Ceritasilat Novel Online

Kisah Sepasang Rajawali 10

Eps 10 Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo.

Ketika mereka tiba di gudang belakang mereka mendengar keluh-kesah dan tangis dari dalam gudang itu.

Kian Bu dan Kian Lee meloncat ke atas genteng dan mengintai.

Tampaklah oleh mereka isteri kepala daerah dan keluarganya yang dikumpulkan menjadi satu di tempat itu.

Mereka hanya saling pandang akan tetapi tidak mampu melakukan sesuatu.

"Beginilah perang."

Kian Lee berbisik.

"Betapa kejam dan jahatnya!"

Ketika mereka turun, tiba-tiba terdengar jerit wanita tertahan dari sebuah kamar belakang dekat gudang.

Kian Bu yang menyangka bahwa suara itu mungkin suara Syanti Dewi, sudah cepat mencelat dan mengintai dari celah jendela kamar itu, diikuti oleh Kian Lee.

Apa yang tampak oleh mereka membuat Kian Bu hampir saja mendobrak jendela kalau tidak cepat lengannya ditangkap oleh kakaknya.

Seorang laki-laki berpakaian perwira kelihatan sedang memperkosa seorang wanita muda yang melihat pakaiannya tentulah keluarga dari kepala daerah tadi!

"Diamlah, kalau aku mau, betapa mudahnya membunuhmu sebagai anggauta keluarga yang mela-wan kami.

Diam!"

Kian Lee menarik tangan Kian Bu menjauh dari situ.

Muka mereka merah sekali, sepasang mata Kian Bu mengeluarkan sinar berapi dan sampai lama mereka duduk berlindung di belakang bangunan untuk menenteramkan hati yang bergolak panas.

Tak lama kemudian, tampak perwira tadi keluar dari kamar itu.

Kian Lee tidak dapat mencegah adiknya memungut sebuah batu sebesar kepalan tangan dan sekali menggerakkan tangan, batu itu menyambar dan tepat mengenai pelipis perwira itu.

Tanpa sempat mengeluarkan teriakan, perwira itu terjungkal dengan pelipis pecah dan tentu saja dia tewas seketika!

Terdengar suara aneh di dalam kamar itu dan ketika mereka cepat mengintai lagi, mereka melihat wanita muda itu dengan tubuh telanjang bulat sudah rebah telentang di atas lantai dan sebatang gunting menancap di antara buah dadanya yang masih muda.

Wanita itu telah membunuh diri!

"Perang....

akibat perang...."

Kian Lee mengeluh.

"Bedebah dia! Bukan akibat perang Lee-ko. Di waktu damai sekalipun ada saja manusia keji yang melakukan perbuatan biadab seperti ini!"

"Benar, Bu-te, akan tetapi tidaklah sebanyak di waktu perang. Semua itu terjadi karena terbuka kesempatan, dan di waktu perang terbuka segala macam kesempatan bagi orang-orang yang batin-nya lemah sehingga mudah ia menurutkan nafsu jahat melakukan hal-hal yang biadab seperti ini. Engkau tentu sudah membaca tentang perang sejak dahulu kala, pembunuhan kejam tanpa sebab tertentu, perampokan semena-mena, perkosaan yang biadab, semua terjadi dalam perang. Di waktu damai, membunuh manusia pun akan berurusan dengan yang berwajib, akan tetapi di waktu perang, membunuh sebanyak-banyaknya bukan apa-apa, bahkan makin banyak makin baik, makin besar jasanya!"

"Perang! Phuh, muak aku, Lee-ko!"

"Hemm, kau lupa apa yang menyebabkan kita berdua berada di sini?"

"Ya, sebabnya adalah pemberontakan."

"Perang juga!"

"Kita terseret mau tidak mau karena kita membela Enci Milana."

"Dan Enci Milana terseret karena hendak membela kerajaan."

"Dan kerajaan membela siapa?"

"Aha, membela diri sendiri tentunya, membela kedudukannya. Pemerintah mana yang tidak akan membela kedudukannya, Bu-te? Semua pemerintah di dunia ini, yang sedang berkuasa, tentu tidak akan rela begitu saja kalau ditentang, dan setiap penentangnya dianggap pemberontak dan akan dibasmi oleh pemerintah itu."

"Hemm, siapakah pemerintah itu, Lee-ko?"

"Pemerintah? Tentu saja kaisar dan para pembesarnya."

"Jadi orang-orang juga, bukan? Orang-orang yang telah memperoleh kedudukan tinggi, tentu saja mempertahankan kedudukannya. Dan siapakah yang memberontak?"

"Yang memberontak sudah jelas adalah kedua orang Pangeran Liong dan para pembantunya."

"Juga orang-orang yang tidak mendapat bagian, atau orang-orang yang tidak puas dengan kekuasaan mereka sekarang ini, dan ketidakpuasan itu tentulah karena mereka berada di bawah, bukan? Hemm, andaikata pemberontakan mereka berhasil, tentu mereka akan berbalik menjadi di atas dan memperoleh kekuasaan, Lee-ko, dan merekalah yang menjadi pembesar-pembesar wakil pemerintah."

"Ya, dan tentu timbul pula mereka yang tidak puas karena tidak mendapat bagian tadi, karena iri dan ingin di atas. Maka tidak akan ada habisnyalah pemberontakan dan peperangan ini, Bu-te!"

Kian Bu menggeleng-geleng kepalanya.

"Manusia memang gila!"

"Kita juga. Kita juga manusia dan kita sekarang pun terlibat!"

Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan dan muncullah belasan orang perajurit.

"Tangkap mata-mata!"

"Jangan sampai lolos!"

"Bunuh! Dia telah membunuh Kok-ciangkun!"

"Ada pelayan-pelayan yang pingsan!"

Kian Lee dan Kian Bu terkejut.

Karena keenakan bercakap-cakap tadi mereka kurang waspada, sehingga ketahuan oleh penjaga yang segera mengajak teman-teman mengepung mereka.

Kian Lee dan Kian Bu meloncat dengan niat untuk melarikan diri keluar dari gedung itu.

Akan tetapi para perajurit pemberontak itu menerjang mereka dan dengan cepat kedua orang kakak beradik itu menggerakkan kaki tangan dan enam orang perajurit berpelantingan ke kanan kiri!

"Bu-te, lari....!"

Kian Lee berseru kepada adiknya karena dia khawatir bahwa adiknya yang suka bergurau dan suka menggoda orang, suka berkeiahi pula itu akan memperpanjang waktu pertempuran di situ, padahal tempat itu adalah tempat yang amat berbahaya, sarang dari para pimpinan pemberontak.

Agaknya sekali ini Kian Bu juga maklum akan bahaya, maka dia cepat melompat mengejar kakaknya setelah kembali dia merobohkan dua orang pengeroyok terdepan.

Sisa para perajurit pemberontak itu mengejar, akan tetapi tentu saja mereka jauh kalah cepat oleh Kian Lee dan Kian Bu yang sudah meloncat ke bagian belakang dari kompleks gedung besar itu.

Mereka maklum bahwa lari melalui depan amat berbahaya.

Akan tetapi, begitu tiba di halaman belakang, mereka bertemu dengan banyak perajurit yang dipimpin oleh pemuda berpedang!

"Huh, kiranya kalian mata-mata!"

Bentak pemuda itu yang bukan lain adalah Tek Hoat.

"Dan engkau anjing pemberontak!"

Kian Bu memaki.

Memang dia sudah tidak senang dan benci kepada pemuda ini semenjak dia hampir ditabrak oleh kudanya, dan baru sekaranglah dia teringat akan pemuda ini yang pernah menculik Jenderal Kao.

"Kiranya engkau Si Penculik itu!"

Bentakan Kian Bu ini pun menyadarkan Kian Lee dan marahlah pemuda ini.

Tak disangkanya bahwa pemuda yang kelihatan sopan dan gagah itu ternyata adalah pemuda kaki tangan pernberontak yang pernah menculik Jenderal Kao.

Kini dia pun teringat dan cepat dia menerjang maju pula bersama Kian Bu.

Tek Hoat yang terlalu percaya kepada kepandaiannya sendiri, biarpun dia maklum bahwa dua orang pemuda ini lihai, memandang rendah.

Apalagi dia masih belum ingat bahwa dua orang ini adalah mereka yang dulu pernah membela Jenderal Kao.

Terlalu banyak dia berhubungan dengan orang-orang pandai dalam pekerjaannya membantu Pangeran Liong sehingga dia lupa kepada dua orang pemuda ini.

Akan tetapi begitu mendengar Kian Lee menyebutnya penculik, dia terkejut dan mengingat-ingat.

Seketika teringatlah dia akan dua orang pemuda yang dulu pernah membantu Jenderal Kao ketika dia dan Siang Lo-mo menyerbu rombongan jenderal itu.

"Aihh, jadi kaliankah mereka itu?"

Bentaknya sambil mengerahkan kedua tangannya dengan tenaga sin-kang untuk menangkis pukulan Kian Lee dan Kian Bu.

"Duk! Plakkk!"

"Ahhhh....!"

Tubuh Tek Hoat terlempar ke belakang dan dia merasa sambungan lengannya hampir terlepas.

Demikian dahsyat pukulan-pukulan yang ditangkisnya tadi, pukulan yang mendatangkan hawa dingin dan tentu sudah melukai sebelah dalam dadanya melalui tangkisannya kalau dia tidak cepat-cepat bergulingan sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi tubuh sebelah dalam.

Dia sudah meloncat lagi dan mencabut Cui-beng-kiam!

Sementara itu, ketika Tek Hoat terlempar dan bergulingan, para perajurit sudah menerjang dua orang pemuda itu, dibantu oleh beberapa orang berpakaian preman yang merupakan kaki tangan Tek Hoat dan bekerja sebagai mata-mata atau penyelidik.

Ilmu silat mereka ini tentu saja lebih tinggi daripada para perajurit, akan tetapi dengan mudah Kian Bu dan Kian Lee menyapu mereka seperti petani membabat rumput saja.

Melihat Tek Hoat mencabut sebatang pedang yang mengeluarkan hawa menyeramkan, dua orang saudara itu maklum bahwa itu adalah sebatang pedang pusaka yang amat ampuh, maka mereka cepat meng-ulur tangan menyambut serangan para perajurit bertombak dan sambil menendangi mereka, Kian Lee dan Kian Bu berhasil merampas dua batang tombak bergagang besi.

"Mundur semua, kurung saja mereka!"

Tek Hoat membentak marah sekali ketika melihat betapa para perajurit dan kaki tangannya sama sekali tidak berdaya menghadapi dua orang pemuda itu.

Semua perajurit lalu mundur dan mengurung dengan senjata ditodongkan ke depan.

Jumlah mereka banyak sekali, membuat dua orang kakak beradik itu memandang khawatir.

Akan tetapi Tek Hoat tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk mencari jalan lari karena dia sudah mengeluarkan suara melengking yang menggetarkan jantung semua orang yang hadir di situ kecuali Kian Lee dan Kian Bu, lalu tubuhnya mencelat ke depan didahului oleh sinar pedang Cui-beng-kiam yang menyeramkan.

Pedang ini adalah pedang ciptaan mendiang Cui-beng Koai-ong, datuk Pulau Neraka yang seperti iblis, maka dibuatnya juga dengan cara mujijat dan entah sudah minum berapa banyak darah manusia, sudah menghisap berapa banyak nyawa korbannya sehingga kalau dipergunakan, pedang itu mengeluarkan hawa mujijat yang amat menyeramkan.

"Sing.... sing.... tranggg.... krek! Krek....!"

Kian Lee dan Kian Bu terkejut sekali ketika tombak rampasan mereka patah ketika bertemu dengan sinar pedang di tangan lawan itu.

Tek Hoat tersenyum mengejek dan terus menyerang dengan gencar, pedang Cui-beng-kiam di tangannya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang dahsyat menyambar-nyambar.

Namun dua orang lawannya itu adalah putera-putera dari Pulau Es yang sejak kecil telah digembleng oleh orang tua mereka yang sakti.

Maka Kian Lee dan Kian Bu sedikit pun tidak menjadi gentar biarpun mereka maklum bahwa lawan mereka ini bukan orang sembarangan melainkan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan memegang sebatang pedang yang ampuh dan mujijat pula.

Tanpa bersepakat lebih dulu mereka sudah tahu bagaimana caranya menghadapi lawan yang berpedang mujijat sedangkan mereka sendiri hanya memegang potongan tombak!

Cepat mereka mengeluarkan ilmu mereka dan mengerahkan tenaga, menggunakan keringanan tubuh yang luar biasa sehingga tubuh mereka kini bergerak mencelat ke sana sini seperti dua ekor burung walet yang amat ringan beterbangan di antara sambaran sinar pedang Cui-beng-kiam, kadang-kadang menggunakan tombak buntung mereka untuk menusuk dan menotok jalan darah!

"Ahhh....!"

Tek Hoat berseru kaget sekali.

Dia juga mengeluarkan kecepatannya sehingga tubuhnya lenyap terbungkus sinar pedang, akan tetapi menghadapi pengeroyokan dua orang yang sama sekali tidak dapat dicium oleh sinar pedangnya itu, yang mengelak ke sana-sini amat cepatnya dan tidak pernah mau menangkis pedang dengan tombak mereka, kemudian sambil mengelak, ujung tombak buntung mereka memasuki lowongan antara gerakan pedang di waktu menyerang untuk melakukan penotokan jalan darah yang amat berbahaya, perlahan-lahan Tek Hoat mulai terdesak!

Hampir saja Tek Hoat yang selama ini menganggap diri sendiri paling pandai di dunia, bahkan Siang Lo-mo sendiri mengaku kelihaiannya, tidak percaya bahwa dia sampai bisa terdesak, padahal dia memegang Cui-beng-kiam sedangkan dua orang lawannya hanya memegang tombak buntung.

Mana mungkin ini?

Dengan penasaran dia mengeluarkan pekik mengerikan, pekik yang mengandung khi-kang luar biasa sehingga beberapa orang perajurit yang terlampau dekat terjungkal pingsan, Kemudian dia mengeluarkan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari kitab-kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin secara bergantian.

Namun sia-sia belaka.

Sungguhpun Kian Lee dan Kian Bu terkejut menyaksikan gerakan yang bermacam-macam dan kesemuanya amat luar biasa itu, namun dengan ilmu silat mereka yang kokoh kuat dan bersih dari Pulau Es, mereka dapat menandingi gerakan lawan dan selalu dapat mengelak sambil mengirim tusukan-tusukan kilat.

Mereka terus mendesak Tek Hoat dan setiap kali ada perajurit atau pembantu Tek Hoat berani maju, dua orang maju, roboh dua orang, empat orang maju roboh pula semua, bahkan pernah sekaligus delapan orang roboh oleh dua orang pemuda lihai ini sehingga akhirnya tidak ada lagi yang berani maju melainkan mengurung dan berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tombak dan golok.

Tek Hoat menyesal sekali mengapa dua orang pembantunya yang paling diandalkan, yaitu Pak-thian Lo-mo, pada saat itu mengawal Panglima Kim Bouw Sin mengadakan perundingan dengan Raja Tambolon.

Kalau berada di situ, tentu dia dibantu oleh Siang Lo-mo akan dapat menawan dua orang pemuda hebat ini.

"Bu-te, mundur ke jembatan!"

Tiba-tiba Kian Lee berseru dan tombak buntungnya diputar cepat melakukan penusukan kilat bertubi-tubi ke arah sepasang mata lawan.

Tek Hoat terkejut sekali dan karena khawatir menghadapi serangan aneh yang amat berbahaya itu dia memutar pedangnya di depan mukanya untuk melindungi matanya yang terus diserang oleh ujung tombak buntung.

Kesempatan itu dipergunakan oleh dua orang saudara Suma untuk mundur ke jembatan yang merupakan jalan terakhir di taman belakang menuju ke tembok yang mengurung kompleks gedung.

Kalau dapat melewati jembatan sungai buatan kecil di taman itu mereka akan dekat dengan dinding dan sekali melompat melewati dinding tentu akan berada di luar dan mudah melarikan diri.

Akan tetapi, tiba-tiba bayangan yang amat cepat gerakannya, bahkan seperti dilontarkan saja, melayang dari dinding itu dan tahu-tahu telah tiba di atas jembatan itu.

Semua orang terkejut menyaksikan betapa ada orang dapat meloncat dari dinding ke jembatan begitu saja!

Tek Hoat sendiri tidak mengenal orang ini, juga semua perajurit tidak ada yang mengenalnya.

Sebaliknya, Kian Lee dan Kian Bu juga belum pernah melihat wanita yang buruk rupanya ini.

Wajah wanita ini buruk sekali untuk ukuran wanita, serba kasar dan serba besar dan kaku, pantasnya wajah seorang laki-laki kasar yang tidak tampan.

Rambutnya riap-riapan sudah bercampur uban dan sekiranya buah dadanya tidak menonjol dan tampak membusung di balik bajunya yang panjang itu tentu dia akan disangka laki-laki.

Tangan kanannya memegang sebatang tongkat akar pohon yang bentuknya seperti ular.

Beberapa lamanya nenek ini berdiri di atas jembatan, kemudian dia mengeluarkan suara tertawa aneh dan suaranya juga besar seperti suara laki-laki.

Kemudian sekali kedua kakinya bergerak, tubuhnya sudah mencelat ke depan dan dari atas tongkatnya bergerak menusuk ke arah ubun-ubun Kian Lee!

"Hehhh!"

Kian Lee mengelak sambil berseru kaget, otomatis tombak buntungnya menusuk dari bawah ke arah lambung nenek itu, seperti kilat menyambar cepatnya.

"Heiii.... kau hebat juga!"

Nenek itu memekik, tongkatnya menangkis sambil mengerahkan sin-kangnya.

"Takkk!"

Tubuh nenek itu mencelat lagi, jelas bahwa menghadapi tenaga Swat-im Sin-kang dari Kian Lee, dia terkejut dan tidak dapat bertahan selagi tubuhnya berada di udara.

Akan tetapi begitu kakinya menyentuh tanah, dia sudah mencelat tapi ke arah Kian Bu dan tongkatnya membuat gerakan seperti pedang menyambar ke arah leher Kian Bu dan disambung dengan tusukan ke arah bawah pusar.

Gerakan nenek ini cepat dan kuat, namun Kian Bu yang biarpun masih muda sudah memiliki tingkat kepandaian hebat itu secara otomatis sudah menangkis dan berbareng meloncat ke belakang, kemudian tombak buntungnya membalas dengan serangan maut yang ditujukan ke arah hidung Si Nenek Buruk!

"Huh, luar biasa!"

Nenek itu berseru, mencelat ke belakang lalu melompat lagi ke depan, terus menyerang Kian Bu dan Kian Lee secara bergantian.

Dua orang pemuda itu kini menghadapi serangan-serangan aneh dari wanita buruk itu dan juga dari Tek Hoat yang menjadi girang dan sudah memutar pedangnya lagi.

Karena terkejut dan bingung melihat gerakan aneh dari wanita itu, untuk beberapa lamanya Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu terdesak hebat.

Gerakan wanita itu memang aneh sekali.

Tubuhnya mencelat ke atas dengan kedua kaki berbareng, mencong ke kanan kiri, depan belakang, bahkan mumbul-mumbul seperti seorang anak kecil bermain-main, kadang-kadang sampai tinggi sekali dan menyerang dengan tongkatnya dari atas.

Menghadapi gaya serangan yang aneh seperti ini, yang belum pernah dilihatnya, Kian Lee dan Kian Bu takjub dan terdesak.

Juga Tek Hoat menjadi kagum sekali, juga girang karena nenek yang tidak dikenalnya siapa ini datang-datang terus membantunya, sehingga dia terbebas dari desakan dua orang muda yang amat lihai itu.

"Bu-te, mari pergunakan pelajaran terakhir!"

Tiba-tiba Kian Lee berseru kepada adiknya.

Kian Bu mengangguk dan tiba-tiba mereka melontarkan tombak buntung itu ke depan.

Kian Lee melontarkan tombaknya ke arah Tek Hoat dan Kian Bu melontarkannya ke arah nenek buruk.

Biarpun hanya tombak buntung akan tetapi lontaran kedua orang kakak beradik ini tidak boleh dipandang ringan.

Kalau mengenai dinding tebal sekalipun, tombak buntung itu akan dapat menembus, apalagi tubuh manusia!

Tenaga yang mendorong tombak sehingga meluncur ini adalah tenaga sakti yang membuat tombak meluncur melebihi anak panah cepatnya.

"Cringg....!"

"Trakkk....!"

Tek Hoat dan nenek itu berhasil menangkis tombak buntung yang menyambar mereka akan tetapi mereka merasa betapa telapak tangan mereka yang memegang senjata menjadi panas dan nyeri sehingga mereka terkejut sekali.

Tek Hoat menjadi makin girang melihat dua orang pemuda itu "membuang"

Senjata mereka, agaknya mereka sudah putus harapan dan agaknya pelajaran terakhir adalah melontarkan tombak tadi.

"Ha-ha, itukah pelajaran terakhir kalian?"

Ejeknya.

Akan tetapi dia berseru kaget dan cepat memutar pedang dan meloncat ke belakang ketika Kian Bu sudah menerjangnya dengan kedua tangan kosong.

Dari kedua tangan pemuda itu menyambar hawa yang amat dingin dan amat panas, yang dingin keluar dari tangan kiri, yang panas keluar dari tangan kanan.

Betapa mungkin ini?

Tek Hoat sendiri telah mempelajari ilmu-ilmu sin-kang kitab-kitab peninggalan kedua datuk Pulau Neraka, Bahkan dari kitab peninggalan Bu-tek Siauw-jin dia telah melatih ilmu Tenaga Sakti Inti Bumi, akan tetapi baru sekarang dia menghadapi lawan yang sekaligus dapat menggunakan dua pukulan yang berbeda, bahkan berlawanan tenaga sin-kangnya, panas dan dingin!

Selain kedua pukulan yang mengandung dua hawa sakti bertentangan atau berlawanan ini, juga gerakan Kian Bu amat cepatnya, tubuhnya meluncur ke sana-sini seperti kilat!

Melihat adiknya Sudah bergerak, Kian Lee juga melakukan gerakan yang sama.

Tubuhnya mencelat seperti kilat menyambar, mengimbangi gerakan nenek yang aneh tadi, dan kedua tangannya menyerang dari kanan kiri, mengeluarkan hawa panas dan dingin secara berbareng sehingga nenek itu terkejut, berteriak keras dan mencelat mundur.

Memang itulah pelajaran terakhir yang dimaksudkan oleh Kian Lee tadi.

Sebelum mereka keluar dari Pulau Es, ayah mereka telah menggembleng mereka secara tekun untuk mempelajari ilmu ini, ilmu yang dikombinasikan oleh Pendekar Super Sakti, mengambil inti dari gerakan ilmu silatnya Soan-hong-lui-kun (Ilmu Silat Badai dan Kilat) dengan menggunakan inti pukulan Hwi-yang Sin-ciang (Tenaga Sakti Inti Api) dan Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Salju) digabung menjadi satu!

Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun tidak mungkin dapat dipelajari oleh orang yang berkaki dua maka Pendekar Super Sakti hanya mengambil inti gerakannya saja, membuat gerakan kedua orang puteranya itu seperti kilat cepatnya, mencelat ke sana-sini tak terduga-duga oleh lawan!

Dan karena ilmu ini harus dimainkan dengan kedua tangan yang masing-masing merupakan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang, maka dua orang pemuda itu tadi telah membuang tombak buntung mereka.

Setelah kedua orang kakak beradik itu mengeluarkan ilmu yang aneh dan hebat ini, mereka dapat mengimbangi lawan dan tidak terdesak lagi sungguhpun hawa pukulan mereka yang berselang-seling panas dan dingin itu hanya dapat mendesak lawan agak menjauh dan tidak berani terlalu dekat, akan tetapi mereka pun tidak dapat terlalu mendesak karena senjata kedua orang lawan mereka amat lihai.

Tek Hoat menjadi penasaran bukan main.

Kembali dia bertemu dengan "batu"!

Tak disangkanya sama sekali bahwa di dunia ini terdapat orang muda yang begini hebat, setelah dia terkejut bertemu dengan pemuda tinggi besar yang dulu menolong Jenderal Kao, yang juga amat lihai ilmunya.

Kiranya bukan dia seorang saja yang menjadi jago muda di kolong langit ini.

Kenyataan ini sedikitnya telah menghancurleburkan kebanggaannya, membuka matanya sehingga dia tidak akan berani lagi menganggap dirinya sebagai jago muda nomor satu di dunia!

Sementara itu, nenek yang didesak oleh Kian Lee yang lebih berani mendesak daripada Kian Bu karena nenek itu hanya bersenjata tongkat, bukan pedang mujijat seperti yang dipegang oleh lawan Kian Bu, berkali-kali mengeluarkan lengking mengerikan dan aneh, seperti suara jerit seekor binatang yang terjepit.

Tiba-tiba dia meloncat agak jauh ke belakang dan ketika Kian Lee mengejarnya dengan gerakan kilat, tiba-tiba wanita itu tertawa dan tangan kirinya melontarkan sebuah benda bulat ke arah pemuda ini.

Kian Lee sedang meloncat dan lontaran itu cepat sekali, maka dia tidak sempat lagi mengelak dan sambil mengerahkan tenaga ke arah kaki kirinya dia menendang benda hitam bulat itu.

"Darrr....!"

Benda itu meledak ketika ditendang oleh Kian Lee dan pemuda ini mengeluh, terlempar ke bawah dan darah membasahi celana karena pahanya telah terluka oleh pecahan besi.

Kiranya benda itu adalah semacam senjata peledak yang ampuh dan karena tidak mengira sama sekali bahwa benda itu akan meledak, maka Kian Lee menjadi kurang hati-hati dan pahanya terkena pecahan besi sehingga kulit dan dagingnya terluka yang lumayan parahnya.

"Lee-ko....!"

Kian Bu berseru kaget sekali dan sekali meloncat, dia telah berada di depan nenek itu, terus menyerangnya dengan kedua tangannya sambil mengerahkan seluruh tenaga.

Dipukul dengan Hwi-yang Sin-ciang berbareng dengan Swat-im Sin-ciang secara hebat itu, Si Nenek terkejut dan biarpun dia sudah mengelak, tetap saja dia terdorong oleh hawa pukulan sehingga dia terhuyung dengan muka pucat dan roboh.

Cepat dia bergulingan kemudian meloncat ke atas lagi.

Suma Kian Bu sudah menarik kakaknya bangun, kemudian menggandeng kakaknya itu, meloncat ke atas jembatan.

"Lepaskan aku, aku bisa membela diri. Mari kita ke dinding itu...."

Kata Kian Lee sambil menyeret kaki kirinya yang sukar digerakkan.

Melihat seorang pemuda telah terluka, para perajurit dan pembantu Tek Hoat menjadi berani.

Mereka mengejar dan beberapa orang telah menyerang dengan tombaknya.

Kian Bu menjadi marah, dia membalik, merampas sebatang tombak dan memutap tombak itu, merobohkan enam orang sekaligus, ada yang dikemplang tombak, ada yang ditusuk, ada yang ditendang dan ada yang didorong oleh tangan kirinya.

"Hayo, Lee-ko....!"

Dia hendak menggandeng kakaknya lagi akan tetapi pada saat itu, seorang pembantu Tek Hoat yang gerakannya cukup gesit dan kuat, seorang yang berjenggot dan berkumis pendek telah menusuk dari belakang dengan tombaknya.

"Haiiittt....!"

Kian Bu berseru, kaki kirinya yang seperti bermata itu diputar ke belakang dan dengan tepat menangkis tombak itu, kemudian dia membalik, tombak yang dipegangnya menyambar ke arah kepala orang berkumis pendek, sedangkan pedang Si Kumis itu telah terlempar oleh tangkisan kaki Kian Bu.

"Ouhhhh....!"

Orang itu mengelak, akan tetapi tetap saja telinga kirinya kena dihantam tombak sehingga remuk.

"Wadouuuhhh....!"

Dia berloncatan sambil memegangi telinga kirinya yang sudah tidak berdaun lagi, dan saking sakitnya dia tidak melihat kanan kiri atas depan lagi, maka tanpa disengaja dia menabrak dan menghalangi Tek Hoat yang sedang lari hendak mengejar Kian Lee dan Kian Bu.

Karena tiba-tiba ditabrak pembantunya sendiri yang sedang kesakitan, Tek Hoat marah-marah dan ditendangnya pembantu yang sudah tidak berdaun telinga kiri lagi itu.

"Ngekkk!"

Pembantu itu terlempar, terbanting dan tidak bergerak lagi.

Kian Bu dan Kian Lee sudah dikepung lagi oleh nenek dan para perajurit dan selain Kian Bu mengamuk dengan hebat, Kian Lee yang sudah terluka pahanya itu pun masih melawan dan setiap ada tombak menusuknya, dia menangkis dan pemegang tombaknya terpelanting.

Pada saat yang amat berbahaya itu tampaklah berbondong-bondong bayangan orang banyak berloncatan dari dinding belakang.

Mereka itu bukan lain adalah Si Gendut anggauta Tiat-ciang-pang bersama kawan-kawannya.

Mula-mula hanya belasan orang saja yang berloncatan masuk dan langsung saja Si Gendut dan kawan-kawannya itu menerjang para perajurit pemberontak yang mengeroyok Kian Bu dan Kian Lee.

Melihat ini, Tek Hoat menjadi kaget dan marah, dan mengira bahwa orang-orang yang datang itu ada yang sepandai dua orang pemuda tadi.

Akan tetapi ketika mendapat kenyataan bahwa yang datang hanya gerombolan kaum sesat dari Tiat-ciang-pang yang dipimpin Si Gendut, dia memandang rendah dan cepat dia melakukan pengejaran karena Kian Bu dan Kian Lee sudah tidak kelihatan di tempat itu lagi.

Kian Bu yang tadi melihat kesempatan baik selagi keadaan kacau dengan munculnya Si Gendut dan kawan-kawannya, cepat mengempit tubuh kakaknya dan meloncat naik ke atas dinding kebun lalu meloncat pula turun.

Banyak perajurit yang juga berloncatan naik dan melakukan pengejaran.

"Lepaskan aku, biar aku dapat melawan!"

Kian Lee berkata.

Kian Bu yang mendapat kenyataan bahwa kakaknya tidak terluka terlalu berat dan hanya terpincang-pincang itu, melepaskan kakaknya.

Mereka melakukan perlawanan sambil melarikan diri menyelinap ke tengah kota di antara rumah-rumah orang.

Akan tetapi, nenek buruk itu sudah dapat menyusul mereka dan bersama banyak perajurit dia telah mengeroyok Kian Bu yang terpaksa berpisah dari kakaknya karena nenek itu merupakan lawan yang tidak ringan.

"Toanio, tangkap dia hidup-hidup!"

Suara Tek Hoat ini mengejutkan Kian Bu, apalagi ketika dia menengok dan tidak dapat melihat kakaknya lagi, hatinya menjadi panik sekali, dan dia tidak dapat menghindarkan pukulan tongkat nenek itu yang mengenai pundaknya.

Baiknya, tubuh pemuda itu sudah secara otomatis dihuni oleh tenaga sakti yang amat hebat sehingga tanpa pengerahan pun, tenaga saktinya melindungi pundak dan biarpun terasa nyeri bukan main, tidak ada tulang yang patah oleh pukulan maut dari nenek itu.

Akan tetapi dia terhuyung dan menabrak pohon di pinggir rumah, dan pada saat itu, Tek Hoat sudah meloncat dekat, tangan kiri pemuda ini menghantam ke arah punggung Kian Bu untuk merobohkan dan menangkap pemuda ini hidup-hidup.

"Wuuuutttt.... plakkkk!"

Tek Hoat terbelalak ketika melihat betapa telapak tangannya bertemu de-ngan telapak tangan orang lain dan seluruh tubuhnya menjadi tergetar hebat.

Dia masih mengerah-kan tenaga Inti Bumi ke telapak tangannya dan mendorong, akan tetapi sedikit pun tangan itu tidak bergeming, bahkan ketika laki-laki setengah tua yang dikenalnya sebagai laki-laki teman kedua orang pemuda lihai tadi mendorong, dia tidak dapat bertahan dan terhuyung ke belakang!

Hebat!

Ternyata laki-laki ini malah lebih lihai dari dua orang pemuda itu, dan bukan itu saja, agaknya laki-laki ini pun mahir menggunakan tenaga sakti Inti Bumi!

Laki-laki itu bukan lain adalah Gak Bun Beng.

Cepat dia menarik tangan Kian Bu dan berkata.

"Mari kita pergi....!"

Kian Bu meragu.

"Lee-ko...."

"Di mana dia?"

"Entah, kami berpisahan, dia terluka pahanya...."

"Keparat!"

Tek Hoat berteriak marah dan kini menyerang Gak Bun Beng dengan pedang Cui-beng-kiam!

Bun Beng terkejut melihat pedang ini dan cepat mengelak dengan merendahkan tubuhnya, sambil mengelak tangan kanannya menyambar tanah pasir dan begitu tangan ini bergerak, tanah pasir yang merupakan senjata rahasia yang amat dahsyat menyambar ke arah pedang itu, disusul dorongan telapak tangan kirinya ke arah Tek Hoat.

"Trikk-trikk-cringgg.... aihh....!"

Tek Hoat cepat meloncat jauh ke belakang dengan muka pucat.

Hantaman tanah pasir pada pedangnya tadi selain membuat pedangnya menyeleweng, juga ta-ngannya yang terkena pasir terasa sakit dan bahkan kulitnya terluka berdarah sedangkan hantaman tangan kiri tadi biarpun tidak sampai mengenai dadanya, namun hawa pukulannya hampir tidak kuat dia menahannya, begitu dingin seperti membekukan isi dadanya!

Dia menjadi jerih dan hanya melongo melihat kedua orang itu melarikan diri dan lenyap di balik rumah-rumah.

"Kejar....!"

Dia berseru dan menyuruh para perajurit mengejar, sedangkan dia sendiri menghampiri nenek itu.

"Mereka hebat, dan laki-laki yang baru datang tadi.... hemm, hanya satu orang saja di dunia ini yang memlliki kepandaian seperti itu."

Kata Si Nenek menghela napas panjang.

"Siapa?"

Tek Hoat bertanya penasaran.

"Pendekar Super Sakti?"

"Memang, dan itulah anehnya. Dia bukan Pendekar Super Sakti, akan tetapi kepandaiannya hebat, dan dua orang pemuda itu! Hemmm, aku tidak akan heran kalau mendengar bahwa mereka adalah keluarga Pendekar Super Sakti dari Pulau Es...."

"Dan Toanio (Nyonya Besar) sendiri siapakah? Saya berterima kasih atas bantuan Toanio."

"Hi-hi-hik, karena kau tampan sekali maka aku membantumu! Memang kami berniat membantu pemberontakan menumbangkan pemerintah yang sudah banyak merugikan kami, akan tetapi Suheng dan Sumoi adalah orang-orang yang ku-koai (aneh), mereka membawa mau sendiri sehingga hanya aku seorang yang mencoba membantumu. Aku mendengar bahwa pihak pemberontak mempunyai seorang tangan kanan yang lihai, muda, tampan dan berjuluk Si Jari Maut. Tentu engkau, bukan?"

Tek Hoat tersenyum.

"Saya bernama Ang Tek Hoat dan tidak salah dugaan Toanio. Marilah kita masuk ke dalam gedung itu dan kita bicara. Toanio tidak keliru membantu kami dan akan kuperke-nalkan kepada Pangeran Liong Khi Ong yang kebetulan berada di sini."

Mereka lalu berjalan sambil bercakap-cakap menuju ke gedung bekas kepunyaan Kepala Daerah itu.

Ke manakah perginya Kian Lee?

Pemuda ini yang merasa betapa dada kirinya sakit sekali maklum bahwa pecahan besi itu tentu mengandung racun dari obat peledak, terasa panas, perih dan kaku.

Dan dia mengkhawatirkan keselamatan adiknya.

Terlalu banyak lawan, dan nenek itu, juga pemuda berpedang itu amat lihai.

Dia sendiri tentu tidak akan kuat menghadapi mereka, dan kalau Kian Bu harus melawan sendiri, tentu berbahaya.

Akan tetapi dia pun tahu bahwa sampai mati pun Kian Bu tentu tidak akan mau meninggalkannya.

Maka dialah yang harus meninggalkan adiknya agar Kian Bu juga pergi dari tempat berbahaya itu, tidak melanjutkan pertandingan dan akan mencarinya.

Kesempatan ini tiba ketika dia melihat seekor kucing bergerak memasuki sebuah pintu yang terbuka sedikit.

Cepat dia menyelinap dan tanpa diketahui oleh siapapun dia lalu membuka daun pintu itu, (Lanjut ke

Jilid 31) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 31 menyelinap masuk, lalu memasang palang pintu dari dalam. Kemudian dia terhuyung-huyung memasuki rumah itu yang ternyata cukup besar dan lega.

"Meong....! Meong....! Meonggg....!"

Kian Lee terbelalak melihat begitu banyaknya kucing di dalam rumah ini!

Ada lima enam ekor kucing yang bagus-bagus merubungnya dan dia bergidik seolah-olah kucing itu adalah musuh-musuh yang hendak mengeroyoknya.

Matanya memandang ke arah binatang-binatang itu penuh perhatian, siap untuk melawan kalau mereka menyerang!

"Meong....

meong....

meooongggg....!"

Kucing-kucing itu mengelilingi, seolah-olah terheran-heran dan menyelidikinya sambil mengeluarkan bunyi bermeong saling sahut dan dari dalam muncullah kucing-kucing lain.

Semua indah dan cantik, bermacam-macam warna bulunya, semua bersih terpelihara dengan leher dihias kalung yang mengeluarkan bunyi maka riuh rendahlah suara kerincingan di kalung itu ketika kini muncul lagi belasan ekor kucing darl dalam sehingga jumlanya ada dua puluh ekor lebih!

Betapa pun cantik dan bagus kucing-kucing gemuk itu, dengan bulu halus bersih bermacam warna, namun bergidik juga Kian Lee melihat begini banyak kucing mengurungnya.

Menghadapi pengeroyokan orang-orang yang ganas dia tidak gentar, akan tetapi dikelilingi begini banyak kucing, menimbulkan perasaan ngeri dan serem!

Pahanya yang sebelah kiri terasa sakit dan panas, mengucurkan darah cukup banyak dan dia menggoyang-goyang kepalanya karena terasa pening.

Lebih dua puluh pasang mata kucing yang bersinar tajam dan aneh itu seolah-olah menyihirnya, membuatnya pusing dan berkunang-kunang.

Dia berusaha menggoyang-goyang kepala, membuka-buka lebar matanya, akan tetapi kepalanya makin berat dan pusing, dia terhuyung-huyung.

"Ouhhhh...."

Hampir dia roboh kalau dia tidak menangkap sebatang tiang di dalam ruangan itu, sejenak ia bersandar pada tiang.

"Heiii, Belang....! Putih....! Heiii, Hitam.... ada apa kalian ribut-ribut di situ....?"

Suara yang halus bening dan penuh keriangan ini masih dapat menembus pendengaran Kian Lee yang mulai terngiang-ngiang.

"Hei, kucing-kucing lucu, di mana Su-kouw (Bibi Guru....?"

Lalu pandang mata Kian Lee yang sudah mulai gelap itu melihat bayangan seorang gadis cantik yang tampak olehnya seperti munculnya sinar terang dalam kegelapan, seolah-olah dia melihat seorang bidadari terbang melayang dan turun dari angkasa mengulurkan tangannya untuk menolong.

"Uuhhh....!"

Dan dia pun terguling dan roboh ke atas lantai tak sadarkan diri.

Kian Lee mengeluh dan mengerang, dia mendapatkan dirinya teruruk sebuah rumah yang terbakar, kakinya terhimpit balok terbakar.

Seluruh tubuh terasa panas, kaki yang terhimpit balok nyeri bukan main dan tak dapat digerakkan.

Tiba-tiba hujan turun, api yang membakar sekelilingnya padam, paha kirinya yang terhimpit balok terkena air, terasa dingin akan tetapi rasa dingin yang menggantikan kedudukan api yang tadi menyiksa.

Rasa dingin yang menusuk-nusuk, terasa sampai di tulang paha kaki kirinya dan lapat-tapat dia mendengar suara menghiburnya, seperti suara gadis yang selama ini terbayang di depan matanya, suara Lu Ceng.

Tercium olehnya bau harum sedap yang lamat-lamat, dan tampak olehnya seraut wajah, cantik bukan main, wajah Lu Ceng yang dirindukannya....!

Kian Lee membuka sedikit matanya dan ternyata mimpinya itu menjadi kenyataan, karena benar saja dia melihat seraut wajah cantik jelita.

Dia menjadi terharu!

Mengapa mimpinya menjadi ke-nyataan dan mungkinkah Lu Ceng begini baik kepadanya, duduk bersimpuh di dekatnya, menggunakan jari-jari tangan yang halus lentik menyusuti dahinya dengan sehelai saputangan yang dibasahi, begitu lembut dan mesra!

Mungkinkah gadis itu begini baik kepadanya, dengan sepasang mata yang menyinarkan kelembutan dan kemesraan, bibir yang tipis basah kemerahan itu membentuk senyum menggairahkan?

Keharuan membuat Kian Lee menggerakkan tangan kanannya, seperti bukan kemauannya sendiri dia mengusap dagu dan pipi wajah cantik di depannya itu, berbisik halus.

"Engkaukah ini.... engkau....?"

Sepasang mata yang tadinya meman-dang lembut dan mesra itu terbelalak keheranan, lalu bibir yang mungil itu terbuka, terkekeh, tampak deretan gigi yang kecil rata dan putih mengkilap.

"Hi-hi-hik, kau lucu....!"

Kian Lee mengejap-ngejapkan matanya, kini baru sadar betul.

Ketika dia membuka mata dan memandang lagi, dengan kaget dia mendapat kenyataan bahwa wajah itu bukanlah wajah Ceng Ceng, bukanlah wajah gadis yang dirindukan, sungguhpun wajah ini juga cantik, bahkan terlalu cantik jelita, wajah seorang gadis cilik, seperti setangkai kuncup bunga yang sudah mulai tampak keindahannya, menjanjikan keadaan dan kecantikan luar biasa apabila telah mekar menjadi bunga tak lama lagi!

Kian Lee cepat menggerakkan tubuhnya, bangkit duduk.

Hampir dia berteriak karena paha kirinya terasa nyeri.

"Ngeonggg....! Ngeooongggg....!"

Kian Lee terperanjat dan memandang ke kanan kiri. Penuh kucing! "Hushh, Belang! Hitam! Jangan nakal lho!"

Gadis itu membentak halus dan kucing-kucing itu menyingkir agak menjauh dari Kian Lee, sedangkan gadis itu lalu membungkuk dan memondong seekor kucing kecil berbulu putih yang amat cantik.

Kian Lee mendapatkan dirinya tadi rebah di atas lantai, ketika dia meraba paha kirinya yang dia ingat telah terluka, dia mendapatkan kenyataan bahwa paha di dalam pipa celananya itu telah diobati dan dibalut orang.

Dia meraba-raba, mengerahkan tenaga sin-kang ke arah paha dan mendapat kenyataan yang menggirangkan hatinya bahwa rasa panas dari racun obat peledak itu telah lenyap, atau telah menjadi tawar oleh obat penolaknya yang mujarab sekali.

"Eh, di mana aku....?"

Dia berkata.

Gadis itu sambil mengusap-usapkan pipinya yang tadi diraba tangan Kian Lee kepada punggung kucing yang penuh bulu halus memandang kepadanya dengan muka dimiringkan dan mata bersinar, wajah berseri-seri, tersenyum menjawab nakal.

"Di dalam rumah!"

"Ya, tentu. Tapi rumah siapa?"

Sepasang mata itu bergerak nakal, bibir merah itu tersenyum dikulum sebelum menjawab, seolah-olah dia hendak mencari "akal"

Untuk menjawab, kemudian keluar jawabannya dengan mata bersinar-sinar.

"Rumah orang!"

Kian Lee tertegun sejenak, memandang gadis cilik itu dan tiba-tiba dia tertawa.

Gadis ini mengingatkan dia kepada adiknya, Kian Bu!

Betapa sama sifatnya, sama-sama nakal dan suka menggoda orang, karena dia yakin benar bahwa jawaban-jawaban aneh itu disengaja untuk menggoda, jelas tampak dari pandang mata gadis itu yang persis seperti pandang mata Kian Bu kalau sedang menggodanya.

"Eh, kenapa kau ketawa-tawa? Apanya yang lucu?"

Tiba-tiba sifat gadis itu berubah, kalau tadi menahan geli mempermainkan orang, kini penuh penasaran!

"Aku tertawa karena engkau mengingatkan aku akan seseorang.

Akan tetapi sudahlah, adik yang baik.

Ini rumah siapakah?"

"Rumah bibiku, bibi guruku."

"Jadi diakah yang mengobati kakiku yang terluka?"

Gadis itu menggeleng.

"Bukan, dia belum datang. Yang ada hanya kucing-kucingnya yang kelaparan karena belum diberi makan. Kalau tidak kebetulan aku datang ke sini, tentu kucing-kucing kelaparan ini sudah menggerogoti habis daging-dagingmu ketika kau pingsan tadi."

Kian Lee bergidik.

Dara cilik ini cantik manis sekali, akan tetapi di dalam kata-kata dan sikapnya tersembunyi sesuatu yang menyeramkan, seperti ketika membayangkan betapa kucing-kucing kelaparan itu akan menggerogoti daging-dagingnya!

"Kalau begitu, siapa yang mengobati kakiku?"

"Di rumah ini hanya ada kucing-kucing ini dan aku. Kucing-kucing ini tentu tidak bisa mengobati luka di kakimu yang penuh dengan racun obat peledak, biarpun mereka akan menggunakan lidah-lidah mereka yang kasar untuk secara bergantian menjilati luka di kakimu itu."

Kembali Kian Lee bergidik. Cara gadis cilik ini menggambarkan sesuatu benar-benar membikin orang merasa ngeri.

"Kalau begitu, engkaulah yang telah mengobatinya?"

Tanyanya dengan heran sekali.

"Hemm, entah siapa, kau cari saja sendiri. Yang ada hanya aku dan kucing-kucing ini, dan kucing-kucing ini tentu saja tidak bisa mengobati. Eh, masih ada lagi selain aku dan kucing-kucing ini, tapi aku sangsi apakah mereka itu dapat mengobatinya."

"Mereka siapa?"

Kian Lee bertanya sambil memandang ke kanan kiri, siap siaga menghadapi segala kemungkinan.

"Mereka inilah."

Gadis cilik itu telah melepaskan anak kucing yang tadi dipondongnya, dan tahu-tahu dia kini sudah mengeluarkan dua ekor ular yang membuat Kian Lee terbelalak dan melongo karena mengenal ular-ular itu sebagai dua ekor ular yang paling berbisa!

Dan jelas bahwa dua ekor ular itu bukanlah ular-ular yang telah dijinakkan atau telah tidak mengandung bisa lagi.

Dua ekor binatang menjijikkan itu mendesis-desis dan dari desisnya saja sudah mengepulkan uap hitam yang amat berbisa!

Akan tetapi, gadis cilik itu mempermainkan dua ekor ular ltu seperti memainkan dua helai saputangan sutera saja layaknya!

Kini Kian Lee memandang gadis itu dengan pandang mata lain.

Mengertilah dia bahwa betapapun halus dan cantik manis tampaknya, ternyata gadis cilik itu memiliki kepandaian hebat untuk menaklukkan ular berbisa, dan tentu dengan sendirinya ahli tentang racun, maka dapat mengobati pahanya yang terluka dan terkena racun.

Buktinya, gadis cilik ini tadi mengatakan bahwa luka di pahanya terkena racun obat peledak!

Kian Lee lalu bangkit berdiri.

Pahanya masih agak nyeri, akan tetapi karena sudah terbebas dari racun, rasa nyeri dapat dipertahankan dan dia dapat menggerakkan kaki kirinya seperti biasa.

Lalu dia menjura kepada gadis cilik yang sudah memondong lagi anak kucing putih sedangkan dua ekor ular tadi entah disembunyikan di mana, mungkin di saku baju luarnya yang panjang dan lebar itu.

"Nona, saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Nona yang amat besar tadi. Saya Suma Kian Lee tidak melupakan...."

"Wah, kau she Suma?"

Tiba-tiba gadis ci1ik itu membentak.

"Benar, mengapa?"

Kian Lee bertanya heran, apalagi melihat betapa sepasang mata itu kini terbelalak lebar memandangnya seperti mata orang marah!

"Aku....

benci orang yang shenya Suma!

Semua orang she Suma adalah musuh besarku, demikian kata ayahku.

Maka kalau kau she Suma, aku menyesal telah mengobati lukamu....

akan tetapi....

hemm, kau....

tampan dan gagah, engkau tentu orang baik, maka aneh kalau kau she Suma karena menurut Ayah, she Suma adalah she orang-orang yang jahat dan menjadi musuh besar kami."

Kian Lee mengerutkan alisnya.

"Kalau boleh saya bertanya, Nona...."

"Nanti dulu, aku benci caramu menyebut aku nona! Aku sudah muak karena setiap hari orang-orang kami menyebutku nona dengan sikap menjilat sehingga setiap kali mendengar sebutan nona, aku membayangkan sikap orang menjilat-jilat menjemukan! Jangan panggil aku nona, baru aku mau mendengarkan!"

Kian Lee makin heran.

Bocah ini benar-benar aneh, manis tapi menyeramkan, menarik tapi manja menggemaskan, masih bersikap kanak-kanak akan tetapi telah memiliki ilmu demikian tinggi tentang racun!

"Baiklah, aku akan menyebut siauw-moi (adik kecil)...."

"Iihh, kau kira aku masih bayi? Aku sudah hampir dua belas tahun! Dan engkau pun belum begitu tua, kau pantas menjadi kakakku. Kenapa tidak menyebut aku adik saja, jangan pakai kecil segala!"

Katanya manja dan berlagak seperti telah dewasa, akan tetapi lagaknya ini malah membayangkan bahwa gadis cilik ini memang masih mentah!

Akan tetapi karena maklum bahwa gadis cilik ini memiliki watak yang ku-koai (aneh), Kian Lee yang merasa berterima kasih telah ditolong itu berkata.

"Baik, Moi-moi. Aku ulang lagi, kalau boleh aku bertanya, engkau ini siapakah dan siapa pula ayahmu yang begitu membenci she Suma?"

"Namaku? Aku Kim Hwee Li."

Kian Lee mengingat-ingat. Tidak pernah dia mendengar nama ini dan hanya tahu bahwa nama Hwee Li ini terdengar manis sekali.

"Dan ayahmu?"

"Tidak perlu kukatakan."

"Kenapa?"

"Engkau tentu akan lari terbirit-birit mendengarnya. Sudah banyak pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang kujumpai dan kuajak berteman, kalau mendengar nama ayahku lalu lari ketakutan meninggalkan aku. Aku tidak ingin kau pun ketakutan seperti itu dan berlari pergi setelah kuperkenalkan namanya."

"Ah, masa? Katakanlah, aku tidak akan lari...."

Tiba-tiba Kian Lee menghentikan kata-katanya karena pintu depan diketuk orang.

Gadis itu menjadi kaget dan kelihatan ketakutan sekali.

Kini baru tampak oleh Kian Lee betapa gadis cilik yang amat cantik jelita ini memiliki wajah yang amat pucat, dan sekarang, dengan mata terbelalak ketakutan itu wajahnya kelihatan makin pucat lagi.

"Celaka....!"

Bisiknya dan jari-jari tangannya yang memegang lengan Kian Lee menggigil.

"Kau.... kau sembunyilah di sini saja, jangan bergerak, jangan bernapas.... jangan mengeluarkan suara.... biar aku menghadapi Sukouw.... jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan engkau menjadi korban Sukouw!"

Kian Lee yang menjadi bingung karena tidak mengerti itu hanya mengangguk, lalu dia duduk kembali, bersembunyi di balik tiang dan dinding, akan tetapi dia mengintai ke arah pintu depan.

Sedangkan Hwe Li dengan sikap ditenang-tenangkan dan memondong kucing putih mulus, melangkah ke arah pintu lalu membuka pintu.

Daun pintu terbuka lebar dan terdengar orang mendengus marah dan muncullah seorang kakek yang membuat Kian Lee kini benar-benar menahan napas karena dia mengenal kakek ini sebagai kakek raksasa yang lihai dan menyeramkan, dan tidak heranlah dia kini mengapa gadis cilik itu demikian lihai, karena kakek yang muncul ini bukan lain adalah Hek-tiauw Lo-mo, Ketua Pulau Neraka!

Hek-tiauw Lo-mo yang masuk dengan marah itu terbelalak kaget dan heran ketika melihat bahwa yang membukakan pintu adalah puterinya sendiri.

Dengan menudingkan telunjuk kanannya yang besar dan berkuku panjang ke arah muka gadis cilik yang tenang-tenang saja itu, dia menghardik.

"Hwee Li! Mengapa engkau yang berada di sini? Mana bibi gurumu?"

"Bibi Guru tidak ada di rumah, Ayah. Aku kesal Ayah tinggalkan di pondok kosong bersama anak buah yang kasar-kasar itu, maka aku datang mengunjungi Sukouw. Akan tetapi dia pun tidak ada dan aku senang di sini bermain-main dengan kucing-kucingnya. Ayah, biarkan aku bermain-main di sini sendiri bersama kucing-kucing ini, kalau tidak boleh aku akan menangis sehari semalam!"

"Wah-wah, kau memang manja dan tidak beres! Aku perlu dengan bibi gurumu, entah ke mana perginya pelacur tak tahu malu itu! Nah, biar engkau di sini menanti dia pulang, kalau dia pulang katakan bahwa aku ingin bertemu dengannya. Suruh dia datang mengunjungi pondok kita."

"Baik, Ayah. Kau baik sekali, Ayah, engkau ayah yang baik. Terima kasih!"

Berkata demikian, Hwee Li mengantar ayahnya keluar dan menutupkan kembali daun pintunya.

Kemudian sambil tertawa kecil dia berlari menghampiri Kian Lee.

Kian Lee sudah bangkit berdiri, jantungnya masih berdebar tegang.

"Dia itu ayahmu? Hemm, kiranya ayahmu Hektiauw Lo-mo...."

Hwee Li terkejut dan memandang wajah yang tampan itu penuh pertanyaan.

"Jadi engkau sudah mengenal ayahku?"

Kian Lee mengangguk, akan tetapi tentu saja dia tidak bisa menceritakan kepada gadis cilik yang telah menolongnya ini bahwa dia adalah musuh ayahnya itu.

Dia tidak tega mengatakan ini.

"Dan kau tidak takut kepada ayahku?"

"Tidak, mengapa takut? Dia seorang ayah yang baik, bukan?"

Hwee Li melepaskan kucingnya dan memegang kedua tangan Kian Lee.

"Aihh, Twako, kau hebat! Engkaulah orang pertama yang mengatakan bahwa engkau tidak takut kepada ayahku! Padahal semua orang takut. Memang dia seorang ayah yang baik, akan tetapi.... kadang-kadang.... aku pun takut kepadanya. Dia bisa baik, terutama kepadaku, akan tetapi bisa juga.... hemm.... amat kejam.... ah, sudahlah, tidak baik membicarakan ayah sendiri, bukan?"

Kian Lee mengangguk, terheran-heran.

Bagaimana seorang iblis tua seperti Hek-tiauw Lo-mo dapat mempunyai seorang anak perempuan begini cantik jelita?

"Engkau tadi tampaknya lebih ketakutan ketika mengira bahwa yang datang adalah bibi gurumu.

Mengapa?

Siapakah bibi gurumu?"

"Bibi guruku ada dua orang. Twa-sukouw, bibi guru pertama, cukup menyeramkan akan tetapi tidaklah seperti Ji-sukouw, bibi guru ke dua yang amat mengerikan. Kalau dia yang datang dan melihatmu, aku tidak tahu bagaimana akan bisa menyelamatkan engkau."

"Kenapa?"

"Dia tidak akan melepaskan pemuda tampan dan gagah seperti engkau, tentu engkau akan dilarikannya dan paling lama tiga hari engkau akan kedapatan mati di suatu tempat."

"Hemm, apa yang dilakukannya?"

"Aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi ayah pun membenci kebiasaannya yang mengerikan itu. Setiap kali dia tentu menculik pemuda tampan dan membunuhnya, aku tidak tahu apa yang dilakukannya, hanya pernah aku melihat pemuda-pemuda yang dibunuhnya. Mengerikan!"

Hwee Li bergidik. Kian Lee teringat akan nenek bertongkat yang amat lihai itu, yang membuat pahanya terluka.

"Seperti apakah kedua orang bibi gurumu itu?"

Tanyanya.

"Yang seorang buruk sekali akan tetapi yang ke dua cantik sekali. Engkau tentu telah bertemu dengan bibiku yang cantik itu, dan untung engkau tldak sampai dibawanya lari, hanya terkena senjatanya. Pahamu itu terkena senjata rahasia peledak, bukan?"

Kian Lee mengangguk.

"Benar, akan tetapi yang melepasnya bukanlah seorang wanita cantik, melainkan seorang nenek buruk sekali, nenek yang bertongkat dan...."

"Ah, dia itu Twa-sukouw!"

Hwee Li berseru heran.

"Tentu dia telah mencuri senjata rahasia Ji-sukouw! Ketahuilah, ahli pembuat senjata rahasia peledak itu adalah Ji-sukouw. Eh, Twako, kenapa kau sampai bertanding melawan Twa-sukouw?"

"Hemm.... karena dia membantu pemberontak."

"Pemberontak, pemberontak! Urusan kerajaan dan pemberontak ini menjemukan hatiku, Twako! Agaknya Ayah dan kedua orang bibi guruku melibatkan diri pula. Entah di pihak siapa Ayah berdiri, dan Twa-sukouw, menurut penuturanmu, jelas berdiri di pihak pemberontak. Entah pula dengan Ji-sukouw. Hem, aku jemu! Twako, mari kauantarkan aku kembali ke Pulau Neraka saja, kau tentu kaget mendengar bahwa aku datang dari Pulau Neraka, bukan?"

"Tidak, Hwee Li. Aku tahu bahwa ayahmu adalah Ketua Pulau Neraka berjuluk Hek-tiauw Lo-mo."

"Eh, jadi kau sudah mengenal Ayah sebagai Ketua Pulau Neraka?"

"Aku sudah mengenal ayahmu, akan tetapi tidak tahu tentang bibi gurumu dan tentang dirimu baru sekarang aku mengetahuinya. Dua tahun lebih yang lalu aku dan adikku pernah berkunjung ke Pulau Neraka dan kau tidak ada di sana...."

"Hehh....? Benarkah? Dua tahun yang lalu.... hemm, aku masih dikurung di dalam kamar latihan, tidak boleh keluar sama sekali dan baru setahun yang lalu aku diperbolehkan keluar oleh Ayah. Dua tahun yang lalu....? Kakak beradik....? Wah, wah, aku sudah mendengar tentang keributan itu! Jadi engkau dari Pulau Es?"

Kian Lee mengangguk dan Hwee Li meloncat mundur ke belakang, memandang ketakutan.

"Tentu engkau akan membunuh aku!"

"Tidak, tidak Hwee Li. Engkau gadis yang baik sekali, mengapa aku harus membunuhmu?"

"Engkau dan adikmu itu putera-putera Pendekar Siluman...."

"Pendekar Super Sakti!"

"To-cu (Majikan Pulau) dari Pulau Es musuh besar Ayah!"

"Tapi aku tidak memusuhimu, juga tidak memusuhi ayahmu atau siapapun juga, Hwee Li."

"Benarkah? Aku girang sekali kalau begitu. Aihh, putera Pulau Es. Pantas engkau she Suma! Wah, kalau begitu, engkau harus cepat pergi dari sini, Twako. Kalau Ayah tahu engkau putera dari Pulau Es, tentu celaka. Dan kalau Ji-sukouw keburu datang, engkau pun tentu akan diculiknya. Pergilah, akan tetapi, jangan kau lupa kepadaku, ya?"

Kian Lee mengangguk dan tersenyum.

"Engkau anak manis, engkau telah menyelamatkan aku, Hwee Li. Mana mungkin aku bisa lupa kepadamu?"

Kian Lee lalu berjalan ke pintu, agak terpincang.

Setelah mengintai dari belakang pintu ke luar dan tidak melihat siapa pun, dia membuka daun pintu dan hendak melangkah keluar.

"Twako....!"

Kian Lee menoleh dan melihat gadis cilik itu berdiri pucat, dia melangkah masuk lagi, berdiri di depan Hwee Li.

Gadis ini cantik luar biasa, sungguhpun masih belum dewasa benar sudah nampak kecantikannya.

"Ada apakah, Hwee Li?"

"Twako, kau benar-benar.... tidak akan lupa kepadaku?"

Kian Lee tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Dan aku.... aku suka kepadamu, Twako!"

Kian Lee terharu, dan meraba serta mencubit dagu yang manis itu.

"Tentu saja, engkau seperti adikku sendiri!"

Mulut yang manis itu cemberut.

"Aku tidak suka menjadi adikmu!"

"Habis bagaimana?"

"Kita adalah sahabat, bukan kakak dan adik."

"Baiklah, engkau sahabatku yang paling baik dan manis, Hwee Li. Eh, aku lupa untuk bertanya tadi. Siapakah nama kedua orang sukouwmu itu?"

Kian Lee perlu untuk menanyakan nama mereka, terutama Si Nenek Lihai karena nenek itu telah menjadi musuhnya, membantu pemberontak, bahkan telah melukainya.

"Twa-sukouw berjuluk Hek-wan Kui-bo (Nenek Setan Lutung Hitam), dan Ji-sukouw berjuluk Mauw Siauw Mo-li (Siluman Kucing). Engkau berhati-hatilah kalau bertemu dengan mereka, Twako, terutama kalau bertemu dengan Ji-sukouw. Dia lebih lihai dan lebih berbahaya dari Twa-sukouw."

"Terima kasih, Hwee Li. Nah, selamat tinggal."

"Jangan lupa kepadaku, Twako, dan sekali-kali carilah aku."

Kian Lee mengangguk, tersenyum lalu meloncat keluar dari pintu, akan tetapi ketika dia membalik, tanpa disengaja dia menginjak sesuatu yang lunak.

"Awas, Twako....!"

Hwee Li mengingatkan, Kian Lee meloncat ketika mendengar suara kucing menjerit dan kucing yang terlnjak ekornya itu menye-rangnya dengan kaki depan, mencakar, akan tetapi Kian Lee telah leblh dulu mengelak.

"Wah, berbahaya! Semua kuku dari kucing-kucing di sini mengandung racun berbahaya, Twako."

"Ehh?"

"Ji-sukouw suka sekali memelihara kucing dan.... eh, dia sendiri sifatnya seperti kucing. Semua kucing ini adalah peliharaannya."

Kian Lee menghela napas.

Aneh-aneh orang dunia kang-ouw ini, pikirnya.

Dan setelah Ketua Pulau Neraka dan dua orang sumoinya itu muncul, tentu akan terjadi geger.

Dia mengangguk lagi dan kini melesat ke luar, sebentar saja lenyap meninggalkan Hwee Li yang cemberut dikelilingi kucing-kucing itu.

Tek Hoat yang tidak dapat menemukan musuh-musuhnya, dua orang pemuda lihai yang telah menghilang, apalagi karena tidak dapat menemukan kembali Syanti Dewi, menjadi jengkel dan marah sekali.

Dia menghubungi Panglima Kim Bouw Sin yang telah mengadakan perundingan dengan Raja Tambolon dan melaporkan bahwa di kota itu penuh dengan mata-mata musuh.

Atas usulnya, pintu kota benteng itu ditutup dan pasukan-pasukan dikerahkan untuk mengadakan penggeledahan dan perondaan untuk menangkapi mata-mata musuh, terutama sekali tentu saja penggeledahan dari rumah ke rumah ini oleh Tek Hoat ditujukan untuk menemukan kembali Syanti Dewi!

Pasukan Tambolon mulai bergerak di bawah pimpinan Raja Tambolon itu sendiri, telah bersepakat dengan pihak pemberontak untuk membantu pemberontak, dan diberi ijin untuk menyerbu dusun Ang-kiok-teng di mana terdapat pasukan yang dipimpin oleh Thio-ciangkun, bahkan Kim Bouw Sin menyerahkan dusun itu untuk menjadi markas dari Raja Tambolon dan pasukannya.

Tentu saja pasukan liar itu menjadi girang karena penyerbuan itu berarti perang, kemenangan, harta, makan minum berlimpah dan terutama sekali banyak perempuan tawanan!

Pangeran Tua Liong Khi Ong juga sudah meninggalkan kota itu untuk memasuki kota benteng Teng-bun bersama Pangeran Kim Bouw Sin yang menyerahkan penjagaan dan pembersihan kota Koan-bun itu kepada seorang panglima yang mewakilinya setelah Koan-bun direbut.

Juga Tek Hoat diharuskan mengawal Pangeran Liong ke depan benteng Teng-bun, pusat pemberontakan itu.

Biarpun hatinya menyesal sekali karena dia tidak berhasil menemukan Syanti Dewi, namun Tek Hoat tidak berani membantah, apalagi saat itu memang merupakan saat yang penting di mana pihak pemberontak sudah siap mengerahkan kekuatan untuk sewaktu-waktu menyerbu ke selat-an, yang diawali oleh penyerbuan pasukan liar Raja Tambolon ke dusun Ang-kiok-teng itu.

Para penduduk di kota Koan-bun kembali menjadi panik setelah pada hari-hari kemarin dibikin geger oleh berita munculnya pasukan liar dari Raja Tambolon.

Kini mereka menjadi panik karena setiap rumah di dalam kota itu digeledah oleh perajurit-perajurit yang dipimpin oleh perwira-perwira yang kasar.

Perang memang merupakan puncak kekejaman dari manusia yang mengumbar hawa nafsunya yang tanpa batas itu.

Setiap kesempatan di dalam keadaan kacau oleh perang selalu dipergunakan oleh manusia untuk memuaskan hawa nafsunya.

Di dalam penggeledahan dari rumah ke rumah ini pun, biar dalihnya adalah untuk pembersihan dan menangkapi mata-mfta musuh, akan tetapi pelaksanaannya banyak diselewengkan oleh dorongan hawa nafsu sehingga terjadilah hal-hal yang amat aneh dan keji.

Kesempatan ini dipergunakan oleh mereka yang berkuasa, dalam hal penggeledahan ini tentu saja para perwira yang memimpin pasukan penggeledahan bersama anak buahnya, untuk memeras dan menindas rakyat.

Yang termasuk hartawan tentu tidak luput dari pemerasan uang.

Penyogokan atau sumbangan paksaan setengah merampok, pengambilan benda-benda berharga yang kecil-kecil secara begitu saja.

Yang tidak mampu menyogok, ada yang dipaksa menyogok dengan menyerahkan anak gadisnya untuk sekedar "menghibur"

Sang Perwira di dalam kamar selagi anak buahnya menggeledah ke seluruh rumah, dan tidak jarang peristiwa menyedihkan yang hanya berlangsung beberapa lama di dalam kamar itu disusul oleh peristiwa bunuh diri oleh Si Gadis yang dipaksa melayani Sang Perwira atau beberapa orang anggauta tentara.

Banyak pula orang yang ditangkap, dengan tuduhan mata-mata dengan fitnah bermacam-macam hanya untuk melampiaskan kemarahan dan dendam pribadi!

Para pembantu, penyelidik dan mata-mata yang disebar oleh Puteri Milana dan Jenderal Kao juga para anggauta Tiat-ciang-pang yang menganggap diri sendiri sebagai pejuang-pejuang, menjadi repot juga ketika melihat betapa banyak teman mereka telah tertawan dan pembersihan masih terus dilakukan.

Setelah main kucing-kucingan di dalam kota, menghindarkan diri dari pengejaran para pasukan pemberontak sampai senja, akhirnya Si Gendut anak buah Tiat-ciang-pang bersama belasan orang temannya tiba di dekat dinding benteng yang amat tinggi, bingung karena mereka tidak mem-peroleh jalan keluar setelah benteng ditutup dan dijaga dengan ketat oleh pasukan pemberontak.

Cuaca senja remang-remang dan mereka berkelompok di dekat dinding yang sunyi itu, mencari akal bagaimana mereka akan dapat keluar dari tempat itu.

"Kita bongkar tembok saja."

"Ah, akan makan waktu terlalu lama."

"Selain itu juga berisik dan tentu ketahuan penjaga."

"Temboknya tebal sekali, tidak mudah membongkarnya tanpa alat lengkap."

Selagi mereka bercakap-cakap mencari akal, karena untuk meloncat ke atas tembok yang tinggi sekali itu adalah hal yang tidak mungkin, tiba-tiba seorang di antara mereka memberi isyarat.

"Sssttt.... ada orang....!"

Bagaikan segerombolan tikus melihat ada kucing datang, belasan orang ini menyelinap ke sana-sini dan sebentar saja mereka sudah lenyap bersembunyi!

Si Gendut yang memimpin rombongan itu bersembunyi bersama seorang temannya yang masih muda dan tampan bernama A Ciang.

Sambil bersembunyi mereka mengintai dan legalah hati Si Gendut ketika melihat bahwa yang datang dari jauh itu bukanlah seorang penjaga, bahkan bukan pula seorang pria, melainkan seorang wanita yang dari jauh kelihatan betapa pinggangnya ramping dan lengannya lemah gemulai menggairahkan.

"Ssst, A Ciang, dia itu wanita, tentu akan tertarik dan suka menolongmu. Kau mintalah tolong kepadanya agar dia suka mencarikan sehelai tali yang kuat untuk kita pakai melarikan diri. Kalau kita memasang kaitan dan melontarkan tali yang panjang ke atas dinding, kita tentu dapat memanjat naik dan keluar dari sini,"

Berkata Si Gendut kepada temannya.

A Ciang mengangguk dan dia membereskan pakaiannya, lalu keluar dari tempat persembunyiannya menanti datangnya wanita dari depan itu.

Setelah wanita itu datang dekat, A Ciang hanya melongo dan tidak bisa bicara!

Dia terpesona menyaksikan wanita itu karena setelah dekat tampaklah seorang wanita yang sukar ditaksir berapa usianya, akan tetapi kelihatan masih muda sekali, cantik jelita luar biasa, dengan wajah manis yang mengandung tantangan pada sinar mata dan senyumnya, tubuhnya padat dan ramping penuh gerak hidup, lemas dan bajunya pada bagian dada demikian ketat menempel dadanya sehingga membayanglah sepasang buah dadanya yang menonjol.

Pendeknya, selama hidupnya belum pernah A Ciang melihat seorang wanita secantik ini!

Ketika wanita itu melihat ada seorang laki-laki menghadangnya, dia memandang tajam dengan sepasang matanya yang indah, kemudian tersenyum mengejek, akan tetapi pandang matanya penuh selidik menatap wajah yang cukup bersih dan tampan dari A Ciang yang usianya baru dua puluh lima tahun itu.

"Engkau mau apa menghadang perjalananku?"

Suara ini halus dan agak serak, seperti bisikan merayu, mulut dan bibir merah itu bergerak genit ketika bicara.

A Ciang menelan ludahnya sebelum menjawab.

"Maaf.... Nona, saya.... saya eh, ingin minta tolong kepada Nona...."

"Minta tolong apa? Dan mengapa banyak teman-temanmu bersembunyi dan mengintai? Apakah kalian perampok?"

Mendengar ini, A Ciang terkejut bukan main.

Wanita ini tahu bahwa banyak temannya bersembunyi di sekitar tempat itu!

Juga Si Gendut mendengar kata-kata ini maka dia lalu keluar, tubuhnya gendut seperti seekor katak besar keluar dari sarangnya, lalu dia memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk keluar karena percuma saja bersembunyi setelah wanita itu mengetahui akan keadaan mereka.

Pula, seorang wanita tentu saja tidak akan membahayakan keadaan mereka.

"Mereka adalah kawan-kawanku...."

A Ciang berkata. Akan tetapi Si Gendut sudah maju dan menjura kepada wanita itu.

"Kouw-nio (Nona), harap suka menolong kami. Kami harus dapat keluar dari dinding ini, kalau tidak kami akan dibunuh oleh srigala-srigala itu. Tolonglah kami, Kouw-nio, dengan mencarikan sehelai tali yang panjang dan kuat. Percayalah bahwa kami bukanlah orang-orang jahat, melainkan pejuang-pejuang yang rela mempertaruhkan nyawa dan badan demi negara...."

Wanita itu menggerakkan kedua alisnya. Manis sekali gerakan ini, apalagi karena dia memang memiliki sepasang mata yang amat bagus.

"Jadi kalian ini mata-mata kerajaan?"

"Bukan, kami adalah orang-orang kang-ouw yang membantu pemerintah untuk menghadapi pemberontak hina. Harap Nona suka membantu kami."

"Keluar dari tempat ini apa sih sukarnya? Mengapa harus mengguna-kan tali?"

"Ah, Kouw-nio, kalau tidak menggunakan tali lalu bagaimana? Apakah Kouw-nio mengeta-hui jalan keluar secara lain yang lebih aman?"

Si Gendut bertanya. Wanita itu menggelengkan kepala.

"Aku tadi masuk ke sini juga melalui dinding ini, tapi tanpa tali."

Semua orang yang mendengar ini terkejut sekali dan memandang dengan mata terbelalak.

"Tanpa tali....?"

Si Gendut bertanya.

"Nona yang baik, harap Nona suka mengajari saya agar dapat keluar dari sini sebaiknya,"

Kata A Ciang. Wanita itu memandang kepada A Ciang, wajahnya berseri dan sepasang matanya mengeluarkan sinar aneh, lalu dia tersenyum.

"Kalau kalian membutuhkan tali, tunggulah sebentar, aku akan mengambilkan untuk kalian."

Setelah berkata demikian, wanita itu berjalan pergi dengan lenggang yang mempesonakan semua orang, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan khawatir hati mereka ketika melihat wanita itu berjalan menuju ke pos penjagaan yang kelihatan agak jauh dari tempat itu.

"Mampus! Dia melapor kepada penjaga!"

"Wah, dia siluman, kita akan celaka!"

"Hushhh, harap tenang, kawan-kawan. Aku tidak percaya orang seperti dia akan mengkhianati kita, lihat dia sudah kembali!"

Kata A Ciang kepada teman-temannya dan benar saja, tampak wanita itu datang dan membawa segulung tali! "Terima kasih atas kepercayaanmu kepadaku,"

Kata wanita itu kepada A Ciang sambil melempar kerling dan senyum manis, membuat jantung pemuda itu seperti hampir copot rasanya.

"Nah, ini tambangnya, bagaimana kalian akan naik?"

Tanya wanita itu sambil terse-nyum mengejek, agaknya merasa geli menyaksikan tingkah delapan orang ini.

Si Gendut yang paling lihai di antara mereka, mengikatkan sepotong batu di ujung tali, kemudian dia melemparkan tali yang mengikat batu itu sambil memegangi ujung yang lain lagi.

Batu meluncur tinggi dan melewati tembok sehingga tali itu tertarik dan menegang.

Akan tetapi jangankan dipanjati orang, baru ditarik saja, batu itu sudah jatuh lagi melewati tembok yang tinggi sehingga terpaksa mereka menyingkir agar kepala mereka tidak kejatuhan batu.

Berkali-kali Si Gendut mencoba namun selalu batu itu tidak dapat menyangkut sesuatu sehingga setiap kali ditarik tentu akan jatuh kembali.

"Sayang tidak ada besi pengait...."

Si Gendut akhirnya berkata jengkel.

"Berikan padaku tali itu, biar aku yang membawanya ke atas,"

Tiba-tiba wanita itu berkata.

Si Gendut meragu, akan tetapi A Ciang mengambil tali itu dari tangan Si Gendut dan menyerahkannya kepada wanita cantik itu.

Tanpa diketahui orang lain, ketika menyerahkan tali, jari mereka bersentuhan dan A Ciang hampir berseru kaget karena tangannya terasa tergetar dan ada hawa hangat sekali memasuki tubuhnya melalui jari tangan yang bersentuhan.

Mukanya menjadi merah dan dia memandang kepada wanita aneh itu yang sudah melangkah dengan lenggang yang membuat buah pinggulnya menari-nari, menghampiri tembok benteng, kemudian mengalungkan tali di pinggangnya, menekankan telapak kedua tangannya pada tembok itu, lalu menoleh, tersenyum manis kepada mereka semua lalu....

mulailah dia mendaki tembok itu dengan enak, mudah dan cepat seperti gerakan seekor cecak merayap tembok!

Karena merayap naik itu, pinggangnya bergerak-gerak, membuat kedua buah pinggulnya dari bawah tampak melenggang-lenggok.

"Aihhh.... dia lihai sekali....!"

"Dan cantik bukan main...."

"Seperti bukan manusia....!"

"Dia seperti Kwan Im Pouwsat (Dewi Welas Asih) saja....!"

"Wanita hebat!"

"Betapa bahagianya pria yang memiliki dia!"

Demikian seruan-seruan belasan orang yang semua berdongak ke atas memandang setiap gerakan wanita itu tanpa berkedip.

Dengan amat cepatnya, tahu-tahu wanita itu telah berada di atas tembok, berdiri sambil bertolak pinggang.

Mantelnya yang berwarna merah tertiup angin berkibar seperti bendera dan kalau saja tidak ingat bahwa mereka adalah pelarian-pelarian yang dikejar-kejar, ten-tu mereka telah bertepuk tangan dan memuji.

Wanita itu lalu melepas gulungan tali dan memegang ujungnya dengan tangan kiri.

"Panjatlah!"

Perintahnya.

Tentu saja semua orang merasa ragu-ragu.

Gila, pikir mereka.

Masa disuruh memanjat tali yang hanya dipegang oleh tangan wanita itu?

Mana kuat?

"Talikan ujungnya....!"

Kata Si Gendut dengan bisikan dari bawah. Tentu saja wanita itu tidak dapat mende-ngarnya, demikian pikir teman-teman yang lain.

"Biar aku yang memanjat lebih dulu. Dia lihai, tentu dia kuat menahan dengan tangannya,"

Kata A Ciang dan dia segera memegang ujung tali dan mulai merayap naik menggunakan kedua tangan dan kakinya.

Benar saja.

Tali itu tetap menegang, sedikit pun tidak tampak wanita itu mendapat kesulitan mempertahankan tali yang diganduli tubuh A Ciang!

Melihat ini bergegas mereka mulai memanjat naik, dan biarpun pada tali itu kini bergantungan belasan orang, tetap saja wanita itu hanya menggunakan sebuah tangan untuk menahan sampai semua orang berada di atas tembok!

Setelah belasan orang itu berada di atas tembok, wanita cantik itu mengikatkan ujung tali di atas tembok dan melempar tali ke luar sehingga tergantung di luar tembok.

"Nah, turunlah!"

Katanya halus sedangkan dia sendiri lalu meloncat ke bawah! "Bukan main....!"

"Hebat sekali dia....!"

Semua orang memandang terbelalak melihat betapa wanita cantik itu terjun ke bawah dari tempat yang demikian tingginya, Melayang seperti seekor burung saja karena dia mengembangkan kedua lengannya dan karena sebelumnya dia menalikan kedua ujung mantelnya pada pergelangan tangan, maka kini mantel merah itu berkembang dan melembung seperti sayap yang menahan tenaga luncuran tubuhnya!

Dengan ringan sekali wanita itu hinggap di atas tanah, berjungkir balik tiga kali untuk mematahkan tenaga luncuran tubuhnya yang melayang tadi.

Sejenak semua orang memandang bengong, kemudian Si Gendut mendahului teman-temannya memegang tali dan merosot turun melalui tali itu, diikuti teman-temannya yang kini tergesa-gesa karena khawatir ketahuan oleh para penjaga.

Setelah semua orang turun, wanita itu sekali tarik saja berhasil membikin putus ujung tali di atas tembok dan melemparkan tali itu ke atas tanah.

Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan dan terdengar derap kaki para penjaga yang melihat bayangan belasan orang yang sedang melarikan diri ini.

"Lari....! Kita berpencar....!"

Si Gendut memberi komando dan mereka lari berserabutan ke pelbagai jurusan.

"Kau lari bersamaku, A Ciang!"

Tiba-tiba wanita itu berkata dan memegang tangan A Ciang.

Dia mengenal nama pemuda tampan itu ketika mendengar seorang di antara mereka tadi menyebut namanya ketika mereka berbisik-bisik ketika merosot turun melalui tali.

A Ciang tidak menjawab, bahkan tidak mungkin bisa membantah lagi karena tiba-tiba dia merasa tubuhnya "diterbangkan"

Oleh wanita itu.

Teman-te-mannya juga tidak ada yang memperhatikan karena mereka sedang sibuk mencari keselamatan masing-masing.

Mereka bukanlah orang-orang penakut yang melihat pasukan lalu lari, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang cerdik, Maklum bahwa kalau menghadapi pasukan di dekat tembok benteng itu, tentu akan memancing datangnya semua pasukan dan belasan orang seperti mereka itu mana mampu menghadapi pasukan besar?

Si Gendut memerintahkan agar mereka berpencar sehingga andaikata ada yang tertangkap atau terbunuh, tidak semua menjadi korban seperti kalau nekat melawan di tempat berbahaya itu.

Komandan pasukan menjadi marah melihat bahwa belasan orang itu melarikan diri.

Tahulah dia bahwa tentu mereka itu adalah mata-mata musuh yang banyak terdapat di dalam benteng dan baru saja melarikan diri.

Dia lalu mendatangkan bala bantuan dan dengan lima puluh orang perajurit dia melakukan pengejaran.

Komandan pasukan itu seorang perwira muda yang tinggi besar dan gagah, memegang pedang dan menunggang seekor kuda putih.

Para anggauta Tiat-ciang-pang makin panik melihat bahwa mereka dikejar pasukan dan cepat mereka melarikan diri di sebuah ladang yang penuh alang-alang liar.

Juga wanita itu tadi bahkan telah mendahului mereka, telah membawa A Ciang menyusup ke dalam alang-alang yang tingginya sama dengan manusia.

Dia menggandeng tangan A Ciang dan terus menyusup sampai ke tengah-tengah ladang itu dan mereka seolah-olah tenggelam di dunia tersendiri yang sunyi dan yang terdengar hanya berkelisiknya alang-alang tertiup angin sehingga permukaannya berombak seperti air laut.

Tidak tampak dari luar mereka itu, dan hanya kalau ada yang dekat dengan tempat itu saja mungkin dapat mendengarkan percakapan mereka yang aneh.

"Ahhh, Kouw-nio....!"

Terdengar suara A Ciang gagap.

"Hemm, kenapa? Apakah kau tidak suka padaku? Lihatlah aku ini... tidak sukakah engkau.... hem....?"

Suara bisik-bisik serak ini diakhiri dengan suara aneh seperti seekor kucing.

"....Koauw-nio.... kau cantik sekali...."

"Kau suka? Aku suka kepadamu, A Ciang, dan kalau kau pun suka.... hemm...."

"Kouw-nio.... hemmm....!"

Tidak terdengar lagi mereka bercakap-cakap, yang terdengar hanya berkereseknya daun alang-alang kering yang tertindas tubuh mereka, dan tak lama kemudian terdengarlah suara aneh, suara rintihan seperti seekor kucing, berngeong-ngeong tinggi rendah, kadang-kadang suara itu terdengar ganas seperti marah, kadang-kadang halus lembut seperti mengerang dan merintih.

Suara ini terdengar terus-menerus sampai lama di tengah ladang ilalang itu sehingga kalau ada orang mendengarnya, tentu mereka akan menjadi serem.

Dan memang ada yang mendengar suara kucing mengeong dan merintih ini, yaitu Si Gendut dan kawan-kawannya yang hampir semua menyusup ke dalam ilalang akan tetapi berpencar.

Mereka mendengar suara kucing ini.

Bahkan seorang di antara mereka berbisik kepada teman yang kebetulan bersembunyi di dekatnya.

"Keparat, di tempat begini ada kucing kawin!"

"Ihh, bagaimana kau tahu suara itu suara kucing kawin?"

"Coba dengarkan baik-baik dan ingat kalau malam-malam di atas genteng ada suara kucing indehoi, bukankah sama benar suaranya?"

Mereka berdua kini diam, mendengarkan dan bergidik.

Memang tidak salah lagi, itulah suara kucing, suara kucing betina yang kadang-kadang bersuara ganas seperti sedang marah, kadang-kadang halus manja seperti merengek, kadang-kadang merintih.

Menyeram-kan!

Sementara itu, pasukan yang dipimpin perwira berpedang itu telah tiba di tepi ladang ilalang yang luas itu.

Kuda yang mereka tunggangi meringkik-ringkik, dan perwira itu memandang dengan penasaran.

"Serbu ke dalam ladang!"

Perintahnya kepada pasukan yang tidak berkuda.

Belasan golok perajurit yang memegang perisai dan golok menyerbu ke dalam ladang itu.

Yang tampak hanya ujung topi besi mereka, ujung golok mereka bergerak-gerak maju ke tengah.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan berturut-turut robohlah enam orang perajurit, yang lain segera mundur kembali.

Mereka diserang dari bawah oleh para pelarian yang mendekam di bawah ilalang, dan tentu saja sukar bagi mereka untuk mempertahankan diri.

Para pelarian itu mendekam dan tidak bergerak, sukar diketahui di mana tempatnya, sedangkan para perajurit pemberontak yang mencari itu berjalan dan bergerak, tentu saja mudah sekali diserang secara tiba-tiba.

Perwira itu agaknya mengerti akan hal ini, maka dia pun memberi aba-aba agar sisa anak buahnya mundur dan keluar dari ilalang itu.

Sejenak dia berpikir, kemudian tiba-tiba dia mengeluarkan aba-aba.

"Bakar....!"

Ladang ilalang itu pun dibakarlah!

Sebentar saja api melahap ilalang kering dan makin lama makin menjalar ke tengah.

Si Gendut dan teman-temannya tentu saja terkejut sekali dan cepat mereka melarikan diri, menyusup-nyusup ilalang menjauhi api yang mengancam mereka.

Sementara itu, suara kucing tadi masih terus terdengar seolah-olah tidak peduli akan ancaman api yang makin ke tengah.

Tiba-tiba terdengar lengking tinggi mengerikan dan tampaklah tubuh wanita cantik tadi meloncat ke atas dalam keadaan hampir tidak berpakaian.

Dia kini sibuk membereskan pakaiannya dan berloncatan, tidak menjauhi pasukan mengejar seperti para pelarian yang lain, melainkan mendekati dengan jalan memutari api.

Kemudian kedua tangannya bergerak bergantian dan terdengar ledakan-ledakan dahsyat, tanah dan batu muncrat tinggi dan disusul asap hitam mengepul.

Beberapa orang terlempar ke kanan kiri dan tidak dapat bangkit kembali, luka-luka parah oleh pecahan ledakan dahsyat tadi.

Wanita itu dengan marahnya masih terus melempar benda bulat dan ledakan-ledakan terus terdengar susul-menyusul.

muda itu terkejut bukan main, maklum bahwa wanita itu menggunakan senjata peledak yang berbahaya, maka tanpa ragu-ragu lagi dia memerintahkan pasukannya untuk mundur dan berlindung.

Pasukan itu mundur dan meninggalkan dua puluh lebih perajurit yang tewas menjadi korban senjata-senjata peledak.

Si Gendut dan teman-temannya cepat berlari ke luar ladang ilalang, akan tetapi ketika dia berlari sampai di tengah ladang, hampir saja dia menginjak tubuh seorang laki-laki yang roboh telentang dalam keadaan telanjang bulat dan sudah mati.

Ketika dia dan beberapa orang teman memeriksanya, kiranya itu adalah A Ciang yang sudah menjadi mayat.

Anehnya, pemuda itu tewas dalam keadaan seperti orang tidur yang sedang mimpi indah saja, karena wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum!

Beramai-ramai mereka menggotong mayat ini setelah tergesa-gesa mengenakan kembali pakaian A Ciang yang berada di dekat pintu, membawanya pergi melarikan diri dari ladang ilalang, kemudian memasuki daerah pegunungan yang penuh dengan batu-batu gunung kapur yang bentuknya aneh-aneh tanpa ada sebatang pohon pun yang dapat tumbuh di situ.

Tempat ini merupakan tempat persembunyian yang amat baik.

Dengan sedih juga terheran-heran akan kematian A Ciang, Si Gendut dan kawan-kawannya lalu mengubur mayat itu dengan menggali pasir gunung dan mereka pun tidak melihat lagi wanita cantik yang tadi telah menyelamatkan mereka dengan menyerang pasukan secara hebat menggunakan senjata-senjata mujijat yang dapat meledak.

"Mengapa A Ciang mati?"

Pertanyaan ini berkali-kali terdengar dan masih menggema di hati semua orang.

Mereka menduga-duga dan merasa heran sekali.

Juga mereka makin kagum kepada wanita cantik itu yang ternyata amat lihai, juga berterima kasih karena tanpa wanita itu, tentu mereka tidak dapat keluar dari benteng dan tadi pun tanpa bantuannya, mereka tentu akan tertumpas di ladang ilalang!

Akan tetapi kini wanita cantik itu tidak kelihatan lagi.

Siapakah sesungguhnya wanita yang penuh rahasia itu?

Tentu pembaca sudah dapat menduganya kalau mengingat cerita Kim Hwee Li kepada Kian Lee.

Wanita cantik ini adalah sukouwnya yang ke dua, sumoi dari ayahnya yang berjuluk Mauw Siauw Mo-li Si Kucing Liar atau Siluman Kucing!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Hek-tiauw Lo-mo Si Raksasa Bertaring yang merampas kedudukan menjadi Ketua Pulau Neraka adalah seorang pelarian dari Korea.

Sebelum menjadi ketua Pulau Neraka, dia telah memiliki kepandaian tinggi sekali dan kelihatannya bertambah ketika dia berhasil mencuri setengah dari kitab tentang racun dari Istana Padang Pasir milik Si Dewa Bongkok bersama-sama dengan Hek-hwa Lo-kwi Thio Sek, bekas pelayan Si Dewa Bongkok yang kini menjadi Ketua Lembah Hitam.

Hek-tiauw Lo-mo ini mempunyai dua orang sumoi.

Yang pertama adalah Hek-wan Kui-bo (Nenek Iblis Lutung Hitam) yang telah muncul membantu pemberontak dan melukai Kian Lee dengan senjata peledaknya, seorang nenek yang amat lihai.

Adapun yang ke dua adalah Mauw Siauw Mo-li itulah!

Tidak ada orang mengenal nama aselinya, dia hanya dikenal di daerah utara, di antara orang-orang Mongol dan Mancu, sebagai Siluman Kucing atau Si Kucing Liar.

Mendengar nama Kucing Liar ini, orang-orang di daerah utara, betapapun gagahnya dia, akan merasa seram dan ketakutan.

Melihat orangnya, Si Kucing Liar ini memang sama sekali tidak menyeramkan, sebaliknya malah, setiap orang laki-laki, tua maupun muda, kalau dia waras otaknya dan tidak buta, sudah tentu akan mengakui akan kecantikan Mauw Siauw Mo-li.

Cantik jelita dan manis sekali dia, wajahnya bulat telur dengan dagu kecil meruncing, tulang pipinya sedikit menonjol sehingga membuat lekuk yang manis, dahinya melengkung halus dan putih, dihias anak rambut tipis halus di bawah rambut hitam yang disisir ke belakang, lalu rambut yang hitam subur dan amat panjang itu digelung dengan model indah sekali di atas kepala, seperti gelung kaum puteri istana, merupakan hiasan kepala yang aneh akan tetapi menarik, rambutnya dihias pula dengan kembang-kembang terbuat dari emas dan batu kemala hijau.

Alisnya hitam kecil panjang tanpa dibantu alat, memang bagus bentuknya, dan sepasang matanya amat indah dan hidup, lebar dan bening sekali, kadang-kadang dapat mengeluarkan sinar tajam menembus jantung, kadang-kadang keras seperti baja dan dingin seperti salju, akan tetapi kadang-kadang, dibarengi suara rintihan seperti kucing merayu, mata itu mengeluarkan sinar yang halus lembut dan penuh kehangatan dan janji muluk.

Bulu matanya lentik panjang, menambah kein-dahan sepasang mata itu.

Hidungnya sedang saja, akan tetapi mulutnya!

Banyak pria menelan ludah kalau menatap mulutnya karena setiap gerak bibirnya mengandung janji kenikmatan dan ke-mesraan yang menggairahkan.

Wajah yang cantik jelita ini masih ditambah lagi oleh bentuk tubuh yang langsing, ramping padat berisi dengan lekuk-lengkung yang penuh kewanitaan dan kelembutan.

Pendeknya, Si Kucing Liar ini memiliki tubuh yang agaknya memang khusus diciptakan untuk membangkitkan gairah berahi kaum pria, dan semua gerak-geriknya menunjukkan kecondongan yang khas seperti telah dikhususkan untuk bercinta.

Akan tetapi di balik semua kecantikan yang mempesonakan ini bersembunyi sesuatu yang membuat semua orang bergidik dan merasa ngeri.

Wanita ini dapat membunuh siapa saja, kapan saja dan di mana saja tanpa berkedip!

Dan kepandaiannya sedemikian hebatnya sehingga menggetarkan semua petualang di utara.

Selain itu, yang membuat orang bergidik ngeri, adalah kebiasaan wanita ini yang suka mengeluarkan suara seperti seekor kucing, dan celakalah kalau terdengar suara ini.

Pasti disusul dengan matinya seorang atau lebih dalam keadaan yang mengerikan!

Siluman kucing ini sebenarnya adalah seorang wanita yang kini menjadi setan yang haus akan belaian pria.

Semenjak berusia enam belas tahun, dia telah menjadi janda karena setelah menikah selama satu tahun suaminya meninggal dunia!

Di waktu menjanda, beberapa kali dia diambil isteri muda oleh bermacam orang, akan tetapi semua itu telah gagal.

Ada yang mati secara aneh, ada pula yang meninggalkannya karena mengejar lain perempuan.

Semua pengalaman ini membuat dia menjadi seorang yang binal.

Kemudian dia diambil sebagai seorang peliharaan oleh seorang tokoh besar dari Korea, yaitu guru dari Hek-tiauw Lo-mo, seorang kakek yang bernafsu dan tenaganya melebihi orang-orang muda!

Setelah menjadi kekasih kakek ini, barulah ada yang kuat bertahan menjadi pasangan atau "suami"

Wanita cantik ini sampai belasan tahun lamanya!

Si kakek tidak pernah menjadi bosan karena memang kekasihnya ini muda, kuat dan cantik jelita, penuh gairah hidup dan penuh nafsu berapi-api.

Sebaliknya, wanita itu pun merasa cukup puas karena Si Kakek memang luar biasa, seorang yang memiliki kesaktian hebat dan yang amat menyenangkan hatinya adalah karena dia yang disayang mulai menerima latihan-latihan ilmu-ilmu silat yang tinggi.

Demikianlah, dia menjadi kekasih dan juga murid, menjadi sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-wan Kui-bo, bahkan karena "suaminya"

Amat sayang kepadanya, dia diberi ilmu-ilmu simpanan sehingga kepandaiannya dapat mengimbangi suhengnya dan melebihi sucinya!

Namun, suami atau guru itu akhirnya menyerah juga terhadap kekasihnya yang tak pernah mengenal puas dalam permainan cinta nafsu itu, juga menyerah terhadap usianya yang tinggi.

Dia meninggal dunia meninggalkan tiga muridnya.

Wanita cantik jelita yang baru berusia tiga puluh tahun itu kembali menjadi janda.

Akan tetapi berbeda dengan dahulu, dia kini adalah seorang janda yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, juga merupakan seorang wanita berusia tiga puluhan yang telah "matang", dan celakanya, nafsunya menjadi makin menggila, dia menjadi seorang wanita yang haus akan laki-laki dan semua kehausan itu dipuaskannya kapan saja dan di mana saja dia bertemu dengan pria yang muda dan tampan.

Tentu diculiknya pria itu, dirayunya dan hampir tidak ada pria yang dapat bertahan terhadap rayuan mautnya sehingga bagaikan mabok setiap pria yang dirayunya akan jatuh ke dalam pelukannya, dibuai oleh rayuan, Belain dan permainan cintanya sehingga seperti seekor lalat yang tertangkap di sarang laba-laba, meronta-ronta namun tak dapat lepas, dihisap sari tubuhnya perlahan-lahan sampai habis dan kering, kemudian mati dalam keadaan masih bermimpi nikmat!

Entah sudah berapa puluh, berapa ratus atau berapa ribu orang laki-laki yang telah menjadi korbannya.

Celaka bagi Kucing Liar ini, makin dicari makin banyak dia memeluk pria yang menjadi korbannya, makin hauslah dia, makin tak terpuaskan dan dia masih terus mencari-cari karena dia pun rindu akan cinta kasih seorang pria saja.

Kalau saja dia berhasil menemukan seorang pria yang dapat dijadikan teman hidup selamanya!

Akan tetapi selalu pria yang dinikmatinya itu akan menjemukan hatinya kemudian, menimbulkan kebencian sehingga dibunuh tanpa pria itu sadar dari kenikmatan.

Ciri khas dari wanita ini adalah suara yang keluar dari kerongkongannya, suara seperti kucing, bahkan persis kucing dan suara ini otomatis keluar dari kerongkongannya apabila perasaannya tersentuh dan bergelora, di waktu dia marah, bingung, senang dan terutama sekali di waktu dia bermain cinta!

Dan suara kucing inilah yang membuat dia dijuluki orang Siluman Kucing atau Kucing Liar!

Selama bertahun-tahun ini, baik Hek-wan Kui-bo yang merupakan nenek buruk rupa, dan Mauw Siauw Mo-li yang cantik jelita, selalu berkeliaran di daerah utara, di antaranya gurun pasir dan pegunungan sehingga nama mereka hanya terkenal di kalangan suku bangsa Mongol, Mancu, dan di perbatasan Negara Korea.

Dunia kang-ouw di selatan atau pedalaman tidak ada yang mengenal nama-nama ini.

Akan tetapi karena mereka berdua menerima undangan dari suheng mereka, Hek-tiauw Lo-mo untuk datang ke Koan-bun, maka berangkatlah mereka sendiri-sendiri ke Koan-bun.

Seperti kita ketahui, nenek buruk Hek-wan Kui-bo Si Lutung Hitam telah membantu pemberontak karena dia melihat kesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan mernbantu pemberontak.

Adapun Mauw Siauw Mo-li masih berkeliaran karena dia sudah mulai ketagihan karena sudah beberapa lama tidak pernah bertemu dengan pemuda tampan.

Kebetulan dia melihat rombongan anggauta Tiat-ciang-pang yang hendak keluar dari kota itu dan dia tertarik oleh A Ciang yang segera (Lanjut ke

Jilid 32) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 32 diincarnya sebagai korbannya malam itu.

Kini, Si Gendut dan teman-temannya melewatkan malam itu di daerah batu gunung berkapur itu.

Malam terlalu gelap bagi mereka untuk dapat melanjutkan perjalanan mereka.

Pada keesokan harinya, dari jauh mereka melihat pasukan berkuda datang lagi ke tempat itu.

Mereka segera berunding.

Kini jumlah mereka hanya tinggal lima belas orang.

"Kita tidak bisa lari,"

Si Gendut ber-kata.

"Kalau kita melarikan diri, tentu akan tampak oleh mereka dan dikejar terus. Lebih baik kita bersembunyi dan setelah mereka pergi, baru kita melanjutkan perjalanan ke selatan, bergabung dengan pasukan pemerintah."

"Ihhhh.... begitukah sikap orang-orang gagah, hanya bersembunyi saja seperti segerombolan pengecut?"

Tiba-tiba terdengar suara halus ini.

Mereka terkejut dan cepat menengok.

Kiranya di belakang mereka telah berdiri wanita cantik yang malam tadi telah memukul mundur pasukan yang membakar ladang ilalang!

Tentu saja mereka menjadi girang, akan tetapi juga merasa ngeri karena munculnya wanita ini seperti setan saja, tidak ada yang mengetahuinya dan tidak ada yang mendengarnya, pula, mereka juga masih bingung memikirkan kematian A Ciang yang demikian anehnya.

"Ah, kiranya engkau yang datang, Kouw-nio? Kami amat berterima kasih atas bantuan Kouw-nio yang demikian besar dan maafkan kami yang tidak tahu bahwa Kouw-nio adalah seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian setinggi langit,"

Kata Si Gendut.

Bibir yang merah itu mencibir, akan tetapi kelihatannya tambah manis!

"Kalau kalian memang bermusuhan dengan pasukan itu, kenapa tidak menyambut mereka dengan perlawanan?"

"Jumlah kami hanya lima belas orang, dan mereka ada lima puluh orang lebih...."

"Lima belas orang sudah terlalu banyak untuk menghadapi pasukan itu. Kalau kalian dapat membuat mereka terpencar dengan jalan menyelinap di balik batu-batu ini, dan menyerang mereka dengan tiba-tiba seperti kucing menerkam tikus, apa sih sukarnya mengalahkan mereka? Aku pun akan berpesta mem-bantu kalian menghadapi mereka."

Semua, orang berseri wajahnya.

"Dengan Kouw-nio sebagai pimpinan kami, apa lagi yang kami takuti? Kami tidak takut sekarang!"

Si Gendut berkata.

"Benar, kami tidak takut kalau Kouw-nio yang sakti membantu kami!"

Teriak seorang lain, yaitu yang masih muda dan yang sejak tadi memandang ke arah dada wanita itu dengan mata seperti mata seekor anjing melihat tulang!

Mereka lalu keluar dari tempat persembunyian mereka, dan bersama Kucing Liar berdiri memperlihatkan diri menanti datangnya pasukan yang dipimpin oleh perwira muda berkuda putih itu.

Perwira itu tinggi besar dan gagah, kelihatannya tangkas dan lihai.

"Kalian permainkan pasukan itu, akan tetapi berikan perwira itu kepadaku. Biar aku yang menghadapinya!"

Mauw Siauw Mo-li berkata sambil tersenyum dan dari kerongkongannya keluar suara lirih melengking seperti suara kucing!

Mendengar ini, Si Gendut dan teman-temannya menggigil dan merasa serem, teringat mereka akan suara kucing itu malam tadi ketika mereka berada di dalam ladang ilalang.

"Cepat menyebar dan bersembunyi....!"

Wanita itu berkata dan begitu pasukan itu sudah mendekat, mereka menyelinap ke kanan kiri dan bersembunyi di balik batu-batu kapur itu.

Akan tetapi Kucing Liar tidak bersembunyi, bahkan berdiri dengan dada yang sudah busung itu dibusungkan lagi dan matanya memandang tajam kepada perwira muda yang menahan kendali kudanya.

Kuda putih itu meringkik, mengangkat kedua kaki depannya dan perwira itu mengayun pedangnya, gagah bukan main.

"Haii kalian mata-mata hina! Menyerahlah sebelum kami bunuh semua!"

Mauw Siauw Mo-li tersenyum.

"Apakah engkau juga mau membunuh aku, Ciangkun (Perwira) muda yang gagah perkasa?"

Dia malah melangkah maju menghampiri kuda yang meringkik-ringkik itu.

Perwira muda itu terkejut melihat bahwa di antara para mata-mata yang dikejarnya itu terdapat seorang wanita yang begini cantik dan menariknya.

Akan tetapi karena dia maklum bahwa mata-mata pemerintah banyak yang pandai dan merupakan orang-orang berbahaya yang harus dibasminya, maka sambil berseru keras dia menggerakkan kudanya maju ke depan menerjang wanita cantik itu sambil mengayun pedangnya.

Akan tetapi dengan mudah sekali Si Kucing Liar mengelak ke kiri.

Empat orang perajurit menyambutnya dengan senjata golok mereka, menyerang dengan berbareng untuk membantu komandan mereka.

Amat mudah bagi wanita itu untuk mengelak sambil tersenyum dan kaki tangannya bergerak, maka robohlah empat orang itu tanpa dapat bangkit kembali!

Tentu saja Si Perwira Muda terkejut sekali, kudanya diputar dan kembali pedangnya menyerang dari atas kuda dengan dahsyat.

"Ihh, benarkah engkau kejam hendak membunuhku?"

Mauw Siauw Mo-li bertanya halus sambil terkekeh dan matanya mengerling genit.

Pedang itu bersuitan menyambar-nyambar, namun tak pernah dapat menyentuh baju wanita itu yang mencelat ke sana-sini dengan kecepatan seperti gerakan seekor burung walet.

Tiba-tiba dia berseru.

"Turunlah kau!"

Dan sambil mengelak tangannya terus menyambar ke samping.

"Crotttt....!"

Tangan yang berjari kecil-kecil dan runcing halus itu masuk ke dalam perut kuda seperti ujung golok saja.

Kuda putih itu meringkik kesakitan, melonjak-lonjak dan ketika perwira itu berusaha menenangkannya, kakinya ditarik dan robohlah dia, terjatuh dari atas kuda yang terus melarikan diri itu.

Melihat komandannya jatuh, delapan orang anggauta pasukan cepat menerjang wanita itu sehingga Si Perwira sempat bangkit kembali.

Maka dikeroyoklah wanita itu dan dikepung rapat.

Namun, Mauw Siauw Mo-li hanya tersenyum-senyum saja dan tubuhnya tidak banyak bergerak, seolah-olah menanti datangnya serangan.

Hebatnya, siapa saja yang berani mendahului menyerang-nya, kalau tidak roboh tentu senjatanya terlempar karena dengan gerakan cepat sekali kaki atau tangan wanita cantik itu sudah menangkis tangan yang memegang pedang atau golok.

Sementara itu, Si Gendut dan kawan-kawannya juga mulai melakukan perang kucing-kucingan dan berhasil mero-bohkan banyak lawan dengan penyergapan tiba-tiba lalu menyelinap dan lari bersembunyi lagi di belakang batu-batu yang amat banyak terdapat di tempat itu.

Pasukan yang menunggang kuda sudah turun semua dari kuda masing-masing karena makin berbahayalah bagi mereka kalau mengejar sambil menunggang kuda.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan teriakan gemuruh.

Ternyata yang datang adalah pasukan terdiri dari seratus orang, pasukan bantuan yang keluar dari kota Koan-bun karena perwira yang cerdik itu sudah mengirim seorang utusan berkuda untuk mendatangkan bala bantuan.

Melihat ini, paniklah para anggauta Tiat-ciang-pang.

Mereka lalu bersembunyi dan biarpun tetap melakukan perang kucing-kucingan atau perang gerilya, namun karena para anggauta pasukan itu kini mengejar dan mencari mereka dengan berkelompok mengandalkan banyak orang, Si Gendut dan kawan-kawannya tidak berani sembarangan menyergap seperti tadi.

Sementara itu, Mauw Siauw Mo-li dikepung dengan ketat sekali oleh banyak lawan.

Biarpun tidak merasa gentar, wanita ini menjadi lelah dan jemu juga, maka sambil tertawa dia lalu meloncat ke belakang, melempar benda hitam ke depan.

"Darrr....!"

Benda itu meledak dan belasan orang perajurit musuh yang berdiri rapat itu roboh!

Para pengeroyok dan pengepungnya terkejut dan kacau, lari berlindung ke kanan kiri.

Hanya terdengar suara seperti kucing terpijak ekornya dan ketika mereka memandang lagi setelah asap hitam membubung ke atas, ternyata wanita itu telah lenyap.

"Kejar mereka! Cari mereka sampai dapat. Tangkap atau bunuh! Terutama wanita itu yang tentu menjadi pemimpin mereka!"

Perwira itu dengan hati penasaran dan marah memberi aba-aba.

Terjadilah kejar-kejaran sampai sehari penuh.

Wanita itu lenyap, dan belasan orang anggauta Tiat-ciang-pang terpaksa terus melarikan diri dan selalu bersembunyi-sembunyi di balik batu-batu gunung sampai akhirnya mereka terdesak di pegunungan batu kapur terakhir, dekat gurun pasir.

Kalau dikejar terus, mereka akan terpaksa lari ke arah padang pasir yang berbahaya.

Akan tetapi ketika itu, hari telah berganti malam dan baik yang dikejar maupun yang mengejar, sudah lelah sekali sehingga masing-masing melewatkan malam sambil beristirahat.

Dapat dibayangkan betapa sengsaranya keadaan para anggauta Tiat-ciang-pang.

Mereka dikejar-kejar sehari penuh, terus berlarian dan kini mereka mengaso tanpa ada ransum sama sekali sehingga selain kehabisan tenaga, mereka pun lapar dan lemas.

Tidak demikian dengan pasukan itu yang tentu saja dapat makan ransum dari perlengkapan mereka.

Akan tetapi malam itu, di pihak pasukan yang jumlahnya kini seratus orang lebih itu terjadi keributan.

Komandan mereka, Si Perwira Muda yang tadi masih tampak makan minum sambil duduk di atas batu-batu, tiba-tiba kini lenyap!

Kejadiannya amatlah aneh.

Ketika itu, perwira mereka masih tampak makan minum di dekat api unggun, wajahnya agak keruh karena perwira ini merasa jengkel sekali tidak dapat membasmi belasan orang buruannya.

Tiba-tiba terdengar suara kucing.

Di tempat yang sunyi menyeramkan itu terdengar suara kucing, tentu saja merupakan hal yang amat aneh dan semua orang menoleh ke kanan kiri, mencari-cari dari mana datangnya suara kucing itu.

Suara itu makin keras, seolah-olah Si Kucing makin dekat di tempat itu.

"Kucing keparat!"

Seorang perajurit memaki sambil menyambar tombaknya.

"Kalau kau dapat olehku, akan kusate dagingnya!"

"Haii, Lai-ciangkun ke mana?"

Teriakan ini terdengar dari seorang perajurit yang tadi duduknya tidak jauh dari perwira itu.

Semua orang memandang dan terheran-heran.

Kemudian berlarian mendatangi dan saling pandang, sama sekali tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Perwira muda itu lenyap!

Mangkoknya yang masih berisi sayuran yang agaknya baru dimakannya, terguling dan sepasang supitnya juga berceceran.

Semua orang mencari, akan tetapi tidak melihat jejak perwira dan lapat-lapat dari jauh terdengar suara kucing mengeong!

Untuk mencari lebih jauh mereka tentu saja tidak berani karena tidak ada yang memerintah mereka, dan mereka tahu betapa berbahayanya mencari di waktu malam gelap itu, di mana sewaktu-waktu musuh dapat muncul dan menyerang mereka dari tempat gelap.

Mereka terpaksa menanti-nanti dengan hati berdebar tegang, menanti datangnya pagi.

Sementara itu, di antara batu-batu gunung kapur, di mana Si Gendut dan kawan-kawannya bersembunyi dengan tubuh lelah, perut lapar dan hati tegang penuh kekhawatiran, juga terjadi peristiwa yang menegangkan.

Karena pegunungan yang sunyi melengang itu tiba-tiba menjadi menyeramkan ketika mereka semua mendengar suara kucing mengeong-ngeong!

Dan suara kucing itu makin lama makin ramai, persis seperti keadaan mereka ketika bersembunyi di dalam ladang ilalang kemarin malam, suara kucing betina merengek-rengek, merintih-rintih dan seperti suara kucing kalau sedang memadu kasih di bawah terang bulan di atas genteng!

Mendengar suara ini, mereka semua menjadi secem dan otomatis mereka saling mendekati dan berkumpul di dalam sebuah guha, bersama-sama mendengarkan suara yang menyeramkan itu.

Jumlah mereka tinggal tiga belas orang karena ada beberapa orang yang tewas di waktu pertempuran gerilya siang tadi.

"Menyeramkan....!"

Si Gendut mengomel.

"Tentu suara siluman kucing."

"Mengingatkan aku akan kematian A Ciang."

"Hushh, jangan sembarangan. Mungkin itu memang kucing penduduk yang tersesat di sini."

"Ah, mana bisa! Kucing tersesat yang kebingungan atau ketakutan tentu suaranya satu-satu, berulang-ulang. Tapi itu.... hemm, dengarkan.... suaranya merengek tinggi rendah, persis suara kucing kawin!"

"Suaranya datang dari atas sana, di mana banyak batu-batu besar...."

"Sudah,"

Si Gendut akhirnya berkata untuk meredakan ketegangan hati kawan-kawannya.

"Suara apa pun adanya itu, besok pagi-pagi sekali kita melihatnya sambil melarikan diri. Kalau besok kita tidak dapat melarikan diri dari mereka itu, berarti kita semua akan mati konyol."

Suara kucing itu terdengar terus-menerus semalam suntuk, hanya kadang-kadang berhenti beberapa lama lalu diulang lagi.

Hal ini mendatangkan suasana menyeramkan sehingga tiga belas orang pelarian itu sama sekali tidak dapat tidur dan hati mereka selalu tegang.

Mereka menanti datangnya pagi dengan tidak sabar lagi.

Di tempat sesunyi itu, gelap pekat lagi, dalam keadaan terancam pasukan musuh yang berada tidak jauh di belakang mereka, mendengar suara kucing yang penuh rahasia itu sungguh amat menegangkan hati dan syaraf mereka.

Pada keesokan harinya, baru saja terang tanah dan memungkinkan mereka bergerak, tiga belas orang ini sudah menyelinap di antara batu-batu menuju ke atas bukit terakhir yang penuh dengan batu-batu besar itu.

Suara kucing sudah tak terdengar lagi sejak tadi.

Tiba-tiba mereka berhenti dan Si Gendut menudingkan telunjuknya ke depan, mereka semua berindap maju beberapa langkah untuk dapat melihat dengan jelas.

Di dalam keremangan pagi, tampak olehnya seorang wanita yang pakaiannya awut-awutan setengah telanjang, sedang duduk di atas batu besar membelakangi mereka.

Rambut wanita itu hitam dan panjang sekali, agaknya dilepas dari sanggulnya, terurai ke bawah dan kini wanita itu sedang menyisiri rambutnya, kadang-kadang mengulet.

Dipandang dari tempat itu, dia menyerupai seekor kucing besar yang sedang mengulet-ulet dan menjilat-jilati bulu-bulunya!

Akan tetapi yang membuat tiga belas orang itu terbelalak dengan muka pucat adalah ketika mereka melihat sebujur tubuh pria tinggi besar telentang di dekat batu itu, telanjang bulat dan lehernya tampak merah penuh darah, akan tetapi mulutnya seperti orang tersenyum.

Persis seperti keadaan A Ciang yang mati sambil tersenyum dan lehernya penuh guratan-guratan seperti dicakar kucing!

Mereka bergidik!

Apalagi ketika melihat bahwa tak jauh dari tempat mayat itu rebah, terdapat setumpuk pakaian perwira!

Teringat kepada A Ciang, Si Gendut menjadi marah sekali.

Jelas bahwa wanita siluman inilah yang telah membunuh A Ciang, maka dia lalu mengajak teman-temannya untuk menerjang maju sambil berseru.

"Siluman kucing keparat!"

Dua belas orang meloncat dan menerjang, mengepung batu besar di mana wanita itu menyisir rambutnya.

Yang seorang lagi, seorang muda dengan muka pucat, tidak ikut menyerang karena kedua lututnya sudah menjadi lemas dan menggigil tak dapat digerakkan.

Pemuda ini bukan seorang penakut.

Menghadapi musuh manusia, dia amat gagah berani tidak takut mati.

Akan tetapi dia mempunyai kelemahan, yaitu takut sekali kepada setan dan iblis.

Baru mendengar ceritanya saja, dia sudah menggigil.

Apalagi sekarang dia berhadapan dengan siluman kucing, siluman yang benar-benar!

Maka dia tidak mampu bergerak, hanya menonton sambil bersembunyi, seluruh tubuhnya menggigil.

"Hi-hi-hik!"

Wanita itu terkekeh genit sambil membalikkan tubuhnya dan bangkit berdiri di atas batu.

"Ahhh....!"

"Ohhhh....!"

"Kauw-nio....!"

Semua orang terbelalak memandang.

Wanita itu bukan lain adalah Si Wanita Cantik yang telah menolong mereka, kini berdiri dengan tegak di atas batu, hanya memakai pakaian dalam yang tipis dan tembus pandangan sehingga tampak bentuk tubuhnya yang mulus dan menggairahkan, rambutnya terurai panjang sampai ke lutut, matanya bersinar-sinar.

"Kalian memaki aku siluman kucing keparat? Nggg....!"

Kembali terdengar suara lengking dahsyat seperti pekik kucing takut air, dan tiba-tiba mata mereka menjadi silau melihat berkelebatnya tubuh wanita itu melayang turun dan menyambar ke arah mereka.

Terdengar bunyi pekik susul-menyusul dan robohlah dua belas orang itu satu demi satu.

Setiap kali jari-jari tangan Mouw Siauw Mo-li bergerak dan kukunya yang runcing merah itu menyambar, tentu seorang lawan roboh dan akhirnya tinggal Si Gendut yang menjadi marah dan menyerang dengan goloknya.

Namun dengan mudah Kucing Liar itu mengelak, kemudian dari samping sambil mengelak tadi tangan kirinya menyambar ke depan.

"Crottt....! Retttt....!"

Tubuh Si Gendut terjengkang dan dari perutnya yang pecah oleh tusukan tangan kanan Mouw Siauw Mo-li memancar darah merah, sedangkan lehernya penuh dengan guratan kuku tangan kiri, juga mengucurkan darah.

Orang kurus pucat yang bersembunyi, memandang dengan terbelalak dan hampir saja dia pingsan.

Hanya terdengar suara kucing menangis, makin lama makin lirih dan wanita itu sudah lenyap dari situ.

Si Kurus Pucat ini memaksa kedua kakinya yang menggigil untuk pergi dari situ, menyelinap di antara batu-batu, jatuh bangun dan hampir terkencing-kencing saking takutnya, akan tetapi akhirnya dia dapat juga berlari jauh dan tujuannya hanya satu, yaitu kembali ke selatan dan melaporkan semua itu kepada pemimpinnya yang baru, yaitu Nona Lu atau Lu-bengcu.

Rombongan pasukan yang setelah pagi tiba kini berani mencari-cari komandannya, kini telah tiba di tempat itu.

Dapat dibayangkan betapa geger keadaan mereka ketika menemukan komandan mereka dalam keadaan telanjang bulat telah menjadi mayat, mayat yang tersenyum seolah-olah ketika mati dia berada dalam keadaan yang amat menyenangkan.

Dan tak jauh dari situ terdapat mayat-mayat dua belas orang buronan yang berserakan malang-melintang, Semua terluka di leher oleh bekas-bekas cakaran seperti yang terdapat pula di leher perwira komandan mereka.

Terpaksa pasukan ini menggotong mayat komandan mereka, kemudian kembali ke Koan-bun untuk melapor, dan di sepanjang perjalanan, tiada hentinya mereka bicara tentang semua keanehan itu yang muncul bersama dengan suara kucing!

Wajah Ceng Ceng menjadi merah saking marahnya mendengar pelaporan anggauta Tiat-ciang-pang yang kurus bermuka pucat itu.

Mendengar kematian Si Gendut dan kawan-kawannya di tangan Siluman Kucing, dia hanya menjadi heran dan penasaran.

Akan tetapi mendengar akan sikap Tek Hoat yang ternyata melanggar janjinya, tidak mencari jejak pemuda laknat musuh besarnya dan tidak pula memenuhi untuk tidak mencampuri urusan pemberontakan, dia menjadi marah.

"Keparat, manusia itu memang palsu dan licik!"

Bentaknya sambil mengepal tinju.

"Dia memang seorang kaki tangan pemberontak, Nona,"

Si Topeng Setan yang selalu menemaninya itu berkata lirih.

"Itulah yang menjemukan! Dia menjadi wakilku dan dia menjadi kaki tangan pemberontak, berarti menyeret namaku ke dalam lumpur pengkhianatan pula. In-kong, kita kerahkan semua anak buah dan kita membantu pemerintah membasmi pemberontak di utara, kita berangkat sekarang juga!"

Biarpun Si Topeng Setan telah menjadi wakilnya, namun Ceng Ceng tetap menyebutnya In-kong (Tuan Penolong), karena selain dia masih berterima kasih, juga sebetulnya dia menarik Si Topeng Setan ini dengan maksud untuk mempelajari ilmunya yang tinggi dan tentu saja untuk membantunya membalas dendamnya terhadap pemuda laknat yang dia tahu amat lihai itu.

"Akan tetapi, mengapa engkau merepotkan diri mencampuri urusan negara, Nona? Apa artinya kekuatan kita yang terdiri dari beberapa ratus kaum sesat ini menghadapi pemberontakan yang terdiri dari laksaan tentara yang terlatih?"

"In-kong, apa engkau tidak mendengar laporan tadi? Di utara sudah mulai geger, pemberontak mulai bergerak menduduki Koan-bun. Lebih lagi, menurut pelaporan tadi, Jenderal Kao dan Puteri Milana juga sudah mulai menyusun kekuatan untuk menumpas pemberontak. Bagaimana aku dapat tinggal diam saja? Ketahuilah, aku adalah keturunan patriot, semenjak dahulu nenek moyangku adalah kaum patriot yang mempertaruhkan nyawa untuk nusa bangsa. Kakekku adalah bekas pengawal kaisar yang setia! Apakah aku harus diam saja melihat negara dalam bahaya, terancam oleh kaum pemberontak?"

Sepasang mata Topeng Setan berkilat-kilat tanda kagum mendengar ucapan dan melihat sikap ini.

"Akan tetapi, engkau mempunyai urusan pribadi yang lebih penting lagi, bukan?"

Ceng Ceng mengepal tinjunya.

"Tentu! Urusan pribadiku adalah urusan mati hidup, selama hidupku aku tidak akan pernah berhenti sebelum musuh besarku itu dapat kubunuh!"

Kini sepasang mata Topeng Setan memandang dengan lesu, seolah-olah dia tidak setuju dengan sikap ini.

"Akan tetapi, dibandingkan dengan urusan negara, urusan pribadiku ini tidak ada artinya. Maka, aku harus memimpin semua patriot, biarpun mereka itu dari golongan sesat, untuk membantu pemerintah mengusir pemberon-tak dan di samping itu, tentu saja aku juga akan mencari musuh besarku di sana!"

Topeng Setan tidak banyak cakap lagi, lalu memanggil para anggauta Tiat-ciang-pang dan memerintahkan agar semua golongan sesat di daerah itu dikumpulkan, dipanggil untuk diajak berangkat ke utara membantu pemerintah.

Setelah semua orang golongan sesat berkumpul, yaitu mereka yang memang mempunyai jiwa patriot, Ceng Ceng lalu memerintahkan mereka dengan sedikit kata-kata saja.

"Pada saat seperti ini, negara membutuhkan bantuan kita. Tunjukkanlah bahwa kalian bukan hanya manusia-manusia tidak berguna saja, melainkan kalau keadaan menghendaki, kalian dapat menjadi patriot yang tidak segan mengorbankan nyawa demi negara. Negara terancam bahaya kaum pemberontak hina-dina, maka berangkatlah kalian semua ke utara dan gabungkan diri dengan kesatuan yang anti pemberontak di sana. Contohlah perbuatan anggauta Tiat-ciang-pang yang telah mengorbankan nyawa demi negara. Nama mereka akan selalu dijunjung tinggi sebagai patriot, bukan sebagai manusia sesat yang dianggap rendah."

Ceng Ceng memang tidak mau membentuk suatu pasukan, karena selain dia sendiri tidak tahu caranya membentuk pasukan, juga hal itu akan lebih sukar diaturnya, bahkan dapat dicurigai kalau mereka berangkat sebagai pasukan.

Maka dia hanya menyuruh mereka masing-masing atau merupakan kelompok-kelompok kecil untuk berangkat ke utara dan di sana menggabungkan diri dengan pasukan-pasukan yang ada.

Dia sendiri lalu berangkat bersama Topeng Setan menuju ke utara.

Seperti telah dilakukannya semenjak dia tinggal bersama Ceng Ceng sebagai pembantunya, di sepanjang perjalanan Topeng Setan mengajarkan teori-teori silat tinggi kepada Ceng Ceng, dan dilatih prakteknya sewaktu mereka berhenti mengaso atau melewatkan malam.

Ceng Ceng kagum bukan main karena memang ilmu silat yang diajarkan oleh Topeng Setan kepadanya itu amat hebat, bahkan kadang-kadang sukar baginya untuk menerima atau menguasainya karena memang dasar ilmu silatnya sendiri yang dia pelajari dari kakeknya tidak dapat menandingi tingkat ilmu yang diajarkan oleh Topeng Setan.

Namun, Si Topeng Setan dengan amat tekun dan sabar memberi penjelasan kepadanya dan memberi contoh-contoh gerakannya sehingga Ceng Ceng yang memang cerdas itu dapat segera menangkap intinya.

Hanya satu hal yang membuat Ceng Ceng penasaran dan tidak puas melakukan perjalanan dengan orang ini, yaitu sikapnya yang penuh rahasia, topeng yang tak pernah dicopotnya, dan orangnya yang pendiam dan jarang sekali bicara kalau tidak ditanya.

Dia tidak memaksa atau membujuk orang itu membuka topengnya.

Hal ini adalah karena sudah saling berjanji ketika Topeng Setan itu menjadi tawanan, atau memang sengaja menyerahkan diri karena kini Ceng Ceng maklum bahwa kalau dia menghendakinya, Topeng Setan itu akan dengan mudah mengalahkannya dan tak mungkin dapat tertawan semudah itu.

Ketika menjadi tawanan, Ceng Ceng dan Si Topeng Setan sudah saling berjanji, yaitu Ceng Ceng tidak akan membuka topengnya, tidak akan menanyakan rahasianya akan tetapi orang itu pun berjanji akan menjadi pembantu Ceng Ceng dan akan mengajarkan ilmu kepadanya.

Kini, Topeng Setan sudah menjadi pembantunya, dan sudah mengajarkan ilmu silat, berarti sudah memenuhi janji.

Bagaimana dia dapat melanggar janji untuk membuka rahasia yang agaknya amat ditutupi itu?

Betapapun juga, ketika mereka habis berlatih dan mengaso di bawah pohon untuk berlindung dari teriknya matahari, Ceng Ceng tidak dapat menahan keinginan tahunya dan berkata.

"In-kong, aku heran sekali mengapa orang sepandai engkau ini selalu menyembunyikan nama dan rupa, seolah-olah ada sesuatu yang kau rahasiakan sekali. Aku sudah berjanji tidak akan membuka topengmu, akan tetapi aku ingin sekali tahu mengapa engkau melakukan rahasia ini, menutupi keadaan dirimu sedemikian rupa? Agaknya engkau takut akan sesuatu atau seseorang?"

Topeng Setan yang duduk di depan Ceng Ceng, seperti tak disadari menggenggam sebuah batu dan batu itu remuk menjadi tepung di dalam genggaman tangannya!

Kemudian dia menarik napas panjang dan mengangguk.

"Memang aku takut."

Ceng Ceng mengerutkan alisnya.

"Aku tidak percaya! Sedangkan orang seperti aku saja sudah tidak mempunyai rasa takut lagi, apalagi engkau yang memiliki ilmu kepandaian begitu tinggi! Siapa yang kau takuti itu?"

Sejenak Topeng Setan tidak mau menjawab, dan Ceng Ceng tidak berani memaksa akan tetapi tak lama kemudian laki-laki itu berkata.

"Aku takut kepada diriku sendiri...."

"Ehhh....?"

Ceng Ceng berseru keras.

"Mengapa....?"

Topeng Setan tidak menjawab, hanya menggeleng kepala. Kemudian dia berkata.

"Nona sudah banyak bertanya, bolehkah aku juga mengajukan sebuah pertanyaan?"

"Hemmm, boleh saja, akan tetapi belum tentu aku dapat menjawabnya pula."

"Nona mempunyai seorang musuh besar yang menurut Nona amat Nona benci dan Nona akan mencarinya dan tak akan berhenti sebelum Nona dapat membunuhnya. Nona tidak tahu siapa namanya dan di mana dia berada, suatu hal yang amat sulit, dan menurut Nona, yang pernah melihat orangnya hanyalah Nona sendiri dan Ang Tek Hoat. Akan tetapi Tek Hoat agaknya lebih mementingkan pem-berontakan daripada mencari orang itu. Kalau aku boleh bertanya, mengapakah Nona begitu membenci musuh besar itu? Apa yang telah dilakukannya?"

Ceng Ceng menundukkan mukanya yang terasa panas.

Dia menekan perasaannya, kemudian meng-angkat muka memandang topeng di depannya itu, menghela napas dan menggeleng kepalanya.

"Itu.... itu adalah rahasiaku, tidak dapat aku memberitahukan kepada orang lain."

Sejenak sunyi di situ. Keduanya seperti tenggelam dalam lamunan masing-masing. Akhirnya Ceng Ceng yang berkata.

"Sekarang aku tidak akan bertanya-tanya lagi tentang dirimu, In-kong. Aku tahu bahwa setiap orang mempunyai rahasianya sendiri yang tidak ingin diketahui orang lain. Biarlah aku tinggal dalam rahasiaku dan engkau dalam rahasiamu."

Topeng Setan mengangguk-angguk setuju.

Selanjutnya keduanya diam lagi sampai lama dan ketika Ceng Ceng perlahan-lahan mengangkat muka memandang, dia melihat Topeng Setan menundukkan muka, matanya terpejam dan kelihatannya berduka sekali!

Melihat keadaan orang itu, timbul rasa iba di hatinya dan dia pun lupa akan kedukaannya sendiri.

Tadi pun dia tenggelam ke dalam duka ketika pikirannya melayang-layang dan mengingat-ingat akan semua pengalamannya, akan nasibnya yang buruk.

Akan tetapi melihat temannya begitu berduka, biarpun tidak kentara akan tetapi melihat pundak yang turun itu, muka yang tunduk dan mata yang terpejam dia dapat menduga bahwa Topeng Setan tenggelam ke dalam duka yang mendalam, dia lalu meloncat bangun dan berkata.

"Heii, mengapa tidur? In-kong, aku masih mendapat kesukaran memainkan jurus yang kemarin itu. Mari kita berla-tih!"

Topeng Setan terkejut, mengangkat muka dan sepasang matanya tidak muram lagi, menjadi bersinar dan dia pun meloncat bangun.

Tak lama kemudian, kedua orang itu telah bertanding, berlatih dengan sungguh-sungguh di tempat yang sunyi itu.

Beberapa hari kemudian, di waktu pagi mereka tiba di luar dusun Ang-kiok-teng yang tidak jauh lagi letaknya dari Koan-bun dan Teng-bun.

Dan dari jauh mereka sudah mendengar suara perang yang amat gaduh.

Ketika mereka lari mendekat mereka melihat pertempuran yang dahsyat dan mati-matian antara pasukan pemerintah melawan pasukan liar yang amat kuat.

Hampir rata-rata anggauta pasukan liar itu terdiri dari orang yang tinggi besar dan kuat, ganas dan liar, gerakannya dahsyat sehingga dalam pertandingan satu lawan satu, bahkan satu dilawan dua atau tiga orang sekalipun, pihak pasukan pemerintah selalu kalah.

Serbuan pasukan liar itu demikian kuatnya sehingga pihak pemerintah mulai main mundur dan melarikan diri memasuki dusun Ang-kiok-teng dikejar oleh pasukan liar.

"Ahhh.... mereka itu seperti pasukan dari barat, pasukan Tambolon!"

Ceng Ceng berseru.

Dia pernah melihat pasukan liar ketika rombongan utusan kota raja diserbu, yaitu ketika dia mengawal Puteri Syanti Dewi, dan dia sudah banyak mendengar tentang pasukan liar yang dipimpin oleh Raja Tambolon.

Dia lalu mengajak Topeng Setan untuk berlari cepat dan menggunakan kepandaian mereka untuk meloncati pagar dan memasuki dusun Ang-kiok-teng untuk membantu pasukan pemerintah yang sudah tinggal seperempat jumlahnya itu.

Sorak-sorai gegap gempita terdengar ketika pintu gerbang didobrak bobol dari luar, dan membajirlah pasukan liar itu memasuki dusun Ang-kiok-teng.

Dugaan Ceng Ceng tadi memang tidak keliru.

Pasukan itu adalah pasukan Raja Tambolon yang memimpin sendiri pasukan itu menyerbu dusun Ang-kiok-teng, dusun yang telah "diberikan"

Oleh Panglima Kim Bouw Sin kepada Tambolon, untuk dijadikan markas dan dibolehkan untuk diduduki, dirampas segala-galanya dan Raja Tambolon beserta pasukannya boleh berbuat apa saja terhadap dusun itu dan seluruh penduduknya!

Panglima Thio Luk Cong yang menjadi komandan pasukan pemerintah di front terdepan itu, memang terkejut sekali ketika menghadapi penyerbuan pasukan liar ini.

Dia telah mengerahkan kekuatan pasukannya untuk melawan, akan tetapi ternyata pasukan liar itu hebat bukan main dan biarpun lebih banyak jumlahnya, pasukannya tidak mampu bertahan dan terpaksa dia menarik mundur pasukannya ke dalam dusun Ang-kiok-teng.

Panglima Thio naik ke menara dan mengatur pasukannya dari atas menara, melakukan penjagaan-penjagaan ketat dan menyerukan agar penduduk Ang-kiok-teng tidak menjadi panik melainkan berusaha mengumpulkan kekuatan untuk membantu pasukan melawan para penyerbu liar itu.

Akan tetapi, semua usahanya percuma saja karena tak lama kemudian, pintu gerbang dapat dibobolkan dari luar.

Terjadilah perang lagi yang kacau-balau, perang di dalam dusun itu.

Selagi Thio-ciangkun mengepal-ngepal tinjunya dengan gemas melihat kekalahan anak buahnya, tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang naik ke menara.

Enam orang pengawal panglima itu cepat menerjang dengan pedang mereka, akan tetapi Ceng Ceng berseru.

"Tahan! Kami bukan musuh, kami malah datang untuk melindungi komandan!"

Thio-ciangkun terkejut dan memandang penuh curiga, terutama sekali kepada Si Topeng Setan.

"Siapa kami bukan hal penting, Ciangkun. Kami adalah rakyat yang tidak rela melihat adanya pemberontakan dan melihat musuh yang menyerbu dusun ini dan keadaan Ciangkun yang terancam, kami datang hendak membantu dan melindungi."

Thio Luk Cong memandang penuh selidik, kemudian mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata.

"Terima kasih banyak atas bantuan dan kebaikan Ji-wi...."

Pada saat itu, dari bawah menyambar dua batang anak panah yang menuju ke arah tubuh perwira itu.

"Huhhh!"

Si Topeng Setan mengeluarkan suara dari hidungnya dan ketika kedua tangannya bergerak, Dua batang anak panah itu telah ditangkapnya dan sekali dia melontarkan ke bawah, terdengar pekik nyaring dan dua orang tinggi besar terjengkang roboh.

Kiranya pasukan liar itu telah menyerbu sampai di tempat itu!

Suara makin hiruk-pikuk dan kini diselingi suara jerit wanita dan teriakan-teriakan me-ngerikan dari mereka yang menyerbu.

Di dalam dusun itu terjadilah peristiwa mengerikan, kekejaman perang yang semenjak ribuan tahun yang lalu terulang terus, puncak dari kemenangan nafsu atas diri manusia di mana terjadi kekejaman-kekejaman yang sukar dapat dibayangkan di waktu damai akan dapat dilakukan oleh manusia lain.

Paaukan liar di bawah pimpinan Raja Tambolon sendiri telah menghancurkan pertahanan pasukan pemerintah yang lari cerai-berai dan mulailah pesta kemenangan dalam perang seperti yang terjadi di mana-mana dan di jaman apa pun.

Semua kaum pria, baik yang masih anak-anak sampai yang sudah kakek-kakek, dibunuh di tempat tanpa ampun lagi, dan pembunuhan dilakukan dengan cara yang biadab pula.

Penyiksaan-penyiksaan yang mengerikan pada saat seperti itu mendatangkan kegembiraan luar biasa pada pihak yang menang seolah-olah perbuatan mereka itu merupakan suatu perbuatan gagah perkasa, tanda dari kekuasaan dan kemenangan.

Kaum wanita mengalami nasib yang lebih mengerikan lagi.

Mereka diseret, dikumpulkan di jalan raya, ditelanjangi sama sekali, dan ibu-ibu muda dipisahkan dari anak-anak mereka, ada yang bayinya dibunuh dan disembelih di dalam pondongan ibunya.

Suara jerit tangis, ratap dan rintih, bercampur aduk dengan suara gelak tawa.

Darah mengecat jalan raya, pintu-pintu rumah, ratap tangis membubung tinggi ke angkasa tanpa ada yang mendengar dan mempedulikannya.

Pasukan yang merupakan gerombolan binatang buas itu amat kejam, akan tetapi sungguh mengherankan dan mengagumkan ketaatan mereka terhadap pimpinan.

Seperti biasa, mereka membunuhi kaum pria, merampoki harta benda, dan menangkapi serta menelanjangi semua wanita, akan tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani mengambil harta untuk dirinya sendiri atau memperkosa wanita yang dipilihnya sendiri!

Seperti biasa, mereka menanti sampai Raja Tambolon dan para pembantunya menentukan pilihan masing-masing atas wanita dan harta, dan baru setelah ada komando dari raja mereka, Gerombolan liar ini akan benar-benar berpesta pora untuk diri mereka sendiri!

Sisa pasukan pemerintah sebagian besar melarikan diri keluar dari dusun itu melalui pintu samping dan belakang, cerai-berai tanpa pimpinan.

Ada pula se-bagian lagi yang lari ke menara dan di sini di bawah komando Thio-ciangkun melakukan perlawanan sampai titik darah terakhir!

Dan memang mereka itu tidak kuat menghadapi serbuan para pasukan itu, biarpun di situ terdapat Ceng Ceng dan Topeng Setan yang lihai dan yang merobohkan banyak sekali tentara pasukan liar.

Akhirnya habislah semua perajurit pemerintah dan Ceng Ceng bersama Topeng Setan terpaksa meloncat naik ke atas menara di mana Thio-ciangkun bersama lima orang pengawal pribadinya siap untuk membela diri.

"Jangan khawatir, Ciangkun. Aku masih mempunyai akal untuk menghajar mereka!"

Kata Ceng Ceng dengan gemas, apalagi dari ternpat tinggi itu dia dapat melihat betapa penduduk dibunuhi dan wanita-wanita diseret dan ditelanjangi, dikumpulkan di jalan seperti domba-domba yang hendak dijual ke pasar!

Sambil bersorak-sorak pasukan liar itu mengepung menara.

Ceng Ceng mengeluarkan sebuah bungkusan yang terisi bubuk hitam.

Sebetulnya bubuk racun ini selalu dibawanya untuk bekal sebagai senjata yang ampuh dan tidak akan dipergunakan kalau tidak amat perlu.

Akan tetapi melihat betapa menara itu dikepung dan dia bersama Topeng Setan tidak akan mungkin dapat menang menghadapi pasukan musuh yang begitu banyak jumlahnya, terpaksa dia akan mempergunakan bubuk racun yang dibawanya dari neraka di bawah tanah itu, bubuk racun buatan mendiang Ban-tok Mo-li.

Setelah menyuruh Topeng Setan, Thio-ciangkun dan para pengawalnya mundur ke dalam menara, Ceng Ceng lalu menyebarkan racun itu di sekeliling menara.

yang merupakan bubuk hitam lembut itu terbawa angin dan tidak tampak.

Akan tetapi tak lama kemudian terjadilah geger di bawah menara!

Mula-mula hanya beberapa orang saja yang berteriak-teriak sambil menggaruki leher, muka dan tangan, bagian tubuh yang tidak tertutup, akan tetapi makin digaruk, rasa gatal yang amat hebat, makin memasuki baju dan di lain saat mereka itu sudah bergulingan, merintih-rintih dan menggaruki seluruh tubuh mereka.

Dan hal aneh ini disusul oleh teman-teman yang lain, sehingga menjadi belasan orang, puluhan dan akhirnya tidak kurang dari seratus orang anggauta pasukan liar itu bergulingan, saling tindih, bahkan mulai saling pukul karena menjadi seperti gila oleh rasa gatal yang menyiksa tubuh mereka!

Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras dan sisa pasukan liar cepat mundur menjauhi mereka.

Dari atas menara, Ceng Ceng melihat munculnya dua orang laki-laki, yang seorang berpakaian petani dan membawa pikulan, yang ke dua berpakaian pelajar.

Mereka ini bukan lain adalah Si Petani Maut Liauw Kui, dan Si Siucai Maut Yu Ci Pok, keduanya adalah pengawal-pengawal pribadi Tambolon yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

Ketika mereka melihat betapa amat banyak anggauta pasukan mereka yang mendadak bergulingan seperti orang sekarat di bawah menara, mereka cepat datang dan memerintahkan pasukan untuk cepat menjauhkan diri dari menara.

Kimonga, komandan pasukan, kini menceritakan kepada mereka bahwa tadi terdapat seorang gadis cantik yang menyebar sesuatu dari menara dan akibatnya seperti itulah.

"Hemm, dia menggunakan racun yang amat berbahaya!"

Kata Liauw Kui.

"Kalau tidak ditolong, anak buah kita itu bisa celaka!"

Kata pula Yu Ci Pok.

"Kita harus melaporkan kepada Sri Baginda!"

Kimonga berkata dengan khawatir sekali. Kalau harus kehilangan seratus orang lebih, sungguh merupakan hal yang amat merugikan dan hebat.

"Benar, harus lapor,"

Dua orang pengawal Raja Tambolon itu mengangguk, kemudian mereka pergi untuk mencari Raja Tambolon yang sedang menikmati hasil kemenangan pasukannya itu.

"Kurung menara dari jauh, siapkan barisan anak panah!"

Kimonga lalu mengatur pengepungan sehingga menara itu dikepung ketat oleh ratusan orang perajurit yang siap dengan gendewa dan anak panah.

Sedangkan mereka yang menjadi korban racun itu masih bergulingan dan merintih-rintih di atas tanah di bawah menara.

Raja Tambolon sedang berdiri dan mengelus-elus brewoknya di depan hampir dua ratus orang wanita itu.

Dia tersenyum girang, akan tetapi hatinya agak kecewa.

Raja yang memiliki kepandaian tinggi ini bukanlah scorang yang haus wanita, sungguhpun hal itu bukan berarti bahwa dia tidak pernah menikmati wanita-wanita rampasan sebagai hasil menang perang.

Akan tetapi wanita-wanita dusun itu baginya kurang menarik dan akhirnya hanya ada seorang gadis saja yang dipilihnya.

Dia menunjuk dan gadis itu lalu didorong dan dibawa pergi oleh seorang perwira.

Gadis itu dipisahkan dari yang lain.

Sungguh mengerikan melihat pemandangan di waktu itu.

Wanita-wanita bertelanjang bulat diharuskan berdiri dan ditonton oleh banyak mata pria yang bersinar-sinar penuh nafsu berahi, yaitu mata dari para tentara pasukan liar itu.

Mereka berusaha sedapat mungkin untuk menutupi anggauta badan mereka dengan rambut dan tangan, akan tetapi hal ini justeru menambah gairah mereka yang memandangnya.

Setelah memilih seorang gadis saja, Tambolon lalu memilih di antara barang-barang rampasan.

Juga dia kecewa karena ternyata penduduk dusun itu tidak dapat dibilang kaya-raya.

Pada saat itu, datanglah Liauw Kwi dan Yu Ci Pok, melaporkan tentang keadaan anak buah mereka di bawah menara.

"Keparat! Kiranya ada orang pandai di sini! Kenapa kalian tidak memberi hajaran kepada mereka?"

Bentak Tambolon marah sekali mendengar bahwa seratus lebih orang-orangnya sekarat di bawah menara.

"Kami menanti perintah Paduka, karena yang penting adalah bagaimana caranya menyela-matkan anak buah kita itu,"

Yu Ci Pok menjawab.

Dengan langkah lebar Tambolon lalu diantar oleh dua orang pengawalnya itu menuju ke menara.

Dia melihat betapa menara itu telah dikurung ketat, dan melihat pula seorang gadis cantik dan seorang laki-laki bermuka seperti setan di atas menara, melindungi Thio-ciangkun yang berada di dalam menara.

"Gendewaku....!"

Raja Tambolon berseru dan cepat seorang perwira pembantunya menyerahkan gendewa raja itu, sebatang gendewa yang amat berat dan kuat.

Raja itu menyambar gendewanya, lalu mengambil sebatang anak panahnya yang terbuat dari baja dan berbulu merah, lalu memasang anak panah itu di gendewanya, menarik gendewa dan membidik ke arah Topeng Setan yang berdiri di dekat Ceng Ceng di atas menara.

"Reeeettt.... singgg....!"

Bagaikan kilat saja anak panah itu meluncur ke arah Si Topeng Setan, karena Tambolon menganggap bahwa laki-laki kasar tinggi besar bermuka setan itulah yang agaknya merupakan lawan berat.

Sinar kilat itu menyambar ke arah dada Topeng Setan.

Orang ini tentu saja mengerti dari suara dan kilatan anak panah itu bahwa serangan anak panah ini amat berbahaya, tidak seperti anak panah lain, akan tetapi dengan tenang dia menggunakan tangannya yang dimiringkan menangkis dari samping.

"Plakk....! Sing....!"

Anak panah itu tertangkis membalik, menyambar ke bawah dan terdengar teriakan mengerikan disusul robohnya seorang perajurit karena lehernya tertembus anak panah rajanya sendiri itu!

Wajah Tambolon menjadi merah, dan dia mengangguk-angguk.

"Boleh juga,"

Gerutunya, kemudian dia memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengumpulkan kayu bakar dan menumpuknya di sekeliling menara.

Setelah itu, dengan pengerahan khi-kang yang amat kuat sehingga suaranya bergerna di seluruh tempat, dia berseru.

"Haiii.... komandan pasukan kerajaan yang berada di menara! Pasukanmu telah kami hancurkan dan menara ini sudah kami kepung dan sewaktu-waktu dapat kami bakar habis berikut engkau dan pengikut-pengikutmu! Akan tetapi melihat kegagahan pengikutmu, kami mengajukan usul kepadamu! Obati perajurit-perajurit kami yang keracunan dan kami akan memberi kesempatan kepadamu untuk melarikan diri! Kalau tidak, biarlah kami kehilangan seratus orang perajurit, akan tetapi menara ini akan kami bakar dan kalian di atas akan menjadi bangkai-bangkai hangus!"

Thio-ciangkun lalu berkata kepada Ceng Ceng.

"Lihiap dan Taihiap, harap kalian suka cepat melarikan diri. Ji-wi (Anda Berdua) memiliki kepandaian, tentu dapat lolos, saya adalah seorang komandan yang pasukannya telah hancur, seperti seorang nahkoda yang kapalnya sedang tenggelam. Biarlah saya melawan sampai napas terakhir."

"Tidak!"

Ceng Ceng membantah.

"Engkau masih dibutuhkan oleh negara, Ciangkun, tidak ada gunanya melawan seperti membunuh diri."

Lalu dia melangkah maju, menjenguk ke bawah dan memandang kepada laki-laki yang tinggi besar brewokan yang dari pakaiannya saja dapat diduga bahwa dialah rajanya atau pemimpin pasukan liar itu, kemudian dia mengeluarkan suara nyaring.

"Heii, pimpinan musuh yang berada di bawah, dengarlah! Yang meracuni pasukan itu adalah aku! Kami setuju dengan pertukaran itu, biarlah Thio-ciangkun dan pengawalnya keluar dari dusun ini tanpa gangguan, kemudian aku akan menyembuhkan semua orangmu yang terkena racun!"

Tambolon terkejut dan merasa heran sekali karena sama sekali tidak mengira bahwa gadis muda cantik jelita itulah yang lihai.

"Baik!"

Teriaknya, kemudian menoleh kepada anak buahnya berkata.

"Buka jalan untuk Thio-ciangkun, biarkan dia pergi!"

Para perajurit itu amat takut dan taat kepada raja mereka yang keras, maka cepat mereka membuka jalan.

Ceng Ceng setengah memaksa dan membujuk Thio-ciangkun menuruni menara itu bersama lima orang pengawalnya yang berjalan mengelilingi komandan mereka di kanan kiri, depan dan belakangnya, sedangkan Ceng Ceng dan Topeng Setan mengiringkan di belakang dengan sikap tenang.

"Sediakan enam ekor kuda yang baik untuk mereka!"

Ceng Ceng berkata, sikapnya memerintah dan penuh wibawa.

Raja Tambolon kembali terkejut, lalu dia tertawa bergelak, hatinya senang sekali!

Raja ini adalah seorang kasar dan liar yang berilmu tinggi, dan tidak ada yang disenangi di dunia ini kecuali kegagahan dan keberanian.

Kini melihat sikap Ceng Ceng, dia kagum bukan main dan hatinya senang sekali.

Biasanya, dia menganggap wanita hanya sebagai mahluk lemah yang hanya memiliki kecantikan dan yang hanya untuk menyenangkan dan menghibur hati pria, mahluk lemah yang biasanya paling banyak hanya menangis!

Akan tetapi kini melihat sikap Ceng Ceng, yang demikian tabah penuh keberanian dan kegagahan, dia terkejut, heran, kagum dan senang sekali.

"Sediakan enam ekor kuda, tolol kalian semua! Hayo cepat!"

Teriak Tambolon dengan keras lalu tertawa lagi bergelak.

Ceng Ceng memandang laki-laki tinggi besar brewok itu dengan kagum.

Sudah lama dia mendengar nama besar Raja Tambolon, dan baru sekarang dia melihat orangnya.

Seorang jantan aseli, seperti seekor binatang yang liar, akan tetapi dia tahu bahwa manusia ini berhati seperti binatang, penuh kekerasan dan kekejaman, seorang manusia yang dapat membunuhi manusia-manusia lain dengan kedua tangan tanpa berkedip sedikit pun.

Setelah Thio-ciangkun dan lima orang pengawalnya menunggang kuda dan meninggalkan dusun itu dengan cepat.

Topeng Setan berkata kepada Ceng Ceng.

"Nona, lekas berikan obat pemunah racun dan mari kita cepat pergi dari sini."

Ceng Ceng mengangguk, mengeluarkan bungkusan obat bubuk putih dan menyerahkannya kepada Tambolon sambil berkata.

"Inilah obat penawarnya. Campur dengan air, suruh mereka minum seorang seperempat cawan kecil, tentu sembuh. Kalau tidak ditolong obat ini, mereka akan menggaruk terus sampai kulit dan daging mereka terkupas habis!"

Tambolon menerima bungkusan itu dan ketika Ceng Ceng dan Topeng Setan hendak pergi, Tambolon tertawa.

"Tunggu dulu, tidak semudah itu! Ha-ha-ha!"

Ceng Ceng dan Topeng Setan memandang ke sekeliling dan ternyata mereka telah dikurung rapat oleh ratusan orang perajurit itu!

"Hemm, Tambolon, apa artinya ini?"

Ceng Ceng membentak. Raja Tambolon terkejut.

"Eh, kau sudah tahu siapa aku, Nona? Bagus, eng-kau memang hebat, bukan seorang biasa. Ingat akan janjimu tadi, Nona. Kami telah membebaskan Thio-ciangkun, akan tetapi orang-orangku belum sembuh, belum kau sembuhkan, mana mungkin kami membiarkan kalian lolos? Mari, kalian menjadi tamu-tamuku sambil menanti sembuhnya orang-orangku."

Ceng Ceng dan Topeng Setan terpaksa menerima undangan ini.

Mereka kagum akan kecerdikan Tambolon, akan tetapi juga mereka menduga-duga apakah orang ini dapat dipercaya dan akan membebaskan mereka berdua setelah orang-orangnya sembuh kembali.

Ceng Ceng dan Topeng Setan dipersilakan naik ke menara dan tempat itu segera dibersihkan dan diaturlah meja besar di atas menara karena Raja Tambolon dan dua orang pengawalnya itu hendak menjamu dua orang ini dengan makan minum.

Mengagumkan juga betapa di dalam dusun yang sudah rusak itu, anak buah Raja Tambolon dengan mudah dan cepat dapat mempersiapkan pesta yang cukup meriah, dengan masakan dan minuman pilihan!

Setelah makan minum dihidangkan memenuhi meja, Tambolon mengisi cawan arak dan mengangkat cawannya mengajak dua orang tamunya minum sambil berkata.

"Mari kita minum untuk perkenalan yang amat menyenangkan ini!"

Mereka lalu minum arak dari cawan masing-masing, diikuti pula oleh dua orang pengawal Tambolon, yaitu Si Petani dan Si Pelajar.

"Kalian berdua yang lihai ini siapakah dan dari mana?"

Tambolon bertanya.

"Namaku Lu Ceng dan dia ini berjuluk Topeng Setan, menjadi pembantuku dan juga pengawalku,"

Jawab Ceng Ceng singkat.

"Nona Lu ini adalah beng-cu dari kaum sesat di sekitar kota raja,"

Si Topeng Setan menambahkan.

"Ha-ha-ha, hebat, hebat sekali!"

Tambolon tertawa bergelak.

"Seorang wanita begini muda sudah memiliki kelihaian dan menjadi beng-cu! Ha-ha-ha, siapa yang mengira? Nona Lu Ceng, bagaimana engkau dapat mengenal namaku, padahal baru sekarang kita saling bertemu?"

"Hemm, aku sudah pernah merantau jauh ke barat dan di Bhutan aku mendengar tentang namamu dan pasukanmu, maka begitu melihat pasukanmu, aku dapat menduga bahwa tentu ini pasukan Raja Tambolon yang amat terkenal itu."

"Ha-ha-ha, kau memang cerdik! Kau pantas menerima arak penghormatan dari Raja Tambolon!"

Dengan gaya dan geraknya yang kasar Raja Tambolon lalu mempersilakan tamu-tamunya makan.

Tanpa sungkan lagi Ceng Ceng dan Topeng Setan makan ditemani oleh Tambolon dan dua orang pengawalnya.

Tiba-tiba seorang perajurit datang menghadap Raja Tambolon.

Dengan sikap amat hormat akan tetapi kasar perajurit itu berkata.

"Lapor! Kawan-kawan tidak sabar lagi dengan para tawanan wanita. Mohon keputusan dan perintah Sri Baginda Raja!"

Tambolon minum arak dari cawannya dan tertawa.

"Ha-ha-ha, wah, aku sampai lupa. Bagi rata dan bergilir seperti biasa! Awas jangan sampai berebut dan berkelahi, suruh masing-masing perwira mengadakan undian siapa yang lebih dulu mendapat giliran. Eh, bawa pilihanku ke sini untuk melayani makan minum!"

Perajurit itu memberi hormat dengan wajah berseri, kemudian berlari turun dari menara.

Ceng Ceng dan Topeng Setan saling pandang, hanya setengah menduga apa yang akan terjadi dengan para tawanan wanita.

Saking tidak tahannya, Ceng Ceng berkata.

"Sri Baginda, apakah yang akan kau lakukan terhadap para tawanan wanita?"

"Ha-ha-ha, kalian ingin tahu? Mari kita lihat, dari atas sini tentu merupakan panda-ngan yang amat hebat, ha-ha-ha!"

Tambolon, Ceng Ceng, Topeng Setan dan dua orang pengawal Tambolon lalu bangkit dan berjalan ke pinggir loteng menara sehingga mereka dapat melihat apa yang terjadi di bawah sana.

Jantung Ceng Ceng berdebar tegang, kedua telinganya menjadi panas ketika dia melihat apa yang terjadi di sana.

Kurang lebih dua ratus orang wanita yang bertelanjang bulat berdiri dengan mata menunduk, ada yang merintih, ada yang menangis terisak-isak, ada orang berdiri ketakutan, dirubung oleh ratusan anak buah Tambolon yang memandang liar dan ada yang menjilat dan seperti sikap srigala kelaparan melihat domba muda.

Tak lama kemudian, terdengar perwira-perwira bicara dan meledaklah sorak-sorai para anak buah Tambolon, kemudian terjadilah peristiwa yang membuat Ceng Ceng hampir saja meloncat ke bawah untuk mengamuk.

Seperti srigala yang dilepaskan, para perajurit pasukan liar itu berlari-larian menyerbu wanita-wanita itu.

Terdengar jerit-jerit mengeri-kan diseling suara tawa para perajurit liar dan terjadilah peristiwa yang sukar dapat dibayangkan oleh manusia waras.

Pemerkosaan begitu saja di atas jalan-jalan, di tepi jalan, ada yang membawa wanita memasuki rumah, Akan tetapi ada pula yang memperkosanya di tempat itu juga, tidak peduli akan semua orang di sekitar-nya, bahkan ditonton, ditertawakan dan disoraki oleh teman-teman yang belum kebagian!

Dua ratus orang wanita itu tentu saja segera habis dan banyak sekali perajurit yang terpaksa menanti giliran karena jumlah mereka lima kali lebih banyak dari jumlah wanita tawanan.

Jerit melengking, rintihan dan keluhan, ratap tangis para wanita itu seolah-olah menusuki jantung Ceng Ceng dan terbayanglah dia akan pengalamannya sendiri ketika dia diperkosa oleh pemuda laknat itu!

Dia memejamkan matanya, lalu tiba-tiba membalik dan lari kembali ke dekat meja dengan muka merah seperti udang direbus, matanya mendelik memandang Tambolon yang juga sudah kembali ke kursinya.

"Terkutuk engkau!"

Ceng Ceng memaki marah.

"Mengapa kau suruh anak buahmu melakukan perbuatan terkutuk itu?"

Tadi Ceng Ceng merasa betapa lengannya disentuh oleh Topeng Setan yang dengan halus menggelengkan kepala, mencegah dia melakukan sesuatu.

Kini Ceng Ceng maklum bahwa andaikata dia tadi tidak kuat menahan kemarahannya dan bertindak, tentu mereka berdua akan binasa menghadapi hampir seribu orang lawan itu!

Tambolon hanya tersenyum lebar mendengar makian Ceng Ceng.

"Duduklah, Nona, dan kau juga, Topeng Setan. Minumlah arak ini untuk mendinginkan hatimu."

Ceng Ceng menyambar dan menenggak araknya, karena memang dia membutuhkan arak itu untuk menenangkan hatinya yang bergelora menyaksikan pemandangan yang amat mengerikan itu.

"Nona, pasukanku telah melakukan perjalanan ribuan li jauhnya, perjalanan yang ditempuh dengan susah payah siang dan malam. Mereka telah menghadapi bahaya maut entah berapa ribu kali dan kadang-kadang sampai berbulan mereka tidak pernah melihat wajah seorang wanita. Mereka taat sekali kepadaku dan tanpa perkenanku, mereka tidak akan berani mengganggu seorang pun wanita. Akan tetapi, seperti juga makanan untuk perut mereka, mereka itu membutuhkan wanita dan kalau tidak sekali-kali memenuhi kebutuhan mereka itu, tentu mereka tidak akan taat lagi kepadaku. Wanita mana lagi yang dapat kuberikan kepada mereka kecuali wanita tawanan yang suaminya telah tewas dalam pertempuran?"

Sunyi menyambut kata-kata ini dan betapa pun kejinya, Ceng Ceng dapat mengerti apa yang dimaksudkan Tambolon, akan tetapi karena merasa ngeri membayangkan nasib ratusan orang wa-nita yang suaranya masih terus mengikuti pendengarannya itu Ceng Ceng memejamkan matanya.

"Berapa lama mereka dapat bertahan diterjang oleh demikian banyaknya anak buahmu?"

Tiba-tiba Topeng Setan bertanya, suaranya halus dan datar seolah-olah tidak menyembunyikan perasaan apa-apa.

"Ha-ha-ha, orang-orangku yang kehausan itu mana tahu akan daya tahan mereka? Telah berbulan mereka kehausan, tentu tidak mengenal puas dan dengan jumlah mereka yang lima enam kali lebih banyak, tidak sampai sepekan pun wanita-wanita itu akan habis."

"Mati?"

"Ha-ha-ha, bagaimana lagi? Lebih baik begitu daripada satu mendapat satu, terus menjadi terikat dan akan ikut ke manapun kami pergi, menghalangi gerakan kami."

Topeng Setan menghela napas dan pada saat itu Ceng Ceng memandangnya. Mereka saling pandang dan Topeng Setan berkata.

"Memang lebih baik begitu. Penderitaan mereka sebentar saja dan mereka akan segera mati menyusul suami atau keluarga mereka."

Ceng Ceng ingin menjerit.

Wanita-wanita itu lebih beruntung kalau diban-dingkan dengan dia!

Mereka itu akan segera mati menyusul dan berkumpul dengan keluarga mereka yang tercinta.

Akan tetapi dia?

Dia menanggung aib dan malu, derita batin dan penasaran.

Akan tetapi sampai sekarang pun orang yang didendamnya belum dapat dia temukan.

Dan dia dijauhkan dari orang-orang yang dia cinta.

Ayah bundanya sudah tiada, kakeknya pun tewas, sedangkan orang terakhir yang dicintanya, Syanti Dewi, pun entah berada di mana.

Tambolon dan orang-orangnya ini adalah manusia-manusia kejam, demi kemenangan diri sendiri mereka ini bersedia melakukan kekejaman apapun juga.

Akan tetapi mereka ini lihai, jumlah mereka banyak.

Dia harus berhati-hati dan harus percaya kepada Si Topeng Setan yang dia percaya pun juga diam-diam mencari siasat agar mereka dapat terlepas dari Tambolon dan anak buahnya.

Tiba-tiba terdengar isak wanita naik ke menara itu.

"Ah, lepaskah aku.... lepaskan aku atau bunuh saja aku....!"

Seorang perajurit muncul mendorong seorang wanita.

Ceng Ceng memandang dan melihat bahwa wanita itu adalah seorang gadis muda yang usianya tidak akan lebih dari enam belas tahun, wajahnya cukup cantik dan pakaiannya terlalu besar, seolah-olah bukan pakaiannya sendiri dan dikenakan di tubuhnya dengan tergesa-gesa.

Perajurit itu mendorong gadis ini jatuh berlutut di depan Tambolon, lalu memberi hormat kepada rajanya dan pergi ke luar.

"Ha-ha-ha, inilah dia yang kupilih. Hei, perawan cilik, bangun dan berdirilah!"

Gadis itu mengangkat mukanya yang pucat, rambutnya yang terlepas sanggulnya terurai, sebagian menutupi mukanya, matanya liar ketakutan ketika memandang kepada Raja Tambolon.

Dia mengeluh dan bangkit berdiri, kedua kakinya menggigil ketakutan.

"Nah, begitu baru baik. Ha-ha-ha, sekarang kau tanggalkan pakaianmu! Hayo cepat!"

Gadis itu terbelalak, lalu menggeleng kepala keras-keras.

Tambolon bangkit dari bangkunya dan Ceng Ceng sudah mengepal tinju.

Kalau manusia ini menggunakan kekerasan di depanku, aku akan membunuhnya, demikian dia mengambil keputusan.

Akan tetapi Tambolon yang menghampiri gadis itu, hanya memegang lengannya lalu menariknya ke pinggir loteng menara.

"Nah, kau lihat baik-baik! Di bawah itu, setiap orang wanita sedikitnya harus melayani enam orang perajuritku, terus-menerus sampai beberapa hari lamanya. Engkau bernasib baik karena telah kupilih dan hanya harus melayani aku seorang saja. Dan kau masih rewel? Nah, pilihlah. Engkau melayani aku dengan baik, mentaati segala perintahku, ataukah engkau memilih kulempar ke bawah sana dan menjadi perebutan banyak orang laki-laki?"

Wajah itu makin pucat, matanya terbelalak memandang ke bawah di mana masih terjadi pemerkosaan yang mengerikan, jelas tampak dari atas dan juga terdengar jelas rintih dan ratap tangis para wanita itu.

"Kau memilih di sana?"

Gadis itu menggeleng kepala keras-keras.

"Ha-ha, jadi engkau memilih di sini dan mentaati segala perintahku?"

Gadis itu mengangguk lemah, patah semua semangat perlawanannya.

Tambolon kembali duduk di atas kursinya dan memandang bangga kepada dua orang tamunya bahwa dia telah berhasil mematahkan semangat perlawanan gadis tawanan itu.

(Lanjut ke

Jilid 33) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 33

"Hayo kau buka semua pakaianmu, kau tidak pantas dengan pakaian yang terlalu besar itu!"

Gadis itu dengan muka menunduk, seperti dalam mimpi, gerakannya otomatis, mulai menanggalkan pakaiannya.

Ceng Ceng memandang dengan dada panas.

Ternyata setelah pakaian luarnya ditanggalkan di sebelah bawah pakaian itu tidak ada apa-apa lagi yang menutupi tubuhnya!

Agaknya gadis ini tadinya memang sudah telanjang bulat seperti para wanita lain dan ketika dibawa menghadap baru diberi pakaian luar itu.

Kini dia berdiri dengan tubuh telanjang sama sekali, menunduk dan matanya setengah dipejamkan, rambutnya terurai ke depan dada dan punggung.

"Hayo sanggul rambutmu itu baik-baik!"

Kembali Tambolon memberi perintah dan gadis itu, masih merasa ngeri dan takut memikirkan keadaan para wanita lain di bawah sana, mentaati tanpa mengeluarkan sepatah pun kata.

Untuk menyanggul rambutnya, terpaksa dia mengangkat kedua lengannya ke atas sehingga bentuk tubuhnya tampak senyata-nyatanya.

"Lihat, betapa indah tubuhnya, hemm.... bukan main indahnya!"

Tambolon memuji.

"Tambolon!"

Tiba-tiba Ceng Ceng berseru, tak mampu menahan kemarahannya karena melihat keadaan gadis telanjang itu, dia merasa seolah-olah dirinya sendiri yang dihina seperti itu.

"Aku minta padamu agar gadis ini...."

"Tidak, aku yang ingin menantangmu untuk memperebutkan gadis ini, Raja Tambolon!"

Tiba-tiba Topeng Setan memotong kata-kata Ceng Ceng dan ketika gadis ini memandang kaget, dia melihat mata yang besar sebelah itu berkedip kepadanya.

Raja Tambolon yang tadinya menikmati pemandangan indah di depannya seperti seorang mengagumi sehelai lukisan, terkejut dan menoleh kepada dua orang tamunya itu.

"Eh, kalian mau apa?"

Topeng Setan kini bangkit berdiri, sikapnya berwibawa dan tubuhnya seperti lebih tinggi dari biasanya ketika dia mengangkat dada menghadap Raja Tambolon sambil berkata, suaranya tetap halus datar namun terdengar agak kaku.

"Raja Tambolon, aku menantangmu untuk memperebutkan gadis ini. Kalau kau kalah, gadis ini menjadi milikmu dan terserah hendak kau apakan dia, akan tetapi kalau aku menang, dia harus diserahkan kepadaku."

"Ha-ha-ha-ha!"

Tambolon menepuk-nepuk perutnya dan tertawa berkakakan, sungguh tidak pantas kalau orang sekasar ini menjadi raja, pikir Ceng Ceng.

"Engkau baru melihat yang begini saja sudah timbul nafsu berahimu? Ha-ha-ha! Aku sendiri muak melihatnya. Setelah aku bertemu dengan seorang gadis cantik jelita dan gagah perkasa seperti Nona Lu, sikap gadis-gadis seperti itu yang lemah dan pucat benar-benar memuakkan hatiku. Dan engkau malah timbul gairah? Ha-ha, lucu sekali! Topeng Setan, engkau adalah tamuku, tamu terhormat. Kalau engkau menginginkan gadis itu, nah, kau ambillah dia sekarang juga. Aku rela!"

Ceng Ceng merasa betapa jantungnya berdebar aneh.

Selama ini, dia menganggap Topeng Setan sebagai seorang laki-laki yang aneh dan penuh rahasia, akan tetapi yang jelas amat sayang kepadanya, selalu siap melindungi dan membelanya.

Dia sendiri tidak mengerti mengapa begitu.

Topeng Setan ini pernah menolongnya, dan mungkinkah seperti halnya Tek Hoat, laki-laki bertopeng penuh rahasia ini hanya terikat oleh janji ketika tertawan dan berjanji hendak membantunya dan mengajarkan ilmu kepadanya?

Berbeda dengan Tek Hoat yang mempunyai pandang mata penuh gairah, laki-laki bertopeng ini selalu kelihatan pendiam dan penuh rahasia, tidak pernah membayangkan gairah apa pun seperti mayat hidup, atau seperti arca bernyawa.

Akan tetapi sekarang, mengapa secara tiba-tiba menghendaki gadis telanjang bulat yang memang amat menggiurkan dengan tubuhnya yang muda dan mulus itu?

Apakah artinya kedipan mata tadi?

Diam-diam dia merasa kecewa kalau sampai temannya ini menerima gadis itu sebagai hadiah dari Tambolon, dan dia yakin bahwa pandangannya terhadap Topeng Setan pasti akan berubah sama sekali kalau laki-laki bertopeng ini mau menerima gadis telanjang itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dia menjadi makin terheran ketika Topeng Setan berkata.

"Terima kasih, Sri Baginda. Akan tetapi gadis ini patut diperebutkan dan saya akan merasa terhina kalau hanya diberikan begitu saja, dia pun menjadi kurang berharga bagiku. Karena itu, saya menantang Paduka untuk memperebutkan gadis manis ini dengan saya."

"Ong-ya, kalau dia tidak mau, biarlah diberikan saja kepada saya. Pilihanku tidak semuda dan semanis dia!"

Tiba-tiba Yu Ci Pok, Si Siucai Maut, seorang di antara dua orang pengawal Tambolon yang sejak tadi tidak pernah ikut bicara, sekarang berkata lantang dan matanya memandang ke arah Topeng Setan dengan penuh ejekan.

"Pula, saya kira gadis itu akan lebih suka kepada saya daripada kepada dia!"

Tambolon tertawa. Memang dia sudah biasa dengan sikap para anak buahnya yang tidak banyak peraturan terhadap dia, bahkan kadang-kadang kasar.

"Heh, anak manis, kau lihat kami bertiga ini. Kau memilih yang mana? Aku, Raja Tambolon yang gagah perkasa, ataukah pengawalku ini, Yu-siucai yang lebih muda dan tampan, ataukah Topeng Setan itu?"

Dengan mata terbelalak seperti mata seekor kelinci salah masuk ke dalam guha penuh harimau, dan wajahnya pucat, gadis itu memandang mereka bertiga, dan dia menunduk tanpa berani menjawab.

Mereka semua mengerikan baginya, terutama sekali wajah Raja Tambolon yang penuh brewok, tinggi besar dan kasar, juga wajah Topeng Setan yang amat buruk dengan tubuhnya yang tinggi pula.

Betapapun juga, wajah siucai itu sama sekali tidak menghibur hatinya.

Kalau ada jalan, agaknya baginya lebih baik mati daripada harus menyerahkan tubuhnya kepada seorang di antara mereka bertiga.

"Hei, kau layani kami, hayo tuangkan arak sebelum aku mengambil keputusan tentang tantangan Si Topeng Setan, ha-ha-ha!"

Raja Tambolon berkata dan gadis itu dengan tindakan lemas menghampiri meja.

Tubuhnya menjadi lemas, akan tetapi hal ini agaknya membuat lengannya menjadi makin lemah gemulai menggairahkan.

Kedua tangannya agak gemetar ketika dia menuangkan arak di cawan Raja Tambolon.

Ketika gadis itu menuangkan arak di dekat Raja Tambolon, orang kasar ini sambil tertawa menggunakan jari tangannya meraba dada gadis itu dan ketika menuangkan arak pada cawan Si Siucai, orang she Yu ini pun meraba pinggulnya.

Hanya Si Petani dan Topeng Setan yang diam saja, dan Ceng Ceng yang melihat ini, sudah menjadi marah sekali hampir tidak dapat menahan kemarahannya.

Akan tetapi sekali lagi dia melihat Topeng Setan berkedip kepadanya, maka dia menahan kemarahannya.

Setelah mengajak tamunya minum arak, Tambolon lalu berkata.

"Topeng Setan, sepatutnya tantanganmu itu cukup untuk menjatuhkan hukuman mati kepadamu! Akan tetapi melihat muka Nona Lu, biarlah kuanggap engkau sudah mabok, mabok arak dan mabok kecantikan gadis ini. Akan tetapi engkau hanya seorang pengawal dan aku pun sudah kehilangan gairahku terhadap gadis ini, maka biarlah Yu-siucai yang melayanimu. Siapa di antara kalian yang lebih unggul, nah, boleh memiliki gadis ini. Ha-ha-ha!"

Yu-siucai mengeluarkan suara tertawa mengejek lalu meloncat berdiri dan memandang kepada Topeng Setan sambil berkata.

"Sobat baik, salahmu sendiri kau tergila-gila kepada gadis ini. Sri Baginda memberikan engkau kepadaku untuk menerima sedikit hajaran!"

Topeng Setan juga bangkit berdiri, menarik napas panjang dan berkata.

"Sayang Sri Baginda tidak menerima tantanganku. Memperebutkannya dengan engkau kurang menarik. Akan tetapi kau majulah dan biar aku menerima sedikit hajaranmu itu!"

Yu-siucai adalah seorang di antara dua pengawal jagoan dari Tambolon yang sudah terkenal kelihaiannya.

Biarpun dia tidak selihai Si Petani yang sikapnya pendiam itu, namun Tambolon sendiri sudah mengujinya dan jarang ada orang mampu menandingi kepandaian Yu-siucai ini.

Dia adalah seorang pelarian dari perguruan tinggi Hoa-san-pai karena menyeleweng dan setelah dia menggembleng dirinya di Pegunungan Himalaya selama sepuluh tahun, ilmu kepandaiannya meningkat hebat dan akhirnya dia bertemu dengan Tambolon dan menjadi pengawal raja orang-orang liar itu.

Karena di waktu mudanya dia pernah mempelajari ilmu, membaca dan menulis, maka dia menganggap dirinya sendiri sebagai seorang sastrawan.

Dan memanglah kalau dibandingkan dengan pasukan Tambolon yang hampir semua buta huruf itu, bahkan kalau dibandingkan dengan Tambolon sendiri, Yu Ci Pok boleh dibilang merupakan orang yang amat pandai dalam ilmu sastra sehingga dari pakaiannya ini dia terkenal sebagai Si Siucai Maut!

Karena merasa bahwa di dalam pemerintahan Raja Tambolon dia adalah seorang yang nomor tiga, maka muncullah sifat-sifat sombong di dalam hati siucai yang usianya empat puluh tahun lebih ini, menganggap bahwa tidak ada orang lain kecuali Raja Tambolon dan Si Petani yang akan mampu menandinginya!

Sudah menjadi wataknya dia memandang rendah kepada orang lain, dan biarpun dia tahu bahwa Topeng Setan ini pun bukan orang biasa, namun tetap saja dia memandang ringan dan kini sambil bertolak pinggang dia menghadapi Topeng Setan sambil berkata.

"Topeng Setan, aku yakin bahwa pibu (adu ilmu silat) antara kita ini tidak akan lebih dari sepuluh jurus!"

"Hemmm, agaknya begitulah,"

Jawab Topeng Setan.

Tiba-tiba Yu-siucai membentak keras dan tubuhnya berge-rak cepat sekali, menerjang dengan serangan kilat dan dalam jurus pertama ini kedua tangannya sudah mengirim dua kali pukulan dan kedua kakinya menendang dua kali, semua di-lakukan susul-menyusul cepat sekali dan mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat!

"Wut-wutt....

plak!

Plak!"

Dengan amat mudahnya Topeng Setan mengelak dari tendangan dan menangkis dua kali pukulan itu dengan tangannya.

Dalam melakukan ini, tubuhnya sama sekali tidak berpindah tempat, hanya bergerak mengelak dan menangkis tanpa meloncat ke lain tempat, bahkan juga tidak merobah kuda-kudanya yang dilakukan dengan kedua kaki terpentang lebar.

Hal ini membuat Yu-siucai terkejut sekali, juga Tambolon dan Si Petani sekali pandang saja maklum bahwa Topeng Setan benar-benar tak boleh dibuat permainan.

"Yu-siucai, hati-hatilah terhadap dia!"

Tiba-tiba Si Petani berkata dan ucapannya ini saja sudah membuktikan bahwa dia bermata awas.

Ceng Ceng yang tadinya khawatir juga menyaksikan kehebatan serangan Yu-siucai yang demikian ganas, menjadi lega ketika melihat betapa Topeng Setan menghadapinya dengan begitu tenang dan yakin akan kemenangannya, maka dia mulai mengalihkan perhatiannya, melirik kepada gadis telanjang itu yang kini mundur-mundur ke pinggir loteng dengan mata terbelalak penuh rasa khawatir.

Tambolon dan Si Petani mencurahkan perhatiannya kepada pertandingan itu dengan hati tegang, karena tentu saja mereka berdua ini ingin mengukur sampai di mana kepandaian Topeng Setan itu.

Yu-siucai sendiri juga maklum akan kelihaian lawan.

Tangkisan dua kali tadi saja sudah membuat kedua tengannya tergetar hebat, tanda bahwa tenaga sin-kang lawan ini tidak berada di sebelah bawah tingkatnya, padahal dia tidak tahu apakah lawan ini sudah mengerahkan seluruh tenaganya.

Kalau belum, sukar dibayangkan betapa kuatnya lawan dan mengingat ini, Yu-siucai cepat menerjang lagi dengan kecepatan kilat dan mengirim pukulan-pukulan yang lebih dahsyat daripada tadi untuk mendahului lawan karena dia masih merasa yakin akan keunggulan permainan silatnya, sungguhpun jelas bahwa lawan memiliki tenaga yang kuat.

Topeng Setan bersikap tenang sekali dan dia menghadapi serangan-serangan lawan dengan elakan cepat dan dibantu oleh tangkisan-tangkisan kedua tangannya yang digoreskan secara mantap dan kuat.

Bahkan dia membiarkan Yu-siucai melancarkan serangan terus-menerus sampai sembilan jurus lamanya, selalu dielakkan dan ditangkisnya, kemudian pada jurus ke sepuluh, dia tidak hanya menangkis melainkan membalas dengan dorongan tangannya.

Tenaga sin-kang yang amat dahsyat menyambar, membuat Yu-siucai terdorong ke belakang dan pada saat tubuhnya condong ke belakang ini, kakinya kena ditendang dan tak dapat dipertahankan lagi, tubuhnya terlempar dan terbanting jatuh di depan kursi Raja Tambolon!

Menyaksikan hasil ini, Ceng Ceng menjadi gembira dan kumat lagi sifatnya yang nakal dan jenaka, sifat yang telah lama hampir dilupakannya semenjak dia menjadi murid Ban-tok Mo-li kemudian ditimpa malapetaka pemerkosaan itu.

Tanpa disadarinya, dia bertepuk tangan dan berkata memuji.

"Wah, Yu-siucai sungguh mengagumkan sekali! Sepantasnya kedudukan pengawal diganti menjadi peramal karena ramalan Yu-siucai tepat sekali, pertempuran tadi tepat berlangsung sepuluh jurus seperti yang diramalkannya!"

Mendengar kata-kata yang jelas merupakan ejekan ini, Yu-siucai melompat bangun, tangan kanannya bergerak cepat ke arah pinggangnya dan tahu-tahu dia telah mengeluarkan sepasang poan-koan-pit, yaitu senjata sepasang alat tulis yang terkenal lihai karena sepasang senjata ini merupakan alat-alat menotok jalan darah yang berbahaya.

"Aku tadi telah bersikap kurang hati-hati,"

Katanya.

"Akan tetapi aku belum kalah, Topeng Setan!"

Dengan sikap mengancam dia melangkah satu-satu dengan gerakan tegap menghampiri Topeng Setan.

Tiba-tiba dia mengeluarkan seruan keras, tubuhnya bergerak dan tampaklah sepasang sinar kilat menyambar-nyambar dari kedua tangannya ketika senjata poan-koan-pit itu mulai menyerang.

"Hemmm....!"

Topeng Setan terpaksa mengelak ke kanan kiri dan bahkan lalu meloncat ke belakang.

Demikian cepat dan hebatnya serangan senjata kecil itu.

Dan memang inilah keistimewaan Yu-siucai dan tidak percuma dia dijuluki Siucai Maut karena senjatanya pun sesuai dengan julukannya, yaitu sepasang poan-koan-pit yang berbentuk pensil alat tulis dari baja dan yang dimainkannya secara hebat sekali!

"In-kong, sambut ini!"

Tiba-tiba Ceng Ceng berseru dan dia telah melontarkan sepasang sumpitnya yang tadi dipakai makan, kepada Topeng Setan.

Sumpit itu terbuat dari gading dan dapat dipakai sebagai sepasang senjata yang lumayan daripada bertangan kosong menghadapi sepadang poan-koan-pit yang lihai itu.

"Terima kasih!"

Topeng Setan berkata sambil menyambar sepasang sumpit yang melayang ke arahnya itu.

Sebetulnya, biarpun menghadapi sepasang senjata di tangan Yu-siucai dengan tangan kosong, Topeng Setan sama sekali tidak merasa jerih karena ilmu kepandaiannya masih jauh lebih tinggi daripada lawannya.

Akan tetapi tentu saja Ceng Ceng tidak tahu akan hal ini dan telah membantunya.

"Ha-ha, bagus! Dengan begitu kita sama-sama bersenjata!"

Yu-siucai tertawa girang karena tadi dia merasa malu juga harus menyerang lawan dengan senjata, sedangkan lawannya bertangan kosong.

Kini, melihat betapa lawannya telah memegang sumpit, dia menjadi girang.

Apa artinya sepasang sumpit itu dibandingkan dengan poan-koan-pitnya?

Sekali gempur saja tentu sumpit-sumpit itu akan patah-patah!

Memang dengan poan-koan-pitnya ini Yu-siucai telah mengalahkan banyak lawan secara mengagumkan.

Ketika dia akan diterima menjadi pengawal pribadi Tambolon, Dia diharuskan memperlihatkan kelihaian poan-koan-pitnya, melawan pengeroyokan selosin orang Mongol yang bersenjata golok besar dan tidak sampai lima puluh jurus saja semua orang Mongol itu telah roboh tertotok oleh sepasang poan-koan-pitnya!

Kini, menghadapi Topeng Setan yang memegang sepasang sumpit dengan tangan kanannya, seperti orang yang hendak makan, diam-diam dia mentertawakannya, lalu poan-koan-pitnya bergerak cepat sekali, yang kiri menotok ke arah pundak kanan, sedangkan poan-koan-pit yang kanan membayangi gerakan senjata yang kiri ini, siap untuk mengirim totokan susulan yang mematikan!

Topeng Setan tentu saja dapat melihat gerakan ini dengan jelas, akan tetapi dia pura-pura tidak mengerti, menggunakan sumpitnya dengan tangan kanan untuk menerima poan-koan-pit kiri lawan yang menotok pundak kanannya.

"Cappp!"

Hebat memang gerakannya karena sepasang sumpitnya itu berhasil "menangkap"

Poan-koan-pit kiri lawan itu seperti kalau menyumpit sepotong daging saja!

Menyaksikan kecepatan dan gerakan yang tepat ini, Yu-siucai juga kaget sekali, apalagi ketika dia mengerahkan tenaga untuk menarik kembali poan-koan-pit itu dia memperoleh kenyataan betapa senjatanya itu seperti telah menjadi satu dengan sepasang sumpit gading dan tidak dapat dicabut kembali.

Akan tetapi, hal ini malah membuat dia girang karena kebodohan lawan, maka cepat sekali poan-koan-pit di tangan kanannya meluncur dan menotok jalan darah di bawah ketiak kiri lawan.

"Cusss....!"

Tepat sekali poan-koan-pit itu mengenai bagian yang harus ditotoknya, mengenai sasaran di bawah ketiak, akan tetapi betapa kagetnya hati siucai itu ketika merasa betapa ujung poan-koan-pitnya itu yang mula-mula mengenai kulit daging lunak, tahu-tahu menancap dan seperti "dihisap", juga tidak dapat dicabutnya kembali!

Kini Yu-siucai mengerahkan tenaga pada kedua tangannya untuk merampas kembali sepasang poan-koan-pit yang sudah tertangkap lawan itu, yang kiri terjepit oleh sepasang sumpit lawan, sedangkan yang kanan terjepit oleh ketiak lawan.

"Pletak....!"

Tiba-tiba terdengar suara keras dan poan-koan-pit yang terjepit sumpit itu patah menjadi dua.

Yu-siucai kaget bukan main, melepaskan poan-koan-pit yang sudah patah itu, lalu menggunakan tangan kirinya untuk membantu tangan kanan berusaha mencabut poan-koan-pit yang terjepit di ketiak.

Tiba-tiba Topeng Setan melepaskan jepitannya dan tubuh siucai itu terhuyung ke belakang.

Dengan kemarahan meluap, dia lalu menerjang lagi dengan poan-koan-pit yang hanya tinggal sebatang itu.

Topeng Setan berkata.

"Hemm, masih belum puas?"

Dia membiarkan poan-koan-pit yang menusuk ke arah lehernya itu lewat dan secepat kilat sepasang sumpitnya digerakkan menotok lutut kanan kiri lawannya.

Tanpa dapat dicegah lagi Yu-siucai jatuh berlutut!

"Hi-hik, kalah adalah soal biasa, tidak perlu berlutut, Yu-siucai!"

Ceng Ceng berkata sambil tertawa.

"Maafkan saya,"

Topeng Setan berkata sambil melempar sepasang sumpitnya ke atas meja di mana sumpit itu menancap di depan Ceng Ceng dengan rapi.

"Keparat, engkau Tambolon manusia curang!"

Ceng Ceng menjadi marah sekali dan sudah mencabut pedang Ban-tok-kiam dari pinggangnya.

Akan tetapi segera dia dikepung oleh Lauw Kui yang bersenjata batang pikulannya yang terbuat dari baja dan Yu Ci Pok yang kini hanya bersenjata sebatang poan-koan-pit dan belasan orang perwira, termasuk Kimonga komandang pasukan liar itu.

"Ha-ha-ha, Nona Lu! Tambolon adalah orang yang perintahnya tidak boleh dibantah oleh siapapun juga, termasuk engkau! Engkau dan temanmu itu harus membantuku, mau atau tidak."

"Tambolon manusia keparat!"

Ceng Ceng memutar pedang Ban-tok-kiam di tangannya dan semua pengeroyoknya meloncat mundur dengan kaget karena pedang itu mengeluarkan hawa yang menyeramkan.

Akan tetapi tiba-tiba mereka melihat nona itu terguling!

Pedang yang menyeramkan itu terlepas dari pegangannya!

Mereka bersorak girang, mengira bahwa nona ini pun menjadi korban racun bius di dalam arak merah, maka mereka cepat menubruk dan sekejap mata saja tubuh Ceng Ceng sudah diringkus, kedua kaki tangannya dibelenggu dan gadis ini hanya memaki-maki dan berteriak-teriak.

Dua orang perwira sudah roboh berkelojotan karena sambaran rambut dan ludahnya yang disertai tenaga beracun!

Akhirnya dua orang pengawal Tambolon itu yang menangani-nya sendiri, menotoknya sehingga dia tidak dapat menggerakkan tubuhnya dan hanya memandang dengan mata melotot!

"Ha-ha-ha, engkau baru tahu kelihaian Tambolon, Nona Lu.

Bawa dia ke kamarku dan lempar Topeng Setan itu ke dalam kamar, jaga baik-baik dan belenggu dia jangan sampai terlepas.

Akan tetapi perlakukan mereka itu, calon-calon pembantuku, baik-baik!"

Ceng Ceng mendongkol bukan main, dan juga terheran-heran.

Tadi, ketika dia hendak mengamuk mati-matian mempertahankan diri dan melindungi Topeng Setan, tiba-tiba kedua kakinya ditotok orang sehingga dia terguling tanpa dapat dipertahankannya lagi, Bahkan ketika dia roboh itu, pedang Ban-tok-kiam juga terlepas dari tangannya karena sikunya ditotok orang.

Padahal tidak ada orang lain yang dekat dengannya kecuali Si Topeng Setan yang telah rebah pingsan di atas lantai!

Apakah pembantunya itu yang menotoknya?

Ah, agaknya tidak mungkin demikian.

Ataukah Raja Tambolon sedemikian lihainya sehingga raja itu yang mengeluarkan ilmunya yang mujijat?

Akhirnya dia berhenti memaki-maki dan memutar otaknya mencari akal ketika dia dibawa orang ke dalam sebuah kamar dan diikat di atas pembaringan, tidak dapat bergerak dan banyak perwira menjaga di dalam dan di luar kamar itu.

Dia menanti apa yang akan terjadi terhadap dirinya sambil mengasah otak mencari akal, sambil diam-diam dia mengkhawatirkan nasib Topeng Setan.

Tek Hoat terpaksa mengawal Pangeran Liong Khi Ong yang tergesa-gesa menyelamatkan dirinya ke dalam kota Teng-bun yang dijadikan pusat dan markas besar pemberontak karena dia merasa tidak aman berada di luar benteng ini melihat betapa banyaknya terdapat mata-mata pemerintah.

Dia khawatir kalau-kalau sampai dia tertangkap basah sebagai puncak pimpinan pemberontak mewakili kakaknya, Pangeran Liong Bin Ong yang masih berada di kota raja mendekati Kaisar.

Tek Hoat diam-diam merasa mendongkol bukan main.

Dia merasa heran mengapa segala hal yang dipegangnya selalu mengalami kegagalan!

Mengapa di dalam waktu singkat ini dia telah bertemu dengan begitu banyak orang pandai yang agaknya pada saat itu semua berkumpul di utara, di tempat yang sedang geger ini.

Yang membuat dia merasa mendongkol sekali adalah karena dia kembali telah kehilangan jejak Puteri Syanti Dewi!

Sambil mengawal Pangeran Liong memasuki benteng Teng-bun, dia mengenangkan puteri yang cantik dan halus lembut itu, dan ia teringat betapa halus sikap puteri itu terhadap dirinya ketika dia dahulu sengaja menghadang perjalanan rombongan puteri ini di dekat sungai, betapa halus puteri itu minta kepadanya agar dia pergi karena Sang Puteri hendak turun mandi di sungai!

Teringat pula olehnya betapa Syanti Dewi juga bersikap halus sekali, jauh bedanya dengan sikap kasar Lu Ceng ketika dia menyamar sebagai tukang perahu dan "menolong"

Mereka dengan perahunya.

Gara-gara kenakalan Ceng Ceng maka dia terpaksa berpisah dan kehilangan mereka!

Bahkan hampir saja kitab-kitab dalam bungkusannya lenyap di dasar sungai karena di-buang oleh gadis galak itu.

Di kota Koan-bun, secara kebetulan sekali dia bertemu dengan Syanti Dewi!

Mula-mula bahkan melihat puteri itu di dusun Ang-kiok-teng di dalam warung.

Betapa dia ingin merampas puteri itu di waktu itu juga.

Akan tetapi sungguh tidak beruntung baginya, puteri itu disertai tiga orang yang demikian lihainya.

Dua orang pemuda itu saja sudah amat lihai, dan dia ingat bahwa mereka adalah orang-orang yang pernah menolong Jenderal Kao, dengan sendirinya mereka tentulah orang-orang pemerintah, mungkin mata-mata yang memiliki kepandaian lihai.

Juga orang tua itu, sungguh amat lihai dan tidak boleh dipandang ringan sama sekali apalagi orang setengah tua itu disebut paman oleh mereka.

Di kota Koan-bun dia telah diam-diam membayangi mereka, akan tetapi kedatangan pasukan liar dari Tambolon mengakibatkan geger, Ditambah lagi dengan gerakan orang-orang pemerintah dan pendudukan kota Koan-bun oleh Panglima Kim Bouw Sin, membuat dia kembali kehilangan Syanti Dewi di antara orang banyak.

Dia sudah mengerahkan kaki tangannya untuk mencari di seluruh kota Koan-bun, namun hasilnya sia-sia.

Gadis bangsawan itu seperti lenyap ditelan bumi tidak meninggalkan bekas.

Hal inilah yang membuat Tek Hoat termenung dengan hati kesal dan murung, kehilangan kegembiraan hatinya, sungguhpun kini gerakan pemberontakan mulai maju dan hal ini berarti bahwa cita-citanya makin mendekati kenyataan.

Dia sendiri merasa heran mengapa setelah kini bertemu dengan Syanti Dewi, dia menjadi kehilangan gairahnya terhadap cita-citanya, bahkan hampir tidak mempedulikan lagi tentang usaha pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Liong.

"Semua gara-gara gadis laknat si Lu Ceng itu,"

Pikirnya gemas.

Kalau tidak ada Lu Ceng, tentu sekarang dia masih berdekatan dengan Syanti Dewi.

Akan tetapi, dia sendiri merasa heran mengapa kalau dia sudah bertemu dengan Lu Ceng yang nakal itu, dia seperti mati kutu, padahal biarpun gadis itu memiliki ilmu tentang racun yang amat lihai, dia toh akan dapat mengalahkan gadis itu dengan mudah.

Ada sesuatu yang aneh terjadi kalau dia berhadapan dengan Lu Ceng, ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuat dia tidak tega untuk memusuhinya!

Kini dia mengalihkan kemendongkolan hatinya pada dua orang pemuda tampan yang menemani puteri itu, dan kepada orang setengah tua gagah sederhana itu.

Mereka itulah yang menjadi penghalang sehingga kembali dia kehilangan Syanti Dewi.

Tadinya dia hampir berhasil menawan atau membunuh dua orang pemuda itu, dengan bantuan tiba-tiba dari Hek-wan Kui-bo Si Nenek Hitam buruk yang muncul membantunya, bahkan seorang di antara dua orang pemuda itu telah terluka parah.

Akan tetapi, ini pun akhirnya gagal karena pemuda yang terluka itu dapat melenyapkan diri sedangkan pemuda yang ke dua telah ditolong oleh laki-laki setengah tua yang amat hebat ilmunya itu!

Sungguh sial!

Seolah-olah segala yang dipegangnya tidak berhasil baik!

Setelah Pangeran Liong Khi Ong memasuki gedung yang disediakan untuknya, Tek Hoat diperbolehkan mengaso dan pemuda ini memasuki kamarnya sendiri.

Dia melempar tubuhnya ke atas pembaringan dan memejamkan mata, mengenangkan semua pengalamannya semenjak dia meninggalkan ibunya.

Betapa lama sudah dia meninggalkan ibunya di puncak Bukit Angsa di lembah Huang-ho.

Teringat akan ibunya, timbul rasa rindu di dalam hatinya.

Sesungguhnya, di lubuk hatinya terdapat rasa kasih sayang yang amat besar terhadap ibu kandungnya, juga perasaan iba yang besar.

Teringat dia ketika beberapa tahun yang lalu dia meninggalkan ibunya, dia berjanji akan pulang menengok ibunya.

Kenyataannya, sudah lima enam tahun dia pergi, tidak pernah dia pulang ke Bukit Angsa!

Sungguh kasihan ibunya, hidup seorang diri, menanti-nanti kedatangannya.

"Kau anak tidak berbakti!"

Dia memaki dirinya sendiri.

"Sebetulnya engkau sudah harus pulang."

"Tidak!"

Bentaknya sambil membuka kembali matanya.

"Kalau aku pulang dalam keadaan begini saja, tentu hati ibu akan kecewa. Tidak! Aku baru akan pulang kalau cita-citaku sudah berhasil, menjadi raja atau pangeran atau setidaknya seorang pembesar yang berkedudukan tinggi dan mulia di kota raja. Baru aku akan pulang menjemput ibuku dengan segala hormat...."

Dia lalu memejamkan matanya kembali, membayangkan betapa dia menjemput ibunya dengan kereta besar dan mewah, dikawal pasukan yang gagah, kemudian mengajak ibunya memasuki sebuah istana miliknya sendiri!

Betapa ibunya akan girang dan bangga!

Dan dari dalam istana itu menyambut keluar mantu ibunya, Puteri Syanti Dewi yang cantik jelita!

Puteri Raja Bhutan.

Betapa ibunya akan makin bangga dan dia....

ahhh!

Tek Hoat bangkit dan duduk, bertopang dagu.

Dia melamun terlalu jauh, sedangkan puteri itu pun berada di mana dia tidak tahu.

Mengapa dia bermalas-malas seperti ini?

Tek Hoat cepat meloncat, berganti pakaian lalu berlari keluar setelah memberitahukan pengawal dalam bahwa kalau Pangeran Liong Khi Ong bertanya tentang dia agar dikatakan bahwa dia pergi berjalan-jalan untuk memeriksa keadaan.

Tek Hoat lalu memasuki kota Tek-bun yang sudah mulai normal kembali karena Panglima Kim Bouw Sin dengan tangan besi memaksakan keamanan dan ketenteraman di kota yang dijadikan benteng pemberontak itu.

Penjagaan di seluruh kota amat ketat dan pengawasan amat cermat sehingga agaknya amat sukarlah bagi mata-mata pemerintah untuk menyusup ke dalam kota pemberontak ini tanpa diketahui.

Tek Hoat yang sudah banyak dikenal oleh para perwira yang memimpin penjagaan dan perondaan kota sebagai tangan kanan Pangeran Liong Khi Ong yang memiliki kepandaian amat tinggi, berkali-kali disapa dengan hormat oleh mereka dan dibalasnya dengan anggukan kepala tak acuh karena hatinya sedang kesal.

Dia tidak ingin mencari Syanti Dewi di kota Koan-bun lagi karena ada belasan orang kaki tangannya yang sudah diberi tugas untuk mencari gadis itu di sana.

Tiba-tiba timbul pikiran yang aneh dalam kepalanya.

Siapa tahu, yang dicarinya itu berada di Teng-bun!

Betapapun aneh dan tidak masuk akalnya, dugaan ini, akan tetapi siapa tahu!

Dia teringat betapa teman-teman puteri itu adalah orang-orang yang tinggi sekali ilmunya, siapa tahu dia yang membawa puteri itu menyelundup ke pusat pemberontak ini!

Mulailah dia memasan mata memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Karena dia kini mulai memandang ke sekeliling dengan penuh kewaspadaan, maka tiba-tiba dia dapat melihat munculnya sesosok bayangan orang di antara kemuraman cuaca senja hari itu.

Sosok bayangan tubuh seorang nenek bertongkat, nenek yang buruk rupa, yang telah membantunya menghadapi dua orang pemuda pengawal Syanti Dewi yang lihai.

Nenek yang mengaku berjuluk Hek-wan Kui-bo, Si Iblis Lutung Hitam!

Mau apa nenek aneh itu berkeliaran di Teng-bun?

Padahal dia tahu betul bahwa nenek itu tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Pangeran Liong atau para pimpi-nan pemberontak lainnya.

Bagaimana nenek ini dapat memasuki Teng-bun?

Memang tidak begitu mengherankan andaikata nenek ini dapat menerobos penjagaan yang ketat karena memang nenek ini memiliki kepandaian hebat, akan tetapi, apakah kehendaknya memasuki benteng ini?

Dengan beberapa langkah saja Tek Hoat dapat mengejarnya.

"Perlahan dulu, Hek-wan Kui-bo!"

Nenek itu terkejut bukan main, tubuhnya membalik dan tahu-tahu ujung tongkatnya sudah menyambar ke arah jalan darah di dada Tek Hoat dengan serangan totokan maut yang amat berbahaya.

"Siuuutttt.... plakk!"

Tek Hoat terpaksa menangkis dengan tangan yang dimiringkan karena serangan itu dahsyat dan berbahaya sekali.

"Ihhh.... wah, kiranya engkau, orang muda yang tampan dan gagah perkasa? Hi-hik, hampir saja engkau mampus di ujung tongkatku!"

Merah muka Tek Hoat mendengar ini dan ia tersenyum mengejek.

Kalau saja nenek ini tidak pernah membantunya, tentu sudah diserangnya nenek ini yang begitu memandang rendah kepadanya.

"Hemm, kurasa tidaklah begitu mudah, Kui-bo!"

Nenek itu tertawa.

Makin menjijikkan mukanya ketika dia tertawa.

Muka yang kelaki-lakian dan buruk itu menjadi makin buruk karena kini mulutnya terbuka dan kelihatan tiga buah giginya yang besar-besar dan bergantung saling berjauhan, sehingga kelihatan seperti mulut binatang yang bertaring.

"Aku tahu.... aku tahu, engkau adalah Si Jari Maut, pembantu yang amat sakti dari Pangeran Liong, bukan? Masih begini muda sudah memiliki kepan-daian hebat, sungguh mengagumkan."

Tek Hoat merasa tidak suka kepada nenek ini. Wajah buruk itu membayangkan banyak sekali kepalsuan yang mengerikan.

"Hek-wan Kui-bo, apakah maksud kedata-nganmu menyelundup ke Teng-bun ini?"

"Hi-hik, engkau mencurigai aku? Aku sudah membantu menghadapi dua orang mata-mata pemerintah yang masih muda-muda dan juga lihai itu."

"Dalam kedaan seperti sekarang ini, siapapun harus dicurigai, dan kami semua tidak tahu apa maksud ke-datangan seorang tokoh seperti engkau, Kui-bo."

"Hi-hi-hik, apa sih yang diinginkan seorang nenek seperti aku? Laki-laki muda dan tampan? Wah, aku sudah muak dan tidak ada lagi nafsu di tubuhku yang tua! Kekayaan? Untuk apa? Memakai segala yang indah pun aku tidak akan dapat menjadi cantik, makan yang bagaimana mahal dan lezat pun, gigiku yang tidak lengkap akan mendatangkan rasa yang tidak enak! Akan tetapi kedudukan! Nah, itu! Nama besar, wah, itu masih kuperlukan. Kemuliaan dan penghormatan! Eh, orang muda, aku ingin bertemu dengan Liong Bin Ong atau Liong Khi Ong!"

"Mau apa?"

"Aku ingin membantu pemberontakannya dengan janji bahwa aku kelak akan men-dapatkan balas jasa yang berupa pangkat dan kedudukan terhormat di dalam istana! Aku Hek-wan Kui-bo yang selalu dipandang rendah, dianggap iblis, aku ingin kelak mati sebagai seorang paduka yang mulia, ditangisi oleh rakyat senegara dan dibikin bong-pai (nisan) yang paling mewah dan besar, disembahyangi sampai ribuan tahun!"

Tek Hoat muak mendengar ini, akan tetapi dia pun tahu bahwa tenaga nenek ini memang amat diperlukan di waktu itu.

"Hek-wan Kui-bo, tidaklah mudah untuk bertemu dengan kedua orang pangeran itu. Biasanya, sebelum orang diterima menjadi pembantu, dia harus memperlihatkan kecakapannya lebih dulu, harus membuat jasa lebih dulu. Apakah jasamu terhadap pemerintah baru yang dipimpin oleh kedua orang Pangeran Liong?"

"Hi-hi-hi-hik, jadi di sini ada pula peraturan sogokan? Ha-ha-ha, jangan khawatir, orang muda. Aku sudah siap dengan barang sogokan yang tentu akan menggirangkan hati Pangeran Liong Khi Ong!"

Tek Hoat mengerutkan alisnya.

"Sogokan? Apa maksudmu?"

"Aih-aihh.... kura-kura dalam perahu, ya? Pura-pura tidak tahu! Siapakah di dunia ini yang tidak mengenal sogokan? Aku mendengar bahwa seorang di antara kedua orang pangeran tua itu, seperti hampir semua lakl-laki di dunia ini, mahluk menyebalkan, gila akan wajah cantik dan tubuh mulus seorang perawan remaja! Nah, jasaku yang pertama untuk Pangeran Liong Khi Ong adalah persembahanku berupa seorang dara remaja yang cantik jelita!"

Tek Hoat menjadi makin sebal.

"Hemm, Hek-wan Kui-bo, mengingat bahwa engkau pernah membantuku, aku tidak menaruh curiga kepadamu. Akan tetapi jangan engkau bermain gila dalam keadaan seperti ini. Tak perlu kututupi bahwa Pangeran Liong Khi Ong sekarang memang berada di Teng-bun dan memang beliau seorang laki-laki tua yang suka kepada wanita muda, akan tetapi jangan harap kalau engkau dapat bertemu dengan dia hanya karena engkau dapat mempersembah-kan seorang gadis muda. Beliau sudah tidak kekurangan penghibur berupa banyak dara-dara jelita!"

"Eh-eh, jangan engkau memandang rendah, ya? Gadis jelita di seluruh Teng-bun ini, bahkan di seluruh daratan, belum tentu dapat menyamai gadis yang akan kupersembahkan sebagai uang sogokan atau uang kunci ini! Tidak ada keduanya! Bukan perawan biasa, bukan cantik sembarang cantik. Aku adalah seorang wanita tua, aku lebih tahu tentang kecantikan wanita daripada kalian kaum pria! Aku tahu mana kecantikan aseli, mana pulasan! Aku sendiri dahulu di waktu muda pun cantik jelita, akan tetapi terus terang saja, dibandingkan dengan perawan ini, aku mengaku kalah jauh!"

"Sudahlah, Hek-wan Kui-bo, harap jangan engkau mimpi yang bukan-bukan. Tunjukkan jasamu untuk perjuangan, baru aku ada pikiran untuk membawamu menghadap Pangeran Liong Khi Ong. Urusan kecil mengenai gadis itu tidak perlu kau sebut-sebut lagi...."

"Urusan kecil! Mulut besar! Kau bilang urusan kecil, ya? Kau tahu, aku berani tanggung bahwa dia itu adalah keturunan raja, dia pasti seorang puteri bangsawan tinggi, dan bukan berdarah pribumi! Kalau Pangeran Liong melihatnya...."

Tiba-tiba perhatian Tek Hoat tertarik.

Tentu saja!

Siapa lagi kalau bukan Syanti Dewi yang dimaksudkan oleh nenek ini?

"Dari mana engkau memperoleh dia itu?"

Tanyanya dengan suara datar sambil menekan guncangan hatinya.

"Heh-heh, jangan kau memandang rendah, ya? Susah payah aku membawanya dari himpitan orang-orang yang panik ketika terjadi geger di Koan-bun, susah payah aku membujuknya dan susah payah pula aku menyelundupkannya ke Teng-bun untuk kupersembahkan kepada Pangeran Liong Khi Ong agar aku diterima membantunya, eh.... kau mengatakannya urusan kecil! Apa kau berarti menantangku, orang muda?"

Nenek itu sudah melintangkan tongkatnya di depan dada, sikapnya menantang dan marah sekali.

Jantung Tek Hoat terguncang makin keras.

Kalau saja cuaca tidak menjadi makin gelap, tentu akan tampak perubahan pada wajahnya yang tampan.

Dia yakin kini bahwa yang dimaksudkan nenek iblis ini adalah Syanti Dewi!

Pantas saja disuruhnya cari di seluruh pelosok kota Koan-bun tidak berhasil, kiranya gadis itu terjatuh ke dalam tangan nenek ini dan diselundupkan ke Teng-bun!

"Hemmm, baiklah....

baiklah....!

Aku percaya kepadamu, akan tetapi aku harus melihat dulu orangnya untuk kunilai apakah dia patut dipersembahkan kepada Pangeran Liong Khi Ong.

Engkau harus mengerti bahwa saat ini dia dikelilingi banyak gadis cantik, maka kalau persembahanmu itu tidak istimewa sekali, tentu beliau akan marah terganggu."

"Boleh-boleh, kau boleh melihatnya sendiri!"

Nenek itu berkata penuh keyakinan dan Tek Hoat lalu mengikuti nenek ini berjalan menyusuri jalan raya itu.

Kini nenek itu berjalan dengan terang-terangan karena dia tidak takut lagi berjumpa dengan para penjaga yang semua mengenal Tek Hoat bahkan menghormatinya.

Tek Hoat heran bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa nenek itu membawanya ke sebuah rumah gedung yang....

berdekatan dengan gedung yang dipergunakan sebagai tempat tinggal oleh Pangeran Liong Khi Ong.

Dia tahu bahwa gedung itu adalah milik seorang hartawan di kota Teng-bun.

"Eh, bagaimana kau dapat tinggal di sini, Kui-bo? Apakah engkau masih ada hubungan dengan Coa-wangwe (Hartawan Coa)?"

Nenek itu terkekeh.

"Tentu saja ada hubungannya, masuklah!"

Mereka memasuki lewat pintu samping yang kecil dan makin heranlah Tek Hoat karena tidak ada penjaga seorang pun di situ, juga tidak nampak seorang pun pelayan.

Nenek itu sambil terkekeh mendahului Tek Hoat memasuki ruangan besar di tengah gedung dan terkejutlah Tek Hoat ketika melihat semua keluarga Coa termasuk semua pelayannya duduk berjajar-jajar di atas lantai ruangan itu, semuanya terbelenggu dan tidak mampu bergerak atau bersuara karena mereka telah tertotok gagu semua!

"He-he-he, aku terpaksa meminjam tempat mereka selama menanti diterimanya oleh Pangeran.

Kelak belum terlambat bagiku untuk minta maaf kepada mereka ini yang telah berjasa kepadaku, hi-hi-hik!"

"Bebaskan mereka!"

Tek Hoat berkata, menahan kemarahannya.

Keluarga hartawan Coa ini adalah sahabat baik Panglima Kim Bouw Sin dan sudah banyak menyumbang untuk usaha pemberontakan itu.

"Heh-heh, bagaimana kalau mereka melarang kami...."

"Bebaskan, kalau engkau memang mempunyai maksud baik dengan kami semua, Kui-bo!"

"Hi-hi-hik, kau berwibawa juga, orang muda! Ha-ha, bebas, bebaslah....!"

Nenek itu berloncatan di antara orang-orang itu dan tongkatnya bergerak.

Demikian cepatnya tongkat itu bergerak-gerak dan belenggu-belenggu itu beterbangan, semua orang itu terbebas dari belenggu dan dapat bergerak kembali.

Diam-diam Tek Hoat memandang gerakan ini dan harus mengakui bahwa nenek ini benar-benar lihai, di samping wataknya yang ku-koai (aneh).

"Mari, mari kau lihat bidadariku...."

Tek Hoat menghampiri Coa-wangwe yang sudah bangkit berdiri, menjura dan berkata.

"Harap Coa-wangwe memaafkan perbuatan nenek yang aneh ini dan tidak perlu ribut-ribut karena aku sendiri yang akan mengurus dan membereskannya."

Coa-wangwe yang sudah mengenal Tek Hoat, mengangguk, dan Tek Hoat lalu mengikuti nenek itu memasuki se-buah kamar yang besar dan mewah karena kamar ini adalah kamar tidur sendiri dari Coa-wangwe.

Di sudut kamar terdapat sebuah pembaringan yang terukir indah sekali, dengan kasur dan tilam sutera yang berkembang dan dihias sulaman.

Meja kecil di depan pembaringan itu juga terukir, dan sebuah lampu penerangan tergantung dari gantungan yang berupa burung emas!

"Lihat....

heh-heh-heh, lihat baik-baik....

pernahkah engkau melihat puteri secantik dia?"

Nenek itu menuding ke arah pembaringan di mana rebah seorang gadis dalam keadaan tidur pulas.

Tek Hoat berdiri tegang, jantungnya berdebar penuh kegirangan dan juga ketegangan.

Gadis itu tidur dengan bibir agak tersenyum, lengan kanan tergantung sedikit di tepi pembaringan, tangan kiri di atas perut, pakaiannya sederhana saja akan tetapi kesederhanaan pakaiannya itu tidak menyembunyikan keagungan wajah.

Puteri Bhutan itu bahkan membuat kecantikannya makin menonjol.

Memang siapa lagi puteri itu kalau bukan Syanti Dewi?

Seperti telah kita ketahui, puteri ini terpisah dari Gak Bun Beng, Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu ketika terjadi geger di kota Koan-bun.

Dia ikut terseret oleh arus manusia yang berhimpit-himpit itu.

Di dalam segala hal, manusia selalu berebutan, selalu memikirkan kepentingan diri pribadi.

Di waktu tidak ada bahaya mengancam diri, manusia berlumba dan saling memperebutkan harta benda, kedudukan, atau nama dan dalam perebutan ini siapa yang menghalang di jalan akan diterjang.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert