Eps 1 Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Naga Langit - Kho Ping Hoo.
Kisah Si Naga Langit (Serial 01 -Kisah Si Naga Langit) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Mao-Mao-San (Gunung Mao-mao) menjulang tinggi sekitar empat meter dan puncaknya menembus awan."
Gunung ini terletak di sebelah dalam Tembok Besar, di dekat perbatasan sebelah utara Propinsi Gan-su dan Mongo-lia Dalam.
Biarpun pegunungan ini terletak di perbatasan, namun pegunungan ini tidak sepi benar.
Kota Tian-ju dan Gu-lang terletak di kakinya sebelah barat dan utara, sedangkan dl kaki bagian timur terdapat kota Jing-tai.
Pegunungan Inl mempunyal tanah yang subur, maka di kaki pegunungan dan di lereng-lereng bagian bawah terdapat banyak dusun pertanian di mana rakyat petani hidup cukup makmur, dalam arti kata tidak pernah kekurangan makan.
Akan tetapl di bagian lereng sebelah atas sampal ke puncak, Mao-mao-san jarang dikunjungi orang karena daerah ini penuh dengan hutan belantara yang dihuni banyak binatang buas.
Para pemburu binatangpun hanya berani mencari untung sampai di lereng pertengahan saja.
Cerita tahyul beredar di kalangan rakyat petani bahwa di dekat puncak Mao-mao-san terdapat seekor naga siluman yang amat jahat.
Kabarnya banyak pemburu yang beranl naik lebih tinggi, lenyap tanpa menlnggalkan jejak dan dikabarkan menjadi mangsa naga slluman.
Semenjak cerlta Itu tersiar, tidak ada seorangpun pemburu berani nalk mendaki lereng yang berada dl pertengahan gunung.
Pagi itu hari dlmulai dengan cuaca yang amat cerah.
Matahari pagl bebaa memuntahkan cahayanya, membangunkan segala sesuatu yang malas terblus malam dingin.
Embun pagi membubung dari hutan-hutan kemudian lenyap dibakar sinar mataharl yang mulal terasa hangat.
Burung-burung mulal sibuk, berkicau sallng memberi salam, berloncatan darl dahan ke dahan, merontokkan embun yang tadinya tergantung di ujung-ujung daun-daunan.
Mereka ttu dengan riang gembira menyambut sinar matahari dan bersiap-siap melakukan pekerjaan mereka mencari makan.
Binatang-binatang hutan juga mulai meninggalkan sarang mereka untuk mencari makan bagl dlri sendirl dan bagl anak-anak mereka.
Bunga-bunga bermekaran.
Kupu-kupu beterbangan.
Awan putlh tipis berbagai bentuk berarak di angkasa.
Semua bekerja!
Matahari, awan, pohon-pohon, bunga, embun, burung, kupu-kupu dan semua binatang hutan.
Mereka semua mulal sibuk bekerja mencari makan, Memang sesungguhnya lah.
Hidup adalah gerak dan gerak yang pallng balk dan bermanfaat adalah be-kerja.
Seluruh alam dan Isinya tiada henti-hentinya bekerja.
Kekuasaan Tuhan selalu bekerja, tak pernah berhenti sedetikpun juga.
Kalau berhenti sedetik saja, akan kiamatlah dunia ini.
Dari lereng dekat puncak, masih di bawah awan, kita dapat melihat panorama yang teramat indah.
Sukar dllukiskan kebesaran dan kelndahan alam.
Sawah ladang terbentang luas dibawah kaki kita.
Di sana-sini tampak air berkilauan memantulkan sinar matahari seperti cermin-cermin.
Mata dapat menikmati pemandangan yang amat indah.
Telinga juga dapat menikmati suara-suara merdu, kicau burung, desah angin di puncak-puncak pohon, gemercik air.
Hidung juga dapat menikmati aroma yang amat segar, sedap dan alami.
Bau hutan, bunga, tanah basah, semua itu demikian dekat dan dikenal penciuman kita.
Udara demikian sejuk segar, mengalir deras memenuhi paru-paru, membawa kesehatan dan kenyamanan perasaan.
Indah dan nikmatnya hidup ini!
Di lereng bawah puncak yang amat sunyi itu dan yang hampir tidak pernah dikunjungi orang, pada pagi hari itu terjadl hal yang tldak seperti biasanya.
Terdapat seorang lakl-lakl berjalan seorang dlri menuruni puncak!
Lakl-laki itu melangkah seperti di luar kesadaran nya.
Dia seolah bersatu dengan alam di sekitarnya, matanya melahap semua yang tampak, mata yang bersinar penuh bahagia, mulutnya tersenyum.
Pada saat seperti Itu, dia seperti kehilangan jati dirlnya karena sudah bersatu dengan alam.
Dia adalah bagian dari pohon-pohon Itu, bagian dari ratusan burung yang terbang di angkasa, bagian dari sekumpulan kupu-kupu yang mencari madu diantara bunga-bunga, sebagian dari embun yang masih bergantung di ujung-ujung daun.
Dia ber hentl melangkah.
Di depannya terdapat sebuah jurang ternganga.
Di bawah kaki nya, sinar matahari membentuk bayang-bayang memberi gairah kehidupan kepada segala sesuatu.
Orang itu agaknya baru sadar akan dirinya dan dlapun menghirup napas dalam-dalam sehingga dada dan perutnya mengembang.
Seperti dengan sendirinya dia berdongak ke langit, dan mulutnya berbisik.
"Terpujilah nama Yang Maha Kasih, yang menciptakan semua inl."
Dia lalu melangkah lagi, perlahan-lahan, dengan santai.
Dia seorang lakl-laki berusla kurang lebih lima puluh tahun.
Rambutnya yang panjang digelung ke atas masih hitam semua.
Wajahnya halus belum ada kerut tuanya.
Sepasang matanya mencorong tajam namun lembut sekali.
Hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum ramah dan penuh kesa-baran dan pengertian.
Wajahnya berbentuk bulat dengan dagu meruncing.
Tubuhnya sedang saja, tampak lemah.
Pakaiannya sederhana sekali, hanya sehelai kain panjang kuning yang dilibat-libatkan tubuhnya.
Dia memakai sepatu kain tebal yang bawahnya dilapisi besi sehingga awet sekali.
Di punggungnya tergendong sebuah buntalan kuning yang besar dan tampaknya berat.
Pria itu di waktu mudanya bernama Tiong Lee, seorang ahli sastra yang mendalami tentang pelajaran Khong-hu-cu, Lo-cu dan yang terakhir pelajaran Agama Buddha.
Seperti telah menjadi kebudayaan Cina di waktu abad ke sebelas, ketlga agama ini berbaur dan filsafat tiga agama ini dipilih yang cocok untuk menjadl dasar kehidupan Cina.
Semenjak usia dua puluh lima tahun, Tiong Lee yang tertarik untuk mendalaml pelajaran Agama Buddha, melakukan perjalanan ke India seperti pernah dilakukan oleh pendeta Hsuan Tsang pada abad ke tujuh.
Di negara pusat Agama Buddha itu Tiong Lee mempelajari Agama Buddha secara mendalam, dan selaln itu, dia mempelajari pula tentang ilmu Yoga dan pembangkitan kekuatan sakti dalam tubuh yang disebut Kundalini Yoga.
Juga dari para pertapa Hindu yang memiliki kesaktian yang luar biasa, dia mempelajari banyak ilmu sihir bersih yang berlawanan dengan ilmu "sihir hitam yang biasanya dipergunakan untuk melakukan kejahatan.
Biarpun dia telah menjadi seorang ahli dalani Agama Buddha, Tiong Lee tidak mencukur rambutnya, tidak menjadi hwesio (bhikkhu).
Hanya pakaiannya saja sederhana seperti pakaian para pendeta.
Rarnbutnya digelung dan diikat dengan pita kuning.
Karena ke manapun dia pergi, dia mengajarkan tentang kehidupan yang benar dan baik, maka dia selanjutnya, setelah berusia lima puluh tahun, mendapat sebutan Tiong Lee Cin-jin.
Setelah berusia lima puluh tahun dan sudah dua puluh lima tahun merantau ke India dan Tibet, akhirnya Tiong Lee Cin-jin melakukan perjalanan ke timur untuk pulang ke Cina.
Dia membawa banyak kitab-kitab suci, baik darl Agama Buddha maupun Agama Hindu, dengan maksud untuk dibawa pulang ke negerinya dan diterjemahkannya agar dapat dipelajari banyak orang di negerinya.
Pada pagi hari itu, perjalanannya dari dunia barat tiba di pegunungan Mao-mao.
Tertarik oleh keadaan gunung itu, dia mendaki sampai ke puncak dan tinggal semalam di puncak.
Pagi itu dia menuruni puncak dan menikmati keindahan alam.
Dalam pesona kebesaran alam seperti itu, teringatlah dia akan kalimat bijaksana yang sukar dimengerti akan tetapi mudah dirasakan dalam keadaan seperti keadaannya di saat itu.
Kalimat itu berbunyi.
"Tidak memiliki apapun berarti memiliki segalanya!"
Kata memiliki yang pertama berarti kemelekatan kepada sesuatu yang dipunyai, dan kemelekatan kepada sesuatu, baik sesuatu itu orang, barang ataupun nama dan kedudukan, pasti menda-tangkan sengsora kehilangann.
Adapun kata memlliki yang kedua berarti manunggal, bersatu dengan segalanya.
Kita da-pat menikmati merdunya kicau burung di pohon dan indah harumnya bunga tanpa takut kehilangan.
Akan tetapi sekali kita memiliki burung itu dan mengurungnya dalam sangkar, atau memilikl tanaman bunga itu dan mengelilinginya dengan pagar, sekali waktu kita akan menderita kalau burung Itu hilang atau bunga itu dipetik orang.
Tiong Lee Cln-jin tersenyum dan menundukkan mukanya seolah menghitung langkahnya satu-satu.
Mempunyai akan tetapi tldak memiliki, itulah seninya kehidupan.
Mempunyai hanya secara lahiriah saja.
Batin tidak memiliki dan tidak melekat sehingga tidak merasa takut atau duka kalau kehilangan apa yang dipunyainya.
Hanya Yang Maha Kuasa yang berwenang memiliki segala apa yang ada.
Kita tidak memiiiki apa-apa.
Semua yang ada pada kita hanyalah pinjaman belaka.
Bahkan badan inipun bukan milik kita.
Kita tidak kuasa atasnya.
Bahkan kita tldak kuasa untuk menghentikan tumbuhnya kuku atau sehelai rambut.
ADA yang menumbuhkan.
Itulah Tao.
Itulah kekuasaan Tuhan yang tidak pernah berhenti bekerja walau sedetikpun.
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, tampak dua bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu di depan Tiong Lee Cin-jin berdiri dua orang pria tua.
Ke munculan mereka yang seperti pandai menghilang atau terbang Itu menyadarkan Tiong Lee Cin-jin bahwa dia berhadapan dengan dua orang yang memlliki ilmu kesaktian tinggi.
Melihat dua orang itu, dia memandang penuh perhatian.
Orang pertama adalah seorang laki-laki yang usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih.
Kumisnya yang putih itu pendek saja, akan tetap!
jenggotnya yang juga su'dah putih itu tumbuh dari bawah tellnga kiri sampa!
ke bawah telinga kanan, lebat sekali.
Rambut dan alls nya yang tebal Juga sudah putih semua.
Akan tetapl kulit mukanya yang banyak kerutan ttu maslh nampak kemerahan dan scgar.
Dla mengenakan sebuah topl dari bulu blnatang yang bentuknya seperti peci sederhana.
Dari potongan baju dan celananya yang juga sederhana, Tiong Lee Cin-jln yang sudah banyak pengalaman itu tahu bahwa pria itu ada lah seorang bersuku bangsa Uigur.
Orang kedua adalah seorang laki-laki yang lebih tua lagl.
Usianya tentu sekitar tujuh puluh tahun dilihat dari mukanya yang penuh keriput.
Matanya sipit, kumisnya tipis saja, akan tetapi jenggotnya lebih tebal daripada jenggot orang pertama, dan berwarna kelabu.
Kepalanya memakai kain kepala berwarna putih yang dibelitkan seperti sorban.
Dilihat dari cara dia berpakalan Tiong Lee Cin-jin menduga bahwa kakek kedua ini tentu bersuku , bangsa Hui, yang sebetulnya adalah bangsa Han juga, akan tetapi yang sudah berabad-abad tinggal di Mongolia Dalam.
Dllihat dari sorban di kepalanya, dapat diduga bahwa kakek Hul Ini beragama Islam.
Memang suku bangsa Hul sebagian besar adalah Muslim.
Mellhat dua orang yang leblh tua darlnya dan mereka berdua itu agaknya sengaja menghadang dl depannya, Tiong Lee Cin-jin cepat memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada, lalu membungkuk dan berkata dalam bahasa Han dengan ramah sambil tersenyum.
"Selamat berjumpa, seudara tua yang baik! Semoga Yang Maha Kuasa selalu memberkahi kalian berdua."
Kakek suku bangsa Uigur itu terkekeh dan dia menggerak-gerakkan tongkatnya yang ternyata adalah seekor ular cobra yang dlkeringkan ke atas lalu menjawab.
"Selamat bertemu, sobat!"
Katanya dalam bahasa Han. Kakek suku bangsa Hul memukui-mukulkan tongkatnya yang terbuat darl se macam bambu yang disebut Bambu Sislk Naga ke atas tanah lalu berkata lantang.
"Mualaikum salaam, semoga Allah memberkahi anda! Bukankah anda yang ber nama Tiong Lee Cin-jin?"
Kata pula kakek suku bangsa Hui itu dengan bahasa Han yang lancar pula.
Tiong Lee Cin-jin tersenyum.
Dia ttdak merasa heran kalau kedua orang ini mengenal namanya, Bagi dia, tidak ada yang aneh di dunia ini karena segala sesuatu itu pasti ada alasan dan sebabnya.
"Benar sekali, saya adalah Tiong Lee Cin-jin. Sebaliknya, siapakah ji-wi (anda berdua), datang darl mana hendak ke mana?"
"Aku bernama Ouw Kan datang dari Sin-kiang barat."
Kakek suku Uigur yang memegang tongkat ular berkata.
"Dan aku adalah Ali Ahmed dari pedalaman Mongol. Kami berdua memang sengaja datang hendak bertemu denganmu, Tiong Lee Cin-jin. Kami mendengar bahwa engkau baru pulang dari india dan akan lewat di daerah ini, maka, karni sengaja datang menghadangmu,"
Kata kakek suku Hui. Kembali Tiong Lee Cin-jin memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depari dada lalu berkata sambil tersenyum.
"Sungguh merupakan penghormatan besar sekali bagiku. Setelah sekarang kita berjumpa di sini, apakah kiranya yang dapat saya bantu dan lakukan untuk ji-wi?"
"Heh-heh-heh, bagus sekali. Kiranya nama besar Tiong Lee Cin-Jin sebagai seorang yang baik hati dan pemurah bukanlah kabar kosong belaka!"
Kata Ouw Kan sambil menggerak-gerakkan tongkat ular cobranya.
"Anda memang dapat membantu kami, Tiong Lee Cin-jin, yaitu berikan dan tinggalkan buntalan yang kau gendong itu untuk kami."
Tiong Lee Cin-jin mengerutkan alis-nya.
"Sahabat berdua, isi buntalan ini hanya beberapa potong pakaian pengganti dan kitab-kitab yang saya bawa dari India. Kalau ji-wi menghendaki, silakan mengambil pakaian dan sedikit bekal uang emas yang berada di buntalan, ke-mudian membiarkan saya melanjutkan perjalanan saya."
Suaranya masih tetap lembut; dan ramah karena baginya, kehilangan pakaian dan uang emas tidak menimbulkan masalah.
"Heh, Tiong Lee Cin-jin! Jangan bicara seenaknya saja kamu! Apa kau kira kami berdua ini hanya sebangsa perampok hina?"
Bentak Ouw Kan marah sam-bil menudingkan tongkat ular cobranya ke arah dada Tiong Lee Cin-jin.
"Lalu apa yang kau kehendaki, saudara Ouw Kan?"
Tanya Tiong Lee Cin-jin.
"Tiong Lee Cin-jin, kami tidak menginginkan harta benda milikmu. Haram bagiku untuk mengambil harta orang lain. Kami hanya menghendaki agar engkau meninggalkan kitab-kitab itu kepada kami!"
Kata Ali Ahmed sambil menunjukkan telunjuknya ke arah buntalan yang berada di punggung Tiong Lee Cin-jin.
"Aneh sekali permintaanmu itu, Saudara Ali Ahmed. Kitab-kitab yang kubawa dari India ini adalah kitab-kitab Agama Buddha dan Hindu sedangkari engkau adalah seorang Muslim. Apa gunanya kitab-kitab ini bagimu?"
Tanya Ttong i Lee Cln-jin.
"Kami tidak Ingln mempelajari agama, akan tetapi kami tahu bahwa banyak i kitab suci yang kaubawa itu mengandung pelajaran tentang ilmu silat tinggi dan itmu sihir. Bahkan ada sebuah kitab peninggalan Sang Budhi Dharma menge-nai pelajaran silat yang sakti. Aku Sangat membutuhkan kitab 'itu."
Kata Ouw Kan garang.
"Kitab peninggalan Tat Mo Couwsu (Boddhi Dharma) itu menurut surat wasiat guru besar itu diperuntukkan biara Siauw-lim di Gunung Sung-san. Para hwesio Siauw-lim-pai yang berhak atas kitab itu dan aku harus menyerahkannya kepada mereka. Amat tidak baik mengambil hak milik orang lain."
"Tidak perduli. Tinggalkan buntalan itu!"
Bentak Ouw Kan dan Ali Ahmed !
berbareng.
Tiong Lee Cin-jin tersenyum dan ,menghela napas panjang.
Kemudian, perlahan-lahan dia melepaskan ujung kain buntalan yang diikatkan di depan dadanya, melepaskan gendongannya.
Kemudian di-turunkan gendongan itu dan diletakkan di atas tanah, di depannya.
Melihat ini, dua orang itu berpencar, melangkah maju menghampiri dari kanan kirl.
Tiba-tiba Ali Ahmed menudingkan tongkat bambunya ke arah buntalan kain kuning sambil berseru.
"Terbanglah ke Sini!"
Tiba-tiba saja buntalan kain kuning itu melayang ke atas seperti ada tangan tak tampak yang mengangkatnya.
Buntalan itu melayang perlahan ke arah Ali Ahmed.
Pada saat itu, Ouw Kan juga meng angkat togkat ular cobranya dan.
ber-teriak "Kembali kepadaku!"
Tongkapya ditudingkan ke arah buntalan yang sedang melayang ke arah Ali Ahmed dan tlba-tiba saja buntalan itu beralih arah, kini melayang ke arah Ouw Kan.
Ali Ahmed mengeluarkan suara menggeram.
Tongkat bambu di tangan kanannya tetap menuding ke arah buntalan dan kini tongkat itu bergetar keras.
"Ke sini!"
Bentaknya . dari buntalan kain kuning ini kembalt beralih arah, membalik ke arah kakek bersuku bangsa Hui itu.
"Ke sini!"
Berrtaky Ouw Kan dan tongkat ular cobranya juga tergetar hebat.
Kini buntalan itu bergerak ke kanan kirl seolah-olah terbetot oleh dua kekuatandahsyat yang memperebutkannya.
Tiong Lee Cin-jin yang menonton adu kekuatan sihir ini tersenyum.
"Sungguh sayang sekali!"
Katanya lirih akan tetapi suaranya mengandung ke kuatan sehingga dapat terdengar jelas oleh dua orang yang sedang memperebutkan buntalan kain kuning dengan mengadu tenaga sihir itu.
"Kalian telah bersusah payah membuang waktu bertahun-tahun untuk menghimpun tenaga sakti. Ternyata hari ini tenaga sakti itu hanya ka lian pergunakan untuk menuruti nafsu Setan! Tidak sadarkah kalian bahwa begitu kalian menuruti keinginan, berarti kalian telah membiarkan diri dicengkerarn nafsu setan dan akan menjadi permainannya? Sadarlah, wahai kedua orang saudaraku, sebelum terlambat terjebak bujukan iblis yang akan menyeret kalian ke dalam dosa dan kesengsaraan!"
Mendengar ucapan Tiong Lee Cin-jin itu, kedua orang seperti melepaskan bun-talan yang mereka perebutkan sehingga buntalan itu meluncur ke bawah dan jatuh ke atas tanah di depan Tiong Lee Cin-jin yang sudah duduk bersila di atas rumput.
"Tiong Lee Cin-jin, kata-katamu menyesatkan. Aku ingin mendapatkan kitab-i^ kitab untuk menemukan cara menyempurnakan diri mencapai penerangan dan kebahagiaan sejati!"
Kata Ouw Kan.
"Aku juga ingin mendapatkan ilmu agar kelak aku dapat masuk sorga!"
Kata Ali Ahmed.
"Aih, saudara-saudaraku yang baik! Insaflah akan kesesatan kalian. Sadarilah bahwa semua pelajaran dalam agama apapun juga pada dasarnya sama, yaitu membiarkan jiwa yang rindu kepada sumbernya seperti air rindu kepada samudera, melalui pikiran, ucapan dan perbuatan yang baik dan benar, yang sifatnya membangun tidak meruntuhkan, menjaga tidak merusak, membahagiakan dan tidak menyengsarakan sesama hidup. Kita mempersiapkan diri setiap saat untuk menjadi alat yang membantu pekerjaan Kuasa Yang Maha Mulia pencipta alam semesta dan semua isinya. Bagaimana kita dapat melaksanakan semua ini? Melalui hati akal pikiran? Tidak niungkin. Hati akal pikiran telah dijadikan sarang nafsu setan yang selalu ingih mendapatkan sesuatu. Apakah itu harta, atau nama besar, atau juga yang diinginkannya itu yang dinamakan kesempurnaan, sorga dan sebagainya lagi, semua itu sama saja. Yang diinginkan hati akal pikiran itu adalah yang diinginkan nafsu setan, yaitu kesenangan! Baik itu dinamakan kesempurnaan atau kebahagiaan atau sorga, kalau sudah diinginkan, dicari, maka se-mua itu tiada lain hanyalah kesenangan. Kita membayangkan kesenangan dalam s6rga atau kesempurnaan itu. Kesenangan itul.ah yang menarik kita untuk mengejar dan memperolehnya dan ini merupakan keinginan nafsu daya rendah. Menuruti keinginan nafsu daya rendah ini menyeret kita ke dalam kesesatan karena demi mencapai apa yang kita inginkan kita akan melakukan apapun juga tanpa mempertimbangkan apakah cara yang kita pakai itu baik atau sesat."
"Heh-heh, Tiong Lee Cin-jin, penda-patmu itu bahkan menyesatkan! Kalau kita tidak mempergunakan hati akal pikiran, mengisinya dengan pengertian, ba-gaimana mungkln kita dapat membedakan antara yang benar dan yang salah? Tanpa pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk, bagaimana kita akan mam-pu melawan daya pengaruh nafsu?"
Kata Ouw Kan.
"Hati akal pikiran memang merupakan anugerah khusus bagi manUsia karena tan. pa itu klta akan hidup tiada bedanya dengan hewan. Hati akal pikiran memang perlu dipergunakan untuk menimba ilmu pengetahuan lewat pengalaman dan pelajaran karena kehidupan manusia di dunia ini secara lahlriah membutuhkan ilmu pengetahuan. Akan tetapi kalau ilmu pe-ngetahuan atau kalau hati akal pikiran kita pergunakan untuk melawan daya pe-ngaruh nafsu, kita akan kecelik! Coba kumpulkan seluruh maling di dunia ini , dan tanya, apakah ada seorang saja di antara mereka yang tidak tahu atau tidak mengerti bahwa perbuatan mencuri itu adalah perbuatan jahat dan tidak baik? Semua, tidak terkecuali, tentu mengertl melalui hati akal plkirannya. Akan tetapi, pengetahuan dan pengertian melalui hati akal pikiran itu tidak dapat menghentikan perbuatan mencuri itu! Sebaliknya malah. Hati akal pikiran yang sudah menjadi sarang bagi nafsu daya rendah itu bahkan menjadi pem-bela perbuatan mencuri itu dengan membisikkan berbagai alasan. Aku terpaksa melakukan ini, demi keluargaku, orang lain juga melakukan malah lebih besar daripada aku. Demikian hati akal pikir-an membisiki sehingga semua maling ti-dak merasa menyesal, tidak bertobat malah semakin menjadi-jadi."
"Hemm, agaknya engkau sama sekali tidak memberi jalan kepada orang yang berbuat dosa untuk bertaubat. Kalau begitu, apakah yang harus dilakukan nianusia untuk tidak melakukan kesesatan?"
Ouw Kan mengejar.
"Apapun yang diusahakan untuk mengu bah, semua usaha itu masih dalam lingkungan hati akal pikiran, masih dalam lingkaran kekuasaan nafsu daya rendah yang selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik! Pamrih-pamrih ini yang menje bak kita sehingga terjadi lingkaran setan. Ingin lebih baik, iogin lebih menyenangkan, ingin ini ingin itu yang akhirnya menyeret kita ke dalam kesesatan-kesesatan baru yang lain lagi. Tidak ada usaha hati akal pikiran yang akan berhasil. Hanya ada satu saja kekuatan yang akan mampu menundukkan nafsu daya rendah. Kekuatan itu bukan lain adalah Kekuasa-an Yang Maha Kasih. Dengan kekuasaan inilah kita akan dapat menalukkan natsu setan yang bagaimana licik dan jahat-pun! Kekuasaan ini akan memberi kekuatan kepada kita, akan menuntun kita. Kekuatan ini muncul kalau kita menyerah kepada Yang Maha Kuasa secara mutlak. Kalau hati sanubari kita kosong dan terbuka, Kekuasaan Mutlak itu akan masuk, membangkitkan jiwa kita, memberinya kekuatan dan nafsu-nafsu daya rendah akan kembali menduduki tugasnya semula, yaitu menjadi pelayan kita, menjadi hamba kita, bukan menjadi majikan kita."
"Semua uraianmu itu terdengar muluk-muluk dan indah. Akan tetapi aku merasa tidak setuju ketika engkau menyebutkan bahwa mencari sorga sama dengan mencari harta. Semua orang, dari agama apa-pun juga, merindukan sorga. Kenapa eng-kau berani merendahkan sorga sedemikian rupa sehingga kausamakan dengan harta benda?"
Ali Ahmed bertanya sambil rnengerutkan alisnya yang tebal.
"Saudaraku yang baik. Sorga atau har-ta benda memang tidak ada bedanya ka-lau keduanya itu dibayangkan sebagai se suatu yang akan mendatangkan kesenang-an lalu dikejar-kejar. Yang mengingin-kan kesenangan dan mengejar-ngejarnya adalah nafsu daya rendah. Memang sifat nafsu itu demikian, mencari kesenangan. Coba kita bertanya kepada diri sendiri. Andaikata sorga itu dibayangkan sebagai sesuatu tempat yang tidak enak, tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan, apakah kita masih akan mengejarnya? Kurasa tidak akan ada seorangpun manusia mengejarnya! Kalau kita membayangkan kesenangan, apapun bentuknya, jelas bah-wa itu ulah, nafsu duniawi dan kedagingan, karena segala macam bentuk kesenangan adalah bentuk keenakan yang dapat dirasakan 'jasmani selagi berada di dunia. Dan selama ada kesenangan, disitu pasti ada pula kesusahan, saudara kembarnya yang tak terpisahkan."
"Wah, Tiong Lee Cin-jin ini serigaja banyak bicara untuk mengalihkan perhatian kita dari buntalan kitab-kitab itu, Ali Ajimed. Jangan dengarkan dia lagi!"
Kata Ouw Kan dengan marah dan dia su dah bersiap dengan tongkat ular cobranya. Ali Ahmed juga melompat ke bela-kang dan mengerutkan alisnya.
"Benar, dia bahkan ingin mempengaruhi, kita de ngan ajaran-ajaran sesat! Tiong Lee Cin-jin kauserahkan atau tidak kitab-kitab itu? Ataukah kami harus menggunakan kekerasan?"
Orang bersuku bangsa Hui itu mengancam dengan tongkat bambunya, yang diacungkan ke atas.
Tiong Lee Cin-jin yang masih duduk bersila itu tersenyum dan melambaikan tangan kanannya ke arah buntalan yang terletak di atas tanah di depannya.
"Sudah sejak tadi kulepaskan dari gendongan. Di antara kalian berdua, entah siapa yang berjodoh memiliki kitab-kitab itu."
"Aku yang berjodoh!"
Tiba-tiba Ouw Kan berseru dan dia menggerakkan tangan kanan yang memegang tongkat ular cobra.
Dengan tongkatnya itu dia hen dak mengambil buntalan kitab.
Akan te tapi tongkat bambu di tangan Ali Ah-med juga meluncur dan menangkis tong kat ular cobra.
"Tidak, . aku yang berjodoh!"
Orang Hui itu berseru.
"Trakkk!"
Tongkat mereka bertemu dan sungguh hebat sekali.
Tongkat ular cobra kering dan tongkat bambu itu keti-ka saling bertemu, terdengar suara nyaring dan tampak bunga api berpijar seo-lah-olah yang bertemu itu adalah benda yang terbuat daripada baja murni.
Dari kenyataan ini saja sudah dapat diketahui bahwa dua orang Itu adalah orang-orang yang memilikl kesaktian.
Ouw Kan me nyerang dengan gerakan silat yang aneh bagi Tiong Lee Cin-jin.
Gerakan Ouw Kan yang bertubuh sedang dan tegap ini meliuk-liuk seperti gerakan seekor ular, cocok sekali dengan senjatanya, yaitu sebatang tongkat ular cobra kering.
Hebatnya, gerakannya yang cepat dengan serangan yang tidak terduga-duga datangnya itu diseling dengan suara mendesis-desis yang keluar dari mulutnya yang diruncingkan, presis seekor ular yang menyemburkan uap beracun.
Namun, lawannya, Ali Ahmed ternyata juga memiliki gerakan silat yang hebat.
Gerakan ke-dua kakinya jelas dipengaruhi oleh ilmu Siauw-lim-pai Utara.
Tongkat bambunya menyambar-nyambar, diseling kedua kakinya silih berganti yang tidak kalah bahayanya bagi lawan dibanding tongkainya.
Mereka bergerak cepat dan tangkas, tong kat ular cobra dan tongkat bambu itu lenyap bentuknya berybah menjadi gulungan sinar hitam dan hijau.
Hanya kadang-kadang kedua sinar Itu bertemu dan meledaklah bunga api berpljar menyilaukan mata.' Tlong Lee Cin-Jin masih tetap duduk bersila.
Buntalan kain kuningnya yaog kini diperebutkan orang itu masih terletak di atas tanah, di depannya, Sejak tadi Tiong Lee Cin-jfn menonton pertandingan itu dan diam-diam dia harus mengakui bahwa tingkat kepandaian silat dya orang itu sudah tinggi.
Pantasnya iriereka itu datuk-datuk persilatan di darah mereka sendiri.
Dia tidak merasa heran bahwa ada orang-orang dunia per silatan mengetahui bahwa dia pulang ke Cina membawa kitab-kitab pusaka.
Orang orang dunia persilatan itu selalu haus akan pusaka-pusaka yang sekiranya da-pat membuat mereka menjadi semakin llhai, seperti senjata-senjata ampuh atau kitab-kitab pelajaran ilmu yang tinggi.
Perkelahian antara Ouw Kan dan Ali Ahmed itu menjadi semakin seru.
Kini keduanya tidak hanya mengandalkan ilmu silat untuk saling serang, akan tetapi juga mempergunakan ilmu sihir.
Ketika Ouw Kan mengeluarkan teriakan aneh, dari mulut ular cobra kering yang menja-di tongkatnya itu menyambar uap hitam yang berbau amis ke arah lawan!
AU Ahmed tidak ingnjadi gugup.
Tangan kirinya terbuka mendorong ke depan dan keluarlah uap putih dari telapak tangannya yang menyambut uap hitam.
Keduanya terdorong ke belakang dan terhuyung.
Akan tetapi mereka sudah dapat mengatur keseimbangan tubuh mereka kembali dan sudah siap untuk saling gempur, melanjutkan pertandingan tadi.
Akan tetapi tiba-tiba keduanya tersentak kaget ketika mendengar suara tawa bergelak yang datangnya seolah dari atas kepala mereka.
Suara tawa bergelak itu datang berge lombang, makin lama makin kuat mengan dung daya serangan yang amat kuat menerobos telinga mereka dan menjalar ke arah jantung!
Dua orang kakek itu kini berdiri, bersedakap, memejamkan kedua mata mereka dan mengerahkan seluruh tenaga sakti mereka untuk melindungi diri mereka dari serangan suara tawa yang amat kuat itu.
Suara tawa seperti itu yang mengandung tenaga khi-kang yang amat kuat, dapat merusak jantung atau setidaknya akan dapat mengacau jaringan syaraf di otak sehingga dapat membuat orang menjadi gila!
Tlong Lee Cin-jin juga merasakan kehebatan pengaruh suara tawa itu.
Na-mun dengan wajah tetap sabar dan te-nang, dengan bibir masih tersungging se nyuman lembut, dia memejamkan kedua matanya dan tenggelam ke dalam alam semesta.
Suara tawa itu sama sekali tidak mengganggunya karena dia seolah telah bersatu dengan suara itu, hanyut bersama suara itu, sedikitpun tidak menentang sehingga suara itu sama sekali tidak mengganggu bahkan dia dapat mera sakan keindahan dalam suara tawa yang bergelak-gelak dan bergema itu.
Inilah keadaan yang dinamakan "melebur dan membaur dengan segala"
Sehingga tidak terjadi pertentangan, seperti sebatang pohon liu (cemara) yang tidak menentang datangnya badai sehingga meliuk-liuk menurutkan dorongan angin dan sama sekali tidak patah dahannya, tidak rontok daunnya, dan tetap utuh sampai badai berlalu.
Tidak seperti pohon siong yang kokoh menyambut badai dengan mengandalkan kekuatannya dan akhirnya tumbang dan roboh oleh hantaman badai yang jauh lebih kuat daripada dirinya!
Tak lama kemudian, muncullah seorang kakek lain.
Kemunculannya aneh.
Mula-mula tampak asap putih bergulung-gulung, kemudian ketika asap membubung dan menghilang, tampak kakek itu.
Dia seorang kakek berusia kurang lebih enam puluh tahun.
Jubahnya seperti jubah seorang hwesio, dari kain kuning ber-kotak-kotak merah.
Kepalanya memakai sebuah peci kuning pula, menutupi kepala nya yang gundul.
Tubuhnya tinggi besar, perutnya gendut dan kancing jubahnya bagian dada terbuka sehingga tampak dadanya yang gempal dan bidang dan di atas ulu hatinya tumbuh rambut hitam keriting.
Kepala gundul yang tertutup peci kuning itu besar dan bulat.
Mukanya bundar dan segala anggauta tubuh pendeta ini serba bundar.
Sepasang matanya lebar dan bulat, hidungnya juga besar, demikiap pula mulutnya, lebar dan selalu menyeringai.
Kedua daun telinganya panjang dah lebar.
Melihat pakaian kuning berkotak-kotak merah dan tongkat panjang berkepala naga itu, Tiong Lee Cin-jin tahu bahwa pendeta itu adalah seorang pendeta Lama dari Tibet.
Setelah memperlihatkan diri, pendeta itu berdiri tegak, tangan kirinya meme-gang tongkat kepala naga yang tingginya sama dengan tinggi tubuhnya, dan dia masih tertawa bergelak, akan tetapi tawanya wajar, tidak lagi mengandung khi-kang yang memiliki daya serang dahsyat seperti tadi.
"Hua-ha-ha-ha, kiranya ada dua ekor anjing dari Sin-kiang dan Mongol yang saling berebutan tulang di sini! Kalian ini orang Uigur dan Hui, bukan?"
"Setan jahanam!"
Ali Ahmed memaki marah karena dikatakan anjing oleh pendeta itu.
"Aku memang benar datang dari Mongolia Dalam, namaku Ali Ahmed. Siapakah engkau, manusia sombong?"
"Dan aku adalah Ouw Kan dari Sin-kiang. Engkau ini, pendeta Lama harap jangan mencampuri urusan kami,"
Bentak Ouw Kan.
"Ha-ha-ha, aku Jit Kong Lama nie'-mang suka mencampuri urusan orang lain kalau urusan itu menyangkut diriku. Ketahuilah kalian, kitab-kitab dari Barat itu hanya aku yang berhak memiliki dan tidak boleh diambil siapapun juga. Kali-an berdua lebih baik segera mengelinding pergi dari sini sebeluni kepala kalian yang meiiggelinding terpisah dari tubuh kalian!"
Kata pendeta yang bernama Jit Kong Lama itu.
Namanya sungguh besar karena Jit Kong berarti Sinar Matahari.
Ouw Kan dan An Ahmed yang tadi saling serang itu marah sekali.
Mereka untuk sementara melupakan permusuhun di antara mereka dan bagaikan mondapat komando, keduanya membanting tongkat mereka ke alas tanah.
Terdengar dua kali ledakan, asap mengepul, tongkat lenyap dan berubah menjadi dua ekor bina tang yang menyeramkan.
tongkat ular cobra milik Ouw Kan kini telah menjadi seekor ular cobra yang besar dan panjang, yang mengangkat kepala dan lehernya ke atas sehingga tegak, moncongnya agak terbuka, rnendesis-desis dan ada uap hitam tersembur keluar dari moncongnya, lidahnya keluar masuk adan sepasang matanya seperti berapi.
Ular cobra ini bergerak maju hendak menyerang Jit Kong Lama.
Adapun tongkat bambu milik Ali Ahmed berubah menjadi seekor kelabang yang juga besarnya hampir sa ma ular cobra itu, kulitnya berwarna merah darah, kakinya yang amat banyak itu bergerak-gerak, sungutnya meraba-raba dan moncongnya juga siap untuk mehggigit.
Banyak kaki yang bergerak-gerak itu membawa tubuh yang besar itu maju dengan cepat ke arah Jit Kong Lama.
Melihat dua orang lawannya menyihir tongkat mereka menjadi ular dan kelabang yang akan menyerangnya, Jit Kong Lama roenyeringat dan memandang rendah.
"Ha-ha-ha, permainan kanak-kanak seperti itu kalian pamerkan kepadaku?"
Katanya dan sekali dla melempar tongkat kepala naga itu ke atas, tampak asap mengepul dan tongkat Itu sudah ber ubah menjadi seekor burung rajawali besar.
Burung itu dengan ganas dan buas nya sudah menyambar ke bawah dan menyerang ular cobra dan kelabang itu dengan patuk dan cakarnya.
Ular cobra dan kelabang itu melawan mati-matian.
Akan tetapi segera mereka menjadi kewalahan karena burung rajawali itu menyambar nyambar dari udara sehingga sukar bagi mereka untuk menyerangnya, sebaliknya burung itu dapat menyerang kedua lawan-nya dengan leluasa dari atas.
Tiong Lee Cin-jin tahu siapa Kong Lama itu.
Ketika meninggalkan dia dan kembali ke Cina, dia singgah di Tibet dan mengadakan pertemuan dengan para pendeta Lama, bahkan selama satu jam dia diberi kesempatan untuk mengha-dap Dalai Lama.
Dari para tokoh pende ta Lairia di Tibet, dia mendengar bahwa ada beberapa orang pendeta Lama di Ti-bet yang melakukan penyelewengan.
Mengumpulkan harta benda dari rakyat untuk kepentingan dlri sendiri dan melakukan pelanggaran pantangan berdekatan dengan wanlta.
Jit Kong Lama merupakan seorang di antara para pendeta La-ma yang melakukan penyelewengan itu bahkan dia merupakan seorang tokoh besarnya, Melihat adu kekuatan sihir antara pendeta Lama Itu melawan datuk darl suku bangsa Uigur dan Hul, tahulah dia bahwa Jit Kong Lama jauh lebih kuat daripada dua orang lawannya.
Dugaannya memang benar.
Ketika Ouw Kan dan Ali Ahmed melihat ular dan kelabang jadi-jadian milik mereka itu kewalahan menghadapi serangan gen-car burung rajawali, keduanya lalu meng-angkat tangan kanan ke atas dan mengerahkan tenaga sihir mereka.
Ular dan kelabang itu tiba-tiba terbang ke bela-kang dan setelah tiba di tangan mereka, berubah kembali menjadi tongkat ular cobra dan tongkat bambu yang sudah lecet-lecet.
Sambil tertawa Jit Kong Lama ju-ga memanggil burung rajawali jadi-jadian itu.
Burung itu terbang ke tangannya dan berubah pula menjadi tongkat pan-jang berkepala naga.
"Kalian masih juga belum minggat darl sini?"
Tegurnya dengan nada meman-dang rendah kepada dua orang lawannya itu' Akan tetapi Ouw Kan dan Ali Ahmed adalah dua orang yang di daerah tempat tinggalnya terkenal sebagai datuk-datuk yang sukar dicari tandingannya.
Maka tentu saja mereka tidak mudah nie nyerah kalah.
Biarpun tadi dalam adu kekuatan sihir mereka harus mengakui keunggulan Lama dari Tibet itu, namun mereka masih beluin mau mundur.
Setelah saling bertukar pandang, seperti menyatukan keinginan untuk menandingi pendeta Lama yang hendak menghalangi mereka mengambil kitab-kitab pusaka, dua orang itu serentak bergerak maju, cepat sekali mereka menerjang dan menyerang Jit Kong Lama.
Serangan mereka ini bukan sekedar serangan dengan mempergu-nakan ilmusilat, namun serangan yang diperkuat dengan ilmu sihir.
Tubuh mere ka lenyap dan hanya tongkat ular cobra dan tongkat bambu itu saja yang tampak menyerang dan seperti terbang ke arah tubuh Jit Kong Lama!
Namu pendeta dari Tibet itu tidak menjadi gentar.
Dia sendiri adalah seo-rang ahl!
silat dan ahli sihir yang sudah mencapai tingkat tinggi, maka diapun mengeluarkan suara membaca mantram dan tiba-tiba tubuhnya juga lenyap dan yang tampak hanya tongkat panjang berkepala naga itu yang bergerak cepat me-nyambut serangan dua batang tongkat yang mengeroyoknya itu.
Kalau saja di situ terdapat orang biasa yang menyaksikan pertandingan itu, tentu akan bengong terlongong saking herannya melihat ada dua batang tongkat pendek "berkelahi"
Mengeroyok seba-tang tongkat panjang!
Namun, Tiong Lee Cin-jin adalah seorang yang telah mendapatkan gemblengan bermacam ilmu selama dua puluh lima tahun merantau ke daerah barat, yaitu ke daerah Bhutan, India, Nepal, Tibet dan bertahun-tahun merantau ke daerah Himalaya dan berte-mu dengan banyak pertapa-pertapa sakti, mempelajari banyak macam ilmu.
Oleh karena itu, biarpun tiga orang itu mempergunakan ilmu sihir dan menghi-lang, dia masih dapat melihat mereka ketika mereka bertanding mempergunakan tongkat mereka.
Dia melihat dengan jelas pertandingan itu.
Ouw Kan dan Ali Ahmed memainkan tongkat, pendek mereka seperti seorang bermain pedang, sedangkan Jit Kong Lama memainkan tongkatnya yang panjang seperti orang bermain silai tongkat dengan kedua ta-ngan.
Pertandingan itii seru dan dahsyat sekali.
Ternyata ketiganya merupakan ahli-ahli silat tingkat i tinggi.
Terutama sekali Jit Kong Lama.
Ilmu silatnya dahsyat sekali.
Ketika dengan kedua tangan dia memainkan tongkat kepala naganya, tiada ubahnya dia bagaikan seekor naga yang melayang-layang dan setiap gerakan tongkatnya mendatangkan angin yang menyambar kuat!
Dua orang yang mengeroyok itupun memiliki ilmu silat yang tinggi.
Gerakan mereka lincah dan tangkas, serangan mereka cepat dan mengandung tenaga sin-kang yang kuat.
Namun, setiap kali tongkat ular cobra atau tongkat bambu bertemu tongkat panjang berkepala naga, dua tongkat yang lebih pendek itu terpental kuat.
Tiong Lee Cin-jin mengikuti jalannya pertandingan dengan penuh perhatian.
Lambat laun, kedua orang pengeroyok itu mulai terdesak hebat.
Kini tiga tongkat itupun sudah lenyap bentuknya.
Yang tampak hanya dua gulungan sinar pendek mengeroyok segulung sinar panjang.
Namun tentu saja pandang mata Tiong Lee Cin-jin yang tajam terlatih itu dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan baik.
Suatu saat dia melihat tongkat ular cobra menyambar dengan tusukan atau totokan ke arah leher Jit Kong Lama.
Tusukan itu berbahaya sekali kare-na ujung tongkat yang menyerupai mu lut ular cobra yang terpentang itu mengandung racun ular cobra yang amat ampuh.
Tergores sedikit saja, racun akan memasuki tubuh lewat luka goresan dan kalau racun sudah mencapai jantung, matilah orang itu!
Pada detik-detik berikut nya, tongkat bambu di tangan Ali Ahmed juga sudah menyambar dan melakukan totokan ke arah jalan darah di lambung Jit Kong Lama!
Inipun merupakan serangan maut, karena kalau jalan darah itu sampai terkena totokan tongkat yang dialiri sinkang (tenaga sakti) itu maka pendeta Lama itu tentu akan roboh dan tewas seketika.
Tiong Lee Cin-jin maklum betapa pendeta Lama itu berada dalam ancaman maut.
Akan tetapi pendeta gendut itu masih menyeringai.
Tiba-tiba, secara tidak terduga dan cepat sekali, tangan kirinya menangkap ujung tongkat ular cobra dan kaki kirinya mencuat dalam teii dangan kilat ke arah lengan tangan kanan Ouw Kan yang memegang tongkat.
Begitu cepatnya tendangan itu sehingga terpaksa Ouw Kan menarik tangarinya dan pada saat itu Jit Kong Lama mengerahkan tenaga membetot tongkat ular cobra sehingga terlepas dari pegangan Ouw Kan.
Pada saat itu, tongkat bambu datang meluncur ke arah lambung.
jit Kong Lama tidak sempat menangkis atau mengelak.
Akan tetapi dia sedikit memutar tubuhnya sehingga tongkat yang tadlnya meluncur dan menyerang lambung, kini menusuk ke arah perut yang gendut itu!
"Cappp.....!"
Tongkat bambu itu me-nancap di perut Jit Kong Lama yang gendut.
Ali Ahmed sudati rnengeluarkan seruan gembira karena mengira tongkatnya telah memasuki perut lawan.
Akan tetapi Tiong Lee Cin-jin berpendapat lain.
Jit Kong Lama menyeringai lebar, tangan kirinya melontarkan tongkat ular cobra ke arah Ouw Kan.
Tongkat meluncur seperti anak panah menyambar, ke arah dada pemiliknya.
Ouw Kan terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi tetap saja ujung tongkat menyerempet pundaknya.
"Aduh.....!"
Ouw Kan terhuyung. Pada saat itu, Jit Kong Lama berseru nyaring.
"Pergilah!"
Tiba-tiba perutnya bergerak mengembung dan tongkat bambu yang masih dipegang oleh Ali Ahmed Itu sepertl dldorong keras.
Tubuh orang suku Hui itu Ikut terdorong sehingga ia roboh terjengkang.
Cepat dia bangkit dan mukanya menjadi pucat, di ujung bibirnya tampak darah sehingga mudah diketahul bahwa Ali Ahmed telah menderita luka dalam.
Sementara itu, Ouw Kan cepat menelan pil obat penawar racun tongkat ular cobranya sendiri yang telah melukai pundak dan meracuninya.
Dua orang itu kini maklum mereka tidak mungkin akan mampu menandingi Jit Kong Lama, maka keduanya tanpa berunding lagi sudah berloncatan jauh meninggalkan lereng itu!
"Hua-ha-ha-ha-ha!
Cacing-cacing tanah seperti itu berani menjual lagak hendak memiliki kitab-kitab pusaka yang suci !
Jit Kong Lama tertawa dan setelah berkata demikian, dia memutar tubuhnya dan menghampiri Tiong Lee Cin-Jin.
Setelah mengamati pria yang masih duduk bersila itu sesaat lamanya, kemudi-an dia memandang ke arah buntalan kain kuning di depan orang itu, Jit Kong Lama bertanya.
"Engkaukah yang bernama Tiong Lee Cin-jin dan yang telah berhasil mengumpulkan banyak kitab pusaka penting untuk kaubawa ke Tiong-Goan (Cina)?"
Tiong Lee Cin-jin perlahan-lahan bangkit berdiri. mengebutkan kain yang membalut tubuhnya bagian bawah yang kotor terkena debu, kemudian mengangkat kedua tangan kedepan dada menyembah sebagai salam.
"Selamat berjumpa, Jit Kong tLama, semoga Yang Maha Kasih memberkatimu!"
"Hua-ha-ha! Tentu saja Yang Maha Kasih selalu memberkati aku. Buktinya baru saja aku dapat mengalahkan dap mengusir dua orang jahat itu!"
"Bukan, sayang sekali bukan kekuasaan Yang Maha Kasih yang tadi menibantumu mengalahkan Ouw Kan dan Ali Ahmed, Jit Kong Lama. Yang membantumu adalah ilmu-ilmumu sendiri yang, didorong oleh nafsu setan yang menguasai dirimu,"
Kata Tiong Lee Cin-jin dengani sikap tenang dan suaranya terdengar lem-butpenuh kesabaran.
Sepasang mata yang besar bulat itu mencorong, alis yang tebal itu berkerut, lubang hidung yang lebar itu kembang kempis.
"Apa kaubilang? Apa maksudmu mengatakan bahwa kemenanganku tadi didorong nafsu setan? Jangan seenaknya engkau bicara, Tiong Lee Cin-jin!"
"Tindakan dua orang tadi yang hendak menggunakan kekerasan untuk merampas kitab-kitabku jelas terdorbng nafsu setan, ingin memiliki barang yang sama sekali bukan hak mereka. Lalu engkau muncul dan engkau menentang mereka, bertanding dan mengalahkan mereka. Bukankah perbuatanmu itupun terdorong nafsu yang sama, ingin memiliki kitab-kitab-ku seperti yang kaukatakan kepada mereka tadi?"
Jit Kong Lama tertawa bergelak se-hingga perutnya yang gendut itu bergo-yang-goyang.
"Hua-ha-ha-ha! Engkau keliru, Tiong Lee Cin-jin. Aku memang menginginkan beberapa buah kitab, akan tetapi bukan dengan cara merampok atau merampas, melainkan sebagai imbalan. Aku telah menyelamatkan engkau dari perampokan yang dilakukan dua orang tadi, maka tentu saja aku berhak mem-peroleh imbalan darimu. Aku tidak minta imbalan apa-apa kecuali beberapa buah kitab yang akan kupilih di antara ki-tab-kitabmu, Tiong Lee Cin-jin. Ha-ha-ha-ha!' "Menolong dengan pamrih memperoleh imbalan itu bukan pertolongan namanya, melainkan pemerasan,"
Kata Tiong Lee Cin-jin lembut, seperti memberl nasihat kepada muridnya.
"Ha-ha-he! Sebaliknya ditolong akan tetapi tidak mau memberi keuntungan kepada si penolong, itu namanya tidak mengenal budi! Sudahlah, aku akan me-nulih sendiri kitab-kitab mana yang akan kuambil sebagai imbalan pertolonganku tadi, Tiong Lee Cin-jin."
Tiong Lee Cin-jin melangkah maju dan dengan tangan kanannya dia mengusap buntalan kain kuning berisi kitab-kitabnya.
"Semua kitabku berada di dalam buntalan ini, Jit Kong Lama,"
Katanya.
"Akan kupilih, yang mana kusukai akan kuambil!"
Kata -Jit Kong Lama.
Dia menancapkan tongkat kepala naganya di atas tanah lalu berjongkok untuk mern buka empat ujung kain kuning yang disimpulkan di atas tumpukan kitab itu.
Akan tetapi terjadi keanehan.
Jari-jari kedua tangannya yang kuat sekali itu tidak mampu membuka ikatan keempat ujung kain kuning yang disimpulkan secara sederhana itu!
Betapapun dia rnengerahkan tenaga mencobanya, tetap saja jari-jari tangannya tidak mampu membukanya, seolah-olah semua jari tangannya kehilangan tenaganya dan menjadi kaku atau lumpuli!
Jit Kong Lama menjadi heran lalu penasaran dan marah sekali.
Dia mengerJlikan sin-kang (tenaga sakti) sekuatnya, namun tetap saja jari-jarinya seperti mogok, tidak dapat membuka simpul Kemudian dia mengerahkan ke-kuatan sihirnya.
Sama saja.
Jari-jari kedua tangannya seolah-olah memang tidak mau membuka simpul itu.
"Keparat!"
Dia melompat bangun, ber-diri menghadapi Tiong Lee Cin-jin.
"Eng-kau mempergunakan ilmu siluman mencegah aku membuka buntalan kain ini!"
Bentaknya marah, matanya melotot dan mukanya berubah merah.
"Jit Kong Lama, aku sama sekali tidak mempergunakan .ilmu apa-apa. Aku hanya menyesuaikan diri, menerima keadaan dengan penyerahan kepada Yang Maha Kuasa. Kalau Yang Maha Kuasa tidak menghendaki engkau membuka buntalan itu, biar engkau mempergunakan kekuatan apapun yang ada di dunla engkau tidak akan mampu membukanya,"
Kata Tiong Lee Cin-jin dengan tenang dan penuh kesabaran.
"Tiong Lee Cin-Jin, engkau menantang aku, Jit Kong Lama? Apakah aku harus mempergunakan kekerasan terhadapmu untuk memiliki kitab-kitab ini".
"Tidak ada yang menantangmu selain nafsumu sendiri, Jit Kong Lama. Orang hanya memetik hasil yang ditanamnya. Menanam kekerasan akan memetik sendirl akibatnya."
"Sombong! Lihat naga hitamku menerkammu!"
Setelah membentak demikian Jit Kong Lama melontarkan tongkat kepala naga itu ke atas.
Terdengar bunyi ledakan.
Tongkat itu berubah menjadi asap hltam dan dari asap hitam itu mun-cul seekor naga yang menyeramkan.
Ma-tanya berkilat, moncongnya terbnka me nyemburkan api, kedua lubang hidungnya mendengus mengeluarkan asap, cakar kedua kaki depannya siap inenerkam dan naga itu meluncur turun menerjang Tiong Lee Cin-jin dengan buas itu serta masih ditambah suara gemuruh yang keluar dari mulut naga itu sehingga dapat menggetarkan dan menakutkan hati orang yang paling tabah sekalipun.
Namun Tiong Lee Cin-jin adalah seorang yang sudah mencapai tingkat kejiwaan yang amat tinggi.
Dalam keadaan bagaimanapun dia sudah menyerah total kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Penyerahan sedemikian mutlak sehingga meniadakan akunya, mengesampingkan nafsu-nafsunya dan yang bekerja pada dirinya pada saat itu bukan lagi hati akal pikirannya melainkan sepenuhnya diisi oleh Kekuasaan Tuhan yang mengalir masuk ke dalam jiwa raganya.
Kalau sudah demikian, maka bukan lagi dia se bagai manusia dengan hati akal pikiran-nya, melainkan Roh Kekuasaan Tuhan yang bekerja menanggulangi apa saja yang datang menimpa dirinya.
Tiong Lee Cin-jin yang diserang oleh naga hitam jadi-jadian itu membungkuk, tangan kanannya mengambil segenggam tanah lalu melontarkan tanah itu kepada naga hitam yang hendak menerkamnya, mulutnya berkota lembut namun penuh wibawa yang menggetarkan.
"Berasal dari tanah keinbali kepada tanah!"
Segenggarn tanah itu meluncur tepat mengenai kepala naga yang sedang menerkam itu.
"Blarrrr......!"
Terdengar ledakan disusul asap hitam bergulung-gulung.
Naga', itu terjatuh ke atas tanah dan begitu tiba di atas tanah naga hitam itu telah berubah kembali menjadi' tongkat berkepala naga milik Jit Kong Lama.
Pendeta Lama itu terkejut dan marah bukan main.
Diarnbilnya tongkatnya dan ditancapkan tongkatnya itu ke atas tanah lalu dia membentak.
"Tiong Lee Cin-jin, apa engkau menghendaki ? aku membunuh mu dengan tanganku ini? Lihat, apakah kepalamu lebih kuat daripada batu ini?"
Dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
Uap putih mengepul dari kedua tangannya yang kini, menjadi keme-rahan seperti bara api.
Dia lalu meng hampiri sebuah batu sebesar kerbau yang terletak tak jauh dari situ.
Dia mengangkat kedua tanganhya, berganti menghantam ke arah batu.
"Darr-darrr!"
Batu sebesar kerbau itu hancur berkeping-keping terkena hantam-an kedua tangannya.
Sungguh sebuah kekuatan yang amat dahsyat!
"Nah, Tiong Lee Cin-jin!
Kauserahkan baik-baik semua kitab itu kepadaku atau aku harus menghancurkan dulu kepalamu dengan tanganku?"
Bentaknya sambil mengharnpiri Tiong Lee Cin-jin.
"Aku tidak menghalangi engkau mengambil kitab, namun kuperingatkan bahwa kitab-kitab ini bukan hak milikmu dan kalau engkau hendak nekad mengambilnya, hal itu sama saja dengan perampasan dan tentu saja hal itu amat tidak baik dan tidak patut dilakukan seorang pendeta sepertimu, Jit Kong Lama. Sepuluh ribu ayat kitab suci engkau hafalkan, namun satu saja tidak kaulaksanakan, apakah artinya semua jerih payahmu itu?"
"Manusia sombong, engkau patut dihajar!"
Bentak Jit Kong Lama dan dia lalu mengayun tangan kanannya, yang merah seperti bara api, menampar ke arah muka Tiong Lee Cin-jin.
Dapat dibayangkan betapa kepala itu akan hancur lebur dihantam tangan yang telah membuat batu besar pecah berkeping-keping ketika dipukul tadi!
Namun, Tiong Lee Cin-jin sedikitpun tidak membuat gerakan mengelak atau menangkis, melainkan diam saja, hanya matanya meman-dang dengan sinar lernbut tajam kepada penyerangnya.
"Wuuuutttt.....!"
Terjadi keanehan yang luar biasa.
Tangan itu menyambar ke arah pelipis kiri kepala Tiong Lee Cin-jin.
Rambut kepala Tiong Lee Cin-jin sudah berkibar tertiup angin pukulan dahsyat itu.
Akan tetapi ketika tangan itu sudah mendekati kepala, tinggal sejengkal lagi, tiba-tiba saja tangan itu luncurannya menyimpang dan membelok tidak mengenai sasarannya!
Jit Kong Lama terkejut dan heran.
Dia merasa seolah tangannya itu tertolak atau tertangkis oleh 'hawa yang lunak namun berat dan kuat bukan main, merasa seolah tangannya digerakkan dalam air.
Dia menjadi penasaran dan tangan kiirinya menyusul, kini tangan kiri itu menyodok atau menusuk dengan jari-jari terbuka ke arah dada lawan.
"Wuuuuttt....!"
Kembali yang dlserang diam saja, hanya memandang dengan senyumnya yang lembut.
Untuk kedua kalinya tangan Jit Kong Lama tidak mengenai sasaran.
Tusukan tangan itupun seolah meleset karena tertepis hawa yang lunak berat dan kuat.
Jit Kong Lama melangkah mundur, matanya yang sudah besar itu dilebarkan terbelalak.
Dia adalah seorang yang sudah mempelaj'ari banyak ilmu dan sudah mempunyai banyak pengalaman ber tanding melawan orang-orang sakti.
Akan tetapi belum pernah dia mengalami hal seperti ini!
Kalau Tiong Lee Cin-jin mem buat gerakan mengerahkan tenaga sakti untuk menangkis serangannya, bahkan kalau Tiong Lee Cin-jin, menggunakan ilmu kekebalan untuk menerima serangan-nya, hal itu tidak akan mengherankannya.
Akan tetapi lawannya ini tidak membuat gerakan apapun, juga tidak melakukan sihlr, tidak membaca mantera, bahkan sama sekali tidak mengeluarkan tanda-tanda melawan serangannya.
Akan tetapi, dua kali pukulannya yang dia tahu amat ampuh itu tidak dapat menyentuh tubuh lawan.
Dia merasa seperti ada dinding hawa yang aneh menyelimuti tubuh Tiong Lee Cin-jin, atau seolah tangannya yang tidak mau memukul orang itu!
"Keparat!
Lawanlah aku dengah ilmumu, jangan menggunakan ilmu siluman!"
Bentaknya marah. Tiong Lee Cin-jin tersenyum dan menjawab dengan suara yang halus.
"Jit Kong Lama, semua ilmu menjadi ilmu siluman yang jahat kalau dipergunakan untuk berbuat sewenang-wenang, menyerang untuk menyakiti atau membunuh orang yang sama sekali tidak bersalah. Renungkanlah itu dan sadarlah. Mari kita berpisah sebagai saudara, bukan sebagal musuh."
Akan tetapi bagi Jit Kong Lama yang belum pernah dikalahkan orang, belum pernah pula mengalah terhadap orang lain, ucapan Tiong Lee Cin-jin dianggap sebagai ejekan yang merendahkan atau mengliinanya.
Orang yang menganggap' diri sendiri terlalu tinggl dan terlalu penting selalu mudah tersinggung.
Dia menyambar tongkat kepala naga yang tadi ditancapkan di atas tanah dan membentak.
"Kita berpisah sebagai saudara kalau engkau menyerahkan kitab-kitab itu ke-padaku! Kalau tidak, kita tetap akan berpisah sebagai musuh dan sebelum berpisah, aku akan menghancurkan dulu ke-palamu!"
Ucapan ini ditutup oleh sambar an tongkat kepala naga itu. Terdengar bunyi desir angin mengiuk dan ujung tongkat menyambar ke arah kepala Tiong Lee Cin-jin. Seperti tadi Tiong Lee Cin-ji"
Tidak menangkis maupun mengelak melainkan diam saja, hanya memandang dengan sorot rnatanya yang lembut dan mulutnya fersenyum penuh kesabaran.
Tongkat menyambar dan tampaknya sekali ini ujung tongkat akan mengenai sasaran.
Akan tetapi setelah hantaman tongkat itu tiba dekat kepala, hanya beberapa senti meter lagi jaraknya, tiba-tlba tongkat itu membalik seolah bertemu dengan benda tak tampak yang amat keras dan kuat.
Tongkat itu membalik dengan kekuatan yang sama dan memukul ke arah kepala Jit Kong Lama sendiri?' Jit Kong Lama terkejut dan cepat menggerakkan tongkat sehingga luput menghantam kepalanya sendiri.
"Segala sesuatu kembali ke asalnya semula. Kekerasanpun kembali kepada kekerasan. Lupakah engkau akan kenyataan itu, Jit Kong Lama?"
Jlt Kong Lama berdiri terbelalak.
Mukanya berubah pucat.
Kini terbukatah matanya.
Yang melindungi Tiong Lee Cin-Jin Itu bukanlah semacam ilmu yang dapat dlpelaJarl manusia.
Teringatlah dia akan dongeng yang pernah didengarnya tentang kesaktian Sang Budhi Dharma atau yang dikenal sebagai Tat Mo Couwsu.
Menurut dongeng, Sang Budhi Dharma juga memiliki kesaktian seperti yang dthadapinya sekarang ini.
Tanpa bergerak menangkis atau mengelak, Sang ,Budhi Dharma dapat terhindar dari segala macam serangan berupa kekerasan yang datang dari luar dirinya.
Ada sesuatu yang melindunginya sehingga se-mua .
serangan tidak dapat menyentuh dirinya.
Menurut dongeng, sikap Sang Budhi Dharma itu disebut "Menyatu de-ngan Alam".
Dengan tidak mengadakan perlawanan, maka dia terlindung oleh KEKUATAN GAIB yang menggerakkan seluruh alam maya pada ini.
Kekuatan yang menumbuhkan segala sesuatu, ke-kuatan yang mengguncang air samudera, kekuatan yang menggerakkan awan-awan, kekuatan yang mengatur segala sesuatu yang tampak maupun yang tidak tampak.
Kalau Kekuatan seperti itu melindungi seseorang, maka kekuasaan apakah yang akan mampu menyentuh orang itu?
Teringat akan ini, Jit Kong Lama mengerutkan alisnya, memandang kepada pria setengah tua yang berdiri dengan senyum lembutnya itu dengan gentar.
Kemudian, dengan tangan kanan meme-gang tongkat kepala naga, dan tangan kiri dimi'ringkan ke depan dada, dia ber-kata.
"Tiong Lee Cin-jin, biarlah sekali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi ingat, aku adalah seorang yapg tidak dapat begitu saja menerima kekalahan. Tunggulah saatnya aku menemuimu atau muridmu untuk membalas kekalahan hari ini!"
Setelah berkata demikian, tanpa menantl jawaban, tubuhnya melompat dan terdengar bunyi ledakan.
Asap mengepul tebal dan ketika asap membuyar, pendeta Lama itu sudah tidak tampak lagi bayangannya!
Tlong Lee Cin-jin menghela napas panjang, mengambil buntalan kain kuning dan menggendongnya kembali dengan sikap tenang dan tidak tergesa-gesa.
Kemudian dia menghela napas panjang lagl dan berkata seorang diri, lirih.
"Sayang, orang-orang yang telah menguasai banyak ilmu setinggi itu tidak mempergunakan ilmunya untuk menyebar benih kebaikan di dunia. Sungguh sayang.....!' Dia lalu melangkah menurum lereng seolah tidak pernah terjadi sesuatu. Ketika melangkah ini, kcpalanya bergoyang-goyang perlahan, matanya menerawang jauh dan dia sendiri mendengar detak jantungnya berbisik "Tuhan Tuhan Tuhan ......"
Tiada henti-hentinya.
********** Anak-anak laki-laki itu berusia sekitar sepuluh tahun.
Dia duduk di atas punggung seekor kerbau betina dengan santai sambil meniup sebatang suling bambu.
Lagunya lagu kanak-kanak dusun yang sederhana.
Namun karena ditiup di lereng pegunungan yang sunyi itu, terdengar mengalun indah.
Di tempat yang sunyi hening seperti itu, suara anjing menggonggong di kejauhanpun terdengar menyenangkan hati.
Bahkan suara daun di puncak pohon bergoyang-goyang me-nlmbulkan desah gemerisikpun terdengar merdu menenangkan hati.
Tubuh anak itu sedang saja, kulitnya yang tampak pada tubuh bagian atas yang telanjang itu karena dia hanya mengenakan celana hitam sebatas lutut, tampak kecoklatan terbakar terik matahari.
Rambutnya dipotong pendek.
Kepalanya dilindungi sebuah caping lebar sehingga mukanya teftutup bayangan caping.
Wa-jah anak itu tampan dan cerah, berben-tuk bulat telur dengan dagu agak meruncing.
Sepasnng alis matanya hitam tebal melindungi sepasang mata yang bersinar terang dan yang memandang dunia ini dengan berseri, sepasang mata yang putihnya jernih dan hitamnya legam.
Hidung nya mancung dan mulutnya membayangkan kemauan yang kuat.
Seperti kebanyakan anak dusun, anak inipun membayangkan kejujuran dan keterbukaan sehingga tampak bodoh.
Dia meniup suling dan tenggelam dalarn suara sulingnya sendiri sehingga dia seperti lupa akan keadaan dirinya, membiarkan kerbau yang ditungganginya itu berjalan sendiri.
Anak kerbau di belakangnya mengikuti induk kerbau sambil terkadang berloncatan dan mencoba segala macam rumput dan daun-daun yang ditemui di jalan.
Tiba-tiba anak itu menghentikan tiupan sulingnya.
Kerbau induk itu berhenti dari makan rumput yang amat subur dan gemuk yang tumbuh di situ.
Anak ltu terbelalak memandang ke kanan kiri.
Baru dia menyadari bahwa dia dlbawa kerbaunya sampai ke tepi hutan!
Hutan yang ditakuti semua penduduk dusun di kaki pegunungan.
Hutan terlarang dan yang kabarnya dihuni oleh para siluman.
Pimpinannya adalah seekor naga siluman yang amat jahat!
"Belang, cepat klta turun, kita kembali!"
Anak Itu menendang-nendang dengan kakinya ke perut kerbau. Akan tetapi dia melihat anak kerbau itu berloncatan dan berlari memasuki hutan.
"Heii, Kecil! Cepat kembali, jangan masuk ke sana!"
Teriaknya dan dia melompat turun dari punggung kerbaunya dan berlari mengejar anak kerbau yang berloncatan dan berlari masuk ke dalam hutan seperti anak kecil yang manja dan nakal.
Tiba-tiba anak yang mengejar kerbaunya itu terbelalak dan tersentak, berhenti dari larinya, memandang dengan wajah pucat ke depan.
Tangan kirinya masih menggapai ke depan untuk memanggil kerbaunya dan tangan kanannya menutup mulut agar tidak mengeluarkan teriakan.
Apa yang dilihatnya mendatangkan kengerian hebat dalam hatinya.
Selagi anak kerbau itu berloncatan, tiba-tiba dari atas pohon besar yang tumbuh di situ, meluncur kepala seekor ular yang luar biasa besarnya.
Ular itu tergantung pada dahan pohon, tubuhnya yang besar itu terjulur ke bawah dan moncongnya yang terbuka lebar itu menyambar dan menggigit leher anak kerbau yang mengeluarkan suara parau penuh kesakitan dan ketakutan.
Ular yang menggigit anak kerbau itu menariknya ke atas dan anak kerbau itu meronta ronta lemah dengan keempat kakinya.
Anak itu hampir berhenti bernapas.
Ular itu besar sekali.
Panjangnya belasan meter dan tubuhnya sebesar pohon siong.
Setelah anak kerbau itu dibawa sampal ke atas dahan, tubuh ular itu segera melingkarinya dan menghimpitnya dengan kuat.
Agaknya anak kerbau Itu tewas seketika oleh tekanan himpitan yang kuat itu dan tidak bersuara lagi, hanya ada dua kaki belakangnya yang masih tampak itu berkelojotan dalam sekarat.
Anak itu menangis dan berlari keluar dari hutan, naik ke atas punggung induk kerbau dan turun lagi seperti yane kebingungan, lalu menarik tanduk kerbau itu dan diajaknya beriari cepat memnggalkan tepi hutan menuruni lereng sambil menangis sesenggukan.
Setelah menuruni sebuah lereng, anak itu melihat seorang laki-laki setengah tua berdiri di tengah jalan setapak sambil memandangnya.
Melihat ada orang dewasa, anak itu menghentikan lari kerbaunya, menghampiri orang itu dan berkat dengan suara bercamlpur tangls.
"Paman, tolonglah saya, paman .... tolonglah anak kerbau saya...;"
Laki-laki itu adalah Tiong Lee Cin-Jin.
Dia baru saja turun dari lereng bagian atas setelah ditinggal pergl Jit Kong Lama.
Mellhat seorang anak laki-laki berlari-lari menuntun kerbaunya sambil menangis, dia cepat menghadang.
Mendengar ucapan anak itu yang minta tolong, dia menjulurkan tangan, mengelus kepala anak itu dan bertanya dengan suara lembut.
"Tenanglah, anak yang baik. Apa yang terjadi dengan anak kerbaumu?"
"Anak itu menengok ke belakang lalu menuding ke arah hutan yang berada di lereng sebelas atasnya.
"Ada naga jahat ..... naga itu menangkap anak kerbau saya...... di sana, di hutan itu.....!"
"Naga,..?"
Tlong Lee Cln-Jln mengulang sambil tersenyum.
Mana mungkin ada naga di hutan itu atau di mana saja?
Sepanjang pengetahuannya, naga hanya terdapat dalam dongeng jaman dahulu, beribu tahun yang lalu.
Lalu dia menduga.
"Maksudmu ular?"
"Bukan, bukan ular, akan tetapi naga. Mana ada ular yang besarnya seperti itu? Paman, tolonglah saya. Kalau saya tidak membawa pulang anak kerbau itu, tentu majikan akan membunuh saya...."
"Hemm, mari kita lihat ke sana. Tambatkan saja kerbaumu di slnl,"
Kata Tiong Lee Cin-jin, Karena tidak ingin kehilangan Induk kerbaunya, anak itu lalu mengikat kerbau itu kepada sebatang pohon.
Setelah Itu, bersama Tiong Lee Cin-jin dia mendaki lereng menuju ke hutan tadi.
Ular itu masih berada dl atas dahan pohon.
Moncongnya terbuka lebar-lebar seperti akan robek dalam usahanya me nelan badan anak kerbau yang terlampau besar untuk moncongnya Itu.
Tubuh kerbau itu sudah tertelan setengahnya dan.
sedikit demi sedikit badan anak kerbau itu tergeser masuk.
Agaknya akan makan waktu lama sebelum anak kerbau itu dapat masuk seluruhnya ke dalam perut ular.
Tampak lehernya, di mana bagian badan anak kerbau itu masuk, menggembung besar.
Anak itu menudingkan 'telunjuknya ke atas.
"Itu dia! Naga jahat itu mulai menelan anak kerbauku! Tolonglah anak kerbauku, paman!"
Tiong Lee Cin-Jln memandang dan dia merasa kagum. Ular itu memang besar sekali, jarang dia melihat ular sebesar itu dan gambar dan warna kulitnya indah.
"Itu bukan naga, itu seekor ular kembang,"
Katanya.
Rasa ngeri lenyap dari hati anak itu ketika mendengar bahwa binatang yang makan anak kerbaunya itu bukan naga melainkan ular.
Pada masa itu, naga merupakan mahluk keramat bagi rakyat, mahluk yang dihormati dan ditakuti, maka ketika tadi anak itu menduga bahwa anak kerbaunya dimakan naga, dia menjadi ketakutan setengah mati.
Sekarang setelah dia mendengar bahwa yang makan anak kerbaunya itu hanya seekor ular, walaupun besar sekali, dia menjadi berani dan marah.
"Ular? Ular keparat, ular jahat, lepaskan anak kerbauku! Kubunuh engkau!"
Dia mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangannya dan menyambitkan batu itu ke atas, mengarah ular yang tampak nya sama sekall tidak bergerak Itu, Sambitan itu luput dan anak itu sudah mengambll sebuah batu lagi.
Akan tetapi Tiong Lee Cln-jin memegang lengannya.
"Sabarlah, anak baik. Jangan ganggu dia! Lihat, dia sedang menikmati makannya, mengapa diganggu? Andaikata engkau sedang makan masakan daging ayam lalu datang seekor ular mengganggumu, bagaimana?"
Anak itu tercengang mendengar ucapan yang dianggapnya aneh ini. Dia segera membantah.
"Akan tetapi, paman. Ular itu jahat sekali! Dia makan anak kerbauku, dia kejam buas dan jahat!"
Tiong Lee Cin-jin tersenyum.
"Bagaimana kalau ular itu mengatakan kepadamu ketika engkau sedang makan daging ayam, Manusia itu jahat, kejam dan buas sekali. Dia menyembelih ayam dan memasak lalu makan dagingnya!' Nah, bagaimana jawabmu?"
"Akan tetapi, paman. Ayam memang makanan manusia!"
"Begitukah? Dengar, anak baik. Hewan-hewan kecil seperti anak kerbau, kijang, kelinci dan yang lain-lain itu memang makanan ular itu. Kalau dia. tidak mendapatkan makanan itu, dia akan mati kelaparan karena dia tidak dapat makan rumput atau buah atau daun-daunan. Dia makan anak kerbaumu bukan karena buas, kejam, rakus atau jahat. Sama sekali tidak, melainkan dia makan anak kerbaumu itu karena memang itulah jenis makanannya dan dia makan itu agar dia tidak mati kelaparan. Ular, singa, harimau dan sejenisnya hidup karena makan binatang lain yang lebih lemah dan kecil. Lembu, kerbau, gajah dan sejenisnya makan rumput dan sayur-sayuran. Kera, tupai dan sejenisnya makan buah-buahan. 'Sudah demikian kehendak Yang Menciptakannya. Kalau tidak mendapatkan makanan khas mereka, mereka akan mati kelaparan. Coba ingat baik-baik, hanya manusia yang rakus, karena hampir semua tumbuh-tumbuhan, semua buah-buahan, semua binatang yang ada di dunia ini menjadi makanannya, baik yang berada di darat, di udara, maupun di laut. Siapa yang lebih buas dan kejam?"
Anak itu menjadi bengong dan sejenak lupa akan anak kerbaunya. Dia menatap wajah Tiong Lee Cin-jin dengan pandang mata polos dan penuh keheranan.
"Akan tetapi..... engkau sendiri makan apa, paman?"
Tiong Lee Cin-jin tertawa. Suara tawanya lembut dan sopan, tidak terbahak.
"He-he-he, anak baik. Aku juga seorang manusia, tentu saja makananku sama dengan manusia-manusia lainnya." .
"Kalau begitu mengapa paman mencela makanan manusia?"
"Aku tidak bermaksud mencela, hanya ingin mengingatkan engkau agar tidak menganggap ular itu jahat dan buas karena dia sudah makan apa yang semestinya dia makan. Dia tidak akan suka makan bakmi atau cap-cai!"
"Akan tetapi dia mengambil anak kerbau milik saya! Bukankah itu berarti dia telah merampas dan merampok?"
"Dia tidak mengenal istilah hak milik, anak baik. Semua hewan yang berada di hutan, yang dapat menjadi mangsanya, bukan milik siapa-siapa. Dia tentu menganggap anak kerbau itu bukan milik siapa-siapa dan sudah Sewajarnya kalau menjadi mangsanya untuk mencegah dia kelaparan."
Jadi sesungguhnya kesalahanmu sendiri mengapa engkau menggembalakan kerbau di hutan ini, anak baik. Tempat inl penuh binatang liar, bukan tempat untuk menggembala ternak."
Anak itu termanggu, lalu mengerutkan alisnya dan dia menjatuhkan dirinya duduk di atas tanah, tampak bingung dan sedih.
Tiong Lee Cin-jin juga ikut duduk di atas sebuah batu tidak jauh dari anak itu.
Diam-diam dia memperhatikan.
Seorang bocah yang berwajah tampan, membayangkan watak yang jujur dan bersih, seperti sebuah batu mulia aseli yang belum digosok.
Sinar mata dan lekukan mulut itu menandakan bahwa anak ini mempunyai dasar watak yang baik.
Tubuhnya juga membayangkan tubuh yang sehat, berdarah bersih.
Perawakannya tegak lurus, dadanya bidang dan pundaknya rata.
"Akan tetapi, paman. Biarpun sekarang saya dapat mengerti bahwa ular itu ! memang sudah sewajarnya makan anak kerbau saya dan dia tidak dapat dipersalahkan, bahwa hal ini terjadi karena kesalahan saya sendiri, akan tetapi perbuatannya itu menimbulkan korban. Korbannya adalah diri saya sendiri. Karena dia menjadlkan anak kerbau itu sebagai mangsanya, maka sayalah yang akan menanggung akibatnya, kalau tidak mati saya sedikitnya akan mengalami dan siksaan. Bahkan mungkin sekali lebih daripada itu. Akibatnya dapat pula menyengsarakan kehidupan nenek saya yang sudah tua itu."
"Bagaimana bisa begitu?"
Tanya Tiong Lee Cin-jjn.
"Saya hanya bekerja sebagai penggembala kerbau milik kepala dusun kami, paman. Kalau nanti saya pulang tidak membawa anak kerbau itu, majikan saya tentu akan marah sekali. Dia seorang yang amat galak dan keras, mempunyai banyak tukang pukul. Saya tentu akan disiksa dan mungkin dibunuh. Nenek saya juga bekerja sebagai tukang cuci di rumah majikan saya itu tentu akan menanggung akibatnya pula. takut untuk pulang, paman."
Anak tidak menangis lagi, akan tetapi menggunakan punggung tangan kirinya untuk mengusap beberapa tetes air mata yang mengalir keluar dari pelupuk matanya. Hemm, dan ayah ibumu?"
"Mereka sudah tiada, paman. Ayah dan ibu telah meninggal sejak saya berusia lima tahun dan sejak itu saya hanya hidup berdua dengan nenek saya."
Tiong Lee Cin-jin menghela napas panjang.
Betapa banyaknya manusia yang hidup menderita karena kemiskinan di dunia ini, disamping hanya beberapa gelintir orang yang hidup berlebihan.
Padahal, manusia diciptakan hidup di dunia ini seharusnya dapat mengisi hidupnya dengan saling mengasihi, saling membantu, menjadi alat dari Kekuasaan Tuhan agar bermanfaat bagi orang-orang lain.
Yang pandai rhembantu yang bodoh dengan pemikiran, yang kuat membantu yang lemah dengan kekuatan, sedangkan yang kaya membantu yang miskln dengan hartanya.
Akan tetapi apa yang dilihatnya sejak dari India ke Cina?
Yang pintar menipu yang bodoh, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin.
"Sekarang bagalmana? Engkau harus pulang, setidaknya untuk mengembalikan kerbau ini kepada pemiliknya."
"Memang seharusnya begitu, paman. Akan tetapi saya tidak berani pulang karena saya pasti akan dipukuli, mungkin dibunuh oleh para tukang pukul Lurah Coa, bahkan nenekku tentu tidak akan luput dari hukuman pula."
"Jangan khawatir. Mari kuantar kau piilang darr aku yang akan menjadi saksi bahwa anak kerbau itu dimakan ular. Hayolah!"
Biarpun masih takut, mendengar ucapan dan melihat sikap Tiong Lee Cin-jin yang meyakinkan hatinya itu, dia menganggyk dan mengikuti orang tua itu keluar dari hutan.
Beberapa kali dia menenggok dan memandang ke arah ular besar yang berusaha dengan tenahg untuk menelan anak kerbau yang terlalu be-sar untuk moncongnya itu.
Setelah tiba di lereng di mana tadi mereka berjumpa, anak itu melepaskan ikatan kerbaunya dan menuntunnya menuruni lereng bersama Tiong Lee Cin-jin.
Pemandangan di bawah sana masih tetap indah mempesona, Sawah ladang yang luas hijau menguning terbentang di bawah sana dan dari atas itu tampak rumah-rumah dusun sederhana di antara pohon-pohonan.
Tiong Lee Cin-jin memandang ke a-tas dan dia tersenyum, matanya bersinar, wajahnya berseri.
Dia melihat awan putih yang membentuk seekor naga sedang terbang melayang, seperti seekor Naga Langit yang perkasa.
"Anak baik, siapa namamu?"
Tanya-nya sambil berjalan di samping anak itu nieniti jalan setapak menuruni lereng.
"Marga saya Souw dan nama saya Thian Liong, paman."
Pria setengah tua itu melebarkan matanya dan berdongak ke atas memandang awan yang berbentuk naga itu.
"Thian Liong (Naga Langit)? Souw Thian Liong....?"
Betapa kebetulan. Dia melihat Naga Langit di angkasa yang dibentuk oleh awan dan nama anak ini berarti Naga Langit pula! "Ya benar, paman. Dan paman sendiri, siapa nama paman?"
Tanya Thian Liong.
"Orang menyebutku Tiong Lee Cin-jin. Kulihat engkau mempunyai sebatang suling yang terselip di ikat pinggangmu. Maukah engkau meniupnya dan memainkan sebuah lagu untukku, Thian Liong?"
Anak itu memandang ke arah suling di pinggangnya dengan sedih, lalu berdongak memandang laki-laki itu dan berkata.
"Paman, bagaimana aku dapat rneniup suling kalau hatiku sedih dan dihimpit perasaan takut seperti ini?"
Tiong Lee Cin-jin mengelus kepala Thian Liong.
"Jangan bersedih dan jangan takut, anak baik. Segala urusan yang tidak mampu kau atasi, serahkan saja sepenuhnya kepada kekuasaan Tuhan. Kekuasaan Tuhan yang akan mengaturnya dan tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang dapat mengubah apa yang telah diatur dan ditentukan oleh Tuhan'"
"Tuhan? Siapakah itu Tuhan, paman?"
Mereka sallng pandang dan slnar mata Tlong Lee Cln-jln bertemu dengan sinar mata yang demikian polos dan jernih.
Dia tersenyum.
Ketidak-tahuan yang murni dan suci.
Seperti seorang bayi.
Manusia lahir tanpa disertai pengetahuan, bahkan tidak mengenal Tuhan.
Setelah pikirannya bekerja, mulailah dia bertanya-tanya dan jalan plkirannya dlpengaruhi dari pemberitahuan dari luar.
"Tuhan adalah Yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan bumi, langit, angin, tumbuh-tumbuhan, mahluk hidup, bulan, matahari dan bintang. Segala yang ada, segala yang tampak dan tidak tam-pak, semua ini adalah ciptaan Tuhan. Bahkan engk'au dan aku inipun ciptaan-Nya, Thian Liong. Mengertikah engkau?"
Thian Liong menggaruk kepalahya dan mengerutkan alisnya, meniandang heran.
"Akan tetapi orang-orang bercerita kepada saya bahwa semua itu ada dewa yang menjaganya, paman. Ada dewa mataharl, dewa bulan, dewa bintang, dewa gunung, dewa sungal dan seterusnya, demikian yang saya dengar. Tiong Lee Cln-jln mengangguk-angguk. Dia harus memberi jawaban yang sesuai dengan apa yang telah didengar dan dipercaya anak ini, agar tidak membingungkan hatinya.
"Katakanlah bahwa ada para dewa dan para malaekat yang menjaga semua itu, akan tetapi mereka itu adalah pelaksana dari kekuasaan Tuhan, Thian Liong. Mereka adalah hulubalang, pembantu dan hamba Tuhan."
"Ah, paman. Kalau begitu Tuhan itu seperti Rajanya dan para dewa itu para perajuritnya!"
Tiong Lee Cin-jin tersenyum dan mengangguk. Biarlah, anak yang masih polos ini menganggopnya begitu agar pikirannya tjdak menjadi bingung.
"Ya, begitulah kira-kira. Tuhan adalah. Raja dari segala raja, penguasa langit dan bumi serta sekalian isinya."
Mereka tiba di dusun dan mulailah Thian Liong merasa takut lagi. Wajahnya pucat dan dia tampak kebingungan. Melihat ini, Tiong Lee Cin-jin berhenti di depan dusun itu dan bertanya.
"Thian Liong, takutkah engkau akan ancaman majikanmu?"
"Paman, aku tidak perduli akan keadaan diriku sendiri. Biarlah kalau dia mau merighukum aku, menyiksa atau membunuh sekalipun. Akan tetapi aku khawatir kalau nenek yang sudah tua i-tu akan dihukumnya pula. Aku kasihan .kepada nenekku, satu-satunya orang yang kumiliki?"
Tiong Lee Cin-jin mengelus kepala anak itu.
"Jangan takut, Thian Liong. Ingatkah engkau akan Raja di atas segala raja tadi?"
"Maksud paman.... Tuhan?"
"Benar. Serahkan segalanya kepada Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Adil Maha Kasih dan Maha Murah. Dia yang akan melindungi engkau dan nenekmu kalau engkau mau berserah kepadaNya."
"Benarkah itu, paman?"
"Tentu saja benar dan aku yang akan menanggung bahwa hal itu benar adanya. Kalau engkau percaya dan berserah diri, Tuhan tentu akan mengutus para dewa itu untuk melindungimu dari gangguan orang jahat."
Wajah anak itu tampak lega dan sinar matanya tidak ketakutan lagi.
"Kalau begitu, aku akan berserah di-ri kepadanya, paman."
"Engkau tidak takut lagi?"
"Tidak, bukankah paman ada bersamaku? Dan para Dewa diutus Tuhan untuk melindungi aku dan nenek. Aku tidak takut lagi".
"Kalau begitu mari kita masuk dan menemui majikanmu."
Mereka memasuki dusun.
Thian Liong menuntun kerbaunya berjalan di depan sebagai penunjuk jalan.
Majikan anak itu adalah Lurah Coa Lun, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun.
Lurah Coa ini seolah menjadi seorang raja k6cil di dusunnya, merupakan orang paling kaya di situ.
Semua orang di dusun itu takut kepadanya, bahkan kehidupari mereka bergantung kepada lurah ini.
Hal itu karena semua penduduk telah terikat hutang kepada lurah Coa.
Ketika tiba musim kemarau panjang, para petani itu terpaksa berhutang kepada Lurah Coa untuk dapat menyambung hidup dan sejak itu, hutang mere-ka tidak pernah dapat terlunasi karena bunganya yang tinggi.
Pencicilan hutang dan bunganya berkejaran.
Karena itu, semua penghuni dusun itu seolah-olah telahy berada dalam cengkeraman tangan Lurah Coa dan karena itu mereka semua mera-sa takut dan hanya dapat menaati semua perintah sang lurah.
Selain itu, Lurah Coa juga memperkuat kedudukannya dengan memelihara dua belas orang jagoan tukang pukul sehingga tidak ada yang berani mencoba untuk menentangnya.
Lurah Coa mempunyai tiga orang isteri.
Akan tetapi tiga orang isteri ini agaknya masih belum mampu memuaskan nafsunya.
Dia seorang mata keran-jang yang gila akan wanita muda dan cantik.
Karena itu, kehidupan para wanita muda yang memiliki wajah cantik di dusun itu, baik ia masih gadis maupun sudah menjadi isteri orang, tidak aman.
Siapa yang diincar dan dikehendaki sang lurah, pasti akan menjadi mangsanya.
Secara halus maupun kasar, lurah bejat moral itu pasti akan mendapatkan wanita itu untuk beberapa lama sampai dia merasa bosan dan melepaskannya kembali.
Karena itu, banyak suami yang merasa memiliki isteri muda dan manis, diam-diam pergi mengungsi, pindah dari dusun itu.
Juga banyak keluarga yang memiliki anak gadis cantik, mengungsikan gadis itu keluar dusun.
Hampir semua sawah ladang yang berada di dusun itu dan sekitarnya, sudah menjadi milik Lurah Coa.
Mereka yang dibebani hutang yang semakin membengkak, terpaksa merelakan tanahnya disita oleh sang lurah dan mereka hanya menjadi buruh tani sang lurah saja sehingga kehidupan mereka semakin bergantung kepada sang lurah.
Ayah Souw Thian Liongbernama Souw Ki sudah meninggal dunia sejak Thian Liong berusia lima tahun.
Juga ibu anak itu sudah meninggal dunia.
Kedua orang suami Isteri itu meninggal dalam keadaan miskln dan terserang penyaklt perut yang waktu itu menjadl wabah di dusun-dusun sekltar daerah pegunungan itu.
Mereka terserang penyakit dan meninggal dunia secara berturut-turut.
Yang selamat hanya' Thlan Liong dan neneknya, yaitu Nenek Souw ibu dari mendiang Souw Ki.
Sejak itu, dalam usia lima tahun, Thian Liong hidup bersama neneknya.
Nenek Souw yang sudah amat itu bekerja keras untuk dimakan berdua dengan cucunya.
Ia bekerja sebagai tukang cuci pakaian di rumah keluarga Lurah Coa, dan setelah Thian Liong berusia delapan tahun, Nenek Souw mintakan pekerjaan untuk cucunya itu kepada sang lurah.
Kebetulan lurah itu baru menyita seekor kerbau dari seorang warga dusun yang tidak mampu membayar hutangnya, maka Thian Liong diberi pekerjaan menggembala kerbau itu.
Sebelumnya, Lurah Coa tidak memelihara kerbau karena dia telah iriempunyai banyak buruh tani yang bekerja di sawah dan tidak memerlukan kerbau lagi.
Kerbau itu dipelihara dengan baik oleh Thian Liong, gemuk dan sehat.
Thian Liong amat menyayang kerbau itu dan lebih-lebih lagi ketika kerbau itu melahirkan seorang anak kerbau.
Karena Itu, dapat dlbayangkan betapa sedlh dan juga takut rasa hati Thlan Llong menghadapi kemarahan Lurah Coa ketika kerbaunya yang kecil dimakan ular raksasa.
Dia amat mengkhawatirkan nasib neneknya.
Apalagi kalau neneknya sampai dihukum, bahkan baru dipecat saja kehidupan mereka berdua akan terancam bahaya kelaparan!
Lurah Coa menjadi marah sekali ketika dia dilapori bahwa Thian Liong pulang tanpa anak kerbaunya.
Dia segera melangkah keluar dan matanya terbuka lebar, mukanya menjadi kemerahan ketika dia melihat Thian Liong berdiri di halaman rumah sambil menuntun induk kerbau tanpa anak kerbau dan ditemani seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian seperti seorang pendeta, menggendong sebuah buntalan besar.
"Thian Liong, mana anak kerbaunya?"
Tanya sang lurah dengan suara bentakan dan matanya melotot.
Lurah itu bertubuh tinggi kurus, matanya sipit, daun telinganya kecil seperti telinga tikus, hidungnya pesek dan mulutnya lebar, dihias kumis kecil panjang menggantung di kanan kiri mulut dan jenggotnya hanya beberapa helai saja.
Karena setiap kali diharuskan memberi penghormatan yang berlebihan terhadap Lurah Coa, maka Thian Liong lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap sang lurah.
"Ampunkan saya, tai-jin (tuan besar), anak kerbau itu dimakan ular di hutan...."
"Apaa,? Dimakan ular di hutan? Gila kamu! Mana bisa anak kerbau dimakan ular ..di hutan. Memangnya kamu menggembala kerbau di dalam hutan?"
"Ampun, taijin. Anak kerbau itu berlompatan dan berlari memasuki hutan. Ketika saya mengejarnya, tahu-tahu ada ular menangkapnya dan memakannya."
"Bohong! Mana ada ular bisa makan anak kerbau yang begitu besar? Tentu engkau sudah menjual anak kerbau itu atau kausembunyikan! Hayo mengaku saja atau dicambuki lebih dulu agar mau mengaku?"
Pada saat itu, dari dalam rumah tampak berlari keluar seorang nenek yang sudah tua.
Rambutnya sudah putih semua, tubuhnya kurus kering seperti je-rangkong, pakaiannya tua dan lusuh.
Usianya tentu sudah hampir delapan puluh tahun.
la lari menghampiri Thian Liong yang berlutut dan menubruk anak itu sambil menangis.
"Adub cucuku Thian Liong....! Apa yang telah terjadl? Orang bllang anak kerbau yang kaugembalakan hilang dimakan ular? Betulkah itu, cucuku....?"
"Benar, nek,"
Kata Thian Liong mengangguk sambil memandang wajah neneknya yang sudah basah air mata itu dengan sedih.
"Aduh celaka, Thian Liong....!"
Ia lalu berlutut di dekat kaki Lurah Coa dan berkata dengan suara gemetar.
"Taijin.... ampunkan hambamu ini.... ampunkan cu-cu hamba Thlan Liong....! Dia maslh kecll, dia masih bodoh..., ampunkan dia taljin...."
"Minggir kau! Thian Liong harus mengembalikan anak kerbau itu atau aku akan mencambukinya sampai dia mengaku di mana dia menyembunyikan anak kerbau itu!"
Hardlk Lurah Coa dengan geram.
"Thian Liong....!"
Nenek Souw menjerit dan menubruk cucunya. Akan tetapi ia bergulingan dan roboh. Thian Liong cepat merangkul neneknya.
"Nenek....!"
Anak itu berseru bingung melihat neneknya megap-megap seperti ikan dilempar di daratan.
"Thian Liong.... jaga.... dirimu.... baik..,. baik...."
Lapun terkulai lemas da-lam rangkulan cucunya.
"Nenek...,?"
Thian Liong berteriak. Tiong Lee Cin-jin mendekati anak itu, berjongkok dan dia meraba leher,Nenek Souw.
"Thian Liong, nenekmu meninggal...."
Katanya terharu.
"Me....ninggal....?"
Thian Llong me-mandang wajah Tiong Lee Cin-jin terbelalak. Tiong Lee Cin-jin mengangguk.
"la meninggal karena jantungnya lemah. la mati karena memang ia sudah tua dan lemah, Thian Liong."
"Nenek....! Ahh, nenek....!!"
Thian Liong menubruk dan menanglsi neneknya, meratap-ratap.
Lurah Coa mengerutkan alisnya dan menjadi semakin marah.
Kematian nenek itu saja amat merugikannya!
Selain kehilangan tenaga kerja, diapun terpaksa harus mengeluarkan uang untuk mengubur Jenazah nenek itu.
Semua ini gara-gara Thian Liong yang melenyapkan anak kerbaunya!
"Beri hukuman anak keparat ini dengan dua puluh kali cambukan!"
Bentaknya kepada dua belas orang tukang pukulnya yang sudah berkumpul di situ.
Dua orang di antara mereka melangkah maju.
Mereka adalah dua orang algojo yang sudah biasa melaksanakan perintah untuk mencambuki orang.
Mereka berdua menyeringai dan masing-masing memegang sebatang cambuk yang besar.
Melihat ini, Tiong Lee Cin-jin melangkah maju.
"Nanti dulu!"
Tegurnya dengan suara yang lembut namun penuh wibawa.
"Coa-chung-cu (Lurah Coa), anak kerbau itu memang benar dimakan seekor Coa (ular), kenapa anak ini yang dipersalahkan dan hendak dicambuk? Dicambuk dua puluh kali dia akan mati. Sepatutnya engkau sendiri yang dicambuk!"
"Apa kaubilang? Keparat, berani engkau menghinaku?"
Lurah itu merasa disindir seolah-olah orang berpakaian pendeta itu mengatakan bahwa dia yang telah memakan anak kerbaunya. Nama marganya Coa memang berbunyi sepertl huruf ular.
"Kalau begitu, biar engkau yang menanggung setengahnya. Hayo, kalian hukum cambuk mereka berdua, masing-masing sepuluh kali cambukan yang kuat agar pecah-pecah kulit punggung mereka, biar tahu rasa!"
Dua orang algojo itu mengangkat cambuk mereka, siap untuk memukul Thian Liong dan Tiong Lee Cin-Jin dengan cambuk mereka.
"Tar-tarrr!!"
Dua batang cambuk me-ledak di udara lalu turun menyambar dengan cepat ke arah.... Lurah Coa! "Pratt! Pratt!! Aduh.... aduhh, gila kalian! Kenapa aku yang dicambuk?"
Lurah Coa mengaduh dan berloncatan, akan tetapi cambuk-cambuk itu terus melecutinya dan dua orang algojo itu melecut penuh semangat! "Aduh-aduh.... bunuh mereka! Bunuh mereka!"
Lurah Coa memerintahkan sepuluh orang jagoannya yang lain untuk bertindak sambil dia menggeliat-geliat kesakitan.
Sepuluh orang tukang pukul itupun merasa terheran-heran melihat dua orang rekan mereka malah mencambuki majikan mereka.
Mendengar perintah itu, mereka menjadi bingung.
Ada yang menganggap perintah itu untuk membunuh dua orang rekan mereka, ada pula yang menganggap perintah itu untuk membunuh Thian Liong dan Tiong Lee Cln-jin.
Mereka, sepuluh orang, serentak bergerak.
Mereka menganggap bahwa dengan tangan kosong saja mereka akan mampu membereskan orang-orang yang harus dibunuhnya.
Sepuluh orang itu serentak menerjang maju akan tetapi kembali terjadi keanehan luar biasa yang disaksikan oleh orang-orang yang sudah mulai berkumpul di halaman rumah Lurah Coa meli-hat keributan itu.
Sepuluh orang itu sama sekali tidak menyerang Thian Liong dan Tiong Lee Cin-jin, juga tidak menyerang dua orang algojo yang masih mencambuki Lurah Coa, melainkan mereka itu saling gebuk dan saling tendang di antara mereka sendiri!
Terdengar suara bak-bik-buk dan teriakan-teriakan kesakitan dan kemarahan menjadi satu, hiruk pikuk dan para penonton terbelalak keheranan.
Sementara itu, dua orang algojo masih asyik menggerakkan cambuknya ke arah tubuh Lurah Coa sambil menghitung.
"Tarr-tarrr! Ke enam! Tar-tarrr! Ke tujuh! Tar-tarrr!! Ke delapan....!!"
Pemandangan itu sungguh luar biasa sekali.
Thian Liong masih merangkul dan menangisi neneknya.
Tiong Lee Cin-jin masih berjongkok dekat anak-anak itu dan menoleh memandang orang-orang yang sedang sibuk sendiri itu.
Lurah Coa masih mengaduh-aduh dan menggeliat-geliat, bajunya robek-robek dan punggung-nya beriepotan darah karena kulit punggungnya pecah-pecah oleh cambukan.
Teriakannya sudah melemah dan kini dia mengaduh sambil menangis.
Sedangkan sepuluh orang itu saling genjot, saling tonjok dan saling tendang.
Ramai sekali keadaannya, ramai dan kacau.
"Tarr-tarrr! Ke sembilan! Tarr-tarrr!! Ke sepuluh....!!"
Setelah dua orang algojo itu masing-masing memukul sepuluh kali, merekapun menghentikan cambukan mereka.
Kini mereka berdlri memandang kepada Lurah Coa dengan mata terbelalak seolah tldak percaya kepada pandangan mata mereka sendlrl, Lurah Coa Itu bergulingan di atas tanah dengan tubuh berkelopotan darah dan agaknya mereka berdua baru menyadari dengan kaget sekali bercampur heran dan bingung bahwa mereka tadi telah mencambuki Lurah Coa!
Sementara Itu, sepuluh orang yang sallng gebuk itu kinipun sudah lemas.
Muka mereka benjol-benjol dan matang biru, tidak ada seorangpun yang masih utuh karena tadi mereka saling gebuk tanpa memilih kawan maupun lawan.
Siapa saja yang berada dl dekatnya diserang.
Dengan sendirinya mereka semua kebagian pukulan atau tendangan.
Dan anehnya, berbareng dengan berhentinya dua orang tukang cambuk tadi, sepuluh orang itupun berhenti saling serang dan mereka mengerang kesakitan dengan mata terbelalak keheranan karena baru sekarang mereka menyadari bahwa mereka tadi telah sallng pukul antara rekan sendiri!
Lurah Coa sekarang telah bangun.
Melihat dua orang yang tadi mencambukinya berdiri dengan menundukkan muka dan tampak ketakutan, kemarahannya memuncak.
Biarpun seluruh tubuhnya nyerh dan pedlh perih, dia lalu merampas sebatang cambuk di tangan seorang di antara dua algojo itu dan dia lalu mengayun cambuk, mencambuki mereka berdua sekuat tenaganya!
"Tar-tar-tarrr....!!"
Dia terus mencambuki sekuat tenaga, mencambuki dua orang tukang pukulnya itu sekenanya, muka, kepala, dada sehingga dua orang itu menggeliat-geliat dan melindungl muka mereka dengan kedua tangan.
Baju mereka berdua cabik-cabik dan kulit mereka pecah-pecah, darah mulai mewarnai baju mereka.
"Ampun, taijin.... ampun....!"
Mereks berdua meratap-ratap akan tetap Lurahj Coa mencambuki terus sampai dla kehabisan tenaga dan napasnya hampir putus barulah dia berhenti karena tidak kuat lagi.
Dia melempar cambuknya dah dengan tubuh lunglai dia menjatuhkan dirinya duduk di atas sebuah kursi.
Kini dia menyadari keadaan sepenuhnya.
Biarpun masih tiada habis herannya melihat peristiwa yang telah menimpa dirinya dan dua belas orang jagoannya, namun kini dia mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Thian Liong dan Tiong Lee Cin-jin.
Dia masih belum menyadari bahwa kehadiran pendeta asing itulah yang menimbulkan peristiwa aneh tadi.
"Thian Liong! Engkau telah membikin hilang anak kerbauku, untuk itu engkau akan dihukum! Dan engkau pendeta asing, engkau inemasuki dusun kami dan membuat onar di sini, membela anak yang bersalah ini. Mungkin engkau telah bersekongkol dengan dia untuk mencuri anak kerbauku. Karena itu engkaupun akan dihukum! "Lurah Coa, engkau masih belum menyadari sikapmu yang sewenang-wenang itu? Perbuatanmu yang suka menyiksa orang kini berbalik menimpa dirimu sendiri dan engkau masih juga belum jera?"
Kata Tiong Lee Cin-jin kepada kepala dusun itu.
Akan tetapi kepala dusun yang sudah terlanjur merasa seperti seorang raja kecil di dusunnya dan tidak pernah ada orang berani menentangnya, menudingkan telunjuknya kepada Tiong Lee Cin-jin dan Thian Liong, lalu berseru kepada anak buahnya.
"Hayo kalian tangkap dua orang ini! Cepat!!"
Akan tetapi dua belas orang tukang pukul yang masih belum hilang kaget mereka dan masih merasa nyeri-nyeri seluruh tubuh mereka itu, hanya memandang dan tidak ada yang berani bergerak.
Mereka adalah orang-orang yang sedikit banyak sudah mempunyai pengalaman di dunia kang-ouw dan mereka kini sudah dapat menduga bahwa orang berpakaian seperti pendeta itu tentu seorang sakti maka terjadi peristiwa aneh-aneh seperti yang tadi mereka alami.
Maka, mendengar perlntah majlkan mereka itu, tidak ada seorangpun dl antara mereka yang berani bergerak.
"Hayo tangkap dua orang inl! Apakah kalian semua sudah tuli?"
Bentak lagi lurah yang masih menggigit bibir menahan rasa nyeri yang terasa di seluruh tubuhnya.
Mendengar perintah ulangan ini, dua belas orang tukang pukul tidak berani membangkang lagi dan mereka sudah meraba gagang golok yang tergantung di pinggang.
Melihat ini, Tiong Lee Cin-jin memandang kepada mereka dan berkata.
"Kalian ini sebetulnya adalah penjaga keamanan dusun, menjaga keamanan semua penduduk dusun, bukan melaksanakan perintah Lurah Coa untuk memukul dan menyiksa orang. Apakah kalian masih belum mau bertaubat dan hendak melanjutkan perkelahian di antara kalian sendiri menggunakan golok?"
Mendengar ucapan Tiong Lee Cin-jin itu, dua belas orang tukang pukul klni yakln bahwa tadi mereka bergontok-gontokan sendiri adalah karena dlpengaruhi pendeta ini.
Mereka menjadi jerih, menggeleng kepala dan otomatis melepaskan lagl gagang golok mereka.
Mereka membayangkan betapa ngerinya kalau mereka saling serang seperti tadi, kini mempergunakan golok.
Tentu akan banyak di antara mereka yang luka parah atau bahkan tewas.
"Kalian masih belum turun tangan?"
Bentak pula Lurah Coa.
"Lurah Coa, engkau sudah mendengar pengakuan kami bahwa anak kerbau itu dimakan ular dan engkau masih belum mau percaya. Sekarang lihatlah sendiri, juga kalian para tukang pukul! Ular raksasa itu kini datang memperlihatkan diri kepada kalian agar kalian dapat percaya!"
Tiong Lee Cin-jin menggapai dengan tangannya dan Lurah Coa bersama dua belas orang tukang pukulnya terbelalak, muka mereka pucat dan tubuh mereka menggigil.
Mereka melihat ada seekor ular yang besar sekali, sebesar batang pohon siong, merayap datang menghampiri mereka!
Para penduduk dusun yang berkumpul di situ tldak melihat ular ini.
Mereka menjadi terheran-heran melihat dua belas orang tukang pukul itu menggigil ketakutan menghampiri Lurah Coa lalu berdiri di belakangnya.
Lurah itupun menggigil ketakutan.
Mereka mundur-mundur dan akhirnya menjatuhkan diri berlutut.
"Ampun.... ampunkan saya...."
Lurah Coa meratap.
"Ampunkan kami.... kami tldak berani lagl...."
Dua belas orang Itupun berseru ketakutan, menghadap ka arah Tiong Lee Cin-jln. Tlong Lee Cin-jln mengibaskan tangannya dan ular itupun lenyap. Dla lalu bertanya kepada Lurah Coa dan anak buahnya.
"Benarkah kalian semua telah bertobat dan tidak akan mengulangi lagi sikap dan perbuatan kalian yang menindas rakyat dusun ini?"
"Saya tidak berani ....". ratap lurah Coa.
"Kami bertobat...."
Dua belas orang tukang pukul itu serempak berseru ketakutan.
"Bagus. Bertaubat berarti membuka pintu yang menuju jalan kebenaran. Namun bertobat tidak ada artinya sama sekall kalau hanya dlucapkan dengan mulut, melainkan harus menerima dalam hati sanubari dan tercermin dalam perbuatan. Tanpa pelaksanaan dalam perbuatan, bertobat hanya merupakan pemanis bibir dan palsu belaka. Lurah Coa, seorang lurah bukan seorang pembesar yang hanya memperbesar perut sendiri, juga bukan seorang penguasa yang mempergunakan kekuasaannya untuk menindas orang lain dan mencari enaknya dan benarnya sendiri. Seorang lurah adalah seorang pemimpin rakyat yang berkewajiban iintuk membimbing rakyatnya ke arah pembangunan dusun demi kesejahteraan rakyatnya, menjadi seorang bapak yang selalu memberi teladan kepada rakyat, kalau berdiri di depan memberi teladan, kalau berdiri di tengah bekerja sama dengan rakyat, kalau di belakang mengawasi dan memberi pengarahan. Ingat, engkau bisa menjadi lurah karena ada rakyat dusun, tanpa mereka engkau bukan apa-apa. Mulai sekarang, jadilah pemimpin rakyat yang baik. Kembalikan sawah ladang mereka. Bebaskan hutang-hutang mereka. Ulurkan tangan dan bantulah kalau ada rakyat yang kekurangan. Kalau sudah begitu, seluruh rakyat di dusun akan cinta dan taat kepadamu, bukan taat karena terpaksa dan takut. Sanggupkah engkau membuktikan rasa bertobatmu dengan semua anjuran itu?"
"Saya sanggup,"
Jawab Lurah Coa sambil menundukkan kepalanya.
Entah mengapa, mendengar ucapan yang lembut namun penuh wibawa dan menggores hatinya itu, Lurah Coa terlngat akan semua tindakannya yang lalu, sadar akan semua perbuatannya yang sewenang-wenang dan diam-diam dia menangis.
"Dan kalian, orang-orang gagah yang tadinya dianggap sebagai tukang-tukang pukul anak buah Lurah Coa. Kalian adalah orang-orang yang sudah mempelajari ilmu silat, orang-orang yang memiliki tenaga yang kuat. Akan tetapi sayang, kalian meinpergunakan kelebihan itu untuk mendukung kesewenang-wenangan Lurah Coa. Kalian menakut-nakuti rakyat dusun, kalian bahkan tidak segan untuk memukuli dan menyiksa mereka. Kalau benar-benar kallan sudah bertaubat, mulai sekarang jadilah pembantu lurah yang baik. Menjadi penjaga keamanan dusun, keamanan rakyat dusun sehingga kehidupan di sini menjadi aman tenteram tidak ada perbuatan kejahatan. Dengan demikian kalian akan menjadi sahabat bahkan saudara dari rakyat dan mereka akan me-rasa sayang dan segan kepada kalian, bukan takut lagi. Mereka tidak akan mellhat lagi kalian sebagai iblis-iblis mengganggu, melainkan sebagai malaikat-malaikat pelindung. Nah, sanggupkah kalian menjadi pelindung rakyat?"
"Kami sanggup!"
Seru dua belas orang itu serentak.
"Bagus, senang dan suka sekali hatiku mendengar kesanggupan kalian semua. Sekarang aku hendak bertanya kepadamu, Lurah Coa. Engkau tahu bahwa Thian Liong hanya hidup berdua dengan neneknya dan keadaan mereka miskin sekali. Mereka mengandalkan makan sehari-hari dari hasil bekerja mereka di rumahmu. Sekarang Nenek Souw telah meninggal dunia, apa yang akan kaulakukan?"
Lurah Coa mengangkat mukanya dan Tiong Lee Cin-jin melihat berapa muka yang masih ada bilur-bilur bekas cambukanitu kini tampak cerah dan tidak tertutup hawa gelap seperti tadi.
"Sebelum saya menjawab, bolehkah kami semua mengetahui lebih dulu siapa sebenarnya saudara pendeta ini?"
"Orang menyebutku Tiong Lee Cin Jin seorang perantau yang kebetulan lewat di sini."
Lurah Coa merangkap kedua tangan depan dada memberi hormat lalu bangkit berdiri.
"Kiranya Cin-jin seorang pendeta yang sakti dan bijaksana. Maafkan kami sekalian yang telah bersikap kurang hormat dan telah berani bertindak jahat. Saya sudah bertaubat dan menyadari dosa-dosa saya, Cin-jin. Saya akan mengurus penguburan jenazah Nenek Souw sebaik-baiknya. Adapun mengenai Thian Liong, saya akan memberinya pekerjaan dan menganggap seperti anak angkat saya."
Tlong Lee Cin-jln mengangguk-ang-guk.
"Bagus, terima kasih atas kebaikanmu, Lurah Coa. Kalau untuk selanjutnya engkau bersikap dan berbuat seperti ini aku percaya bahwa engkau akan dapat mencuci kotoran yang timbul dari perbuatanmu yang sudah-sudah dengan perbuatan baikmu yang akan datang. Nah, selamat tinggal, aku harus melanjutkan perjalananku."
Setelah berkata demillian Tiong Lee Cin-jin membahkan tubuhnya dan melangkah keluar dari pekarangan rumah Lurah Coa.
Akan tetapi tiba-tiba Thian Liong lari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Tiong Lee Cin-jin.
"Suhu, perkenankanlah saya ikut suhu!"
Katanya sambil membentur-benturkan dahinya di atas tanah.
"Thian Liong, jenazah nenekmu masih belum dikebumikan,"
Kata Tiong Lee Cin-jin.
"Sudah ada Lurah Coa yang menyanggupi untuk mengurusnya, suhu. Biarkan saya ikut suhu."
"Akan tetapi aku hanyalah seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya. Engkau akan lebih senang tinggal di sini"
Kata pula Tiong Lee Cin-jin.
"Benar Thian Liohg. engkau tinggallah di sini bersama kaml. Aku akan menganggapmu sebagai anak angkatku,"
Kata Lurah Coa.
"Tidak, suhu. Satu-satunya orang yahg kumiliki di dunia ini hanyalah nenekku. Sekarang ia sudah meninggal dunia. Suhu telah menyelamatkan saya, maka sekarang saya ingin ikut dan melayani suhu untuk selamanya. Saya bersedia hidup melarat bersama suhu."
Anak itu meratap. Tiong Lee Cln-jin mengangguk-angguk dan tersenyum. Dia sudah merasa bahwa anak ini berjodoh dengannya dan amat baik kalau menjadi muridnya.
"Baiklah, engkau boleh ikut denganku, Thian Liong."
"Terima kasih, suhu!"
Thian Liong lalu bangkit dan lari menghampiri jenazah Nenek Souw dan berlutut di sampingnya.
"Nenek, perkenankan aku ikut dengan suhu Tiong Lee Cln-jin. Jangan khawatir, nek, jenazahmu akan diurus sebaiknya oleh Lurah Coa. Selamat tinggal, nek."
Setelah mencium muka neneknya, dia lalu bangktt dan berlarl mengejar Tiong Lee Cln-jin yang sudah berjalan meninggalkan pekarangan itu.
Lurah Coa mengikuti mereka dengan pandang matanya sampai dua orang itu tak tampak lagi.
Dia lalu inemerintahkan orang-orangnya untuk mengurus jenazah Nenek Souw baik-baik dan dia masuk ke dalam rumah untuk mengobati luka-luka lecutan di tubuhnya.
Semenjak hari itu, Lurah Coa berubah sama sekali.
Dla berubah menjadi seorang lurah yang baik dan kehidupan rakyat di dusun itu menjadi benar-benar sejahtera dan berbahagia.
Dua belas orang jagoan itu kini menjadi sahabat rakyat, menjadi penjaga keamanan dalam arti yang sebenarnya.
Setelah mengubah sama sekali jalan hidup mereka, kini mereka mendambakan suatu kebahagiaan yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Mereka merasa aman tenteram dalam hidup mereka, sikap dan pandang mata semua penduduk terhadap mereka demikian ramah tulus dan hormat yang tidafc dibuat-buat.
Baru sekarang mereka merasakan betapa membikin senang orang lain jauh lebih menyenangkan daripada membikin susah orang lain.
* * * Setelah berpuluh tahun berada dalam kekacauan dan pertentangan karena Cina dikuasai Lima Dinasti yang saling berperang dan berebutan kekuasaan, akhirnya pada tahun 960 M lahirlah Dinasti Sung yang berhasil mempersatukan Cina kembali.
Pendiri Dinasti Sung adalah seorang panglima dari satu di antara dinasti-dinasti yang pada jaman Lima Dinasti berkuasa di Cina, yaitu Dinasti Chou.
Panglima ini bernama Chao Kuang Yin.
Panglima Chao Kuan Yin ini menjadi kaisar yang mendirikan Dinasti Sung dengan cara yang unik, aneh dan lucu.
Pada masa itu, Dinasti CHou membutuhkan seorang yang tepat untuk menjadi kaisar karena kaisarnya yang sudah tua berada dalam keadaan sakit payah.
Yang ditunjuk sebagai penggantinya adalah se-orang pangeran yang masih kecil, seorang anak-anak!
Hal ini mendatangkan rasa penasaran dan tidak puas dalam hati para perwira, Mereka lalu diam-diam mengadakan perundingan dan mengadakan pemilihan siapa kiranya yang pantas ditunjuk untuk menjadi kaisar baru.
Mereka dengan suara bulat memilih Panglima Chao Kuang Yin yang mereka kenal sebagai seorang panglima besar ahli perang yang pandai dan yang juga bijaksana dalam pergaulannya dengan para pembesar lainnya.
Pada suatu malam, selagi Panglima Chao Kuang Yin masih tidur, para perwira bawahannya dan para pejabat tinggi memasuki kamarnya dan membangunkannya.
Panglima itu terbangun dan merasa kaget dan heran sekali melihat para perwira dan pembesar mengerumuninya.
"Heii, apa-apaan ini? Apakah terjadi. Mau apa kalian menggugah ku??"
Tanya Panglima Chao Kuang Yin yang lalu duduk di atas kursi, memandang kepada mereka semua.
Ternyata mereka telah menyalakan lampu sehingga kamar itu menjadi terang.
Dengan heran dia melihat bahwa semua perwlra tinggi yang menjadi pembantunya berada di situ, juga para pejabat tinggi yang berkedudukan penting di pemerintahan.
Seorang perwira yang paling tinggl kedudukannya di antara semua perwira, yaitu Perwira Ciang yang menjadi pembantu utama Pangllma Chao Kuang Yin, mengeluarkan sebuah jubah dan mengembangkan jubah itu hendak menyelimutl kedua pundak Panglima Chao Kuang Yin.
Ketika melihat bahwa jubah itu adalah pakaian kebesaran Kaisar, panglima itu cepat bangkit berdiri dan menolak.
"Apa artinya ini? Apa maksud kalian?"
"Panglima Chao Kuang Yin, atas kesepakatan kami semua, malam ini juga kami mengangkat paduka menjadi kaisar kami yang baru!"
Kata Perwira Ciang Sui. Panglima Chao Kuang Yin membela-akkan matanya dan alisnya berkerut, wajahnya berubah merah.
"Apa kalian semua sudah menjadi gila? Aku adalah seorang panglima Kerajaan Chao yang setia kepada Kaisar! Aku tidak ingin menjadi pengkhianat!"
"Panglima Chao, tenanglah dan pikirkan baik-baik, justru karena paduka adalah seorang patriot sejati, seorang yang setia kepada kerajaan, maka paduka harus menolong dan melindungi kerajaan kita. Kaisar yang baru diangkat adalah seorang kanak-kanak, mana mungkin dia dapat memerintah dengan baik dan semestinya? Kalau dibiarkan saja keadaan ini, kerajaan kita pasti akan ambruk dan siapa lagi yang dapat menyelamatkan kerajaan ini kecuali paduka?"
"Tidak, aku tetap tidak mau!"
Bantah Panglima Chao Kuang Yin. Seorang perwira tinggi lain berseru.
"Kalau Panglima Chao Kuang Yin tidak mau, berarti dia. ingin melihat kerajaan ini hancur dan ini berarti dia seorang pengkhianat yang harus dlhukum mati!"
Dia mencabut pedangnya dan belasan orang perwira itu semua mencabut pedang, termasuk para pejabat tinggi.
Mereka menodongkan pedang mereka kepada Panglima Chao Kuang Yin yang terbelalak keheranan.
Seorang pejabat tinggi bagian Sastra dan Budaya yang bernama Can Siong Tek berkata dengan suara yang lembut, Panglima Chao Kuang Yin, harap paduka suka memperhatikannya baik-baik.
Keadaan kerajaan dalam bahaya.
Kaisar yang diangkat masih kanak-kanak dan tentu dia akan dipengaruhi dan terjatuh ke dalam tangan para menteri korup dan para thai-kam (laki-laki kebiri) penjilat sehingga pemerintahan jatuh ke tangan mereka.
Dapat dipastikan kerajaan ini akan ambruk.
Sekarang paduka tinggal pillh.
Mau menjadi kaisar untuk menyelamatkan negara dan rakyat, atau kalau paduka menolak terpaksa kami bunuh karena paduka berarti menentang keputusan kami."
Chao Kuang Yin berdiam sampai lama, mempertimbangkan dan berpikir-pikir.
Dia tahu benar bahwa kalau dia menolak dan melawan, dia pasti akan tewas di tangan mereka ini.
Bukan dia takut mati, akan tetapi apa artinya kematiannya?
Hal itu tidak akan menolong keadaan kerajaan.
Sebaliknya kalau dia hidup dan mau menerima kedudukan kaisar, dia dapat berusaha untuk mempersatukan seluruh negeri dan menyudahi perang saudara yang tiada henti-hentinya menghantui dan menyengsarakan rakyat jelata.
Akhirnya dia berkata.
"Baiklah. Akan tetapi kalian harus berjanji untuk membantu aku memperkuat kerajaan dan mempersatukan semua kekuatan yang tadinya saling bertentangan."
"Hidup Kaisar!"
Serentak mereka berseru dan mengenakan jubah kaisar pada tubuh Panglima Chao Kuang Yin.
Demikianlah, Panglima Chao Kuang Yin menjadi kaisar dan dia mendirikan Dinasti Sung.
Dia menggunakan nama Kaisar Sung Thai Cu (960-976 M) dan menjadi pendiri Dinasti Sung sebagai kaisar pertama.
Mulai saat itulah Dinasti Sung berdiri sampai tlga abad lebih (960-1279 M).
Ternyata kemudian bahwa pilihan para perwira tinggi dan pejabat tinggi itu tidak keliru.
Panglima Chao Kuang Yin yang kini menjadi Kaisar Sung Thai Cu ternyata adalah seorang Kaisar yang amat cerdik pandai dalam persoalan politik, seorang yang bijaksana, tidak kejam dan tidak sewenang-wenang.
Pula, dia adalah seorang bangsa Han.
Hal ini ditambah sikap dan sepak terjangnya yang bijaksana membuat para kerajaan dan pemerintahan lain tunduk kepadanya.
Apalagi rakyat sudah bosan dengan peperangan yang tiada hentinya selama puluhan tahun, bosan dengan pengaruh kekuasaan suku-suku bangsa liar yang berebutan kekuasaan.
Para penguasa daerah yang tadinya, di masa kekuasaan Lima Dinasti herdin sendiri sebagai kerajaan-kerajaan kecil, ini satu demi satu menyatakan takluk dan berdiri di bawah panji kerajaan Sung yang dipimpin oleh Kaisar Sung Thai Cu.
Kaisar Sung tetap memberi kedudukan kepada para penguasa itu sebagai pejabat tinggi dari Kerajaan Sung, Sebagai semacam gubernur.
Ada beberapa daerah yang tidak mau tunduk.
Mereka ini dengan mudah diserang dan dltaklukkan.
Akan tetapi, bahkan kepada mereka yang menentang inipun Kaisar Sung Thai Cu bermurah hati.
Para pemimpinnya tidak dihukum, bahkan setelah daerah itu ditaklukkan, mereka tetap diangkat menjadi pejabat.
Demikianlah, dalam waktu beberapa tahun saja, seluruh Cina telah dapat dipersatukan, dan sebagian besar dari mereka ditundukkan dengan cara halus.
Hanya beberapa daerah saja yang terpaksa ditaklukkan dengan kekuatan pasukan tentara.
Semenjak Dinasti Sung berdiri dengan kokohnya, gangguan dari bangsa yang oleh rakyat Cina dlsebut "bangsa liar"
Banyak berkurang.
Gangguan yang masih ada hanya datang dari bahgsa Tartar yang mendirikan Liao (sekarang Mancuria), dan juga dari bangsa Hsia Hsia di Barat Laut.
Kebesaran Dinasti Sung yang dapat mempersatukan seluruh Cina itu hanya bertahan satu setengah abad lamanya.
Kemakmuran dan gangguan keamanan, yang hanya sedikit itu membuat Kaisar Hui Tsung lengah.
Jerih payah yang dilakukan Kaisar Sung Thai Cu itu akhirnya kandas dalam tahun 1121.
Kaisar Hui Tsung lengah, tidak begitu memperhatikan ketika tetangganya yang berada di utara, yaltu kerajaan Liao, telah diserbu dan dikuasai oleh bangsa Kin yang kuat.
Setelah Bangsa Kin menguasai kerajaan Liao (Mancuria), mereka menghimpun kekuatan besar sekali dan menyerbu kerajaan Sung.
Bala tentara Sung mengadakan perlawanan hebat, namun akhirnya mereka dikalahkan dan seluruh wilayah Sung bagian utara telah dikuasai bangsa Kin.
Kaisar Hui Tsung bahkan ditawan oleh pasukan Kin.
Pemerintah Sung lalu melarikan diri ke selatan dan kota raja pindah ke Lin-an (sekarang Hang-chow).
Karena kepindahan ini, maka Dinasti ini juga disebut Sung Selatan.
Wilayah Dinasti Sung Selatan ini berada di sebelah selatan Sungai Yang-ce dan karena tanah di daerah selatan ini jauh lebih subur dibandingkan tanah di utara, maka kerajaan Sung Selatan ini tidaklah dapat dikatakan mundur dalam hal kesejahteraan.
Kisah ini terjadi pada jaman Dinasti Sung Selatan dan yang menjadi kaisarpun pada waktu itu adalah Kaisar Kao Tsung, seorang keponakan dari Kaisar Hui Tsung yang ditawan oleh suku bangsa Khitan dari Kerajaan Kin.
Kaisar Kao Tsung bertekad untuk membalas dendam dan melakukan perang terhadap Bangsa Tartar Khitan yang telah menguasai daerah utara Sungai Yang-ce.
Kaisar Kao Tsung menghimpun kekuatan, mengumumkan dan mengundang para muda untuk masuk menjadi tentara dan ikut berjuang mengusir bangsa liar yang menguasai tanah air bagian utara itu.
Demikianlah sekilas tentang keadaan Dinasti Sung Selatan.
Jatuhnya daerah utara dan kota raja yang tadinya menja-di pusat kerajaan Sung, yaitu kota raja Tiang-an atau Kaifeng, terjadi dalam tahun 1121 M.
* * * Di lembah Sungai Yang-ce sebelah selatan, terdapat sebuah kota kecil Cin-koan.
Kota kecil ini cukup ramai karena merupakan persinggahan para pedagang yang mengangkut barang dagangan mereka melalui Sungai Yang-ce.
Daerah itu terkenal dengan rempa-rempanya.
Banyak pedagang datang ke kota Cin-koan untuk membeli rempa-rempa dan ada pula yang datang membawa dagangan ke kota itu berupa bahan pakaian dan segala macam keperluan lagi.
Tidak mengherankan kalau kota Cin-koan berkembang rnenjadi kota yang ramai dan mulailah rumah penginapan dan rumah makan bermunculan untuk menampung para pendatang dan pedagang yang setiap hari memenuhi kota Cin-koan.
Dan tidak aneh pula kalau bermunculan pula tempat-tempat hiburan seperti rurnah perjudian dan rumah pelacuran.
Para pedagang yang berada jauh darl rumah dan yang memperoleh banyak keuntungan itu haus akan pelesiran dan mereka biasa membuang uang secara royal.
Rumah pelesir Bunga Seruni merupakan tempat pelesir yang terkenal di kota Cin-koan.
Rumah pelesir ini dikelola oleh seorang mucikari yang biasa dipanggil Lu-ma, seorang wanita gemuk berusia lima puluhan tahun.
Pagi hari itu Lu ma sudah bangun dan setelah melakukan pemeriksaan terhadap belasan orang anak buahnya, yaitu gadis-gadis penghibur yang muda dan cantik, menyuruh mereka agar tidak bermalas-malasan, cepat maridi dan mengenakan pakaian bersih dan indah, ia lalu memasuki sebuah kamar yang terpisah dan berada di bagian belakang.
Hari itu merupakan hari istimewa karena ada serombongan pedagang dari kota raja datang.
Jumlah mereka ada tiga puluh orang lebih dan ini merupakan rejeki besar karena tentu di antara mereka ada yang akan berpelesir di rumah Bunga Seruni yang terkenal mempunyai banyak gadis penghibur yang cantik itu.
Lu-ma memasuki kamar di belakang itu dan seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun menyambutnya.
Gadis itu cukup cantik dan pakaiannya sederhana, berbeda dengan para gadis penghibur.
Gadis itu adalah seorang gadis yatim piatu, maslh terhitung keponakan Lu-ma dan sudah setahun lamanya ia tlngga!
di rumah Lu-ma.
Lu-ma amat menyayang gadis yang datang darl dusun ini karena ia rajin dan pandai membawa diri.
Saking sayangnya, Lu-ma tidak memeras tenaga gadis itu dan hanya kepada pria-pria pilihan saja ia menyuruh gadis itu melayani mereka.
Pria yang lembut dan royal, bukan sebangsa pria kasar.
Karena itu, biarpun ia menjadI seorang gadis penghibur atau pelacur, gadis itu tidak merasa terlalu tersiksa.
la jarang diharuskan menerima tamu, hanya beberapa hari sekali kalau kebetulan ada pria yang menurut Lu-ma pantas untuk dilayani keponakannya saja.
Karena tidak ingin rnemamerkan diri, maka gadis itu berdandan secara sederhana saja walaupun hal itu tidak menyembunyikan kecantikannya.
Gadis itu bernama Liang Hong Yi, baru setahun tinggal di situ dan baru beberapa bulan ia melayani laki-laki pilihan bibinya.
"Bibi,. sepagi ini sudah bangun?"
Liang Hong Yi menyambut bibinya sambil tersenyum.
Gadis ini juga sayang dan menghormati bibinya.
Walaupun bibinya menjadikan ia seorang pelacur, hal yang tidak mungktn terelakkan lagi mengingat akan pekerjaan bibinya sebagai mucikari, namun ia tahu bahwa bibinya sayang kepadanya.
la tidak diperas dan tidak harus melayani sembarang pria, tidak harus melayani sebanyak mungkin pria seperti para gadis penghibur itu.
"Duduklah, Hong Yi. Ada hal penting yang ingin kubicarakan kepadamu,"
Kata Lu-ma.
Hong Yi yang baru berusia delapan belas tahun itu berwajah bulat telur, dagunya runcing dan sepasang mata yang indah jeli seperti mata burung dara itu dilindungi sepasang alis yang hitam kecil panjang melengkung.
Hidungnya kecil mancung dan mulutnya manis sekali dengan blbir yang selalu merah basah segar menantang.
Setitik tahi lalat kecil hitam di dagunya menambah manis wajahnya yang berkulit putih kemerahan dan mulus.
Rambutnya juga hitam lebat, dengan anak rambut halus berjuntai di sekitar dahi dan pelipisnya.
Tubuhnya ramping, akan tetapi tidak terlalu kurus, bahkan padat dan sintal.
"Ada apakah, bibi?"
Tanya Hong Yi sambil duduk di atas kursl berhadapan dengan bibinya, terhalang sebuah meja kecil.
"Hong Yi, semalam aku bermimpi melihat engkau terbang dan menari-nari di antara bintang-bintang!"
Hong Yi tertawa dan menutupi mulutnya dengan lengan bajunya.
"Hi-hik, bibi ini aneh-aneh saja, mungkin bibi semalam keenakan tidur karena hawa udara memang dlngin malam tadi."
"Tidak, Hong Yi. Pagi tadi setelah terbangun, aku segera mengadakan perhitungan meramal dengan mencocokan hari tanggal lahirmu dan aku mendapat kenyataan bahwa engkau kelak akan hidup sebagai orang besar!"
"Aih, bibi. Orang macam aku bagal-mana dapat menjadi orang besar?"
Tanpa disengaja, ucapan yang keluar dari bibir mungil itu bernada sedih. Begitu mendengar ucapan keponakan-nya itu, Lu-ma lalu meraih tangan Hong Yl yang terletak di atas meja.
"Maafkan bibimu, Hong Yi. Mulai sekarang aku berjanji tldak akan menyuruhmu melayani pria lagl."
Wajah yang manis itu memandang pada Lu-ma dengan mata terbelalak dan suaranya terdengar, gembira.
"Benarkah itu, bibi?"
"Percayalah.. Aku bersumpah, akan tetapi kalau engkau sudah menjadi orang besar, jangan kau lupakan aku, Hong Yi."
"Aku tidak pernah menyalahkan engkau karena aku menjadi seorang pelacur di sini, bibi. Engkau amat baik kepadaku dan aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu itu."
"Nah sekarang engkau berdandanlah."
"Sepagi ini harus melayani seorang pria, bibi?"
Mata yang indah itu menjadi agak muram.
"Anak bodoh! Bukankah aku tadi sudah bersumpah tidak akan menyuruhmu melayani pria lagi? Tidak, bukan melayani pria. Akan tetapi aku menghendaki engkau pergi ke kuil Kwan-im-bio di tepi kota untuk bersembahyang dan mohon ramalan peruntunganmu."
Hong Yi tidak pernah membantah perintah bibinya, maka iapun mengangguk.
"Baiklah, bibi. Aku segera akan berdandan dan berangkat."
Pada saat itu, seorang pelayan wanita berdiri di ambang pintu kamar itu dan berkata kepada Lu-ma bahwa ada tamu yang hendak bertemu.
"Engkau cepat berdandan dan berangkat, Hong Yi,"
Kata Lu-ma yang lalu meninggalkan gadis itu.
Hong Yi segera berganti pakajan yang lebih baik walaupun masih tetap bersahaja, tidak memakai terlalu banyak perhiasan.
Baru saja ia selesai berdandan, ia mendengar suara ribut-ribut dari depan, suara laki-laki yang terdengar marah-marah.
Ia cepat melangkah keluar, berpapasan dengan pelayan yang ketakutan.
"Ada apa?"
Tanyanya kepada pelayan itu.
"Wah, celaka, nona Liang,"
Kata pelayan itu.
"Ada dua orang tamu marah-marah!"
Terdengar hiruk pikuk seperti barang-barang dibanting.
Hong Yi cepat menuju ke ruangan depan.
Dilihatnya Lu-ma berdiri di sudut ruangan dengan muka pucat ketakutan.
Dua orang laki-laki berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun sedang mengamuk membantingi kursi dan bangku sehingga kaki kursi dan bangku itu patah-patah.
"Hentikan itu!"
Bentak Hong Yi lantang.
"Apa yang kalian lakukan Itu?"
"Hong Yi, jangan masuk. Pergilah dari sini!"
Lu-ma berseru sambil memberl tanda dengan tangannya agar Hong Yl pergi. Akan tetapl Hong Yi malah memasukl ruangan itu."
Dua orang laki-laki itu berhenti mengamuk dan kini keduanya memandang kepada Hong Yl dengan penuh perhatian dan keduanya menyeringai.
Seorang di antara mereka yang kepalanya botak dan hidungnya besar melangkah maju dan berkata.
"Aha, kiranya ini yang bernama Hong Yi? Pantas, cantik dan manis. Akhirnya engkau mau keluar juga, sayang, untuk melayani kami berdua!"
Orang kedua yang tubuhnya tinggi be-sar, matanya lebar dan di dahinya terdapat codet bekas luka memanjang tertawa.
"Ha-ha, nenek ini hendak menjual mahal. Kami berdua adalah kepala pengawal dari kota raja, dan sudah lama mendengar bahwa kembang dari rumah pelesir Bunga Seruni, bahkan juga kembang dari kota Cin-koan, bernama Hong Yi. Nah, kami ingin dilayanl olehmu dan berapapun bayarannya akan kami penuhi!"
"Aku adalah Hong Yi, dan kalau bibi Lu-ma mengatakan tidak kepada tamu, biar dibayar berapapun aku tidak akan mau melayaninya. Blbl Lu-ma sudah tidak membolehkan kalian mengajak aku, maka kalian tidak boleh memaksa. Mengapa kalian mengamuk seperti orang-orang gila dan merusak prabotan di sini? Hayo cepat ganti kerusakan ini! Coba kuhitung.... kalian ganti lima puluh tail perak. Cepat bayar dan pergilah dari sini dan jangan sekali-kali berani datang lagi!"
Ucapan Hong Yi itu bernada memerintah dan mengancam! Lu-ma membelalakkan matanya, heran dan terkejut, juga khawatir melihat sikap dan mendengar ucapan Hong Yi itu. Anak ini mencari penyakit, pikirnya.
"Ha-ha-ha, cantik manis dan galak! Aku senang semangat itu. Engkau seperti seekor kuda betina liar dan aku suka menundukkan kuda betina liar. Kami akan membayar gantl rugi setelah engkau melayani dan menghibur kami berdua selama tiga hari tiga malam. Marilah, manis, mari kita bersenang-senang!"
Kata si kepala botak hidung besar yang tubuhnya pendek gendut.
Berkata demikian dia sudah melangkah lebar menghampiri Hong Yi dan kedua lengannya dikembangkan siap untuk merangkul tubuh yang denok itu.
Akan tetapi dengan gerakan yang gesit sekali Hong Yi miringkan tubuh ke samping sehingga rangkulan itu luput dan dari samping tangannya menyambar dengan tamparan keras ke arah kepala si botak.
"Plak'"
Keras sekali tamparan itu dan tubuh si botak itu terpelanting roboh.
Lu-ma terbelalak dan kedua tangan menutupi mulutnya yang ternganga agar ia tidak mengeluarkan suara.
la merasa seperti sedang mimpi!
Bagaimana mungkin keponakannya yang biasanya lemah lembut dan tampak lemah itu dapat membuat si gemuk pendek itu terpelanting roboh?
Si codet yang tinggi besaritu marah sekali melihat kawannya ditampar sehingga roboh.
"Berani engkau memukul temanku!"
Bentaknya dan tangan kanannya meluncur cepat.
Lengan yang panjang itu penuh dengan tenaga raksasa dan tangan dengan Jari-Jari panjang itu mencengkeram ke arah pundak kiri Hong Yi.
Akan tetapi Hong Yi memutar tubuh mengelak sehingga cengkeraman itu luput, kemudian tangan kirinya menangkap pergelangan tangan lawan Itu dan sekali memutar tubuh sambil mengerahkan tenaga menyentak, tubuh si Codet yang tinggi besar Itu melayang dengan kaki di atas melalui atas pundak Hong Yi kemudian terbanting ke atas lantai sampai terdengar bunyi berdebuk!
Dua orang kepala pengawal yang biasanya menjadi jagoan itu tentu saja merasa penasaran bukan main.
Mereka yang blasanya ditakuti orang itu kini roboh dalam segebrakan saja oleh seorang pelacur muda!
Karena penasaran dan malu, mereka menjadi marah.
Setelah bangkit berdiri, keduanya lalu mencabut pedang yang tadlnya tergantung di punggung mereka.
Dengan pedang terhunus yang berkilauan mereka berdua menghadapi Hong Yi.
"Hong Yi, larilah....!"
Lu-ma menjerit dengan tubuh menggigil.
la merasa ngeri sekali dan tidak ingin melihat keponakannya yang disayangnya itu terbunuh secara mengerikan.
Hong Yi menoleh ke arah Lu-ma sam-bil tersenyum tenang.
la girang melihat betapa bibinya itu mengkhawatirkannya.
"jangan takut, bibi. Dua ekor anjing busuk ini memang sudah sepatutnya dihajar". Mendengar mereka dimaki sebagai anjing busuk, dua orang itu menjadi mata gelap saking marahnya.
"Mampus kau!"
Bentak si codet dan dia sudah menyerang dengan pedangnya yang menyambar dan membacok ke arah leher yang berkulit putih mulus itu.
Sementara si botak gendut juga sudah menggerakkan pedangnya menusuk ke arah dada.
Agaknya dua orang ini sudah menjadi mata gelap dan bernafsu sekali untuk membunuh gadls yang molek Itu.
Namun Hong Yi, di luar persangkaan Lu-ma dan para gadis penghibur yang mengintai dan menonton keributan itu, dengan tenang namun cepat sekali seperti gerakan seekor burung walet, melangkah ke sana-sini.
Langkah-langkahnya aneh namun nyatanya dua pedang itu tidak mampu menyentuhnya!
Dua orang penyerangnya menjadi semakin penasaran dan mereka mengamuk, menyerang secara membabi buta.
Dua batang pedang perkelebatan menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata.
Namun tetap saja dua batang pedang itu tidak mampu menyentuh tubuh Hong Yi yang seolah telah berubah menjadi bayangan yang tidak mungkin dapat dibacok atau ditusuk pedang!
Semua mata yang menonton pertandingan itu, yang mula-mula memandang ngeri membayangkan tubuh yang padat ramping itu akan roboh mandi darah, sekarang memandang dengan takjub dan kagum.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring suara Hong Yi.
"Lepaskan pedang!"
Kedua tangannya menyambar dengan tangan terbuka miring, seperti golok membacok hampir berbareng ke arah dua pergelangan tangan.
"Dukk!! Dukk""
Dua batang pedang terlepaa dari pegangan dan dua orang pengeroyok itu menarik tangan kanan me-reka karena merasa seolah tulang pergelangan tangan itu patah-patah.
Hong Yi tidak berhenti sampai di situ.
Kedua kakinya yang kecil panjang itu mencuat bergantian, yang kiri menyambar ke arah kepala si pendek gendut disusul kaki kanan menyambar ke arah dada si tinggi besar.
"Dess....! Dess....!"
Dua orang itu terjengkang dan terbanting keras ke atas lantai.
Sejenak mereka merintih, lalu bangkit duduk.
Si pendek botak memejamkan mata karena kepalanya puyeng dan segala tampak berputaran.
Si tinggi besar memegangi dadanya dan menekan dengan kedua tangan karena dadanya terasa sesak bernapas!
Dengan kaki kirinya Hong Yi mencukil sebatang pedang yang terlepas tadi.
Pedang melayang ke atas disambar dengan tangan kanannya.
Kemudian ia mencukil pedang kedua yang disambar tangan kirinya.
Dengan sepasang pedang di tangan ia menghampiri dua orang yang masih duduk berdekatan itu dan ujung pedang itu menodong leher mereka, Ujung pedang yang runcing menekan kulit leher mereka.
"Bersiaplah kalian untuk mampus!"
Bentak Hong Yi yang kini dari seorang gadis yang lemah lembut berubah menjadi seorang gadis yang tampak gagah perkasa. Dua orang jagoan itu menggigil ketakutan.
"Ampun.... ampunkan kami...."
Mereka bermohon dengan suara meratap, si botak masih puyeng dan si codet masih terengah-engah.
"Kalau begitu hayo cepat keluarkan lima puluh tail perak untuk mengganti prabotan yang rusak kemudian cepat minggat dari sini."
Bentak Hong Yi.
Biarpun napasnya masih terasa sesak, si tinggi besar dengan jari-jari tangan gemetar mengambil kantung uangnya dan mengeluarkan lima puluh tail perak.
Uang ku diletakkannya di atas lantai di depannya.
"Sekarang pergilah dan jangan berani muncul lagi di sini. Kalau lain kali muncul lagi, kedua tangan kalian akan kubuntungi!"
Hardik Hong Yi sambil menendang dua kali.
Tubuh dua orang jagoan itu terpental dan terguling keluar dari pintu ruangan depan.
Mereka segera bangkit, si codet tinggi besar masih menekan dadanya dan si botak pendek gendut masih memegangi kepalanya.
Kemudian mereka lari pontang-panting meninggalkan rumah pelesir itu.
"Hong Yi....!"
Lu-ma menghampiri gadis itu dan merangkulnya. Hong Yi melempar sepasang pedang ke atas lantai dan menghibur Lu-ma yang menangis.
"Sudahlah, bibi. Bahaya sudah lewat dan aku yakin dua orang jahat itu tidak akan berani datang mengacau lagi."
"Hong Yi, mari.... aku mau bicara...."
Kata Lu-ma.
Ia memberi Isarat kepada seorang gadis anak buahnya untuk menyimpan uang lima puluh tail perak itu dan ia lalu menggandeng tangan Hong Yi memasuki kamarnya.
Setelah menutupkan daun pintu ia mengajak Hong Yi duduk berhadapan.
"Hong Yi, engkau sungguh mengherankan dan mengejutkan hatiku. Bagaimana engkau mampu mengalahkan dua orang jahat tadi? Bagaimana engkau yang biasanya lemah ini mendadak dapat berubah menjadi seorang pendekar wanita?"
Hong Yi tersenyum.
"Aku bukan seorang pendekar wanita, bibi. Aku hanya pernah belajar ilmu silat dari seorang nikouw (bikkhuni) perantau yang dahulu tinggal di dusun kami selama tujuh tahun."
"Akan tetapi engkau tidak pernah mengatakan hal itu kepadaku dan engkau juga belum pernah memperlihatkan kepandaian silatmu sama sekali."
"Ilmu silat bukan untuk pamer, bibi, melainkan untuk membela diri kalau terancam bahaya."
"Akan tetapi engkau.... ahh, betapa menyesal aku.... kenapa engkau menurut saja ketika aku....... menyuruhmu melayani para pria itu? Kenapa tidak kau tolak? Ahh...... aku sungguh menyesal sekali......."
"Sudahlah, bibi. Engkau telah menolongku. Engkau telah mengurus pemakaman orang tuaku dan engkau mau menampung diriku yang yatim piatu dan sebatang kara. Kalau tidak ada engkau tentu aku akan menjadi seorang gadis yang terlantar dan entah bagaimana nasibku. Engkau amat baik kepadaku, maka tentu saja aku menurut akan segala perintahmu. Aku tahu engkau menyayangku.. dan tidak ingin menjadikan aku seperti para gadis penghibur yang lain. Engkau memilih pria-pria terbaik untukku. Dan memang mereka itu bersikap lembut, menghormati dan menghargaiku. Aku tidak menyesal, bibi."
"Engkau seorang gadis yang luar biasa, Hong Yi. Aku agak terhibur mengingat bahwa aku telah bersumpah untuk tidak menyuruh engkau melayani pria lagi. Sekarang, pergilah ke kuil itu, Hong Yi dan bersembahyanglah. Mintalah berkah dari Kwan Im Posat dan mintalah petunjuk dan ramalan. Apakah engkau perlu ditemani?"
"Tidak usah, bibi. Aku akan pergi sendiri, aku dapat menjaga diri."
Dengan membawa perlengkapan sembahyang seperti hioswa (dupa biting), lilin dan sebagainya, Hong Yi lalu berangkat ke Kwan-im-bio yang berada di ujung kota Cin-koan sebelah selatan.
Seorang nikouw tua lalu menyambutnya dan Hong Yi lalu bersembahyang.
Kemudian ia minta ramalan dan setelah mengocok tabung tempat nomor ramalan dan sebuah nomor keluar, nlkouw pelayan mengambllkan ramalan tertulis itu dan memperlihatkannya.
Biarpun Hong Yi seorang gadis kelahiran dusun, namun mendiang ayahnya adalah seorang terpelajar miskin dan ayahnya dahulu mengajarinya ilmu membaca dan menulis.
Bahkan ketika menjadi murid Bian Hui Nikouw selama tujuh tahun, ia selain dilatih ilmu silat, juga menerima pelajaran membaca kitab-kitab agama oleh gurunya itu.
Maka gadis inipun pandai membaca dan menulis.
la membaca ramalan tertulis itu.
"Harimau Putih bukan untuk ditakuti seyogyanya menjadi teman sejati temuilah seorang bermarga Han bersamanya berjaya di Lin-an."
Biarpun dapat membaca sajak ramaian itu Hong Yi tidak mengerti apa maksudnya.
la tidak tahu apa yang dimaksud-kan dengan Harimau Putih dan siapa pula orang bermarga Han yang harus diajaknya pergi ke kota raja itu.
Akan tetapi karena kepergiannya ke kuil minta ramalan itu bukanlah kehendak yang timbul dari hatinya sendiri melainkan untuk memenuhi permintaan Lu-ma, maka iapun tidak mengambil pusing lagi lalu berpamit dari nikouw pelayan dan menuju pulang.
Kuil Kwan-im-bio itu terletak di ujung kota yang sepi dan sebelum ti-ba di perumahan kota ia harus melewati sebuah ladang yang cukup luas dan bagian pinggir kota di situ sepi tak banyak dilewati orang.
Selagi ia berjalan di bawah sinar matahari yang mulai tinggi, tiba-tiba ia terkejut bukan main karena di atas jalan raya itu tampak seekor binatang menghadang perjalanannya.
Ketika ia memandang penuh perhatian, ia makin heran dan terkejut karena binatang Itu adalah seekor harimau yang bulunya berwarna putih Sebagal seorang yang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri dalam menghadapi bahaya, Hong Yi cepat membungkuk dan mengambil dua buah batu sebesar kepalan tangannya.
la tidak memegang senjata dan maklum bahwa harimau adalah sebangsa binatang buas yang amat kuat dan berbahaya.
Dua buah batu itu cukup lumayan untuk dipakal membela diri.
Otomatis ia teringat akan isi ramalan dari kuil Kwan-im-bio tadi.
Ramalan itu menyebutkan tentang harimau putih!
Apa katanya tadi?
"Harimau putih bukan untuk ditakuti!"
Tidak, ia tidak takut.
la teringat bahwa anjing yang galakpun biasanya takut kalau disabit batu, terutama kalau sambitan itu mengenai tubuhnya.
Mungkin harimau inipun akan ketakutan kalau ia sambit dengan batu, pikirnya.
Setelah berpikir demlklan, Hong Yi mengambil ancang-ancang, membidik ke arah sasaran lalu dilontarkan sepotong batu ke arah tubuh harimau itu.
"Wuuuttt.... dukkk!"
Sambitan itu tepat mengenai perut harimau putih.
Blnatang langka itu terkejut lalu melompat dan melarikan diri ke kiri.
Hong Yi yang masih mempunyai sepotong batu lagi, mengejar dan menyambitkan batu kedua.
Harimau itu melompat ke balik semak-semak dan menghilang.
Hong Yi menghampiri semak-semak setelah memungut sepotong batu lagi dari jalan.
Berindap-indap ia menghampiri semak-semak dan...
ia tertegun.
la tidak melihat harimau atau binatang apapun juga, akan tetapi di balik semak-semak itu, di atas rumput hiJau yang tebal, ia melihat seorang pria muda bangkit dari tidurnya, duduk dan menggeliat seperti seekor harimau.
Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, bertubuh jangkung dan tegap, ketika menggeliat itu tampak kedua lengannya yang berotot.
Wajahnya juga membayangkan kegagahan dan kejantanan.
Di dekatnya terdapat sebuah buntalan kain kuning.
Rambutnya yang hitam panjang itu ditekuk ke atas dan diikat dengan sehelai kain biru.
Tentu saja Hong Yi merasa kikuk dan tidak enak.
la khawatir akan disangka mengintai orang tidur.
Maka iapun melangkah mundur dan karena pemuda itu tidak langsung menghadapinya, maka ia dapat mundur tanpa terlihat.
Ketika ia telah tiba di jalan raya lagi, ia mendengar suara orang dari depan.
Ia memandang dan melihat tujuh orang datang dengan cepat ke arahnya.
Ia tidak menyangka buruk dan mengira mereka itu adalah orang-orang.
yang hendak pergi ke kuil.
Ia tidak menaruh perhatian, apalagi karena ia masih merasa heran akan peristiwa tadi.
Ke manakah perginya harimau putih yang aneh tadi?
Dan orang itu!
Mengapa harimau putih itu tidak mengganggu orang itu?
Padahal ia melihat betul betapa harimau itu lenyap di balik semak-semak dan orang laki-laki itupun tidurnya di belakang semak-semak.
Ketika harimau putih tadi melompat ke balik semak-semak, sepantasnya menimpa tubuh laki-laki yang se-dang tidur itu.
Apakah laki-laki itu terbangun karena terinjak harimau?
Rombongan orang itu sudah tiba di depannya dan ia mendengar suara orang.
"Inilah gadis siluman itu! Inilah pelacur laknat itu!"
Hong Yi terkejut dan rnemperhatikan.
la segera mengenal si muka codet yang s bertubuh tinggi besar tadi dan si botak yang bertubuh pendek gendut.
Dua orang yang pagi tadi mengamuk di rumah pelesir Bunga Seruni dan yang telah dirobohkan dan diusirnya.
Dan dua orang itu kini datang bersama tujuh orang lain, entah hendak melakukan apa.
Akan tetapi melihat sikap mereka ia dapat menduga bahwa mereka tentu tidak berniat baik terhadap dirinya.
Ia pura-pura tidak mengenal mereka dan menggerakkan kaki untuk pergi dari situ.
"Hei, berhenti dulu! Jangan pura-pura tidak mengenal kami. Bukankah engkau pelacur Hong Yi yang pagi tadi melawan kami di rumah pelesir Bunga Seruni?"
Tanya si botak gendut dengan sikap beringas. Hong Yi masih bersikap tenang walaupun ia maklum bahwa dua; orang itu jelas mencarinya untuk membalas dendam dengan mengerahkan teman-temannya.
"Benar, aku Liang Hong Yi. Aku telah menghajar kalian berdua yang telah membikin ribut dan mengacau di rumah hiburan Bunga Seruni!. Sekarang kalian berdua mau apa?"
Si muka codet tinggi besar itu berkata kepada seorang di ancara mereka.
"Twako kakak terbesar, inilah gadis siluman itu! Harap twako memberi hajaran kepadanya agar ia tidak menjadi sombong!"
Orang itu mengangguk-angguk, lalu melangkah maju menghadapi Hong Yi.
"Nona engkau masih muda dan cantik dan kabarnya engkau seorang pelacur yang biasa melayani dan menghibur kaum pria. Akan tetapi kenapa engkau mengandalkan sedikit ilmu silatmu memukul dua orang rekanku ini?"
Tanya orang itu.
Hong Yi memandang orang itu penuh perhatiah.
Dia seprang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun.
Tubuhnya jangkung kurus dan pakaiannya mewah, sikapnya halus akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam, muka berwarna agak kuning.
Biarpun Hong Yi belum banyak pengalamannya di dunia persilatan, akan tetapi ia pernah digembleng seorang, guru yang baik yang banyak menceritakan keadaannya tentang ciri-ciri orang kang-ouw maka melihat orang tinggi kurus itu, iapun dapat menduga bahwa orang ini tentu seorang ahli Lwee-kang(tenaga dalam) yang tangguh.
Maka ia bersikap waspada.
"Orang-orang seperti mereka berdua itu tidak pernah akan mengakui kesalahannya sendiri, melainkan menjatuhkan kesalahan kepada orang lain dan membenarkan diri mereka sendiri. Engkau mau tahu kenapa aku memukul dua orang itu? Mereka telah membuat kekacauan di Rumah Pelesir Bunga Seruni dan hendak memaksa aku melayani mereka. Ketika ditolak mereka mengamuk dan merusak prabot rumah itu. Aku hanya minta agar mereka membayar ganti rugi, akan tetapi mereka malah mengeroyokku. Tidakkah itu sudah pantas kalau aku memberi sedikit pelajaran kepada mereka?"
"Hemm, akan tetapi bukankah engkau seorang pelacur yang harus melayani setiap orang laki-laki yang menginginimu dan mampu membayarmu?"
Hong Yi mengerutkan alisnya dan kulit kedua pipinya menjadi merah..
"Pelacur juga seorang manusia! Ia memang penjual jasa, akan tetapi secara suka rela dan tanpa ada paksaan. la berhak memilih dan menolak orang yang disukainya atau untuk dilayaninya!"
Si jangkung kurus itu mengerutkan alisnya.
"Hemm, engkau memang seorang perempuan yang sombong. Akan tetapi mengingat bahwa engkau hanya seorang perempuan, aku akan mengampunimu kalau engkau suka berlutut dan minta ampun kepada dua orang rekanku ini. Kalau tidak, terpaksa aku Tiat-jiauw-eng (Garuda Cakar Besi) Ban Hok akan memberi hajaran keras kepadamu!"
Hong Yi tahu dari julukan orang itu bahwa dia tentulah seorang ahli silatS bertenaga dalam yang mengandalkan keampuhan jari-jari tangannya yang membentuk cakar.
Otomatis pandang matanya tertuju kepada tangan orang itu dan ia melihat bahwa ujung jari-jari tangan itu tampak menghitam Akan tetapi ia teringat akan pesan gurunya, Bian Hui Ni-kouw, dahulu.
"Jangan blarkan rasa takut dan sombong menguasai hatimu kalau engkau berhadapan dengan seorang lawan. Rasa takut melemahkan dan kesombongan membuatmu memandang rendah lawan dan engkau akan menjadi lengah. Hadapi kekerasan dengan kelembutan. Hindarkan perkelahian, kecuali kalau engkau terpaksa karena diserang."
"Paman Ban Hok, kalau aku memang bersalah, kepada seorang anak kecil sekalipun akU bersedia untuk minta maaf. Akan tetapi terhadap kedua orang ini, aku sama sekali tidak bersalah. Merekalah yang menyerangku. Tidak mungkin aku minta maaf. Kepadamupun aku tidak ingin bermusuhan, tidak ingin berkelahl , dan harap engkau sebagai seorang tokoh kang-ouw suka mengerti dan memaafkan aku". Mendengar ucapan ini, Tiat-jiaw-eng Ban Hok tampak meragu. Ia adalah seorang piauw-su (pengawal barang kiriman) yang terkenal dl kota raja dan dia diangkat sebagal sesepuh oleh para piauwsu yang mengawal barang ke kota Cin-koan ini. Tldak enak rasanya kalau sebagai seorang tokoh kang-ouw dia harus mendesak seorang wanita yang masih begitu muda lagi. Dia menoleh kepada dua orang kawannya itu dan berkata.
"Sudahlah, kurasa tidak ada gunanya urusan ini diperpanjang. la hanya seorang wanita muda dan seorang gadis penghibur pula. Alasannya memang masuk akai. Kalian tidak berhak memaksa seorang gadis penghibur melayani kalian kalau ia tidak suka. Jual beli memang dasarnya suka rela. Kalau si penjual tidak mau menjual barang dagangannya, si pembeli tidak boleh memaksa. Sebaliknya kalau si pembeli tidak mau membeli, si penjualpun tidak boleh memaksanya. Sudahlah, habiskan saja urusan ini;
"Akan tetapi, Ban-twako! Kami telah dihina oleh perempuan hina ini! Apakah twako sebagai sesepuh kami tidak hendak membela kami?"
Teriak si codet tinggi besar. ' '"Ya, apa artinya kami mempunyai seorang sesepuh kalau tidak mau bertindak melihat kami diperhina orang? Ataukah Ban-twako merasa takut melawan gadis hina ini?"
Teriak pula Si gendut pendek. Mendengar ucapan dua orang itu, Ban Hok merasa panas hatinya juga.
"Baiklah, aku akan membalaskan kekalahan kalian. Akan tetapi aku tidak mau mencederai seorang perempuan. Nona, mari kita main-main sebentar. Hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu!"
Se-telah berkata demikian, Ban Hok melangkah maju menghampiri Hong Yi dan memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan membentuk cakar dan bergerak-gerak menyilang.
Jari-jari tangannya yang membentuk cakar itu mengeluarkan bunyi krek-krek!
Hong Yi waspada.
Ia maklum bahwa sekali ini ia menghadapi seorang lawan tangguh.
lapun memasang kuda-kuda miring, tangan kanannya di pinggang, tangan kiri seperti menyembah di depan dada.
Inilah pembukaan jurus yang disebut Menyembah Kwan Im Dengan Satu tangan'.
"Aku tidak ingin berkelahi, akan tetapi kalau diserang, terpaksa aku membela diri,"
Katanya tenang. Tiat-jiauw-eng Ban Hok maklum bahwa gadis itu tidak mau mulai menyerang lebih dahulu, maka diapun berseru.
"Lihat seranganku!"
Dan diapun menerjang maju, cakar kirinya mencengkeram ke arah pundak kanan gadis itu.
Namun dengan cekatan sekali Hong Yi mengelak, miringkan tubuh dan cengkeraman itupun luput.
Akan tetapi dengan amat cepatnya, cakar kanan Ban Hok menyusul, mencengkeram ke arah kepala!
Kembali Hong Yi mengelak dan iapun t membalas dengan tendangan dari samping ke arah lambung lawan.
"Wuuuttt....!"
Ban Hok menangkis dengan lengan kirinya dan Hong Yi merasa betapa kakinya terpental dan tergetar.
Benar dugaannya.
Orang tinggi kurus itu adalah seorang ahli tenaga dalam yang amat kuat.
la tahu bahwa kalau mengadu tenaga, ia akan kalah, maka iapun mempergunakan kelebihannya yang dapat diandalkan, yaitu ginkang (ilmu mering-ankan tubuh).
Dari gurunya, ia memang mendapatkan ilmu ginkang yang cukup hebat sehingga ia mampu bergerak dengan' amat cepatnya seperti seekor burung walet.
Terjadilah pertandlngan yang seru.
Ban Hok yang tadinya agak memandang rendah kepada gadis pelacur itu, merasa kecelik dan menjadi penasaran sekali.
Tadinya dia mengira bahwa dalam beberapa jurus saja dia akan mampu mengalahkan Hong Yi.
Dia hanya ingin merobohkan gadis itu tanpa melukainya, hanya ingin mengalahkan untuk menebus kekalahan kedua orang rekannya.
Tidak tahunya, telah lewat dua puluh jurus dan sama sekali serangannya belum ada yang mampu menyentuh tubuh gadis itu, bahkan diapun harus berhati-hati sekali karena serangan balasan gadis itu cukup berbahaya.
Kini saking penasaran dia menjadi marah dan tidak ragu-ragu lagi untuk menyerang dengan pengerahan seluruh tenaganya.
Kalau perlu dia harus merobohkan dan melukai gadis ini untuk memperoleh kemenangan' Tiba-tiba si codet dan si botak, diikuti pula oleh enam orang teman mereka, semua berjumlah delapan orang telah mcnyerbu dan mengeroyok Hong Yl, bahkan mereka mempergunakan golok dan pedang untuk menyerang gadis itu!
'"Jangan keroyok!
Mundur!"
Teriak Tiat-jiauw-eng Ban Hok.
Akan tetapi delapan orang kawannya itu tidak mau mundur bahkan menyerang membabi buta kepada Hong Yi yang terpaksa harus mengerahkan gin-kangnya untuk berkelebat dan menghindarkan diri dari hujan serangan pedang dan golok!
Kini Hong Yi berada dalam bahaya maut!
Pada saat itu, terdengar suara lantang dan terdengar seperti gerengan harimau.
"Pengecut-pengecut hina! Dengan mengandalkan banyak orang mengeroyok seorang gadis! Tak tahu malu dan patut dihajar!"
Sesosok bayangan berkelebat dan orang itu menggerakkan tangan kakinya.
Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan empat orang pengeroyok terpelanting roboh terkena tendangan dan tamparan orang yang datang membantu Hong Yi itu!
Hong Yi merasa girang dan iapun bergerak cepat.
merobohkan dua orang pengeroyok dengan tendangannya.
Pada saat itu, orang ke tujuh dan delapan juga roboh terpelanting oleh tamparan tangan penolongnya.
Kini tinggal Tiat-jiauw-eng .
Bah Hok sendiri yang masih belum roboh dan tokoh ini menjadi marah sekali melihat delapan orang rekannya sudah terpelanting dan agakhya menderita luka pukulan yang cukup parah sehingga mereka tidak dapat segera bangkit.
"Mundurlah, nona. Biar kuhadapi orang ini."
Laki-laki yang menolong Hong Yi itu berkata tanpa menoleh kepada gadis itu.
Hong Yi melompat ke belakang, berjaga-jaga agar delapan orang yang sudah roboh itu tidak melakukan pengeroyokan.
Ketika.ia memandang dengan penuh perhatian, ia tertegun heran.
la mengenal wajah itu!
Dia pemuda yang tadi terbangun dari tidurnya di balik semak-semak, pemuda yang disangkanya terbangun dari tidur karena terijak harimau putih yang dikejarnya!
"Orang muda yang lancang, siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami?"
Bentak Ban Hok yang merasa penasaran dan marah sekali. Pemuda itu menggeram. Suaranya dalam dan menggetarkan jantung.
"Kalau urusan kalian itu patut, aku Han Si Tiong tidak akan sudi mencampuri. Akan tetapi kalian ini pengecut-pengecut hina mengeroyok seorang gadis. Tentu saja aku mencampurinya!"
"Manusia sombong! Engkau belum mengenal kelihaian Tiat-jiauw-eng Ban Hok! Sambut seranganku!"
Ban Hok sudah menyerang dengan ganas sekali karena sekali ini dia marah dan ingin merobohkan pemuda yang telah membuat teman-temannya berpelantingan.
Pemuda yang bernama Han Si Tiong itu mengelak dan membalas dengan tidak kalah cepat dan kuatnya.
Terjadi pertandingan yang lebih hebat lagi.
Mendengar pemuda itu menyebut namanya Han Si Tiong, Hong Yi kembali tertegun.
la teringat akan ramalan di kuil Kwan-im-bio tadi.
Dalam sajak ramalan itupun disebut-sebut tentang seorang bermarga Han!
Ia mengingat bunyi sajak itu.
"Harimau putih bukan untuk ditakuti seyogianya menjadi teman sejati temuilah seorang bermarga Han bersamanya berjaya di Lin-an."
Hong Yi menonton pertandingan itu dengan bengong.
Mengapa begitu kebetulan?
Pada hari itu juga ia melihat seekor harimau putih dan bertemu dengan seorang bermarga Han, cocok sekali dengan bunyi ramalan tadi!
la memperhatikan pemuda yang menolongnya itu.
Dia seorang pemuda bertubuh tinggi tegap, berkulit agak gelap karena banyak tersorot sinar matahari.
Wajahnya tidak terlalu tampan namun membayangkan kejantanan dan tampak gagah sekali.
Usianya sekitar dua puluh lima tahun.
Pakaiannya dari kain kasar dan sederhana sekali, sudah agak lapuk pula menandakan bahwa pemuda itu adalah seorang miskin.
Punggungnya menggendong sebuah buntalan dari kain kuning.
Ini menunjukkan bahwa pemuda itu seorang yang sedang melakukan perjalanan jauh, seorang perantau.
Hong Yi memperhatikan gerakan silat pemuda itu.
Walaupun dia bertangan kosong menghadapi lawannya yang memiliki sepasang tangan membentuk cakar yang menggiriskan, namun dia sama sekali tidak terdesak.
Hong Yi mengenal gerakan yang kokoh dari pemuda itu sebagai ilmu silat Siauw-lim-si.
Ilmu silat yang ia pelajari dari Bian Hui Nikouw juga bersumber dari ilmu silat Siauw-lim-pai walaupun sudah bercampur dengan ilmu silat lainnya.
Perkelahian itu berlangsung semakin seru.
Hong Yi melihat betapa pemuda itu berani menangkis cengkeraman cakar tangan Ban Hok yang mengandung tenaga dalam amat kuat itu, dan setiap kali lengan mereka beradu, ia melihat betapa lengan Ban Hok terpental.
Ini menunjukkan bahwa pemuda itupun memiliki tenaga dalam yang amat kuat, bahkan mungkin lebih kuat daripada tenaga dalam yang dimiliki lawannya.
Sudah tiga puluh Jurus mereka bertanding dan Tiat-jiauw-eng Ban Hok mulai terdesak oleh tendangan-tendangan dahsyat pemuda itu yang menjadi ciri khas dari ilmu silat Siauw-lim-pai Utara.
"Haiiiitt....!'."
Tiba-tiba Ban Hok menyerang lagi dengan kedua tangannya yang membentuk cakar elang, pemuda yang bernama Han Si Tiong itu memutar tubuh mengelak, kemudian dengan putar-an tubuhnya yang dilakukan dengan cepat, kakinya mencuat dan terayun cepat sekali menyambar ke arah kepala lawan.
Cepat bukan main kaki kanan itu menyambar dengan posisi membalik.
Inilah jurus Sin-liong-pai-bwe (Naga Sakti Melecutkan Ekornya).
Ban Hok terkejut dari mencoba untuk mengelak dengan menarik kepalanya ke belakang.
"Bukk!"
Tendangan kilat itu tidak mengenai kepalanya akan tetapi masih mengenai pundaknya sehingga dia terpelanting roboh.
Dia bangkit lagi dengan meringis kesakitan, kemudian melihat betapa teman-temannya sudah menjauhkan diri, diapun maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan pemuda itu.
Sebagai seorang piauwsu terkenal Ban Hok juga memiliki pengetahuao tentang sopan santun dunla persilatan.
Dia mengangkat kedua.
tangan depan dada memberi hormat kepada Han Si Tiong dan berkata.
"Engkau lihai sekali, sobat. Aku mengaku kalah dan maafkan kelancangan teman-temanku yang tadi mengeroyok nona ini, hal itu terjadi bukan atas kehendakku."
Setelah berkata demikian, dia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi.
Setelah bertemu dengan rekannya, Tiat-jiauw-eng Ban Hok memaki mereka habis-habisan.
Bagi seorang kang-ouw, kalah menang dalam sebuah pertandingan adalah hal biasa, akan tetapi para rekannya itu telah membuat dia malu karena mereka tadi melakukan pengeroyokan, apa lagi yang dikeroyok adalah seorang gadis muda!
Sudah kalah, mendapat malu dan nama buruk pula!
Sementara itu, melihat betapa pemuda itu telah dapat mengusir pergi orang-orang yang tadi mengganggunya, Liang Hong Yi segera maju menghampiri dan memberi hormat.
"Tai-hiap (pendekar besar), saya Liang Hong Yi mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan tai-hiap. Tanpa ban-tuan tai-hiap, entah bagaimana nasibku tadi."
Han Si Tiong memandang Hong Yi dan dia merasa kagum sekali, tak disangkanya bahwa gadis yang dikeroyok banyak laki-laki tadi, yang melakukan perlawanan dengan gigih dan cukup tangkas, ternyata seorang gadis yang begini cantik jelita!
"Nona Liang Hong Yi, harap jangan sebut aku tai-hiap.
Aku seorang pemuda dusun biasa yang sedang merantau, namaku Han Si Tiong.
Sebut saja namaku tanpa taihiap, nona membuat aku menjadi malu dengan sebutan itu."
Hong Yi tersenyum manis, hatinya tertark sekali.
Pemuda ini gagah perkasa, biarpun tutur sapanya sederhana dan bahkan agak kasar, namun seluruh sikap dan pribadinya membayangkan keterbukaan, kejujuran dan kesederhanaan.
Alangkah jauh bedanya dengan para pemuda yang dikenalnya atau yang diperkenalkan Lu-ma kepadanya, bahkan yang telah dilayaninya.
Mereka itu pada umumnya pemuda yang tampan, kaya raya, pesolek, berlagak dan pura-pura.
lapun dapat menerima sikap jujur itu dengan gembira dan berkata sambil tersenyum manis.
"Baiklah, aku akan menyebutmu koko (kakak) Han Si Tiong. Akan tetapi, Tiong-ko (kakak Tiong), engkaupun harap jangan menyebutku nona. Akupun hanya seorang.... gadis biasa saja yang tidak pantas menerima penghormatan dari seorang gagah sepertimu."
"Aku akan menyebutmu adik. Yi-moi (adik Yi), bagaimana engkau seorang gadis berada di sini seorang diri dan dikeroyok oleh segerombolan orang jahat tadi?"
"Aku.... aku.... diganggu mereka dan karena tidak mau melayani, mereka lalu mengeroyokku. Tiong-ko, banyak terima kasih atas pertolonganmu tadi."
Tentu saja saja Hong Yi merasa rikuh sekali untuk mengaku terus terang apa yang menjadi sebab perkelahiannya dengan orang-orang tadi.
Kalau menceritakan dengan terus terang, ia akan terpaksa harus menceritakan bahwa la adalah seorang pelacur!
"Ah.
Yi-moi, tidak perlu dibicarakan lagi hal itu.
Kalau seorang laki-laki melihat wanita dikeroyok banyak laki-iaki tanpa turun tangan menolong, dia adaiah seorang pengecut dan aku tidak mau disebut seorang pengecut.
Sekarang, mari kuantar engkau pulang.
Di manakah rumahmu?"
Hong Yi menuding ke depan di mana sudah tampak tembok kota Cin-koan.
"Rumahku di kota Cin-koan itu, akan tetapi terima kasih, Tiong-ko, engkau tidak perlu menyusahkan diri mengantar aku pulang."
"Sama sekali tidak menyusahkan diri, Yi-moi, Aku mengantarmu sampai ke rumah dengan selamat. Aku khawatir kalau orang-orang jahat tadi akan kembali menghadang dan mengganggumu. Aku harus mengantar dan mengawalmu, Yi-moi,"
Kata Han Si Tiong dengan suara tegas.
Hong Yi menghela napas panjang.
la merasa kasihan kepada pemuda gagah itu kalau sampai ketahuan orang bahwa pemuda itu mengantar ia, seorang pelacur pulang.
Untuk membuat pemuda itu mundur, terpaksa ia harus mengaku siapa dirinya.
"Tiong-ko, ketahuilah bahwa aku.... aku.... tidak sepantasnya engkau antarkan pulang. Aku tidak berharga untuk kaukawal, Tiong-ko. Hal itu hanya akan merendahkan namamu dan mencemarkan kehormatanmu."
Han Si Tiong terbelalak, lalu mengerutkan alisnya yang hitam tebal.
"Eh, apa maksudmu kata-katamu itu, Yi-moi? Apa artinya itu?"
"Tiong-ko, ketahuilah, aku sama sekali bukan seorang gadis terhormat seperti yang kausangka. Aku.... aku.... hanya seorang gadis pelacur....! Dua orang di antara mereka tadi hendak memaksaku melayani mereka dan aku menolak, maka mereka menjadi marah dan hendak mengeroyokku... nah, engkau tahu sekarang siapa diriku, karena itu tidak sepantasnya engkau mengantar aku.... selamat tinggal Hong Yi lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan Si Tiong menuju ke kota Cin-koan. Akan tetapi ia mendengar langkah kaki di belakangnya. Hong Yi menengok dan ternyata pemuda itu berjalan mengikutinya tanpa bicara.
"Eh, Tiong-ko, mengapa engkau mengikuti aku?"
"Aku harus mengawalmu pulang,"
Jawab pemuda itu singkat.
"Akan tetapi aku.... aku...."
"Engkau juga seorang manusia, bukan? Selama engkau seorang manusia, engkau tidak ada bedanya dengan aku."
Hong Yi menghela napas dan melanjutkan langkahnya, tetap diikuti oleh Si Tiong.
"Akan tetapi, pekerjaanku...."
"Aku tidak menilai manusia dari pekerjaannya, kedudukannya, atau keadaan harta dan kepintarannya, melainkan dari sikap dan perbuatannya. Dan aku melihat sikap dan tindakanmu terhadap orang-orang jahat tadi cukup baik dan mengagumkan, Yi-moi."
"Tiong-ko...."
Hong Yi berkata lirih lalu diam dan melanjutkan langkahnya, diikuti oleh Si Tiong.
Mereka tidak bercakap-cakap lagi tenggelam dalam lamunan masing-masing.
Han Si Tiong yang sudah berusia dua puluh lima tahun itu belum pernah bergaul dan berdekatan dengan wanita, bahkan belum pernah merasa tertarik kepada wanita.
Akan tetapi sekali ini dia merasa tertarik dan kagum sekali kepada Hong Yi.
Bukan saja tertarik dan kagum akan kecantikan gadis itu dan kegagahannya berani melawan pengeroyokan banyak laki-laki, akan tetapi juga kagum mendengar pengakuan gadis itu bahwa ia seorang pelaCur.
Pengakuan ini saja membuktikan bahwa gadis ini berwatak jujur dan tidak menyembunyikan keadaan dirinya agar dianggap terhormat.
Dan dia melihat dan merasakan bahwa biarpun gadis ini mengaku dirinya sebagai pelacur, namun sikapnya sama sekali tidak membayangkan sebagai seorang wanita yang tidak mengenal kesusilaan.
Kenyataan ini membuat hati Si Tiong menjadi penasaran dan dia ingin sekali mengetahui mengapa seorang gadis seperti Liang Hong Yi ini sampai menjadi seorang wanita penghibur pria.
Hong Yi juga; melamun dan jantungnya merasa berdebar-debar.
la sendiri belum pernah jatuh cinta kepada seorang pria.
Biarpun ia terpaksa menyerahkan diri untuk melayani pria, namun hal itu hanya dilakukan tubuhnya saja.
Perasaan hatinya tidak pernah tersentuh oleh cinta nafsu.
Sekarang, setelah ia mengetahui isi ramalan dari Kwan-im-bio ten-tang pertemuannya dengan harimau putih dan seorang laki-laki bermarga Han yang kemudian menjadi kenyataan, hatinya terguncang.
la merasa seolah-olah kemunculan pemuda ini mempunyai arti yang penting sekali dalam kehidupannya, seolah-olah pemuda ini akan mendatangkan perubahan besar dalam hidupnya.
Ia sendiri tidak tahu apakah ia jatuh cinta, akan tetapi yang jelas, ia merasa kagum dan berhutang budi kepada si Han Tiong yang kini mengawalnya dengan Jangkah tegap di belakangnya.
Baru saja Hong Yi tiba di depan pintu rumah pelesir Bunga Seruni, Lu-ma sudah menyambut dengan wajah berseri dan mata mengandung penuh pertanyaan dan harapan.
Saking tegangnya, ia hanya memperhatikan Hong Yi dan seolah tidak melihat bahwa gadis itu datang bersama.
Han Si Tong.
"Bagaimana, Hong Yi, ramalan apa yang kaudapatkan?"
Tanyanya penuh keinginan tahu. Hong Yi tersenyum dan menoleh kepada Si Tiong lalu memperkenalkan pemuda itu.
"Bibi, taihiap (pendekar besar) ini adalah Han Si Tiong yang telah menyelamatkan aku ketika para piauwsu tadi mengeroyokku di jalan bersama teman-temannya. Tiong-ko, ini adalah bibiku Lu-ma."
Barulah Lu-ma memperhatikan pemuda itu dan mendengar bahwa pemuda itu telah menyelamatkan Hong Yi dari pengeroyokan banyak orang, ia bersikap ramah dan hormat walaupun alisnya berkerut melihat pemuda itu berpakaian kain kasar sederhana karena biasanya para pria yang berkunjung ke situ semua berpakaian mewah dan indah.
"Ah, Han-taihiap, silakan masuk dan silakan duduk."
La mempersilakan pemuda itu masuk ke ruangan tamu.
Mereka bertiga memasuki ruangan tamu dan ketika Si Tiong melihat beberapa orang gadis muda dan cantik berpakaian indah duduk di ruangan itu, dia menjadi ragu dan memandang kepada Hong Yi.
"Yi-moi, maafkan aku. Karena engkau sudah sampai di rumah dengan selamat, maka aku mohon pamit, hendak melanjutkan perjalananku."
Dia dapat menduga bahwa empat orang gadis cantik yang tersenyum-senyum manis itu tentulah para gadis penghibur.
Walaupun dia sendiri belum pernah berkunjung ke rumah hiburan, namun dia pernah mendengar tentang rumah pelacur semacam itu.
Hong Yi terkejut mendengar inl.
"Nanti dulu, Tiong-ko. Harap engkau suka duduk dulu...."
Hong Yi melihat betapa pemuda itu melirik ke arah para gadis penghibur dengan alis berkerut dan tahulah ia mengapa pemuda itu tergesa-gesa hendak pergi.
Ia membei isarat kepada empat orang gadis itu untuk meninggalkan ruangan tamu.
Empat orang gadis itu mengerti dan sambil tersenyum sinis mereka lalu meninggalkan ruangan tamu dan memasuki ruangan dalam.
"Silakan, Tiong-ko. Silakan duduk dulu, Aku akan bicara dengan Bibi Lu-ma sebentar."
Hong Yi bertepuk tangan dan muncullah seorang pelayan wanita setengah tua.
"Bibi, hidangkan minuman dan makanan kering untuk tamu!"
Setelah mengangguk lagi kepada Si Tiong, Hong Yi lalu menarik tangan Lu-ma, diajak masuk ke dalam kamarnya.
"Bibi, telah terjadi hal yang aneh dan luar biasa sekali padaku!"
Kata Hong Yi sambil duduk di atas kursi dalam kamarnya dan Lu-ma duduk di sebelahnya.
"Apa yang telah terjadi? Engkau tampak begini tegang dan gembira,"
Tanya Lu-ma yang memang sudah ingin sekali mendengar apa yang dialami Hong Yi ketika pergl ke kuil Kwan-im-bio.
"Aku telah sembahyang di kuil dan minta ramalan dan inilah hasil ramalan itu."
La mengeluarkan sehelai kertas lalu membacanya dengan lirih agar jangan sampai terdengar dari luar kamar.
"Harimau Putih bukan untuk ditakuti seyogianya menjadi teman sejati temuilah seorang bermarga Han bersamanya berjaya di Lin-an.
"Wah, menarik sekali. Tapi, apanya yang luar biasa dan aneh?"
"Begini, bibi. Ketika aku pulang dan berada di jalan sunyi, tiba-tiba aku melihat seekor harimau putih yang besar.
"Ehh? Lalu bagaimana?"
Lu-ma semakin tertarik.
"Karena takut kalau-kalau hanimau putih itu menyerangku, aku lalu menyambitnya dengan batu. Dia lari ke belakang semak-semak dan ketika aku mengejarnya, dia lenyap dan di belakang semak semak itu aku melihat seorang pemuda terbangun dari tidurnya. Kukira dia terinjak harimau itu, akan tetapi harimaunya lenyap".
"Hemmm, mungkin harimau putih itu semangatnya yang keluar ketika dia ter tidur kata Lu-ma.
"Kemudian bagaimana?".
"Aku lalu melanjutkan perjalanan dan tiba-tiba muncul delapan orang, di antaranya dua orang piauw-su (pengawal barang) yang kuhajar di sini, dan mereka mengeroyokku. Aku tentu celaka kalau saja tidak ditolong orang. Dan engkau tahu, bibi, siapa penolong itu? Dia bukan lain adalah pemuda yang kulihat terbangun dari tidur di belakang semak-semak di mana harimau putih itu lenyap! Dan yang lebih aneh lagi, namanya Han Si Tiong, dia bermarga Han seperti yang dikatakan ramalan Kwan-im-bio itu! Dan dia itulah orangnya!"
Hong Yi menudingkan telunjuknya ke arah luar di mana si Han Si Tiong duduk di ruangan tamu. Lu-ma terbelalak.
"Wah.... cocok benar, coba, bagaimana bunyi ramalan itu tadi? Harimau putih bukan untuk ditakuti seyogianya menjadi teman sejati, temuilah seorang bermarga Han, bersamanya berjaya di Lin-an. Hemm, sungguh cocok pula dengan mimpiku. Hong Yi, tidak salah lagi, dialah jodohmu dan engkau akan menjadi orang besar kelak bersamanya kalau kalian berdua pergi ke Lin-an!.
"Tapi, bibl...."
Terkejut juga hati Hong Yi mendengar ucapan itu karena sebelumnya lak pernah sedikitpun terpikir, olehnya tentang kemungkinan perjodohan dengan seorang laki-laki yang baru saja dijumpainya.
"Tapi apa lagl, Hong Yi? Biarpun aku baru melihat sekejap, dia masih muda bertubuh tegap dan wajahnya tidak buruk apalagi dia adalah seorang pendekar yang telah menolongmu. Apakah engkau tidak mau menjadi isterinya?"
Hong Yl menghela 'napas panjang.
"Entahlah, bibi, akan tetapi yang perlu dipertanyakan, apakah dia mau menjadl suamiku?"
"Kalau begitu, berarti engkau mau menjadl isterinya, bukan? Biarkan aku bertanya kepadanya sekarang juga. Hong Yi, firasatku mengatakan bahwa kelak engkau akan dapat hidup mulia bersamanya. Semua cocok dengan mimpiku dan cocok pula dengan ramalan Kwan-im-bio"
Tanpa menanti jawaban Hong Yi wanita itu lalu melangkah keluar dari kamar Hong Yi menuju ke ruangan tamu.
Hong Yi tidak mencegah.
la hanya pasrah.
Bukankah jauh lebih baik menjadi isteri seorang pendekar budiman yang gagah perkasa daripada menjadi seorang pelacur hina?
Pelacur hina?
Hong Yi tercenung dan melamun.
Pertanyaan ini selalu menggores kalbunya.
Pelacur dianggap oleh umum sebagai wanita yang kotor, rendah, dan hina, bahkan nyaris tidak dipandang sebagai manusia lagi, melainkan sebagai sampah masyarakat yang selalu dikutuk dan dimaki.
Orang tidak perduli dan tidak mau tahu lagi tentang.
alasan mengapa para wanita itu menjadi pelacur.
la sendiri yang langsung terjun, ke dalam dunia pelacuran, walaupun belum lama dan hanya jarang saja ia diharuskan melayani pria, ia mengenal kehidupan mereka dan tahu mengapa mereka itu terpaksa menjadi pelacur.
Sebagian besar dari mereka adalah korban kemelaratan, korban kelemahan mereka dan korban laki-laki!
Seperti Siu Lin itu, la anak keluarga miskin di dusun yang sudah tenggelam dalam hutang sampai ke leher mereka.
Ayahnya terpaksa mentegakan hati menjual anak perempuannya itu ke rumah hiburan yang dikelola Lu-ma.
Hasil penjualan gadisnya itu untuk melunasi hutang-hutangnya, menebus sepetak sawah yang digadaikan sehingga keluarga itu dapat lagi bercocok tanam dan menghidupi semua anggauta keluarga.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 10
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 9