Eps 12 Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo.
Biarpun tubuh Han Han baru meloncat dan kini disambut dengan serangan golok yang ganas, namun loncatannya itu memang merupakan keampuhan ilmunya yang mukjizat yang ia pelajari dari nenek Khu Siauw Bwee, maka sambil meloncat, ia melihat menyambarnya golok, Han Han lalu menggerakkan tongkatnya, dengan tenaga sin-kang yang dahsyat tongkatnya menempel pada golok dengan sepenuhnya mengandung daya melekat.
Betapapun Lai Kwan berusaha menarik kembali goloknya, sia-sia saja karena goloknya telah melekat pada tongkat seperti berakar di situ.
Tiba-tiba Han Han melepas golok itu sambil mendorong, pada saat Lai Kwan menarik golok.
Tak dapat ditahan lagi golok itu menyambar ke arah Gu Lai Kwan sendiri.
Gu Lai Kwan terkejut, matanya terbelalak dan ia berusaha menggulingkan tubuhnya, namun golok di tangannya itu lebih cepat, tahu-tahu sudah membacok lehernya.
Teriakan mengerikan seperti leher tercekik keluar dari mulut Lai Kwan dan tubuhnya yang tadi bergulingan itu rebah menelungkup, kepalanya miring secara aneh, golok masih di tangan dan tanah di bawah lehernya perlahan-lahan menjadi basah dan merah.
Pemuda ini tewas oleh goloknya sendiri, lehernya hampir putus.
Peristiwa ini terjadi cepat sekali, hanya beberapa detik selagi tubuh Han Han masih mengapung di udara.
Kini Han Han mencelat ke depan, tidak mempedulikan lagi kepada Gu Lai Kwan yang seolah-olah telah melakukan "bunuh diri"
Dengan golok sendiri itu.
"Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo, mundurlah, aku tidak ingin bermusuhan denganmu atau dengan siapa pun juga."
Bentak Han Han dan suaranya mengandung wibawa yang sedemikian hebatnya sehingga dua orang datuk hitam itu sampai tercengang dan sejenak mereka itu memandang Han Han dengan mata terbelalak.
Akhirnya Toat-beng Ciu-sian-li memaki.
"Bocah setan, murid murtad. Begini sikapmu terhadap bekas guru?"
Han Han mengerutkan keningnya.
"Aku bukan muridmu lagi, Nenek yang bewatak ganas. Aku datang untuk mencari adikku, dan siapapun dia yang menghalangi aku mencari adikku, akan kuhancurkan."
Teringat akan Lulu, kembali Han Han menjadi merah mukanya dan kemarahannya memuncak.
"Di mana Puteri Nirahai? Hayo keluarlah dan serahkan Lulu kepadaku."
Teriakannya ini amat nyaring sehingga bergema sampai jauh.
Kembali Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li bergidik.
Mereka berdua maklum bahwa pemuda ini telah menjadi ahli waris Pulau Es dan memiliki kepandaian yang luar biasa sekali, akan tetapi melihat pemuda ini setelah buntung kakinya menjadi makin lihai dan gerakan-gerakannya seperti orang yang pandai menghilang, benar-benar membuat mereka berdua menjadi ngeri.
Betapapun juga, tentu saja dua orang yang menjadi tokoh dunia hitam itu tidak merasa takut dan mendengar tantangan Han Han terhadap Puteri Nirahai, mereka marah dan cepat menerjang lagi dengan hebatnya.
Nenek itu selain menggerakkan kedua tangannya yang mengandung tenaga sakti Toat-beng Tok-ciang, juga menggerakkan rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya sebagai senjata yang ampuh dan aneh, tubuhnya melayang-layang dengan ringannya, persis seperti keganasan seorang kuntilanak dalam dongeng dunia setan.
Adapun Ma-bin Lo-mo yang sudah mengerti bahwa lawannya biarpun buntung dan masih amat muda, memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah manusia, juga telah menerjang maju dengan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang sekuat tenaga.
Han Han tidak ingin berkelahi dan tidak ingin pula bermusuh dengan mereka, akan tetapi karena mereka berdua menghalangi usahanya mencari Lulu, ia menjadi marah dan cepat mainkan ilmu silatnya yang membuat tubuhnya mencelat ke sana ke mari dengan gerakan yang tak terduga-duga dan cepat bukan main.
Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo menjadi pening kepala mereka karena harus mengikuti gerakan-gerakan kilat pemuda buntung itu dan setiap serangan mereka selalu mengenai tempat kosong.
Dengan penasaran kedua orang itu menubruk dengan pukulan-pukulan sakti.
"Wuuuttt."
Pukulan Swat-im Sin-ciang yang mengandung hawa dingin menyambar dari kiri.
"Singggg.... syuuuttttt."
Serangan tangan ampuh beracun dari Ciu-sian-li dibarengi sambaran rantai gelang di telinganya tidak kalah ampuh dan berbahayanya.
Dua serangan ini menyambar dari kanan kiri ketika kaki buntung Han Han baru saja turun menyentuh tanah.
Akan tetapi tiba-tiba saja Han Han kembali mencelat ke atas dengan kecepatan yang sukar dapat dipercaya, mengatasi kecepatan serangan kedua lawannya dan tahu-tahu tubuhnya sudah menukik dari atas dan tongkatnya melakukan dua kali totokan ke arah ubun-ubun kepala dua orang pengeroyoknya.
"Hayaaa....."
Ma-bin Lo-mo berseru kaget dan cepat menggulingkan tubuhnya yang ia lempar ke atas tanah sambil berteriak.
"Aiiihhhhh....."
Toat-beng Ciu-sian-li juga mengelak, melempar tubuh bagian atas ke belakang lalu berjungkir balik sampai lima kali sehingga rambutnya menjadi awut-awutan dan saling belit dengan kedua rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya.
Pada saat itu, serombongan pasukan pengawal datang berlari dan mengurung Han Han.
Jumlah mereka lebih tiga puluh orang, semua bersenjata tajam dan rata-rata memiliki ilmu kepandaian silat dan bertubuh kuat.
Pada waktu itu, yang berada di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok hanyalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li dan muridnya yang terkasih, Gu Lai Kwan.
Adapun tokoh-tokoh lain telah ikut membantu penyerbuan ke Se-cuan.
Ketika melihat pemuda buntung mengamuk, semua pasukan pengawal dikerahkan dan Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri yang bersembunyi sambil mengintai menjadi gelisah bukan main.
Betapapun juga, pembesar ini masih mengharapkan kemenangan karena di situ terdapat dua orang tokoh sakti dan di lubuk hatinya ia tidak percaya apakah seorang pemuda yang buntung kakinya akan mampu melawan Ciu-sian-li serta Ma-bin Lo-mo dan puluhan orang pasukan pengawal.
Akan tetapi, Han Han sudah marah sekali dan pemuda ini mengamuk secara menggiriskan hati.
Tubuhnya berkelebat, lebih banyak di udara daripada di darat, karena setiap kali ujung tongkat atau ujung kaki tunggalnya menyentuh sesuatu, baik tanah, pundak atau kepala lawan, tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas, seperti capung bermain di atas bunga-bunga di permukaan air, cepatnya seperti kilat sehingga setiap kali tubuhnya menukik ke bawah tentulah roboh dua tiga orang pengawal secara berbareng, menjadi korban ujung tongkat atau kedua tangannya.
Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li marah dan penasaran sekali, juga mereka berdua merasa malu mengapa mereka tidak mampu merobohkan pemuda buntung itu, padahal dibantu puluhan orang pengawal.
Ma-bin Lo-mo meringkik keras dan kedua tangannya mendorong ke arah Han Han ketika pemuda itu turun ke atas tanah.
"Wuuusssss."
Angin yang mengandung hawa dingin sekali menyambar.
Han Han sudah menangkap seorang pengawal dan melemparkan ke depan.
Terdengar jerit mengerikan dan tubuh pengawal itu terbanting kaku, darahnya membeku muka biru"
Dan seorang pengawal lain roboh pula karena oleh Han Han dipergunakan untuk menangkis pukulan beracun Ciu-sian-li, roboh dengan tubuh menghitam terkena hantaman pukulan Toat-beng Tok-ciang.
Ketika para pengawal menubruk dengan senjata mereka, Han Han sudah mencelat ke atas lagi, meloncat sambil menyambar dua orang pengawal, kemudian ketika tubuhnya membalik, dua orang itu ia lemparkan ke arah Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li, disusul tubuhnya yang meluncur dengan serangan kilat.
Dua orang kakek dan nenek itu terkejut.
Mereka dapat menduga bahwa tentu pemuda buntung yang lihai itu menyusul dengan serangan, maka apa boleh buat mereka menangkis keras sehingga dua orang pengawal itu terbanting roboh dengan tulang-tulang iga remuk.
Benar saja seperti yang mereka duga, tubuh Han Han menyambar seperti seekor burung garuda, dan saking cepatnya hanya tampak bayangan berkelebat.
Dua orang datuk hitam ini cepat meloncat untuk mengelak, namun masih kurang cepat sehingga pukulan tangan Han Han yang amat panas karena mengandung inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang itu telah mampir di dada Ma-bin Lo-mo sedangkan ujung tongkatnya telah menotok pundak Toat-beng Ciu-sian-li.
"Hyaaaaahhhhh....."
"Haiiikkkkk....."
Ma-bin Lo-mo terjengkang dan bergulingan, mukanya menjadi pucat sekali dan dadanya sesak, terasa panas seperti dibakar.
Adapun nenek sakti itu juga terbanting ke belakang, cepat duduk bersila untuk menyelamatkan nyawanya karena dia telah terkena totokan yang hebat.
Kalau saja Han Han tidak ingat bahwa kedua orang itu pernah menjadi gurunya, biarpun pada saat itu ada puluhan orang pengawal yang menerjangnya, tentu ia akan mudah saja melanjutkan serangan membunuh kedua orang datuk hitam itu.
Akan tetapi Han Han tidak ingin membunuh mereka dan dia hanya menggerakkan tangan dan tongkatnya, melempar-lemparkan para pengawal seperti orang melempar-lemparkan rumput saja.
Gegerlah para pengawal dan mereka mundur-mundur dengan muka ketakutan.
Pemuda buntung itu terlalu kuat bagi mereka, seperti sekumpulan nyamuk melawan api saja.
Melanjutkan pengeroyokan sama artinya dengan membunuh diri bagi mereka.
Adapun Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li yang sudah menderita luka, tidak berani melanjutkan pertandingan sebelum mengobati luka mereka, maka mereka berdua pun sudah lenyap memasuki gedung itu, menyelinap di antara sisa para pengawal yang hanya berani mengurung dari jauh sambil bersiap-siap untuk melarikan diri apabila Han Han mengejar.
Namun pemuda itu tidak mengejar, hanya berdiri tegak, bersandar pada tongkatnya, menengadah dan mengeluarkan suara nyaring memekakkan telinga.
"Puteri Nirahai, Kembalikan adikku....."
Setelah beberapa kali berteriak tanpa ada jawaban, Han Han lalu meloncat ke arah gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok.
Melihat ini, biarpun hati mereka dicekam rasa gentar dan ngeri, namun para pengawal tentu saja segera menghadang dan berusaha mencegah pemuda buntung itu memasuki gedung.
Han Han mengeluarkan seruan keras dan begitu tongkatnya berkelebat, para pengawal itu roboh terpelanting ke kanan kiri seperti disambar kilat dan mereka tidak mungkin dapat menghalang lagi ketika pemuda itu berloncatan cepat melesat ke dalam gedung.
Sambil berteriak-teriak para pengawal ini kalang kabut mengejar ke dalam.
Han Han sudah marah sekali.
Dia mengamuk seperti gila, menggeledah seluruh kamar gedung itu, mencari Ouwyang Seng dan Pangeran Ouwyang Cin Kok.
Setiap orang pengawal yang berusaha menerjangnya dirobohkan dengan sekali gerakan saja.
Namun hasil penggeledahannya sia-sia.
Tidak tampak batang hidung Ouwyang Seng yang dicarinya.
Ketika ada lima orang perwira pengawal dengan nekat menerjangnya, ia melompat ke atas dan dari atas sinar tongkatnya bergulung-gulung, empat orang perwira roboh dan seorang lagi ia jambak rambutnya dan ia seret ke sudut ruangan.
Dengan ujung tongkat ditedongkan di leher perwira itu ia membentak.
"Di mana Ouwyang Seng? Hayo jawab."
Wajah perwira itu pucat sekali, tubuhnya menggigil dan ia dipaksa jatuh berlutut. Dengan napas sengal-sengal ia menjawab.
"Ham.... hamba.... tidak tahu. Sudah lama tidak berada di sini...."
"Mana Ouwyang Cin Kok?"
"Tadi.... ketika ribut-ribut.... beliau lari.... mungkin ke istana...."
"Dan di mana kakek dan nenek tadi? Mana Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li?"
"Lari.... mereka lari.... ke istana...."
Han Han menjadi sebal dan marah.
tubuhnya bergerak dan perwira itu sudah ia lemparkan ke sudut, tubuh perwira itu menabrak dinding dan tak dapat bangun lagi karena pingsan saking takutnya.
Han Han meloncat keluar dan kini ia melesat amat cepatnya meninggalkan gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok yang sudah diobrak-abriknya itu, menuju ke istana.
Kemarahan membuat manusia menjadi mata gelap dan lupa diri, lupa akan bahaya dan demikian pula dengan Han Han.
Dia sedang marah sekali.
Penderi taan batin yang ia alami bertubi-tubi ditambah kemarahannya mendengar bahwa adiknya ditawan membuat Han Han menjadi nekat dan tidak memakai perhitungan lagi, lupa bahwa tidaklah mungkin bagi seseorang, betapapun saktinya, untuk menyerbu seorang diri ke istana kaisar.
Tentu saja penjagaan di istana tidak dapat dibandingkan dengan penjagaan para pengawal di gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok.
Pasukan pengawal yang dipusatkan menjaga istana amat besar jumlahnya, dan di situ pun banyak terdapat pengawal yang berilmu tinggi di samping keadaan istana sendiri yang merupakan semacam benteng yang amat kuat.
Maka, begitu Han Han tiba di depan pintu gerbang, ia sudah dikurung oleh puluhan bahkan lebih dari seratus orang pengawal mengepung ketat, dan ia sudah dikeroyok secara hebat.
"Tangkap pemberontak."
"Bunuh pemberontak."
Para pengawal berteriak-teriak biarpun dalam beberapa gebrakan saja Han Han telah merobohkan tujuh orang pengeroyok, namun mereka tetap maju menerjang sehingga Han Han terpaksa memutar tongkat melindungi dirinya sambil berteriak.
"Aku bukan pemberontak. Aku hanya ingin bertemu dengan Puteri Nirahai dan minta supaya adikku dibebaskan."
Tentu saja teriakannya sia-sia karena para pengawal sudah mendengar betapa hebatnya pemuda buntung ini mengacau gedung Pangeran Ouwyang Cin Kok, Kini pemuda itu akan mencelakakan keluarga kaisar ditambah pula, Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri, dengan dikawal oleh Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li sudah lari mengungsi ke istana karena itu di situ pun diadakan penjagaan yang ketat.
Biarpun para pengawal tidak pernah berkurang jumlahnya karena setiap ada yang roboh tentu tempatnya digantikan yang lain, namun dengan ilmunya yang mukjizat, yaitu gerakan kilat Soan-hong-lui-kun, Han Han dapat menembus pintu gerbang dan memasuki halaman istana.
Betapapun juga, dia tidak pernah dapat membebaskan diri dari kepungan yang makin lama makin ketat.
Setelah dia memasuki pekarangan istana yang luas, pintu gerbang itu ditutup oleh para pengawal sehingga Han Han kini kehilangan jalan keluar.
"Bebaskan Lulu...., Lepaskan adikku."
Han Han berteriak-teriak dan mengamuk seperti seekor harimau terjebak.
Betapapun juga, pemuda ini masih ingat bahwa kedatangannya bukan untuk menyebar kematian di antara para pengawal yang ia tahu hanya menjalankan kewajiban mereka menjaga keamanan istana.
Oleh karena itu, dia hanya merobohkan mereka tanpa membunuh dan hal ini tentu saja amat mudah ia lakukan karena pasukan pengawal itu bukan tandingannya.
Hanya dengan hawa pukulan yang keluar dari kedua tangan dan tongkatnya saja sudah cukup baginya untuk membuat kocar-kacir seperti serombongan semut mengeroyok seekor jengkerik.
Kalau hanya pasukan pengawal yang mengepungnya, biar ditambah sampai seribu orang, kiranya akan mudah baginya untuk menyelamatkan diri dan keluar dari tempat itu.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan keras, aba-aba dari komandan penjaga yang menyuruh semua pasukan mundur dan mengepung dari jarah jauh.
Para pengawal yang tadinya mengeroyok secara mati-matian, kini mundur dengan hati lega dan tampaklah oleh Han Han munculnya orang-orane sakti yang kini menghadapinya.
Mereka itu bukan lain adalah Ma-bin Lo-mo, Toat-beng Ciu-sian-li, Thian Tok Lama, Thai Li Lama dan Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Lima orang tokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian hebat.
Han Han maklum bahwa lima orang lawan ini merupakan lawan yang amat berat, terutama sekali dua orang hwesio Tibet itu merupakan wakil dari Pangeran Kiu yang mengkhianati perjuangan Bu Sam Kwi dan para orang gagah dengan mengadakan persekutuan gelap dengan pemerintah Mancu.
Ia tersenyum dingin dan berkata.
"Ji-wi Losuhu, aku tidak mau mencampuri urusan kalian, tidak mau melibatkan diri dengan segala kepalsuan orang-orang yang mencari kedudukan melalui perang, fitnah, pengkhianatan dan lain-lain kekotoran lagi. Aku datang hanya untuk menuntut agar adikku Lulu yang ditawan Puteri Nirahai dibebaskan. Biarlah Puteri Nirahai sendiri keluar menemuiku. Aku datang bukan untuk mengacau, bukan untuk mencari musuh, melainkan semata-mata untuk menolong adikku. Bebaskan adikku, dan aku bersama adikku akan mengangkat kaki dari sini dan selamanya tidak akan mencampuri urusan perang yang terkutuk."
"Murid murtad. Engkau masih harus menerima hukuman dariku."
Toat-beng Ciu-sian-li berteriak, penuh kemarahan karena nenek ini masih penasaran dan malu mengingat akan kematian muridnya terkasih, yaitu Gu Lai Kwan.
"Han Han, engkau bekas murid yang selain menyeleweng juga sudah banyak melakukan penghinaan kepadaku, sekali ini terpaksa aku harus membunuhmu."
Kata Ma-bin Lo-mo, sengaja mengeluarkan kata-kata besar untuk menutupi rasa malunya dan untuk berlagak di depan begitu banyak pengawal yang mengurung tempat itu.
"Ha-ha-ha, engkau bekas kacungku, kiranya engkau benar cucu Jai-hwa-sian Suma Hoat yang menyembunyikan she Suma menjadi she Sie. Ha-ha-ha, mengingat bahwa engkau adalah Suma Han cucu Suma Hoat, biarlah aku akan mengampunimu asal engkau suka bertekuk lutut dan menyerah, Han Han."
Kata Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Sepasang mata Han Han mendelik.
Dia memang tidak akan menyembunyikan nenek moyangnya, akan tetapi disebutnya nama kakeknya yang diam-diam amat dibencinya karena dianggapnya sebagai biang keladi keburukan nasibnya itu membuat hatinya mengkal sekali, namun ia tetap membungkam.
"Omitohud...., Suma-taihiap biarpun masih muda memiliki kepandaian hebat sekali, benar-benar mengagumkan hati pinceng. Perlu apa menyia-nyiakan usia muda dan berkepandaian tinggi? Menyerahlah, Suma-taihiap."
Kata Thian Tok Lama.
"Benar ucapan suheng. Suma-taihiap, lebih baik menyerah dan kalau taihiap berjanji akan membantu menumpas pengkhianat Bu Sam Kwi, tentu yang mulia kaisar akan suka memberi ampun, bahkan menganugerahkan kedudukan kepadamu."
Thai Li Lama membujuk.
Namun semua ucapan keras menghina dan lembut membujuk itu sama sekali saja, mendatangkan kemarahan di hati Han Han.
Ia berdiri tegak di atas kaki tunggalnya, memegang tongkal butut di tangan kiri dan menyilangkan lengan kanan di depan dada, kemudian berkata.
"Sudah kukatakan, aku tidak ingin berurusan dengan pemerintah maupun dengan Ngo-wi Locianpwe yang merupakan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan. Aku datang hanya untuk minta kebebaskan adikku."
"Hiye-heh-heh"
Bocah sombong"
Kalau tidak diserahkan, kau mau apa?"
"Akan kurebut dengan paksa dan aku usahakan sampaimati."
"Pemuda buntung sombong."
Toat-beng Ciu-sian-li sudah menggerakan rantai gelang di kedua telinganya sehingga terdengar suara berdencingan nyaring dan menggetarkan hati para pengawal yang mengurung tempat itu sambil berjaga-jaga, menutup jalan keluar pemuda buntung itu.
"Omitohud, betapa tabahnya."
Thian Tok Lama yang gendut itu berseru memuji karena benar-benar pendeta dari Tibet ini merasa kagum sekali.
"Apakah taihiap berani melawan kami sedangkan tempat ini telah dikurung oleh ribuan orang pengawal?"
Han Han menoleh ke sekelilingnya dan melihat bahwa pasukan pengawal kini bertambah banyak, tentu ada dua tiga ribu orang banyaknya.
Ketika ia menyapu keadaan di seluruh halaman istana dengan pandang matanya yang tajam, ia melihat bayangan dua orang berkelebat di puncak genteng istana, akan tetapi lenyap lagi, entah bayangan manusia ataukah bukan.
"Thian Tok Lama, bagiku, persoalannya bukan berani atau takut, melainkan benar atau salah. Kalau aku berpijak pada kebenaran, tidak ada lagi kata-kata takut, karena mati dalam kebenaran adalah mati yang terhormat. Kalau aku benar, biar menghadapi iblis sekalipun aku tidak takut, sebaliknya kalau aku salah, biar menghadapi seorang anak kecil pun aku tidak berani. Aku datang untuk membebaskan adikku, dan hal ini benar, maka aku tidak takut. Terserah kepada Ngo-wi, apakah aku menonjolkan kegagahan dengan cara mengeroyok aku dibantu pula oleh ribuan orang pasukan pengawal."
Ucapan terakhir Han Han ini mengandung ejekan yang amat tajam sehingga wajah kelima orang tokoh beser itu menjadi merah.
Memang harus diakui bahwa peristiwa yang kini mereka hadapi merupakan peristiwa yang ajaib dan amat memalukan.
Biasanya, setiap orang di antara mereka berlima yang telah memiliki kesaktian tinggi, tidak pernah atau jarang sekali menemui tanding sehingga mereka berangkuh dan menganggap diri sendiri sebagai tokoh tingkat tinggi yang tidak mau sembarangan bergerak, apalagi hendak mengeroyok lawan.
Dan sekarang, mereka berlima menghadapi seorang pemuda yang selain masih amat muda patut menjadi cucu mereka, juga yang hanya memegang sebatang tongkat butut dan yang kakinya tinggal satu"
Menghadapi seorang lawan muda penderita cacat dengan masih mengandalkan pengurungan ribuan orang pengawal.
Benar-benar merupakan peristiwa yang tak pernah mereka mimpikan dan amatlah merendahkan nama besar mereka.
"Omitohud, orang muda yang sombong. Kau kira pinceng tidak berani menghadapimu seorang diri?"
Thai Li Lama menjadi tersinggung sekali dan ia sudah meloncat maju menghadapi Han Han.
Empat orang tokoh yang lain juga merasa jengah dan tersinggung, maka mereka ini hanya menonton, ingin melihat apakah pendeta Tibet yang kurus itu akan dapat mengatasi Han Han si pemuda buntung yang benar-benar merupakan lawan aneh yang baru pertama kali mereka jumpai selama hidup mereka yang sudah setengah abad lebih.
Han Han mengerti bahwa Thai Li Lama adalah seorang yang selain pandai ilmu silat aneh dari barat, juga memiliki kepandaian ilmu hitam dan ilmu sihir, maka ia bersikap waspada dan sudah bersiap dengan tongkat dilintangkan di depan dada, sedangkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka berada di atas kepala, telapak tangannya menghadap ke langit, diam-diam ia telah mengerahkan sin-kang di tubuhnya, yang berputaran dan siap disalurkan untuk menghadapi lawan yang kuat ini.
Akan tetapi aneh, pendeta Tibet itu tidak segera bergerak menyerangnya, melainkan berdiri tegak dan kaku, kepala lurus, kedua lengan lurus di kanan kiri tubuhnya, kemudian terdengar suaranya, halus seperti membujuk.
"Suma-taihiap, kau turutilah permintaanku, tundukkan kepalamu...."
Han Han merasa ada getaran aneh terbawa oleh suara ini, begitu lembut mengelus perasaannya, mendatangkan rasa terharu dan tidak tega untuk menolak permintaan itu.
Akan tetapi kesadarannya membisikkan bahwa kakek ini tentu menggunakan ilmu sihir, maka sebaliknya dari menundukkan kepala, ia malah menengadah, memandang ke angkasa"
Benar-benar merupakan gerakan kebalikan daripada apa yang diminta hwesio Tibet itu "Merupakan tantangan"
"Omitohud, agaknya taihiap hendak menggunakan kekerasan. Baiklah. Suma Han, kau pandang mataku kalau berani."
Andaikata ucapan yang dikeluarkan merupakan perintah nyaring dan berwibawa ini tidak diembel-embeli "kalau berani", tentu Han Han tidak sudi menurut, sungguhpun di dalam suara itu terkandung wibawa dan tenaga mukjizat yang seolah-olah memaksanya dan menguasai perasaan dan pikirannya.
Akan tetapi kata "kalau berani"
Membuat Han Han penasaran.
Mengapa tidak berani?
Ia lalu memandang ke depan, menentang pandang mata hwesio itu.
Dua pasang sinar mata bertemu.
Semua orang menahan seruan saking kaget dan seram melihat dua pasang pandang mata yang luar biasa itu.
Sepasang mata Thai Li Lama yang sipit itu berubah bundar dan seolah-olah ada sinar terang keluar dari sepasang matanya, sedangkan sepasang mata Han Han menjadi tajam seperti mengandung api.
Thai Li Lama berkemak-kemik dan mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk menguasai kemauan dan pikiran Han Han melalui pandang matanya, menyerang pemuda itu dengan ilmu i-hun-to-hoat untuk membetot semangat (hypnotism), Akan tetapi Han Han yang merasa betapa sinar mata itu seolah-olah menembus jantungnya, cepat membulatkan tekadnya untuk tidak tunduk dan dia malah membalas dengan pandang mata berapi-api.
Di luar kehendak manusia, memang terjadi keanehan yang mujiiat di dalam diri pemuda buntung ini.
Kekuatan gaib telah dimilikinya semenjak malapetaka menimpa keluarganya dan kekuatan kemauannya menjadi luar biasa sekali.
Kemauan yang mukjizat ini tidak saja membuat dia tidak mungkin dapat ditembusi oleh ilmu hitam yang hendak menguasainya, bahkan kemauannya yang amat kuat ini dapat memancar keluar dan masih cukup kuat untuk menguasai orang lain.
Kini Han Han yang maklum apa yang sedang dilakukan lawannya, membulatkan tekadnya untuk melawan dan menolak getaran halus yang keluar dari sinat mata Thai Li Lama.
Ketika ia disuruh memandang, dia memang melakukannya, akan tetapi sama sekali bukan berdasarkan tunduk akan perintah itu, melainkan karena memang timbul atas kehendaknya sendiri hendak "mengadu kekuatan pandang mata"
Dengan hwesio Tibet itu. Maka terjadilah "pertandingan"
Yang luar biasa, lebih hebat daripada pertandingan adu kekuatan sin-kang karena yang diadu kini adalah kekuatan batin yang getarannya bergelombang terasa oleh semua orang yang hadir sehingga mereka itu terpesona seperti kemasukan pengaruh mukjizat.
Dua pedang sinar mata itu masih saling dorong, saling banting dan berusaha sekuatnya untuk menundukkan lawan, kalau kelihatan tentu amat seru seperti dua ekor naga saling serang.
Keduanya tak pernah berkedip, bahkan mata mereka makin lama makin lebar, dengan sinar yang berapi-api.
Diam-diam Thai Li Lama terkejut bukan main.
Dia tadinya hanya menganggap bahwa pemuda buntung itu amat lihai ilmu silatnya, dan siapa mengira bahwa ternyata pemuda ini pun agaknya seorang ahli hoat-sut, ahli sihir yang memiliki kekuatan batin luar biasa sekali"
Biasanya, betapapun pandai silat lawannya, sekali ia menggunakan ilmu membetot semangat ini, lawannya tentu akan mudah ia tundukkan.
Kini melihat kenyataan betapa sama sekali ia tidak dapat menundukkan pemuda buntung ini, bahkan, seolah-olah sinar matanya melekat pada sinar mata pemuda itu, sukar dilepaskan lagi, Thai Li Lama menjadi kaget dan penasaran.
Mulutnya berkemak-kemik membaca mantram dan ia menggunakan seluruh kepandaian sihirnya yang dahulu ia pelajari dari guru-guru besar dari India di lereng Pegunungan Himalaya.
Tiba-tiba ia mengeluarkan gerengan seperti suara seekor biruang dan membentak.
"Suma Han, lihat baik-baik siapa aku? Akulah manusia naga dari Himalaya, berkepala tiga berlengan delapan"
Lekas kau berlutut dan menyerah."
Dari kepala pendeta Tibet itu mengepul uap putih kebiruan dan terdengarlah suara berisik ketika pasukan itu berseru dan berbisik penuh ketakutan sambil memandang ke arah Thai Li Lama dengan mata terbelalak dan muka pucat, tangan menuding dan kaki gemetar.
Siapa orangnya yang tidak akan akan merasa ngeri dan takut?
Pendeta Tibet yang tadinya bertubuh kurus kecil dan wajahnya sama sekali tidak menimbulkan rasa gentar itu kini telah berubah menjadi mahluk yang luar biasa.
Tubuhnya masih tidak berubah, akan tetapi kepalanya berubah menjadi kepala naga, yang hidungnya menghembuskan uap biru, dan bukan hanya sebuah kepala naga yang mengerikan itu, melainkan ada tiga buah.
Dan lengannya bukan dua lagi, melainkan bertumbuh enam buah lengan tangan lain di pundaknya, sehingga lengannya berjumlah delapan.
Bagi Han Han, karena penglihatannya dilindungi oleh perisai kemauan yang membaja, perubahan pada diri Thai Li Lama itu hanya tampak suram-suram saja.
Pemuda ini mengerahkan seluruh kekuatan kemauannya.
Pemuda ini tidak pernah mempelajari hoat-sut, tidak tahu bagaimana untuk mempergunakan kekuatan batinnya dalam ilmu ini, akan tetapi ia mengerti bahwa kalau ia mengerahkan kemauannya, maka ia tidak akan dapat terpengaruh orang lain bahkan dapat menguasai kemauan orang.
Kini ia mengerti bahwa lawannya menggunakan ilmu sihir yang aneh, maka setelah mengerahkan seluruh tenaga kemauannya, ia tertawa dan berkata.
"Hemmm, Thai Li Lama, engkau ini seorang pendeta yang sudah tua, mengapa bersikap seperti anak kecil? Permainanmu ini hanya untuk menakut-nakuti anak-anak, akan tetapi bagiku, engkau tetap Thai Li Lama yang biasa, berkepala hanya sebuah yang penuh dengan akal muslihat kotor dan berlengan dua yang tidak segan-segan melakukan perbuatan jahat."
Semua pasukan yang mendengar ucapan Han Han yang keras dan berwibawa ini melihat perubahan aneh pada diri Thai Li Lama.
Sekarang pendeta itu berubah menjadi biasa kembali dan kedua orang lawan itu masih melanjutkan mengadu kekuatan melalui sinar mata yang berapi-api.
Akhirnya Thai Li Lama tidak kuat menahan, kepalanya berdenyut-denyut amat peningnya dan dari kedua matanya keluar air mata karena saking panas dan pedas rasa kedua matanya.
Ia terhuyung dua langkah, dan tiba-tiba memekik sambil memukulkan sebelah tangannya ke arah dada Han Han, sedangkan tangan yang lain membuat gerakan seperti orang menulis huruf.
Han Han sudah siap sedia, ia melengking nyaring dan kedua tangannya juga mendorong ke depan, sebelah kiri dengan inti tenaga Swat-im Sin-ciang sedangkan yang kanan dengan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang.
Dilanda dua macam tenaga yang berhawa amat dingin dan amat panas ini, Thai Li Lama terlempar ke belakang dan roboh terguling-guling.
Ia dapat meloncat bangun lagi, akan tetapi napasnya terengah-engah dan mukanya pucat.
Melihat keadaan sutenya, Thian Tok Lama sudah merendahkan tubuhnya yang gendut, perutnya mengeluarkan suara berkokok, seperti ayam biang, dan kedua tangannya menyerang dengan pukulan Hek-in-hwi-hong-ciang yang ampuhnya menggila itu.
Tangan kanannya berubah biru dan dari kedua telapak tangan itu menyambar uap hitam ke arah Han Han.
Pada saat yang hampir sama, tiga orang tokoh sakti yang lain, yaitu Kang-thouw-kwi Gak Liat, Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee dan Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat sudah menerjang dengan pukulan-pukulan sakti mereka ke arah Han Han.
Namun semua pukulan sakti yang membawa maut itu luput karena pada saat yang tepat, tubuh Han Han telah lenyap dan pemuda buntung yang amat sakti ini telah melesat ke atas, kemudian menukik turun dengan tongkatnya diputar menjadi sinar kehijauan melingkar-lingkar yang menyambar ke arah kepala lima orang pengeroyoknya.
Lima orang tokoh besar itu yang kesemuanya memiliki tingkat kepandaian yang sudah mencapai puncaknya, cepat mengelak dan melakukan pengurungan ketat dari lima penjuru, seolah-olah secara otomatis membentuk ngo-heng-tin (barisan lima anasir).
Terjadilah pertandingan yang amat seru dan luar biasa.
Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak melancarkan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang berhawa panas sekali.
Juga Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee Si Iblis Muka Kuda menghujankan pukulan-pukulan Swat-im Sin-ciang yang berhawa dingin seperti salju.
Toat-beng Ciu-sian-li dengan penuh amarah menggerakkan sepasang rantai gelang di kedua telinganya yang merupakan sepasang senjata ampuh, dibantu sambaran rambutnya dan serangan kedua, tangan penuh kuku runcing dengan pukulan Toat-beng Tok-ciang yang beracun.
Kedua orang pendeta Lama dari Tibet juga tanpa segan-segan lagi karena maklum akan kelihaian pemuda buntung itu, menyerang dengan pukulan-pukulan sakti mereka.
Han Han mengerti sepenuhnya bahwa dia terancam maut.
Dia mengenal kehebatan lima orang lawannya.
Kalau mereka itu maju seorang demi seorang, dia yakin akan dapat mengalahkan mereka.
Akan tetapi, dikeroyok lima orang yang memiliki kepandaian setinggi itu, benar-benar amat berbahaya dan selama hidupnya, baru sekali ini ia benar-benar dihadapkan dengan pengeroyokan lawan yang menggiriskan.
Terpaksa pemuda buntung yang amat sakti ini mengerahkan seluruh kepandaiannya yang pernah dipelajarinya dan mengerahkan seluruh tenaga sin-kang yang berada di tubuhnya untuk melindungi diri dan juga untuk balas menyerang.
Pada saat itu, senja telah mendatang dan keadaan cuaca mulai menggelap.
Di atas wuwungan istana, jauh tinggi di puncaknya, terdapat dua orang yang menonton pertandingan itu penuh takjub.
Mereka ini bukan lain adalah Puteri Nirahai dan gurunya, Puteri Maya.
Tadi mereka keluar dari istana ketika mendengar akan kekacauan di depan istana, akan tetapi melihat bahwa yang datang mengacau hanya seorang pemuda buntung dan yang menghadapi pemuda buntung itu sudah amat banyak, hati Maya menjadi tertarik maka ia memegang tangan muridnya diajak meloncat naik ke atas wuwungan dan menonton.
Bagi Puteri Maya, benar-benar merupakan pantangan besar dan amat memalukan kalau harus ikut-ikutan mengeroyok seorang lawan yang masih begitu muda, buntung kakinya dan sudah dikeroyok begitu banyak orang.
Juga Puteri Nirahai merasa segan untuk turun tangan karena hal ini akan merendahkan derajatnya sebagai seorang puteri kaisar terutama sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi.
Begitu mendengar teriakan-teriakan Han Han yang minta dibebaskannya Lulu, Nirahai dapat menduga bahwa tentulah pemuda buntung ini yang bernama Han Han, kakak angkat Lulu.
Ia merasa heran dan terkejut melihat bahwa pemuda itu buntung sebelah kakinya, padahal Lulu tidak pernah mengatakan bahwa kakaknya itu buntung.
Dan dia terpesona, takjub menyaksikan gerakan dan sepak-terjang pemuda buntung itu, kagum menyaksikan betapa pemuda itu sanggup menghadapi Ilmu I-hun-to-hoat dari Thai Li Lama, dan hatinya berdebar aneh menyaksikan wajah tampan dilingkari rambut riap-riapan itu, terutama sekali melihat sepasang sinar mata yang begitu tajam dan mengandung sesuatu yang aneh.
"Ihhhhh...., Kedua tangannya mengandung pukulan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang yang digunakan secara berbareng. Memecah sin-kang menjadi berlawanan ini dari mana dia mempelajarinya? Siapa bocah setan itu....?"
Terdengar Nenek Maya mengomel dan matanya memandang terbelalak penuh kaget dan heran menyaksikan Han Han menggunakan kedua tangannya untuk menghadapi lima orang pengeroyoknya.
"Subo, dia itulah yang selalu diceritakan Lulu-sumoi. Dia kakak angkatnva yang bernama Han Han,"
Jawab Nirahai tanpa mengalihkan pandang matanya dari medan pertandingan di bawah.
Akan tetapi Nenek Maya biarpun mendengar ucapan muridnya itu, agaknya tidak mengacuhkan karena dia mengalami kekagetan demi kekagetan ketika menyaksikan pertempuran itu, mulutnya mengeluarkan seruan-seruan heran.
"Lihat pukulannya itu...., Tendangan dengan satu kaki..... Aihhh, bukankah itu jurus-jurus simpanan yang hanya dikenal kami bertiga di Pulau Es? Dan itu heiiiii...., Itu gerakan tongkatnya.... bukankah bagian dari Siang-mo Kiam-sut. Dan loncatan-loncatan itu.... hemmm.... seperti telah mengenalnya akan tetapi demikian aneh. Bukan main, Siapa bocah ini?"
"Subo, dia Han Han dan seperti subo ketahui, dengan Lulu dia telah berhasil mewarisi kitab-kitab di Pulau Es."
"Aihhh...., Benar. Tapi loncatan-loncatan itu, Ilmu silat iblis manakah itu? Benar-benar hebat dan mengerikan."
Ternyata Nenek Maya ini merasa terkejut dan kagum sekali karena sebagai seorang ahli dia sampai tidak mengenal ilmu silat dengan gerakan kilat itu.
Memang itu adalah Ilmu Soan-hong-lui-kun yang diciptakan oleh sumoinya sendiri, Khu Siauw Bwee, dalam pertapaannya.
Tentu saja dia tidak mengenalnya sungguhpun ia merasa kenal akan dasar-dasarnya.
Memang, untuk menghadapi pengeroyokan lima orang sakti itu, terpaksa Han Han mengerahkan seluruh kepandaiannya.
Gerakan Ilmu Silat Soan-hong-lui-kun yang ia pelajari dari Khu Siauw Bwee, tongkatnya dimainkan seperti pedang dengan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut, dan tangan kanannya melakukan serangan bergantian dengan hawa sin-kang Im dan Yang, juga ia mencampurkan gerakan-gerakan silat dari kitab-kitab yang telah ia pelajari dari Pulau Es, disesualkan untuk menghadapi hujan serangan kelima orang lawannya.
Benar-benar hebat pemuda ini dan barulah terbukti kesaktiannya yang jarang dapat ditemui tandingnya, karena setelah bertempur selama ratusan jurus, mengandalkan kelincahan ilmu gerak kilat, ia sama sekali tidak terdesak, bahkan berhasil membuat pengepungan lima orang sakti itu kocar-kacir.
Tentu saja lima orang pengeroyoknya menjadi penasaran sekali, terutama Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li karena pemuda itu bekas murid mereka, dan Gak Liat karena bocah itu dahulu bekas kacungnya.
Cuaca semakin gelap dan para pemimpin pasukan pengawal yang melihat betapa pemuda buntung itu masih juga belum dapat ditundukkan oleh lima orang sakti itu, menjadi khawatir kalau pemuda itu akan berhasil menyerbu ke istana, maka mereka lalu mulai mengeluarkan aba-aba dan pengurungan pasukan dipersempit dan diperketat, siap untuk menerjang pemuda itu seperti air bah mengamuk.
Han Han melihat ancaman ini.
Tidak mungkin baginya untuk menghadapi pengeroyokan begitu banyak orang, sedangkan pengeroyokan lima orang sakti itu saja sudah amat melelahkannya.
"Lebih baik aku menerobos ke dalam istana menangkap Puteri Nirahai atau mencari di mana ditahannya Lulu agar aku dapat membebaskan adikku dan mengajaknya lari dari situ,"
Pikirnya.
Ia mulai mencari kesempatan untuk lolos dan menerjang ke dalam istana.
Akan tetapi lima orang pengeroyoknya makin lama makin penasaran dan marah sekali.
Dari depan, sepasang pendeta Lama sudah menerjangnya dengan pukulan-pukulan sin-kang yang lihai, sedangkan dari kanan kiri Ma-bin Lo-mo dan Kang-thouw-kwi sudah menerjang pula.
Han Han menggunakan tangan kanannya mendorong ke depan, sekaligus menolak pukulan kedua orang Lama.
Hebat bukan main pengerahan tenaganya ini sehingga kedua orang Lama itu terhuyung ke belakang.
Pada saat itu pukulan Kang-thouw-kwi Gak Liat dengan tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang sudah menerjang datang, didahului oleh si nenek Toat-beng Ciu-sian-li yang menyerangnya dari belakang dengan sambaran rantai gelang.
Han Han mengeluarkan suara melengking, tubuhnya cepat melesat ke belakang, tinggi dan berjungkir balik, tangan kanannya cepat menyambar dan ia berhasil menangkap ujung rantai gelang nenek itu yang menyambarnya.
Dengan sepenuh tenaga disentakkannya kuat-kuat hingga tubuh nenek itu melayang ke atas.
Nenek itu menjerit, kalau bukan dia tentu daun telinganya akan putus.
Han Han melontarkan tubuh nenek itu dengan melepaskan rantai gelang ke arah Kang-thouw-kwi yang memukulnya tadi.
Kini tubuh nenek itu melayang dan akan bertemu dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang.
Melihat ini, Ma-bin Lo-mo berseru kaget, cepat ia pun mengerahkan tenaganya mendorong ke depan untuk menyambut pukulan Gak Liat dalam usahanya menolong nenek itu.
"Desssss....."
Ma-bin Lo-mo terjengkang sedangkan Gak Liat terdorong mundur sambil terbatuk-batuk dan sedikit darah keluar dari mulutnya.
Nenek itu sendiri terbanting roboh ke atas tanah, amat kerasnya sehingga nenek ini mengeluh dan merasa seolah-olah pantatnya yang tiada dagingnya lagi terbanting penyok.
Ketika lima orang sakti yang dalam gebrakan hebat ini terdesak cepat menguasai diri dan hendak menerjang, tiba-tiba tubuh Han Han melesat ke atas, melampaui kepala para anak buah pasukan yang mengurung dan telah melayang ke atas genteng istana.
Ramailah pasukan itu lari mengejar, ada pula yang memasang obor karena cuaca sudah mulai remang-remang.
"Kejar keatas....."
"Awas, kepung istana agar dia tidak lari." (Lanjut ke
Jilid 37) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 37
"Heiii, lekas jaga sebelah dalam istana, hadang semua jalan."
"Paling perlu lindungi kamar-kamar Sri Baginda dan keluarganya."
Ramailah pasukan pengawal itu berteriak-teriak dan bergerak kacau-balau seperti serombongan semut diganggu sarangnya.
Adapun lima orang sakti itu, biar sudah amat tertinggal jauh, segera meloncat pula naik ke atas genteng melakukan pengejaran.
Cara Han Han meloncat amat luar biasa karena dia menggunakan ilmunya gerak kilat, tubuhnya mencelat-celat ke atas sampai ke wuwungan.
Tiba-tiba ia berhenti di atas wuwungan memandang terbelalak kepada seorang nenek dan seorang gadis cantik jelita yang berdiri tenang di situ.
Melihat gadis itu dalam cuaca yang remang-remang, Han Han memekik girang.
"Lulu....."
Tubuhnya mencelat dan ia telah berada di depan gadis itu, terus dirangkulnya sambil mengeluh karena kelelahan.
"Lulu adikku.... ah, Lulu.... syukur kau selamat.... kau ampunkanlah aku, Lulu....."
Saking girang hatinya, seperti dahulu, ia mencium pipi adiknya itu, tidak tahu betapa gadis itu terbelalak dan mukanya menjadi merah sekali.
Dapat dibayangkan betapa malu dan jengah rasa hati gadis ini yang bukan lain adalah Puteri Nirahai sendiri yang disangka Lulu oleh Han Han.
Memang ada persamaan pada wajah kedua orang gadis itu dan juga bentuk tubuh mereka sama, maka tidak mengherankan apabila Han Han yang dalam keadaan lelah salah duga melihat Nirahai dalam cuaca remang-remang itu.
Han Han berada dalam kegirangan luar biasa melihat "adiknya"
Selamat, maka ketika merangkul dan menciumnya, kegirangan membuat ia kehilangan kewaspadaannya dan tiba-tiba ia mengeluh, tubuhnya menjadi lemas karena jalan darah di punggungnya telah tertotok.
Totokan biasa saja kiranya tidak akan mempengaruhi tubuhnya yang dialiri sin-kang amat kuat, akan tetapi sekali ini yang menotoknya adalah Nenek Maya.
Maka ia terguling dan tahu-tahu telah dikempit oleh lengan kiri Nenek Maya.
Pada saat itu, lima orang sakti telah menyusul ke atas wuwungan.
Nenek Maya yang mengempit tubuh Han Han, tersenyum mengejek dan berkata.
"Dia sudah kutangkap, kalian mau apa?"
Lima orang sakti itu telah mendengar bahwa di istana terdapat guru Puteri Nirahai yang amat lihai, akan tetapi karena belum pernah melihat nenek ini yang kehadirannya dirahasiakan, Toat-beng Ciu-sian-li yang berwatak angkuh segera menegur.
"Siapakah Kau ?"
Nirahai khawatir kalau-kalau gurunya yang memiliki watak aneh luar biasa itu menjadi marah, maka ia cepat maju dan berkata halus.
"Harap Ngo-wi Locianpwe suka mundur dan beristirahat karena pengacau telah dapat ditangkap oleh guru saya dan akan kami periksa sendiri."
Mendengar ini, Toat-beng Ciu-sian-li terkejut dan memandang tajam penuh perhatian kepada Nenek Maya.
Ia merasa sudah pernah melihat nenek itu, akan tetapi tidak ingat lagi kapan dan di mana.
Juga tokoh-tokoh lain ketika mendengar bahwa nenek yang agaknya dengan amat mudahnya menangkap Han Han yang tadi membuat mereka berlima kewalahan itu adalah guru Nirahai, cepat menjura dengan hormat.
Mereka semua tahu akan kelihaian puteri cantik itu, kalau muridnya saja sudah demikian lihainya, apa lagi gurunya"
Demikian lihainya, apa lagi gurunya.
Nenek Maya sudah membalikkan tubuhnya dan tanpa mengeluarkan ucapan sedikit pun ia telah meloncat turun mengempit tubuh Han Han, diikuti oleh Nirahai, memasuki istana kembali melalui pintu belakang.
Lima orang tokoh itupun cepat turun dan kini pasukan pengawal sibuk merawat teman-teman yang terluka dalam pengeroyokan mereka terhadap Han Han tadi.
Malam itu, suasana di sekeliling istana sunyi sepi, akan tetapi di dalam kesunyian ini, penjagaan para pengawal diperkuat karena para komandan pengawal merasa khawatir kalau-kalau datang lagi pengacau yang berilmu tinggi seperti di pemuda buntung yang kini telah menjadi tawanan Puteri Nirahai di dalam istana.
Setelah tertotok lemas dan dibawa oleh nenek sakti itu ke dalam istana, barulah Han Han dapat melihat wajah Puteri Nirahai di bawah sinar lampu yang terang dan ia terkejut setengah mati ketika mendapat kenyataan bahwa gadis yang disangkanya Lulu, dirangkul dan dicium pipinya tadi ternyata sama sekali bukanlah Lulu, melainkan seorang gadis yang mirip Lulu dan cantik jelita sekali.
Kekagetannya bertambah ketika ia melirik dan mengamati wajah nenek yang mengempitnya.
Ia mengenal wajah ini yang biarpun sudah tua namun masih membayangkan kecantikan, membayangkan raut muka yang mirip benar dengan puteri jelita ini, mirip pula dengan Lulu, dan....
mirip dengan patung wanita di Pulau Es.
Han Han terbelalak, kini ia kembali memandang Nirahai.
Bukan main.
Sekarang terasa benar olehnya kemiripan wajah gadis jelita ini dengan patung Puteri Maya di Pulau Es.
Han Han melongo, terpesona, dan biarpun tubuhnya dikempit, pandang matanya seperti lekat pada wajah Puteri Nirahai.
Puteri Maya membawa tubuh Han Han memasuki ruangan dalam yang luas di depan kamarnya, kemudian sekali tangannya bergerak, Han Han telah dibebaskan totokannya dan tubuhnya telah dilempar ke atas lantai.
Kemudian nenek sakti itu duduk di atas kursi, menyambar guci arak dan minum arak dari sebuah cawan perak.
Adapun Puteri Nirahai masih berdiri.
Gadis ini memandang wajah Han Han penuh perhatian, memandang ke arah kaki dan alisnya yang bagus itu berkerut dalam kesangsian dan pertanyaan apakah pemuda ini benar-benar kakak Lulu yang bernama Han Han.
Han Han meloncat bangun dan terhuyung karena tubuhnya masih terasa lemas, bukan oleh bekas totokan yang telah dibebaskan, karena sin-kangnya membuat ia dapat menguasai kembali jalan darahnya, melainkan karena lelahnya setelah melakukan pertempuran yang berat tadi.
Tiba-tiba Nenek Maya menggerakkan tangan dan tongkat butut Han Han yang tadi dia bawa pula melayang ke arah Han Han, melayang seperti luncuran anak panah menuju ke dada pemuda buntung itu.
Han Han cepat menyambarnya dan nenek itu kagum bukan main.
Pemuda buntung ini benar-benar tidak mengecewakan menjadi murid atau ahli waris Istana Pulau Es.
Dengan tongkat di tangannya, Han Han dapat berdiri tegak dan ketika ia memandang Nirahai, puteri inipun sedang memandangnya penuh perhatian.
Dua pasang mata bertemu pandang dan wajah Han Han menjadi merah sekali.
Ia teringat betapa tadi ia merangkul dan mencium pipi yang halus kemerahan itu.
Tak terasa lagi ia lalu berkata lirih menggagap.
"Maaf.... maafkan kekurang-ajaranku tadi.... kukira engkau Lulu."
Wajah puteri yang berkulit halus putih kemerahan itu menjadi makin merah, akan tetapi ia hanya mengangkat pundaknya lalu bertanya, suaranya dingin seolah-olah hal yang dihadapi dan ditanyakannya adalah urusan kecil.
"Apakah kau yang bernama Han Han, kakak angkat Lulu?"
Han Han mengangguk dan bertanya.
"Di mana adikku? Dan engkau.... eh, tentu engkau inilah Puteri Nirahai, bukan? Mengapa engkau menangkap adikku itu dan di mana dia? Kuharap kau suka membebaskannya. Kedatanganku ini bukan untuk mengacau, hanya untuk membebaskan adikku."
Nirahai tersenyum mengejek.
"Tidak membikin kacau akan tetapi membunuh dan melukai banyak pengawal istana, menggegerkan istana. Bahkan pernah menjadi pembantu pemberontak di Se-cuan. Hemmm, tentang urusan Lulu, dia adalah sumoiku, karena dia menyeleweng maka kutangkap. Subo yang menangkapmu, maka terserah kepada subo untuk mengadilimu. Subo, teecu akan pergi sekarang mempersiapkan pertemuan penting itu. Mengenai orang buntung ini, terserah kepada subo."
Nenek Maya mengangguk, sejak tadi nenek ini memandang Han Han penuh perhatian, lalu menggerakkan tangan menyuruh Puteri Nirahai pergi.
Setelah melontarkan kerling mata terakhir kepada Han Han, mulut yang manis itu menyimpulkan senyum, Nirahai lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Han Han kini menghadapi Nenek Maya, mereka saling pandang dan Han Han menjadi makin yakin di dalam hatinya bahwa nenek ini tentulah wanita yang patungnya berada di Pulau Es, suci dari gurunya yang telah membuntungi kaki gurunya itu.
Dan betapa hebat persamaan puteri cantik tadi dengan patung itu pula.
"Orang muda, engkaukah pemuda yang bersama muridku Lulu tinggal bertahun-tahun di Pulau Es?"
Nenek Maya bertanya sambil memandang tajam. Karena kini tidak ragu lagi, Han Han lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata.
"Benar, subo, harap subo memaafkan kelancangan teecu yang telah membikin ribut di tempat ini. Teecu tidak tahu bahwa adik teecu telah menjadi murid subo, dan sesungguhnya teecu hanya mengkhawatirkan keselamatan Lulu."
"Hemmm...., kau menyebut aku subo (Ibu Guru), atas dasar apa? Tahukah engkau, siapa aku?"
Han Han teringat bahwa seperti juga Khu Siauw Bwee, nenek buntung yang menjadi gurunya, Nenek Maya ini pun telah mengasingkan diri dan tidak pernah muncul di dunia ramai, maka tentu saja nenek itu ingin sekaii tahu bagaimana Han Han dapat mengenalnya.
"Maafkan teecu kalau keliru. Subo adalah Puteri Maya yang arcanya pernah teecu lihat di dalam Istana Pulau Es, bersama arca Subo Khu Siauw Bwee dan Suhu Kam Han Ki."
"Aihhhhh....."
Nenek itu terbelalak dan sepasang matanya berkilat-kilat.
"Di antara kami bertiga tidak mungkin ada yang meninggalkan nama di Pulau Es. Bagaimana engkau bisa mengenal nama-nama kami? Awas, sekali engkau berbohong, aku akan membunuhmu."
Pandang mata, suara dan sikap nenek ini benar-benar membuat Han Han mengkirik.
Betapa jauh bedanya nenek ini dengan gurunya Si Nenek Buntung.
Nenek ini memiliki kecantikan yang amat luar biasa, seperti bukan manusia, akan tetapi di samping kecantikannya, juga memiliki watak yang mengerikan.
Dan tentang kepandaian, tentu saja nenek ini memiliki kesaktian hebat, hal ini dia tidak ragu-ragu lagi mengingat akan hebatnya kepandaian Khu Siauw Bwee, nenek yang menjadi gurunya, yang kakinya dibuntungi oleh Nenek Maya ini.
"Teecu tidak berani membohong. Tentu subo telah mendengar penuturan adik teecu tentang pengalaman kami berdua di Pulau Es. Teecu bersama Lulu memang tadinya tidak tahu sama sekali siapa adanya tiga arca yang berada di Istana Pulau Es itu. Akan tetapi, teecu telah berjumpa dengan Subo Khu Siauw Bwee...."
Tiba-tiba Han Han menghentikan kata-katanya.
Seluruh urat syaraf di tubuhnya menggetar dan hanya dengan kemauannya yang amat keras saja ia dapat memaksa dirinya untuk tinggal diam berlutut dan tidak melawan, mengelak maupun menangkis.
Nenek itu telah mencelat ke dekatnya dan tahu-tahu jari tangan nenek itu telah menyentuh ubun-ubun kepalanya, siap untuk mencengkeram.
Sedikit saja nenek itu menggunakan tenaganya mencengkeram, tentu kepalanya akan pecah.
"Orang muda.... hati-hati kau.... kalau bohong....."
Suara itu terdengar gemetar, agaknya Nenek Maya ini terharu dan terkejut mendengar bahwa sumoinya itu masih hidup.
"Teecu bersumpah tidak bohong, subo. Teecu ditangkap dan kaki teecu dibuntungi oleh Toat-beng Ciu-sian-li sebagai hukuman, teecu terjerumus ke dalam jurang, hanyut di sungai dan ketika teecu berhasil mendarat, teecu bertemu dengan Subo Khu Siauw Bwee. Maka teecu lalu memberi kantung surat, yaitu peninggalan Suhu Kam Han Ki yang teecu bawa dari Pulau Es untuk teecu sampaikan kepada orang yang berhak. Dan ternyata surat-surat itu memang ditujukan oleh suhu kepada Subo Khu Siauw Bwee...."
Kembali Han Han menghentikan kata-katanya karena nenek itu mengeluh lalu terhuyung-huyung ke belakang dan menjatuhkan lagi dirinya di atas kursi.
Wajahnya yang dahulu di waktu mudanya tentu amat cantik itu pucat sekarang.
"Teruskan.... teruskan.... apa isi surat-suratnya itu...."
Diam-diam Han Han berpikir.
Biarpun nenek buntung Khu Siauw Bwee tidak mau menceritakan pengalaman-pengelaman mereka bertiga di waktu muda ketika mereka berada di Pulau Es, namun ia dapat menduga bahwa tentu terjadi perebutan cinta antara Nenek Maya dan Nenek Khu Siauw Bwee, dan kemudian, melihat sikap Nerek Khu Siauw Bwee ketika membaca surat-surat itu, jelaslah bahwa sesungguhnya Koai-lojin hanya mencinta Khu Siauw Bwee seorang.
Akan tetapi, kalau ia kemukakan hal ini, bukankah berarti ia akan menyakiti hati Nenek Maya ini?
Dia menjadi tidak tega, bahkan diam-diam Han Han merasa kasihan kepada nenek ini.
Dia sendiri dahulu terpesona oleh arca nenek ini di waktu muda, demikian cantik jelitanya, seperti bidadari, dan baru melihat arcanya saja jantung sudah berdebar.
Tadi pun ketika ia melihat puteri Nirahai yang mirip dengan arca itu, ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya.
Betapa mungkin ia dapat menyakiti hati nenek itu?
Akan tetapi, kalau dia tidak berterus terang, nenek ini yang berwatak luar biasa tentu akan menjadi marah dan akibatnya tak dapat ia kira-kirakan, yang jelas ia tentu terancam bahaya maut.
"Teecu tidak berani membuka surat-surat itu, subo. Biarpun teecu hanya mengetahui subo bertiga dari arca-arca yang berada di Pulau Es, namun tentu saja subo bertiga telah teecu anggap sebagai penghuni-penghuni Istana Pulau Es, dengan demikian menjadi pula guru-guru teecu. Mana berani teecu membaca surat Suhu Koai-lojin? Teecu hanya membawanya untuk diserahkan kepada orang yang berhak, dan ternyata memang surat-surat itu ditujukan kepada Subo Khu Siauw Bwee."
Kembali terdengar keluhan dari dada nenek itu, keluhan yang membayangkan kehancuran hati.
Kemudian Nenek Maya dapat menguasai dirinya kembali dan bertanya, suaranya menggetar.
"Ceritakan, bagaimana sikap sumoi setelah membaca surat dari suheng itu....."
Di dalam lubuk hatinya, Han Han sudah dapat menduga apakah yang dahulu terjadi antara tiga orang gurunya, penghuni-penghuni Pulau Es yang aneh itu.
Sebaliknya bagi yang berkepentingan sendiri harus mengetahui hal sebenarnya, baik manis maupun pahit, agar tidak selalu menjadi keraguan dan menimbulkan pertikaian.
Nenek Maya ini tentu selalu menyangka bahwa Koai-lojin mencintanya maka dahulu telah terjadi pertentangan antara dia dan sumoinya.
"Subo Khu Siauw Bwee setelah membaca surat-surat itu lalu menangis dan mengatakan mengapa dahulu suhu tidak berterus terang menyatakan mencinta subo seorang sehingga tidak terjadi pembuntungan kakinya. Surat-surat itu adalah surat-surat pernyataan cinta...."
Tiba-tiba Nenek Maya menjerit lirih dan menangis tersedu-sedu.
Melihat ini, Han Han menjadi kasihan sekali.
Betapa mungkin seorang wanita yang dahulunya tentu amat cantik jelita seperti bidadari mengalami penderitaan karena cinta.
Pemuda itu teringat akan syair yang diukir di dinding Istana Pulau Es, dan dalam keadaan penuh haru dan setengah sadar itu Han Han lalu mengucapkan syair dengan suara penuh perasaan.
Betapa ingin mata memandang mesra betapa ingin jari tangan membelai sayang betapa ingin hati menjeritkan cinta namun Siansu berkata.
bebaskan dirimu dari ikatan nafsu Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?
Tanpa adanya perpaduan Im dan Yang dunia takkan pernah tercipta Betapapun juga, cinta segi tiga tak membahagiakan menyenangkan yang satu menyusahkan yang lain akibatnya hanya perpecahan dan permusuhan ikatan persaudaraan dilupakan akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara.
Kesimpulan, benarlah pesan Siansu bahwa sengsaralah buah daripada nafsu Nenek Maya yang tadinya membelalakkan matanya yang basah itu, memandang dengan bengis dan penuh nafsu membunuh, ketika mendengarkan syair ini, makin lama makin terbelalak dan wajahnya tidak bengis lagi melainkan penuh keheranan dan keharuan, kemudian dengan suara serak ia berkata.
"Orang muda, apa.... apa maksudmu dengan syair itu....?"
"Maaf, subo. Saking terharu hati teecu, maka teecu teringat akan syair yang diukir pada dinding Istana Pulau Es, dan menurut Subo Khu Siauw Bwee, agaknya syair itu diukir oleh Suhu Koai-lojin."
Kembali Nenek Maya mengeluh dan menutupkan kedua telapak tangannya pada mukanya.
"Ahhh, kasihan.... kasihan sekali suheng...., Biarpun mencinta sumoi, ternyata tidak mau mengaku karena tidak suka menghancurkan hatiku. Orang muda, engkau tentu telah digembleng oleh Khu-sumoi, bukan? Cara engkau meloncat-loncat itu...."
"Benar, subo. Sesungguhnyalah karena mengingat bahwa teecu memang sudah menjadi murid suhu dan subo berdua, dan agaknya melihat kaki teecu yang buntung, maka Subo Khu Siauw Bwee lalu mengajar teecu beberapa lamanya."
"Bagus, karena itu maka engkau tidak kubunuh sekarang. Dalam cinta mungkin aku telah kalah oleh sumoi, akan tetapi dalam ilmu silat, aku tidak mau kalah. Sumoi telah menurunkan ilmu silat ciptaannya yang baru kepadamu, dan aku akan menurunkan kepandaianku kepada muridku Nirahai. Kita sama lihat saja kelak siapa yang lebih unggul. Aku menitipkan nyawa kepadamu, bocah, dan kelak Nirahai muridkulah yang akan mengambil nyawamu sekalian membuktikan bahwa ilmuku masih lebih tinggi daripada ilmu sumoi. Nah, pergilah sebelum aku menyesal akan keputusanku ini."
Han Han bukan seorang penakut.
Kalau hanya menghadapi ancaman maut saja, dia sudah berkali-kali mengalaminya.
Kedatangannya untuk mencari Lulu adiknya, tentu saja ia tidak akan mudah diusir pergi dengan ancaman sebelum ia berhasil mendapatkan adiknya atau setidaknya mengetahui apa yang terjadi dengan adiknya.
"Maaf, subo. Tentu saja teecu akan mentaati semua perintah subo, akan tetapi terlebih dahulu teecu harus dapat menemukan Lulu, adik teecu dan membebaskannya...."
Nenek Maya menyusut air matanya dan memandang pemuda berkaki buntung itu.
Biarpun hatinya masih merasa panas terhadap sumoinya, namun diam-diam ia merasa kagum kepada pemuda ini.
Memang hanya muridnya Nirahai itulah yang agaknya merupakan satu-satunya orang yang akan dapat menandingi pemuda hebat ini.
Muridnya itu mempunyai kecerdikan luar biasa, bakat yang amat hebat dan kekerasan hati yang sukar dicari keduanya.
Betapapun juga, timbul keraguan hatinya apakah Nirahai akan mampu menandingi pemuda ini dan ia berjanji di dalam hati untuk menurunkan semua ilmunya yang paling ampuh kepada muridnya itu.
Pendeknya, Nirahai tidak boleh kalah oleh murid Khu Siauw Bwee.
"Bocah keras kepala, Lulu adalah muridku, siapakah yang akan mengganggunya? Dia memang ditangkap oleh sucinya karena dia menyeleweng, akan tetapi kini dia telah melarikan diri ketika murid-murid Ma-bin Lo-mo menyerbu tahanan. Entah ke mana perginya bocah yang suka menimbulkan kekacauan itu, aku tidak tahu."
Han Han terkejut bukan main.
"Murid-murid Ma-bin Lo-mo....? Bagaimana.... apa maksud subo?"
Nenek itu tersenyum dingin dan Han Han kagum melihat betapa nenek itu ternyata masih mempunyai gigi yang berderet lengkap dan kuat.
"Siapa tahu dan siapa peduli? Murid-murid Si Muka Kuda itu memberontak terhadap guru mereka, dan melihat macamnya Ma-bin Lo-mo, jelas bahwa murid-muridnya tentu lebih baik daripada dia. Kalau aku turun tangan, apa yang dapat dilakukan mereka? Aku tidak peduli, dan karena Lulu hanya akan mereka bebaskan dan tidak diganggu, aku tidak peduli. Bocah itu sudah banyak bikin pusing, sekarang pergi entah ke mana, kau cari sendiri. Nah, sekarang pergilah dan kalau kau masih tidak taat, kuanggap kau menantangku."
Han Han menjadi girang akan tetapi juga bingung.
Dia percaya penuh kepada nenek ini, seorang berkepandaian tinggi luar biasa dan berwatak angkuh, tentu tidak sudi membohong.
Yang penting baginya, Lulu sudah bebas dan perkara mencarinya adalah urusannya sendiri.
Maka ia cepat memberi hormat, kemudian tubuhnya mencelat pergi dari tempat itu.
Sengaja ia mengerahkan tenaga menggunakan kepandaiannya yang ia dapat dari Khu Siauw Bwee, maka gerakannya pun cepat seolah-olah ia pandai menghilang dan lenyap dalam sekejap mata dari depan Nenek Maya.
Melihat ini, Nenek Maya menghela napas panjang penuh kagum.
Biarpun Han Han dapat mempercayai keterangan Nenek Maya bahwa adiknya telah terbebas dari dalam tahanan ketika murid-murid Ma-bin Lo-mo menyerbu tahanan, namun ia masih tidak tergesa-gesa meninggalkan kota raja dan melakukan penyelidikan dengan bertanya-tanya tentang peristiwa itu.
Tentu saja berita penyerbuan itu menggegerkan kota raja dan hampir setiap orang yang ditanyainya dapat menceritakannya.
Akan tetapi, seperti biasa berita yang merupakan berita angin dari mulut ke mulut, setiap orang mempunyai cerita yang berbeda, dan tidak seorang pun di antara mereka dapat memberitahukan secara jelas, juga tidak ada yang tahu ke mana perginya Lulu yang ikut pula melarikan diri dari tahanan bersama para tahanan lain ketika murid-murid In-kok-san (Lembah Awan) itu datang menyerbu.
Han Han menjadi bingung dan tidak mengerti kalau ia teringat akan adiknya.
Bukankah menurut keterangan Lauw Sin Lian, adiknya itu telah menjadi anak angkat mendiang Lauw-pangcu dan telah memihak para pejuang?
Akan tetapi dia berjumpa dengan Lulu di Se-cuan sebagai seorang pemimpin pasukan Mancu.
Kemudian mendengar Lulu ditangkap oleh Puteri Nirahai dan menjadi tawanan, sekarang ditolong oleh murid-murid In-kok-san.
Sebenarnya, di pihak manakah Lulu berdiri?
Benar-benar membingungkan dan mau tidak mau Han Han tersenyum sendiri kalau mengingat ucapan Nenek Maya bahwa Lulu sudah banyak membikin pusing.
Benar-benar anak nakal adiknya itu.
Akan tetapi senyumnya lenyap terganti awan duka kalau ia teringat akan pertemuannya yang terakhir dengan Lulu.
Adiknya itu tentu membencinya.
Lulu, aku harus dapat menemukanmu dan memberi penjelasan, minta maaf, demikian jerit hatinya dan pemuda ini mengambil keputusan untuk pergi menyelidik ke In-kok-san, di Pegunungan Tai-hang-san.
Adiknya dibebaskan oleh murid-murid Ma-bin Lo-mo dan dia sendiri tidak tahu mengapa murid-murid Ma-bin Lo-mo menyerbu istana sedangkan guru mereka sendiri berada di istana membantu Kerajaan Mancu.
Satu-satunya jalan untuk membongkar rahasia ini dan bertanya kepada bekas suheng-suheng dan suci-sucinya itu di mana adanya Lulu, hanya pergi mengunjungi mereka.
Selain hendak mencari Lulu atau kalau adiknya tidak berada di sana, bertanya kepada mereka ke mana perginya adiknya, juga Han Han ingin mengunjungi kuburan kakeknya, yaitu Jai-hwa-sian Suma Hoat dan ingin menyelidik tentang riwayat nenek moyangnya.
Hidupnya selalu dirundung malang, dimusuhi sana-sini, selalu sengsara dan menderita tekanan batin, agaknya hal ini semua terjadi karena darah keturunannya.
Hidupnya seperti hukuman, dan agaknya memang hukuman karena dosa-dosa nenek moyangnya.
Di sepanjang perjalanannya yang jauh itu, Han Han selalu merasa hatinya tertindih kedukaan.
Kalau ia renungkan dan ingat-ingat, apalagi di waktu ia menghentikan perjalanan karena malam gelap dan ia duduk mengaso di bawah pohon, terbayanglah di depan matanya wajah Kim Cu yang berkepala gundul dan sinar matanya penuh duka, terganti wajah Lu Soan Li yang telah mengorbankan nyawa untuknya, kemudian bermunculan wajah Lauw Sin Lian, Tan Hian Ceng, di antara bayangan wajah Lulu dan yang terakhir Puteri Nirahai.
Diam-diam ia mengeluh.
Mengapa Kim Cu dan Soan Li berkorban untuknya?
Mengapa mencintanya?
Dan Hian Ceng....
Ah, dia, seorang yang buntung, yang tidak patut mendampingi gadis-gadis cantik jelita itu, mengapa justeru dia yang mereka cinta?
Bukankah hal ini merupakan hukuman baginya, hukuman karena dosa-dosa nenek moyangnya, terutama sekali kakeknya, Jai-hwa-sian Suma Hoat?
Han Han mengeluh di dalam hatinya.
Mengapa dia, yang sudah terang merupakan seorang pemuda berkaki buntung, bercacat sehingga tidak patut mendampingi seorang wanita, apalagi gadis-gadis cantik seperti mereka itu, kini selalu mengenangkan mereka?
Tidak, tidak boleh sama sekali.
Apakah hal inipun merupakan penyakit baginya, penyakit turunan sehingga ia tidak pernah mampu mengusir bayangan wanita-wanita cantik itu?
Apakah dia pun termasuk seorang yang memiliki darah kakeknya, darah seorang pria yang mata keranjang?
Kembali Han Han mengeluh panjang dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, berusaha untuk melupakan semua itu dan untuk tidur.
Dia harus menggunakan kekuatan kemauannya untuk melupakan bayangan-bayangan wajah ayu itu, kecuali bayangan wajah Lulu, adiknya.
Tentu saja pemuda yang bernasih malang ini tidak tahu bahwa dia sama sekali bukan menderita penyakit, bukan pula mata keranjang, melainkan dia pun seorang manusia biasa.
Karena usianya sudah dewasa, tentu saja daya tarik lawan kelamin makin kuat dan tanpa disadarinya, berahinya terhadap wanita pun makin menguat.
Hal ini adalah wajar dan bahkan sudah semestinya demikian.
Hanya karena pemuda ini telah mengalami hal-hal yang melukai hatinyai melihat pengorbanan Kim Cu dan Soan Li untuk dirinya, ditambah pengetahuan bahwa kakeknya seorang penjahat cabul pemerkosa wanita, maka ia mengekang rasa tertarik terhadap wanita ini yang dianggapnya sebagai semacam penyakit dan ia menyalahkan darah keturunannya.
Ketika ia tiba di lereng Pegunungan Tai-hang-san, Han Han memandang sekeliling dan menghirup hawa segar, hatinya agak terharu mengingat betapa dahulu, sepuluh tahun lebih yang lalu, ia tinggal di daerah ini sebagai murid In-kok-san.
Teringatlah ia akan Kim Cu yang semenjak menjadi saudara seperguruan, selalu bersikap amat baik terhadapnya.
Memang belum lama ini dia kembali ke In-kok-san, akan tetapi sebagai tawanan Toat-beng Ciu-sian-li sampai kakinya dibuntungi, dan dalam keadaan seperti itu ia tidak dapat menikmati keindahan alam dan tidak terkenang akan masa kanak-kanak dahulu.
Kini ia berdiri termenung dan barulah ia sadar kembali ketika ia mendengar gerakan kaki manusia.
Ketika ia menengok, ia melihat dua orang laki-laki menggotong sebuah joli yang tertutup tirai sutera.
Cepat Han Han menyelinap ke belakang pohon karena ia melihat berkelebatnya bayangan empat orang yang bergerak cepat sekali, seolah-olah mempunyai niat buruk terhadap joli yang digotong oleh dua orang itu.
Setelah joli yang digotong lewat dan empat bayangan itu dekat, Han Han makin tertarik.
Ia mengenal empat orang pemuda tampan itu.
Mereka adalah bekas-bekas suhengnya, murid-murid Ma-bin Lo-mo atau murid-murid In-kok-san.
Mau apakah mereka mengikuti joli sambil bersembunyi dan siapa pula yang duduk di dalam joli?
Tadinya, melihat sikap mereka yang mengancam, ingin Han Han memperingatkan orang yang duduk di dalam joli, akan tetapi ia segera menekan kehendak hati ini dengan kesadaran betapa ia selalu mendatangkan salah paham dan keributan setiap kali turun tangan.
Dia tidak akan mencampuri urusan yang belum diketahuinya benar.
Maka Han Han hanya menyelinap dan mengikuti empat orang pemuda itu sambil bersembunyi, menggunakan kepandaiannya mencelat ke tempat-tempat tersembunyi sambil mengintai.
Agaknya dua orang penggotong joli itu hanyalah memiliki tenaga kasar saja, hanya kuat untuk menggotong joli dan melakukan perjalanan jauh, akan tetapi tidak memiliki kepandaian.
Buktinya, mereka berdua ini sama sekali tidak tahu bahwa ada empat orang yang kini membayangi dari dekat.
Kini empat orang murid In-kok-san itu bergerombol di balik semak-semak, berbisik-bisik kemudian mereka mengayun tangan ke arah joli.
Han Han terkejut sekali melihat sinar-sinar terang menyambar ke arah joli.
Kiranya mereka itu telah menyerang joli dengan senjata-senjata rahasia.
Jarum, piauw, dan uang logam beterbangan dengan jitu menyambar dan menerobos tirai sutera joli.
Han Han membuka mata lebar-lebar karena tidak terdengar apa-apa dari dalam joli, bahkan beberapa detik, senjata-senjata kecil itu beterbangan menyambar dari dalam joli, kembali kepada empat orang penyerangnya secara cepat sekali, jauh lebih cepat dan kuat luncurannya daripada sambitan empat orang murid In-kok-san tadi"
Han Han kagum dan juga merasa geli hatinya menyaksikan betapa empat orang itu berseru kaget dan kacau-balau mengelak dari sambaran senjata-senjata rahasia mereka sendiri sedangkan dua orang penggotong joli itu agaknya tidak tahu apa yang terjadi dan terus melangkah maju menggotong joli.
Empat orang murid In-kok-san itu agaknya penasaran dan marah sekali.
Mereka berempat lalu melompat keluar dari batik semak-semak, dan mencabut senjata sambil berseru keras mereka berempat itu menerjang ke arah joli.
Dua batang pedang dan dua batang golok menyambar dan menusuk ke arah tirai sutera joli itu, terdengar kain robek ketika empat batang senjata runcing dan tajam itu menembus tirai menusuk ke dalam joli.
Dua orang penggotongnya baru kaget, melepaskan joli dan menjatuhkan diri berlutut.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya hati empat orang murid In-kok-san itu ketika senjata mereka memasuki joli yang kosong....
Hanya Han Han yang melihat betapa ada bayangan berkelebat cepat sekali keluar dari joli dari sebelah sana dan bayangan itu kini telah meloncat dan berdiri di atas cabang pohon sambil tersenyum mengejek.
Ketika ia memandang, kiranya bayangan itu bukan lain adalah Puterai Nirahai yang cantik jelita.
Kekaguman Han Han makin meningkat.
Dapat menangkap serangan am-gi (senjata gelap) dari dalam joli dan mengembalikannya tanpa membuka tirai sudah merupakan kepandaian luar biasa, kini dapat menghindarkan diri dari serangan dengan cara secepat itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah memiliki tingkat ilmu silat yang amat tinggi.
Empat orang muda itu adalah murid-murid Ma-bin Lo-mo yang tentu saja bukan merupakan jago-jago muda sembarangan, namun mereka kini berdiri bingung dan barulah mereka menggerakkan senjata dibarengi meluncurnya tubuh wanita jelita itu dari atas pohon menyambar ke arah mereka.
"Trang-trang-trang-trang....."
Dua batang pedang itu terlempar ke kanan kiri, disusul robohnya empat orang muda itu dalam keadaan tertotok lemas dan rebah di atas tanah.
Hanya mata mereka saja yang mampu memandang melotot penuh kebencian kepada Nirahai yang tersenyum lebar.
"Untung bagi kalian bahwa aku datang membawa tugas perdamaian dan persahabatan. Kalau tidak, apakah kalian dapat mengharap masih dapat hidup di saat ini?"
Setelah berkata demikian, Nirahai memasuki jolinya yang sudah robek-robek tirainya itu, memberi isyarat kepada dua orang penggotongnya.
Dua orang itu bergegas menggotong joli dan cepat-cepat pergi dari situ, sedangkan dari balik tirai sutera yang robek-robek itu, Han Han dapat melihat wajah cantik jelita itu mengerling ke arah empat orang murid In-kok-san sambil tersenyum manis.
Bukan main, pikir Han Han.
Puteri itu benar-benar memiliki kepandaian yang hebat sekali.
Lebih hebat daripada kepandaian datuk-datuk yang pernah ia lawan.
Tentu akan merupakan lawan yang amat tangguh.
Ia kagum akan kecantikannya yang mempesonakan, akan persamaannya dengan patung Puteri Maya di Pulau Es, akan kepandaiannya yang hebat dan akan sikapnya yang angkuh dan agung terhadap empat orang murid In-kok-san yang sudah jelas menyerang dengan maksud membunuhnya tadi.
Dengan tenang Han Han lalu menghampiri empat orang murid In-kok-san yang masih rebah tak berdaya di atas tanah.
Mereka itu memandang terbelalak ketika mengenal Han Han.
Pemuda berkaki buntung ini lalu menggerakkan tongkatnya, empat kali tongkatnya bergerak menotok dan ia telah berhasil membebaskan empat orang muda itu yang cepat meloncat bangun dan berdiri di depan Han Han.
"Engkau.... Han Han-sute....."
Seorang di antara mereka yang bernama Song Biauw berkata. Han Han mengangguk.
"Mengapa kalian menyerang dia?"
Empat orang itu memandang ke arah perginya joli itu dan Song Biauw berseru marah.
"Iblis betina itu sungguh lihai. Dialah biang keladi segala kesengsaraan."
Kemudian ia menoleh kepada Han Han.
"Kami sudah mendengar bahwa engkau sekarang menjadi seorang yang memiliki kepandaian tinggi, sute. Marilah kau bantu kami membunuh iblis betina itu."
Han Han tersenyum dan menggeleng kepala. Dia terharu bahwa empat orang ini masih menyebutnya "sute", kemudian ia bertanya.
"Ma-bin Lo-mo sendiri membantunya, mengapa kalian memusuhi puteri yang mewakili kerajaan itu?"
"Ma-bin Lo-mo iblis tua juga akan kami basmi."
Bentak seorang murid In-kok-san dengan muka merah penuh kebencian. Han Han diam-diam terkejut.
"Eh, mengapa kalian memusuhi suhu kalian sendiri? Kalau kalian memusuhi Kerajaan Mancu, hal ini aku tidak heran."
"Hemmm, agaknya kau belum mendengar akan peristiwa busuk yang menjadi rahasia iblis tua itu, Han-sute? Engkau tentu sudah tahu bahwa kami semua murid In-kok-san adalah orang-orang yatim piatu...."
"Aku tahu, orang tua kalian, seperti juga orang tuaku, terbunuh oleh pasukan Mancu...."
Kata Han Han.
"Bukan."
Song Biauw memotong cepat sambil menggoyang tangan.
"Mungkin orang tuamu terbunuh oleh pasukan Mancu, akan tetapi orang tua kami semua sama sekali tidak terbunuh oleh pasukan Mancu, melainkan dibunuh secara diam-diam oleh Ma-bin Lo-mo."
"Heeehhhhh....?"
Han Han benar-benar terkejut sekali mendengar ini.
"Iblis tua bangka yang busuk itu. Dia dahulunya memusuhi penjajah Mancu, dan untuk dapat membentuk pasukan kuat, dia sengaja memilih anak-anak yang berbakat baik, menggunakan keadaan yang kacau membunuhi orang tua kami dan kemudian menolong kami dengan pernyataan bahwa orang tua kami dibunuh orang-orang Mancu. Kami masih terlalu kecil untuk mengerti akan tipu muslihatnya ini. Akhir-akhir ini dia menjadi penjilat Mancu sehingga kami merasa heran sekali dan akhirnya kami dapat mengetahui rahasianya yang membocor dari istana. Tentu saja kami menjadi sakit hati kepadanya sehingga kami bersumpah selain memusuhi penjajah, juga akan membunuh bekas guru yang juga pembunuh orang tua kami itu."
Han Han mengangguk-angguk. Baru sekarang ia mengerti mengapa murid-murid In-kok-san menyerbu kota raja.
"Jadi kalian menyerbu kota raja, membebaskan tawanan-tawanan, juga dengan maksud untuk mengacau kota raja dan sekalian mencari Ma-bin Lo-mo?"
Song Biauw berseri wajahnya.
"Kau sudah mendengar akan penyerbuan itu? Kami kehilangan belasan orang saudara, akan tetapi kami berhasil membebaskan banyak tawanan. Kini saudara-saudara kami sebagian sudah menyeberang ke Se-cuan, maka kami mendengar bahwa engkau telah membantu perjuangan dan bahkan menjadi panglima di Se-cuan. Kami yang masih tinggal di sini, mendengar bahwa puncak Tai-hang-san akan dijadikan tempat pertemuan antara pemerintah dan tokoh-tokoh kang-ouw, maka kami menghadang di sini untuk menyerang Ma-bin Lo-mo. Tadi ketika kami tahu bahwa Puteri Nirahai iblis betina itu datang, kami segera menyerangnya. Siapa tahu dia luar biasa lihainya."
Han Han menggeleng-geleng kepala.
"Kalian ini bernafsu besar dan bercita-cita muluk, akan tetapi kalian bukanlah lawannya, bahkan kalian berempat takkan mampu mengalahkan Ma-bin Lo-mo."
"Masih ada lima orang saudara kami di bawah."
Song Biauw membentak. Han Han menghela napas.
"Aku tidak akan mencampuri urusan kalian. Kebetulan aku bertemu dengan kalian di sini karena memang aku ingin sekali bertanya. Ketika kalian menyerbu kota raja membebaskan para tawanan, terdapat pula adikku Lulu yang ikut melarikan diri. Di manakah dia sekarang?"
"Ohhhh.... dia? Puteri Mancu itu? Wah, dia hebat sekali."
Kata Song Biauw dan tiga orang saudaranya mengangguk-angguk.
"Hanya karena bantuan dia maka kami dapat menyelamatkan diri keluar dari kota raja, dan hanya belasan orang yang gugur. Agaknya iblis betina Nirahai sendiri segan untuk bersikap keras setelah dia turun tangan membantu kami. Jadi dia adikmu, Han-sute? Ah, sungguh menyesal sekali, kami tidak tahu ke mana dia pergi karena begitu kami semua berhasil keluar dari kota raja, dia menghilang."
Han Han menghela napas panjang.
Dia sudah menduga akan hal ini.
Adiknya itu terlalu keras kepala, keras hati dan ingin bebas, tentu saja tidak mau bersatu dengan orang-orang ini.
Entah ke mana sekarang "terbangnya"
Bocah itu.
"Sudahlah, aku akan mencarinya sendiri. Kunasihati saja agar kalian tidak terburu nafsu mengandalkan kepandaian. Ma-bin Lo-mo lihai sekali, juga bekas guru kalian itu mempunyai banyak kawan yang lihai. Kalau memang kalian ingin berjuang, tempat kalian adalah di Se-cuan di mana dapat dihimpun kekuatan untuk menghadapi musuh. Nah, selamat berpisah."
Han Han menggunakan kepandaiannya, sekali mencelat ia telah berkelebat lenyap dari depan empat orang itu yang memandang terbelalak, menengok dan mencari-cari ke sana ke mari kemudian saling pandang dengan melongo.
Sukar mereka percaya bahwa pemuda yang kakinya hanya tinggal sebuah itu dapat bergerak secepat itu.
Sambil berloncatan, Han Han berpikir.
Pertemuan di puncak Tai-hang-san?
Pertemuan apakah itu?
Apa pula yang akan dilakukan oleh Puteri Nirahai yang lihai dan cerdik luar biasa itu?
Ia tertarik sekali, apalagi dia mengharapkan bahwa Lulu akan hadir pula di pertemuan aneh itu.
Dengan penuh harapan, Han Han lalu mendaki puncak Tai-hang-san, akan tetapi memilih jalan yang sunyi karena dia tidak mau mengunjungi pertemuan itu secara berterang.
Dia tidak mau melibatkan diri, dan keinginan satu-satunya pada saat itu hanyalah mencari adiknya, Lulu.
Ia pun bergidik kalau teringat akan cerita bekas saudara-saudara seperguruannya tadi akan kekejian hati Ma-bin Lo-mo.
Kiranya kakek iblis itu hendak membentuk pasukan terdiri dari murid-muridnya yang mengandung hati dendam kepada pemerintah Mancu dengan cara membunuhi orang tua dan keluarga calon para muridnya secara diam-diam, kemudian menolong calon murid itu dan mengatakan bahwa keluarga si murid dibasmi orang Mancu.
Cara mengobarkan anti Mancu yang amat curang, licik dan keji.
Lebih menjijikkan lagi, setelah melakukan perbuatan yang tidak mengenal prikemanuslaan itu, akhirnya kini Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li malah membalik, mengkhianati perjuangan sendiri dan menjadi kaki tangan Mancu.
Makin dikenang, makin sakit rasa hat Han Han.
Bukankah kedua orang nenek dan kakek itu merupakan orang-orang terakhir di dunia ini yang masih "berbau"
Keluarga nenek moyangnya sendiri?
Merupakan orang-orang yang masih ada hubungan dengan keluarga Suma yang terkenal jahat di masa lalu?
Teringatlah ia akan cerita yang didengarnya dari mulut Ma-bin Lo-mo sendiri ketika ia masih menjadi murid In-kok-san di Pegunungan Tai-hang-san ini.
Arca yang dipuja di In-kok-san adalah arca Suma Kiat, guru Ma-bin Lo-mo atau ayah dari Suma Hoat Si Dewa Cabul atau kong-kongnya sendiri.
Jadi Ma-bin Lo-mo adalah murid dari kakek buyutnya.
Adapun nenek iblis Toat-beng Ciu-sian-li adalah seorang selir dari kakek buyutnya itu.
Hemmm, baru murid dan selir saja sudah merupakan dua orang iblis yang kejahatannya sukar dicari bandingnya.
Dapat dibayangkan betapa luar biasa jahat dan kejinya keluarga Suma itu sendiri.
Pantaslah kalau dia, sebagai keturunan keluarga Suma, kini selalu hidup merana dan menderita sengsara, agaknya Thian telah menghukumnya atas dosa-dosa yang dilakukan nenek moyangnya.
Setelah Han Han tiba di puncak Tai-hang-san, di lembah In-kok-san, dari jauh ia sudah melihat banyaknya orang yang berkumpul di situ.
Ia cepat menyelinap dan berindap-indap mendekati pekarangan lebar di mana berkumpul banyak orang yang duduk di bangku-bangku membentuk lingkaran.
Mereka itu terdiri dari orang-orang yang sudah tua dan bersikap penuh wibawa.
Para tamu itu menghadapi pihak tuan rumah yang merupakan rombongan yang duduk di atas bangku-bangku di depan pondok dan mereka ini adalah Puteri Nirahai sendiri yang ditemani oleh Ma-bin Lo-mo sebagai pemilik In-kok-san tempat mereka mengadakan pertemuan, Toat-beng Ciu-sian-li, Kang-thouw-kwi Gak Liat, dan kedua orang pendeta Lama dari Tibet yang lihai, Thian Tok Lama dan Thian Li Lama.
Han Han yang bersembunyi dekat tempat itu dapat melihat jelas dan sebagian di antara para tamu ada yang telah dikenalnya.
Dari pihak Siauw-lim-pai hadir Ceng To Hwesio penjaga kuil Siauw-lim-si yang menjadi sute Ceng San Hwesio ketua Siauw-lim-pai ditemani dua orang kakek yang setelah Han Han ingat-ingat ternyata ia mengenalnya sebagai dua orang di antara Kang-lam Sam-eng (Tiga Pendekar Kang-lam).
Dahulunya tiga pendekar itu adalah Khu Ceng Tiam kakek yang pendek kecil itu, Liem Sian yang tinggi besar, dan orang ke tiga adalah seorang wanita cantik Bhok Khim yang telah diperkosa Gak Liat Si Setan Botak dan bahkan yang terakhir bertemu dengan Han Han ketika wanita yang menjadi gila itu membobol kamar penyiksa diri di Siauw-lim-pai dan melarikan diri membawa anaknya.
Han Han merasa heran mengapa dalam pertemuan penting ini, hanya Ceng To Hwesio dan dua orang tokoh Siauw-lim-pai bukan pendeta ini yang hadir.
Mengapa lima orang tokoh Siauw-lim Chit-kiam tidak hadir pula?
Han Han memperhatikan terus para tokoh yang hadir sebagai tamu.
Ia melihat pula tokoh-tokoh Hoa-san-pai yang merupakan tosu-tosu tingkat tiga, tiga orang tosu galak yang pernah bentrok dengan dia dahulu, yaitu Lok Seng Cu dan Bhok Seng Cu, agaknya tiga orang kakek ini mewakili guru mereka, ketua Hoa-san-pai untuk hadir di In-kok-san ini.
Selain kedua rombongan wakil Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, masih banyak terdapat wakil-wakil dari partai-partai persilatan lain, bahkan di antara mereka pula orang-orang dari Pek-lian Kai-pang, dan tokoh-tokoh pejuang yang pernah ia jumpai di Se-cuan.
Kini dia memperhatikan Nirahai dan makin kagumlah hati Han Han.
Benar-benar ampt hebat gadis itu.
Masih amat muda, wajahnya cantik jelita seperti bidadari, kadang-kadang demikian lembut seperti setangkai mawar yang bergoyang-goyang perlahan terhembus angin, kadang-kadang membayangkan kekerasan yang melebihi baja pilihan.
Semuda dan secantik itu telah menjadi seorang pemimpin besar, bahkan kini mengumpulkan para tokoh perjuangan dan para wakil-wakil partai persilatan yang jelas merupakan musuh-musuh besarnya.
Demikian beraninya gadis ini.
Apa kehendaknya mengumpulkan para pejuang yang bagi puteri itu tentu dianggap pemberontak-pemberontak ini?
Diam-diam Han Han merasa khawatir.
Puteri ini terkenal cerdik sekali dan ahli siasat yang pandai mengatur tipu-tipu muslihat.
Jangan-jangan setelah dikumpulkan di sini, para pejuang dan tokoh partai-partai besar ini akan dibasmi.
Han Han berlaku waspada dan siap sedia.
Kalau benar seperti itu siasat Nirahai, biarpun dia sendiri tidak peduli lagi akan perang, terpaksa dia akan turun tangan menentang kecurangan besar ini.
Pada saat itu, agaknya semua tamu telah mengambil tempat duduk dan terdengarlah suara lantang akan tetapi merdu dari mulut Puteri Nirahai.
Han Han memandang penuh perhatian dan mendengarkan dari tempat sembunyi.
Ia menjadi heran mendengar suara gadis jelita itu, karena biarpun gadis itu bukan berbangsa Han, akan tetapi suaranya sama sekali tidak kaku, bahkan kata-katanya teratur dengan rapi, tanda bahwa gadis itu memiliki pengertian yang baik tentang kesusastraan.
"Atas nama Kerajaan Ceng-tiauw yang jaya, kami yang bertugas sebagai wakil kaisar dalam hal ini, menghaturkan banyak terima kasih kepada para locianpwe dan para enghiong yang telah sudi memenuhi undangan kami untuk datang berkumpul dan bersama-sama menciptakan perdamaian, persahabatan dan kerja sama demi kesejahteraan rakyat jelata."
Han Han mendengarkan dengan kagum.
Puteri itu benar hebat.
Selain kata-katanya terdengar rapi teratur, juga nadanya membujuk dan memuji-muji orang gagah, suaranya mengandung dasar ketenangan sehingga amat menarik perhatian mereka yang mendengarnya.
Selanjutnya, secara singkat namun padat dan dengan kata-kata teratur baik, puteri itu menjelaskan mengapa pemerintah Kerajaan Mancu mengulurkan tangan untuk mengajak damai dengan para orang gagah, terutama dengan partai-partai besar.
Rakyat sudah terlalu lama hidup tertekan dan menderita sengsara akibat perang, katanya.
Karena itu, mengapa perang yang menyengsarakan itu dilanjut-lanjutkan?
Lebih baik semua tenaga rakyat dikerahkan untuk membangun demi kesejahteraaan hidup rakyat, di bawah pimpinan pemerintah Ceng yang jaya dan yang memang sudah ditentukan oleh Thian untuk memimpin rakyat jelata mencapai kemakmuran.
Sejam lebih puteri itu bicara dengan lancar dan tidak membosankan para pendengarnya.
Wajah itu demikian cantik jelita seperti setangkai mawar sedang mekar dengan segarnya, siapakah yang tidak terpikat dan siapakah yang akan bosan memandang?
Sepasang mata itu berkilat-kilat penuh semangat dan gairah hidup, bibir yang bergerak-gerak ketika bicara itu demikian manis, semanis kata-kata yang keluar secara teratur dan indah, seolah-olah gadis itu bukan sedang berpidato melainkan sedang mendeklamasikan sajak-sajak indah.
Tubuhnya agak bergoyang, sesuai dengan sikap kewanitaannya, mengingatkan para pemandangnya akan batang pohon yang-liu terhembus angin musim semi, meliak-liuk dengan lemas dan indahnya.
Setelah membeberkan rencana kerja pemerintah dan memberikan janji dengan sumpah bahwa pemerintah tidak akan mengganggu hak milik para tuan tanah dan tidak akan mengganggu milik rakyat, tidak akan memeras rakyat dengan pajak berat seperti yang sudah-sudah dilakukan oleh kaisar-kaisar dahulu, berjanji pula akan menumpas semua kejahatan yang menghimpit penghidupan rakyat, menumpas para pencopet, pencuri, perampok dan mereka yang masih memberontak, terdengar puteri jelita itu berkata.
"Hendaknya cu-wi sekalian tidak membesar-besarkan perbedaan suku bangsa. Kita seluruhnya merupakan bangsa yang besar, dan jangan terpengaruh oleh perpecahan-perpecahan yang ditimbulkan oleh para pemberontak. Kita semenjak dahulu merupakan kesatuan suku bangsa-suku bangsa yang menjadi bangsa besar. Tentu cu-wi sekalian masih ingat akan nama seorang pahlawan dan pendekar yang tiada bandingnya selama sejarah berkembang. Siapa yang tidak pernah mendengar nama julukan pendekar besar Suling Emas? Siapa pula yang tidak tahu akan sepak terjangnya, yang tidak memperbedakan bangsa, yang bahkan menjadi suami Ratu Khitan dan mempersatukan suku bangsa-suku bangsa menjadi bangsa yang besar? Bahkan sesungguhnya bangsa-bangsa pun hanya merupakan perpecahan yang dibuat-buat oleh manusia sendiri karena sesungguhnya, tanpa adanya pemecahan bangsa-bangsa, semua manusia di empat penjuru lautan adalah saudara, seperti yang telah diajarkan oleh Nabi Kong Hu Cu bahwa "Su-hai-ci-lwe-kai-heng-te-ya." (Di Empat Penjuru Lautan Adalah Saudara). Nah, cu-wi sekalian, hendaknya cu-wi percaya bahwa andaikata Pendekar Sakti Suling Emas sekarang masih hidup, beliau tentu akan menyetujui persatuan di antara kita, dan sebagai buktinya bahwa saya, Puteri Nirahai, tidak membohong dan masih mempunyai hubungan dengan keluarga Suling Emas, hendaknya cu-wi sekalian suka memandang pusaka ini."
Tangan Puteri Nirahai bergerak dan berkelebatlah sinar kuning emas yang menyilaukan mata.
Ternyata sebatang suling emas telah berada di tangan kanannya dan diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.
"Suling Emas....."
Banyak mulut mengucapkan kata-kata ini penuh takjub dan hormat, dan mereka yang tadinya masih ragu-ragu, baru setengah tunduk oleh bujukan kata-kata Puteri Nirahai, kini menjadi tunduk benar ketika menyaksikan senjata pusaka keramat itu berada di tangan sang puteri.
Biarpun orangnya sudah puluhan, bahkan ratusan tahun tidak ada, namun nama besar Suling Emas dikenal oleh semua orang gagah di dunia kang-ouw, dan karenanya, melihat senjata keramat ini semua orang menjadi kagum dan tunduk.
Puteri jelita itu tersenyum girang menyaksikan sikap para orang gagah itu dan ia melanjutkan.
"Selain memiliki pusaka keramat ini, juga terus terang saja tanpa maksud membanggakan dan menyombongkan diri, saya berani mengaku bahwa saya adalah seorang yang mewarisi ilmu dari pendekar wanita perkasa Mutiara Hitam. Melihat hubungan saya dengan Suling Emas dan Mutiara Hitam, masih perlukah diragukan bahwa saya tidak mempunyai niat buruk terhadap cu-wi sekalian, orang-orang gagah di dunia kang-ouw?"
Semua orang makin tunduk dan keadaan sejenak menjadi hening.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara Ceng To Hwesio wakil Siauw-lim-pai, suaranya tenang namun mengandung wibawa dan suara itu menggetarkan jantung karena dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khi-kang.
"Omitohud....! Apa yang diucapkan oleh Kouwnio amat benar dan melihat senjata keramat itu, siapakah yang tidak akan tunduk? Siapakah pula orangnya di dunia ini yang menghendaki perang yang hanya akan menimbulkan kesengsaraan kepada rakyat jelata? Akan tetapi, Kouwnio, pinceng ingin sekali mengetahui, kalau benar Kouwnio tidak mempunyai niat buruk terhadap kami, mengapakah dua orang murid Siauw-lim-pai, yaitu Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, dua di antara Siauw-lim Chit-kiam, telah dibunuh?"
Semua orang menjadi tegang hatinya mendengar ini, apalagi ketika Lok Seng Cu, orang pertama dari tiga orang tokoh Hoa-san-pai, berkata nyaring.
"Tepat sekali apa yang diucapkan oleh Ceng To Hwesio. Kalau tidak mempunyai niat buruk, mengapa tokoh besar Siauw-lim-pai dibunuh kemudian kesalahannya ditimpakan kepada Hoa-san-pai dengan jalan melemparkan fitnah?"
Suasana menjadi makin tegang.
Apalagi bagi Han Han yang mengintai dari tempat persembunyiannya, karena dia sebagai orang luar mengetahui benar akan fitnah itu yang menjadi siasat licin Nirahai, bahkan dia terlibat dalam urusan itu.
Maka pemuda buntung ini mendengarkan penuh perhatian dan seperti orang-orang yang hadir di situ, ia pun memandang ke arah Puteri Nirahai, ingin tahu apa yang akan menjadi jawaban puteri itu.
Semua orang tercengang dan terheran melihat puteri cantik itu tetap tenang, bahkan kini tersenyum manis, sedikit pun tidak menjadi gugup menghadapi pertanyaan dari pihak Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai yang merupakan serangan hebat itu.
Puteri itu memandang tajam ke arah Ceng To Hwesio, kemudian menjura dan berkata, suaranya tetap merdu dan tenang.
"Maaf, Losuhu. Sebelum saya menjawab pertanyaanmu, juga pertanyaan dari Totiang wakil Hoa-san-pai yang sifatnya sama, lebih dulu saya hendak mengajukan pertanyaan dengan harapan agar Losuhu sudi menjawab secara sejujurnya. Pertama, dalam pertandingan perorangan terdapat istilah curang kalau orang itu menggunakan cara-cara yang melanggar ketentuan pertandingan. Akan tetapi, di dalam keadaan perang, terdapat istilah siasat, dan apakah seorang panglima yang menggunakan siasat dalam perang untuk menjebak pihak musuh dapat disebut curang pula?"
"Siasat dalam perang bukahlah kecurangan,"
Jawab Ceng To Hwesio dan semua orang mengangguk karena siapakah yang akan dapat mengatakan bahwa siasat dalam perang itu curang? "Terima kasih,"
Kata Nirahai sambil tersenyum.
"Pertanyaan ke dua, kalau seorang perajurit dalam perang membunuh lawan, tanpa peduli siapa lawan yang berada di pihak musuh itu, apakah dia dianggap bersalah dan menjadi seorang pembunuh keji?"
"Tentu saja tidak,"
Jawab pula Ceng To Hwesio.
"Membunuh musuh dalam perang merupakan pelaksanaan tugasnya."
Kini Nirahai tersenyum manis sekali, sepasang matanya berseri-seri dan suaranya merdu dan nyaring.
"Terima kasih Losuhu. Jawaban-jawaban Losuhu memang tepat sekali dan tidak dapat dibantah oleh siapa pun juga. Nah, sekarang terjawablah pertanyaan-pertanyaan Losuhu sebagai wakil Siauw-lim-pai dan Totiang sebagai wakil Hoa-san-pai. Sesungguhnya, saya yang kini mendapat kehormatan memegang pusaka keramat dari pendekar sakti Suling Emas, dan mengaku sebagai ahli waris ilmu-ilmu pusaka Mutiara Hitam, seujung rambut pun tidak mempunyai rasa permusuhan, apalagi kebencian terhadap para orang gagah di dunia kang-ouw. Sebaliknya, saya bahkan menaruh hormat dan kagum. Akan tetapi mengapa saya membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai? Karena tugas saya, tugas seorang perajurit kerajaan Ayahanda Kaisar. Dan mengapa pula saya menggunakan fitnah kepada Hoa-san-pai, menggunakan siasat untuk mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai? Karena tugas saya sebagai panglima dalam perang. Semua yang saya lakukan itu demi tugas dan terjadi dalam perang. Permusuhan dalam perang bukanlah permusuhan pribadi, karena kalau peristiwa yang timbul sebagai akibat perang lalu dijadikan dendam pribadi, saya kira di dunia ini akan terjadi dendam-mendendam yang tiada habisnya. Saya harap saja Losuhu wakil Siauw-lim-pai dan Totiang wakil Hoa-san-pai dapat menerima penjelasan saya ini yang keluar dari hati, bukan sekedar alasan kosong untuk menghindarkan diri dari kesalahan."
Semua orang yang mendengar ucapan puteri itu diam-diam terpaksa harus membenarkannya.
Akan tetapi tiba-tiba seorang kakek yang berpakaian pengemis bangkit berdiri.
Han Han dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang anggauta Pek-lian Kai-pang, yang dengan sikap gagah berkala lantang.
"Semua uraian Kouwnio memang tepat dan sebagai orang-orang gagah kita harus dapat menangkap kebenarannya. Sudah menjadi hak dan kewajiban Kouwnio untuk bertugas membela bangsa dalam perang, dan hal ini memanglah kewajiban suci orang gagah. Akan tetapi, kami pun, orang-orang gagah yang menjunjung tinggi kepahlawanan, kami berkewajiban pula untuk membela negara dan bangsa, menentang penjajah tanah air dari bangsa asing. Kalau sekarang kami menyetujui uluran tangan pemerintah Mancu untuk bekerja sama, bukankah hal itu berarti hendak menyeret kami patriot-patriot gagah menjadi pengkhianat-pengkhianat bangsa yang rendah dan hina?"
Semua mata orang gagah yang hadir di situ mengeluarkan sinar bersemangat, dan Han Han makin tertarik, ingin sekali mendengar bagaimana tangkisan puteri yang cerdik itu terhadap serangan yang amat hebat ini.
Akan tetapi puteri itu tersenyum dan tetap tenang saja.
Setelah memandang ke arah penyerangnya dengan sinar mata tajam, ia lalu menjawab.
"Pertanyaan Lo-enghiong mengandung beberapa hal yang perlu saya jawab satu demi satu. Pertama, Lo-enghieng menyatakan bahwa tanah air dijajah oleh bangsa asing"
Manakah bangsa asing?
Bangsa kita yang besar mempunyai puluhan suku bangsa, di antaranya suku bangsa Khitan, Mongol, Mancu dan lain-lain suku bangsa yang tersebar di daerah utara dan barat di tanah air kita yang luas.
Jadi kalau sekarang negara berada di dalam bimbingan tangan suku bangsa Mancu, tidak dapat dikatakan bahwa tanah air dijajah bangsa asing"
Di dalam catatan sejarah masih dapat diperiksa betapa eratnya hubungan antara suku bangsa-suku bangsa ini.
Kalau suku bangsa Mancu dianggap bangsa asing, bagaimana dengan suku bangsa Khitan?
Kalau Khitan merupakan bangsa asing, apakah cu-wi sekalian hendak mengatakan bahwa pendekar sakti Suling Emas memperisteri wanita asing?
Apakah pendekar wanita Mutiara Hitam juga berdarah bangsa asing, dan sekarang tidak tepat kalau dikatakan bahwa kaisar yang bersuku bangsa Mancu merupakan kaisar asing yang menjajah"
Lebih tepat dikatakan bahwa Ayahanda Kaisar telah berhasil menghalau kaisar lalim dan membebaskan rakyat jelata daripada penindasan."
Semua orang saling pandang dan kembali uraian itu sukar mereka jawab secara tepat karena memang mereka tidak dapat memastikan benar apakah bangsa Mancu termasuk bangsa asing ataukah hanya suku bangsa mereka yang besar.
"Sekarang hal kedua. Tadi Lo-enghiong mengatakan bahwa sudah menjadi tugas kewajiban seorang patriot untuk membela bangsanya. Tepat sekali"
Memang tugas seorang gagah perkasa, seorang patriot untuk membela bangsanya yang tertindas, akan tetapi bukan sekali-kali berarti bahwa seorang gagah harus membela kaisarnya yang lalim dan menindas rakyat, bukan?
Buktinya, jauh sebelum suku bangsa Mancu berhasil menumbangkan Kerajaan Beng-tiauw yang bobrok, telah banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan yang sebetulnya merupakan usaha dan perjuangan para orang gagah untuk membela rakyat yang tertindas dan mengenyahkan kaisar dan antek-anteknya yang lalim.
Lo-enghlong sendiri kalau saya tidak salah duga, tentulah anggauta Pek-lian Kai-pang dan apakah Pek-lian Kai-pang itu?
Bukankah perkumpulan orang gagah ini merupakan kelanjutan daripada Pek-lian-kauw, perkumpulan yang dahulu tak pernah berhenti berusaha menggulingkan kaisar lalim dari Kerajaan Beng-tiauw?
Nah, dengan demikian, bukankah usaha suku bangsa Mancu pun merupakan perjuangan untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraan akibat penindasan Kerajaan Beng-tiauw yang tidak becus?
Dengan demikian, antara kami dengan cu-wi sekalian terdapat cita-cita yang sama, yaitu membebaskan rakyat dari penindasan.
Kita sama-sama pejuang dan karenanya sudah sepatutnya kalau kita bergandengan tangan, bekerja sama untuk mengangkat rakyat yang sudah ratusan tahun ditindas itu agar mereka hidup makmur."
Han Han memandang dengan mata terbelalak.
Kagum bukan main hatinya.
Wanita ini benar-benar luar biasa, pikirnya dan jantungnya berdebar-debar ketika ia memandang wajah yang cantik itu.
Getaran yang aneh seperti terpancar keluar dari wajah itu dan menyentuh lubuk hatinya, membuat ia kagum dan terpesona.
Biarpun semua orang kini tak mampu lagi berkutik, kakek pengemis yang berhati keras itu masih tidak mau menyerah kalah.
"Kouwnio, kalau benar bahwa kerajaan yang baru ini mengulurkan tangan kepada para patriot, mengapa sampai sekarang Se-cuan diserang terus? Bukankah Bu-ongya juga seorang patriot besar yang mengorbankan segalanya untuk mempertahahkan nusa bangsanya?"
Wajah puteri itu yang tadinya berseri dan tersenyum-senyum, kini berubah keras, matanya bersinar tajam berwibawa, dan suaranya nyaring berkata.
"Bu Sam Kwi sama sekali bukan seorang pejuang yang membela rakyat"
Dia berjuang untuk kepentingan sendiri, untuk menjadi raja"
Lebih buruk lagi, dia adalah pengkhianat yang bermuka dua."
Semua orang terkejut mendengar ini dan ada yang mengeluarkan seruan-seruan marah dan penasaran. Melihat ini, Nirahai cepat menyambung.
"Hendaknya cu-wi sekalian jangan silau oleh tipuan pengkhianat licik itu dan marilah kita ikuti riwayatnya. Bu Sam Kwi dahulunya siapa? Dia seorang panglima Kerajaan Beng-tiauw. Dan dia telah memberontak terhadap Kerajaan Beng-tiauw. Dengan dalih hendak membasmi Kaisar Beng-tiauw yang lemah dan lalim, dia mengajak suku bangsa Mancu yang pada waktu itu dipimpin oleh Paman Pangeran Dorgan untuk bersekutu. Setelah kami berhasil menyerbu ke selatan, Bu Sam Kwi memperlihatkan muka ke dua dan memusuhi kami. Dia tidak hanya berkhianat terhadap Beng-tiauw, akan tetapi berkhianat pula terhadap kerajaan baru. Orang macam itu mana ada harganya? Dia melawan kerajaan baru semata-mata karena hendak mengangkangi kerajaan dan hendak mengangkat diri sendiri menjadi raja, sama sekali bukan hendak membela rakyat. Hal ini diketahui baik oleh Pangeran Kiu yang bijaksana sehingga kini Pangeran Kiu yang diwakili oleh kedua orang pendeta Lama yang terhormat ini, Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, bersama-sama suku bangsa Tibet menerima uluran tangan kami. Bu Sam Kwi mengobar-ngobarkan perang, membuat rakyat makin sengsara. Akan tetapi, dia hanya tinggal menanti saatnya untuk kami hancurkan. Sekali lagi, harap cu-wi tidak tertipu oleh kepalsuan orang yang bermuka dua itu."
Hening sampai lama sekali setelah Nirahai mengeluarkan ucapan yang penuh semangat ini.
Kakek pengemis mengeritkan keningnya, berpikir dan menjadi ragu-ragu akan pendiriannya semula.
Tiba-tiba terdengar Ceng To Hwesio berkata.
"Bagaimana kami dapat mengetahui bahwa pemerintah baru ini tidak sama buruknya dengan yang lama? Apakah buktinya bahwa suku bangsa Mancu yang telah berhasil memegang pimpinan ini mempunyai niat yang mulia terhadap rakyat?"
Kembali Nirahai tersenyum.
"Pertanyaan yang tepat dan penting, Losuhu dan jawabannya tentu saja memerlukan bukti. Saya tidak akan membujuk cu-wi sekalian orang-orang gagah untuk percaya begitu saja. Akan tetapi marilah kita sama-sama membuktikan sendiri. Saya pun mempunyai darah keturunan keluarga Suling Emas, tanpa malu-malu saya pun menggolongkan diri sebagai ksatria. Andaikata kelak ternyata bahwa kaisar kita lalim, biarpun kaisar itu Ayah saya sendiri, apakah saya akan tinggal diam? Tidak, saya tetap akan bergandeng tangan dengan cu-wi untuk menentang kelaliman dan membela rakyat yang tertindas."
Terdengar sorakan gembira menyambut ucapan ini dan Han Han menarik napas panjang. Wanita hebat "Sukar dicari keduanya"
Cantik jelita, lihai ilmunya dan cerdik bukan main, akan tetapi juga gagah perkasa.
Dia mau percaya bahwa seorang seperti Puteri Nirahai itu tentu akan memegang janjinya.
(Lanjut ke
Jilid 38) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 38
"Baiklah, Kouwnio. Pinceng sebagai wakil Siauw-lim-pai berjanji akin menarik semua murid Siauw-lim-pai, tidak akan mencampuri urusan perang. Akan tetapi jangan dikira bahwa kami akan menjadi penonton yang hanya berpeluk tangan saja. Kalau kelak ternyata bahwa pemerintah ini sama buruknya dengan yang lalu, tentu kami akan mencabut senjata lagi melakukan pembalasan terhadap rakyat yang tertindas."
"Kami juga berjanji."
"Kami juga."
"Kami juga."
Ramailah para tamu yang hadir itu membuka suara, dan biarpun ada yang hanya tinggal diam, namun jelas bahwa yang setuju untuk berdamai jauh lebih besar jumlahnya, sedangkan yang membantah tidak ada seorang pun.
Setelah semua diam terdengar Ceng To Hwesio berkata, suaranya keren.
"Kouwnio, ada sebuah hal yang dapat kita pergunakan untuk membuktikan sampai di mana iktikad baik pemerintah baru."
"Harap Losuhu katakan tanpa ragu-ragu. Hal apakah itu?"
Nirahai bertanya ramah.
"Pemerintah yang baik tidak akan mempergunakan kaki tangan yang jahat, dan kalau memang pemerintah menghargai orang-orang gagah, tentu tidak akan melindungi orang jahat pula."
"Maksud Losuhu bagaimana?"
"Terus terang saja, biarpun kini urusan pemerintah telah dapat diselesalkan dengan damai dan tidak mencampuri perang, akan tetapi bagaimana dengan permusuhan pribadi?"
Sepasang mata itu dengan tajamnya menyambar dan menentang wajah hwesio tua itu.
"Maksud Losuhu? Ingat bahwa semua yang saya lakukan dahulu adalah sebagai lawan dalam perang."
Hwesio itu tertawa.
"Kouwnio agaknya salah mengerti. Dengar Kouwnio, sungguhpun Kouwnio telah membunuh dua orangn murid Siauw-lim-pai, akan tetapi persoalan itu telah beres oleh penjelasan Kouwnio tadi. Yang pinceng maksudkan adalah Kang-thouw-kwi Gak Liat yang kini menjadi pembantu Kouwnio."
Nirahai melirik ke arah Gak Liat lalu berkata sambil lalu.
"Losuhu maksudkan bahwa antara Losuhu dan Gak-locianpwe terdapat urusan pribadi?"
"Benar, Kouwnio. Urusan pribadi yang tidak ada sangkut-pangkutnya dengan urusan perang, kejahatan Kang-thouw-kwi terhadap murid Siauw-lim-pai yang hanya dapat ditebus dengan nyawa."
Nirahai mengerutkan keningnya, kemudian menggerakkan kedua pundak mengembangkan kedua lengan sambil berkata.
"Kita berada di antara para orang gagah. Pemerintah berpendirian untuk membasmi kejahatan, untuk melindungi rakyat. Apabila di antara para orang gagah ada dendam pribadi, tentu saja pemerintah mempersilakan mereka untuk menyelesaikan urusan mereka tanpa campur tangan, bahkan kami berjanji untuk menjadi saksinya agar penyelesaian urusan pribadi itu dilakukan dengan seadil-adilnya, tidak ada pengeroyokan, tidak ada kecurangan."
"Ha-ha-ha-ha, Bagus sekali. Sang Puteri benar-benar telah bersikap adil. Nah, orang-orang Siauw-lim-pai, Kalau memang kalian mempunyai dendam terhadap diriku, mari kita bereskan sekarang juga."
Kang-thouw-kwi Gak Liat sudah meloncat ke depan dan dengan sikap menantang memandang kepada Ceng To Hwesio.
Ceng To Hwesio menggerakkan lengan bajunya yang lebar.
"Omitohud! Kang-thouw-kwi Gak Liat yang terkenal sebagai seorang datuk kaum sesat, tentu tidak akan bersikap pengecut dan berani mempertanggungjawabkan kedosaannya. Apakah engkau sudah merasa akan dosamu terhadap Siauw-lim-pai?"
"Ha-ha-ha-ha, Dosa? Dosa itu apakah? Kau maksudkan murid wanita, seorang di antara Kang-lam Sam-eng itu? Ha-ha. Itu kau anggap dosa?"
"Gak Liat, manusia berwatak binatang. Siaplah engkau menghadapi pinceng. Sekaranglah, di depan para orang gagah, kita membuat perhitungan."
Sambil berkata demikian, Ceng To Hwesio melolos sabuknya dan sekali ia menggerakkan tangan, sabuk kain berwarna kuning itu menjadi kaku seperti baja"
Hal ini membuktikan betapa kuat sin-kang dari hwesio tua ini dan semua tamu memandang dengan hati tegang.
Akan tetapi Gak Liat tertawa bergelak, kemudian suara ketawanya itu tiba-tiba terhenti, matanya melotot memandang hwesio itu dan terdengar suaranya bernada sombong.
"Hwesio bosan hidup, Siapa kau? Kalau hendak membalas dendam, kenapa tidak Ceng San Hwesio ketuamu saja yang maju menghadapi aku?"
"Tidak perlu ketua kami. Untuk menghajar seekor anjing perlu apa menggunakan penggebuk besar? Pinceng Ceng To Hwesio mewakili suheng untuk membalas dendam terhadap kebiadabanmu. Majulah, Kang-thouw-kwi."
"Susiok-couw (Paman Kakek Guru), karena dia berdosa terhadap sumoi, biarkan teecu yang melayaninya."
Khu Cen Tiam, orang tertua dari Kang-lam Sam-eng, menggerakkan cambuk besinya meloncat maju.
Orang yang pendek kecil ini merasa sakit hati sekali terhadap Gak Liat yang telah memperkosa Bhok Khim, sumoinya yang tersayang sehingga ia lupa diri dan hendak nekat mengadu nyawa.
Akan tetapi Ceng To Hwesio yang maklum bahwa cucu keponakan ini masih jauh untuk dapat melawan datuk kaum sesat itu, membentaknya dan menyuruhnya minggir.
Kemudian Ceng To Hwesio menghadapi Gak Liat sambil melintangkan sabuknya dan menantang.
"Mari, Kang-thouw-kwi. Kita tua sama tua mengakhiri perhitungan kita di sini."
"Ha-ha-ha, aku telah siap sejak tadi. Kalau kau memang sudah bosan hidup, maju dan seranglah, Ceng To Hwesio."
"Omitohud, ijinkan hamba membasmi manusia iblis ini, bukan karena benci, melainkan untuk menyelamatkan manusia-manusia lain."
Ceng To Hwesio berkata lirih seperti berdoa, kemudian tubuhnya bergerak dan ia sudah menerjang maju, sabuknya menyambar ke arah muka Gak Liat.
Setan Botak ini tertawa, melangkah mundur dan membiarkan sabuk lewat di depan mukanya, tangan kirinya sudah diluncurkan ke depan mencengkeram ke arah pusar lawan.
Gerakannya cepat dan mengandung tenaga yang hebat bukan main.
Semua penonton, termasuk Han Han, memandang penuh ketegangan.
Ceng To Hwesio adalah sute dari ketua Siauw-lim-pai.
Ilmu kepandaiannya biarpun belum dapat disejajarkan dengan Ceng San Hwesio, namun sudah cukup tinggi, bahkan lebih tinggi setingkat kalau dibandingkan dengan seorang di antara Siauw-lim Chit-kiam.
Juga hwesio tua ini telah berpuluh tahun hidup bersih sehingga ia telah berhasil menghimpun tenaga dalam yang kuat di tubuhnya.
Namun, menghadapi Gak Liat yang tingkatnya sebanding dengan ketua Siauw-lim-pai, ia masih kalah jauh.
Betapapun juga, hwesio yang berkemauan keras untuk menyingkirkan lawan yang dianggapnya amat jahat seperti iblis ini, tidak jerih dan cengkeraman itu dapat ia elakkan dengan meloncat ke samping dan dari pinggir ini, sabuknya yang telah ia gerakkan menjadi kaku itu menyodok ke arah perut Setan Botak.
Namun datuk kaum sesat ini tertawa dan sengaja menerima sodokan itu dengan memasang perutnya menyambut.
"Dukkk, Wuuuttttt."
"Aihhh....."
Ceng To Hwesio mploncat tinggi ke belakang dan hampir saja ia celaka.
Ketika sabuknya yang menjadi kaku menyodok perut, ia merasa betapa senjatanya itu membalik, bertemu dengan benda yang seperti karet, dan tangan Gak Liat sudah melancarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang mengandung hawa panas melebihi api.
Biarpun hwesio Siauw-lim-pai ini sudah meloncat dan menghindar, pundaknya kena diserempet hawa pukulan dan terasa panas sekali, bahkan bajunya robek dan kulitnya gosong menghitam.
"Ha-ha-ha-ha. Begitu saja kepandaianmu, Ceng To Hwesio?"
Gak Liat tertawa bergelak.
Nirahai mengerutkan keningnya.
Dia maklum bahwa hwesio Siauw-lim-pai itu bukanlah lawan Gak Liat yang lihai.
Dia tidak memihak Gak Liat, sebaliknya malah hatinya condong memihak kepada hwesio Siauw-lim-pai karena dia dapat menduga apa yang telah terjadi atas diri murid wanita Siauw-lim-pai itu.
Akan tetapi, dia pun masih membutuhkan tenaga bantuan seorang lihai seperti Gak Liat.
Biarlah, pikirnya, makin banyak permusuhan diselesaikan makin baik agar pemerintah tidak banyak pusing menghadapi permusuhan-permusuhan pribadi antara tokoh-tokoh kang-ouw ini.
Kalau saja hwesio Siauw-lim-pai itu tahu diri, pikirnya, dan mengaku kalah, maka permusuhan itu akan dihabiskan dan dia dapat menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya untuk mencegah Gak Liat melakukan pembunuhan.
Adapun Han Han yang menonton dari tempat sembunyinya, dia tahu benar apa yang menyebabkan permusuhan itu.
Ingin ia membantu Ceng To Hwesio menghadapi Gak Liat, akan tetapi dia tahu bahwa pertandingan itu dilakukan secara adil dan bahkan kalau dia turun tangan, maka dia hanya akan mengacaukan maksud baik Puteri Nirahai.
Maka ia hanya menonton dan berkali-kali menarik napas panjang, maklum bahwa hwesio Siauw-lim-pai yang nekat itu hanya akan membunuh diri melawan Gak Liat yang amat lihai pukulan Hwi-yang Sin-ciangnya itu.
Ceng To Hwesio benar-benar nekat.
Dia sudah menerjang maju lagi, kini sabuknya ia putar-putar dengan tangan kanan melakukan totokan-totokan ke arah jalan darah dan bagian tubuh yang berbahaya, sedangkan tangan kirinya menggunakan Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Garuda) untuk menyerang.
Betapapun kebal tubuh lawan, kalau terkena cengkeramannya ini agaknya akan celaka"
Gak Liat yang amat lihai dan banyak pengalamannya itu pun maklum bahwa biarpun tingkatnya jauh lebih tinggi, namun dia pun tidak boleh memandang rendah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang terkenal memiliki ilmu silat yang kuat sekali.
Dia cepat menggerakkan kedua tangan menangkis, dan ada kalanya harus mengelak sambil menanti saat baik.
Ketika sabuk itu menyambar ke arah lehernya, secepat kilat ia menangkap sabuk itu, membiarkan cengkeraman tangan kiri hwesio ke arah leher itu mengenai pundaknya dengan jalan miringkan tubuh.
Pada saat tangan kiri Ceng To Hwesio mencengkeram pundaknya, tangan kanan Gak Liat menghantam dengan telapak tangan terbuka ke arah dada lawan.
"Brettt.... desssss."
Baju di pundak Gak Liat robek, akan tetapi tubuh Ceng To Hwesio terlempar ke belakang dan terbanting roboh dalam keadaan tak bernyawa lagi karena seluruh dada dan perutnya berubah menjadi hitam seperti terbakar.
"Manusia iblis....."
Khu Cen Tiam dan Liem Sian, dua orang di antara Kang-lam Sam-eng meloncat maju.
Khu Cen Tiam menyerang dengan cambuk besinya, sedangkan Liem Sian yang tinggi besar sudah menggunakan sin-pan, yaitu toya kuningan yang amat berat.
"Cring-tranggg....."
Dua orang murid Siauw-lim-pai ini meloncat mundur karena kaget ketika senjata-senjata mereka ditangkis dan tangan mereka tergetar.
Yang menangkisnya adalah Puteri Nirahai, menggunakan pedang payungnya.
Puteri itu berdiri dengan keren dan berkata.
"Ji-wi Lo-enghiong harap suka memenuhi janji. Losuhu ini telah kalah dan mati dalam pertandingan adalah yang lumrah. Lebih baik mati dalam pertandingan yang adil daripada berlaku curang yang hanya akan merendahkan nama besar Siauw-lim-pai. Lebih baik ji-wi membawa jenazah Losuhu ini dan tidak perlu memperbesar permusuhan karena sudah terang bahwa pihak Siauw-lim-pai telah kalah dalam pertandingan yang syah dan adil."
Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu menghela napas, menyimpan senjata mereka lalu mengangkat jenazah Ceng To Hwesio.
Sebelum pergi, Khu Cen Tiam berkata kepada Gak Liat.
"Kang-thouw-kwi, urusan di antara kita masih belum habis. Tunggulah kami melaporkan hal ini kepada ketua kami."
"Ha-ha-ha-ha, sudah kukatakan tadi, lebih baik ketua Siauw-lim-pai sendiri yang maju, barulah ramai. Aku akan selalu menanti, ha-ha-ha."
Akan tetapi, sebelum dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu pergi, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan terdengar bentakan nyaring.
"Setan Botak, nyawamu sudah berada di tanganku dan engkau masih bicara sombong."
Dua orang di antara Kang-lam Sam-eng menengok ke arah wanita berpakaian putih yang muncul tiba-tiba itu dan mereka berbareng berseru keras penuh kekagetan dan keheranan.
"Sumoi....."
Gak Liat memandang dengan mata terbelalak, dan sinar matanya membayangkan rasa ngeri dan cemas.
Han Han segera mengenal wanita itu sebagai wanita yang dahulu menjadi orang ke tiga dari Kang-lam Sam-eng, yaitu Bhok Khim yang dahulu diperkosa Gak Liat dan kemudian untuk kedua kalinya ia melihat wanita itu membobol dinding kelenteng Siauw-lim-si, keluar dari kamar penyiksa diri dan membawa seorang anak laki-laki.
Jantung Han Han berdebar keras dan perasaannya terguncang penuh ketegangan.
Orang-orang lain yang berada di situ, termasuk Nirahai, terheran-heran dan tidak tahu siapa gerangan wanita yang wajahnya masih cantik akan tetapi rambutnya riap-riapan pakaiannya kusut dan wajahnya membayangkan kemarahan dan kelihatan beringas sekali itu.
"Kau.... kau.... murid Siauw-lim-pai itu....."
Gak Liat akhirnya teringat dan di luar kesadarannya ia berteriak.
"Kakek keparat, manusia iblis Gak Liat. Benar, akulah Bhok Khim dan aku datang untuk merenggut nyawamu."
Setelah berkata demikian, Bhok Khim sudah menyerang dengan hebatnya, menubruk dan kedua tangannya mencengkeram seperti seekor harimau mengamuk.
Namun dari gerakannya itu menyambar hawa yang amat kuat sehingga Gak Liat sendiri sampai menjadi kaget.
Cepat-cepat kakek ini mengelak dengan lompatan ke kiri, namun dengan kecepatan yang amat luar biasa, Bhok Khim sudah mendorongkan kedua tangannya ke kanan dan....
tubuh Gak Liat terjengkang lalu terguling sampai lima kali.
Dia meloncat kaget sekali, akan tetapi merasa lega bahwa dia tidak terluka sungguhpun harus ia akui bahwa tenaga dorongan wanita ini hebat bukan main.
Melihat pertandingan yang sedang dimulai ini, Puteri Nirahai kini mengerti siapa adanya wanita itu, maka ia berseru nyaring.
"Pertandingan antara dua orang yang mempunyai dendam pribadi, harap yang lain tidak mencampuri."
Seruan ini menenangkan suasana dan kini semua orang menonton dua orang yang sudah mulai bertanding dengan hebatnya.
Diam-diam Han Han yang menyaksikan pertandingan itu terkejut dan kagum sekali.
Gerakan Bhok Khim amat aneh dan terutama sekali hawa yang menyambar keluar dari kedua tangannya amat kuat, anginnya mengeluarkan suara bercuitan seperti pedang yang digerakkan dengan tenaga sin-kang kuat.
Tahulah dia bahwa wanita itu di dalam kamar penyiksa diri telah dapat mencuri ilmu yang diajarkan oleh kakek sakti Kian Ti Hosiang kepada Siauw Lam Hwesio, pelayannya.
Ilmu inilah yang agaknya dimaksudkan oleh Kian Ti Hosiang, akan tetapi menyaksikan betapa ilmu itu kini amat ganas dan liar, dia dapat menduga bahwa wanita ini tentu mempelajarinya secura keliru sehingga menyeleweng.
Namun, melihat hebatnya gerakan Bhok Khim, dapat diduga betapa hebatnya ilmu yang dicuri oleh wanita itu dari balik dinding kamar penyiksa diri.
Berkali-kali Gak Liat roboh terguling akan tetapi karena dia memiliki kekebalan luar biasa, maka pukulan hawa aneh itu hanya membuat ia roboh bergulingan, sama sekali tidak melukainya.
Melihat ini, Han Han merasa sayang sekali dan ia dapat menduga bahwa wanita itu ternyata hanya mewarisi "kulit"
Dari ilmu itu, masih kehilangan inti sarinya, karena kalau sudah mengenal "isinya", agaknya ilmu yang hebat itu pasti tidak akan dapat tertahan oleh Gak Liat.
Agaknya Gak Liat yang jauh lebih matang pengalamannya dalam hal pertandingan ilmu silat, juga dapat mengerti akan hal itu.
Tiba-tiba ia tertawa bergelak dan kini ia mengimbangi serangan-serangan Bhok Khim yang ganas dan liar itu dengan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang sambit menggulingkan diri.
"Celaka....."
Han Han berseru dalam hatinya.
Ia memang sudah tahu bahwa serangan Bhok Khim itu tidak akan ada artinya kalau lawannya bergulingan seperti itu dan kini biarpun memukul sambil menggulingkan diri, Hwi-yang Sin-ciang dari Setan Botak itu tidak berkurang kedahsyatannya.
Benar saja, setelah Gak Liat membalas serangan dengan bergulingan dan memukul secara bertubi-tubi, Bhok Khim terkejut sekali dan ketika ia agak terlambat mengelak, pinggangnya kena serempet pukulan panas itu dan ia menjerit, roboh terguling dan pakaiannya robek di bagian pinggang.
"Ha-ha-ha."
Gak Liat tertawa bergelak akan tetapi ia menghentikan ketawanya dengan tiba-tiba karena ternyata Bhok Khim sudah meloncat bangun kembali sambil menubruknya dan mengeluarkan suara melengking nyaring seperti kuntilanak.
Gak Liat masih berusaha membuang diri ke samping sambil memukul dengan telapak tangannya.
Akan tetapi Bhok Khim sudah mendahuluinya, menangkap kedua tangannya, pada pergelangan tangan dan gerakan tubrukannya yang kuat itu membuat Gak Liat roboh terlentang, ditindih oleh Bhok Khim.
Kedua orang itu bergulingan, bergumul di atas rumput dan karena bergumul dengan kacau, saling membetot bersitegang melepaskan dan mempertahankan tangan yang dicengkeram, Maka tubuh mereka saling tindih sehingga kelihatan seperti kedua orang laki-laki dan wanita itu sedang bermain asmara dan bersendau-gurau sambil bergumul.
Namun, semua yang hadir mengerti bahwa pertandingan itu merupakan pertandingan mati-matian, siapa yang kalah tentu tewas, maka mereka memandang dengan hati penuh ketegangan.
Memang hebat dan menegangkan pertandingan yang kini tidak lagi memakai teori ilmu silat itu.
Cengkeraman jari-jari tangan Bhok Khim pada kedua pergelangan tangan Gak Liat benar-benar kuat, seolah-olah jari-jari tangannya sudah terbenam ke dalam lengan kakek itu.
Biarpun ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, tetap saja kesepuluh jari tangan Bhok Khim itu tidak dapat terlepas dari tangan Gak Liat, seolah-olah menjadi sepuluh ekor lintah yang menghisap darahnya.
Gak Liat mulai menjadi gugup dan juga marah bukan main.
Kalau dia dikalahkan dengan ilmu silat yang lebih tinggi, dia tidak akan penasaran.
Akan tetapi dikalahkan dengan cara wanita berkelahi, mencengkeram dan mencakar, benar-benar amat memalukan.
Lebih celaka lagi, kini wanita gila itu mulai berusaha untuk menggigit tenggorokannya.
Dalam keadaan seperti itu, Gak Liat menjadi makin malu dan bingung.
Ia kembali meronta dan menendangkan kakinya agar tubuh yang menindihnya itu terlepas, akan tetapi kini Bhok Khim sudah mengaitkan kedua kakinya yang panjang dan berkulit halus itu ke pinggang Gak Liat dan tiba-tiba mukanya menunduk ke arah tenggorokan.
Dilihat sepintas lalu, seolah-olah wanita cantik yang kini rambutnya terlepas dan awut-awutan menyembunyikan mukanya itu hendak mencium Gak Liat.
Terdengar lengking yang serak seperti srigala disusul teriakan Gak Liat karena tenggorokannya telah tergigit oleh Bhok Khim"
Hal ini hanya dapat terjadi karena gelora nafsu berahi yang timbul di dalam hati kakek itu.
Pergumulan itu, bau keringat dan rambut Bhok Khim, membangkitkan nafsu berahi di hati Gak Liat sehingga ia sejenak terpesona dan kehilangan kewaspadaan, maka terlambat ia menyadari bahwa wanita itu bukan hendak mencium bibirnya seperti yang dikhayalkannya dalam buaian nafsu, melainkan menggigit tenggorokannya.
Rasa nyeri yang hebat membuat Gak Liat marah sekali.
Biarpun tangannya masih dicengkeram, namun ia mengerahkan tenaga memukul sehingga tangan Bhok Khim yang mencengkeram terbawa dengan keras sekaii dan pukulan Hwi-yang Sin-ciang bersarang di dada wanita itu.
Pukulan ini hebat bukan main dan tokoh lain yang tinggi kepandaiannya pun kiranya akan tewas seketika menerima pukulan maut ini.
Akan tetapi di dalam diri Bhok Khim terdapat hawa aneh yang timbul sebagai akibat dari mempelajari ilmu tinggi yang keliru dan biarpun pukulan itu membuat dadanya seperti remuk akan tetapi tidak membuat ia tewas dan dalam kenyeriannya ia memperkuat gigitannya sampai gigi-giginya menembus kulit daging dan mengoyak urat besar.
"Desss."
Sekali lagi Gak Liat memukul sekuatnya dan tubuh Bhok Khim terkulai dengan dada berubah hitam dan hangus, akan tetapi tubuh Gak Liat sendiri berkelojotan dalam sekarat karena urat lehernya putus dan lehernya koyak-koyak, matanya mendelik dan dari leher itu keluar suara mengerikan seperti seekor babi disembelih, dibarengi darah yang mengucur seperti pancuran air.
Setelah tubuh Gak Liat yang berkelojotan itu menegang lalu terkulai, barulah semua orang menghela napas dengan muka pucat saking tegang dan ngerinya menyaksikan pertandingan hebat yang mengakibatkan matinya Bhok Khim dan Gak Liat.
Akan tetapi, benar-benar hebat wanita itu.
Terdengar ia mengeluh dan tubuhnya bergerak perlahan, tangannya lemah menggapai ke arah Khu Cen Tiam dan Liem Sian.
"Suheng.... suheng.... harap suheng.... rawat...., anakku...."
Terdengar suaranya lemah.
Suara yang terdengar aneh, seperti suara yang datangnya dari lubang kubur.
Memang aneh sekali melihat tubuh yang sudah menerima dua kali pukulan Hwi-yang Sin-ciang dan yang sudah hangus menghitam itu masih dapat mengeluarkan suara"
"Kami bukan suhengmu."
Khu Cen Tiam membentak, jijik dan marah.
"Anakmu adalah anak haram, anak iblis, dan engkau sendiri sudah menjadi iblis betina."
Memang Khu Cen Tiam dan Liem Sian yang dahulunya amat mencinta Bhok Khim, menjadi benci ketika mendengar betapa dalam kamar penyiksa diri itu sumoi mereka telah menjadi gila dan melahirkan anak.
Kini menyaksikan sepak terjang Bhok Khim, mereka menjadi makin benci karena biarpun Bhok Khim berhasil membunuh Gak Liat, akan tetapi caranya berkelahi tadi amat memalukan, tidak patut dilakukan seorang murid Siauw-lim-pai.
Karena itu, mereka tidak mau mengakui Bhok Khim yang dianggap mencemarkan nama besar Siauw-lim-pai.
"Kami bukan suhengmu dan engkau bukan murid Siauw-lim-pai lagi."
Liem Sian ikut membentak.
"Suheng.... tolong.... anak.... ku...."
Bhok Khim masih mencoba untuk mohon kepada bekas kedua suhengnya sambil mengerahkan seluruh tenaga terakhir.
"Ibils betina."
Khu Cen Tiam dan Liem Sian menggerakkan senjata mereka hendak membunuh bekas sumoi itu karena kalau dibiarkan bicara terus, mereka takut kalau ketahuan rahasianya dan akan menjadi bahan penghinaan dan pencemoohan para tokoh kang-ouw terhadap Siauw-lim-pai.
"Tring-tringgg....."
Cambuk besi dan toya kuningan itu terlempar diikuti tubuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu terlempar sampai empat meter dan terbanting ke atas tanah.
Han Han telah berdiri di situ dengan kening dikerutkan, memandang marah kepada dua orang itu.
"Pesan seorang yang akan mati adalah pesan keramat, apalagi kalian adalah bekas suhengnya, betapa kejinya hati kalian."
Bentak Han Han tanpa mempedulikan siapa pun dan ia lalu berlutut dekat tubuh Bhok Khim.
"Toanio, biar siauwte yang akan menolong dan merawat puteramu. Di mana dia?"
Bhok Khim membelalakkan matanya, memandang Han Han dan agaknya ia mengenal pemuda ini.
"Kau.... dua kali kau menolongku.... ahhh.... terima kasih.... anakku.... aku serahkan padamu.... kasihan dia.... tidak berdosa.... dia.... dia.... aaahhhhh.... dia berada...."
"Di mana? Di mana puteramu, Toanio....?"
Han Han bertanya, mengguncang pundak itu.
Bhok Khim sudah meramkan matanya, bibirnya berbisik lemah dan lirih sekali sehingga terpaksa Han Han mendekatkan telinganya sambil mengerahkan tenaga saktinya untuk menangkap kata-kata terakhir yang hampir tidak terdengar itu.
Bagaikan hembusan napas yang lemah, suara itu memasuki telinga Han Han bersama dengan napas terakhir Bhok Khim mengucapkan jawaban yang hanya terdengar oleh telinga Han Han sendiri.
Han Han bangkit berdiri dan melihat betapa Khu Cen Tiam dan Liem Sian sudah mengangkat jenazah Ceng To Hwesio dan pergi dari tempat itu tanpa mempedulikan mayat Bhok Khim.
Sementara itu, semua orang memandang pemuda buntung itu penuh takjub, terutama mereka yang belum mengenalnya.
Adapun mereka yang telah mengenalnya memandang Han Han dengan hati gentar karena mereka itu sudah melihat atau mendengar akan kesaktian pemuda buntung itu.
Terutama sekali Nirahai memandang Han Han dengan sinar mata tajam, menyembunyikan kekagumannya.
Pemuda itu agaknya telah lama berada di situ akan tetapi tidak seorang pun, juga dia sendiri tidak, yang mengetahui kehadiran pemuda itu.
Padahal di situ terdapat banyak orang sakti.
Hal ini saja sudah membuktikan betapa hebatnya pemuda buntung yang menjadi kakak angkat Lulu yang mengatakan bahwa hanya Han Han inilah yang patut menjadi jodohnya"
Teringat akan ini, tanpa dapat dicegah lagi merahlah kedua pipi Nirahai.
Dara ini merasa jengah sendiri dan untuk menutupi debar jantungnya, ia segera berkata dengan suara dingin.
"Setelah dibebaskan subo, apa keperluanmu datang ke sini?"
Han Han mengangkat muka lalu berbalik dan memandang puteri itu, kemudian menjawab tenang.
"Engkau telah menawan adikku Lulu, maka aku datang untuk bertanya ke mana perginya adikku itu."
Kedua alis yang kecil panjang hitam itu berkerut, lalu terdengar suara Nirahai jengkel.
"Apa kau kira aku menyembunyikan Lulu?"
"Aku tidak mengira atau menyangka apa-apa, hanya aku bertanya ke mana perginya Lulu?"
Han Han bertanya, tetap tenang biarpun semua orang yang berada di situ memperhatikan dia bercakap-cakap dengan puteri itu.
Sinar matanya tajam dan tidak membayangkan sesuatu, sungguhpun kini setelah berdiri dekat dan memandang wajah gadis itu dengan jelas, ia mendapat kenyataan betapa wajah puteri itu benar-benar amat cantik seperti bidadari.
"Aku tidak tahu ke mana perginya. Dia melarikan diri dari tempat tahanan ketika murid-murid In-kok-san datang menyerbu. Dia benar sumoiku, akan tetapi dia mengecewakan hatiku, maka aku tidak mau tahu lagi ke mana dia pergi."
Ucapan ini melemaskan hati Han Han, karena dia percaya bahwa puteri itu memang benar tidak tahu.
Akan tetapi ucapan yang mengandung penyesalan itu pun menyinggung hati Ma-bin Lo-mo karena murid-murid In-kok-san ada lah murid-muridnya.
Maka ia lalu berseru marah.
"Murid-murid In-kok-san adalah murid-muridku yang murtad. Manusia-manusia tidak kenal budi, lupa betapa semenjak kecil dengan susah payah aku mengajar mereka. Terkutuk, akan kubunuh mereka seorang demi seorang."
Tidak ada yang berani mencampuri urusan Ma-bin Lo-mo dengan murid-muridnya, akan tetapi Han Han menjadi panas hatinya.
Ia tahu betapa murid-murid In-kok-san itu masih memiliki kegagahan dan sifat-sifat yang jauh lebih baik daripada watak Iblis Muka Kuda ini, maka ia menengok kepada Ma-bin Lo-mo dan berkata.
"Ma-bin Lo-mo, ucapanmu ini sebenarnya tak perlu kau keluarkan di depan para orang gagah. Engkaulah yang terkutuk dan murtad, setelah apa yang kau lakukan terhadap orang tua dan keluarga para murid In-kok-san."
Seketika wajah Ma-bin Lo-mo menjadi pucat.
Sedikit pun ia tidak pernah mengira bahwa pemuda buntung yang amat lihai itu telah mengetahui rahasianya.
Ia hanya memandang dengan mata melotot tanpa dapat menjawab.
Han Han juga tidak mempedulikannya lagi lalu berkata, tidak ditujukan kepada siapapun juga.
"Suara yang mengajak damai adalah suara hati yang murni, akan tetapi manusia sudah terlalu dibungkus kepalsuan, maka sayanglah kalau suara damai itu menyembunyikan sesuatu yang jauh daripada mendatangkan kedamaian di hati sesama manusia."
Setelah berkata demikian, sekali lagi ia mengerling ke arah Puteri Nirahai lalu tubuhnya berkelebat, sekali mencelat lenyaplah tubuhnya, membuat semua orang bengong memandang.
"Pemuda Super Sakti."
Terdengar orang-orang berbisik kagum.
Nirahai juga kagum sekali.
Dia dapat melihat bayangan pemuda itu meloncat-loncat cepat sekali seperti kilat menyambar dan dalam beberapa loncatan saja sudah amat jauh dari tempat itu.
Ia kagum dan juga penasaran ingin sekali ia mencoba kepandaian pemuda buntung yang amat terkenal bahkan kini dijuluki pemuda Super Sakti itu.
Pertemuan itu ditutup dengan janji para tokoh kang-ouw dan wakil-wakil perkumpulan untuk mencuci tangan tidak mencampuri perang, bahkan berjanji akan menarik semua murid dari Se-cuan.
Puteri Nirahai menjadi lega sekali dan menganggap bahwa tugas dan usahanya berhasil baik sekali.
Akan tetapi dalam perjalanan meninggalkan tempat itu, wajah Han Han tidak pernah lenyap dari depan matanya.
Ia kagum, dan juga penasaran, belum puas hatinya kalau betum dapat berhadapan sebagai lawan dengan pemuda buntung itu.
Akan tetapi, berkali-kali Nirahai mencela hatinya sendiri yang tak pernah dapat melupakan Han Han.
Dia masih mempunyai banyak kewajiban yang harus diseleseikan, harus cepat pulang ke kota raja memberi laporan kemudian ke perbatasan Se-cuan untuk memimpin sendiri pasukan yang mengepung daerah pemberontak itu.
Harus diakui kecerdikan Puteri Nirahai dan para pimpinan tinggi Kerajaan Mancu yang selain pandai berperang, dapat memimpin pasukan-pasukan yang berani mati, tahan uji dan berdisiplin tunduk terhadap pimpinan, juga pandai pula bersiasat.
Siasat yang dilakukannya di puncak Tai-hang-san, mengundang para tokoh kang-ouw termasuk para pimpinan partai-partai persilatan, mengajak damai dengan mengemukakan pandangan-pandangan dan filsafat-filsafat yang mengesankan, benar-benar telah berhasil baik sekali.
Berbondong-bondong orang-orang kang-ouw yang gagah perkasa dan para murid persilatan besar yang tadinya dengan mati-matian membantu perjuangan Se-cuan dalam menghadapi barisan Mancu, mengundurkan diri dan keluar dari Se-cuan memenuhi perintah ketua-ketua dan guru-guru mereka.
Sudah tentu saja hal ini membuat Se-cuan menjadi lemah sungguhpun Bu Sam Kwi yang berambisi besar itu tetap mempertahankan kedudukannya dan mengerahkan seluruh pasukan dan penduduk untuk mempertahankan Se-cuan dari tangan pemerintah Mancu.
Pengunduran para orang gagah dari Se-cuan itu bukan tidak diperhatikan oleh pihak pimpinan pasukan Mancu yang tak pernah meninggalkan perbatasan.
Sebaliknya dari itu malah, mereka ini mempergunakan kesempatan setelah orang-orang gagah itu keluar, lalu pasukan-pasukan terdepan mengadakan serbuan-serbuan kecil untuk mengacau pertahanan musuh.
Yang paling aktip dalam pengecauan-pengacauan di perbatasan ini adalah Ouwyang-kongcu sendiri, putera Pangeran Ouwyang Cin Kok yang memimpin pasukan istimewa untuk menyerbu daerah-daerah yang kini tidak lagi diperkuat oleh orang-orang kang-ouw, melakukan pengrusakan, pembakaran secara kejam, membiarkan pasukannya membunuh, merampok, memperkosa dan membakari rumah.
Memang hal ini disengaja untuk mengacaukan pertahanan musuh dan di samping itu, Ouwyang Seng mendapat kesempatan pula untuk melampiaskan nafsu-nafsunya dan memilih wanita-wanita tercantik untuk dirinya sendiri.
Apalagi pada waktu Puteri Nirahai meninggalkan daerah perbatasan untuk kembali ke kota raja dan menghadiri pertemuan di Tai-hang-san, Ouwyang Seng seperti seekor kuda tanpa kendali.
Kalau ada puteri itu yang ia harapkan untuk menjadi jodohnya, harapan yang bukan saja terdorong oleh kecantikan dara itu yang membuat ia tergila-gila, akan tetapi juga sebagai mantu kaisar tentu saja derajatnya menjadi naik dan ia akan mendapat kedudukan yang tinggi, pemuda bangsawan itu menjadi "alim"
Dan bersikap seperti seorang pemuda yang baik.
Han Han yang meninggalkan puncak In-kok-san, melakukan perjalanan cepat sekali ke Se-cuan.
Ketika ia meninggalkan puncak, di tengah jalan di kaki gunung itu, ia melihat dua orang murid Siauw-lim-pai, Khu Cen Tiam dan Liem Sian, membakar jenazah Ceng To Hwesio untuk diperabukan dan dibawa abunya ke Siauw-lim-si, dan ketika ia mengintai, ia mendengar percakapan antara dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini.
Kiranya kedua orang tokoh Siauw-lim-pai ini tidak mau menerima uluran tangan Puteri Nirahai yang mengajak damai.
Mereka berbantahan.
Liem Sian mengatakan bahwa mendiang Ceng To Hwesio sudah menerima perdamaian itu, akan tetapi Khu Cen Tiam membantah, mengatakan bahwa kini hwesio itu telah tewas sehingga perjanjian itu juga dapat dibatalkan.
Akhirnya mereka berdua bersepakat untuk pergi ke Se-cuan dan membakar hati para saudara mereka yang berjuang di sana untuk lebih memperhebat perlawanan mereka.
Mendengar ini, tentu saja hati Han Han menjadi khawatir sekali.
Terutama ia ingat akan Lauw Sin Lian, puteri mendiang Lauw-pangcu yang telah menjadi murid Siauw-lim Chit-kiam sehingga gadis itu pun kini menjadi tokoh Siauw-lim-pai dan kalau Sin Lian terkena hasutan kedua orang yang mendendam ini, berarti gadis itu akan terus berjuang melawan pemerintah Mancu.
Han Han bukan hanya mengkhawatirkan keselamatan bekas sucinya itu, akan tetapi terutama sekali ia menjaga jangan sampai tokoh-tokoh Siauw-lim-pai, terutama Sin Lian, mengingkari atau melanggar janji yang telah diucapkan Ceng To Hwesio, seorang tokoh besar Siauw-lim-pai.
Karena inilah dia bergegas mendahului dua orang Siauw-lim-pai itu menuju ke Se-cuan untuk memberi tahu kepada Sin Lian akan perjanjian yang diadakan di puncak In-kok-san.
Han Han sama sekali tidak tahu bahwa kedatangannya di perbatasan Se-cuan itu telah diketahui oleh Ouwyang Seng yang sudah mengatur rencana bersama Toat-beng Cui-sian-li dan Ma-bin Lo-mo.
Iblis Muka Kuda ini amat khawatir mendapat kenyataan bahwa Han Han telah mengetahui rahasianya yang busuk terhadap para muridnya, maka ia hendak mengerahkan segala siasat dan kepandaiannya untuk membunuh pemuda buntung itu.
Juga Toat-beng Ciu-sian-li yang melihat betapa kini Han Han menjadi seorang yang berilmu tinggi, khawatir kalau-kalau pemuda itu kelak akan mencelakakannya sebagai balas dendam karena dialah yang menyebabkan pemuda itu kehilangan sebelah kakinya.
Adalah wajar kalau nenek ini pun ingin sekali membunuh Han Han agar hatinya tidak akan gelisah lagi.
Ouwyang Seng memang membenci Han Han, maka tentu saja dia menjadi gembira untuk bersekutu dengan dua orang lihai ini dan menjebak Han Han.
Hanya ia merasa sayang sekali mendengar akan kematian gurunya, karena kalau ada bantuan Gak Liat, tentu kedudukan mereka lebih kuat lagi.
Ketika sampai di perbatasan, segera Han Han mendengar dari mulut para pengungsi akan keganasan pasukan yang dipimpin Ouwyang-kongcu.
Mendengar ini, Han Han menjadi marah.
Semenjak kecil ia sudah mengenal Ouwyang Seng sebagai seorang yang sombong dan berwatak jahat.
Kini mendengar akan sepak-terjang putera pangeran yang penuh kekejaman, membakari dusun-dusun dan melakukan hal-hal di luar prikemanusiaan, Han Han tak dapat menahan kesabaran hatinya lagi.
Dia tidak ingin melibatkan diri dengan perang, akan tetapi apa yang dilakukan Ouwyang Seng sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang, melainkan pengumbaran hawa nafsu jahat.
Kalau Ouwyang Seng dan pasukannya menggempur dan menghancurkan pasukan Se-cuan, dia tidak akan peduli, itu adalah perang namanya.
Akan tetapi membakari dusun, membunuhi orang yang tidak melakukan perlawanan, memperkosa wanita yang lemah, apakah ini dapat dikatakan siasat perang?
Tidak, ia harus mencari dan mengenyahkan pemuda bangsawan yang jahat itu, karena kalau tidak segera dibasmi orang seperti itu tentu keganasan dan kejahatannya akan makin merajalela dan menimbulkan banyak korban manusia yang tidak berdosa.
Pagi-pagi sekali Han Han telah tiba di perkemahan pasukan yang dipimpin Ouwyang Seng di lereng gunung.
Ia langsung memasuki daerah yang dikuasai pasukan ini dan merasa heran melihat keadaan yang sunyi, tidak nampak penjagaan ketat.
Bahkan ada beberapa orang perajurit Mancu yang rebah malang-melintang tidur mendengkur dalam keadaan mabuk.
Pasukan macam begini disohorkan sebagai pasukan yang istimewa?
Diam-diam Han Han memandang rendah, akan tetapi tetap bersikap waspada karena ia telah mengenal siasat-siasat yang amat berbahaya dari para pasukan Mancu ini.
Berindap-indap ia memasuki daerah itu dan meneliti perkemahan.
Di dalam beberapa buah kemah ia mendengar isak tangis wanita diseling kekeh ketawanya laki-laki mabuk.
Tentu para perwira pasukan sedang melakukan perbuatan biadab terhadap wanita-wanita tawanan, pikirnya.
Akan tetapi tujuan Han Han mencari Ouwyang Seng dan ia menduga bahwa tentu pemuda bangsawan itu berada di dalam kemah yang paling besar.
Akhirnya, ia melihat sebuah kemah yang besar berwarna kuning, berada di tengah-tengah perkemahan dan dengan gerakan ringan sekali Han Han bergerak mendekat.
Tentu kemah besar itulah yang ditempati Ouwyang Seng, pikirnya.
Sama sekali Han Han tidak tahu bahwa keadaan yang sunyi itu, adanya penjaga-penjaga mabuk, memang disengaja oleh Ouwyang Seng, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li yang berusaha menjebaknya.
Pasukan disingkirkan, memasang barisan pendam mengurung perkemahan, dan kini tiga pasang mata mengikuti gerak-gerik Han Han dari tempat persembunyian di belakang kemah besar.
Keadaan Han Han seperti seekor harimau yang makin lama makin mendekati jebakan, diintai oleh pemburu-pemburu dengan hati berdebar tegang.
Sesosok bayangan berkelebat di depan kemah besar.
Biarpun cuaca seperti itu masih belum terang benar, akan tetapi mata Han Han terbelalak lebar ketika ia melihat bayangan itu.
Lulu.
Tak salah lagi.
Bayangan itu berdiri depan kemah membelakanginya, akan tetapi bentuk tubuh, bentuk tata rambut, dan dagu meruncing yang tampak sedikit dari samping, cara berpakaian, jelas bahwa gadis itu tentu adiknya.
Akan tetapi hanya sebentar saja ia dapat memandang penuh selidik dan dengan hati berdebar girang karena gadis itu kini telah melompat ke dalam kemah melalui pintu kemah yang diterobosnya.
Ah, betapa lancangnya Lulu, pikir Han Han kaget.
Dan tiba-tiba terdengar jerit melengking dari dalam kemah itu, jerit Lulu yang menggetarkan jantungnya.
Seperti kilat menyambar, Han Han sudah meloncat dari tempat persembunyiannya dan dengan tiga kali berjungkir-balik di udara tubuhnya langsung menukik ke bawah dan menerobos memasuki perkemahan yang terkoyak oleh putaran tongkatnya.
Dari atas tubuh Han Han menyambar ke bawah, matanya tajam mencari dan siap untuk langsung menolong Lulu, akan tetapi di sebelah dalam kemah itu kosong.
Ketika kaki tunggalnya turun ke atas lantai, tiba-tiba lantai itu amblas ke bawah membuat tubuhnya ikut terjeblos ke bawah dengan cepat sekali.
Han Han terkejut, maklum bahwa dia memasuki perangkap yang memang sengaja diatur dan dipasang lawan.
Cepat ia mengerahkan tenaga pada kaki tunggal dan tongkatnya, tubuhnya siap mencelat ke atas.
Akan tetapi pada saat itu, sebongkah batu besar sekali telah jatuh menimpa ke dalam lubang jebakan, dengan kekuatan ribuan kati menimpa ke arah tubuhnya.
"Celaka....."
Han Han maklum bahwa untuk meloncat ke luar tidak mungkin lagi, maka ia sudah siap dengan kedua tangannya untuk menerima batu besar yang menimpanya.
Pada saat itu, ia masih dapat melihat berkelebatnya dua bayangan di luar lubang, hanya sekilas pandang saja ia mengenal mereka sebagai Lauw Sin Lian dan Tan Hian Ceng.
Bahkan terdengar suara jeritan Sin Lian.
"Han Han...., Awas....."
Akan tetapi bayangan itu segera lenyap tertutup batu yang sudah menimpanya, batu yang besarnya persis memenuhi lubang di mana ia terjeblos.
Sambil mengerahkan sin-kang kepada sepasang lengannya, Han Han mengangkat kedua tangan ke atas setelah menggigit tongkatnya, dengan telapak tangan menghadap ke atas, lalu menerima batu yang berat itu, membiarkan tubuhnya agak merendah lalu mengayun tubuh dan kedua lengan ke atas.
Ia harus mengerahkan seluruh tenaga karena tidak ada ruang lagi untuk mengayun batu itu agar daya luncurnya tersalur kembali ke atas.
Dadanya terasa sesak dan tahulah ia bahwa tak mungkin ia bertahan terus dalam keadaan seperti itu, menyangga batu yang luar biasa beratnya.
Kalau kedua lengannya dan sebuah kakinya tidak kuat, ia akan terhimpit dan tubuhnya akan hancur tertimpa batu.
Bahaya yang mengancam keselamatannya sendiri tidaklah begitu menyiksa baginya kalau dibandingkan kekhawatirannya akan keselamatan Lulu, Sin Lian dan Hian Ceng di atas sana.
Bukankah tadi terdengar Lulu menjerit begitu mengerikan?
Dan Sin Lian bersama Hian Ceng tentu akan terancam musuh yang keji dan kuat.
Ia narus dapat cepat menyelamatkan diri sendiri terlebih dulu, kalau tidak, tentu tiga orang gadis itu terancam bahaya hebat.
Mulailah Han Han mencurahkan pikiran kepada diri sendiri.
Bagaimana ia dapat membebaskan diri dari tindihan batu berat itu?
Ia berusaha mendorong batu ke pinggir dan merasa betapa dinding sebelah kiri hanya tanah biasa, namun tentu saja tidak mungkin mendorong batu sebesar itu ke dalam tanah padat.
Tenaganya mulai berkurang dan dadanya terasa makin sesak.
Jalan satu-satunya adalah menghindarkan diri tertimpa batu dan membiarkan batu itu turun ke dasar lubang.
Akan tetapi dia harus dapat mencari ruangan untuk tubuhnya agar tidak terhimpit.
Setelah berpikir dan memperhitungkan masak-masak, Han Han hanya tahu akan sebuah cara yang harus ditempuhnya.
Kalau berhasil, ada harapan selamat, kalau gagal, paling-paling hanya tewas.
Akan tetapi kalau dia tewas, bagaimana dengan Lulu, Sin Lian, dan Hian Ceng?
Tidak.
Dia tidak boleh tewas dalam saat seperti itu karena dia dibutuhkan tiga orang gadis yang terancam bahaya.
Han Han mengerahkan seluruh tenaga, mendorong batu dari bawah sehingga batu itu mepet di dinding, kemudian ia menggeser kedua tangannya yang menyangga itu ke pinggir batu sampai tubuhnya mengenai dinding.
Jauh lebih berat mendorong batu mepet pada dinding dan menahannya agar tidak jatuh daripada ketika menyangga tadi.
Sampai berbunyi tulang-tulang tubuhnya dan dia hampir tidak kuat lagi.
Han Han memejamkan mata, memanggil semua daya kemauannya, mengumpulkan seluruh tenaga sin-kangnya, kemudian ia menggunakan tubuh belakangnya mendesak dinding sambil tetap mempertahankan batu agar tidak menimpanya.
Tanah dinding itu mulai melesak dan tubuhnya mulai amblas di dinding.
Sekali lagi ia mendorong sekuat tenaga dan kini tubuhnya sudah sama sekali melesak ke dalam tanah dinding dan batu itu meluncur jatuh ke dasar lubang.
Tubuh pemuda itu telah terhindar dari bahaya terhimpit, akan tetapi ia masih belum bebas dari ancaman maut karena kini tubuhnya melesak ke dinding tanah dan karena batu itu lebih tinggi dari tubuhnya, dia tertutup dan tidak ada hawa udara untuk bernapas.
Selain ini, juga Han Han muntahkan darah segar akibat pengerahan tenaga yang berlebihan ketika ia menggunakan tenaga untuk memaksa tubuhnya memasuki dinding tanah tadi.
Pemuda ini cepat menggerakkan tongkatnya menggali ke atas, terpaksa menahan napasnya dan hal ini membutuhkan pengerah sin-kang sehingga dari kedua ujung bibirnya menetes-netes darah segar.
Betapapun juga, Han Han yang ingin cepat-cepat bebas untuk menolong Lulu, Sin Lian dan Hian Ceng, tidak mau menyerah kalah dan berusaha terus menggali tanah di atasnya, dekat batu.
Ia menggali sambil menundukkan muka menahan napas karena kalau ia menengadah, tentu matanya akan terserang tanah yang berguguran dihujam tongkatnya.
Mengapa Lauw Sin Lian dan Tan Hian Ceng dapat berada di perkemahan itu?
Seperti diketahui, dua orang dara perkasa ini adalah dua orang pejuang yang gigih menentang pemerintah Mancu semenjak dahulu dan mereka menggabungkan diri dengan kekuatan penentang penjajah yang berpusat di Se-cuan.
Setelah penyerbuan tentara Mancu berkurang, bahkan hampir terhenti sama sekali, Hian Ceng yang tadinya berjuang di perbatasan timur dan selatan, mengunjungi Cung-king dan bertemu dengan Sin Lian untuk menanyakan perihal Han Han yang selalu menjadi kenangan.
Kedua orang gadis ini bercakap-cakap, saling menceritakan pengalamannya, akan tetapi tentu saja menyembunyikan perasaan hati masing-masing terhadap Han Han.
Ketika Hian Ceng bertanya tentang Han Han, dengan hati sedih Sin Lian menceritakan bahwa Han Han telah mengundurkan diri dan pergi dari Se-cuan untuk mencari adiknya.
Hian Ceng juga menyatakan penyesalannya betapa usahanya mencari Lulu sia-sia, dan diam-diam Hian Ceng memaki-maki Lulu yang dianggapnya seorang adik yang tak tahu diri dan hanya menyusahkan saja.
Akan tetapi karena ia kini tahu bahwa Lulu adik angkat Sin Lian, tentu saja dia tidak berani mengeluarkan makiannya dengan kata-kata.
Seperti para pejuang suka rela yang lain, yang datang jauh-jauh ke Se-cuan untuk membantu perjuangan, berperang menentang pasukan Mancu kedua orang perkasa ini pun menjadi kesal hatinya ketika pihak musuh menghentikan serbuan dan jarang sekali terjadi pertempuran.
Mereka menganggur dan kesal, maka seperti para pejuang lainnya, mereka juga lalu pergi menjelajah seluruh Se-cuan, dan dengan Hian Ceng sebagai petunjuk jalan, Sin Lian terhibur hatinya melakukan perjalanan di sepanjang perbatasan Se-cuan dengan propinsi-propinsi lain yang telah dikuasai musuh.
Ketika sedang melakukan perjalanan inilah kedua orang dara perkasa itu mendengar tentang sepak-terjang Ouwyang Seng bersama pasukan istimewanya.
Sin Lian menjadi marah sekali mendengar penuturan para pengungsi yang menceritakan segala kekejaman Ouwyang Seng dan pasukannya.
"Si bedebah, Semenjak kecil dia memang sudah jahat. Orang macam itu harus dienyahkan dari muka bumi."
Sin Lian berkata sambil mengepal tinjunya.
"Siapakah panglima musuh kejam yang bernama Ouwyang Seng itu, Enci Lian?"
Tanya Hian Ceng heran melihat sikap Sin Lian yang seolah-olah sudah mengenal panglima yang dikabarkan kejam oleh para pengungsi itu.
"Dia adalah putera Pangeran Ouwyang Cin Kok, murid Setan Botak Gak Liat dan dia...."
Wajah Hian Ceng berubah merah sekali, matanya bersinar-sinar.
"Aihhh, Kiranya si keparat laknat itukah? Mari kita berangkat mencarinya dan aku ingin menyayat-nyayat tubuhnya dengan pedangku, Enci Lian."
Kini Sin Lian yang memandang terbelalak.
"Mengapa engkau membenci dia pula, Adik Ceng?"
Hian Ceng cemberut dan matanya menyinarkan kemarahan.
"Kalau tidak ada Han-twako yang menolongku, tentu aku sudah menjadi korban kebiadaban Kongcu hidung babi itu."
"Lho, kau maksudkan hidung belang, bukan?"
"Hidung belang saja masih mending, dia hidung babi dan belang pula."
Hian Ceng bersungut-sungut lalu menceritakan pengalamannya ketika ia ditawan Ouwyang Seng dan Gu Lai Kwan, betapa ia hampir saja diperkosa oleh Ouwyang Seng kalau saja tidak muncul Han Han yang menolongnya.
Demikianlah setelah kedua orang gadis itu membicarakan Ouwyang Seng dengan hati penuh kebencian mereka berdua lalu menyelidiki perkemahan pasukan istimewa yang dipimpin Ouwyang Seng.
Kebetulan sekali bahwa pada malam hari mereka menyelundup ke daerah perkemahan, Ouwyang Seng bersama dua orang pembantunya yang lihai, yaitu Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo, telah mengatur jebakan bagi Han Han sehingga daerah itu sengaja tidak dijaga ketat dan dengan kepandaian mereka, dua orang gadis itu berhasil menyelinap masuk dan melakukan pengintaian di dekat kamar besar yang berwarna kuning.
Dari tempat persembunyian mereka, mereka melihat kesibukan Ouwyang Seng dan dua orang datuk kaum sesat sedang mengatur jebakan di dalam kemah.
Melihat Ouwyang Seng, naik darah Hian Ceng dan gadis ini sudah ingin menyerbu dengan nekat.
Akan tetapi Sin Lian memegang lengannya dan memberi isyarat supaya temannya itu tidak terburu nafsu.
"Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo itu lihai sekali,"
Bisiknya.
"Tak mungkin kita dapat mengalahkan mereka. Kita menanti kesempatan baik...."
Akan tetapi, sampai malam berganti pagi, pemuda bangsawan yang mereka incar itu selalu bersama nenek dan kakek sakti itu sehingga mereka berdua tidak berani turun tangan.
Akan tetapi Sin Lian curiga menyaksikan gerak-gerik mereka, bahkan menjadi heran melihat munculnya seorang gadis yang gerak-geriknya gesit akan tetapi yang melihat pakaian dan tata rambutnya mengingatkan ia akan adik angkatnya, Lulu.
Gadis itu jelas bukan Lulu, akan tetapi mengapa gadis itu seolah-olah menjadi saudara kembar Lulu dengan pakaian, tata rambut, dan gerak-gerik yang serupa benar?
Dalam keheranannya, Sin Lian menjadi makin curiga dan mengambil keputusan untuk menanti dan mengintai terus.
Dia dan Hian Ceng sama sekali tidak tahu bahwa pagi hari itu Han Han telah muncul pula dalam penyelidikannya, mengintai tak jauh dari semak-semak di mana mereka bersembunyi.
Mereka hanya melihat gadis yang seperti Lulu itu tiba-tiba tampak berkelebat di depan kemah, lalu meloncat ke dalam kemah disusul suara jeritan nyaring.
Peristiwa ini masih membuat mereka berdua terheran-heran, akan tetapi ketika mereka melihat Han Han meloncat dan berjungkir-balik di udara, kemudian menyerbu ke dalam kemah barulah mereka terkejut dan Sin Lian yang cerdik lantas dapat menduga bahwa mereka semua itu telah mengatur jebakan untuk Han Han.
"Han-twako....."
Hian Ceng berbisik ketika ia mengenal tubuh yang meloncat tinggi itu.
"Celaka, dia terjebak. Mari....."
Sin Lian sudah mendahului Hian Ceng dan kedua orang gadis itu cepat meloncat dan lari ke tenda kuning, menguakkan pintu tenda.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka bahwa kemah itu kosong dan kini terdapat lubang besar.
Han Han berada di dasar lubang dan sebongkah batu besar menimpa turun.
Mereka hanya dapat berteriak tak mampu menolong dan dalam beberapa detik saja batu itu telah menutupi lubang dan mereka tidak tahu apa yang terjadi dengar Han Han.
"Ha-ha-ha-ha"
Memasang perangkap untuk seekor harimau ganas, yang didapat bukan hanya harimau, akan tetapi juga dua ekor domba yang berdaging lunak.
Ini namanya untung besar, ha-ha-ha."
Sin Lian dan Hian Ceng mencebut pedang dan meloncat keluar dari dalam kemah itu.
Kiranya Ouwyang Seng yang mengejek mereka telah berdiri di situ bersama Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo.
Hian Ceng adalah seorang gadis yang memiliki keberanian luar biasa.
Biarpun ia maklum bahwa kepandaian Ouwyang Seng amat hebat, namun melihat pemuda bangsawan yang dibencinva ini, dia sudah tidak dapat menahan sabar lagi dan sambil memaki ia sudah menerjang dengan tusukan pedangnya.
Ouwyang Seng tertawa mengejek.
Betapapun cepat gerakan Hian Ceng, namun dia lebih cepat lagi mengelak sambil tertawa-tawa mengejek.
Hian Ceng menjadi makin marah dan terus menyerang secara bertubi-tubi yang selalu mengenai tempat kosong, bahkan dia mendesak dan mengejar terus ketika Ouwyang Seng sambil melompat memancing gadis itu menjauhi kawannya.
Adapun Sin Lian yang tahu bahwa kakek dan nenek yang berdiri tenang itu jauh lebih berbahaya dan lihai, membiarkan Hian Ceng menyerang Ouwyang Seng, sedangkan dia tanpa banyak cakap lagi lalu menggerakkan pedangnya dan mainkan Ilmu Pedang Chit-seng-sin-kiam yang hebat, menyerang Ma-bin Lo-mo.
Kakek ini mendengus dan tentu saja dia dapat menghindarkan serangan Sin Lian hanya dengan mengibaskan ujung lengan bajunya yang mengandung tenaga sin-kang amat kuat membuat pedang yang menyerang itu menyeleweng.
Namun Sin Lian tidak menjadi gentar dan terus melanjutkan penyerangannya dengan gerakan cepat sekali, mainkan jurus-jurus dari Chit-seng-sin-kiam sehingga pedangnya berubah menjadi gulungan sinar terang dan mengeluarkan bunyi berdesing-desing.
"Hemmm, kiam-sut (ilmu pedang) yang bagus."
Ma-bin Lo-mo memuji sambil mengelak, dan dia tidak ingin cepat-cepat merobohkan gadis ini karena dia tertarik oleh pedang itu, hendak menyaksikannya lebih dulu.
"Hi-hik, ilmu pedang yang dasarnya adalah Ilmu Silat Siauw-lim-pai. Tentu inilah Ilmu Pedang Chit-seng-sin-kiam yang terkenal itu, ciptaan Siauw-lim Chit-kiam. Si Setan Botak Gak Liat pernah memuji-muji ilmu pedang ini kepadaku."
Kata Toat-beng Ciu-sian-li sambil minum arak dari gucinya, matanya menyipit memperhatikan gerakan ilmu pedang yang dimainkan Sin Lian.
Sin Liat menjadi terkejut sekali, akan tetapi ia hanya dapat memperhebat serangannya secara nekat.
Kecemasannya memuncak ketika ia mendengar Hian Ceng mengeluh dan dengan kerling matanya ia melihat Hian Ceng sudah ditawan oleh Ouwyang Seng, dipegang kedua pergelangan tangannya dan dipanggul oleh Ouwyang Seng yang membawanya memasuki sebuah kemah sambil tertawa-tawa.
Kedua kaki Hian Ceng menendang-nendang dan mulutnya memaki-maki, akan tetapi ia tidak dapat terlepas.
Kemarahan membuat Sin Lian makin nekat dan penyerangannya makin hebat.
Akan tetapi makin hebat dia menyerang, hal ini agaknya membuat Ma-bin Lo-mo yang selalu mengelak atau menangkis dan nenek yang menonton sambil minum arak itu makin gembira.
Betapapun Hian Ceng meronta-ronta dan memaki-maki, dia tidak berdaya menghadapi Ouwyang Seng yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya.
Akhirnya dara yang biasanya riang gembira ini tertotok dan hanya dapat mengeluh dan menangisi nasibnya yang malang.
Di dalam tenda itu terjadilah perkosaan yang keji, perbuatan kejam dan ganas yang hanya akan dapat dilakukan oleh seorang manusia yang sudah menjadi buta oleh nafsu dan sudah bukan manusia lagi, melainkan iblis sendiri yang menguasainya.
"Ha-ha-ha-ha, dahulu engkau terlepas dari tanganku, sekarang akhirnya engkau menyerah dan menjadi milikku. Siapa yang akan menolongmu, manis?"
Ouwyang Seng manusia biadab itu mengejek sambil tertawa memandang korbannya yang terengah-engah seperti hendak pecah dadanya, air matanya bercucuran dan keadaannya amat mengenaskan.
"Ha-ha, aku takkan membunuhmu, manis. Sayang kalau dibunuh, aku belum bosan padamu. Nanti kutemani lagi, aku hendak melihat temanmu itu dan...."
"Ouwyang Seng manusia binatang."
Tiba-tiba Ouwyang Seng terbelalak kaget ketika tiba-tiba muncul Han Han di depannya.
Bagaimanakah pemuda buntung yang sudah terjebak dan terhimpit batu besar itu tiba-tiba bisa muncul di depannya?
Setannyakah ini?
Tentu saja bukan.
Yang muncul itu adalah Han Han.
Setelah dengan susah payah menggali dinding tanah di atasnya, akhirnya Han Han berhasil membuka lubang di sebelah atas batu yang menutup setengah lubang sumur itu dan ia cepat meloncat ke atas.
Terlalu lama ia tertutup tadi dan ia sungguh cemas akan nasib Lulu, Sin Lian dan Hian Ceng.
Ia mengharap mudah-mudahan tidak terlambat, maka cepat ia meloncat keluar dari kemah palsu itu, tidak mempedulikan rasa sesak dan sakit di dalam dadanya.
Ketika ia tiba di luar kemah, ia melihat Sin Lian menyerang Ma-bin Lo-mo dengan pedangnya.
Kakek itu seperti seekor kucing mempermainkan tikus, tidak membalas, hanya menangkis dan mengelak sambil berulang-ulang memuji keindahan ilmu pedang yang dimainkan Sin Lian.
Adapun Sin Lian yang melihat munculnya Han Han, cepat menjerit.
"Han Han, Cepat kau tolong Hian Ceng di kemah itu."
Han Han melihat keadaan Sin Lian memang belum terancam, maka ia berkelebat cepat ke arah kemah dan mendengar suara ketawa Ouwyang Seng.
Begitu ia menerobos memasuki tenda dan melihat keadaan Hian Ceng, hatinya seperti diremas rasanya.
Dia telah terlambat.
Sekali lirik saja Hian Ceng, maka kemarahannya membuat wajah Han Han menjadi beringas, sepasang matanya terbelalak seperti mengeluarkan api ketika ia menatap wajah Ouwyang Seng.
Apalagi darah yang tadi keluar dari ujung-ujung bibirnya masih belum dibersihkan, rambutnya masih kotor dengan tanah dan riap-riapan, wajah Han Han pada saat itu seperti wajah maut sendiri.
Ouwyang Seng gemetar.
Wajahnya pucat dan ia terbelalak, meraba gagang pedang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya masih berusaha mengancingkan bajunya yang baru saja ia pakai kembali.
"Ouwyang Seng.... kau bukan manusia.... kau.... iblis.... tidak berhak hidup lagi setelah apa yang kau lakukan terhadap Hian Ceng....."
Han Han bicara dengan bisik-bisik parau, akan tetapi bagi telinga Ouwyang Seng terdengar makin menyeramkan dan lebih menakutkan daripada kalau pemuda buntung itu berteriak-teriak.
Namun pemuda bangsawan ini teringat bahwa di luar terdapat dua orang pembantunya yang sakti, maka hatinya menjadi besar dan ia berseru.
"Ji-wi Locianpwe lekas ke sini, Si Buntung di sini."
Akan tetapi ia cepat mengelebatkan pedangnya ketika melihat tubuh Han Han bergerak ke depan menerjangnya.
Cepat bukan main gerakan Han Han yang sedang marah ini sehingga Ouwyang Seng secara ngawur saja menyambut berkelebatnya tubuh Han Han itu dengan sabetan pedangnya.
Pemuda bangsawan ini mengeluarkan jerit kesakitan, pedangnya terlepas jatuh ke atas lantai karena pergelangan tangan kanannya patah tulangnya ketika bertemu dengan tongkat, kemudian ia terbanting roboh kena disambar tamparan telapak tangan kiri Han Han yang amat kuat.
Pemuda itu mengerang kesakitan, berusaha bangkit akan tetapi roboh lagi karena tamparan itu membuat dua buah tulang iganya remuk.
Sambil menahan sedu-sedan yang naik ke lehernya dari dalam dada menyaksikan keadaan tubuh Hian Ceng yang masih telanjang bulat, Han Han cepat menggunakan jari tangan kanannya membebaskan totokan Hian Ceng.
Gadis itu menjerit dan menangis sedih, meloncat bangun, terhuyung dan menyambar pedang Ouwyang Seng yang terlepas tadi.
Han Han hanya dapat memandang dengan hati hancur, kemudian malah menundukkan mukanya, tidak kuat lebih lagi memandang tubuh yang masih telanjang bulat itu.
Hian Ceng mengeluarkan pekik mengerikan, pedang di tangannya berkelebat dan putuslah leher Ouwyang Seng disambar pedangnya sendiri.
Gadis itu masih terus membacoki mayat Ouwyang Seng sampai menjadi puluhan potong, darah berhamburan memenuhi ruangan dan lantai, kemudian Hian Ceng menggerakkan tangan yang memegang pedang ke arah lehernya sendiri.
Seperti digerakkan sesuatu yang aneh, Han Han mengangkat muka memandang dan wajahnya menjadi pucat, mulutnya berseru.
"Ceng-moi....."
Ia menubruk maju, namun kembali untuk kedua kalinya ia terlambat.
Pedang itu telah menyambar leher sampai hampir putus.
Han Han terisak merangkul Hian Ceng, lalu berlutut menyangga punggung dan leher yang terluka hebat.
Hian Ceng membuka matanya yang masih berlinangan air mata akan tetapi bibirnya tersenyum.
Han Han merasa seperti jantungnya ditarik-tarik, sakit sekali rasanya menyaksikan betapa sinar mata gadis itu sama benar dengan sinar mata mendiang Soan Li ketika berangkat mati dalam pelukannya.
"Ceng-moi.... Ceng-moi....."
Han Han berbisik dan mendekap tubuh itu, tidak peduli betapa darah gadis itu yang mengucur keluar dari leher membasahi seluruh bajunya.
Air matanya sendiri menetes-netes ke muka Hian Ceng yang kini memperlebar senyumnya dan makin memucat wajahnya.
Beberapa detik kemudian Hian Ceng tewas dalam pelukan Han Han dengan mulut masih setengah terbuka, tersenyum"
Kekejangan terakhir yang disusul kelemasan tubuh yang dipeluknya, membuat Han Han merintih, lalu perlahan-lahan ia merebahkan tubuh Hian Ceng ke atas lantai, menarik selimut yang berada di atas pembaringan, menutup jenazah itu dengan selimut, kemudian ia terisak dan meloncat keluar karena teringat akan keselamatan Sin Lian yang menghadapi lawan tangguh.
"Sin Lian....."
Lengking ini hebat sekali keluar dari mulut Han Han ketika tubuhnya mencelat jauh ke depan, ke arah pertandingan itu.
Lengking yang keluar mengandung kemarahan memuncak, kecemasan mendalam dan kedukaan yang mengguncang seluruh perasaan hati Han Han.
Dapat dibayangkan betapa marah dan kaget (Lanjut ke
Jilid 39) Pendekar Super Sakti (Serial 07 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 39 hatinya ketika ia melihat Ma-bin Lo-mo berhasil melibat ujung pedang Sin Lian dengan ujung lengan bajunya, dan dengan pengerahan Swat-im Sin-ciang yang amat kuat, Iblis Muka Kuda ini dengan tiba-tiba membalikkan pedang itu dengan kuatnya sehingga pedang di tangan Sin Lian itu membalik dan menusuk dada dara itu sampai tembus.
Sin Lian terhuyung-huyung dan matanya terbelalak memandang gagang pedangnya sendiri di depan dada.
Han Han yang mencelat dengan kecepatan seperti sinar menyambar itu telah menukik ke arah Ma-bin Lo-mo dan menggerakkan tongkatnya menusuk dada kakek itu, sedang tangannya ia pukulkan ke arah kepala Toat-beng Ciu-sian-li.
"Prakkk, Desss....."
Tongkat di tangan Han Han patah-patah bertemu dengan golok melengkung di tangan Ma-bin Lo-mo, tangan kanannya terbentur dengan lengan Toat-beng Ciu-sian-li yang menangkis pukulannya tadi.
Kakek dan nenek itu mengeluarkan seruan kaget dan muka mereka menjadi pucat ketika tubuh mereka terlempar ke belakang dan terbanting ke tanah, akan tetapi mereka bergulingan dan sudah meloncat bangun kembali.
Han Han yang sudah terluka sebelah dalamnya ketika ia menghabiskan tenaga mengangkat batu, kini menggunakan serangan dahsyat yang bertemu dengan sin-kang kedua lawannya yang kuat pula, maka tongkatnya patah-patah dan biarpun ia tidak terlempar, namun ujung mulutnya kembali mengucurkan darah segar.
Han Han tidak mempedulikan dirinya sendiri dan berloncatan ke dekat Sin Lian.
Gadis itu masih berdiri, tubuhnya bergoyang-goyang dan kini ia mengeluh.
"Han Han.... ohhhhh, Han Han...."
Gadis itu juga mengucurkan darah dari mulutnya dan tubuhnya tentu roboh kalau Han Han tidak cepat menyambarnya, memeluk dan memondongnya lalu dibawa berloncatan ke bawah pohon.
Dengan menyandarkan punggung di pohon dan memondong tubuh Sin Lian, Han Han menangis.
"Sin Lian... aduh Sin Lian... kau... kau ampunkan aku, Sin Lian..., Aku terlambat menyelamatkanmu""
Akan tetapi Sin Lian tersenyum sehingga tampak aneh sekali.
Dalam keadaan seperti itu, dengan wajah yang makin pucat sehingga darah yang mengalir ke pipinya kelihatan amat merah, pedangnya menancap di ulu hati, gadis ini masih dapat tersenyum.
Perlahan-lahan lengan kiri Sin Lian yang tergantung itu diangkat dengan lemah, kemudian jari-jari tangan gadis itu mengusap air mata Han Han mengusap darah di pinggir mulut, membelai rambut yang riap-riapan itu dan dibereskannya ke belakang, mulutnya berbisik-bisik.
"Han Han.... ohhh, Han Han.... aku rela.... aku senang mati.... dalam pelukanmu...., Han Han.... kau.... kau menangisi aku....?"
Han Han merasa jantungnya seperti diremas-remas.
Baru saja menghadapi kematian Hian Ceng yang masih melukai hatinya, kini ia memeluk tubuh Sin Lian yang sedang menghadapi kematian pula.
Kepalanya menjadi pening, air matanya menetes-netes dan melihat betapa sepasang mata itu memandangnya penuh harap, naik sedu-sedan di kerongkongannya dan tak kuasa ia mengeluarkan suara, maka ia hanya mengangguk-angguk dan terisak membenamkan mukanya di leher yang berkulit putih halus itu.
Ia merasa betapa leher itu berdenyut-denyut dan merasa betapa jari-jari tangan halus itu membelai rambutnya, dengan mesra mendorong mukanya sehingga terpaksa ia mengangkat muka memandang wajah yang makin layu.
"Han.... Han.... aku.... cinta padamu...., aku rela mati.... kau tolong Hian Ceng.... dia.... gadis baik yang mencintamu pula.... selamat tinggal...."
Kepala Sin Lian terkulai ke belakang.
"Sin Lian.... aduhhh, Sin Lian....."
Han Han tak kuasa menahan kesedihannya yang datang bertumpuk-tumpuk, pukulan batin yang datang bertubi-tubi dan ia menangis, mengguguk dan kalau dia tidak bersandar pada batang pohon, tentu ia sudah roboh karena seluruh tubuhnya menggigil.
Melihat keadaan pemuda yang menangis dan agaknya tidak ingat apa-apa lagi itu, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li melihat kesempatan baik.
Mereka memang merasa jerih menghadapi pemuda buntung yang amat sakti itu, akan tetapi kini mereka melihat kesempatan untuk menerjangnya.
Akan tetapi tiba-tiba Toat-beng Ciu-sian-li berbisik.
"Celaka.... bocah pengacau itu datang....."
Telunjuknya menuding dan Ma-bin Lo-mo yang memegang golok menoleh.
"Kak Han Han....."
Lulu datang berlari seperti terbang cepatnya. Dari jauh ia sudah melihat keadaan Han Han yang memondong mayat seorang gadis yang belum ia kenal siapa.
"Han-twako....."
Ia menjerit lagi melihat Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng mempercepat larinya, bahkan kini berloncatan jauh sehingga tiba di depan Han Han.
Han Han tersentak kaget.
Seperti baru bangun dari mimpi ia teringat dan sedetik hatinya lega dan girang mendapat kenyataan bahwa adiknya selamat, akan tetapi segera timbul kemarahan dan penyesalannya.
Ia memandang Lulu melalui air matanya, mukanya pucat seperti mayat.
Kini Lulu membelalakkan mata memandang mayat gadis yang masih dipondong kakaknya itu, lalu menjerit.
"Enci Lian....! Dia kenapa....?"
Ia merenggut tubuh itu dari kedua lengan Han Han, diletakkannya di atas tanah, diguncang-guncangnya pundak Sin Lian.
"Enci Lian....! Ooohhhh, dia.... dia.... kenapa....? Mati...., Enci Lian mati....."
Lulu memeluk mayat itu dan menangis tersedu-sedu.
Kemudian ia mengangkat muka memandang Han Han yang masih berdiri bersandar pada batang pohon, melihat muka yang pucat dan basah air mata itu, melihat pakaian di bagian dada dan perut penuh darah, melihat darah di ujung mulut, segera ia meloncat bangun memeluk kakaknya.
"Han-koko....! Kau.... kau kenapa....? Kau terluka....?"
Hatinya penuh kekhawatiran, suaranya menggetar.
"Ah, Lulu anak nakal....."
Han Han merangkul adiknya.
"Ke mana saja engkau pergi? Sungguh mendatangkan banyak kedukaan di hatiku. Lulu, aku girang melihat engkau selamat dan sehat. Sekarang pergilah, adikku. Pergilah tinggalkan aku, jangan dekat-dekat di sini, berbahaya sekali. Pergilah cari Sin Kiat, dia seorang yang baik sekali dan amat cinta kepadamu. Pergilah tinggalkan aku bersama mayat Sin Lian....."
"Koko! Apa kau bilang? Aku tidak mau meninggalkan kau lagi, kau sendiri mau apa?"
"Aku akan mengadu nyawa dengan dua iblis itu."
"Tapi engkau terluka, Jangan khawatir, ada Lulu di sini. Tidak ada seorang pun iblis yang akan berani mengganggumu."
"Lulu, adikku sayang, satu-satunya orang yang kukasihi di dunia ini.... Adikku, pergilah, aku rela mati asal engkau selamat dan bahagia. Sin Lian.... dia.... demi cintanya kepadaku.... dia telah berkorban untuk kakakmu ini.... dia berkorban nyawa dalam usahanya menolongku. Tidak bolehkah aku menemaninya mati untuk membalas budinya?"
"Tidak."
Dan tiba-tiba Lulu membalikkan tubuh menghadapi Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li lalu menundingkan telunjuknya.
"Hemmm, kalian dua orang tua bangka yang melukai kakakku dan membunuh enciku, ya? Aku tidak akan mengampunimu."
"Lulu, jangan...., Jangan mencampuri urusan ini."
Han Han yang mengkhawatirkan keselamatan Lulu, cepat menubruk dan menyambar lengan adiknya, ditarik ke belakang.
"Akulah lawan mereka....."
Han Han hendak menyerbu, akan tetapi begitu ia mengerahkan sin-kang untuk meloncat, ia mengeluh dan tubuhnya roboh terguling, pingsan di samping mayat Sin Lian.
"Koko...., Han-koko...., Jangan kau mati.... jangan tinggalkan aku."
Lulu menjadi bingung dan menangis sambil memeluki dada Han Han, mengguncang-guncang pundaknya, tidak peduli lagi akan keadaan sekitarnya.
Akan tetapi Han Han tidak bergerak, mukanya pucat seperti mayat.
Baru Lulu sadar ketika sebuah tangan halus namun kuat memegang dan mengguncangkan pundaknya.
Ia mengangkat mukanya dari dada Han Han, menoleh dan melihat Nirahai telah berdiri di situ, dengan wajah lembut akan tetapi angkuh, sedangkan tempat itu telah dikurung oleh banyak pasukan Mancu.
Lulu meloncat bangun, mencabut pedangnya dan melintangkan pedang di depan dada sambil berkata.
"Suci! Aku bersumpah, disaksikan bumi dan langit bahwa kalau engkau datang hendak mencelakai Han-koko, aku tidak sudi menjadi sumoimu lagi dan aku akan melawanmu sampai mati di depan kakimu."
Nirahai tersenyum, kagum menyaksikan kesetiaan dan cinta kasih sumoinya terhadap Han Han.
Dia datang dan sudah mendengar akan semua yang terjadi di situ, melihat tubuh Ouwyang Seng yang hancur lebur di dalam kemah di samping jenazah Hian Ceng yang masih telanjang, ia dapat menduga apa yang terjadi, mendengar pula betapa Han Han berhasil lolos dari himpitan batu besar yang membuatnya kagum bukan main.
Kini melihat sumoinya, ia diam-diam menjadi kagum dan terharu.
Ketika melihat sikap Lulu, ia tersenyum menggeleng kepala dan berkata.
"Sumoi, simpanlah pedangmu. Aku tidak akan membunuh kakakmu. Pula, kalau engkau melawan aku, apakah kau kira dengan cara itu engkau akan dapat melindungi kakakmu? Sama dengan membunuh diri."
"Aku tidak takut mati. Aku bangga mati membela Han-koko, aku bahagia kalau mati bersama kakakku."
Nirahai memperlebar senyumnya.
"Mengapa bicara tentang mati kalau masih hidup? Aku tidak akan membunuh kalian, akan tetapi karena dia membunuh Ouwyang-kongcu, aku harus menawannya. Engkau boleh ikut dan merawatnya. Lihat, dia terluka hebat di sebelah dalam tubuhnya, kalau tidak mendapat perawatanmu, dia bisa mati."
Mendengar ini, Lulu menyimpan pedangnya dan menubruk Han Han lagi, penuh kekhawatiran.
"Biarlah dia digotong ke dalam dan kau boleh merawatnya, akan tetapi kalian adalah orang-orang tawananku,"
Kata Nirahai dan terpaksa Lulu menyerah karena memang ia tidak ingin nekat membiarkan kakaknya mati dan dia sendiri melawan sampai mati kalau memang masih ada jalan untuk menghindari kematian.
Dia sudah mengenal Nirahai dan tahu sedalam-dalamnya bahwa sucinya itu pada hakekatnya bukan seorang kejam, malah sebaliknya.
Nirahai adalah seorang dara yang berbudi mulia dan lemah lembut, hanya terlalu "matang"
Mengurus tugas dan membantu pemerintah.
Han Han dan Lulu dimasukkan dalam tahanan yang khusus dibuat di daerah perbatasan.
Dalam sebuah kamar yang cukup kuat dan besar, dengan dua pembaringan yang baik dan perlengkapan secukupnya, Akan tetapi kamar itu terbuat dari tembok tebal dengan pintu bertirai besi yang masih dijaga oleh para penjaga di luar pintu.
Lulu dibiarkan merawat Han Han, bahkan Nirahai mengirim obat-obatan yang dimasak sendiri oleh Lulu di dalam kamar, juga apa saja yang dibutuhkan Lulu dapat diminta melalui penjaga.
Namanya saja mereka menjadi tahanan, akan tetapi mereka diperlakukan sebagai tamu-tamu agung.
Sampai sebulan lamanya Han Han berada di dalam kamar tahanan bersama adiknya.
Ia telah sehat kembali dan diam-diam mereka berdua berterima kasih kepada Nirahai, terutama sekali ketika mereka bertanya tentang kedua jenazah Hian Ceng dan Sin Lian, dijawab bahwa jenazah kedua orang gadis itu telah dimakamkan sepantasnya oleh Nirahai, bukan disia-siakan seperti mayat-mayat musuh.
"Kini pemerintah tidak lagi memusuhi para orang gagah. Dua orang dara perkasa itu adalah orang-orang gagah yang patut dihormati. Makam mereka terawat baik dan diberi nisan sehingga akan dapat dicari dan dikenal semua orang, terutama keluarga mereka."
Demikian Nirahai menyampaikan pesan melalui seorang perwira. Anehnya, semenjak kedua orang kakak beradik itu ditahan, Nirahai tidak pernah menengok.
"Lulu, kini aku telah sehat kembali. Kita masing-masing telah mendengar semua pengalaman dan menurut pendapatku, kita berdua telah salah jalan yang biang keladinya ditimbulkan oleh perpisahan kita. Kalau kita dahulu tidak berpisah, tak mungkin engkau sampai terlibat dalam urusan perang, demikian pula aku. Semenjak kecil kita sudah sadar bahwa permusuhan tak boleh dibesar-besarkan. Engkau keturunan Mancu, dan aku seorang pribumi, namun kita telah menjadi kakak beradik. Engkau kehilangan orang tua yang dibunuh para pejuang, aku kehilangan orang tua yang dibunuh perwira-perwira Mancu, namun kau tidak mendendam kepada bangsaku dan aku tidak mendendam kepada bangsamu. Mengapa kita sampai terlibat sehingga kita menjadi bentrok sendiri? Ahhh, adikku sayang, aku telah bersikap terlalu kepadamu, maukah engkau memaafkan aku, Lulu?"
Lulu menangis lalu berlutut di depan Han Han yang duduk di atas pembaringannya, menangisi kaki yang buntung.
"Ahh, Han-koko, jangan kau bicara begitu. Akulah yang mohon ampun kepadamu, Koko. Aku adikmu yang nakal, yang selalu tidak menurut kata-katamu, menimbulkan banyak kesengsaraan padamu. Kakimu.... ah, kakimu sampai buntung sebelah.... Koko.... aku akan rela kalau boleh mengganti kakimu yang buntung....."
Lulu memeluk kaki buntung yang tinggal paha saja itu, dan menangis terisak-isak. Tiba-tiba Han Han tertawa.
"Ha-ha-ha, bocah lucu."
Ia mengangkat tubuh Lulu sehingga gadis itu bangkit berdiri di depan Han Han yang masih duduk dan memeluk pinggang adiknya dengan kedua lengan, sedangkan kedua lengan Lulu merangkul pundak kakaknya.
Lulu juga tertawa, apalagi ketika Han Han berkata.
"Bocah lucu, Aneh sekali. Andaikata engkau bisa memberikan kakimu dan dapat dipasang di tubuhku, tentu kaki darimu lebih pendek, kakiku pendek sebelah, malah buruk sekali, kalau jalan terpincang-pincang.... ha-ha-ha."
Keduanya tertawa akan tetapi Lulu melihat betapa kakaknya itu biarpun mulutnya tertawa, matanya menitikkan air mata.
Tahulah ia bahwa kakaknya itu terharu dan hanya memaksa diri tertawa untuk menghiburnya, maka ia merangkul leher dan menangis juga.
Keduanya lalu bertangisan.
"Han-koko.... dadamu berdebar-debar kencang....."
Tiba-tiba Lulu berkata sambil melepaskan rangkulannya.
Han Han terpaksa tersenyum.
Adiknya ini tetap nakal seperti dulu, jujur polos blak-blakan tanpa tedeng aling-aling kalau bicara.
Tanpa disadari, ucapan Lulu menikam ulu hatinya dan membuatnya sadar.
Ketika berpelukan tadi, rasa haru yang aneh, rasa bahagia yang luar biasa seolah-olah ia memeluk surga dan membuat jantungnya berdebar keras.
Wajahnya menjadi merah sekali dan cepat ia berkata.
"Lulu adikku, engkau tahu betapa kasih sayangku kepadamu. Kebahagiaanku bersembunyi di balik kebahagiaanmu, Aku baru akan merasa lega dan senang kalau engkau sudah ada yang melindungi, ada yang mencintamu sampai selama hidupmu. Karena itu, engkau harus mentaati kehendakku, Lulu. Engkau akan kubawa pergi mencari Sin Kiat, karena aku hendak menjodohkan engkau dengan dia. Sin Kiat adalah seorang pemuda yang baik, tampan, gagah perkasa, dan dia amat mencintamu."
Lulu mengerutkan keningnya dan tidak menjawab sampai lama.
Kemudian ia menarik napas panjang, mengangkat muka yang tadi ditundukkan, memandang wajah kakaknya dan berkata.
"Aku sudah tahu bahwa dia mencintaku Koko, dan aku tahu pula bahwa dia seorang yang amat baik dan gagah perkasa."
"Ha..... Kalau begitu kiranya diam-diam engkau telah jatuh cinta kepadanya, bukan?"
Akan tetapi Lulu tidak tertawa atau tersenyum malu, bahkan masih cemberut dan alisnya berkerut.
Ia menggeleng kepala dan menghela napas panjang sebelum menjawab lirih.
"Aku tidak tahu apakah aku cinta padanya, Koko. Memang aku suka kepadanya dan kagum, akan tetapi cinta? Ah, aku tidak tahu...."
Koko, aku.... aku tidak mau dikawinkan dengan siapa pun juga."
Han Han melengak kaget.
"Eh, Mengapa? Apakah engkau sudah mempunyai pilihan lain? Bocah nakal, kalau memang engkau mencinta seorang pemuda lain, asal dia itu benar orang baik-baik, kakakmu tidak akan memutuskan cintamu."
Lulu menggelengkan kepalanya pula.
"Pendeknya aku tidak mau menikah, Koko."
"Engkau harus mau."
"Tidak mau."
Kembali kakak beradik ini beradu pandang, sama-sama membelalak lebar penuh kekerasan hati, Han Han yang lebih dulu menghalau kemarahannya dan ia menarik napas panjang.
"Ah, sungguh aku yang tidak tahu diri. Ada hak apakah aku hendak memaksamu? Aku hanya seorang kakak angkat. Maafkanlah, Lulu, aku selalu lupa bahwa aku tidak berhak atas dirimu, akan tetapi semua itu kulakukan di luar kesadaranku, seolah-olah engkau adalah adik kandungku, aku.... aku hanya ingin melihat engkau bahagia.... hatiku selalu akan menjadi risau dan sengsara, selalu cemas memikirkan engkau kalau engkau belum menjadi isteri seorang yang dapat kupercaya penuh."
Kekerasan Lulu pun luluh dan ia merangkul kakaknya.
"Koko bukan...., bukan seperti yang kau sangka, bukan sekali-kali aku hendak merendahkan permintaanmu dan tidak suka mematuhi perintahmu. Tidak, Koko. Engkau pun merupakan pengganti orang tuaku, dan aku telah berkali-kali membikin susah hatimu, Koko, aku ingin sekali dapat menyenangkan hatimu, aku amat kasihan kepadamu dan aku.... aku...."
Lulu terisak menangis. Besar sekali rasa hati Han Han ketika ia mengelus-elus rambut panjang hitam dan berbau harum itu.
"Lulu, adikku yang manis, yang cantik jelita...."
Tiba-tiba Lulu melepaskan rangkulannya, menatap tajam dan bertanya.
"Han-koko, benarkah engkau menganggap aku manis dan cantik jelita?"
Han Han tersenyum, memandang wajah adiknya itu.
Setelah lama tidak berkumpul, kini melihat wajah itu begitu dekatnya, makin nyatalah kecantikan adiknya, kecantikan Nirahai, dengan bentuk-bentuk yang sama, terutama sekali sepasang matanya.
"Engkau cantik manis, adikku. Terutama sekali sepasang matamu, seperti sepasang bintang di angkasa bercahaya, seperti sepasang mata seekor burung hong, dan.... dan.... juga mulutmu...."
Ia terhenti, merasa terlanjur dalam pujiannya.
"Aaahhhhh, lanjutkan, Koko, bagaimana dengan mulutku?"
Lulu bertanya, cemberut dan timbul kembali sifat manjanya seperti ketika ia berada di Pulau Es dahulu.
Terpaksa Han Han melanjutkan sambil memandang mulut adiknya, sepasang bibir yang garis pinggirnya jelas seperti dilukis, yang berkulit tipis merah dan selalu basah, berdaging penuh, kalau tersenyum terbuka sedikit tampak ujung gigi seperti mutiara berbaris rapi menyembunyikan lidah kecil merah yang selalu bergerak-gerak dalam gua kemerahan itu.
"Mulutmu.... hemmm.... seperti telaga madu, menjadi sumber kemanisan yang tiada habisnya."
Mata yang lebar itu berseri-seri dan Lulu kembali merangkul lalu mencium pipi kakaknya seperti dulu sering kali dilakukannya ketika mereka berdua masih tinggal di Pulau Es.
"Terima kasih, Koko, terima kasih. Engkau semulia-mulianya manusia bagiku, engkau satu-satunya manusia yang paling kucinta di dunia ini."
Han Han kembali menggunakan kemauannya untuk menekan debaran aneh pada jantungnya, lalu ia memegang kedua pundak Lulu, didorongkan dan dipandangnya wajah adiknya.
"Lulu, aku hanya mempunyai satu tujuan, yaitu melihat engkau bahagia. Karena itu, engkau hendak kuajak mencari Sin Kiat. Kenapa engkau menolak?"
"Koko, kalau aku dijodohkan dengan orang lain, apakah aku harus ikut dengan suamiku?"
"Tentu saja."
"Dan engkau akan meninggalkan aku?"
"Hemmm.... sudah semestinya begitu, adikku."
"Kalau begitu aku tidak mau, Aku tidak mau."
Lulu menangis lagi. Han Han memejamkan mata, menguatkan hatinya dan bertanya dengan suara tegas.
"Kenapa, Lulu?"
"Karena aku tidak mau berpisah lagi darimu, Koko. Aku selamanya tidak mau berpisah dari sampingmu."
Tangisnya mengguguk. Kembali perasaan aneh sekali menikam hati Han Han, perasaan bahagia dan senang luar biasa.
"Tidak, Ini gila. Dia harus melawan perasaan ini. Dia ini adikku"
Adikku, pikirnya. Ia memaksa diri tertawa.
"Ha-ha, engkau bocah nakal. Masa engkau akan ikut kakakmu ini sampai kita menjadi kakek dan nenek?"
"Biar. Aku akan senang sekali, Koko. Biar aku tidak pernah kawin, aku akan ikut denganmu sampai mati."
Han Han mengeraskan hatinya, mendorong tubuh Lulu dan memandang tajam wajah yang basah air mata itu.
"Lulu, tidak boleh. Apakah engkau akan membikin hati kakakmu ini sengsara selamanya? Engkau adikku, dan seorang adik yang baik akan mentaati kakaknya. Adikku Lulu, tidak maukah engkau menyenangkan hati kakakmu dengan mentaati permintaanku? Engkau akan hidup bahagia bersama Sin Kiat, aku yakin akan hal ini. Dia seorang yang amat baik. Lulu, sekali lagi kuminta, penuhilah permintaanku ini."
Sampai lama mereka saling pandang, dan akhirnya, dengan suara berat Lulu berkata lirih.
"Han-koko.... kalau hal itu berarti kebahagiaanmu.... aku.... baiklah, aku menurut."
Dia lalu membenamkan muka di dada Han Han sambil menangis.
Han Han mendiamkan saja, membiarkan adiknya menangis.
Setelah tangis adiknya mereda, ia lalu berkata.
"Marilah kita menemui Nirahai. Kita minta dibebaskan, kalau dia berkemauan baik, tentu permintaan kita dia penuhi. Kalau tidak, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan."
Tanpa menanti jawaban adiknya, Han Han menggandeng tangan Lulu, diajak meloncat ke pintu yang tertutup dengan terali besi.
Dia sudah mempunyai sebatang tongkat kayu yang diberikan oleh penjaga atas permintaan Lulu.
"Koko, pintunya kuat sekali dan di luar ada penjaga-penjaga....."
"Ssstttt, kau ikutlah saja,"
Kata Han Han yang menggunakan tongkatnya mengetuk-ngetuk pintu dan ketika para penjaga yang enam orang jumlahnya itu menengok, ia berkata.
"Harap kalian suka membuka pintu ini, kami hendak menghadap Puteri Nirahai."
"Ah, kami tidak berani. Kami diharuskan menjaga di sini dan tidak membolehkan kalian berdua keluar dari pintu."
Komandan jaga membantah dan enam orang itu sudah meraba gagang senjata golok mereka untuk menjaga segala kemungkinan. Han Han tersenyum.
"Kalau begitu, aku akan keluar sendiri."
Katanya dan sekali tangan kanannya bergerak, terdengar suara keras dan pintu kamar itu jebol berikut jeruji-jeruji besinya, terlepas dari tembok.
Enam orang penjaga itu menerjang maju, akan tetapi Han Han mengelebatkan tongkatnya dan robohlah mereka dalam keadaan lemas tertotok.
Sambil menggandeng tangan adiknya, tenang-tenang saja Han Han meninggalkan tempat itu, keluar dari rumah tahanan untuk mencari Nirahai.
Para penjaga yang berada di luar menjadi kaget sekali dan mengurung.
Han Han dan Lulu berdiri tegak, kemudian gadis itu berseru.
"Apakah kalian sudah bosan hidup hendak menghalangi aku? Aku hendak mencari Suci Nirahai, kalian mau apa?"
Para perajurit Mancu sudah tahu bahwa gadis ini adalah adik seperguruan Puteri Nirahai, maka mereka tidak berani turun tangan mengganggu.
Apalagi, di sudut hati mereka, para perajurit yang sudah mendengar akan kesaktian Han Han yang dijuluki Pendekar Super Sakti, merasa jerih terhadap pemuda berkaki satu itu.
Kini mereka hanya dapat memandang, kemudian mengikuti dari belakang ketika Han Han dan Lulu berjalan menuju ke sebuah kemah besar yang berwarna merah, kemah yang ditinggali Puteri Nirahai.
Berbeda dengan perkemahan yang dijadikan tempat tinggal para pahglima dan perwira yang selalu dijaga perajurit, di depan kemah merah ini tidak nampak penjaga.
Nirahai memang seorang puteri yang tidak mau bersikap sebagai seorang pembesar tinggi yang gila hormat, ia tetap sederhana dan dia lebih condong hidup dan bersikap sebagai seorang kang-ouw yang mengandalkan diri sendiri dan hidup bebas tidak terikat banyak peraturan yang membosankan.
Di depan kemah merah itu, para perajurit bergerombol dan hanya memandang ketika melihat Han Han dan Lulu dengan tenangnya memasuki kemah.
Selain para perajurit ini tidak berani mengganggu Lulu dan jerih terhadap Han Han, juga mereka telah mendapat peringatan keras dari Puteri Nirahai untuk tidak melakukan pertempuran selama sang puteri menjalankan siasat perdamaian dengan para pejuang, bahkan tidak boleh menyerbu ke Se-cuan melewati perbatasan sebelum ada perintah.
Sisa pasukan istimewa yang tadinya dipimpin Ouwyang Seng, oleh sang puteri telah disuruh tangkap semua dan dikirim ke penjara besar untuk menerima hukuman.
Akan tetapi ketika mereka tiba di depan pintu ruangan dalam, Han Han dan Lulu berhenti karena mendengar suara lantang dari Nirahai yang terdengar marah.
"Tidak bisa. Biarpun Ouwyang-kongcu telah terbunuh, akan tetapi Pangeran Ouwyang Cin Kok masih tidak berhak untuk memerintahkan kepadaku mengirim kepala pembunuhnya. Dia kira siapakah dia itu yang bisa menjatuhkan perintah seperti itu kepadaku? Di daerah perang, di perbatasan ini, akulah yang berkuasa. Aku yang mewakili Ayahanda Kaisar dan semua orang tawanan adalah tanggung jawabku dan hanya aku seorang yang dapat menjatuhkan keputusan hukumannya. Tidak, aku tidak akan dan belum menjatuhkan hukuman mati kepada Suma Han dan aku tidak akan mengirimkan kepalanya kepada Pangeran Ouwyang Cin Kok seperti dimintanya. Ji-wi Locianpwe tahu bahwa kita sedang menjalankan politik perdamaian dengan kaum pejuang, sedangkan Suma Han tidak melakukan pelanggaran apa-apa. Pembunuhan yang dilakukannya terhadap Ouwyang-kongcu adalah urusan pribadi dan ji-wi cukup maklum apa yang menjadi sebabnya."
Han Han dan Lulu mendengarkan dengan hati berdebar. Kemudian mereka mendengar suara Ma-bin Lo-mo penuh desakan dan penyesalan.
"Mengapa Paduka menolak permintaan Pangeran Ouwyang Cin Kok? Bukankah pemuda buntung itu telah menimbulkan banyak kekacauan? Dan apakah Paduka lupa bahwa dahulu Paduka telah direncanakan untuk menjadi jodoh mendiang Ouwyang-kongcu. Dengan demikian, Ouwyang-kongcu menjadi tunangan Paduka. Setelah tunangan Paduka terbunuh secara keji, apakah Paduka tidak merasa terhina dan merasa sakit hati terhadap pemuda buntung itu?"
"Hi-hi-hik, Ma-bin Lo-mo, engkau ini sudah tua namun masih bodoh."
Terdengar suara Toat-beng Ciu-sian-li diseling suara berkerincingnya rantai gelang penghias kedua telinganya.
"Apakah tidak depat menjenguk isi hati orang muda? Biarpun kakinya buntung sebelah, hati wanita muda yang manakah tidak akan tertarik? Dan kalau mau bicara tentang hati wanita, dari puteri sampai gembel pun tiada bedanya. Hi-hik."
Tiba-tiba terdengar suara Nirahai penuh kemarahan.
"Ji-wi adalah orang tua yang selalu membawa kotoran dalam hati dan pikiran ji-wi. Lekas ji-wi pergi dari sini, karena aku dapat melupakan bahwa ji-wi pernah membantu kami dan kalau aku turun tangan, apakah ji-wi kira aku tidak mampu membunuh kalian?"
"Puteri Nirahai, akulah musuh dan lawan mereka. Haiii, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li, aku Suma Ham menantang kalian dan kutunggu di depan kemah, keluarlah kalau kalian berani."
Han Han berseru keras, menggandeng tangan adiknya dan keluar dari dalam kemah itu.
Para perajurit memandang mereka ini dengan mata terbelalak.
Mereka semua tidak tahu harus berbuat apa, maka hanya mengurung tempat itu sambil menanti perintah Puteri Nirahai.
Tak lama kemudian muncullah Nirahai, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li dari dalam kemah.
Melihat para perajurit, Nirahai lalu melambaikan tangan dan berkata, suaranya berwibawa.
"Semua perajurit mundur, boleh menonton dalam lingkaran yang lebar, paling dekat sepuluh meter."
Para perajurit lalu mundur dan karena semua ingin menonton dan mendengar, mereka lalu membentuk lingkaran mengelilingi tempat itu.
Bahkan para perajurit lainnya yang mendengar lalu berdatangan sehingga tempat itu penuh oleh lingkaran perajurit-perajurit Mancu.
"Siapa yang mengeluarkan kalian?"
Puteri Nirahai bertanya dengan keren sambil memandang Lulu.
"Suci, akulah yang memaksa keluar,"
Kata Lulu.