari mendekat, berlutut dan membasahi dahi pemuda itu dengan air karena dahi itu amat panas sampai mengepul-kan uap!
Tek Hoat merintih-rintih dan mengeluh, menyebut-nyebut ibunya karena dia seolah-olah melihat ibunya yang marah-marah dan memaki-makinya, kemudian melihat wajah Kam Siok, pemilik restoran di Shen-yang yang dibunuhnya, wajah Kam Siu Li, puteri Kam Siok yang telah dikawinkan kepadanya kemudian dibunuhnya pula, wajah Liok Si, janda Kam Siok yang genit itu, dan wajah orang-orang yang pernah dibunuhnya, semua datang dan mengejar-ngejarnya hendak membalas dendam!
Dia lari ketakutan, kemudian dia melihat Syanti Dewi yang melayang turun dari angkasa seperti Dewi Kwan Im Pouwsat, cantik jelita dan agung, lemah-lembut dan ramah, mengulurkan tangan kepadanya.
"Lindungi aku.... ohh, lindungi aku...."
"Tenanglah, Tek Hoat, tenanglah...."
Dewi itu berkata halus dan menaruh tangannya ke atas dahinya. Tangan yang lembut dan halus, sejuk dan mengusir nyeri.
"Ampunkan aku yang penuh dosa...."
Dia berbisik, meraba dan menangkap tangan halus lembut itu dan mencium tangan itu.
Syanti Dewi menarik tangannya dengan halus.
Hatinya terharu.
Boleh jadi orang ini telah melakukan penyelewengan-penyelewengan hebat, pikirnya, dan penyesalan telah menggerogoti perasaannya sendiri.
Penyesalan akan perbuatan yang berdosa merupakan hukuman yang amat berat bagi orang itu.
"Ang Tek Hoat, engkau tadi begitu gagah kenapa sekarang menjadi begini lemah?"
Suara Syanti Dewi ini merupakan air dingin yang mengguyur kepala Tek Hoat.
Seketika dia berhenti mengeluh, membuka mata dan pandang matanya kembali menjadi dingin, biarpun mukanya kini merah sekali seperti dibakar.
Dia bangkit duduk, menggoyang-goyang kepala sebentar seperti hendak mengusir kepeningannya.
Kemudian dia berkata.
"Puteri Syanti Dewi, terima kasih atas kebaikanmu. Engkau mulia seperti dewi, dan aku jahat seperti iblis. Engkau pergilah dari sini, kau cari Jenderal Kao. Dia seorang gagah yang akan menolongmu...."
Tiba-tiba mata pemuda itu kelihatan beringas memandang ke kanan.
Syanti Dewi bangkit berdiri, juga menoleh dengan ketakutan, mengira bahwa ada musuh-musuh baru yang datang.
Tampak datang beberapa orang berlarian cepat sekali gerakan mereka, seperti sekumpulan binatang rusa yang lari sambil berlompatan menuju ke tempat itu.
Sukar bagi Syanti Dewi untuk mengenal bayangan orang-orang yang berlari secepat itu dan kini mereka yang terdiri dari tiga orang itu telah berdiri di situ, memandangi kereta dan mayat-mayat yang berserakan, kemudian memandang kepada Tek Hoat dan Syanti Dewi.
"Bu-koko....!"
Syanti Dewi berseru dengan lega dan girang ketika melihat mereka dan di antara mereka itu terdapat Jenderal Kao Liang dan Suma Kian Bu!
Terutama sekali melihat Kian Bu hatinya begitu lega sehingga tak terasa lagi dia berlari ke arah pemuda ini yang juga berlari menghampirinya.
"Adik Syanti Dewi....!"
Dan tanpa dapat dicegah lagi, lupa akan keadaan saking lega dan girangnya hati, Syanti Dewi membiarkan dirinya dipeluk oleh Suma Kian Bu!
Dia menangis dengan penuh keharuan dan kelegaan hati.
Yang datang adalah Jenderal Kao Liang, Kian Bu, dan Puteri Milana.
Malam tadi menjelang pagi, ketika barisan yang dipimpin Puteri Milana tiba di depan Teng-bun untuk membantu Jenderal Kao, jenderal ini segera mengerahkan barisan untuk menyerbu Teng-bun dengan kekuatan yang jauh lebih besar setelah ada bantuan itu.
Perang hebat terjadi akan tetapi sekali ini, Kim Bouw Sin tidak lagi dapat bertahan.
Apalagi karena dia sudah kehilangan para pembantunya yang lihai.
Tek Hoat tidak kelihatan mata hidungnya, Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo sudah pergi mengawal Pangeran Liong Khi Ong, sedangkan Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li juga tidak kelihatan lagi.
Maka setelah matahari terbit, pasukan-pasukan pemerintah berhasil membobolkan pintu-pintu gerbang dan menyerbu masuk seperti banjir.
Teng-bun tak dapat dipertahankan lagi dan Kim Bouw Sin sendiri tewas dalam perang itu.
Tentu saja Jenderal Kao dan Milana, diikuti oleh Kian Bu, pertama-tama menyerbu gedung tempat tinggal Pangeran Liong Khi Ong untuk menangkap pangeran pemberontak itu.
Akan tetapi ternyata Pangeran itu telah melarikan diri semalam.
Ketika mendengar dari para pelayan bahwa Pangeran itu pergi membawa Puteri Bhutan, Kian Bu dan Jenderal Kao terkejut sekali.
Bersama Puteri Milana, mereka lalu secepatnya melakukan pengejaran melalui pintu rahasia yang tentu saja dikenal oleh Jenderal Kao dan mereka terus mengejar ke dalam hutan.
Tek Hoat membuka mata dan mengejap-ngejapkan matanya, sejenak memandang ke arah Syanti Dewi yang menangis dalam dekapan seorang pemuda tampan yang dia kenal sebagal seorang di antara dua orang pemuda kakak beradik yang pernah berlawan dengannya.
Dia melihat pula Jenderal Kao dan seorang wanita cantik sekali yang amat gagah perkasa.
Dia pernah melihat wanita ini dan samar-samar teringatlah dia kepada wanita yang dulu dijumpainya di dalam hutan ketika wanita yang amat lihai ini membunuh seekor harimau besar.
Akan tetapi dia tidak mempedulikan itu semua, matanya kini menatap Syanti Dewi, yang dipeluk oleh pemuda itu.
Hatinya menjadi panas sekali dan tanpa mempedulikan apa-apa lagi Tek Hoat melompat dan menerjang ke arah Suma Kian Bu!
"Plakkk!"
Tek Hoat terpelanting ketika dari samping ada lengan halus yang mendorongnya dengan kekuatan yang amat dahsyat.
Kiranya wanita itu dengan sikap gagah dan pandang mata tajam menusuk menegurnya.
"Engkau mau apa?"
Tek Hoat menjadi marah sekali.
Dia tidak peduli siapa adanya wanita gagah itu, akan tetapi yang ada di dalam hatinya hanyalah kemarahan yang amat he-bat.
Kemarahan yang timbul seketika pada saat dia melihat Syanti Dewi dalam pelukan pemuda tampan itu.
"Aku mau membunuh!"
Bentaknya dan kemarahan membuat dia lupa akan segala kenyerian yang menusuk-nusuk seluruh tubuh, dari kepala sampai kaki dan dengan ganas dia sudah menerjang lagi, otomatis dia menggunakan jurus Pat-mo Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Delapan Iblis) yang menjadi ilmu silat tinggi pertama kali yang dilatihnya.
Gerakan ilmu silat ini memang hebat dan ganas sekali, dan sin-kang yang mendorong gerakan ilmu ini adalah sin-kang yang mengeluarkan hawa panas.
"Aihhh....!"
Puteri Milana terkejut dan terheran-heran bukan main, cepat menggerakkan kaki tangannya dengan ilmu silat yang sama pula.
Tentu saja dia merasa heran karena gerakan pemuda ini adalah gerakan ilmu silat rahasia dari perkumpulan Thian-liong-pang, yaitu perkumpulan yang dahulu diketuai oleh ibunya, Puteri Nirahai (baca cerita SEPASANG PEDANG IBLIS).
Dan ilmu silat ini adalah ciptaan ibunya itu, yang mengambil gerakan-gerakan dari Ilmu Silat Pat-mo Kiam-sut digabung dengan Ilmu Silat Pat-sian Kiam-sut (Ilmu Pedang Delapan Dewa) sehingga terciptalah Ilmu Silat Tangan Kosong Pat-mo Sin-kun itu.
Akan tetapi ilmu itu hanya dikenal oleh ibunya, dia sendiri dan para bekas tokoh Thian-liong-pang saja.
Bagaimana sekarang bisa dimainkan oleh pemuda ini secara demikian baiknya?
"Hai, dari mana engkau mempelajari Pat-mo Sin-kun?"
Puteri Milana berseru makin heran karena mendapat kenyataan betapa pemuda ini memiliki tenaga yang amat kuat, sungguhpun jelas bahwa pemuda ini sudah menderita luka-luka parah dan keracunan.
Tek Hoat juga terkejut ketika melihat wanita menghadapinya dengan Pat-mo Sin-kun yang demikian baik gerakannya, jauh lebih baik daripada gerakannya sendiri.
Maka tanpa menjawab dia lalu mengerahkan tenaga Inti Bumi dan mendorong.
"Bress.... ihhh....!"
Milana terdorong dan terhuyung, bukan main kagetnya.
"Keparat, engkau pemberontak keji!"
Kian Bu sudah melepaskan Syanti Dewi dan melihat kakaknya terdorong itu, dia lalu menerjang ke depan dan memukul dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang.
Tek Hoat yang marah dan benci kepada pemuda yang memeluk Syanti Dewi ini, membalikkan tubuh mengerahkan tenaga sin-kangnya dan menangkis.
Keduanya mengeluarkan tenaga sekuatnya, akan tetapi Kian Bu sama sekali tidak tahu bahwa lawannya itu telah terluka parah.
"Desss....!"
Tubuh Tek Hoat terlempar, membentur batang pohon dan roboh tergelimpang, tidak bergerak lagi!
Ternyata ketika Tek Hoat mengadu tenaga dengan Puteri Milana tadi, dia telah mengerahkan tenaga Inti Bumi dan hal ini membuat luka-lukanya di sebelah dalam tubuhnya menjadi lebih parah lagi.
Maka begitu dia bertemu dengan Kian Bu yang memiliki sin-kang murni dari Pulau Es, tentu saja dia tidak mampu menandinginya dan dia terbanting dengan keras sampai pingsan.
"Ah, Bu-ko, kau membunuhnya....?"
Syanti Dewi berlari menghampiri tubuh Tek Hoat, berlutut dan memandang penuh kekhawatiran.
"Adik Syanti Dewi, dia kaki tangan pemberontak, dia jahat....!"
Kian Bu berkata dengan heran dan penasaran melihat dara itu membela lawannya.
Juga Puteri Milana memandang dengan heran dan diam-diam dia kagum akan kecantikan Puteri Bhutan ini.
Pantas saja adik kandungnya tertarik kepada puteri ini dan sikap mereka ketika bertemu tadi menimbulkan dugaannya bahwa adiknya itu jatuh hati kepada Syanti Dewi.
Maka kini sikap Syanti Dewi yang berlutut di dekat kaki tangan pemberontak itu mengherankan hatinya.
"Apa artinya ini?"
Dia bertanya.
"Adik Syanti, pemberontak ini dibunuh pun sudah sepatutnya."
Kian Bu berkata lagi.
"Tidak.... tidak....! Bu-koko, engkau tidak tahu. Dialah yang telah menolongku. Dia yang telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan tiga orang pengawalnya. Lihat itu, mayat mereka masih berada di sana. Kalau tidak ada Tek Hoat ini, aku tentu telah menjadi mayat sekarang."
Syanti Dewi berkata sambil menunjuk ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan dan dia membayangkan be-tapa dia sekarang tentu telah membunuh dirinya karena hendak diperkosa oleh Pangeran Liong Khi Ong kalau saja tidak ditolong oleh Tek Hoat.
"Ehh....?"
Kian Bu tertegun heran.
"Dia adalah tangan kanan Pangeran Liong Khi Ong yang terkenal sekali. Dialah yang berjuluk Si Jari Maut dan yang mempergunakan nama Gak Bun Beng Taihiap! Dia jahat dan keji, juga menjadi kaki tangan pemberontak. Syanti, minggirlah, orang ini harus ditangkap atau dibunuh."
Jenderal Kao Liang juga berkata sambil melangkah maju menghampiri Puteri Bhutan yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu.
"Gi-hu (Ayah Angkat)....!"
Syanti Dewi bangkit dan memegang lengan jenderal tinggi besar itu.
"Harap jangan bunuh dia. Dia terluka dan menderita seperti itu karena menolong saya. Andaikata dia tidak menolong saya, tentu dia sudah dapat melarikan diri jauh dari sini dan kalian tidak dapat menangkapnya. Dia menolong saya dan karenanya dia terluka dan tidak dapat lari. Kalau kalian membunuhnya, sama artinya dengan saya yang membunuhnya. Gi-hu, epakah engkau ingin mempunyai seorang anak angkat yang berwatak palsu tidak mengenal budi orang?"
Puteri Milana sudah melangkah maju dan berkata kepada adiknya.
"Bu-te (Adik Bu), dia betul. Kita harus merawatnya, dan aku melihat keanehan pada dirinya. Dia mengenal ilmu rahasia Thian-liong-pang! Mungkin pemuda ini menyimpan rahasia."
Kian Bu masih ragu-ragu.
"Akan tetapi, Enci, menurut Kao-goanswe dia telah mempergunakan nama Gak-suheng dan merusak namanya!"
"Hal itu pun ada rahasianya. Kita rawat dan menahan dia sebagai seorang tawanan yang terawat baik. Betapapun juga, dia telah berjasa dengan membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan tiga orang pengawalnya yang lihai ini."
Kian Bu tidak berani membantah lagi dan dia lalu memanggul tubuh Tek Hoat yang lunglai dan pingsan.
Kemudian mereka kembali ke Teng-bun yang sudah diduduki oleh pasukan pemerintah.
Pukulan hebat yang dilakukan oleh pasukan di bawah pimpinan Jenderal Kao Liang dan Puteri Milana itu sekaligus menghancurkan kekuatan pemberontak, apalagi kematian Panglima Kim Bouw Sin dan kematian Pangeran Liong Khi Ong melemahkan semangat perlawanan para anak buah pasukan sehingga sebagian besar di antara mereka segera takluk dan menyerah dan hanya sedikit saja yang melarikan diri secara liar karena takut akan hukuman yang pasti dijatuhkan kepada mereka.
Seperti juga kota Teng-bun, kota pemberontak ke dua, Koan-bun, dengan mudah terjatuh ke tangan pemerintah setelah terjadi perang yang amat hebat di dalam kota itu.
Pasukan yang dipimpin oleh Panglima Thio dan dibantu oleh putera Jenderal Kao itu telah berhasil membasmi pemberontak yang telah kelelahan karena baru saja pasukan pemberontak bertanding mati-matian ketika mereka menghancurkan pasukan liar Tambolon.
Apalagi di kota ini terdapat Gak Bun Beng dan Suma Kian Lee yang telah berhasil mengusir tokoh hitam lihai yang membantu pemberontak, yaitu ketua Pulau Neraka Hek-tiauw Lo-mo dan sumoinya, Mauw Siauw Mo-li.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ceng Ceng roboh pingsan karena luka-lukanya akibat pukulan-pukulan yang mengandung racun, terutama sekali pukulan yang diterimanya dari Hek-tiauw Lo-mo, karena tangan Ketua Pulau Neraka ini mengandung racun yang amat ampuh sehingga biarpun Ceng Ceng sendiri merupakan seorang ahli tentang racun, namun tetap saja dia menderita luka di sebelah dalam tubuhnya yang parah.
Dengan hati penuh kekhawatiran, Suma Kian Lee memondong tubuh dara yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali dia melihat dara ini di pasar kuda dahulu, mengikuti seorang perwira menuju ke sebuah gedung yang telah diduduki pasukan pemerintah.
Setelah merebahkan tubuh yang mukanya kini pucat agak kehijauan itu di atas pembaringan, Kian Lee cepat duduk bersila di dekat gadis itu, meletakkan kedua tangannya di atas pundak Ceng Ceng dan mulailah dia mengerahkan tenaga sin-kang yang amat kuat untuk membantu gadis itu mengusir hawa beracun yang mengeram di dalam tubuhnya.
Namun dengan amat terkejut dan heran Kian Lee merasakan betapa ada tenaga lain yang keluar melawan pengerahan tenaganya.
Dia tidak tahu bahwa tubuh dara itu telah mengandung racun setelah dia menguasai ilmu tentang racun dari Ban-tok Mo-li dan melatih diri, tubuhnya menjadi beracun sehingga dara itu dapat mengerahkan hawa beracun yang amat hebat, bukan hanya di dalam pukulannya, bahkan di ludahnya sekalipun!
Adalah hawa ini yang melawan ketika dia mengerahkan sin-kang untuk mengusir hawa beracun yang disangkanya adalah akibat pukulan-pukulan Hek-tiauw Lo-mo.
Andai-kata pukulan Hek-tiauw Lo-mo itu merupakan pukulan beracun biasa saja, agaknya tidak akan mampu membuat Ceng Ceng terluka sedemikian beratnya.
Akan tetapi pukulan Hek-tiauw Lo-mo adalah pukulan beracun yang dilatihnya dari kitab yang dapat dicurinya dari Dewa Bongkok, dan pukulan beracun ini hebat sekali, melebihi kehebatan hawa beracun di tubuh Ceng Ceng!
Itulah sebabnya maka pemuda yang memiliki sin-kang murni dari Pulau Es ini akan tetapi bukan seorang ahli pengobatan, menjadi gagal dan bingung.
Akan tetapi dia tidak menghentikan usahanya untuk menolong Ceng Ceng dan masih terus saja dia mengerahkan sin-kangnya, Tidak peduli bahkan ketika dia mulai merasa betapa ada perasaan gatal-gatal menjalar masuk melalui telapak tangannya.
Dia tahu bahwa secara aneh sekali, ada hawa beracun yang menular kepadanya, akan tetapi dia tidak mempedulikan dirinya sendiri dalam keinginannya untuk menyembuhkan Ceng Ceng.
Setengah hari lebih Kian Lee berusaha mati-matian untuk menyembuhkan gadis itu dengan sia-sia.
Lewat tengah hari, Ceng Ceng siuman dari pingsannya dan terkejutlah dia ketika melihat pemuda tampan yang menolongnya itu duduk bersila, menempelkan kedua telapak tangan di kedua pundaknya dan dari kedua telapak tangan pemuda itu keluar hawa yang hangat.
Apalagi ketika dia melihat betapa kedua tangan pemuda itu menjadi agak kehijauan, dia terkejut sekali, tahu apa yang telah terjadi dengan diri pemuda itu.
"Jangan....! Hentikan itu....!"
Katanya sambil bangkit duduk.
"Tenanglah, Nona. Aku akan berusaha untuk mengusir hawa beracun dari dalam tubuhmu...."
"Jangan lakukan itu! Ah, engkau tidak tahu.... engkau mencari celaka sendiri....!"
Ceng Ceng menolakkan kedua tangan pemuda itu dan duduk di pinggir pembaringan, kepalanya terasa pening sekali dan di dada kanan dan punggung terasa nyeri.
"Engkau malah meracuni dirimu sendiri...."
Katanya, suaranya agak terharu melihat tangan pemuda itu menjadi kehijauan.
"Nona Lu, engkau terkena pukulan-pukulan beracun, kalau tidak segera dilenyapkan hawa beracun itu, amat berbahaya. Biarlah aku mencobanya lagi...."
"Tidak! Engkau sendiri yang akan celaka.... ah, kau tidak tahu. Racun di tubuhku telah menular kepadamu. Lihat kedua telapak tanganmu."
Kian Lee memandang kedua telapak tangannya.
"Tidak mengapa, yang penting engkau harus terhindar dari bahaya maut."
Ceng Ceng memandang pemuda itu penuh perhatian, alisnya berkerut ketika dia bertanya.
"Engkau mengenalku?"
Kian Lee mengangguk.
"Engkau adalah Nona Lu Ceng, saudara angkat Puteri Syanti Dewi dari Bhutan, engkau seorang dara perkasa yang berjiwa pahlawan, engkau hampir mengorbankan nyawa sendiri ketika menolong Jenderal Kao Liang, sekarang engkau pun terancam bahaya maut setelah engkau berhasil mengadu domba Tambolon dengan pemberontak. Engkau seorang dara yang hebat, Nona Lu."
Jantung gadis ini berdebar tegang dan aneh.
Pandang mata pemuda ini mengingatkan dia akan pandang mata Pangeran Yung Hwa, sungguhpun sikapnya tidak seperti pangeran itu yang menyatakan cintanya terang-terangan!
Pandang mata seorang pria yang mencintanya!
"Kenapa....
kenapa engkau berusaha menolongku dengan menempuh bahaya?
Kau bisa keracunan dan mati!"
Suma Kian Lee tersenyum dan menggeleng kepala.
"Aku tidak akan mati, Nona, dan andaikata mati pun kalau dapat menyelamatkan engkau dari bahaya maut, hatiku akan puas."
"Hemm, kau siapakah namamu?"
"Namaku Suma Kian Lee dan.... ohh, engkau kenapa, Nona?"
Dia hendak menubruk maju dan sudah mengulur tangan, akan tetapi dia tidak berani memegang atau menyentuh tubuh itu demi kesopanan.
Ceng Ceng memegang kepalanya yang terasa pening sekali.
Dia menguatkan dirinya dan membuka matanya lagi.
"Engkau pernah kulihat.... ah, lupa lagi aku di mana...."
"Di pasar kuda, dan kedua kalinya di waktu engkau hendak ditangkap oleh Hek-tiauw Lo-mo...."
Kian Lee berhenti sebentar dan memandang wajah yang cantik itu penuh perhatian, karena dia teringat betapa jauh bedanya keadaan dara itu dalam dua kali pertemuan itu.
Yang pertama dara itu kelihatan lincah jenaka dan gembira, akan tetapi yang kedua kalinya dara itu menjadi dingin dan amat ganas.
"Dan yang ketiga kalinya aku dan adikku melihat engkau di rumah Jenderal Kao di kota raja, akan tetapi engkau terus berlari pergi. Nona Lu, biarkan aku mengobatimu, kalau engkau sudah sembuh baru kita bicara lagi."
Kian Lee khawatir sekali melihat wajah cantik yang kehijauan itu.
Ceng Ceng menggeleng kepala lalu bangkit berdiri, agak terhuyung dan dia terpaksa berpegang kepada punggung kursi.
"Tidak, tidak ada gunanya. Engkau tidak akan dapat menyembuhkan aku, tidak ada yang dapat menyembuhkan.... biarkan aku pergi saja dari sini...."
"Heh! Siapa bilang tidak ada orang dapat menyembuhkan? Aku belum pernah melihat penyakit yang tak dapat kusem-buhkan!"
Kian Lee cepat menengok, dan dengan mata sayu Ceng Ceng yang pandang matanya berkunang itu pun menoleh ke arah pintu.
"Sute, kau kenapa....?"
Gak Bun Beng cepat menghampiri Kian Lee, menangkap tangan pemuda itu dan memeriksanya.
"Ahh, kau keracunan!"
Pendekar itu berseru kaget.
"Dia.... dia keracunan.... ketularan oleh racun di tubuhku...."
Ceng Ceng berkata lemah.
"Biarkan aku pergi...."
Dia terhuyung hendak menuju ke pintu.
"Dia keracunan hebat, dan pemuda ini pun keracunan,"
Kata kakek yang datang bersama Gak Bun Beng, seorang kakek yang aneh, membawa tongkat dan pandang matanya tidak acuh.
"Akan tetapi jangan mengira aku tidak dapat menyembuhkan!"
Kakek ini adalah Sin-ciang Yok-kwi Kwan Siok.
Seperti telah diketahui kakek ini adalah ahli pengobatan yang pernah bertemu dan bahkan mengadu kepandaian dengan Gak Bun Beng yang ketika itu sedang sakit dan melakukan perjalanan bersama Syanti Dewi.
Biarpun wataknya aneh bukan main, Sin-ciang Yok-kwi (Setan Obat Bertangan Sakti) ini adalah seorang yang benci terhadap pemberontakan, maka begitu mendengar bahwa Koan-bun dan Teng-bun diserbu oleh pasukan-pasukan pemerintah, dia cepat datang dan membantu.
Kebetulan dia bertemu dengan Gak Bun Beng di Koan-bun.
Kehadiran seorang ahli pengobatan tentu saja penting sekali bagi Bun Beng karena di dalam perang terjatuh banyak korban yang perlu dengan pengobatan, apalagi dia juga teringat gadis yang telah menderita keracunan hebat, maka dia mengajak Sin-ciang Yok-kwi untuk menyusul Kian Lee setelah dia menyelesaikan bantuannya terhadap serbuan tentara pemerintah.
"Yok-kwi, kalau begitu cepat obati mereka. Nona ini adalah Nona Lu Ceng, seorang nona muda yang berjiwa pahlawan, dan pemuda ini suteku."
Lu Ceng menudingkan telunjuknya ke arah Gak Bun Beng.
"Engkau mengenal aku, akan tetapi siapakah kau....?"
Kian Lee seakan-akan hendak menutupi sikap suhengnya, maka cepat dia berkata.
"Nona Lu, dia ini adalah suhengku, Gak Bun Beng.... Eh, kenapa?"
Dia terkejut sekali melihat Ceng Ceng membelalak-kan matanya, memandang kepada Gak Bun Beng seperti orang melihat setan, kemudian dia menggeleng kepala keras-keras.
"Bohong! Gak Bun Beng sudah mati....!"
Dan dia pun terguling dan tentu akan terbanting jatuh kalau tidak ditangkap oleh Kian Lee yang selalu siap di dekatnya. Dara itu telah pingsan.
"Suheng...."
Kian Lee memandang Gak Bun Beng dan dari pandang mata ini saja cukup jelaslah bagi pendekar itu apa yang terkandung di dalam hati sutenya itu.
Hatinya merasa terharu, karena dia pun pernah merasakan dorongan cinta kasih pertama seperti yang dialami sutenya pada saat itu.
Maka dia lalu menoleh kepada Sin-ciang Yok-kwi.
"Yok-kwi, kalau engkau tidak cepat menolong mereka berdua ini, pandanganku terhadap kemampuanmu akan menurun!"
Kata Bun Beng dengan muka sungguh-sungguh.
Sin-ciang Yok-kwi tidak menjawab, alisnya berkerut dan kedua tangannya sudah mulai memeriksa Ceng Ceng yang direbahkan kembali oleh Kian Lee di atas pembaringan.
Makin dalam kerut di muka kakek itu dan beberapa kali dia mengeluarkan seruan aneh.
Sampai lama dia memeriksa tubuh Ceng Ceng, kemudian dia membalik kepada Kian Lee yang duduk di pinggir pembaringan lalu memeriksa pemuda itu, memeriksa kedua tangannya yang menghijau sampai ke bawah siku, memeriksa detik jantungnya pula.
Kakek itu terhenyak ke atas kursi, matanya memandang kosong melalui pintu kamar itu.
"Yok-kwi, bagaimana?"
Bun Beng bertanya dengan penuh kekhawatiran karena pada wajah tabib pandai itu nampak kebingungan.
Yok-kwi menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Baru sekali ini aku berhadapan dengan keadaan yang luar biasa sekali!"
Katanya dan menoleh ke arah Ceng Ceng dengan pandang mata penuh keheranan.
"Pukulan yang diterima oleh gadis ini, pasti sudah akan mematikan orang lain karena racun yang terkandung di dalamnya amat luar biasa. Akan tetapi gadis ini tidak mati, bahkan di samping racun pukulan itu, di seluruh tubuhnya terdapat hawa beracun yang membuat dia berbahaya sekali bagi orang lain, racun yang kehijauan dan pemuda ini pun terkena racun yang terkandung di seluruh tubuhnya itu. Luar biasa sekali! Gadis ini bisa dinamakan manusia beracun!"
"Cukup semua keterangan itu! Yang penting, bisakah engkau menyembuhkan-nya, Sin-ciang Yok-kwi Kwan Siok?"
Bun Beng membentak tak sabar. Kakek itu memandang kepada Bun Beng.
"Gak-taihiap, engkau tahu bahwa aku adalah seorang tabib yang sanggup mengobati segala macam penyakit dan luka yang beracun sekalipun. Akan tetapi mengobati seorang manusia beracun? Sungguh tak mungkin bagiku. Pemuda ini dapat kuobati, apalagi sutemu ini memiliki sin-kang yang murni dan amat kuat. Akan tetapi gadis ini.... terus terang saja aku hanya mampu memberi obat penawar yang melenyapkan rasa nyeri sehingga dia tidak akan terlalu tersiksa. Akan tetapi.... kalau dia dapat bertahan sampai satu bulan saja sudah amat luar biasa namanya. Mungkin dalam belasan hari saja dia sudah harus mati...."
"Tidak....!"
Tiba-tiba Kian Lee yang biasanya bersikap tenang itu berteriak.
"Suheng, tidak mungkin membiarkan dia mati....!"
Gak Bun Beng menarik napas panjang.
"Sute, bukan kitalah yang menentukan tentang hidup atau mati. Kita hanya dapat berusaha, dan tentu saja kita harus berusaha sedapat mungkin untuk menyembuhkan Nona Lu ini. Yok-kwi, sebagai seorang yang telah berani memakai julukan Setan Obat, tidak malukah engkau kalau harus mengatakan bahwa engkau tidak mengenal cara penyembuhan bagi nona ini?"
Kakek ahli obat itu memandang Bun Beng dengan mata melotot, kelihatan marah sekali.
"Gak Bun Beng, engkau terlalu mendesak dan memandang rendah padaku!"
Kemudian dia menarik napas panjang.
"Di dunia ini, hanya ada Pulau Es yang terkenal dengan ketinggian ilmu silatnya, sayang tidak terbuka bagi semua orang dan hanya dikenal oleh orang-orang seperti engkau dan keluarga Pulau Es sehingga Pulau Es menjadi tempat dalam dongeng, kemudian ada tokoh yang luar biasa ilmunya tentang racun dan dia adalah Ban-tok Mo-li akan tetapi sayang tidak ada seorang pun tahu di mana nenek iblis itu berada, ada lagi tempat yang dikenal dalam dongeng, yaitu Istana Gurun Pasir yang kabarnya ditempati oleh orang yang seperti dewa dan ahli pula tentang segala macam racun. Kemudian orang ke empat adalah suhengku, yang dalam kepandaian tentang racun dan pengobatan boleh menjadi guruku, akan tetapi suheng yang berjuluk Yok-sian (Dewa Obat) telah meninggal, sedangkan dua orang anaknya entah ke mana aku sendiri pun tidak tahu. Kau lihat, Gak-taihiap, di dunia ini yang dapat mengobati Nona ini kiranya hanyalah Ban-tok Mo-li, atau manusia dewa di Gurun Pasir, atau Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, yaitu gurumu sendiri."
"Suheng, biar kubawa dia ke Pulau Es, minta pertolongan ayah...."
Kian Lee berkata, penuh semangat.
"Apa....? Jadi pemuda ini adalah putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?"
Yok-kwi bertanya sambil memandang dengan mata terbelalak kagum. Ketika dia melihat Gak Bun Beng mengangguk membenarkan, dia cepat berkata.
"Ah, maaf.... maaf.... sungguh beruntung aku dapat memperoleh kesempatan bertemu dengan puteranya, sungguhpun tidak beruntung dapat melihat ayahnya."
"Sute, kiranya akan terlambat kalau membawanya ke Pulau Es,"
Bun Beng berkata kepada pemuda itu.
"Engkau sudah mendengar keterangan Yok-kwi tadi bahwa Nona Lu hanya dapat bertahan selama satu bulan, sedangkan perjalanan ke sana sedikitnya akan makan waktu satu bulan lebih."
"Suheng, habis bagaimana baiknya? Locianpwe, saya harap dapatlah Locianpwe menolongnya...."
Kian Lee menghadapi dua orang sakti itu dengan sikap bingung.
Hal ini tidak perlu diherankan karena biarpun Kian Lee seorang pemuda gemblengan yang memiliki kepandaian tinggi dan biasanya berwatak tenang, namun kini melihat dara yang dicintanya terancam bahaya maut, dia menjadi gelisah sekali.
"Harap tenang, orang muda yang gagah perkasa. Tepat seperti yang dikatakan oleh Suhengmu tadi, kita manusia hanya dapat berusaha, dan untuk dapat berusaha dengan baik kita perlu memiliki batin yang tenang. Biarlah sekarang aku memberi obat penawar kepadanya agar dia terbebas dari rasa nyeri, dan kedua tanganmu pun perlu diberi obat agar bersih dari hawa beracun."
"Yok-kwi, hawa beracun di kedua tangan suteku biarlah kukeluarkan dengan sin-kang...."
"Jangan, Gak-taihiap. Engkau sudah melihat sendiri betapa sutemu ketularan begitu dia berusaha mengobati gadis itu dengan kekuatan sin-kang. Hawa beracun hijau ini aneh sekali dan hawa ini yang membuat Nona Lu menjadi manusia beracun. Cara pengobatanmu dengan sin-kang tentu akan membuat engkau ketularan pula."
Kakek itu mencegah, lalu dia membuat ramuan obat-obatan yang aneh-aneh dan yang bahannya sebagian dicarinya sendiri di dalam hutan.
Setelah diobati oleh Yok-kwi, diberi minum obat dan kedua lengannya digosok, benar saja warna menghijau itu lenyap dari kedua lengan Kian Lee.
Kemudian Ceng Ceng yang masih setengah pingsan itu diberi minum obat oleh Yok-kwi, dan dia lalu meninggalkan beberapa bungkus obat kepada Kian Lee untuk digodok dan diberi minum kepada Ceng Ceng setiap hari.
Obat itu cukup untuk sebulan lamanya dan kakek itu lalu berkata kepada Bun Beng.
"Gak-taihiap. Aku memang harus malu kalau sampai tidak dapat menyembuhkan Nona Lu. Karena itu, aku akan pergi mencari obat untuknya. Syukur kalau aku dapat bertemu dengan penghuni Istana Gurun Pasir, atau Ban-tok Mo-li, atau mungkin keponakan-keponakanku yang hilang. Kalau sampai aku tidak berhasil, biarlah kubuang saja nama julukanku Yok-kwi."
Gak Bun Beng terkejut dan merasa menyesal bahwa ucapannya yang pernah dikeluarkannya itu diterima dengan sungguh-sungguh oleh Setan Obat ini.
"Ahh, Yok-kwi, aku tidak bermaksud demikian...."
Akan tetapi Yok-kwi tertawa dan menjura kepadanya, lalu kepada Kian Lee.
"Sudah demikianlah keputusan hatiku. Di samping itu, melakukan sesuatu untuk putera Pendekar Super Sakti merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan besar bagiku. Selamat tinggal, mudah-mudahan aku tidak akan terlambat memperoleh obat itu."
Tanpa dapat dicegah lagi, Sin-ciang Yok-kwi Kwan Siok pergi meninggalkan kota Koan-bun yang sudah aman kembali dan mulai dibersihkan dari mayat-mayat yang bergelimpangan itu.
Dengan penuh ketekunan Kian Lee merawat sendiri gadis itu dan dua hari kemudian barulah Ceng Ceng siuman dari pingsan atau setengah pingsan itu.
Dia membuka mata, menoleh ke kanan kiri, kemudian melihat Kian Lee duduk tertidur di atas kursi dekat pembaringannya, dia bangkit duduk.
Tubuhnya tidak terasa sakit lagi, ringan dan enak.
Teringatlah dia akan semua yang dialaminya, terutama sekali teringat dia akan wajah seorang laki-laki setengah tua yang gagah perkasa, laki-laki yang mengaku bernama Gak Bun Beng!
Padahal nama ayahnya adalah Gak Bun Beng.
Akan tetapi ayahnya yang telah menyia-nyiakan ibunya itu telah mati.
Tentu hanya sama namanya saja, pikirnya.
Lalu dia memandang kepada pemuda itu.
Pemuda yang tampan sekali, dan gagah perkasa, dan....
tentu pemuda ini mencintanya.
Jantung Ceng Ceng berdebaran aneh.
Pemuda ini tentu telah merawatnya, dan menjaganya!
Sedikit gerakan Ceng Ceng itu cukup membangunkan Kian Lee.
Dia memandang dan cepat bertanya.
"Engkau sudah dapat bangun? Syukurlah, Nona...."
Nada suaranya girang dan penuh harapan.
"Bagaimana rasanya tubuhmu....?"
Ceng Ceng menatap wajah itu, hatinya diliputi keharuan.
"Saudara Suma Kian Lee.... bagaimana tanganmu....?"
Kian Lee mengulurkan kedua tangannya, memandang tangannya sambil berkata.
"Ah, tidak apa-apa, sudah disembuhkan oleh Yok-kwi."
"Berapa lamanya aku tidur.... eh, tak sadarkan diri?"
"Ah, aku khawatir sekali, Nona Lu. Engkau pingsan dan mengigau, mengeluh selama dua hari dua malam...."
Kian Lee bergidik kalau teringat betapa nona itu dalam pingsannya atau tidurnya selalu gelisah, bahkan seringkali berteriak-teriak lirih seperti orang ketakutan yang dianggapnya tentulah akibat rasa takutnya ketika hendak diperkosa oleh Tambolon dahulu itu.
"Dua hari dua malam....? Dan selama itu.... kau terus merawat dan menjaga aku....?"
Kian Lee tersenyum.
"Ah, sudah semestinya, Nona. Habis, engkau membu-tuhkan perawatan, engkau telah memperoleh obat penawar dari Yok-kwi, yang untuk sementara dapat melenyapkan rasa nyeri, akan tetapi.... ah....,"
Kian Lee tergagap mengingat bahwa sebenarnya gadis ini masih belum sembuh sama sekali dan masih berada dalam cengkeraman maut!
"Yok-kwi Locianpwe sedang mencarikan obat penyembuh bagimu....
eh, Nona, kau....
kau menangis?"
Ceng Ceng menundukkan mukanya dan menghapus beberapa titik air matanya.
Hatinya terharu dan seperti ditusuk-tusuk rasanya.
Pemuda ini selain telah mempertaruhkan nyawa sendiri ketika berusaha menyedot racun dari tubuhnya, juga telah merawat dan menjaganya selama dua hari dua malam dan jelas bahwa pemuda itu agaknya tidak makan dan tidak tidur, Buktinya wajahnya pucat lesu dan tadi sampai tertidur di atas kursi!
Seorang pemuda yang begini tampan dan gagah, berbudi mulia, telah menyatakan cinta kasihnya lewat perbuatannya, cinta kepada dia yang tidak berharga lagi!
Makin diingat tentang keadaannya, makin terharu dan sakit rasa hatinya.
Pemuda-pemuda pilihan telah jatuh cinta kepadanya.
Pangeran Yung Hwa, seorang pangeran putera Kaisar yang tampan, terpelajar tinggi, halus, romantis dan jujur!
Kini, seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa tingginya, tampan dan gagah perkasa!
Mereka itu jelas amat mencintanya, akan tetapi dia....
ah, dia telah menjadi setangkai bunga yang layu, tidak berharga lagi, telah diperkosa oleh seorang pemuda laknat, seorang pemuda biadab.
Tiba-tiba dia teringat!
"Ah, di mana dia....?"
Tiba-tiba Ceng Ceng meloncat turun dari pembaringan akan tetapi cepat Kian Lee memegang lengannya dengan halus.
"Nona, hati-hatilah. Engkau belum sembuh.... beristirahatiah dulu...."
Ceng Ceng sadar bahwa sikapnya terlalu kasar.
Dia menoleh ke kanan kiri, mencari kalau-kalau pemuda tinggi besar yang menjadi musuhnya, pemuda yang bernama Kok Cu, pemerkosanya, berada di situ.
Dia tidak mimpi!
Dia telah bertemu dua kali!
Bayangan berkelebat di pintu dan Ceng Ceng siap untuk menyerang kalau yang datang ini adalah musuh besarnya.
Akan tetapi yang muncul di pintu adalah laki-laki setengah tua yang mengaku bernama Gak Bun Beng.
Ceng Ceng bengong dan terduduk kembali di atas pembaringan.
"Gak-suheng...."
Kian Lee berkata menyambut suhengnya. Bun Beng tersenyum.
"Ah, Nona Lu sudah sadar kembali? Syukurlah, bagaimana rasanya tubuhmu?"
Ceng Ceng tidak menjawab.
Jantungnya berdebar keras dan dengan hati tak sabar lagi dia bertanya setelah mendengar Kian Lee menyebut orang ini Gak-suheng.
"Apakah namamu Gak Bun Beng?"
Bun Beng dengan tenang lalu menarik sebuah bangku dan duduk menghadapi gadis yang duduk kembali di pinggir pembaringan itu.
Memang dia sudah merasa tertarik dan heran melihat sikap Ceng Ceng sebelum jatuh pingsan ketika gadis itu mendengar namanya disebut, dan mendengar gadis itu menyatakan bahwa yang bernama Gak Bun Beng sudah mati!
"Benar, Nona Lu Ceng.
Namaku memang Gak Bun Beng.
Apakah engkau pernah mendengar namaku itu?"
"Mendengar....? Apakah engkau murid Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?"
Ceng Ceng pernah mendengar kakeknya dulu bilang bahwa ayahnya yang bernama Gak Bun Beng bukan orang sembarangan, melainkan seorang pendekar sakti, murid majikan Pulau Es yang berjuluk Pendekar Super Sakti!
Pertanyaan ini mengejutkan Bun Beng dan Kian Lee.
"Benar sekali, Nona. Dari mana Nona mengetahui namaku?"
Wajah Ceng Ceng yang agak kehijauan itu menjadi pucat, matanya terbelalak memandang wajah Bun Beng dan jantungnya berdebar tidak karuan seolah-olah dia melihat setan di tengah hari.
"Harap.... harap kau jangan membohongi aku...."
Katanya gagap.
"Gak Bun Beng murid Pendekar Super Sakti itu telah mati....! Dia adalah ayah kandungku, sudah mati, jangan kau berani-berani memalsukan namanya!"
"Ohhh....!"
"Ahhhh....!"
Bun Beng dan Kian Lee terkejut dan saling berpandangan.
"Aihh, Nona Lu, sadarlah.... ingatlah.... ah, harap kau istirahat dulu...."
Dengan hati penuh iba karena mengira bahwa nona ini menjadi bingung dan berubah ingatan karena menderita keracunan, Kian Lee sudah bangkit dari bangkunya, menghampiri Ceng Ceng dan dengan sikap lemah lembut berusaha membujuk gadis itu untuk berbaring kembali.
"Sute, biarkan dia. Ada apa-apa di balik semua ini."
Bun Beng berkata dan sutenya duduk kembali, memandang dengan penuh kecemasan.
Bun Beng melihat bahwa Ceng Ceng tidak bicara seperti seorang yang hilang atau berubah ingatan, melainkan dengan sungguh-sungguh.
"Nona Lu Ceng,"
Katanya tenang sambil memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik.
"Engkau adalah adik angkat Puteri Syanti Dewi dan diberi nama Candra Dewi, bukan?"
Ceng Ceng mengangguk, matanya masih memandang Gak Bun Beng dengan penasaran karena mengira bahwa orang ini berani sekali memalsukan nama ayahnya yang sudah meninggal dunia.
"Syanti Dewi sudah banyak bercerita tentang dirimu."
"Kak Syanti....? Engkau mengenalnya? Di mana dia?"
"Tentu saja aku mengenalnya. Aku menyelamatkannya dari air sungai...."
"Ah, sukurlah...."
"Dan dia sekarang pun telah diselamatkan dari tangan pemberontak. Nona Lu, sepanjang pendengaranku dari cerita Syanti Dewi, engkau sejak kecil tinggal di Bhutan. Benarkah demikian?"
Ceng Ceng mengangguk lagi. Terlalu banyak hal-hal aneh terdengar olehnya sehingga sukar baginya untuk membuka suara.
"Jika sejak kecil engkau berada di Bhutan, bagaimana engkau dapat mengenal nama Gak Bun Beng yang kau katakan sebagai ayah kandungmu?"
"Memang dia ayah kandungku! Kong-kong yang bercerita kepadaku,"
Katanya kemudian.
"Pernahkah engkau bertemu dengan ayah kandungmu itu?"
Ceng Ceng menggeleng kepala.
"Siapakah nama kakekmu?"
"Kakek adalah Lu Kiong...."
"Yang menurut cerita Syanti Dewi tewas ketika melindungi engkau dan Syanti Dewi?"
Bun Beng menyambung.
"Benar."
"Dan nama ibumu?"
"Ibuku bernama Lu Kim Bwee...."
Ceng Ceng kini terkejut memandang Bun Beng yang meloncat berdiri dari bangkunya.
"Lu Kim Bwee....? Di mana dia sekarang?"
Tanyanya penuh semangat.
"Ibuku? Dia.... dia sudah mati...."
Ceng Ceng berkata dan dia memejamkan matanya.
Teringat bahwa ayah bundanya sudah mati, juga kong-kongnya, dan dia sendiri tertimpa malapetaka hebat, dia merasa betapa sengsara hidupnya!
"Ahhh....!"
Bun Beng berseru kembali dan duduk di atas bangkunya, menghela napas panjang.
"Nona Lu, harap kau suka menceritakan kepadaku, apa saja yang diceritakan oleh kong-kongmu itu kepadamu, tentang orang bernama Gak Bun Beng itu."
Hati Ceng Ceng merasa tegang.
Sikap dua orang itu, yang dia tahu adalah orang-orang yang berilmu tinggi, menimbulkan dugaan di hatinya bahwa memang ada sesuatu yang aneh, suatu rahasia mengenai keadaan dirinya.
Kakeknya jelas adalah seorang Han, bahkan menurut pengakuan kakeknya, dahulu kakeknya adalah seorang pengawal Kaisar yang setia, maka kakeknya selalu menanamkan kesetiaan dan kepahlawanan padanya.
Akan tetapi mengapa kakeknya dan ibunya meninggalkan tanah air dan berada di Bhutan yang begitu jauh?
Tentu ada rahasia di balik itu semua, dan dia merasa bahwa saat terbukanya rahasianya itu hampir tiba.
Maka dengan singkat namun jelas dia pun menuturkan keadaan dirinya dan kakeknya.
"Kong-kong adalah seorang bekas pengawal Kaisar yang mengundurkan diri dan tinggal bersamaku di Bhutan,"
Dia bercerita sambil menatap wajah Bun Beng dan pura-pura tidak melihat betapa sepasang mata Kian Lee seperti melekat dan bergantung kepada bibirnya, mata yang sinarnya penuh kemesraan dan kasih sayang!
"Kong-kong bernama Lu Kiong dan ibu sudah tidak ada.
Menurut penuturan Kong-kong, ayah kandungku bernama Gak Bun Beng dan ibuku yang bernama Lu Kim Bwee telah meninggal dunia karena merana dan berduka ditinggal pergi oleh ayah kandungku itu."
"Ahh.... sungguh kasihan engkau, Kim Bwee...."
Bun Beng mengeluh. Jantunq Ceng Ceng makin berdebar tegang. Orang ini jelas mengenal ibuku, pikirnya! Akan tetapi dia melanjutkan.
"Mendengar penuturan Kong-kong, aku lalu menyatakan hendak mencari dan menegur Ayah atas perbuatannya terhadap Ibu, akan tetapi.... Kong-kong bilang bahwa ayahku yang bernama Gak Bun Beng, murid Pendekar Super Sakti dari Pulau Es itu telah mati. Nah, begitulah cerita Kong-kong kepadaku."
"Tidak, Nona Lu Ceng. Orang yang bernama Gak Bun Beng itu belum mati. Kakekmu dan ibumu salah sangka.... akulah orang yang mereka maksudkan itu...."
Ceng Ceng mengeluarkan jerit tertahan dan mukanya pucat, matanya terbelalak memandang kepada Gak Bun Beng.
"Kalau.... kalau begitu.... engkau.... Ayaaahh....!"
Ceng Ceng sudah menubruk ke depan, merangkul pinggang pendekar itu dan menangis tersedu-sedu.
Bun Beng membiarkan gadis itu menangis di dadanya, kemudian baru dia berkata dengan halus.
"Nona, tenanglah Nona, dan duduklah baik-baik untuk mendengarkan penuturanku...."
"Suheng! Jadi dia.... dia ini.... puterimu....?"
Kian Lee juga bertanya.
"Tenang, Sute. Dan engkau pun boleh mendengarkan penuturan ini karena.... ahhh, Tuhan saja yang Maha Tahu dan mengatur segala sesuatu di dunia ini sehingga terjadi hal seperti yang kuhadapi ini, karena engkau pun.... agaknya ada kepentingan dalam hal ini. Semoga Tuhan memberi kekuatan kepada kita bertiga. Duduklah, Nona Ceng...."
Ceng Ceng melepaskan pelukannya, melangkah mundur dan duduk kembali ke atas pembaringan, wajahnya pucat dan matanya memandang penuh kekagetan dan keraguan kepada Bun Beng.
"Engkau.... engkau ayah kandungku, mengapa...."
Dia tidak melanjutkan ketika melihat sinar mata (Lanjut ke
Jilid 38) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 38 penuh iba terpancar dari mata pendekar itu, dan keheranannya bertambah.
Tadi mendengar ayah kandungnya masih menyebutnya nona, dia sudah terkejut dan terheran sekali.
"Sayang sekali, Nona Ceng, sungguh sayang sekali bahwa terpaksa aku mengaku bahwa aku bukan ayah kandungmu. Ah, aku akan bersukur kepada Tuhan andaikata benar aku adalah ayah kandungmu. Aku akan merasa bahagia dan bangga mempunyai seorang anak seperti engkau...."
Makin terbelalak mata Ceng Ceng dan jelas bahwa kata-kata dari Bun Beng itu merupakan tikaman hebat yang membuyarkan semua harapan dan kebahagiaannya tadi.
Mukanya seperti muka mayat hidup yang berwarna kehijauan.
"Ah, Nona.... tabahkanlah hatimu...."
Kian Lee berkata dan tanpa terasa lagi, tidak malu-malu lagi kepada suhengnya karena dia seolah-olah tidak sadar apa yang dilakukannya, dia memegang tangan Ceng Ceng.
Gadis itu terisak, memejamkan matanya, membiarkan air matanya bertitikan jatuh ke atas kedua pipinya dan dia menggenggam erat-erat tangan pemuda itu, seolah-olah dia minta bantuan dan kekuatan dari Kian Lee.
Bun Beng melihat ini semua dan hatinya tertusuk.
"Kalian berdua tenanglah dan beri kesempatan kepadaku untuk bercerita dengan tenang."
Ceng Ceng sadar kembali, menarik tangannya, memandang kepada Kian Lee dengan mata basah dan bersinarkan terima kasih, kemudian menghapus air matanya, menarik napas panjang.
"Hidupku selalu dirundung kemalangan dan kekecewaan demi kekecewaan menimpa diriku. Mengapa perjumpaan kembali dengan ayah kandung pun direnggut dari harapanku! Gak Bun Beng, kalau benar engkau bukan ayah kandungku, setelah tadi kau menghidupkan kembali ayah kandungku yang telah mati.... kau jelaskanlah ini semua. Demi Tuhan, kau beri penjelasan akan semua ini!"
Suaranya setengah menjerit. Bun Beng menarik napas panjang.
"Aku makin kagum padamu, Nona. Engkau menghadapi pukulan batin yang hebat itu dengan tabah. Kian Lee-sute, kuharap engkau pun dapat mencontoh kegagahan dan ketabahan hati Nona ini."
Kian Lee memandang kepada suhengnya dengan heran, akan tetapi dia mengangguk.
Dua orang muda kini menanti dengan penuh perhatian dan suasana menjadi sunyi dan hening sekali sebelum Bun Beng mulai bercerita.
"Dahulu di waktu aku masih muda, belasan tahun, hampir dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda sesat yang melakukan banyak sekali perbuatan jahat, di antaranya memperkosa wanita, akan tetapi ilmu kepandaiannya tinggi sekali...."
"Pemuda macam itu harus dibunuh!"
Ceng Ceng berseru, marah karena dia teringat akan pemuda yang memperkosa dirinya.
Bun Beng tersenyum.
Dara ini mengingatkan dia akan watak Giam Kwi Hong, murid dan keponakan Pendekar Super Sakti (baca cerita SEPASANG PEDANG IBLIS).
Lalu dia melanjutkan.
"Pemuda sesat itu bermusuhan dengan aku, maka dia selalu menggunakan namaku dalam melakukan perbuatannya yang sesat itu. Pada suatu hari, aku mengejar pemuda itu dan tiba di tepi telaga, di mana terdapat sebuah pondok tempat peristirahatan seorang gagah bernama Lu Kiong...."
"Kakekku...."
"Dan seorang gadis cantik bernama Lu Kim Bwee...."
"Ibuku...."
"Ya, akan tetapi Lu Kim Bwee itu sesungguhnya bukan anak kakek itu, melainkan cucunya!"
"Ahhh....!"
Ceng Ceng terheran-heran dan dia mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Lu Kiong adalah seorang bun-bu-cwan-jai (ahli surat dan ahli silat), bekas pengawal yang setia. Ketika mendengar bahwa pemuda sesat yang kucari-cari berada di sekitar telaga, Kakek Lu Kiong lalu membantuku untuk mencari dan mengejar pemuda itu. Akan tetapi ketika malam itu dia dan aku pergi berpencar melalui kanan dan kiri telaga, mengelilingi telaga mencari pemuda sesat itu, ternyata orang jahat itu diam-diam memasuki pondok dan memperkosa Lu Kim Bwee."
"Ahhh....!"
Ceng Ceng meloncat ke atas dan mengepal tinjunya, penuh kemarahan.
"Katakan, siapa penjahat laknat itu?"
"Dia sekarang sudah tidak ada lagi, Nona."
Bun Beng berkata.
Ceng Ceng menjadi lemas kembali, duduk dan dua titik air matanya meloncat keluar, teringat betapa sama nasib ibunya dan dia!
"Celakanya, penjahat itu melakukan perbuatan biadab itu di dalam kegelapan dan dia memang sengaja melakukan hal itu dengan memakai namaku, sehingga Kakek Lu dan Kim Bwee menuduhku!
Kakek Lu menuntut agar aku mengawini Kim Bwee.
Karena aku tidak merasa melakukan perbuatan biadab itu, aku menolak dan mereka lalu memusuhi aku.
Bahkan kemudian, bekerja sama dengan wanita-wanita lain yang telah dibuat sakit hati oleh penjahat itu yang mengaku namaku, Lu Kim Bwee dan beberapa orang lain itu mengeroyok aku dan aku terjatuh ke dalam jurang.
Mereka tentu mengira bahwa aku telah mati, Padahal sebenarnya tidaklah demikian kanyataannya.
Aku masih hidup dan semenjak itu aku tidak lagi bertemu dengan Lu Kim Bwee.
Demikianlah, Nona.
Agaknya ibumu itu, Lu Kim Bwee, bersama kakeknya, Lu Kiong, lalu pindah ke Bhutan, mungkin untuk menghindarkan aib karena agaknya ibumu telah mengandung sebagai akibat perbuatan pemuda sesat itu.
Engkau terlahir dan tentu saja kakekmu masih menganggap bahwa Gak Bun Beng yang memperkosa ibumu, maka dengan sendirinya kakekmu menceritakan bahwa ayah kandungmu adalah Gak Bun Beng.
Padahal tidaklah demikian kenyataannya."
"Penjahat terkutuk!"
Kian Lee memaki marah.
"Siapakah manusia jahat itu, Suheng?"
"Jangan kau memaki dia, Sute. Dia sudah meninggal dunia dan tentu dia pun menyesalkan semua perbuatannya. Dia itu bukan orang lain...."
"Siapa dia?"
Ceng Ceng mendesak ketika melihat Bun Beng meragu.
"Siapa penjahat yang memperkosa ibuku dan menjadi ayah kandungku itu?"
"Namanya adalah Wan Keng In...."
"Ya Tuhan....!"
Kian Lee menjerit, mukanya pucat.
"Eh, mengapa engkau....?"
Ceng Ceng terkejut melihat Kian Lee yang kini menundukkan muka yang disembunyikan di balik kedua tangannya.
Melihat keadaan Kian Lee, Bun Beng menghela napas panjang.
Betapa kejam nasib mempermainkan mereka bertiga!
Dia dapat merasakan kehancuran hati Ceng Ceng tadi, dan kini kehancuran hati Kian Lee, yang melihat kenyataan bahwa dara yang dicintanya itu ternyata adalah keponakannya sendiri, karena Wan Keng In adalah putera ibunya dari lain ayah.
Bun Beng bangkit berdiri meninggalkan kamar itu menuju ke kamarnya sendiri, membiarkan dua orang muda itu menghadapi kenyataan itu berdua saja.
"Saudara Kian Lee, kau kenapakah....?"
Kini Ceng Ceng memegang lengan Kian Lee dan mengguncangnya.
Kian Lee menahan napas, mengerahkan kekuatan batinnya untuk mengatasi pukulan hebat itu, kemudian menurunkan tangan.
Ceng Ceng terkejut melihat wajah yang kini menjadi pucat, mata yang sayu dan agak cekung itu karena memang Kian Lee menjadi agak kurus dan lemas.
"Ceng-ji, (Anak Ceng), engkau she Wan, dan jangan menyebut aku saudara karena aku adalah pamanmu!"
"Ehhh....?"
"Ketahuilah bahwa Wan Keng In itu adalah putera ibu kandungku, dari lain ayah. Ibuku sebelum menjadi isteri ayahku, Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, menjadi isteri orang lain she Wan dan mempunyai anak Wan Keng In itu. Kau.... kau maafkan aku.... Wan Ceng.... bahwa aku.... sebagai pamanmu, telah.... pernah.... jatuh cinta padamu. Nah, sudah kuakui sekarang, agak lega hatiku. Namun.... tentu saja hal itu tak mungkin lagi.... aku adalah siok-hu-mu (pamanmu) dan engkau keponakanku...."
"Paman....!"
Ceng Ceng menubruk dan mereka berpelukan.
Ceng Ceng merasa suka dan berhutang budi kepada pemuda yang halus ini dan biarpun tahu betapa akan mudah bagi dia untuk jatuh cinta kepada seorang pemuda seperti ini, di samping pemuda seperti Pangeran Yung Hwa.
Akan tetapi jangankan terdapat kenyataan bahwa pemuda ini adalah pamannya sendiri, andaikata tidak demikian pun, mana mungkin dia berani membalas cinta seorang seperti Suma Kian Lee ini?
Apalagi setelah diketahuinya bahwa pemuda itu adalah putera dari Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es!
Dia sudah tidak berharga lagi!
"Paman, maafkanlah saya....!"
Hatinya seperti diremas mengingat betapa dia tanpa disengaja telah menghancurkan hati pamannya yang baik ini, mematahkan cinta kasih yang bersemi di hati pemuda ini.
"Sudahlah, Ceng Ceng, sudahlah. Tuhan menghendaki demikian dan memang sebaiknya begini daripada menghadapi kenyataan bahwa cintaku hanya sepihak. Bagiku sama saja, Ceng Ceng, engkau tetap seorang keluarga dekat dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengusahakan pengobatan bagimu. Engkau masih dalam cengkeraman bahaya maut...."
Tiba-tiba Kian Lee berhenti dan kaget karena tanpa disengaja dia telah membuka rahasia itu.
"Jangan ragu-ragu, Siok-siok (Paman). Dalam keadaan setengah sadar aku pun samar-samar mendengar dari kakek tukang obat ini bahwa aku hanya dapat bertahan hidup sampai sebulan saja, bukan?"
Kian Lee mengangguk.
"Akan tetapi, dia sedang berusaha untuk mencarikan obat bagimu, Ceng Ceng. Dan aku akan pergi mencari Ayah, karena menurut Yok-kwi, yang dapat mengobatimu hanyalah Ayah, atau Ban-tok Mo-li...."
"Ban-tok Mo-li sudah mati."
"Bagaimana engkau bisa tahu?"
"Karena aku muridnya."
"Ahhh!"
Kian Lee terkejut dan sekarang mengertilah dia mengapa gadis ini berubah menjadi dingin dan aneh. Kiranya telah menjadi murid nenek iblis itu.
"Kata Yok-kwi, tubuhmu mengandung racun sehingga dia tidak mampu menyembuhkanmu. Kalau engkau murid Ban-tok Mo-li, tentu kau dapat mengobati sendiri."
"Tidak bisa, Siok-siok. Ilmuku belum sedemikian tingginya dan pukulan Hek-tiauw Lo-mo amat hebat. Akan tetapi, biarlah.... aku tidak takut menghadapi kematian.... dan pula, hidup lebih lama lagi untuk apakah?"
"Ceng Ceng....!"
"Benar, Paman. Hidupku penuh dengan kesengsaraan dan malapetaka selalu datang menimpa diriku...."
"Ceng Ceng, jangan putus harapan,"
Kian Lee berkata, hatinya sendiri seperti ditusuk pisau dan dia maklum bahwa tidak akan mudah baginya untuk menyembuhkan "lukanya"
Sendiri ini.
Tiba-tiba seorang perajurit penjaga muncul dan berkata bahwa di luar ada seorang tamu yang mengaku bernama Topeng Setan dan hendak bertemu dengan Nona Lu Ceng.
"Topeng Setan?"
Kian Lee berseru kaget. Akan tetapi Ceng Ceng tersenyum.
"Dia pembantuku, Paman."
Dari luar terdengar suara memanggil.
"Lu-bengcu....!"
"Eh, siapakah yang berteriak itu?"
"Itulah Topeng Setan, pembantuku. Siok-siok, ketahuilah bahwa keponakanmu yang sesat ini telah menjadi seorang beng-cu kaum sesat di dekat kota raja dan Topeng Setan adalah pembantuku."
Ceng Ceng lalu keluar dari kamar itu diikuti oleh Kian Lee yang masih bengong saking herannya.
Bun Beng juga keluar dari kamarnya dan mereka bertiga lalu keluar dari gedung itu.
Topeng Setan telah berdiri di depan gedung, dan dia menjura ketika melihat Ceng Ceng.
"Harap Beng-cu maafkan saya yang terlambat menghadap karena saya tidak tahu bahwa Beng-cu berada di sini."
"Tidak apa. Aku telah bertemu dengan musuh-musuh berat, terkena pukulan-pukulan dari Tambolon dan kemudian terpukul oleh Hek-tiauw Lo-mo sehingga keracunan hebat. Topeng Setan, aku telah ditolong oleh mereka ini. Kau harus memberi hormat, pemuda ini adalah siok-hu Suma Kian Lee dan ini adalah...."
Dia meragu ketika memandang kepada Gak Bun Beng karena tidak tahu harus me-nyebut apa kepada orang yang tadinya dianggap sebagai ayahnya itu.
"Menurut hubungan keluarga, sebut saja aku supek-hu (uwak seperguruan)."
Bun Beng membantu-nya sambil tersenyum.
"Dia ini supek-hu Gak Bun Beng,"
Ceng Ceng melanjutkan. Topeng Setan menjura kepada Kian Lee dan Bun Beng.
"Terima kasih kepada Ji-wi Taihiap (Dua Pendekar Besar) yang telah menyelamatkan Beng-cu kami."
Kemudian Topeng Setan berkata lagi kepada Ceng Ceng.
"Karena Beng-cu menderita luka parah, marilah kita pergi mencari obatnya."
Ceng Ceng mengangguk.
"Supek, dan Siok-hu, aku akan pergi bersama Topeng Setan...."
"Eh, Ceng Ceng, engkau masih sakit. Kita sedang menanti kembalinya Yok-kwi yang mencarikan obat untukmu,"
Gak Bun Beng berkata.
"Ceng Ceng, kau harap menanti di sini. Aku akan mengusahakan sekuat tenagaku untuk mencarikan obat bagimu. Aku akan ke Pulau Es...."
Kata Kian Lee.
"Tidak perlu, Supek dan Siok-siok, terima kasih atas kebaikan kalian. Akan tetapi, kurasa lebih baik kalau aku pergi saja dan tidak merepotkan kalian lagi.... aku.... aku.... ah, aku lebih senang merantau....!"
Ceng Ceng mengangguk kemudian pergi dari situ tanpa menoleh lagi. Topeng Setan menjura dengan hormat kepada Bun Beng dan Kian Lee.
"Harap Ji-wi tidak khawatir, saya akan mengusahakan sampai Beng-cu kami sembuh kembali,"
Katanya perlahan, kemudian dia pergi menyusul Ceng Ceng. Kian Lee hendak mencegah, akan tetapi Bun Beng memegang tangannya.
"Sebaiknya begitu, Sute. Dan kulihat Topeng Setan itu bukan orang sembarangan. Mungkin saja dia dapat mengusahakan kesembuhannya."
Mereka berpandangan dan Kian Lee menunduk, tidak menjawab, hanya mengangguk.
Hatinya terasa kosong, seolah-olah semangatnya ikut pergi terbawa oleh Ceng Ceng, gadis yang menjadi cinta pertamanya akan tetapi yang ternyata adalah keponakannya sendiri itu.
"Kita harus menyusul ke Teng-bun, melihat keadaan di sana dan menemui Syanti Dewi dan Kian Bu sute. Kabarnya Syanti Dewi telah diselamatkan di sana."
Bun Beng berkata lagi dan Kian Lee hanya mengangguk sunyi.
"Gak-taihiap, apakah engkau tidak bertemu dengan puteraku?"
Tanya Jenderal Kao Liang kepada Gak Bun Beng ketika Bun Beng dan Kian Lee tiba di Teng-bun disambut oleh jenderal itu sendiri.
"Puteramu, Goanswe?"
Bun Beng bertanya heran karena baru sekali dia melihat putera jenderal itu, dan yang terjadi di dalam medan pertempuran maka dia lupa lagi.
"Saudara Kok Cu telah berhasil dengan pasukannya menyerbu Koan-bun dan membasmi pemberontak, Kao-goanswe. Akan tetapi dia bertemu dengan Hek-tiauw Lo-mo dan mengejar Ketua Pulau Neraka itu."
Kian Lee menjelaskan karena dia sudah mendengar dari Bun Beng tentang putera jenderal Itu yang menge-jar Hek-tiauw Lo-mo.
"Ah, anak itu terlalu berbakti kepada suhunya, melaksanakan perintah suhunya sampai lupa kepada orang tua dan belum juga dapat berkumpul dengan kami."
Jenderal itu menghela napas.
"Dan.... apakah Ji-wi bertemu dengan Nona Lu Ceng?"
Kian Lee merasa jantungnya tertusuk, dia menunduk dan tidak berkata apa-apa. Bun Beng yang kini menjawab.
"Nona itu hebat sekali, Kao-goanswe! Akan tetapi dia telah pergi bersama Topeng Setan, pembantunya, padahal dia menderita luka hebat."
Jenderal yang hatinya penuh kegembiraan karena pemberontakan telah terbasmi dan yang selalu bersikap polos dan terbuka itu menghela napas dan berkata kepada Gak Bun Beng.
"Gak-taihiap, lihat betapa seorang tua seperti aku selalu menjadi kecewa karena ulah orang-orang muda! Ataukah kekecewaanku ini terjadi karena keinginanku sendiri yang bukan-bukan sehingga tidak tercapai? Aihhh, sampai bermimpi-mimpi olehku betapa akan bahagianya kalau benar Nona Lu Ceng masih hidup dan kelak menjadi mantuku, menjadi jodoh Kok Cu....!"
Mendengar pernyataan yang terang-terangan ini, Bun Beng dan Kian Lee saling pandang.
Akan tetapi karena Kian Lee melihat bahwa suhengnya tidak berkata apa-apa mengenai hubungan keluarga antara dia dan Ceng Ceng, dia pun tidak mau mengatakannya, pula karena ada rahasia yang kurang baik tentang ayah kandung gadis itu.
Betapapun juga dia tidak dapat berdiam diri saja ketika teringat akan peristiwa aneh di Koan-bun antara Ceng Ceng dan Kok Cu, maka dia berkata.
"Kao-goanswe, ketika puteramu datang memimpin pasukan menyerbu Koan-bun, dia telah bertemu pula dengan nona itu, akan tetapi, entah mengapa.... Nona Lu Ceng telah menjadi marah-marah dan memukul Saudara Kok Cu sampai dua kali."
"Eihhh....?"
Kenapa?"
Jenderal itu berseru kaget sekali.
"Entahlah, kami juga tidak tahu mengapa. Mungkin saja di dalam perantauan mereka sudah pernah saling bertemu,"
Kata Kian Lee.
"Pada saat itu Nona Lu Ceng baru saja mengalami pukulan tangan beracun yang hebat. Bisa saja terjadi bahwa dia kurang sadar lalu menganggap puteramu musuh dan memukulnya, Kao-goanswe."
Bun Beng cepat berkata dan jenderal itu mengangguk-angguk.
Hanya Kian Lee yang tahu bahwa suhengnya itu sebetulnya juga merasa heran, dan ucapannya itu hanya untuk menghibur belaka karena mereka berdua mendengar betapa Ceng Ceng memaki dan menyebut nama Kok Cu sebelum memukul, yang hanya berarti bahwa Ceng Ceng memukul dalam keadaan sadar dan telah mengenal pemuda putera jenderal yang juga memiliki ilmu kepandaian tinggi itu.
"Kao-goanswe, di mana adanya Enci Milana, kakakku? Dan di mana pula adikku Kian Bu dan Puteri Syanti Dewi? Kami mendengar bahwa mereka berada di sini."
Kini Kian Lee bertanya, merasa heran mengapa hanya jenderal itu seorang yang menyambut dia dan suhengnya.
Bun Beng juga memandang kepada Jenderal itu dengan pandang mata penuh pertanyaan, karena sesungguhnya sejak tadi dia pun ingin sekali tahu di mana adanya Puteri Syanti Dewi dan Puteri Milana, dua orang yang selalu berada dekat sekali di lubuk hatinya.
"Mereka telah berangkat ke kota raja. Puteri Milana khawatir kalau terjadi sesuatu dengan keluarga Kaisar di istana karena perbuatan Pangeran Liong Bin Ong, dan beliau ingin cepat-cepat melaporkan kepada Kaisar tentang tertumpasnya pemberontakan dan juga agar cepat dapat menangkap Pangeran Liong Bin Ong yang sebetulnya merupakan tokoh pertama dalam pemberontakan itu. Maka beliau segera berangkat ke kota raja, sekalian mengajak Puteri Syanti Dewi menghadap Kaisar, diikuti oleh Suma Kian Bu taihiap. Selain itu, beliau juga membawa seorang tawanan yang amat penting, yaitu Ang Tek Hoat bekas tangan kanan Pangeran Liong Khi Ong."
"Ahhh, pemberontak lihai itu!"
Kian Lee berseru.
Gak Bun Beng juga teringat akan tokoh muda pemberontak yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan yang memiliki tenaga sin-kang seperti tenaga Inti Bumi sehingga pernah mengejutkan hatinya.
"Benar,"
Kata Jenderal Kao Liang.
"Dan dia pulalah yang berjuluk Si Jari Maut, yang telah banyak melakukan kejahatan dengan menggunakan namamu, Gak-taihiap."
"Ahhh....!"
Gak Bun Beng berseru heran.
"Heran sekali, mengapa orang sejahat itu tidak dibunuh saja dan malah dibawa ke kota raja oleh Enci Milana?"
Kian Lee bertanya. Jenderal Kao Liang menghela napas.
"Kalau aku tidak salah menduga, hal itu adalah karena cinta! Cinta memang amat kuasa menimbulkan segala macam peristiwa hebat-hebat dan aneh-aneh di dalam dunia ini di antara manusia."
"Heemmm, apa maksud kata-katamu itu, Goanswe?"
Bun Beng bertanya.
"Puteri Milana, aku sendiri, dan Suma-taihiap tadinya juga berpendapat demikian dan akan membunuh saja Ang Tek Hoat itu. Akan tetapi anak angkatku itu, Puteri Syanti Dewi, adalah seorang wanita yang halus budi dan mulia. Dialah yang melarang kami membunuh Tek Hoat."
"Ahhh....!"
Gak Bun Beng terkejut dan alisnya berkerut.
"Mengapa?"
"Kiranya Tek Hoat yang terluka berat dan parah itu telah menyelamatkan Syanti Dewi dari bahaya maut dan pemuda yang sesungguhnya memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi itu ternyata telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong, sepasang kakek kembar Siang Lo-mo, dan Hek-wan Kui-bo yang lihai dalam perlawanannya membela Syanti Dewi. Mengingat akan jasa-jasanya semua itu, bukan hanya menyelamatkan nyawa Syanti Dewi akan tetapi juga membunuh pentolan-pentolan pemberontak itu, maka Puteri Milana lalu memutuskan untuk menawan pemuda itu dan membawanya ke kota raja sebagai tawanan dalam keadaan masih terluka hebat karena pukulan-pukulan maut dari Siang Lo-mo. Apalagi menurut Puteri Milana, beliau merasa terheran-heran melihat betapa pemuda itu pandai mainkan ilmu silat rahasia dan simpanan dari Puteri Nirahai sehingga menduga bahwa tentu ada hubungan sesuatu antara pemuda itu dengan Thian-liong-pang, bekas perkumpulan yang dipimpin Puteri Nirahai."
Gak Bun Beng mengangguk-angguk.
Kini dia dapat mengerti mengapa Milana menawan pemuda itu dan dia dapat menduga pula bahwa yang dimaksudkan oleh jenderal itu tentang cinta tadi adalah perubahan yang terjadi pada diri pemuda pemberontak itu yang karena cinta sampai membalik dan melawan, bahkan membunuh Pangeran Liong Khi Ong sendiri bersama tiga orang pengawalnya yang lihai-lihai itu.
Dan tidak anehlah baginya kalau Syanti Dewi mencegah pemuda itu dibunuh.
Dia sudah cukup mengenal kepribadian Syanti Dewi yang penuh dengan kelembutan dan belas kasihan, juga penuh dengan perasaan ingat budi.
"Kalau begitu, aku akan segera menyusul ke kota raja, Suheng!"
Kian Lee berkata.
"Harap Gak-suheng suka menemani aku ke sana."
"Hemm.... aku tidak mempunyai kepentingan di kota raja, Sute."
Bun Beng menjawab karena di dalam hatinya, dia sungkan, bahkan takut untuk bertemu dengan Milana dan Syanti Dewi, maklum akan kelemahan hati sendiri.
Jenderal Kao Liang memandang tajam dan berkata, suaranya biasa saja akan tetapi pandang matanya bicara banyak.
"Gak-taihiap, sebelum berangkat Puteri Milana meninggalkan pesan kepada saya untuk menyampaikan kepada Taihiap bahwa beliau ingin membicarakan suatu hal penting dengan Taihiap setelah urusan negara selesai. Hanya itulah pesan beliau."
"Kalau begitu, sebaiknya kita berangkat berdua, Suheng. Apakah Suheng tidak ingin bertanya kepada Ang Tek Hoat yang ditawan itu mengapa dia menggunakan nama Suheng untuk melakukan kejahatan? Pula, apakah Suheng tidak ingin mengurus tentang Adik Syanti Dewi?"
Bun Beng tidak dapat mengelak lagi.
Terpaksa dia memenuhi permintaan Kian Lee dan setelah bermalam di Teng-bun pada keesokan harinya mereka berangkat meninggalkan Teng-bun, naik kuda pilihan yang disediakan oleh Jenderal Kao Liang untuk mereka.
Ang Tek Hoat rebah terlentang di atas pembaringan, mukanya pucat sekali dan napasnya empas-empis.
Semenjak dia dibawa dari Teng-bun sampai ke kota raja, dia terus pingsan, tak sadarkan diri dan keadaannya makin memburuk.
Ramuan obat yang diminumkan kepadanya oleh tabib-tabib tentara tidak menolong sama sekali.
Akhirnya Puteri Milana yang mendengar akan keadaan tawanan ini, menyuruh pengawal membawa pemuda yang menderita luka-luka pukulan beracun itu ke istananya.
Puteri Milana bersama suaminya, Han Wi Kong, yang ketika bala tentara menyerbu ke utara juga ikut memimpin pasukan penyerbu ke Teng-bun, diikuti pula oleh Suma Kian Bu dan Puteri Syanti Dewi telah menghadap Kaisar.
Kaisar menerima mereka dengan girang sekali, terutama mendengar laporan bahwa pemberontak di utara telah dibasmi dan bahwa dara jelita itu adalah Puteri Syanti Dewi dari Bhutan yang dapat diselamatkan.
Ketika mendengar laporan Puteri Milana tentang Pangeran Liong Khi Ong yang tewas sebagai pimpinan pemberontak, Kaisar hanya menggeleng kepala dan menarik napas panjang.
Akan tetapi ketika Puteri Milana melapor bahwa Pangeran Liong Bin Ong berada di balik pemberontakan itu, Kaisar mengerutkan keningnya dan berkata.
"Liong Bin Ong tidak pernah meninggalkan Istananya di kota raja. Untuk menentukan salah tidaknya, harus dilakukan pemeriksaan dan penelitian lebih dulu, jangan sampai aib menimpa kerajaan."
Kemudian Kaisar menahan Syanti Dewi sebagai tamu Istana untuk menghormat Raja Bhutan dan untuk memperlihatkan iktikad baik kerajaan terhadap Kerajaan Bhutan, dan minta kepada Puteri Milana untuk menanti keputusannya tentang Pangeran Liong Bin Ong, dan juga tentang diri Puteri Syanti Dewi yang kini gagal menjadi mantu Kaisar karena matinya Liong Khi Ong itu.
Berat hati Milana terutama hati Kian Bu, meninggalkan Syanti Dewi di Istana Kaisar.
Akan tetapi tentu saja mereka tidak berani membantah, apalagi karena Puteri Bhutan itu diberi kebebasan untuk saling berkunjung dengan Puteri Milana setiap saat pun.
Demikianlah, ketika Ang Tek Hoat sudah diangkut ke istana Puteri Milana, puteri ini dan Kian Bu memeriksa keadaannya.
"Enci, kiranya hanya ada satu jalan untuk mencoba menolongnya. Dia terpukul oleh pukulan beracun yang hebat. Bagaimana kalau kita berdua membantunya?"
Milana mengangguk.
"Memang itulah yang ingin kulakukan. Dia telah berjasa besar dan untuk jasanya itu sudah cukup menjadi alasan bagi kita untuk menolongnya."
Han Wi Kong yang juga berada di situ berkata.
"Memang tepat sekali pendapat itu. Belum tentu orang yang sekali berbuat dosa, lalu selama hidupnya menjadi orang berdosa. Apalagi dia masih amat muda."
Bekas panglima yang gagah ini selalu bermuram durja semenjak dia kembali dari penyerbuan di utara.
Biarpun dia tidak menyaksikan serdiri, namun dia mendengar akan pertemuan antara isterinya, Puteri Milana dengan Gak Bun Beng, dan dia merasa berduka sekali karena dia merasa bahwa dialah yang menjadi penghalang bagi kebahagiaan isterinya.
Memang cinta kasih mengambil jalan yang aneh-aneh.
Han Wi Kong dahulu adalah seorang panglima muda yang gagah perkasa, yang terpaksa dipilih oleh Puteri Milana karena desakan Kaisar agar cucu ini menikah.
Han Wi Kong dipilih di antara banyak calon karena selain gagah perkasa, juga sifat lemah-lembut dan penuh pengertian dari panglima ini menimbulkan kepercayaan di dalam hati Milana.
Memang tadinya Han Wi Kong pun hanya tertarik sekali dan laki-laki manakah yang tidak akan tergila-gila kepada seorang puteri seperti Milana?
Akan tetapi, setelah menikah Han Wi Kong betul-betul jatuh cinta kepada isterinya, cinta yang murni dan hanya satu keinginan di hatinya, yaitu melihat Milana hidup bahagia.
Oleh karena itu, dia mau menerima kenyataan bahwa Milana tidak cinta kepadanya, bahkan kenyataan pahit bahwa Milana mau menikah dengan dia hanya karena hendak memenuhi perintah Kaisar.
Karena cintanya yang murni, yang jauh lebih kuat daripada nafsu berahi, Han Wi Kong menekan penderitaan batinnya, dia rela menderita batin dan tidak pernah menuntut haknya sebagai seorang suami!
Justeru sikap Han Wi Kong inilah yang membuat Milana terharu dan selalu berusaha agar di depan umum mereka merupakan suami isteri yang rukun.
Dia berusaha menyenangkan hati suaminya dengan cara lain, sungguhpun dia maklum bahwa semua itu tentu tidak dapat mengobati kesengsaraan batin suaminya.
Han Wi Kong telah mendengar pengakuan Milana tentang cinta kasih yang gagal dari isterinya itu, tentang Gak Bun Beng yang semenjak pernikahan mereka itu tidak pernah terdengar lagi namanya, seolah-olah pendekar itu telah lenyap ditelan bumi.
Hatinya mulai merasa lega karena dia ingin sekali melihat Milana dapat melupakan kekasihnya itu, dan kalau Gak Bun Beng telah meninggal dunia atau lenyap, dia percaya lambat laun kedukaan hati isterinya itu akan sembuh.
Dia sama sekali bukan mengharapkan agar isterinya akan dapat membalas cintanya, ha1 ini sudah tidak menjadi jangkauan harapannya lagi.
Dia melainkan ingin melihat isterinya bahagia.
Maka, dapat dibayangkan betapa duka rasa hatinya mendengar bahwa Gak Bun Beng muncul lagi dan sejak pendekar ini muncul di kota raja, isterinya selalu gelisah dan merana.
Bahkan secara halus namun terus terang Milana pernah menyatakan kepadanya sejak Milana melihat Bun Beng di kota raja, bahwa Milana akan pergi mencari Bun Beng sampai dapat bertemu setelah urusan pemberontak dapat diselesaikan.
Kemudian dia mendengar akan pertemuan Bun Beng dengan Milana yang membuat isterinya pingsan dan semenjak itu isterinya berwajah pucat dan sering termenung.
Tentu saja dia merasa makin berduka dan diam-diam dia menaruh hati benci kepada Bun Beng, bukan membenci karena didasari iri atau cemburu, melainkan benci karena Bun Beng dianggapnya sebagai orang yang telah merusak kehidupan dan kebahagiaan Milana!
Demikianlah, dengan menahan perasaan gelisah melihat isterinya kehilangan kegembiraan hidupnya, Han Wi Kong ikut menyaksikan ketika Ang Tek Hoat dibawa ke Istananya oleh isterinya.
Dia pun dapat menerima pendapat isterinya tentang Ang Tek Hoat, apalagi ketika isterinya menceritakan betapa pemuda bekas tangan kanan Pangeran Liong Khi Ong ini mahir ilmu Silat Pat-mo Sin-kun yang digabung dengan Pat-sian Sin-kun, padahal penggabungan ilmu ini adalah merupakan ilmu simpanan dan rahasia dari Puteri Nirahai!
"Kalau begitu, mari kita mencoba untuk menolongnya, Adik Bu.
Kong-ko (Kanda Kong), harap kau suka menjaga di pintu, jangan sampai ada yang mengganggu kami karena hal itu bisa berbahaya."
"Baik,"
Han Wi Kong menjawab.
Dia sendiri pun seorang yang berkepandaian, dan sungguhpun sin-kangnya tidak sekuat isterinya atau Kian Bu sebagai anak-anak dari Pendekar Super Sakti, namun dia cukup maklum akan bahayanya orang-orang yang lagi mengerahkan sin-kang untuk menyembuhkan orang lain apabila diganggu oleh orang luar.
Dia mengambil sebuah bangku dan duduk di ambang pintu.
Puteri Milana dan Kian Bu lalu duduk di tepi pembaringan, berslla dan meletakkan telapak tangan mereka di dada dan lambung Tek Hoat, mengumpulkan hawa murni dan mulailah mereka mengerahkan sin-kang ke dalam tubuh pemuda yang terluka parah di sebelah dalam tubuhnya itu.
Dari ambang pintu, Han Wi Kong duduk dan memandang penuh kagum.
Isterinya dan Kian Bu adalah keturunan dari Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai dan betapa bahaganya dia dapat disebut sebagai suami puteri yang cantik jelita dan berilmu tinggi serta gagah perkasa ini.
Seorang pahlawan wanita sejati!
Wajah Tek Hoat tadinya pucat sekali.
Lewat satu jam setelah dua orang keturunan Pulau Es itu menyalurkan sin-kang mereka, wajah Tek Hoat berubah, makin lama makin menghitam.
Itulah tanda bahwa hawa beracun yang mengeram di dalam tubuh mulai dapat didesak naik dan keluar.
Lewat tiga jam, warna hitam di muka Tek Hoat itu makin lama makin menipis, lalu berubah menjadi putih pucat lagi.
Han Wi Kong melihat betapa isterinya dan adik iparnya mulai berpeluh.
Akan tetapi lewat lima jam, warna putih wajah Tek Hoat mulai menjadi merah dan pernapasannya mulai teratur.
Akhirnya terdengar pemuda itu mengeluh dan membuka matanya.
Mata itu melirik dan terbelalak seperti orang terkejut dan keheranan melihat dua orang itu yang sedang mengobatinya.
Cepat dia pun mengerahkan sin-kangnya untuk menolak dan ke dua orang itu melepaskan tangan mereka lalu melompat turun dari pembaringan, menghapus keringat dari dahi dan leher.
Milana memandang adiknya dengan senyum penuh kagum, karena ternyata bahwa pernapasan Kian Bu tidak begitu memburu seperti napasnya, hal ini menandakan bahwa dalam hal sin-kang, adiknya itu sedikit lebih kuat daripada dia!
"Engkau sudah sembuh sekarang,"
Katanya sambil memandang kepada Ang Tek Hoat.
Pemuda ini cepat bangkit duduk, memejamkan mata sejenak karena ketika bangkit itu matanya berkunang dan kepalanya pening, tubuhnya lemas sekali karena sudah berhari-hari dia tidak makan.
"Berbaringlah dulu, engkau masih lemah,"
Kata pula Milana.
Akan tetapi Tek Hoat tetap duduk di tepi pembaringan, lalu membuka mata lagi memandang kepada Milana, Kian Bu, dan Han Wi Kong yang sudah masuk ke kamar lagi bergantian.
"Pa.... paduka.... adalah Puteri Milana....!"
Katanya agak gagap dan bingung, karena apa yang dilihat dan dialaminya tadi seperti dalam mimpi saja.
"Dan kau.... kau adalah seorang di antara dua pemuda perkasa itu, mata-mata pemerintah!"
Milana memandang dengan senyum dan Kian Bu memandang dengan tajam penuh selidik.
Tidak seperti encinya, dia masih curiga kepada bekas pembantu pemberontak yang dia tahu amat lihai ini.
"Kenapa....? Kenapa Ji-wi (Anda Berdua) menolong dan mengobati saya?"
"Ang Tek Hoat, engkau telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong si pemberontak dan tiga orang pengawalnya yang lihai, untuk menyelamatkan Syanti Dewi. Hal itu saja cukup membuat kami berpendapat bahwa engkau bukanlah musuh lagi,"
Kata Milana.
"Enciku ini memang bermurah hati, akan tetapi kalau engkau masih berpendirian untuk menjadi pemberontak, masih belum terlambat untuk menghukummu!"
Kian Bu menyambung. Akan tetapi Tek Hoat tidak begitu memperhatikan ucapan Kian Bu, dia menoleh ke kanan kiri, lalu bertanya.
"Di mana dia? Sang Puteri Bhutan....?"
Dia lalu memandang kepada Kian Bu dengan penuh selidik, karena dia teringat betapa puteri itu lari memeluk pemuda ini pada waktu itu.
"Dia telah selamat dan kini menjadi tamu agung dari Kaisar,"
Kata Milana. Hening sejenak. Kemudian Tek Hoat bangkit berdiri dengan limbung, menjura kepada mereka bertiga dan berkata.
"Saya Ang Tek Hoat bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Ji-wi telah menolong saya dan saya menghaturkan terima kasih. Saya tidak ingin mengganggu dan merepotkan lebih lama lagi dan sebaiknya kalau saya pergi...."
"Nanti dulu, engkau bisa celaka kalau pergi dalam keadaan seperti ini, Ang Tek Hoat. Tubuhmu masih lemas dan lemah."
Pada saat itu, seorang pengawal yang tadi diperintah oleh Han Wi Kong datang membawa baki terisi semangkok obat penguat dan bubur.
"Engkau minumlah obat ini dan makan bubur ini, baru kita bicara."
Tek Hoat mengerutkan alisnya, akan tetapi dia maklum bahwa perutnya kosong dan tubuhnya lemah sekali, mungkin dipakai berjalan pun akan terguling, maka dia mengangguk, menerima mangkok obat dan bubur itu lalu minum dan menghabiskannya dengan cepat.
Biarpun tidak berapa banyak, bubur itu menghangatkan perutnya dan tenaganya agak pulih kembali.
"Sekarang kita bicara, Tek Hoat,"
Kata Milana setelah pengawal itu pergi.
"Engkau berhadapan dengan Puteri Milana, dan ini suamiku Han Wi Kong, dan adikku Suma Kian Bu...."
"Ah, kiranya dia ini adik paduka? Jadi.... jadi putera Pendekar Super Sakti?"
Tek Hoat tahu bahwa Puteri Milana adalah anak dari Pendekar Super Sakti seperti pernah diceritakan oleh ibunya.
"Benar, dan agaknya sedikit banyak engkau tahu akan keluarga ayahku, Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Dari siapa engkau mengenal kami?"
"Dari ibu, akan tetapi sudahlah.... saya merasa heran sekali akan tetapi juga berterima kasih kepada paduka yang tidak membunuh saya malah menolong saya. Agaknya benar cerita ibu bahwa keluarga Pendekar Super Sakti terdiri dari orang-orang gagah dan budiman, sungguh tidak seperti kami...."
Melihat pemuda itu merendah dan hendak pergi, selalu memandang ke pintu seolah-olah tidak betah berada di situ terlalu lama, Milana dapat memaklumi isi hatinya.
Pemuda ini jelas adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan kegagahan, hatinya keras dan memiliki harga diri yang tinggi.
Namun entah bagaimana terjeblos ke dalam tangan para pemberon-tak sehingga kini pemuda ini merasa betapa dia kotor dan tidak berharga, merasa malu terhadap diri sendiri sehingga tidak betah berada di antara orang-orang yang dianggapnya gagah dan budiman!
"Ang Tek Hoat, terus terang saja, kami bukanlah orang-orang budiman dan terlalu gagah seperti yang kau sebutkan tadi.
Kita sama saja, hanya kebetulan saja kami berada di pihak yang benar dan engkau terjeblos ke dalam kesesatan.
Ketika menolongmu, selain untuk balas jasamu membunuh Pangeran pemberontak dan kaki tangannya serta menolong Syanti Dewi, juga karena kami ingin mengajukan pertanyaan kepadamu yang kuharap engkau akan suka menjawabnya."
Ang Tek Hoat menatap wajah yang cantik jelita itu, biarpun usianya lebih tua akan tetapi kecantikannya meng-ingatkan dia kepada Syanti Dewi, sepasang mata yang bening dan tajam itu, kemudian menjawab.
"Asal saja pertanyaan paduka itu pantas untuk dijawab, dan dapat saya jawab, tentu akan saya ja-wab,"
Katanya singkat. Hemm, pemuda ini benar-benar keras hati dan juga cerdik, pikir Milana.
"Pertanyaanku yang pertama adalah pertanyaan yang pernah kuajukan padamu ketika engkau melawanku di hutan itu. Dari mana engkau mempelajari Ilmu Silat Pat-mo Sin-kun dan siapa yang melatihmu?"
Tek Hoat sendiri sudah pernah mendengar dari Sai-cu Lo-mo yang pernah menggemblengnya bahwa kakek sakti itu memperoleh kepandaiannya dari Puteri Nirahai, bekas Ketua Thian-liong-pang yang kini menjadi isteri Pendekar Super Sakti di Pulau Es.
Maka dia pun tidak merasa heran bahwa Puteri Milana dapat mainkan ilmu silat itu dengan mahir sekali.
Karena dia tidak ingin disangka mencuri ilmu orang, maka dia menjawab sejujurnya.
"Saya pernah menerima pelajaran ilmu itu dari Suhu Sai-cu Lo-mo."
"Aihh, kalau begitu engkau masih murid keponakanku!"
Milana berseru.
"Maaf, saya tidak berani, karena Suhu Sai-cu Lo-mo pernah berpesan agar saya tidak mengakuinya sebagai guru. Hanya karena paduka bertanya dan saya sudah tahu bahwa antara beliau dengan paduka ada hubungan, maka saya berani berterus terang menyebutnya."
Milana mengangguk-angguk. Heran sekali dia mengapa Sai-cu Lo-mo sampai menurunkan ilmu rahasia itu kepada pemuda ini.
"Akan tetapi, dibandingkan dengan Sai-cu Lo-mo, kepandaianmu jauh lebih tinggi."
Ang Tek Hoat tidak mau menanggapi kata-kata Puteri Milana itu, dan dia diam saja, menanti pertanyaan ke dua.
"Sekarang pertanyaanku ke dua, Tek Hoat. Di beberapa tempat, engkau memakai julukan Si Jari Maut dan menggunakan nama Gak Bun Beng. Mengapa begitu? Mengapa engkau begitu jahat dan curang, melakukan kejahatan dengan menggu-nakan nama lain orang?"
Kini dengan suara ketus karena diingatkan kepada musuh besarnya, dia menjawab.
"Memang, semua perbuatan itu saya lakukan untuk memburukkan nama Gak Bun Beng, karena jahanam itu telah membunuh ayah! Sayang dia telah mampus, kalau tidak, tentu sudah kucari dan kubunuh dia, tidak perlu lagi saya memburuk-burukkan nama orang yang sudah mati."
"Ah keparat bermulut lancang!"
Kian Bu sudah bergerak hendak menerjang Tek Hoat, akan tetapi Milana memegang lengannya.
"Jangan terburu nafsu, Bu-te!"
Kian Bu teringat bahwa orang yang akan diserangnya itu masih lemah, dan memang amat lucu untuk menyerang orang yang baru saja dia tolong dan sembuhkan!
Akan tetapi, mendengar kata-kata Tek Hoat tadi dia sudah marah sekali.
"Ang Tek Hoat, engkau sungguh kurang ajar, berani engkau memaki suhengku dan mengatakan bahwa sudah mati. Kalau tidak ingat bahwa engkau belum sehat benar kuhancurkan mulutmu!"
Tek Hoat terbelalak memandang Kian Bu, Milana, dan Han Wi Kong.
"Apa katamu? Dia.... dia.... masih hidup?"
Tentu saja dia merasa heran sekali.
Bukankah ibunya telah dengan jelas bercerita kepadanya bahwa musuh besar yang bernama Gak Bun Beng itu telah mati terbunuh ibunya?
"Engkau memang tukang membohong!
Suheng Gak Bun Beng masih segar bugar, bahkan pernah engkau bertemu dengan dia beberapa kali, sudah pernah mengadu tenaga pula.
Dia adalah Suheng yang melakukan perjalanan bersama aku, Lee-ko, dan Adik Syanti Dewi."
Mata Tek Hoat makin terbelalak dan mukanya berubah.
"Aihh.... dia....? Gak Bun Beng pembunuh ayahku? Masih hidup? Kalau begitu...."
Dia diam saja tenggelam ke dalam pikirannya yang bergelombang.
Memang tidak mungkin kalau ibunya dapat membunuh musuh dengan kepandaian seperti itu!
Bahkan laki-laki setengah tua gagah perkasa itu memiliki tenaga sakti Inti Bumi yang amat kuat!
Akan tetapi kenapa ibunya mengatakan bahwa dia telah membunuh Gak Bun Beng.
Apakah hanya namanya saja yang sama?
Dia harus memecahkan rahasia ini.
Dia harus menemui laki-laki yang bernama Gak Bun Beng itu dan memaksanya untuk mengaku apa yang telah terjadi dengan ayahnya!
"Ang Tek Hoat, benarkah ayahmu dibunuh oleh Gak Bun Beng?"
Puteri Milana bertanya sambil memandang dengan tajam penuh selidik.
"Saya tidak perlu membohong. Ayah saya dibunuh oleh Gak Bun Beng dan karena saya kira dia sudah mati maka saya sengaja memburukkan nama musuh besar saya itu,"
Jawabnya.
"Engkau melihat sendiri bahwa ayahmu dibunuh olehnya?"
Tanya lagi Puteri Milana dan diam-diam dia mengingat-ingat karena wajah pemuda yang tampan ini mengingatkan dia akan seseorang akan tetapi dia lupa lagi siapa.
Mata itu, bibir itu, benar-benar tidak asing baginya!
"Hal itu terjadi sebelum saya lahir.
Ibu yang memberitahukan saya...."
"Ahhh....! Siapa ibumu? Dan siapa ayahmu?"
Tek Hoat menggeleng kepalanya.
"Maaf, itu merupakan rahasia saya, dan tidak dapat saya ceritakan kepada lain orang. Biarlah saya mencari Gak Bun Beng dan bicara sendiri dengan dia. Saya mohon kepada paduka agar suka memberi kesempatan kepada saya untuk berhadapan dengan musuh besar saya itu, kecuali.... kecuali kalau paduka hendak menghukum saya karena pemberontakan itu.... saya tidak akan dapat melawan...."
"Enci Milana, manusia ini berhati palsu dan curang, lagi jahat dan berbahaya sekali kalau dia dibiarkan pergi begitu saja!"
Kian Bu berkata dengan alis berkerut.
"Benar, sebaiknya dia ditahan dulu, sambil kita menanti kedatangan Gak-taihiap,"
Kata Han Wi Kong.
Akan tetapi, ucapan suaminya itu dirasakan oleh Milana seperti ujung belati menusuk jantungnya.
Setiap kebaikan sikap suaminya mengenai diri Gak Bun Beng merupakan tusukan baginya, makin baik sikap suaminya, makin tertusuk dia karena dia maklum bahwa dia telah berdosa terhadap suaminya ini.
Maka kata-kata suaminya itu membuat dia bangkit menentang.
"Tidak, biarkan dia pergi! Pertama, dia adalah murid Sai-cu Lo-mo, berarti masih orang sendiri. Ke dua, dia memang pernah membantu pemberontak, akan tetapi kesesatan itu telah ditebusnya dengan membunuh Pangeran Liong Khi Ong dan tiga orang pengawalnya, juga dengan menolong Syanti Dewi. Tentang urusannya dengan.... Gak-suheng, biarlah dia selesaikan sendiri dengan yang berkepentingan. Ang Tek Hoat, kalau engkau ingin pergi, pergilah. Hanya kuharap bahwa engkau akan selalu ingat bahwa kami tidak mempunyai niat buruk terhadap dirimu, maka jika menghadapi segala urusan, jangan engkau terburu nafsu dan kami selalu siap untuk membantumu memecahkan persoalan yang sulit."
Sikap dan ucapan Milana ini benar-benar mengharukan hati Tek Hoat.
Selama dia meninggalkan ibunya, dia tidak pernah menemui manusia yang bersikap tulus, jujur dan mulia terhadap dirinya.
Kalau toh ada yang bersikap baik terhadap dia, kebaikan itu hanya menutupi suatu pamrih tertentu yang lebih merupakan penjilatan atau juga penggunaan karena tenaganya dibutuhkan seperti halnya kaum pemberontak yang berbaik kepadanya.
Akan tetapi baru sekarang dia bertemu dengan seorang yang amat dikaguminya, seorang wanita yang cantik jelita, gagah perkasa, berbudi mulia dan berwibawa.
Tanpa disadarinya sendiri, kedua kakinya menjadi lemas dan Ang Tek Hoat pemuda yanp angkuh dan keras hati itu, yang tidak pernah mengenal takut dan tidak pula mau tunduk kepada siapa pun kini menjatuhkan diri berlutut di depan Puteri Milana!
Dia merasa betapa dirinya adalah orang yang sudah kotor, yang bergelimang dengan kesesatan, yang membuat dia memandang dirinya amat rendah sekali dibandingkan dengan orang-orang gagah seperti kedua orang saudara putera Pendekar Super Sakti itu, yang membuat dia merasa tidak berharga, akan tetapi yang sekaligus juga memperkeras hatinya, menimbulkan keangkuhannya sehingga sampai mati pun dia tidak akan sudi tunduk kepada "orang-orang bersih"
Seperti mereka itu.
Akan tetapi, sikap Milana mencairkan kekerasan dan keangkuhannya, karena puteri ini bersikap sungguh-sungguh kepadanya, tidak memandang rendah, bahkan sinar mata yang mengandung iba yang mendalam itu membuat dia tunduk dan terharu.
Suaranya agak tergetar ketika dia berkata.
"Saya Ang Tek Hoat sungguh kagum kepada paduka dan selama hidup saya akan memuliakan nama paduka Puteri Milana."
Setelah berkata demikian, dia bangkit berdiri, menjura kepada tiga orang itu dan dengan langkah lebar dia keluar dari kamar dan gedung itu, agak terhuyung-huyung.
Milana meneriaki pengawal dan dengan singkat memerintahkan agar pengawal itu terus membayangi dan menjaga agar pemuda itu tidak diganggu dan diperbolehkan keluar dari kota raja tanpa halangan.
Pengawal itu memberi hormat, lalu tergesa-gesa mengejar Tek Hoat.
"Enci Milana, betapa pun juga, aku masih menganggap dia itu seorang yang berbahaya...."
Suma Kian Bu menyatakan pendapatnya, hatinya kurang puas akan sikap encinya yahg demikian lunak terhadap pemuda jahat itu.
Milana hanya menggeleng kepala dan menghela napas, memega-ngi kepalanya.
"Bu-te, aku seperti pernah mengenalnya.... dahulu.... ah, biarkan aku mengaso sambil mengingat-ingat...."
Dia lalu pergi memasuki kamarnya sendiri, meninggalkan suaminya yang kini duduk bercakap-cakap dengan Kian Bu, membicarakan pengalaman mereka ketika pasukan pemerintah menyerbu Koan-bun dan Teng-bun.
Di dalam kamarnya, Milana lalu mengunci pintu dan menjatuhkan diri di atas pembaringan.
Kepalanya agak pening, bukan hanya karena urusan Tek Hoat dan bukan hanya karena dia agak lelah mengerahkan tenaga sin-kang selama lima jam untuk mengobati Tek Hoat tadi.
Akan tetapi ada hal lain yang lebih mendalam lagi, yang selama beberapa hari ini menusuk-nusuk jantungnya.
Teringat dia akan peristiwa itu, peristiwa yang takkan dapat dilupakannya, ketika Puteri Syanti Dewi yang muda dan cantik jelita itu menegurnya dengan hebat sewaktu mereka berdua berada di dalam kamar dan tidak ada orang lain lagi.
"Bibi Milana, saya tidak tahu apakah nanti Bibi akan membunuh saya atau menganggap saya kurang ajar setelah saya selesai bicara, akan tetapi bagaimanapun juga, saya akan menanggung semua akibatnya karena hal ini tidak mungkin saya simpan saja dan tidak dibicarakan dengan Bibi. Sudah berada di ujung bibir saya sejak kita saling bertemu, bahkan jauh sebelum pertemuan itu hal ini selalu berada di lubuk hati saya dan sekaranglah tiba saatnya kita hanya berdua saja di dalam kamar ini maka saya akan keluarkan isi hati saya."
Melihat Puteri Bhutan yang muda remaja itu berhadapan dengan dia di kamar itu sambil memandang dengan sepasang pipi kemerahan seperti dibakar, mata bersinar-sinar dan bibir penuh semangat, Milana yang selalu bersikap tenang dan sabar itu tersenyum.
"Syanti Dewi, kau keluarkan isi hatimu dan bicaralah dengan hati tenang agar jelas karena tidak baik membiarkan hati dikuasai kemarahan."
"Bibi Milana, setelah bertemu dengan engkau, maka aku merasa kagum sekali. Engkau seorang puteri sejati, begitu gagah perkasa, bersikap agung dan berhati mulia, akan tetapi sungguh sayang sekali bahwa di balik kebaikan itu semua tersembunyi hati yang amat kejam terhadap pria!"
Milana mengerutkan alisnya, akan tetapi dia tidak menjadi marah mendengar tuduhan hebat ini.
"Syanti Dewi, aku yakin bahwa orang seperti engkau tidak mungkin mengeluarkan kata-kata seperti itu tanpa alasan yang kuat. Jelaskanlah tuduhanmu itu dan tidak perlu menyimpan rahasia."
"Bibi Milana, mengapa Bibi melakukan kehidupan yang palsu ini? Bibi mencinta pria lain, akan tetapi menikah dengan pria lain lagi! Bibi membiarkan pria yang mencinta Bibi dan juga Bibi cinta itu hidup sengsara selamanya, hidup tersiksa dalam duka nestapa setiap saat, padahal pria yang sampai sekarang masih mencinta Bibi dengan seluruh tubuh dan nyawanya itu adalah orang yang sebaik-baiknya orang, dan yang tidak ada keduanya di dunia yang penuh dengan manusia palsu dan jahat ini!"
Syanti Dewi mengeluarkan kata-kata itu dengan cepat karena kata-kata itu sudah lama tersimpan di hatinya, matanya berapi-api dan mukanya kemerahan.
"Bibi Milana sungguh kejam sekali! Nah, puaslah sudah hatiku mengeluarkan umpatan yang sudah lama terkandung ini dan kalau Bibi marah dan hendak membunuhku, silakan!"
Wajah cantik Puteri Milana menjadi pucat sekali, kemudian berubah merah, dan pucat lagi.
Dia memandang Syanti Dewi dengan mata terbelalak dan bibir gemetar, kedua tangan dikepal dan andaikata yang bicara itu bukan Syanti Dewi, agaknya puteri ini tentu sudah menggerakkan tangan untuk melakukan pukulan maut, dan kalau hal itu dilakukan, tentu Syanti Dewi sudah menggeletak tak bernyawa lagi!
"Bibi marah, akan tetapi aku tidak menyesal mengeluarkan semua ucapanku tadi, karena aku menuntut agar Bibi Mi-lana suka mengambil keputusan dan tidak membiarkan hidup seorang pria yang kujunjung tinggi itu dalam keadaan hidup tidak mati pun tidak."
"Syanti Dewi...."
Suara Milana gemetar dan serak, seperti bisikan.
"Siapa.... siapa yang kau maksudkan dengan pria itu....?"
Dia bangkit perlahan, tidak peduli betapa kedua kakinya menggigil.
"Siapa lagi kalau bukan Paman Gak Bun Beng? Kalian saling mencinta dengan sepenuh jiwa raga, akan tetapi Bibi telah begitu tega untuk meninggalkannya dan menikah dengan orang lain, membiar-kan dia merana sepanjang hidupnya."
"Oohhh...."
Tubuh Milana menjadi lemas, dia memejamkan matanya dan jatuh terduduk lagi di atas kursinya.
Kemudian dia membuka lagi matanya yang menjadi kemerahan dan basah air, mata.
"Syanti Dewi.... dari mana.... engkau mengetahui semua tentang kami....?"
"Paman Gak Bun Beng yang bercerita kepadaku."
"Ahh....? Tak mungkin....!"
Milana meloncat ke depan dan memegang pundak Syanti Dewi, jari-jari tangannya yang kecil lembut halus itu kini mencengkeram seperti cakar harimau dan Syanti Dewi menggigit bibir menahan sakit.
"Kau.... kau mencintanya!"
Ucapan Milana yang menuduh ini mendatangkan semangat dan mengusir rasa sakit di pundaknya. Syanti Dewi juga bangkit berdiri dan berkata dengan gagah.
"Memang! Aku pernah mencintanya, Bibi. Dan seandainya di dunia ini tidak ada Puteri Milana, tentu aku akan tetap mencinta Gak Bun Beng sampai aku mati! Akan tetapi aku tahu bahwa cintaku sia-sia dan aku yakin bahwa dia tidak dapat mencintaku. Cinta kasihnya hanya untukmu, Bibi Milana! Karena itu, aku mengubur cintaku, cinta seorang wanita terhadap pria yang semulia-mulianya orang, dan kupaksa menjadi kasih seorang anak terhadap ayah atau seorang murid terhadap guru. Hanya engkaulah wanita pujaan hatinya yang akan dicintanya sampai dia mati, dan dia bahkan berbahagia di dalam kesengsaraannya asalkan engkau hidup bahagia! Betapa kejamnya engkau, Bibi Milana!"
Tanpa disadarinya lagi, air mata bercucuran dari kedua pelupuk mata Puteri Bhutan itu.
"Ouhhhh...."
Milana terisak, menggigit bibirnya, memejamkan matanya menahan kepedihan hati yang seperti ditusuk-tusuk rasanya.
"Aihhh.... Syanti Dewi.... kau tidak tahu.... kau tidak tahu.... betapa selama belasan tahun aku hidup dengan hati remuk-redam.... betapa aku hidup sengsara dan merana.... yang mungkin tidak kalah pahitnya dengan penderitaannya...."
Wanita cantik itu kini menundukkan mukanya dan memejamkan mata, menggoyang-goyang kepala untuk mengusir semua kepedihan yang menghimpitnya.
Kini Syanti Dewi membelalakkan matanya, dan cepat dia menghapus air matanya.
Lalu dia maju berlutut di depan Milana, memeluk pinggang puteri itu.
"Syanti....!"
Milana tak dapat menahan keharuan dan kepedihan hatinya, dia memeluk kepala Puteri Bhutan itu sambil menangis sesenggukan.
Betapa belasan tahun ini dia menahan kesengsaraannya, tak pernah dikeluarkan sehingga kini bagaikan air bah memecah bendungannya, air matanya mengalir membasahi kepala dan rambut Syanti Dewi.
Puteri Bhutan ini mengejap-ngejapkan matanya menahan tangis, lalu dengan sikap halus dan lemah lembut dia mengeluarkan saputangannya, menghapus air mata dari pipi Puteri Milana seperti orang dewasa menghibur seorang anak kecil yang sedang menangis.
Dia membiarkan Milana menangis sesenggukan sampai beberapa lamanya, kemarahannya berubah menjadi perasaan kasihan sekali terhadap puteri gagah perkasa ini, yang kini oleh kekuatan cinta kembali ke asalnya, seorang wanita yang lemah dan hanya bergantung kepada tangis dan rintihan hatinya.
"Bibi Milana,"
Suara Syanti Dewi kini penuh kesungguhan, penuh kedewasaan, dan penuh teguran.
"Bibi Milana mengapa telah bertindak begitu bodoh? Jelas bahwa sesungguhnya Bibi amat mencinta Paman Gak Bun Beng, sejak dahulu sampai saat ini, akan tetapi mengapa Bibi memaksa diri menikah dengan pria lain? Apa sebabnya tindakan yang amat bodoh ini?"
Milana sudah dapat menekan perasaannya.
Tangisnya tadi, yang baru sekali ini dapat dia curahkan keluar, sedikit banyak melega-kan hatinya.
Dia mengangkat Syanti Dewi bangkit dan mengajak dara itu duduk berdampingan di pinggir pembaringannya.
"Engkau anak baik, pertanyaanmu sungguh tidak tepat! Engkau sendiri tahu akan keadaan wanita-wanita yang tidak kebetulan menjadi puteri-puteri istana seperti kita ini! Apa daya kita menghadapi perintah junjungan kita, dalam hal ini Kaisar yang menjadi kakekku dan Raja Bhutan yang menjadi ayahmu? Engkau sendiri menerima saja ketika dijodohkan dengan Pangeran Liong Khi Ong yang sudah tua!"
"Aih, Bibi Milana. Keadaan saya lain lagi dengan keadaan Bibi! Andaikata saya seperti Bibi, sudah (Lanjut ke
Jilid 39) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 39 mempunyai seorang kekasih di Bhutan, sampai mati pun saya tidak akan sudi!
Kalau saya mentaati perintah ayah, adalah karena hati saya masih bebas dan betapa pun saya tidak suka dikawinkan dengan orang yang belum pernah saya lihat, namun demi kebaktian terhadap ayah, terutama terhadap negara karena ayah menyerahkan saya demi negara, terpaksa saya menyetujuinya.
Jauh bedanya dengan Bibi yang telah mempunyai seorang pujaan hati sehebat Paman Gak!
Mengapa Bibi begitu bodoh?"
Demikianlah, percakapannya dengan Puteri Syanti Dewi itulah yang terus menghantui hatinya.
Kini Puteri Milana rebah seorang diri di atas pembaringannya di dalam kamarnya yang tertutup, mengenangkan semua percakapannya dengan Syanti Dewi dan baru terbuka matanya betapa dia telah berbuat kesalahan besar terhadap Gak Bun Beng!
Pernikahannya dengan Han Wi Kong juga tidak mempunyai arti apa-apa bagi Kaisar atau kerajaan, dan yang jelas dia telah merusak kehidupan Gak Bun Beng, merusak kebahagiaan hidupnya sendiri!
Teringatlah dia akan semua pengalamannya di waktu dahulu, belasan tahun yang lalu dan makin diingat, makin menyesallah dia karena sejak dahulu, Bun Beng selalu bersikap baik dan penuh cinta kasih kepadanya, sebaliknya, telah beberapa kali dia menyakiti hati kekasihnya itu!
Bahkan yang terakhir sekali, dia menuduh Gak Bun Beng sebagai seorang pria jahat dan keji, tukang memperkosa wanita!
Dan dia telah bersekutu dengan wanita-wanita lain yang disangkanya menjadi korban kebiadaban Gak Bun Beng untuk membunuh pria itu!
Dan hampir saja maksud kejamnya ini terlaksana (baca cerita SEPASANG PEDANG IBLIS).
Kemudian barulah dia tahu, baru terbuka matanya bahwa Gak Bun Beng adalah pria yang bersih, gagah perkasa, mulia, karena si jahat itu bukanlah Gak Bun Beng, melainkan Wan keng In!
"Ahhh....
Wan Keng In, benar dia....!"
Tiba-tiba Puteri Milana meloncat turun dari atas pembaringannya, memandang terbelalak ke arah pintu kamarnya.
Ketika dia mengenangkan masa lalu dan terbayang wajah Wan Keng In, tiba-tiba saja dia melihat wajah Ang Tek Hoat!
Mengapa dia begitu bodoh?
Wajah Ang Tek Hoat persis wajah Wan Keng In!
Han Wi Kong dan Kian Bu terkejut sekali ketika melihat Milana memasuki kamar di mana mereka berdua bercakap-cakap itu dengan muka berubah agak pucat.
"Mana dia? Bu-te, lekas kau kejar dia! Ang Tek Hoat itu adalah putera Wan Keng In!"
Kian Bu terkejut.
Tentu saja dia telah mendengar siapa adanya Wan Keng In yang disebut oleh encinya itu.
Wan Keng In adalah putera ibu tirinya, ibu kandung Kian Lee, anak tiri ayahnya yang telah lama meninggal dunia dan kabarnya dahulu amat lihai akan tetapi juga menyeleweng.
"Bagaimana kau bisa tahu, Enci?"
"Aku bodoh, telah lupa wajah Wan Keng In yang persis benar dengan wajahnya. Lekas, Bu-te, susul dia dan suruh dia kembali, aku akan bicara dengan dia. Kini aku tahu mengapa dia memusuhi Gak Bun Beng."
Kian Bu cepat berlari keluar dan melakukan pengejaran.
Akan tetapi, pengawal tadi menceritakan bahwa pemuda itu telah keluar dari pintu gerbang kota raja dan entah pergi ke mana, Kian Bu menyusul dan mengejar sampai jauh di luar kota raja, keluar dari pintu gerbang selatan, namun hasilnya sia-sia dan terpaksa dia kembali kepada encinya dengan tangan hampa.
Milana merasa menyesal sekali.
"Di dalam kamar tadi, baru aku teringat. Memang tadinya aku merasa mengenal wajah Tek Hoat, hanya sayang aku lupa bahwa wajahnya itu persis wajah Wan Keng In, kakakmu Bu-te. Dia she Ang pula, siapa lagi dia kalau bukan anak Ang Siok Bi yang dahulu diperkosa oleh Wan Keng In yang menyamar sebagai Gak Bun Beng? Ahh, tentu akan terjadi hal-hal hebat kalau mereka saling bertemu!"
"Sebaiknya aku kembali ke Teng-bun atau Koan-bun, mencari Gak-suheng dan memberitahukan hal Tek Hoat itu kepadanya agar dia dapat berjaga-jaga, Enci!"
Kata Kian Bu.
"Tidak perlulah, Bu-te. Kurasa dia dapat menghadapi pemuda itu, apalagi Tek Hoat masih lemah tubuhnya dan perlu mengumpulkan tenaga sampai belasan hari lamanya. Pula, kita menanti datangnya kakakmu, Kian Lee, dan yang lain-lain. Mengapa mereka belum juga datang?"
Hanya Han Wi Kong yang dapat menduga bahwa yang dimaksudkan "yang lain-lain"
Oleh isterinya itu, bukan lain adalah Gak Bun Beng yang amat diharap-harapkan kedatangannya.
Dan pada keesokan harinya, benar saja Gak Bun Beng dan Suma Kian Lee muncul di istana Puteri Milana itu!
Han Wi Kong dan Milana bersama Kian Bu menyambut mereka dengan gembira, akan tetapi Milana hanya sekilas saja bertemu pandang mata dengan Bun Beng, kemudian wajahnya berubah merah sedangkan wajah Bun Beng berubah pucat dan mereka tidak bicara apa-apa kecuali me-nyapa.
"Gak-suheng!"
"Sumoi....!"
Han Wi Kong maklum betapa kedua orang itu merasa sungkan dan tidak enak, maka dia bersikap ramah sekali.
"Gak-taihiap, sudah amat lama saya mendengar nama besar Taihiap dan sungguh merupakan suatu kehormatan besar bagi saya dapat berjumpa dengan Taihiap ini!"
Gak Bun Beng menatap wajah yang tampan dan gagah itu, dan hatinya ikut gembira bahwa Milana ternyata menikah dengan seorang pria yang tidak mengecewakan.
"Terima kasih, Han-ciangkun, dan karena saya adalah suheng dari isterimu, harap kau jangan menyebutku taihiap (pendekar besar)."
Han Wi Kong tertawa dan begitu bertemu saja dia sudah merasa suka kepada pendekar besar yang sederhana sekali ini.
"Kalau begitu, baiklah saya menyebutmu Gak-twako saja. Akan tetapi saya pun bukan lagi menjadi seorang perwira maka jangan menyebut saya ciangkun, Gak-twako (Kakak Gak)."
"Baiklah, Han-laote (Adik Han)."
Karena sikap Han Wi Kong, maka rasa sungkan dan tidak enak di pihak Bun Beng dan Milana perlahan-lahan berkurang dan Han Wi Kong lalu menja-mu tamu yang dihormatinya itu dengan pesta kecil.
Sambil bercakap-cakap, Han Wi Kong, Milana, Suma Kian Lee, Suma Kian Bu, dan Gak Bun Beng menghadapi meja bundar dan makan minum.
Karena sedang makan, mereka tidak membicarakan urusan penting dan setelah mereka selesai makan dan duduk di ruangan tamu, barulah mereka bicara tentang hal-hal yang lebih penting menyangkut diri mereka.
"Lee-ko, mengapa kau kelihatan pucat dan tidak bersemangat?"
Kian Bu bertanya dan Milana juga memandang adik ini dengan penuh perhatian.
"Engkau kelihatan seperti orang sakit, Adik Kian Lee,"
Dia juga berkata.
"Ah, tidak ada apa-apa,"
Jawab Kian Lee.
"Jangan-jangan karena kakimu yang terluka dahulu itu, Lee-ko? Sekarang sudah sembuh sama sekali, bukan?"
"Sudah, Bu-te."
Kian Lee menjawab singkat dan ketika adiknya itu bertanya tentang pengalamannya dan ketika kakinya terluka dan mereka terpisah, Kian Lee hanya menceritakan dengan singkat saja bahwa dia kebetulan bertemu dengan puteri Hek-tiauw Lo-mo dan mendapatkan obat sehingga mudah sembuh.
"Heran..., heran....!"
Kian Bu berkata sambil tertawa.
"Ayahnya iblis akan tetapi puterinya bidadari agaknya!"
Kini tiba giliran Bun Beng yang bertanya, tidak langsung menghadapi Milana melainkan pertanyaan-nya ditujukan kepada Han Wi Kong.
"Saya mendengar bahwa ada seorang tahanan bernama Ang Tek Hoat. Apakah benar dia berada di kota raja dan apakah dapat saya bertemu dengan dia?"
"Ahh, Gak-suheng, memang terjadi hal yang hebat sekali dengan pemuda itu!"
Milana berkata.
"Dia.... dia.... itu.... putera Wan Keng In....!"
"Ehhh....?"
Bun Beng demikian kagetnya sehingga dia bangkit berdiri, lalu duduk kembali.
Sementara itu Milana sudah teringat akan peristiwa dahulu, maka dia menjadi pucat dan menunduk, tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Bu-sute, apakah yang terjadi?"
Tanya Bun Beng, menoleh kepada Kian Bu.
"Gak-suheng, kami tadinya bertanya kepadanya mengapa dia berjuluk Si Jari Maut dan menggunakan nama Suheng untuk melakukan kejahatan. Dia menjawab bahwa Suheng telah membunuh ayahnya dan dia tidak melanjutkan keterangannya, hanya tadinya menyangka bahwa Suheng telah mati maka setelah mendengar bahwa Suheng masih hidup, dia menyatakan ingin bertemu dan ingin membalas dendam kematian ayahnya."
"Hemm...., sungguh aneh...."
Bun Beng berkata.
"Akan tetapi Enci Milana lalu teringat akan wajah Keng In...."
"Bukan mirip lagi, Suheng, melainkan persis seperti pinang dibelah dua! Dan dia she Ang, siapa lagi kalau bukan anak Ang Siok Bi?"
Milana berkata, dan ketika Bun Beng memandangnya, mereka bertemu pandang dara Milana menunduk, karena menyebut nama Siok Bi sama dengan menggali kenangan lama yang membuat dia merasa berdosa sekali.
Bun Beng mengangguk-angguk.
"Hemm, sekarang aku mengerti! Pantas dia memusuhi aku...."
"Enci Milana khawatir sekali kalau sampai terjadi sesuatu yang hebat apabila Suheng bertemu dengan dia,"
Kata pula Kian Bu.
"Aku dapat mengatasinya. Ahh, sungguh kejadian yang amat luar biasa aneh, dan sekaligus terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan...."
Bun Beng menghela napas panjang.
"Gak-suheng, apa maksudmu?"
Milana bertanya, karena dia merasa bahwa ada sesuatu yang penting terkandung dalam ucapan pendekar itu.
Bun Beng memandang kepada Milana, sedikit pun tidak memperlihatkan penyesalan ketika dia bertanya.
"Sumoi tentu masih ingat kepada Lu Kim Bwee, bukan?"
Pertanyaan ini amat mengejutkan hati Milana, karena tidak disangka-sangkanya, padahal dia selalu membayangkan dua orang wanita, Ang Siok Bi dan Lu Kim Bwee, dua orang wanita yang dahulu bersama dia mengeroyok Bun Beng dan hampir saja membunuh pendekar ini (baca cerita SEPASANG PEDANG IBLIS).
Milana menelan ludah, memandang kepada Bun Beng tanpa dapat menjawab dengan kata-kata, hanya mengangguk.
"Nah, Lu Kim Bwee itu pun ternyata mempunyai seorang anak dari Wan Keng In, dan anaknya itu adalah Lu Ceng."
"Ooohhh....!"
"Aihhhh....!"
Kian Bu terbelalak dan menoleh kepada Kian Lee.
Melihat Kian Lee menundukkan muka, Kian Bu membungkam mulutnya lagi, tidak berani mengeluarkan suara.
Mak-lumlah dia sekarang mengapa Kian Lee begitu pucat dan muram.
Kiranya dara yang dia tahu telah mencuri hati kakaknya itu ternyata adalah anak dari mendiang Wan Keng In, kakak mereka sendiri, yang berarti bahwa Ceng Ceng adalah keponakan mereka sendiri.
Keadaan menjadi sunyi karena semua orang tenggelam dalam lamunan masing-masing.
Han Wi Kong yang pernah mendengar cerita tentang Ang Siok Bi dan Lu Kim Bwee, yang tadinya disangka menjadi korban kebiadaban Gak Bun Beng yang kemudian ternyata adalah perbuatan Wan Keng In, memecahkan kesunyian itu sambil berkata.
"Kiranya dua orang yang menggemparkan itu adalah keponakan-keponakan Adik Kian Lee sendiri."
Kian Lee mengangguk sunyi dan semua orang masih tenggelam ke dalam keanehan yang luar biasa ini, peristiwa yang sama sekali tidak pernah mereka sangka-sangka.
Milana tidak menyangka bahwa peristiwa ketika dia muda dahulu, yang dilakukan oleh Wan, Keng In, ternyata berekor demikian panjang sehingga biarpun pelakunya telah tewas, ternyata akibat kelakuannya masih terus menjadi riwayat!
Dan celakanya, kalau dulu Wan Keng In melakukan perbuatan yang mencelakakan diri Gak Bun Beng, sekarang keturunannya juga melakukan hal yang sama, sungguhpun apa yang dilakukan oleh Tek Hoat adalah karena pemuda itu mengira bahwa Gak Bun Beng sudah mati dan menjadi pembunuh ayahnya.
Selagi mereka semua termenung, tiba-tiba datang penjaga pintu yang melaporkan bahwa ada utusan dari Kaisar datang untuk bertemu dengan Puteri Milana!
Puteri Milana terkejut dan cepat menyambut.
Kiranya yang datang adalah Perdana Menteri Su sendiri, yang tentu saja cepat disambutnya dengan penuh hormat.
Han Wi Kong, Gak Bun Beng, dan kedua orang saudara Suma ikut menyambut, dan karena perdana menteri datang sebagai utusan Kaisar yang berarti wakil Kaisar sendiri, Milana dan yang lain-lain menyambut dan berlutut.
Perdana Menteri Su mengenal semua yang hadir.
Dia sudah mendengar akan kedua orang adik Puteri Milana, putera-putera dari Pendekar Super Sakti, dan dia dahulu sudah pernah bertemu dengan Gak Bun Beng.
Maka cepat dia menggerakkan tangan minta kepada mereka semua untuk bangkit berdiri.
"Harap Cu-wi bangkit kembali dan penghormatan Cu-wi terhadap Sri Baginda telah saya terima. Sekarang kita bicara sebagai sahabat dan biarlah pesan Sri Baginda saya bicarakan di atas cawan-cawan arak saja karena keputusan beliau perlu dipertimbangkan bersama."
Puteri Milana dan yang lain-lain segera bangkit berdiri dan mempersilakan tamu agung itu ke ruangan tamu, di mana mereka menjamu Perdana Menteri Su dengan hormat dan ramah.
Perdana Menteri Su yang sudah tua dan setia itu menghela napas panjang dan berkata.
"Aihhh.... betapa girang dapat bertemu dengan orang-orang gagah seperti Cu-wi, dan betapa kecewa hati membawa berita yang tidak menyenangkan. Puteri Milana, Sri Baginda Kaisar menitah saya untuk menyampaikan keputusan beliau tentang Pangeran Liong Bin Ong dan Puteri Syanti Dewi."
"Bagaimana dengan Paman Pangeran Liong Bin Ong?"
Puteri Milana bertanya.
"Sri Baginda menyatakan bahwa menurut penyelidikan beliau, Pangeran Liong Bin Ong tidak bersalah apa-apa, dan pemberontakan itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab mendiang Pangeran Liong Khi Ong...."
"Ahhh....!"
Puteri Milana berseru, mukanya merah dan kelihatan penasaran sekali.
"Puteri Milana, demikianlah keputusan Sri Baginda,"
Perdana Menteri Su berkata keren dan memandang wajah puteri itu penuh arti.
Sang Puteri mengangguk dan membungkuk, tidak berani berkata apa-apa lagi sungguhpun dia maklum bahwa keputusan ini bukan hanya membuat dia penasaran, bahkan terutama sekali membuat perdana menteri itu menjadi kecewa dan khawatir.
Mereka berdua tahu belaka bahwa Liong Khi Ong hanya merupakan orang ke dua, hanya pemban-tu dari Pangeran Liong Bin Ong yang menjadi dalang pertama dari pemberontakan itu!
"Adapun mengenai diri Puteri Bhutan itu, Puteri Syanti Dewi yang tadinya akan menikah dengan Pangeran Liong Khi Ong, menurut keputusan Sri Baginda akan dinikahkan dengan Pangeran Yung Hwa!"
"Heiiiihh....!"
Kian Bu berteriak sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya.
"Bu-te, duduklah! Ini perintah Sri Baginda Kaisar!"
Puteri Milana membentak adiknya, akan tetapi matanya memandang adiknya dengan penuh duka karena puteri ini maklum bahwa adiknya itu telah jatuh cinta kepada Syanti Dewi.
".... ya... ya, Enci Milana...."
Kian Bu duduk kembali dan menundukkan mukanya yang berubah menjadi pucat.
"Betapapun juga, keputusan ke dua ini adalah cukup adil dan tepat,"
Perdana Menteri Su berkata sambil mengelus jenggotnya.
"Memang tadinya Pangeran Yung Hwa yang ingin berjodoh dengan Puteri Bhutan, hanya dia terdesak dan kalah oleh mendiang Pangeran Liong Khi ong. Ikatan jodoh ini berarti memperkuat tali hubungan antara Kerajaan Ceng dengan Kerajaan Bhutan."
Milana tidak menjawab karena dia maklum bahwa perdana menteri itu tidak tahu akan rasa hati Kian Bu.
Dia hanya mengangguk saja.
Tak lama kemudian, Perdana Menteri Su berpamit dan setelah dia pergi, barulah Milana meremas cawan araknya sampai perak itu menjadi satu gumpalan!
"Sungguh celaka sekali!
Pangeran Liong Bin Ong si pemberontak besar itu dibebaskan!
Tentu dia akan membuat huru-hara lagi!
Ahh, mengapa Sri Baginda tidak dapat melihat kenyataan?"
Milana melirik ke arah Kian Bu yang masih menundukkan rnukanya dan tiba-tiba dia bangkit berdiri.
"Dan Syanti Dewi.... ah, sungguh membikin orang penasaran....!"
Milana mengerutkan alisnya, sejenak bertukar pandang dengan Gak Bun Beng, lalu dia minta maaf kepada Bun Beng dan meninggalkan ruangan itu memasuki kamarnya.
Kian Bu bangkit berdiri pula, tanpa berkata apa-apa dia pun lalu setengah lari menuju ke kamarnya, diikuti oleh Kian Lee yang kini memandang adiknya itu dengan wajah penuh kecemasan.
Tinggallah Han Wi Kong duduk berhadapan dengan Gak Bun Beng.
Keduanya bengong dan termenung.
"Hemmm...., banyak sekali peristiwa terjadi dalam kehidupan manusia yang berlawanan dengan apa yang dikehendaki-nya, bukan, Gak-twako?"
"Ehhh....?"
Bun Beng yang melamun sambil tak sadar mengambil cawan yang telah menjadi gumpalan perak karena dicengkeram oleh Milana tadi, membolak-balikkan benda itu di tangannya, terkejut mendengar ucapan itu, lalu mengangkat muka memandang.
"Agaknya begitulah hidup...."
"Mengapa harus begitu, Twako?"
Han Wi Kong mendesak.
"Yah, manusia tidak akan dapat me-lawan nasib...."
Bun Beng menarik napas panjang.
"Hemmm...., begitukah? Atau bukan sebaliknya bahwa nasib berada di tangan manusia sendiri? Orang yang menyerah kepada nasib adalah orang lemah, dan orang-orang lemah memang sudah sepatutnya hidup menderita, Twako! Hanya orang yang berani menentang dan menghadapi keadaan dan peristiwa dengan tabah, merubah nasibnya sendiri dan terbebas dari penderitaan kelemahannya!"
Gak Bun Beng menatap wajah panglima yang tampan dan gagah itu dengan sinar mata penuh pertanyaan, kemudian bertanya.
"Akan tetapi, keputusan-keputusan yang telah dikeluarkan oleh Kaisar merupakan keputusan mutlak dan mana mungkin dirubah...."
"Mengapa tidak mungkin? Tergantung si manusia sendiri yang mampu atau tidak, berani atau tidak untuk merubahnya. Keadaan tidak akan berubah selama si manusia sendiri tidak berusaha untuk merubahnya!"
Bun Beng merasa terpukul dan ucapan itu mendatangkan kesan mendalam.
Dia harus mengaku pada diri sendiri bahwa dia merana dalam hidupnya karena dia lemah, karena dia "menerima nasib", karena dia lebih condong menangisi nasibnya daripada berusaha merubah keadaan itu!
Dan kedua orang adik seperguruannya, Kian Lee dan Kian Bu, juga mengalami "nasib"
Yang sama dengan dia, yaitu kalau mereka tidak mau turun tangan, tidak mau bertindak melawan "nasib"
Itu! "Kata-katamu mengandung kebenaran yang patut untuk direnungkan, Laote. Maafkan, saya harus menengok kedua orang suteku itu."
Gak Bun Beng meninggalkan Han Wi Kong yang tersenyum-senyum seorang diri, memasuki kamar kedua orang sutenya dan melihat mereka itu duduk ter-menung di depan meja.
Wajah Kian Bu pucat sekali dan Kian Lee yang bersikap tenang itu berusaha menghibur adiknya ketika Bun Beng muncul di depan pintu.
Diam-diam Bun Beng kagum juga terhadap Kian Lee.
Dia tahu betul betapa sutenya ini juga "patah hati"
Karena cintanya yang gagal terhadap Ceng Ceng, namun kini masih dapat menghibur adiknya yang mengalami hal yang sama!
Bun Beng tersenyum, menghampiri Kian Bu dan menepuk bahu pemuda itu.
"Eh, Bu-sute, apakah engkau ini seorang banci?"
Ditanya seperti itu, Kian Bu yang sedang termenung dan tenggelam ke dalam kekecewaan dan kedukaan itu terperanjat, dan memandang kepada suhengnya itu dengan mata terbelalak.
Kalau saja dia tidak terlalu dihimpit duka dan kecewa, tentu wataknya yang gembira ini akan menanggapi pertanyaan Bun Beng sebagai suatu kelakar.
"Apa maksudmu, Suheng?"
"Hanya seorang banci saja yang merenungi nasibnya dan menangisi peristiwa yang menimpa diri. Seorang jantan akan bertindak melawan keadaan yang tidak menye-nangkan hatinya. Akan tetapi kulihat di sini engkau termenung menangisi nasib!"
"Aih, Suheng. Apa yang dapat saya lakukan menghadapi keputusan Kaisar? Biarpun beliau itu kakek besarku sendiri, namun aku tetap saja rakyat!"
Kian Bu berkata.
"Hemm, mengapa engkau begitu lemah? Pula, mengapa engkau sudah menjadi patah hati? Apakah engkau sudah tahu bagaimana perasaan hati Syanti Dewi terhadap dirimu? Kalau aku menjadi engkau...."
"Bagaimana, Suheng?"
Kian Bu berta-nya penuh gairah. Dia adalah seorang pria yang baru menjelang dewasa, masih "hijau"
Dan tentu saja dia memandang suhengnya ini sebagai seorang pria yang sudah "berpengalaman"
Yang patut ditiru.
"Kalau aku yang menghadapi peristiwa seperti engkau ini, aku akan menemui dia dan terus terang kunyatakan perasaan hatiku kepadanya untuk mengetahui bagaimana tanggapannya. Kalau dia ternyata tidak mencintaku, mengapa engkau menangisi hal kosong? Sebaliknya, kalau dia memang cinta kepadaku seperti aku cinta kepadanya, aku akan mengajak dia lari bersama!"
Wajah Kian Bu menjadi berseri dan dia memegang tangan suhengnya.
"Terima kasih, Suheng. Aku bukan seorang banci! Aku seorang laki-laki sejati dan akan kulaksanakan nasihatmu itu sekarang juga!"
Kian Bu meloncat keluar dari tempat itu. Kian Lee memanggilnya, namun pemuda itu sudah pergi jauh.
"Ah, Gak-suheng, engkau bisa menimbulkan gara-gara dengan nasihatmu itu,"
Kian Lee berkata, khawatir.
"Jangan-jangan akan timbul keributan."
"Lee-sute, yang sudah jelas, kalau didiamkan saja, sudah terjadi keributan dalam hati Bu-sute yang mungkin akan membuat dia merana selama hidupnya. Belum lagi diingat betapa puteri itu pun akan menjadi sengsara. Bukankah itu sudah merupakan hal yang hebat? Sebaliknya, kalau memang mereka saling mencinta, apa salahnya mereka berdua melarikan diri dan berjodoh? Ingat, Puteri Nirahai juga dulu kawin lari dengan ayahmu, buktinya sekarang mereka berbahagia."
Sampai di sini Bun Beng berhenti karena dia teringat akan urusannya sendiri dengan Milana.
Dia bisa memberi nasihat, bahkan sudah ada contoh yang mutlak, yaitu antara Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai, akan tetapi toh dia dahulu sengaja menjauh dan tidak berani menghadapi kenyataan bahwa dia dan Milana saling mencinta.
Hal ini hanya karena dia merasa rendah diri, sebagai keturunan penjahat, merasa tidak pantas menjadi jodoh seorang gadis mulia seperti Puteri Milana!
Setelah berkata demikian, Bun Beng lalu meninggalkan, Kian Lee dan pergi ke kamarnya sendiri, tidak jauh dari kamar kakak beradik itu.
Akan tetapi dia merasa gelisah, bayangan Milana terus mengejarnya, dan timbul rasa takut di hatinya, takut dan tidak percaya kepada diri sendiri, karena kalau terlalu lama dia berada di rumah kekasihnya ini, terlalu sering berjumpa dengan Milana, dia khawatir kalau-kalau pertahanan batininya akan bobol.
Aku harus segera pergi dari sini, pikirnya.
Tidak ada urusan apa-apa lagi.
Syanti Dewi sudah jelas akan dinikahkan dengan Yung Hwa, dan kalau betul seperti yang diharapkannya bahwa Syanti Dewi membalas cinta Suma Kian Bu, biarlah puteri itu hidup bahagia dengan sutenya itu.
Tek Hoat pun sudah pergi dan ternyata pemuda itu adalah puteri Wan Keng In yang kembali mengulang perbuatan ayah kandungnya dahulu.
Sebaiknya dia pergi dan menjumpai pemuda itu agar persoalannya menjadi jelas dan dendam dapat dihapus dari dalam dada pemuda itu.
Akan tetapi dia merasa tidak enak juga kalau harus pergi begitu saja tanpa pamit, dan dia pun harus menanti kembalinya Kian Bu untuk melihat bagaimana jadinya dengan sutenya itu.
Kegelisahannya membuat Bun Beng tidak betah di dalam kamarnya.
Hanya sebentar dia rebahan, kemudian dia turun dan keluar dari kamar, melalui pintu samping dia masuk ke dalam taman bunga yang luas dan indah dari istana itu.
Hari telah menjelang senja dan di dalam taman bunga itu sunyi sekali.
Bun Beng terus masuk ke dalam dan di tengah-tengah taman, tertutup oleh pohon-pohon apel, terdapat kolam ikan emas yang lebar dan indah.
Arinya jernih sehingga ikan-ikan yang berenang ke sana ke mari itu nampak nyata, beriring-iringan dengan warna sisik, mereka yang keemasan dan berkilauan tertimpa sinar kemerahan matahari senja.
Bun Beng duduk di atas bangku batu di dekat kolam.
Air yang memancar keluar dari pinggir kolam membuat kolam itu selalu jernih airnya dan luapan air kolam mengalir ke dalam selokan kecil yang berliku-liku di dalam taman, mengairi kembang-kembang yang tampak mekar dengan indahnya, seolah-olah sedang bersaing kecantikan.
"Dia hidup bahagia, dan itu sudah cukup bagiku,"
Diam-diam Bun Beng mengeluh.
"Kehadiranku hanya akan memungkinkan datangnya gangguan dalam hidupnya. Suaminya amat gagah dan baik, kedudukannya mulia dan terhormat, kekayaannya berlimpah, terpenuhilah semua syarat hidup senang. Kalau dahulu ikut bersamaku? Tentu akan hidup serba kekurangan, bahkan hidup di tempat asing dan miskin...."
Akan tetapi, suara hatinya yang menghibur diri bahwa orang-orang yang dicinta sudah hidup bahagia itu dibantah oleh suara lain dalam benaknya.
"Siapa bilang dia bahagia? Dia cukup dengan kesenangan dunia, memang. Akan tetapi apakah itu dapat mendatangkan bahagia? Lihat, dia begitu terguncang sampai pingsan begitu bertemu dengan aku. Dan tentang hidup miskin, mungkin saja mendatangkan bahagia karena cinta. Lihat contohnya Puteri Nirahai dan Pendekar Super Sakti. Biar hidup di Pulau Es yang sunyi, namun penuh madu bahagia...."
"Huh, tolol!"
Bentaknya sendiri kepada diri sendiri.
"Habis kau mau apa?"
"Gak-suheng...."
Bun Beng terkejut dan hampir saja dia meloncat ke dalam kolam!
Suara itu dikenalnya benar.
Sampai mati pun suara itu tentu akan terus terngiang di telinganya dan dikenalnya baik-baik.
Cepat dia membalikkan tubuhnya dan dia berdiri berhadapan dengan Milana!
"Sumoi...., mafkan aku....
aku memasuki tamanmu tanpa permisi...."
Dia menghentikan kata-katanya karena dia melihat puteri itu yang berdiri tegak dan agung ternyata mencucurkan air mata!
Satu-satu butiran air mata turun seperti untaian mutiara, di sepanjang kedua pipinya.
"Gak-suheng, sudikah kau mengampunkan aku? Suheng, betapa aku telah menghancurkan hidupmu, aku telah berkali-kali berdosa kepadamu, Suheng...."
Berdebar keras rasa jantung Bun Beng dan dia hanya menggeleng-geleng kepalanya.
"Tidak.... tidak demikian.... Sumoi. Apa yang kau ucapkan ini....?"
"Suheng, tidak perlu kau berpura-pura lagi. Aku tahu betapa hidupmu menderita, sengsara dan merana karena aku. Suheng, apakah engkau masih tidak mau mengampunkan aku? Mengampunkan pernikahan dengan Han Wi Kong?"
Pertanyaan itu diucapkan dengan suara penuh permohonan, dengan pandang mata yang menusuk ulu hati Bun Beng.
Pendekar itu menguatkan hatinya dan dia memaksa tersenyum.
"Sumoi.... Sumoi! Milana.... mengapa engkau bertanya demikian? Sudah sepantasnya engkau menikah dengan dia, dia seorang yang amat baik dan aku.... aku sudah merasa cukup senang melihat engkau hidup bahagia di sampingnya, Sumoi. Aku.... sebaiknya pergi saja...."
"Gak-suheng....!"
Milana meloncat dan memegang lengan pendekar itu.
Sejenak mereka berdiri saling berhadapan, dekat sekali dan tiba-tiba Milana terisak dan memeluk pinggang Bun Beng.
"Suheng.... ah, Suheng.... aku melihat betapa jahatnya aku.... betapa hancurnya hidupmu karena aku.... ampunkan aku, Suheng."
Bun Beng memejamkan matanya.
Merasa betapa tubuh orang yang paling dicintanya di dunia ini memeluk dan menempel di tubuhnya, hampir dia tidak kuat menahan lagi.
Dia pun merangkul dan mengusap rambut yang selalu dirindukannya itu, mendekap kepala yang disayangnya itu.
Akan tetapi dia segera teringat dan cepat dia melepaskan diri dan melangkah dua tindak ke belakang.
"Tidak.... tidak boleh begini....! Sumoi, jangan menuruti bisikan setan!"
Milana mengangkat muka memandang, matanya berlinangan air mata.
"Gak-suheng, katakanlah terus terang, apakah engkau masih cinta kepadaku?"
"Aku? Cinta padamu? Wahai, Milana, tidak pernah ada sedetik pun aku berhenti mencintamu.... akan terkutuk dan bohonglah aku kalau mengatakan tidak. Akan tetapi, semua itu sudah terlambat.... Sumoi...."
"Tidak, Suheng. Aku siap mengikutimu ke mana pun engkau membawaku! Aku.... aku.... ah, engkau tidak tahu betapa hidupku selama berpisah denganmu seperti dalam neraka. Aku menderita dan kalau tidak kuat-kuat aku bertahan, aku tentu sudah membunuh diri. Kalau sekarang engkau menolak, kiranya tidak ada lagi pegangan bagiku, Suheng...."
"Ahhh....?"
Bun Beng terkejut bukan main mendengar kata-kata itu, merasa seperti disambar petir.
"Jangan berkata yang bukan-bukan! Engkau bahagia dengan suamimu!"
"Tidak.... tidak.... dia memang seorang yang amat baik, akan tetapi.... aku tidak mencintanya, Suheng. Hanya engkaulah seorang...."
"Aihhh, Sumoi, engkau menghancurkan hatiku!"
Bun Beng berteriak, terhuyung ke belakang dan menjatuhkan diri duduk di atas bangku tadi, mukanya pucat sekali, dadanya ternyata sakit.
"Kalau begitu.... sia-sia belaka semua pengorbananku.... sia-sia belaka aku menyiksa diri.... Sumoi, mengapa begitu?"
Milana lari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Bun Beng.
"Aku sudah berdosa, Suheng. Aku mentaati perintah Kaisar untuk kawin. Akan tetapi, baru sekarang aku melihat betapa bodohnya hal itu, aku hanya menyiksa diri sendiri dan engkau, orang yang kucinta. Akan tetapi sekarang kiranya masih belum terlambat, Suheng.... untuk memperbaiki kesalahan itu, kalau.... kalau engkau masih mencintaku seperti aku mencintamu."
"Milana!"
Bun Beng setengah membentak.
"Omongan apa yang kau keluarkan ini? Tidak malukah engkau? Kau kira aku ini orang apa, hendak melarikan isteri orang? Apakah engkau hendak membuat dosa terhadap suamimu yang baik?"
Milana memandang dan air mata makin deras bercucuran, dia menggeleng kepalanya.
"Dia seorang yang berbudi mulia.... aku bahkan merusak hidupnya karena dia tahu bahwa aku masih mencintamu, tidak dapat mencintanya. Kau tahu, Suheng? Dialah yang tadi membujuk aku agar menemanimu.... dia telah memberi restunya.... dia yang membujuk agar aku menyambung tali cinta kasih kita demi kebahagiaanku...."
"Tidak....!"
Gak Bun Beng meloncat dan menjauh, mukanya pucat sekali dan tubuhnya menggigil.
"Tidak....! Engkau adalah Nyonya Han Wi Kong, engkau bukan Milana lagi. Tidak boleh aku menyentuhmu, tidak boleh sama sekali....! Duhai Milana.... Sumoi.... jangan.... jangan kita lakukan itu.... lebih baik aku mati daripada melakukan perbuatan terkutuk itu!"
Bun Beng lalu berkelebat dan lari keluar dari taman.
"Suheng....!"
Namun Bun Beng tidak menengok dan berkelebat lenyap.
"Gak-suheng....!"
Milana mengeluh dan terguling roboh, pingsan di dekat kolam!
Han Wi Kong lari tergopoh-gopoh, dia mengangkat tubuh isterinya, dibawa masuk ke dalam kamar.
Mata panglima ini merah dan basah.
Dia merebahkan isterinya di atas pembaringan, kemudian menulis surat, meletakkan surat di atas meja, dan memanggil pelayan, disuruh menjaga isterinya yang masih pingsan dan disangka tidur oleh pelayan itu.
Kemudian Han Wi Kong pergi dari istananya setelah berganti pakaian sebagai bekas panglima, cucu mantu Kaisar dan pergi tanpa pengawal.
Sementara itu, di sudut ruangan luas di dalam kompleks Istana Kaisar, Puteri Syanti Dewi duduk berhadapan dengan Suma Kian Bu yang tadi diterimanya sebagai seorang tamu yang datang berkunjung kepadanya.
Para pengawal tentu saja sudah mengenal Kian Bu, bahkan tahu bahwa adik Puteri Milana ini yang ikut mengantarkan Puteri Bhutan itu ke istana, maka tentu saja kunjungannya diperbolehkan dan tidak ada yang berani mencurigainya.
Bahkan ketika Sang Puteri menerimanya bercakap-cakap di sudut ruangan yang luas itu, para pengawal tidak ada yang berani mendekat dan hanya menjaga di luar pintu ruangan.
Syanti Dewi girang sekali melihat Kian Bu dan dia menyambut kedatangan pemuda itu dengan kata-kata.
"Sungguh girang hatiku bahwa engkau yang datang, Bu-koko. Aku sudah menanti-nanti berita dari Bibi Milana...."
"Engkau sudah mendengar tentang keputusan Kaisar, Adik Syanti....?"
Dara itu mengangguk dan alisnya berkerut, pandang matanya penuh kegelisahan.
"Lalau bagaimana pendapatmu dengan keputusan itu?"
"Aku tidak suka! Aiiih, Koko, kau tolonglah, suruh Bibi Milana menolongku.... aku tidak suka dengan pernikahan itu!"
"Akan tetapi, itu adalah keputusan Kaisar dan Pangeran Yung Hwa tidak dapat kau samakan dengan Pangeran Liong Khi Ong. Dia seorang pangeran muda yang tampan dan pandai, bahkan dialah yang dahulu suka kepadamu sebelum kau dijodohkan dengan Pangeran Liong...."
"Aku tidak peduli dia tampan atau buruk, pandai atau bodoh. Akan tetapi sekali ini, bukan ayahku yang menjodohkan aku. Aku tidak mau, Koko.... kau sampaikan permohonanku kepada Bibi Mi-lana.... tolonglah aku...., atau.... tolong kau cari Paman Gak Bun Beng. Dialah satu-satunya orang yang kugantungi harapanku."
"Kalau benar engkau tidak suka menerima keputusan itu, Adik Syanti.... aku.... aku...."
Kian Bu yang biasanya paling pandai menggoda wanita itu kini menjadi gagap gugup, beberapa kali menelan ludahnya dan sukar sekali kata-kata keluar dari mulutnya.
"Ada apa, Koko? Bagaimana?"
Puteri Syanti Dewi memandang dengan sepasang matanya terbelalak lebar dan begitu indahnya sehingga Kian Bu menjadi makin bingung lagi.
"Adik Syanti.... hemmm.... ehhh, aku.... aku bersedia untuk menolongmu.... untuk mengajak kau lari dari sini...."
"Bu-koko....! Terima kasih....! Ah, aku tahu engkau seorang yang amat berbudi, seperti suhengmu, Paman Gak Bun Beng!"
Syanti Dewi bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Kian Bu, memegang lengan pemuda itu penuh harapan. Kian Bu juga bangkit berdiri.
"Aku.... aku akan mempertaruhkan nyawaku untukmu, Syanti Dewi, karena.... aku.... aku cinta padamu, aku cinta padamu semenjak kita bertemu.... dan kalau kau lebih memilih aku daripada menjadi isteri seorang pangeran, marilah kita lari...."
"Ahhhh....!"
Syanti Dewi melepaskan kembali pegangan tangannya dan melangkah mundur, lalu menunduk dan memejamkan matanya, akan tetapi tetap saja air matanya bertitik yang cepat diusapnya.
Puteri ini lemah lembut, mudah menaruh kasihan kepada orang, juga mudah terharu, namun dia memiliki keagungan seorang puteri raja.
"Bu-koko, harap engkau maafkan padaku. Engkau seorang pemuda yang hebat.... ah, amat baik dan hebat, tampan dan gagah perkasa, berbudi dan putera seorang pendekar yang sudah tersohor di seluruh dunia, adik dari seorang mulia seperti Puteri Milana! Gadis mana yang takkan berbahagia menerima cintamu? Akan tetapi aku.... ah, aku akan berbohong kalau aku berpura-pura mengatakan cinta kepadamu, hanya agar engkau suka menolongku. Tidak, aku tidak mau membohongimu demi keselamatanku, dan kelak menghancurkan hatimu. Tidak, Bu-koko, kalau engkau menolongku dengan dasar cinta kasih seperti itu, aku lebih baik.... menghada-pi malapetaka itu seorang diri saja, tanpa pertolonganmu."
Wajah Kian Bu yang tadinya sudah merah karena ada harapan ketika dia menuruti nasihat suhengnya, kini menjadi pucat sekali.
"Kau.... kau tidak.... tidak cinta padaku, Adik Syanti?"
Tanyanya dengan suara serak. Syanti Dewi menggeleng kepalanya, memandang penuh iba.
"Maafkan aku."
"Kalau begitu engkau.... engkau tentu sudah mencinta lain orang....?"
Syanti Dewi mengerutkan alisnya.
"Memang, aku pernah mencinta orang, yaitu suhengmu, Gak Bun Beng! Aku cinta Kepadanya, aku memujanya karena dia seorang jantan, seorang laki-laki sejati, seorang yang mulia hatinya. Hanya sayang dia tidak cinta kepadaku, maka aku menghapus cinta itu. Aku tidak dan belum mencinta siapa-siapa lagi. Sudahlah, Bu-koko, aku suka kepadamu, aku kagum dan menghormatimu, akan tetapi jangan mengharapkan yang lebih dari itu. Kau kembalilah dan kalau engkau suka, harap sampaikan permohonanku kepada Bibi Milana agar beliau sudi menolongku."
Kian Bu diam sampai lama karena dia mengerahkan kekuatan batinnya untuk menekan pukulan yang amat menyakitkan itu. Kemudian dia berkata lemah.
"Biarpun engkau tidak cinta kepadaku, Adik Syanti, aku.... aku bersedia menolongmu. Mari kau kularikan keluar dari istana ini."
"Tidak, Bu-koko. Engkau adalah cucu Kaisar, engkau akan celaka kalau melakukan hal itu, padahal aku tidak dapat menerima cintamu. Tidak, biar Bibi Milana saja yang menolongku dan mencarikan akal..."
"Aku menolongmu dengan ikhlas! Tadi engkau suka kutolong...."
"Tadi lain lagi, Koko. Pulanglah, dan maafkan aku...."
Puteri Syanti Dewi bertepuk tangan memberi isyarat kepada pengawal.
"Suma-taihiap hendak pulang, antarkan keluar,"
Katanya penuh wibawa.
Kian Bu menunduk, lalu berjalan ke luar seperti mayat hidup, diikuti pandang mata Syanti Dewi yang berlinang-linang karena merasa kasihan.
Pemuda yang sebenarnya masih terlalu muda untuk jatuh cinta ini, merasa seolah-olah dunia hampir kiamat, kehilangan keindahannya.
Bangunan-bangunan istana yang biasanya mempe-sonakan dan amat dikaguminya itu, kini tidak lebih seperti onggokan-onggokan batu nisan di kuburan yang tidak menarik sama sekali.
Orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan, seolah-olah semua menyeringai dan mencemoohkannya.
Syanti Dewi ternyata tidak cinta kepadanya, seperti yang disangkanya, atau lebih tepat, seperti yang diharapkannya.
Bahkan mencinta suhengnya, Gak Bun Beng!
Si Tua!
Hatinya memaki, akan tetapi kesadarannya memperingatkannya bahwa tidak adil dan tidak tepatlah kalau dia memaki dan menyalahkan suhengnya.
Gak-suheng adalah seorang laki-laki sejati, pikirnya, tepat seperti yang dikatakan Syanti Dewi, dan suhengnya itu tidak menerirna Syanti Dewi sehingga dara jelita ini merubah cintanya menjadi cinta seorang anak kepada ayahnya atau seorang murid kepada gurunya.
Aih, betapa dia amat tidak berharga!
Seorang yang sudah setengah tua seperti suhengnya saja mampu merebut hati seorang dara seperti Syanti Dewi, mengapa dia yang jauh lebih muda tidak mampu?
Apakah dia kurang tampan?
Kurang gagah?
Mungkin kurang jantan!
Pikiran demi pikiran bergelombang dan mengaduk-aduk hati Kian Bu ketika dia kembali ke istana encinya.
Senja telah lewat, malam mulai tiba dan Kian Bu langsung menuju ke kamarnya, hampir tidak melihat dan tidak menjawab penghormatan para pengawal yang berjaga di depan istana encinya itu.
Ketika dia memasuki kamarnya, langsung saja dia melempar tubuhnya ke atas pembaringan, telentang dan menatap langit-langit kamar.
"Bu-te, bagaimana....?"
Kian Lee mendekati, duduk di tepi pembaringan dan memandang wajah adiknya yang pucat dan tidak bersemangat itu.
Kian Bu tadi juga tidak melihat bahwa kakaknya termenung di dalam kamar itu, kini melihat kakaknya mendekatinya, dia bangkit dan mereka berdua duduk di tepi ranjang.
"Lee-ko.... aku menyesal sekali tentang.... Lu Ceng...."
Kian Bu berkata dengan suara halus penuh iba. Kian Lee menggeleng kepala.
"Jangan pedulikan aku, Bu-te. Bagaimana dengan engkau? Sudahkah kau...."
"Sudah, dan dia.... dia ternyata tidak cinta kepadaku, Lee-ko...."
"Ahhh....?"
Kian Lee hampir tidak percaya dan dia menatap wajah adiknya penuh selidik.
"Dia sudah mencinta orang lain...."
"Hemmm....?"
"Dia mencinta Gak-suheng."
"Hehhh....?"
Kian Lee mengeluarkan seruan heran dan kaget sambil meloncat turun.
"Gak-suheng?"
Melihat wajah kakaknya seperti orang penasaran dan marah, Kian Bu cepat menjelaskan.
"Dia telah berterus terang bahwa dia mencinta Gak-suheng, akan tetapi Gak-suheng tidak mencintanya sehingga dia merubah cintanya sebagai cinta anak terhadap ayah, atau murid terhadap guru...."
"Aahhhh.... sungguh aneh, dan Gak-suheng baru saja pergi tanpa pamit."
"Pergi ke mana? Mengapa tanpa pamit?"
"Entah, Enci Milana yang memberi tahu dan kulihat mata Enci Milana merah bekas tangis, mukanya pucat dan sinar matanya layu, mengandung kedukaan besar. Entah mengapa aku tidak tahu."
"Hemm, mengapa timbul peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan di antara kita bersaudara ini?"
Kian Bu menunduk dan tertekan batinnya.
"Engkau tidak mengajak dia pergi dari istana untuk menghindarkan pernikahan itu?"
Kian Lee bertanya.
"Dia tidak mau karena katanya aku melakukan itu karena cinta. Dia tidak dapat membalas cintaku dan dia hanya minta agar aku menyampaikan permohonannya kepada Enci Milana supaya ditolong."
Kian Lee merangkul adiknya.
"Aih, adikku.... mengapa kita semua gagal dalam bercinta? Mengapa kita harus menghadapi kekecewaan ini?"
"Lee-ko...."
Kakak beradik itu saling peluk dan memejamkan mata, karena pantang bagi kedua orang pemuda gagah perkasa ini untuk mencucurkan air mata kedukaan.
"Bu-te, kuatkan hatimu. Dan kau sampaikan nanti kepada Enci Milana bahwa aku pun terpaksa harus pergi lebih dulu, sekarang juga."
Kian Bu memandang muka kakaknya yang muram dan tidak ada sinarnya itu.
"Lee-ko.... kau.... kau tenggelam dalam kedukaan!"
"Tidak lagi, Bu-te, aku harus.... dan kau juga, harus dapat mengatasi ini semua, jangan biarkan diri kita tenggelam oleh kegagalan cinta. Aku akan pergi mencari Hek-tiauw Lo-mo, harus kubalas jahanam itu yang telah memukul.... Ceng Ceng dengan pukulan beracun sehingga nnengancam keselamatan nyawanya."
"Lee-ko, aku ikut...."
"Jangan Bu-te. Sebaiknya kita berpisah dulu. Kita masing-masing perlu untuk mengembalikan ketenangan batin.... dalam keadaan begini aku lebih suka menyendiri dulu, Bu-te. Sebetulnya sudah tadi aku hendak pergi, akan tetapi aku menanti kau kembali. Lihat, pakaianku sudah kusiapkan."
Kian Lee lalu mengambil buntalan pakaiannya dan setelah menepuk-nepuk pundak adiknya dengan mata merah karena menahan turunnya air mata, dia lalu pergi meninggalkan Istana itu dengan cepat.
Kian Bu duduk termenung, merasa kasihan sekali kepada kakaknya dan aneh, begitu dia merasa kasihan kepada kakaknya, penderitaannya sendiri terlupa dan dadanya terasa ringan!
Dia tidak tahu bahwa duka timbulnya dari pikiran, dari ingatan yang membayang-bayangkan segala kekecewaan dan segala macam hal yang terjadi dan yang tidak menyenangkan dirinya.
Begitu ingatan ini tidak ada, begitu pikiran beralih ke lain hal, maka dengan sendirinya duka pun lenyap dan baru akan muncul lagi kalau ingatan kembali ditujukan kepada hal-hal yang mengecewakan atau tidak menyenangkan tadi.
Jelaslah bahwa Si Pembuat Duka adalah pikiran kita sendiri.
Segala peristiwa yang terjadi adalah suatu fakta yang wajar, tidak membawa duka maupun suka, dan suka atau duka adalah hasil permainan pikiran kita scndiri.
Maka, bebas dari pikiran berarti bebas pula dari duka!
Bebas dari ingatan berarti bebas dari masa lalu, tidak mengingat-ingat lagi hal-hal yang telah lalu atau telah terjadi, baik hal itu menguntungkan atau merugikan diri pribadi.
Kian Bu teringat akan suhengnya yang katanya pergi tanpa pamit, dan akan encinya yang menurut kakaknya tadi seperti orang yang berduka, maka dia lalu bangkit dan keluar dari kamarnya, menuju ke kamar encinya.
Pintu kamar itu tertutup dan dia mengetuknya.
"Siapa di luar?"
Terdengar suara Milana setelah agak lama Kian Bu mengetuk pintu kamar itu.
"Aku, Enci Milana."
"Oh, Bu-te. Kau masuklah!"
Kian Bu mendorong daun pintu dan memasuki kamar itu.
Dia melihat encinya sedang rebah di atas pembaringan dan di bawah sinar penerangan, dia melihat wajah encinya pucat seperti orang sakit.
"Enci Milana, kau kenapakah? Sakitkah?"
Kian Bu menghampiri dan duduk di atas bangku dekat ranjang. Milana bangkit duduk dan menggeleng kepala lemah.
"Tidak, Bu-te. Engkau sudah kembali? Bagaimana dengan Syanti Dewi?"
Kian Bu menunduk.
Tak disangkanya bahwa encinya juga agaknya sudah tahu bahwa dia tadi pergi mengunjungi Syanti Dewi, dan memang Milana mendengar akan hal ini dari Kian Lee.
"Dia.... dia menyampaikan pesan untuk mohon pertolongan darimu, Enci, agar dia dapat keluar dari istana karena dia tidak suka akan keputusan pernikahannya itu."
Milana memandang tajam dan tentu saja dia melihat wajah muram adiknya itu.
Sampai lama mereka berdua diam saja, Milana memandang penuh selidik sedangkan Kian Bu lebih banyak menunduk.
"Bu-te, engkau.... cinta kepada Syanti Dewi?"
Kian Bu makin menunduk, dia merasa malu dan juga sedih. Akhirnya dia mengangguk dan berkata.
"Akan tetapi dia.... dia tidak cinta padaku.... dia mencinta orang lain...."
Milana diam-diam menarik napas panjang, maklumlah dia siapa yang dicinta oleh Puteri Bhutan itu.
"Tenangkan hatimu, adikku. Kiraku sebaiknya begitulah, lebih baik mencinta namun tidak terbalas dan dengan demikian menginsyafkan kita, bahwa cinta kita salah alamat, daripada saling mencinta akan tetapi tidak dapat berjodoh. Saling mencinta akan tetapi harus saling berpisah. Engkau adalah seorang laki-laki yang memiliki kegagahan. Ditolak cintamu oleh seorang gadis tidak perlu menurunkan semangat dan merendahkan diri, bahkan kau harus berterima kasih dan bersyukur bahwa Syanti Dewi bersikap jujur kepadamu."
Kian Bu mengangguk-angguk. Sedikit nasihat itu dirasakannya tepat sekali dan sudah merupakan obat yang manjur baginya.
"Enci Milana, aku mendengar dari Lee-ko bahwa Gak-suheng sudah pergi. Ke manakah dia dan mengapa tidak memberitahukan Lee-ko dan aku?"
"Entahlah.... dia sudah pergi. Kau tahu orang aneh seperti dia....!"
Milana tidak mau banyak bicara tentang Bun Beng, juga memang dia tidak sanggup bicara banyak tentang pria itu karena hal ini hanya akan menusuk perasaannya saja.
"Enci, Lee-ko juga sudah pergi, dia minta agar aku memberitahukan kepadamu."
"Ehh?"
Milana terkejut.
"mengapa anak itu? Ke mana dia pergi?"
"Enci, agaknya kau tidak tahu. Sebetulnya.... Lee-ko juga mengalami patah hati."
"Heiii? Patah hati bagaimana?"
"Dia sesungguhnya amat mencinta Ceng Ceng, kemudian terdapat kenyataan bahwa gadis itu adalah keponakannya sendiri."
"Aihhh....!"
Milana terbelalak, diam-diam perasaannya makin tertusuk.
Mengapa begini kebetulan?
Mereka bertiga, anak-anak dari Pendekar Super Sakti, dalam waktu yang bersamaan semua menderita patah hati karena cinta gagal?
"Dia bilang hendak mencari Hek-tiauw Lo-mo yang telah melukai Ceng Ceng, hendak membalas dendam kepada kakek Pulau Neraka itu.
Karena semua sudah pergi, aku pun akan pergi sekarang juga, Enci."
"Eh, anak nakal! Engkau pula? Hendak ke mana kau?"
"Aku hendak menghibur hati dan pergi malam ini juga.... mungkin aku terus kembali ke Pulau Es.... atau ke mana saja, pokoknya jauh dari sini...."
Milana menarik napas panjang.
Dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh adiknya ini yang setelah kekecewaannya dalam kegagalan cintanya kini ingin secepat mungkin pergi sejauh mungkin meninggalkan wanita yang menjadi sebab kepatahan hatinya itu.
"Kenapa tidak besok saja, Adikku....?"
"Tidak, Enci Milana. Sekarang juga aku pergi, dan harap sampaikan maafku kepada Ci-hu (kakak ipar).... selamat tinggal, Enci."
Dia lalu berlari ke luar untuk mengambil pakaiannya dan malam itu juga dia pergi meninggalkan istana encinya.
Milana mengerutkan alisnya, termenung dan membayangkan semua peristiwa yang telah menimpa dirinya, mengikuti bayangan Gak Bun Beng yang pergi dalam keadaan patah hati dan semangatnya, dan bayangan Kian Lee dan Kian Bu yang juga mengalami kegagahan dalam cintanya.
Tak terasa lagi, puteri yang cantik jelita dan gagah perkasa ini meruntuhkan air mata, terisak-isak menangis di atas pembaringannya.
Gak Bun Beng, Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu, tiga orang laki-laki gagah perkasa itu semua patah hati dan menderita sengsara karena wanita.
Betapa banyaknya peristiwa seperti itu terjadi di dunia ini, semenjak jaman dahulu kala sampai sekarang.
Sejak jaman dahulu, banyak sudah tercatat dalam sejarah betapa laki-laki yang gagah perkasa, satria-satria dan pahlawan-pahlawan, pendekar-pendekar sakti yang sukar menemukan tandingan, akhirnya roboh oleh wanita!
Banyak pula dalam sejarah tercatat betapa kaisar-kaisar, raja-raja besar, panglima-panglima dan pemimpin-pemimpin gemblengan, seorang demi seorang roboh tak berdaya di bawah telapak kaki halus seorang wanita.
Bahkan di dalam dongeng-dongeng kuno dari bahasa apa pun, tentu terdapat peristiwa di mana para dewata yang memiliki kesaktian dan kekuatan, dapat pula roboh karena wanita.
Siapa pula yang tidak mengenal cerita tentang manusia pertama, Adam yang juga runtuh karena bujuk rayu Hawa, seorang wanita pula?
Akan tetapi, benarkah demikian?
Benarkah itu bahwa mereka, para pria yang jatuh itu, raja-raja yang kehilangan tahtanya, pahlawan-pahlawan yang kehilangan kepahlawanannya, pendekar-pendekar yang kehilangan kegagahannya, semua jatuh karena kesalahan wanita?
Wanitakah yang bersalah sehingga kaum pria runtuh oleh kelembutan mereka?
Tidak!
Kiranya tidaklah tepat kalau kita berpendapat demikian.
Wanita pun banyak yang menjadi korban karena hubungannya dengan pria.
Hampir semua wanita yang terperosok ke dalam lembah kehinaan, yang umumnya dinamakan pelacur, tentu akan dapat menceritakan riwayat masing-masing yang hampir semua adalah akibat dari perbuatan pria, atau menjadi korban hubungan mereka dengan pria.
Juga dalam hal mereka ini, tidak dapat dipersalahkan kepada kaum pria.
Bukan wanita dan bukan pria yang bersalah dengan terjadinya semua kegagalan hidup itu.
Yang bersalah adalah yang disebut cinta antara pria dan wanita, yang sesungguhnya bukankah cinta sejati, melainkan cinta yang diciptakan oleh nafsu belaka.
Cinta nafsu tentu saja menimbulkan bermacam peristiwa, yang menimbulkan kenikmatan dan kesenangan hebat, namun di lain saat bisa mendatangkan derita dan kedukaan yang hebat pula.
Karena cinta nafsu adalah penonjolan dari diri pribadi dalam bentuk yang paling nyata, dan selama diri pribadi ditonjolkan, sudah pasti yang ada hanyalah suka dan duka, nikmat dan derita!
Tiada Yang Senikmat Cinta Sorgaloka Turun Ke Dunia Membuai Dan Membius Manusia!
Tiada Yang Selucu Cinta Manusia Menjadi Badut-Badut Dibuatnya Segala Kepalsuan Dilakukannya!
Tiada Yang Secelaka Cinta Mendatangkan Derita Tiada Taranya Dunia Berubah Menjadi Neraka!
Akan Tetapi...., Tiada Yang Seindah Cinta Sejati Dalam Tawa Remaja Puteri Dalam Sinar Matahari Pagi Yang Terkandung Dalam Tangis Bayi Dalam Lautan Danau Dan Sungai Dalam Semua Isi Langit Dan Bumi Dalam Segala Yang Hidup Dan Mati (Lanjut ke
Jilid 40) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 40 Cinta Mulia Dan Suci Tetap ADA Dan Kekal Abadi Apabila AKU TIADA Lagi.
"Apa kau bilang....?"
Puteri Milana meloncat dengan kaget sekali mendengar laporan dari seorang pengawalnya dengan muka pucat bahwa suaminya, Han Wi Kong, sedang membuat huru-hara di istana Pangeran Liong Bin Ong dan kini sedang dikeroyok oleh para pengawal pangeran itu.
"Hamba.... hamba dengar.... Pangeran Liong Bin Ong telah dibunuhnya...."
Milana menahan jeritnya dan sekali berkelebat tubuhnya sudah lenyap dari depan pengawal yang melaporkan peris-tiwa hebat itu.
Bagaikan bayangan siluman saja saking cepatnya, Milana berlari ke istana Pangeran Liong Bin Ong dan ketika dia melayang naik ke atas genteng istana itu, dia sudah mendengar suara ribut-ribut di bagian belakang istana.
Cepat dia melayang turun.
Dua orang pengawal berteriak dan menghadang, akan tetapi dua kali tangannya bergerak, dua orang pengawal itu terpelanting ke kanan kiri seperti disambar petir.
Milana terus lari ke dalam dan ketika dia tiba di tempat yang luas di ruangan bela-kang menuju ke pintu taman, dia terkejut bukan main.
Pangeran Liong Bin Ong telah menggeletak di atas lantai dengan dada tertusuk pedang yang dia kenal sebagai pedang suaminya!
Pangeran tua itu mati dan melihat meja yang penuh hidangan, agaknya tadi pangeran itu sedang menjamu tamu yang agaknya suaminya itulah!
Dan tak jauh dari situ dia melihat suaminya dikepung dan dikeroyok oleh belasan orang pengawal, dan di antaranya terdapat seorang kakek yang tidak berbaju.
Kakek ini memegang sebatang gendewa besar dan kelihatan lihai sekali sungguhpun melihat pakaian dan sikapnya dia itu sepantasnyalah seorang pekerja di dapur atau tukang kebun di taman!
Han Wi Kong sudah luka-luka dan dengan gagah berani panglima ini membela diri dengan tangan kosong.
Ketika dia melihat isterinya muncul di situ, dia terkejut sekali.
"Milana...., pergilah kau....!"
"Dess....!"
Sebatang toya menghantam pundak panglima itu ketika dia menoleh kepada isterinya. Han Wi Kong terhuyung, kemudian dia meloncat ke arah Milana.
"Cepat.... pergi dari sini.... tiada jalan lain aku membunuh pemberontak itu...."
"Wirrr-wirrr-wirrr....!"
"Awas panah....!"
Milana menjerit kaget.
"Cep-cep-ceppp....! Aughhhh....!"
Tiga batang anak panah yang dilepas oleh kakek telanjang baju dari jarak dekat dengan gendewanya yang besar itu telah menancap di lengan dan punggung Han Wi Kong.
Panglima itu mengeluh, terbelalak karena dua batang anak panah yang menancap di punggung menancap dalam sekali, sedangkan lengannya tertembus sebatang anak panah.
"Milana.... maafkan aku.... lekas pergi.... surat di atas mejaku.... kau berikan dia...."
Setelah berkata demikian, Han Wi Kong roboh terguling dan tewas di saat itu juga karena dua batang anak panah yang menancap di punggungnya itu menembus jantung.
"Aihhhh....!"
Milana terbelalak memandang mayat suaminya sambil menutup mulut dengan punggung tangan kanan.
Kemudian dia mengangkat muka, memandang kakek telanjang itu dan para pengawal yang sudah maju menghampiri dan mengurungnya, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi-api, cuping hidungnya kembang-kempis dan bibirnya gemetar.
Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi nyaring yang menggetarkan semua pengawal, suara lengking mengerikan yang keluar dari mulut kecil Puteri Milana, dan tampak bayangan merah dari jubahnya yang lebar berkelebat ke depan.
Para pengawal terkejut dan mengangkat senjata, namun terdengar suara keras dan empat orang di antara mereka terpental, terbentur pada dinding dan tewas seketika dengan kepala pecah!
Para pengawal itu adalah orang-orang pilihan yang sengaja dipelihara oleh Liong Bin Ong untuk mengawal dirinya.
Mereka adalah orang-orang kepercayaan pemberontak itu, maka biarpun mereka tahu akan kelihaian Puteri Milana, mereka menganggap puteri ini sebagai musuh majikannya.
Bahkan laki-laki memegang gendewa itu adalah seorang tokoh hitam yang bekerja di situ menyamar sebagai tukang masak, padahal dia pun merupakan seorang pengawal dalam yang dipercaya dan memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Tadi sore Han Wi Kong datang secara baik-baik, dan resminya adalah untuk mengucapkan berduka cita atas kematian Pangeran Liong Khi Ong.
Akan tetapi Liong Bin Ong yang cerdik itu menyambut ucapan dukacita itu dengan tertawa.
"Dia mati karena ulahnya sendiri. Siapa suruh dia memberontak terhadap pemerintah yang sah?"
Kata Liong Bin Ong.
"Sudah sering aku memberi nasihat, akan tetapi tidak diturutnya. Sekarang dia tewas, itulah hukumannya, dan kita tidak perlu berdukacita!"
Untuk memperlihatkan bahwa dia "tidak ada hubungan"
Dengan adiknya yang memberontak itu, Liong Bin Ong memperlihatkan kegembiraan, Bahkan dia lalu menjamu makan kepada suami Puteri Milana yang diam-diam merupakan lawan tangguh dan musuh besarnya itu.
Milana terhitung keponakan pangeran ini, maka Han Wi Kong juga masih merupakan keluarga dekat, yaitu mantu keponakan.
Mereka makan minum di ruangan belakang dan dijaga oleh dua belas orang pengawal kepercayaan Pangeran Liong Bi Ong.
Akan tetapi, dengan tidak tersangka-sangka sama sekali, ketika tuan rumah dan tamu itu sudah minum sampai setengah mabok tiba-tiba saja Han Wi Kong mencabut pedang dan menusuk pangeran tua itu dari depan, tepat mengenai dadanya dan Pangeran Liong Bin Ong roboh dan tewas seketika.
Tentu saja peristiwa yang tidak tersangka-sangka ini tidak dapat dicegah oleh para pengawal yang kini menjadi marah dan mengepung serta menyerang Han Wi Kong.
Keributan ini terdengar dari luar sehingga sampai juga ke istana Puteri Milana sehingga seorang pengawal cepat melaporkan kepada puteri itu.
Kini Milana mengamuk.
Kedukaan dan kemarahan bercampur menjadi satu membuat puteri ini menjadi luar biasa berbahayanya.
Gelang di tangan kirinya yang terbuat dari emas itu telah berlepotan darah dan dalam waktu singkat saja, delapan orang pengawal telah roboh oleh wanita sakti ini.
Tinggal empat orang pengawal bersama kakek telanjang baju yang masih melawannya, akan tetapi biarpun kakek itu memiliki kepandaian tinggi dan gerakan gendewa sebagai senjatanya itu amat kuat, namun sudah dua kali dia terhuyung kena diserempet hawa pukulan dari tangan lembut Puteri Milana.
"Serr-serr-serrr....!"
Tiga batang anak panah meluncur, dilepas oleh kakek itu dari jarak dekat.
"Bedebah....!"
Milana memaki karena panah-panah ini mengingatkan dia akan kematian suaminya.
Cepat tangannya menyambar dan tiga batang anak panah itu telah dapat disambarnya di udara, kemudian dia memekik dan tiga batang anak panah itu dilontarkan dengan kecepatan kilat ke arah kakek itu.
Kakek itu terkejut sekali melihat betapa wanita itu dapat menangkap tiga batang anak panahnya dan kekagetannya inilah yang mencelakakan dia karena ketika dia melihat berkelebatnya tiga sinar kilat menyambarnya, dia kurang cepat mengelak sehingga sebatang di antara tiga anak panah itu menyambar tenggorokannya.
"Arrgghhhh....!"
Kakek itu mengeluarkan suara seperti seekor babi disembelih, kemudian dia menubruk dengan nekat, menggunakan gendewanya untuk melakukan serangan terakhir.
Namun, Milana sudah meloncat ke samping, kakinya menendang dan tubuh kakek itu roboh terjengkang, tewas seketika.
Empat orang pengawal menjadi jerih, dan hendak lari, namun tahu-tahu ada bayangan berkelebat melewati mereka dan ketika mereka memandang, Puteri Milana sudah berdiri di depan mereka!
"Tidak ada yang kubiarkan hidup!"
Milana membentak dan begitu dia bergerak, kaki tangannya sudah menyerang dan berturut-turut robohlah empat orang pengawal itu.
Baru puas rasa hati Milana dan dia cepat meloncat ke dekat mayat suaminya, mencabuti tiga batang anak panah itu lalu memanggul mayat itu dan meloncat pergi, terus melarikan diri ke dalam istananya sendiri.
Dia merebahkan mayat suaminya di atas pembaringan, teringat akan pesan suaminya dia menoleh ke atas meja.
Benar saja, di situ terdapat dua buah sampul surat kuning yang ketika dibacanya, yang sebuah dialamatkan kepadanya dan yang sebuah lagi dialamatkan kepada Gak Bun Beng!
Dengan jari-jari tangan gemetar Milana membuka sampul surat untuknya, membaca dengan muka pucat dan perlahan-lahan air matanya yang tadi tertahan oleh kemarahan mulai menetes-netes ke atas surat yang dibacanya, melunturkan tintanya..Milana isteriku tercinta, Hanya ada satu jalan bagi kita semua, juga bagi keselamatan negara, yaitu aku harus membunuh Liong Bin Ong.
Percayalah, aku bukan melakukan bunuh diri dengan membuta, melainkan sudah kupertimbangkan masak-masak, demi keselamatan negara dan terutama sekali demi kebahagiaan hidupmu.
Kau bawalah suratku dan berikan kepada Gak Bun Beng, dia patut menerima cinta kasihmu.
Selamat tinggal.
Suamimu, juga sahabatmu, Han Wi Kong "Ahhhh....!"
Milana menubruk ke pembaringan dan berlutut sambil menangis di depan mayat suaminya.
Dia maklum, dia mengerti mengapa suaminya melakukan perbuatan ini.
Suaminya sudah tahu bahwa dalam membunuh Pangeran Liong Bin Ong, dia pasti akan tewas.
Dan memang harus diakui bahwa satu-satunya jalan untuk menghindarkan negara dari bahaya ancaman pangeran yang palsu hatinya itu, hanyalah dengan cara membunuhnya, karena Kaisar terlampau sayang dan terlam-pau percaya kepada saudaranya itu.
Dan Han Wi Kong telah sengaja melakukan itu untuk memberi kesempatan kepada dia dan Gak Bun Beng.
"Han Wi Kong, harap kau sudi meng-ampunkan aku. Di dunia ini aku tidak bisa menjadi isterimu, biarlah di dalam kehidupan lain kelak aku akan suka menjadi apa saja untuk melayanimu."
Tiba-tiba para pengawal berlari masuk dan dengan terengah-engah melaporkan bahwa Perdana Menteri Su sendiri dengan para petugas keamanan istana telah datang, dan pasukan itu mendapat perintah, untuk menangkap Puteri Milana!
"Jangan melawan!"
Kata Milana dan cepat dia menyimpan dua buah surat itu ke saku bajunya, kemudian dia menggunakan pit untuk membuat corat-coret di atas tembok kamar suaminya karena dia sudah tidak mempunyai waktu untuk menulis surat dengan baik-baik.
Kemudian, dia cepat mengumpulkan beberapa perhiasan dan pakaian, membuntalnya dengan kain kuning, menyambar pedangnya dan mengikatkan pedang dan buntalan di pundak, kemudian dia meloncat melalui jendela kemar itu ketika mendengar derap kaki banyak orang mendatangi ke arah kamar itu.
Ketika Perdana Menteri Su dan para pasukan memasuki kamar, pembesar ini hanya melihat mayat Han Wi Kong dan coretan-coretan di atas tembok yang berbunyi .
"Milana akan berterima kasih sekali kepada Perdana Menteri Su jika sudi mengurus jenazah Han Wi Kong dengan sepatutnya.
Tertanda .
Puteri Milana.
Perdana Menteri Su menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
Biarpun dia tadi terkejut sekali mendengar akan peristiwa pembunuhan Pangeran Liong Bin Ong, namun dia mengerti mengapa Han Wi Kong melakukan perbuatan nekat itu dan diam-diam dia bersyukur karena dibunuhnya Pangeran Liong Bin Ong itu terbebaslah negara dari ancaman bahaya besar.
Maka dia lalu menghampiri jenazah Han Wi Kong dan tanpa ragu-ragu lagi pembesar tinggi yang sudah tua ini menjatuhkan diri berlutut di depan pembaringan sebagai penghormatan dan mulutnya berkemak-kemik menghaturkan terima kasih kepada Han Wi Kong yang disebutnya sebagai seorang pahlawan bangsa!
Mudah saja dia akan membujuk Kaisar dengan mengatakan bahwa apa yang terjadi hanyalah pertikaian pribadi antara keluarga Milana dan Liong Bin Ong, sehingga dengan demikian Han Wi Kong tidak akan dianggap sebagai seorang musuh negara.
"Hei, kenapa kalian bengong saja?"
Setelah dia berdiri lagi dia membentak pasukan yang dipimpin oleh seorang panglima itu.
"Hayo lekas cari dan tangkap Puteri Milana!"
Pasukan itu lalu lari cerai-berai.
Hanya lagaknya saja Perdana Menteri Su berkata demikian, akan tetapi diam-diam dia maklum bahwa tidak ada seorang pun di antara pasukan itu yang akan berani menyentuh ujung jubah Puteri Milana yang mereka kagumi dan hormati.
Maka lenyaplah Puteri Milana dan berbareng dengan menghilangnya puteri ini dari kota raja, hilang pula Puteri Syanti Dewi dari kamarnya tanpa ada yang tahu ke mana Puteri Bhutan itu pergi.
Hanya Perdana Menteri Su yang mengangguk-angguk dan menduga bahwa pasti Puteri Milana yang melakukan hal itu, sengaja mengajak Puteri Syanti Dewi lari dari istana karena tidak setuju Puteri Bhutan itu dikawinkan dengan Pangeran Yung Hwa.
Perdana Menteri Su merasa heran sekali dan tidak mengerti mengapa Milana melakukan hal itu.
Maka didatanginyalah Pangeran Yung Hwa dan betapa herannya pembesar yang bijaksana dan setia ini melihat Pangeran Yung Hwa kegirangan luar biasa mendengar bahwa Puteri Syanti Dewi telah melarikan diri!
"Paman Menteri, saya girang sekali, ahh, saya bersyukur sekali bahwa dia telah pergi, karena kalau tidak, tentu aku yang akan pergi lagi."
"Eh, kenapa begitu, Pangeran?"
"Aku tidak suka diharuskan menikah dengan puteri Bhutan."
Perdana Menteri Su memandang heran dan mengerutkan alisnya.
"Ingatlah, Pangeran Muda, dahulu engkau marah-marah dan melarikan diri dari istana karena permintaanmu untuk menikah dengan puteri Bhutan ditolak Sri Baginda. Sekarang keinginanmu itu dituruti, engkau malah menolak. Apa artinya ini?"
Pangeran Yung Hwa tersenyum.
"Artinya, Paman, bahwa dulu itu cintaku adalah cinta yang mentah, cinta monyet, cinta kanak-kanak karena yang kucinta adalah bayangan seorang gadis yang muncul karena cerita-cerita indah tentang dirinya. Dahulu aku mencinta seorang dara yang belum pernah kulihat, cinta bayangan saja. Sekarang, saya telah tahu apa artinya cinta, saya telah men-cinta seorang dara dari darah daging, bukan bayangan kosong belaka. Biar dia gadis biasa, aku cinta padanya dan setelah Syanti Dewi pergi, saya pun akan pergi untuk mencari dara yang saya cinta itu. Saya girang dapat bebas dari Puteri Bhutan!"
Pangeran Yung Hwa bergembira dan bersenandung!
Perdana Menteri Su meninggalkan pangeran itu sambil menggeleng-geleng kepalanya yang penuh uban.
Heran dia melihat ulah orang-orang muda dan makin kagum hati kakek itu menyaksikan kekuatan cinta yang menguasai hampir seluruh kehidupan manusia.
Tanpa cinta, matahari akan kehilangan sinarnya, bunga-bunga akan kehilangan keharumannya dan madu akan kehilangan manisnya!
Dengan hati-hati dan cerdik, perdana menteri ini akhirnya dapat pula meredakan kemarahan Kaisar dan mengajukan alasan-alasan masuk akal bahwa peristiwa itu terjadi karena pertikaian pribadi antara keluarga Puteri Milana dan Pangeran Liong Bin Ong, sama sekali tidak menyangkut urusan negara, maka hendaknya Kaisar tidak mencampurinya.
Adapun tentang kehilangan Puteri Syanti Dewi, Perdana Menteri berjanji akan menyebar orang untuk mencarinya dan mengusulkan bahwa seyogianya urusan perjodohan itu ditunda saja.
"Dahulu Paduka melamar Puteri Bhutan untuk mendiang Pangeran Liong Khi Ong, dan kalau sekarang suami untuk Puteri itu ditukar tanpa mengadakan perundingan lebih dulu dengan Kerajaan Bhutan, hamba kira hal itu malah akan menanamkan sakit hati seolah-olah Paduka kurang menghargai Kerajaan Bhutan. Sebaiknya dinanti sampai ada kabar tentang puteri itu, baru mengajukan usul perubahan ikatan jodoh itu dengan Kerajaan Bhutan."
Semua alasan yang kuat diajukan oleh Perdana Menteri Su dan akhirnya Kaisar dapat dibujuk sehingga tidak meributkan lagi peristiwa-peristiwa yang terjadi itu.
Malah Kaisar juga tidak keberatan ketika mendengar betapa Perdana Menteri Su mengurus jenazah Han Wi Kong dan menguburkan jenazah itu di dalam kuburan keluarga Kaisar tingkat dua, karena betapapun juga, Han Wi Kong adalah mantu cucu dari kaisar sendiri.
Maka terlaksanalah apa yang menjadi permohonan Milana kepada Perdana Menteri Su.
Duka timbul dari kecewa.
Kecewa timbul dari tidak tercapainya nafsu keinginan.
Nafsu keinginan adalah hasrat pengejaran terhadap sesuatu yang menyenangkan dari si aku.
Si aku timbul dari pikiran.
Si aku adalah pikiran sendiri.
Pikiran adalah ingatan yang mengenang masa lalu, ingin mengejar lagi kenangan yang menyenangkan dan menjauhi yang tidak menyenangkan.
Kebahagiaan hidup, baru mungkin ada apabila bebas dari nafsu keinginan, tidak lagi mencari-cari, tidak lagi mengejar sesuatu seperti yang kita inginkan.
Bebas dari pikiran yang membanding-bandingkan, berambisi, berkhayal.
Bebas dari si aku.
Kebebasan ini menimbulkan kewaspadaan dan kesadaran bahwa segala sesuatu ini adalah indah dan sempurna, tidak ada kecualinya.
Yang ada hanyalah kenyataannya, apa adanya dan ini adalah wajar dan mutlak.
Bukan suka bukan pula duka, bukan puas bukan pula kecewa, bukan nikmat dan bukan derita karena banding-membanding dan semua kebalikan-kebalikan ini adalah permainan pikiran yang memilih-milih sehingga timbullah konflik-konflik batin yang kemudian meledak menjadi konflik-konflik lahir.
Kebahagiaan terletak di atas segalanya itu, di atas dan bebas dari pikiran.
Kekurangan dan kekecewa-an hanya diderita oleh mereka yang tidak mengenal kecukupan.
Maka hanya mereka yang tidak membutuhkan apa-apa lagi salah yang dapat menyentuh kebahagiaan!
Hawa udara panas sekali.
Terik matahari seolah-olah hendak membakar segala sesuatu di permukaan bumi.
Sinar matahari yang langsung menimpa bumi, terpantul kembali menciptakan hawa yang gerah.
Seorang pemuda yang duduk di bawah sebatang pohon besar dalam hutan itu membuka kancing bajunya dan meniupi leher dan dadanya.
Pemuda ini berwajah tampan dan rambutnya mengkilap hitam, dikuncir panjang berjuntai di belakang pundak kanan.
Pakaiannya sederhana, jubahnya yang hitam kebiruan lebar dan panjang, menutupi baju dan celana sehingga membuat dia makin kegerahan.
Pemuda ini adalah Suma Kian Bu yang telah melakukan perantauan seorang diri, pergi dari kota raja di mana hatinya untuk pertama kali mengalami pecah berantakan akibat cinta gagal.
Akan tetapi, karena dasar wataknya memang gembira, setelah merantau sebulan lebih, luka di hatinya itu hanya tinggal bekasnya saja, tidak terasa nyeri lagi.
"Uihhhh, panasnya....!"
Dia mengeluh.
Hutan yang penuh pohon itu masih belum mampu melawan hawa panas yang datang dari gurun.
Daerah sekitar hutan itu adalah daerah pegunungan yang diselang-seling padang rumput dan padang pasir.
Tadi, sebelum memasuki hutan, Kian Bu melewati padang pasir yang luar biasa panasnya.
Matanya silau melihat sinar matahari menimpa pasir-pasir yang berkilauan, dan terasa benar olehnya hawa yang panas menyerangnya dari bawah.
Maka ketika dia memasuki hutan itu, hawa terasa sejuk dan nyaman sehingga dia menjatuhkan diri di bawah pohon besar itu sambil meniupi lehernya.
Tubuhnya lelah sekali dan betapa nikmatnya duduk di bawah pohon, terlindung dari sengatan terik matahari.
Angin sepoi-sepoi semilir meniupi muka dan lehernya, membuat matanya menjadi berat dan mengantuk.
Betapa enak rasanya dilanda kantuk!
Sudah pasti bahwa tidak ada yang lebih nikmat di duia ini daripada tidur bagi orang yang mengantuk, seperti juga makan bagi orang yang lapar dan minum bagi orang yang haus.
"Dukk....!"
Kepalanya membentur batang pohon.
"Heh-heh, pemalas!"
Kian Bu mengomel sambil tertawa ketika dia tersadar karena ketika dia melenggut tadi, kepalanya terbanting ke belakang dan membentur batang pohon.
Agaknya sudah tidak berbekas lagi kepatahan hati pemuda yang berwatak gembira ini.
Dia bangkit berdiri, memandang ke sekeliling.
Hutan itu liar dan lebat, sunyi bukan main.
Dia ingin sekali tidur barang sejenak, akan tetapi jangan-jangan ada binatang buas dan berbisa di hutan asing ini datang mengganggunya di waktu dia tertidur nyenyak.
Maka dia lalu berdongak ke atas dan di lain saat pemuda yang memiliki kepandaian tinggi itu sudah melesat ke atas pohon, memilih tempat yang enak di atas cabang pohon yang besar, duduk mepet di pangkal cabang, melingkar seperti seekor monyet dan tak lama kemudian pemuda ini sudah tertidur pulas!
Tidur merupakan berkat bagi tubuh manusia.
Tidur dengan pikiran kosong tanpa mimpi, biar hanya sekejap saja, sudah sanggup memulihkan kesegaran tubuh, dan tidur pulas sejam saja sudah terasa amat lama.
Sebaliknya, yang membuat tidur merupakan suatu kemalasan yang bahkan melelahkan adalah jika pikiran bekerja terus di waktu tidur sehingga timbul mimpi-mimpi buruk.
"Clekittt....!"
"Auwwww....!"
Kian Bu terbangun dan cepat menggaruk-garuk pinggulnya.
"Sialan.... semut merah!"
Gerutunya ketika dia merogoh ke balik celananya dan jari-jari tangannya menjepit seekor semut merah.
Pinggulnya sudah bintul dan terasa gatal sekali.
Kiranya semut itu menyelinap masuk melalui pakaiannya dan entah mengapa, menggigit pinggulnya.
"Huh, tentu semut betina!"
Gerutunya lagi.
"Kalau jantan mana mau mencubit pinggul? Sialan!"
Dia menggaruk-garuk pinggulnya, makin digaruk makin gatal.
Tiba-tiba dia berhenti menggaruk pinggul.
Ada suara derap kaki kuda!
Kiranya hutan liar ini bukannya tidak ada manusianya seperti yang dia kira semula.
Makin lama makin jelas suara derap kaki kuda menuju ke tempat itu dan tak lama kemudian dia melihat dua orang penunggang kuda yang berpakaian sebagai ahli-ahli silat dan bertubuh tegap-tegap dan kuat-kuat seperti tubuh orang-orang yang biasa hidup mengandalkan kekuatan tubuhnya.
Di punggung mereka terselip golok telanjang yang mengkilap tajam.
Ketika tiba di bawah pohon itu, mereka menahan kuda mereka.
Dua ekor kuda itu meringkik dan mengangkat kaki depan, hidung mereka mendengus-dengus dan mulut mereka mengeluarkan busa.
"Sudah jelaskah bahwa dia itu mata-mata?"
Tanya yang bercambang tebal.
"Tak salah lagi, dia mengejar kita dan kepandaiannya hebat. Kita harus cepat pulang dan melaporkan ini kepada pimpinan. Siapa tahu dia diikuti oleh pasukan musuh."
"Baiknya kita berpencar di sini, dan kalau kita dapat terbebas dari dia, berkumpul di dusun Ma-cin,"
Kata pula yang bercambang tebal.
"Baik!"
Dua orang itu lalu berpisahan, yang seorang membalapkan kuda membelok ke kiri, dan yang seorang lagi ke kanan.
Keadaan menjadi sunyi kembali setelah derap kaki dua ekor kuda itu menghilang dan tak terdengar lagi.
Sunyi yang menegangkan.
Kian Bu duduk di atas cabang pohon, bersembunyi di balik daun-daun lebar sambil termenung.
Jelas bahwa dua orang itu merupakan anggauta suatu kelompok atau pasukan atau gerombolan.
Perkumpulan apakah yang agaknya menguasai daerah ini?
Siapa mereka itu dan siapa ketua mereka?
Dan siapa pula orang-orang yang mereka bicarakan tadi, yang disangka mata-mata musuh?
Dia menanti sampai lama karena mengira bahwa orang yang dibicarakan mereka berdua tadi, yang katanya mengejar mereka, tentu akan muncul pula.
Akan tetapi, sampai satu jam lebih dia menanti, tidak juga tampak ada yang datang mengejar.
"Huh, pengejar yang lambat dan bodoh seperti itu mana akan mampu menyusul buruan?"
Dia sudah mengomel karena merasa kesal juga menanti sebegitu lamanya di atas pohon, dan merasa mendongkol karena dia telah terganggu dari kenikmatan tidur siang terayun-ayun di cabang itu.
Kini dia harus berjaga dengan penuh ketegangan, namun yang dinanti-nanti tidak kunjung muncul.
Siapa tidak menjadi gemas?
"Uuuhhh, pengejar tolol....!"
Habis kesabarannya dan selagi dia hendak meloncat turun, tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi!
Sayup-sampai suaranya, akan tetapi makin lama makin jelas.
Suara seorang wanita bernyanyi.
Merdu bukan main!
Suara itu bening, halus dan pulen, terbawa angin semilir memasuki telinganya mendatangkan perasaan nyaman dan sedap!
Kian Bu terbelalak heran.
Suara wanita begitu merdu di hutan liar dan sunyi ini?
Jangan-jangan suara siluman itu!
Yang dinantikannya adalah seorang pengejar yang bengis, bukan seorang yang suaranya mengalahkan biduanita yang pernah didengarnya bernyanyi di kota raja!
Dan isi nyanyian itu!
Dia mendengarkan penuh perhatian.
Pada usia delapan tahun aku mencuri pandang di dalam cermin, dan aku sudah dapat menghitami alis mataku!
Pada usia sepuluh aku pergi ke pesta sincia dengan baju baru berkembang bunga teratai!
Pada usia dua belas aku belajar meniup suling,hiasan kuku tak pernah lepas dari jari tanganku!
Pada usia empat belas aku tak berani bertemu pria, menduga-duga akan segera dijodohkan.
Pada usia lima belas aku menangis di dalam musim bunga, dan menyembunyikan mukaku di balik pintu taman....
Kian Bu tertegun.
Tentu saja dia mengenal sajak nyanyian itu.
Kian Bu telah diberi pelajaran sastra oleh ibunya dan banyak sajak-sajak ciptaan sastrawan-sastrawan kuno hafal olehnya.
Dia ingat bahwa nyanyian itu diambil dari sajak ciptaan pujangga Li Shang Yin yang hidup di abad ke sembilan (812-858).
Li Shang Yin terkenal dengan tulisan sajaknya, terutama sajak Tujuh Sajak Cinta dan yang dinyanyikan suara merdu itu adalah saja ke tiga!
Kian Bu menjadi penasaran karena sampai lama orangnya belum juga muncul.
Kalau penyanyi itu berjalan kaki, tentu jalannya lambat sekali, apalagi kalau naik kuda.
Agaknya kudanya itu berjalan sambil makan rumput di sepanjang jalan!