Eps 2 Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.
Penghasilan inipun masih tidak mencukupi kebutuhan perut suami isteri dengan sisa lima orang anak itu sehingga Siu Lin harus membantu keluarga orang tuanya, menyisihkan sebagian hasil pekerjaannya menjual diri untuk memungkinkan adik-adiknya makan setiap hari.
Gadis penghibur yang bernama Si Hu itu tidak lebih baik nasibnya daripada Siu Lin.
Kalau Siu Lin menjadi korban kemelaratan orang tuanya, Si Hu menjadi korban kejahatan dan kekejaman laki-laki.
Iapun dari keluarga melarat dan ketika ia berusia tujuh belas tahun, pada suatu hari yang naas baginya ia diperkosa oleh seorang penjahat.
Penjahat itu kemudian melarikan diri meninggalkan Si Hu yang bukan hanya kehilangan kehormatannya melainkan juga kehilangan nama baik.
Peristiwa itu membuat ia dicemoohkan dan dipandang rendah orang karena ia sudah bukan perawan lagi.
Kaum wanita mencibirkan bibir kepadanya, dan kaum pria bersikap kurang ajar dan berusaha untuk menggoda dan mengganggunya, menganggap ia seorang wanita murahan!
Dalam keadaan seperti itu, para pemuda yang tadinya menaruh perhatian untuk mempersuntingnya sebagai isteri, satu demi satu mengundurkan diri dan mereka itu tidak lagi berhasrat untuk memperisteri Si Hu, melainkan Untuk menjinai dan mempermainkannya.
Lebih menghancurkan hatinya lagi, orang.
tuanya merasa malu dan akhirnya iapun, meninggalkan dusunnya dan ditampung oleh Lu-ma untuk menjadi gadis penghibur atau pelacur.
Kui Nio lain lagi.
la sudah bertunangan.
Akan tetapi ketika tunangannya merayunya, ia jatuh dan menyerahkan dirinya digauli tunangannya sebelum mereka menikah.
Kemudian, bagaikan seekor kumbang yang telah menghisap sari madu setangkai bunga, tunangannya itu meninggalkannya begitu saja!
Karena keadaannya yang sudah tidak perawan lagi itu tidak memungkinkan ia untuk dapat memperoleh suami lagi, ia melarikan diri dari dusunnya untuk menghindarkan aib dan malu dan akhirnya karena ia butuh sandang pangan dan tidak dapat bekerja lain, tidak bermodal uang, terpaksa ia .
menjadi pelacur bermodalkan tubuhnya yang masih muda dan segar dan wajahnya yang cukup manis.
Kui Nio inipun menjadi pelacur akibat kejahatan laki-laki.
Siok Li dan Ceng Nio keduanya adalah janda muda beranak satu yang diceraikan suami mereka.
Sebagai janda dengan anak satu mereka harus mencukupi kebutuhan anak dan diri mereka sendiri.
Merekapun tidak dapat bekerja lain kecuali memperdagangkan dirinya.
Kembali kedua orang inipun menjadi korban pria yang tidak bertanggung jawab.
Memang ada beberapa orang gadis penghibur, tidak banyak jumlahnya, yang terjun ke dunia pelacuran karena ingin hidup kecukupan, ingin mencari uang dengan mudah.
Ada pula, dan yang ini hanya sedikit sekali jumlahnya, yang menjadi pelacur selain mencari uang mudah, juga untuk mencari kesenangan dan kepuasan diri.
Akan tetapi, apapun alasannya orang tidak mau mengerti dan tetap saja pelacur selalu dipandang rendah dan hina.
Sedangkan, anehnya, para laki-laki yang datang melacur, sama sekali tidak dipandang rendah atau hina!
Padahal, dalam pandangan Hong Yi, para pria yang datang untuk melacur itu jauh lebih rendah dan hina ketimbang pelacurnya!
Sejahat-jahat dan sejelek-jeleknya pekerjaan seorang pelacur, ia masih mempunyai mengandung banyak jasa.
la menghibur hati pria yang sedang kesepian, ia menjadi tempat penampungan dan pelarian bagi pria yang sedang berduka atau patah hati, iapun menjadi tempat penyaluran nafsu yang kalau tidak tersalur dapat saja menimbulkan adanya perkosaan atau perjinaan.
Betapapun rendahnya dipandang orang, apa yang ia lakukan adalah sebuah pekerjaan, sumber nafkah, dan dalam melakukan pekerjaan itu ia tidak mengkhianati siapa-siapa, iapun tidak memaksa orang untuk membeli tubuhnya.
Semua terjadi dengan suka rela dan senang hati.
Sebaliknya, para pria yang datang melacur tetap dihormati orang.
Padahal apa yang mereka lakukan?
Pria melacur karena iseng dan semata-mata untuk mencari kesenangan dan melampiaskan nafsunya.
Dan yang lebih jahat lagi, dia mengkhianati tunangannya atau isterinya yang setia menunggunya di rumah!
Hong Yi menghela napas panjahg.
la menyadari sepenuhnya bahwa melacur adalah pekerjaan yang rendah dan hina.
Akan tetapi apa daya seorang wanita?
la sendiri seorang yatim piatu yang sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini.
la tidak tahu bagaimana harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Pada waktu itu, lapangan kerja untuk wanita amatlah sempit dan sulit.
Paling bisa seorang gadis akan diterima sebagai pembantu rumah tangga, pelayan.
Dan bukan rahasia lagi bahwa pembantu wanita yang muda, apalagi cantik, pasti akan menjadi permainan majikan prianya!
Akibatnya lebih payah lagi Seorang pelacur setidaknya masih dapat memilih pria mana yang akan dilayaninya.
Akan tetapi seorang pelayan rumah tangga?
la tiada ubahnya seorang budak belian.
Kembali Hong Yi menghela napas panjang.
Apapun alasannya, seorang pelacur tetap saja dipandang rendah oleh umum.
la sendiri seorag pelacur, walaupun keadaannya jauh lebih baik dibandingkan para gadis pelacur lainnya karena Lu-ma sayang kepadanya, namun tetap saja ia seorang pelacur.
Laki-laki hanya sayang dan suka kepadanya sebagai mainan yang menyenangkan, yang menghibur, akan tetapi tentu saja tidak akan ada laki-laki yang menghormatinya dan mau menerimanya sebagai seorang isteri!
Dan sekarang Lu-ma, bibinya itu, hendak menjodohkan ia dengan Han Si Tiong!
Mana mungkin pemuda itu sudi menerimanya sebagai seorang isteri?
Biarpun pemuda itu tampak miskin, namun ia seorang pemuda gagah perkasa, seorang pendekar!
Kalau tadi Han Si Tiong tidak memandang rendah kepadanya dan mau mengantarnya pulang walaupun la sudah/Hg mengaku bahwa ia seorang pelacur, hal itu tentu hanya terdorong oleh kependekarannya yang ingin menolong seorang wanita yang diganggu orang-orang jahat.
Akan tetapi menjadi suaminya?
Ah, rasanya tidak mungkin!
Pada saat itu, di ruangan tamu, Han Si Tiong memandang wajah Lu-ma dengan kedua mata terbelalak dan hampir tidak dapat percaya akan apa yang didengarnya.
"Bibl Lu, tak salahkah apa yang kudengar darimu tadi? Coba ulangi lagi apa yang kauusulkan tadi, bibi. Aku khawatir kalau aku salah mendengar'."
Kata pemuda itu sambil menatap wajah wanita itu penuh selidik.
"Engkau tidak salah dengar, Han-tai-hiap. Ketahuilah, Liang Hong Yi adalah keponakanku yang kusayangi seperti anak kandungku sendiri. Sudah lama aku mengiginkan agar ia dapat berjodoh denganseorang pemuda yang baik, yang akan dapat melindunginya. Setelah bertemu deganmu, kami yakin bahwa engkaulah orangnya yang kami tungu-tunggu, engkaulah jodoh yang terbaik untuk Hong Yi, taihiap."
Karena sudah mendengar untuk kedua kalinya, Si Tiong tidak terkejut lagi, akan tetapi tetap saja masih merasa heran dan ragu.
Usul ini terlalu tiba-tiba datang-nya dan sama sekali tidak tersangka-sangka.
"Akan tetapi...."
Lu-ma mengira bahwa keraguan Si Tiong itu karena mengingat akan pekerjaan Hong Yi, maka iapun cepat memotong.
"Han-taihiap, Hong Yi adalah keponakanku sendiri dan aku amat sayang kepadanya. Karena itu, biarpun ia pernah melayani pria, akan tetapi selalu kupilihkan pria yang terbaik untuknya dan itupun Jarang sekali terjadl. Ia bukan seperti para gadis penghibur lalnnya, taihiap".
"Bukan Itu maksudku bibi. Akan tetapi.... ketahuilah bahwa aku adalah seorang pemuda yang tidak memiliki apa-apa, rumah tiada, uang tiada, bahkan kerjaanpun sedang kucari. Baru saja aku ditinggal mati ibuku dan ayahku.... sejak aku berusia sepuluh tahun telah meninggalkan ibuku dan aku. Aku seorang yang hidup sebatang kara, miskin dan papa, bibi. Bagaimana aku dapat berjodoh dengan adik Hong Yi? Bagaimana aku dapat menikah dengan keadaanku seperti ini?"
Lega rasa hati Lu-ma mendengar ucapan pemuda itu.
Tadinya ia khawatir pemuda itu menolak karena Hong Yi adalah seorang pelacur, akan tetapi ternyata tidak.
Bahkan pemuda itu merasa dirinya tidak berharga karena yatim piatu dan miskin.
"Oooh, kalau soal itu, taihiap tidak usah khawatir dan tidak perlu repot repot kami mengharapkan jodoh Hong Yi seo-rang pria yang baik dan bertangung jawab. Kami tidak men'cari pria yang kaya. jangan khawatir, Han tai-hiap, kami tidak mengharapkan emas kawin sekepingpun darimu, bahkan untuk semua keperluan perayaan, termasuk pakaian untuk sepasang mempelai, kami sendiri yang akan membeayainya. Hanya satu yang ingin kami ketahui, taihiap. Sebetulnya engkau sedang menuju ke manakah dalam perantauanmu ini?"
"Aku hendak mencari pekerjaan ke kota Lin-an (Hang-chow) di selatan bibi."
Lu-ma hampir bersorak. Cocok sekali dengan ramalan Kwan-im-bio itu.
"Bagus! Aku yakin bahwa bersama Hong Yi, engkau akan dapat memperoleh kedudukan yang baik dan tepat di Lin-an. Kita rayakan pernikahan kalian di sini, kemudian kalian berdua berangkat ke Lin-an!"
Ketika Hong Yi mendengar dari Lu-ma bahwa Han Si Tiong sudah menyetujui perjodohan itu, diam-diam merasa girang sekali.
Akan tetapi ia adalah seorang gadis yang bijaksana dan ia tidak puas dengan keterangan Lu-ma begitu saja.
Setelah mendengar dari Lu-ma bahwa Si Tiong sudah setuju, ia langsung menemui pemuda itu yang masih duduk di ruangan tamu.
Biarpun merasa rikuh dan canggung karena malu, Hong Yi duduk di depan pemuda itu, terhalang meja dan sejenak mereka saling pandang.
Kemudian Hong Yi, setelah menatap pemuda itu penuh selidik seolah hendak menjenguk ke dalam dadanya, berkata lirih.
"Tiong-ko, sudah bulatkah keputusanmu bahwa engkau sudi menerimaku sebagai isterimu? Sudah kaupikirkan masak-masak dan engkau tidak akan menyesal di kemudian hari? Ingat, Tiong-ko, aku adalah seorang....
"....huussshhh...., Yi-moi, aku tidak mau dengar itu. Bagiku, engkau seorang gadis yang baik dan halus budi,"
Potong Si Tiong.
"Akan tetapi, engkau seorang pendekar gagah perkasa, sedangkan aku..."
"Engkaupun seorang gadis yang gagah perkasa, Yi-moi. Begitu bertemu denganmu, aku merasa kagum dan suka. Maka, ketika bibi Lu mengusulkan tentang perjodohan denganmu, aku merasa seolah-olah kejatuhan rembulan! Aku hanya masih meragu apakah kelak engkau tidak akan menyesal menjadi isteriku, Yi-moi. Aku seorang yang hidup sebatangkara, tidak mempunyai apa-apa, tidak ada keluarga, tidak ada rumah, bahkan belum mempunyai pekerjaan! Bagaimana engkau dapat hidup berbahagia menjadi isteri seorang pengangguran seperti aku?"
"Akan tetapi tidak selamanya engkau menganggur, Tiong-ko. Kata bibi Lu-ma, engkau akan pergi ke Lin-an untuk mencari pekerjaan."
"Benar, Yi-moi. Setelah melangsungkan pernikahan, aku akan berangkat ke Lin-an untuk mencari pekerjaan. Aku mendengar pemerintah kerajaan membutuhkan perajurit."
"Bagus aku akan ikut denganmu, Tiong-ko. Aku akan membantumu sekuat tenaga dan aku akan berusaha menjadi isterimu yang baik."
"Aku senang Yi-moi. Mudah-mudahan engkaupun tidak akan kecewa memilih aku sebagai suamimu."
Tidak ada janji muluk-muluk di antara mereka, tidak ada ucapan pernyataan cinta, namun pandang mata mereka menyinarkan hasrat untuk saling membahagiakan.
Hasrat ini sudah cukup kuat sebagai pengikat batin bagi .dua orang yang akan hidup bersama selamanya, jauh lebih kuat dari pada ikatan cinta yang hanya didasari nafsu tertarik oleh keindahan rupa atau berkilaunya kedudukan atau harta benda.
Upacara dan perayaan pernikahan itu diadakan secara sederhana namun cukup meriah.
Lu-ma mengundang para langganan yang baik dan sopan saja.
Memang aneh bahwa sebuah rumah hiburan menjadi tempat perayaan pernikahan sepasang pengantin, apa lagi yang mempunyai kerja adalah sang mucikari sendirl dan yang dlnikahkan adalah Liang Hong Yi yang bagl beberapa orang laki-laki tertentu, kebanyakan para bangsawan yang mengagumi Hong Yi, merupakan seorang gadis yang arnat menawan hati.
Seorang di antara para bangsawan yang pernah dilayani Hong Yi adalah Ciang Kongcu (Tuanmuda Ciang).
Dia merasa gembira dan terharu mendengar Hong Yi menikah.
Dia memerlukan datang menghadiri perayaan dan ketika mendengar bahwa suami Hong Yi adalah seorang pendekar yang hendak mencari pekerjaan ke kota raja Lin-an, dia lalu menulis sesampul surat dan menyerahkannya kepada Hong Yi dan Tiong yang duduk di pelaminan.
"Aku hanya dapat memberi ini sebagai sumbangan, mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kalian. Selamat menempuh hidup baru di kota raja!"
Kata pemuda bangsawan itu.
"Terima kasih, Kongcu."
Kata Hong Yi dan Si Tiong juga mengucapkan terima-kasih. Surat itu untuk Ciang Goanswe (Jenderal Ciang), dia pamanku dan mungkin dia akan dapat membantu."
Kata pula Ciang Kongcu lalu dia kembali ke tempat duduknya.' Setelah menikah, kedua mempelai itu membuat persiapan untuk melakukan perjalanan ke Lin-an.
Mereka tinggal di rumah pelesir Bunga Seruni dalam kamar Hong Yi selama sepekan.
Keduanya merasa berbahagia sekali karena setelah menikah mereka berdua merasa cocok satu sama lain, merasa betapa masing-masing dihargai dan dihormati, dilayani dan diperlakukan dengan penuh kelembutan dan kemesraan sehingga dari penghormatan dan kemesraan ini bertunaslah cinta kasih yang mendalam.
Lu-ma ikut sibuk membuat persiapan.
Wanita yang amat menyayang Hong Yi itu mempersiapkan segala macam perbekalan.
Dengan hati tulus ia menguras uangnya untuk membelikan pakaian secukupnya untuk sepasang suami isteri itu.
Bahkan untuk melakukan perJalanan yang cukup Jauh itu ia menyewa sebuah kereta yang tentu saJa cukup mahal.
Pada hari terakhir keberangkatan mereka, tiada hentinya Lu-ma menyusut air matanya.
Setelah selesai berkemas dan barang-barang yang hendak dibawa sudah dimasukkan kereta yang dikusiri seorang laki-laki setengah tua, Lu-ma merangkul dan menciumi pipi Hong Yi yang juga basah air mata.
Gadis ini pun terharu sekali menlnggalkan blblnya yang amat menyayanginya.
"Hong Yi, dan engkau juga Si Tiong, kuingatkan lagi pesanku kepada kalian. Kalau kalian sudah tiba di Lin-an, jangan lupa memberi kabar kepadaku. Ceritakan bagaimana keadaanmu dan apakah sudah memperoleh pekerjaan. Si Tiong, jaga baik-baik isterimu, dan Hong Yi, kalau kalian sudah mapan di Lin-an, jemputlah aku. Engkaulah satu-satunya orang yang kumiliki, engkau satu-satunya keponakan, juga anakku. Aku ingin melihat mimpiku menjadi kenyataan dan hidup bersamamu, mengasuh anak-anakmu."
Lu-ma menangis dan menciumi Hong Yi.
Sembilan orang gadis penghibur juga keluar untuk mengucapkan selamat jalan dan hampir semua dari mereka menangis terharu.
Mereka semua merasa nelangsa, merasa kesepian dan merasa betapa sengsara hidup mereka dan diam-diam mereka merasa iri terhadap Hong Yi yang memperoleh kebahagiaan di samping seorang suami.
Setelah puas mengucapkan selamat tinggal dan berpelukan dengan mereka semua, akhirnya Hong Yi dan Si Tiong memasuki kereta yang segera bergerak meninggalkan Rumah Hiburan Bunga Seruni, diiringi tangis Lu-ma dan lambaian tangan para gadis penghibur.
Kereta terus meluncur keluar dari kota Cin-koan menuju ke kota raja Lin-an.
* * * Seperti telah disinggung sedikit di bagian depan kisah ini, Kerajaan Sung yang didirikan oleh Panglima Chao Kuang Yin yang kemudian menjadi kaisar pertama dari Kerajaan Sung berjuluk Kaisar Sung Thai Cu, yang dengan susah payah telah mempersatukan kembali daratan Cina pada tahun 960, seratus enam puluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1126, terpaksa harus berantakan dan kehilangan hampir separuh wilayahnya sebelah utara.
Mula-mula, bangsa yang dianggap bangsa liar, yaitu bangsa Nunchen atau juga dikenal sebagai bangsa Kin atau Kim (Emas) yang tinggal di lembah Sungai Sungari di Mancuria, menghimpun kekuatan besar yang dahsyat dan mereka menyerang Kerajaan Liao, yaitu bangsa Khitan.
Setelah melalui perang sengit, akhirnya Bangsa Kin berhasil menalukkan kerajaan bangsa Khitan yaitu Kerajaan Liao.
Peristiwa ini terjadi dalam tahun 1124 dan sisa bangsa Khitan yang tidak tewas melarikan diri ke barat dan mengungsi ke Turkestan Barat.
Di sana bangsa Khitan tinggal di Lembah Ili dan kemudian mereka dikenal sebagai orang Kerait, Karakitan, Kitai atau Catai.
Mereka mendirikan kerajaan kecil yang bertahan sampai akhirnya musna karena kebangkitan bangsa Mongol kelak.
Pada waktu itu yang menjadi kaisar dalam Kerajaan Sung adalah Kaisar Hui Chung.
Kaisar ini berwatak lemah dan banyak menggantungkan keputusannya kepada perdana menterinya, yaitu Cai Ching.
Kaisar Hui Chung dan para penasehatnya bersikap tidak acuh terhadap peristiwa penalukan Kerajaan Liao oleh bangsa Kin itu.
Ketika Kerajaan Liao sudah hampir dikuasai seluruhnya oleh bangsa Kin, Gubernur Ping Chou sebagai pertahanan Kerajaan Liao terakhir, tidak mau tunduk kepada bangsa Kin, melainkan menyerahkan daerah itu kepada Kaisar Hui Cung.
Tanpa berpikir panjang Kalsar Hui Cung mengikuti nasihat Perdana Menteri Cai Ching, menerima pengoperan kekuasaan atas daerah Ping Chou dan mengirim pasukan untuk menjaga daerah yang dimasukkan ke wilayah Kerajaan Sung itu.
Hal ini membuat bangsa Kin marah sekali dan mereka lalu menyerbu ke selatan.
Gelombang pasukan yang besar dan amat kuat, penuh dengan semangat berkobar menyerbu kerajaan Sung sampai ke kota raja!
Kembali Kaisar Hui Cung yang lemah itu mengikuti nasihat Perdana Menteri Cai Ching dan memberi upeti dalam jumlah besar kepada pimpinan pasukan Kin.
Tanda taluk ini memuaskan bangsa Kin yang menarik kembali pasukannya, kembali ke utara.
Para menteri protes kepada Kaisar Hui Cung tentang tindakan atau nasihat Perdana Menterl Cai Ching yang mendatangkan kerugian besar kepada kerajaan.
Atas desakan para menterl, Perdana Menteri Cal Ching lalu dlhukum buang karena dla dianggap yang bertanggung Jawab atas malapetaka yang menimpa kerajaan Sung.
Akan tetapl Kalsar Hul Cung yang tidak memlllkl pendirian tegas Itu kembal!
melakukan kesalahan yang besar sekali.
Dia kembali mengikuti nasihat para pejabat tinggi yang menggantikan kedudukan Perdana Menterl Cai Ching.
Para menterl Itu menasihatkan bahwa Kaisar Hul Cung tidak seharusnya mengalah kepada bangsa Kln yang liar.
Membayar upeti kepada mereka berarti menerima penghinaan maka sudah sepatutnya kalau mengirim pasukan mengejar dan menyerang mereka untuk membalas penghinaan dan mempertahankan kehormatan kerajaan Sung.
Kaisar Hui Cung tanpa berpikir panjang menerima nasihat ini dan mengirim pasukan melakukan pengejaran terhadap pasukan Kin yang ditarik mundur lalu menyerangnya.
Tentu saja bangsai Kin menjadi marah sekali.
Mereka menghimpun kekuatan besar dan kembali lagi ke selatan.
Terjadi perang besar-besaran dan akibatnya kota raja Kai Feng jatuh ke tangan bangsa Kin dan Kaisar Hui Cung bersama kurang lebih tiga ribu orang pembesar kerajaan Sung dibawa sebagai tawanan perang!
Sisa keluarga istana bersama pasukan Sung yang kalah perang melarikan diri ke selatan, terus dikejar oleh pasukan Kin sampai menyeberangi Sungai Yang-ce dan tiba di kota Hang-chou dan Ning-po.
Mulai saat itulah Kerajaan Sung kehilangan wllayah yang luas sekali di bagian utara.
Peristiwa ini terjadi mulal tahun 1126 sampai 1129.
Mulai waktu itulah Kerajaan Sung mendapat sebutan Sung Selatan dan kota rajanya bernama Lin-an (Hang-chouw).
Kaisar Kao Tsung (1127-1162) berusaha keras untuk melawan kekuasaan bangsa Kin.
Dia mengumumkan panggilan terhadap para patriot yang gagah perkasa untuk berbakti kepada negara dan bangsa, untuk memperkuat barisan kerajaan.
Pada suatu hari, sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda memasuki pintu gerbang utara kota raja Lin-an.
Melihat dua ekor kuda yang tampak kelelahan dan kereta yang kotor berdebu, mudah diduga , bahwa kereta itu tentu telah melakukan perjalanan yang jauh.
Setelah tiba di tengah kota, kereta itu berhenti dan kusirnya turun lalu memegangi kendali kuda.
"Sicu, kita sudah masuk kota raja dan berada di tengah kota. Hanya sampai di sini saya mengantar sicu berdua."
Kata kusir itu kepada penumpangnya.
Penumpang kereta itu bukan lain adalah Han Si Tiong dan isterinya, Liang Hong Yi.
Si Tiong membuka tirai kereta dan memandang keluar.
Kereta itu berhenti di depan sederetan pertokoan.
"Paman, bawalah kami ke sebuah rumah penginapan agar tidak susah lagi kami mengangkut barang-barang bawaan kami."
Kata Si Tiong kepada kusir.
Kusir itu naik kembali dan mehjalankan kereta.
Sudah beberapa kali dia berkunjung ke kota raja Lian-an sehingga dia tahu di mana adanya rurnah penginapan.
Setelah tiba di pekarangan sebuah rumah penginapan, si Tiong dan Hong Yi menurunkan barang-barang bawaan mereka dari kereta.
Setelah menerima uang pembayaran sewa kereta, kusir lalu menjalankan keretanya keluar dari pekarangan rumah penginapan itu.
Si Tiong dan Hong Yi mengangkuti barang-barang mereka, dibantu seorang pelayan rumah penginapan.
Setelah mendapatkan sebuah kamar, mereka membawa barang-barang itu masuk kamar mereka.
Setetah mandi, bertukar pakaiari bersih dan sarapan di dalam rumah makan yang menjadi bagian dari rumah penginapan itu juga, suami isteri itu keluar dari rumah penginapan itu.
Di jalan raya depan rumah penginapan itu amat ramai orang berlalu lalang dan banyak di antara mereka adalah pemuda-pemuda yang bersikap gagah.
Mereka adalah orang-orang yang datang ke kota raja karena tertarik oleh pengunguman pemerintah yang membutuhkan orang-orang gagah untuk menjadi perajurit pasukan kerajaan.
"Yi-moi, keluarkan surat itu. Sebaiknya kita mencari alamat Ciang-goanswe itu."
Kata Si Tiong kepada isterinya yang menyimpan surat pemberian Ciang Kong-cu yang menjadi tamu dalam perayaan pernikahan mereka tempo hari.
"Apakah tidak lebih baik kita berjalan jalan dan melihat-lihat lebih dulu. Tiong-ko?"
"Tidak, Yi-moi. Kita harus dapat menemukan alamat itu dan menghadap Jenderal Ciang lebih dulu."
Kata Si Tiong dengan suara tegas sambil menatap tajam wajah isterinya. Tatapan mata yang mengandung penuh kasih sayang, namun juga mengandung keteguhan kemauan keras. Hong Yi tersenyum.
"Kenapa begini tergesa-gesa, Tiong-ko?"
"Tidak tergesa-gesa, Yi-moi. Akan tetapi kita harus lebih mementingkan pekerJaan daripada kesenangan. Kalau urusan kita telah selesai dan kita berhasil memperoleh pekerjaan, masih banyak sekali waktu bagi kita untuk bersenang-senang dan berpelesir di kota raja ini. Bukankah engkau pikir juga begitu?"
Mendengar ucapan yang beralasan kuat dan tidak dapat dibantah namun diucapkan dengan lembut dan dengan senyum membayang di mulut dan mata suaminya, Hong Yi hanya dapat mengangguk angguk dan tersenyum.
la merasa senang sekali menemukan suatu sisi lain yang mengagumkan hatinya dari laki-laki yang menjadi suaminya ini, yaitu sikap tegas dan kemauan yang teguh.
"Baiklah, suamiku. Isterimu ini selalu siap untuk melaksanakan semua kehendakmu"
Katanya gembira.
"Nanti dulu, isteriku yang bijak! Aku tidak ingin melihat isteriku tercinta seperti seekor domba yang menurut ke mana saja engkau digiring. Engkau harus mempunyai pandangan dan pendirian sendiri dan dapat membantu dan mengingatkan aku kalau aku mengambil keputusan yang keliru. Kalau engkau hanya mengekor, bagaimana kalau keputusanku keliru? Tentu kita berdua akan keliru pula."
Hong Yi memperlebar senyumnya. la merasa semakin bangga dan kagum.
"Jangan khawatir, suamiku. Aku akan membantumu sekuat kemampuanku. Kita bekerja sama, bahu membahu, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, senang sama dinikmati, susah sama ditanggung."
"Bagus! Aku merasa bahagia sekali, Yi-moi, karena aku semakin yakin bahwa aku tidak salah memilih isteri, Nah sekarang kita lihat, alamat Jenderal Ciang itu". Hong Yi mengeluarkan sesampul surat pemberian, Ciang Kongcu. Jenderal Ciang Sun Bo, seperti yang tertulis pada sampul surat itu, tlnggal di baglan barat kota raja. Mereka lalu segera menuju ke sana setelah bertanya kepada penduduk di mana rumah jenderal Itu. Ketika mereka berdua berjalan ke arah barat, mereka melihat banyak laki-laki muda juga berjalan menuju ke arah itu. Setelah tiba dekat gedung besar dikelilingi pagar tembok tinggi itu mereka berdua mendapat kenyataan bahwa para orang muda itupun mempunyai tujuan yang sama dengan mereka, yaitu mendaftarkan diri masuk menjadi perajurit. Mereka semua memasuki pintu gerbang yang dijaga oleh seregu perajurit. Berbondong-bondong para pemuda itu masuk dan berantri dalam ruangan depan di mana terdapat seorang petugas yang mendaftar nama mereka satu demi satu. Yang sudah didaftar namanya lalu dipersilakan masuk ke dalam ruangan lain untuk menjalani pemeriksaan badan, riwayat dan lain-lain. Ketika Si Tiong dan Hong Yi ikut antri di ruangan depan, tentu saja Hong Yi menjadi perhatian semua orang. Bukan hanya karena ia seorang wanita yang cantik, melainkan terutama sekali karena semua pendaftar adalah kaum pria, tldak pernah ada seorang wanita yang ikut mendaftarkan diri menjadi seorang calon perajurit. Hong Yi merupakan wanita satu-satunya, maka tentu saja ia menimbulkan keheranah akan tetapi juga kegembiraan bagi para pria muda yang berada di situ. Kaisar Kao Tsung memang bersemangat sekali untuk menyerang Kerajaan Kin di utara. Hal ini adalah karena dia merasa sakit hati, bukan hanya mendendam karena bangsa Kin sudah merebut wilayah utara yang luas sekali sehingga dia terpaksa harus melarikan diri sampai ke Hang-couw, akan tetapi terutama sekali karena ayahnya, Kaisar Hui Cung, ditawan oleh mereka sehingga meninggal dunia dalam tawanan. Kaisar Kao Cung (Kao Tsung) ingin merebut kembali wilayah utara atau setidaknya ingin menyerang dan membalas dendam atas kekalahan Kerajaan Sung. Karena itu dia sendiri membuat pengumuman mengundang para muda untuk menjadi perajurit, bahkan memerintahkan panglimanya yang paling setia, yaitu Jenderal Gak Hui, untuk menyusun pasukan istimewa yang dipimpin oleh para pendekar yang berkepandalan tinggi. Beberapa orang panglima mendapat tugas menerima dan menampung para pemuda yang datang mendaftarkan diri, dan mereka yang ditugaskan itu, diantaranya adalah Jenderal Ciang Sun Bo. Ketika Si Tiong dan Hong Yi tiba gilirannya mendaftar, petugas memandang mereka dengan alis berkerut.
"Kalian maju berdua, siapa yang hendak mendaftarkan diri?"
Tanyanya sambil menatap wajah Hong Yi yang cantik dengan kagum.
"Yang mendaftarkan diri adalah kami berdua."
Jawab Si Tiong dengan tenang. Petugas itu menatap wajah Si Tiong, lalu kembali dia memandang Hong Yi.
"Siapakah ia ini? Adikmu?' "la adalah isteriku."
Petugas itu mengerutkan alisnya "Kami belum pernah menerima seorang wanita menjadi peraJurit.
Juga kami tidak dapat menerima seorang perajurit yang membawa serta isterinya!
Engkau ini hendak berperang ataukah hendak ber bulan madu?"
Ucapan itu memancing tawa riuh rendah dari para calon perajurit yang berada di ruangan itu.
Mendapat sambutan tawa, petugas itu merasa dirinya lucu dan menjadi pusat perhatian, maka dia menjadi semakin berani dan berkata lagi.
"Kalau untuk mendaftarkan diri saja engkau takut dan minta ditemani dan diantar isteri, apalagi kalau berperang. Lebih baik engkau pulang saja dan sembunyi dalam kamar bersama isterimu, lebih enak dan asyik!"
Kembali ucapannya disambut tawa.
Wajah Si Tiong sudah berubah kemerahan, akan tetapi Hong Yi menyentuh lengannya memberi isyarat agar suaminya bersabar.
la mengeluarkan sampul surat dari Ciang Kongcu dan menyodorkannya kepada petugas itu.
"Leluconmu itu akan kusampaikan nanti kepada Jenderal Ciang. Hendak kulihat apa yang akan dia lakukan setelah mendengar kelakarmu yang tidak lucu kepada kami itu!"
Kata Hong Yi dengan suara dibuat bernada mengancam.
Petugas menerima sampul surat itu dan setelah dia membaca tulisan di sampul, dia terbelalak dan wajahnya menjadi pucat.
Surat itu ditujukan kepada atasannya, Jenderal Ciang, datang dari keponakan jenderal itu yang tinggal di kota Cin-koan.
Dia cepat bangkit berdiri dari tempat duduknya dan merangkapkan kedua tangan dl depan dada, memberi hormat terbongkok-bongkok kepada Hong Yi dan Si Tiong dan suaranya agak gemetar ketika dla bicara.
"Maafkan,.... eh, ampunkan saya.... karena tidak tahu bahwa jiwi (anda ber-dua) adalah kerabat dari Ciang-goanswe, maka saya telah berani kurang ajar dan berkelakar, Ampunkan saya..... mulut ini patut ditampar...."
Petugas itu lalu menampari kedua pipinya dengan kedua tangan sehingga terdengar suara plak-plik-plok.
Semua orang tertawa melihat ulah petugas yang ketakutan itu.
Hong Yi ju-ga tersenyum geli dan merasa kasihan kepada petugas itu.
"Sudahlah, kami memaafkanmu."
Petugas itu berhenti menampari muka sendiri, kedua pipinya menjadi merah karena tamparan itu dan dengan suara memohon dia berkata.
"Akan tetapi saya mohon agar ji-wi tidak melaporkan perbuatan saya tadi kepada Ciang-goan-swe...."
"Kami berjanji tidak akan melaporkan, akan tetapi cepat sekarang bawa kami menghadap beliau."
Kata pula Hong Yi yang mendahului suaminya karena ia takut kalau-kalau suaminya tidak sesabar ia dan akan marah kepada petugas itu.
"Baik, silakan tunggu sebentar, silakan duduk di sini, saya akan melaporkan dulu kepada Ciang-ciangkun (Panglima Ciang)."
Kata petugas itu sambil membungkuk-bungkuk.
Hong Yi duduk di atas kursi petugas tadi dan Si Tiong hanya berdiri saja karena memang tidak ada tempat duduk lain.
Semua pemuda yang berada di situ kini memandang ke arah mereka, terutama kepada Hong Yi.
Wanita ini duduk dengan tenang sambil tersenymn-senyum.
Para pemuda itu memandang kagum, akan tetapi mereka tidak berani mengeluarkan kata-kata setelah tadi mendengar bahwa suami isteri itu masih kerabat sang jenderal'!
Tak lama kemudian petugas tadi sudah muncul kembali dan wajahnya tersenyum cerah ketika dia menghampiri Si Tiong dan Hong Yi.
"Jiwi dipersilakan menghadap Ciang-goanswe. Mari, silakan mengikuti saya."
Petugas itu sendiri lalu mengantar suami isteri itu masuk ke sebelah dalam gedung besar itu. Dalam perjalanan ke dalam ini dia sempat berbisik.
"Harap ji-wi tidak melupakan janji jiwi dan tidak melaporkan perbuatan saya tadi kepada Jenderal Ciang."
Si Tiong berkata dengan tegas sambil mengerutkan alisnya.
"Jangan ulangi lagi urusan itu. Kami sudah berjanji dan seorang gagah akan selalu memegang janjinya!"
Setelah tiba di dalam sebuah ruangan yang luas dan tampak sunyi, petugas itu masuk seorang diri meninggalkan SUarrii isteri itu di niar pintu.
Si Tiong dan Hong Yi mendengar percakapan pendek mereka yang berada di dalam ruangan.
"Lapor, tai-ciangkun. Suami isteri yang membawa suyat sudah tiba di sini."
Kata petugas itu.
"Suruh mereka masuk!"
Terdengar suara yang keras dan memerintah.
Petugas itu keluar dan mempersilakan suami isteri itu masuk, lalu dia pergi keluar lagi.
Si Tiong dan Hong Yi masuk ke dalam ruangan itu dan melihat bahwa yang berada di dalam ruangan itu hanya seorang laki-laki saja.
Dia seorang laki-laki tinggi besar, berkulit agak kehitaman dan gagah, berusia sekitar lima puluh tahun.
Dengan pakaian panglima yang mentereng, pria itu tampak gagah sekali dan berwibawa.
Matanya yang lebar itu segera menyambut Hong Yi dengan pandang mata yang membuat Hong Yi merasa tidak enak hati.
Biarpun belum lama ia menjadi gadis penghibur dan tidak sangat banyak melayani pria, namun ia sudah hafal akan pandang mata pria seperti mata panglima itu.
Pandang mata yang mengandung nafsu berahi besar.
Seorang pria mata keranjang!
Melihat betapa mata yang lebar itu memandang kepadanya penuh kagum tanpa disembunyikan, Hong Yi menundukkan pandang matanya Si Tiong juga melihat pandang mata panglima itu, akan tetapi kini dia sudah mulai terbiasa.
Di sepanjang perjalanannya dari kota Cin-koan ke kota raja, hampir semua pria memandang isterinya seperti itu.
Dia tahu benar bahwa isterinya memang cantik menarik, maka dia tidak dapat terlalu menyalahkan pandang mafa para pria itu, bahkan kini ada perasaan bangga timbul dalam hatinya kalau ada pria memandang isterinya dengan kagum.
Tadinya di ruangan pendaftaran dia diam-diam menikmati rasa bangganya melihat semua pemuda memandang Hong Yi dengah kagum.
Hatinya berbisik bangga "Wanita inl isteriku!
Milikku sendiri!"
Si Tiong dan Hong Yi kini sudah berdiri di depan Jenderal Ciang dan mereka mengangkat tangan depan dada memberi hormat.
Panglima itu membalas dengan lambaian tangan sambil lalu seperti biasa sikap kebanyakan pembesar terhadap orang-orang yang dianggapnya jauh berada di bawahnya.
"Duduklah kalian!"
Katanya sambil menunjuk ke arah kursi-kursi yang berjajar di depannya.
Si Tiong dan Hong Yi , mengucapkan terima kasih lalu duduk berjajar di depan panglima itu.
Kembali panglima itu memandang kepada Hong Yi penuh perhatian, kemudian meman-dang kepada Si Tiong dengan sinar mata penuh selidik.
"Siapakah namamu?"
Tanyanya, sambil memandang kepada Si Tiong.
"Nama saya Han Si Tiong, ciangkun."
Jawab Si Tiong dengan sikap tenang.
"Dan engkau siapa, nona?"
Panglima itu bertanya, kini memandang kepada Hong yi, mata dan mulutnya tersenyum ramah, dan suaranya leblh lembut. Mendengar ia disebut nona, Hong Yi lalu menjawab.
"Nama saya Liang Hong Yi, isterinya, ciangkun."
"Hemm, menurut petugas tadl, kalian datang membawa surat dari Ciang Kongcu di Cin-koan, benarkah itu? Mana suratnya?"
Hong Yi yang membawa surat itu lalu mengeluarkannya dan ia bangkit ber-dlri dari kursinya, menghampiri panglima itu dan menyerahkan suratnya.
Ketika menerima surat itu, jari-jari tangan panglima itu menyentuh jari tangan Hong Yi dan ia tahu bahwa sentuhan itu sama sekali bukan kebetulan melainkan dilakukan dengan sengaja.
Panglima itu agaknya mempergunakan kesempatan ttu untuk menyentuhnya dan hal inl saja sudah membuktikan bahwa laki-laki itu adalah seorang mata keranjang.
Panglima Ciang membuka sampul.
Itu dan membaca suratnya.
Surat itu mengatakan bahwa Ciang Kongcu mengenal baik Liang Hong Yi dan dia mengharapkan agar pamannya, Panglima Ciang Sun Bo suka membantu Hong Yi dan suaminya yang hendak bekerja menjadi perajurit di kota raja.
Juga dalam surat itu Ciang Kongcu memberitahu pamannya bahwa suami Hong Yi adalah seorang pendekar.
Setelah membaca surat itu, Panglima Ciang mengangguk-angguk.
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya membuat Hong Yi terkejut.
"Nona Liang Hong Yi, bagaimana Ciang Kongcu dapat mengenalmu dengan baik?"
Hong Yi sempat tertegun.
Tentu saja ia tidak mungkin dapat menjawab bahwa ia pernah melayani kongcu itu sebagai seorang wanita penghibur!
Akan tetapi hanya sejenak ia tertegun, lalu dengan tenang ia menjawab.
"Ciang Kongcu terkenal di kota Cin-koan kami sebagai seorang kongcu yang budiman dan hampir semua orang mengenalnya, ciangkun. Ketika kami merayakan hari pernikahan kami, Ciang Kongcu hadir pula sebagai tamu undangan dan ketika dia mendengar bahwa kami berdua akan pergi mencari pekerjaan, Ciang Kongcu lalu memberi surat ini kepada kami."
Ciang Goanswe mengangguk-angguk lagi dan mengerutkan alisnya. Pertanyaannya yang kedua juga membuat kedua orang suami isteri itu tertegun.
"Han Si Tiong, benarkah engkau seorang pendekar yang pandai ilmu silat"
Si Tiong agak tersipu.
"Ciangkun, saya hanyalah seorang biasa saja akan tetapi saya akan selalu berada di pihak yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan."
"Ilmu silat aliran manakah yang kau pelajari?"
"Ilmu silat Siauw-lim-pai aliran utara, ciangkun."
"Dan engkau ingin menjadi seorang perajurit? Kalau benar, apa alasanmu ingin menjadi perajurit?"
"Saya ingin menjadi perajurit untuk membantu kerajaan menghadapi bangsa Kin yang biadab, untuk membela bangsa dan tanah air."
Kata Si Tiong dengan gagah dan penuh semangat.
"Bagus, engkau dapat diterima sebagai perajurit. Hal itu dapat kami atur. Dan engkau, nona, mengapa engkau ikut pula mencari pekerjaan? Apakah engkau Juga ingin menjadi perajurit?"
Panglima itu tersenyum sinis.
"Sayang sekali, kami belum membentuk sebuah pasukan wanita"
Hemm, sudah tahu ia isteri orang, masih saja memanggil nona, pikir Hong Yi. Akan tetapi ia tidak perduli dan menjawab.
"Saya juga ingin berjuang membela negara dan bangsa membantu suami saya, ciangkun."
"Ehh? Apakah engkau juga pandai ilmu silat?" .
"Saya pernah belajar dari subo (ibu guru) Bian Hui Nikouw selama beberapa tahun."
"Bagus kalau begitu! Nah, Han Si Tiong, engkau sekarang pergilah ke ruangan depan tadi untuk melengkapi pendaftaran kalian dengan data-data lengkap., Kalian dapat kami terima. Akan tetapi Liang Hong Yi biar di sini dulu, aku masih ingin memeriksanya. Nah, pergilah!"
Panglima tinggi besar itu menuding ke arah pintu.
Si Tiong terpaksa bangkit dan keluar dari ruangan itu.
Biarpun dia me-rasa heran mengapa isterinya ditahan, dia tidak merasa khawatir karena dia percaya bahwa isterinya cukup mampu untuk membela diri.
Setelah ditinggal suaminya, Hong Yi duduk sambil menundukkan mukanya.
Sikapnya tenang saja walaupun sesungguhnya hatinya mulai merasa curiga dan khawatir.
"Nona Liang Hong Yi, kenapa engkau menundukkan muka saja? Apakah engkau merasa malu kepadaku? Seorang calon perajurit tidak boleh malu-malu!"
Kata Ciang-goanswe. Hong Yi mengangkat muka memandang wajah pangljma itu. la melihat jelas sekali dari sinar mata laki-laki itu bahwa panglima itu memang mempunyai niat tidak sopan terhadap dirinya.
"Saya tidak malu, ciangkun. Akan tetapi mengapa ciangkun menahan saya disini? Apa lagi yang hendak ciangkun tanyakan?"
"Aku harus mengujimu lebih dulu sebelum menerimamu sebagai perajurit, nona. Aku harus yakin dulu bahwa engkau benar-benar memiliki kepandaian silat yang memadai untuk ikut bertempur. Kalau engkau ternyata seorang wanita lemah, tentu saja aku tidak boleh menerimamu karena hal itu berarti mengantarmu untuk dibantai musuh. Nah, aku hendak menguji ilmu silatmu. Bersediakah engkau?"
Hong Yi bangkit berdiri.
"Tentu saja saya siap, ciangkun!"
Katanya dengan lega karena kalau hanya diuji ilmu silatnya, tentu saja ia siap dan ia penuh kepercayaan kepada diri sendlri bahwa kepandaiannya akan cukup memadai karena selania bertahun-tahun Bian Hui Nikouw menggemblengnya dengan sungguh-sungguh dan ia juga berlatih dengan tekun.
Ciang-ciangkun bangkit berdiri sambil tersenyum, lalu melangkah ke tengah ruangan.
"Ke sinilah, nona. Kalau engkau dapat menahan sepuluh Jurus seranganku berarti engkau lulus dan sudah pantas untuk menjadi komandan regu."
Hong Yi menghampiri panglima itu, berdiri di depannya dan memasang kuda-kuda dengan kedua kaki ditekuk sehingga tubuhnya merendah, kedua lengannya disilangkan di depan dengan jari-jari tangan terbuka.
Itulah pembukaan jurus Garuda Mengatupkan Sepasang Sayapnya.
"Saya sudah siap, ciangkun."
Katanya.
Ciang Sun Bo adalah seorang laki-laki yang sejak muda sudah berkecim-pung dalam dunia kemiliteran.
Sejak di utara dia sudah menjadi seorang koman-dan, ikut pula berperang ketika Kerajaan Sung dlserang oleh bangsa Kin.
Dia ikut pula mengundurkan dan melarikan diri ke selatan dan karena kesetiaannya dia diangkat menjadi seorang jenderal.
Akan tetapi diapun terkenal sebagai seorang lakl-laki mata keranjang.
Maka, begitu melihat Hong Yi yang cantik manis, hatinya tertarik untuk mempermainkannya.
Ciang Sun Bo adalah seorang ahli silat yang bertenaga besar.
Dengan tenaga raksasanya, dalam pertempuran dia amat menggiriskan musuh-musuhnya.
Golok besarnya yang berat itu berkelebatan tak tertahankan lawan saking kuatnya senjata itu digerakkan.
Setelah berdiri berhadapan dengan Hong Yi, Ciang-ciangkun lalu berseru, 'Lihat seranganku!"
Tangan kanannya yang besar dan berlengan panjang itu meluncur ke arah pundak Hong Yi.
Gerakannya mencengkeram pundak itu mendatangkan angin yang menyambar kuat Hong Yi cepat mengelak ke kanan sehingga pundak kirinya terhindar dari cengkeraman.
Akan tetapi tangan kiri, panglima itu sudah meluncur ke arah perutnya!
kembali Hong Yi menghindarkan diri dengan elakan ke belakang.
"Bagus! Sambutlah serangan jurus kedua!"
Kata panglima itu dengan gembira dan kini kedua lengannya berkembang dan dia melakukan gerakan menubruk seperti seekor biruang menerkam mangsanya.
Hong Yi kembali mengelak dengan loncatan ke belakang.
Panglima atau Jenderal Ciang menjadi kagum dan dia melanjutkan serangannya yang menjadi semakin dahsyat.
Hong Yi mempergunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan selalu mengelak dengan amat cepatnya, bagaikan gerakan seekor burung walet sehingga sertua serangan itu tak pernah menyentuh tubuhnya.
Setelah menyerang sebanyak tujuh jurus, Panglima Ciang berhenti dan berkata.
"Nona, kalau seorang peraJurit dalam pertempuran selalu mengelak, akhirnya dia akan mati terkena serangan musuh. Sebagai seorang perajurit yang bertempur, engkau harus membalas, jangan hanya mengelak saja!"
Mendengar ini, Hong Yi lalu bergerak menyerang.
Akan tetapi karena yang diserangnya itu adalah seorang panglima yang mengujinya dan pertandingan itu hanya merupakan ujian terhadap kemampuannya, maka tentu saja gerakan serangannya itu tidak didukung tenaga sepenuhnya dan dilakukan lambat saja.
Tangan kanannya, dengan jari terbuka, menampar ke arah dada panglima Ciang.
Akan tetapi, tiba-tiba panglima itu bergerak cepat menyambut serangan tangan Hong Yi dengan sambaran tangan kanan yang menangkap pergelangan tangan kanan Hong Yi dan dengan sentakan tenaga raksasa yang amat kuat dia sudah memuntir lengan kanan wanita itu dan terus menelikung lengan Hong Yi ke belakang tubuh.
Tubuh Hong Yi berputar dan kini panglima itu mendekap tubuhnya dari belakang dan jari-jari tangan kiri panglima itu dari belakang menggerayangi dan meremas buah dadanya!
Hong Yi terkejut dan marah sekali.
la tadi memang mengalah karena tentu saja tidak mau menyerang benar-benar agar jangan sampai serangannya mengenai tubuh Ciang-ciangkun, apa lagi sampai mengalahkannya.
Akan tetapi ternyata sikapnya yang mengalah itu bahkan disalah gunakan panglima itu yang berbuat kurang ajar kepadanya.
Karena terkejut merasa betapa buah dadanya diremas, Hong Yi mengerahkan tenaganya, mernutar tubuh ke kiri dengan tiba-tiba dan dengan hentakan keras la menggerakkan siku lengan kirinya ke belakang menghantam dada panglima itu.
"Dukkk....!!"
Keras sekali siku kiri Hong Yi itu, menghantam dada Panglima Ciang sehingga tubuh panglima itu terjengkang, mulutnya mengeluarkan keluhan mengaduh.
Hortg Yi sudah tidak mau memperdulikannya lagi dan wanita ini lalu berlari keluar ruangan itu menuju ke ruangan depan ke mana suaminya pergi.
"He, tunggu, keparat!"
Panglima Ciang memaki marah dan mengejar.
Ketika Hong Yi memasuki ruangan depan, ia mellhat suaminya sedang berdiri di depan petugas yang agaknya menanyakan segala macam data tentang diri mereka.
Hong Yi berlari masuk, mengejutkan sernua orang.
"Yi-moi, ada apakah?' Si Tiong bertanya heran. Akan tetapl Hong Yi sudah , menyambar tangannya dan menarlknya.
"Mari, Tiong-ko, klta pergi saja dari tempat ini!"
Hong Yl menarik tangan suaminya yang terpaksa mengikutlnya.
Mereka berlari keluar dari ruangan itu dan tiba di pekarangan gedung.
Akan tetapi pada saat itu, Panglima Ciang keiuar pula dari ruangan itu dan berteriak kepada para perajurit penjaga di luar yang berjumlah lima belas orang.
"Tahan mereka! Tangkap mereka!"
Lima belas orang perajurit itu mendengar aba-aba panglima atasan mereka, serentak bergerak dan mereka sudah mengepung Si Tiong dan Hong Yi.
Suami isteri itu terkepung dan mereka siap membela diri dan berdlri saling membelakangi.
"Ciangkun, apa kesalahan kami? Mengapa kami hendak ditangkap?"
Si Tiong berteriak kepada panglima itu dengan penasaran.
"Tiong-ko, kita tidak bersalah apapun. Aku tidak melakukan kesalahan, percayalah kepadaku!"
Kata Hong Yi lirih kepada suaminya.
"Tangkap mereka, jebloskan mereka dalam penjara!"
Teriak Panglima Ciang dengan marah.
Lima belas orang peraju-rit itu serentak menyerbu dan tangan-tangan mereka berserabutan hendak me-nangkap Si Tiong dan Hong Yi.
Suami isteri itu tentu saja tidak membiarkan dirinya ditangkap.
Mereka mengelak, menangkis bahkan menarnpar dan menendangi mereka sehingga para perajurit itu berpelantingan.
Melihat ini, Panglima Ciang menjadi semakin marah.
"Pergunakan senjata, kalau perlu bunuh mereka!"
Dia sendiri sudah mencabut golok besar yang berai dan berkilauan.
Para perajurit yang mendengar perlntah ini segera mencabut senjata tajam masing-masing.
Pada saat itu terdengar suara bentak-an menggeledek.
"Tahan! Jangan bergerak semua!"
Semua orang menengok dan terkejutlah Panglima Ciang ketika melihat siapa yang mengeluarkan bentakan itu.
Si Tiong dan Hong Yi juga cepat menengok dan mereka melihat seorang pria bertubuh tinggi tegap berusia sekitar lima puluh tahun, wajahnya gagah dan berwibawa, pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang panglima berkedudukan tinggi.
Di belakang panglima ini berdiri tujuh orang perwira tinggi lainnya.
Panglima Ciang Sun Bo tergopoh-gopoh menyambut panglima itu dan memberi hormat sambil menyebut.
"Gak Tai-clangkun (Panglima Besar Gak)!"
Mendengar sebutan ini, Si Tiong dan Hong Yi memandang kagum.
Biarpun belum pernah bertemu, namun kedua suami isteri itu pernah mendengar nama Pangllma Gak Hui yang terkenal di seluruh negeri sebagai seorang panglima yang gagah perkasa, bijaksana dan arnat setia kepada negara, setia kepada Kerajaan Sung.
"Panglima Ciang, apa yang terjadi di sini? Mengapa engkau dan para perajurit mengeroyok dua orang muda ini?"
Dia memandang ke arah Si Tiong dan Hong Yi. Panglima Ciang tampak gugup.
".... anu, Tai-ciangkun, ia.... wanita ini melawan dan suaminya itu menibantu.."
Pangllma Gak Hui memandang kepada Si Tiong, lalu kepada Hong Yi dan diam-diam merasa heran mengapa ada wanita cantik dalam kantor penerimaan calon perajurit itu.
"Siapa nama kalian?". tanya panglima Gak Hui. Si Tiong dan Hong Yi melangkah maju dan memberi hormat kepada panglima yang terkenal itu.
"Saya bernama Han Si Tiong dan ini adalah isteri saya bernama Liang Hong Yi, tai-ciangkun."
"Hemm, Nyonya, benarkah melawan Ciang-ciangkun? Kalau benar mengapa?"
Hong Yi sudah pernah bergaul dengan pria-pria bangsawan, maka ia tidak malu-malu berhadapan dengan seorang panglima besar.
"Maafkan saya, tai-ciangkun. Saya tidak bersalah. Saya dan suami saya datang ke sini untuk mendaftarkan diri menjadi perajurit. Kami ingin berjuang untuk membela nusa dan bangsa, menentang bangsa Kin yang menjajah tanah air kita. Kami diterima Panglima Ciang, akan tetapi dia hendak menguji ilmu silat saya dan dia.... dia bersikap tidak wajar dan melanggar susila, maka terpaksa saya melawannya, tai-ciangkun."
Jenderal Gak Hui mengerling ke arah Panglima Ciang.
Dia sudah lama mendengar tentang watak rekannya ini yang terkenal mata keranjang, maka dia sudah dapat membayangkan apa yang kiranya terjadi.
Dari sepak terjang suami isteri muda ketika dikeroyok tadi, dia melihat bahwa mereka berdua, terutama si suami, memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.
Tentu Pariglima Ciang bersikap tidak sopan terhadap wanita cantik itu akan tetapi dia bertemu dengan batu, wanita itu menolak dan melawan.
"Apa yang kaulakukan, Ciang-ciang-kun?"
Tegurnya dengan suara tegas.
Panglima Ciang menjadi merah mukanya.
Biarpun Jenderal Gak Hui termasuk rekannya, namun Jenderal Gak Hui lebih besar kekuasaannya dibandingkan dia dan Juga jenderal itu menjadi kepercayaan kaisar.
"Saya.... saya telah menerima mereka, Gak-ciangkun. Saya.... saya hanya ingin menguji wanita itu, baik ilmu silatnya maupun mentalnya karena tidak biasa ada wanita mau menjadi perajurit."
"Hemm, sudahlah. Aku sendiri yang akan menerima Han Si Tiong dan isterinya ini, menjadi pembantu-pembantuku."
Bukan main girangnya hati Han Si Tiong dan Liang Hong Yi.
Mereka tentu saja merasa bangga bukan main dapat menjadi pembantu-pembantu Jenderal Gak Hui yang amat terkenal dan dipuja rakyat Jelata itu.
Jenderal ini sudah terkenal sebagai pelindung rakyat Jelata yang diganggu oleh para penjahat dan para perajurit Kerajaan Kin di perbatasan.
Jenderal Gak Hui melarang keras pasukannya mengganggu rakyat, bahkan dia memerintahkan pasukannya untuk membantu rakyat dalam membangun dusun mereka yang rusak oleh perang, dan menolong mereka apabila mereka membutuhkan pertolongan.
"Banyak terima kasih, Gak tai-ciangkun!"
Suami isteri itui berseru sambil memberi hormat.
Setelah menyelesaikan kunjungannya untuk memeriksa pelaksanaan penerimaan calon-calon perajurit, Jenderal Gak Hui meninggalkan gedung Panglima Ciang dan Si Tiong bersama isterinya diajak serta.
Jenderal Gak Hui mengajak mereka ke markasnya dan setelah melihat, mereka mendemonstrasikan permainan silat mereka, Jenderal Gak Hui lalu mengangkat suami isteri itu menjadi perwira-perwira.
Hong Yi tidak dipisahkan dan suaminya, bahkan diangkat menjadi pembantu perwira yang selalu mendampingi suaminya dalam memimpin pasukan.
Tentu saja suami isteri ini menjadi girang bukan main dan berterima kasih sekali kepada keputusan Jenderal Gak Hui yang bijaksana.
Sewaktu mereka bertugas di kota raja, pekerjaan mereka adalah melatih ilmu silat kepada para perajurit.
Tugas ini mereka lakukan dengan penuh kesungguhan dan tekun sehingga para perajurit dalam pasukan pimpinan mereka memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu silat dan olah keperajuritan.
Tentu saja Jenderal Gak Hui merasa puas dan girang bahwa dia tidak salah pilih ketika mengangkat suami isteri itu menjadi, pembantunya.
Dalam waktu singkat Han Si Tiong mendapatkan kenaikan pangkat sehingga dia dan isterinya dipercaya untuk memimpin pasukannya yang berjumlah ribuan orang.
Setahun kemudian Hong Yi melahirkan seorang anak perempuan.
Tentu saja hal ini menambah kebahagiaan mereka.
Anak itu diberi nama Han Bi Lan dan mereka, lalu mengirim utusan untuk menjemput Lu-ma karena Hong Yi membutuhkan bantuan bibinya itu untuk merawat dan mengasuh Bi Lan.
Pula ia merasa kasihan kepada bibinya yang dulu memang menginginkan untuk ikut dengannya kalau mimpinya sudah terujud, yaitu kalau ia dan suaminya telah memperoleh kedudukan dan kemuliaan di kota raja Lin-an.
Lu-ma datang dan ia merasa berbahagia sekali.
Biarpun di Cin-koan ia dapat hidup berkecukupan sebagai pengelola rumah hiburan, namun ia tidak pernah merasa berbahagia, apa lagi setelah di tinggal pergi Hong Yi.
la mencinta Hong Yi seperti anak kandung sendiri dan kini ia hidup serumah dengan Hong Yi dan suaminya, apa lagi ia kini mempunyai momongan seorang cucu yang mungil!
Ia mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakannya ketika ia tinggal di Cin-koan.
* * * Kaisar Kao Tsung mengumpulkan para menteri dan panglimanya untuk mengadakan sidang dan membicarakan usul yang diajukan oleh Jenderal Gak Hui kepada Kaisar.
Persidangan itu dihadiri oleh semua pejabat tinggi, sipil dan militer.
Tentu saja Perdana Menferi yang menjadi pembantu kaisar terpenting, hadir pula.
Perdana Menteri itu adalah Chin Kui.
Menteri Chin Kui adalah seorang laki-laki tinggi kurus berusia sekitar lima puluh tahun.
Mulutnya selalu condong tersenyum sinis, mukanya dan sepasang telinganya yang kecil membuat wajah itu mirip wajah tikus dengan kumisnya yang jarang dan menjuntai di kanan kiri mulutnya.
Akan tetapi sepasang mata yang kecil itu selalu bergerak, membayangkan kecerdikan dan dia pandai membawa diri, pandai mengambil hati.
Dia pandai bicara dan dapat mengambil hati Kaisar Kao Tsung sehingga dla amat dipercaya.
Setelah persidangan dibuka menyambut munculnya Kaisar Kao Tsung, dengan penghormatan kepada kaisar, Kaisar Kao Tsung lalu berkata dengan suaranya yang lembut.
"Persidangan ini kami adakan untuk membicarakan usul yang disampaikan Jenderal Gak Hui kepada kami. Kami harap kalian dapat menyumbang pemikiran bagaimana jalan terbaik yang harus diambil. Jenderal Gak, harap engkau suka kemukakan usulmu itu agar para menteri dan panglima dapat mendengarkan lalu ikut membantu memikirkan."
Jenderal Gak Hui memberi hormat kepada kaisar, mengucapkan terima kasih atas kesempatan bicara yang diberikan, lalu dia bangkit dan menghadap ke arah para menteri dan panglima.
"Saudara-saudara, para menteri dan panglima yang saya hormati. Saya telah menghaturkan usul kepada Sribaginda Kaisar agar saya diperkenankan menghimpun dan memimpin barisan untuk menyerang bangsa Kin dan mengusirnya dari tanah air kita. Sekaranglah saat yang terbaik untuk bergerak dan mengusir mereka."
Kaisar Kao Tsung mengangkat tangan memberi isarat sehingga Jenderal Gak Hui menghentikan ucapannya dan memberi hormat kepada kaisar lalu duduk kembali.
"Jenderal Gak Hui, kami ingin sekali mendengar alasanmu, mengapa engkau sekarang ini saat terbaik untuk bergerak dan menyerang pasukan bangsa Kin".
"Sribaginda Kaisar Yang Mulia, anggapan hamba ini berdasarkan alasan-alasan yang amat kuat dan hamba tidak akan berani mengajukan usul kepada paduka kalau hamba tidak merasa yakin benar pertama dari para mata-mata dan penyelidik yang hamba kirim ke utara, hamba mendapat keterangan bahwa keadaan bangsa Kin yang menduduki daerah utara kini tidak terlalu kuat. Banyak kekacauan terjadi karena rakyat memusuhi mereka dan rakyat tidak mau membantu ransum mereka secara suka rela. Dan kecuali itu, terjadi pertikaian dan perebutan kekuasaan di antara para komandan yang menguasai daerah jajahan mereka itu. Adapun alasan yang kedua, hamba telah mempersiapkah pasukan dengan baik sehingga terkumpul barisan yang berjumlah cukup banyak. Selain itu, hamba juga membentuk pasukan-pasukan inti yang dilatih ilmu silat dengan baik, bahkan didukung para pendekar yang berjiwa patriot. Karena itu, harhba yakin bahwa kalau hamba membawa barisan bergerak sekarang, hamba tentu akan berhasil membinasakan dan memukui mundur mereka."
Kaisar Kao Tsung mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Bagus sekali, Jenderal Gak Hui. Kami merasa setuju sekali karena kamipun. sudah lama sekall menanti-nanti saatnya untuk melihat bangsa Kin yang biadab itu dihancurkan agar segala dendam sakit hati ini dapat terbalas. Akan tetapi kami ingin mendengar pendapat kalian. Kemukakanlah pendapat kalian agar kita dapat memikirkan dan merundingkan bersama."
Sebagian besar para menteri dan panglima dengan singkat namun tegas menyatakan mendukung usul dan pendapat Jenderal Gak Hui.
Ketika tiba-tiba giliran Panglima Ciang Sun Bo untuk menyatakan pendapatnya, dia memberi hormat kepada kaisar dan berkata.
"Hamba mohon ampun, Sri baginda Yang Mulia. Bukan sekali-kali hamba hendak menentang usul pendapat Jenderal Gak Hui, akan tetapi hamba hanya mengingatkan agar paduka berhati-hati sekali dalam mengambil keputusan untuk menyerang bangsa Kin. Hamba mendengar dan agaknya semua orang juga mengetahui bahwa balatentara Kin amatlah kuatnya sehingga hamba khawatir kalau-kalau barisan kita tidak akan mampu mengalahkan mereka."
Jenderal Gak Hui mengerutkan alisnya dan menoleh kepada Panglima Ciang Sun Bo.
"Ciang-ciangkun, kalau engkau takut, Jangan ikut maju berperang!"
"Jenderal Gak Hui, biarkanlah semua orang mengajukah pendapat mereka masing-masing."
Kata Kaisar Kao Tsung.
"Ampunkan hamba, Yang Mulia."
Kata Jenderal Gak Hui sambil mengerutkan alisnya dan menundukkan mukanya.
Dia tahu bahwa Panglima Ciang Sun Bo sengaja menentangnya karena memang ada perasaan tidak suka antara dia dan Panglima Ciang, apa lagi setelah kejadian beberapa tahun yang lalu, yaitu ketika terjadi keributan di gedung panglima itu karena dia hendak berbuat tidak sopan terhadap Liang Hong Yi yang kini bersama suami wanita itu telah menjadi pembantunya yang boleh diandalkan.
Karena jasa Han Si Tiong dan Liang Hong Yi itulah maka kini dapat dibentuk pasukan khusus yang kuat sehingga membesarkan hatinya untuk menyerang bangsa Kin di utara.
Tiba-tiba Perdana Menteri Chin Kui yang sejak tadi hanya diam mendengarkan saja, berkata dengan suaranya yang halus namun cukup lantang.
"Yang Mulia, hamba kira apa yang dikatakan Panglima Ciang Sun Bo tadi sama sekali tidak keliru dan patut untuk diperhatikan dan direnungkan. Semua orang tahu betapa kuatnya balatentara Kin. Tentu paduka tidak lupa bahwa kejatuhan Sung di utara justeru karena pasukan-pasukan kita yang lebih dulu menyerang balatentara Kin. Hal itu yang menyababkan bangsa Kin menyerang terus sampai ke selatan. Tentu paduka tidak lupa akan kesalahan taktik yang diusulkan Perdana Meoteri Cai Ching ketika itu. Dia mengusulkan kepada mendiang Kaisar Hui Tsung untuk mengejar dan menyerang barisan Kin di utara sehingga para pimpinan Kin menjadi marah lalu berbalik menyerang kita sampai terpaksa kerajaan diungsikan ke sini. Yang Mulia, sebaiknya jangan mengganggu harimau yang sedang tidur. Saat ini bangsa Kin tenang-tenang saja tidak mengganggu kita, mengapa kita mendahului menyerang mereka?"
Kaisar Kao Tsung mengerutkan alisnya dan memandang kepada Perdana Menterinya itu dengan heran.
"Perdana Menteri Chin Kui, bagaimana engkau dapat berkata begitu? Apakah kalau menurut engkau, kami tidak usah memusuhi bangsa Kin, tidak usah membalas dendam atas kematian ayahanda kami, tidak berusaha untuk merebut kembali wilayah Sung yang telah dirampasnya? Begitukah?"
Dalam suara Kaisar Kao Tsung terkandung kemarahan.
"Ampun, Yang Mulia. Sama sekali tidak demikian maksud hamba. Akan tetapi, kita tidak bisa selalu mengandalkan kekuatan tenaga. Kekuatan tenaga kasar tanpa dibantu pemikiran yang mendalam dan cerdik dapat menggagalkan semua usaha. Kalau kita hendak menyerang Bangsa Kin, kita harus mempergunakan perhitungan yang tepat, tidak sembrono. Mohon Paduka bayangkan, kalau sembrono lalu serangan itu gagal sama sekali, bahkan mengakibatkan balatentara menyerbu ke selatan dan menguasai seluruh negeri, bukankah hal itu akari merupakan suatu malapetaka yang mengerikan? Hamba sekarang hendak bertanya kepada Jenderal Gak Hui. Dia yang mengusulkan penyerangan ke utara ini. Kalau sampai penyerangan gagal dan akibatnya seperti yang hamba khawatirkan itu, lalu siapa yang akan bertanggung jawab?"
Mendengar ucapan itu, Kaisar Kao Tsung menoleh kepada Jenderal Gak Hul. Wajah Jenderal Gak Hul menjadi merah dan hatlnya yang keras dan penuh kesetiaan kepada Kerajaan Sung menjadi panas.
"Hamba tidak akan gagal, Yang Mulia!"
Katanya kepada kaisar yang memandang kepadanya.
"Akan tetapi tidak ada yang pasti di dunia ini, Gak Ciangkun. Hidup kitapun tidak bisa dipastikan kapan berhentinya. Bagaimana kalau engkau gagal, kalah dalam perang melawan balatentara Kin? Bagaimana pertanggungan jawabmu terhadap Yang Mulia, terhadap bangsa dan terhadap kerajaan?"
Suara Perdana Menteri Chin Kui mengandung tantangan dan ejekan.
Jenderal Gak Hui merasa dadanya seolah hendak meletus saking marahnya.
Akan tetapi di depan kaisar dia tidak berani memperlihatkan kemarahan dan menahan perasaannya.
Apa yang hendak dia lakukan adalah demi kepentingan kerajaan dan bangsa, akan tetapi kegagalannya akan ditimpakan kepada dia seorang!
"Kalau saya gagal, saya bersedia untuk dipecat dan dijatuhi hukuman yang pallng berat, Chin-taijin (Pembesar Chln)l"
Katanya sambll memandang wajah Perdana Menterl itu dengan sinar mata tegas dan keras.
"Bagus! Tentu saja kalau gagal engkau tidak cukup mengucapkan maaf lalu lepas tangan. Engkau mempermainkan nasib kerajaan dan bangsa dalam usulmu ini, Ciang-kun!"
"Sudahlah, Perdana Menteri Chin Kui!"
Kata Kaisar Kao Tsung.
"Jenderal Gak Hui sudah menyatakan pendapat dan kesanggupan pertanggungan jawabnya dan kami mengenal dia sebagai seorang gagah yang selalu memegang teguh kata-katanya. Kami juga percaya bahwa dia tentu akan berhasil. Karena itu, kami memutuskan menerima usulmu, Jenderal Gak Hul. Laksanakanlah seperti yang kaurencanakan itu!"
"Terima kasih atas kepercayaan paduka dan hamba siap melaksanakan perintah, Yang Mulia!"
Kata Jenderal Gak Hui dengan suara tegas yang mengandung kegembiraan.
Persidangan dibubarkan dan Jenderal Gak Hui cepat kembali ke markasnya.
Dia segera memanggll semua pembantunya, yaltu para perwira yang menjadi komandan dari pasukan-pasukannya.
Setelah mereka berkumpul, di antara mereka terdapat Han Si Tiong dan isterinya, Liang Hong Yi, Jenderal Gak menceritakan tentang persetujuan kaisar yang menerima usulnya untuk melakukan penyerbuan ke utara, mengusir penjajah Kin.
"Aku peringatkan kepada kalian bahwa kita semua adalah pengemban-pengemban tugas yang mulia, yaitu membela bangsa dan tanah air dengan taruhan nyawa. Hidup yang sempurna berarti melaksanakan tugas dengan baik karena hidup ini sendiri berarti memikul tugas-tugas. Untuk dapat menjadi seorang manusia seutuhnya kita, harus dapat melaksanakan semua tugas itu dengan sebaik-baiknya. Tugas pertama dan utama adalah tugas seorang manusia terhadap Tuhannya, yaitu menaati semua perintah Tuhan melalui kitab agama masing-ma-sing yang tentu bersumber kepada kebaikan dan hidup bermanfaat bagi manusia dan dunia. Dalam tugas utama ini tercakup tugas-tugas lain yang banyak macamnya, misalnya tugas kewajiban sebagai orang tua terhadap anak-anaknya, sebagai anak terhadap orang tuanya, sebagai suami terhadap isterinya dan sebaliknya, sebagai anggauta keluarga terhadap sanak keluarganya, sebagai guru terhadap muridnya dan sebaliknya, sebagai anggaUta masyarakat, sebagai sahabat, sebagai warga negara terhadap negaranya dan sebagainya lagi. Termasuk tugas yang sekarang kalian emban, yaitu tugas seorang perajurit terhadap atasan dan pasukannya, sebagai seorang patriot terhadap bangsa dan tanah airnya. Kalau hendak menjadi seorang manusia seutuhnya, maka, semua tugas itu harus dilaksanakan dengan baik. Satu saja tugas itu diabaikan, tentu dia tidak dapat menjadi manusia baik yang seutuhnya! Biarpun semua tugas yang kusebutkan tadi telah kalian laksanakan dengan baik, namun kalau kalian tidak memenuhi tugas kalian sebagai seorang perajurit dan patriot, maka kalian tetap akan menjadi orang yang tercela. Apa lagi kalau ada di antara kalian yang mengkhianati perjuangan, nama seorang pengkhianat akan dikutuk rakyat selama hidupnya. Aku percaya bahwa kalian adalah patriot-patriot yang gagah perkasa, yang siap mempertaruhkan nyawa demi keselamatan bangsa dan tanah air, demi kehormatan Kerajaan Sung."
Setelah memberi peringatan kepada para perwira itu, Jenderal Gak lalu membagi-bagi tugas kepada mereka.
Setelah pertemuan itu dibubarkan, Jenderal Gak memanggil Han Si Tiong dan Liang Hong Yi ke dalam kantornya.
"Kalian telah berjasa besar dalam menggembleng Pasukan Halilintar sehingga pasukan yang kalian pimpin dapat dijadikan pasukan inti yang akan mempelopori dan memberi dorongan semangat kepada seluruh barisan. Akan tetapi jasa kalian itu belum terbukti manfaatnya bagi kerajaan. Sekarang tiba saatnya kalian membuktikan bahwa kalian dan pasukan kalian benar-benar boleh diandalkan dan menjadi tulang punggung seluruh barisan. Apakah kalian berdua sudah siap lahir batin untuk melaksanakan tugas yang amat penting akan tetapi juga amat berbahaya ini?"
Dengan sikap tegak dan suara tegas suami isteri itu menjawab serentak.
"Kami siap melaksanakan tugas, Tai-ciangkun!"
Gak Hui memandang suami isteri itu dengan kagum dan bangga.
Tidak salah penilaiannya terhadap suami isteri ini ketika pertama kali dia melihat mereka dalam rumah Panglima Ciang Sun Bo.
Han Si Tiong kini telah menjadi seorang pria gagah perkasa berusia tiga puluh tiga tahun, sedangkan Liang Hong Yi yang juga berpakaian sebagai seorang perwira Itu tampak gagah dan cantik manis dalam usianya yang dua puluh enam tahun.
"Sekarang kalian pulanglah dan membuat persiapan. Seperti telah kita rencanakan tadi, besok pagi-pagi benar sebelum fajar menyingsing, kita akan berangkat"
"Baik, tai-ciangkun!"
Kedua orang suami isteri itu memberi hormat lalu bergegas pulang ke rumah mereka.
Sebagal perwira, mereka telah mendapatkan rumah tinggal sendiri di mana mereka tinggal bersama anak tunggal mereka, Han Bi Lan yang kini sudah berusia tujuh tahun dan Lu-ma yang kini tampak selalu gembira dan tubuhnya menjadi gemuk.
Lu-ma inilah yang mengasuh Bi Lan dengan penuh kasih sayang seorang nenek apabila ayah ibu anak itu meninggalkan rumah untuk bertugas.
Ketika Si Tiong dan Hong Yi melangkah masuk melalui pintu depan, Bi Lan, anak perempuan berusia tujuh tahun yang mungil dan manis itu, tiba-tiba menyambut ayah ibunya dengan bentakan nyaring.
"Ayah ibu awas seranganku!"
Dan anak itu dengan gerakan yang gesit sekali telah menyerang ayah ibunya dengan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan. Mulutnya yang kecil mungil berseru berulang-ulang.
"Haiiittt.... yaaattt?"
Si Tiong dan Hong Yi mengelak dan membiarkan anak mereka melakukan serangan bertubi-tubi sampai tujuh jurus. Kemudian Si Tiong menangkap lengan Bi Lan dan mengangkat tubuh anak itu dan dipondongnya.
"Bagus, Bi Lan. Akan tetapi engkau harus berlatih lebih tekun lagi."
Kata Si Tiong sambil mencium pipi anaknya.
"Akan tetapi engkau juga tidak boleh melalaikan pelajaranmu membaca dan menulis, Bi Lan."
Kata Hong Yi. Lu-ma muncul dari dalam. Badannya gemuk dan sehat dan wajahnya penuh senyum.
"Mana berani ia melalaikan pelajarannya? Selama ada aku di sisinya, ia tidak akan berani bermalas-malasan!"
Bi Lan cemberut dan melapor kepada ibunya.
"Ibu, nenek Lu galak dan kejam! Kalau aku tidak menurut, ia tidak mau melanjutkan dongengnya!"
"Bukan galak dan kejam, melainkan itu karena ia sayang sekali kepadamu, Bi Lan. Nenek ingin engkau menjadi seorang yang pandai dan berguna bagi manusia dan dunia kelak."
Kata Hong Yi.
"Baiklah, nenekmu yang galak dan kejam ini malam nanti akan melanjutkan dongengnya tentang nenek sihir yang jahat itu."
Kata Lu-ma sambil tersenyum.
Bi Lan turun dari pondongan ayah-nya dan lari menghampiri Lu-ma lalu memeluknya."Nenek Lu tidak galak dan kejam, melainkan baik hati sekali!
Aku sayang padamu, nek.
Malam nanti lanjutkan donggengnya, ya?"
Mereka semua tertawa menyaksikan kemanjaan anak itu.
Si Tiong dan Hong Yi lalu berkemas dan setelah makan malam mereka mengatakan kepada Lu-ma dan Bi Lan bahwa besok pagi-pagi sekali sebelum fajar menyingsing mereka akan berangkat bertugas dan sekali ini mereka akan pergi untuk waktu yang lama dan belum dapat ditentukan berapa lamanya.
"Kalian akan pergi ke mana dan melakukan tugas apakah maka membutuhkan waktu lama?"
Tanya Lu-ma.
"Kami akan memimpin pasukan menuju ke utara untuk berperang mengusir bangsa Kin."
Kata Hong Yi. Lu-ma melompat bangkit dari duduk-nya.
"Berperang....? Ahhh....!"
Mata nenek itu terbelalak dan alisnya berkerut, wajahnya membayangkan kekhawatiran besar.
"Engkau kenapakah nek? Ayah dan ibu adalah prajurit-prarajurit patriot yang gagah perkasa, tentu saja mereka pergi berperang untuk mengusir penjajah", kata Bi Lan yang memang sejak kecil telah diberi pengertian oleh ayah ibunya tentang kependekaran dan kepahlawanan.
"kita sepatutnya merasa bangga, nek". Lu-ma masih tampak gelisah.
"Akan tetapi.... bertempur....??"
"Bibi ucapan Bi Lan. tadi benar sekali. Kami harus bertempur membela bangsa dan tanah air. Karena itu kami titip Bi Lan agar kau amati ia baik-baik selama kami pergi."
"Ibu, aku ingin ikut berperang melawan Bangsa Kin !"
Tiba-tiba Bi Lan berkata lantang. Si Tiong tersenyum bangga.
"Engkau masih terlalu kecil. Bi Lan. Engkau harus belajar dan berlatih dengan giat agar menJadi kuat dan mampu melawan musuh. sekarang belum waktunya karena di pihak musuhpun tidak ada anak kecilnya."
Kalau sudah besar aku boleh ikut bertempur, ayah?"
"Tentu saja! Engkau akan menjadi seorang pahlawan yang gagah perkasa dan ditakuti musuh."
Setelah Bi Lan tidur, malam itu Han Si Tiong dan Liang Hong Yi bicara lebih serius kepada Lu-ma.
"Kalau terjadi apa-apa dengan kami, andaikata kami gugur dalam perang, rawatlah Bi Lan baik-baik bibi. Di almari itu kami tinggalkan seluruh harta milik kami, dapat engkau pergunakan untuk membesarkan Bi Lan. Jangan lupa untuk mengundang guru silat dan guru sastra untuk mendidiknya."
Pesan Liang Hong Yi.
Lu-ma mengangguk-angguk sambil mengusap air matanya.
la tidak dapat menyembunyikan kegelisahan hatinya.
Ia amat sayang kepada Hong Yi, menganggap wanita itu seperti anak kandungnya sendiri.
Membayangkan Hong Yi bertempur dalam perang, terluka atau bahkan tewas, hatinya merasa gelisah bukan main.
Melihat nenek itu menahan isak dan mengusap air mata, Hong Yi merangkulnya"
"Tenanglah dan jangan khawatir, bibi. Kami akan menjaga diri dengan hati-hati dan percayalah, Jenderal Gak Hui akan membawa kami mencapai kemenangan yang gemilang."
Kata Si Tiong dengan nada menghibur dan membesarkan hati.
"Benar, bi. Jangan khawatir dan jangan memperlihatkan kesedihan kepada Bi Lan agar anak itu tidak ikut khawatir dan bersedih. Kami berdua pasti akan pulang dengan selamat."
Kata Hong Yi.
Akhirnya Lu-ma dapat menenangkan hatinya.
Akan tetapi malam itu ia tidak mau berpisah dari Bi Lan dan menemani anak itu tidur di kamar Bi Lan Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali suami isteri itu sudah selesai berkemas.
Ketika saatnya keberangkatan tiba, mereka memasuki kamar Bi Lan dan ternyata Lu-ma juga sudah bangun sejak tadi.
Mereka menggugah anak itu.
Anak itu malam tadi sudah memesan dengan sangat kepada ayah ibunya agar dia digugah kalau mereka hendak berangkat.
Bi Lan terbangun.
Hong Yi merangkul anaknya.
"Anakku Bi Lan, engkau baik-baik menjaga dirimu di rumah. Taati semua petunjuk nenekmu dan jangan lupa untuk belajar dengan tekun, baik sastra maupun silat."
"Jangan khawatir, Ibu."
Dan ketika ia melihat Lu-ma mengusap air matanya, Bi Lan menegur.
"Eh, nenek kenapa menangis? Jangan cengeng, nek dan Jangan khawatir. Selama ayah dan ibu pergi, akulah yang akan menjagamu!"
Si Tiong juga merangkul anaknya.
"Bi Lan, ingat, selama ayah dan ibu tidak berada di rumah, engkau jangan nakal. Jangan suka berkelahi dengan anak-anak lain."
"Ayah, ibu, kalau pulang jangan lupa membawa oleh-oleh!"
Hong Yi tersenyum.
"Baik, akan tetapi oleh-oleh apa yang kau inginkan, Bi Lan?"
"Aku ingin ayah dan ibu pulang membawa oleh-oleh sebatang pedang bengkok milik seorang panglima Bangsa Kin!"
Han Si Tiong saling bertukar pandang dengan Liang Hong Yi. Keduanya mengangguk.
"Baiklah, Bi Lan, aku akan mengusahakan agar dapat merobohkan seorang panglima Kin dan merampas pedangnya untukmu."
Suaml isterl Itu lalu meninggalkan rumah, diantar sampai keluar pekarangan oleh Bi Lan dan Lu-ma.
Bi Lan mengantar ayah ibunya dengan wajah cerah dan pandang mata bangga, tidak sepertl Lu-ma yang niengusap air matanya yang selalu mengalir keluar dari sepasang matanya.
Setelah suami isteri yang sering nengok dan melambaikan tangan menghilang di tikungan jalan, Bi Lan menggandeng tangan neneknya dan mengomel.
"Aih, nenek ini cengeng benar sih! Sudah tua menangis! Ayah dan ibu kan pergi berjuang, sepatutnya bergembira dan berbangga, bukan menangis."
Lu-ma menyusut air matanya dan tersenyum, mengelus rambut kepala cucunya yang amat disayangnya.
"Aku juga gembira dan bangga, Bi Lan."
"Lalu kenapa nenek menangis?"
"Hemm, karena cengeng itulah!"
"Ehh....,?". Bi Lan.tldak mengerti bingung.
"Sudahlah, mari kita masuk ke rumah, mandi yang segar, berganti pakaian lalu sarapan."
Lu-ma lalu menggandeng tangan cucunya dan mereka memasuki rumah yang bagi Lu-ma tiba-tiba terasa sepi itu.
* * * Sepasang suami isteri itu memang tampak gagah sekali ketika mereka menunggang kuda memimpin Pasukan Halilintar yang mereka bentuk.
Terutama sekali Liang Hong Yi tampak cantik dan juga gagah perkasa.
Dengan pakaian perang wanita yang baru berusia dua puluh enam tahun ini tampak gagah dan melihat isteri komandan mereka ini ikut memimpin pasukan di samping suaminya, para perajurit anggauta Pasukan Halilintar menjadi gembira dan bersemangat sekali!
Balatentara Kerajaan Sung itu dipimpin sendiri oleh Jenderal Gak Hui.
Setelah barisan keluar dari kota raja, Jenderal Gak Hui lalu membagi barisan besar itu menjadi lima pasukan, di antaranya Pasukan Halilintar yang bertugas sebagal pendobrak di garis terdepan.
Pasukan-pasukan itu berpencar dan dimaksudkan untuk menyerang benteng pertahanan tentara Kin di utara dari beberapa jurusan.
Siasat inl dilakukan untuk memecah perhatian musuh, membuyarkan pemusatan kekuatan musuh dan menimbulkan kesan seolah-olah yang melakukan penyerbuan ke utara itu jauh lebih besar jumlahnya dari pada yang sebenarnya.
Penyerbuan besar-besaran yang dilakukan barisan yang dipimpin Jenderal Gak Hui Ini mengejutkan barisan Kin.
Apa lagi karena serbuan itu dilakukan dari berbagai jurusan.
Mereka melakukan perlawanan mati-matian dan terjadilah pertempuran di mana-mana, pertempuran yang dahsyat Han Si Tiong memperlihatkan kegagahannya.
Pasukan Halilintar yang dipimpinnya merupakan pasukan yang membuat pihak musuh berantakan dan terpaksa mendatangkan bala bantuan lebih besar untuk menghadapi pasukan istimewa yang dipimpin Han Si Tiong dan isterinya.
Liang Hong Yi bertempur di samping suaminya, di setiap pertempuran wanita muda ini mengamuk dengan pedangnya.
Gelung rambutnya terlepas dan rambutnya riap-riapan ketika ia mengamuk dan merobohkan banyak lawan.
Ketika pertempuran sedang memuncak, tiba-tiba Hong Yi melihat suaminya bertanding melawan seorang lawan yang bertubuh tinggi besar dan melihat pakaiannya dapat diketahui bahwa dia seorang panglima.
Panglima Kin ini memainkan sebatang pedang bengkok dan dia lihai bukan main.
Han Si Tiong sendiri sampai kewalahan menghadapi lawan yang amat tangguh ini.
Dan sepak terjang panglima Kin ini agaknya mendatangkan semangat yang berkobar di pihak pasukan Kin.
Apa lagi datang pasukan lain yang membantu sehingga selain jumlah pasukan Kin lebih besar, juga kedudukan mereka jauh lebih kuat.
Pada saat itu, Pasukan Halilintar berada di lereng sebuah bukit dan mereka terkepung ketat oleh pasukan musuh.
Mereka terdesak hebat dan melihat ini, Han Si Tiong bermaksud untuk mencari jalan terobosan agar pasukannya dapat diselamatkan dan untuk sementara mundur dulu dari kepungan dari pada pasukannya hancur dibinasakan pihak lawan yang amat kuat.
Juga dia melihat betapa pasukannya sudah tampak kelelahan dan semangat mereka sudah mulai lemah.
Karena perhatiannya terpecah, hampir saja lehernya terkena sabetan pedang panglima musuh yang dilawannya.
Dia cepat melompat ke belakang dan memutar pedangnya sehingga tubuhnya terlindung dan terpaksa dia mencurahkan seluruh perhatiannya lagi menghadapi lawan yang tangguh itu.
Karena desakan ini, maka Han Si Tiong belum mendapat kesempatan untuk memerintahkan pasukannya mundur.
Liang Hong Yi juga melihat keadaan Pasukan Halilintar yang sudah terjepit dan terdesak itu.
la merasa khawatir sekali melihat pasukan yang tampak kelelahan dan kehilangan semangat.
la tahu bahwa hanya ada satu cara untuk menyelamatkan diri dan memenangkan pertempuran berat sebelah itu, ialah dengan meningkatkan semangat pasukannya sehingga berapi-api.
Maka, ia lalu cepat berlari ke arah para perajurit yang bertugas membawa bendera Pasukan Halilintar.
Setelah tiba dekat, ia berseru.
"Berikan bendera dan genderang itu!"
La merampas begitu saja bendera pasukan dan sebuah genderang perang, lalu berlari ke arah puncak bukit kecil tak jauh dari situ.
Setelah tiba di puncak, la menancapkan tihang bendera di puncak, kemudian ia memukul gendereng dengan sekuat tenaga, mengisyaratkan penyerbuan.
Bunyi genderang bertalu-talu, nyaring sekali, mengejutkan Pasukan Halilintar sendiri dan juga pihak lawan.
Ketika pasukan Kin melihat bahwa yang memukul genderang itu seorang wanita yang rambutnya riap-riapan dan berpakaian sebagai perwira, mereka menghujankan anak panah ke arah Liang Hong Yi.
Namun, Hong Yi mempergunakan pedang di tangan kanan untuk menangkisi semua anak panah yang menyambar ke arah tubuhnya sedangkan tangan kirinya tetap memukuli genderang.
Melihat kegagahan Hong Yi, para perajurit Pasukan Halilintar menjadi kagum dan bangga.
Semangat mereka terbakar berkobar-kobar dan mulut mereka mengeluarkan teriakan-teriakan nyaring, kemudian bagaikan kesetanan mereka mengamuk!
Hebat bukan main sepak terjang para perajurit Pasukan Halilintar ini, bagaikan halilintar menyambar-nyambar dan para perajurit Kin roboh bergelimpangan!
Biarpun Hong Yi sudah menghentikan pemukulan genderang, namun bunyi genderang masih bertalu-talu karena ada perajurit penabuh genderang yang menggantikannya.
Hong Yi sendiri lalu berlari menuruni bukit kecil itu.
la melihat betapa suaminya masih bertanding seru melawan panglima Kin dan kini suaminya mulai terdesak dan keadaannya berbahaya sekali.
Maka, dengan pedang di tangan Hong Yi melompat dan menerjang, membantu suaminya menyerang panglima itu.
Panglima itu terkejut karena gerakan pedang Hong Yi cukup dahsyat.
Dia mengerahkan tenaga dan mengeluarkan semua ilmu pedangnya, namun menghadapi pengeroyokan suami isteri itu, akhirnya dia roboh terkena tusukan pedang di tangan Han Si Tiong.
Tusukan itu mengenai dadanya dan diapun roboh dan tewas.
"Pangeran Cusi gugur....lt"
Terdengar seruan beberapa orang perajurit Kin yang bertempur tdak jauh dari situ.
Berita ini terus menjalar dan robohnya panglima Kin yang ternyata seorang pangeran ini membuat pasukan Kin menjadi kacau dan panik.
Han Si Tiong teringat akan pesan puterinya.
Dia lalu mengambil pedang bengkok milik panglima atau pangeran yang tewas.
itu.
Sebatang pedang yang indah sekali, bergagang emas!
Setelah membuka sarung pedang yang tergantung di pinggang pangeran itu dan menggantung pedang itu di pinggangnya sendiri, bersama Hong Yi dia lalu terus memimpin pasukannya untuk mendesak pihak lawan yang sudah menjadi panik Itu.
Akhirnya pasukan Kin mundur melarikan diri, meninggalkan banyak kawan yang tewas.
Pasukan Halilintar yang mula-mula mengejar, berhenti atas perintah Han Si Tiong.
Mengejar terus di daerah lawan, selain membuat pasukannya yang sudah lelah sekali itu kehabisan tenaga, juga ada bahayanya mereka akan terjebak, Pasukan Halilintar bersorak menggegap-gempita sebagai pernyataan kegembiraan mereka.
Hong Yi yang telah berhasil meningkatkan semangat pasukannya dengan cara yang gagah berani itu menjadl bahan percakapan pasukan yang merasa kagum dan bangga sekali.
Kemenangan demi kemenangan diperoleh barisan yang dipimpin Jenderal Gak Hui dan Pasukan Halilintar memegang peran penting dalam pertempuran yang berhasil ini.
Tentu saja Jenderal Gak Hui mencatat semua jasa Han Si Tiong dan juga Liang Hong Yi.
Akan tetapi, selagi Jenderal Gak Hui mulai berhasil dengan gerakan serangannya ke arah utara yang dikuasai kerajaan Kin, tiba-tlba saja datang utusan Kaisar Sung Kao Tsu yang membawa surat perintah kaisar untuk Jenderal Gak HUl.
Alangkah terkejut rasa hatl Jenderal Gak Hul ketika membaca surat perintah Itu.
Kalsar memerintahkan agar dia menghentikan serangannya dan segera menarlk barisannya kembali ke selatan.
Rasa kaget, heran, penasaran dan marah memenuhi hati jenderal inl.
Dia sudah mulai menyerang dan mendapatkan banyak kemenangan dan kemajuan.
Kalau dia diberi kesempatan, bukan mustahil dia akan mampu mengusir penjajah Kin keluar dari seluruh daerah Sung yang dirampasnya karena di sepanjang daerah yang dapat direbutnya, seluruh rakyat menyambutnya dengan hangat dan siap membantunya!
Dia dapat memperbesar dan memperkuat barisannya sambil berperang.
Akan tetapi, tlba-tiba tanpa alasan apapun, Kaisar merintahkan agar dia menghentikan gerakannya dan menarik kembali pasukan-pasukannya ke selatan!
Biarpun hatinya penuh penyesalan, namun Gak Hui adalah seorang panglima yang amat setia kepada Kerajaan Sung.
Berarti dia harus setia kepada Kaisar!
Apapun perintah kaisar harus dia taati, bahkan dia siap memberikan nyawanya kalau hal itu dikehendaki oleh kaisar!
Demikianlah kesetiaan Jenderal Gak Hui yang disanjung dan dipuji rakyat jelata.
Jenderal Gak Hui sempat menitikkan air mata ketika dia berada seorang diri dalam kamarnya pada saat dia memerintahkan para perwiranya untuk menarik kembali pasukan-pasukan di bawah komandonya.
Apakah yang terjadi di kota raja, terutama di istana Kaisar?
Mengapa Kaisar Sung Kao Tsu memerlntahkan Jenderal Gak Hul untuk menghentikan gerakan penyerbuannya mengusir penjajah Kin yang sudah mulai tampak hasilnya?
Semua ini adalah hasll persekutuan antara Raja Kin dan Perdana Menteri Chin Kui yang sudah dijalin selama bertahun-tahun.
Perdana Menteri Chin Kui yang sudah bersahabat dengan Raja Kin Ini selalu berusaha untuk mencegah Kaisar Kao Tsu memerangi kerajaan Kin di Sung Utara.
Akan tetapi sekali ini dia tldak berhasil sehingga Kaisar Kao Tsu mengijinkan Jenderal Gak Hui untuk mengadakan gerakan penyerbuan ke utara seperti yang diusulkan Jenderal Gak itu.
Serangan mendadak itu mengejutkan Raja Kin.
Apa lagi ketika seorang pangeran tewas dalam pertempuran itu.
Dia menjadi marah sekali dan segera dia memerintahkan seorang menterinya untuk memanggil seorang datuk yang tinggal dl Sln-kiang, Datuk ini bukan lain adalah Ouw Kan, peranakan Uigur-Cina yang berilmu tinggi dan datuk ini memang sudah seringkali dimintai bantuan untuk melaksanakan tugas yang berat dengan imbalan besar.
Pada bagian awal kisah ini kita sudah mengenal Ouw Kan datuk darl Sin-kiang ini yang mencoba untuk merampas kitab-kitab yang dibawa Tiong Lee Cin-jin dari hegara India.
Tak lama kemudian Ouw Kan sudah datang menghadap Raja Kin.
Usianya sekitar enam puluh dua tahun.
Rambut kumis dan jenggotnya sudah berwarna putih.
Tubuhnya sedang saja namun masih tegak dan tegap seperti tubuh seorang muda.
Tangannya selalu membawa sebatang tongkat dari ular cobra kering.
Wajahnya tidak buruk, akan tetapi menyeramkan dan sepasang matanya yang lebar itu bergerak liar.
Raja Kin menyambutnya dengan girang dan datuk ini dihormati, diperbolehkan menghadap raja sambil duduk di atas kursi, menghadap Raja Kin.
"Apakah yang dapat saya lakukan untuk paduka?"
Tanya Ouw Kan tanpa banyak upacara lagi.
Memang sikap datuk ini terhadap Raja Kin berbeda derigan sikap para pembesar pada umumnya.
Dia tidak pernah memberl hormat secara berlebihan kepada siapapun juga dan hal inipun dlmaklumi oleh Raja Kin.
Kami membutuhkan bantuanmu, Ouw-sicu (orang gagah Ouw), untuk urusan yang teramat penting.
Engkau akan kami beri surat kuasa dan pergilah ke Selatan ke kota raja Hang-couw dan jumpal Perdana Menteri Chin Kui.
Atas nama kami tegurlah dia mengapa balatentara Sung Selatan yang dlpimpin Jenderal Gak Hui sampal menyerang ke utara.
Katakan bahwa dla harus dapat membujuk kaisar menghentlkan serangan itu, kalau tldak kami akan memutuskan hubungan dan akan menyerang ke selatan."
"Tugas itu mudah sekali, Sribaginda. Kenapa untuk tugas sesederhana itu harus saya yang melakukannya? Paduka dapat mengutus sembarang orang."
Kata Ouw Kan yang merasa betapa tugas itu terlalu kecil tak berarti bagi dirlnya yang biasa melakukan tugas-tugas yang lebih besar dan sukar.
"Itu baru tugas pertama, Ouw-sicu. Ada tugas ke dua yang amat penting dan berat. Kami kira hanya engkau yang akan dapat melaksanakan dengan baik, Ouw-sicu."
Kata Raja Kin.
"Nah itu yang saya sukai, Sribaginda. Apakah tugas ke dua itu?"
"Ketahuilah bahwa dalam penyerbuan barisan Kerajaan Sung Selatan, putera kami telah gugur dalam pertempuran. Dia tewas di tangan perwira yang bernama Han Si Tiong bersama isterinya yang bernama Liang Hong Yi. Nah, engkau carilah mereka dan engkau tentu tahu apa yang harus kaulakukan terhadap mereka untuk membalas sakit hatlku karena kematian puteraku di tangan mereka."
Ouw Kan mengangguk-angguk. Wajah-nya berseri dan mulutnya yang dikelilingi kumis dan jenggot itu tersenyum, hati-nya gembira.
"Baik, Sribaginda. Harap paduka tidak khawatir. Dua tugas Itu pasti akan dapat saya laksanakan dengan baik. Kapan saya harus berangkat?"
"Sekarang juga berangkatlah. Pilihlah kuda terbaik dan di sepanjang perjalanan sampai ke tapal batas, setiap orang pejabat tentu akan mengganti kudamu dengan yang baru asal engkau tunjukkan surat kuasa dari kami. Akan tetapi, Ouw sicu, jangan engkau melibatkan diri dalam pertempuran karena hal itu akan menghambat terlaksananya tugasmu yang penting. Berangkatlah dan hadiah besar menantimu setelah engkau menyelesaikan tugas itu dengan baik."
Ouw Kan menerima surat kuasa dari Raja Kin dan berangkatlah dia menunggang seekor kuda pilihan yang baik.
Demikianlah, selagi di perbatasan masih terjadi pertempuran, Ouw Kan memasuki kota raja Hang-couw dan tidak sukar baginya untuk menemukan gedung istana tempat tinggal Perdana Menteri Chin Kui.
Perdana Menteri Chin Kui tergopoh-gopoh menerima utusan Raja Kin itu dan mengajaknya bercakap-cakap dalam ruangan rahasia yang tertutup rapat.
Dia pernah bertemu dengan Ouw Kan sebagai utusan Raja Kin, apa lagi ketika Ouw Kan memperlihatkan surat kuasanya, Chin Kui percaya sepenuhnya kepada datuk itu.
Dia menyambut tamunya dengan jamuan makan.
Setelah mereka makan minum, Perdana Menteri Chin Kui lalu menanyakan maksud kunjungan Ouw Kan.
"Saya datang diutus oleh Sribaginda Kerajaan Kin yang marah sekali karena barisan Sung telah menyerang daerah Kin dan saya diutus untuk menegur dan me-nanyakan kepada Chin-taijin (Pembesar Chin) mengapa hal seperti itu dapat ter-jadi. Sribaginda minta agar saya menyampaikan kepada Chin-taijin bahwa kalau taijin tidak segera membujuk Kaisar Sung agar cepat menghentikan serangan dan menarik kembali pasukan dari daerah Kerajaan Kin, maka Sribaginda akan memutuskan hubungan dengan taijin dan akan menyerang dan membasmi Sung Selatan!"
Wajah Chin Kui agak berubah pucat dan dia menelan ludah beberapa kali sebelum menjawab.
"Ouw-slcu, harap sampalkan kepada Sribaginda. Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas penyerangan Itu. Percayalah, saya sudah berusaha sekuatnya untuk mencegah penyerangan itu, akan tetapi semua ini gara-gara si kepala batu Jenderal Gak Hui. Dia dapat mempengaruhi Kaisar sehingga Kaisar menyetujui penyerbuan itu. Akan tetapi, saya akan berusaha mati-matian untuk membujuk Kaisar agar barisan itu ditarik kembali. Tunggu dan lihatlah saja, saya yakin pasti akan berhasil."
"Hemm, saya harap saja janjimu ini akan dapat dipenuhi dengan cepat, Chin-taijin. Karena kalau tidak, tentu Sribaginda akan menganggap bahwa taijin mengkhianati persahabatan. Nah, sekarang setelah saya menyampaikan pesan Sribaginda, saya mohon dirl akan melak-sanakan tugas lain. Saya minta tolong kepada taijin agar suka memberitahu dl mana adanya rumah seorang perwira yang bernama Han Sl Tiong, seorang perwira dalam barisan yang tkut menyerbu ke utara."
"Han Sl Tiong? Ah, aku Ingat. Dia adalah perwira baru yang ditugaskan membentuk Pasukan Halilintar. Rumahnya berada dl sebelah barat Jembatan Rembulan, di ujung selatan kota, Ouw-sicu."
"Terima kasih, taijin dan saya mohon pamit."
Ouw Kan bangkit berdiri dan merangkap kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.
"Sebentar, sicu!"
Perdana Menteri Chin Kui mengambil sebuah kantung kain yang sejak tadi telah dipersiapkan dan memberikan kantung itu kepada tamunya.
"Ini ada sedikit hadiah dari kami iintuk sicu."
Hadiah atau bingkisan seperti ini sudah biasa diterima Ouw Kan, maka diapun tidak sungkan lagi, menerima kantung kain yang cukup berat itu, lalu membungkuk dan keluar dari gedung besar itu.
Tak lama kemudian Ouw Kan sudah tiba di depan rumah Han Si Tiong.
Dia menambatkan kudanya di sebatang pohon, kemudian dia memasuki pekarangan rumah itu.
Seorang lakl-lakl setengah tua yang bekerja di pekarangan Itu sebagai tukang kebun menghampirinya.
Melihat seorang kakek menggendong buntalan kain kuning dan kepalanya memakai topi bulu, tukang kebun itu segera bertanya dengan sikap hormat.
"Tuan mencari siapakah?"
Ouw Kan memandang tukang kebun jg itu lalu menjawab.
"Aku mencari tuan rumah, ada urusan penting sekali." -"Wah, sayang sekali, tuan. Majikan, saya bersama isterinya sedang pergi memimpin pasukan untuk berperang mengusir penjajah Kin!"
Kata tukang kebun itu dengan nada bangga. Ouw Kan mengerutkan alisnya.
"Hemm, mereka pergi dan belum pulang? Kalau begltu, siapa saja yang tinggal di rumah?"
"Tinggal nyonya tua dan nona kecil.
"Tolong panggll mereka keluar. Aku dapat menyampaikan urusan penting ini kepada mereka saja."
Mellhat tamu itu sudah tua dan agaknya mempunyai urusan penting, tukang kebun tidak curlga.
"Baiklah, tuan. Slla-kan duduk menunggu dl ruang tamu, sa-ya akan melaporkan kepada nyonya tua."
Tukang kebun mengantar Ouw Kan fcgiemasuki ruangan tamu yang berada di bagian luar rumah itu, kemudian dia masuk ke dalam untuk melaporkan kedatangan tamu itu kepada Lu-ma.
Ketika itu, Lu-ma sedang bereda di dapur membantu pelayan wanita setengah tua yang menjadi pelayan dalam keluarga itu.
Bi Lan juga membantu.
Anak berusia tujuh tahun ini memang ingin membantu segala pekerjaan yang dilakukan neneknya.
Mereka mempersiapkan masakan untuk makan siang nanti.
Ketika tukang kebun melaporkan bahwa di ruang tamu menunggu seorang tamu lakl-laki tua yang mengatakan ada urusan sangat penting untuk dlsampaikan kepada Lu-ma, nenek ini lalu mencuci tangannya.
"Slapakah, nek?"
"Tidak tahu siapa, mungkin tamu kenalan ayahmu."
Kata Lu-ma, lalu ia melangkah keluar dari dapur menuju ke ruangan tamu di depan.
Bi Lan tidak mau ketinggalan, menggandeng tangan neneknya, ikut pergi ke ruangan tamu.
Setelah Lu-ma dan Bi Lan memasuki ruangan tamu, mereRa1 meiihat seorang laki-laki tua duduk di atas kursi dan memandang kepada mereka dengan sinar mata penuh selldlk.
Ouw Kan bangklt berdlrl.
dan segera bertanya.
"Aku ingin bertemu dengan Han Si Tlong dan laterl-nya. Dl mana mereka?"
Lu-ma menduga bahwa tentu kakete Inl kenalan balk Haa Si Tiong, maka ia-pun menjawab.
"Han Si Tlong dan isteri-nya tldak ada di rumah, mereka pergl perang dan belum pulang."
"Dan siapakah kalian ini?"
"Saya Lu-ma, bibi mereka dan ini Han Bi Lan, anak tunggal mereka."
Ouw Kan memandang anak perempuan, Itu.
Sungguh seorang anak perempuani yang manis dan mungil sekali.
Kalau dia membunuh anak ini, hal Itu sudah merupakan pembalasan hebat yang akan menghancurkan hati Han Sl Tiong dan isterinya.
Akan tetapi dia meragu.
Mungkin Sribaginda Raja Kin mempunyai rencana lain dengan anak musuh-musuhnya ini.
Mungkin juga dapat dipergunakan untuk memaksa suaml isteri itu datang!
Sebaiknya dia cullk dan bawa saja anak ini dan diserahkan kepada Sribaginda Raja Kln.
Setelah berpikir demikian, tiba-tiba dia menjulurkan tangan kanannya hendak menangkap lengan Bi Lan.
"Eh....?"
Ouw Kan terbelalak, kaget dan heran. Anak perempuan kecil itu dapat mengelak sehingga tangkapannya luput.
"Mau apa engkau?"
Bentak Bi Lan dan ia sudah memasang kuda-kuda, siap untuk berkelahi! "Nek, dia ini orang jahat, nek. Hati-hati, dia orang jahat!"
Ouw Kan merasa kagum juga.
Hebat anak ini, pikirnya.
Selain memiliki ba-kat gerakan yang amat gesit, juga tam-paknya cerdik bukan main.
Maka dia lalu melangkah maju dan RembaH tangannya menyambar.
Bl Lan mengelak, akan teta-pi apa artinya kegesitan seorang anak perempuan berusia tujuh tahun terhadap datuk yang sakti itu?
Sekali jari tangan Ouw Kan menyambar, Bi Lan sudah tertotok dan.
terkulai.
Akan tetapi Ouw Kan menangkapnya sehingga anak itu tidak sampal roboh dan sekali angkat, Bl Lan sudah berada dalam pondongan lengan kinnya, terkulai lemas, tak mampu bergerak atau bersuara!
Melihat ini, Lu-ma terbelalak dan ia marah sekali.
Tadi ketika cucunya berteriak mengatakan bahwa laki-laki itu jahat, ia tentu saja tidak percaya.
Akan tetapi sekarang ia marah sekali.
Bagaikan seekor singa betina direbut anaknya, ia menyerbu dengan kedua tangan mem-bentuk cakar ke arah Ouw Kan.
"Mau apa engkau dengan cucuku? Le-paskan ia! Lepaskan Bi Lan, engkau penjahat!"
Akan tetapi tangan kanan Ouw Kan yang memegang tongkat ular cobra kering bergerak dan robohlah Lu-ma tanpa dapat bersuara lagi karena totokan tongkat itu mengenai ulu hatinya dan ia tewas seketika.
Biarpun tidak mampu bergerak dan bersuara, Bi Lan masih sadar dan ia melihat dengan mata terbelalak betapa neneknya roboh dan tak bergerak lagl.
la tidak dapat mengeluarkan suara tangis, akan tetapl dari kedua matanya bercucuran air mata.
Pembantu wanita yang tadl dlpesan oleh Lu-ma untuk mengeluarkan minuman untuk tamu, muncul di pintu.
la terbelalak melihat Lu-ma menggeletak di atas tanah dan Bi Lan dipondong seorang kakek yang memegang sebatang tongkat u-lar, dan anak itu menangis tanpa suara.
Po-ci dan cawan minuman yang dibawanya di atas baki terlepas dari tangannya dan jatuh tnengeluarkan bunyi berkerontang-an.
Melihat ini, sebelum pembantu vyani-ta jitu melarikan diri, Ouw Kan kembali menggerakkan tongkatnya yang menyambar dan mengenai leher wanita itu.
Tanpa mengeluarkan suara lagi wanita itupun roboh dan tewas seketika.
Setelah membunuh dua orang wanita lemah itu, Ouw Kan lalu melangkah ke-luar sambil memondong Bi Lan yang ma-kln deras tangisnya setelah melihat Lu-ma dan pembantu rumah tangga itu di-bunuh kakek yang menculiknya"
Karena khawatir kalau-kalau ada yang melihat-nya dan menjadi curiga melihat anak yang dipondongnya itu mencucurkan air mata dan wajahnya Jelas menunjukkan tangls walaupun tldak ada suara keluar dari mulutnya, Ouw Kan menepuk tengkuk Bi Lan ddn anak perempuan itu terkulai dan pingsan, seperti tidur.
Ouw Kan menyimpan tongkatnya, diselipkan di ikat pinggangnya, kemudian dengan langkah lebar hendak keluar dari pekarangan itu.
Akan tetapi, tukang kebun yang tadi pertama kali menyambutnya, melihat dia tergesa-gesa keluar sambil memondong Bi Lan.
Tukang kebun itu tentu saja menjadi curiga.
Dia mengejar dan rnenghadang di depan kakek itu.
"Heii! Mau kaubawa ke mana Nona'i Bi Lan itu? Lepaskan!"
Tukang kebun itu menerjang untuk merampas Bi Lan dari tangan Ouw Kan. Datuk ini melihat bahwa gerakan tukang kebun itu cukup"
Kuat, menunjukkan bahwa dia pandai bermain silat.
Akan tetapi tentu saja tingkat kepandaian tukang kebun itu tidak ada artinya dibandingkan tingkat Ouw Kan.
Menghadapi terjangan tukang kebun itu, Ouw Kan menyambutnya dengan ten-dangan kaki kanannya.
Cepat dan kuat sekali tendangan itu.
Biarpun tukang kebun itu sudah berusaha mengelak, tetap saja ujung sepatu Ouw Kan masih menyambar iganya.
"Krekk....!"
Tukang kebun itu terpelanting keras dan roboh tak dapat bergerak lagi.
Tulang-tulang iganya patah-patah dihantam tendangan kaki Ouw Kan!
Karena khawatir kalau banyak orang akan rnelihatnya, dan merasa yakin bahwa tukang kebun itu juga tewas, Ouw Kan lalu cepat keluar dari pekarangan itu.
Dengan cepat dia menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah utara.
Melihat seorang kakek menggendong seorang anak perempuan yang agaknya sakit atau tertidur dipondong dengan sikap penuh kasih sayang, tentu saja tidak ada orang yang mencurigainya dan Ouw Kan dapat keluar dari kota raja dengan aman.
Sementara itu, sepergi Ouw Kan, Perdana Menteri Chin Kui lalu berusaha keras untuk membujuk Kaisar Sung Kao Tsu, memperingatkan kaisar bahwa gerakan penyerbuan yang dilakukan Jenderal Gak Hui itu sesungguhnya salah sama sekali.
Bangsa Kin yang berada di utara selama ini tidak pernah mengganggu daerah Sung di selatan sehingga kita berada dalam keadaan tenteram penuh damal, dapat bekerja membangun kembali kerajaan di daerah yang tanahnya lebih subur.
Mengapa sekarang mencari permusuhan?
Kalau nanti Kerajaan Kin membalas dan menyerbu ke selatan, bukankah hal itu i akan mendatangkan kesengsaraan?
"Hamba yang akan mengusahakan minta maaf dan hamba berani menanggung bahwa Sribaginda Raja Kin tidak akan melakukan balas dendam terhadap penyerbuan itu, asalkan paduka segera memerintahkan Jenderal Gak Hui agar menghentikan penyerbuan dan menarlk kembali balatentara."
Demikian Pefdana Menterl Chln Kul mengakhlri bujukannya.
Kalsar Kao Tsu menurut, apa lagi ketika para menteri lain juga mendukung usul Perdana Menteri Chin Kui.
Juga pada dasarnya Kaisar Kao Tsu mernang seorang yang tidak suka perang.
Maka, diapun segera mengambil keputusan dan dikirimlah utusan dengan perintahnya kepada Jenderal Gak Hui untuk menghenti-kan penyerbuan ke utara dan menarik kembali barisannya ke daerah selatan.
Jenderal Gak Hui merasa kecewa, marah dan menyesal sekall.
Dla telah memenangkan pertempuran dl banyak tempat dan sudah menguasal daerah yang luas.
Akan tetapi karena kesetiaannya, terpaksa dla menlnggalkan daerah yang telah dlkuasainya itu dan kemball ke se-latan, diiringi tangis kecewa penduduk daerah yang ditinggalkannya.
Akan tetapi dia masih ragu untuk pulang ke kota ra-Ja dan mendirikan perkemahan di dae-rah tapal batas.
Dia hanya mengutus pa-ra perwiranya kembali ke kota ra|a dan mengantar laporan tertulis yang dltujukan kepada Kaisar Kao Tsu.
Karena sudah tldak ada pertempuran lagi, Han Si Tiong dan Liang Hong Yl Juga Ikut pulang dengan sebagian darl pasukan dan para perwlranya.
Kalau di sepanjang perjalanan, pasukan yang pulang ke kota raja membawa kemenang"
An ini disambut oleh rakyat dengan gem-bira, setelah memasuki kota raja, dari ( pihak pemerintah malah tidak ada pe-nyambutan dan suasananya dingin saja.
Hal ini adalah karena perintah dan pengaruh Perdana Menterl Chtn Kul yang menganggap barlsan yang menang perang itu bahkan meruglkan kerajaan!
Betapapun juga, ketika menerima para perwira yang pulang dan menghadapnya, Kaisar Kao Tsu menerima mereka dengan baik.
Bahkan dla lalu memberi anugerah pangkat kepada para perwira yang namanya disebut dalam daftar Jasa yang dikirlm Jenderal Gak Hui.
Karena Han Sl Tiong dan Isterinya dipuji-puji oleh Jenderal Gak Hul, maka Kaisar Kao Tsu memberl anugerah keduduk-an pangllma muda kepada Han Si Tiong dan isterlnya dan keduanya diangkat menjadi bangsawan!
Suaml isteri inl ialu pulang ke rumah mereka.
Tadl bersama para perwira lain, begitu masuk kota raja mereka langsung menghadap kaisar.
Ini merupakan peraturan datt tidak boleh dilanggar oleh siapapun juga.
Tentu saja mereka merasa gembira sekali, teruta-ma sekali Hong Yi.
Kalau diingat bahwa tadinya ia hidup dalam rumah pelesir asuhan Lu-ma dan walaupun ia tidak diperas, namun tetap saja ia pernah menjadi seorang pelacur!
Dan sekarang, ia memperoleh seorang suami yang baik dan yang mencintainya, tidak memandang rendah walaupun suaminya tahu bahwa ia seorang bekas pelacur!
Dan ia telah mempunyai seorang anak yang manis pula.
Sekarang ditambah lagi anugerah dari Kaisar yang mengangkat ia dan suaminya menjadi bangsawan!
Bangsawan yang ber-kedudukan terhormat sebagai panglima muda!
Semua ini sungguh cocok sekali dengan ramalan yang ia dapatkan dari Kwan Im Bio, kuil dari Sang Dewi Welas Asih itu.
Dengan hati dipenuhi kebanggaan dan kebahagiaan, bersama suaminya ia pulang membawa hadiah pedang bengkok bergagang emas untuk anak mereka.
Akan tetapi, alangkah heran rasa hatl mereka ketika mereka tiba di depan rumah mereka.
Keadaan tempat tinggal mereka itu hampir tak dapat mereka kenali lagi.
Pekarangannya tak terawat, penuh dengan rumput liar dan daun-daun, kering.
Agaknya sudah lama sekali tidak' pernah disapu dan dibersihkan.
Dinding rumah itupun kotor dan semua pintu dan jendela di depan tertutup.
Rumah itu tampak sunyi sekali.
Sungguh aneh.
Seluruh penduduk kota raja sudah mendengar bahwa sebagian pasukan yang pergi ber-perang sudah pulang.
Mustahil kalau Lu-ma, pelayan wanita, tukang kebun dan Bi Lan belum mendengar akan kepulangan rnereka.
Mereka tidak ada yang menyambut?
Dengan hati merasa heran dan tidak enak suami isteri itu berlari memasuki pekarangan.
Setelah hampir tiba di pin-tu depan, tiba-tiba muncul seorang perajurit dari pintu samping.
Melihat Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, perajurit itu memberi hormat.
Tentu saja suami isteri ini bertambah heran melihat adanya seorang perajurit di situ.
Han Si Tiong cepat melompat ke depan perajurit itu.
"Hei, siapa engkau dan mengapa berada di sini?"
"Han-ciangkun, saya memang hari ini bertugas menjaga rumah ciangkun ini."
Jawab perajurit itu.
"Menjaga rumah kami? Kenapa? Dan di mana puteri kami? Di mana Lu-ma dan para pembancu?"
Tanya Sl Tiong sambil mengerutkan alisnya.
Perajurit itu tampak bingung.
Dia mengerti bahwa suami isteri perwira ini belum tahu akan malapetaka yang menimpa keluarga mereka dan agaknya d"a| menjadi orang pertama yang harus rneo-j ceritakannya!
Dia merasa tidak enak sekali harus menyampaikan berita yang menyedihkan itu.
"Tidak ada siapa-siapa di rumah ini, ciangkun. Hanya ada saya yang bertugas jaga hari ini. Kwe-ciangkun atasan saya yang memerintahkan kami inelakukan penjagaan di sini secara bergantian dan hari ini tiba giliran saya."
"Akan tetapi kenapa? Apa yang telah terjadi? Ke mana perginya semua peng-hunl rumah Ini? Di mana anakku?"
Liang Hong Yl yang sudah tldak sabar lagt bertanya, suaranya mengandung kegelisahan. Perajurlt itu menelan ludah beberapaj kali sebelum menjawab, kemudian memberanikan diri menjawab.
"Ciangkun dan hujin, telah terjadi hal yang menyedihkan di rumah ini, kurang lebih sebulan yang lalu...."
Han Si Tiong menangkap lengan perajurit itu dan mengguncangnya.
"Apa yang telah terjadi? Hayo cepat ceritakan!"
Perajurit itu mengangguk -angguk.
"Kurang lebih sebulan yang lalu, di ru-mah ini telah ditemukan Lu-ma dan pelayan wanita telah tewas, dan tukang kebun terluka parah...."
"Dan anakku? Puteriku Bl Lan....??"
Teriak Hong Yi wajahnya menjadi pucat sekali.
"Ia.... ia.... hilang. Tidak ada yang tahu ke mana...."
"Aihhh....!"
Hong Yi sudah melompat ke serambi depan dan mendorong dauh plntu depan.
Pintu itu terpalang dari dalam, akan tetapl dorongari kedua tangan Hong Yl yang disertal tenaga saktl itu membuat palang pintu jebol dan daun pintunya terbuka.
Hong Yi berlari-lart memerlksa semua bagian dalam rumah.
Kosong!
Benar-benar telah kosong, tidak ada seorangpun di situ.
Anakoya tidak ada di rumah itu!
"BiLan....!
Bi Lan....!!
Bibi Lu-ma...!!"
La menjerit-jerit mernanggil sambil ber-lari ke sana-sini mencari-cari, akan te-tapi tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba Si Tiong merangkulnya dan melihat su-aminya, Hong Yi merangkul dan menangis.
"Tiong-ko.... di mana Bi Lan? Dan BiBi Lu-ma? Apa yang terjadi dengan me-reka?"
La menangis tersedu-sedu di atas dada suaminya. Han Si Tiong mendekap kepala iste-rinya.
"Yi-moi, tenangkanlah hatimu, Yi-moi. Dalam keadaan seperti ini kita harus menguatkan perasaan hati. Ingat sepak terjangmu dalam pertempuran. Engkau seorang wanita gagah perkasa, harus mampu dan kuat menghadapi apapun juga. Tenangkanlah hatimu."
Hong Yi menumpahkan kegelisahan-nya melalui tangis.
Setelah tangisnya mereda dan ia mampu menguatkan hati-nya, ia melepaskan rangkulannya.
Dengan wajah pucat dan sepasang mata merah, ia bertanya kepada suaminya.
"Tiong-ko, bagaimana dengan Bi Lan? Apa yang terjadi dengan anak kita itu?"
"Tenangkan hatimu, Yi-moi. Aku sudah mendengar cerita perajurlt itu. Bi-bi Lu-ma dan pelayan wanita telah dibunuh orang. Tukang kebun kita terluka parah akan tetapi kata perajurit itu, sebelum tukang kebun tewas, dia sempat dibawa oleh Kwee-ciangkun. Dan anak kita agaknya dibawa lari pembunuh itu."
"Ahh....! Siapakah yang melakukan ini? Aku bersumpah akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Bi Lan, anak kita.... bagaimana nasibnya....?"
"Tenangkan hatimu. Setidaknya, aku yakin Bi Lan masih hidup. Kalau penculik itu berniat membunuhnya, tentu sudah dilakukannya seperti ketika dia membunuh yang lain. Kalau dia menculik anak kita, itu berarti dia menginginkan anak kita hidup-hidup dan selama Bi Lan masih hidup, ada harapan bagi kita untuk dapat berjumpa lagi dengannya." .
"Akan tetapi, siapakah yang melakukan kekejian ini? Siapa yang memusuhi kita seperti ini?"
"Kita tunggu saja. Aku sudah memerintahkan perajurit tadi untuk mengundang Kwee-clangkun ke sini. Engkau tahu, Kwee-ciangkun adalah sahabat kita yang baik. Tentu dia mengetahui lebih banyak dari tukang kebun kita itu."
Tak lama kemudiari muncullah Kwee-clangkun.
Perwira Kwee ini tldak ikut pergi berperang karena dia bertugas sebagal perwira pasukan penjaga kota raja.
Dia bersahabat balk dengan Han Si Tiong dan biarpun dia tldak termasuk anak buah Jenderal Gak Hul seperti halnya Sl Tlong, akan tetapl Perwlra Kwee Inl-pun seorang yang tidak suka kepada Perdana Menterl Chin Kui.
Begitu diterima oleh Si Tlong dan Hong Yi, Kwee-ciangkun merangkul sahabatnya itu..
"Han-ciangkun, aku merasa ikut prihatin atas malapetaka yang menimpa keluargamu selagi kalian pergi berjuang melawan penjajah Kin."
Katanya terharu.
"Terima kasih, Kwee-fciangkuit. Duduklah dan ceritakanlah sejelasnya kepa-da kami apa yang telah terjadi dalam rumah kami ini ketika kami pergi bertempur."
Kata Han Si Tiong.
Moreka bertlga duduk bertiadapan.
Mirang lebih sebulan yang lalu, tepat-nya mungktn srdah tiga puluh lima hari, padu suatu pagi aku mendengar laporan dari anak buahku yang melakukan peron-dten bahwa telah terjadi pernbunuhan di rumahmu ini.
Mula-mula yang mengetahuinya adalah seorang tetanggamu yang melihat tukang kebunmu menggeletak di pekarangan.
Mendengar bahwa pembunuhan itu terjadi di rumahmu, aku sendiri lalu bergegas datang melakukan pemeriksaan.
Ternyata bukan hanya tukang kebun yang menggeletak dalam Keadaan terluka parah, melainkan juga Lu-ma, bibi kallan Itu, dan wanita pembantu rutnah tangga kallan telah menggeletak tewas di kamar tamu."
"Kwe-ciaogkun, siapa yang melakukan pembunuhan keji ini? Dan apa yang terjadi dengan anakku Bi Lan?"
Hong Yi bertanya tak sabar.
"Tenanglah. Yl-mol. Biarkan Kwee-ciangkun melanluthan ceritanya."
Suaminya menenangkannya Kwee-ciangkun yang bernama Kwee Gi itu, seorang pria tinggi besar gagah berusia kurang lebih empat puluh tahun, menghela napas panjang.
dan memandang dengan sinar mata penuh iba kepada Hong Yi.
"Pada saat itu, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Bi Lan yang tidak berada di rumah. Akan tetapi aku meli-hat tukang kebun itu masih hidup, maka aku lalu menyuruh orang memanggil tabib dan merawatnya. Setelah dia siuman dari pingsannya, aku segera bertanya ke-padanya apa yang telah terjadi. .Sebelum dla tewas karena luka parah, semua tulang iganya patah-patah, dia bercerita kepadaku. Katanya pagi hari itu datang seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih, rambut, kumis dan jeriggotnya le-bat dan sudah putih semua, mengenakan topl aslng sepertt yang biasa dipakal suku-suku asing di utara dan barat, memegang sebatang tongkat ular kobra kering, wajahnya menyeramkan dengan mata lebar dan liar, tubuhnya sedang dan tegap. Tamu itu datang mencari kalian berdua. Ketika dijawab bahwa kalian pergi, dia minta bertemu dengan siapa saja yang berada di rumah. Tukang kebun itu lalu memberitahu Lu-ma dan tukang kebun itu kembali ke pekarangan depan, tldak tahu lagi apa yang terjadi di dalam. Akan tetapi, tak lama kemudian dia me-lihat laki-laki tua itu keluar dari dalam rumah sambil memondong Bi Lan yang tampak lemas dan anak itu me sangis tanpa suara. Tukang kebun berusaha untuk merebut kembali anak itu, akan tetapi penculik itu lihai sekali. Sebuah tendangan yang amat kuat mematahkan tulang-tulang iga tukang kebun itu sehing-ga dia roboh pingsan. Nah, demikianlah ceritanya. Setelah menceritakan semua itu, diapun menghembuskan napas terakhlr. Ketika aku memeriksa Jenazah Lu-ma dan pelayan Itu, mereka berdua tewas dengan luka di ulu hati dan di leher. Luka itu kecil saja, agaknya tertusuk benda tumpul, akan tetapi di sekitar luka itu berwarna menghitam. Tentu mereka keracunan hebat sekali dan tewas seketika. Dari kenyataan itu, jelas bahwa laki-laki tua itu seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi."
Sunyi sekali setelah Kwee-ciangkun menyelesaikan ceritanya. Suami isteri itu saling berpandangan dan perlahan-lahan dari kedua mata Hong Yi kemba-li menetes-netes air mata.
"Tiong-ko, kenalkah engkau dengan jahanam itu?"
Tanya Hong Yi sanrbil menahan isak tangisnya. Sambil mengerutkan alisrtya, Han Si Tiong menggeleng kepala.
"Aku tidak mengenalnya, tidak pernah melihatnya, mendengarpun belum. Kenapa orang yang tidak dikenal reelakukan semua kekejaman ini?"
"Akupun tidak mengenal orang dengan gambaran seperti itu. Akan tetapi kenapa dia menculik anakku?"
Hong Yi mengepal kedua tangannya, kegelisahan, kedukaan dan kemarahan memenuhi hatinya. Kwee-clangkun menghela napas panjang.
"Kiranya tldak salah lagi kalau aku mengira bahwa perbuatan orang yang keji ini tentu merupakan suatu balas dendam"
"Akan tetapi kami berdua tidak mengenal orang macam itu! Bagaimana dia dapat membalas dendam kalau kita mengenalnyapun tidak? Ada urusan apa antara orang itu dengan kami?"
Kata Hong Yi penasaran sekali.
"Tidak selamanya orang yang menden-g dam kepada kita turun tangan sendiri. Bisa saja dia menyuruh orang lain yang lihai untuk melaksanakan balas dendamnya itu. Mungkin saja orang yang membunuh bibi kalian dan menculik puteri kalian adalah orang suruhan, seorang pembunuh bayaran."
Kata Kwee Gi.
Han Si Tiong mengangguk-angguk "Apa yang dikatakan Kwee-ciangkun itu benar sekali, Yi-moi.
Tentu ada orang yang sakit hati kepada kita, yang secara pengecut membalas dendam kepada keluarga kita.
Betapapun Juga, masih ada harapan bagl kita bahwa mereka tidak akan mengganggu Bi Lan yang tidak bersalah apapun kepada mereka."
"Perkiraanmu itu kurasa benar sekali Han-ciangkun. Kalau pembunuh itu menginginkan kematian anakmu, tentu hal itu telah dilakukannya di sini, tidak perlu bersusah payah menculik anak itu keluar dari kota raja yang tentu saja mengandung resiko ketahuan."
"Aku bersumpah akan mencari penculik itu, membunuhnya dan merampas kembali anakku' Aku tidak akan berhenti sebelum dapat menemukannya!"
Hong Yi berkata dengan tegas dan penuh kemarahan. Si Tiong menghela napas panjang.
"Tentu hal itu akan kita lakukan, Yi-moi, akan tetapi harus dengan persiapan matang dan sebagai seorang yang memegang kewajiban, kita harus mengembalikan dulu kedudukan yang dianugerahkan kepada kita. Ahh, sungguh bertubi-tubi malapeta-ka menimpa diri kami, Kwee-ciangkun. Pertama, kami harus ikut berduka dan prihatin karena Jenderal Gak dipaksa menghentikan gerakannya dan menarik mundur pasukannya yang sudah mulai memperoleh kemenangan. Kemudian setelah kami pulang dengan hati berat, kami bahkan dihadapkan dengan. peristlwa pembunuhan bibi daa dua orang pembantu kami dan penculikan anak kami."
Han Si Tiong menarik napas panjang lagi dengan wajah diliputi kedukaan.
"Aku mengerti, Han-ciangkun. Biar-pun engkau dan isterimu mendapat anu-gerah pangkat panglima muda dan men-jadi bangsawan, namun hati kalian diliputi kedukaan. Aku juga mengerti akan keputusan Sribaginda Kaisar yang mengejutkan itu, yang memerintahkan Jenderal Gak menghentikan gerakan penyerbuan ke utara dan menarik mundur tentara-nya. Semua ini gara-gara bujukan perdana Meteri Chin Kui dan antek-anteknya sehingga Sri Baginda Kaisar mengambil keputusan seperti itu. Djam-diam aku sendi-ri sudah mengirim orang yang dapat ku-percaya untuk mengabarkan tentang per-j buatan Perdana Menteri Chin Kui ini kepada Jenderal Gak Hul."
Kata Perwira Kwee Gi.
"Hemm, begitukah?"
Han 'Sl Tiong mengepal tinjunya.
"Kasihan Jenderal Gak yang gagah perkasa dan budiman. Kasihan rakyat yang tinggal di sekitar perbatasan sebelah utara yang tadinya sudah dibebaskan oleh pasukan kita. Mereka mengantar penarikan mundur pasu-kan di bawah pimpinan Jenderal Gak de-ngan ratap tangis. Kalau begitu, untuk apa kami lebih lama lagi bertugas sebagai perwira? Kwee-ciangkun, kami berdua akan mengundurkan diri, kami akan pergi mencari puteri kami sampai dapat kami temukan."
Kwee-ciangkun dapat memaklumi ke-adaan sahabatnya.
Demikianlah, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi lalu mohon ijin untuk mengundurkan diri dan berhenti dari jabatan mereka dengan alasan harus mencari puteri mereka yang hilang diculik orang.
Permohonan berhenti Ini hanya sampai di tangan Jenderal Ciang Sun Bo yang berhak menangani urusan Ini.
Seperti kita ketahui, Jenderal Ciang itil adalah anak buah Perdana Menteri Chin Kui dan dia pernah bentrok dengan Si Tiong dan Liang Hong Yi karena dia tertarik oleh kecantikan Hong Yi.
Dlu tidak berani mengganggu, suumi isteri itu karena mereka menjadl para pembantu Jenderal Gak Hul, Oleh karena itu membaca permohonan suami isteri itu untuk berhenti dari pekerjaan mereka, tentu saja dia segera menyetujui.
Han Si Tiong dan Liang Hong Yl la-lu berkemas, menjuali harta miliknya lalu meninggalkan kpta raja.
Mereka berdua merantau, mencari-cari puteri mereka.
Akan tetapi penculik itu sama sekali ti-dak meninggalkan jejak sehingga mereka tidak tahu harus mencari ke mana.
Dari ciri-ciri penculik itu seperti yang diceritakan oleh tukang kebun mereka kepada Kwee-clangkun, mereka mendengar keterangan dari orang-orang kang-ouw (su-ngai telaga, dunia persilatan) bahwa yang dimaksud itu mungkin seorang datuk yang bernama Ouw Kan dan berjuluk Toat-beng Coa-ong (Raja Lllar Pencabut Nyawa).
Akan tetapl selama bertahun-tahun Inl datuk Itu hanya dlkenal ssbagai seorang yang datang darl Sln-klang dan riamanya amat terkenal dl utara, dl daerah yang klni dtduduki Kerajaan Kln.
Karena itu Si Tiong dan Hong Yi pergl merantau ke utara, lalu ke Sin-kiang.
Sampai hampir dua tahun mereka merantau dan mencarl-carl, akan tetapi semua usaha mereka sla-sia.
Mereka tldak dapat me-nemukan datuk yang mereka curigai Itu, bahkan akhirnya di daerah Sin-kiang mereka mendengar bahwa datuk itu mung-kin sekali sudah tewas, walaupun tak se-orangpun dapat memastikan akan hal itu dan tidak ada pula yang tahu di mana kuburnya.
Juga tidak ada orang yang da-pat mengatakan di mana adanya Bi Lan yang diculik itu.
Akhirnya setelah semua usaha mereka sia-sia, Si Tiong dan Hong Yi meng-hentikan usaha mereka mencari puterl mereka.
Dengan kecewa dan duka mere-ka lalu membeli sebidang tanah di dekat See-ouw (Telaga Barat) dan hldup sebagai petani, mengasingkan diri dari dunla ramai.
Mereka hidup sederhana.
Sang Waktu akhirnya mengobati sakit hati dan kedukaan mereka.
Mereka menerima nasib dan hidup sebagai petani, mendapatkan ketenterartian dan kedamaian di tempat yang sunyi dan indah itu.
Penduduk sekitar telaga yang indah itu kadang melihat sepasang suami isteri ini menunggartg keledai mereka di sepanjang tepi telaga sambil menikmati pemandangan yang indah sekali dari 'tempat itu.
Mereka hidup terasing dan jauh dari dusun, seperti dua orang pertapa.
Bah-kan para penduduk dusun di sekitar tela-ga tidak pernah tahu bahwa sepasang suami isteri itu adalah bekas panglima dan telah memperoleh gelar bangsawan darl Kaisar Sung Kao Tsu!
* * * Apa yang terjadi dengan Bi Lan?
Mari kita ikuti perjalanan Ouw Kan datukr yang dikenal dengan julukan Toat-beng Coa-ong itu, yang berhasil membawa Bi Lan yang ditotok pingsan dan dipondongnya itu keluar pintu gerbang kota raja sebelah utara.
Orang-orang yang melihatnya tentu menduga bahwa kakek itu memondong cucunya yang sedang tldur.
Setelah tiba jauh darl kota raja, Ouw Kan menurunkan Bi Lan dan membebaskan totokannya.
Bi Lan yarig merasa tubuhnya kaku dan lemah, jatuh terduduk.
Kini ia terbebas dari totokan, mampu bergerak dan mengeluarkan suara.
Begitu ia dapat menggerakkan tangan kakinya, tanpa memperdulikan tubuhnya yang masih terasa lemah, ia sudah meloncat bangun.
"Kakek jahat, engkau telah membu-nuh nenek, pelayan dan tukang kebun ka-n"i! Aku harus niembalaskan kernattan mereka!"
Setelah mengeluarkan suara bentakan ini, ia lalu menerjang dan menyerang kakek itu kalang kabut!
Akan tetapi apa artinya serangan se-orang anak berusia tujuh tahun?
Biarpun Bi Lan sejak kecil telah digembleng dasar-dasar ilmu silat oleh ayah ibunya, na-mun tentu saja inenghadapi seorang datuk seperti Ouw Kan, kepandaiannya itu sama sekali tidak ada artinya.
Sekali tangan kiri kakek itu menyambar, anak itu telah terpelanting dan terbanting roboh.
"Hemm, anak bandel! Kalau engkau tidak mau menaatiku dan berjalan sendiri dengan baik-baik, aku akan membuatmu tidak dapat bergerak seperti tadi kemudian aku akan menyeretmu!"
Bi Lan adalah seorang anak yang memiliki keberanian besar.
Mendengar ancaman itu ia sama sekali tidak merasa takut, bahkan kini ia sudah bangkit dan dengan nekat ia inenyerang lagi!
Ouw Kan menangkap lengan Bi Lan, akan tetapi anak itu cepat mendekatkan mukanya dan menggigit tangan kakek itu!
"Uhh'"
Ouw Kan yang tidak mengira tergigit tangannya.
Karena merasa nyeri dia lalu mengibaskan tangannya dan kembali Bi Lan terpelanting.
Akan tetapi ia bangkit lagi, mukanya merah karena marah dan ia sama sekali tidak menangis.
"Kakek iblis! Kubunuh engkau!"
Teriaknya dan kembali ia menerjang.
Ouw Kan diam-diam merasa kagum akan kenekatan dan keberanian anak itu akan tetapi dia juga merasa terganggu.
Kini dia menggerakkan tangan dan sekali jari tangannya menotok, Bi Lan roboh dengan tubuh lemas dan kaki tangan lumpuh.
Akan tetapi ia masih dapat mengeluarkan suara dan lapun memaki maki.
"Kakek Jahat! Kakek Iblls! Muka jelek, hatimu lebih jelek lagi!"
"Hemm, engkau memang bandel dan keras kepala. Engkau mencari sakit sendiri. Disuruh berjalan sendiri baik-baik tidak mau, rasakan sekarang aku akan menyeretmu!"
Ouw Kan melepaskan pita rambut Bi Lan sehingga rambut yang panjang itu terurai lepas.
Kemudian kakek itu menjambak rambut Bi Lan yang lebat dan hitam, lalu menyeret tubuh yang telentang itu di belakang.
Tentu saja Bi Lan merasa tersiksa sekali.
Belakang kedua lengan dan kakinya, juga punggung dan pinggulnya, terasa sakit-sakit karena terseret dan terantuk batu-batu di jalan.
Tubuh bagian belakang itu lecet-lecet, pakaiannya bagian belakang juga pecah-pecah.
Rasa pe-dih menusuk tulang.
Akan tetapi ia mengeraskan hatinya, tidak mau berteriak, tidak mengeluh.
Hanya matanya yang menjadi basah dan alr mata turun ke atas kedua pipinya.
Setelah berjalan agak jauh, Ouw Kati merasa kesal juga harus menyeret tubuh anak itu.
Sama tldak enaknya dengan memondong.
Dia berhenti dan menoleh.
Dilihatnya anak itu sama sekali tidak mengeluh, melainkan mengertakkan gigi dan kedua matanya mengeluarkan air mata namun sedikitpun tidak terdengar tangisnya.
Anak yang luar biasa, pikirnya kagum.
Bagian belakang tubuh anak itu sudah lecet-lecet berdarah, akan tetapl la tldak pernah mengeluh, dan sepasang mata yang jeli itu memandang ke-padanya penuh kemarahan!
"Nah, tidak enak bukan kalau kuseret?
Apa sekarang engkau masih keras kepala dan tidak mau berjalan sendiri?"
Bi Lan adalah seorang anak yang pemberani dan keras hati, akan tetapi di samping itu ia juga seorang anak yang cerdlk bukan main.
Pikirannya berjalan cepat.
la sudah melihat untung ruginya.
Kalau la berkeras tidak menaati perintah penculikya, ia akan tersiksa, terluka dan mungkin akan tewas.
Kalau begitu, tentu ia tldak beri kesempatan lagi untuk membalas semua kejahatan yang telah dilakukan kakek itu.
Sebaliknya kalau ia menaati, selain penyiksaan yang menghina itu tidak perlu ia rasakan, juga masih terbuka kesempatan baginya untuk membalas dan kalau mungkin membunuh kakek ini.
Setelah pikiran secepat kllat ini bekerja, ia lalu mengatakan keputusan hatinya.
"Baik, aku akan berjalan sendiri."
Ouw Kan tersenyum, merasa menang dan dia lalu membebaskan totokannya sehingga Bi Lan mampu bergerak kembali.
Bi Lan maklum bahwa menyerang lagi dengan nekat akan sia-sia belaka.
la harus menekan kemarahannya dan mena-han kesabarannya, menanti terbukanya kesempatan yang baik untuk membalas dendam.
la bangkit dan merasa betapa bagian belakang tubuhnya nyerl sekall, panas dan pedih sehingga tak tertahankan lagi la menyeringai kesakltan.
Melihat inl, Ouw Kan yang merasa kagum dan suka mellhat anak perempuan yang pemberanl dan tahan uji itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari sakunya.
"Menghadaplah ke sana, akan kuobati lecet-lecet itu!"' Bi Lan tidak membantah, lalu berdirl membelakangi kakek itu. Ouw Kan membuka bungkusan yang terisi obat bubuk berwarna kuning. Dia menaburkan bubuk kuning itu pada luka-luka di bagian be-lakang tubuh Bi Lan. Anak itu merasa betapa panas dan pedih di tubuhnya se-gera hUang terganti rasa dingin dan nyaman.
"Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita."
Kata Ouw Kan. Dia melangkah dan Bi Lan berjalan di sampingnya. Setelah berjalan tanpa bicara beberapa lamanya, Bi Lan lalu bertanya, mengatur agar kemarahan tidak muncul dalam suaranya.
"Engkau ini siapakah, Kek?"
Ouw Kan tersenyum dan mengelus jenggot putihnya yang lebat.
Dari suaranya, anak ini sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
Sungguh seorang anak yang luar biasa!
"Hemm, mau tahu slapa aku?
Aku bukan orang biasa saja.
Namaku Ouw Kan, akan tetapi dunia persilatan mengenal aku sebagai Toat-beng Coa-ong!"
"Pantas tongkatmu ular kering!"
Kata Bl Lan sambll memandang ke arah tongkat yang kinl dipegang tangan kanan kakek itu.
"Ha-ha, engkau cerdlk. Siapa nama-mu?"
"Namaku Han Bi Lan, kek."
"Han Bi Lan? Nama yang bagus."
Ouw Kan mengangguk-angguk.
Datuk Ini adalah seorang yang berwatak aneh dan terkenal kejam sekali.
Dia dapat membunuhi orang tanpa berkedipi Akan tetapi, betapapun jahatnya, ada juga saatnya dia bersikap seperti seorang manusia biasa yang dapat tertarik dan merasa suka kepada seseorang seperti sekarang dia merasa suka sekali kepatfa anak perempuan yang dlcullknya ini.
Sikap Bl Lan yang pemberanl Itu membuat dia kagum dan suka.
"Akan tetapi, kek. Engkau yang tidak mengenal aku, kenapa sekarang menculikku? Dan nenek Lu-ma, pembantu rumah tangga dan tukang kebun kami, apa kesalahan mereka terhadapmu? Kenapa mereka kau bunuh?"
Dihujani pertanyaan ini, Ouw Kan tertawa.
Dia adalah seorang manusia yang tak pernah menyadari akan kesalahannya.
Dia percaya bahwa segala yang dia lakukan adalah benar, tidak jahat, karena semua perbuatannya itu ada alasannya!
Nafsu daya rendah memang menjadlkan hati akal pikiran sebagai sarang-nya dan melalui hati akal pikiran inilah nafsu setan membisikkan alasan-alasan untuk membenarkan segala perbuatannya yang menyimpang dari kebenaran.
Setan itu cerdik bukan main.
Dia niembela se-mua perbuatan sesat dengan alasan-alas-an yang tampaknya masuk akal dan benar!
"Hemm, engkau ingin tahu mengapa aku melakukan penculikan dan pembunuhan itu, Bl Lan?
Semua Itu untuk menghukum dosa yang dllakukan ayah ibumu?
Mereka telah membunuh Pangeran Cu Sl dalam pertempuran, maka Sribaginda Raja Kin lalu menyuruh aku untuk membalas dendam kematian puteranya."
"Akan tetapi, kenapa aku yang kau culik dan mereka yang kau bunuh? Kami tidak mempunyai kesalahan apapun!"
Bi Lan membantah.
"Kalau ayah ibumu berada di rumah, tentu mereka yang akan kubunuh. Akan tetapi mereka tidak berada di rumah. Yang ada hanya engkau puteri mereka dan orang-orang itu. Maka engkau yang kuculik dan mereka kubunuh sebagai pembalasan atas kematian Pangeran Cu Si."
Pada saat itu terdengar suara derap kaki kuda datang dari belakang.
Ouw Kan berhenti melangkah dan menengok.
Bi Lan juga memutar tubuh.
Mereka melihat seorang laki-laki menunggang kuda datang dari arah belakang.
Ouw Kan lalu berdiri di tengah jalan menghadang dan mengangkat tangan kiri ke atas sebagai tanda menghentikan penunggang kuda itu.
Kuda dihentikan, debu mengepul dan laki-laki itu melompat turun dari atas punggung kudanya.
Dia seorang laki-laki kurang lebih empat puluh tahun dan me-lihat sebatang golok yang terselip di punggungnya dapat diduga bahwa dia se-orang yang siap menghadapi gangguan dengan kekerasan.
Seorang tokoh kang-ouw yang mengandalkan ilmu silatnya untuk membela diri.
Mukanya bulat, tubuhnya kokoh dan sinar matanya mencorong.
Alisnya berkerut ketika ia memandang kakek yang menghentikannya di tengah jalan itu.
"Paman tua, ada keperluan apakah engkau menghadang perjalananku?"
Tanya laki-laki itu sambil memandang kepada Bi Lan yang berdiri di tepi jalan.
"Apakah ada sesuatu yang perlu kubantu?"
"He-he, memang ada yang perlu Kau-bantu, sobat. Aku sudah tua dan cucuku ini masih kecil. Kami membutuhkan kudamu untuk melanjutkan perjalanan kami. Maka, engkau lanjutkan perjatanan dengan jalan kaki dan tinggalkan kudamu untuk kami pakai."
Kata Ouw Kan dengan senyum.
"Dia bohong! Aku bukan cucunya. Dia bukan kakekku, dia menculikku!"
Tiba-tiba Bi Lan berteriak.
la melihat sikap gagah laki-laki itu dan mengharapkan pertolongan darinya.
Laki-laki itu mengerutkan alisnya semakin dalam dan memandang kepada Ouw Kan dengan tajam penuh selidik.
"Ehh? Benarkah itu, paman tua?"
Sikap lembut Ouw Kan lenyap, ter-ganti pandang mata mencorong dan sua-ranya juga ketus.
"Jangan mencampuri urusanku. Berikan saja kudamu itu kepadaku!"
"Hemm, engkau sudah menculik seorang anak perempuan dan kini hendak merampas kudaku? Orang tua, jangan engkau berani main-main di depanku! Engkau tidak tahu siapa aku? Aku adalah orang yang disebut Hui-liong Sin-to (Go-lok Sakti Naga Terbang)! Minggirlah dan jangan ganggu. aku lagi dan biarkan aku mengantarkan anak ini kembali ke orang tuanya. Barulah aku mau mengampunimu!"
"Heh-heh-heh, kalau begitu terpaksa gku harus membunuhmu!"
Kata Ouw Kan tertawa sambil menggerakkan tongkat ularnya.
Tongkat itu meluncur ke arah dada laki-laki itu.
Akan tetapi orang yang mengaku berjuluk Hui-liong Sin-to itu dengan tangkas dan gesitnya mengelak ke belakang dan sekali tangan kanannya meraba punggung, tampak sinar berkelebat dan sebatang golok yang amat tajam telah berada dl tangan kanannya.
Ouw Kan tidak perduli.
Serangan pertamanya yang dapat dihindarkan lawan itu membuatnya penasaran dan diapun menyerang lagi.
Kini tongkat ular kobra itu membuat gerakan melayang dan melingkar-lingkar menyerang ke arah titik-titik jalan darah maut di bagian tubuh lawannya.
Hui-llong Sin-to terkeJut bukan main, mengenal serangan yang amat berbahaya.
Dia cepat memutar goloknya menangkis sambil mengerahkan tenaga dengan maksud untuk mematahkan tongkat ular kobra kering itu.
"Tranggg.....!!'' Tampak bunga apl berpijar dan bukan tongkat ular itu yang patah, melainkan golok itu terpental dan hampir saja terlepas dari tangan pemegangnya. Laki-laki itu terkejut bukan main. Dia adalah seorang ahli silat yang kenamaan dan tergolong jagoan sehingga memperoleh julukan Golok Sakti Naga Terbang. Goloknya amat terkenal dan jarang menemukan tanding. Akan tetapi sekali ini berhadapan dengan seorang kakek, tongkat ular kering kakek itu dapat membuat goloknya terpental! Tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan sakti. Akan tetapi dia tidak mendapat kesempatan untuk berpikir karena tongkat yang sudah berubah menjadi gulungan sinar hitam itu sudah menyambar lagi ke arahnya. Hui-Liong Sin-To terpaksa menangkis lagi sambil terhuyung ke belakang. Ouw Kan menggerakkan tangan kirinya, dengan telapak tangannya dia mendorong ke arah dada lawan.
"Robohlah!"
Bentaknya.
Serangkum tenaga dahsyat menyambar dan tubuh orang itu terpental ke belakang dan terbanting roboh.
Goloknya terlepas darl tangannya dan tubuh itu terkulal lemas.
Matanya terbelalak memandang Ouw Kan yang berdiri sambil tersenyum mengejek.
Telunjuk tangan kanannya diangkat menuding dan mulutnya yang mengeluarkan darah segar bertanya.
"Siapa.... siapa..... engkau.....?"
"Toat-beng Coa-ong Ouw Kan namaku!"
Kata Ouw Kan. Orang Itu tampak terkejut sekali.."Toat-beng Coa-ong.....? Ahhhh .... mati aku.....!"
Dia terkulai lagi dan diam tak bergerak, tewas seketika karena pukulan Ouw Kan tadi mengandung hawa beracun yang amat dahsyat.
Bi Lan menonton dengan mata terbelalak dan hati merasa ngeri.
Kini sadarlah anak ini bahwa penculiknya adalah seorang yang sakti dan berbahaya sekali.
Tahulah ia bahwa ia tidak mungkin akan dapat terlepas darl cengkeraman kakek ini mempergunakan kekerasan.
la menahan kebenciannya yang makin mendalam melihat betapa kakek itu demikian mudahnya membunuh orang, hanya untuk merampas kudanya.
Ouw Kan menghampiri Bi Lan dan tersenyum, lalu berkata dengan nada bangga.
"Hah, orang macam itu berani melawan aku! Mencari mampus sendiri. Hayo, Bi Lan, kita melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda."
Bi Lan tldak membantah ketika ia diangkat dan didudukkan di atas punggung kuda.
Kemudian kakek itu melompat dan duduk di belakangnya.
Kuda dilarikan meninggalkan tempat itu.
Bi Lan menoleh memandang ke arah pemilik kuda yang menggeletak tanpa nyawa di atas tanah dan ia mulai merasa ngeri.
"Bi Lan, kalau engkau bertemu orang mengatakan bahwa aku menculikmu lalu orang itu menantangku, dia tentu akan mati di tanganku dan engkaulah yang menyebabkan kematiannya itu,"
Kata Ouw Kan. Bl Lan merasa ngerl, Kakek inl lihal bukan maln dan ia tahu bahwa ucapen kakek itu bukan sekedar gertak kosong belaka.
"Habls, apa yang harua kukatakan kepada orang? Engkau memang menculikku."
Jawabnya.
"Engkau akan membawaku ke mana, kek? Apa yang akan kaulakukan denganku? Kalau engkau hendak membunuhku, kenapa tldak kaulakukan sekarang?"
"Heh-heh, aku suka melihatmu dan sayang kalau engkau dibunuh, Bl Lan. Aku akan membawamu ke utara dan menyerahkanmu kepada Sribaginda Raja Kin yang kematian puteranya. Terserah kepadanya apa yang akan dilakukannya terhadap dirimu."
Bi Lan mengerutkan alisnya.
Hatinya merasa khawatir sekali.
Raja Kin itu mendedam sakit hati kepada ayah ibunya yang telah membunuh puteranya dalam perang.
Kalau ia terjatuh ke tangan raja itu, tentu akan celaka hidupnya.
Raja itu tentu akan melampiaskan dendamnya.
Mungkin ia akan dibunuh, atau disiksa.
Atau la akan disandera dan dijadikan umpan untuk memancing datangnya ayah ibunya!
Ah, gawat sekali kalau begitu.
Akan tetapi ia diam saja.
Siang hari itu panasnya bukan main.
Ouw Kan menghentikan kudanya dan mereka turun dari atas punggung kuda.
Setelah menambatkan kudanya pada sebatang pohon, Ouw Kan mengajak Bl Lan duduk dl bawah pohon yang teduh.
Jalan pegunungan itu sunyi sekali.
"Perutku lapar, kita makan dulu."
Katanya dan dia mengeluarkan ssebuah bungkusan yang berisi roti kering dan daging kering.
"Kita makan seadanya dan minum anggur ini."
Ternyata kakek itu membawa seguci anggur.
"Aku tidak suka minum anggur. Di sana ada alr, aku ingln minum air."
Kata Bi Lan, menunjuk ke arah alr yang mengucur darl celah-celah batu padas.
Karena ia tidak Ingin kelaparan dan, kehabisan tenaga, Bl Lan makan rotl dan daglng kerlng, dan mlnum alr yang ditampung dengan kedua tangannya.
Ouw Kan "endlrl makan rotl dan daging kerlng lalu la minum anggur sampai habls setengah guci.
Dalam.
keadaan hampir mabuk dia lalu merebahkan diri di atas rumput dl bawah pohon Itu dan sebentar saja dia sudah tldur mendengkur!
Bi Lan duduk dl rumput dan memandang kakek Itu dengan Jantung berdebar.
Inilah aaatnya, piklrnya.
Saat yang memberl kesempatan kepadanya untuk meloloskan diri, untuk melarlkan diri!
la menanti sampai dengkur kakek itu terdengar teratur dan panjang-panjang, tanda bahwa tidurnya sudah pulas benar.
la bangkit berdirl, perlahan-lahan sambil terus mengamati kakek itu.
Tidak ada tanda-tanda bahwa kakek itu memperhatikannya.
la memutar tubuhnya, kemu-dian berjingkat rnelangkah meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi baru belasan langkah ia berjalan, tiba-tiba tubuhnya seperti ditarik oleh kekuatan yang taktam-pak sehingga ia terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk di tempatnya yang tadi!
la memutar tubuh melihat betapa kakek itu masih mendengkur!
Bi Lan menjadi penasaran sekali.
Kembali ia bangkit berdiri dengan hati-hati dan kini ia melangkah meninggalkan tempat itu sambil mundur, matanya tetap memandang ke arah kakek yang masih tidur mendengkur.
Setelah mundur belasan langkah, la melihat kakek yang masih mendengkur itu tlba-tiba menggerakkan tangan ke arahnya dan ....
kembali ada tenaga yang amat kuat menariknya ke depan.
Betapapun ia berusaha untuk bertahan, tetap saja tubuhnya tertarlk kembali ke depan dan ia jatuh terduduk di tempatnya yang tadi, tak jauh dari tubuh kakek yang rebah telentang dan tidur mendengkur itu!
Hati Bi Lan menjadi gemas sekali.
Mengertilah ia bahwa kakek sakti itulah yang membuat tubuhnya selalu tertarik kembali.
Entah bagaimana, dalam keadaan tidur mendengkur kakek itu mampu mencegahnya melarikan diri!
Kemarahan membakar hatinya.
Sekaranglah kesempatan itu terbuka baginya.
Makin lama ia akan semakin jauh di daerah utara dan akan makin kecilah harapan untuk dapat meloloskan diri.
Kalau kakeK ini, biarpun dalam tidur, dapat menghalanginya melarikan diri, satu-satunya jalan harus membunuhnya lebih dulu!
Bi Lan menjadi nekat.
Di dekatnya terdapat seborgkah batu sebesar kepalanya.
la mengambil.
batu itu dan mengangkatnya dengan ke-dua tangannya.
Lalu ia menghampiri Ouw Kan.
Dengan mengerahkan seluruh tenaganya ia membanting batu itu, menimpakannya ke arah muka Ouw Kan yang tidur telentang di atas rumput!
"Wuuuttt....
bukkkk!"
Sungguh aneh.
Dia masih mendengkur, akan tetapi ketika batu itu menlmpa, kepalanya bergerak ke samping sehingga batu itu menghantam tanah, tidak mengenai mukanya!
Bi Lan menjadi penasaran sekali.
Diambilnya lagi batu itu dan ditimpakan lagi ke arah muka.
Namun, sampai tiga kali ia mengulang, tetap saja hantamannya itu tidak pernah mengenai muka kakek itu.
Bi Lan menjadi penasaran sekali dan untuk ke empat kalinya ia menimpakan batu itu sekuat tenaga ke atas dada Ouw Kan!
Sekali ini kakek itu tidak dapat mengelak dan batu itu tepat menehantam dadanya.
"Bukkk....!!"
Bi Lan terpental sampai tiga meter, seperti dilontarkan tenaga yang amat kuat dan batu itu terlepas dan kedua tangannya, terpental lebih jauh lagi.
Tubuh Bi Lan terbanting keras ke atas tanah sehingga pinggulnya terasa nyeri.
Ouw Kan bangkit duduk, menggosok-gosok kedua matanya seperti orang baru bangun tidur, memandang kepada Bi Lan.
lalu bangkit berdiri.
Bi Lan juga bangkit berdin walaupun pinggulnya terasa nyeri.
la maklum bahwa ia tidak mungkin dapat terbebas dari kakek ini.
Kesempatan baik tadi telah ia pergunakan, akan tetapi ternyata kakek itu seorang yang amat sakti.
Sedang dalam keadaan tidur saja kakek itu dapat menggagalkan usahanya menyferang untuk membebaskan diri, apalagi dalam keadaan sadar.
Dan ia dapat membayangkan betapa ngeri nasibnya kalau terjatuh ke dalam tangan Raja Kin yang mendendam kepada ayah ibunya.
"Tidak! Aku tidak mau kaubawa lagi! Biar kaubunuh aku, aku tetap tidak mau ikut denganmu!"
Teriak Bi Lan dengan nekat. Ouw Kan tertawa bergelak. Dia merasa semakin suka kepada anak yang pemberani, nekat dan tidak takut mati ini.
"Ha-ha-ha, Bi Lan. Apa kaukira engkau akan dapat menolak kalau aku membawamu pergi?"
Dia lalu berkemak-kemik membaca mantera dan mengerahkan kekuatan sihirnya, lalu berkata dengan suara yang lembut namun mengandung wibawa yang kuat sekali.
"Bi Lan, anak baik! Ke sinilah, engkau harus patuh dan ikut denganku, ke manapun kubawa engkau pergi!"
Ada sesuatu yang teramat kuat mendorong Bi Lan, baik mendorong hatinya dan kedua kakinya sehingga ia melangkah maju, menghampiri kakek itu.
Akan tetapi baru tiga langkah ia berjalan, tiba-tiba terdengar suara tawa yang nyaring dan tiba-tiba saja kekuatan yang mendorong Bi Lan itu lenyap.
"Tidak, tidak!"
Bi Lari berhenti dan menggeleng kepalanya.
"Aku tidak sudi ikut denganmu. Engkau kakek jahat, telah membunuh nenek, pelayan dan tukang kebun kami. Aku benci padamut"
Ouw Kan merasa terkejut sekali melihat betapa pengaruh sihirnya atas diri anak itu punah.
Dia tahu bahwa suara tawa tadilah yang memunahkan kekuatan sihirnya.
Dia merasakan getaran hebat terkandung dalam suara tawa itu.
"Omitohud! Toat-beng Coa-ong Ouw Kan di mana-mana mendatangkan kekacauan belaka. Anak sekecil inipun hendak dipaksanya. Uih, sungguh mernalukan sekali seorang datuk besar sampai dimakl-maki anak kecil!"
Ouw Kan cepat memutar tubuh ke kanan dan dia melihat kakek itu!
Seo-rang kakek yang berusia sekitar enam puluh tahun, berjubah kuning dengan kotak kotak merah, kepalanya gundul mengenakan peci kain kuning.
Tubuhnya tinggi besar berperut gendut dan bajunya tidak terkancing sehingga dadanya tampak.
Mukanya bulat dan semua anggauta tu-buh kakek ini tampak kebulat-bulatan.
Di tangan kanannya terdapat sebatang tongkat panjang berkepala naga.
Tentu saja Ouw Kan menjadi terkejut dan juga marah sekali.
Baru beberapa bulan dia bertemu dengan kakek ini yang bukan lain adalah Jit Kong Lama, pendeta Lama dari Tibet yang amat sakti itu.
Pernah dia dan Ali Ahmed datuk suku Hui itu berhadapan dengan Jit Kong Lama dan memperebutkan kitab-kitab yang dibawa Tlong Lee Cin-jin dan dia bersama Ali Ahmed kalah melawan kakek gundul dari Tibet Inl.
"Jit Kong Lama!"
Ouw Kan membentak marah.
"Tidak malukah engkau sebagai seorang datuk besar hendak mencampuri urusan orang lain? Urusanku dengan anak ini sama sekali tidak ada sangkui pautnya dengan dirimu, karena itu pergilah dan jangan mengganggu kami!"
"Ha-ha-ha! Ouw Kan, pinceng (aku) tidak sudi mencampuri urusan pribadimu, akan tetapi pinceng ingin inencampuri urusan anak ini. Kalau ia memang suka kaubawa pergi, pinceng tidak akan peduli. Akan tetapi kalau ia tidak mau kau bawa pergi, setelah ada pinceng di sini, engkau tidak boleh memaksanya."
Mendengar ucapan hwesio gundul berjubah aneh itu, Bi Lan cepat berkata dengan lantang.
"Losuhu yang baik, dia itu orang jahat sekali!"
Telunjuknya menuding ke arah muka Ouw Kan.
"Aku tidak sudi ikut dengan dial" . Jit Kong Lama tertawa lagi.
"Ha-ha-ha, Ouw Kan, engkau sudah mendengar sendiri dengan jelas! Anak Ini tidak mau ikut denganmu, maka pergilah tinggalkan ia dan jangan menggunakan paksaan Ouw Kan menjadi marah bukan main. la amat membutuhkan diri Bi Lan untuk dijadikan bukti keberhasilan tugasnya kepada Raja Kin. Dia tidak berhasil membunuh Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, sekarang harus gagal lagi menculik anak mereka. Membunuhi nenek dan dua pela-yan itu, tentu saja tidak ada artinya bagi pembalasan dendam kematian Pangeran Cu Si. Akan tetapi diapun bukan seorang bodoh. Baru beberapa bulan yang lalu, bersama Ali Ahmed sekalipun mere-ka tidak mampu menandingi Jit Kong Lama. Apalagi sekarang harus melawan seorang diri! Dia tidak sebodoh itu untuk mencari penyakit melawan orang yang jauh lebih, kuat dari padanya.
"Anak ini aku yang membawanya sampai di sirai. Kalau ia tidak mau ikut, biar ia mampus saja!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba dengan gerakan cepat sekali tubuhnya sudah melompat ke arah Bi Lan dan tongkat ular kobra itu meluncur ke arah kepala anak perempuan itu.
"Trakkk!"
Tongkat itu bertemU ujung tongkat naga di tangan Jit Kong Lama sehingga terpental dan tubuh Ouw Kan agak terhuyung ketika ia terdorong ke belakang.
"Omitohud! Apa kaukira pinceng ini patung? Anak ini tidak sudi kau bawa, apalagi kaubunuh! Karena ia tidak mau, pinccng harus membelanya!"
Jit Kong Lama melintangkan tongkat kepala naga di depan dadanya. Ouw Kan memandang dengan mata berapi, akan tetapi dia menahan diri dan tidak berani menyerang.
"Jit Kong Lama, sekali ini aku mengalah kepadamu. Akan tetapi ingatlah bahwa aku bertugas sebagai utusan Sribaginda Raja Kin dan campur tanganmu ini berarti engkau telah berdosa terhadap KeraJaan Kin!"
"Ha-ha-ha, ancamanmu itu tidak ada artinya bagi pinceng. Pinceng bukan warga negara Kin, maka pinceng tidak berdosa kepada kerajaan manapun!"
Setelah melotot kepada pendeta Lama dan Bi Lan, Ouw Kan lalu memutar tubuhnya, berlari ke arah kuda yang dltam-batkan pada batang pohon, melepas kendali kuda lalu melompat ke atas punggung binatang itu dan cepat meninggalkan tempat itu.
Kini pendeta Lama itu berdiri berhadapan dengan Bi Lan.
Mereka saling pandang dan memperhatikan.
Sebagai anak Cerdik Bi Lan tahu bahwa kakek gundul ini telah menolongnya dan ia harus berterima kasih kepadanya.
Maka iapun maju menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan Jit Kong Lama.
"Losuhu telah menolong saya dan membebaskan saya dari tangan pembunuh dan penculik itu. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada losuhu."
Jit Kong Hwesio membungkuk dan menggunakan tangan kirinya untuk meraba-raba dan menekan-nekan kepala, kedua pundak dan punggung Bi Lan.
Anak itu merasa heran dan tidak enak diraba-raba seperti ku, akan tetsipi ia diam saja.
"Bangkitlah, anak baik. Siapa namamu dan di mana tempat tinggalmu?"
Bi Lan bangkit berdiri.
"Saya bernama Han Bi Lan dan tempat tinggal saya dl kota raja Hang-chou."
"Omitohud! Begitu jauhnya dia membawamu? Dari Hang-chou ke sini? Wah, perjalanan dari sini ke Hang-chou dengan berjalan kaki akan makan waktu puluhan hari! Bagaimana engkau akan dapat pulang sendiri, Bi Lan? Di dalam perjalanan sejauh itu, engkau tentu akan bertemu banyak orang jahat. Engkau mungil dan cantik, tentu banyak orang jahat tidak akan melepaskanmu begitu saja."
Mendengar ini, kembali Bi Lan menjatuhkap dirinya berlutut.
"Lo-suhu, mohon losuhu jangan kepalang menolong saya. Kalau losuhu sudi menolong saya mengantarkan saya pulang ke Hang-chou, pasti saya akan sampai di rumah dengan selamat dan kedua orang tua saya tentu akan berterima kasih sekali kepada losuhu."
Bi Lan belum mau menyebutkan nama ayah dan ibunya, karena la beluin mengenal slapa sebenarnya kakek Inl dan la tldak tahu apakah kakek ini tidak memusuhl ayah Ibunya.
"Omltohud...... untuk melindungimu engkau harus menjadi muridku dan pinceng melihat engkau bertulang baik, pantas menjadi muridku....."
"Teecu suka menjadi murid suhu!"
Cepat Bi Lan menyambar tawaran ini.
"Omitohud! Tidak ringan syaratnya untuk menjadi muridku, Bi Lan. Sampai hari ini pinceng belum pernah menerinia murid dan kalau engkau memang berjodoh menjadi muridku, engkau harus memenuhi syarat itu."
"Apakah syarat itu, suhu? Teecu (murid) tentu akan bersedia untuk memenuhl-nya!"
Kata Bi Lan dengan penuh semangat.
"Ada dua syarat yang harus kaupenuhi. Pertama, engkau harus mengikuti aku selama sepuluh tahun dan selama itu engkau tidak boleh pergi ke manapun juga, tidak boleh pulang ke rumah orang tuamu. Dan syarat ke dua, setelah sepuluh tahun menjadi muridku, engkau boleh pergi dan pulang kepada orang tuamu, akan tetapi engkau harus mencari sampai ketemu dan membunuh seorang musuh besarku yang bernama Tiong Lee Cin jin. Nah, sanggupkah engkau memenuhi. kedua syarat itu?"
Bi Lan yang masih berlutut itu tertegun.
Syarat ke dua itu tidak perlu ia ragukan lagi.
Siapapun musuh gurunya, sudah menjadi kewajibannya untuk menentang musuh besar gurunya.
Akan tetapi syarat pertama itulah yang berat.
la tadi mau menjadi murid Lama itu agar ia dapat cepat diantar pulang.
Akan tetapi syarat itu menghendaki agar selama sepuluh tahun ia tidak boleh pulang ke rumah orang tuanya!
la mempertimbangkan syarat itu.
Kalau ia menolak, ia harus pulang sendiri, padahal Hang-chou begitu jauh, perjalanan begitu lama dan hampir dapat dipastikan ia akan celaka di tangan orang-orang jahat di sepanjang perjalanan jauh itu.
Kalau ia menerinna, biarpun selama sepuluh tahun ia berpisah dari orang tuanya, akan tetapi setelah sepuluh tahun lewat, ia akan dapat bertemu kembali dengan mereka.
Selain itu, ia akan mendapatkan ilmu-ilmu yang tinggi dari gurunya.
"Hei, bagaimana ini? Kenapa diam saja? Kalau tidak mau, sudahlah, pinceng inau pergi."
"Mau, suhu, teecu mau dan sanggup!"
Teriak Bi Lan cepat "Benarkati engkau sanggup? Kalau begitu, bersumpahlah, disaksikan Langit dan Bumi!"
Sejak kecil Bi Lan sudah diajar sastra oleh kedua.
orang tuanya, maka ia pernah membaca tentang orang bersumpah.
Sambil masih berlutut ia merangkap kedua tangan dan mengangkatnya ke atas, lalu bersumpah dengan suara lantang.
"Disaksikan Langit dan Bumi, saya Han Bi Lan bersumpah akan menjadi murid dari suhu ..... Jit Kong Lama...."
Sampai di sini Bi Lan menoleh kepada kakek itu dan Jit Kong Lama menganggukkan kepala membenarkan.
".....saya akan menaati semua perintahnya, selama sepuluh tahun tidak akan meninggalkannya dan setelah tamat belajar saya akan pergl mencarl dan membunuh musuh besar suhu yang bernama Tiong Lee Cin-jin!"
Jlt Kong Lama tertawa dan mengangguk-angguk dengan gambira sekali.
Tadi dia telah meraba dan menekan kepala dan tubuh anak itu dan dia mendapat kenyataan bahwa Bi Lan adalah seorang anak perempuan yang bertulang baik dan berbakat sekali.
la akan menjadi seorang murld yang baik sekali.
Watak datuk ini memang aneh.
Dia tidak ingin tahu siapakah orang tua anak itu.
Dia tidak peduli.
Yang penting baginya adalah anak itu, bukan orang tuanya.
Maka diapun tidak bertanya lagi siapa ayah ibu anak itu dan Bi Lan juga diam saja.
"Mari kita pergi, Bi Lan."
Jit Kong Lama menggandeng tangan anak itu dan dia berlari cepat sambil menggandeng.
Bi Lan terkejut sekali.
la merasa tubuh-nya seperti melayang karena kedua kakinya kadang tidak menginjak tanah.
Saking cepatnya mereka meluncur, Bi Lan memejamkan kedua matanya, apa lagi kalau kakek itu membawanya melompatl jurang yang lebar dan dalam.
Jit Kong Lama tldak berani kembali ke Tlbet dan dia membawa Bi Lan ke sebuah di antara puncak-puncak yang terpencll di Pegunungan Kun-lun-san.
Dusun-dusun kecil di sekitar tempat itu dihuni sedikit penduduk yang bekerja sebagai petani dan mereka menganggap Jit Kong Lama sebagai seorang pendeta yang bertapa di puncak itu, ditemani seorang murid perempuan.
Jit Kong Lama dan Bi Lan hidup secara sederhana di puncak itu dan mulai hari itu dia menggembleng muridnya dengan tekun.
Bi Lan juga berlatih dengan rajin sekali.
Anak perempuan kecil itu sudah mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang pendekar wanita agar kelak, selain dapat membalas dendam gurunya terhadap musuh besarnya, juga ia ingin mencari Ouw Kan untuk membalaskan kematian neneknya, juga pelayan dan tukang kebun mereka.
Cita-cita inilah yang membuat anak itu bertahan dan belajar dengan penuh semangat walaupun terkadang ia merasa rindu sekali kepada ayah ibunya, * * * Kalau tidak diperhatikan tidak dlrasakan, sang waktu melesat dengan amat cepatnya, lebih cepat daripada apapun Juga.
Tanpa terasa, bertahun-tahun lewat seolah baru beberapa hari saja.
Seorang tua yang mengenang masa kanak-kanaknya, merasa seolah masa itu baru iewat beberapa hari saja, padahal sudah puluhan tahun berlalu.
Sebaliknya kalau diperhatikan dan dirasakan, sang waktu merayap lebih lambat daripada siput sehingga sehari rasanya seperti sebulan.
Menanti?
sesuatu atau seseorang yang terlambat satu jam saja rasanya seperti sudah terlambat sehari!
Demikianlah, tanpa terasa sepuluh tahun telah lewat sejak Souw Thian Liong mengikuti Tiong Lee Cin-jin sebagai murid pertapa yang sudah berkelana itu.
Tiong Lee Cln-jin mengajak Thlan Liong pergi ke Puncak Pelangi, sebuah di antara banyak puncak di Pegunungan Gobi.
Di puncak yang indah namun sunyi ini Tiong Lee Cln-Jin membangun sebuah pondok dari kayu dan barnbu yang sederhana namun kokoh kuat.
Dlbantu Thlan Liong, dia membersihkan pondok itu dan bekerja mencangkul dengan tekun setiap hari sehingga beberapa bulan kemudian di depan dan kanan kiri pondok terdapat taman yang penuh tanaman bunga beraneka warna dan belakang pondok terdapat sebuah kebun yang luas.
Dia menanam segala macam sayuran, pohon-pohon buah dan juga tanaman obat-obatan.
Tiga empat tahun kemudian, karena kebiasaan dan kesukaan Tiong Lee Cin-jin menolong dan mengobati penduduk dusun sekitar puncak itu yang menderita sakit, dan pengobatannya itu selalu berhasil menyembuhkan, maka dla dikenal sebagai Tabib Dewa!
Kemudian berdatanganlah para penduduk membawa orang sakit ke Puncak Pelangi untuk minta obat kepada Tabib Dewa.
Setelah dibutuhkan banyak orang, Tiong Lee Cin-jin menanam lebih banyak lagi tumbuh-tumbuhan yang mengandung ,obat.
Thian Liong digembleng ilmu silat setiap hari.
Anak ini memang rajln sekali, bukan hanya rajin berlatih silat, melainkan juga rajin membantu suhunya sehingga diapun hafal akan semua jenis tanaman obat.
Akhirnya Thian Liong juga mempelajari ilmu pengobatan dan suhunya yang bijaksana juga mengajarkan ilmu sastra kepadanya.
Demikianlah, setelah lewat sepuluh tahun, Thian Liong telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh tahun.
Bentuk tubuhnya sedang dan tegap, kulitnya putih karena sejak kecil tinggi di puncak bukit.
Rambutnya hitam panjang dan lebat, alisnya berbentuk golok, matanya tajam mencorong namun bersinar lembut, hidungnya mancung dan mulut-nya selalu membayangkan senyum penuh pengertian dan kesabaran.
Mukanya agak bulat namun dagunya runcing.
Lang kahnya tenang dengan tubuh tegak.
Pa-kaian dan sikapnya yang bersahaja dan rendah hati itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa pemuda ini seorang yang telah memiliki ilmu yang tinggi, yang membuat dia menjadi seorang sakti yang lihai sekall.
Kerendahan hatinya itu wajar, sudah lahlr batin dan mendarah daglng, karena sudah meresap benar ke dalam Jiwanya nasihat gurunya yang beru-lang kali sejak dia pertama kali menjadi muridnya.
"Ingat selalu, Thian Liong. Kita manusia ini hanya merupakan seonggok darah daging dan tulang yang lemah dan tidak bisa apa-apa kalau tidak ada Kekuasaan Tuhan yang bekerja dalam diri kita. Karena itu ingatlah selalu bahwa apapun yang dapat kita lakukan dalam hidup ini, baik melalui pikiran, kata-kata dan perbuatan, semua itu hanya mungkin kare-na Kemurahan Tuhan. Tuhanlah yang Maha Kuasa, Maha Pintar, Maha Bisa, Maha Ada, dan Maha Segalanya sejak dahulu, sekarang, kelak dan selama-lamanya. Kita ini hanya menjadi alatNya. Maka ingatlah selalu agar engkau menjadi alat Tuhan yang baik, karena kalau tidak, besar bahayanya onggokan darah daging dan tulang ini akan diperalat oleh Iblis."
Nasihat ini sudah meresap dalam jiwa dan hati sanubari Thian Liong, maka dia selalu merasa bahwa dirinya tidak bisa apa-apa dan kalaupun ada yang dapat dia lakukan, hal itu dapat terjadi karena Kekuasaan Tuhan yang membimbingnya.
Thian Liong mendapat kemajuan pesat dalam ilmu, sastra karena gurunya memiliki banyak kitab kuno yang harus dibacanya sampai habis.
Kitab pelajaran filsafat dan agama telah dibacanya semua dan sering kali Tiong Lee Cin-jin mengajak dia merenungkan dan mempelajari inti pelajaran kitab-kitab itu.
Thian Liong tahu bahwa gurunya itu condong kepada To-kauw (Agama To) dan pandangan hidupnya banyak dipengaruhi filsafat dalam Kitab To-tek-keng.
Akan tetapi gurunya juga tidak mengesampingkari ajaran-ajaran dari semua agama lain.
Diambilnya ajaran-ajaran yang seirama, dan ini banyak sekali, dari agama-agama itu dan dikesampingkannya sedikit perbedaan yang ada mengenai sejarah, kepercayaan, dan upacara.
"Ketahuilah Thian Liong. Yang kita sebut Thian, Tuhan Yang Maha Kuasa itu mutlak Maha Ada dan Maha Benar. Kalau orang-oraog saling membicarakan dan mempertentangkan maka akan timbul bentrokan dan perselisihan. Hal ini terjadi karena mempertentangkan itu adalah hati akal pikiran kita yang sudah diperalat nafsu. Hati akal pikiran kita terlalu kecil sekali untuk dapat mengukur Keberadaan, Kebesaran, dan KebenaranNya. Hati-akal-pikiran hanya akan membentuk aku yang selalu minta dibenarkan, aku yang selalu merasa pintar, selalu merasa benar sendiri, paling mengerti. Si-aku yang sesungguhnya bukan lain adalah nafsu, kuasa iblis. Bagaimana mungkin kebenaran hendak diperebutkan? Memperebutkan kebenaran itu sendiri sudah jelas tidak benar! Semua agama mengajarkan manusia untuk hidup baik dan bermanfaat bagi dunia dan manusia dan semua agama itu benar adanya karena merupakan wahyu dari Tuhan untuk membimbing manusia agar tidak tersesatdan agar tidak melakukan kejahatan. Tentu saja ketika wahyu dlturunkan, manusia menerimanya disesualkan dengan jamannya, kebudayaan bangsanya pada waktu itu, dengan tradisinya dan segalanya. Hal ini tentu akan membuat wahyu-wahyu itu tampak berbeda pada lahirnya. Pakaiannya saja yang berbeda, bahasanya, dan setelah lewat ratusan atau ribuan tahun mungkin pula terjadi perubahan-perubahan dalam bahasa dan penafsirannya. Kenapa mesti dicari perbedaannya? Kenapa mesti dipertentangkan? Kenapa mesti membenarkan agama sendiri dan menyalahkan agama yang lain? Tuhan hanya satu. Bahkan satu dl antara jutaan ciptaanNya, yaitu matahari, manfaatnya untuk semua manusia di permukaan bumi, apalagt Tuhan sendiri! Tuhan Yang Maha Esa adalah Tuhan semua manusia, tak perduli berbangsa atau beragama apapun, bahkan Tuhan semua mahluk, yang tampak maupun yang tidak tampak, yang bergerak maupun yang tidak bergerak! Lihatlah sebintik lumut. Begitu kecil tak berarti, namun Kekuasaan Tuhan berada dalam dirinya, karena itu ia hidup!"
"Suhu, semua itu telah dapat teecu mengerti. Yang membuat teecu masih belum jelas adalah ucapan suhu dahulu bahwa kita tidak akan dapat merasakan bekerjanya Kekuasaan Tuhan dengan jelas, tidak akan dapat mengerti kalau ? menggunakan hati akal pikiran kita. Lalu untuk mengerti kita harus bagaimana?"
"Hati akal pikiran itu hanya merupakan gudang penyimpan segala macam pengalaman. la hanya akan mengetahui dan rnengerti apa yang tersimpan dalam ingatannya saja. Selebihnya ia tidak tahu apa-apa. Coba kau cari seorang yang belum pernah kau kenal, tidak kau ketahui namanya, tidak kauketahui di mana tinggalnya, dapatkah engkau? Tidak mungkin, bukan? Itu baru mencari seorang manu-sia! Apalagi mencari Tuhan dan KekuasaanNya! Bagaimana hati akal pikiran akan dapat menemukannya? Nah, karena itu hentikanlah mencari dengan hati akal pikiran, biarkan hening dan rohmu yang akan dapat berhubungan dengan Tuhan. Tuhan itu ROH adanya, bukan mahluk. Melihat kekuasaannya? Buka saja panca inderamu dan perhatikan sekelilingmu. Dl mana-mana di luar dirimu dan di dalam dirlmu, Kekuasaan itu tak pernah berhenti bekerja! Berkah itu terus mengalir tiada hentinya. Lihatlah betapa sebentar saja Kekuasaan itu, atau yang disebut To (Jalan) itu berhenti, akan musnalah alam semesta ini! Matamu dapat melihat, hidungmu dapat mencium, telingamu dapat mendengar, jantungmu berdetik, rambutmu tumbuh dan segalanya itu, pekerjaan siapakah? Dapatkah engkau menghentikan tumbuhnya sehelai saja dari rambut di tubuhmu?"
Percakapan seperti inilah yang membuat Thian Liong menjadi rendah hati menghadap Tuhan dan menyerahkan diri sepenuhnya dalam bimbingan KekuasaanNya.
Pada pagi hari itu, setelah melayani gurunya makan pagi dan telah selesai mencucl peralatan makan, Tiong Lee Cin jin memanggilnya.
Suhunya sudah duduk di serambi depan pondok mereka, duduk di atas sebuah bangku bambu Tiong Lee Cin-Jin tampak termenung.
Thian Liong menghampiri gurunya dan duduk dl atas bangku di depan kakek itu sambil memandang gurunya.
Gurunya sekarang tampak segar dan sehat walaupun usia-nya sudah enam puluh tahun.
Sepahang matanya tajam bersinar penuh wibawa, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya.
Rambutnya sudah, dlhiasi uban, diikat dengan pita kuning.
Pakaian-nya sederhana sekali, hanya kain kuning yang dilibatkan di tubuhnya.
Wajah itu tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya.
Thian Liong tahu bahwa ini adalah hasil dari ketenangan batin yang tak pernah dilanda permasalahan hidup.
Bukan berarti bahwa gurunya tidak pernah menghadapi kesukaran-kesukaran hldup.
Sama sekali bukan.
Seperti ucapan guru-nya.
Manusia hidup tak mungkin terbebas daripada masalah susah senang selama dia masih mempergunakan pikiran !
karena susah senang ini memang permainan pikiran.
Apabila hati akal pikiran tidak bekerja, misalnya di waktu tidur, maka manusia tidak akan lagi merasakan susah atau senang.
Gurunya sudah memiliki batin yang kokoh kuat, tenang dan seperti gunung karang, tidak tergoyahkan oleh hantaman gelombang suka dan duka.
Gurunya menghadapi semua peristiwa yang menimpa dirinya sebagai suatu hal yang wajar saja sehingga da-pat menerimanya sambil tersenyum, tidak mempengaruhi perasaan batinnya.
Tidak ada lagi rugi untung bagi Tiong Lee Cin-jin.
Bahkan tidak ada lagi susah senang yang mengikuti batinnya.
Semua keadaan diterima dengan tenang dan seperti gunung karang menerima gelombang, susah senang lewat begitu saja tanpa bekas.
"Suhu memanggil teccu?'"
Tanya Thian Liong.' Tiong Lee Cin-jin memandang muridnya dengan sinar mata penuh sayang dan tersenyum.
Ada kebanggaan sedikit memancar dari sinar matanya.
Bagaimanapun juga, tentu saja kebanggaan dalam hati kakek itu.
Selama sepuluh tahun dia menggembleng murid tunggalnya ini dan dia melihat kemajuan yang luar biasa pada diri muridnya ini.
Harus dia akui bahwa dia sendiri di waktu muda tidak memiliki bakat sehebat muridnya ini.
Dalam sepuluh tahun, Thian Liong hampir dapat menguasal semua ilmu yang diajarkannya dengan baik.
Bukan hanya ilmu silat lahiriah, melainkan juga batiniah.
Pemuda itu dapat menghimpun tenaga sakti yang amat kuat.
Selain itu, juga batinnya kuat, pengetahuannya men-dalam mengenai soal kerohanian.
Bagaimanapun juga, kebanggaan ini hanya terdorong oleh kepuasan hatinya melihat kemajuan muridnya, sama sekali tidak membuat dia menjadi sombong atau tinggi hati, lebih tepat sebagai perasaan bangga dan puas dari seseorang yang melihat hasil pekerjaannya berbuah baik dan memuaskan.
"Thian Liong, engkau tentu sudah dapat menduga apa maksudku memanggilmu. Kalau engkau lupa menghitung, aku ingatkan engkau bahwa telah sepuluh tahun engkau mempelajari ilmu dariku."
Thian Liong menelan ludah untuk menenangkan hatinya yang berdebar.
Tentu saja dia mengerti dan masih ingat akan ucapan gurunya dahulu bahwa gurunya akan membimbingnya mempelajari ilmu selama sepuluh tahun.
"Apakah suhu maksudkan bahwa waktunya telah tiba bagi teecu untuk berpisah dari suhu?"
Tanyanya dengan suara tenang dan sikap biasa saja. Gurunya mengangguk-angguk.
"Benar, Thian Liong. Seperti pepatah dahulu mengatakan bahwa ada waktu berkumpul pasti akan tiba waktu berpisah. Tiada yang abadi di dunia ini dan perubahan memang perlu bagi kehidupan ini. Sekarang tiba saatnya bagi kita untuk saling berpisah, Thian Liong. Erigkau perlu untuk turun gunung dan mempraktekkan semua teori pelajaran yang pernah engkau terima dariku. Tanpa diamalkan, apa gunanya semua ilmu yang kaukuasai itu? Dan tanpa diamalkan, sia-sia sajalah engkau bersusah payah selama sepuluh tahun mempelajarinya, Selain itu, aku juga akan memberi beberapa tugas untuk itu."
"Teecu akan senantiasa menaati semua perintah suhu dan teecu akati selalu ingat akan semua nasehat suhu dan akan melaksanakannya dalam langkah kehidupan teecu. Tugas apakah yang hendak suhu berikan kepada teecu?"
Baca Juga: Asmara Berdarah 8
Baca Juga: Dara Baju Merah 2