Kisah Si Naga Langit 4

Eps 4 Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.

Kata murid yang bertubuh tinggi kurus.

"Hemmm, kapan para gurumu di Bu-tong-pai mengajar kalian untuk bertindak kejam? Apa lagi terhadap seorang pembantu yang miskin, yang terpaksa melakukan pencurian untuk membeayai pengobatan anaknya! Dan kesalahanmu yang ke dua. Kalian melapor kepadaku bahwa Ang-hwa Sian-Li telah menghina Bu-tohg-pal dan memandang rendah ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam, padahal ia tidak melakukan hal itu. Kalian berani membohongiku!"

"Supek, teecu berdua melakukan itu agar supek mau membela teecu berdua dan membalas kekalahan kami."

Kata pemuda tinggi besar.

"Huh, kalian mengaku mund Bu-tong-pai yang gagah perkasa, akan tetapi setelah kalah kalian tidak mau secara jantan mengakui kekalahan kalian. Sebaliknya berbohong untuk memanaskan hatiku dan sekarang kalian hanya membikin malu kepadaku! Dan yang ketiga, lebih membuat aku malu lagi. Kalian telah mengirim tantangan kepada Ang Hwa Sian-li. akan tetapi kepadaku kalian melapor bahwa pagi ini Ang-hwa Sian Li yang menantangku! Murid macam apa kalian ini". Dua orang itu sambil berlutut memberi hormat dan dengan suara berbareng mereka berkata.

"Ampunkan teecu, supek ...". Thian Liong berkata kepada Pek Mau San Jin.

"Sudahlah, locianpwe, saya harap urusan ini dianggap tidak ada saja. Bagaimanapun, locianpwe maupun Ang hwa Sian Li tidak terluka. Harap locianpwe mengampuni dua orang saudara inl...."' "Apa"

Siang In membentak dengan suara nyaring.

"Kesalahan mereka bertumpuk tiga lapis dan engkau mintakan ampun? Sebagai guru yang baik, sudah sepantasnya menghukum murid-murid yang bersalah. Kalau tidak, bagaimana sang guru aktin mempunyai wibawa terhadap murid-muridnya? Dia akan dicemooh dan para murid akan menjadi semakin berani dan kurang ajar!"

Pek Mau bun-jin tersenyum akan tetapi kedua pipinya menjadi agak merah. Dia merasa malu sekali.

"Kalian cepat kembali dan masuklah ke ruangan hukuman menanti keputusan Pang-cu (Ketua) dan jangan keluar dari ruangan itu sebelum diperintah!"

"Baik, supek."

Kata dua orang pemuda itu dan mereka lalu memberi hormat, berdiri dan pergi dari situ dengan kepala ditundukkan. Pek Mau San-jin lalu mengangkat kedua tangan depan dada, berkata kepada Siang In.

"Ang-hwa Sian-li, engkau masih muda akan tetapi sudah memiliki kepandaian tinggi dan juga berpemandangan jauh. Ucapanmu tentang dua murid kami itu memang benar, dan kami minta maaf atas kesalahan mereka terhadapmu."

Biarpun wataknya keras dan liar, namun puteri cucu kepala Suku Uigur ini selain ilmu Silat, juga mendapat pendidikan kebudayaan yang cukup dari ibunya.

la, pandai membawa diri dan kalau orang bersikap baik dan lembut kepadanya iapun tidak kalah lembut akan tetapi kalau ada yang mengasarinya, ia pandal juga bermain kasar dan keras.

Siang In membalas penghormatan tokoh Bu-tong-pai itu dan berkata sambil tersenyum manis..

"Totiang terlalu memuji. Saya yang muda mendapat pelajaran dan pengalaman yang baik sekall dengan bertanding melawan totlang. Yang bersalah sudah dihukum, itu sudah cukup bagi saya, tidak ada yang perlu dimaafkan, totiang."

"Akan tetapi, kaml mengundang Souw Sicu sebagal murid Tiong Lee Cin-jin untuk bertemu dengan ketua kami, dan kami juga mengundang engkau, nona."

"Akan tetapl, aku tidak mempunyai urusan dengan Ketua Bu-tong-pai seperti halnya saudara Souw Thian Liong ini!"

Kata Siang In, dan ucapan ini hanya untuk pemanis bibir saja karena sebetulnya di dalam hatinya ia ingin sekali ikut Thian Liong menemui ketua Bu-tong-pai untuk mengetahui keperluan apa yarig membawa pemuda itu menemuinya.

Biarpun baru menduga, Siang In yakin bahwa pemuda itu memiliki ilmu silat yang?

tinggi.

Hal ini terbukti ketika pemuda itu memukul runtuh jarum-jarum beracunnya sehingga menyelamatkan Pek Mau San-jin.

Hanya orang yang memiliki sin-kang (tenaga sakti) amat kuat saja yang mampu memukul runtuh jarum-jarumnya dari jauh, menggunakan sambaran hawa pukulan.

"Kami sungguh mengundangmu, Ang-hwa Sian-li. Kalau ketua kami mendengar akan perbuatan tak terpuji dari dua orang murid kami kepadamu, lalu aku tidak mengundangmu, tentu beliau akan marah dan menegurku sebagai tidak mengenal sopan santun. Karena itu, deml menjaga agar aku tldak mendapat teguran dari ketua kaml, kuharap engkau suka menerima undanganku untuk bersama Souw-sicu menemui Pangcu kami."

Siang In menoleh kepada Thian Liong dan tersenyum, seolah hendak mengatakan melalui pandang mata dan senyumnya bahwa ia "terpaksa"

Ikut berkunjung ke Bu-tong-pal! "Wah, kalau begitu, baiklah, totiang. Kalau aku tidak menerima undanganmu, berarti aku yang tidak mengenal sopan santun."

Tosu itu tertawa dan mereka bertiga lalu berjalan mendaki lereng menuju ke sebuah puncak bukit di maha perkampungan Bu-tong-pai berada.

Pada waktu itu.

yang menjadi ketua Bu-tong-pai adalah seorang kakek berusia tujuh puluh tahun yang biasa disebut Ciang Losu.

(Guru Tua Ciang).

Nama lengkapnya adalah Ciang Sun dan hanya dia seoranglah yang menguasai Thai-kek Sin-kiam sebanyak delapan bagian.

Sebe-lum dia juga tidak ada yang dapat menguasai Thai-kek Sin-kiam secara lengkap karena kitab pusaka pedang itu hilang tak tentu rlmbanya hampir seratus tahun yang lalu.

Namun akhir-akhlr ini kesehatan Ciang Losu amat mundur.

Kekuatan tubuhnya dlgerogotl usia sehingga dia lebih banyak bersamadhi dari pada melakukan kegiatan mengurus perguruan Bu-tong-pai.

Untuk itu dia menugaskan para sutenya, di antaranya Pek Mau San-jin yang merupakan sutenya yang paling muda.

Maka tidak aneh kalau Pek Mau San-jin hanya mencapai tingkat ke tiga saja di perguruan itu.

Ketika Ciang Losu yang tua itu mendengar bahwa murid Tiong Lee Cin-jin diutus gurunya untuk mengunjunginya, dia merasa gembira dan segera keluar menyambut.

Sudah lama dia merasa kagum sekali mendengar nama Tiong Lee Cin-jin dan biarpun yang datang sekarang hanya seorang muda, akan tetapi karena dia menjadi murid dan utusan Tiong Lee Cin-jin yang sengaja datang berkunjung, dia merasa girang sekali.

Thian Liong dan Siang In yang mengikuti Pek Mau San-jin memasuki bangun-an induk dari perkqinpungan Bu-tong-pai melihat munculnya seorang kakek tinggl kurus, rambut dan jenggotnya yang panjang sudah berwarna putih seperti benang perak, pandang matanya lembut dan mulutnya terhias senyum sabar, segera memberi hormat.

Mereka menduga bahwa kakek ini tentu ketua Bu-tong-pai dan dugaan mereka benar.

Pek Mau San-jin yang tadi menyuruh seorang murid yang dijumpainya di pintu gerbang.

untuk melapor kepada Ciang Losu akan kunjungan murid Tiong Lee Cin-jin, segera memperkenalkan.

"Toa-suheng (kakak seperguruan tertua), ini adalah sicu (orang gagah) Souw Thian Liong murid dan utusan Tiong Lee Cin-jin, dan yang ini adalah Ang-hwa Sian-li. Souw-sicu dan Ang-hwa Sian-li, inilah ketua Bu-tong-pai kami, suheng Ciang Losu."

"Harap 'loclanpwe (orang tua gagah) sudi memaafkan kalau kedatangan kami mengganggu ketenangan toclanpwe."

Kata Thian Liong dengan slkap hormat.

"Sian-cai, sikap Souw-sicu saja cukup menjadi bukti betapa bijaksananya Tiong-Lee Cin-jin yang kami hormati. Mari, orang-orang muda gagah, silakan masuk, kita bicara di dalam." 'kata Ciang Losu dengan wajah ceria. Mereka berempat masuk dan duduk di ruangan dalam yang tertutup. Seorang murid menyuguhkan air teh lalu keluar lagi.

"Nah sekarang kita dapat bicara de-ngan leluasa di sini. Ceritakanlah, apa yang membawa kalian berdua orang-orang muda gagah datang berkunjung ke Bu-tong-pai dan menemui pinto (saya)."

"Saya tidak mempunyai keperluan apa-apa, locianpwe. Saya datang untuk memenuhi udangan Pek Mau San-jin."

Kata Siang In sambil memandang kepada pembantu ketua Bu-tong-pai itu. Pek Mau San-jin segera menerangkan kepada suhengnya.

"Suheng, Souw-sicu datang dan minta menghadap suheng karena dia diutus oleh gurunya untuk memblcarakan sesuatu yang penting dengan suheng. Adapun nona Ini, ada sesuatu terjadi antara Ang-hwa Sian-li ini dan dua orang murid kita yang membuat merasa tidak enak dan mengundangnya."

Dengan singkat Pek Mau San-jin lalu menceritakan tentang peristiwa yang di alami Siang In dan dua orang murid Bu-tong-pai yang menjadi gara-gara bentrokan antara Pek Mau San-jin dan gadis perkasa itu.

"Saya telah menyuruh dua orang murid itu menanti di ruangan hukuman, menanti keputusan suheng."

Pek Mau San-jin mengakhiri ceritanya. Ciang Losu mengangguk-angguk. Wajah yang penuh kesabaran itu sama sekali tidak memperlihatkan kemarahan hatinya.

"Anak-anak itu harus dihukum. Laksanakan hukuman itu sekarang juga, sute. Mereka harus melakukan samadhi selama tiga bulan. hanya berhenti seharl sekali untuk makan. Dengan demikian kita harapkan mereka akan dapat menghilangkan kekejaman dari hati mereka.

"Baik, suheng, akan saya laksanakan sekarang juga."

Pek Mau San-jin memberl hormat lalu menlnggalkan ruangan itu.

Setelah sutenya pergi, Ciang Losu berkata kepada Slang In dan Thian Liong "Kalian lihat, betapa sulitnya mengalahkan musuh utama dalam hidup ini.

Musuh utama itu adalah dirinya sendiri, nafsu-nafsunya sendiri.

Ang-hwa Sian-li...."

"Locianpwe, nama saya adalah Thio Siang In, saya merasa malu kalau lo-cianpwe yang menyebut saya dengan julukan kosong itu."

Kata Siang In. Ciang Losu tersenyum lebar memperlihatkan rongga mulut yang sudah tidak ada giginya lagi.

"Nona Thio Siang In, pinto lihat bahwa di balik kekerasan hatimu terdapat kerendahan hati dan kejujuran. Maafkanlah ulah kedua orang mu-rid Bu-tong-pai kami."

"Tidak mengapa, locianpwe. Mereka sudah dihukum dan kalau mereka dapat mengubah sikap, saya ikut merasa girang."

"Sekarang, pinto ingin mendengar darimu, Souw-slcu. Tiong Lee Cin-Jln mengutus engkau datang menemul plnto, sebetulnya membawa keperluan apakah?"

"Locianpwe, saya diutus suhu untuk menyerahkan sebuah kitab kepada lecianpwe, karena menurut suhu, kitab itu adalah hak milik Bu-tong-pal."

Setelah berkata demikian, Thian Llong menurunkan buntalan pakalannya dari punggung dan membuka buntalan itu.

"Ah, bukan main! Tiong Lee Cin-jin menemukan kitab kami dan mengembalikan kepada kami? Sungguh mulia, sungguh bljaksana!"

Kata Ciang Losu dengan wajah berseri, tampaknya gembira sekali. Thian Liong mengambll Kitab Kiauw-ta Sin-na dari dalam buntalan. Kitab ini agak tebal dan sudah tua sekali.

"Inilah kitab itu, locianpwe, harap sudi menerimanya."

"Terima kasih....!"

Kakek itu menerima kltab, lalu dibuka. Setelah melihat islnya, dia berkata.

"Sian-cai..... Kiranya Kitab Kiauw-ta Sin-na yang hilang lima puluh tahun yang lalu!"

"Loclanpwe telah menerima kembali kltab yang telah lama hilang, kenapa malah tampak kecewa?"

Tiba-tiba Siang In bertanya.

"Eh.... ahh....? Nona Thio Siang In sungguh memiliki penglihatan yang amat tajam!"

Seru Clang Losu sambil tersenyum dan memandang kagum.

"Sesungguhnyalah, pinto merasa kecewa melihat bahwa yang dikirim oleh Tiong Lee Cin-jin adalah Kitab Kiauw-ta Sin-na, bukan Kitab Thal-kek Sin-kiam yang hilang seratus tahun yang lalu sepertl yang tadi kusangka dan harapkan."

"Suhu pernah bercerita kepada saya, locianpwe, bahwa dalam perjalanannya, suhu jUga berusaha mendapatkan kembali kitab pusaka milik Bu-tong-pai itu, akan tetapi menurut suhu, tidak ada seorangpun di dunia barat yang tahu tentang Kitab Thai-kek Sin-kiam itu."

Kata Thian Liong.

"Ah, tidak mengapa, Souw-sicu. Kitab Kiauw-ta Sin-na ini juga merupakan kitab pusaka kami yang penting. Harap sampaikan ucapan terima kasih dan seluruh anggauta dan pipipinan Bu-tong-pai."

"Baik, locianpwe, akan saya sampaikan kepada suhu pesan locianpwe."

Kata Thian Liong.

"Bu-tong-pai tidak dapat membalas apa-apa atas kemuliaan hati dan kebijaksanaan Tiong Lee Cin-jin. Kami hanya dapat mendoakan semoga Tiong Lee Cin jin berusia panjang dan hidup penuh kebahagiaan."

Kata pula kakek itu.

"Terima kasih, lo-cian-pwe."

Dua orang muda itu laki berpamlt dari Ketua Bu-tong-pai yang sudah tua itu.

Di pintu depan mereka disambut oleh Pek Mau San-jin yang mengantar mereka sampai keluar pintu gerbang Bu-tong-pai.

Setelah mengucapkan terima kasih atas sambutan Bu-tong-pai yang baik, Thian Liong dan Siang In lalu meninggalkan perguruan silat yang terkenal itu dah menuruni puncak bukit.

Setelah tiba di kaki bukit, Siang In mengajak pemuda itu berhenti dan la bertanya.

"Liong-ko, urusan di Bu-tong pai sudah beres. Sekarang, engkau hendak pergi ke manakah?"

"Aku sekarang akan pergl ke Siauw-Lim-pal."

Jawab Thian Liong sejujurnya.

"Wah? Bukankah kuil Siauw-Lim-pai itu jauh sekali dari sini? Mau apakah engkau pergi ke perguruan-pergurUan silat? Tadl ke Bu-tong-pai dan sekarang hendak ke Siauw-lim-pi. Apakah juga engkau ke sana untuk menyerahkan kitab pusaka Siauw-lim-pai?"

Thian Liong mengangguk.

"Tldak salah dugaanmu, In-moi. Aku memang sedang melaksanakan perlntah suhu untuk menyerahkan kltab-kitab pusaka kepada pemiliknya yang berhak."

"Suhumu Tiong Lee Cin-jin ttu aneh sekali! Aku sudah mendengar bahwa dla merantau ke dunia barat selama puluhan tahun dan berhasil mendapatkan banyak kitab penting. Kenapa sekarang kitab-kitab itu dibagi-bagikan?"

"Bukan begitu, In-moi. Dalam perantauannya ke barat untuk memperdalam ilmu, suhu menemukan kitab-kitab para perguruan silat yang dulu dicuri orang. Suhu berhasil merampasnya kembali dan karena kitab-kitab itu ada yang berhak memiliki, maka suhu mengutus aku untuk mengembalikan kitab-kitab itu kepada yang berhak. Bukankah hal itu sudah wajar dan semestinya?"

"Sama sekali tidak wajar. Kalau suhumu yang menemukan dan merampasnya kembali, semestinya kitab-kitab itu menjadi hak milik suhumu! Enak saja para ketua perguruan silat itu menerima kembali kitab mereka tanpa merasa bersusah payah! Ah, sudahlah, memang aku sudah mendengar bahwa Tiong Lee Ctn-jin itu orangnya aneh luar biasa. Tapi kulihat engkau ini orang biasa saja, seperti juga aku. ngomong-omong, berapa banyak sih kitab yang harus kau kembalikan kepada para ketua perguruan silat itu, Liong-ko?"

"Hanya tiga buah kitab, In-moi. Sebuah untuk diserahkan kepada Ketua Kun-lun-pai, sebuah untuk Ketua Bu-tong-pai dan yang sebuah lagi harus kuserahkan kepada Ketua Siauw-lim pai."

"Hemm, baglan Bu-tong-pal gudah kauserahken. Apakah kiinb untuk Kun-lun-pal juga sudah kauberikan kepada ketuanya?"

Thian Llong menggeleng kepala dan menghela napas panjang.

"Itulah yang merisaukan hatiku, In-mol. Kltab untuk Kun-lun-pai Itu dicuri orang dalam perjalananku."

"Waah...! Dicuri orang? Apa namanya kitab pusaka Kun-lun-pai itu, Liong-ko? Siapa tahu aku dapat membantumu mencarinya."

"Kitab itu berjudul Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat."

"Dan siapa pencurinya?"

"Itulah yang memusingkan. Pencurinya seorang gadis, aku akan dapat mengenal wajahnya, akan tetapi sayang, aku tidak tahu namanya."

"Hemm, bagaimana seorang gadis mampu mencuri kitab pusaka itu darimu? Coba gambarkan bagaimana gadis itu. Siapa tahu aku akan dapat bertemu dengannya dan dapat merampas kitab yang dicurinya itu!"

Kata Siang In penuh semangat.

"la masih remaja, paling banyak tujuh belas tahun usianya. Pakaiannya serba merah muda. la lincah jenaka, bengal, galak dan cerdik."

"Wajahnya, bagaimana rupanya?" ' "Hemm, wajahnya bulat telur, rambutnya hitam panjang, kalau tertawa timbul lesung pipit di kedua pipinya...."

"la cantik?"

"Cantik sekali, pinggangnya ramping, dagunya meruncing, kulitnya putih......."

"Hemm, cantik mana kalaU dibandingkan....... aku?"

Thian Liong menatap wajah di depannya.

"Wah..... sukar menilai, In-moi. Engkau juga cantik sekali, sukar rnengatakan siapa di antara kalian yang lebih cantlk. Usia kalian juga sebaya dan ilmu silat kalian juga sama lihainya."

"Tentu Kun-lun-pai marah sekali mendengar kitab pusaka mereka dicuri orang. Apakah mereka sudah tahu?"

"Memang mereka tadinya marah sekali. Akan tetapi akhirnya Kui Beng Thaisu, ketua Kun-lun-pai dapat menerima kenyataan dan akupun sudah berjanji kepadanya untuk berusaha mencari dan menemukan kembali kitab pusaka, Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu."

"Kitab pusaka Bu-tong-pai tadi adalah Kitab Kiauw-ta Sin-na. Lalu sekarang tinggal sebuah, yaitu kitab pusaka yang akan kauserahkan kepada Siauw-lim-pai. Apakah nama kitab itu, Liong-ko?"

Sepasang mata bintang itu memandang ke arah buntalan pakaian di punggung Thian liong.

"Namanya Kitab Sam-jong Cin-keng."

Menurut keterangan suhu, kitab ini mengandung ilmu yang diciptakan sendiri oleh Dewa Ji-lai-hud!"

"Wah, aku ingin sekali melihatnya! Liong-ko yang baik, tolong perlihatkan kitab itu padaku, sebentar saja!"

Gadis itu mendekat "Wah, tidak boleh, In-moi!"

"Aih! Masa hanya melihat saja tidak boleh?"

"Suhu memesan agar aku jangan memberikan kitab-kitab itu kepada siapa saja kecuali kepada para ketua yang berhak menerimanya."

"Akan tetapl aku hanya ingin pinjam sebentar, melihat-lihat lainnya untuk menambah pengetahuan dan pengalamanku. Sebentar saja, nantl kukemballkan,"

"Maaf, In-mol, aku tidak dapat memenuhl permlntaanmu. Suhu berpesan agar aku menjaga kitab-kitab Itu dengan taruhan nyawaku."

Walah gadis Itu berubah merah, matanya bersinar-sinar mengandung kemarahan.

"Hemm, buktlnya sebuah di antara tiga buah kitab itu hilang!"

"Hal itu terjadl karena aku lengah dan gadis Itu mencurlnya."

"Benarkah? Apakah tidak karena engkau tergila-gila oleh kecantikannya dan engkau meminjamkan kltab itu kepadanya lalu ia melarlkan diri membawa kitab itu?"

"Sama sekali tidak, In-mol. Engkau, juga cantik, akan tetapi tetap saja aku tidak berani meminjamkan kitab ini padamu. Maafkan saja."

"Bagaimana kalau ada orang menggunakan kekerasan untuki merampas kitab"

"Tentu saja akan kulawan dan kupertahankan."

"Kalau begitu karena engkau tidak mau meminjamkannya, aku akan merampasnya dengan kekerasan. Lawanlah aku!"

Setelah berkata demikian, dengan cepat sekall Siang In sudah menerjang pemuda itu dan tangan kirinya menotok ke arah dada sedangkan tangan kanahnya mencengkeram ke arah buntalan yang tergantung di punggung Thlan Liong.

Thian Liong terkejut sekali dan cepat dia mengelak dengan loncatan ke belakang.

Dia merasa kecewa dan marah.

Kenapa setiap kali bertemu dengan gadis cantik, selalu dia menghadapi kesulitan dan persoalan?

Pertama bertemu gadis Jelita berpakaian merah muda itu yang kemudian mencuri kitab pusaka Kun-lun-,pai dari buntalan pakaiannya sehingga dia mengalami kesulitan.

Kemudian dfa bertemu dengan Kim Lan, murid Kun-lun-pai yang cantik itu, yang hendak memaksanya agar dia menjadl suami gadis itu!

Dan sekarang ini, dia menghadapi Ang-hwa Sian-Ii Thlo Siang In yang ayu manls, dan lagi-lagi dla menghadapi kesulitan karena gadis inl hendak memaksanya meminjamkan kitab pusaka StauW-lim-pai!

"In-moi, jangan begitu!

Kitab ini bukan milik klta.

Kita tidak berhak......".

"Cukup! Berikan kepadaku atau aku terpaksa akan merampasnya dengan kekerasan!" .

"Tidak boleh, In-moi!"

Kata Thian Liong yang mulai merasa panas juga perutnya. Hyaaaattt...."

Slang In menerjang dengan cepat.

Serangannya kuat bukan main dan kedua lengannya dikembangkan dan menyerang secara tiba-ttba dari samping, sepertl sepasang sayap, kedua kakinya berjingkat dan berloncatan, sepertl gerakan seekor burung.

Memang gadis ini telah menyerang dengan memainkan ilmu silat Kong-ciak Sin-kun, (Silat Sakti Burung Merak).

Gerakannya indah dan aneh, akan tetapl berbahaya sekali karena kedua tangan dan kedua kaki itu menyerang secara bergantian secara tiba-tiba dan tak tersangka-sangka!

Thian Llong berslkap hati-hatl.

Gerakan serangan gadis ini dahsyat juga walaupun ketika diam-diam dia membandingkan, belumlah sedahsyat tingkat kepandaian gadis baju merah yang mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai Itu.

Dia mengerahkan ilmu meringankan diri dan mengelak dari semua serangan.

Tubuhnya berkelebatan, berubah menjadi bayangan yang tidak mungkin dapat dilanda pukulan atau tendangan.

Siang In terkejut.

Belum pernah la melihat gin-kang (ilmu meringankan tubuh) sehebat ini.

Kedua matanya sampai menjadi kabur saking cepatnya bayangan Thian Llong bergerak.

Siang In menjadi periasaran.

Tiba-tiba ia sudah mencabut saputangan merah dan sekali mengebut dengan saputangan, belasan batang jarum kecil lembut menyambar ke arah tubuh Thlan Liong.

"Haiiit!"

"Ahhh!"

Thian.

Liong mendorong dengan telapak tangannya dan Jarum-jarum itupun runtuh semua.

Akan tetapi kini gadis itu telah menyerangnya dengan cepat dan sekali ini kedua tangannya melakukan totokan-totokan ke arah jalan darah maut di seluruh tubuh Thian Liong.

Itulah ilmu totok Im-yang Tiam-hoat, yang dtpergunakan Siang In setelah Ban-tok-ciam (Jarum Selaksa Racun) yang dikebutkan dengan saputangan merah tadi gagal.

"Hemm....!"

Thian Liong menghadapi serangan baru ini dengan kagum.

Gadis tni memang lihai, memiliki beberapa macam ilmu silat yang ampuh.

Akan tetapi, seperti juga jarum-jarum beracunnya, ilmu totok inipun bersikap kejam karena setiap serangan merupakan serangan maut.

Dia mengelak dan terkadang menangkis dengan membatasi tenaganya sehingga Siang In hanya merasa betapa lengannya tergetar hebat kalau tertangkis lengan pemuda, akan tetapi ia tidak sampai cidera patah tulang.

Setelah setnua serangannya gagal sama.

sekali dan pemuda itu belum juga satu kali membalas serangahriya, tahulah Siang In bahwa tingkat kepandaiannya kalah jauh.

Semua serangannya tadi gagal dan sampai sekilan lamanya Thian Liong tidak pernah membalas.

Hal ini berarti pemuda itu mengalah terhadapnya.

Akan tetapi ia memang keras hati, tidak mau mengaku kalah begitu saja.

"Srat-sing....!"

Dua sinar berkelebat dan gadis itu sudah mencabut siang-kiam (sepasang pedang) yang tergantung di punggungnya.

Dua batang pedang yang Berkilauan berada di kedua tangannya.

Akan tetapi ia tidak segera menyerang.

"Hayo, cabut pedangmu! Hendak kulihat apakah engkau mampu menandingi sepasang pedangku!"

Tantang Siang In sambil mengerutkan alisnya karena ia masih marah oleh penolakan Thian Liong yang tldak mau meminjamkan kitab pusaka Siauw-lim-pai untuk dilihatnya.

"Sudahlah, In-moi, mengapa engkau berkeras menantangku bertanding? Kita Inl bukan musuh, melalnkan sahabat, bukan? Aku girang dan berterilma kaslh sekall atas semua slkapmu kepadaku yang amat balk dan bersahabat selama ini. maka, kuminta kepadamu, hentikanlah pertandlngan inl."

"Hemm, Souw Thtan Llongl Engkau mengaku bahwa aku bersikap balk dan. bersahabat, akan tetapi seballknya, bagaimana sikapmu? Engkau pelit dan tldak percaya kepadaku seliingga memperlihatkan kitab pusaka itu engkau tolak? apakah artinya persahabatan bagimu?"

"In-moi, kitab ini bukan milikku dan aku harus mentaati pesan dan perintah suhu. (Bagaimana aku dapat disebut seorang berbakti kalau aku melanggar pesan, suhu yang tidak boleh memperlihatkan kitab ini kepada orang lain kecuali kepada Ketua Siauw-lim-pai? In-moi, maafkan aku. Engkau boleh minta yang lain, akan tetapi jangan minta aku melanggar larangan suhu."

"Cukup. Aku tetap ingin menguji kepandaianmu dan engkau coba bandingkan, siapa di antara aku dan gadls yang mencurl kitab pusaka Kun-lun-pai yang lebih lihai Pergunakan pedangmu. Aku tldak sudi bertanding dengan orang yang bertangan kosong melawan sepasang pedangkul"

Thian Liong menghela napas panjang.

Gadis Inl sama keras hatinya dengan gadis baju merah yang mencurl kltab pusaka Kun-lun-pal itu.

Kalau tldak dlturutl tantangannya, la tentu akan mendesak terus.

Diapun mencabut Thian-liong-kiam dan melintangkan pedang itu di depan dadanya.

Kalau demikian kukuh kehendakmu, baiklah, In-moi.

Akan kulayani permainan pedangmu."

Kata Thian Liong dengan sikap tenang.

"Lihat , seranganku. Haaaiiiit"

Dua batang pedang di kedua tangan Siang In itu berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyambar ke arah Thian Llong.

Pemuda ini cepat melangkah mundur dan mengelebatkan pedangnya, membentuk sebuah lingkaran, sinar yang melindunginya.

Dia melihat betapa gerakan pedang di kedua tangan gadis itupun ganas sekali.

Sepasang pedang itu menyambar-nyambar bagaikan dua ekor ular cobra yang liar dan ganas.

Setiap tusukan atau bacokan mengarah bagian tubuh berbahaya sehingga setiap serangan merupakan ancaman maut bagl lawan.

Inilah Toat-beng Siang-kiam (Sepasang Pedang Pencabut Nyawa), ilmu pedang yang amat dahsyat dan ganas.

Akan tetapi Thian Liong menghadapi serangkaian serangan gadis itu dengan tenang.

Gerakannya tenang dan mantap dan setiap kali sinar pedangnya bertemu dengan dua gulungan sinar pedang lawan sepasang pedang di tangan Siang In terpental.

Akan tetapi hal ini bahkan membuat Siang In menjadi semakin penasaran dan ia mengamuk terus, menyerang dengan sekuat tenaga dan mengeluarkan semua jurus ilmu pedangnya.

Seperti tadi ketika mereka bertanding dengah tangan kosong, kini Thian Liong juga selalu mengalah, hanya mengelak dan menangkis saja.

Tiga puluh jurus telah lewat dan selalu Siang In yang menyerang sedangkan Thian Liong hanya melindungi dirinya.

Hal ini membuat Siang In menjadl semakin penasaran.

la merasa dipandang rendah dan hal ini menyinggung harga dirinya.

"Hayo balas, pertandingan macam apa ini kalau engkau hanya mengelak dan menangkis saja?"

Bentaknya dan darl suaranya terdengar bahwa ia marah dan penasaran sekali.

Thian Llong merasa serba, salah.

Untuk menyerang tentu saJa dia tidak tega, akan tetapl kalau dia tldak menyerang, dia tahu bahwa gadis Itu menjadi penasaran dan merasa dipandang rendah.

"In-moi, jaga seranganku!"

Thian Liong berseru dan gulungan sinar pedangnya menjadi lebar sekali.

Angin mendesir-desir dan pedang Thian-liong-kiam, mengeluarkan suara berdesing-desing, bagaikan gelombang samudera dalam badai menerjang ke arah Siang In.

Gadis itu terkejut bukan main dan cepat Ia mengerahkan tenaga dan memutar sepasang pedangnya untuk melindungi dirinya dari hantaman gelombang sinar pedang yang amat dahsyat itu.

Akan tetapi begltu kedua pedangnya bertemu dengan gulungan sinar pedang yang menerjangnya, hampir Siang In menjerit karena kedua pedangnya terasa seperti tergutung gelombang sinar, dlputar dan dlrenggut dari kedua tanganhya, la mempertahankan dengan pengerahan tenaga, namun tetap saja kedua pedangnya terenggut lepas dari kedua tangannya.

Tentu saja ia terkejut dan cepat melompat ke belakarig dan ia melihat Thian Llong yang memutar pedangnya itu tlba-tlba menggerakkannya ke bawah dan.......

cappp!

Dua batang pedangnya meluncur dan menancap di atas tanah, dl depan kakinya!

"Ilmu silat sepasang pedangmu hebat, In-moi, membuat aku cukup kerepotan."

Kata Thlan Llong sejujurnya tanpa bermaksud mengejek karena memang dia menganggap ilmu pedang tadi berbahaya sekali.

Akan tetapi Stang In tidak menjawab, melainkan cepat la mengambil sepasang pedangnya dengan kedua tangan, kemudian ia meloncat dan berlari pergi meninggalkan Thlan Llong.

Pemuda itu hanya dapat mengikutl bayangan gadls Itu dengan pandang matanya dan dia mendengar isak tertahan.

Gadls itu meninggalkannya sambll menangls!

Thian Liong menyimpan pedangnya dan dla berdlrl termenung.

Dla merasa heran dan tldak mengertl, Dua kall dia bertemu dangan dua orang gadis yang cantlk jelita dan berkepandalan tinggi dan kaduanya rnemiliki watak yang aneh.

Keduanya keras hati, ganas dan kejam, akan tetapi keduanya Juga menentang kejahatan seperti pendekar-pendekar wanita!

Sungguh sukar menyelami watak kedua orang gadis itu.

Akan tetapi dla-pun harus mengakui dalam hati bahwa bflru sekarang secara berturut-turut dla rnerasa tertarik kepada wanlta.

Wajah gadis baju merah dan wajah Slang In silih berganti membayang di depan matanya.

Dia mengheia napas dan melanjut"

Kan perjalanannya"

Menuju ke Siauw-lim"

Siauw-lim-pai merupakan perguruan silat yang terkenal sekali, bukan saja sebagai sebuah perguruan silat yang dipimpin orang-orang saktl, akan tetapi juga sebagai pusat perkembangan Agama Buddha yang dlpimpin para hwesio (pendeta) yang beribadat.

Biarpun para murld yang sudah lulus dan tldak tinggal lagi di perumahan Siauw-llm-si (Kuil Siauw-lim) yang biasa.

Itu tidak diharuskan jadi pendeta, namun semua murid yang masih belajar ilmu silat dl Kuil Siauw-lim dlharuskan hidup sebagai murid Buddha yang patuh dan baik.

Selagi mereka belajar dalam kuil besar yang merupakann kornpleks perumahan luas itu, para murid harus merelakan kepala mereka digunduli seperti para pendeta dan hldup sederhana, pantang raakanan berjiwa dan minuman keras.

Pada waktu itu, yang menjadi ketua Siauw-llin-pai adalah Hui Sian Hwesio yang usianya sudah enam puluh lima tahun.

Hwesio ini bertubuh tinggi besar dan gemuk, berkulit putih dengan muka bulat dan alisnya tebal.

Sikapnya lemah lembut dan walaupun dla merupakan orang nomor satu di Slauw-Lim-pai namun dia jarang ikut membimblng para murld dalam hal llmu sllat.

Dla leblh mengutamakan pelajaran Agama Buddha dan lebih sering duduk bersamadhi seorang dlri.

Adapun yang sibuk mewakilinya mengurus persoalan Slauw-lim-pal dan mengawasi para murid kepala adik-adik seperguruannya melatlh llmu silat kepada para murid, adalah Cu Slan Hweslo.

Dia menjadi wakll ketua dan adlk seperguruan Hul Slan Hweslo.

Cu Slan Hwealo yang berusla enam puluh tahun ini berkullt agak hitam, hldungnya mancung dan bentuk waJahnya leblh mlr(p orang India.

Memang dla merupakan seorang peranakan India, bahkan lama dia memperdalam pengetahuan agamanya di India.

Tubuhnya tinggi kurus dan walaupun dia merupakan sute (adik seperguruan) Hut Slan Hwesto dan tingkat kepandaian silatnya masih di bawah tingkat sang ketua, namun Cu Slan Hwesip terkenal sebagai seorang hwesio yang tangguh dan lihai sekall ilmu sllatnya.

Pada auatu pagi, seperti blasa, sudah terjadl keslbukan dalam kompleks perumahan Slauw-llm-pal yang luas itu.

Para murld yang tidak kurang dari lima puluh orang jumlahnya, seJak pagi sudah mengerjakan kewajlban masing-maslng.

Mereka bekerja secara bergiliran.

Yang mendapat tugas mengangkut alr darl sumber alr ke dapur dan tempat mandi sudah bekerja keras memikul air rnenggunakan tong-tong alr.

Ada pula yang membelah batang pohon menjadi potongan kayu-kayu bakar.

Ada pula yang bertugas mencarl kayu di hutan sebelah.

Ada yang bekerja di ladang di mana mereka menanam sayur-sayuran, Ada pula yang bertugas membersihkan seluruh komplteks, ada yang menyapu, ada yang membersihkan jendela-jendela dan pintu-pintu.

Pendeknya, sejak pagi tidak ada murldnya yang menganggur.

juga di dapur terdapat keslbukan dari mereka yang bertugas memasak makanan.

Ada pula rombongan yang pagi Itu bertugas untuk mempelajari kltab-kitab agama dan menghafalkan doa-doa, dan ada pula rombongan yang bertugas untuk berlatih silat di lian-bu-thla (ruangan berlatih silat), sebuah ruangan yang luas di mana puluhan murld dapat berlatih secara berbareng.

Dari ruangan ini terdengar suara-suara bentakan mereka.

Akan tetapl dalam ruangan laln, agak jauh darl ruangan berlatlh silat, terdapat sebuah ruangan yang khusus untuk berlatlh samadhi dan ruangan ini tenang sekali.

Setelah matahari naik agak tlnggl, Ilma orang murld Slauw-lim-pal yang bertugas Jaga di plntu gapura kompleks perumahan Siauw-llm-sl menerima kunjungan seorang tamu.

Lima orang murld yang berusia antara dua puluh sampal tiga puluhi tahun itu menyambut datangnya tamu tak dikenal ini dengan slkap hormat dan ramah, sikap yang diajarkan oleh para pimpinan mereka.

Orang-orang muda dengan kepala gundul dan pakaian sederhana kini bangkit dari duduknya di dalam gardu penjagaan dan melangkah keluar gardu menyambut tamu itu.

Tamu itu adalah seorang pria berusia kurang lebih lima puluh tahun.

Tubuhnya sedang namun tampak kokoh kuat.

Wajahnya.

yang dihias kumls tipis Itu gagah perkasa, sinar matanya mencorong.

Pakaiannya rlngkas, sepertl yang blaaa dlpakai kaum persllatan.

Sebatang padang beronce biru tergantung dl punggunnya sehihgga mudah sekali diduga bahwa pria Itu tentulah seorang ahll silat atau sebutan umumnya orang kang-ouw (sungal telaga) atau orang bu-lim (rimba persilatan).

Seorang murid tertua darl llma orang Itu, berusia tiga puluh tahun, cepat mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan dan dia bertanya.

"Slapakah saudara yang datang berkunjung dan keperluan apakah yang membawa saudara datang ke Siauw-Lim-Si?"

Akan tetapi pria Itu tidak membalas penghormatan murid Siauw-lim-pal itu, bahkan dia memandang dengan alls berkerut, tanda bahwa hatinya tidak merasa senang.' "Kalian berlima tentu murid-murid Siauw-lim-pai, benarkah?"

Suaranya juga terdengar tidak ramah, bahkan agak ketus.

"Benar, kami adalah murid-murld Siauw-llm-pal."

Jawab lima orang muda itu, mulal merasa penasaran melihat sikap tamu yang tidak ramah Itu.

"Nah, cepat panggil Ketua Siauw-Lim-pai ke sini untuk menemul aku! Aku ingin bicara dengan dial"

Lima orang murld, Siauw-lim-pai Itu tentu saja mengerutkan alis dan merasa tidak senang.

Tamu ini sungguh lancang dan tidak sopanl Masa berani mengeluarkan perintah memanggil ketua mereka begitu saja?

Memangnya siapa sih dia.

Akan tetapi, murld tertua mewakili teman-temannya karena dialah yang bertugas sebagai kepala jaga.

Dia masih dapat bersikap sabar.

"Sungguh tidak mudah untuk menghadap ketua kami. Seorang tamu harus memberitahu nama dan alamat, apa keperluannya agar kami dapat melapor ke dalam, kemudian tergantung keputusan ketua kami apakah beliau dapat menerima tamu itu menghadap atau tidak."

"Aku bukan tamu!"

Pria itu membentak marah.

"Tidak perlu menghadap ketua kalian. Dialah yang harus keluar menemui aku karena aku hendak menuntut dia! Hayo, kalian beritahukan ketua kalian agar keluar menemui aku. Ketua kalian Hui Sian Hwesio, bukan?"

Murid-murid Siauw-lim-pai itu rnulai marah. Orang ini sudah keterlaluan.

"Tidak bisa! Kami tidak blsa memenuhi permintaanmu yang melanggar peraturan kami itu!"

Kata kepala jaga dengan suara mulai ketus.

"Kalian tidak blsa memanggil ketua kalian keluar? Kalau begitu, aku akan memanggilnya sendiri!"

Setelah berkata demikian, pria itu memasuki pintu gapura dan melangkah memasuki pekarangan kuil yang luas itu.

Akan tetapi dengan tangkas lima orang murid penjaga itu melompat dan menghadang didepannya.

"Maaf, sobat. Sesual dengan peraturan kami, tak seorangpun orang luar boleh memasukl pekarangan sebelum memperoleh persetujuan. Dan kaml tldak dapat menyetujui engkau menyelinap masuk begltu saja tanpa memperkenalkan dlrl dan tanpa memberi tahu keperluanmu!"

"Hemm, kalian berani melarangku? Coba hendak kulihat bagaimana kalian dapat menghalangiku. Murld Slauw-llm-pai sekarang memang sudah menjadi orang-orang jahat yang patut dihajar!"

Setelah berkata demlkian, orang itu melangkah maju terus tanpa menghiraukan mereka berlima yang menghadangnya.

Tentu saja lima orang murid Siauw-lim-pai itu menjadi marah sekali, Mereka menggerakkan tangan untuk mencegah dan menangkap orang yang tidak tahu aturan itu.

Akan tetapi orang itu menggerakkan kaki tangannya dengan cepat dan....

lima orang murid Siauw-llm-pal itu berpelantingan roboh ke kanan kiri, Cepat sekall gerakan kaki tangan orang Itu yang sudah membagi-bagi tamparan dan tendangan sehingga tidak dapat dihindarkan oleh lima orang murid Slauw-lim-pai itu.

Setelah merobohkan lima orang murid Slanw-llm-pal, dia melangkah terus menuju ke anak tangga yang merupakan bagian terdepan dari kuil besar.

Setelah tlba dl bawah kuil, dia berhenti dan mendengar teriakan-teriakan para murid yang tadl dirobohkan.

Dia tidak perduli berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangannya bertolak plnggang dan dia berteriak.

Suaranya terdengar nyaring sekali karena dla mengerahkan khi-kang yang membuat| suaranya melengklng.

"Hui Sian Hwesio, keluarlah untuk berbicara!!"

Keadaan menjadl gempar, Para murid Siauw-lim-pai meninggalkan pekerjaan masing-masing dan berbondong mereka menuju ke pekarangan kuil.

Akan tetapi mereka tidak berani turun tangan dan hanya berdiri menanti perintah dari pimpinan mereka.

Tidak kurang dari empat puluh orang murid telah berkumpul di anak tangga serambi depan dan di pekarangan.

Namun pria itu tidak tampak takut, bahkan tersenyum mengejek dan mengulang teriakannya tadi.

Tiba-tiba muncul seorang hwesio berusia kurang lebih lima puluh tahun dl serambi depan dan dengan langkah lebar hwesio itu menuruni anak tangga.

Para murid Siauw-lim-pai merasa lega karena hwesio pendek gendut yang muncul ini adalah pelatih mereka dalam ilmu silat.

Hwesio ini bernama Ki Sian Hwesio, merupakan sute (adik seperguruan) termuda dl antara para plmplnan Slauw-llm-si, akan tetapl karena ilmu silatnya tangguh, maka dia dipilih oleh Hui Sian Hwesio sebagai pelatih, membantu Cu Slan Hwe-sio.

Mellhat ribut-ribut Ki Sian Hweslo cepat keluar dan klnl berhadapan dengan pria itu.

Lima orang murid yang tadi berjaga dan dirobohkan tamu aneh itu, segera mendekati Ki Sian Hwesio dan kepala Jaga itu melapor.

"Suhu tamu ini tidak memperkenalkan dirinya, memaksa masuk untuk menemui ketua dan telah merobohkan teecu (murid) berlima."

Ki Slan Hwesio mengerutkan alisnya menatap wajah pria yang masih tampak marah itu.

"Sobat, seorang tamu sepatut-nya tunduk terhadap tata tertib pihak tuan rumah, bukan memaksa masuk dan berterlak-teriak di sini. Siapakah engkau dan ada keperluan apa engkau berkunjung ke Siauw-lim-pai?"

"Aku Ingin bertemu dan bicara sendiri dengan Ketua Siauw-lim-pai! Apakah engkau ini wakil dari ketua?"

Orang itu bertanya. Ki Sian Hwesio menggeleng kepalanya.

"Bukan, akan tetapi...."

"Kalau begltu pergilah dan panggil ketua atau wakil ketua kalian untuk bicara denganku!"

Potong prla itu ketus.

"Pinceng (aku) memang bukan ketua atau wakll ketua, akan tetapi plnceng berhak dan berkewajiban untuk atas nama Siauw-lim-pai mengusir orang tidak tahu aturan yang berani lancang mengacau dl sini!"

Sinar mata tamu itu mencorong ketika dia mendengar ucapan ini. Dia menatap wajah hwesio yang pendek gendut itu dan berkata.

"Hemm, ingin kulihat bagaimana engkau akan mampu mengusir aku dari tempat ini!"

Karena sudah jelas bahwa tamu ini melanggar peraturan Siauw-lim-pal, bahkan telah merobohkan lima orang murid, Kl Slan Hwesio tidak ragu-ragu lagl untuk bertlndak.

"Manusia sombong, sambutlah serangan pinceng ini!"

Bentak hweslo gendut pendek Itu dan dla sudah menyerang dengan dahsyatnya.

Blarpun tubuhnya pendek gendut, Ki Stan Hwesio dapat bergerak dengan cepat sekali dan pukulannya mengandung tenaga besar.

Hwesio ini lebih suka melatlh ilmu sllat Siauw-lim-pai aliran utara yang mengutamakan kecepatan dan kekuatan, maka serangannya itu cepat namun dahsyat sekali.

Sambaran kepalan tangannya mendatangkan angin bersuitan.

Akan tetapi agaknya tamu yang belum juga memperkenalkan namanya itu memiliki ilmu kepandaian silat tinggi.

Pantas kalau dia berani bersikap demikian kasar dan berkunjung ke Siauw-lim-pai yang menjadi pusat para pendekar silat.

Menghadapi serangan Ki Sian Hwesio itu, dengan tenang namun Hncah sekali dia mengelak ke samping dan se-lagi tangan hwesio itu meluncur luput, dia sudah membalas dengan tamparan tangan terbuka ke arah ubun-ubun kepala Ki Sian Hwesio yang jauh lebih pendek itu.

"Wuuuttt....... dukk!"

Kl Sian Hwesio menangkis ke atas dan dua lengan ber-temu dengan kuatnya.

Aklbat benturan kedua lengan ini, dua orang itupun terhuyung ke belakang.

Hal ini menunjukkan bahwa tenaga mereka seimbang.

Ki Slan Hwesio menjadi penasaran dan diapun melakukan serangan dengan gencar dan bertubi-tubi, memainkan ilmu silat Slauw-lim-pai yang kokoh kuat.

Akan tetapi ternyata lawannya juga lihai sekali, mampu menandinginya, bukan saja mampu menghindarkan kakinya dari tangkapan, akan tetapi lawannya bergulingan dan ketika kakinya turun kembali, tak dapat dihindarkan lagi kakinya dapat dicengkeram!

Sebelum dia sempat meronta, de-ngan gerakan yang aneh namun kuat sekali lawannya menggeliat, kedua-ta-ngannya disentakkan dan tubuh Ki Sian Hwesio terlempar beberapa meter dan jatuh (erbanting di atas tanah.

Demikian kuat bantingan itu sehingga tulang pundak kirinya patah!

Itu adalah ilmu gulat dari bangsa Mancu!

Melihat betapa pelatih mereka terbanting keras dan hanya dapat bangkit duduk sambil mengeluh, para murid Siauw-lim-pai menjadi marah dan mereka sudah siap untuk mengeroyok tamu itu.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara nyaring berwibawa.

"Semua murid mundur!"

Ternyata yang membentak Inl adalah Cu Sian Hwesio yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka hitam.

Mendengar ini, para murld tidak jadl mengepung dan melangkah mundur, memberi ruangan ke-pada wakil ketua SiauW-lim-pal.

Cu Sian Hwesio melangkah maju turun dari anak tangga dan berdiri berhadapan dengan tamu itu.

"Omitohud!"

Kata Cu Sian Hwesio sambil merangkap kedua tangan di depan dada memberi salam sembah.

"Pinceng melihat ada gerakan silat Kong-thong-pai dalam permainan sicu (orang gagah). Selama ini tidak pernah ada permusuhan antara Siauw-lim-pai dan Kong-thong-pai, kenapa sicu datang membikin ribut di sini?".

"Ini adalah urusan pribadiku dengan orang Siauw-lim-pai, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan perguruan silat manapun!"

Kata pria itu ketus.

"Omitohud, agaknya sicu marah sekali! Siapakah nama sicu yang terhormat, dan ada urusan apakah antara sicu dengan Siauw-lim-pai?"

Tanya Cu Sian Hwesio, suaranya tetap tenang dan sabar.

"Engkau siapa?"

Tanya orang itu, suaranya masih mengandung kemarahan.

"Aku hanya Ingin bicara dengan Ketua Siauw-lim-pai!"

"Ketua Siauw-llm-pat sedang bersamadhi, tidak boleh diganggu. Pinceng adalah Cu Sian Hwesio, Wakil Ketua Siauw-lim-pai dan semua urusan dengan Siauw-lim-pai dapat diselesaikan dengan pinceng. Suheng Hui Sian Hwesio selaku Ketua Siauw-lim-pai telah menugaskan pinceng untuk menangani semua urusan mengenai Siauw-lim-pai."

Sikap orang itu agak berubah. Dia kini mengangkat kedua tangan membalas salam Cu Sian Hwesio dan berkata, tidak seketus tadi.

"Bagus, kalau begitu, aku boleh berurusan denganmu. Namaku Kwee Bun To dan baru beberapa bulan tinggal di dusun kaki bukit ini untuk mengundurkan diri dari keramaian kota dan hidup tenteram dengan anak tunggalku, seorang gadis. Kami memilih tinggal di kaki bukit ini karena mengira bahwa dekat dengan Siauw-lim-pai, tentu kehidupan di sini aman dan tenteram. Siapa kira justeru Siauw-lim-pai yang telah menghancurkan kebahagiaan hidup kami dan menghancurkan kehidupan anak kami yang telah dewasa!"

Orang yang mengaku bernama Kwee Bun To Ini mengepal tinju dan mengamang-amangkan ke atas "Aku bersumpah untuk menangkap murid Siauw-Lim-pai itu, membelah dadanya mengeluarkan jantungnya dan menginjak-injak kepalanya sampai hancur lebur!"

Para murid Siauw-lim-pai bergidik mendengar sumpah yang mengerikan itu. Akan tetapi Cu Sian Hwesio tetap tenang dan dia tersenyum sabar.

"Omitohud! Agaknya Kwee-sicu menderita dendam saklt hati yang teramat besar. Akan tetapi, apakah sebenarnya yang telah terjadi dan apa hubungannya dengan murid Siauw-lim-pai?"

"Hemm, agaknya para pimpinan Siauw-lim-pai hanya dapat mengajarkan siiat dan doa-doa saja, akan tetapi tidak mampu mengawasi kelakuan para muridnya. Nah, dengarlah kalian semua, orang-orang Siauw-lim-pai! Malam tadi, seorang laki-laki telah menyelinap masuk kamar anak perempuanku, menotoknya kemudian memperkosanya! Dan jahanam keparat busuk itu adalah seorang murid Siauw-lim-pai!"

Semua orang terkejut.

"Omitohud!"

Seru Cu Sian Hwesio.

"Nanti dulu, Kwee-sicu. Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa dia adalah murid Siauw-lim-pai?"

"Kebetulan aku terbangun malam tadi dan aku mendengar gerakan orang dalam rumah. Aku keluar dari kamarku dan sempat melihat sesosok bayangan berkelebat keluar dari kamar anakku. Aku mengejarnya dan setelah tiba di luar, aku menyerangnya. Kami berkelahi dan dia dapat melarikan diri Keparat!"

"Bagaimana sicu dapat mengetahui bahwa dia murid Siauw-lim-pai? Apakah slcu dapat mengenal mukanya?"

"Tidak, cuaca terlalu gelap, aku hanya dapat menduga bahwa dia tentu seorang lakl-laki yang masih muda."

"Akan tetapl bagaimana sicu mengetahul bahwa orang itu telah..... menodai anakmu?"

"Aku kemudian mendapatkan anakku dalam keadaan tertotok dan menjadi korban perkosaan. Ah, aku harus dapat menemukan jahanam terkutuk itu!"

"Nanti dulu, Kwee-sicu. Engkau tadi menceritakan hahwa keadaan cuaca gelap sehingga engkau tidak dapat mengenal mukanya. Akan tetapi bagaimana engkau dapat begitu yakin bahwa pemerkosa itu adalah murid Siauw-lim-pai?"

"Buktinya sudah jelas! Ketika aku berkelahi dengan dia, aku mengenal jurus-jurusnya. Jelas dia mempergunakan Jurus sllat Lo-han-kun (Silat Orang Tua Gagah) dari Slauw-lim-pai. Tidak salah lagi! Aku berani bersumpah!"

"Omitohud, urusan ini menjadl amat ruwet dan sulit. Kalau engkau tldak mengenal mukanya, lalu bagaimana pinceng dapat menerima tuduhanmu bahwa dia itu murid Siauw-lim-pai? Bukti ilmu silat itu sama sekali tidak kuat, sicu. Semua orang, biarpun bukan murid resmi Siauw-lim-pai, dapat saJa mempelajarinya."

"Tidak, aku yakin dia murid di sini. Pertama, jurus silatnya tadi. Ke dua, bukankah Siauw-lim-si yang paling dekat dengan dusun kami? Karena itu, aku sengaja datang ke sini untuk menuntut kepada ketua atau kepadamu sebagai wakil ketua, untuk menangkap dan menyerahkan muridmu yang Jahanam itu kepadaku! "Akan tetapi bagaimana plnceng dapat menangkap orangnya kalau pinceng tidak tahu siapa orang itu? Rasanya tidak mungkin menangkapnya karena engkau tidak memberi tanda-tanda tertentu dari orang itu. Kami tidak dapat memenuhi permintaanmu itu, Kwee-sicu. Permintaanmu itu tidak masuk akal. Kami tak mungkin melakukan penangkapan atau tuduhan kepada murid-murid kami sendiri tanpa adanya bukti yang nyata."

"Hemm, kalau begitu, terpaksa aku akan melakukan pembalasan dengan cara-ku sendiri. Sebulan sekali aku akan membunuh seorang murid Siauw-lim-pai dan aku baru berhenti kalau Siauw-lim-pai sudah menyerahkan jahanam keparat ter-kutuk itu kepadakui"

"Omitohud! Engkau saitta sekall tidak boleh melakukan hal itu, sicu! Itu kejam dan tidak adil namanya dan pinceng pasti akan mencegahya!"

Seru Cu Sian Hwe-sio.

"Bagus engkau hendak melindungi dan membela Jahanam busuk itui' Jangan dikira aku takut kepadamu, Cu Sian Hwe-sio!"

Kwee Bun To bersikap siap untuk bertandlng. Pada saat itu, seorang pemuda menghampiri Cu Sian Hwesio dan memberi hormat kepada hwesio bermuka hltam tinggi kurus itu.

"Susiok!"

Cu Sian Hwesio memandang.

Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, wajahnya bulat dengan kulit muka putih bersih, alisnya tebal hitann.

Seorang pemuda bertubuh sedang tegap yang berslkap lembut dan wajahnya tampan gagah.

Sepasang matanya tajam dan mulutnya selalu dihias senyum ramah.

"Ah, kiranya engkau, Cia Song!"

Seru Cu Sian Hwesio gembira.

Cia Song adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang berbakat dan yang dulu dilatih oleh Hul Sian Hwesio sendiri sehingga tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada murid-murid lain.

"Tunggulah dulu, pinceng hendak menyelesaikan urusan dengan Kwee-sicu ini."

"Teecu (murid) sudah mendengar semua yang dipertengkarkan tadi, susiok (paman guru). Perkenankanlah teecu mewakili susiok dan Siauw-lim-pai untuk menghadapi Kwee-kauwsu (guru silat Kwee) ini. Cu Sian mengangguk. Dia memang segan untuk berurusan dengan seorang yang sedang dimabok dendam dan kemarahan itu dan dia mengenal Cia Song sebagai seorang pemuda yang pandai dan bijaksana sehingga suhengnya, yaitu Ketua Siauw-lim-pai Hui Sian Hwesio sering memuji-muji muridnya itu. Dia mengangguk-angguk lalu mundur beberapa langkah, membiarkan Cia Song mewakilinya. Pemuda itu kini dengan tenang talu berdiri menghadapi Kwee Bun To, ditonton oleh semua murid Siauw-lim-pai yang mengenal pemuda yang mereka kagumi sebagal seorang jagoan muda Siauw-lim-pal itu. Kwee Bun To juga memandang penuh perhatian. Pemuda Itu tampan gagah, slkapnya tenang dan lembut, wajahnya ramah, pakaiannya tidak terlalu mewah namun bersih sekali dan rapi, sepatunya dari kulit hitam mengkilap dan dipunggungnya tergantung pedang beronce merah. Cia Song memberl hormat dengan merangkap tangan di depan dada.

"Kwee-kauwsu, saya harap engkau suka bersikap tenang dan sabar, karena hanya dengan sikap seperti itu persoalan dapat diselesaikan dengan baik."

Kwee Bun To mengerutkah alisnya.

Baru beberapa bulan dia pindah ke dusun di kaki bukit, dusun yang menjadi tempat asalnya.

Tadinya dia memang seorang guru silat yang cukup terkenal di wilayah utara.

Akan tetapi, ketika wilayah Cina Utara dikuasai oleh bangsa Yucen yang mendirikan Kerajaan Kin, sedangkan Kerajaan Sung terpaksa pindah ke sebelah selatan Sungal Yang-ce, guru silat Kwe Bun To terpaksa membubarkan perguruannya.

Dia tldak mau tunduk kepada bangsa Yucen dan melarlkan diri.

Dalam pelarlan yang dilakukan bersama isteri dan anak tunggalnya itu, isterinya meninggal dunia karena menderita kaget dan sakit berat.

Akhlrnya dia tinggal di dusun di kaki bukit itu, berdua dengan Bi Hwa, puterinya yang sudah berusla tujuh belas tahun.

Tak pernah dia memperkenalkan diri sebagai guru silat, akan tetapi bagaimana pemuda ini dapat menyebutnya kauw-su (guru silat)?

"Bagaimana engkau tahu bahwa aku adalah seorang guru silat?

Siapakah engkau, orang muda?"

Tanya Kwee Bun To sambil memandang tajam penuh selidik. Cia Song tersenyum ramah.

"Nama saya Cia Song dan sebagai seorang murid Siauw-lim-pai, saya merasa berkewajiban untuk mewakill suhu, susiok dan semua saudara di Siauw-lim-pai untuk membereskan persoalan ini denganmu, Kwee-kauwsu. Selama ini saya merantau ke wilayah utara dan mendengar banyak hal, juga tentang Pek-eng Bu-koan (Perguruan Silat Garuda Putih) yang anda pimpin di kota raja akan tetapi terpaksa dibubarkan setelah bangsa Yucen menguasai daerah utara."

"Hemm, engkau mengetahui banyak hal. Akan tetapi, apa yang dapat kau lakukan mengenai persoalanku ini, sedangkan para plmpinan Slauw-lim-pai sendiri agaknya tidak mampu memecahkannya? Keluargaku telah tertimpa malapetaka dan aku hanya menghendaki agar Siauw-Lim-pai menyerahkan jahanam terkutuk itu. Kalau hal itu tidak dapat dilakukan terpaksa aku akan melakukan pembalasan dengan caraku sendiri, yaitu setiap bulan aku akan membunuh seorang murid Siauw-lim-pal untuk melampiaskan dendam keluargaku!"

"Kwee-kauwsu, saya harap anda da-pat menyabarhan dan menenangkan hati, tidak menuruti nafsu amarah karena dendam yang membakar hati. Jalan yang anda tempuh itu hanya akan memperbebar dendam mendendam dan permusuhan yarig tldak akan menguntungkan kedua pihak. Ketahuilah, Kwee-kauwsu, para murid Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang digembleng lahir batinnya, kiranya tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Lebih besar lagi kemungkinannya bahwa pelakunya adalah orang yang memusuhi Siauw-lim-pai. Dia telah nrempelajari Lo-han-kun dan mengunakan itu untuk mengadu domba antara Siauw-lim-pal dan anda, Juga untuk merusak nama baik Siauw-lim-pai. Karena itu, saya mempunyai usul yang jauh lebih baik daripada apa yang hendak anda lakukan sebagai balas dendam itu.,"

Sikap sopan dan ucapan yang ramah lembut itu agak mendinginkan hati Kwee Bun To yang dibakar api keirtarahan.

"Hemm, orang muda, usul apakah yang hendak kauaampalkan kepadaku?"

"Begini, Kwee-kauwsu. Aku berjanji akan mencari pemerkosa itu sampai dapat kubekuk batang lehernya! Kalau aku berjanji untuk menangkap dan menyeret orang itu kepadamu, maukah engkau membatalkan ancamanmu untuk membunuhi para murid Siauw-lim-pai itu?"

"Hemm, Cia Song, jawabanmu ini ja-E uh lebih baik daripada jawaban mereka tadi. Setidaknya engkau berjanji untuk menangkap jahanam itu, tidak perduli itu murid Siauw-lim-pai atau bukan. Baik, aku memberi waktu satu bulan kepadamu. Kalau dalam waktu sebulan engkau belum mampu menyerahkan jahanam itu, terpaksa aku menggunakan caraku sendiri untuk mernbalas dendaml"

"Baik, Kwee-kauwau. Akan tetapi untuk mencari pemerkosa itu, saya harus bisa mendapatkan keterangan dan penjelasan dari puterimu tentang orang itu setidaknya ciri-ciri yang dapal diceritakan puterimu agar mudah bagiku untuk mencari orangnya."

"Baik, hal itu mudah diilakukan. Akan tetapi aku masih belum yakin engkau akan mampu menangkap jahanam itu sebelum menguji kemampuanmu. Karena itu, terimalah seranganku sekali saja. Kalau engkau mampu menahan, baru aku dapat menerima usulmu. Beranikah engkau menyambut seranganku?"

Cia Song tersenyum.

"Kalau itu yang anda kehendaki, silakan, Kwee-kauwsu. Saya siap menyambut pukulannlu."

"Cia Song berhati-hatilaht"

Seru Cu Sian Hwesio khawatir. Akan tetapi murid keponakannya itu menoleh sambil tersenyum kepadanya.

"Susiok, teecu hendak membantu Kwee-kauwsu, tentu dia tidak ingin mencelakai teecu."' "Cia Song, bersiaplah dari sambut seranganku ini!"

Kwee Bun To membentak nyaring.

Cia Song cepat menghadapinya dan melihat guru silat itu, menyerangnye dengan dorongan kedua telapak tangan, diapun cepat menekuk kedua lututnya dan membuat gerakan serupa, yaitu rnendorongkan kedua telapak tangannya ke depan untuk menyambut serangan jarak jauh yang mengandung hawa pukulan dahsyat itu.

"Wuuuuttt.... blarr'r....!"

Dua hawa pukulan yang dahsyat dan kuat bertemu di antara mereka dan Kwee Bun To terdorong mundur sampai tiga langkah!

Dia terkejut sekali.

Biarpun dla tadl tidak ingin membunuh pemuda yang bermaksud membantunya itu, namun dia telah mengerahkan tiga perempat bagian tenaganya, dan ternyata pemuda itu mampu mendorongnya sampai tiga langkah.

Hal ini saja sudah membuktikan bahwa tenaga saktl pemuda itu lebih kuat darlpada tenaga Ki Sian Hweslo yang tadi bertanding melawannya.

Hal ini menimbulkan kepercayaan dalam hatinya.

Siapa tahu, mungkin pemuda ini yang akan mampu menangkap jahanam yang telah memperkosa puterinya.

"Cia Song, aku menanti kunjunganmu untuk mendengar keterangan dari anakku. Cu Sian H.vesio, sampaikan pernyataan maafku kepada Ketua Siauw-lim-pai atas gangguanku yang terpaksa kulakukan ini."

Setelah berkata begitu, guru silat yang menderita pukulan batin hebat itu lalu memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.

"Omitohud!"

Cu Sian Hwesio berseru.

"Orang yang sedang penuh duka dan kemarahan, ditekan dendam sakit hati yang hebat seperti dia, menggelapkan semua pertimbangan dan dia dapat menjadi orang yang berbahaya sekali! Untung engkau dapat meredakan kemarahannya dan menanamkan kepercayaan dalam hatinya. Cia Song. Mari, mari kuhadapkan engkau kepada suheng Hui Sian Hwesio."

"Baik.'susiok."

Akan tetapi baru saja kedua orangitu melangkah hendak memasuki kuil, dua orang rnurid Siauw-Iim-pai yang tadi melakukan penjagaan di pintu gerbang, datang berlari-lari dan melapor kepada Cu Sian Hwesio bahwa ada seorang tamu hendak menghadap Ketua Siauw-lim-pai.

"Ehh? Siapa lagi yang akan menghadap ketua?"

Tanya Cu Sian Hwesio dengan heran.

"Tamu yang ini mematuhi aturan, suhu. Dia masih muda, mengaku bernama Souw Thian Liong dan dia adalah murid dan utusan Tiong Lee Cin-jin mohon menghadap ketua karena membawa pesan penting dari Tiong Lee Cin-jin."

Wajah yang berkulit hitam itu berseri dan sepasang rnata itu bersinar-sinar.

"Tiong Lee Cin-jin? Omitohud....! Kalau dia murid manusia bijaksana itu, tentu saja suheng Hui Sian Hwesio mau menerimanya! Persilakan dia masuk dan sekalian akan pinceng hadapkan suheng bersama Cia Song."

Dua orang murid itu berlari menuju ke luar dan tak lama kemudian mereka mengantar Thian Liong ke depan Cu Sian Hwesio. WakUketuaini mengamat?"

Orang muda yang datang dan memberi hormat kepadanya.

Seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh tahun, bertubuh sedang dan berwajah tampan dengan kulit putih bersih.

Mata pemuda itu mencorong namun bersinar lembut, hidungnya mancung, mulutnya selalu menyungging senyum.

Pakaiannya sederhana dan dia menggendong sebuah buntalan pakaian.

Pemuda ini mirip Cia Song, pikir Cu Sian Hwesio, hanya lebih muda.

"Locianpwe, mohon maaf sebesarnya kalau kedatangan saya mengganggu ketenteraman di sini. Kalau tidak membawa perintah suhu, sungguh saya tidak berani mengganggu tempat suci ini."

Cu Sian Hwesio merangkap kedua tangan di depan dada dan tersenyum.

"Omi tohud!"

Dia berseru.

Pinceng merasa berbahagia sekali.

Siauw-lim-pai telah mendapat kehormatan besar menerima kunjungan murid atau utusan yang mulia Tiong Lee Cin-jin!

Mari, Souw-taihiap (pendekar besar Souw), mari pinceng antarkan engkau menghadap suheng Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai."

"Mari, Souw-siauwte (Saudara Muda Souw), kita menghadap suhu. Kebetulan sekali saya iuga hendak menghadap beliau dan kita dapat bersama-sama menghadap suhu. Perkenalkan, saudara Souw Thian Liong, saya bernama Cia Song, seorang di antara murid-murid Suhu Hui Sian Hwesio."

Sikap yang ramah terbuka itu menye-hangkan hati Thian Liong dan dia merangkap kedua tangan di depan dada dengan hormat.

Pemuda itu menyebutnya saudara muda, dan memang pemuda tampan gagah murid ketua Siauw-lim-pai itu!

tentu beberapa tahun lebih tua darinya.

"Saya senang sekali dapat berkenalanj denganmu Cia-twako (kakak Cia), dan saya merasa terhormat sekali akan dapat menghadap locianpwe Hui Sian Hwesio."

"Marilah, Souw-taihiap dan Cia Song. Biarpun suheng Hui Sian Hwesio jarang sekali mau bertemu dengan orang lain, akan tetapi pinceng yakin bahya sekali ini dia akan suka sekali untuk bertemu dengan kalian."

Kata Cu Sian Hwesio.

Mereka bertiga memasuki kompleks bangunan Siauw-Lim-pai yang luas dan setelah tiba di sebuah ruangan tertutup yang sunyi, di mana tidak tampak seorangpun hwesio, Cu Sian Hwesio merangkap kedua tangan di depan dada, berdiri agak mem-bungkuk dengan hormat di luar pintu ia-lu berkata dengan nada suara lembut.

"Suheng yang mulia, perkenankanlah pinceng menghadapkan murid Cia Song dan talhiap Souw Thlan Liong murid atau utusan yang mulia Tiong Lee Cin-jin kepada suheng!"

Sunyi menyambut ucapan Cu Sian Hwesio itu.

Kemudian terdengar jawaban suara yang lembut sekali dari dalam, namun suara lembut Itu terdengar oleh Thlan Liong seolah ada orang berblsik di dekat telinganya.

Dengan kagum dia mengerti bahwa suara itu dibawa tenaga dalam yang amat kuat, menembus segala apa yang menghalang di depan.

"Omltohud! Mimpi apa plnceng semalam sehingga yang mulia Tiong Lee Cin-Jin mengutus murldnya datang ke slni?"

Belum habis kalimat itu terucapkan, daun pintu itupun bergerak sepertl terbuka dari dalam.

Akan tetapi Thian Liong tldak melihat adanya orang yang membuka daun pintu itu dan hembusan angin lembut namun kiiat terasa olehnya.

Tahulah dla bahwa pintu itu dibuka dengan dorongan angin itu dari jauh.

Dan ketika dia memandang ke dalam ruangan itu, jauh di tehgah ruangan yang luas itu tampak duduk seorang hWesio.

Usianya sekitar enam puluh tahun lebih, sedikitnya enam puluh lima tahun, tubuhnya gemuk tinggi besar seperti tubuh Arca Ji-lai-hud, mukanya bulat penuh senyum cerah dan alisnya tebal, matanya bersinar lembut.

Hwesio itu duduk bersi-la di atas dipan kayu.

Agaknya hwesio itu tadi membuka daun pintu dengan dorongan tangan yang menimbulkan angin lembut yang kuat.

Hal ini saja membuktikan betapa tinggi ilmu kepandaian hwe-sio itu yang sudah mampu mengatur tenaga saktinya sedemikian rupa seolah tenaga saktinya itu merupakan sebagian anggota tubuhnya yang dapat melakukan apa-apa dari jarak jauh.

"Silakan masuk, Souw-taihiap dan kalian juga, Cia Song dan Cu Sian Hwe-sio."

Kata hwesio tua itu sambil menggapai dengan tangan kanannya.

Tiba-tiba Thian Liong menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah hwesio tua yang dia yakin tentu Hui Sian Hwe-sio adanya.

Tadi ketika Cu Sian Hwesio menyebutnya taihiap (pendekar besar), walaupun hatinya merasa tak enak, dia menerima saja.

Akan tetapi ketika ketua Siauw-lim-pai menyebutnya demikian, dia merasa berat sekali untuk menerimanya, maka dia segera menjatuhkan diri berlutut.

"Harap iocianpwe sudi memaafkan teecu (murid). Sungguh teecu tidak berani menerima sebutan taihiap dari locianpwe. Nama teecu Souw Thian Liong dan teecu akan merasa senang sekali kalau locianpwe menyebut naroa teecu begitu saja. Hwesio tua itu tertawa lembut dan mengelus jenggotnya yang menutupi le-hernya. Dia tidak berkumis dan gundul, akan tetapi jenggotnya yang sudah, berwarna dua itu cukup panjang.

"Omitohud! Yang mulia Tlong Lee Cin-jin telah memberi bimbingan luar dalam kepadamu, membuat pinceng merasa kagum sekali. Bangkit dan masuklah Thian Lioug dan jangan banyak sungkan. Sebagai murid yang mulia Tiong Lee Cin-jin, engkau patut kami anggap sebagai golongan sendiri."

"Terima kasih, locianpwe."

Kata Thian Liong dan diapun mengikuti Cu Sian Hwe-sio dan Cia Song memasuki ruangan itu.

Setelah berhadapan dengan hwesio itu, Hwesio berdiri di pinggiran sedangkan dua orang muda itu langsung berlutut di depan Hui Sian Hwesio.

Hul Slan Hweslp memandang kepada dua orang pemuda yang berlutut sambll menundukkan muka mereka Itu dan mengangguk-angguk sambil tersenyuin dan mengelus jenggotnya dengan tangan kiri.

"Cia Song coba angkat mukamu dan pandang pinceng! perintahnya dengan suara lembut. Cia Song menurut, mengangkat mukanya dan menatap wajah suhunya, bertemu pandang mata sejenak lalu dia menunduk kembali.

"Omitohud! Bagus sekali, engkau telah mendapatkan banyak sekali kemajuan, hanya saja engkau harus banyak mengurangi kekerasan hatimu dengan banyak melakukan latihan siu-lian (samadhi) dan pengendalian nafsu."

"Baik, suhu. Teecu menaati perintah? suhu."

Jawab Cia Song lirih.

"Sudah bertahun-tahun engkau pergi berkelana. Sekarang datang ke Siauw-lim-si (kuil Siauw-lim) membawa keperluan penting apakah?"

"Teecu merasa rindu kepada Siauw-lim-si, kepada suhu, para su-siok (paman guru) dan semua saudara, maka teecu sengaja datang berkunjung, suhu."

Jawab Cia Song dengan hormat.

"Maaf, suheng. Pinceng ingin menyampaikan laporan tentang jasa murid Cia Song yang telah menyelamatkan Siauw-lim-pai dari keributan yang baru saja terjadi."

Kata Cu Sian Hwesio.

"Keributan? Apakah yang telah terjadi, sute (adik seperguruan)?"

"Baru saja kita kedatangan seorang guru silat dari Pek-eng Bu-koan bernama Kwee Bun To. Dia marah-marah dan menuntut agar kita menyerahkan seorang murid Siauw-lim-pai yang katanya telah memperkosa seorang puterinya."

"Omitohud! Semoga Tuhan mengampuni kita! Siapakah murid Siauw-lim-pai yang melakukan perbuatan hina itu, sute?"

"Kauwsu (guru silat) Kwee Bun To itu tidak mengetahui siapa orangnya."

"Hemm, kalau begitu bagaimana dla dapat mengatakan bahwa pelakunya adalah murid Siauw-lim?"

"Menurut ceritanya, malam itu puterinya diperkosa orang dan dia bertemu dengan pelakunya. Di malam gelap itu dia menyerang dan orang muda yang melakukannya itu melawannya dengan menggunakan ilmu silat Lo-han-kun yang dikenalnya. Maka dia mengatakan dengan pasti bahwa pelakunya adalah murid Siiauw-lim-pai."

"Omitohud! Bagaimana dapat terjadi hal seperti ini? Lalu bagaimana sute?"

"Dia menuntut agar kita menyerahkan pelaku itu, kalau tidak dia akan membunuhi murid Siauw-lim-pai satu demi satu. Hampir saja pinceng sendiri bertanding dengan dia, akan tetapi lalu muncul murid Cia Song yang melerai dan menyabarkan Kwee Bun To. Cia Song menjanjikan kepadanya bahwa dia akan menangkap pelaku perkosaan itu dalam waktu satu bulan. Kwee Bun To menerima janji itu dan mengundurkan diri sehingga Siauw-lim-pai terhindar dari keributan."

Hui Sian Hwesio mengangguk-angguk dan memandang kepada muridnya.

"Cia Song, engkau berjanji kepada Kwee-kauwsu untuk menangkap pelaku itu dalam sebulan, apakah engkau mengetahui siapa pelakunya?"

"Teecu belum mengetahuinya, suhu."

"Hemm, kalau begitu, bagaimana engkau berani berjanji hendak menangkapnya?"

"Akan teecu selidiki sampai teecu berhasil menangkapnya."

"Apakah engkau percaya bahwa pelakunya adalali seorang murid Siauw-lim-pai?"

"Teecu tidak percaya. Mungkin saja orang lain yang sengaja menggunakan ilmu silat Lo-han-kun untuk menyembunyikan diri dan menjatuhkan kesalahan kepada Siauw-lim-pai. Teecu akan menyelidikinya, suhu."

"Omitohud! Sikapmu itu memang baik sekali dan telah menyelamatkan Siauw-lim-si dari keributan dan permusuhan. Akan tetapi juga merupakan tindakan yang gegabah! Seorang laki-laki sekali berJanJi harus dipenuhi dan engkau su-dah berjanji akan menangkap pelaku itu, maka janji itu harus kau penuhi! Bagai-mana kalau sampai sebulan engkau be-lum dapat menemukan pelaku kejahatan itu?"

"Kalau sampai teecu gagal, teecu akan mempertanggung-jawabkan kepada kauwsu Kwe Bun To, suhu."

"Bagus, bagus sekali! Seorang laki-laki harus memenuhi janjinya dan harus berani mempertanggung-jawabkan semua .tindakannya! Engkau pantas menjadi seorang murid Slauw-lini-pai."

Hui Sla Hwesio niemuji, mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya, lalu memandang kepada Thian Liong.

Diam-diam dia merasa bangga dan girang karena utusan Tiong Lee Cin-jin mendengarkan semua percakapannya depgan Cia Song.

Sungguh membanggakan hati kalau Tiong Lee Cin-jin mendengar akan kegagahan murid Siauw-lim-pai!

"Souw Thian Liong, sekarang pinceng beralih kepadamu.

Engkau sebagai murid Tiong Lee Cin-jin diutus berkunjung ke Siauw-lim-si membawa berita penting apakah?

Ada petunjuk apakah dari guru?"

Thlan Liong memberl Hormat sambll berlutut.

"Loclnpwe, teecu diutus oleh suhu untuk pertama-tama menyampaikan salam hormat suhu kepada locianpwe."

"Omitohud! Tiong Lee Cin-jin yang terhormat sungguh biJaksana dan baik hati. Salamnya pinceng terima dengan rasa bahagia dan kelak kalau engkau bertemu dengan beliau, sampaikan salam dan hormat plnceng yang mendalam untuk beliau."

"Teecu akan menyampaikan pesan lo-cianpwe. Dan tugas teecu yang kedua adalah untuk menyerahkan sebuah kitab yang ditemukan suhu di dalam perjalanannya ke barat yang menurut suhu kitab itu adalah hak milik Siauw-lim-pai."

Setelah berkata demikian, Thian Liong mengeluarkan kitab Sam-jong Cin-keng yang tua itu dan dengan kedua tangan dia menyerahkannya kepada Hui Sian Hwesio.

Hwesio tua itu menerima kitab itu, membuka-buka lembarannya dan membelalakkan matanya seolah tidak percaya akan apa yang dilihatnya, lalu meletakkan kitab di atas pahanya dan dia merangkap kedua tangan depan dada.

"Omitohud....! Seperti dalam mimpi saja rasanya saat ini pinceng dapat memegang kitab Sam-jong Cin-keng yang sudah hilang puluhan tahun ini! Sungguh luar biasa sekali kebijaksanaan yang mulia Tiong Lee Cin-jin. Setelah menemukan kitab ini, dia masih bersusah payah mengutus muridnya untuk mengembalikannya kepada kami! Bukan main! Mana mungkin di dunia ini ada seorang yang demikian jujur dan mulia seperti dta? Tidak, ini tidak mungkin! Dia yang menemukan setelah puluhan tahun Siauw-lim-pai hilang harapan dan tidak mencari lagi, maka dialah yang berhak atas kitab ini!"

"Akan tetapi, suheng! Kitab Sam-jong-cih-keng adalah sebuah kitab pusaka Siauw-lim-pai, menjadi hak milik kita sepenuhnya!"

Seru Cu Sian Hwesio.

"Maafkan teecu, suhu. Teecu kira sudah sepatutnya kalau yang mulia Tiong Lee Cin-jin mengembalikan kitab Sam-jong-cin-keng, itu kepada Siauw-lim-pai. Kalau teecu sendiri menemukan kitab milik perguruan lain, tentu juga akan teecu kembalikan kepada perguruan yang berhak. Teecu yakin bahwa kalau suhu memberlkan kitab Sam-jong-cin-keng itu kepada yang mulia Tlong Lee Cin-jin, sudah pasti beliau akan menolaknya."

Biarpun sute dan muridnya mengemukakan pendirian mereka yang pantas dan kuat, namun Hui Sian Hwesio tetap mengambll kltab Itu dan menyerahkan kepada Thian Liong sambil berkata.

"Souw Thlan Llong, terimalah kitab inl dan katakan kepada gurumu bahwa pinceng memberikan kitab ini kepadanya, karena plnceng menganggap dlalah yang berhak memlllkinya."

Thian Liong tidak berani menerimanya, cepat memberi hormat dan berkata.

"Maafkan teecu, locianpwe. Teecu pikir apa yang dikatakan locianpwe Cu Sian Hwe-sio dan twako Cia Song tadi benar dan tepat, Kitab ini dahulu adalah milik Siauw-lim-pai dan sampai sekarangpun menjadi hal millk Slauw-lim-pai, maka teecu harap sudllah klranya locianpwe suka menerimanya."

"Omitohud, pinceng selalu bertindak menurutkan naluri hati nurani. Sekarang begini saja, Souw Thian Liong. Pinceng melihat kenyataan bahwa engkau seorang murid yang amat baik dari Tiong Lee Cin-jin. Kita ambil jalan tengah saja. Pinceng mau menerima kitab ini sebagal hadiah dari Tiong Lee Cin-jin, akan tetapi karena Tiong Lee Cin-jin sebagai penemunya juga berhak maka pinceng akan mengajarkan ilmu yang terkandung dalam kitab ini kepadamu sebagai ganti murid Tiong Lee Cin-jin. Kalau begitu, barulah enak rasa, hati pinceng terhadap Tiong Lee Cin-jin."

Thian Liong terkejut sekali.

"Akan tetapi.... teecu tidak berhak dan tidak berani menerimanya, locianpwe...."

"Hemm, kalau engkau tidak mau menerima pelajaran ilmu dari kitab Sam-jong-cin-keng ini, terpaksa pinceng juga tidak mau menerimanya dan bawalah kembali kitab ini kepada gurumu. Pinceng tidak ingin disebut orang yang mau enaknya sendiri, tidak mengeluarkan setetespun keringat namun menikmati hasilnya. Nah, bawalah kitab itu dan pergilah!"

Thian Liong menjadi bingung. Dia masih belum menerima kitab itu.

"Aduh, locianpwe, teecu menjadi bingung dan tldak tahu harus berbuat apa. Kalau teecu harus membawa kembali kitab ini tentu suhu merasa tldak senang. Seballknya kalau teeeu menerima usul locianpwe, sungguh teecu merasa tidak enak kepada semua murid Siauw-lim-pai."

"Omitohud, engkau terlalu halus budi dan sungkan, Thian Liong. Tidak ada perasaan tidak enak kalau engkau sudah pinceng terima sebagai muridku! Siapa yang akan menyalahkanmu kalau sebagai murid pinceng engkau mempelajari ilmu yang menjadi pusaka Siauw-lim-pai? Ataukah.... engkau menganggap pinceng tidak pantas menj'adi gurumu ke dua se-telah gurumu Tiong Lee Cin-jin?"

Diam-diam Thian Liong?

merasa girang sekali.

Dari gurunya dia sudah mendengar bahwa ketua Siauw-lim-pai ini adalah seorang yang memiliki kesaktian, maka alangkah beruntungnya kalau dia diterima menjadi murid dan akan diberi pelajaran dari kitab pusaka Sam-jong-cin-keng ttu.

Akan tetapi yang membu-at dia meragu adalah kalau-kalau dia a-kan dlharuskan tlnggal terlalu lama dl Kull Siauw Lim.

"Terima kasih atas kemurahan hati suhu,"

Katanya, tanpa ragu-ragu menyebut suhu kepada hwesio tua itu.

"Akan tetapi, teecu telah mendapatkan tugas dari suhu Tiong Lee Cin-jin untuk membela Kerajaan Sung dan menentang kekuasaan menteri jahat yang mengacaukan negara. Kalau teecu harus menjadi murid dan tinggal lama di Siauw-lim-si, bagaimana teecu akan dapat melaksanakan tugas itu?"

"Omitohud! Jalan pikiran Tiong Lee Cin-jin ternyata tidak berbeda dengan jalan pikiran pinceng. Yang dia maksudkan tentu agar engkau menentang kekuasaan Perdana Menteri Chin Kui, bukan? Jangan khawatir, Thian Liong. Pinceng berjanji hanya akan mengajarkan isi kitab yang ditemukan kembali oleh gurumu pertama ini dan mengingat bahwa, engkau tentu telah memiliki dasar yang amat kuat, maka pinceng yakin bahwa dalam beberapa bulan saja engkau tentu akan mampu menguasainya dengan baik."

Demikianlah, mulai hari itu Thian Liong tlnggal dl kull Siauw-lim dan dl bawah blmbingan Hui Sian Hwesio sendiri dia mempelajarl dan berlatlh ilmu silat berdasarkan kltab pusaka San-jong Cin-keng yang menurut dongeng diciptakan sendiri oleh Ji-lai-hud!

Sementara itu, Cia Song yang memiliki tugas berat untuk rnenangkap pemerkosa puteri Kwee Bun To seperti yang sudah dia janjikan, juga meninggalkan kuil untuk melaksanakan tugasnya.

Sebulan lewat dengan cepatnya dan Thian Liong mendapat kenyataan yang iuar biasa dan menyenangkan hatinya.

Setelah berlatih siu-lian (bersamadhi) dan pernapasan menurut ilmu yang diajarkan Hui Sian Hwesio menurut Kitab Sam-jong Cin-keng, dia merasa bahwa tenaga dalam yang sudah dikuasainya dan berpusat di bawah pusar itu kini menjadi bertambah kuat.

Ilmu silat yang terkandung dalam kitab itu hanya ada delapan jurus pokok.

Akan tetapi delapan Jurus pokok ini mengandung tenaga saktl yang amat dahsyat dan juga memungklnkan perkembangan menurut bakat yang menguasai.

Pada suatu malam, Thlan Llong rebah di etas pembaringan dalam kamarnya dl kuil itu.

Seperti biasa, waktu malam Itu dia membaca Kltab Sam-jong-Cln-keng dan melatlh siu-lian karena dl waktu siang dia berlatlh gerakan silat di bawah bimbingan Hui Sian Hweslo.

Setelah merasa lelah dan mengantuk, dla menyimpan kitab itu dalam sebuah almarl yang terdapat di sudut kamarnya dan diapun merebahkan dlrlnya ke atas pembaringan untuk tidur.

Menjelang tengah malam keadaan kull itu sunyl sekali.

Semua hweslo sudah tldur.

Sesosok bayangan hltam yang gerakannya llncah dan ringan sekali dengan mudahnya karena dia menggunakan tenaga sin-kang yang amat kuat, membuka jendela kamar Thian Liong tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Dia melompat ke dalam kamar melalui jendela yang terbuka itu dan gerakannya benar-benar ringan seperti seekor kucing melompat sehingga ketlka kedua kakinya hlnggap di atas lantai kamar yang gelap itu, tidak terdengar suara sedlkitpun.

Dia lalu bergerak ke depan, perlahan-lahan dan hati-hati sekali, dalam kegelapan itu dia menghampiri almari dan membukanya.

Dengan meraba-raba dia dapat menemukan Kitab Sam-jong Cin-keng dan cepat meninggalkan kamar melalui jendela yang terbuka.

Akan tetapi karena tergesa-gesa kakinya melanggar kaki meja sehingga terdengar sedikit suara berderit.

Secepat burung terbang, tubuhnya sudah melayang melalui jendela.

Sedikit suara itu cukup untuk membangunkan Thian Liong.

Nalurinya yang kuat dan peka membuat Thian Liong menyadari bahwa ada hal tidak wajar terjadi dalam kamarnya.

Dia menengok dan melihat bayangan berkelebat keluar dari jendela yang terbuka.

Otomatis seluruh syaraf dalam tubuh Thian Liong bekerja.

Seketika dia tahu bahwa ada orang memasuki kamarnya dan diapun segera dapat menduga bahwa orang itu tentu mencuri Kitab Sam-jong Cln-keng.

Kalau bukan kitab itu yang dlcuri, apa lagi?

dia segera menyambar Thian-liong-kiam yang diselipkan di bawah bantal, lalu sekali melompat tubuhnya sudah melayang keluar jendela melakukan pengejaran sambil menyelipkan pedang di ikat pinggangnya.

Dalam keremangan sinar lembut jutaan bintang di langit hitam Thian Liong melihat sosok bayangan itu di atas genteng kuil besar.

Diapun melompat dan mengejar.

Dia mengerahkan seluruh gin-kangnya (ilmu meringankan tubuhnya) dan berhasil mendahului dan menghadang orang yang berpakaian serba hitam dan mukanya memakai kedok hitam itu.

Hanya sepasang matanya saja yang tampak melalui lubang pada kedok, sepasang niata yang bersinar tajam.

Diapun melihat bahwa pencuri berkedok hitam itu membawa sebuah kitab di tangan kirinya.

Biarpun cuaca remang-remang Thian Liong tehu benar bahwa kitab itu bukan laln adalah Kltab Sam-jong Cln-keng yang sedang dipelajarlnya di bawah plmpinan Hul Sian Hwesio.

"Pencuri! Kembalikan kitab itu!"

Thian Liong membentak, suaranya melengking menembus malam sunyi.

Pencuri itu agaknya terkejut melihat Thian Liong dapat bergerak sedemiklan cepatnya dan tahu-tahu telah menghadang di depannya.

Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menerjang maju, kepalan kanannya menyambar ke arah dada Thian Liong.

Pukulannya cepat sekali dan juga mengandung tenaga yang amat kuat.

Thian Liong mengenal pukulan ampuh, maka dia miringkan tubuh sambil menangkis dari samping.

"Dukk!"

Keduanya terguncang oleh pertemuan kedua lengan itu dan pencuri itu mengeluarkan seruan kaget, namun dengan kecepatan yang luar blaaa kaki klrlnya meneuat dalam tendangan yang menyambar ke arah lambung Thlan Liong.

Thlan Uong maklum bahwa pencurl itu adalah aeorang yang memlllkl ilmu kepandaian silat tinggi.

Dla sudah waspada dan begltu kaki lawan menyambar, dlapun sudah menghlndar ke kiri.

Pencurl itu memballkkan tubuh untuk melarikan diri.

"Hendak lari ke mana kau? Kembalikan kitab itu!"

Thian Liong mengerahkan gin-kangnya dan dia melompat tinggi mengejar.

Ketika berada di atas pen-curi itu, tangannya menyambar ke bawah, yang kiri mencengkeram ke arah kepala pencuri itu dan yang kanan menyambar untuk merampas kitab dari tangan kiri lawan.

"Uhh....!"

Pencuri itu makin terkejut dan cepat merendahkan diri mengelak sambii melompat ke samping sehingga serangan Thian Liong luput walaupun hampir saja kitab itu dapat direbutnya.

Pencuri itu agaknya menjadi marah sekali karena hampir saja kitab itu teram-pas oleh Thian Liong.

Mereka kini berhadapan dalam jarak kurang lebih empat meter.

Tiba-tiba pencuri itu menggunakan tangan kanannya untuk diputar-pu-tar dan tubuhnya merendah, kedue lutut ditekuk hamplr berjongkok dan tiba-tiba tangan kanannya itu didorongkan ke arah Thlan Liong sambil membentak keras.

"Haaiiiilittt....!"

Dari tangan kanan yang didorongkan itu keluar uap hiiam!

Thlan Liong terkejut.

Orang itu menyerangnya dengan tenaga sakti yang amat dahsyat dan melihat uap hitam itu sangat boleh jadi tenaga dorongan itu mengandung hawa beracun yang berbahaya.

Thian Liong segera mengerahkan tenaganya pada lengan kirinya dan miringkan tangan kiri ke depan dada, lalu mendorong ke depan rnenyambut serangan lawan.

"Wuuuuttt.... bressss....!!"

Dua tenaga bertemu dan uap hitam itu membuyar, tubuh pencuri itu terhuyung ke belakatig.

Thian Liong tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi.

Tubuhnya sudah berkelebat ke depan dan sekali sambar dia sudah berhasil merampas Kitab Sam-jong Cin-keng itu dari tangan si pencuri.

Akan tetapi, sungguh tak disangka sama sekali tubuh pencuri itu bergulingan dan tahu-tahu kitab itu dapat dirampas kembali!

Thian Liong terkejut karena tidak menyangka pencuri itu memiliki kegesitan yang demikian luar biasa, dan tubuh yang bergulingan itu amat cepatnya.

Dia segera terlngat akan hasil llmu yang dilatihnya dari kitab Sam-jong Cln-keng, maka untuk merampas kembali kitab itu, dia mengerahkan tenaga dan menggunakan tangan kirinya untuk menyerang, mencengkeram ke arah leher lawan.

Pencuri itu agaknya maklum akan kelihaian Thian Liong, maka dia bermaksud mengelak dan melarikan diri.

Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika dia mengelak, lengan Thian Liong itu dapat mulur (memanjang) seperti karet dan tahu-tahu telah merampas lagi kitab dari tangannya!

Thian Liong merasa gembira karena ternyata ilmu mengulur tangan sehingga memanjang satu meter lebih itu telah berhasil dia kuasai dan kini telah memperlihatkan hasilnya!

Pencuri itu marah sekali.

Dia sudah bersiap untuk menyerang lagi, akan tetapi pada saat itu terdengar terlakan beberapa suara.

"Tangkap penjahat....!"

Mendengar teriakan-teriakan itu, si pencurl terkejut dan dia melompat Jauh dengan gerakan cepat sekall dan menghilang dalam kegelapan yang remang-remang.

Thian Liong tldak mengejar karena kitab yang dlcuri itu telah dapat dirampasnya kembali.

Dia segera melompat turun dari atas genteng kuil besar dan di bawah sudah berkumpul banyak hwesio, di antaranya terdapat Ki Sian Hwesio.

"Souw-sicu, apakah yahg terjadl? Kenapa tadi ada murid-murid yang berteriak tangkap penjahat?"

Tanya Kl Sian Hwesio, pelatih para murid Siauw-lim-pai itu.

"Suhu, tadi ada orang berpakaian serba hitam di atas genteng, bertandlng dengan Souw-sicu, maka kaml berteriak-teriak."

Kata seorang murid Siauw-lim-pai. Tlba-tlba muncul Cu Slan Hwesio, wakil Ketua Slauw-lim-pal dan dia segera berkata.

"Souw-sicu, tadi pinceng mendengar suara ribut-ribut dan segera mengejar naik ke atas atap. Akan tetapi penjahat itu telah melarikan diri dengan cepat dan kebetulan pinceng bertemu dengan Cla Song, maka pinceng menyuruh dia untuk melakukan pengejaran. Apa yang telah dilakukan penjahat itu?"

"Dia memasuki kamar teecu dan mencuri Kitab Sam-jong Cin-keng, Susiok (paman guru). Teecu terbangun dan segera mengejarnya. Kami bertanding di atas atap dan teecu beruntung dapat merampas kembali kitab ini, akan tetapi dia mendengar suara ribut-ribut dan melarikan diri."

Kata Thian Liong sambil memperlihatkan kitab yang telah dapat dirampasnya kembali.

"Omitohud! Untung engkau dapat merampasnya kembali. Sekarang lebih baik jangan ribut-ribut dan jangan mengagetkan ketua, kita tunggu saja di ruangan ini sampai Cia Song kembali dari pengejarannya."

Kata wakil ketua itu dan mereka semua duduk di ruangan itu.

Thian Liong menceritakan lagi peristiwa pencurian dalam kamarnya itu.

Tak lama kemudian, tiba-tiba tampak sosok bayangan orang berkelebat.

Semua orang menoleh dan memandang dan ternyata yang datang itu, adalah Cia Song.

Cu Sian segera bangkit berdlri, menyambut pemuda tampan dan gagah itu dengan pertanyaan.

"Bagaimana, Cia Song, berhasilkah engkau menangkap penjahat itu Cia Song mengerutkan alisnya dan memandang kepada Thian Liong dengan menyesal. Kemudian dia berkata kepada sang wakil ketua.

"Sayang sekali, susiok, teecu tidak berhasil menangkapnya. Teecu memang dapat menyusulnya dan kami bertanding mati-matian. Ternyata penjahat itu lihai bukan main. Dengan mengerahkan seluruh kemampuan, teecu hanya berhasil merenggut topeng kain hitam yang menutupi wajahnya, akan tetapi dia melompat jauh dan menghilang dalam kegelapan pohon-pohon di luar kuil kita."

Pemuda itu mengambil sehelai kain hitam dari saku bajunya dan menyerahkan kain itu kepada Cu Slan Hwesio.

Pendeta itu menerima kain hitam yang tldak terlalu lebar itu dan mengamatlnya.

Hanya kaln blasa yang dlpergunakan untuk menutup muka dan kepala dengan dua lubang di bagian mata.

"Kalau begitu, engkau tentu telah melihat dan mengenal muka penjahat itu!"

Kata Cu Slan Hwesio girang. Cia Song mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

"Sayang sekali tidak, susiok. Teecu dapat mgnyusulnya setelah berada di luar kull dan kaml bertandlng dl kegelapan bayang-bayang, pohon, lebih mengandalkan pendengaran daripada penglihatan. Ketika teecu berhasil merenggut lepas topengnya, teecu tidak dapat melihat mukanya dalam kegelapan dan dia cepat melarikan diri."

"Cia-twako, apakah dia seorang wanita?"

Tanya Thian Liong.

"Souw-sute (adik seperguruan Souw), kenapa engkau masih menyebut twako (kakak) kepadaku? Bukankah aku ini sekarang termasuk menjadi suhengmu?"

"Maafkan, suheng. Apakah pencuri tadi seorang wanita?"

Pertanyaan ini diajukan Thian Liong karena dla teringat akan dua orang gadis, yaitu gadis berpakaian merah yang telah mencurl Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat millk Kun-lun-pai yang belum dia ketahui namanya dan yang seorang lagi Ang-hwa Sian-li Thio Siang In yang juga berminat untuk pinjam Kitab Sam-jong Cin-keng.

Mendengar perkataan ini, Cia Song dan juga Hui Sian Hwesio memandang heran.

"Sudah kukatakan bahwa aku tldak dapat melihai mukanya di tempat gelap Souw-sute. Melihat kelincahan gerakannya, mungkin saja ia seorang wahita. Aku tidak tahu jelas. Bagaimana pendapatmu? Bukankah engkau juga sudah bertanding melawannya?"

Thian Liong menggeleng kepala dengan ragu. Dia Juga tidak dapat menentukan. Pencuri itu jelas lihai sekali, akan tetapi gerakannya dalam bersilat tidak sama dengan gerakan Siang In.

"Mengapa engkau menduga bahwa pencuri itu seorang wanita, Souw-sicu?"

Hwesio itu masih menyebut Thian Liong dengan sebutkan itu karena dia merasa sungkan mengingat bahwa Thian Liong adalah murid dan juga utusan Tiong Lee Cinjin yang amat dihormatinya.

"Teecu hanya nienduga saja, susiok. Bolehkah teecu meminjam sebentar kain topeng itu?"

"Ini, slmpanlah. Engkau yang digapg-gu pencuri, blar engkau yang menyimpan topeng ini. Siapa tahu dari topeng ini kelak engkau akan dapat menemukan pencurinya."

Kata Cu Sian Hwesio sambil tersenyum dan menyerahkan kain itu kepada Thian Liong.

Thian Liong menerirnanya dan tak lama kemudian Cu Sian Hwesio menyerukan kepada semua orang untuk kembali ke kamar masing-masing.

Akan tetapi dia juga memerintahkan para murid untuk malam itu melakukan penjagaan dan perondaan secara bergilir.

Setelah para murid pergi dan di situ hanya tinggal Thian Liong, Cia Song dan Cu Sian Hwesio bertiga, pendeta itu bertanya kepada Cia Song.

"Cia Song, bagaimana hasilnya dengan usahamu mencari pemerkosa puteri Kwee-kauwsu itu? Sekarang sudah tiba waktu yang dijanjikan. Kalau pinceng tidak salah meng-hitung, pada hari esok tentu guru silat itu akan datang menagih janji."

"Ah, jangan-jangan...."

Thian Liong menahan kata-katanya.

"Apa maksudmu, Souw-sicu?"

"Maksud teecu, jangan-jangan pemerkosa dan pencuri itu sama orangnya!"

"Hemm, benar juga! Susiok, harap jangan khawatir. Teecu sudah melakukan penyelidikan dan sudah dapat menemukan jejak pemerkosa itu. Mungkin juga dia pencuri kitab tadi. Teecu pasti akan dapat menghadapkannya ke depan Kwee-kauwsu pada besok pagl. Sekarang juga teecu akan melanjutkan penyelidikan dan menangkap orangnya agar besok dapat teecu hadapkan kepada Kwee-kauwsu."

Kata Cia Song dengan suara mantap.

"Omitohud! Sukurlah kalau begitu. Akan tetapi.... dia.... dia bukan murid Siauw-lim-pai?"

Tanya pendeta itu agak khawatir.

"Bukan, susiok. Dia bukan murid Siauw-lim-pai, hanya saja dia agaknya dapat mencuri ilmu Lo-han-kun dan menggunakannya sehingga Kwee-kauwsu menyangka bahwa dia murid perguruan kita."

"Sukurlah. Pinceng dapat tidur nye-nyak malam ini."

Kata Cu Sian Hwesio dan mereka lalu berpisah.

Hwesio itu dan Thlan Liong kembali ke kamar masing-masing sedangkan Cia Song keluar dari kuil untuk melacak pemerkosa yang d carinya.

Pagi hari itu keadaan, di Siauw-lim-si seperti biasa.

Matahari pagi bersinar lembut dan hangat, mepghidupkan sega-la yang tampak.

Para hwesio murid Siauw-iim-si juga sibuk dengan tugas pekerjaan mereka sehari-hari.

Akan tetapi biar keadaan sama dengan pagi-pagi yang lalu, namun suasananya sungguh berbeda.

Dalam hati para hwesio itu terda-pat kegelisahan.

Semua orang tahu bahwa hari ini adalah hari yang dijanjikan bagi guru silat Kwee Bun To.

Tiga puluh hari telah berlalu dan agaknya Cia Song, murid andalan Siauw-lim-pai itu agaknya belum juga dapat menangkap penjahat perperkosa puteri Kwee Bun To itu.

Dan kafau sampai hari ini Cia Song belum juga dapat menyerahkan pemerkosa itu, tentu guru silat Kwee Bun To akan mengamuk dan membunuhl murld-murid Slauw-llm-pal!

Karena itu, suaeana amat menegangkan hati dan blarpun para hwe-sio itu melaksanakan tugas mereka masing-masing dan tidak ada yang menyebut-nyebut urusan dengan Kwee Bun To namun diam-diam mereka sudah bersiap-siap menghadapi kalau-kalau guru silat itu akan mengamuk.

Matahari telah naik tinggi dan Cla Song yang diharap-harapkan kedatangannya tnasih belum juga tampak batang hi-dungnya.

Cu Sian Hwesio dan pembantu-nya, Ki Sian Hweslo yang biasarya tenang itu kini juga mulal menjadi gelisah.

Mereka sudah menanti di pendopo kuil besar, duduk menunggu kemunculan Cla Song.

"Kenapa Cia Song belum juga datang, suheng?"

Tanya Ki Slan Hweslo.

Cu Sian Hwesio menghela napas "Pinceng juga merasa heran.

Malam tadi dia mengatakan bahwa pagi ini dia pastl akan datang membawa penjahat itu.'' "Bagaimana kalau Kwee-kauwsu datang dan menuntut?"

"Tenanglah, sute. Kita melihat bagaimaria nanti saja. Apapun yang terjadi akan pinceng hadapi."

Kata Ci Sian Hwesio.

"Mari kita menanti di dalam saja sambil bersamadhi menenangkan hati agar nanti kuat menghadapi apapun juga. Mereka berdua lalu masuk ke dalam kuil. Tak lama kemudian suasana menjadi semakin menegangkan ketika terdengar orang berteriak dengan suara lantang sekali dan gemanya berkumandang di seluruh kompleks bangunan kuil Siauw lim.

"Heii! Para pimpinan Siauw-lim-pai! Hayo serahkan penjahat laknat itu kepadaku atau mulai hari ini aku akan membunuh seorang murid Siauw-lim-pai setiap hari!"

Pada saat itu Thian Liong sedang menerima petunjuk dari Hui Sian Hwesio mengenai jurus ke lima dalam kitab Sam-jong Cin-keng.

Selama satu bulan ini dia baru berhasll menguasai empat jurus saja.

Ketlka suara lantang itu berkumandang sampai ke dalam ruangan yang menjadi kamar sang ketua, Hul Sian Hwesio menunda pelajaran itu dan berkata kepada Thian Liong.

"Thian Liong, keluarlah dan llhat apa yang terjadi. Bantulah Siauw-lim-pai kalau terancam, akan tetapi jangan menggunakan kekerasan agar tldak menimbulkan permusuhan."

"Balk, suhu,"

Thian Liong lalu keluar darl ruangan itu dan menuju ke pendopo.

Ketika tlba dl pendopo, dla melihat semua murld Siauw-Lim-pal sudah berkumpul dl sltu dan mereka semua tampak tegang.

Cu Slan Hweslo dan Ki Sian Hweesio juga sudah berdirl dl pendopo.

Di bawah anak tangga pendopo Itu berdlrl seorang lakl-lakl beruala sekitar lima puluh tahun.

Tubuhnya sedang saja, namun tegap dan tampak kokoh dan gagah.

Di punggungnya tergantung sebatang pedang beronce biru.

Dia tampak marah.

Kumisnya yang tipis itu bergerak-gerak, matanya mencorong tajam ketika dla menyapu tempat itu dengan ge|andang matanya, mencarl-carl.

"Di mana dia, Cia Song yang telah berjanji sebulan yang lalu untuk menghadapkan keparat yang memperkosa puteriku itu? Hayo cepat suruh dla keluar menemuiku untuk mempertanggung-jawabkan janjinya kepadaku!"

Cu Sian Hwesio melangkah maju menuruni anak tangga dan berhadapan dengan Kwe Bun To. Dia merangkap tangan dl depan dada dan berkata dengan suara lembut.

"Omltohud, selamat datang, Kwee-kauwsu. Hendaknya dlketahuil bahwa sejak malam tadi Cia Song teleh pergl untuk menangkap. penjahat itu,. Menurut katanya, pagi ini dia akan menghadapkan penjahat itu kepadamu di slni. Harap kauwsu bersabar dan menanti kedatangannya."

"Hemm, sudah sebulan aku bersabar. Malam itu Cia Song sudah datang berkunjung dan mendengar keterangan anakku tentang peristiwa terkutuk itu dan dla mengulang janjinya dalam waktu sebulan dia akan menangkap penjahatnya dan menyerahkannya kepadaku. Apakah dla hanya pendusta besar?"

Guru silat itu tampak marah sekall. Thian Liong menghampiri dan berdiri di dekat Ki Sian Hweslo, siap untuk membantu kalau guru silat itu mengamuk.

"Omitohud, tidak ada murid Siauw-lim-pai yang melakukan kejahatan, apa lagi memperkosa wanita dan tidak ada yang menjadi pendusta, Kwee Kauwsu. Pinceng harap engkau suka bersabar dan menunggu sejenak."

Kata Cu Sian Hwesio.

"Aku tidak mau bersabar lagi! Aku tidak mau menunggu lagi!"

Guru silat itu membentak marah. Pada saat itu terdengar teriakan dari luar kuil.

"Kwee-kauwsu, aku datang!"

Para hwesio girang mengenal suara ini, suara Cia Song!

Tak lama kemudian tampak pemuda itu berlari datang sambil menggandeng tangan seorang laki-laki yang usianya sekitar tiga puluh tahun.

Pemuda itu bertubuh sedang, wajahnya bersih tidak berkumis atau berjenggot akan tetapl wajah itu tak dapat dlsebut tampan.

Hldungnya pesek dan blblrnya tebal, matanya sipit sepertl terpejam.

Setelah berlarl menggandeng tangan o"

Rang itu dan tiba di depan Kwee Bun To, Cia Song mendorong pemuda itu ke depan sehlngga orang itu jatuh berlutut di depan guru silat yang mengamatinya dengan sinar mata tajam.

"Inilah orang yang engkau cari itu, Kwee-kauwsu."

Kata Cia Song tegas.

"Terbuktilah sekarang bahwa pelakunya bukan murid Siauw-lim-pai!"

Orang itu berlutut dan tampak ketakutan sekali.

Matanya yang sipit dia coba untuk dibelalakkan, dan tubuhnya gemetaran.

Setelah mengamati beberapa lamanya, Kwee Bun To mengerutkan alisnya dan bertanya.

"Orang macam ini ....??"

Lalu dia berkata kepada orang itu membentak.

"Siapa namamu?"

Akan tetapi orang itu tidak menjawab hanya memberi hormat dengan mengangguk-anggukan kepalanya.

"Hemm, dia gagu?"

Tanya Kwee Bun To.

"Tidak, Kwee-kauwsu, aku telah menotoknya!"

Setelah berkata demikian, Cia Song lalu menotok tengkuknya dan orang , Itu terbatuk-batuk.

"Hei, siapa namamu?"

Kemball Kauw-su (guru silat) Kwe Bun To membentak.

"Na.... nama saya.... Giam Ti...."

Kata orang itu dengan suara gemetar.

"Dia mempunyai alias Hui-houw-ong (Raja Macan Terbang) dan menjadi kepala gerombolan di Bukit Angsa, Kwe-kauwsu."

Cia Song menjelaskan. Kwee Bun To mengerutkan alisnya. Engkau sudah beristeri?"

Tanya guru silat itu ketus. Orang yang bernama Giam Ti dan berjuluk keren itu diam saja, hanya mendekam seperti macan kelaparan.

"Plak!"

Cla Song menampar pundaknya.

"Hayo jawab sejujurnya!"

Glam Ti meringis, agaknya tamparan itu terasa nyeri dan diapun mengangguk-angguk.

"Su....dah,... saya.... sudah beristerl...."

"jahanam busuk! Engkau sudah beristerl dan engkau berani memasuki kamar anakku, menotoknya lalu memperkosanya? Hayo jawab!"

Kwee Bun To menghardlk.

"Saya.... saya...."

Cia Song menekan pundak orang itu.

"Hayo,mengaku, atau engkau ingin kusiksa lebth dulu?"

Tekanan pundak itu mendatangkan rasa nyeri yang luar biasa. Rasa jantung orang itu sepertl dltusuk ratusan batang jarum sehingga dia merintih lemah.

"Ya.... ya.... saya.... saya yang melakukan...perkosaan... itu....!"

"Keparat terkutuk!"

Kwee Bun To menampar.

"Plakkkk!"

Tangan yang kokoh tegang itu menampar pipi.

Giam Ti terpelanting dari tempat dia berlutut dan bibirnya yang tebal pecah berdarah.

Dia mengaduh dan mencoba bangkit, akan tetapi Kwee Bun To kembali mengayun kaki menendang, mengenai dadanya.

"Dessss....!"

Tubuh Glam Tl terjengkang dan dla muntah darah.

Akan tetapl Thian Liong merasa heran mengapa guru sllat itu membatasl pukulan dan tendangannya.

Kalau guru silat yang lihai itu menghendaki, sekali tampar saja kepala orang itu pasti akan pecah.

Akan tetapi ternyata tamparan dan tendangan itu tidak membuat Giam Ti tewas dan ini merupakan bukti bagi Thian Liong bahwa guru silat itu sengaja tidak membunuh orang itu.

Atau pemerkosa itu yang memiliki slnkang yang cukup, tinggi sehingga dia dapat melindungi dirinya dengan kekebalannya.

Tiba-tiba Thian Liong terkejut sekali ketika dia melihat Cia Song tiba-tiba menerjang maju dan mengayun tangan terbuka memukul ke arah kepala Giam Ti.

"Wuuuttt.... prakkk!"

Tangan itu menghantam kepala Giam Ti.

Orang itu terpelanting roboh dan tidak mampu bergerak lagi, tewas dengan kepala retak!

Kwee Bun To terbelalak.

Agaknya dia juga terkejut sekali seperti Thian Liong.

Juga Cu Sian Hwesio mengerutkan alisnya.

"Omitohud....! Cia Song, mengapa engkau lakukan itu? tegurnya.

"Cia-sicu, kenapa engkau membunuhnya?"

Kwee Bun To juga menegur. Cia Song menghela napas panjang.

"Susiok, maafkan teecu karena teecu tak dapat menahan amarah terhadap penjahat ini. Teecu merasa sakit hati karena dia melakukan perbuatan keji dan melempar fitnah kepada murid Siauw-lim-pai. Kwee-kauwsu, kenapa engkau menegur aku yang membunuhnya? Aku juga mendendam kepadanya dan bukankah engkau juga sedang menyiksanya untuk membunuhnya? Aku tidak suka melihat orang disiksa, kalau memang dia jahat dan hendak dihukum bunuh, segera lakukan saja dan tidak perlu menyiksanya. Itu terlalu kejam bagiku."

"Omitohud....! Bagaimanapun juga, ada benarnya pendapat Cia Song tadi. Menyiksa dulu sebelum dibunuh amatlah kejamnya. Kwe-kauwsu, sekarang pelaku kekejian itu sudah tertangkap dan sudah dihukum mati sehingga jelas bahwa di antara engkau dan kami tidak ada urus-an apapun. Harap engkau suka meninggalkan biara kami dengan damai dan sebagai seorang sahabat."

Kata Cu Sian Hwesio sambil memberi hormat kepada guru silat itu.

"Biarlah kami yang akan mengurus jenazah Giam Ti ini."

Kwe Bun To mengerutkan alisnya dan memandang kepada mayat kepala gerombolan itu.

"Memang urusan antara kita sudah beres dan ternyata murid Siauw-lim-pai tidak bersalah. Maafkan slkapku tadi. Akan tetapi, sungguh menyesal sekali bahwa Cia-sicu membunuh orang ini. Itu lancang dan tergesa-gesa namanya"

Cia Song melangkah maju menghadap guru silat itu.

"Maaf, Kwee-kauwsu. Bagaimana engkau dapat mengatakan aku lancang dan tergesa-gesa? Aku tidak membunuh dia karena kesalahannya kepadamu, melainkan aku membunuhnya karena dia melempar fitnah kepada Siauw-lim-pai! Dan aku tidak tergesa-gesa, karena aku membunuhnya setelah melihat engkau juga sedang menyiksanya dan hendak membunuhnya.

"Hemm, siapa bilang aku mau membunuhnya? Aku tadi hanya ingin menghajarnya, tidak membunuhnya."

"Akan tetapi mengapa? Bukankah dia .. dia telah menodai puterimu?"

"Justeru itulah! Kalau dia mati, lalu bagaimana dengan nasib anakku? Tadinya mauku agar dia mempertanggung-jawabkan perbuatannya dan mengawini anakku!'"

"Omitohud! Kenapa tidak engkau katakan sejak semula, Kwee-kauwsu? Kalau Cia Song tahu, pinceng yakin dia tidak akan membunuhnya'."

Kata Cu Sian Hwesio.

"Benar sekali. Ah, maafkan aku, Kwee-kauwsu. Siapa yang dapat mengira bahwa engkau akan mengambil dia sebagai mantu. Dia? Orang jahat terkutuk ini menjadi mantumu, menjadi suami nona Kwee Bi Hwa? Sungguh tidak patut orang macam dia mendapat kehormatan seperti itu! Sungguh sama sekali tidak pernah kusangka, maka maafkan aku, Kwee-kauwsu."

Kwee Bun To menghela napas panjang.

"Sudahlah, semua sudah terjadi. Agaknya memang nasib keluarga kami yang buruk. Selamat tinggal!"

Guru silat itu lalu melangkah pergl, langkahnya loyo menunjukkan bahwa perasaan hatinya sedang gundah memikirkan nasib puterinya.

Setelah terjadinya peristiwa itu, Thian Liong masih tinggal di biara Siauw-lim selama dua bulan lagi.

Sedangkan Cia Song telah meninggalkan Siauw-lim-pai untuk merantau dan melakukan tugas sebagai pendekar yang membela keadilan dan kebenaran, menentang yang jahat dan membela yang lemah.

Thian Liong membutuhkan waktu tiga bulan untuk mempelajari ilmu dari Kitab Sam-jong Cin-keng.

Setelah melihat bahwa Thian Liong benar-benar sudah menguasai ilmu itu, Hui Sian Hwesio memanggilnya menghadap dan hwesio itu berkata.

"Souw Thian Liong, pelajaranmu telah selesai. Lega hati pinceng bahwa murid Tiong Lee Cin-jin telah menguasai ilmu dari kitab yang dia temukan. Dengan begini, selain dapat membalas budi kebaikan Tiong Lee Cin-jin yang telah mengembalikan kitab pusaka Siauw-lim-pai, juga Siauw-lim-pai telah membuktikan bahwa kami bukanlah partai yang serakah dan tidak pelit untuk membagi ilmu kepada sahabat baik."

"Akan tetapi sekarang teecu bukan orang luar, suhu, melainkan juga murid Siauw-lim-pai."

"Ha-ha, omitohud. Bagus sekali kalau engkau merasa demikian, Thian Liong, Memang, pinceng sudah mengakui engkau menjadi murid pinceng dan selanjutnya dalam sepak terjangmu, jangan lupa bahwa engkau selain murid Tiong Lee Cin-jin, juga murid Siauw-lim-pai. Kalau kelak engkau mempergunakan ilmu dari Sam-jong Cin-keng untuk melakukan perbuatan jahat, terpaksa pinceng sendiri yang akan mencari dan menghukummu.'"

"Peringatan dan nasihat suhu akan selalu teecu ingat dan laksanakan dengan baik."

"Pinceng yakln dan percaya kepadamu. Nah, sekarang, berangkatlah engkau melanjutkan perjalananmu dan sempatkan salam hormat pinceng kepada yang mulia Tiong Lee Cin-jin. Engkau pernah bercerita bahwa kitab pusaka Kun-lun-pai yang ditemukan gurumu dan yang harus kaukembalikan kepada Kun-lun-pai telah dicuri orang dari tanganmu. Pinceng anjurkan agar engkau cari kitab itu sampai dapat, Thian Liong. Karena itu merupakan tanggung Jawabmu dan agar jangan mengurangi arti kebaikan yang ditunjukkan oleh yang mulia Tiong Lee Cin-jin."

"Baik, suhu. Memang teecu sudah mengambil keputusan untuk mencari kitab itu sampai dapat dan tidak akan kembali kepada suhu Tiong Lee Cln-jin sebelum kitab Itu dapat teecu temukan, dan teecu serahkan kepada Kun-lun-pai."

Thian Liong lalu betpamit dari semua .

Hwesio di biara itu dan meninggalkan Siauw-lim-si, berjalan kaki dan menggendong buntalannya.

* * Kakek Itu telah berusia kurang lebih tujuh puluh tahun.

Tubuhnya besar gendut dan tinggi.

Biarpun usianya.

sudah lanjut, tubuhnya masih sehat dan subur, juga wajahnya yang bundar gemuk itu belum dihias keriput.

Kepalanya yang gundul itu memakai sebuah peci berwarna kuning dan jubahnya kunlng dengan kotak-kotak tnerah.

Dari pakaiannya inl mudah diketahui bahwa dia adalah seo-rang pendeta Lama, yaitu pendeta Bud-dhis dari Tibet.

Mengherankan sekaH melihat seorang pendeta Tibet berada di sebuah di antara puncak-puncak pegunungan Kun-lun.

Bahkan sudah kurang lebih sepuluh tahun pendeta Lama itu bersem-bunyi di puncak Kun-lun-san.

Pendeta Lama ini bukan laln adalah Jlt Kong Lama.

Sepertl sudah dlcerltakan di baglah depan kisah inl, Jit Kong Lama adalah seorang pendeta pelarlan darl Tibet.

Karena melakukan penyelewengan, hidup bersenang-senang menuruti nafsu, dia terancam hukuman dari Dalai Lama dan terpaksa dia melarikan diri dar tidak berani kembali ke Tibet.

Dia juga gagal untuk merebut kitab-kitab pusaka dari tangan Tiong Lee Cin-jin.

Kemudian dia menyelamatkan Han Bi Lan yang berusia tujuh tahun dari tangan penculik anak itu, yaitu Ouw Kan, tokoh atau dukun dari Suku Uigur.

Kemudian, dia mengambil Bi Lan sebagai muridnya dan sudah sepuluh tahun gadis itu menjadi rnuridnya.

Dalam usianya yang sudah tua, Jit Kong Hwesio yang dulu hidup malang melintang mengandalkan kesaktiannya dan banyak mengalami suka duka dan pertentangan, merasa berubah hidupnya ketika bersama Bi Lian bersembunyi di puncak Kun-lun-san.

Dia merasa tenteram dan damai, dan dia merasa amat sayang kepada Bi Lan.

Matahari telah condong ke barat.

Burung-burung beterbangan pulang sarang Jit Kong Lama duduk di depan pondok kayu dan menatap ke depan, termenung.

Hatinya merasa tidak enak sekali.

Sudah tiga hari Bi Lan pergi meninggalkan pondok.

Pamitnya hanya untuk bermaln-main di sekitar pegunungan Kun-lun-san.

Dia merasa yakin bahwa muridnya itu tidak akan meninggalkannya tanpa memberita-hu.

Karena itulah dia merasa tidak enak khawatir kalau-kalau muridnya itu meng-alami halangan.

Memang, dia sudah menggembleng Bi Lan selama hampir sepuluh tahun.

Dia telah mengajarkan semua ilmunya yang terampuh dan gadis yang kini berusia tujuh belas tahun itu kini telah menjadi seorang yang tangguh dan tidak sembarangan orang akan mampu mengalahkannya.

Akan tetapi dia tahu bahwa betapapun lihainya, Bi Lan hanyalah seorang gadis muda yang kurang pengalaman, walaupun dia tahu bahwa muridnya itu memiliki kecerdikan yang luar biasa.

"Suhu.....! Aku datang.......'!"

Tiba-tiba terdengar suara melengking dari jauh dan Jit Kong Lama tersenyum mengenal suara muridnya.

Gadis itu telah menjadi begitu manja kepadanya, bahkan begitu akrabnya sehingga berani beraku dan berengkau kepadanya!

Diapun menganggap gadis itu seperti anaknya sendiri yang tidak pernah dipunyainya.

Segera tampak Bi Lan berlarian seperti terbang mendaki lereng-lereng puncak terakhlr.

Tak lama kemudian la sudah berdlrl di depan Jlt Kong Lama dengan senyumnya yang cerah dan manis.

jit Kong Lama mendadak melihat segala, sesuatu menjadl cerah dan indah.

"Bi Lan, ke mana saja engkau selama tiga hari ini? Engkau membikin aku gelisah saja!"

Kakek itu menegur, akan tetapi sambil tersenyum lebar.

"Aih, suhu. Mengapa mengkhawatirkan aku? Aku bukan anak kecil lagi. Dan pula, tidak percuma selama ini aku berguru kepadamu! Aku dapat menjaga diri. Aku membawa kabar gembira, suhu. Aku menemukan sebuah kitab pusaka pelejaran silat yang langka, kuno dan ampuh sekali! Akan tetapi setelah kupenksa isinya, aku menjadi bingung. Bahasanya kuno banyak huruf yang tidak kumengerti. Karena itu, aku harap suhu suka membimbingku mempelajari ilmu silati itu."

"Eh? Kitab pusaka? Coba perlihatkan padaku!"

Kata Jit Kong Lama sambil ter-senyum dan mengira muridnya bicara berlebihan.

Bi Lan mengambil kitab dari buntalannya dan menyerahkannya kepada gurunya.

Jlt Kong Lama menerima kitab itu dan membuka-buka lembarannya.

Bi Lan berdiri memandang dan merasa glrang dan bangga melihat kakek itu membelalakkan mata dan tampak terkejut dan heran sekali.

"Omitohud....!"

Saking kaget dan herannya, Jit Kong Lama mengucapkan pujian ini yang selama sepuluh tahun ini hampir terlupa olehnya.

"Ini adalah Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, kitab pusaka milik Kun-lun-pai! Dari mana engkau mendapatkan kitab ini, Bi Lan? Engkau tidak mencurinya dari Kun-lun-pai, bukan?"

Bi Lan memandang gurunya dengan bibir cemberut manja.

"Aih, suhu. Aku tidak mencurinya, hanya meminjaiTi. Kalau aku sudah selesai mempelajarinya, pasti kukembalikan kepada Kun-luri-pai kalau memang kitab ini milik Kun-lun-pai."

"Kitab pusaka ini memang merupakan puaaka Kun-lun-pai yang amat lang-ka!"

Kakek itu mengahgguk-angguk dan membalik-balikkan lembaran kitab itu.

"Sungguh pelajaran silat yang hebatl Sayang aku sudah terlalui tua untuk mempelajarinya."

"Aku mendapatkannya bukan untukmu, suhu, akan tetapi untuk aku sendiri. Asal suhu mau membimbingku dan memberi penjelasan, aku tentu akan dapat menguasai ilmu itu."

"Baiklah. Akan tetapi setelah selesai harus kau kembalikan. Kalau sampai Kun-lun-pai mengetahui bahwa engkau mengambil kitab pusaka mereka, engkau tentu akan dimusuhi dan.... wah, berat sekali kalau harus bermusuhan dengan sebuah partai persilatan sebesar Kun-lun-pai yang mempunyai banyak sekali orang-orang sakti!"

"Aku pasti akan mengembalikannya kelak, suhu. Sekarang, ajarilah aku!" . Setelah menyimpan buntalan pakaiannya dalam kamar, mulailah Bi Lan dilatih oleh Jit Kong Lama menurut kitab itu. Mula-mula dia memberi petunjuk seperti yang tertulis di halaman pertama.

"Kitab ini mengandung ilmu silat tangan kosong yang disebut Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat atau singkatnya Ilmu Silat Berantai Lima Unsur utama, yaitu, air, api, logam dan kayu. Lima unsur inl mempunyai hubungan erat satu sama lain dan hubungan ini mengatur keseimbangan. Tanah mengalahkan air, air mengalahkan api, api mengalahkan logam, logam mengalahkan kayu dan kayu mengalahkah tanah. Juga kebalikannya, mereka saling menunjang. Kelimanya saling melengkapi sehingga mengatur keseimbangan dan kesempurnaan keadaan di bumi. Tanah berkedudukan di tengah, logam di utara, kayu di selatan, air di bawah dan api di timur. Tubuh kita merupakan alam kecil yang juga terikat pada hukum gerakan kelima unsur itu"

Demikianlah, semalam suntuk Jit Kong Lama menjelaskan tentang Ngo-heng (Lima Unsur Pokok) kepada muridnya.

Kemudian pada hari-hari selanjutnya dia mulai membimbing Bi Lan berlatih ilinu silat yang luar biasa dan yang menjadi pusaka perguruan Kun-lun-pai.

Pada waktu itu, jarang ada murid Kun-lun-pai yang mengenal ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat karena kitab itu telah hilang seratus tahun lebih.

yang lalu.

Bahkan ketua Kun-lun-pai saat itu, Kui Beng Thaisu yang berusia tujuh puluh tahun, hanya menguasai tidak lebih dari tujuh bagian saja dari ilmu itu.

Demikianlah dengan amat tekun dan tldak mengenal lelah Bi Lan mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka itu.

Saking tekunnya, setiap hari ia berlatih tanpa mengenal waktu sehingga waktu meluncur dengan cepat tanpa ia sadari dan tahu-tahu setahun sudah berlalu sejak ia mempelajari ilmu silat itu.

Setelah setahun berlatih keras, barulah.

Ia berhasil menguasal.

seluruh ilmu silat itu.

Pagi hari itu Jlt Kong Lama sudah bangun dan mandi sehingga dia tampak segar.

Namun ada sesuatu dalam sinar matanya yang mengandung kemuraman.

Wajah bulat gemuk yang biasanya selalu dihias senyum itu pagi ini tampak lesu.

Dia duduk menanti Bi Lan yang pagi-pagi sekali tadi sudah mandi dan sekarang sedang sibuk di bagian belakang pondok kayu itu menyiapkan minuman pagi untuknya.

Akhirnya Bi Lan memasuki ruangan depan dan meletakkan sebuah poci air teh dan cawannya ke atas meja sambil berkata.

"Minumlah, suhu, selagi air teh ini masih panas."

Dara itu kemndian hendak kembali ke belakang.

"Bi Lan, duduklah, aku ingin bicara denganmu."

Kata jit Kong Lama. Bi Lan menahan langkahnya, lalu kembali dan duduk di seberang meja. la memandang wajah gurunya dan baru melihat wajah yang muram dan kehilangan kecerahannya itu.

"Eh? Ada apakah, suhu? Suhu tampaknya sedang memikirkan sesuatu dan merasa tidak gembira."

Tegurnya.

"Bi Lan, engkau telah berhasil menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, rnaka stidah sepahtasnya dan tiba saatnya bagimu untuk mengemballkan kitab pusaka itu kepada Kun-lun-pai."

"Ah, tentu saja, suhu! Memang akupun sedang memikirkan hal itu dan besok atau lusa aku akan mengembalikarinya ke sana. Akan tetapi hal itu tidak perlu disedihkan, bukan? Kitab pusaka itu memang hak milik mereka dan akukan sudah menguasai seluruhnya?"

"Aku tidak menyedihkan hal itu, Bi Lan, Akan tietapi tahukah engkau babwa engkau sudah sebelas tahun mempelajari ilmu dariku?"

Bi Lan mengangguk.

"Aku tahu, suhu. Setahun yang lalu, ketika aku belum menemukan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, aku sudah sepuluh tahun berada di sini bersamamu dan sudah selesai belajar."

"Kau tahu apa artinya itu? Apakah engkau lupa akan janjiku kepadamu dulu?"

"Aku tidak lupa, suhu. Suhu akan mengajarku selama sepuluh tahun. Karena itulah, setahun yang lalu aku sengaja turun dari sini dan selama tiga hari bermain-main di sekitar Kun-lun-san. Kemudian aku mendapatkan kitab itu dan ingin sekali mempelajarinya sehingga aku tinggal setahun lagi di sini. Berarti aku sudah sebelas tahun tinggal bersama suhu. Aku tahu bahwa sudah tiba saatnya aku harus turun gunung, mencari orang tuaku, membalaskan kematian Nenek Lu-ma yang dibunuh oleh tokoh Uigur yang bernama Ouw Kan seperti yang suhu pernah ceritakan, dan juga tidak lupa mencari musuh suhu yang bernama Tiong Lee Cin-jin untuk membunuhnya. Akan tetapi, mengingat bahwa suhu sekarang telah begini tua, bagaimana aku tega untuk meninggalkanmu hidup seorang diri disini?"

Wajah yang bulat itu kini berseri kembali, mulutnya tersenyum dan Jit Kong Lama menjulurkan kedua tangannya di atas meja, menangkap tangan Bi Lan dan menggenggamnya.

"Terima kasih, Bi Lan. Tidak percuma aku dahulu menyelamatkanmu, tidak sia-sia aku mendidikmu selama sebelas tahun. Aku telah mendapatkan hadiah yang teramat besar dan tak ternilai harganya, hadiah yang mendatangkan kebahagiaan yang tak pernah kurasakan selama, hidupku, yaitu kasih sayangmu, Bl Lan. Selama ini engkau menyayangku seperti ayahmu sendiri, memasak, mencuci pakaian untukku. Engkau begitu manis, seperti matahari dalam hidupku. Ah, terima kasih Bi Lan."

Sepasang mata kakek itu menjadi basah. Bi Lan tersenyum.

"Aih, suhu ini, ada-ada saja! Sudah tentu saja aku sayang kepada suhu! Suhu bukan hanya menjadi guruku, juga menjadi pengganti orang tuaku, suhu mendidikku dengan penuh kasih sayang, tentu saja aku sayang kepada suhu. Karena itu pula aku tidak tega meninggalkanmu, suhu."

"Tidak, Bi Lan. Aku selama sebelas tahun ini juga belajar dengan tekun, belajar untuk menguasai nafsu-nafsu keinginanku sendiri, keinginan yang mengejar kesenangan hati bagiku sendiri. Nafsu keinginan untuk menang sendiri inilah yang dulu menyeretku ke dalam kesesatan sehingga terpaksa aku harus meninggalkan Tibet. Dan sekarang aku juga telah tamat belajar seperti engkau, Bi Lan. Aku menemukan jawabannya bahwa hanya dengan kasih sayang murni terhadap segala sesuatu yang tampak dalam dunia ini, terutama terhadap sesama manusia, maka aku akan mampu menundukkan nafsu-nafsuku sendiri. Dengan mengesampingkan kepentingan pribadi dan mendahulukan kepentingan orang lain, maka nafsu dalam diriku akan menjadi jinak. Aku tidak mau menuruti keinginan hati sendiri dengan menahanmu di sampingku. Tidak, engkau harus turun gunung engkau harus mencari orang tuamu dan menentang si jahat Ouw Kan. Dan engkau tidak perlu lagi mencari Tiong Lee Cin-jin karena akulah yang bersalah terhadap dia. Pergilah, Bi Lan, pergilah tinggalkan aku dan doa restuku selalu menyertaimu."

Kakek itu melambaikan tangan ke arah luar pintu pondok.

"Akan tetapi, bagaimana aku akan tega meninggalkanmu seorang diri di sini, suhu? Suhu sudah tua, siapa yang akan membuatkan air teh? Siapa yang akan memasakkan makanan? Siapa yang akan mencucikan pakaian suhu dan siapa yang akan merawat dan membersihkan isi rumah dan halaman?"

Kakek itu tersenyum.

"Jangan khawatir, aku dapat melakukannya sendiri. Dahulu, sebelum engkau menjadi muridku, akupun hidup seorang diri."

"Akan tetapi suhu sekarang sudah tua sekali. Ah, begini saja baiknya, suhu.. Mari suhu ikut bersama aku pergi ke Lin-an. Di kota raja itu orang tuaku memiliki rumah yang cukup besar. Suhu dapat tinggal bersama kami di sana!"

Jit Kong Lama menggeleng kepala sambil tersenyum.

"Tidak, Bi Lan. Aku harus kembali ke tempat asalku."

"Apa? Ke Tibet? Akan tetapi suhu akan dimusuhi di sana!"

Kata Bi Lan yang sudah pernah mendengar cerita gurunya bahwa gurunya seorang pelarian dari Tibet. Jit Kong Hwesio tersenyum lebar.

"Sekarang aku mengerti bahwa aku tidak akan dapat melarikan diri dari jangkauan karma. Aku tahu bagaimana untuk menghadapi para pendeta Lama di Tibet, yaitu dengan kasih sayang! Aku sudah tua, kalau mereka ingin membunuhku, silakan. Akan tetapi aku tetap akan menghidupkan kasih sayang di dalam hatiku. Sudahlah, Bi Lan. Keputusanku sudah tetap. Engkau harus turun gunung dan jangan meinikirkan aku lagi. Tugasmu di masa depan masih banyak sekali dan jauh lebih penting daripada memikirkan tentang diriku."

Bl Lan tidak dapat membantah lagi.

la lalu membungkus semua pakalannya dalam sebuah buntalan.

la tidak membawa senjata karena memang tidak memiliki senjata.

Gurunya mengajarkan ilmu-ilmu silat tinggi sehingga benda apapun di tangannya dapat dipergunakannya sebagai senjata, terutama sekali sepotong kayu yang menjadi senjata tongkat.

Setelah siap berkemas, ia menghampiri gurunya.

Mereka berdirl berhadapan di depan pintu pondok karena kakek itu mengantar muridnya sampai di depan pintu.

Mereka saling berhadapan.

Bi Lan memandang wajah yang bulat dan yang tersenyum itu, namun ia melihat mata Itu demikian sayu.

"Selamat tinggal, suhu."

Katanya lirih.

"Selamat jalan, Bi Lan. Semoga hidupmu selalu bahagia, muridku.... anakku...."

Bi Lan mengeraskan hatinya namun tidak dapat menahan keharuan hatinya.

"Suhu....!"

La berseru dan merangkul kakek itu. Jit Kong Lairta juga merangkul Bi Lan dan mengelus kepala gadis itu dengan tangannya.

"Berangkatlah, anakku, jangan memperlihatkan kelemahan hati seperti ini."

Katanya menghibur.

Bi Lan menangis sejenak, terisak di dada gurunya.

Kemudian ia menguatkan hatinya dan tiba-tiba ia teringat betapa selama ini ia bersikap akrab dan tidak menghomati gurunya, maka ia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki gurunya.

"Suhu...."

Ia merangkul kedua kaki gurunya.

Jit Kong Lama mengejap-ngejapkan mata untuk mengusir dua titik air mata , dari pelupuk matanya.

Kemudian dia membungkuk, memegang kedua pundak gadis itu dan menariknya berdiri.

Kakek Itu menepuk-nepuk pundak Bi Lan dan tersenyum lebar.

"Aih, engkau membikin aku malu saja mempunyal murid yang cengeng! Hei Bi Lan, sama-sama menggerakkan mulut dan mengeluarkan suara, mengapa tidak tertawa saja daripada menangis? Tertawa lebih enak dilihat dan didengar, ha-ha-ha-ha"

Bi Lan segera tersenyum. Biasanya, setiap hari, gurunya ini memang selalu berkelakar dan tertawa. Kedua orang Itu tertawa dan aneh sekall melihat mereka tertawa dengan kedua mata basah.

"Selamat tinggal, suhu, selamat berpisah. Aku sayang kepadamu, suhu!"

"Selamat jalan, selamat berpisah. akupun sayang kepadamu, Bi Lan!"

Bi Lan lalu melompat pergi.

Pada sebuah tikungan, ia menoleh dan melambaikan tangan dibalas oleh gurunya vang masih tertawa!

Setelah Bi Lan pergi meninggalkahi pondok kayu di sebuah di antara puncak-puncak Kun-lun-san, Jit Kong Lama juga meninggalkan pondok itu.

Kakek ini tidak membawa apa-apa kecuali tongkat panjang berkepala naga.

Dia menurunt puncak dan menuju ke barat karersa dia inengambil keputusan untuk kembali ke Tibet, siap menyambut apapun yang akan menimpa dirinya.

Pada sore harinya setelah Jit Kong Lama pergi, muncul seorang laki-lakl berusia kurang lebih empat puluh tahun, berkepala gundul dan memakai peci kuning, berjubah pendeta Lama dan membawa sebatang pedang di pungungnya.

Pendeta Lama ini bertubuh kekar, wajahnya penuhbrewokj ,dan matanya menyeramkan, mencorong seperti mata harimau.

Mulut dan matanya menibayahgkan keke-rasan hati.

Dia menendang daun pintu pondok sampai jebol, lalu masuk dan memeriksa ke dalam pondok itu.

Tak lama kemudian dia keluar lagi, bersungut-sungut karena tidak menemukan seorangpun di sana.

Dia lalu mengamuk.

Kedua kakinya menendangi pondok kayu itu.

Terdengar suara hiruk pikuk dan pondok kayu itupun ambruk.

Tihang-tihang kayunya patah-patah.

Atapnya ambruk dan rata dengan tanah.

Setelah melampias-kan kemarahannya kepada pondok kosong itu, diapun segera memutar tubuh me-ninggalkan pondok lalu menggunakan ilmunya berlari cepat sekali menuju ke markas.

Kun-lun-pai.

Sementara itu"

Menjelarig tengah hari, para murld Kun-lun-pai laki maupun wanita, sedang sibuk bekerja.

Ada yang bekerja dalam kompleks perkampungan Kun-lun-pai, ada pula yang bekerja di ladang.

Seperti biasa, lima orang murid laki-laki duduk di gardu penjagaan di pintu gerbang Kun-lun-pai.

Pada siang hari itu, Hui In Sian-kouw, Ketua Kun-lun-pai bagian wanita datang berkunjung ke kuil induk dan mengadakan percakapan dengan Kui Beng Thaisu, Ketua umum Kun-lun-pai yang menjadi suhengnya.

Hui In Sian-kouw se-perti biasa melaporkan keadaan para mu-rid wanita, dan menceritakan bahwa sumoinya (adik perempuan seperguruannya.) Biauw In Suthai yang menjalani hukuman prihatin di pondok pengasingan tekun bersamadhi.

Sudah setahun leblh Biauw In Suthai dan menurut hukumannya, ia masih harus berprihatin di pondok pengasingan itu selama dua tahun lagi.

"Biarlah, Biauw In sumoi memang membutuhkan itu untuk dapat melunakkan kekerasan hatinya yang luar biasa. Mudah-mudahan saja sekali ini usahanya berhasil."

Kata Kui Beng Thaisu sambil mengelus jenggotnya yang panjang dan putih.

"Akan tetapi, apakah kedua orang muridnya itu belum juga pulang?"

Hui In Siankouw menghela napas dan menggeleng kepalanya.

"Kasihan Kim Lan dan Ai Yin. Sudah setahun lebih Kim Lan pergi mencari Souw Thian Liong. Bagaimana mungkin ia akan mampu membunuh Thian Liong, biar ia dibantu Ai Yin sekalipun? Tingkat kepandaian Thian Liong jauh lebih tinggi."

"Ya, memang kasihan mereka itu menjadi korban kekerasan hati guru mereka. Akan tetapi yang pinto (aku) herankan, mengapa sampai sekarang Thian Liong belurn JugaJ datang ke sini menyerahkan kitab pusaka kita? Apakah dia belum berhasil menemukan kitab yang 'katanya dicuri orang itu?"

"Pinni (aku) juga heran, suheng. Menurut penglihatanku, murid Tiong Lee Cin-jin itu bijaksana dan dapat dipercaya sepenuhnya. Akan tetapi sampai kini dla belum juga datang. Mungkin pencuri kitab itu lihai sekali sehingga dia belum dapat menemukannya, suheng."

Pada saat itu, tiba-tiba seorang murid Kun-lun-pai memasuki ruangan itu dan melihat bahwa Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw sedang duduk bercakap-cakap, dia segera berlutut.

"Mohon ampun, losuhu, lo-suthai, kalau teecu mengganggu...."

Katanya gagap. Wajah murid berusia tiga puluhan tahun ini tampak pucat.

"Tenanglah dan bicara dengan jelas, Apa yang terjadi maka engkau segelisah ini?"

Tanya Kui Beng Thaisu.

"Di luar pintu gerbang datang seorang pendeta Lama yang berkeras ingin masuk untuk bertemu dengan pimpinan Kun-lun-pai. Teecu berlima melarangnya dan ingin melapor lebih dulu ke dalam, akan tetapi dia memaksa dan merobohkan teecu berlima. Dia memaksa masuk dan kini dia dihadapi ketiga suhu di pekarangan depan."

"Hemm, seorang pendeta Lama? Mengapa seorang pendeta Lama datang membawa kekerasan? Aneh sekali! Mari, sumoi, kita melihat ke sana!"

Hui In Sian-kouw mengangguk dan keduanya segera keluar diikuti murid yang melapor tadi.

Setelah tiba di depan beranda, mereka melihat seorang yang ber-kepala gundul dan berpakaian seperti pendeta Lama berusia empat puluh tahun lebih, tubuhnya kekar mukanya brewokan dan kulitnya coklat gelap seperti kulit orang India, sedang dikeroyok oleh tiga orang tosu (pendeta To) yang menjadi guru-guru pelatih para murid Kun-Lun-pai bagian pria.

Tiga orang sute termuda dari Kui Beng Thaisu yang berusia kurang lebih lima puluh tahun itu masing-masing menggunakan sebatang pe-dang dan ketiganya menyerang pendeta -Lama itu dengan Ilmu pedang Kun-lun-pal yang dahsyat, yaitu Tian-lui Kiam-sut (Ilmu Pedang Kilat Guntur).

Akan tetapi, pendeta Lama itu hanya menggunakan kedua ujung bajunya yang longgar dan panjang uhtuk melawan.

Kedua ujung bajunya itu menyambar-nyambar dan ftiendatangkan angtn dahsyat yang kuat sekall sehingga terdengar suara berdesir-desir.

Ketika pendeta Lama itu melihat munculnya Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw, dia secara tiba-tiba mengebutkan kedua ujung lengan bajunya ke arah tiga orang pengeroyoknya.

Tiga orang tosu itu cepat menyambut dengan pedang mereka.

"Wuuuuttt.... plak-plak-plak....!"

Ttga orang tosu itu terjengkang dan terhuyung ke belakang ketika pedang mereka bertemu dengan ujung lengan baju.

!"Siancai.....i Kalian berttga mundur-, lah, sute.

Sungguh tidak patut menyam-but kunjungan rekan dari Tibet dengan pedang di tangan!"

Kata Kui Beng Thai-su yang berdlrl di atas tangga bersnda itu.

Tiga orang sutenya segera 'mundur dan berdiri dt bawah tangga, menantl perintah.

Pendeta Lama ttu tersenyum mengejek memandang kepada Kui Beng Thaisu dan Hui In"

Siankouw.

"Kami bukan rekan kalian!"

Kui Beng Thaisu berkata hormat namun tegas.

"Sobat. klta sama-sama bertugas untuk mengajarkan kebaikan dan menunjukkan jalan kebenaran kepada manusia, maka kita adalah rekan. Mengapa engkau mengatakan bahwa engkau bukan rekan kami?"

"Hemm, dengan siapakah aku berhadapan? Apakah kalian berdua ini yang menjadi pirnpinan Kun-lun-pai?"

Tanya pendeta Lama itu.

"Perkenalkan. Pinto adalah Kui Beng Thaisu, ketua umum Kun-lun-pai dan ini adalah sumoi Hui In Sian-kouw, ketua bagian wanita. Siapakah engkau, sobat?"

"Aku berjuluk Gwat Kong Lama dari Tibet,! utusan istimewa dari Yang Mulia Dalai Lama di Lhasa."

"Siancai....! Kiranya engkau adalah utusan istimewa dari Dalai Lama! Kami merasa terhormat sekali menerima kunjunganmu."

Kata Kui Beng Thaisu.

"Hemm, Kui Beng Thaisu, kalian mengaku mengajarkan kebaikan dan menunjukkan jalan kebenaran kfepada manusia, akan tetapi apa yang kalian ajarkan' itu tidak cocok dengan perbuatan kalian sebagai pimpinan Kun-lun-pai!"

"Gwat Kong Lama!"

Bentak Hul In Sian-kouw, kehilangan kesabaran.

"Kalau kedatanganmu ini bermaksud baik, tidak semestinya engkau mengeluarkan kata-kata celaan tanpa bukti itu! Pergilah dari sini, Kami tidak suka berurusan dengan orang kasar sepertimu!"

"Hemm, kalian menyangkal? Kalau telah menyembunyikan seorang pendeta Lama yang telah bertahun-tahun menjadi buruggn kami. Yang Mulia Dalai Sama mengutas aku untuk menangkap buruan itu dan menurut penyelidikanku, dia bersembunyi di Kun-lun-sah. Kemarin sore aku menelusuri pondoknya di sebuah puncak pegunungan Kun-lun ini, akan tetapit dla telah kabur. Bukankah itu berarti bahwa Kun-lun-pai sengaja melindungi buronan kami? Hayo cepat akui di mana adanya Jit Kong Lama, buruan kami Itu!"

"Sial ....!"

Seru Kui Beng Thaisu.

"Kami tidak mengenal Jit Kong Lama, tidak tahu bahwa dia tinggal di daerah Kun-lun-san. Kami juga tidak tahu sekarang dia berada di mana."

"Gwat Kong Lama, tuduhanmu sungguh kasar. Kami memang tidak tahu, akan tetapi andaikata kami tahu juga, tidak akan kami beritahukan kepadamu yang bersikap sekasar ini!"

Kata Hui In Sian-kouw dengan hada suara marah. Mendengar ini, Gwat Korig Lama memandang dengan mata mencorong kepada Hui In Sian-kouw.

"Bagus, kalau begi-tu aku akan menggeledah seluruh peru-mahan Kun-lun-pai dan akan, mencarl sendiri. Aku yakin dia kalian sembunyikan di sini!"

Setelah berkata demikian, Gwat Kong Lama melangkah lebar hendak memasuki kuil besar.

Akan tetapi cepat tubuh Hui In Sian-kouw berkelebat dan wanita berusia enam puluh satu tahun ini telah menghadang di depan pendeta Lama itu.

"Berhentl!"

Bentaknya.

"Siapapun tidak boleh memasuki perkampungan kami tanpa ijin'"

"Ho-hp, bagus sekali! Aku memang ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan ilmu kepandalan para pimpinan Kun-lun-pai. Cabut senjatamu Hui In Sian-kouw dan mari kita bertanding untuk menentukan siapa di antara kita yang lebih unggul. Kalau aku nienang, aku akan menggeledah perkampungan Kun-lun-pal inl. Sebaliknya kalau aku kalah, aku akan pergi tanpa banyak cakap lagi."

"Gwat Kong Lama, kami tidak pernah bermusuhan dengan para pendeta Lama di Tibet, karena itu pinni tidak ingin rnenggunakan senjata untuk bertanding. Cukup dengan tangan kosong saja untuk membuktikan siapa di antara kita yaog lebih benar."

"Bagus! Engkau hendak mengandalkan kun-hoat (ilmu silat) dari Kun-lun-pai? Mari, kita lihat siapa yang lebih tangguh. Pendeta Lama berkulit' kehitaman Itu memasang kuda-kuda dengan berdirl dengan kedua kaki berdiri di atas ujung jari dan kedua tangan menyembah di depan dada. Hui In Siankouw juga memasang ku-da-kuda ilmu silat Kun-lun-pai dengati mengembangkan sedikit kedua kaki dan kedua tangannya dikembangkan lebar dl depan dan belakang tubuhnya.

"Hui In Siankouw, aku telah siap. Mulailah!"

Tantang Gwat Kong Lama.

"Engkau adalah tamu, silakanf mulai dulu!"

Kata Hui In Siankouw.

"Baik, lihat seranganku!"

Lama itu berseru dan tiba-tiba dia sudah menerjang maju, kedua tarigannya bergerak cepat melakukan serangan beruntun dari kanan kiri.

Hui In Sian-kouw adalah ketua Kun-lun-pai bagian wanita, tehtu sa-ja ilmu silatnya sudah matang dan tinggi.

Dengan gerakan cepat ia Wengelak ke belakang dan memutar-tub.(A untuk balas menyerang.

Akan tetapi pendeta Lama itu telah menyusulkan tendangan bertubi-tubi dengan kedua kakinya.

Kem-bali Hui In Sian-kouw bergerak lincah untuk mengelak.

Setelah mendapat kesempatan melepaskan diri dari kurungan serangan beruntun lawannya, ia membalas dengan serangan tangan kirinya yang menusuk ke arah lambung dengan jari-jari, tangan terbuka.

"Syuuuttt .. plakk!"

Tubuh Hui In Sian-kouw terdorong ke belakang ketikal serangannya itu ditangkis oleh lawan.

Tahulah ia bahwa lawannya memiliki tenaga sinkang yang amat kuat.

Terdengar pendeta Lama itu tertawa mengejek danj kini dia menerjang dengari dahsyat dan ganas sekali.

Pukulan dan tendangan bertubi-tubi mendesak Hul In Sian-kouw sehingga ia tidak mampu membalas.

Akan cetapi, wanita ini mengerahkan ginkangnya (ilmu meringankan tubuhnya) dan tubuhnya berkelebatan menjadi bayang-bayang yang dengan cepat dapat menghindarkan dlri dari semua serangan Gwat Kong Lama.

Dengan sendirinya Hui In Sian-kouw terdesak terus oleh lawannyal yang sering tertawa mengejek.

Akan tetapi karena Hui In Sian-kouw memilikl ginkang yang istimewa, piaka betapa gencar dia mendesaknya, belum juga ada pukulan atau tendangan yang dapat mengenai sasaran.

Gwat Kong Lama merasa seolah-olah dia menyerang sebuah bayang-bayang saja!

Dia menjadi marah dan penasaran.

Dia mulai memperhati-kan gerakan Hui In Sian-kouw yang demikian ringan dan tahulah dia ilmu silat apa yang mendasari gerakan pendeta wanita itu.

Maka tiba-tiba Gwat Kong La-ma mengubah gerakannya dan dia mein-^ bentak nyaring.

"Sambutlah ini!"

Hui In Sian-kouw terkejut sekali ketika menghadapi serangan yang seperti menyambung gerakannya sendiri, dan pada dasarnya menutup semua gerakannya.

Serangan dahsyat menyambar dan ketika dia menghindar dengan elakan cepat tahu-tahu tangan pendeta Lama itu telah mengancam pelipis kirinya.' Kui Beng Thaisii, ketua Kun-lun-pai yang sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun terkejut.

Sejak tadi dia menonton pertandingan itu hatinya merasa lega karena dia merasa yakin bahwa gin-kang (ilmu meringankan tubuh) sumoinya cukup tangguh untuk dapat menghindarkan diri dari ancaman serangan pendeta Lama itu.

Akan tetapi dla terkejut ketika melihat perubahan gerakan Gwat Kong Lama.

Biarpun hanya tinggal lima atau enam bagian saja dari ilmu silat pusaka Kun-lun-pai itu yang masih diingatnya, namun dia tahu bahwa pendeta Lama itu kini menyerang sumoinya dengan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat!

Pa-dahal kitab itu sudah lama hilang dari Kun-lun-pai dan setahun yang lalu, murid Tiong Lee Cin-jin yang bernama Souw Thian Liong itu datang dan mengatakan bahwa sebetulnya dia diutus suhunya untuk mengembalikan kitab yang hi-lang itu dan yang ditemukan Tiong Lee Cin-jin dalam perjalanannya ke barat, akan tetapi bahwa kitab itu hilang, ada yang mencurinya.

Kini tiba-tiba muncul seorang pendeta Lama yang menyerang sumoinya dengan menggunakan jurus ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat!

Tentu saja Hui In Sian-kouw terdesak karena ilmu itu merupakan dasar dari ilmu-ilmu perguruan Kun-lun-pai sehingga seolah dasar gerakan pendeta wanita itu tertutup atau mendapatkan imbangan dari gerakan pendeta Lama bermuka brewok itu.

"Pergilah!"

Tiba-tiba Goat Kong Lama membentak, tangan kanannya mendorong dan biarpun Hui In Sian-kouw sudah cepat mengelak, namun tetap saja pundak kirlnya terkena dorongan itu dan tubuh pendeta wanita ini terhuyung ke belakang dan untung saja mempunyai gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat sehingga sebelum roboh terjengkang ia sudah dapat berjungkir balik tiga kali ke belakang sehingga tidak sampai jatuh.

Wajahnya menjadi pucat dan dengan jujur ia merangkap kedua tangan depan dada dan berkata lirih.

"Siancai....! Aku mengaku kalah."

Kui Beng Thaisu menghampiri pendeta Lama itu.

"Goat Kong Lama, engkau suqgguh keterlaluan. Tidak malu melawan kami dengan llmu kami sendlri yang kitabnya hilang."' "Tidak perlu banyak blcara lagi, Kul Beng Thaisu. Aku hanya akan menggeledah dan mencari kalau-kalau kalian menyembunyikan orang yang kucari itu dl dalam kuilmu.

"Hemm, jangan harap engkau akan dapat menghina pergunlan Kun-lun-pai selama pinto (aku) masih berada di sini!"

Kui Beng Thaisu yang biasanya penyabar itu kini berkata dengan muka merah karena pendeta Lama ini agaknya sama sekali tidak percaya kepadanya dan h^n-dak memasuki kuil tanpa ijin yang ber-arti suatu pelanggaran dan penghinaan.

"Kalau begitu, terpaksa akupun harus merobohkanmu, Kui Beng Thaisu!"

Kata pendeta Lama itu dan kedua orang pendeta itu sudah siap untuk saling serang. Akan tetapi pada saat itu terdengar su-ara lembut namun nyaring berwibawa.

"Tahan! locianpwe Kui Beng Thaisu, silakan locianpwe (orang tua gagah) mundur. Akulah lawan pendeta asing ini!"

Sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang gadis cantik berpakaian merah muda telah berdiri di depan Goat Kong Lama.

Melihat bahwa yang datang hanyalah seorang gadis yang masih muda, paling banyak delapan belas tahun usianya, tentu saja Kui Beng Thaisu tidak percaya bahwa gadis semuda ini akan mampu menandlngi Goat Kong Lama yang selain memillkl tingkat kepandaian tinggi, juga mcmiliki banyak pengalaman.

Bahkan sumoinya saja tidak mampu menandinginya, apa lagi gadis semuda ini.

Selain itu, dia tidak mengenal gadis asing ttu, bagaimana dia dapat membiarkan gadis itu mencampuri urusan Kun-lun pai dengan pendeta Lama itu.

"Nona, terima kasih atas pembelaanmu. Akan tetapi, harap engkau murdur dan jangan mencampuri urusan Kun-lun-pai yang membela diri terhadap desakan Gwat Kong Lama Inl. Kaml sungguh akan merasa amat menyesal kalau sampal engkau sebagai orang luar terluka atau cldera karena membela Kun-lun-pai."

Kata pendeta ketua Kun-lun-pai itu deingan suara lembut.

"Loclanpwe, maafkan aku. Sesungguhnya masih terhltung cucu murid locianpwe sendirl. Aku sengaja datang untuk menghadap loclanpwe dan memperkenalkan dirl. Akan tetapi aku tadl melihat pendeta Lama inl menyerang Kun-lun-pai, karena itu aku harus menandinglnya. Locianpwe saksikan saja, aku pasti akan mempergunakan ilmu silat Kun-lun-pai dan tidak berani mempergunakan ilmu silat lain."

Gadis itu berkata lantang.

Gadis ini bukan lain adalah Han Bi Lan.

(Seperti kita ketahui, Bi Lan berpisah dari gurunya dan oleh gurunya ia diharuskan merigembalikan kitab puSaka Kun-lun-pai, yaitu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang dulu, setahun yang lalu dicurinya dari buntalan pakaian Thian Liong.

Kini la telah mempelajari dan menguasal ilmu itu sepenuhnya.

Ketika tadi ia datang ke Kun-lun-pai ia sempat menyaksikan kunjungan Goat Kong Lama.

Melihat Gwat Kong Lama mengalahkan Hui In Sian-kouw dengan menggunakan jurus-jurus dari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, ia merasa penasaran sekali.

la merasa bersalah.

Karena ia mencuri kitab itu, maka pendeta wanita itu tidak dapat menguasai ilmu itu dan dikalahkan pendeta Lama itu justru menggunakan Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat.

la ingin menebus kesalahannya, maka cepat ia menawarkan diri untuk menandingi pendeta Lama itu.

Mendengar gadis itu mengaku sebagai murid Kun-lun-pai, Kui Beng Thai-!u menoleh kepada Hui In Sian-kouw yang juga memandangi kepada Bi Lan dengan heran.

"Sumoi, apakah engkau mengenal nona ini sebagai murid Kun-Lin pai. Hui In Sian-kouw menggeleng kepalanya tanpa menjawab karena ia merasa heran dan juga kagum sekali akan keberariian gadis muda itu. Gadis itu tadi tentu melihat ia dikalahkan pendeta Lama itu, mengapa ia masih nekat hendak menandingi Goat Kong Lama dan berjanji akan melawan pendeta itu dengan ilmu silat Kun-lun-pai? Ilmu silat Kun-lun-pai yang mana mampu menandingi Goat Kong Lama, kecuali Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat selengkapnya atau ilmu simpanan yang masih dirahasiakan suhengnya sebagai ketua Kun-lun-pai? Sementara itu, Goat Kong Lama sudah tidak sabar lagi. Melihat sikap ngotot para pimpinan Kun-lun-pai yang-melarang dia melakukan penggeledahan ke dalam bangunan-bangunan Kun-lun-pal, semakin besar kecurigaannya bahwa yang dicarinya, Jit Kong Lama, pasti bersembunyi di dalam kuil itu.

"Hei, bocah!"

Tegurnya kepada Bi Lan.

"Engkau anak-anak jangan turut campur. Aku hanya akan menggeledah kuil ini untuk mencari seseorang yang kuduga tentu bersembunyi di sini, akan tetapi para pimpinan Kun-liln-pai ini menghalangi aku. Minggirlah dan jangan mencari penyakit!"

Tiba-tiba Bi Lan mengerutkan alisnya.

Pendeta ini adalah seorahg pendeta Lama, seperti suhunya.

Juga namanya Goat Kong Lama, mirip nama suhunya Jit Kong Lama!

Jangan-jangan yang dicari pendeta Lama ini adalah suhunya?

Apakah ada hubunganantara gurunya dan pendeta Lama ini?

Akan tetapi usia mereka jauh berbeda.

Pendeta Lanta ini berusia sekitar empat puluh dua tahun, sedangkan suhunya sudah berusia tujuh puluh satu tahun!

"Heh, Goat Kong Lamal Engkau sendlrl belum begitu tua, jangan berlagak seperti seorang kakek-kakek!

Apakah yang kaucari itu bernama Jit Kong Lama?

Goat Kong Lama memandang Bi Lan dengan mata terbelalak.

"Omitohud! Bagaimana engkau bisa tahu?"

"Tak penting bagaimana aku bisa tahu, akan tetapi kiranya hanya akulah satu-satunya orang yang tahu di mana adanya orang yang kaucari itu. Beliau tidak berada di dalam kuil ini!"

"Hah? Engkau tahu? Katakan, nona, di mana dia?"

Tanya Goat Kong Lama dengan penuh semangat dan harapan.

"Aku melakukan perjalanan ribuan Li jauhnya hanya untuk mencari dia'."

"Katakan dulu, apamukah Jit Kong Lama itu?"

"Dia adalah supekku (uwa guruku). Bi Lan teringat akan pengakuan suhunya bahwa dulu suhunya adalah seorang yang sesat dan berdosa. Pantas memilikl murid keponakan sekasar ini! "Hemm, kiranya dia itu uwa gurumu? Lalu mau apa engkau mencarinya Bi Lan mendeaak, ingin tahu apakah orang ini kawan ataukah lawan gurunya karena gurunya pernah mencerltakan bahwa gurunya merupakan seorang pelarian dari Tibet dari dimusuhi para pendeta Lama di sana.

"Ih, engkau ini bocah perempuan cerewet amaT sih? Hayo katakan di mana adanya Jit Kong Lama!"

Bentak Goat Kong Lama kehabisan kesabaran.

"Tidak akan kukatakan kalau engkau belum menjawab pertanyaanku. ini. Mau apa engkau mencarinya?"

Goat Kong Lama menjadi merah mukanya.

Dia marah sekali, akan t6tapi merasa tidak mampu menang berbantahan dengan gadis yang lincah dan pandai blcara itu, maka diapun menjawab dengan nada kasar dan keras.

"Aku akan menangkap pengkhianat itu, menyeretnya kembali ke Tibet hidup atau mati!"

Tentu saja Bi Lan marah sekali mendengar orang ini hendak menyeret suhunya. Akan tetapi ia menahan perasaannya dan tersenyum mengejek.

"Hemm, begitukah? Kurasa engkau tidak akan becus melakukan itu!"

"Bocah! Jangan mempermalnkan aku! Hayo katakan dl mana adanya Jtt Kong Lama!"

Bentak Goat Kong Lama sambll melangkah maju mendekat.

"Sekarang begini saja, Goat Kong Lama. Engkau lancang berani menyerbu Kun-lun-pai, maka aku sebagai murid Kun-lun-pai menantangmu bertanding, mewakili para pemimpin Kun-lun-pai. Kalau engkau dapat mengalahkan aku, barulah aku akan memberi tahu kepadamu di mana adanya Jit Kong Lama. Akan tetapi kalau engkau yang kalah engkau Harus mohon maaf kepada locianpwe Kui Beng Thaisu. Beranikah engkau menerima tantanganku ini?"

Kui Beng Ttiaisu, Hui In Sian-kouw dan para murid Kun-lun-pai yang sekarang telah berkumpul di pekarangan itu, terkejut dan heran melihat keberanian gadis muda itu yang seolah mempermainkan pendeta Lama yang amat lihai itu.

Mendengar bahwa gadis itu mengetahui di mana adanya orang yang dicari Goat Long Lama, maka ini berarti bahwa gadis itu mempunyai urusan langsung dengan pendeta Lama itu, bukan sekedar mencampuri urusan Kun-lun-pai.

Karena itu Kui Beng Thaisu tidak mempunyai alasan untuk melarang gadis itu menandingi Goat Kong Lama.

Pendeta Lama itu sendiri mendengar tantangan Bi Lan, tersenyum mengejek.

"Heh-heh, baik, kuterima tantaniganmu. Katakan dulu siapa namamu, agar aku mengetahul dengan siapa aku bertandlng."

"Namaku Han Bi Lan. Nah, bersiaplah engkau untuk mohon maaf kepada pimpinan Kun-lun-pai!"

"Nanti dulu! Taruhannya harus ditambah. Kalau engkau yang kalah, selain engkau mengatakan di mana adanya Jit Kong Lama, juga engkau harus menjadi penunjukan jalan dan mengantar aku sampai aku dapat menemukan orang itu!"

Sambil berkata demikian, pendeta Lama itu tersenyum, senyum yang mengandung ejekan yang kurang ajar.

Semua orang dapat merasakan bahwa ucapan pendeta Lama itu mengandung arti bahwa kalau ia kalah Bi Lan harus menemaninya, tentu saja dengan maksud yang tidak senonoh terbukti dari senym dan panjdangan mata itu.

Wajah Bi Lan menjiadi merah.

Akan tetapi dasar ia seorang gadis yang lincah, nakal, cerdik dan pandai bermain kata-kata, maka la berkata, Akupun menambah taruhan Ini.

Kalau engkau yang kalah, engkau harus mohon maaf kepada locianpwe Kui Beng Thaisu dengan berlututl"

Goat Kong Lama yang memandang rendah kepada Bi Lan dan merasa yakin bahwa dia pastl akan mampu mengalahkan gadls muda Itu, mengangguk.

"Balk, janji taruhan ini disaksikan orang banyak dan harus dipenuhi!"

Bi Lan juga tersenyum, lalu ia menanggalkan pakaiannya dan meletakkan dl atas lantai, dekat tempat Kul Beng Thalsu dan Hui In Slan-kouw berdiri. Kemudlan ia menghadapl pendeta Lama itu dan berkata.

"Nah, aku sudah slap, Goat Kong Lama. Mulailah karena engkau yang mendatangkan keributan ini!"

Goat Kong Lama ingin cepat menye-lesaikan pertandingan itu, maka dia sudah cepat menyerang dan dia langsung menggunakan jurus Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat mengingat tadi dia mengalahkan Hui In Sian-kouw dengan ilmu silat ini.

Dia yakin bahwa dengan ilmu pusaka Kun-lun-pai sendiri ini yang telah lama hilang dari perguruan Kun-lun-pai, akan mudah sekali baginya untuk mengalahkan Bi Lan sebagai murid muda Kun-lun-pai.

"Hiiyyeeehhh!"

Bentaknya dan lengannya yang kekar panjang itu sudah menyambar ke arah dada gadis itu dengan cengkeraman.

Sebuah serangan berbahaya dan juga tidak sopan!

Kui Beng Thaisu yang mengenal jurus ilmu silat pusaka itu memandang dengan penuh perhatian dan sepasang alisnya berkerut.

Bagaimana mungkin gadis muda itu akan mampu bertahan menghadapi serangan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu?

Dia sendiripun hanya sempat mem-pelajari ilmu itu sebanyak lima atau enam bagian saja dan melihat gerakan pendeta Lama itu, biarpun agaknya dia juga belum menguasai ilmu itu sepenuhnya, namun setidaknya sudah menguasai lima bagian dan hal ini saja sudah cukup membuat dia lihai sekali.

Bahkan Hui In Sian-kouw juga tadi tidak mampu menandinginya.

"Heiiittt....!!"

Bi Lan berteriak melengking dan tubuhnya sudah mengelak dengap cepat dan mudah.

Tentu saja mudah baginya karena ia sudah menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat sepenuhnya, maka jurus serangan yang amat dikenalnya itu tentu saja dengan mudah dapat dihindarkannya.

la tahu ke mana lawan akan nienyerang dan bagaimana perkembangan serangan selanjutnya.

Serangan dari ilmu silat ini memang beratai dan di sinilah terletak kehebatannya.

Begitu cengkeraman tangan kiri Goat Kong Lama tadi luput, tangan kanannya sudah menyambung dengan tamparan ke arah leher dan ini diikuti pula dengan tendangan kedua kaki secara bergantian!

Hebat serangan beruntun ini, akan tetapi karena sudah hafal maka Bi Lan mudah saja menghindarkan diri.

la juga bergerak dengan ilmu silat yang sama dan gerakantiya juga berantal.

Begitu menghindarkan diri dari tendangan bertubl Itu, ia menyambung elakannya dengan serangan balik.

Tiba-tiba saja tangan kirinya membuat gerakan memotong dengan tangan miring seperti orang menggunakan golok menebang pohon ke arah kaki yang meluncur lewat samping tubuhnya!

Goat Kong Lama terkejut sekali.

Cepat dia menarik kembali kakinya, akan tetapi Bi Lan sudah menyambung serangannya dengan totokan ke arah dada dan serangan inipun dlsambung dengan tendangan kaklnya yang menyambar ke arah pusar.

Goat Kong Lama menjadi heran dan bingung dan terpaksa dia menibuang tubuh ke belakang dan bergulingan dl atas tanah karena hanya itu satu-satunya cara untuk mematahkan rangkaian serangan gadls Itu.

Dla melompat bangun dan berdlrl dengan mata terbelalak memandang lawannya Itu.

Dalam segebrakan saja dia hampir kalah oleh gadis yang Juga mempergunakan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat!

Sementara itu, Kui Peng Thaisu dan Hui In Sian-kouw saling pandang dengan terheran-heran.

Gadis itu memainkan Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat dengan gerakan yang sempurna Akan tetapi mereka tahu benar bahwa tidak ada murid Kun-lun-pai, apa lagi yang begitu muda, yang menguasai ilmu pusaka yang telah lama hilang itu.

Bahkan Kui Beng Thalsu sendlrl hanya menguasai paling banyak enam bagian dan Hui In Sian-kouw paling banyak tiga baglan saja.

Biauw In Su-thal bahkan tidak pernah mempelajarinya.

Akan tetapi Goat Kong Lama menguasai ilmu itu dengan baik dan kini gadis muda itu bahkan menguasainya lebih baik lagi!

Setelah tahu bahwa gadis muda yang dipandang rendah itu ternyata dapat bersilat dengan ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat secara sempurna, Goat Kong Lama maklum bahwa dia tidak akan menang kalau menggunakan ilmu itu.

Kalau ingin menang, dia harus mempergunakan ilmunya sendiri dan dia ingin mempermalukan gadis itu dengan menggunakan ilmu sihirnya.

Maka, mulutnya berkemak-kemik dan sepasang matanya seperti mencorong menatap wajah Bi Lan.

Gadis Itu mendengar mantram yang dlucapkan lirih oleh Goat Kong Lama.

la tersenyum.

Tentu saja ia mengenal baik penggunaan sihir melalui pandang mata dan suara itu.

lapun diam-diam mengerah kan tenaga batin seperti diajarkan gurunya, dengan berani membalas tatapan mata Goat Kong Lama.

Diam-diam pendeta Lama itu terkejut melihat betapa sinar mata gadis itu juga mencorong dan berani menyambut sinar matanya yang penuh kekuatan sihir, Bahkan sambil tersenyum!

Goat Kong Lama lalu mengembangkan kedua lengannya, dan perlahan-lahan kedua tangannya bergerak ke atas kepala dalam bentuk sembah, kemudian didorongkan ke depan dan mulutnya mengeluarkan dengungan aneh.

Tiba-tiba ada angin menyambar ke depan.

Angin itu berpusing dan menerjang Bi Lan.

Akan tetapi Bi Lan merangkap kedua tangan depan dada seperti sembah, kedua matanya terpejam.

la membiarkan angin itu berpusing di sekitar tubuhnya.

Angln berpusing kuat dan membawa tanah dan debu ke atas, akan tetapi tidak kuat mengangkat tubuh Bi Lan.

Kini perlahan-lahan Bi Lan mengembangkan kedua tangannya dan mendorong ke depan.

Angin berpusing itu kini meninggalkannya dan membalik menyerang Goat Kong Lama!

Pendeta Lama itu terkejut.

Tubuhnya hamplr terpelanting oleh putaran angln dan cepat dla menghentlkan sihirnya.

Angin berhentl dan wajah pendeta Lama Itu menjadl pucat.

Goat Kong Lama mengerahkan tenaganya dan membentak dengan auara menggetar penuh wibawa.

"Han Bi Lan, berlututlah engkau"

Bi Lan juga mengerahkan tenaga batin dalam suaranya ketika ia berkata.

"Siapa yang berlutut? Aku ataukah engkau? Yang pasti engkau, Goat Kong Lama. Hayo, berilah contoh!"

Goat Kong Lama terkejut karena tiba-tiba tanpa dapat ditolaknya lagi, kedua lututnya menjadi lemas dan dia jatuh berlutut.

Akan tetapi dia segera menyadari keadaan yang tidak wajar ini dan cepat meloncat berdiri lagi.

Terdengar suara tawa dari para murid Kun-lun-pai yang merasa senang melihat pendeta Lama itu dipermainkan.

Sementara itu, Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw menjadi semakin heran.

Mereka tahu bahwa dua orang itu tadi mengadu kekuatan sihir.

Siapakah gadis muda yang selain menguasal Ngo-heng Llan-hoan Kun-hoat juga memiliki llmu slhlr yang demikian kuat ini?

Goat Kong Lama maklum bahwa dengan sihirpun dia tldak akan mampu mengalahkan gadls aneh ini.

Maka sambil mengeluarkan gerengan dahsyat, dia segera menerjang ke depan dan menyerang gadis itu dengan cepat.

Semua serangan dilakukan dengan kedua tangan terbuka dan miring, seringkali gerakannya seperti orang menyembah dan gerakan silatnya lemah lembut, namun setiap sambaran tangan yang menerjang mengandung tenaga yang kuat.

Bi Lan segera mengenal ilmu silat Kwan Im Sin-caang (Tangan Sakti Dewi Kwan Im) itu.

Untuk menyenangkan hati para pimpinan Kun-lun-pai, ia tetap memainkan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat.

Terjadilah pertandingan hebat dan seru.

Tentu saja pihak Bi Lan lebih untung.

la mengenal dan hafal sekali ilmu silat Kwan Im Sin-ciang yang diajarkan Jlt Kong Lama kepadanya.

Maka menghadapi serangan dengan ilmu silat ini tentu saja ia sudah mengenal lika-liku dan perkembangannya sehingga mudah menghindarkan diri.

Sebaliknya, Goat Kong Lama yang tidak menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat sepenuhnya, hanya menguasai setengahnya saja, menjadi repot menghadapi desakan Bi Lan.

Beberapa kali kaki atau tangan gadis itu mengenai sasaran, akan tetapi Goat Kong Lama melindungi dirinya dengan ilmu kebal yang kuat sehingga dia tidak sampai roboh.

Selain itu, juga Bi Lan tidak menggunakan tenaga sepenuhnya karena bagaimanapun juga, gadis ini tahu bahwa lawannya adalah murid keponakan suhunya sehingga masih terhitung saudara seperguruan sendiri.

Akan tetapi mellhat Goat Kong.

Lattia belum juga mau mengaku kalah walau-pun sudah beberapa kali terkena tendangan atau tamparannya, Bi Lan menjadi marah juga.

Orang ini tak tahu diri, pikirnya dan perlu diberi hajaran yang leblh keras.

"Haiiittt.... Ia menyerang dengan serangkaian serangan dari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang sambung menyambung. Goat Kong Lama berusaha untuk mempertahankan diri dengan tangkisan dan elakan, akan tetapi karena Jurus yang dipergunakan Bi Lan int meru-; pakan jurus-jurus llmu sllat yang belum pernah dipelajarinya, maka dia menjadi bingung tidak mengenal perkembangannya dan tidak dapat menghindarkan diri lagt ketika kaki kiri gadis itu mencuat dengan cepat dan kuat ke arah dada kanannya. Sekali ini Bi Lan mengerahkan tenaga sln-kangnya.

"Desss,...!"

Biarpun Goat Kong ama telah mellndungi dirlnya dengan ilmu kebalan, namun tendangan itu terlalu kuat menembus kekebalannya dan diapun terjengkiing dan terbantlng jatuh.

Dia merasa dada kanannya nyeri dan ketika dirabanya, tahulah dia bahwa sebuah tulang iganya patah.

Goat Kang Lama terkejut dan merasa penasaran sekall.

Menang kalah merupakan hal blasa dalam pertandingan silat, akan tetapi dia merasa dipermalukan dl depan semua anggauta Kun-lun-pai yang berkumpul di situ dan yang kini semua tersenyum gembira melihat kemenangan Bi Lan.

Dia meraba punggung-nya dan sratt...!

Tangan kanannya telah mencabut pedang.

Pada saat itu, Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw melompat ke depan.

"Siancai....! Goat Kong Lama, pertandingan ini bukan permusuhan, mengapa menggunakan senjata? Kalau engkau menggunakan senjata, terpaksa kami akan rnengusirmu dengan kekerasan! Engkau jelas telah dikalahkan seorang murid Kun-lun-pai, mengapa masih nekat? Han Bi Lan, sebagai murid Kun-lun-pai, engkau kami minta untuk menceritakan di mana adanya pendeta Lama yang dicari Goat Kong Lama Itu agar tidak ada urusan lagi antara Kun-lun-pal dan dla."

Bl Lan menghadapi Goat Kong Lama yang terpaksa menyarungkan kemball pe-dangnya karena kalau sampai para pimpinan Kun-lun-pai marah dan turun tangan, tak mungkin dia akan dapat lolos.

Baru melawan gadis itu saja sudah berat sekali.

"Goat Kong Lama. Kalau engkau merasa sebagai orang gagah kenapa tldak memenuhi, Janjlmu tadl? Engkau telah kalah dan engkau harus mohon ampun kepada pimplnan Kun-lun-pal. Setelah itu baru akan dapat kuberitahu dimana adanya Jit Kong Lama. Goat Kong Lama tidak dapat menyangkal lagl akan kekalahannya tadi, maka dengan muka merah dia lala menjatuhkan dirl berlutut menghadap Kui Beng Thaisu dan berkata.

"Kui Beng Thaisu, pinceng (aku) bersalah dan minta maaf."

"Sudahlah, Goat Kong Lama. Kami tidak dapat menerima penghormatah seperti ini. Semua itu hanya kesalahpahaman belaka. Yang sudah biarlah berlalu. Bangkitlahl"

Ketua Kun-lun-pai itu menggerakkan tangan kanannya ke depan dan Goat Kong Lama merasa ada angln amat kuat menyambar dan seolah mengangkatnya sehlngga dia terpaksa bangklt berdiri.

Dia terkejut sekali dan menyesal bahwa tadl dia terlalu memandang rendah orang.

Ternyata ketua Kun-lun pai yang sudah tua inl memillkl tenaga sakti yang luar biasa!

"Han Bl Lan, sekarang katakan dl mana adanya Jit Kong Lama."

Katanya kepada Bi Lan, kini lenyaplah sikapnya yang angkuh tadi.

"Dia sudah pergi ke barat, hendak kembali ke Tibet dan menyerahkan diri kepada para pimpinan Lama di sana."

Kata Bl Lan dan dalam suaranya terkandung kesedihan mengenang gurunya yang disayangnya itu.

Pendeta Lama itu memandang kepadanya dengan alis berkerut dan sinar matanya membayangkan ketidak-percayaannya.

"Bagaimana aku dapat mempercayai keterangan itu?"

"Engkau harus percaya karena aku adalah muridnya!"

Kata Bi Lan.

"Engkau.... engkau.... muridnya?"

Kata Goat Kong Lama dengan mata ter-belalak.

"Tapi.... engkau tadl melawanku dengan Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat....!"

"Benar. Aku juga murid Kun-lun-pal. Akan tetapi Jit Kong Lama juga guruku. Kau lihat ini!"

Kata gadl? itu dan ia segera membuat gerakan silat dengan kedua tangan miring seperti orang memuja.

"Kwan Im Sin-ciang (Tangari Sakti Dewi Kwan Im)....!"

Seru Goat Kong Lama.

"Dan lihat ini!"

Bi Lan memungut sebatang ranting kayu lalu bersilat beberapa jurus dengan ranting kayu itu.

"Kim Bhok Sin-tung-hoat (Ilmu Tongkat Sakti Kayu Emas)'."

Kembali Goat Kong Lama berseru.

"Kau.... .kau benar muridnya!"

"Nah, percayakah engkau sekarang?'"

Suhu Jit Kong Lama sudah pularig ke Tibet untuk menyerahkan diri, bertaubat dan menebus semua dosanya. Pergilah!"

Goat Kong Lama mengangguk-angguk, mengangkat kedua tangan depan dada, menghadapi pimpinan Kun-lun-pai, membungkuk lalu berkata "Omitohud! Pinceng mohon maaf dan mohon diri!"

Setelah berkata demikian, pendeta Lama itu memutar tubuhnya lalu berlari cepat seperti terbang meninggalkan tempat itu.

Kini Bi Lan menghadapi Kui Beng Thaisu dan Hui In Sian-kouw.

Dua orang pimpinan Kun-lun-pai itu menatap wajah Bi Lan dengan penuh keheranan.

Mereka merasa penasaran sekali.

Murid pendeta Lama Tibet dan sekaligus juga murid Kun-lun-pai yang dibuktikannya dengan kemahiran ilmu silat pusaka Kun-lun-pai!

Banyak pertanyaan yang memenuhi hati Kui Beng Thaisu.

Betapapun Juga, gadis ini telah membela nama Kun-lun-pai dengan mengalahkan Goat Kong Lama tadi.

Dan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi hatinya, dia merasa tidak leluasa karena di sltu berkumpul semua murid Kun-lun-pai.

"Nona Han Bi Lan, engkau tadi me-ngatakan bahwa engkau datang ini untuk menghadap kami?"

Tanya ketua Kun-lun-pai itu.

"Benar, locianpwe."

Jawab Bi Lan sambil menghampiri buntalan pakaiannya.

"Kalau begitu, mari kita masuk dan bicara di dalam."

Ajak ketua Kun-lun-pai itu.

Bi Lan mengangguk dan ia mengikuti Kui Beng Thaisu dan Hu in Sian-kouw memasuki kuil.

Setelah mereka duduk dalam ruangan tengah yang tertutup, Bi Lan meletakkan buntalan pakatannya di atas meja.

"Nah, sekarang janganlah membuat kami terlalu lama keheranan dan menduga-duga, nona Han Bi Lan. CeritaKanlah mengapa engkau datang ke Kun-lun-pai dan hendak bertemu dengan kami?"

Tanya Kui Beng Thaisu.

"Dan bagaimana pula engkau mengaku sebagai murid Kun-lun-pai dan menguasai, Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat?"

Tanya pula. Hui In Sian-kouw. Bi Lan tersenyum, akan tetapi menghela napas panjang.

"Panjang ceritanya dau sebelumnya saya harap locianpwe pimpinan Kun-lun-pai suka memaafkan saya. Saya sudah sebelas tahun lamanya ikut suhu Jit Kong Lama yang mengasingkan diri di sebuah puncak Kun-lun-san, mempelajari ilmu-ilmu dari suhu. Beberapa hari yang lalu, saya berpisah dari sUhu yang ingin kembali ke Tibet, Tugas saya yang pertama adalah berkunjung ke Kun-lun-pai, menghadap para pimplnan Kun-lun-pai. Akan tetapi baru saja tiba di pekarangan kuil saya melihat Goat Kong Lama, mendengar pembicaraannya dan melihat betapa dia menantang bertanding kepada para pimpinan Kun-lun-pai. Karena itulah maka saya memberanikan diri menghadapinya untuk membela Kun-lun-pai karena saya merasa sebagai kewajiban saya membe-la Kun-lun-pai."

"Tapi..,. engkau menguasai ilmu si-lat pusaka kami...."

Kata Hui In Sian-kouw. Bi Lan tersenyum.

"Terjadinya kurang lebih setahun yang lalu. Pada suatu hari saya bertemu dengan seorang pemuda sombong. Ketika melihat bahwa dia membawa kitab-kitab kuno dalam buntalan pakaiannya, saya lalu meminjam sebuah kitab tanpa dia ketahui."

"Siancai! Itu namanya mencuri!"

Se-ru Hui In Sian-kouw. Bi Lan tersenyum manis memandang wajah pendeta wanita itu dan matanya. bersinar-sinar nakal.

"Saya hanya ingin memberi pelajaran padanya agar dla ti-dak sombong. Biar tahu rasa dia! Ketika saya melihat bahwa kitab itu berisi pelajaran ilmu silat, saya tertarik sekall dan saya mendengar darl suhu bahwa kltab Itu adalah kltab pusaka mlllk Kun-lun-pal. Saya mengambll keputusan untuk memlnjam kitab itu dan di bawah bimbingan dan petunjuk suhu, saya mempelajari dan melatihnye selama setahun. Karena saya memang merasa pinjam, maka setelah selesai saya pelajari dan saya kuasai, begitu berpisah dari suhu, saya langsung tnenghadap pimpinan Kun-lun-pai untuk mehgembalikan Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat ini."

La membuka buntalan pakaiannya mengambil kitab itu dan menyerahkannya kepada Kui Beng Thaisu. Kui Beng Thaisu menerima kitab itu memeriksanya sebentar dan dia mengangguk-angguk.

"Sian-cai....! Memang inilah kitab kaml yang hilang puluhan tahun yang lalu itu. Nona Han Bi Lan, pemuda yang kaumaksudkan itu adalah murid dari Tiong Lee Cin-jin yang bermaksud mengembalikan kitab itu kepada kami. Dia melaporkan bahwa kitab itu hilang dalam perjalanan. Kiranya engkau yang mengambllnya."

"Saya memlnjamnya, locianpwe, dan harl Inl saya kembalikan. Harap Locian-pwe suka memaafkan saya."

"Kaml memaafkanmu, nona. Bagaimanapun juga, engkau sudah berani membela Kun-lun-pai dengan taruhan nyawa dan mengaku sebagai murid Kun-lun-pai. Kalau engkau murid Kun-lun-pai, maka mempelajari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat tentu tidak bersalah karena tingkat kepandaianmu juga sudah memadai. Karena itu, engkau baru sah kami terima sebagai murid Kun-lun-pai kalau engkau mengakui pinto (aku) sebagai guru dan. ini adalah Hui In Sian-kouw, sumoiku yang menjadi ketua kun-lun-pai bagian wanita, jadi ia juga gurumu."

Bi Lan mengerti apa yang dirnaksudkan kakek itu, maka iapun segera berlutut memberi hormat kepada kedua orang tua itu, memberi hormat kepada Kui Beng Thaisu dan menyebut "suhu"

Lalu kepada Hui In Sian-kouw dengan menyebut "subo (ibu guru)".

Hui In Sian-kouw menyentuh kedua pundak Bi Lan dan pienyuruhnya bangkit dan duduk kembali.

Setelah kedua orang ketua Kun-lun-pai ini menerima Bi Lan sebagai murid Kun-lun-pai, gadis itu lalu diperkenalKan kepada semua murid Kun-lun-pai.

Semua murid merasa girang dan kagum mempunyai saudara seperguruan yang demikian lihai.

Hui In Sian-kouw tidak lupa untuk rnemperkenalkan Bi Lan kepada Biauw In Suthai yang masih menjalani hukuman dalam Pondok Pengasingan.

Pendeta wanita ini ketika diberitahu tentang Han Bi Lan yang telah membela Kun-lun-pai dan kini diakui sebagai murid yang sah dari Kun-lun-pai, mau menerima Bl Lan berkunjung kepadanya di Pondok Pengasingan.

Bi Lan memasuki pondok yang sepi itu dan segera berlutut menghadap pendeta wanlta yang juga duduk dl atas lantai sambil bersila itu.

Bi Lah sudah mendengar tentang Biauw In Su-thal yang menjalani hukuman dan ia merasa kasihan kepada pendeta wanlta yang masih tampak berwajah manls itu.

Baru mengaslngkan dlrl selama setahun saja wajah Biauw In Suthai sudah berubah, tidak ada garis-garls yang menunjukkan kekerasan hatlnya lagl pada wajahnya.

"Bibi guru.,.,.1"

Bi Lan menegur ragu. Blauw In Suthal membuka mata, memandang kepada Bi Lan dan ia tersenyum kagum.

"Ah, engkau cantik jelita dan lincah sekali! Engkau yang bernama Han Bi Lan dan yang telah membela Kun-lun-pai dan mengalahkan pendeta Lama yang amat lihai? Setelah berkunjung ke sini dan mengembalikan kitab engkau lalu hendak pergl ke mana, Bi Lan?"

"Saya akan melanjutkan perjalanan saya, bibi guru. Saya akan kembali ke rumah orang tua saya di Liang-an (Hang-chouw)."

"Ah, ke kota raja kerajaan Lam Sung (Sung Selatan)? Jauh sekali. Bi Lan, engkau adalah murid Kun-lun-pai yang telah menguasai Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, berarti tlngkat kepandaianmu sudah tinggi sekali. Aku ingin minta bantuanmu, maukah engkau menolongku, Bi Lan?"

Bi Lan merasa heran sekali.

Bantuan apa yang dibutuhkan pendeta wanita ini?

la hanya mendapat keterangan dari para murid Kun-lun-pai dan juga dari Hui In Sian-kouw bahwa Biauw In Suthai ini sedang merijalani hukuman dan diharuskan tinggal di Pondok Pengasingan untuk bersamadhi dan bertaubat.

Kini wanita yang sudah menjalani hukuman selama setahun itu ingin minta pertolongannya!' "Bibi guru, tentu saja saya suka me-nolongmu, asal saja tidak melanggar peraturan Kun-lun-pai dan tidak berlawanan dengan hati nurani saya sendiri."

Jawabnya hati-hati. Biauw In Suthai mengangguk-angguk.

"Bagus sekali. Memang demikianlah seharusnya seorang pendekar dan murid Kun-lun-pai yang baik. Tidak seperti aku dahulu yang hanya menurutkan gejolak perasaan hati sendiri. Kekerasan hatiku membuat dua orang murid yang kusayangi sekarang Ini, pergi mencarl seseorang untuk membunuhnya dan aku mlnta bantuanmu, yaitu apabila dalam perjalananmu engkau menjumpai mereka, sampaikanlah pesanku bahwa peraturan pernikahan itu sekarang sudah kubatalkan dan katakan agar mereka berdua tidak lagi berusaha membunuh laki-laki itu"

Bl Lan mendengarkan dengan heran.

"Bibi guru, apakah bibi guru tldak mau memberi penjelasan kepada saya agar saya mengerti duduknya perkara? Siapakah kedua orang murid bibi guru itu dan siapa pula laki-laki yang hendak mereka bunuh itu? Mengapa pula hendak mereka bunuh?"

Biauw In Suthai menghela napas panjang.

Baca Juga: Jodoh Rajawali 16

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 11

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger