Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Naga Langit 3

Eps 3 Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.

"Tentu engkau masih ingat akan tugas hidupmu setelah engkau menguasai ilmu yang seiama sepuluh tahun ini kau pelajari dengan tekun di sini. Tugas seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, membela mereka yang lemah tertindas dan menentang mereka yang kuat kuasa dan sewenang-wenang. Terutama sekali engkau jangan lupa untuk berbakti kepada bangsa dan kerajaan Sung, membantu kerajaan menghadapi kemurkaan bangsa Kin. Itu merupakan tugas umum bagimu yang dapat kaulaku-kan sepanjang hidupmu. Aku masih mem-punyai dua buah tugas untukmu. Pertama, ada beberapa bingkisan kitab yang harus kauserahkan kepada Ketua Kuil Siauw-lim-pai, Ketua Partai Kun-lun-pai, dan ketua partai Bu-tong-pai. Kitab-kitab itu ada hubungannya dengan ilmu silat mereka, untuk memperdalam dan mematangkan ilmu mereka. Kemudian, sisa kitab-kitab agama dan filsafat agar kau haturkan kepada Sribaginda Kaisar Sung Kao Tsu. Dan yang terakhir, dan ini penting sekali, engkau harus berusaha untuk menyelamatkan Kerajaan Sung dari pengaruh buruk Perdana Menteri Chin Kui".

"Apakah kesalahan Perdana Menterl Chin Kui maka teecu harus menentangnya, suhu?"

"Aku belum menceritakan kepadamu tentang Jenderal Gak Hui, patriot dan pahlawan sejati itu, Thian Liong. Ketahuilah, Jenderal Gak Hui berhasil membujuk Sribaginda Kaisar untuk memberi ijin kepadanya melakukan penyerbuan ke utara untuk merampas kembali daerah Sung yang telah dikuasai bangsa Kin. Sribaginda telah memberi ijinnya, dan Jenderal Gak Hui telah berhasil menyerbu ke utara dan menang dalam banyak pertempuran. Akan tetapi apa yang terjadi? Perdana Menteri Chin Kui membujuk Kaisar untuk memerintahkan Jenderal Gak Hui agar menghentikan serbuan ke utara dan menarik mundur pasukannya!"

"Akan tetapi mengapa begitu, suhu?"

"Menurut berita rahasia yang sempat kudengar, agaknya antara Perdana Menteri Chin Kui dan Kerajaan Kin terdapat persekutuan rahasia. Karena itulah maka perdana menteri yang khianat itu membujuk kaisar dan karena dia memiliki pengaruh yang amat besar maka kaisar berhasil dibujuknya.

"Akan tetapi apakah Jenderal Gak Hui mau menarik mundur pasukannya?"

Tanya Thian Liong penasaran.

"Jenderal Gak Hui adalah seorang pang lima yang amat setia dan jujur, maka apapun yang diperintahkan kaisar dia pasti tidak mau menolaknya. Dia mematuhi perintah kaisar dan menarik mundur pasukannya walaupun ditangisi rakyat yang tadinya daerahnya dibebaskan dari cengkeraman bangsa Kin. Tentu saja hal itu menghancurkan hati Jenderal Gak Hui sehingga dia tidak segera membawa kembali sebagian dari barisannya ke selatan, melainkan membuat perkemahan di perbatasan."

"Kasihan sekali rakyat yang ditinggalkan dan kasihan Jenderal Gak Hui."

Kata Thian Liong sambil menarik napas panjang.

"Kemudian apa yang terjadi selanjutnya, suhu?"

"Kisah selanjutnya sungguh membuat hati menjadi terharu, Thian Liong. Setelah pasukan Jenderal Gak Hui ditarik mundur, pasukan kerajaan Kin melampiaskan dendamnya kepada rakyat yang tadinya menyambut pasukan Sung dengan gembira. Mereka dianggap membantu pasukan Sung dan setelah mereka ditinggalkan, pasukan Kin menghukum rakyat daerah yang telah dibebaskan kemudian ditinggalkan itu dengan kejam dan sewenang-wenang. Banyak rakyat tidak berdosa dibunuh. Para serdadu Kin mendapat kesempatan untuk melampiaskan nafsu mereka dengan alasan mereka menghajar musuh. Mereka merampok, memperkosa dan tidak ada kekejaman yang pantang mereka lakukan."

"Hemm, begitukah kiranya kalau nafsu sudah menguasai manusia, mengubah manusia menjadi lebih kejam daripada binatang buas yang tidak mempunyai akal pikiran."

"Benar, Thlan Liong. Ketika Jenderal Gak Hui mendengar laporan ini dia tidak dapat menahan kemarahan hatinya. ia lupa diri bahkan berani melupakan perintah kaisar yang melarangnya menyerbu ke utara. Dia sendiri memimpin pasukannya dan mengamuk, membasmi dan membunuh banyak sekali pasukan Kerajaan Kin."

"Sungguh seorang panglima yang mencinta bangsanya dan gagah perkasa."

Thian Liong memuji dengan kagum.

"Memang begitulah. Akan tetapi akibatnya menyedihkan sekali, Thian Liong. Perdana Menteri Chin Kui menjadl marah sekali dan siap menghasut kaisar, mengatakan bahwa Jenderal Gak Hui telah menentang perintah kaisar, berarti telah memberontak dan pantas dihukum mati."

"Ah, suhu! Akan tetapi Jenderal Gak Hui yang gagah perkasa itu tentu tidak mudah ditangkap. Selain gagah perkasa, diapun memiliki pasukan yang amat kuat dan setia, Juga didukung rakyat yang mencintanya."

Kata Thian Liong penuh harapan, Gurunya menggeleng kepala dan meng hela napas panjang.

"Kenyataannya tidak demikian, Thlan Liong. Jenderal Gak Hui di waktu mudanya pernah disumpah oleh ibunya untuk bersetia sampai mati, kalau perlu berkorban nyawa. Karena itu, ketika Kaisar menjatuhkan hukuman mati kepada Jenderal Gak Hui, dia menerinianya dengan hati-rela dan menyerahkan diri walaupun para pendukungnya berusaha keras untuk mencegahnya. Bahkan kawan-kawannya terdekat yang bertekad hendak menyelamatkannya dari hukuman mati, bahkan dibentak dan dimarahi oleh Jenderal Gak Hui sebagai orang-orang yang tidak setia kepada kaisar! Demikianlah, panglima besar yang setia dan patriotik itu, panglima yang benar-benar seorang pahlawan, telah menemui kematiannya secara menyedihkan, menjadi korban kelicikan Perdana Menteri Chin Kui."

Thian Liong menghela napas panjang.

"Ahh, sekarang teecu mengerti mengapa suhu menugaskan teecu untuk menentang pembesar lalim itu dan menyelamatkan kerajaan dari tangannya yang kotor. Teecu akan berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tugas yang suhu berikan kepada teecu."

"Sekarang kauambillah peti dari kolong pembaringanku dan bawa peti itu ke sini."

Kata Tiong Lee Cin-jin.

Thian Liong mengangguk lalu memasuki kamar gurunya dan membawa sebuah peti hitam diletakkan peti itu di depan gurunya.

Tiong Lee Cin-jin membuka peti kayu hitam itu.

Ternyata peti itu berisi banyak kitab yang sudah tua.

Dia mengeluarkan tiga buah kitab.

"Ini adalah sebuah kitab Sam-jong Cin keng berisi pelajaran dari Ji-lai-hud. Kitab ini harus kauserahkan kepada Ketua Siauw-lim-pai karena Kuil Siauw-lim yang berhak memiliki dan merawatnya, juga mempelajari isinya. Yang ke dua ini kitab Kiauw-ta Sin-na dan pelajaran ini sealiran dengan ilmu cengkeraman dari Bu-tong-pai, maka harus kauserahkan Ketua Bu-tong-pai. Yang ke tiga ini adalah kitab inti ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, agar kauserahkan Ketua Kun-lun-pai. Dan ini,"

Kakek itu mengeluarkan sebatang pedang dan belasan buah kltab.

"Belasan kitab agama dan fllsafat ini harap kau haturkan kepada Sribaginda Kaisar untuk menambah pelajaran akhlak para pejabat, sedangkan pedang ini, lihat nama pedang itu yang terukir di pangkalnya."

Thian Liong mencabut pedang itu.

Pedang itu ternyata tumpul, tidak tajam dan tidak runcing!

Terbuat dari baja yang berwarna putih gelap seperti kapur.

Dia melihat tiga huruf yang terukir pada pangkal pedang itu dan memba-ca tiga huruf itu, mata Thian Liong terbelalak lebar karena keheranan.

Dia membaca namanya sendiri di situ.

Thian-liong-kiam (Pedang Naga Langit)!

Mengapa pedang itu bernama presis seperti namanya?

Dia menyarungkan pedang itu kembali dan memandang kepada gurunya dengan sinar mata mengandung pertanyaan.

Tiong Lee Cin-jin tersenyum.

"Begitulah aku dahulu ketika untuk pertama kali mendengar engkau menyebutkan namamu. Seperti juga engkau sekarang ini, aku terheran-heran. Apalagl ketika itu, ketika kita pertama kali bertemu, aku memandang ke angkasa mellhat awan-awan membentuk seekor naga yang sedang melayang di angkasa. Sungguh sua-tu kebetuian yang menakjubkan. Aku telah menemukan pedang yang namanya Thian-liong-kiam, kemudian aku mendengar namamu juga Thian Liong dan melihat Thian-liong (Naga Langit) terbang di angkasa. Karena itu, maka aku mengambil keputusan untuk memberikan pedang ini kepadamu."

"Akan tetapi, untuk apakah pedang ini, suhu? Suhu selalu mengajarkan bah-wa semua anggauta tubuh kita dapat dimanfaatkan untuk melindungi diri, dan benda apapun juga yang tampak dapat kita pergunakan untuk rnembantu dan menjadi senjata kita."

"Benar sekali dan kenyataannya memang masih seperti itu, Thian Liong. Akan tetapi, pedang ini sudah kutemukan dan benda ini buatan orang sakti, merupakan benda pusaka yang langka. Juga, melihat pedang ini tumpul, tidak taJam dan tidak runcing, aku yakin pembuatnya dahulu tidak mempunyai maksud agar pedang ini dipergunakan untuk melukai atau membunuh orang. Ambillah dan engkau dapat mernanfaatkamiya bila perlu. Ketahuilah, bahwa selain pedang ini terbuat dari batu bintang yang lebih kuat daripada baja, juga air rendamannya dapat menawarkan segala macam racun."

"Terima kasih, suhu. Kapah teecu ha-rus berangkat, suhu?"

Dalam pertanyaan ini terkandung keharuan karena mengi-ngatkan dia bahwa sebentar lagi dia akan berpisah dari orang yang selarna ini bukan saja menjadi gurunya, akan tetapi Juga menjadi pengganti orang tuanya, menjadi satu-satunya orang yang menyayang dan disayangnya di dunia ini.

Selain merasa berat untuk berpisah dari orang yang dihormati dan disayangnya itu, dengan siapa selama sepuluh tahun dan hidup bersama, juga ada perasaan iba mepyelubungi hatinya mengingat bah-wa gurunya yang sudah tua itu akan dia tinggalkan dan hidup seorang diri, tidak akan ada yang membantu bekerja di kebun, tidak ada yang melayaninya lagl.

Akan tetapi dengan batinnya yang telah menjadi kokoh kuat Thlan Liong dapat menguasai perasaannya sehingga perasaan haru itu tidak tampak pada wajahnya dan tidak terdengar pada suaranya.

"Berkemaslah karena engkau harus berangkat hari ini juga. Hari ini cerah, indah dan baik sekali untuk memulai perjalananmu. Bungkus semua kitab ini dalam buntalan kain agar mudah kau gendong. Jangan lupa bawa semua pakaianmu, juga semua uang hasil penjualan hasil kebun dan sumbangan orang-orang yang berobat itu boleh kaubawa sebagai bekal dalam perjalanan."

"Baik, suhu."

Thian Liong segera ber-kemas, mengumpulkan semua kitab dan pakaiannya menjadi satu buntalan kain kuning.

Juga pedang Thian-liong-kiam yang bergagang dan bersarung sederhana itu dia masukkan dalam buntalan, demi-kian pula uang pemberian suhunya.

Sete-lah selesai, dia menggendong buntalan kain kuning di pungungnya dan menjatuhkan dirinya berlutut lagi di depan kaki suhunya.

"Suhu, haruskah teecu berangkat sekarang?"

"Berangkatlah sekarang juga, Thian Liong."

"Suhu, teecu mohon pamit."

"Mendekatlah, Thian Liong. Blarkan aku memelukmu."

Pemuda itu mendekat dan Tiong Lee Cin-Jin lalu merangkulnya.

Thian Liong balas merangkul.

Dalam rangkulan itu guru dan murid ini merasakan betapa kasih sayang mereka menggetar menjalar dl seluruh tubuh mereka, membuat tubuh mereka gemetar.

"Berhati-hatilah dalam perantauanmu, Thian Liong. Ingatlah selalu kepada Tuhan dan dasari semua tindakanmu dengan penyerahan sepenuhnya atas Kekuasaan Tuhan, waspadalah selalu gerak-gerik la-hir batinmu sendiri."

"Akan teecu Ingat semua itu, suhu. Harap suhu menjaga diri baik-baik. Selamat tinggal, suhu."

"Selamat jalan, muridku."

Thian Liong bangkit dan melangkah keluar, diikuti pandang mata gurunya.

Dia melangkah terus, keluar dari pekarangan, beberapa kali menengok dan melihat gurunya berdiri di ambang plntu depan.

Thian Liong melihat gurunya tersenyum.

Diapun tersenyum dan seketika rasa sedih dari haru karena perpisahan itu larut dalam senyum.

Dla melangkah lebar dan dengan cepat meninggalkan Puncak Pelangi.

Tiong Lee Cin-jin memandang bayangan muridnya sampai lenyap ditelan pohon-pohon.

Dia masih tersenyum, akan tetapi kedua matanya basah.

Dia berkejap sehingga ada dua titik alr mata turun di atas kedua pipinya.

Diusapnya air mata itu dengah tangan kanan, kemudi-an dipandangnya tangan yang basah terkena air mata dan Tlong Lee Cln-jin tiba-tiba tertawa bergelak.

Dia mentertawakan ulah nafsu yang mendatangkan iba diri dan mentertawakan kelemahan itu.

Kemudian sambil masih tertawa dla masuk lagi ke dalam rumah dan duduk bersila di atas pembaringan, lalu bernyanyi dengan suara lantang.

"Setelah mengenal keindahan dengan sendirinya mengenal keburukan, setelah Cahu akan kebaikan dengan sendirinya tahu pula akan keJahatan. Sesungguhnya ada dan tlada saling melahlrkan sukar dan mudah saling melengkapi panjang dan pendek saling mengadakan tinggi dan rendah saling menunjang sunyi dan suara saling mengisi dahulu dan kemudian saling menyusul. Itulah sebabnya para bijaksana bekerja tanpa pamrih mengajar tanpa bicara. Segala terjadi tanpa dia mendorongnya tumbuh tanpa dia ingin memilikinya berbuat tanpa dia menjadi sandarannya. Walau berjasa dia tidak menuntut Justeru tidak menuntut maka takkan musna". Suara nyanyian Tiorig Lee Cin-jin yang mengambil ayat-ayat dari kitab To-tek-keng ini perlahan saja, akan tetapi karena suara itu didorong tenaga khi-kang yang amat kuat, maka suara itu mengandung getaran kuat dan terdengar pula oleh Thian Liong yang sedang melangkah cepat menuruni Puncak Pelangi. Mendengar nyanyian yang sudah dikenalnya itu Thian Liong tersenyum dan dia mempercepat langkahnya menuruni puncak. * * * Untuk memenuhi tugas dari gurunya, Thian Liong lalu melakukan perjalanan ke Kun-lun-san. Tempat ini yang paling jauh di antara yang lain, maka dia lebih dulu hendak pergi ke Kun-lun-pai untuk menyerahkan Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang berada dalam buntalan kain kuning di punggungnya. Setelah itu, baru dia akan pergi ke Bu-tong-pai dan Siauw-lim-pai. Kemudian yang dia akan pergi ke kota raja Hang-chou, menghadap Kaisar Sung Kao Tsu dan menyerahkan tiga belas buah kitab. Setelah semua kitab dapat dia serahkan ke-pada mereka yang berhak menerimanya, baru dia akan menyelidiki tentang Perdana Menteri Chin Kui dan kalau ternyata pembesar itu masih merupakan pembesar lalim yang mengancam keselamatan kerajaan, dia akan menentangnya sekuat tenaganya. Setelah melakukan perjalanan yang amat jauh dan melelahkan, melalui gurun dan pegunungan, akhirnya pada suatu hari dia tiba di kaki pegunungan Kun-lun. Ada sebuah jalan raya yang cukup lebar menuju ke barat dan jalan ini yang biasa dipergunakan para rombongan peda-gang yang membawa barang dagangan mereka dari dan ke daerah barat, menuju Tibet, terus ke selatan ke Kerajaan Bhutan Nepal, dan India. Jalan itu seringkali sunyi, baru ramai kalau musim panas tiba dan para pedagang banyak yang rnelakukan perjalanan dalam rombongan yang dikawal dengan kuat. Pada hari-hari biasa, yang melewati jalan itu hanyalah penduduk dusun-dusun sekltarnya, para petani, pemburu, dan pencari hasil hutan. Pagi harl itu Thian Liong berjalan diatas jalan besar, menanti-nantl kalau ada orang yang dapat dia tanyal tentang Kun-lun-pai. Dia sudah kehabisan bekal. Uangnya yang dia dapat dari gurunya tidak berapa banyak dan sudah habis untuk membeli makanan dalam. perjalanan selama ini. Gurunya pernah ber-pesan kepadanya untuk kebutuhan hidupnya dia harus mencarl uang dengan bekerja. Bekerja apa saja asalkan tidak merugikan orang. Tentu saja dengan mempergunakan ilmu kepandaiannya, dengan mudah dia akan dapat mengambil uang milik orang tain, akan tetapi hal itu berarti merugikan orang lain dan tentu saja dia tidak akan sudi melakukan perampokan atau pencurian. Akan tetapi pagi ini uangnya sudah habis sama sekali, maka dia tidak dapat membeli bekal makanan ketika melewatl sebuah dusun pagi tadi. Ketika dia tlba dl sebuah Jalan yang terletak di tempat tinggi, dia melihat jauh di depan ada debu mengepul dan terlihat gerakan banyak orang sedang bertempur. Mellhat adanya beberapa buah gerobak berdlrl tak Jauh dari tempat pertempuran itu, Thian Liong dapat menduga bahwa sepihak dari mereka yang bertempur itu tentu rombongan pedagang. Teringatlah dia akan cerita gurunya bahwa para pedagang jarak jauh itu biasanya dlkawal oleh orang-orang yang pandal ilmu silat karena banyak penJahat yang berusaha untuk merampok barahg dagangan yang berharga mahal itu. Thian Llong lalu berlari cepat menurunl lereng Itu dan sebentar saja dia sudah tiba dl tempat pertempuran. Dia melihat lima orang yang berpakalan sebagai saudagar berdiri ketakutan dekat lima buah kereta penuh barang, bersama lima orang kusir kereta yang juga menon-ton perkelahian dengan sikap ketakutan. Thlan Liong memandang ke arah mereka yang berkelahi. Ternyata yang berkelahi hanya dua orang laki-laki yang dikeroyok oleh belasan orang yang berpakaian sebagai pengawal. Akan tetapi dua orang yang bersilat pedang itu lihai bukan main. Dikeroyok belasan orang, mereka sama sekali tidak terdesak, bahkan para pengeroyok yang kocar-kacir dan sudah ada iima orang di antara mereka roboh mandi darah. Karena tidak tahu persoalannya, Thian Liong merasa ragu untuk bertindak. Dia tidak tahu slapa yang berada di pihak yang jahat sehingga dia meragu siapa yang harus dibelanya. Thian Llong lalu menghampiri lima orang saudagar yang bersama lima orang sais berdiri diekat kereta.

"Sobat-sobat, apakah yang terjadi?"

Dia bertanya.

Para saudagar yang tadinya takut melihat Thlan Liong mendekati mereka karena mengira karena pemuda itu kawan para perampok, menjadi lega mendengar pertanyaan itu.

Akan tetapi karena pemuda itu tampak hanya seperti seorang pemuda dusun yang bersahaja dan lemah, merekapun tldak dapat mengharapkan bantuan darlnya.

"Orang muda, pergilah cepat. Dua orang itu adalah perampok yang hendak merampas barang kami dan belasan orang itu adalah para piauwsu (pengawal barang) yang melindungi kami."

Jawab seorang kusir yang berdiri paling dekat dengan Thian Liong. Mendengar ini, Thian Liong tldak ragu lagi pihak mana yang harus dia bantu"

Dia memandang ke arah perkelahian.

Dua orang itu memang lihai sekali.

Para piauwsu yang juga mempergunakan pedang sebagai senjata, sudah kewalahan dan terdesak ke belakang.

Dua orang itu berusia kurang lebih einpat puluh tahun, orang pertama bertubuh tinggi kurus dengan muka berbentuk meruncing seperti muka tikus dan orang ke dua bertubuh pendek gendut namun gerakannya tidak kalah cepat dibandingkan kawannya.

Kedua orang itu mengenakan pakaian yang sama, seluruhoya berwarna hitam dari sutera halus dan di bagian dada ada, gambar seekor burung rajawali putih.

Thian Liong lari menghampiri pertempuran itu dan mengerahkan tenaga sakti lalu berseru.

"Hentikan pertempuran dan tahan senjata!"

Seruannya ini mengandung kekuatan yang memaksa mereka yang sedang bertempur itu masing-masing menahan gerakan dan berlompatan mundur sehingga otomatis pertempuran itu terhenti.

Dan orang berpakaian hitam itupun berlompatan ke belakang dengan wajah terheran-heran.

Mereka semua kini memutar tubuh menghadapi Thian Liong dengan sinar mata heran dan juga penasaran.

Seorang di antara dua orang perampok itu, yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka tikus membawa sebuah kantung kain biru yang diikatkan di punggungnya.

Dia yang kini membentak kepada Thian Liong.

"Heh, orang muda! Mau apa engkau menghentikan perkelahian kami?"

Thian Liong berkata dengan sabar.

"Sobat, aku mendengar bahwa kalian berdua merampok para saudagar ini sehingga di antara kalian semua terjadl perkelahian yang mengaklbatkan luka bahkan mungkln kematian. Kenapa kalian berdua melakukan kejahatan ini? Kalau memang kalian rnembutuhkan sumbangan, saya kira kalian dapat memlntanya darl para saudagar ini dan mereka tentu tldak akan menolak kalian untuk memberi sumbangan."

Dua orang perampok itu terbelalak keheranan, keduanya saling pandang kemudian mereka tertawa geli melihat ulah pemuda yang mereka anggap tolol itu.

"Hei, bocah tolol! Menggelindinglah pergi dan jangan mencampuri urusan kami. Kami adalah orang-orang Pek tiauw-pang (Perkumpulan Rajawali Putih) dan kami akan membunuhmu pula kalau engkau tidak cepat pergi dari sini!"

Setelah berkata demikian, dua orang itu audah menerjang lagi, menyerang pa-ra piauwsu yang tinggal berjumlah tiga belas orang itu.

Para piauwsu juga menggerakkan pedang mereka dan kembali mereka berkelahi.

Suara pedang bertemu pedang berdentlngan dan dua orang yang mengaku sebagal orang-orang Pek-tiauw-pang itu mengamuk.

Thian Liong tertegun, kecewa bahwa dua orang itu Udak mendengar nasihat-nya.

Akan tetapi sebelum dia turun tangan, tiba-tiba tampak bayangan merah muda berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang gadis yang mengenakan pakaian serba merah muda.

Gadis itu berusia kurang lebih tujuh belas tahun, cantik jelita seperti dewi, dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong dan mata itu jeli dan tajam bukan main.

la berdiri disitu, tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan memegang sebatang ranting pohon yang masih ada daunnya, lalu terdengar suaranya melengking.

"Sudah lama kudengar akan kejahatan Pek-tiauw-pang! Sekarang aku melihat sendiri dua orang Pek-tiauw-pang merampok. Nonamu ini tidak akan mengampuni kalian!"

Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak cepat sekali seperti seekor burung terbang dan ia sudah melayang dan menyerang dengan ranting pohon itu ke arah si pendek gendut!

Biarpun ranting itu hanya sebesar ibu Jari kaki, dan panjangnya hanya satu meter, akan tetapi ketika menyambar ke arah kepala perampok pendek gendut, terdengar suara bercuitan dan ranting itu berubah menjadi slnar kehijauan yang menyambar ke arah jalan darah di leher si pendek gendut.

Jagoan Pek-tiauw-pang ini terkejut bukan main karena dia dapat, merasakan, sambaran angin serangan yang dahsyat mengarah lehernya.

Itu merupakan serangan maut' Cepat' dia mengelak dan melompat ke belakang, akan tetapi ada sehelai daun yang terlepas dari ran-ting itu dan terbang menampar pipinya.

"Plakk!"

Biarpun hanya sehelai daun basah yang mengehai pipinya, akan tetapi terasa cukup nyeri, panas dan pedih.

Si pendek gendut menjadi marah sekali.

Dia mengeluarkan gerengan dan memu-tar pedangnya, menyerang ke arah gadis berpakaian merah muda itu.

Pedangnya menjadi stnar putih bergulung-gulung yang menyerbu ke arah gadis itu.

Akan tetapi dengan indahnya gadis itu beriompatan menghindar dan terdengar ia mengeluarkan suara tawa merdu yang mengejek.

"Hi-hik, manusia macam katak buduk beranl melawan nonamu? Engkau sudah boaen hldup!"

Rantlng dl tangan pdii itu membalaa, rnenyambar-nyambar, akan tetapl si pendek gendut Itupun lihai.

Dia dapat menangkls dengan pedang dan ba-las menyerang.

TerJadi perkelahian seru di antara mereka.

Sementara itu, tiga belas orang piauwsu yang melihat betapa si pendek gendut sudah berkelahi melawan gadis baju merah muda yang membantu mereka, kini menyerbu dan mengeroyok si muka tikus!

Perampok tinggi kurus bermuka tikus ini mengerutkan alisnya, memutar pedang melindungi dirinya.

Dia tahu bahwa ka-lau dia seorang diri harus menghadapi pengeroyokan tiga belas orang piauwsu itu, dirinya dapat terancam bahaya.

Dia melirik ke arah temannya dan mendapat kenyataan bahwa gadis muda itu llhai sekali, bahkan dengafl sepotong rantlng agaknya dapat membuat kawannya repot sekali.

Tiba-tiba sl tingg!

kurus melompat Jauh ke belakang dan melarikan diri!

Terdengar teriakan yang keluar dari kelompok saudagar itu.

"Tolong! Dia membawa semua uang kami dalam kantung biru itu! Kejar dia.....!!"

Para piauwsu mengejar, akan tetapi ternyata orang tinggi kurus itu larinya cepat sekali.

Melihat dan mendengar ini, Thian Liong lalu melompat ke depan dan melakukan pengejaran.

Para piauwsu menghentikan pengejaran mereka karena mereka teringat akan keselamatan lima orang saudagar yang harus mereka lindungi.

Mereka kembali ke tempat itu dan melihat gadis berpakaian merah muda itu masih bertanding melawan perampok gendut pendek, mereka menonton sambil bersiap-siap.

Sebagian dari mereka merawat lima orang kawan yang terluka.

Sementara itu, dengan mempergunakan ilmu berlari cepat yang nsenibuat tubuhnya meluncur seperti terbang ketika melakukan pengejaran, sebentar saja Thian Liong sudah dapat menyusul perampok tinggi kurus bermuka tikus yang melarikan diri itu.

"Perlahan dulu, sobat!"

Si tinggi kurus itu terkejut bukan main mendengar ucapan ini dan dia melihat bayangan orang berkelebat, tahu-tahu di depannya telah berdiri pemuda yang tadi mencela dia dan temannya karena melakukan perampokan!

Tadinya dia terkejut mengira bahwa yang dapat menyusulnya adalah gadis yang amat lihai itu.

Akan tetapi ketlka mendapat kenyataan bahwa pengejarnya hanyalah pemuda tadi yang tampak biasa saja, dia menjadi marah sekali.

"Mampuslah"

Bentaknya dan dia sudah menyerang dengan bacokan pedangnya ke arah leher Thian Liong.

Orang itu sudah membacok dengan sekuat tenaga dan sudah merasa cepat sekali.

Namun bagi mata dan telinga Thian Liong yang terlatih baik, bacokan itu datangnya lambat dan lemah saja.

Maka dengan mudah dia mengelak dengan miringkan tubuhnya sehingga bacokan meluncur lewat mengenai tempat kosong.

"Sobat, aku tidak mau berkelahi denganmu. Aku hanya menghendaki agar engkau menyerahkan buntalan biru itu. kata Thian Liong tenang. Si tinggi kurus itu menghentikan gerakannya.

"Apa? Engkau juga menghendaki uang ini? Kalau begitu, kita adalah rekan segolongan, mengapa engkau menggangguku? Kalau engkau minta bagian, katakan saja dan aku pastl akan memberimu."

Thlan Liong menggeleng kepalanya.

"Tldak, aku tldak menginginkan uang itu Akan tetapi uang itu harus dlkemballkan kepada pemlliknya yang merasa kehllangan. Serahkan buntalan itu kepadaku dan aku tidak akan menahanmu lagi."

"Engkau minta ini? Nah, terimalah!"

Si muka tikus membentak akan tetapl bukan buntalan itu yang dia berikan, melainkan pedangnya sudah menyambar lagi dengan cepat karena dia mengerahkan seluruh tenaganya.

Akan tetapi dengan tenang namun jauh lebih cepat Thian Liong miringkan tubuhnya, membuat langkah ke depan mengitari tubuh lawan, tangan kirinya menepis tangan lawan yang memegang pedang sedangkan tangan kanannya meraih ke arah punggung perampok muka tikus itu.

"Dukk.....! Aduhh..... brettt'!"

Tubuh perampok itu terhuyung dan buntalan yang tadinya tergantung di punggungnya telah berpindah ke tangan Thian Liong.

Perampok itu marah sekali.

Tentu saja dia tidak rela buntalan biru berisi uang emas dan perak itu direbut begitu saja.

Biarpun tangan kanannya terasa ngilu ditepis tangan Thlan Llong tadi, namun kemarahan membuat dla tldak merasakan Ini dan dla sudah menerjang lagi seperti kesetanan.

"Kembalikan bungkusan itu!"

Terlaknya.

"Benda ini bukan milikmu."

Kata Thian Liong dan tubuhnya bergerak cepat mengelak dari sinar pedang yang menyambar-nyambar.

Sampai belasan kali pedang itu menyambar namun tak pernah dapat menyentuh ujung baju Thian Liong.

Melihat kenekatan orang itu, Thian Liong menyadari bahwa penjahat seperti ini sukar untuk diharapkar kesadarannya tanpa memberi hajaran kepadanya.

"Slnggg....!"

Pedang menyambar lagl membabat ke arah pinggang kiri Thian Liong.

Pemuda Itu menggerakkan kaki kirinya yang mencuat ke depan menyambut serangan itu.

Ujung kakinya menendang pergelangan tangan yang memegang pedang.

Pedang terlepas dan terpental jauh dan sebelum si muka tikus hilang kagetnya, kaki kanan Thian Liong mencuat.

"Dukkk!"

Kaki itu menyambar dada dan tubuh perampok bermuka tikus itu terjengkang dan terbanting roboh.

Sambil meringis kesakitan dia merangkak bangun.

Kini maklumlah dia bahwa pemuda ini lihai sekali dan kalau dia melawan terus, berarti dia mencari penyakit.

Maka setelah dapat bangkit berdiri dan kepeningan kepala serta kesesakan napasnya mereda, dia lalu melarikan diri meninggalkan Thian Liong yang masih berdiri dengan sikap tenang.

Setelah melihat penjahat itu pergi, diapun lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat di mana terjadi perampokan tadi.

Sementara itu, Bi Lan masih bertanding seru melawan perampok yang bertu-buh gendut.

Dia termasuk seorang tokoh Pek-tiauw-pang dan tingkat kepandaianya sudah cukup tinggi.

Ilmu pedangnyapun lihai.

Pedangnya berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung.

Namun, dia merasa penasaran sekali karena betapapun cepatnya dia memutar pedangnya, sama sekall tidak pernah dapat menyentuh ujung baju gadls remaja yang menjadl lawannya.

Tentu saja dia menjadi penasaran sekali.

Bagaimana mungkln dia, seorang jagoan darl perkumpulan Pek-tiauw-pang, kini tidak mampu mengalahkan seorang gadis yang usianya baru kurang lebih tujuh belas tahun dan yang hanya menghadapi pedangnya dengan sebatang ranting kecil?

Dia sama sekali tidak tahu bahwa gadis remaja itu adalah murid manusia saktl Jit Kong Lama"

Pendeta Lama dari Tibet yang amat sakti dan yang telah menggembleng murid perempuannya itu selama sepuluh tahunl Kalau Bi Lan menghendakl, dalam satu dua jurus saja ia tentu mampu merobohkan lawannya.

Akan tetapi dasar ia memiliki watak yang llncah gemblra, jenaka dan nakal, di samping galak dan cerdik, gadis itu sengaja hendak mempermainkan lawannya.

"Singg....!"

Pedang sl gendut menyambar ke arah lehernya. Bi Lan denganmudah mengelak ke belakang dan ujung rantingnya menyambar.

"Brettt....!!"

Ujung ranting itu menebas dari atas ke bawah dan rontoklah semua kancing baju si gendut sehingga baju itu seketika terbuka memperlihat-kan dada dan perutnya yang gendut se-kali dan berkulit putih.

"Hiiih, seperti babi kamu!"

Bi Lan berkata mengejek dan belasan orang piauwsu yang menonton perkelahian itu tak dapat menahan tawa mereka.

Si gendut menjadi marah bukan main.

la merasa dipermainkan, dihina dan dijadikan buah tertawaan semua orang itu.

"Bocah jahanam, mampus kau!"

Bentaknya dan kembali pedangnya menyambar dahsyat, kini menusuk ke arah ulu hati gadis itu.

Bi Lan menekuk lutut, merendahkan tubuhnya dan ketika pedang meluncur lewat atas kepalanya, dari bawah ranting di tangannya meluncur ke depan.

"Bret....!"

Kini tali celana si gendut itu yang putus semua dan tak dapat dicegah lagi, celana itu lepas dari perut yang gendut dan melorot turun! "Hihhh! Menjijikkanl"

Bi Lan memejamkan mata dan memutar tubuh membelakangi lawannya yang kini telanjang sambil menutupl mukanya dengan tangan kiri.

Suara tawa meledak bahkan ada yang terpingkal-pingkal mellhat Si gendut kedodoran dan repot mengangkat celananya ke atas.

Muka Si gendut menjadl merah sekali seperti kepiting direbus.

Akan tetepi ketika dia melihat Bi Lan berdiri membelakanginya, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan balk untuk membalas penghinaan yang luar biasa itu, Cepat sekali dengan tangan kiri menahan celananya agar jangan merosot turun, tangan kanannya menggerakkan pedangnya hendek memenggal leher gadis itu dari belakang.

"Wuuutt...,. crott!!"

Tubuh si gendut terkulai roboh dan darah bercucuran muncrat dari dadanya yang berlubang tertusuk ujung ranting yang tadi secepat kilat ditusukkan Bi Lan sambil membalikkan tubuh, tepat memasuki dada si gendut selagi pedangnya masih terangkat ke atas.

Gerakan Bi Lan cepat bukan main sehingga lawannya tidak sempat mengelak atau menangkis tagi.

Karena ranting itu telah menembus jantungnya, maka begitu terkulai roboh si gendut segera tewas tanpa dapat mengeluh lagi.

Bi Lan membuang rantingnya yang berlumur darah dan sama sekali tidak melirik lagi ke arah lawan yang telah tewas itu.

Lima orang pedagang yang usianya sudah setengah tua kini berani keluar dari dalam kereta dan mereka menghampiri Bi Lan dengan sikap hormat.

Pada saat itu Thian Liong datang berlari cepat dan dia membawa sebuah kantung kain berwarna biru yang tampaknya berat.

Thian Liong menghampiri lima o-rang pedagang itu.

Dia dapat menduga bahwa tentu lima orang itu yang memiliki barang-barang yang dikawal karena pakaiannya berbeda jauh dari para piauwsu.

"Ini rnlllk kalian yang tadi dilarikan perampok, Terimalahl"

Lima orang pedagang itu tampak girang sekall.

Seorang dari mereka menerima kantung biru itu dan mereka berlima segera memberi hormat kepada Thian Liong dan Bi Lan.

Mereka semua menyangka bahwa pemuda dan gadis itu tentu merupakan pasangan karena mereka datang pada saat yang sama dan keduanya merupakan orang-orang lihai yang telah menolong mereka.

Seorang dari lima orang saudagar itu mewakili ternan-temannya dan berkata kepada sepasang muda mydi itu dengan sikap hormat.

"Tai-hiap (pendekar besar) dan li-hiap (pendekar wanita) berdua telah menyelamatkan nyawa dan harta kami. Untuk itu kami semua mengucapkan banyak terima kasih dan kami harap tai-hiap berdua sudi menerima sedikit sumbangan dari kami ini sebagai tanda terima kasih kami."

Saudagar yang berjenggot panjang itu membuka kantung blru dan mengeluarkan segenggam uang emaa, dlserahkan kepada Thian Liongl Thian Liong mengerutkan alisnya dan menggoyang tangan kanan menolak.

"Tidak, apa yang kami lakukan sudah merupakan kewajiban kami, kami tidak mengharapkan upah!"

Akan tetapi Bi Lan sudah melangkah maju dan sekali tangannya bergerak, ia.

sudah menampar tangan yang menggenggam uang emas itu sehingga saudagar itu berteriak kesakitan dan uang emasnya berhamburan di atas tanah.

"Engkau ini sungguh seorang yang sama sekali tidak mengenal budi, sudah ditolong malah balas menghina dengan menyerahkan segenggam uang! Lupakah kalian bahwa kami berdua bukan hanya telah menyelamatkan harta bendamu akan tetapi juga nyawa kalian berlima dan belasan orang pengawal kalian? Apakah nyawa kalian semua harganya hanya segenggam uang emas ini? Betapa murahnya nyawa kalian!"

Lima orang saudagar itu terkejut sekali dan menjadi ketakutan.

Si Jenggot panjang yang agaknya menjadl pemimpln mereka, cepat membungkuk-bungkuk kepada Bi Lan, memberl hormat dan berkata dengan suara mengandung penuh penyesalan.

"Ampunkan kami, li-hiap. Kami memang bersalah. Sekarang katakanlah apa yang li-hiap kehendaki dan kami pasti akan memenuhi permintaan li-hiap untuk niembalas budi li-hiap."

"Sebetulnya kami tidak mengharapkan apa-apa seperti dikatakan tai-hiap ini. Kami bukan pengawal kalian yang kalian gaji. Kami membunuh dan mengusir penjahat, menyelamatkan kalian hanya karena hal itu sudah merupakan kewajiban para pendekar! Akan tetapi mengingat bahwa nyawa kalian telah diselamatkan, apakah tidak sepantasnya kalau nyawa kalian dihargai sedikitnya. Separuh dari isi kantung uang itu?"

Mendengar ini, Thian Liong mengerutkan alisnya akan tetapi dia tidak dapat berkata apa-apa. Sementara itu, lima orang saudagar itu membungkuk-bungkuk dan si jenggot panjang cepat berkata.

"Tentu saja, li-hiap! Tuntutan itu lebih darl pada pantasl"

Dia lalu mengambil sebuah kantong kosong lalu memindahkan sebaglan isi kantung biru ke kantung yang kosong, bahkan dla sengaja memlllh emasnya saja.

Setelah emas separuh kantung biru itu dlpindahkan, dia lalu meletakkan kantung yang teriri emas itu ke atas tanah di depan Bi Lan sambil berkata.

"Silakan, li-hlap. Bingkisan yang tldak seberapa ini kaml berikan kepada jl-wl (kallan berdua) dengan hati rela dan ikhlas. Sekarang kami mohon dlri hendak melanjutkan perjaianan kami."

Tergesa-gesa lima orang saudagar yang ketakutan melihat Bi Lan marah tadi lalu memberi isarat kepada para piauwsu dan tak lama kemudian kereta mereka bergerak meninggalkan tempat itu.

Thian Liong masih berdiri berhadapan dengan Bi Lan.

Kantung berisi uang emas itu masih tergeletak di atas tanah, di antara mereka.

Mereka saling padang dan baru sekarang Thian Liong dapat mengamati Wajah gadis berpakaian serba merah muda itu.

Dan dia menjadi kagum dalam hatinya walaupun kekaguman itu tidak tampak pada wajahnya yang tetap tenang.

Siapa yang tidak kagum melihat gadis remaja yang jelita itu?

Usianya paling banyak baru tujuh belas tahun, akan tetapl ilmu silatnya sungguh hebat!

Pakaian sutera serba merah muda itu sesuai sekali dengan tubuhnya yang ramping dan kulitnya yang putlh mulus itu tampak semakin bersih dan lembut dlpadu dengan sutera merah yang membungkusnya.

Rambut di kepalanya hitam lebat dan panjang, digelung dengan indahnya dan dihias tusuk sanggul dari emas berbentuk burung kecil bermata merah.

Sinom (anak rambut) lembut halus melingkar-lingkir di dahi dan pelipisnya.

Sepasang telinga yang Indah bentuknya itu terhias anting-anting membuatnya tampak lucu dan kekanak-kanakan.

Dahi yang halus putlh itu tampak semakin mulus karena sepasang alisnya amat hitam, menjelirit kecil melengkung, melindungi sepasang mata yang seperti bintang kejora, pandangannya tajam dan penuh gairah hidup, penuh semangat.

Hidungnya yang mancung serasi sekali dengan mulutnya yang menggairahkan, dengan bibir yang indah dan kemerahan tanpa glncu, dihias pula sepasang lesung pipit di kanan kiri.

Dagunya meruncing.

Kulitnya putih mulus dan tubuh yang mulai dewasa itu seperti bunga se-dang mekar atau buah sedang ranum, dengan lekuk lengkung yang menggiurkan.

Pendeknya, seorang gadis remaja yang cantik jelita!

Akan tetapi pandang mata Thian Liong tampak tak senang ketika dia melirik ke arah kantung uang.

Sungguh sayang, gadis secantik itu ter-nyata mata duitan!

"Memalukan,"

Katanya lirih namun penuh teguran.

"Menerima upah untuk menolong orang. Seperti tukang pukul saja."

Gadis itu membelalakan matanya dan kini matanya tampak lebar sekali, membuat wajahnya tampak lucu.

Akan tetapi setelah melebarkan mata, ia lalu menge-rutkan alisnya dan matanya mencorong, bibirnya cemberut.

Jelas sekali tampak bahwa ia marah!

"Apa kau bilang?

Memalukan?

Engkau munafik!"

La memaki.

"Munafik? Aku?"

Thian Ltong melongo heran dan kaget dimaki munafik.

"Ya engkau munafik. Coba Jawab, apakah engkau memillki banyak uang?"

Thlan Liong menggeleng kepalanya. 'Tldak sama sekali."

"Jawab lagi, Apakah engkau tldak membutuhkan makan, pakaian, dan tempat tinggal untuk melewatkan malam?"

"Tentu saja aku membutuhkan."

"Jawab lagi. Kalau engkau lapar, apakah engkau mengemis makanan ataukah mencuri makanan? Kalau pakaianmu rusak, kulihat sepatumu itu sudah butut sekali dan perlu diganti, dari mana engkau akan mendapatkan semua itu? Mencuri? Dan kalau engkau menginap dl rumah penglnapan, apakah setelah bermalam paglnya engkau lalu minggat tanpa membayar? Hayo jawab! Untuk semua itu engkau membutuhkan uang ataukah tidak?"

Diberondong begitu dan melihat sikap gadis itu membusungkan dadanya seperti menantang, Thian Uong gelagapan dan menelan ludah sebelum menjawab "Ya....

eh, tentu saja untuk semua itu aku membutuhkan uang."

"Bagus, ya? Engkau butuh uang pada hal engkau tidak punya uang, dan seka-rang ada orang yang memberimu uang, engkau pura-pura menolak dan berani mengatakan i-nemalukan. Apa lagi nama-nya itu kalau bukan inunafik?"

"Akan tetapi aku menolong mereka bukan untuk mendapatkan bayaran uang!"

Thian Liong membantah.

"Berlagak suci! Kita tidak rninta uang. Mereka yang memberikan kepada kita karena mereka hendak membalas jasa. Uang ini sudah sepantasnya menjadi milik kita. Apa artinya uang sebegini dibandingkan dengan harta kekayaan dan nyawa mereka berlima itu? Ini adalah uang halal, sama sekali tidak haram, tahu?"

Bi Lan lalu membuka kantung1 itu, menuangkan isinya ke atas tanah la-lu membagi potongan-potongan emas itu menjadi dua.

Yang setengah bagian ia masukkan ke dalam buntalan kuning berisi pakaiannya, dan yang setengahnya lagi ia masukkan kembali ke dalam kantung biru.

"Nah, yang itu bagianmu. Ambillah!"

Katanya sambil menudingkan telunjuk kirinya yang kecil mungil ke arah kantung biru itu.

Akan tetapi Thian Liong tidak mengacuhkan kantung itu, melainkan menghampiri mayat perampok gendut yang tewas oleh ranting di tangan Bi Lan tadi.

Dia membungkuk untuk memungut pedang milik perampok gendut yang tewas itu dan mulailah dia menggunakan pedang itu untuk menggali tanah.

Melihat pemuda itu tidak mengacuhkannya dan malah menggali lubang di tanah, Bi Lan menjadi penasaran.

la menghampiri pemuda itu dan menegur.

"Hei, apa-apaan yang kaulakukan ini?"

Thian Liong yang sejak tadi menahan kedongkolan hatinya terhadap gadis Itu, menghentikan pekerjaannya dan dia berdiri menghadapi Bi Lan, memandang dengan slnar mata tajam mengaridung marah dan berkata, suaranya maslh lirih dan lembut, namun mengandung nada suara teguran keras.

"Nona, engkau masih amat muda namun telah memillkl llmu kepandalan tlnggi. Sungguh sayang sekali bahwa engkau terlalu kejam!"

Kini gadis itu yang terbelalak, ka"et dan heran, lalu alisnya berkerut dan la, inenjadi marah.

"Aku kejam?"

"Ya, engkau kejam! Engkau telah memburiuh orang ini padahal tanpa membunuhnyapun, dengan mudah engkau akan dapat mengalahkannya!"

Kata Thian Uong penasaran, lalu melanjutkan pekerjaannya menggali lubang kuburan.

"Kalau engkau bilang aku kejam, maka aku katakan engkau ini tolol! Tolol, bodoh, munafik!"

Gadis itu memaki-maki karena ia menganggap pemuda itu memakinya kejam.

"Aku membunuhnya kau katakan kejam? Apa kaukira dia itu orang lemah-lembut dan baik hati? Ketahuilah, tolol, bahwa diapun berusaha membunuh para piauwsu dan saudagar itu dan kalau tidak ada aku, tentu semua orang itu celah dlbunuhnya! Dia itu pembunuh kejaml"

Thlan Llong menunda penggaliannya dan manoleh kepada gadis itu, klni suaranya terdengar tegas.

"Dia pembunuh orang dan jahat? Akan tetapi engkau juga membunuhnya. Apa bedanya antara kalian berdua? Apa kau ingin kusamakan dengan perampok yang kau bunuh ini?"

"Jelas beda! Tolol dan bodoh sekali kalau tidak melihat bedanya! Dia menyerang dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, dia menggunakan kepandaiannya untuk melakukan kekerasan dan mencelakai1 orang! Sedangkan aku, aku menggunakan kepandaian untuk menentang kejahatan, aku membunuh orang yang jahat berbahaya bagi orang-orang lain yang tidak berdosa! Dia penjahat dan aku pendekar, itulah perbedaannya!"

Bi Lan membentak marah dan ia mem-banting-banting kaki saking jengkelnya disamakan dengan perampok jahat! Akan tetapi Thiah Liong juga sudati' merasa jengkel dan tidak mau mengalah.

"Engkau dapat berbuat lebih baik dari itu, nona. Engkau akan benar-benar ber-Jasa besar kalau engkau hanya mengha-Jar penjahat ini, 'membuatnya jera dan berhasil menasehatlnya agar dia kembali ke jalan benar. Akan tetapl membunuhnya? Engkau tldak mampu memberi hidup, maka juga tldak berhak mematikan. Setelah berkata demikian, Thian Liong melanjutkan pekerjaannya menggali iubang kuburan. Bi Lan membantlng-banting kaki dengan gemas, kedua tangannya terkepal akan tetapi tidak menyerang karena ia melihat pemuda itu sibuk bekerja.

"Engkau.... cerewet dan bawel! Huh, aku muak dan benci melihatmu!!"

Thian Liong tertawa dan kembali menunda pekerjaannya, lalu menoleh ke arah gadis itu.

"Akan tetapl aku suka dan kasihan padamu."

Bl Lan mendengus dan memutar tubuhnya, terus melangkah pergi, diikuti suara tawa Thian Liong yang dapat menguasai perasaannya dan kini melihat betapa lucu keadaan mereka.

Baru bertemu, bekerja sama menolong rombongan saudagar menentang penjahat, lalu bercekcok!

Padahal mereka belum saling memperkenalkan dlri, namanyapun tidak tahu.

Setelah gadls itu pergi, baru dia teringat betapa jelita dan menariknya gadis itu dan betapa lihai ilmu silatnya.

Berwatak pendekar pula, atau setidak-nya merasa menjadi pendekar.

Sayang, galaknya bukan kepalang, seperti seekor harimau betina!

Dia masih tersenyum-senyum ketika melanjutkan pekerjaannya.

Setelah lubang itu cukup dalam, dia lalu mengubur jenazah penjahat gendut itu, menimbuni jenazah dalam lubang, menancapkan pedang itu di atas gun-dukan tanah kuburan, baru dia membersihkan kedua tangannya, mengambil bun-talannya yang tadi dia letakkan di bawah pohon tak jauh dari situ.

Dia tidak menengok ke arah kantung biru yang berisi setengah jumlah uang emas yang ditinggalkan gadis itu.

Ketika membungkuk hendak mengambil buntalan pakaian dan kitab-kitabnya, dia melihat buntalannya itu menonjol dan tampak lebih besar dari biasanya.

Dia merasa heran lalu membuka ujung kain buntalan yang tadi-nya diikat.

Ternyata buntalan atau kan-tung biru berisi uang emas itu telah berada dalam buntalannya!

Cepat dia menoleh ke arah tempat; di inana kantung biru tadi ditinggalkan gadis itu dafi kantung itu telah lenyap.

Kiranya diam-diam kantung itu telah dimasukkan ke dalam buntalannya oleh gadis itu!

Bukti bahwa gadis itu dapat melakukan inl .

tanpa diketahuinya, agaknya ketika dial?, sedang asik menggali lubang, menunjuk-te kan bahwa gadis itu memang lihai sekali.

Sejenaki Thian Liong termangu dan ragu-ragu apakah akan menerima uang itu ataukah tidak.

Kalau dia tidak meneri-manya dan meninggalkan di tempat itu,y apa gunanya?

Jangan-jangan malah dlte-iK mukan orang-orang Jahat, karena yang berkeliaran dalam tempat liar dan sunyl sepertl itu biasanya hanyalah orang-orangSs sesat.

Kalau diterimanya dan menjadi miliknya, apa salahnya?

Gadis itu benar juga.

Harus diakui bahwa dia membutuhkan uang untuk membeayai perjalanannya.

Dia butuh uang untuk membeli pengganti pakaian, untuk membeli makan setiap hari, dan untuk membayar sewa kamar untuk bermalam.

Dan uang itu memang bukan uang haram, melainkan pemberian para saudagar yang memberinya dengan rela dan senang hati.

Dla menghela nepas panjang lalu menglkat-kan ujung buntalannye kemball, kemudian menggendong buntalan itu dan mulai mendaki sebuah puncak yang menurut keterangan penduduk di lereng bawah, adalah tempat tinggal Kun-lun-pai.

Tiba-tiba dia menahan langkahnya.

Dia hendak ke Kun-lun-pal, kemudian ke Bu-tong-pai dan ke Siauw-lim-pai untuk menyerahkan kitab-kitab atas perintah gurunya.

Kitab-kitab itu menurut gurunya amat penting bagi ketiga partai persilatan itu.

Kitab-kitab itu dia simpan da-lam buntalan pakaiannya dan tadi bun-talan pakaiannya telah dibuka oleh gadls itu!

Ah, siapa tahu?

Banyak tokoh persi-latan yang menginginkan kitab-kitab itu.

demikian gurunya berpesan dan agar dia berhati-hati menjaganya karena bukan tidak mungkin akan ada tokoh-tokoh kang-ouw yang lihai akan mencoba merampasnya kalau mereka mengetahui bahwa dia membawa kitab-kitab itul Ah gadis itu!

Siapa tahu?

Dengan jantung berdebar dan perasaannya tegang Thian Liong lalu menurunkan buntalannya dan membukanya.

Dia cepat memeriksa isinya dan.

Wajahnya tiba-tiba menjadi pucat ketika melihat bahwa yang berada dalam buntalannya kini hanya ada dua buah kitab, yaitu Kitab Sam-jong Cin-keng untuk diberikan kepada ketua Siauw-lim-pai dan Kitab Kiauw-ta Sin-na untuk Bu-tong-pai.

Kitab ke tiga, yaitu Kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat untuk Kun-lun-pai telah lenyap!

Dia mencari-cari, membolak-balik pakaiannya, namun tetap saja kitab kuno itu tidak dapat ditemukan!

Dia teringat bahwa tadinya kitab itu berada paling atas di antara tiga buah kitab itu karena memang kitab itu tadinya akan dia serahkan paling dulu kepada Kun-lun-pai!

"Celaka!"

Dia berseru dan mengepal tinju.

Siapa lagi kalau bukan gadis galak itu yang mengambilnya?

Agaknya ketika membuka buntalan dan memasukkan kantung uang, ia melihat kitab itu berada paling atas dan gadis itu lalu mengambilnya dan membawanya pergi.

"Bocah liar! Kalau bertemu, akan kutampari pinggulnya sedikitnya sepuluh kali!"

Kata Thian Liong gemas.

Akan tetapi dia lalu tertegun.

Bagaimana mungkin bisa bertemu?

Ke mana dia harus mencari?

Gadis itu asing sama sekali.

Dia tidak mengetahui namanya, apalagi tempat tinggalnya!

Sialan!

Tiga tugas pertama telah gagal satu!

Apa yang akan dikatakan kepada gurunya?

Ah, dia merasa kecewa dan malu.

Akan tetapi dia harus bertanggung jawab!

Dia harus mencari gadis itu dan merampas kembali kitab untuk Kun-lun-pai, tidak lupa menghukum gadis itu dengan sepuluh kali tamparan pada pinggulnya!

Sekarang, tugas utamanya, dia harus menemui Ketua Kun-lun-pai dan melaporkan tentang kehilangan kitab itu.

Dia harus bertanggung jawab dan siap menerima celaan dan teguran dari ketua Kun-lun-pai.

Dia memang bersalah, tidak hati-hati dan lengah sehingga kitab yang amat penting dan berharga itu dapat dicuri orang.

Dia mengikatkan kembali buntalannya, menggendongnya dan mengerahkan tenaga mempergunakan ilmu berlari cepat sehingga larinya seperti terbang mendaki puncak menuju ke kompleks kuil dan bangunan Kun-lun-pai yang berada di puncak itu.

Karena Thian Liong menggunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) untuk berlari cepat mendaki puncak sebentar saja dia sudah tiba di puncak dan dia melihat sekumpulan bangunan besar yang luas, dikelilingi pagar tembok yang cukup tinggi dan kokoh.

Dia lalu berlari ke depan, di mana terdapat sebuah pintu gerbang yang besar.

Baru saja dia berhenti berlari, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring di belakangnya.

"Siapa kau? Mau apa kau berkeliaran di sini?"

Thian Liong terkejut.

Dia tidak mendengar ada orang datang.

Ini membuktikan bahwa orang itu tentu memiliki ginkang hebat.

Cepat dia memutar tubuh dan berhadapan dengan seorang wanita berusia kurang lebih lima puluh tahun.

Rambutnya sudah bercampur uban dan digelung ke atas diikat kain kumng yang lebar hampir menutupi seluruh kepalanya.

Pakaiannya sederhana seperti pakaian seorang pertapa atau pendeta.

Juga pakaiannya terbuat dari kain kuning yang kasar dan murah.

Sebatang pedang tergantung di punggungnya, pedang dengan ronce-ronce berwarna putih.

Thian Liong yang selain menerima pendidikan ilmu silat tinggi juga menerima pendidikan kerohanian yang mendalam disertai tata susila tinggi, cepat memberi hormat karena dia maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita sakti.

"Locianpwe (orang tua gagah), maafkan saya. Saya sengaja datang berkunjung untuk menghadap Ketua Kun-lun-pai."

Dia merangkap kedua tangan depan dada sambil membungkuk hormat. Akan tetapi wanita itu, yang wajahnya membayangkan kegalakan dan sinar matanya mencorong masih mengerutkan alisnya.

"Huh, kamu seorang laki-laki berani mendatangi bagian asrama wanita, tentu mengandung niat kurang sopan. Kamu mengandalkan kepandaianmu untuk berlaku kurang ajar, ya?' "Ah, tldak lama sekali, locianpwe!"

Seru Thian Liong dengan kaget.

"Saya tldak tahu bahwa ini asrama wanlta....!"

"Bohong! Hendak kulihat sampai dl mana kelihaianmu maka kamu berani muncul di depan asrama kami! Sambutlah!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja wanita itu sudah menyerang dengan tamparan tangan kirinya.

Tamparan tangan terbuka itu cepat sekali dan membawa angin pukulan yang kuat, mengarah pelipis Thian Liong sehingga merupakan serangan berbahaya yang dapat mendatangkan maut!

Diam-diam Thian Liong merasa heran dan juga penasaran.

Bagaimana seorang wanita yang berpakatan seperti pertapa atau pendeta, tabiatnya demikian keras, berprasangka buruk dan menyerang orang tak bersalah dengan serangan maut?

diapun cepat mengelak mundur sehingga tamparan itu luput.

"Locianpwe, saya bukan musuh dan tldak berniat buruk."

Thian Liong mencoba untuk mengingatkan wanita itu.

"sambut ini....!!"

Wanita itu bahkan menyerangnya lagi, kini menggunakan pukulan yang mengandung sin-kang (tenaga aakti).

Pukulan jarak Jauh ini cukup dahsyat.

Angin menyambar dan hawa pukul-an yang kuat menerpa ke arah Thian Liong.

Melihat bahaya ini, terpaksa pe-muda itu mengerahkan tenaga dan mendorong ke depan untuk menyambut se-rangan lawan.

"Syuuuuttt.... dessss....!!"

Dua tenaga yang kuat bertemu di udara dan akibatnya, tubuh pendeta wanita itu terdorong ke belakang dan la terhuyung-huyung, sedangkan Thian Llong maslh berdlri tegak.

Wanita Itu terkejut.

la adalah tokoh Kun-lun-pai tingkat tiga, kepandaiannya hanya di bawah tingkat ketua dan wakil ketua.

Akan tetapi dalam adu tenaga sakti melawan seorang pemuda, ia terdorong dan terhuyung!

la terkenal berwatak, keras, maka kekalahan dalam adu tenaga ini bahkan membuatnya penasaran dan semakin marah.

"Sratt ....."

Tampak sinar putih berkelebat menyilaukan mata dan sebatang pedang mengkilat telah berada di tangan kanan wanita itu.

Cara ia mencabut pedang dari punggung sedemikian cepatnya, menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli pedang yang pandai.

"Cabut pedang atau senjatamu yang lain! Mari kita mengadu kemahiran memainkan senjata!"

Kata wanita itu dengan ketus.

"Locianpwe, sekali lagi saya harap jlocianpwe tidak salah sangka. Saya bukan musuh Kun-lun-pai. Kalau locianpwe masih berkeras hendak menyerang dan membunuh orang tidak bersalah, silakan!"

Setelah berkata demikian, Thian Liong berdiri tegak, memejamkan mata, menenggelamkan segala kegiatan jasmani ke dalam kehampaan, hati akal pikirannya tidak bekerja, lahir batin menyerah kepada Kekuasaan Tuhan seperti yang telah dilatihnya bertahun-tahun di bawah bimbingan Tiong Lee Cin-jin.

"Engkau menantang maut? Apa kau kira aku tldak berani membunuh orang luar yang melanggar pantangan, mengunjungi asrama murid-murid wanita Kun lun-pai? Sambut ini! Nenek itu menerjang maju dan pedangnya berkelebat ke arah leher Thlan Llong.

"Slnggg....!"

Saklng kuatnya pedang dlgerakkan, terdengar suara berdesing ketika senjata Itu menyambar ke arah leher Thian Llong.

"Wuuutt....!"

Wanita itu terkejut bu-kan main karena ketika pedangnya me-nyambar ke arah leher pemuda itu, tiba-tiba pedangnya terpental sepertl tertolak tenaga tak tampak yang lentur dan kuat sehingga tenaganya yang mendorong pedangnya itu memballk!

Pemuda itu masih berdiri sambll menundukkan muka dan kedua matanya terpejam, mulutnya tersenyum dan wajahnya tampak demiklan tenang dan tenteram, seperti wajah orang yang sedang tidur pulaa.

la merasa penasaran sekali dan mepyerang lagi dengan pedangnya.

Namun setiap kali membacok atau menusuk, pedangnya selalu terpental.

Makiri kuat ia menyerang, semakin kuat lagi tenaga yang membuatnya terpental karena tenaga membalik.

Tiba-tiba terdengar seruan lembut.

"Ngo-sumoi (adik seperguruan ke lima), hentikan itu!"

Mendengar seruan im, nenek itu melompat mundur, napasnya terengah dan wajahnya merah sekali.

Thian Liong membuka matanya memandang dan dia melihat seorang pendeta wanita berpakalan serba putih berdlri di depannya.

Wanita ini usianya sudah enam puluh lebih, namun wajahnya masih tampak segar dan slnar matanya lembut.

Begitu bertemu pandang, Thian Liong merasa tunduk dan tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang nenek yang sakti dan yang telah mampu mengendalikan nafsu-nafsunya sendirl.

Maka dia cepat memberi hormat, mengangkat kedua tangan ke depan dada.

"Loclanpwe, saya mohon maaf sebanyaknya kalau kunjungan saya kesini hanya mendatangkan keributan dan gangguan."

Pendeta wanita itu tersenyum dan wajahnya tampak jauh leblh muda ketl"

Ka la tersenyum.

"Ah, slcu (orang muda gagah), kamilah yang sepatutnya mlnta maaf atas slkap sumol Biauw In yang keras terhadapmu tadi. Akan tetapi siapakah engkau, sicu? Dan ada keperluan apakah engkau datang ke tempat kaml ini?"

"Nama saya Souw Thian Liong dan kedatangan saya ini untuk memenuhl perintah guru saya."

"Hemm, kaml melihat tadl bahwa engkau telah mencapal tingkat tertinggl dari tenaga sakti. Siapakah gurumu?"

"Suhu disebut Tiong Lee Cin-jin."

"Sian-cai (damai)....!"

Nenek itu berseru dan wajahnya tampak terkejut dan berseri.

"Kiranya Tiong Lee Cin-jin yang bijaksana yang mengutus muridnya datang berkunjung?"

Nenek itu menoleh kepada sumoinya yang galak tadi.

"Biauw In Sumoi, lihat apa yang telah kau lakukan tadi? Engkau menyerang murid Tiong Lee Cin-jin'"

Wanita galak itu tampak kaget dan wajahnya menjadi agak pucat.

"Aku.... aku tidak tahu...."

"Loclanpwe, kejadian tadi harap dilupakan saja, Sayalah yang bersalah dan mlnta maaf."

Kata Thlan Liong yang merasa tldak enak mendengar teguran itu.

"Souw-sicu, sikapmu ini menunjukkan bahwa engkau pantas menjadi murid Tiong Lee Cin-jin yang bijaksana. Katakanlah, tugas apa yang diberikan gurumu kepadamu sehingga engkau datang ke slni?"

"Maaf, loclanpwe. Sesual dengan perintah suhu, saya hanya dapat membicarakan urusan itu kepada para pimpinan Kun-lun-pai, yaitu Kui Beng Thai-su atau Hui In Slan-kouw saja."

Nenek itu tersenyum.

"Kui Beng Thai-su adalah ketua umum Kun-lun-pai dan Hui In Siankouw adalah sumoinya yang memimpin para murid wanita. Akulah Hui In Siankouw dan ia ini seorang sumoiku bernama Biauw In Suthai."

"Ah, kiranya locianpwe adalah Hui In Sian-kouw. Terimalah hormat saya."

Thian Liong memberi hormat lagi, Hul ln Sian-kouw tersenyum dan berkata.

"Souw-sicu, harap kelak sampaikan maaf kami kepada suhumu dan jangan menertawakan kami. Kami rnempunyai peraturan bahwa laki-laki tidak boleh memasuki asrama para murid wanita Kun-lun-pai. Oleh karena itu, terpaksa kami tidak dapat mempersilakan engkau memasuki asrama dan hanya dapat menyambutmu di sini saja."

"Tidak mengapa, locianpwe. Saya menghormati peraturan itu."

"Kalau begitu, mari kita duduk dan bercakap-cakap di sana."

Hui In Sian-kouw menunjuk ke arah kiri di mana terdapat sekumpulan batu yang putih bersih.

Agaknya batu-batu itu memang dira-wat dan dijadikan tempat untuk duduk bersantai.

Thian Liong mengikuti dua orang pendeta wanita itu dan mereka lalu duduk di atas batu sallng berhadapan.

"Nah, sekarang sampaikan pesan Tiong Lee Cln-Jln itu kepadaku, Souw-sicu. Aku yang akan menyampaikan kepada suheng (kakak seperguruan) Kui Beng Thaisu."

Thian Llong menghela napas panjang "Sungguh!

sayang sekali.

Saya yang semestinya membawa kabar gembira untuk locianpwe, karena kelalaian saya, telah membuat kabar itu berubah menjadi tldak menyenangkan."

Hul In Slankouw tetap tersentum.

"Apapun yang terjadl, terjadilah, Souw-slcu. Tidak ada kejadian baik atau buruk, sebelum pikiran kita menilai didasari kepentingan pribadi. Ceritakanlah tanpa ragu. Kaml siap menerima yang ,dianggap paling buruk sekallpun."' Thian Libng mengangguk kagum. Tak salah penilaiannya tentang pendeta wani-ta ini. Seorang yang arlf bijaksana. Maka diapun bercerita dengan lapang dada.

"Saya dlutus suhu untuk mengantarkan sebuah kltab untuk Kun-lun-pal yeng harus saya serahkan sendlri kepada Kui Beng Thai-su atau kepada Hui In Slan-kouw dan kebetulan sekall kini saya berhadapan dengan locianpwe sendiri."

"Ah, sebuah kltab dari Tiong Lee Cin-Jin untuk Kun-lun-pai? Souw-sicu, apakah nama kitab itu?"

Tiba-tiba Biauw In Suthai bertanya dengan nada suara gembira.

Agaknya ia tetah melupakan kemarahannya tadi dan kini merasa gembira sekali mendengar bahwa Kun-lun-pai akan mendapatkan sebuah kitab dari Tiong Lee Cin-jin yang namanya terkenal di antara semua tokoh besar dunia persilatan itu.

"Nama kitab Itu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat."

Kata Thian Liong.

"Alhh! Itu kitab pelajaran ilmu silat tinggi yang khusus diciptakan untuk murid wanita dan kitab itu lenyap ratusan tahun yang lalu, kabarnya dicuri seorang pertapa sakti yang jahat!"

Seru Hui In Sian-kouw kagum.

"Dan sekarang Tiong Lee Cin-jin dapat menemukannya kembali dan hendak mengembalikan kepada Kun-lun-pai? Betapa bijaksananya Tiong Lee Cin-jin."

"Souw-sicu, cepat keluarkan kitab itu dan berikan kepada Hui In Suci (kakak perempuan seperguruan Hui In)!"

Kata Biauw In Suthai tidak sabar lagi karena ingin segera melihat kitab pusaka Kun luni-pai itu.

"Bersabarlah, sumoi. Berilah waktu kepada Souw-sicu, agaknya dia masih hendak bercerita."

Kata Hui In Sian-kouw dengan tenang dan sabar.

"Sesungguhnya banyak yang harus saya ceritakan, locianpwe. Akan tetapi yang terpenting unluk saya beritahukan adalah bahwa kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu, ketika saya berada dl lereng bawah pegunungan Kun-lun-san ini lenyap dicurl orang."

"Apa....??"

Biauw In Suthal melompat berdiri.

"Tidak mungkin!"

Tentu engkau bohong dan ingin menguasai kitab itu untukmu sendiri!"

"Sumoi, Jangan sembarangan bicara!"

Hui In Sian-kouw menegur adik seperguruannya.

"Suci, semua laki-laki di dunia ini mana ada yang dapat dipercaya? Dia memiliki ilmu kepandaian tinggi, mana mungkin kitab itu dicuri orang? Coba kuperiksa buntalannya!"

Biauw In Suthai melompat ke arah buntalan pakalan Thian Liong yang tadi diturunkan pemuda itu ketlka hendak duduk di atas batu.

Melihat ini, Thian Liong membiarkan saja.

Hui In Sian-kouw juga tidak keburu melarang sumolnya yang sudah membuka buntalan pakaian itu.

"Suci ini ada dua buah kitab!"

Seru Biuaw In Suthai sambil memperlihatkan dua buah kitab tua yang diambilnya dari buntalan itu.

"Itu adalah Kitab Sam-jong Cin-keng milik Siauw-lim-pai dan kitab Kiauw-ta Sin-na milik Bu-tong-pai. Kedua kitab itu harus saya serahkan kepada pemilik masing-masing, seperti juga kitab milik Kun-lun-pai yang hilang."

"Sumoi, kembalikan dua buah kitab itu. Kita tidak berhak menyentuhnya."

Perintah Hui In Sian-kouw dan Blauw In Suthai mengembalikan dua buah kitab itu. Akan tetapi ia terus mencari dan membuka kantung biru.

"Hei, lihat, suci! Banyak emas di sini, Tentu dia telah menjual kitab klta itu dan mendapatkan banyak emas. Hayo kau mengaku saja! Kepada siapa kltab kami itu kau jual!"

Biauw In Suthai sudah mencabut lagi pedangnya dan mengancam Thian Liong.

"Sumoi, sirnpan pedangmu dan mundur!"

Hui In Sian-kouw menegur sumoinya dan Biauw In Suthai menyarungkan lagi pedangnya dan melangkah mudur dengan mulut cemberut dan matanya mencorong galak memandang Thian Liong.

Hui In Sian-kouw memandang pemuda Itu.

"Souw-sicu, apakah penjelasanmu tentang ini semua?"

Thian Liong menghela napas panjang.

"Saya tadi belum selesai bercerita, loclanpwe. Tadi ketika saya melakukan perjalanan dan tiba di jalan raya di lereng bukit sebelah bawah, saya melihat serombongan lima orang saudagar dlkawal belasan orang piauwsu sedang diganggu dua orang perampok. Dua orang perampok ttu lihai dan para piauwsu agaknya akan kalah dan terbunuh semua. Saya lalu membela mereka yang dlrampok dan pada saat itu muncul pula ae-or.ang gadls yang llhai, la Juga membantu para piauwsu dan menewaskan seorang di antara dua perampok itu. Perampok ke dua melarikan sekantung emas dan saya mengejarnya dan berhasil mengambil kembali kantung yang dibawanya lari. Ketika saya mengembalikan kantung emas itu kepada para saudagar, mereka lalu menyerahkan setengah isi kantung itu kepada kami berdua, yaitu saya dan nona itu. Setelah para saudagar dan rombongannya meninggalkan tempat itu, saya lalu mengubur mayat perampok yang terbunuh oleh gadis itu. Di antara kami terjadi perselisihan paham karena saya mencelanya yang telah membunuh perampok itu. la marah-marah dan pergl membawa separuh uang yang ditinggalkan saudagar, yang separuh lagi ia berikan kepada saya. Nah, ketika saya sibuk menggali lubang untuk mengubur jenazah itulah, saya lengah. Tahu-tahu kantung uang emas yang tadinya saya tolak itu telah berada dalam buntalan pakaian inl dan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang berada di tumpukan paling atas, telah lenyap."

"Gadis Itu tentu cantik jelita, bukan?"

Tiba-tiba Biauw In Suthai bertanya, nadanya mengejek.

"Memang ia cantik jelita dan usianya kurang lebih tujuh belas tahun,"

Kata Thian Liong sejujurnya.

"Nah Itulah, laki-laki semua mata keranjang! Tentu mellhat gadis cantlk itu, dia tergila-gila dan untuk menyenangkan hatinya, dia memberikan kitab itu kepadanya. Suci, pemuda ini harus bertanggung jawab, dia harus mengembalikan kitab itu kepada kita!"

"Sumoi, tidak malukah engkau berkata seperti itu? Kitab itu memang millk Kun-lun-pai, akan tetapi telah ratusan tahun hilang dan kita tldak dapat menemukannya kembali. Tlong Lee Cin-jin berhasil mendapatkannya kembali dan hendak menyerahkan kepada kita. Souw-alcu kehilangan kitab itu, dlcuri oleh orang laln. Bagalmana kita dapat menimpakan tanggung jawab kepadanya untuk mengemballkan kitab itu kepada kita? Sudahlah, aku melarangmu bicara lagi"

Mendengar teguran keras dari Hui In Siankouw, Biauw In Suthai mengerutkan alishya dan mukanya menjadi buruk sekali karena ia cemberut.

"Suci terlalu membela laki-laki ini. Biar aku melapor kepada toa-suheng (kakak seperguruan pria tertua)!"

Setelah berkata demikian, pendeta wanita yang galak itu lalu meninggalkan tempat itu untuk pergi ke asrama baglan putera di balik bukit. Hui In Siarikouw menghela napas panjang.

"Souw-sicu, maafkan sikap sumoi Biauw In Suthai. la memang keras hati. Sungguh aku merasa tidak enak kepadamu, sicu."

"Tidak mengapa, locianpwe. Memang sudah sewajarnya kalau ia marah karena saya memang bersalah. Saya telah le-ngah sehingga kitab itu lenyap dicuri orang. Sudah semestinyalah kalau saya bertanggung jawab. Saya berjanji akan mencari kitab itu sampal dapat dan setelah saya temukan, tentu akan saya serahkan kepada locianpwe di slni."

Pendeta wanita itu tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Dari sikapmu sebagai murid, kami dapat menilai betapa bijaksananya Tlong Lee Clnjln, Souw-sicu, Siapakah nama gadis yang mencuri kiiab itu?"

"Saya tidak tahu namanya, locianpwe, kaml tidak sempat berkenalan. Akan tetapi sayapun tidak berani mengatakan bahwa ia yang mencuri kitab itu karena tldak ada buktlnya. Bagaimanapun juga, saya akan berusaha sekuat kemampuan saya untuk mencari kitab itu."

"Kami percaya bahwa engkau akan berhasil, sicu, dan sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas usahamu mencari kitab itu. Tldak lupa, sampaikan terima kasih Kun-lun-pai yang sebesar-besarnya kepada gurumu Tiong Lee Cin-Jln yang sudah menemukan kitab kaml yang hilang itu dan berusaha mengembalikannya kepada kami. Sampaikan hormat ku kepada beliau."

"Baik, loclanpwe, akan saya sampaikan kalau saya sudah menyelesaikan tugas-tugas saya dan bertemu lagi dengan suhu. Sekarang, saya mohon pamit dan terima kaslh atas pengertlan locianpwe yang sudah memberl maaf atas kelengahan saya sehingga kltab untuk locianpwe itu sampai hilang."

"Selamat jalan, sicu, dan berhati-hatilah dalam perjalanan. Semua prang mengetahui bahwa para datuk dan tokoh kang-ouw ingin sekali merampas kitab-kitab yang didapatkan oleh Tiong Lee i! Cin-jin dari dunia barat. Sicu yang masih membawa dua kitab, tentu tidak akan terlepas dari incaran mereka."

"Terima kaslh, loclanpwe, atas nasihat itu. Selamat tinggal."

Thian Liong menggendong buntalan-nya"

Memberi hormat lalu pergi menuruni puncak itu.

Akan tetapi, ketika dia tiba di lereng gunung ke dua dari'puh-cak, dia melihat Biauw In Suthai meng-hadang perjalananh^a dan pendeta wanita itu ditemani dua orang gadis yang berpa-kaian serba kuning.

Dua orang gadis itu berusia kurang lebih delapan belas tahun, keduanya bertubuh rarnping berkulit pu-tih mulus dan keduanya cantik manis.

Hanya bedanya, yang seorang lebih jang-kung dengan wajah bulat dan yang kedua agak lebih pendek dan lebih muda dengan wajah bulat telur.

Rambut mereka di gelung ke atas dengan kain berwarna kuning yang lebar.

Di panggung mereka tergantung sebatang pedang.

Blarpun Blauw In Suthal tadl berslkap galak kepadanya, Thian Liong tidak mendendam dan mellhat nenek Itu berdirl menghadang perjalanan bersama dua orang gadis itu, dla cepat menghampirl dan memberi hormat.

"Locianpwe, saya mohbn diri hendak meninggalkan Kun-lun-san, harap locianpwe suka memberi jalan."

Akan tetapl Biauw In Suthal bertolak pinggang dan memandang pemuda itu dengan marah.

"Souw Thian Liong, engkau sudah tahu akan kesalahanmu! Engkau sebagai seorang laki-laki telah berani lancang datang ke asrama puteri Kun lun-pai. Karena itu sebelum kami menguji kepandaianmu, kami tidak akan membiarkanmu pergi. Tadi kami melihat sebatang pedang dalam buntalanmu. Hayo keluarkan pedangmu. Kami menantangmu untuk mengadu silat pedang!"

Nenek itu menantang. Thian Liong mengerutkah alisnya.

"Akan tetapi, loclanpwe, saya tidak ingin bertanding dengan siapapun, saya tidak ingin bermusuhan dengan siapapun."

"Enak saja! Engkau melanggar daerah terlarang bagi prla, dan engkau telah membikin lenyap kttab pusaka Kun-lun-pai Engkau harus menerima tantangan kaml ini. Aku tldak ingln dlanggap sebagai orang tua yang menghina anak muda. Karena itu, muridku inl akan mewaklll aku mengujl llmu pedangmu. Kim Lan, bersiaplah engkau!"

Gadis yang lebih tinggi bermuka bulat itu tiba-tiba menjadi merah wajahnya dan ia tampak semakin cantik.

Ia mengangguk menerima perintah gurunya dan sekali tangan kanannya bergerak, tampak sinar berkelebat dan Thian Liong segera mengenal pedang itu sebagai pedang bersinar putih yang tadi dipergunakan Biauw In Suthai.

Dengan gerakan indah dan gagah gadis cantik bernama Kim Lan ini menggerakkan pedangnya menunjuk ke atas, lalu pedangnya berkelebat seperti kitat menyambar, menjadi sinar menyilaukan dan ia sudah rnemasang kuda-kuda dengan pedang bersenibu-nyi di bawah lengan kanan, tangan kiri melingkar depan dada.

Gayanya indah dan gagah sekali.

"Sicu, silakan!"

Kata Kim Lan, suaranya merdu namun mengandung tanteng-an dan kekerasan hati, sinar matanya tajam menyambar ke arah wajah Thian Liong.

Tentu saja pemuda itu menjadi ragu.

Dia tidak ingin berkelahi, apa lagi melawan seorang gadis yang tidak dike-nalnya sama sekali, yang tidak mempunyai urusan apapun juga dengan dirinya.

Melihat keraguan ini, Biauw In Suthai segera berkata nyaring.

"Souw Thian Liong, engkau mengaku murid Tiong Lee Cin-jin yang terkenal, akan tetapi engkau pengecut kalau tidak berani menghadapi tantangan muridku Klm Lan. Ambil pedangmu dan coba kita sama mellhat apakah engkau mampu menandingi Tian-lui-kiam-sut , (Ilmu Pe-dang Kilat Guntur)! Kalau engkau dapat menang melawan Kim Lan, berarti engkau pantas berkunjung ke markas puteri Kun-lun-pai karena engkau menjadi keluarga sendiri. Akan tetapi kalau engkau kalah, kami akan membiarkan engkau pergi dan ternyata nama besar Tiong Lee Cin-jin hanya kosong belaka!"

Wajah Thian Liong berubah agak merah.

Terlalu sekali nenek ini, pikirnya!

Dia dipaksa untuk melawan karena kalau tidak, dia akan dianggap sebagai pe-ngecut dan berarti dia akan merendahkan nama besar gurunya yang amat dihormat di dunia kang-ouw.

Dia terpaksa, mau tidak mau, harus melayani tantangan itu.

Dia merasa serba salah.

Dilayani, dia merasa tidak semestinya karena dia tidak mempunyai permusuhan dengan mereka dan tidak ingin menghina Kun-lun-pai dengan mengalahkannya.

Kalau tidak dllayani, dia dianggap pengecut dan na-ma besar gurunya terseret turun.

Selain itu, dia juga ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan Ilmu Pedang Kilat Guntur itu.

Dia pernah mendengar dari gurunya bahwa ilmu pedang Itu merupakan llmu puiaka dan andalan Kun-lun-pai dan bahwa hanya murld-murld tertinggl saja yang berhak menguasal llmu pedang itu.

Gadis ini masih amat muda paling banyak sembilan belas tahun usianya, akan tetapi sudah menguasai Tian-lui-kiam-sut, berarti ia seorang murid Kun-lun-pai yang sudah tinggi tingkatnya.

Timbul keinginannya untuk menguji kehebatan ilmu pedang itu!

Setelah menghela napas panjang, Thian Liong melepaskan gendongannya ke atas tanah, membuka buntalan, mengambil pedangnya dan mengikatkan lagi buntalan itu dengan teliti karena dia tidak mau lagi kehilangan dua buah kitab untuk Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai itu, kemudian ia mencabut pedangnya, melempar sarung pedang di atas buntalan pakaian dan menghampiri Kim Lan dengan pedang di tangan.

Pedang Thian-liong-kiam itu adalah sebatang pedang kuno, berbentuk seekor naga gagangnya merupakan ekornya.

Dia berdiri santai, pedang di tangan kanan itu tergantung ke bawah.

Sama sekall dla tldak membu-at pasangan kuda-kuda.

"Baiklah, kalau locianpwe memaksa. Sllakan, nona, saya sudah slap melayani nona."

Katanya.

Biauw In Suthai dan gadis ke dua melangkah mundur dan menonton di pinggir.

Melihat Thian Liong sudah mencabut pedang dan mengatakan siap wa-laupun sikapnya masih santai, Kim Lan lalu membentak dengan suara nyaring.

"Lihat serangan pedangku!"

Setelah memberi peringatan, barulah ia bergerak.

Dan serangannya memang hebat sekali.

Begitu ia menerjang maju, pedangnya berkelebatan menyambar-nyambar seperti kilat dan ia telah menghujani Thian Liong dengan serangkai serangan kilat yang dahsyat!

Thian Liong merasa kagum.

Cepat dia menggunakan ginkang untuk berkelebatan mengelak dari semua serangan.

Timbul kegembiraan hatinya.

Ilmu pedang yang dimainkan gadis bernama Kim Lan itu memang hebat sekali dan gadls Itu benar-benar telah menguasai llmu pedangnya dengan baik.

Pedang kilat itu seolah telah menyatu dengan dirlnya.

Sampai belasan jurus Thlan Liong menghindarkan dirl dari sambaran pedang dengan elakan-elakan cepat.

Namun dia tahu bahwa dla tidak mungkin meng-andalkan elakan saja untuk menghindarkan diri dari serangan yang bertubi-subi datangnya Itu.

Maka, ketlka dla terdesak, mulallah dla menggerakkan Thian-Liong-kiam di tangan kanannya.

Akan tetapi tentu saja dla membataal tenaganya karena dia tidak ingin membikin rusak pedang lawan, juga tidak ingin membikin malu gadis itu dengan tolakan tenaga saktinya.

Dia menangkls dengan tenaga terbatas.

"Tranggg....!"

Dua pedang bertemu dan tampak bunga api berpijar menyilaukan mata.

Gadls itu cepat memeriksa pedangnya.

la merasa lega melihat pedangnya tidak rusak, juga lega karena merasa betapa tenaganya seimbang dengan tenaga lawan.

Pertandingan dilanjutkan dan kini Thian Liong terkadang membalas dengan serangan pedangnya.

Pertandingan itu tampak ramai dan seimbang.

Hal ini terjadi tentu saja karena Thian Liong banyak mengalah.

Dia tidak ingin membikin malu gadis itu maka sengaja membuat pertandingan itu tampak seru dan ramai seolah kepandalan mereka seimbang.

Tentu saja dlapun tldak mau kalau sampai dia kalah, karena hal iu akan merendahkan nama besar gurunya.

Tldak, dia harus menang, akan tetapl kemenangan melalul pertandlngan yang seimbang dan ramai.

"Hailiiittt....!!"

Tlba-tiba Kim Lan merendahkan tubuhnya setengah berjong-kok dan pedangnya menyambar-nyambar ke arah kedua kaki Thian Liong.

Pedang itu diputar-putar merupakan gulungan sinar putlh yang mengancam kedua kaki lawan.

Thlan Liong berloncatan untuk menghindarkan diri dari serangan ke arah kedua kakinya itu.

Untuk menghentikan desakan lawan, dia menyerangkan pedang nya dari atas dan pedang Thian-liong-kiam berkelebat.

Ujung kain pengikat ke-pala Kim Lan terbabat putus dan sehelai kain kuning melayang ke bawah.

Gadis itu terkejut dan mengubah serangannya.

Kini ia berdiri lagi dan pedangnya menyambar-nyambar ke arah leher lawan.

"Trang-trang-tranggg..., tiga, kali berturut turut kedua pedang bertemu dl udara dan keduanya melompat ke belakang. Lima puluh jurus telah lewat dan Thlan Llong merasa bahwa sudah cukup lama dla mengalah. Ketika pedang kilat itu meuncur menyambar dengan tusukan ke arah dadanya, dia hanya sedikit miringkan tubuhnya dan mengangkat lengan kirinya. Pedang itu meluncur dekat sekali dengan iga kirinya dan pada saat itu, lengan kirinya turun mengempit pedang lawan! Kim Lan terkejut dan mengerahkan tenaga untuk mencabut pedangnya yang tampaknya seolah menancap di dada lawan itu. Akan tetapi tiba-tiba Thian Liong mengetuk siku kanannya. Seketika lengan kanannya kehilangan tenaga dan sebelum gadis itu dapat mengatasi keadaannya tangan Thian Liong yang memegang pedang itu telah mendorong pundak kiri Kim Lan sehingga tubuh gadis itu terhuyung ke belakang dan pedangnya tertinggal, dikempit oleh lengan kiri pemuda itu! Keadaan ini jelas membuktikan bahwa Kim Lan telah kalah. Thian Liong cepat mengambtl pedang gadis itu, memegang ujungnya dan menyodorkan gagangnya kepada Kim Lan.

"Terimalah pedangmu dan maafkan aku, nona."

Ucapannya itu dikeluarkan dengan tulus.

Kim Lan menerima pedang itu dan tiba-tiba ia menjatuhkan diri bersimpuh di atas tanah dan menangis tentu saja Thian Liong menjadi bengong melihat hal ini.

Anehnya, Biauw In Suthai menghampirinya.

Thian Liong sudah bersiap siaga untuk melindungi dirinya kalau diserang tiba-tiba oleh pendeta wanita yang galak ini.

Akan tetapi anehnya, Biauw In Suthai tersenyum dan berkata dengan suara girang.

"Souw Thian Liong, kiong-hi (selamat)! Kami mengucapkan selamat!"

"Selamat? Untuk apa?"

Thian Liong bertanya, tidak mengerti.

"Selamat karena engkau telah membuktikan bahwa engkau murid yang mengagumkan dari Tlong Lee Cln-jln, engkau telah menang dalam pertandingan ini dan engkau telah memperoleh seorang isteri yang baik dan cocok sekali bagimu."

Thian Liong terbelalak semakin heran.

"Isteri? Apa.... apa maksud locianpwe?"

Nenek itu menunjuk Kim Lan yang masih bersimpuh dan menangis menutupi muka dengan kedua tangannya.

"Lihat itu, calon isterimu menangis karena haru dan bahagia!"

"Locianpwe, apa maksudmu? Saya.... saya tidak...."

Dia bingung harus berkata apa.

Biauw In Suthai tertawa dan melihat nenek itu tertawa Thian Liong merasa aneh sekali.

Nenek yang galak dan keras seperti batu karang itu dapat terta-wa, akan tetapi hanya mulutnya yang menyeririgai tertawa, matanya sama sekali tldak ikut tertawa.

Mata itu tetap memandang dengan sinar yang keras.

"Heh-heh-hl-hl-hlk. Makaudku....? Itu urusan orang muda. Engkau boleh bicara sendtrl dengan Klm Lan!"

Setelah berkata demikian, pendeta wanita itu melangkah pergi meninggalkan Thian Liong yang masih berdiri bengong.

Setelah nenek itu pergi, Thiar Liong memandang kepada gadis yang masih duduk bersimpuh dan menangis tanpa suara itu.

Kemudian dia memandang kepada gadis ke dua yang berdiri di dekat gadis yang menangis dan kebetulan gadis itu juga sedang memandang kepadanya Gadis yang bermuka bulat telur dan bertubuh mungil ini wajahnya sama cantik dengan gadis pertama.

Bedanya, gadis yang lebih pendek ini wajahnya tidak membayangkan kekerasan seperti yang lain.

la bahkan memandang kepada Thian Liong dengan sinar mata kagum dan lembut, dan bibirnya mengembangkan senyum.

Melihat sikap ini, Thian Liong yang tidak berani bertanya kepada gadis yang menangis, lalu bertanya kepada gadis ke dua itu.

"Nona, apakah sebenarnya yang dimaksudkan oleh loclanpwe tadi? Sungguh mati saya tldak mengertl sama sekali"

Gadis itu menoleh kepada gadls yang masih duduk bersimpuh dan biarpun sudah tidak menangs lagi namun masih menutupi mukanya dengan kedua tangan seperti orang yang merasa malu.

"Sucl (kakak seperguruan, bolehkah aku mewakilimu menceritakan apa artinya semua ini kepada Souw-sicu?"

Gadis yang bernama Kim Lan mengangguk. Gadis mungil itu lalu melahgkah maju rnenghampiri Thian Liong dan la berkata dengan suara merdu.

"Kami berdua adalah murid Kun-lun-paii di bawah asuhan guru karni Biauw In Suthai. Inl adalah enci Kim Lan dan aku bernama Ai Yin. Ketahuilah, sicu, kami berdua telah disumpah oleh guru kami ketika kami menerima pelajaran ilmu pedang Tian-lui-kiam-sut (Ilmu Pedang Kilat Gun-tur) bahwa kami hanya boleh menikah kalau...."

"Sumoi....!"

Kim Lan menegur sumoinya dan ia kini bangkit berdiri, akan tetapi tidak berani menatap wajah Thian Liong, melainkan memandang wajah sumoinya.

"Suci, kalau aku tldak menceritakan semuanya, bagaimana Souw-sicu akan dapat mengertl persoalannya? Karena dia merupakan orang yang tersangkut, tiada salahnya dia mengetahui rahasia kita."

Sejenak Kim Lan termangu-mangu, lalu melirik malu-malu ke arah Thian Liong, kemudlan mengangguk dan berkata lirih.

"Balk, teruskanlah."

Thian Llong merasa tidak enak.

"Nona, kalau kalian mempunyai rahasia, tidak perlu kalian ceritakan padaku. Akupun tidak ingin mendengar tentang rahasia orang lain."

"Souw-slcu, rahasia kami ini sekarang telah melibatkan dirimu, maka engkau harus mendengarnya."

"Hemm, kalau engkau dengan suka rela hendak menceritakan kepadaku, silakan."

Kata Thian Liong yang sebetulnya ingin sekali tahu akan sikap 8iauw In Suthai tadi.

"Seperti kukatakan tadi, kami berdua telah disumpah oleh guru kami. Kami tidak boleh berhubungan dengan pria, bahkan tldak boleh berdekatan. Subo (ibu guru) mungkin akan rnembunuh kami kalau melihat kami akrab dengan pria. Kami disumpah bahwa kami hanya boleh menikah kalau ada pria yang dapat mengalahkan Ilmu Pedang Kilat Guntur kami. Pria yang dapat mengalahkan kami harus menjadi suami kami. Karena itu, ketika engkau mengalahkan suci Kim Lan, berarti engkau menjadi jodoh atau calon suami suci Kim Lan, Souw-sicu."

Thlan Liong terbelalak, terkejut dan heran.

"Akan tetapi....., bagaimana mungkin ada aturan seperti itu? Pernikahan tidak dapat dipaksakan oleh satu pihak, harus ada persetujuan kedua pihak. Sedangkan aku.... aku sama sekali belum mempunyai keinginan bahkan belurn pernah berpikir untuk menikah!"

"Akan tetapi engkau harus menerima suci Kim Lan menjadi isterimu, sicu. Harus!"

Kata Ai Yin. Kata terakhir itu mengandung tekanan kuat sekali.

"Harus?"

Thian Liong mengerutkan alisnya yang tebal dan memandang Ai Yin dengan sinar mata mengandung rasa penasaran.

"Siapa yang mengharuskan?"

"Sumpah , kami yang mengharuskan. Tidak ada pllihan lain bagi suci Kim Lan. Menurut sumpah kaml, kami harus menikah dengan lakl-lakl yang mampu mengalahkan llmu pedang kami!"

"Aturan gila! Sumpah macam apa itu? Bagaimana kalau laki-laki yang mengalahkan kalian itu sudah tua dan sudah beristeri?"

"Itu merupakan kekecualian. Sumpah kami hanya menyangkut pria yang belum berkeluarga, tua muda tidak masuk hitungan. Dan kami percaya bahwa eng-kau belum berkeluarga, sicu."

"Hemm, aneh. Bagaimana kalau pria yang mengalahkan kalian Itu tidak bersedia menikah dengan kalian?"

"Menurut sumpah kaml, kalau begltu masalahnya, kaml harus membunuh pria itu! Jadi tldak ada pilihan laln bagl suci Kim Lan. la harus menlkah denganmu atau kalau sicu menolak, la harus mem-bunuhmu!"

Kata Ai Yln. Thian Llong terkejut sekall.

"Gila be-narl Belum pernah aku mendengar aturan yang leblh gila darl pada Inl. Aku sama sekall tldak ada kelnglnan untuk menlkah, bagalmana mungkln aku dlpaksanya? Tentu aaja aku menolak untuk memenuhl aturan glla-gilaan Ini. Aku tldak mau menlkah dengan siapapun!"

Tlba-tlba Klm Lan memandangnya dan berkata, suaranya mengandung kekerasan.

"Kalau engkau menolak, Souw Thian Liong, berartl penghinaan yang tlada taranya bagiku. Aku akan membunuhmu atau engkau harus membunuhku karena engkau telah menodai dan mencemarkan nama dan kehormatankul"

Thian Llong membelalakkan matanya.

"Aih! Apa pula ini? Aku tidak pernah menyentuhmu, bagalmana engkau dapat mengatakan bahwa aku menodal dan mencemarkan kehormatanmu?"

"Ini sudah menjadl sumpahku. Tidak ada plllhan lain baglku. Aku harus menjadl isterimu atau terpaksa aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Setelah berkata demikian Kim Lan mencabut pedangnya.

"Wah. ini gllal Nona Klm Lan. engkau tldak aan memang melawan aku, dan aku dapat lari meninggalkanmu dengan mudah. Engkau tldak akan dapat mengejar atau membunuhku."

"Aku akan terus mencarlmu, memperdalam llmuku dan selalu berusaha untuk membunuhmu!"

Kata Kim Lan.

"Dan aku akan membantu suci untuk membunuhmul"

Kata pula Ai Yin sambil inencabut pedangnya.

"Wah-wah, kalian inl sudah tidal waras lagl. Nona-nona, kalian adalah, orang-orang muda, bagaimana berpendirian begini kolot? Perjodohan hanya ditentukan oleh cinta atau kesepakatan kedua pihak, sama sekali tidak boleh main paksa."

"Kita diikat oleh sumpah!"

Jawab kedua orang gadis cantik itu berbareng.

"Kalau engkau tetap gagal dalam usahamu untuk membunuhku, bagaimana, nona Kim Lan?"

Thian Liong bertanya.

"Kalau selalu tetap gagal, tidak ada jalan lain bagiku kecuali membunuh diri atau dibunuh guruku."

"Gila....! Thian Liong berteriak.

"Kalian gadis-gadis muda sudah menjadi korban keganasan seorang nenek gila!"

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Biauw In Suthai sudah berada di depan Thlan Llong.

"Bocah she Souw! Engkau berani memaki aku nenek glla? Murld-muridku memenuhi sumpahnya, berarti mereka adalah orang-orang gagah sejatl yang setia kepada gurunya. Akulah yang akan membantu Kim Lan membunuhmu kalau engkau menolak menjadi suaminya!"

"Dunia sudah miring! Kalian orang-orang tidak waras!"

Thian Liong berseru sambil menyambar buntalan pakaiannya dengan tangan kiri dan siap membela dlri dengan pedang Thlan-llong-klam di tangan kanan.

"Bunuh Jahanam ini"

Biauw In Suthai berteriak dan tlga orang wanlta itu menggerakkan pedang di tangan mereka.

Tampak tiga sinar kilat menyambar dengan dahsyat ke arah Thian Liong.

Demikian cepat seperti kilat menyambarnya tiga pedang itu sehingga Thian Liong terpaksa membuang diri ke belakang lalu bergulingan menjauh dan cepat dia melompat bangkit kembali.

Melihat tiga orang wanita Itu sudah hendak menerjangnya lagi dengan pedang diputar di atas kepala, Thian Liong cepat menyimpan pedangnya dan mengerahkan tenaga sakti, mendorong ke arah mereka dengan kedua telapak tangan.

"Wuuutttt....!!"

Angin yang kuat sekali menerpa tiga orang wanita itu.

Mereka merasa terkejut sekali dan berusaha menahan, namun mereka tidak kuat dan tetap saja tubuh mereka terdorong angin dan terhuyung-huyung ke belakang.

Bahkan Ai Yin yang agaknya paling lemah dl antara mereka bertiga, terguling roboh.

Walaupun mereka tldak terluka, namun mereka terkejut sekali dan ketlka mereka memahdang ke depan, ternyata pemuda itu telah menghilang dari sltu.

Melihat itu, Kim Lan menjatuhkan diri berlutut dl depan kaki subonya dan menangis.

"Subo, teecu (murid) dltolak seorang iaki-laki dan teecu tidak mampu membunuhnya. Sllakan subo menghukum dan membunuh teecu, teecu pasrah...."

Blauw In Su-thai menghela napaa panjang. tangan kanan maslh memegang pedangnya. Pada saat itu, Ai Yin yang mencinta suclnya Juga ikut berlutut di depan kaki Biauw In Suthai dan berkata.

"Subo, sucl tidak bersalah. Ia sudah berusaha membunuh Souw Thlan Liong, bahkan teecu dan subo sendirl juga sudah membantunya. Namun, orang itu terlalu tangguh."

"Hemm, menurut sumpahmu sendlri, laki-lakl itu adalah jodohmu dan kalau dla menolak, engkau berusaha untuk membunuhnya. Pergilah dan usahakanlah agar engkau dapat membunuh dia, dan jangan sekali-kali engkau berani kembali menghadapku di sini sebelum engkau mampu membunuhnya!"

Kata nenek itu, kemudian sambil mendengus marah, ia memutar tubuhnya dan menlnggalkan tempat itu.

Kim Lan masih terisak dan mengha-pus air matanya.

Mukanya menjadi pucat dan ia memandang wajah sumoinya de-ngan sedih.

"Sumoi, selamat tinggal, aku hendak pergi dan berusaha memenuhi sumpahku, sampai aku berhasil atau mati."

Setelah berkata demikian, Klm Lan memballkkan tubuhnya dan berlart cepat meninggalkan sumolnya.

"Sucl, tunggu....ll"

Ai Yln melompat dan melakukan pengejaran. Klm Lan berhentl. Mereka berdlri berhadapan.

"Ada apakah, sumoi?"

"Sucl, aku Ikut pergl denganmu."

Kim Lan membelalakkan matanya, kemudian mengerutkan allsnya yang Indah bentuknya.

"Ah, sumol! Engkau tidak boleh! Subo akan marah sekali kepadamu'"

"Biarlah, suci. Aku tidak tahan lagi dihantui sumpah kita itu, apalagi setelah melihat akibatnya kepadamu! Aku tidak mau kelak sepertimu, suci. Dan ingat, yang disumpah subo hanyalah kita berdua, karena itu aku harus membantu-mu dan membelamu. Bukankah engkau akan membelaku juga kalau aku tertimpa masalah seperti engkau sekarang ini? Suci, kita berdua sudah yatim piatu, tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kita berdua sudah seperti saudara sendiri, sejak kecil hidup bersama. Ah, kalau aku tahu akan begini jadinya, dahulu aku tidak akan mau bersumpah, biar tidak menguasai Tian-lui-kiam-sut juga tidak mengapa."

"Sumoi....!"

Kedua orang gadis itu berangkulan dan menangis.

Tak lama kemudian, dua orang gadis Itu sudah menuruni lereng pegunungan Kun-lun-san.

Ai Yin ikut pergi bersama sucinya untuk.

membantu sucinya mencari Thian Liong, untuk membunuh pemuda itu atau kalau.

gagal mereka yang akan dibunuh guru mereka!

Tentu saja, kecuali kalau pemuda itu mau menikahinya.

Sementara itu, dl balik sebuah batu besar, Biauw In Suthai berdiri dan dengan punggung tangan kirinya ia mengusap kedua matanya untuk menghapus beberapa butir air mata yang membasahi pelupuk matanya.

Nenek yang keras hati seperti baja itu menangis, walaupun tak bersuara dan hanya beberapa butir air mata membasahi pelupuk matanya!

Kalau saja ada murid Kun-lun-pai melihatnya, pasti mereka akan menjadi gempar dan terheran-heran.

Hati Biauw In Suthai terkenal keras dan kaku, bahkan ketika ia kematian gurunyapun tak sebu-tir alr mata keluar dari matanya yang selalu bersinar keras.

Akan tetapi pada saat itu, di mana tidak ada orang lain menyaksikannya, ia merasa hatinya se-perti ditusuk-tusuk pedang dan ia tidak dapat menahan ketika beberapa butir air mata membasahi kedua matanya.

Itupun cepat-cepat butir-butir air mata itu dihapusnya.

Kemudlan dengan tubuh terasa lemah lunglal ia menjatuhkan dlrl duduk dl atas tanah berumput dan berslla.

Plklrannya melayang-layang ke masa la-lu.

Ia pernah muda.

Lama sebelum menjadi pendeta dan tokoh besar tingkat tiga Kun-lun-pal.

la pernah Jatuh clnta.

Bahkan tlga kali la jatuh clnta!

Namun ke tiga kallnya gagal.

Selalu saja la dlsila-siakan, ditinggal pergi suaminya yang menikah dengan wanlta lain.

la merasa seakan bunga layu yang dibuang setelah sarl madunya dihlsap habis.

la tldak pernah mempunyai anak darl tlga kali menjadi isteri orang.

Mulailah la merasa bencl kepada laki-laki.

Demiklan mendalam rasa sakit hatinya sehingga la memperdalam ilmu silatnya dan setelah menjadi seorang ahli silat yang pandai, ia mencari ketiga orang laki-lakl bekas suaminya yang menyia-nyiakan dan membunuh mereka!

Kemudian sebagai seorang pendekar wanita, ia melanglang-buana dan selalu membunuh penjahat tanpa ampun.

Akan tetapi yang dibunuhnya selalu prial Prla yang menjadl penjahat, terutama sekall la selalu memburu para jai-hwa-cat (penjahat pametik bunga atau pemerkosa wanlta) dan tanpa ampun membunuhnya dengan sadis!

la baru menghentikan kebiasaannya yang menggemparkan dunla perailatan itu setelah ta bertemu dengan Kut Beng Thalsu yang sekarang menjadl Ketua Umum Kun-lun-pal.

la dlkalahkan dengan mudah oleh pendeta Kun-lun-pal itu, bahkan lalu menerlma bimblngan dalam llmu silat dan juga tentang kerohanlan.

Akhirnya, karena ia maJu sekali, bukan saja dalam llmu sllat, melainkan juga dalam soal kerohanian sehlngga la tldak lagi menjadl ganas dan kejam, bahkan pantang untuk sembarangan membunuh, Kui Beng Thaisu yang melihat bakat baik darl wanlta ini untuk menjadl pelatlh llmu sllat, alu mengangkatnya sebagai pimpinan bagian murid Kun-lun-pai wanita, menjadi pembantu Hui In Siarikouw yang menjadi ketua bagian murld wanita.

Kemudian Biauw In Suthai memilih dua orang gadis yatlm piatu menjadi murid pribadinya, yaitu Kim Lan dan Ai Yin.

Selama hampir sepuluh tahun ia mendidik dua orang gadis ini, bahkan menurunkan ilmu pedang Tian-lui-kiam-sut yang tidak dapat diajarkan kepada sembarang murid.

Untuk itu, ia mengharuskan dua orang murid ini melakukan sumpah seperti yang telah kita ketahui.

Sumpah itu menunjukkan betapa benci ia kepada kaum pria dan sesungguhnya ia tidak rela kalau dua orang murid yang disayangnya seperti anak-anaknya sendiri itu menjadi isteri orang hanya dengan bahaya kelak akan mengalami nasib seperti dirinya, yaitu disia-siakah suami dan ditinggal pergi!

Kalau ada pria yang mampu mengalahkan Thian-lui-kiam-sut, berarti pria itu sakti dan hal ini dapat menguntungkan ia atau pihak Kun-lun-pai.

Pria yang menjadi suami muridnya itu dapat mengajarkan ilmu-ilmunya yang sudah dapat mengalahkan Tian-lui-kiam-sut sehingga mutu ilmu silat Kun-lun-pai dapat meningkat.

Akan tetapi kalau pria itu menolak mengawini murid yang dikalahkannya, muridwa harus membunuh laki-laki itu.

Inilah merupakan jalan baginya untuk membalas dendamnya kepada kaum pria yang dibencinya!

Juga untuk menguji kesetiaan dua orang murid yang dikasihinya itu.

Semua ilmunya telah ia berikan dan ia menuntut agar dua orang muridnya itu berbakti dan setia kepadanya.

Akan tetapi, ketika diam-diam ia mengintai dan melihat betapa dua orang muridnya itu pergi meninggalkannya untuk berusaha mengejar dan membunuh Souw Thian Liong.

hati pendeta wanita itu merasa sedih sekali.

Dendam sakit hati merupakan racun jahat yang akan merusak batin sendiri.

Dendam sakit hati menimbulkan kebencian dan nafsu kebencian membuahkan kekejaman, menghilangkan prikemanusiaan karena kebencian bagaikan api baru dapat dipadamkan oleh tindakan buas untuk menda-tangkan siksaan bahkan pembunuhan ter~ hadap orang yang dibenci.

Namun yang diderita oleh Biauw In Suthai bukan ha-nya dendam kebenclan karena disia-siakan pria selama tlga kali saja, terutama sekali dendam ini dikobarkan karena pada terakhir kalinya, yaitu ketika ia bertemu dengan pria ke empat dan ia jatuh cinta secara mendalam, pria itu tidak membalas cintanya karena medgetahui bahwa ia telah menjadi janda tiga kali!

Kekecewaan ini merupakan puncak pen-deritaannya karena harus diakuinya bah-wa pada pria ke empat ini ia benar-be-nar jatuh cinta.

Selagi Biauw In Suthai tenggelam ke dalam kesedihan, tiba-tiba ia mendengar teguran suara yang lembut.

"Biauw In, ada apakah dengan engkau ?". Nenek itu terkejut bukan maln. Orang datang begitu dekat dl belakangnya dan ia tldak mengetahuinya! Hal Ini menunjukkan betapa hebat gin-kang (ilmu merlngankan tubuh) orang Itu. Akan tetapi ketlka ia bangkit dan memutar tubuh, la melihat bahwa dl situ telah berdiri seorang kekek yang Jangkung kurus, berJenggot panjang, berambut putlh, yang bukan lain adalah Kul Beng Thaisu sendirl, Ketua Umum Kun-lun-pai, penolong dan juga pembimbingnya. la maklum bahwa kepada kakek ini ia tidak dapat menyembunyikan sesuatu. Kakek iitu andah berada di situ, tentu telah mengetahui akan kepergian dua orang muridnya tadi, bahkan mungkin sudah mengetahui pula tentang Souw Thian Liong! Maka, iapun segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu, menahan tangisnya. Saking sedihnya, ia tidak dapat mengeluarkan kata-kata.

"Sumoi, tenangkan batlnmu dan ceritakanlah kepadaku, apa yang telah cerja-di sehingga engkau tenggelam dalam kesedlhan?"

Kul iBeng Thalsu adalah orang yang menyadarkan nenek itu yang dahulu maalh seorang wanlta muda berusla tlga puluh tahun bernama Blauw In.

Juga dla yang memberl pendidlkan dan blm-blngan kepadanya.

Akan tetapl karena pada waktu Itu gurunya maslh hldup dan Blauw In diterima sebagal murld Kun-lun-pai, mellhat tlngkat kepandaiannya sudah tinggl, maka dia menyebut sumol (adik perempuan seperguruan) kepada Blauw In Suthai dan nenek inl menyebutnya suheng (kakak laki-laki seperguruan).

Dan setelah guru mereka meninggal, Kui Beng Thaisu menggantikan kedudukan ketua dan dia mengangkat Biauw In Suthai menjadi wakil ketua bagian murid wanita.

Biauw In Suthai menenangkan hatinya dan beberapa kali menghirup napas panjang sambil mengheningkan cipta.

Se-telah merasa hatinya tenang, ia bangkit berdiri dengan perlahan.

"Mari duduk di sana dan engkau ke-luarkanlah semua masalah yang merlsau-kan hatimu, sumoi,"

Kata kakek itu. Biauw In Suthai mengangguk dan kedua-nya lalu menghampiri sekumpulan batu tak jauh dari situ lalu masing-masing du-duk di atas sebuah batu.

"Maafkan kelemahanku, suheng. Semua itu terjadi demikiah cepatnya dan dalam waktu singkat terjadi demikian banyak perubahan. Mula-mula aku melihat munculnya seorang pemuda di depan asrama puteri para murid Kun-lun-pai. Tentu saja aku curiga kepadanya dan selain menergurnya aku juga menguji ilmu kepandaiannya karena kulihat dia memiliki ilmu berlari cepat yang hebat."

"Sian-cai (damai)..... Kenapa engkau masih juga belum dapat melunakkan hatimu yang keras itu, sumoi?"

"Aku berniat mengujinya saja, suheng. Ternyata dia memang lihai sekali. Suci Hui In Siankouw datang dan melerai. Atas pertanyaan suci, pemuda itu mengaku bernama Souw Thian Liong dan dia murid Tiong Lee Cin-jin."

"Murid Tiong Lee Cin-jin? Ahh, tidak aneh kalau dia lihai sekali. Akan tetapi apa keperluan murid Tiong Lee Cin-jin datang berkunjung?"

"Tadinya dia memang hendak menghadap suheng, akan tetapi dia tersesat ke asrama bagian puteri. Suci Hui In mewakili suheng dan dia bercerita kepada suci, bahwa dia diutus Tiong Lee Cin-jin untuk menyerahkan sebuah kitab kepada suheng. Kitab itu bukan lain adalah Kitab Ngo-heng Llan-hoan Kun-hoat,"

"Siancai....!"

Kui Beng Thaisu berseru kagum.

"Jadi Tiong Lee Cin-jin telah berhasil menemukan kitab pusaka kita yang telah hilang ratusan tahun yang lalu itu dan mengembelikan kepade klta? Bukan malnl Sungguh beliau seorang yang sakti den bljakaana sekali!"

"Akan tetapl kelanjutan ceritaku tidak begltu menyenangkan, suheng. Pemuda she Souw itu mengatakan bahwa baru saja kitab pusaka kita itu dicuri orang."

"Sian-cai;...! Slapa yang mencurinya?"

"Itulah, suheng, Dla sendiri tidak tahu slapa yang mencurinya. Aku menganggap dia berbohong dan hendak menyembunylkan kitab itu. Aku hendak menyerangnya dan memaksanya mengaku dl mana kitab itu, akan tetapi sucl Hui In melarangku."

"Sucimu benar, sumoi. Pemuda Itu tidak mungkin menyembunyikannya. Dia sudah berani datang menceritakan tentang kehilangan kitab itu, berarti dia jujur. Apakah dia tidak mengatakan pertanggungan-jawabnya atas kehilangan itu?"

"'Dia mengatakan bahwa dia akan mencari kitab itu sampai dapat."

"Nah, Itu sudah cukup. Kltab pusaka Itu sudah ratusan tahun lenyap. Tlba-tlba saja ditemukan Tlong Lee Cin-Jln yang mengutus murldnya untuk mengembalikan kepada klta. Kalau kltab itu dlcurl orang, hal itu merupakan sebuah kecelakaan. Tiong Lee Cln-Jin adalah seorang yang sakti dan bijak, tentu murid-nya juga seorartg yang gagah perkasa. Lalu, apa yang menyebabkan engkau bersedih?"

Biauw In Suthai menduga bahwa suhengnya tentu sudah tahu akan kepergian dua orang muridnya, bahkan mungkin tahu pula akan pertandingan tadl.

"Ketika Souw Thian Llong turun dari puncak, aku bersama Kim Lan dan Ai, Yin sengaja menghadangnya, suheng."

"Hemm, apa lagi yang kaulakukan bersama dua orang muridrnu itu, sumoi?"

"Aku menantang pemuda itu untuk bertanding pedang melawan muridku Kim Lan. Muridku itu sudali dewasa, sudah berusia sembilan belas tahun, dan pemu-da murid Tiong Lee Cin-jtn itu memiliki ilmu kepandaian tlnggi, suheng. Aku yakin bahwa pemuda itu pasti dapat meng-alahkan Kim Lan dan aku ingin dia menjadi jodoh Kim Lan."

Kui Beng Thaisu mengerutkan alisnya yang putih. Dia memandang sumoinya dengan sinar mata lembut namun penuh keheranan.

"Hemm, kalau hendak menjodohkan muridmu, kenapa harus mengadu 'mereka? Apakah maksudmu sebenarnya, sumoi?"

Nenek itu menundukkan mukanya. Terpaksa ia harus menceritakan rahasia-nya dengan dua orang muridnya itu. Suaranya lirih ketika ia menjawab.

"Ketika dua orang muridku berlatih Tian-lui-kiam-sut mereka telah bersumpah bahwa mereka hanya mau menikah dengan pria yang mampu mengalahkan ilmu pedang mereka itu."

"Hemm, bagaimana engkau dapat menyuruh mereka bersumpah seperti itu? Bagaimana kalau pria yang mengalahkan mereka itu tidak mau menikah dengan mereka?"

Suara Biauw In Suthai semakin lirih ketika menjawab.

"Kalau pria yang mengalahkan mereka tldak mau memperistri mereka, maka mereka harus membalas penghinaan itu dengan membunuhnya!"

"Siancai....!"

Kui Beng Thaisu berseru dan alisnya berkerut.

"Kemudlan bagaimana?"

"Kim Lan bertanding dengan Souw Thian Liong dan la kalah. Karena pemuda itu menolak untuk berjodoh dengannya, Kim Lan, menyerangnya dan hendak membunuhnya memenuhi sumpahnya, akan tetapi pemuda itu melarikan diri. Kini Kim Lan dan Ai Yin...., mereka.... pergi untuk mencari dan membunuh pemuda itu...."

Kui Beng Thaisu terkejut dan menggeleng-geleng kepalanya sambil mengelus jenggotnya yang putih panjang. Kemudian dia mengangguk-angguk.

"Hemm, tidak kusangka bahwa penyakit dendammu terhadap kaum pria ternyata telah berakar dalam batinmu sehingga diam-diam telah meracunimu. Racun itu pada akhirnya akan merusak dirimu sendiri. Buktinya sekarang telah mengorbankan kedua muridmu yang kau-sayang seperti anak-anakmu sendiri. Ah, Biauw In sumoi, kiranya semua pelajaran yang tclah kuberikan kepadamu sela-ma puluhan tahun ini, hanya mampu menghilangkan kebuasanmu saja, akan tetapi tidak pernah dapat melenyapkan dendanimu terhadap pria. Alangkah sayangnya. Aku, aingguh merasa kecewa sekali, sumoi. Engkau tega mengorbankan muridmu sendiri untuk melamplas-kan dendam hatlmu terhadap prla."

Mendengar ucapan suhengnya yang sudah dlanggapnya sebagal gurunya sendlri, penolongnya dan orang yang selama kurang teblh dua puluh tahun memblm-blngnya, yang cllkeluarkan dengan nada ledlh Itu, Biauw In Suthai menundukkan mukanya yang menjadi pucat dari la menguatkan perasaannya agar jangan sampal menangis.

"Maafkan aku, suheng. Maafkan aku. Setelah kedua orang muridku pergl, baru aku menyadarl bahwa aku telah membuat mereka menderital Aku telah membuat dua orang yang kusayang seperti anak-anakku sendiri itu hidup merana. Sesungguhnya, selama ini aku sudah berusaha untuk menekan nafsu dendam kebencianku. Aku menyumpah kedua orang muridku itu hanya untuk menjaga agar mereka berdua memperoleh suami yang berilmu tinggi, yang lebih tangguh daripada mereka. Aku ingin mereka mendapatkan suami seorang pendekar. Akan tetapi setelah aku mendengar bahwa Souw Thian Liong itu murid Tiong Lee Cin-jin.... ah, aku menjadi lupa diri, terbakar oleh perasaan sakit hatiku...."

"Eh? Apa hubungan sakit hatimu dengan Tiong Lee Cin-jin?"

Tanya ketua Kun-lun-pai itu dengan heran. Biauw In Suthai tetap menundukkan mukanya dan menjawab dengan lirih.

"Tiong Lee .... Bu Tiong Lee.... dialah laki-laki terakhir dalam hidupku, dialah yang mengobarkan sakit hatiku terhadap tiga orang suamiku yang terdahulu seperti yang pernah kucerltakan kepada suheng...."

"Siancai....! Jadl Tlong Lee Cin-jin di waktu beliau masih muda itukah pria yang pernah membuat engkau jatuh cinta, kemudian engkau kecewa dan patah hati karena dia tidak membalas cintamu, bahkan meninggalkanmu begitu saja? Biauw In, Biauw In! Sungguh engkau telah tersesat jauh. Bagaimana mungkin engkau dapat mengharapkan seorang pemuda arif bijaksana sepertl Tiong Lee Cin-lin untuk jatuh cinta padamu? Beliau adafah seorang yang menyerahkan seluruh kehidupannya untuk mengembangkan pelajaran tentang agama, tentang rohaniah, dan beliau adalah seorang manusia yang telah mampu menundukkan semua nafsu daya rendah dalam dirinya. Jadi, engkau ingin murid-muridmu dapat membunuh Souw Thian Liong karena dia itu murid Tiong Lee Cin-jin, untuk melampiaskan sakit hati dan kekecewaanmu?"

"Maafkan aku, suheng. Sesungguhnya, bukan itu satu-satunya tujuanku. Andaikata pemuda itu menerima dan mau menJadi suami KlmLan, berartl aku ber-besan murid dengan Tiong ! Lee Cin-jin dan Kun-lun-pal menjadi bertambah kuat karena mendapat tambaha'n tlmu mela-lui suami Kim Lan,j Akan tetapi pemuda itu menolak sehingga Kim Lan pergi hendak mencari dan membunuhnya, dan Ai Yin ikut sucinya untuk membantu."

"Hemm, dorongan nafsu dendam kebencianmu telah membuat engkau men-jadi seorang wanita yang tidak berperasaan dan tidak berperikemanusiaan lagi, membuat engkau tega untuk mengorban-kan murid-murid sendiri, tega pula un-tuk menyuruh murid-muridmu membunuh orang-orang tidak berdosa. Sekarang nafsu jahatmu telah terlaksana, engkau membuat murid-muridmu bermusuhan dengan murid Tiong Lee Cin-jin. Seharusnya engkau merasa puas dan setan dalam dirimu bersorak-sorai kegirangan, mengapa engkau malah menjadi sedih dan menangis?"

Biauw In Suthal tidak kuat bertahan lagi.

la turun dari atas batu dan menja-tuhkan diri berlutut di depan batu yang diduduki Kui Beng Thaisu sambil menangis.

Kini tangisnya adalah tangis aseli, tangis wajar seorang wanita tua yang merasa sedih dan penuh penyesalan diri, terisak-isak dan alr mata bercucuran darl kedua matanya, mengallr di sepanjang pipinya yang pucat.

Seolah-olah bendungan yang dibentuk oleh kekerasan hatl se-jak bertahun-tahun dan menjadi bepdung-an baja yang amat kuat itu tiba-tiba pe-cah dan wanita itu menangis sampai se-senggukan.

Beberapa lamanya Kui Beng Taisu hanya memandang sambil mengelus jeriggotnya yang putih panjang, meng-angguk-angguk sendiri karena diam-diam dia maklum bahwa akhirnya dia berhasil mencairkan hati yang mengeras seperti baja itu.

Dia maklum bahwa tangislah merupakan obat yang amat manjur bagi penyakit yang diderita sumoi-nya itu.

Kalau tidak dapat menangis, terdapat ancaman bahaya besar bagi kesehatan wanita itu.

Kehancuran perasaan sehe-bat itu dapat membuat ia jatuh sakit berat atau bahkan mendatangkan gun-cangan dan tekanan batin yang dapat membuat ia menjadi gila.

Blauw In Suthal sepuasnya menumpah-kan semua penyesalan dan kesedihan hatlnya mclalul tanglsnya.

Satelah hatlnya terasa rlngan dan tangianyra meredo, la.

mengusap mukanya yang basah Itu dengan ujung lengan bajunya yang sudah basah pula, kemudian ia berkata llrih.

"Suheng, anipunkan aku, suheng...."

"Engkau tahu, sumoi bahwa engkau tidak bersalah kepadaku. Engkau bersalah kepada Thian (Tuhan) dan kepadanyalah engkau harus minta ampun. Akan tetapl minta ampun saja tidak ada gunanya, sumoi. Permohonan arnpun kepada Tuhan haruslah disertai pertaubatan dan taubat yang sesungguhnya bukan hanya timbul dalam hati dan pikiran, bukan hanya terucapkan oleh mulut, melainkan harus dibuktikan dalam tindakan, dalam perbu-atan. Hati dan pikiranmu haruslah dicucl bersih dari dendam saklt hati itu dan pertaubatanmu harus terbukti dengan tidak mengulangi lagi plkiran dan perbuatan yang telah kaulakukan itu. Inipun belum cukup. Kesadaranmu dan penyesalang hatimu harus dibuktikan dengan relanya engkau menerlma hukuman atas segala kesalahanmu Itu dalam bentuk keprihatinan. Kalau tidak, maka semua penyesalanmu itu tidak ada gunanya karena akar kebencian masih tetap hidup daiarn batinmu dan sewaktu-waktu dapat menumbuhkan tunas baru."

"Aku mengerti, suheng, dan aku siap menerima hukuman apapun yang suhertg berikan kepadaku."

"Bagus kalau begitu. Mulai hari ini engkau harus tinggal dalam pondok peng-asingan selama tiga tahun!"

Biauw In Suthai menundukkan muka-nya.

"Aku menerima hukuman itu dengari rela, suheng."

"Sukurlah kalau begitu. Nah"

Pergilah ke pondok pengasingan' kita dan sampai gbertemu kembali tiga tahun kemudian."

Biauw In Suthai memberi hormat lalu berjalan pergi mendaki puncak sambil iinenundukkan mukanya.

Tentu saja ia mengenal pondok pengasingan itu.

Merupakan sebuah pondok terpencil agak jauh di belakang kompleks bangunan Kun-lun-pai, sebuah pondok sederhana dan kosong di mana seorang murid yang terhukum harus melewatkan hari-harinya dengan berprihatin dan bersamadhi, tldak diperkenankan meninggalkan pondok yang sunyi itu sebelum masa huk'umannya ha-bis.

Menyepi sendiri dan untuk makanan-nya yang sederhana, setiap pagi seorang murid bertingkat paling rendah mengantarkan makanan itu dan menaruhnya di depan pintu.

Kui Beng Thaisu merigikuti bayangan sumoinya dengan pandang mata, kemu-dian dia mengelus jenggotnya dan menghela napas panjang.

"Sian-cai...., semoga Thian menolongnya dan membebaskannya dari tekanan nafsu kebencian."

Thian Liong tiba di daerah Pegunungan Bu-tong-san.

Karena senja telah tiba, ketika dia memasuki sebuah dusun yang cukup besar dan di sltu terdapat sebuah rumah pengihapan sederhana, dia memasuki rumah penginapan merangkap rumah makan Itu.

Tadinya dia mengira bahwa tempat Itu hanya merupakan rumah ma kan dan dia hanya ingin makan dan bertanya-tanya di mana dia bisa mendapat-kan tempat untuk bermalam.

Pelayan yang menyambutnya tersenyum mendengar pertanyaannya.

"Tuan mencari tempat untuk menginap? Di sinilah tempatnya. Kami mem-punyai beberapa buah kamar yang kartii sewakan kepada para tamu dari luar dusun. Selain di sini tidak ada tempat lain yang menyewakan kamar!"

Thian Liong menjadi girang.

Dia tidak jadi memcuri makanan karena hendak mandi lebih dulu, dan dia minta diantar ke sebuah kamar yang akan disewanya untuk malam itu.

Ternyata kamar itu walaupun kecil namun, bersih dan tempat tidurnya yang sederhana Juga cukup bersih.

Ada pula karriar mandi di situ dan Thian Liong segera mandi dan ber-ganti pakaian bersih.

Dia bersiap-siap untuk keluar dari kamar menuju ke rumah makan yang berada di ruangan depan.

Dia harus membawa kantung uang emas dan pedangnya, karena kalau ditinggalkan di dalam kamar, ada kemungkinan barang-barang berharga itu akan dicuri orang.

Dia mengikatkan pedang di belakang punggungnya dan mengikatkan kantung emas di pinggangnya, meninggalkan buntalan pakaiannya dl atas meja dalam kamar.

Pada saat itu dia mendengar suara merdu wanita di luar kamarnya, bicara dengan suara pelayan yang telah menerimanya tadi.

Berdebar rasa jantung Thian Liong.

Segera dla teringat akan gadis yang dijumpainya di Kun-lun-san dahulu Itu, maka cepat dia membuka daun pintu kamarnya dan melangkah keluar.

Hampir saja dia bertabrakan dengan seorang gadis berpakaian serba hljau.

Namun dengan gerakan ringan dan gesit sekall gadis Itu inengelak dan mencondongkan tubuh ke klri sehlngga tidak terjadl tabrakan.

Thian Llong menclum bau harum bunga mawar ketlka gadls Itu membuat gerakan menghindar.

"Ah, maafkan aku, nona!"

Katanya dan dia melihat bahwa gadls ini bukan gadis yang dljumpalnya dl Kun-lun-san dahulu itu.

Memang keduanya sebaya, kurang lebih delapan belas tahun, sama-sama cantik jelita, wajahnya agak bulat, me-miliki daya tarik yang kuat, terutam.a sekali sepasang matanya yang indah dengan kerling tajam memikat dan bibirnya yang menggairahkan dengan senyumnya yang semanis madu.

Gadis itu memandang wajah Thian Liong yang tampan dan ia tersenyum.

Manis sekali!

Thian Liong memandang, dalam hatinya merasa kagum dan juga heran bagaimana dalam sebuah dusun di kaki pegunungan itu dia dapat bertemu dengan seorang gadis seperti itu.

Jelas bukan seorang gadis dusun yang sederhana.

Rambut yang hitam lebat itu digelung indah ke atas dan dihias setangkai bunga mawar merah.

Kalung, anting-anting dan gelang emas bertabur permata meng-hias tubuhnya yang padat langsing.

Di punggungnya, di bawah sebuah buntalan pakaian dari kain kuning, tampak ga-gang sepasang pedang.

"Tidak mengapa,"

Kata gadis itu dengan suara merdu dan senyumnya meng-hias bibir yang merah basah.

"masih un-, tung kita tidak bertabrakan!"

"Maafkan,"

Kata lagi Thian Liong dan dia melanjutkan langkahnya menuju ke depan. Dia mendengar pelayan itu berkata kepada gadis tadi.

"Inilah kamar nona,"

Kata pelayan itu.

"Sunyi benar rumah penginapan ini"

Kata gadis itu.

"Hari ini memang sepi, nona. Tamunya hanya nona dan tuan tadi, yang hampir bertabrakan dengan nona. Biasanya ramai, sampai sepuluh buah karnar kami penuh semua."

"Sudah, tinggalkanlah aku."

"Baik, nona. Kalau nona hendak makan, silakan pergi ke rumah makan kami, di bagian depan bangunan ini."

Kata pelayan itu yang segera pergi.

Thian Liong tidak memperdulikan mereka lagi dan memasuki rumah makan sederhana itu.

Dia duduk menghadapi meja dan memesan nasi dan dua macam masakan sayur dan daging ayam.

Untuk mlnumnya dia memesan alr teh.

Ketika dia duduk termenung menanti datangnya makanan yang dipesannya, ti-ba-tiba terdengar suara merdu di belakangnya.

"Wah, agaknya tamunya hanya klta berdua! Bagaimana kalau aku juga makan di meja ini? Agar ada teman bercakap-cakap."

Thian Liong menoleh dan bangkit ber-dlri ketika melihat bahwa yang bicara adalah gadis tadi.

Buntalannya sudah ti-ak ada, tentu ditinggalkan di dalam kamar seperti yang dia lakukan.

Siang-kiam (sepasang pedang) itu kini tergantung di pungungnya dan di pinggangnya tergantung beberapa buah kantung kain.

Pakaiannya yang serba hijau itu bersih dan terbuat dari sutera yang halus.

Bunga mawar merah di rambutnya ,serasi sekali dengan pakaiannya yang hijau.

Thian Liong tercengang keheranan mendengar gadis itu ingin duduk semeja dengan nya untuk makan dan bercakap-cakap.

Darl sikap yang berani dan tidak malu-malu ini dia dapat mengambil kesimpulan bahwa gadis ini seorang gadis yang biasa melakukan perjalanan di dunia per-silatan dan seorang gadis yang sikapnya terbuka dan tidak terikat oleh segala macam peraturan dan peradatan.

"Oh, silakan, nona. Silakan!"

Gadis itu tampak gembira sekali dan ia lalu menarik sebuah kursi dan duduk berhadapan dengan Thian Liong, terha-lang meja yang tldak berapa besar se"

Hingga mereka saling berhadapan dalam jarak dekat, hanya satu meter lebih.

Berdebar juga rasa jantung dalam dada Thian Liong.

Gadis itu demikian dekat dengannya dan kembali hidungnya tnenang-kap keharuman bunga mawar.

Bagaima-na mungkin setangkai bunga mawar yang menghias kepala gadis itu dapat mena-burkan keharuman demikian semerbak?

Gadis itu menggapaikan tangan memang-gil pelayan yapg segera datang meng-hampiri.

"Aku memesan makanan yang sama dengan yang dipesan tuan ini. Dan ja-ngan lupa, sediakan seguci kecil anggur yang paling baik."

Pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan mereka.

"Akan tetapi aku hanya memesan minuman air teh, nona."

Gadis itu mengerling dengan matanya yang indah. Kerling tajam memikat disertai senyum manis, alisnya bergerak tanda heran.

"Akan tetapi mengapa? Hawanya begini dingin, sebaiknya minum arak atau anggur yang dapat mengha-ngatkan badan."

"Aku.... aku tidak pernah minum arak."

Sepasang alis itu kini bergerak naik bersama kedua matanya yang terbelalak lebar.

"Sungguh aneh! Baru sekarang aku mendengar seorang laki-laki tidak pernah minum arak! Padahal melihat engkau membawa sebatang pedang di punggungmu, mestinya engkau seorang kang-ouw (dunia persilatan) yang tidak asing dengan arak atau anggur."

Thian Liong tersenyum.

"Arak dapat membuat orang mabok dan mabok membuat orang kehilangan akal dan pertimbangan sehingga dia dapat melakukan hal-hal yang tidak baik."

"Hi-hi-hik!"

Gadis itu tertawa, tawanya lepas sehlngga kedua biblr Itu merekah, tampaklah deretan gigi yang rapl dan putih bersih.

"Orang minum arak harus dapat menyesuaikan dengan kekuatan minumnya sehingga tidak dapat sampai mabok; Aku sendiri selama hidupku bekum pernah mabok, beberapa banyakpun anggur atau arak yang kuminum!"

"Silakan nona kalau hendak minum anggur, bagiku cukup air teh hangat saja!"

Kata Thian Liong yang tidak ingin mencela kebiasaan minum arak gadis itu.

Beberapa lamanya mereka hanya duduk, menanti datangnya makanan yang dlpesan, tidak bicara apapun, Gadis itu mengamati wajah Thian Liong dengan penuh perhatian.

la melakukan itu tanpa pura-pura dan dengan terang-terangan.

Dl lain pihak, Thian Liong yang tahu bahwa gadis itu memandangnya penuh perhatian, menjadi salah tlngkah.

Dia selalu mengelak untuk beradu pandang dan diam-diam dia memperhatikan bajunya, apakah ada yang tidak beres dengan pakaiannya.

Dia merasa rikuh, canggung dan tidak enak diamati seperti itu.

Maka, dla menghela napas lega ketika pelayan datang membawa pesanan nasi dan masakan untuk mereka.

Melihat bahwa yang dipesan pemuda Itu hanyalah nasi dan dua macam masakan sayur dan daging ayam, gadis itu mengerutkan alisnya.

"Hanya ini?" .tegurnya kepada pelayan.

"Itulah yang dipesan oleh tuan Inl, nona."

Kata pelayan.

"Hayo cepat tambah masakan Ikan sirip kuning saus tomat, goreng burung dara, udang masak jamur, kepiting goreng telur. Cepat, berapapun akan kubayar!"

Pelayan Itu memandang bodoh.

""Wah, pesanan nona terlalu mewah. Mana di dusun ada udang dah keplting? Ikan slrlp kunlngpun tidak ada, yang ada hanya ikan lee-hl biasa. Burung dara juga tldak ada, adanya ayam atau bebek."

"Wah, brengsek! Ya sudah, cepat sediakan segala macam masakan yang ada di sini! Ikan lee-hi, ayam dan bebek, apa saja. Cepat!"

"Baik, nona."

Pelayan itu cepat mengundurkan dirl untuk menyampaikan pesan itu kepada tukang masak. Melihat semua itu, Thian Liong tersenyum, kemudian berkata.

"Mari, nona, Silakan makan, selagi sayurnya masih panas."

"Ya, akan tetapi makannya perlahan-lahan saja sambil menunggu masakan lain yang kupesan."

"Bagiku ini saja sudah cukup."

Katag Thian Liong sambil mengambil sepasang sumpit bambu yang disediakan di atas meja. Gadis itupun memilih sepasang sumpit dengan hati-hati, mencari yang bersih, kemudian dia berkata.

"Tapi aku sudah memesan masakan-masakan laln untuk kita berdua!"

Thlan Llong tldak menjawab, akan tetapl diam-diam dla merasa tldak enak juga kalau tldak ikut makan begltu banyak maaakan yang telah dipesan oleh gadis itu.

Agar jangan mengecewakan hati gadis itu yang agaknya hendak menjamunya, diapun makan perlahan dan sedikit-sedikit untuk menanti masakan-masakan baru yang dipesan.

Gadis itu minum anggur dengan lahap, menuangkan anggur ke dalam cawannya dan minum minuman keras itu seperti minum air saja.

Beberapa kali ia menawarkan kepada Thian Liong, namun pemuda itu selalu menolak.

dengan lembut dan mengucapkan terima kasih.

Bau anggur yang harum sedap itu memang merangsang seleranya, akan tetapi dla tidak mau mencoba-coba.

Gurunya, Tiong Lee Cln-jin, pernah mengatakan bahwa minuman keras itu amat berbahaya karena dapat membuat orang ketagihan dan menjadi pemabok.

Seolah dapat mendengar suara hatinya, tiba-tiba gadls itu berkata.

"Anggur inl merupakan minuman yang menyehatkan, asal saja peminumnya mengenal batas kekuatannya. Kalau melampauhi batas kekuatannya, memang dapat menjadi racun. Bahkan semua obat yang menyembuhkan sekallpun, kalau terlalu banyak dimlnum dapat menjadl racun yang membahayakan kesehatan!"

Masakan-masakan yang dipesan diantar datang dan gadis itu mempersilakan Thian Liong makan masakan baru itu.

Setelah menghabiskan setengah guci anggur gadis itu menjadi semakin akrab dan hangat, la kembali niinum anggur dari cawannya sambil menatap wajah pemuda yang duduk di depannya.

Kemudian ia berkata setelah mengusap bibirnya dengan sehelai saputangan.

"Sungguh aneh sekali keadaan kita berdua ini. Tinggal di bawah satu atap, bahkan makan bersama di satu meja, dan kita belum mengenal nama masing-masing! Bukankah ini aneh sekali? Kalau ada orang melihat kita dan mendengar bahwa kita tidak saling mengenal, pasti dia tidak percaya!"

Thian Liong menghablskan makanan terakhir dalam mulutnya lalu minum air tehnya dan mengusap bibirnya dengan ujung lengan bajunya.

Dla maklum akan apa yang terkandung dalam ucapan gadis itu, maka dia lalu memperkenalkan namanya.

"Namaku Souw Thian Liong, seorang yatlm piatu yang sedang mengembara."

"Souw Thian Liong? Namamu gagah sekall, segagah orangnya! Engkau tentu lebih tua beberapa tahun dari aku, maka aku akan menyebutmu Llong-ko (ka-kak Liong). Engkau tidak berkeberatan, bukan?"

Thian Liong tersenyum.

"tentu saja tldak."

"Engkau datang darl mana, Liong-ko? Dl mana tempat tlnggalmu dan kalau engkau yatlm piatu, siapa saja keluargamu? Engkau sudah berkeluarga beristeri dan mempunyal anak, bukan? Dan sekarang hendak pergi ke mana?"

Dlberondong pertanyaan itu, Thlan Llong tersenyum. Gadis ini lincah, mengingatkan dia akan gadis yang dijumpatnya di Kun-lun-san. Akan tetapi gadis berpa"

Kaian serba merah muda itu galaknya bukan alang kepalang, sedangkan gadis berpakaian serba hijau dengan setangkai bunga mawar di kepalanya inl tampaknya leblh ramah dan tldak galak.

"Wah, harus satu demi satu aku menjawab hujan pertanyaanmu itu. Tentang keluarga, aku sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi. Aku hldup sebatang kara, tentu saja belum mempunyai isteri atau anak. Tempat tlnggalku? Aku tidak mempunyal tempat tinggal yang tetap. Dunta inl tempat tlnggalku, langit atap rumahku dan bumi lantalnya! Darl mana aku datang dan ke mana hendak pergi? Yah, katakanlah datang dari belakang dan hendak pergi ke depan."

"Hl-hlk engkau lucu, Llong-ko! Burung mempunyal sarang, ular mempunyal lubang, harlmau mempunyal guha, semua mahluk memlllkl tempat tinggal. Maaa engkau aeorang manusia tidak? Dan hari inl engkau berada dl kaki pegunungan Bu-tong-aan, tentu mempunyai tuuan hendak ke mana?"

Thian Liong terlngat akan gadis yang dia duga telah mengambil kitab pusaka milik Kun-lun-pal.

Dia harus berhati-hati.

Dia belum mengenal siapa sebenarnya gadls ini.

Siapa tahu diam-diam gadis ini berniat untuk merampas dua buah kitab yang masih berada dalam kantung emas yang tergantung di pinggangnya.

Maka dia tidak menjawab dan mengalihkan perhatian.

"Ah, engkau tidak adil, nona. Engkau telah menghujaniku dengan pertanyaan dan aku memperkenalkan diriku. Akan tetapi engkau belum memperkenalkan dirimu sehingga namamupun aku belum tahu."

"Hemm, engkau ingin mengenal nama-ku? Aku bernama Thio Siang In dan karena aku menyebutmu Liong-ko, maka engkau boleh menyebutku In-moi (adik ln)."

"Thio Siang In? Wah, namamu indah, seindah.... orangnya!"

Thian Liong sengaja membalas, untuk menyenangkan hati gadis itu dan untuk menyimpangkan per"

Hatian agar gadis itu tidak banyak ber-tanya tentang dirinya. Gadis itu tersenyum dan matanya yang indah mengerling tajam.

"Ah, kiranya engkau seorang yang pandai pula merayu, Liong-ko."

"Tidak, In-moi. Aku hanya bicara sejujurnya. Lalu, di mana tempat tinggalmu dan siapa keluargamu? Ceritakanlah selengkapnya tentang dirimu."

"Engkau benar hendak mendengar dan mengetahuinya?"

"Benar-benar, In-moi. Bukankah kita telah berkenalan dan menjadi sahabat?"

"Baiklah. Aku berusla delapan belas tahun.... dan engkau ..."

"Aku berusia dua puluh tahun."

Sambung Thian Liong.

"Tepat seperti dugaanku. Engkau tentu leblh tua dariku. Aku tinggal di sebuah dusun di Sln-klang. Bersama Ibu kandungku, seorang puterl Kepala Suku Ul-gur. Ayahku.... ayahku.... entahlah, kata Ibu ayahku telah lama pergi ketika aku masih dalam kandungan.... ah, heran sekali!"

Tlba-tiba gadls Itu bangkit berdiri dan memandang kepada Thlan Liong dengan mata terbelalak.

"He, kenapa?"

Thian Llong bertanya heran.

"Heran sekall! Kenapa beginl aneh? Ibu memesan agar aku merahasiakan tentang ayahku, akan tetapi tiba-tiba saja aku menceritakannyai kepadamu!"

"Kalau tidak kauceritakan juga tidak mengapa. Bagaimanapun juga, aku tidak suka mendengar seorang suami meninggalkan isterinya begitu saja selagi anak-nya berada dalam kandungan!"

"Tidak! Engkau salah sangka! Ayah kandungku itu pergi karena dia terpaksa. Menurut cerita ibuku, kalau ayahku tidak pergi melarikan diri, dia dan ibuku tentu akan mati."

"Eh! Kenapa begitu?"

Siang In menghela napas panjang dan 'memandang wajah Thian Liong dengan heran.

"Sungguh mati, tak tahu aku mengapa aku harus menceritakan semua rahasia ini kepadamu yang baru saja kukenal? Liong-ko, tak perlu kau tahu segalanya, cukup kalau kau ketahul bahwa ibuku adalah seorang puteri bangsa Ulgur den ayahku seorang Han. Nah, aku tlnggal dengan Ibuku dan aku menjadi murid dari paman tua (uwa), kakak ibu sendirl. Akan tetapi biarpun aku maslh mempunyai seorang ibu pada saat inl aku juga sebatang kara karena aku sudah pergi merantau meninggalkan kampung halam-an di Sin-kiang setahun yang lalu. Jadi, kita ini ada persamaan, sama-sama perantau, beratap langit berlantai bumi."

Gadi ini tertawa lepas dan mau tidak mau Thian Liong ikut pula tertawa karena tawa yang wajar terbuka dan mengandung getaran gembira seperti itu amat menular!

Tiba-tiba ada sinar menyambar ke arah mereka.

Thian Liong dapat melihat dengan jelas bahwa benda berkilat itu meluncur dan menyambar ke arah meja di depan mereka.

Dia yakin benar bahwa benda yang ternyata sebatang hui-to (pisau terbang) kecil itu tidak mengarah tubuh mereka, melainkan menuju ke arah meja.

Akan tetapi Thio Slang In sudah menggunakan sepasang sumpit di tangan kanannya untuk menjepit pisau terbang itu!

Gerakannya demikian cepat sehingga Thian Liong merasa kagum bukan main.

Gadis peranakan Uigur ini ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan memiliki tenaga dalam yang amat kuat.

Kalau tidak demikian, tidak munglkin ia mampu menangkap pisau terbang itu hanya dengan jepitan sepasang sumpitnya.

Dengan tenang Siang In mengambil sehelai kertas yang tertancap pisau itu, lalu melempar pisau itu dengan gerakan tangan kiri ke atas.

Matanya hanya mengerling sebentar ketika ia menggerakkan tangan kiri.

"Wuuuttt.... capppp!"

Pisau kecil itu terbang meluncur ke atas dan menancap di tiang kayu, tepat mengenai perut sebuah cecak yang sedang merayap di Uang itu.

Tubuh cecak itu terpaku pada tiang!

Thian Liong memejamkan matanya, merasa ngeri melihat perut cecak itu tertusuk pisau dan terpantek pada tiang.

Walaupun yang terbunuh itu hanya seekor cecak, namun dia merasa ngeri dan betapa kejamnya gadis cantik ini mem-bunuh seekor cecak yang tidak bersalah apa-apa.

Ketika Thian Liong membuka mata-nya memandang kepada Siang In gadis itu tampak terseyuffl Jnepgejek dan melempapkan kertas itu ke atas meja.

'Hemm, orang-orang Bu-tong-pai som-bong!

Dikiranya aku gentar menghadapi Thai-kek Sin-kiam mereka?"

Ketika ia melihat Thian Liong memandang ke arah kertas di atas meja itu, Siang In berkata.

"Bacalah, tidak ada rahasia. Bahkan kalau engkau mau, engkau boleh ikut dan menjadi saksiku."

Biarpun kejadian itu amat menarik hati Thian Liong, dia tidak akan berani membaca surat yang dikirim secara isti-mewa itu, tidak mau mencampuri urus-an prbadi orang kalau saJ'a gadis itu ti-dak menyuruhnya membaca.

Dia mengam-bil kertas putih itu dan membaca tulisan yang bergaya gagah itu.

Dia dapat men-duga bahwa penulis surat itu sengaja memamerkan tenaga dalamnya melalui tulisannya sehingga gaya tulisannya amat kuat, coretan-coretan itu tajam dan run-cing sehingga tarnpak indah dan gagah.

Ang-hwa Sian-li, kami tidak ingln membuat keributan di tempat umum.

Kalau engkau berani, datanglah besok pagi-pagi di hutan cemara sebelah utara dusun ini dan kita mengadu kepandaian.

Kalau engkau tidak datang, berarti engkau hanya seorang pengecut!

Bu-tong-pai Setelah membaca surat itu, Thian Liong memandang wajah Slang !n dan bertanya.

"In-moi, siapakah itu Ang-hwa Sian-li?"

Siang In tersenyum dan tnenggunakan tangan kirinya untuk menyentuh bunga mawar merah di kepalanya.

Thian Liong memandang ke arah bunga itu dan mengertilah dia mengapa Siang In mempunyai julukan Ang-hwa Sian-li (Dewl Bunga Merah).

Memang gadis itu cantik jelita seperti gambar dewi dan agaknya selalu menghias rambutnya dengan se-tangkai bunga mawar merah.

"Akulah yang dimaksudkan. Karena aku Jarang memperkenalkan namaku yang sesungguhnya, dan selama inl baru kepadamulah aku memberltahukan namaku, maka orang-orang yang pernah berurusan denganku menyebutku Ang-hwa Sian-li."

Thian Liong mengambil kesimpulan.

"In-moi, kalau orang-orang menyebutmu Dewi Bunga Merah, hal itu tentu karena engkau telah melakukan perbuatan-perbuatan yang baik untuk menolong orang. Sebutan Dewi itu merupakan pujian. Ka-lau orang suka melakukan kejahatan, tentu akan diberi julukan Iblis atau Silu-man."

Gadis itu tersenyum.

"Terima kasih kalau engkau berpendapat begitu, Liong-ko. Aku tidak tahu apakah aku ini jahat atau baik. Yang jelas, kalau ada orang lemah tertindas membutuhkan pertolongan, tentu aku akan menolongnya. Sebaliknya kalau ada orang mengandalkan ke-kuatannya untuk menindas orang lain, pasti aku akan menentangnya dan tidak akan segan untuk membunuh dan inem-basmi mereka!"

Thian Liong dapat menduga bahwa Ang-hwa Sian-li ini tentulah seorarig ga-dis yang berwatak pendekar.

"Akan tetapi, tnengapa pihak Bu-tong-pai meniusuhi dan menantangmu? Menurut apa yang kudengar, Bu-tong-pai adalah perguruan silat kaum pendekar. Padahal engkau sendiri, menurut perkiraanku, adalah seorang pendekar wanita."

"Aku tidak tahu apakah aku ini seorang pendekar atau bukan dan akupun tidak perduli apakah Bu-tong-pai itu perguruan silat kaum pendekar atau bukan Akan tetapi yang kutahu, ada orang-orang Bu-tong-pai yang sombong dan karenanya aku menentang mereka. Setelah aku mengalahkan mereka, agaknya mereka merasa penasaran dan mengirim surat tantangan ini. Huh, tak tahu malu!"

Gadis itu mengambil cawannya yang diisli penuh anggur lalu meminumnya.

Thian Liong berpikir sejenak.

Memang, tidak semua pendekar bersikap baik.

Tentu ada pula yang kasar dan ada pula yang tinggl hatl dan sombong.

Dia ter-Ingat akan slkap Biauw In Suthai, tokoh Kun-lun-pai itu.

Kun-lun-pal, seperti juga Bu-tong-pai, dikenal sebagai sebuah perguruan silat kaum pendekar Karena itu mungkin, maka gurunya mau bersusah payah mendapatkan kembali kitab-kitab mereka dan mengembalikannya ke-pada mereka.

Ternyata Biauw In Suthai juga tidak bersikap baik, melainkan ga-lak dan angkuh bukan main.

"In-moi, maukah engkau menceritakan kepadaku sebab-sebab pertentangan itu? Apakah yang telah terjadi?"

Gadis itu meletakkan cawan yang te-lah kosong ke atas meja. Kedua pipinya kemerahan, tanda bahwa minuman itu telah mulai mempengaruhinya.

"Sungguh aku merasa heran sekali, mengapa terhadapmu aku seakan tidak dapat meraha-siakan sesuatu. Aku bahkan ingin menceritakan segalanya kepadamu. Terjadinya siang tadi di sebuah lereng."

Siang In lalu menceritakan pengalamannya.

Pada siang hari itu Thio Siang In yang melakukan perjalanan perantauan-nya dari Sin-kiang menuju ke timur, tiba di luar sebuah dusun di sebuah lereng pegunungan Bu-tong-san, Telah setahun lebih ia meninggalkan rumah ibunya di Sin-kiang untuk merantau dan di sepanjang jalan ia selalu membela yang lemah tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang.

Karena kelihaiannya, sepak terjangnya menggegerkan dunia kang-ouw di sebelah barat dan segera orang-orang yang tidak pernah mendengar ia memperkenalkan nama, memberi julukan Ang-hwa Sian-li kepadanya kare-na gadis jelita dan gagah perkasa ini selalu memakai setangkai bunga merah pa-da rambutnya.

Setelah mendengar julukan ini, Siang In menerimanya, bahkan ia lalu memperkenalkan dirl kalau hal ini diperlukan, sebagai Ang-hwa Sian-li!

Selagi ia berjalan santai di lereng itu, dan tiba di luar sebuah dusun, ia melihat seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, berlutut dan me-nangis minta-minta ampun kepada dua orang pemuda yang berusia kurang leblh dua puluh lima tahun dan tampak gagah perkasa.

"Ampun, tai-hlap (pendekar besar).... Ampunkan saya....! Semua ini saya laku-kan karena terpaksa.... saya harus membeayai, anak yang sedang sakit parah...."

"Alasan! Dasar pencuri hina!"

Bentak seorang di antara dua pemuda itu yang bertubuh tinggi besar, lalu sekali kakinya menendang, orang yang berlutut itu terpental dan bergulingan.

"Aduh""

Ampun....,-biarlah saya kem-ballkan semua ini...."

Orang itu mengeluarkan beberapa buah benda terbuat da-n perak, yaitu cawan piring dan alat-alat sembahyang.

"Saya kembalikan semua inidan ampunilah saya...."

Kembali orang itu berlutut, merintih dan mulutnya mengeluarkan darah.

Pemuda ke dua yang tubuhnya tinggi kurus melangkah maju menghampiri.

Pencuri busuk!

Tidak mengenal budi!

betelah bertahun-tahun kami beri makan dan upah, masih juga mencuri dan mencoba minggat!

Orang seperti engkau ini harus dihajar!"

Dia sudah mengangkat tangan kanannya untuk memukul. Siarig In yang melihat semua ini mem-bentak nyaring.

"Tahan! Jangan pukull"

Pemuda tinggi kurus itu menahan pukulannya dan memutar tubuhnya.

Demi-kian pula pemuda tinggi besar itu juga menoleh.

Keduanya memandang dan ter-cengang melihat seorang gadis cantik sekali berdiri di situ.

Siang In adalah seorang gadis yang cantik jelita, maka ti-dak aneh kedua orang pemuda itu terpe-sona dan sikap mereka berubah sama se-kali.

Kalau tadi mereka kelihatan galak, kini keduanya tersenyum dan menghampiri Siang In.

Siang In memandang kepada dua o-rang pemuda yang menghampirinya itu dengan alis berkerut.

Setelah dua orang itu berhadapan dengannya, Siang In menegur dengan ketus.

"Lagak kalian ini seperti orang-orang gagah, membawa pedang dan berpakaian seperti pendekar! Akan tetapi yang kuli-hat ternyata kalian hanya orang-orang yang suka mempergunakan kekuatan un-tuk menindas dan menghina yang lemah!"

Pemuda tinggi besar itu segera meng-angkat kedua tangan depan dada memberi hormat, diturut oleh pemuda tinggi kurus.

"Maaf, nona. Agaknya engkau salah paham. Kami berdua adalah pendekar-pendekar yang selalu menentang penjahat. Orang ini adalah seorang maling jahat, seorang yang tidak mengenal budi. Selama beberapa tahun dia menjadi tukang kebun perguruan kami, diberi upah dan makan, akan tetapi apa yang dia lakukan? Dia minggat dan membawa lari alat-alat sembahyajng yang terbuat dari perak. Karena itu, kami menghajarnya!"

Siang In mencibirkan bibirnya yang merah.

"Huh, pendekar macam apa itu? Memukuli orang yang lemah! Aku mendengar sendiri bahwa dia melakukan pencurian itu karena terpaksa, karena ingin membeayai pengobatan anaknya yang sakit. Sepantasnya sebagai pendekar, kalian menolongnya, bukan memukulinya. Tak tahu malu!"

"Nona!"

Pemuda tinggi kurus memprotes.

"Kami adalah murid-murid Bu-tong-pai'"

"Aku tidak perduli kalian Inl murld-murid Bu-tong-pai atau murid perguruan apapun juga. Kalau jahat dan sewenang-wenang tentu akan kutentang!"

"Nona, dia itu pencuri! Apa engkau hendak membela pencuri?"

Tanya yang tinggi besar, mulai marah. Kehormatannya tersinggung karena gadis itu tidak menghargai Bu-tong-pai dan kekagumannya akan kecantikan gadis itu mulai memudar, terusir oleh kemarahan.

"Bagiku dia orang lemah tertindas dan kaiian orang-orang kuat yang sewenang-wenangl Aku pasti membelanya dan menentang kalian!"

"Nona, siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami murid-murid Bu-tong-pai?"

Bentak yang tmggi kurus. Siang In terseyum mengejek.

"Orang menyebutku Ang-hwa Sian-li, dan kalian cepatlah pergi dari sini, tinggalkan orang itu kalau kalian tidak ingin kuhajar!"

"Engkau gadis usil, suka mencampuri urusan orang lain dan sombong! Kalau aku memukuli pencuri itu, engkau mau apa?"

Bentak pula si tinggi kurus dan dia sudah melompat ke depan dan tal! ngannya terayun memukul ke arah tukang kebun itu.

"Dukk!"

Lengannya tertangkis oleh lengan Siang In.

Lengan yang mungil berkulit halus dari gadis itu ternyata mengandung tenaga sinkang kuat sehlngga pemuda tinggi kurus merasa tulang lengannya seperti patah dan terasa nyeri sekali.

Dia menj'adi marah.

"Berani engkau melawan aku'?"

"Kenapa tidak?"

Siang In mengejek.

"Biar ada sepuluh orang macaniengkau, aku tidak akan takut!"

"Kami orang-orang Bu-tong-pai bukan pengecut yang suka main keroyok! Sambut seranganku!"

Pemuda tinggi kurus itu membentak dan dia menyerang dengan dahsyat, kedua tangannya bergerak hampir berbareng, susul menyusul, yang klri menyambar ke pelipis kanan Siang In dan yang kanan menonjok ke arah perutnya!

Serangan ini dahsyat sekali, datangnya cepat dan mendatangkan angin pukulan kuat.

Namun Siang In tenang saja menghadapi serangan dua tangan lawan itu.

Dengan tangan kirinya dia menangkis tonjokan ke arah perutnya, dan tangan kanannya menyambar ke atas dengan jari terbuka, menyambut tangan kiri pemuda Itu dengan tebasan dari bawah ke arah pergelangan tangan.

Pemuda itu terkejut sekali.

Tangan kanannya yang menonjok ke perut kembali bertemu lengan yang terasa keras seperti baja, dan kini lengan kirinya yang menyerang pelipis bahkar terancam tebasan tangan lawan.

Cepat dia menarik kembali tangan kirinya dan kaki kanarinya menendang.

Kaki itu dengan kecepatan kilat mencuat ke arah dada Siang In.

Gadis itu miringkan lalu memutar tubuh dan ketika kaki menyambar lewat, didorongnya tunut kaki itu dengan tangan kirinya.

Demikian kuat do-rongan itu sehingga pemuda itu tidak mampu menahan.

dirlnya.

Terbawa oleh tenaga tendangannya sendlri ditambah tenaga dorongan Siang In, tubuhnya melayang ke depan.

Untung dia masih dapat melakukan gerakan pok-sai (salto) sehingga tubuhnya tidak sampai terbanting.

Setelah dua kali lengannya tertangkis sehingga terasa nyeri sekali dar hamplr saja tadl dla roboh terbanting, pemuda tlnggl kurus itu mulai.

terbuka matanya bahwa gadis cantlk Itu llhal bukan main.

Temannya, pemuda tinggi besar, agaknya juga dapat melihat hal ini maka diapun melompat ke depan dana berseru kepada pemuda tinggi kurus.

"Sute (adik seperguruan), mundurlah dan biar aku yang menghadapi perempuan sombong ini!"

Melihat suhengnya maju, pemuda tinggi kurus lalu melangkah mundur.

Si Pemuda tlnggl besar melangkah maju dan mencabut pedangnya.

Tampak sinar berkilat ketika pedang dicabut dan pemuda tlnggi besar itu berkata.

"Nona, suteku telah kalah bertanding tangan kosong denganmu. Sekarang aku menantangmu untuk mengadu ilmu pedang, tentu saja kalau engkau berani."

Siang In mencibirkan bibirnya.

"Bocah Bu-tong-pai sombongl Aku pernah mendengar bahwa Bu-tong-pal terkenal dengan ilmu pedangnya Thal-kek Sin kiam! Akan tetapi aku tidak takut'"

Setelah berkata demikian, dua tangan gadis Itu bergerak ke arah belakang punggung dan tampak dua sinar pedang berkelebat ketika la sudah mencabut sepasang pedangnya yang tergantung di punggungnya, tertindih buntalan pakaian.

Sepasang pedang itu kecil dan panjang, tampak ringan sekali, akan tetapi ketika dicabutnya terdengar bunyi berdesing nyaring.

Mellhat gadis Itu sudah siap dengan siang-kiam (sepasang pedang) di kedua tangannya, pemuda tlnggl besar itu membentak.

"Sambut pedangku!"

Dan dia sudah menyerang dengan cepat dan dahsyat, Slang In menangkis pedang yang menyambar ke arah lehernya itu.

"Crlnggg....!"

Tampak bunga api berpijar dan pemuda itu segera memutar pedangnya untuk mendesak lawan dengan serangkaian serangannya, pedang dl tangannya berubah menjadl slnar bergulung gulung.

Akan tetapl dengan tenang sekali Siang In menyambut serangan Itu dengan gerakan kedua pedangnya yang membentuk dua lingkaran sinar yang dapat menghadang dan menangkis semua serangan lawan.

Gadis itu telah memainkan Toat-beng Siang-kiam (Pedang Pasangan Pencabut Nyawa) yang amat hebat.

Dari dua lingkaran sinar kuning itu terkadang tampak sinar kilat mencuat dan menyambar-nyambar.

Melihat ini, pemuda tinggi besar itu terkejut bukan main dan sebentar saja, dalam belasan jurus kemudlan, dia telah terdesak hebat sehlngga kini hanya dapat memutar pedang melindungl dlrlnya dan tldak mampu balas menyerang.

"Haiiiittt....!l"

Tiba-tiba gadis membentak, dua lingkaran slnar pedangnya itu membuat gerakan mengguntlng.

"Tranggg.... trakkkl"

Pemuda tinggi besar itu terkejut bukan main karena pedangnya telah digunting oleh sepasang pedang lawan dan patah menjadi dua potong!

Sebelum hilang rasa kagetnya, kaki Siang In mencuat dan menendang dadanya.

"Dess...l"

Tubuh pemuda tinggi besar itu terjengkang roboh!

Sutenya segera membantunya untuk bangkit berdirl dan mereka memandang gadls itu dengan sinar mata marah dan penasaran.

Siang In mencibirkan blbirnya dan sekall dua tangannya bergerak ke belakang punggung, sepasang pedangnya sudah tersimpan kemball.

"Hemm, sepertl itu sajakah Thal-kek Sin-kiam yang digembar-gemborkan oleh Bu-tong-pai?"

Ia mengejek.

"Ang-hwa Sian-li! Tingkat kami masih terlampau rendah untuk mempelajari Thai-kek Sin-kiam. Tunggu sajalah. Sekali Thai-kek Sin-kiam dimainkan, engkau akan dihajar dan semua kesombonganmu akan terhapus!"

Setelah berkata demikian, pemuda tinggi besar itu menarik tangan sutenya dan diajak pergl. Laki-lakl yang tadl dihajar dua orang murld Bu-tong-pai itu lalu menghamplrl Siang In dan memberl hormat.

"Terima kaslh atas pertolongan Lihlap. Nama Ang-hwa Sian-Li takkan saya lupakan selamanya. Akan tetapi saya memang bersalah, Lihiap (pendekar wanita). Saya kinl menyadarl bahwa sebetulnya saya tldak perlu mencurl. Kalau saya berterus terang mlnta bantuan, tentu para plmpinan Bu-tong-pai akan menolong saya. Saya harus mengembalikan semua Ini kepada BU-tong-pai!"

Setelah berkata demikian, orang itu membungkus kembali barang-barang itu dalam kain dan hendak pergi meninggalkan Siang In.

"Tunggu dulu, paman!"' Siang In ambil sepotong emas dari kantung uangnya dan memberikan kepada orang itu.

"Ini, pergunakan emas ini untuk membiayai pengobatan anakmu."

Orang itu menerima pemberian itu dengan terharu dan berulang kall dia memberl hormat dan membungkuk-bung-kuk.

"Terima kasih, lihiap, terima kasih."

Lalu dla pergl untuk mengembalikan barang-barang yang dicurinya itu kepada Bu-tong-pai. Siang In menghentikan ceritanya dan mlnum anggur terakhir darl gucinya yang kinl telah kosong.

"Demlklanlah, Liong-ko. Aku melanjutkan perjalanan dan tiba di dusun ini, kebetulan bertemu denganmu dan tadl tentu mereka yang melontarkan surat dengan pisau Itu."

Sejak tadi Thian Llong mendengarkan dengan penuh perhatian dan dia dapat menarlk kesimpulan bahwa dua orang rnurid Bu-tong-pai itu bukan orang-orang jahat, hanya sikap mereka terhadap tukang kebun yang mencuri benda-benda perak itu terlalu keras.

Dia khawatir kalau kesalah-pahaman inl menjadi permusuhan yang meruncing, maka dia lalu berkata.

"In-moi, kukira semua itu hanya merupakan kesalah-pahaman saja. Sikap dua orang murid Bu-tong-pai itu memang terlalu keras dan mereka patut ditegur. Akan tetapi urusan sekecil itu tldak semestlnya kalau dijadikan sebab permusuhan antara engkau dengan mereka. Kebetulan sekali akupun ada urusan untuk menemul para plmplnan Bu-tong-pai, maka biarlah besok pagl aku menemanimu dan aku akan menjadi penengah untuk mendamaikan kallan."

"Akan tetapi aku ditantang, Liong-ko, dan aku tldak takut melawan mereka!"

Kata Slang In penasaran.

"Kalau engkau mendamaikan kaml, jangan-jangan mereka menglra bahwa aku takut!"

Thlan Liong tersenyum.

"Tldak, In-moi. Aku tldak akan mendatangkan kesan seolah-olah engkau takut."

"Sudahlah, kita llhat saja besok. Aku Ingln berlstlrahat, ingin mandl yang segar kemudian tidur yang nyenyak, tldak memikirkan apa-apa lagi. Soal besok bagalmana besok sajalah. la menggapal pelayan.

"In-mol, blarkan aku yang membayarnya."

Kata Thian Liong.

"Ah, aku tahu bahwa engkau mempunyal banyak emas dalam kantungmu itu, Llong-ko. Akan tetapi masakan ini sebagian besar aku yang memakan, maka harus aku yang membayarnya."

Pelayan datang.

Siang In membayar harga makanan dan mlnuman, lalu mereka masuk ke dalam dan menuju ke kamar masing-masing.

Thian Liong duduk dalam kamarnya dan termenung.

Dalam waktu singkat, secara berturut-turut dia bertemu dengan wanita-wanita yang terlibat urusan dengan dirinya.

Baru saja tamat belajar dan turun gunung melaksanakan tugas yang diberikan gurunya, dia mengalami hal-hal aneh dan serius dengan tiga orang wanita!

Pertama, dengan gadis berpakalan merah muda di kaki Pegunungan Kun-lun-san itu, gadis yang dta hampir yakin tentu yang telah mengambil kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang seharusnya dia serahkah kepada pimpinan Kun-lun-pai.

Gadis yang tldak dia ketahui namanya, namun yang harus dia cari untuk minta kembali kitab itu sebagai pertanggungan jawabnya terhadap Kun-lun-pai.

Kemudian, pertemuannya dengan Biauw In Suthai yang kemudian melibatkan diri gadis ke dua, Kim Lan, dengannya karena oleh pendeta wanita itu, Kim Lan diharuskan menjadi isterinya dan kalau dia menolak, gadis itu harus membunuhnya!

Dan ketiga, pertemuannya dengan Thio Siang In yang berjuluk Ang-hwa Sian-li ini.

Pertemuan inl agaknya Juga melibatkan dlrlnya karena gadis itu hendak bertandlng dengan pihak Bu-tong-pal dan dia tldak mungkin tinggal diam saja!

Alangkah anehnya semua pengalaman Itu.

Malam Itu Thian Llong hanya duduk borsamadhi.

Dengan demlkian, sungguh pun tubuhnya mengaso seluruhnya, namun kesadaran dan kewaspadaannya selalu siap.

Dia khawatir kalau-kalau terjadl sesuatu yang tidak baik atas dlrl gadls yang tidur dl kamar sebelah.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi Thian Liong sudah membuka pintu kamarnya.

Dia melihat Siang In sudah bangun.

Ketika dia keluar dari kamar, dia mehhat gadis itu duduk di atas bangku depan kamar dan ternyata gadis itu sudah tampak segar.

Sudah mandi dan bertukar pakaian, rambutnya disisir rapi dan setangkai bunga mawar merah segar menghias rambutnya.

Bunga itu baru mekar setengahnya dan masih segar sekali, tampaknya baru saja dipetiknya.

la mengangguk dan tersenyum kepadanya.

"Baru bangun, Liong-ko? Cepatlah mandi, aku menantimu untuk sarapan pagi. Aku sudah memesan kepada pelayan agar dipersiapkan bubur ayam panas dan lezat!"

Diam-diam Thian Llong merasa kagum.

Gadis itu sama sekali tidak tampak tegang, bahkan santai saja seperti orang menghadapi hari yang penuh suka cita, Padahal ia menghadapi tantangan yang berat dari Bu-tong-pai!

Dla mengangguk lalu pergi ke kamar mandi membawa pakaian pehgganti.

Tak lama kemudian mereka berdua sudah duduk santai di dalam ruangan depan."

Yang biasanya dipergunakan untuk nnpah makan.

Akan tetapi hari masih terlalu pagi.

Ruangan itu bahkan bagian depannya masih ditutup dan belum ada yang bekerja.

Hanya rnereka berdua ,yang duduk di situ dan pelayan tua yang tadi terpaksa memasakkan bubur ayam berada di dapur setelah menghidangkan ma-kanan itu di atas meja mereka.

Mereka berdua makan tanpa banyak cakap.

Sehabis makan, baru Siang In berkata.

"Nah, sekarang aku berangkat. Apakah engkau jadi ikut?"

Pertanyaannya datar saja, seolah tidak ada bedanya baginya apakah Thian Liong hendak menemaninya ataukah tidak.

"Tentu saja aku ikut karena tanpa ada urusanmupun pagi ini aku harus berkunjung ke Bu-tong-pai untuk sebuah urusan penting."

"Urusan penting?"

Siang In mengamatl wajah pemuda itu penuh selldik. Ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata Thian Liong, ia berkata.

"Sudahlahl Kalau itu merupakan rahasia tidak perlu diberitahukan kepadaku. Mari kita berangkat!"

Seperti halnya Siang Iri, Thian Llong juga membawa semua barangnya, dimasukkan dalam buntalan pakaian lalu menggendongnya dan kembali gadis itu memaksa untuk membayar harga bubur dan sewa kamar mereka.

Thian Liong tidak dapat membantah.

Mereka lalu meninggalkan dusun itu, menuju ke Bukit Cemara yahg sudah tampak dari luar dusun itu, di sebelah utara, Di bukit itu tampak sebuah hutan cemara yang sunyi.

Bukit itu sudah termasuk daerah Bu-tong-pai.

Baru saja kedua orang muda itu memasuki hutan cemara, tampak dua orang pemuda, seorang tinggi besar dan seorang lagi tinggi kurus, sudah berada di situ.

Melihat dua orang pemuda itu, Siang In cepat menghampiri dan setelah ia berdlri di depan mereka, ia tertawa mengejek "Kallan berdua masih berani muncul?

Apakah kalian yang hendak maju menandinigi aku, dan sekarang kalian hendak maju mengeroyokku?

Hemm, kalian berdua belajarlah dengan tekun selama sepuluh tahun lagi baru agak pantas untuk menandingiku!"

Thian Liong mengerutkan alisnya. Siang In terlalu memandang rendah dua orang pemuda itu dan sikap seperti itu amat tidak baik. Pemuda tinggi besar itu menjawab dengan ketus.

"Perempuan sombong! Kami bukan golongan pengecut yang suka main keroyok! Engkau kemarin memandang rendah ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam dari perguruan kami. Sekarang kami mendatangkan orang yang telah mem-pelajari ilmu pedang itu untuk menghadapimu."

Pemuda Itu lalu memutar tubuhnya dan berseru nyaring.

"Supek (uwa guru)! Harap supek datang ke sinl. Gadis sombong itu telah datang!"

Tiba-tiba tampak bayangan putlh berkelebat dan tahu-tahu di sltu telah berdiri seorang laki-laki berusia kurang leblh enam puluh tahun.

Alis, kumis dan jenggotnya yang panjang masih hitam, akan tetapi rambut di kepalanya sudah putih semua!

Pakalannya darl kain katun sederhana seperti pakaian pertapa.

Di punggungnya tergantung sebatang pedang dengan ronce kuning.

Melihat cara orang ini muncul, Thian Liong maklum bahwa, dia memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi dan tentu orang ini lihai sekali.

Tubuhnya sedang namun tegap dan wajah yang berbentuk persegi dengan jenggot panjang itu juga tampak berwibawa.

Akan tetapi Siang In tetap tersenyum dan memandang ringan.

"Apakah nona yang berjuluk Ang-hwa Slan-li dan yang memandang rendah ilmu pedang Thal-kek Sln-klam kaml?"

Orang berambut dan berpakalan serba putih itu bertanya, sikapnya tenang dan agaknya dia seorang penyabar.

"Benar, akulah yang disebut Ang-hwa Slan-11. Dan engkau inl slapakah? Apakah engkau ketua Bu-tong-pai dan siapa namamu?"

Tanya Siang In, slkapnya blasa saja seolah ia berhadapan dan bicara dengan .orang seusia dan setingkat dengan nya.

"Locianpwe, saya Thian Liong hendak menjadi penengah dan mendamalkan.

"Liong-ko! Biarkan aku menyelesaikan dulu urusanku dan jangan engkau mencampuri. Setelah aku aelesai, baru engkau boleh berurusan dengan mereka!"

Siang In berseru keras sehingga kata-kata Thian Liong terpotong.

"Siancai, nona yang berwatak keras!"

Kata tokoh Bu-tong-pai itu dengan senyum sabar.

"Aku bukan Ketua Bu-tong-pai, aku hanyalah pembantunya yang nomor tiga saja dan aku hanya ingat nama julukanku, yaitu Pek Mau San-jin (Orang Gunung Berambut Putih). Aku baru berhasil menguasai ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam sepertiga baglan saja, akan tetapi aku ingin mencoba kehebatan Sepasang pedangmu yang menurut murid keponakanku ini hebat sekali."

Setelah berkata demikian, Pek Mau San-jin mencabut pedang beronce merah dari punggungnya.

Slnar berkilat ketika pedarig itu tercabut.

Dia berdiri tegak dan pedang itu dipegang oleh tangan kirinya, gagang di bawah dan ujung pedang menempel pundak kirinya.

Kemudian dia mengangkat kedua tangan ke atas berbareng menurunkan kedua tangan kakl kiri melangkah ke depan, pedang di tangan kiri tetap di bawah lengan, telunjuk dan jari tangan kanan menunjuk ke depan.

Inilah gerakan pembukaan yang dinamakan Sian-jin Ci-lu (Dewa Menunjuk Jalan) kemudian dia melangkah dengan kaki kanan ke depan memutar tubuh ke kanan pienghadapi Siarig In, kedua lengan dikembangkan lalu kaki kilri ditekuk berlutut, kedua tangan tetap dikembangkan.

"Ang-hwa Sian-Li, aku sudah, silap menandingi ilmu sepasang pedangmut"

Kata Pek Mau San-jin tenang.

Melihat pembukaan yang sederhana ini, Siang ln tersenyum mengejek.

Kedua tangannya meraih ke belakang dan tampak dua sinar kllat ketlka siang-kiam (sepasang pedang) itu telah berada dl kedua tangannya.

la memasang kuda-kuda yang kokoh, kedua kaki menyilang, pedang kiri diangkat ke atas belakang kepala, pedang kanan mellntang depan dada.

Slkapnya gagah dan indah.

Akupun telah siap.

Perlihatkan ilmu pedangmu, Pek Mau San jlnl"

Slang In menantang.

"Engkau adalah tamu. Persilakan menyerang leblh dulu!"

Kata Pek Mau San-lin, kini bergerak berdiri, kedua tangan bertemu di depan leher dan gagang pedang itu dari tangan kiri sudah berpindah ke tangan kanan.

Thian Liong memperhatikan semua gerakan tosu itu dan dia merasa kagum.

Biarpun gerakan pembukaan tadi hanya sederhana, namun gerakan itu dennkian lembut dan lentur, sambung menyambung seperti gelombang lautan, isi mengisi dan dia tahu bahwa dl dalam kelembutan itu terkandung kekuatan yang amat dahsyat!

Dia mengkhawatirkan Siang In.

Sekali ini, gadis ini benar-benar berhadapan dengan seorang ahli silat tingkat tinggi dan yang paling berbahaya adalah bahwa agaknya gadis itu tidak mengetahui akan hal itu sehingga memandang ringan.

Diapun membayangkan ilmu pedang yang hebat itu.

Kalau tosu yang baru memiliki sepertiga bagian saja sudah mampu bergerak seperti itu, apalagi yang telah menguasai sepenuhnya!

"Baiklah!

Sambut serangan pedangku!"

Siang In membentak dan sepasang pedangnya berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyambar-nyambar.

Serangan gadis itu memang hebat dan hal ini sudah diduga sejak semula oleh Thian Liong.

Gadis itu agaknya telah digembleng oleh seorang guru yang sakti.

Akan tetapi yang membuat dia heran, kagum dan terkejut adalah ketika melihat sambutan tosu itu atas semua serangan gadis itu.

Tosu itu bergerak begitu lembut bahkan tampak lambat, matanya seperti setengah terpejam, namun gerakan pedangnya itu mendatangkan hawa dahsyat dan kuat sehingga semua serangan sepasang pedang Siang In selalu tertangkis dan terpental.

Dia melihat betapa gerakan seluruh tubuh tosu itu seperti otomatis, seperti tidak dikendalikan lagi oleh pikiran, seolah-olah seluruh bagian tubuhnya menjadi peka sekali seperti memillki mata di mana-mana.

Gerakan-nyapun sambung-menyambung dengan lembut dan lenturnya.

seperti orang menari saja, menari di angkasa, di antara awan.

tampaknya sama sekali tidak mempergunakan tenaga kasar.

Seolah-olah -gerakan tubuh tosu itu digerakkan oleh tenaga yang amat lembut namun amat dahsyat.

Dan diapun mengerti!

Tosu itu seperti bersilat dalam keadaan samadhi, atau bersamadhi dalam silat!

Hati akal pikiran tidak berulah dan gerakannya dipimpln oleh kekuasaan gaib, seperti kalau dia berada dalam puncak penyerahannya kepada Tuhan, seperti yang diajarkan oleh Tiong Lee Cin-jin!

Ilmu yang amat hebat, pikirnya.

Thian Liong mengikuti seiriua gerakan perkelahian itu dengan seksama.

Pertandingan yang hebat dan seru.

Gadis itupun ternyata seorang yang memillkl llmu pedang pasangan yang lihai sekall, berbahaya dan ganas sehingga setlap sambaran pedangnya merupakan cengkeraman maut.

Dan tosu Itu ternyata tidak berbohong ketlka mengatakan bahwa dia hanya menguasai sepertlga saja darl ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam.

Jurusnya tidak banyak dan diulang-ulam, akan tetapi anehnya, dengan jurus yang tidak banyak itu dia sudah mampu menahan semua serangan Siang In.

Dan karena gerakannya seperti gelombang lautan, begitu lentur lembut dan otomatis seolah tidak mengeluarkan tenaga, setelah lewat lima puluh jurus, Siang In mulai berkeringat dan lelah, sebaliknya lawannya yang jauh lebih tua itu masih bergerak dengan tenang seperti pada permulaannya.

Tahulah Thian Liong bahwa kalau pertandingan itu dilanjutkan, akhirnya Siang In tentu akan kalah.

Dia lapat membayangkan betapa marah dan penasaran hati gadis yang keras ini kajau sampai kalah.

Mungkin ia akan menjadi nekat dan mengadu nyawa!

Tiba-tlba Slang In yang mulai kelelahan itu mengebutkan sehelai saputangan merah yang tergantung dl gagang pedangnya dan slnar-sinar kecil hitam meluncur ke arah lawannya.

Thian Mong yang sejak tadi memperhatikan pertandingan itu, terkejut dan cepat dia menggerakkan tangannya mendorong ke arah sinar-sinar hitam itu.

Pek Mau San-jin juga terkejut dan dia sudah secara otomatis merribuang diri ke belakang.

Narnun, dia akan tetap menjadi korban jarum beracun kalau saja tidak ada sambaran angin yang kuat dari samping yang meruntuhkan semua jarum halus itu.

Thian Liong yang telah menyelamatkan tOsu itu segera melompat di tengah, antara niereka dan berseru nyaring dan penuh wibawa.

"Tahan, hentikan perkelahian!"

Dalam suara Thian Liong terkandung wibawa yang amat kuat sehinga Siang In yang biasanya keras hati dan tidak dapat menurut kemauan sembarang orang itu, entah bagaimana, menghentikan gerakannya dan bahkan mundur lima langkah ke belakang.

Demikian pula, Pek Mau San-jin yang maklum bahwa hampir saja dia menjadi korban senjata rahasia, melompat ke belakang.

Thian Liong menghampiri dan berhadapan dengan Pek Mau San-jin, lalu memberl hormat dan berkata.

"Totiang (bapak pendeta), apa gunanya semua pertikaian ini? Saya klra di antara Bu-tong-pai dan Ang-hwa Sian-li hanya terdapat kesalah-pahaman belaka."

Pek Mau San-jin mengerutkan alisnya dan memandang pemuda itu penuh selidik.

Dia tidak mcngenal pemuda itu dan tidak tahu apakah pemuda itu kawan atau lawan.

Karena pemuda itu muncul bersama Ang-hwa Sian-li, maka dia tentu saja menaruh curiga.

"Orang muda, siapakah engkau dan mengapa mencampuri urusan kami dan Ang-hwa Sian-li?"

"Saya bernama Souw Thian Liong dan saya diutus suhu untuk menghadap Ketua Bu-tong-pai untuk urusan yang amat penting."

"Siapa gurumu yang mengutusmu kesini?"

Biarpun dl situ ada Siang In, terpaksa dia memperkenalkan gurunya.

"Suhu adalah Tiong Lee Cln-jin...."

"Wah, Liong-ko! Suhumu Tiong Lee Cin-jin yang amat terkenal itu? Kenapa tldak kau katakan kepadaku?"

Seru Siang In dengan heran.

Dalarn perantauannya yang baru setahun itu, sejak dari Sin-kiang, ia sudah mendengar banyak tentang Tlong Lee Cin-jin yang disebut-sebut sebagai seorang yang sakti dan bijaksana, bahkan ada yang mengatakan bahwa dia adalah seorang manusia dewa!

Juga Pek Mau San-jin terbelalak.

"Murid Tiong Lee Cin-jin? Ah, kalau begitu kata-katamu patut didengar, Souw-sicu. Akan tetapi engkau tadi mengatakan bahwa antara kami dan Ang-hwa Slan-li hanya terjadi kesalah-pahaman. Kami tidak menganggapnya demikian karena gadis ini telah memandang rendah ilmu pedang Thai-kek Sin-kiam kami."

"Siapa bilang aku memandang rendah? Mellhatpun baru sekarang ketika engkau memalnkannya. Bagaimana aku bisa memandang rendah ilmu pedang yang belum pernah kulihat? Setelah kulihat tadi, biarpun engkau baru menguasai sepertiganya, harus kuakui bahwa Thai-kek Sin-kiam memang hebat seperti yang pernah kudengar."

Kata Siang In. Pek Mau San-jin menoleh ke arah dua orang murid keponakannya yang berdiri sambil menundukkan muka mereka. Kemudian dia memandang kepada Siang In dan berkata.

"Akan tetapi engkau telah rnenantang Bu-tong-pai untuk mengadu ilmu pedang!"

Siang In melangkah maju mendekat dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Pek Mau San-jin.

"Hei, Pek San-jin, jangan engkau sembarangan menuduh tanpa bukti. Itu namanya fitnah, tahu?"

Thian Liong berkata kepada tosu itu.

"Ang-hwa Sian-li berkata benar, totiang. la tidak menantang, melainkan dltantang. Inllah buktinya."

Setelah berkata demikian, Thlan Llong mengeluarkan pisau terbang dan surat tantangan Itu, diberikan kepada Pek Mau San-jin.

Siang In sendiri memandang heran, tldak tahu bahwa pemuda itu ternyata telah mengambil surat dan pisau yang sudah ia buang.

Pisaunya ia lempar menancap di tiang membunuh seekor cecak dan surat itu ia buang begitu saja.

Kiranya Thian Liong mengambil dan menyimpannya, dan sekarang dapat dijadikan bukti kebenaran omongannya!

Pek Mau San-jin menerima surat dan pisau itu, alisnya berkerut dan dia lalu memutar tubuh menghadapi dua orang murid keponakannya yang berdiri di belakangnya.

"Kalian berdua, ke sinilah dan berlutut!"

Perintahnya.

Suaranya masih lembut akan tetapi sekarang mengandung nada yang penuh penyesalan dan teguran.

Dua orang murid itu melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Pek Mau San-jin, wajah mereka pucat dan mereka rnenundukkan muka.

Pek Mau San-jin menghadapi Ang-hwa Sian-li dan Thian Liong, lalu berkata.

"Maafkan pinto yang mudah terbujuk dan salah sangka, nona. Sekarang harap ceritakan apa yang telah terjadi antara engkau dan dua orang murid keponakan kaml Inl."

Siang In tersenyum mengejek.

"Cerita mereka tentu lain lagi Dengarkan baik-baik, Pek Mau San-jin. Ketika aku sedang berjalan, aku mellhat seorang laki-laki lemah dipukuli oleh dua orang ini. Aku lalu maju melerainya, akan tetapi mereka marah dan mengatakan aku membela pencuri. Aku bukan membela pencuri, hanya membela orang lemah yang dipukuli orang-orang yang mengandalkan kekuatan mereka. Kami lalu bertanding dan aku mengalahkan mereka berdua. Tukang kebun yang mencuri barang-barang perak untuk membiayai anaknya yang sakit itu menyatakan penyesalannya dan berjanji hendak mengembalikan barang-barangnya yang dicurinya. Aku lalu pergi dan bermalaml di dusun sebelah selatan itu. Akan tetapi malah tadi ada yang melempar pisau dan surat itu ke atas meja makanku. Nah, itulah yang terjadi, Pek Mau San-jin."

Pek Mau San-jin kembali menghadapi dua orang murid keponakan yang masih berlutut di depannya itu.

"Hemm, murid Bu-tong-pai rnacam apa kalian ini? Kalian bertindak kejam memukuli tukang kebun yang terpaksa mencuri barang-barang perak itu! Tahukah kalian? sebelum aku datang ke sini, pangcu (ketua) memberitahukan bahwa semalam tukang kebun itu datang menghadap dan mengembalikan barang-barang yang dicurinya sambil mohon ampun! Apakah kalian dapat mengembalikan dan menebus apa yang telah kalian lakukan kepada dia? Memukuli dan menyiksanya? Itu kesalahanmu yang pertama!"

"Ampun, supek, teecu (murid) berdua terburu nafsu, terdorong kemarahan karena dia telah melakukan pencurian."

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 6

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert