Eps 5 Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.
"Baiklah, akan kujelaskan, Bi Lan. Setahun yang lalu, muridku Kim Lan dalam pertandingan silat dikalahkan seorang pemuda. Sudah 'menjadi peraturanku ketika itu bahwa muridku yapg kalah oleh seorang pria harus menjadi isterinya. Kalau pria itu menolaknya, maka muridku harus membunuh prla itu. Kiiri Lan kalah dan pria itu menolak menjadi .suaminya, maka Kim Lan lalu pergi untuk mencari pemuda itu dan membunuhnya. Ai Yin, muridku yang kedua, ikut pergi bersama sucinya (kakak seperguruannya). Pemuda itu bernama Souw Thian Liong, murid Tiong Lee Cin-jin."
"Murid Tiong Lee Cin-jin? Bibi maksudkan, peniuda itu yang tadinya membawa kitab untuk diserahkan kepada pimpinan Kun-lun-pai?"
Bi Lan teringat akan Souw Thian Liong yang tadinya belum ia ketahui namanya.
"Benar, Bi Lan. Dialah orangnya yang telah mengalahkan Kim Lan akan tetapi tidak mau menjadi suaminya."
"Tapi..... tapi, bibi! Bagaimarta ada aturan seperti itu? Kalau kalah harus menjadi isteri orang yang mengatahkan dan kalau pria itu menolak atau dibunuh? Aneh sekali peraturan itu bibi. Maafkan saya, akan tetapi bagaimana mungkin perjodohan dapat dipaksakan sepertl Itu?"
Kata Bi Lan sambil menahan tawa karena hatinya merasa geli. Peraturan itu dianggapnya konyol. Biauw In Suthai menghela napas panjang.
"Sekarang akupun dapat melihat betapa bodohnya peraturan yang kubuat menurutkan perasaan hari itu. Karena itu, suheng menegurku dan menyuruhku bertaubat di sini selama tiga tahun. Aku menyesal, maka tolonglah aku, Bi Lan. Kalau engkau bertemu dengan Kim Lan dan Ai Yin, cegah mereka membunuh Souw Thian Liong dan katakan bahwa peraturanku itu sudah kucabut."
Bi Lan mengangguk.
"Baiklah, bibi. Mudah-mudahan saya akan dapat bertemu dengan mereka."
Setelah meninggalkan Pondok Penga-singan itu, Bi Lan tak dapat menahan rasa geli hatinya dan ia tertawa sendiri.
Peraturan yang aneh!
Dalam pertanding-an sudah dikalahkan pemuda itu, bagai-^inana dapat membunuhnya?
Hemm, jadi pemuda itu bernama Souw Thian Liong, .murid Tiong Lee Cin-jin?
Ilmu silatnya memang hebat dan ia sudah menyaksi-kannya sendiri ketika pemuda itu meno-.
long para saudagar yang diganggu 'pe-rampok-perampok llhai.
Setelah tinggal dl Kun-lun-pai selama dua harl, Bi Lan lalu berpamlt untuk melanjutkan perjalanannya.
la Ingin menjenguk ayah Ibunya dl kota raja dan hatinya berbahagia sekali membayangkan ia akan bertemu dan berkumpul kenbali dengan orang tuanya.
Tentu selama ini orang tuanya amat mengkhawatirkan keselamatannya.
la membayangkan betapa akan gembiranya hati ayah ibunya kalau bertemu dengannya.
Dan iapun akad mencari Ouw Kan yang telah membunuh Lu Ma, pelayan tua yang setia dan yang menurut ibunya masih bibi ibunya sendirl dan yang amat mencintanya.
la rnasih ingat bahwa ayah ibunya adalah orang-orang gagah yang memimpin pasukan dan ketlka menlnggalkannya, mereka berangkat untuk perang membantu pasukan besar Jenderal Gak Hui.
lapun ter-ingat bahwa ia pesan kepada ayahnya untuk membawa oleh-oleh sebatang pedang bengkok yang biasa dipakai perwira Kerajaan Kin.
Bi Lan tersenyum kalau ingat akan hal ini.
Apakah kini ayahnya sudah membawakan oleh-oleh itu dan maslh menyimpannya?
* * * "Tidak, ayah.......
tidak......
aku tidak percaya!"
Gadis itu menangis sesenggukan.
la adalah Kwee Bi Hwa, berusia kurang lebih sembilan belas tahun.
Gadis ini memiliki wajah yang manis sekali, kecantikan yang khas, tidak seperti perempuan bangsa Han lainnya.
KeJelitaannya terasa asing.
Memang sesungguhnya, ada kecantikan suku Mancu dalam dirinya.
"Ayahnya, Kwee Buh To, adalah seorang peranakan Mancu yang menjadi guru silat dari perguruan silat Pek-eng Bukoan (Perguruan Silat Garuda Putih) dan tlnggal d! daerah utara. Isteri Kwee Bun To Juga seorang wanita Mancu, maka tldak mengherankan kalau kecantikan yang dimiliki Kwee B Hwa adalah kecantlkan peranakan Han dan Mancu. Ketlka bangsa Yu-cen nenguasai daerah utara dan mendirikan dinasti Kin, Kwee Bun To melarikan diri, membawa istri dan seorang anaknya. Akan tetapi isterinya mati dalam perjalanan dan akhirnya dia tlnggal dl pegunungan dekat Siauw-Lim-pai. Seperti telah dlceritakan di bagian depan, pada suatu malam seseorang me"
Tnasuki kamar Bi Hwa, menotoknya dan memperkosanya.
Kwee Bun To marah sekall dan menyerbu Siauw-lim-sl karena merasa yakin bahwa pelakunya adalah murid Siauw-lim-pai.
Akan tetapi kemudian ternyata bahwa pelakunya yang berhasil ditangkap Cia Song, murid Siauw-lini-pai yang llhai itu, adalah seorang kepala perampok dan pemerkosa itu kemudian dibunuh Cia Song.
Dengan hati sedih Kwee Bun To pulang dan menceritakan hal itu kepada puterinya.
Bi Hwa menyambut cerita ayahnya itu dengan tangis.
Kwee Bun To memandang puterinya dan menghela napas panjang.
Dia merasa iba sekali kepada puterinya yang tersayang.
Puterlnya adalah satu-satunya orang yang dia miliki di dunla ini, satu-satunya orang yang paling dekat dengan hatinya.
Dla mau berkorban apa saja, kalau perlu nyawanya, untuk puterinya.
"Bi Hwa, percayalah, akupun menyesal bukan main. Tadinya aku bermaksud minta pertanggungan lawab Giam Ti dan ia harus menikahimu untuk mencucl aib. Akan tetapi murid Siauw-lim-pai Itu terlanjur turun tangan membunuhnya. Bl Hwa sudah menguatkan hatlnya dan menghentlkan tanglsnya, la meng-angkat mukanya yang agak pucat dan sepaaang matanya yang merah karena? tangls.
"Ayah, aku sukar dapat percaya bahwa pelakunya adalah seorang kepala perampok. Bagaimana dia beranl mengganggu keluarga ayah?"
"Anakku, bagaimana aku tldak akan mempercayanya? Ketika dia ditangkap Cia Song murid Siauw-lim-pai itu dan dihadapkan padaku, penjahat itu telah mengaku sendlri. Dan Ingat, dia bukan kepala perampok biasa. Dia menJadl kepala gerombolan yang bersarang di Buklt Angsa tak jauh dari sini. Julukannyai Hui-houw-ong (Raja Harimau Terbang) sedikitnya menunjukkan bahwa dia memiliki kepandaian yang tinggi juga."
"Aku masih merasa penasaran, ayah. Orang itu sangat lihai. Ketika memasuki kamarku, sama sekali aku tidak mendengar apa-apa. Hal inl menunjukkan dia tentu memiliki gin-kang (ilmu me-ringankan tubuh) yang sempurna. Paria hal, aku biasanya peka sekali, sedikit saja suara mencurigakan sudah cukup untuk membangunkan aku. Dan totokannya itu! Benar-benar melumpuhkan seluruh tubuhku. Bukan main lihainya'."
"Sudahlah, Bi Hwa. Tidak perlu penasaran lagi. Bagaimanapun juga, pelakunya sudah mengaku dan sudah terhukum mati. Aku merasa lelah sekali lahir batin, periu mengaso."
Kata Kwee Bun To sambil memasuki kamarnya.
Bi Hwa.
masih duduk termenung.
Ia merasa menyesal sekali, dan kecewa mendengar bahwa yang memperkosanya dahulu adalah seorang kepala perampok, seorang penjahat.
Kalau saja pelakunya itu seotang murid Siauw-lim-pai, seorang pendekar seperti yang disangkanya semula, tentu ia tidak akan merasa sehina itu.
Akan tetapi seorang kepala perampok?
Andaikata penjahat Itu tertangkap hldup-hldup pun ia tidak akan sudi menjadl isteri seorang kepala perampoki Akan tetapi hatinya masih belum puas.
la masih penasaran sekali.
la masih ingat benar.
Pria yang memperkosanya malam itu, walaupun dalam keadaan gelap dan ia sama sekali tidak dapat melihat wajahnya, namun tidak mungkin laki-laki Itu seorang penjahat yang kasar dan kejam.
Biarpun tidak mengucapkan sepatahpun kata, biarpun la tldak dapat melihat orangnya, namun lakl-lakl itu demlkian lemah lembut!
Tidak mungkin dia seorang kepala perampok, seorang penjahat yang kasar dan kejam!
la harus menyelidikinya sendiri!
Ayahnya kadang terlalu keras, lebih banyak penggunakan tenaga daripada akal.
Timbullah semangat Bi Hwa dan pada keesokan harinya, Kwee Bun To mendapatkan kamar anakpya kosong dan hanya menemukan sepucuk surat tulisan tangan anaknya yang ditujukan kepadanya.
Ayah, Saya pergi merantau untuk menghibur hati yang gundah.
Harap ayah Jangan mencari saya karena saya tidak akan pulang sebelum kedukaan ini lenyap.
Kalau sudah tiba saatnya saya pasti pulang; Anak.
Kwee Bi Hwa.
Pada saat Itu muncul keinginan Kwee Bun To untuk mengejar anaknya, dan mencegahnya pergi.
Dia sudah melompat keluar kamar dan hendak lari mengejar keluar rumah, Akan tetapi setibanya di luar rumah, dia berhenti dan sekali lagi dibacanya surat anaknya.
Dia menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang, lalu menyimpan surat itu dan masuk kembali ke dalam rumah.
Tidak dia tidak akan melakukan pengejaran.
Dia mengenal baik puterinya itu.
Di balik kelembutannya, anak itu mempunyai hati yang keras, tekad yang bulat seperti yang dimiliki kaum wanita suku Mancui pada umumnya.
Anaknya sudah mengambil keputusan untuk pergi merantau dan ia tidak akan mau dicegah, tidak akan dapat dilarang ataupun dibujuk.
Apa lagi anaknya itu bukan seorang wanita lemah.
Sejak kecil sudah belajar dan berlatih silat dengan baik dan termasuk seorang yang berbakat.
Anaknya tidak akan mudah diganggu orang jahat.
la pandai menjaga dan membela diri.
Hal itu tidak perlu dia khawatirkan.
Dia ha-nya merasa sedih harus berpisah dari puterinya.
Akan tetapi dia maklum bahwa kalau dia menghalangi niat puterinya, hal itu akan membuat Bi Hwa marah dan berduka.
Maka, dengan hati berat ayah ini mengambil keput.usan untuk rnenanti saja di situ sampai puterinya pulang.
Pada keesokan harinya, Kwee Bi Hwa berjalan seorang diri mendaki lereng dekat puncak Bukit Angsa.
Tidak sukar ba-ginya untuk menemukan bukit ini yang tidak berada terlalu jauh dari tempat tinggalnya yang berada di bukit lain dari pegunungan itu.
Bukit Angsa itu dard jauh sudah tampak.
Blarpun tlngginya ti-dak banyak bedanya dengan buklt-buklt lain yang memenuhl daerah pegunungan iltu, namun Bukit Angsa mempunyai cirl yang khas, yaitu bentuk puncaknya.
Puncak bukit dengan pohon-pohon besar itu, tampak dari jauh membentuk seekor angsa!
Setelah Bl Hwa tiba dl dekat puncak tlba-tlba berkelebatan bayangan belasan orang dan dia sudah dik-epung oleh orang-orang yang tampak bengis menyeramkan.
Mereka aemua membawa sebaiang golok dengan tangan kanan.
Dl baju mereka baglan dada terdapat luklsan seekor harimau terbang!
Tahulah Bi Hwa ia berhadapan dengan gerombolan yang dipimpin oleh Hui-houw-ong Giam Ti, pemlmpin Gerombolan Harimau Terbang.
Seorang di antara mereka, yang agaknya menjadl pemimpin, ketika melihat sebatang ipedang tergantung dl punggung gadis manis itu.
bersikap hati-hati dan dia melangkah maju menghadapi Bi Hwa dan bertanya.
"Nona, siapakah engkau dan apa kehendakmu datang dan melanggar daerah kekuasaan kami?"
"Tidak perlu kalian tahu siapa aku. Aku sengaja datang ke sini hendak mencari keterangan tentang seorang yang bernama Hui-houw-ong Giam Tl."
Kata Bi Hwa. Mendengar jawaban ini, orang-orang itu tampak terkejut dan marah. Mereka mengepung ketat dan siap dengan golok mereka.
"la mata-mata musuhi"
"Bunuh ia untuk menyembahyangi arwah Giam Toa-ko!"
Lima belas orang itu serentak menyerbu.
Bi Hwa dari segala jurusan.
Bi Hwa menggerakkan tangan kanannya dan tampak sinar berkilat ketika ia mencabut pedang.
Kemudian sinar pedangnya bergulung-gulung ketlka ia menyambut serangan,mereka.
Sinar pedang itu menyambar-nyambar .
dilkuti tamparan tangan kirl dan tendangan kaklnya.
Terdengar terlakan para pengeroyok dan merekapun roboh berpelantingan, terkena tamparan atau tendangan, sedangkan golok mereka patah dan terpental ketika bertemu sinar pedang.
Lima belas orang itu terkejut bukan main dah mereka menjadi ketakutan lalu melarikan diri pontang panttng ke arah puncak.
Bi Hwa melakukan pengejaran ke puncak Bukit Angsa.
Di puncak la menemukan sarang gerombolan yang merupakan sebuah perkampungan dengan rumah-rumah kayu sederhana.' Ketika ia memasuki perkampungan itu, di situ tampak sepi.
Semua-pondok tertutup pintu dan jendelanya.
Akan tetapi ia maklum bahwa para anggauta gerombolan itu masih berada di situ, bersembuyi dalam rumah-rumah yang tertutup.
Bi Hwa mellhat sebuah rumah yang paling besar di antara rumah-rumah lain.
la menghampiri rumah besar itu, berdirl di depannya lalu berseru sambll mengerahkan sin-kangnya sehlngga suaranya terdengar melengklng nyarlng dan menggetar dl seluruh perkampungan itu.
"Hel, semua anggauta gerombolan Macan Terbang, keluarlah Aku tidak Ingin mencelakai kalian. Kedatanganku hanya ingin minta keterangan dari kalian! Hayo keluar, kalau tidak aku akan marah dan akan kubakar seluruh perkampungan ini!"
Gertakannya berhasil.
Rumah-rumah mulai membuka pintunya dan bermunculanlah para anggauta gerombolan yang tadi mengeroyoknya dan bersama mereka keluar pula wanita-wanita dan kanak-kanak, yaitu keluarga mereka.
Setelah pemimpin mereka menjatuhkan diri berlutut, semuanya lalu berlutut bersama keluarga mereka.
Jumlah para anggauta gerombolan itu sebanyak dua puluh orang lebih dan keluarga mereka lebih banyak lagi.
"Li-hiap (pendekar wantta), ampunkan kami...."
Kata pemimpin gerombolarr itu.
Bi Hwa memperhatikan seorang wanita cantik berusia kurang lebih dua puluh llma tahun yang menuntun seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun keluar dari rumah besar, diikuti beberapa orang wanita berpakaian.
pelayan.
Wanita inipun mengajak anaknya menjatuhkan diri berlutut.
"Aku tidak akan mencelakai kalian asalkan kalian mau memberitahu padaku dengan sejujurnya tentang Hui-houw-ong Giam Ti. Siapa di antara kalian yang dapat memberi keterangan yang lengkap tentang dia? "Saya dapat, lihiap. Saya Giam Kui, adik kandung kakak Giam Ti."
Kata laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun yang tadi bersikap sebagai pimpinan gerombolan itu.
"Saya juga bisa, lihiap. Saya adalah isteri Hui-houw-ong Giam Ti."
Kata wanita cantik tadi dengan suara lembut.
"Baik, kalian berdua boleh menjawab semua pertanyaanku dengan sejujurnya. Dan yang lain bubarlah, lakukan pekerjaan kalian masing-masing."
Semua anggauta gerombolan tampak lega dan mereka lalu bubaran. Isteri Giam Ti bangkit dan berkata.
"Li-hiap, mari silakan masuk rumah agar kita lebih leluasa bicara."
Bl Hwa mengangguk dan ia laiu diiringkan Nyonya Giam Ti yang memondong anaknya, dan Giam Kui.
Para pelayan terus masuk ke belakang untuk mempersiapkan minuman, sedangkan Bi Hwa dipersilakan duduk di ruangan depan.
"Sekarang katakan, di mana adanya Hui-houw-ong Giam Ti?"
Tanya Bi Hwa sebagai pancingan. Isteri dan adik mendiang Giam Ti itu tampak terkejut dan saling pandang dengan heran.
"Akan tetapi...., lihiap.... dia sudah mati...."
Kata Nyonya Giam Ti dengan suara terisak.
"Apa yang telah terjadi dengan dia? Coba ceritakan dengan sejelasnya Jangan berbohong!"
Nyonya Giarii Ti menoleh kepada adik iparnya dan berkata.
"Adik Giam Kui, engkau yang lebih tahu duduk persoalannya. Engkau ceritakanlah kepada lihiap."
Giam Kui mengangguk lalu berkata.
"Kejadian itu baru beberapa hari yang , lalu, lihiap. Seorang pemuda yang amat lihai datang ke perkampungan kami ini dan dia mengamuk, merobohkan kami semua, termasuk kakak saya Giam Ti. Kemudian dia memaksa kakak saya untuk ikUt dengannya dan melaksanakan semua perintahnya dengan ancaman bahwa kalau kakak saya tidak mau menurut, dia bukan saja akan membunuh kakak Giam Ti, akan tetapi dia juga akan menyiksa dan membunuh kakak ipar ini dan anaknya. Karena tidak mampu melawan dan takut akan ancaman itu, kakak Giam Ti pergi dengan dia."
Giam Kui menghentikan ceritanya dan memandang wajah Bi Hwa seolah dia sebetulnya tidak perlu bercerita karena gadis perkasa di depannya itu tentu telah mengetahui semua peritiwa itu.
"Hemm, begitukah? Tahukah engkau siapa nama pemuda itu?"
Tanya Bi Hwa. Dua orang itu saling pandang lagi dan menggeleng kepala.
"Kami semua tidak ada yang tahu siapa dia, li-hiap. Dia seorang pemuda yang tampan dan gagah sikap dan gerak geriknya halus, akan tetapi dia lihai bukan main. Usianya sekitar dua putuh. lima tahun."
Kata Giam Kui.
"Lalu bagaimana selanjutnya?"
Tanya Bi Hwa.
"Kakak saya tidak pulang malam itu dan pada keesokan harinya, ada utusan dari Siauw-lim-si yang mengabarkan bahwa kakak saya telah tewas dan kami disuruh mengambil jenazahnya yang telar berada di luar kuil."
Kata Giam Kui dan kakak iparnya menangis terisak.
"Sekarang katakan, bagaimanakah tingkat ilmu silat Giam Ti itu? Apakah dia lihai sekali? Apakah tingkatnya jauh lebih tinggi dibandingkan tingkatmu?"
Tanya Bi Hwa kepada Giarn Kui.
"Li-hiap, dia adalah kakak saya dan juga kakak seperguruan saya. Memang tingkat kepandaiannya lebih tinggi dari pada tingkat saya, akan tetapi tidak jauh selisihnya."
Mendengar ini Bi Bwa mengerutkan alisnya.
Tingkat ilmu silat Giam Kui ini tidak berapa tinggi, dalam dua tiga gebrakan saja roboh olehnya.
Kalau tingkat kepandaian Giam Ti hanya sedikit lebih tinggi dari adiknya ini, tidak mungkin di malam itu mampu memasuki kamarnya tanpa terdengar dan dapat menotoknya.
"Jawablah sejujurnya, apakah lebih sebulan yang lalu dia pernah menyerbu rumah Kwee Bun To yang berada di puncak bukit sana itu? Pada malam hari dia melakukan penyerbuan itu?"
Giam Kui mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya.
"Ah, tidak sama sekali, lihiap. Terus terang saja, walaupun kami suka melakukan pekerjaan merampok, namun kami tidak pernah menggapggu penduduk sekitar pegunungan ini. Kami takut kepada Siauw-lim-pai dan kami hanya minta sumbangan dari orang-orang luar yang kebetulan lewat di daerah ini."
"Hemm,! pertanyaan terakhir dan kuharap kallan menjawab dengan terus terang karena Jawaban ini penting bagi penyelidikanku. Apakah Glam Tl seorang laki-laki yang mata keranjang dan suka mengganggu wanlta?"
"Ah, sama sekall tidak"
Nyonya Glam Ti tiba-tiba berterlak.
"Mendiang suamlku adalah seorang suaml yang baik. Dia amat mencinta saya dan mencinta anak kami!"
Bi Hwa merasa sudah cukup mendapatkan keterangan yang memuaskan hatinya. la bangkit berdiri dan berkata kepada Giam Kui.
"Nah, cukuplah keterangan kalian. Terima kasih dan aku berpesan kepada semua ahggauta gerombol-an ini untuk mengubah cara hidup dan cara kerja kalian. Hentikanlah pekerjaan kalian merampok itu. Giam Kui, engkau pimpinlah anak buahmu untuk bekerja sebagai petani dengan rajin. Kulihat bukit ini memiliki tanah yang amat subur. Kalau kalian rajin dan tekun, bertani di sini tentu akan mendatangkan hasil yang cukup baik. Juga terdapat banyak binatang buruan dalam hutan-hutan di pegunungan ini. Kalian dapat juga menjadi pemburu binatang. Kulit dan daglngnya dapat kalian jual. Jangan melakukan kejahatan lagi karena kalau kalian masih tidak mau mengubah jalan hidup kalian, pada suatu hari tentu akan muncul pendekar yang membasmi kalian. Bahkan aku sendlrl kalau kelak mendapatkan kalian masih menjadi gerombolan perampok, tentu takkan tlnggal diam dan takkan memberi ampun."
"Baik, lihlap, kami akan mentaati pesan lihiap."
Kata Giam Kui yang memang sudah merasa jerih melihat kematian kakaknya.
Bi Hwa meninggalkan Buklt Angsa dengan hatl puas.
Yakinlah kini hatinya bahwa yang memperkosanya dahulu Itu jelas bukan Hul-houw Giam Tl.
Sambil berjalan menuruni bukit itu Bi Hwa termenung.
Akan tetapi mengapa Giam Ti mengaku di depan ayahnya bahwa dia yang melakukan pemerkosaan itu?
pan mengapa murid Siauw-lim-pai itu menangkapnya?
Kemudian malah membunuhnya?
Tidak salah lagi, pikirnya.
Pasti ada rahasia di balik peristiwa ini dan satu-satunya orang yang patut dicurigainya adalah murid Siauw-lim-pai itu.
la sudah melihat pemuda itu.
Pemuda yang tampan dan halus budinya.
Dan menurut ayahnya, pemuda itu yang bernarna Cia Song, memiliki tingkat ilmu silat amat tinggi!
Bi Hwa mengepal kedua tangannya.
Tak salah lagi!
Tentu Cia Song itulah pelakunya!
Ketika ayahnya menuntut ke Siauw-lim-pai, Cia Song berjanji kepada ayahnya untuk dalam waktu sebulan menangkap pelaku pemerkosaan itu.
Cia Song juga datang ke rumahnya untuk mendengar sendiri keterangan dari mulutnya.
Semua itu hanya untuk mengelabuhi ayahnya saja.
Tentu pemuda itu menangkap Giam Ti dan memaksa kepala gerombolan itu untuk mengaku bahwa dialah pelakunya.
Agaknya Giam Ti terpaksa membuat pengakuan palsu karena takut kalau-kalau isteri dan anaknya dibunuh seperti yang diancamkan Cia Song ketika datang dan menangkapnya.
Setelah Giam Ti terpaksa mengakui perbuatannya yang sebenarnya tidak dilakukan-nya untuk melindungi isteri dan anaknya, Cia Song lalu membunuhnya agar rahasianya tidak ada yang rnengetahui dan membocorkannya.
"Pasti begitulah yang telah terjadi'"
Desis mulut Bi Hwa dan ia. mengepal lagi tangan kanannya.
"Cia Sohg, engkau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu. Aku akan mencarimu dan sampai mati aku tidak akan berhenti mencarimu sampai aku dapat bertemu dengan-mu!"
Setelahimengambilkeputusan ini dalam hatinya, Bi Hwa lalu melanjutkannya berlari cepat, dan kedua matanya menjadi basah.
* * * Bi Lan memasuki kota raja Lin-an yang merupakan ibu kota Kerajaan Sung Selatan dengan berjalan perlahan-lahan.
la tidak mengacuhkan pandang mata pa-ra pria di jalanan yang ditujukan kepadanya karena hal itu sudah biasa baginya.
Semenjak berpisah dari Jit Kong Lama dan turun gunung, di setiap kota dan dusun yang dilewatinya, ia selalu melihat mata para pria yang memandang kepadanya dengan kagum.-Ia tidak memperdulikan lagi pandang mata mereka itu karena ia sendiri sedang asik terkagum-kagum melihat bangunan-bangunan besa?
di kota raja Lin-an.
Ketika ia menlnggalkan kota raja, dilarikan oleh kakek Ouw Kan yang menculiknya, ia baru berusia tujuh tahun.
Selama lebih dari sebelas tahun la meninggalkan kota ini, dan sekarang ia memasuki kota ini dengan rasa kagum brkan main.
Segalanya sudah berubah.
Bangunan-bangunan besar dan indah.
Taman-taman yang luas.
Toko-toko penuh bermacam-macam barang.
rumah-rumah penginapan dan rumah-rumah makan.
la menjadi bingung dan tidak mengenal jalan.
la sudah lupa di mana letak rumah orang tuanya!
Kemudian ia teringat.
Rumah orang tuanya berada di sebelah barat istana raja.
Tidak begitu jauh dari istana, sekitar satu kilometer saja jauhnya.
Teringat akan ini, ia lalu mencari istana kaisar.
Dengan bertanya-tanya, mudah saja.!
ia menemukan bangunan-bangunan megah istana itu.
Dari sini diambilnya jalan yang menuju ke barat.
Setelah berjalan sekitar satu kilometer, ia menjadi bingung lagi karena rumah-rumah di situ sudah banyak berubah ia tak dapat mengenal lagi yang mana rumah orang tuanya.
Hatinya yang tadinya semakin tegang setelah ia mengambil jalan inl, berubah menjadi bingung.
Yang mana rumah orang tuanya?
la berhenti di depan sebuah rumah besar yang tampaknya baru.
Pekarangan rumah itu mirip dengan pekarangan rumah orang tuanya dahulu.
Dan bentuk rumahnya juga sama, hanya yang ini tampak baru.
Ah, tak salah lagi.
Inilah ru-mah orang tuanya.
Pohon tua di sebelah kiri itu, di mana ia sering bermain, masih ada.
Dengan hati gembira penuh harapan Bi Lan memasuki pekarangan itu.
Karena hatinya tegang dan pandang matanya ditujukan penuh perhatian ke arah bangunan, ia tidak tahu bahwa sejak tadi beberapa pasang mata menatap dan mengikuti gerak-geriknya dari sebuah gardu penjagaan yang terdapati di peka-rangan itu.
Bi Lan melangkah masuk.
"Hei, nona! Berhenti!"
Terdengar bentakan dan tiba-tiba dari sebelah kanannya muncul litna orang berpakaian perajurit yarig membawa tombak, langsung mereka itu berdiri .menghadang di depannya, memandang dengan sikap keren akan tetapi mulut mereka menyeringai secara kurang ajar.
Bi Lan memandang mereka dengan heran.
Dahulu, rumah orang tuanya tidak dijaga oleh perajurit, maka ia menjadi ragu lagi apakah ia memasuki pekarangan rumah, yang kellru.
Seorang perajurit jangkung dan agak-pya menjadi kepala penjaga, mengamati wajah dan tubuh Bi Lan dengan pandang mata "lapar", kemudian bertanya dengan suara keren.
"Nona manis, engkau tidak boleh memasuki pekarangan ini begitu saja tanpa ijln dari kami! Engkau siapakah dan apa kehendakmu memasuki pekarangan ini?"
Melihat sikap yang ceriwis itu, Bi Lan tldak mau memperkenalkan namanya. Langsung saja ia bertanya.
"Bukankah ini rumah Perwira Han Si Tiong?"
Si jangkung itu memandang kepada Bl Lan dengan mata terbuka lebar karena heran, lalu menoleh kepada teman-temannya dan tertawa, diikuti suara tawa teman-temannya.
Mereka adalah perajurit-perajurit yang berusia antara dua puluh dua dan dua puluh lima tahun, Tentu saja mereka tidak mengenal nama itu karena pada waktu Perwira Han Si Tiong tinggal di situ, belasan tahun yang lalu, mereka masih kecil dan belum menjadi perajurit.
"Ha-ha-ha, nona manis, apakah engkau bermimpi?"
Kata si jangkung sambil menengok ke arah rumah yang ditunjuk oleh Bi Lan.
"Gedung ini adalah milik dan tempat tinggal Ciang Kongcu (Tuan Muda Ciang) dan kami tidak mengenal Siapa itu Perwira Han Si Tiong!"
Bi Lan mengerutkan alisnya.
Setelah klni melihat keadaan pekarangan dan ru-mah gedung itu, walaupun terdapat banyak perubahan, namun ia merasa yakin bahwa inilah rumah orang tuanya.
la memandang lima orang perajurit dan maklum bahwa mungkin mereka inl tidak tahu apa yang terjadi sebelas tahiin lebih yang lalu karena pada waktu itu mereka ini tentu belum menjadl perajurlt.
Akan tetapl, penghunl baru rumah inl tentu tahu di mana adanya orang tuanya.
Mungkin saja orang tuanya sudah plndah tempat atau dltugaskan di kota lain.
"Kalau begitu aku akan bertemu dengan Ciang Kongcu."
Kata Bl Lan. Mendengar Ini, lima orang perajurit itu menyerinyai semakin lebar.
"Wah, ini namanya domba muda gemuk menghampiri harimau yang sedang lapar! Engkau akan ditelannya bulat-bulat!"
Kata seorang perajurit. Si jangkung tertawa.
"Ha-ha, itu benar, nona. Engkau begini cantik, begini lembut. Daripada daglngmu yang lembut dicabik-cabik harimau kelaparan, lebih baik engkau kujadikan isteriku. AKU ftasih perjaka ting-ting dan sebentar lagi naik pangkat. Marl kita bicara di dalam gardu, biar lebih bebas, leluasa aan asik."
Si jangkung itu menjulurkan tangan-nya menangkap pergelangan tangan kanan gadis itu dan hendak menarlknya untuk diajak memasuki gardu penjagaan, ditertawakan oleh empat orang temannya.
Bi Lan menjadi marah Sekali.
Sekali menggerakkan tangan kanannya, ia sudah menusuk lambung orang itu dengan jari-jari tangannya.
"Hukk....!"
Tubiih si jangkung ditekuk ke depan karena perutnya terasa nyeri bukan main dan ketika dia membungkuk itu, Bi Lan menangkap dan menjambak rambutnya sehingga topi seragamnya terlepas dan rambutnya terurai.
Bi Lan menjarnbak rambut dan menekan kepala itu sehingga si jangkung mengaduh-aduh dan kepalanya tertekan ke bawah, tak dapat meronta karena dia masih menderita nyeri hebat pada perutnya yang disodok tadi!
Empat orang temannya terkejut dan cepat mereka itu menerjang maju, hendak memukul dengan tombak mereka.
Akan tetapi, Bi Lan menggerakkan tangan kiri dan kaki kanait enipat kali.
Empat orang perajurit itupun roboh terbariting dengan keras, tombak mereka.
terpental dan terlepas.
Sekali sambar, Bi Lan telah merampas tombak dari tangan si jangkung, kemudian melepaskan jambakan dan menggunakan kaki kiri menginjak kepala itu dari belakang sehingga muka si jangkung tertekan dan mencium tanah!
Bi Lan menodongkan ujung toitibak runcing itu pada punggung si jangkung, menghardik.
"Berani engkau kurang ajar kepadaku?"
Si jangkung ketakutan dan tanpa terasa celananya menjadi basah.
"Ampun, nona, ampunkan saya.... saya tidak beranl lagi...."
Empat perajurit lain merangkak bangun dan merekapun tidak berani menye-rang melihat betapa nona itu ternyata lihai bukan main dan kini mengancam komandan mereka dengan tombak.
"Hayo cepat antar aku menewui penghuni rumah ini. Jangan banyak tingkah kalau engkau tldak ingin tombakmu . Ini menembus dadamu!"
Bi Lan menghardik sambil melepaskan tekanan kakinya pada kepala orang Itu.
"Baik.... baik.;..nona....'"
Si jangkung merangkak dan bangkit berdiri sambil meringis dan memegangi perutnya yang masih nyerl, Mukanya, terutama bibir dan hidungnya, berlepotan tanah.
"Hayo maju!"
Bi Lan menodongkan tombaknya di punggung si jangkung Itu yang berjalan menuju ke gedung dengan agak terpincang dan muka ditundukkan.
Dia merasa takut sekali karena ujung tombak yang runcing itu terasa benar menekan punggungnya.
Setelah mereka tiba di pendapa, tiba-tiba pintu depan rumah gedung itu terbuka dari dalam dan muncullah empat orang laki-laki dari dalam.
Bi Lan memandang penuh perhatian.
Seorang dari mereka adalah pria berusia enam puluh tahun lebih, berpakaian gagah dan indah, pakaian seorang panglima perang, bertu-buh tinggi besar dan pandang matanya angkuh seperti pandang mata seorang yang sadar dan bangga akan kedudukan dan kekuasaannya.
Orang ke dua juga berpakaian seperti seorang panglima, ha-nya tidak sementereng pakaian panglima tlnggi besar itu.
Usia orang ke dua itu sekitar lima puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus, mukanya begitu kurus mirtp muka tikus, akan tetapi matanya tajam dan bergerak-gerak membayangkan kecerdikan.
Orang ke tiga berpakaian seperti seorang tosu (pendeta Agama To) tubuhnya pendek gendut, tampak lucu.
Usianya sekitar enam puluh lima cahun, mukanya berwarna kekuningan, muiutnya tersenyum mengejek dan pandang mata-nya agak memandang rendah segala sesuatu.
Adapun orang ke empat masih muda, sekitar tiga puluh tahun.
Tubuhnya tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah dengan alisnya yang hitam tebal.
Dia berpakaian seperti seorang pemuda bangsawan, pakaiannya indah dan dia pesolek, rambutnya licin berminyak, bahkan kulit mukanya ada tanda-tanda bekas bedak.
Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang sarungnya cerukir indah.
"Apakah aku berhadapan dengan pemilik dan penghuni rumah ini?"
Tanya Bi Lan sambil memandang empat orang itu. Orang muda bangsawan itu melangkah maju.
"Nona, akulah pemilik rumah ini. Nona slapakah dan ada keperluan apakah mencarl aku?"
Mendengar ini, Bi Lan mengayunkan kaki menendang dan perajurit jangkung itu terlempar dan jatuh terbantihg bergulingan. Bi Lan melemparkan-tombak itu ke dekat orang itu sambil membentak.
"Pergilah!"
Tombak itu menancap di atas tanah, dekat si jangkung yang terlempar keluar ke pekarangan. Setelah itu Bi Lan menghadapi empat orang itu. Sikapnya tenang saja biar"
Pun ia berhadapan dengan orang-orang yang melihat pakaiannya tentu merupakan orang-orang berkedudukan tinggi.
"Jadi engkaukah yang sekarang menempati rumah ini?"
Tanya Bi Lan sambil memandang kepada pemuda tinggi besar itu. la sudah dapat menduga agaknya orang inl yang tadi oleh para perajurit penjaga disebut sebagai Ciang Kongcu.
"Benar aekali, nona. Aku, Ciang Ban, yang menjadi penghuni rumah ini. Apakah yang dapat aku bantu untukmu?"
Ciang Ban, atau lebih dikenal sebagai Ciang Kongcu, berkata sambil tersenyum ramah setelah dia melihat jelas betapa cantik jelitanya gadis itu.
Diapun melihat betapa gadis itu lihai dan kuat sekali, tidak hanya dapat memaksa kepala jaga mengantarnya, akan tetapi juga dari tendang-annya tadi tahulah dia bahwa gadis itu memiliki ilmu silat yang tangguh.
"Aku ingin mengetahui tentang penghuni lama rumah ini, yaitu Perwira Han Si Tiong dan isterinya. Kalau mereka tidak tinggal di sini lagi, di mantakah mereka sekarang berada?"' Mendengar pertanyaan ini, Ciang Kongcu menoleh kepada tiga orang lain yang keluar bersamanya, kemudian panglima yang tinggi besar dan berpakaian indah mewah itu berkata.
"Perwira Han Si Tiong? Ah,, tentu saja kami mengenalnya dengan baik, nona. Dia adalah rekan dan sahabat kami. Akan tetapi, siapakah engkau, nona?"
Mendengar bahwa panglima tua tinggi besar itu mengaku sebagai sahabat ayahnya dan hal ini sewajarnya karena mereka sama-sama perwira kerajaan, Bi Lan segera menjawab.
"Saya adalah Han Bi Lan, dan saya ingin mengetahui di mana adanya ayah dan ibu saya."
"Ahh! Kiranya engkau puteri Han ciangkun yang diculik penjahat ketlka masilh kecil? Senang sekall kami mellhat engkau dalam keadaan selamat, nona Han. Akan tetapl marllah klta masuk dan bicara di dalam tldak pantas kita bicara sambil berdiri di luar."
"Terima kasih, kata Bi Lan dan ia mengikuti mereka masuk ke ruangan dalam yang luas. Begitu memasuki rumah itu, Bi Lan merasa terharu karena rumah di mapa ia dilahtrkan dan dibesarkan sampai berusia tujuh tahun. Setelah memasuki rumah itu, ia yakin benar bahwa ini rumah orang tuanya dahulu walaupun prabot rumahnya telah diganti dengan barang-barang yang indah dan mahal. Setelah mereka Han Bi Lan dan empat orang itu duduk, Ciang Ban atau Ciang Kongcu memperkenalkan tiga, orang lainpya kepada gadis itu.
"Han Siocla (Nona Han), perkenalkan. Ini adalah ayahku bernama Ciang Sun Bo atau disebut Ciang Goan-swe (Jenderal Ciang), sekarang menduduki jabatan panglima besar."
Bi Lan memandang kepada panglima yang tinggi besar itu. Ciang Goan-swe mengangguk dan tersenyum kepadanya.
"Ha-ha, Han Siocia. Aku adalah sahabat baik ayahmu. Agaknya engkau telah lupa kepadaku, akan tetapi aku masih ingat kepadamu yang ketika itu masih kecil. Engkau baru berusia tujuh tahun ketika engkau dilarikan penculik. Kami telah mengerahkan pasukan penyelidik untuk mencarimu, namun tidak berhasil."
"Dan ini adalah Lui Ciangkun (Perwira. Lui), pembantu ayahku."
Ciang Kongcu memperkenalkan perwira tinggi kurus bermuka tikus itu.
"Nama lengkapnya Lui Wan "Han Soicia, akupun mengenal baik ayahmu, Perwira Han Si Tiong yang gagah itu."
Kata Lui Ciangkun dengan pandang matanya yang cerdik. Bi Lan hanya mengangguk karena semua itu tidak ingin ia ketahui. Yang ingin ia ketahui adalah di mana ia dapat bertemu dengan orang tuanya.
"Dan totiang (bapak pendeta) ini adalah Hwa Hwa Cin-jin. Dia adalah guruku, Han Siocia."
Clang Kongcu memperkenalkan pendeta itu.
"Siancai! Han siocia adalah seorang gadis yang cantik dan gagah perkass sekali. Pinto (aku) senang dapat bertemu denganmu."
"Terima kasih atas perkenalan ini, Ciang Kongcu. Akan tetapi saya ingin sekali mengetahui di mana saya dapat bertemu dengan ayah ibu saya."
Ciang Kongcu tidak menjawah melainkan menoleh kepada ayahnya.
Ciang Goanswe kini yang menjawab pertanyaan Bi Lan, sedangkan Ciang Kongcu memberi isarat kepada tiga orang itu.
Lul Ciangkun segera bangkit dan berkata.
"Saya akan menyampalkan perintah Ciang Kongcu."
Perwira tinggi kurus ini lalu pergi ke belakang.
"Han Siocla,"
Kata Ciang' Goanswe.
"Kiranya akulah yang lebih tahu akan keadaan orang tuamu daripada sernua orang yang berada di sini karena ayahmu masih terhitung pembantuku. Kurang lebih sebelas tahun yang lalu, Han-ciang-kun dan isterinya berangkat ke perbatasan utara untuk memimpin Pasukan Halilintar berperang melawan musuh di utara."
Bi Lan mengangguk tak sabar.
"Saya masih ingat akan semua itu, Ciang Goanswe, Ketika ayah ibu pergi berperang, datang si jahanam Ouw Kan yang berjuluk Toat-beng Coa-ong Itu ke rumah ini, membunuh Luma dan tukang kebun yang tidak berdosa, lalu menculik saya. Ciang Goan-swe mengangguk-angguk.
"Benar, agaknya orang tuamu mempunyai musuh yang hendak membalas dendam, akan tetapi karena orang tuamu tidak berada di rumah, maka musuh itu lalu menculikmu. Kami telah mengerahkan pasukan untuk mencari, namun sia sia sehingga kami putus asa. Maka, bukan main girang rasa hati kami ketika hari ini tiba-tiba engkau muncul dalam keadaan sehat dan selamat, Han Siocia. kami sudah menganggap keluargamu seperti keluarga sendiri!"
"Tapi di manakah sekarang orang tua-ku, Ciang Goan-swe?"
Tanya Bi Lan tak sabar. Jenderal Ciang menghela napas panjang.
"Sesungguhnya, hal itu kami tidak mengetahuinya. Ketika mereka pulang setelah menang dalam perang, mereka kami beritahu tentang peristiwa di rumah Ini, bahwa engkau diculik penjahat tanpa kami ketahui siapa penculik itu. Ayah ibumu lalu pergi dari sini, katanya hendak mencarimu dan ayahmu bahkan mengembalikan pangkatnya kepada Sribaginda Kaisar karena dia akan pergi mencarimu. Dan sampai sekarang orang tua-mu itu tidak pernah kembali ke sini. Kami prihatin sekali, Han Siocia, akan tetapi setelah kini engkau kembali dalam keadaan selamat kami merasa girang bukan maln. Tentang orang tuamu, jangan khawatir, kami tentu akan menyebar penyelidik ke seluruh penjuru untuk mencari mereka sampai dapat ditemukanl"
Bi Lan merasa girang dengan janji ini.
Memang akan sukarlah baginya mencari orang tuanya kalau ia tidak tahu ke mana mereka pergi.
Kalau Jenderal Ciang menyebar banyak penyelidik, tentu hasilnya akan jauh lebih baik.
la bangkit berdiri dan merangkap ke-dua tangan depan dada.
"Terima kaslh, Goan-swe."
Jenderal Ciang melambaikan tangan menyuruh gadis itu duduk kembali.
"Aih, nona, atau lebih baik kusebut Bi Lan saja. Orang tuamu sudah seperti saudara denganku, maka engkau kuanggap sebagai keponakanku sendiri. Jangan sebut aku Goanswe, cukup dengan Paman Ciang saja!"
Kalau begitu, aku adalah toa-ko (kakak) bagimu dan pngkau siauw-moi (adik perempuan) bagiku!"
Kata Ciang Kongcu sambil tersenyum, Pada saat itu, Kui Ciangkun memasuki ruangan itu diikuti beberapa orang pelayan wanita yang membawa hidangan yang maslh mengepul, Melihat ini, Bi Lan berkata.
"Aih, Paman Ciang, tidak perlu repot-repot...." .
"Sama sekali tidak repot, Bi Lan. Saking gembiranya hati kami, melihat engkau muncul dalam keadaan selamat dan sehat seolah-olah kami melihat seorang keponakan yang telah mati hidup kembali, maka kami ingin menyambutmu dengan pesta dan piakan bersama! Mari, jangan sungkan-sungkan!"
Kata Jenderal Ciang dengan gembira sambil menuangkan anggur ke dalam cawan di depan Bk Lan. Bi Lan bangkit berdiri.
"Maafkan saya, paman. Saya.... saya ingin ke kamar mandi sebentar."
Jenderal Ciang tersenyum dan mengangguk maklum. Tentu gadis itu ada keperluan ke kamar mandi, mungkin hendak membuang air kecil. Maka dia menoleh kepada seorang pelayan wanita.
"Antarkan Nona Han ke kamar mandi". Pelayan itu lalu menghampiri Bi Lan yang bangkit berdiri dan mengikuti pelayan itu masuk ke bagian dalam. Kamar mandi rumah gedung itu masih di tempat yahg dulu. Ada dua buah. Yang besar untuk keluarga dan yang kecil untuk para pelayan. Bi Lan memasuki kamar mandi yang besar dan menutup daun pintunya. Setelah Bi Lan kembali ke ruangan tamu, hidangan sudah lengkap di atas meja. Uap yang sedap memenuhi ruangan itu. Bau sedap masakan bercampur dengan bau harum minuman anggur dan arak.
"Mari kita minum untuk menyambut keponakanku Han Bi Lan dan imengucapkan selamat datang!"
Kata Jenderal Ciang sambil mengangkat cawan araknya.
Semua prang mengangkat cawan masing-masing dan minum untuk kehormatan Bi Lan.
Gadis ini merasa gembira juga mendapatkan penyambutan seramah itu, Maka, iapun tidak sungkan-sungkan lagi ketika mereka mulai makan minum dengan gembira.
Makan minum bersama lima orang itu berlangsung gembira.
Diam-diam Bi Lan merasa heran betapa Hwa Hwa Cin-jin makan daging dan minum arak dengan lahapnya!
Akan tetapi ia teringat akan gurunya sendiri.
Gurunya juga seorang pendeta Lhama yang lajimnya berpantang makan makanan berjiwa dan minum-minuman keras, akan tetapi gurunya melanggar pantangan itu.
Banyak pendeta yang melanggar pantangan, baik secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi.
Agaknya Hwa Hwa Cin-jin ini seperti gurunya, melanggar pantangan secara terbuka dan seenaknya saja.
Sambil makan minum, Jenderal Ciang bertanya kepada Bi Lan.
"Kami ingin sekali mengetahui pengalamanmu, Bi Lan. Kami tadinya sudah putus asa mendengar engkau dilarikan penculik dan kami tidak berhasil mencarimu. Tahu-tahu setelah sebelas tahun engkau hilang, hari ini engkau muncul dalam keadaan selamat dan sehat. Apakah yang terjadi denganmu?"
Melihat keramahan dan kebaikan sikap tuan rumah, Bi Lan tidak keberatan untuk menceritakan pengalamannya.
"Saya dilarikan penculik itu dengan cepat keluar kota raja."
"Apa engkau tahu siapa penculik itu dan mengapa pula dia menculikmu?"
Tanya Jenderal Ciang. Bi Lan mengangguk.
"Dia mengaku terus terang bahwa dia adalah Toat-beng Coa-ong Ouw Kan dan dia diutus oleh Raja Kin untuk membunuh ayah dan ibu sebagai balas dendam karena ayah telah menewaskan Pangeran Cu Si, putera Raja Kin, dalam perang. Karena ayah dan ibu tidak ada, maka Ouw Kan lalu menculikku dengan niat untuk menyerahkan saya kepada Raja Kin."
"Hemm, jahat......, jahat""!"
Kata Jenderal Ciang.
"Kemudian bagaimana Bi Lan?"
"Dalam perjalanan itu, saya ditolong oleh Suhu Jit Kong Lhama yang mengalahkan Ouw Kan dan selanjutnya saya ikut suhu untuk mempelajari ilmu silat sampai sebelas tahun lamanya. Setelah selesai belajar, saya lalu berpisah dari suhu dan datang ke ibu kota Lin-an ini untuk mencari ayah ibu."
"Hemm, jadi engkau selama ini menjadi murid Jit Kong Lhama? Ke mana saja engkau dibawanya?"
"Suhu mengajak saya mengasingkan diri di sebuah bukit di pegunungan Kun-lun-san."
"Ah, begitu jauh? Pantas saja usaha kami mencarimu tidak berhasil. Dan di mana sekarang adanya Jit Kong Lhama?"
"Suhu sudah kembali ke Tibet."
"Siancai......! Kiranya nona menjadi murid Jit Kong Lhama!"
Kata Hwa Hwa Cin-jin.
"Pantas nona amat lihai pinto (saya) sudah mendengar akan nama besar gurumu itu, nona!"
Akhirnya perjamuan makan itu selesai.
Bi Lan makan sampai kenyang dan ia sudah minum cukup banyak anggur, minuman yang tidak biasa memasuki perutnya.
Tiba-tiba gadis itu mengangkat tangan kiri menutupi mulutnya yang menguap.
Tak dapat ia menahan untuk tidak menguap.
Rasa kantuk yang kuat sekali menguasainya.
Ia bangkit akan tetapi terkulai dan jatuh terduduk kembali.
Kantuknya tak tertahankan dan akhirnya gadis itu merebahkan kepalanya di atas meja, berbantal lengannya sendiri dan dari pernapasannya yang lembut mudah diketahui bahwa ia telah tertidur!
Jenderal Ciang bertepuk tangan, lalu dia menjulurkan tangannya dan mengguncang pundak gadis itu.
Namun Bi Lan tetap tidur pulas, agaknya tidurnya nyenyak sekali.
"Ha-ha-ha, bagus sekali, Cin-jin. Pekerjaanmu berhasil baik sekali!"
Dia memuji sambil memandang kepada Hwa Hwa Cin-jin karena dia tahu bahwa tosu itulah yang menaburkan bubuk putih ke dalam cawan anggur gadis itu ketika tadi Bi Lan pergi ke kamar mandi.
"Ha-ha, racun pembius pinto tidak akan ada yang mampu menahannya, Ciang-goanswe. Biar seekor gajah sekali pun akan tertidur pulas kalau menelan racun pembius buatan pinto,"
Kata Hwa Hwa Cin-jin dengan bangga.
"Goanswe, saya kira gadis ini sebaiknya cepat dibunuh saja. Ia puteri Han Si Tiong dan ini berbahaya sekali. Kalau sampai ia mengetahui bahwa Toat-beng Coa-ong Ouw Kan itu ada hubungannya dengan kita dan bahwa kita memusuhi Han Si Tiong, tentu ia hanya akan menimbulkan kesulitan bagi kita,"
Kata Lui To. Jenderal Ciang mengangguk-angguk.
"Ya, engkau benar, Lui-ciangkun. Sejak dulu Han Si Tiong menentangku, bahkan dia menjadi pembantu setia dari mendiang Jenderal Gak Hui. Tadinya aku mengira dia sudah mati atau menjadi tawanan Raja Kin, karena Toat-beng Coa ong Ouw Kan tidak pernah memberi kabar. Kiranya gadis ini ditolong dan menjadi murid Jit Kong Lhama! Ia lihai sekali berbahaya, memang sebaiknya kalau dibunuh saja."
"Tapi, ayah, di manakah sebetulnya ayah ibu gadis ini?"
Tanya Ciang Ban, matanya memandang gadis yang tertidur itu dengan mata lahap.
"Siapa tahu mereka di mana? Mereka mengembalikan pangkat kepada Sribaginda Kaisar, mengundurkan diri dan sampai sekarang tidak ada yang tahu mereka berada di mana. Kalau saja kita tahu, tentu aku telah mencari jalan untuk membasmi mereka. Perdana Menteri Chin Kui sendiri pernah membicarakan mereka dan beliau juga menghendaki agar para pengikut mendiang Jenderal Gak yang setia itu dibasmi semua karena hanya akan mendatangkan kesulitan saja."
"Goanswe, tak perlu repot-repot membunuh gadis ini. Sekali menggerakkan tangan saja ia akan mati. Biarlah pinto membunuhnya sekarang juga selagi ia masih tidur pulas,"
Kata Hwa Hwa Cin-jin sambil bangkit berdiri dan dia sudah mengangkat tangan kanan ke atas, siap untuk menotok jalan darah maut di tubuh Bi Lan.
"Nanti dulu, suhu!"
Tiba-tiba Ciang-kongcu bangkit dan menjulurkan tangan mencegah niat gurunya.
"Ayah, aku merasa sayang sekali kalau gadis sejelita ini, dibunuh begitu saja. Berikan ia kepadaku, ayah. Setelah aku merasa puas dengannya, tentu akan kubunuh!"
Jenderal Ciang memandang puteranya dan mengelus jenggotnya sambil tersenyum.
Dia ingat kepada putera tunggalnya ini dan dia tahu bahwa puteranya itu memiliki kesukaan yang tiada bedanya dengan kesukaannya sendiri di waktu muda.
"Akan tetapi hati-hatilah, Ciang Ban. Gadis ini adalah murid Jit Kong Lhama dan ia lihai dan berbahaya sekali!"
Ciang-kongcu menyeringai lebar.
"Ha-ha, ayah. Aku mempunyai banyak cara untuk dia membuat ia tak berdaya dan tunduk kepadaku. Dengan totokan, dengan mengikat tangannya, atau dengan memberinya obat perangsang......"
"Hemm, sesukamulah. Hanya jangan engkau lengah. Nah, bawalah ia pergi ke kamarmu!"
Kata Jenderal yang mewariskan watak jahatnya kepada anak tunggalnya itu.
Ciang Ban yang sudah terlalu banyak minum arak sehingga mukanya merah itu tersenyum senang.
Dia bangkit dan menghampiri Bi Lan yang masih tidur.
"Marilah, manisku. Mari kita bersenang-senang!"
Kata Ciang Ban dan tanpa malu-malu kepada ayahnya, Lui-ciangkun dan gurunya, pemuda ini hendak merangkul gadis itu, memondongnya dan membawanya ke kamar tidurnya yang berada tidak jauh dari ruangan itu.
Dia mendorong daun pintu terbuka lalu masuk dan mendorong daun pintu kamar itu tertutup kembali dari dalam tanpa menguncinya.
Tubuh Bi Lan terasa lunak, kenyal, hangat dan menyebarkan keharuman dari pakaian dan rambutnya yang membuat Ciang Ban merasa semakin terbakar dan berkobar oleh nafsu berahinya.
Melihat ulah puteranya itu, Jenderal Ciang malah tertawa geli.
Lui-ciangkun atau Lui To yang memang berwatak penjilat itu ikut tertawa bergelak dan Hwa Hwa Cin-jin yang memang berwatak cabul dan mata keranjang diam-diam merasa iri kepada Ciang-kongcu atau Ciang Ban.
Tentu kalau bisa, ingin sekali dia menggantikan pemuda itu, mempermainkan gadis muda belia itu sepuasnya-puasnya dulu sebelum dibunuh!
Dengan muka kemerahan dan napas terengah-engah terbakar nafsu, Ciang Ban melempar tubuh Bi Lan ke atas pembaringan, kemudian bagaikan seekor singa kelaparan menerkam seekor domba, dia melompat dan menubruk ke arah gadis yang terlentang di atas pembaringan itu.
"Wuuuuttt...... desss""!!"
Ciang Ban mengaduh ketika perutnya disambut tendangan sebatang kaki yang mungil namun yang kekuatannya seperti sepotong baja.
Tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh berdebuk ke atas lantai kamar!
Kiranya Bi Lan sama sekali tidak pingsan atau mabok seperti yang mereka semua kira.
Han Bi Lan adalah murid Jit Kong Lhama yang amat disayang datuk ini.
Maka, selain ilmu-ilmu silat tinggi ia juga telah mempelajari segala macam ilmu sihir dan ilmu sesat dari datuk itu, termasuk ilmu tentang penolakan segala macam racun yang biasa dipergunakan oleh golongan sesat untuk menjatuhkan lawan secara licik.
Ilmu sihirpun dikuasai oleh gadis ini.
Dan iapun seorang gadis yang amat cerdik.
Maka, ketika ia diterima dengan amat ramah oleh Ciang Ban dan Jenderal Ciang, juga melihat wajah Lui To dan terutama Hwa Hwa Cin-jin yang sinar matanya penuh kelicikan dan kepalsuan, ia sudah merasa curiga.
Diam-diam ia merasakan dan menyelidiki dengan lidahnya sebelum ia makan minum dan ia mendapat kenyataan bahwa makanan dan minuman itu tidak mengandung racun.
Bagaimanapun juga, ia tetap berhati-hati, maka ketika ia permisi ke kamar mandi, di sana ia menelan sebutir pel merah, yaitu obat penolak racun untuk berjaga-jaga.
Maka ketika ia minum lagi dan lidahnya merasakan sesuatu yang tidak wajar pada minumannya itu, ia menelannya saja seolah-olah tidak tahu apa-apa.
Setelah yakin bahwa minumannya mengandung obat pembius, Bi Lan pura-pura tertidur atau pingsan.
Ia ingin tahu apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan mereka bicarakan.
Setelah ia pura-pura pingsan, barulah ia mendengar pembicaraan mereka dan dengan kemarahan yang ditahan-tahan ia mengetahui bahwa mereka semua adalah orang-orang yang memusuhi ayahnya, bahkan mereka mempunyai hubungan dengan Ouw Kan, datuk suku Uigur yang dulu membunuh neneknya dan menculiknya.
Baru setelah tahu apa yang hendak dilakukan Ciang Ban terhadap dirinya, ketika pemuda bangsawan itu menerkam dirinya, Bi Lan menyambut dengan tendangan kakinya yang tepat mengenai perut pemuda itu.
Ciang Ban mengaduh dan terjengkang lalu terbanting ke atas lantai.
Akan tetapi pemuda ini bukan seorang lemah.
Dia adalah murid dari Hwa Hwa Cin-jin, maka biarpun dia merasa perutnya mulas, dia memaksa diri melompat bangun sambil mencabut pedangnya yang belum keburu dia tanggalkan saking nafsunya sudah memuncak tadi.
Bi Lan sudah melompat turun dari atas pembaringan.
Ciang Ban berteriak memberi isyarat kepada mereka yang berada di luar kamar, lalu dia membentak dan menyerang gadis itu dengan pedangnya.
Dia menusukkan pedangnya lurus ke depan mengarah dada gadis itu dengan jurus serangan Tit-ci-thian-lam (Tudingkan Telunjuk ke Arah Selatan).
Pedangnya meluncur cepat sekali dan seolah sudah pasti akan menembus dada Bi Lan.
Namun Bi Lan merendahkan diri sehingga pedang itu meluncur ke atas kepalanya dan dari bawah, kedua tangannya bergerak cepat seperti dua ekor ular menyambar ke atas.
Tangan kanannya memukul ulu hati lawan dan tangan kirinya merampas pedang.
"Ngekk".. uhhh"..!"
Betapapun lihainya Ciang Ban, namun sekali ini dia bertemu lawan yang jauh lebih tinggi tingkat ilmu silatnya.
Dia merasa ulu hatinya seperti ditotok toya baja, membuat dia tak dapat bernapas dan tiba-tiba saja pedang di tangan kanannya sudah direnggut lepas dari tangannya.
Totokan pada ulu hatinya itu mendatangkan rasa nyeri yang hebat sehingga tubuhnya terhuyung ke arah pintu.
Bi Lan melompat ke depan, pedang rampasannya menyambar, disusul tendangan kakinya.
"Crakk...... desss......!"
Jenderal Ciang, Lui-ciangkun, dan Hwa Hwa Cin-jin, ketiganya adalah orang-orang yang tangguh, terutama sekali Hwa Hwa Cin-jin, terkejut mendengar teriakan Ciang Ban tadi.
Mereka bertiga lari menuju ke pintu kamar itu.
Akan tetapi tiba-tiba pintu kamar tertabrak sesuatu dan terbuka".
Dan tubuh Ciang Ban melayang dan roboh di depan kaki tiga orang itu, disusul melayangnya kepala pemuda itu yang sudah terlepas dari lehernya.
Darah membanjiri lantai dan tiga orang itu terbelalak.
Dapat dibayangkan betapa marah hati Jenderal Ciang melihat puteranya sudah menggeletak menjadi mayat dengan kepala terpisah.
Demikian pula dengan Hwa Hwa Cin-jin dan Lui To.
Otomatis mereka bertiga mencabut pedang masing-masing dan hendak menyerbu ke dalam kamar.
Akan tetapi pada saat itu, Bi Lan yang tidak ingin dikeroyok dalam sebuah kamar sempit, sudah melayang keluar dari dalam kamar.
Tanpa banyak cakap saking marahnya, Jenderal Ciang sudah menerjangnya dengan pedangnya yang panjang dan tebal.
Bi Lan dengan mudahnya mengelak, akan tetapi pada saat itu Hwa Hwa Cin-jin sudah menyerang pula dan serangan tosu sesat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan serangan Jenderal Ciang Sun Bo bahkan lebih berbahaya daripada gerakan Lui To yang juga mulai menyerang Bi Lan.
Namun, setelah mempelajari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dari Kun-lun-pai, kitab yang dicurinya dari tangan Thian Liong itu, Bi Lan memiliki gerakan kaki yang aneh dan gesit luar biasa.
Dengan beberapa lingkaran gerakan kaki saja ia sudah dapat menghindarkan diri dari serangan pedang tiga orang pengeroyoknya.
Kini, gadis yang tidak pernah memegang senjata, akan tetapi yang pandai mempergunakan senjata apa saja itu, telah merampas pedang milik Ciang Ban yang dibunuhnya.
Kini ia memainkan pedang rampasan itu dengan Kwan Im Sin-kiam (Ilmu Pedang Dewi Kwan Im).
Ilmu ini walaupun disebut ilmu pedang, namun Bi Lan dapat mempergunakan senjata apa saja, misalnya sebatang ranting kayu, untuk mainkan ilmu silat itu.
Juga ia mahir ilmu Kim-bhok Sin-tung-hoat atau Ilmu Tongkat Sakti, akan tetapi ia pun dapat mempergunakan segala macam benda untuk memainkan ilmu silat ini.
Setelah pedangnya bergulung-gulung dalam permainan Kwan Im Sin-kiam, tiga orang pengeroyoknya terkejut.
Bayangan gadis itu lenyap dan yang tampak hanya gulungan sinar pedang yang seperti gelombang samudera menggulung ke arah mereka.
Hwa Hwa Cin-jin masih dapat melindungi dirinya dengan putaran pedangnya sambil terus mundur, akan tetapi tidak demikian dengan Ciang Sun Bo atau jenderal Ciang.
Dia menjerit ketika pedang puteranya yang dipegang Bi Lan itu menusuk ke dalam dadanya yang mengakibatkan dia roboh dan tewas seketika.
Robohnya jenderal ini disusul robohnya Lui To atau Lui-ciangkun yang tersabet lehernya dan roboh mandi darah, tewas pula.
Melihat ini, Hwa Hwa Cin-jin berteriak-teriak sambil melompat jauh melarikan diri.
Bi Lan melihat banyak perajurit pengawal berlarian datang, maka iapun lalu melompat ke ruangan samping yang terbuka, lalu tubuhnya melayang ke atas genteng.
Para perajurit melakukan pengejaran, namun sebentar saja Bi Lan sudah lenyap dari tempat itu.
Namun di dalam gedung Jenderal Ciang terjadi kegemparan dan karena yang terbunuh adalah Jenderal Ciang, Perwira Lui, dan Ciang-kongcu, tentu saja hal ini menimbulkan kegemparan dan tak lama kemudian, kota raja penuh dengan perajurit yang melakukan pencarian dan pengejaran.
Setiap Iorong jalan dijaga, sehingga Bi Lan menjadi bingung, tak ada jalan sama sekali untuk keluar dari kota raja.
Karena rumah gedung bekas tempat tinggal ayahnya yang kini ditempati Jenderal Ciang itu tidak jauh dari istana, maka ketika ia dihadang di sana-sini, terpaksa ia menyelinap ke sebuah lorong yang menembus ke arah istana.
Di lorong ini tidak ada perajurit mencari atau berjaga karena siapa mengira bahwa si pengacau yang melakukan pembunuhan besar-besaran di rumah Jenderal Ciang akan berani melarikan diri ke daerah istana?
Sejak tadi udara diliputi mendung dan pada saat Bi Lan memasuki lorong itu, masih bingung bagaimana ia akan dapat melarikan diri keluar kota raja, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
Hal ini agak menolongnya karena para perajurit penjaga keamanan kota yang dikerahkan untuk mengejar dan menangkap pembunuh, banyak yang berteduh di emper-emper rumah dan menghentikan pencarian mereka.
Akan tetapi Bi Lan harus bergerak hati-hati, sambil sembunyi-sembunyi karena ia tahu bahwa biarpun mereka tidak mencari dan berlalu lalang di jalan, mata para perajurit itu tentu dengan penuh perhatian melihat ke arah orang-orang yang berani menempuh hujan di jalan.
Tiba-tiba saja, di sebuah tikungan, ia melihat seorang laki-laki berusia hampir enampuluh tahun yang berpakaian sebagai seorang panglima.
Inilah jalan satu-satunya untuk dapat lolos dari kota raja, pikir Bi Lan.
Ia masih memegang pedang rampasan dari tangan Ciang-kongcu tadi.
Bagaikan seekor burung ia melompat keluar dan tahu-tahu ia sudah berada di depan panglima itu dan ujung pedangnya sudah menempel di tenggorokan orang itu.
Sang panglima terkejut bukan main, terbelalak memandang, akan tetapi setelah melihat wajah gadis itu, wajahnya berseri-seri penuh harapan.
"Bi Lan......, engkau tentu Han Bi Lan puteri Han Si Tiong, bukan? Engkau yang telah mengamuk di rumah Jenderal Ciang?"
Tentu saja Bi Lan terkejut dan heran bukan main.
"Eh......, bagaimana engkau bisa tahu......?"
"Bi Lan, lupakah engkau kepadaku? Aku Kwee Gi, Panglima Kwee Gi, sahabat baik Han Si Tiong. Mari, mari cepat ikut aku, engkau harus bersembunyi, nanti saja kita bicara. Cepat pakai ini!"
Panglima itu melepaskan mantelnya yang lebar lalu menyerahkannya kepada Bi Lan.
Gadis itu menutupi kepala dan badannya dengan mantel yang lebar ini, kemudian tanpa banyak cakap lagi ia membiarkan dirinya digandeng panglima itu melewati lorong-lorong yang sepi, kemudian memasuki rumah gedung dari pintu belakang.
Kini ia teringat akan Panglima Kwee Gi yang dulu seringkali datang bertamu ke rumah orang tuanya, bahkan sudah beberapa kali ia diajak ibunya berkunjung ke rumah sahabat ayahnya itu.
Setelah teringat, tentu saja ia percaya sepenuhnya kepada panglima yang ia tahu merupakan sahabat baik ayahnya.
Setibanya di ruangan dalam, seorang pemuda tinggi besar muncul dan dia memandang heran melihat ayahnya bersama seorang gadis memasuki ruangan dalam itu.
"Ayah, siapa nona ini, dan mengapa""!"
"Cun Ki, ini adalah Bi Lan, puterinya pamanmu Han Si Tiong pemimpin Pasukan Halilintar yang terkenal itu. Ingat? Bi Lan, ini adalah Kwe Cun Gi, anak kami. Kalian sudah bersahabat dulu ketika masih kecil."
"Oh......! Kau Bi Lan...... yang dulu nakal dan manja itu?"
Seru pemuda tinggi besar berwajah tampan yang usianya sekitar duapuluh tahun itu.
"Dan engkau...... kakak Cun Ki yang dulu suka menggodaku. Engkau yang nakal sekali!"
Kata pula Bi Lan.
"Akan tetapi kabarnya engkau hilang diculik dan......"
"Cun Ki, tahan dulu bicaranya. Keadaan genting sekali. Bi Lan sedang dikejar-kejar seluruh perajurit penjaga keamanan di kota raja. Cepat kau keluar dan jaga agar jangan ada orang memasuki rumah kita. Atur para pengawal untuk berjaga ketat dan kalau ada yang mencariku, katakan aku sibuk memimpin pasukan di luar untuk mencari pembunuh."
Cun Ki membelalakkan matanya.
"Ah, aku mendengar tentang itu...... jadi".. engkaukah yang telah mengamuk dan melakukan pembunuhan terhadap Jenderal Ciang, Ciang Ban, dan Perwira Lui To itu?"
"Cun Ki, jangan banyak cakap! Cepat laksanakan perintahku! Nanti saja kalau mau bicara!"
"Baik, ayah."
Pemuda itu lalu dengan gerakan yang gesit keluar dari ruangan dalam. Panglima Kwee Gi membawa Bi Lan memasuki sebuah kamar, lalu berkata.
"Engkau tinggallah di sini sebentar, aku akan memanggil bibimu."
Bi Lan mengangguk.
Ia tahu bahwa keadaannya berbahaya sekali.
Kalau tidak ada Panglima Kwee yang melindunginya, kiranya akan sukar lolos dari kota raja yang kini semua pintu gapuranya pasti sudah terjaga ketat.
Tak lama kemudian, nyonya Kwee bersama suaminya muncul.
Bi Lan segera mengenal wanita setengah tua yang masih tampak cantik itu.
Nyonya Kwee juga mengenalnya dan mereka berangkulan.
"Aih, Bi Lan. Engkau lenyap begitu saja sebelas tahun yang lalu dan kini muncul secara mengejutkan pula."
Nyonya itu lalu mengajak Bi Lan duduk di atas kursi dan daun pintu kamar itu ditutup rapat-rapat.
"B Lan, mulai hari ini engkau bersembunyi dulu di sini. Kepada para pelayan, kami akan memberitahukan bahwa engkau adalah seorang keponakan kami bernama Kwee Ciok Li. Ayahmu adalah adikku yang tinggal jauh di dusun sebelah selatan. Engkau tidak usah keluar dari rumah agar tidak berjumpa orang lain. Nanti kalau keadaan sudah aman, kita mencari jalan agar engkau dapat keluar dari kota raja."
"Ah, Paman Kwee, sungguh beruntung sekali aku bertemu dengan paman dan bibi. Paman telah menolong dan menyelamatkan nyawaku."
"Hemm, jangan berkata begitu. Tadi, begitu mendengar berita bahwa jenderal Ciang dan puteranya, juga Perwira Lui mati terbunuh seorang gadis cantik, aku segera dapat menduga bahwa agaknya engkaulah orangnya. Karena itu, ketika mendapat perintah untuk mengerahkan pasukan melakukan pencarian, aku sendiri lalu memisahkan diri dan mencarimu. Beruntung aku menemukan engkau sebelum yang lain menemukanmu. Sekarang, ceritakanlah siapa yang dulu membunuh nenekmu dan melukai tukang kebun dan apa yang terjadi selanjutnya denganmu?"
"Maaf, paman. Sebelum aku menceritakan pengalamanku, aku ingin lebih dulu mendengar tentang ayah ibuku. Untuk itulah aku datang ke kota raja, untuk mencari orang tuaku."
Pada saat itu Kwee Cun Ki melangkah masuk dan dengan singkat melaporkan bahwa penjagaan telah diatur sebaik mungkin.
Setelah itu dia mengambil tempat duduk untuk ikut mendengarkan.
Panglima Kwee Gi menghela napas ketika, mendengar pertanyaan gadis itu tentang orang tuanya.
Dia menggeleng kepala dan berkata.
"Bi Lan, ketika ayah dan ibumu pulang dari perang mereka mendapatkan engkau telah hilang diculik orang. Mereka lalu berusaha mencarimu. Bahkan akhirnya ayahmu, Han Si Tiong mengembalikan pangkatnya kepada pemerintah dan bersama isterinya lalu meninggalkan kota raja. Kepadaku mereka hanya mengatakan bahwa mereka hendak mencarimu sampai dapat. Sungguh menyesal sekali, Bi Lan, aku sendiri tidak dapat mengatakan di mana mereka berada karena sudah bertahun-tahun mereka tidak memberi kabar kepadaku."
Bi Lan mengerutkan alisnya. Hatinya kecewa akan tetapi ia tidak dapat menyalahkan panglima yang menjadi sahabat ayahnya itu.
"Biarlah aku akan membantumu mencari mereka, Lan-moi,"
Kata Cun Ki.
"Terima kasih, Ki-ko (kakak Ki),"
Kata Bi Lan.
"Nah, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi dengan dirimu, Bi Lan. Kami semua ingin sekali mengetahuinya."
"Ketika itu, aku diculik dan dilarikan oleh datuk sesat Ouw Kan. Dia menculikku untuk membalas dendam atas perintah Raja Kin karena ayah telah membunuh puteranya, Pangeran Cu Si, dalam perang. Ouw Kan hendak menyerahkan aku kepada Raja Kin. Di tengah jalan kami bertemu dengan Jit Kong Lhama dan pendeta Lhama itu berhasil mengalahkan Ouw Kan dan sejak itu aku menjadi murid Jit Kong Lhama."
"Pantas engkau menjadi lihai sekali, Lan-moi!"
Cun Ki memuji, padahal dia belum melihat sampai di mana kelihaian gadis itu.
"Aku juga menjadi murid Kun-lun-pai,"
Kata Bi Lan cepat agar diketahui bahwa ia bukan hanya menjadi murid datuk sesat itu, namun juga murid partai Ku-lun-pai yang terkenal!
"Setelah tamat belajar, aku lalu cepat pergi ke kota raja untuk pulang ke rumah orang tuaku.
Akan tetapi ternyata yang tinggal di sana adalah keluarga Jenderal Ciang Sun Bo.
Bersama puteranya yang bernama Ciang Ban, dan seorang perwira bernama Lui To dan seorang pendeta tosu guru Ciang Ban bernama Hwa Hwa Cin-jin.
Jenderal Ciang menyambutku dengan ramah.
Dia mengatakan bahwa dia adalah sahabat baik ayah, maka dia menerimaku dengan baik, bahkan lalu mengadakan perjamuan makan untuk menyambut kedatanganku.
Kami makan minum dan minumanku dicampuri obat bius."
"Jahat sekali!"
Kwee Cun Ki berseru marah.
"Aku sudah menaruh kecurigaan maka diam-diam aku telah menjaga diri dan minum obat penawar racun. Aku lalu pura-pura pingsan terbius. Dalam keadaan itulah aku mendengar mereka bicara dan aku tahu bahwa mereka itu sebetulnya bersekutu dengan datuk jahat Ouw Kan yang dulu menculikku, berarti bersekutu dengan Raja Kin dan mereka adalah orang-orang yang memusuhi ayahku. Mereka hendak membunuhku, akan tetapi Ciang Ban yang terkutuk itu lalu memondongku ke dalam kamar dengan maksud kotor dan hina. Aku tidak dapat menahan kemarahanku lagi dan kubunuh pemuda itu. Jenderal Ciang, Perwira Lui To dan Pendeta Hwa Hwa Cin-jin menyerangku. Aku berhasil membunuh jenderal Ciang dan Perwira Lui, akan tetapi Hwa Hwa Cin-jin dapat melarikan diri. Karena banyak perajurit pengawal bermunculan, aku lalu melarikan diri."
Kwee Gi mengangguk-angguk.
"Hemm, akhirnya mereka menerima hukuman juga dan tewas di tanganmu, Bi Lan. Jenderal Ciang itu memang merupakan antek Perdana Menteri Chin Kui."
"Siapa itu Perdana Menteri Chin Kui, paman?"
"Dialah yang menjadi biang keladi semua ketidak-amanan dan kekacauan. Dia berhasil mempengaruhi kaisar dan perdana menteri itu bersekongkol dengan bangsa Kin di utara. Bahkan dia pula yang telah melakukan fitnah kepada jenderal Gak Hui pahlawan besar yang amat dihormati dan dibantu ayahmu. Han Si Tiong dan isterinya mengundurkan diri dari jabatannya, bukan hanya karena kehilangan engkau, akan tetapi terutama sekali karena kecewa melihat jenderal Gak Hui difitnah dan Kaisar berpihak kepada pengkhianat macam Chin Kui."
"Pantas Ouw Kan diutus raja Kin untuk mencelakakan ayahku, kiranya juga dikarenakan ayah menjadi pembantu setia Jenderal Gak Hui,"
Kata Bi Lan gemas.
"Begitulah. Kita semua mengetahui bahwa Chin Kui seorang pengkhianat yang bersekongkol dengan penjajah Kin yang menguasai daerah utara Sungai Yang-ce. Bangsa Kin menguasai daerah itu dan Chin Kui telah membujuk kaisar agar tidak melawan, bahkan berbaik dengan penjajah mengirim upeti setiap tahun. Semua itu tentu ada imbalannya dan semua orang tahu betapa kaya rayanya Perdana Menteri Chin Kui itu."
"Hemm, kenapa ada pengkhianat macam itu di kerajaan tidak ada yang menentang? Kenapa kaisar begitu bodoh? Apa tidak ada pejabat tinggi yang setia kepada negara dan berusaha menentang perdana menteri jahat itu?"
Tanya Bi Lan penasaran. Kwee-ciangkun menghela napas panjang.
"Apa yang dapat kami lakukan? Dia memiliki kekuasaan yang besar, bahkan kaisar sendiri selalu menuruti kata-katanya. Menentang dia, bisa berarti menentang pemerintah, menentang kaisar sendiri, dan akan berhadapan dengan pasukan pemerintah."
"Kalau begitu, sebaiknya orang seperti itu dibinasakan saja! Aku sanggup melakukannya, paman!"
Kata Bi Lan penuh semangat. Panglima Kwee tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Engkau memang pantas menjadi puteri Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, Bi Lan! Semangatmu besar dan keberanianmu menakjubkan. Akan tetapi aku harus melarangmu. Entah sudah berapa banyak orang-orang gagah melakukan usaha itu, namun semua gagal dan bahkan mereka yang tewas. Perdana Menteri Chin Kui menjaga dirinya dengan ketat. Pasukan pengawal khusus yang terdiri dari jagoan-jagoan, di antaranya didatangkan dari utara, selalu melindunginya siang malam. Betapapun tinggi kepandaian silatmu, tidak mungkin menembus pertahanan yang amat kuat itu."
"Hemm, kalau begitu, apakah orang macam itu dibiarkan saja mengkhianati tanah air dan bangsa?"
Bi Lan penasaran.
"Tidak, Bi Lan. Kami, orang-orang setia kepada Kerajaan Sung, tidak tinggal diam. Kami sudah menyusun kekuatan dan kami sedang berusaha untuk mendapatkan bukti-bukti penyelewengannya, baik penyelewengannya dalam korupsi uang negara, pemerasan terhadap para bangsawan dan hartawan, pajak-pajak gelap yang dilakukannya, yang hasilnya masuk kantungnya sendiri, juga kami sedang mengumpulkan bukti penyelewengannya tentang persekongkolannya dengan Bangsa Kin. Bukti bahwa dia menerima banyak hadiah dari Bangsa Kin. Semua itu, kalau sudah dapat dikumpulkan, akan kami haturkan kepada Sribaginda Kaisar. Dengan demikian maka kaisar yang akan bertindak. Kecuali dengan jalan itu, amat sukar untuk mengalahkan Chin Kui yang memiliki kekuasaan dan pengaruh besar sekali. Satu-satunya orang yang akan mampu menundukkan hanyalah kaisar sendiri."
Bi Lan mengangguk-angguk.
"Ah, begitukah, paman? Kalau begitu, dalam hal ini aku tidak dapat membantu. Aku ingin segera keluar dari kota raja, paman, untuk mencari ayah dan ibuku."
"Tentu saja, akan tetapi bersabarlah. Sekarang sedang hangat-hangatnya pasukan mencarimu. Perdana Menteri Chin Kui sendiri tentu marah dan merasa kehilangan karena Jenderal Ciang dan Perwira Lui merupakan pembantu-pembantunya yang setia. Tunggu sampai beberapa hari, kalau suasananya sudah dingin dan mereka semua mengira bahwa engkau pasti sudah lolos dari kota raja, barulah aku akan mengatur agar supaya engkau dapat keluar dari kota raja."
"Baiklah paman. Akan tetapi, apakah paman dapat memberi petunjuk kepadaku, di manakah kiranya orang tuaku sekarang?"
Panglima Kwe menggeleng kepala dan menghela napas.
"Aku sudah berusaha menyebar orang-orangku untuk mencari, namun tidak berhasil menemukan jejak mereka. Aku hanya mempunyai satu perkiraan, yaitu besar sekali kemungkinannya mereka pergi ke utara untuk mencari Ouw Kan karena mendengar akan ciri-ciri penculik itu dari tukang kebun yang belum terbunuh mati, kami sudah dapat menduga bahwa pelakunya adalah Ouw Kan yang berjuluk Toat-beng Coa ong. Dia adalah seorang suku bangsa Hui dan berasal dari Sin-kiang. Kini dia membantu pemerintah bangsa Kin di utara. Karena itu besar kemungkinan ayah ibumu mencarinya ke utara, atau ke Sin-kiang."
Sampai seminggu lamanya Bi Lan bersembunyi di dalam rumah Panglima Kwee dan dalam waktu seminggu itu, hubungannya dengan keluarga itu menjadi akrab.
Terutama sekali Kwee Cun Ki.
Pemuda itu nampak benar-benar tertarik kepada Bi Lan, bahkan berulang kali dia mengatakan kepada gadis itu bahwa dia ingin menemani gadis itu mencari orang tuanya di utara dan Sin-kiang.
Ketika pada hari kedelapan Panglima Kwee mengatakan kepada Bi Lan bahwa waktunya sudah tiba bagi Bi Lan untuk diselundupkan keluar kota raja, Cun Ki mengulangi keinginannya itu kepada Bi Lan, di depan ayah ibunya.
"Lan-moi, sekali lagi aku minta agar engkau suka kutemani untuk mencari orang tuamu. Melakukan perjalanan seorang diri di daerah musuh itu sungguh amat berbahaya bagimu."
Panglima Kwee dan isterinya sudah maklum bahwa putera tunggal mereka itu jatuh cinta kepada Bi Lan. Di dalam hati, mereka setuju sekali kalau Bi Lan menjadi mantu mereka. Kwee Gi segera berkata.
"Kami setuju kalau Cun Ki menemanimu, Bi Lan. Dengan bantuannya, tentu akan lebih mudah menemukan orang tuamu."
"Benar, Bi Lan,"
Kata Nyonya Kwee.
"Dengan adanya Cun Ki yang menemanimu, hati kami tidak akan merasa gelisah seperti kalau engkau pergi seorang diri. Seorang gadis merantau seorang diri tanpa kawan di tempat yang jauh itu, apalagi di daerah musuh, sungguh hatiku akan merasa gelisah selalu. Engkau sudah kuanggap seperti anak sendiri, Bi Lan."
Ucapan nyonya ini sebetulnya sudah merupakan isyarat yang jelas bahwa ia ingin Bi Lan menjadi anak mantunya. Akan tetapi Bi Lan tidak mengerti dan ia cepat menjawab.
"Terima kasih atas kebaikan hati paman, bibi dan juga Ki-twako. Kalian telah menolongku dan bersikap baik sekali kepadaku. Untuk itu aku mengucapkan banyak terima kasih. Akan tetapi, aku ingin melakukan perjalanan seorang diri. Terima kasih atas penawaranmu untuk menemaniku, Ki-twako. Ketahuilah bahwa aku masih mempunyai tugas pribadi yang harus kuselesaikan. Kelak, kalau semua tugas dan urusanku sudah selesai, aku pasti akan datang berkunjung untuk mengucapkan terima kasihku."
Karena Bi Lan bersikeras menolak, maka Cun Ki tidak berani memaksa, hanya dia merasa kecewa bukan main.
Dia tadinya mengharapkan bahwa kalau melakukan perjalanan bersama, gadis yang membuatnya tergila-gila itu akan tergerak hatinya dan akan membalas cintanya.
Akan tetapi melihat Bi Lan berkeras tidak mau ditemani, tentu saja dia tidak berani memaksa yang akan membuat gadis itu marah.
Usaha membawa Bi Lan keluar kota raja dipersiapkan.
Sebuah kereta berhenti di depan gedung keluarga panglima Kwee.
Kusirnya seorang laki-laki yang masih muda, berwajah tampan.
Tak lama kemudian, Panglima Kwee masuk ke dalam kereta dan di belakang kereta terdapat belasan orang perajurit pengawal menunggang kuda.
Rombongan kecil ini lalu berangkat dan keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah utara.
Para perajurit yang menjaga di pintu gerbang segera memberi hormat ketika melihat bahwa penumpang kereta itu adalah Panglima Kwee Gi dan isterinya.
Pada hari-hari kemarin, tentu ada perwira anak buah Perdana Menteri Chin Kui yang ikut menjaga dan mengawasi.
Kalau ada mereka, biarpun yang lewat itu Panglima Kwee, tentu mereka akan melakukan pemeriksaan yang teliti.
Akan tetapi, pencarian pembunuh itu kini sudah tidak ketat 1agi.
Seminggu telah lewat dan pembunuh itu tidak ditemukan jejaknya.
Dianggap sudah kabur dari kota raja, maka kini di pintu gerbang hanya dijaga para perajurit keamanan biasa.
Panglima Kwee adalah komandan pasukan keamanan, maka tentu saja para perajurit percaya kepadanya dan setelah memberi hormat, para penjaga itu membiarkan kereta dan pengawalnya lewat keluar dari pintu gerbang.
Belasan orang perajurit itu adalah orang-orang kepercayaan Panglima Kwee.
Setelah rombongan tiba jauh dari pintu gerbang, di jalan yang sunyi, rombongan berhenti.
Seorang pengawal muda turun dari atas kudanya, menanggalkan pakaian luarnya dan kini mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakai kusir, lalu menggantikan kedudukan kusir.
Kusir itu bukan lain adalah Bi Lan yang menyamar sebagai kusir.
Semua perlengkapannya telah dibungkus dalam buntalan pakaian yang disembunyikan dalam kereta.
Dalam buntalan itu, selain pakaiannya, juga ada sekantung uang emas sebagai bekal, merupakan hadiah dari Panglima Kwee.
Setelah mengucapkan terima kasih dan memberi hormat kepada Panglima Kwee Gi dan isterinya, Bi Lan lalu menunggangi kuda yang tadi ditunggangi pengawal yang kini menjadi kusir, dan gadis itupun membedal kudanya, membalap ke arah utara, diikuti pandang mata Panglima Kwee Gi dan isterinya.
Kekecewaan dan keharuan membayang dalam pandang mata suami isteri itu.
Mereka lebih senang melihat gadis itu berada di rumah mereka, sebagai anak mantu mereka!
Kini gadis itu telah pergi, menuju ke seberang utara yang dikuasai bangsa Kin, tempat berbahaya sekali dan entah mereka akan dapat bertemu lagi dengan gadis itu ataukah tidak.
Thian Liong menuruni lereng bukit itu sambil melamun.
Dia merasa kecewa dan menyesal sekali karena sebuah di antara tugas yang diberikan kepadanya oleh gurunya telah gagal.
Dia telah berhasil menyerahkan kitab Sam-jong Cin-keng kepada Cu Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai, bahkan telah beruntung diberi kesempatan mempelajari ilmu dari kitab itu oleh ketua Siauw-lim-pai sehingga dia memperoleh kemajuan besar dalam ilmu silatnya.
Kemudian dia juga telah menyerahkan kitab Kiauw-ta Sin-na kepada Ciang Losu ketua Bu-tong-pai.
Akan tetapi kitab yang ketiga, yaitu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang seharusnya dia berikan atau kembalikan kepada Kun-lun-pai seperti yang diperintahkan gurunya, telah lenyap dicuri gadis liar berpakaian merah muda itu.
Dia harus bertanggung jawab.
Dia harus dapat merebut kembali kitab itu dan menyerahkannya kepada yang berhak, yaitu kepada Kun-lun-pai.
Akan tetapi dia tidak mengenal siapa gadis itu, siapa namanya dan ke mana harus mencarinya!
Kalau dia tidak dapat menemukan gadis maling itu dan mengembalikan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat kepada Kun-lun-pai, dia belum mau sudah karena dia mengabaikan perintah gurunya dan dia merasa "berhutang"
Kepada Kun-lun-pai.
Wah, gadis berpakaian merah muda itu!
Gemas sekali dia!
Awas kau, kalau dapat kutemukan, bukan saja kitab itu kurampas darimu, juga engkau patut diberi hajaran.
Akan kupukul pantatmu sampai sepuluh kali, seperti yang dia seorang bapak memukul pantat anaknya yang nakal ketika dia berkunjung ke dusun kaki bukit dulu.
Biar tahu rasa kau!
Demikian gemas rasa hati Thian Liong sehingga dia bersungut-sungut sendiri.
Gadis liar!
Rampok, maling!
Kurang ajar betul.
Tiba-tiba wajah gadis berpakaian merah muda yang tadinya dia membayangkan sebagai wajah setan, berubah dan tampaklah wajah lain.
Wajah seorang gadis lain yang berpakaian serba hijau dan memakai bunga mawar merah di rambutnya.
Wajah Thio Siang In yang berjuluk Ang Hwa Sianli!
Gadis yang satu ini sama liarnya, juga sama lihainya, sama kurang ajarnya.
Masa ingin pinjam kitab Sam-jong Cin-keng milik Siauw-lim-pai dan pinjamnya pakai memaksa lagi!
Hemm, bagaimanapun juga dia telah menghajar gadis itu dengan mengalahkannya sehingga ia pergi dengan marah marah.
Tidak sekurang ajar gadis baju merah muda yang mencuri kitab milik Kun-lun-pai!
Ah, kenapa nasibnya begini?
Bertemu dengan dua orang gadis liar yang sama-sama membikin dia pusing dan marah.
Tiba-tiba terbayang wajah seorang gadis lain!
Nah, yang ini lagi!
Tiada hujan tiada angin, menyerangnya mati-matian dan setelah dia berhasil mengalahkannya, dia harus mengawininya!
Gila!
Kalau dia menolak, gadis bernama Kim Lan itu harus membunuhnya dan kalau gagal, harus membunuh diri sendiri atau akan dibunuh gurunya!
Aturan mana ini?
Si nenek yang menjadi guru Kim Lan dan sumoinya yang bernama Ai Yin itu boleh jadi sudah gila, mengadakan peraturan seperti itu kepada murid-murid wanitanya.
Gila!
Apakah para wanita itu sudah gila semua?
Setelah meninggalkan Siauw-lim-si, Thian Liong mengambil keputusan untuk melaksanakan dua kewajiban yang dipesan oleh gurunya.
Pertama, dia harus merebut kembali kitab pusaka milik Kun-1un-pai itu.
Dan kedua, gurunya pesan agar dia membantu Kerajaan Sung menghadapi musuh-musuhnya.
Dia mengingat-ingat.
Suhunya pernah menyebut nama Perdana Menteri Chin Kui sebagai orang jahat dan berkhianat dan yang telah mempengaruhi kaisar.
Dia diberi tugas untuk menyelamatkan Kerajaan Sung dari pengaruh para pembesar yang jahat.
Akan tetapi, yang lebih dulu harus dia kerjakan adalah mencari gadis setan berbaju merah itu untuk merampas kembali kitab pusaka Kun-lun-pai!
Dia mengenang kembali pertemuannya dengan gadis berpakaian merah itu.
Hemm, cantik jelita dan lincah jenaka memang.
Tapi galaknya minta ampun.
Dan kejam.
Begitu saja membunuh orang, biarpun yang dibunuhnya itu seorang penjahat.
Akan tetapi ilmu silatnya amat hebat.
Hanya dengan sebatang ranting, ia mampu mempermainkan si gendut, perampok lihai itu, bahkan membunuhnya.
Permainan rantingnya mirip ilmu pedang.
Thian Liong menghentikan langkahnya, memejamkan matanya untuk membayangkan kembali gerakan gadis baju merah itu ketika bertanding melawan perampok gendut.
Dia banyak tahu akan aliran ilmu silat dari gurunya.
Gurunya pernah membeberkan rahasia dasar gerakan silat perguruan-perguruan besar, bahkan ilmu silat dari aliran luar pedalaman Cina seperti ilmu silat yang berdasar pada aliran Tibet, Gobi, Mancu, Mongol dan lain-lain.
Sekarang dia teringat benar.
Gerakan kedua kaki gadis baju merah itu ketika bergeser, dengan berjingkat dan berputar.
Itu adalah gerakan dasar ilmu silat aliran Tibet yang diajarkan pendeta Lhama di Tibet.
Gurunya, Tiong Lee Cin-jin sudah pernah bertahun-tahun tinggal di Tibet dan mempelajari ilmu silat dari suku bangsa itu.
Ah, tidak salah lagi.
Dia ingat benar.
Gadis yang mencuri kitab Ngo-heng Loan-hoan Kun-hoat milik Kun-lun-pai itu ada1ah seorang ahli silat aliran Tibet.
Mungkin ia murid seorang tokoh pendeta Lhama yang sakti.
Karena itu, dia harus mencari ke daerah utara, daerah yang diduduki bangsa Kin karena besar kemungkinan gadis maling itu melarikan diri ke sana.
Pula, dalam perjalanan dia mendengar betapa bangsa Kin di utara itu melakukan penindasan dan pemerasan terhadap rakyat pribumi Han.
Agaknya di sanalah dia akan lebih banyak dibutuhkan rakyat yang terjajah daripada di selatan.
Demikianlah, dia melakukan perjalanan ke utara, ke daerah yang dikuasai pemerintah bangsa Kin.
Sesungguhnya, kerajaan Kin tidaklah begitu kuat.
Andaikata Kaisar Kao Tsung yang kini bertahta di kota raja baru Nan-king mengerahkan para panglimanya seperti mendiang Gak Hui untuk menyerbu ke utara dan melakukan perlawanan, besar kemungkinan mereka akan mampu mengusir bangsa Kin dari tanah air.
Akan tetapi, Kaisar Kao Tsung terlalu lemah dan terlalu dipengaruhi Perdana Menteri Chin Kui dan antek-anteknya yang menakut-nakuti kaisar, yang mengatakan bahwa bangsa Kin terlalu kuat dan sebagainya, maka Kaisar Kao Tsung mengalah dan tidak pernah melakukan perlawanan.
Dia hanya puas dengan daerah di sebelah selatan Sungai Yang-ce yang dikuasainya.
Memang daerah selatan ini jauh lebih subur dibandingkan daerah utara, namun kekalahan Dinasti Sung dari bangsa Kin ini menyuramkan kebesaran Kerajaan Sung yang pernah berjaya.
Benar saja seperti yang telah didengar dalam perjalanannya, ketika memasuki daerah jajahan itu, Thian Liong melihat keadaan rakyat yang hidup menyedihkan.
Bukan hanya banjir besar di musim hujan dan kekeringan di musim panas yang membuat mereka hidup dalam keadaan miskin, hanya cukup untuk makan secara hemat sekali, akan tetapi yang, lebih daripada itu adalah tekanan dari para pembesar yang membuat mereka dicekam rasa ketakutan.
Di kota kota, para pedagang ditekan dengan pajak yang luar biasa besarnya, yang memaksa banyak pedagang kecil menjadi bangkrut.
Hanya pedagang yang besar dan mampu menyogok para pembesar saja yang dapat hidup.
Kehidupan rakyat di pedusunan tidak lebih baik.
Hampir setiap orang kepala dusun, sikapnya seolah menjadi raja kecil yang menentukan mati hidupnya tiap warga dusun!
Sang kepala dusun berhak menentukan apa saja.
Keputusan pribadinya menjadi hukum tak tertu1is yang harus dipatuhi.
Tidak ada satupun yang salah pada dirinya.
Semua harus dianggap benar dan harus ditaati setiap warga dusun.
Dia bisa merampok terang-terangan yang disebut menyita barang mereka yang berdosa, bisa memperkosa anak gadis orang yang disebutnya menikahinya sebagai selir.
Tak seorangpun berani menentang kehendaknya kalau orang itu masih ingin hidup.
Kalau kepala dusunnya seperti itu, kaki tangannya lebih mengerikan lagi!
Melihat keadaan seperti ini, jiwa kependekaran Thian Liong bangkit dan di mana saja dia berada, dia tentu turun tangan memberi hajaran kepada mereka yang bertindak sewenang-wenang mengandalkan kekuasaan dan kekerasan, dan menolong mereka yang tertindas dan lemah tak berdaya.
Dia tidak pernah menyembunyikan namanya dan mengaku bernama Thian Liong setiap kali perbuatan gagahnya menggegerkan sebuah dusun atau kota.
Sebentar saja dia dianggap sebagai Si Naga Langit (Thian Liong) seolah-olah mahluk yang menjadi lambang kebesaran dan kesaktian itu turun dari langit untuk membela dan menolong rakyat yang menderita!
Dalam perjalanan ini, tidak lupa Thian Liong bertanya-tanya, mencari keterangan tentang seorang gadis yang cantik jelita dan yang pakaiannya serba merah muda.
Akan tetapi sampai hari ini, ketika dia menuruni lereng bukit di kaki Pegunungan Thai-san, tidak ada orang yang dapat memberi keterangan kepadanya tentang gadis itu.
Ketika dia melihat sebuah dusun yang cukup besar dan ramai di kaki bukit, Thian Liong segera memasukinya.
Dusun itu tampak cukup ramai dan tidak seperti yang dia lihat di dusun-dusun yang pernah dilaluinya, dusun ini kelihatan tenang.
Penduduknya tidak tampak begitu dicekam ketakutan seperti dusun-dusun lain sebelah selatan.
Mungkin semakin dekat tempat itu dengan pemerintah pusat di Peking, semakin baiklah pembesarnya karena takut kepada atasan yang sewaktu-waktu dapat melakukan pemeriksaan, tidak seperti dusun-dusun yang jauh, yang tak pernah dilalui pejabat pejabat yang memeriksa keadaan di dusun-dusun.
Dusun Leng-ciu dapat juga disebut kota karena tampak ramai, banyak toko dan bahkan ada rumah makan dan rumah penginapan, walaupun sederhana.
Dia mendapat harapan untuk mendengar berita tentang gadis baju merah di tempat ini.
Hari sudah siang dan Thian Liong merasa perutnya lapar karena sejak kemarin malam dia belum makan.
Pagi tadi tidak sempat makan karena dia melakukan perjalanan naik turun bukit dan tidak melewati dusun.
Melihat sebuah rumah makan yang kosong, tidak ada tamunya, dia lalu masuk.
Seorang pelayan setengah tua, berusia kurang lebih empatpuluh tahun, menyambutnya dengan senyum ramah.
"Siauw-ko (saudara muda) hendak makan apa? Dan minum?"
"Hidangkan nasi dan masakan sayur, minumnya air teh saja."
"Air teh? Ah, siauwko, kami mempunyai arak yang lezat!"
Pelayan itu menawarkan.
"Terima kasih, paman. Aku...... eh, aku tidak biasa minum arak, takut mabok,"
Jawab Thian Liong sambil tersenyum.
"Bagus! Bagus! Aku sendiri juga hampir tidak pernah minum arak, lebih baik teh, menyehatkan. Sebal sekali anakku laki-laki itu, setiap hari mabok. Ayaaa""
Bikin jengkel orang tua saja!"
Pelayan itu menggeleng-geleng kepala lalu pergi untuk menyediakan makanan yang dipesan Thian Liong.
Pemuda ini tersenyum sendiri, akan tetapi juga timbul niatnya untuk mengajak pelayan yang suka bicara itu untuk bercakap-cakap.
Siapa tahu dia tahu tentang gadis yang dicarinya.
Apalagi saat itu, rumah makan sepi tidak tampak tamu lain.
Ketika pelayan itu mengantar nasi dan semangkuk sayur, sepoci teh dengan cawannya, Thian Liong mengajaknya bicara sambil makan.
"Duduklah, paman dan mari temani aku minum teh. Nanti kalau ada tamu boleh paman tinggalkan aku."
Pelayan itu menerima undangan itu dengan senang dan setelah minum teh secawan, Thian Liong bertanya.
"Paman, aku ingin sekali bertanya. Apakah paman pernah melihat seorang gadis cantik berpakaian serba merah muda, punya lesung pipit di kanan kiri bibirnya dan...... gadis itu pandai ilmu silat?"
Pelayan itu mengerutkan alisnya.
"Gadis cantik jelita dan pandai ilmu silat? Wah, ada, benar tentu ia yang kau maksudkan itu! Masih muda belia, senyumnya semanis madu, kerling matanya seperti kilat menyambar, kalau tertawa semua bunga bermekaran, matahari bersinar semakin terang!"
"Betul, betul dara itu yang kumaksudkan! Di mana ia, paman?"
"Tapi pakaiannya bukan serba merah muda, melainkan putih, sutera putih halus dengan perhiasan gemerlapan. Memang ada yang merah, akan tetapi bukan pakaiannya melainkan sabuknya, sabuk sutera merah. Pakaiannya serba putih, elok anggun seperti burung Hong, karena itu semua orang menyebutnya Pek hong Niocu (Nona Burung Hong Putih)!"
Tiba-tiba ada serombongan orang memasuki rumah makan dan pelayan itu cepat bangkit.
"Maaf, siauw-ko, ada tamu!"
Bergegas dia menyambut rombongan terdiri dari empat orang itu.
Seorang laki-laki muda berusia duapuluh lima tahun, seorang gadis cantik berusia sekitar duapuluh tahun, dan suami isteri setengah tua sekitar limapuluh tahun.
Pelayan itu segera mempersilakan mereka duduk menghadapi sebuah meja sebelah dalam, terhalang tiga meja dari tempat Thian Liong makan.
Thian Liong tidak memperhatikan mereka yang tampaknya seperti penduduk biasa.
Dia sedang melamun, merenungkn cerita pelayan tadi.
Tidak mungkin nona yang disebut Nona Burung Hong Putih itu gadis maling yang mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai.
Walaupun sama cantik dan sama pandai silat, namun pakaiannya jauh berlainan.
Maling wanita itu berpakaian serba merah muda, kalau yang diceritakan pelayan itu pakaiannya serba putih.
Pula, maling wanita itu tidak memegang senjata, ketika membunuh perampok, hanya mempergunakan sebatang ranting.
Akan tetapi Burung Hong Putih ini menggunakan sehelai sabuk sutera merah!
Tentu bukan gadis yang dicarinya.
Betapapun juga, ia merasa tertarik.
Siapa tahu gadis maling itu berganti warna pakaiannya?
Atau, setidaknya, mungkin sebagai sama-sama wanita pandai ilmu silat, Burung Hong Putih ini mengenal gadis berpakaian merah muda.
Tiba-tiba dua orang laki-laki muda berusia antara duapuluh lima sampai duapuluh tujuh tahun memasuki rumah makan itu.
Melihat betapa mereka berdua berjalan terhuyung sambil menyeringai dan tertawa-tawa, mudah diduga bahwa keduanya sudah mabok.
"Kita baru saja minum, masa mau minum lagi......?"
Kata seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus.
"Ha-ha-ha, di sini tempatnya mi bakso yang paling enak di dunia""! Ha-ha, heii, pelayan, hidangkan mi bakso komplit dua porsi! Cepat......!!"
Dua orang itu lalu mengambil tempat duduk di meja yang berdekatan dengan meja rombongan pertama.
Pelayan setengah tua itu agaknya mengenal mereka karena dia bergegas menghampiri meja itu dan menggunakan kain lap untuk membersihkan meja itu.
"Oh, Bouw-kongcu (Tuan Muda Bouw) dan Ban-kongcu (Tuan Muda Ban). Silakan duduk, silakan duduk......"
Kata pelayan itu dengan sikap hormat.
"Cerewet!"
Bentak si tinggi kurus yang disebut Bouw-kongcu.
"Hayo cepat sediakan bakmi bakso dua mangkok, bodoh!"
Bentak Ban-kongcu yang tubuhnya tinggi besar dan sikapnya kasar.
"Baik, baik, ji-wi kongcu (tuan muda berdua)......"
Pelayan itu ialu cepat-cepat mengambilkan pesanan dua orang muda itu. Ketika dia lewat di dekat Thian Liong, dia berbisik.
"hemm...... mereka putera kepala Dusun Bouw dan Kepala Keamanan Ban......"
Thian Liong melirik ke arah dua orang itu. Mereka mengeluarkan sebuah guci yang tadi dibawa Ban-kongcu dan bergantian minum lagi sambil tertawa-tawa.
"Ehh? Manis sekali!"
Tiba-tiba Bouw-kongcu yang tinggi kurus itu memandang kepada gadis cantik yang duduk bersama rombongan pertama tadi. Gadis itu menundukkan mukanya.
"Heh-heh, kalau engkau suka, biar ia menemani kita makan minum,"
Kata Ban-kongcu sambil bangkit berdiri.
"Ya, heh-heh, tentu saja. Ajak ia ke sini...... si manis itu...... heh-heh."
Orang muda she Ban yang bertubuh tinggi besar itu lalu bangkit berdiri dan menghampiri meja rombongan empat orang itu. Dia langsung menghampiri nona tadi dan berkata.
"Nona manis, Bouw-kongcu mengundang engkau makan minum bersama kami. Hayo, manis!"
Gadis itu tampak ketakutan dan menggeleng-geteng kepala. Pemuda itupun bangkit berdiri, diikuti laki-laki setengah tua.
"Sobat, apa artinya ini? Kami tidak mengenal anda, jangan paksa adik saya untuk makan bersama, itu tidak sopan namanya!"
Kata pemuda itu dengan sikap marah. Juga laki-laki setengah tua itu marah.
"Jangan ganggu anakku!"
Bentaknya. Ban Gu, demikian nama putera kepala keamanan dusun itu, membelalakkan matanya yang sudah lebar, memandang kepada ayah dan puteranya itu berganti-ganti.
"Ha-ha, kalian berani menentangku, ya? Kalian belum mengenal siapa aku dan siapa Bouw-kongcu itu?"
"Sabarlah, sobat,"
Ayah pemuda itu mencoba untuk menyabarkan Ban Gu.
"Kami sekeluarga baru saja tiba di kota Leng-ciu ini, kami tidak mengenal siapa kalian berdua dan kamipun tidak melakukan kesalahan apapun. Karena itu, harap jangan ganggu puteri saya, jangan ganggu kami yang hanya ingin makan di sini."
"Bodoh! Aku Ban Gu adalah putera Kepala Pasukan Keamanan di sini dan Bouw-kongcu adalah putera kepala daerah yang berkuasa di sini, tahu? Hayo! nona ini harus menemani kami makan minum dan siapapun tidak boleh menghalangi!"
Setelah berkata demikian, Ban Gu menangkap pergelangan tangan gadis itu dan menariknya berdiri. Pemuda yang menjadi kakak gadis itu marah.
"Engkau kurang ajar, hendak menghina adikku?"
Dia maju dan hendak menangkap pundak Ban Gu untuk ditariknya agar terlepas dari adiknya.
Akan tetapi agaknya Ban Gu seorang yang pandai ilmu silat.
Sekali dia melayangkan tinjunya, pemuda itu terpelanting roboh.
Ayah pemuda itu maju hendak mencegah Ban Gu menarik puterinya, akan tetapi sekali lagi Ban Gu mengayun tangan dan laki-laki setengah tua itupun terpelanting menabrak kursi.
Sambil terbahak Ban Gu menangkap lagi tangan gadis itu dan menyeretnya menuju ke meja di mana Bouw-kongcu menunggu sambil menyeringai senang.
"Ting-yi......!"
Ibu itu memburu, akan tetapi sebuah tendangan dari Ban Gu membuat nyonya itu terjengkang.
Gadis itu menjerit, akan tetapi dengan mudah Ban Gu mengangkatnya dan memaksanya duduk di atas kursi di samping Bouw-kongcu.
Pada saat itu, Thian Liong sudah hampir tidak dapat menahan kemarahannya.
Akan tetapi dia menahan diri karena terdengar derap kaki kuda di luar rumah makan dan seorang gadis berpakaian serba putih berkilau melompat turun dari punggung kuda.
Thian Liong yang tadinya sudah bangkit berdiri untuk menghajar dua orang pemuda berandalan itu duduk kembali saking heran dan kagumnya.
Gadis ini benar-benar mengingatkan dia akan gadis maling yang mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai.
Bentuk tubuh yang denok semampai itu sama, wajahnya memang agak beda, akan tetapi keduanya sama cantik dan sepasang mata itupun sama-sama mencorong, bibirnya tersenyum nakal dan gerakannya gesit sekali.
Tanpa disadarinya, Thian Liong mengamati dengan penuh perhatian.
Gadis itu berusia sekitar sembilanbelas tahun, pakaiannya dari sutera putih bersih berkilauan, pinggang ramping itu dililit sabuk merah.
Rambutnya dikuncir tebal panjang diberi pita merah dan di atas kepalanya terhias sebuah perhiasan berbentuk burung Hong putih dari perak bermata mirah yang indah sekali.
Agaknya gadis itu sengaja membuat perhiasan yang sesuai dengan julukan yang diberikan orang, atau orang-orang memberi julukan kepadanya karena di antaranya melihat perhiasan itu.
Wajahnya manis sekali, kulitnya putih bersih, seperti biasa kulit wanita dari utara.
Matanya mencorong seperti bintang dan senyumnya yang manis itu mengandung kenakalan.
Tubuhnya yang ramping padat itu amat menggairahkan, dengan lekuk lengkung yang sempurna.
Pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang wanita bangsawan bangsa Kin, dengan hiasan bulu indah pada leher dan pada sepatunya yang terbuat dari kulit berwarna hitam mengkilat berbentuk sepatu tinggi membungkus betis (sepatu boot).
Gadis itu melompat turun dan berlari memasuki rumah makan dan tangan kanannya masih memegang sebatang pecut kuda.
"Aku mendengar ada keributan di sini! Siapa yang membikin ribut?"
Suaranya nyaring dan merdu dan biarpun ia bicara dalam bahasa pribumi Han, namun terdengar lucu karena aksennya asing suku bangsa Kin.
Suami isteri setengah tua dan putera mereka sudah bangkit berdiri sambil menyeringai kesakitan, dan mereka bertiga yang melihat wanita itu datang dengan sikap demikian anggun dan berwibawa, mereka bertiga hanya dapat menuding ke arah gadis yang masih duduk ketakutan, apalagi dua orang pemuda yang duduk di kanan kirinya itu dengan kurang ajar menowel-nowel dan meraba-raba dengan tangan mereka.
Gadis baju putih itu melihat ke arah yang ditunjuk tiga orang itu dan kini alisnya berkerut melihat gadis yang duduk di antara dua orang pemuda yang jelas sedang berbuat tidak sopan kepadanya, meraba-raba dada dan menowel dagu dan pipi.
"Hemm, kiranya kalian ini dua ekor buaya darat yang membikin ribut di sini?"
Bentak gadis itu sambil menghampiri meja di mana Bouw Kui, putera kepala daerah, dan Ban Gu, putera kepala pasukan keamanan kota Leng-ciu itu duduk mengapit gadis itu.
Dua orang pemuda itu terkejut mendengar ada suara wanita memaki mereka sebagai buaya darat.
Cepat mereka bangkit dan memutar tubuh menoleh dan memandang.
Keduanya terbelalak kagum.
"Huihhh! Alangkah cantiknya!"
Kata Bouw Kui sambil menyeringai kagum.
"Hebat! Seperti bidadari! Toako, engkau sudah punya yang itu, yang ini untukku!"
Kata Ban Gu.
"Ah, tidak, Gu-te (adik Gu). Biar gadis pemalu dan penakut itu untukmu, aku memilih yang baru datang dan pemberani ini!"
Kata Bouw Kui. Pelayan setengah tua itu tahu-tahu sudah berada di dekat meja Thian Liong.
"Uhh, mereka mencari penyakit. Mereka pasti akan celaka""!"
Bisiknya dan Thian Liong menonton dengan ingin tahu sekali.
"Hei, kalian katak buduk! Hayo cepat kalian menjatuhkan diri berlutut dan minta ampun seratus kali, atau, aku akan menyiksa kalian sampai mampus!"
Bentak gadis itu sambil bertolak pinggang. Ban Gu yang merasa dimaki-maki itu menjadi marah juga.
"Heh, jaga mulutmu, perempuan liar! Tahukah engkau siapa kami? Toako, ini adalah Bouw-kongcu, putera kepala daerah Bouw! Dan aku adalah Ban Gu, putera kepala pasukan keamanan kota ini. Berani engkau memaki kami? Kau bisa kutangkap dan kumasukkan penjara!"
"Memaki kalian? Menyiksa dan membunuh kalian pun aku berani,"
Kata gadis itu dan tiba-tiba cambuk kuda di tangannya menyambar ke depan. Cepat sekali ujung cambuk itu menyambar, seperti kilat menyambar.
"Tar-tarrr......!!"
Dua kali cambuk itu menyambar dan dua orang pemuda itu mengaduh, kedua tangan mendekap muka mereka yang tampak ada balur memanjang merah dan berdarah!
Tentu saja mereka marah sekali.
Mereka berdua pernah belajar silat, apalagi Ban Gu yang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh dan dia terkenal sebagai pemuda ugal-ugalan yang suka mengandalkan kekuatannya dan terutama kedudukan ayahnya.
"Perempuan gila......!!"
Dia membentak dan tangan kanannya sudah mencabut sebatang.
golok, lalu dia melompat ke depan dan menyerang dengan goloknya.
Bouw Kui juga tidak tinggal diam.
Diapun sudah mencabut goloknya dan menerjang ke depan pula.
Gadis yang ketakutan itu segera berlari menghampiri orang tuanya dan mereka berempat segera pergi dari situ, keluar dari rumah makan tanpa pamit karena merekapun belum makan apa-apa.
Mereka merasa lebih cepat mereka meninggalkan Leng-ciu lebih baik.
"Tar-tar-tar-tarrrr......!"
Pecut itu meledak-ledak.
Thian Liong memandang kagum.
Bukan main gadis itu.
Gerakan perutnya itu bukan gerakan sembarangan, melainkan gerakan tangan yang memiliki tenaga sinkang (tenaga sakti) yang amat kuat sehingga pecut yang hanya terbuat dari bambu itu kini berubah menjadi senjata yang kuat menangkis sambaran golok tanpa menjadi rusak!
"Trang-tranggg......!
Dua kali pecut itu meledak lagi, tepat mengenai pergelangan tangan kedua orang pemuda yang memegang golok.
Golok itu terlepas dan jatuh berkerontangan di atas lantai.
Kini pecut itu menari-nari, meledak-ledak dan tubuh dua orang pemuda menjadi bulan-bulanan pecut.
Dua orang kongcu itu meloncat-loncat seperti dua ekor monyet menari karena tubuh mereka dihujani lecutan cambuk yang merobek-robek pakaian dan kulit tubuh mereka sehingga tubuh mereka itu kini mandi darah!
Mereka merasa betapa tubuh mereka nyeri semua perih-perih dan panas, sakit sampai menusuk ke dalam tulang sumsum.
Mereka jatuh terguling dan tanpa malu-malu lagi mereka berlutut dan menyembah-nyembah sambil mengangguk-anggukkan kepala seperti dua ekor ayam makan padi sambil merintih-rintih.
"Aduh...... ampun...... ampun".. jangan bunuh......!!"
Keduanya minta-minta ampun.
Gadis itulah yang oleh banyak orang di banyak tempat dijuluki Pek Hong Nio-cu atau Nona Burung Hong Putih!
Ia menghentikan cambukannya, hidungnya mendengus dan ia segera berkata kepada Ban Gu.
"He, kamu tikus she Ban! Cepat engkau panggil Kepala Daerah Bouw dan Kepala Pasukan Keamanan datang ke sini. Cepat dan tikus she Bouw ini biar berlutut terus di sini sampai kamu kembali bersama dua tikus yang kupanggil itu!"
Mendengar ini, Ban Gu diam-diam merasa girang sekali, akan memanggil ayahnya dan Bouw-taijin, baru tahu rasa engkau, perempuan iblis, pikirya.
Dia mengangguk, lalu bangkit berdiri dan berlari dengan terhuyung-huyung karena tubuhnya terasa nyeri semua, seperti disayat-sayat rasa seluruh tubuhnya.
Banyak orang kini menonton peristiwa itu.
Akan tetapi tentu saja mereka tidak berani mendekat, hanya menonton dari jarak agak jauh sehingga rumah makan itu tampak sepi ditinggalkan orang.
Bahkan mereka yang melalui jalan di depan rumah makan itu tidak berani lewat.
Semua orang berbisik-bisik dan merasa tegang karena kalau sang pembesar yang merupakan raja dan panglimanya itu muncul bersama pasukannya, tentu gadis itu akan celaka.
Akan tetapi mereka yang sudah pernah melihat sepak terjang Burung Hong Putih, diam-diam merasa gembira sekali dan tahu bahwa mereka akan memperoleh tontonan yang menyegarkan hati mereka yang selama ini banyak mengalami penindasan itu.
Tak Iama kemudian, datanglah rombongan dua orang pembesar itu.
Agaknya karena tergesa-gesa dan agar mereka cepat tiba di tempat itu, kedua orang pembesar itu naik sebuah kereta dan di belakang kereta terdapat duapuluh orang lebih perajurit penjaga keamanan yang biasanya suka dipergunakan untuk melakukan "pembersihan"
Kepada rakyat jelata untuk memaksa mereka membayar pajak atau melakukan apa saja yang dikehendaki kepala daerah atau komandan pasukan itu.
Begitu kereta berhenti di depan rumah makan, Ban Gu yang tidak sempat berganti pakaian, masih berpakaian koyak-koyak dan tubuh berlumuran darah, turun diikuti oleh ayahnya yang bertubuh tinggi besar berperut gendut sekali, berpakaian sebagai seorang perwira yang serba gemerlapan dan gagah.
Wajah Ban Ho Tung, kepala pasukan keamanan ini, penuh brewok sehingga tampak menyeramkan, dan wajah itu sudah membayangkan bahwa dia biasa bersikap keras dan galak.
Orang kedua, usianya sebaya dengan Ban Ho Tung, adalah Bouw Ti, kepala daerah Leng-ciu yang berpakaian sebagai seorang bangsawan, tubuhnya tinggi kurus, kumisnya seperti tikus dan sikapnya angkuh dan sombong sekali, jalannya saja dibuat-buat segagah mungkin, namun malah tampak lucu karena tubuhnya yang kerempeng seperti seorang pemadat berat itu.
"Mana ia perempuan iblis, penjahat dan pemberontak itu?"
Tanya Ban-ciangkun (Perwira Ban) kepada puteranya, sikapnya petentang-petenteng (membusungkan dada menantang).
"Ia tadi berada di dalam rumah makan ini, ayah,"
Kata Ban Gu sambil menuding ke dalam.
"Siapa mencari aku?"
Terdengar bentakan nyaring merdu dan dari dalam rumah makan itu melangkah keluar gadis berpakaian putih itu.
Tangan kanannya memegang pecut dan ujung pecut melingkar di leher Bouw Kui yang diseret sehingga pemuda itu berjalan dengan kaki tangannya seperti seekor anjing.
"Tikus kecil Ban, kamu ke sini. Berlutut!"
Gadis itu membentak sambil menudingkan telunjuk kirinya kepada Ban Gu.
Pemuda ini memang merasa sakit hati dan marah sekali.
Dia kini tidak merasa takut lagi.
Bukankah ada ayahnya dan ada Bouw-taijin beserta duapuluh lebih perajurit di belakangnya?
"Perempuan iblis, engkau akan tahu rasa nanti"""
"Wuuuttt...... tarrrr......!!"
Pecut itu sudah melayang dan tepat membelit kaki Ban Gu, kemudian sekali tarik tubuh Ban Gu terseret ke depan kaki gadis itu dalam keadaan berlutut! Ban Gu menjadi pucat dan dia berteriak-teriak.
"Tolooonggg......, ayah, toloonggg......!"
"Hemm, kalian ini dua orang pemuda brengsek, mengandalkan kedudukan orang tua untuk menghina wanita-wanita. Kalian sudah sepantasnya dihajar!"
Setelah berkata demikian, kembali ia menggerakkan cambuknya dua kali.
"Tarrrr!! Tarrr!!"
Dua orang itu menjerit dan tangan mereka mendekap pinggir kepala yang berdarah-darah karena daun telinga kanan mereka telah putus terpenggal ujung cambuk dan kini dua potong daun telinga itu menggeletak di atas tanah!
Keduanya lalu merangkak melarikan diri ke arah orang tua mereka.
"Perempuan jahat! Berani engkau menyiksa dan menghina putera kami? Kami adalah kepala daerah di Leng-ciu ini!"
"Keparat! Dan aku adalah kepala pasukan keamanan di Leng-ciu. Engkau telah berani menghina kami, berarti engkau sudah bosan hidup!"
Bentak pula Ban Ho Tung sambil mencabut pedangnya lalu dia memberi isyarat kepada duapuluh empat orang anak buahnya untuk menangkap atau mengeroyok gadis berpakaian putih itu.
Para perajurit yang sudah turun dari kuda masing-masing maju mengepung.
Gadis itu mengeluarkan suara melengking seperti suara burung dan tiba-tiba tangannya sudah melolos ikat pinggang, yang berupa sabuk sutera merah.
Ketika para perajurit menyerbu, ia bergerak bagaikan seekor burung cepatnya.
Tubuhnya melesat dan seolah lenyap, merupakan bayangan yang berkelebatan di antara gulungan sinar merah yang menyambar-nyambar.
Terdengarlah teriakan-teriakan mengaduh dan para perajurit itu roboh berpelantingan ketika mereka disambar sinar merah dari sabuk sutera merah yang digerakkan secara amat lihai itu.
Diam-diam Thian Liong yang keluar dan ikut nonton perkelahian itu merasa kagum sekali.
Tingkat kepandaian silat gadis ini, biarpun gerakannya aneh dan asing, namun dibandingkan tingkat ilmu silat yang dimiliki gadis maling berpakaian merah muda atau tingkat Ang Hwa Sian-li Thio Siang In, agaknya tidak kalah atau sukar ditentukan siapa yang paling lihai di antara mereka!
Setelah merobohkan duapuluh empat orang perajurit itu, Si Burung Hong Putih melihat betapa dua orang pembesar itu ketakutan dan hendak melarikan diri.
Akan tetapi ia melompat mengejar, dan sinar merah sabuk suteranya meluncur ke depan.
Tahu-tahu leher kedua orang itu telah terbelit ujung sabuk yang ternyata menjadi panjang sekali dan sekali tarik, dua orang itu roboh terguling-guling ke arah kakinya!
Dua orang itu bangkit berdiri dengan leher masih terbelit ujung sabuk merah.
Pembesar Bouw yang berwatak angkuh dan sombong, biarpun ketakutan setengah mati melihat puteranya terpotong daun telinga kanannya dan semua perajurit pengawalnya dihajar sampai berjatuhan, namun masih mencoba untuk menggertak gadis itu.
"Nona, engkau telah berdosa besar sekali! Pasukan kerajaan akan datang, menangkapmu sebagai seorang pemberontak yang jahat!"
"Srattt......!"
Gadis itu menggerakkan tangan kirinya dan ia telah mencabut sebatang pedang bengkok diukir gambar seekor naga, mengkilap saking tajamnya dan ukiran naga itu terbuat dari emas!
"Kalian ingin kupenggal leher kalian dengan ini?"
Ketika Bouw Ti dan Ban Ho Tung melihat pedang bengkok yang diukir gambar naga dari emas itu, seketika mata mereka terbelalak dan wajah mereka menjadi pucat, tubuh mereka gemetar dan kedua kaki menggigil.
Mereka lalu menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu, membentur-benturkan dahi di tanah sambil berkata dengan suara penuh ketakutan.
"Ampun beribu ampun, hamba sama sekali tidak tahu bahwa paduka yang mulia adalah......"
"Tidak perduli aku siapa! Apakah kalian berdua mengakui dosa-dosa kalian?"
Bentak gadis itu sambil mengancam dengan pedang bengkoknya dan melepaskan sabuk sutera merahnya dari leher mereka.
"Hamba...... hamba...... tidak tahu kesalahan dan dosa apakah yang telah hamba perbuat, yang mulia......"
Bouw Ti meratap dan melihat sikap dua orang pejabat itu yang berlutut lalu menyebut yang mulia kepada nona itu, Bouw Kui dan Ban Gu yang masih kesakitan terkejut dan ketakutan, lalu ikut berlutut mendekam di atas tanah, tidak berani bergerak, bahkan menahan napas agar tubuh mereka tidak membuat gerakan.
Demikian pula para perajurit pengawal, mereka juga ketakutan dan berlutut di atas tanah.
Ada pula di antara mereka yang sudah lama menjadi perajurit mengenal pedang bengkok dengan ukiran naga emas itu.
Itu adalah pedang tanda kekuasaan yang diberikan oleh Sribaginda Kaisar sendiri.
Pemegang pedang itu boleh menghukum dan membunuh pembesar mana saja tanpa lebih dulu minta ijin dari Kaisar!
"Hemm, orang she Bouw dan orang she Ban.
Kalian berdua adalah orang-orang pribumi yang dipercaya oleh Sribaginda, diberi kedudukan dan kekuasaan untuk mengatur rakyat di daerah kalian, menjaga keamanan dan mengusahakan kesejahteraan dan ketenteraman bagi rakyat.
Akan tetapi ternyata kalian menindas rakyat, bangsamu sendiri, dan membiarkan anak-anak kalian menjadi pemuda berandalan yang jahat dan kejam.
Dan sekarang kalian masih bertanya dosa apa yang kalian lakukan?
Hayo jawab!"
Dua orang pembesar itu menjadi semakin ketakutan.
"Hamba layak dihukum...... akan tetapi hamba mohon beribu ampun dan hamba berdua berjanji tidak akan melakukan penindasan lagi, akan melaksanakan tugas kewajiban hamba sebaik-baiknya."
"Hemm, benarkah itu? Kalian akan berusaha agar kehidupan rakyat di daerah ini menjadi sejahtera dan makmur? Kalian akan bertindak seadil-adilnya?"
"Hamba bersumpah!"
Dua orang pembesar itu menjawab dengan berbareng.
"Baik, sekarang disaksikan oleh semua orang yang melihat kejadian ini dari jauh itu,"
Ia menuding ke arah banyak orang yang berdiri di kejauhan.
"biarlah sekarang aku memberi hukuman ringan kepada kalian!"
Berkata demikian, secepat kilat sinar pedang berkelebat dan dua orang pembesar itu mengaduh dan memegangi tangan kiri mereka yang sudah kehilangan jari kelingking masing-masing, terbabat putus oleh pedang yang amat tajam itu.
"Sekarang hanya jari kelingking kiri kalian yang kuambil, lain kali kalau aku masih mendengar atau melihat kalian berlaku sewenang-wenang kepada rakyat, kalian akan kutangkap dan kuseret ke pengadilan kota raja, atau kalau aku tidak sabar, akan kupenggal leher kalian di sini juga!"
"Ampunkan hamba""!"
Dua orang itu menyembah-nyembah.
Dua orang putera mereka juga menyembah-nyembah ketakutan.
Gadis itu menyarungkan lagi pedangnya dan melibatkan sabuk sutera merah di pinggangnya, lalu menghampiri kudanya, melompat ke punggung kuda dan menjalankan kudanya meninggalkan tempat itu.
Ketika ia melewati orang-orang yang berkerumun nonton dari kejauhan, ada yang berseru.
"Hidup Pek Hong Nio-cu".!"
Serentak semua mulut, seperti dikomando, berseru.
"Hidup Pek Hong Nio-cu""!!"
Akan tetapi, gadis itu hanya tersenyum dan membedal kudanya meninggalkan kota Leng-ciu.
Ia tidak tahu bahwa ada bayangan orang berkelebat dan mengikutinya keluar dari pintu gerbang kota sebelah utara.
Yang dijuluki Pek Hong Nio-cu itu sebetulnya adalah seorang puteri kaisar yang lahir dari seorang selir kaisar yang cantik.
Selir ini adalah seorang pribumi (bangsa China aseli yang menyebut dirinya bangsa Han).
Biarpun ia hanya puteri seorang selir, namun karena selir itu menjadi kesayangan kaisar Dinasti Kin, maka tentu saja anak perempuan ini juga amat disayang dan dimanja kaisar.
Ia diberi nama Moguhai dan sejak kecil ia memiliki watak yang begal dan lincah seperti seorang anak laki-laki.
Dalam usia lima tahun saja, ia sudah berani menunggang kuda dan membalapnya, berlumba dengan para putera bangsawan, bahkan yang usianya lebih tua dari padanya.
Ia suka pula bermain panah-panahan sehingga sejak kecil dapat melepaskan anak panah dengan jitu.
Ketika para putera bangsawan yang sudah berusia sepuluh tahun ke atas mulai berlatih ilmu silat, Puteri Moguhai yang berusia enam tahun juga tidak mau ketinggalan, ikut-ikutan berlatih ilmu silat.
Tentu saja guru silatnya tidak berani melarang karena ia puteri kaisar, pula ketika guru-guru silat melihat betapa bocah perempuan ini memiliki bakat yang luar biasa, mereka bahkan bersemangat untuk mengajarkan ilmu silat kepadanya.
Maka tidak mengherankan apabila Puteri Moguhai memperoleh kemajuan pesat dan setelah berusia sepuluh tahun, dalam latihan, ia dapat mengalahkan murid-murid pria yang usianya lebih beberapa tahun dari padanya!
Para gurunya tentu saja menjadi girang dan bangga dan mereka seolah berlumba untuk menurunkan ilmu-ilmu simpanan mereka kepada sang puteri, bukan hanya karena senang mempunyai murid demikian cerdiknya, melainkan tentu saja ada pamrih untuk menyenangkan hati sang kaisar!
Ketika Puteri Moguhai berusia sepuluh tahun, pada suatu hari, ketika itu senja telah tiba, ia berjalan-jalan ke dalam taman istana yang luas.
Cuaca remang-remang, akan tetapi ia masih dapat menikmati bunga-bunga yang bermekaran karena waktu itu musim semi telah tiba.
Ketika ia mendekati sebuah pondok yang berada di tengah taman itu, pondok kecil tempat peristirahatan keluarga kaisar, ia dari jauh melihat ibunya memasuki pondok itu bersama seorang laki-laki.
Jelas tampak olehnya bahwa laki-laki itu bukan kaisar, bukan ayahnya!
Puteri Moguhai baru berusia sepuluh tahun dan belum dapat menduga apa-apa yang melanggar susila.
Ia hanya merasa heran sekali, akan tetapi tidak berani mendekati pondok, hanya merunduk-runduk lebih dekat lalu bersembunyi di balik semak-semak di samping pondok untuk mengintai ke arah pintu dengan maksud agar dapat melihat siapa laki-laki itu, kalau nanti keluar dari pondok.
Di atas pondok itu tergantung sebuah lampu sehingga ia akan dapat melihat wajah laki-laki itu nanti.
Ia mendekam di situ, hati-hati sekali tidak berani banyak bergerak, bahkan ketika ada nyamuk menggigitnya, ia hanya mengusir nyamuk itu, tidak berani menamparnya.
Sementara itu, yang memasuki pondok itu memang Ibu Puteri Moguhai yang dulu adalah seorang wanita pribumi bernama Tan Siang Lin.
Kini ia adalah seorang selir terkasih dari Kaisar Kin.
Usianya sekitar duapuluh delapan tahun namun masih tampak cantik jelita dan gerak-geriknya lembut, seperti seorang gadis muda.
Selir kaisar itu memasuki pondok yang diterangi lampu gantung itu bersama seorang pria.
Laki-laki itu berpakaian sederhana, tubuhnya sedang namun tegap, wajahnya bersih, tampan dan senyumnya menawan, sikapnya juga lembut dan sinar matanya mencorong.
Begitu memasuki pondok dan daun pintunya ditutup, selir kaisar itu lalu mengeluh.
"Sie-koko (Kanda Sie)""!"
Dan ia sudah menubruk hendak merangkul pria itu. Akan tetapi pria itu menyambut dengan memegang dan menahan kedua pundak wanita itu, lalu berkata dengan suara halus namun penuh wibawa.
"Tidak, Lin-moi. Jangan lakukan itu. Ingat, engkau adalah isteri seorang pria bahkan seorang kaisar! Aku tidak ingin melihat engkau menjadi seorang isteri yang melakukan hal tidak pantas dan mengkhianati suami. Mari, duduklah, kita bicara baik-baik dan pantas."
Dia mendorong wanita itu duduk di atas buah kursi, sedangkan dia duduk di kursi depan wanita itu.
Tan Siang Lin atau yang kini menjadi selir kaisar itu menggigit bibir dan mengusap beberapa butir air mata yang menetes di atas kedua pipinya.
"Akan tetapi, Sie-ko, aku...... aku rindu padamu...... apakah engkau tidak cinta lagi padaku, koko?"
Dalam suara itu terkandung kesedihan yang ditahan-tahan. Laki-laki itu menghela napas panjang.
"Lin-moi, justeru karena aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, maka aku tidak ingin melihat engkau menyimpang dari kebenaran. Aku ingin melihat engkau bahagia sebagai seorang isteri kaisar yang dimuliakan, dihormati, dan bersih dari pada noda."
"Lalu, kenapa engkau datang berkunjung ke taman ini, koko? Pada hal kunjunganmu ini berbahaya sekali, kalau sampai ketahuan, pasti nyawamu taruh-annya. Apa maksudmu berkunjung ini, kalau bukan karena""
Rindu padaku seperti juga aku merindukanmu?"
Laki-laki itu tersenyum.
"Aku hanya ingin menyaksikan sendiri bahwa engkau hidup bahagia di sini, Lin-moi. Aku mendengar dan kini melihat sendiri bahwa engkau menjadi seorang selir yang dikasihi kaisar, dihormati dan dimuliakan orang, walaupun engkau seorang pribumi Han. Juga aku mendengar tentang...... siapa lagi nama anak itu""?"
"Puteri Moguhai"""
"Ya, nama yang indah, walaupun agak asing terdengarnya. Aku mendengar pula tentang anak itu. Kabarnya ia cerdik sekali dan berbakat baik dalam ilmu silat. Karena itu, kedatanganku ini untuk menyerahkan kitab-kitab ini kepadamu. Kelak, setelah anak itu berusia empatbelas tahun dan sudah memiliki dasar ilmu silat yang baik, kau berikan kitabkitab ini dan suruh ia melatih sendiri. Sudah kuberi petunjuk-petunjuk jelas dalam kitab-kitab ini. Hanya ini yang dapat kuberikan kepadanya, Lin-moi, dan ini, suruh ia kelak selalu memakai ini dan semoga Tuhan selalu melindunginya."
Selir kaisar itu menerima tiga buah kitab dan sebuah perhiasan rambut berbentuk burung Hong dari perak dengan mata mirah. Ia menerimanya dengan terharu sekali.
"Sekarang aku harus pergi, Lin-moi. Hati-hatilah engkau menjaga diri dan hati-hati pula mendidik dan menjaga puterimu."
Pria itu bangkit berdiri dan hendak melangkah ke pintu.
"Nanti dulu, koko. Masih ada satu hal yang ingin kuceritakan padamu...... ini...... merupakan rahasia pribadiku...... dan hanya engkau saja yang boleh mendengarnya."
Pria itu duduk kembali dan menatap wajah Tan Siang Lin dengan sinar mata mencorong.
"Apakah itu, Lin-moi?"
"Ketika aku melahirkan...... sebetulnya anakku itu terlahir kembar, keduanya perempuan......"
Pria itu membelalakkan kedua matanya.
"Kembar? Dan...... yang seorang lagi""?"
"Ketika aku melahirkan, yang membantu adalah seorang wanita tua yang menjadi bidan, dan ditemani seorang sahabat baikku. Ia seorang janda pangeran, suaminya sudah mati dan ia tidak mau menikah lagi, pada hal ia masih muda, sebaya dengan aku. Kami menjadi sahabat yang akrab sekali, bahkan telah bersumpah mengangkat saudara. Ia seorang puteri kepala suku bangsa Uigur, namanya Miyana. Ketika melihat aku melahirkan bayi perempuan kembar, Miyana menangis dan mengatakan kepadaku bahwa kaisar adalah seorang yang percaya bahwa anak kembar wanita akan membawa malapetaka maka besar kemungkinan anak kembarku akan dibunuh! Maka, atas usul Miyana, anak yang satunya lagi ia selundupkan keluar dari kamarku sehingga aku dianggap melahirkan seorang anak perempuan saja, yaitu Moguhai itulah. Bidan tua itupun dipesan menyimpan rahasia, akan tetapi beberapa hari kemudian ia mati karena sakit mendadak. Aku menduga bahwa itu perbuatan Miyana yang takut kalau-kalau bidan itu membuka rahasia."
Pria itu mengangguk-angguk.
"Hemm, lalu...... anak yang satunya lagi itu?"
"Tak lama kemudian Miyana yang sudah janda, pulang kepada orang tuanya, kepada ayahnya yang menjadi kepala suku Uigur. Tentu saja anak itu diam-diam dibawanya dan sampai sekarang aku tidak pernah lagi, mendengar tentang ia dan anak itu. Nah, itu, koko, dan hanya engkau seorang yang mengetahui."
Pria itu menghela napas panjang.
"Aih, sungguh nasib mempermainkan keturunan kita, Lin-moi. Inikah hukuman akibat dosa kita herdua? Nah, terima kasih atas semua ceritamu, Lin-moi dan jangan lupa berikan kitab-kitab itu kepada Moguhai. Sekarang aku pergi."
Pria itu melangkah keluar, diikuti oleh selir kaisar itu.
Moguhai yang mengintai di luar melihat mereka keluar dan ia menatap wajah pria itu dengan penuh perhatian.
Ia melihat mereka berdiri berhadapan di luar pintu, lalu pria itu memegang pundak ibunya dan berkata dengan suara lirih.
"Nah, selamat tinggal, Lin-moi, semoga engkau hidup berbahagia. Selamat tinggal!"
"Selamat jalan, Sie-koko...... jaga dirimu baik-baik!"
Kata ibunya dengan suara mengandung isak.
Tiba-tiba pria itu mengerakkan kedua kakinya, sekali berkelebat dia telah lenyap dari situ.
Moguhai terbelalak!
Setankah yang dilihatnya tadi?
Kalau manusia, mana mungkin menghilang begitu saja?
Ibunya bergaul dengan setan yang disebutnya Sie-koko?
Saking tidak dapat menahan keheranannya, gadis cilik itu lalu lari menghampri ibunya.
"Ibu""!"
"Eh, engkau Moguhai? Dari mana engkau......?"
Ibunya bertanya kaget, sama sekali tidak mengira anaknya muncul begitu tiba-tiba. Jangan-jangan anak itu telah melihat......
"Ibu, apakah ibu mempunyai sahabat setan?"
"Ehh? Setan......?"
"Aku tadi melihat ibu dengan seorang laki-laki yang ibu sebut Sie-koko, akan tetapi dia menghilang seperti setan!"
Siang Lin segera merangkul anaknya dan diajaknya masuk ke dalam pondok itu. Dia memeluk dan berkata dengan nada suara serius.
"Anakku, dia itu bukan setan, melainkan seorang pendekar yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Dia seorang sakti, Moguhai dan dia...... dia itu dahulu menjadi sahabat baik ibumu. Lihat, dia meninggalkan kitab-kitab dan perhiasan rambut ini untukmu. Kalau kelak engkau mempelajari tiga buah kitab ini, berarti dia itu juga gurumu, Moguhai. Akan tetapi ingat, anakku, jangan katakan tentang dia itu kepada siapapun juga. Kalau sampai diketahui Kaisar, ibumu ini tentu akan dihukum mati, dan mungkin engkau juga tidak akan terluput dari hukuman."
"Akan tetapi kenapa, ibu? Ayahanda Kaisar tentu tidak akan marah mendengar aku mendapatkan seorang guru yang sakti."
"Engkau tidak mengerti, anakku. Dia itu seorang pendekar bangsa Han, tentu ayahmu akan menaruh curiga dan mengira dia itu mata-mata dari kerajaan Sung yang akan menyelidiki istana. Karena itu, demi keselamatan kita sendiri, jangan katakan kepada siapapun juga. Engkau berjanji?"
Moguhai mengangguk-angguk.
"Baik, ibu."
Demikianlah, Moguhai hanya tahu dari ibunya bahwa laki-laki, yang memberi kitab kepadanya itu adalah "Paman Sie"
Dan ia tidak pernah bertemu lagi dengannya.
Tiga kitab itu merupakan kitab-kitab pelajaran ilmu silat yang ampuh dan tinggi.
Yang pertama mengajarkan cara berlatih untuk menghimpun sin-kang (tenaga sakti) sehingga ia selain memiliki tenaga dalam yang hebat, juga dapat mengerahkan tenaga sakti, untuk membuat dirinya ringan dan dapat bergerak cepat seperti terbang.
Kitab kedua berisi pelajaran ilmu silat yang menggunakan senjata sabuk dan ilmu ini dilatih Moguhai dengan sehelai sabuk sutera panjang merah.
Adapun kitab ketiga berisi pelajaran ilmu pedang yang aneh akan tetapi hebat sekali.
Itulah ilmu pedang Sin-coa-kiamsut (Ilmu Pedang Ular Sakti) yang dimainkan dengan pedang bengkoknya, pedang khas bangsa Kin sehingga kini, setelah berusia sembilanbelas tahun, Moguhai menjadi seorang gadis yang lihai bukan main sehingga ia mendapat julukan Pek Hong Nio-cu atau Nona Burung Hong Putih karena perhiasan rambutnya juga berupa burung Hong perak bermata mirah!
Pek Hong Nio-cu atau Puteri Moguhai meninggalkan kota Leng-ciu menunggang kudanya.
Biarpun ia puteri Kaisar, namun ia berjiwa pendekar.
Hal ini berkat ibunya yang sering menceritakan tentang sepak terjang para pendekar persilatan yang selalu berjuang untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, selalu menentang kejahatan, melawan para penindas dan membela rakyat kecil yang tertindas.
Karena itulah, ia seringkali meninggalkan istana dan merantau ke daerah-daerah.
Setiap bertemu kejahatan, ia pasti menantang yang jahat dan memberi hajaran keras.
Banyak pembesar yang korup menerima hajaran keras darinya dan banyak gerombolan penjahat dibasminya.
Kaisar yang mendengar akan sepak terjang puterinya ini, merasa kagum dan bangga, maka lalu menghadiahkan pedang bengkok berukir naga emas yang menjadi tanda kuasaan besar.
Semua pembesar maklum bahwa pemilik pedang naga emas itu berkuasa seperti kaisar sendiri, boleh menghukum atau membunuh siapa saja tanpa ijin kaisar!
Ketika Pek Hong Nio-cu menjalankan kudanya dengan santai keluar kota Leng-ciu, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dari belakangnya dan tahu-tahu di tengah jalan berdiri seorang pemuda.
Jalan itu sepi, tidak ada orang lain kecuali mereka berdua.
Pemuda itu berdiri tegak di tengah jalan, jelas menghadang perjalanan kudanya.
Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnya.
Ia memperhatikan seorang pemuda biasa saja, menggendong buntalan seperti orang-orang yang melakukan perjalanan jauh, pakaiannya sederhana dan wajah pemuda itupun biasa saja walaupun dapat dibilang tampan namun tidak ada yang terlalu menonjol atau mencolok.
Seorang pemuda dusun biasa!
"Hei, minggir kamu!
Apa tidak melihat kudaku hendak lewat?
Apa ingin tertubruk kuda!"
Tegurnya. Pemuda itu adalah Thian Liong. Dengan tenang dia lalu mengangkat kedua tangannya ke depan dada sambil membungkuk sedikit sebagai penghormatan.
"Maafkan aku, Pek Hong Nio-cu......"
"Eh! Dari mana engkau mengenal nama julukanku?"
Pek Hong Nio-cu menegur, agak kesal karena perjalanannya terganggu.
"Aku mendengar dari orang-orang yang menyaksikan engkau menghajar orang pembesar brengsek di kota Leng-ciu tadi! Sungguh hebat sekali perbuatanmu tadi, nona. Aku merasa kagum sekali kepadamu!"
"Hemm, aku tidak butuh pujianmu!"
Bentak Pek Hong Nio-cu karena sudah sering ia mendengar laki-laki memujinya yang sebetulnya hanya merupakan rayuan untuk menyenangkan hatinya.
Ia sudah mendapatkan kenyataan bahwa semua adalah perayu-perayu gombal kalau sudah berhadapan dengan wanita cantik!
"Aku tidak memuji kosong, nona, melainkan bicara sebenarnya!"
"Sudahlah, aku tidak mau mendengar ocehanmu. Apa maksudmu menghadang perjalananku? Minggir, atau kutabrak engkau!"
"Maaf, Pek Hong Nio-cu. Tadi, ketika melihat engkau beraksi, aku mengira bahwa engkau adalah seorang gadis yang pernah kukenal, gadis yang mencuri pusakaku."
"Tikus busuk!"
Pek Hong Nio-cu yang pada dasarnya berwatak keras dan galak itu sudah melompat turun dari punggung kudanya.
Agar kuda itu tidak melarikan diri, ia mengikatkan kendali kuda pada sebatang pohon di tepi jalan dan cepat ia kini berdiri menghadapi Thian Liong dengan sikap menantang.
"Kurang ajar, berani engkau mengira aku sebagai pencuri?"
Thian Liong kini memandang dengan mata terbelalak.
Bukan, gadis ini bukanlah gadis berpakaian merah, pencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat milik Kun-lun-pai itu.
Hanya bentuk tubuhnya saja yang sama, juga sama-sama cantik jelita.
Setelah Pek Hong Nio-cu turun dari kuda dan Thian Liong memandang wajahnya dengan penuh perhatian, dia terbelalak.
Wajah yang bulat itu, pandang mata tajam dan senyum mengejek itu, dan terutama tahi lalat di ujung bibir kanan itu!
Tak salah lagi!
Siapa, lagi kalau bukan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In?
Memang benar, Ang Hwa Sian-li berpakaian serba hijau, akan tetapi pakaian mudah saja diganti, dari yang berwarna hijau kini menjadi yang berwarna putih.
Tahi lalat itu, tak salah lagi!
Thian Liong tertawa dan melangkah maju lalu menudingkan telunjuknya ke arah hidung gadis itu.
"Hei! Bukankah engkau Thio Siang In?"
"Ngawur! Siapa itu Thio Siang In?"
Pek Hong Nio-cu membentak kehilangan kesabaran karena menganggap pemuda itu main-main.
"Aih, In-moi (adik In), masa engkau sudah lupa kepadaku? Atau pura-pura lupa? Aku Souw Thian Liong! Jangan marah kepadaku dan lupakanlah hal yang lalu. Kitab itu sudah kukembalikan yang berhak, yaitu Siauw-lim-pai yang menjadi pemilik sah. Maafkan kalau dulu aku tidak dapat meminjamkannya kepadamu, In-moi."
"Ngaco! jangan kira engkau dapat main-main dan kurang ajar kepadaku. Sambut ini!"
Bentak Pek Hong Nio-cu ia sudah menerjang dengan pukulan kilat ke arah ulu hati Thian Liong. Melihat pukulan yang cepat dan kuat sekali itu, Thian Liong cepat mengelak mundur.
"In-moi, aku tidak main-main, dan aku tidak ingin berkelahi denganmu."
Akan tetapi Pek Hong Nio-cu, malah menyerang semakin ganas dan gencar.
Serangan-serangan gadis itu sungguh tak boleh dipandang ringan karena pukulannya mengandung tenaga sakti yang amat kuat.
Thian Liong menjadi terkejut dan timbul kegembiraannya untuk menguji kembali kepandaian gadis ini yang dulu pernah dia kalahkan.
Siapa tahu Siang In sudah mempelajari ilmu-ilmu baru yang lebih lihai.
Maka dia cepat mengelak dan membalas serangan lawan dengan tamparan-tamparannya yang kuat.
Pek Hong Nio-cu yang kini merasa terkejut dan heran.
Pemuda yang disangkanya pemuda dusun biasa itu ternyata bukan main.
Tidak saja dapat menghindarkan serangannya yang cepat dan bertubi, bahkan mampu membalas dengan tamparan yang mengandung tenaga sakti yang kuat.
Pek Hong Nio-cu menjadi penasaran sekali lalu mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya dan menyerang dengan dorongan telapak tangannya.
Thian Liong ingin mengukur tenaga gadis itu maka diapun menyambut dengan tangkisan sambil mengerahkan sinkangnya pula.
"Wuuuttt...... dukkk!"
Tubuh Pek Hong Nio-cu terdorong ke belakang sampai lima langkah!
Ia terbelalak dan menjadi marah karena melihat pemuda itu hanya mundur selangkah saja.
Dalam adu tenaga sakti ini jelas bahwa ia kalah kuat.
"Srettt......!!"
Tampak gulungan sinar merah berkelebat dan setelah sinar itu bergulung-gulung, lalu sinar itu mencuat dan menyambar ke arah kepala Thian Liong.
Itulah senjata sabuk merah yang telah diloloskan Pek Hong Nio-cu dari pinggangnya.
"Hyaattt""!"
Sinar merah itu menyambar cepat sekali, akan tetapi Thian Liong yang maklum akan berbahayanya senjata sabuk sutera merah itu, sudah cepat merendahkan dirinya sehingga sabuk itu lewat di atas kepalanya.
Begitu sinar itu lewat di atas kepala, tangan Thian Liong menyambar dan ujung sabuk sudah dapat dipegangnya!
Pek Hong Nio-cu terkejut.
Ia mencoba untuk menarik sabuknya, namun tetap saja ujung sabuk berada di tangan Thian Liong, tak dapat terlepas dari pegangannya.
Pek Hong Nio-cu marah sekali cepat ia maju dan mengirim tendangan berantai ke arah tubuh Thian Liong.
Pemuda ini menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk menangkis tendangan-tendangan itu sehingga gadis itu merasa kakinya nyeri bertemu dengan tangan Thian Liong.
Ia membetot sekuat tenaga.
Thian Liong khawatir kalau-kalau sabuk sutera merah itu putus.
Dia tidak mau merusak senjata lawan, maka tiba-tiba dia melepaskan pegangannya dan otomatis tubuh Pek Hong Nio-cu terjengkang ke belakang.
Thian Liong terkejut karena gadis itu tentu akan terbanting jatuh.
Akan tetapi ternyata tidak.
Tubuh yang padat langsing itu membuat pok-sai (jungkir balik) ke belakang sampai lima kali dengan indahnya dan tidak terbanting sama sekali, dan kembali berdiri dengan tegak, bahkan sabuk sutera itu telah dilibatkan kembali ke pinggangnya.
Agaknya sambil berjungkir balik tadi ia masih sempat menyimpan kembali sabuknya.
"Hebat!"
Thian Liong memuji kagum.
Gadis itu memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang bagus.
Akan tetapi yang dia puji malah semakin marah.
Pek Hong Nio-cu menganggap pujian Thian Liong itu sebagai ejekan dan kini begitu tangan kanannya bergerak, ia sudah mengeluarkan pedang bengkoknya yang mengeluarkan cahaya berkilauan saking tajamnya!
"Manusia sombong!"
Bentak gadis itu, kemarahannya memuncak karena dua kali ia telah kalah, pertama dalam ilmu silat tangan kosong, bahkan kedua kalinya, ia yang bersenjatakan sabuk sutera merah tidak mampu mengalahkan pemuda yang bertangan kosong itu.
"Kalau memang engkau gagah, cabut pedangmu dan lawan pedangku ini!"
Thian Liong mulai menyesal mengapa dia jadi menimbulkan permusuhan yang berlarut-larut dengan gadis yang galak, lihai dan jelas berjiwa pendekar yang tadi menentang pembesar-pembesar jahat sewenang-wenang itu.
Dan diapun mulai curiga.
Dia sama sekali tidak merasa salah lihat.
Gadis ini jelas Thio Siang In yang berjuluk Ang Hwa Sian-li yang rambutnya dihias mawar merah dan pakaiannya serba hijau.
Akan tetapi selain tanda-tanda itu, juga Ang Hwa Sian-li bersenjata sepasang pedang.
Akan tetapi gadis ini, yang wajahnya serupa benar, pakaiannya serba putih, bersenjata sabuk sutera merah, dan pedangnya bukan sepasang pedang melainkan sebatang pedang bengkok!
Selain itu, ketika tadi bertanding, dia melihat ilmu silat mereka juga sama sekali berbeda.
Ilmu silat yang dimainkan Thio Siang itu memiliki dasar ilmu silat dari daerah barat, bahkan ganas dan keji seperti yang biasa dipergunakan orang-orang golongan sesat.
Akan tetapi sebaliknya ilmu silat yang dimainkan Pek Hong Nio-cu ini memiliki dasar yang bersih.
Ternyata ilmu silat antara kedua orang gadis itu sama sekali berbeda, walaupun tingkatnya kira-kira hampir sama.
Setelah mempertimbangkan semua ini, dia lalu menjura dengan hormat.
"Maafkan aku, nona, kalau aku telah salah mengenal orang. Biarpun nona serupa benar, bahkan persis, seorang gadis bernama Thio Siang In yang berjuluk Ang Hwa Sian-li, namun senjata dan ilmu silat nona sama sekali berlainan. Karena itu aku mulai yakin bahwa aku telah salah mengenal orang. Karena itu, harap engkau suka maafkan aku karena aku tidak bermaksud buruk terhadap dirimu."
Pek Hong Nio-cu memandang dengan sinar mata mencorong.
Mulutnya merengut dan kembali jantung Thian Liong berdebar.
Kalau cemberut marah seperti itu, sungguh persis sekali gadis ini dengan Thio Siang In.
Ang Hwa Sian-li, Thio Siang In dulu juga cemberut seperti ini ketika dia marah kepadanya!
"Engkau sudah memamerkan kepandaian mengalahkan aku dua kali dan masih bilang tidak berniat buruk terhadap aku?
Hayo cabut pedangmu dan jangan kepalang kalau hendak mengujiku.
Sebelum engkau dapat mengalahkan pedangku ini, aku masih belum mengaku kalah!"
"Nona, sungguh aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Aku Souw Thian Liong mengaku bersalah dan mohon maaf,"
Kembali pemuda itu berkata.
"Hemm, aku tahu, engkau tentu Si Naga Langit yang selama ini disohorkan orang maka engkau menjadi begini sombong! Kalau engkau tidak mau mencabut pedangmu, terpaksa aku akan menyerangmu juga! Lihat pedang!"
Pek Hong Nio-cu sudah menerjang dengan pedang bengkoknya dan begitu menyerang, ia sudah mengeluarkan jurus yang lihai dari ilmu pedang Sin-coa Kiamsut, yaitu jurus Sin-coa-jut-thong (Ular Sakti Keluar Guha) dan pedangnya berubah menjadi sinar terang meluncur ke arah dada Thian Liong!
Thian Liong terkejut.
Tadi, serangan tangan kosong dan sabuk sutera merah gadis itu baginya masih belum merupakan serangan terlalu berbahaya.
Akan tetapi serangan pedang bengkok ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Maka, dia cepat melompat ke belakang sambil mencabut Thian-liong-kiam.
Melihat pemuda itu sudah mencabut pedangnya, Pek Hong Nio-cu menyerang lagi, lebih ganas dari pada tadi.
Pedangnya membuat gerakan seperti seekor ular dan tahu-tahu pedang itu "mematuk"
Dari samping.
Serangannya tak terduga-duga dan gerakannya selain cepat juga aneh.
Beberapa kali Thian Liong mengandalkan gin-kang untuk mengelak dan berlompatan ke sana-sini.
Akan tetapi bayangan tubuhnya dikejar terus oleh gulungan sinar mengkilat pedang bengkok itu.
Ketika pedang bengkok itu menyambar ke arah lehernya dengan bacokan dari samping, terpaksa Thian Liong menangkis dengan pedangnya.
"Tranggggg""!"
Bunga api berpijar terang ketika dua batang pedang bertemu.
Thian-liong-kiam adalah sebatang pusaka ampuh, akan tetapi ternyata pedang bengkok pemberian kaisar itupun ampuh sekali sehingga tidak menjadi rusak.
Akan tetapi Pek Hong Nio-cu merasa betapa tangannya yang memegang pedang gemetar dan terguncang hebat.
Kembali ia terkejut dan diam-diam ia harus mengakui bahwa lawannya yang berjuluk Si Naga Langit itu benar-benar lihai sekali.
Akan tetapi dasar ia seorang gadis yang keras kepala, ia tidak mau mengaku kalah dan menyerang terus dengan mengeluarkan semua kemampuannya.
Thian Liong mengimbangi permainan pedang gadis itu.
Dia mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang gadis itu benar-benar merupakan ilmu pedang tingkat tinggi yang hebat sekali.
Hanya sayang, agaknya gadis ini belum menguasai benar ilmu pedang itu, belum matang permainannya.
Andaikata gadis itu sudah menguasai sepenuhnya, Thian Liong maklum bahwa pedangnya itu akan merupakan bahaya besar bagi lawannya.
Memang sesungguhnya demikian.
Pek Hong Nio-cu atau yang nama aselinya Puteri Moguhai ini menerima ilmu pedang itu dari "pamannya", yaitu yang oleh ibunya disebut sahabat she Sie, yang memberikan tiga kitab ilmu silat kepadanya, juga hiasan rambut burung Hong Perak.
Sayang ia hendak menyembunyikan ilmu pemberian "Paman Sie"
Itu dari orang lain, terpaksa melatihnya sendiri secara diam-diam, tidak di bawah pimpinan seorang ahli sehingga ia tidak dapat menguasai ilmu itu sepenuhnya.
Thian Liong mengimbangi permainan pedang gadis itu.
Dia tidak ingin membuat gadis itu sakit hati, tidak mau mengalahkan secara mutlak, apa lagi melukainya.
Maka setelah bertanding ramai selama tigapuluh jurus, tiba-tiba Thian Liong mengerahkan sin-kangnya, membuat pedang lawan melekat pada pedangnya.
Pek Hong Nio-cu terkejut dan mencoba membetot lepas pedangnya, namun tanpa hasil, dan tiba-tiba Thian Liong membentak.
"Lepas!"
Dia menggerakkan pedangnya dengan sentakan dan Pek Hong Nio-cu tidak dapat mempertahankan pedangnya lagi.
Pedang itu seperti direnggut lepas dari tangannya, lalu melayang ke atas.
Akan tetapi Thian Liong sengaja melompat ke belakang sehingga ketika pedang meluncur turun, Pek Hong Nio-cu dapat menangkapnya dengan tangan kanannya.
Wajahnya berubah merah sekali dan ia menyimpan lagi pedangnya di sarung pedangnya.
Thian Liong cepat menghampiri dan dia menjura dengan kedua tangan dirangkap di depan dada dan membungkuk hormat.
"Harap engkau suka maafkan aku, nona. Sesungguhnya aku tidak bermaksud untuk bertanding denganmu dan aku tadi tidak berbohong ketika mengatakan bahwa engkau sungguh serupa benar dengan seorang pendekar wanita bernama Thio Siang In yang berjuluk Ang Hwa Sian-li, karena itu, maafkan kesalahanku mengenal orang, nona."
Sikap yang sopan dari Thian Liong sedikitnya menurunkan kadar kemarahan dan rasa penasaran di hati Pek Hong Nio-cu.
Ia memandang pemuda itu dengan penuh perhatian, diam-diam merasa kagum karena pemuda itu benar-benar telah mengalahkannya.
Begitu sederhana dan rendah hati, akan tetapi sesungguhnya memiliki ilmu silat yang amat tinggi.
"Hemm, engkau tentu hendak mengatakan bahwa ilmu kepandaian gadis pendekar sahabatmu itu jauh lebih tinggi daripada kepandaianku, bukan?"
Kata Pek Hong Nio-cu dengan suara mengandung kepahitan.
"Ah, tidak sama sekali, nona! Tingkat kepandaian kalian berimbang, bahkan, aku mau berterus terang, kalau ilmu pedangmu tadi sudah kaukuasai sepenuhnya dan kaulatih dengan sempurna, jangankan Ang Hwa Sian-li, bahkan aku sendiri belum tentu dapat menang melawanmu."
Pek Hong Nio-cu mulai tertarik, selama beberapa bulan ini ia sudah mendengar akan ketenaran nama Si Naga Langit yang disohorkan sebagai seorang pendekar yang selalu menentang kejahatan.
Akan tetapi biasanya, begitu yang ia dengar, para pendekar itu selain menjadi pembela kebenaran dan keadilan, juga bersikap memusuhi pemerintahan Kerajaan Kin.
Sebagai seorang yang berjiwa pendekar, Pek Hong Nio-cu tentu saja merasa cocok dengan sepak terjang para pendekar itu yang selalu menentang kejahatan.
Akan tetapi sebagai seorang puteri Kaisar Kerajaan Kin, sebagai bangsa Nuchen yang mendirikan wangsa Kin, tentu saja ia merasa tidak senang kalau para pendekar menentang dan memusuhi pemerintah bangsanya!
Memang, iapun tahu bahwa ibunya adalah seorang pribumi, seorang wanita berbangsa Han, akan tetapi ayahnya adalah Kaisar berbangsa Nuchen, Kaisar Kerajaan Kin!
"Souw Thian Liong, benarkah engkau yang disohorkan orang dengan sebutan Si Naga Langit?"
Pek Nio-cu bertanya sambil menatap tajam wajah pemuda itu.
Wajah Thian Liong berubah kemerahan.
Dia merasa rikuh juga dengan namanya yang disohorkan orang itu.
Semua sepak terjangnya hanya didorong sebagai kewajibannya semata, sama sekali bukan untuk mencari ketenaran nama.
"Yah, begitulah orang-orang menyebut saya, padahal itu adalah nama aseli saya,"
Katanya malu-malu.
"Jadi engkau seorang pendekar yang malang melintang di dunia kang-ouw, menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan?"
"Akan kuusahakan semampuku untuk membela kebenaran dan keadilan yang sudah menjadi kewajibanku, Pek Hong Nio-cu. Memang untuk itulah aku dengan susah payah mempelajari ilmu silat."
"Dan sebagai seorang Han, engkau berkewajiban pula untuk menentang dan memusuhi pemerintah Kerajaan Kin?"
Gadis itu mendesakkan pertanyaan ini. Akan tetapi Pek Hong Nio-cu memandang heran ketika pemuda itu menggeleng kepalanya lalu menghela napas.
"Kerajaan Sung Utara telah kalah dan kekalahan itu harus diakui. Urusan negara diselesaikan oleh negara melalui perang. Apa artinya bagi perorangan untuk melawan balatentara negara? Tidak, Pek Hong Nio-cu, aku tidak mencampuri urusan negara. Mungkin kalau negaraku berperang, bisa saja aku membantu dan menjadi perajurit. Akan tetapi di luar itu, aku tidak mencampuri. Aku menentang bangsa apa saja yang bertindak sewenang-wenang dan jahat. Biar bangsaku sendiri, kalau dia melakukan kejahatan tentu akan kutentang dan biar bangsa apapun kalau dia berada di pihak benar dan tertindas, akan kubela. Aku setuju sekali dengan tindakanmu di kota Leng-ciu tadi, Pek Hong Nio-cu."
"Tindakan yang mana?"
Tanya gadis itu, semakin tertarik.
"Engkau telah membela seorang gadis pribumi dengan keluarganya ketika diganggu pemuda-pemuda putera pembesar, bahkan menghajar para pengawal mereka, kemudian engkau memberi hajaran keras kepada dua orang pembesar Kerajaan Kin. Tindakanmu itu membuktikan bahwa engkau berjiwa pendekar dan bertindak membela kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu sehingga para pembesarmu sendiri, kalau-kalau mereka bersalah, kauhukum berat! Karena itulah aku merasa kagum sekali kepadamu, Pek Hong Nio-cu."
Pek Hong Nio-cu mengerutkan alisnya.
"Pembesarku? Apa maksudmu dengan kata itu, Souw Thian Liong?" 'Thian Liong tersenyum.
"Engkau tidak perlu bersembunyi lagi, Pek Hong Nio-cu. Aku sekarang dapat menduga siapa engkau sebenarnya."
"Hemm, begitukah? Coba katakan, siapa aku?"
Kata gadis itu dengan kepala ditegakkan, anggun menantang.
"Engkau tentu seorang puteri bangsawan yang berkedudukan tinggi sekali, dan kalau aku tidak keliru menduga, engkau tentu puteri dari istana, puteri Kaisar Kerajaan Kin sendiri."
Sepasang alis itu berkerut, sepasang mata itu berkilat, dan hati Pek Hong Nio-cu semakin tertarik.
Selama ini tidak ada orang yang tahu bahwa ia adalah puteri kaisar.
Ketika ia memperlihatkan pedang bengkok, dua orang pembesar itupun hanya tahu bahwa ia mempunyai kekuasaan dari kaisar untuk menghukum siapa saja yang bersalah akan tetapi merekapun tidak tahu sama sekali bahwa ia sesungguhnya adalah puteri kaisar.
"Bagaimana engkau dapat menduga begitu, Souw Thian Liong?"
Tanyanya.
"Mudah saja. Sikapmu, begitu anggun dan agung dan sikap seperti ini jelas menunjukkan bahwa engkau seorang puteri bangsawan tinggi. Kemudian, setelah engkau memperlihatkan pedang bengkok itu kepada dua orang pembesar brengsek, mereka berlutut ketakutan. Berarti pedang itu menjadi tanda kekuasaanmu yang amat tinggi. Setelah engkau mencabut pedang itu dan kita bertanding, aku melihat ukiran naga emas pada pedang bengkok itu dan ternyata pedang itu juga merupakan pedang pusaka yang mampu beradu dengan pedangku. Ukiran naga emas hanyalah patut dimiliki seorang kaisar, maka mudah menduga bahwa tentu engkau mendapatkan pedang itu dari Kaisar sendiri. Demikianlah, aku dapat menduga bahwa engkau adalah puteri Kaisar Kerajaan Kin, melihat bahwa pakaianmu adalah pakaian seorang puteri bangsa Kin, Pek Hong Nio-cu."
Pek Hong Nio-cu kini memandang kagum kepada pemuda itu.
Harus ia akui bahwa dalam hal ilmu silat, ia masih kalah jauh dibandingkan pemuda itu dan ternyata pemuda itu juga cerdik sekali sehingga dapat menduga bahwa ia adalah puteri kaisar sendiri.
"Hemm, kiranya engkau selain lihai ilmu silatmu, juga mempunyai pikiran yang amat cerdik, Souw Thian Liong. Aku girang dapat berkenalan dengan seorang pandai sepertimu, apa lagi aku sudah mendengar bahwa engkau adalah seorang pendekar penentang kejahatan yang dikenal sebagai Si Naga Langit!"
Puteri itu kini memandangnya dengan senyum manis.
Hilang kini kesan angkuh dan galak dan wajah itu menjadi cantik jelita dan manis sekali.
Kembali Thian Liong terheran-heran karena dia ingat benar bahwa gadis di depannya itu adalah wajah Ang Hwa Sian-li Thio Siang In!
Pandang mata penuh keheranan dan penasaran dari mata pemuda itu agaknya dapat terlihat oleh sang puteri.
"Hei, Souw Thian Liong! Kenapa engkau memandangku seperti itu?"
Ia menegur, alisnya berkerut. Thian Liong menyadari keadaannya dan ia cepat menjura dengan hormat.
"Maafkan saya, tuan puteri......!"
"Hushh......, jangan sebut aku seperti itu. Biarpun engkau sudah mengetahui siapa aku sebenarnya, jangan sebut-sebut itu dan anggap saja engkau berhadapan dengan Pek Hong Nio-cu, seorang pendekar wanita biasa, bukan seorang puteri kaisar!"
Thian Liong tersenyum maklum.
"Baiklah, Pek Hong Nio-cu, dan maafkan aku tadi yang memandangmu dengan penuh perasaan heran dan juga penasaran. Sesungguhnyalah, wajahmu, gerak-gerikmu, tiada bedanya sedikitpun dengan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In. Kalau engkau mengaku bahwa engkau adalah Thio Siang In yang menyamar, aku tentu percaya sepenuhnya."
Pek Hong Nio-cu memandang penuh selidik dan tampaknya ia tertarik sekali.
"Hemm, coba perhatikan dengan seksama. Sama benarkah aku dengan gadis bernama Ang Hwa Sian-li Thio Siang In itu?"
"Sungguh mati, sama sekali tidak ada bedanya. Bahkan tahi lalat di ujung bibir itu sama benar! Wajah dan bentuk tubuh serupa, sedikitpun tiada bedanya. Yang beda hanyalah pakaian dan ilmu silat berikut senjatanya, juga gaya bahasanya."
"Bagaimana perbedaannya?"
"Ang Hwa Sian-li Thio Siang In itu berpakaian serba hijau dan rambutnya terhias bunga mawar merah. Senjatanya juga sebatang pedang dan gerakan silatnya sungguh berbeda dengan gerakanmu, ilmu silatnya bersifat keji seperti biasa dimiliki golongan sesat. Akan tetapi ia sendiri bukan seorang gadis jahat yang sesat. Bukan, ia juga berjiwa pendekar, hanya agak keras dan galak dan gaya bicaranya seperti logat orang-orang dari daerah barat."
"Ia itu seorang...... sahabat baikmu?"
Tanya Pek Hong Nio-cu yang kini duduk di atas sebuah batu di tepi jalan. Thian Liong juga duduk di atas sebatang akar pohon yang menonjol di atas tanah.
"Tidak juga, secara kebetulan saja kami saling jumpa ketika aku berkunjung ke Bu-tong-pai dan melerai perkelahian antara ia dan pihak Bu-tong-pai karena salah paham."
Dengan singkat dia lalu menceritakan tentang perjumpaannya dengan Ang Hwa Sian-li di Bu-tong-pai di mana gadis itu berselisih dengan orang-orang Bu-tong-pai karena kesalahpahaman mereka.
"Hemm, kalau begitu gadis itu jelas bukan aku karena aku belum pernah pergi berkunjung ke Bu-tong-pai,"
Kata Pek Hong Nio-cu.
"Akan tetapi tadi engkau mengira aku seorang gadis yang mencuri kitab pusakamu. Apa artinya itu? Apakah Thio Siang In itu mencuri kitab pusakamu?"
"Bukan, bukan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In yang mencuri kitab itu. Akan tetapi seorang gadis cantik lain. Tadinya aku mengira engkau adalah ia karena perawakan kalian mirip. Gadis itu berpakaian serba merah muda, juga cantik jelita, cerdik, galak. Gerakan ilmu silatnya seperti berdasarkan ilmu silat Tibet. Ia lihai sekali dan ia telah mencuri kitab pusaka Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, kitab pusaka yang seharusnya kuserahkan kepada pemiliknya yang sah, yaitu Kun-lun-pai. Akan tetapi kitab itu dicurinya dan aku sekarang sedang mencari gadis itu untuk merampas kitab itu kembali."
"Wah, Souw Thian Liong! Agaknya di mana-mana engkau selalu bentrok dengan gadis-gadis cantik yang lihai! Tadi engkau juga mengatakan bahwa engkau bentrok dengan Thio Siang In itu karena ia juga ingin pinjam kitab!"
Thian Liong menghela napas panjang.
"Memang nasibku yang buruk. Thio Siang In hendak memaksa pinjam kitab Sam-jong Cin-keng yang harus kuserahkan kepada Siauw-lim-pai. Maka kami bertanding dan aku menyesal sekali kenapa aku harus selalu bertanding dengan gadis cantik yang lihai. Dan sekarang di sini aku harus bertanding pula melawan engkau, Pek Hong Nio-cu. Aahhh, agaknya sudah nasibku harus dibenci semua gadis cantik yang lihai."
"Akan tetapi aku tidak benci padamu, Souw Thian Liong. Aku bahkan kagum padamu. Akan tetapi untuk apa sih engkau membagi-bagikan kitab? Kepada Bu-tong-pai dan kepada Siauw-lim-pai, mungkin kepada partai persilatan lain? Kenapa engkau membagi-bagikan kitab kepada mereka?"
Mendengar kata-kata itu, Thian Liong tersenyum dan hatinya merasa girang.
Gadis baju merah itu telah mencuri kitab milik Kun-lun-pai sehingga dia kini harus bersusah payah mencarinya, pada hal dia tidak tahu siapa nama gadis itu dan di mana tempat tinggalnya.
Dan Ang Hwa Sian-li Thio Siang In juga hendak memaksa pinjam kitab yang bukan miliknya sehingga terpaksa mereka harus bertanding dan gadis itu pergi dengan menangis dan benci kepadanya.
Akan tetapi gadis ini, puteri kaisar Kerajaan Kin tidak benci kepadanya bahkan mengatakan kagum!
"Terima kasih, Pek Hong Nio-cu.
Senang hatiku mendengar bahwa engkau tidak benci kepadaku.
Baiklah kuceritakan mengapa aku membagi-bagi kitab kepada para pimpinan partai persilatan.
Semua itu adalah atas perintah guruku.
Ketika aku turun gunung, suhu menyerahkan tiga buah kitab kepadaku untuk diberikan kepada pemiliknya, masing-masing, yaitu kitab Sam-jong Cin-keng kepada Siauw-lim-pai, kitab Kiauw-ta Sin-na kepada Bu-tong-pai, dan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat kepada Kun-lun-pai.
Tiga buah kitab itu tadinya dicuri orang dari pemiliknya masing-masing dan kebetulan suhu yang dapat menemukannya kembali dan menyuruh aku mengembalikannya kepada yang berhak.
Akan tetapi di tengah jalan, gadis baju merah yang tidak kukenal itu telah mencuri Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat milik Kun-lun-pai.
Kitab Sam-jong Cin-keng sudah kuserahkan kepada Siauw-lim-pai dan demikian pula kitab Kiauw-ta Sin-na kukembalikan kepada Bu-tong-pai.
Tadinya Ang Hwa Sian-li Thio Siang In hendak pinjam kitab Sam-jong Cin-keng milik Siauw-lim-pai dengan paksa kepadaku, akan tetapi kutolak sehingga kami bertanding dan ia pergi dengan meninggalkan kebencian kepadaku.
Sekarang, terpaksa aku harus mencari gadis baju merah untuk minta kembali kitab milik Kun-lun-pai itu."
"Hemm, siapakah gurumu itu, Thian Liong?"
"Guruku dikenal sebagai Yok-sian (Tabib Dewa) bernama Tiong Lee Cin-jin."
"Ahh, manusia sakti yang dikabarkan setengah dewa itu? Aku sudah mendengar akan nama besarnya! Pantas engkau begini lihai, kiranya engkau murid Si Tabib Dewa itu. Kau tahu, Thian Liong, ketika di istana ayahku berjangkit penyakit yang amat berbahaya sehingga banyak yang sakit pagi sorenya mati dan sakit sore paginya mati, Si Tabib Dewa itu melayang di atas kota raja dan membagi-bagikan obat penawar penyakit. Tak seorangpun melihatnya dengan jelas, hanya melihat bayangannya saja berkelebat ketika dia meninggalkan obat itu."
Thian Liong mengangguk-angguk.
Dia percaya cerita itu karena memang gurunya sering melakukan hal-hal yang aneh dan dia tahu bahwa bagi gurunya, semua manusia itu, bangsa apapun juga, sama saja dan siap menjulurkan tangan menolong.
"Suhu memang selalu siap menolong siapapun juga,"
Katanya pendek.
"Wah, melihat engkau membagi-bagikan ilmu silat, aku jadi teringat kepada Paman Sie!"
Thian Liong memandang wajah yang cantik jelita itu dan bertanya.
"Paman Sie? Siapakah dia?"
Pek Hong Nio-cu menggeleng kepala dan tersenyum.
"Entahlah, kata Ibuku, dia sahabat baik ibuku dahulu dan dia juga guruku karena seperti juga engkau, dia membagi tiga buah kitab kepadaku. Akan tetapi dia jauh lebih tua daripada engkau, Thian Liong."
"Nio-cu, setelah aku mengetahui bahwa engkau sesungguhnya puteri kaisar Kerajaan Kin, bolehkah aku mengetehui siapa namamu?"
"Namaku adalah Puteri Moguhai."
"Dan gurumu?"
"Sudah kukatakan, guruku terakhir adalah Paman Sie yang memberi tiga buah kitab kepadaku dan aku melatih sendiri ilmu-ilmu dari tiga kitab itu. Guru-guruku yang pertama, yang mengajarkan ilmu silat dasar kepadaku adalah jagoan-jagoan istana."
Thian Liong mengangguk-angguk.
"Pemanmu itu tentu seorang yang berilmu tinggi. Terus terang saja, Pek Hong Nio-cu, kalau ilmu sabuk dan ilmu pedangmu itu kau latih di bawah bimbingan seorang guru pandai, tentu engkau akan menguasainya dengan baik dan kurasa dengan itu akan sukar dicari orang yang akan mampu menandingimu. Ilmu-ilmumu itu kulihat tadi amat hebat, dahsyat dan sulit sekali diduga perubahannya, hanya sayang engkau belum menguasainya secara matang.
"Tepat,sekali dugaanmu, Thian Liong. Aku merasa girang bertemu denganmu dan kuharap eagkau dapat memberi petunjuk kepadaku."
"Ah mana mungkin, Nio-cu? Yang dapat memberi petunjuk tentu hanya pamanmu itu yang tentu sudah menguasai tiga kitab yang diberikan kepadamu."
"Sekarang, engkau hendak pergi ke mana, Thian Liong?"
"Sudah kukatakan tadi, aku haruslah mencari gadis baju merah yang telah mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat milik Kun-lun-pai. Dan mengingat ilmu silatnya berdasar aliran Tibet, aku akan mencari ke barat."
"Ah, kebetulan sekali, Thian Liong. Akupun akan melakukan perjalanan ke sana. Di dekat perbatasan Sin-kiang terdapat seorang pamanku, Pangeran Kuang yang memimpin pasukan yang berjaga di perbatasan. Aku akan menemui dia untuk suatu keperluan penting sekali dan mungkin saja dia yang mempunyai banyak pengalaman akan dapat memberi petunjuk kepadamu tentang gadis baju merah yang mencuri kitab itu. Kita dapat melakukan perjalanan bersama."
Dalam hati Thian Liong timbul perasaan rikuh. Melakukan perjalanan bersama seorang gadis yang demikian cantik jelita, puteri kaisar pula? ''Akan tetapi".."
Dia meragu.
"Hemm, apakah engkau tidak suka melakukan perjalanan bersama seorang puteri kerajaan bangsa Nuchen yang memusuhi bangsa Han? Katakan saja terus terang!"
Kata Nio-cu sambil memandang tajam. Thian Liong menggeleng kepalanya.
"Tidak, Nio-cu. Permusuhan antara kerajaan tidak berarti permusuhan perorangan. Aku tidak memusuhimu, akan tetapi""
Apa akan kata orang kalau aku, seorang pemuda, melakukan perjalanan berdua dengan engkau, seorang gadis......?"
Dia menahan mulutnya tidak mengatakan cantik jelita.
"Apa salahnya? Yang penting kita bersahabat dan tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas. Kalau ada mulut usil bicara sembarangan, biar kupukul hancur mulut itu!"
Thian Liong menghela napas. Bagaimana dia dapat mencari alasan untuk menolaknya? Dia tidak berdaya menghadapi gadis yang berhati keras namun tidak dapat dibantah karena ucapannya memang benar itu.
"Baiklah kalau engkau memang menghendaki demikian. Akan tetapi kuperingatkan, melakukan perjalanan bersama aku tidak akan menyenangkan karena aku seorang yang miskin dan biasa hidup sederhana, terkadang harus melewatkan malam di tempat terbuka, di kuil-kuil kosong, di guha-guha, bahkan di bawah pohon. Mana mungkin engkau dapat melakukan perjalanan seperti itu?"
Pek Hong Nio-cu tertawa, suara tawanya mengingatkan Thian Liong kepada Ang Hwa Sian-li.
Alangkah miripnya.
Sama-sama begitu bebas kalau tertawa, tidak ditutup-tutupi atau malu-malu seperti gadis Han pada umumnya.
Bebas membuka mulut sehingga tampak deretan gigi yang putih rapi seperti mutiara, bagian dalam mulut yang merah dan lidah yang merah muda.
"Tentu saja aku tidak sudi tidur di tempat-tempat kotor seperti itu!"
Katanya setelah tawanya reda.
"Akan tetapi akupun tidak perlu harus sengsara seperti itu. Kau tahu, aku membawa cukup banyak emas untuk membeli segala keperluan kita di dalam perjalanan, dan pedangku ini dapat membuat semua pembesar di daerah bertekuk lutut dun melayani segala keperluanku. Maka, kalau kita melakukan perjalanan bersama, perlu apa kita harus bersusah payah seperti yang kaugambarkan tadi? Mari kita berangkat. Tak jauh dari sini, di depan sana terdapat sebuah dusun dan kita dapat membeli seekor kuda untukmu."
Thian Liong merasa rikuh kalau selalu dibiayai gadis itu, akan tetapi dia tidak dapat membantah.
Bagaimanapun juga, gadis itu adalah puteri kaisar, tentu saja kaya raya dan memiliki kekuasaan tinggi.
Diapun lalu berjalan cepat di samping kuda yang ditunggangi Pek Hong Nio-cu.
Dua orang gadis itu melewati perbatasan kerajaan Sung Selatan dan memasuki daerah Kerajaan Kin utara.
Keduanya berjalan kaki dan melihat langkah mereka yang tegap dan gesit, apalagi melihat pedang yang tergantung di punggung mereka, mudah diduga bahwa mereka berdua adalah gadis-gadis kang-ouw yang pandai ilmu silat.
Yang seorang berusia duapuluh tahun, bermuka bulat dan cantik, bertubuh tinggi ramping.
Yang kedua lebih pendek, juga cantik dengan wajahnya yang berbentuk bulat telur, usianya sekitar sembilanbelas tahun.
Keduanya memiliki wajah cantik dan bentuk tubuhnya yang menggiurkan sehingga di dalam perjalanan mereka, banyak mata pria mencuri pandang dengan kagum.
Namun jarang ada yang berani mengganggu mereka, melihat pedang yang tergantung di pungung mereka.
Mereka memang bukan gadis sembarangan, melainkan dua orang murid Kun-lun-pai yang pandai ilmu silat, terutama lihai ilmu pedang mereka.
Yang pertama adalah Kim Lan dan yang kedua adalah su-moinya (adik seperguruannya) Ai Yin.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, karena dikalahkan oleh Thian Liong, sesuai dengan sumpah yang diharuskan oleh guru mereka, Biauw In Su-thai, Kim Lan harus menjadi isteri Thian Liong dan kalau Thian Liong menolak, Kim Lan harus membunuhnya!
Sakit hati karena cintanya ditolak pria, membuat Biauw In Su-thai mengambil sumpah para murid wanitanya seperti itu.
Kemudian ia menyesal ketika ditegur Kui Beng Thaisu ketua Kun-lun-pai dan ia dihukum harus bertapa di pondok pengasingan.
Akan tetapi Kim Lan sudah terlanjur pergi untuk mencari dan membunuh Thian Liong yang menolak menjadi suaminya.
Ai Yin yang amat mencinta sucinya (kakak seperguruannya) ikut pergi bersama Kim Lan.
Demikianlah, setelah melakukan perjalanan selama hampir dua bulan Kim Lan belum juga dapat menemukan Thian Liong.
Ia lalu mengajak su-moinya untuk pergi mengunjungi bibinya yang tinggal di dusun Lui-touw di Propinsi Shantung, di lembah Sungai Huang-ho.
Ai Yin menurut saja kepada sucinya.
"Suci, kalau sekiranya tinggal di dusun tempat tinggal bibimu itu enak, lebih baik kita tinggal saja di sana dan tidak usah ke Kun-lun-pai, tidak perlu bersusah payah mencari Souw Thian Liong. Mencari seseorang yang tidak diketahui ke mana perginya, mana mungkin? Ke mana kita harus mencarinya? Kita hidup di dusun saja bertani, suci,"
Kata Ai Yin.
Mereka melepaskan lelah di bawah pohon besar di pinggir sebuah hutan.
Siang itu hawa udara amat panasnya dan mereka telah melakukan perjalanan sejak pagi tadi.
Kim Lan menyusut keringat dari lehernya, memandang wajah su-moinya dengan alis berkerut dan pandang mata sedih.
Lalu ia menghela napas panjang.
"Aih, mana bisa begitu, su-moi? Kita berdua sudah yatim piatu dan sejak kecil kita dirawat dan dididik oleh subo Biauw In Su-thai penuh kasih sayang. Subo menganggap kita seperti anaknya sendiri ia menjadi pengganti orang tua kita. Bagaimana kita dapat menjadi murid murtad? Apa lagi kita sudah bersumpah dan sungguh memalukan seorang gagah mengingkari sumpahnya sendiri!"
Tiba-tiba tampak debu mengepul tinggi dan terdengar derap kaki banyak kuda mendatangi dari utara.
Setelah dekat ternyata mereka adalah sepasukan perajurit terdiri dari duapuluh empat orang, dipimpin oleh dua orang perwira.
Dari pakaian seragam mereka mudah diketahui bahwa mereka adalah pasukan Kerajaan Kin yang menguasai daerah sebelah utara Sungai Yang-ce.
Ketika dua orang perwira itu melihat dua orang gadis yang duduk di tepi hutan pinggir jalan itu, mereka segera mengangkat tangan memberi isyarat agar pasukannya berhenti.
Semua kuda berhenti dan tentu saja hal ini menimbulkan debu mengepul tinggi di siang hari terik itu.
"Menyebalkan!"
Kata Kim Lan yang pemarah dan ia bangkit berdiri sambil menutupi hidung dan mulutnya dengan sehelai saputangan.
Ai Yin juga menutupi hidung dan mulut, dan bangkit berdiri pula.
Dua orang perwira dan anak buah mereka itu telah melihat bahwa dua orang gadis itu cantik dan hanya berdua saja, maka timbul keisengan mereka.
Dua orang perwira itu segera saling bicara, kemudian sambil tertawa keduanya melompat turun dari atas kuda masing-masing dan melangkah dengan gagah menghampiri Kim Lan dan Ai Yin.
Dua losin perajurit itupun berlompatan dari atas kuda mereka, tertawa-tawa melihat tingkah kedua orang pimpinan mereka yang mereka anggap lucu.
Sudah berbulan-bulan mereka meronda di perbatasan dan haus akan hiburan maka peristiwa ini mereka anggap sebagai hiburan yang menarik.
Kim Lan berbisik kepada su-moinya.
"Su-moi, hati-hati, mereka itu agaknya mencari perkara."
Dua orang gadis itu memandang penuh perhatian.
Dua orang perwira itu berusia empatpuluh tahun lebih, yang seorang bertubuh tinggi besar bermuka merah halus, sedangkan yang kedua bertubuh lebih pendek gempal dengan muka penuh brewok.
Dengan langah gagah dibuat-buat kedua orang perwira itu menghampiri dua orang gadis itu.
Kini Kim Lan dan Ai Yin sudah melepaskan tangan dari muka mereka sehingga tampaklah wajah mereka yang cantik.
Dua orang perwira itu memandang penuh gairah dan menyeringai lebar.
Setelah mereka berhadapan, dua orang perwira itu cengar-cengir memandang kepada dua orang gadis itu dan yang tinggi besar itu bertanya kepada Kim Lan.
"Nona berdua siapakah dan mengapa berada di sini?"
Kim Lan mengerutkan alisnya dan memang pada dasarnya Kim Lan berwatak galak dan angkuh, maka ia menjawab dengan sikap galak dan suara ketus.
"Kami berada di tempat umum dan tidak ada sangkut pautnya dengan kalian. Ada urusan apa engkau bertanya-tanya?"
"Ha-ha-ha!"
Perwira tinggi besar itu tertawa dan menoleh kepada temannya yang brewokan.
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 3
Baca Juga: Jodoh Rajawali 2