Ceritasilat Novel Online

Si Bangau Merah 3

Eps 3 Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo

Baca online Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo

Cersil Si Bangau Merah - Kho Ping Hoo.

Pada saat ia bersitegang melawan pengaruh yang semakin kuat itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa di belakangnya.

"Ha-ha-heh-heh, lihat, Bibi Gangga Dewi! Dua orang tosu itu sungguh lucu. Apa yang sedang mereka lakukan itu? Apakah mereka itu dua orang anak wayang yang sedang membadut?"

Mendengar suara ketawa dan ucapan Yo Han itu, seketika lenyaplah pengaruh sihir yang hampir menguasai dirinya dan lenyap pula "hawa"

Yang membangkitkan bulu roma tadi.

Dua orang tosu itu terbelalak memandang ke arah Yo Han.

Ketika anak itu tertawa lalu bicara, Mereka berdua merasa betapa kekuatan sihir mereka yang mereka kerahkan itu membalik seperti gelombang melanda diri mereka sendiri sehingga mereka menjadi sesak napas dan terpaksa menghentikan ilmu sihir itu!

Ang I Moli juga melihat semua ini dan ia berkata.

"Nah, sudah kukatakan bahwa anak itu bukan anak sembarangan. Dia terkena jarum-jarumku tapi tidak mati, dan segala kekuatan sihir tidak mempengaru-hinya. Sekarang baru kalian percaya? Hayo kalian bunuh perempuan asing itu dan aku yang akan menangkap anak itu!"

Kalau Gangga Dewi, Ang I Moli dan dua orang tosu Pek-lian-kauw itu tercengang keheranan melihat peristiwa tadi, Yo Han sendiri tidak merasakan sesuatu yang aneh.

Dia memang tidak merasakan apa-apa, dan kalau tadi dia mentertawakan dua orang tosu itu karena memang dia merasa heran dan geli melihat tingkah mereka.

Sama sekali dia tidak mengerti bahwa dua orang tosu itu mela-kukan sihir, dan sama sekali dia pun tidak tahu bahwa suara ketawanya membuyarkan semua pengaruh sihir mereka.

Di luar kesadarannya sendiri, ada kekuatan mujijat dari kekuasaan Tuhan yang selalu melindungi anak ini.

Kekuatan mujijat ini mungkin saja timbul karena kepercayaannya yang total kepada Tuhan Yang Maha Kasih.

Bukan sekedar percaya di mulut seperti yang dimiliki kebanyakan orang.

Kita semua mengaku berTuhan, akan tetapi pengakuan kita itu sungguh amat meragukan, apakah pengakuan itu timbul dari dalam dan sesungguhnya, ataukah pengakuan itu hanya keluar dari pikiran yang bergelimang nafsu.

Kalau hanya pengakuan mulut dan pikiran saja, tidak ada gunanya sama sekali.

Buktinya, kita mengaku berTuhan namun kita masih berani melakukan hal-hal yang tidak benar.

Kita adalah orang-orang munafik yang teringat kepada Tuhan hanya kalau kita membutuhkan pertolongan atau perlindu-ngan saja, hanya teringat kepada Tuhan kalau kita sedang menderita.

Kita melupakan Tuhan begitu nafsu mencengkeram kita, begitu kita berenang di lautan kesenangan duniawi.

Sejak kecil sekali, melalui kitab-kitab yang dibacanya, kemudian dikembangkan oleh perasaan yang peka, Yo Han bukan sekedar mengaku berTuhan.

Melainkan dia dapat merasakan kekuasaanNya dalam diri, yakin dan selalu ingat, selalu pasrah.

Begitu mutlak kepercayaannya kepada Tuhan sehingga ia pasrah dan menyerah.

Hanya kepada Tuhanlah dia berlindung karena dia tidak beribu-bapa lagi dan ancaman maut tidak cukup kuat untuk membuat dia takut dan lupa akan kepasrahan dan penyerahannya.

Inilah yang membuat dia di luar kesadarannya, selalu diliputi kekuasaan Tuhan.

Dan di dunia ini, kekuatan atau kekuasaan apakah yang mampu menandingi kekuasaan Tuhan?

Apalagi hanya permainan sihir dari dua orang tokoh Pek-lian-kauw itu, permainan sihir yang bersandar kepada kekuasaan iblis, tentu saja tidak depat menyentuh Yo Han yang sudah dilindungi kekuasaan maha dahsyat yang tidak nampak.

Kwan Thian-cu dan Kui Tuian-cu saling pandang dan mereka merasa betapa tengkuk mereka dingin.

Belum pernah selama hidup mereka ada orang yang mampu membuyarkan kekuatan sihir mereka tanpa pengerahan kekuatan batin.

Kalau hanya lawan yang memiliki kekuatan batin tanggung-tanggung saja, tentu akan menyerah dan tunduk terhadap kekuatan sihir mereka berdua yang disatukan.

Akan tetapi anak kecil itu, anak belasan tahun, hanya dengan ketawa polosnya telah mampu membuyarkan kekuatan sihir mereka?

Ataukah wanita peranakan barat itu yang memiliki kemampuan ini?

Akan tetapi mereka lihat betapa tadi wanita itu sudah hampir menyerah kepada mereka.

Diam-diam mereka bergidik dan jerih terhadap anak kecil itu.

Maka, mendengar permintaan Ang I Moli, mereka merasa girang.

Lebih nyaman di hati menghadapi dan mengeroyok wanita itu daripada harus menangkap anak ajaib itu!

Mereka lalu meloncat dan menyerang Gangga Dewi dengan senjata mereka.

Gangga Dewi mengelak dengan lompatan ke sampihg sambil menggerakkan tangan melolos sabuk sutera putihnya.

Akan tetapi dua orang tosu Pek-lian kauw itu mendesak, dengan serangan-serangan mereka yang ganas.

Sungguh janggal sekali melihat dua orang berpakaian pendeta kini memainkan golok dan pedang, menyerang seorang wanita dengan dahsyat dan buas, dengan muka beringas dan nafsu membunuh menguasai mereka, membuat mereka seperti dua ekor binatang buas yang haus darah.

Mutu batin seseorang tidak terletak pada pakaiannya atau kedudukannya.

Akan tetapi, kita sudah terlanjur hidup di dalam masyarakat di mana nilai-nilai kemanusiaan diukur dari keadaan lahiriahnya, dari pakaiannya.

Pangkat, kedudukan, predikat dan pekerjaan, harta, bahkan sikap dan kata-kata hanya merupakan pakaian belaka.

Semua itu dapat menjadi topeng yang palsu.

Namun, kita sudah terlanjur suka akan yang palsu-palsu.

Kita menghormati seseorang karena hartanya, karena pangkatnya.

Kita menilai seseorang dari kedudukannya, dari sikapnya.

Padahal, seorang pendeta belum tentu saleh, seorang pembesar belum tentu bijaksana, seorang hartawan belum tentu dermawan, seorang yang bermulut manis belum tentu baik hati.

Kita tersilau oleh kulitnya, sehingga tidak lagi mampu melihat isinya.

Hal ini disebabkan karena batin kita sebagai penilai juga sudah bergelimang nafsu, sehingga penilaian kita pun didasari keuntungan diri kita sendiri.

Yang menguntungkan kita lahir batin itulah baik, yang merugikan kita lahir batin itulah buruk!

Karena kita semua tahu bahwa yang dinilai tinggi oleh manusia adalah pakaiannya, yaitu nama besar, harta dunia, kedudukan tinggi, penampilan dan semua pulasan luar, maka kita pun berlumba untuk mendapatkan semua itu.

Kita memperebutkan kedudukan, harta dan sebagainya karena dari kesemuanya itulah kita mendapat penghargaan dan penghormatan.

Kita lupa bahwa penghargaan dan penghormatan semua itu adalah palsu, kita lupa bahwa yang dihormati adalah pakaian kita, harta kita, kedudukan kita, nama kita!

Kita semua makin hari makin lelap dalam alam kemunafikan.

Kita seyogianya bertanya kepada diri sendiri.

Apakah kita termasuk ke dalam kelompok munafik ini?

Bilakah kita akan sadar dari kelelapan kemunafikan ini, menjadi penganut peradaban yang tidak beradab, kemoralan yang tidak bermoral?

Pertanyaan selanjutnya, kalau sudah menyadari keadaan yang buruk ini, beranikah kita untuk keluar dari dunia kemunafikan ini dan hidup baru sebagai manusia seutuhnya?

Manusia yang patut disebut manusia, makhluk kekasih Tuhan, yang berakal pikir, berakhlak, bersusila, berbudi dan berbakti kepada Sang Maha Pencipta?

Kesadaran seperti itu hanya dapat timbul apabila kita mau dan berani mawas diri, bercermin bukan sekedar mematut-matut diri dan memperelok muka, melainkan bercermin menjenguk dan mengamati keadaan batin kita, pikiran kita, isi hati kita.

Berani melihat kekotoran yang selama ini melekat dalam batin kita.

Kalau sudah begini, baru dapat diharapkan timbulnya kesadaran dan kesadaran ini mendatangkan perasaan rendah diri di hadapan Tuhan!

Pikiran tidak mungkin membersihkan kekotoran ini, karena pikiran sudah bergelimang nafsu, sehingga apa pun yang dilakukannya tentu mengandung pamrih kepentingan diri, demi keenakan dan kesenangan diri, lahir maupun batin.

Namun, kerendahan diri membuat kita pasrah, membuat kita menyerah total kepada Tuhan Yang Maha Kasih, menyerah dengan penuh keikhlasan dan ketawakalan.

Dan Tuhan Maha Kasih!

Pasti Tuhan akan membimbing orang yang menyerah sebulatnya menyerah dengan kerendahan diri sehingga di dalam penyerahan ini, pikiran tidak ikut campur dan karenanya, penyerahan itu mutlak dan tanpa pamrih, penuh kerendahan hati, penuh kerinduan dan cinta kasih kepada Tuhan yang telah mengasihi kita tanpa batas!

Dari sini akan timbul gerak hidup yang wajar, manusiawi, tidak palsu dan tidak munafik lagi.

Pertempuran hebat terjadi setelah Gangga Dewi memutar sabuk sutera putih di tangannya.

Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu mengeroyoknya dan setelah lewat beberapa jurus saja, tahulah Gangga Dewi bahwa kedua orang lawannya ini lihai sekali.

Menghadapi seorang dari mereka saja belum tentu dia akan menang, apalagi dikeroyok dua.

Namun, bukan hal ini yang merisaukan hatinya, melainkan keselamatan Yo Han.

Anak itu kini menghadapi Ang I Moli, wanita iblis yang amat berbahaya dan keji itu.

Dan memang Yo Han terancam bahaya ketika Ang I Moli menghampirinya dengan mata bersinar-sinar dan mulut menyeringai.

Wajahnya yang cantik nampak menyeramkan dan membayangkan kekejaman yang mengerikan.

Yo Han juga maklum bahwa dia terancam bahaya namun dia sama sekali tidak merasa takut.

Anak berusia dua belas tahun itu sejak mulai ada pengertian, sudah menyerah kepada Tuhan sehingga tidak mengenal arti takut lagi.

Dia yakin benar bahwa nyawanya berada di tangan Tuhan dan bahwa kalau Tuhan tidak menghendaki, jangankan baru seorang manusia sesat macam Ang I Moli, biar semua iblis dan setan menyerangnya, dia tidak akan mati!

Keyakinan yang sudah mendarah-daging ini membuat dia tabah dan kini dia berdiri menghadapi Ang I Moli yang menghampirinya dengan sinar mata tenang dan jernih.

"Hi-hi-hik, Yo Han, engkau hendak lari ke mana sekarang? Tidak ada lagi yang akan mampu meloloskan engkau dari tangan-ku, heh-heh!"

Ang I Moli menghampiri semakin dekat dan mulutnya berliur karena ia membayangkan betapa seluruh darah dalam tubuh anak ajaib itu akan dihisapnya dan ia akan segera dapat menguasai ilmu dahsyat yang diidamkannya itu.

"Ang I Moli, aku tidak akan lari ke mana pun. Kalau Tuhan meng-hendaki, maka Dia yang akan meloloskan aku dari tanganmu!"

Mendengar jawaban itu, Ang I Moli tertawa terkekeh-kekeh.

"Ha-ha-ha-heh-heh! Tuhan? Mana Tuhanmu itu? Suruh dia keluar melawanku, heh-heh!"

Ia lalu menerjang ke depan, jari tangannya menotok ke arah pundak Yo Han karena ia bermaksud menangkap anak itu dan perlahan-lahan menikmati korbannya.

Yo Han tidak pernah berlatih silat.

Biarpun secara teori dia tahu bahwa wanita itu menyerangnya dengan totokan, dan dia tahu pula betapa sesungguhnya amat mudah untuk mematahkan serangan ini, namun karena tubuhnya tak pernah dilatih, maka dia tidak dapat melakukan hal itu dan dia pun diam saja, hanya pasrah kepada Tuhan.

"Tukk!!"

Jari tangan Ang I Moli menotok jalan darah di pundak dan tubuh Yo Han tiba-tiba menjadi lemas dan dia terkulai roboh.

Ang I Moli terkekeh, akan tetapi ketika ia menengok dan melihat betapa dua orang suhengnya itu, walaupun sudah dapat mendesak Gangga Dewi namun belum berhasil merobohkan dan membunuhnya, lalu ia meloncat dengan pedang di tangan untuk membantu dua orang suhengnya.

Tentu saja Gangga Dewi menjadi semakin repot melayani pengeroyokan tiga orang lawan yang lihai itu.

Tadi pun dikeroyok oleh dua orang tosu, ia sudah terdesak dan hanya mampu melindungi diri saja tanpa mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

Namun, dengan memainkan gabungan dari ilmu Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis) dan Pat-sian Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa) melalui sabuk sutera-nya, sambil mengerahkan tenaga Inti Bumi yang kesemuanya itu dahulu ia dapatkan dari gemblengan ayahnya, ia masih dapat membela diri dan sejauh itu belum ada ujung senjata para pengeroyok mengenai dirinya.

Namun, kalau ia harus terus mempertahankan diri tanpa balas menyerang, akhirnya ia tentu akan kehabisan tenaga dan akan roboh juga.

"Heiii, kalian ini orang-orang yang berwatak pengecut sekali! Mengeroyok seorang wanita bertiga. Percuma saja kalian mempelajari ilmu silat kalau hanya untuk mengeroyok secara curang dan pengecut."

Yang paling kaget mendengar bentakan itu adalah Ang I Moli.

Ia cepat membalik dan terbelalak melihat Yo Han telah berdiri di situ sambil menuding-nudingkan telunjuk dan mencela ia dan kedua orang suhengnya, seperti seorang kakek yang mencela dan mena-sihati cucu-cucunya (Lanjut ke

Jilid 06) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 yang nakal dan bandel!

Betapa ia tidak akan kaget?

Tadi ia telah menotok anak itu, totokan yang ia rasakan tepat sekali sehingga jangankan seorang anak kecil yang tidak tahu silat, biar lawan yang tangguh sekalipun kalau sudah tertotok seperti itu, pasti akan terkulai lemas dan sedikitnya seperempat jam lamanya takkan dapat berkutik.

Akan tetapi anak ini tahu-tahu sudah bangkit kembali dan menuding-nudingnya!

"Eh, anak setan, akan kubunuh kau sekarang juga!"

Kemarahan membuat wanita iblis itu lupa akan keinginannya memanfaatkan darah anak itu dan saking kaget dan marahnya, kini ia menyerang dengan bacokan pedangnya ke arah leher Yo Han.

"Singg....!"

Serangan itu luput!

Ang I Moli terbelalak lagi saking herannya.

Anak itu seperti didorong angin ke samping dan jatuh bergulingan, dan justeru hal ini membuat sambar-an pedangnya tidak mengenai sasaran.

Ia membalik dan mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia terhuyung dan hampir terjungkal karena saking tergesa-gesa dan marah tadi, ia kurang waspada sehingga kakinya terantuk batu.

Ketika ia bangkit kembali, ia melihat Yo Han sudah duduk dengan sikap tenang sekali di atas tanah.

Anak itu memang sudah tahu bahwa melawan tiada gunanya dan lari pun akan percuma.

Maka dia lalu duduk dan pasrah, menyerahkan nasib dirinya kepada Tuhan.

"Anak setan....!"

Kini Ang I Moli teringat lagi bahwa ia membutuhkan Yo Han, maka ia pun meloncat dekat dan mengayun tangan kirinya, kini menampar ke arah tengkuk.

"Plakkk!"

Tubuh anak itu terguling dan ia roboh pingsan.

Setelah memeriksa dan merasa yakin bahwa anak itu sudah pingsan dan tidak akan mudah siuman dalam waktu dekat, ia lalu meloncat lagi dan kembali mengeroyok Gangga Dewi yang sudah kewalahan.

Namun pada saat itu, nampak bayangan orang berkelebat.

"Dunia takkan pernah aman selama ada orang-orang sesat berkeliaran mengumbar nafsunya!"

Bayangan itu berkata dan begitu kedua tangannya bergerak, nampak sepasang pedang yang bersinar putih mengkilap berada di kedua tangannya dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyerbu ke dalam perkelahian itu dan membantu Gangga Dewi!

Semua orang memandang dan ternyata bayangan itu adalah seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh satu tahun dengan wajah yang berbentuk bundar, kulitnya agak gelap, kumis dan jenggotnya terpelihara rapi dan wajah itu tampan dan mengandung kegagahan, gerak geriknya lembut dan sinar matanya tajam.

Baik Gangga Dewi maupun tiga orang pengeroyoknya tidak mengenal orang ini, akan tetapi karena jelas bahwa dia membantu Gangga Dewi, maka Ang I Moli sudah menyam-butnya dengan sambitan jarum-jarum beracun merah.

"Hemmm, memang keji!"

Orang laki-laki itu berseru dan sekali tangan kanan bergerak, pedangnya diputar dan dibantu kebutan lengan baju, semua jarum tertangkis runtuh.

Ang I Moli sudah menyusul-kan serangan dengan pedangnya.

Orang itu menangkis dan balas menyerang.

Mereka bertanding dengan pedang, dan ternyata ilmu pedang orang itu lihai bukan main, Membuat Ang I Moli terkejut dan terpaksa ia harus mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan seluruh ilmu pedang simpanannya untuk melindungi dirinya dari sambaran sepasang pedang lawan yang lihai itu.

Tentu saja orang itu lihai karena dia adalah Suma Ciang Bun!

Pria yang kini hidup mengasingkan diri di Pegunungan Tapa-san ini adalah seorang cucu Pendekar Istana Pulau Es.

Biarpun bakatnya tidak sangat menonjol dibandingkan keluarga Istana Pulau Es yang lain, namun karena dia sudah mempelajari ilmu-ilmu dari ayah dan ibunya, maka dia juga menjadi seorang pendekar yang amat lihai.

Banyak ilmu hebat yang dikuasainya, dan kini, dengan sepasang pedangnya dia memainkan ilmu pedang pasangan Siang-Mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) dan dalam waktu belasan jurus saja Ang I Moli yang lihai telah terdesak hebat.

Akan tetapi, sambil melawan wanita berpakaian merah itu, Suma Ciang Bun melirik ke arah wanita gagah yang dikeroyok oleh dua orang berpakaian tosu.

Dia melihat betapa wanita itu terdesak hebat dan berada dalam bahaya karena selain nampaknya sudah lelah sekali, juga paha kirinya sudah terluka dan berdarah.

Maka, setelah mendesak Ang I Moli, tiba-tiba dia meloncat ke dalam arena pertempuran membantu Gangga Dewi yang dikeroyok Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu.

Begitu Suma Ciang Bun menerjang dan membantu Gangga Dewi, dua orang tokoh Pek-lian-kauw itu terkejut karena serangan Suma Ciang Bun amat kuatnya, membuat mereka berdua terpaksa meloncat ke belakang dan menghadapinya, meninggalkan Gangga Dewi yang sudah payah dan kelelahan.

Karena kini mendapat bantuan yang kuat, timbul kembali semangat Gangga Dewi.

"Terima kasih, Sobat. Mari kita basmi iblis-iblis Pek-lian-kauw yang jahat ini!"

Serunya dan biarpun paha kirinya sudah terluka, ia memutar pedangnya dan bersama Suma Ciang Bun mendesak tiga orang lawan itu.

Tiba-tiba dua orang tokoh Pek-lian-kauw itu membaca mantra yang aneh, kemudian Kwan Thian-cu berseru.

"Kalian berdua orang-orang bodoh! Lihat baik-baik siapa kami! Kami lebih berkuasa, hayo kalian cepat berlutut memberi hormat kepada kami!"

Dalam suara ini terkandung kekuatan sihir.

Agaknya mereka berusaha untuk mencoba sihir mereka kembali untuk menundukkan dua orang lawan tangguh itu.

Gangga Dewi terhuyung, akan tetapi Suma Ciang Bun adalah cucu Pendekar Sakti Pulau Es.

Dia sudah memiliki kekebalan terhadap sihir.

Kakeknya, Pendekar Super Sakti, adalah seorang yang memiliki kepandaian sihir amat kuatnya, dan biarpun ilmu itu tidak dipelajari oleh Suma Ciang Bun, akan tetapi dia memiliki kekebalan terhadap segala macam ilmu sihir.

Maka, melihat sikap lawan, Suma Ciang Bun tertawa halus.

"Hemm, kalian tidak perlu menjual segala macam sulap dan sihir di depanku. Dua orang tosu itu terkejut dan pada saat itu, Gangga Dewi yang sudah tak terpengaruh sihir, menerjang dengan hebat, disusul Suma Ciang Bun yang menggerakkan sepasang pedangnya. Tiga orang itu terpaksa memutar senjata dambil mundur. Akan tetapi, Ang I Moli yang licik sudah meloncat ke dekat tubuh Yo Han yang masih pingsan. Ia menyambar tubuh itu dan dipanggul dengan tangan kiri, lalu ia berteriak nyaring.

"Hentikan perlawanan kalian atau aku akan membunuh anak ini!"

Mendengar ucapan itu, Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi terkejut, menahan pedang mereka dan memandang ke arah Ang I Moli.

Mereka melihat betapa wanita iblis itu telah memanggul tubuh Yo Han dan mengancamkan pedangnya ke dekat leher anak itu.

Melihat ini, Gangga Dewi menarik napas panjang.

Ia tahu bahwa kalau ia dan penolongnya ini bergerak, tentu wanita iblis itu tidak akan ragu-ragu untuk membunuh Yo Han.

"Sudahlah, biarkan mereka pergi,"

Katanya lirih, namun tegas dan penuh wibawa.

Suma Ciang Bun mengerutkan alisnya.

Ketika dia datang tadi, dia melihat anak itu ditampar pingsan oleh wanita berpakaian merah dan dia dapat menduga bahwa wanita yang gagah perkasa itu tentu melindungi Si Anak dan ia dikeroyok.

Sekarang, setelah anak itu ditawan, dan diancam, wanita itu merasa tidak berdaya dan terpaksa menyerah.

"Mari kita pergi!."

Ang I Moli berkata kepada dua orang suhengnya dan ia pun meloncat jauh membawa tubuh Yo Han yang masih pingsan.

Dua orang takoh Pek-lian-kauw juga cepat-cepat mengejar karena mereka juga merasa jerih setelah Suma Ciang Bun muncul membantu Gangga Dewi.

Melihat betapa tiga orang itu melarikan anak yang dipondong Si Iblis Betina berpakaian merah, Suma Ciang Bun merasa gelisah.

"Tapi.... mereka membawa pergi anak itu....!"

Katanya khawatir dan melangkah ke depan dengan maksud untuk melakukan pengejaran.

"Jangan dikejar!"

Kata Gangga Dewi mantap.

"Kalau dikejar membahayakan keselamatan nyawanya. Dan lagi, aku percaya Yo Han mampu menjaga dirinya."

"Yo Han? Yo.... Han....? Anak itu....?"

Gangga Dewi memandang tajam.

"Engkau mengenal Yo Han?"

"Kalau benar Yo Han yang kau maksudkan itu, tentu saja aku mengenalnya. Dia pernah tinggal bersamaku di sini...."

"Ah, kalau begitu engkau tentu Suma Ciang Bun!"

Kata Gangga Dewi dengan girang. Suma Ciang Bun menatap wajah wanita yang gagah perkasa itu.

"Benar dan.... kalau boleh aku mengetahui.... siapakah.... eh, Nyonya ini....?"

Gangga Dewi memandang dengan wajah berubah kemerahan, matanya bersinar-sinar dan hatinya dicekam keharuan yang hampir membuat ia menangis.

Ingin memang ia menangis!

Suma Ciang Bun memang nampak jauh lebih tua daripada tiga puluhan tahun yang lalu.

Akan tetapi masih tampan, masih lembut dan canggung pemalu!

"Ciang Bun....

kau....

benarkah engkau sudah lupa kepadaku?"

Tanyanya, dan wanita yang berhati keras ini sudah mampu mengendalikan perasaan-nya.

Biarpun hatinya menjerit, namun ia dengan gagah dapat menahan diri.

Sungguh hal ini menunjuk-kan betapa Gangga Dewi kini telah menjadi seorang wanita yang lebih kuat hatinya lagi dibandingkan dahulu.

Di waktu mudanya, sebagai seorang gadis yang menuruni jiwa petualang ayah ibunya, ia pernah merantau ke timur dan dalam perantauannya itulah ia pernah mengalami peristiwa bersama Suma Ciang Bun, peristiwa yang membuat ia tidak dapat melupakan pria ini selama hidupnya (baca KISAH PARA PENDEKAR PULAU ES).

Dalam perantauannya itu, ketika itu ia baru berusia delapan belas tahun, ia menyamar sebagai seorang pria dan mengganti namanya menjadi Ganggananda.

Dan ia bertemu dengan Ciang Bun yang menyangka ia seorang pria.

Dan, diam-diam ia jatuh cinta kepada Suma Ciang Bun yang gagah perkasa.

Mereka bersahabat.

Kemudian, ia pun mendapat kenyataan bahwa Ciang Bun mencintanya, mencintanya bukan sebagai Gangga Dewi, melainkan sebagai Ganggananda!

Ternyata cucu Pendekar Sakti Pulau Es itu memiliki suatu kelainan, yaitu tidak suka berdekatan dengan wanita, melainkan suka kepada sesama pria!

Ciang Bun jatuh cinta kepadanya secara aneh, yaitu karena ia disangka pria.

Ia tahu akan hal itu dari Suma Hui, kakak dari Suma Ciang Bun.

Ketika ia menyatakan sendiri, membuka rahasia dirinya kepada Suma Ciang Bun dan mendengar pengakuan Ciang Bun bahwa pemuda itu mencinta dirinya sebagai pria, bukan sebagai wanita, ia lalu melarikan diri.

Bagaimana mungkin ia hidup bersama seorang pemuda yang mencintanya sebagai pria, betapa besar pun ia mencinta pemuda itu?

Ia lari meninggalkan Ciang Bun, kembali ke Bhutan dengan hati hancur dan luka karena cinta yang gagal.

Karena itulah, ia menurut saja ketika ayah dan ibunya menjodohkan ia dengan seorang panglima muda di Bhutan, panglima yang masih murid ayahnya sendiri dan seorang pria Bhutan yang gagah perkasa.

Ia berusaha untuk melupakan Ciang Bun.

Sampai suaminya tewas di dalam perang dan ia sudah mempunyai dua orang anak yang sudah dinikahkannya pula, kemudian sampai ia pergi lagi ke timur untuk mencari ayahnya, ia sudah hampir tidak pernah ingat lagi kepada Suma Ciang Bun.

Siapa kira, ia bertemu Yo Han dan anak itulah yang mengajaknya menemui Suma Ciang Bun untuk bertanya di mana ia dapat menemu-kan ayahnya.

Ketika Yo Han menyebut nama Suma Ciang Bun, dapat dibayangkan betapa rasa kagetnya.

Dan kini, ia telah berhadapan dengan bekas kekasih hatinya itu.

Suma Cian Bun menatap wajah Gangga Dewi dengan sinar mata heran dan penuh pertanyaan.

Dia tidak dapat mengingat lagi wajah wanita perkasa yang berdiri di depannya ini.

Seorang wanita yang cantik dan gagah.

Rambutnya sudah beruban, namun wajahnya masih segar dan nampak muda.

Pakaiannya, dari sutera kuning, juga rambut beruban yang mengkilap dan tebal panjang itu ditiup kerudung sutera kuning.

Namun hiasan rambutnya yang berbentuk burung merak masih dapat nampak karena kerudung itu tipis.

Wajah yang cantik itu membayangkan ketabahan dan semangat yang amat kuat.

Namun, ia tetap tidak dapat mengingat wajah ini, apalagi karena jarang ia bergaul dengan wanita.

Dia merasa heran sekali mendengar betapa wanita ini menyebut namanya sedemikian akrabnya.

Hanya di dalam hatinya ada keyakinan bahwa dia seperti pernah mengenal sinar mata itu, sepasang mata yang lebar dan jernih sekali, juga tajam berwibawa.

"Siapa.... siapakah Nyonya? Aku.... rasanya pernah bertemu, tapi aku lupa lagi di mana dan kapan...."

Gangga Dewi tidak merasa menyesal atau kecewa.

Ada baiknya kalau Suma Ciang Bun melupakannya.

Dahulu ia selalu teringat kepada Suma Ciang Bun dengan hati penuh iba dan ia selalu membayangkan betapa hancur hati pemuda itu ditinggalkannya, betapa pemuda itu tentu merana dan hidup sengsara.

Kalau Suma Ciang Bun dapat melupakannya, maka hal itu sungguh baik sekali.

Akan tetapi, ia melihat betapa sinar mata pria ini jelas menunjukkan betapa dia telah menderita banyak sekali, matanya begitu redup dan ada kesedihan mendalam yang tak pernah hapus dari batinnya.

"Ciang Bun, aku dari Bhutan!"

Ia membantu ingatan bekas kekasih hatinya itu.

Tiba-tiba mata itu terbelalak, sinarnya penuh pengenalan, wajah itu mendadak menjadi pucat, bibir itu gemetar dan beberapa kali bergerak tanpa suara, kedua tangan dikembangkan dan agaknya Ciang Bun harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk akhirnya dapat mengeluarkan suara.

Bagaikan air bah yang membanjir karena jebol tanggulnya, dari dalam dadanya menghambur suara yang tidak jelas.

"Gangga.... kau Gangga.... Gangga Dewi....!"

Dan dia pun menubruk wanita itu. Gangga Dewi membiarkan dirinya dirangkul dan ia pun balas memeluk.

"Ciang Bun....!"

Ia harus mengerahkan tenaga sin-kangnya untuk melindungi tubuhnya, ketika merasa betapa dekapan itu amat kuatnya.

Akan remuklah tulang-tulang iganya kalau ia tidak mengerahkan tenaga, dan dengan hati penuh iba ia pun berbisik.

".... aku Ganggananda, Ciang Bun,"

"Gangga Dewi.... engkau Gangga Dewi....!"

Hanya itu yang dapat diucapkan Ciang Bun dan wanita itu merasa jantungnya seperti diremas-remas ketika ia menengadah dan melihat betapa air mata bercucuran dari kedua mata pria gagah perkasa itu.

Suma Ciang Bun menangis!

Menangis seperti seorang wanita!

Gangga Dewi merasa semakin terharu, Ciang Bun mencium dahi dan rambutnya dan ia dapat merasakan detak jantung yang penuh kasih sayang dalam dada pria itu.

"Ya Tuhan, terima kasih, terima kasih bahwa engkau telah mempertemukan aku kembali dengan Gangga-ku.... Ahhh, Gangga Dewi, betapa aku rindu kepadamu...."

"Aku pun rindu kepadamu, Ciang Bun. Akan tetapi kepada siapakah engkau rindu? Gangga Dewi ataukah Ganggananda....?"

"Sama saja, Gangga, sama saja. Aku mencintamu, mencinta pribadimu, tidak peduli engkau pria atau wanita...."

Kembali Suma Ciang Bun mencium dahi Gangga Dewi dengan penuh cinta kasih dan Gangga Dewi merasa betapa air mata membasahi dahinya dan menuruni pipinya.

Jawaban itu melegakan hatinya dan ia pun balas merangkul.

Betapa keadaan seperti ini seringkali terjadi dalam mimpinya ketika dulu, betapa ia merindukan rangkulan pria ini.

Akan tetapi, tiba-tiba Ciang Bun mengeluarkan keluhan perlahan dan dia pun melepaskan rangkulan, lalu melangkah ke belakang dan ketika Gangga Dewi memandang, ia melihat wajah itu basah air mata yang masih menetes turun, dan wajah itu pucat kembali, mulutnya bergerak-gerak gugup.

"Aih, Gangga Dewi.... kau maafkan aku.... ya Tuhan! Apa yang telah kulakukan? Gangga, maafkan aku.... maafkan aku...."

Dan kini Ciang Bun menangis sambil menutupi muka dengan kedua tangannya.

Gangga Dewi memandang dan wajahnya sendiri berubah pucat.

Kiranya Ciang Bun masih seperti dulu!

Masih menangis cengeng seperti seorang wanita lemah, dan agaknya merasa menyesal atas sikapnya yang penuh kehangatan dan kemesraan tadi karena ia muncul sebagai wanita.

Agaknya Ciang Bun teringat lagi bahwa ia seorang wanita dan menyesali perbuatannya tadi.

Perasaan kecewa yang membuat hatinya nyeri terasa oleh Gangga Dewi.

"Ciang Bun,"

Katanya dan suaranya kini kering dan tegas.

"Katakan mengapa engkau minta maaf? Mengapa? Katakan"

Ciang Bun menurunkan kedua tangannya dan memandang dengan mata merah.

Dia pun sudah dapat menguasai hatinya, tidak menangis lagi walau kedua matanya masih basah.

"Gangga Dewi, maafkanlah kelemahanku tadi. Sesungguhnya aku telah lupa diri tadi, saking haru dan girangku bertemu denganmu. Aku telah melakukan hal yang tidak pantas, tidak sopan. Aku lupa bahwa engkau bukanlah Gangga Dewi yang dulu lagi, engkau seorang yang telah bersuami, berumah tangga. Aku telah mendengar bahwa engkau kini menjadi seorang isteri yang berbahagia di Bhutan, dengan anak-anakmu. Ah, aku ikut merasa girang bahwa engkau hidup berbahagia, Gangga."

Gangga Dewi tersenyum.

Hatinya senang karena ternyata Ciang Bun tidak minta maaf sebagai tanda bahwa penyakitnya yang dulu masih ada, melainkan minta maaf karena teringat bahwa ia seorang yang telah bersuami.

Hal ini wajar, bahkan baik sekali, tanda bahwa pria ini masih dapat menguasai gelora nafsunya.

"Dan engkau sendiri bagaimana, Ciang Bun?"

Tanyanya, sikapnya tenang, juga Ciang Bun agaknya sudah mampu menguasai hatinya dan kini mereka berdiri saling pandang dengan sinar mata penuh selidik, seolah ingin menjenguk isi hati masing-masing.

Mendengar pertanyaan itu, Ciang Bun menggeleng kepala dan menghela napas panjang.

"Aku masih hidup sendirian, Gangga. Semenjak engkau pergi, aku telah kehilangan segala-galanya dan aku hidup mengasingkan diri di sini. Gangga Dewi, bagaimana dengan suami dan anak-anakmu? Kenapa engkau melakukan perjalanan seorang diri dan bersama Yo Han?"

"Ciang Bun, aku meninggalkan Bhutan. Aku sekarang juga hidup sendirian seperti engkau. Suamiku telah lama meninggal dalam perang. Kedua orang anakku telah berumah tangga dan hidup berbahagia dengan keluarga masing-masing. Aku kesepian. Ibu telah meninggal dan ayahku telah lama meninggalkan Bhutan. Aku lalu pergi untuk mencari ayahku, dan dalam perjalanan aku bertemu Yo Han. Dialah yang mengajak aku ke sini karena dia berkata bahwa engkau tentu tahu di mana adanya ayahku"

"Ahhh....! Yo Han telah dilarikan orang jahat. Kita harus cepat mengejarnya Gangga. Kita harus menyelamatkannya dari tangan mereka. Nanti saja kita bicara, yang penting sekarang kita harus menolong Yo Han!"

Suma Ciang Bun yang teringat kepada Yo Han meloncat jauh ke depan untuk melakukan pengejaran.

"Tahan dulu....!"

Suma Ciang Bun melihat bayangan kuning berkelebat menda-huluinya dan Gangga Dewi sudah berdiri di depannya menghalanginya.

Suma Ciang Bun mengerutkan alisnya.

"Yo Han tarjatuh di tangan orang-orang jahat, nyawanya terancam bahaya dan aku hendak mengejar dan menolongnya. Kenapa engkau mencegahku, Gangga Dewi?"

"Kenapa engkau hendak menolong Yo Han?"

"Tentu saja! Aku sayang padanya. Dia pernah tinggal di sini, dititipkan oleh gurunya, Tan Sin Hong. Biar anak lain yang tidak kukenal sekalipun, sudah sepatutnya kubebaskan dari tangan orang-orang jahat itu. Apalagi Yo Han!"

Suma Ciang Bun hendak meloncat lagi, akan tetapi Gangga Dewi menghadangnya.

"Nanti dulu, Suma Ciang Bun. Tenanglah dan mari kita bicara dengan kepala dingin. Kau kira aku tidak sayang kepada Yo Han? Biarpun belum lama kami saling berkenalan, namun anak itu sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri, bahkan aku suka dan ingin mengambilnya sebagai murid. Justeru karena kita sayang kepadanya, kita tidak boleh melakukan pengejaran secara langsung, karena hal ini bahkan akan membahayakan dirinya. Kalau Ang I Moli yang jahat itu melihat kita melakukan pengejaran, ia tidak akan ragu untuk segera membunuh Yo Han! Kau tahu, Ciang Bun, perkenalanku dengan Yo Han justeru ketika aku merampasnya dari cangkeraman Ang I Moli. Tak kusangka hari ini ia merampas anak itu kembali dari tanganku, dibantu dua orang tosu Pek-lian-kauw itu. Jadi, kalau hendak menyelamatkan Yo Han, kita harus menggunakan siasat, tidak boleh sembarangan saja!"

Suma Ciang Bun mengangguk-angguk dan meraba jenggotnya yang terpelihara rapi.

Dia berada dalam pemainan gelombang perasaan.

Ketika tadi mendengar bahwa Gangga Dewi sekarang hidup seorang diri, sudah menjadi janda, dia merasakan suatu kegembiraan luar biasa di hatinya, kegembiraan yang muncul dengan adanya suatu harapan baru.

Akan tetapi kegembiraan ini terganggu oleh kekhawatiran tentang diri Yo Han.

Kini menghadapi sikap Gangga Dewi yang demikian tegas dan tenang, dia merasa tak berdaya, seperti seorang bawahan menghadapi atasannya!

"Kurasa engkau benar, Gangga Dewi.

Baiklah, aku menurut saja bagaimana baiknya untuk dapat menolong Yo Han."

"Kita membayangi mereka dari jarak jauh dan menjaga agar mereka, jangan sampai tahu bahwa kita membayangi mereka. Kita mendekati mereka dan mencari kesempatan baik untuk turun tangan, suatu penyerbuan mendadak sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan untuk membunuh Yo Han."

"Akan tetapi, kalau kita berlambat-lambat, aku khawatir mereka akan mengganggu dan membunuh Yo Han dan kita akan terlambat."

Gangga Dewi menggeleng kepalanya.

"Engkau, tidak mengenal betul siapa Yo Han. Aku sendiri pun masih terheran-heran dan takjub melihat keadaan anak itu. Dia mampu menjaga dirinya sendiri. Dia memiliki kekuatan yang ajaib. Mari kita mulai membayangi mereka dan akan kuceritakan semua tentang keanehan Yo Han dalam perjalanan."

"Karena pengejaran ini mungkin memakan waktu lama, biarlah aku akan membawa bekal pakaian dulu, Gangga. Tempat tinggalku tidak jauh dari sini. Mari!"

Keduanya lalu berlari mendaki lereng dan tak lama kemudian mereka tiba di sebuah pondok sederhana yang kokoh dan yang terletak di dataran dekat puncak, sebuah tempat yang amat indah pemandangan alamnya, dan sejuk hawanya.

"Alangkah indahnya tempat ini...."

Gangga Dewi memuji dan dengan wajah berseri ia memandang ke empat penjuru dari tempat ketinggian itu dan menghisap hawa udara yang jernih, sejuk dan harum karena di sekitar tempat itu terdapat banyak sekali pohon dan tumbuh-tumbuhan yang sedang berkembang.

Suma Ciang Bun hanya tersenyum girang dan mencatat ucapan Gangga Dewi itu di dalam hatinya.

Dia membawa pakaian dalam buntalannya dan tak lama kemudian, mereka berdua sudah menuruni puncak dengan ilmu berlari cepat mereka.

Biarpun tidak mengeluarkan suara, keduanya merasa betapa ada kebahagiaan besar menyelubungi hati mereka ketika mereka melakukan perjalanan bersama seperti itu.

Tanah dalam hati mereka yang tadinya hampir mengering itu seolah tersiram embun pagi yang sejuk, menerima siraman air yang membuat tanah itu hidup kembali dan bunga-bunga cinta yang tadinya seperti layu kini mekar kembali.

Mereka melakukan pengejaran dan mencari jejak Ang I Moli yang melarikan Yo Han dan di sepanjang perjalanan ini, mereka saling menceritakan pengalaman mereka semenjak mereka saling berpisah kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu!

Setelah mendengarkan Ciang Bun menceritakan semua pengalamannya, Gangga Dewi merasa terharu sekali.

Kini ia merasa yakin bahwa Ciang Bun memang mencinta dirinya, bukan mencintanya sebagai seorang pemuda yang dulu memakai nama samaran Ganggananda, melainkan mencintainya dengan tulus walaupun sudah tahu bahwa ia seorang wanita, bukan pria seperti yang disangkanya semula.

Ciang Bun rela hidup menyendiri, tidak lagi mau mencari pasangan, baik pria maupun wanita.

Ia merasa terharu, akan tetapi tidak mem-perlihatkannya.

"Gangga, sekarang giliranmu untuk bercerita. Aku ingin sekali mendengar tentang semua pengalamanmu sejak kita saling berpisah sampai sekarang."

Mereka bercakap-cakap di dalam sebuah guha di mana mereka terpaksa melewatkan malam.

Jejak Ang I Moli yang mereka dapatkan melewati bukit itu dan karena malam itu gelap, mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan dan terpaksa melewatkan malam di guha itu.

Mereka membuat api unggun, dan setelah makan malam, makan roti dan daging kering yang dibawa oleh Ciang Bun dan minum air jernih yang dibawa Gangga sebagai bekal, mereka lalu bercakap-cakap.

"Baiklah, Ciang Bun. Pengalamanku jauh lebih menyenangkan daripada pengalamanmu, walaupun berakhir dengan perasaan kesepian juga."

Ia lalu menceritakan tentang pernikahannya dengan seorang panglima Bhutan, hidup berbahagia sampai mempunyai dua orang anak.

Akan tetapi setelah kedua orang anaknya berumah tangga, dan suaminya tewas di dalam medan perang, ia merasa kesepian sekali.

"Sudah bertahun-tahun ayahku meninggalkan Bhutan, sejak ibu meninggal. Aku ingin sekali bertemu dengan ayah, maka aku lalu meninggalkan Bhutan dan mencarinya di timur. Dalam perjalanan, aku bertemu dengan Yo Han yang sedang terancam keselamatannya oleh Ang I Moli itu. Aku menolong Yo Han dan berhasil mengusir Ang I Moli. Ketika mendengar bahwa guru Yo Han yang pertama yang bernama Tan Sin Hong itu adalah murid ayahku, tentu saja aku menganggap Yo Han seperti warga sendiri. Dia yang mengajak aku ke sini untuk menemuimu, karena menurut Yo Han, engkau tentu tahu di mana ayahku berada. Nah, sekarang katakan, di mana ayahku, Ciang Bun? Engkau tahu siapa ayahku, bukan?"

Suma Ciang Bun menarik napas panjang dan wajahnya yang tampan itu nampak muram.

"Tentu saja aku tahu siapa ayahmu, Gangga. Ayahmu dahulu terkenal dengan Julukan Si Jari Maut, bernama Wan Tek Hoat dan sekarang menjadi hwesio dengan Julukan Tiong Khi Hwesio. Benarkah?"

"Benar, dan ayahku selalu memuji-muji keluarga Pulau Es. Di mana dia sekarang?"

"Ketahuilah, Gangga Dewi. Kurang lebih lima tahun yang lalu, ayahmu pergi ke Istana Gurun Pasir, dan tinggal di sana bersama Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu dan isterinya...."

"Bibi Wan Ceng, saudara seayah dari ayahku?"

Gangga Dewi memotong.

"Benar, Gangga. Tiga orang tua itu tinggal di Istana Gurun Pasir, hidup dengan tenteram dan bahagia, bahkan mereka bertiga mengambil Tan Sin Hong sebagai murid. Beruntung sekali pendekar itu, sekaligus menjadi murid mereka bertiga."

"Ahhh! Kalau begitu, ayahku kini masih di sana?"

Ciang Bun menarik napas panjang dan sampai lama tidak dapat menjawab, karena dia merasa ragu untuk menerangkan keadaan yang sesungguhnya.

"Ciang Bun, jawablah! Aku bukan anak kecil lagi, aku siap untuk mendengar berita apa pun. Masih hidupkah ayahku? Dan apakah dia masih berada di Istana Gurun Pasir?"

Setelah beberapa kali menarik napas panjang, Suma Ciang Bun berkata.

"Terjadi hal yang menyedihkan dan juga menggemaskan, Gangga. Tiga orang tua itu sudah mengasingkan diri di tempat sunyi itu dan tidak lagi mencampuri urusan dunia, hidup dengan tenang tenteram. Akan tetapi, agaknya orang-orang yang dahulu pernah mereka basmi atau kalahkan, orang-orang sesat dari dunia hitam, agaknya masih menaruh dendam. Orang-orang Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw, dan beberapa orang datuk sesat lainnya, menyerbu Istana Gurun Pasir dan mengeroyok tiga orang tua itu. Akibatnya, biarpun pihak pengeroyok itu banyak yang terluka dan tewas, namun tiga orang Locianpwe itu juga tewas.... ah, maafkan aku, Gangga Dewi, telah menyampaikan berita duka ini."

Akan tetapi Gangga Dewi sama sekali tidak nampak berduka atau terkejut, bahkan ia mengepal tinju dan bangkit berdiri.

Wajahnya yang tertimpa api unggun itu kemerahan dan cantik sekali, gagah pula, dan matanya bersinar-sinar.

"Bukan berita duka, Ciang Bun! Aku bangga mendengar ayah tewas seperti itu. Sungguh sesuai dengan wataknya yang gagah. Apalagi tewas dalam menentang para datuk sesat bersama Bibi Wan Ceng dan suaminya, Naga Sakti Gurun Pasir. Tidak, aku tidak berduka, apalagi ayah memang telah berusia lanjut. Aku bangga karena dia mati secara gagah perkasa! Akan tetapi aku penasaran kepada mereka yang melakukan penyerbuan itu. Sungguh pengecut dan curang! Mengeroyok tiga orang yang sudah tua dan yang sudah mengasingkan diri dari dunia persilatan!"

"Begitulah watak orang-orang jahat dari dunia sesat, Gangga."

"Siapakah mereka itu? Kalau engkau tahu, sebutkan namanya satu demi satu, aku akan pergi mencarinya dan membunuh mereka!"

Kata Gangga Dewi dengan marah.

"Tenanglah, Gangga. Mereka itu sudah tidak ada lagi. Seorang demi seorang telah tewas oleh para pendekar muda, termasuk Tan Sin Hong."

"O ya, mengapa Tan Sin Hong diam saja ketika tiga orang gurunya dikeroyok? Apakah dia tidak membantu, dan kalau demikian, mengapa, dia dapat lolos dan hidup? Apakah dia melarikan diri?"

"Sama sekali tidak. Ketika peristiwa penyerbuan itu terjadi, baru saja Sin Hong menerima sebuah ilmu dari ketiga orang gurunya, bahkan menerima, pengoperan tenaga gabungan mereka. Selama setahun Sin Hong harus memperdalam ilmu itu dan dia sama sekali tidak boleh mempergunakan sin-kang, karena kalau hal itu dilanggar, dia akan tewas oleh tenaganya sendiri! Itulah sebabnya dia tidak mampu membela ketika tiga orang gurunya dikeroyok. Dia ditawan, akan tetapi mampu meloloskan diri dan bersembunyi untuk menyelesaikan ilmu baru itu selama setahun. Setelah itu, baru dia pergi mencari mereka yang membunuh tiga orang gurunya, dan akhirnya setelah bekerja sama dengan para pendekar muda lainnya, dia berhasil menewaskan para penjahat itu. Dia bekerja sama dengan para pendekar muda keturunan Istana Pulau Es dan Istana Gurun Pasir."

Gangga Dewi mengangguk-angguk.

"Ah puaslah rasa hatiku. Kematian ayah telah dibersihkan dari penasaran oleh para pendekar keluarga Istana Pulau Es dan Istana Gurun Pasir! Sungguh merupakan suatu kehormatan besar sekali dan aku ikut merasa bangga dan ber-bahagia. Tentu arwah dari ayah akan merasa bangga dan puas pula. Ingin aku bertemu dan mengucapkan terima kasihku kepada Tan Sin Hong. Dia masih terhitung suteku (adik seperguruanku) sendiri. Akan, tetapi, bagaimana aku dapat bertemu dengan dia tanpa membawa Yo Han, muridnya yang terculik penjahat? Mari, Ciang Bun, kita percepat usaha kita mencari jejak iblis betina itu."

Mereka lalu berlari cepat dan tiga hari kemudian baru mereka mendapatkan jejak Ang I Moli.

Mereka mendapatkan keterangan dari penduduk sebuah dusun di kaki bukit.

Tidak begitu sukar mencari jejak Ang I Moli dan dua orang tosu itu.

Ang I Moli adalah seorang wanita cantik yang selalu menggunakan pakaian merah.

Keadaannya menyolok sekali dan orang yang berjumpa dengannya tidak mudah melupakannya.

Jejak itu menuju ke Propinsi Hu-nan di sebelah selatan.

Mereka melakukan pengejaran terus dan hubungan mereka menjadi semakin akrab.

Dua orang setengah baya ini merasa seperti menjadi muda kembali dan mereka terkenang akan masa lalu ketika mereka masih sama muda dan juga melakukan perjalanan bersama.

Akan tetapi sekarang perasaan mereka lebih mendalam dibandingkan dahulu karena sekarang agaknya Suma Ciang Bun telah sembuh dari kelainan yang dideritanya.

Atau mungkin juga dia tidak berubah, hanya karena sifat Gangga Dewi yang gagah perkasa, keras dan bahkan "jantan"

Itu yang membuat Ciang Bun semakin jatuh cinta.

Andaikata sikap Gangga Dewi lunak dan penuh kewanitaan, belum tentu dia akan merasa demikian tertarik dan jatuh cinta untuk ke dua kalinya.

Kalau dahulu dia mencinta Ganggananda, kini dia benar-benar mencinta Gangga Dewi sebagai wanita.

Ketika Gangga Dewi menceritakan tentang keadaan Yo Han yang aneh, Suma Ciang Bun termenung.

Mereka menghadapi api unggun di sebuah kuil kosong di luar sebuah dusun di mana mereka terpaksa melewat-kan malam karena di dusun itu tidak ada rumah penginapan.

"Sungguh luar biasa sekali anak itu,"

Katanya termenung.

"Dahulu ketika dia di titipkan kepadaku oleh Sin Hong, aku hanya melihat dia sebagai seorang anak yang luar biasa cerdiknya, berwatak halus dan berpemandangan terlalu dewasa dan luas bagi seorang anak berusia tujuh tahun. Memang sudah menonjol dan aku amat sayang kepadanya, akan tetapi belum memperlihatkan sesuatu yang aneh. Dia tidak pernah berlatih silat akan tetapi luka beracun dan kekuatan sihir tidak mempengaruhinya? Hebat!"

"Aku melihat sesuatu yang mujijat pada diri anak itu, Ciang Bun. Akan tetapi dia tidak mau menceritakan riwayatnya. Sebetulnya, anak siapakah dia?"

Suma Ciang Bun menghela napas panjang dan sejenak menatap wajah wanita yang amat dicintanya itu.

"Aihhh, dunia ini penuh dengan penderitaan. Bahkan orang yang baik hati nampaknya lebih banyak menderita ketimbang orang yang menyeleweng dari pada kebenaran. Mungkin memang demikianlah keadaannya yang wajar. Orang jahat menjadi hamba nafsu, dan penghambaan nafsu ini nampaknya mendatangkan kesenangan. Tentu saja kesenangan duniawi yang palsu. Ayah kandung Yo Han adalah seorang laki-laki bernama Yo Jin, seorang petani yang jujur dan tidak pandai silat. Akan tetapi juga seorang laki-laki sejati, seorang jantan yang tidak berkedip takut menghadapi ancaman maut, berani menentang kejahatan. Bahkan sikapnya yang jantan itulah yang menjatuhkan seorang tokoh sesat, seorang iblis betina cantik yang terkenal dengan sebutan Bi Kwi (Setan Cantik). Bukan hanya menjatuhkan hatinya, akan tetapi setelah mereka menjadi suami isteri, Bi Kwi yang tadinya terkenal sebagai seorang tokoh sesat yang amat jahat dan kejam itu menjadi sadar sama sekali! Ia ikut suaminya menjadi seorang petani di dusun yang mencuci tangannya dari segala macam kekerasan."

"Luar biasa dan menarik sekali!"

"Nah, mereka menikah dan lahirlah Yo Han! Suami isteri itu telah bersepakat untuk tidak memperkenalkan putera mereka dengan kekerasan dan kehidupan dunia persilatan. Mereka tidak mengajarkan ilmu silat kepada Yo Han. Tentu saja hal ini terpengaruh oleh sikap Yo Jin yang tidak suka akan kekerasan, dan juga oleh pengalaman-pengalaman pahit dari Bi Kwi selama ia menjadi tokoh sesat dalam dunia kang-ouw."

"Keputusan yang bijaksana."

Gangga Dewi memuji.

"Akan tetapi, latar belakang kehidupan Bi Kwi tidak membiarkan ia hidup tenang dan tenteram. Ada saja penjahat yang menginginkan tenaganya dan orang-orang jahat menculik Yo Han yang baru berusia tujuh tahun, bahkan menculik Yo Jin pula. Karena suami dan puteranya diculik penjahat yang memaksa ia membantu golongan sesat, terpaksa Bi Kwi terjun lagi ke dunia kang-ouw. Suami isteri itu berhasil menukar diri mereka dengan putera mereka yang dibebaskan dan Yo Han diserahkan kepada Tan Sin Hong oleh ayah dan ibunya. Sin Hong menitipkan Yo Han kepadaku, dan dia sendiri bersama para pendekar membasmi penjahat di mana terdapat pula pembunuh-pembunuh yang membunuh kakek dan nenek penghuni istana Gurun Pasir dan juga ayahmu itu. Dan dalam pertempuran itu, ayah dan ibu Yo Han yang juga membalik dan membantu para pendekar menentang golongan sesat yang tadinya mereka bantu demi menyelamatkan putera mereka, tewas sehingga Yo Han menjadi seorang yatim-piatu."

Gangga Dewi berulang kali menghela napas panjang.

"Omitohud....! Betapa penuh kekerasan kehidupan manusia di dunia ini. Sekarang aku mengerti mengapa Yo Han tidak pernah mau melatih ilmu silat walaupun dia memiliki suhu dan subo yang berkepandaian tinggi seperti Tan Sin Hong dan Kao Hong Li itu. Hanya yang tetap membuat aku heran, bagaimana dia dapat memiliki kekuatan aneh yang dapat menolak pengaruh racun dan ilmu sihir. Sungguh aneh sekali!"

"Hal itu tentu akan dapat kita ketahui kelak kalau kita berhasil membebaskannya dari tangan Ang I Moli,"

Kata Suma Ciang Bun.

"Mudah-mudahan saja kita tidak akan terlambat,"

Kata Gangga Dewi.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah meninggalkan kuil tua itu dan melanjutkan perjalanan mereka dengan cepat untuk melakukan pengejaran dan mencari Yo Han yang diculik Ang I Moli dan dua orang suhengnya dari, Pek-lian-kauw itu.

Siang itu cuaca cerah sekali di Bukit Naga.

Matahari amat teriknya.

Bahkan hutan di puncak bukit itu yang biasanya gelap karena rindangnya pohon-pohon besar yang sudah puluhan tahun umurnya, kini nampak terang ditembusi cahaya matahari yang kuat.

Di langit tidak ada mendung, hanya awan-awan putih berserakan di sana sini, tidak, menghalangi kecerahan sinar matahari, bahkan menjadi hiasan langit yang indah.

Tepat pada tengah hari, nampak bayangan-bayangan orang berkelebat memasuki hutan itu.

Hutan yang biasanya amat sepi itu tiba-tiba saja diramaikan oleh kunjungan orang-orang yang memiliki gerakan yang amat ringan dan cekatan.

Mula-mula nampak seorang tosu yang usianya sekitar lima puluh tahun, dengan sebatang pedang di punggung.

Tosu tinggi kurus itu muncul dengan loncatan yang ringan, berada di atas lapangan rumput yang dikurung pohon-pohon tinggi dan dia memandang ke sekeliling.

Pandang matanya yang tajam sudah melihat adanya beberapa sosok bayangan orang yang bergerak dengan cepat dan kini suasana nampak sunyi kembali.

Bayangan-bayangan itu agaknya sudah menyelinap dan bersembunyi di balik pohon-pohon besar atau semak belukar.

Setelah memandang ke sekelilingnya, tosu ini tersenyum mengejek, dan dia pun berseru dengan suara lantang karena dia mengerahkan khi-kangnya sehingga suaranya langsung keluar dari perut dan terdengar melengking nyaring.

"Sejak kapankah orang-orang Go-bi-pai menjadi pengecut? Setelah orang yang diundang datang memenuhi tantangan, kenapa malah bersembunyi-sembunyi? Keluarlah, orang-orang Go-bi-pai. Pinto (aku) dari Kun-lun-pai sudah datang memenuhi tantanganmu!"

Belum lenyap gema suara itu, nampak sesosok tubuh melayang turun dari puncak sebuah pohon besar.

Dengan ringan sekali tubuh itu berjungkir balik beberapa kali dan seorang kakek berusia enam puluh tahun berpakaian seperti seorang petani sederhana telah berdiri di depan tosu Kun-lun-pai itu.

Tubuhnya tegap dan kaki tangannya kokoh kuat seperti biasa tubuh seorang petani yang biasa bekerja keras.

Kulitnya juga coklat terbakar matahari.

"Siancai....!"

Tosu Kun-lun-pai itu berseru dan matanya bersinar penuh kemarahan.

"Kiranya Go-bi Nung-jin (Petani Gobi) yang muncul! Hem, engkau petani yang biasa berwatak jujur, katakan, sejak kapan Go-bi-pai memusuhi Kun-lun-pai dan mengirim tantangan? Pinto (aku) mewakili Kun-lun-pai untuk menyambut tantangan Go-bi-pai itu!"

"Ciang Tosu, apa artinya kata-katamu itu? Kami tidak pernah dan tidak akan memusuhi Kun-lun-pai. Kedatanganku kesini pada saat ini bukan sebagai penantang, bahkan aku mewakili Go-bi-pai untuk menyambut tantangan Bu-tong-pai!"

Kemudian kakek petani itu memandang ke sekeliling dan dengan lantang dia pun berteriak.

"Di mana orang-orang Bu-tong-pai yang telah berani mengirim tantangan kepada Go-bi-pai? Nah, aku datang mewakili Go-bi-pai untuk menerima tantangan itu!"

Tentu saja Ciang Tosu dari Kun-lun-pai merasa heran bukan main, akan tetapi sebelum dia dapat berkata sesuatu, nampak bayangan berkelebat keluar dari balik semak belukar dan di situ telah berdiri seorang laki-laki gagah perkasa berusia empat puluh tahun lebih.

Orang ini berpakaian seperti seorang pendekar dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang.

Tubuhnya tinggi kurus dan sikapnya gagah, matanya tajam memandang kepada kakek petani yang tadi menantang Bu-tong-pai.

Sikap orang ini hormat, mungkin karena dia merasa lebih muda.

Dia mengangkat kedua tangan di depan dada menghadapi kakek petani Go-bi Nung-jin.

"Go-bi Nung-jin adalah seorang pendekar Go-bi-pai yang gagah. Dan selama ini Bu-tong-pai selalu memandang hormat dan menganggap Go-bi-pai sebagai saudara. Kami tidak pernah menantang Go-bi-pai, bahkan saya datang ke sini sebagai wakil Bu-tong-pai untuk menghadapi tantangan yang kami terima dari Siauw-lim-pai! Kami tidak pernah menantang Go-bi-pai atau partai persilatan mana pun juga."

Setelah berkata demikian kepada Go-bi Nung-jin yang menjadi terheran-heran, wakil Bu-tong-pai itu pun kini memandang ke sekeliling lalu berseru dengan pengerahan khi-kangnya.

"Orang-orang Siauw-lim-pai dengarlah baik-baik! Kalian telah menantang Bu-tong-pai dan inilah aku, Phoa Cin Su murid Bu-tong-pai mewakili partai kami untuk menerima tantangan kalian!"

Mendengar ucapan wakil Bu-tong-pai ini, Go-bi Nung-jin dan Ciang Tosu saling pandang dengan heran.

Dan pada saat itu terdengar suara halus namun terdengar jelas dan menggetarkan.

"Omitohud....! Agaknya dunia sudah akan kiamat! Apa yang terjadi sungguh aneh!"

Dan muncullah seorang hwesio berusia lima puluhan tahun. Phoa Cin Su murid Bu-tong-pai segera memberi hormat.

"Kiranya Loan Hu Hwesio yang datang untuk mewakili Siauw-lim-pai yang menantang Bu-tong-pai. Nah, saya yang mewakili Bu-tongpai untuk menerima tantangan yang membuat kami merasa penasaran sekali itu!"

Karena Phoa Cin Su agaknya sudah mengenal benar siapa hwesio Siauw-lim-pai ini, dia pun segera meloloskan pedangnya dari pinggang dan siap untuk bertanding!

Akan tetapi hwesio Siauw-lim-pai itu merangkap kedua tangan di depan dadanya.

"Omitohud....! Phoa-sicu harap bersabar dulu. Ketahuilah bahwa Siauw-lim-pai selalu memandang Bu-tong-pai dengan hormat dan sebagai rekan, bagaimana Siauw-lim-pai dapat mengirim tantangan? Pinceng (aku) datang ini pun sebagai wakil Siauw-lim-pai yang menerima tantangan dari Kun-Lun-pai!"

Tentu saja wakil-wakil dari empat perkumpulan atau partai persilatan terbesar di seluruh negeri itu menjadi terheran-heran mendengar ini.

Kun-lun-pai menerima tantangan dari Go-bi-pai, Go-bi-pai menerima tantangan dari Bu-tong-pai, Bu-tong-pai menerima tantangan dari Siauw-lim-pai dan kini Siauw-lim-pai menerima tantangan dari Kun-lun-pai Apa artinya semua ini?

"Siancai....!"

Ciang Tosu berseru heran.

"Bagaimana kami dapat menantang Siauw lim-pai yang kami anggap sebagai sahabat dan juga sumber segala ilmu yang kami miliki? Itu tidak mungkin sama sekali!"

"Omitohud, demikian pula Siauw-lim-pai tidak pernah menantang Bu-tong-pai,"

Kata Loan Hu Hwesio dari Siauw-lim-pai.

"Saya juga berani memastikan bahwa Bu-tong-pai tidak pernah menantang Go-bi-pai,"

Kata Phoa Cin Su.

"Dan Go-bi-pai juga tidak mungkin menantang Kun-lun-pai!"

Kata Go-bi Nung-jin.

"Omitohud...."

Kini hwesio Siauw-lim-pai itu mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Harap Cu-wi bersabar dulu. Para suhu pimpinan di Siauw-lim-pai tidak mungkin keliru. Ketika mengutus pinceng turun gunung memenuhi tantangan itu, pinceng sendiri melihat surat tantangan yang ditandai dengan cap dari Kun-lun-pai."

Ciang Tosu dari Kun-lun-pai, Phoa Cin Su dari Bu-tong-pai, dan Go-bi Nung-jin dari Go-bi-pai serempak menyatakan.

Bahwa mereka pun melihat keaselian surat tantangan yang diterima pimpinan masing-masing, surat-surat tantangan itu pun memakai tanda cap dari partai yang menantang.

"Omitohud....! Kalau begitu, tentu ada pemalsuan. Ada pihak lain yang sengaja mengirim surat-surat tantangan itu untuk mengadu domba atau hendak mengacau keadaan. Kita harus waspada!"

Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak.

Suara ini bergema ke empat penjuru sehingga sukar diketahui dari mana asal suara itu.

Empat orang wakil dari empat perkumpulan silat besar itu maklum bahwa ada orang pandai muncul, maka mereka pun sudah siap siaga.

Ciang Tosu sudah mencabut pedang dari punggungnya.

Phoa Cin Su juga sudah mencabut pedang.

Go-bi Nung-jin menyambar senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang cangkul yang gagangnya lurus seperti toya, dan hwesio Siauw-lim-pai yang tidak pernah bersenjata itu siap dengan pengerahan sin-kang dan setiap urat syarafnya menegang.

Mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, orang-orang yang memiliki tingkat kedua dari perguruan masing-masing.

"Ha-ha-ha-ha-ha....!"

Suara ketawa yang bergema di empat penjuru itu disusul oleh kata-kata yang juga mengandung getaran kuat.

"Kalian berempat seperti tikus-tikus yang terjepit!"

Tiba-tiba saja muncullah seorang kakek berusia enam puluhan tahun, bertubuh tinggi besar bermuka merah dan dia mengenakan jubah lebar yang berwarna merah pula.

Pakaiannya seperti seorang pendeta, akan tetapi rambutnya digelung rapi dan mengkilap bekas minyak, dan jepitan rambutnya merupakan perhiasan dari emas permata yang mahal.

Akan tetapi di balik jubah merah itu nampak baju ketat sulaman benang perak yang gemerlapan.

Di antara empat orang tokoh partai-partai persilatan besar itu, hanya Loan Hu Hwesio yang mengenal orang ini.

Hwesio ini menjura dengan sikap hormat kepada kakek tinggi besar bermuka merah itu.

"Ah, kiranya Lauw Eng-hiong (Orang Gagah she Lauw) yang datang. Tidak tahu apa alasannya engkau datang-datang memaki kami empat orang wakil partai-partai persilatan?"

"Huh!"

Kakek tinggi besar itu mendengus dengan sikap mengejek.

"Apalagi kalian ini kalau bukan tikus-tikus pengkhianat bangsa, atau anjing-anjing, penjilat penjajah Mancu?"

Phoa Cin Su, jago dari Bu-tong-pai itu menjadi merah mukanya karena marah.

"Loan Hu Hwesio, siapakah orang yang sombong dan bermulut lancang ini?"

Sebelum hwesio Siauw-lim-pai itu menjawab, kakek tinggi besar itu sudah mendahuluinya.

"Kalian wakil-wakil Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, dan Go-bi-pai. Ketahuilah bahwa kalian berhadapan dengan aku Lauw Kang Hui, wakil Ketua Thian-li-pang!"

Tiga orang itu terkejut.

Tentu saja mereka sudah mendengar nama besar perkumpulan Thian-li-pang, sebuah perkumpulan orang-orang yang menamakan diri mereka patriot dan yang dengan gigih menentang pemerintah, yaitu penjajah Mancu dan memberontak di mana-mana untuk menjatuhkan pemerintah penjajah.

Akan tetapi di antara para anak buah Thian-li-pang, banyak pula yang melakukan penyelewengan dan mereka itu melakukan kejahatan mengandalkan kekuatan mereka, mengganggu rakyat dengan perampokan dan pemerasan.

Maka, dari empat buah perkumpulan persilatan besar itu, tentu sudah pernah murid-murid mereka bentrok dengan orang Thian-li-pang yang melakukan kejahatan.

"Siancai, kalau begitu agaknya Thian-li-pang yang membuat undangan palsu kepada kami empat perguruan tinggi. Benarkah begitu?"

Kata Ciang Tosu dari Kun-lun-pai.

"Ha-ha-ha, memang benar! Kami yang membuat undangan palsu. Empat perguruan silat seperti perkumpulan kalian hanyalah perkumpulan pengkhianat dan pengecut. Kalian tidak menentang penjajah, tidak mau bekerja sama dengan kami bahkan menentang kami dan banyak sudah anak buah kami yang tewas di tangan kalian!"

"Hemm, apa anehnya itu? Kami bukanlah perkumpulan pemberontak, kami tidak mempunyai urusan dengan pemberontakan. Kalau murid-murid kami menentang murid-murid Thian-li-pang, tentu bukan perkumpulannya atau pemberontakannya yang ditentang, melainkan perbuatan jahat yang dilakukan para murid Thian-li-pang. Kami adalah perkumpulan para pendekar yang menentang kejahatan, kapan saja, di mana saja dan dilakukan siapa saja!"

Kata Go-bi Nung-jin.

"Benar sekali itu!"

Kata Phoa Cin Su.

"Murid-murid kami pernah menentang anggauta Thian-li-pang, bukan karena mereka memberontak terhadap pemerintah, melainkan karena mereka itu merampok dan memeras rakyat jelata!"

"Ha-ha-ha-ha, sudah berada di ambang maut, kalian masih bermulut besar! Kalian berempat bersiaplah untuk mampus dan menjadi penyebab pertentangan antara perkumpulan kalian sendiri!"

Lauw Kang Hui tertawa dan pada saat itu muncullah seorang wanita cantik yang bukan lain adalah Ang I Moli Tee Kui Cu dan dua orang suhengnya dari Pek-lian-kauw, yaitu Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu.

Munculnya tiga orang ini disusul munculnya belasan orang Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang yang mengepung tempat itu!

"Omitohud....!"

Kata Loan Hu Hwesio ketika melihat orang-orang Pek-lian-kauw yang dapat dikenal dari gambar teratai putih di dada mereka.

"Kiranya Thian-li-pang bersekongkol pula dengan perkumpulan siluman jahat, agama palsu Pek-lian-kauw!"

"Kepung! Bunuh mereka!"

Lauw Kang Hui sudah memberi aba-aba dan dia sendiri sudah mencabut sebatang golok besar dan menyerang Loan Hu Hwesio!

Golok besar yang berat itu menyambar dengan cepat, berubah menjadi sinar perak yang amat kuat menyambar ke arah leher Loan Hu Hwesio.

Pendeta Siauw-lim-pai ini cepat mengelak dengan menundukkan muka dan menggeser kakinya sehingga tubuhnya mendorong ke kanan dan dari jurusan ini, lengan kirinya meluncur dan dari jari tangannya menghantam ke arah lambung lawan.

Lauw Kang Hui mengelebatkan goloknya menyambut hantaman ini sehingga terpaksa Loan Hu Hwesio menarik kembali lengannya yang diancam babatan golok, lalu kakinya yang menendang dengan cepat dan kuat ke arah perut lawan.

Hebat memang gerakan silat tangan kosong dari hwesio Siauw-lim-pai ini dan memang ilmu silat Siauw-lim-pai merupakan ilmu silat yang paling tua dan bahkan menjadi sumber daripada ilmu-ilmu silat lainnya.

Namun Lauw Kang Hui bukan seorang lemah.

Dia juga sudah mempelajari banyak macam ilmu silat, di antara ilmu-ilmu silat Siauw-lim-pai sehingga dia mengenal gerakan lawan, maka dia dapat menjaga diri dan membalas dengan dahsyat pula.

Terjadilah serang menyerang yang seru antara dua orang ini.

Akan tetapi ada beberapa orang anggauta Thian-li-pang yang membantu wakil ketua mereka sehingga hwesio Siauw-lim-pai ini dikeroyok dan terdesak hebat.

Dia hanya bersenjatakan kaki tangan dibantu dua ujung lengan bajunya yang longgar dan panjang.

Ang I Moli sudah menerjang Phoa Cin Su, jagoan Bu-tong-pai dengan pedangnya.

Phoa Cin Su menyambut dengan pedang pula dan dua orang ini pun segera bertarung dengan seru.

Seperti juga Lauw Kang Hui, wanita ini dibantu oleh lima orang anggauta Thian-li-pang sehingga tentu saja Phoa Cin Su segera terdesak.

Menghadapi Ang I Moli seorang saja dia sudah menemukan tanding yang tidak ringan, apalagi kini dikeroyok!

Ciang Tosu diserang oleh Kwan Thian-cu yang menggunakan golok, juga Kwan Thian-cu dibantu oleh lima orang anggauta Pek-lian-kauw sehingga tosu dari Kun-lun-pai itu pun terdesak hebat.

Sementara itu, Kui Thian-cu dan lima orang anggauta Pek-lian--kauw lainnya telah mengepung dan mengeroyok Go-bi Nung-jin yang bersenjata cangkul.

Memang Lauw Kang Hui yang mengirim surat tantangan kepada empat penguruan itu telah merencanakan siasatnya lebih dahulu sehingga kini empat orang itu terkurung dan terkeroyok seperti yang telah direncanakan.

Setelah usaha Thian-li-pang untuk membunuh Kaisar gagal, juga usaha mereka mengajak Siang Hong-houw bersekongkol membunuh Kaisar tidak berhasil bahkan mereka kehilangan Ciang Sun, tokoh Thian-li-pang yang tewas dalam usahanya membunuh Kaisar, Thian-li-pang lalu menggunakan siasat lain.

Para pimpinannya berkumpul dan mengatur rencana.

Pertama, mereka mengadakan persekutuan dengan Pek-lian Kauw, agama sesat yang juga merupakan perkumpulan yang memberontak terhadap pemerintah.

Dan kedua, mereka merencanakan siasat adu domba untuk mengacaukan dunia persilatan sehingga para pendekar dari empat perguruan silat yang besar akan saling bermusuhan dan tidak ada kesempatan lagi untuk menentang mereka dan membantu pemerintah kalau mereka melancarkan gerakan pemberontakan.

Demikianlah, surat tantangan kepada empat buah perkumpulan besar itu diatur dan kini para wakil empat perkumpulan itu dikepung dan dikeroyok, dipimpin oieh Lauw Kang Hui yang menjadi wakil Ketua Thian-li-pang.

Pek-lian-kauw mewakilkan kepada Ang I Moli, Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu bersama sepuluh orang anggauta Pek-lian-kauw untuk membantu gerakan menjebak para tokoh empat perkumpulan besar itu.

Seperti kita ketahui, Ang I Moli dan dua orang suhengnya itu melarikan diri dari kejaran Gangga Dewi yang dibantu Suma Ciang Bun.

Ia menculik Yo Han dan memba-wa anak itu melarikan diri.

Mereka berhasil lolos dari pengejaran dua orang sakti itu dan tiba di sarang Pek-lian-kauw yang kebetulan sekali menerima para pimpinan Thian-li-pang untuk mengadakan persekutuan.

Ketika empat orang wakil pimpinan para perguruan besar itu dikeroyok, Ang I Moli yang tidak pernah melepaskan Yo Han dari pengawasannya, menggantung anak itu di atas pohon!

Yo Han dapat melihat dan mendengar semua yang terjadi, akan tetapi walaupun hatinya merasa penasaran dan marah, dia tidak berdaya.

Kaki tangannya terbelenggu dan dia digantung jungkir balik di cabang pohon yang tinggi itu!

Dia hanya dapat menonton dan mendengarkan, dan hatinya seperti ditusuk-tusuk melihat betapa kejahatan mengganas tanpa dia dapat berbuat sesuatu.

Makin nampak olehnya betapa jahatnya orang-orang yang memiliki ilmu silat, dan betapa celaka orang-orang yang berada di pihak kebenaran apabila mereka menjadi pendekar silat.

Andaikata empat orang itu merupakan orang-orang biasa, petani-petani yang tidak pandai ilmu silat, tidak mungkin kini mereka dikeroyok oleh orang-orang yang baginya nampak seperti srigala-srigala yang haus darah itu!

Akhirnya terjadi apa yang dikhawatirkan Yo Han yang tidak berdaya itu.

Mula-mula Loan Hu Hwesio yang roboh.

Seperti juga tiga orang tokoh lainnya, setelah dikeroyok selama lima puluh jurus yang dipertahan-kannya dengan mati-matian, Loan Hu Hwesio sudah menderita luka-luka.

Pada suatu saat yang baik, dia berhasil memukulkan kedua tangannya ke arah dada Lauw Kang Hui dengan pengerahan tenaga sekuat-nya tanpa mempedulikan lagi perlindungan diri sendiri.

Dia ingin mengadu nyawa dengan wakil Ketua Thian-li-pang itu.

Pukulannya berhasil mengenai sasarannya dengan tepat sekali.

"Pukkk...!"

Kedua telapak tangan itu mengenai dada yang bidang dari Lauw Kaing Hui.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Loan Hu Hwesio ketika kedua telapak tangannya bertemu dengan benda yang keras.

dan kuat sekali.

Pada saat kedua tangannya menghantam dada, Lauw Kang Hui sama sekali tidak mengelak bahkan membarengi dengan gerakan goloknya ke arah lambung lawan.

Dan hanya sedetik setelah kedua tangan hwesio itu menghantam dada, ujung golok juga menyabet lambung dan merobek lambung perut Loan Hu Hwesio!

Lauw Kang Hui terhuyung ke belakang oleh pukulan itu, akan tetapi Loan Hu Hwesio terkulai roboh mandi darah!

Wakil Ketua Thian-li-pang itu tidak terluka karena di balik jubah merahnya, dia menggunakan baju ketat dari sulaman benang perak yang membuat tubuhnya kebal!

"Jangan bunuh dulu!"

Bentak Lauw Kang Hui kepada para pembantunya yang tadinya hendak menghujankan senjata karena marah.

Beberapa orang kawan mereka yang mengeroyok juga tadi dirobohkan hwesio yang lihai itu.

Robohnya Loan Hu Hwesio yang terluka parah disusul robohnya Ciang Tosu oleh Kwan Thian-cu dan teman-temannya Ciang Tosu roboh dengan luka parah di lehernya, membuat dia roboh pingsan dengan darah mengucur keluar dari luka itu.

Phoa Cin Su juga roboh oleh tusukan pedang Ang I Moli pada dadanya, sedangkan Go-bi Nung-jin yang tadi mengamuk dengan hebat, roboh pula oleh bacokan pedang Kui Thian-cu yang mengenai pinggangnya.

Seperti juga Lauw Kang Hui, tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu melarang anak buah mereka membunuh orang yang dikeroyok dan telah roboh terluka parah.

Kemudian, Lauw Kang Hui memberi isyarat kepada tiga orang sekutunya.

Mereka mengangguk.

Kwan Thian-cu lalu mengambil cangkul yang tadi diperguna-kan Go-bi Nung-jin sebagai senjata dan dengan senjata ini dia lalu menghantam ke arah kepala Ciang Tosu, tokoh Kun-lun-pai yang sudah roboh tak berdaya ini.

Tanpa dapat mengeluarkan keluhan lagi.

Ciang Tosu yang dihantam cangkul itu tewas dengan kepala luka besar oleh cangkul.

Kini Kui Thian-cu mengambil pedang milik Phoa Cin Su dan dengan pedang itu dia pun menyerang kepala Go-bi Nung-jin.

Tokoh Go-bi-pai ini pun tewas seketika dengan kepala terluka hebat oleh pedang itu.

Lauw Kang Hui yang tadi merobohkan Loan Hu Hwesio mempergunakan pedang milik Ciang Tosu dari Kun-lun-pai tadi untuk membunuh bekas lawannya itu dengan melukai kepalanya pula.

Kini tinggallah Poa Cin Su.

Karena mereka mengatur siasat agar empat orang saling bunuh sesuai dengan bunyi surat tantangan masing-masing, maka seharusnya Phoa Cin Su murid Bu-tong-pai terbunuh oleh murid Siauw-lim-pai yang mengirim surat tantangan.

Akan tetapi Loan Hu Hwesio tidak pernah menggunakan senjata, maka Ang I Moli merasa ragu-ragu bagaimana harus membunuh murid Bu-tong-pai itu.

"Mudah saja,"

Kata Lauw Kang Hui sambil tersenyum.

"Aku pernah mempelajari ilmu pukulan Kang-see-ciang (Tangan Pasir Baja) dari Siauw-lim-pai. Biar kupukul dia dengan ilmu itu."

Lauw Kang Hui lalu menghampiri tubuh Phoa Cin Su yang sudah tergolek dan terluka parah tanpa mampu bangkit itu.

Dia lalu menggerak-gerakkan jari tangan kanannya sehingga terdengar bunyi berkerotokan, lalu dipukulkannya telapak tangan kanannya ke arah kepala Phoa Cin Su.

Terdengar suara keras dan kepala itu menjadi retak, dan Phoa Cin Su tewas seketika.

Ada tanda telapak tangan dengan sebagian jari-jarinya pada pipi dan pelipis yang terpukul!

Biarpun dia harus beberapa kali memejamkan mata karena merasa ngeri, Yo Han dapat melihat semua itu.

Dia seorang anak yang cerdik, maka setelah melihat dan mendengar kesemuanya itu, dia pun mengerti apa yang menjadi siasat keji dari orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw.

Diam-diam dia merasa penasaran bukan main.

Bahaya besar mengancam keamanan negeri, pikirnya.

Tentu dua gerombolan penjahat yang bersekutu itu akan mengirimkan mayat-mayat itu sebagai bukti kepada perguruan masing-masing yang telah menerima surat tantangan dan dengan demikian maka empat perguruan besar itu akan saling bermusuhan!

Sungguh tipu muslihat yang amat jahat dan kejam.

Dia melihat betapa mereka membawa pergi mayat-mayat itu, akan tetapi dia tak dapat menahan kemarah-annya.

"Ang I Moli! Engkau telah membiarkan dirimu terseret ke dalam perbuatan yang paling keji dan jahat yang pernah kulihat! Apakah engkau tidak takut akan akibat dari perbuatanmu itu? Tuhan pasti akan menghukummu, Ang I Moli!"

Suara anak itu lantang sekali, mengejutkan Lauw Kang Hui yang tidak pernah tahu bahwa Ang I Moli datang membawa anak kecil yang kini digantung di pohon.

Dia menoleh dan melihat anak yang tergantung dengan kepala di bawah itu, dia terbelalak.

(Lanjut ke

Jilid 07) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07

"Moli, siapa dia?"

Ang I Moli tersenyum.

"Aih, jangan perhatikan dia. Dia itu punyaku!"

Wanita ini lalu meloncat ke atas pohon, melepaskan ikatan tangan kaki Yo Han dan mengempit tubuh anak itu lalu membawanya meloncat turun.

Sementara itu, ketika Ang I Moli sibuk menurunkan Yo Han tadi, Lauw Kang Hui mendengar dari dua orang tosu Pek-lian-kauw bahwa anak itu adalah seorang anak luar biasa dan Ang I Moli hendak menghisap darah anak itu untuk memenuhi persyaratannya melatih ilmu rahasianya.

Lauw Kang Hui merasa tertarik sekali, maka ketika Ang I Moli sudah menurunkan Yo Han, dia cepat menghampiri.

Kini Yo Han sudah diturunkan dan anak itu berdiri dengan gagah walaupun tubuhnya terasa nyeri semua dan kepalanya masih pening karena terlalu lama digantung terbalik.

Lauw Kang Hui melihat sepasang mata yang begitu jernih akan tetapi juga tajam tanpa dibayangi takut sedikit pun.

"Anak baik, siapa namamu?"

Tanyanya.

"Namaku Yo Han. Locianpwe (Orang Tua Gagah) adalah seorang yang berkedudukan tinggi, memiliki ilmu kepandaian yang tinggi pula, akan tetapi mengapa melakukan perbuatan yang demikian keji dan pengecut?"

Kembali Lauw Kang Hui terbelalak dan memandang penuh kagum.

Bukan main anak ini!

Begitu beraninya.

Dan sinar mata itu demikian jernih.

Suara itu demikian lembut.

"Moli, titipkan anak itu kepada ketua suhengmu. Aku ingin bicara penting denganmu,"

Kata Lauw Kang Hui.

"Ada urusan apakah, Lauw Pangcu (Ketua Lauw)?"

Tanya Moli setelah mereka pergi agak jauh agar percakapan mereka tidak didengarkan orang lain, terutama Yo Han.

Biarpun dia wakil Ketua Thian-li-pang, namun dia selalu disebut Lauw Pangcu.

"Kuharap engkau suka berterus terang saja, Moli. Anak itu, Yo Han itu, untuk apakah kau tawan?"

Ang I Moli tersenyum dan nampak deretan giginya yang putih.

"Aih, itu urusan pribadiku, Lauw Pangcu. Kenapa sih engkau ingin sekali mengetahui urusan pribadi orang?"

Ia tersenyum dan melirik manja.

"Katakan saja terus terang. Bukankah engkau ingin menghisap darahnya untuk memenuhi persyaratan engkau mempelajari sebuah ilmu rahasia?"

Ang I Moli terbelalak, lalu menoleh ke arah dua orang suhengnya yang berdiri di sana sambil menjaga Yo Han.

"Hemm, tentu dua orang lancang mulut itu yang membocorkannya kepadamu!"

"Apa salahnya, Moli? Kita bukan orang lain. Katakan saja terus terang."

"Benar, Lauw Pangcu."

"Kalau begitu, biarlah kutukar dengan seorang anak laki-laki lain untukmu. Yo Han itu berikan saja kepadaku!"

Ang I Moli menatap tajam wajah wakil ketua itu dengan penuh selidik. Kemudian dengan alis berkerut ia berkata.

"Hemm, tentu saja aku keberatan, Lauw Pangcu. Anak itu sama harganya dengan dua belas orang perjaka remaja! Sayang dia masih terlalu kecil. Aku harus menanti satu dua tahun lagi...."

"Kalau begitu, biar kutukar dengan dua belas orang pemuda remaja yang tampan dan sehat! Dan akan kupilihkan mereka yang sudah agak dewasa sehingga engkau tidak perlu menanti sampai satu dua tahun lagi. Anak itu bertingkah dan tentu akan repot sekali menawannya selama satu dua tahun. Bagaimana?"

Tawaran ini menarik hati Moli.

Memang ia seringkali merasa jengkel dengan Yo Han.

Setelah melarikan anak ini selama kurang lebih tiga bulan, ia sampai bosan mencoba untuk menjatuhkan anak ini ke dalam pelukannya.

Berbagai macam cara sudah ia pergunakan.

Dengan sihir bantuan dua orang suhengnya.

Dengan ramuan obat dan racun.

Dengan totokan.

Dengan siksaan.

Semua tidak ada gunanya.

Sihir dan racun agaknya tidak mempengaruhi anak itu.

Juga ancaman, siksaan dan bujuk rayu tidak mempan!

Untuk mendapatkan darah anak itu melalui penghisapan darahnya melalui mulut begitu saja, selain ia merasa muak juga daya gunanya banyak berkurang.

Ia membutuhkan hawa murni dari tubuh anak itu.

"Hemm, usulmu menarik juga, Lauw Pangcu. Akan tetapi kalau aku sudah berterus terang, kuharap engkau juga suka berterus terang. Untuk apakah engkau menginginkan Yo Han?"

Lauw Kang Hui menghela napas panjang.

"Engkau tahu siapa kini yang paling tinggi kedudukan atau tingkatnya di Thian-li-pang?"

"Tentu saja Ouw Pangcu, suhengmu."

Jawab Ang I Moli tanpa ragu lagi.

"Kalau bukan Sang Ketua yang paling tinggi tingkat dan kedudukannya, habis siapa lagi."

"Bukan dia."

"Ah, aku tahu. Tentu guru kalian, Locianpwe Ban-tok Mo-ko (Iblis Selaksa Racun)! Akan tetapi dia sudah tidak lagi mengurus Thian-li-pang, bukan?"

"Memang Suhu tidak lagi mengurus Thian-li-pang dan tingkatnya lebih tinggi daripada suheng dan aku. Akan tetapi yang kumaksudkan bukan Suhu."

"Wah, kalau begitu aku tidak tahu lagi."

"Yang paling tinggi tingkatnya di antara kami di Thian-li-pang adalah Su-pek (Uwa Guru) Thian-te Tok-ong (Raja Racun Langit Bumi)!"

"Ahhh....? Tapi.... bukankah beliau sudah.... sudah tidak ada lagi?"

"Tidak ada di dunia ramai maksudmu. Akan tetapi beliau masih hidup. Dan Supek yang baru-baru ini memesan kepadaku bahwa kalau aku bertemu dengan seorang anak yang berbakat luar biasa, aku harus membawa anak itu menghadap Supek. Nah, ketika aku melihat Yo Han, aku tertarik dan siapa tahu, anak seperti itulah yang dicari Supek."

"Lauw Pangcu, aku senang sekali dapat membantu Locianpwe Thian-te Tok-ong! Siapa tahu kelak beliau suka membantuku kembali sebagai imbalan jasaku."

"Hemm, bantuan apakah yang kau kehendaki, Moli?"

"Ilmu rahasia yang akan kulatih merupakan ilmu yang mengandung hawa beracun. Aku ingin memohon bantuan Locianpwe Thian-te Tok-ong untuk membuatkan obat penawarnya."

"Baik, akan kusampaikan kepada Supek kalau dia dapat menerima Yo Han, tentu dia akan suka membantu."

Tepat seperti telah diduga oleh Yo Han, mayat keempat orang tokoh perguruan-perguruan silat besar itu dikirim ke perguruan masing-masing.

Hanya bedanya, bukan seluruh mayatnya yang dikirim, melainkan hanya kepalanya saja!

Kepala-kepala itu diberi obat, dengan cara direndam sehingga tidak membusuk, dimasukkan ke dalam guci besar, direndam dan ditutup rapat, dimasukkan peti lalu dikirimkan ke perguruan masing-masing melalui piauw-kiok (kantor pengiriman barang).

Dapat dibayangkan betapa gemparnya para perguruan itu ketika menerima kiriman kepala.

Dan petugas pengiriman itu mengaku sesuai dengan pesanan pengirim peti itu.

Pengirim peti ke Siauw-lim-si (Kuil Siauw-lim) mengatakan bahwa orang yang mengirim peti itu mengaku sebagai seorang murid Kun-Lun-pai.

Petugas pengiriman peti untuk Kun-lun-pai mengaku disuruh seorang murid Go-bi-pai.

Petugas pengiriman peti untuk Go-bi-pai mengaku disuruh seorang murid Bu-tong-pai.

Petugas pengiriman peti untuk Bu-tong-pai disuruh seorang murid Siauw-lim-pai.

Tentu saja para murid perguruan-perguruan silat itu menjadi marah bukan main.

Mula-mula para ketua masing-masing memang masih meragukan kebenaran keterangan para pengirim barang itu.

Ketika mereka menerima tantangan-tantangan itu, para ketua mengirim murid-murid terpandai untuk memenuhi undangan di Bukit Naga, untuk membuktikan sendiri apakah benar ada tantangan seperti dalam surat yang mereka terima.

Kini, murid-murid itu kembali tinggal kepala saja dan ketika mereka melakukan pemeriksaan jelas bahwa murid-murid itu memang tewas oleh senjata lawan dari perguruan yang mengirim tantangan.

Biarpun sudah terjadi hal ini, tetap saja para pimpinan perguruan-perguruan itu masih belum yakin benar.

Mereka adalah orang-orang sakti yang tahu benar bahwa perguruan yang mengirim tantangan adalah golongan bersih, Para pendekar yang tidak pernah bermusuhan dengan mereka, bahkan bersahabat.

Bagaimana tiba-tiba saja timbul tantangan, bahkan kini melakukan pem-bunuhan terhadap murid yang mereka utus untuk memenuhi undangan di Bukit Naga itu?

Bagaimana-pun juga, terbukti bahwa murid mereka tewas.

Biarpun para pimpinan masih ragu-ragu, namun para muridnya tak dapat menahan lagi kemarahan dan sakit hati mereka.

Terjadilah bentrokan-bentrokan di antara empat partai persilatan besar itu.

Setiap kali terjadi pertemuan, murid-murid Kun-lun-pai menyerang murid-murid Go-bi-pai.

Go-bi-pai menyerang Bu-tong-pai, Bu-tong-pai menyerang Siauw-lim-pai dan sebaliknya Siauw-lim-pai menyerang Kun-lun-pai.

Terjadi beberapa kali bentrokan yang mengakibatkan jatuhnya korban, baik yang terluka maupun yang tewas.

Dan setelah terjadi bentrokan-bentrokan, mau tidak mau para pimpinan partai masing-masing ikut pula terseret.

Dan mulailah terjadi pertentangan di antara empat partai persilatan besar itu, sesuai dengan apa yang diinginkan Thian-li-pang yang bersekongkol dengan Pek-lian-kauw!

Yo Han diserahkan kepada Lauw Kang Hui oleh Ang I Moli dan sebagai gantinya, wanita iblis itu oleh Lauw Kang Hui disuguhi pemuda-pemuda remaja seperti yang dijanjikannya.

Remaja-remaja itu satu demi satu mati kehabisan darah dalam pelukan iblis betina itu.

Yo Han diajak ke pusat Thian-li-pang oleh Lauw Kang Hui.

Dia diperlakukan dengan baik.

Bahkan Lauw Kang Hui membujuknya dan berusaha menyadarkan anak itu bahwa Thian-li-pang adalah perkumpulan patriot yang hendak membebaskan tanah air dan bangsa dari tangan penjajah Mancu.

Namun, semua itu percuma.

Yo Han tidak dapat melupakan peristiwa mengerikan yang dilihatnya di Bukit Naga dan bagaimanapun juga, dia tetap menganggap bahwa orang-orang Thian-li-pang bukanlah orang-orang baik.

Penuh tipu muslihat dan kejam.

Dia sudah banyak membaca tentang para pahlawan yang dengan setulusnya hati berjuang membela tanah air dan bangsa, tanpa pamrih untuk diri sendiri.

Akan tetapi, apa yang diperlihatkan orang-orang Thian-li-pang di Bukit Naga itu tidak ada hubungannya dengan perjuangan membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah!

Bahkan Thian-li-pang mengadu domba antara perguruan-perguruan silat besar yang terdiri dari bangsa sendiri!

Setiap orang pendekar pasti tidak setuju dengan tindakan Thian-li-pang itu.

Dan Thian-li-pang bersekutu dengan orang-orang seperti Ang I Moli dan dua orang suhengnya, tokoh-tokoh Pek-lian-kauw.

Padahal, dia sendiri sudah membuktikan sendiri betapa jahatnya Ang I Moli!

Oleh karena itu, biar dia diperlakukan dengan baik oleh Lauw Kang Hui dan dibujuk dengan omongan manis, tetap saja dia tidak percaya kepada perkumpulan ini.

Di dalam perkampungan Thian-li-pang Yo Han melihat bahwa perkumpulan itu nampak kuat, dengan perkampungan yang dikelilingi tembok tinggi dan tebal seperti benteng.

Perkampungan di lereng bukit itu luas, di dalamnya terdapat banyak bangunan dan tidak kurang dari tiga ratus orang anak buah Thian-li-pang tinggal di situ.

Mereka setiap hari latihan silat dan berbaris.

Ketika dia dihadapkan kepada Ketua Thian-li-pang, yaitu Ouw Pangcu (Ketua Ouw) atau Ouw Ban yang berusia enam puluh tahun, kakek itu memandang kepada Yo Han seperti orang menaksir seekor kuda yang akan dibelinya.

"Namamu Yo Han?"

Tanya Sang Ketua suaranya parau dan besar.

Yo Han memandang kepada kakek tinggi kurus yang mukanya pucat kekuningan seperti orang berpenyakitan itu.

Dia mengangguk.

"Benar, namaku Yo Han."

"Engkau mau menjadi murid Thian-li-pang?"

Tanya pula ketua itu. Yo Han memandang-nya dengan sinar mata tajam dan dengan tegas dia menggeleng kepala lalu menjawab.

"Tidak! Aku tidak mau menjadi murid Thian-li-pang yang jahat, kejam dan pengecut!"

Ouw Ban membelalakkan matanya dan menoleh kepada Lauw Kang Hui.

"Dan kau bilang anak ini luar biasa?"

Lauw Kang Hui tersenyum.

"Suheng, bukankah sikapnya yang pemberani ini menunjukkan keluarbiasaannya?"

"Huh, kita lihat saja sampai di mana keluarbiasaannya. Bocah sombong, coba kau sambut ini!"

Tiba-tiba saja tangan kiri kakek itu bergerak menampar dengan cepat bukan main.

Gerakan tangannya itu bahkan tidak nampak saking cepatnya tahu-tahu telapak tangan itu telah mengenai tengkuk Yo Han.

"Plakk!"

Tubuh Yo Han yang duduk di kursi itu terjungkal dan anak itu roboh pingsan.

"Suheng! Kau membunuhnya?"

Tanya Cauw Kang Hui dengan kaget dan dia meloncat lalu berlutut memeriksa anak itu.

"Hemm, kalau dia mati pun lebih baik daripada engkau dimarahi Supek. Lihat, anak macam itu kau katakan luar biasa?"

Kata Ketua Thian-li-pang.

Lauw Kang Hui mendapat kenyataan bahwa Yo Han hanya pingsan saja, maka dia pun bangkit lagi berdiri dan memandang kepada kakak seperguruannya.

"Suheng, keluarbiasaan anak ini bukan hanya pada sikapnya yang gagah berani, tabah dan dewasa, akan tetapi juga menurut keterangan Ang I Moli, anak ini kebal terhadap racun dan tidak dapat dipengaruhi sihir."

"Ha-ha-ha, apakah engkau tidak mengenal orang macam apa adanya Ang I Moli, Sute? Engkau dikibuli saja! Masa anak macam ini ditukar dengan dua belas orang pemuda remaja yang pilihan. Engkau sungguh bodoh, Sute."

"Kurasa ia tidak berani mempermainkan aku, Suheng. Bagaimanapun juga, biar dia kubawa menghadap Supek dan biarlah Supek yang menentukan apakah anak ini memenuhi syarat ataukah tidak."

"Sute, agaknya engkau berusaha keras untuk menyenangkan hati Supek, ya? Engkau hendak menyuap-nya agar engkau memperoleh hadiah ilmu baru sehingga tingkat kepandaianmu akan melampaui aku?"

Lauw Kang Hui yang tadinya sudah duduk kini bangkit berdiri lagi sambil memandang kepada wajah suhengnya dengan mata terbelalak.

"Ehh? Kenapa engkau menyangka buruk seperti itu, Suheng? Suheng sendiri juga mendengar pesanan Supek itu, untuk mencarikan seorang anak yang luar biasa agar Supek dapat menggemblengnya dan kelak akan makin memperkuat Thian-li-pang."

"Kalau begitu, biar kucoba lagi dia! Apakah benar dia kebal racun!"

Ketua Thian-li-pang itu mengambil sesuatu dari saku jubahnya.

"Suheng, jangan! Engkau bisa membunuhnya dengan Ang-tok-ting (Paku Beracun Merah) itu!"

Kata Lauw Kang Hui.

"Lebih baik dicoba kekebalannya terhadap, sihir saja."

Lauw Kang Hui maklum bahwa suhengnya itu merasa iri kalau sampai ada anak lain diterima menjadi murid Thian-te Tok-ong karena suhengnya itu ingin sekali agar puteranya sendiri yang mewarisi ilmu-ilmu yang ampuh dari supek mereka.

Akan tetapi supek mereka menganggap bahwa Ouw Cun Ki, putera suhengnya yang berusia lima belas tahun itu tidak cukup berbakat.

Akan tetapi Ouw Ban yang memang berniat membunuh Yo Han sudah meluncurkan sebatang paku ke arah leher anak yang masih rebah di atas lantai itu.

Sinar merah kecil menyambar dan Lauw Kang Hui menahan seruannya dan merasa putus harapan karena serangan itu tentu akan membunuh Yo Han.

Akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba saja Yo Han siuman dari pingsannya dan anak yang tadinya sama sekali tidak bergerak itu bangkit duduk dan gerakan yang tidak disengaja ini membuat sambaran paku tidak mengenai sasaran!

Paku itu lewat dekat lehernya dan menancap ke lantai bahkan amblas ke dalam dan tidak nampak lagi!

"Ehhh....?"

Ouw Ban terbelalak kaget, akan tetapi dia juga merasa penasaran lalu tangannya bergerak ke saku jubahnya lagi.

"Suheng, tidak cukupkah itu?"

Lauw Kang Hui memegang lengan suhengnya, mencegah suhengnya menyerang lagi.

"Tidak kau lihat betapa luar biasanya itu?"

"Huh, hanya kebetulan saja dia siuman!"

"Sama sekali tidak kebetulan. Nampaknya kebetulan akan tetapi justeru yang kebetulan itulah yang luar biasa. Suheng, jangan ganggu dia. Kalau Supek menolaknya, baru Suheng boleh lakukan apa saja terhadap dirinya."

"Sute, aku masih penasaran!"

Kata Ouw Ban.

"Suheng, jangan!"

Cegah Lauw Kang Hui.

Suheng dan sute atau ketua dan wakilnya itu bersitegang dan pada saat itu terdengar suara batuk-batuk di belakang mereka.

Dua orang itu mengenal suara ini dan cepat mereka membalik, lalu keduanya menjatuhkan diri berlutut.

"Suhu....! Sudah lama sekali Suhu tidak meninggalkan kamar...."

Karena Yo Han sudah siuman dan berdiri, dia memandang kepada kakek yang baru muncul.

Seorang kakek yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahun lebih.

Rambutnya yang sudah berwarna kelabu itu digelung ke atas seperti rambut pendeta tosu, yang menyolok pada wajahnya itu adalah sepasang alisnya yang amat tebal dan panjang.

Pandang matanya sayu seperti orang mengantuk.

Mendengar dua orang ketua Thian-li-pang itu murid kakek ini, Yo Han maklum bahwa tentu kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi!

"Hemm, Ouw Ban dan Lauw Kang Hui,"

Kata kakek itu sambil mengelus jenggotnya dan memandang kepada dua orang muridnya itu silih berganti.

"Entah mengapa aku ingin sekali keluar kamar dan begitu tiba di sini aku melihat kalian bertengkar dan bersitegang. Heran, kalau Thian-li-pang dipimpin oleh kalian berdua, lalu kalian saling bertengkar, apa akan jadinya dengan perkumpulan kita?"

Suara kakek itu halus dan ramah, akan tetapi mengandung teguran keras.

"Maaf, Suhu. Teecu berdua tidak bertengkar, hanya teecu ingin menguji kebenaran keterangan sute tentang anak ini."

"Benar, Suhu. Sebetulnya teecu hanya ingin mencegah suheng membunuh anak ini karena teecu hendak membawanya menghadap Supek, yang telah memesan teecu untuk mencarikan seorang anak luar biasa."

"Anak luar biasa....?"

Ban-tok Mo-ko, kakek itu kini memandang Yo Han penuh perhatian.

"Apanya yang luar biasa pada anak ini?"

"Itulah, Suhu. Teecu juga menganggap bahwa ,anak ini tidak ada apa-apanya yang luar biasa. Sekali tampar saja dia tadi roboh pingsan. Akan tetapi Sute...."

"Suhu, Suheng tidak mau mengerti. Anak ini memang luar biasa. Dia kebal terhadap racun dan pengaruh sihir,"

Kata Lauw Kang Hui.

"Eh? Benarkah?"

Kata kakek itu dan kini sepasang mata yang sayu itu mengeluarkan sinar ketika dia mengamati wajah Yo Han.

"Teecu hendak menguji kekebalannya itu dengan paku merah, akan tetapi Sute mencegahnya, maka tadi teecu berdua kelihatan seperti bertengkar, Suhu."

Kakek itu menggerakkan tangan memberi isarat kepada dua orang muridnya agar tidak bersuara, kemudian diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihirnya, sepasang mata yang biasanya sayu itu kini mencorong penuh wibawa seperti hendak menembus kepala Yo Han melalui sepasang mata anak itu, kemudian terdengar suaranya menggetar, lirih mendesis, dan jelas sekali.

"Anak baik, siapa namamu?"

Yo Han adalah seorang anak yang sudah mengenal sopan santun.

Telah menjadi kebudayaan sejak jaman dahulu untuk menghormati orang yang lebih tua, apalagi orang setua kekek itu.

Karena pertanyaan kakek itu ramah dan halus, dia pun menjawab dengan sikap hormat.

"Nama saya Yo Han, Kek."

Bagi orang yang biasa mempergunakan kekuatan sihir, jawaban ini saja sudah menunjukkan bahwa korbannya telah masuk perangkap dan tentu akan mentaati segala perintah.

Kakek itu memandang lebih tajam dan suaranya semakin berwibawa ketika dia berkata, dengan nada memerintah walaupun masih ramah dan halus.

"Yo Han, kuperintahkan padamu. Hayo cepat engkau berlutut dan menyembah kepadaku!"

Orang yang terkena pengaruh sihir yang amat kuat ini tentu di luar kehendaknya dan kesadarannya sendiri akan menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.

Akan tetapi, betapa kaget dan herannya hati kakek tokoh besar Thian-lipang itu.

Anak itu sama sekali tidak mentaati perintahnya, hanya tetap berdiri dan memandang kepadanya dengan sepasang matanya yang lebar dan jernih.

"Maafkan, Kek, kalau aku tidak dapat berlutut menyembah kepadamu. Engkau bukan guruku, bukan orang tuaku, bahkan bukan pula kakekku."

Kini barulah Ouw Ban percaya akan keterangan sutenya.

Juga Ban-tok Mo-ko menggeleng kepalanya, tak habis heran.

Apakah kekuatan sihirnya telah punah dan kini dia telah menjadi lemah?

Padahal, selama dia mengundurkan diri dari urusan perkumpulan dan berdiam di kamarnya, dia memperbanyak latihan samadhi sehingga sepatutnya kalau kekuatan sihirnya semakin bertambah.

"Lauw Kang Hui dan Ouw Ban, kalian bangkitlah dan pandang aku!"

Dua orang murid itu bangkit berdiri dan memandang kepada suhu mereka dengan patuh. Dan kini kakek itu berseru dengan nada memerintah.

"Lauw Kang Hui dan Ouw Ban, sekarang kalian duduklah di lantai dan menangis!"

Dalam keadaan wajar, Walaupun yang memerintah itu suhu mereka sendiri, tentu dua orang itu tidak akan mau mentaati begitu saja.

Mereka adalah ketua dan wakil ketua Thian-li-pang, tentu mereka tidak mau kalau disuruh menangis seperti anak kecil tanpa sebab, bahkan seperti orang gila.

Akan tetapi karena mereka sudah dicengkeram pengaruh sihir yang amat kuat, begitu mendengar perintah Ban-tok Mo-ko, mereka lalu menjatuhkan diri di atas lantai dan keduanya menangis seperti dua orang anak kecil kehilangan barang mainan!

Tentu saja Yo Han yang tidak mengerti apa artinya itu semua, melihat dua orang kakek berusia enam puluh dan enam puluh lima tahun kini menangis mengguguk seperti anak-anak kecil tanpa sebab, menjadi terheran-heran dan juga penasaran kepada orang yang memerintah kedua orang ketua itu.

"Kek, sungguh tidak pantas sekali apa yang kau lakukan ini! Kenapa engkau menghina murid-murid sendiri seperti ini?,"

Yo Han berkata dengan nada menegur.

Ban-tok Mo-ko terkejut dan merasa heran bukan main.

Dia menggerakkan tangannya ke arah dua orang muridnya dan berkata dengan suara tenang.

"Kalian bangkitlah!"

Dua orang pimpinan Thian-li-pang itu bangkit dan mereka seperti baru bangun dari tidur, nampak bingung dan tidak tahu apa yang telah terjadi.

"Yo Han, katakan mengapa tidak pantas dan menghina? Ban-tok Mo-ko bertanya kepada anak itu.

"Mereka ini adalah ketua dan wakil ketua perkumpulan besar dan juga murid-muridmu sendiri. Akan tetapi kenapa engkau menyuruh mereka menangis seperti anak-anak kecil? Bukankah itu tidak pantas dan menghina namanya?"

Barulah dua orang pimpinan itu tahu bahwa tadi mereka dipergunakan oleh guru mereka untuk menguji kekuatan sihirnya dan ternyata ilmu sihir suhu mereka masih ampuh.

Namun, tadi jelas bahwa ilmu sihir itu tidak mempan terhadap Yo Han!

Ban-tok Mo-ko juga menyadari hal ini dan diam-diam dia merasa heran dan kagum bukan main.

"Kang Hui, sebaiknya ajak anak ini menghadap supekmu. Biar dia yang menentukan!"

Mendengar ini, Lauw Kang Hui merasa girang sekali.

Memang benar seperti dugaan Ouw Ban tadi, dia mengharapkan hadiah dengan menyerahkan anak luar biasa ini kepada supeknya, yaitu hadiah sebuah ilmu.

Bukan karena dia ingin mengungguli suhengnya, melainkan untuk kemajuannya sendiri.

"Mari Yo Han, kita menghadap supek!"

Katanya sambil menggandeng tangan anak itu dan menariknya pergi.

Karena tidak berdaya, walaupun hatinya menolak, namun Yo Han tidak dapat membantah dan dia pun hanya menurut saja.

Anak ini memang memiliki bakat selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.

Imannya kuat karena sejak kecil dia ditinggal ayah ibunya dan Tuhan menjadi gantungan hidupnya, menjadi tumpuan harapannya dan dia selalu menyerahkan jiwa-raganya ke tangan Tuhan, penuh kepasrahan.

Maka, menghadapi apa pun dia tidak merasa gentar karena di dasar hatinya terkandung keyakinan akan kekuasaan Tuhan, bahwa kalau Tuhan menghendaki dia harus mati sekalipun, tidak ada kekuasaan lain yang akan mampu menghalanginya.

Oleh karena dia pasrah dan menghadapi maut pun dia tidak gentar.

Lauw Kang Hui membawa Yo Han ke bagian sudut paling belakang dari perkampungan Thian-li-pang yang ternyata amat luas itu.

Bagian belakang itu merupakan puncak bukit dan penuh dengan jurang dan guha.

Di depan sebuah guha besar, Lauw Kang Hui berhenti sambil tetap memegang tangan Yo Han.

Dia tahu akan keadaan luar biasa anak ini, maka dia tidak berani melepaskannya takut kalau-kalau anak itu akan mampu meloloskan diri.

Setelah tiba di depan guha, Lauw Kang Hui menghadap ke arah guha, dan menarik tubuh Yo Han untuk bersama dia berlutut di atas tanah.

Yo Han tidak mampu membantah karena tangannya ditarik ke bawah, dia pun ikut berlutut di sebelah Lauw Kang Hui walaupun dia tidak bermaksud untuk memberi hormat ke arah guha.

Maka ketika wakil ketua Thian-li-pang itu mengangkat-angkat kedua tangan depan dada, dia pun diam saja, hanya memandang penuh perhatian ke arah guha.

Guha itu lebarnya ada sepuluh meter dan nampak terawat bersih seperti rumah saja.

Ada pintu di kanan kiri, akan tetapi di bagian tengah terbuka dan nampak menghitam gelap.

"Supek yang mulia, teecu Lauw Kang Hui datang menghadap!"

Akan tetapi suara itu bergema di dalam guha dan tidak ada jawaban, juga tidak nampak gerakan apa pun.

Lauw Kang Hui menanti sejenak, maklum bahwa supeknya memang tidak pernah mau diganggu, tidak pernah mau berhubungan dunia di luar guha kalau tidak ada keperluan yang teramat penting.

"Supek, teecu datang mengajak seorang anak luar biasa seperti yang pernah Supek pesan kepada teecu!"

Kembali hening sejenak.

Tiba-tiba terdengar suara angin dari dalam guha dan tiba-tiba saja tubuh Yo Han tersedot ke arah guha.

Anak itu mencoba untuk mempertahankan dirinya, akan tetapi tubuhnya terguling-guling seperti bola saja menggelinding ke arah guha dan lenyap ditelan kegelapan guha.

Tak lama kemudian terdengar suara yang jenaka diba-rengi tawa.

"Heh-heh-heh, bagus sekali, Kang Hui. Engkau boleh pergi sekarang!"

"Maaf, Supek. Teecu mendapatkan anak ini dari Ang I Moli, akan tetapi teecu sudah berjanji kepadanya untuk mohon bantuan Supek memberi obat penawar dari hawa beracun pukulan yang sedang dilatihnya."

"Heh-heh, Si Iblis Betina Cilik Ang I Moli banyak tingkah! Pukulan apa yang sedang ia latih itu?"

"Katanya ilmu itu disebut Toat-beng-Tok-hiat (Darah Beracun Pencabut Nyawa)."

"Wah-wah-wah, keji sekali! Untuk menguasai Ilmu itu ia harus memperoleh hawa murni dan darah perjaka-perjaka remaja yang sehat!"

"Tadinya anak ini yang akan dijadikan korban. Katanya mengorbankan seorang saja cukup karena anak ini lebih berharga daripada dua belas orang remaja biasa."

"Huh, iblis betina licik. Akan tetapi kalau sampai tiga hari anak ini masih di sini, berarti aku cocok dengan dia dan boleh kau serahkan obat penawar itu kepadanya. Nah, sekarang pergilah!"

"Maaf, Supek. Kalau Supek berkenan dengan anak yang teecu bawa ke sini, teecu mohon sedikit petunjuk Supek agar teecu memperoleh kemajuan dalam ilmu silat teecu."

"Heh-heh-heh-heh, engkau orang tamak! Tapi kalau anak ini memang menyenangkan hati, kelak akan kuajarkan sebuah ilmu kepadamu."

"Terima kasih, Supek. Terima kasih!"

Kata Lauw Kang Hui sambil memberi hormat lalu dia bergegas pergi sebelum kakek aneh itu membatalkan janjinya.

Sementara itu, Yo Han yang menggelinding seperti disedot tenaga yang amat kuat, kini tiba di dalam guha, masih duduk di lantai guha di dekat sepasang kaki yang kurus dan telanjang karena celana pemilik kaki itu hanya sampai ke lutut.

Kaki itu memakai sandal yang amat sederhana, hanya sepotong kulit tebal diikatkan pada kaki secara kasar, di masing-masing kaki.

Yo Han merasa penasaran dan juga marah sekali.

Dia adalah seorang anak yang pernah menjadi murid suami isteri yang sakti, maka biarpun dia tidak pernah berlatih ilmu silat, Namun pengetahuannya akan ilmu silat sudah cukup mendalam.

Dia tahu bahwa pemilik kaki ini telah mempergunakan semacam ilmu yang aneh untuk menariknya dari luar gua.

Semacam sinkang (tenaga sakti) yang sudah demikian tinggi tingkatnya sehingga Si Pemilik tenaga itu dapat mempergunakan seenaknya saja dapat untuk menyedot seperti tadi!

Dan dia pun tahu bahwa orang ini tentu lihai bukan main.

Akan tetapi dia tidak takut, bahkan marah karena merasa dipermainkan.

Dia hendak bangkit berdiri dan memprotes, akan tetapi sungguh aneh, dia tidak mampu bangkit berdiri!

Baru setelah Lauw Kang Hui pergi, kakek itu terkekeh dan tiba-tiba Yo Han merasa leher bajunya dicengkeram tangan yang kecil, lalu tubuhnya diangkat dan dia pun sudah di jinjing pergi memasuki guha itu yang ternyata di sebelah dalamnya amat luas, Seperti sebuah rumah gedung saja dengan dua buah kamar dan berikut pula ruangan duduk, dapur dan kamar mandi lengkap!

Juga di sebelah dalam guha itu tidak gelap seperti nampak dari luar karena selain bagian atasnya terdapat lobang sehingga sinar matahari dapat masuk, juga guha itu menembus ke terowongan belakang dari mana datang pula sinar matahari.

Belum lagi adanya lampu-lampu gantung.

Yo Han dibawa masuk ke dalam ruangan yang terang sekali dan dia lalu dilepas oleh tangan yang menjinjingnya.

Ketika dia turun, dia membalik dan menghadapi orang yang membawanya ke dalam guha.

Baru sekarang dia dapat melihat kakek itu dan diam-diam Yo Han terkejut.

Seorang kakek yang tua renta, ada delapan puluh tahun usianya.

Rambutnya putih seperti kapas, tinggal sedikit saja sehingga di bagian tengah kepalanya botak mengkilat.

Tubuhnya kecil pendek.

Pakaiannya sederhana seperti pakaian kanak-kanak, dengan celana setinggi lutut dan baju yang lengannya juga hanya sampai di siku-nya.

Kaki dan tangan yang menonjol keluar itu nampak kecil kurus seperti kaki tangan anak-anak.

Wajah kakek itu pun kecil namun ketuaannya karena keriput.

Matanya tajam dan lincah, dan mulutnya selalu menyeringai, memperlihatkan mulut yang ompong tanpa gigi secuil pun!

Mereka saling pandang, berdiri berhadapan dan kakek itu hanya lebih tinggi sekepala saja dibandingkan Yo Han.

Sampai lama mereka saling berpandangan dan diam-diam Yo Han merasa heran.

Kakek ini sama sekali tidak mendatangkan kesan buruk atau jahat.

Sinar mata yang tajam lincah itu nampak demikian lembut.

Bahkan kakek ini jauh berbeda di bandingkan Ban-tok Mo-ko.

"Heh-heh, aku dengar dari sini tadi bahwa namamu Yo Han?"

Tanya kakek itu, dan suaranya seperti suara anak-anak pula, demikian ringan dan belum pecah.

Yo Han kagum.

Dari tempat ini, cukup jauh dari tempat dia bicara dengan Ban-tok Mo-ko dan dua orang muridnya tadi, kakek ini dapat mendengarkan!

"Benar, Locianpwe (orang Tua Pandai), namaku Yo Han,"

Jawabnya dan dia bersikap hormat karena dia maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang amat sakti.

"Heh-heh, dan engkau anak luar biasa?"

Tanya kakek itu pula.

Yo Han merasa kesal.

Hanya itu saja yang dibicarakan orang!

Dia pun tanpa diminta menghampiri sebuah dipan dan naik, lalu duduk bersila di atas dipan itu, mulutnya cemberut.

"Orang-orang itu mengada-ada saja, Locianpwe. Aku bernama Yo Han. Yatim piatu, hidup sebatang kara saja di dunia ini, tidak bisa apa-apa, dan orang-orang mengatakan aku anak luar biasa, dan aku dijadikan rebutan! Sungguh aneh orang-orang tua di dunia ini, seperti orang gila saja. Aku ini manusia biasa, hanya ingin melanjutkan hidup wajar dan tentram, tidak senang diganggu dan tidak senang pula menggangu."

Kakek itu terkekeh dan tiba-tiba Yo Han melihat hal yang aneh.

Kakek itu tidak membuat gerakan meloncat atau berjalan, akan tetapi tahu-tahu tubuhnya melayang ke atas dipan dan kakek itu sudah pula duduk bersila di depan Yo Han.

Akan tetapi anak itu sudah terlalu banyak melihat kehebatan ilmu kepandaian yang dipamerkan orang kepadanya sehingga dia tidak kelihatan heran, bahkan acuh saja.

"Heh-heh-heh, aku yakin Kang Hui tidak akan salah pilih. Dan biasanya cermat dan dia haus akan ilmu baru dariku. Yo Han, engkau diamlah, aku akan memeriksamu."

Setelah berkata demikian, kakek itu menggerakkan tangannya dan kedua tangan itu sudah memegang kepala Yo Han.

Anak ini berniat hendak menolak, akan tetapi sungguh aneh.

Dia tidak mampu bergerak!

Tahulah dia bahwa kakek yang katai ini telah mempergunakan semacam ilmu totok yang amat aneh yang membuat dia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya, seperti menjadi lumpuh.

Thian-te Tok-ong, kakek tua renta itu, kini memijit-mijit kepala Yo Han dengan jari-jari tangannya, pijat sana, pijat sini, mengelus bagian belakang kepala yang menonjol, mengukur dengan jari dan berulang-ulang dia mengeluarkan suara lidah seperti cecak berbunyi.

"Ck-ck-ck-ck!"

Kemudian, kedua tangan itu meraba ke seluruh tubuh Yo Han, dari kepala leher, dada perut, kaki tangan sampai ke ujung jari kaki!

Dan suara seperti bunyi cecak itu semakin sering.

Lalu kakek itu menempelkan kedua telapak tangannya di atas dada Yo Han.

Anak itu merasa betapa ada hawa panas dari telapak tangan itu memasuki dadanya.

Dia hanya pasrah saja, tidak menerima, tidak pula melawan.

Dia merasa yakin sepenuhnya bahwa kalau Tuhan tidak menghendaki, orang yang seribu kali lebih sakti dari kakek ini takkan mampu mencelakainya, sebaliknya kalau sampai dia menderita celaka, Apa dan siapa pun penyebabnya, hal itu hanya terjadi karena Tuhan menghendakinya.

Keyakinan ini membuat hatinya tenteram karena untuk berusaha membela diri pun tidak ada gunanya karena kaki tangannya tidak dapat dia gerakkan.

Yo Han merasa betapa hawa panas dari tangan kakek itu memasuki tubuhnya seperti meraba-raba di bagian dalam tubuhnya, memasuki kepalanya, berputar-putaran, lalu ke dadanya, juga berputar-putar kemudian turun ke arah pusarnya.

Tiba-tiba, ketika hawa panas yang dapat bergerak-gerak itu memasuki rongga bawah pusarnya, hawa panas itu meluncur keluar dan kakek itu pun terlempar sampai ke atas lantai di bawah dipan!

Kakek itu meloncat bangun, terbelalak memandang kepada Yo Han yang kini tiba-tiba mampu bergerak lagi, dan kakek itu berseru dengan penuh takjub.

"Wah-wah-wah, apa ini? Apa-apaan ini? Sungguh mati, selama hidupku belum pernah aku melihat yang begini! Hei, Yo Han! Pernah-kah engkau belajar ilmu dan menjadi murid orang-orang pandai?"

Yo Han cemberut.

"Locianpwe, aku tahu bahwa Locianpwe adalah seorang tua yang berilmu tinggi. Aku menghormatimu karena kepandai-anmu dan karena ketuaanmu. Akan tetapi apa yang kau lakukan terhadap aku yang muda? Biarpun aku pernah menjadi murid orang pandai, akan tetapi kalau Locianpwe mengira bahwa aku pernah mempelajari ilmu silat atau ilmu kekerasan lain lagi, Locianpwe keliru. Aku tidak pernah belajar silat!"

"Tapi.... tapi.... dari pusat tenaga di bawah pusarmu terdapat tenaga yang amat dahsyat!"

"Aku tidak tahu, Locianpwe. Apakah anehnya hal itu? Yang menghidupkan manusia adalah kekuasaan Tuhan, dan siapa dapat mengukur kekuatan dari kekuasaan Tuhan? Kekuatan yang mampu menggerakkan bintang dan bulan, mampu menciptakan segala sesuatu di alam maya pada ini? Apa anehnya kalau hanya kekuatan secuil di dalam tubuhku ini?"

"Wahhh! Luar biasa! Memang engkau anak luar biasa, Engkaulah yang telah lama kutunggu, telah lama kurindukan! Engkaulah yang pantas menjadi muridku, engkau yang pantas menjadi orang yang kelak akan mengangkat nama Thian-li-pang, yang akan membersihkan nama Thian-li-pang dan mengharumkan kembali namanya. Ha-ha-ha-heh-heh!"

"Locianpwe, aku pernah membaca pengalaman orang bijaksana jaman dahulu bahwa yang dirindukan itu akhirnya menjadi yang mengecewakan! Kalau yang dirindukan itu kesenangan, maka yang merindu-kan adalah nafsu pikiran dan di samping kesenangan tentu muncul kesusahan, di balik kepuasan ber-sembunyi kekecewaan. Menurut pengalaman para suci, hanya yang dirindukan jiwa sajalah yang berharga dan benar."

Kakek itu terbelalak, lalu terkekeh.

"Heh-heh-heh, kalau tidak melihat bahwa engkau ini seorang bocah, tentu aku mengira yang bicara ini seorang pendeta! Ha-ha-ha! Yo Han, apa itu yang dirindukan jiwa?"

"Apa yang dirindukan setiap tetes air kalau bukan samudera, kembali ke asalnya dan bersatu dengan samudera? Apa yang dirindukan oleh bunga api kalau bukan kepada api yang menjadi pusatnya? Demikianlah yang kubaca. Hanya persatuan, dengan sumber inilah yang akan membahagiakan hidup, Locianpwe, bukan segala kesenangan memuaskan nafsu. Apakah Locianpwe tidak rindu kepada Tuhan?"

"Kepada Tuhan?"

Kakek itu memandang heran.

"Tentu saja. Bukankah yang dimaksudkan dengan sumber itu adalah Tuhan Yang Maha Kuasa? Bukankah segala sesuatu datang dari padaNya dan sepatutnya kembali kepadaNya?"

"Wah-wah-wah....! Engkau ini siapa sih? katanya setengah berkelakar. Akan tetapi Yo Han kini turun dari dipan itu, berdiri tegak dan dengan lantang berkata.

"Aku ini seorang anak manusia seperti juga Locianpwe. Akut ini setetes air seperti Locianpwe, yang selalu merindukan samudera!"

"Hahhh?"

Kakek itu kini benar-benar tertegun dan termenung.

Dia membayangkan tetes-tetes air yang datang dari samudera melalui hujan.

Semua air itu berasal dari samudera, akan tetapi setelah terbawa awan dan diturunkan ke bumi sebagai tetes-tetes air, harus mengalami banyak penderitaan dan kesukaran masing-masing sebelum dapat kembali ke samudera, tempat asalnya atau sumbernya.

Lika-liku perjalanan tiap tetes air tidaklah sama.

Ada yang dapat lancar kembali ke samudra, ada yang harus melalui pencomberan, lumpur dan kotoran.

Akan tetapi, semua tetes air itu kalau akhirnya kembali ke samudra, akan menjadi satu dengan samudra dan tidak ada lagi perbedaan diantara mereka.

"Yo Han, engkau memang bocah ajaib dan aku girang sekali bisa mendapatkan engkau sebagai muridku."

"Locianpwe ingin menjadi guruku, akan tetapi tidak pernah bertanya apakah aku suka menjadi muridmu."

"Ehh? Hah? Manusia mana tidak suka manjadi murid Thian-te Tok-ong? Bahkan anak Kaisar pun akan suka sekali menjadi muridku!"

"Akan tetapi aku bukan anak Kaisar dan sebelum aku mengatakan suka atau tidak, aku ingin dulu mengetahui, kalau Locianpwe menjadi guruku, Locianpwe akan mengajarkan apakah kepadaku?"

"Ha-ha-ha, apa saja yang kau ingin pelajari!"

Kakek ini memang cerdik sekali.

Dia tahu bahwa seorang anak seperti Yo Han memiliki keteguhan hati dan tidak mengenal takut.

Maka dia harus tahu dulu apa yang diinginkan dan tidak diinginkan anak ini sebelum menjawab agar dia tidak sampai bertumbuk keinginan dengan anak luar biasa ini.

"Segala macam ilmu baik untuk dipelajari dan aku suka mempelajarinya, Locianpwe, kecuali satu, yaitu ilmu silat. Aku tidak suka berlatih ilmu silat"

Kalau tidak cerdik sekali, tentu Thian-te Tok-ong sudah terkejut mendengar ucapan itu.

Dia ingin mengambil anak luar biasa menjadi muridnya untuk mewariskan seluruh ilmu silatnya dan mendidik murid itu menjadi calon pemimpin Thian-li-pang yang pandai dan yang akan mengangkat nama Thian-li-pang, dan sekarang, anak yang dipilih itu terang-terangan mengatakan bahwa dia suka mempelajari ilmu apa saja kecuali ilmu silat!

"Heh-heh-heh, bagus!

Engkau jujur sekali!

Nah, tidak ada orang membenci sesuatu tanpa alasan tertentu.

Kenapa engkau tidak suka berlatih ilmu silat, Yo Han?"

"Aku tidak mem-benci sesuatu, Locianpwe. Hanya aku tidak mau mempelajari ilmu silat karena aku melihat kenyataan betapa ilmu itu mengandung kekerasan, bersifat merusak dan hanya mendatangkan permusuhan dan pertentangan saja dalam kehidupan ini."

"Heh-heh-heh, cocok! Cocok dengan aku, Yo Han. Tidak, aku tidak mengajarkan ilmu silat kepadamu, hanya akan mengajarkan ilmu tari dan senam olah raga untuk membuat tubuhmu sehat. Bagaimana?"

Yo Han mengamati wajah yang kecil itu.

"Tidak mengajarkan cara memukul dan menendang orang, bahkan membunuh?"

"Ho-ho-ho, sama sekali tidak! Memang kau pikir aku ingin melihat engkau menjadi algojo? Aku suka kepadamu, maka aku ingin melihat engkau sehat lahir batin, dan pandai menari indah!"

Yo Han tersenyum.

"Baiklah, kalau begitu aku suka menjadi muridmu."

Dan anak ini lalu menja-tuhkan diri berlutut.

"Aku akan belajar dengan rajin, Suhu, dan akan melayani Suhu di sini."

"Ha-ha-ha, bagus, bagus, muridku. Yo Han, hari ini merupakan hari paling bahagia untukku!"

Mulai hari itu, Yo Han tinggal di dalam guha bersama gurunya.

Ternyata untuk mereka telah dikirim makanan dari luar sehingga Yo Han tidak perlu lagi mencarikan makanan untuk gurunya.

Dan mulailah Thian-te Tok-ong mengajarkan "tari"

Dan "senam"

Kepada Yo Han.

Memang kakek ini pandai sekali.

Ilmu silat memang mengandung tiga unsur, yaitu pertama tentu saja ilmu bela diri, ke dua ilmu tari dan ke tiga ilmu senam kesehatan, kesehatan lahir batin.

Dia mengajarkan kepada Yo Han gerakan semua binatang yang ada di dunia ini yang dinamakannya Tarian Harimau, Tarian Naga, Tarian Burung, Tarian Monyet dan sebagai-nya.

Padahal, dalam gerak tari ini terkandung ilmu silat yang dahsyat.

Yo Han melatih diri dengan "tari-tarian"

Itu, dan tanpa disadarinya sendiri dia telah menggembleng diri dengan ilmu silat yang tinggi.

Dan dalam latihan ini, otomatis ilmu-ilmu silat yang pernah dia pelajari secara teoritis tanpa disengaja keluar dan terkandung dalam gerak "tariannya".

Kurang lebih seminggu setelah dia berada di dalam guha itu, pada suatu malam Yo Han dikejutkan oleh suara yang menyayat jantung, suara mengerikan yang merupakan semacam lolong atau lengking memanjang.

Bukan lolong anjing, dan tidak mirip suara manusia, namun dalam lengking itu terkandung semua perasaan duka dan derita yang amat hebat!

Seperti tangis bukan tangis, seperti tawa bukan tawa, namun dia yang tidak pernah merasa takut itu sempat terbelalak dan merasa betapa tengkuknya dingin sekali.

Dia segera lari ke kamar Thian-te Tok-ong yang sedang bersamadhi, menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

"Suhu, suara apakah yang terdengar dari arah belakang itu?"

Tanyanya kepada kakek itu yang sudah membuka matanya ketika dia berlutut.

"Heh-heh, engkau mendengar juga, Yo Han? jangan pedulikan. Suara itu sudah sejak lima tahun ini kadang terdengar, keluar dari dalam sumur bawah tanah di ujung belakang terowongan ini."

"Tapi.... suara apakah itu, Suhu?"

Thian-te Tok-ong menghela napas panjang.

"Kelak engkau akan dapat mengetahuinya sendiri. Agar engkau tidak menjadi penasaran, baik engkau ketahui saja bahwa sumur itu merupakan tempat hukuman bagi seorang manusia iblis yang amat berbahaya. Dan mulai sekarang, setiap hari dua kali biar engkau mewakili aku menurunkan makanan ke bawah sana. Setiap kita mendapat kiriman makanan dan minuman, tentu ada sebungkus untuk dia dan biasanya kulemparkan saja ke dalam sumur."

"Tapi, siapa dia, Suhu? Dan siapa pula yang menghukumnya? Dan mengapa pula dia dihukum?"

"Panjang ceritanya dan engkau tidak perlu tahu. Yang penting kau ketahui, orang itu seperti iblis atau sepetti gila, dengan kepandaian yang dahsyat dan tak seorang pun mampu menandinginya. Orang lain tidak mungkin dapat menuruni sumur itu, dan andaikata ada yang dapat turun pun tentu akan mati konyol oleh manusia iblis itu. Sudahlah, itu bukan urusanmu, tidak perlu engkau mencampuri. Merupakan urusan rahasia dan pribadi dari Thian-li-pang. Mengerti?"

Yo Han mengangguk dan menunduk.

Hatinya penuh perasaan iba kepada orang hukuman yang disebut manusia Iblis itu.

Akan tetapi suara itu sudah lenyap lagi dan sejak hari itu, dialah yang setiap hari dua kali mengirim sebungkus makanan ke sumur itu.

Sumur itu kecil saja, bergaris tengah satu meter, akan tetapi amat dalam.

Ketika dia mencoba untuk menjenguk ke dalam, yang nampak hanya kehitaman belaka, hitam pekat dan gelap sekali.

Pernah dia mencoba untuk memanggil-manggil dengan sebutan "locianpwe"

Beberapa kali, namun selalu tidak ada jawaban.

Menurut pesan Thian-te Tok-ong, dia harus melemparkan begitu saja bungkusan makanan ke dalam sumur.

Karena merasa kasihan dan tidak ingin makanan itu rusak kalau jatuh ke dasar sumur, pernah Yo Han mengikatnya dengan tali dan mengereknya turun.

Akan tetapi belum juga dua meter.

tali yang ujungnya mengikat buntelan itu turun, tiba-tiba tali itu putus dan makanan itu pun jatuh ke bawah seperti kalau dia lemparkan!

Terdorong oleh rasa iba kepada orang hukuman itu, pernah Yo Han mencoba untuk mengukur dalamnya sumur, menggunakan tali panjang.

Akan tetapi seperti juga ketika mencoba mengerek bungkusan makanan ke bawah, tiba-tiba tali itu putus tanpa sebab!

Dia pun dapat menduga bahwa siapa pun orangnya yang berada di bawah, gila atau tidak, manusia atau iblis, tentu memiliki ilmu yang hebat sehingga entah dengan cara apa, tali yang diturunkan tentu akan putus seperti digunting!

Karena tidak mungkin baginya untuk turun ke sumur, juga kini tidak pernah lagi ada suara mengerikan itu, akhirnya Yo Han menganggap hal itu biasa dan setiap hari mengirim makanan dengan melemparkannya ke sumur.

Dan dia mulai merasa senang di situ karena Thian-te Tok-ong memegang janjinya, mengajarkan "tari-tarian"

Yang dianggapnya amat indah.

Juga kakek itu mendatangkan banyak kitab dari luar sehingga di waktu senggang, Yo Han dapat memuaskan selera bacanya yang tak kenal bosan.

Segala macam kitab dilahapnya dan di dalam kitab ini dia berkenalan dengan para pahlawan dan para pendekar, juga riwayat partai-partai besar di dunia, persilatan.

Akan tetapi, gurunya tidak pernah mengajaknya bicara tentang dunia persilatan, tidak pernah pula bicara tentang ilmu silat.

Kita tinggalkan dulu Yo Han yang belajar "tari"

Dan "senam"

Kepada Thian-te Tok-ong, tokoh paling lihai dari Thian li-pang dan mari kita melihat keadaan keluarga Tan Sin Hong yang ditinggalkan Yo Han.

Setelah ditinggal pergi Yo Han, setiap hari Sian Li menangis dan selalu menanyakan suhengnya yang amat disayangnya itu.

Anak berusia empat tahun itu sejak lahir selalu diasuh oleh Yo Han, selalu bermain-main dengan Yo Han sehingga ia menyayang Yo Han seperti kakaknya sendiri.

Oleh karena itu, begitu Yo Han pergi meninggalkannya, siang malam ia rewel saja dan minta kepada ayah ibunya agar mereka menyusul Yo Han.

Bahkan di waktu tidur, seringkali Sian Li bermimpi dan mengigau memanggil-manggil nama Yo Han.

Tentu saja Tan Sin Hong dan Kao Hong Li merasa prihatin sekali.

Mereka berdua pun amat sayang kepada Yo Han dan kepergian anak itu sungguh membuat mereka merasa kehilangan sekali.

Akan tetapi, demi masa depan Sian Li, mereka terpaksa merelakan Yo Han pergi.

Yo Han bukan anak biasa.

Hatinya teguh memegang pendiriannya yang tidak suka akan ilmu silat dan kalau hal ini sampai menular kepada Sian Li, sungguh akan membuat mereka berdua kecewa sekali.

Bagaimana mungkin sebagai suami isteri pendekar, Mereka mempunyai seorang anak yang tidak suka belajar silat dan menjadi seorang gadis yang lemah kelak?

Hidup memang diisi oleh dua keadaan yang berlawanan.

Ada dua kekuatan yang berlawanan, akan tetapi juga saling mengadakan dan saling mendorong di dalam dunia ini.

Justeru adanya dua kekuatan inilah yang membuat kehidupan ada dan dapat membuat segala sesuatu berputar dan hidup.

Ada terang ada gelap, ada panas ada dingin, ada senang ada susah.

Ada yang satu tentu ada yang ke dua, yang menjadi kebalikannya.

Bagaimana mungkin ada yang disebut terang kalau tidak ada gelap.

Setelah merasakan adanya gelap, baru terang dikenal, atau sebaliknya.

Setelah orang mengalami senang, baru tahu artinya susah atau sebaliknya setelah mengalami susah baru mengenal arti senang.

Dan segala sesuatu memiliki dwi-muka, dua sifat yang bertentangan.

Kita sudah terseret ke dalam lingkaran setan dari dua unsur yang berlawanan ini sehingga kehidupan ini diombang-ambingkan antara yang satu dari yang lain.

Padahal, semua keadaan itu hanyalah hasil daripada perbandingan dan penilaian, yang selalu berubah-ubah.

Hari ini seseorang dapat menerima sesuatu dengan puas, lain hari sesuatu yang sama hanya mendatangan kecewa.

Apa yang hari ini mendatangkan kesenangan, besok mungkin menimbulkan kesusahan.

Sebetulnya, susah senang hanyalah akibat daripada penilaian kita sendiri.

Hati dan akal pikiran kita sudah bergeli-mang nafsu daya rendah sehingga pikiran yang licik selalu membuat perhitungan yang menguntungkan kita berarti senang, sebaliknya yang merugikan kita berarti susah!

Banyak sekali contohnya.

Kalau hujan turun selagi kita membutuhkan air, berarti hujan itu menyenangkan karena menguntungkan kita.

Sebaliknya, kalau hujan turun mengakibatkan banjir atau becek atau menghalangi kesenangan kita, maka hujan itu menyusahkan karena merugikan kita.

Demikian pula dengan segala peristiwa yang terjadi di dunia ini.

Susah senang, susah senang, perasaan kita dipermainkan antara susah dan senang setiap hari, dipermainkan oleh ulah hati dan akal pikiran yang bergelimang nafsu daya rendah.

Kalau kita sedang bersenang-senang, kita lupa bahwa kesenangan itu hanya sementara saja, dan kesusahan sudah siap menggantikannya setiap saat.

Demikian sebaliknya, kalau kita sedang bersusah-susah, kita merana dan merasa hidup ini sengsara, lupa bahwa kesusahan itu pun hanya sementara saja sifatnya, akan tertimbun kesenangan dan kesusahan lain yang datang silih berganti.

Orang bijaksana akan menerima segala sesuatu seperti apa adanya.

Segala yang terjadi itu wajar karena segala yang terjadi itu adalah kenyataan yang tak dapat dirubah atau dibantah lagi.

Orang bijaksana tidak akan menentang arus peristiwa yang datang, melainkan menyesuaikan diri dengan arus itu, mengembalikan, kesemuanya kepada Tuhan, kepada kekuasaan Tuhan karena kekuasaanNya itulah yang mengatur dan menentukan segalanya.

Hujan?

Banjir?

Bencana alam?

Sakit dan mati?

Kehilangan?

Keuntungan dan keberhasilan.

Semua itu dihadapi dengan penuh kesabaran, penuh keikhlasan, berdasarkan kepasrahan, penyerahan kepada Tuhan!

Dan orang yang sudah pasrah lahir batin, secara menyeluruh kepada Tuhan, takkan lagi disentuh derita yang berlebihan, tidak akan mabok kesenangan.

Setelah lewat beberapa bulan, Sian Li menjadi kurus dan kurang bersemangat.

Melihat keadaan anak mereka ini, Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li, mengambil keputusan untuk mengajak puteri mereka pergi pesiar agar terhibur hatinya.

Mereka mengajak Sian Li pergi berkunjung ke kota raja Peking yang besar, megah dan indah.

Seminggu lamanya mereka tinggal di kota raja, bermalam di sebuah rumah penginapan dan setiap hari ayah dan ibu itu mengajak puteri mereka untuk berpesiar mengunjungi tempat-tempat yang indah di kota raja.

Tentu saja Sian Li yang baru berusia empat tahun lebih itu menjadi gembira bukan main dan tak lama kemudian ia sudah melupakan sama sekali kesedihannya karena ditinggal pergi Yo Han!

Senang atau susah memang hanya permainan sementara waktu dari perasaan.

Sang Waktu akan menelan habis semua kesusahan atau kesenangan sehingga tiada bersisa lagi.

Atau perasaan lain akan muncul silih berganti sehingga perasaan yang timbul karena peristiwa lama itu akan tertimbun dan tidak nampak lagi, terganti oleh perasaan yang timbul karena peristiwa baru.

Sejak kita kanak-kanak kecil sampai dewasa, hati dan akal pikiran kita sudah digelimangi nafsu yang selalu mencari kesenangan dalam hal-hal atau benda-benda yang baru.

Kita selalu haus akan yang baru, karena yang baru selalu memiliki daya tarik yang besar, didorong oleh keinginan tahu.

Kalau yang didapatkan itu sudah lama, akan membosankan dan perhatian kita akan tertarik oleh hal lain yang baru.

Sejak kanakkanak, kita mudah bosan dengan barang mainan lama, dan akan tertarik oleh barang mainan baru.

Setelah kita dewasa, kita tetap tidak berubah, tetap saja tertarik oleh barang mainan yang baru, walaupun bentuk barang permainan itu yang berbeda.

Permainan kita ketika masih kanak-kanak tentu saja barang-barang mainan, atau permainan dengan kawan-kawan.

Sesudah kita dewasa permainan kita bukan boneka atau barang-barang mainan lain, akan tetapi, permainan berupa harta benda, kedudukan, kekuasaan, dan pemuasan nafsu melalui panca-indrya.

Biarpun demikian, tetap saja kita pembosan dan selalu haus akan hal yang baru.

Itulah sifat nafsu!

Selalu ingin yang baru, yang lebih!

Setelah berpesiar di kota raja, Sian Li sudah melupakan Yo Han dan sama sekali tidak pernah menangis lagi.

Kegembiraannya semakin besar ketika dari kota raja ayah ibunya mengajaknya berkunjung ke kota Pao-teng di mana tinggal kakek dan neneknya, yaitu orang tua dari ibunya.

Kakek-luarnya itu, Kao Cin Liong adalah putera Naga Sakti Gurun Pasir penghuni Istana Gurun Pasir, sedangkan nenek luarnya yang bernama Suma Hui adalah cucu dalam dari Pendekar Super Sakti penghuni Istana Pulau Es!

Suami isteri keturunan keluarga pendekar sakti itu tinggal di Pao-teng, berdagang rempah-rempah.

Mereka sudah tua.

Kao Cin Liong yang sudah berusia enam puluh tiga tahun sedangkan isterinya, Suma Hui, berusia lima puluh tiga tahun.

Semenjak puteri mereka yang menjadi anak tunggal, Kao Hong Li, menikah dengan Tan Sin Hong dan ikut suaminya tinggal di kota Ta-tung, suami isteri ini tentu saja merasa kesepian.

Mereka hidup berdua saja bersama tiga orang yang membantu toko rempah-rempah dan juga membantu rumah tangga.

Namun, suami isteri pendekar itu hidup tenteram karena memang mereka telah lama mengu-rung diri dan tidak lagi mencampuri urusan dunia kang-ouw.

Juga tidak ada golongan sesat yang berani mengganggu mereka.

Bukan saja karena suami isteri ini terkenal amat lihai, juga Kao Cin Liong ketika mudanya pernah menjadi seorang panglima perang yang telah banyak jasanya.

Kini, suami isteri yang sudah mulai tua dan hidup berdua saja ini memiliki penghasilan yang berlebihan bagi mereka dan mereka merupakan orang-orang dermawan yang suka menolong mereka yang membutuhkan pertolongan.

Maka, seluruh penduduk kota Pao-teng merasa hormat den segan kepada mereka.

Dapat dibayangkan betapa gembira rasa hati kakek Kao Cin Liong dan isterinya, nenek Suma Hui ketika mereka menerima kunjungan puteri mereka bersama suaminya dan anaknya.

Kakek dan nenek perkasa ini dahulu pernah merana dan berduka sekali melihat keadaan puteri tunggal mereka, Kao Hong Li.

Dahulu, sebelum menjadi isteri pendekar Tan Sin Hong, puteri mereka itu pernah menjadi isteri dari Thio Hui Kong, putera seorang jaksa di Pao-teng yang adil dan jujur.

Juga Thio Hui Kong merupakan seorang pria yang tampan dan gagah, pandai ilmu silat dan sastra.

Namun sayang, karena pernikahan di antara mereka itu tidak ada cinta, terutama di pihak Kao Hong Li, pernikahan itu gagal.

Hong Li tidak pernah mencintai suaminya dan bersikap hambar sehingga Thio Hui Kong yang merasa kecewa lalu menghibur diri dengan pelesir dan judi.

Akhirnya rumah tangga mereka tidak dapat dipertahankan lagi dan mereka bercerai!

Namun, dasar sudah jodohnya.

Hong Li bertemu dengan Tan Sin Hong yang sejak dulu dicintanya akan tetapi Sin Hong menikah dengan wanita lain.

Dalam pertemuan kembali ini, ternyata Tan Sin Hong juga sudah bercerai dari isterinya yang melakukan penyelewengan!

Dan dua hati yang saling mencinta itu pun bertemu kembali dan menikahlah janda kembang dengan duda muda itu.

Tentu saja peristiwa itu membuat Kao Cin Liong dan Suma Hui merasa berbahagia sekali, apalagi setelah lahir Tan Sian Li, cucu luar mereka.

"Sian Li, cucuku yang manis....!"

Nenek Suma Hui mengangkat tubuh cucunya tinggi-tinggi, lalu mendekap dan menciumi kedua pipinya sambil tertawa gembira. (Lanjut ke

Jilid 08) Si Bangau Merah (Seri ke 15 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08

"Aduh, engkau makin manis saja Sian Li. Dan pakaianmu merah! Heh-heh, engkau seperti seekor bangau merah!"

Kao Cin Liong mengelus rambut kepala, Sian Li yang berada di pondongan Suma Hui.

"Bangau Merah? Ha-ha-ha, memang ia puteri Si Bangau Putih Tan Sin Hong. Si Bangau Merah, nama yang indah. Mari, mari ikut kong-kong!"

Kata kakek itu dan mengambil Sian Li dari pondongan isterinya. Suma Hui menoleh ke kanan kiri, mencari-cari dengan pandang matanya.

"Ehh? Mana murid kalian? Apakah Yo Han tidak ikut?"

Tiba-tiba Sian Li yang berada di pondongan kakeknya, berkata.

"Kong-kong dan Bo-bo (Nenek), Suheng Yo Han nakal dia pergi bersama seorang bibi iblis!"

Kakek dan nenek itu terbelalak memandang kepada Sin Hong dan Hong Li.

Suami isteri ini memang selalu membujuk Sian Li untuk melupakan Yo Han yang mereka katakan nakal karena Yo Han minggat dan ikut dengan seorang wanita iblis yang jahat.

Hal ini mereka tekankan agar Sian Li dapat melupakan Yo Han dan tidak selalu menagisinya.

"Apa yang terjadi dengan dia?"

Tanya Kao Cin Liong. Dia dan isterinya juga merasa sayang kepada Yo Han, murid mantu mereka itu.

"Ayah dan Ibu, biarlah nanti kami ceritakan tentang dia,"

Kata Hong Li.

"Kami masih lelah, karena baru saja kami datang dari kota raja di mana kami tinggal selama seminggu dan setiap hari kami mengajak, Sian Li pesiar."

Mereka semua lalu masuk dan Sin Hong bersama isterinya mendapatkan kamar yang dahulu menjadi kamar Hong Li.

Adapun Sian Li tentu saja ditahan oleh neneknya dan diajak tidur di kamar neneknya.

Setelah beristirahat dan makan malam dan setelah Sian Li tidur pulas di kamar neneknya, barulah Tan Sin Hong dan Kao Hong Li bercakap-cakap dengan kakek dan nenek itu, menceritakan tentang Yo Han.

Mereka menceritakan semua keanehan yang terdapat pada diri Yo Han, tentang sikapnya yang sama sekali tidak mau berlatih ilmu silat.

Kemudian tentang munculnya Ang I Moli, Tee Kui Cu yang mula-mula menculik Sian Li, kemudian betapa Yo Han dapat menemukan wanita iblis itu dan menukar Sian Li dengan dirinya sendiri!

"Demikianlah, Ayah dan Ibu.

Yo Han pergi bersama iblis betina itu dan menjadi muridnya.

Kami tidak dapat mencegahnya karena dia memang sudah berjanji untuk menukar Sian Li dengan dirinya sendiri."

"Ah, tapi mengapa begitu?"

Nenek Suma Hui mencela puterinya.

"Apa artinya janji kepada iblis betina seperti itu? Ia telah berani menculik Sian Li dan kalian membiarkan saja ia pergi membawa Yo Han sebagai muridnya? Iblis betina itu pantas dibasmi!"

"Tidak boleh kita berpendirian begitu,"

Kata Kao Cin Liong dengan suara tenang.

"Sudah jelas bahwa Yo Han bukan anak biasa seperti yang diceritakan Sin Hong tadi. Dia tidak suka akan kekerasan, namun memiliki ketabahan yang luar biasa. Dan kalau dia sudah berjanji kepada Ang I Moli agar iblis betina itu membebaskan Sian Li dan sebagai tukarnya dia mau ikut dengan iblis betina itu, tentu saja Sin Hong dan Hong Li tidak dapat memaksa dan melanggar janji yang telah dikeluarkan Yo Han."

"Apa yang dikatakan ayah itu memang benar, Ibu,"

Kata Kao Hong Li.

"Akupun tadinya tidak mau mengalah begitu saja dan aku sudah memaksa iblis betina itu untuk melayaniku bertanding. Ia memang lihai, akan tetapi kalau ia tidak melarikan diri, tentu aku akan dapat membunuhnya. Betapapun juga, kami tidak mungkin dapat membunuhnya setelah ia mengembalikan Sian Li dan memperlakukan anakku dengan baik, dan kalau Yo Han ikut dengannya, hal itu adalah karena keinginan Yo Han sendiri. Kiranya anak yang luar biasa itu sudah tahu bahwa kami ingin menjauhkan Sian Li darinya, dan agaknya Yo Han memang sengaja ikut iblis itu agar dia dapat menjauhkan diri dari kami tanpa harus melarikan diri, atau tanpa kami harus menitipkannya kepada pendeta kuil seperti yang tadinya kami rencanakan. Dia sudah tahu semuanya, Ibu."

Kao Cin Liong dan Suma Hui saling pandang, diam-diam merasa aneh dan kagum kepada anak itu.

"Jadi, dia sengaja mengorbankan diri, sengaja meninggalkan keluargamu karena tahu bahwa kalian ingin memisahkan Sian Li darinya?"

Hong Li mengangguk dan menunduk.

"Sungguh kami merasa kehilangan dia, Ibu. Kami sayang kepada Yo Han, juga Sian Li amat menyayangnya, sehingga ia rewel terus dan terpaksa kami mengajaknya pesiar ke kota raja lalu ke sini. Akan tetapi, kami harus mementingkan masa depan Sian Li. Ia pasti akan terbawa oleh sikap Yo Han kalau terus dekat dengan dia."

Sin Hong menarik napas panjang.

"Benar sekali, Ayah dan Ibu. Kami amat sayang kepada Yo Han, seperti kepada anak sendiri. Akan tetapi, dia amat aneh dan kami tidak ingin melihat Sian Li menjadi seperti dia."

"Tapi.... bagaimana dengan nasib Yo Han? Apakah tidak berbahaya sekali dia terjatuh ke tangan seorang iblis betina? Jangan-jangan keselamatan nyawanya terancam...."

Suma Hui menyatakan kekhawatirannya.

"Aku juga khawatir sekali, Ibu. Akan tetapi ayah Sian Li mengatakan tidak perlu khawatir,"

Kata Hong Li sambil memandang suaminya.

Kini mereka bertiga semua memandang kepada Sin Hong dan mengharapkan penjelasan yang meyakinkan, karena mereka semua mengkhawatirkan keselamatan Yo Han.

"Sesungguhnya pendapat atau jalan pikiran saya ini saya dapatkan dari Yo Han, betapapun janggalnya, saya harus mengakui bahwa dialah yang memberi teladan atau tanpa disengaja memberi pelajaran kepada saya. Yaitu bahwa nyawa setiap orang berada di tangan Tuhan. Dia amat yakin akan hal ini, maka dia tidak pernah takut menghadapi apapun bahkan ancaman maut sekalipun. Saya merasa yakin bahwa ada sesuatu yang mujijat pada diri anak itu. Seolah-olah ada suatu kekuatan gaib yang melindunginya. Seperti ketika dia diserang ular berbisa itu. Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, seperti seorang ahli silat yang pandai, tangannya bergerak menangkap ular itu. Akan tetapi dia tidak membunuhnya, melainkan bicara kepada ular itu, melepaskannya lagi dan ular itu menjadi jinak! Seolah-olah dia mengu-asai pula ilmu menundukkan ular."

"Aneh!"

Kata Suma Hui.

"Padahal, biarpun aku sendiri pernah mempelajari ilmu menundukkan ular akan tetapi tidak begitu menguasainya, dan aku tidak pernah mengajarkannya kepadamu, Hong Li."

"Itulah keanehannya, Ibu,"

Kata Hong Li.

"Lebih aneh lagi, ketika kami semua mencari penculik Sian Li. Kami berdua yang memiliki kepandaian saja gagal menemukan penculik, akan tetapi kenapa Yo Han dapat menemukannya, bahkan lebih hebat lagi, dapat membujuk Ang I Moli untuk membebaskan Sian Li?"

Kakek dan nenek itu menjadi semakin heran dan kagum.

Bagaimanapun juga, mereka menyayangkan bahwa Yo Han sampai ikut seorang tokoh sesat seperti Ang I Moli.

"Kalau saja kalian membawa dia ke sini, kami akan suka mendidiknya."

Kata Suma Hui dan suaminya juga mengangguk setuju.

Akan tetapi semua sudah terlanjur dan Yo Han sudah pergi bersama Ang I Moli entah ke mana.

Malam itu, karena lelah oleh perjalanan yang jauh, Sin Hong dan Hong Li tidur pulas di dalam kamar mereka.

Sian Li tidur bersama neneknya di kamar neneknya, sedangkan kakek Kao Cin Liong yang merasa gembira dengan kunjungan puterinya, mantunya dan cucunya, juga sudah tidur dengan mulut tersenyum.

Kakek dan nenek itu memang merasa amat berbahagia.

Betapa tidak?

Mereka hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu Kao Hong Li.

Ketika puteri mereka itu menikah dengan Thio Hui Kong kemudian bercerai, mereka merasa prihatin dan berduka sekali.

Anak mereka satu-satunya, seorang wanita lagi, dalam usia demikian muda telah menjadi seorang janda tanpa anak!

Mereka sudah merasa putus harapan karena pada masa itu, derajat seorang janda yang bercerai hidup, apalagi tanpa anak, amatlah dipandang hina dan rendah.

Sungguh di luar dugaan mereka, kemudian Kao Hong Li berjodoh dengan Tan Sin Hong yang berilmu tinggi, bahkan mereka hidup berbahagia dan mempunyai seorang anak yang menjadi cucu mereka yang mungil!

Menjelang tengah malam, ketika seluruh isi rumah itu tidur pulas dan juga keadaan sekeliling rumah itu sunyi karena tidak ada lagi orang berada di luar rumah dalam cuaca yang amat dingin itu, terdengarlah seruan di atas genteng kamar kakek Kao Cin Liong.

"Taihiap (Pendekar Besar) Kao Cin Liong, tolonglah pinceng (saya)!"

Terdengar teriakan di atas genteng kamar itu, lalu terdengar suara gedobrakan di atas genteng itu.

Kao Cin Liong yang sedang duduk bersamadhi, mendengar seruan ini dengan jelas.

Bahkan dia mengenal suara itu sebagai suara seorang sahabatnya, yaitu Thian Kwan Hwesio ketua kuil di sudut kota Pao-teng, seorang murid Siauw-limpai yang termasuk tokoh karena tingkat kepandaian silatnya sudah cukup tinggi.

Mendengar suara itu, tubuh Kao Cin Liong meloncat dari atas pembaringan, membuka jendela dan dalam beberapa detik saja dia sudah meloncat naik ke atas genteng di mana dia melihat seorang hwesio sedang didesak dan dihajar dengan pukulan-pukulan oleh dua orang berpakaian jubah pendeta tosu (pendeta To) yang lihai sekali.

Karena malam itu bulan hanya muncul secuwil, maka cuaca remang-remang dan dia tidak dapat melihat jelas wajah tiga orang itu.

Akan tetapi dia dapat mengenal Thian Kwan Hwesio yang agaknya sudah payah, terhuyung-huyung di atas genteng.

"Tahan....!"

Seru Kao Cin Liong dan sekali meloncat dia sudah mendekati Thian Kwan Hwesio yang terhuyung, menyambar lengannya.

Hwesio yang usianya sudah hampir tujuh puluh tahun itu nampak lemah sekali dan dia bersandar kepada rangkulan lengan Kao Cin Liong.

"Thian Kwan Suhu, ada apakah? Siapakah mereka ini?"

"Mereka.... mereka.... orang-orang Bu-tong-pai.... uhhh-uhhh!"

Hwesio itu terengah-engah.

"Kami sudah mengalah.... akan tetapi.... seperti pernah kuceritakan.... Bu-tong-pai selalu mendesak dan menyerang kami...."

Tubuh hwesio itu terkulai dan dengan lirih dia masih menyebut "Omitohud....!"

Dan dia pun lemas dan tewas dalam rangkulan kakek Kao Cin Liong.

Kao Cin Liong beberapa hari yang lalu pernah bercakap-cakap dengan ketua kuil itu dan mendengar bahwa kini Bu-tong-pai selalu memusuhi Siauw-lim-pai.

Di mana-mana para murid Bu-tong-pai menyerang para murid Siauw-lim-pai sehingga terjadilah bentrokan-bentrokan berdarah.

Menurut keterangan Thian Kwan Hwesio.

Bu-tong-pai menuduh seorang tokoh Siauw-lim-pai, yaitu Loan Hu Hwesio telah membunuh Phoa Cin Su, tokoh Bu-tong-pai di puncak Bukit Naga.

Padahal menurut keterangan kepala kuil itu, justeru Loan Hu Hwesio dibunuh oleh seorang tokoh Kun-lun-pai, juga di puncak Bukit Naga!

Dua orang tosu Bu-tong-pai itu maju mendekati Kao Cin Liong yang masih merangkul Thian Kwan Hwesio.

"Ini tentu murid Siauw-lim-pai juga, Sute. Kita bunuh dia!"

Dan mereka berdua maju menyerang kakek itu dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin pukulan yang dahsyat.

Kakek Kao Cin Liong terkejut dan berseru.

"Heiii, tahan dulu!"

Teriaknya sambil mencoba untuk mengelak.

Akan tetapi karena dia sedang merangkul Thian Kwan Hwesio yang agaknya sudah menjadi mayat, tentu saja gerakannya menjadi lambat.

Dia terpaksa melepaskan tubuh hwesio itu dan mengangkat kedua lengannya untuk menangkis.

"Desss....!"

Kakek itu terkejut bukan main.

Tak disangkanya bahwa kedua orang tosu itu memiliki tenaga yang amat kuat.

Kalau saja mereka tidak maju bersama, tentu dia dapat mengatasi tenaga seorang di antara mereka.

Akan tetapi mereka maju berbareng dan agaknya mereka telah menggabungkan diri dan mengerahkan tenaga.

Sedangkan dia sendiri karena belum tahu benar akan keadaan dan tidak ingin bermusuhan dengan Bu-tong-pai yang banyak dikenal para pemimpinnya, dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya.

Akibatnya, kakinya menginjak pecah genteng di bawahnya dan kedua tangannya melekat kepada tangan dua orang tosu itu!

Baca Juga: Suling Emas 14

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert