Eps 11 Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo.
Demikian pula di dalam keadaan bahaya mengancam, mereka juga berebutan, saling memperebutkan keselamatan diri masing-masing tanpa menghirau-kan orang lain, Siapa yang menghalang di depan akan diterjangnya, bahkan setiap orang akan tidak malu-malu atau ragu-ragu untuk menggunakan mayat orang lain sebagai batu loncatan menuju ke arah keselamatan diri sendiri!
Syanti Dewi yang tadinya masih mempunyai harapan akan dapat tersusul oleh tiga orang temannya itu atau setidaknya oleh seorang di antara mereka, menjadi panik juga ketika makin lama makin jauh terseret sampai tidak dapat melihat Gak Bun Beng atau dua orang saudara Suma.
Akhirnya dia tiba di tempat yang tidak begitu penuh orang karena pasukan itu telah lewat dan dia cepat mundur sampai mepet di tembok rumah agar tidak terseret terus makin menjauh.
Dia memandang ke kanan kiri dengan muka pucat dan sepasang matanya membayangkan kekhawatiran.
"Nona yang cantik, engkau mencari siapakah?"
Tiba-tiba dia mendengar suara orang dan ketika dia menoleh, dia terkejut melihat seorang nenek yang mukanya buruk sekali, kasar, hitam, rambutnya riap-riapan dan memegang sebatang tongkat yang bentuknya seperti ular.
Akan tetapi karena betapa buruknya pun orang itu hanya seorang wanita tua, Syanti Dewi menjawab.
"Aku terseret arus manusia dan terpaksa berpisah dari teman-temanku, Nek. Aku khawatir sekali, bagaimana dapat menemukan mereka kembali dalam arus manusia sebanyak itu?"
"Aduh kasihan.... Nona tentu bukan orang sini...."
"Bagaimana engkau bisa menduga begitu, Nek?"
"Hi-hik, aku hanya menduga-duga.... jangan khawatir, Nona. Aku akan membantumu mencarikan teman-temanmu itu. Mari, pegang tongkatku."
Karena sedang panik, tentu saja uluran tangan siapa pun untuk membantunya mencari tiga orang temannya itu merupakan hal yang amat menggembirakan.
"Terima kasih, nenek yang baik,"
Katanya dan tanpa ragu-ragu lagi dia menggandeng nenek itu, bukan memegang tongkatnya, melainkan memegang tangan kirinya.
Baru dia terkejut sekali ketika mendapat kenyataan betapa nenek itu dapat berjalan cepat sekali, menyelinap dan menyusup di antara orang banyak sambil menariknya, dan dengan sedikit terdorong tangannya saja dia sudah dapat membuat banyak orang yang menghalangi jalannya terdorong tumpang tindih sehingga ter-kuak jalan untuk mereka!
"Aihh, kiranya engkau lihai sekali, Nek!"
Syanti Dewi berkata.
"Hi-hi-hik, kalau Hek-wan Kui-bo tidak lihai, siapa lagi yang lihai di dunia ini?"
Semenjak keluar dari istana Bhutan, Syanti Dewi terus-menerus mengalami hal-hal yang luar biasa dan dia bahkan terseret-seret ke dalam dunia persilatan di mana dia bertemu dengan banyaK tokoh persilatan yang lihai-lihai.
Oleh karena ini maka begitu melihat nenek yang lihai ini dan mendengar julukannya yang menyeramkan, yaitu Biang Setan Lutung Hitam, mengertilah dia bahwa dia terjatuh ke dalam tangan seorang tokoh hitam yang menyeramkan!
Akan tetapi dengan pembawaannya yang tenang Syanti Dewi tidak memperlihatkan sikap takut, melainkan menoleh ke kanan kiri, mencari-cari tiga orang temannya itu.
Kalau saja dia dapat melihat seorang di antara mereka!
Dia tidak akan terancam lagi oleh nenek ini!
Akan tetapi dia tidak melihat seorang pun di antara mereka, dan nenek itu sudah menariknya lagi.
"Nanti dulu, Kui-bo. Kita berhenti dan cari mereka di sini!"
Syanti Dewi berkata, menyebut "Kui-bo"
Seolah-olah tanpa mengerti artinya.
"Heh-heh, hayo ikut dengan aku. Seorang dara jelita seperti engkau ini amat berbahaya kalau berkeliaran seorang diri di tempat ini dalam keadaan seperti sekarang ini. Apa kau lebih suka dilarikan serdadu-serdadu dan diperkosa oleh mereka?"
Tentu saja Syanti Dewi terkejut mendengar ini, memandang nenek itu dengan mata terbelalak dan menggeleng kepalanya.
"Heh-heh, nah, kalau begitu hayo ikut dengan aku, kucarikan tempat yang baik untukmu. Orang seperti engkau ini pantasnya berada di dalam kamar seorang raja atau pangeran!"
Dia menarik terus sampai mereka tiba di pintu gerbang kota Koan-bun.
Tiba-tiba Syanti Dewi merasa betapa pundaknya nyeri dan tahu-tahu tubuhnya telah menjadi lemas dan dia dipondong dan dibawa meloncat oleh nenek itu keluar dari kota Koan-bun melalui tembok pagar yang tinggi!
Setelah nenek itu turun ke luar tembok dan lari cepat sekali, Syanti Dewi yang tak mampu bergerak itu berkata.
"Kui-bo, lepaskan aku!"
Mereka telah berada jauh dari kota dan di tempat sunyi.
Sambil terkekeh Hek-wan Kui-bo membebaskan totokannya dan menurunkan tubuh Syanti Dewi.
Dara ini membalik, menghadapi nenek itu tanpa sikap takut sama sekali, kemarahan berpancar dari sepasang matanya yang indah dan dia menegur.
"Hek-wan Kui-bo, katakanlah sejujurnya, engkau ini hendak membantuku mencari teman-temanku ataukah mempunyai niat lain yang tidak baik?"
Nenek itu tersenyum dan memandang penuh perhatian kepada dara yang berdiri di depannya.
Kecantikannya yang tidak dapat disembunyikan dengan pakaian sederhana, sikapnya yang agung dari cara dara itu menggerakkan kepala dan cara dia memandang, dari gerak bibir dari dagunya, semua itu tidak luput dari penilaian Hek-wan Kui-bo.
"Nona yang baik, engkau puteri dari manakah?"
Syanti Dewi terkejut, akan tetapi dengan sikap biasa dia berkata.
"Aku seorang gadis biasa yang terpisah dari keluargaku dalam keributan dikota itu."
"He-heh-heh, engkau tidak bisa membohongi Hek-wan Kui-bo. Engkau tentu seorang puteri bangsawan tinggi, dari suku bangsa lain di luar daerah."
"Sudahlah, Kui-bo. Aku menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu, dan kalau engkau mempunyai keperluan lain, biarlah aku sendiri kembali ke Koan-bun untuk mencari keluargaku yang terpisah dariku. Syanti Dewi menjura lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Akan tetapi dia melihat bayangan hitam berkelebat dan apa yang dikhawatirkannya terjadi. Nenek itu sambil menyeringai telah berdiri di depannya! "Jangan tergesa-gesa, Nona manis! Sudah kukatakan bahwa seorang dara seperti engkau sepatutnya berada di kamar seorang raja atau pangeran dan engkau akan membantu aku berhubungan dengan Pangeran! Haya!"
Tiba-tiba nenek itu menerkamnya. Syanti Dewi yang sedikit banyak pernah belajar ilmu silat, mencoba untuk mengelak dan memukul leher nenek itu.
"Dukkkk!"
Pukulannya mengenai leher dengan tepat akan tetapi diterima sambil tertawa saja oleh Hek-wan Kui-bo yang sudah mengempit tubuhnya dan membawanya lari cepat sekali!
Syanti Dewi memukul-mukul sampai akhirnya nenek itu kembali menotoknya sehingga dia tidak mampu bergerak lagi dan terpaksa memejamkan mata karena merasa ngeri dibawa lari seperti terbang cepatnya itu.
Dengan mempergunakan ilmunya yang tinggi mudah saja malam itu Hek-wan Kui-bo memasuki kota Teng-bun yang terjaga ketat oleh pasukan tentara pemberontak.
Seperti seekor burung gagak, dia meloncati pagar tembok sambil mengempit tubuh Syanti Dewi, kemudian setelah menyelinap di antara rumah-rumah penduduk, akhirnya dia memasuki pekarangan belakang gedung Coa-wangwe.
Malam itu Coa-wangwe sekeluarga sudah tidur pulas di kamar masing-masing.
Mereka merasa aman karena Coa-wangwe adalah seorartg yang kaya-raya dan pandai mempergunakan kekayaannya untuk memperoleh kedudukan yang baik dalam pandangan para pimpinan pemberontak.
Dia bersahabat baik dengan panglima pernberontak Kim Bouw Sin, bahkan siang tadi dia memperoleh kehormatan untuk menyambut tamu agung, Pangeran Liong Khi Ong yang memasuki Teng-bun secara menyamar.
Gedung itu terjaga oleh sepasukan pengawal terdiri dari lima orang jagoan yang memiliki kepandaian tinggi dan semua pintu dan jendela terbuat dari kayu-kayu tebal dan semua terkunci rapat.
Akan tetapi, betapa kagetnya Coa-wangwe dan isterinya ketika tiba-tiba mereka tersentak bangun karena selimut mereka direnggut orang.
Mereka bangkit duduk dengan mata terbuka lebar dan melihat seorang nenek tua berwajah buruk sekali telah berada di depan pembaringan mereka.
Nyonya Coa hendak menjerit, akan tetapi sinar hitam berkelebat dan ujung tongkat itu telah menotok lehernya, membuat dia terjatuh rebah kembali dan teriakannya tidak mengeluarkan suara!
Juga tongkat itu menyambar ke arah Coa-wangwe yang menjadi lemas.
Mereka berdua lalu diikat dan urat gagu mereka ditotok, kemudian diseret ke ruangan tengah dan dilemparkan ke sudut ruangan di mana telah penuh dengan para pengawal, pelayan dan keluarga lain, pendeknya Coa-wangwe suami isteri merupakan orang-orang terakhir dari seluruh penghuni rumah itu yang menjadi tawanan, terbelenggu dan tertotok sehingga selain tidak mampu bergerak juga tidak mampu bersuara.
Coa-wangwe melihat ke arah lima orang jagoannya dan mereka ini hanya terbelalak penuh ketakutan memandang kepada nenek itu yang selalu terkekeh-kekeh seperti orang gila.
Mereka masih merasa ngeri karena tadi tahu-tahu ada nenek buruk muncul di depan mereka.
Lima orang pengawal dan penjaga itu sudah serentak mengepung dan menyerang dengan golok mereka, akan tetapi nenek itu menggerakkan tongkatnya, tiga batang golok patah, dua batang golok yang tepat mengenai punggung dan kepala nenek itu terpental seperti menghantam balok besi dan di lain saat sinar hitam tongkat itu berkelebat dan mereka roboh tanpa mereka ketahui bagaimana cara dan apa sebabnya!
Syanti Dewi tidak berdaya sama sekali ketika dia dituntun oleh nenek itu memasuki kamar Coa-wangwe yang indah dan megah.
Dia duduk di atas kursi memandang nenek itu setelah totokannya dibebaskan, dan dengan suara halus dia bertanya.
"Hek-wan Kui-bo, engkau telah merampas rumah orang dan membawaku ke sini. Apakah sebenarnya kehendakmu?"
Kembali nenek itu tertegun.
Sikap yang tenang dan agung itu, suara yang masih seperti orang memandang rendah kepadanya, sikap seorang ratu!
Dalam keadaan terculik seperti itu, kalau lain gadis tentu akan menangis dan minta-minta ampun, minta dibebaskan.
Akan tetapi gadis ini agaknya malah menguasai keadaan, mengajukan pertanyaan kepadanya seperti seorang dewasa bertanya kepada seorang anak kecil yang nakal!
"Kalau aku menyembelihmu di sini, mencincang tubuhmu sampai hancur lebur, bagaimana, heh-heh!"
Nenek itu mengancam untuk menakut-nakuti gadis itu.
Dia merasa tersinggung juga bahwa dia yang begitu hebat dan lihai sama sekali tidak ditakuti oleh gadis ini, gadis lemah ini, padahal lima orang jagoan penjaga gedung itu jelas merasa takut dan ngeri.
Sepasang mata indah itu sama sekali tidak berkedip, tanda bahwa ucapan yang mengandung ancaman gertakan itu sama sekali tidak mengusik hati dara jelita itu.
Bahkan bibir yang merah dan bentuknya seperti gendewa terpentang itu membentuk senyum ketika hendak berkata.
"Hek-wan Kui-bo, entah berapa puluh kali hidupku terancam maut sehingga kematian bagiku bukanlah hal yang menimbulkan rasa takut lagi. Aku tentu tidak akan mampu mempertahankan diri dan melawanmu jika engkau hendak membunuhku, akan tetapi hal itu pasti tidak akan kau lakukan."
"Eh....? Kalau kulakukan sekarang, kau mau apa?"
Syanti Dewi menggeleng kepalanya.
"Orang seperti engkau hanya akan melakukan sesuatu yang menguntungkan dirimu, Nenek yang baik. Kalau engkau ingin membunuhku, tentu tidak susah-susah kau membawaku ke sini, dan aku tidak melihat keuntungan apa-apa bagimu kalau kau membunuhku."
Nenek itu terbelalak, kaget dan tertawa bergelak.
"Heh-heh-khek-khek-khek! Engkau cerdas sekali! Memang aku tidak membunuhmu, anak yang baik dan cantik! Tidak, malah engkau akan kumuliakan hidupmu. Kau tunggulah saja di sini, dan besok engkau tentu akan berada di pangkuan seorang pangeran dan engkau akan berterima kasih kepada Hek-wan Kui-bo, hah-ha-ha-ha!"
Sekali ini di dalam hatinya Syanti Dewi merasa ngeri. Samar-samar dia dapat menduga bahwa tentu dia akan "dijual"
Oleh nenek iblis ini kepada seorang laki-laki yang suka membayarnya, bukan dengan harta karena pemilik gedung ini pun seorang hartawan, melainkan membelinya dengan kedudukan.
Karena itulah maka nenek ini selalu menyebut raja atau pangeran!
"Aku akan menunggu di sini, Kui-bo.
Lakukanlah apa yang kau kehendaki."
Syanti Dewi lalu menghampiri pembaringan dan duduk di atasnya.
Akan tetapi ternyata nenek yang sudah bangkotan dan kawakan itu mana mungkin dapat dibodohi dengan sikap wajar ini?
Dia terkekeh dan melangkah maju.
Syanti Dewi terkejut dan hendak meloncat menjauhi, namun dia jauh kalah cepat.
Tahu-tahu nenek itu sudah mengebutkan sehelai saputangan hitam dan terciumlah bau yang keras oleh Syanti Dewi.
Dara ini menjadi gelap mata dan pening seketika, dan tak lama kemudian dia pun terguling roboh di atas pembaringan dalam keadaan tak sadar atau tertidur pulas!
Hek-wan Kui-bo terkekeh dan mendorong tubuh gadis itu sehingga rebah telentang di tengah pembaringan, kemudian tersaruk-saruk dia melangkah ke luar untuk mencari dan menjumpai Pangeran Liong Khi Ong yang dia tahu berada di dalam kota Teng-bun itu.
Demikianlah apa yang dialami oleh Syanti Dewi sampai nenek itu bertemu dengan Tek Hoat dan mengajak pemuda itu memasuki gedung hartawan Coa di mana Tek Hoat dengan terkejut sekali mengenal Syanti Dewi yang rebah miring di atas pembaringan itu!
"Syanti Dewi....!"
Tanpa disadarinya lagi Tek Hoat berseru lirih, akan tetapi bagi Hek-wan Kui-bo sudah cukup keras untuk dapat mendengarnya.
"Aih, kiranya dia puteri dari Bhutan yang dikabarkan lenyap itu....! Ha-ha-ha, tentu Pangeran Liong Khi Ong akan senang sekali menerima persembahanku ini....!"
Hati Tek Hoat terkejut sekali.
Pemuda yang cerdik ini mempergunakan otaknya dengan cepat.
Syanti Dewi kini sudah berada di tangannya, mana mungkin dia akan melepaskannya begitu saja kepada orang lain?
Satu-satunya jalan, nenek ini harus disingkirkan!
"Haiiittt....!"
Tiba-tiba dia memekik dan tangannya sudah menghantam dengan kecepatan kilat dan kekuatan dahsyat ke arah ulu hati nenek itu.
"Hayaaaa....!"
Nenek buruk itu adalah sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo, seorang yang selain memiliki kepandaian amat tinggi juga kecerdikan yang luar biasa, maka tentu saja sejak tadi dia sudah siap siaga karena di dalam hatinya dia tidak bisa percaya penuh kepada setiap orang manusia, apalagi Tek Hoat yang dia tahu amat lihai dan baru saja dikenalnya.
Maka, betapapun hebatnya serangan dari pemuda itu, Hek-wan Kui-bo telah menduga sebelumnya dan cepat nenek ini melempar tubuh ke belakang ketika ada angin dahsyat menyambar, sambil menggerakkan tongkatnya menangkis.
"Wuuuttt.... krekkkk!"
Ujung tongkat nenek itu bertemu dengan lengan tangan Tek Hoat, menjadi patah dan pada saat itu juga, dari tongkat patah itu menyambar jarum-jarum hitam beracun ke arah dada Tek Hoat dari jarak yang amat dekat!
Tidak ada kesempatan lagi bagi pemuda itu untuk mengelak atau menangkis, maka dia menggigit bibir, mengerahkan tenaganya sehingga semua tenaga simpanan di dalam pusarnya naik ke dalam dada dan dia telah mengerahkan tenaga Inti Bumi dengan menjejakkan kakinya kuat-kuat ke atas lantai.
Belasan batang jarum itu menembus bajunya dan mengenai dadanya, namun kulit dadanya sudah menjadi seperti dilapisi baja saja sehingga jarum-jarum itu runtuh kembali tanpa melukainya sedikit pun.
Sambil menerima jarum-jarum ini, Tek Hoat tidak tinggal diam saja, tangan kanannya meraba pinggang dan tahu-tahu seperti main sulap saja, pedang Cui-beng-kiam telah terhunus dan berada di tangannya.
Melihat pedang yang mengeluarkan sinar mengerikan sekali itu, Hek-wan Kui-bo mengeluarkan suara tertawa aneh, tubuhnya mencelat ke belakang dan lenyap dari gedung itu!
Nenek ini sama sekali bukan lari karena ketakutan sungguhpun dari pertemuan ujung tongkat yang patah, lalu runtuhnya jarum-jarumnya ditambah pedang ampuh mengerikan di tangan pemuda itu membuat dia maklum bahwa pemuda ini merupakan lawan yang luar biasa beratnya.
Dia lari pergi karena terdorong oleh kecerdikannya yang pandai mencari siasat dalam keadaan bagaimanapun juga.
Nenek ini maklum bahwa sekali Tek Hoat berteriak, dia akan dikepung oleh tentara dan banyak orang lihai sebagai mata-mata dan celakalah dia karena dia maklum bahwa menghadapi seorang pemuda lihai dan cerdik seperti Tek Hoat Si Jari Maut ini, bantahan dan pembelaan dirinya akan sia-sia belaka.
Karena itulah dia cepat pergi dan lari dari situ, bukan karena takut melainkan untuk menjalankan siasatnya!
Tek Hoat tidak mengejar nenek itu.
Dia khawatir akan keadaan Syanti Dewi yang tampaknya terus tidur dan sama sekali tidak terbangun oleh keributan itu.
Dengan satu loncatan saja dia sudah ber-ada di dekat pembaringan itu, dan berlutut untuk memeriksa keadaan Syanti Dewi.
Jantungnya berdebar keras melihat betapa tubuh yang menggairahkan dan wajah yang cantik jelita itu telentang di depannya, tinggal dia mengulur tangan saja!
Dia meraba pergelangan tangan dara itu dan hatinya lega.
Syanti Dewi memang sedang tidur pulas, kepulasan yang mencurigakan.
Dia dapat menduga bahwa tentu dara ini telah dibius oleh nenek iblis itu sehingga tertidur daiam keadaan setengah pingsan.
Seperti orang terpesona Tek Hoat berlutut dan menatap wajah itu.
Selama hidupnya belum pernah dia menjumpai seorang wanita yang memiliki daya tarik sehebat Puteri Bhutan ini.
Dan puteri ini akan dipersembahkan kepada Pangeran Liong Khi Ong, Si Pangeran tua bangka yang mata keranjang itu?
Nanti dulu!
Tek Hoat mendengus dan dia lalu membungkuk dan....
menyentuh pipi itu dengan ujung hidungnya dengan mesra.
Tiba-tiba dia meloncat berdiri.
Dia harus cepat menyadarkan gadis ini dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
Kalau sampai Pangeran Liong Khi Ong mendengar bahwa Syanti Dewi berada di Teng-bun, tentu pangeran itu akan mengerahkan segalanya untuk mendapatkan puteri yang telah ditunangkan dengan dia itu, apalagi kalau pangeran tua itu sudah melihat sendiri kecantikan Syanti Dewi!
Tergesa-gesa Tek Hoat lari ke belakang, mencari air dan tak lama kemudian dia sudah kembali ke (Lanjut ke
Jilid 34) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34 dalam kamar membawa sepanci air dingin.
Dengan hati-hati dia membasahi dahi dan tengkuk gadis itu, mengurut jalan darah di lehernya.
Tak lama kemudian usahanya berhasil.
Syanti Dewi mengeluh panjang dan Tek Hoat cepat menaruh panci air itu ke atas meja dan memandang dengan mata bersinar-sinar penuh kagum.
Karena tidak sadar, Syanti Dewi menggerakkan seluruh tubuhnya, menggeliat dan penglihatan ini membuat Tek Hoat menelan air liurnya, Apalagi ketika Syanti Dewi mengeluh dan mengerang perlahan sambil membuka bibirnya yang merah dan mengejap-ngejapkan matanya.
Kini sadarlah Syanti Dewi dan cepat dara ini membuka matanya, teringat akan nenek buruk seperti setan.
Ketika dia melihat seorang pemuda berdiri di dekat pembaringannya, dia berteriak dan bangkit duduk lalu meloncat turun dan tangannya meraba-raba di balik jubahnya yang panjang, kemudian ketika tangan itu keluar, dia sudah memegang sebatang pisau tajam yang gagangnya terhias perma-ta, memegangnya dengan ujungnya mengarah ulu hatinya sendiri.
Pisau ini adalah pemberian Jenderal Kao kepadanya dan sama sekali tidak disangkanya bahwa pisau ini ternyata pada saat itu merupakan sebuah benda yang amat berharga baginya.
"Mundur kau.... sekali saja engkau berani merabaku, pisau ini akan menembus jantungku dan engkau hanya akan memiliki mayatku!"
Suara itu halus dan tenang dan tangan yang memegang pisau sedikit pun tidak gemetar, sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari halus meruncing itu membuat gerakan seperti hendak mendorong pemuda itu untuk mundur.
Tek Hoat terkejut sekali dan melangkah mundur.
Dia memandang penuh kekhawatiran ke arah ujung pisau yang menempel di antara dua tonjolan dada di balik baju itu, lalu menatap wajah yang tenang dan menggerakkan kedua tangannya ke atas sambil berkata.
"Haiii.... engkau salah duga. Aku datang untuk menolongmu....!"
"Simpan bujukanmu yang palsu!"
Syanti Dewi menghardik.
"Kau kira aku takut? Nenek setan itu tentu telah menjualku kepadamu, entah iblis dari mana adanya engkau ini!"
"Sama sekali salah. Aku telah mengusir nenek itu dan baru saja aku menyadarkanmu dengan air dingin. Engkau tertidur karena obat bius dan aku hendak menolongmu."
"Laki-laki bohong! Kau kira dengan kemudaan dan ketampananmu engkau akan dapat membujuk aku? Pergi dari sini!"
Syanti Dewi berkata lagi dan ujung pisau itu masih mengancam dan menodong dadanya sendiri karena hanya itulah satu-satunya jalan baginya untuk melindungi dirinya dari gangguan laki-laki ini.
"Hemm, keangkuhan seorang puteri! Dalam keadaan begini, engkau masih angkuh dan memandang rendah orang lain. Baiklah kalau engkau lebih suka dibawa oleh nenek itu dan dihadiahkan kepada seorang laki-laki tua untuk menjadi permaisurinya!"
Tek Hoat memutar tubuhnya.
Syanti Dewi memandang bengong dan dia menjerit ketika tiba-tiba pemuda itu memutar tubuhnya secepat kilat, kaki pemuda itu telah menyambar dan tepat mengenai pisau yang dipegangnya.
"Takkk.... singgg.... ceppp!"
Pisau yang kena ditendang itu terbang ke atas dan menancap di langit-langit!
Tek Hoat tersenyum meng-ejek dan melangkah maju.
Akan tetapi Syanti Dewi sudah dapat menguasai dirinya, berdiri tegak dengan dagu diangkat dan memandang dengan sinar mata merendahkan sekali.
"Sudah kuduga, engkau tentu manusia buruk juga. Apa kau kira hanya dengan pisau saja aku dapat membunuh diri? Hendak kulihat, kalau engkau berani menggangguku, lalu aku menutup pernapasanku, atau kutusuk pelipisku dengan jari tangan, atau kubenturkan kepalaku pada dinding, engkau akan dapat mencegahku atau tidak!"
Tek Hoat tertegun dan menghentikan langkahnya.
Ancaman gadis itu terdengar mengerikan dan dia tahu bahwa Puteri Bhutan ini mempunyai ilmu silat yang cukup untuk dapat melakukan ancaman-ancaman tadi dengan hasil baik.
"Engkau gadis keras kepala!"
Gerutunya.
"Dan engkau laki-laki rendah budi, kurang ajar, dan keji!"
Syanti Dewi membalas.
"Sekali lagi aku katakan kepadamu bahwa aku datang untuk menolongmu, membawamu keluar dari kota ini dan...."
Tiba-tiba muka pemuda itu berubah dan dari luar menerobos masuk nenek Hek-wan Kui-bo diikuti oleh sepasukan pengawal yang mengiringkan Pangeran Liong Khi Ong sendiri!
"Tek Hoat, benarkah Nona ini adalah Syanti Dewi dari Bhutan?"
Tek Hoat cepat menjura dan berkata dengan suara berat.
"Benar, Pangeran."
"Heh-heh-heh, Pangeran Liong Khi Ong, bukankah benar keteranganku? Aku menemukan dia untuk Paduka!"
Nenek itu terkekeh.
Tek Hoat mendongkol sekali dan merasa menyesal mengapa dia tadi tidak mengejar dan membunuh saja nenek yang ternyata amat cerdik ini.
"Bagus, jasamu besar sekali, Kui-bo,"
Pangeran Liong Khi Ong berkata sambil melangkah maju dan memandang Syanti Dewi dengan wajah berseri-seri, kemudian dia menjura dan berkata dengan suara halus dan teratur sebagaimana layaknya seorang pangeran berhadapan dengan seorang puteri raja, dalam hal ini seorang calon isterinya.
"Harap Sang Puteri sudi memaafkan kami bahwa baru saat ini kami dapat berhadapan dengan Sang Puteri yang mulia. Jelas bahwa bumi dan langit memang menghendaki perjodohan antara kita sehingga setelah melalui berbagai rintangan akhirnya kita dapat saling berjumpa juga. Selamat datang, Sang Puteri dan marilah kami iringkan ke tempat peristirahatan untuk menghilangkan kekagetan dan kelelahan."
Puteri Syanti Dewi sejak tadi memandang pria tua itu penuh perhatian.
Laki-laki itu tentu sudah lebih dari lima puluh tahun usianya, pakaiannya mewah sekali dan dari muka dan tangannya yang terawat rapi, bahkan ada tanda-tanda bedak di pipinya, membuktikan bahwa pangeran tua itu adalah seorang pesolek.
Pandang matanya jelas membayangkan nafsu berahi yang besar, mata yang seperti berminyak dan mengeluarkan sinar berapi, juga tidak malu-malu memandanginya dari atas ke bawah sehingga Syanti Dewi merasa seolah-olah tubuhnya ditelanjangi dan digerayangi oleh pandang mata itu yang berhenti di tempat-tempat tertentu!
Dia bergidik, akan tetapi mengingat bahwa kini dia berhadapan dengan seorang pangeran, biarpun dia tahu bahwa pangeran ini adalah pemberontak, maka ketakutannya menipis dan harapannya timbul bahwa seorang pangeran setidaknya adalah seorang bangsawan terpelajar sehingga tentu tidak akan bertindak sewenang-wenang.
Dia cepat berlutut dengan sebelah kaki sebagai tanda penghormatan, berdiri lagi dan berkata sambil menundukkan mukanya.
"Terima kasih saya haturkan atas kebaikan Paduka Pangeran!"
Dia lalu melirik ke arah Tek Hoat, kemudian ke arah Hek-wan Kui-bo.
Nenek itu tersenyum kepadanya akan tetapi pemuda itu mengerutkan alisnya dan memandang kepadanya seperti orang marah-marah.
"Sang Puteri, silakan, mari kami antar ke istana kami yang darurat dan seadanya di kota ini."
Pangeran itu mem-persilakan dengan tangan kanannya dengan sikap hormat.
"Baik, Pangeran, akan tetapi saya harap dapat kiranya pisau saya di sana itu diturunkan dan dikembalikan kepada saya,"
Syanti Dewi menuding ke atas di mana pisaunya masih menancap di langit-langit kamar itu.
"Eh, bagaimana pisau Sang Puteri bisa terbang ke sana!"
Pangeran Liong Khi Ong berseru aneh sambil menoleh kepada Tek Hoat.
"Hamba.... hamba terpaksa membuat pisau itu terlempar dari tangan Sang Puteri karena.... karena beliau tadi hendak menyerang hamba,"
Kata Tek Hoat.
"Hemm, untung Sang Puteri tidak terluka. Tek Hoat, ambil kembali pisau itu!"
"Hi-hi-hik, Pangeran, biarlah hamba yang mengambilnya!"
Nenek itu mendahului Tek Hoat, tangan kanannya didorongkan ke atas ke arah pisau itu.
Dari telapak tangan nenek itu menyambar hawa dahsyat ke atas, pisau itu bergoyang-goyang dan nenek itu memperkuat dorongan hawa dari tangannya dan pisau itu akhirnya runtuh dan diterima oleh nenek itu sambil terkekeh.
Semua pengawal memandang kagum bukan main dan Tek Hoat diam-diam juga harus mengakui bahwa nenek ini merupakan lawan yang tangguh.
"Bukan main! Engkau ternyata lihai sekali, Kui-bo. Sungguh senang hatiku, memperoleh seorang pembantu lagi yang memiliki kepandaian tinggi."
"Hamba bersedia membantu Paduka sampai berhasil segala yang Paduka cita-citakan, dan hamba hanya mengharapkan ikut menikmati kemuliaan Paduka kelak."
"Ha-ha-ha, tentu saja, Kui-bo. Bantulah kami dan kelak engkau akan kuberi kedudukan yang mulia,"
Pangeran itu mengulurkan tangan dan menerima pisau itu dari tangan Hek-wan Kui-bo, lalu mengamati pisau itu penuh perhatian.
Dia menoleh kepada Syanti Dewi sambil bertanya.
"Sang Puteri, kami lihat pisau ini bukanlah buatan Bhutan, sungguhpun amat indahnya!"
"Memang bukan, Pangeran. Pisau itu adalah pemberian seorang sahabat saya yang paling baik."
Sambil berkata demikian, Syanti Dewi membayangkan wajah Jenderal Kao yang seolah-olah menjadi pengganti orang tuanya ketika dia ditinggalkan oleh Gak Bun Beng di dalam benteng jendela itu.
Melihat pisau itu disimpan oleh Pangeran Liong Khi Ong di ikat pinggangnya, dia tidak berani minta dan dia hanya berjalan keluar diiringkan oleh pangeran itu dan semua pengawal serta kaki tangannya.
Puteri Syanti Dewi yang sekali berjumpa telah membuat pangeran tua itu tergila-gila, segera memperoleh sebuah kamar istimewa di dalam gedung besar yang menjadi tempat tinggal sementara dari Pangeran Liong Khi Ong itu, dilayani oleh lima orang pelayan wanita, diberi pakaian dan perhiasan-perhiasan indah.
Akan tetapi dengan halus semua itu ditolak oleh Syanti Dewi.
Hati puteri ini masih gelisah.
Dia terjatuh ke tangan pangeran yang dahulu dicalonkan menjadi suaminya.
Dahulu dia tidak berani dan tidak dapat membantah kehendak ayahnya dan dia sudah menyerah kepada keadaan, bahkan dia telah diboyong dari istana ayahnya.
Akan tetapi sekarang lain lagi persoalannya.
Dia telah secara aneh terbebas dari ikatan itu, telah melakukan perantauan dan mengalami hal-hal yang luar biasa, maka kini diam-diam hatinya memberontak dan dia tidak bersedia lagi untuk menjadi isteri Pangeran Liong Khi Ong.
Burung manakah yang setelah terbang bebas lepas di udara merindukan kurungan kembali?
Teringat akan Gak Bun Beng, dia agak terhibur.
Pendekar sakti itu sudah pasti akan mencarinya dan akan menolongnya ke luar dari kurungan baru ini.
Akan tetapi hatinya gelisah melihat betapa tugas pertama yang diterima oleh nenek mengerikan itu adalah menjaga di luar kamarnya!
Nenek itu sambil tersenyum muncul di pintu dan berkata.
"Wahai, Puteri jelita, Nona calon pengantin yang bahagia! Bukankah semua kata-kataku tepat belaka? Paduka telah berada di kamar seorang pangeran besar! Heh-heh, Paduka patut berterima kasih kepada hamba dan mudah-mudahan kelak Paduka tidak akan lupa akan jasa-jasa hamba."
Syanti Dewi tidak menjawab dan nenek itu terkekeh lagi.
"Dan harap Paduka jangan mencoba untuk melarikan diri dari sini. Aku sendiri yang menjaga di sini atas perintah Pangeran, hi-hi-hik!"
Dan wajah yang buruk itu lenyap dari pintu.
Puteri itu menahan tangisnya, dan dia menjatuhkan diri di atas pembaringan dengan penuh kecemasan.
Ceng Ceng mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan totokan, namun sebelum dia berhasil, dia telah dibelenggu dengan erat sehingga tidak mampu bergerak lagi.
Juga Topeng Setan yang agaknya masih di bawah pengaruh obat bius itu telah dibelenggu erat-erat.
Keduanya lalu diangkat dan didudukkan di atas kursi.
Tambolon tertawa bergelak dan minum arak untuk memberi selamat kepada diri sendiri yang telah merobohkan gadis lihai dengan pembantunya yang bertopeng itu, ditemani oleh Liauw Kui Si Petani Maut dan Yu Ci Pok Si Siucai Maut yang lihai, menanti sampai dua orang yang sudah terbelenggu itu sadar, atau tepatnya menanti Topeng Setan sadar karena gadis itu sama sekali tidak terpengaruh oleh obat bius yang terkandung di dalam arak yang disuguhkan kepada mereka sebagai ucapan selamat jalan tadi.
Topeng Setan siuman kembali dan mengeluh, menggerakkan kepalanya yang tadi terkulai menunduk.
"Ha-ha-ha-ha!"
Tambolon tertawa nyaring.
"Betapapun lihai kalian berdua, mana mampu menandingi kecerdikan kami!"
"Tak tahu malu!"
Ceng Ceng memaki sambil memandang dengan mata berapi.
"Katakan saja kecurangan, siapa bilang kecerdikan?"
Tambolon menghirup araknya lalu melempar cawan arak ke atas meja sambil berkata.
"Ha-ha-ha, Nona manis, engkau seperti seekor kuda betina liar yang pernah kukejar-kejar di padang rumput! Ketahuilah, setiap muslihat yang berhasil selalu merupakan kecerdikan bagi yang menang akan tetapi dianggap kecurangan oleh yang kalah! Kalau hendak membunuhmu, apa sukarnya? Akan tetapi aku sayang sekali, sayang akan kecantikanmu, keliaranmu, dan kepandaianmu, ha-haha. Kuda betina liar seperti engkau ini amat menarik, harus kujinakkan sendiri!"
Raja Tambolon yang sudah setengah mabok itu mengusap mulutnya dengan ujung lengan bajunya, lalu dia memberi aba-aba kepada dua orang pengawal yang berjaga di situ.
"Bawa kuda betina ini ke kamarku!"
Dua orang pengawal itu memberi hormat, lalu menghampiri Ceng Ceng yang sudah terbelenggu kaki tangannya seperti seekor lembu hendak disembelih itu.
Mereka mengulur tangan dan mengangkat tubuh Ceng Ceng dari kanan kiri.
Pada saat itu, Ceng Ceng mengerahkan tenaga sin-kangnya karena totokan di tubuhnya tadi sudah buyar sendiri, lalu mengumpulkan hawa beracun, mengerahkan ilmunya yang dipelajarinya dari Ban-tok Moli.
"Cuhh! Cuhh!"
Dua kali dia meludah ke kanan kiri, tepat mengenai muka kedua orang pengawal yang sedang mengangkatnya itu.
Mereka menjerit, melepaskan tubuh Ceng Ceng dan roboh bergulingan di atas lantai sambil berteriak-teriak, mencakar-cakar muka sendiri yang terkena sudah beracun tadi!
Raja Tambolon kaget, memerintahkan pengawal-pengawal lain untuk menyeret pergi dua orang yang terkena ludah beracun itu dan dia sudah mencabut sebatang pedang panjang sambil memandang kepada Ceng Ceng dengan mata marah.
"Iblis betina! Kiranya engkau benar-benar iblis beracun! Untung ketahuan kini bahwa engkau adalah ular beracun, siluman ular yang harus dibasmi sebelum mencelakakan kami semua!"
"Huh, mau bunuh lekas bunuh! Siapa sih yang takut mati? Seribu kali lebih baik mati dengan gagah daripada hidup menjadi pengecut curang macam kamu, raja liar!"
Ceng Ceng memaki-maki. Tiba-tiba Topeng Setan berkata.
"Sri Baginda, tahan dulu! Kita merupakan dua kekuatan yang kalau bersatu padu akan mendatangkan keuntungan besar. Mengapa menjadi bentrok sendiri? Membunuh kami berdua pun tidak ada gunanya karena Sri Baginda bersama seluruh pasukan telah masuk perangkap dan hanya kami berdualah yang akan dapat menolong."
Ceng Ceng merasa heran sekali mendengar ucapan Topeng Setan itu, akan tetapi dia juga amat cerdas dan dapat menduga bahwa tentu orang yang menjadi pembantunya, juga penolong dan sahabatnya, boleh dibilang gurunya pula, mempu-nyai suatu akal yang belum dapat dia menduganya.
"Eh, Topeng Setan!"
Bentaknya.
"Perlu apa bicara dengan raja biadab ini? Biar saja dia dan pasukannya tertumpas habis, hendak kulihat bagaimana dia akan dapat membunuh kita!"
Raja Tambolon mengerutkan alisnya, tangannya yang memegang pedang ragu-ragu.
"Sri Baginda, jangan mendengar gertakan mereka!"
Yu Ci Pok Si Siucai berkata.
"Bunuh saja, Sri Baginda. Wanita ini terlalu berbahaya dengan kelihaian racunnya!"
Liauw Kui juga berkata. Tiba-tiba Topeng Setan tertawa bergelak.
"Sayang sekali! Sri Baginda Tambolon yang benar-benar gagah perkasa itu mempunyai pembantu-pembantu yang tolol. Sahabatku ini seorang beng-cu, mana mungkin hanya menggertak sambal belaka? Kalau kita berniat buruk, apa sih sukarnya meloloskan diri?"
Sambil berkata demikian, Topeng Setan menggerakkan kaki tangannya.
Terdengar suara keras dan semua belenggu itu patah-patah dan dia sudah bebas!
Dengan cepat dia lalu menghampiri Ceng Ceng dan mematah-matahkan belenggu kaki tangan dara itu.
"Aihh, kenapa engkau tergesa-gesa?"
Ceng Ceng berkata, seolah-olah menegur Topeng Setan.
"Apa kau kira aku sendiri tidak bisa membebaskan diri? Tadinya aku masih ingin melihat apakah raja liar ini akan dapat membunuh kita."
"Maaf, Beng-cu. Kiranya Sri Baginda Tambolon sudah dapat mendengar kata-kata kita yang bermaksud baik."
Tambolon dan dua orang pembantunya kaget setengah mati.
Kini mengertilah mereka bahwa dua orang ini benar-benar lihai bukan main dan tadi agaknya hanya pura-pura saja.
Jelas bahwa gadis itu tidak terpengaruh obat bius, akan tetapi Topeng Setan itu pun agaknya hanya pura-pura pingsan saja!
"Kepung....!"
Tambolon berteriak karena khawatir kalau-kalau dua orang ini akan mengamuk dan lolos.
"Sri Baginda, apakah masih tidak percaya kepada kami?"
Topeng Setan berkata.
"Pasukanmu sengaja disuruh menduduki dusun yang tidak ada artinya ini, karena pasukan Kim Bouw Sin sebenarnya menganggap pasukan Paduka hanya pasukan liar yang harus dibasmi, akan tetapi lebih dulu akan dipergunakan menentang pemerintah."
"Bohong! Sudah lama aku berhubungan dengan Pangeran Liong!"
Tambolon berteriak.
"Paduka sungguh tidak dapat berpikir panjang. Pangeran Liong adalah dua orang saudara pemberontak, mana mungkin mempunyai hati setia? Seorang pemberontak adalah orang yang tidak setia kepada rajanya. Kalau kepada rajanya sendiri, bahkan dalam hal ini kakaknya sendiri, tidak dapat setia, apalagi terhadap Paduka yang dianggap raja bangsa liar? Selama mereka membutuhkan, tentu saja mereka bersikap baik kepada paduka, akan tetapi mereka akan menghancurkan pasukan Paduka begitu mereka tidak memerlukannya lagi."
Ceng Ceng terheran-heran mendengar semua kata-kata Topeng Setan ini.
Biasanya, pembantunya yang tak pernah dia lihat mukanya ini jarang bicara, dan amat pendiam.
Akan tetapi sekarang pandai sekali bicara, dan mengerti tentang seluk-beluk pemerintah dan pemberontakan agaknya.
"Hemm.... hemmm.... orang bertopeng! Siapakah engkau? Mari duduk dan bicara, apa yang menjadi kehendakmu."
Raja Tambolon mempersilakan mereka duduk dan memberi tanda dengan tangannya, sehingga semua anggauta pasukan yang sudah mengepung tempat itu mengundurkan diri.
Dia tidak khawatir terhadap dua orang lihai ini karena selain dia sendiri dan dua orang pembantunya juga berkepandaian tinggi, juga di luar masih ada pasukannya yang amat banyak dan tidak mungkin dua orang ini dapat lolos.
Akan tetapi dia tertarik sekali oleh kata-kata Topeng Setan tadi.
Setelah mereka duduk, Ceng Ceng yang mulai mengerti bahwa temannya itu tentu hendak menggunakan suatu taktik yang amat lihai, berkata mengejek.
"Sri Baginda, apakah masih ada arakmu yang mengandung racun lebih hebat daripada tadi?"
Raja Tambolon tertawa.
"Ha-ha-ha, engkau memang hebat, Nona, baik sebagai kawan maupun sebagai lawan engkau amat mengesankan. Apa artinya arak beracun bagi seorang dewi beracun seperti engkau? Haii, pelayan! Ambil arak wangiku dari kamar!"
Pelayan berlari-lari dan tak lama kemudian mereka berlima kembali duduk seperti tadi, mengelilingi meja sambil minum arak wangi.
"Nah, sekarang perkenalkan dirimu dan ceritakan maksud hatimu,"
Kata Tambolon.
"Semua orang mengenal saja sebagai Topeng Setan dan Nona ini adalah Nona Lu Ceng beng-cu dari kalangan liok-lim yang terkenal dan baru-baru ini diangkat dalam pemilihan. Kami tahu betul bahwa pihak pemberontak hanya mempergunakan pasukan Paduka untuk memperkuat diri. Karena melihat bahwa Paduka adalah orang gagah, maka kami lebih senang berkawan daripada berlawan. Dengan berkawan kita dapat bersama-sama menghadapi Kim Bouw Sin dan pasukan pembe-rontaknya."
"Huh! Topeng Setan, jangan bicara yang bukan-bukan! Kalau memang Pangeran Liong dan Panglima Kim Bouw Sin berhati bengkok, kami pasti akan membasminya. Akan tetapi jangan mengharap kami akan memban-tu Kerajaan Ceng-tiauw! Kalian agaknya adalah mata-mata Pemerintah Ceng!"
"Raja Tambolon, jangan engkau bicara sembarangan saja!"
Tiba-tiba Ceng Ceng membentak.
"Aku adalah seorang bengcu, mana sudi merendahkan diri menjadi mata-mata?"
Lalu dia menoleh kepada Topeng Setan sambil berkata.
"Apa kubilang tadi! Percuma saja bicara dengan orang-orang bodoh ini, membuang-buang tenaga dan waktu saja. Biarkan saja mereka ini hancur lebur!"
Raja Tambolon menepuk meja.
"Baiklah, aku mendengarkan! Coba katakan, mengapa engkau menduga bahwa kami ditipu oleh pasukan pemberontak?"
"Bukan menduga saja, Sri Baginda. Beng-cu telah menyebar banyak penyelidik dan dari para penyelidik itulah kami mengetahui akan hal itu."
"Nanti dulu, Topeng Setan. Kalau kalian bukan mata-mata Pemerintah Ceng, mengapa kalian tadi membela Panglima Thio yang mengepalai pertahanan di Ang-kiok-teng ini?"
Si Siucai yang cerdik bertanya dan kembali Tambolon timbul kecurigaannya.
"Phuihhh!"
Ceng Ceng bangkit berdiri dan menggebrak meja sehingga mangkok piring berloncatan di atas meja.
"Masih tidak percaya? Apakah hal begitu saja kalian tidak dapat menduga? Kalau kami tidak membantu mereka, tentu mereka itu tentu akan tahu bahwa kami berada di pihak musuh dan semua anak buah kami tentu akan celaka! Dan kalau memang kami membantu musuh apa kau kira aku sudi memberi obat penyembuh seratus orang-orangmu? Pendeknya, pilih satu antara dua. Percaya dan menjadi sahabat kami, atau tidak percaya dan menjadi musuh kami!"
Tambolon mengangkat tangannya.
"Sabarlah, Nona.... eh, Beng-cu. Kalian muncul dengan tiba-tiba membuat kami bingung, apalagi mendengar akan berita yang aneh dan mengejutkan itu."
"Sri Baginda, kalau memang Panglima Kim Bouw Sin dan Pangeran Liong berniat baik, mengapa pasukanmu tidak disuruh masuk ke Koan-bun saja? Mengapa diberi dusun kecil tidak ada artinya ini? Padahal pemusatan kekuatan pasukan mereka berada di Teng-bun! Dusun ini miskin dan tidak mempunyai benteng yang ketat, sebaliknya Koan-bun penuh dengan harta benda dan benteng yang kuat. Bahkan semua perbekalan untuk pasukan pemberontak dipusatkan di Koan-bun. Nah, kalau pasukan Sri Baginda di sini dikepung dan diserbu, bagaimana akan dapat mempertahankan diri? Maka usul kami, mari kita bersatu, anak buah kami akan kami kerahkan sebagai penyelundup-penyelundup dan kita serbu Koan-bun. Kalau pasukan Paduka sudah bekedudukan di benteng itu, kita tidak takut terhadap serbuan siapa pun."
"Bagus!"
Tambolon berteriak girang.
"Sungguh pikiran yang bagus! Andaikata tidak benar Pangeran Liong memusuhi dan menipu kami, masih bisa kami kemukakan alasan bahwa pasukanku tidak suka di dusun ini, maka kami mengambil alih Koan-bun. Bagus! Kita bergerak malam nanti!"
"Nanti dulu, Sri Baginda....!"
Liauw Kui Si Petani Maut berkata sambil mengerutkan alisnya.
"Topeng Setan, usulmu memang baik sekali. Akan tetapi, mengapa kalian mengusulkan kerja sama menyerbu Koan-bun ini? Kalau kalian tidak berpihak kepada Pemerintah Ceng, mengapa kalian memusuhi Pangeran Liong dan Panglima Kim?"
Diam-diam Ceng Ceng dan Topeng Setan memuji kecerdikan dua orang pembantu dari Raja Tambolon itu.
Ceng Ceng cepat membantu Topeng Hitam dengan jawaban yang lantang.
"Kami tidak membantu siapa-siapa dan memusuhi siapa-siapa, melainkan bergerak demi kepentingan kami sendiri, demi kepentingan perkumpulan kami. Aku diangkat menjadi beng-cu tidak percuma, aku hanya dapat memperlihatkan bahwa mereka tidak sia-sia memilih aku sebagai beng-cu! Kami melihat betapa sia-sia usaha para pemberontak hendak menggulingkan pemerintah yang terlalu kuat, dan kami melihat betapa pasukan pemberontak telah mengumpulkan harta benda yang arnat banyak di Koan-bun dan Teng-bun. Maka, kesempatan baik ini mengapa kami sia-siakan? Selagi para pemberontak saling gempur, kita turun tangan mencari keuntungan di sini, bukankah itu baik sekali?"
Topeng Setan berkata dengan nada mencela.
"Beng-cu, urusan pribadi kita mengapa harus diberitahukan orang lain?"
"Biarlah. Mereka telah menjadi sahabat kita, bukan?"
Ceng Ceng menjawab. Raja Tambolon tertawa girang.
"Baik, kita bekerja sama. Di mana anak buah kalian?"
"Mereka tersebar di Koan-bun dan Teng-bun dan setiap saat dapat bergerak, tinggal menanti perintah dari Beng-cu,"
Kata Topeng Setan.
"Kalau begitu, pergilah seorang di antara kalian untuk menggerakkan mereka. Malam nanti kita mengadakan persiapan dan besok malam kita menyerbu Koan-bun,"
Raja Tambolon berkata.
"Topeng Setan, kita pergi!"
Ceng Ceng bangkit berdiri.
"Nanti dulu!"
Raja Tambolon juga berdiri dan mengangkat tangan kanannya ke atas.
"Maaf, bukan karena kurang percaya, melainkan kami harus berhati-hati. Kami hanya mau bekerja sama dan mau percaya kalau seorang di antara kalian yang pergi melaksanakan tugas itu. Orang ke dua tinggal di sini bersama kami!"
"Kau tetap tidak percaya?"
Ceng Ceng membentak marah.
"Harap Lu-bengcu suka beristirahat saja di sini, biarlah saya yang menghubungi teman-teman kita. Malam nanti atau selambat-lambatnya besok pagi saya tentu sudah kembali."
Ceng Ceng mengangguk.
Dia tahu bahwa sahabatnya itu hendak menjalankan sesuatu yang tidak diketahuinya.
Yang jelas, siasat Si Topeng Setan itu telah mengadu domba antara Tambolon dan pasukan pemberontak, suatu siasat yang baik sekali untuk membantu pemerintah secara tidak langsung dan untuk mengurangi kekuatan pemberontak!
Dia makin kagum kepada pembantunya ini.
Kiranya Topeng Setan juga berjiwa patriotik, menggunakan kesempatan itu untuk berpura-pura tertawan, kemudian menjalankan siasat bersahabat dengan mengadu domba dua kekuatan yang merupakan bahaya bagi pemerintah.
Setelah Topeng Setan berangkat, Ceng Cang lalu beristirahat di dalam sebuah kamar yang disediakan untuknya, hatinya girang bahwa dengan bantuan Topeng Setan dia akan dapat melakukan sesuatu untuk negara.
Akan tetapi kalau dia teringat akan nasibnya, semua rasa girang itu lenyap.
Setelah selesai urusan ini, aku akan mengerahkan seluruh waktuku untuk mencari Si Jahanam itu, demikian pikirnya ketika dia teringat akan musuh besarnya, pemuda laknat itu.
Dan aku akan minta bantuan Topeng Setan!
"Gak-suheng, kita harus mencari Lee-ko!"
Kian Bu berkata setelah dia berhasil diselamatkan oleh Gak Bun Beng dari pengeroyokan Tek Hoat dan Hek-wan Kui-bo yang lihai.
"Dan kita harus juga mencari Dewi,"
Gak Bun Beng berkata pula.
Mereka berdua lalu berusaha mencari dua orang itu, namun hasilnya sia-sia belaka.
Tentu saja mereka tidak tahu bahwa Syanti Dewi telah ditawan oleh Hek-wan Kui-bo dan dibawa lari ke Teng-bun, sedangkan Kian Lee dirawat oleh anak perempuan dari Ketua Pulau Neraka di dalam sebuah rumah.
Pada waktu itu, kota Koan-bun geger karena pihak pemberon-tak mengadakan operasi pembersihan.
Hal ini menghalangi Bun Beng dan Kian Bu melanjutkan usaha mereka mencari Syanti Dewi dan Kian Lee.
Setiap kali bertemu dengan pasukan pemberontak yang melakukan penggeledahan di sana-sini, mereka segera bersembunyi.
"Ah, aku khawatir sekali bahwa mereka keduanya telah tertawan pihak pemberontak,"
Akhirnya Gak Bun Beng berkata dengan suara penuh kekhawatiran.
Tentu saja dia memikirkan Syanti Dewi.
Kalau sampai terjatuh ke tangan Pangeran Liong Khi Ong, tentu sukar untuk ditolong lagi.
Diam-diam dia menyesal mengapa dia begitu lengah sehingga dapat terpisah dari gadis yang seharusnya berada di dalam perlindungannya itu.
Tiba-tiba mereka melihat dari tempat persembunyian mereka sebuah kereta yang tertutup dan dikawal oleh pasukan pengawal di depan, sedangkan di belakang tampak mengawal seorang pemuda.
Bun Beng dan Kian Bu segera mengenal pemuda lihai yang mereka lawan tadi.
"Ah, yang di dalam kereta itu jangan-jangan orang yang kita cari...."
Gak Bun Beng berkata.
"Kita serbu saja....?"
Kian Bu berbisik.
Bun Beng yang lebih berhati-hati itu menggeleng kepala.
Dia maklum bahwa kalau mereka berdua menggunakan kekerasan di dalam kota yang sudah tertutup itu, berarti mencari mati karena tentu mereka akan dikeroyok oleh ratusan, bahkan ribuan orang pasukan pemberontak, belum lagi orang-orang lihai sekali yang menjadi kaki tangan pemberontak.
"Tunggu sebentar di sini, aku ada akal!"
Kata Bun Beng dan sekali berkelebat dia lenyap dari situ, membuat Kian Bu yang juga memiliki kepandaian tinggi itu menjadi kagum.
Dan tak lama kemudian, Bun Beng sudah datang lagi membawa seorang perajurit pemberontak yang tadi menyendiri dan berhasil ditangkap dan ditotoknya, lalu dibawanya ke belakang rumah kosong di mana mereka ber-sembunyi itu.
"Hayo katakan siapa yang berada di dalam kereta yang lewat tadi! Kalau membohong, terpaksa kubunuh engkau!"
Bun Beng menghardik dan memijat suatu urat di punggung yang mendatangkan rasa nyeri luar biasa sehingga orang itu berkata sambil menyeringai.
"Ampun.... di dalam kereta adalah Pangeran Liong Khi Ong dan Panglima Kim Bouw Sin....!"
Bun Beng dan Kian Bu terkejut mendengar ini.
"Mereka ke mana?"
"Ke.... ke Teng-bun....!"
Bun Beng mendorong orang itu ke samping dan terdengar suara berdesing disusul jerit tertahan.
Bun Beng menoleh dan melihat orang itu telah tewas disambar batu kepalanya.
"Mengapa kau melakukan itu?"
Tanyanya dengan alis berkerut kepada Kian Bu. Kian Bu menarik napas panjang.
"Suheng, dalam keadaan sekacau ini terpaksa kita harus bertindak keras. Kalau tidak kubunuh dia, tentu dalam waktu sebentar saja mereka akan mengerahkan pasukan besar untuk mencari dan mengejar-ngejar kita. Pula, keterangan itu amat penting. Setelah Pangeran Liong Khi Ong sendiri berada di sini dan pergi ke Teng-bun bersama panglima pemberontak itu, sudah pasti mereka akan melakukan gerakan."
Gak Bun Beng mengangguk.
"Memang, dan hal itu amat penting sekali untuk segera dilaporkan kepada.... Puteri Milana dan Jenderal Kao. Akan tetapi, kita belum dapat menemukan kakakmu dan Syanti Dewi...."
"Habis, bagaimana baiknya, Gak-suheng? Kedua urusan itu penting!"
"Sebaiknya engkaulah yang pergi me-lapor tentang Pangeran Liong dan Panglima Kim itu kepada kakakmu Puteri Milana dan Jenderal Kao, sedangkan aku mencari Syanti Dewi dan Kian Lee di tempat berbahaya ini."
"Ke mana aku harus mencari mereka?"
"Kubantu engkau keluar dari pintu gerbang selatan, dan dari situ engkau langsung ke selatan di mana terdapat sebuah bukit. Setelah engkau mendaki bukit itu, di balik bukit terdapat hutan lebat. Di sanalah Jenderal Kao mempersiapkan pasukannya."
Setelah menerima petunjuk-petunjuk Gan Bun Beng, Kian Bu bersama pendekar sakti itu lalu mencari jalan di antara rumah-rumah penduduk menuju ke gerbang selatan.
Hari telah mulai gelap sekali, awan menutupi angkasa yang seolah-olah ingin menyembunyikan diri agar jangan menyaksikan kebuasan manusia-manusia di dalam perang.
Penjagaan di sepanjang pagar tembok ketat sekali.
Kota Koan-bun ini merupakan benteng pertahanan pertama dari barisan pemberontak, maka Panglima Kim Bouw Sin telah memerintahkan agar dilakukan operasi pembersihan dan penjagaan yang amat ketat dan telah mengerahkan sebagian pasukannya untuk mempertahankan dan menjaga Koan-bun itu.
Terutama sekali penjagaan empat pintu gerbang di empat penjuru, ada kurang lebih seratus orang tentara menjaga di setiap pintu gerbang.
Tiba-tiba terdengar teriakan seorang peronda di bawah pagar tembok sambil menuding ke depan.
Tampak ada bayangan berkelebat di sebelah barat.
Teriakan ini disusul oleh berkumpulnya puluhan orang penjaga dan nampak anak panah berserabutan meluncur ke arah bayangan tadi yang dengan cepat menghilang.
Selagi para penjaga mencari-cari dan memperketat penjagaan di bagian itu, tiba-tiba mereka melihat bayangan orang tadi di sebelah timur.
"Tuh dia....!"
"Tangkap mata-mata!"
"Serang anak panah!"
Kembali orang-orang yang menjaga di bagian itu berlarian ke arah tempat itu dan anak-anak panah beterbangan.
Namun hanya sebentar saja bayangan itu memperlihatkan diri karena dia sudah lenyap lagi dan tak lama kemudian dia muncul kembali di barat.
Sekali ini dia berdiri di tempat terang di bawah lentera yang tergantung di pagar tembok.
Tentu saja para penjaga, baik yang di bawah maupun di atas benteng, segera berdatangan ke tempat orang itu dan lebih dulu mereka menghujankan anak panah.
Akan tetapi orang itu hanya menggerak-gerakkan kedua lengannya dan semua anak panah runtuh ke sekeliling tubuhnya, menancap di atas tanah di sekitarnya!
Kini puluhan orang pasukan pemberontak menyerbu dengan pedang, golok, atau tombak di tangan mereka.
Orang itu bukan lain adalah Gak Bun Beng yang segera menggunakan kelincahan tubuhnya untuk berloncatan ke sana ke mari mengelak dari semua serangan dengan amat mudahnya.
Kemudian tiba-tiba dia menghilang di tempat gelap dan selagi para penjaga itu sibuk mencarinya, dia sudah muncul lagi di tempat lain yang tampak dari situ sehingga para penjaga ini dibikin kacau dan bingung oleh gerakannya yang amat cepat itu, sampai akhirnya semua kekuatan pasukan penjaga di bagian selatan dikerahkan untuk menangkap atau membunuh pengacau yang amat lihai ini.
Dan memang itulah yang dikehendaki oleh Bun Beng.
Pada saat semua penjaga tertarik perhatiannya oleh pengacauannya itu, Kian Bu memperoleh kesempatan baik sekali, meloncat ke pintu gerbang, bagian paling rendah di antara pagar tembok itu, merobohkan dua orang yang bertugas menjaga di situ sedangkan semua penjaga yang lain ikut mengeroyok Bun Beng, kemudian terus naik ke pagar tembok dan dengan mudahnya keluar dari kota Koan-bun.
Teriakan dua orang penjaga pintu gerbang yang dirobohkan Kian Bu menarik perhatian mereka yang mengeroyok Bun Beng.
Sebagian meninggalkan pengacau ini karena terlalu banyak orang menge-royok pun tidak ada artinya, bahkan gerakan mereka menjadi kaku dan kacau.
Sebagian dari mereka berlari-larian ke pintu gerbang, akan tetapi mereka tidak dapat melihat siapa yang telah merobohkan dua orang penjaga itu, sedangkan Bun Beng yang melihat Kian Bu telah berhasil keluar dari kota, lalu menghilang pula di dalam kegelapan malam!
Kian Bu mempergunakan kepandaiannya berlari cepat sekali ke selatan.
Untung bahwa mendung tebal telah pergi terbawa angin ke utara, sehingga kini tampaklah sinar bulan sepotong yang dibantu oleh beberapa buah bintang menerangi jalan kecil itu.
Bukit di depan nampak seperti seorang raksasa berdiri tegak dan Kian Bu mempercepat larinya menuju ke bukit itu.
Ternyata bahwa bukit itu tidak berapa jauh dari Koan-bun dan segera dia dapat melewati puncaknya, lalu menurun menuju ke hutan yang hanya tampak dari atas sebagai tempat menghitam yang mengerikan.
Akan tetapi baru saja dia tiba di luar hutan itu, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras dan hampir saja dia jatuh mene-lungkup ketika kakinya terjerat tali yang ditarik orang kanan kiri dan bermunculanlah orang-orang dari depan kanan kiri dan mengepungnya!
"Tahan....!"
Kian Bu berseru karena dapat menduga bahwa dia telah tiba di tempat yang dituju dan mereka ini tentulah penjaga-penjaga pasukan Jenderal Kao yang mempunyai barisan pendam di hutan itu.
"Aku datang untuk bertemu dengan Puteri Milana! Aku bukan musuh!"
Orang-orang yang sudah mengepung ketat itu datang makin rapat, menodongkan senjata mereka ke arah pemuda itu. Seorang di antara mereka menghardik.
"Ikut dengan kami menghadap!"
Kian Bu bersikap sabar dan dengan todongan senjata di sekelilingnya, dia digiring masuk ke dalam hutan.
Beberapa orang perajurit mendekatkan lentera sehingga mereka dapat melihat wajah Kian Bu, akan tetapi tidak ada seorang pun mengenalnya, maka tentu saja pengepungan menjadi makin ketat.
Diam-diam Kian Bu memuji mereka ini sebagai perajurit-perajurit yang baik, karena kalau perajurit-perajurit seperti ini yang menjaga pagar tembok kota Koan-bun tadi, agaknya dia tidak dapat keluar demikian mudahnya.
Masuknya seorang mata-mata di tempat pemusatan pasukan rahasia itu tentu saja merupakan hal yang amat penting.
Kalau pihak pemberontak mengetahui akan pemusatan pasukan pemerintah di tempat itu, tentu semua rencana akan menjadi gagal.
Maka begitu mendengar bahwa ada mata-mata memasuki hutan dan telah ditangkap, Jenderal Kao sendiri besama Puteri Milana keluar untuk melihat tawanan mata-mata itu.
Ketika melihat bahwa yang disangka mata-mata itu adalah Kian Bu, tentu saja mereka menjadi girang sekali.
"Lepaskan dia, orang sendiri!"
Jenderal Kao membentak.
Para penjaga itu terkejut dan girang sekali bahwa mereka tadi tidak lancang tangan menyerang pemuda itu yang kelihatan begitu akrab dengan Jenderal Kao dan Puteri Milana, bahkan puteri itu sudah memegang lengannya dengan senyum manis.
Mereka lalu memberi hormat kepada Kian Bu dan pemimpin mereka mengucapkan pernyataan maaf.
Kian Bu tertawa.
"Kalian adalah penjaga-penjaga yang amat baik."
Maka kembalilah pasukan penjaga itu ke tempat penjagaan masing-masing dengan hati lega karena mereka tidak dimarahi, bahkan dipuji.
Sementara itu, Kian Bu cepat diajak masuk ke dalam pondok darurat oleh Milana dan Jenderal Kao.
Tak lama kemudian pemuda itu sudah menceritakan semua keadaan di kota Koan-bun dengan jelas.
Juga diceritakannya betapa munculnya pasukan liar yang dipimpin oleh Raja Tambolon sendiri menggegerkan kota Koan-bun sehingga dia bersama Kian Lee terpisah dari Bun Beng dan Syanti Dewi.
Kemudian betapa Kian Lee terluka oleh senjata peledak yang dilepas nenek buruk rupa, kemudian betapa dia pun terpisah dari Kian Lee sampai dia ditolong oleh Gak Bun Beng.
"Gak-suheng cepat menyuruh saya datang melapor ke sini setelah kami ketahui bahwa Pangeran Liong Khi Ong ternyata tadinya juga berada di Koan-bun dan sekarang bersama Kim Bouw Sin telah berada di Teng-bun."
Milana mengerutkan alisnya.
Dia khawatir sekali mendengar bahwa adik tiri-nya, Suma Kian Lee, terluka dan lenyap, juga bahwa Puteri Syanti Dewi lenyap dan kini masih dicari-cari oleh Gak Bun Beng di Koan-bun.
Akan tetapi karena dia sedang menghadapi tugas pemerintah yang lebih penting lagi, maka dia tidak menyinggung urusan yang amat dikhawatirkannya itu dan dia berkata kepada Jenderal Kao.
"Hadirnya Pangeran Tua itu tentu merupakan tanda bahwa mereka sudah siap untuk menyerbu ke selatan. Agaknya kedua orang Pangeran Tua itu memecah diri, yang seorang mendampingi Kim Bouw Sin merupakan penyerbuan dari luar, sedangkan yang seorang lagi tentu melakukan gerakan dari dalam."
Jenderal Kao mengangguk-angguk dan mengusap-usap jenggotnya.
"Jalan satu-satunya hanyalah menghancurkan mereka sebelum mereka bergerak! Kalau sampai terjadi perang di selatan tentu akan menimbulkan kerusakan hebat di kalangan rakyat. Akan tetapi, saya tahu betapa kuatnya benteng Teng-bun, dan menurut penyelidikan saya kekuatan mereka cukup besar, terdiri dari tiga puluh ribu orang lebih. Menyerbu Teng-bun merupakan pekerjaan yang sulit dan tentu akan makan korban banyak perajurit."
"Bagaimana kalau kita menyerbu Koan-bun?"
Puteri Milana mengajukan usul, tentu saja masih dipengaruhi kekhawatirannya tentang Kian Lee dan Syanti Dewi.
"Merebut Koan-bun jauh lebih mudah, akan tetapi tidak begitu besar manfaatnya, bahkan sisa pasukan mereka tentu akan lari ke Teng-bun, membuat benteng itu menjadi makin kuat. Kalau saja ada jalan untuk memecah kekuatan mereka menjadi dua...."
Jenderal Kao tidak melanjutkan kata-katanya karena mendengar teriakan penjaga minta diperkenankan masuk.
Setelah perkenan diberikan, dua orang perajurit masuk dan memberi tahu bahwa lagi-lagi ada seorang yang disangka mata-mata telah ditangkap dan sudah digiring ke situ.
"Hemm, sungguh aneh.... tempat kita amat rahasia, siapa yang bisa tahu bahwa kita berada di sini?"
Kata jenderal itu.
"Bawa dia ke sini!"
Dua orang perajurit memberi hormat, ke luar dan tak lama kemudian, sepasukan penjaga menggiring seorang pemuda tinggi besar memasuki pondok itu.
"Kok Cu....!"
Jenderal Kao melompat bangun saking kaget dan girangnya melihat puteranya itu! "Lihat baik-baik!"
Katanya kepada para penjaga.
"Dia ini adalah Kao Kok Cu, puteraku sendiri. Hayo kalian semua pergi dan menjaga lagi yang waspada!"
Kok Cu sudah melangkah maju dan berlutut di depan Jenderal Kao.
"Ayah....!"
Jenderal Kao mengangkat bangun puteranya dan memandang dengan mata berseri.
"Aih, ke mana saja engkau, Anakku? Cepat kau beri hormat kepada beliau ini. Beliau adalah Puteri Milana."
"Kiranya inilah puteramu yang dikabarkan kembali setelah lenyap bertahun-tahun, Jenderal? Sungguh gagah dia!"
Milana berkata memuji ketika Kok Cu memberi hormat kepadanya.
"Apa kabar, Saudara Kok Cu yang gagah!"
Kian Bu berkata dan Kok Cu juga menyalam pemuda Pulau Es yang pernah dijumpai sebentar di rumah ayahnya di kota raja.
"Ayah, maaf, agaknya tidak ada wak-tu untuk bicara tentang urusan pribadi dalam saat seperti ini. Anak datang untuk menyampaikan berita yang amat penting bagi gerakan Ayah untuk membasmi pemberontak."
Jenderal Kao membelalakkan matanya, lalu menghela napas dengan perasaan gembira dan lega yang amat besar.
Kiranya puteranya ini sama sekali tidak mengecewakan sebagai puteranya!
Tanpa pernah dia memberi didikan sedikit pun, sikap puteranya ini sudah seperti seorang gagah sejati, seorang berjiwa pahlawan, dan tentu saja dia merasa amat bangga karena ucapan puteranya itu dikeluarkan di depan Puteri Milana, pahlawan wanita yang amat dikaguminya itu.
"Tentu saja, Anakku,"
Jawabnya dengan nada biasa padahal hatinya membesar saking bangganya.
"Ceritakanlah, berita apa yang kau bawa itu?"
"Ayah, dan Paduka Puteri.... Ang-kiok-teng pagi hari tadi telah terjatuh ke tangan pasukan Tambolon!"
Jenderal Kao mengerutkan alisnya. Kalau hanya itu beritanya, sama sekali tidak penting lagi.
"Hemm, kami sudah mendengar dengan jelas tentang itu, Kok Cu, Panglima Thio telah tiba di sini menceritakan tentang terampasnya Ang-kiok-teng, dan bahkan betapa dia diselamatkan oleh seorang gadis cantik yang lihai dan seorang laki-laki bermuka buruk seperti setan."
Dia berhenti sebentar, termenung.
"Aku sangat tertarik akan kelihaian gadis penolongnya itu, yang kabarnya dengan menggunakan racun merobohkan seratus orang anak buah Tambolon. Apakah engkau juga tahu dia itu siapa, Kok Cu?"
Jenderal Kao bertanya.
"Ayah sudah mengenal dia baik-baik,"
Kok Cu berkata.
"Dia adalah gadis yang gambarnya Ayah sembahyangi dahulu itu...."
"Apa....? Kau maksudkan Nona Lu Ceng....?"
Jenderal Kao bangkit dan memegang pundak puteranya.
Kalau bukan Kok Cu yang dicengkeram pundaknya seperti itu saking kaget dan girangnya hati jenderal raksasa ini, agaknya akan remuk tulang pundaknya!
"Benar, Ayah.
Saya telah menyelidiki dengan jelas."
"Dan laki-laki bermuka buruk seperti setan itu?"
"Dia disebut Topeng Setan, kabarnya menjadi pembantu Nona Lu Ceng yang telah menjadi beng-cu orang-orang golongan hitam. Sekarang mereka bersekutu dengan Tambolon."
"Apa....?"
Jenderal itu berseru kaget.
"Akan tetapi berita yang amat penting yang hendak anak sampaikan adalah bahwa besok malam pasukan-pasukan liar yang dipimpin Tambolon secara serentak akan meninggalkan Ang-kiok-teng dan menyerang Koan-bun untuk dirampasnya."
"Heiii....?"
Milana berseru kaget.
Berita ini mengejutkan dan tidak terduga-duga sama sekali.
Jenderal Kao Liang memejamkan matanya, alisnya yang tebal berkerut-kerut dan dia berpikir-pikir.
Tiba-tiba dia membuka matanya, memandang puteranya dan suaranya memecah kesunyian.
"Engkau yakin benar akan berita ini, Kok Cu?"
"Sudah pasti, Ayah. Saya mendengar sendiri keputusan itu keluar dari mulut Raja Tambolon dan mereka kini sedang bersiap-siap."
Tiba-tiba Jenderal Kao tertawa bergelak dan memukul-mukul pahanya sendiri.
"Ha-ha-ha-ha! Bodoh sekali aku, hampir saja meragukan kebersihan hati seorang gadis pahlawan!"
Lalu dia menoleh kepada Puteri Milana sambil berkata.
"Thian telah mengirim gadis itu untuk memberi jalan kepada kita! Tentu dia telah menggunakan siasat, bersekutu dengan Tambolon dan mengajaknya menghantam pemberontak di Koan-bun. Entah dengan janji dan siasat apa dia berhasil! Inilah kesempatan kita. Kita biarkan pasukan liar dan pasukan pemberontak saling hantam, sampai salah satu hancur, kemudian kita gunakan kesempatan selagi pihak yang menang lengah dan lelah, kita serbu Koan-bun dan Teng-bun. Untuk membantu Koan-bun, tentu pasukan di Teng-bun akan dikurangi dan benteng itu tidak sekuat sekarang."
Puteri Milana mengangguk-angguk.
"Siapakah dia Nona Lu Ceng itu, Kao-goanswe?"
"Ha-ha-ha, sungguh dia hebat dan sudah membikin aku seorang tua tertipu beberapa kali. Tadinya dia terjungkal di dalam sumur maut ketika menolongku dari pengkhianatan Kim Bouw Sin, dia kusangka mati dan bahkan sudah kusembahyangi! Kiranya dia benar masih hidup! Tadi kusangka dia telah menjadi orang sesat karena selain menjadi ahli racun juga menjadi beng-cu kaum sesat, kiranya dia masih seorang patriot yang dengan caranya sendiri membasmi pemberontak!"
Malam ini juga Jenderal Kao dan Puteri Milana mengatur siasat dan membagi-bagi tugas.
Sepertiga jumlah pasukan akan memasang barisan pendam di sekitar Koan-bun dan akan menanti sampai pasukan liar Tambolon menyerbu Koan-bun, membiarkan pasukan liar dan pasukan pemberontak perang sendiri dan Kok Cu ditugaskan oleh ayahnya untuk memimpin pasukan ini.
"Tunggu sampai perang itu selesai dan pihak pemenang, baik pihak pemberontak maupun pihak Tambolon, berpesta merayakan kemenangannya sehingga lengah, baru turun tangan serbu dan rampas Koan-bun. Pasukan itu terdiri dari lima ribu orang perajurit pilihan, dan engkau dibantu oleh Perwira Thio Luk Cong, bekas komandan di Ang-kiok-teng. Nah, kau atur dan rundingkan dengan Thio-ciangkun, sedangkan urusan pribadi kita bicarakan kalau semua tugas sudah selesai dengan baik."
"Baik, Ayah."
Thio Luk Cong lalu dipanggil dan bersama Kok Cu mereka lalu keluar dari pondok itu untuk merundingkan dan mengatur pasukan mereka yang bertugas bergerak di Koan-bun setelah membiarkan pihak pemberontak bertempur sendiri dengan pasukan liar yang dipimpin Tambolon.
Kok Cu menyerahkan pimpinan pasukan kepada Panglima Thio karena dia sendiri merasa tidak mampu mengatur barisan dan dia berjanji akan menyelundup lebih dulu ke Koan-bun dan menyelidiki keadaan.
Panglima Thio memberikan anak panah-anak panah berapi kepada Kok Cu dan mereka berjanji bahwa panah berapi itulah yang akan menjadi tanda dari Kok Cu bahwa saatnya yang tepat telah tiba bagi pasukan-pasukan pemerintah di bawah pimpinan Thio-ciangkun untuk turun tangan menyerbu Koan-bun.
Lima ribu orang pasukan lagi bertugas untuk memotong jalan kalau barisan pemberontak dari Teng-bun mengirim bala bantuan ke Koan-bun, dan lima ribu orang pasukan lagi bertugas menyerbu Teng-bun.
Pasukan pertama dipimpin oleh Puteri Milana dan pasukan ini juga bertugas sebagai pembantu pasukan yang menyerbu Teng-bun yang menjadi pusat kekuatan pemberontak, sedangkan pasukan penyerbu Teng-bun itu dipimpin oleh Jenderal Kao sendiri, dibantu oleh Kian Bu.
Pemuda ini masih merasa gelisah memikirkan Kian Lee yang tidak tahu berada di mana, juga Puteri Syanti Dewi yang lenyap.
Akan tetapi karena keadaan tidak mengijinkan untuk mencari, dan perang sudah berada di depan mata, pemuda ini terpaksa menekan kekhawatirannya dengan hiburan bahwa kakaknya adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan biarpun mengalami luka di pahanya, kiranya masih akan mampu menjaga diri dengan baik.
Hanya dia gelisah memikirkan Syanti Dewi, karena kalau puteri itu terjatuh ke tangan pemberontak, tentu celaka.
Akan tetapi dia mempunyai harapan dan kepercayaan bahwa Gak Bun Beng kiranya akan dapat mencari dan menemukan kedua orang yang lenyap itu.
Setelah Kok Cu berunding dengan Panglima Thio Luk Cong dan menerima pesan-pesan ayahnya, menjelang pagi dia meninggalkan hutan itu untuk mulai dengan tugasnya, membantu Panglima Thio yang diam-diam menggerakkan pasukannya menjadi barisan pendam di sekitar kota Koan-bun.
Tek Hoat melayani Pangeran Liong Khi Ong makan minum.
Pemuda ini kelihatannya biasa saja, akan tetapi sebenarnya hatinya merasa risau bukan main.
Semenjak dia bertemu dengan Syanti Dewi dan melihat puteri bangsawan itu terjatuh ke tangan Pangeran Tua ini, hatinya selalu gelisah.
Dia sendiri tidak mengerti mengapa, akan tetapi dia merasa betapa semua semangatnya lenyap, kegairahannya untuk membantu pihak pemberontak agar dapat cepat mencapai kemenangan dan dia memperoleh kesempatan untuk meraih kedudukan tinggi, kini menjadi dingin dan kehilangan artinya.
Bahkan kegembiraan Pangeran Liong Khi Ong yang makan minum sampai mabok ditemani oleh panglima pemberontak Kim Bouw Sin dan dia sendiri bersama Pak-thian Lo-mo dan Lam-thian Lo-mo tidak mendatangkan kegembiraan pula di dalam hatinya, bahkan sebaliknya dia merasa tidak senang, sungguhpun ketidaksenangannya ini tidak dia perlihatkan.
Tanpa disadarinya sendiri, terjadi perubahan di dalam hati Tek Hoat, dan perubahan itu terjadi di luar pengetahuannya dan hanya disebabkan oleh kehadiran Syanti Dewi sebagai orang tawanan Pangeran Liong Khi Ong.
Memang Pangeran Liong Khi Ong gembira sekali setelah dia dapat menawan Syanti Dewi yang ternyata luar biasa cantiknya, melebihi semua kabar yang pernah diperolehnya tentang Puteri Bhutan yang oleh Kaisar dijodohkan dengan dia itu.
Kehadiran puteri itu secara tak terduga-duga sampai terjatuh ke tangannya sungguh merupakan hal yang amat menguntungkan, baik untuk pribadinya sendiri maupun untuk perjuangannya.
Puteri Bhutan itu merupakan orang penting pada waktu itu.
Pertama-tama, siasat mereka menimbulkan sakit hati Raja Bhutan dengan lenyapnya Syanti Dewi ketika diantar ke timur telah berhasil, dan kelak, kalau perjuangan itu berhasil dan dia bersama kakaknya menduduki tampuk pemerintahan, lalu mereka "berjasa"
Menemukan kembali Puteri Bhutan yang hilang itu, berarti menanam hu-bungan baik dengan Bhutan.
Ketiganya, dia dapat memiliki puteri cantik jelita itu disamping jasa-jasa baik ini!
"Eh, Kim-ciangkun, bagaimana beritanya tentang Tambolon dengan pasukannya yang menyerbu Ang-kiok-teng?"
Pangeran yang mukanya sudah merah itu bertanya kepada Panglima Kim Bouw Sin. Kim Bouw Sin tersenyum lebar.
"Tepat seperti yang kita rencanakan, berkat siasat Ang-taihiap yang cerdik sekali. Tambolon dan anak buahnya itu seperti gerombolan anjing kelaparan, diberi tulang-tulang busuk pun sudah berebutan! Kini mereka kekenyangan tulang busuk dan tidak banyak menggonggong lagi. Tunggu beberapa hari lagi dan kalau mereka sudah mulai lapar, kita pergunakan mereka sebagai pasukan-pasukan pelopor menyerbu ke selatan."
Pangeran Liong Khi Ong tertawa gembira dan berkata sambil memandang Tek Hoat.
"Untuk jasa itu kami perlu memberi selamat kepadamu dengan secawan arak, Ang Tek Hoat."
Kim Bouw Sin dan Pangeran Liong Khi Ong memberi selamat dengan minum arak yang terpaksa diterima dan diikuti oleh Tek Hoat dengan hati berat, akan tetapi Pak-thian Lo-mo dan Lam-thian Lo-mo tidak mengangkat cawan arak mereka.
Melihat hal ini, Tek Hoat mengerutkan alisnya akan tetapi dia diam saja.
Liong Khi Ong yang melihat hal ini menjadi tidak senang hatinya.
Tek Hoat adalah pembantunya yang utama, tangan kanannya, sedangkan dua orang kakek aneh itu kini merupakan pembantu-pembantu Kim Bouw Sin.
"Eh, Ji-wi Siang Lo-mo mengapa tidak ikut memberi selamat kepada Ang Tek Hoat yang sudah berjasa besar?"
Pak-thian Lo-mo yang mukanya putih itu tidak menjawab, hanya menunduk dan mengerling ke arah Tek Hoat dengan pandang mata tidak senang.
Sedangkan Lam-thian Lo-mo yang lebih pandai bicara, mengangguk hormat kepada Pangeran Liong Khi Ong sambil berkata.
"Siasat itu memang baik sekali dan sudah sepatutnya kalau semua memujinya. Akan tetapi setelah apa yang kami dengarkan dari Hek-wan Kui-bo, kami berdua menjadi agak ragu-ragu untuk memberi selamat, sebelum Ang-sicu memberi penjelasan akan perbuatannya itu."
Tek Hoat memandang kakek kembar itu dengan sinar mata tajam dan mereka pun menatap wajahnya dengan penuh selidik sehingga mereka saling pandang dengan sinar mata yang makin lama makin menjadi panas!
Api persaingan telah mulai menyala di antara para pembantu utama pimpinan pemberontak itu!
Tek Hoat yang cerdik itu tentu saja telah dapat menduga apa yang telah diceritakan oleh nenek buruk itu, akan tetapi dengan cerdik dia malah sengaja menantang untuk menimbulkan kesan bahwa dia tidak menyimpan rahasia apa-apa, dan dia bertanya.
"Siang Lo-mo, di depan Pangeran dan Kim-ciangkun, tidak perlu bicara sembunyi-sembunyi, katakan saja mengapa kalian meragukan aku dan apa yang telah diceritakan oleh nenek iblis itu kepada kalian mengenai diriku."
Sepasang kakek kembar itu saling pandang dan nampaknya mereka terheran melihat sikap pemuda itu yang sama sekali tidak kelihatan gugup atau takut sebagaimana biasanya orang yang melakukan kesalahan.
Kemudian Lam-thian Lo-mo berkata lagi.
"Kami mendengar dari Hek-wan Kui-bo bahwa ketika engkau diajak oleh Kui-bo melihat gadis yang ditawannya, tiba-tiba engkau menyerangnya sehingga nenek itu terpaksa melarikan diri dan cepat melapor kepada Pangeran tentang Puteri Bhutan itu. Bukankah perbuatanmu itu aneh sekali, Ang-sicu?"
Suasana menjadi sunyi dalam ruangan itu setelah Lam-thian Lo-mo mengajukan pertanyaan ini.
Pangeran Liong Khi Ong dan Panglima Kim memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata jelas membayangkan keheranan dan keinginan tahu, menun-tut penjelasan.
Tek Hoat telah memutar otaknya dan kelihatan tenang saja, bahkan tersenyum ketika dia berkata kepada kakek kembar itu.
"Tentu saja ada penjelasanku untuk hal itu. Akan tetapi sebelum aku memberi penjelasan, aku lebih dulu ingin mengetahui bagaimana pendapat dan dugaan Siang Lo-mo tentang perbuatanku itu (Lanjut ke
Jilid 35) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 35 sehingga kalian menaruh curiga kepadaku?"
Pertanyaan ini jelas merupakan tantangan kepada sepasang kakek kembar untuk membuka isi hatinya di depan Pangeran Liong dan Panglima Kim.
Pak-thian Lo-mo yang tidak pandai bicara, melihat saudara kembarnya ditantang, segera bertepuk tangan dan berkata tegas.
"Ang-sicu mendengar Kui-bo hendak mempersembahkan gadis itu kepada Pangeran lalu menyerangnya, tentu berniat hendak memiliki sendiri dara cantik itu!"
Tek Hoat tersenyum dan memandang kepada Lam-thian Lo-mo.
"Demikiankah pendapatmu pula?"
Lam-thian Lo-mo mengangguk.
"Apa lagi kalau tidak begitu niatmu, Sicu? Karena kecantikan seorang gadis, hampir engkau meninggalkan kesetiaanmu!"
Tek Hoat lalu menoleh kepada Pangeran Liong dan Panglima Kim yang me-mandangnya tajam, lalu bertanya.
"Apakah saya diharuskan menjelaskan perbuatan saya menyerang Hek-wan Kui-bo?"
Pangeran Liong mengangguk.
"Karena pertanyaan telah diajukan, hati kami tidak akan merasa puas sebelum mendengar penjelasanmu, Ang Tek Hoat."
Tek Hoat lalu berkata, suaranya lantang dan tenang.
"Memang saya akui bahwa saya telah menyerang nenek iblis itu. Saya bertemu dengan nenek itu di jalan dan hal ini saja sudah menimbulkan kecurigaan saya, menyangka bahwa dia adalah seorang mata-mata musuh. Kemudian dia menyatakan hendak mempersembahkan seorang gadis. Tentu saja kecurigaan saya bertambah. Dalam keadaan seperti sekarang ini, siapa tidak mencurigai nenek iblis yang tiba-tiba saja hendak mengabdi dan mempersembahkan seorang gadis sebagai sogokan? Dan ketika saya dibawanya masuk ke dalam gedung Coa-wangwe, melihat Coa-wangwe sekeluarga dibelenggu, saya hampir yakin bahwa nenek iblis itu tentulah seorang mata-mata musuh yang amat berbahaya. Coa-wangwe adalah seorang sahabat kita yang banyak membantu perjuangan, melihat dia sekeluarga diperlakukan seperti itu, siapa yang tidak merasa marah dan curiga? Apalagi setelah saya melihat bahwa gadis itu bukan lain adalah Sang Puteri Syanti Dewi yang tentu saja saya segera mengenalnya, kecurigaan saya menjadi bulat bahwa nenek ini mempunyai niat yang jahat, maka tanpa banyak cakap lagi saya lalu menyerangnya. Sampai detik itu pun saya masih mencurigai nenek itu, apakah hal ini berarti aku kehilangan kesetiaan?"
Tek Hoat bicara dengan tenang dan lancar, dan alasannya cukup meyakinkan sehingga bukan hanya Pangeran Liong dan Panglima Kim yang mengangguk-angguk, bahkan Siang Lo-mo sendiri juga mengangguk dan lenyaplah kecurigaan mereka.
Pangeran Liong tertawa girang.
"Bagus, dengan demikian teranglah sudah segalanya. Dan engkau tidak perlu meragukan, Tek Hoat. Nenek itu adalah seorang tokoh besar golongan hitam, mana mungkin dia membantu Pemerintah Ceng? Bahkan dia menyatakan bahwa suhengnya yang berjuluk Hek-tiauw Lo-mo, yang katanya memiliki kepandaian paling tinggi di dunia ini, juga sudah berada di kota ini dan siap membantu perjuangan kita, demikian pula seorang sumoinya yang amat lihai berjuluk Mauw Siauw Mo-li."
Tek Hoat mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, saya tidak curiga lagi akan tetapi kecuri-gaan saya hanya karena saya setia terhadap perjuangan, tidak seperti ke-curigaan Siang Lo-mo terhadap saya yang didasari oleh perasaan iri hati!"
"Hemm, apa maksudmu dengan kata-kata itu, Ang-sicu?"
Pak-thian Lo-mo bertanya dengan suara keren dan pandang mata tajam.
Tek Hoat tersenyum dan memandang kepada kakek kembar itu dengan sinar mata mengejek.
"Maksud saya sudah jelas! Kalian tidak suka memberi selamat kepadaku karena iri, maka biarlah sekarang saya yang memberi selamat kepada kalian dengan secawan arak!"
Sambil tersenyum, Tek Hoat membuka kedua tangannya ke arah dua buah cawan arak kosong yang terletak di atas meja, di depan dua orang kakek kembar itu dan seperti bernyawa saja, dua buah cawan arak kosong itu "terbang"
Ke arah kedua tangan Tek Hoat.
Pemuda ini cepat mengisi dua cawan arak itu dengan arak sampai penuh, kemudian mengangkat dua cawan yang penuh arak itu dengan lengan kedua tangan dilonjorkan dan disodorkannya kedua cawan itu ke arah Siang Lo-mo sambil berkata.
"Nah, terimalah pemberian selamat saya kepada kalian!"
"Tek Hoat dan Siang Lo-mo, jangan melakukan kekerasan dan bertentangan antara kawan sendiri!"
Pangeran Liong Khi Ong berkata dengan khawatir.
"Saya hanya memberi selamat kepada Siang Lo-mo, Pangeran,"
Tek Hoat menjawab tenang. Lam-thian Lo-mo tertawa.
"Ha-ha-ha, harap Paduka jangan khawatir, agaknya Ang-sicu hanya ingin menguji hamba berdua."
Dia menoleh kepada Pak-thian Lo-mo dan berkata.
"Mari kita menerima pemberian selamat Ang-sicu."
Dua orang kakek kembar itu lalu meluruskan lengan dan menyambut cawan arak itu dengan tangan kanan mereka, tentu saja mereka yang maklum bahwa pemuda itu bukannya memberi selamat secara biasa saja, mereka telah mengerahkan sin-kang mereka, disalurkan melalui lengan sampai ke tangan mereka ketika jari-jari tangan mereka menyentuh cawan arak.
Jari-jari tangan tiga orang itu melekat pada dua buah cawan itu dan lengan mereka mulai tergetar hebat.
Adu tenaga sin-kang terjadi, satu melawan dua!
Sepasang kakek kembar itu sudah mengenal Tek Hoat dan maklum bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi karena mereka maju berdua, mereka tidak menjadi gentar dan mereka yakin bahwa tidaklah mungkin lawan semuda itu akan dapat mengalahkan tenaga sin-kang mereka yang tergabung.
Pangeran Liong Ki Ong dan Panglima Kim Bouw Sin memandang dengan hati tegang akan tetapi juga gembira karena mereka memang sering menduga-duga siapa di antara mereka yang lebih lihai, sungguhpun terdapat kekhawatiran di da-lam hati mereka bahwa adu tenaga sin-kang itu akan berubah menjadi pertandingan sungguh-sungguh.
Mereka memandang dengan hati berdebar dan terkejutlah mereka melihat betapa arak di dalam dua cawan itu tiba-tiba menjadi naik dan terguncang.
Mereka melihat Tek Hoat tersenyum dan agaknya pemuda itu hendak menggunakan sin-kangnya untuk membuat arak itu terus naik dan muncrat ke arah dua orang kakek kembar.
Akan tetapi, dua orang kakek itu mengerahkan tenaga mereka dan arak itu turun kembali.
Beberapa kali arak itu naik lagi, bahkan sampai melampaui bibir cawan, dan anehnya tidak tumpah seolah-olah arak itu menjadi beku, dan setelah dua orang kakek itu kelihatan mengerahkan seluruh tenaga, barulah arak itu turun lagi.
Mereka bersitegang beberapa lamanya dan sepasang kakek kembar itu sudah mulai berkeringat dahi mereka akan tetapi Tek Hoat masih tenang dan tersenyum, seolah-olah dia tidak mengeluarkan seluruh tenaganya.
Hal ini saja sudah membuktikan bahwa biarpun dia dikeroyok dua, namun dia sama sekali tidak terdesak.
Melihat keadaan dua orang kakek yang menjadi pengawal dan pembantu-pembantunya itu kelihatan terdesak dan berkeringat, Panglima Kim hendak menghentikan adu tenaga ilmu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa halus seorang wanita dan tampak dua bayangan orang berkelebat dan di situ tahu-tahu telah berdiri dua orang yang kedatangannya seperti setan saja!
Yang seorang adalah kakek yang tubuhnya tinggi besar dan mukanya menyeramkan seperti raksasa liar, akan tetapi orang ke dua merupakan seorang wanita yang cantik dengan pakaian mewah dan dia muncul didahului bau harum semerbak!
Sambil tersenyum wanita dan kakek raksasa itu mendekati meja.
"Aihh, suguhan arak kalau tidak diterima sungguh sayang. Biar aku mengambil satu cawan!"
"Ha-ha, kau benar sekali, Mo-li! Engkau secawan dan aku secawan!"
Kakek raksasa itu pun berkata sambil tertawa dan tampaklah dua buah taring di dalam mulutnya.
Mereka membuka mulut dan menyedot, dan....
arak dari dalam cawan yang sedang diperebutkan oleh Tek Hoat dan Siang Lo-mo itu tiba-tiba bergerak naik dan keluar, terus memancar naik memasuki mulut wanita dan kakek raksasa itu yang menelannya dengan enak sekali.
Melihat ini, Tek Hoat dan Siang Lo-mo menarik kembali tenaga mereka.
Mereka tidak merasa heran dengan perbuatan dua orang pendatang baru itu.
Karena tadi mereka saling mengadu tenaga dan mempertahankan cawan, tentu saja dua orang yang juga memiliki sin-kang kuat itu berhasil "mencuri"
Arak dari dalam kedua cawan. Andaikata mereka bertiga tidak sedang mengadu tenaga dan mempertahankan, tidak mungkin dua orang itu akan dapat "minum"
Semudah itu.
Tek Hoat dan Siang Lo-mo sudah meloncat berdiri untuk melindungi Pangeran Liong dan Panglima Kim, sedangkan panglima itu sendiri sudah berteriak memanggil para pengawal yang berada di luar.
Pasukan pengawal berlari masuk dan mereka terheran-heran melihat adanya dua orang itu yang tidak mereka lihat masuknya.
"Heh-heh, harap Paduka Pangeran dan Ciangkun tidak salah paham. Suhengku dan sumoiku sudah datang untuk menyumbangkan tenaga!"
Suara ini terdengar dari dalam, suara Nenek Hek-wan Kui-bo.
Mendengar ini, Pangeran Liong Khi Ong mengangkat tangan menahan pasukan pengawal yang sudah mengurung dua orang itu, lalu bertanya.
"Apakah kalian yang berjuluk Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li?"
Kakek tinggi besar dan wanita cantik itu menjura dengan hormat, dan kakek raksasa itulah yang menjawab.
"Tepat dugaan Paduka Pangeran Liong Khi Ong!"
"Maafkan kedatangan kami yang tidak diundang,"
Kata pula Mauw Siauw Mo-li dengan suaranya yang halus, lirikan matanya menyambar ke wajah Tek Hoat yang tampan dan senyumnya memikat.
Pangeran Liong Khi Ong terkenal sebagai seorang yang pandai mengambil hati orang-orang pandai, maka dia ditugaskan oleh kakaknya, Pangeran Liong Bin Ong sebagai penghimpun tenaga di luar kota raja yang ternyata berhasil baik.
Bahkan Panglima Kim Bouw Sin adalah panglima yang kena dipikat oleh pangeran ini.
Kini, menghadapi dua orang pandai dan golongan hitam itu, Pangeran Liong yang cerdik segera dapat menentukan sikapnya.
Sannbil tertawa dia lalu berkata.
"Ah, sudah lama kami menanti kedatangan kalian berdua. Silakan duduk dan terimalah ucapan selamat datang dari kami!"
Panglima Kim Bouw Sin menyuruh pengawal-pengawal mundur dan mereka lalu menjamu dua orang yang baru datang itu.
Mauw Siauw Mo-li segera tertarik sekali kepada Tek Hoat dan dia mengangkat cawan araknya, memandang tajam penuh daya pikat kepada pemuda itu, berkata halus sambil tersenyum dan ketika bicara bibirnya bergerak penuh tantangan.
"Saya telah mendengar nama besar pendekar muda Ang Tek Hoat dan sungguh seperti mimpi saja rasanya da-pat bertemu dan makan semeja dengan pendekar muda Ang. Saya menghaturkan secawan arak untuk persahabatan antara kita!"
Biarpun hatinya masih bercuriga kepada dua orang ini, namun karena mereka sudah diterima oleh Pangeran Liong sendiri, Tek Hoat terpaksa bersikap manis, menerima pemberian selamat itu dan mengucapkan terima kasih.
Pangeran Liong menjadi makin gembira ditemani oleh dua orang pembantu baru ini, apalagi sikap Mauw Siauw Mo-li yang penuh daya pikat itu membuat dia lupa bahwa sejak tadi dia sudah terlampau banyak minum arak keras.
Akhirnya pangeran itu menjadi agak mabok oleh pengaruh arak.
"Ha-ha-ha, perutku sudah kenyang.... aih, aku ngantuk sekali, ingin tidur.... akan tetapi siapa yang mau menemaniku?"
Berkata demikian, dia bangkit dari bangkunya sambil memandang dengan penuh ajakan kepada Mauw Siauw Mo-li yang cantik.
Melihat ini, Lam-thian Lo-mo yang mengkhawatirkan keselamatan pangeran itu dan belum percaya betul kepada wanita yang baru datang ini, cepat berkata.
"Apakah Paduka lupa akan bunga segar dari Bhutan itu?"
Berkata demikian, Lam-thian Lo-mo melirik ke arah Tek Hoat dengan pandang mata penuh arti.
Kiranya kakek bermuka merah yang cerdik ini tidak saja ingin mencegah pangeran itu tidur bersama Mauw Siauw Mo-li yang belum dipercayanya, akan tetapi juga ingin membuktikan bahwa Tek Hoat memang tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Puteri Bhutan itu.
"Ha-ha-ha-ha, engkau benar sekali, Lam-thian Lo-mo. Mengapa aku sampai terlupa? Kelak dia menjadi isteriku, sekarang pun apa bedanya? Ha-ha-ha-ha, Mo-li, lain kali saja kita melanjutkan persahabatan kita, ya? Silakan kalian melanjutkan pesta ini, aku mau.... mau.... menikmati bunga segar dari Bhutan, ha-ha-ha!"
Pangeran yang mabok itu bangkit dari kursinya dan terhuyung-huyung meninggalkan ruangan itu menuju ke kamar di mana Syanti Dewi dikeram dan dijaga oleh Hek-wan Kui-bo di luar kamarnya.
Dapat dibayangkan betapa mendongkol rasa hati Tek Hoat.
Dia mengerti akan lirikan mata Lam-thian Lo-mo dan dia menahan kemarahan hatinya.
Dalam bingungnya dia tidak tahu harus berbuat apa.
Dibayangkannya betapa Syanti Dewi meronta-ronta di bawah dekapan Pangeran Liong Khi Ong yang memperkosanya, dan dia merasa jantungnya seperti berhenti berdetik.
"Ang-sicu, mari kita minum arak bahagia untuk memberi selamat kepada pangeran yang sedang berpengantin di dalam kamar bersama Puteri Bhutan!"
Lam-thian Lo-mo berkata sambil mengangkat cawan araknya.
Tek Hoat terpaksa minum araknya dengan hati panas karena dia maklum bahwa kakek itu sengaja hendak mengejeknya.
Namun Tek Hoat adalah seorang pemuda yang cerdik sekali.
Dia maklum bahwa betapapun tinggi kepandaiannya, dia tidak mungkin akan dapat menandingi begitu banyaknya orang pandai.
Sepasang kakek kembar itu mungkin dapat dia tandingi, biar dibantu oleh nenek Hek-wan Kui-bo sekalipun, akan tetapi kedatangan Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li merubah keadaan dan kalau mereka ini pun maju menentangnya, tentu dia akan celaka.
"Hi-hik, Ang-taihiap.... pangeran itu sungguh romantis.... hemmm, membuat orang menjadi tertarik dan timbul semangat! Ang-taihiap, bagaimana kalau kita berdua juga mengaso dan saling menuturkan riwayat hidup kita untuk mempererat persahabatan?"
"Ha-ha-ha, engkau sungguh mata keranjang, Sumoi!"
Hek-tiauw Lo-mo tertawa bergelak.
"Aih, Suheng! Hidup satu kali kalau tidak bersenang-senang mau apa lagi? Kalau sudah mati, kepingin pun tidak akan mampu bergerak lagi. Betul tidak, Ang-taihiap?"
Sambil berkata demikian, Mauw Siauw Mo-li menggeser bangkunya mendekat dan tangannya meraba-raba dari bawah meja ke paha Tek Hoat.
Selagi pemuda ini bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di luar ruangan itu dan dua orang pengawal masuk dan memberi hormat kepada Panglima Kim Bouw Sin, lalu berkata lantang.
"Lapor! Peristiwa hebat ter-jadi di Koan-bun!"
Kim Bouw Sin bangkit berdiri dan matanya terbelalak.
"Lekas katakan. Apa yang terjadi di Koan-bun?"
Dengan sikap gugup pengawal itu lalu menjawab.
"Koan-bun pada saat ini sedang diserbu oleh pasukan liar Raja Tambolon dan membutuhkan bantuan, Ciangkun."
Berita ini amat mengejutkan.
"Celaka....!"
Tek Hoat sudah meloncat dari kursinya.
"Pangeran harus segera diberi tahu!"
Bagaikan kilat cepatnya tubuhnya sudah meloncat ke dalam dan tak lama kemudian dia sudah menggedor pintu kamar Pangeran Liong Khi Ong.
"Ihh, engkau mau apa?"
Nenek Hek-wan Kui-bo menegur dan tongkatnya sudah siap untuk menyerang.
"Bodoh!"
Tek Hoat membentak.
"Ada laporan penting untuk Pangeran!"
Dia mengetuk pintu lagi dan pintu terbuka dari dalam.
Dengan muka merah karena setengah mabok dan juga marah Pangeran Liong Khi Ong memperlihatkan mukanya sambil memandang marah kepada pembantunya itu.
"Ang Tek Hoat, mengapa engkau menggangguku?"
Dari pintu yang terbuka sedikit itu Tek Hoat dapat melihat ke dalam dan ketika dia melihat Syanti Dewi duduk di atas kursi di kamar itu dengan mata terbelalak dan muka pucat, akan tetapi hanya kelihatan marah sedangkan pakaiannya masih lengkap, hatinya menjadi lega.
Dia cepat memberi hormat kepada Pangeran Liong Khi Ong lalu berkata.
"Berita buruk sekali, Pangeran. Baru saja datang laporan bahwa Tambolon yang curang itu telah mengerahkan pasukannya menyerbu Koan-bun."
Seketika rasa mabok oleh arak dan oleh kecantikan Puteri Bhutan terbang meninggalkan benak pangeran ini.
"Apa....?"
Dia sudah membuka lebar daun pintu dan berlari ke ruangan, diikuti oleh Tek Hoat sedangkan Hek-wan Kui-bo tetap menjaga di depan pintu kamar Syanti Dewi.
Memang bagi dua orang kakak beradik Pangeran Liong, urusan pemberontakan mereka merupakan hal terpenting bagi hidup mereka, oleh karena itu tidak mengherankan apabila Pa-ngeran Liong Khi Ong segera melupakan semua kesenangan pribadinya begitu mendengar berita diserbunya Koan-bun oleh Raja Tambolon.
Ketika dia tiba di ruangan itu, Panglima Kim Bouw Sin, Siang Lo-mo, Hek-tiauw Lo-mo, dan Mauw Siauw Mo-li sedang mendengarkan pelaporan lengkap dari pembawa berita itu.
Kemunculan pangeran ini mengharuskan Si Pengawal mengulang semua laporannya.
"Mereka datang sebagai sahabat,"
Pengawal itu menutup laporannya.
"Akan tetapi begitu pintu gerbang dibuka untuk membiarkan Raja Tambolon dan para pengikutnya masuk, tiba-tiba rombongan raja liar itu membunuhi penjaga pintu gerbang dan pasukannya yang bersembunyi dalam gelap langsung menyerbu ke dalam kota."
Pangeran Liong Ki Ong marah sekali mendengar ini.
"Raja biadab itu! Panglima Kim Bouw Sin, kita harus menghajar dan menumpas mereka!"
Panglima Kim Bouw Sin segera mengumpulkan para perwira pembantunya dan menyiapkan pasukan yang besar untuk membantu Koan-bun dan menumpas pasukan liar Tambolon itu.
Tek Hoat maklum bahwa karena dia yang mengusulkan untuk membiarkan Tambolon dan pasukannya menetap di Ang-kiok-teng, sudah sepatutnya kalau dia yang kini membantu dan ikut memimpin pasukan itu.
Andaikata tidak ada Syanti Dewi di situ, tentu sudah tadi dia mengajukan diri.
Kini dia berpendapat lain dan kecerdikannya membuat dia cepat berkata kepada Panglima Kim Bouw Sin, akan tetapi tentu saja kata-katanya ini ditujukan untuk menarik perhatian Pangeran Liong Khi Ong.
"Tambolon seperti anjing, diberi sejengkal ingin sehasta! Manusia macam dia harus dibasmi, dan kesempatan yang amat baik ini hendaknya dipergunakan untuk menguji kesanggupan dua orang pembantu baru kita yaitu Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li. Hal-hal aneh terjadi, maka kita harus tetap waspada dan terutama keselamatan pangeran harus dijaga baik."
Ucapan ini diterima baik oleh Panglima Kim dan juga Pangeran Liong.
Maka segera diputuskan bahwa pasukan besar yang akan membantu Koan-bun itu selain dipimpin oleh para perwira, juga dibantu pula oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li.
"Saya sendiri akan melakukan perondaan dan mengatur penjagaan ketat di Teng-bun, karena dalam keadaan segawat ini, kita harus tetap waspada dan memperkuat penjagaan,"
Tek Hoat berkata pula dan tanpa menanti persetujuan, dia sudah keluar pula dan lenyap di dalam kegelapan malam.
Pasukan besar yang diperbantukan kepada pertahanan kota Koan-bun itu segera berangkat pada malam hari itu juga.
Sementara itu, dengan didampingi oleh Ceng Ceng dan Topeng Setan, Raja Tambolon, dua orang pengawalnya, yaitu Liauw Kui Si Petani Maut dan Yu Ci Pok Si Siucai lihai, memimpin seribu orang pasukan yang liar itu malam-malam menyerbu Koan-bun.
Seperti telah diceritakan oleh para pelapor kepada Pangeran Liong Khi Ong, Tambolon menggunakan siasat, bersama empat orang pembantunya yaing lihai itu dia muncul di depan pintu gerbang selatan kota Koan-bun dan berteriak minta dibukai pintu karena dia hendak menemui komandan kota Koan-bun.
Setelah kepala penjaga mengenal Raja Tambolon ini, jembatan gantung diturunkan dan pintu gerbang dibuka, Raja Tambolon, dua orang pengawal, Ceng Ceng dan Topeng Setan, segera menyeberangi jembatan gantung dan secara tiba-tiba, lima orang yang berkepandaian tinggi ini menyerang pasu-kan penjaga yang terdiri dari dua puluh orang lebih.
Dalam waktu singkat saja mereka itu telah merobohkan semua penjaga dan pasukan liar itu segera menyerbu ke dalam kota.
Gegerlah kota Koan-bun dan perang terjadi dengan hebatnya dan kacau-balau karena penyerbuan yang tak terduga-duga itu membuat pasukan-pasukan pertahanan kota Koan-bun menjadi bingung.
Kalau saja tidak datang pasukan bantuan dari Teng-bun yang tiba di Koan-bun menjelang pagi, tentu kota Koan-bun sudah terjatuh ke tangan pasukan Tambolon.
Kedatangan pasukan besar dari Teng-bun ini membangkitkan kembali semangat sisa pasukan pertahanan Koan-bun dan perang dilanjutkan sampai keesokan harinya.
Sebagian pasukan liar telah menduduki separuh dari kota Koan-bun akan tetapi sebagian pula kini bertempur di luar pintu gerbang untuk menahan serbuan pasukan pemberontak yang datang dari Teng-bun.
Perang hebat terjadi di dalam kota Koan-bun dan juga di luar kota itu.
Akan tetapi kini pasukan liar di bawah pimpinan Tambolon terjepit antara dua pasukan yang berada di dalam dan yang datang dari luar.
Karena jumlah mereka jauh kalah banyak, maka mulailah mereka terhimpit dan korban-korban berjatuhan.
Tambolon sendiri seperti biasa dibantu oleh dua orang pengawalnya yang setia, ikut berperang dan mengamuk ganas.
Juga Ceng Ceng dan Topeng Setan bertempur bahu-membahu, merobohkan banyak tentara pemberontak.
Diam-diam kedua orang ini merasa girang sekali melihat betapa siasat mereka berhasil baik, bahkan bukan saja mereka dapat mengadu domba antara pasukan-pasukan liar Tambolon dan pasukan pemberontak, juga mereka memperoleh kesempatan ikut pula bertempur membasmi para pemberontak.
Akan tetapi kini pasukan liar Tambolon ini mulai terdesak hebat.
Yang mempertahankan diri di luar terhadap serbuan pasukan pemberontak yang datang dari Teng-bun kini didesak masuk kota oleh pasukan besar pemberontak itu.
Kini semua pasukan liar yang berperang seperti binatang-binatang buas itu telah digiring masuk ke dalam kota Koan-bun dan di dalam kota ini terjadilah peristiwa-peristiwa mengerikan.
Bukan hanya perang antara anak buah pasukan-pasukan yang berlawanan, melainkan pasukan itu terpecah-pecah dan terjadilah perang campuh kacau-balau yang menyeret pula penduduk kota Koan-bun.
Seluruh kota menjadi kacau dan di sana-sini terjadi pembakaran-pembakaran.
Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana.
Pasukan liar itu makin terjepit.
Mereka terdiri dari orang-orang liar dan buas yang kalau sedang berperang seperti berubah menjadi binatang-binatang buas sehingga mereka itu telah menjatuhkan banyak sekali lawan dalam perang campuh itu.
Setiap orang anggauta pasukan Tambolon ini baru roboh kalau sedikitnya telah menjatuhkan tiga orang lawan.
Akan tetapi setelah bala bantuan dari Teng-bun tiba, jumlah mereka jauh kalah banyak dan mulailah mereka terhimpit dan mulai pula timbul rasa panik di antara mereka.
Ceng Ceng dan Topeng Setan masih mengamuk dengan pedang mereka, merobohkan banyak sekali pasukan pemberontak.
Akan tetapi setelah pasukan dari Teng-bun berhasil mendesak masuk dan barisan pemberontak ini datang seperti air banjir, mereka berdua terdesak dan terdorong sampai saling berpisah.
Di antara kekacauan yang terjadi di Koan-bun itu, di antara ribuan orang penduduk yang menjadi panik dan ketakutan, terdapat seorang pemuda yang bersembunyi di atas wuwungan rumah dan menonton perang campuh itu dengan hati tertarik sekali.
Ketika dia mendengar bahwa pasukan liar yang dipimpin Tambolon menyerbu kota Koan-bun, dia terkejut dan merasa heran.
Akan tetapi setelah menyaksikan perang hebat antara pasukan liar ini melawan pasukan-pasukan pemberontak, hatinya menjadi girang.
Pemuda ini adalah Suma Kian Lee.
Dia tidak mengerti mengapa sekutu pemberontak, pasukan kuat dari suku bangsa liar yang dipimpin Tambolon itu menyerbu Koan-bun dan memerangi pasukan pemberontak, sekutu mereka sendiri.
Akan tetapi hal ini tentu saja menguntungkan pemerintah, maka Kian Lee menjadi girang ketika dia menyaksikan perang campuh kacau-balau yang terjadi di bawah itu.
Pemuda ini masih belum meninggalkan Koan-bun karena dia ingin mencari suhengnya, adiknya dan Syanti Dewi yang terpisah darinya.
Seperti diketahui, pemuda ini menderita luka karena racun senjata rahasia peledak yang dilepas Hek-wan Kui-bo, akan tetapi luka di pahanya itu telah diobati oleh Kim Hwee Li, puteri Hek-tiauw Lo-mo.
Kini lukanya telah sembuh benar, akan tetapi hatinya gelisah karena dia masih belum berhasil bertemu kembali dengan Gak Bun Beng, Suma Kian Bu, dan Syanti Dewi.
Ketika dari atas wuwungan loteng sebuah rumah besar dia melihat perang yang kacau-balau itu menjurus ke perbuatan kejam terhadap penduduk, baik yang dilakukan oleh kaum liar maupun oleh tentara pemberontak yang mempergunakan kekacauan itu untuk melampiaskan nafsu-nafsu pribadi mereka, menggarong, memperkosa, dan membunuh, Kian Lee lalu meloncat turun dan menyelidiki dari rumah ke rumah.
Sudah dua kali dia membunuh dua orang tentara liar yang sedang memaksa dan hendak memperkosa wanita, dan dia pun telah membunuh tiga orang tentara pemberontak yang menggarong dan mencoba untuk membunuh pemilik rumah yang digarongnya.
Perang dilanjutkan sampai keesokan harinya, akan tetapi kini semua pasukan liar di bawah pimpinan Tambolon itu telah digiring masuk dan perang campuh yang berat sebelah terjadi di dalam kota Koan-bun karena jumlah tentara Tambolon itu jauh kalah banyak.
Ceng Ceng yang terpisah dari Topeng Setan masih menggerakkan pedangnya, merobohkan setiap orang tentara pemberontak yang berani mendekatinya.
Dia sudah lelah sekali karena sejak penyerbuan malam tadi sampai pagi ini dia harus bertempur.
Kini dia hanya menjaga diri saja sambil beristirahat dan mencari-cari pembantunya yang tidak kelihatan lagi itu.
Perang dilanjutkan dan kini pihak pemberontak mulai melakukan pembersihan karena sisa tentara liar itu sudah cerai-berai dan mulai main kucing-kucingan bersembunyi di antara rumah-rumah penduduk Koan-bun.
Dengan cara demikian, mereka masih mampu melakukan perang gerilya yang tentu saja makin mengacaukan kota itu dan membikin geger para penduduk karena tempat tinggal mereka dipergunakan sebagai tempat persembunyian, kejar-kejaran dan saling bunuh.
Sehari itu pihak pasukan liar hanya mampu mempertahankan diri sambil bersembunyi di sana-sini dan akhirnya, ketika malam tiba, sisa mereka tinggal sedikit dan mereka kini hanya berani melawan kalau ketahuan tempat sembunyi mereka dan hanya karena terpaksa saja.
Ceng Ceng makin bingung karena tidak melihat Topeng Setan.
Dia mencari-cari ke seluruh kota namun tidak berhasil karena dia pun harus selalu menghindari pertemuan dengan pasukan-pasukan pemberontak yang mengadakan operasi pembersihan.
Dia tadi melihat bahwa pasukan pemberontak itu dipimpin oleh seorang kakek raksasa dan seorang wanita cantik yang amat lihai.
Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya ketika dia mengenal kakek itu yang bukan lain adalah Hek-tiauw Lo-mo, raksasa lihai sekali Ketua Pulau Neraka yang pernah dijumpainya, bahkan pernah menangkapnya di Lembah Bunga Hitam, ayah dari Kim Hwee Li yang pernah menolong dan membebaskannya.
Ceng Ceng gentar menghadapi raksasa itu, dan pula, selain dia amat lelah, juga dia telah merasa puas dengan siasatnya, menghancurkan pasukan Tambolon dan merugikan besar sekali kepada pasukan pemberontak.
Ceng Ceng menjadi bingung juga karena hari telah menjadi gelap dan hanya terjadi pertandingan-pertandingan kecil di sana-sini antara sisa tentara Tambolon yang ketahuan tempat persembunyian mereka mela-wan pasukan pemberontak yang mengadakan pembersihan.
Dia masih belum berhasil menemukan kembali Topeng Setan.
Dan tadi dia melihat sinar dari anak panah berapi meluncur tinggi di angkasa, berwarna kebiruan dan indah.
Dia tidak tahu apa artinya anak panah berapi itu yang meluncur dari tengah kota Koan-bun.
Selagi dia menyelinap di antara rumah-rumah di dalam cuaca yang mulai gelap itu, tiba-tiba terde-ngar bentakan-bentakan keras dan tahu-tahu dia telah dikepung oleh belasan orang tentara pemberontak yang dipimpin oleh seorang wanita cantik yang memegang sebatang pedang.
"Ini dia wanita pemimpin pasukan liar itu!"
Terdengar bentakan seorang perajurit.
Wanita cantik yang bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li itu, memandang Ceng Ceng yang tak dapat melarikan diri lagi itu penuh perhatian, lalu sambil tersenyum dia bertanya.
"Ah, benarkah Tambolon mempunyai pembantu secantik ini?"
"Tidak salah lagi, Kouw-nio (Nona). Kami tadi melihat dia mengamuk di samping Tambolon dan para pembantunya. Dia lihai sekali!"
Kembali terdengar suara meyakinkan dari seorang perajurit pemberontak. Mauw Siauw Mo-li melangkah maju.
"Eh, perempuan cantik, apakah engkau selir Tambolon? Hayo katakan di mana adanya Tambolon dan para pembantunya itu!"
Dapat dibayangkan betapa mendongkol dan marah hati Ceng Ceng mendengar kata-kata dan pertanyaan yang dianggapnya menghina itu.
"Perempuan pemberontak rendah!"
Dia memaki sambil menyerang ke depan dengan Ban-tok-kiam di tangannya.
"Sing.... wuuuuttt-tranggg....!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pedang Ban-tok-kiam di tangan Ceng Ceng bertemu dengan pedang di tangan Mauw Siauw Mo-li.
Ceng Ceng terhuyung ke belakang, akan tetapi siluman kucing itu pun terperanjat melihat betapa ujung pedangnya patah dan ada hawa beracun yang mengerikan keluar dari pedang di tangan lawannya itu.
Jelas bahwa dalam hal tenaga sin-kang, Ceng Ceng masih kalah oleh lawannya, akan tetapi keampuhan Ban-tok-kiam juga mengejutkan hati Mauw Siauw Mo-li.
Pada saat itu, dua orang perajurit menubruk dari kanan kiri menggunakan golok mereka menyerang.
Ceng Ceng memutar pedangnya dan terdengar suara nyaring disusul runtuhnya dua batang golok yang menjadi buntung berikut lengan kedua orang itu!
"Mundur kalian....!"
Mauw Siauw Mo-li berteriak nyaring dan ketika belasan orang pasukan itu mundur, dia sudah melemparkan bola-bola hitam berturut-turut sebanyak lima buah ke arah Ceng Ceng.
Gadis ini maklum bahwa lawan menggunakan senjata rahasia yang aneh dan belum dikenalnya, maka cepat dia menjatuhkan diri bergulingan dan untung saja dia melakukan pengelakan secara ini, karena ketika bola-bola itu terbanting ke atas tanah terdengar ledakan-ledakan dan tentu Ceng Ceng akan terluka kalau saja dia tidak bergulingan di atas tanah.
Ceng Ceng terkejut bukan main.
Cepat dia menggerakkan pedang menangkis sambil meloncat bangun ketika wanita itu menubruknya dan mengirim tusukan, tusukan maut yang nyaris mengenai perutnya.
Namun berkat keampuhan Ban-tok-kiam yang membuat lawan menjadi jerih dan tidak berani beradu pedang secara langsung, Ceng Ceng mampu meloncat tinggi dan terus mencelat ke atas genteng lalu melarikan diri!
Dia maklum akan kelihaian wanita itu dan kalau sam-pai datang lebih banyak pasukan pemberontak lagi lebih-lebih kalau sampai Hek-tiauw Lo-mo muncul, tentu dia akan celaka.
"Kejar dia....!"
Mauw Siauw Mo-li berteriak sambil meloncat naik ke atas genteng dengan gerakan yang luar biasa cepatnya.
Untung bahwa Ceng Ceng telah lebih dulu menghilang di atas genteng, kalau tidak agaknya akan sukar baginya untuk menyelamatkan diri karena dalam hal gin-kang, dia pun kalah jauh kalau dibandingkan dengan Siluman Kucing itu.
Mauw Siauw Mo-li terus mencari dengan penasaran, bahkan mendatangkan pasukan lebih banyak lagi.
Biarpun pasukan bantuan dari Teng-bun berhasil mengalahkan dan hampir membasmi habis pasukan liar Tambolon, namun pasukan pemberontak itu sendiri kehilangan banyak sekali anggauta tentara dan kalau dia atau suhengnya tidak mampu menangkap Tambolon dan para pembantunya, mati atau hidup, hati Mauw Siauw Mo-li belum puas.
Ceng Ceng berlari-larian, kadang-kadang di atas genteng, kemudian meloncat turun dan menyelinap di antara bayangan-bayangan rumah yang gelap.
Ketika dia berhenti sebentar di belakang sebuah rumah, tiba-tiba terdengar suara bisikan.
"Lu-bengcu.... mari sini....!"
Ceng Ceng terkejut, apalagi ketika mengenal Raja Tambolon dan dua orang pembantunya yang lihai itu.
Kiranya Tambolon, Liauw Kui Si Petani Maut dan Si Siucai Yu Ci Pok bersembunyi di dalam rumah kosong itu!
Biarpun hatinya tidak suka, namun Ceng Ceng yang sedang dikejar-kejar Mauw Siauw Mo-li dan pasukannya itu segera meloncat masuk melalui pintu kecil di belakang rumah yang dibuka oleh Tambolon.
Mereka berempat segera menutup pintu dan memasuki rumah kosong.
Ceng Ceng memandang ruangan yang diterangi lentera itu penuh harapan, akan tetapi hatinya ke-cewa ketika dia tidak melihat Topeng Setan di situ.
"Untung ada kalian di sini...."
Kata Ceng Ceng.
"Akan tetapi di mana adanya Topeng Setan?"
"Hemm.. justeru kami hendak bertanya kepadamu, Lu-bengcu. Di manakah Topeng Setan pembantumu itu?"
Mendengar suara dan melihat sikap Raja Tambolon, Ceng Ceng terkejut, apalagi ketika melihat bahwa tiga orang itu membuat gerakan mengurungnya, Tambolon di depannya sedangkan dua orang pembantu raja di kanan kirinya, sikap mereka seperti orang yang marah kepadanya.
"Eh, apa maksudmu, Raja Tambolon?"
Ceng Ceng bertanya dengan sikap biasa.
"Ha-ha, engkau masih pandai berpura-pura lagi! Sikap dan maksudku sudah jelas! Engkau telah menjebloskan kami ke dalam perangkap. Engkau telah menyebabkan pasukan kami terbasmi habis, dan sekarang pembantumu itu tidak tampak bayangannya dan engkau masih berpura-pura lagi, Nona."
Di dalam hatinya Ceng Ceng terkejut sekali. Akan tetapi dia cerdik dan dia berkata dengan nada suara dan penasaran.
"Raja Tambolon, begitu tidak tahu terima kasihkah engkau? Apakah engkau tidak melihat betapa aku tadi hampir celaka oleh pasukan yang dipimpin wanita lihai itu? Kalau usaha kita tidak berhasil karena keburu datang bala bantuan dari Teng-bun, apakah itu salahku? Mengapa engkau tidak menyalahkan pasukanmu sendiri yang tidak becus dan kurang mampu!"
Raja Tambolon yang sudah kehilangan segala-galanya itu masih bisa tertawa. Kemudian dia berkata.
"Nona Lu Ceng, kalau tadi kami tidak melihat betapa engkau dikejar-kejar, tentu sekarang engkau sudah mati di tanganku! Akan tetapi jangan mengira bahwa hal itu sudah cukup bagi kami. Tidak hadirnya Topeng Setan di sampingmu memperkuat dugaan kami bahwa kalian telah mempermainkan kami dan karena engkaulah maka kini pasukanku terbasmi habis. Mana bisa aku mendiamkannya saja hal ini? Tidak! Untuk meyakinkan hatiku bahwa engkau tidak mengkhianati aku, engkau tidak boleh lagi berpisah dari sampingku."
Berdebar jantung Ceng Ceng mendengar ucapan ini.
Sudah cukup jelas baginya apa yang terkandung di dalam hati raja liar ini.
Akan tetapi untuk mengulur waktu sambil memutar otaknya mencari akal dia berpura-pura tidak mengerti dan bertanya.
"Maksudmu?"
"Ha-ha-ha! Pasukanku boleh terbasmi habis, akan tetapi aku masih mempunyai dua orang sahabat dan pembantuku yang setia ini, ditambah lagi memiliki engkau yang cantik jelita, muda lagi pintar dan cerdik sebagai sahabat dan penghiburku, sebagai permaisuriku! Dengan adanya kita berempat, mudah bagi kita untuk menghimpun pasukan lagi dan membangun sebuah negara yang kuat, ha-ha-ha!"
Makin berdebar rasa jantung Ceng Ceng.
Tepat seperti telah diduganya.
Akan tetapi melihat Tambolon dan dua orang pembantunya itu menghadapi dengan sikap siap untuk menghalangi dia melarikan diri, dia masih berkata.
"Hemm, rencanamu memang bagus sekali, akan tetapi bagaimana dengan Topeng Setan?"
"Dia? Ha-ha-ha, kalau memang dia itu bukan pengkhianat dan saat ini tidak bergabung kepada musuh, dia pun bisa menjadi orang ke lima, bisa menjadi pembantuku. Akan tetapi kalau tidak muncul, persetan dengan dia. Kita berempat sekarang juga harus kabur keluar dari kota terkutuk ini!"
"Engkau memang manusia hina!"
Tiba-tiba Ceng Ceng membarengi makiannya itu dengan gerakan kedua tangannya yang menyebar jarum-jarum hitam beracun yang tadi diam-diam sudah disiapkannya di kedua tangannya.
"Ehhhh!"
"Heiitttt!"
"Hyaattt!"
Tambolon dan dua orang pembantunya itu memang bukan orang-orang sembarangan.
Mereka bertiga itu selain memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga sudah puluhan tahun menghadapi segala macam keadaan sehingga tentu saja mereka sudah waspada akan akal yang dipergunakan Ceng Ceng tadi yang mereka anggap tiada lebih sebagai akal kanak-kanak saja.
Maka begitu kedua tangan dara itu bergerak dan ada sinar hitam menyambar ke arah mereka, tiga orang ini sudah bergerak cepat, membuang diri ke bawah dan bergulingan sehingga serangan jarum-jarum beracun yang mendadak itu dapat mereka elakkan.
Akan tetapi kesempatan ini cukup bagi Ceng Ceng untuk secepat kilat meloncat keluar dari rumah itu melalui jendela, terus berloncatan ke atas genteng melarikan diri karena dia maklum bahwa meng-hadapi tiga orang pandai itu dia tidak akan mampu menang.
"Ha-ha, betina liar, kau hendak lari ke mana?"
Tambolon berseru dan bersama dua orang pembantunya, dia mengejar dengan cepat.
Mereka bertiga juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakan mereka cepat sekali sehingga setelah melewati empat wuwungan rumah, Ceng Ceng yang meloncat turun telah dikurung lagi di sebelah kebun kosong yang sunyi.
"Ha-ha-ha-ha, sungguh hebat! Makin liar dan hebat engkau melawan, akan makin manis dan mesra kalau engkau sudah terjatuh ke dalam pelukanku, ha-ha!"
Tambolon tertawa bergelak.
"Tambolon, manusia iblis! Kau hanya dapat menguasai aku kalau aku sudah dapat menjadi mayat!"
Ceng Ceng berteriak sambil mencabut pedangnya, yaitu Ban-tok-kiam yang mengeluarkan hawa mujijat dan menyeramkan.
Dengan nekat Ceng Ceng yang maklum bahwa melarikan diri pun percuma saja lalu menerjang maju dan menggerakkan pedangnya yang mengandung hawa beracun itu dengan sengit dan membabi buta.
Akan tetapi jangankan dikurung bertiga, baru melawan seorang di antara mereka saja Ceng Ceng tidak akan mampu menang.
Petani Maut Liauw Kui menggerakkan pikulannya dan senjatanya ini saja sudah cukup untuk menahan gulungan sinar pedang Ban-tok-kiam sehingga tidak dapat bergerak leluasa karena selalu terhalang oleh pikulan yang digerakkan secara lihai sekali.
Sedangkan dari kanan kiri, Yu Ci Pok yang menggunakan sepasang senjata poan-koan-pit mengan-cam dengan totokan-totokan cepat dan Tambolon yang tertawa itu menggunakan kedua lengannya yang panjang berbulu untuk menerkam tubuh Ceng Ceng!
Tentu saja Ceng Ceng menjadi sibuk sekali.
Semua kepandaiannya telah dikeluarkannya, bahkan dia telah menggunakan pukulan tangan kiri beracun, juga menggunakan ludah yang telah menjadi beracun karena pengerahan ilmunya, namun tiga orang lawan itu terlalu kuat baginya.
Hanya karena Tambolon menghendaki dia hidup-hidup sajalah maka dia masih belum roboh.
Kalau mereka itu ingin membunuhnya, tentu sudah sejak tadi dia tewas.
Justeru karena tahu bahwa dia akan ditangkap hidup-hidup dan dijadikan barang permainan oleh Tambolon, Ceng Ceng merasa ngeri.
Dia tidak takut mati, akan tetapi dia menggigil penuh kengerian kalau teringat betapa dia akan diperkosa dan dipermainkan oleh raja liar itu.
Teringat akan pengalamannya ketika diperkosa orang, Ceng Ceng ingin menjerit.
Dia tidak sudi dijadikan permainan oleh Tambolon, akan tetapi dia pun tidak ingin mati sebelum mampu membalas sakit hatinya kepada Kok Cu, pemuda murid Si Dewa Bongkok yang telah memperkosanya.
Tidak, dia tidak ingin mati sebelum dapat berhadapan dengan Kok Cu!
Akan tetapi dia pun tidak sudi menderita perkosaan lagi, perkosaan yang lebih mengerikan dan lebih menghina kalau dia sampai tertangkap oleh Tambolon!
"Cringgg....!"
Tiba-tiba pedang Ban-tok-kiam yang bertemu dengan pukulan Petani Maut tidak dapat dia tarik kembali, seolah-olah melekat pada pikulan itu.
Pada saat itu, ujung senjata pensil di tangan siucai itu menyentuh jalan darah di pergelangan tangan kanannya.
Ceng Ceng menjerit dan terpaksa melepaskan pedangnya karena lengannya itu seketika menjadi lumpuh.
"Ha-ha-ha, kuda betina liar! Apakah engkau masih belum mau jinak?"
Tambolon yang sudah menyambar pedang Ban-tok-kiam itu kini tertawa bergelak.
Ceng Ceng mengeluarkan suara melengking nyaring dan dengan penuh kenekatan dia menerjang dengan pukulan kedua tangannya ke arah dada Tambolon.
"Plakk....! Dukkk!"
Tubuh Ceng Ceng terjengkang dan dia roboh bergulingan ketika pukulannya ditangkis dan tubuhnya didorong oleh Tambolon sambil tertawa-tawa itu.
"Wah, kuda betina seperti ini harus ditudukkan dan dijinakkan sekarang juga, kalau tidak, dia akan bertingkah terus! Liauw Kui, Yu Ci Pok, pegang dia, biar dia merasakan dan mengenal siapa yang berkuasa! Ha-ha-ha!"
Tambolon tertawa-tawa dan dengan gerakan tenang mulai menanggalkan jubah luarnya.
Ceng Ceng membelalakkan matanya.
Dia akan diperkosa begitu saja, dengan kedua orang itu memegangnya dan Tambolon menggagahinya.
"Tidaaaakkk....! Jangan....!"
Jeritnya penuh kengerian ketika dua orang lihai itu mendekatinya.
Dia masih duduk di atas tanah karena kepalanya agak pening ketika dia terbanting tadi.
"Hemm, engkau perawan liar memang harus dipaksa!"
Si Petani berkata dan bersama Yu Ci Pok dia menubruk ke depan.
"Plak! Plakk!"
"Eihhhh....?"
"Heiiii....!"
Liauw Kui dan Yu Ci Pok terhuyung ke belakang dan memandang dengan mata terbelalak kepada Kian Lee yang sudah berdiri di situ dengan sikap tenang akan tetapi mukanya merah dan alisnya berkerut, matanya seperti bercahaya di tempat gelap itu ketika dia memandang kepada mereka.
"Raja Tambolon, kiranya selain raja orang-orang liar engkau sendiri juga seorang manusia biadab!"
Kian Lee berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka raja tinggi besar itu.
Sementara itu, Ceng Ceng yang masih terduduk tadi memandang kepada Kian Lee tanpa mengenalnya.
Dia menduga-duga siapa adanya pemuda tampan dan gagah perkasa yang muncul secara tiba-tiba dan yang sekali menangkis membuat dua orang pembantu Tambolon terhuyung mundur itu.
Tadi Kian Lee sedang menyaksikan kehancuran pasukan liar Tambolon yang didesak oleh pasukan-pasukan pemberontak yang datang dari Teng-bun ketika tiba-tiba dia melihat bayangan-bayangan orang berkelebatan cepat sekali di atas genteng.
Ketika melihat seorang wanita dikejar tiga orang, dia merasa heran apalagi melihat betapa gerakan mereka amat cepat.
Ketika mendengar percakapan mereka dan tahu bahwa tiga orang laki-laki itu adalah Tambolon dan dua orang pembantunya, Kian Lee makin menaruh perhatian.
Akan tetapi dia baru turun tangan membantu ketika melihat dengan hati kaget dan berdebar aneh bahwa gadis yang dikeroyok itu bukan lain adalah Lu Ceng, saudara angkat Syanti Dewi, penolong Jenderal Kao Liang, gadis yang telah beberapa kali dijumpainya dan yang tidak pernah meninggalkan lubuk hatinya itu!
Begitu dia mengenal Ceng Ceng, cepat dia bergerak dan menangkis dua orang yang hendak menangkap gadis itu.
Tambolon memandang dengan matanya yang lebar dan ganas, kemudian tertawa lagi karena dia memandang rendah kepada pemuda yang baru muncul itu.
"Liauw dan Yu, kalian bereskan bocah lancang itu, biar aku menjinakkan sendiri betina liar ini karena kita tidak mempunyai banyak waktu."
Sambil berkata demikian, dia sudah menubruk Ceng Ceng yang baru saja hendak bangkit berdiri.
"Keparat!"
Kian Lee membentak akan tetapi ketika dia bergerak maju, Yu Ci Pok sudah mengirim totokan bertubi-tubi dengan sepasang poan-koan-pit ke arah jalan-jalan darah berbahaya di depan tubuh Kian Lee, sedangkan Liauw Kui sudah mengayun pikulannya menghantam ke arah kepalanya.
Kian Lee terpaksa mengelak dan ketika dia melirik, ternyata Ceng Ceng sudah menyambut tubrukan itu dengan tendangan kakinya.
Ditendang seperti itu, Tambolon tertawa saja dan ketika tendangan mengenai perutnya, bukan dia yang roboh, bahkah Ceng Ceng sendiri yang terjengkang dan terbanting telentang di atas rumput.
Sambil tertawa, Tambolon menubruk tubuh gadis yang sudah telentang itu.
"Dessss....!"
"Auggghhh....!"
Tambolon berteriak keras sekali dan dia masih sempat menangkis dorongan tangan orang yang tiba-tiba muncul di samping, dan ketika kedua dengan itu bertemu, Tambolon terpelanting dan hampir roboh.
Dia cepat meloncat dan menghadapi laki-laki yang baru muncul itu.
Laki-laki itu setengah tua, berpakaian sederhana dan sikapnya tenang, akan tetapi pandang matanya membuat Tambolon bergidik karena pandang mata itu tajam seolah-olah menembus jantungnya.
"Huh, banyak manusia lancang yang sudah bosan hidup!"
Tambolon berteriak marah sekali.
"Suheng....!"
Kian Lee menjadi girang melihat bahwa yang muncul itu adalah Gak Bun Beng.
Bun Beng hanya tersenyum kepadanya, akan tetapi dia tidak sempat bicara karena Tambolon yang marah karena kehendaknya selalu dirintangi orang itu sudah menerjangnya dengan dahsyat.
Raja liar itu memang hebat.
Dia adalah keturunan seorang Panglima Mongol yang berilmu tinggi dan serangannya itu dibarengi dengan pekik dahsyat yang mengandung khi-kang kuat sekali sedangkan tangannya yang memukul ke arah Bun Beng juga mengandung pengerahan tenaga sin-kang yang amat besar.
Bun Beng sudah mendengar akan kehebatan Raja liar ini dan kini melihat gerakan pukulan itu yang didahului oleh suara angin pukulan bersiutan diam-diam dia menjadi kagum juga.
Seorang manusia biadab yang hidupnya liar dapat memiliki tingkat kepandaian seperti ini, sungguh mengagumkan dan jarang ada.
Maka dia pun cepat menggerakkan tangannya, didorong ke depan untuk menyambut hantaman lawan itu.
Melihat ini Tambolon menjadi girang.
Selama ini, dia terkenal dengan pukulan mautnya dan belum pernah ada orang berani menerima pukulannya yang memiliki kekuatan ribuan kati.
Batu karang pun pecah terkena pukulannya dan hawa pukulannya dapat membuat air di dalam sumur bergelombang!
Kini lawannya yang sederhana ini berani menyambut pukulannya, dasar mencari jalan kematian yang cepat, pikirnya.
"Desss....!"
Dua telapak tangan bertemu di udara didahului oleh bertemunya hawa pukulan yang amat hebat dan akibatnya membuat Tambolon terhuyung ke belakang sampai tiga langkah!
Hampir dia tidak dapat percaya akan kenyataan ini dan memandang dengan mata terbelalak.
Orang ini sama sekali tidak bergoyang!
Mana mungkin ini?
Dia menjadi penasaran sekali, dan bagaikan seekor kerbau mengamuk, dia menyerbu lagi, kini menggunakan kedua tangannya untuk memukul.
"Plak! Desss....!"
Makin hebat pukulan Tambolon, makin hebat pula dia terguncang ketika ditangkis, sehingga kini dia terhuyung ke belakang sampai lima langkah!
"Darrr....!
Darrr....!"
Dua buah benda meledak dan untung bahwa mereka semua yang berada di situ adalah orang-orang pandai sehingga dapat mengelak dan mengebut pecahan-pecahan yang menyambar ke arah mereka.
Muncullah pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li!
"Ah, badai besar!
Berlindung....!"
Te-riakan Tambolon ini merupakan isyarat kepada dua orang pembantunya bahwa bahaya yang tak terlawan datang dan mereka perlu melarikan diri.
Liauw Kui dan Yu Ci Pok yang juga menghadapi lawan berat karena pemuda tampan itu ternyata mampu menghadapi senjata mereka dengan gerakan cepat, maklum akan teriakan pemimpin mereka dan cepat mereka meloncat ke dalam gelap, mengikuti perginya Raja Tambolon.
"Hi-hik, ini dia Si Perempuan Jalang!"
Mauw Siauw Mo-li membentak ketika dia melihat Ceng Ceng.
"Ha-ha-ha, cantik.... cantik....!"
Hek-tiauw Lo-mo terkekeh.
Ceng Ceng yang baru saja terlepas dari bahaya tadi berdiri dengan muka pucat memandang kepada dua orang yang datang menolongnya.
Kini melihat munculnya Mauw Siauw Mo-li dengan pasukan pemberontak, juga munculnya Hek-tiauw Lo-mo yang sudah dia ketahui amat lihai, menjadi putus harapan.
"Hek-tiauw Lo-mo iblis busuk!"
Bentaknya sambil meloncat ke depan dan menghantam raksasa itu karena Hek-tiauw Lo-mo yang berada paling dekat dengannya.
"Ha-ha-ha, kiranya engkau ini?"
Hek-tiauw Lo-mo tertawa, dan karena dia maklum bahwa gadis ini memiliki ilmu tentang racun yang amat berbahaya, dia lalu mengerahkan tenaga beracun dan menangkis sambil terus menampar.
"Plakk! Bukk....!"
Tubuh Ceng Ceng terbanting karena selain pukulannya kena ditangkis, juga pundaknya terkena tamparan tangan beracun Ketua Pulau Neraka yang amat lihai itu.
"Hek-tiauw Lo-mo manusia keji!"
Kian Lee yang tadinya ingin mengejar Tambolon, melihat Ceng Ceng roboh terpukul, menjadi marah sekali dan dia sudah menerjang raksasa itu dengan pukulan tangannya.
"Duk-duk-desss!"
Tiga kali lengan pemuda itu beradu dengan Hek-tiauw Lomo dan melihat betapa kakek itu ternyata kuat sekali, Gak Bun Beng sudah meloncat maju menggantikan Kian Lee menerjang Hek-tiauw Lo-mo yang menjadi terkejut setengah mati ketika merasa betapa angin pukulan yang keluar dari kedua tangan Gak Bun Beng menimbulkan angin besar dan amat kuatnya.
"Sute, kau selamatkan dulu gadis itu dan tinggalkan tempat ini....!"
Bun Beng berseru. Kian Lee meloncat ke dekat Ceng Ceng yang masih rebah. Ketika dia mengangkat bangun gadis itu, Ceng Ceng mengeluh.
"Ah, engkau terluka, Nona. Mari kupondong keluar dari kepungan mereka...."
Akan tetapi Ceng Ceng menggeleng kepalanya.
"Tidak usah.... aku akan melawan mereka.... sampai napas terakhir...."
"Tidak, Nona. Suhengku mampu menahan mereka, marilah...."
Akan tetapi kembali Ceng Ceng menolak dan tiba-tiba terdengar suara ketawa mengejek.
"Hi-hik, percuma kau membujuk, orang muda yang tampan. Dia sudah keracunan dan akan mampus. Eng-kau sungguh hebat, muda, ganteng, dan lihai. Menyerahlah saja, dan engkau akan menikmati kesenangan bersama aku, hi-hik!"
Dari dada wanita itu lalu terdengar suara mirip suara kucing.
Kian Lee terkejut, cepat dia meloncat berdiri melindungi di depan Ceng Ceng yang masih duduk di atas tanah sambil memegangi pundaknya yang tadi terpukul oleh Hek-tiauw Lo-mo.
"Hemm, kiranya engkau yang disebut Siluman Kucing itu?"
Dia teringat akan penuturan Kim Hwee Li puteri Ketua Pulau Neraka tentang bibi gurunya yang lihai ini, yang katanya malah lebih lihai daripara Hek-wan Kui-bo yang telah melukai pahanya dengan obat peledak.
Mengertilah dia kini bahwa yang melepaskan senjata peledak sehingga menakutkan Tambolon tadi adalah wanita ini.
Mauw Siauw Mo-li tersenyum dan nampak deretan giginya yang putih rapi dan menarik sekali.
"He-hemm.... kiranya engkau sudah mengenal aku, pemuda ganteng? Kebetulan sekali kalau begitu...."
"Sumoi, apa perlunya mengobrol? Cepat tangkap atau bunuh mereka dan lekas kau membantuku!"
Tlba-tiba Hek-tiauw Lo-mo berteriak.
Kiranya Ketua Pulau Neraka ini mulal terdesak oleh Gak Bun Beng!
Makin lama Hek-tiauw Lo-mo menjadi makin kaget dan heran melihat betapa lawannya ini benar-benar amat hebat kepandaiannya sehingga semua ilmu pukulannya yang beracun mampu ditangkisnya tanpa melukainya, bahkan dia yang selalu tergetar dan terdorong oleh hawa pukulan yang kadang-kadang panas dan kadang-kadang dingin amat luar biasa.
Mauw Siauw Mo-li lalu memberi aba-aba dan para perajurit pemberontak serentak maju mengepung dan mengeroyok.
Ceng Ceng yang masih menyeringai kesakitan, sudah melompat berdiri dan me-ngamuk dengan kaki tangannya, karena pedangnya Ban-tok-kiam telah dirampas oleh Tambolon.
Biarpun bertangan kosong, gadis ini masih hebat sekali karena dia menggunakan pukulan-pukulan beracun, sehingga setiap orang perajurit pemberontak yang terkena pukulannya tentu terjungkal dan tak dapat bangkit kembali.
Akan tetapi setiap kali merobohkan lawan dengan pengerahan tenaga, dara ini mengeluh lirih dan makin lama gerakannya menjadi makin lemah.
Kian Lee yang mengamuk sambil melindungi Ceng Ceng sedapat mungkin, Karena sebagian besar perhatiannya dicurahkan untuk melindungi gadis itu dan dia telah berkali-kali menghalau bahaya yang mengancam Ceng Ceng dengan merobohkan penyerang gelap dari belakang gadis itu, Maka dia masih belum mampu mengalahkan Mauw Siauw Mo-li yang memang amat lihai Itu.
Gerakan Siluman Kucing itu cepat sekali, gin-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi sehingga karena dia tidak berani menjauhi Ceng Ceng, maka sukar baginya untuk dapat merobohkan wanita itu.
Sedangkan Gak Bun Beng yang mulai mendesak hebat kepada Hek-tiauw Lo-mo, juga terpaksa harus membagi tenaganya untuk menghadapi pengeroyokan perajurit-perajurit pemberontak yang makin banyak itu.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan-ledakan agak jauh, disusul sorak-sorai dan pekik banyak sekali manusia yang agaknya datang dari luar tembok kota.
Tak lama kemudian, terdengar teriakan-teriakan di antara perajurit pemberontak yang berlari-larian di dekat tempat itu.
"Celaka, barisan pemerintah menyerbu benteng!"
"Kita telah dikurung!"
"Kita terjebak....!"
"Mereka telah membobolkan pintu gerbang di tiga tempat!"
Teriakan-teriakan itu terdengar de-ngan jelas dan membikin panik para pengeroyok, termasuk Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li.
"Sumoi, apa artinya itu?"
Beberapa kali ketua Pulau Neraka itu berteriak sambil terus mundur dari desakan Bun Beng, mengandalkan pengeroyokan puluhan orang perajurit itu.
"Entah, Suheng....!"
Mauw Siauw Mo-li menjawab bingung dan dia pun tidak begitu mendesak lagi kepada Kian Lee sehingga pemuda ini dengan leluasa dapat membantu dan melindungi Ceng Ceng dari pengeroyokan puluhan orang perajurit pemberontak yang sudah menjadi gelisah itu.
Suara gemuruh itu makin lama makin dekat dan tak lama kemudian makin banyak perajurit pemberontak yang lari cerai-berai, agaknya ketakutan.
"Hai....! Tikus-tikus bernyali kecil, pengecut-pengecut tak tahu malu!"
Hek-tiauw Lo-mo berteriak marah.
"Kenapa kalian berlari-larian? Apa yang terjadi?"
Suaranya nyaring sekali mengatasi suara hiruk-pikuk dan dia telah meninggalkan Gak Bun Beng yang masih dikeroyok oleh puluhan orang perajurit pemberontak.
"Barisan pemerintah menyerbu ke dalam kota Koan-bun seperti banjir! Kita telah terjebak dan dikurung!"
Seorang perwira pemberon-tak menjawab dengan muka pucat.
Hek-tiauw Lo-mo terkejut sekali.
Dia dan sumoinya mencampuri urusan pemberontakan karena kebetulan saja melihat gerakan para pemberontak dan ingin "membonceng"
Agar dapat memperoleh kedudukan dan kemuliaan, maka mereka telah menawarkan diri membantu.
Siapa tahu, belum apa-apa sudah nampak gejala kegagalan pemberontakan ini, bahkan kini mereka terhimpit di dalam kota Koan-bun.
"Sumoi, tidak lekas pergi mau tunggu apa lagi?"
Teriaknya, karena Ketua Pulau Neraka ini pun jerih menghadapi Gak Bun Beng yang memiliki kepandaian amat tinggi itu.
Akan tetapi tiba-tiba datang pasukan pemerintah di tempat itu dan seorang pemuda tinggi besar meloncat dengan gerakan kilat dan tahu-tahu telah berada di depan Hek-tiauw Lo-mo sambil membentak.
"Hek-tiauw Lo-mo pencuri rendah! Kiranya engkau berada di sini pula menjadi kaki tangan pemberontak. Hayo cepat kembalikan sebagian kitab yang kau curi dari Istana Gurun Pasir!"
"Orang muda lancang mulut! Siapa kau....?"
"Aku adalah murid majikan Istana Gurun Pasir yang diutus Suhu untuk merampas kembali kitab pusaka dan memberi hajaran kepada pencurinya."
"Bocah sombong!"
Biarpun telah berkali-kali bertemu lawan tangguh, Hek-tiauw Lo-mo masih memandang rendah orang lain dan menghadapi pemuda tinggi besar itu dia pun memandang rendah, lalu menyerang dengan tiba-tiba.
"Desss....!"
Pukulan majikan Pulau Neraka itu ditangkis oleh pemuda itu dan kagetlah Hek-tiauw Lo-mo ketika tangkisan itu membuat dia terdesak ke belakang.
Baru dia percaya bahwa murid Si Dewa Bongkok ini lihai sekali.
Akan tetapi tentu saja untuk mengembalikan kitab yang hanya sebagian berada di tangannya itu dia merasa sayang.
Dia masih belum berhasil merampas sebagian dari kitab yang berada di tangan Ketua Lembah Bunga Hitam, yaitu Hek-hwa Lo-kwi Thio Sek sehingga dia belum dapat mempelajari isi kitab dengan sempurna.
"Kok Cu....! Jahanam engkau....!"
Tiba-tiba terdengar jerit melengking dan Ceng Ceng sudah lari menghampiri pemuda tinggi besar itu dan menyerang dengan pukulan ganas, mengerahkan seluruh tenaga saktinya.
Kao Kok Cu, pemuda itu, terbelalak memandang Ceng Ceng yang menyerangnya, seperti orang terpesona, sama sekali tidak mengelak maupun menangkis.
(Lanjut ke
Jilid 36) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 36
"Bukkkk! Bukkk!"
"Nona Lu Ceng....!"
Kian Lee yang menjadi terkejut sekali sudah meninggalkan para pengeroyoknya dan berteriak memanggil sambil meloncat ketika dia melihat Lu Ceng seperti orang gila menyerang dan memukul Kok Cu.
Pada saat itu, Hek-tiauw Lo-mo sudah meloncat jauh dan melarikan diri bersama Mauw Siauw Mo-li, dan Kok Cu hanya berdiri bengong setelah dipukul dadanya dua kali oleh Ceng Ceng.
Dara itu setelah memukul dua kali dengan pengerahan tenaga sekuatnya, mengeluh dan terguling roboh.
Untung Kian Lee cepat menyambarnya sehingga dia tidak terbanting roboh dan pingsan di dalam pelukan Kian Lee.
Gak Bun Beng juga sudah meloncat dekat.
Melihat wajah Ceng Ceng yang agak kehijauan itu, pendekar ini terkejut bukan main karena dia maklum bahwa dara itu telah menderita luka hebat akibat racun!
Dia memandang Kok Cu dengan alis berkerut dan melihat pemuda tinggi besar itu pemimpin pasukan pemerintah dan agaknya kenal dengan Kian Lee, dia bertanya.
"Lee-sute, siapa dia ini?"
"Suheng dia adalah saudara Kao Kok Cu, putera Jenderal Kao."
Bu Beng mengangguk.
"Ahh....!"
Kemudian dia berkata.
"Sute, cepat kau bawa pergi nona ini. Dia terluka dan keracunan hebat."
Kok Cu yang masih berdiri bengong memandang Ceng Ceng yang pingsan di dalam pelukan Kian Lee berkata.
"Saudara Kian Lee, kau bawalah nona ini, ikutlah perwira ini agar mendapat perawatan sebaiknya."
Dia memerintahkan seorang perwira yang segera mengajak Kian Lee yang memondong tubuh Ceng Ceng itu pergi meninggalkan tempat itu.
Kok Cu kini berhadapan dengan Gak Bun Beng, keduanya saling pandang penuh selidik karena masing-masing dapat menduga akan kelihaian mereka.
Kok Cu yang mendengar Kian Lee menyebut suheng kepada laki-laki setengah tua ini, diam-diam terkejut.
Dia sudah tahu sekarang bahwa Kian Lee dan Kian Bu adalah putera-putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, tentu saja ilmu kepandaian mereka hebat sekali.
Dan laki-laki setengah tua yang sederhana dan tenang ini adalah suheng mereka!
Sebenarnya dia ingin sekali berkenalan dengan orang yang berilmu tinggi ini, akan tetapi hatinya sudah dibuat gelisah bukan main oleh pertemuan dengan Ceng Ceng, gadis penolong ayahnya akan tetapi juga gadis yang mendendam sakit hati setinggi langit sedalam lautan kepadanya!
Gadis yang diperkosanya sewaktu dia berada dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh racun jahat.
Dan yang menjadi biang keladi peristiwa memalukan ini adalah Ketua Lembah Bunga Hitam dan Ketua Pulau Neraka, dua orang yang mencuri kitab suhunya.
Merekalah yang membuat dia keracunan hebat itu sehing-ga dia melakukan perbuatan keji terhadap Lu Ceng!
"Kiranya engkau adalah putera Kao-goanswe?
Sungguh menggembirakan sekali, bagaimana pasukan pemerintah bisa datang begini tepat?
Di mana ayahmu?"
Gak Bun Beng bertanya.
"Semua ini adalah jasa Nona Lu Ceng itu yang telah mengatur siasatnya...."
Kok Cu berkata akan tetapi matanya memandang ke arah larinya Hek-tiauw Lo-mo.
"Ah...., maksudmu....?"
Gak Bun Beng tercengang.
"Dia membujuk Tambolon menyerang Koan-bun dan selagi pemberontak dan pasukan Tambolon bertempur sendiri, barisan pemerintah bergerak, sebagian menyerbu Koan-bun, sebagian dipimpin Puteri Milana memotong jalan dan sebagian dipimpin Ayah menyerbu Teng-bun malam ini juga."
"Ahhh.... sungguh hebat!"
Bun Beng memuji.
"Maaf, saya harus mengejar Hek-tiauw Lo-mo!"
Kok Cu berkata dan cepat dia meninggalkan Bun Beng dan sekali berkelebat tubuhnya sudah lenyap dari situ, membuat Bun Beng mengikutiya dengan pandang mata kagum sekali.
Pendekar ini terheran-heran dan masih tercengang dengan jalannya peristiwa yang begitu cepat dan tidak tersangka-sangka.
Dia tadi pun seperti juga Kian Lee, menonton dengan penuh keheranan betapa pasukan yang dipimpin oleh Tambolon menyerbu Koan-bun dan seperti juga sutenya itu, dia menolong banyak penduduk yang diganggu oleh tentara kedua pihak.
Terheran-heran hati pendekar ini melihat munculnya begitu banyak orang pandai.
Mula-mula Tambolon dengan dua orang pembantunya yang lihai, kemudian Hek-tiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li yang tidak kalah lihainya.
Yang terakhir muncul pemuda putera Jenderal Kao itu!
Pemuda itu pun amat lihai, akan tetapi anehnya, mengapa Nona Lu Ceng itu begitu melihatnya lalu menyerangnya dengan penuh kebencian?
Akan tetapi pendekar ini tidak mau memusingkan hal itu dan dia lalu membantu pasukan pemerintah yang telah melakukan perang mati-matian melawan pasukan pemberontak dan pertempuran terjadi di seluruh kota sampai keesokan harinya.
Kota Koan-bun mengalami perang yang luar biasa hebatnya, dimulai dari penyerbuan pasukan liar yang dipimpin oleh Tambolon lalu dilanjutkan oleh pasukan pemerintah yang menumpas pasukan pemberontak yang datang dari Teng-bun sebagai bala bantuan.
Kalau tadinya pasukan Tambolon membasmi pasukan yang bertahan di Koan-bun, kemudian tiba giliran pasukan liar itu yang dibasmi oleh pasukan besar pemberontak dari Teng-bun, kini pasukan pemerintah turun tangan melakukan pukulan terakhir kepada barisan pemberontak.
Yang patut dikasihani adalah penduduk kota Koan-bun.
Sukar bagi mereka untuk mengatakan mana kawan mana lawan karena semua anak buah pasukan selalu mengganggu mereka.
Kota mereka menjadi neraka yang penuh dengan mayat dan orang-orang luka, darah membanjir setiap tempat dan banyak rumah yang habis terbakar.
Pertempuran-pertempuran mengerikan itu berlangsung sampai dua hari lamanya, tentu saja menjatuhkan korban manusia di kedua pihak yang banyak sekali.
Akan tetapi akhirnya Koan-bun jatuh ke tangan barisan pemerintah yang dipimpin oleh Panglima Thio Luk Cong dan Kao Kok Cu yang sudah tidak kelihatan lagi bayangannya sejak dia melakukan pengejaran terhadap Hek-tiauw Lo-mo untuk merampas kembali kitab suhunya yang dicuri oleh Ketua Pulau Neraka itu.
Mulai malam itu, dimulai dengan penyerbuan pasukan Tambolon ke dalam kota Koan-bun, terjadilah perang yang seru dan dahsyat, yang mengerikan karena semenjak malam itu sampai beberapa hari lamanya terjadilah pembunuhan dan pembantaian antara manusia, bahkan antara bangsa sendiri sehingga puluhan ribu manusia tewas di ujung senjata tajam!
Tidak hanya di Koan-bun terjadi perang yang hebat dan kacau-balau, akan tetapi juga di tengah jalan antara Koan-bun dan Teng-bun, di mana barisan yang dipimpin oleh Puteri Milana melakukan pencegatan dan barisan pemberontak yang menyerbu ke Koan-bun untuk menumpas pasukan Tambolon itu tidak dapat kembali ke Teng-bun karena dihadang dan disergap oleh barisan Milana ini, Bahkan Sang Puteri yang melihat betapa pihak musuh amat lemah lalu memecah barisannya, sebagian lalu menuju ke Teng-bun untuk membantu barisan penyerbu Teng-bun yang merupakan barisan inti dipimpin sendiri oleh Jenderal Kao Liang dibantu oleh Suma Kian Bu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pangeran Liong Khi Ong tertun-da niatnya yang keji untuk memaksa Syanti Dewi menjadi miliknya dengan jalan memperkosanya ketika tiba-tiba ada laporan bahwa Koan-bun diserang oleh pasukan Tambolon.
Gangguan ini sekaligus mengusir nafsu berahinya dan malam itu dia tidak berani tidur, selalu berdekatan dengan Panglima Kim Bouw Sin agar dapat mengetahui keadaan.
Mereka semua mengharapkan bahwa pasukan besar yang dikirim dari Teng-bun ke Koan-bun dan yang dibantu oleh Hektiauw Lo-mo dan Mauw Siauw Mo-li itu akan berhasil menumpas pasukan liar Tambolon.
Akan tetapi tentu saja mereka menjadi gempar ketika datang laporan bahwa pasukan yang meng-gempur Tambolon di Koan-bun itu telah terhimpit oleh barisan pemerintah yang secara tiba-tiba saja muncul.
Bahkan kini barisan pemerintah yang amat kuat sedang menuju ke Teng-bun!
Panglima Kim Bouw Sin segera mengumpulkan para pembantunya dan menyusun kekuatan untuk mempertahan-kan benteng Teng-bun.
Menjelang pagi muncullah musuh yang ditunggu-tunggu itu, disertai suara gemuruh yang menggetarkan hati semua perajurit pemberontak yang sudah berjaga-jaga di benteng dan di luar benteng.
Panglima Kim Bouw Sin sendiri dengan beberapa orang panglima pembantunya berdiri di atas benteng untuk meninjau keadaan.
Barisan pemerintah itu belum melakukan gerakan, dan memang Jenderal Kao Liang menanti sampai matahari terbit!
Dia ingin melakukan gertakan lebih dulu dengan harapan untuk menggetarkan dan mengecilkan hati para perajurit pemberontak yang dahulu adalah bekas anak buahnya.
Setelah matahari timbul di ufuk timur, Jenderal Kao Liang yang menunggang kuda ditemani oleh Suma Kian Bu, mendekati menara di sudut tembok benteng itu, di mana terdapat panglima pemberontak Kim Bouw Sin dan para perwira pembantunya, sedangkan Pangeran Liong Khi Ong yang berada pula di situ menyembunyikan diri, tidak ingin dikenal orang sebelum usaha pemberontakan berhasil seluruhnya.
"Kim Bouw Sin pemberontak rendah!"
Jenderal Kao berseru sambil mengerahkan tenaganya sehing-ga suaranya terdengar oleh mereka yang berada di menara dan juga oleh sebagian besar perajurit pemberontak yang sudah berjaga di atas tembok benteng.
"Apakah engkau masih belum insyaf betapa pemberontakanmu telah mendekati akhir dan kehancuran? Koan-bun sudah terjatuh kembali ke tangan kami! Pasukanmu yang ke sana malam tadi telah terbasmi, demikian pula sekutumu Tambolon sudah dihancurkan! Lebih baik engkau menakluk dan mengakui dosamu daripada mengorban-kan nyawa ribuan perajurit yang hanya terkena hasutanmu!"
"Keparat dia! Hujani anak panah!"
Pangeran Liong Khi Ong membentak marah sekali karena dia maklum betapa berbahayanya suara jenderal itu terdengar oleh para perajurit, karena jenderal itu merupakan seorang tokoh besar dalam ketentaraan yang amat disegani.
Dia sudah melihat betapa wajah para pengawal dan perajurit yang berada di menara itu berubah pucat mendengar suara ini.
"Lepaskan anak panah!"
Tiba-tiba Kim Bouw Sin memberi aba-aba, karena dia sendiri pun marah dan merasa tidak mampu untuk menjawab ucapan Jenderal Kao di bawah itu.
Para perajurit pasukan panah segera melakukan perintah ini dan anak panah meluncur ke bawah seperti hujan banyaknya.
Melihat ini, Kian Bu cepat memutar pedang yang diterimanya dari Jenderal Kao dan tampaklah segulungan sinar berkilauan yang membuat anak panah yang menyambarnya runtuh semua.
Juga Jenderal Kao telah memutar pedangnya, kemudian berkata kepada Kian Bu.
"Taihiap, kau lindungilah aku. Aku harus membalas kecurangan mereka itu!"
Kian Bu lalu meloncat turun dari atas kudanya dan bergerak-gerak memutar pedangnya yang kini berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyelimuti mereka berdua.
Jenderal Kao lalu menurunkan busur dan memasang anak panah, membidik ke atas dan tak lama kemudian terdengarlah suara berdesing ketika sebatang anak panah meluncur dengan kecepatan seperti kilat ke arah panglima pemberontak Kim Bouw Sin yang melihat penyerangan anak buahnya dengan penuh harapan.
"Ciangkun, awas....!"
Lam-thian Lo-mo yang selalu mendampingi panglima pemberontak ini bersama Pak-thian Lo-mo, berseru dan cepat dia menarik tangan panglima itu sehingga tubuhnya tertarik ke samping.
Terdengar teriakan nyaring dan seorang perwira yang berdiri di belakang panglima pemberontak ini roboh, lehernya tertembus anak panah dan dia tewas seketika.
Jenderal Kao dan Kian Bu telah meninggalkan tempat berbahaya itu dan mulailah perang yang amat dahsyat terjadi di sekeliling tembok benteng kota Teng-bun.
Mula-mula hujan anak panah dari kedua pihak, kemudian setelah Panglima Kim Bouw Sin melihat bahwa kekuatan barisan yang dipimpin oleh Jenderal Kao Liang itu tidak besar, kurang dari separoh jumlah pasukannya yang berjaga di Teng-bun, dia lalu memerintahkan pasukan untuk menyerbu ke luar, dibantu oleh barisan anak panah dan batu yang menghalau setiap usaha musuh yang hendak naik ke tembok benteng.
Maka terjadilah perang tanding di luar pintu gerbang benteng sebelah selatan.
Memang perhitungan Kim Bouw Sin tepat.
Jumlah pasukannya jauh lebih besar dan dia hendak menggunakan kemenangan jumlah pasukan ini untuk menggempur dan menghancurkan pasukan Jenderal Kao.
Akan tetapi Jenderal Kao Liang adalah seorang pemimpin yang banyak siasatnya.
Segera dia memberi komando melalui bunyi terompet dan pasukan-pasukannya berpencar, sebagian lari ke pintu gerbang di timur dan sebagian lagi menyerbu melalui sungai di barat kota Teng-bun.
Melihat ini, dengan sendirinya Kim Bouw Sin harus pula membagi bagi pasukannya dan karena gerakan Jenderal Kao yang merubah-rubah jumlah pasukannya amat cepat, kadang-kadang di selatan hanya ada sedikit pasukan dan agaknya mengerahkan kekuatan untuk menggempur pintu gerbang timur, akan tetapi ketika pihak pemberontak mengerahkan tenaga menjaga di timur, Kiranya yang di selatan itulah yang lebih kuat sehingga penjagaan-penjagaan dan pertahanan-pertahanan di benteng itu menjadi kacau dan panik.
Akan tetapi, karena Kim Bouw Sin adalah paglima yang tadinya menjadi pembantu Jenderal Kao, dia pun amat ahli mengatur penjagaan sehingga dengan jumlah pasukan yang jauh kalah banyak itu, agaknya tidaklah mudah bagi Jenderal Kao untuk menduduki kota benteng Teng-bun yang amat kuat itu.
Dua hari dua malam perang telah berlangsung dan hanya diseling waktu untuk menyusun kekuatan di pihak masing-masing.
Pada hari ke tiga, datanglah barisan bantuan dari selatan yang dipimpin oleh Puteri Milana, yang memimpin sisa pasukannya setelah berhasil membantu pasukan yang dipimpin oleh Panglima Thio Luk Cong yang telah merebut kembali kota Koan-bun.
Tentu saja bantuan ini amat menggirangkan hati Jenderal Kao Liang dan disusunlah kekuatan baru dan dengan dahsyat barisan tergabung ini melakukan hantaman-hantaman yang menggetarkan dan mengguncangkan tembok benteng kota Teng-bun berikut semangat perlawanan para perajurit pemberontak yang memang sudah gentar ketika mendengar bahwa Jenderal Kao Liang yang mereka takuti itu kini dibantu oleh Puteri Milana yang telah mereka kenal pula itu.
Biarpun pihak pemberontak masih mampu mempertahankan dirinya selama tiga hari tiga malam, namun kedudukan mereka telah goyah, pasukan telah gelisah dan para penjaga yang mempertahankan pintu-pintu gerbang telah kelelahan dan turun semangat.
Semua ini tentu saja diketahui baik oleh Pangeran Liong Khi Ong yang menjadi makin gelisah.
Selama sepekan ini dia tidak bisa tidur dan selalu gelisah.
Dia dan kakaknya memang merupakan orang-orang yang berambisi besar, akan tetapi sekali-kali bukan orang peperangan, maka menyaksikan perang di depan hidungnya dia menjadi gelisah bukan main, dan dikuasai ketakutan yang mencekam hatinya setiap saat.
Demikian takutnya dia sehingga dia melarang Tek Hoat meninggalkan dirinya.
Tentu saja Tek Hoat juga tidak berani membantu dan bahkan pemuda ini merasa girang karena dia dapat menjaga agar pangeran ini tidak melakukan hal yang amat dikhawatirkannya terhadap diri Syanti Dewi.
Ketika Pangeran Liong Khi Ong mendengar bahwa pihak musuh yang masih juga belum berhasil membobol benteng Teng-bun itu kabarnya dibantu oleh pasukan baru di bawah pimpinan Puteri Milana, dia menjadi pucat ketakutan.
Memang sejak dahulu dia merasa jerih terhadap Puteri Milana yang dalam persaingan di istana selalu memihak lawannya, yaitu Perdana Menteri Su.
Kim Bouw Sin menenangkan hati pangeran ini dengan mengatakan bahwa pasukan mereka tidak akan kalah, dan andaikata keadaan mendesak dan berbahaya, pangeran itu masih dapat menyelamatkan diri dengan sebuah kereta melalui pintu rahasia yang keluar ke dalam hutan di sebelah barat benteng.
Akan tetapi akhirnya Panglima Kim Bouw Sin harus mengakui akan kekuatan musuh setelah pasukan yang dipimpin Puteri Milana datang membantu Jenderal Kao Lian.
Dan atas permintaannya, terpaksa Pangeran Liong membolehkan Tek Hoat membantu Panglima Kim Bouw Sin.
Mulailah Tek Hoat terjun ke medan pertempuran bersama Siang Lo-mo.
Mereka bertiga ini memang berhasil membangkitkan semangat para perajurit pemberontak, dan kini pertempuran secara berhadapan mulai terjadi di dua pintu gerbang.
Pihak tentara pemerintah makin mendesak dan akhirnya, pada hari ke empat, bobollah pintu selatan diserbu oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Puteri Milana dibantu oleh Suma Kian Bu.
Amukan dua orang keturunan Pendekar Super Sakti itu sedemikian hebatnya sehingga menggiriskan hati para perajurit pemberontak yang terus mundur memasuki kota.
Siang Lo-mo yang mengamuk di pintu barat dan timur, merobohkan banyak perajurit musuh, mendengar akan bobolnya pintu gerbang selatan.
Selagi mereka hendak lari membantu para penjaga di pintu gerbang selatan itu, tiba-tiba ada perwira-perwira yang memanggil mereka dan ternyata bahwa mereka dipanggil oleh Pangeran Liong Khi Ong untuk me-ngawal pangeran itu keluar dari Teng-bun.
Panglima Kim Bouw Sin mengerahkan pasukan istimewa, dengan panah api berhasil menghalau pasukan musuh yang telah menyerbu masuk melalui pintu gerbang selatan.
Melihat pasukannya banyak yang roboh dan panik oleh hujan anak panah berapi, terpaksa Milana dan Kian Bu menarik kembali pasukan itu keluar dari pintu gerbang dan kembali pintu gerbang dikuasai oleh pihak pemberontak yang menutupnya dengan pintu besi yang tadi sudah ambruk, menjaganya kuat-kuat dan memasang barisan panah di tempat itu.
Untung malam tiba sehingga pihak pasukan pemerintah menghentikan serangan dan mundur, menghimpun kembali tenaga untuk dipakai menyerang lagi pada keesokan harinya.
Tek Hoat kembali ke gedung tempat tinggal Pangeran Liong Khi Ong.
Tubuhnya lelah karena dia ikut bertempur sejak pagi sampai sore.
Pakaiannya berlepotan darah korban yang dirobohkannya dan pahanya berdarah, luka sedikit oleh tombak para pengeroyok yang amat banyak jumlahnya dalam perang campuh tadi.
Dia mulai merasa bosan berperang, kebosanan yang menyerangnya sejak dia bertemu dengan Syanti Dewi.
Dia merasa bahwa semua orang, termasuk dia, menjadi alat-alat yang dipergunakan oleh beberapa orang terutama Pangeran Liong Bin Ong dan Liong Khi Ong, untuk merebut kemuliaan di kota raja!
Biarpun dia membantu pemberontak dengan hasrat ingin memperoleh kedudukan yang tinggi kelak, namun harus diakuinya bahwa dia pun hanya merupakan alat dari dua orang pangeran itu, dan andaikata pemberontakan itu berhasil kelak, sudah terbayang olehnya bahwa dia tentu hanya akan menjadi orang bawahan dua pangeran itu, karena bukan hal yang mudah untuk mencapai kedudukan tertinggi.
Dia merasa pula bahwa betapapun tinggi kedudukan yang diperolehnya kelak, kalau dia melihat Syanti Dewi menjadi barang permainan Liong Khi Ong, hatinya tidak akan pernah mengalami kebahagiaan.
Sekarang pun, hatinya gelisah karena dia pagi tadi harus membantu perang, dan dia tidak dapat lagi mengawasi pangeran tua mata keranjang itu.
Bagaimana kalau ketidak-hadirannya tadi membuka kesempatan bagi Pangeran Liong Khi Ong untuk memaksa Syanti Dewi menuruti keinginannya?
Sungguhpun dia tahu bahwa rasa ketakutan hebat kiranya tidak memberi kesempatan kepada Pangeran Liong Khi Ong untuk ingat akan nafsunya terhadap Syanti Dewi, namun tetap saja hati Tek Hoat berdebar tegang, mukanya menjadi panas dan dia mengepal tinjunya ketika dia menghampiri gedung tempat tinggal Pangeran Liong Khi Ong yang kelihatan sunyi itu.
Tiba-tiba dia menyelinap di balik pohon ketika mendengar suara roda kereta.
Dia mengenal kereta itu, kereta yang disediakan untuk Pangeran Liong Khi Ong.
Dan di dalam kereta itu duduk Siang Lo-mo!
Hatinya curiga.
Dia pun sudah mendengar bahwa kereta itu disiapkan oleh Panglima Kim Bouw Sin untuk Sang Pangeran, dapat dipergunakan oleh Pangeran Liong Khi Ong untuk lari mengungsi apabila keadaan berbahaya, melalui sebuah pintu rahasia yang menembus hutan di sebelah barat benteng.
Cepat dia menggunakan kepandaiannya untuk berlari di belakang kereta dan karena roda kereta itu menimbulkan bunyi yang cukup keras, maka betapapun lihainya Siang Lo-mo, mereka tidak tahu bahwa ada orang yang lari di belakang kereta, dekat sekali.
"Mengapa kita yang disuruh mengawal Pangeran, bukan Ang Tek Hoat?"
Terdengar oleh Tek Hoat suara Pak-thian Lo-mo.
"Ha-ha, apakah engkau tidak dapat melihat kenyataan? Dari penuturan Hek-wan Kui-bo saja sudah jelas bahwa pemuda sombong itu jatuh cinta kepada puteri Bhutan itu! Tentu saja Pangeran juga tahu akan hal ini, maka dia akan ditinggalkan di sini untuk membantu Panglima Kim sedangkan sebaliknya kita dan Hek-wan Kui-bo yang disuruh mengawal sampai Pangeran dan puteri Bhutan itu tiba di kota raja."
"Untung kita!"
Pak-thian Lo-mo berkata dengan nada suara gembira.
"Benteng ini tidak akan dapat dipertahankan lebih lama lagi. Dan kita sudah akan berada di kota raja kalau benteng itu jatuh ke tangan musuh!"
"Sstttt...., kita sudah sampai, sebaiknya tidak bicara tentang itu,"
Bisik Lam-thian Lo-mo.
Kereta berhenti di belakang Istana yang gelap.
Agaknya Pangeran yang hendak melarikan diri itu menghendaki demikian dan segalanya sudah diatur sebelumnya.
Sepasang kakek kembar yang lihai itu meloncat turun dari dalam kereta.
"Kau tunggu di sini sebentar!"
Kata Lam-thian Lo-mo kepada kusir kereta yang berpakaian seperti perajurit dan yang duduk di bagian depan kereta itu, memegang cambuk panjang.
Kusir itu menjawab singkat.
"Baik, Locianpwe."
Memang semua perajurit yang bertugas dekat dengan Pangeran dan Panglima Kim, mengenal dua orang kakek kembar yang lihai ini dan semua menyebut mereka "locianpwe".
Ketika dua orang kakek itu dengan cepat lari memasuki gedung, kusir itu duduk menanti dan memandang ke kanan kiri yang amat sunyi, sesuai dengan kehendak pangeran agar tempat itu dikosongkan sehingga tidak ada penjaga yang melihat keberangkatannya karena hal itu menda-tangkan pengaruh kurang baik bagi semua perajurit yang harus mempertahankan benteng itu sampai saat terakhir.
Beberapa saat kemudian dengan sikap tergesa-gesa tampak Pangeran Liong Khi Ong yang memakai pakaian biasa, menyamar sebagai seorang pedagang, menggandeng tangan Syanti Dewi yang juga memakai pakaian biasa, setengah menyeret dara itu keluar dari gedung menuju ke kereta yang menanti di belakang gedung.
Wajah Syanti Dewi kelihatan pucat dan jelas bahwa puteri ini kelihatan marah dan tidak suka, akan tetapi dia dipaksa oleh pangeran itu dan di belakang mereka ini berjalan Pak-thian Lo-mo, Lam-thian Lo-mo, dan Hek-wan Kui-bo.
Tidak ada orang lain lagi yang mengawal mereka.
Lam-thian Lo-mo lalu membukakan pintu kereta, dan Pangeran Liong Khi Ong menarik tangan puteri itu untuk memasuki kereta.
Di depan pintu kereta, Syanti Dewi merenggutkan tangannya dan berkata, suaranya tetap tenang namun penuh penyesalan dan kemarahan.
"Pangeran, sungguh tidak kusangka bahwa engkau ternyata hanya seorang pengecut yang akan melarikan diri setelah melihat benteng ini terkepung musuh. Dan tak kusangka bahwa aku akan dipaksa begini, seolah-olah aku berada di tangan sekelompok penjahat. Biarlah aku ditinggalkan di sini saja, aku tidak ingin ikut dengan Pangeran ke kota raja."
"Aih, mana bisa, manis! Engkau adalah calon isteriku, ke manapun harus kubawa serta. Maafkan aku, selama berada di tempat ini aku kurang perhatian terhadap dirimu karena kita menghadapi perang. Akan tetapi di kota raja nanti, hemm.... kita akan bersenang-senang...."
"Tidak! Kita bukan tunangan lagi! Aku dahulu suka menuruti kehendak ayahku karena ayahku sebagai Raja di Bhutan menerima pinangan langsung dari Kaisar Kerajaan Ceng-tiauw. Akan tetapi ternyata bahwa engkau pangeran sekarang malah memberontak kepada Kerajaan Ceng! Tentu saja saya tidak sudi me-nerima pinangan seorang pemberontak yang hina!"
Sikap puteri itu kini marah sekali dan dia berdiri tegak dengan pandang mata menghina kepada pangeran yang berdiri dengan canggung di depannya itu.
"Pangeran, mengapa melayaninya? Semua wanita dari tingkat apapun juga selalu cerewet!"
Lam-thian Lo-mo berkata.
"Heh-heh-heh, Lam-thian Lo-mo, jangan lancang begitu mulutmu memaki orang perempuan!"
Hek-wan Kui-bo mencela sambil tertawa.
"Perempuan memang harus cerewet dan galak, baru menarik, seperti mawar dengan durinya."
Pak-thian Lo-mo yang biasanya pendiam itu kini memberi komentar.
Lam-thian Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo menyambut komentar ini dengan tertawa, dan Pangeran Liong tertawa juga.
Syanti Dewi maklum bahwa tidak ada gunanya lagi bicara dengan pangeran ini, tidak ada gunanya memasukkan segala alasan berdasarkan kesusilaan dan kesopanan kepada pangeran tua yang sudah bebal ini karena dia melihat sudah bahwa tidak ada bedanya antara pangeran ini dengan tiga orang tua seperti iblis itu.
Hanya pada lahirnya saja pangeran ini halus dan terpelajar, namun di dalam batinnya dia malah lebih parah dari orang-orang kasar ini.
Maka dia membuang muka, tidak mempedulikan lagi kepada mereka dan memasuki kereta sendiri karena dia pikir lebih baik begitu daripada dipaksa.
Dia masih merasa beruntung bahwa keadaan perang di Teng-bun membuat pangeran itu belum sempat mengganggunya, dia akan menghadapi apa saja yang akan menimpa dirinya dengan tabah.
Masih belum terlambat baginya untuk mempergunakan pisau yang disembunyikan di dalam lipatan bajunya apabila saatnya tidak memberi harapan lagi kepadanya.
Pangeran Liong Khi Ong masih tertawa ketika dia pun masuk ke dalam kereta dan duduk di dekat Syanti Dewi.
Sepasang kakek kembar dan Hek-wan Kui-bo juga masuk dan duduk di depan mereka sebagai pengawal.
"Kusir dungu! Hayo jalan!"
Lam-thian Lo-mo membentak ke arah kusir yang duduk tegak di belakang kuda agak tinggi itu.
Sejak tadi kusir ini tidak berani menengok dan pura-pura tidak melihat atau mendengar apa yang terjadi di depan pintu kereta tadi.
"Baik, Locianpwe!"
Jawabnya otomatis dengan suaranya yang tinggi dan parau.
Kereta bergerak setelah terdengar cambuk meledak dan melecut di atas kepala empat ekor kuda itu.
Kuda-kuda itu meringkik dan tak lama kemudian kereta berjalan cepat sekali menuju ke barat.
"Locianpwe, saya belum tahu harus pergi ke mana...."
Kusir itu berkata dengan suara lirih seolah-olah dia merasa takut terhadap para penumpangnya.
"Pangeran, harap memberitahukan jalannya,"
Lam-thian Lo-mo berkata.
"Terus saja,"
Kata Pangeran Liong Khi Ong, karena hanya dia sendiri dan Panglima Kim Bouw Sin serta beberapa orang perwira kepercayaan yang laln saja yang tahu akan tempat itu, termasuk Tek Hoat.
"Setelah tiba di pintu gerbang barat, membelok ke selatan kurang lebih satu li."
Kusir itu mencambuk kuda dan kereta meluncur cepat di malam gelap itu menuju ke barat.
Orang-orang yang melihat bahwa kusir kereta itu seorang yang berpakaian perajurit, tidak ada yang menduga siapa yang berada di dalamnya, hanya mengira bahwa penumpangnya tentulah seorang di antara para perwira tinggi.
Setelah tiba di pintu gerbang barat yang terjaga kuat dan membelok ke selatan, kereta memasuki sebuah kebun yang tidak terawat dan akhirnya, di tempat yang amat sunyi ini, Pangeran Liong Khi Ong menyuruh Siang Lo-mo membuka sebuah pintu rahasia yang tertutup rumpun ilalang dan cara membukanya digerakkan oleh alat rahasia yang tersembunyi di dalam batang pohon yang berlubang.
Setelah kereta itu menerobos pintu rahasia di tembok benteng yang sunyi itu, Siang Lo-mo menutupkan kembali dari luar dan kereta melanjutkan perjalanannya.
Ternyata di sebelah luar tembok itu adalah sebuah hutan yang lebat, gelap dan sunyi.
"Terus masuk ke dalam hutan,"
Pangeran Liong berkata.
"Kita sembunyi di dalam hutan malam ini, besok pagi baru melanjutkan perjalanan ke selatan."
Setelah kereta tiba di dalam hutan, Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo turun dari kereta, melihat-lihat keadaan. Hutan itu sunyi dan mereka merasa lega.
"Kita menanti sampai pagi dan tentu pihak musuh sudah mulai menyerang benteng lagi,"
Kata Pangeran itu.
"Perhatian mereka akan tercurah ke benteng semua sehingga kita memperoleh kesempatan untuk melanjutkan perjalanan dengan aman. Dari sini kita harus ke barat sampai keluar dari hutan dan tiba di lereng bukit dan dari sana mulailah kita menuju ke selatan."
Kusir kereta itu turun pula dan tanpa mengeluarkan suara dia melepaskan empat ekor kuda itu, membawanya ke tempat yang banyak rumputnya dan membiarkan mereka makan rumput.
Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo sudah membuat api unggun dan duduk di sekeliling api sambil bercakap-cakap.
Pangeran Liong Khi Ong dan Syanti Dewi berada di dalam kereta.
Hek-wan Kui-bo yang memandang ke kereta itu berkata lirih sambil terkekeh.
"Heh-heh, Pangeran sampai lupa dingin, tidak turun dari kereta."
"Nenek tua, apa engkau tidak tahu senangnya orang berpengantinan?"
Lam-thian Lo-mo juga terkekeh.
"Hi-hik, agaknya di dalam kereta itu Pangeran merasa lebih hangat daripada di dekat api ini."
Hek-wan Kui-bo tertawa lagi.
Akan tetapi tak lama kemudian tiga orang datuk kaum sesat itu sudah bicara dengan serius, suara mereka berbisik-bisik karena mereka kini terlibat dalam percakapan yang amat penting bagi mereka, yaitu tentang gerakan pemberontak yang mulai terpukul oleh barisan pemerintah.
Mereka bertiga itu, seperti juga Ang Tek Hoat, membantu pemberontakan karena mereka hendak mengejar kedudukan dan kemuliaan di hari tua mereka.
Kini, melihat kenyataan betapa pasukan pemberontak mulai dihajar oleh barisan pemerintah yang jauh lebih kuat, semangat mereka juga menurun.
Akan tetapi mereka masih belum kehilangan harapan selama mereka masih mengawal Pangeran Liong Khi Ong yang mereka tahu mempunyai kedudukan mulia di kota raja.
Selama mereka masih menjadi pembantu-pembantu kedua orang Pangeran Liong, harapan masih terbuka bagi mereka.
Setidaknya sebagai pengawal-pengawal Pangeran Liong kedudukan mereka pun sudah cukup terhormat di kota raja.
Karena senasib dan segolongan, dalam waktu singkat Hek-wan Kui-bo dan sepasang kakek kembar itu sudah menjadi sahabat yang akrab dan mereka bicara secara terus terang tanpa saling mencurigai karena sudah mengenal isi hati masing-masing.
"Apa katamu?"
Hek-wan Kui-bo bicara lirih kepada Pat-thian Lo-mo.
"Kalau sampai di kota raja kedua pangeran itu gagal? Ah, kalau sudah berada di istana, mana bisa gagal? Setidaknya sebelum aku pergi dari kota raja, banyak terbuka kesempatan untuk mengambil banyak barang berharga dari istana dan hasil itu pun sudah lumayan untuk menutup kegagalanku."
"Uhh, apa artinya harta kekayaan bagi kita yang sudah tua?"
Lam-thian Lo-mo mencela.
"Kalau begitu, apa yang akan kalian lakukan kalau ternyata usaha Pangeran Liong gagal pula di istana?"
Tanya nenek itu.
"Kami tidak mau mencuri barang berharga akan tetapi kami akan membawa dia...."
Lam-thian Lo-mo menggerakkan kepalanya ke arah kereta.
"Eihh....? Puteri Bhutan?"
Nenek itu bertanya dan melihat dua orang kakek itu mengangguk, dia bertanya.
"Untuk apa? Apakah kalian ini kiranya bandot-bandot tua bangka pula seperti Pangeran Liong?"
"Bodoh!"
Pak-thian Lo-mo mencela.
"Kami antar dia pulang ke Bhutan dan di sana kami akan berusaha mencapai kedudukan tinggi."
"Aih, kiranya kalian benar-benar gila pangkat."
Nenek itu berkata geli dan pada saat itu, terdengar jerit tertahan dari dalam kereta.
"Hi-hi-hik, Pangeran itu sungguh tidak sabar lagi!"
Hek-wan Kui-bo terkekeh.
"Apa dia hendak memaksa Puteri Bhutan di ruangan kereta yang sempit itu?"
"Tidak....! Jangan menyentuhku!"
Terdengar suara Syanti Dewi menjerit marah.
"Pangeran Liong Khi Ong, ternyata engkau hanyalah seorang laki-laki keji dan hina. Akan tetapi jangan mengira akan dapat menyentuhku, lihat apa yang kupegang ini! Sebelum engkau menjamahku, lebih dulu aku akan menjadi mayat!"
Tiga orang tua lihai yang tadinya hanya tertawa-tawa saja sambil memandang ke arah kereta, menjadi kaget juga mendengar teriakan Syanti Dewi itu, dan mereka terbelalak makin heran dan kaget ketika mereka melihat betapa kusir kereta yang tadinya menggunakan kain menggosok dan membersihkan kereta itu tiba-tiba kini menghampiri pintu kereta dan menyingkap tirai yang menutupi pintu kereta itu.
"Heiii, kusir tolol! Mau apa kau?"
Hek-wan Kui-bo membentak marah.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati tiga orang tua itu ketika mereka melihat kusir itu membuka pintu kereta dengan paksa lalu meloncat ke dalam kereta.
Terdengar teriakan Pangeran Liong, teriakan mengerikan dan disusul dengan berkelebatnya bayangan kusir tadi yang telah memondong tubuh Syanti Dewi yang meronta-ronta dan berteriak-teriak.
"Lepaskan aku!"
"Eh, kusir keparat!"
Tiga orang tua itu cepat meloncat dan mengejar ke arah kereta.
Sekali bergerak, Hek-wan Kui-bo sudah membuka pintu kereta dan mereka menjenguk ke dalam, terkejut bukan main melihat Pangeran Liong Khi Ong sudah menggeletak tak bernyawa lagi dan di dahi pangeran itu tampak tiga gambar jari tangan hitam.
"Si Jari Maut....!"
"Kiranya dia si jahanam itu!"
Mereka melompat dan mengejar.
Ketika melihat bayangan kusir yang memondong tubuh Syanti Dewi itu meloncat ke atas seekor kuda sedangkan tiga ekor kuda yang lain dicambuk dan lari cerai-berai, Siang Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo cepat mengejar.
Kusir itu memang Tek Hoat adanya.
Ketika tadi melihat kereta yang ditumpangi Siang Lo-mo menuju ke gedung Pangeran Liong, dia membayangi dan dapat mendengar percakapan antara ke dua orang kakek itu, Tek Hoat merasa gelisah sekali.
Tanpa disadarinya sendiri, urusan Syanti Dewi telah menjadi hal yang amat penting baginya, jauh lebih penting dari urusan apa pun, lebih penting daripada cita-citanya untuk memperoleh kedudukan mulia.
Maka setelah Sepasang Kakek Iblis itu memasuki gedung, dia cepat turun tangan meloncat dan menyergap kusir kereta itu seperti seekor harimau menerkam domba, menyeret kusir itu menjauhi kereta, menotoknya lumpuh dan tak dapat bersuara, melucuti pakaiannya dan mengenakan pakaian dan topi kusir itu lalu dengan tenang dia menggantikan tempat kusir itu.
Dia tadi pernah mendengar suara kusir itu ketika menjawab perintah Siang Lo-mo, maka dia mampu menirukan suaranya dan untung baginya bahwa baik Pangeran Liong maupun tiga orang pengawalnya itu tidak mengenal mukanya yang selalu dia sembunyikan agar tidak langsung menerima sinar lampu penerangan di sepanjang perjalanan itu.
Dia tidak berani turun tangan menolong Syanti Dewi di dalam kota Teng-bun karena hal itu amatlah berbahaya.
Baru setelah kereta keluar dari kota dan berada di dalam hutan, dia melepas-lepaskan kuda dan ketika mendengar teriakan marah Syanti Dewi.
Tahulah dia bahwa saat baginya untuk turun tangan telah tiba maka secepat kilat dia memasuki kereta, membunuh Pangeran yang mulai dibencinya sejak Syanti Dewi terjatuh ke tangan Pangeran itu, memondong dengan paksa tubuh Syanti Dewi dan melarikan diri dengan menunggang seekor kuda setelah dia mencambuk tiga ekor kuda yang lain sehingga binatang-binatang itu kabur ketakutan.
"Ang Tek Hoat pengkhianat rendah!"
Lam-thian Lo-mo memaki dan bersama Pak-thian Lo-mo dia melakukan pengejaran.
"Minggirlah, biar kurobohkan dia!"
Hek-wan Kui-bo berteriak dan dua orang kakek itu masih mengejar akan tetapi berpencar ke kanan kiri untuk memberi kesempatan kepada Hek-wan Kui-bo untuk melakukan penyerangan.
Nenek itu sudah mengeluarkan dua buah senjata rahasianya yang berbentuk besi bulat, lalu melontarkan dua buah benda itu ke arah Tek Hoat yang membalapkan kudanya.
Mendengar desingan angin dari belakang, Tek Hoat terkejut sekali.
Dia sudah pernah menyaksikan Hek-wan Kui-bo menggunakan senjata rahasianya yang dapat meledak, maka kini tahu bahwa nenek itu menyerangnya dengan senjata dahsyat itu, dia terkejut dan cepat meloncat dari atas punggung kuda sambil memondong tubuh Syanti Dewi, dan begitu kakinya menyentuh tanah, dia terus bergulingan menjauh dan masih memondong tubuh dara itu.
"Maaf, terpaksa begini, senjatanya berbahaya sekali...."
Tek Hoat berbisik.
"Dar! Darr!"
Dua buah senjata rahasia itu meledak dan mengeluarkan kilat dibarengi muncratnya pecahan-pecahan besi.
Kuda itu meringkik dan roboh terguling, perutnya pecah.
"Ahhh....!"
Syanti Dewi mengeluh, ngeri menyaksikan nasib kuda itu.
Kini dia tidak meronta lagi karena menduga bahwa pemuda ini memang sengaja membunuh Pangeran Liong dan membawanya pergi hendak menolongnya, sungguhpun dia masih merasa sangsi apakah benar pemuda yang menjadi kaki tangan pemberontak ini menolongnya dengan niat baik.
Betapapun juga, kiranya jauh lebih baik dan lebih ada harapan terjatuh ke tangan pemuda yang bersikap halus ini daripada terjatuh ke tangan dua orang kakek dan nenek iblis yang mengerikan itu.
"Nona, kau tunggulah di sini, biar kuhadapi mereka itu,"
Kata Tek Hoat yang telah membuang topi perajurit dan telah menanggalkan pakaian perajurit yang tadi menutupi pakaiannya sendiri.
Dengan tenang dia lalu menanti tiga orang lawan itu yang sudah berlari mendatangi.
Kini mereka berdiri berhadapan dengan pandang mata penuh kemarahan.
Bulan di langit meluncurkan sinarnya yang lembut dan menerobos celah-celah daun pohon sehingga kini biarpun tidak memperoleh penerangan lentera kereta yang jauh dari mereka, empat orang itu dapat saling memandang cukup jelas.
"Heh-heh-heh, sudah kuduga sebelumnya! Sejak semula engkau dahulu menyerangku, aku sudah tahu bahwa engkau adalah seorang pengkhianat, Ang Tek Hoat! Sudah kuperingatkan Pangeran, akan tetapi dia tidak percaya. Sekarang dia percaya akan tetapi sudah terlambat!"
Hek-wan Kui-bo berkata.
"Belum terlambat!"
Pak-thian Lo-mo berkata.
"Kita mengirim dia menyusul Pangeran."
"Sayang, seorang seperti engkau ini menjadi berubah begitu bertemu dengan wanita cantik, Si Jari Maut! Engkau telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong, satu-satunya orang yang sudah memberi harapan kepada kita. Sekarang kami tidak dapat pergi ke kota raja lagi, gara-gara engkau!"
Tek Hoat tersenyum mengejek.
"Orang yang cerdik selalu dapat melihat keadaan, akan tetapi kalian bertiga tua bangka ini agaknya tidak dapat melihat kenyataan. Jatuhnya Koan-bun dan Teng-bun yang tak akan dapat bertahan lama lagi berarti berakhirnya petualangan Pangeran Liong, apakah kita masih harus mengabdi kepada kekuasaan yang sudah mendekati keruntuhannya?"
"Engkau yang tolol!"
Hek-wan Kui-bo membentak.
"Biarpun pemberontakan itu sendiri gagal, akan tetapi dengan adanya Pangeran, kita dapat mengunjungi istana kerajaan dengan aman dan di sana terbuka banyak kesempatan bagi kita. Akan tetapi engkau sekarang membunuhnya sehingga hancur semua harapan dan susah payah kita!"
"Hemm, aku sudah membunuhnya dan kalian mau apa? Apakah kalian hendak membela kematiannya?"
"Cuhhh!"
Pak-thian Lo-mo meludah.
"Kami tidak akan membela siapa pun kecuali membela kepentingan kami sendiri!"
"Apa yang dikatakannya itu benar, Ang-sicu,"
Lam-thian Lo-mo berkata.
"Soal engkau membunuh pangeran atau raja, tidak ada sangkut-pautnya dengan kami. Kami bukan orang yang mengekor kepada siapa pun, apalagi kepada Liong Khi Ong. Kalau kami membantu dia, seperti juga engkau, hanya karena kami melihat kemungkinan baik bagi kami untuk memperoleh kemuliaan. Akan tetapi sekarang dia kaubunuh, berarti kau merugikan kami yang hanya dapat kau bayar sekarang juga."
"Dengan nyawaku? Cobalah kalau kalian mampu!"
Tek Hoat menantang dengan senyum mengejek.
"Sombong engkau!"
Hek-wan Kui-bo sudah marah sekali dan hendak menyerang, akan tetapi Lam-thian Lo-mo mencegahnya dan nenek ini yang sekarang merasa menjadi sekutu Siang Lo-mo untuk menghadapi pemuda lihai itu tidak membantah.
"Ang Tek Hoat, jangan salah duga. Liong Khi Ong sudah mampus, maka biarlah. Hanya karena kami juga kehilangan harapan untuk pergi ke kota raja, maka sekarang kami minta bantuanmu. Kami hendak mengantarkan Puteri Bhutan itu kepada ayahnya di Bhutan. Kami tentu akan memperoleh balas jasa di Kerajaan Bhutan dan siapa tahu kami akan mendapatkan ganti kemuliaan di sana."
Lam-thian Lo-mo berkata dengan suara bernada halus.
"Keparat, jangan minta yang bukan-bukan!"
Entah mengapa dia sendiri tidak tahu, akan tetapi permintaan itu membuat Tek Hoat naik darah.
"Hi-hik, percuma, Lam-thian Lo-mo. Dia ingin mengangkangi sendiri gadis itu. Aku sudah tahu akan hal ini sejak dulu!"
Hek-wan Kui-bo berkata.
Tek Hoat melirik ke arah Syanti Dewi.
Puteri itu telah bangkit berdiri dan bersembunyi di balik pohon dan kini mengintai dan memandang ke arahnya dengan sinar mata ketakutan.
"Apa yang kurasakan tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian bertiga. Pendeknya, aku tidak percaya kepada kalian dan tidak akan menyerahkan dia kepada kalian!"
"Ang Tek Hoat, apakah engkau memilih mati daripada menyerahkan puteri itu kepada kami?"
Pak-thian Lo-mo berteriak.
"Hemm, kalian yang akan mampus di tanganku kalau berani menentangku."
"Bocah sombong! Engkau berani menentang kami bertiga?"
Lam-thian Lomo membentak marah.
"Perlu apa banyak cakap? Bunuh saja bocah ini!"
Hek-wan Kui-bo membentak dan dia sudah menubruk ke depan dan menggerakkan tongkatnya, disusul oleh Siang Lo-mo yang merasa marah sekali terhadap bekas rekan ini.
Ang Tek Hoat memang bersikap sombong terhadap tiga orang tokoh hitam ini, akan tetapi dia cerdik dan dia sebenarnya tidak memandang ringan.
Dia maklum bahwa mereka bertiga adalah orang-orang yang amat lihai dan kalau maju bersama merupakan lawan yang berat dan berbahaya.
Maka begitu melihat mereka sudah menyerang, dia pun meloncat mundur menjauhi tempat Syanti Dewi bersembunyi, sambil mencabut pedang Cui-beng-kiam yang dipalangkan di depan dadanya.
Sinar pedang yang mengandung hawa mujijat dan menyeramkan ini mendatangkan kengerian juga di hati tiga orang lawannya, akan tetapi karena mereka juga merupakan tokoh-tokoh yang sudah lama malang melintang di dunia persilatan, mereka tidak menjadi gentar dan sudah bergerak mengurung dengan senjata di tangan.
Tangan Hek-wan Kui-bo memutar-mutar tongkat sehingga di depan tubuhnya tampak sinar hitam bergulung-gulung seperti ada kitiran besar berputar di depan tubuhnya dan mengeluarkan suara berdesingan.
"Tar-tar-tarrr!"
Senjata di tangan kedua orang Lo-mo itu berupa sabuk atau pecut baja yang ketika digerak-gerakkan di atas kepala mengeluarkan bunyi meledak-ledak dan ujungnya yang melecut mengenai batangnya sendiri mengeluarkan bunga api!
Syanti Dewi yang bersembunyi di balik batang pohon itu menonton dengan muka pucat dan mata terbelalak.
Percakapan antara empat orang itu tadi saja sudah menceritakan kepadanya orang-orang macam apa adanya mereka itu.
Kalau dia terjatuh di tangan pemuda yang bernama Ang Tek Hoat dan yang telah berkhianat kepada bekas majikannya sendiri dan telah membunuh Pangeran Liong Khi Ong, dia masih belum tahu apa yang akan terjadi atas dirinya.
Kalau memang pemuda itu mempunyai niat keji dan buruk terhadap dirinya seperti yang dikatakan Hek-wan Kui-bo tadi, dia tentu akan menjaga diri dan akan membunuh diri sebelum pemuda itu dapat menjamah tubuhnya.
Sebaliknya kalau dia terjatuh ke dalam tangan tiga orang iblis tua itu, seperti juga Tek Hoat, dia tidak percaya bahwa mereka akan menyerahkan dia begitu saja kepada ayahnya, Raja Bhutan.
Orang-orang seperti mereka ini tentu tidak akan segan-segan untuk memeras ayahnya, memaksa ayahnya menuruti kehendak mereka untuk melihat puterinya selamat!
Tidak, betapapun juga, kalau bisa dikatakan ada kesempatan memilih, dia memilih terjatuh ke tangan pemuda itu yang belum tentu akan berbuat jahat kepada dirinya.
Tek Hoat berdiri dengan sikap tenang dan sedikit pun tidak bergerak, pedang melintang di depan dada dan tangan kiri dengan jari terbuka di atas kepala, Telunjuknya menuding langit, hanya sepasang manik matanya saja yang bergerak ke kanan kiri untuk mengikuti gerakan tiga orang yang menghadapinya.
Hek-wan Kui-bo berdiri di depannya, Lam-thian Lo-mo di sebelah kanannya dan Pak-thian Lo-mo di sebelah kirinya.
Dia maklum bahwa di antara tiga orang ini, kepandaian Hek-wan Kui-bo yang dapat dianggap paling rendah sungguhpun senjata rahasia peledak dari nenek ini amat berbahaya.
Dia tahu pula bahwa senjata pecut besi di tangan kakek kembar itu tidak kalah ampuhnya dengan pedang di tangannya karena senjata dua orang kakek itu mengandung racun yang amat jahat.
Hanya pedangnya, peninggalan dari iblis Pulau Neraka, Cui-beng Koai-ong, adalah sebatang pedang mujijat yang mengandung hawa mujijat dan inilah keunggulan senjatanya dari senjata tiga orang lawannya.
"Taarrr.... siuuuutttt....!"
Pecut yang tadi berputaran di atas dan meledak-ledak itu kini menyambar dari kanan mengarah kepalanya dan ujung pecut itu meluncur untuk menotok ubun-ubun kepala Tek Hoat.
Menghadapi serangan maut dari Lam-thian Lo-mo ini, cepat Tek Hoat mengelak dengan tubuh direndahkan, akan tetapi pada saat itu, dari kiri menyambar pecut Pak-thian Lo-mo sedangkan dari depan menyusul tongkat Hek-wan Kui-bo yang meluncur ke arah pusarnya.
Tek Hoat meloncat, menghindarkan kakinya yang tertotok secara bertubi oleh ujung pecut Pak-thian Lo-mo yang mengarah kedua mata kaki dan lututnya, dan pedangnya digerakkan menangkis tongkat Hek-wan Kui-bo.
Nenek ini sudah mengenal keampuhan pedang Cui-beng-kiam, maka dia tidak berani mengadu tenaga, melainkan hanya menarik tongkatnya dan dibalik sehingga dalam detik lain ujung tongkat itu sudah menusuk ke arah mata Tek Hoat.
Tek Hoat menggerakkan pedang menangkis sambil melompat mundur menghindarkan sambitan ujung pecut dari kanan.
Akan tetapi kembali dua batang pecut besi itu sudah menyambar dari atas dan bawah sedangkan tongkat dari nenek itu pun menyerang dengan bertubi-tubi.
Tek Hoat mengeluarkan kepandaiannya, pedangnya diputar menjadi sinar bergulung-gulung melindungi tubuhnya dan sekaligus menangkis serangan tiga buah senjata lawan, kemudian tiba-tiba dari dalam gulungan itu mencuat sinar terang yang membuat gerakan melengkung dan menyambar ke arah perut tiga orang lawan itu seperti seekor naga melayang.
Tiga orang itu terkejut dan cepat mengelak ke belakang karena sambaran pedang itu amat berbahaya, kemudian dari jarak agak jauh pecut-pecut dari kanan kiri sudah menyambar lagi.
Suara kedua senjata ini meledak-ledak seperti petir menyambar dan bunga api berpancaran menyilaukan mata.
Namun Tek Hoat selalu dapat mengelak atau menangkis semua serangan itu, bahkan untuk setiap serangan dia tentu mengada-kan balasan yang tidak kalah dahsyatnya.
Syanti Dewi yang menonton pertandingan itu menjadi bengong.
Bukan main hebatnya pertandingan itu, matanya sampai menjadi silau dan berkunang.
Tidak dapat lagi dia mengikuti gerakan empat orang itu, bahkan bayangan mereka pun lenyap terbungkus gulungan sinar senjata mereka.
Hanya kadang-kadang saja nampak kaki atau tangan yang segera lenyap lagi ke dalam gulungan sinar senjata.
Jantung Syanti Dewi berdebar tegang.
Dia tidak dapat pergi dari tempat itu karena dia tidak mengenal jalan dan hutan itu amat lebat.
Ke mana dia harus pergi?
Tentu akan menghadapi banyak bahaya yang lebih besar lagi.
Kalau terjatuh ke tangan orang-orang ini, dia tahu bahwa dia belum akan menghadapi bahaya maut sungguhpun dia tidak dapat membayangkan nasib apa yang akan dideritanya.
Akan tetapi kalau dia lari dan bertemu dengan binatang buas, tentu dia akan menjadi mangsanya, dan kalau sampai dia terjatuh ke tangan orang-orang liar, nasibnya tentu akan lebih mengerikan lagi.
Setidaknya, empat orang itu adalah orang-orang pandai yang agaknya ingin mencari kedudukan dan kemuliaan dengan mempergunakan dirinya.
Pertandingan itu memang hebat sekali.
Tiga orang tokoh tua itu menjadi kagum bukan main.
Baru sekali itu mereka bertemu dengan lawan seorang pemuda yang begitu lihai sehingga dikeroyok tiga oleh mereka tidak hanya mampu bertahan sampai seratus jurus lebih, akan tetapi juga bahkan sempat membalas dengan tidak kalah hebatnya.
Kadang-kadang bulan tertutup awan dan dalam keadaan gelap mereka berempat melanjutkan pertandingan hanya mengandalkan pendengaran yang tajam dan perasaan yang peka.
Ketika pertandingan sudah hampir berlangsung dua ratus jurus tanpa ada yang mengalami luka atau terdesak, bulan bersinar kembali dengan terangnya karena awan telah menjauh.
"Kui-bo, lepas peledakmu!"
Tiba-tiba Lam-thian Lo-mo yang merasa penasaran itu berteriak dan bersama Pak-thian Lo-mo dia sudah bertiarap di atas tanah.
Hek-wan Kui-bo memenuhi permintaan kakek itu dan dia melemparkan senjata peledaknya ke arah Tek Hoat.
Pemuda itu cepat meloncat jauh ke samping dan bergulingan sehingga ketika senjata rahasia itu meledak, dia terhindar dari sambaran pecahan besi.
Akan tetapi kembali nenek itu melemparkan senjata dahsyat kepadanya dan terpaksa Tek Hoat meloncat tinggi sekali.
Pecahan senjata peledak itu menyerong dan hanya akan mengenai orang-orang yang berdiri di sekitarnya, maka ketika Tek Hoat meloncat jauh ke atas, dia pun terhindar dari pecahan besi.
Akan tetapi itulah saat yang dinanti-nanti oleh Lam-thian Lo-mo dan Pak-thian Lo-mo.
Siang Lo-mo yang memiliki kerja sama amat baik berdasarkan naluri atau getaran perasaan yang saling berhubungan antara mereka itu, dalam waktu yang sama tanpa direncana lebih dulu telah menggerakkan cambuk besi mereka yang meluncur ke atas, yang kanan menyerang ke arah mata kaki Tek Hoat, yang kiri menyerang ke arah tengkuk!
Serangan yang dilakukan berbareng pada saat Tek Hoat masih meloncat ke atas dan yang mengarah dua tempat yang berlainan itu ternyata membuat Tek Hoat terkejut juga.
Dia harus memilih salah satu dan karena penyerangan di tengkuknya merupakan serangan maut, maka dia menggerakkan pedangnya menangkis cambuk yang digerakkan oleh Pak-thian Lo-mo ke arah tengkuknya itu sambil sedapat mungkin menarik kakinya yang disambar pecut Lam-thian Lo-mo.
Namun gerakan ini tidak cukup dan betisnya dihunjam ujung pecut besi sehingga celana berikut daging betisnya robek.
"Haiiiittt....!"
Tek Hoat mengerahkan tenaganya, berjungkir balik sehingga pecut itu tidak melibatnya dan ketika tubuhnya menukik turun, dia menyerang Lam-thian Lo-mo yang telah melukai betis kanannya itu.
"Trang-trang.... cringgg....!"
Tiga senjata lawan menangkis pedangnya dan penyatuan kekuatan tiga orang itu membuat Tek Hoat terpental dan terguling-guling.
Selagi Tek Hoat bergulingan itu, tiga orang lawannya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan mereka mengejar.
Hek-wan Kui-bo yang merasa penasaran sudah menggerakkan tongkatnya menghantam dan menusuk berkali-kali, akan tetapi Tek Hoat dapat mengelak dengan ilmunya bergulingan yang amat cepat.
Akan tetapi karena dia pun dihujani sambaran dua ujung cambuk maka akhirnya Hek-wan Kui-bo berhasil menghantam pundaknya, nyaris saja mengenai kepalanya.
"Bukk!"
Tek Hoat merasa betapa pundaknya seperti remuk ditimpa tongkat butut itu, dia menjadi marah dan nekat, otomatis tangan kirinya menyambar tongkat itu dan membetot dengan pengerahan tenaga Inti Bumi yang amat hebat kekuatannya.
Hek-wan Kui-bo terkejut ketika tiba-tiba dia terbetot ke bawah dan sebelum dia mampu melihat bahaya dan melepaskan tongkat yang membuat tubuhnya ikut terbetot, tahu-tahu Cui-beng-kiam telah meluncur dari bawah dan menembus perutnya sampai ke punggung!
"Aigghhhhh...!"
Hek-wan Kui-bo memekik dahsyat.
Tek Hoat mendorong tongkat dan mencabut pedangnya sehingga tubuh nenek itu terjengkang, akan tetapi pada saat itu, ujung cambuk di tangan Pak-thian Lo-mo telah menyambar pada saat pemuda itu meloncat bangun dan tahu-tahu telah membelit leher pemuda itu!
Tek Hoat terkejut sekali, apalagi ketika saat itu terdengar Lam-thian Lo-mo tertawa.
"Jangan lepaskan dia, ha-ha, biar kuhancurkan kepalanya! Tar-tar-tarrr!"
Cambuk Lam-thian Lo-mo meledak-ledak dan menyambar-nyambar kepalanya, mengarah ubun-ubun, tengkuk, dahi dan kedua pelipls!
Sibuk juga Tek Hoat memutar pedangnya menangkisi sambaran pecut besi di tangan Lam-thian Lo-mo itu, sedangkan lehernya masih dicekik oleh cambuk Pak-thian Lo-mo yang makin lama makin erat mencekiknya.
Terasa napasnya terhenti dan kulit lehernya berdarah!
Maklumlah dia bahwa kalau dia tidak menemukan akal, dia akan mati sekali ini.
Maka untuk menghindarkan ancaman bertubi-tubi dari ujung cambuk Lam-thian Lo-mo, dia cepat dengan tiba-tiba merebahkan diri dan bergulingan mendekati Pak-thian Lo-mo agar cekikan cambuk itu mengendur.
"Tarrr!"
Ujung cambuk Lam-thian Lo-mo mengenai punggungnya, untung tidak mengenai tengkuk sehingga Tek Hoat hanya mengeluh karena rasa nyeri yang amat hebat.
Dia meloncat lagi.
"Tar-tarrr!"
Dua kali ujung cambuk Lam-thian Lo-mo menggigit paha dan lambungnya, membuat celana dan bajunya robek berikut kulit dan dagingnya.
Badannya sudah berlumur darah yang bercucuran dari punggung, leher, lambung dan paha.
Pada saat itu, dengan kemarahan memuncak, Tek Hoat mengeluarkan pekik yang amat dahsyat, pekik yang membuat Syanti Dewi jatuh terduduk dan hampir pingsan karena memang dia sudah gemetar seluruh tubuhnya menyaksikan betapa pemuda itu telah terbelit lehernya dan dicambuki serta berlumur darah amat mengerikan.
Akan tetapi bersamaan dengan bunyi pekik itu, tampak sinar berkelebat dan Pak-thian Lo-mo mengeluarkan teriakan yang menggetarkan pohon-pohon di sekitar tempat itu.
Tubuhnya terhuyung, cambuknya terlepas dari tangan dan kedua tangannya mencengkeram gagang pedang Cui-beng-kiam yang berada di dadanya karena pedang itu sendiri telah tertanam di dadanya sampai menembus punggungnya ketika dilontarkan secara tiba-tiba dan amat kuatnya oleh Tek Hoat tadi!
"Kau....
bunuh dia....?"
Lam-thian Lo-mo berteriak dengan suara terisak.
"Tar-tar-tar-tarrr....!"
Cambuknya mengamuk dan tubuh Tek Hoat menjadi bulan-bulanan sambaran cambuk yang ujungnya seperti mulut ular mematuk-matuk dan membuat pakaian Tek Hoat robek-robek dan makin banyak lagi luka-luka di tubuhnya.
Akan tetapi, dengan penderitaan rasa nyeri yang hebat itu karena semua luka mengandung racun, akhirnya Tek Hoat dapat menangkap ujung cambuk.
Ketika Lam-thian Lo-mo yang melotot marah itu menarik-narik cambuknya, Tek Hoat melibat-libatkan ujung cambuk di tangan kanannya dan terjadilah betot-membetot di antara mereka.
Akhirnya, dengan mengeluarkan teriakan yang merupakan lengking dahsyat, kedua orang itu meloncat ke depan saling terjang di udara.
"Desss....!"
Syanti Dewi yang menonton dari balik batang pohon hanya melihat bayangan dua orang itu bertumbukan di udara, kemudian dia melihat kedua orang itu terbanting roboh dan tidak bergerak lagi.
"Ahhh....!"
Syanti Dewi sejenak berdiri dengan hati penuh kengerian, ditelan kesunyian yang tiba-tiba menyelimuti tempat itu.
Tidak ada suara apa-apa lagi terdengar, akan tetapi setelah keadaan di dalam hutan itu sunyi, semua orang kecuali dia telah rebah tidak berkutik lagi, lapat-lapat dan sayup sampai telinganya menangkap suara gemuruh dan hiruk-pikuk dari tempat yang jauh sekali.
Suasananya menjadi makin menyeramkan karena suara yang dapat-lapat terdengar itu seperti mengandung suara tangis dan tawa yang agaknya datang dari angkasa atau mungkin juga dari dalam bumi, pantasnya suara yang keluar dari dalam neraka seperti yang pernah dia dengar dongengnya.
"Ahhh.... matikah dia....?"
Tak terasa lagi Syanti Dewi berbisik dengan hati penuh kekhawatiran.
Puteri Bhutan ini adalah seorang yang berbudi mulia dan memiliki kepekaan rasa sehingga tidak mudah bagi dia melupakan budi orang lain yang dilimpahkan kepadanya.